Ontologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri). Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang: 1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak? 2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah: • • • • • • • • yang-ada (being) kenyataan/realitas (reality) eksistensi (existence) esensi (essence) substansi (substance) perubahan (change) tunggal (one) jamak (many)

empiris (misalnya antropologi, sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagainya).

Jul 30, 2007 at 09:16 PM
Oleh: A. Kamil

"Pandangan

dunia

(weltanschauung)

seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar. Semakin besar pengenalannya, semakin luas dan dalam pandangan dunianya. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban. peradaban Karena dan nilai sebaliknya hingga dan akan membuatnya terpuruk titik-nadir kualitas Anda

keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. ekuivalen dengan pengenalan dikenal atas apa yang Anda kenal. Wujud anda

ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu

PENDAHULUAN
Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat, yang pertama di sebut landasan ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut antara merasa ? bagaimana (sepert hubungan berpikir, yang objek dan

pengetahuan Denganb maka

yang

satu

dari lainnya.

pengetahuan-pengetahuan mengetahuan mudah

jawabankita dapat jenis dalam

jawaban dari ketiga pertanyaan ini dengan membedakan pengetahuan berbagai yang terdapat

khasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan berbagai kita mengenali yang ada pengetahuan

tadi dengan daya tangkap manusia mengindera) landasan menjawab membuakan berusaha yang ilmu? timbanya berupa

seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Ilmu di kacaukan dengan seni, ilmu agama, dikonfrontasikan dengan

pengetahuan?. Kedua di sebut dengan epistimologis; bagaimna di yang proses

memungkinkan pengetahuan

Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan itu sendiri? pengetahuan Apakah yang benar? Apa yang disebut kebenaran kriterianya? apa berupa yang ilmu?. Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang

bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu?

membantu kita dalam mendapatkan Sedang yang ketiga, di sebut dengan landasan aksiologi; landasan ini akan menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah moral? berdasarkan Bagaimana metode pilihan-pilihan merupakan ilmiah

PEMBAHASAN

A. Ontologi
Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak ada terikat yang oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang universal, semesta menampilkan pemikiran

kaitan antara teknik prosedural yang operasionalisasi dengan norma-norma

moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis

universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. 1. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat dalam seluruh kuantitas realitas. atau Bagi jumlah, pendekatan kuantitatif, realitas tampil tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliranaliran Referensi materialisme, atau tentang idealisme, itu naturalisme, hylomorphisme. kesemuanya

metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan posteriori. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Contoh : Sesuatu yang bersifat menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a

penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan pertama diuraikan di oleh di aristoteles belakang ketengahkan dalam hylomorphisme

lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri (S-Tt) Jadi, badan itu fana’ (S-P) Sedangkan pembuktian a

bukunya De Anima. Dalam tafsirantafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. 2. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas umum sesuatu sesuatu yang yang objek; menjadi sejenis. sedangkan cirri semua abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat Abstraksi

posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term realitas tengah yang a menunjukkan dinyatakan hanya saja posterioris akibat dalam cara disusun

kesimpulan pembuktian

dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : (Tt-S) Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan (Tt-P) Gigi geligi itu gigi

geligi rahang dinasaurus

Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (S-P)

Bandingkan pembuktian posteriori. a Yang

tata priori

silogistik dengan a di

yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Manusia dari itu tidak yang dapat kita lah memiliki maka

apriori

berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.[2] Sementara Jujun S. Suriasumantri dalam pembahasan juga tentang tentang ontologi dan memaparkan asumsi

pengetahuan pertanyaan caranya

sejati,

mengajukan memperoleh

“bagaimanakah kita

pengetahuan”?[3]

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme

peluang. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut.
B. Epistemologi

Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaanpertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang

Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalamanpengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objekobjek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidaktidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
b. Rasionalisme

Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman palingpaling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan

Dengan demikian data yang dihasilkannya bahan yang dapat merupakan pengetahuan tetap mengatakan pengetahuan pengalaman. Tetapi rasionalisme karena akal intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan dalam darinya. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. Kant membuat pengalaman. d. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. artinya. secara dengan tidak akan jalan dapat dari menggantikan hasil pengenalan langsung pengetahuan intuitif. sebagaimana berharga terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam sistematis pernah pengetahuan sesuatu sendiri. Bagi Kant para benar bahwa penganut bila semua benar tentang gejala pengalaman baik maupun empirisme berpendapat pengalaman pengalaman pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun para juga penganut benar. hanya untuk sebagian. pengetahuan (Phenomenon). Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. atau pengetahuan yang diperoleh pelukisan.terletak di dalam ide kita. didasarkan tetapi tambahan dihasilkan dengan bahwa pada harus dengan bagi pengetahuan di samping oleh penginderaan. Hendaknya diingat. intuisi adalah Intusionisme – setidak-tidaknya beberapa bentuk-hanya bahwa mengatakan pengetahuan yang lengkap di . memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. seperti bentuk-bentuk dengan jalan intuisionisme memungkinkan pengalaman dan disusun secara penalaran. demikian meliputi inderawi intuitif. bentuk samping Immanuel Kant. Analisa. Salah unsur paham adanya pengalaman satu yang ini di antara Bergson suatu di unsutdalam ialah. Kant masih benar melainkan tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. c. Fenomenalisme Bapak uraian Baran Fenomenalisme tentang sesuatu adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Intusionisme Menurut Bergson. Karena itu kita tidak mempunyai tentang barang hanya keadaanya pengalaman yang dihayati oleh indera.

Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang sebagai kenyataan. pertanyaanpertanyaan elakkan. Sebenarnya pertumbuhannya terkait moral dengan namun sejak ilmu dalam saat sudah perkataan lain. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. mempertanyakan ilmu itu hal-hal yang bersifat seharusnya: sebenarnya harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana harus urgensi perkembangan diarahkan? bagi ilmuan dan namun keilmuan merupakan seperti ilmuwan yang menampak kepada kita. masalah-masalah perspektif yang berbeda. Aksiologi Pertanyaa semacam ini jelas tidak Copernicus. belaka. pertanyaan Dan menjawan ilmuan Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan dan yang mempengaruhi manusia itu reproduksi gejala penciptaan sendiri. C. Galileo seangkatannya. bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan ini ini kekhawatiran tak untuk dapat di perang dunia ketiga. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang berputar yang kesemestaan bahwa mengelilingi alam dan yang menemukan “bumi perkataan lain.” Menghadapi kenyataan seperti ini. yaitu tidak sesuatu lawan dari apa yang diberikan Mereka sesuatu merupakan mengatakan. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan dehumanisasi itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kamanusiaan mengubah sendiri. itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kemanusiaan mengubah sendiri.peroleh melalui intuisi. e. “bukan lagi Goethe matahari” ajaran dan bukan sebaliknya seperti apa dinyatakan oleh . barang pernah seperti menampak oleh intuisi.” melainkan faust yang menciptakan Goethe. ilmu adanya untuk yang mulai apa pada alam hakikatnya sebagaimana mempelajari analisa. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. maka berpaling kepada hakikat moral. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang saja-yang meliputi sebagian oleh diberikan yang menciptakan Faust. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri.

agama untuk bahwa menjawab pertanyaan-pertanyaan. Jadi pada dasarnya ini apa adalah apa yang bidang berusaha yang cara menjadi ontologi untuk kajian dalam Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi Galileo pengadilan dipaksa pernyataanya pada pengadilan oleh tersebut.agama. pengetahuan kaitan antara berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana penggunaan kaidah-kaidah penentuan Bagaimana prosedural dengan tersebut moral? objek kaitan yang yang dengan Bagaimana ditelaah teknik ilmiah berdasarkan pilihan-pilihan moral? antara merupakan norma-norma berputar mengelilingi matahari. dalam avontur intelektual?). Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi maka untuk Tanpa ilmuwan dapat yang ini menemukan landasan mudah melakukan Penalaran harkatnya berganti sekali kebenaran. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan diluar antaranya bidang agama.” yang berkonotasi metafisik. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral ajaran (yang agama) bersumber pada rasionalisasi mendustakan “segalanya Alice dalam yang punya bersifat kebenaran. sedangkan di pihak lain. (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran keilmuan di petualangannya (adakah dalam esensial negeri ajaib. Sejarah rela kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. telah membawa manusia mencapai sekarang dengan proses mengindera) membuakan . operasionalisasi metode moral/professional?[4] PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : Ontologis. (1564-1642). mencabut bumi inkuisisi Galileo pada tahun 1633. tergelincir rasional 1. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. yang objek merasa tadi dan daya tangkap manusia moral prostitusi secara seperti intelektual.” lebih kemerlap yang keberanian yang gelap. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan dengan (sepert antara berpikir. kata di moral. “asalkan kau mampu menemukannya.

1995. hal. hal. Pengantar filsafat. [2] Prof. 34-35. 1996. 34-35. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. H. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. merasa. berupa ilmu? [1] Jujun S. 135-136. [5] Jujun S. 2001 [3] Louis O. Pustaka Sinar Harapan. Pengantar filsafat. Suriasumantri. Aksiologi menjawab. Pustaka Sinar Harapan. Kattsouff. Jakarta. Suriasumantri. 1996. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan. Tiara Wacana. Dr. [4] Jujun S. Kattsouff. Penerbit Rake Sarasin. Filsafat Ilmu.pengetahuan?. 34-35. Noeng Muhadjir. hal. H. Filsafat Ilmu. . Suriasumantri. Yogjakarta. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan ditelaah antara metode kaidah-kaidah berdasarkan teknik ilmiah moral? pilihanyang normaBagaimana penentuan objek yang pilihan moral? Bagaimana kaitan prosedural dengan merupakan norma moral?[5] operasionalisasi Ontologi(HakikatIlmu) Obyek apa yang telah ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. 2. Prof. Hal. 1996. Dr. Tiara Wacana. Penerbit Rake Sarasin. Paragrap Baru ya Jeeng!! prosedurnya? apa yang harus di perhatikan agar mendapatkan benar? Apa itu pengetahuan yang disebut Apakah kebenaran kriterianya? sendiri? Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang apa yang membantu kita dalam mendapatkan berupa ilmu?. Jakarta. Yogjakarta. 3. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna memungkinkan pengetahuan Bagaimana kita yang yang proses di yang timbanya Hal-hal Yogjakarta. 2001. Jakarta. Suriasumantri. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Yogjakarta. Noeng Muhadjir. dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Epistimologi(CaraMendapatkanPengetahuan) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan dengan benar? Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? Aksiologi(Guna Pengetahuan) Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan? Bagaiman kaitan antara cara penggunaan DAFTAR PUSTAKA Jujun S. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Yogjakarta Sidi Gazalba. Sistematika filsafat II. 1996. Louis O.

tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan normanorma moral/profesional? Sumber: http://id.shvoong. namun pertanyaan kemudian yang diajukan Ontologi → ontos = sesuatu yang berwujud. Para filosof yang bermazhab emperisme dalam membuktikan tentang kelebih-dahuluan epistemologi dari ontologi mengatakan bahwa epistemologilah yang yang lebih dulu ada. Thomas Hobbes. Ontologi sebagai cabang filsafat bertugas memberi jawaban atas pertanyaan: Apa sebenarnya realitas benda itu?. karl Marx dan David Home.shvoong. Sumber: http://id. bagaimana caranya mereka bisa mengetahui sesuatu itu ada tanpa adanya realitas. namun ada pertanyaan yang bisa diajukan kepada mereka: 1. ataukah memang dia mempunyai keberadaan tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia itu mempunyai keberadaan. jawaban dari pertanyaan diatas akan memberikan gambaran kepada kita bahwa apakah realitas itu ada tanpa kita memberikan penilaian keberadaan terhadap keberadaannya. Kajian mengenai organisasi sosial → terangkum dalam politik . logos = ilmu. mereka mengatakan bahwa epitemologilah yang lebih dulu ada dari pada ontologi. karena dia membuktikan lewat sebuah analisa pengetahuan yang sifatnya emperikal sementara filosof yang lain mengatakan bahwa ontologilah yang lebih dulu ada. hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran → terangkum dalam metafisika). 2. yaitu perdebatan tentang apakah epistemologi yang lebih dulu ada dari ontologi ataukah ontologilah yang lebih dulu ada dari epistemologi. Epistemologi Perdebatan tentang epistemologi adalah sesuatu yang diperdebatkan sepanjang sejarah karena epistemologi adalah hal yang sangat substansil dalam melakukan penilain terhadap sesuatu. dua hal ini kemudian yang memetakan antara aliran pemikiran yang bersifat materialistis dan aliran pemikiran yang bersifat metafisika. John Look. dunia yang dapat dijangkau pancaindra → objek ilmu adalah pengalaman indrawi. apakah keberadaan sesuatu itu karena kita memberikan konsepsi kepada sesuatu itu.com/humanities/philosophy/213 0959-ontologi-epistimologi-dan-aksiologiilmu/#ixzz1Jlm8EN5P Paragrap baru juga ya…. Mazhab berpikir emperisme mengatakan bahwa untuk membuktikan sesuatu itu ada maka kita memerlukan pengetahuan atau epistemologi sebagai sumber dari pengetahuan kita sehingga kita bisa mengatakan dia ada atau tidak ada karena kita punya pengetahuan tentangnya. Ontologi: ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika. apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak? Benarkah ilmu ada? Apakah konsep ilmu sebagai kajian tentang kausalitas itu bermakna di tengah ruang yang tidak terbatas itu? Dari teori hakikat (ontologi) ini → muncul beberapa aliran dalam filsafat Filsafat Materialisme Filsafat Idealisme Filsafat Dualisme Filsafat Skeptisme Pokok permasalahan yang menjadi objek kajian filsafat mencakup: Logika (benar-salah) Etika (baik-buruk) Estetika (indah-jelek) Teori tentang Ada (tentang hakikat keberadaan zat.com/humanities/philosophy/212 3997-ontologi/#ixzz1JlmhXDhr Mengenal EPISTEMOLOGI PART 1 A. Ontologi: ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. ada hal yang mendasar dalam diskusi-diskusi tentang epistemologi. Mempersoalakan tentang wujud hakiki objek ilmu atau keilmuan itu apa? Objek ilmu atau keilmuan adalah dunia empirik. pada umumnya tokoh-tokoh filosof dibarat seperti.

jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. seperti keberadaan bulan dan bintang adalah sesuatu yang niscaya adanya tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia ada atau tidak. buka saja pada redaksinya. dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. hambatan-hambatan belajar. Secara etimologi. bahwa ontologilah yang lebih dulu mempunyai keberadaan. dalam Jujun S. dia baru bisa menjelaskan proses belajar.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. 2003. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan. guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. karena memang pada kenyataannya dia memang sudah mempunyai keberadaan.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. Dalam Epistemologi. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. ini adalah menjadi problem dalam sebuah sains atau pengetahuan yang berdiri diatas pijakan yang emperisme terutama yang dibangun di Eropa terutama pasca Fransisco Bacon Mazhab Metafisika mencoba menjawab. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasanpembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian). 1965. pengandaian- . Sebagai sub sistem filsafat.F. Setelah memahami substansi belajar tersebut. epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. karena tanpa realitas maka mustahil kita bisa mengetahui sesuatu. Jadi. Misalnya. 2005). teori belajar. sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. Sedangkan. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. 3). Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. P.shvoong. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya. Lazimnya. sehingga didapatkan pengertian yang berbeda-beda. hal. Pengertian lain. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. dan logos berarti teori. Ferrier. melainkan juga pada substansi persoalannya. Menurut Musa Asy’arie. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumbersumber pengetahuan ? apakah hakikat.Hardono Hadi menyatakan. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. Diterbitkan di: 11 Nopember. untuk membedakan dua cabang filsafat. Demikian pula. 2010 Sumber: http://id. prinsip-prinsip belajar. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. pembahasan konsep apa pun. epistemologi dan ontologi.Suriasumantri. dan sesuatu itu akan tetap mempunyai keberadaan tanpa kita secara subyektif memberikan penilaian tentang keberadaannya.32). pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis.com/socialsciences/sociology/2073233-mengenalepistemologi/#ixzz1Jln1DVKs Paragraph baru ok! Pengertian Epistemologi oleh: andra5463 Pengarang : radityo Secara historis. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. gaya belajar. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J.kepada kaum emperik adalah dari mana pengetahuan itu bisa ada kalau tidak ada realitas yang lebih dulu ada. tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya. 2). struktur. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan.

Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. Dia menyatakan. yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. seperti teori koherensi. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. pengertian. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut.shvoong. dasar dan pengendaianpengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. rasionalisme kritis. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Secara ontologis. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami. fenomenologi dan sebagainya. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. atau kombinasi akal dan pengalaman. korespondesi pragmatis. EPISTEMOLOGI ILMU oleh: anin Filsafat Pengarang : Elvira Syamsir Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. 2010 Sumber: http://id. akal budi. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. epistemologi. sarana. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). Azyumardi Azra menambahkan. Selanjutnya. intuisi. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. apakah ia materi atau bukan. empirisme. Akal. metode atau cara memperoleh pengetahuan. objek dibahas dari keberadaannya. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme. diungkapkan oleh Dagobert D. sum-ber pengetahuan. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu.Runes. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. pengalaman. yaitu realisme dan idealisme. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. asal mula pengetahuan. Sementara itu.com/humanities/philosophy/208 2651-pengertian-epistemologi/#ixzz1JlnTNlLC Baruuuu………. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak . Sedangkan D. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. naturalsime dan empirisme. metode-metode dan validitas pengetahuan.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah).pengendaian dan dasarnya. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. struktur. yakni realisme. 2. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan. positivisme. dan teori intersubjektif. yaitu ontologi. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. 1. dan aksiologi. Diterbitkan di: 04 Desember. struktur.

Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif. Epistemologi Dari Wikipedia bahasa Indonesia. Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada. (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal. yakni nilai dan validitas ilmu-ilmu lain bergantung kepada ilmu tertentu. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji. dan tolok ukur keterkaitan ini memiliki derajat yang berbedabeda. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. sifat. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. sikap.shvoong. diletakkan sebagai pendahuluan dalam filsafat dan setiap ilmu-ilmu lain. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. 2008 Sumber: http://id. Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan. Namun. diantaranya. serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan. macamnya. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang. BARUUUU LAGI ISYRAQ Mendulang Cahaya Epistemologi. matematika dan statistika. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode. bagaimana karena mengkaji seluruh tolok ukur ilmu-ilmu manusia. maka dari itu ia bisa ditempatkan sebagai dasar dan asas bagi seluruh pengetahuan manusia. dasardasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. misalnya tentang apa itu pengetahuan. ilmu logika yang merupakan alat berpikir manusia dan ilmu yang berkaitan dengan cara berpikir yang benar. Begitu pula. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. pengandaian-pengandaian.com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1Jlo8CibK PARAGRAPH BARU karakteristiknya. Sebagian ilmu merupakan asas dan pondasi bagi ilmu-ilmu lain. dan dari sisi ini. epistemologi (teori pengetahuan). dasar dari semua ilmu empirik adalah prinsip kausalitas dan kaidah ini menjadi pokok bahasan dalam filsafat. metode induktif. 3. Diterbitkan di: 18 Maret. filsafat merupakan dasar dan pijakan bagi ilmu-ilmu empirik. Sebagai contoh. dan jenis pengetahuan. metode positivisme. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Secara rasional. baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. termasuk ilmu logika dan ilmu-ilmu .teruji. Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Ilmu-ilmu yang dimiliki Secercah Teori oleh manusia berhubungan satu sama lain. ilmu tertentu ini dikategorikan sebagai ilmu dan pengetahuan dasar. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. ensiklopedia bebas Epistemologi. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. metode deduktif. metode kontemplatis dan metode dialektis. dengan demikian. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat.

Namun belakangan ini. epistemologi menjadi suatu bidang disiplin baru ilmu yang mengkaji sejauh mana pengetahuan dan makrifat manusia sesuai dengan hakikat. lahir kembali kepercayaan kuat terhadap indra lahir yang berpuncak pada Positivisme. dan tolok ukur kebenaran dan kekeliruan suatu proposisi. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan epistemologi banyak dikaji dalam pembahasan tentang akal. Pengindraan. di Islam. Lahirnya kaidah itu menjadi penyebab berkembangnya validitas sehingga akal dan indra lahir kalinya sedemikian berakibat untuk kedua epistemologi Akan tetapi. Aristoteles. Namun pada sisi lain. objek akal.[1] Dengan alasan itu. dan ilmu merupakan bagian pembahasan tentang makrifat jiwa. persepsi. akan tetapi. merupakan dasar dan pondasi segala ilmu dan pengetahuan. dan makrifat jiwa. dan keberadaan argumentasi akal kontradiksi masalahmasalah pemikiran kemudian berefek pada kelahiran aliran Sophisme yang mengingkari validitas akal dan menolak secara mutlak segala bentuk eksistensi eksternal. Latar belakang hadirnya pembahasan memunculkan keraguan terhadap nilai akal dan indra lahir di Eropa. diletakkan setelah epistemologi. akal teoritis dan praktis. objek luar. Walaupun ilmu logika dalam beberapa bagian memiliki kesamaan dengan epistemologi. epistemologi lantas menjadi suatu disiplin ilmu baru di Eropa yang dipelopori oleh Descartes (1596-1650) dan dikembangkan oleh filosof Leibniz (1646–1716) kemudian disempurnakan oleh John Locke di Inggris. misalnya dalam pokok kajian tentang jiwa. dan setelah Renaissance dan kemajuan ilmu empirik. Hingga tiga abad bukanlah pada dua sebelum suatu abad abad ilmu ini.manusia yang bersifat gamblang. Dalam filsafat Islam permasalahan epistemologi tidak dibahas secara tersendiri. persoalan epistemologi sangat dipandang serius sedemikian sehingga filosof Yunani. yang valid yang rasional. akan tetapi. ilmu logika merupakan ilmu tentang metode berpikir dan berargumentasi yang benar. sebelumnya. epistemologi diposisikan sebagai salah satu disiplin ilmu. dengan demikian. Tuntutan fitrah manusia dan rasa epistemologi itu adalah karena para pemikir melihat bahwa panca indra lahir manusia yang merupakan satu-satunya alat penghubung manusia dengan realitas eksternal terkadang atau senantiasa melahirkan banyak kesalahan dan kekeliruan dalam menangkap objek luar. Pengertian Epistemologi Manusia dengan latar belakang. wujud pikiran. begitu banyak persoalan epistemologi dikaji secara meluas dalam pokok-pokok pembahasan filsafat Islam. dan realitas eksternal. sebagian pemikir tidak menganggap valid lagi indra lahir itu dan berupaya membangun struktur pengindraan . berupaya menyusun kaidah-kaidah logika sebagai aturan dalam berpikir dan berargumentasi secara benar yang sampai sekarang ini masih digunakan. dikategorikan sebagai disiplin ilmu tertentu.[2] 1. khususnya di barat. para pemikir banyak yang sendiri berbeda pendapat akal dalam dan persoalan saling mengenai dalam rasionalitas. kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. Pada era tersebut. kenon-materian jiwa. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain.

tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. 4. Kita bisa mengajukan Seseorang sedang melihat suatu pemandangan jauh melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna. Manusia bisa memiliki ilmu. keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah jelasnya yang yang diperdebatkan. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran. kuat Keraguan-keraguan pertanyaan tentang hakikat itu. yang keraguan ini akan menguat khususnya apabila mengamati pada kesalahan-kesalahan lahir dan terjadi indra sejarah kontradiksi- penampakan pertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal.ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. Hakikat itu bisa dicapai. Hakikat itu ada dan nyata. bentuk. Dengan perantara teropong itu sendiri. contoh teropong Untuk berikut dan lebih ini. dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran ini besar akan atau semakin kecil?. sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. dan dipahami. dan jalan menuju tertutup bagi manusia. persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. Namun. aktual dan kita bagi Terkadang itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang kontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang manusia?Persoalan- . kesalahan Pertanyaan- pertanyaan yang baru. dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal. 2. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. pengetahuan. Akal bisa dan pikiran yang tidak menjawab persoalan-persoalan ilmu dan pengetahuan dihadapinya. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini. 3. hakikat yang manusia dan tidak ingin menggapai mengetahui Manusia persoalan terakhir ini berbeda dengan yakni persoalan-persoalan sebelumnya. akan tetapi. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai kita hakikat sebagaimana adanya. persepsi-persepsi pikiran. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong jauh. masih merupakan kekinian persoalan-persoalan manusia. nilai dan keabsahan pikiran. Dengan ungkapan lain. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. dan makrifat atas hakikat manusia itu. Apabila manusia melontarkan suatu dengan adanya oleh kemungkinan teropong. diketahui. Pada suatu sesuatu dasarnya. perhatikan dengan berupaya diketahuinya. tolok ukur kebenaran hasil pikiran.

Cakupan pokok bahasan. yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. Sudut pembahasan. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu . i. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. alat. Makna leksikal ilmu adalah sama secara dengan umum pengideraan dan mencakup 2. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi.[7] epistemologi. teknologi. Makna ini digunakan dalam filsafat Islam. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan eksternal. dasar dan dan f. dua poin penting akan dijelaskan: 1. Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang bersifat empirik. d. keabsahan. Ilmu yang hanya dimaknakan pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. g. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini.mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. bisa dikatakan bahwa tema dan ialah makrifat dan pengetahuan. ilmu-ilmu dan seperti keterampilan. segala hal yang hakiki. juga meliputi hudhûrî[5]. Dalam hal ini. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan pokok pengkajian memperhatikan epistemologi definisi ilmu. Ilmu (hudhûrî) adalah dan kehadiran bentuk ini ilmu Istilah mencakup segala penyingkapan. pondasi. sebagai (mantik). yakni apakah h. Ilmu ialah gabungan proposisiproposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik.[3] 2. logika. kemahiran. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas dan tentang batasan. e. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan filsafat. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat. Istilah-istilah ilmu j. kebenaran makrifat. ilmu. ilmu para malaikat. maka dari sudut mana subyek ini dibahas. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. sains. Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalahmasalah sejarah dan geografi. ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika Ilmu adalah pembenaran (attashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini[6]. subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî[4]. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. validitas. tolok ukur. dan ilmu manusia. b. Dengan demikian. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. dan psikologi. pengetahuan manusia. c. ilmu Tuhan. hushûlî dan ilmu hudhûrî. Sisi dibidang ontologi dan hushûlî. tersebut adalah sebagai berikut: a.

Ilmu tafsir adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan metode penafsiran kitab suci.sebelumnya penyebab dan faktor riil yang menjadi adalah definisi ini. karena akar pembahasan ini terkait langsung dengan pembahasan epistemologi. Ilmu kalam (teologi) ialah suatu ilmu yang menjabarkan proposisiproposisi teks suci agama dan penyusunan argumentasi demi mempertahankan peran dan posisi agama. Urgensi Epistemologi Jika kita perhatikan definisi epistemologi dan hubungannya dengan ilmu-ilmu lainnya. maka jelaslah mengenai urgensi kajian epistemologi. ilmu. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu Logika. pengetahuan[8]. metode bahwa definisi maka ilmu ini dan menjadi adalah Filsafat. atau akal dan agama. khususnya pembahasan yang terkait dengan kontradiksi ilmu dan agama. 3. diasumsikan mengenai kemampuan. dan pembagian dan batasan-batasan metode-metode yang ditetapkan oleh ilmu dipertanyakan rekonstruksi. epistemologi berperan sentral sebagai alat penting bagi kedua ilmu tersebut. menggunakan akal dan rasio. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap ilmu. kodrat. atau pengkajian seputar pluralisme dan hermeneutik. Hubungan epistemologi dengan Teologi dan ilmu tafsir. 5. b. Hubungan Epistemologi dengan IlmuIlmu Lain a. dan hakikat keberadaan. maka mustahil kita membahas mengungkap logika masih tentang suatu perlu metode hakikat akal dan untuk bahkan dan hadirnya pengindraan dibahas dalam ilmu logika. Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas observasi pengetahuan. tingkatan Sudut dan pencapaian suatu pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaanperbedaan ilmu. Jadi. 4. Dan dari sisi ini. pokok-pokok analisa akal. bisa dikatakan bahwa epistemologi jika dikaitkan dengan ilmu logika dikategorikan sebagai pendahuluan dan mukadimah. Dengan memperhatikan . karena untuk menjelaskan memerlukan analisa lain. Sementara filsafat dalam pengertian khusus (metafisika) adalah membahas kaidah-kaidah umum tentang eksistensi[9]. dan validitas akal dalam memahami hakikat dan realitas eksternal. c. Metode Epistemologi Dengan pengertian jelaslah memperhatikan epistemologi. Pengertian terhadap pengenalan realitas eksternal. telah Dalam dua pengertian tersebut. epistemologi dan ilmu logika merupakan mukadimah bagi filsafat. Dengan demikian. yakni metode yang digunakan oleh akal untuk menyelami dan memahami realitas eksternal sebagaimana adanya dalam penggambaran dan pembenaran. Hubungan epistemologi umum filsafat eksistensi dengan adalah (ontologi). ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokokpokok pembahasannya. karena apabila kemampuan dan validitas akal belum dikaji dan ditegaskan. Ilmu logika adalah suatu ilmu yang mengajarkan tentang metode berpikir benar. Dan dari dimensi untuk menguraikan sumber epistemologi dan perubahan yang terjadi di sepanjang sejarah juga menggunakan metode analisa sejarah. walhasil masih menjadi hal yang diragukan. Jadi. bahasannya Yang koridor dimaksud ilmu-ilmu kajian metode akal di sini adalah meliputi seluruh rasional dalam hushûlî dan ilmu hudhûrî.

ini tersebut? adalah Dengan inti begitu. Manusia ialah maujud yang berakal dan politik adalah hal yang juga tak bisa disangkal Plato Anda bisa berkata bukan dikatakan penguasa Yunani ketika itu. dan untuk memerintah mesti dibutuhkan ilmu politik kaum dan ulama pemerintahan. penafsiran. “Anda tidak layak memerintah. maka adalah penetapan wakil hukum yang sisi hanya berada hak ditangan Tuhan. segala dinamika hidupnya berasal dari kecenderungan hewaninya. maka yang tertinggal hanyalah sifat kehewannya. dengan demikian.terkhusus lagi apabila kita menyimak ruang pemikiran dan budaya yang ada serta kritikan. dan hak-hak asasi manusia dimana sentral dari berpijak semua pada pembahasan epistemologi. maka persoalan yang kemudian muncul ialah apakah akal manusia mampu akal menyelesaikan belum persoalanmaka dalam persoalan tersebut? Jika nilai dan validitas pengenalan tidaklah ditegaskan. Pembahasan membuktikan pengkajian seperti kepada epistemologi tersebut kita dan di atas pentingnya konklusi- konklusinya. Pertanyaanpembahasan sebelum melangkah ke arah upaya-upaya rasional dan filosofis. memotivasi manusia untuk menggapai ilmu dan makrifat. pemerintahan seorang bahwa hakim (filosof). maka minimalnya iaharus menerimanya untuk menjawab segala bentuk kritikan. akal berguna pengakuan beranggapan bahwa makrifat agama adalah bukan bagian dari ilmu. Karena telah jelas urgensi upaya rasional untuk kehidupan hakiki manusia. dan para ulama yang adil Tuhan Pada memiliki lain. mereka tidak berhak memerintah. Hal ini berarti bahwa jika akal rasionalitasnya dipisahkan kehidupannya. karena Islam dengan persoalan pada tersebut pada menjadi potensi maujud akal-pikiran. pembatas merupakan substansial antara iadengan hewan. maka dari itu. Semua kenyataan ini berarti bahwa pencapaian keyakinan dan kebenaran adalah sangat mungkin dengan perantaraan akal dan argumentasi rasional. keraguan. dan jika ada orang yang ragu atas realitas ini. dan persoalan inti yang dimunculkan seputar keyakinan agama dan dasar-dasar etika. dan keraguan akan senantiasa bersama manusia bahwa apakah akal telah memberikan solusi yang benar atas perkara-perkara pertanyaan epistemologi. sebagian seluruh aktivitasnya dinapasi oleh akal dan pengetahuan. memerintah. dengan demikian. suatu rangkaian persoalan yang prinsipil menjadi terkonstruksi dengan tujuan untuk mencarikan solusi atas segala permasalahan yang timbul berkaitan dengan dimana pengetahuan hal itu dan akal manusia. dan menolak segala bentuk keraguan. yang Rahasia dan kemanusiaan manusia adalah bahwa ia mesti berakal mengaplikasikan kekuatan akal dalam semua segmen kehidupannya serta seluruh kehendak dan dan iradahnya terwujud melalui pancaran dari petunjuk akal. langkah pertama yang mesti diambil . Hubungan dan saling epistemologi terkait. jawaban atas segala persoalan mendasar niscaya dengan upaya-upaya rasional dan filosofis. sementara tersebut tak menguasainya.[10] Perbedaan hakiki manusia dan hewan terletak mengajukan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi manusia. dan dari aspek lain. Yang pasti.” Dan juga berkaitan dengan karena manusia tak bisa memahami hakikat dirinya sendiri sebagaimana yang semestinya. fiqih. begitu banyak ayat al-Quran berkaitan dengan argumentasi akal. karena ilmu-ilmu alam dan matematika tidak mampu memberikan solusi komprehensif dan universal atasnya.

Berkenaan dengan urgensi epistemologi. Pembahasan yang berhubungan dengan pembagian ilmu. Ideologi menentukan apa yang mesti dilakukan oleh manusia dan mengajukan bagaimana metode mencapai tujuan itu. dan hal yang terkait dengan kategori-kategori kedua filsafat[14]. Dengan ungkapan lain. Hal ini karena. pengetahuan. Filsafat praktis bergantung kepada filsafat teoritis. Apa yang ditentukan oleh pandangan dunia. sementara relativsime nampak pada pemikiran Immanuel Kant. hubungan manusia dengan realitas eksternal itu. dan epistemologi. mengapa aliran-aliran dan ideologi-ideologi tersebut memiliki perbedaan? Jawabannya. mampu Konstruksi pemikiran universal filsafat yang Islam sedemikian kuat dan sistimatis sehingga memberikan solusi mendasar atas persoalan yang terkait dengan epistemologi. macam-macam ilmu hudhûrî. ia berkata “Pada era ini kita menyaksikan keberadaan aliran-aliran filsafat sosial dan ideologi yang berbeda dimana masing-masingnya mengusulkan suatu jalan dan solusi hidup. Ideologi menyatakan . rahasia fenomena eksistensial lainnya. itu pula yang akan diikuti oleh ideologi. Aliran-aliran ini memiliki sandaran pemikiran yang bersaing satu sama lain untuk merebut pengaruh. penyebab lahirnya perbedaanperbedaan tersebut terletak pada perbedaan pandangan dunianya (word view) masingmasing. sedangkan pandangan dunia menempati filsafat teoritis. Muncul suatu pertanyaan. kami akan kutip ungkapan seorang pemikir dan filosof Islam kontemporer asal Iran . yakni ilmu dibagi menjadi gagasan/konsepsi (at-tashawwur)[12] dan penegasan (at-tashdiq)[13]. karena semua aliran filsafat dan ilmu mengaku alam. Ideologi seperti filsafat praktis.adalah membedah persoalan-persoalan kepada kita bagaimana hidup semestinya. apabila kita merujuk kepada daftar isi persoalan-persoalan yang berkaitan persoalan eksternal dengan tentang dan pengetahuan. Perjalanan historis epistemologi oleh dalam filsafat barat ke arah skeptisisme dan relativisme. keberadaan kemungkinan misalnya realitas terjalinnya Mengapa ideologi mengarahkan kita? Karena pandangan dunia menegaskan suatu hukum yang mesti diterapkan pada masyarakat dan sekaligus menentukan arah dan tujuan hidup masyarakat. epistemologi. atau hushûlî dan hudhûrî. telah berhasil dan mengungkap hakikat manusia. Skeptisisme diwakili pemikiran David Hume. Murthada Muthahhari . maka tak satu pun pemikiran filsafat manusia dan penemuan ilmiah yang akan bernilai. Mengapa suatu ideologi berpijak pada materialisme dan ideologi lainnya bersandar pada teisme? Perbedaan pandangan dunia tersebut pada hakikatnya bersumber [11]“ Epistemologi pada Zaman Yunani Kuno dan Abad Pertengahan Perjalanan historis epistemologi dalam filsafat Islam dan Barat memiliki perbedaan bentuk dan arah. maka akan menjadi jelas bagi kita bahwa epistemologi merupakan pemberi validitas dan nilai kepada seluruh pemikiran filsafat dan penemuan sehingga ilmiah kalau manusia sedemikian yang persoalan-persoalan berhubungan dengan ilmu dan pengetahuan tersebut belumlah menjadi jelas. semua ideologi berpijak pada pandangan dunia dan setiap pandangan dunia tertentu akan menghadirkan ideologi dan aliran sosial tertentu pula. Sementara perjalanan sejarah epistemologi di dalam filsafat Islam mengalami suatu proses yang menyempurna dan berhasil menjawab segala bentuk keraguan dan kritikan atas epistemologi. Walaupun masih dibutuhkan langkah-langkah besar untuk menyelesaikan dari perbedaan dasar-dasar pengenalan.

dengan keberadaan itu. namun tidak bisa dipindahkan. hakikat mengungkap dan nisbi. hal-hal yang senantiasa berubah maka mustahil tiga terwujud sifat-sifat khusus dari ilmu tersebut. maka mustahil diketahui. maka secara implisit bisa dikatakan bahwa pada zaman itu juga lahir epistemologi. akal dipandang sebagai yang valid. Hal yang mesti digaris bawahi ialah pada zaman Yunani kuno dan abad pertengahan epistemologi merupakan salah satu bagian dari pembahasan filsafat. abad pertengahan. dan modern) dan menempatkan Yunani kuno sebagai awal dimulainya filsafat Barat.persoalan-persoalan partikular yang mendetail di dalam epistemologi. dan mizan ketiadaan segala sesuatu[19]. sebagian peneliti sejarah filsafat menganggap pemikirannya sebagai dasar Skeptisisme. akan tetapi. Pembahasan-pembahasan yang dilontarkan oleh kaum Sophis dan filosoffilosof pada zaman itu mengandung poin-poin kajian yang penting dalam epistemologi. segala “Manusia sesuatu. Epistemologi di Zaman Yunani Kuno eksistensi segala sesuatu. 1. apabila ia ada. Oleh karena itu. (Yunani kuno.[20] Berdasarkan penulis sejarah filsafat. hal ini karena terdapat kontradiksikontradiksi [18] Pythagoras parameter berkata. Dan epistemologi setelah Renaissance Descartes mengalami suatu perubahan baru. Socrates ialah filosof pertama pasca kaum Sophis induksi yang dan lantas bangkit ia mengkritisi berupaya sesuatu. sementara [16] Heraklitus berbeda dengan Parmenides. pemikiran-pemikiran mereka. kalau pun iabisa dipahami. Heraklitus melontarkan gagasan tentang perubahan yang konstan atas segala sesuatu dan berkeyakinan bahwa dengan adanya perubahan yang terus indra lahir hanya bersifat penampakan dan bahkan terkadang menipu. merupakan tolok ukur pada akal dan kesalahan pengamatan yang dilakukan oleh indra lahir. ia menekankan pada indra lahir. Gagasan Pythagoras ini kelihatannya lebih menyuarakan dimensi relativitas dalam pemikiran. iamengungkapkan satu sisi dari sisi-sisi lain dari epistemologi yang merupakan sumber dan alat ilmu. dan dengan cara pendefinisian. karena ilmu memestikan kekonstanan dan ketetapan. Gorgias menyatakan bahwa sesuatu itu tiada. akan tetapi. 2. Hal ini karena iamenempatkan dan menekankan akal itu sebagai tolok ukur hakikat. dalam kajian filsafat pasca itu epistemologi menjadi inti kajian filsafat dan hal-hal yang berkaitan dan dengan ontologi dikaji secara sekunder.[17] Kaum Sophis ialah kelompok pertama yang menolak definisi ilmu yang bermakna kebenaran yang sesuai dengan realitas hakiki eksternal. Sejarah Epistemologi dalam Filsafat Barat Apabila filsafat kita Barat membagi dalam perjalanan zaman sejarah tertentu menerus pada segala sesuatu. maka perolehan ilmu menjadi hal yang mustahil. orang pertama yang membuka lembaran kajian epistemologi adalah Parmenides[15]. Pembagian kemudian segala Iamemandang bahwa hakikat itu tidak relatif menjadi perhatian para filosof dan sumber . Pada dasarnya.[21] Democritus beranggapan bahwa indra lahir itu tidak iabagi dan akan pernah mengantarkan majasi pada dimana dan pengetahuan benar dan segala sifat sesuatu menjadi sifat-sifat hakiki dihasilkan dari penetapan pikiran seperti warna sifat-sifat seperti sifat bentuk ini ukuran[22].

tak proses pembuktian ini harus berakhir pada kaidah yang sangat gamblang lagi membutuhkan pertama pembuktian yang sangat rasional. dari melainkan kesalahan kekeliruan bersumber dan serius makrifat para lantas menjadi epistemolog rasionalitas. dan analisa pikiran menggantikan gagasan mutsul Plato. meyakini penalaran bersifat prasangka. maka objeknya juga harus tetap dan konstan. prinsip non-kontradiksi merupakan kaidah gamblang yang diketahui secara fitrah. dengan demikian.[23] Pengetahuan hakiki dalam pandangan Plato ialah ini keyakinan dengan benar hal-hal yang yang bisa konstan. Makrifat yang diperoleh lewat indra itu merupakan makrifat yang paling diyakini kebenarannya. Iajuga berkeyakinan. Disamping meyakini bentuk intuisi batin (asy-syuhud) juga itu sebagai tolok ukur kebenaran. lebih menekankan penjelasan yang ilmu dan pembuktian dengan bahwa asumsiasumsinya daripada menjelaskan persoalan berkaitan Iayakin probabilitas setiap ilmu pengetahuan. murid Socrates. ialah filosof pertama yang secara serius mendalami epistemologi dan menganggap bahwa permasalahan itu ialah hakiki dan mendasar pengetahuan karena indriawi berpijak pada kaidah-kaidah awal dimana hal itu bisa dibuktikan di dalam ilmu-ilmu lain. bersifat diyakini. iakemudian melontarkan gagasan tentang mutsul (maujud-maujud non-materi di alam akal). hipotesa. dan perkara-perkara yang senantiasa berubah dan partikular tidak bisa dijadikan objek dan makrifat tidak hakiki. ini ialah diargumentasikan. ilmu matematika dianggap hal yang tidak valid. semestinya pengetahuan universal. [25] Aristoteles. [28] Kelompok Rawaqiyun[29] yang yakin pada pengalaman agama dan indra lahir. Mereka beranggapan pengetahuan itu adalah pengenalan partikular sesuatu. Dengan dasar ini. sebagian memandang kemustahilan pencapaiannya. universal. dan bersifat pasti. pasti. [31] Kaum Skeptis beranggapan bahwa kesalahan indra lahir dan akal itu merupakan dalil atas ketidakabsahannya. Plato. sementara pengetahuan hakiki (baca: pengetahuan akal) itu yang berhubungan dengan hal-hal yang konstan dan tak berubah ialah bisa diyakini.[26] Iamenetapkan penggambaran universal. Iamenyusun ilmu logika dengan berpikir tujuan dan menetapkan suatu secara metode benar berargumentasi terletak pada perubahan objek indra. dan perkiraan belaka[24]. bahkan menolak dan kebenaran Sebagian secara lain dari mereka adanya mutlak penetapan makna-makna maujud di ruang memori pikiran atas perkara-perkara indriawi.[30] Epicure (270-341 M) memandang indra lahir sebagai pondasi dan tolok ukur kebenaran pengetahuan. berubah. dengan perspektif ini. definisi plato tentang pengetahuan perhatian kontemporer. tetap.lahirnya berbagai pembahasan. pencapaian hakikat dan makrifat hakiki ialah hal yang sangat mungkin dan tidak mustahil. Dalam hal ini. murid Plato. bisa Oleh karena itu. Perbedaan kaum . abstraksi. menolak pandangan tentang konsepsi universal pikiran dari Aristoteles dan konsep mutsul Plato bahwa tersebut. dimana pengetahuan jenis terkait Pengetahuan-pengetahuan selain dengan menggunakan kaidah-kaidah pertama dalam ilmu dan pengetahuan yang bersifat gamblang (badihi)[27]. pengetahuan indriawi bersifat keliru. Begitu pula. Lebih lanjut ia berkata bahwa panca indra lahir itu tidak melakukan itu kesalahan. akan yang tetapi. diyakini.

Apakah wujud “universal” itu sendiri sama dengan wujud “partikular” yang keberadaannya bukan hanya di alam pikiran. dan tolok ukur kesesuaian dengan realitas eksternal. juga mengkaji dasar-dasar pengetahuan dan kebenaran. yakni apakah universal itu adalah penyaksian mutsul Plato itu sendiri ataukah konsep abstraksi akal yang bersifat universal Aristoteles. ilmu dan pengetahuan dimulai dari diri sendiri. hakiki. Pengetahuan indriawi berubah. tingkatan kedua adalah argumentasi. dalam bisa dan akal dan sebagai hakikat tingkatan ‘kesatuan dalam memahami termasuk dalam ruang lingkup yang bisa diragukan oleh kaum Skeptis dan Sophis. tidak karena objeknya senantiasa makrifat tergolong sebagai pertengahan ialah kajian tentang universal dan sumber kehadirannya. Apakah “manusia universal” di sini hanyalah sebuah konsep universal yang ada di alam pikiran semata. penggagas maktab neo platonisme. 2. Dan semua persoalan. sumber ilmu. Persepsi panca indra (sensuous perception). di abad ketiga masehi melontarkan gagasangagasan penting dalam epistemologi. Apakah “universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa mencakup beberapa individuindividu eksternal. 3. disamping itu. Dalam pandangannya. Salah satu ungkapan beliau adalah “Saya ragu. Dan tingkatan di atas akal adalah intuisi (asysyuhud). intellect).Skeptis dengan kaum Sophis adalah bahwa argumentasi-argumentasi kaum Sophis menjadi pijakan utama kaum Skeptis.[33] Augustine (354-430 M) beranggapan bahwa ilmu terhadap jiwa dan diri sendiri itu tidak . ataukah “manusia universal” itu sendiri memiliki realitas eksternal (misalnya ia berada di alam non-materi) yang hanya bisa disaksikan secara intuitif dan syuhudi. Ia membagi tiga tingkatan persepsi (cognition): 1. karena ilmu terhadap jiwa tidak bisa diragukan.[34] 4. yang sebagaimana diyakini itu oleh Apakah “universal” secara mendasar tidak memiliki wujud luar. Plotinus. keraguan. Apakah “universal” itu hanya sebatas suatu konsep. Gagasan Tentang Universalia Salah satu pembahasan inti di abad itu. ketiga. saya ada“. 3. di samping itu iamemandang bahwa ilmu itu sebagai ilmu yang paling benar dan proposisiproposisi matematika adalah bersifat gamblang yang tidak bisa diragukan lagi. bahkan juga berada di alam eksternal yang sebagaimana maujud-maujud hakiki yang lain? Sebagai contoh “manusia universal”. Akal (logos. ataukah “manusia universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa diterapkan pada lebih dari kejamakan’ ‘kejamakan kesatuan’ tanpa lewat proses berpikir. epistemologi di zaman Yunani kuno dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian dibahas dalam bentuk yang berbeda dalam filsafat. jawaban. Gagasan Skeptisisme muncul sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi yang dipropagandai oleh Agrippa (di abad pertama) dan kemudian dilanjutkan oleh Saktus Amirikus (di abad kedua). oleh karena itu.[32] Walhasil. Tingkatan pertama berkaitan dengan hal-hal yang lahir. dan solusinya hadir dalam bentuk yang semakin kuat dan sistimatis serta terlontarnya pembahasan seputar probabilitas pengetahuan. Epistemologi pada Abad Pertengahan (dari Awal Masehi hingga Abad Kelimabelas) Inti pembahasan di abad pertengahan adalah persoalan yang terkait dengan universalitas dan hakikat keberadaannya. Pengertian (understanding).

Nazariyeh-e Syenokh. universal itu merupakan dalam konsep-konsep yang yang terdapat tentang pikiran menceritakan “penghubung” antara pikiran dan objek-objek “penghubung” itu sebagai “konsep-konsep”. dari konsep ini akal akan membentuk konsep-konsep universal[40]. Proposisi matematik yang karena berkaitan langsung dengan experiman bisa diterima. Idealisme (universal itu hanya terdapat dalam alam pikiran atau gagasan Aristoteles). Dengan alasan ini. Nominalisme (menetapkan katakata umum yang mewakili individu-individu eksternal). karena semua proposisi universal akan menjadi proposisi partikular yang hanya terkait dengan individu tertentu saja. argumentasi. maka sesuatu itu hadir dalam jiwa dan pikiran kita. Seir-e Hikmat dar Eropa. Muhammad Ali Furughi. Seir-e Hikmat dar eropa. William seorang of Ockam (1287-1347 sebagai M) adalah yang dikenal pengingkar konsep-konsep universal. hal. pelajaran kesebelas. dengan kata lain. segala proposisi universal yang merupakan pijakan seluruh ilmu dan kaidah-kaidah ilmiah tidak . Muhammad Ali Furughi. Boethius (470-525 M) ialah orang pertama yang beranggapan bahwa universal itu hanyalah kata semata. 141.[38] Segala kaidah filsafat dan ilmu berpijak pada penerimaan yakni jika atas konsep-konsep universal. Realisme (universalitas itu memiliki wujud eksternal atau mutsul Plato). hal.com] realitas-realitas hakiki dan eksternal. dengan demikian. Dalam hal ini. walaupun iaberupaya menyelesaikan persoalan universal itu lewat gagasan Aristoteles. [2] . hal 32. Namun. Mahdi Dahbosy. maka tidak satu pun kaidah yang iabisa diterima. dan experimen. sementara universal itu tidaklah memiliki wujud hakiki dan hanya bersifat katakata semata. Roger Bacon (1214-1294 M) ialah orang yang berpijak pada empirisme dan positivisme. sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa ia secara mutlak mengingkari menafsirkan luar. jilid pertama. kemudian akan terbentuk konsep-konsep imajinasi. 3. hal. pembahasan “universalitas” memiliki urgensi. 74. seluruh filsafat dan hukum-hukumnya tak bermanfaat.[36] Roscelin (1050-1120 M) berkeyakinan bahwa yang hanya ada di alam eksternal adalah partikular. Syahid Muthahhari. jilid kedua. Taqi Mishbah Yazdi. Perlu diketahui bahwa iabanyak bersentuhan dengan pemikiran filsafat Islam.[39] Thomas Aquinas (1225-1274 M) yakin bahwa rasionalitas dan pemikiran itu sangat bergantung pada pengindraan lahiriah. Ia memandang bahwa alat pengetahuan adalah teks suci. bahwa seseorang beranggapan [1] . Syapur ‘Itemod. [3]. ada tiga perspektif dan aliran pemikiran: 1. Upaya-upaya pemikiran di abad pertengahan itu tak lain ialah untuk menjawab persoalanpersoalan tersebut. Pada satu sisi kita memahami bahwa pada setiap sesuatu universalitas itu hanyalah sebuah kata semata dan menolak konsep universal itu.[37] Peter dan Abelard (1079-1142 M) memandang itu adalah memiliki individu-individu eksternalnya. Omusyes Falsafeh.satu objek individual[35]?. Perlu diketahui bahwa apabila kita memiliki ilmu terhadap sesuatu. 2. yakni pertama-tama indra lahir kita berhubungan dengan alam luar. [4]. [41] [wisdoms4all. begitu pula. jilid satu. 29. itu juga karena ia “universal” terkadang ia sebagai menyebut bahwa universal itu terdapat di alam pikiran konsep-konsep universal konsep-konsep abstraksi yang diambil dari maujud-maujud luar dengan memperhatikan sifat-sifatnya. dan dan menolaknya. Syenokht-e dar Quran. 2. hal. Tarikh Ma’rifat Syenosi.

Aflatun. pembagian ilmu berdasarkan keabsahan ma’lum. seperti dikatakan: Tuhan ada. jiwa manusia non-materi. Masaley-ye Syenokh. bumi. ilmu hudhûrî menangkap objeknya secara langsung (immediate) dan berkaitan dengan hakikat sesuatu. qidam dan huduts. keabsahan metode. dan konsep ‘sebab’ itu lantas dipredikasikan kepada api. apa yang menjadi titik tekan dan inti pembahasan dalam epistemologi adalah mengenai akal dan indra (lahir dan batin). kehadiran konsep ini tidak bisa terlepas dari keberadaan objek eksternalnya. maka akan tercakup segala apa yang disebutkan itu. Syarh-e Mushthalahât-e Falsafi. dan juga berdasarkan tolok ukur ilmu. …. Dalam epistemologi kontemporer di Barat dibahas esensi ilmu (keyakinan benar yang bisa dibuktikan). Sementara ilmu hushûlî hanya berhubungan dengan gambaran sesuatu itu. [6] . dan wujud materi. atau rumus-rumus. kemestian. kata-kata. Munculnya konsep ‘sebab’ itu berasal dari analisa akal atas hubungan khusus antara api dan panas. Yang dimaksud dengan at-tashawwur (penggambaran. [11] . maka niscaya akan membakar diri kita. [7] . Syahid Murtadha Muthahhari. ular naga tiada. maka ilmu kita terhadap sesuatu itu di sebut “ilmu hudhûrî” atau “pengenalan intuitif“. Paul Edward. kalau yang kita tangkap dari api adalah kuiditasnya. [14]. hal. jiwa manusia. 1119. 2. [12]. potensi dan aktual. Jalan menuju makrifat tidak terbatas pada akal dan indra lahir. hakikat sebagaimana adanya (noman). esensi alim (yang mengetahui). [8] .Dalam setiap pembenaran terdapat tiga penggambaran: 1. Kalau kita perhatikan di alam eksternal. Yang dimaksud dengan at-tashdiq (pembenaran. Dengan demikian. akan tetapi. dan non-materi. Oleh karena itu. Plato adalah orang pertama yang melontarkan bahwa keyakinan benar yang bisa dibuktikan sebagai makrifat hakiki. namun berwujud mengikuti keberadaan subyeknya. Dâiratul Ma’ârif. wujud pikiran dan eksternal. karena itu pengetahuan ini disebut “presensial“. ada dan tiada. keabsahan alat. [5]. Tuhan. jilid ketiga. Namun. Kebenaran yang belum diyakini adalah suatu bentuk kebenaran yang diterima secara taklid dari orang-orang yang dipercaya dan belum melalui proses penelitian secara sistimatis dan logis. Apabila subyek epistemologi adalah penyingkapan secara umum. wujud dan kuiditas. misalnya: api adalah ‘sebab’ panas atau panas adalah ‘akibat’ dari api. Gambaran tentang hubungan subyek dan predikat. langit. 3. Pengetahuan intuitif ini ditandai oleh hadirnya objek di dalam diri si subjek. Ali Syirwani. Seperti konsep tentang ‘sebab’ dan ‘akibat’. Silahkan rujuk pada catatan kaki no. Seperti pengkajian kaidah tentang sebab dan akibat. dan malaikat yang ada dalam pikiran kita. Apabila sesuatu yang hadir dalam pikiran kita adalah kuiditasnya (mahiyah). mitsal. 110-111. seperti gambaran tentang bulan. wujud tetap dan berubah. dan berpuncak pada wahyu. [10] . 10. maka ilmu kita terhadap sesuatu itu disebut “ilmu hushûlî” atau “pengenalan rasional“. keluasan ilmu yang mencakup ilmu terhadap Tuhan. yang ada itu hanyalah api dan panas. hal. materi. 4. pengesahan) adalah penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain dalam bentuk positif atau negatif. jilid kedua. sumber ilmu.memiliki dua dimensi. melainkan pencapaina makrifat bisa dengan jalan syuhud irfani. esensi ma’lum (yang diketahui). ‘Sebab’ dan ‘akibat’ itu tidak nampak diluar. Gambaran subyek. Daure-ye Otsor. Misalnya ketika kita melihat api yang ada di luar diri kita. Konsep ini diperoleh dari analisa akal terhadap perkara-perkara eksternal. hal. [9] . Pengenalan rasional ini memahami objek-objeknya lewat symbol-simbol. Akan tetapi. hal. maka api yang ada di dalam pikiran kita tidak akan membakar pikiran kita. Kaum epistemolog Barat mayoritas menyetujui makna ilmu seperti ini. keabsahan kehadiran ilmu. bukan kuiditasnya. kalau sesuatu yang hadir dalam jiwa kita adalah wujud eksternalnya. Yang dimaksud dengan ‘kategori-kategori kedua filsafat’ (konsep-konsep filosofis) adalah suatu konsep yang tidak memiliki individu luar dan tidak memiliki wujud mandiri. konsepsi) adalah suatu gambaran pikiran dimana bukan penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain. kemungkinan dan kemustahilan mewujud. walaupun ‘sebab’ . karena yang memiliki pengaruh membakar itu hanyalah wujud api. 13. Gambaran predikat. jika yang hadir dalam diri kita adalah wujud api itu sendiri. [13] . fenomena (yang tampak kepada kita). dimensi kuiditas dan dimensi wujud. matahari. ilham. kalimat.

64. hal. hal. [28] . Paul Edward. [16] . sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini.Tâsu’ât.wisdoms4all. [18] . 21. risalah ketiga. hal. Ibid. Yusuf Keram. sembari menanti teruploadnya tulisan tersebut. Muhammad Ali Furughi. 33. hal. 171. hal. Ibid. [37] . Yakni. Dan Aristoteles. tapi ini tidak berarti bahwa ‘sebab’ itu memiliki wujud yang mandiri dan terpisah dari api dan kemudian melekat pada api. hal.Tarikh Falsafe-ye Garb. Metafisik. 112. [32] . Semua konsep dalam filsafat berada dalam kategori-kategori seperti ini. Plotinus. hal. Walhasil. ○ ○ ○ ○ ZAKY November 25th. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. 261. Ibid. [27] . Tarikh Falsafe-ye Garb.com/English . hal. Frederick Copleston. [15] . [20] . [39] . 12. Frederick Copleston. jilid pertama. 10-11. Tarikh Falsafe-ye Garb. [23] . diselesaikan terlebih dahulu dalam dapur epistemologi. Frederick Copleston. 443. hal. hal 15. apakah akal universal ini patut diandalkan atau tidak. asumsi dasar. Capelestun. [36] . Tentu saja. [19] . hal. Ibid.ialah sifat untuk api. What do you say??? 1. [35] . [33] . 348. 82. Universal lawan dari partikular yang berarti gagasan yang hanya bisa diterapkan untuk satu objek individual. jilid pertama. hal. 131. Metafisik. [21] . Ibid. 472. ) yang melulu menggunakan software akal universal yang dimiliki oleh setiap manusia. [31] . sifat-sifat. [41] . pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. Dalam pada itu. hal. Ibid. Paul Edward. pasal empat. [26] . 126. 95. Ruh-e Falsafeh dar Qarn-e Wustha. 11. Seperti pengetahuan kita terhadap keberadaan dan wujud diri kita sendiri. This the way I see it. So sedemikian penting masalah epistemologi dalam pembahasan filsafat. Seir-e Hikmat dar Eropa. jilid pertama. [29] . Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha.Tarikh Falsafe-ye Garb. hal. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. 149. dan risalah kesembilan. hal. Paul Edward. harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. Yang didirikan pada tahun 300 M [30] . [40] . hal. pasal sembilan dan pertama. Dan ini adalah raison d’être pembahasan epistemologi. 209. 102. hal. hal 65. hal. Ibid. Tarikh al-Falsafah alYunaniyah. Nah. kami mempersilahkan Anda menunggah http://www. [25] . Ibid. Ibid. 172. hal. [22] . Atau sederhananya. Insya Allah sementara ini kami sedang menyiapkan tulisan yang bertajuk “Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Agama” yang kurang lebihnya dapat memenuhi materi yang Anda cari. 99. Aristoteles. [34] . Ibid. lantaran berfilsafat adalah berargumen (silogis. Paul Edward. pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. Ibid. 2007 REPLY KUTIP Zaky: saya bisa ga’ nemuin materi yg saya cari? “pengertian ilmu dan ilmu pengetahuan” __________________________________ ________ Isyraq: Terima kasih atas kunjungan Anda. 106. Dengan demikian. hal. induktif atau deduktif. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. [38] . [17] . hal. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asal-usul. Ibid. hal. Lyotard. hal. [24] .

Nah.sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan… Mari kita hasilkan keyakinan dengan berfilsafat. Tks Isyraq: Salam. ________________________________________ __ Isyraq: Salam dan terima kasih kepada Sdr/i Sane yang memberikan nice dan supporting komentar atas postingan yang ada. 2007 REPLY KUTIP epistemologi pengenalan diri kita sendiri dan masalah emanasi. rasanya masih perlu sumber yang bisa lebih menyederhanakan lagi. ○ ○ ○ ○ achmad satya dharma Februari 10th.” 2. ○ ○ ○ ○ 5. kemudian Tuntunan memohon dan Jalan yang harus dilalui. Dan pembahasan epistemologi di blog ini telah memasuki pembahasan sejarah ilmu hudhuri. piranti akal atau indra yang mo digunakan diolah di dapur epistemologi.. Jadi kerja filosof adalah menguatkan dan memperdalam jangkauan hikmah yang dapat dicapainya dengan silogisme. karena Ilmu/pengenalan seperti itulah yang menjadi dasar dari seluruh pemahaman manusia. Apakah kita masih termasuk orang orang yang merasa sudah tinggi ilmunya ? Sudah merasa lebih tua dan berengalaman dari yang lain ? Merasa yang paling benar ? Merasa apa yang kamu dapatkan sekarang adalah buah dari hasil usaha dan jerih payahmu selama ini ? merasa paling benar ibadahnya ? Mudah mudahan kita tidak termasuk dalam Salam.artikel yang bertemakan “Islamic Concept of Knowledge. sebelum berfilsafat.. tass.. Dan jangan berhenti di sini. saya coba baca Ilmu Hudlurinya Mehdi Hairi Yazdi. Kalau diringkaskan di awali dengan cara berjalan menuju Allah dan di Akhiri kepada pemahaman bagaimana Allah ataupun Makhluq ini berasal. 3. 2007 REPLY KUTIP Salam alaykum………… Maha suci ALLAH yang telah memberikan kita AL QURAN dengan tulisan ARAB serta menjaga kerahasiaannya. sebab saya menduga ada hal yang menarik dalam susunan AlQur’an dimulai dari Surat Al Fathihah yang berisi cara menyembah dan mentauhidkan Allah. 2007 REPLY KUTIP perbedaan seorang filosof dengan seorang manusia biasa salah satunya adalah gairah untuk dapat lebih mengetahui ushul segala bentuk wujud dengan epistimologi hingga tak ada sedikitpun keraguan dalam dirinya.. penciptaan dan kontingensi.. Filosof dalam bahasa Arab biasanya disebut sebagai hakim. Bagaimana kalau lebih di fokuskan pembahasan yang lebih spesifik tentang epistemologi hudluri. 4. Terima Kasih. perbedaan antara ilmu hudhuri dan hushuli. Kami sedang berupaya menyediakan pembahasan secara sistematis dan runtun epistemologi.. ○ ○ ○ ○ sane November 29th. 2008 REPLY KUTIP eko Desember 7th. muhkam yang dapat bermakna kuat dan menguatkan. U’budu Rabbaka hatta ‘atakal Yaqin.. ○ ○ ○ ○ fahmi alkaf Desember 3rd..Dan isi Al-Quran banyak membahas hal kehidupan setelah mati itu semua merupakan kapling khas Agama dan pemahamanya lebih banyak bersifar HUDLURI??? ini hanya couriusity saya. Doakan kami untuk keep on writing masalah tersebut hingga tuntas.iqra warqa’ “Bacalah dan melambunglah ke tingkat yang lebih tinggi…. sehingga orang orang yang berkeinginan dan dikehendakiNya yang mendapat “rahmat” darinya………. terutama masalah . induksi dan deduksi. Hakim derivatnya adalah hukm. Filosof adalah alih bahasa bebas dari bahasa Yunani yang bermakna orang yang cinta kepada hikmah. Anda benar bahwa filosof (tentunya filosof yang jujur dan mukhlis) berupaya berargumentasi dan berdemonstrasi dengan dalil-dalil sehingga tak setitik keraguan yang tersisa. dan Al Qur’an di akhiri dengan surat yang membahas “sejarah Tuhan”.tass.

Epistemologi adalah teori pengetahuan. Semoga kita termasuk orang orang yang kembali dan memeperoleh kemenangan…. Yaitu jalannya para nabi. epistemologi. dan para syuhada……… Alangkah indahnya kita mengabdi dan beribadah kalau kita tahu kepada siapa kita beribadah dan mengabdi…. Jangan ada rasa cemburu terhadap yang sudah mengalaminya karena apabila telah menjadi hak kita dan telah sampai waktunya kepada kita niscaya tidak ada suatu apapun yang dapat menghalanginya……. “Jalan yang lurus” adalah jalan yang paling singkat dan pasti. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. yang menjadi objek pemikiran. Kalau tidak mengerti janganlah cepat menyerah. Subhanallah……… Minal aidin wal faidzin…. (Amin ya ALLAH) Bismillahi tawakkaltu alallah…. Ontologi adalah teori tentang “ada”..Latar Belakang Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. shiddiqin. “Ikutilah” Rasulullah sebagai uswatun hasanah… tetapi bukan menirunya. shalihin. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanya kemungkinankemungkinan dan bukannya kepastian. Dengan gambaran senderhana dapat dikatakan. Dalamilah islam sampai ke “inti”nya jangan hanya kulitnya saja. yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan itu. karena sesungguhnya pengetahuan itu bukanlah diraih… tetapi adalah diberikan…. Masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan…….golongan yang satupun dari yang di atas……… Makrifatullah adalah kunci dari segala ilmu Dalam menempuhnya kita harus datang dengan “tangan terbuka” dan harus bisa memenggal kepala “ego” kita.. Kattsoff. sebab barang tiruan berarti adalah barang palsu…. ada sesuatu yang dipikirkan (ontologi). yaitu tentang apa yang dipikirkan.. Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat. atau mungkin dapat menenatapkan batasbatas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya (Luis O.. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. karena Al quran adalah petunjuk yang HAQ…. Baca saja terjemahannya bukan tafsirnya…. Bismillahi majriha wa mursaha……… Salam alaykum EPISTEMOLOGI 1. Sebenarnya kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. ketiga sub sistem ini biasanya disebutkan secara berurutan. kalau tidak bisa arabnya tidak mengapa…. Sistem filsafat disamping meliputi epistemologi. perlu diperhatikan bagaimana dan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batasbatas pengetahuan. semoga kita mendapat rahmat dariNya. Yangmana kita harus mengalaminya terlebih dahulu baru kita bisa memahami maksudnya…. mulai dari ontologi. agar kita tidak terjebak kepada hal-hal yang tidak perlu dibahas…. juga ontologi dan aksiologi. kemudian aksiologi. lalu dicari cara-cara memikirkannnya (epistemologi). kemudian timbul hasil pemikiran yang memberikan suatu PARAGRAPH BARU . Oleh karena itu.. Ikuti dan terapkanlah Sunnahnya dan dapatkan hakikat dari sunnah tersebut… Bacalah al quran. 2004 Dalam pembahasan filsafat. Salah satu isi al quran adalah berisi tenteng pengalaman ruhani manusia dalam menuju TUHANnya…. tidak ada kemungkinan kita untuk tersesat darinya….

epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. ruang lingkup. melainkan juga pada substansi persoalannya. berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya. ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu. landasan. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis. Jadi. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik. Namun demikian. maka hanya akan sia-sia. cara.F. ketiganya adalah interrelasi dan interdependensi (saling berkaitan dan saling bergantung). Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. Begitu juga. PENGERTIAN EPISTEMOLOGI Secara historis. sehingga tidak diperoleh pengetahuan apapun. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J. untuk membedakan dua cabang filsafat. sebab ketigatiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi). gaya belajar. tujuan. dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain. cara-cara juga adam tetapi tidak diektahui manfaat apa yang bisa dihasilkan dari sesuatu yang dipikirkan itu. mulai dari pengertian. Keterkaitan antara ontologi. Jadi. guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. tetapi jika tidak didapatkan cara-cara berpikir. hambatanhambatan belajar. tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Hal ini akan lebih jelas lagi. ketika kita membicarakan epistemologi disini. seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalanpersoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. epistemologi dan ontologi. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. sehingga didapatkan pengertian yang berbedabeda. pembahasan konsep apa pun. dia baru bisa menjelaskan proses belajar. objek. jika kita renungkan bahwa meskipun terdapat objek pemikiran. Secara detail. kita perlu memahami seluk beluk diseputar epistemologi. Demikian juga. epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. Misalnya. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. seandainya objek pemikran sudah ada. buka saja pada redaksinya. Oleh karena itu. justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan. Ferrier. tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya. epistemologi. atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan.manfaat atau kegunaan (aksiologi). Ketiga landasan ini saling berkaitan. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. maka objek pemikiran itu akan “diam”. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasan-pembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi . Sebagai sub sistem filsafat. bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. prinsip-prinsip belajar. metode. Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu. Lazimnya. teori belajar. Setelah memahami substansi belajar tersebut. hakikat dan pengaruh epistemologi B.

Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan.Suriasumantri. 2003. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. Sedangkan. P. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. Pengertian lain. Dia menyatakan. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. Selanjutnya.(pengertian). Menurut Musa Asy’arie.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan.32). struktur. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Dalam Epistemologi. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. 3). Secara etimologi. metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan. yaitu realisme dan idealisme.Runes. pengandaianpengendaian dan dasarnya. Demikian pula. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. hal. metode-metode dan validitas pengetahuan. dan logos berarti teori.Hardono Hadi menyatakan. pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. struktur. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah . sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. Sedangkan D. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. 1965. 2). pengertian. Azyumardi Azra menambahkan. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. dalam Jujun S. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya. Sementara itu. 2005). diungkapkan oleh Dagobert D. struktur.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan.

dan sasaran pengetahuan. sebab pernyataanpernyataan ini akan membantu pemahaman secara makin komprehensif dan utuh (holistik) mengenai ruang lingkup pemabahasan epistemologi. Akan tetapi. maka tidak mungkin seserorang memiliki suatu metafisika yang tidak sekaligus merupakan epistemologi dari metafisika. tumpuan. Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi. dan sampai dimanakah batasannya. dasar. apakah ilmu itu.M Saefuddin menyebutkan. keaslian. Semestinya harus ada pergeseran pusat perhatian pembahasan ke arah aspek-aspek yang terabaikan itu. Bahkan menurut. tetapi cakupannya luas sekali. A. Epistemologi senantiasa “mengawali” dimensi-dimensi lainnya. Bertolak dari pengertian-pengertian epistemologi tersebut. meliputi hakekat. bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. struktur. RUANG LINGKUP EPISTEMOLOGI. taklid kepada pengetahuan atas kewibaan orang yang memberikannya termasuk epistemologi. bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar. tumpuan.dipahami. batas. atau psikologi yang tidak sekaligus epistemologi dari psikologi. Sidi Gazalba. seluruh permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan adalah menjadi cakupan epistemologi. bahwa antara epistemologi selalu berkaitan dengan ontologi dan aksiologi. kodrat. sebagaimana diuraikan tersebut. sumber dan validitas pengetahuan. mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar. metode. dari mana asalnya. unsur. seperti psikologi selalu diiringi oleh epistemologi. Sebenarnya masing-masing definisi diatas telah memberi pemahaman tentang ruang lingkup epistemologi sekaligus. yaitu hakikat. validias. apa hakikatnya. melainkan bisa juga sebaliknya. Bahkan. sasaran. kiranya kita perlu memerinci aspek-aspek yang menjadi cakupannya atau ruang lingkupnya. Lebih dari . karena definisi-definisi itu tampaknya didasarkan pada rincian aspek-aspek yang tercakup dalam lingkup epistemologi daripada aspek-aspek lainnya. macam. Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas. Jadi meskipun epistemologi itu merupakan sub sistem filsafat. atau bahkan suatu sains yang bukan epistemologi dari sains. hakikat. M. sekalipun ia sebenarnya merupakan doktrin tentang psikologi kepercayaan. pertanggungjawaban dan skope pengetahuan. ontologi dan aksiologi serta dimensi lainnya. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok. ada baiknya dikemukakan pernyataan-pernyataan lain yang mencoba menguraikan ruang lingkup epistemologi. apa yang dapat kita ketahui. macam. C. seperti proses maupun tujuan. agar dapat menyajikan pembahasan terhadap aspek-aspek epistemologi seluruhnya secara proporsional. sumber. Jika kita memaduakan rincian aspek-aspek epistemologi. maka teori pengetahuan itu bisa meliputi.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi. batas. sampai Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan. unsur. sehingga mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu. bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu. dan refleksi selalu bersifat kritis. apa sumbernya. masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. apa kebenaran itu. Jelasnya. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan. terutama ketika dimensi-dimensi itu dicoba untuk digali. Filsafat merupakan refleksi. ternyata hanya aspekaspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof. Kenyataan ini kembali mempertegas. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek. pengandaian.

Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. ketika akan ditangkap dengan menambak kepalanya sebagai sasaran. meskipun secara spesifik tekanan perhatian dalam meneliti dan . bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. saat ini literatur-literatur filsafat masih terjadi pemusatan perhatian pada aspek-aspek tertentu saja. akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas. sedangkan objeknya adalah kepalanya. atau setidaktidaknya kurang mendapat perhatian yang layak. Namun. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik. ontologi sebagai objek pemikiran.itu. mungkinkan suatu kegiatan hanya memiliki objek satu tetapi tujuannya banyak. Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan. antropologi. tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan. seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman. Jadi. Dengan kata lain. bisa juga dadanya atau perutnya. sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran. Aspekaspek itu berkisar pada sumber pengetahuan. tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan. aspekaspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi. sehingga pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. Objek sama dengan sasaran. Hanya saja. Ini berarti dalam satu tujuan bisa dicapai melalui objek yang berbeda-beda atau lebih dari satu. sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran. tujuan baru dapat diperoleh. sebab objeklah yang mengantarkan tercapainya tujuan. Sebaliknya. yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan. pembunuhan sebagai tujuan polisi baru mungkin tercapai setelah melalui tindakan menembak kepala perampok sebagai sasaran. Sementara itu. Misalnya. baik yang bercorak positif maupun negatif. bilogi. Oleh karena itu. seorang polisi bertujuan membunuh perampok yang melakukan perlawanan. perubahan kecenderungan pembahasan tersebut dapat memperkenalkan pengetahuan yang makin luas dan mendalam tentang cakupan epistemologi. Meskipun berbeda. sebagaimana diuraikan di atas. M. sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang. Amin Abdullah menilai. sosiologi. tetapi terjadinya pembunuhan tidak hanya melalui menembak kepala perampok. dan pembentukan pengetahuan. jika telah melalui objek lebih dulu. D. Kenyataannya. terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat. Padahal sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi. pedagogi. sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai. bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. tujuannya adalah pembunuhan. Manusia misalnya. sedang tujuan hampir sama dengan harapan. Jika diamati secara cermat. baik untuk membangun psikologi. Bagian-bagian lainnya jauh lebih banyak. ekonomi. ilmu hukum dan sebagainya. OBJEK DAN TUJUAN EPISTEMOLOGI Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Ternyata ini juga mungkin terjadi bahkan sering terjadi. khususnya bidang epistemologi. tetapi objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan. jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi. sejak lama ia menjadi objek penelitian dan pengamatan yang memiliki tujuan bermacam-macam.

akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu. baik berpikir dalam kecenderungan pertama maupun kecenderungan kedua.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan. ada upaya bagaimana menjadikan bahan yang sama untuk kepentingan yang berbeda-beda.mengamati itu berbeda-beda. Sebagai sub sistem filsafat. yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Namun. tetapi seseorang yang mengetahui hasilnya. apakah saya dapat tahu. sedangkan keadaan kedua lebih berorientasi pada proses. sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwayang-ada). Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya. Tanpa suatu sasaran. tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari. Aktivitas berfikir dalam kecenderungan pertama (satu tujuan dengan objek yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian cara sebanyak-banyaknya. tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan. Artinya. Objek material adalah sarwayang-ada. sebaliknya tanpa suatu tujuan. mendorong kreativitas seseorang. Seseorang yang mengetahui prosesnya. sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif. Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai dia puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan. dan juga pengusaha. yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan. acapkali tidak mengetahui prosesnya. sedang berpikir dalam kecenderungan kedua (satu objek untuk tujuan yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian hasil yang sebanyak-banyaknya. Secara global. Dewasa ini. sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Proses menjadi tahu atau “proses . Selanjutnya. maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali. Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. dua kali tiga didapatkan hasil enam. Keadaan pertama hanya berorientasi pada hasil. Guru dapat mengajarkan kepada siswanya bahwa dua kali tiga sama dengan enam (2 x 3 = 6) dan siswa mengetahui. epistemologi atau teori pengetahuan yang pertama kali digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. tetap saja membutuhkan banyak cara untuk mewujudkan keinginan pemikirnya. Hal ini merupakan implikasi dari tekanan masing-masing pola berpikir tersebut. Dia tentu akan mengejar bagaimana prosesnya. sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. perekayasa. Hal ini menunjukkan. Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetahuan. bahkan hafal. Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan. mustahil tujuan bisa terealisir. Maka guru yang profesional akan menerangkan proses tersebut secara rinci dan mendetail. justru kecenderungan ini mulai memperoleh perhatian yang sangat besar di kalangan para pemikir. tentu akan dapat mengetahui hasilnya. hakikat alam dan hakikat manusia. sehingga siswa benarbenar mampu memahaminya dan mampu mengembangkan perkalian angka-angka lainnya. Kecenderungan ini justru memiliki efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan bersifat dinamis. Objek epistemologi ini menurut Jujun S. siswa yang cerdas tidak pernah puas dengan pengetahuan dan hafalan itu. apakah yang menjadi tujuan epistemologi tersebut.

Sikap ini mencerminkan bahwa mereka berlebihan dalam menilai begitu tinggi terhadap metode ilmiah. tetapi terlepas dari sikap tersebut yang seharusnya tidak perlu terjadi. Proses ini bisa diibaratkan seperti kunci gudang. maka dia akan mampu mengenali pemikiran orang lain dengan baik. tetapi dia tetap hanya apriori semata. Faktor. Kekuatan bangunan rumah bisa diandalkan berdasarkan kekuatan fundamennya. padahal mereka belum pernah melacak proses terjadinya pemikiran itu. tanpa menyadari semuanya yang hanya sekedar salah satu sarana dari sains untuk mengukuhkan objektivitas dalam memahami sesuatu. Timbulnya suatu pemikiran senantiasa sebagai akibat adanya faktor-faktor yang mempengaruhi. alasan dan motif itu maupun komponen yang lain sesungguhnya termasuk dalam mata rantai proses sebuah pemikiran. semuanya tergantung pada titik tolaknya. Sesungguhnya sikap berlebihan itu memang riil. Dengan demikina. meskipun seseorang diberi tahu bahwa di dalam gudang terdapat bermacam-macam barnag. pemahaman dan pengembanganpengembangannya. seseorang tidak sekedar mengetahuai sesuatu atas informasi orang lain. termasuk juga ide. E.pengetahuan” inilah yang menjadi pembuka terhadap pengetahuan. konsep dan teorinya. Dengan membawa kuncinya. yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. tetapi benar-benar tahu berdasarkan pembuktian melalui proses itu. seakan-akan mereka menganut motto: tak ada sains tanpa metode. maka acapkali seseorang tidak akan bisa memahami pemikiran orang lain. sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syaratsyarat tertentu. maka gudang itu akan segera dibuka. yang jelas dalam kenyataanya metode ilmiah telah dijadikan pedoman . Bangunan pengetahuan menjadi mapan. maupun motif-motif yang mendasarinya. akan dipengaruhi atau tergantung landasannya. sebab tidak ada pemikiran yang terpenggal begitu saja. ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. akhirnya berkembang menjadi: sains adalah metode. Ketika faktor. sehingga dia dapat memakluminya. sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan. LANDASAN EPISTEMOLOGI Landasan epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan. Sebaliknya. sedangkan landasan bagaikan fundamennya. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. alasan dan motif ini belum dikenali. sebab ia merupakan tempat berpijak. Jadi. tanpa ada alasan-alasan yang mendasarinya. Dalam kehidupan masyarakat tidak jarang terjadi sikap saling menyalahkan pemikiran seseorang. Bangunan pengetahuan bagaikan bangunan rumah. alasan-alasan yang melatar belakangi. karena tidak pernah membuktikan. gagasa. Sedangkan landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah. Dengan demikian. jika memiliki landasan yang kokoh. metode ilmiah merupakan penentu layak tidaknya pengetahuan menjadi ilmu. Di dalam filsafat pengetahuan. alasan dan motif tersebut. kemudian diperiksa satu persatu barang-barang yang ada didalamnya. sehingga banyak pakar yang sangat kuat berpegang teguh pada metode dan cenderung kaku dalam menerapkannya. Demikian juga dengan epistemologi. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yang tercantum dalam metode ilmiah. Penguasaan terhadap proses tersebut berfungsi mengetahui dan memahami pemikiran seseorang secara komprehensif dan utuh. Begitu pentingnya fungsi metode ilmiah dalam sains. jika seseorang terlebih dahulu berupaya mengenali faktor. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah.

dan sebagainya. juga bisa disebut pengetahuan sehari-hari. “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis”. bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain. HUBUNGAN EPISTEMOLOGI. Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Jika metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu.dalam menyusun. mengingat dalam kehidupan sehari-hari sering dikacaukan antara metode dengan metodologi dan bahkan dengan epistemologi. METODE DAN METODOLOGI Selanjutnya perlu ditelusuri dimana posisi metode dan metodologi dalam konteks epistemologi untuk mengetahui kaitankaitannya. Disini perlu dibedakan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan (ilmu). batasbatasanya. “Dalam dunia keilmuan ada upaya ilmiah yang disebut metode. juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan. sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam penelitian. karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. melaikan termasuk wilayah filsafat. Secara sederhana dapat dikatakan. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang dianutnya. sehingga timbul sifat-sifat atau ciri-cirinya. juga sering disebut ilmu dan sains. disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah. sedangkan substansisnya relatif sama. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah. Padahal mestinya dia harus . dalam metodologi dapat ditemukan upaya membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan metode. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa. logis dan empiris. Sesuatu fenomena pengetahuan logis. Kholil Yasin menyebut pengetahuan tersebut dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary knowledge). sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). antara metode. Dengan istilah lain. Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. sumber-sumbernya. objektif. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. metodologi dan epistemologi. misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah. sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah diatur berdasarkan metode ilmiah. membangun dan mengembangkan pengetahuan ilmu. Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode. yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”. tampaknya perlu memahami terlebih dahulu makna metode dan metodologi. maka metodologilah yang mengkerangkai secara konseptual terhadap prosedur tersebut. kelemahan dan kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. Implikasinya. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan. Lebih jauh lagi Peter R. yaitu rasio dan fakta secara integratif F. Hal ini perlu penegasan.Senn mengemukakan. Untuk mengetahui peta masing-masing dari ketiga istilah ini. sistematis. atau pengalaman sehari-hari. kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan. Pada bagian lain. tetapi tidak empiris. Pengetahuan adalah pengalaman atau pengetahuan sehari-hari yang masih berserakan.

karena ita tidak bisa menangkapnya. metode merupakan perwujudan dari metodologi. namun bahasan epistemologi bukan hanya metode semata-mata. Apalagi hakikat epistemologi. seperti lingkaran besar yang melingkari lingkaran kecil. tentu lebih sulit lagi. yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik. Untuk lebih jelas lagi perlu dibedakan adanya metode pengetahuan dan metode penelitian. metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi. mengidentifikasikan sumbersumbernya dan menetapkan batasbatasnya. Filsafat mencakup bahasan epistemologi. HAKIKAT EPISTEMOLOGI Pembahasan tentang hakikat.benar-benar memahami. dilanjutkan dengan merinci pada metodologi. sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi. sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham determinsime. tetapi masalah-masalah ini bukanlah semata-mata masalah-masalah filsafat. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi. Posisi masing-masing istilah ini. apa yang benar dan dapat dipergunakan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. kendatipun tidak bisa dipisahkan. Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan. sedangkan metode penelitian berada dalam dataran teknis. membedakan cabang-cabangnya yang pokok. Dengan demikian. Secara lebih khusus. bahwa seseorang yang sedang mempertimbangkan penggunaan dan penerapan metode untuk memperoleh pengetahuan. baik dalam aspek parsial atau total. lagi-lagi terasa sulit. seperti: hakikat. maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Ini berarti bahwa filsafat mencakup bahasan epistemologi. Pandangan yang lebih ekstrim lagi . lingkaran kecil berupa epistemologi. maka dia harus mengacu pada metodologi. batas. dapat dijelaskan urutanurutan secara struktural-teoritis antara epistemologi. Dalam filsafat. dan dalam lingkaran kecil masih terdapat lingkaran yang lebih kecil lagi. tumpuan. unsur. bahwa penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivisme. tetapi bahasan filsafat tidak hanya epistemologi karena masih ada bahasan lain. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat. dan lingkaran yang lebih kecil kecuali berupa metodologi. dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. Metodologi inilah yang memberikan penjelasan-penjelasan konseptual dan teoritis terhadap metode. sedangkan penelitian kualitatif menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. macam. sesuatu yang ditentukan oleh yang lain). “Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral epistemologi. Metode pengetahuan berada dalam dataran filosofis-teoritis. karena ada bahasan lain. yaitu ontologi dan aksiologi. problem penyelidikan ilmiah yang secara filosofis menjadi kajian utama cabang epistemologi yang berkaitan dengan problem metodologi juga berkaitan dengan rancangan tata pikir. istilah metodologi berkaitan dengan praktek epistemologi. Oleh karena itu. sasaran dan dasar pengetahuan. Lebih jelas lagi. epistemologi mencakup bahasan metodologis. Lingkaran besar disini diumpamakan filsafat. validitas. struktur. G. sumber. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat. Demikian juga epistemologi mencakup bahasan metode (metodologi). Kemudian berbicara tentang metodologi yang berarti berbicara tentang cara-cara atau metode-metode yang digunakan oleh manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran. Jadi. mengingat pembahasan tentang seluk-beluk metode itu ada pada metodologi. kecuali ciri-cirinya.

Selanjutnya. Sebab epistemologi itu berkenaan dengan pekerjaan pikiran manusia. padahal realitasnya banyak sekali. Perbedaaan padangan tentang eksistensi epistemologi ini agaknya bisa dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M.menurut Kelompok Wina. Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. Kemudian jika diingat. Luasnya jangkauan epistemologi ini menyebabkan objek pembahasannya sangat detail dan pelik. epistemologi tersebut sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. maka minat untuk membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya untuk melebihi takaran minat kita. Dalam pemahaman yang sederhana epistemologi memiliki interrelasi (saling berhubungan dengan komponen lain. bahwa filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu.Hunt yang menilai. Cara pandang demikian akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. Honer dan Thomas C. apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik tidak usah diketahui. dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. Ada yang menyatakan. Menurut. Sementara itu. epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh kontroversi. melainkan termasuk dalam kajian psikologi. epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit. tidak bisa lepas dari ontologi dan aksiologi. apakah logika itu bagian dari epistemologi. bahwa posisi logika berada diluar ontologi. logika itu sendiri patut dipertanyakan. Ini berarti tidak ada disiplin ilmu lain. apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidangbidangnya. Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat. pengetahaun merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu. ontologi dan aksiologi). karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan pikiran. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh melalui perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis. the workings of human mind. bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat. apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui. justru karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan. epistemologi dan aksiologi. walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik. atau sekedar memiliki persentuhan yang erat dengan epistemologi. Selain itu. Metodologi misalnya telah digabungan secara teliti dengan epistemologi dan logika. Tidak semua objek mesti . Jujun S. sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika sendiri. Dalam epistemologi terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya. epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia. maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. bahwa persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemologi pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi masingmasing. diluar epistemologi sama sekali. Sejak semula. kecuali psikologi. Suriasumatri. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja. Di samping itu.

Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh. yakni pikiran dan indera. karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek. Tetapi. epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan dalam membentuk dirinya. bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. epistemologi adalah teori pengetahuan ilmiah. sehingga tidak perlu diketahui. Pada bagian lain dikatakan. ilmu pengetahuan harus ditangkap dalam pertumbuhannya. atau deduktif dengan induktif). sedangkan usah membuktikan berkaitan dengan induksi. sehingga tidak mungkin bisa diketahui. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya. Ilmu pengetahuan harus berkembang terus. meskipun memungkinkan untuk diketahui. Sebagai teori pengetahuan ilmiah. Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis. Perkemabangan ilmu pengetahuan dengan demikian membuktikan. Gabungan kedua macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah. karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. H. ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang. dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu bertumpu pada landasannya. Selama belum digugurkan oleh temuan lain. bahwa kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat tentatif. sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam. berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. yaitu masa lampau yang telah dilalui. jika dilihat dari kepentingan jangka panjang. Perbedaan hasil teman dalam masalah . Hal ini juga bisa dikatakan. Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar. sedangkan usaha untuk membuktikan adalah aplikasi berpikir empiris. PENGARUH EPISTEMOLOGI Bagi Karl R. Usaha menafsirkan adalah aplikasi berpikir rasional. maka suatu temuan dianggap benar. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali. berarti dia menggunakan pendekatan induktif. akan kehilangan kekhasannya. epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius. ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama. maka tindakannya itu justru merugikan. Sebaliknya. Oleh sebab itu. baruk ditarik kesimpulan secara umum. sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. bahwa usaha menafsirkan berkaitan dengan deduksi. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia. Popper. Kedua cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran. sebab ilmu pengetahuan yang berhenti. sehingga tidka jarang temuan ilmu pengetahuan yang lebih dulu ditentang atau disempurnakan oleh temuan ilmu pengetahuan yang kemudian. bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme. Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi. Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia.dijelajahi oleh pengetahuan manusia. maka menimbulkan pemahaman.

sehingga perkembangan ilmu pengetahuan relatif mudah dicapai. Akhirnya. Koreksi secara kontinyu terhadap pemikirannya sendiri ini untuk menyempurnakan argumentasi atau alasan supaya memperoleh hasil pemikiran yang maksimal. Suatu peradaban. pada gilirannya juga menghasilkan pemikiran yang berbeda. sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Proses ini lebih penting daripada hasil. epistemologi senantiasa mendorong dinamika berpikir secara korektif dan kritis. Mohammad Arkoun menyebutkan. tetapi jika dilacak lebih . Implikasinya. Melalui pelaksanaan fungsi dan tugas dalam menganalisis prosedur ilmu pengetahuan tersebut. tetapi karena sudut pandang yang ditempuh seseorang berbeda. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains. sehingga perbedaan pemikiran itu dapat dipahami secara memuaskan dengan melacak akar persoalannya pada perbedaan sudut pandang. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam. kepercayaan dan sistem nilai mereka. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. ide atau gagasan. mengingat bahwa proses itulah menunjukkan mekanisme kerja ilmiah dalam memperoleh ilmu pengetahuan. ilmu-ilmu mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu— dipandang dari keyakinan. Dalam filsafat. baik yang dimiliki seseorang maupun masyarakat. sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. banyak konsep dari pemikiran filosof yang kemudian mendapat serangan yang tajam dari pemikiran filosof lain berdasarkan pendekatan-pendekatan epistemologi. sedangkan perbedaan sudut pandangan itu dapat dilacak dari epistemologinya Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh. Kendati terhadap satu persoalan. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Ini menunjukkan bahwa epistemologi bisa mengarahkan seseorang untuk mengkritik pemikiran orang lain (kritik eksternal) dan pemikirannya sendiri (kritik internal). terutama cara-cara memperoleh pengetahuan yang membantu seseorang dalam melakukan koreksi kritis terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Kondisi demikian sesungguhnya dalam dunia ilmu pengetahuan adalah suatu kelaziman. bila para ilmuwan memperkuat penguasaannya. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. epistemologi bisa menentukan cara kerja ilmiah yang paling efektif dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang kebenarannya terandalkan. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara. Dinamika pemikiran tersebut mengakibatkan polarisasi pandangan. bahwa keragaman seseorang atau masyarakat akan dipengaruhi pula oleh pandangan epistemologinya serta situasi sosial politik yang melingkupinya.yang sama ini disebabkan oleh perbedaan prosedur yang ditempuh para ilmuwan dalam membentuk ilmu pengetahuan. Keberangaman pandangan seseorang dalam mengamati suatu fenomena akan melahirkan keberagaman pemikiran. Penguasaan epistemologi. tidak ada yang aneh sama sekali. Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia. maka epistemologi dapat memberikan pengayaan gambaran proses terbentuknya pengetahuan ilmiah.

akal budi. Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Akhirnya ilmu pengetahuan tersebut diaplikasikan melalui teknologi. Berdasarkan pada manfaat epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradaban tersebut. asal mula pengetahuan. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. Sebab dibalik kegagalan itu ditemukan rahasia pengetahuan. sarana. objek dibahas dari keberadaannya. yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. 2. metode atau cara memperoleh pengetahuan. apakah ia materi atau bukan. dan aksiologi.c om PARAGRAPH BARU LAGI EPISTEMOLOGI Filsafat Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. yaitu ontologi. 1. intuisi.blogger. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). ILMU oleh: anin • • • • More About : epistemologi EPISTEMOLOGI IL Pengarang : Elvira Syamsir Summary rating: 2 stars (328 Tinjauan) Kunjungan : 23711 kata:600 suparmanhttp://www. melainkan mutlak perlu dikuasai. berupa faktor-faktor penyebabnya. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis. technology is an apllied of science (teknologi adalah penerapan sains). mungki saja mengalami kegagalan tetapi kegagalan itu dimanfaatkan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan. dan sebagainya. naturalsime dan empirisme. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. pengalaman. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. yakni realisme. Pada awalnya seseorang yang berusaha menciptakan sesuatu yang baru. Secara ontologis. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. kemudian disusun secara sistematis menjadi ilmu pengetahuan (sains). sehingga didapatkan percikan-percikan pengetahuan.jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. empirisme. Jadi kronologinya adalah sebagai berikut: mula-mula seseorang berpikir dan mengadakan perenungan. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu. Pemikiran pada wilayah proses dalam mewujudkan teknologi itu adalah bagian dari filsafat yang dikenal dengan epistemologi. Akal. atau kombinasi akal dan pengalaman. yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan. Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. maka epistemologi bukan hanya mungkin. . epistemologi. sum-ber pengetahuan.com/profile/0 3249547895308622683noreply@blogger. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik).

" Introduksi Pandangan dunia (weltanschauung) seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. sebagai makhluk dinamis dan progressive.? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia. Pengantar Memasuki Ranah Ontologi Anda dan vice-versa. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang hidup dan kehidupan. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. korespondesi pragmatis. Penulusuran. Anda dikenal atas apa yang Anda kenal." "Tuhanku..bla. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). positivisme. dan jahil ini berkata kenalkan diriku kepadaku. Akan tetapi. tentang perkara-perkara eksistensial.. Diterbitkan di: 18 Maret. matematika dan statistika. dan teori intersubjektif. Karena nilai dan kualitas keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. Secara rasional. Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada.rasionalisme kritis.? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia. fenomenologi dan sebagainya. ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. Epistemologi. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. para arif berkata kenalkan diriMu kepadaku. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla. sikap. Wujud anda ekuivalen dengan pengenalan Anda dan viceversa.bla. manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang . penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti.. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak teruji. tentang ada dan keberadaan. Till death do us apart. 2008 Sumber: http://id. 3. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar. sebagai makhluk dinamis dan progressive. semakin luas dan dalam pandangan dunianya.bla. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang..bla. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Semakin besar pengenalannya. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. seperti teori koherensi. Akan tetapi. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan.. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya..com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1JmIRVKqJ PARAGRAPH BARU YA…. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban dan sebaliknya akan membuatnya terpuruk hingga titik-nadir peradaban. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini.shvoong. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan.

Semenjak Plato hingga Michel Foucault dan Jean-François Lyotard. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Dengan kata lain. manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Yakni. kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. dan makrifat atas hakikat itu. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asalusul. Ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu naratif lainnya ternyata tidak mampu memberikan jawaban utuh dan komprehensif atas masalah ini.[1] Karena uslub atau metodologi ilmu-ilmu di atas adalah bercorak empirikal. dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum (objek).[3] Walhasil. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada. penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan. keraguan ini akan menguat khususnya apabila kita mengamati kesalahan-kesalahan yang terjadi pada indra lahir dan kontradiksikontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang sejarah manusia? Persoalan-persoalan terakhir ini berbeda .hidup dan kehidupan. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. dan logos. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu. pengetahuan. 3. bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. Manusia dengan latar belakang. asumsi dasar. sebelum memasuki gerbang filsafat terlebih dahulu instrument yang digunakan dalam berfilsafat harus disepakati. 4. sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. Tuntutan fitrah manusia dan rasa ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. Betapa tidak. sifat-sifat. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. akal yang digunakan sebagai instrument berfilsafat harus diuji dulu validitasnya. Dengan demikian. harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. Dan ini adalah raison d'être pembahasan epistemologi. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. Pada dasarnya. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme. Till death do us apart. filsafat menggunakan metodologi rasional dan subjek ilmu filsafat adalah eksisten qua eksisten. tentang perkara-perkara eksistensial. pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. Apa itu Epistemologi Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. dalam menguak realitas terdapat perdebatan panjang semenjak zaman Yunani Kuno (lampau) hingga masa Postmodern (kiwari) antara kubu rasionalis (rasio) dan empiris (indriawi dan persepsi). Akal dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya. asumsi dasar. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan hadir untuk mencoba memberikan jawaban atas masalah ini. Hakikat itu ada dan nyata. ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya. theory. Manusia bisa memiliki ilmu. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai hakikat sebagaimana adanya. sifat-sifat. Apabila manusia melontarkan suatu pertanyaan yang baru. Tentu saja. epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul. Atau sederhananya. Hakikat itu bisa dicapai. pengetahuan.[2] Betapa pun. tentang ada dan keberadaan. Atau dengan kata lain. Karena baik dari sisi metodologi atau pun subjek keilmuan. pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. diketahui. Penulusuran. dan dipahami. apakah ia absah atau tidak dalam menguak realitas. 2. Kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu.

Dan dari sisi ini. akan tetapi. kemahiran. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu sebelumnya dan faktor riil yang menjadi penyebab hadirnya pengindraan adalah dibahas dalam ilmu logika. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap tingkatan dan pencapaian suatu ilmu. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna. dan psikologi. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan dibidang ontologi dan filsafat. Makna ini mencakup ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî. Ilmu adalah kehadiran (hudhûrî) dan segala bentuk penyingkapan. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal. dan batasan-batasan pengetahuan. yakni persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. Sudut pembahasan. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan . Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. makrifat. dua poin penting akan dijelaskan: 1. Keraguan-keraguan ini akan semakin kuat dengan adanya kemungkinan kesalahan penampakan oleh teropong. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. Istilah-istilah ilmu tersebut adalah sebagai berikut: a. dan kebenaran ilmu. tolok ukur. dan ilmu manusia. Terkadang kita mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. Sudut pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan ilmu. Ilmu adalah pembenaran (at-tashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini. Seseorang sedang melihat suatu pemandangan yang jauh dengan teropong dan melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. ilmu para malaikat. Istilah ini digunakan dalam filsafat Islam. Namun. nilai dan keabsahan pikiran. pembagian dan observasi ilmu. logika. masih merupakan persoalan-persoalan aktual dan kekinian bagi manusia. Dengan demikian. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas eksternal. keabsahan. d. bentuk. 2. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. makrifat dan pengetahuan. dan pengetahuan manusia. validitas. yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî. tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan memperhatikan definisi epistemologi. bisa dikatakan bahwa tema dan pokok pengkajian epistemologi ialah ilmu. dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal. Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. persepsi-persepsi pikiran. dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran besar atau kecil?. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Ilmu ialah gabungan proposisi-proposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik.dengan persoalan-persoalan sebelumnya. c. Sisi pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan. Makna leksikal ilmu adalah sama dengan pengideraan secara umum dan mencakup segala hal yang hakiki. h. f. hushûlî. dasar dan pondasi. Ilmu yang hanya dimaknakan sebagai ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika (mantik). keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah yang diperdebatkan. i. Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang bersifat empirik. ilmu Tuhan. sains. tolok ukur kebenaran hasil pikiran. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. Dengan perantara teropong itu sendiri. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. dan juga meliputi ilmu-ilmu seperti hudhûrî. Dengan demikian. Dalam hal ini. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat. e. teknologi. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini. Cakupan pokok bahasan. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang jauh. b. Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas pengetahuan. Dengan ungkapan lain. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini. g. Pertanyaanpertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalah-masalah sejarah dan geografi. ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokok-pokok pembahasannya. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. keterampilan. alat. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. maka dari sudut mana subyek ini dibahas. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran.

seorang Sophist prominen. Mereka menyimpulkan bahwa kontemplasi filosofis tentang bentuk-bentuk dunia gaib merupakan tujuan tertinggi kehidupan manusia. yang pertama kalinya disusun secara sistematis oleh Aristoteles. Aristoteles mengikuti Plato ihwal ilmu abstrak adalah ilmu yang lebih superior atas ilmu-ilmu yang lainnya. Maktab Epicurian dan Stoic sepakat dengan pandangan Aristoteles bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari indra-persepsi. Aristotels berpendapat bahwa hampir seluruh ilmu berasal dari pengalaman. Dengan demikian. mencoba untuk menjawab isykalanisyakalan para Sophist dengan mempostulasikan keberadaan semesta yang bersifat tetap dan bentuk-bentuknya yang invisible. karena jika sesuatu ada tidak dapat diketahui. akan membantu menjaga dari perangkapperangkap yang dipasang oleh para Sophist. Pembahasan tentang epistemologi Plato dan Aristoteles akan lebih jelas dan ringkas kalau dilakukan dengan cara membandingkan keduanya. akan tetapi menentang keduanya baik Aristoteles atau pun Plato yang berpandangan bahwa filsafat harus dinilai sebagai sebuah bimbingan praktis untuk menjalani hidup. Oleh karena itu. akan tetapi memandang iman dalam otoritas skriptual sebagai nara sumber keyakinan agama. Table komparasi epistemology Plato dan Aristoteles . mereka berpendapat sebaliknya bahwa filsafat adalah akhir dari kehidupan. Mereka percaya bahwa benda-benda yang dilihat dan diraba adalah kopian-kopian yang tidak sempurna dari bentuk-bentuk yang sempurna yang dikaji dalam ilmu matematika dan filsafat. Sophist Yunani menanyakan kemungkinan reliabilitas dan objektivitas ilmu.dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. Pada abad ke-5 SM. meskipun ia belum menggunakan secara resmi istilah epistemology ini. atau tidak langsung. Filosof Yunani berikutnya yang berbicara tentang epistemologi adalah Aristoteles. yang melaluinya ilmu pasti dan eksak dapat diraih. mengikuti ustadznya Socrates. karena setiap pendapat adalah hanyalah sebuah penilaian yang berakar dari pengalaman yang dilaluinya. Aquinas mengikuti Aristoteles dalam masalah tentang persepsi sebagai starting-point dan logika sebagai prosedur intelektual untuk sampai kepada ilmu yang dapat diandalkan (reliable) tentang tabiat. sementara mengandalkan indrapersepsi menghasilkan pendapat-pendapat yang inkonsisten dan mubham. berpendapat bahwa tidak ada yang benar-benar wujud. dan jika ilmu bersifat nisbi. Protagoras. Masalah-masalah Filosofis: Masa Yunani dan Masa Medieval Pada abad ke-13. Plato. filosof Skolastik Santo Thomas Aquinas dan beberapa filosof abad pertengahan berusaha membantu untuk mengembalikan konfidensi terhadap rasio dan pengalaman. Masa Plato dan Aristoteles Plato dapat dikatakan sebagai filosof pertama yang secara jelas mengemukakan epistemologi dalam filsafat. Pemikiran Santo Thomas Aquinas pada masamasa kiwari sangat mempengaruhi irama dinamika teologi Nasrani dan kosmos filsafat Barat. Gorgias. hanya penalaran abstrak dari disiplin ilmu ini yang dapat menuai ilmu pengetahuan original. Ilmu diraih baik secara langsung. tidak dapat dikomunikasikan. dengan mendeduksi kenyataankenyataan baru dari apa yang telah diketahui. Seorang Sophist ternama lainnya. dengan memanfaatkan sumbersumber beragam seperti karya-karya filosof Aristoteles. berdasarkan aturan-aturan logika. sebagaimana tertuang pada table di bawah ini. Setelah beberapa kurun berlalu kurangnya ketertarikan dalam ilmu rasional dan saintifik. atau ide-ide. Observasi yang teliti dan ketat dalam mengaplikasikan aturan-aturan logika. Ia murid Plato dan pernah tinggal bersama Plato selama kira-kira 20 tahun di Akademia. cendekiawan Muslim dan Yahudi. dengan mengabstraksikan ciri-ciri khusus dari setiap spesies. mencampur metode-metode rasional dengan iman dalam sebuah system keyakinan integral. berpandangan bahwa tidak ada satu pendapat pun yang dapat dikatakan lebih benar dari yang lain. namun tidak setuju dengan metode dalam mencapainya. seorang filosof dan teolog Itali yang bernama Santo Thomas Aquinas berupaya mensintesakan keyakinan Nasrani dengan ilmu pengetahuan dalam cakupan yang lebih luas.

Beberapa aliran dalam bidang ontologi. (2) Paham dualisme. kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. hubungan sebab akibat. Sementara kajian objek penelaahan yang berada dalam batas prapengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pascapengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontologi dari pengetahuan lainnya di luar iimu. dan (3) pluralisme dengan berbagai nuansanya. ruang. AKSIOLOGI DALAM KEILMUAN Filed under: Teknologi Pendidikan by Fadli — 3 Komentar Oktober 4. Ontologi ilmu membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang bisa dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui panca indera manusia. filosof Belanda. masalah utama yang muncul dalam pembahasan epistemologi adalah resistensi antara kubu rasionalis vis-à-vis kubu empiris (indriawi-persepsi). berasal dari kata Yunani episteme. Jiwa terpenjara badan. B. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia. Dunia ide. Epistemologi Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal. Jiwa abadi. yakni realisme. Filosof Francis. Namun tertanam dalam jiwa yang ada dalam diri manusia. Leibniz.Topik Pemikiran Pandangan tentang dunia Plato Ada 2 dunia: dunia ide & dunia sekarang (semu) Ide-ide yang berasal dari dunia ide Aristoteles Hanya 1 dunia: Dunia nyata yang sedang dijalani Segala sesuatu yang di alam yang dapat ditangkap indra Badan dan jiwa sebagai satu kesatuan tak terpisahka n. waktu. dan Berkeley. dan Whitehead. Rasio Vs Indra Persepsi Antara abad 17 hingga akhir abad ke-19. kebendaan. yaitu: (1) Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme. Kehidupan sehari-hari dan alam dunia nyata Observasi dan abstraksi. dan Aristoteles. empirisme. dan filosof Jerman. merupakan paham ontologik. Mengeluark an dari dalam diri (Anamnesis) dengan metoda bidan Cabang utama metafisika adalah ontologi. diolah dengan logika PARAGRAPH BARU………… ONTOLOGI. badan fana (tidak abadi). termasuk keberadaan. studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. nature. sifat. Pada masanya. Plato. yang berarti Perbedaan epistemologi Plato dan Aristoteles ini memiliki pengaruh besar terhadap para filosof modern. naturalisme. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. EPISTEMOLOGI. 2010i A. Mereka berpandangan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah logika deduktif (baca: qiyas) yang bersandarkan kepada prinsip-prinsip swabukti . Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Idealisme Plato mempengaruhi filosof-filosof Rasionalis seperti Spinoza. Sedangkan pandangan Aristoteles tentang asal dan cara memperoleh pengetahuan mempengaruhi filsu-filosof Empiris seperti Locke. Wilhelm Leibniz (1646-1716) adalah para pemimpin kubu rasionalis. Dan pendekatan ontologi dalam filsafat mencullah beberapa paham. methods and limits of human knowledge). Ontologi Kenyataan yang sejati Pandangan tentang manusia Asal pengetahua n Cara mendapatk an pengetahua n Terdiri dari badan dan jiwa. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis ialah seperti Thales. Baruch Spinoza (1632-1677). Hume. René Descartes (1596-1650). dan kemungkinan. sifat. metode dan batasan pengetahuan manusia (a branch of philosophy that investigates the origin. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge).

“pengetahuan ilrniah”. Sedangkan secara ontologi dan aksiologis. analitis sebagai lawan dari legalitas. 2000: 105). moral conduct. ilmuwan hams manrpu ntenilai antara yang baik dan yang buruk. C.“pengetahuan”. Sebuah keniscayaan. kesalahan. yaitu kehidupan sosial politik. yang pada hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap (Jujun S. kenyataan. bersikap positif terhadap keluarga kecil. 2000:36). Aksiologi dipahami sebagai teori nilai dalam perkembangannya melahirkan sebuah polemik tentang kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa disebut sebagai netralitas pengetahuan (value free).. manusia modem dicirikan oleh sikap individualistik. efisien menghargai waktu. struktur. pengetahuan. menghargai prestasi.esthetic expression. orientasinya pada ilmu dan teknologi. (3) nilai ekonomi : dalam kaitannya dengan nilai ekonomi. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh (Jujun S. kebolehjadian. 3) Darimana pengetahuan itu dapat diperoleh ?. yang akan melahirkan filsafat sosio-politik. 6) Apa perbedaan di antara: kepercayaan. Menurut Bramel dalam Amsal Bakhtiar (2004: 163) aksiologi terbagi dalam tiga bagian: Pertama. Suriasumantri. 2000:36). manusia modem dicirikan oleh tingkat produktivitas yang tinggi.belumnya Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilnuah disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada. yaitu tindakan moral yang melahirkan etika. Dengan demikian maka aksiologi adalah “teori tentang nilai” (Amsal Bakhtiar. dan keputusan yang diambil berdasarkan pada pertimbangan pribadi. Sebaliknya. “pengetahuan yang benar”. 5) Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra-pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan puma pengalaman) ?. ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value bound. gagasan. manusia modem dicirikan oleh sikapnya yang tidak fatalistik. jika ternyata putih katakan putih. sosio-political life. Jika ilmuan tidak dilandasi oleh landasan moral. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai. Secara konsisten dan koheren maka ilmu mencoba memberikan penjelasan yang rasional kepada objek yang berada dalam fokus penelaahan. menghargai profesionalisasi. Aksiologi Aksiologi berasal dari kata axios yakni dari bahasa Yunani yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. fakta. metode dan sahnya (validitas) pengetahuan. terorganisasikan dalam kehidupannya. kebenaran. maka peristiwa terjadilah kembali yang dipertontonkan secara spektakuler yang mengakibatkan terciptanya “Momok kemanusiaan” yang dilakukan oleh Frankenstein (Jujun S. Suriasumantri. (2) Nilai sosial : dalam kaitannya dengan nilai sosial. tanpa berpihak kepada siapapun juga selain kepada kebenaratt yang nyata. 2004: 162). dan logos = teori. Epistemologi dapat didefmisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. 2) Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu ?. serta terbuka terhadap ide-ide dan pengalaman baru. bahwa seorang ilmuwan harus mempunyai landasan moral yang kuat. 1986. Sikap inilah yang mengendalikan kekuasaan ilmu ilmu yang besar. dan menghargai hak-hak asasi perempuan. Suriasumantri. Ketiga. yaitu ekspresi keindahan. sebagai suatu kata benda abstrak. yaitu: 1) Nilai. 3) Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai. (5) Nilai agama: dalam hubungannya dengan nilai agama. 4) Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinitai ?. Ada tiga bentuk value dan valuation. pendapat. Nilai-nilai yang juga harus melekat pada ilmuan. kepastian ? Langkah dalam epistemologi ilmu antara lain berpikir deduktif dan induk-tif Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikurnpuikan se. Keduei. . Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa aksiologi disamakan dengan value dan valuation. penalaran sebagai lawan dari sikap mistis (Suriasumantri. Semiawan. 2) Nilai sebagai kata benda konkret. sebagaimana juga dicirikan sebagai manusia modern: (1) Nilai teori: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai teori dicirikan oleh cara berpikir rasional. dan penuh perhitungan. (4) Nilai pengambilan keputusan: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai ini dicirikan oleh sikap demokratis dalam kehidupannya bermasyarakat. Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1) Apakah pengetahuan itu ?.C 1993). bayangan. Netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologi raja: Jika hitam katakan hitam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful