Ontologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri). Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang: 1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak? 2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah: • • • • • • • • yang-ada (being) kenyataan/realitas (reality) eksistensi (existence) esensi (essence) substansi (substance) perubahan (change) tunggal (one) jamak (many)

empiris (misalnya antropologi, sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagainya).

Jul 30, 2007 at 09:16 PM
Oleh: A. Kamil

"Pandangan

dunia

(weltanschauung)

seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar. Semakin besar pengenalannya, semakin luas dan dalam pandangan dunianya. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban. peradaban Karena dan nilai sebaliknya hingga dan akan membuatnya terpuruk titik-nadir kualitas Anda

keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. ekuivalen dengan pengenalan dikenal atas apa yang Anda kenal. Wujud anda

ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu

PENDAHULUAN
Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat, yang pertama di sebut landasan ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut antara merasa ? bagaimana (sepert hubungan berpikir, yang objek dan

pengetahuan Denganb maka

yang

satu

dari lainnya.

pengetahuan-pengetahuan mengetahuan mudah

jawabankita dapat jenis dalam

jawaban dari ketiga pertanyaan ini dengan membedakan pengetahuan berbagai yang terdapat

khasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan berbagai kita mengenali yang ada pengetahuan

tadi dengan daya tangkap manusia mengindera) landasan menjawab membuakan berusaha yang ilmu? timbanya berupa

seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Ilmu di kacaukan dengan seni, ilmu agama, dikonfrontasikan dengan

pengetahuan?. Kedua di sebut dengan epistimologis; bagaimna di yang proses

memungkinkan pengetahuan

Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan itu sendiri? pengetahuan Apakah yang benar? Apa yang disebut kebenaran kriterianya? apa berupa yang ilmu?. Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang

bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu?

membantu kita dalam mendapatkan Sedang yang ketiga, di sebut dengan landasan aksiologi; landasan ini akan menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah moral? berdasarkan Bagaimana metode pilihan-pilihan merupakan ilmiah

PEMBAHASAN

A. Ontologi
Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak ada terikat yang oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang universal, semesta menampilkan pemikiran

kaitan antara teknik prosedural yang operasionalisasi dengan norma-norma

moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis

universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. 1. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat dalam seluruh kuantitas realitas. atau Bagi jumlah, pendekatan kuantitatif, realitas tampil tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliranaliran Referensi materialisme, atau tentang idealisme, itu naturalisme, hylomorphisme. kesemuanya

metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan posteriori. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Contoh : Sesuatu yang bersifat menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a

penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan pertama diuraikan di oleh di aristoteles belakang ketengahkan dalam hylomorphisme

lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri (S-Tt) Jadi, badan itu fana’ (S-P) Sedangkan pembuktian a

bukunya De Anima. Dalam tafsirantafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. 2. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas umum sesuatu sesuatu yang yang objek; menjadi sejenis. sedangkan cirri semua abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat Abstraksi

posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term realitas tengah yang a menunjukkan dinyatakan hanya saja posterioris akibat dalam cara disusun

kesimpulan pembuktian

dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : (Tt-S) Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan (Tt-P) Gigi geligi itu gigi

geligi rahang dinasaurus

Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (S-P)

Bandingkan pembuktian posteriori. a Yang

tata priori

silogistik dengan a di

yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Manusia dari itu tidak yang dapat kita lah memiliki maka

apriori

berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.[2] Sementara Jujun S. Suriasumantri dalam pembahasan juga tentang tentang ontologi dan memaparkan asumsi

pengetahuan pertanyaan caranya

sejati,

mengajukan memperoleh

“bagaimanakah kita

pengetahuan”?[3]

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme

peluang. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut.
B. Epistemologi

Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaanpertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang

Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalamanpengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objekobjek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidaktidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
b. Rasionalisme

Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman palingpaling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan

Fenomenalisme Bapak uraian Baran Fenomenalisme tentang sesuatu adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. seperti bentuk-bentuk dengan jalan intuisionisme memungkinkan pengalaman dan disusun secara penalaran. atau pengetahuan yang diperoleh pelukisan. c. demikian meliputi inderawi intuitif. Salah unsur paham adanya pengalaman satu yang ini di antara Bergson suatu di unsutdalam ialah. d. didasarkan tetapi tambahan dihasilkan dengan bahwa pada harus dengan bagi pengetahuan di samping oleh penginderaan. Analisa. bentuk samping Immanuel Kant. pengetahuan (Phenomenon). Karena itu kita tidak mempunyai tentang barang hanya keadaanya pengalaman yang dihayati oleh indera. memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. hanya untuk sebagian. Tetapi rasionalisme karena akal intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan dalam darinya. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. Dengan demikian data yang dihasilkannya bahan yang dapat merupakan pengetahuan tetap mengatakan pengetahuan pengalaman. sebagaimana berharga terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam sistematis pernah pengetahuan sesuatu sendiri. Hendaknya diingat. secara dengan tidak akan jalan dapat dari menggantikan hasil pengenalan langsung pengetahuan intuitif. Bagi Kant para benar bahwa penganut bila semua benar tentang gejala pengalaman baik maupun empirisme berpendapat pengalaman pengalaman pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun para juga penganut benar. Intusionisme Menurut Bergson. Kant membuat pengalaman. intuisi adalah Intusionisme – setidak-tidaknya beberapa bentuk-hanya bahwa mengatakan pengetahuan yang lengkap di . Kant masih benar melainkan tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. artinya.terletak di dalam ide kita. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.

Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang sebagai kenyataan. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. Aksiologi Pertanyaa semacam ini jelas tidak Copernicus. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang berputar yang kesemestaan bahwa mengelilingi alam dan yang menemukan “bumi perkataan lain. belaka. itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kemanusiaan mengubah sendiri. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan ini ini kekhawatiran tak untuk dapat di perang dunia ketiga.” melainkan faust yang menciptakan Goethe. barang pernah seperti menampak oleh intuisi.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. mempertanyakan ilmu itu hal-hal yang bersifat seharusnya: sebenarnya harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana harus urgensi perkembangan diarahkan? bagi ilmuan dan namun keilmuan merupakan seperti ilmuwan yang menampak kepada kita. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan dehumanisasi itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kamanusiaan mengubah sendiri. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. Galileo seangkatannya. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. e. “bukan lagi Goethe matahari” ajaran dan bukan sebaliknya seperti apa dinyatakan oleh . maka berpaling kepada hakikat moral. pertanyaan Dan menjawan ilmuan Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan dan yang mempengaruhi manusia itu reproduksi gejala penciptaan sendiri. Sebenarnya pertumbuhannya terkait moral dengan namun sejak ilmu dalam saat sudah perkataan lain.” Menghadapi kenyataan seperti ini. masalah-masalah perspektif yang berbeda. C. yaitu tidak sesuatu lawan dari apa yang diberikan Mereka sesuatu merupakan mengatakan. ilmu adanya untuk yang mulai apa pada alam hakikatnya sebagaimana mempelajari analisa. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya.peroleh melalui intuisi. pertanyaanpertanyaan elakkan. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang saja-yang meliputi sebagian oleh diberikan yang menciptakan Faust.

Sejarah rela kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar.” yang berkonotasi metafisik. mencabut bumi inkuisisi Galileo pada tahun 1633. tergelincir rasional 1. (nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran keilmuan di petualangannya (adakah dalam esensial negeri ajaib. pengetahuan kaitan antara berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana penggunaan kaidah-kaidah penentuan Bagaimana prosedural dengan tersebut moral? objek kaitan yang yang dengan Bagaimana ditelaah teknik ilmiah berdasarkan pilihan-pilihan moral? antara merupakan norma-norma berputar mengelilingi matahari. “asalkan kau mampu menemukannya.” lebih kemerlap yang keberanian yang gelap.agama. dalam avontur intelektual?). (1564-1642). yang objek merasa tadi dan daya tangkap manusia moral prostitusi secara seperti intelektual. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi maka untuk Tanpa ilmuwan dapat yang ini menemukan landasan mudah melakukan Penalaran harkatnya berganti sekali kebenaran. Jadi pada dasarnya ini apa adalah apa yang bidang berusaha yang cara menjadi ontologi untuk kajian dalam Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi Galileo pengadilan dipaksa pernyataanya pada pengadilan oleh tersebut. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan dengan (sepert antara berpikir. kata di moral. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. sedangkan di pihak lain. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral ajaran (yang agama) bersumber pada rasionalisasi mendustakan “segalanya Alice dalam yang punya bersifat kebenaran. terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan diluar antaranya bidang agama. telah membawa manusia mencapai sekarang dengan proses mengindera) membuakan . operasionalisasi metode moral/professional?[4] PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : Ontologis. agama untuk bahwa menjawab pertanyaan-pertanyaan.

[5] Jujun S. Jakarta. Filsafat Ilmu. Penerbit Rake Sarasin. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. 135-136. 1995. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Paragrap Baru ya Jeeng!! prosedurnya? apa yang harus di perhatikan agar mendapatkan benar? Apa itu pengetahuan yang disebut Apakah kebenaran kriterianya? sendiri? Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang apa yang membantu kita dalam mendapatkan berupa ilmu?. 3. Suriasumantri. Yogjakarta. 2001. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Dr. Suriasumantri. 2. Pustaka Sinar Harapan. 1996. Pustaka Sinar Harapan. Louis O. hal. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta. Kattsouff. Sistematika filsafat II. Filsafat Ilmu. Noeng Muhadjir. Tiara Wacana. Suriasumantri. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna memungkinkan pengetahuan Bagaimana kita yang yang proses di yang timbanya Hal-hal Yogjakarta. Yogjakarta. 34-35. hal. Pengantar filsafat. berupa ilmu? [1] Jujun S. Hal. 34-35. Yogjakarta Sidi Gazalba. Tiara Wacana. Aksiologi menjawab. Suriasumantri. [2] Prof. 34-35. 1996. Prof. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan ditelaah antara metode kaidah-kaidah berdasarkan teknik ilmiah moral? pilihanyang normaBagaimana penentuan objek yang pilihan moral? Bagaimana kaitan prosedural dengan merupakan norma moral?[5] operasionalisasi Ontologi(HakikatIlmu) Obyek apa yang telah ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Epistimologi(CaraMendapatkanPengetahuan) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan dengan benar? Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? Aksiologi(Guna Pengetahuan) Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan? Bagaiman kaitan antara cara penggunaan DAFTAR PUSTAKA Jujun S. Kattsouff. Pustaka Sinar Harapan. merasa. H. Noeng Muhadjir. Penerbit Rake Sarasin. Dr.pengetahuan?. Yogjakarta. 2001 [3] Louis O. Jakarta. . [4] Jujun S. hal. Pengantar filsafat. H.

Mempersoalakan tentang wujud hakiki objek ilmu atau keilmuan itu apa? Objek ilmu atau keilmuan adalah dunia empirik. Mazhab berpikir emperisme mengatakan bahwa untuk membuktikan sesuatu itu ada maka kita memerlukan pengetahuan atau epistemologi sebagai sumber dari pengetahuan kita sehingga kita bisa mengatakan dia ada atau tidak ada karena kita punya pengetahuan tentangnya. namun pertanyaan kemudian yang diajukan Ontologi → ontos = sesuatu yang berwujud. ataukah memang dia mempunyai keberadaan tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia itu mempunyai keberadaan. John Look. dunia yang dapat dijangkau pancaindra → objek ilmu adalah pengalaman indrawi. Thomas Hobbes. namun ada pertanyaan yang bisa diajukan kepada mereka: 1.shvoong. pada umumnya tokoh-tokoh filosof dibarat seperti.tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan normanorma moral/profesional? Sumber: http://id. Ontologi: ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak? Benarkah ilmu ada? Apakah konsep ilmu sebagai kajian tentang kausalitas itu bermakna di tengah ruang yang tidak terbatas itu? Dari teori hakikat (ontologi) ini → muncul beberapa aliran dalam filsafat Filsafat Materialisme Filsafat Idealisme Filsafat Dualisme Filsafat Skeptisme Pokok permasalahan yang menjadi objek kajian filsafat mencakup: Logika (benar-salah) Etika (baik-buruk) Estetika (indah-jelek) Teori tentang Ada (tentang hakikat keberadaan zat. ada hal yang mendasar dalam diskusi-diskusi tentang epistemologi. Kajian mengenai organisasi sosial → terangkum dalam politik . Ontologi sebagai cabang filsafat bertugas memberi jawaban atas pertanyaan: Apa sebenarnya realitas benda itu?. Ontologi: ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika. apakah keberadaan sesuatu itu karena kita memberikan konsepsi kepada sesuatu itu. karena dia membuktikan lewat sebuah analisa pengetahuan yang sifatnya emperikal sementara filosof yang lain mengatakan bahwa ontologilah yang lebih dulu ada. 2. dua hal ini kemudian yang memetakan antara aliran pemikiran yang bersifat materialistis dan aliran pemikiran yang bersifat metafisika.shvoong.com/humanities/philosophy/213 0959-ontologi-epistimologi-dan-aksiologiilmu/#ixzz1Jlm8EN5P Paragrap baru juga ya…. Para filosof yang bermazhab emperisme dalam membuktikan tentang kelebih-dahuluan epistemologi dari ontologi mengatakan bahwa epistemologilah yang yang lebih dulu ada. mereka mengatakan bahwa epitemologilah yang lebih dulu ada dari pada ontologi. karl Marx dan David Home. logos = ilmu. yaitu perdebatan tentang apakah epistemologi yang lebih dulu ada dari ontologi ataukah ontologilah yang lebih dulu ada dari epistemologi.com/humanities/philosophy/212 3997-ontologi/#ixzz1JlmhXDhr Mengenal EPISTEMOLOGI PART 1 A. hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran → terangkum dalam metafisika). jawaban dari pertanyaan diatas akan memberikan gambaran kepada kita bahwa apakah realitas itu ada tanpa kita memberikan penilaian keberadaan terhadap keberadaannya. Sumber: http://id. bagaimana caranya mereka bisa mengetahui sesuatu itu ada tanpa adanya realitas. Epistemologi Perdebatan tentang epistemologi adalah sesuatu yang diperdebatkan sepanjang sejarah karena epistemologi adalah hal yang sangat substansil dalam melakukan penilain terhadap sesuatu.

2005). Ferrier. Pengertian lain. 3). sehingga didapatkan pengertian yang berbeda-beda.com/socialsciences/sociology/2073233-mengenalepistemologi/#ixzz1Jln1DVKs Paragraph baru ok! Pengertian Epistemologi oleh: andra5463 Pengarang : radityo Secara historis. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya. dan logos berarti teori. Lazimnya. sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu.Suriasumantri. metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. 2). dia baru bisa menjelaskan proses belajar.kepada kaum emperik adalah dari mana pengetahuan itu bisa ada kalau tidak ada realitas yang lebih dulu ada. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasanpembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian). seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya. 2003. guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. seperti keberadaan bulan dan bintang adalah sesuatu yang niscaya adanya tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia ada atau tidak. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. Sebagai sub sistem filsafat. karena tanpa realitas maka mustahil kita bisa mengetahui sesuatu. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. buka saja pada redaksinya. untuk membedakan dua cabang filsafat. Misalnya. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). 1965. bahwa ontologilah yang lebih dulu mempunyai keberadaan. hambatan-hambatan belajar. pengandaian- . Jadi. melainkan juga pada substansi persoalannya. Demikian pula. 2010 Sumber: http://id. gaya belajar. Sedangkan. dan sesuatu itu akan tetap mempunyai keberadaan tanpa kita secara subyektif memberikan penilaian tentang keberadaannya. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. Dalam Epistemologi.32).Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu.shvoong. teori belajar.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. karena memang pada kenyataannya dia memang sudah mempunyai keberadaan. pembahasan konsep apa pun. Diterbitkan di: 11 Nopember. selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis. prinsip-prinsip belajar. Menurut Musa Asy’arie.F.Hardono Hadi menyatakan. Secara etimologi. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. epistemologi dan ontologi. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. dalam Jujun S. ini adalah menjadi problem dalam sebuah sains atau pengetahuan yang berdiri diatas pijakan yang emperisme terutama yang dibangun di Eropa terutama pasca Fransisco Bacon Mazhab Metafisika mencoba menjawab. dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumbersumber pengetahuan ? apakah hakikat. P. hal. struktur. Setelah memahami substansi belajar tersebut. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J.

Sementara itu. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. 2010 Sumber: http://id. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan. pengalaman. Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). dasar dan pengendaianpengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. atau kombinasi akal dan pengalaman.shvoong. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. dan aksiologi.pengendaian dan dasarnya. yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. naturalsime dan empirisme. apakah ia materi atau bukan. struktur. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. objek dibahas dari keberadaannya. korespondesi pragmatis. Azyumardi Azra menambahkan. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan. Diterbitkan di: 04 Desember. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). fenomenologi dan sebagainya. diungkapkan oleh Dagobert D. Secara ontologis. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami. struktur. intuisi. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. Sedangkan D. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu. Selanjutnya. Akal. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. yaitu ontologi. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya. empirisme.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. epistemologi. sarana. akal budi. yakni realisme. metode atau cara memperoleh pengetahuan. 1. 2. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. positivisme. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. sum-ber pengetahuan. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik).com/humanities/philosophy/208 2651-pengertian-epistemologi/#ixzz1JlnTNlLC Baruuuu………. EPISTEMOLOGI ILMU oleh: anin Filsafat Pengarang : Elvira Syamsir Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak .Runes. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. yaitu realisme dan idealisme. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. rasionalisme kritis. dan teori intersubjektif. metode-metode dan validitas pengetahuan. pengertian. seperti teori koherensi. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme. Dia menyatakan. asal mula pengetahuan.

metode deduktif. macamnya. Diterbitkan di: 18 Maret. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan.teruji.shvoong. 2008 Sumber: http://id. Secara rasional. BARUUUU LAGI ISYRAQ Mendulang Cahaya Epistemologi. 3. dan dari sisi ini. dasar dari semua ilmu empirik adalah prinsip kausalitas dan kaidah ini menjadi pokok bahasan dalam filsafat. Namun. Begitu pula. dengan demikian. Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Ilmu-ilmu yang dimiliki Secercah Teori oleh manusia berhubungan satu sama lain. dan jenis pengetahuan. matematika dan statistika. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. yakni nilai dan validitas ilmu-ilmu lain bergantung kepada ilmu tertentu. ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji. filsafat merupakan dasar dan pijakan bagi ilmu-ilmu empirik. termasuk ilmu logika dan ilmu-ilmu . Sebagai contoh. ensiklopedia bebas Epistemologi. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat. pengandaian-pengandaian. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. epistemologi (teori pengetahuan). Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal. Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan. bagaimana karena mengkaji seluruh tolok ukur ilmu-ilmu manusia. sikap. diantaranya. Epistemologi Dari Wikipedia bahasa Indonesia. metode kontemplatis dan metode dialektis. metode positivisme. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. dasardasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. diletakkan sebagai pendahuluan dalam filsafat dan setiap ilmu-ilmu lain. baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. metode induktif.com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1Jlo8CibK PARAGRAPH BARU karakteristiknya. ilmu tertentu ini dikategorikan sebagai ilmu dan pengetahuan dasar. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. maka dari itu ia bisa ditempatkan sebagai dasar dan asas bagi seluruh pengetahuan manusia. Sebagian ilmu merupakan asas dan pondasi bagi ilmu-ilmu lain. ilmu logika yang merupakan alat berpikir manusia dan ilmu yang berkaitan dengan cara berpikir yang benar. dan tolok ukur keterkaitan ini memiliki derajat yang berbedabeda. serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode. sifat. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang. misalnya tentang apa itu pengetahuan.

sebelumnya. Namun pada sisi lain. Namun belakangan ini. Aristoteles. merupakan dasar dan pondasi segala ilmu dan pengetahuan. Latar belakang hadirnya pembahasan memunculkan keraguan terhadap nilai akal dan indra lahir di Eropa. di Islam. dan ilmu merupakan bagian pembahasan tentang makrifat jiwa. dan tolok ukur kebenaran dan kekeliruan suatu proposisi. Pengertian Epistemologi Manusia dengan latar belakang. dikategorikan sebagai disiplin ilmu tertentu. Pada era tersebut. wujud pikiran. misalnya dalam pokok kajian tentang jiwa. begitu banyak persoalan epistemologi dikaji secara meluas dalam pokok-pokok pembahasan filsafat Islam. akan tetapi. para pemikir banyak yang sendiri berbeda pendapat akal dalam dan persoalan saling mengenai dalam rasionalitas. diletakkan setelah epistemologi. Lahirnya kaidah itu menjadi penyebab berkembangnya validitas sehingga akal dan indra lahir kalinya sedemikian berakibat untuk kedua epistemologi Akan tetapi. akal teoritis dan praktis. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Tuntutan fitrah manusia dan rasa epistemologi itu adalah karena para pemikir melihat bahwa panca indra lahir manusia yang merupakan satu-satunya alat penghubung manusia dengan realitas eksternal terkadang atau senantiasa melahirkan banyak kesalahan dan kekeliruan dalam menangkap objek luar. epistemologi menjadi suatu bidang disiplin baru ilmu yang mengkaji sejauh mana pengetahuan dan makrifat manusia sesuai dengan hakikat. sebagian pemikir tidak menganggap valid lagi indra lahir itu dan berupaya membangun struktur pengindraan . epistemologi lantas menjadi suatu disiplin ilmu baru di Eropa yang dipelopori oleh Descartes (1596-1650) dan dikembangkan oleh filosof Leibniz (1646–1716) kemudian disempurnakan oleh John Locke di Inggris.[2] 1. kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. objek luar. dan makrifat jiwa. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan epistemologi banyak dikaji dalam pembahasan tentang akal. dan realitas eksternal. Pengindraan. objek akal. epistemologi diposisikan sebagai salah satu disiplin ilmu.[1] Dengan alasan itu. lahir kembali kepercayaan kuat terhadap indra lahir yang berpuncak pada Positivisme. ilmu logika merupakan ilmu tentang metode berpikir dan berargumentasi yang benar.manusia yang bersifat gamblang. berupaya menyusun kaidah-kaidah logika sebagai aturan dalam berpikir dan berargumentasi secara benar yang sampai sekarang ini masih digunakan. khususnya di barat. dengan demikian. kenon-materian jiwa. Hingga tiga abad bukanlah pada dua sebelum suatu abad abad ilmu ini. persoalan epistemologi sangat dipandang serius sedemikian sehingga filosof Yunani. Walaupun ilmu logika dalam beberapa bagian memiliki kesamaan dengan epistemologi. dan setelah Renaissance dan kemajuan ilmu empirik. yang valid yang rasional. dan keberadaan argumentasi akal kontradiksi masalahmasalah pemikiran kemudian berefek pada kelahiran aliran Sophisme yang mengingkari validitas akal dan menolak secara mutlak segala bentuk eksistensi eksternal. akan tetapi. Dalam filsafat Islam permasalahan epistemologi tidak dibahas secara tersendiri. persepsi.

Dengan perantara teropong itu sendiri. sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. bentuk. pengetahuan. 3. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna. akan tetapi. Namun.ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. tolok ukur kebenaran hasil pikiran. dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal. Kita bisa mengajukan Seseorang sedang melihat suatu pemandangan jauh melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Manusia bisa memiliki ilmu. 4. Hakikat itu bisa dicapai. keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah jelasnya yang yang diperdebatkan. 2. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. Pada suatu sesuatu dasarnya. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini. Apabila manusia melontarkan suatu dengan adanya oleh kemungkinan teropong. diketahui. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal. Hakikat itu ada dan nyata. persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. Akal bisa dan pikiran yang tidak menjawab persoalan-persoalan ilmu dan pengetahuan dihadapinya. dan jalan menuju tertutup bagi manusia. dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran ini besar akan atau semakin kecil?. masih merupakan kekinian persoalan-persoalan manusia. hakikat yang manusia dan tidak ingin menggapai mengetahui Manusia persoalan terakhir ini berbeda dengan yakni persoalan-persoalan sebelumnya. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada. contoh teropong Untuk berikut dan lebih ini. perhatikan dengan berupaya diketahuinya. kuat Keraguan-keraguan pertanyaan tentang hakikat itu. nilai dan keabsahan pikiran. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong jauh. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai kita hakikat sebagaimana adanya. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran. aktual dan kita bagi Terkadang itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang kontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang manusia?Persoalan- . dan makrifat atas hakikat manusia itu. dan dipahami. Dengan ungkapan lain. yang keraguan ini akan menguat khususnya apabila mengamati pada kesalahan-kesalahan lahir dan terjadi indra sejarah kontradiksi- penampakan pertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. kesalahan Pertanyaan- pertanyaan yang baru. persepsi-persepsi pikiran.

Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu . Sisi ini menjadi salah satu pembahasan filsafat. tersebut adalah sebagai berikut: a. Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang bersifat empirik. dan ilmu manusia. Istilah-istilah ilmu j. logika. teknologi. kebenaran makrifat. Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalahmasalah sejarah dan geografi. pengetahuan manusia. subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî[4]. Cakupan pokok bahasan. c. dua poin penting akan dijelaskan: 1. e. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan pokok pengkajian memperhatikan epistemologi definisi ilmu. validitas. Dalam hal ini. keabsahan. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. i. d. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat. juga meliputi hudhûrî[5]. segala hal yang hakiki.[7] epistemologi. g. ilmu Tuhan. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan eksternal. alat. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. Sudut pembahasan. definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas dan tentang batasan. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. Makna leksikal ilmu adalah sama secara dengan umum pengideraan dan mencakup 2. Dengan demikian. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini. tolok ukur. ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika Ilmu adalah pembenaran (attashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini[6]. sebagai (mantik).mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. ilmu. ilmu para malaikat. dan psikologi. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. hushûlî dan ilmu hudhûrî. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. pondasi. Ilmu ialah gabungan proposisiproposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik. bisa dikatakan bahwa tema dan ialah makrifat dan pengetahuan. yakni apakah h. Ilmu (hudhûrî) adalah dan kehadiran bentuk ini ilmu Istilah mencakup segala penyingkapan. Makna ini digunakan dalam filsafat Islam. kemahiran. b. yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. maka dari sudut mana subyek ini dibahas.[3] 2. ilmu-ilmu dan seperti keterampilan. Sisi dibidang ontologi dan hushûlî. sains. Ilmu yang hanya dimaknakan pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. dasar dan dan f.

Dengan demikian. menggunakan akal dan rasio. telah Dalam dua pengertian tersebut. pengetahuan[8]. yakni metode yang digunakan oleh akal untuk menyelami dan memahami realitas eksternal sebagaimana adanya dalam penggambaran dan pembenaran. c. 3. ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokokpokok pembahasannya. ilmu. Dan dari sisi ini. karena akar pembahasan ini terkait langsung dengan pembahasan epistemologi. diasumsikan mengenai kemampuan. Metode Epistemologi Dengan pengertian jelaslah memperhatikan epistemologi. karena apabila kemampuan dan validitas akal belum dikaji dan ditegaskan. dan validitas akal dalam memahami hakikat dan realitas eksternal. atau akal dan agama. khususnya pembahasan yang terkait dengan kontradiksi ilmu dan agama. Hubungan Epistemologi dengan IlmuIlmu Lain a. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu Logika. 4. Ilmu kalam (teologi) ialah suatu ilmu yang menjabarkan proposisiproposisi teks suci agama dan penyusunan argumentasi demi mempertahankan peran dan posisi agama. epistemologi dan ilmu logika merupakan mukadimah bagi filsafat. Pengertian terhadap pengenalan realitas eksternal. Ilmu tafsir adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan metode penafsiran kitab suci. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. maka jelaslah mengenai urgensi kajian epistemologi.sebelumnya penyebab dan faktor riil yang menjadi adalah definisi ini. Sementara filsafat dalam pengertian khusus (metafisika) adalah membahas kaidah-kaidah umum tentang eksistensi[9]. karena untuk menjelaskan memerlukan analisa lain. Jadi. b. tingkatan Sudut dan pencapaian suatu pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaanperbedaan ilmu. Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas observasi pengetahuan. 5. metode bahwa definisi maka ilmu ini dan menjadi adalah Filsafat. maka mustahil kita membahas mengungkap logika masih tentang suatu perlu metode hakikat akal dan untuk bahkan dan hadirnya pengindraan dibahas dalam ilmu logika. Dengan memperhatikan . atau pengkajian seputar pluralisme dan hermeneutik. Jadi. dan pembagian dan batasan-batasan metode-metode yang ditetapkan oleh ilmu dipertanyakan rekonstruksi. dan hakikat keberadaan. kodrat. walhasil masih menjadi hal yang diragukan. bisa dikatakan bahwa epistemologi jika dikaitkan dengan ilmu logika dikategorikan sebagai pendahuluan dan mukadimah. epistemologi berperan sentral sebagai alat penting bagi kedua ilmu tersebut. Ilmu logika adalah suatu ilmu yang mengajarkan tentang metode berpikir benar. bahasannya Yang koridor dimaksud ilmu-ilmu kajian metode akal di sini adalah meliputi seluruh rasional dalam hushûlî dan ilmu hudhûrî. Dan dari dimensi untuk menguraikan sumber epistemologi dan perubahan yang terjadi di sepanjang sejarah juga menggunakan metode analisa sejarah. Hubungan epistemologi umum filsafat eksistensi dengan adalah (ontologi). pokok-pokok analisa akal. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap ilmu. Urgensi Epistemologi Jika kita perhatikan definisi epistemologi dan hubungannya dengan ilmu-ilmu lainnya. Hubungan epistemologi dengan Teologi dan ilmu tafsir.

