P. 1
Pemb Hukum dan Konflik UU Bid Sektoral_UNSRI

Pemb Hukum dan Konflik UU Bid Sektoral_UNSRI

|Views: 7,003|Likes:
Published by Mpush Roni

More info:

Published by: Mpush Roni on Apr 17, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/05/2013

pdf

text

original

Sections

  • A. Latar Belakang
  • B. Permasalahan
  • C. Deskripsi Penelitian/Ruang Lingkup
  • D. Tujuan Penelitian
  • E. Metode Penelitian
  • F. Output/Hasil Penelitian
  • A. Urgensi Pemerintahan Daerah
  • B. Otonomi Daerah dan Desentralisasi
  • C. Pembangunan Hukum
  • D. Perubahan Masyarakat dan Perubahan Hukum
  • E. Politik Hukum
  • F. Aspek Teoritis Peraturan Perundang-undangan
  • 1. Istilah dan Jenis Peraturan Perundangan-Undangan
  • 3. Asas-Asas Peraturan Perundang-Undangan
  • 4. Landasan Peraturan Perundang-Undangan
  • ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR PERTANAHAN
  • A. Quo Vadis Idelogi Populis Agraria
  • B. Tanah Menjadi Komoditas dan Sarat Sengketa
  • Tabel 2. Karakteristik Sengketa Tanah di Indonesia Tahun 1970 - 2001
  • Tabel 3. Jenis Sengketa yang Objeknya Tanah
  • Tabel 4. Perusahaan Besar Pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH)
  • Konstitusional Pengelolaan Tanah
  • D. Desentralisasi atau Sentralisasi Wewenang Bidang Pertanahan
  • E. Hakikat Ketentuan Pasal 33 UUD 1945
  • 1. Aspek Historis
  • 2. Asas Kekeluargaan
  • 3. Dikuasai oleh Negara atau Hak Menguasai Negara
  • ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR KESEHATAN
  • B. Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan
  • dalam Otonomi Daerah Sektor Kesehatan
  • Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan
  • A. Sektor Kelautan Aset yang Melimpah
  • B. Wilayah Pesisir yang Tak Terpisahkan
  • C. Tata Kelola Wilayah Pesisir dan Laut oleh Daerah
  • HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH
  • A. Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah
  • 1. Desentralisasi Fiskal
  • 2. Dana Perimbangan
  • 3. Dekonsentrasi
  • 4. Tugas Pembantuan
  • 5. Pinjaman Daerah
  • B. Khusus
  • DAFTAR PUSTAKA

PEMBANGUNAN HUKUM DAN KONFLIK UNDANG-UNDANG BIDANG SEKTORAL

Oleh: Pusat Studi Kebijakan Hubungan Pusat dan Daerah Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Kerjasama Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia

Palembang 2009

IDENTITAS PENELITIAN
1. Judul Penelitian 2. Aspek 3. 4. 5. 6. Peneliti Utama Jenis Kelamin Unit Kerja Alamat Unit Kerja : Pembangunan Hukum dan Konflik Undang-Undang Sektoral : Integrasi Bangsa dan Harmoni Aturan Hukum : Dr. Febrian, S.H. MS. : Laki-laki : Fakultas Hukum : Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya, Jl. Jl. Raya Palembang Prabumulih, Inderalaya Ogan Ilir : Telp. (0711) 442001 Fax. (0711) 353373 : febrian_zen@yahoo.com.sg : 081 63285762

7. Telepon /Fax 8. Alamat e-mail 9. Telepon Seluler/HP Anggota Penelitian
No. 1 2 3 4 5 6 7 Nama

Ridwan, SH., M.Hum. Indah Febriani, SH., M.Hum. Dr. M. Syaefuddin, SH., M.Hum. Drs. Murzal, SH., M.Hum. Firman Muntaqo, SH., M.Hum. Zulhidayat, SH. Mada Apriandi Zuhir, SH., MCL.

Kedudukan Wakil Ketua/ Anggota Sekretaris/Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota Anggota

Tenaga Pendukung: 1. Mardiana, SH. 2. Mariana, SE. 3. Mardani, S. Kom.

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur peneliti haturkan ke hadirat Allah yang Maha Mengetahui yang telah memberi ilmu dan hikmah, sehingga proses penelitian dan penulisan laporan akhir penelitian yang berjudull “Pembangunan Hukum dan Konflik Undang-Undang Bidang Sektoral, dalam rangka studi hubungan pusat dan daerah, dapat diselesaikan dengan baik. Salah satu aspek mendasar dalam otonomi daerah adalah hubungan antara pusat dan daerah, di antaranya mengenai pembagian urusan dan pembagian wewenang pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pembagian urusan pemerintahan terdiri atas; urusan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat; urusan yang dibagi antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan, yang selanjutnya dikenal adanya urusan pemerintah daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Hal inilah yang akan menentukan sejauhmana pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan. Lebih lanjut, objek urusan pemerintahan bisa sama, tetapi wewenang atau ruang lingkupnya berbeda. Pembagian wewenang pemerintahan tersebut di atas, secara umum ditaur dalam UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Secara khusus juga diatur dalam berbagai UU sektoral, namun seringkali menimbulkan persoalan karena kurang tepat dalam pembagian wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Terjadi tumpang tindih dan tarik menarik wewenang, misalnya masalah pertanahan di daerah, pengelolaan hutan, dan pertambangan. Di tengah-tengah sumber daya alam yang melimpah, kehadiran otonomi daerah yang luas belum memberikan manfaat (positif) bagi masyarakat di daerah termasuk masyarakat adat, bahkan sebaliknya banyak menimbulkan dampak negatif. Pembagian wilayah Indonesia ke dalam daerah-daerah otonom, tidak menjadikan masyarakat adat sebagai salah satu faktor penentu. Bahkan, pembagian daerah-daerah otonom tersebut mengakibatkan struktur masyarakat adat dan budayanya menjadi terpecah-pecah dalam (fragmented) dalam beberapa daerah otonom. Penelitian ini merupakan kerjasama DPD RI dengan Pusat kajian Hubungan Pusat dan Daerah Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya melalui Surat Perintah Kerja, Penelitian Pusat Studi Kebijakan Hukum Pusat-Daerah Tentang Pembangunan Hukum Dan Pengawasan Terhadap Produk Hukum Daerah Nomor: HM. 320/440/DPD/VI/2009, tanggal: 22 Juni 2009. Untuk dapat mencapai tujuan penelitian yang diharapkan, penelitian ini disusun dalam beberapa kajian yang bermuara pada pembangunan hukum terkait
iv

Prof. Dalam pelaksanaannya. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pertanahan. dan hukum bidang pertambangan. dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. Dalam kesempatan ini. review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral. Dr. Amzulian Rifai. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang kehutanan. 2. Palembang. yaitu: 1. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu. yaitu hukum bidang kesehatan. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas dan hak-hak masyarakat adat dan pengaturannya terkait dengan masing-masing topik. Topik-topik tersebut kemudian dijabarkan menjadi deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. Prof. lembaga tempat peneliti bernaung. semoga dapat berlanjut dimasa-masa yang akan datang. Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia. hukum bidang pendidikan. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pengelolaan kesehatan. saran dan kritik membangun dari para pembaca guna perbaikan di masa mendatang sangat penulis harapkan. selaku Rektor Universitas Sriwijaya. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pengelolaan sumber keuangan negara. topik-topik kajian tersebut disusun sebagai berikut. 32 Tahun 2004 dan UU No.A. baik dalam UU No.. atas kepercayaan dan kerjasamanya. Untuk itu.dengan berbagai konflik substansial dari sejumlah UU sektoral. dan bidang hukum lainnya. pembagian wewenang antara pusat dan daerah. PhD. Badia Perizade. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang lingkungan hidup.. LLM.. dan 4. peneliti menghaturkan terima kasih yang tulus kepada semua pihak yang telah banyak membantu selama proses penelitian dan penulisan laporan akhir. Peneliti menyadari sepenuhnya bahwa tiada gading yang tak retak. S. 3. kajian tentang konflik aturan hukum di bidang pengelolaan sumber daya alam kelautan. yang dengan tulus ikhlas telah membantu peneliti dalam proses penelitian ini. selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. 2009 Peneliti v . terutama bidang-bidang sektoral. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah.H.B. M.

................................................................................................ 1............................................ BAB II LANDASAN PEMIKIRAN TEORITIS A.. C.............. Desentralisasi atau Sentralisasi Urusan Bidang Pertanahan............ D....... jenis dan Hirarki Peraturan Perundang-undangan Menurut UU No............................................................... 2................... Tanah Menjadi Komoditas dan Sarat Sengketa .... C.......................... Metode Penelitian ........................... D................................................... F.......................................................................... Politik Hukum ........... Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Politik Agraria dan Landasan Konstitusional Pengelolaan Tanah ............................................... D...................... B.. E...................... B....... Kata Pengantar .......................... 4.......................... Landasan Peraturan Perundang-undangan ........ Sinkronisasi dan Konsistensi (Konflik) Aturan Hukum Sektoral ....................................... E.... Deskripsi Penelitian/Ruang Lingkup .................................... E............. BAB III ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR PERTANAHAN A.................... Daftar Isi .......................................... 5.................................. Permasalahan ........ Asas-asas Peraturan Perundang-undangan ....................................... Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Politik Agraria dan Landasan Konstitusional Pengelolaan Tanah .............. Daftar Tabel ....... Pembangunan Hukum .............. Out Put/Hasil Penelitian ..... C......... Quo Vadis Ideologi Populis Agraria .......................... i ii iii iv viii 1 1 3 3 6 6 7 8 8 10 14 15 17 19 19 24 Identitas Penelitian .......................................... 10 Tahun 2004 .............................................. BAB I PENDAHULUAN A................................................... 3..... 25 27 30 31 31 36 43 43 49 vi ................................................................... Tujuan Penelitian ............................ Urgensi Pemerintahan Daerah ....... F................... Otonomi Daerah dan Desentralisasi ................ Aspek Teoritis Peraturan Perundang-undangan ......................... Latar Belakang ................. B...........................DAFTAR ISI Halaman Judul .................................................... Perubahan Masyarakat dan Perubahan Hukum ......... Istilah dan Jenis Peraturan Perundang-undangan ..........................

..................................................................................................................... Produk Aturan Hukum Pertanahan Orde Baru (19671998) .......... Ketidakjelasan dan Keteterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Audit Medis Rumah Sakit .................................................................................. 95 95 100 103 104 104 105 106 106 107 107 109 109 112 114 121 vii ....... Pergeseran Nilai dan Asas dari Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 ........................ Isu Hukum Aktual dala Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan ................. 70 3........... E................................................. 8.............. 4................. 81 BAB IV ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR KESEHATAN A... Dikuasai oleh Negara atau Hak Menguasai Negara ....................... 5............. C............... Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan . Pembagian Fungsi dan Wewenang Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Daerah Sektor Kesehatan ... Asas Kekeluargaan ..................... 58 G............... Aspek Historis ..................................................................................................... Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi ... Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi ........................................................................ 7. 53 2............................... Hakikat Ketentuan Pasal 33 UUD 1945 ........ Keterlambatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dan Peraturan Daerah ............................ Asas-asas Hukum yang Mendasari Fungsi dan Wewenang Pemerintah dala Otonomi Daerah Sektor Kesehatan ............... Aturan Hukum Sektor Pertanahan ............F................. D....... 56 3.... Ketikonsistenan dan Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan ........... 2....................... 9................................................... 3........................................ Keterlambatan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan ......................... Konflik Aturan Hukum Sektor Pertanahan Terhadap Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 ........................ 6............ 1... B.............................. Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Tarif Pelayanan Kesehatan ............ F...... Produk Aturan Hukum Pertanahan Era Reformasi (19982006) ...... Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan Kesehatan dalam Peraturan Daerah ........................................................................................ 53 1... 65 1....... 65 2...................... Kelemahan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan Hukum (Pemerintah) Sektor Kesehatan ........ Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan ...........

...... 121 123 124 124 125 126 126 127 127 128 128 131 131 132 133 136 136 137 140 141 viii ........... Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Sektor Kesehatan .... 1...................... dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan ...................... Penguatan Asas Konsisten dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan ... M...... B.............................................. P.............................. Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Aturan Hukum Audit Medis ........... Penegakan Hukum dan kebijakan Sektor Kelautan Multi Dimensi .......... Penguatan Kapasitas Kelembagaan Kementerian Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah ..... Sektor Kelautan Aset yang Melimpah ....................... I............ Tata Kelola Wilayah Pesisir dan laut oleh Daerah ................ Percepatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah ..........G... Wilayah Pesisir yang Tak Terpisahkan .................. Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan ............... Q................................................. L....................... K........ Pengkaitan Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional dan Daerah ................ Penataan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan (Pemerintah) Sektor Kesehatan Mengacu Konsep Good Governance ...... Penguatan Asas Konsistensi............... BAB V ANALISIS ATURAN HUKUM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM SEKTOR KELAUTAN A......................... J.. 2............ Penguatan Asas Kejelasan dan Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi .................................. 3......... Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Tarif Pelayanan Kesehatan ... D........ Sinkronisasi............ Penguatan Asas Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi .................................. C........................................ R....................................... Perubahan Struktur dan Fungsi Kementerian Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah ................ Pengembangan Potensi Sumber Pembiayaan dari Pemerintah Pusat dan Alokasi “Subsidi” dari Pemerintah Pusat di Sektor Kesehatan .................................................. O.... Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengelolaan Perbekalan Kesehatan .......... H. N...........................................

........... Khusus ..... 143 143 144 145 146 146 147 B Konflik Aturan Hukum dan Disharmoni Tata Kelola Sektor Keuangan Pusat dan Daerah .................. Pembagian Wewenang yang Timpang Antara Pusat dan Daerah .................................... Masyarakat Adat Beserta Hak Komunalnya dalam Perspektif Desentralisasi ........................................................................................ 2................................ Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah ...... 3. 5................................................................................. Dekonsentrasi ...........................BAB VI ANALISIS ATURAN HUKUM HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A......... B........... 148 D Langkah Penyempurnaan Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah ............... Pinjaman Daerah .............. Umum ..... 4..................................................... C............... 147 C Isu Mendasar dan Aktual dalam Pengaturan Keuangan Pusat dan Daerah ........................................................... 162 162 163 169 DAFTAR PUSTAKA ... 1............................ 150 BAB VII PROBLEM DAN LANDASAN PIJAK PENATAAN HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH DAN PERAN MASYARAKAT ADAT A........................ Desentralisasi Fiskal ...................... Dana Perimbangan ....................... ix ........................... Tugas Pembantuan .......................... 153 153 156 159 BAB VIII PENUTUP A.......................... B................................................................................. Titik Tolak Penyelarasan Hubungan Pusat dan Daerah Berdasarkan Prinsip Otonomi yang Luas ......................................................................................................................................

DAFTAR TABEL No 1 2 3 4 5 6 7 Judul Sifat Kebijakan Pemerintah Berdasarkan Kondisi Struktural dan Corak Penguasa Karakteristik Sengketa Tanah di Indonesia Tahun 1970-2001 Jenis Sengketa yang Objeknya Tanah Perusahaan Besar Pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) Distribusi Rumah Tangga Petani (RTP) Pengguna Lahan dan Luas Lahan yang Dikuasai (1983-1993) Penduduk Miskin di Pedesaan dan Perkotaan Tahun1990-2003 (Juta Orang) Pembagian Wewewnang Pemerintah Sektor Kesehatan Berdasarkan Fungsi Mengatur. Mengarahkan dan Melaksanakan Fungsi dan Wewenang Pengawasan Pemerintah Terhadap Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Hlm 18 37 38 39 40 41 117 8 120 x .

3. Kekhususan dan keragaman daerah (Pasal 18A ayat (1)). dan diselenggarakan pula pemencaran kekuasaan kepada organ-organ yang menjalankan sebagian wewenang pemerintah pusat di daerah yang dikenal sebagai dekosentrasi. antara lain: 1.BAB I PENDAHULUAN A. Wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah (Pasal 18A ayat (1)). 5. Hubungan pusat dan daerah harus dilaksanakan secara selaras dan adil (Pasal 18A ayat (2)). Dalam Pasal 18 Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan perubahannya. 7. perlu dijalankan sistem mekanisme yang baik tentang hubungan antara pusat dan daerah dalam kerangka negara kesatuan. 4. 6. Latar Belakang Dalam sistem negara kesatuan (unitary state. Daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otoonmi dan tugas pembantuan (Pasal 18 ayat (2)). diselenggarakan pula sebagian urusan pemerintahan secara desentralisasi. Dalam rangka otonomi tersebut. yaitu berupa prinsip-prinsip. yakni wewenang mengatur dan mengurus penyelenggaraan pemerintahan oleh satuansatuan pemerintahan di tingkat yang lebih rendah dan bersifat otonom. Otonomi yang seluas-luasnya (Pasal 18 ayat (5)). 2. 1 . Di samping itu. Pengakuan dan penghormatan atas kesatuan masyarakat hukum adat dan hak tradisionalnya (Pasal 18B ayat (2)). diletakkan dasar konstitusional tentang hubungan antara pusat dan daerah. 8. eenheidsstaat) Indonesia. diselenggarakan untuk sebagian urusan secara sentralisasi. Pengakuan dan penghormatan atas pemerintahan daerah yang bersifat khusus dan istimewa (Pasal 18B ayat (1)). Badan perwakilan dipilih langsung melalui suatu pemilu (Pasal 18 ayat (3)).

kehadiran otonomi daerah yang luas belum memberikan manfaat (positif) bagi masyarakat di daerah termasuk masyarakat adat. bahkan sebaliknya banyak menimbulkan dampak 2 . 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (serta perubahannya) dan UU No. Di tengah-tengah sumber daya alam yang melimpah. Salah satu aspek mendasar dalam otonomi daerah adalah hubungan antara pusat dan daerah. sebagai lex generalis dan undang sektoral sebagai lex specialis. Dalam hal inilah akan menentukan sejauhmana pemerintah pusat dan pemerintah daerah memiliki wewenang untuk menyelenggarakan urusan-urusan pemerintahan.9. dan pertambangan. Hubungan keuangan. Pembagian urusan pemerintahan terdiri atas: urusan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah pusat. pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dilaksanakan secara adil dan selaras (Pasal 18A ayat (2)). di antaranya mengenai pembagian urusan dan pembagian wewenang pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. terutama undang-undang tentang pemerintahan daerah dan undang-undang tentang perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. misalnya masalah pertanahan di daerah. tetapi wewenang atau ruang lingkupnya berbeda. namun pengaturan tersebut seringkali menimbulkan persoalan karena kurang tepat dalam pembagian wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Prinsip-prinsip tersebut di atas menjadi dasar dalam penyusunan undang- undang terkait dengan otonomi. Pembagian wewenang pemerintahan tersebut di atas. secara umum ditaur dalam UU No. Objek urusan pemerintahan bisa sama. pelayanan umum. secara khusus juga diatur dalam berbagai UU sektoral. Pembagian urusan pemerintahan tersebut. Terjadi tumpang tindih dan tarik menarik wewenang. Adapun pembagian kewenangan untuk menyelenggarakan urusan-urusan pemerintah tersebut di atas. urusan yang dibagi antar tingkatan dan/atau susunan pemerintahan. yang selanjutnya dikenal adanya urusan Pemerintah daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. pengelolaan hutan. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

Disamping itu sebagai perwujudan demokratisasi di daerah. terdapat permasalahan pokok adalah bagaimana mensikronkan hubungan kewenangan dalam menyelenggarakan urusan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. dan peran serta masyarakat. aplikasi desentralisasi dalam undangundang terkait dengan otonomi. Bahkan. Tidak berarti dengan sendirinya. Pembagian wilayah Indonesia ke dalam daerah-daerah otonom. Tujuan dari desentralisasi yang digariskan prinsip-prinsipnya dalam UUD 1945 adalah untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan.negatif. B. dan keadilan. UU yang diterbitkan sebelum tahun 1999. pembagian daerah-daerah otonom tersebut mengakibatkan struktur masyarakat adat dan budayanya menjadi terpecah-pecah dalam (fragmented) dalam beberapa daerah otonom. tidak menjadikan masyarakat adat sebagai salah satu faktor penentu. pemberdayaan. Idealnya. maupun urusan-urusan yang diatur dalam berbagai UU sektoral. antara lex generalis dan undang sektoral (lex specialis) tersusun dalam bingkai yang sinkron. sangat potensial terjadi ketidaksinkronan. maka dalam hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Permasalahan Beranjak dari tujuan desentralisasi tersebut. serta memperhatikan keragaman daerah. baik urusan yang diatur dalam UU Pemerintahan daerah dan UU Perimbangan Keuangan. Deskripsi Penelitian/Ruang Lingkup Beranjak dari tujuan penelitian tersebut di atas. C. maka penelitian ini disusun dalam beberapa kajian yang kesemuanya bermuara pada pembangunan hukum yang bagaimana terkait dengan berbagai konflik substansial dari sejumlah UU sektoral. sehingga selaras dengan prinsip otonomi yang luas. Topik-topik kajian disusun sebagai berikut: 3 . bahwa UU yang diterbit setelah itu sudah pasti sinkron. pemerataan. Sebagai pemetaan. belum tentu.

Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. khususnya bidang kesehatan. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. 32 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral lainnya terkait dengan urusan pertanahan. baik dalam UU No. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. 2. 32 Tahun 2004 dan UU No. Analisis aturan hukum di sektor kesehatan. Analisis aturan hukum di sektor pertanahan. Hak masyarakat adat dan pengaturannya terkait dengan pertanahan. Mengkaji: Deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. 4 . Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah dalam urusan kesehatan. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. khususnya sektor pertanahan. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral terkaitan dengan pelayanan kesehatan. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil di bidang pertanahan.1. Deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. baik dalam UU No. terutama bidang/sektora kesehatan.

