P. 1
Ontologi, Epistemilogi dan Aksiologi Ilmu (P.Rudi-Fil.Ilmu&Etika)

Ontologi, Epistemilogi dan Aksiologi Ilmu (P.Rudi-Fil.Ilmu&Etika)

|Views: 624|Likes:
Published by Manda Sutanti

More info:

Published by: Manda Sutanti on Apr 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2012

pdf

text

original

Ontologi

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut mebahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles . Pada masanya, kebanyakan orang belum membedaan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri). Hakekat kenyataan atau realitas memang bisa didekati ontologi dengan dua macam sudut pandang: 1. kuantitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan itu tunggal atau jamak? 2. Kualitatif, yaitu dengan mempertanyakan apakah kenyataan (realitas) tersebut memiliki kualitas tertentu, seperti misalnya daun yang memiliki warna kehijauan, bunga mawar yang berbau harum. Secara sederhana ontologi bisa dirumuskan sebagai ilmu yang mempelajari realitas atau kenyataan konkret secara kritis. Beberapa aliran dalam bidang ontologi, yakni realisme, naturalisme, empirisme Istilah istilah terpenting yang terkait dengan ontologi adalah: • • • • • • • • yang-ada (being) kenyataan/realitas (reality) eksistensi (existence) esensi (essence) substansi (substance) perubahan (change) tunggal (one) jamak (many)

empiris (misalnya antropologi, sosiologi, ilmu kedokteran, ilmu budaya, fisika, ilmu teknik dan sebagainya).

Jul 30, 2007 at 09:16 PM
Oleh: A. Kamil

"Pandangan

dunia

(weltanschauung)

seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar. Semakin besar pengenalannya, semakin luas dan dalam pandangan dunianya. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban. peradaban Karena dan nilai sebaliknya hingga dan akan membuatnya terpuruk titik-nadir kualitas Anda

keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. ekuivalen dengan pengenalan dikenal atas apa yang Anda kenal. Wujud anda

ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI DAN AKSIOLOGI

Ontologi ini pantas dipelajari bagi orang yang ingin memahami secara menyeluruh tentang dunia ini dan berguna bagi studi ilmu-ilmu

PENDAHULUAN
Dalam makalah ini akan memaparkan tentang cabang-cabang dalam filsafat, yang pertama di sebut landasan ontologis; cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut antara merasa ? bagaimana (sepert hubungan berpikir, yang objek dan

pengetahuan Denganb maka

yang

satu

dari lainnya.

pengetahuan-pengetahuan mengetahuan mudah

jawabankita dapat jenis dalam

jawaban dari ketiga pertanyaan ini dengan membedakan pengetahuan berbagai yang terdapat

khasanah kehidupan manusia. Hal ini memungkinkan berbagai kita mengenali yang ada pengetahuan

tadi dengan daya tangkap manusia mengindera) landasan menjawab membuakan berusaha yang ilmu? timbanya berupa

seperti ilmu, seni dan agama serta meletakkan mereka pada tempatnya masing-masing yang saling memperkaya kehidupan kita. Tanpa mengenal ciri-ciri tiap pengetahuan dengan benar maka bukan saja kita dapat memanfaatkan kegunaanya secara maksimal namun kadang kita salah dalam menggunakannya. Ilmu di kacaukan dengan seni, ilmu agama, dikonfrontasikan dengan

pengetahuan?. Kedua di sebut dengan epistimologis; bagaimna di yang proses

memungkinkan pengetahuan

Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus di perhatikan agar kita mendapatkan itu sendiri? pengetahuan Apakah yang benar? Apa yang disebut kebenaran kriterianya? apa berupa yang ilmu?. Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang

bukankah tak ada anarki yang lebih menyedihkan dari itu?

membantu kita dalam mendapatkan Sedang yang ketiga, di sebut dengan landasan aksiologi; landasan ini akan menjawab, untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidahkaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah moral? berdasarkan Bagaimana metode pilihan-pilihan merupakan ilmiah

PEMBAHASAN

A. Ontologi
Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak di gunakan ketika kita membahas yang ada dlaam konteks filsafat ilmu. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak ada terikat yang oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang universal, semesta menampilkan pemikiran

kaitan antara teknik prosedural yang operasionalisasi dengan norma-norma

moral/professional?[1] Jadi untuk membedakan jenis

universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan Lorens Bagus; menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. 1. Objek Formal Objek formal ontologi adalah hakikat dalam seluruh kuantitas realitas. atau Bagi jumlah, pendekatan kuantitatif, realitas tampil tealaahnya akan menjadi kualitatif, realitas akan tampil menjadi aliranaliran Referensi materialisme, atau tentang idealisme, itu naturalisme, hylomorphisme. kesemuanya

metaphisik mengetangahkan prinsip umum yang menjadi dasar dari semua realitas. Abstraksi yang dijangkau oleh ontologi adalah abstraksi metaphisik. Sedangkan metode pembuktian dalam ontologi oleh Laurens Bagus di bedakan posteriori. Pembuktian a priori disusun dengan meletakkan term tengah berada lebih dahulu dari predikat; dan pada kesimpulan term tengah menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan. Contoh : Sesuatu yang bersifat menjadi dua, yaitu : pembuktian a priori dan pembuktian a

penulis kira cukup banyak. Hanya dua yang terakhir perlu kiranya penulis lebih jelaskan. Yang natural ontologik akan pertama diuraikan di oleh di aristoteles belakang ketengahkan dalam hylomorphisme

lahirah itu fana (Tt-P) Badan itu sesuatu yang lahiri (S-Tt) Jadi, badan itu fana’ (S-P) Sedangkan pembuktian a

bukunya De Anima. Dalam tafsirantafsiran para ahli selanjutnya di fahami sebagai upaya mencari alternatif bukan dualisme, tetapi menampilkan aspek materialisme dari mental. 2. Metode dalam Ontologi Lorens Bagus memperkenalkan tiga tingkatan abstraksi dalam ontologi, yaitu : abstraksi fisik, abstraksi bentuk, dan abstraksi metaphisik. Abstraksi fisik menampilkan keseluruhan sifat khas umum sesuatu sesuatu yang yang objek; menjadi sejenis. sedangkan cirri semua abstraksi bentuk mendeskripsikan sifat Abstraksi

posteriori secara ontologi, term tengah ada sesudah realitas kesimpulan; dan term realitas tengah yang a menunjukkan dinyatakan hanya saja posterioris akibat dalam cara disusun

kesimpulan pembuktian

dengan tata silogistik sebagai berikut: Contoh : (Tt-S) Gigi geligi itu gigi geligi pemakan tumbuhan (Tt-P) Gigi geligi itu gigi

geligi rahang dinasaurus

Jadi, Dinausaurus itu pemakan tumbuhan (S-P)

Bandingkan pembuktian posteriori. a Yang

tata priori

silogistik dengan a di

yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya.
Manusia dari itu tidak yang dapat kita lah memiliki maka

apriori

berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan predikat dan term tengahj menjadi sebab dari kebenaran kesimpulan; sedangkan yang a posteriori di berangkatkan dari term tengah di hubungkan dengan subjek, term tengah menjadi akibat dari realitas dalam kesimpulan.[2] Sementara Jujun S. Suriasumantri dalam pembahasan juga tentang tentang ontologi dan memaparkan asumsi

pengetahuan pertanyaan caranya

sejati,

mengajukan memperoleh

“bagaimanakah kita

pengetahuan”?[3]

Metode-metode untuk memperoleh pengetahuan
a. Empirisme

peluang. Sementara dalam tugas ini penulis tidak hendak ingin membahas dua point tersebut.
B. Epistemologi

Masalah epistemology bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Sebelum dapat menjawab pertanyaanpertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat di ketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemology. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang

Empirisme adalah suatu cara/metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke, bapak empirisme Britania, mengatakan bahwa pada waktu manusia di lahirkan akalnya merupakan jenis catatan yang kosong (tabula rasa),dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalamanpengalaman inderawi. Menurut Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta memperbandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan serta refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut. Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan,yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-tama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objekobjek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu di lacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidaktidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang factual.
b. Rasionalisme

Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal. Bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman palingpaling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan

Kant membuat pengalaman. intuisi adalah Intusionisme – setidak-tidaknya beberapa bentuk-hanya bahwa mengatakan pengetahuan yang lengkap di . bentuk samping Immanuel Kant. hanya untuk sebagian. Salah unsur paham adanya pengalaman satu yang ini di antara Bergson suatu di unsutdalam ialah.terletak di dalam ide kita. pengetahuan (Phenomenon). memaksakan bentuk-bentuknya sendiri terhadap barang sesuatu serta pengalaman. Karena itu kita tidak mempunyai tentang barang hanya keadaanya pengalaman yang dihayati oleh indera. seperti bentuk-bentuk dengan jalan intuisionisme memungkinkan pengalaman dan disusun secara penalaran. d. Bagi Kant para benar bahwa penganut bila semua benar tentang gejala pengalaman baik maupun empirisme berpendapat pengalaman pengalaman pengetahuan di dasarkan pada pengalaman-meskipun para juga penganut benar. Fenomenalisme Bapak uraian Baran Fenomenalisme tentang sesuatu adalah suau sarana untuk mengetahui secara langsung dan seketika. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan atau menunjuk kepada kenyataan. maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja. dan bukannya di dalam diri barang sesuatu. secara dengan tidak akan jalan dapat dari menggantikan hasil pengenalan langsung pengetahuan intuitif. c. Kant masih benar melainkan tentang sesuatu seperti yang menampak kepada kita. Analisa. Tetapi rasionalisme karena akal intusionisme tidak mengingkati nilai pengalaman inderawi yang biasa dan pengetahuan yang disimpulkan dalam darinya. Intusionisme Menurut Bergson. atau pengetahuan yang diperoleh pelukisan. Hendaknya diingat. Dengan demikian data yang dihasilkannya bahan yang dapat merupakan pengetahuan tetap mengatakan pengetahuan pengalaman. sebagaimana berharga terdapat dalam dirinyan sendiri merangsang alat inderawi kita dan diterima oleh akal kita dalam sistematis pernah pengetahuan sesuatu sendiri. demikian meliputi inderawi intuitif. didasarkan tetapi tambahan dihasilkan dengan bahwa pada harus dengan bagi pengetahuan di samping oleh penginderaan. artinya.

masalah-masalah perspektif yang berbeda. mempertanyakan ilmu itu hal-hal yang bersifat seharusnya: sebenarnya harus dipergunakan? Dimana batas wewenang penjelajahan keilmuan? Ke arah mana harus urgensi perkembangan diarahkan? bagi ilmuan dan namun keilmuan merupakan seperti ilmuwan yang menampak kepada kita. Aksiologi Pertanyaa semacam ini jelas tidak Copernicus. namun juga menciptakan tujuan hidup itu sendiri. bagi ilmuan yang hidup dalam abad kedua puluh yang telah mengalami dua kali perang dunia dan hidup dalam bayangan ini ini kekhawatiran tak untuk dapat di perang dunia ketiga. Dan masih masih banyak lagi yang menjadi bahasan dalam epistemology. itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kemanusiaan mengubah sendiri. dan hanya intuisilah yang dapat menyingkapkan kepada kita keadaanya yang senyatanya. C. Jadi ilmu bukan saja menimbulkan dehumanisasi itu namun atau bahkan hakikat dengan kemungkinan kamanusiaan mengubah sendiri.” melainkan faust yang menciptakan Goethe. pertanyaanpertanyaan elakkan. yaitu tidak sesuatu lawan dari apa yang diberikan Mereka sesuatu merupakan mengatakan. e. belaka.” Meminjamkan perkataan ahli ilmu jiwa terkenal carl gustav jung. Ketika Copernicus (1473-1543) mengajukan teorinya tentang berputar yang kesemestaan bahwa mengelilingi alam dan yang menemukan “bumi perkataan lain. pertanyaan Dan menjawan ilmuan Dewasa ini ilmu bahkan sudah berada di ambang kemajuan dan yang mempengaruhi manusia itu reproduksi gejala penciptaan sendiri. ilmu adanya untuk yang mulai apa pada alam hakikatnya sebagaimana mempelajari analisa. maka berpaling kepada hakikat moral. “bukan lagi Goethe matahari” ajaran dan bukan sebaliknya seperti apa dinyatakan oleh . Sebenarnya pertumbuhannya terkait moral dengan namun sejak ilmu dalam saat sudah perkataan lain.” Menghadapi kenyataan seperti ini. sebagai lawan dari pengetahuan yang nisbi-yang saja-yang meliputi sebagian oleh diberikan yang menciptakan Faust. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya. Galileo seangkatannya. Ada yang berpendirian bahwa apa yang diberikan oleh indera hanyalah apa yang sebagai kenyataan. barang pernah seperti menampak oleh intuisi.peroleh melalui intuisi. ilmu bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya.

(nilai-nilai) yang terdapat dalam ajaran-ajaran keilmuan di petualangannya (adakah dalam esensial negeri ajaib. Jadi pada dasarnya ini apa adalah apa yang bidang berusaha yang cara menjadi ontologi untuk kajian dalam Timbullah konflik yang bersumber pada penafsiran metafisik ini yang berkulminasi Galileo pengadilan dipaksa pernyataanya pada pengadilan oleh tersebut. sedangkan di pihak lain. Sejarah rela kemanusiaan di hiasi dengan semangat para martir yang mengorbankan nyawanya dalam mempertahankan apa yang mereka anggap benar. pengetahuan kaitan antara berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana penggunaan kaidah-kaidah penentuan Bagaimana prosedural dengan tersebut moral? objek kaitan yang yang dengan Bagaimana ditelaah teknik ilmiah berdasarkan pilihan-pilihan moral? antara merupakan norma-norma berputar mengelilingi matahari. cabang ini menguak tentang objek apa yang di telaah ilmu? Bagaimana ujud yang hakiki dari objek tersebut ? bagaimana hubungan dengan (sepert antara berpikir.agama. yang objek merasa tadi dan daya tangkap manusia moral prostitusi secara seperti intelektual. kata di moral. Peradaban telah menyaksikan sokrates di paksa meminum racun dan John Huss dibakar. mencabut bumi inkuisisi Galileo pada tahun 1633. operasionalisasi metode moral/professional?[4] PENUTUP Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat di tarik kesimpulan : Ontologis. agama untuk bahwa menjawab pertanyaan-pertanyaan. Secara metafisik ilmu ingin mempelajari alam sebagaimana adanya. maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral ajaran (yang agama) bersumber pada rasionalisasi mendustakan “segalanya Alice dalam yang punya bersifat kebenaran. (1564-1642). terdapat keinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan diluar antaranya bidang agama. “asalkan kau mampu menemukannya. telah membawa manusia mencapai sekarang dengan proses mengindera) membuakan . dalam avontur intelektual?).” lebih kemerlap yang keberanian yang gelap.” yang berkonotasi metafisik. Dan sejarah tidak berhenti di sini: kemanusiaan tak pernah urung di halangi maka untuk Tanpa ilmuwan dapat yang ini menemukan landasan mudah melakukan Penalaran harkatnya berganti sekali kebenaran. tergelincir rasional 1.

dan mengindera) yang membuahkan pengetahuan? Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Epistimologi(CaraMendapatkanPengetahuan) Bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Hal-hal apa yang harus diperhatikan agar kita mendapatkan pengetahuan dengan benar? Apa yang disebut dengan kebenaran itu sendiri? Apa kriterianya? Sarana/cara/teknik apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yang berupa ilmu? Aksiologi(Guna Pengetahuan) Untuk apa pengetahuan tersebut digunakan? Bagaiman kaitan antara cara penggunaan DAFTAR PUSTAKA Jujun S. H. 135-136. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. merasa. hal. 34-35. berupa ilmu? [1] Jujun S. . Yogjakarta. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Suriasumantri.pengetahuan?. Suriasumantri. 2001 [3] Louis O. Sistematika filsafat II. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Pengantar filsafat. Suriasumantri. Noeng Muhadjir. Jakarta. Pustaka Sinar Harapan. Jakarta. Pengantar filsafat. Prof. Penerbit Rake Sarasin. 1996. Hal. Dr. 34-35. Aksiologi menjawab. Louis O. [5] Jujun S. Kattsouff. 1996. Filsafat Ilmu. Tiara Wacana. Yogjakarta Sidi Gazalba. Yogjakarta. Jakarta. 1996. [4] Jujun S. untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu di pergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan ditelaah antara metode kaidah-kaidah berdasarkan teknik ilmiah moral? pilihanyang normaBagaimana penentuan objek yang pilihan moral? Bagaimana kaitan prosedural dengan merupakan norma moral?[5] operasionalisasi Ontologi(HakikatIlmu) Obyek apa yang telah ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. 3. Dr. Pustaka Sinar Harapan. Filsafat Ilmu. Paragrap Baru ya Jeeng!! prosedurnya? apa yang harus di perhatikan agar mendapatkan benar? Apa itu pengetahuan yang disebut Apakah kebenaran kriterianya? sendiri? Cara/tehnik/sarana pengetahuan yang apa yang membantu kita dalam mendapatkan berupa ilmu?. H. Tiara Wacana. Yogjakarta. Penerbit Rake Sarasin. 34-35. [2] Prof. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Kattsouff. Epistemologi berusaha menjawab bagaimna memungkinkan pengetahuan Bagaimana kita yang yang proses di yang timbanya Hal-hal Yogjakarta. hal. 2001. 2. hal. Suriasumantri. Jakarta. 1995. Noeng Muhadjir. Pustaka Sinar Harapan. Pustaka Sinar Harapan. 1996.

ada hal yang mendasar dalam diskusi-diskusi tentang epistemologi. Epistemologi Perdebatan tentang epistemologi adalah sesuatu yang diperdebatkan sepanjang sejarah karena epistemologi adalah hal yang sangat substansil dalam melakukan penilain terhadap sesuatu.shvoong. Ontologi: ilmu atau teori tentang wujud hakikat yang ada. namun ada pertanyaan yang bisa diajukan kepada mereka: 1. Mempersoalakan tentang wujud hakiki objek ilmu atau keilmuan itu apa? Objek ilmu atau keilmuan adalah dunia empirik. hakikat pikiran serta kaitan antara zat dan pikiran → terangkum dalam metafisika). mereka mengatakan bahwa epitemologilah yang lebih dulu ada dari pada ontologi.com/humanities/philosophy/213 0959-ontologi-epistimologi-dan-aksiologiilmu/#ixzz1Jlm8EN5P Paragrap baru juga ya…. dua hal ini kemudian yang memetakan antara aliran pemikiran yang bersifat materialistis dan aliran pemikiran yang bersifat metafisika. Sumber: http://id. logos = ilmu. Ontologi: ilmu yang mempelajari tentang hakikat sesuatu yang berwujud (yang ada) dengan berdasarkan pada logika. karena dia membuktikan lewat sebuah analisa pengetahuan yang sifatnya emperikal sementara filosof yang lain mengatakan bahwa ontologilah yang lebih dulu ada. apakah keberadaan sesuatu itu karena kita memberikan konsepsi kepada sesuatu itu. John Look.com/humanities/philosophy/212 3997-ontologi/#ixzz1JlmhXDhr Mengenal EPISTEMOLOGI PART 1 A. karl Marx dan David Home.shvoong. dunia yang dapat dijangkau pancaindra → objek ilmu adalah pengalaman indrawi. 2. Thomas Hobbes. jawaban dari pertanyaan diatas akan memberikan gambaran kepada kita bahwa apakah realitas itu ada tanpa kita memberikan penilaian keberadaan terhadap keberadaannya. pada umumnya tokoh-tokoh filosof dibarat seperti. Kajian mengenai organisasi sosial → terangkum dalam politik . bagaimana caranya mereka bisa mengetahui sesuatu itu ada tanpa adanya realitas. yaitu perdebatan tentang apakah epistemologi yang lebih dulu ada dari ontologi ataukah ontologilah yang lebih dulu ada dari epistemologi. namun pertanyaan kemudian yang diajukan Ontologi → ontos = sesuatu yang berwujud. apakah sesuai dengan wujud penampakannya atau tidak? Benarkah ilmu ada? Apakah konsep ilmu sebagai kajian tentang kausalitas itu bermakna di tengah ruang yang tidak terbatas itu? Dari teori hakikat (ontologi) ini → muncul beberapa aliran dalam filsafat Filsafat Materialisme Filsafat Idealisme Filsafat Dualisme Filsafat Skeptisme Pokok permasalahan yang menjadi objek kajian filsafat mencakup: Logika (benar-salah) Etika (baik-buruk) Estetika (indah-jelek) Teori tentang Ada (tentang hakikat keberadaan zat. Para filosof yang bermazhab emperisme dalam membuktikan tentang kelebih-dahuluan epistemologi dari ontologi mengatakan bahwa epistemologilah yang yang lebih dulu ada. Ontologi sebagai cabang filsafat bertugas memberi jawaban atas pertanyaan: Apa sebenarnya realitas benda itu?. ataukah memang dia mempunyai keberadaan tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia itu mempunyai keberadaan. Mazhab berpikir emperisme mengatakan bahwa untuk membuktikan sesuatu itu ada maka kita memerlukan pengetahuan atau epistemologi sebagai sumber dari pengetahuan kita sehingga kita bisa mengatakan dia ada atau tidak ada karena kita punya pengetahuan tentangnya.tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penetuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan normanorma moral/profesional? Sumber: http://id.

epistemologi dan ontologi. pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya. 2). untuk membedakan dua cabang filsafat. tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya.F. teori belajar.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. 2005). Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu. karena tanpa realitas maka mustahil kita bisa mengetahui sesuatu. Pengertian lain. 2003. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumbersumber pengetahuan ? apakah hakikat. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. dan sesuatu itu akan tetap mempunyai keberadaan tanpa kita secara subyektif memberikan penilaian tentang keberadaannya. 1965. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan. hal. metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. pembahasan konsep apa pun. ini adalah menjadi problem dalam sebuah sains atau pengetahuan yang berdiri diatas pijakan yang emperisme terutama yang dibangun di Eropa terutama pasca Fransisco Bacon Mazhab Metafisika mencoba menjawab. 3). Lazimnya. karena memang pada kenyataannya dia memang sudah mempunyai keberadaan. seperti keberadaan bulan dan bintang adalah sesuatu yang niscaya adanya tanpa kita memberikan penilaian bahwa dia ada atau tidak. melainkan juga pada substansi persoalannya. Secara etimologi.shvoong.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalan-persoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. dalam Jujun S. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J. sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu.com/socialsciences/sociology/2073233-mengenalepistemologi/#ixzz1Jln1DVKs Paragraph baru ok! Pengertian Epistemologi oleh: andra5463 Pengarang : radityo Secara historis.Hardono Hadi menyatakan. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. 2010 Sumber: http://id.Suriasumantri. Demikian pula. Dalam Epistemologi. Sedangkan. Menurut Musa Asy’arie. struktur. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. bahwa ontologilah yang lebih dulu mempunyai keberadaan. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. Diterbitkan di: 11 Nopember. sehingga didapatkan pengertian yang berbeda-beda. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasanpembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi (pengertian). pengandaian- . Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. prinsip-prinsip belajar. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. Misalnya. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis. hambatan-hambatan belajar. dia baru bisa menjelaskan proses belajar. Ferrier. dan logos berarti teori. Sebagai sub sistem filsafat.32). Setelah memahami substansi belajar tersebut. Jadi. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan.kepada kaum emperik adalah dari mana pengetahuan itu bisa ada kalau tidak ada realitas yang lebih dulu ada. P. gaya belajar. buka saja pada redaksinya.

pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. 2. merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. epistemologi. pengertian. fenomenologi dan sebagainya. rasionalisme kritis.com/humanities/philosophy/208 2651-pengertian-epistemologi/#ixzz1JlnTNlLC Baruuuu………. EPISTEMOLOGI ILMU oleh: anin Filsafat Pengarang : Elvira Syamsir Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. Selanjutnya. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan. atau kombinasi akal dan pengalaman. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). sum-ber pengetahuan. serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. pengalaman. struktur. yakni realisme.pengendaian dan dasarnya. dan teori intersubjektif. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. Sementara itu. Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. empirisme. dasar dan pengendaianpengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. metode-metode dan validitas pengetahuan. sarana.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan. 2010 Sumber: http://id. yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. intuisi. Dia menyatakan. bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu. yaitu ontologi. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah dipahami.shvoong. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. akal budi. objek dibahas dari keberadaannya. seperti teori koherensi. Akal. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir. yaitu realisme dan idealisme. dan aksiologi. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). metode atau cara memperoleh pengetahuan. korespondesi pragmatis. Sedangkan D. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama. Secara ontologis. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak . struktur. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis.Runes. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. Diterbitkan di: 04 Desember. naturalsime dan empirisme. 1. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Azyumardi Azra menambahkan. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya. positivisme. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme. apakah ia materi atau bukan. asal mula pengetahuan. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. diungkapkan oleh Dagobert D. metode dan validitas ilmu pengetahuan”.

sikap. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. 2008 Sumber: http://id. BARUUUU LAGI ISYRAQ Mendulang Cahaya Epistemologi. yakni nilai dan validitas ilmu-ilmu lain bergantung kepada ilmu tertentu. misalnya tentang apa itu pengetahuan. Sebagai contoh. (dari bahasa Yunani episteme (pengetahuan) dan logos (kata/pembicaraan/ilmu) adalah cabang filsafat yang berkaitan dengan asal. filsafat merupakan dasar dan pijakan bagi ilmu-ilmu empirik. ilmu logika yang merupakan alat berpikir manusia dan ilmu yang berkaitan dengan cara berpikir yang benar. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia. pengandaian-pengandaian. metode kontemplatis dan metode dialektis. sifat. Epistemologi Dari Wikipedia bahasa Indonesia. bagaimana karena mengkaji seluruh tolok ukur ilmu-ilmu manusia.shvoong. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. diletakkan sebagai pendahuluan dalam filsafat dan setiap ilmu-ilmu lain. maka dari itu ia bisa ditempatkan sebagai dasar dan asas bagi seluruh pengetahuan manusia. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. dasardasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Diterbitkan di: 18 Maret. Secara rasional. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang.teruji. Epistomologi atau Teori Pengetahuan berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan. diantaranya. metode positivisme. metode induktif. metode deduktif. ensiklopedia bebas Epistemologi. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. Namun. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada. dan tolok ukur keterkaitan ini memiliki derajat yang berbedabeda. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. dasar dari semua ilmu empirik adalah prinsip kausalitas dan kaidah ini menjadi pokok bahasan dalam filsafat. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris. dan dari sisi ini. dan jenis pengetahuan. macamnya. epistemologi (teori pengetahuan). Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. termasuk ilmu logika dan ilmu-ilmu . Ilmu Pengetahuan Pendahuluan Ilmu-ilmu yang dimiliki Secercah Teori oleh manusia berhubungan satu sama lain. serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan. ilmu tertentu ini dikategorikan sebagai ilmu dan pengetahuan dasar. 3. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode. Sebagian ilmu merupakan asas dan pondasi bagi ilmu-ilmu lain. dengan demikian. ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif. Begitu pula. matematika dan statistika. Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat.com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1Jlo8CibK PARAGRAPH BARU karakteristiknya. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara.

ilmu logika merupakan ilmu tentang metode berpikir dan berargumentasi yang benar. akan tetapi. dan makrifat jiwa. sebagian pemikir tidak menganggap valid lagi indra lahir itu dan berupaya membangun struktur pengindraan . Pengindraan. Pada era tersebut. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. akan tetapi. dan ilmu merupakan bagian pembahasan tentang makrifat jiwa. Tuntutan fitrah manusia dan rasa epistemologi itu adalah karena para pemikir melihat bahwa panca indra lahir manusia yang merupakan satu-satunya alat penghubung manusia dengan realitas eksternal terkadang atau senantiasa melahirkan banyak kesalahan dan kekeliruan dalam menangkap objek luar. wujud pikiran. dan keberadaan argumentasi akal kontradiksi masalahmasalah pemikiran kemudian berefek pada kelahiran aliran Sophisme yang mengingkari validitas akal dan menolak secara mutlak segala bentuk eksistensi eksternal. khususnya di barat. Dalam filsafat Islam permasalahan epistemologi tidak dibahas secara tersendiri. Lahirnya kaidah itu menjadi penyebab berkembangnya validitas sehingga akal dan indra lahir kalinya sedemikian berakibat untuk kedua epistemologi Akan tetapi. kenon-materian jiwa. epistemologi lantas menjadi suatu disiplin ilmu baru di Eropa yang dipelopori oleh Descartes (1596-1650) dan dikembangkan oleh filosof Leibniz (1646–1716) kemudian disempurnakan oleh John Locke di Inggris. akal teoritis dan praktis. epistemologi menjadi suatu bidang disiplin baru ilmu yang mengkaji sejauh mana pengetahuan dan makrifat manusia sesuai dengan hakikat. Namun pada sisi lain. para pemikir banyak yang sendiri berbeda pendapat akal dalam dan persoalan saling mengenai dalam rasionalitas. objek luar. sebelumnya. persepsi. lahir kembali kepercayaan kuat terhadap indra lahir yang berpuncak pada Positivisme. kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. yang valid yang rasional. Namun belakangan ini. di Islam.manusia yang bersifat gamblang. Begitu pula hal-hal yang berkaitan dengan epistemologi banyak dikaji dalam pembahasan tentang akal. Pengertian Epistemologi Manusia dengan latar belakang. berupaya menyusun kaidah-kaidah logika sebagai aturan dalam berpikir dan berargumentasi secara benar yang sampai sekarang ini masih digunakan. merupakan dasar dan pondasi segala ilmu dan pengetahuan. persoalan epistemologi sangat dipandang serius sedemikian sehingga filosof Yunani. Latar belakang hadirnya pembahasan memunculkan keraguan terhadap nilai akal dan indra lahir di Eropa. Aristoteles. diletakkan setelah epistemologi. dan realitas eksternal. Hingga tiga abad bukanlah pada dua sebelum suatu abad abad ilmu ini. begitu banyak persoalan epistemologi dikaji secara meluas dalam pokok-pokok pembahasan filsafat Islam. dan tolok ukur kebenaran dan kekeliruan suatu proposisi. objek akal. epistemologi diposisikan sebagai salah satu disiplin ilmu. dengan demikian.[1] Dengan alasan itu. dikategorikan sebagai disiplin ilmu tertentu. misalnya dalam pokok kajian tentang jiwa. Walaupun ilmu logika dalam beberapa bagian memiliki kesamaan dengan epistemologi.[2] 1. dan setelah Renaissance dan kemajuan ilmu empirik.

kuat Keraguan-keraguan pertanyaan tentang hakikat itu. Namun. akan tetapi. Hakikat itu bisa dicapai. dan jalan menuju tertutup bagi manusia. Kita bisa mengajukan Seseorang sedang melihat suatu pemandangan jauh melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. 4. dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal. dan dipahami. persepsi-persepsi pikiran. Dengan ungkapan lain. yang keraguan ini akan menguat khususnya apabila mengamati pada kesalahan-kesalahan lahir dan terjadi indra sejarah kontradiksi- penampakan pertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong jauh. nilai dan keabsahan pikiran. pengetahuan. perhatikan dengan berupaya diketahuinya. dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran ini besar akan atau semakin kecil?. contoh teropong Untuk berikut dan lebih ini. keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah jelasnya yang yang diperdebatkan. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna. 3. hakikat yang manusia dan tidak ingin menggapai mengetahui Manusia persoalan terakhir ini berbeda dengan yakni persoalan-persoalan sebelumnya. Pada suatu sesuatu dasarnya. sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. aktual dan kita bagi Terkadang itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang kontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang manusia?Persoalan- . tolok ukur kebenaran hasil pikiran. Akal bisa dan pikiran yang tidak menjawab persoalan-persoalan ilmu dan pengetahuan dihadapinya. Apabila manusia melontarkan suatu dengan adanya oleh kemungkinan teropong. kesalahan Pertanyaan- pertanyaan yang baru. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini. diketahui. masih merupakan kekinian persoalan-persoalan manusia. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. dan makrifat atas hakikat manusia itu. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada. bentuk. tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. Dengan perantara teropong itu sendiri. 2.ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai kita hakikat sebagaimana adanya. Hakikat itu ada dan nyata. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran. Manusia bisa memiliki ilmu.

yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. alat. i. pengetahuan manusia. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat. ilmu. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî[4]. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan pokok pengkajian memperhatikan epistemologi definisi ilmu. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini. segala hal yang hakiki. dan psikologi. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan eksternal. validitas.[3] 2. sebagai (mantik).[7] epistemologi. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. dasar dan dan f. maka dari sudut mana subyek ini dibahas. ilmu-ilmu dan seperti keterampilan. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu . kebenaran makrifat. Sudut pembahasan. Makna leksikal ilmu adalah sama secara dengan umum pengideraan dan mencakup 2. Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang bersifat empirik. teknologi. hushûlî dan ilmu hudhûrî. b. pondasi. Dengan demikian. juga meliputi hudhûrî[5]. sains. Makna ini digunakan dalam filsafat Islam. Sisi dibidang ontologi dan hushûlî. e. Dalam hal ini. Ilmu yang hanya dimaknakan pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. kemahiran. definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas dan tentang batasan. yakni apakah h. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. dua poin penting akan dijelaskan: 1.mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. ilmu para malaikat. tersebut adalah sebagai berikut: a. tolok ukur. logika. Ilmu ialah gabungan proposisiproposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik. dan ilmu manusia. keabsahan. ilmu Tuhan. Ilmu ialah kumpulan proposisiproposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalahmasalah sejarah dan geografi. Istilah-istilah ilmu j. g. ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika Ilmu adalah pembenaran (attashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini[6]. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan filsafat. bisa dikatakan bahwa tema dan ialah makrifat dan pengetahuan. Cakupan pokok bahasan. Ilmu (hudhûrî) adalah dan kehadiran bentuk ini ilmu Istilah mencakup segala penyingkapan. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. c. d.

atau pengkajian seputar pluralisme dan hermeneutik. ilmu. Metode Epistemologi Dengan pengertian jelaslah memperhatikan epistemologi. Hubungan epistemologi dengan Teologi dan ilmu tafsir. maka mustahil kita membahas mengungkap logika masih tentang suatu perlu metode hakikat akal dan untuk bahkan dan hadirnya pengindraan dibahas dalam ilmu logika. dan hakikat keberadaan. Dengan demikian. 4. karena akar pembahasan ini terkait langsung dengan pembahasan epistemologi. ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokokpokok pembahasannya. epistemologi berperan sentral sebagai alat penting bagi kedua ilmu tersebut. maka jelaslah mengenai urgensi kajian epistemologi. dan pembagian dan batasan-batasan metode-metode yang ditetapkan oleh ilmu dipertanyakan rekonstruksi. 5. dan validitas akal dalam memahami hakikat dan realitas eksternal. Dan dari dimensi untuk menguraikan sumber epistemologi dan perubahan yang terjadi di sepanjang sejarah juga menggunakan metode analisa sejarah. metode bahwa definisi maka ilmu ini dan menjadi adalah Filsafat. Hubungan Epistemologi dengan Ilmu Logika. c. kodrat. Hubungan epistemologi umum filsafat eksistensi dengan adalah (ontologi). Jadi. epistemologi dan ilmu logika merupakan mukadimah bagi filsafat. Hubungan Epistemologi dengan IlmuIlmu Lain a. Pengertian terhadap pengenalan realitas eksternal. karena apabila kemampuan dan validitas akal belum dikaji dan ditegaskan. Dengan memperhatikan . Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas observasi pengetahuan. pokok-pokok analisa akal. Ilmu logika adalah suatu ilmu yang mengajarkan tentang metode berpikir benar. 3. b. Urgensi Epistemologi Jika kita perhatikan definisi epistemologi dan hubungannya dengan ilmu-ilmu lainnya. khususnya pembahasan yang terkait dengan kontradiksi ilmu dan agama. bahasannya Yang koridor dimaksud ilmu-ilmu kajian metode akal di sini adalah meliputi seluruh rasional dalam hushûlî dan ilmu hudhûrî.sebelumnya penyebab dan faktor riil yang menjadi adalah definisi ini. tingkatan Sudut dan pencapaian suatu pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaanperbedaan ilmu. yakni metode yang digunakan oleh akal untuk menyelami dan memahami realitas eksternal sebagaimana adanya dalam penggambaran dan pembenaran. Jadi. atau akal dan agama. diasumsikan mengenai kemampuan. Sementara filsafat dalam pengertian khusus (metafisika) adalah membahas kaidah-kaidah umum tentang eksistensi[9]. walhasil masih menjadi hal yang diragukan. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap ilmu. karena untuk menjelaskan memerlukan analisa lain. bisa dikatakan bahwa epistemologi jika dikaitkan dengan ilmu logika dikategorikan sebagai pendahuluan dan mukadimah. Dan dari sisi ini. Ilmu tafsir adalah suatu ilmu yang berhubungan dengan metode penafsiran kitab suci. telah Dalam dua pengertian tersebut. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. Ilmu kalam (teologi) ialah suatu ilmu yang menjabarkan proposisiproposisi teks suci agama dan penyusunan argumentasi demi mempertahankan peran dan posisi agama. menggunakan akal dan rasio. pengetahuan[8].

dan persoalan inti yang dimunculkan seputar keyakinan agama dan dasar-dasar etika. karena Islam dengan persoalan pada tersebut pada menjadi potensi maujud akal-pikiran. Manusia ialah maujud yang berakal dan politik adalah hal yang juga tak bisa disangkal Plato Anda bisa berkata bukan dikatakan penguasa Yunani ketika itu. memotivasi manusia untuk menggapai ilmu dan makrifat. “Anda tidak layak memerintah. dan keraguan akan senantiasa bersama manusia bahwa apakah akal telah memberikan solusi yang benar atas perkara-perkara pertanyaan epistemologi. jawaban atas segala persoalan mendasar niscaya dengan upaya-upaya rasional dan filosofis. sementara tersebut tak menguasainya.[10] Perbedaan hakiki manusia dan hewan terletak mengajukan solusi atas segala permasalahan yang dihadapi manusia. Yang pasti. pemerintahan seorang bahwa hakim (filosof). fiqih. Hal ini berarti bahwa jika akal rasionalitasnya dipisahkan kehidupannya. dengan demikian. Pembahasan membuktikan pengkajian seperti kepada epistemologi tersebut kita dan di atas pentingnya konklusi- konklusinya. suatu rangkaian persoalan yang prinsipil menjadi terkonstruksi dengan tujuan untuk mencarikan solusi atas segala permasalahan yang timbul berkaitan dengan dimana pengetahuan hal itu dan akal manusia.” Dan juga berkaitan dengan karena manusia tak bisa memahami hakikat dirinya sendiri sebagaimana yang semestinya. maka persoalan yang kemudian muncul ialah apakah akal manusia mampu akal menyelesaikan belum persoalanmaka dalam persoalan tersebut? Jika nilai dan validitas pengenalan tidaklah ditegaskan. karena ilmu-ilmu alam dan matematika tidak mampu memberikan solusi komprehensif dan universal atasnya. mereka tidak berhak memerintah. Hubungan dan saling epistemologi terkait. dan untuk memerintah mesti dibutuhkan ilmu politik kaum dan ulama pemerintahan. pembatas merupakan substansial antara iadengan hewan. Semua kenyataan ini berarti bahwa pencapaian keyakinan dan kebenaran adalah sangat mungkin dengan perantaraan akal dan argumentasi rasional. memerintah. dan para ulama yang adil Tuhan Pada memiliki lain. Pertanyaanpembahasan sebelum melangkah ke arah upaya-upaya rasional dan filosofis. dengan demikian. yang Rahasia dan kemanusiaan manusia adalah bahwa ia mesti berakal mengaplikasikan kekuatan akal dalam semua segmen kehidupannya serta seluruh kehendak dan dan iradahnya terwujud melalui pancaran dari petunjuk akal. dan menolak segala bentuk keraguan. maka dari itu. akal berguna pengakuan beranggapan bahwa makrifat agama adalah bukan bagian dari ilmu. ini tersebut? adalah Dengan inti begitu. maka yang tertinggal hanyalah sifat kehewannya. penafsiran. dan jika ada orang yang ragu atas realitas ini. maka adalah penetapan wakil hukum yang sisi hanya berada hak ditangan Tuhan.terkhusus lagi apabila kita menyimak ruang pemikiran dan budaya yang ada serta kritikan. sebagian seluruh aktivitasnya dinapasi oleh akal dan pengetahuan. begitu banyak ayat al-Quran berkaitan dengan argumentasi akal. keraguan. dan hak-hak asasi manusia dimana sentral dari berpijak semua pada pembahasan epistemologi. Karena telah jelas urgensi upaya rasional untuk kehidupan hakiki manusia. langkah pertama yang mesti diambil . segala dinamika hidupnya berasal dari kecenderungan hewaninya. dan dari aspek lain. maka minimalnya iaharus menerimanya untuk menjawab segala bentuk kritikan.

Ideologi seperti filsafat praktis. telah berhasil dan mengungkap hakikat manusia. Perjalanan historis epistemologi oleh dalam filsafat barat ke arah skeptisisme dan relativisme. maka tak satu pun pemikiran filsafat manusia dan penemuan ilmiah yang akan bernilai. semua ideologi berpijak pada pandangan dunia dan setiap pandangan dunia tertentu akan menghadirkan ideologi dan aliran sosial tertentu pula. keberadaan kemungkinan misalnya realitas terjalinnya Mengapa ideologi mengarahkan kita? Karena pandangan dunia menegaskan suatu hukum yang mesti diterapkan pada masyarakat dan sekaligus menentukan arah dan tujuan hidup masyarakat. Ideologi menentukan apa yang mesti dilakukan oleh manusia dan mengajukan bagaimana metode mencapai tujuan itu. penyebab lahirnya perbedaanperbedaan tersebut terletak pada perbedaan pandangan dunianya (word view) masingmasing. kami akan kutip ungkapan seorang pemikir dan filosof Islam kontemporer asal Iran . Pembahasan yang berhubungan dengan pembagian ilmu. Walaupun masih dibutuhkan langkah-langkah besar untuk menyelesaikan dari perbedaan dasar-dasar pengenalan.adalah membedah persoalan-persoalan kepada kita bagaimana hidup semestinya. Ideologi menyatakan . Filsafat praktis bergantung kepada filsafat teoritis. Apa yang ditentukan oleh pandangan dunia. Mengapa suatu ideologi berpijak pada materialisme dan ideologi lainnya bersandar pada teisme? Perbedaan pandangan dunia tersebut pada hakikatnya bersumber [11]“ Epistemologi pada Zaman Yunani Kuno dan Abad Pertengahan Perjalanan historis epistemologi dalam filsafat Islam dan Barat memiliki perbedaan bentuk dan arah. Dengan ungkapan lain. rahasia fenomena eksistensial lainnya. Aliran-aliran ini memiliki sandaran pemikiran yang bersaing satu sama lain untuk merebut pengaruh. maka akan menjadi jelas bagi kita bahwa epistemologi merupakan pemberi validitas dan nilai kepada seluruh pemikiran filsafat dan penemuan sehingga ilmiah kalau manusia sedemikian yang persoalan-persoalan berhubungan dengan ilmu dan pengetahuan tersebut belumlah menjadi jelas. Hal ini karena. Sementara perjalanan sejarah epistemologi di dalam filsafat Islam mengalami suatu proses yang menyempurna dan berhasil menjawab segala bentuk keraguan dan kritikan atas epistemologi. Skeptisisme diwakili pemikiran David Hume. macam-macam ilmu hudhûrî. pengetahuan. Muncul suatu pertanyaan. epistemologi. ia berkata “Pada era ini kita menyaksikan keberadaan aliran-aliran filsafat sosial dan ideologi yang berbeda dimana masing-masingnya mengusulkan suatu jalan dan solusi hidup. apabila kita merujuk kepada daftar isi persoalan-persoalan yang berkaitan persoalan eksternal dengan tentang dan pengetahuan. yakni ilmu dibagi menjadi gagasan/konsepsi (at-tashawwur)[12] dan penegasan (at-tashdiq)[13]. mengapa aliran-aliran dan ideologi-ideologi tersebut memiliki perbedaan? Jawabannya. sementara relativsime nampak pada pemikiran Immanuel Kant. karena semua aliran filsafat dan ilmu mengaku alam. dan hal yang terkait dengan kategori-kategori kedua filsafat[14]. hubungan manusia dengan realitas eksternal itu. Murthada Muthahhari . mampu Konstruksi pemikiran universal filsafat yang Islam sedemikian kuat dan sistimatis sehingga memberikan solusi mendasar atas persoalan yang terkait dengan epistemologi. itu pula yang akan diikuti oleh ideologi. sedangkan pandangan dunia menempati filsafat teoritis. dan epistemologi. atau hushûlî dan hudhûrî. Berkenaan dengan urgensi epistemologi.

dalam kajian filsafat pasca itu epistemologi menjadi inti kajian filsafat dan hal-hal yang berkaitan dan dengan ontologi dikaji secara sekunder. apabila ia ada. dan modern) dan menempatkan Yunani kuno sebagai awal dimulainya filsafat Barat. hal ini karena terdapat kontradiksikontradiksi [18] Pythagoras parameter berkata. akan tetapi. Gagasan Pythagoras ini kelihatannya lebih menyuarakan dimensi relativitas dalam pemikiran. orang pertama yang membuka lembaran kajian epistemologi adalah Parmenides[15]. pemikiran-pemikiran mereka. kalau pun iabisa dipahami. iamengungkapkan satu sisi dari sisi-sisi lain dari epistemologi yang merupakan sumber dan alat ilmu. Gorgias menyatakan bahwa sesuatu itu tiada. Pembahasan-pembahasan yang dilontarkan oleh kaum Sophis dan filosoffilosof pada zaman itu mengandung poin-poin kajian yang penting dalam epistemologi. Dan epistemologi setelah Renaissance Descartes mengalami suatu perubahan baru.[20] Berdasarkan penulis sejarah filsafat.[21] Democritus beranggapan bahwa indra lahir itu tidak iabagi dan akan pernah mengantarkan majasi pada dimana dan pengetahuan benar dan segala sifat sesuatu menjadi sifat-sifat hakiki dihasilkan dari penetapan pikiran seperti warna sifat-sifat seperti sifat bentuk ini ukuran[22]. akal dipandang sebagai yang valid. abad pertengahan. namun tidak bisa dipindahkan. merupakan tolok ukur pada akal dan kesalahan pengamatan yang dilakukan oleh indra lahir. akan tetapi. sebagian peneliti sejarah filsafat menganggap pemikirannya sebagai dasar Skeptisisme. karena ilmu memestikan kekonstanan dan ketetapan. Heraklitus melontarkan gagasan tentang perubahan yang konstan atas segala sesuatu dan berkeyakinan bahwa dengan adanya perubahan yang terus indra lahir hanya bersifat penampakan dan bahkan terkadang menipu. 1. Pada dasarnya. Oleh karena itu. ia menekankan pada indra lahir. Hal yang mesti digaris bawahi ialah pada zaman Yunani kuno dan abad pertengahan epistemologi merupakan salah satu bagian dari pembahasan filsafat. Epistemologi di Zaman Yunani Kuno eksistensi segala sesuatu. segala “Manusia sesuatu.persoalan-persoalan partikular yang mendetail di dalam epistemologi. dan mizan ketiadaan segala sesuatu[19]. maka mustahil diketahui. maka perolehan ilmu menjadi hal yang mustahil. hal-hal yang senantiasa berubah maka mustahil tiga terwujud sifat-sifat khusus dari ilmu tersebut. Pembagian kemudian segala Iamemandang bahwa hakikat itu tidak relatif menjadi perhatian para filosof dan sumber . hakikat mengungkap dan nisbi. maka secara implisit bisa dikatakan bahwa pada zaman itu juga lahir epistemologi. (Yunani kuno. Sejarah Epistemologi dalam Filsafat Barat Apabila filsafat kita Barat membagi dalam perjalanan zaman sejarah tertentu menerus pada segala sesuatu. Hal ini karena iamenempatkan dan menekankan akal itu sebagai tolok ukur hakikat.[17] Kaum Sophis ialah kelompok pertama yang menolak definisi ilmu yang bermakna kebenaran yang sesuai dengan realitas hakiki eksternal. dengan keberadaan itu. Socrates ialah filosof pertama pasca kaum Sophis induksi yang dan lantas bangkit ia mengkritisi berupaya sesuatu. sementara [16] Heraklitus berbeda dengan Parmenides. 2. dan dengan cara pendefinisian.

prinsip non-kontradiksi merupakan kaidah gamblang yang diketahui secara fitrah. Plato. dan perkara-perkara yang senantiasa berubah dan partikular tidak bisa dijadikan objek dan makrifat tidak hakiki. Disamping meyakini bentuk intuisi batin (asy-syuhud) juga itu sebagai tolok ukur kebenaran. universal. Iamenyusun ilmu logika dengan berpikir tujuan dan menetapkan suatu secara metode benar berargumentasi terletak pada perubahan objek indra. menolak pandangan tentang konsepsi universal pikiran dari Aristoteles dan konsep mutsul Plato bahwa tersebut. dan analisa pikiran menggantikan gagasan mutsul Plato. abstraksi. dan bersifat pasti. lebih menekankan penjelasan yang ilmu dan pembuktian dengan bahwa asumsiasumsinya daripada menjelaskan persoalan berkaitan Iayakin probabilitas setiap ilmu pengetahuan. Begitu pula. dimana pengetahuan jenis terkait Pengetahuan-pengetahuan selain dengan menggunakan kaidah-kaidah pertama dalam ilmu dan pengetahuan yang bersifat gamblang (badihi)[27].[30] Epicure (270-341 M) memandang indra lahir sebagai pondasi dan tolok ukur kebenaran pengetahuan. berubah. pencapaian hakikat dan makrifat hakiki ialah hal yang sangat mungkin dan tidak mustahil. [28] Kelompok Rawaqiyun[29] yang yakin pada pengalaman agama dan indra lahir. [25] Aristoteles. bahkan menolak dan kebenaran Sebagian secara lain dari mereka adanya mutlak penetapan makna-makna maujud di ruang memori pikiran atas perkara-perkara indriawi. tetap. hipotesa. dengan demikian. tak proses pembuktian ini harus berakhir pada kaidah yang sangat gamblang lagi membutuhkan pertama pembuktian yang sangat rasional. bisa Oleh karena itu. definisi plato tentang pengetahuan perhatian kontemporer. diyakini. maka objeknya juga harus tetap dan konstan. ini ialah diargumentasikan. dan perkiraan belaka[24]. semestinya pengetahuan universal. sementara pengetahuan hakiki (baca: pengetahuan akal) itu yang berhubungan dengan hal-hal yang konstan dan tak berubah ialah bisa diyakini. Dengan dasar ini. pengetahuan indriawi bersifat keliru. dengan perspektif ini. bersifat diyakini. murid Plato. Mereka beranggapan pengetahuan itu adalah pengenalan partikular sesuatu. sebagian memandang kemustahilan pencapaiannya. iakemudian melontarkan gagasan tentang mutsul (maujud-maujud non-materi di alam akal).[23] Pengetahuan hakiki dalam pandangan Plato ialah ini keyakinan dengan benar hal-hal yang yang bisa konstan. akan yang tetapi. pasti. [31] Kaum Skeptis beranggapan bahwa kesalahan indra lahir dan akal itu merupakan dalil atas ketidakabsahannya. meyakini penalaran bersifat prasangka.[26] Iamenetapkan penggambaran universal. Iajuga berkeyakinan. ilmu matematika dianggap hal yang tidak valid. Lebih lanjut ia berkata bahwa panca indra lahir itu tidak melakukan itu kesalahan.lahirnya berbagai pembahasan. murid Socrates. Dalam hal ini. Makrifat yang diperoleh lewat indra itu merupakan makrifat yang paling diyakini kebenarannya. Perbedaan kaum . ialah filosof pertama yang secara serius mendalami epistemologi dan menganggap bahwa permasalahan itu ialah hakiki dan mendasar pengetahuan karena indriawi berpijak pada kaidah-kaidah awal dimana hal itu bisa dibuktikan di dalam ilmu-ilmu lain. dari melainkan kesalahan kekeliruan bersumber dan serius makrifat para lantas menjadi epistemolog rasionalitas.

hakiki. Gagasan Skeptisisme muncul sebelum Masehi hingga abad kedua Masehi yang dipropagandai oleh Agrippa (di abad pertama) dan kemudian dilanjutkan oleh Saktus Amirikus (di abad kedua). ilmu dan pengetahuan dimulai dari diri sendiri. disamping itu. penggagas maktab neo platonisme. Apakah “manusia universal” di sini hanyalah sebuah konsep universal yang ada di alam pikiran semata. Apakah “universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa mencakup beberapa individuindividu eksternal. Pengertian (understanding). intellect). keraguan. Akal (logos. karena ilmu terhadap jiwa tidak bisa diragukan. dan solusinya hadir dalam bentuk yang semakin kuat dan sistimatis serta terlontarnya pembahasan seputar probabilitas pengetahuan. Plotinus. ketiga. Gagasan Tentang Universalia Salah satu pembahasan inti di abad itu. 3. Tingkatan pertama berkaitan dengan hal-hal yang lahir. oleh karena itu. Dan tingkatan di atas akal adalah intuisi (asysyuhud). yang sebagaimana diyakini itu oleh Apakah “universal” secara mendasar tidak memiliki wujud luar. Epistemologi pada Abad Pertengahan (dari Awal Masehi hingga Abad Kelimabelas) Inti pembahasan di abad pertengahan adalah persoalan yang terkait dengan universalitas dan hakikat keberadaannya.Skeptis dengan kaum Sophis adalah bahwa argumentasi-argumentasi kaum Sophis menjadi pijakan utama kaum Skeptis. yakni apakah universal itu adalah penyaksian mutsul Plato itu sendiri ataukah konsep abstraksi akal yang bersifat universal Aristoteles. saya ada“. Ia membagi tiga tingkatan persepsi (cognition): 1. di samping itu iamemandang bahwa ilmu itu sebagai ilmu yang paling benar dan proposisiproposisi matematika adalah bersifat gamblang yang tidak bisa diragukan lagi. bahkan juga berada di alam eksternal yang sebagaimana maujud-maujud hakiki yang lain? Sebagai contoh “manusia universal”. Apakah “universal” itu hanya sebatas suatu konsep. tidak karena objeknya senantiasa makrifat tergolong sebagai pertengahan ialah kajian tentang universal dan sumber kehadirannya. dalam bisa dan akal dan sebagai hakikat tingkatan ‘kesatuan dalam memahami termasuk dalam ruang lingkup yang bisa diragukan oleh kaum Skeptis dan Sophis. juga mengkaji dasar-dasar pengetahuan dan kebenaran.[33] Augustine (354-430 M) beranggapan bahwa ilmu terhadap jiwa dan diri sendiri itu tidak . Dalam pandangannya. Pengetahuan indriawi berubah.[32] Walhasil.[34] 4. tingkatan kedua adalah argumentasi. dan tolok ukur kesesuaian dengan realitas eksternal. 2. Dan semua persoalan. epistemologi di zaman Yunani kuno dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan dan kemudian dibahas dalam bentuk yang berbeda dalam filsafat. ataukah “manusia universal” itu sendiri memiliki realitas eksternal (misalnya ia berada di alam non-materi) yang hanya bisa disaksikan secara intuitif dan syuhudi. di abad ketiga masehi melontarkan gagasangagasan penting dalam epistemologi. Salah satu ungkapan beliau adalah “Saya ragu. jawaban. Apakah wujud “universal” itu sendiri sama dengan wujud “partikular” yang keberadaannya bukan hanya di alam pikiran. 3. ataukah “manusia universal” itu hanyalah sebuah kata umum yang bisa diterapkan pada lebih dari kejamakan’ ‘kejamakan kesatuan’ tanpa lewat proses berpikir. sumber ilmu. Persepsi panca indra (sensuous perception).

ada tiga perspektif dan aliran pemikiran: 1. begitu pula. argumentasi. Proposisi matematik yang karena berkaitan langsung dengan experiman bisa diterima.com] realitas-realitas hakiki dan eksternal. dan experimen. Seir-e Hikmat dar eropa. segala proposisi universal yang merupakan pijakan seluruh ilmu dan kaidah-kaidah ilmiah tidak . 141. dan dan menolaknya. seluruh filsafat dan hukum-hukumnya tak bermanfaat. Realisme (universalitas itu memiliki wujud eksternal atau mutsul Plato). 2. [41] [wisdoms4all. jilid satu. Dengan alasan ini. itu juga karena ia “universal” terkadang ia sebagai menyebut bahwa universal itu terdapat di alam pikiran konsep-konsep universal konsep-konsep abstraksi yang diambil dari maujud-maujud luar dengan memperhatikan sifat-sifatnya. pembahasan “universalitas” memiliki urgensi. [2] . Syahid Muthahhari. Ia memandang bahwa alat pengetahuan adalah teks suci. hal. Boethius (470-525 M) ialah orang pertama yang beranggapan bahwa universal itu hanyalah kata semata.satu objek individual[35]?. pelajaran kesebelas. [4]. Nazariyeh-e Syenokh. 3. jilid kedua. Perlu diketahui bahwa iabanyak bersentuhan dengan pemikiran filsafat Islam. dari konsep ini akal akan membentuk konsep-konsep universal[40]. Syenokht-e dar Quran. Mahdi Dahbosy.[37] Peter dan Abelard (1079-1142 M) memandang itu adalah memiliki individu-individu eksternalnya. Omusyes Falsafeh. hal. bahwa seseorang beranggapan [1] . kemudian akan terbentuk konsep-konsep imajinasi. William seorang of Ockam (1287-1347 sebagai M) adalah yang dikenal pengingkar konsep-konsep universal. Roger Bacon (1214-1294 M) ialah orang yang berpijak pada empirisme dan positivisme.[39] Thomas Aquinas (1225-1274 M) yakin bahwa rasionalitas dan pemikiran itu sangat bergantung pada pengindraan lahiriah. 74. sebenarnya tidak bisa dikatakan bahwa ia secara mutlak mengingkari menafsirkan luar. jilid pertama. dengan demikian. hal 32. Muhammad Ali Furughi.[38] Segala kaidah filsafat dan ilmu berpijak pada penerimaan yakni jika atas konsep-konsep universal. Upaya-upaya pemikiran di abad pertengahan itu tak lain ialah untuk menjawab persoalanpersoalan tersebut.[36] Roscelin (1050-1120 M) berkeyakinan bahwa yang hanya ada di alam eksternal adalah partikular. hal. Dalam hal ini. maka sesuatu itu hadir dalam jiwa dan pikiran kita. Nominalisme (menetapkan katakata umum yang mewakili individu-individu eksternal). Perlu diketahui bahwa apabila kita memiliki ilmu terhadap sesuatu. sementara universal itu tidaklah memiliki wujud hakiki dan hanya bersifat katakata semata. karena semua proposisi universal akan menjadi proposisi partikular yang hanya terkait dengan individu tertentu saja. hal. Idealisme (universal itu hanya terdapat dalam alam pikiran atau gagasan Aristoteles). Tarikh Ma’rifat Syenosi. Namun. Pada satu sisi kita memahami bahwa pada setiap sesuatu universalitas itu hanyalah sebuah kata semata dan menolak konsep universal itu. yakni pertama-tama indra lahir kita berhubungan dengan alam luar. Seir-e Hikmat dar Eropa. 29. universal itu merupakan dalam konsep-konsep yang yang terdapat tentang pikiran menceritakan “penghubung” antara pikiran dan objek-objek “penghubung” itu sebagai “konsep-konsep”. walaupun iaberupaya menyelesaikan persoalan universal itu lewat gagasan Aristoteles. [3]. Syapur ‘Itemod. dengan kata lain. Taqi Mishbah Yazdi. 2. Muhammad Ali Furughi. maka tidak satu pun kaidah yang iabisa diterima.

Daure-ye Otsor. Silahkan rujuk pada catatan kaki no. jilid ketiga. Pengetahuan intuitif ini ditandai oleh hadirnya objek di dalam diri si subjek. hal. 3. kehadiran konsep ini tidak bisa terlepas dari keberadaan objek eksternalnya. wujud tetap dan berubah. maka ilmu kita terhadap sesuatu itu disebut “ilmu hushûlî” atau “pengenalan rasional“. maka api yang ada di dalam pikiran kita tidak akan membakar pikiran kita. atau rumus-rumus. maka niscaya akan membakar diri kita. Paul Edward. Tuhan. Oleh karena itu. [12]. bumi. Dengan demikian.memiliki dua dimensi. potensi dan aktual. karena itu pengetahuan ini disebut “presensial“. kalimat. Misalnya ketika kita melihat api yang ada di luar diri kita. jika yang hadir dalam diri kita adalah wujud api itu sendiri. melainkan pencapaina makrifat bisa dengan jalan syuhud irfani. apa yang menjadi titik tekan dan inti pembahasan dalam epistemologi adalah mengenai akal dan indra (lahir dan batin). Ali Syirwani. 2. esensi ma’lum (yang diketahui). pembagian ilmu berdasarkan keabsahan ma’lum. wujud pikiran dan eksternal. wujud dan kuiditas. seperti dikatakan: Tuhan ada. Namun. Konsep ini diperoleh dari analisa akal terhadap perkara-perkara eksternal. hal. sumber ilmu. mitsal. Dalam epistemologi kontemporer di Barat dibahas esensi ilmu (keyakinan benar yang bisa dibuktikan). Dâiratul Ma’ârif. Gambaran tentang hubungan subyek dan predikat. bukan kuiditasnya. namun berwujud mengikuti keberadaan subyeknya. Munculnya konsep ‘sebab’ itu berasal dari analisa akal atas hubungan khusus antara api dan panas. maka akan tercakup segala apa yang disebutkan itu. qidam dan huduts. misalnya: api adalah ‘sebab’ panas atau panas adalah ‘akibat’ dari api. yang ada itu hanyalah api dan panas. langit. keabsahan kehadiran ilmu. [10] . kata-kata. Yang dimaksud dengan at-tashdiq (pembenaran. dan non-materi. 10. [11] . fenomena (yang tampak kepada kita). hakikat sebagaimana adanya (noman). [13] . Plato adalah orang pertama yang melontarkan bahwa keyakinan benar yang bisa dibuktikan sebagai makrifat hakiki. Sementara ilmu hushûlî hanya berhubungan dengan gambaran sesuatu itu. ular naga tiada. Yang dimaksud dengan ‘kategori-kategori kedua filsafat’ (konsep-konsep filosofis) adalah suatu konsep yang tidak memiliki individu luar dan tidak memiliki wujud mandiri. Akan tetapi. keluasan ilmu yang mencakup ilmu terhadap Tuhan. Yang dimaksud dengan at-tashawwur (penggambaran. kalau yang kita tangkap dari api adalah kuiditasnya. esensi alim (yang mengetahui). ilham. 1119. Gambaran subyek. Masaley-ye Syenokh. dan konsep ‘sebab’ itu lantas dipredikasikan kepada api. jiwa manusia. jilid kedua. Apabila sesuatu yang hadir dalam pikiran kita adalah kuiditasnya (mahiyah). Kaum epistemolog Barat mayoritas menyetujui makna ilmu seperti ini. seperti gambaran tentang bulan. dan juga berdasarkan tolok ukur ilmu. karena yang memiliki pengaruh membakar itu hanyalah wujud api.Dalam setiap pembenaran terdapat tiga penggambaran: 1. 110-111. pengesahan) adalah penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain dalam bentuk positif atau negatif. matahari. [8] . dimensi kuiditas dan dimensi wujud. akan tetapi. [14]. dan malaikat yang ada dalam pikiran kita. keabsahan metode. maka ilmu kita terhadap sesuatu itu di sebut “ilmu hudhûrî” atau “pengenalan intuitif“. 13. Apabila subyek epistemologi adalah penyingkapan secara umum. Aflatun. kemungkinan dan kemustahilan mewujud. ilmu hudhûrî menangkap objeknya secara langsung (immediate) dan berkaitan dengan hakikat sesuatu. Pengenalan rasional ini memahami objek-objeknya lewat symbol-simbol. [7] . jiwa manusia non-materi. Syarh-e Mushthalahât-e Falsafi. keabsahan alat. materi. Seperti pengkajian kaidah tentang sebab dan akibat. Syahid Murtadha Muthahhari. Jalan menuju makrifat tidak terbatas pada akal dan indra lahir. Gambaran predikat. ada dan tiada. dan wujud materi. Kebenaran yang belum diyakini adalah suatu bentuk kebenaran yang diterima secara taklid dari orang-orang yang dipercaya dan belum melalui proses penelitian secara sistimatis dan logis. [6] . [9] . [5]. konsepsi) adalah suatu gambaran pikiran dimana bukan penyandaran sesuatu terhadap sesuatu yang lain. …. Seperti konsep tentang ‘sebab’ dan ‘akibat’. kalau sesuatu yang hadir dalam jiwa kita adalah wujud eksternalnya. 4. dan berpuncak pada wahyu. kemestian. Kalau kita perhatikan di alam eksternal. walaupun ‘sebab’ . hal. hal. ‘Sebab’ dan ‘akibat’ itu tidak nampak diluar.

lantaran berfilsafat adalah berargumen (silogis. Paul Edward. hal. 443. Dengan demikian. Seperti pengetahuan kita terhadap keberadaan dan wujud diri kita sendiri. [40] . Ibid. jilid pertama. Lyotard. pasal sembilan dan pertama. 472. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. Atau sederhananya. [25] . Seir-e Hikmat dar Eropa. sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. Yusuf Keram. Yang didirikan pada tahun 300 M [30] . Tarikh Falsafe-ye Garb. Dan Aristoteles. hal. Tentu saja. diselesaikan terlebih dahulu dalam dapur epistemologi.Tarikh Falsafe-ye Garb. hal 15. hal. [27] . [16] . 10-11. [23] .com/English . 172. Paul Edward. So sedemikian penting masalah epistemologi dalam pembahasan filsafat. hal. [18] . Ibid. [32] .wisdoms4all. hal. induktif atau deduktif. [17] . hal. [15] . hal. [31] . Dan ini adalah raison d’être pembahasan epistemologi. [29] .Tâsu’ât. Dalam pada itu. 102. Ibid. Universal lawan dari partikular yang berarti gagasan yang hanya bisa diterapkan untuk satu objek individual. [37] . hal. [24] . Ibid. hal. 106. hal. [20] . Frederick Copleston. hal. Aristoteles. 21. Ibid. hal. [33] . hal. 261. asumsi dasar. What do you say??? 1. Nah. [38] . Muhammad Ali Furughi. Ibid. sifat-sifat. Ibid. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asal-usul. [39] . 131. Paul Edward. hal. [19] . Semua konsep dalam filsafat berada dalam kategori-kategori seperti ini. Ibid. apakah akal universal ini patut diandalkan atau tidak. harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. tapi ini tidak berarti bahwa ‘sebab’ itu memiliki wujud yang mandiri dan terpisah dari api dan kemudian melekat pada api. Paul Edward. Tarikh Falsafe-ye Garb. [34] . 348. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. hal. Ibid. 209. pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. hal. Ibid. 33. Metafisik. jilid pertama. 171. 95. dan risalah kesembilan. 112. 99. 64. Insya Allah sementara ini kami sedang menyiapkan tulisan yang bertajuk “Ilmu Pengetahuan (Sains) dan Agama” yang kurang lebihnya dapat memenuhi materi yang Anda cari. Walhasil. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. hal. pasal empat. hal. pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. [36] .Tarikh Falsafe-ye Garb. sembari menanti teruploadnya tulisan tersebut. hal. Frederick Copleston. [28] . Tarikh al-Falsafah alYunaniyah. hal 65. Ruh-e Falsafe dar Qarn-e Wustha. 11. Capelestun. hal. jilid pertama. Plotinus. Yakni. kami mempersilahkan Anda menunggah http://www. risalah ketiga. ) yang melulu menggunakan software akal universal yang dimiliki oleh setiap manusia. [41] . Metafisik. hal. 149. [21] .ialah sifat untuk api. Ibid. [22] . 82. This the way I see it. 126. ○ ○ ○ ○ ZAKY November 25th. hal. [35] . Frederick Copleston. Ibid. [26] . Ruh-e Falsafeh dar Qarn-e Wustha. 2007 REPLY KUTIP Zaky: saya bisa ga’ nemuin materi yg saya cari? “pengertian ilmu dan ilmu pengetahuan” __________________________________ ________ Isyraq: Terima kasih atas kunjungan Anda. 12.

artikel yang bertemakan “Islamic Concept of Knowledge.. Dan pembahasan epistemologi di blog ini telah memasuki pembahasan sejarah ilmu hudhuri.. penciptaan dan kontingensi. Nah..” 2. 2007 REPLY KUTIP Salam alaykum………… Maha suci ALLAH yang telah memberikan kita AL QURAN dengan tulisan ARAB serta menjaga kerahasiaannya. 2007 REPLY KUTIP epistemologi pengenalan diri kita sendiri dan masalah emanasi. U’budu Rabbaka hatta ‘atakal Yaqin. induksi dan deduksi.. Terima Kasih. Jadi kerja filosof adalah menguatkan dan memperdalam jangkauan hikmah yang dapat dicapainya dengan silogisme. ○ ○ ○ ○ sane November 29th.. Kalau diringkaskan di awali dengan cara berjalan menuju Allah dan di Akhiri kepada pemahaman bagaimana Allah ataupun Makhluq ini berasal. sebelum berfilsafat. Filosof adalah alih bahasa bebas dari bahasa Yunani yang bermakna orang yang cinta kepada hikmah. Doakan kami untuk keep on writing masalah tersebut hingga tuntas. sebab saya menduga ada hal yang menarik dalam susunan AlQur’an dimulai dari Surat Al Fathihah yang berisi cara menyembah dan mentauhidkan Allah.. Tks Isyraq: Salam. Filosof dalam bahasa Arab biasanya disebut sebagai hakim. Dan jangan berhenti di sini. saya coba baca Ilmu Hudlurinya Mehdi Hairi Yazdi.tass. sehingga orang orang yang berkeinginan dan dikehendakiNya yang mendapat “rahmat” darinya………. kemudian Tuntunan memohon dan Jalan yang harus dilalui. Apakah kita masih termasuk orang orang yang merasa sudah tinggi ilmunya ? Sudah merasa lebih tua dan berengalaman dari yang lain ? Merasa yang paling benar ? Merasa apa yang kamu dapatkan sekarang adalah buah dari hasil usaha dan jerih payahmu selama ini ? merasa paling benar ibadahnya ? Mudah mudahan kita tidak termasuk dalam Salam.sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu keyakinan… Mari kita hasilkan keyakinan dengan berfilsafat. 2008 REPLY KUTIP eko Desember 7th. 4.. piranti akal atau indra yang mo digunakan diolah di dapur epistemologi. ○ ○ ○ ○ achmad satya dharma Februari 10th. 2007 REPLY KUTIP perbedaan seorang filosof dengan seorang manusia biasa salah satunya adalah gairah untuk dapat lebih mengetahui ushul segala bentuk wujud dengan epistimologi hingga tak ada sedikitpun keraguan dalam dirinya. terutama masalah . perbedaan antara ilmu hudhuri dan hushuli.iqra warqa’ “Bacalah dan melambunglah ke tingkat yang lebih tinggi…. ________________________________________ __ Isyraq: Salam dan terima kasih kepada Sdr/i Sane yang memberikan nice dan supporting komentar atas postingan yang ada. tass.. ○ ○ ○ ○ fahmi alkaf Desember 3rd.Dan isi Al-Quran banyak membahas hal kehidupan setelah mati itu semua merupakan kapling khas Agama dan pemahamanya lebih banyak bersifar HUDLURI??? ini hanya couriusity saya. Bagaimana kalau lebih di fokuskan pembahasan yang lebih spesifik tentang epistemologi hudluri. Hakim derivatnya adalah hukm. rasanya masih perlu sumber yang bisa lebih menyederhanakan lagi. 3. muhkam yang dapat bermakna kuat dan menguatkan. dan Al Qur’an di akhiri dengan surat yang membahas “sejarah Tuhan”. karena Ilmu/pengenalan seperti itulah yang menjadi dasar dari seluruh pemahaman manusia. Kami sedang berupaya menyediakan pembahasan secara sistematis dan runtun epistemologi. Anda benar bahwa filosof (tentunya filosof yang jujur dan mukhlis) berupaya berargumentasi dan berdemonstrasi dengan dalil-dalil sehingga tak setitik keraguan yang tersisa. ○ ○ ○ ○ 5.

epistemologi dikenal sebagai sub sistem dari filsafat. ketiga sub sistem ini biasanya disebutkan secara berurutan. tidak ada kemungkinan kita untuk tersesat darinya…. atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanya kemungkinankemungkinan dan bukannya kepastian. kemudian aksiologi. Ikuti dan terapkanlah Sunnahnya dan dapatkan hakikat dari sunnah tersebut… Bacalah al quran. perlu diperhatikan bagaimana dan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Sedangkan aksiologi adalah teori tentang nilai yang membahas tentang manfaat. agar kita tidak terjebak kepada hal-hal yang tidak perlu dibahas…. dan para syuhada……… Alangkah indahnya kita mengabdi dan beribadah kalau kita tahu kepada siapa kita beribadah dan mengabdi…. karena Al quran adalah petunjuk yang HAQ…. kemudian timbul hasil pemikiran yang memberikan suatu PARAGRAPH BARU . Salah satu isi al quran adalah berisi tenteng pengalaman ruhani manusia dalam menuju TUHANnya…. Sistem filsafat disamping meliputi epistemologi. Dengan gambaran senderhana dapat dikatakan. shiddiqin. Kalau tidak mengerti janganlah cepat menyerah.golongan yang satupun dari yang di atas……… Makrifatullah adalah kunci dari segala ilmu Dalam menempuhnya kita harus datang dengan “tangan terbuka” dan harus bisa memenggal kepala “ego” kita. yaitu tentang apa yang dipikirkan. kalau tidak bisa arabnya tidak mengapa…. Subhanallah……… Minal aidin wal faidzin…. Sebenarnya kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. 2004 Dalam pembahasan filsafat. atau mungkin dapat menenatapkan batasbatas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya (Luis O.. “Ikutilah” Rasulullah sebagai uswatun hasanah… tetapi bukan menirunya. mulai dari ontologi. Yangmana kita harus mengalaminya terlebih dahulu baru kita bisa memahami maksudnya….. Oleh karena itu. epistemologi. Yaitu jalannya para nabi. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan. lalu dicari cara-cara memikirkannnya (epistemologi). kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. “Jalan yang lurus” adalah jalan yang paling singkat dan pasti... Masuklah kamu ke dalam islam secara keseluruhan……. Baca saja terjemahannya bukan tafsirnya…. kegunaan maupun fungsi dari objek yang dipikirkan itu. karena sesungguhnya pengetahuan itu bukanlah diraih… tetapi adalah diberikan…. yang menjadi objek pemikiran. Bismillahi majriha wa mursaha……… Salam alaykum EPISTEMOLOGI 1. Kattsoff.. Semoga kita termasuk orang orang yang kembali dan memeperoleh kemenangan…. sebab barang tiruan berarti adalah barang palsu…. ada sesuatu yang dipikirkan (ontologi). shalihin. semoga kita mendapat rahmat dariNya. Ontologi adalah teori tentang “ada”. juga ontologi dan aksiologi. (Amin ya ALLAH) Bismillahi tawakkaltu alallah….Latar Belakang Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Jika kita mengetahui batasbatas pengetahuan. Epistemologi adalah teori pengetahuan. yaitu membahas tentang bagaimana cara mendapatkan pengetahuan dari objek yang ingin dipikirkan. Jangan ada rasa cemburu terhadap yang sudah mengalaminya karena apabila telah menjadi hak kita dan telah sampai waktunya kepada kita niscaya tidak ada suatu apapun yang dapat menghalanginya……. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan. Dalamilah islam sampai ke “inti”nya jangan hanya kulitnya saja.

sebab ketigatiganya memiliki fungsi sendiri-sendiri yang berurutan dalam mekanisme pemikiran. maka objek pemikiran itu akan “diam”. Ferrier. ketika kita membicarakan epistemologi disini. epistemologi ilmu terkait dengan aksiologi ilmu dan seterusnya. Secara detail. Jadi. ruang lingkup. Ketiga landasan ini saling berkaitan. Jadi. Apalagi bahasan yang didasarkan model berpikir sistemik. hakikat dan pengaruh epistemologi B. buka saja pada redaksinya. guna mengungkap substansi persoalan yang terkandung dalam konsep tersebut. pemahaman terhadap substansi suatu konsep merupakan “jalan pembuka” bagi pembahasan-pembahsan selanjutnya yang sedang dibahas dan substansi konsep itu biasanya terkandung dalam definisi . Hal ini akan lebih jelas lagi. cara-cara juga adam tetapi tidak diektahui manfaat apa yang bisa dihasilkan dari sesuatu yang dipikirkan itu.manfaat atau kegunaan (aksiologi). epistemologi. seandainya objek pemikran sudah ada. tetapi jika tidak didapatkan cara-cara berpikir. mulai dari pengertian. Setelah memahami substansi belajar tersebut. epistemologi ternyata menyimpan “misteri” pemaknaan atau pengertian yang tidak mudah dipahami. dia baru bisa menjelaskan proses belajar. melainkan juga pada substansi persoalannya. tidak mungkin bahasan epistemologi terlepas sama sekali dari ontologi dan aksiologi. setiap jenis pengetahuan selalui mempunyai ciri-ciri yang spesifik mengenai apa (ontologi). Hal iini berfungsi mempermudah dan memperjelas pembahasan konsep selanjutnya. untuk membedakan dua cabang filsafat. Misalnya. tujuan. berarti kita sedang menekankan bahasan tentang upaya. justru ketiganya harus senantiasa dikaitkan. Namun demikian. istilah epistemologi digunakan pertama kali oleh J. atau langkah-langkah untuk mendapatkan pengetahuan. hambatanhambatan belajar. Lazimnya. Sebagai sub sistem filsafat. metode. cara. bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun. meskipun ciri-ciri yang melekat padanya juga tidak bisa diabaikan. prinsip-prinsip belajar. landasan. Oleh karena itu. Demikian juga. selalu diawali dengan memperkenalkan pengertian (definisi) secara teknis. sehingga didapatkan pengertian yang berbedabeda. dan aksiologi—seperti juga lazimnya keterkaitan masing-masing sub sistem dalam suatu sistem--membuktikan betapa sulit untuk menyatakan yang satu lebih pentng dari yang lain. Keterkaitan antara ontologi.F. teori belajar. ketiganya adalah interrelasi dan interdependensi (saling berkaitan dan saling bergantung). Kalau kita ingin membicarakan epistemologi ilmu. sehingga tidak diperoleh pengetahuan apapun. gaya belajar. objek. PENGERTIAN EPISTEMOLOGI Secara historis. Pengertian epistemologi ini cukup menjadi perhatian para ahli. pembahasan konsep apa pun. kita perlu memahami seluk beluk diseputar epistemologi. epistemologi dan ontologi. Substansi persoalan menjadi titik sentral dalam upaya memahami pengertian suatu konsep. cara mengetasi hambatan belajar dan sebagainya. seseorang tidak akan mampu menjelaskan persoalanpersoalan belajar secara mendetail jika dia belum bisa memahami substansi belajar itu sendiri. maka hal ini harus dikatikan dengan ontologi dan aksiologi ilmu. maka hanya akan sia-sia. tetapi mereka memiliki sudut pandang yang berbeda ketika mengungkapkannya. Dari sini setidaknya didapatkan perbedan yang cukup signifikan bahwa aktivitas berpikir dalam lingkup epistemologi adalah aktivitas yang paling mampu mengembangkan kreativitas keilmuan dibanding ontologi dan aksiologi. ontologi ilmu terkait dengan epistemologi ilmu. jika kita renungkan bahwa meskipun terdapat objek pemikiran. Begitu juga.

Dari mana pengetahuan itu dapat diperoleh?. pengertian. diungkapkan oleh Dagobert D. metode dan sahnya (validitasnya) pengetahuan. dan ilmu sebagai proses adalah usaha yang sistematik dan metodik untuk menemukan prinsip kebenaran yang terdapat pada suatu obyek kajian ilmu. Azyumardi Azra menambahkan.Sahakian dan Mabel Lewis Sahakian. jangkauan dan ruang lingkup pengetahuan? Sampai tahap mana pengetahuan yang mungkin untuk ditangkap manuasia (William S. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang mempelajari dan mencoba menentukan kodrat dan skope pengetahuan. bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sumber. Secara etimologi. sehingga memperlancar pembahasan seluk-beluk yang terkait dengan epistemologi itu. 2).32). 2005). serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki.Runes. pengertian epistemologi diharapkan memberikan kepastian pemahaman terhadap substansinya. Inti pemahaman dari kedua pengertian tersebut hampir sama.Hardono Hadi menyatakan. Sedangkan D. pengandaianpengendaian dan dasarnya. hal. Ada beberapa pengertian epistemologi yang diungkapkan para ahli yang dapat dijadikan pijakan untuk memahami apa sebenarnya epistemologi itu.Suriasumantri. yaitu realisme dan idealisme. Kodrat berkaitan dengan sifat yang asli dari pengetahuan. Sedangkan hal yang cukup membedakan adalah bahwa pengertian yang pertama menyinggung persoalan kodrat pengetahuan. 2003. istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme berarti pengetahuan. pengertian epistemologi yang lebih jelas daripada kedua pengertian tersebut.(pengertian). dalam Jujun S. epistemologi adalah cabang filsafat yang membicarakan mengenai hakikat ilmu. Dia menyatakan. tetapi kedua pengertian ini telah menyajikan pemaparan yang relatif lebih mudah . struktur.Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu?. pertanyaan pokoknya adalah “apa yang dapat saya ketahui”? Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber. metode dan validitas ilmu pengetahuan”. menyatakan bahwa epistemologi merupakan pembahasan mengenai bagaimana kita mendapatkan pengetahuan: apakah sumber-sumber pengetahuan ? apakah hakikat. P. metode-metode dan validitas pengetahuan. Menurut Musa Asy’arie. Kendati ada sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Dalam Epistemologi. Kodrat pengetahuan berbeda dengan hakikat pengetahuan. struktur. 3). dan logos berarti teori. Selanjutnya. tetapi kedua pengertian ini sedikit perbedaan dari kedua pengertian tersebut. Bagaimanakah validitas pengetahuan a priori (pengetahuan pra pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan purna pengalaman) (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM. 1965. struktur. Pengertian lain. sedangkan pengertian kedua tentang hakikat pengetahuan. sehingga menghasilkan pengertian yang sebenarnya. Sementara itu. dasar dan pengendaian-pengendaiannya serta secara umum hal itu dapat diandalkannya sebagai penegasan bahwa orang memiliki pengetahuan. Pembahasan hakikat pengetahuan ini akhirnya melahirkan dua aliran yang saling berlawanan. Demikian pula. Sedangkan. epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). bahwa epistemologi sebagai “ilmu yang membahas tentang keasliam. sedang hakikat pengetahuan berkaitan dengan ciri-ciri pengetahuan.W Hamlyn mendefinisikan epistemologi sebagai cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan.

melainkan bisa juga sebaliknya. tetapi cakupannya luas sekali. unsur. sampai Gallagher secara ekstrem menarik kesimpulan. Filsafat merupakan refleksi. dasar. sehingga mengesankan bahwa seolah-olah wilayah pembahasan epistemologi hanya terbatas pada aspek-aspek tertentu. atau bahkan suatu sains yang bukan epistemologi dari sains. sasaran. dari mana asalnya. RUANG LINGKUP EPISTEMOLOGI. Mudlor Achmad merinci menjadi enam aspek. keaslian.dipahami. macam. dan refleksi selalu bersifat kritis. Bertolak dari pengertian-pengertian epistemologi tersebut. batas. M. maka teori pengetahuan itu bisa meliputi. validias. Bahkan. unsur. Semua pertanyaan itu dapat diringkat menjadi dua masalah pokok. agar dapat menyajikan pembahasan terhadap aspek-aspek epistemologi seluruhnya secara proporsional. Usaha menyelidiki dan mengungkapkan kenyataan selalu seiring dengan usaha untuk menentukan apa yang diketahui dibidang tertentu. apa sumbernya. bahwa epistemologi sama luasnya dengan filsafat. Sedangkan aspek-aspek lain yang jumlahnya lebih banyak cenderung diabaikan. apa yang dapat kita ketahui. Jika kita memaduakan rincian aspek-aspek epistemologi. masalah sumber ilmu dan masalah benarnya ilmu. batas. terutama ketika dimensi-dimensi itu dicoba untuk digali. dan sampai dimanakah batasannya. bahwa epistemologi mencakup pertanyaan yang harus dijawab. Kenyataan ini kembali mempertegas. sebab pernyataanpernyataan ini akan membantu pemahaman secara makin komprehensif dan utuh (holistik) mengenai ruang lingkup pemabahasan epistemologi. kodrat. metode. C. Mengingat epistemologi mencakup aspek yang begitu luas. bahwa antara epistemologi selalu berkaitan dengan ontologi dan aksiologi. seluruh permasalahan yang berkaitan dengan pengetahuan adalah menjadi cakupan epistemologi. tumpuan. pertanggungjawaban dan skope pengetahuan.M Saefuddin menyebutkan. Dalam pembahasa-pembahsan epistemologi. Jadi meskipun epistemologi itu merupakan sub sistem filsafat. sumber dan validitas pengetahuan. A. seperti proses maupun tujuan. sekalipun ia sebenarnya merupakan doktrin tentang psikologi kepercayaan. yaitu hakikat. hakikat. Semestinya harus ada pergeseran pusat perhatian pembahasan ke arah aspek-aspek yang terabaikan itu. Bahkan menurut. kiranya kita perlu memerinci aspek-aspek yang menjadi cakupannya atau ruang lingkupnya. maka tidak mungkin seserorang memiliki suatu metafisika yang tidak sekaligus merupakan epistemologi dari metafisika. struktur. Jelasnya. taklid kepada pengetahuan atas kewibaan orang yang memberikannya termasuk epistemologi. meliputi hakekat. pengandaian. sumber. tumpuan. ada baiknya dikemukakan pernyataan-pernyataan lain yang mencoba menguraikan ruang lingkup epistemologi. Epistemologi senantiasa “mengawali” dimensi-dimensi lainnya. Sidi Gazalba. apakah ilmu itu. dan sasaran pengetahuan. Lebih dari . apa kebenaran itu. ontologi dan aksiologi serta dimensi lainnya. bagaimana membangun ilmu yang tepat dan benar.Arifin merinci ruang lingkup epistemologi. apa hakikatnya. macam. atau psikologi yang tidak sekaligus epistemologi dari psikologi. karena definisi-definisi itu tampaknya didasarkan pada rincian aspek-aspek yang tercakup dalam lingkup epistemologi daripada aspek-aspek lainnya. Akan tetapi. sebagaimana diuraikan tersebut. Sebenarnya masing-masing definisi diatas telah memberi pemahaman tentang ruang lingkup epistemologi sekaligus. mungkinkah kita mencapai ilmu yang benar. ternyata hanya aspekaspek tertentu yang mendapat perhatian besar dari para filosof. seperti psikologi selalu diiringi oleh epistemologi.

seorang polisi bertujuan membunuh perampok yang melakukan perlawanan. D. sehingga pengertiannya menjadi rancu bahkan kabur. bahwa seringkali kajian epistemologi lebih banyak terbatas pada dataran konsepsi asal-usul atau sumber ilmu pengetahuan secara konseptual-filosofis. Oleh karena itu. ekonomi. Meskipun berbeda. perubahan kecenderungan pembahasan tersebut dapat memperkenalkan pengetahuan yang makin luas dan mendalam tentang cakupan epistemologi. Sementara itu. sebenarnya objek tidak sama dengan tujuan. Sedangkan Paul Suparno menilai epistemologi banyak membicarakan mengenai apa yang membentuk pengetahuan ilmiah. bilogi. Ternyata ini juga mungkin terjadi bahkan sering terjadi. Aspekaspek itu berkisar pada sumber pengetahuan. pembunuhan sebagai tujuan polisi baru mungkin tercapai setelah melalui tindakan menembak kepala perampok sebagai sasaran. terutama pada tahap pemula untuk mengenali sistematika filsafat. saat ini literatur-literatur filsafat masih terjadi pemusatan perhatian pada aspek-aspek tertentu saja. Sebaliknya. akan tetapi epistemologi dapat menyentuh pembahasan yang amat luas. sebagaimana diuraikan di atas. Misalnya. ontologi sebagai objek pemikiran. Hanya saja. tetapi objek dan tujuan memiliki hubungan yang berkesinambungan. sedangkan aksiologi sebagai hasil pemikiran. yaitu komponen-komponen yang terkait langsung dengan “bangunan” pengetahuan. sehingga senantiasa berkaitan dengan nilai. sebab objeklah yang mengantarkan tercapainya tujuan. ilmu hukum dan sebagainya.itu. baik untuk membangun psikologi. Jika diamati secara cermat. Dengan kata lain. sedangkan objeknya adalah kepalanya. Jadi. jika dia ingin mendalami dan menajamkan pemahaman epistemologi. bisa juga dadanya atau perutnya. dan pembentukan pengetahuan. tujuannya adalah pembunuhan. Kecenderungan sepihak ini menimbulkan kesan seolah-olah cakupan pembahasan epistemologi itu hanya terbatas pada sumber dan metode pengetahuan. seserorang cenderung menyederhanakan pemahaman. Bagian-bagian lainnya jauh lebih banyak. sosiologi. pedagogi. Ini berarti dalam satu tujuan bisa dicapai melalui objek yang berbeda-beda atau lebih dari satu. sehingga memaknai epistemologi sebagai metode pemikiran. Terlebih lagi ketika dikaitkan dengan ontologi dan aksiologi secara sistemik. khususnya bidang epistemologi. Objek sama dengan sasaran. jika telah melalui objek lebih dulu. tetapi terjadinya pembunuhan tidak hanya melalui menembak kepala perampok. ketika akan ditangkap dengan menambak kepalanya sebagai sasaran. bahkan epistemologi sering hanya diidentikkan dengan metode pengetahuan. sedang tujuan hampir sama dengan harapan. aspekaspek lainnya justru diabaikan dalam pembahasan epistemologi. meskipun secara spesifik tekanan perhatian dalam meneliti dan . Amin Abdullah menilai. OBJEK DAN TUJUAN EPISTEMOLOGI Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. baik yang bercorak positif maupun negatif. tujuan baru dapat diperoleh. sejak lama ia menjadi objek penelitian dan pengamatan yang memiliki tujuan bermacam-macam. Namun. antropologi. tidak jarang pemahaman objek disamakan dengan tujuan. mungkinkan suatu kegiatan hanya memiliki objek satu tetapi tujuannya banyak. tentunya tidak bisa hanya memegangi makna epistemologi sebatas metode pengetahuan. atau setidaktidaknya kurang mendapat perhatian yang layak. Manusia misalnya. penyederhanaan makna epistemologi itu berfungsi memudahkan pemahaman seseorang. Padahal sebenarnya metode pengetahuan itu hanya salah satu bagian dari cakupan wilayah epistemologi. Kenyataannya. M.

Rumusan tujuan epistemologi tersebut memiliki makna strategis dalam dinamika pengetahuan. Dia tentu akan mengejar bagaimana prosesnya. sebab keadaan memperoleh pengetahuan melambangkan sikap pasif. Hal ini merupakan implikasi dari tekanan masing-masing pola berpikir tersebut. epistemologi atau teori pengetahuan yang pertama kali digagas oleh Plato ini memiliki objek tertentu. dua kali tiga didapatkan hasil enam. Hal ini menunjukkan. Sebagai sub sistem filsafat. yang secara garis besar meliputi hakikat Tuhan. tentu akan dapat mengetahui hasilnya. Sedangkan objek formal ialah usaha mencari keterangan secara radikal (sedalam-dalamnya.” Proses untuk memperoleh pengetahuan inilah yang menjadi sasaran teori pengetahuan dan sekaligus berfungsi mengantarkan tercapainya tujuan. Secara global. sedangkan keadaan kedua lebih berorientasi pada proses. baik berpikir dalam kecenderungan pertama maupun kecenderungan kedua. dan juga pengusaha. Rumusan tersebut menumbuhkan kesadaran seseorang bahwa jangan sampai dia puas dengan sekedar memperoleh pengetahuan. sebaliknya tanpa suatu tujuan. akan tetapi yang menjadi pusat perhatian dari tujuan epistemologi adalah lebih penting dari itu. siswa yang cerdas tidak pernah puas dengan pengetahuan dan hafalan itu. justru kecenderungan ini mulai memperoleh perhatian yang sangat besar di kalangan para pemikir. acapkali tidak mengetahui prosesnya. Keadaan pertama hanya berorientasi pada hasil. sehingga siswa benarbenar mampu memahaminya dan mampu mengembangkan perkalian angka-angka lainnya. mendorong kreativitas seseorang. apakah yang menjadi tujuan epistemologi tersebut. Artinya. sebab sasaran itu merupakan suatu tahap pengantara yang harus dilalui dalam mewujudkan tujuan. Kecenderungan ini justru memiliki efektifitas dan efisiensi yang tinggi dan bersifat dinamis. Namun. Dewasa ini. yaitu ingin memiliki potensi untuk memperoleh pengetahuan. tanpa disertai dengan cara atau bekal untuk memperoleh pengetahuan.mengamati itu berbeda-beda. tetap saja membutuhkan banyak cara untuk mewujudkan keinginan pemikirnya. Seseorang yang mengetahui prosesnya. maka sasaran menjadi tidak terarah sama sekali. Tanpa suatu sasaran. sedang berpikir dalam kecenderungan kedua (satu objek untuk tujuan yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian hasil yang sebanyak-banyaknya. sedangkan cara memperoleh pengetahuan melambangkan sikap dinamis. apakah saya dapat tahu. Maka guru yang profesional akan menerangkan proses tersebut secara rinci dan mendetail. ada upaya bagaimana menjadikan bahan yang sama untuk kepentingan yang berbeda-beda. tetapi untuk menemukan syarat-syarat yang memungkinkan saya dapat tahu”. hakikat alam dan hakikat manusia. tetapi seseorang yang mengetahui hasilnya.Suriasumatri berupa “segenap proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Guru dapat mengajarkan kepada siswanya bahwa dua kali tiga sama dengan enam (2 x 3 = 6) dan siswa mengetahui. mustahil tujuan bisa terealisir. bahkan hafal. Objek epistemologi ini menurut Jujun S. Objek material adalah sarwayang-ada. Jacques Martain mengatakan: “Tujuan epistemologi bukanlah hal yang utama untuk menjawab pertanyaan. Dalam filsafat terdapat objek material dan objek formal. bahwa epistemologi bukan untuk memperoleh pengetahuan kendatipun keadaan ini tak bisa dihindari. Selanjutnya. Aktivitas berfikir dalam kecenderungan pertama (satu tujuan dengan objek yang berbeda-beda) lebih mendorong pencarian cara sebanyak-banyaknya. Proses menjadi tahu atau “proses . sampai ke akarnya) tentang objek material filsafat (sarwayang-ada). perekayasa.

Timbulnya suatu pemikiran senantiasa sebagai akibat adanya faktor-faktor yang mempengaruhi. maka gudang itu akan segera dibuka. akhirnya berkembang menjadi: sains adalah metode. Ketika faktor. gagasa. sebab ilmu merupakan pengetahuan yang cara mendapatkannya harus memenuhi syaratsyarat tertentu.pengetahuan” inilah yang menjadi pembuka terhadap pengetahuan. sehingga dia dapat memakluminya. Proses ini bisa diibaratkan seperti kunci gudang. maka dia akan mampu mengenali pemikiran orang lain dengan baik. Syarat-syarat yang harus dipenuhi agar suatu pengetahuan bisa disebut ilmu yang tercantum dalam metode ilmiah. sebab ia merupakan tempat berpijak. tanpa ada alasan-alasan yang mendasarinya. padahal mereka belum pernah melacak proses terjadinya pemikiran itu. sehingga banyak pakar yang sangat kuat berpegang teguh pada metode dan cenderung kaku dalam menerapkannya. seseorang tidak sekedar mengetahuai sesuatu atas informasi orang lain. Sesungguhnya sikap berlebihan itu memang riil. Di dalam filsafat pengetahuan. kemudian diperiksa satu persatu barang-barang yang ada didalamnya. yang jelas dalam kenyataanya metode ilmiah telah dijadikan pedoman . jika memiliki landasan yang kokoh. E. metode ilmiah merupakan penentu layak tidaknya pengetahuan menjadi ilmu. pemahaman dan pengembanganpengembangannya. Dalam kehidupan masyarakat tidak jarang terjadi sikap saling menyalahkan pemikiran seseorang. Faktor. Jadi. Demikian juga dengan epistemologi. akan dipengaruhi atau tergantung landasannya. Bangunan pengetahuan menjadi mapan. Begitu pentingnya fungsi metode ilmiah dalam sains. semuanya tergantung pada titik tolaknya. tetapi terlepas dari sikap tersebut yang seharusnya tidak perlu terjadi. maka acapkali seseorang tidak akan bisa memahami pemikiran orang lain. maupun motif-motif yang mendasarinya. tetapi benar-benar tahu berdasarkan pembuktian melalui proses itu. Sikap ini mencerminkan bahwa mereka berlebihan dalam menilai begitu tinggi terhadap metode ilmiah. LANDASAN EPISTEMOLOGI Landasan epistemologi memiliki arti yang sangat penting bagi bangunan pengetahuan. Bangunan pengetahuan bagaikan bangunan rumah. seakan-akan mereka menganut motto: tak ada sains tanpa metode. Penguasaan terhadap proses tersebut berfungsi mengetahui dan memahami pemikiran seseorang secara komprehensif dan utuh. termasuk juga ide. konsep dan teorinya. Sedangkan landasan epistemologi ilmu disebut metode ilmiah. Kekuatan bangunan rumah bisa diandalkan berdasarkan kekuatan fundamennya. meskipun seseorang diberi tahu bahwa di dalam gudang terdapat bermacam-macam barnag. yaitu cara yang dilakukan ilmu dalam menyusun pengetahuan yang benar. sebab tidak ada pemikiran yang terpenggal begitu saja. tetapi dia tetap hanya apriori semata. Dengan demikina. Dengan demikian. Dengan membawa kuncinya. jika seseorang terlebih dahulu berupaya mengenali faktor. karena tidak pernah membuktikan. alasan-alasan yang melatar belakangi. sehingga memiliki fungsi yang sangat penting dalam bangunan ilmu pengetahuan. sedangkan landasan bagaikan fundamennya. alasan dan motif ini belum dikenali. Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. alasan dan motif itu maupun komponen yang lain sesungguhnya termasuk dalam mata rantai proses sebuah pemikiran. Sebaliknya. alasan dan motif tersebut. tanpa menyadari semuanya yang hanya sekedar salah satu sarana dari sains untuk mengukuhkan objektivitas dalam memahami sesuatu. Tidak semua pengetahuan disebut ilmiah. ilmu pengetahuan merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah.

antara metode. METODE DAN METODOLOGI Selanjutnya perlu ditelusuri dimana posisi metode dan metodologi dalam konteks epistemologi untuk mengetahui kaitankaitannya. disamping disebut ilmu pengetahuan dan pengetahuan ilmiah. juga bisa disebut pengetahuan sehari-hari. Penggunaan metode penelitian tanpa memahami metode logisnya mengakibatkan seseorang buta terhadap filsafat ilmu yang dianutnya. Sesuatu fenomena pengetahuan logis. tetapi tidak empiris. Bisa tidaknya pengetahuan menjadi ilmu pengetahuan yang bergantung pada metode ilmiah. dalam metodologi dapat ditemukan upaya membahas permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan metode. objektif. “metode merupakan suatu prosedur atau cara mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis”. Padahal mestinya dia harus . Kholil Yasin menyebut pengetahuan tersebut dengan sebutan pengetahuan biasa (ordinary knowledge). Jika metode merupakan prosedur atau cara mengetahui sesuatu. yaitu rasio dan fakta secara integratif F. Untuk mengetahui peta masing-masing dari ketiga istilah ini. kendatipun ada juga yang menajamkan perbedaan. Banyak peneliti pemula yang tidak bisa membedakan paradigma penelitian ketika dia mengadakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. sedangkan ilmu pengetahuan dengan istilah pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). misalnya antar sains dengan ilmu melalui pelacakan akar sejarah dari dua kata tersebut. Hal ini sebenarnya hanya sebutan lain. maka metodologilah yang mengkerangkai secara konseptual terhadap prosedur tersebut. membangun dan mengembangkan pengetahuan ilmu. juga tidak termasuk dalam ilmu pengetahuan. bahwa metodologi adalah ilmu tentang metode atau ilmu yang mempelajari prosedur atau cara-cara mengetahui sesuatu. atau pengalaman sehari-hari. sehingga timbul sifat-sifat atau ciri-cirinya. Sebutan-sebutan tersebut hanyalah pengayaan istilah. sistematis. Dengan istilah lain. Pada bagian lain. kelemahan dan kelebihannya dalam karya ilmiah dilanjutkan dengan pemilihan metode yang digunakan. Implikasinya. melaikan termasuk wilayah filsafat. Secara sederhana dapat dikatakan. batasbatasanya. Disamping istilah pengetahuan dan pengetahuan biasa. dan sebagainya. Pengetahuan adalah pengalaman atau pengetahuan sehari-hari yang masih berserakan. sumber-sumbernya. metodologi dan epistemologi.dalam menyusun. mengingat dalam kehidupan sehari-hari sering dikacaukan antara metode dengan metodologi dan bahkan dengan epistemologi. Dengan demikian metode ilmiah selalu disokong oleh dua pilar pengetahuan. Hal ini perlu penegasan. Lebih jauh lagi Peter R. juga sering disebut ilmu dan sains. sedangkan ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang telah diatur berdasarkan metode ilmiah.Senn mengemukakan. karena metode ilmiah menjadi standar untuk menilai dan mengukur kelayakan suatu ilmu pengetahuan. “Dalam dunia keilmuan ada upaya ilmiah yang disebut metode. sedangkan substansisnya relatif sama. sedangkan metode penelitian mengemukakan secara teknis metode-metode yang digunakan dalam penelitian. Metode ilmiah berperan dalam tataran transformasi dari wujud pengetahuan menuju ilmu pengetahuan. Disini perlu dibedakan antara pengetahuan dengan ilmu pengetahuan (ilmu). HUBUNGAN EPISTEMOLOGI. logis dan empiris. Metodologi membahas konsep teoritik dari berbagai metode. yaitu cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang sedang dikaji”. Sedangkan metodologi merupakan suatu pengkajian dalam mempelajari peraturan dalam metode tersebut. tampaknya perlu memahami terlebih dahulu makna metode dan metodologi.

seperti lingkaran besar yang melingkari lingkaran kecil. Epistemologi itu sendiri adalah sub sistem dari filsafat. Oleh karena itu. Ini berarti bahwa filsafat mencakup bahasan epistemologi. macam. Aspek filosofis yang menjadi pijakan metode tersebut terdapat dalam wilayah epistemologi. baik dalam aspek parsial atau total. HAKIKAT EPISTEMOLOGI Pembahasan tentang hakikat. maka dia harus mengacu pada metodologi. metodologi dan metode sebagai berikut: Dari epistemologi. struktur. lagi-lagi terasa sulit. sehingga ditentukan oleh sebab akibat (mengikuti paham determinsime. sedangkan penelitian kualitatif menggunakan paradigma naturalisme (fenomenologis). Dengan demikian. G. tentu lebih sulit lagi. tetapi masalah-masalah ini bukanlah semata-mata masalah-masalah filsafat. metode merupakan perwujudan dari metodologi. namun bahasan epistemologi bukan hanya metode semata-mata. Apalagi hakikat epistemologi. tumpuan. kendatipun tidak bisa dipisahkan. dilanjutkan dengan merinci pada metodologi. Jadi. dan lingkaran yang lebih kecil kecuali berupa metodologi. tetapi bahasan filsafat tidak hanya epistemologi karena masih ada bahasan lain. lingkaran kecil berupa epistemologi.benar-benar memahami. Pandangan yang lebih ekstrim lagi . bahwa seseorang yang sedang mempertimbangkan penggunaan dan penerapan metode untuk memperoleh pengetahuan. batas. Untuk lebih jelas lagi perlu dibedakan adanya metode pengetahuan dan metode penelitian. sumber. mengingat pembahasan tentang seluk-beluk metode itu ada pada metodologi. Demikian juga epistemologi mencakup bahasan metode (metodologi). karena ada bahasan lain. dan dari metodologi itulah akhirnya diperoleh metode. membedakan cabang-cabangnya yang pokok. Metodologi inilah yang memberikan penjelasan-penjelasan konseptual dan teoritis terhadap metode. problem penyelidikan ilmiah yang secara filosofis menjadi kajian utama cabang epistemologi yang berkaitan dengan problem metodologi juga berkaitan dengan rancangan tata pikir. “Apa yang bisa kita ketahui dan bagaimana kita mengetahui” adalah masalah-masalah sentral epistemologi. Secara lebih khusus. Adapun epistemologi merupakan bagian dari filsafat. bahwa penelitian kuantitatif menggunakan paradigma positivisme. karena ita tidak bisa menangkapnya. kecuali ciri-cirinya. Posisi masing-masing istilah ini. epistemologi mencakup bahasan metodologis. Dalam filsafat. apa yang benar dan dapat dipergunakan sebagai alat untuk memperoleh pengetahuan. Epistemologi berusaha memberi definisi ilmu pengetahuan. maka metode sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari filsafat. Lebih jelas lagi. dan dalam lingkaran kecil masih terdapat lingkaran yang lebih kecil lagi. yang biasanya terfokus pada metode atau tehnik. yaitu ontologi dan aksiologi. sedangkan metode penelitian berada dalam dataran teknis. istilah metodologi berkaitan dengan praktek epistemologi. dapat dijelaskan urutanurutan secara struktural-teoritis antara epistemologi. validitas. unsur. Metode pengetahuan berada dalam dataran filosofis-teoritis. Kemudian berbicara tentang metodologi yang berarti berbicara tentang cara-cara atau metode-metode yang digunakan oleh manusia untuk mencapai pengetahuan tentang realita atau kebenaran. mengidentifikasikan sumbersumbernya dan menetapkan batasbatasnya. metodologi juga menyentuh bahasan tantang aspek filosofis yang menjadi pijakan penerapan suatu metode. sasaran dan dasar pengetahuan. seperti: hakikat. Lingkaran besar disini diumpamakan filsafat. sesuatu yang ditentukan oleh yang lain). sedangkan metodologi merupakan salah satu aspek yang tercakup dalam epistemologi. Filsafat mencakup bahasan epistemologi.

diluar epistemologi sama sekali. padahal realitasnya banyak sekali. Tidak ada satu pun aspek filsafat yang tidak berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. epistemologi lebih berkaitan dengan filsafat. maka seluruh disiplin ilmu selalu berhubungan dengan pekerjaan pikiran manusia. bahwa persoalan utama yang dihadapi oleh tiap epistemologi pengetahuan pada dasarnya adalah bagaimana mendapatkan pengetahuan yang benar dengan memperhitungkan aspek ontologi dan aksiologi masingmasing. karena filsafat mengedepankan upaya pendayagunaan pikiran. bidang epistemologi bukanlah lapangan filsafat. Honer dan Thomas C.Hunt yang menilai. Perbedaaan padangan tentang eksistensi epistemologi ini agaknya bisa dijadikan pertimbangan untuk membenarkan Stanley M. Metodologi misalnya telah digabungan secara teliti dengan epistemologi dan logika. epistemologi tersebut sebenarnya tidak bisa berdiri sendiri. apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik tidak usah diketahui. walaupun objeknya tidak merupakan ilmu yang empirik. Menurut. apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin menurut bidangbidangnya. Pengetahuan biasanya diandaikan begitu saja. the workings of human mind. Tidak semua objek mesti .menurut Kelompok Wina. Di samping itu. Sejak semula. dan apa yang sama sekali tidak mungkin diketahui. ontologi dan aksiologi). Dalam pemahaman yang sederhana epistemologi memiliki interrelasi (saling berhubungan dengan komponen lain. epistemologi atau teori mengenai ilmu pengetahuan itu adalah inti sentral setiap pandangan dunia. tidak bisa lepas dari ontologi dan aksiologi. Selanjutnya. Aktivitas-aktivitas ini ditempuh melalui perenungan-perenungan secara filosofis dan analitis. Kemudian jika diingat. sebab epistemologi menjangkau permasalahan-permasalahan yang membentang seluas jangkauan metafisika sendiri. Selain itu. Tampaknya Kelompok Wina melihat sepintas terhadap cara kerja ilmiah dalam epistemologi yang memang berkaitan dengan pekerjaan pikiran manusia. epistemologi dan aksiologi. Oleh karena itu. epistemologi keilmuan adalah rumit dan penuh kontroversi. Ini berarti tidak ada disiplin ilmu lain. apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui. Sebab epistemologi itu berkenaan dengan pekerjaan pikiran manusia. Epistemologi dengan demikian bisa dijadikan sebagai penyaring atau filter terhadap objek-objek pengetahuan. bahwa filsafat adalah landasan dalam menumbuhkan disiplin ilmu. maka minat untuk membicarakan dasar-dasar pertanggungjawaban terhadap pengetahuan dirasakan sebagai upaya untuk melebihi takaran minat kita. epistemologi merupakan salah satu bagian dari filsafat sistematik yang paling sulit. kecuali psikologi. bahwa posisi logika berada diluar ontologi. apakah logika itu bagian dari epistemologi. Cara pandang demikian akan berimplikasi secara luas dalam menghilangkan spesifikasi-spesifikasi keilmuan. Ada yang menyatakan. terutama pada saat proses aplikasi metode deduktif yang penuh penjelasan dari hasil pemikiran yang dapat diterima akal sehat. Jujun S. sehingga tidak ada sesuatu pun yang boleh disingkirkan darinya. melainkan termasuk dalam kajian psikologi. atau sekedar memiliki persentuhan yang erat dengan epistemologi. Dalam epistemologi terdapat upaya-upaya untuk mendapatkan pengetahuan dan mengembangkannya. justru karena epistemologi menjadi ilmu dan filsafat sebagai objek penyelidikannya. pengetahaun merupakan hal yang sangat abstrak dan jarang dijadikan permasalahan ilmiah di dalam kehidupan sehari-hari. Luasnya jangkauan epistemologi ini menyebabkan objek pembahasannya sangat detail dan pelik. Suriasumatri. Sementara itu. Ia merupakan parameter yang bisa memetakan. logika itu sendiri patut dipertanyakan.

Perkemabangan ilmu pengetahuan dengan demikian membuktikan. baruk ditarik kesimpulan secara umum. meskipun memungkinkan untuk diketahui. karena lebih mencerminkan esensi dari epistemologi. dan di sisi lain berarti hakikat epistemologi itu bertumpu pada landasannya. sebab jangkauan berpikirnya adalah masa depan. Popper. Usaha menafsirkan adalah aplikasi berpikir rasional. Kita terkadang menemukan seseorang beraktivitas dengan serba strategis. Ada juga objek yang benar-benar merupakan misteri. sedangkan usaha untuk membuktikan adalah aplikasi berpikir empiris. sebab secara epistemologi ilmu memanfaatkan dua kemampuan manusia dalam mempelajari alam. sehingga tidka jarang temuan ilmu pengetahuan yang lebih dulu ditentang atau disempurnakan oleh temuan ilmu pengetahuan yang kemudian. sehingga tidak mungkin bisa diketahui. Hal ini juga bisa dikatakan. Tetapi.dijelajahi oleh pengetahuan manusia. akan kehilangan kekhasannya. yaitu masa lampau yang telah dilalui. epistemologi adalah usaha untuk menafsir dan membuktikan keyakinan bahwa kita mengetahuan kenyataan yang lain dari diri sendiri. atau deduktif dengan induktif). Sebagai teori pengetahuan ilmiah. bahwa di satu sisi terjadi kerancuan antara hakikat dan landasan dari epistemologi yang sama-sama berupa metode ilmiah (gabungan rasionalisme dengan empirisme. Tetapi terkadang kita jumpai seseorang dalam melakukan sesuatu sesungguhnya sia-sia. Kedua cara berpikir tersebut digabungan dalam mempelajari gejala alam untuk menemukan kebenaran. Perbedaan hasil teman dalam masalah . sehingga tidak perlu diketahui. Pola-pola berpikir ini akan berimplikasi terhadap corak sikap seseorang. epistemologi adalah teori pengetahuan ilmiah. bahwa epistemologi keilmuan pada hakikatnya merupakan gabungan antara berpikir secara rasional dan berpikir secara empiris. ada yang hanya berpikir berdasarkan pertimbangan jangka pendek sekarang dan ada pula seseorang yang berpikir dengan kencenderungan melihat ke belakang. epistemologi berfungsi dan bertugas menganalisis secara kritis prosedur yang ditempuh ilmu pengetahuan dalam membentuk dirinya. Jika metode ilmiah sebagai hakikat epistemologi. Oleh sebab itu. Ilmu pengetahuan harus berkembang terus. Pada bagian lain dikatakan. Dua macam pemahaman ini merupakan sinyalemen bahwa epistemologi itu memang rumit sekali. maka suatu temuan dianggap benar. sebab ilmu pengetahuan yang berhenti. maka tindakannya itu justru merugikan. ada yang cenderung bertolak dari gejala-gejala yang sama. bahwa kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat tentatif. Ada objek-objek tertentu yang manfaatnya kecil dan madaratnya lebih besar. Adakalanya seseorang selalu mengarahkan pemikirannya ke masa depan yang masih jauh. maka menimbulkan pemahaman. bahwa usaha menafsirkan berkaitan dengan deduksi. Selama belum digugurkan oleh temuan lain. sehingga selalu membutuhkan kajian-kajian yang dilakukan secara berkesinambungan dan serius. PENGARUH EPISTEMOLOGI Bagi Karl R. ilmu pengetahuan harus ditangkap dalam pertumbuhannya. Sebaliknya. H. karena jangkauan berpikirnya yang amat pendek. sedangkan usah membuktikan berkaitan dengan induksi. Gabungan kedua macaram cara berpikir tersebut disebut metode ilmiah. berarti dia menggunakan pendekatan deduktif. Epistemologi ini juga bisa menentukan cara dan arah berpikir manusia. yakni pikiran dan indera. jika dilihat dari kepentingan jangka panjang. berarti dia menggunakan pendekatan induktif. Seseorang yang senantiasa condong menjelaskan sesuatu dengan bertolak dari teori yang bersifat umum menuju detail-detailnya.

Epistemologi mengatur semua aspek studi manusia. Wujud sains dan teknologi yang maju disuatu negara. banyak konsep dari pemikiran filosof yang kemudian mendapat serangan yang tajam dari pemikiran filosof lain berdasarkan pendekatan-pendekatan epistemologi. Kendati terhadap satu persoalan. mengingat bahwa proses itulah menunjukkan mekanisme kerja ilmiah dalam memperoleh ilmu pengetahuan. bahwa keragaman seseorang atau masyarakat akan dipengaruhi pula oleh pandangan epistemologinya serta situasi sosial politik yang melingkupinya. Ini menunjukkan bahwa epistemologi bisa mengarahkan seseorang untuk mengkritik pemikiran orang lain (kritik eksternal) dan pemikirannya sendiri (kritik internal). Epistemologi dari masyarakatlah yang memberikan kesatuan dan koherensi pada tubuh. sehingga kemajuan sains dan teknologi tanpa didukung oleh kemajuan epistemologi. Epistemologi juga membekali daya kritik yang tinggi terhadap konsep-konsep atau teori-teori yang ada. terutama cara-cara memperoleh pengetahuan yang membantu seseorang dalam melakukan koreksi kritis terhadap bangunan pemikiran yang diajukan orang lain maupun oleh dirinya sendiri. kepercayaan dan sistem nilai mereka. Penguasaan epistemologi. sehingga perbedaan pemikiran itu dapat dipahami secara memuaskan dengan melacak akar persoalannya pada perbedaan sudut pandang. Mohammad Arkoun menyebutkan. Keberangaman pandangan seseorang dalam mengamati suatu fenomena akan melahirkan keberagaman pemikiran. tidak ada yang aneh sama sekali. ide atau gagasan. ilmu-ilmu mereka itu—suatu kesatuan yang merupakan hasil pengamatan kritis dari ilmu-ilmu— dipandang dari keyakinan. Suatu peradaban. tetapi karena sudut pandang yang ditempuh seseorang berbeda. maka epistemologi dapat memberikan pengayaan gambaran proses terbentuknya pengetahuan ilmiah. sudah tentu dibentuk oleh teori pengetahuannya. Epistemologilah yang menentukan kemajuan sains dan teknologi. bila para ilmuwan memperkuat penguasaannya. Akhirnya. Dinamika pemikiran tersebut mengakibatkan polarisasi pandangan. Kondisi demikian sesungguhnya dalam dunia ilmu pengetahuan adalah suatu kelaziman. karena didukung oleh penguasaan dan bahkan pengembangan epistemologi. Epistemologi menjadi modal dasar dan alat yang strategis dalam merekayasa pengembangan-pengembangan alam menjadi sebuah produk sains yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.yang sama ini disebabkan oleh perbedaan prosedur yang ditempuh para ilmuwan dalam membentuk ilmu pengetahuan. Proses ini lebih penting daripada hasil. Dalam filsafat. baik yang dimiliki seseorang maupun masyarakat. epistemologi bisa menentukan cara kerja ilmiah yang paling efektif dalam memperoleh ilmu pengetahuan yang kebenarannya terandalkan. Tidak ada bangsa yang pandai merekayasa fenomena alam. epistemologi senantiasa mendorong dinamika berpikir secara korektif dan kritis. Implikasinya. sehingga perkembangan ilmu pengetahuan relatif mudah dicapai. pada gilirannya juga menghasilkan pemikiran yang berbeda. Melalui pelaksanaan fungsi dan tugas dalam menganalisis prosedur ilmu pengetahuan tersebut. Demikian halnya yang terjadi pada teknologi. Koreksi secara kontinyu terhadap pemikirannya sendiri ini untuk menyempurnakan argumentasi atau alasan supaya memperoleh hasil pemikiran yang maksimal. tetapi jika dilacak lebih . Meskipun teknologi sebagai penerapan sains. sedangkan perbedaan sudut pandangan itu dapat dilacak dari epistemologinya Secara global epistemologi berpengaruh terhadap peradaban manusia. dari filsafat dan ilmu murni sampai ilmu sosial.

Ia merupakan cabang filsafat yang membahas tentang terjadinya pengetahuan. Perbedaan landasan ontologik menyebabkan perbedaan dalam menentukan metode yang dipilih dalam upaya memperoleh pengetahuan yang benar. intuisi.blogger. validitas dan kebenaran pengetahuan (ilmiah). merupakan sarana mencari pengetahuan yang dimaksud dalam epistemologik. apakah ia materi atau bukan. Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu. objek dibahas dari keberadaannya. yaitu pemikiran dan perenungan yang berkisar tentang bagaimana cara mewujudkan sesuatu. atau kombinasi akal dan pengalaman. Persoalan yang didalami oleh ontologi ilmu misalnya apakah objek yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud hakiki objek tersebut? Bagaimana hubungan objek tersebut dengan daya tangkap manusia (seperti berpikir.com/profile/0 3249547895308622683noreply@blogger. apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah. 1. Pemikiran pada wilayah proses dalam mewujudkan teknologi itu adalah bagian dari filsafat yang dikenal dengan epistemologi. Berdasarkan pada manfaat epistemologi dalam mempengaruhi kemajuan ilmiah maupun peradaban tersebut. Akal. Sebab dibalik kegagalan itu ditemukan rahasia pengetahuan. . Pada awalnya seseorang yang berusaha menciptakan sesuatu yang baru. Epistemologi senantiasa mendorong manusia untuk selalu berfikir dan berkreasi menemukan dan menciptakan sesuatu yang baru. technology is an apllied of science (teknologi adalah penerapan sains). yaitu ontologi. Epistemologi (filsafat ilmu) Epistemologi adalah pengetahuan sistematik mengenai pengetahuan. pengalaman. sehingga dikenal model–model epistemologik seperti rasionalisme. 2.jauh lagi ternyata teknologi sebagai akibat dari pemanfaatan dan pengembangan epistemologi. berupa faktor-faktor penyebabnya. sehingga didapatkan percikan-percikan pengetahuan. Semua bentuk teknologi yang canggih adalah hasil pemikiran-pemikiran secara epistemologis. dan sebagainya. perangkat-perangkat apa yang harus disediakan untuk mewujudkan sesuatu itu. ILMU oleh: anin • • • • More About : epistemologi EPISTEMOLOGI IL Pengarang : Elvira Syamsir Summary rating: 2 stars (328 Tinjauan) Kunjungan : 23711 kata:600 suparmanhttp://www. naturalsime dan empirisme. Ontologi (hakikat apa yang dikaji) Ontologi membahas keberadaan sesuatu yang bersifat kongkrit secara kritis. kemudian disusun secara sistematis menjadi ilmu pengetahuan (sains). asal mula pengetahuan. akal budi. melainkan mutlak perlu dikuasai. yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagaimana (yang) “Ada”. Akhirnya ilmu pengetahuan tersebut diaplikasikan melalui teknologi. empirisme. merasa dan mengindra) yang membuahkan pengetahuan? Pemahaman ontologik meningkatkan pemahaman manusia tentang sifat dasar berbagai benda yang akhimya akan menentukan pendapat bahkan keyakinannya mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang dicarinya. mungki saja mengalami kegagalan tetapi kegagalan itu dimanfaatkan sebagai bagian dari proses menuju keberhasilan. epistemologi. Jadi kronologinya adalah sebagai berikut: mula-mula seseorang berpikir dan mengadakan perenungan. sarana. yakni realisme. Secara ontologis. maka epistemologi bukan hanya mungkin. guna membentuk konsep tentang alam nyata (universal ataupun spesifik). dan aksiologi. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. sum-ber pengetahuan.c om PARAGRAPH BARU LAGI EPISTEMOLOGI Filsafat Ilmu terutama diarahkan pada komponen–komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu. metode atau cara memperoleh pengetahuan.

Secara rasional. positivisme.bla. Ilmu pengetahuan (sains) diperoleh berdasarkan analisis dengan langkah-langkah yang sistematis (metode ilmiah) menggunakan nalar yang logis. dan teori intersubjektif.? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia. tentang perkara-perkara eksistensial." "Tuhanku. penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. cenderung bersifat kabur dan samar dan karenanya merupakan pengetahuan yang tidak teruji. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. tentang ada dan keberadaan. dan sarana yang digunakan untuk membangun pengetahuan tersebut harus benar. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla.. apakah sesuai dengan kenyataan empiris atau tidak. Semakin besar pengenalannya. semakin luas dan dalam pandangan dunianya.? Kalau kita menilik perjalanan sejarah umat manusia. Aksiologi ilmu (nilai kegunaan ilmu) Meliputi nilai–nilai kegunaan yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan yang dijumpai dalam seluruh aspek kehidupan. Kebenaran yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang berkorespondensi dengan dunia luar.shvoong. Akan tetapi. Nilai-nilai kegunaan ilmu ini juga wajib dipatuhi seorang ilmuwan. 2008 Sumber: http://id. Itulah sebabnya ilmu pengetahan selalu berubahubah dan berkembang.. Diterbitkan di: 18 Maret.rasionalisme kritis. Demikian pula apa yang kita yakini karena kita amati belum tentu benar karena penglihatan kita mungkin saja mengalami penyimpangan.bla. Sarana berpikir ilmiah adalah bahasa. Pengetahuan bisa diperoleh dari akal sehat yaitu melalui pengalaman secara tidak sengaja yang bersifat sporadis dan kebetulan sehingga cenderung bersifat kebiasaan dan pengulangan. sedangkan secara empiris ilmu memisahkan pengetahuan yang sesuai dengan fakta dari yang tidak. Epistemologi. ilmu menyusun pengetahuannya secara konsisten dan kumulatif. dan jahil ini berkata kenalkan diriku kepadaku. Pandangan dunia yang valid dan argumentatif dapat melesakkan seseorang mencapai titikkulminasi peradaban dan sebaliknya akan membuatnya terpuruk hingga titik-nadir peradaban. manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang hidup dan kehidupan. manusia acapkali dihadapkan kepada persoalan-persoalan krusial tentang . Pengantar Memasuki Ranah Ontologi Anda dan vice-versa. Wujud anda ekuivalen dengan pengenalan Anda dan viceversa. Kebenaran pengetahuan dilihat dari kesesuaian artinya dengan fakta yang ada. Jika seseorang ingin membuktikan kebenaran suatu pengetahuan maka cara. Anda dikenal atas apa yang Anda kenal.bla. Till death do us apart. Epistemologi juga membahas bagaimana menilai kelebihan dan kelemahan suatu model epistemologik beserta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah). sikap. para arif berkata kenalkan diriMu kepadaku.bla. Apa yang diyakini atas dasar pemikiran mungkin saja tidak benar karena ada sesuatu di dalam nalar kita yang salah. korespondesi pragmatis. Metode ilmiah mengga-bungkan cara berpikir deduktif dan induktif sehingga menjadi jembatan penghu-bung antara penjelasan teoritis dengan pembuktian yang dilakukan secara empiris." Introduksi Pandangan dunia (weltanschauung) seseorang dapat dipengaruhi oleh beberapa hal. dengan putusan-putusan lain yang telah diakui kebenarannya dan tergantung kepada berfaedah tidaknya teori tersebut bagi kehidupan manusia.. seperti teori koherensi. Pengetahuan merupakan daerah persinggungan antara benar dan diperca-ya.. Penulusuran. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. fenomenologi dan sebagainya. matematika dan statistika.com/humanities/philosophy/178 6495-epistemologi-ilmu/#ixzz1JmIRVKqJ PARAGRAPH BARU YA…. bagaimanakah kebenaran itu dapat dikenal? Parameter atau paradigma apa yang digunakan untuk dapat mengidentifikasi kebenaran itu? Mengapa kita memerlukan paradigma atau parameter ini? Dapatkah manusia mencerap kebenaran itu? Bla. Dengan metode ilmiah berbagai penjelasan teoritis (atau ju-ga naluri) dapat diuji.. Karena nilai dan kualitas keberadaan kita sangat bergantung kepada pengenalan kita terhadap kebenaran. sebagai makhluk dinamis dan progressive. Akan tetapi.. 3. di antaranya konsepsi dan pengenalannya terhadap "kebenaran" (asy-Syai fil khârij). baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. sebagai makhluk dinamis dan progressive.

Penulusuran. Ilmu-ilmu empiris dan ilmu-ilmu naratif lainnya ternyata tidak mampu memberikan jawaban utuh dan komprehensif atas masalah ini. dan jalan menuju ilmu dan pengetahuan tidak tertutup bagi manusia. kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan yang berbeda mesti akan berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan seperti. Hakikat itu ada dan nyata. manusia terus mencari dan mencari hingga akhir hayatnya. Epistemologi adalah cabang ilmu filasafat yang menengarai masalah-masalah filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Pada dasarnya.[2] Betapa pun. dan logos. Apabila manusia melontarkan suatu pertanyaan yang baru. sebelum memasuki gerbang filsafat terlebih dahulu instrument yang digunakan dalam berfilsafat harus disepakati. Kita bisa mengajukan pertanyaan tentang hakikat itu. Yakni. Semenjak Plato hingga Michel Foucault dan Jean-François Lyotard. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat harus dikedepankan sebelum membahas perkara-perkara filsafat. dalam menguak realitas terdapat perdebatan panjang semenjak zaman Yunani Kuno (lampau) hingga masa Postmodern (kiwari) antara kubu rasionalis (rasio) dan empiris (indriawi dan persepsi). pembahasan epistemology adalah pengantar menuju pembahasan filsafat. Manusia bisa memiliki ilmu. asumsi dasar. Dengan demikian. tentang ada dan keberadaan. Manusia sangat memahami dan menyadari bahwa: 1. Manusia dengan latar belakang. 2. epistemologi adalah bagian filsafat yang meneliti asal-usul. filsafat menggunakan metodologi rasional dan subjek ilmu filsafat adalah eksisten qua eksisten. bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang patut ditolak. Akal dan pikiran manusia bisa menjawab persoalan-persoalan yang dihadapinya. pembahasan epistemology sebagai ilmu yang meneliti asalusul. 3. misalnya bagaimana kita bisa memahami dan meyakini bahwa hakikat itu benar-benar ada? Mungkin hakikat itu memang tiada dan semuanya hanyalah bersumber dari khayalan kita belaka? Kalau pun hakikat itu ada. Atau sederhananya. dan bagaimana memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model filsafat. dari manakah saya berasal? Bagaimana terjadinya proses penciptaan alam? Apa hakikat manusia? Tolok ukur kebaikan dan keburukan bagi manusia? Apa faktor kesempurnaan jiwa manusia? Mana pemerintahan yang benar dan adil? Mengapa keadilan itu ialah baik? Pada derajat berapa air mendidih? Apakah bumi mengelilingi matahari atau sebaliknya? Dan pertanyaan-pertanyaan yang lain. Filsafat sebagai induk ilmu pengetahuan hadir untuk mencoba memberikan jawaban atas masalah ini. dan relasi eksak antara 'alim (subjek) dan ma'lum (objek). dan dipahami. dan makrifat atas hakikat itu. Hakikat itu bisa dicapai.[1] Karena uslub atau metodologi ilmu-ilmu di atas adalah bercorak empirikal. manusia ingin menggapai suatu hakikat dan berupaya mengetahui sesuatu yang tidak diketahuinya. pembahasan epistemologi sebagai subordinate dari filsafat menjadi mesti adanya. Epistemologi bertalian dengan definisi dan konsep-konsep ilmu. keraguan ini akan menguat khususnya apabila kita mengamati kesalahan-kesalahan yang terjadi pada indra lahir dan kontradiksikontradiksi yang ada di antara para pemikir di sepanjang sejarah manusia? Persoalan-persoalan terakhir ini berbeda . Tentu saja. penyusuran serta jelajah manusia untuk menuai jawaban atas masalah-masalah di atas membuat eksistensi manusia jauh lebih berarti. tentang perkara-perkara eksistensial. theory. Dengan kata lain. Apa itu Epistemologi Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan. apakah ia absah atau tidak dalam menguak realitas. pengetahuan. sifat-sifat. Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme.[3] Walhasil. Manusia berusaha bertungkus lumus memaknai keberadaannya untuk mencari jawaban ini. 4. Dan ini adalah raison d'être pembahasan epistemologi.hidup dan kehidupan. asumsi dasar. diketahui. Atau dengan kata lain. Tuntutan fitrah manusia dan rasa ingin tahunya yang mendalam niscaya mencari jawaban dan solusi atas permasalahanpermasalahan tersebut dan hal-hal yang akan dihadapinya. Till death do us apart. sifat-sifat. lantas bagaimana kita bisa meyakini bahwa apa yang kita ketahui tentang hakikat itu bersesuaian dengan hakikat eksternal itu sebagaimana adanya? Apakah kita yakin bisa menggapai hakikat dan realitas eksternal itu? Sangat mungkin pikiran kita tidak memiliki kemampuan memadai untuk mencapai hakikat sebagaimana adanya. Betapa tidak. ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya. akal yang digunakan sebagai instrument berfilsafat harus diuji dulu validitasnya. harus kita ingat bahwa ilmu logika juga harus rampung untuk menyepakati bahwa dunia luar terdapat hakikat dan untuk mengenalnya adalah mungkin. sebelum kita merangsek memasuki kosmos filsafat – yang nota-bene menggunakan akal (an-sich) – kita harus membahas instrument dan metodologi apa yang valid untuk menyingkap tirai realitas ini. pengetahuan. Karena baik dari sisi metodologi atau pun subjek keilmuan. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan.

definisi epistemologi adalah suatu cabang dari filsafat yang mengkaji dan membahas tentang batasan. Istilah ini digunakan dalam filsafat Islam. Keraguan-keraguan ini akan semakin kuat dengan adanya kemungkinan kesalahan penampakan oleh teropong. dan batasan-batasan pengetahuan. Terkadang kita mempersoalkan ilmu dan makrifat tentang benda-benda hakiki dan kenyataan eksternal. masih merupakan persoalan-persoalan aktual dan kekinian bagi manusia. Ilmu adalah pembenaran (at-tashdiq) dan hukum yang meliputi kebenaran yang diyakini dan belum diyakini. makrifat dan pengetahuan. Ilmu ialah gabungan proposisi-proposisi universal yang hakiki dimana tidak termasuk hal-hal yang linguistik. ilmu para malaikat. alat. dan pengetahuan manusia. akan tetapi pada persoalan-persoalan terakhir ini. ilmu Tuhan. Sudut pembahasan. Ilmu ialah kebenaran dan keyakinan yang bersesuaian dengan kenyataan dan realitas eksternal. bisa dikatakan bahwa tema dan pokok pengkajian epistemologi ialah ilmu. yakni apakah subyek epistemologi adalah ilmu secara umum atau ilmu dalam pengertian khusus seperti ilmu hushûlî. Dengan demikian. 2. ia berupaya menjawab dan menjelaskan tentang realitas benda-benda yang dilihatnya. persepsi-persepsi pikiran. Makna leksikal ilmu adalah sama dengan pengideraan secara umum dan mencakup segala hal yang hakiki. Keraguan-keraguan tentang hakikat pikiran.dengan persoalan-persoalan sebelumnya. keterampilan. dasar dan pondasi. b. e. kualitas pencerapan pikiran terhdap objek dan realitas eksternal. teknologi. Untuk lebih jelasnya perhatikan contoh berikut ini. karena ilmu dan makrifat juga dikaji dalam ontologi. pembagian dan observasi ilmu. Cakupan pokok bahasan. Dan dari sisi ini. Ilmu adalah keyakinan benar yang bisa dibuktikan. ilmu yang diartikan sebagai keumuman penyingkapan . Dalam hal ini. maka dari sudut mana subyek ini dibahas. Semua persoalan ini dibahas dalam bidang ilmu epistemologi. yang dipersoalkan adalah keabsahan teropong itu sendiri sebagai alat yang digunakan untuk melihat benda-benda yang jauh. Terkadang yang menjadi titik tekan adalah dari sisi hakikat keberadaan ilmu. Makna ini mencakup ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî. g. Pertanyaanpertanyaan ini berkaitan dengan keabsahan dan kebenaran yang dihasilkan oleh teropong. Seseorang sedang melihat suatu pemandangan yang jauh dengan teropong dan melihat berbagai benda dengan bentuk-bentuk dan warna-warna yang berbeda. validitas. Sudut pandang pembahasan akan sangat berpengaruh dalam pemahaman mendalam tentang perbedaan-perbedaan ilmu. dan kebenaran ilmu. dan psikologi. Ilmu itu sendiri memiliki istilah yang berbeda dan setiap istilah menunjukkan batasan dari ilmu itu. dan terkadang kita membahas tentang ilmu dan makrifat yang diperoleh oleh akal-pikiran dan indra. h. Dengan ungkapan lain. dan ilmu manusia. Dalam epistemologi akan dikaji kesesuaian dan probabilitas pengetahuan. Namun. logika. Dan ilmu psikologi mengkaji subyek ilmu dari aspek pengaruh umur manusia terhadap tingkatan dan pencapaian suatu ilmu. ilmu hushûlî dan ilmu hudhûrî juga akan menjadi pokok-pokok pembahasannya. Pokok Bahasan Epistemologi Dengan memperhatikan definisi epistemologi. Dengan perantara teropong itu sendiri. Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang bersifat empirik. Ilmu ialah kumpulan proposisi-proposisi universal yang saling bersesuaian dimana tidak berhubungan dengan masalah-masalah sejarah dan geografi. dan juga meliputi ilmu-ilmu seperti hudhûrî. tolok ukur kebenaran hasil pikiran. Ilmu adalah pembenaran yang diyakini. lantas iameneliti benda-benda tersebut dengan melontarkan berbagai pertanyaan-pertanyaan tentangnya. Dengan demikian. akan tetapi. Ilmu yang hanya dimaknakan sebagai ilmu hushûlî dimana berhubungan dengan ilmu logika (mantik). dan ukuran benda-benda tersebut? Mungkin benda-benda yang ditampakkan oleh teropong itu memiliki ukuran besar atau kecil?. nilai dan keabsahan pikiran. i. f. yakni persoalan-persoalan sebelumnya berpijak pada suatu asumsi bahwa hakikat itu ada. keabsahan. yakni apabila subyek epistemologi adalah ilmu dan makrifat. d. kemahiran. sains. Istilah-istilah ilmu tersebut adalah sebagai berikut: a. c. apabila seseorang bertanya kepadanya: Dari mana Anda yakin bahwa teropong ini memiliki ketepatan dalam menampilkan warna. keberadaan hakikat itu justru masih menjadi masalah yang diperdebatkan. hushûlî. Sisi pengungkapan dan kesesuian ilmu dengan realitas eksternal juga menjadi pokok kajian epistemologi. Sisi ini menjadi salah satu pembahasan dibidang ontologi dan filsafat. bentuk. tidak ditanyakan tentang keberadaan realitas eksternal. Ilmu adalah kehadiran (hudhûrî) dan segala bentuk penyingkapan. dua poin penting akan dijelaskan: 1. Sudut-sudut yang berbeda bisa menjadi pokok bahasan dalam ilmu. Sementara aspek penyingkapan ilmu baru dengan perantaraan ilmu-ilmu sebelumnya dan faktor riil yang menjadi penyebab hadirnya pengindraan adalah dibahas dalam ilmu logika. makrifat. dan sejauh mana kemampuan akal-pikiran dan indra mencapai hakikat dan mencerap objek eksternal. tolok ukur.

sebagaimana tertuang pada table di bawah ini. mencampur metode-metode rasional dengan iman dalam sebuah system keyakinan integral. Pembahasan tentang epistemologi Plato dan Aristoteles akan lebih jelas dan ringkas kalau dilakukan dengan cara membandingkan keduanya. atau ide-ide. seorang Sophist prominen. namun tidak setuju dengan metode dalam mencapainya. akan tetapi menentang keduanya baik Aristoteles atau pun Plato yang berpandangan bahwa filsafat harus dinilai sebagai sebuah bimbingan praktis untuk menjalani hidup. Oleh karena itu. berpandangan bahwa tidak ada satu pendapat pun yang dapat dikatakan lebih benar dari yang lain. sementara mengandalkan indrapersepsi menghasilkan pendapat-pendapat yang inkonsisten dan mubham. dengan mengabstraksikan ciri-ciri khusus dari setiap spesies. Aristoteles mengikuti Plato ihwal ilmu abstrak adalah ilmu yang lebih superior atas ilmu-ilmu yang lainnya. Protagoras. akan membantu menjaga dari perangkapperangkap yang dipasang oleh para Sophist. cendekiawan Muslim dan Yahudi. mereka berpendapat sebaliknya bahwa filsafat adalah akhir dari kehidupan. Plato. filosof Skolastik Santo Thomas Aquinas dan beberapa filosof abad pertengahan berusaha membantu untuk mengembalikan konfidensi terhadap rasio dan pengalaman. dan jika ilmu bersifat nisbi. atau tidak langsung. karena jika sesuatu ada tidak dapat diketahui. meskipun ia belum menggunakan secara resmi istilah epistemology ini. berdasarkan aturan-aturan logika. Maktab Epicurian dan Stoic sepakat dengan pandangan Aristoteles bahwa ilmu pengetahuan bersumber dari indra-persepsi. Pada abad ke-5 SM. Filosof Yunani berikutnya yang berbicara tentang epistemologi adalah Aristoteles. Ia murid Plato dan pernah tinggal bersama Plato selama kira-kira 20 tahun di Akademia. Aquinas mengikuti Aristoteles dalam masalah tentang persepsi sebagai starting-point dan logika sebagai prosedur intelektual untuk sampai kepada ilmu yang dapat diandalkan (reliable) tentang tabiat. Setelah beberapa kurun berlalu kurangnya ketertarikan dalam ilmu rasional dan saintifik. dengan memanfaatkan sumbersumber beragam seperti karya-karya filosof Aristoteles. Dengan demikian. akan tetapi memandang iman dalam otoritas skriptual sebagai nara sumber keyakinan agama. Observasi yang teliti dan ketat dalam mengaplikasikan aturan-aturan logika. mencoba untuk menjawab isykalanisyakalan para Sophist dengan mempostulasikan keberadaan semesta yang bersifat tetap dan bentuk-bentuknya yang invisible. karena setiap pendapat adalah hanyalah sebuah penilaian yang berakar dari pengalaman yang dilaluinya. Masa Plato dan Aristoteles Plato dapat dikatakan sebagai filosof pertama yang secara jelas mengemukakan epistemologi dalam filsafat. Mereka percaya bahwa benda-benda yang dilihat dan diraba adalah kopian-kopian yang tidak sempurna dari bentuk-bentuk yang sempurna yang dikaji dalam ilmu matematika dan filsafat. berpendapat bahwa tidak ada yang benar-benar wujud. yang pertama kalinya disusun secara sistematis oleh Aristoteles. hanya penalaran abstrak dari disiplin ilmu ini yang dapat menuai ilmu pengetahuan original. mengikuti ustadznya Socrates. Table komparasi epistemology Plato dan Aristoteles . Gorgias. Aristotels berpendapat bahwa hampir seluruh ilmu berasal dari pengalaman.dan pengindraan adalah bisa dijadikan sebagai subyek dalam epistemologi. Masalah-masalah Filosofis: Masa Yunani dan Masa Medieval Pada abad ke-13. yang melaluinya ilmu pasti dan eksak dapat diraih. Mereka menyimpulkan bahwa kontemplasi filosofis tentang bentuk-bentuk dunia gaib merupakan tujuan tertinggi kehidupan manusia. tidak dapat dikomunikasikan. Sophist Yunani menanyakan kemungkinan reliabilitas dan objektivitas ilmu. dengan mendeduksi kenyataankenyataan baru dari apa yang telah diketahui. Pemikiran Santo Thomas Aquinas pada masamasa kiwari sangat mempengaruhi irama dinamika teologi Nasrani dan kosmos filsafat Barat. seorang filosof dan teolog Itali yang bernama Santo Thomas Aquinas berupaya mensintesakan keyakinan Nasrani dengan ilmu pengetahuan dalam cakupan yang lebih luas. Seorang Sophist ternama lainnya. Ilmu diraih baik secara langsung.

diolah dengan logika PARAGRAPH BARU………… ONTOLOGI. Jiwa abadi. empirisme. Mengeluark an dari dalam diri (Anamnesis) dengan metoda bidan Cabang utama metafisika adalah ontologi. Wilayah ontologi ilmu terbatas pada jangkauan pengetahuan ilmiah manusia. dan filosof Jerman. Kehidupan sehari-hari dan alam dunia nyata Observasi dan abstraksi. Sedangkan pandangan Aristoteles tentang asal dan cara memperoleh pengetahuan mempengaruhi filsu-filosof Empiris seperti Locke. Ahli metafisika juga berupaya memperjelas pemikiran-pemikiran manusia mengenai dunia. yaitu: (1) Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme.Topik Pemikiran Pandangan tentang dunia Plato Ada 2 dunia: dunia ide & dunia sekarang (semu) Ide-ide yang berasal dari dunia ide Aristoteles Hanya 1 dunia: Dunia nyata yang sedang dijalani Segala sesuatu yang di alam yang dapat ditangkap indra Badan dan jiwa sebagai satu kesatuan tak terpisahka n. hubungan sebab akibat. Namun tertanam dalam jiwa yang ada dalam diri manusia. B. kebendaan. René Descartes (1596-1650). metode dan batasan pengetahuan manusia (a branch of philosophy that investigates the origin. merupakan paham ontologik. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. dan Whitehead. dan Aristoteles. Hume. dan (3) pluralisme dengan berbagai nuansanya. termasuk keberadaan. Dunia ide. dan Berkeley. nature. yang berarti Perbedaan epistemologi Plato dan Aristoteles ini memiliki pengaruh besar terhadap para filosof modern. waktu. Ontologi ilmu membatasi diri pada ruang kajian keilmuan yang bisa dipikirkan manusia secara rasional dan yang bisa diamati melalui panca indera manusia. Beberapa aliran dalam bidang ontologi. Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Epistemologi Epistemologi merupakan cabang filsafat yang menyelidiki asal. Ontologi Kenyataan yang sejati Pandangan tentang manusia Asal pengetahua n Cara mendapatk an pengetahua n Terdiri dari badan dan jiwa. Rasio Vs Indra Persepsi Antara abad 17 hingga akhir abad ke-19. naturalisme. (2) Paham dualisme. dan kemungkinan. Baruch Spinoza (1632-1677). EPISTEMOLOGI. filosof Belanda. masalah utama yang muncul dalam pembahasan epistemologi adalah resistensi antara kubu rasionalis vis-à-vis kubu empiris (indriawi-persepsi). kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Sementara kajian objek penelaahan yang berada dalam batas prapengalaman (seperti penciptaan manusia) dan pascapengalaman (seperti surga dan neraka) menjadi ontologi dari pengetahuan lainnya di luar iimu. methods and limits of human knowledge). sifat. Filosof Francis. Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Mereka berpandangan bahwa sumber utama dan pengujian akhir ilmu pengetahuan adalah logika deduktif (baca: qiyas) yang bersandarkan kepada prinsip-prinsip swabukti . Jiwa terpenjara badan. Wilhelm Leibniz (1646-1716) adalah para pemimpin kubu rasionalis. sifat. Pada masanya. Leibniz. berasal dari kata Yunani episteme. AKSIOLOGI DALAM KEILMUAN Filed under: Teknologi Pendidikan by Fadli — 3 Komentar Oktober 4. 2010i A. ruang. badan fana (tidak abadi). yakni realisme. Dan pendekatan ontologi dalam filsafat mencullah beberapa paham. studi mengenai kategorisasi benda-benda di alam dan hubungan antara satu dan lainnya. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis ialah seperti Thales. Idealisme Plato mempengaruhi filosof-filosof Rasionalis seperti Spinoza. Plato.

Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai. Semiawan. kepastian ? Langkah dalam epistemologi ilmu antara lain berpikir deduktif dan induk-tif Berpikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikurnpuikan se. Jika ilmuan tidak dilandasi oleh landasan moral. kenyataan. Sebuah keniscayaan. 2) Nilai sebagai kata benda konkret. manusia modem dicirikan oleh tingkat produktivitas yang tinggi. (5) Nilai agama: dalam hubungannya dengan nilai agama.belumnya Secara sistematik dan kumulatif pengetahuan ilnuah disusun setahap demi setahap dengan menyusun argumentasi mengenai sesuatu yang baru berdasarkan pengetahuan yang telah ada.. Nilai-nilai yang juga harus melekat pada ilmuan. sosio-political life. efisien menghargai waktu. serta terbuka terhadap ide-ide dan pengalaman baru. Netralitas ilmu hanya terletak pada dasar epistemologi raja: Jika hitam katakan hitam. struktur. 6) Apa perbedaan di antara: kepercayaan. Sedangkan secara ontologi dan aksiologis. Ada tiga bentuk value dan valuation. maka peristiwa terjadilah kembali yang dipertontonkan secara spektakuler yang mengakibatkan terciptanya “Momok kemanusiaan” yang dilakukan oleh Frankenstein (Jujun S. tanpa berpihak kepada siapapun juga selain kepada kebenaratt yang nyata. dan keputusan yang diambil berdasarkan pada pertimbangan pribadi. menghargai profesionalisasi. Epistemologi dapat didefmisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber.esthetic expression. 1986. jika ternyata putih katakan putih. gagasan. pengetahuan. Menurut Bramel dalam Amsal Bakhtiar (2004: 163) aksiologi terbagi dalam tiga bagian: Pertama. “pengetahuan ilrniah”. 4) Bagaimanakah validitas pengetahuan itu dapat dinitai ?. Sebaliknya. 2000:36). . orientasinya pada ilmu dan teknologi. kesalahan. bersikap positif terhadap keluarga kecil. Persoalan-persoalan dalam epistemologi adalah: 1) Apakah pengetahuan itu ?. sebagai suatu kata benda abstrak. 2000: 105). (4) Nilai pengambilan keputusan: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai ini dicirikan oleh sikap demokratis dalam kehidupannya bermasyarakat. dan penuh perhitungan. yaitu: 1) Nilai. 5) Apa perbedaan antara pengetahuan a priori (pengetahuan pra-pengalaman) dengan pengetahuan a posteriori (pengetahuan puma pengalaman) ?. (2) Nilai sosial : dalam kaitannya dengan nilai sosial. kebenaran. ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai atau yang lebih dikenal sebagai value bound. sebagaimana juga dicirikan sebagai manusia modern: (1) Nilai teori: manusia modern dalam kaitannya dengan nilai teori dicirikan oleh cara berpikir rasional. Suriasumantri. 2) Bagaimanakah manusia dapat mengetahui sesuatu ?. moral conduct. dan menghargai hak-hak asasi perempuan. analitis sebagai lawan dari legalitas. C. Aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh (Jujun S. “pengetahuan yang benar”. dan logos = teori. Secara konsisten dan koheren maka ilmu mencoba memberikan penjelasan yang rasional kepada objek yang berada dalam fokus penelaahan. Ketiga. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai dalam perkembangannya melahirkan sebuah polemik tentang kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa disebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). 2000:36). Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa aksiologi disamakan dengan value dan valuation. yang akan melahirkan filsafat sosio-politik. 2004: 162). Aksiologi Aksiologi berasal dari kata axios yakni dari bahasa Yunani yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Suriasumantri.C 1993). 3) Darimana pengetahuan itu dapat diperoleh ?. yaitu kehidupan sosial politik. kebolehjadian. metode dan sahnya (validitas) pengetahuan. 3) Nilai juga digunakan sebagai kata kerja dalam ekspresi menilai. bayangan. penalaran sebagai lawan dari sikap mistis (Suriasumantri. yaitu tindakan moral yang melahirkan etika. Dengan demikian maka aksiologi adalah “teori tentang nilai” (Amsal Bakhtiar. yaitu ekspresi keindahan. Suriasumantri. ilmuwan hams manrpu ntenilai antara yang baik dan yang buruk.“pengetahuan”. Keduei. bahwa seorang ilmuwan harus mempunyai landasan moral yang kuat. fakta. manusia modem dicirikan oleh sikapnya yang tidak fatalistik. menghargai prestasi. pendapat. (3) nilai ekonomi : dalam kaitannya dengan nilai ekonomi. Sikap inilah yang mengendalikan kekuasaan ilmu ilmu yang besar. manusia modem dicirikan oleh sikap individualistik. yang pada hakikatnya mengharuskan dia menentukan sikap (Jujun S. terorganisasikan dalam kehidupannya.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->