Semua kenyataan ini berarti bahwa pencapaian keyakinan dan kebenaran adalah sangat mungkin dengan perantaraan akal dan argumentasi rasional. maka yang tertinggal hanyalah sifat kehewannya. dengan demikian. Hubungan dan saling epistemologi terkait. begitu banyak ayat al-Quran berkaitan dengan argumentasi akal. akal berguna pengakuan beranggapan bahwa makrifat agama adalah bukan bagian dari ilmu. sementara tersebut tak menguasainya. maka adalah penetapan wakil hukum yang sisi hanya berada hak ditangan Tuhan. ini tersebut? adalah Dengan inti begitu.terkhusus lagi apabila kita menyimak ruang pemikiran dan budaya yang ada serta kritikan. sebagian seluruh aktivitasnya dinapasi oleh akal dan pengetahuan. pemerintahan seorang bahwa hakim (filosof). langkah pertama yang mesti diambil . memotivasi manusia untuk menggapai ilmu dan makrifat. dan dari aspek lain. jawaban atas segala persoalan mendasar niscaya dengan upaya-upaya rasional dan filosofis. maka dari itu. memerintah. dan jika ada orang yang ragu atas realitas ini. dan persoalan inti yang dimunculkan seputar keyakinan agama dan dasar-dasar etika. dan untuk memerintah mesti dibutuhkan ilmu politik kaum dan ulama pemerintahan. Pembahasan membuktikan pengkajian seperti kepada epistemologi tersebut kita dan di atas pentingnya konklusi- konklusinya. dengan demikian. dan hak-hak asasi manusia dimana sentral dari berpijak semua pada pembahasan epistemologi. fiqih. dan keraguan akan senantiasa bersama manusia bahwa apakah akal telah memberikan solusi yang benar atas perkara-perkara pertanyaan epistemologi. karena ilmu-ilmu alam dan matematika tidak mampu memberikan solusi komprehensif dan universal atasnya. maka minimalnya iaharus menerimanya untuk menjawab segala bentuk kritikan. segala dinamika hidupnya berasal dari kecenderungan hewaninya. mereka tidak berhak memerintah. penafsiran. pembatas merupakan substansial antara iadengan hewan. maka persoalan yang kemudian muncul ialah apakah akal manusia mampu akal menyelesaikan belum persoalanmaka dalam persoalan tersebut? Jika nilai dan validitas pengenalan tidaklah ditegaskan. yang Rahasia dan kemanusiaan manusia adalah bahwa ia mesti berakal mengaplikasikan kekuatan akal dalam semua segmen kehidupannya serta seluruh kehendak dan dan iradahnya terwujud melalui pancaran dari petunjuk akal. karena Islam dengan persoalan pada tersebut pada menjadi potensi maujud akal-pikiran. Yang pasti. suatu rangkaian persoalan yang prinsipil menjadi terkonstruksi dengan tujuan untuk mencarikan solusi atas segala permasalahan yang timbul berkaitan dengan dimana pengetahuan hal itu dan akal manusia.[10] Perbedaan hakiki manusia dan hewan terletak mengajukan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi manusia. keraguan.” Dan juga berkaitan dengan karena manusia tak bisa memahami hakikat dirinya sendiri sebagaimana yang semestinya. Manusia ialah maujud yang berakal dan politik adalah hal yang juga tak bisa disangkal Plato Anda bisa berkata bukan dikatakan penguasa Yunani ketika itu. “Anda tidak layak memerintah. dan menolak segala bentuk keraguan. dan para ulama yang adil Tuhan Pada memiliki lain. Hal ini berarti bahwa jika akal rasionalitasnya dipisahkan kehidupannya. Karena telah jelas urgensi upaya rasional untuk kehidupan hakiki manusia. Pertanyaanpembahasan sebelum melangkah ke arah upaya-upaya rasional dan filosofis.

macam-macam ilmu hudhûrî. maka tak satu pun pemikiran filsafat manusia dan penemuan ilmiah yang akan bernilai. sementara relativsime nampak pada pemikiran Immanuel Kant. atau hushûlî dan hudhûrî. Muncul suatu pertanyaan. karena semua aliran filsafat dan ilmu mengaku alam.adalah membedah persoalan-persoalan kepada kita bagaimana hidup semestinya. apabila kita merujuk kepada daftar isi persoalan-persoalan yang berkaitan persoalan eksternal dengan tentang dan pengetahuan. epistemologi. sedangkan pandangan dunia menempati filsafat teoritis. Filsafat praktis bergantung kepada filsafat teoritis. Ideologi menyatakan . penyebab lahirnya perbedaanperbedaan tersebut terletak pada perbedaan pandangan dunianya (word view) masingmasing. Walaupun masih dibutuhkan langkah-langkah besar untuk menyelesaikan dari perbedaan dasar-dasar pengenalan. Ideologi menentukan apa yang mesti dilakukan oleh manusia dan mengajukan bagaimana metode mencapai tujuan itu. Dengan ungkapan lain. semua ideologi berpijak pada pandangan dunia dan setiap pandangan dunia tertentu akan menghadirkan ideologi dan aliran sosial tertentu pula. kami akan kutip ungkapan seorang pemikir dan filosof Islam kontemporer asal Iran . dan hal yang terkait dengan kategori-kategori kedua filsafat[14]. dan epistemologi. ia berkata “Pada era ini kita menyaksikan keberadaan aliran-aliran filsafat sosial dan ideologi yang berbeda dimana masing-masingnya mengusulkan suatu jalan dan solusi hidup. Perjalanan historis epistemologi oleh dalam filsafat barat ke arah skeptisisme dan relativisme. rahasia fenomena eksistensial lainnya. Skeptisisme diwakili pemikiran David Hume. Berkenaan dengan urgensi epistemologi. mampu Konstruksi pemikiran universal filsafat yang Islam sedemikian kuat dan sistimatis sehingga memberikan solusi mendasar atas persoalan yang terkait dengan epistemologi. Ideologi seperti filsafat praktis. Sementara perjalanan sejarah epistemologi di dalam filsafat Islam mengalami suatu proses yang menyempurna dan berhasil menjawab segala bentuk keraguan dan kritikan atas epistemologi. Mengapa suatu ideologi berpijak pada materialisme dan ideologi lainnya bersandar pada teisme? Perbedaan pandangan dunia tersebut pada hakikatnya bersumber [11]“ Epistemologi pada Zaman Yunani Kuno dan Abad Pertengahan Perjalanan historis epistemologi dalam filsafat Islam dan Barat memiliki perbedaan bentuk dan arah. pengetahuan. keberadaan kemungkinan misalnya realitas terjalinnya Mengapa ideologi mengarahkan kita? Karena pandangan dunia menegaskan suatu hukum yang mesti diterapkan pada masyarakat dan sekaligus menentukan arah dan tujuan hidup masyarakat. maka akan menjadi jelas bagi kita bahwa epistemologi merupakan pemberi validitas dan nilai kepada seluruh pemikiran filsafat dan penemuan sehingga ilmiah kalau manusia sedemikian yang persoalan-persoalan berhubungan dengan ilmu dan pengetahuan tersebut belumlah menjadi jelas. yakni ilmu dibagi menjadi gagasan/konsepsi (at-tashawwur)[12] dan penegasan (at-tashdiq)[13]. telah berhasil dan mengungkap hakikat manusia. Murthada Muthahhari . Aliran-aliran ini memiliki sandaran pemikiran yang bersaing satu sama lain untuk merebut pengaruh. Apa yang ditentukan oleh pandangan dunia. mengapa aliran-aliran dan ideologi-ideologi tersebut memiliki perbedaan? Jawabannya. itu pula yang akan diikuti oleh ideologi. Pembahasan yang berhubungan dengan pembagian ilmu. Hal ini karena. hubungan manusia dengan realitas eksternal itu.

hal ini karena terdapat kontradiksikontradiksi [18] Pythagoras parameter berkata. Epistemologi di Zaman Yunani Kuno eksistensi segala sesuatu. ia menekankan pada indra lahir. segala “Manusia sesuatu. sementara [16] Heraklitus berbeda dengan Parmenides. dan mizan ketiadaan segala sesuatu[19]. karena ilmu memestikan kekonstanan dan ketetapan. Sejarah Epistemologi dalam Filsafat Barat Apabila filsafat kita Barat membagi dalam perjalanan zaman sejarah tertentu menerus pada segala sesuatu. akan tetapi. iamengungkapkan satu sisi dari sisi-sisi lain dari epistemologi yang merupakan sumber dan alat ilmu. Gorgias menyatakan bahwa sesuatu itu tiada. apabila ia ada. dan dengan cara pendefinisian. abad pertengahan. maka secara implisit bisa dikatakan bahwa pada zaman itu juga lahir epistemologi. maka perolehan ilmu menjadi hal yang mustahil. Pembagian kemudian segala Iamemandang bahwa hakikat itu tidak relatif menjadi perhatian para filosof dan sumber . dengan keberadaan itu.[20] Berdasarkan penulis sejarah filsafat. pemikiran-pemikiran mereka. hal-hal yang senantiasa berubah maka mustahil tiga terwujud sifat-sifat khusus dari ilmu tersebut. namun tidak bisa dipindahkan. Dan epistemologi setelah Renaissance Descartes mengalami suatu perubahan baru. sebagian peneliti sejarah filsafat menganggap pemikirannya sebagai dasar Skeptisisme. Heraklitus melontarkan gagasan tentang perubahan yang konstan atas segala sesuatu dan berkeyakinan bahwa dengan adanya perubahan yang terus indra lahir hanya bersifat penampakan dan bahkan terkadang menipu. Oleh karena itu. kalau pun iabisa dipahami. akan tetapi. Pembahasan-pembahasan yang dilontarkan oleh kaum Sophis dan filosoffilosof pada zaman itu mengandung poin-poin kajian yang penting dalam epistemologi. (Yunani kuno. Hal ini karena iamenempatkan dan menekankan akal itu sebagai tolok ukur hakikat. dalam kajian filsafat pasca itu epistemologi menjadi inti kajian filsafat dan hal-hal yang berkaitan dan dengan ontologi dikaji secara sekunder. Gagasan Pythagoras ini kelihatannya lebih menyuarakan dimensi relativitas dalam pemikiran. Hal yang mesti digaris bawahi ialah pada zaman Yunani kuno dan abad pertengahan epistemologi merupakan salah satu bagian dari pembahasan filsafat. hakikat mengungkap dan nisbi. orang pertama yang membuka lembaran kajian epistemologi adalah Parmenides[15].[17] Kaum Sophis ialah kelompok pertama yang menolak definisi ilmu yang bermakna kebenaran yang sesuai dengan realitas hakiki eksternal.persoalan-persoalan partikular yang mendetail di dalam epistemologi. Socrates ialah filosof pertama pasca kaum Sophis induksi yang dan lantas bangkit ia mengkritisi berupaya sesuatu. 1.[21] Democritus beranggapan bahwa indra lahir itu tidak iabagi dan akan pernah mengantarkan majasi pada dimana dan pengetahuan benar dan segala sifat sesuatu menjadi sifat-sifat hakiki dihasilkan dari penetapan pikiran seperti warna sifat-sifat seperti sifat bentuk ini ukuran[22]. Pada dasarnya. maka mustahil diketahui. akal dipandang sebagai yang valid. dan modern) dan menempatkan Yunani kuno sebagai awal dimulainya filsafat Barat. merupakan tolok ukur pada akal dan kesalahan pengamatan yang dilakukan oleh indra lahir. 2.

Dalam hal ini. tak proses pembuktian ini harus berakhir pada kaidah yang sangat gamblang lagi membutuhkan pertama pembuktian yang sangat rasional. Plato.[26] Iamenetapkan penggambaran universal. lebih menekankan penjelasan yang ilmu dan pembuktian dengan bahwa asumsiasumsinya daripada menjelaskan persoalan berkaitan Iayakin probabilitas setiap ilmu pengetahuan. bahkan menolak dan kebenaran Sebagian secara lain dari mereka adanya mutlak penetapan makna-makna maujud di ruang memori pikiran atas perkara-perkara indriawi. dari melainkan kesalahan kekeliruan bersumber dan serius makrifat para lantas menjadi epistemolog rasionalitas. ilmu matematika dianggap hal yang tidak valid. universal. pengetahuan indriawi bersifat keliru. murid Plato. tetap. Mereka beranggapan pengetahuan itu adalah pengenalan partikular sesuatu. sebagian memandang kemustahilan pencapaiannya. dan perkara-perkara yang senantiasa berubah dan partikular tidak bisa dijadikan objek dan makrifat tidak hakiki.[23] Pengetahuan hakiki dalam pandangan Plato ialah ini keyakinan dengan benar hal-hal yang yang bisa konstan. dengan perspektif ini. dengan demikian. [31] Kaum Skeptis beranggapan bahwa kesalahan indra lahir dan akal itu merupakan dalil atas ketidakabsahannya. dan bersifat pasti. iakemudian melontarkan gagasan tentang mutsul (maujud-maujud non-materi di alam akal). dan analisa pikiran menggantikan gagasan mutsul Plato. Iajuga berkeyakinan. pasti. semestinya pengetahuan universal. ialah filosof pertama yang secara serius mendalami epistemologi dan menganggap bahwa permasalahan itu ialah hakiki dan mendasar pengetahuan karena indriawi berpijak pada kaidah-kaidah awal dimana hal itu bisa dibuktikan di dalam ilmu-ilmu lain. Disamping meyakini bentuk intuisi batin (asy-syuhud) juga itu sebagai tolok ukur kebenaran. bersifat diyakini. akan yang tetapi. berubah. dan perkiraan belaka[24]. murid Socrates. [28] Kelompok Rawaqiyun[29] yang yakin pada pengalaman agama dan indra lahir. hipotesa. pencapaian hakikat dan makrifat hakiki ialah hal yang sangat mungkin dan tidak mustahil. Begitu pula. meyakini penalaran bersifat prasangka. Lebih lanjut ia berkata bahwa panca indra lahir itu tidak melakukan itu kesalahan. Makrifat yang diperoleh lewat indra itu merupakan makrifat yang paling diyakini kebenarannya. ini ialah diargumentasikan. dimana pengetahuan jenis terkait Pengetahuan-pengetahuan selain dengan menggunakan kaidah-kaidah pertama dalam ilmu dan pengetahuan yang bersifat gamblang (badihi)[27]. sementara pengetahuan hakiki (baca: pengetahuan akal) itu yang berhubungan dengan hal-hal yang konstan dan tak berubah ialah bisa diyakini. abstraksi. menolak pandangan tentang konsepsi universal pikiran dari Aristoteles dan konsep mutsul Plato bahwa tersebut. Iamenyusun ilmu logika dengan berpikir tujuan dan menetapkan suatu secara metode benar berargumentasi terletak pada perubahan objek indra. bisa Oleh karena itu. prinsip non-kontradiksi merupakan kaidah gamblang yang diketahui secara fitrah. diyakini. definisi plato tentang pengetahuan perhatian kontemporer.[30] Epicure (270-341 M) memandang indra lahir sebagai pondasi dan tolok ukur kebenaran pengetahuan. maka objeknya juga harus tetap dan konstan. Perbedaan kaum . Dengan dasar ini.lahirnya berbagai pembahasan. [25] Aristoteles.

bahkan juga berada di alam eksternal yang sebagaimana maujud-maujud hakiki yang lain? Sebagai contoh “manusia universal”. Gagasan Skeptisisme muncul sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi yang dipropagandai oleh Agrippa (di abad pertama) dan kemudian dilanjutkan oleh Saktus Amirikus (di abad kedua). Akal (logos. Apakah wujud “universal” itu sendiri sama dengan wujud “partikular” yang keberadaannya bukan hanya di alam pikiran. Epistemologi pada Abad Pertengahan (dari Awal Masehi hingga Abad Kelimabelas) Inti pembahasan di abad pertengahan adalah persoalan yang terkait dengan universalitas dan hakikat keberadaannya. Ia membagi tiga tingkatan persepsi (cognition): 1. 3. Apakah “manusia universal” di sini hanyalah sebuah konsep universal yang ada di alam pikiran semata. ketiga. Apakah “universal” itu hanya sebatas suatu konsep. yakni apakah universal itu adalah penyaksian mutsul Plato itu sendiri ataukah konsep abstraksi akal yang bersifat universal Aristoteles. keraguan.[34] 4. Salah satu ungkapan beliau adalah “Saya ragu. Gagasan Tentang Universalia Salah satu pembahasan inti di abad itu. Dan tingkatan di atas akal adalah intuisi (asysyuhud). penggagas maktab neo platonisme. dalam bisa dan akal dan sebagai hakikat tingkatan ‘kesatuan dalam memahami termasuk dalam ruang lingkup yang bisa diragukan oleh kaum Skeptis dan Sophis. ataukah “manusia universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa diterapkan pada lebih dari kejamakan’ ‘kejamakan kesatuan’ tanpa lewat proses berpikir. intellect). saya ada“. karena ilmu terhadap jiwa tidak bisa diragukan. Dan semua persoalan. dan solusinya hadir dalam bentuk yang semakin kuat dan sistimatis serta terlontarnya pembahasan seputar probabilitas pengetahuan. 2. Dalam pandangannya. Plotinus.[32] Walhasil. epistemologi di zaman Yunani kuno dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian dibahas dalam bentuk yang berbeda dalam filsafat. Pengetahuan indriawi berubah. tidak karena objeknya senantiasa makrifat tergolong sebagai pertengahan ialah kajian tentang universal dan sumber kehadirannya. Persepsi panca indra (sensuous perception). hakiki. dan tolok ukur kesesuaian dengan realitas eksternal. ataukah “manusia universal” itu sendiri memiliki realitas eksternal (misalnya ia berada di alam non-materi) yang hanya bisa disaksikan secara intuitif dan syuhudi. Apakah “universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa mencakup beberapa individuindividu eksternal.[33] Augustine (354-430 M) beranggapan bahwa ilmu terhadap jiwa dan diri sendiri itu tidak . di abad ketiga masehi melontarkan gagasangagasan penting dalam epistemologi.Skeptis dengan kaum Sophis adalah bahwa argumentasi-argumentasi kaum Sophis menjadi pijakan utama kaum Skeptis. oleh karena itu. Pengertian (understanding). sumber ilmu. jawaban. 3. Tingkatan pertama berkaitan dengan hal-hal yang lahir. juga mengkaji dasar-dasar pengetahuan dan kebenaran. ilmu dan pengetahuan dimulai dari diri sendiri. tingkatan kedua adalah argumentasi. disamping itu. di samping itu iamemandang bahwa ilmu itu sebagai ilmu yang paling benar dan proposisiproposisi matematika adalah bersifat gamblang yang tidak bisa diragukan lagi. yang sebagaimana diyakini itu oleh Apakah “universal” secara mendasar tidak memiliki wujud luar.

maka tidak satu pun kaidah yang iabisa diterima. Muhammad Ali Furughi. Ia memandang bahwa alat pengetahuan adalah teks suci.[37] Peter dan Abelard (1079-1142 M) memandang itu adalah memiliki individu-individu eksternalnya. dan experimen. Syapur ‘Itemod. jilid kedua. jilid pertama. 29.[36] Roscelin (1050-1120 M) berkeyakinan bahwa yang hanya ada di alam eksternal adalah partikular. Boethius (470-525 M) ialah orang pertama yang beranggapan bahwa universal itu hanyalah kata semata. sementara universal itu tidaklah memiliki wujud hakiki dan hanya bersifat katakata semata. Taqi Mishbah Yazdi. pembahasan “universalitas” memiliki urgensi. begitu pula. Syahid Muthahhari. 2.com] realitas-realitas hakiki dan eksternal. Omusyes Falsafeh. dengan demikian. Seir-e Hikmat dar eropa. Roger Bacon (1214-1294 M) ialah orang yang berpijak pada empirisme dan positivisme.[39] Thomas Aquinas (1225-1274 M) yakin bahwa rasionalitas dan pemikiran itu sangat bergantung pada pengindraan lahiriah. ada tiga perspektif dan aliran pemikiran: 1. jilid satu. kemudian akan terbentuk konsep-konsep imajinasi. pelajaran kesebelas. [41] [wisdoms4all. 141. 2. Proposisi matematik yang karena berkaitan langsung dengan experiman bisa diterima. Nominalisme (menetapkan katakata umum yang mewakili individu-individu eksternal). itu juga karena ia “universal” terkadang ia sebagai menyebut bahwa universal itu terdapat di alam pikiran konsep-konsep universal konsep-konsep abstraksi yang diambil dari maujud-maujud luar dengan memperhatikan sifat-sifatnya. hal. universal itu merupakan dalam konsep-konsep yang yang terdapat tentang pikiran menceritakan “penghubung” antara pikiran dan objek-objek “penghubung” itu sebagai “konsep-konsep”. Realisme (universalitas itu memiliki wujud eksternal atau mutsul Plato). bahwa seseorang beranggapan [1] . yakni pertama-tama indra lahir kita berhubungan dengan alam luar. William seorang of Ockam (1287-1347 sebagai M) adalah yang dikenal pengingkar konsep-konsep universal. karena semua proposisi universal akan menjadi proposisi partikular yang hanya terkait dengan individu tertentu saja. hal. [2] . [3]. dari konsep ini akal akan membentuk konsep-konsep universal[40]. walaupun iaberupaya menyelesaikan persoalan universal itu lewat gagasan Aristoteles. Tarikh Ma’rifat Syenosi. [4]. dengan kata lain.satu objek individual[35]?. Nazariyeh-e Syenokh. dan dan menolaknya. Namun. Seir-e Hikmat dar Eropa. Syenokht-e dar Quran. sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa ia secara mutlak mengingkari menafsirkan luar. Dalam hal ini. maka sesuatu itu hadir dalam jiwa dan pikiran kita. hal. hal. hal 32. seluruh filsafat dan hukum-hukumnya tak bermanfaat. Pada satu sisi kita memahami bahwa pada setiap sesuatu universalitas itu hanyalah sebuah kata semata dan menolak konsep universal itu. 74. Dengan alasan ini. Idealisme (universal itu hanya terdapat dalam alam pikiran atau gagasan Aristoteles). Muhammad Ali Furughi. Mahdi Dahbosy. Perlu diketahui bahwa apabila kita memiliki ilmu terhadap sesuatu. segala proposisi universal yang merupakan pijakan seluruh ilmu dan kaidah-kaidah ilmiah tidak . 3. Upaya-upaya pemikiran di abad pertengahan itu tak lain ialah untuk menjawab persoalanpersoalan tersebut.[38] Segala kaidah filsafat dan ilmu berpijak pada penerimaan yakni jika atas konsep-konsep universal. argumentasi. Perlu diketahui bahwa iabanyak bersentuhan dengan pemikiran filsafat Islam.

10. Tuhan. keluasan ilmu yang mencakup ilmu terhadap Tuhan. dan non-materi. kalimat. Gambaran tentang hubungan subyek dan predikat. Apabila subyek epistemologi adalah penyingkapan secara umum. hal. [9] . Yang dimaksud dengan ‘kategori-kategori kedua filsafat’ (konsep-konsep filosofis) adalah suatu konsep yang tidak memiliki individu luar dan tidak memiliki wujud mandiri. konsepsi) adalah suatu gambaran pikiran dimana bukan penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain. jika yang hadir dalam diri kita adalah wujud api itu sendiri. Aflatun. Munculnya konsep ‘sebab’ itu berasal dari analisa akal atas hubungan khusus antara api dan panas. Paul Edward. dan juga berdasarkan tolok ukur ilmu. pengesahan) adalah penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain dalam bentuk positif atau negatif. hal. kemungkinan dan kemustahilan mewujud. kalau yang kita tangkap dari api adalah kuiditasnya. misalnya: api adalah ‘sebab’ panas atau panas adalah ‘akibat’ dari api. wujud dan kuiditas. seperti dikatakan: Tuhan ada. bumi. [8] . Kaum epistemolog Barat mayoritas menyetujui makna ilmu seperti ini. qidam dan huduts. apa yang menjadi titik tekan dan inti pembahasan dalam epistemologi adalah mengenai akal dan indra (lahir dan batin). materi. dan wujud materi. Seperti konsep tentang ‘sebab’ dan ‘akibat’. maka api yang ada di dalam pikiran kita tidak akan membakar pikiran kita.memiliki dua dimensi. Oleh karena itu. 2. Seperti pengkajian kaidah tentang sebab dan akibat. hal. Pengenalan rasional ini memahami objek-objeknya lewat symbol-simbol. mitsal. [7] . Kalau kita perhatikan di alam eksternal. wujud tetap dan berubah. dan malaikat yang ada dalam pikiran kita. yang ada itu hanyalah api dan panas. Pengetahuan intuitif ini ditandai oleh hadirnya objek di dalam diri si subjek. keabsahan alat. dan berpuncak pada wahyu. jilid kedua. jiwa manusia. Kebenaran yang belum diyakini adalah suatu bentuk kebenaran yang diterima secara taklid dari orang-orang yang dipercaya dan belum melalui proses penelitian secara sistimatis dan logis. karena yang memiliki pengaruh membakar itu hanyalah wujud api. maka akan tercakup segala apa yang disebutkan itu. bukan kuiditasnya. Dalam epistemologi kontemporer di Barat dibahas esensi ilmu (keyakinan benar yang bisa dibuktikan). dan konsep ‘sebab’ itu lantas dipredikasikan kepada api. 3. 1119. ilham. [10] . potensi dan aktual. pembagian ilmu berdasarkan keabsahan ma’lum. Yang dimaksud dengan at-tashdiq (pembenaran. ‘Sebab’ dan ‘akibat’ itu tidak nampak diluar. Dengan demikian. [11] . kemestian. Syahid Murtadha Muthahhari. Sementara ilmu hushûlî hanya berhubungan dengan gambaran sesuatu itu. 110-111. 13. akan tetapi. kata-kata. Syarh-e Mushthalahât-e Falsafi. melainkan pencapaina makrifat bisa dengan jalan syuhud irfani. Ali Syirwani. Dâiratul Ma’ârif. Namun. Jalan menuju makrifat tidak terbatas pada akal dan indra lahir. [6] . [5]. Gambaran subyek. hal. sumber ilmu. keabsahan metode. jilid ketiga. 4. [13] . hakikat sebagaimana adanya (noman). Plato adalah orang pertama yang melontarkan bahwa keyakinan benar yang bisa dibuktikan sebagai makrifat hakiki. Misalnya ketika kita melihat api yang ada di luar diri kita. Silahkan rujuk pada catatan kaki no. Yang dimaksud dengan at-tashawwur (penggambaran. [12]. walaupun ‘sebab’ . [14]. atau rumus-rumus. langit. Akan tetapi. namun berwujud mengikuti keberadaan subyeknya. Apabila sesuatu yang hadir dalam pikiran kita adalah kuiditasnya (mahiyah). fenomena (yang tampak kepada kita). esensi ma’lum (yang diketahui). ilmu hudhûrî menangkap objeknya secara langsung (immediate) dan berkaitan dengan hakikat sesuatu. keabsahan kehadiran ilmu. maka niscaya akan membakar diri kita. maka ilmu kita terhadap sesuatu itu disebut “ilmu hushûlî” atau “pengenalan rasional“. jiwa manusia non-materi. ada dan tiada. matahari. Gambaran predikat. ular naga tiada. Daure-ye Otsor. Masaley-ye Syenokh. wujud pikiran dan eksternal. maka ilmu kita terhadap sesuatu itu di sebut “ilmu hudhûrî” atau “pengenalan intuitif“. …. kalau sesuatu yang hadir dalam jiwa kita adalah wujud eksternalnya. dimensi kuiditas dan dimensi wujud. kehadiran konsep ini tidak bisa terlepas dari keberadaan objek eksternalnya. esensi alim (yang mengetahui). karena itu pengetahuan ini disebut “presensial“. Konsep ini diperoleh dari analisa akal terhadap perkara-perkara eksternal. seperti gambaran tentang bulan.Dalam setiap pembenaran terdapat tiga penggambaran: 1.

12. hal. Ibid. [28] . pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. Ibid. Insya Allah sementara ini kami sedang menyiapkan tulisan yang bertajuk “Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Agama” yang kurang lebihnya dapat memenuhi materi yang Anda cari. hal. hal. 261. Nah. sembari menanti teruploadnya tulisan tersebut. kami mempersilahkan Anda menunggah http://www. [26] . Muhammad Ali Furughi. hal. hal. 21. [25] . [19] . 348.Tâsu’ât. Tentu saja. [16] . Frederick Copleston. Frederick Copleston. [33] . [24] . [34] . 11. hal. Seperti pengetahuan kita terhadap keberadaan dan wujud diri kita sendiri. What do you say??? 1. 131. 171. 99. So sedemikian penting masalah epistemologi dalam pembahasan filsafat. Universal lawan dari partikular yang berarti gagasan yang hanya bisa diterapkan untuk satu objek individual. Lyotard. hal. 33.Tarikh Falsafe-ye Garb. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. jilid pertama. [41] . 10-11. hal. Ibid. 443. jilid pertama. hal. sifat-sifat. 209. Ibid. [20] . Walhasil. 95. dan risalah kesembilan. hal. Tarikh Falsafe-ye Garb. hal. [31] . Ibid. [39] . lantaran berfilsafat adalah berargumen (silogis. induktif atau deduktif. Paul Edward.com/English . Dan ini adalah raison d’être pembahasan epistemologi. Ibid. Seir-e Hikmat dar Eropa. Dalam pada itu. Ibid.Tarikh Falsafe-ye Garb. Ibid. tapi ini tidak berarti bahwa ‘sebab’ itu memiliki wujud yang mandiri dan terpisah dari api dan kemudian melekat pada api. Aristoteles. [36] . 64. Frederick Copleston. hal. Ibid. hal 15. [38] . Plotinus. risalah ketiga. pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. pasal empat. Tarikh Falsafe-ye Garb. diselesaikan terlebih dahulu dalam dapur epistemologi. Capelestun. Metafisik. hal. [27] . sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. 172. hal. Dengan demikian. jilid pertama. asumsi dasar. 82. hal. Semua konsep dalam filsafat berada dalam kategori-kategori seperti ini. hal 65. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asal-usul. Paul Edward. [23] . 106. Yang didirikan pada tahun 300 M [30] . Yakni. Metafisik. hal. 472. 112. [32] . harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. [18] . 126.wisdoms4all. Ibid. hal. 2007 REPLY KUTIP Zaky: saya bisa ga’ nemuin materi yg saya cari? “pengertian ilmu dan ilmu pengetahuan” __________________________________ ________ Isyraq: Terima kasih atas kunjungan Anda. hal. [40] . hal. Atau sederhananya. Ruh-e Falsafeh dar Qarn-e Wustha. Dan Aristoteles. [15] . [21] . Paul Edward. hal. [17] . [35] . Tarikh al-Falsafah alYunaniyah. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. ) yang melulu menggunakan software akal universal yang dimiliki oleh setiap manusia. 102. hal. Paul Edward. Ibid. apakah akal universal ini patut diandalkan atau tidak. [22] . pasal sembilan dan pertama. ○ ○ ○ ○ ZAKY November 25th. [37] .ialah sifat untuk api. This the way I see it. [29] . hal. Yusuf Keram. Ibid. 149.

penciptaan dan kontingensi. Apakah kita masih termasuk orang orang yang merasa sudah tinggi ilmunya ? Sudah merasa lebih tua dan berengalaman dari yang lain ? Merasa yang paling benar ? Merasa apa yang kamu dapatkan sekarang adalah buah dari hasil usaha dan jerih payahmu selama ini ? merasa paling benar ibadahnya ? Mudah mudahan kita tidak termasuk dalam Salam.” 2. dan Al Qur’an di akhiri dengan surat yang membahas “sejarah Tuhan”. saya coba baca Ilmu Hudlurinya Mehdi Hairi Yazdi. Filosof dalam bahasa Arab biasanya disebut sebagai hakim.. Terima Kasih.iqra warqa’ “Bacalah dan melambunglah ke tingkat yang lebih tinggi…. sehingga orang orang yang berkeinginan dan dikehendakiNya yang mendapat “rahmat” darinya………. Doakan kami untuk keep on writing masalah tersebut hingga tuntas. Bagaimana kalau lebih di fokuskan pembahasan yang lebih spesifik tentang epistemologi hudluri.Dan isi Al-Quran banyak membahas hal kehidupan setelah mati itu semua merupakan kapling khas Agama dan pemahamanya lebih banyak bersifar HUDLURI??? ini hanya couriusity saya. kemudian Tuntunan memohon dan Jalan yang harus dilalui. Kami sedang berupaya menyediakan pembahasan secara sistematis dan runtun epistemologi.artikel yang bertemakan “Islamic Concept of Knowledge... piranti akal atau indra yang mo digunakan diolah di dapur epistemologi. ○ ○ ○ ○ 5.. Filosof adalah alih bahasa bebas dari bahasa Yunani yang bermakna orang yang cinta kepada hikmah.tass.. muhkam yang dapat bermakna kuat dan menguatkan. terutama masalah . sebab saya menduga ada hal yang menarik dalam susunan AlQur’an dimulai dari Surat Al Fathihah yang berisi cara menyembah dan mentauhidkan Allah. Anda benar bahwa filosof (tentunya filosof yang jujur dan mukhlis) berupaya berargumentasi dan berdemonstrasi dengan dalil-dalil sehingga tak setitik keraguan yang tersisa. sebelum berfilsafat.. ○ ○ ○ ○ sane November 29th. 4. 2007 REPLY KUTIP perbedaan seorang filosof dengan seorang manusia biasa salah satunya adalah gairah untuk dapat lebih mengetahui ushul segala bentuk wujud dengan epistimologi hingga tak ada sedikitpun keraguan dalam dirinya. Tks Isyraq: Salam. 2007 REPLY KUTIP epistemologi pengenalan diri kita sendiri dan masalah emanasi. ○ ○ ○ ○ achmad satya dharma Februari 10th. karena Ilmu/pengenalan seperti itulah yang menjadi dasar dari seluruh pemahaman manusia. tass. 2007 REPLY KUTIP Salam alaykum………… Maha suci ALLAH yang telah memberikan kita AL QURAN dengan tulisan ARAB serta menjaga kerahasiaannya. induksi dan deduksi. Hakim derivatnya adalah hukm.. Kalau diringkaskan di awali dengan cara berjalan menuju Allah dan di Akhiri kepada pemahaman bagaimana Allah ataupun Makhluq ini berasal. rasanya masih perlu sumber yang bisa lebih menyederhanakan lagi. Dan jangan berhenti di sini. ________________________________________ __ Isyraq: Salam dan terima kasih kepada Sdr/i Sane yang memberikan nice dan supporting komentar atas postingan yang ada.sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan… Mari kita hasilkan keyakinan dengan berfilsafat.. Jadi kerja filosof adalah menguatkan dan memperdalam jangkauan hikmah yang dapat dicapainya dengan silogisme. ○ ○ ○ ○ fahmi alkaf Desember 3rd. 2008 REPLY KUTIP eko Desember 7th. 3. Nah. Dan pembahasan epistemologi di blog ini telah memasuki pembahasan sejarah ilmu hudhuri. perbedaan antara ilmu hudhuri dan hushuli. U’budu Rabbaka hatta ‘atakal Yaqin.

lalu dicari cara-cara memikirkannnya (epistemologi). “Jalan yang lurus” adalah jalan yang paling singkat dan pasti. perlu diperhatikan bagaimana dan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat. dan para syuhada……… Alangkah indahnya kita mengabdi dan beribadah kalau kita tahu kepada siapa kita beribadah dan mengabdi…. Kalau tidak mengerti janganlah cepat menyerah..Latar Belakang Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Kattsoff. yang menjadi objek pemikiran. Bismillahi majriha wa mursaha……… Salam alaykum EPISTEMOLOGI 1. ketiga sub sistem ini biasanya disebutkan secara berurutan. (Amin ya ALLAH) Bismillahi tawakkaltu alallah…. atau mungkin dapat menenatapkan batasbatas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya (Luis O. “Ikutilah” Rasulullah sebagai uswatun hasanah… tetapi bukan menirunya. agar kita tidak terjebak kepada hal-hal yang tidak perlu dibahas…. epistemologi. 2004 Dalam pembahasan filsafat. shiddiqin. Epistemologi adalah teori pengetahuan. Sebenarnya kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan.. Sistem filsafat disamping meliputi epistemologi. mulai dari ontologi. Yangmana kita harus mengalaminya terlebih dahulu baru kita bisa memahami maksudnya…... karena sesungguhnya pengetahuan itu bukanlah diraih… tetapi adalah diberikan….. sebab barang tiruan berarti adalah barang palsu….golongan yang satupun dari yang di atas……… Makrifatullah adalah kunci dari segala ilmu Dalam menempuhnya kita harus datang dengan “tangan terbuka” dan harus bisa memenggal kepala “ego” kita. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanya kemungkinankemungkinan dan bukannya kepastian. Masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan……. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. kemudian aksiologi. Baca saja terjemahannya bukan tafsirnya…. juga ontologi dan aksiologi. tidak ada kemungkinan kita untuk tersesat darinya…. Semoga kita termasuk orang orang yang kembali dan memeperoleh kemenangan…. semoga kita mendapat rahmat dariNya. kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. Salah satu isi al quran adalah berisi tenteng pengalaman ruhani manusia dalam menuju TUHANnya…. kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan itu. yaitu tentang apa yang dipikirkan. Dalamilah islam sampai ke “inti”nya jangan hanya kulitnya saja. kemudian timbul hasil pemikiran yang memberikan suatu PARAGRAPH BARU . shalihin. Oleh karena itu. Subhanallah……… Minal aidin wal faidzin…. Dengan gambaran senderhana dapat dikatakan. Jika kita mengetahui batasbatas pengetahuan. Yaitu jalannya para nabi. karena Al quran adalah petunjuk yang HAQ…. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. kalau tidak bisa arabnya tidak mengapa…. Ikuti dan terapkanlah Sunnahnya dan dapatkan hakikat dari sunnah tersebut… Bacalah al quran. Ontologi adalah teori tentang “ada”. ada sesuatu yang dipikirkan (ontologi). Jangan ada rasa cemburu terhadap yang sudah mengalaminya karena apabila telah menjadi hak kita dan telah sampai waktunya kepada kita niscaya tidak ada suatu apapun yang dapat menghalanginya…….

jika kita renungkan bahwa meskipun terdapat objek pemikiran. ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu. atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. Misalnya. sehingga didapatkan pengertian yang berbedabeda. kita perlu memahami seluk beluk diseputar epistemologi. sehingga tidak diperoleh pengetahuan apapun. gaya belajar.manfaat atau kegunaan (aksiologi). melainkan juga pada substansi persoalannya. Oleh karena itu. dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. sebab ketigatiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. prinsip-prinsip belajar. tetapi jika tidak didapatkan cara-cara berpikir. untuk membedakan dua cabang filsafat. pembahasan konsep apa pun. teori belajar. ruang lingkup. mulai dari pengertian. Setelah memahami substansi belajar tersebut. Hal ini akan lebih jelas lagi. maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi). tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik. buka saja pada redaksinya. Jadi. justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan. objek. bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. dia baru bisa menjelaskan proses belajar. Secara detail. Begitu juga. tujuan. tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya. Keterkaitan antara ontologi. epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. seandainya objek pemikran sudah ada. seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalanpersoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri.F. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J. Ketiga landasan ini saling berkaitan. selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis. metode. Lazimnya. ketiganya adalah interrelasi dan interdependensi (saling berkaitan dan saling bergantung). Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu. maka hanya akan sia-sia. Ferrier. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. Jadi. Sebagai sub sistem filsafat. hakikat dan pengaruh epistemologi B. landasan. epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. epistemologi. hambatanhambatan belajar. berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasan-pembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi . epistemologi dan ontologi. ketika kita membicarakan epistemologi disini. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. Demikian juga. cara-cara juga adam tetapi tidak diektahui manfaat apa yang bisa dihasilkan dari sesuatu yang dipikirkan itu. maka objek pemikiran itu akan “diam”. Namun demikian. PENGERTIAN EPISTEMOLOGI Secara historis. cara.

Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan. metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. diungkapkan oleh Dagobert D. Dia menyatakan.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. 1965. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S.(pengertian). epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. Pengertian lain.Suriasumantri. 3). tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah . Secara etimologi. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. dan logos berarti teori. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. Demikian pula. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan.Runes. Sedangkan. Selanjutnya.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. struktur. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. dalam Jujun S. struktur. Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. pengertian. 2). pengandaianpengendaian dan dasarnya. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. metode-metode dan validitas pengetahuan. Sedangkan D. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. struktur. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan. dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. P. 2003. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. Sementara itu. Dalam Epistemologi. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat.32). Azyumardi Azra menambahkan. Menurut Musa Asy’arie. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya.Hardono Hadi menyatakan. 2005). dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. hal. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. yaitu realisme dan idealisme. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut.

unsur. dan refleksi selalu bersifat kritis. macam. mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar. seperti psikologi selalu diiringi oleh epistemologi. masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. sehingga mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu. seluruh permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan adalah menjadi cakupan epistemologi. ada baiknya dikemukakan pernyataan-pernyataan lain yang mencoba menguraikan ruang lingkup epistemologi. hakikat.M Saefuddin menyebutkan. pengandaian. ternyata hanya aspekaspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof. ontologi dan aksiologi serta dimensi lainnya.dipahami. batas. dan sampai dimanakah batasannya. maka teori pengetahuan itu bisa meliputi.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan. sekalipun ia sebenarnya merupakan doktrin tentang psikologi kepercayaan. yaitu hakikat. batas. Sebenarnya masing-masing definisi diatas telah memberi pemahaman tentang ruang lingkup epistemologi sekaligus. apa hakikatnya. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek. sebab pernyataanpernyataan ini akan membantu pemahaman secara makin komprehensif dan utuh (holistik) mengenai ruang lingkup pemabahasan epistemologi. terutama ketika dimensi-dimensi itu dicoba untuk digali. Kenyataan ini kembali mempertegas. sumber. kiranya kita perlu memerinci aspek-aspek yang menjadi cakupannya atau ruang lingkupnya. sampai Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan. Semestinya harus ada pergeseran pusat perhatian pembahasan ke arah aspek-aspek yang terabaikan itu. tumpuan. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok. sumber dan validitas pengetahuan. validias. atau bahkan suatu sains yang bukan epistemologi dari sains. Epistemologi senantiasa “mengawali” dimensi-dimensi lainnya. dasar. sasaran. Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas. apa kebenaran itu. agar dapat menyajikan pembahasan terhadap aspek-aspek epistemologi seluruhnya secara proporsional. metode. Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi. Filsafat merupakan refleksi. Jika kita memaduakan rincian aspek-aspek epistemologi. dari mana asalnya. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu. melainkan bisa juga sebaliknya. tumpuan. Bertolak dari pengertian-pengertian epistemologi tersebut. keaslian. bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar. apa sumbernya. seperti proses maupun tujuan. sebagaimana diuraikan tersebut. bahwa antara epistemologi selalu berkaitan dengan ontologi dan aksiologi. Jadi meskipun epistemologi itu merupakan sub sistem filsafat. macam. dan sasaran pengetahuan. RUANG LINGKUP EPISTEMOLOGI. taklid kepada pengetahuan atas kewibaan orang yang memberikannya termasuk epistemologi. karena definisi-definisi itu tampaknya didasarkan pada rincian aspek-aspek yang tercakup dalam lingkup epistemologi daripada aspek-aspek lainnya. struktur. meliputi hakekat. Sidi Gazalba. C. apa yang dapat kita ketahui. kodrat. bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab. unsur. apakah ilmu itu. atau psikologi yang tidak sekaligus epistemologi dari psikologi. A. pertanggungjawaban dan skope pengetahuan. Bahkan menurut. Lebih dari . Akan tetapi. tetapi cakupannya luas sekali. bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. M. Jelasnya. maka tidak mungkin seserorang memiliki suatu metafisika yang tidak sekaligus merupakan epistemologi dari metafisika. Bahkan.

seorang polisi bertujuan membunuh perampok yang melakukan perlawanan. antropologi. dan pembentukan pengetahuan. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai. pedagogi. penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang. jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi. Ini berarti dalam satu tujuan bisa dicapai melalui objek yang berbeda-beda atau lebih dari satu. pembunuhan sebagai tujuan polisi baru mungkin tercapai setelah melalui tindakan menembak kepala perampok sebagai sasaran. Oleh karena itu. M. sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran. OBJEK DAN TUJUAN EPISTEMOLOGI Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. ketika akan ditangkap dengan menambak kepalanya sebagai sasaran. bilogi. ekonomi. D. mungkinkan suatu kegiatan hanya memiliki objek satu tetapi tujuannya banyak. Meskipun berbeda. sejak lama ia menjadi objek penelitian dan pengamatan yang memiliki tujuan bermacam-macam. sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan. aspekaspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi. akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas. tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan. Sebaliknya. Hanya saja. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik. seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman. sebab objeklah yang mengantarkan tercapainya tujuan. Sementara itu. Bagian-bagian lainnya jauh lebih banyak. Amin Abdullah menilai. Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan. tetapi terjadinya pembunuhan tidak hanya melalui menembak kepala perampok. Namun. tujuan baru dapat diperoleh. bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. sedang tujuan hampir sama dengan harapan. sebagaimana diuraikan di atas. Misalnya. bisa juga dadanya atau perutnya. baik untuk membangun psikologi. Ternyata ini juga mungkin terjadi bahkan sering terjadi. Aspekaspek itu berkisar pada sumber pengetahuan. saat ini literatur-literatur filsafat masih terjadi pemusatan perhatian pada aspek-aspek tertentu saja. terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat. tujuannya adalah pembunuhan. sedangkan objeknya adalah kepalanya. Padahal sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi. Jika diamati secara cermat. yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan. tetapi objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan. sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran. sehingga pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. Jadi.itu. Manusia misalnya. meskipun secara spesifik tekanan perhatian dalam meneliti dan . atau setidaktidaknya kurang mendapat perhatian yang layak. ilmu hukum dan sebagainya. jika telah melalui objek lebih dulu. baik yang bercorak positif maupun negatif. Dengan kata lain. khususnya bidang epistemologi. perubahan kecenderungan pembahasan tersebut dapat memperkenalkan pengetahuan yang makin luas dan mendalam tentang cakupan epistemologi. Kenyataannya. sosiologi. Objek sama dengan sasaran. ontologi sebagai objek pemikiran.

Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. justru kecenderungan ini mulai memperoleh perhatian yang sangat besar di kalangan para pemikir. Guru dapat mengajarkan kepada siswanya bahwa dua kali tiga sama dengan enam (2 x 3 = 6) dan siswa mengetahui. dan juga pengusaha. Dia tentu akan mengejar bagaimana prosesnya. sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif. Proses menjadi tahu atau “proses . akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu. apakah saya dapat tahu.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan. Hal ini menunjukkan. sehingga siswa benarbenar mampu memahaminya dan mampu mengembangkan perkalian angka-angka lainnya. Dewasa ini. baik berpikir dalam kecenderungan pertama maupun kecenderungan kedua. Hal ini merupakan implikasi dari tekanan masing-masing pola berpikir tersebut.mengamati itu berbeda-beda. Kecenderungan ini justru memiliki efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan bersifat dinamis. ada upaya bagaimana menjadikan bahan yang sama untuk kepentingan yang berbeda-beda. acapkali tidak mengetahui prosesnya. bahkan hafal. Sebagai sub sistem filsafat. Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan. sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. hakikat alam dan hakikat manusia. yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan. Tanpa suatu sasaran. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya. mustahil tujuan bisa terealisir. perekayasa. Keadaan pertama hanya berorientasi pada hasil. Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai dia puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan. apakah yang menjadi tujuan epistemologi tersebut. siswa yang cerdas tidak pernah puas dengan pengetahuan dan hafalan itu. Selanjutnya. Seseorang yang mengetahui prosesnya. Maka guru yang profesional akan menerangkan proses tersebut secara rinci dan mendetail. Objek material adalah sarwayang-ada. tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan. yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan. dua kali tiga didapatkan hasil enam. sedang berpikir dalam kecenderungan kedua (satu objek untuk tujuan yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian hasil yang sebanyak-banyaknya. Secara global.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Namun. tetapi seseorang yang mengetahui hasilnya. maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali. Objek epistemologi ini menurut Jujun S. Aktivitas berfikir dalam kecenderungan pertama (satu tujuan dengan objek yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian cara sebanyak-banyaknya. tentu akan dapat mengetahui hasilnya. mendorong kreativitas seseorang. epistemologi atau teori pengetahuan yang pertama kali digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. tetap saja membutuhkan banyak cara untuk mewujudkan keinginan pemikirnya. sedangkan keadaan kedua lebih berorientasi pada proses. sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetahuan. Artinya. bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari. sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwayang-ada). sebaliknya tanpa suatu tujuan.

tanpa menyadari semuanya yang hanya sekedar salah satu sarana dari sains untuk mengukuhkan objektivitas dalam memahami sesuatu. maupun motif-motif yang mendasarinya. akhirnya berkembang menjadi: sains adalah metode. pemahaman dan pengembanganpengembangannya. Sesungguhnya sikap berlebihan itu memang riil. alasan dan motif tersebut. jika memiliki landasan yang kokoh. LANDASAN EPISTEMOLOGI Landasan epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan. termasuk juga ide. gagasa.pengetahuan” inilah yang menjadi pembuka terhadap pengetahuan. metode ilmiah merupakan penentu layak tidaknya pengetahuan menjadi ilmu. E. maka dia akan mampu mengenali pemikiran orang lain dengan baik. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yang tercantum dalam metode ilmiah. Penguasaan terhadap proses tersebut berfungsi mengetahui dan memahami pemikiran seseorang secara komprehensif dan utuh. tanpa ada alasan-alasan yang mendasarinya. semuanya tergantung pada titik tolaknya. sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan. Dengan membawa kuncinya. tetapi dia tetap hanya apriori semata. Faktor. tetapi terlepas dari sikap tersebut yang seharusnya tidak perlu terjadi. karena tidak pernah membuktikan. kemudian diperiksa satu persatu barang-barang yang ada didalamnya. Demikian juga dengan epistemologi. Sebaliknya. sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syaratsyarat tertentu. seseorang tidak sekedar mengetahuai sesuatu atas informasi orang lain. yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. Begitu pentingnya fungsi metode ilmiah dalam sains. padahal mereka belum pernah melacak proses terjadinya pemikiran itu. konsep dan teorinya. sehingga banyak pakar yang sangat kuat berpegang teguh pada metode dan cenderung kaku dalam menerapkannya. Kekuatan bangunan rumah bisa diandalkan berdasarkan kekuatan fundamennya. yang jelas dalam kenyataanya metode ilmiah telah dijadikan pedoman . sehingga dia dapat memakluminya. sedangkan landasan bagaikan fundamennya. Sedangkan landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah. alasan dan motif itu maupun komponen yang lain sesungguhnya termasuk dalam mata rantai proses sebuah pemikiran. Bangunan pengetahuan bagaikan bangunan rumah. seakan-akan mereka menganut motto: tak ada sains tanpa metode. maka gudang itu akan segera dibuka. meskipun seseorang diberi tahu bahwa di dalam gudang terdapat bermacam-macam barnag. sebab tidak ada pemikiran yang terpenggal begitu saja. alasan dan motif ini belum dikenali. Jadi. Dengan demikian. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Ketika faktor. Dalam kehidupan masyarakat tidak jarang terjadi sikap saling menyalahkan pemikiran seseorang. Di dalam filsafat pengetahuan. maka acapkali seseorang tidak akan bisa memahami pemikiran orang lain. alasan-alasan yang melatar belakangi. Timbulnya suatu pemikiran senantiasa sebagai akibat adanya faktor-faktor yang mempengaruhi. Proses ini bisa diibaratkan seperti kunci gudang. Dengan demikina. jika seseorang terlebih dahulu berupaya mengenali faktor. tetapi benar-benar tahu berdasarkan pembuktian melalui proses itu. Sikap ini mencerminkan bahwa mereka berlebihan dalam menilai begitu tinggi terhadap metode ilmiah. akan dipengaruhi atau tergantung landasannya. Bangunan pengetahuan menjadi mapan. sebab ia merupakan tempat berpijak. ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah.

Padahal mestinya dia harus . tampaknya perlu memahami terlebih dahulu makna metode dan metodologi. “Dalam dunia keilmuan ada upaya ilmiah yang disebut metode. metodologi dan epistemologi. juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan. sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah diatur berdasarkan metode ilmiah.dalam menyusun. HUBUNGAN EPISTEMOLOGI. dan sebagainya. Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode. kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan. objektif. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang dianutnya. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa. maka metodologilah yang mengkerangkai secara konseptual terhadap prosedur tersebut. Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain. Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. sedangkan substansisnya relatif sama. Jika metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu. Secara sederhana dapat dikatakan. atau pengalaman sehari-hari. dalam metodologi dapat ditemukan upaya membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan metode.Senn mengemukakan. Implikasinya. sehingga timbul sifat-sifat atau ciri-cirinya. karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah. Pada bagian lain. kelemahan dan kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. juga bisa disebut pengetahuan sehari-hari. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah. Lebih jauh lagi Peter R. Hal ini perlu penegasan. misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan. Dengan istilah lain. sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam penelitian. “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis”. Sesuatu fenomena pengetahuan logis. Kholil Yasin menyebut pengetahuan tersebut dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary knowledge). membangun dan mengembangkan pengetahuan ilmu. sistematis. bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. Untuk mengetahui peta masing-masing dari ketiga istilah ini. melaikan termasuk wilayah filsafat. Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. sumber-sumbernya. yaitu rasio dan fakta secara integratif F. Disini perlu dibedakan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan (ilmu). Pengetahuan adalah pengalaman atau pengetahuan sehari-hari yang masih berserakan. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah. yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”. batasbatasanya. mengingat dalam kehidupan sehari-hari sering dikacaukan antara metode dengan metodologi dan bahkan dengan epistemologi. logis dan empiris. tetapi tidak empiris. sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). METODE DAN METODOLOGI Selanjutnya perlu ditelusuri dimana posisi metode dan metodologi dalam konteks epistemologi untuk mengetahui kaitankaitannya. juga sering disebut ilmu dan sains. antara metode.

Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan. dan dalam lingkaran kecil masih terdapat lingkaran yang lebih kecil lagi. dilanjutkan dengan merinci pada metodologi. Oleh karena itu. Metodologi inilah yang memberikan penjelasan-penjelasan konseptual dan teoritis terhadap metode. epistemologi mencakup bahasan metodologis. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat. kecuali ciri-cirinya. baik dalam aspek parsial atau total. tetapi bahasan filsafat tidak hanya epistemologi karena masih ada bahasan lain. Apalagi hakikat epistemologi. sedangkan penelitian kualitatif menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat. struktur. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi. sumber. metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi. Dalam filsafat. tentu lebih sulit lagi. sedangkan metode penelitian berada dalam dataran teknis. maka dia harus mengacu pada metodologi. G.benar-benar memahami. Lebih jelas lagi. kendatipun tidak bisa dipisahkan. Demikian juga epistemologi mencakup bahasan metode (metodologi). Filsafat mencakup bahasan epistemologi. Ini berarti bahwa filsafat mencakup bahasan epistemologi. karena ada bahasan lain. bahwa seseorang yang sedang mempertimbangkan penggunaan dan penerapan metode untuk memperoleh pengetahuan. Lingkaran besar disini diumpamakan filsafat. lagi-lagi terasa sulit. dapat dijelaskan urutanurutan secara struktural-teoritis antara epistemologi. dan lingkaran yang lebih kecil kecuali berupa metodologi. Untuk lebih jelas lagi perlu dibedakan adanya metode pengetahuan dan metode penelitian. membedakan cabang-cabangnya yang pokok. validitas. apa yang benar dan dapat dipergunakan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. mengingat pembahasan tentang seluk-beluk metode itu ada pada metodologi. namun bahasan epistemologi bukan hanya metode semata-mata. karena ita tidak bisa menangkapnya. Metode pengetahuan berada dalam dataran filosofis-teoritis. Dengan demikian. macam. yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik. sesuatu yang ditentukan oleh yang lain). unsur. dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. sasaran dan dasar pengetahuan. bahwa penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivisme. sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi. Posisi masing-masing istilah ini. istilah metodologi berkaitan dengan praktek epistemologi. mengidentifikasikan sumbersumbernya dan menetapkan batasbatasnya. HAKIKAT EPISTEMOLOGI Pembahasan tentang hakikat. yaitu ontologi dan aksiologi. “Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral epistemologi. batas. problem penyelidikan ilmiah yang secara filosofis menjadi kajian utama cabang epistemologi yang berkaitan dengan problem metodologi juga berkaitan dengan rancangan tata pikir. metode merupakan perwujudan dari metodologi. tumpuan. lingkaran kecil berupa epistemologi. sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham determinsime. tetapi masalah-masalah ini bukanlah semata-mata masalah-masalah filsafat. seperti lingkaran besar yang melingkari lingkaran kecil. Pandangan yang lebih ekstrim lagi . maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat. seperti: hakikat. Kemudian berbicara tentang metodologi yang berarti berbicara tentang cara-cara atau metode-metode yang digunakan oleh manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran. Secara lebih khusus. Jadi.

Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja. Ada yang menyatakan. Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan pikiran. Dalam epistemologi terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya. bahwa persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemologi pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi masingmasing. bahwa filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu. Jujun S.Hunt yang menilai. sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika sendiri. Selain itu. kecuali psikologi. Menurut. epistemologi tersebut sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. Oleh karena itu. epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia. diluar epistemologi sama sekali. sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. atau sekedar memiliki persentuhan yang erat dengan epistemologi. Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. padahal realitasnya banyak sekali. Kemudian jika diingat. epistemologi dan aksiologi. walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan. epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat. apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik tidak usah diketahui. Sementara itu. logika itu sendiri patut dipertanyakan. Metodologi misalnya telah digabungan secara teliti dengan epistemologi dan logika. apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidangbidangnya. Perbedaaan padangan tentang eksistensi epistemologi ini agaknya bisa dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M. melainkan termasuk dalam kajian psikologi. Selanjutnya. epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh kontroversi. bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat. epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit. Tidak semua objek mesti . Suriasumatri. Cara pandang demikian akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. bahwa posisi logika berada diluar ontologi. Ini berarti tidak ada disiplin ilmu lain. Dalam pemahaman yang sederhana epistemologi memiliki interrelasi (saling berhubungan dengan komponen lain. Honer dan Thomas C. ontologi dan aksiologi). maka minat untuk membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya untuk melebihi takaran minat kita. maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui. terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. Sebab epistemologi itu berkenaan dengan pekerjaan pikiran manusia. Luasnya jangkauan epistemologi ini menyebabkan objek pembahasannya sangat detail dan pelik. Sejak semula. pengetahaun merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh melalui perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis. apakah logika itu bagian dari epistemologi. tidak bisa lepas dari ontologi dan aksiologi. the workings of human mind.menurut Kelompok Wina. justru karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. Di samping itu.

Sebaliknya. bahwa kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat tentatif. Usaha menafsirkan adalah aplikasi berpikir rasional. ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama. dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu bertumpu pada landasannya. yakni pikiran dan indera. Oleh sebab itu. berarti dia menggunakan pendekatan induktif. Tetapi. ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang. sehingga tidak mungkin bisa diketahui. atau deduktif dengan induktif). Perbedaan hasil teman dalam masalah . yaitu masa lampau yang telah dilalui. bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali. Sebagai teori pengetahuan ilmiah. sebab ilmu pengetahuan yang berhenti. Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi. karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek. maka menimbulkan pemahaman. bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme. sehingga tidka jarang temuan ilmu pengetahuan yang lebih dulu ditentang atau disempurnakan oleh temuan ilmu pengetahuan yang kemudian. sedangkan usah membuktikan berkaitan dengan induksi. akan kehilangan kekhasannya. Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh. sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar. sedangkan usaha untuk membuktikan adalah aplikasi berpikir empiris. berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. Selama belum digugurkan oleh temuan lain. Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia.dijelajahi oleh pengetahuan manusia. Gabungan kedua macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah. H. karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. Popper. Kedua cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran. maka tindakannya itu justru merugikan. Ilmu pengetahuan harus berkembang terus. baruk ditarik kesimpulan secara umum. sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. bahwa usaha menafsirkan berkaitan dengan deduksi. Pada bagian lain dikatakan. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia. PENGARUH EPISTEMOLOGI Bagi Karl R. Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri. sehingga tidak perlu diketahui. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. ilmu pengetahuan harus ditangkap dalam pertumbuhannya. Hal ini juga bisa dikatakan. epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. maka suatu temuan dianggap benar. epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan dalam membentuk dirinya. Perkemabangan ilmu pengetahuan dengan demikian membuktikan. meskipun memungkinkan untuk diketahui. jika dilihat dari kepentingan jangka panjang. sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam. epistemologi adalah teori pengetahuan ilmiah.

Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia. ide atau gagasan. tetapi jika dilacak lebih . tetapi karena sudut pandang yang ditempuh seseorang berbeda. Meskipun teknologi sebagai penerapan sains. epistemologi senantiasa mendorong dinamika berpikir secara korektif dan kritis. sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. tidak ada yang aneh sama sekali. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Proses ini lebih penting daripada hasil. Keberangaman pandangan seseorang dalam mengamati suatu fenomena akan melahirkan keberagaman pemikiran. maka epistemologi dapat memberikan pengayaan gambaran proses terbentuknya pengetahuan ilmiah. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara. sedangkan perbedaan sudut pandangan itu dapat dilacak dari epistemologinya Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. Akhirnya. bahwa keragaman seseorang atau masyarakat akan dipengaruhi pula oleh pandangan epistemologinya serta situasi sosial politik yang melingkupinya. dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial. kepercayaan dan sistem nilai mereka. Kondisi demikian sesungguhnya dalam dunia ilmu pengetahuan adalah suatu kelaziman. ilmu-ilmu mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu— dipandang dari keyakinan. Dalam filsafat. Penguasaan epistemologi. karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Melalui pelaksanaan fungsi dan tugas dalam menganalisis prosedur ilmu pengetahuan tersebut. banyak konsep dari pemikiran filosof yang kemudian mendapat serangan yang tajam dari pemikiran filosof lain berdasarkan pendekatan-pendekatan epistemologi. Implikasinya. Koreksi secara kontinyu terhadap pemikirannya sendiri ini untuk menyempurnakan argumentasi atau alasan supaya memperoleh hasil pemikiran yang maksimal. sehingga perkembangan ilmu pengetahuan relatif mudah dicapai. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. sehingga perbedaan pemikiran itu dapat dipahami secara memuaskan dengan melacak akar persoalannya pada perbedaan sudut pandang. pada gilirannya juga menghasilkan pemikiran yang berbeda. Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh. mengingat bahwa proses itulah menunjukkan mekanisme kerja ilmiah dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Suatu peradaban. baik yang dimiliki seseorang maupun masyarakat. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam.yang sama ini disebabkan oleh perbedaan prosedur yang ditempuh para ilmuwan dalam membentuk ilmu pengetahuan. Kendati terhadap satu persoalan. bila para ilmuwan memperkuat penguasaannya. terutama cara-cara memperoleh pengetahuan yang membantu seseorang dalam melakukan koreksi kritis terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun oleh dirinya sendiri. Ini menunjukkan bahwa epistemologi bisa mengarahkan seseorang untuk mengkritik pemikiran orang lain (kritik eksternal) dan pemikirannya sendiri (kritik internal). Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. Dinamika pemikiran tersebut mengakibatkan polarisasi pandangan. Mohammad Arkoun menyebutkan. epistemologi bisa menentukan cara kerja ilmiah yang paling efektif dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang kebenarannya terandalkan.

Jadi kronologinya adalah sebagai berikut: mula-mula seseorang berpikir dan mengadakan perenungan. Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. epistemologi. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. metode atau cara memperoleh pengetahuan. melainkan mutlak perlu dikuasai.c om PARAGRAPH BARU LAGI EPISTEMOLOGI Filsafat Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. objek dibahas dari keberadaannya. . berupa faktor-faktor penyebabnya. perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis. technology is an apllied of science (teknologi adalah penerapan sains). yaitu ontologi. asal mula pengetahuan.jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. maka epistemologi bukan hanya mungkin. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. ILMU oleh: anin • • • • More About : epistemologi EPISTEMOLOGI IL Pengarang : Elvira Syamsir Summary rating: 2 stars (328 Tinjauan) Kunjungan : 23711 kata:600 suparmanhttp://www. 1. Berdasarkan pada manfaat epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradaban tersebut. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan. Pemikiran pada wilayah proses dalam mewujudkan teknologi itu adalah bagian dari filsafat yang dikenal dengan epistemologi. Secara ontologis. sarana. atau kombinasi akal dan pengalaman. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. yakni realisme. sum-ber pengetahuan. apakah ia materi atau bukan. Akal. Sebab dibalik kegagalan itu ditemukan rahasia pengetahuan. empirisme. 2.com/profile/0 3249547895308622683noreply@blogger. Akhirnya ilmu pengetahuan tersebut diaplikasikan melalui teknologi.blogger. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu. akal budi. kemudian disusun secara sistematis menjadi ilmu pengetahuan (sains). Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. mungki saja mengalami kegagalan tetapi kegagalan itu dimanfaatkan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. naturalsime dan empirisme. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). intuisi. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. dan aksiologi. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme. sehingga didapatkan percikan-percikan pengetahuan. pengalaman. dan sebagainya. Pada awalnya seseorang yang berusaha menciptakan sesuatu yang baru. merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu.

? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia. sebagai makhluk dinamis dan progressive. di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). positivisme. Epistemologi. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak.. seperti teori koherensi. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji. fenomenologi dan sebagainya." "Tuhanku. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. para arif berkata kenalkan diriMu kepadaku. dan jahil ini berkata kenalkan diriku kepadaku. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. dan teori intersubjektif. baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak teruji. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla. Till death do us apart.bla.rasionalisme kritis. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. Penulusuran." Introduksi Pandangan dunia (weltanschauung) seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. Pengantar Memasuki Ranah Ontologi Anda dan vice-versa. Karena nilai dan kualitas keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. Diterbitkan di: 18 Maret. Wujud anda ekuivalen dengan pengenalan Anda dan viceversa... manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang . semakin luas dan dalam pandangan dunianya.bla. Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar.. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah... Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban dan sebaliknya akan membuatnya terpuruk hingga titik-nadir peradaban. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif.bla.shvoong. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang hidup dan kehidupan. Secara rasional. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. sebagai makhluk dinamis dan progressive. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. 3. penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. Anda dikenal atas apa yang Anda kenal. Akan tetapi.com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1JmIRVKqJ PARAGRAPH BARU YA…. sikap. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara. Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla. Semakin besar pengenalannya.bla. Akan tetapi. 2008 Sumber: http://id. matematika dan statistika. tentang ada dan keberadaan.? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya. korespondesi pragmatis. tentang perkara-perkara eksistensial.

pengetahuan. pengetahuan. Akal dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya. Kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu. Atau dengan kata lain. sifat-sifat. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. akal yang digunakan sebagai instrument berfilsafat harus diuji dulu validitasnya. epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul. Betapa tidak. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. tentang perkara-perkara eksistensial. dan logos. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu.[3] Walhasil. asumsi dasar. Pada dasarnya. pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat.[2] Betapa pun. apakah ia absah atau tidak dalam menguak realitas. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan hadir untuk mencoba memberikan jawaban atas masalah ini. bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. dan dipahami. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme. dalam menguak realitas terdapat perdebatan panjang semenjak zaman Yunani Kuno (lampau) hingga masa Postmodern (kiwari) antara kubu rasionalis (rasio) dan empiris (indriawi dan persepsi). sifat-sifat. Atau sederhananya. penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. Semenjak Plato hingga Michel Foucault dan Jean-François Lyotard. Dengan kata lain. manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. Till death do us apart. 4. Hakikat itu ada dan nyata. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia. pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asalusul. diketahui. keraguan ini akan menguat khususnya apabila kita mengamati kesalahan-kesalahan yang terjadi pada indra lahir dan kontradiksikontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang sejarah manusia? Persoalan-persoalan terakhir ini berbeda . 3. sebelum memasuki gerbang filsafat terlebih dahulu instrument yang digunakan dalam berfilsafat harus disepakati. Dan ini adalah raison d'être pembahasan epistemologi. Penulusuran. ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya. Tuntutan fitrah manusia dan rasa ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. Ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu naratif lainnya ternyata tidak mampu memberikan jawaban utuh dan komprehensif atas masalah ini. dan makrifat atas hakikat itu. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan. kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. Manusia dengan latar belakang. Hakikat itu bisa dicapai. Tentu saja.[1] Karena uslub atau metodologi ilmu-ilmu di atas adalah bercorak empirikal. Manusia bisa memiliki ilmu. Apa itu Epistemologi Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. asumsi dasar. sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada.hidup dan kehidupan. Dengan demikian. tentang ada dan keberadaan. Apabila manusia melontarkan suatu pertanyaan yang baru. dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum (objek). Yakni. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai hakikat sebagaimana adanya. theory. filsafat menggunakan metodologi rasional dan subjek ilmu filsafat adalah eksisten qua eksisten. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. 2. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. Karena baik dari sisi metodologi atau pun subjek keilmuan.

Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalah-masalah sejarah dan geografi. pembagian dan observasi ilmu. yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî. Sudut pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan ilmu. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan dibidang ontologi dan filsafat. ilmu Tuhan. makrifat dan pengetahuan. definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan. Namun. h. dan pengetahuan manusia. Istilah-istilah ilmu tersebut adalah sebagai berikut: a. e. Dengan demikian. Ilmu adalah pembenaran (at-tashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini. Makna ini mencakup ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî. dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran besar atau kecil?. maka dari sudut mana subyek ini dibahas. dua poin penting akan dijelaskan: 1. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan . dan ilmu manusia. Dengan perantara teropong itu sendiri. sains. Keraguan-keraguan ini akan semakin kuat dengan adanya kemungkinan kesalahan penampakan oleh teropong. teknologi. g. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Dengan ungkapan lain. tolok ukur kebenaran hasil pikiran. dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal. dan psikologi. bisa dikatakan bahwa tema dan pokok pengkajian epistemologi ialah ilmu. validitas. Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang bersifat empirik. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini. Dalam hal ini. Ilmu ialah gabungan proposisi-proposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik. keabsahan. persepsi-persepsi pikiran. dan juga meliputi ilmu-ilmu seperti hudhûrî. dasar dan pondasi. Dengan demikian. Cakupan pokok bahasan. logika. Sisi pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. tolok ukur. Terkadang kita mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. makrifat. alat. Istilah ini digunakan dalam filsafat Islam.dengan persoalan-persoalan sebelumnya. Makna leksikal ilmu adalah sama dengan pengideraan secara umum dan mencakup segala hal yang hakiki. bentuk. d. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap tingkatan dan pencapaian suatu ilmu. dan batasan-batasan pengetahuan. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang jauh. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas eksternal. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu sebelumnya dan faktor riil yang menjadi penyebab hadirnya pengindraan adalah dibahas dalam ilmu logika. nilai dan keabsahan pikiran. ilmu para malaikat. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini. dan kebenaran ilmu. keterampilan. hushûlî. keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah yang diperdebatkan. akan tetapi. Ilmu adalah kehadiran (hudhûrî) dan segala bentuk penyingkapan. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan memperhatikan definisi epistemologi. f. ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokok-pokok pembahasannya. 2. Dan dari sisi ini. Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. c. b. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. i. Seseorang sedang melihat suatu pemandangan yang jauh dengan teropong dan melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. kemahiran. yakni persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. Sudut pembahasan. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. masih merupakan persoalan-persoalan aktual dan kekinian bagi manusia. Ilmu yang hanya dimaknakan sebagai ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika (mantik). Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas pengetahuan. Pertanyaanpertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong.

Masa Plato dan Aristoteles Plato dapat dikatakan sebagai filosof pertama yang secara jelas mengemukakan epistemologi dalam filsafat. dengan mendeduksi kenyataankenyataan baru dari apa yang telah diketahui. dengan mengabstraksikan ciri-ciri khusus dari setiap spesies. yang pertama kalinya disusun secara sistematis oleh Aristoteles. atau ide-ide. Mereka menyimpulkan bahwa kontemplasi filosofis tentang bentuk-bentuk dunia gaib merupakan tujuan tertinggi kehidupan manusia. berpandangan bahwa tidak ada satu pendapat pun yang dapat dikatakan lebih benar dari yang lain. Mereka percaya bahwa benda-benda yang dilihat dan diraba adalah kopian-kopian yang tidak sempurna dari bentuk-bentuk yang sempurna yang dikaji dalam ilmu matematika dan filsafat. akan tetapi menentang keduanya baik Aristoteles atau pun Plato yang berpandangan bahwa filsafat harus dinilai sebagai sebuah bimbingan praktis untuk menjalani hidup. Pemikiran Santo Thomas Aquinas pada masamasa kiwari sangat mempengaruhi irama dinamika teologi Nasrani dan kosmos filsafat Barat. Aristotels berpendapat bahwa hampir seluruh ilmu berasal dari pengalaman. filosof Skolastik Santo Thomas Aquinas dan beberapa filosof abad pertengahan berusaha membantu untuk mengembalikan konfidensi terhadap rasio dan pengalaman. tidak dapat dikomunikasikan. Sophist Yunani menanyakan kemungkinan reliabilitas dan objektivitas ilmu. namun tidak setuju dengan metode dalam mencapainya. Masalah-masalah Filosofis: Masa Yunani dan Masa Medieval Pada abad ke-13. Aquinas mengikuti Aristoteles dalam masalah tentang persepsi sebagai starting-point dan logika sebagai prosedur intelektual untuk sampai kepada ilmu yang dapat diandalkan (reliable) tentang tabiat. mereka berpendapat sebaliknya bahwa filsafat adalah akhir dari kehidupan. Seorang Sophist ternama lainnya. Setelah beberapa kurun berlalu kurangnya ketertarikan dalam ilmu rasional dan saintifik. mencoba untuk menjawab isykalanisyakalan para Sophist dengan mempostulasikan keberadaan semesta yang bersifat tetap dan bentuk-bentuknya yang invisible. seorang filosof dan teolog Itali yang bernama Santo Thomas Aquinas berupaya mensintesakan keyakinan Nasrani dengan ilmu pengetahuan dalam cakupan yang lebih luas. Ilmu diraih baik secara langsung.dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. atau tidak langsung. berpendapat bahwa tidak ada yang benar-benar wujud. dan jika ilmu bersifat nisbi. sebagaimana tertuang pada table di bawah ini. Oleh karena itu. karena jika sesuatu ada tidak dapat diketahui. hanya penalaran abstrak dari disiplin ilmu ini yang dapat menuai ilmu pengetahuan original. karena setiap pendapat adalah hanyalah sebuah penilaian yang berakar dari pengalaman yang dilaluinya. Protagoras. Aristoteles mengikuti Plato ihwal ilmu abstrak adalah ilmu yang lebih superior atas ilmu-ilmu yang lainnya. seorang Sophist prominen. Gorgias. Plato. Pada abad ke-5 SM. akan tetapi memandang iman dalam otoritas skriptual sebagai nara sumber keyakinan agama. Table komparasi epistemology Plato dan Aristoteles . Pembahasan tentang epistemologi Plato dan Aristoteles akan lebih jelas dan ringkas kalau dilakukan dengan cara membandingkan keduanya. dengan memanfaatkan sumbersumber beragam seperti karya-karya filosof Aristoteles. Dengan demikian. mengikuti ustadznya Socrates. yang melaluinya ilmu pasti dan eksak dapat diraih. Maktab Epicurian dan Stoic sepakat dengan pandangan Aristoteles bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari indra-persepsi. akan membantu menjaga dari perangkapperangkap yang dipasang oleh para Sophist. Filosof Yunani berikutnya yang berbicara tentang epistemologi adalah Aristoteles. Observasi yang teliti dan ketat dalam mengaplikasikan aturan-aturan logika. Ia murid Plato dan pernah tinggal bersama Plato selama kira-kira 20 tahun di Akademia. sementara mengandalkan indrapersepsi menghasilkan pendapat-pendapat yang inkonsisten dan mubham. berdasarkan aturan-aturan logika. meskipun ia belum menggunakan secara resmi istilah epistemology ini. cendekiawan Muslim dan Yahudi. mencampur metode-metode rasional dengan iman dalam sebuah system keyakinan integral.

filosof Belanda. Epistemologi Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal. kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Jiwa terpenjara badan. Sementara kajian objek penelaahan yang berada dalam batas prapengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pascapengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontologi dari pengetahuan lainnya di luar iimu. dan Berkeley. berasal dari kata Yunani episteme. Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). sifat. dan Aristoteles. (2) Paham dualisme. metode dan batasan pengetahuan manusia (a branch of philosophy that investigates the origin. methods and limits of human knowledge). dan filosof Jerman. Plato. René Descartes (1596-1650). Ontologi Kenyataan yang sejati Pandangan tentang manusia Asal pengetahua n Cara mendapatk an pengetahua n Terdiri dari badan dan jiwa. dan (3) pluralisme dengan berbagai nuansanya. kebendaan. Namun tertanam dalam jiwa yang ada dalam diri manusia. Mengeluark an dari dalam diri (Anamnesis) dengan metoda bidan Cabang utama metafisika adalah ontologi. masalah utama yang muncul dalam pembahasan epistemologi adalah resistensi antara kubu rasionalis vis-à-vis kubu empiris (indriawi-persepsi). Mereka berpandangan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah logika deduktif (baca: qiyas) yang bersandarkan kepada prinsip-prinsip swabukti . Dan pendekatan ontologi dalam filsafat mencullah beberapa paham. yang berarti Perbedaan epistemologi Plato dan Aristoteles ini memiliki pengaruh besar terhadap para filosof modern. Baruch Spinoza (1632-1677). Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis ialah seperti Thales. Rasio Vs Indra Persepsi Antara abad 17 hingga akhir abad ke-19. Dunia ide. studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Pada masanya. AKSIOLOGI DALAM KEILMUAN Filed under: Teknologi Pendidikan by Fadli — 3 Komentar Oktober 4. Ontologi ilmu membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang bisa dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui panca indera manusia. sifat. merupakan paham ontologik. Filosof Francis. Sedangkan pandangan Aristoteles tentang asal dan cara memperoleh pengetahuan mempengaruhi filsu-filosof Empiris seperti Locke. badan fana (tidak abadi). ruang. Leibniz. Wilhelm Leibniz (1646-1716) adalah para pemimpin kubu rasionalis. waktu. nature. 2010i A. yaitu: (1) Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme. Beberapa aliran dalam bidang ontologi.Topik Pemikiran Pandangan tentang dunia Plato Ada 2 dunia: dunia ide & dunia sekarang (semu) Ide-ide yang berasal dari dunia ide Aristoteles Hanya 1 dunia: Dunia nyata yang sedang dijalani Segala sesuatu yang di alam yang dapat ditangkap indra Badan dan jiwa sebagai satu kesatuan tak terpisahka n. hubungan sebab akibat. naturalisme. yakni realisme. termasuk keberadaan. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. B. diolah dengan logika PARAGRAPH BARU………… ONTOLOGI. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. dan kemungkinan. Kehidupan sehari-hari dan alam dunia nyata Observasi dan abstraksi. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia. EPISTEMOLOGI. Hume. empirisme. Idealisme Plato mempengaruhi filosof-filosof Rasionalis seperti Spinoza. dan Whitehead. Jiwa abadi.

dan logos = teori. yaitu: 1) Nilai. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh (Jujun S. moral conduct. Ada tiga bentuk value dan valuation. yaitu tindakan moral yang melahirkan etika. bersikap positif terhadap keluarga kecil. ilmuwan hams manrpu ntenilai antara yang baik dan yang buruk. Suriasumantri.esthetic expression. analitis sebagai lawan dari legalitas. menghargai profesionalisasi. kebenaran. Jika ilmuan tidak dilandasi oleh landasan moral. pengetahuan. menghargai prestasi. dan menghargai hak-hak asasi perempuan. dan keputusan yang diambil berdasarkan pada pertimbangan pribadi. Netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologi raja: Jika hitam katakan hitam. C. Secara konsisten dan koheren maka ilmu mencoba memberikan penjelasan yang rasional kepada objek yang berada dalam fokus penelaahan. maka peristiwa terjadilah kembali yang dipertontonkan secara spektakuler yang mengakibatkan terciptanya “Momok kemanusiaan” yang dilakukan oleh Frankenstein (Jujun S. Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1) Apakah pengetahuan itu ?. tanpa berpihak kepada siapapun juga selain kepada kebenaratt yang nyata. gagasan. yang akan melahirkan filsafat sosio-politik.“pengetahuan”. sebagai suatu kata benda abstrak. 2000:36). metode dan sahnya (validitas) pengetahuan. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai dalam perkembangannya melahirkan sebuah polemik tentang kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa disebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). Ketiga. kepastian ? Langkah dalam epistemologi ilmu antara lain berpikir deduktif dan induk-tif Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikurnpuikan se. manusia modem dicirikan oleh sikapnya yang tidak fatalistik. Nilai-nilai yang juga harus melekat pada ilmuan.C 1993). dan penuh perhitungan. Sebuah keniscayaan. (4) Nilai pengambilan keputusan: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai ini dicirikan oleh sikap demokratis dalam kehidupannya bermasyarakat. yaitu kehidupan sosial politik. Dengan demikian maka aksiologi adalah “teori tentang nilai” (Amsal Bakhtiar. kebolehjadian. penalaran sebagai lawan dari sikap mistis (Suriasumantri. “pengetahuan yang benar”. serta terbuka terhadap ide-ide dan pengalaman baru. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa aksiologi disamakan dengan value dan valuation. bayangan. 1986. jika ternyata putih katakan putih. Suriasumantri. 3) Darimana pengetahuan itu dapat diperoleh ?. 2) Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu ?. 5) Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra-pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan puma pengalaman) ?. pendapat. 2) Nilai sebagai kata benda konkret. . 2004: 162). (2) Nilai sosial : dalam kaitannya dengan nilai sosial. yang pada hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap (Jujun S. Epistemologi dapat didefmisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. kesalahan. Semiawan. efisien menghargai waktu. Keduei. sebagaimana juga dicirikan sebagai manusia modern: (1) Nilai teori: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai teori dicirikan oleh cara berpikir rasional. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai. 2000:36). “pengetahuan ilrniah”.belumnya Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilnuah disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada. 2000: 105).. Suriasumantri. orientasinya pada ilmu dan teknologi. Menurut Bramel dalam Amsal Bakhtiar (2004: 163) aksiologi terbagi dalam tiga bagian: Pertama. struktur. yaitu ekspresi keindahan. 4) Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinitai ?. Sebaliknya. Sedangkan secara ontologi dan aksiologis. bahwa seorang ilmuwan harus mempunyai landasan moral yang kuat. fakta. Aksiologi Aksiologi berasal dari kata axios yakni dari bahasa Yunani yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. manusia modem dicirikan oleh tingkat produktivitas yang tinggi. sosio-political life. (5) Nilai agama: dalam hubungannya dengan nilai agama. terorganisasikan dalam kehidupannya. ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value bound. 3) Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai. (3) nilai ekonomi : dalam kaitannya dengan nilai ekonomi. 6) Apa perbedaan di antara: kepercayaan. Sikap inilah yang mengendalikan kekuasaan ilmu ilmu yang besar. kenyataan. manusia modem dicirikan oleh sikap individualistik.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful