Ontologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri). Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang: 1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak? 2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah: • • • • • • • • yang-ada (being) kenyataan/realitas (reality) eksistensi (existence) esensi (essence) substansi (substance) perubahan (change) tunggal (one) jamak (many)

empiris (misalnya antropologi, sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagainya).

Jul 30, 2007 at 09:16 PM
Oleh: A. Kamil

"Pandangan

dunia

(weltanschauung)

seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar. Semakin besar pengenalannya, semakin luas dan dalam pandangan dunianya. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban. peradaban Karena dan nilai sebaliknya hingga dan akan membuatnya terpuruk titik-nadir kualitas Anda

keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. ekuivalen dengan pengenalan dikenal atas apa yang Anda kenal. Wujud anda

ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu

PENDAHULUAN
Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat, yang pertama di sebut landasan ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut antara merasa ? bagaimana (sepert hubungan berpikir, yang objek dan

pengetahuan Denganb maka

yang

satu

dari lainnya.

pengetahuan-pengetahuan mengetahuan mudah

jawabankita dapat jenis dalam

jawaban dari ketiga pertanyaan ini dengan membedakan pengetahuan berbagai yang terdapat

khasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan berbagai kita mengenali yang ada pengetahuan

tadi dengan daya tangkap manusia mengindera) landasan menjawab membuakan berusaha yang ilmu? timbanya berupa

seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Ilmu di kacaukan dengan seni, ilmu agama, dikonfrontasikan dengan

pengetahuan?. Kedua di sebut dengan epistimologis; bagaimna di yang proses

memungkinkan pengetahuan

Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan itu sendiri? pengetahuan Apakah yang benar? Apa yang disebut kebenaran kriterianya? apa berupa yang ilmu?. Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang

bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu?

membantu kita dalam mendapatkan Sedang yang ketiga, di sebut dengan landasan aksiologi; landasan ini akan menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah moral? berdasarkan Bagaimana metode pilihan-pilihan merupakan ilmiah

PEMBAHASAN

A. Ontologi
Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak ada terikat yang oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang universal, semesta menampilkan pemikiran

kaitan antara teknik prosedural yang operasionalisasi dengan norma-norma

moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis

universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. 1. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat dalam seluruh kuantitas realitas. atau Bagi jumlah, pendekatan kuantitatif, realitas tampil tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliranaliran Referensi materialisme, atau tentang idealisme, itu naturalisme, hylomorphisme. kesemuanya

metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan posteriori. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Contoh : Sesuatu yang bersifat menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a

penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan pertama diuraikan di oleh di aristoteles belakang ketengahkan dalam hylomorphisme

lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri (S-Tt) Jadi, badan itu fana’ (S-P) Sedangkan pembuktian a

bukunya De Anima. Dalam tafsirantafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. 2. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas umum sesuatu sesuatu yang yang objek; menjadi sejenis. sedangkan cirri semua abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat Abstraksi

posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term realitas tengah yang a menunjukkan dinyatakan hanya saja posterioris akibat dalam cara disusun

kesimpulan pembuktian

dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : (Tt-S) Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan (Tt-P) Gigi geligi itu gigi

geligi rahang dinasaurus

Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (S-P)

Bandingkan pembuktian posteriori. a Yang

tata priori

silogistik dengan a di

yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Manusia dari itu tidak yang dapat kita lah memiliki maka

apriori

berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.[2] Sementara Jujun S. Suriasumantri dalam pembahasan juga tentang tentang ontologi dan memaparkan asumsi

pengetahuan pertanyaan caranya

sejati,

mengajukan memperoleh

“bagaimanakah kita

pengetahuan”?[3]

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme

peluang. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut.
B. Epistemologi

Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaanpertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang

Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalamanpengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objekobjek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidaktidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
b. Rasionalisme

Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman palingpaling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan

memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. sebagaimana berharga terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam sistematis pernah pengetahuan sesuatu sendiri. Analisa. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Intusionisme Menurut Bergson. artinya. Salah unsur paham adanya pengalaman satu yang ini di antara Bergson suatu di unsutdalam ialah. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. secara dengan tidak akan jalan dapat dari menggantikan hasil pengenalan langsung pengetahuan intuitif. demikian meliputi inderawi intuitif. Kant masih benar melainkan tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. Kant membuat pengalaman. Dengan demikian data yang dihasilkannya bahan yang dapat merupakan pengetahuan tetap mengatakan pengetahuan pengalaman. Karena itu kita tidak mempunyai tentang barang hanya keadaanya pengalaman yang dihayati oleh indera.terletak di dalam ide kita. hanya untuk sebagian. Hendaknya diingat. c. atau pengetahuan yang diperoleh pelukisan. bentuk samping Immanuel Kant. Tetapi rasionalisme karena akal intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan dalam darinya. pengetahuan (Phenomenon). d. Fenomenalisme Bapak uraian Baran Fenomenalisme tentang sesuatu adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Bagi Kant para benar bahwa penganut bila semua benar tentang gejala pengalaman baik maupun empirisme berpendapat pengalaman pengalaman pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun para juga penganut benar. seperti bentuk-bentuk dengan jalan intuisionisme memungkinkan pengalaman dan disusun secara penalaran. didasarkan tetapi tambahan dihasilkan dengan bahwa pada harus dengan bagi pengetahuan di samping oleh penginderaan. intuisi adalah Intusionisme – setidak-tidaknya beberapa bentuk-hanya bahwa mengatakan pengetahuan yang lengkap di . Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan.

C.peroleh melalui intuisi. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang berputar yang kesemestaan bahwa mengelilingi alam dan yang menemukan “bumi perkataan lain. belaka. ilmu adanya untuk yang mulai apa pada alam hakikatnya sebagaimana mempelajari analisa.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung.” melainkan faust yang menciptakan Goethe. maka berpaling kepada hakikat moral. pertanyaan Dan menjawan ilmuan Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan dan yang mempengaruhi manusia itu reproduksi gejala penciptaan sendiri. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang saja-yang meliputi sebagian oleh diberikan yang menciptakan Faust. masalah-masalah perspektif yang berbeda. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan dehumanisasi itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kamanusiaan mengubah sendiri. itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kemanusiaan mengubah sendiri. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Galileo seangkatannya. bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan ini ini kekhawatiran tak untuk dapat di perang dunia ketiga.” Menghadapi kenyataan seperti ini. e. mempertanyakan ilmu itu hal-hal yang bersifat seharusnya: sebenarnya harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana harus urgensi perkembangan diarahkan? bagi ilmuan dan namun keilmuan merupakan seperti ilmuwan yang menampak kepada kita. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang sebagai kenyataan. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. Aksiologi Pertanyaa semacam ini jelas tidak Copernicus. barang pernah seperti menampak oleh intuisi. pertanyaanpertanyaan elakkan. yaitu tidak sesuatu lawan dari apa yang diberikan Mereka sesuatu merupakan mengatakan. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. Sebenarnya pertumbuhannya terkait moral dengan namun sejak ilmu dalam saat sudah perkataan lain. “bukan lagi Goethe matahari” ajaran dan bukan sebaliknya seperti apa dinyatakan oleh .

Sejarah rela kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. pengetahuan kaitan antara berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana penggunaan kaidah-kaidah penentuan Bagaimana prosedural dengan tersebut moral? objek kaitan yang yang dengan Bagaimana ditelaah teknik ilmiah berdasarkan pilihan-pilihan moral? antara merupakan norma-norma berputar mengelilingi matahari. dalam avontur intelektual?).” yang berkonotasi metafisik. agama untuk bahwa menjawab pertanyaan-pertanyaan. Jadi pada dasarnya ini apa adalah apa yang bidang berusaha yang cara menjadi ontologi untuk kajian dalam Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi Galileo pengadilan dipaksa pernyataanya pada pengadilan oleh tersebut.” lebih kemerlap yang keberanian yang gelap. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi maka untuk Tanpa ilmuwan dapat yang ini menemukan landasan mudah melakukan Penalaran harkatnya berganti sekali kebenaran. sedangkan di pihak lain. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan diluar antaranya bidang agama. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan dengan (sepert antara berpikir. tergelincir rasional 1. telah membawa manusia mencapai sekarang dengan proses mengindera) membuakan . maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral ajaran (yang agama) bersumber pada rasionalisasi mendustakan “segalanya Alice dalam yang punya bersifat kebenaran. operasionalisasi metode moral/professional?[4] PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : Ontologis. (1564-1642). (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran keilmuan di petualangannya (adakah dalam esensial negeri ajaib. “asalkan kau mampu menemukannya. yang objek merasa tadi dan daya tangkap manusia moral prostitusi secara seperti intelektual. mencabut bumi inkuisisi Galileo pada tahun 1633.agama. kata di moral.

Pustaka Sinar Harapan. [4] Jujun S. Sistematika filsafat II. Tiara Wacana. hal. Suriasumantri. Jakarta. Pengantar filsafat. Yogjakarta. 1996. Pengantar filsafat. 1996. 1996. 1996. Louis O. Hal. 135-136. 3. Pustaka Sinar Harapan. Filsafat Ilmu. 34-35. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Noeng Muhadjir. 2. 34-35. hal. Penerbit Rake Sarasin. Penerbit Rake Sarasin. 2001. Kattsouff. 1996. Filsafat Ilmu. Dr. Yogjakarta Sidi Gazalba. Jakarta. hal. Pustaka Sinar Harapan. Suriasumantri. Dr. Kattsouff. Yogjakarta. H. berupa ilmu? [1] Jujun S. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan ditelaah antara metode kaidah-kaidah berdasarkan teknik ilmiah moral? pilihanyang normaBagaimana penentuan objek yang pilihan moral? Bagaimana kaitan prosedural dengan merupakan norma moral?[5] operasionalisasi Ontologi(HakikatIlmu) Obyek apa yang telah ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. Jakarta. Prof.pengetahuan?. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Epistimologi(CaraMendapatkanPengetahuan) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan dengan benar? Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? Aksiologi(Guna Pengetahuan) Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan? Bagaiman kaitan antara cara penggunaan DAFTAR PUSTAKA Jujun S. 1995. 34-35. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Tiara Wacana. [5] Jujun S. H. Noeng Muhadjir. [2] Prof. . Epistemologi berusaha menjawab bagaimna memungkinkan pengetahuan Bagaimana kita yang yang proses di yang timbanya Hal-hal Yogjakarta. Pustaka Sinar Harapan. Paragrap Baru ya Jeeng!! prosedurnya? apa yang harus di perhatikan agar mendapatkan benar? Apa itu pengetahuan yang disebut Apakah kebenaran kriterianya? sendiri? Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang apa yang membantu kita dalam mendapatkan berupa ilmu?. Jakarta. Suriasumantri. Suriasumantri. merasa. Aksiologi menjawab. Yogjakarta. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. 2001 [3] Louis O.

Sumber: http://id. namun ada pertanyaan yang bisa diajukan kepada mereka: 1. dua hal ini kemudian yang memetakan antara aliran pemikiran yang bersifat materialistis dan aliran pemikiran yang bersifat metafisika. Mazhab berpikir emperisme mengatakan bahwa untuk membuktikan sesuatu itu ada maka kita memerlukan pengetahuan atau epistemologi sebagai sumber dari pengetahuan kita sehingga kita bisa mengatakan dia ada atau tidak ada karena kita punya pengetahuan tentangnya. Thomas Hobbes. namun pertanyaan kemudian yang diajukan Ontologi → ontos = sesuatu yang berwujud. Ontologi: ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. mereka mengatakan bahwa epitemologilah yang lebih dulu ada dari pada ontologi. 2.tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan normanorma moral/profesional? Sumber: http://id. logos = ilmu.shvoong. bagaimana caranya mereka bisa mengetahui sesuatu itu ada tanpa adanya realitas. ataukah memang dia mempunyai keberadaan tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia itu mempunyai keberadaan. karl Marx dan David Home. pada umumnya tokoh-tokoh filosof dibarat seperti. Kajian mengenai organisasi sosial → terangkum dalam politik . yaitu perdebatan tentang apakah epistemologi yang lebih dulu ada dari ontologi ataukah ontologilah yang lebih dulu ada dari epistemologi. Ontologi sebagai cabang filsafat bertugas memberi jawaban atas pertanyaan: Apa sebenarnya realitas benda itu?. Epistemologi Perdebatan tentang epistemologi adalah sesuatu yang diperdebatkan sepanjang sejarah karena epistemologi adalah hal yang sangat substansil dalam melakukan penilain terhadap sesuatu. dunia yang dapat dijangkau pancaindra → objek ilmu adalah pengalaman indrawi.com/humanities/philosophy/213 0959-ontologi-epistimologi-dan-aksiologiilmu/#ixzz1Jlm8EN5P Paragrap baru juga ya…. apakah keberadaan sesuatu itu karena kita memberikan konsepsi kepada sesuatu itu. Para filosof yang bermazhab emperisme dalam membuktikan tentang kelebih-dahuluan epistemologi dari ontologi mengatakan bahwa epistemologilah yang yang lebih dulu ada. Mempersoalakan tentang wujud hakiki objek ilmu atau keilmuan itu apa? Objek ilmu atau keilmuan adalah dunia empirik. jawaban dari pertanyaan diatas akan memberikan gambaran kepada kita bahwa apakah realitas itu ada tanpa kita memberikan penilaian keberadaan terhadap keberadaannya. karena dia membuktikan lewat sebuah analisa pengetahuan yang sifatnya emperikal sementara filosof yang lain mengatakan bahwa ontologilah yang lebih dulu ada. apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak? Benarkah ilmu ada? Apakah konsep ilmu sebagai kajian tentang kausalitas itu bermakna di tengah ruang yang tidak terbatas itu? Dari teori hakikat (ontologi) ini → muncul beberapa aliran dalam filsafat Filsafat Materialisme Filsafat Idealisme Filsafat Dualisme Filsafat Skeptisme Pokok permasalahan yang menjadi objek kajian filsafat mencakup: Logika (benar-salah) Etika (baik-buruk) Estetika (indah-jelek) Teori tentang Ada (tentang hakikat keberadaan zat. Ontologi: ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika. ada hal yang mendasar dalam diskusi-diskusi tentang epistemologi. John Look. hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran → terangkum dalam metafisika).shvoong.com/humanities/philosophy/212 3997-ontologi/#ixzz1JlmhXDhr Mengenal EPISTEMOLOGI PART 1 A.

seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. Lazimnya. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. Pengertian lain. melainkan juga pada substansi persoalannya. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya. karena memang pada kenyataannya dia memang sudah mempunyai keberadaan. 2003. 2005). epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).32). selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis. 3). guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. dia baru bisa menjelaskan proses belajar. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasanpembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian). sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. P. struktur.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. 1965. dan logos berarti teori. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber.Hardono Hadi menyatakan. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. dan sesuatu itu akan tetap mempunyai keberadaan tanpa kita secara subyektif memberikan penilaian tentang keberadaannya. dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan. 2010 Sumber: http://id. gaya belajar. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. Jadi. sehingga didapatkan pengertian yang berbeda-beda. seperti keberadaan bulan dan bintang adalah sesuatu yang niscaya adanya tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia ada atau tidak. dalam Jujun S. Dalam Epistemologi. Setelah memahami substansi belajar tersebut. hal. Ferrier. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. teori belajar.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. pembahasan konsep apa pun. Misalnya. ini adalah menjadi problem dalam sebuah sains atau pengetahuan yang berdiri diatas pijakan yang emperisme terutama yang dibangun di Eropa terutama pasca Fransisco Bacon Mazhab Metafisika mencoba menjawab. Menurut Musa Asy’arie. epistemologi dan ontologi. karena tanpa realitas maka mustahil kita bisa mengetahui sesuatu. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya.kepada kaum emperik adalah dari mana pengetahuan itu bisa ada kalau tidak ada realitas yang lebih dulu ada. Demikian pula.Suriasumantri.F.shvoong. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumbersumber pengetahuan ? apakah hakikat. pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. bahwa ontologilah yang lebih dulu mempunyai keberadaan. untuk membedakan dua cabang filsafat. buka saja pada redaksinya. metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. Sebagai sub sistem filsafat. prinsip-prinsip belajar. Sedangkan. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. Diterbitkan di: 11 Nopember. pengandaian- .com/socialsciences/sociology/2073233-mengenalepistemologi/#ixzz1Jln1DVKs Paragraph baru ok! Pengertian Epistemologi oleh: andra5463 Pengarang : radityo Secara historis. Secara etimologi. hambatan-hambatan belajar. 2).

atau kombinasi akal dan pengalaman. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan. Akal. fenomenologi dan sebagainya. struktur. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak . sum-ber pengetahuan. Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. asal mula pengetahuan. dan teori intersubjektif. yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. Azyumardi Azra menambahkan. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami. Selanjutnya. struktur. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. apakah ia materi atau bukan. yakni realisme.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. metode atau cara memperoleh pengetahuan. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). dan aksiologi. diungkapkan oleh Dagobert D.Runes. 1. sarana. yaitu ontologi. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. rasionalisme kritis. naturalsime dan empirisme. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). objek dibahas dari keberadaannya. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme. merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. Dia menyatakan.pengendaian dan dasarnya. epistemologi. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan.shvoong. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. EPISTEMOLOGI ILMU oleh: anin Filsafat Pengarang : Elvira Syamsir Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. dasar dan pengendaianpengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. Secara ontologis. Diterbitkan di: 04 Desember. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. Sementara itu. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan. 2. metode-metode dan validitas pengetahuan. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. korespondesi pragmatis. pengertian. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. empirisme. positivisme. Sedangkan D. seperti teori koherensi. akal budi. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. yaitu realisme dan idealisme. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. intuisi.com/humanities/philosophy/208 2651-pengertian-epistemologi/#ixzz1JlnTNlLC Baruuuu………. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. pengalaman. 2010 Sumber: http://id.

BARUUUU LAGI ISYRAQ Mendulang Cahaya Epistemologi. Namun. ilmu logika yang merupakan alat berpikir manusia dan ilmu yang berkaitan dengan cara berpikir yang benar. 2008 Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1Jlo8CibK PARAGRAPH BARU karakteristiknya. filsafat merupakan dasar dan pijakan bagi ilmu-ilmu empirik. Epistemologi Dari Wikipedia bahasa Indonesia. metode induktif. Diterbitkan di: 18 Maret. dan jenis pengetahuan. dasar dari semua ilmu empirik adalah prinsip kausalitas dan kaidah ini menjadi pokok bahasan dalam filsafat. metode kontemplatis dan metode dialektis. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. sikap. baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. Sebagai contoh. Secara rasional. diantaranya. ensiklopedia bebas Epistemologi. Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Ilmu-ilmu yang dimiliki Secercah Teori oleh manusia berhubungan satu sama lain. sifat. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. maka dari itu ia bisa ditempatkan sebagai dasar dan asas bagi seluruh pengetahuan manusia. (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal. termasuk ilmu logika dan ilmu-ilmu . ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode. matematika dan statistika. diletakkan sebagai pendahuluan dalam filsafat dan setiap ilmu-ilmu lain. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat. epistemologi (teori pengetahuan). yakni nilai dan validitas ilmu-ilmu lain bergantung kepada ilmu tertentu. serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan. misalnya tentang apa itu pengetahuan. Begitu pula. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. dan dari sisi ini. Sebagian ilmu merupakan asas dan pondasi bagi ilmu-ilmu lain. bagaimana karena mengkaji seluruh tolok ukur ilmu-ilmu manusia. macamnya. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. metode deduktif. Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan. dan tolok ukur keterkaitan ini memiliki derajat yang berbedabeda.teruji. dengan demikian. pengandaian-pengandaian. 3. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. metode positivisme. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. dasardasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. ilmu tertentu ini dikategorikan sebagai ilmu dan pengetahuan dasar.

dan realitas eksternal. para pemikir banyak yang sendiri berbeda pendapat akal dalam dan persoalan saling mengenai dalam rasionalitas. akan tetapi. Namun belakangan ini. Aristoteles. persepsi. Walaupun ilmu logika dalam beberapa bagian memiliki kesamaan dengan epistemologi. wujud pikiran. dikategorikan sebagai disiplin ilmu tertentu. Tuntutan fitrah manusia dan rasa epistemologi itu adalah karena para pemikir melihat bahwa panca indra lahir manusia yang merupakan satu-satunya alat penghubung manusia dengan realitas eksternal terkadang atau senantiasa melahirkan banyak kesalahan dan kekeliruan dalam menangkap objek luar. Pengindraan. epistemologi lantas menjadi suatu disiplin ilmu baru di Eropa yang dipelopori oleh Descartes (1596-1650) dan dikembangkan oleh filosof Leibniz (1646–1716) kemudian disempurnakan oleh John Locke di Inggris. Dalam filsafat Islam permasalahan epistemologi tidak dibahas secara tersendiri. misalnya dalam pokok kajian tentang jiwa. kenon-materian jiwa. epistemologi menjadi suatu bidang disiplin baru ilmu yang mengkaji sejauh mana pengetahuan dan makrifat manusia sesuai dengan hakikat.manusia yang bersifat gamblang. berupaya menyusun kaidah-kaidah logika sebagai aturan dalam berpikir dan berargumentasi secara benar yang sampai sekarang ini masih digunakan. diletakkan setelah epistemologi. Namun pada sisi lain. begitu banyak persoalan epistemologi dikaji secara meluas dalam pokok-pokok pembahasan filsafat Islam. dan ilmu merupakan bagian pembahasan tentang makrifat jiwa.[2] 1. dan tolok ukur kebenaran dan kekeliruan suatu proposisi. sebelumnya. ilmu logika merupakan ilmu tentang metode berpikir dan berargumentasi yang benar. Hingga tiga abad bukanlah pada dua sebelum suatu abad abad ilmu ini. merupakan dasar dan pondasi segala ilmu dan pengetahuan. Pada era tersebut. dan setelah Renaissance dan kemajuan ilmu empirik. di Islam. kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. yang valid yang rasional. khususnya di barat. persoalan epistemologi sangat dipandang serius sedemikian sehingga filosof Yunani. objek akal. lahir kembali kepercayaan kuat terhadap indra lahir yang berpuncak pada Positivisme. dan keberadaan argumentasi akal kontradiksi masalahmasalah pemikiran kemudian berefek pada kelahiran aliran Sophisme yang mengingkari validitas akal dan menolak secara mutlak segala bentuk eksistensi eksternal. dan makrifat jiwa. akal teoritis dan praktis. objek luar. dengan demikian. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan epistemologi banyak dikaji dalam pembahasan tentang akal. epistemologi diposisikan sebagai salah satu disiplin ilmu. sebagian pemikir tidak menganggap valid lagi indra lahir itu dan berupaya membangun struktur pengindraan .[1] Dengan alasan itu. Lahirnya kaidah itu menjadi penyebab berkembangnya validitas sehingga akal dan indra lahir kalinya sedemikian berakibat untuk kedua epistemologi Akan tetapi. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Pengertian Epistemologi Manusia dengan latar belakang. Latar belakang hadirnya pembahasan memunculkan keraguan terhadap nilai akal dan indra lahir di Eropa. akan tetapi.

dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal. Dengan ungkapan lain. sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran ini besar akan atau semakin kecil?. aktual dan kita bagi Terkadang itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang kontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang manusia?Persoalan- . yang keraguan ini akan menguat khususnya apabila mengamati pada kesalahan-kesalahan lahir dan terjadi indra sejarah kontradiksi- penampakan pertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. Namun. dan dipahami. Hakikat itu ada dan nyata. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai kita hakikat sebagaimana adanya. akan tetapi. Apabila manusia melontarkan suatu dengan adanya oleh kemungkinan teropong. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada. tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. Hakikat itu bisa dicapai. persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong jauh. Pada suatu sesuatu dasarnya. 4. Dengan perantara teropong itu sendiri. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna. Manusia bisa memiliki ilmu. tolok ukur kebenaran hasil pikiran. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. 2. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran. 3. contoh teropong Untuk berikut dan lebih ini. nilai dan keabsahan pikiran. Akal bisa dan pikiran yang tidak menjawab persoalan-persoalan ilmu dan pengetahuan dihadapinya. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal. pengetahuan. dan makrifat atas hakikat manusia itu. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. kuat Keraguan-keraguan pertanyaan tentang hakikat itu. dan jalan menuju tertutup bagi manusia. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini. perhatikan dengan berupaya diketahuinya. hakikat yang manusia dan tidak ingin menggapai mengetahui Manusia persoalan terakhir ini berbeda dengan yakni persoalan-persoalan sebelumnya. diketahui. keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah jelasnya yang yang diperdebatkan. bentuk.ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. masih merupakan kekinian persoalan-persoalan manusia. persepsi-persepsi pikiran. Kita bisa mengajukan Seseorang sedang melihat suatu pemandangan jauh melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. kesalahan Pertanyaan- pertanyaan yang baru.

g. Sisi dibidang ontologi dan hushûlî. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan filsafat. hushûlî dan ilmu hudhûrî. kebenaran makrifat. definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas dan tentang batasan. maka dari sudut mana subyek ini dibahas.[7] epistemologi. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. tolok ukur. dan psikologi. teknologi. Makna leksikal ilmu adalah sama secara dengan umum pengideraan dan mencakup 2. logika. juga meliputi hudhûrî[5]. Ilmu (hudhûrî) adalah dan kehadiran bentuk ini ilmu Istilah mencakup segala penyingkapan. Istilah-istilah ilmu j. Makna ini digunakan dalam filsafat Islam. yakni apakah h. Dalam hal ini. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan eksternal. ilmu Tuhan. c. sains. sebagai (mantik). Sudut pembahasan. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini. kemahiran. Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalahmasalah sejarah dan geografi.[3] 2. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan pokok pengkajian memperhatikan epistemologi definisi ilmu. Ilmu ialah gabungan proposisiproposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik. alat. Ilmu yang hanya dimaknakan pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. ilmu para malaikat. dasar dan dan f. dua poin penting akan dijelaskan: 1. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat. Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang bersifat empirik. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. segala hal yang hakiki. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu . tersebut adalah sebagai berikut: a. e. b. Dengan demikian. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî[4]. Cakupan pokok bahasan. d. ilmu. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. validitas. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. bisa dikatakan bahwa tema dan ialah makrifat dan pengetahuan. ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika Ilmu adalah pembenaran (attashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini[6]. i. pengetahuan manusia. ilmu-ilmu dan seperti keterampilan. dan ilmu manusia.mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. keabsahan. pondasi.

Ilmu kalam (teologi) ialah suatu ilmu yang menjabarkan proposisiproposisi teks suci agama dan penyusunan argumentasi demi mempertahankan peran dan posisi agama. walhasil masih menjadi hal yang diragukan. metode bahwa definisi maka ilmu ini dan menjadi adalah Filsafat. Hubungan epistemologi dengan Teologi dan ilmu tafsir. Metode Epistemologi Dengan pengertian jelaslah memperhatikan epistemologi. maka mustahil kita membahas mengungkap logika masih tentang suatu perlu metode hakikat akal dan untuk bahkan dan hadirnya pengindraan dibahas dalam ilmu logika. c. epistemologi dan ilmu logika merupakan mukadimah bagi filsafat. Pengertian terhadap pengenalan realitas eksternal. maka jelaslah mengenai urgensi kajian epistemologi. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap ilmu. karena untuk menjelaskan memerlukan analisa lain. atau pengkajian seputar pluralisme dan hermeneutik. Sementara filsafat dalam pengertian khusus (metafisika) adalah membahas kaidah-kaidah umum tentang eksistensi[9]. b. dan validitas akal dalam memahami hakikat dan realitas eksternal. Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas observasi pengetahuan. diasumsikan mengenai kemampuan. Dengan memperhatikan . pengetahuan[8]. ilmu. Urgensi Epistemologi Jika kita perhatikan definisi epistemologi dan hubungannya dengan ilmu-ilmu lainnya. Dan dari dimensi untuk menguraikan sumber epistemologi dan perubahan yang terjadi di sepanjang sejarah juga menggunakan metode analisa sejarah. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. 3. 4. ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokokpokok pembahasannya. yakni metode yang digunakan oleh akal untuk menyelami dan memahami realitas eksternal sebagaimana adanya dalam penggambaran dan pembenaran. khususnya pembahasan yang terkait dengan kontradiksi ilmu dan agama. dan hakikat keberadaan. karena apabila kemampuan dan validitas akal belum dikaji dan ditegaskan. tingkatan Sudut dan pencapaian suatu pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaanperbedaan ilmu. dan pembagian dan batasan-batasan metode-metode yang ditetapkan oleh ilmu dipertanyakan rekonstruksi. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu Logika. atau akal dan agama. bisa dikatakan bahwa epistemologi jika dikaitkan dengan ilmu logika dikategorikan sebagai pendahuluan dan mukadimah. telah Dalam dua pengertian tersebut. Ilmu logika adalah suatu ilmu yang mengajarkan tentang metode berpikir benar. Hubungan Epistemologi dengan IlmuIlmu Lain a. kodrat. Jadi. pokok-pokok analisa akal. Jadi. 5. Dan dari sisi ini. epistemologi berperan sentral sebagai alat penting bagi kedua ilmu tersebut. Ilmu tafsir adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan metode penafsiran kitab suci. karena akar pembahasan ini terkait langsung dengan pembahasan epistemologi.sebelumnya penyebab dan faktor riil yang menjadi adalah definisi ini. bahasannya Yang koridor dimaksud ilmu-ilmu kajian metode akal di sini adalah meliputi seluruh rasional dalam hushûlî dan ilmu hudhûrî. Hubungan epistemologi umum filsafat eksistensi dengan adalah (ontologi). menggunakan akal dan rasio. Dengan demikian.

pembatas merupakan substansial antara iadengan hewan. “Anda tidak layak memerintah. segala dinamika hidupnya berasal dari kecenderungan hewaninya. langkah pertama yang mesti diambil . karena Islam dengan persoalan pada tersebut pada menjadi potensi maujud akal-pikiran. memerintah. dan jika ada orang yang ragu atas realitas ini. dan menolak segala bentuk keraguan. Hal ini berarti bahwa jika akal rasionalitasnya dipisahkan kehidupannya. Hubungan dan saling epistemologi terkait. Semua kenyataan ini berarti bahwa pencapaian keyakinan dan kebenaran adalah sangat mungkin dengan perantaraan akal dan argumentasi rasional. sebagian seluruh aktivitasnya dinapasi oleh akal dan pengetahuan. begitu banyak ayat al-Quran berkaitan dengan argumentasi akal. maka yang tertinggal hanyalah sifat kehewannya. dan persoalan inti yang dimunculkan seputar keyakinan agama dan dasar-dasar etika. fiqih.[10] Perbedaan hakiki manusia dan hewan terletak mengajukan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi manusia. Manusia ialah maujud yang berakal dan politik adalah hal yang juga tak bisa disangkal Plato Anda bisa berkata bukan dikatakan penguasa Yunani ketika itu. maka adalah penetapan wakil hukum yang sisi hanya berada hak ditangan Tuhan. Pertanyaanpembahasan sebelum melangkah ke arah upaya-upaya rasional dan filosofis. Pembahasan membuktikan pengkajian seperti kepada epistemologi tersebut kita dan di atas pentingnya konklusi- konklusinya. pemerintahan seorang bahwa hakim (filosof).” Dan juga berkaitan dengan karena manusia tak bisa memahami hakikat dirinya sendiri sebagaimana yang semestinya. dan para ulama yang adil Tuhan Pada memiliki lain. maka dari itu. dan keraguan akan senantiasa bersama manusia bahwa apakah akal telah memberikan solusi yang benar atas perkara-perkara pertanyaan epistemologi. suatu rangkaian persoalan yang prinsipil menjadi terkonstruksi dengan tujuan untuk mencarikan solusi atas segala permasalahan yang timbul berkaitan dengan dimana pengetahuan hal itu dan akal manusia. dan hak-hak asasi manusia dimana sentral dari berpijak semua pada pembahasan epistemologi. akal berguna pengakuan beranggapan bahwa makrifat agama adalah bukan bagian dari ilmu. memotivasi manusia untuk menggapai ilmu dan makrifat. dengan demikian. sementara tersebut tak menguasainya. karena ilmu-ilmu alam dan matematika tidak mampu memberikan solusi komprehensif dan universal atasnya. dan dari aspek lain. yang Rahasia dan kemanusiaan manusia adalah bahwa ia mesti berakal mengaplikasikan kekuatan akal dalam semua segmen kehidupannya serta seluruh kehendak dan dan iradahnya terwujud melalui pancaran dari petunjuk akal. Karena telah jelas urgensi upaya rasional untuk kehidupan hakiki manusia.terkhusus lagi apabila kita menyimak ruang pemikiran dan budaya yang ada serta kritikan. mereka tidak berhak memerintah. keraguan. Yang pasti. dan untuk memerintah mesti dibutuhkan ilmu politik kaum dan ulama pemerintahan. dengan demikian. jawaban atas segala persoalan mendasar niscaya dengan upaya-upaya rasional dan filosofis. maka persoalan yang kemudian muncul ialah apakah akal manusia mampu akal menyelesaikan belum persoalanmaka dalam persoalan tersebut? Jika nilai dan validitas pengenalan tidaklah ditegaskan. penafsiran. maka minimalnya iaharus menerimanya untuk menjawab segala bentuk kritikan. ini tersebut? adalah Dengan inti begitu.

telah berhasil dan mengungkap hakikat manusia. Sementara perjalanan sejarah epistemologi di dalam filsafat Islam mengalami suatu proses yang menyempurna dan berhasil menjawab segala bentuk keraguan dan kritikan atas epistemologi. Muncul suatu pertanyaan. Dengan ungkapan lain. ia berkata “Pada era ini kita menyaksikan keberadaan aliran-aliran filsafat sosial dan ideologi yang berbeda dimana masing-masingnya mengusulkan suatu jalan dan solusi hidup. Murthada Muthahhari . sedangkan pandangan dunia menempati filsafat teoritis. mampu Konstruksi pemikiran universal filsafat yang Islam sedemikian kuat dan sistimatis sehingga memberikan solusi mendasar atas persoalan yang terkait dengan epistemologi. Berkenaan dengan urgensi epistemologi. Walaupun masih dibutuhkan langkah-langkah besar untuk menyelesaikan dari perbedaan dasar-dasar pengenalan. penyebab lahirnya perbedaanperbedaan tersebut terletak pada perbedaan pandangan dunianya (word view) masingmasing. epistemologi. Ideologi menyatakan . sementara relativsime nampak pada pemikiran Immanuel Kant. Aliran-aliran ini memiliki sandaran pemikiran yang bersaing satu sama lain untuk merebut pengaruh. Ideologi seperti filsafat praktis. yakni ilmu dibagi menjadi gagasan/konsepsi (at-tashawwur)[12] dan penegasan (at-tashdiq)[13]. pengetahuan. dan hal yang terkait dengan kategori-kategori kedua filsafat[14]. macam-macam ilmu hudhûrî. atau hushûlî dan hudhûrî. maka akan menjadi jelas bagi kita bahwa epistemologi merupakan pemberi validitas dan nilai kepada seluruh pemikiran filsafat dan penemuan sehingga ilmiah kalau manusia sedemikian yang persoalan-persoalan berhubungan dengan ilmu dan pengetahuan tersebut belumlah menjadi jelas.adalah membedah persoalan-persoalan kepada kita bagaimana hidup semestinya. Pembahasan yang berhubungan dengan pembagian ilmu. Ideologi menentukan apa yang mesti dilakukan oleh manusia dan mengajukan bagaimana metode mencapai tujuan itu. apabila kita merujuk kepada daftar isi persoalan-persoalan yang berkaitan persoalan eksternal dengan tentang dan pengetahuan. mengapa aliran-aliran dan ideologi-ideologi tersebut memiliki perbedaan? Jawabannya. Apa yang ditentukan oleh pandangan dunia. keberadaan kemungkinan misalnya realitas terjalinnya Mengapa ideologi mengarahkan kita? Karena pandangan dunia menegaskan suatu hukum yang mesti diterapkan pada masyarakat dan sekaligus menentukan arah dan tujuan hidup masyarakat. itu pula yang akan diikuti oleh ideologi. Mengapa suatu ideologi berpijak pada materialisme dan ideologi lainnya bersandar pada teisme? Perbedaan pandangan dunia tersebut pada hakikatnya bersumber [11]“ Epistemologi pada Zaman Yunani Kuno dan Abad Pertengahan Perjalanan historis epistemologi dalam filsafat Islam dan Barat memiliki perbedaan bentuk dan arah. Filsafat praktis bergantung kepada filsafat teoritis. karena semua aliran filsafat dan ilmu mengaku alam. Perjalanan historis epistemologi oleh dalam filsafat barat ke arah skeptisisme dan relativisme. semua ideologi berpijak pada pandangan dunia dan setiap pandangan dunia tertentu akan menghadirkan ideologi dan aliran sosial tertentu pula. Skeptisisme diwakili pemikiran David Hume. kami akan kutip ungkapan seorang pemikir dan filosof Islam kontemporer asal Iran . maka tak satu pun pemikiran filsafat manusia dan penemuan ilmiah yang akan bernilai. dan epistemologi. Hal ini karena. rahasia fenomena eksistensial lainnya. hubungan manusia dengan realitas eksternal itu.

akal dipandang sebagai yang valid. Gagasan Pythagoras ini kelihatannya lebih menyuarakan dimensi relativitas dalam pemikiran. Pembahasan-pembahasan yang dilontarkan oleh kaum Sophis dan filosoffilosof pada zaman itu mengandung poin-poin kajian yang penting dalam epistemologi.[21] Democritus beranggapan bahwa indra lahir itu tidak iabagi dan akan pernah mengantarkan majasi pada dimana dan pengetahuan benar dan segala sifat sesuatu menjadi sifat-sifat hakiki dihasilkan dari penetapan pikiran seperti warna sifat-sifat seperti sifat bentuk ini ukuran[22]. pemikiran-pemikiran mereka. kalau pun iabisa dipahami. (Yunani kuno. 2. orang pertama yang membuka lembaran kajian epistemologi adalah Parmenides[15]. dalam kajian filsafat pasca itu epistemologi menjadi inti kajian filsafat dan hal-hal yang berkaitan dan dengan ontologi dikaji secara sekunder. abad pertengahan. sementara [16] Heraklitus berbeda dengan Parmenides. Sejarah Epistemologi dalam Filsafat Barat Apabila filsafat kita Barat membagi dalam perjalanan zaman sejarah tertentu menerus pada segala sesuatu. dan dengan cara pendefinisian. Epistemologi di Zaman Yunani Kuno eksistensi segala sesuatu. Hal yang mesti digaris bawahi ialah pada zaman Yunani kuno dan abad pertengahan epistemologi merupakan salah satu bagian dari pembahasan filsafat. apabila ia ada. maka mustahil diketahui. sebagian peneliti sejarah filsafat menganggap pemikirannya sebagai dasar Skeptisisme. iamengungkapkan satu sisi dari sisi-sisi lain dari epistemologi yang merupakan sumber dan alat ilmu. dengan keberadaan itu. 1. Heraklitus melontarkan gagasan tentang perubahan yang konstan atas segala sesuatu dan berkeyakinan bahwa dengan adanya perubahan yang terus indra lahir hanya bersifat penampakan dan bahkan terkadang menipu. maka perolehan ilmu menjadi hal yang mustahil. Pembagian kemudian segala Iamemandang bahwa hakikat itu tidak relatif menjadi perhatian para filosof dan sumber . dan modern) dan menempatkan Yunani kuno sebagai awal dimulainya filsafat Barat. akan tetapi. namun tidak bisa dipindahkan. hal ini karena terdapat kontradiksikontradiksi [18] Pythagoras parameter berkata. karena ilmu memestikan kekonstanan dan ketetapan. Pada dasarnya. maka secara implisit bisa dikatakan bahwa pada zaman itu juga lahir epistemologi. hal-hal yang senantiasa berubah maka mustahil tiga terwujud sifat-sifat khusus dari ilmu tersebut.persoalan-persoalan partikular yang mendetail di dalam epistemologi.[17] Kaum Sophis ialah kelompok pertama yang menolak definisi ilmu yang bermakna kebenaran yang sesuai dengan realitas hakiki eksternal. hakikat mengungkap dan nisbi. Dan epistemologi setelah Renaissance Descartes mengalami suatu perubahan baru.[20] Berdasarkan penulis sejarah filsafat. Hal ini karena iamenempatkan dan menekankan akal itu sebagai tolok ukur hakikat. dan mizan ketiadaan segala sesuatu[19]. akan tetapi. Socrates ialah filosof pertama pasca kaum Sophis induksi yang dan lantas bangkit ia mengkritisi berupaya sesuatu. ia menekankan pada indra lahir. segala “Manusia sesuatu. Oleh karena itu. merupakan tolok ukur pada akal dan kesalahan pengamatan yang dilakukan oleh indra lahir. Gorgias menyatakan bahwa sesuatu itu tiada.

Disamping meyakini bentuk intuisi batin (asy-syuhud) juga itu sebagai tolok ukur kebenaran. murid Socrates. abstraksi. bisa Oleh karena itu. diyakini. sebagian memandang kemustahilan pencapaiannya. dan perkara-perkara yang senantiasa berubah dan partikular tidak bisa dijadikan objek dan makrifat tidak hakiki. Dalam hal ini. ialah filosof pertama yang secara serius mendalami epistemologi dan menganggap bahwa permasalahan itu ialah hakiki dan mendasar pengetahuan karena indriawi berpijak pada kaidah-kaidah awal dimana hal itu bisa dibuktikan di dalam ilmu-ilmu lain. meyakini penalaran bersifat prasangka. berubah. tetap. dan bersifat pasti. iakemudian melontarkan gagasan tentang mutsul (maujud-maujud non-materi di alam akal). dimana pengetahuan jenis terkait Pengetahuan-pengetahuan selain dengan menggunakan kaidah-kaidah pertama dalam ilmu dan pengetahuan yang bersifat gamblang (badihi)[27]. Makrifat yang diperoleh lewat indra itu merupakan makrifat yang paling diyakini kebenarannya. dari melainkan kesalahan kekeliruan bersumber dan serius makrifat para lantas menjadi epistemolog rasionalitas.[26] Iamenetapkan penggambaran universal. prinsip non-kontradiksi merupakan kaidah gamblang yang diketahui secara fitrah. ilmu matematika dianggap hal yang tidak valid. semestinya pengetahuan universal. dengan perspektif ini.[30] Epicure (270-341 M) memandang indra lahir sebagai pondasi dan tolok ukur kebenaran pengetahuan. Iajuga berkeyakinan. Begitu pula. lebih menekankan penjelasan yang ilmu dan pembuktian dengan bahwa asumsiasumsinya daripada menjelaskan persoalan berkaitan Iayakin probabilitas setiap ilmu pengetahuan. akan yang tetapi. pasti.lahirnya berbagai pembahasan. Plato. universal. hipotesa. dengan demikian. Mereka beranggapan pengetahuan itu adalah pengenalan partikular sesuatu. [28] Kelompok Rawaqiyun[29] yang yakin pada pengalaman agama dan indra lahir. Iamenyusun ilmu logika dengan berpikir tujuan dan menetapkan suatu secara metode benar berargumentasi terletak pada perubahan objek indra. [25] Aristoteles. Perbedaan kaum . pengetahuan indriawi bersifat keliru.[23] Pengetahuan hakiki dalam pandangan Plato ialah ini keyakinan dengan benar hal-hal yang yang bisa konstan. Dengan dasar ini. dan analisa pikiran menggantikan gagasan mutsul Plato. bersifat diyakini. tak proses pembuktian ini harus berakhir pada kaidah yang sangat gamblang lagi membutuhkan pertama pembuktian yang sangat rasional. ini ialah diargumentasikan. dan perkiraan belaka[24]. definisi plato tentang pengetahuan perhatian kontemporer. [31] Kaum Skeptis beranggapan bahwa kesalahan indra lahir dan akal itu merupakan dalil atas ketidakabsahannya. sementara pengetahuan hakiki (baca: pengetahuan akal) itu yang berhubungan dengan hal-hal yang konstan dan tak berubah ialah bisa diyakini. pencapaian hakikat dan makrifat hakiki ialah hal yang sangat mungkin dan tidak mustahil. murid Plato. bahkan menolak dan kebenaran Sebagian secara lain dari mereka adanya mutlak penetapan makna-makna maujud di ruang memori pikiran atas perkara-perkara indriawi. Lebih lanjut ia berkata bahwa panca indra lahir itu tidak melakukan itu kesalahan. menolak pandangan tentang konsepsi universal pikiran dari Aristoteles dan konsep mutsul Plato bahwa tersebut. maka objeknya juga harus tetap dan konstan.

Persepsi panca indra (sensuous perception). Apakah “universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa mencakup beberapa individuindividu eksternal. 3. dalam bisa dan akal dan sebagai hakikat tingkatan ‘kesatuan dalam memahami termasuk dalam ruang lingkup yang bisa diragukan oleh kaum Skeptis dan Sophis. ataukah “manusia universal” itu sendiri memiliki realitas eksternal (misalnya ia berada di alam non-materi) yang hanya bisa disaksikan secara intuitif dan syuhudi. 3. tingkatan kedua adalah argumentasi. Ia membagi tiga tingkatan persepsi (cognition): 1. saya ada“. ataukah “manusia universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa diterapkan pada lebih dari kejamakan’ ‘kejamakan kesatuan’ tanpa lewat proses berpikir. Salah satu ungkapan beliau adalah “Saya ragu. Apakah wujud “universal” itu sendiri sama dengan wujud “partikular” yang keberadaannya bukan hanya di alam pikiran. penggagas maktab neo platonisme. 2.Skeptis dengan kaum Sophis adalah bahwa argumentasi-argumentasi kaum Sophis menjadi pijakan utama kaum Skeptis. sumber ilmu. oleh karena itu. ketiga. Pengetahuan indriawi berubah. karena ilmu terhadap jiwa tidak bisa diragukan. keraguan. Dan tingkatan di atas akal adalah intuisi (asysyuhud).[33] Augustine (354-430 M) beranggapan bahwa ilmu terhadap jiwa dan diri sendiri itu tidak . Gagasan Skeptisisme muncul sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi yang dipropagandai oleh Agrippa (di abad pertama) dan kemudian dilanjutkan oleh Saktus Amirikus (di abad kedua). tidak karena objeknya senantiasa makrifat tergolong sebagai pertengahan ialah kajian tentang universal dan sumber kehadirannya. Akal (logos. di samping itu iamemandang bahwa ilmu itu sebagai ilmu yang paling benar dan proposisiproposisi matematika adalah bersifat gamblang yang tidak bisa diragukan lagi. Apakah “universal” itu hanya sebatas suatu konsep. Pengertian (understanding). Dalam pandangannya. ilmu dan pengetahuan dimulai dari diri sendiri. Tingkatan pertama berkaitan dengan hal-hal yang lahir. Gagasan Tentang Universalia Salah satu pembahasan inti di abad itu. Plotinus. hakiki. jawaban. dan solusinya hadir dalam bentuk yang semakin kuat dan sistimatis serta terlontarnya pembahasan seputar probabilitas pengetahuan. dan tolok ukur kesesuaian dengan realitas eksternal. Epistemologi pada Abad Pertengahan (dari Awal Masehi hingga Abad Kelimabelas) Inti pembahasan di abad pertengahan adalah persoalan yang terkait dengan universalitas dan hakikat keberadaannya. epistemologi di zaman Yunani kuno dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian dibahas dalam bentuk yang berbeda dalam filsafat. di abad ketiga masehi melontarkan gagasangagasan penting dalam epistemologi.[34] 4. disamping itu. intellect). bahkan juga berada di alam eksternal yang sebagaimana maujud-maujud hakiki yang lain? Sebagai contoh “manusia universal”.[32] Walhasil. Dan semua persoalan. juga mengkaji dasar-dasar pengetahuan dan kebenaran. Apakah “manusia universal” di sini hanyalah sebuah konsep universal yang ada di alam pikiran semata. yang sebagaimana diyakini itu oleh Apakah “universal” secara mendasar tidak memiliki wujud luar. yakni apakah universal itu adalah penyaksian mutsul Plato itu sendiri ataukah konsep abstraksi akal yang bersifat universal Aristoteles.

Tarikh Ma’rifat Syenosi. sementara universal itu tidaklah memiliki wujud hakiki dan hanya bersifat katakata semata.satu objek individual[35]?. Upaya-upaya pemikiran di abad pertengahan itu tak lain ialah untuk menjawab persoalanpersoalan tersebut.[37] Peter dan Abelard (1079-1142 M) memandang itu adalah memiliki individu-individu eksternalnya. Muhammad Ali Furughi. ada tiga perspektif dan aliran pemikiran: 1. Taqi Mishbah Yazdi. dan dan menolaknya.com] realitas-realitas hakiki dan eksternal. dari konsep ini akal akan membentuk konsep-konsep universal[40]. 141. Mahdi Dahbosy. itu juga karena ia “universal” terkadang ia sebagai menyebut bahwa universal itu terdapat di alam pikiran konsep-konsep universal konsep-konsep abstraksi yang diambil dari maujud-maujud luar dengan memperhatikan sifat-sifatnya. Boethius (470-525 M) ialah orang pertama yang beranggapan bahwa universal itu hanyalah kata semata. Omusyes Falsafeh.[39] Thomas Aquinas (1225-1274 M) yakin bahwa rasionalitas dan pemikiran itu sangat bergantung pada pengindraan lahiriah. jilid kedua. pelajaran kesebelas. Realisme (universalitas itu memiliki wujud eksternal atau mutsul Plato). Proposisi matematik yang karena berkaitan langsung dengan experiman bisa diterima. seluruh filsafat dan hukum-hukumnya tak bermanfaat. jilid satu. dengan demikian.[38] Segala kaidah filsafat dan ilmu berpijak pada penerimaan yakni jika atas konsep-konsep universal. Seir-e Hikmat dar eropa. 2. [41] [wisdoms4all. Perlu diketahui bahwa apabila kita memiliki ilmu terhadap sesuatu. Namun. Syahid Muthahhari. 29. Muhammad Ali Furughi. Nazariyeh-e Syenokh. kemudian akan terbentuk konsep-konsep imajinasi. Ia memandang bahwa alat pengetahuan adalah teks suci. walaupun iaberupaya menyelesaikan persoalan universal itu lewat gagasan Aristoteles. Dalam hal ini. pembahasan “universalitas” memiliki urgensi. [2] . dan experimen. maka tidak satu pun kaidah yang iabisa diterima. Nominalisme (menetapkan katakata umum yang mewakili individu-individu eksternal). yakni pertama-tama indra lahir kita berhubungan dengan alam luar. segala proposisi universal yang merupakan pijakan seluruh ilmu dan kaidah-kaidah ilmiah tidak . [4]. hal. hal 32. argumentasi. bahwa seseorang beranggapan [1] . 74. dengan kata lain. Dengan alasan ini. Pada satu sisi kita memahami bahwa pada setiap sesuatu universalitas itu hanyalah sebuah kata semata dan menolak konsep universal itu. Roger Bacon (1214-1294 M) ialah orang yang berpijak pada empirisme dan positivisme. karena semua proposisi universal akan menjadi proposisi partikular yang hanya terkait dengan individu tertentu saja. 2. begitu pula.[36] Roscelin (1050-1120 M) berkeyakinan bahwa yang hanya ada di alam eksternal adalah partikular. Perlu diketahui bahwa iabanyak bersentuhan dengan pemikiran filsafat Islam. [3]. 3. Syenokht-e dar Quran. Syapur ‘Itemod. jilid pertama. universal itu merupakan dalam konsep-konsep yang yang terdapat tentang pikiran menceritakan “penghubung” antara pikiran dan objek-objek “penghubung” itu sebagai “konsep-konsep”. sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa ia secara mutlak mengingkari menafsirkan luar. hal. hal. Seir-e Hikmat dar Eropa. hal. Idealisme (universal itu hanya terdapat dalam alam pikiran atau gagasan Aristoteles). William seorang of Ockam (1287-1347 sebagai M) adalah yang dikenal pengingkar konsep-konsep universal. maka sesuatu itu hadir dalam jiwa dan pikiran kita.

Aflatun. ‘Sebab’ dan ‘akibat’ itu tidak nampak diluar. Kaum epistemolog Barat mayoritas menyetujui makna ilmu seperti ini. dan juga berdasarkan tolok ukur ilmu. 1119. Syahid Murtadha Muthahhari. [6] . yang ada itu hanyalah api dan panas. jiwa manusia non-materi. ilham. Konsep ini diperoleh dari analisa akal terhadap perkara-perkara eksternal. Pengetahuan intuitif ini ditandai oleh hadirnya objek di dalam diri si subjek. maka ilmu kita terhadap sesuatu itu disebut “ilmu hushûlî” atau “pengenalan rasional“.Dalam setiap pembenaran terdapat tiga penggambaran: 1. [12]. kata-kata. 10. Jalan menuju makrifat tidak terbatas pada akal dan indra lahir. materi. esensi alim (yang mengetahui). walaupun ‘sebab’ . langit. Sementara ilmu hushûlî hanya berhubungan dengan gambaran sesuatu itu. misalnya: api adalah ‘sebab’ panas atau panas adalah ‘akibat’ dari api. konsepsi) adalah suatu gambaran pikiran dimana bukan penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain. wujud dan kuiditas. matahari. 110-111. Syarh-e Mushthalahât-e Falsafi. [14]. mitsal. sumber ilmu. hakikat sebagaimana adanya (noman). Ali Syirwani. Seperti pengkajian kaidah tentang sebab dan akibat. ada dan tiada. jiwa manusia.memiliki dua dimensi. maka akan tercakup segala apa yang disebutkan itu. jika yang hadir dalam diri kita adalah wujud api itu sendiri. Apabila sesuatu yang hadir dalam pikiran kita adalah kuiditasnya (mahiyah). kalau yang kita tangkap dari api adalah kuiditasnya. wujud pikiran dan eksternal. keabsahan kehadiran ilmu. 3. hal. 13. ular naga tiada. Seperti konsep tentang ‘sebab’ dan ‘akibat’. namun berwujud mengikuti keberadaan subyeknya. atau rumus-rumus. Dâiratul Ma’ârif. kehadiran konsep ini tidak bisa terlepas dari keberadaan objek eksternalnya. Yang dimaksud dengan at-tashawwur (penggambaran. esensi ma’lum (yang diketahui). kalau sesuatu yang hadir dalam jiwa kita adalah wujud eksternalnya. Oleh karena itu. keabsahan metode. [9] . Apabila subyek epistemologi adalah penyingkapan secara umum. keluasan ilmu yang mencakup ilmu terhadap Tuhan. Munculnya konsep ‘sebab’ itu berasal dari analisa akal atas hubungan khusus antara api dan panas. apa yang menjadi titik tekan dan inti pembahasan dalam epistemologi adalah mengenai akal dan indra (lahir dan batin). Akan tetapi. bukan kuiditasnya. dimensi kuiditas dan dimensi wujud. Pengenalan rasional ini memahami objek-objeknya lewat symbol-simbol. pengesahan) adalah penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain dalam bentuk positif atau negatif. Misalnya ketika kita melihat api yang ada di luar diri kita. dan malaikat yang ada dalam pikiran kita. dan berpuncak pada wahyu. kemungkinan dan kemustahilan mewujud. Gambaran predikat. Tuhan. Silahkan rujuk pada catatan kaki no. hal. [13] . Daure-ye Otsor. potensi dan aktual. maka ilmu kita terhadap sesuatu itu di sebut “ilmu hudhûrî” atau “pengenalan intuitif“. dan konsep ‘sebab’ itu lantas dipredikasikan kepada api. seperti gambaran tentang bulan. qidam dan huduts. melainkan pencapaina makrifat bisa dengan jalan syuhud irfani. dan non-materi. Kalau kita perhatikan di alam eksternal. hal. Yang dimaksud dengan at-tashdiq (pembenaran. Gambaran subyek. 4. jilid kedua. Kebenaran yang belum diyakini adalah suatu bentuk kebenaran yang diterima secara taklid dari orang-orang yang dipercaya dan belum melalui proses penelitian secara sistimatis dan logis. …. [7] . keabsahan alat. Masaley-ye Syenokh. seperti dikatakan: Tuhan ada. [10] . kemestian. maka api yang ada di dalam pikiran kita tidak akan membakar pikiran kita. wujud tetap dan berubah. Paul Edward. Plato adalah orang pertama yang melontarkan bahwa keyakinan benar yang bisa dibuktikan sebagai makrifat hakiki. jilid ketiga. bumi. ilmu hudhûrî menangkap objeknya secara langsung (immediate) dan berkaitan dengan hakikat sesuatu. fenomena (yang tampak kepada kita). kalimat. Namun. pembagian ilmu berdasarkan keabsahan ma’lum. [5]. Gambaran tentang hubungan subyek dan predikat. karena itu pengetahuan ini disebut “presensial“. maka niscaya akan membakar diri kita. akan tetapi. Yang dimaksud dengan ‘kategori-kategori kedua filsafat’ (konsep-konsep filosofis) adalah suatu konsep yang tidak memiliki individu luar dan tidak memiliki wujud mandiri. 2. dan wujud materi. karena yang memiliki pengaruh membakar itu hanyalah wujud api. [11] . hal. Dalam epistemologi kontemporer di Barat dibahas esensi ilmu (keyakinan benar yang bisa dibuktikan). [8] . Dengan demikian.

hal. [23] . hal. [18] . [21] . Ibid. Muhammad Ali Furughi. 126. Capelestun. Dengan demikian. hal. Dalam pada itu. Nah. Tarikh Falsafe-ye Garb. [25] . [15] . Metafisik. Ibid. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. 171. jilid pertama. hal. hal. Ibid. Paul Edward. 209. [24] . [17] . [26] . 261. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. Atau sederhananya. sifat-sifat. ) yang melulu menggunakan software akal universal yang dimiliki oleh setiap manusia. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. [40] .Tarikh Falsafe-ye Garb. asumsi dasar. [37] . hal. hal. [36] . Walhasil. 149. Universal lawan dari partikular yang berarti gagasan yang hanya bisa diterapkan untuk satu objek individual. hal. 12. hal 65. This the way I see it. hal. Ibid. [20] . Yang didirikan pada tahun 300 M [30] . kami mempersilahkan Anda menunggah http://www. Semua konsep dalam filsafat berada dalam kategori-kategori seperti ini. Ibid. Tarikh Falsafe-ye Garb. 106. [41] . 95. Metafisik. Ibid. jilid pertama. [32] . Frederick Copleston. 11. Dan ini adalah raison d’être pembahasan epistemologi. [16] . pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. [33] . Yakni. 131. pasal empat. hal. jilid pertama. ○ ○ ○ ○ ZAKY November 25th. Paul Edward. hal. Tentu saja. hal. hal.Tâsu’ât. Lyotard. Ibid. dan risalah kesembilan. [39] . [38] . Aristoteles. Seir-e Hikmat dar Eropa. 33. [28] . 21. [19] . Dan Aristoteles. Ibid. 348. 112. Paul Edward. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asal-usul. hal. [35] . [22] . risalah ketiga. Ibid. hal. Ibid. hal. Ruh-e Falsafeh dar Qarn-e Wustha. lantaran berfilsafat adalah berargumen (silogis.com/English . [29] . What do you say??? 1. 64. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha.wisdoms4all. Paul Edward. Plotinus. Frederick Copleston. 172. 99. Ibid. harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. Insya Allah sementara ini kami sedang menyiapkan tulisan yang bertajuk “Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Agama” yang kurang lebihnya dapat memenuhi materi yang Anda cari. [34] . Seperti pengetahuan kita terhadap keberadaan dan wujud diri kita sendiri. hal 15. 82. hal. tapi ini tidak berarti bahwa ‘sebab’ itu memiliki wujud yang mandiri dan terpisah dari api dan kemudian melekat pada api. hal.ialah sifat untuk api. induktif atau deduktif. [27] . Yusuf Keram. hal.Tarikh Falsafe-ye Garb. hal. hal. hal. Tarikh al-Falsafah alYunaniyah. 443. Frederick Copleston. pasal sembilan dan pertama. diselesaikan terlebih dahulu dalam dapur epistemologi. Ibid. sembari menanti teruploadnya tulisan tersebut. 2007 REPLY KUTIP Zaky: saya bisa ga’ nemuin materi yg saya cari? “pengertian ilmu dan ilmu pengetahuan” __________________________________ ________ Isyraq: Terima kasih atas kunjungan Anda. 10-11. apakah akal universal ini patut diandalkan atau tidak. 472. 102. So sedemikian penting masalah epistemologi dalam pembahasan filsafat. [31] . pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat.

karena Ilmu/pengenalan seperti itulah yang menjadi dasar dari seluruh pemahaman manusia. Doakan kami untuk keep on writing masalah tersebut hingga tuntas. U’budu Rabbaka hatta ‘atakal Yaqin.. 2008 REPLY KUTIP eko Desember 7th. 4. Filosof adalah alih bahasa bebas dari bahasa Yunani yang bermakna orang yang cinta kepada hikmah. Bagaimana kalau lebih di fokuskan pembahasan yang lebih spesifik tentang epistemologi hudluri. muhkam yang dapat bermakna kuat dan menguatkan.. Dan jangan berhenti di sini.. Hakim derivatnya adalah hukm. Tks Isyraq: Salam. rasanya masih perlu sumber yang bisa lebih menyederhanakan lagi.iqra warqa’ “Bacalah dan melambunglah ke tingkat yang lebih tinggi…. Terima Kasih. terutama masalah . Filosof dalam bahasa Arab biasanya disebut sebagai hakim. saya coba baca Ilmu Hudlurinya Mehdi Hairi Yazdi. 3.sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan… Mari kita hasilkan keyakinan dengan berfilsafat. 2007 REPLY KUTIP perbedaan seorang filosof dengan seorang manusia biasa salah satunya adalah gairah untuk dapat lebih mengetahui ushul segala bentuk wujud dengan epistimologi hingga tak ada sedikitpun keraguan dalam dirinya. Apakah kita masih termasuk orang orang yang merasa sudah tinggi ilmunya ? Sudah merasa lebih tua dan berengalaman dari yang lain ? Merasa yang paling benar ? Merasa apa yang kamu dapatkan sekarang adalah buah dari hasil usaha dan jerih payahmu selama ini ? merasa paling benar ibadahnya ? Mudah mudahan kita tidak termasuk dalam Salam.Dan isi Al-Quran banyak membahas hal kehidupan setelah mati itu semua merupakan kapling khas Agama dan pemahamanya lebih banyak bersifar HUDLURI??? ini hanya couriusity saya. ○ ○ ○ ○ fahmi alkaf Desember 3rd. tass. dan Al Qur’an di akhiri dengan surat yang membahas “sejarah Tuhan”.. piranti akal atau indra yang mo digunakan diolah di dapur epistemologi. Anda benar bahwa filosof (tentunya filosof yang jujur dan mukhlis) berupaya berargumentasi dan berdemonstrasi dengan dalil-dalil sehingga tak setitik keraguan yang tersisa... Nah. sehingga orang orang yang berkeinginan dan dikehendakiNya yang mendapat “rahmat” darinya……….tass. sebelum berfilsafat. kemudian Tuntunan memohon dan Jalan yang harus dilalui. 2007 REPLY KUTIP Salam alaykum………… Maha suci ALLAH yang telah memberikan kita AL QURAN dengan tulisan ARAB serta menjaga kerahasiaannya. Dan pembahasan epistemologi di blog ini telah memasuki pembahasan sejarah ilmu hudhuri. ○ ○ ○ ○ 5.artikel yang bertemakan “Islamic Concept of Knowledge.. ________________________________________ __ Isyraq: Salam dan terima kasih kepada Sdr/i Sane yang memberikan nice dan supporting komentar atas postingan yang ada. Jadi kerja filosof adalah menguatkan dan memperdalam jangkauan hikmah yang dapat dicapainya dengan silogisme.. ○ ○ ○ ○ achmad satya dharma Februari 10th. Kalau diringkaskan di awali dengan cara berjalan menuju Allah dan di Akhiri kepada pemahaman bagaimana Allah ataupun Makhluq ini berasal. 2007 REPLY KUTIP epistemologi pengenalan diri kita sendiri dan masalah emanasi.” 2. perbedaan antara ilmu hudhuri dan hushuli. Kami sedang berupaya menyediakan pembahasan secara sistematis dan runtun epistemologi. penciptaan dan kontingensi. sebab saya menduga ada hal yang menarik dalam susunan AlQur’an dimulai dari Surat Al Fathihah yang berisi cara menyembah dan mentauhidkan Allah. induksi dan deduksi. ○ ○ ○ ○ sane November 29th.

Kattsoff.. Baca saja terjemahannya bukan tafsirnya…. Semoga kita termasuk orang orang yang kembali dan memeperoleh kemenangan…. perlu diperhatikan bagaimana dan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. “Jalan yang lurus” adalah jalan yang paling singkat dan pasti. ketiga sub sistem ini biasanya disebutkan secara berurutan. Salah satu isi al quran adalah berisi tenteng pengalaman ruhani manusia dalam menuju TUHANnya…. atau mungkin dapat menenatapkan batasbatas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya (Luis O... Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. yaitu tentang apa yang dipikirkan. Dengan gambaran senderhana dapat dikatakan. juga ontologi dan aksiologi. Epistemologi adalah teori pengetahuan. (Amin ya ALLAH) Bismillahi tawakkaltu alallah…. karena Al quran adalah petunjuk yang HAQ…. epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. dan para syuhada……… Alangkah indahnya kita mengabdi dan beribadah kalau kita tahu kepada siapa kita beribadah dan mengabdi…. karena sesungguhnya pengetahuan itu bukanlah diraih… tetapi adalah diberikan…. lalu dicari cara-cara memikirkannnya (epistemologi). Sebenarnya kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. Ikuti dan terapkanlah Sunnahnya dan dapatkan hakikat dari sunnah tersebut… Bacalah al quran. ada sesuatu yang dipikirkan (ontologi). mulai dari ontologi. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanya kemungkinankemungkinan dan bukannya kepastian. Ontologi adalah teori tentang “ada”. shiddiqin. Yangmana kita harus mengalaminya terlebih dahulu baru kita bisa memahami maksudnya…. Bismillahi majriha wa mursaha……… Salam alaykum EPISTEMOLOGI 1. kalau tidak bisa arabnya tidak mengapa…. yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan.. yang menjadi objek pemikiran. sebab barang tiruan berarti adalah barang palsu…. agar kita tidak terjebak kepada hal-hal yang tidak perlu dibahas…. semoga kita mendapat rahmat dariNya. shalihin. “Ikutilah” Rasulullah sebagai uswatun hasanah… tetapi bukan menirunya. Jangan ada rasa cemburu terhadap yang sudah mengalaminya karena apabila telah menjadi hak kita dan telah sampai waktunya kepada kita niscaya tidak ada suatu apapun yang dapat menghalanginya……. Dalamilah islam sampai ke “inti”nya jangan hanya kulitnya saja. Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat.Latar Belakang Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan itu. Sistem filsafat disamping meliputi epistemologi. 2004 Dalam pembahasan filsafat. Oleh karena itu. Kalau tidak mengerti janganlah cepat menyerah. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. tidak ada kemungkinan kita untuk tersesat darinya….. Subhanallah……… Minal aidin wal faidzin…. Yaitu jalannya para nabi. Jika kita mengetahui batasbatas pengetahuan. kemudian timbul hasil pemikiran yang memberikan suatu PARAGRAPH BARU . kemudian aksiologi. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan.golongan yang satupun dari yang di atas……… Makrifatullah adalah kunci dari segala ilmu Dalam menempuhnya kita harus datang dengan “tangan terbuka” dan harus bisa memenggal kepala “ego” kita. epistemologi. Masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan…….

Setelah memahami substansi belajar tersebut. jika kita renungkan bahwa meskipun terdapat objek pemikiran.manfaat atau kegunaan (aksiologi). Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik. dia baru bisa menjelaskan proses belajar. seandainya objek pemikran sudah ada. teori belajar. Jadi. prinsip-prinsip belajar. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasan-pembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi . ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu. selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis. setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi). tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. hambatanhambatan belajar. Hal ini akan lebih jelas lagi. justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan. epistemologi. Begitu juga.F. tujuan. hakikat dan pengaruh epistemologi B. objek. Jadi. cara-cara juga adam tetapi tidak diektahui manfaat apa yang bisa dihasilkan dari sesuatu yang dipikirkan itu. untuk membedakan dua cabang filsafat. pembahasan konsep apa pun. Ferrier. epistemologi dan ontologi. cara. berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya. mulai dari pengertian. melainkan juga pada substansi persoalannya. maka objek pemikiran itu akan “diam”. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. Oleh karena itu. Sebagai sub sistem filsafat. kita perlu memahami seluk beluk diseputar epistemologi. ketika kita membicarakan epistemologi disini. ketiganya adalah interrelasi dan interdependensi (saling berkaitan dan saling bergantung). epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J. ruang lingkup. metode. Demikian juga. sehingga tidak diperoleh pengetahuan apapun. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalanpersoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu. PENGERTIAN EPISTEMOLOGI Secara historis. gaya belajar. guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain. atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. maka hanya akan sia-sia. sehingga didapatkan pengertian yang berbedabeda. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. Secara detail. tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya. landasan. Ketiga landasan ini saling berkaitan. Namun demikian. Keterkaitan antara ontologi. Lazimnya. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. tetapi jika tidak didapatkan cara-cara berpikir. maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. Misalnya. sebab ketigatiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. buka saja pada redaksinya.

2003. Dia menyatakan. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM.Hardono Hadi menyatakan. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. 2). Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. Secara etimologi. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya. Dalam Epistemologi. hal. metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan.(pengertian). Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. pengandaianpengendaian dan dasarnya.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan. dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.Runes. 1965. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. Selanjutnya. yaitu realisme dan idealisme. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. Sedangkan D. Azyumardi Azra menambahkan. dan logos berarti teori. pengertian. metode-metode dan validitas pengetahuan. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). 2005). jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan. Sedangkan. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah . diungkapkan oleh Dagobert D. dalam Jujun S. struktur. Sementara itu. struktur. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. P. Menurut Musa Asy’arie. pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. struktur.Suriasumantri.32). Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan. Demikian pula. Pengertian lain. 3). bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.

terutama ketika dimensi-dimensi itu dicoba untuk digali. apa yang dapat kita ketahui. apa kebenaran itu. C. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok. sehingga mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu. keaslian. sebab pernyataanpernyataan ini akan membantu pemahaman secara makin komprehensif dan utuh (holistik) mengenai ruang lingkup pemabahasan epistemologi. hakikat. Semestinya harus ada pergeseran pusat perhatian pembahasan ke arah aspek-aspek yang terabaikan itu. bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. RUANG LINGKUP EPISTEMOLOGI. agar dapat menyajikan pembahasan terhadap aspek-aspek epistemologi seluruhnya secara proporsional. Sebenarnya masing-masing definisi diatas telah memberi pemahaman tentang ruang lingkup epistemologi sekaligus. bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab. A. karena definisi-definisi itu tampaknya didasarkan pada rincian aspek-aspek yang tercakup dalam lingkup epistemologi daripada aspek-aspek lainnya. batas. sekalipun ia sebenarnya merupakan doktrin tentang psikologi kepercayaan. mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar. Jadi meskipun epistemologi itu merupakan sub sistem filsafat. dan sampai dimanakah batasannya. yaitu hakikat. bahwa antara epistemologi selalu berkaitan dengan ontologi dan aksiologi. Sidi Gazalba. maka tidak mungkin seserorang memiliki suatu metafisika yang tidak sekaligus merupakan epistemologi dari metafisika. validias. apa hakikatnya. unsur. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek. struktur. ada baiknya dikemukakan pernyataan-pernyataan lain yang mencoba menguraikan ruang lingkup epistemologi. sebagaimana diuraikan tersebut. seperti proses maupun tujuan. tetapi cakupannya luas sekali. dan refleksi selalu bersifat kritis. ontologi dan aksiologi serta dimensi lainnya. dasar. tumpuan. M. tumpuan. atau bahkan suatu sains yang bukan epistemologi dari sains. Jelasnya. Epistemologi senantiasa “mengawali” dimensi-dimensi lainnya. atau psikologi yang tidak sekaligus epistemologi dari psikologi. apa sumbernya. Akan tetapi. kiranya kita perlu memerinci aspek-aspek yang menjadi cakupannya atau ruang lingkupnya. maka teori pengetahuan itu bisa meliputi. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu. ternyata hanya aspekaspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof. masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. unsur. sumber. Bertolak dari pengertian-pengertian epistemologi tersebut. dan sasaran pengetahuan. pengandaian.M Saefuddin menyebutkan. taklid kepada pengetahuan atas kewibaan orang yang memberikannya termasuk epistemologi.dipahami. Filsafat merupakan refleksi. macam. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan. kodrat. macam. Bahkan menurut. batas. Jika kita memaduakan rincian aspek-aspek epistemologi. dari mana asalnya. sumber dan validitas pengetahuan. meliputi hakekat. sasaran. bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar. apakah ilmu itu. pertanggungjawaban dan skope pengetahuan. melainkan bisa juga sebaliknya. seluruh permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan adalah menjadi cakupan epistemologi. Kenyataan ini kembali mempertegas. seperti psikologi selalu diiringi oleh epistemologi. Bahkan. sampai Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan. Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi. Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi. metode. Lebih dari .

Oleh karena itu. Jadi. Namun. tetapi objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan. bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. sedangkan objeknya adalah kepalanya. bilogi. bisa juga dadanya atau perutnya. terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat. aspekaspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi. Kenyataannya. jika telah melalui objek lebih dulu. mungkinkan suatu kegiatan hanya memiliki objek satu tetapi tujuannya banyak. Ini berarti dalam satu tujuan bisa dicapai melalui objek yang berbeda-beda atau lebih dari satu. sedang tujuan hampir sama dengan harapan. jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi. ketika akan ditangkap dengan menambak kepalanya sebagai sasaran. sosiologi. Objek sama dengan sasaran. Ternyata ini juga mungkin terjadi bahkan sering terjadi. saat ini literatur-literatur filsafat masih terjadi pemusatan perhatian pada aspek-aspek tertentu saja. Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan. Meskipun berbeda. yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan. akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas. sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran. OBJEK DAN TUJUAN EPISTEMOLOGI Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. ilmu hukum dan sebagainya. sebagaimana diuraikan di atas. Amin Abdullah menilai. Padahal sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi. D. antropologi. dan pembentukan pengetahuan. sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran. Manusia misalnya. tujuannya adalah pembunuhan. ekonomi. tujuan baru dapat diperoleh. baik yang bercorak positif maupun negatif. Misalnya. khususnya bidang epistemologi. tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan. sebab objeklah yang mengantarkan tercapainya tujuan. seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman. Jika diamati secara cermat. Sementara itu. sehingga pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. Bagian-bagian lainnya jauh lebih banyak. pedagogi. Sebaliknya. seorang polisi bertujuan membunuh perampok yang melakukan perlawanan. Hanya saja.itu. sejak lama ia menjadi objek penelitian dan pengamatan yang memiliki tujuan bermacam-macam. Dengan kata lain. M. meskipun secara spesifik tekanan perhatian dalam meneliti dan . pembunuhan sebagai tujuan polisi baru mungkin tercapai setelah melalui tindakan menembak kepala perampok sebagai sasaran. ontologi sebagai objek pemikiran. perubahan kecenderungan pembahasan tersebut dapat memperkenalkan pengetahuan yang makin luas dan mendalam tentang cakupan epistemologi. Aspekaspek itu berkisar pada sumber pengetahuan. bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. tetapi terjadinya pembunuhan tidak hanya melalui menembak kepala perampok. atau setidaktidaknya kurang mendapat perhatian yang layak. tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan. sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. baik untuk membangun psikologi. sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik.

tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. siswa yang cerdas tidak pernah puas dengan pengetahuan dan hafalan itu. Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetahuan. baik berpikir dalam kecenderungan pertama maupun kecenderungan kedua. Artinya. sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwayang-ada). yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan. Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai dia puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan. Maka guru yang profesional akan menerangkan proses tersebut secara rinci dan mendetail. Dewasa ini. Seseorang yang mengetahui prosesnya.mengamati itu berbeda-beda. Guru dapat mengajarkan kepada siswanya bahwa dua kali tiga sama dengan enam (2 x 3 = 6) dan siswa mengetahui. Dia tentu akan mengejar bagaimana prosesnya. hakikat alam dan hakikat manusia. Aktivitas berfikir dalam kecenderungan pertama (satu tujuan dengan objek yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian cara sebanyak-banyaknya. ada upaya bagaimana menjadikan bahan yang sama untuk kepentingan yang berbeda-beda. epistemologi atau teori pengetahuan yang pertama kali digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. apakah yang menjadi tujuan epistemologi tersebut. Hal ini menunjukkan. tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan. apakah saya dapat tahu. Proses menjadi tahu atau “proses . sebaliknya tanpa suatu tujuan. dua kali tiga didapatkan hasil enam. justru kecenderungan ini mulai memperoleh perhatian yang sangat besar di kalangan para pemikir. Objek material adalah sarwayang-ada. dan juga pengusaha. Tanpa suatu sasaran. tetap saja membutuhkan banyak cara untuk mewujudkan keinginan pemikirnya. Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. Selanjutnya. sedang berpikir dalam kecenderungan kedua (satu objek untuk tujuan yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian hasil yang sebanyak-banyaknya. sehingga siswa benarbenar mampu memahaminya dan mampu mengembangkan perkalian angka-angka lainnya. sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan. mustahil tujuan bisa terealisir. bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari. Kecenderungan ini justru memiliki efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan bersifat dinamis. Objek epistemologi ini menurut Jujun S. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Sebagai sub sistem filsafat. tentu akan dapat mengetahui hasilnya. Namun. akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu. sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif. acapkali tidak mengetahui prosesnya.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan. tetapi seseorang yang mengetahui hasilnya. sedangkan keadaan kedua lebih berorientasi pada proses. maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali. sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. Keadaan pertama hanya berorientasi pada hasil. perekayasa. Secara global. bahkan hafal. Hal ini merupakan implikasi dari tekanan masing-masing pola berpikir tersebut. mendorong kreativitas seseorang. yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.

tanpa menyadari semuanya yang hanya sekedar salah satu sarana dari sains untuk mengukuhkan objektivitas dalam memahami sesuatu. semuanya tergantung pada titik tolaknya. Bangunan pengetahuan bagaikan bangunan rumah. seseorang tidak sekedar mengetahuai sesuatu atas informasi orang lain. maupun motif-motif yang mendasarinya. ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. sehingga banyak pakar yang sangat kuat berpegang teguh pada metode dan cenderung kaku dalam menerapkannya. Dengan demikian. Penguasaan terhadap proses tersebut berfungsi mengetahui dan memahami pemikiran seseorang secara komprehensif dan utuh. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah. alasan dan motif ini belum dikenali. E. Kekuatan bangunan rumah bisa diandalkan berdasarkan kekuatan fundamennya. Dengan membawa kuncinya. yang jelas dalam kenyataanya metode ilmiah telah dijadikan pedoman . Sedangkan landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah. Faktor. sebab tidak ada pemikiran yang terpenggal begitu saja. Dengan demikina. Proses ini bisa diibaratkan seperti kunci gudang. pemahaman dan pengembanganpengembangannya. maka dia akan mampu mengenali pemikiran orang lain dengan baik. tanpa ada alasan-alasan yang mendasarinya. LANDASAN EPISTEMOLOGI Landasan epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan. Sebaliknya. sehingga dia dapat memakluminya. tetapi benar-benar tahu berdasarkan pembuktian melalui proses itu. padahal mereka belum pernah melacak proses terjadinya pemikiran itu. Bangunan pengetahuan menjadi mapan. Begitu pentingnya fungsi metode ilmiah dalam sains. sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syaratsyarat tertentu. Jadi. metode ilmiah merupakan penentu layak tidaknya pengetahuan menjadi ilmu. konsep dan teorinya. jika memiliki landasan yang kokoh. alasan dan motif itu maupun komponen yang lain sesungguhnya termasuk dalam mata rantai proses sebuah pemikiran. Sikap ini mencerminkan bahwa mereka berlebihan dalam menilai begitu tinggi terhadap metode ilmiah. Di dalam filsafat pengetahuan. jika seseorang terlebih dahulu berupaya mengenali faktor.pengetahuan” inilah yang menjadi pembuka terhadap pengetahuan. maka gudang itu akan segera dibuka. maka acapkali seseorang tidak akan bisa memahami pemikiran orang lain. termasuk juga ide. akan dipengaruhi atau tergantung landasannya. tetapi terlepas dari sikap tersebut yang seharusnya tidak perlu terjadi. Ketika faktor. gagasa. tetapi dia tetap hanya apriori semata. akhirnya berkembang menjadi: sains adalah metode. alasan-alasan yang melatar belakangi. seakan-akan mereka menganut motto: tak ada sains tanpa metode. sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan. Dalam kehidupan masyarakat tidak jarang terjadi sikap saling menyalahkan pemikiran seseorang. alasan dan motif tersebut. meskipun seseorang diberi tahu bahwa di dalam gudang terdapat bermacam-macam barnag. sedangkan landasan bagaikan fundamennya. Sesungguhnya sikap berlebihan itu memang riil. Timbulnya suatu pemikiran senantiasa sebagai akibat adanya faktor-faktor yang mempengaruhi. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yang tercantum dalam metode ilmiah. karena tidak pernah membuktikan. Demikian juga dengan epistemologi. sebab ia merupakan tempat berpijak. kemudian diperiksa satu persatu barang-barang yang ada didalamnya.

Sesuatu fenomena pengetahuan logis.dalam menyusun.Senn mengemukakan. disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang dianutnya. dalam metodologi dapat ditemukan upaya membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan metode. dan sebagainya. sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah diatur berdasarkan metode ilmiah. Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam penelitian. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah. kelemahan dan kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. Pada bagian lain. Jika metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu. antara metode. juga sering disebut ilmu dan sains. membangun dan mengembangkan pengetahuan ilmu. metodologi dan epistemologi. bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain. logis dan empiris. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa. Implikasinya. batasbatasanya. HUBUNGAN EPISTEMOLOGI. tampaknya perlu memahami terlebih dahulu makna metode dan metodologi. sedangkan substansisnya relatif sama. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah. melaikan termasuk wilayah filsafat. karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. “Dalam dunia keilmuan ada upaya ilmiah yang disebut metode. Secara sederhana dapat dikatakan. Disini perlu dibedakan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan (ilmu). Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan. sistematis. sumber-sumbernya. mengingat dalam kehidupan sehari-hari sering dikacaukan antara metode dengan metodologi dan bahkan dengan epistemologi. misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut. sehingga timbul sifat-sifat atau ciri-cirinya. Pengetahuan adalah pengalaman atau pengetahuan sehari-hari yang masih berserakan. sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode. juga bisa disebut pengetahuan sehari-hari. Lebih jauh lagi Peter R. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan. Dengan istilah lain. Untuk mengetahui peta masing-masing dari ketiga istilah ini. maka metodologilah yang mengkerangkai secara konseptual terhadap prosedur tersebut. Padahal mestinya dia harus . METODE DAN METODOLOGI Selanjutnya perlu ditelusuri dimana posisi metode dan metodologi dalam konteks epistemologi untuk mengetahui kaitankaitannya. objektif. kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan. yaitu rasio dan fakta secara integratif F. tetapi tidak empiris. “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis”. atau pengalaman sehari-hari. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”. Hal ini perlu penegasan. Kholil Yasin menyebut pengetahuan tersebut dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary knowledge).

apa yang benar dan dapat dipergunakan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. membedakan cabang-cabangnya yang pokok. dapat dijelaskan urutanurutan secara struktural-teoritis antara epistemologi. bahwa penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivisme. Kemudian berbicara tentang metodologi yang berarti berbicara tentang cara-cara atau metode-metode yang digunakan oleh manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran. sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham determinsime. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi. G. tentu lebih sulit lagi. Dengan demikian. Metode pengetahuan berada dalam dataran filosofis-teoritis. tetapi bahasan filsafat tidak hanya epistemologi karena masih ada bahasan lain. sedangkan penelitian kualitatif menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). Lingkaran besar disini diumpamakan filsafat. lingkaran kecil berupa epistemologi. metode merupakan perwujudan dari metodologi. dan dalam lingkaran kecil masih terdapat lingkaran yang lebih kecil lagi. Oleh karena itu. epistemologi mencakup bahasan metodologis. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat. yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik. sesuatu yang ditentukan oleh yang lain). Pandangan yang lebih ekstrim lagi . problem penyelidikan ilmiah yang secara filosofis menjadi kajian utama cabang epistemologi yang berkaitan dengan problem metodologi juga berkaitan dengan rancangan tata pikir. karena ada bahasan lain. istilah metodologi berkaitan dengan praktek epistemologi. Secara lebih khusus. yaitu ontologi dan aksiologi. batas. metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi. maka dia harus mengacu pada metodologi. karena ita tidak bisa menangkapnya.benar-benar memahami. sasaran dan dasar pengetahuan. baik dalam aspek parsial atau total. Filsafat mencakup bahasan epistemologi. sumber. Apalagi hakikat epistemologi. HAKIKAT EPISTEMOLOGI Pembahasan tentang hakikat. Lebih jelas lagi. Metodologi inilah yang memberikan penjelasan-penjelasan konseptual dan teoritis terhadap metode. dilanjutkan dengan merinci pada metodologi. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat. Demikian juga epistemologi mencakup bahasan metode (metodologi). metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi. “Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral epistemologi. mengingat pembahasan tentang seluk-beluk metode itu ada pada metodologi. validitas. Jadi. struktur. Posisi masing-masing istilah ini. mengidentifikasikan sumbersumbernya dan menetapkan batasbatasnya. namun bahasan epistemologi bukan hanya metode semata-mata. tetapi masalah-masalah ini bukanlah semata-mata masalah-masalah filsafat. Dalam filsafat. seperti lingkaran besar yang melingkari lingkaran kecil. tumpuan. dan lingkaran yang lebih kecil kecuali berupa metodologi. Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan. kecuali ciri-cirinya. seperti: hakikat. macam. bahwa seseorang yang sedang mempertimbangkan penggunaan dan penerapan metode untuk memperoleh pengetahuan. Ini berarti bahwa filsafat mencakup bahasan epistemologi. sedangkan metode penelitian berada dalam dataran teknis. Untuk lebih jelas lagi perlu dibedakan adanya metode pengetahuan dan metode penelitian. kendatipun tidak bisa dipisahkan. lagi-lagi terasa sulit. unsur. maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat.

bahwa persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemologi pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi masingmasing. Ada yang menyatakan. Ini berarti tidak ada disiplin ilmu lain. melainkan termasuk dalam kajian psikologi.Hunt yang menilai. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja. Selanjutnya. Sebab epistemologi itu berkenaan dengan pekerjaan pikiran manusia. tidak bisa lepas dari ontologi dan aksiologi. Sejak semula. Metodologi misalnya telah digabungan secara teliti dengan epistemologi dan logika. the workings of human mind. padahal realitasnya banyak sekali. atau sekedar memiliki persentuhan yang erat dengan epistemologi. ontologi dan aksiologi). Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. bahwa posisi logika berada diluar ontologi. Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. justru karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh kontroversi. epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat. Tidak semua objek mesti . karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan pikiran. apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik tidak usah diketahui. bahwa filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu. diluar epistemologi sama sekali.menurut Kelompok Wina. epistemologi tersebut sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh melalui perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis. Di samping itu. kecuali psikologi. sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika sendiri. epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit. sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. Cara pandang demikian akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia. Luasnya jangkauan epistemologi ini menyebabkan objek pembahasannya sangat detail dan pelik. logika itu sendiri patut dipertanyakan. Dalam epistemologi terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya. walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan. bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat. Honer dan Thomas C. epistemologi dan aksiologi. Jujun S. pengetahaun merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaaan padangan tentang eksistensi epistemologi ini agaknya bisa dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M. Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. Oleh karena itu. Menurut. Sementara itu. maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidangbidangnya. Suriasumatri. apakah logika itu bagian dari epistemologi. Dalam pemahaman yang sederhana epistemologi memiliki interrelasi (saling berhubungan dengan komponen lain. apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui. dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. Selain itu. maka minat untuk membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya untuk melebihi takaran minat kita. Kemudian jika diingat.

Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. berarti dia menggunakan pendekatan induktif. maka menimbulkan pemahaman. maka suatu temuan dianggap benar. berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. H. bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya. akan kehilangan kekhasannya. dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu bertumpu pada landasannya. maka tindakannya itu justru merugikan. sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. Ilmu pengetahuan harus berkembang terus.dijelajahi oleh pengetahuan manusia. ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang. sebab ilmu pengetahuan yang berhenti. yaitu masa lampau yang telah dilalui. Sebagai teori pengetahuan ilmiah. epistemologi adalah teori pengetahuan ilmiah. Selama belum digugurkan oleh temuan lain. yakni pikiran dan indera. Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi. sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam. atau deduktif dengan induktif). Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. Pada bagian lain dikatakan. epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan dalam membentuk dirinya. Popper. bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme. sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius. PENGARUH EPISTEMOLOGI Bagi Karl R. sedangkan usaha untuk membuktikan adalah aplikasi berpikir empiris. Sebaliknya. Usaha menafsirkan adalah aplikasi berpikir rasional. Tetapi. karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. jika dilihat dari kepentingan jangka panjang. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia. sehingga tidak perlu diketahui. Oleh sebab itu. Perkemabangan ilmu pengetahuan dengan demikian membuktikan. Perbedaan hasil teman dalam masalah . ilmu pengetahuan harus ditangkap dalam pertumbuhannya. baruk ditarik kesimpulan secara umum. Hal ini juga bisa dikatakan. Gabungan kedua macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah. Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis. sedangkan usah membuktikan berkaitan dengan induksi. meskipun memungkinkan untuk diketahui. sehingga tidak mungkin bisa diketahui. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh. Kedua cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran. bahwa kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat tentatif. sehingga tidka jarang temuan ilmu pengetahuan yang lebih dulu ditentang atau disempurnakan oleh temuan ilmu pengetahuan yang kemudian. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali. karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek. ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama. bahwa usaha menafsirkan berkaitan dengan deduksi.

Mohammad Arkoun menyebutkan. epistemologi bisa menentukan cara kerja ilmiah yang paling efektif dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang kebenarannya terandalkan. Kendati terhadap satu persoalan. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains. Ini menunjukkan bahwa epistemologi bisa mengarahkan seseorang untuk mengkritik pemikiran orang lain (kritik eksternal) dan pemikirannya sendiri (kritik internal). bila para ilmuwan memperkuat penguasaannya. mengingat bahwa proses itulah menunjukkan mekanisme kerja ilmiah dalam memperoleh ilmu pengetahuan. maka epistemologi dapat memberikan pengayaan gambaran proses terbentuknya pengetahuan ilmiah. Implikasinya. epistemologi senantiasa mendorong dinamika berpikir secara korektif dan kritis. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia. bahwa keragaman seseorang atau masyarakat akan dipengaruhi pula oleh pandangan epistemologinya serta situasi sosial politik yang melingkupinya. Suatu peradaban. kepercayaan dan sistem nilai mereka. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam. sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. baik yang dimiliki seseorang maupun masyarakat. dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. tidak ada yang aneh sama sekali. Penguasaan epistemologi. sehingga perbedaan pemikiran itu dapat dipahami secara memuaskan dengan melacak akar persoalannya pada perbedaan sudut pandang. sedangkan perbedaan sudut pandangan itu dapat dilacak dari epistemologinya Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Kondisi demikian sesungguhnya dalam dunia ilmu pengetahuan adalah suatu kelaziman. tetapi karena sudut pandang yang ditempuh seseorang berbeda. Akhirnya. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara. tetapi jika dilacak lebih . banyak konsep dari pemikiran filosof yang kemudian mendapat serangan yang tajam dari pemikiran filosof lain berdasarkan pendekatan-pendekatan epistemologi. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh. Melalui pelaksanaan fungsi dan tugas dalam menganalisis prosedur ilmu pengetahuan tersebut. Koreksi secara kontinyu terhadap pemikirannya sendiri ini untuk menyempurnakan argumentasi atau alasan supaya memperoleh hasil pemikiran yang maksimal. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Keberangaman pandangan seseorang dalam mengamati suatu fenomena akan melahirkan keberagaman pemikiran. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Dalam filsafat.yang sama ini disebabkan oleh perbedaan prosedur yang ditempuh para ilmuwan dalam membentuk ilmu pengetahuan. terutama cara-cara memperoleh pengetahuan yang membantu seseorang dalam melakukan koreksi kritis terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Dinamika pemikiran tersebut mengakibatkan polarisasi pandangan. sehingga perkembangan ilmu pengetahuan relatif mudah dicapai. Proses ini lebih penting daripada hasil. pada gilirannya juga menghasilkan pemikiran yang berbeda. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. ide atau gagasan. ilmu-ilmu mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu— dipandang dari keyakinan. sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi.

Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. mungki saja mengalami kegagalan tetapi kegagalan itu dimanfaatkan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan. melainkan mutlak perlu dikuasai. intuisi. merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. kemudian disusun secara sistematis menjadi ilmu pengetahuan (sains). technology is an apllied of science (teknologi adalah penerapan sains). Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan. empirisme. 2. Akhirnya ilmu pengetahuan tersebut diaplikasikan melalui teknologi. yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu. yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme. Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. Pemikiran pada wilayah proses dalam mewujudkan teknologi itu adalah bagian dari filsafat yang dikenal dengan epistemologi. Secara ontologis. ILMU oleh: anin • • • • More About : epistemologi EPISTEMOLOGI IL Pengarang : Elvira Syamsir Summary rating: 2 stars (328 Tinjauan) Kunjungan : 23711 kata:600 suparmanhttp://www. 1. dan sebagainya. Akal. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. metode atau cara memperoleh pengetahuan. asal mula pengetahuan.jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi.blogger. Sebab dibalik kegagalan itu ditemukan rahasia pengetahuan. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. objek dibahas dari keberadaannya. naturalsime dan empirisme. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu. yaitu ontologi. perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu. yakni realisme.c om PARAGRAPH BARU LAGI EPISTEMOLOGI Filsafat Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. akal budi. apakah ia materi atau bukan. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). berupa faktor-faktor penyebabnya. epistemologi. sarana. maka epistemologi bukan hanya mungkin. Jadi kronologinya adalah sebagai berikut: mula-mula seseorang berpikir dan mengadakan perenungan. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. sehingga didapatkan percikan-percikan pengetahuan. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). sum-ber pengetahuan. dan aksiologi. Pada awalnya seseorang yang berusaha menciptakan sesuatu yang baru. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. atau kombinasi akal dan pengalaman. Berdasarkan pada manfaat epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradaban tersebut. . Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis. pengalaman.com/profile/0 3249547895308622683noreply@blogger.

shvoong. Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar. fenomenologi dan sebagainya. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). Akan tetapi. Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla.. tentang ada dan keberadaan.rasionalisme kritis. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. tentang perkara-perkara eksistensial. Akan tetapi. 2008 Sumber: http://id. Wujud anda ekuivalen dengan pengenalan Anda dan viceversa. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. Pengantar Memasuki Ranah Ontologi Anda dan vice-versa.. manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang hidup dan kehidupan.. Semakin besar pengenalannya. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang . Karena nilai dan kualitas keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti.. seperti teori koherensi.bla. Anda dikenal atas apa yang Anda kenal. para arif berkata kenalkan diriMu kepadaku. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia.. Penulusuran. korespondesi pragmatis. di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu.bla. Diterbitkan di: 18 Maret. Secara rasional. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar." "Tuhanku.com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1JmIRVKqJ PARAGRAPH BARU YA…. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. dan teori intersubjektif.? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia. positivisme. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. sikap.bla. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara. 3. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji." Introduksi Pandangan dunia (weltanschauung) seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. Epistemologi. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban dan sebaliknya akan membuatnya terpuruk hingga titik-nadir peradaban. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Till death do us apart. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. sebagai makhluk dinamis dan progressive.? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia..bla. sebagai makhluk dinamis dan progressive. ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. matematika dan statistika. dan jahil ini berkata kenalkan diriku kepadaku. semakin luas dan dalam pandangan dunianya. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak teruji. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak.

sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Atau dengan kata lain. kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. Yakni. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada. Ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu naratif lainnya ternyata tidak mampu memberikan jawaban utuh dan komprehensif atas masalah ini. Dengan kata lain. Hakikat itu bisa dicapai. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu. Betapa tidak. Penulusuran. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Karena baik dari sisi metodologi atau pun subjek keilmuan. pengetahuan.[3] Walhasil. theory. apakah ia absah atau tidak dalam menguak realitas. Dengan demikian. Atau sederhananya. dalam menguak realitas terdapat perdebatan panjang semenjak zaman Yunani Kuno (lampau) hingga masa Postmodern (kiwari) antara kubu rasionalis (rasio) dan empiris (indriawi dan persepsi). 3. Hakikat itu ada dan nyata. Till death do us apart. harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai hakikat sebagaimana adanya. filsafat menggunakan metodologi rasional dan subjek ilmu filsafat adalah eksisten qua eksisten. asumsi dasar. Tentu saja. 2. Apa itu Epistemologi Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. Apabila manusia melontarkan suatu pertanyaan yang baru. tentang ada dan keberadaan. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat.[2] Betapa pun. penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum (objek). sifat-sifat. diketahui. sifat-sifat. Akal dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. sebelum memasuki gerbang filsafat terlebih dahulu instrument yang digunakan dalam berfilsafat harus disepakati. dan dipahami. Pada dasarnya. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan hadir untuk mencoba memberikan jawaban atas masalah ini. Manusia bisa memiliki ilmu. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. asumsi dasar. pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya. Semenjak Plato hingga Michel Foucault dan Jean-François Lyotard. dan makrifat atas hakikat itu. akal yang digunakan sebagai instrument berfilsafat harus diuji dulu validitasnya. Kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu. pengetahuan. epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul. keraguan ini akan menguat khususnya apabila kita mengamati kesalahan-kesalahan yang terjadi pada indra lahir dan kontradiksikontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang sejarah manusia? Persoalan-persoalan terakhir ini berbeda . dan logos. Dan ini adalah raison d'être pembahasan epistemologi. tentang perkara-perkara eksistensial. Tuntutan fitrah manusia dan rasa ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. 4. Manusia dengan latar belakang.hidup dan kehidupan. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asalusul.[1] Karena uslub atau metodologi ilmu-ilmu di atas adalah bercorak empirikal.

Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas eksternal. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna. bentuk. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan memperhatikan definisi epistemologi. maka dari sudut mana subyek ini dibahas. pembagian dan observasi ilmu. makrifat dan pengetahuan. Sudut pembahasan. d. e. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang jauh. akan tetapi. dan ilmu manusia. Terkadang kita mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan dibidang ontologi dan filsafat. dan juga meliputi ilmu-ilmu seperti hudhûrî. validitas. tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. Sisi pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. Dengan demikian. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. Ilmu ialah gabungan proposisi-proposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik. Dan dari sisi ini. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini. Cakupan pokok bahasan. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. c. dan pengetahuan manusia. keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah yang diperdebatkan. Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang bersifat empirik. dua poin penting akan dijelaskan: 1. Ilmu adalah pembenaran (at-tashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini. Pertanyaanpertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. tolok ukur kebenaran hasil pikiran. keterampilan. yakni persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat.dengan persoalan-persoalan sebelumnya. makrifat. keabsahan. Istilah-istilah ilmu tersebut adalah sebagai berikut: a. teknologi. dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal. ilmu Tuhan. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. Dengan ungkapan lain. sains. dan batasan-batasan pengetahuan. dan kebenaran ilmu. hushûlî. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu sebelumnya dan faktor riil yang menjadi penyebab hadirnya pengindraan adalah dibahas dalam ilmu logika. i. Keraguan-keraguan ini akan semakin kuat dengan adanya kemungkinan kesalahan penampakan oleh teropong. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. Dengan demikian. dan psikologi. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan . nilai dan keabsahan pikiran. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. alat. b. tolok ukur. masih merupakan persoalan-persoalan aktual dan kekinian bagi manusia. Ilmu adalah kehadiran (hudhûrî) dan segala bentuk penyingkapan. ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokok-pokok pembahasannya. persepsi-persepsi pikiran. h. definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini. yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî. g. Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. ilmu para malaikat. Dengan perantara teropong itu sendiri. Namun. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal. Makna ini mencakup ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî. Ilmu yang hanya dimaknakan sebagai ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika (mantik). dasar dan pondasi. 2. logika. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap tingkatan dan pencapaian suatu ilmu. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalah-masalah sejarah dan geografi. Dalam hal ini. dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran besar atau kecil?. kemahiran. Seseorang sedang melihat suatu pemandangan yang jauh dengan teropong dan melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. Sudut pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan ilmu. f. Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas pengetahuan. Makna leksikal ilmu adalah sama dengan pengideraan secara umum dan mencakup segala hal yang hakiki. bisa dikatakan bahwa tema dan pokok pengkajian epistemologi ialah ilmu. Istilah ini digunakan dalam filsafat Islam.

Pada abad ke-5 SM. Aquinas mengikuti Aristoteles dalam masalah tentang persepsi sebagai starting-point dan logika sebagai prosedur intelektual untuk sampai kepada ilmu yang dapat diandalkan (reliable) tentang tabiat. Ilmu diraih baik secara langsung. Maktab Epicurian dan Stoic sepakat dengan pandangan Aristoteles bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari indra-persepsi. Aristotels berpendapat bahwa hampir seluruh ilmu berasal dari pengalaman. Mereka percaya bahwa benda-benda yang dilihat dan diraba adalah kopian-kopian yang tidak sempurna dari bentuk-bentuk yang sempurna yang dikaji dalam ilmu matematika dan filsafat. Sophist Yunani menanyakan kemungkinan reliabilitas dan objektivitas ilmu. filosof Skolastik Santo Thomas Aquinas dan beberapa filosof abad pertengahan berusaha membantu untuk mengembalikan konfidensi terhadap rasio dan pengalaman. Filosof Yunani berikutnya yang berbicara tentang epistemologi adalah Aristoteles. Mereka menyimpulkan bahwa kontemplasi filosofis tentang bentuk-bentuk dunia gaib merupakan tujuan tertinggi kehidupan manusia. berpendapat bahwa tidak ada yang benar-benar wujud. akan tetapi memandang iman dalam otoritas skriptual sebagai nara sumber keyakinan agama. yang melaluinya ilmu pasti dan eksak dapat diraih. akan tetapi menentang keduanya baik Aristoteles atau pun Plato yang berpandangan bahwa filsafat harus dinilai sebagai sebuah bimbingan praktis untuk menjalani hidup. dan jika ilmu bersifat nisbi. namun tidak setuju dengan metode dalam mencapainya. dengan memanfaatkan sumbersumber beragam seperti karya-karya filosof Aristoteles. Table komparasi epistemology Plato dan Aristoteles . Dengan demikian.dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. atau ide-ide. sementara mengandalkan indrapersepsi menghasilkan pendapat-pendapat yang inkonsisten dan mubham. sebagaimana tertuang pada table di bawah ini. akan membantu menjaga dari perangkapperangkap yang dipasang oleh para Sophist. karena jika sesuatu ada tidak dapat diketahui. cendekiawan Muslim dan Yahudi. Gorgias. meskipun ia belum menggunakan secara resmi istilah epistemology ini. Protagoras. Pemikiran Santo Thomas Aquinas pada masamasa kiwari sangat mempengaruhi irama dinamika teologi Nasrani dan kosmos filsafat Barat. yang pertama kalinya disusun secara sistematis oleh Aristoteles. mencampur metode-metode rasional dengan iman dalam sebuah system keyakinan integral. Ia murid Plato dan pernah tinggal bersama Plato selama kira-kira 20 tahun di Akademia. seorang filosof dan teolog Itali yang bernama Santo Thomas Aquinas berupaya mensintesakan keyakinan Nasrani dengan ilmu pengetahuan dalam cakupan yang lebih luas. dengan mendeduksi kenyataankenyataan baru dari apa yang telah diketahui. Oleh karena itu. hanya penalaran abstrak dari disiplin ilmu ini yang dapat menuai ilmu pengetahuan original. seorang Sophist prominen. Masa Plato dan Aristoteles Plato dapat dikatakan sebagai filosof pertama yang secara jelas mengemukakan epistemologi dalam filsafat. Masalah-masalah Filosofis: Masa Yunani dan Masa Medieval Pada abad ke-13. Setelah beberapa kurun berlalu kurangnya ketertarikan dalam ilmu rasional dan saintifik. mengikuti ustadznya Socrates. berdasarkan aturan-aturan logika. karena setiap pendapat adalah hanyalah sebuah penilaian yang berakar dari pengalaman yang dilaluinya. Plato. Aristoteles mengikuti Plato ihwal ilmu abstrak adalah ilmu yang lebih superior atas ilmu-ilmu yang lainnya. dengan mengabstraksikan ciri-ciri khusus dari setiap spesies. Seorang Sophist ternama lainnya. mencoba untuk menjawab isykalanisyakalan para Sophist dengan mempostulasikan keberadaan semesta yang bersifat tetap dan bentuk-bentuknya yang invisible. Pembahasan tentang epistemologi Plato dan Aristoteles akan lebih jelas dan ringkas kalau dilakukan dengan cara membandingkan keduanya. tidak dapat dikomunikasikan. berpandangan bahwa tidak ada satu pendapat pun yang dapat dikatakan lebih benar dari yang lain. mereka berpendapat sebaliknya bahwa filsafat adalah akhir dari kehidupan. Observasi yang teliti dan ketat dalam mengaplikasikan aturan-aturan logika. atau tidak langsung.

dan filosof Jerman. Mereka berpandangan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah logika deduktif (baca: qiyas) yang bersandarkan kepada prinsip-prinsip swabukti . Jiwa abadi. René Descartes (1596-1650). Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia. (2) Paham dualisme. yang berarti Perbedaan epistemologi Plato dan Aristoteles ini memiliki pengaruh besar terhadap para filosof modern. dan (3) pluralisme dengan berbagai nuansanya. yaitu: (1) Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme. Sedangkan pandangan Aristoteles tentang asal dan cara memperoleh pengetahuan mempengaruhi filsu-filosof Empiris seperti Locke. B. Idealisme Plato mempengaruhi filosof-filosof Rasionalis seperti Spinoza. ruang. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Jiwa terpenjara badan. metode dan batasan pengetahuan manusia (a branch of philosophy that investigates the origin. yakni realisme. AKSIOLOGI DALAM KEILMUAN Filed under: Teknologi Pendidikan by Fadli — 3 Komentar Oktober 4. EPISTEMOLOGI. Sementara kajian objek penelaahan yang berada dalam batas prapengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pascapengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontologi dari pengetahuan lainnya di luar iimu. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Pada masanya. merupakan paham ontologik. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. kebendaan. sifat. sifat. 2010i A. Filosof Francis. Wilhelm Leibniz (1646-1716) adalah para pemimpin kubu rasionalis. hubungan sebab akibat. dan Berkeley. Kehidupan sehari-hari dan alam dunia nyata Observasi dan abstraksi. Mengeluark an dari dalam diri (Anamnesis) dengan metoda bidan Cabang utama metafisika adalah ontologi. diolah dengan logika PARAGRAPH BARU………… ONTOLOGI. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis ialah seperti Thales. Leibniz. kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Plato. waktu. methods and limits of human knowledge). termasuk keberadaan. dan Aristoteles. berasal dari kata Yunani episteme. dan Whitehead. masalah utama yang muncul dalam pembahasan epistemologi adalah resistensi antara kubu rasionalis vis-à-vis kubu empiris (indriawi-persepsi). Ontologi Kenyataan yang sejati Pandangan tentang manusia Asal pengetahua n Cara mendapatk an pengetahua n Terdiri dari badan dan jiwa.Topik Pemikiran Pandangan tentang dunia Plato Ada 2 dunia: dunia ide & dunia sekarang (semu) Ide-ide yang berasal dari dunia ide Aristoteles Hanya 1 dunia: Dunia nyata yang sedang dijalani Segala sesuatu yang di alam yang dapat ditangkap indra Badan dan jiwa sebagai satu kesatuan tak terpisahka n. badan fana (tidak abadi). Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. dan kemungkinan. studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Baruch Spinoza (1632-1677). filosof Belanda. Rasio Vs Indra Persepsi Antara abad 17 hingga akhir abad ke-19. empirisme. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. Dunia ide. Ontologi ilmu membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang bisa dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui panca indera manusia. Epistemologi Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal. Hume. Dan pendekatan ontologi dalam filsafat mencullah beberapa paham. nature. Namun tertanam dalam jiwa yang ada dalam diri manusia. naturalisme.

Menurut Bramel dalam Amsal Bakhtiar (2004: 163) aksiologi terbagi dalam tiga bagian: Pertama. 3) Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai. terorganisasikan dalam kehidupannya. 2) Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu ?. Jika ilmuan tidak dilandasi oleh landasan moral.. Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1) Apakah pengetahuan itu ?. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai dalam perkembangannya melahirkan sebuah polemik tentang kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa disebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). (3) nilai ekonomi : dalam kaitannya dengan nilai ekonomi. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh (Jujun S. 2000: 105). analitis sebagai lawan dari legalitas. dan menghargai hak-hak asasi perempuan. dan logos = teori. Sebaliknya. sebagaimana juga dicirikan sebagai manusia modern: (1) Nilai teori: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai teori dicirikan oleh cara berpikir rasional. ilmuwan hams manrpu ntenilai antara yang baik dan yang buruk. Suriasumantri. pendapat. struktur. yaitu: 1) Nilai. sosio-political life. Ada tiga bentuk value dan valuation. 4) Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinitai ?. pengetahuan. Suriasumantri. yaitu ekspresi keindahan. (2) Nilai sosial : dalam kaitannya dengan nilai sosial. Aksiologi Aksiologi berasal dari kata axios yakni dari bahasa Yunani yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. 2000:36). yang akan melahirkan filsafat sosio-politik.“pengetahuan”. 6) Apa perbedaan di antara: kepercayaan. (4) Nilai pengambilan keputusan: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai ini dicirikan oleh sikap demokratis dalam kehidupannya bermasyarakat. menghargai prestasi. ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value bound. tanpa berpihak kepada siapapun juga selain kepada kebenaratt yang nyata. . Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa aksiologi disamakan dengan value dan valuation. manusia modem dicirikan oleh sikap individualistik. maka peristiwa terjadilah kembali yang dipertontonkan secara spektakuler yang mengakibatkan terciptanya “Momok kemanusiaan” yang dilakukan oleh Frankenstein (Jujun S.esthetic expression. Dengan demikian maka aksiologi adalah “teori tentang nilai” (Amsal Bakhtiar. yang pada hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap (Jujun S. kebolehjadian. dan keputusan yang diambil berdasarkan pada pertimbangan pribadi. (5) Nilai agama: dalam hubungannya dengan nilai agama. gagasan. Ketiga. kesalahan. moral conduct. serta terbuka terhadap ide-ide dan pengalaman baru. 3) Darimana pengetahuan itu dapat diperoleh ?. 2004: 162). efisien menghargai waktu. 1986. kepastian ? Langkah dalam epistemologi ilmu antara lain berpikir deduktif dan induk-tif Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikurnpuikan se. 2000:36). yaitu tindakan moral yang melahirkan etika. fakta. “pengetahuan ilrniah”. jika ternyata putih katakan putih.C 1993). sebagai suatu kata benda abstrak.belumnya Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilnuah disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada. kebenaran. “pengetahuan yang benar”. dan penuh perhitungan. Nilai-nilai yang juga harus melekat pada ilmuan. Suriasumantri. kenyataan. Epistemologi dapat didefmisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. Sedangkan secara ontologi dan aksiologis. Semiawan. Netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologi raja: Jika hitam katakan hitam. Secara konsisten dan koheren maka ilmu mencoba memberikan penjelasan yang rasional kepada objek yang berada dalam fokus penelaahan. manusia modem dicirikan oleh sikapnya yang tidak fatalistik. bersikap positif terhadap keluarga kecil. Sebuah keniscayaan. 5) Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra-pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan puma pengalaman) ?. manusia modem dicirikan oleh tingkat produktivitas yang tinggi. yaitu kehidupan sosial politik. orientasinya pada ilmu dan teknologi. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai. penalaran sebagai lawan dari sikap mistis (Suriasumantri. Sikap inilah yang mengendalikan kekuasaan ilmu ilmu yang besar. bayangan. metode dan sahnya (validitas) pengetahuan. Keduei. 2) Nilai sebagai kata benda konkret. bahwa seorang ilmuwan harus mempunyai landasan moral yang kuat. menghargai profesionalisasi. C.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful