Ontologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri). Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang: 1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak? 2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah: • • • • • • • • yang-ada (being) kenyataan/realitas (reality) eksistensi (existence) esensi (essence) substansi (substance) perubahan (change) tunggal (one) jamak (many)

empiris (misalnya antropologi, sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagainya).

Jul 30, 2007 at 09:16 PM
Oleh: A. Kamil

"Pandangan

dunia

(weltanschauung)

seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar. Semakin besar pengenalannya, semakin luas dan dalam pandangan dunianya. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban. peradaban Karena dan nilai sebaliknya hingga dan akan membuatnya terpuruk titik-nadir kualitas Anda

keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. ekuivalen dengan pengenalan dikenal atas apa yang Anda kenal. Wujud anda

ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu

PENDAHULUAN
Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat, yang pertama di sebut landasan ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut antara merasa ? bagaimana (sepert hubungan berpikir, yang objek dan

pengetahuan Denganb maka

yang

satu

dari lainnya.

pengetahuan-pengetahuan mengetahuan mudah

jawabankita dapat jenis dalam

jawaban dari ketiga pertanyaan ini dengan membedakan pengetahuan berbagai yang terdapat

khasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan berbagai kita mengenali yang ada pengetahuan

tadi dengan daya tangkap manusia mengindera) landasan menjawab membuakan berusaha yang ilmu? timbanya berupa

seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Ilmu di kacaukan dengan seni, ilmu agama, dikonfrontasikan dengan

pengetahuan?. Kedua di sebut dengan epistimologis; bagaimna di yang proses

memungkinkan pengetahuan

Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan itu sendiri? pengetahuan Apakah yang benar? Apa yang disebut kebenaran kriterianya? apa berupa yang ilmu?. Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang

bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu?

membantu kita dalam mendapatkan Sedang yang ketiga, di sebut dengan landasan aksiologi; landasan ini akan menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah moral? berdasarkan Bagaimana metode pilihan-pilihan merupakan ilmiah

PEMBAHASAN

A. Ontologi
Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak ada terikat yang oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang universal, semesta menampilkan pemikiran

kaitan antara teknik prosedural yang operasionalisasi dengan norma-norma

moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis

universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. 1. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat dalam seluruh kuantitas realitas. atau Bagi jumlah, pendekatan kuantitatif, realitas tampil tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliranaliran Referensi materialisme, atau tentang idealisme, itu naturalisme, hylomorphisme. kesemuanya

metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan posteriori. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Contoh : Sesuatu yang bersifat menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a

penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan pertama diuraikan di oleh di aristoteles belakang ketengahkan dalam hylomorphisme

lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri (S-Tt) Jadi, badan itu fana’ (S-P) Sedangkan pembuktian a

bukunya De Anima. Dalam tafsirantafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. 2. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas umum sesuatu sesuatu yang yang objek; menjadi sejenis. sedangkan cirri semua abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat Abstraksi

posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term realitas tengah yang a menunjukkan dinyatakan hanya saja posterioris akibat dalam cara disusun

kesimpulan pembuktian

dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : (Tt-S) Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan (Tt-P) Gigi geligi itu gigi

geligi rahang dinasaurus

Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (S-P)

Bandingkan pembuktian posteriori. a Yang

tata priori

silogistik dengan a di

yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Manusia dari itu tidak yang dapat kita lah memiliki maka

apriori

berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.[2] Sementara Jujun S. Suriasumantri dalam pembahasan juga tentang tentang ontologi dan memaparkan asumsi

pengetahuan pertanyaan caranya

sejati,

mengajukan memperoleh

“bagaimanakah kita

pengetahuan”?[3]

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme

peluang. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut.
B. Epistemologi

Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaanpertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang

Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalamanpengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objekobjek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidaktidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
b. Rasionalisme

Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman palingpaling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan

bentuk samping Immanuel Kant. Salah unsur paham adanya pengalaman satu yang ini di antara Bergson suatu di unsutdalam ialah. Analisa. Bagi Kant para benar bahwa penganut bila semua benar tentang gejala pengalaman baik maupun empirisme berpendapat pengalaman pengalaman pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun para juga penganut benar. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. Hendaknya diingat. seperti bentuk-bentuk dengan jalan intuisionisme memungkinkan pengalaman dan disusun secara penalaran. Tetapi rasionalisme karena akal intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan dalam darinya. sebagaimana berharga terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam sistematis pernah pengetahuan sesuatu sendiri. Kant membuat pengalaman. artinya. intuisi adalah Intusionisme – setidak-tidaknya beberapa bentuk-hanya bahwa mengatakan pengetahuan yang lengkap di . Dengan demikian data yang dihasilkannya bahan yang dapat merupakan pengetahuan tetap mengatakan pengetahuan pengalaman. hanya untuk sebagian. pengetahuan (Phenomenon). c. Fenomenalisme Bapak uraian Baran Fenomenalisme tentang sesuatu adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika.terletak di dalam ide kita. Kant masih benar melainkan tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. Intusionisme Menurut Bergson. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. d. didasarkan tetapi tambahan dihasilkan dengan bahwa pada harus dengan bagi pengetahuan di samping oleh penginderaan. demikian meliputi inderawi intuitif. atau pengetahuan yang diperoleh pelukisan. Karena itu kita tidak mempunyai tentang barang hanya keadaanya pengalaman yang dihayati oleh indera. secara dengan tidak akan jalan dapat dari menggantikan hasil pengenalan langsung pengetahuan intuitif. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan.

mempertanyakan ilmu itu hal-hal yang bersifat seharusnya: sebenarnya harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana harus urgensi perkembangan diarahkan? bagi ilmuan dan namun keilmuan merupakan seperti ilmuwan yang menampak kepada kita. “bukan lagi Goethe matahari” ajaran dan bukan sebaliknya seperti apa dinyatakan oleh . Jadi ilmu bukan saja menimbulkan dehumanisasi itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kamanusiaan mengubah sendiri. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang sebagai kenyataan.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung.” Menghadapi kenyataan seperti ini. C. Galileo seangkatannya. maka berpaling kepada hakikat moral. barang pernah seperti menampak oleh intuisi. pertanyaan Dan menjawan ilmuan Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan dan yang mempengaruhi manusia itu reproduksi gejala penciptaan sendiri. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang berputar yang kesemestaan bahwa mengelilingi alam dan yang menemukan “bumi perkataan lain. Aksiologi Pertanyaa semacam ini jelas tidak Copernicus. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. belaka. yaitu tidak sesuatu lawan dari apa yang diberikan Mereka sesuatu merupakan mengatakan. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang saja-yang meliputi sebagian oleh diberikan yang menciptakan Faust. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kemanusiaan mengubah sendiri.” melainkan faust yang menciptakan Goethe. Sebenarnya pertumbuhannya terkait moral dengan namun sejak ilmu dalam saat sudah perkataan lain.peroleh melalui intuisi. pertanyaanpertanyaan elakkan. bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan ini ini kekhawatiran tak untuk dapat di perang dunia ketiga. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. masalah-masalah perspektif yang berbeda. ilmu adanya untuk yang mulai apa pada alam hakikatnya sebagaimana mempelajari analisa. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. e.

dalam avontur intelektual?). Sejarah rela kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. (1564-1642). telah membawa manusia mencapai sekarang dengan proses mengindera) membuakan . “asalkan kau mampu menemukannya. operasionalisasi metode moral/professional?[4] PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : Ontologis.” yang berkonotasi metafisik. yang objek merasa tadi dan daya tangkap manusia moral prostitusi secara seperti intelektual. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan diluar antaranya bidang agama. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral ajaran (yang agama) bersumber pada rasionalisasi mendustakan “segalanya Alice dalam yang punya bersifat kebenaran. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan dengan (sepert antara berpikir. kata di moral. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. pengetahuan kaitan antara berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana penggunaan kaidah-kaidah penentuan Bagaimana prosedural dengan tersebut moral? objek kaitan yang yang dengan Bagaimana ditelaah teknik ilmiah berdasarkan pilihan-pilihan moral? antara merupakan norma-norma berputar mengelilingi matahari. mencabut bumi inkuisisi Galileo pada tahun 1633. agama untuk bahwa menjawab pertanyaan-pertanyaan. Jadi pada dasarnya ini apa adalah apa yang bidang berusaha yang cara menjadi ontologi untuk kajian dalam Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi Galileo pengadilan dipaksa pernyataanya pada pengadilan oleh tersebut. sedangkan di pihak lain. tergelincir rasional 1.” lebih kemerlap yang keberanian yang gelap.agama. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi maka untuk Tanpa ilmuwan dapat yang ini menemukan landasan mudah melakukan Penalaran harkatnya berganti sekali kebenaran. (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran keilmuan di petualangannya (adakah dalam esensial negeri ajaib.

1996. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan ditelaah antara metode kaidah-kaidah berdasarkan teknik ilmiah moral? pilihanyang normaBagaimana penentuan objek yang pilihan moral? Bagaimana kaitan prosedural dengan merupakan norma moral?[5] operasionalisasi Ontologi(HakikatIlmu) Obyek apa yang telah ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. 135-136. dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Epistimologi(CaraMendapatkanPengetahuan) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan dengan benar? Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? Aksiologi(Guna Pengetahuan) Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan? Bagaiman kaitan antara cara penggunaan DAFTAR PUSTAKA Jujun S. 34-35. [4] Jujun S. Yogjakarta. Noeng Muhadjir. Suriasumantri. Penerbit Rake Sarasin. 3. Noeng Muhadjir. Tiara Wacana. Penerbit Rake Sarasin. Yogjakarta Sidi Gazalba. [2] Prof. Tiara Wacana. Dr. Pengantar filsafat. hal. Sistematika filsafat II. H. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna memungkinkan pengetahuan Bagaimana kita yang yang proses di yang timbanya Hal-hal Yogjakarta. Pustaka Sinar Harapan. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pengantar filsafat. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. 34-35. Suriasumantri. merasa. Suriasumantri. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Yogjakarta.pengetahuan?. berupa ilmu? [1] Jujun S. 2001. 1995. Suriasumantri. Kattsouff. Prof. Jakarta. 2001 [3] Louis O. Yogjakarta. Paragrap Baru ya Jeeng!! prosedurnya? apa yang harus di perhatikan agar mendapatkan benar? Apa itu pengetahuan yang disebut Apakah kebenaran kriterianya? sendiri? Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang apa yang membantu kita dalam mendapatkan berupa ilmu?. 1996. [5] Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. hal. 1996. Jakarta. 2. Filsafat Ilmu. Pustaka Sinar Harapan. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Louis O. . H. 34-35. Dr. Pustaka Sinar Harapan. hal. Aksiologi menjawab. Filsafat Ilmu. Hal. 1996. Jakarta. Kattsouff.

2. dunia yang dapat dijangkau pancaindra → objek ilmu adalah pengalaman indrawi. Mempersoalakan tentang wujud hakiki objek ilmu atau keilmuan itu apa? Objek ilmu atau keilmuan adalah dunia empirik.shvoong. Ontologi: ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. yaitu perdebatan tentang apakah epistemologi yang lebih dulu ada dari ontologi ataukah ontologilah yang lebih dulu ada dari epistemologi. Epistemologi Perdebatan tentang epistemologi adalah sesuatu yang diperdebatkan sepanjang sejarah karena epistemologi adalah hal yang sangat substansil dalam melakukan penilain terhadap sesuatu. Para filosof yang bermazhab emperisme dalam membuktikan tentang kelebih-dahuluan epistemologi dari ontologi mengatakan bahwa epistemologilah yang yang lebih dulu ada.tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan normanorma moral/profesional? Sumber: http://id. Kajian mengenai organisasi sosial → terangkum dalam politik . jawaban dari pertanyaan diatas akan memberikan gambaran kepada kita bahwa apakah realitas itu ada tanpa kita memberikan penilaian keberadaan terhadap keberadaannya.com/humanities/philosophy/212 3997-ontologi/#ixzz1JlmhXDhr Mengenal EPISTEMOLOGI PART 1 A. ataukah memang dia mempunyai keberadaan tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia itu mempunyai keberadaan. hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran → terangkum dalam metafisika). karena dia membuktikan lewat sebuah analisa pengetahuan yang sifatnya emperikal sementara filosof yang lain mengatakan bahwa ontologilah yang lebih dulu ada.shvoong. apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak? Benarkah ilmu ada? Apakah konsep ilmu sebagai kajian tentang kausalitas itu bermakna di tengah ruang yang tidak terbatas itu? Dari teori hakikat (ontologi) ini → muncul beberapa aliran dalam filsafat Filsafat Materialisme Filsafat Idealisme Filsafat Dualisme Filsafat Skeptisme Pokok permasalahan yang menjadi objek kajian filsafat mencakup: Logika (benar-salah) Etika (baik-buruk) Estetika (indah-jelek) Teori tentang Ada (tentang hakikat keberadaan zat. Mazhab berpikir emperisme mengatakan bahwa untuk membuktikan sesuatu itu ada maka kita memerlukan pengetahuan atau epistemologi sebagai sumber dari pengetahuan kita sehingga kita bisa mengatakan dia ada atau tidak ada karena kita punya pengetahuan tentangnya. pada umumnya tokoh-tokoh filosof dibarat seperti. bagaimana caranya mereka bisa mengetahui sesuatu itu ada tanpa adanya realitas.com/humanities/philosophy/213 0959-ontologi-epistimologi-dan-aksiologiilmu/#ixzz1Jlm8EN5P Paragrap baru juga ya…. namun pertanyaan kemudian yang diajukan Ontologi → ontos = sesuatu yang berwujud. mereka mengatakan bahwa epitemologilah yang lebih dulu ada dari pada ontologi. Ontologi: ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika. dua hal ini kemudian yang memetakan antara aliran pemikiran yang bersifat materialistis dan aliran pemikiran yang bersifat metafisika. namun ada pertanyaan yang bisa diajukan kepada mereka: 1. karl Marx dan David Home. Sumber: http://id. apakah keberadaan sesuatu itu karena kita memberikan konsepsi kepada sesuatu itu. John Look. Ontologi sebagai cabang filsafat bertugas memberi jawaban atas pertanyaan: Apa sebenarnya realitas benda itu?. logos = ilmu. ada hal yang mendasar dalam diskusi-diskusi tentang epistemologi. Thomas Hobbes.

bahwa ontologilah yang lebih dulu mempunyai keberadaan.kepada kaum emperik adalah dari mana pengetahuan itu bisa ada kalau tidak ada realitas yang lebih dulu ada. selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis. Ferrier.shvoong. metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. melainkan juga pada substansi persoalannya. P. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J. Secara etimologi. 2). Jadi. ini adalah menjadi problem dalam sebuah sains atau pengetahuan yang berdiri diatas pijakan yang emperisme terutama yang dibangun di Eropa terutama pasca Fransisco Bacon Mazhab Metafisika mencoba menjawab. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. dia baru bisa menjelaskan proses belajar. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. dalam Jujun S. sehingga didapatkan pengertian yang berbeda-beda. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan.F. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasanpembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian). menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumbersumber pengetahuan ? apakah hakikat. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya.32). Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. pengandaian- . dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Sedangkan. karena tanpa realitas maka mustahil kita bisa mengetahui sesuatu. Demikian pula. karena memang pada kenyataannya dia memang sudah mempunyai keberadaan. untuk membedakan dua cabang filsafat.Hardono Hadi menyatakan. seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber.com/socialsciences/sociology/2073233-mengenalepistemologi/#ixzz1Jln1DVKs Paragraph baru ok! Pengertian Epistemologi oleh: andra5463 Pengarang : radityo Secara historis. dan logos berarti teori. 1965. teori belajar.Suriasumantri. dan sesuatu itu akan tetap mempunyai keberadaan tanpa kita secara subyektif memberikan penilaian tentang keberadaannya. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. Lazimnya. sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. Setelah memahami substansi belajar tersebut. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. hal. gaya belajar. 2010 Sumber: http://id. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. Sebagai sub sistem filsafat. Diterbitkan di: 11 Nopember. Pengertian lain. buka saja pada redaksinya. seperti keberadaan bulan dan bintang adalah sesuatu yang niscaya adanya tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia ada atau tidak. struktur. epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. hambatan-hambatan belajar. Menurut Musa Asy’arie. Dalam Epistemologi.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. prinsip-prinsip belajar. epistemologi dan ontologi. Misalnya. pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. 2005). guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. 3). pembahasan konsep apa pun. 2003.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian.

pengalaman. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. 2. Azyumardi Azra menambahkan. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami. Akal. fenomenologi dan sebagainya. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. atau kombinasi akal dan pengalaman. sarana. Dia menyatakan. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). 2010 Sumber: http://id. Sedangkan D. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). diungkapkan oleh Dagobert D. empirisme.pengendaian dan dasarnya. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. 1. pengertian. seperti teori koherensi. rasionalisme kritis. yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.shvoong. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan. asal mula pengetahuan. korespondesi pragmatis. sum-ber pengetahuan. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah).Runes. objek dibahas dari keberadaannya. Selanjutnya. intuisi. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan. dasar dan pengendaianpengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. epistemologi. dan aksiologi. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. dan teori intersubjektif. Secara ontologis. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber.com/humanities/philosophy/208 2651-pengertian-epistemologi/#ixzz1JlnTNlLC Baruuuu………. merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu. Sementara itu. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak . struktur. EPISTEMOLOGI ILMU oleh: anin Filsafat Pengarang : Elvira Syamsir Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. yaitu realisme dan idealisme.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. yakni realisme. metode-metode dan validitas pengetahuan. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. akal budi. yaitu ontologi. naturalsime dan empirisme. metode atau cara memperoleh pengetahuan. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan. positivisme. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. struktur. Diterbitkan di: 04 Desember. apakah ia materi atau bukan. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme.

diantaranya. filsafat merupakan dasar dan pijakan bagi ilmu-ilmu empirik. ensiklopedia bebas Epistemologi. dan dari sisi ini. (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal. ilmu logika yang merupakan alat berpikir manusia dan ilmu yang berkaitan dengan cara berpikir yang benar. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. sikap. Sebagian ilmu merupakan asas dan pondasi bagi ilmu-ilmu lain. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat. yakni nilai dan validitas ilmu-ilmu lain bergantung kepada ilmu tertentu. Begitu pula. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. dan jenis pengetahuan. maka dari itu ia bisa ditempatkan sebagai dasar dan asas bagi seluruh pengetahuan manusia. dengan demikian. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. epistemologi (teori pengetahuan). baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. sifat. metode positivisme. pengandaian-pengandaian.shvoong. metode induktif. dasardasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. diletakkan sebagai pendahuluan dalam filsafat dan setiap ilmu-ilmu lain. metode kontemplatis dan metode dialektis. BARUUUU LAGI ISYRAQ Mendulang Cahaya Epistemologi. matematika dan statistika. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara. bagaimana karena mengkaji seluruh tolok ukur ilmu-ilmu manusia. 2008 Sumber: http://id.com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1Jlo8CibK PARAGRAPH BARU karakteristiknya. Secara rasional. macamnya. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. misalnya tentang apa itu pengetahuan. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang. termasuk ilmu logika dan ilmu-ilmu . Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagai contoh. dan tolok ukur keterkaitan ini memiliki derajat yang berbedabeda. Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak.teruji. Epistemologi Dari Wikipedia bahasa Indonesia. ilmu tertentu ini dikategorikan sebagai ilmu dan pengetahuan dasar. Diterbitkan di: 18 Maret. dasar dari semua ilmu empirik adalah prinsip kausalitas dan kaidah ini menjadi pokok bahasan dalam filsafat. metode deduktif. Namun. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan. 3. Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Ilmu-ilmu yang dimiliki Secercah Teori oleh manusia berhubungan satu sama lain. ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif.

khususnya di barat. Tuntutan fitrah manusia dan rasa epistemologi itu adalah karena para pemikir melihat bahwa panca indra lahir manusia yang merupakan satu-satunya alat penghubung manusia dengan realitas eksternal terkadang atau senantiasa melahirkan banyak kesalahan dan kekeliruan dalam menangkap objek luar. berupaya menyusun kaidah-kaidah logika sebagai aturan dalam berpikir dan berargumentasi secara benar yang sampai sekarang ini masih digunakan.[1] Dengan alasan itu. Aristoteles. Latar belakang hadirnya pembahasan memunculkan keraguan terhadap nilai akal dan indra lahir di Eropa. wujud pikiran. dikategorikan sebagai disiplin ilmu tertentu. kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. Namun pada sisi lain. akan tetapi. dan tolok ukur kebenaran dan kekeliruan suatu proposisi. epistemologi menjadi suatu bidang disiplin baru ilmu yang mengkaji sejauh mana pengetahuan dan makrifat manusia sesuai dengan hakikat. misalnya dalam pokok kajian tentang jiwa. sebagian pemikir tidak menganggap valid lagi indra lahir itu dan berupaya membangun struktur pengindraan .manusia yang bersifat gamblang. kenon-materian jiwa. Lahirnya kaidah itu menjadi penyebab berkembangnya validitas sehingga akal dan indra lahir kalinya sedemikian berakibat untuk kedua epistemologi Akan tetapi. yang valid yang rasional. Pada era tersebut. ilmu logika merupakan ilmu tentang metode berpikir dan berargumentasi yang benar. persepsi.[2] 1. sebelumnya. dan setelah Renaissance dan kemajuan ilmu empirik. lahir kembali kepercayaan kuat terhadap indra lahir yang berpuncak pada Positivisme. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. dengan demikian. dan keberadaan argumentasi akal kontradiksi masalahmasalah pemikiran kemudian berefek pada kelahiran aliran Sophisme yang mengingkari validitas akal dan menolak secara mutlak segala bentuk eksistensi eksternal. begitu banyak persoalan epistemologi dikaji secara meluas dalam pokok-pokok pembahasan filsafat Islam. dan makrifat jiwa. Walaupun ilmu logika dalam beberapa bagian memiliki kesamaan dengan epistemologi. di Islam. diletakkan setelah epistemologi. objek luar. Dalam filsafat Islam permasalahan epistemologi tidak dibahas secara tersendiri. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan epistemologi banyak dikaji dalam pembahasan tentang akal. epistemologi lantas menjadi suatu disiplin ilmu baru di Eropa yang dipelopori oleh Descartes (1596-1650) dan dikembangkan oleh filosof Leibniz (1646–1716) kemudian disempurnakan oleh John Locke di Inggris. Pengertian Epistemologi Manusia dengan latar belakang. para pemikir banyak yang sendiri berbeda pendapat akal dalam dan persoalan saling mengenai dalam rasionalitas. akal teoritis dan praktis. akan tetapi. Pengindraan. dan ilmu merupakan bagian pembahasan tentang makrifat jiwa. persoalan epistemologi sangat dipandang serius sedemikian sehingga filosof Yunani. Namun belakangan ini. epistemologi diposisikan sebagai salah satu disiplin ilmu. objek akal. merupakan dasar dan pondasi segala ilmu dan pengetahuan. dan realitas eksternal. Hingga tiga abad bukanlah pada dua sebelum suatu abad abad ilmu ini.

Kita bisa mengajukan Seseorang sedang melihat suatu pemandangan jauh melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah jelasnya yang yang diperdebatkan. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong jauh. pengetahuan. Hakikat itu bisa dicapai. persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. kuat Keraguan-keraguan pertanyaan tentang hakikat itu. dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal. 2. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. contoh teropong Untuk berikut dan lebih ini. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. akan tetapi. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna. 3. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada. Akal bisa dan pikiran yang tidak menjawab persoalan-persoalan ilmu dan pengetahuan dihadapinya. Dengan ungkapan lain. Namun. persepsi-persepsi pikiran. tolok ukur kebenaran hasil pikiran. Manusia bisa memiliki ilmu. diketahui. dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran ini besar akan atau semakin kecil?. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini. aktual dan kita bagi Terkadang itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang kontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang manusia?Persoalan- . sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. dan jalan menuju tertutup bagi manusia. hakikat yang manusia dan tidak ingin menggapai mengetahui Manusia persoalan terakhir ini berbeda dengan yakni persoalan-persoalan sebelumnya. Dengan perantara teropong itu sendiri. Apabila manusia melontarkan suatu dengan adanya oleh kemungkinan teropong. masih merupakan kekinian persoalan-persoalan manusia. dan dipahami. yang keraguan ini akan menguat khususnya apabila mengamati pada kesalahan-kesalahan lahir dan terjadi indra sejarah kontradiksi- penampakan pertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. dan makrifat atas hakikat manusia itu. tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. Hakikat itu ada dan nyata. nilai dan keabsahan pikiran. perhatikan dengan berupaya diketahuinya. 4. bentuk.ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. Pada suatu sesuatu dasarnya. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai kita hakikat sebagaimana adanya. kesalahan Pertanyaan- pertanyaan yang baru.

Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang bersifat empirik. maka dari sudut mana subyek ini dibahas. yakni apakah h. definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas dan tentang batasan. ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika Ilmu adalah pembenaran (attashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini[6]. pondasi. pengetahuan manusia.[7] epistemologi. Istilah-istilah ilmu j.[3] 2. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat. e. d. validitas. yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. g. ilmu para malaikat. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu . ilmu-ilmu dan seperti keterampilan. Makna leksikal ilmu adalah sama secara dengan umum pengideraan dan mencakup 2. segala hal yang hakiki. teknologi. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu.mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. Sisi dibidang ontologi dan hushûlî. sebagai (mantik). Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalahmasalah sejarah dan geografi. tersebut adalah sebagai berikut: a. subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî[4]. Ilmu (hudhûrî) adalah dan kehadiran bentuk ini ilmu Istilah mencakup segala penyingkapan. alat. Ilmu yang hanya dimaknakan pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. keabsahan. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan eksternal. ilmu Tuhan. tolok ukur. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan filsafat. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan pokok pengkajian memperhatikan epistemologi definisi ilmu. Dengan demikian. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. logika. sains. dasar dan dan f. hushûlî dan ilmu hudhûrî. kemahiran. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. Cakupan pokok bahasan. Sudut pembahasan. i. dan psikologi. bisa dikatakan bahwa tema dan ialah makrifat dan pengetahuan. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini. dan ilmu manusia. dua poin penting akan dijelaskan: 1. kebenaran makrifat. Dalam hal ini. b. c. Makna ini digunakan dalam filsafat Islam. ilmu. juga meliputi hudhûrî[5]. Ilmu ialah gabungan proposisiproposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik.

dan hakikat keberadaan. b. bahasannya Yang koridor dimaksud ilmu-ilmu kajian metode akal di sini adalah meliputi seluruh rasional dalam hushûlî dan ilmu hudhûrî. Dengan memperhatikan . ilmu. Ilmu kalam (teologi) ialah suatu ilmu yang menjabarkan proposisiproposisi teks suci agama dan penyusunan argumentasi demi mempertahankan peran dan posisi agama. Dengan demikian. Urgensi Epistemologi Jika kita perhatikan definisi epistemologi dan hubungannya dengan ilmu-ilmu lainnya. dan validitas akal dalam memahami hakikat dan realitas eksternal. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. 4. Metode Epistemologi Dengan pengertian jelaslah memperhatikan epistemologi. Hubungan epistemologi dengan Teologi dan ilmu tafsir. kodrat.sebelumnya penyebab dan faktor riil yang menjadi adalah definisi ini. dan pembagian dan batasan-batasan metode-metode yang ditetapkan oleh ilmu dipertanyakan rekonstruksi. karena untuk menjelaskan memerlukan analisa lain. karena apabila kemampuan dan validitas akal belum dikaji dan ditegaskan. atau pengkajian seputar pluralisme dan hermeneutik. Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas observasi pengetahuan. maka mustahil kita membahas mengungkap logika masih tentang suatu perlu metode hakikat akal dan untuk bahkan dan hadirnya pengindraan dibahas dalam ilmu logika. maka jelaslah mengenai urgensi kajian epistemologi. Jadi. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu Logika. ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokokpokok pembahasannya. Dan dari dimensi untuk menguraikan sumber epistemologi dan perubahan yang terjadi di sepanjang sejarah juga menggunakan metode analisa sejarah. epistemologi dan ilmu logika merupakan mukadimah bagi filsafat. bisa dikatakan bahwa epistemologi jika dikaitkan dengan ilmu logika dikategorikan sebagai pendahuluan dan mukadimah. Hubungan Epistemologi dengan IlmuIlmu Lain a. tingkatan Sudut dan pencapaian suatu pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaanperbedaan ilmu. Sementara filsafat dalam pengertian khusus (metafisika) adalah membahas kaidah-kaidah umum tentang eksistensi[9]. yakni metode yang digunakan oleh akal untuk menyelami dan memahami realitas eksternal sebagaimana adanya dalam penggambaran dan pembenaran. Ilmu tafsir adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan metode penafsiran kitab suci. khususnya pembahasan yang terkait dengan kontradiksi ilmu dan agama. atau akal dan agama. 5. epistemologi berperan sentral sebagai alat penting bagi kedua ilmu tersebut. diasumsikan mengenai kemampuan. Jadi. karena akar pembahasan ini terkait langsung dengan pembahasan epistemologi. Dan dari sisi ini. Hubungan epistemologi umum filsafat eksistensi dengan adalah (ontologi). c. 3. walhasil masih menjadi hal yang diragukan. Pengertian terhadap pengenalan realitas eksternal. menggunakan akal dan rasio. telah Dalam dua pengertian tersebut. pengetahuan[8]. metode bahwa definisi maka ilmu ini dan menjadi adalah Filsafat. pokok-pokok analisa akal. Ilmu logika adalah suatu ilmu yang mengajarkan tentang metode berpikir benar. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap ilmu.

jawaban atas segala persoalan mendasar niscaya dengan upaya-upaya rasional dan filosofis. Hal ini berarti bahwa jika akal rasionalitasnya dipisahkan kehidupannya. keraguan. dengan demikian. dan hak-hak asasi manusia dimana sentral dari berpijak semua pada pembahasan epistemologi. dan dari aspek lain. dan untuk memerintah mesti dibutuhkan ilmu politik kaum dan ulama pemerintahan. “Anda tidak layak memerintah.terkhusus lagi apabila kita menyimak ruang pemikiran dan budaya yang ada serta kritikan. maka minimalnya iaharus menerimanya untuk menjawab segala bentuk kritikan. Semua kenyataan ini berarti bahwa pencapaian keyakinan dan kebenaran adalah sangat mungkin dengan perantaraan akal dan argumentasi rasional. fiqih. ini tersebut? adalah Dengan inti begitu. penafsiran. dan keraguan akan senantiasa bersama manusia bahwa apakah akal telah memberikan solusi yang benar atas perkara-perkara pertanyaan epistemologi. pemerintahan seorang bahwa hakim (filosof). sebagian seluruh aktivitasnya dinapasi oleh akal dan pengetahuan. memotivasi manusia untuk menggapai ilmu dan makrifat. karena ilmu-ilmu alam dan matematika tidak mampu memberikan solusi komprehensif dan universal atasnya. Pembahasan membuktikan pengkajian seperti kepada epistemologi tersebut kita dan di atas pentingnya konklusi- konklusinya. dan para ulama yang adil Tuhan Pada memiliki lain. dan menolak segala bentuk keraguan.” Dan juga berkaitan dengan karena manusia tak bisa memahami hakikat dirinya sendiri sebagaimana yang semestinya. maka yang tertinggal hanyalah sifat kehewannya.[10] Perbedaan hakiki manusia dan hewan terletak mengajukan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi manusia. dan jika ada orang yang ragu atas realitas ini. pembatas merupakan substansial antara iadengan hewan. yang Rahasia dan kemanusiaan manusia adalah bahwa ia mesti berakal mengaplikasikan kekuatan akal dalam semua segmen kehidupannya serta seluruh kehendak dan dan iradahnya terwujud melalui pancaran dari petunjuk akal. karena Islam dengan persoalan pada tersebut pada menjadi potensi maujud akal-pikiran. mereka tidak berhak memerintah. segala dinamika hidupnya berasal dari kecenderungan hewaninya. maka dari itu. Karena telah jelas urgensi upaya rasional untuk kehidupan hakiki manusia. akal berguna pengakuan beranggapan bahwa makrifat agama adalah bukan bagian dari ilmu. dengan demikian. begitu banyak ayat al-Quran berkaitan dengan argumentasi akal. Yang pasti. suatu rangkaian persoalan yang prinsipil menjadi terkonstruksi dengan tujuan untuk mencarikan solusi atas segala permasalahan yang timbul berkaitan dengan dimana pengetahuan hal itu dan akal manusia. Hubungan dan saling epistemologi terkait. Pertanyaanpembahasan sebelum melangkah ke arah upaya-upaya rasional dan filosofis. dan persoalan inti yang dimunculkan seputar keyakinan agama dan dasar-dasar etika. maka adalah penetapan wakil hukum yang sisi hanya berada hak ditangan Tuhan. Manusia ialah maujud yang berakal dan politik adalah hal yang juga tak bisa disangkal Plato Anda bisa berkata bukan dikatakan penguasa Yunani ketika itu. maka persoalan yang kemudian muncul ialah apakah akal manusia mampu akal menyelesaikan belum persoalanmaka dalam persoalan tersebut? Jika nilai dan validitas pengenalan tidaklah ditegaskan. langkah pertama yang mesti diambil . memerintah. sementara tersebut tak menguasainya.

itu pula yang akan diikuti oleh ideologi. Walaupun masih dibutuhkan langkah-langkah besar untuk menyelesaikan dari perbedaan dasar-dasar pengenalan. Apa yang ditentukan oleh pandangan dunia. Aliran-aliran ini memiliki sandaran pemikiran yang bersaing satu sama lain untuk merebut pengaruh. Hal ini karena. telah berhasil dan mengungkap hakikat manusia. Perjalanan historis epistemologi oleh dalam filsafat barat ke arah skeptisisme dan relativisme.adalah membedah persoalan-persoalan kepada kita bagaimana hidup semestinya. Muncul suatu pertanyaan. Sementara perjalanan sejarah epistemologi di dalam filsafat Islam mengalami suatu proses yang menyempurna dan berhasil menjawab segala bentuk keraguan dan kritikan atas epistemologi. sementara relativsime nampak pada pemikiran Immanuel Kant. macam-macam ilmu hudhûrî. rahasia fenomena eksistensial lainnya. ia berkata “Pada era ini kita menyaksikan keberadaan aliran-aliran filsafat sosial dan ideologi yang berbeda dimana masing-masingnya mengusulkan suatu jalan dan solusi hidup. apabila kita merujuk kepada daftar isi persoalan-persoalan yang berkaitan persoalan eksternal dengan tentang dan pengetahuan. sedangkan pandangan dunia menempati filsafat teoritis. Ideologi menyatakan . maka tak satu pun pemikiran filsafat manusia dan penemuan ilmiah yang akan bernilai. Berkenaan dengan urgensi epistemologi. yakni ilmu dibagi menjadi gagasan/konsepsi (at-tashawwur)[12] dan penegasan (at-tashdiq)[13]. karena semua aliran filsafat dan ilmu mengaku alam. hubungan manusia dengan realitas eksternal itu. atau hushûlî dan hudhûrî. Ideologi seperti filsafat praktis. Murthada Muthahhari . Pembahasan yang berhubungan dengan pembagian ilmu. dan hal yang terkait dengan kategori-kategori kedua filsafat[14]. maka akan menjadi jelas bagi kita bahwa epistemologi merupakan pemberi validitas dan nilai kepada seluruh pemikiran filsafat dan penemuan sehingga ilmiah kalau manusia sedemikian yang persoalan-persoalan berhubungan dengan ilmu dan pengetahuan tersebut belumlah menjadi jelas. mengapa aliran-aliran dan ideologi-ideologi tersebut memiliki perbedaan? Jawabannya. kami akan kutip ungkapan seorang pemikir dan filosof Islam kontemporer asal Iran . epistemologi. Mengapa suatu ideologi berpijak pada materialisme dan ideologi lainnya bersandar pada teisme? Perbedaan pandangan dunia tersebut pada hakikatnya bersumber [11]“ Epistemologi pada Zaman Yunani Kuno dan Abad Pertengahan Perjalanan historis epistemologi dalam filsafat Islam dan Barat memiliki perbedaan bentuk dan arah. Skeptisisme diwakili pemikiran David Hume. mampu Konstruksi pemikiran universal filsafat yang Islam sedemikian kuat dan sistimatis sehingga memberikan solusi mendasar atas persoalan yang terkait dengan epistemologi. pengetahuan. semua ideologi berpijak pada pandangan dunia dan setiap pandangan dunia tertentu akan menghadirkan ideologi dan aliran sosial tertentu pula. dan epistemologi. Ideologi menentukan apa yang mesti dilakukan oleh manusia dan mengajukan bagaimana metode mencapai tujuan itu. keberadaan kemungkinan misalnya realitas terjalinnya Mengapa ideologi mengarahkan kita? Karena pandangan dunia menegaskan suatu hukum yang mesti diterapkan pada masyarakat dan sekaligus menentukan arah dan tujuan hidup masyarakat. Dengan ungkapan lain. penyebab lahirnya perbedaanperbedaan tersebut terletak pada perbedaan pandangan dunianya (word view) masingmasing. Filsafat praktis bergantung kepada filsafat teoritis.

hakikat mengungkap dan nisbi. kalau pun iabisa dipahami. Hal yang mesti digaris bawahi ialah pada zaman Yunani kuno dan abad pertengahan epistemologi merupakan salah satu bagian dari pembahasan filsafat. akan tetapi. Gorgias menyatakan bahwa sesuatu itu tiada. dalam kajian filsafat pasca itu epistemologi menjadi inti kajian filsafat dan hal-hal yang berkaitan dan dengan ontologi dikaji secara sekunder. abad pertengahan. Pembahasan-pembahasan yang dilontarkan oleh kaum Sophis dan filosoffilosof pada zaman itu mengandung poin-poin kajian yang penting dalam epistemologi. maka mustahil diketahui. Gagasan Pythagoras ini kelihatannya lebih menyuarakan dimensi relativitas dalam pemikiran. akal dipandang sebagai yang valid. segala “Manusia sesuatu. dan dengan cara pendefinisian.[21] Democritus beranggapan bahwa indra lahir itu tidak iabagi dan akan pernah mengantarkan majasi pada dimana dan pengetahuan benar dan segala sifat sesuatu menjadi sifat-sifat hakiki dihasilkan dari penetapan pikiran seperti warna sifat-sifat seperti sifat bentuk ini ukuran[22]. dan mizan ketiadaan segala sesuatu[19]. namun tidak bisa dipindahkan. 2. Oleh karena itu. hal ini karena terdapat kontradiksikontradiksi [18] Pythagoras parameter berkata. maka secara implisit bisa dikatakan bahwa pada zaman itu juga lahir epistemologi. pemikiran-pemikiran mereka. Heraklitus melontarkan gagasan tentang perubahan yang konstan atas segala sesuatu dan berkeyakinan bahwa dengan adanya perubahan yang terus indra lahir hanya bersifat penampakan dan bahkan terkadang menipu. Hal ini karena iamenempatkan dan menekankan akal itu sebagai tolok ukur hakikat. orang pertama yang membuka lembaran kajian epistemologi adalah Parmenides[15]. karena ilmu memestikan kekonstanan dan ketetapan. maka perolehan ilmu menjadi hal yang mustahil. hal-hal yang senantiasa berubah maka mustahil tiga terwujud sifat-sifat khusus dari ilmu tersebut. 1. dengan keberadaan itu. akan tetapi. merupakan tolok ukur pada akal dan kesalahan pengamatan yang dilakukan oleh indra lahir. Sejarah Epistemologi dalam Filsafat Barat Apabila filsafat kita Barat membagi dalam perjalanan zaman sejarah tertentu menerus pada segala sesuatu. Dan epistemologi setelah Renaissance Descartes mengalami suatu perubahan baru. sebagian peneliti sejarah filsafat menganggap pemikirannya sebagai dasar Skeptisisme. sementara [16] Heraklitus berbeda dengan Parmenides.[17] Kaum Sophis ialah kelompok pertama yang menolak definisi ilmu yang bermakna kebenaran yang sesuai dengan realitas hakiki eksternal. Socrates ialah filosof pertama pasca kaum Sophis induksi yang dan lantas bangkit ia mengkritisi berupaya sesuatu.[20] Berdasarkan penulis sejarah filsafat. iamengungkapkan satu sisi dari sisi-sisi lain dari epistemologi yang merupakan sumber dan alat ilmu. Pembagian kemudian segala Iamemandang bahwa hakikat itu tidak relatif menjadi perhatian para filosof dan sumber . Epistemologi di Zaman Yunani Kuno eksistensi segala sesuatu. Pada dasarnya.persoalan-persoalan partikular yang mendetail di dalam epistemologi. (Yunani kuno. dan modern) dan menempatkan Yunani kuno sebagai awal dimulainya filsafat Barat. ia menekankan pada indra lahir. apabila ia ada.

Disamping meyakini bentuk intuisi batin (asy-syuhud) juga itu sebagai tolok ukur kebenaran. murid Socrates. pencapaian hakikat dan makrifat hakiki ialah hal yang sangat mungkin dan tidak mustahil. iakemudian melontarkan gagasan tentang mutsul (maujud-maujud non-materi di alam akal). dan perkiraan belaka[24]. akan yang tetapi.[30] Epicure (270-341 M) memandang indra lahir sebagai pondasi dan tolok ukur kebenaran pengetahuan. ilmu matematika dianggap hal yang tidak valid. lebih menekankan penjelasan yang ilmu dan pembuktian dengan bahwa asumsiasumsinya daripada menjelaskan persoalan berkaitan Iayakin probabilitas setiap ilmu pengetahuan. dan perkara-perkara yang senantiasa berubah dan partikular tidak bisa dijadikan objek dan makrifat tidak hakiki. pengetahuan indriawi bersifat keliru. dan bersifat pasti. bisa Oleh karena itu. berubah.lahirnya berbagai pembahasan. universal. murid Plato.[26] Iamenetapkan penggambaran universal. hipotesa. Mereka beranggapan pengetahuan itu adalah pengenalan partikular sesuatu. dengan perspektif ini. Perbedaan kaum . abstraksi. Iajuga berkeyakinan. Dengan dasar ini. ini ialah diargumentasikan. dimana pengetahuan jenis terkait Pengetahuan-pengetahuan selain dengan menggunakan kaidah-kaidah pertama dalam ilmu dan pengetahuan yang bersifat gamblang (badihi)[27]. [28] Kelompok Rawaqiyun[29] yang yakin pada pengalaman agama dan indra lahir. [31] Kaum Skeptis beranggapan bahwa kesalahan indra lahir dan akal itu merupakan dalil atas ketidakabsahannya.[23] Pengetahuan hakiki dalam pandangan Plato ialah ini keyakinan dengan benar hal-hal yang yang bisa konstan. Lebih lanjut ia berkata bahwa panca indra lahir itu tidak melakukan itu kesalahan. tetap. Begitu pula. sementara pengetahuan hakiki (baca: pengetahuan akal) itu yang berhubungan dengan hal-hal yang konstan dan tak berubah ialah bisa diyakini. Makrifat yang diperoleh lewat indra itu merupakan makrifat yang paling diyakini kebenarannya. Plato. bersifat diyakini. diyakini. menolak pandangan tentang konsepsi universal pikiran dari Aristoteles dan konsep mutsul Plato bahwa tersebut. dan analisa pikiran menggantikan gagasan mutsul Plato. bahkan menolak dan kebenaran Sebagian secara lain dari mereka adanya mutlak penetapan makna-makna maujud di ruang memori pikiran atas perkara-perkara indriawi. meyakini penalaran bersifat prasangka. semestinya pengetahuan universal. sebagian memandang kemustahilan pencapaiannya. dari melainkan kesalahan kekeliruan bersumber dan serius makrifat para lantas menjadi epistemolog rasionalitas. definisi plato tentang pengetahuan perhatian kontemporer. pasti. tak proses pembuktian ini harus berakhir pada kaidah yang sangat gamblang lagi membutuhkan pertama pembuktian yang sangat rasional. Dalam hal ini. [25] Aristoteles. dengan demikian. maka objeknya juga harus tetap dan konstan. prinsip non-kontradiksi merupakan kaidah gamblang yang diketahui secara fitrah. ialah filosof pertama yang secara serius mendalami epistemologi dan menganggap bahwa permasalahan itu ialah hakiki dan mendasar pengetahuan karena indriawi berpijak pada kaidah-kaidah awal dimana hal itu bisa dibuktikan di dalam ilmu-ilmu lain. Iamenyusun ilmu logika dengan berpikir tujuan dan menetapkan suatu secara metode benar berargumentasi terletak pada perubahan objek indra.

Apakah “manusia universal” di sini hanyalah sebuah konsep universal yang ada di alam pikiran semata. bahkan juga berada di alam eksternal yang sebagaimana maujud-maujud hakiki yang lain? Sebagai contoh “manusia universal”. tidak karena objeknya senantiasa makrifat tergolong sebagai pertengahan ialah kajian tentang universal dan sumber kehadirannya. di samping itu iamemandang bahwa ilmu itu sebagai ilmu yang paling benar dan proposisiproposisi matematika adalah bersifat gamblang yang tidak bisa diragukan lagi. Pengertian (understanding). dalam bisa dan akal dan sebagai hakikat tingkatan ‘kesatuan dalam memahami termasuk dalam ruang lingkup yang bisa diragukan oleh kaum Skeptis dan Sophis. 3. Gagasan Tentang Universalia Salah satu pembahasan inti di abad itu. Salah satu ungkapan beliau adalah “Saya ragu. Akal (logos. Persepsi panca indra (sensuous perception). 3. Apakah “universal” itu hanya sebatas suatu konsep. Ia membagi tiga tingkatan persepsi (cognition): 1.[32] Walhasil. ataukah “manusia universal” itu sendiri memiliki realitas eksternal (misalnya ia berada di alam non-materi) yang hanya bisa disaksikan secara intuitif dan syuhudi. oleh karena itu. yakni apakah universal itu adalah penyaksian mutsul Plato itu sendiri ataukah konsep abstraksi akal yang bersifat universal Aristoteles. dan solusinya hadir dalam bentuk yang semakin kuat dan sistimatis serta terlontarnya pembahasan seputar probabilitas pengetahuan. Pengetahuan indriawi berubah. keraguan. Dan tingkatan di atas akal adalah intuisi (asysyuhud). juga mengkaji dasar-dasar pengetahuan dan kebenaran. penggagas maktab neo platonisme.Skeptis dengan kaum Sophis adalah bahwa argumentasi-argumentasi kaum Sophis menjadi pijakan utama kaum Skeptis. Dan semua persoalan. yang sebagaimana diyakini itu oleh Apakah “universal” secara mendasar tidak memiliki wujud luar. di abad ketiga masehi melontarkan gagasangagasan penting dalam epistemologi. epistemologi di zaman Yunani kuno dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian dibahas dalam bentuk yang berbeda dalam filsafat. ilmu dan pengetahuan dimulai dari diri sendiri. dan tolok ukur kesesuaian dengan realitas eksternal. jawaban. disamping itu. Tingkatan pertama berkaitan dengan hal-hal yang lahir. Dalam pandangannya. Apakah “universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa mencakup beberapa individuindividu eksternal. intellect). hakiki. tingkatan kedua adalah argumentasi. Epistemologi pada Abad Pertengahan (dari Awal Masehi hingga Abad Kelimabelas) Inti pembahasan di abad pertengahan adalah persoalan yang terkait dengan universalitas dan hakikat keberadaannya. 2.[34] 4. Plotinus.[33] Augustine (354-430 M) beranggapan bahwa ilmu terhadap jiwa dan diri sendiri itu tidak . ketiga. saya ada“. ataukah “manusia universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa diterapkan pada lebih dari kejamakan’ ‘kejamakan kesatuan’ tanpa lewat proses berpikir. Apakah wujud “universal” itu sendiri sama dengan wujud “partikular” yang keberadaannya bukan hanya di alam pikiran. Gagasan Skeptisisme muncul sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi yang dipropagandai oleh Agrippa (di abad pertama) dan kemudian dilanjutkan oleh Saktus Amirikus (di abad kedua). karena ilmu terhadap jiwa tidak bisa diragukan. sumber ilmu.

Nazariyeh-e Syenokh. jilid kedua. [4].[38] Segala kaidah filsafat dan ilmu berpijak pada penerimaan yakni jika atas konsep-konsep universal. Seir-e Hikmat dar Eropa. [2] . hal. Nominalisme (menetapkan katakata umum yang mewakili individu-individu eksternal).[37] Peter dan Abelard (1079-1142 M) memandang itu adalah memiliki individu-individu eksternalnya. dari konsep ini akal akan membentuk konsep-konsep universal[40]. hal.com] realitas-realitas hakiki dan eksternal. Seir-e Hikmat dar eropa. Boethius (470-525 M) ialah orang pertama yang beranggapan bahwa universal itu hanyalah kata semata. Pada satu sisi kita memahami bahwa pada setiap sesuatu universalitas itu hanyalah sebuah kata semata dan menolak konsep universal itu. Taqi Mishbah Yazdi. itu juga karena ia “universal” terkadang ia sebagai menyebut bahwa universal itu terdapat di alam pikiran konsep-konsep universal konsep-konsep abstraksi yang diambil dari maujud-maujud luar dengan memperhatikan sifat-sifatnya. Mahdi Dahbosy. [41] [wisdoms4all. Syahid Muthahhari.[36] Roscelin (1050-1120 M) berkeyakinan bahwa yang hanya ada di alam eksternal adalah partikular. seluruh filsafat dan hukum-hukumnya tak bermanfaat. 141. Omusyes Falsafeh. Tarikh Ma’rifat Syenosi. Idealisme (universal itu hanya terdapat dalam alam pikiran atau gagasan Aristoteles). 29. dan experimen. dengan kata lain. Upaya-upaya pemikiran di abad pertengahan itu tak lain ialah untuk menjawab persoalanpersoalan tersebut. Perlu diketahui bahwa apabila kita memiliki ilmu terhadap sesuatu. argumentasi. 2. universal itu merupakan dalam konsep-konsep yang yang terdapat tentang pikiran menceritakan “penghubung” antara pikiran dan objek-objek “penghubung” itu sebagai “konsep-konsep”. Syenokht-e dar Quran. [3]. Roger Bacon (1214-1294 M) ialah orang yang berpijak pada empirisme dan positivisme. 2. Dengan alasan ini. sementara universal itu tidaklah memiliki wujud hakiki dan hanya bersifat katakata semata. yakni pertama-tama indra lahir kita berhubungan dengan alam luar. karena semua proposisi universal akan menjadi proposisi partikular yang hanya terkait dengan individu tertentu saja.satu objek individual[35]?. maka tidak satu pun kaidah yang iabisa diterima. kemudian akan terbentuk konsep-konsep imajinasi. jilid pertama. William seorang of Ockam (1287-1347 sebagai M) adalah yang dikenal pengingkar konsep-konsep universal. hal. segala proposisi universal yang merupakan pijakan seluruh ilmu dan kaidah-kaidah ilmiah tidak . Muhammad Ali Furughi. Proposisi matematik yang karena berkaitan langsung dengan experiman bisa diterima. Muhammad Ali Furughi. Ia memandang bahwa alat pengetahuan adalah teks suci. pembahasan “universalitas” memiliki urgensi. Realisme (universalitas itu memiliki wujud eksternal atau mutsul Plato). dengan demikian. 3. Syapur ‘Itemod. pelajaran kesebelas. sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa ia secara mutlak mengingkari menafsirkan luar. jilid satu. hal. hal 32. walaupun iaberupaya menyelesaikan persoalan universal itu lewat gagasan Aristoteles. bahwa seseorang beranggapan [1] . Dalam hal ini. Perlu diketahui bahwa iabanyak bersentuhan dengan pemikiran filsafat Islam. 74.[39] Thomas Aquinas (1225-1274 M) yakin bahwa rasionalitas dan pemikiran itu sangat bergantung pada pengindraan lahiriah. dan dan menolaknya. begitu pula. maka sesuatu itu hadir dalam jiwa dan pikiran kita. ada tiga perspektif dan aliran pemikiran: 1. Namun.

keabsahan kehadiran ilmu. Seperti konsep tentang ‘sebab’ dan ‘akibat’. Apabila sesuatu yang hadir dalam pikiran kita adalah kuiditasnya (mahiyah). Yang dimaksud dengan at-tashdiq (pembenaran. qidam dan huduts. keluasan ilmu yang mencakup ilmu terhadap Tuhan. Kaum epistemolog Barat mayoritas menyetujui makna ilmu seperti ini. yang ada itu hanyalah api dan panas. hal. [13] . ular naga tiada. ‘Sebab’ dan ‘akibat’ itu tidak nampak diluar. sumber ilmu. 110-111. kemungkinan dan kemustahilan mewujud. mitsal. Gambaran tentang hubungan subyek dan predikat. hal. kalau sesuatu yang hadir dalam jiwa kita adalah wujud eksternalnya. Namun. seperti dikatakan: Tuhan ada. fenomena (yang tampak kepada kita). esensi ma’lum (yang diketahui). langit. jika yang hadir dalam diri kita adalah wujud api itu sendiri. hakikat sebagaimana adanya (noman).memiliki dua dimensi. Tuhan. Silahkan rujuk pada catatan kaki no. seperti gambaran tentang bulan. dan malaikat yang ada dalam pikiran kita. namun berwujud mengikuti keberadaan subyeknya. esensi alim (yang mengetahui). hal. dan konsep ‘sebab’ itu lantas dipredikasikan kepada api. Apabila subyek epistemologi adalah penyingkapan secara umum. ilham. bukan kuiditasnya. Munculnya konsep ‘sebab’ itu berasal dari analisa akal atas hubungan khusus antara api dan panas. Kebenaran yang belum diyakini adalah suatu bentuk kebenaran yang diterima secara taklid dari orang-orang yang dipercaya dan belum melalui proses penelitian secara sistimatis dan logis. jilid kedua. keabsahan alat. 10. akan tetapi. 13. bumi. maka api yang ada di dalam pikiran kita tidak akan membakar pikiran kita. Seperti pengkajian kaidah tentang sebab dan akibat. [7] . maka ilmu kita terhadap sesuatu itu disebut “ilmu hushûlî” atau “pengenalan rasional“. kehadiran konsep ini tidak bisa terlepas dari keberadaan objek eksternalnya. keabsahan metode. ada dan tiada. Paul Edward. Gambaran predikat. Pengetahuan intuitif ini ditandai oleh hadirnya objek di dalam diri si subjek. wujud pikiran dan eksternal. Aflatun. Syarh-e Mushthalahât-e Falsafi. Misalnya ketika kita melihat api yang ada di luar diri kita.Dalam setiap pembenaran terdapat tiga penggambaran: 1. Dalam epistemologi kontemporer di Barat dibahas esensi ilmu (keyakinan benar yang bisa dibuktikan). Ali Syirwani. Sementara ilmu hushûlî hanya berhubungan dengan gambaran sesuatu itu. Akan tetapi. wujud tetap dan berubah. jilid ketiga. 4. ilmu hudhûrî menangkap objeknya secara langsung (immediate) dan berkaitan dengan hakikat sesuatu. dan wujud materi. potensi dan aktual. 3. atau rumus-rumus. dan juga berdasarkan tolok ukur ilmu. Dengan demikian. Jalan menuju makrifat tidak terbatas pada akal dan indra lahir. Plato adalah orang pertama yang melontarkan bahwa keyakinan benar yang bisa dibuktikan sebagai makrifat hakiki. pembagian ilmu berdasarkan keabsahan ma’lum. konsepsi) adalah suatu gambaran pikiran dimana bukan penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain. Yang dimaksud dengan ‘kategori-kategori kedua filsafat’ (konsep-konsep filosofis) adalah suatu konsep yang tidak memiliki individu luar dan tidak memiliki wujud mandiri. Syahid Murtadha Muthahhari. [12]. Pengenalan rasional ini memahami objek-objeknya lewat symbol-simbol. walaupun ‘sebab’ . kata-kata. pengesahan) adalah penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain dalam bentuk positif atau negatif. dimensi kuiditas dan dimensi wujud. hal. 2. dan non-materi. Daure-ye Otsor. maka niscaya akan membakar diri kita. apa yang menjadi titik tekan dan inti pembahasan dalam epistemologi adalah mengenai akal dan indra (lahir dan batin). [10] . Konsep ini diperoleh dari analisa akal terhadap perkara-perkara eksternal. Gambaran subyek. karena yang memiliki pengaruh membakar itu hanyalah wujud api. [14]. jiwa manusia non-materi. Masaley-ye Syenokh. melainkan pencapaina makrifat bisa dengan jalan syuhud irfani. Dâiratul Ma’ârif. matahari. jiwa manusia. 1119. [5]. …. [11] . kemestian. dan berpuncak pada wahyu. Kalau kita perhatikan di alam eksternal. materi. Yang dimaksud dengan at-tashawwur (penggambaran. maka ilmu kita terhadap sesuatu itu di sebut “ilmu hudhûrî” atau “pengenalan intuitif“. [8] . [9] . misalnya: api adalah ‘sebab’ panas atau panas adalah ‘akibat’ dari api. wujud dan kuiditas. Oleh karena itu. maka akan tercakup segala apa yang disebutkan itu. kalimat. [6] . karena itu pengetahuan ini disebut “presensial“. kalau yang kita tangkap dari api adalah kuiditasnya.

sembari menanti teruploadnya tulisan tersebut. Insya Allah sementara ini kami sedang menyiapkan tulisan yang bertajuk “Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Agama” yang kurang lebihnya dapat memenuhi materi yang Anda cari. Ibid. hal.Tarikh Falsafe-ye Garb. Nah. [32] . jilid pertama. Paul Edward. 99. Dalam pada itu. harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. [23] . diselesaikan terlebih dahulu dalam dapur epistemologi. ) yang melulu menggunakan software akal universal yang dimiliki oleh setiap manusia. jilid pertama.Tâsu’ât. hal. [19] . 443. Muhammad Ali Furughi. [37] . Tarikh Falsafe-ye Garb. sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. pasal sembilan dan pertama. What do you say??? 1. 102. Ibid. So sedemikian penting masalah epistemologi dalam pembahasan filsafat. jilid pertama. Yakni. hal. pasal empat. hal. [31] . apakah akal universal ini patut diandalkan atau tidak. hal 15. Ibid. hal. 172. kami mempersilahkan Anda menunggah http://www. Frederick Copleston. hal. hal. hal.com/English . [40] . [35] . [16] . Atau sederhananya. Ruh-e Falsafeh dar Qarn-e Wustha. [38] . hal. [18] . hal. Ibid. induktif atau deduktif. sifat-sifat. [39] . dan risalah kesembilan. [41] . Aristoteles. [29] . pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. 10-11. Dan Aristoteles. Metafisik. hal. hal. Ibid. Metafisik. Ibid. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. [22] . 149. Tentu saja. [28] . [27] . Lyotard. hal. hal. Walhasil. pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya.ialah sifat untuk api. hal. Paul Edward. Tarikh al-Falsafah alYunaniyah. Paul Edward. [33] . [24] . Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. Ibid. 2007 REPLY KUTIP Zaky: saya bisa ga’ nemuin materi yg saya cari? “pengertian ilmu dan ilmu pengetahuan” __________________________________ ________ Isyraq: Terima kasih atas kunjungan Anda. 131. hal. hal. tapi ini tidak berarti bahwa ‘sebab’ itu memiliki wujud yang mandiri dan terpisah dari api dan kemudian melekat pada api. [21] . [26] . 171. hal 65. Ibid. 12. Frederick Copleston. 33. Paul Edward. 112. hal. Seir-e Hikmat dar Eropa. lantaran berfilsafat adalah berargumen (silogis. This the way I see it. 11. ○ ○ ○ ○ ZAKY November 25th. hal. 209. [34] . 64. 126. risalah ketiga. [36] . Dan ini adalah raison d’être pembahasan epistemologi. 95. Tarikh Falsafe-ye Garb. [20] . Seperti pengetahuan kita terhadap keberadaan dan wujud diri kita sendiri. [17] . hal. [15] . [25] .wisdoms4all. 106.Tarikh Falsafe-ye Garb. Capelestun. Ibid. Dengan demikian. Universal lawan dari partikular yang berarti gagasan yang hanya bisa diterapkan untuk satu objek individual. 348. Yang didirikan pada tahun 300 M [30] . Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. Semua konsep dalam filsafat berada dalam kategori-kategori seperti ini. Plotinus. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. Ibid. Yusuf Keram. 21. hal. 261. Frederick Copleston. Ibid. hal. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asal-usul. Ibid. 82. asumsi dasar. 472.

2008 REPLY KUTIP eko Desember 7th. perbedaan antara ilmu hudhuri dan hushuli. Bagaimana kalau lebih di fokuskan pembahasan yang lebih spesifik tentang epistemologi hudluri. 3. Nah. Filosof adalah alih bahasa bebas dari bahasa Yunani yang bermakna orang yang cinta kepada hikmah. saya coba baca Ilmu Hudlurinya Mehdi Hairi Yazdi. 2007 REPLY KUTIP perbedaan seorang filosof dengan seorang manusia biasa salah satunya adalah gairah untuk dapat lebih mengetahui ushul segala bentuk wujud dengan epistimologi hingga tak ada sedikitpun keraguan dalam dirinya. Anda benar bahwa filosof (tentunya filosof yang jujur dan mukhlis) berupaya berargumentasi dan berdemonstrasi dengan dalil-dalil sehingga tak setitik keraguan yang tersisa. Apakah kita masih termasuk orang orang yang merasa sudah tinggi ilmunya ? Sudah merasa lebih tua dan berengalaman dari yang lain ? Merasa yang paling benar ? Merasa apa yang kamu dapatkan sekarang adalah buah dari hasil usaha dan jerih payahmu selama ini ? merasa paling benar ibadahnya ? Mudah mudahan kita tidak termasuk dalam Salam. induksi dan deduksi. ________________________________________ __ Isyraq: Salam dan terima kasih kepada Sdr/i Sane yang memberikan nice dan supporting komentar atas postingan yang ada. kemudian Tuntunan memohon dan Jalan yang harus dilalui. sebelum berfilsafat. karena Ilmu/pengenalan seperti itulah yang menjadi dasar dari seluruh pemahaman manusia. Dan pembahasan epistemologi di blog ini telah memasuki pembahasan sejarah ilmu hudhuri. Kami sedang berupaya menyediakan pembahasan secara sistematis dan runtun epistemologi. ○ ○ ○ ○ 5. dan Al Qur’an di akhiri dengan surat yang membahas “sejarah Tuhan”.tass. ○ ○ ○ ○ sane November 29th. 2007 REPLY KUTIP Salam alaykum………… Maha suci ALLAH yang telah memberikan kita AL QURAN dengan tulisan ARAB serta menjaga kerahasiaannya. U’budu Rabbaka hatta ‘atakal Yaqin.. Dan jangan berhenti di sini. Kalau diringkaskan di awali dengan cara berjalan menuju Allah dan di Akhiri kepada pemahaman bagaimana Allah ataupun Makhluq ini berasal.” 2. terutama masalah ..sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan… Mari kita hasilkan keyakinan dengan berfilsafat.Dan isi Al-Quran banyak membahas hal kehidupan setelah mati itu semua merupakan kapling khas Agama dan pemahamanya lebih banyak bersifar HUDLURI??? ini hanya couriusity saya.iqra warqa’ “Bacalah dan melambunglah ke tingkat yang lebih tinggi….. rasanya masih perlu sumber yang bisa lebih menyederhanakan lagi.... Doakan kami untuk keep on writing masalah tersebut hingga tuntas. sehingga orang orang yang berkeinginan dan dikehendakiNya yang mendapat “rahmat” darinya………. Filosof dalam bahasa Arab biasanya disebut sebagai hakim. Tks Isyraq: Salam. penciptaan dan kontingensi.. sebab saya menduga ada hal yang menarik dalam susunan AlQur’an dimulai dari Surat Al Fathihah yang berisi cara menyembah dan mentauhidkan Allah. muhkam yang dapat bermakna kuat dan menguatkan. ○ ○ ○ ○ achmad satya dharma Februari 10th. Jadi kerja filosof adalah menguatkan dan memperdalam jangkauan hikmah yang dapat dicapainya dengan silogisme. 4.. 2007 REPLY KUTIP epistemologi pengenalan diri kita sendiri dan masalah emanasi. piranti akal atau indra yang mo digunakan diolah di dapur epistemologi. Terima Kasih. tass.artikel yang bertemakan “Islamic Concept of Knowledge. ○ ○ ○ ○ fahmi alkaf Desember 3rd. Hakim derivatnya adalah hukm.

Semoga kita termasuk orang orang yang kembali dan memeperoleh kemenangan…. ada sesuatu yang dipikirkan (ontologi). Jika kita mengetahui batasbatas pengetahuan. Sistem filsafat disamping meliputi epistemologi. juga ontologi dan aksiologi. dan para syuhada……… Alangkah indahnya kita mengabdi dan beribadah kalau kita tahu kepada siapa kita beribadah dan mengabdi…. kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan itu. “Ikutilah” Rasulullah sebagai uswatun hasanah… tetapi bukan menirunya. (Amin ya ALLAH) Bismillahi tawakkaltu alallah…. Yaitu jalannya para nabi.golongan yang satupun dari yang di atas……… Makrifatullah adalah kunci dari segala ilmu Dalam menempuhnya kita harus datang dengan “tangan terbuka” dan harus bisa memenggal kepala “ego” kita. “Jalan yang lurus” adalah jalan yang paling singkat dan pasti. Ikuti dan terapkanlah Sunnahnya dan dapatkan hakikat dari sunnah tersebut… Bacalah al quran. Kalau tidak mengerti janganlah cepat menyerah. Bismillahi majriha wa mursaha……… Salam alaykum EPISTEMOLOGI 1. Masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan……. atau mungkin dapat menenatapkan batasbatas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya (Luis O. Dalamilah islam sampai ke “inti”nya jangan hanya kulitnya saja. Jangan ada rasa cemburu terhadap yang sudah mengalaminya karena apabila telah menjadi hak kita dan telah sampai waktunya kepada kita niscaya tidak ada suatu apapun yang dapat menghalanginya……. shiddiqin. shalihin. Dengan gambaran senderhana dapat dikatakan. yang menjadi objek pemikiran. Epistemologi adalah teori pengetahuan. Baca saja terjemahannya bukan tafsirnya…. yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. epistemologi. Sebenarnya kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. karena sesungguhnya pengetahuan itu bukanlah diraih… tetapi adalah diberikan…... kemudian timbul hasil pemikiran yang memberikan suatu PARAGRAPH BARU .. Subhanallah……… Minal aidin wal faidzin…. semoga kita mendapat rahmat dariNya. Oleh karena itu. lalu dicari cara-cara memikirkannnya (epistemologi). mulai dari ontologi. Kattsoff. sebab barang tiruan berarti adalah barang palsu…. yaitu tentang apa yang dipikirkan. 2004 Dalam pembahasan filsafat. Salah satu isi al quran adalah berisi tenteng pengalaman ruhani manusia dalam menuju TUHANnya…. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. agar kita tidak terjebak kepada hal-hal yang tidak perlu dibahas…. kemudian aksiologi. Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat. Yangmana kita harus mengalaminya terlebih dahulu baru kita bisa memahami maksudnya…. karena Al quran adalah petunjuk yang HAQ…. ketiga sub sistem ini biasanya disebutkan secara berurutan. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui.Latar Belakang Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. kalau tidak bisa arabnya tidak mengapa….. epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. tidak ada kemungkinan kita untuk tersesat darinya…. Ontologi adalah teori tentang “ada”. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanya kemungkinankemungkinan dan bukannya kepastian.. perlu diperhatikan bagaimana dan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan.

landasan. PENGERTIAN EPISTEMOLOGI Secara historis. sehingga tidak diperoleh pengetahuan apapun. epistemologi dan ontologi. Ketiga landasan ini saling berkaitan. berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya. tujuan. bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasan-pembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi . teori belajar. Jadi. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik. gaya belajar. hambatanhambatan belajar. Hal ini akan lebih jelas lagi.F. epistemologi. maka hanya akan sia-sia. Secara detail. cara. seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalanpersoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. seandainya objek pemikran sudah ada. sehingga didapatkan pengertian yang berbedabeda. ketika kita membicarakan epistemologi disini. dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain. Keterkaitan antara ontologi. tetapi jika tidak didapatkan cara-cara berpikir. ruang lingkup. prinsip-prinsip belajar. jika kita renungkan bahwa meskipun terdapat objek pemikiran. Lazimnya. cara-cara juga adam tetapi tidak diektahui manfaat apa yang bisa dihasilkan dari sesuatu yang dipikirkan itu. pembahasan konsep apa pun. hakikat dan pengaruh epistemologi B. justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. melainkan juga pada substansi persoalannya. kita perlu memahami seluk beluk diseputar epistemologi. epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. mulai dari pengertian. tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya. maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Sebagai sub sistem filsafat. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu. Namun demikian. epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Begitu juga. selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis. guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. dia baru bisa menjelaskan proses belajar. Oleh karena itu.manfaat atau kegunaan (aksiologi). Misalnya. Demikian juga. metode. Setelah memahami substansi belajar tersebut. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. maka objek pemikiran itu akan “diam”. Ferrier. setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi). Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi. untuk membedakan dua cabang filsafat. sebab ketigatiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. objek. buka saja pada redaksinya. Jadi. tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. ketiganya adalah interrelasi dan interdependensi (saling berkaitan dan saling bergantung).

sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. metode-metode dan validitas pengetahuan. dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan.(pengertian). metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. Dalam Epistemologi. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. 3).Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. struktur. dan logos berarti teori. 1965. diungkapkan oleh Dagobert D. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan. dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan. hal. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. Sementara itu. Sedangkan. Pengertian lain. 2003. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. Menurut Musa Asy’arie. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya.Suriasumantri. pengandaianpengendaian dan dasarnya. Dia menyatakan. yaitu realisme dan idealisme. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu.Hardono Hadi menyatakan.32). Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. struktur. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah . Demikian pula. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. struktur.Runes. P. Secara etimologi. 2005).W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Selanjutnya. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). metode dan validitas ilmu pengetahuan”. 2). Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. pengertian. dalam Jujun S. Sedangkan D. Azyumardi Azra menambahkan.

mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar. batas. atau bahkan suatu sains yang bukan epistemologi dari sains. Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan. dari mana asalnya. sebagaimana diuraikan tersebut. Akan tetapi. M. maka tidak mungkin seserorang memiliki suatu metafisika yang tidak sekaligus merupakan epistemologi dari metafisika. apakah ilmu itu. sebab pernyataanpernyataan ini akan membantu pemahaman secara makin komprehensif dan utuh (holistik) mengenai ruang lingkup pemabahasan epistemologi. validias. taklid kepada pengetahuan atas kewibaan orang yang memberikannya termasuk epistemologi. sehingga mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu. Jelasnya. Semestinya harus ada pergeseran pusat perhatian pembahasan ke arah aspek-aspek yang terabaikan itu. yaitu hakikat. pengandaian. bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab. maka teori pengetahuan itu bisa meliputi. tumpuan. struktur. Kenyataan ini kembali mempertegas. Bahkan menurut. apa kebenaran itu. macam. tumpuan. seperti proses maupun tujuan. batas. Filsafat merupakan refleksi. A. pertanggungjawaban dan skope pengetahuan. Bahkan. apa sumbernya. sasaran. sampai Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan. melainkan bisa juga sebaliknya. karena definisi-definisi itu tampaknya didasarkan pada rincian aspek-aspek yang tercakup dalam lingkup epistemologi daripada aspek-aspek lainnya. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek. dan refleksi selalu bersifat kritis.dipahami. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu. unsur. ontologi dan aksiologi serta dimensi lainnya. apa hakikatnya. Sebenarnya masing-masing definisi diatas telah memberi pemahaman tentang ruang lingkup epistemologi sekaligus. Bertolak dari pengertian-pengertian epistemologi tersebut. tetapi cakupannya luas sekali. unsur. apa yang dapat kita ketahui. masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. seperti psikologi selalu diiringi oleh epistemologi. bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. dan sasaran pengetahuan. hakikat.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi. dasar. RUANG LINGKUP EPISTEMOLOGI. sumber dan validitas pengetahuan. macam. Jadi meskipun epistemologi itu merupakan sub sistem filsafat. meliputi hakekat. Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas. dan sampai dimanakah batasannya. sumber. metode. bahwa antara epistemologi selalu berkaitan dengan ontologi dan aksiologi. Lebih dari . bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar. agar dapat menyajikan pembahasan terhadap aspek-aspek epistemologi seluruhnya secara proporsional. ada baiknya dikemukakan pernyataan-pernyataan lain yang mencoba menguraikan ruang lingkup epistemologi. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok. Sidi Gazalba. kodrat. terutama ketika dimensi-dimensi itu dicoba untuk digali. seluruh permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan adalah menjadi cakupan epistemologi. C. keaslian. Jika kita memaduakan rincian aspek-aspek epistemologi. atau psikologi yang tidak sekaligus epistemologi dari psikologi. Epistemologi senantiasa “mengawali” dimensi-dimensi lainnya. kiranya kita perlu memerinci aspek-aspek yang menjadi cakupannya atau ruang lingkupnya. sekalipun ia sebenarnya merupakan doktrin tentang psikologi kepercayaan. ternyata hanya aspekaspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof.M Saefuddin menyebutkan.

Padahal sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi. baik yang bercorak positif maupun negatif. saat ini literatur-literatur filsafat masih terjadi pemusatan perhatian pada aspek-aspek tertentu saja. tetapi terjadinya pembunuhan tidak hanya melalui menembak kepala perampok. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. sehingga pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. mungkinkan suatu kegiatan hanya memiliki objek satu tetapi tujuannya banyak. dan pembentukan pengetahuan. yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan. Misalnya. Objek sama dengan sasaran. jika telah melalui objek lebih dulu. sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran. sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai. Jadi. Sebaliknya. sedangkan objeknya adalah kepalanya. bisa juga dadanya atau perutnya. baik untuk membangun psikologi. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik. Sementara itu. antropologi. Meskipun berbeda. sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman. perubahan kecenderungan pembahasan tersebut dapat memperkenalkan pengetahuan yang makin luas dan mendalam tentang cakupan epistemologi. sejak lama ia menjadi objek penelitian dan pengamatan yang memiliki tujuan bermacam-macam. tetapi objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan. akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas. bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. M. pedagogi. Dengan kata lain. meskipun secara spesifik tekanan perhatian dalam meneliti dan . bilogi. OBJEK DAN TUJUAN EPISTEMOLOGI Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. tujuan baru dapat diperoleh. ekonomi. sedang tujuan hampir sama dengan harapan. Amin Abdullah menilai. Oleh karena itu. Kenyataannya. terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat. penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang. tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan. D. ontologi sebagai objek pemikiran. atau setidaktidaknya kurang mendapat perhatian yang layak. pembunuhan sebagai tujuan polisi baru mungkin tercapai setelah melalui tindakan menembak kepala perampok sebagai sasaran. ketika akan ditangkap dengan menambak kepalanya sebagai sasaran. ilmu hukum dan sebagainya. Ternyata ini juga mungkin terjadi bahkan sering terjadi. Ini berarti dalam satu tujuan bisa dicapai melalui objek yang berbeda-beda atau lebih dari satu. Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan. Aspekaspek itu berkisar pada sumber pengetahuan. bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. sosiologi.itu. jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi. khususnya bidang epistemologi. aspekaspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi. Jika diamati secara cermat. Manusia misalnya. sebagaimana diuraikan di atas. sebab objeklah yang mengantarkan tercapainya tujuan. tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan. Namun. tujuannya adalah pembunuhan. sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran. Bagian-bagian lainnya jauh lebih banyak. Hanya saja. seorang polisi bertujuan membunuh perampok yang melakukan perlawanan.

maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali. tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif. Proses menjadi tahu atau “proses . Kecenderungan ini justru memiliki efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan bersifat dinamis. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya. Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai dia puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan. yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan. Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan. Artinya. tetapi seseorang yang mengetahui hasilnya. bahkan hafal. apakah yang menjadi tujuan epistemologi tersebut. Secara global. dan juga pengusaha. sebaliknya tanpa suatu tujuan. Aktivitas berfikir dalam kecenderungan pertama (satu tujuan dengan objek yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian cara sebanyak-banyaknya. akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu.mengamati itu berbeda-beda.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. dua kali tiga didapatkan hasil enam. sedang berpikir dalam kecenderungan kedua (satu objek untuk tujuan yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian hasil yang sebanyak-banyaknya. mendorong kreativitas seseorang. sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari. Namun. Seseorang yang mengetahui prosesnya. Keadaan pertama hanya berorientasi pada hasil. Selanjutnya. perekayasa. Hal ini menunjukkan. tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan. siswa yang cerdas tidak pernah puas dengan pengetahuan dan hafalan itu. apakah saya dapat tahu. Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. Maka guru yang profesional akan menerangkan proses tersebut secara rinci dan mendetail. sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwayang-ada). tetap saja membutuhkan banyak cara untuk mewujudkan keinginan pemikirnya. Sebagai sub sistem filsafat. tentu akan dapat mengetahui hasilnya. ada upaya bagaimana menjadikan bahan yang sama untuk kepentingan yang berbeda-beda. yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan. Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetahuan.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan. Guru dapat mengajarkan kepada siswanya bahwa dua kali tiga sama dengan enam (2 x 3 = 6) dan siswa mengetahui. Objek epistemologi ini menurut Jujun S. hakikat alam dan hakikat manusia. epistemologi atau teori pengetahuan yang pertama kali digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. Hal ini merupakan implikasi dari tekanan masing-masing pola berpikir tersebut. sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. mustahil tujuan bisa terealisir. sehingga siswa benarbenar mampu memahaminya dan mampu mengembangkan perkalian angka-angka lainnya. Dia tentu akan mengejar bagaimana prosesnya. Tanpa suatu sasaran. Dewasa ini. sedangkan keadaan kedua lebih berorientasi pada proses. justru kecenderungan ini mulai memperoleh perhatian yang sangat besar di kalangan para pemikir. baik berpikir dalam kecenderungan pertama maupun kecenderungan kedua. Objek material adalah sarwayang-ada. acapkali tidak mengetahui prosesnya.

gagasa. Di dalam filsafat pengetahuan. Sikap ini mencerminkan bahwa mereka berlebihan dalam menilai begitu tinggi terhadap metode ilmiah. yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Jadi. metode ilmiah merupakan penentu layak tidaknya pengetahuan menjadi ilmu. sedangkan landasan bagaikan fundamennya. sehingga banyak pakar yang sangat kuat berpegang teguh pada metode dan cenderung kaku dalam menerapkannya. Demikian juga dengan epistemologi. Dengan demikina. kemudian diperiksa satu persatu barang-barang yang ada didalamnya. Penguasaan terhadap proses tersebut berfungsi mengetahui dan memahami pemikiran seseorang secara komprehensif dan utuh. alasan-alasan yang melatar belakangi. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yang tercantum dalam metode ilmiah. ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. termasuk juga ide. Dengan demikian. Bangunan pengetahuan menjadi mapan. Ketika faktor. Sebaliknya. karena tidak pernah membuktikan. Kekuatan bangunan rumah bisa diandalkan berdasarkan kekuatan fundamennya. sebab ia merupakan tempat berpijak. tanpa menyadari semuanya yang hanya sekedar salah satu sarana dari sains untuk mengukuhkan objektivitas dalam memahami sesuatu. meskipun seseorang diberi tahu bahwa di dalam gudang terdapat bermacam-macam barnag. Sedangkan landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah. Faktor. tetapi terlepas dari sikap tersebut yang seharusnya tidak perlu terjadi. sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan.pengetahuan” inilah yang menjadi pembuka terhadap pengetahuan. alasan dan motif ini belum dikenali. maupun motif-motif yang mendasarinya. seseorang tidak sekedar mengetahuai sesuatu atas informasi orang lain. Dalam kehidupan masyarakat tidak jarang terjadi sikap saling menyalahkan pemikiran seseorang. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. semuanya tergantung pada titik tolaknya. maka acapkali seseorang tidak akan bisa memahami pemikiran orang lain. sehingga dia dapat memakluminya. maka gudang itu akan segera dibuka. konsep dan teorinya. jika seseorang terlebih dahulu berupaya mengenali faktor. Bangunan pengetahuan bagaikan bangunan rumah. maka dia akan mampu mengenali pemikiran orang lain dengan baik. sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syaratsyarat tertentu. tetapi dia tetap hanya apriori semata. yang jelas dalam kenyataanya metode ilmiah telah dijadikan pedoman . seakan-akan mereka menganut motto: tak ada sains tanpa metode. akan dipengaruhi atau tergantung landasannya. tetapi benar-benar tahu berdasarkan pembuktian melalui proses itu. LANDASAN EPISTEMOLOGI Landasan epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan. Begitu pentingnya fungsi metode ilmiah dalam sains. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah. alasan dan motif itu maupun komponen yang lain sesungguhnya termasuk dalam mata rantai proses sebuah pemikiran. Sesungguhnya sikap berlebihan itu memang riil. akhirnya berkembang menjadi: sains adalah metode. E. Proses ini bisa diibaratkan seperti kunci gudang. Timbulnya suatu pemikiran senantiasa sebagai akibat adanya faktor-faktor yang mempengaruhi. sebab tidak ada pemikiran yang terpenggal begitu saja. tanpa ada alasan-alasan yang mendasarinya. padahal mereka belum pernah melacak proses terjadinya pemikiran itu. alasan dan motif tersebut. jika memiliki landasan yang kokoh. pemahaman dan pengembanganpengembangannya. Dengan membawa kuncinya.

HUBUNGAN EPISTEMOLOGI. sehingga timbul sifat-sifat atau ciri-cirinya. dalam metodologi dapat ditemukan upaya membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan metode.Senn mengemukakan. Implikasinya. tampaknya perlu memahami terlebih dahulu makna metode dan metodologi. sedangkan substansisnya relatif sama. yaitu rasio dan fakta secara integratif F. antara metode. Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain. “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis”. melaikan termasuk wilayah filsafat. Hal ini perlu penegasan. Jika metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu. yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”. juga sering disebut ilmu dan sains. maka metodologilah yang mengkerangkai secara konseptual terhadap prosedur tersebut. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah. “Dalam dunia keilmuan ada upaya ilmiah yang disebut metode. sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). dan sebagainya. juga bisa disebut pengetahuan sehari-hari. Dengan istilah lain. sistematis. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan. bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Pengetahuan adalah pengalaman atau pengetahuan sehari-hari yang masih berserakan. Lebih jauh lagi Peter R. kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan. logis dan empiris. metodologi dan epistemologi. Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Padahal mestinya dia harus . sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah diatur berdasarkan metode ilmiah. Sesuatu fenomena pengetahuan logis. Untuk mengetahui peta masing-masing dari ketiga istilah ini. sumber-sumbernya. sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam penelitian. Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode. Disini perlu dibedakan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan (ilmu). karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. mengingat dalam kehidupan sehari-hari sering dikacaukan antara metode dengan metodologi dan bahkan dengan epistemologi. batasbatasanya. METODE DAN METODOLOGI Selanjutnya perlu ditelusuri dimana posisi metode dan metodologi dalam konteks epistemologi untuk mengetahui kaitankaitannya. juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan. tetapi tidak empiris. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa. Secara sederhana dapat dikatakan. atau pengalaman sehari-hari. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang dianutnya. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. kelemahan dan kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut. membangun dan mengembangkan pengetahuan ilmu. disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah. Pada bagian lain.dalam menyusun. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah. objektif. Kholil Yasin menyebut pengetahuan tersebut dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary knowledge).

baik dalam aspek parsial atau total. kendatipun tidak bisa dipisahkan. G. Apalagi hakikat epistemologi. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat. Oleh karena itu. bahwa seseorang yang sedang mempertimbangkan penggunaan dan penerapan metode untuk memperoleh pengetahuan. sedangkan penelitian kualitatif menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). membedakan cabang-cabangnya yang pokok. sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi. dan lingkaran yang lebih kecil kecuali berupa metodologi. Jadi. Filsafat mencakup bahasan epistemologi. tetapi masalah-masalah ini bukanlah semata-mata masalah-masalah filsafat. Lebih jelas lagi. dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. dilanjutkan dengan merinci pada metodologi. Posisi masing-masing istilah ini. mengidentifikasikan sumbersumbernya dan menetapkan batasbatasnya. epistemologi mencakup bahasan metodologis. seperti lingkaran besar yang melingkari lingkaran kecil. Dalam filsafat. metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. lagi-lagi terasa sulit. Pandangan yang lebih ekstrim lagi . bahwa penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivisme. sesuatu yang ditentukan oleh yang lain). karena ita tidak bisa menangkapnya. batas. kecuali ciri-cirinya. Dengan demikian. karena ada bahasan lain. apa yang benar dan dapat dipergunakan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. validitas. seperti: hakikat. yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat. sedangkan metode penelitian berada dalam dataran teknis. Demikian juga epistemologi mencakup bahasan metode (metodologi). namun bahasan epistemologi bukan hanya metode semata-mata. maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat. metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi. Untuk lebih jelas lagi perlu dibedakan adanya metode pengetahuan dan metode penelitian. sasaran dan dasar pengetahuan. lingkaran kecil berupa epistemologi. mengingat pembahasan tentang seluk-beluk metode itu ada pada metodologi. maka dia harus mengacu pada metodologi. dan dalam lingkaran kecil masih terdapat lingkaran yang lebih kecil lagi. dapat dijelaskan urutanurutan secara struktural-teoritis antara epistemologi. struktur.benar-benar memahami. unsur. istilah metodologi berkaitan dengan praktek epistemologi. problem penyelidikan ilmiah yang secara filosofis menjadi kajian utama cabang epistemologi yang berkaitan dengan problem metodologi juga berkaitan dengan rancangan tata pikir. Metode pengetahuan berada dalam dataran filosofis-teoritis. sumber. macam. tumpuan. HAKIKAT EPISTEMOLOGI Pembahasan tentang hakikat. Lingkaran besar disini diumpamakan filsafat. tentu lebih sulit lagi. Kemudian berbicara tentang metodologi yang berarti berbicara tentang cara-cara atau metode-metode yang digunakan oleh manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran. Metodologi inilah yang memberikan penjelasan-penjelasan konseptual dan teoritis terhadap metode. yaitu ontologi dan aksiologi. Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan. tetapi bahasan filsafat tidak hanya epistemologi karena masih ada bahasan lain. Secara lebih khusus. metode merupakan perwujudan dari metodologi. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi. “Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral epistemologi. Ini berarti bahwa filsafat mencakup bahasan epistemologi. sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham determinsime.

Ia merupakan parameter yang bisa memetakan. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh melalui perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis. Di samping itu. bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat. kecuali psikologi. Cara pandang demikian akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. Sejak semula. Sebab epistemologi itu berkenaan dengan pekerjaan pikiran manusia. Tidak semua objek mesti . epistemologi dan aksiologi. atau sekedar memiliki persentuhan yang erat dengan epistemologi.menurut Kelompok Wina. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja. Menurut. Selain itu. epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit. logika itu sendiri patut dipertanyakan. tidak bisa lepas dari ontologi dan aksiologi. Suriasumatri. apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui. Metodologi misalnya telah digabungan secara teliti dengan epistemologi dan logika. epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh kontroversi. Ada yang menyatakan. epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat. diluar epistemologi sama sekali. terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidangbidangnya. Dalam pemahaman yang sederhana epistemologi memiliki interrelasi (saling berhubungan dengan komponen lain. sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika sendiri. walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik. epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia. Ini berarti tidak ada disiplin ilmu lain. sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. Honer dan Thomas C. Jujun S. apakah logika itu bagian dari epistemologi.Hunt yang menilai. maka minat untuk membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya untuk melebihi takaran minat kita. pengetahaun merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. Perbedaaan padangan tentang eksistensi epistemologi ini agaknya bisa dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M. padahal realitasnya banyak sekali. Sementara itu. Luasnya jangkauan epistemologi ini menyebabkan objek pembahasannya sangat detail dan pelik. Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. bahwa persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemologi pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi masingmasing. bahwa filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu. apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik tidak usah diketahui. the workings of human mind. Oleh karena itu. maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. Kemudian jika diingat. melainkan termasuk dalam kajian psikologi. ontologi dan aksiologi). karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan pikiran. Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. Dalam epistemologi terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya. epistemologi tersebut sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. Selanjutnya. justru karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. bahwa posisi logika berada diluar ontologi.

sedangkan usaha untuk membuktikan adalah aplikasi berpikir empiris. sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius. Hal ini juga bisa dikatakan. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya. atau deduktif dengan induktif). jika dilihat dari kepentingan jangka panjang. bahwa usaha menafsirkan berkaitan dengan deduksi. Perbedaan hasil teman dalam masalah . sehingga tidak mungkin bisa diketahui. sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar. sehingga tidak perlu diketahui. sebab ilmu pengetahuan yang berhenti. bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. bahwa kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat tentatif. epistemologi adalah teori pengetahuan ilmiah. Selama belum digugurkan oleh temuan lain. maka tindakannya itu justru merugikan. karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek. Gabungan kedua macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah. Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri. H.dijelajahi oleh pengetahuan manusia. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali. PENGARUH EPISTEMOLOGI Bagi Karl R. baruk ditarik kesimpulan secara umum. bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme. Perkemabangan ilmu pengetahuan dengan demikian membuktikan. Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh. ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama. berarti dia menggunakan pendekatan induktif. sedangkan usah membuktikan berkaitan dengan induksi. ilmu pengetahuan harus ditangkap dalam pertumbuhannya. karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. yakni pikiran dan indera. Ilmu pengetahuan harus berkembang terus. Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis. sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. Tetapi. akan kehilangan kekhasannya. sehingga tidka jarang temuan ilmu pengetahuan yang lebih dulu ditentang atau disempurnakan oleh temuan ilmu pengetahuan yang kemudian. meskipun memungkinkan untuk diketahui. epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan dalam membentuk dirinya. maka menimbulkan pemahaman. berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu bertumpu pada landasannya. Kedua cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran. maka suatu temuan dianggap benar. Sebaliknya. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia. Popper. yaitu masa lampau yang telah dilalui. Pada bagian lain dikatakan. Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. Oleh sebab itu. Sebagai teori pengetahuan ilmiah. Usaha menafsirkan adalah aplikasi berpikir rasional.

ide atau gagasan. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. Implikasinya. maka epistemologi dapat memberikan pengayaan gambaran proses terbentuknya pengetahuan ilmiah. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. terutama cara-cara memperoleh pengetahuan yang membantu seseorang dalam melakukan koreksi kritis terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun oleh dirinya sendiri. kepercayaan dan sistem nilai mereka. mengingat bahwa proses itulah menunjukkan mekanisme kerja ilmiah dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Kondisi demikian sesungguhnya dalam dunia ilmu pengetahuan adalah suatu kelaziman. Dalam filsafat. bahwa keragaman seseorang atau masyarakat akan dipengaruhi pula oleh pandangan epistemologinya serta situasi sosial politik yang melingkupinya. Penguasaan epistemologi. Kendati terhadap satu persoalan. sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. tetapi jika dilacak lebih . Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Koreksi secara kontinyu terhadap pemikirannya sendiri ini untuk menyempurnakan argumentasi atau alasan supaya memperoleh hasil pemikiran yang maksimal. Proses ini lebih penting daripada hasil. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia. dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. banyak konsep dari pemikiran filosof yang kemudian mendapat serangan yang tajam dari pemikiran filosof lain berdasarkan pendekatan-pendekatan epistemologi. Ini menunjukkan bahwa epistemologi bisa mengarahkan seseorang untuk mengkritik pemikiran orang lain (kritik eksternal) dan pemikirannya sendiri (kritik internal). Melalui pelaksanaan fungsi dan tugas dalam menganalisis prosedur ilmu pengetahuan tersebut. epistemologi senantiasa mendorong dinamika berpikir secara korektif dan kritis. Akhirnya. tetapi karena sudut pandang yang ditempuh seseorang berbeda. sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. bila para ilmuwan memperkuat penguasaannya. tidak ada yang aneh sama sekali. epistemologi bisa menentukan cara kerja ilmiah yang paling efektif dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang kebenarannya terandalkan. sehingga perkembangan ilmu pengetahuan relatif mudah dicapai. baik yang dimiliki seseorang maupun masyarakat.yang sama ini disebabkan oleh perbedaan prosedur yang ditempuh para ilmuwan dalam membentuk ilmu pengetahuan. karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains. Suatu peradaban. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam. sehingga perbedaan pemikiran itu dapat dipahami secara memuaskan dengan melacak akar persoalannya pada perbedaan sudut pandang. sedangkan perbedaan sudut pandangan itu dapat dilacak dari epistemologinya Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Dinamika pemikiran tersebut mengakibatkan polarisasi pandangan. pada gilirannya juga menghasilkan pemikiran yang berbeda. Mohammad Arkoun menyebutkan. Keberangaman pandangan seseorang dalam mengamati suatu fenomena akan melahirkan keberagaman pemikiran. ilmu-ilmu mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu— dipandang dari keyakinan.

yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. pengalaman. yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu. asal mula pengetahuan. mungki saja mengalami kegagalan tetapi kegagalan itu dimanfaatkan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan. sehingga didapatkan percikan-percikan pengetahuan. Akhirnya ilmu pengetahuan tersebut diaplikasikan melalui teknologi.jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme. naturalsime dan empirisme.c om PARAGRAPH BARU LAGI EPISTEMOLOGI Filsafat Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. atau kombinasi akal dan pengalaman. objek dibahas dari keberadaannya. perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. apakah ia materi atau bukan. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis. 2. berupa faktor-faktor penyebabnya. metode atau cara memperoleh pengetahuan. Jadi kronologinya adalah sebagai berikut: mula-mula seseorang berpikir dan mengadakan perenungan. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. melainkan mutlak perlu dikuasai. Sebab dibalik kegagalan itu ditemukan rahasia pengetahuan. kemudian disusun secara sistematis menjadi ilmu pengetahuan (sains). yaitu ontologi. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. sum-ber pengetahuan.blogger. Secara ontologis. empirisme. yakni realisme. technology is an apllied of science (teknologi adalah penerapan sains). sarana. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). ILMU oleh: anin • • • • More About : epistemologi EPISTEMOLOGI IL Pengarang : Elvira Syamsir Summary rating: 2 stars (328 Tinjauan) Kunjungan : 23711 kata:600 suparmanhttp://www. Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan.com/profile/0 3249547895308622683noreply@blogger. Berdasarkan pada manfaat epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradaban tersebut. akal budi. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu. epistemologi. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. Pada awalnya seseorang yang berusaha menciptakan sesuatu yang baru. dan sebagainya. Pemikiran pada wilayah proses dalam mewujudkan teknologi itu adalah bagian dari filsafat yang dikenal dengan epistemologi. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). 1. Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. maka epistemologi bukan hanya mungkin. intuisi. . Akal. dan aksiologi. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar.

Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya. Akan tetapi.? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia. sebagai makhluk dinamis dan progressive. fenomenologi dan sebagainya. matematika dan statistika. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia.. korespondesi pragmatis. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. Semakin besar pengenalannya. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban dan sebaliknya akan membuatnya terpuruk hingga titik-nadir peradaban. Pengantar Memasuki Ranah Ontologi Anda dan vice-versa. di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij)." Introduksi Pandangan dunia (weltanschauung) seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. Epistemologi.bla. Diterbitkan di: 18 Maret. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. sebagai makhluk dinamis dan progressive. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif.rasionalisme kritis. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla. semakin luas dan dalam pandangan dunianya.? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. para arif berkata kenalkan diriMu kepadaku. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar." "Tuhanku. Till death do us apart. Karena nilai dan kualitas keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran.. seperti teori koherensi. 2008 Sumber: http://id.bla. 3. Akan tetapi. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). Penulusuran. Secara rasional. Wujud anda ekuivalen dengan pengenalan Anda dan viceversa..bla. Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji. tentang ada dan keberadaan. positivisme.com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1JmIRVKqJ PARAGRAPH BARU YA…. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. dan jahil ini berkata kenalkan diriku kepadaku.shvoong. dan teori intersubjektif. Anda dikenal atas apa yang Anda kenal. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak teruji. tentang perkara-perkara eksistensial.. sikap.bla. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak.. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang hidup dan kehidupan. penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang.. manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang .

dan dipahami. Penulusuran. filsafat menggunakan metodologi rasional dan subjek ilmu filsafat adalah eksisten qua eksisten. sifat-sifat. asumsi dasar. Tentu saja. Dan ini adalah raison d'être pembahasan epistemologi. pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia. Atau dengan kata lain. bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. diketahui. Dengan kata lain. keraguan ini akan menguat khususnya apabila kita mengamati kesalahan-kesalahan yang terjadi pada indra lahir dan kontradiksikontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang sejarah manusia? Persoalan-persoalan terakhir ini berbeda . Apa itu Epistemologi Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme. tentang perkara-perkara eksistensial. sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai hakikat sebagaimana adanya.[2] Betapa pun. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. 2. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Till death do us apart. ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. asumsi dasar. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan hadir untuk mencoba memberikan jawaban atas masalah ini. Pada dasarnya. sebelum memasuki gerbang filsafat terlebih dahulu instrument yang digunakan dalam berfilsafat harus disepakati. Dengan demikian.hidup dan kehidupan. Manusia bisa memiliki ilmu. Apabila manusia melontarkan suatu pertanyaan yang baru. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. 4. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu. penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. theory. kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. Semenjak Plato hingga Michel Foucault dan Jean-François Lyotard. Yakni.[3] Walhasil. dan makrifat atas hakikat itu. apakah ia absah atau tidak dalam menguak realitas. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan. Kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu. Atau sederhananya. Betapa tidak. Akal dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya. epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul. dalam menguak realitas terdapat perdebatan panjang semenjak zaman Yunani Kuno (lampau) hingga masa Postmodern (kiwari) antara kubu rasionalis (rasio) dan empiris (indriawi dan persepsi). dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. pengetahuan. sifat-sifat. Hakikat itu bisa dicapai. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asalusul. akal yang digunakan sebagai instrument berfilsafat harus diuji dulu validitasnya. Hakikat itu ada dan nyata. dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum (objek). Karena baik dari sisi metodologi atau pun subjek keilmuan.[1] Karena uslub atau metodologi ilmu-ilmu di atas adalah bercorak empirikal. 3. Tuntutan fitrah manusia dan rasa ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. dan logos. Manusia dengan latar belakang. tentang ada dan keberadaan. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. Ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu naratif lainnya ternyata tidak mampu memberikan jawaban utuh dan komprehensif atas masalah ini. harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. pengetahuan.

tolok ukur. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. b. Sudut pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan ilmu. dan psikologi. validitas. bisa dikatakan bahwa tema dan pokok pengkajian epistemologi ialah ilmu. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini. Seseorang sedang melihat suatu pemandangan yang jauh dengan teropong dan melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. Dengan ungkapan lain. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu sebelumnya dan faktor riil yang menjadi penyebab hadirnya pengindraan adalah dibahas dalam ilmu logika. Dalam hal ini. f. dasar dan pondasi. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan memperhatikan definisi epistemologi. hushûlî. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas eksternal. Istilah ini digunakan dalam filsafat Islam. ilmu para malaikat. bentuk. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini. persepsi-persepsi pikiran. nilai dan keabsahan pikiran. keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah yang diperdebatkan. Cakupan pokok bahasan. Istilah-istilah ilmu tersebut adalah sebagai berikut: a. Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. Makna ini mencakup ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. Dengan demikian. tolok ukur kebenaran hasil pikiran. Dengan demikian. akan tetapi. Ilmu ialah gabungan proposisi-proposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. d. dan pengetahuan manusia. makrifat dan pengetahuan. definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan. kemahiran. Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang bersifat empirik. sains. ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokok-pokok pembahasannya. keabsahan. maka dari sudut mana subyek ini dibahas. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna. Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas pengetahuan. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap tingkatan dan pencapaian suatu ilmu. logika. g. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan . dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran besar atau kecil?. dan kebenaran ilmu. alat. Pertanyaanpertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. h. dua poin penting akan dijelaskan: 1. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan dibidang ontologi dan filsafat. dan ilmu manusia. Ilmu adalah kehadiran (hudhûrî) dan segala bentuk penyingkapan. Sudut pembahasan. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang jauh. dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal.dengan persoalan-persoalan sebelumnya. makrifat. Sisi pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. masih merupakan persoalan-persoalan aktual dan kekinian bagi manusia. Dengan perantara teropong itu sendiri. Ilmu adalah pembenaran (at-tashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini. Dan dari sisi ini. c. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat. Ilmu yang hanya dimaknakan sebagai ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika (mantik). pembagian dan observasi ilmu. yakni persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. ilmu Tuhan. e. Keraguan-keraguan ini akan semakin kuat dengan adanya kemungkinan kesalahan penampakan oleh teropong. tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. i. yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal. Namun. Terkadang kita mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. dan batasan-batasan pengetahuan. Makna leksikal ilmu adalah sama dengan pengideraan secara umum dan mencakup segala hal yang hakiki. dan juga meliputi ilmu-ilmu seperti hudhûrî. 2. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran. keterampilan. teknologi. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalah-masalah sejarah dan geografi.

Filosof Yunani berikutnya yang berbicara tentang epistemologi adalah Aristoteles. Setelah beberapa kurun berlalu kurangnya ketertarikan dalam ilmu rasional dan saintifik. karena jika sesuatu ada tidak dapat diketahui. yang melaluinya ilmu pasti dan eksak dapat diraih. Pembahasan tentang epistemologi Plato dan Aristoteles akan lebih jelas dan ringkas kalau dilakukan dengan cara membandingkan keduanya. Ilmu diraih baik secara langsung. berpendapat bahwa tidak ada yang benar-benar wujud. dengan memanfaatkan sumbersumber beragam seperti karya-karya filosof Aristoteles. dan jika ilmu bersifat nisbi. Masalah-masalah Filosofis: Masa Yunani dan Masa Medieval Pada abad ke-13. Dengan demikian. Maktab Epicurian dan Stoic sepakat dengan pandangan Aristoteles bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari indra-persepsi. meskipun ia belum menggunakan secara resmi istilah epistemology ini. hanya penalaran abstrak dari disiplin ilmu ini yang dapat menuai ilmu pengetahuan original.dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. mencoba untuk menjawab isykalanisyakalan para Sophist dengan mempostulasikan keberadaan semesta yang bersifat tetap dan bentuk-bentuknya yang invisible. akan tetapi memandang iman dalam otoritas skriptual sebagai nara sumber keyakinan agama. akan tetapi menentang keduanya baik Aristoteles atau pun Plato yang berpandangan bahwa filsafat harus dinilai sebagai sebuah bimbingan praktis untuk menjalani hidup. berpandangan bahwa tidak ada satu pendapat pun yang dapat dikatakan lebih benar dari yang lain. Plato. mencampur metode-metode rasional dengan iman dalam sebuah system keyakinan integral. seorang filosof dan teolog Itali yang bernama Santo Thomas Aquinas berupaya mensintesakan keyakinan Nasrani dengan ilmu pengetahuan dalam cakupan yang lebih luas. atau tidak langsung. dengan mengabstraksikan ciri-ciri khusus dari setiap spesies. berdasarkan aturan-aturan logika. Pada abad ke-5 SM. Aquinas mengikuti Aristoteles dalam masalah tentang persepsi sebagai starting-point dan logika sebagai prosedur intelektual untuk sampai kepada ilmu yang dapat diandalkan (reliable) tentang tabiat. Aristotels berpendapat bahwa hampir seluruh ilmu berasal dari pengalaman. mengikuti ustadznya Socrates. Pemikiran Santo Thomas Aquinas pada masamasa kiwari sangat mempengaruhi irama dinamika teologi Nasrani dan kosmos filsafat Barat. Ia murid Plato dan pernah tinggal bersama Plato selama kira-kira 20 tahun di Akademia. Mereka percaya bahwa benda-benda yang dilihat dan diraba adalah kopian-kopian yang tidak sempurna dari bentuk-bentuk yang sempurna yang dikaji dalam ilmu matematika dan filsafat. Seorang Sophist ternama lainnya. Protagoras. mereka berpendapat sebaliknya bahwa filsafat adalah akhir dari kehidupan. Masa Plato dan Aristoteles Plato dapat dikatakan sebagai filosof pertama yang secara jelas mengemukakan epistemologi dalam filsafat. sementara mengandalkan indrapersepsi menghasilkan pendapat-pendapat yang inkonsisten dan mubham. tidak dapat dikomunikasikan. sebagaimana tertuang pada table di bawah ini. atau ide-ide. Aristoteles mengikuti Plato ihwal ilmu abstrak adalah ilmu yang lebih superior atas ilmu-ilmu yang lainnya. filosof Skolastik Santo Thomas Aquinas dan beberapa filosof abad pertengahan berusaha membantu untuk mengembalikan konfidensi terhadap rasio dan pengalaman. Sophist Yunani menanyakan kemungkinan reliabilitas dan objektivitas ilmu. Gorgias. Observasi yang teliti dan ketat dalam mengaplikasikan aturan-aturan logika. yang pertama kalinya disusun secara sistematis oleh Aristoteles. Mereka menyimpulkan bahwa kontemplasi filosofis tentang bentuk-bentuk dunia gaib merupakan tujuan tertinggi kehidupan manusia. namun tidak setuju dengan metode dalam mencapainya. dengan mendeduksi kenyataankenyataan baru dari apa yang telah diketahui. Table komparasi epistemology Plato dan Aristoteles . cendekiawan Muslim dan Yahudi. karena setiap pendapat adalah hanyalah sebuah penilaian yang berakar dari pengalaman yang dilaluinya. akan membantu menjaga dari perangkapperangkap yang dipasang oleh para Sophist. seorang Sophist prominen. Oleh karena itu.

kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Hume. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. merupakan paham ontologik. AKSIOLOGI DALAM KEILMUAN Filed under: Teknologi Pendidikan by Fadli — 3 Komentar Oktober 4. sifat. filosof Belanda. naturalisme. yang berarti Perbedaan epistemologi Plato dan Aristoteles ini memiliki pengaruh besar terhadap para filosof modern. masalah utama yang muncul dalam pembahasan epistemologi adalah resistensi antara kubu rasionalis vis-à-vis kubu empiris (indriawi-persepsi). dan Whitehead. Ontologi Kenyataan yang sejati Pandangan tentang manusia Asal pengetahua n Cara mendapatk an pengetahua n Terdiri dari badan dan jiwa. termasuk keberadaan. Baruch Spinoza (1632-1677). Wilhelm Leibniz (1646-1716) adalah para pemimpin kubu rasionalis. Mengeluark an dari dalam diri (Anamnesis) dengan metoda bidan Cabang utama metafisika adalah ontologi. Pada masanya. Plato. metode dan batasan pengetahuan manusia (a branch of philosophy that investigates the origin. Sedangkan pandangan Aristoteles tentang asal dan cara memperoleh pengetahuan mempengaruhi filsu-filosof Empiris seperti Locke. Jiwa terpenjara badan. kebendaan. Rasio Vs Indra Persepsi Antara abad 17 hingga akhir abad ke-19. 2010i A. badan fana (tidak abadi). dan Berkeley. waktu. Sementara kajian objek penelaahan yang berada dalam batas prapengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pascapengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontologi dari pengetahuan lainnya di luar iimu. dan kemungkinan. Namun tertanam dalam jiwa yang ada dalam diri manusia. studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Jiwa abadi. nature. yakni realisme. sifat. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. hubungan sebab akibat. diolah dengan logika PARAGRAPH BARU………… ONTOLOGI. empirisme. berasal dari kata Yunani episteme. Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. (2) Paham dualisme. Dunia ide. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. B. Epistemologi Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal. René Descartes (1596-1650). Kehidupan sehari-hari dan alam dunia nyata Observasi dan abstraksi. Ontologi ilmu membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang bisa dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui panca indera manusia. Mereka berpandangan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah logika deduktif (baca: qiyas) yang bersandarkan kepada prinsip-prinsip swabukti . ruang. EPISTEMOLOGI. yaitu: (1) Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme.Topik Pemikiran Pandangan tentang dunia Plato Ada 2 dunia: dunia ide & dunia sekarang (semu) Ide-ide yang berasal dari dunia ide Aristoteles Hanya 1 dunia: Dunia nyata yang sedang dijalani Segala sesuatu yang di alam yang dapat ditangkap indra Badan dan jiwa sebagai satu kesatuan tak terpisahka n. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis ialah seperti Thales. Idealisme Plato mempengaruhi filosof-filosof Rasionalis seperti Spinoza. Leibniz. dan filosof Jerman. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia. dan (3) pluralisme dengan berbagai nuansanya. Filosof Francis. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). dan Aristoteles. methods and limits of human knowledge). Dan pendekatan ontologi dalam filsafat mencullah beberapa paham.

sebagai suatu kata benda abstrak. 3) Darimana pengetahuan itu dapat diperoleh ?. jika ternyata putih katakan putih. sebagaimana juga dicirikan sebagai manusia modern: (1) Nilai teori: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai teori dicirikan oleh cara berpikir rasional. serta terbuka terhadap ide-ide dan pengalaman baru. metode dan sahnya (validitas) pengetahuan. 2000: 105). Suriasumantri.C 1993). tanpa berpihak kepada siapapun juga selain kepada kebenaratt yang nyata. penalaran sebagai lawan dari sikap mistis (Suriasumantri. manusia modem dicirikan oleh sikapnya yang tidak fatalistik. Aksiologi Aksiologi berasal dari kata axios yakni dari bahasa Yunani yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. 5) Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra-pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan puma pengalaman) ?. “pengetahuan yang benar”. dan keputusan yang diambil berdasarkan pada pertimbangan pribadi. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai.“pengetahuan”. terorganisasikan dalam kehidupannya. Sedangkan secara ontologi dan aksiologis. bahwa seorang ilmuwan harus mempunyai landasan moral yang kuat. 1986. Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1) Apakah pengetahuan itu ?. C. struktur. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa aksiologi disamakan dengan value dan valuation. orientasinya pada ilmu dan teknologi. gagasan. dan penuh perhitungan. Jika ilmuan tidak dilandasi oleh landasan moral. Netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologi raja: Jika hitam katakan hitam. 2) Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu ?. kebolehjadian. . Ketiga. manusia modem dicirikan oleh tingkat produktivitas yang tinggi. 4) Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinitai ?. Suriasumantri. efisien menghargai waktu. Sikap inilah yang mengendalikan kekuasaan ilmu ilmu yang besar. analitis sebagai lawan dari legalitas. “pengetahuan ilrniah”. bersikap positif terhadap keluarga kecil. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai dalam perkembangannya melahirkan sebuah polemik tentang kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa disebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). Keduei. 2004: 162). kesalahan. Secara konsisten dan koheren maka ilmu mencoba memberikan penjelasan yang rasional kepada objek yang berada dalam fokus penelaahan. ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value bound. kebenaran. dan logos = teori. 2000:36). (3) nilai ekonomi : dalam kaitannya dengan nilai ekonomi. manusia modem dicirikan oleh sikap individualistik.esthetic expression. 3) Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai. (2) Nilai sosial : dalam kaitannya dengan nilai sosial. Epistemologi dapat didefmisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. kenyataan. Nilai-nilai yang juga harus melekat pada ilmuan. pengetahuan. yaitu ekspresi keindahan. yaitu kehidupan sosial politik. fakta. yaitu tindakan moral yang melahirkan etika. menghargai profesionalisasi. Suriasumantri. 2) Nilai sebagai kata benda konkret. menghargai prestasi. kepastian ? Langkah dalam epistemologi ilmu antara lain berpikir deduktif dan induk-tif Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikurnpuikan se. maka peristiwa terjadilah kembali yang dipertontonkan secara spektakuler yang mengakibatkan terciptanya “Momok kemanusiaan” yang dilakukan oleh Frankenstein (Jujun S. (4) Nilai pengambilan keputusan: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai ini dicirikan oleh sikap demokratis dalam kehidupannya bermasyarakat. yang pada hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap (Jujun S. Sebuah keniscayaan. moral conduct. yaitu: 1) Nilai.belumnya Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilnuah disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada. pendapat. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh (Jujun S. Semiawan. 6) Apa perbedaan di antara: kepercayaan. dan menghargai hak-hak asasi perempuan.. ilmuwan hams manrpu ntenilai antara yang baik dan yang buruk. Sebaliknya. Menurut Bramel dalam Amsal Bakhtiar (2004: 163) aksiologi terbagi dalam tiga bagian: Pertama. sosio-political life. bayangan. Ada tiga bentuk value dan valuation. Dengan demikian maka aksiologi adalah “teori tentang nilai” (Amsal Bakhtiar. (5) Nilai agama: dalam hubungannya dengan nilai agama. 2000:36). yang akan melahirkan filsafat sosio-politik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful