Ontologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri). Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang: 1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak? 2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah: • • • • • • • • yang-ada (being) kenyataan/realitas (reality) eksistensi (existence) esensi (essence) substansi (substance) perubahan (change) tunggal (one) jamak (many)

empiris (misalnya antropologi, sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagainya).

Jul 30, 2007 at 09:16 PM
Oleh: A. Kamil

"Pandangan

dunia

(weltanschauung)

seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar. Semakin besar pengenalannya, semakin luas dan dalam pandangan dunianya. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban. peradaban Karena dan nilai sebaliknya hingga dan akan membuatnya terpuruk titik-nadir kualitas Anda

keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. ekuivalen dengan pengenalan dikenal atas apa yang Anda kenal. Wujud anda

ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu

PENDAHULUAN
Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat, yang pertama di sebut landasan ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut antara merasa ? bagaimana (sepert hubungan berpikir, yang objek dan

pengetahuan Denganb maka

yang

satu

dari lainnya.

pengetahuan-pengetahuan mengetahuan mudah

jawabankita dapat jenis dalam

jawaban dari ketiga pertanyaan ini dengan membedakan pengetahuan berbagai yang terdapat

khasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan berbagai kita mengenali yang ada pengetahuan

tadi dengan daya tangkap manusia mengindera) landasan menjawab membuakan berusaha yang ilmu? timbanya berupa

seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Ilmu di kacaukan dengan seni, ilmu agama, dikonfrontasikan dengan

pengetahuan?. Kedua di sebut dengan epistimologis; bagaimna di yang proses

memungkinkan pengetahuan

Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan itu sendiri? pengetahuan Apakah yang benar? Apa yang disebut kebenaran kriterianya? apa berupa yang ilmu?. Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang

bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu?

membantu kita dalam mendapatkan Sedang yang ketiga, di sebut dengan landasan aksiologi; landasan ini akan menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah moral? berdasarkan Bagaimana metode pilihan-pilihan merupakan ilmiah

PEMBAHASAN

A. Ontologi
Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak ada terikat yang oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang universal, semesta menampilkan pemikiran

kaitan antara teknik prosedural yang operasionalisasi dengan norma-norma

moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis

universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. 1. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat dalam seluruh kuantitas realitas. atau Bagi jumlah, pendekatan kuantitatif, realitas tampil tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliranaliran Referensi materialisme, atau tentang idealisme, itu naturalisme, hylomorphisme. kesemuanya

metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan posteriori. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Contoh : Sesuatu yang bersifat menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a

penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan pertama diuraikan di oleh di aristoteles belakang ketengahkan dalam hylomorphisme

lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri (S-Tt) Jadi, badan itu fana’ (S-P) Sedangkan pembuktian a

bukunya De Anima. Dalam tafsirantafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. 2. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas umum sesuatu sesuatu yang yang objek; menjadi sejenis. sedangkan cirri semua abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat Abstraksi

posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term realitas tengah yang a menunjukkan dinyatakan hanya saja posterioris akibat dalam cara disusun

kesimpulan pembuktian

dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : (Tt-S) Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan (Tt-P) Gigi geligi itu gigi

geligi rahang dinasaurus

Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (S-P)

Bandingkan pembuktian posteriori. a Yang

tata priori

silogistik dengan a di

yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Manusia dari itu tidak yang dapat kita lah memiliki maka

apriori

berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.[2] Sementara Jujun S. Suriasumantri dalam pembahasan juga tentang tentang ontologi dan memaparkan asumsi

pengetahuan pertanyaan caranya

sejati,

mengajukan memperoleh

“bagaimanakah kita

pengetahuan”?[3]

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme

peluang. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut.
B. Epistemologi

Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaanpertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang

Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalamanpengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objekobjek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidaktidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
b. Rasionalisme

Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman palingpaling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan

Fenomenalisme Bapak uraian Baran Fenomenalisme tentang sesuatu adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. sebagaimana berharga terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam sistematis pernah pengetahuan sesuatu sendiri. intuisi adalah Intusionisme – setidak-tidaknya beberapa bentuk-hanya bahwa mengatakan pengetahuan yang lengkap di . Kant masih benar melainkan tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. Salah unsur paham adanya pengalaman satu yang ini di antara Bergson suatu di unsutdalam ialah. Kant membuat pengalaman. Dengan demikian data yang dihasilkannya bahan yang dapat merupakan pengetahuan tetap mengatakan pengetahuan pengalaman. hanya untuk sebagian. artinya. Hendaknya diingat. Karena itu kita tidak mempunyai tentang barang hanya keadaanya pengalaman yang dihayati oleh indera. atau pengetahuan yang diperoleh pelukisan.terletak di dalam ide kita. Tetapi rasionalisme karena akal intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan dalam darinya. d. c. demikian meliputi inderawi intuitif. secara dengan tidak akan jalan dapat dari menggantikan hasil pengenalan langsung pengetahuan intuitif. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. Analisa. Bagi Kant para benar bahwa penganut bila semua benar tentang gejala pengalaman baik maupun empirisme berpendapat pengalaman pengalaman pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun para juga penganut benar. seperti bentuk-bentuk dengan jalan intuisionisme memungkinkan pengalaman dan disusun secara penalaran. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. Intusionisme Menurut Bergson. didasarkan tetapi tambahan dihasilkan dengan bahwa pada harus dengan bagi pengetahuan di samping oleh penginderaan. bentuk samping Immanuel Kant. pengetahuan (Phenomenon).

Aksiologi Pertanyaa semacam ini jelas tidak Copernicus. ilmu adanya untuk yang mulai apa pada alam hakikatnya sebagaimana mempelajari analisa. C. barang pernah seperti menampak oleh intuisi. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. belaka.” Menghadapi kenyataan seperti ini. “bukan lagi Goethe matahari” ajaran dan bukan sebaliknya seperti apa dinyatakan oleh . Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. Sebenarnya pertumbuhannya terkait moral dengan namun sejak ilmu dalam saat sudah perkataan lain.” melainkan faust yang menciptakan Goethe. mempertanyakan ilmu itu hal-hal yang bersifat seharusnya: sebenarnya harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana harus urgensi perkembangan diarahkan? bagi ilmuan dan namun keilmuan merupakan seperti ilmuwan yang menampak kepada kita. pertanyaanpertanyaan elakkan. itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kemanusiaan mengubah sendiri. pertanyaan Dan menjawan ilmuan Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan dan yang mempengaruhi manusia itu reproduksi gejala penciptaan sendiri. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan dehumanisasi itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kamanusiaan mengubah sendiri. maka berpaling kepada hakikat moral. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang saja-yang meliputi sebagian oleh diberikan yang menciptakan Faust. bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan ini ini kekhawatiran tak untuk dapat di perang dunia ketiga. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. masalah-masalah perspektif yang berbeda. yaitu tidak sesuatu lawan dari apa yang diberikan Mereka sesuatu merupakan mengatakan. Galileo seangkatannya.peroleh melalui intuisi. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang sebagai kenyataan. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang berputar yang kesemestaan bahwa mengelilingi alam dan yang menemukan “bumi perkataan lain.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. e.

sedangkan di pihak lain. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan dengan (sepert antara berpikir.agama. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral ajaran (yang agama) bersumber pada rasionalisasi mendustakan “segalanya Alice dalam yang punya bersifat kebenaran. Jadi pada dasarnya ini apa adalah apa yang bidang berusaha yang cara menjadi ontologi untuk kajian dalam Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi Galileo pengadilan dipaksa pernyataanya pada pengadilan oleh tersebut. yang objek merasa tadi dan daya tangkap manusia moral prostitusi secara seperti intelektual. Sejarah rela kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. (1564-1642).” lebih kemerlap yang keberanian yang gelap. “asalkan kau mampu menemukannya. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi maka untuk Tanpa ilmuwan dapat yang ini menemukan landasan mudah melakukan Penalaran harkatnya berganti sekali kebenaran. mencabut bumi inkuisisi Galileo pada tahun 1633. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. telah membawa manusia mencapai sekarang dengan proses mengindera) membuakan . tergelincir rasional 1. kata di moral. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan diluar antaranya bidang agama.” yang berkonotasi metafisik. agama untuk bahwa menjawab pertanyaan-pertanyaan. dalam avontur intelektual?). pengetahuan kaitan antara berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana penggunaan kaidah-kaidah penentuan Bagaimana prosedural dengan tersebut moral? objek kaitan yang yang dengan Bagaimana ditelaah teknik ilmiah berdasarkan pilihan-pilihan moral? antara merupakan norma-norma berputar mengelilingi matahari. (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran keilmuan di petualangannya (adakah dalam esensial negeri ajaib. operasionalisasi metode moral/professional?[4] PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : Ontologis.

Suriasumantri. Pustaka Sinar Harapan. Yogjakarta. Yogjakarta Sidi Gazalba. Yogjakarta. Pengantar filsafat. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna memungkinkan pengetahuan Bagaimana kita yang yang proses di yang timbanya Hal-hal Yogjakarta. Aksiologi menjawab. 34-35. Dr. 2. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Noeng Muhadjir. Penerbit Rake Sarasin. Yogjakarta. Jakarta. 1996. Pustaka Sinar Harapan. Paragrap Baru ya Jeeng!! prosedurnya? apa yang harus di perhatikan agar mendapatkan benar? Apa itu pengetahuan yang disebut Apakah kebenaran kriterianya? sendiri? Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang apa yang membantu kita dalam mendapatkan berupa ilmu?. Jakarta. Dr. Jakarta. Suriasumantri. 1996. Pengantar filsafat. hal. [2] Prof. Tiara Wacana. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. hal. Kattsouff. 1995. Pustaka Sinar Harapan. dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Epistimologi(CaraMendapatkanPengetahuan) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan dengan benar? Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? Aksiologi(Guna Pengetahuan) Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan? Bagaiman kaitan antara cara penggunaan DAFTAR PUSTAKA Jujun S. berupa ilmu? [1] Jujun S.pengetahuan?. Hal. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan ditelaah antara metode kaidah-kaidah berdasarkan teknik ilmiah moral? pilihanyang normaBagaimana penentuan objek yang pilihan moral? Bagaimana kaitan prosedural dengan merupakan norma moral?[5] operasionalisasi Ontologi(HakikatIlmu) Obyek apa yang telah ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. . 1996. H. 2001. Sistematika filsafat II. 1996. 2001 [3] Louis O. H. Kattsouff. [4] Jujun S. Suriasumantri. merasa. [5] Jujun S. Filsafat Ilmu. Suriasumantri. hal. Filsafat Ilmu. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. 1996. Tiara Wacana. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Prof. 135-136. Louis O. 3. 34-35. Noeng Muhadjir. Penerbit Rake Sarasin. 34-35.

John Look. dunia yang dapat dijangkau pancaindra → objek ilmu adalah pengalaman indrawi. logos = ilmu. pada umumnya tokoh-tokoh filosof dibarat seperti.tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan normanorma moral/profesional? Sumber: http://id. Ontologi: ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika. apakah keberadaan sesuatu itu karena kita memberikan konsepsi kepada sesuatu itu. Sumber: http://id.shvoong. 2. Kajian mengenai organisasi sosial → terangkum dalam politik . jawaban dari pertanyaan diatas akan memberikan gambaran kepada kita bahwa apakah realitas itu ada tanpa kita memberikan penilaian keberadaan terhadap keberadaannya. Ontologi: ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. namun ada pertanyaan yang bisa diajukan kepada mereka: 1. Thomas Hobbes. apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak? Benarkah ilmu ada? Apakah konsep ilmu sebagai kajian tentang kausalitas itu bermakna di tengah ruang yang tidak terbatas itu? Dari teori hakikat (ontologi) ini → muncul beberapa aliran dalam filsafat Filsafat Materialisme Filsafat Idealisme Filsafat Dualisme Filsafat Skeptisme Pokok permasalahan yang menjadi objek kajian filsafat mencakup: Logika (benar-salah) Etika (baik-buruk) Estetika (indah-jelek) Teori tentang Ada (tentang hakikat keberadaan zat. mereka mengatakan bahwa epitemologilah yang lebih dulu ada dari pada ontologi.com/humanities/philosophy/213 0959-ontologi-epistimologi-dan-aksiologiilmu/#ixzz1Jlm8EN5P Paragrap baru juga ya…. namun pertanyaan kemudian yang diajukan Ontologi → ontos = sesuatu yang berwujud. karena dia membuktikan lewat sebuah analisa pengetahuan yang sifatnya emperikal sementara filosof yang lain mengatakan bahwa ontologilah yang lebih dulu ada. bagaimana caranya mereka bisa mengetahui sesuatu itu ada tanpa adanya realitas. yaitu perdebatan tentang apakah epistemologi yang lebih dulu ada dari ontologi ataukah ontologilah yang lebih dulu ada dari epistemologi.shvoong. ada hal yang mendasar dalam diskusi-diskusi tentang epistemologi. Ontologi sebagai cabang filsafat bertugas memberi jawaban atas pertanyaan: Apa sebenarnya realitas benda itu?. Mazhab berpikir emperisme mengatakan bahwa untuk membuktikan sesuatu itu ada maka kita memerlukan pengetahuan atau epistemologi sebagai sumber dari pengetahuan kita sehingga kita bisa mengatakan dia ada atau tidak ada karena kita punya pengetahuan tentangnya.com/humanities/philosophy/212 3997-ontologi/#ixzz1JlmhXDhr Mengenal EPISTEMOLOGI PART 1 A. dua hal ini kemudian yang memetakan antara aliran pemikiran yang bersifat materialistis dan aliran pemikiran yang bersifat metafisika. hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran → terangkum dalam metafisika). karl Marx dan David Home. Para filosof yang bermazhab emperisme dalam membuktikan tentang kelebih-dahuluan epistemologi dari ontologi mengatakan bahwa epistemologilah yang yang lebih dulu ada. ataukah memang dia mempunyai keberadaan tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia itu mempunyai keberadaan. Mempersoalakan tentang wujud hakiki objek ilmu atau keilmuan itu apa? Objek ilmu atau keilmuan adalah dunia empirik. Epistemologi Perdebatan tentang epistemologi adalah sesuatu yang diperdebatkan sepanjang sejarah karena epistemologi adalah hal yang sangat substansil dalam melakukan penilain terhadap sesuatu.

dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. hal. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. Secara etimologi. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya.kepada kaum emperik adalah dari mana pengetahuan itu bisa ada kalau tidak ada realitas yang lebih dulu ada. karena tanpa realitas maka mustahil kita bisa mengetahui sesuatu. dalam Jujun S.F. buka saja pada redaksinya. epistemologi dan ontologi. P. Ferrier.32). 1965. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumbersumber pengetahuan ? apakah hakikat. 2010 Sumber: http://id. tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya. struktur. melainkan juga pada substansi persoalannya. karena memang pada kenyataannya dia memang sudah mempunyai keberadaan. guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. prinsip-prinsip belajar. Demikian pula. untuk membedakan dua cabang filsafat. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). seperti keberadaan bulan dan bintang adalah sesuatu yang niscaya adanya tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia ada atau tidak. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. Setelah memahami substansi belajar tersebut. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J. Menurut Musa Asy’arie. pembahasan konsep apa pun. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan.shvoong. dan sesuatu itu akan tetap mempunyai keberadaan tanpa kita secara subyektif memberikan penilaian tentang keberadaannya. dia baru bisa menjelaskan proses belajar. pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. bahwa ontologilah yang lebih dulu mempunyai keberadaan. metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. 2003. dan logos berarti teori. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. pengandaian- . hambatan-hambatan belajar. seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasanpembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian).Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. Dalam Epistemologi. 2005). Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. ini adalah menjadi problem dalam sebuah sains atau pengetahuan yang berdiri diatas pijakan yang emperisme terutama yang dibangun di Eropa terutama pasca Fransisco Bacon Mazhab Metafisika mencoba menjawab.Hardono Hadi menyatakan. selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis. Sebagai sub sistem filsafat. Lazimnya. sehingga didapatkan pengertian yang berbeda-beda. 3). Pengertian lain.Suriasumantri. Diterbitkan di: 11 Nopember.com/socialsciences/sociology/2073233-mengenalepistemologi/#ixzz1Jln1DVKs Paragraph baru ok! Pengertian Epistemologi oleh: andra5463 Pengarang : radityo Secara historis. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. gaya belajar. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya. epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. teori belajar. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan. Misalnya. 2). Jadi. Sedangkan.

epistemologi. Sedangkan D. empirisme. yaitu ontologi. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak .Runes. 2. sum-ber pengetahuan. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. positivisme.com/humanities/philosophy/208 2651-pengertian-epistemologi/#ixzz1JlnTNlLC Baruuuu………. fenomenologi dan sebagainya. atau kombinasi akal dan pengalaman. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. Akal. Azyumardi Azra menambahkan. intuisi. sarana. EPISTEMOLOGI ILMU oleh: anin Filsafat Pengarang : Elvira Syamsir Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. yaitu realisme dan idealisme. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. yakni realisme. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme.pengendaian dan dasarnya. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. apakah ia materi atau bukan. struktur. pengertian. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. naturalsime dan empirisme. metode atau cara memperoleh pengetahuan. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. akal budi. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. objek dibahas dari keberadaannya. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. metode-metode dan validitas pengetahuan. pengalaman. yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan. 1. dasar dan pengendaianpengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya. dan aksiologi. 2010 Sumber: http://id. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. seperti teori koherensi. Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. diungkapkan oleh Dagobert D.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. Sementara itu.shvoong. Secara ontologis. asal mula pengetahuan. rasionalisme kritis. Selanjutnya. korespondesi pragmatis. dan teori intersubjektif. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. Dia menyatakan. struktur. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Diterbitkan di: 04 Desember. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah).

misalnya tentang apa itu pengetahuan. Sebagai contoh. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode. diletakkan sebagai pendahuluan dalam filsafat dan setiap ilmu-ilmu lain. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. dasar dari semua ilmu empirik adalah prinsip kausalitas dan kaidah ini menjadi pokok bahasan dalam filsafat. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. Namun. dengan demikian. matematika dan statistika.shvoong. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. Diterbitkan di: 18 Maret. serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji. dasardasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. maka dari itu ia bisa ditempatkan sebagai dasar dan asas bagi seluruh pengetahuan manusia. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. metode kontemplatis dan metode dialektis. metode positivisme. Begitu pula. 2008 Sumber: http://id. metode deduktif. diantaranya. ilmu tertentu ini dikategorikan sebagai ilmu dan pengetahuan dasar. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. 3. Epistemologi Dari Wikipedia bahasa Indonesia.teruji. yakni nilai dan validitas ilmu-ilmu lain bergantung kepada ilmu tertentu. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Sebagian ilmu merupakan asas dan pondasi bagi ilmu-ilmu lain. Secara rasional. (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara. dan jenis pengetahuan. Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Ilmu-ilmu yang dimiliki Secercah Teori oleh manusia berhubungan satu sama lain. metode induktif. Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan. ilmu logika yang merupakan alat berpikir manusia dan ilmu yang berkaitan dengan cara berpikir yang benar. sifat. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. sikap. pengandaian-pengandaian. macamnya. bagaimana karena mengkaji seluruh tolok ukur ilmu-ilmu manusia. baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. dan tolok ukur keterkaitan ini memiliki derajat yang berbedabeda. ensiklopedia bebas Epistemologi. filsafat merupakan dasar dan pijakan bagi ilmu-ilmu empirik. epistemologi (teori pengetahuan). Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat. termasuk ilmu logika dan ilmu-ilmu . dan dari sisi ini.com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1Jlo8CibK PARAGRAPH BARU karakteristiknya. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. BARUUUU LAGI ISYRAQ Mendulang Cahaya Epistemologi.

dan setelah Renaissance dan kemajuan ilmu empirik. sebelumnya. begitu banyak persoalan epistemologi dikaji secara meluas dalam pokok-pokok pembahasan filsafat Islam. sebagian pemikir tidak menganggap valid lagi indra lahir itu dan berupaya membangun struktur pengindraan . merupakan dasar dan pondasi segala ilmu dan pengetahuan. khususnya di barat. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan epistemologi banyak dikaji dalam pembahasan tentang akal. epistemologi lantas menjadi suatu disiplin ilmu baru di Eropa yang dipelopori oleh Descartes (1596-1650) dan dikembangkan oleh filosof Leibniz (1646–1716) kemudian disempurnakan oleh John Locke di Inggris. Pengertian Epistemologi Manusia dengan latar belakang. Namun pada sisi lain. persepsi. para pemikir banyak yang sendiri berbeda pendapat akal dalam dan persoalan saling mengenai dalam rasionalitas. ilmu logika merupakan ilmu tentang metode berpikir dan berargumentasi yang benar. epistemologi menjadi suatu bidang disiplin baru ilmu yang mengkaji sejauh mana pengetahuan dan makrifat manusia sesuai dengan hakikat.[2] 1. kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. wujud pikiran. lahir kembali kepercayaan kuat terhadap indra lahir yang berpuncak pada Positivisme. misalnya dalam pokok kajian tentang jiwa. dan realitas eksternal. akal teoritis dan praktis. dan makrifat jiwa. Pengindraan. Latar belakang hadirnya pembahasan memunculkan keraguan terhadap nilai akal dan indra lahir di Eropa.manusia yang bersifat gamblang. akan tetapi. dikategorikan sebagai disiplin ilmu tertentu. Lahirnya kaidah itu menjadi penyebab berkembangnya validitas sehingga akal dan indra lahir kalinya sedemikian berakibat untuk kedua epistemologi Akan tetapi. Pada era tersebut. diletakkan setelah epistemologi.[1] Dengan alasan itu. dan ilmu merupakan bagian pembahasan tentang makrifat jiwa. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. persoalan epistemologi sangat dipandang serius sedemikian sehingga filosof Yunani. epistemologi diposisikan sebagai salah satu disiplin ilmu. di Islam. dan keberadaan argumentasi akal kontradiksi masalahmasalah pemikiran kemudian berefek pada kelahiran aliran Sophisme yang mengingkari validitas akal dan menolak secara mutlak segala bentuk eksistensi eksternal. dengan demikian. yang valid yang rasional. dan tolok ukur kebenaran dan kekeliruan suatu proposisi. objek akal. berupaya menyusun kaidah-kaidah logika sebagai aturan dalam berpikir dan berargumentasi secara benar yang sampai sekarang ini masih digunakan. akan tetapi. Walaupun ilmu logika dalam beberapa bagian memiliki kesamaan dengan epistemologi. Hingga tiga abad bukanlah pada dua sebelum suatu abad abad ilmu ini. Tuntutan fitrah manusia dan rasa epistemologi itu adalah karena para pemikir melihat bahwa panca indra lahir manusia yang merupakan satu-satunya alat penghubung manusia dengan realitas eksternal terkadang atau senantiasa melahirkan banyak kesalahan dan kekeliruan dalam menangkap objek luar. Aristoteles. Dalam filsafat Islam permasalahan epistemologi tidak dibahas secara tersendiri. objek luar. kenon-materian jiwa. Namun belakangan ini.

dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran ini besar akan atau semakin kecil?. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong jauh. Pada suatu sesuatu dasarnya. Akal bisa dan pikiran yang tidak menjawab persoalan-persoalan ilmu dan pengetahuan dihadapinya. diketahui. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal. 3. kuat Keraguan-keraguan pertanyaan tentang hakikat itu. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah jelasnya yang yang diperdebatkan. sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal. tolok ukur kebenaran hasil pikiran. Dengan perantara teropong itu sendiri. hakikat yang manusia dan tidak ingin menggapai mengetahui Manusia persoalan terakhir ini berbeda dengan yakni persoalan-persoalan sebelumnya. persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. Manusia bisa memiliki ilmu. aktual dan kita bagi Terkadang itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang kontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang manusia?Persoalan- . dan dipahami. Hakikat itu ada dan nyata. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai kita hakikat sebagaimana adanya. masih merupakan kekinian persoalan-persoalan manusia. 2. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini.ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. persepsi-persepsi pikiran. Dengan ungkapan lain. tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. dan makrifat atas hakikat manusia itu. akan tetapi. nilai dan keabsahan pikiran. Namun. Hakikat itu bisa dicapai. contoh teropong Untuk berikut dan lebih ini. pengetahuan. dan jalan menuju tertutup bagi manusia. perhatikan dengan berupaya diketahuinya. Apabila manusia melontarkan suatu dengan adanya oleh kemungkinan teropong. 4. bentuk. kesalahan Pertanyaan- pertanyaan yang baru. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada. Kita bisa mengajukan Seseorang sedang melihat suatu pemandangan jauh melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran. yang keraguan ini akan menguat khususnya apabila mengamati pada kesalahan-kesalahan lahir dan terjadi indra sejarah kontradiksi- penampakan pertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna.

kebenaran makrifat. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan pokok pengkajian memperhatikan epistemologi definisi ilmu. tersebut adalah sebagai berikut: a. g. Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang bersifat empirik. Sudut pembahasan. tolok ukur. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. dan ilmu manusia. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu . Makna leksikal ilmu adalah sama secara dengan umum pengideraan dan mencakup 2. dan psikologi. Ilmu ialah gabungan proposisiproposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik. alat. hushûlî dan ilmu hudhûrî.[7] epistemologi. ilmu para malaikat. segala hal yang hakiki. ilmu. Makna ini digunakan dalam filsafat Islam. d. Istilah-istilah ilmu j. c. Cakupan pokok bahasan. Dalam hal ini. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan filsafat.[3] 2. maka dari sudut mana subyek ini dibahas. logika. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat. ilmu-ilmu dan seperti keterampilan. dasar dan dan f. Ilmu (hudhûrî) adalah dan kehadiran bentuk ini ilmu Istilah mencakup segala penyingkapan. b. definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas dan tentang batasan. subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî[4]. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. bisa dikatakan bahwa tema dan ialah makrifat dan pengetahuan. keabsahan. ilmu Tuhan. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan eksternal. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. kemahiran.mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalahmasalah sejarah dan geografi. dua poin penting akan dijelaskan: 1. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. sebagai (mantik). validitas. teknologi. juga meliputi hudhûrî[5]. i. sains. e. yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. Ilmu yang hanya dimaknakan pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini. yakni apakah h. Sisi dibidang ontologi dan hushûlî. ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika Ilmu adalah pembenaran (attashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini[6]. pengetahuan manusia. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. Dengan demikian. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. pondasi.

maka mustahil kita membahas mengungkap logika masih tentang suatu perlu metode hakikat akal dan untuk bahkan dan hadirnya pengindraan dibahas dalam ilmu logika. kodrat. dan validitas akal dalam memahami hakikat dan realitas eksternal. Pengertian terhadap pengenalan realitas eksternal. atau pengkajian seputar pluralisme dan hermeneutik. bisa dikatakan bahwa epistemologi jika dikaitkan dengan ilmu logika dikategorikan sebagai pendahuluan dan mukadimah. atau akal dan agama. Ilmu tafsir adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan metode penafsiran kitab suci. maka jelaslah mengenai urgensi kajian epistemologi. metode bahwa definisi maka ilmu ini dan menjadi adalah Filsafat. Urgensi Epistemologi Jika kita perhatikan definisi epistemologi dan hubungannya dengan ilmu-ilmu lainnya. ilmu. diasumsikan mengenai kemampuan. epistemologi dan ilmu logika merupakan mukadimah bagi filsafat. Dengan demikian. Ilmu logika adalah suatu ilmu yang mengajarkan tentang metode berpikir benar. b. khususnya pembahasan yang terkait dengan kontradiksi ilmu dan agama. 3. Dan dari sisi ini. walhasil masih menjadi hal yang diragukan. pokok-pokok analisa akal. Ilmu kalam (teologi) ialah suatu ilmu yang menjabarkan proposisiproposisi teks suci agama dan penyusunan argumentasi demi mempertahankan peran dan posisi agama. Jadi. c. Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas observasi pengetahuan. 5. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. dan pembagian dan batasan-batasan metode-metode yang ditetapkan oleh ilmu dipertanyakan rekonstruksi. karena apabila kemampuan dan validitas akal belum dikaji dan ditegaskan. karena untuk menjelaskan memerlukan analisa lain. yakni metode yang digunakan oleh akal untuk menyelami dan memahami realitas eksternal sebagaimana adanya dalam penggambaran dan pembenaran. bahasannya Yang koridor dimaksud ilmu-ilmu kajian metode akal di sini adalah meliputi seluruh rasional dalam hushûlî dan ilmu hudhûrî. Dengan memperhatikan . Hubungan Epistemologi dengan Ilmu Logika. telah Dalam dua pengertian tersebut. Metode Epistemologi Dengan pengertian jelaslah memperhatikan epistemologi. ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokokpokok pembahasannya. Hubungan epistemologi umum filsafat eksistensi dengan adalah (ontologi). Sementara filsafat dalam pengertian khusus (metafisika) adalah membahas kaidah-kaidah umum tentang eksistensi[9]. epistemologi berperan sentral sebagai alat penting bagi kedua ilmu tersebut.sebelumnya penyebab dan faktor riil yang menjadi adalah definisi ini. Hubungan Epistemologi dengan IlmuIlmu Lain a. menggunakan akal dan rasio. 4. Dan dari dimensi untuk menguraikan sumber epistemologi dan perubahan yang terjadi di sepanjang sejarah juga menggunakan metode analisa sejarah. dan hakikat keberadaan. Jadi. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap ilmu. karena akar pembahasan ini terkait langsung dengan pembahasan epistemologi. Hubungan epistemologi dengan Teologi dan ilmu tafsir. tingkatan Sudut dan pencapaian suatu pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaanperbedaan ilmu. pengetahuan[8].

pemerintahan seorang bahwa hakim (filosof). dan hak-hak asasi manusia dimana sentral dari berpijak semua pada pembahasan epistemologi. “Anda tidak layak memerintah. dan dari aspek lain. sementara tersebut tak menguasainya. maka persoalan yang kemudian muncul ialah apakah akal manusia mampu akal menyelesaikan belum persoalanmaka dalam persoalan tersebut? Jika nilai dan validitas pengenalan tidaklah ditegaskan. Pembahasan membuktikan pengkajian seperti kepada epistemologi tersebut kita dan di atas pentingnya konklusi- konklusinya. maka yang tertinggal hanyalah sifat kehewannya. maka dari itu.[10] Perbedaan hakiki manusia dan hewan terletak mengajukan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi manusia. segala dinamika hidupnya berasal dari kecenderungan hewaninya. karena Islam dengan persoalan pada tersebut pada menjadi potensi maujud akal-pikiran. ini tersebut? adalah Dengan inti begitu.terkhusus lagi apabila kita menyimak ruang pemikiran dan budaya yang ada serta kritikan. karena ilmu-ilmu alam dan matematika tidak mampu memberikan solusi komprehensif dan universal atasnya. dan keraguan akan senantiasa bersama manusia bahwa apakah akal telah memberikan solusi yang benar atas perkara-perkara pertanyaan epistemologi. Pertanyaanpembahasan sebelum melangkah ke arah upaya-upaya rasional dan filosofis. pembatas merupakan substansial antara iadengan hewan. dan untuk memerintah mesti dibutuhkan ilmu politik kaum dan ulama pemerintahan. dan jika ada orang yang ragu atas realitas ini. maka minimalnya iaharus menerimanya untuk menjawab segala bentuk kritikan. jawaban atas segala persoalan mendasar niscaya dengan upaya-upaya rasional dan filosofis. mereka tidak berhak memerintah. langkah pertama yang mesti diambil . maka adalah penetapan wakil hukum yang sisi hanya berada hak ditangan Tuhan. memotivasi manusia untuk menggapai ilmu dan makrifat. dan persoalan inti yang dimunculkan seputar keyakinan agama dan dasar-dasar etika. Karena telah jelas urgensi upaya rasional untuk kehidupan hakiki manusia. dengan demikian. dan para ulama yang adil Tuhan Pada memiliki lain. sebagian seluruh aktivitasnya dinapasi oleh akal dan pengetahuan. memerintah. suatu rangkaian persoalan yang prinsipil menjadi terkonstruksi dengan tujuan untuk mencarikan solusi atas segala permasalahan yang timbul berkaitan dengan dimana pengetahuan hal itu dan akal manusia. Hal ini berarti bahwa jika akal rasionalitasnya dipisahkan kehidupannya. penafsiran. Yang pasti. Semua kenyataan ini berarti bahwa pencapaian keyakinan dan kebenaran adalah sangat mungkin dengan perantaraan akal dan argumentasi rasional. Hubungan dan saling epistemologi terkait. keraguan. Manusia ialah maujud yang berakal dan politik adalah hal yang juga tak bisa disangkal Plato Anda bisa berkata bukan dikatakan penguasa Yunani ketika itu. fiqih.” Dan juga berkaitan dengan karena manusia tak bisa memahami hakikat dirinya sendiri sebagaimana yang semestinya. akal berguna pengakuan beranggapan bahwa makrifat agama adalah bukan bagian dari ilmu. dengan demikian. begitu banyak ayat al-Quran berkaitan dengan argumentasi akal. yang Rahasia dan kemanusiaan manusia adalah bahwa ia mesti berakal mengaplikasikan kekuatan akal dalam semua segmen kehidupannya serta seluruh kehendak dan dan iradahnya terwujud melalui pancaran dari petunjuk akal. dan menolak segala bentuk keraguan.

telah berhasil dan mengungkap hakikat manusia. Mengapa suatu ideologi berpijak pada materialisme dan ideologi lainnya bersandar pada teisme? Perbedaan pandangan dunia tersebut pada hakikatnya bersumber [11]“ Epistemologi pada Zaman Yunani Kuno dan Abad Pertengahan Perjalanan historis epistemologi dalam filsafat Islam dan Barat memiliki perbedaan bentuk dan arah. dan epistemologi. rahasia fenomena eksistensial lainnya. Skeptisisme diwakili pemikiran David Hume. Ideologi seperti filsafat praktis. pengetahuan. Filsafat praktis bergantung kepada filsafat teoritis. apabila kita merujuk kepada daftar isi persoalan-persoalan yang berkaitan persoalan eksternal dengan tentang dan pengetahuan. karena semua aliran filsafat dan ilmu mengaku alam. Perjalanan historis epistemologi oleh dalam filsafat barat ke arah skeptisisme dan relativisme. ia berkata “Pada era ini kita menyaksikan keberadaan aliran-aliran filsafat sosial dan ideologi yang berbeda dimana masing-masingnya mengusulkan suatu jalan dan solusi hidup. Hal ini karena. Ideologi menyatakan . mengapa aliran-aliran dan ideologi-ideologi tersebut memiliki perbedaan? Jawabannya. Walaupun masih dibutuhkan langkah-langkah besar untuk menyelesaikan dari perbedaan dasar-dasar pengenalan. macam-macam ilmu hudhûrî. Apa yang ditentukan oleh pandangan dunia. Berkenaan dengan urgensi epistemologi. penyebab lahirnya perbedaanperbedaan tersebut terletak pada perbedaan pandangan dunianya (word view) masingmasing. Pembahasan yang berhubungan dengan pembagian ilmu. keberadaan kemungkinan misalnya realitas terjalinnya Mengapa ideologi mengarahkan kita? Karena pandangan dunia menegaskan suatu hukum yang mesti diterapkan pada masyarakat dan sekaligus menentukan arah dan tujuan hidup masyarakat. yakni ilmu dibagi menjadi gagasan/konsepsi (at-tashawwur)[12] dan penegasan (at-tashdiq)[13]. Muncul suatu pertanyaan. mampu Konstruksi pemikiran universal filsafat yang Islam sedemikian kuat dan sistimatis sehingga memberikan solusi mendasar atas persoalan yang terkait dengan epistemologi. Aliran-aliran ini memiliki sandaran pemikiran yang bersaing satu sama lain untuk merebut pengaruh. sedangkan pandangan dunia menempati filsafat teoritis. maka akan menjadi jelas bagi kita bahwa epistemologi merupakan pemberi validitas dan nilai kepada seluruh pemikiran filsafat dan penemuan sehingga ilmiah kalau manusia sedemikian yang persoalan-persoalan berhubungan dengan ilmu dan pengetahuan tersebut belumlah menjadi jelas. maka tak satu pun pemikiran filsafat manusia dan penemuan ilmiah yang akan bernilai. atau hushûlî dan hudhûrî. Murthada Muthahhari . semua ideologi berpijak pada pandangan dunia dan setiap pandangan dunia tertentu akan menghadirkan ideologi dan aliran sosial tertentu pula. itu pula yang akan diikuti oleh ideologi. kami akan kutip ungkapan seorang pemikir dan filosof Islam kontemporer asal Iran . Dengan ungkapan lain.adalah membedah persoalan-persoalan kepada kita bagaimana hidup semestinya. dan hal yang terkait dengan kategori-kategori kedua filsafat[14]. hubungan manusia dengan realitas eksternal itu. Sementara perjalanan sejarah epistemologi di dalam filsafat Islam mengalami suatu proses yang menyempurna dan berhasil menjawab segala bentuk keraguan dan kritikan atas epistemologi. epistemologi. Ideologi menentukan apa yang mesti dilakukan oleh manusia dan mengajukan bagaimana metode mencapai tujuan itu. sementara relativsime nampak pada pemikiran Immanuel Kant.

[17] Kaum Sophis ialah kelompok pertama yang menolak definisi ilmu yang bermakna kebenaran yang sesuai dengan realitas hakiki eksternal. Epistemologi di Zaman Yunani Kuno eksistensi segala sesuatu. hal ini karena terdapat kontradiksikontradiksi [18] Pythagoras parameter berkata. 1. hakikat mengungkap dan nisbi. Dan epistemologi setelah Renaissance Descartes mengalami suatu perubahan baru. iamengungkapkan satu sisi dari sisi-sisi lain dari epistemologi yang merupakan sumber dan alat ilmu. dan dengan cara pendefinisian. maka secara implisit bisa dikatakan bahwa pada zaman itu juga lahir epistemologi. maka perolehan ilmu menjadi hal yang mustahil. 2. namun tidak bisa dipindahkan. Socrates ialah filosof pertama pasca kaum Sophis induksi yang dan lantas bangkit ia mengkritisi berupaya sesuatu. dengan keberadaan itu. sebagian peneliti sejarah filsafat menganggap pemikirannya sebagai dasar Skeptisisme. sementara [16] Heraklitus berbeda dengan Parmenides. orang pertama yang membuka lembaran kajian epistemologi adalah Parmenides[15]. kalau pun iabisa dipahami. Pada dasarnya. dan modern) dan menempatkan Yunani kuno sebagai awal dimulainya filsafat Barat. merupakan tolok ukur pada akal dan kesalahan pengamatan yang dilakukan oleh indra lahir.[21] Democritus beranggapan bahwa indra lahir itu tidak iabagi dan akan pernah mengantarkan majasi pada dimana dan pengetahuan benar dan segala sifat sesuatu menjadi sifat-sifat hakiki dihasilkan dari penetapan pikiran seperti warna sifat-sifat seperti sifat bentuk ini ukuran[22]. segala “Manusia sesuatu. Hal ini karena iamenempatkan dan menekankan akal itu sebagai tolok ukur hakikat. Pembahasan-pembahasan yang dilontarkan oleh kaum Sophis dan filosoffilosof pada zaman itu mengandung poin-poin kajian yang penting dalam epistemologi. Hal yang mesti digaris bawahi ialah pada zaman Yunani kuno dan abad pertengahan epistemologi merupakan salah satu bagian dari pembahasan filsafat. maka mustahil diketahui. Gorgias menyatakan bahwa sesuatu itu tiada. dalam kajian filsafat pasca itu epistemologi menjadi inti kajian filsafat dan hal-hal yang berkaitan dan dengan ontologi dikaji secara sekunder. apabila ia ada. akal dipandang sebagai yang valid. Oleh karena itu.persoalan-persoalan partikular yang mendetail di dalam epistemologi. akan tetapi. Heraklitus melontarkan gagasan tentang perubahan yang konstan atas segala sesuatu dan berkeyakinan bahwa dengan adanya perubahan yang terus indra lahir hanya bersifat penampakan dan bahkan terkadang menipu. pemikiran-pemikiran mereka. karena ilmu memestikan kekonstanan dan ketetapan. dan mizan ketiadaan segala sesuatu[19]. akan tetapi. hal-hal yang senantiasa berubah maka mustahil tiga terwujud sifat-sifat khusus dari ilmu tersebut. abad pertengahan. (Yunani kuno. Sejarah Epistemologi dalam Filsafat Barat Apabila filsafat kita Barat membagi dalam perjalanan zaman sejarah tertentu menerus pada segala sesuatu. ia menekankan pada indra lahir.[20] Berdasarkan penulis sejarah filsafat. Gagasan Pythagoras ini kelihatannya lebih menyuarakan dimensi relativitas dalam pemikiran. Pembagian kemudian segala Iamemandang bahwa hakikat itu tidak relatif menjadi perhatian para filosof dan sumber .

dan perkara-perkara yang senantiasa berubah dan partikular tidak bisa dijadikan objek dan makrifat tidak hakiki. tetap. dan bersifat pasti. semestinya pengetahuan universal. Dalam hal ini.[30] Epicure (270-341 M) memandang indra lahir sebagai pondasi dan tolok ukur kebenaran pengetahuan. ialah filosof pertama yang secara serius mendalami epistemologi dan menganggap bahwa permasalahan itu ialah hakiki dan mendasar pengetahuan karena indriawi berpijak pada kaidah-kaidah awal dimana hal itu bisa dibuktikan di dalam ilmu-ilmu lain. Makrifat yang diperoleh lewat indra itu merupakan makrifat yang paling diyakini kebenarannya. akan yang tetapi. bersifat diyakini. dimana pengetahuan jenis terkait Pengetahuan-pengetahuan selain dengan menggunakan kaidah-kaidah pertama dalam ilmu dan pengetahuan yang bersifat gamblang (badihi)[27]. Plato. tak proses pembuktian ini harus berakhir pada kaidah yang sangat gamblang lagi membutuhkan pertama pembuktian yang sangat rasional. [28] Kelompok Rawaqiyun[29] yang yakin pada pengalaman agama dan indra lahir. dan analisa pikiran menggantikan gagasan mutsul Plato. prinsip non-kontradiksi merupakan kaidah gamblang yang diketahui secara fitrah. [25] Aristoteles. ini ialah diargumentasikan. [31] Kaum Skeptis beranggapan bahwa kesalahan indra lahir dan akal itu merupakan dalil atas ketidakabsahannya. iakemudian melontarkan gagasan tentang mutsul (maujud-maujud non-materi di alam akal). dari melainkan kesalahan kekeliruan bersumber dan serius makrifat para lantas menjadi epistemolog rasionalitas. murid Plato. dan perkiraan belaka[24]. dengan demikian. meyakini penalaran bersifat prasangka. Iamenyusun ilmu logika dengan berpikir tujuan dan menetapkan suatu secara metode benar berargumentasi terletak pada perubahan objek indra. bahkan menolak dan kebenaran Sebagian secara lain dari mereka adanya mutlak penetapan makna-makna maujud di ruang memori pikiran atas perkara-perkara indriawi.[23] Pengetahuan hakiki dalam pandangan Plato ialah ini keyakinan dengan benar hal-hal yang yang bisa konstan.[26] Iamenetapkan penggambaran universal. definisi plato tentang pengetahuan perhatian kontemporer. pasti. Mereka beranggapan pengetahuan itu adalah pengenalan partikular sesuatu. ilmu matematika dianggap hal yang tidak valid. berubah. bisa Oleh karena itu. Perbedaan kaum . Dengan dasar ini. pengetahuan indriawi bersifat keliru. menolak pandangan tentang konsepsi universal pikiran dari Aristoteles dan konsep mutsul Plato bahwa tersebut. lebih menekankan penjelasan yang ilmu dan pembuktian dengan bahwa asumsiasumsinya daripada menjelaskan persoalan berkaitan Iayakin probabilitas setiap ilmu pengetahuan. universal. diyakini.lahirnya berbagai pembahasan. maka objeknya juga harus tetap dan konstan. Lebih lanjut ia berkata bahwa panca indra lahir itu tidak melakukan itu kesalahan. sebagian memandang kemustahilan pencapaiannya. pencapaian hakikat dan makrifat hakiki ialah hal yang sangat mungkin dan tidak mustahil. Iajuga berkeyakinan. sementara pengetahuan hakiki (baca: pengetahuan akal) itu yang berhubungan dengan hal-hal yang konstan dan tak berubah ialah bisa diyakini. abstraksi. hipotesa. dengan perspektif ini. Begitu pula. Disamping meyakini bentuk intuisi batin (asy-syuhud) juga itu sebagai tolok ukur kebenaran. murid Socrates.

saya ada“. Dalam pandangannya. Gagasan Skeptisisme muncul sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi yang dipropagandai oleh Agrippa (di abad pertama) dan kemudian dilanjutkan oleh Saktus Amirikus (di abad kedua). 3. keraguan. bahkan juga berada di alam eksternal yang sebagaimana maujud-maujud hakiki yang lain? Sebagai contoh “manusia universal”. Plotinus. Pengetahuan indriawi berubah. yang sebagaimana diyakini itu oleh Apakah “universal” secara mendasar tidak memiliki wujud luar. oleh karena itu. karena ilmu terhadap jiwa tidak bisa diragukan. Apakah “manusia universal” di sini hanyalah sebuah konsep universal yang ada di alam pikiran semata. Apakah “universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa mencakup beberapa individuindividu eksternal. sumber ilmu.[34] 4.Skeptis dengan kaum Sophis adalah bahwa argumentasi-argumentasi kaum Sophis menjadi pijakan utama kaum Skeptis. disamping itu.[33] Augustine (354-430 M) beranggapan bahwa ilmu terhadap jiwa dan diri sendiri itu tidak . ilmu dan pengetahuan dimulai dari diri sendiri. Dan tingkatan di atas akal adalah intuisi (asysyuhud). dan tolok ukur kesesuaian dengan realitas eksternal. di samping itu iamemandang bahwa ilmu itu sebagai ilmu yang paling benar dan proposisiproposisi matematika adalah bersifat gamblang yang tidak bisa diragukan lagi. Salah satu ungkapan beliau adalah “Saya ragu. Apakah wujud “universal” itu sendiri sama dengan wujud “partikular” yang keberadaannya bukan hanya di alam pikiran. jawaban. Pengertian (understanding). hakiki. dalam bisa dan akal dan sebagai hakikat tingkatan ‘kesatuan dalam memahami termasuk dalam ruang lingkup yang bisa diragukan oleh kaum Skeptis dan Sophis. Akal (logos. Ia membagi tiga tingkatan persepsi (cognition): 1. tingkatan kedua adalah argumentasi. Tingkatan pertama berkaitan dengan hal-hal yang lahir. Gagasan Tentang Universalia Salah satu pembahasan inti di abad itu. 3. ataukah “manusia universal” itu sendiri memiliki realitas eksternal (misalnya ia berada di alam non-materi) yang hanya bisa disaksikan secara intuitif dan syuhudi. ataukah “manusia universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa diterapkan pada lebih dari kejamakan’ ‘kejamakan kesatuan’ tanpa lewat proses berpikir. tidak karena objeknya senantiasa makrifat tergolong sebagai pertengahan ialah kajian tentang universal dan sumber kehadirannya. epistemologi di zaman Yunani kuno dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian dibahas dalam bentuk yang berbeda dalam filsafat. Persepsi panca indra (sensuous perception). intellect). Dan semua persoalan. dan solusinya hadir dalam bentuk yang semakin kuat dan sistimatis serta terlontarnya pembahasan seputar probabilitas pengetahuan. yakni apakah universal itu adalah penyaksian mutsul Plato itu sendiri ataukah konsep abstraksi akal yang bersifat universal Aristoteles. juga mengkaji dasar-dasar pengetahuan dan kebenaran. ketiga. Epistemologi pada Abad Pertengahan (dari Awal Masehi hingga Abad Kelimabelas) Inti pembahasan di abad pertengahan adalah persoalan yang terkait dengan universalitas dan hakikat keberadaannya. di abad ketiga masehi melontarkan gagasangagasan penting dalam epistemologi. penggagas maktab neo platonisme. 2.[32] Walhasil. Apakah “universal” itu hanya sebatas suatu konsep.

29. 2. 74. Proposisi matematik yang karena berkaitan langsung dengan experiman bisa diterima. Mahdi Dahbosy. Idealisme (universal itu hanya terdapat dalam alam pikiran atau gagasan Aristoteles).[38] Segala kaidah filsafat dan ilmu berpijak pada penerimaan yakni jika atas konsep-konsep universal. Syapur ‘Itemod. [2] . dari konsep ini akal akan membentuk konsep-konsep universal[40]. Roger Bacon (1214-1294 M) ialah orang yang berpijak pada empirisme dan positivisme. Seir-e Hikmat dar Eropa.com] realitas-realitas hakiki dan eksternal. [4]. [41] [wisdoms4all. 141. seluruh filsafat dan hukum-hukumnya tak bermanfaat. Namun. begitu pula. jilid kedua. universal itu merupakan dalam konsep-konsep yang yang terdapat tentang pikiran menceritakan “penghubung” antara pikiran dan objek-objek “penghubung” itu sebagai “konsep-konsep”. maka tidak satu pun kaidah yang iabisa diterima.[39] Thomas Aquinas (1225-1274 M) yakin bahwa rasionalitas dan pemikiran itu sangat bergantung pada pengindraan lahiriah. dan dan menolaknya. [3]. dan experimen.[36] Roscelin (1050-1120 M) berkeyakinan bahwa yang hanya ada di alam eksternal adalah partikular. Omusyes Falsafeh. yakni pertama-tama indra lahir kita berhubungan dengan alam luar. hal. karena semua proposisi universal akan menjadi proposisi partikular yang hanya terkait dengan individu tertentu saja. bahwa seseorang beranggapan [1] . Syahid Muthahhari. Pada satu sisi kita memahami bahwa pada setiap sesuatu universalitas itu hanyalah sebuah kata semata dan menolak konsep universal itu. Upaya-upaya pemikiran di abad pertengahan itu tak lain ialah untuk menjawab persoalanpersoalan tersebut. hal. segala proposisi universal yang merupakan pijakan seluruh ilmu dan kaidah-kaidah ilmiah tidak . jilid pertama. Tarikh Ma’rifat Syenosi. sementara universal itu tidaklah memiliki wujud hakiki dan hanya bersifat katakata semata.[37] Peter dan Abelard (1079-1142 M) memandang itu adalah memiliki individu-individu eksternalnya. William seorang of Ockam (1287-1347 sebagai M) adalah yang dikenal pengingkar konsep-konsep universal. Nominalisme (menetapkan katakata umum yang mewakili individu-individu eksternal). dengan kata lain. Perlu diketahui bahwa iabanyak bersentuhan dengan pemikiran filsafat Islam. walaupun iaberupaya menyelesaikan persoalan universal itu lewat gagasan Aristoteles. ada tiga perspektif dan aliran pemikiran: 1.satu objek individual[35]?. hal. Boethius (470-525 M) ialah orang pertama yang beranggapan bahwa universal itu hanyalah kata semata. Dalam hal ini. pelajaran kesebelas. argumentasi. Taqi Mishbah Yazdi. Ia memandang bahwa alat pengetahuan adalah teks suci. Dengan alasan ini. maka sesuatu itu hadir dalam jiwa dan pikiran kita. Nazariyeh-e Syenokh. pembahasan “universalitas” memiliki urgensi. 3. hal 32. Seir-e Hikmat dar eropa. dengan demikian. jilid satu. Syenokht-e dar Quran. Muhammad Ali Furughi. Realisme (universalitas itu memiliki wujud eksternal atau mutsul Plato). kemudian akan terbentuk konsep-konsep imajinasi. Muhammad Ali Furughi. Perlu diketahui bahwa apabila kita memiliki ilmu terhadap sesuatu. hal. itu juga karena ia “universal” terkadang ia sebagai menyebut bahwa universal itu terdapat di alam pikiran konsep-konsep universal konsep-konsep abstraksi yang diambil dari maujud-maujud luar dengan memperhatikan sifat-sifatnya. 2. sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa ia secara mutlak mengingkari menafsirkan luar.

seperti gambaran tentang bulan. pembagian ilmu berdasarkan keabsahan ma’lum. hakikat sebagaimana adanya (noman). ‘Sebab’ dan ‘akibat’ itu tidak nampak diluar. dan non-materi. hal. wujud tetap dan berubah. kemestian. Misalnya ketika kita melihat api yang ada di luar diri kita. Yang dimaksud dengan at-tashawwur (penggambaran. Aflatun. maka api yang ada di dalam pikiran kita tidak akan membakar pikiran kita. Oleh karena itu. melainkan pencapaina makrifat bisa dengan jalan syuhud irfani. fenomena (yang tampak kepada kita). [12]. kalimat. Dalam epistemologi kontemporer di Barat dibahas esensi ilmu (keyakinan benar yang bisa dibuktikan). ada dan tiada. kalau yang kita tangkap dari api adalah kuiditasnya.memiliki dua dimensi. Yang dimaksud dengan ‘kategori-kategori kedua filsafat’ (konsep-konsep filosofis) adalah suatu konsep yang tidak memiliki individu luar dan tidak memiliki wujud mandiri. materi. Kaum epistemolog Barat mayoritas menyetujui makna ilmu seperti ini. Paul Edward. Seperti konsep tentang ‘sebab’ dan ‘akibat’. yang ada itu hanyalah api dan panas. sumber ilmu. Masaley-ye Syenokh. esensi ma’lum (yang diketahui). Gambaran predikat. karena yang memiliki pengaruh membakar itu hanyalah wujud api. matahari. kehadiran konsep ini tidak bisa terlepas dari keberadaan objek eksternalnya. jilid kedua.Dalam setiap pembenaran terdapat tiga penggambaran: 1. esensi alim (yang mengetahui). Dâiratul Ma’ârif. Jalan menuju makrifat tidak terbatas pada akal dan indra lahir. [7] . Pengetahuan intuitif ini ditandai oleh hadirnya objek di dalam diri si subjek. Tuhan. keluasan ilmu yang mencakup ilmu terhadap Tuhan. Namun. [13] . Plato adalah orang pertama yang melontarkan bahwa keyakinan benar yang bisa dibuktikan sebagai makrifat hakiki. Gambaran subyek. keabsahan kehadiran ilmu. 2. Daure-ye Otsor. wujud dan kuiditas. Munculnya konsep ‘sebab’ itu berasal dari analisa akal atas hubungan khusus antara api dan panas. bumi. akan tetapi. Kalau kita perhatikan di alam eksternal. Yang dimaksud dengan at-tashdiq (pembenaran. 110-111. Ali Syirwani. konsepsi) adalah suatu gambaran pikiran dimana bukan penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain. Syahid Murtadha Muthahhari. dan konsep ‘sebab’ itu lantas dipredikasikan kepada api. karena itu pengetahuan ini disebut “presensial“. dan berpuncak pada wahyu. jika yang hadir dalam diri kita adalah wujud api itu sendiri. Konsep ini diperoleh dari analisa akal terhadap perkara-perkara eksternal. jiwa manusia non-materi. [8] . dan juga berdasarkan tolok ukur ilmu. dan malaikat yang ada dalam pikiran kita. dan wujud materi. potensi dan aktual. Apabila subyek epistemologi adalah penyingkapan secara umum. Gambaran tentang hubungan subyek dan predikat. hal. wujud pikiran dan eksternal. keabsahan metode. maka akan tercakup segala apa yang disebutkan itu. 1119. 13. langit. Dengan demikian. Sementara ilmu hushûlî hanya berhubungan dengan gambaran sesuatu itu. …. [14]. ilham. Akan tetapi. [10] . mitsal. [11] . dimensi kuiditas dan dimensi wujud. pengesahan) adalah penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain dalam bentuk positif atau negatif. 4. bukan kuiditasnya. namun berwujud mengikuti keberadaan subyeknya. jilid ketiga. misalnya: api adalah ‘sebab’ panas atau panas adalah ‘akibat’ dari api. Syarh-e Mushthalahât-e Falsafi. walaupun ‘sebab’ . Pengenalan rasional ini memahami objek-objeknya lewat symbol-simbol. jiwa manusia. apa yang menjadi titik tekan dan inti pembahasan dalam epistemologi adalah mengenai akal dan indra (lahir dan batin). hal. seperti dikatakan: Tuhan ada. kalau sesuatu yang hadir dalam jiwa kita adalah wujud eksternalnya. qidam dan huduts. maka niscaya akan membakar diri kita. maka ilmu kita terhadap sesuatu itu disebut “ilmu hushûlî” atau “pengenalan rasional“. atau rumus-rumus. maka ilmu kita terhadap sesuatu itu di sebut “ilmu hudhûrî” atau “pengenalan intuitif“. ular naga tiada. [9] . [6] . Apabila sesuatu yang hadir dalam pikiran kita adalah kuiditasnya (mahiyah). keabsahan alat. Kebenaran yang belum diyakini adalah suatu bentuk kebenaran yang diterima secara taklid dari orang-orang yang dipercaya dan belum melalui proses penelitian secara sistimatis dan logis. Silahkan rujuk pada catatan kaki no. ilmu hudhûrî menangkap objeknya secara langsung (immediate) dan berkaitan dengan hakikat sesuatu. Seperti pengkajian kaidah tentang sebab dan akibat. [5]. kata-kata. 3. hal. kemungkinan dan kemustahilan mewujud. 10.

[32] . 112. Paul Edward. [36] .ialah sifat untuk api. risalah ketiga. Aristoteles. Dalam pada itu. Lyotard. [26] . Yang didirikan pada tahun 300 M [30] . 472. 443. Ibid. 149. pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. 33. Frederick Copleston. So sedemikian penting masalah epistemologi dalam pembahasan filsafat.com/English . sifat-sifat. hal. hal. [19] . hal. hal. 209. sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. 21. hal. pasal sembilan dan pertama. Ibid. Ibid. 10-11.Tâsu’ât. hal. hal. hal. hal. ○ ○ ○ ○ ZAKY November 25th. Plotinus. Ibid. jilid pertama. [28] . hal 65. [21] . 2007 REPLY KUTIP Zaky: saya bisa ga’ nemuin materi yg saya cari? “pengertian ilmu dan ilmu pengetahuan” __________________________________ ________ Isyraq: Terima kasih atas kunjungan Anda. pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. hal. jilid pertama. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. pasal empat. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. [25] . 99. Tentu saja. [29] . Paul Edward. 126. hal. Ibid. Seperti pengetahuan kita terhadap keberadaan dan wujud diri kita sendiri. Frederick Copleston. [39] . Muhammad Ali Furughi. hal. 171. Paul Edward. hal. diselesaikan terlebih dahulu dalam dapur epistemologi. apakah akal universal ini patut diandalkan atau tidak. 131. hal 15. hal. dan risalah kesembilan. Dan ini adalah raison d’être pembahasan epistemologi. 95. Frederick Copleston. [27] . [16] .Tarikh Falsafe-ye Garb. 64. Nah. [35] . Ruh-e Falsafeh dar Qarn-e Wustha. Walhasil. hal. 82. induktif atau deduktif. Universal lawan dari partikular yang berarti gagasan yang hanya bisa diterapkan untuk satu objek individual. [34] . Capelestun. 106. Tarikh al-Falsafah alYunaniyah. 12. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. sembari menanti teruploadnya tulisan tersebut. Semua konsep dalam filsafat berada dalam kategori-kategori seperti ini. Yakni. [31] . This the way I see it. hal. lantaran berfilsafat adalah berargumen (silogis. [33] . 11. [15] . [18] . kami mempersilahkan Anda menunggah http://www. Atau sederhananya. [17] . Dengan demikian. Ibid. [41] .Tarikh Falsafe-ye Garb. Paul Edward. Tarikh Falsafe-ye Garb. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asal-usul. 348.wisdoms4all. Ibid. 261. Metafisik. [40] . Tarikh Falsafe-ye Garb. Ibid. Seir-e Hikmat dar Eropa. ) yang melulu menggunakan software akal universal yang dimiliki oleh setiap manusia. hal. Ibid. Ibid. Yusuf Keram. [22] . [20] . Metafisik. What do you say??? 1. harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. hal. hal. [38] . tapi ini tidak berarti bahwa ‘sebab’ itu memiliki wujud yang mandiri dan terpisah dari api dan kemudian melekat pada api. 172. [24] . Ibid. hal. jilid pertama. hal. [37] . hal. asumsi dasar. Insya Allah sementara ini kami sedang menyiapkan tulisan yang bertajuk “Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Agama” yang kurang lebihnya dapat memenuhi materi yang Anda cari. 102. Ibid. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. [23] . Dan Aristoteles.

dan Al Qur’an di akhiri dengan surat yang membahas “sejarah Tuhan”. Apakah kita masih termasuk orang orang yang merasa sudah tinggi ilmunya ? Sudah merasa lebih tua dan berengalaman dari yang lain ? Merasa yang paling benar ? Merasa apa yang kamu dapatkan sekarang adalah buah dari hasil usaha dan jerih payahmu selama ini ? merasa paling benar ibadahnya ? Mudah mudahan kita tidak termasuk dalam Salam. Tks Isyraq: Salam. tass. perbedaan antara ilmu hudhuri dan hushuli. saya coba baca Ilmu Hudlurinya Mehdi Hairi Yazdi. Nah. Filosof dalam bahasa Arab biasanya disebut sebagai hakim. ________________________________________ __ Isyraq: Salam dan terima kasih kepada Sdr/i Sane yang memberikan nice dan supporting komentar atas postingan yang ada.iqra warqa’ “Bacalah dan melambunglah ke tingkat yang lebih tinggi…..sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan… Mari kita hasilkan keyakinan dengan berfilsafat. 2008 REPLY KUTIP eko Desember 7th. induksi dan deduksi. Doakan kami untuk keep on writing masalah tersebut hingga tuntas. ○ ○ ○ ○ fahmi alkaf Desember 3rd. Filosof adalah alih bahasa bebas dari bahasa Yunani yang bermakna orang yang cinta kepada hikmah. Jadi kerja filosof adalah menguatkan dan memperdalam jangkauan hikmah yang dapat dicapainya dengan silogisme.artikel yang bertemakan “Islamic Concept of Knowledge. 4. U’budu Rabbaka hatta ‘atakal Yaqin. Terima Kasih.. Anda benar bahwa filosof (tentunya filosof yang jujur dan mukhlis) berupaya berargumentasi dan berdemonstrasi dengan dalil-dalil sehingga tak setitik keraguan yang tersisa.. Dan jangan berhenti di sini. sehingga orang orang yang berkeinginan dan dikehendakiNya yang mendapat “rahmat” darinya………. penciptaan dan kontingensi. Bagaimana kalau lebih di fokuskan pembahasan yang lebih spesifik tentang epistemologi hudluri. piranti akal atau indra yang mo digunakan diolah di dapur epistemologi. kemudian Tuntunan memohon dan Jalan yang harus dilalui.Dan isi Al-Quran banyak membahas hal kehidupan setelah mati itu semua merupakan kapling khas Agama dan pemahamanya lebih banyak bersifar HUDLURI??? ini hanya couriusity saya.. 3. sebab saya menduga ada hal yang menarik dalam susunan AlQur’an dimulai dari Surat Al Fathihah yang berisi cara menyembah dan mentauhidkan Allah.. Dan pembahasan epistemologi di blog ini telah memasuki pembahasan sejarah ilmu hudhuri. ○ ○ ○ ○ achmad satya dharma Februari 10th. karena Ilmu/pengenalan seperti itulah yang menjadi dasar dari seluruh pemahaman manusia... ○ ○ ○ ○ sane November 29th.. 2007 REPLY KUTIP Salam alaykum………… Maha suci ALLAH yang telah memberikan kita AL QURAN dengan tulisan ARAB serta menjaga kerahasiaannya. terutama masalah . sebelum berfilsafat.” 2. 2007 REPLY KUTIP epistemologi pengenalan diri kita sendiri dan masalah emanasi. 2007 REPLY KUTIP perbedaan seorang filosof dengan seorang manusia biasa salah satunya adalah gairah untuk dapat lebih mengetahui ushul segala bentuk wujud dengan epistimologi hingga tak ada sedikitpun keraguan dalam dirinya. Hakim derivatnya adalah hukm. Kalau diringkaskan di awali dengan cara berjalan menuju Allah dan di Akhiri kepada pemahaman bagaimana Allah ataupun Makhluq ini berasal. muhkam yang dapat bermakna kuat dan menguatkan.tass. ○ ○ ○ ○ 5. Kami sedang berupaya menyediakan pembahasan secara sistematis dan runtun epistemologi. rasanya masih perlu sumber yang bisa lebih menyederhanakan lagi.

. (Amin ya ALLAH) Bismillahi tawakkaltu alallah…. shalihin. semoga kita mendapat rahmat dariNya. sebab barang tiruan berarti adalah barang palsu…. Ikuti dan terapkanlah Sunnahnya dan dapatkan hakikat dari sunnah tersebut… Bacalah al quran. Yaitu jalannya para nabi. Jangan ada rasa cemburu terhadap yang sudah mengalaminya karena apabila telah menjadi hak kita dan telah sampai waktunya kepada kita niscaya tidak ada suatu apapun yang dapat menghalanginya……. “Jalan yang lurus” adalah jalan yang paling singkat dan pasti. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. Jika kita mengetahui batasbatas pengetahuan. yaitu tentang apa yang dipikirkan. kemudian aksiologi. “Ikutilah” Rasulullah sebagai uswatun hasanah… tetapi bukan menirunya. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. karena sesungguhnya pengetahuan itu bukanlah diraih… tetapi adalah diberikan….Latar Belakang Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. yang menjadi objek pemikiran. 2004 Dalam pembahasan filsafat. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanya kemungkinankemungkinan dan bukannya kepastian. Epistemologi adalah teori pengetahuan. Sebenarnya kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. mulai dari ontologi. kemudian timbul hasil pemikiran yang memberikan suatu PARAGRAPH BARU . juga ontologi dan aksiologi. Bismillahi majriha wa mursaha……… Salam alaykum EPISTEMOLOGI 1. Kattsoff. agar kita tidak terjebak kepada hal-hal yang tidak perlu dibahas…. kalau tidak bisa arabnya tidak mengapa…. lalu dicari cara-cara memikirkannnya (epistemologi).golongan yang satupun dari yang di atas……… Makrifatullah adalah kunci dari segala ilmu Dalam menempuhnya kita harus datang dengan “tangan terbuka” dan harus bisa memenggal kepala “ego” kita. Masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan……. kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan itu. dan para syuhada……… Alangkah indahnya kita mengabdi dan beribadah kalau kita tahu kepada siapa kita beribadah dan mengabdi…. Dengan gambaran senderhana dapat dikatakan. ketiga sub sistem ini biasanya disebutkan secara berurutan. yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. shiddiqin. Oleh karena itu. perlu diperhatikan bagaimana dan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. epistemologi. Salah satu isi al quran adalah berisi tenteng pengalaman ruhani manusia dalam menuju TUHANnya…. Semoga kita termasuk orang orang yang kembali dan memeperoleh kemenangan…. Ontologi adalah teori tentang “ada”. Subhanallah……… Minal aidin wal faidzin….... ada sesuatu yang dipikirkan (ontologi). Baca saja terjemahannya bukan tafsirnya…. Sistem filsafat disamping meliputi epistemologi. Yangmana kita harus mengalaminya terlebih dahulu baru kita bisa memahami maksudnya…. epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. Kalau tidak mengerti janganlah cepat menyerah. karena Al quran adalah petunjuk yang HAQ…. Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat.. tidak ada kemungkinan kita untuk tersesat darinya…. Dalamilah islam sampai ke “inti”nya jangan hanya kulitnya saja. atau mungkin dapat menenatapkan batasbatas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya (Luis O. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan.

seandainya objek pemikran sudah ada. maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya.manfaat atau kegunaan (aksiologi). Ferrier. tetapi jika tidak didapatkan cara-cara berpikir. hambatanhambatan belajar. Ketiga landasan ini saling berkaitan. Oleh karena itu. pembahasan konsep apa pun. Demikian juga. objek. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi. cara-cara juga adam tetapi tidak diektahui manfaat apa yang bisa dihasilkan dari sesuatu yang dipikirkan itu. metode. guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. Jadi. ruang lingkup. setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi). maka hanya akan sia-sia. Secara detail. atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Jadi. Begitu juga.F. epistemologi dan ontologi. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J. gaya belajar. prinsip-prinsip belajar. tujuan. mulai dari pengertian. jika kita renungkan bahwa meskipun terdapat objek pemikiran. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. Setelah memahami substansi belajar tersebut. sehingga didapatkan pengertian yang berbedabeda. melainkan juga pada substansi persoalannya. tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. buka saja pada redaksinya. seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalanpersoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis. epistemologi. bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasan-pembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi . cara. Namun demikian. ketika kita membicarakan epistemologi disini. PENGERTIAN EPISTEMOLOGI Secara historis. teori belajar. sehingga tidak diperoleh pengetahuan apapun. maka objek pemikiran itu akan “diam”. Sebagai sub sistem filsafat. untuk membedakan dua cabang filsafat. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik. tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya. kita perlu memahami seluk beluk diseputar epistemologi. Hal ini akan lebih jelas lagi. Keterkaitan antara ontologi. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. landasan. sebab ketigatiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. ketiganya adalah interrelasi dan interdependensi (saling berkaitan dan saling bergantung). dia baru bisa menjelaskan proses belajar. Misalnya. berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya. Lazimnya. hakikat dan pengaruh epistemologi B. justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan.

sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan. Sementara itu. 3). dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. Menurut Musa Asy’arie.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. struktur. dalam Jujun S. Sedangkan. 2003. dan logos berarti teori. hal.(pengertian). dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan. Secara etimologi. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. diungkapkan oleh Dagobert D. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. pengandaianpengendaian dan dasarnya. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. pengertian. Demikian pula. Dia menyatakan. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat.Suriasumantri. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. struktur. yaitu realisme dan idealisme. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. Pengertian lain. Dalam Epistemologi. metode-metode dan validitas pengetahuan. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya. Sedangkan D. 2005). epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. 1965. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Selanjutnya. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. struktur. Azyumardi Azra menambahkan. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. 2).Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. P.Hardono Hadi menyatakan. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan.Runes. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah . Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu.32).

meliputi hakekat. A. sehingga mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu. Sidi Gazalba. Jadi meskipun epistemologi itu merupakan sub sistem filsafat. atau psikologi yang tidak sekaligus epistemologi dari psikologi. pengandaian. bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. apa hakikatnya. Jelasnya. sebab pernyataanpernyataan ini akan membantu pemahaman secara makin komprehensif dan utuh (holistik) mengenai ruang lingkup pemabahasan epistemologi. Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi. apa sumbernya. maka teori pengetahuan itu bisa meliputi. sampai Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan. seperti proses maupun tujuan. bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar. sekalipun ia sebenarnya merupakan doktrin tentang psikologi kepercayaan. maka tidak mungkin seserorang memiliki suatu metafisika yang tidak sekaligus merupakan epistemologi dari metafisika. apa kebenaran itu. batas. Kenyataan ini kembali mempertegas. kodrat. Epistemologi senantiasa “mengawali” dimensi-dimensi lainnya. sumber. Jika kita memaduakan rincian aspek-aspek epistemologi. tetapi cakupannya luas sekali. apakah ilmu itu. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan. ada baiknya dikemukakan pernyataan-pernyataan lain yang mencoba menguraikan ruang lingkup epistemologi. batas. apa yang dapat kita ketahui. seperti psikologi selalu diiringi oleh epistemologi. atau bahkan suatu sains yang bukan epistemologi dari sains. ternyata hanya aspekaspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof. unsur. hakikat. tumpuan. melainkan bisa juga sebaliknya. macam. Sebenarnya masing-masing definisi diatas telah memberi pemahaman tentang ruang lingkup epistemologi sekaligus. agar dapat menyajikan pembahasan terhadap aspek-aspek epistemologi seluruhnya secara proporsional. RUANG LINGKUP EPISTEMOLOGI. unsur. dan sasaran pengetahuan.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi. tumpuan. struktur. macam. Bertolak dari pengertian-pengertian epistemologi tersebut. validias. yaitu hakikat.M Saefuddin menyebutkan. Semestinya harus ada pergeseran pusat perhatian pembahasan ke arah aspek-aspek yang terabaikan itu. mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar. C. pertanggungjawaban dan skope pengetahuan. M.dipahami. bahwa antara epistemologi selalu berkaitan dengan ontologi dan aksiologi. dasar. dan refleksi selalu bersifat kritis. metode. terutama ketika dimensi-dimensi itu dicoba untuk digali. Bahkan menurut. keaslian. masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. taklid kepada pengetahuan atas kewibaan orang yang memberikannya termasuk epistemologi. ontologi dan aksiologi serta dimensi lainnya. sumber dan validitas pengetahuan. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok. Akan tetapi. dan sampai dimanakah batasannya. sebagaimana diuraikan tersebut. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek. Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas. kiranya kita perlu memerinci aspek-aspek yang menjadi cakupannya atau ruang lingkupnya. sasaran. Filsafat merupakan refleksi. bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab. dari mana asalnya. Lebih dari . karena definisi-definisi itu tampaknya didasarkan pada rincian aspek-aspek yang tercakup dalam lingkup epistemologi daripada aspek-aspek lainnya. Bahkan. seluruh permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan adalah menjadi cakupan epistemologi.

tetapi objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan. Aspekaspek itu berkisar pada sumber pengetahuan. Ternyata ini juga mungkin terjadi bahkan sering terjadi. sedangkan objeknya adalah kepalanya. mungkinkan suatu kegiatan hanya memiliki objek satu tetapi tujuannya banyak. aspekaspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi. M. akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas. bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. sebab objeklah yang mengantarkan tercapainya tujuan. pembunuhan sebagai tujuan polisi baru mungkin tercapai setelah melalui tindakan menembak kepala perampok sebagai sasaran. Oleh karena itu. sosiologi. Dengan kata lain. saat ini literatur-literatur filsafat masih terjadi pemusatan perhatian pada aspek-aspek tertentu saja. Padahal sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi. yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan. seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman. penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang. seorang polisi bertujuan membunuh perampok yang melakukan perlawanan. ekonomi. khususnya bidang epistemologi. Meskipun berbeda. sedang tujuan hampir sama dengan harapan. jika telah melalui objek lebih dulu. OBJEK DAN TUJUAN EPISTEMOLOGI Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Manusia misalnya. sejak lama ia menjadi objek penelitian dan pengamatan yang memiliki tujuan bermacam-macam. pedagogi. perubahan kecenderungan pembahasan tersebut dapat memperkenalkan pengetahuan yang makin luas dan mendalam tentang cakupan epistemologi. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. atau setidaktidaknya kurang mendapat perhatian yang layak. sehingga pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. Jika diamati secara cermat. tujuannya adalah pembunuhan. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik. Amin Abdullah menilai. Kenyataannya. sebagaimana diuraikan di atas. tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan. Objek sama dengan sasaran. sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran. tujuan baru dapat diperoleh. sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai. baik untuk membangun psikologi. meskipun secara spesifik tekanan perhatian dalam meneliti dan . Misalnya. terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat. Hanya saja. D. tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan. Ini berarti dalam satu tujuan bisa dicapai melalui objek yang berbeda-beda atau lebih dari satu. ontologi sebagai objek pemikiran. bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. Sementara itu. antropologi. Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan. bisa juga dadanya atau perutnya. Namun. Bagian-bagian lainnya jauh lebih banyak. Jadi. jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi. sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran. tetapi terjadinya pembunuhan tidak hanya melalui menembak kepala perampok.itu. bilogi. ketika akan ditangkap dengan menambak kepalanya sebagai sasaran. dan pembentukan pengetahuan. Sebaliknya. baik yang bercorak positif maupun negatif. ilmu hukum dan sebagainya. sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan.

Objek epistemologi ini menurut Jujun S. sedang berpikir dalam kecenderungan kedua (satu objek untuk tujuan yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian hasil yang sebanyak-banyaknya. maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali. tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. mendorong kreativitas seseorang. sehingga siswa benarbenar mampu memahaminya dan mampu mengembangkan perkalian angka-angka lainnya. tentu akan dapat mengetahui hasilnya. Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai dia puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan. acapkali tidak mengetahui prosesnya. Maka guru yang profesional akan menerangkan proses tersebut secara rinci dan mendetail. Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan. apakah saya dapat tahu. justru kecenderungan ini mulai memperoleh perhatian yang sangat besar di kalangan para pemikir.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. mustahil tujuan bisa terealisir. perekayasa. sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwayang-ada). Dewasa ini. Guru dapat mengajarkan kepada siswanya bahwa dua kali tiga sama dengan enam (2 x 3 = 6) dan siswa mengetahui. sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. tetapi seseorang yang mengetahui hasilnya. siswa yang cerdas tidak pernah puas dengan pengetahuan dan hafalan itu. sedangkan keadaan kedua lebih berorientasi pada proses. yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan. Sebagai sub sistem filsafat. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya. yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan. Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetahuan. dua kali tiga didapatkan hasil enam. sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. Tanpa suatu sasaran. sebaliknya tanpa suatu tujuan. Hal ini merupakan implikasi dari tekanan masing-masing pola berpikir tersebut. Secara global. bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari.mengamati itu berbeda-beda. Seseorang yang mengetahui prosesnya. Hal ini menunjukkan. hakikat alam dan hakikat manusia. bahkan hafal. baik berpikir dalam kecenderungan pertama maupun kecenderungan kedua. Objek material adalah sarwayang-ada. epistemologi atau teori pengetahuan yang pertama kali digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. Selanjutnya. Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. apakah yang menjadi tujuan epistemologi tersebut. Proses menjadi tahu atau “proses . Aktivitas berfikir dalam kecenderungan pertama (satu tujuan dengan objek yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian cara sebanyak-banyaknya. dan juga pengusaha. tetap saja membutuhkan banyak cara untuk mewujudkan keinginan pemikirnya. sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif. tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan. akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu. Kecenderungan ini justru memiliki efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan bersifat dinamis. Dia tentu akan mengejar bagaimana prosesnya. ada upaya bagaimana menjadikan bahan yang sama untuk kepentingan yang berbeda-beda. Artinya. Namun. Keadaan pertama hanya berorientasi pada hasil.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan.

sehingga banyak pakar yang sangat kuat berpegang teguh pada metode dan cenderung kaku dalam menerapkannya. tetapi benar-benar tahu berdasarkan pembuktian melalui proses itu. Jadi. Bangunan pengetahuan menjadi mapan. yang jelas dalam kenyataanya metode ilmiah telah dijadikan pedoman . Penguasaan terhadap proses tersebut berfungsi mengetahui dan memahami pemikiran seseorang secara komprehensif dan utuh. sedangkan landasan bagaikan fundamennya. alasan dan motif tersebut. jika memiliki landasan yang kokoh. akhirnya berkembang menjadi: sains adalah metode. akan dipengaruhi atau tergantung landasannya. Dalam kehidupan masyarakat tidak jarang terjadi sikap saling menyalahkan pemikiran seseorang. Timbulnya suatu pemikiran senantiasa sebagai akibat adanya faktor-faktor yang mempengaruhi. Dengan membawa kuncinya. yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. pemahaman dan pengembanganpengembangannya. semuanya tergantung pada titik tolaknya. jika seseorang terlebih dahulu berupaya mengenali faktor. termasuk juga ide. Faktor. alasan dan motif itu maupun komponen yang lain sesungguhnya termasuk dalam mata rantai proses sebuah pemikiran. Demikian juga dengan epistemologi. Dengan demikina.pengetahuan” inilah yang menjadi pembuka terhadap pengetahuan. Ketika faktor. sebab tidak ada pemikiran yang terpenggal begitu saja. kemudian diperiksa satu persatu barang-barang yang ada didalamnya. Sesungguhnya sikap berlebihan itu memang riil. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah. padahal mereka belum pernah melacak proses terjadinya pemikiran itu. alasan dan motif ini belum dikenali. Sebaliknya. Bangunan pengetahuan bagaikan bangunan rumah. ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. tanpa menyadari semuanya yang hanya sekedar salah satu sarana dari sains untuk mengukuhkan objektivitas dalam memahami sesuatu. seakan-akan mereka menganut motto: tak ada sains tanpa metode. sehingga dia dapat memakluminya. maka acapkali seseorang tidak akan bisa memahami pemikiran orang lain. E. Dengan demikian. Sikap ini mencerminkan bahwa mereka berlebihan dalam menilai begitu tinggi terhadap metode ilmiah. Proses ini bisa diibaratkan seperti kunci gudang. Sedangkan landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah. sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syaratsyarat tertentu. sebab ia merupakan tempat berpijak. Begitu pentingnya fungsi metode ilmiah dalam sains. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. karena tidak pernah membuktikan. LANDASAN EPISTEMOLOGI Landasan epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan. gagasa. sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan. tetapi terlepas dari sikap tersebut yang seharusnya tidak perlu terjadi. seseorang tidak sekedar mengetahuai sesuatu atas informasi orang lain. konsep dan teorinya. maka dia akan mampu mengenali pemikiran orang lain dengan baik. tanpa ada alasan-alasan yang mendasarinya. maka gudang itu akan segera dibuka. tetapi dia tetap hanya apriori semata. meskipun seseorang diberi tahu bahwa di dalam gudang terdapat bermacam-macam barnag. maupun motif-motif yang mendasarinya. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yang tercantum dalam metode ilmiah. alasan-alasan yang melatar belakangi. Kekuatan bangunan rumah bisa diandalkan berdasarkan kekuatan fundamennya. metode ilmiah merupakan penentu layak tidaknya pengetahuan menjadi ilmu. Di dalam filsafat pengetahuan.

juga sering disebut ilmu dan sains. Jika metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu. sumber-sumbernya. Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Pada bagian lain. metodologi dan epistemologi. logis dan empiris. tetapi tidak empiris. METODE DAN METODOLOGI Selanjutnya perlu ditelusuri dimana posisi metode dan metodologi dalam konteks epistemologi untuk mengetahui kaitankaitannya. membangun dan mengembangkan pengetahuan ilmu. Sesuatu fenomena pengetahuan logis. karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan.dalam menyusun. HUBUNGAN EPISTEMOLOGI. maka metodologilah yang mengkerangkai secara konseptual terhadap prosedur tersebut. objektif. sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Lebih jauh lagi Peter R. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa. Pengetahuan adalah pengalaman atau pengetahuan sehari-hari yang masih berserakan. mengingat dalam kehidupan sehari-hari sering dikacaukan antara metode dengan metodologi dan bahkan dengan epistemologi. yaitu rasio dan fakta secara integratif F. Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Disini perlu dibedakan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan (ilmu). Dengan istilah lain. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang dianutnya. antara metode. melaikan termasuk wilayah filsafat. Hal ini perlu penegasan. kelemahan dan kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. sistematis. disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah. “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis”. atau pengalaman sehari-hari. Secara sederhana dapat dikatakan. Untuk mengetahui peta masing-masing dari ketiga istilah ini. bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. dalam metodologi dapat ditemukan upaya membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan metode. sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah diatur berdasarkan metode ilmiah. Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode. Implikasinya. Kholil Yasin menyebut pengetahuan tersebut dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary knowledge). batasbatasanya. sedangkan substansisnya relatif sama. misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah. sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam penelitian. yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”. juga bisa disebut pengetahuan sehari-hari. “Dalam dunia keilmuan ada upaya ilmiah yang disebut metode. Padahal mestinya dia harus . juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan. tampaknya perlu memahami terlebih dahulu makna metode dan metodologi.Senn mengemukakan. sehingga timbul sifat-sifat atau ciri-cirinya. kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan. dan sebagainya. Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan.

maka dia harus mengacu pada metodologi. unsur. membedakan cabang-cabangnya yang pokok. dan lingkaran yang lebih kecil kecuali berupa metodologi. namun bahasan epistemologi bukan hanya metode semata-mata. metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi. batas. kendatipun tidak bisa dipisahkan. Kemudian berbicara tentang metodologi yang berarti berbicara tentang cara-cara atau metode-metode yang digunakan oleh manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran. Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan. sedangkan metode penelitian berada dalam dataran teknis. mengingat pembahasan tentang seluk-beluk metode itu ada pada metodologi. metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. sedangkan penelitian kualitatif menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). Jadi. yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik. Apalagi hakikat epistemologi. struktur. Secara lebih khusus. karena ada bahasan lain. metode merupakan perwujudan dari metodologi. Dengan demikian. sumber. sasaran dan dasar pengetahuan. sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham determinsime. mengidentifikasikan sumbersumbernya dan menetapkan batasbatasnya. dan dalam lingkaran kecil masih terdapat lingkaran yang lebih kecil lagi. seperti: hakikat. lagi-lagi terasa sulit. kecuali ciri-cirinya. sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi. Filsafat mencakup bahasan epistemologi. validitas. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat. Ini berarti bahwa filsafat mencakup bahasan epistemologi. tumpuan. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat. maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat.benar-benar memahami. karena ita tidak bisa menangkapnya. Posisi masing-masing istilah ini. problem penyelidikan ilmiah yang secara filosofis menjadi kajian utama cabang epistemologi yang berkaitan dengan problem metodologi juga berkaitan dengan rancangan tata pikir. dapat dijelaskan urutanurutan secara struktural-teoritis antara epistemologi. Metodologi inilah yang memberikan penjelasan-penjelasan konseptual dan teoritis terhadap metode. seperti lingkaran besar yang melingkari lingkaran kecil. Untuk lebih jelas lagi perlu dibedakan adanya metode pengetahuan dan metode penelitian. baik dalam aspek parsial atau total. istilah metodologi berkaitan dengan praktek epistemologi. tentu lebih sulit lagi. tetapi bahasan filsafat tidak hanya epistemologi karena masih ada bahasan lain. Oleh karena itu. dilanjutkan dengan merinci pada metodologi. apa yang benar dan dapat dipergunakan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. epistemologi mencakup bahasan metodologis. Lebih jelas lagi. tetapi masalah-masalah ini bukanlah semata-mata masalah-masalah filsafat. lingkaran kecil berupa epistemologi. bahwa penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivisme. HAKIKAT EPISTEMOLOGI Pembahasan tentang hakikat. Metode pengetahuan berada dalam dataran filosofis-teoritis. bahwa seseorang yang sedang mempertimbangkan penggunaan dan penerapan metode untuk memperoleh pengetahuan. Dalam filsafat. Lingkaran besar disini diumpamakan filsafat. macam. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi. dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. G. yaitu ontologi dan aksiologi. Pandangan yang lebih ekstrim lagi . Demikian juga epistemologi mencakup bahasan metode (metodologi). sesuatu yang ditentukan oleh yang lain). “Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral epistemologi.

Tidak semua objek mesti . bahwa persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemologi pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi masingmasing. epistemologi dan aksiologi. apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidangbidangnya. pengetahaun merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. bahwa filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu. epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit. epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat. bahwa posisi logika berada diluar ontologi. apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik tidak usah diketahui. Menurut. Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh melalui perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis. Sementara itu. maka minat untuk membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya untuk melebihi takaran minat kita. maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika sendiri. atau sekedar memiliki persentuhan yang erat dengan epistemologi. terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. Kemudian jika diingat. Ini berarti tidak ada disiplin ilmu lain. the workings of human mind. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan. Di samping itu. diluar epistemologi sama sekali. Dalam epistemologi terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya. logika itu sendiri patut dipertanyakan. dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. Honer dan Thomas C. Dalam pemahaman yang sederhana epistemologi memiliki interrelasi (saling berhubungan dengan komponen lain. Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. Sejak semula. Selanjutnya.menurut Kelompok Wina. kecuali psikologi. epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh kontroversi. Metodologi misalnya telah digabungan secara teliti dengan epistemologi dan logika. Perbedaaan padangan tentang eksistensi epistemologi ini agaknya bisa dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M. apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui. bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat. melainkan termasuk dalam kajian psikologi. sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. ontologi dan aksiologi). Oleh karena itu. Ada yang menyatakan. Luasnya jangkauan epistemologi ini menyebabkan objek pembahasannya sangat detail dan pelik. epistemologi tersebut sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja. justru karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. Cara pandang demikian akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. Selain itu. padahal realitasnya banyak sekali. Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. Jujun S. Sebab epistemologi itu berkenaan dengan pekerjaan pikiran manusia. apakah logika itu bagian dari epistemologi. tidak bisa lepas dari ontologi dan aksiologi. epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia. walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik.Hunt yang menilai. Suriasumatri. karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan pikiran.

sebab ilmu pengetahuan yang berhenti. Hal ini juga bisa dikatakan. maka suatu temuan dianggap benar. epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan dalam membentuk dirinya. Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. Sebaliknya. H. dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu bertumpu pada landasannya. Usaha menafsirkan adalah aplikasi berpikir rasional. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar. meskipun memungkinkan untuk diketahui. sedangkan usah membuktikan berkaitan dengan induksi. maka menimbulkan pemahaman. epistemologi adalah teori pengetahuan ilmiah. karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek. Perbedaan hasil teman dalam masalah . Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis. atau deduktif dengan induktif). Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia. berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. sedangkan usaha untuk membuktikan adalah aplikasi berpikir empiris. PENGARUH EPISTEMOLOGI Bagi Karl R. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh. Perkemabangan ilmu pengetahuan dengan demikian membuktikan. ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama. sehingga tidka jarang temuan ilmu pengetahuan yang lebih dulu ditentang atau disempurnakan oleh temuan ilmu pengetahuan yang kemudian.dijelajahi oleh pengetahuan manusia. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya. karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang. yaitu masa lampau yang telah dilalui. sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali. bahwa usaha menafsirkan berkaitan dengan deduksi. Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi. jika dilihat dari kepentingan jangka panjang. epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. akan kehilangan kekhasannya. Pada bagian lain dikatakan. sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. bahwa kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat tentatif. Kedua cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran. Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri. baruk ditarik kesimpulan secara umum. Sebagai teori pengetahuan ilmiah. Ilmu pengetahuan harus berkembang terus. Popper. yakni pikiran dan indera. maka tindakannya itu justru merugikan. sehingga tidak mungkin bisa diketahui. Oleh sebab itu. Selama belum digugurkan oleh temuan lain. sehingga tidak perlu diketahui. sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius. bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme. Tetapi. Gabungan kedua macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah. bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. ilmu pengetahuan harus ditangkap dalam pertumbuhannya. berarti dia menggunakan pendekatan induktif.

Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. sehingga perkembangan ilmu pengetahuan relatif mudah dicapai. bahwa keragaman seseorang atau masyarakat akan dipengaruhi pula oleh pandangan epistemologinya serta situasi sosial politik yang melingkupinya. Melalui pelaksanaan fungsi dan tugas dalam menganalisis prosedur ilmu pengetahuan tersebut. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh. Proses ini lebih penting daripada hasil. sedangkan perbedaan sudut pandangan itu dapat dilacak dari epistemologinya Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Koreksi secara kontinyu terhadap pemikirannya sendiri ini untuk menyempurnakan argumentasi atau alasan supaya memperoleh hasil pemikiran yang maksimal. sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains. bila para ilmuwan memperkuat penguasaannya. terutama cara-cara memperoleh pengetahuan yang membantu seseorang dalam melakukan koreksi kritis terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Keberangaman pandangan seseorang dalam mengamati suatu fenomena akan melahirkan keberagaman pemikiran. Ini menunjukkan bahwa epistemologi bisa mengarahkan seseorang untuk mengkritik pemikiran orang lain (kritik eksternal) dan pemikirannya sendiri (kritik internal). sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. tidak ada yang aneh sama sekali. banyak konsep dari pemikiran filosof yang kemudian mendapat serangan yang tajam dari pemikiran filosof lain berdasarkan pendekatan-pendekatan epistemologi. Akhirnya. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam. ilmu-ilmu mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu— dipandang dari keyakinan. Penguasaan epistemologi. mengingat bahwa proses itulah menunjukkan mekanisme kerja ilmiah dalam memperoleh ilmu pengetahuan. pada gilirannya juga menghasilkan pemikiran yang berbeda. maka epistemologi dapat memberikan pengayaan gambaran proses terbentuknya pengetahuan ilmiah. Dalam filsafat. dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. sehingga perbedaan pemikiran itu dapat dipahami secara memuaskan dengan melacak akar persoalannya pada perbedaan sudut pandang. Kondisi demikian sesungguhnya dalam dunia ilmu pengetahuan adalah suatu kelaziman. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. tetapi jika dilacak lebih . Implikasinya. baik yang dimiliki seseorang maupun masyarakat. Mohammad Arkoun menyebutkan. karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia. ide atau gagasan. epistemologi bisa menentukan cara kerja ilmiah yang paling efektif dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang kebenarannya terandalkan. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. Suatu peradaban.yang sama ini disebabkan oleh perbedaan prosedur yang ditempuh para ilmuwan dalam membentuk ilmu pengetahuan. Dinamika pemikiran tersebut mengakibatkan polarisasi pandangan. epistemologi senantiasa mendorong dinamika berpikir secara korektif dan kritis. kepercayaan dan sistem nilai mereka. Kendati terhadap satu persoalan. tetapi karena sudut pandang yang ditempuh seseorang berbeda.

. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). dan sebagainya. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme. dan aksiologi. Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. 1. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan. sum-ber pengetahuan.blogger. Akal. Berdasarkan pada manfaat epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradaban tersebut. melainkan mutlak perlu dikuasai. akal budi. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. berupa faktor-faktor penyebabnya. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis.jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. Pemikiran pada wilayah proses dalam mewujudkan teknologi itu adalah bagian dari filsafat yang dikenal dengan epistemologi. atau kombinasi akal dan pengalaman. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). maka epistemologi bukan hanya mungkin. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. apakah ia materi atau bukan. merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. yaitu ontologi. sehingga didapatkan percikan-percikan pengetahuan. sarana. Jadi kronologinya adalah sebagai berikut: mula-mula seseorang berpikir dan mengadakan perenungan. asal mula pengetahuan.com/profile/0 3249547895308622683noreply@blogger.c om PARAGRAPH BARU LAGI EPISTEMOLOGI Filsafat Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. objek dibahas dari keberadaannya. Pada awalnya seseorang yang berusaha menciptakan sesuatu yang baru. pengalaman. epistemologi. Sebab dibalik kegagalan itu ditemukan rahasia pengetahuan. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. ILMU oleh: anin • • • • More About : epistemologi EPISTEMOLOGI IL Pengarang : Elvira Syamsir Summary rating: 2 stars (328 Tinjauan) Kunjungan : 23711 kata:600 suparmanhttp://www. empirisme. yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu. naturalsime dan empirisme. kemudian disusun secara sistematis menjadi ilmu pengetahuan (sains). metode atau cara memperoleh pengetahuan. Akhirnya ilmu pengetahuan tersebut diaplikasikan melalui teknologi. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu. Secara ontologis. technology is an apllied of science (teknologi adalah penerapan sains). mungki saja mengalami kegagalan tetapi kegagalan itu dimanfaatkan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan. 2. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. yakni realisme. intuisi.

tentang ada dan keberadaan. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar.bla. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara. para arif berkata kenalkan diriMu kepadaku..bla. manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang . sebagai makhluk dinamis dan progressive.. dan jahil ini berkata kenalkan diriku kepadaku..com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1JmIRVKqJ PARAGRAPH BARU YA…. positivisme.bla. 3. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. 2008 Sumber: http://id. Secara rasional. Akan tetapi. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban dan sebaliknya akan membuatnya terpuruk hingga titik-nadir peradaban. Pengantar Memasuki Ranah Ontologi Anda dan vice-versa. Penulusuran. Diterbitkan di: 18 Maret.bla. korespondesi pragmatis.. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). Karena nilai dan kualitas keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran.? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia. Till death do us apart. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla. penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti." "Tuhanku. Wujud anda ekuivalen dengan pengenalan Anda dan viceversa. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak teruji." Introduksi Pandangan dunia (weltanschauung) seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). tentang perkara-perkara eksistensial. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya. Anda dikenal atas apa yang Anda kenal. sebagai makhluk dinamis dan progressive. Epistemologi. fenomenologi dan sebagainya.? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia.shvoong. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla. Akan tetapi. manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang hidup dan kehidupan. baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Semakin besar pengenalannya. semakin luas dan dalam pandangan dunianya. matematika dan statistika... seperti teori koherensi.rasionalisme kritis. dan teori intersubjektif. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. sikap. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji. ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang. Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak.

dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum (objek). pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan. Dan ini adalah raison d'être pembahasan epistemologi. Yakni. Karena baik dari sisi metodologi atau pun subjek keilmuan. harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. Ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu naratif lainnya ternyata tidak mampu memberikan jawaban utuh dan komprehensif atas masalah ini.[2] Betapa pun. Manusia dengan latar belakang. pengetahuan. Till death do us apart. 2. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai hakikat sebagaimana adanya. filsafat menggunakan metodologi rasional dan subjek ilmu filsafat adalah eksisten qua eksisten. dalam menguak realitas terdapat perdebatan panjang semenjak zaman Yunani Kuno (lampau) hingga masa Postmodern (kiwari) antara kubu rasionalis (rasio) dan empiris (indriawi dan persepsi). sifat-sifat. dan logos. ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya.[1] Karena uslub atau metodologi ilmu-ilmu di atas adalah bercorak empirikal. 3. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. Penulusuran. Manusia bisa memiliki ilmu. tentang perkara-perkara eksistensial. sifat-sifat. sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. Semenjak Plato hingga Michel Foucault dan Jean-François Lyotard. Akal dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya. sebelum memasuki gerbang filsafat terlebih dahulu instrument yang digunakan dalam berfilsafat harus disepakati.[3] Walhasil. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme. Atau dengan kata lain. Betapa tidak. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. asumsi dasar. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. tentang ada dan keberadaan. Dengan demikian. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan hadir untuk mencoba memberikan jawaban atas masalah ini. penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. Atau sederhananya. dan makrifat atas hakikat itu. pengetahuan. Hakikat itu ada dan nyata. diketahui. epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul. apakah ia absah atau tidak dalam menguak realitas. bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia. dan dipahami. Tentu saja. Kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu.hidup dan kehidupan. Tuntutan fitrah manusia dan rasa ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. akal yang digunakan sebagai instrument berfilsafat harus diuji dulu validitasnya. Apabila manusia melontarkan suatu pertanyaan yang baru. Apa itu Epistemologi Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. Dengan kata lain. Pada dasarnya. 4. keraguan ini akan menguat khususnya apabila kita mengamati kesalahan-kesalahan yang terjadi pada indra lahir dan kontradiksikontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang sejarah manusia? Persoalan-persoalan terakhir ini berbeda . kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. Hakikat itu bisa dicapai. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada. theory. asumsi dasar. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asalusul. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat.

keterampilan. Makna ini mencakup ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî. Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas pengetahuan. akan tetapi. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Sisi pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. Pertanyaanpertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. tolok ukur. Dengan perantara teropong itu sendiri. yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî. ilmu para malaikat. dan psikologi. dan juga meliputi ilmu-ilmu seperti hudhûrî. Ilmu ialah gabungan proposisi-proposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik. Sudut pembahasan. kemahiran. Istilah ini digunakan dalam filsafat Islam. makrifat. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu sebelumnya dan faktor riil yang menjadi penyebab hadirnya pengindraan adalah dibahas dalam ilmu logika. maka dari sudut mana subyek ini dibahas. Istilah-istilah ilmu tersebut adalah sebagai berikut: a. Dengan demikian. dasar dan pondasi. e. pembagian dan observasi ilmu. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran. Terkadang kita mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini. sains. Sudut pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan ilmu. Dengan ungkapan lain. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. masih merupakan persoalan-persoalan aktual dan kekinian bagi manusia. nilai dan keabsahan pikiran. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap tingkatan dan pencapaian suatu ilmu. tolok ukur kebenaran hasil pikiran. teknologi. Keraguan-keraguan ini akan semakin kuat dengan adanya kemungkinan kesalahan penampakan oleh teropong. 2. makrifat dan pengetahuan. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah yang diperdebatkan. Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalah-masalah sejarah dan geografi. yakni persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. c. keabsahan. hushûlî. Ilmu adalah kehadiran (hudhûrî) dan segala bentuk penyingkapan. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. g. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. Ilmu yang hanya dimaknakan sebagai ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika (mantik). Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. bisa dikatakan bahwa tema dan pokok pengkajian epistemologi ialah ilmu.dengan persoalan-persoalan sebelumnya. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. Makna leksikal ilmu adalah sama dengan pengideraan secara umum dan mencakup segala hal yang hakiki. Seseorang sedang melihat suatu pemandangan yang jauh dengan teropong dan melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang jauh. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas eksternal. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan dibidang ontologi dan filsafat. ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokok-pokok pembahasannya. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. d. persepsi-persepsi pikiran. dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran besar atau kecil?. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan memperhatikan definisi epistemologi. alat. Namun. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini. Dengan demikian. Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. dan batasan-batasan pengetahuan. i. f. dua poin penting akan dijelaskan: 1. logika. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan . Cakupan pokok bahasan. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal. dan pengetahuan manusia. ilmu Tuhan. Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang bersifat empirik. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna. Ilmu adalah pembenaran (at-tashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini. bentuk. validitas. Dalam hal ini. h. tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan. dan ilmu manusia. dan kebenaran ilmu. b. Dan dari sisi ini. dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal.

Mereka percaya bahwa benda-benda yang dilihat dan diraba adalah kopian-kopian yang tidak sempurna dari bentuk-bentuk yang sempurna yang dikaji dalam ilmu matematika dan filsafat. sementara mengandalkan indrapersepsi menghasilkan pendapat-pendapat yang inkonsisten dan mubham. Ilmu diraih baik secara langsung. berpandangan bahwa tidak ada satu pendapat pun yang dapat dikatakan lebih benar dari yang lain. seorang Sophist prominen. Maktab Epicurian dan Stoic sepakat dengan pandangan Aristoteles bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari indra-persepsi. meskipun ia belum menggunakan secara resmi istilah epistemology ini. Pemikiran Santo Thomas Aquinas pada masamasa kiwari sangat mempengaruhi irama dinamika teologi Nasrani dan kosmos filsafat Barat. cendekiawan Muslim dan Yahudi. Dengan demikian. mereka berpendapat sebaliknya bahwa filsafat adalah akhir dari kehidupan. yang pertama kalinya disusun secara sistematis oleh Aristoteles. Oleh karena itu. mengikuti ustadznya Socrates. namun tidak setuju dengan metode dalam mencapainya. Ia murid Plato dan pernah tinggal bersama Plato selama kira-kira 20 tahun di Akademia. sebagaimana tertuang pada table di bawah ini. berdasarkan aturan-aturan logika. yang melaluinya ilmu pasti dan eksak dapat diraih. Protagoras. filosof Skolastik Santo Thomas Aquinas dan beberapa filosof abad pertengahan berusaha membantu untuk mengembalikan konfidensi terhadap rasio dan pengalaman. berpendapat bahwa tidak ada yang benar-benar wujud. karena jika sesuatu ada tidak dapat diketahui. mencampur metode-metode rasional dengan iman dalam sebuah system keyakinan integral.dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. atau tidak langsung. Masalah-masalah Filosofis: Masa Yunani dan Masa Medieval Pada abad ke-13. Mereka menyimpulkan bahwa kontemplasi filosofis tentang bentuk-bentuk dunia gaib merupakan tujuan tertinggi kehidupan manusia. Observasi yang teliti dan ketat dalam mengaplikasikan aturan-aturan logika. Setelah beberapa kurun berlalu kurangnya ketertarikan dalam ilmu rasional dan saintifik. seorang filosof dan teolog Itali yang bernama Santo Thomas Aquinas berupaya mensintesakan keyakinan Nasrani dengan ilmu pengetahuan dalam cakupan yang lebih luas. Pembahasan tentang epistemologi Plato dan Aristoteles akan lebih jelas dan ringkas kalau dilakukan dengan cara membandingkan keduanya. Pada abad ke-5 SM. Masa Plato dan Aristoteles Plato dapat dikatakan sebagai filosof pertama yang secara jelas mengemukakan epistemologi dalam filsafat. Plato. akan membantu menjaga dari perangkapperangkap yang dipasang oleh para Sophist. Sophist Yunani menanyakan kemungkinan reliabilitas dan objektivitas ilmu. Aquinas mengikuti Aristoteles dalam masalah tentang persepsi sebagai starting-point dan logika sebagai prosedur intelektual untuk sampai kepada ilmu yang dapat diandalkan (reliable) tentang tabiat. Filosof Yunani berikutnya yang berbicara tentang epistemologi adalah Aristoteles. atau ide-ide. dengan mendeduksi kenyataankenyataan baru dari apa yang telah diketahui. tidak dapat dikomunikasikan. akan tetapi menentang keduanya baik Aristoteles atau pun Plato yang berpandangan bahwa filsafat harus dinilai sebagai sebuah bimbingan praktis untuk menjalani hidup. hanya penalaran abstrak dari disiplin ilmu ini yang dapat menuai ilmu pengetahuan original. Gorgias. dengan memanfaatkan sumbersumber beragam seperti karya-karya filosof Aristoteles. Table komparasi epistemology Plato dan Aristoteles . Aristotels berpendapat bahwa hampir seluruh ilmu berasal dari pengalaman. dengan mengabstraksikan ciri-ciri khusus dari setiap spesies. mencoba untuk menjawab isykalanisyakalan para Sophist dengan mempostulasikan keberadaan semesta yang bersifat tetap dan bentuk-bentuknya yang invisible. Seorang Sophist ternama lainnya. dan jika ilmu bersifat nisbi. akan tetapi memandang iman dalam otoritas skriptual sebagai nara sumber keyakinan agama. karena setiap pendapat adalah hanyalah sebuah penilaian yang berakar dari pengalaman yang dilaluinya. Aristoteles mengikuti Plato ihwal ilmu abstrak adalah ilmu yang lebih superior atas ilmu-ilmu yang lainnya.

Hume. AKSIOLOGI DALAM KEILMUAN Filed under: Teknologi Pendidikan by Fadli — 3 Komentar Oktober 4. yakni realisme. Leibniz. empirisme. Plato. Epistemologi Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal.Topik Pemikiran Pandangan tentang dunia Plato Ada 2 dunia: dunia ide & dunia sekarang (semu) Ide-ide yang berasal dari dunia ide Aristoteles Hanya 1 dunia: Dunia nyata yang sedang dijalani Segala sesuatu yang di alam yang dapat ditangkap indra Badan dan jiwa sebagai satu kesatuan tak terpisahka n. (2) Paham dualisme. Mengeluark an dari dalam diri (Anamnesis) dengan metoda bidan Cabang utama metafisika adalah ontologi. dan kemungkinan. hubungan sebab akibat. methods and limits of human knowledge). dan Berkeley. termasuk keberadaan. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia. filosof Belanda. Wilhelm Leibniz (1646-1716) adalah para pemimpin kubu rasionalis. dan Aristoteles. yaitu: (1) Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme. waktu. masalah utama yang muncul dalam pembahasan epistemologi adalah resistensi antara kubu rasionalis vis-à-vis kubu empiris (indriawi-persepsi). René Descartes (1596-1650). dan filosof Jerman. Ontologi ilmu membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang bisa dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui panca indera manusia. Baruch Spinoza (1632-1677). Namun tertanam dalam jiwa yang ada dalam diri manusia. studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Rasio Vs Indra Persepsi Antara abad 17 hingga akhir abad ke-19. ruang. yang berarti Perbedaan epistemologi Plato dan Aristoteles ini memiliki pengaruh besar terhadap para filosof modern. kebendaan. B. Dan pendekatan ontologi dalam filsafat mencullah beberapa paham. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis ialah seperti Thales. merupakan paham ontologik. Idealisme Plato mempengaruhi filosof-filosof Rasionalis seperti Spinoza. Kehidupan sehari-hari dan alam dunia nyata Observasi dan abstraksi. Filosof Francis. Jiwa abadi. Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Jiwa terpenjara badan. Dunia ide. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. naturalisme. Sedangkan pandangan Aristoteles tentang asal dan cara memperoleh pengetahuan mempengaruhi filsu-filosof Empiris seperti Locke. dan Whitehead. EPISTEMOLOGI. Sementara kajian objek penelaahan yang berada dalam batas prapengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pascapengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontologi dari pengetahuan lainnya di luar iimu. berasal dari kata Yunani episteme. diolah dengan logika PARAGRAPH BARU………… ONTOLOGI. nature. sifat. badan fana (tidak abadi). kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Ontologi Kenyataan yang sejati Pandangan tentang manusia Asal pengetahua n Cara mendapatk an pengetahua n Terdiri dari badan dan jiwa. Mereka berpandangan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah logika deduktif (baca: qiyas) yang bersandarkan kepada prinsip-prinsip swabukti . Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). 2010i A. dan (3) pluralisme dengan berbagai nuansanya. sifat. Pada masanya. metode dan batasan pengetahuan manusia (a branch of philosophy that investigates the origin.

“pengetahuan ilrniah”. metode dan sahnya (validitas) pengetahuan. Netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologi raja: Jika hitam katakan hitam.C 1993). 3) Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai. kepastian ? Langkah dalam epistemologi ilmu antara lain berpikir deduktif dan induk-tif Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikurnpuikan se. 2004: 162). C. Suriasumantri. (3) nilai ekonomi : dalam kaitannya dengan nilai ekonomi. struktur. (4) Nilai pengambilan keputusan: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai ini dicirikan oleh sikap demokratis dalam kehidupannya bermasyarakat. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa aksiologi disamakan dengan value dan valuation. serta terbuka terhadap ide-ide dan pengalaman baru. Dengan demikian maka aksiologi adalah “teori tentang nilai” (Amsal Bakhtiar. Ketiga. maka peristiwa terjadilah kembali yang dipertontonkan secara spektakuler yang mengakibatkan terciptanya “Momok kemanusiaan” yang dilakukan oleh Frankenstein (Jujun S. dan keputusan yang diambil berdasarkan pada pertimbangan pribadi. 1986. yaitu kehidupan sosial politik. 3) Darimana pengetahuan itu dapat diperoleh ?. yaitu: 1) Nilai. tanpa berpihak kepada siapapun juga selain kepada kebenaratt yang nyata. 6) Apa perbedaan di antara: kepercayaan. “pengetahuan yang benar”. (5) Nilai agama: dalam hubungannya dengan nilai agama.esthetic expression. Menurut Bramel dalam Amsal Bakhtiar (2004: 163) aksiologi terbagi dalam tiga bagian: Pertama. (2) Nilai sosial : dalam kaitannya dengan nilai sosial. fakta. Semiawan. Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1) Apakah pengetahuan itu ?. efisien menghargai waktu.. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh (Jujun S. manusia modem dicirikan oleh sikapnya yang tidak fatalistik. menghargai prestasi. 4) Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinitai ?. terorganisasikan dalam kehidupannya. Nilai-nilai yang juga harus melekat pada ilmuan. pendapat. moral conduct. bayangan. yang pada hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap (Jujun S. ilmuwan hams manrpu ntenilai antara yang baik dan yang buruk. pengetahuan. bahwa seorang ilmuwan harus mempunyai landasan moral yang kuat. yaitu tindakan moral yang melahirkan etika.“pengetahuan”. penalaran sebagai lawan dari sikap mistis (Suriasumantri. ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value bound. dan logos = teori. orientasinya pada ilmu dan teknologi. 2) Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu ?. bersikap positif terhadap keluarga kecil. 2000:36). kebenaran. Sedangkan secara ontologi dan aksiologis. Jika ilmuan tidak dilandasi oleh landasan moral. Suriasumantri. 2000:36). yaitu ekspresi keindahan. kebolehjadian.belumnya Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilnuah disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada. 2) Nilai sebagai kata benda konkret. sosio-political life. yang akan melahirkan filsafat sosio-politik. Suriasumantri. Keduei. Sebuah keniscayaan. gagasan. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai dalam perkembangannya melahirkan sebuah polemik tentang kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa disebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). kenyataan. jika ternyata putih katakan putih. Sikap inilah yang mengendalikan kekuasaan ilmu ilmu yang besar. Epistemologi dapat didefmisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. manusia modem dicirikan oleh sikap individualistik. Secara konsisten dan koheren maka ilmu mencoba memberikan penjelasan yang rasional kepada objek yang berada dalam fokus penelaahan. kesalahan. dan menghargai hak-hak asasi perempuan. analitis sebagai lawan dari legalitas. Ada tiga bentuk value dan valuation. sebagai suatu kata benda abstrak. . 5) Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra-pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan puma pengalaman) ?. Sebaliknya. Aksiologi Aksiologi berasal dari kata axios yakni dari bahasa Yunani yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. dan penuh perhitungan. menghargai profesionalisasi. sebagaimana juga dicirikan sebagai manusia modern: (1) Nilai teori: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai teori dicirikan oleh cara berpikir rasional. 2000: 105). Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai. manusia modem dicirikan oleh tingkat produktivitas yang tinggi.