Deskripsi lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. 32 Tahun 2004 dan UU No. 4. Deskripsi lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45.3. Hak masyarakat adat (masyarakat pesisir) dan pengaturannya terkait dengan sumber daya kelautan. 5 . khususnya bidang kelautan. terutama bidang keuangan. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. Analisis aturan hukum di bidang pengelolaan sumber daya alam kelautan. baik dalam UU No. Dampak pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. Peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. 32 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral terkait pengelolaan sumber daya kelautan. Pembagian wewenang antara pusat dan daerah. Analisis aturan hukum di bidang pengelolaan sumber keuangan Negara. baik dalam UU No. Konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral terkait bidang keuangan. Review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. terutama di bidang pengelolaan sumber daya kelautan.

Mendeskripsikan pembagian wewenang antara pusat dan daerah. 33 Tahun 2004 maupun dalam berbagai UU sektoral. 4. Mendefinisikan ulang peraturan-peraturan yang berkaitan dengan hubungan pusat dan daerah. 5. maupun filasafat hukum. 3. perbandingan hukum. teori hukum. dan sejarah hukum. Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah: 1. baik dalam UU No. baik pada tataran dogmatik. penelitian terhadap semantik hukum. yaitu penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder. Penelitian terhadap asas-asas hukum dilakukan dengan cara menafsirkan kaidah-kaidah hukum yang dirumuskan di dalam peraturan perundangn-undangan 6 . Memaparkan dampak yang terjadi sehubungan dengan permasalahan yang timbul akibat pembagian wewenang yang tidak seimbang antara pusat dan daerah. 32 Tahun 2004 dan UU No. Pendekatan Penelitian Kajian penelitian ini didekati dari sisi ilmu hukum.D. 2. Mendeskripsikan lebih lanjut hubungan pusat dan daerah yang lebih selaras dengan cita-cita UUD 45. Selain menggunakan penelitian hukum. E. dalam studi ini juga digunakan pendekatan hukum normatif atau penelitian hukum kepustakaan. Merumuskan konsep dan prinsip yang adil dan selaras dengan prinsip otonomi yang luas. Penelitian hukum normatif atau kepustkaan tersebut mencakup penelitian terhadap asas-asas hukum. Metode Penelitian 1. 6. penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal. Mendeskripsikan hak masyarakat adat dan pengaturannya. Me-review sejumlah peraturan yang tidak sesuai dengan prinsip pembagian wewenang yang selaras dan adil. 7. terutama bidang-bidang sektoral.

Penelitian terhadap sistematik hukum bertujuan untuk menelaah pengertianpengertian pokok atau dasar dari sistem hukum yang terdapat di dalam UU yang berkaitan dengan Hubungan Pusat dan dan Daerah. juga untuk mengetahui perkembangan muatan desentralisasi dalam setiap kebijakan pemerintahan daerah yang pernah berlaku di Indonesia. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal bertujuan untuk menelaah keserasian peraturan perundang-undangan secara hirarki peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan bahan hukum tertier.yang terkait dengan Pemerintahan Daerah. Bahan Penelitian Bahan hukum yang digunakan terdiri dari bahan hukum primer. F. Penelitian sejarah hukum mengkaji latar belakang tujuan pembentukan peraturan perundang-undangan tentang pemerintahan daerah yang menjadi obyek materiil dari studi ini. bahan hukum sekunder. dan UU Pemerintahan Aceh (UU Nomor 11 Tahun 2006). dimulai sejak jaman colonial sampai sekarang termasuk UU Otonomi Khusus Papua (UU Nomor 21 Tahun 2001). Metode ini tidak terlepas dari penetapan obyek material dan obyek formal penelitian. Output/Hasil Penelitian Penelitian ini akan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang ditujukan kepada pihak-pihak terkait. tujuannya adalah untuk menelaah indikasi kebijakan hubungan pusat dan daerah terutama terhadap undang-undang bidang sektoral yang tidak sejalan dengan asas-asas desentralisasi dan demokratisasi. 7 . Penelitian terhadap taraf sinkronisasi horizontal bertujuan untuk menelaah kesrasian peraturan perundang-undangan yang sederajat yang mengatur substansi materi yang sama. 2. Penelitian terhadap taraf sinkronisasi vertikal dan horizontal dilakukan untuk menelaah sampai sejauh manakah hukum positif tertulis yang ada serasi. yaitu UU bidang sektoral dan UU tentang Pemerntahan Daerah. khususnya bagi Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia untuk dijadikan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan.

melalui pemerintahnya menyelenggarakan tertib hukum dalam rangka memberikan perlindungan hukum bagi warga. Suffolk. hlm. International Handbook of Local and Regional Government: a comparative analysis of advanced democracies. Sebaliknya. a legal order. New York. Russell & Russell. hlm. seperti dikemukakan Alan Norton: “The separation of territorial powers could be seen as a check on the power of central state: . It is element. adalah lingkungan wilayah dan pribadi keberlakuan dari tertib hukum. Ridwan. 1973. 303 3 Alan Norton.…. Elemen negara. 8 Desember 2006. hlm. bahkan individu sekalipun membutuhkan pelayanan pemerintah. Urgensi Pemerintahan Daerah Keberadaan pemerintah dalam suatu negara adalah suatu yang urgen (penting) bagi proses kehidupan masyarakat.. Dikatakan oleh Hans Kelsen: “The state is. Makalah pada Seminar Bagian Hukum Tata Negara. Reprinted. Hukum rimbalah yang akan terjadi. 1.. The Ipswich Book Company. are the territorial and personal spheres of validity of that legal order… The “power” of the state is validity and efficacy of legal order. 1997. para penulis kontitusi Amerika. karena tidak ada institusi yang memberikan perlindungan hukum bagi warga beserta harta benda milik mereka. Great Britain. siapa yang kuat dialah yang akan menang dan mampu mempertahankan kehidupan dan miliknya.BAB II LANDASAN PEMIKIRAN TEORITIS A. maka masyarakat akan hidup dalam ketidakteraturan1. wilayah dan rakyat.the American stress on the division of powers between levels of government could be extended to some extent to local government as mitigating the dominant of the sovereign”3. dan aset negara. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwiijaya dengan Program HEDS. 26-27 1 8 . Inderalaya. Negara. 2 Hans Kelsen. aparatur pemerintah. General Theory of Law and State. territory and people. Kekuasaan negara adalah keberlakuan dan kemanfaatan dari tertib hukum. Jika tidak ada pemerintah. Sekecil apapun kelompok masyarakat. “Pemerintahan Daerah Setelah Perubahan Kedua UUD 1945”.…”2 Negara adalah tertib hukum.

Alasan Keterbatasan Pemerintah Tidak semua urusan pemerintah dapat dilaksanakan sendiri oleh pemerintah pusat. hlm. tidak akan mampu menyelenggarakan pemerintahan secara sentral terus-menerus. disarikan bahwa pemisahan kekuasaan teritorial dapat dilihat sebagai pengawasan terhadap kekuasaan negara. Oleh karena itu. 2. 2000.Dari kutipan di atas. kebiasaan. bagi Amerika pembagian kekuasaan tersebut adalah sebagai pengurangan dominasi kedaulatan. dan alasan politis dan psikologis:5 1. 4 9 .. menimbulkan konsekwensi logis bagi distribusi urusanurusan pemerintahan negara kepada pemerintah daerah. satu sama lain dihubungkan oleh sela dan laut. 3. Demikian pula keadaan dan kekayaan alam dan potensi permasalahan yang satu sama lain memiliki kekhususan tersendiri. Sarundajang. Pustaka Sinar Harapan. Kondisi wilayah yang demikian. Alasan sejarah Secara historis. mempunyai konsekwensi logis terhadap lahirnya berbagai suku dengan adat istiadat. yaitu alasan sejarah. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah. hlm. Indonesia merupakan gugusan kepulauan yang terdiri dari ribuan pulau besar dan kecil.H. S. Apapun bentuknya suatu negara dan seberapa pun luas wilayahnya. 16. dipandang akan lebih efisien dan efektif apabila pengelolaan berbagai urusan pemerintahan ditangani oleh unit atau perangkat pemerintah yang berada di wilayah masing-masing. terdapat beberapa alasan mengenai perlu atau pentingnya pemerintahan daerah. 21-25. ekssistensi pemerintahan daerah telah dikenal sejak masa pemerintahan kerajaan-kerajaan nenek moyang dahulu. Tidak mungkin pemerintah dapat menangani semua urusan pemerintahan yang menyangkur\t kepentingan masyarakat yang mendiami ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Bagi negara Indonesia. kebudayaan dan ragam bahasa daerahnya masing-masing. karena keterbatasan kemampuan pemerintah. Jakarta. memunculkan sistem-sistem pemerintahan daerah yang merupakan bagian dari sistem pemerintahan nasional negara yang bersangkutan. alasan keterbatasan pemerintah. alasan situasi dan kondisi wilayah.4 Pemencaran atau distribusi urusan-urusan pemerintahan kepada satuan-satuan dan unit-unit pemerintahan yang lebih kecil. Keterbatasan kemampuan pemerintah. 5 Ibid. sampai pada sistem pemerintahan yang diberlakukan oleh pemerintah penjajah. dan dikelilingi oleh lautan yang luas. Alasan Situasi dan Kondisi Wilayah Secara geografis. maka pendelegasian kewenangan kepada unit pemerintahan di daerah-daerah suatu keniscayaan.

terletak bagaimana menyelenggarakan pemerintahan Daerah dalam negara kesatuan sehingga tujuan akhir. karena pelaksanaan otonomi daerah memberikan eksistensi bagi keberagaman sosial. pemerintah pusat dapat menyerahkan sebagian urusan atau kekuasaannya kepada daerah menjadi urusan rumah tangganya. B. Rineka Cipta. dan adat isitiadat. Otonomi sudah menjadi suatu keniscayaan. terdapat pandangan yang menonjol pada saat itu adalah wawasan integralistis. Lihat J. demokratis. 69. yaitu kesejahteraan masyarakat akan meningkat. 2002. dikenalnya adanya pemerintahan daerah otonom yaitu daerah yang diberi wewenang untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Otonomi Daerah dan Desentralisasi Desentralisasi dan otonomi Daerah adalah instrumen untuk mencapai tujuan dan bukan tujuan itu sendiri. Alasan Politis dan Psikologis Ketika UUD 1945 dalam masa penyusunan. Dengan desentralisasi. Karena itu. Jakarta. Sejarah membuktikan. 20-21 Maret 1992. 6 maka pilihan menggunakan asas desentralisasi adalah keniscayaan. yaitu lemahnya persatuan dan kesatuan bangsa pada waktu itu. Permasalahannya. disebabkan faktor utama. 7 Talizuduhu Ndraha. hlm 4. masalah pengaturan tentang pemerintahan daerah dan pelaksanaannya. bukan hanya masalah ketatanegaraan.4. hal ini mengingat wilayah yang luas. Pembentukan dan pembinaan pemerintahan daerah adalah sarana efektif yang memungkinkan semangat persatuan dan kesatuan tetap terpelihara dalam ikatan negara kesatuan Republik Indonesia. bahwa sekian lamanya bangsa Indonesia hidup di bawah pemerintah penjajah. Jakarta. bersifat nusantara. Persoalan otonomi daerah (yang dilaksanakan oleh pemerintah daerah) bukan persoalan yang berdiri sendiri. Negara Republik Indonesia yang menganut faham negara kesatuan. Makalah pada Seminar Gagasan Otonomi Daerah dalam Konteks Negara Kesatuan RI. Kaloh. dan heterogenitas sosial budaya penduduk. tetapi banyak segi dan berkaitan dengan aspek kehidupan manusia. budaya. dan semangat persatuan dan kesatuan nasional. “Sebuah Catatan tentang Otonomi dalam Penyelenggaraan Negara”. Sekretariat Tim P-7. memikul beban yang berat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan kepada masyarakat.7 Berdasarkan asas desentralisasi yang dianut. hlm. terus menjadi bahan perbincangan sejak masa penyusunan UUD 1945 sampai sekarang. Mencari Bentuk Otonomi Daerah. 6 10 .

yang dalam perkembangan selanjutnya diartikan juga pemerintahan. pejabat lapangan diberi keleluasaan untuk mengambil keputusan. sebagaimana dikutip Gustam Idris8. Kordinasi dilakukan secara informal. 8 11 . mengemukakan tiga bentuk desentralisasi: 1. padahal secara teoritis pengertian kedua istilah itu dapat dibedakan. merupakan satu sistem dalam kerangka desentralisasi penyelenggaraan pemerintahan. Devolusi kepada pemerintahan lokal.4. Makalah pada Diskusi Panel tentang Hubungan Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah. Pada integrated local administration tenaga staf departemen pusat yang ditempatkan di daerah berada langsung dibawah perintah dan pengawasan dari kepala eksekutif di daerah yang diangkat oleh dan bertanggung jawab kepada pemerintah pusat. Palembang. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Badan Diklat Provinsi Sumatera Selatan. Pemerintah pusat membentuk unit-unit pemerintahan di luar pemerintah pusat dengan menyerahkan sebagian fungsi-fungsi tertentu untuk dilaksanakan secara mandiri. 4 Agustus 2001. Pada mulanya makna “otonomi” (otonomi daerah) adalah pengundangan sendiri. namun para pejabatnya tetap pegawai departemen pusat.Silih berganti diundangkan undang-undang pemerintahan daerah sejak tahun 1945. bahkan untuk itu dilakukan perubahan terhadap ketentuan UUD 1945. adalah dalam rangka menginterpretasikan dan menemukan solusi terbaik atas permasalahan tersebut di atas. Sumatera Selatan. secara teknis bertanggung jawab kepada Pemda. 2. “Otonomi dan Hubungan Luar Negeri”. selanjutnya disingkat otonomi. bersifat field (lapangan) dan local administration (integrated local administration dan unintegrated local administration) Dekonsentrasi adalah pembagian kewenangan dan tanggung jawab administrastif antara departemen pusat di lapangan. Rondinelli. Istilah desentralisasi dan otonomi sering dipakai untuk makna yang sama secara bergantian. Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan dan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia cq. hlm. Delegasi wewenang kepada badan semi otonomi. namun dalam praktek penyelenggaraan pemerintahan antara keduannya tidak dapat dipisahkan. Dekonsentrasi (deconcentration). 2. mereka bertanggung jawab kepada departemen masing-masing. Sedangkan pada unintegrated local administration. Pada tipe field administration. Merupakan pelimpahan pengambilan keputusan dan kewenangan manajerial untuk melakukan tugas khusus kepada suatu organisasi yang tidak secara langsung dibawah pengawasan pemerintah pusat (ingat BUMN di Indonesia). Gustam Idris. Auditorium Pemda Prop. Otonomi daerah. pejabat pusat dan pemda berdiri sendiri. Ciri-ciri khususnya yaitu: bersifat otonom 3.

4 9 12 .10 Menurut M. perlunya dikembangkan cara-cara baru dalam pengelolaan program dan proyek serta administrasi pembangunan.dan mandiri.11 Pembentukan daerah otonom tentu tidak dapat diadakan dengan menarik garis-garis di atas peta saja dan hanya Arend Lijphart. Alih fungsi pemerintahan kepada badan non pemerintah (privatisasi). pengambilan keputusan serta administrasi kepada badan non pemerintah atau pemindahan fungsi-fungsi pemerintahan kepada lembaga-lembaga non pemerintah”. kedua. diantaranya sekepentingan bersama. unit pemerintahan daerah berstatus sebagai badan hukum berwenang mengelola sumber daya. yang dilatarbelakangi oleh: pertama. 10 Ibid. New Haven and London Yale University Press. 11 . 20-21. EndaNG.M. Soal Pembentukan Daerah Otonom Dan Tingkatan Daerah Otonom. Menurut teori center-peripheral relationships. ketiga. Uraian di atas menegaskan bahwa konsep desentralisasi timbul karena adanya perhatian yang makin besar untuk memberikan keleluasaan dalam perencanaan dan administrasi. hlm. pusat adalah bagian dari masyarakat yang kewenangannya dikontrol. daerah otonom adalah suatu bentuk pergaulan hidup juga dan oleh sebab itu antara rakyat yang merupakan penduduk daerah otonom itu harus pula ada ikatan. 4. Penyerahan kewenangan perencanaan. 1980. Pusat adalah fenomena dari dunia nilainilai dan kepercayaan belaka (phenomenon of the realm of values and beliefs). Sistem nilai tersebut adalah konsensus bersama tetapi juga berarti melemahkan daerah yang bisa dianggap agak beragam dan bercabang dalam sistem nilai-nilai tersebut. 1954. wewenang untuk melakukan tugas umum pemerintahan. kurang memuaskannya hasil perencanaan pembangunan dan kontrol administrasi yang terpusat. Nasroen. wilayah jelas dan legal. hlm.9 Sedangkan pinggiran/ daerah adalah lokasi di mana wewenang digunakan/ dioperasionalkan. adanya kenyataan bahwa kebutuhan masyarakat makin kompleks diikuti makin luasnya kegiatan pemerintahan sehingga makin sulit tercapainya efisiensi dan efektivitas fungsi pemerintahan. Jakarta. Pusat adalah sistem nilai karena didukung oleh kewenangan-kewenangan berkuasa dari masyarakat. tidak diawasi secara langsung pemerintahan pusat. dalam pendekatan formulasi wewenang pusat dan daerah. Democracy In Plural Societies. Nasroen.

sedangkan medebewind merupakan tugas pembantuan. Tresna15. namun cara kebijakan dan pengaturannya berada sepenuhnya pada daerah yang memberi bantuan.. tetapi syarat subyektif tidak kalah pentingnya.memperhitungkan syarat-syarat obyektif saja.Ibid. 16 .. Masyarakat Indonesia yang terdiri atas bermacam suku bangsa mempunyai corak hidup dan pendirian sendiri-sendiri. Syarat subyektif itu adalah dasar kepentingan bersama dan dasar seperasaan anatara anggota pergaulan hidup itu (daerah).12 Syarat yang dikehendaki oleh hukum. 4 . Daerah otom harus berada dalam lingkungan negara sebagai negara yang berbentuk kesatuan. 9 14 . tetapi tetap urusan pusat atau daerah atasan. menurut Nasroen. Pertanggungan jawab tetap kepada kepala daerah setempat. 13 . adalah daerah otonom tidak boleh bertentangan atau merusakkan dasar kesatuan dari Negara Kesatuan RI. hlm. guna kelancaran pekerjaan semata-mata. Syarat obyektif tentu perlu. Desentralisasi ketatanegaraan merupakan pemberian kekuasaan untuk mengatur bagi daerah di dalam lingkungannya guna mewujudkan asas demokrasi pemerintahan.Ibid. .16 medebewind dipahamkan sebagai pembantu penyelenggaraan kepentingan-kepentingan dari Pusat atau daerah yang tingkatnya lebih atas oleh alat perlengkapan pemerintahan daerah yang lebih rendah tingkatannya. Di Belanda. hlm. Lebih lanjut R. Otonomi mengandung makna regeling dan bestuur. 12 13 . Desentralisasi ketatanegaraan dapat berbentuk “desentralisasi territorial” dan “desentralisasi fungsional”. menggolongkan desentralisasi menjadi ambtelijke decentralisatie (dekonsentrasi) dan staatskundige decentralisatie (desentralisasi ketatanegaraan). yaitu dasar keindonesiaan. sungguh demikian ke semua suku bangsa itu mempunyai dasar yang sama dan satu. Urusan itu tidak beralih.Ibid. 4 15 .14 R. hlm.. Tresna mengemukakan. desentralisasi dapat pula berbentuk “otonomi” dan medebewind.13 Bagaimana kebijaksanaan yang harus dijalankan dalam pembentukan daerah otonom? Menurut Nasroen.Ibid. harus lebih dahulu diadakan analisis mengenai keadaan masyarakat dan bangsa Indonesia. Desentralisasi jabatan (dekonsentrasi) adalah pemberian kekuasaan dari atas ke bawah di dalam rangka kepegawaian.Ibid.

hal ini tak lepas dari kuatnya pengaruh perkembangan ilmu pengetahuan secara keseluruhan terhadap ilmu hukum.pendidikan hukum (ilmu hukum) -. Hingga saat ini masih berkembang berbagai pandangan tentang ruang lingkup ilmu hukum. Pendekatan mekanis-analitis yang dikembangkan dalam ilmu fisika. Sebab utamanya adalah besarnya pengaruh dari perkembangan ilmu pengetahuan (abad 17 sd 19) terhadap ilmu hukum. Hanya dengan desain sistem hukum yang tepatlah dapat diciptakan desain pembangunan hukum secara tepat pula. Jika hukum dikonsepkan sebagai norma belaka.konsep (desain) hukum -pembentukan hukum (lembaga pembentuk hukum)-. maka pembangunan juga akan berorientasi pada pembangunan komponenkomponen hukum yang hanya terbatas pada sistem pembentukan norma dan penerapan norma itu. Pembangunan Hukum Pembangunan hukum secara tepat memerlukan desain pembangunan hukum secara tepat pula. akan berpengaruh buruk terhadap pembangunan hukum di Indonesia.C. yaitu pendekatan sistem. Konstruksi sistem hukum memiliki susunan sebagai berikut: masyarakat hukum-.budaya hukum -filsafat hukum -. yaitu pemahaman yang tepat terhadap karakteristik objek pembangunan tersebut. tempat dimana hukum itu akana diterapkan. Dengan cara seperti itu akan menghasilkan pembangunan hukum yang berlangsung dalam proses yang tidak dapat ditentukan efektivitasnya. yang meneliti suatu objek yang dipisahkan dari aspek aksiologisnya. Hukum dipandang hanya sebagai norma belaka dan terpisah dari keutuhuan sistem hukum sebagai suatu keseluruhan (utuh). Hukum yang dikonsepkan sebagai norma belaka. Pendefinisian hukum secara sempit oleh berbagai ahli.bentuk hukum (tertulis/tidak 14 . Suatu sistem hukum itu bermula dari masyarakat dan berakhir pada masyarakat pembentuknya. Akibat yang harus diterima oleh hukum sebagai akibat perkembangan itu yaitu terjadinya reduksi hukum sebagai objek ilmu hukum dan terhadap hukum sebagai suatu keutuhan. dimanfaatkan pula dalam pengembangan ilmu hukum pada abad ke-18. misalnya oleh ahli politik dan ahli ilmu sosial. Untuk itu diperlukan pendekatan yang mampu mengkonstruksi keseluruhan komponden sistem hukum dan menggambarkan hukum sebagai suatu keutuhan. Di kalangan ahli hukum sendiri masih sangat kuat cara pandang yang sempit terhadap hukum tersebut. telah mengakibatkan makna hukum tercabut dari keutuhan sistemnya dan menjadi sebagai norma yang sangat sempit.

Komponen pembentukan hukum membawahi sub-sistem pembentukan hukum yang akan mempengaruhi kualitas hukum yang akan dibentuk dan diterapkan. dan penerapan hukum. dan seterusnya.tertulis) -. Perubahan hukum terjadi apabila dua unsurnya telah bertemu pada satu titik singgung. PP. Penelitian hukum juga memainkan peranan penting sebagai proses awal yang mendahului pembentukan hukum. Komponen bentuk perundang-undangan di Indonesia tersusun atas UUD. maka profesionalisme dalam bidang legal drafting memegang peranan penting. Perda. Menurut Sinzheimer: “Syarat-syarat bagi terjadinya perubahan pada hukum itu baru ada. Presiden. selaras dengan kenyataan hukum.evaluasi hukum -masyarakat hukum --. manakala dengan terjadinya perubahan-perubahan (timbulnya hal-hal yang baru) itu 15 . masing-masing menentukan kualitas profesionalisme ahli hukum. Masing-masing komponen sistem tersebut bersifat otonom yang integralis. Pembentukan hukum merupakan masalah yang menonjol dalam peta permasalahan hukum. baik pada sistem masyarakat yang sangat sederhana maupun sampai pada masyarakat bangsa (negara) dan masyarakat global. maka lembaga pembentuknya terdiri atas DPR. Perpres. Komponen pembentuk hukum. D. dan (DPD). Perubahan Masyarakat dan Perubahan Hukum Masyarakat senantiasa mengalami perubahan. misalnya dalam pembentukan UU. Dalam perspektif permasalahan ini. Komponen pendidikan hukum membawahi sub-sistem pendidikan hukum dan sub-sistem penelitian hukum. begitu juga halnya dengan perubahan hukum. UU/Perpu. Perbedaan perubahan yang satu dengan yang lain ditentukan pada sifat atau tingkat perubahan itu sendiri. Penelitian hukum merupakan proses pembentukan hukum dalam kerangka desain sistem.penerapan hukum (lembaga penyelenggara hukum)-. Konstruksi sistem hukum tersebut di atas. Kualitas hukum yang dibentuk sangat ditentukan oleh komponen pendidikan hukum yang bersinergis dengan komponen pembentukan hukum. kualitas pembentuk hukum. yaitu: (1) keadaan baru yang timbul dan (2) kesadaran akan perlunya perubahan pada masyarakat yang bersangkutan itu sendiri.

hlm.18 Menurut ketiga teori tersebut. Hukum dan Masyarakat. 108. Periodeisasi itu menunjukkan adanya akselerasi menuju pembebasan individu. Salah satu faktor eksternal yang menimbulkan perubahan pemikiran hukum tersebut ialah munculnya fenomena negara modern. Hukum Kita Liberal (Apa Yang Dapat Kita Lakukan). Bandung. apakah itu kontruksi sosial. tanggal 3 Januari 2001. Soerjono Soekanto. Angkasa Bandung. feodal. Arnold M. Teorisasi Hukum. hlm. (2) kontak atau konflik antara kebudayaan. Sistem hukum liberal dirancang untuk memberikan perlindungan terhadap kemerdekaan individu. adalah suatu perkembangan yang bermuatan nilai atau budaya yang khas. politik atau kultural. Raja Grafindo Persada. 91-92. pertengahan. 101. yaitu: (1) kumulasi yang progresif daripada penemuan-penemuan di bidang teknologi. hlm. 20 Satjipto Rahardjo. dengan ciri kehausan dimana-mana. Hal ini dapat dilihat dari periodesasi sejarah Eropa. pencerahan. Kelahiran negara modern pada abad ke-19 dengan atmosfer politik liberalisme. Tidak dapat dipungkiri bahwa hukum merupakan konstruksi manusia. Muhammadiyah University Press. dari abad kegelapan. Dengan demikian Satjipto Rahardjo. puncak dari kontruksi tersebut (abad ke-19) adalah lahirnya konsep Rule of Law. maka hukum lebih merupakan akibat daripada faktor penyebab terjadinya perubahan-perubahan sosial. 18 17 16 . Studi Tentang Perkembangan Pemikiran Hukum di Indonesia 1945-1990. Rose mengemukakan adanya tiga teori umum perihal perubahan-perubahan sosial. Harian Umum Kompas.timbul emosi-emosi pada pihak-pihak yang terkena. Jakarta. yang dengan demikian akan mengadakan langkah-langkah menghadapi keadaan itu serta menuju kepada bentuk-bentuk kehidupan yang baru. Lahirnya perubahan hukum biasanya diawali dengan perubahan ditingkat pemikiran hukum itu sendiri. dan (3) gerakan sosial (social movement). 1986. 2004.20 Sistem hukum modern yang dilambangkan dengan doktrin “Rule of Law”.”17 Selain itu. ia tidak dirancang untuk memikirkan dan memberikan keadilan yang luas kepada masyarakat. berimplikasi di bidang teknologi dan industri. Hukum modern melembagakan perkembangan idiologi pembebasan individu. dan modern. melainkan untuk melindungi kemerdekaan individu. 2004. Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. Surakarta. yang kemudian dihubungkan dengan hukum. salah satunya adalah “industrialisasi yang lapar lahan” 19 Di bidang hukum nilai-nilai liberal terpusat pada jaminan atas kemerdekaan individu yang menjadi paradigma dalam sistem hukum. Hal inilah yang kemudian mendorong sistem perekonomian menjadi kapitalistik dan sangat agresif. 19 Khudzaifah Dimyati.

Melalui politik hukum. Jakarta. 2. 2006.dapat dikatakan bahwa perkembangan menuju doktrin “Rule of Law” adalah sisi lain dari perkembangan individu menuju pembebasannya. Sosiologi Hukum Perkembangan Metode dan Pilihan Masalah. 21 17 . “Politik Hukum Nasional”. 37. Muhammadiyah University Press. politik hukum nasional secara harfiah diartikan sebagai kebijakan hukum (legal policy) yang hendak diterapkan atau dilaksanakan secara nasional oleh suatu pemerintahan negara tertentu. karena politik hukum merupakan disiplin yang mendasari aktifitas memilih dan menyerasikan berbagai nilai. hlm. 30-31. 2002. Usulan Penelitian untuk Disertasi. maupun yang memberikan arah pada pembangunan hukum yang dicita-citakan (ius constituendum).22 Abdul Hakim G Nusantara dan Arief Budiman mengemukakan konsep yang dapat digunakan untuk memahami perspektif pemikiran politik hukum. 45-46. “Dasar-Dasar Politik Hukum” Raja Grafindo Persada. Universitas Diponegoro. hlm. Pembangunan hukum yang intinya adalah pembaruan terhadap ketentuan hukum yang telah ada dan yang dianggap usang. Surakarta. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat menurut persepsi kelompok elit pengambil kebijakaan. Menurut Abdul Hakim G Nusantara. Dalam Majalah Hukum dan Keadilan No.23 Keempat faktor tersebut menjelaskan secara gamblang wilayah kerja politik hukum yang mencakup teritorial berlakunya politik hukum dan proses pembaruan Satjipto Rahardjo. hlm. 4. Semarang. Makalah pada Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu). mempunyai peranan penting. dikaji hukum yang berlaku (ius constitutum). 2006. Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada secara konsisten. 23 Abdul Hakim G Nusantara. Politik Hukum Politik hukum sebagai kerangka umum yang akan membentuk hukum (legal frame work). cara. 5 Tahun ke VII Januari-Februari. Ahsin Thohari.21 E. YLBHI & LBH Surabaya. 14-17. atau model yang akan digunakan dalam melaksanakan pembangunan hukum dalam rangka mencapai tujuan maupun untuk kepentingan terhadap perubahan hukum yang direncanakan. 22 Sudarto. dalam: Imam Syaukani & A. September 1985. “Harmonisasi Hukum Investasi di Bidang Perkebunan”. dan penciptaan ketentuan hukum baru yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. Penegasan fungsi lembaga penegak atau pelaksana hukum dan pembinaan anggotanya. “Perkembangan Ilmu Hukum dan Politik Hukum”. hlm. dalam: Firman Muntaqo. 3. Politik hukum nasional bisa meliputi: 1.

tetapi tetap ditentukan oleh “kondisi struktural”25 dari pemerintahan sendiri. Sosialisme. Feodalisme. Pengaturan Kekayaan. Sifat Kebijakan Pemerintah Berdasarkan Kondisi Struktural dan Corak Penguasa Aspek Uraian Sifat Kondisi Struktural. Lihat dalam: Arief Budiman. 22. Jakarta. Sistem Politik. SemiPenyelenggaraan Kekuasaan Demokrasi. Jadi kebijakan dalam sebuah rezim yang otoriter akan mengalami perubahan dibawah rezim yang demokrasi. cara Totaliter. politik dan ekonomi. Hagerstown. Harper & Row. Otoriter. Otonom. Bantuan ekonomi dan militer dari negara-negara adidaya dan lembaga-lembaga keuangan internasional untuk mendukung sebuah negara tentunya merupakan kondisi yang memperkokoh kekuasaan negara yang dibantu. San Francisco. Aparat Politik & Birokratik. Hubungan dan sebagainya. pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan tidak semata-mata ditentukan oleh pemerintah secara mandiri. 26 18 . Pra-Birokratik. 16. dengan sikap kritis terhadap hukum yang berdimensi ius constitutum dan menciptakan hukum yang berdimensi isu constituendum.dan pembuatan hukum. Negara. serta cara-cara mendapatkan kekayaan itu diatur. Ekonomi dan Politik dari Konteks Kekuatan Produksi. termasuk jugakekuatan-kekuatan internasional yang berpengaruh pada pengaturan kekayaan dan pakta dominasi di sebuah negara tertentu. Aspek Personel dari Post Birokratik26 Pelaksana Negara Rezim. Unsur dominan dalam suatu perubahan kebijakan adalah kondisi struktural. Teori Negara. London. Philippe Nonet & Philip Selznick. hlm. Birokrasi. 25 24 Tambahan dari penulis. Dengan lain perkataan. Kebijakan Publik Responsif27 Sumber: Arief Budiman. 1997. 31 Kondisi Struktural dari negara. 90-93. . 1978. Demokrasi Hasil Represif. kondisi struktural meliputi aspek-aspek hubungan sosial. hlm. namun apakah perubahan itu bersifat substansial atau tidak itu persoalan lain. Publishers New York. meliputi pakta dominasi dari kekuatan-kekuatan masyarakat yang ada dengan negara di mana pengaturan kekayaan—yakni siapa yang mendapat apa dan berapa banyak. Gramedia Pustaka Utama. 27 Ibid. 1997. Sosial. hlm. Kapitalisme. Law & Society in Transition: Toward Responsive Law. baik secara Nasional maupun Internasional. dikutip dari. Kekuasaan dan Ideologi.24 Mengacu pada pendapat Arief Budiman. Tabel 1. hlm. Pakta Dominasi. Kebijakan juga ditentukan oleh rezim yang ada. Pemerintah. Perlu dicatat juga bahwa dalam konsep kondisi struktural ini. karena kebijakan publik merupakan hasil interaksi dari kondisi struktural (proses politik antara pemerintah yang berkuasa dengan dan proses politik yang ditempuh) Ibid.

Jogjakarta.Perda) dan wewenang aturan hukum. 1. dalam Disertasinya menggunakan istilah “aturan hukum” untuk istilah “peraturan perundangundangan”. 65. 2004. “undang-undang“ dan “hukum“28. ia terdiri dari undangundang dan berbagai peraturan perundang-undangan lainnya seperti. Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Airlangga.UU/Perpu . 28 19 . undangundang adalah bagian dari peraturan perundang-undangan. Hukum dan Peraturan Kebijaksanaan (Beleidsregel) pada Pemerintahan Daerah. hlm. Kekeliruan terjadi karena terbentuknya konsep berpikir yang menyamakan peraturan perundangundangan dengan undang-undang. Abdul Latief. tetapi hukum tidak sama dengan undang-undang. hlm.Co. 1992. menjadi “aturan hukum“. makna aturan hukum yang dimaksud. sering terjadi kekeliruan dalam mengartikan istilah-istilah “peraturan perundang-undangan“. dan hukum yurisprudensi. ditambah kata hukum.PP . yaitu wewenang untuk mengatur yang langsung mengikat umum29. Surabaya. Padahal. sebab undang-undang adalah salah satu bentuk dari kaidah hukum. Febrian. Hal ini sekali lagi didasarkan kepada permasalahan hirarki adalah permasalahan bentuk hukum yang membentuk pola jenjang aturan hukum (UUD .yang ada. yaitu dari segi bentuk adalah tertulis dan dari segi substansi dan sifat adalah mengikat umum atau keluar. mendapat akhiran “an“ yang bermakna kata benda. Jakarta. 30 Ibid. 35-36. 2005. F. tetapi untuk lain kebijakan mungkin unsur pemerintah atau proses politiknya yang menjadi faktor dominan. disamping kaidah hukum lainnya seperti hukum adat. Peraturan Pemerintah dan Peraturan Daerah. UII Press. hlm. dalam: H. Istilah dan Jenis Peraturan Perundangan-Undangan Di kalangan awam. Ind-Hill.30 Di Bagir Manan. hukum kebiasaan. Dari kata dasar “atur“. Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia. 59. Undang-undang adalah hukum. Disertasi. Oleh karena itu. Faktor dominan dari kondisi struktural yang mempengaruhi kebijakan tergantung pula dengan jenis kebijakannya. Aspek Teoritis Peraturan Perundang-undangan 1. Istilah peraturan perundang-undangan dalam praktik dan wacana akademik kadang digunakan dengan memaknainya tidak secara tepat. atau sama dengan hokum. Untuk kebijakan tertentu mungkin kondisi struktural yang paling dominan. Hirarki Aturan Hukum di Indonesia. hlm. 29 Febrian.

Jika merujuk pada jenisnya terdapat: Undang-undang federal. Peraturan Pemerintah. lain halnya dengan apa yang diatur dalam Konstitusi RIS 1949. 97. 5. istilah “perundang-undangan” ditemukan pada Bagian II judul Perundang-undangan. yaitu: “Undang. Pasal 20. 41 ayat (2). jenis peraturan perundang-undangan yang ada meliputi: Undang-Undang Dasar. 34 Pasal 13 ayat (2). 27 ayat (1). “Aturan-aturan Undang-undang”. yang ada hanyalah jenis atau bentuk dari ”Peraturan Perundangan-undangan”. dan Peraturan Pemerintah. Yang membedakan dengan Konstitusi RIS 1949 ialah jenis atau bentuk dari peraturan-peraturan tersebut. Dalam Undang-Undang Dasar 1945 tidak ditemukan istilah “Peraturan Perundang-undangan”. 30 ayat (3). 5 ayat (1). 90. 32 31 20 .undang”. Undang-undang. Peraturan Pemerintah. Pada masa berlakunya UUDS 1950. UUD 1945 (sebelum amandemen). Undang-Undang. Undang-Undang Darurat. sesuai dengan ketentuan-ketentuan bagian ini. 21. 17 ayat (2). 96 ayat (1). 5 ayat (2). “Perundang-undangan federal”. Undang-undang daerahdaerah bagian. Aturan-aturan Undang-undang”. Dalam Undang-Undang Dasar Sementara Republik Indonesia 1950. 141. 51 ayat (4). Peraturan Presiden yaitu peraturan untuk melaksanakan Penetapan Pasal 3. dengan menyebutkan kekuasaan perundang-undangan federal. “Peraturan Undang-undang”. 98 UUDS 1950. “Peraturan Pemerintah”34. 91.31 Pada Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949. “Undang-undang darurat”. Undang-undang Darurat. 22 ayat (1). digunakan secara bersamaan atau secara bergantian. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. 84. 139. Istilah-istilah lainnya tidak jauh berbeda dengan yang diatur dalam Konstitusi RIS 1949. Undang-undang. kedua istilah peraturan perundang-undangan dan aturan hukum. Penetapan Presiden yaitu: peraturan untuk melaksanakan Dekrit Presiden. 32 ayat (2).dalam uraian selanjutnya. 26. 51 ayat (3). ”Peraturan-peraturan Undang-undang”. “Aturan-aturan hukum (yang tak tertulis)”. dan Keputusan Presiden32. 31. istilah “perundangundangan” dapat ditemukan pada Pasal 127 Bagian II judul Perundang-undangan. Selain itu terdapat juga istilah “Peraturan-peraturan Undang-undang”. 119 Konstitusi RIS 1949 33 Pasal 89 UUDS 1950: kecuali apa yang ditentukan dalam pasal 140 maka kekuasaan perundang-undangan. yaitu: Ketetapan MPR. kekuasaan perundangundangan dalam UUDS 1950 dilakukan pemerintah bersama-sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat33. 31. “Keputusan Presiden”. dilakukan oleh Pemerintah bersama-sama Dewan Perwakilan Rakyat. seperti: “Aturan-aturan hukum”.

2775/HK/1959 tanggal 22 September 1959. 3639/HK/1959 tanggal 26 Nopember 1959. dan III. diawali dengan Ketetapan MPRS No. seperti. No.33 Pada masa berlakunya UUDS 1950. Ketetapan ini meliputi tiga bagian. Keputusan Menteri. Terdapat Peraturan Pemerintah yang ternyata sebagai peraturan pelaksanaan dari Peraturan Presiden. dan surat No. XX/MPRS/1966 berisikan bentuk-bentuk atau jenis-jenis peraturan perundang-undangan Republik Indonesia secara hirarki: 21 . Peninjauan kembali terhadap produk-produk hukum tersebut. Jenis-jenis peraturan Perundang-undangan selain yang telah disebutkan dalam UUDS keberadaanya didasarkan pada Surat Presiden No. Keputusan Presiden. Peraturan Daerah Tingkat I dan II. dalam hal ini terjadi berbagai kerancuan dan tumpang tindih mengenai materi muatan maupun tata urutan peraturan perundang-undangan. Memasuki tahun 1966 “kesemerawutan” jenis dan tata urutan peraturan perundang-undangan mulai dibenahi. XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia. relatif membuka ruang untuk menyelesaikan kesemerawutan tersebut. II. Penetapan Presiden dan Peraturan Presiden mengatur materi Undang-undang dan Peraturan Pemerintah. terjadi kesemerawutan dalam tata urutan peraturan perundang-perundangan. didasarkan atas alasan adanya jenis peraturan perundang-undangan yang tidak mempunyai dasar hukum dalam UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan yang isinya tidak sesuai atau bertentangan dengan isi UUD 1945. Munculnya Ketetapan MPRS No. Bagian II Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia dari Ketetapan MPRS No. Peraturan Menteri. Jadi.Presiden. Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia. Terjadi kerancuan menyangkut jenis dan substansi peraturan perundang-undangan. Tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia. yaitu: I. Bagan atau Skema Susunan Kekuasaan di dalam Negara Republik Indonesia. 2262/HK/1959 tanggal 20 Agustus 1959. Peraturan Perdana Menteri. XIX/MPRS/1966 tentang Peninjauan Kembali Produk-Produk Legislatif Negara di luar produk MPRS yang tidak sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.

karena menempatkan UUD 1945 dalam pengertian Peraturan Perundang-undangan yang tertinggi. Kemudian pada tahun 2004 lahir undang-undang yang khusus mengatur tentang Pembentukan Peraturan Perundangundangan. 4. b. Hukum dan Peraturan Kebijaksanaan (Beleidsregel) pada Pemerintahan Daerah. dan disisi lain UUD 1945 juga sebagai Hukum Dasar Negara35 . IX/MPR/1978 dan TAP MPR No. Berkenaan dengan pendapat Abdul Latief di atas. 3. XX/MPR/1966 sampai dengan UU No. hlm. Keputusan Pemerintah. diterangkan lebih lanjut bahwa sebagai perwujudan cita-cita Pancasila yang merupakan Sumber Segala Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia berturut-turut ialah: 1. 35 22 . IV/MPR/2000. 2005. Ketetapan MPR.1. Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Peraturan-peraturan pelaksanaan lainnya. 3. 6. Yogyakarta. V/MPR/1973 diulangi dengan TAP MPR No. merupakan tindakan pertama dari Tata Hukum Indonesia. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945. Undang-Undang Dasar 1945. seperti: a. Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. yaitu Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004. dan 4. 10 Tahun 2004 mengandung kerancuan bahkan kesalahan yang perlu diperbaiki dan disempurnakan. di tetapkan dengan TAP MPR No. Peraturan Menteri. Abdul Latief. jenis-jenis peraturan perundang-undangan yang ditetapkan mulai dari TAP MPR No. 5. 2. Menurut Abdul Latief. Peraturan Pemerintah. jika kita cermati Memorandum DPR-GR tertanggal 9 Juni 1966 Bagian I. 2. Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. pengertian Peraturan Perundang-undangan adalah peraturan tertulis yang dibentuk oleh lembaga negara atau pejabat yang berwenang dan mengikat secara umum. Selanjutnya tata urutan dan jenis-jenis Peraturan Perundang-undangan. Instruksi Menteri. 45. UII Press. Surat Perintah 11 Maret 1966. Berdasarkan Pasal 1 angka 2 undang-undang tersebut.

Struktur yang demikian sangat tidak beralasan. Oleh karena itu. 1983. yaitu tata hukum Indonesia dengan Proklamasi sebagai “tindakan pertama” atau “ketentuan pertama” atau “norma pertama” atau dapat juga disebut sebagai “ketentuan pangkalnya”. Konsekuensinya ialah menjebol tertib Joeniarto. hlm. yang berisikan aturan-aturan pokok atau dasar-dasar mengenai ketatanegaraan dari suatu negara. Sejak Proklamasi. karena justru penempatan UUD 1945 pada urutan tertinggi pada Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan sudah tepat. Selayang Pandang Tentang Sumber-Sumber Hukum Tata Negara Di Indonesia. dalam hal ini penulis sepakat dengan pendapat Joeniarto.36 Penempatan UUD 1945 dalam pengertian Peraturan Perundang-undangan yang tertinggi dan UUD 1945 sebagai Hukum Dasar Negara. Proklamasi berfungsi sebagai keputusan bangsa Indonesia secara menyeluruh untuk tidak lagi mengakui adanya ikatan dengan tata hukum yang sebelumnya.Berdasarkan urutan tersebut di atas. yaitu tata hukum kolonialisme. sebagaimana pendapat Abdul Latief di atas. UUD 1945 haruslah dipahami sebagai hukum dasar yang tertulis dan merupakan sebagian dari hukum dasar. Liberty. UUD 1945 bukan merupakan pangkal atau ketentuan pertama yang melegitimasi berdirinya Republik Indonesia. 19-20. mengandung kerancuan bahkan kesalahan. Hal ini di dasarkan pada Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 yang merupakan titik kulminasi dari amanat penderitaan rakyat. oleh karena itu UUD 1945 dilihat dari bentuk dan proses pembentukannya merupakan Peraturan Perundang-undangan. 36 23 . Dilihat dari proses sejarah. untuk merealisasikan tujuan perjuangannya dengan membentuk negara nasional yang bebas merdeka dan berdaulat. Yogyakarta. Tata Hukum Indonesia merupakan dasar penyelenggaraan Tertib Hukum Indonesia. maka itu bukan ketentuan pertama atau ketentuan pangkal. Selama sesuatu ketentuan secara konstitusionil masih dapat dicari dasar hukumnya kepada sesuatu aturan atau ketentuan yang telah ada sebelumnya. berdirilah tata hukum baru. Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 merupakan perwujudan pertama untuk merealisasikan citacita Pancasila sebagai Sumber Segala Sumber Tertib Hukum Indonesia. dasar wewenangnya kepada aturan-aturan lainnya secara konstitusionil. Proklamasi tidak dapat dicari dasar hukumnya. Artinya UUD 1945 dibentuk dengan sengaja oleh lembaga yang berwenang.

seakan-akan kedudukan Peraturan MPR. Akan tetapi bila dicermati secara seksama ketentuan Pasal 7 ayat (4). Peraturan Pemerintah. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Kota. dan sekaligus juga menjadi Hukum Dasar Negara (yang tertulis). merujuk ke Penjelasan Pasal 7 ayat (4) UU No. kepala badan. terlihat bahwa pengaturan yang dibuat oleh organ negara tersebut tidak lebih rendah dari Peraturan Daerah. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang. telah ditetapkan lewat Pasal 7 ayat (1) UU No. Dengan demikian. Mahkamah Agung dan organ negara lainnya secara hierarkis berada dibawah Peraturan Daerah. b. Mahkamah Agung. yautu: a. atau komisi yang setingkat yang dibentak oleh undang-undang atau pemerintah atas perintah undang-undang. sudah tepat jika UUD 1945 ditempatkan pada posisi Peraturan Perundang-undangan yang tertinggi di dalam Tata Hukum Indonesia. Mahkamah Konstitusi. c. Kepala Desa atau yang setingkat”. Bupati/Walikota. Sekilas ketentuan dari penjelasan tersebut (Pasal 7 ayat (4)) dan dikaitkan dengan Pasal 7 (1). Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Menteri. Jenis dan Hirarki Peraturan Perundang-Undangan Menurut UU No.hukum kolonial dan membangun tertib hukum yang baru. Peraturan Presiden. 10 Tahun 2004 Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan Republik Indonesia. Badan Pemeriksa Keuangan. peraturan yang dikeluarkan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Daerah. diakui keberadaannya dan mempunyai kekuatan hukum sepanjang diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang lebih tinggi. lembaga. d. Peraturan Daerah. Gubernur. Adapun jenis-jenis Peraturan Perundang-undangan selain yang ditentukan oleh Pasal 7 (1) dimaksud. antara lain. e. Bank Indonesia. Pada Pasal 7 ayat (4) disebutkan bahwa “Jenis Peraturan Perundang-undangan selain sebagaimana dimaksud ayat (1). Hal 24 . 10 Tahun 2004: “Jenis Peraturan Perundang-undangan selain dalam ketentuan ini. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi. 2.

Peraturan Bank Indonesia. Penelitian Hukum. jika diperintahkan oleh Undang-Undang. Hal ini sangat berbeda dengan yang pernah ditentukan di dalam Ketetapan MPRS No. misalnya dapat dikatakan setingkat dengan Peraturan Pemerintah karena sama-sama diperintahkan oleh Undang-Undang (regulation). “tiada peristiwa dapat dipidana. 2005. Jika suatu peraturan perundang-undangan akan diberlakukan surut. Asas-Asas Peraturan Perundang-Undangan a. yang menentukan kedudukan peraturan perundangundangan dalam hierarki peraturan perundang undangan Republik Indonesia.38 3. Peraturan Bank Indonesia berada dibawah Peraturan Pemerintah (delegated regulation). Jakarta. 38 37 25 . bukan lembaga yang menerbitkan peraturan perundangan itu yang menentukan kedudukannya. Alumni. Bandung. mensyaratkan peraturan perundang-undangan hanya berlaku bagi peristiwa atau perbuatan yang dilakukan sejak peraturan perundang-undangan tersebut dinyatakan berlaku atau berlaku atas peristiwa sebelum peraturan perundang-undangan itu diberlakukan. Opcit. Sebagaimana dalam ketentuan Pasal 1 ayat (1) KUH Pidana yang menyatakan. maka harus diambil ketentuan yang paling menguntungkan pihak yang terkena. Ibid.39 b. 48. 16. Prenada Media.37 Dengan demikian. hlm. Perundang-Undangan & Yurisprudensi. III tahun 2000. hlm. XX/MPRS/1966 dan Ketetapan MPR-RI No. melainkan peraturan perundang-undangan yang mana yang memerintahkan. 39 Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto. Undang-Undang tidak berlaku surut Asas yang menyatakan bahwa ”undang-undang tidak berlaku surut“.itu bergantung kepada diperintahkan oleh Peraturan Perundang-undangan yang mana. sebaliknya. Lex superior derogat legi inferiori Asas ini berlaku apabila terjadi pertentangan antara peraturan perundangundangan yang secara hierarkis berbeda (yang lebih rendah dengan yang lebih Peter Mahmud Marzuki. 98. dalam: Rosjidi Ranggawidjaja. apabila diperintahkan oleh Peraturan Pemerintah. hlm. kecuali atas dasar kekuatan suatu aturan perundangundangan pidana yang mendahulukan“ (Geen feit is strafbaar dan uit kracht van eene daaraan voorafgegane wettelijke strafbepaling). 1979.

1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas dengan UU No. 14 Tahun 1970 dengan UU No. Sebagaimana yang terjadi pada asas lex specialis derogat legi generali. peraturan perundang-undangan yang baru lebih mencerminkan kebutuhan dan situasi yang sedang berlangsung. Dalam hal demikian. Perbedaannya hanya pada ruang lingkup materi muatannya yang tidak sama. 10 Tahun 2004. harus di identifikasi ruang lingkup materi muatan kedua peraturan perundang-undangan.cit. misalnya Undang-undang dengan Undang-undang. peraturan perundang-undangan yang baru tidak memuat ketentuan yang dibutuhkan untuk situasi yang sedang dihadapi. sepanjang tidak diatur lain dalam perundang-undangan di bidang pasar modal“. 1 Tahun 199540. sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. sebagaimana dirumuskan pada Pasal 127 UU No. misalnya UU No. Asas ini dapat dipahami bahwa. Misalnya antara UU No. tidak semua peraturan perundang-undangan menyebutkan posisinya sebagaimana ketentuan-ketentuan transitor tersebut. penggunaan asas ini mensyaratkan bahwa yang diperhadapkan adalah dua Peraturan Perundangundangan dalam hierarki yang sama. Op. yaitu yang satu merupakan pengaturan secara khusus dari yang lain. Akan tetapi. Dalam penerapan asas ini perlu dirujuk Pasal 7 ayat (1) jo ayat (4) UU No. Asas ini berkaitan dengan dua Peraturan Perundang-undangan yang mengatur masalah yang sama. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. hlm. asas lex specialis derogat legi generali ini mengatur tentang dua peraturan perundang-undangan yang secara hierarkis mempunyai kedudukan yang sama. c. Lex posterior derogat legi priori Peraturan Perundang-undangan yang lahir kemudian menyisihkan Peraturan Perundang-undangan yang lahir sebelumnya. 26 . 99. dan ketentuan itu justru termuat 40 Peter Mahmud Marzuki. “Bagi perseroan yang melakukan kegiatan tertentu dibidang pasar modal berlaku ketentuan Undang-undang ini. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasan Kehakiman.tinggi). maka dengan demikian peraturan perundang-undangan yang hierarkinya lebih rendah harus disisihkan. Jika sebaliknya. Lex specialis derogat legi generali Berbeda dengan asas lex superiori derogat legi inferiori. d.

4. ia menjadi dasar filsafat dalam pembentukan perundangundangannya. Dalam hal ini perlu dipelajari landasan filosofis dari setiap Peraturan Perundang-undangan yang diacunya. a. maka harus dilihat dahulu apakah ketentuan yang termuat di dalam peraturan perundang-undangan yang lama tersebut tidak bertentangan dengan landasan filosofis peraturan perundangundangan yang baru. keadilan. Undang-undang harus mencerminkan gagasan yang ada di belakangnya. Oleh karena itu kaidah hukum yang dibentuk harus mencerminkan filsafat hidup bangsa itu atau sekurang-kurangnya tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral bangsa. maka undang-undang itu memang diundangkan dan sah. maka harus dinyatakan bahwa ketentuan itu tetap berlaku melalui aturan peralihan peraturan perundang-undangan yang baru. walaupun secara hukum sebenarnya ia tidak pernah ada. dan landasan yuridis. 27 . yang di dalamnya terdiri dari nilai-nilai kebenaran. di Negara Republik Indonesia ialah Pancasila. Undang-undang bukan sekedar produk tawar menawar politik dan jika undang-undang yang dihasilkan cuma merupakan legitimasi dari tawar menawar politik dan tidak memuat nilai-nilai keadilan. Landasan Filosofis (Filosofische grondslag) Filsafat atau pandangan hidup suatu bangsa berisi nilai-nilai moral dan etika dari suatu bangsa tersebut. landasan sosiologis. Landasan filosofis adalah dasar filsafat atau pandangan atau idee yang menjadi dasar cita-cita sewaktu menuangkan hasrat dan kebijaksanaan (pemerintahan) ke dalam suatu rencana atau draft peraturan negara. Filsafat hidup suatu bangsa harus menjadi landasan di dalam pembentukan hukum dalam kehidupan bernegaranya. kesusilaan dan nilai-nilai lainnya yang dianggap baik oleh suatu bangsa. Misalnya.dalam peraturan perundang-undangan yang telah digantikan. Jika tidak. sebagaimana dalam bahasa latin disebutkan: “Est autem just a justitia. Landasan Peraturan Perundang-Undangan Secara umum suatu peraturan perundang-undangan yang baik sekurangkurangnya harus memiliki landasan filosofis. yaitu keadilan.

Produk perundang-undangan tidak sekedar merekam keadaan seketika (moment opname). dalam: H. Jenis dan Teknik Membuatnya. Landasan Sosiologis (Sociologische grondslag) Suatu peraturan perundang-undangan dikatakan mempunyai landasan sosiologis. hlm 15. Op. Op. landasan hukum juga merupakan dasar keberadaan dari suatu jenis Peraturan Perundang-undangan. Landasan yuridis meliputi segi formil dan segi materil.41 b. c. yakni landasan yuridis yang memberikan wewenang (bevoegdheid) kepada badan tertentu untuk membentuk peraturan tertentu. Ibid. Rosdjidi Ranggawidjaya. Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia. hlm 44.sicut a matre sua.CO. 43 Bagir Manan. 1992. Tanpa dasar hukum tersebut pembentukan dan keberadaan suatu peraturan perundang-undangan menjadi tidak sah secara hukum. peraturan perundang-undangan yang dibuat harus sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat atau hukum yang hidup (living law) dimana peraturan itu diterapkan. Jakarta. 44 Ibid. IND-HILL. compententie) pembuatan Peraturan Perundangundangan. untuk itulah kecendrungan dan harapan masyarakat harus dapat diprediksi dan diakomodir dalam peraturan perundangundangan yang berorientasi masa depan. Penerbit Bina Aksara. Rosjidi Ranggawidjaja.44 Landasan hukum kewenangan membentuk dan keberadaan suatu Peraturan Perundang-undangan sangat diperlukan. Landasan Yuridis (Juridische grondslag) Landasan yuridis adalah landasan hukum (yuridische gelding) yang menjadi dasar kewenangan (bevoegdheid. 42 41 28 . Perundang-undangan: Dasar. dalam: H. Amiroeddin Syarif. Misalnya Pasal 20 ayat (1) UUD Peter Mahmud Marzuki.43 Karena masyarakat berubah. 104.cit. apabila ketentuan-ketentuannya sesuai dengan keyakinan umum atau kesadaran hukum masyarakat.cit. ergo prius fruit justitia quam jus“ (tetapi hukum timbul dari keadilan sebagai ibunya sehingga telah ada keadilan sebelum adanya hukum). hlm. Selain menentukan dasar kewenangan pembentukannya. Oleh karena itu. akan menjadi nilai kehidupan selanjutnya. Landasan yuridis formil. tidak berarti bahwa apa yang ada pada suatu saat pada suatu masyarakat. 92. tidak menjadi huruf-huruf mati belaka42. nilai-nilai pun terus berubah. Namun. hlm. Hal ini penting agar perundang-undangan yang dibuat di taati oleh masyarakat.

hlm. Pada tahun 2001. landasan politis dalam pembentukan peraturan perundang-undangan adalah garis kebijaksanaan politik yang menjadi dasar selanjutnya bagi kebijaksanaan-kebijaksanaan dan pengarahan ketatalaksanaan pemerintahan negara. Tap MPR tersebut menjadi landasan politis pembentukan UU No. 29 . Namun ketentuan ini tidak melahirkan peraturan perundang-undangan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 1 ketentuan tersebut. dan makin nyata sejak adanya UU No. IV Tahun 1973 (GBHN) menjadi landasan politis pembuatan UU No. 5 Tahun 1974 yang mengatur pokok-pokok pemerintahan di daerah. Pembagian dan Pemanfaatan Sumber Daya Nasional yang Berkeadilan. Hal ini seiring dengan perubahan UUD 1945 yang berimplikasi terhadap perubahan ketatanegaraan Republik Indonesia. 10 Tahun 2004.1945 (perubahan pertama) menjadi landasan yuridis bagi DPR untuk membentuk undang-undang. Pengaturan. dimana 45 M. Solly Lubis. Sedangkan landasan yuridis dari segi materil. d. Op. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah. Landasan Politis Menurut Solly Lubis.cit. 20. misalnya Pasal 25 UUD 1945 adalah landasan yuridis materil dalam menyusun materi muatan peraturan perundangundangan yang berkenaan dengan syarat-syarat menjadi hakim dan pemberhentiannya. serta Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. 45 Pada tahun 1999 garis politik otonomi kembali ditegaskan dalam TAP MPR Nomor XV/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Otonomi Daerah. Selanjutnya ia mencontohkan garis politik otonomi yang tercantum dalam TAP MPR No. terdapat TAP MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. Misalnya Pasal untuk segi isi (materi) yakni dasar hukum untuk mengatur hal-hal tertentu. yaitu landasan yuridis yang merujuk kepada materi muatan tertentu yang harus dimuat dalam suatu peraturan perundang-undangan. Pada Pasal 1 ketentuan ini ditegaskan bahwa: “Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumberdaya Alam merupakan landasan peraturan perundang-undangan mengenai pembaruan agraria dan pengelolaan sumber daya alam”.

aturan hukum). Berdasarkan uraian di atas. maka konflik aturan hukum (sinkronisasi dan konsistensi aturan hokum. tidak terlepas dari konflik yang terjadi pada tataran hukum yang lebih tinggi (konflik antar nilai. oleh rakyat. Oleh karena itu. Terlebih bila pemerintahan demokratis tidak dilaksanakan berdasarkan makna hakikinya sebagai pemerintahan dari rakyat. 30 . 5. Sinkronisasi dan Konsistensi (Konflik) Aturan Hukum Sektoral Jika hukum dimaknakan sebagai tata hukum (sistem peraturan perundangundangan. Nilai dan asas yang dimaksud berkedudukan sebagai norma hukum yang lebih tinggi dan menjadi dasar pembentukan aturan hukum yang lebih rendah. peraturan perundang-undangan) merupakan lanjutan/turunan konflik nilai-nilai dan asas-asas yang terkandung pada sumber hukum tertinggi. dan antar asas).pada ketentuan Pasal 7 ayat (1) mengenai jenis dan hierarki Peraturan Perundangundangan tidak lagi memasukkan TAP MPR. yaitu UUD 1945 yang telah mengalami perubahan sebanyak 4 (empat) kali. maka konflik aturan hukum juga dapat diakibatkan oleh karena aturan hukum yang lebih rendah dibuat atau dirumuskan tidak selaras dengan aturan hukum yang lebih tinggi yang seharusnya menjadi dasar perumusan aturan hukum tersebut. analisis terhadap konflik aturan hukum (peraturan perundang-undangan) hanya dapat dilakukan apabila. konflik pada level nilai dan asas yang terkandung dalam hukum dasar tertulis (konstitusi tertulis). namun dimaknakan sebagai pemerintah yang didasarkan pada suara terbanyak (pemegang kekuasaan politik terbesar). Oleh karena pembentukan aturan hukum pada kenyataannya dipengaruhi oleh berbagai kekuatan dan kepentingan pada lembaga pembentuk aturan hukum (legislatif dan eksekutif). dan untuk rakyat. maka konflik norma hukum antar aturan hukum yang lebih rendah atau antara aturan hukum yang lebih rendah terhadap aturan hukum yang lebih tinggi. dikaji terlebih dahulu dan dijadikan patokan dalam pengkajian sinkronisasi dan konsistensi aturan hukum (peraturan perundang-undangan) yang lebih rendah.

Orientasi politik hukum penguasa bersifat progresif. dengan tetap berpegang pada tujuan nasional. namun secara subtansi yang tercermin dari berbagai rumusan pasal dalam peraturan perundang-undangan belum tentu demikian. Kedua. Secara formal selalu diupayakan untuk menyerasikan kedua orientasi tersebut. seyogyanya pemerintah sangat memperhatikan kondisi senyatanya masyarakat Indonesia yang sangat Maria R Ruwiastuti. Yogyakarta.yang bersifat pluralis . konservatif. namun lebih memihak pada dunia perdagangan yang bersifat global/perdagangan bebas. Akibatnya. kesadaran atau keyakinan anggota-anggota masyarakat terhadap hukum dalam makna nilai-nilai keadilan. Membongkar Alas Penguasaan Negara Atas Hak-Hak Adat. politik hukum yang ditetapkan oleh penguasa negara. banyak peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan pemerintah dinilai tidak memihak kepentingan rakyat. Kenyataan yang terjadi hingga saat ini mengindikasikan. 2000. secara substansial pertarungan orientasi politik hukum antara pemerintah dan masyarakat tercermin dari adanya konflik di antara norma tertulis (peraturan perundang-undangan). Orientasi politik penguasa seringkali tidak berjalan paralel dengan kesadaran hukum (orientasi hukum) masyarakat yang cenderung tradisional. antisipatif terhadap perkembangan kedepan dan berwawasan nasional. yaitu masyarakat adil dan makmur. 109-110. 46 31 . sedangkan masyarakat sebagian besar belum siap dengan visi tersebut. Sesat Pikir Politik Hukum Agraria. Pada akhirnya akan menimbulkan ekses dalam penerapan peraturan perundang-undangan. bahwa pemerintah mempunyai orientasi sendiri. Quo Vadis Idelogi Populis Agraria Berlakunya aturan hukum suatu negara paling tidak ditentukan oleh dua faktor: Pertama. dan para investor.dan mengharmonisasikannya dengan kebutuhan pemerintah dan dunia internasional. hlm. yaitu dalam bentuk sengketa pertanahan. Padahal. Di bidang pertanahan. dan yang terlalu maju (bervisi global).BAB III ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR PERTANAHAN A. berorientasi historis dengan lingkup wilayah budaya terbatas (budaya lokal)46. Pustaka Pelajar. Idealnya pemerintah mampu mengakomodir orientasi politik hukum/kesadaran hukum masyarakat .

bervariasi tingkat perkembangannya, mulai dari yang sangat maju sampai yang masih sangat sederhana, bahkan masih ada yang hidup di “alam bebas”. Pertarungan orientasi yang menjadi dasar politik pertanahan antara pemerintah dengan masyarakat (rakyat) tersebut di atas, bermuara pada makin meningkatnya sengketa pertanahan di Indonesia yang melibatkan rakyat, pemerintah dan swasta. Sejarah membuktikan bahwa, pemerintah mempunyai orientasi politik tersendiri yang terkesan dipaksakan keberlakuannya pada masyarakat sebagaimana tercatat dalam sejarah pertanahan di Indonesia pada masa penjajahan, baik oleh Inggris maupun Belanda.47 Berangkat dari kenyataan pada zaman kolonial, dan perbedaan antar wilayah, tingkat kepadatan penduduk, budaya agraris, sistem produksi, penguasaan teknologi, dan konsep hak atas tanah, maka setelah kemerdekaan pemerintah mencoba untuk merumuskan orientasi baru sebagai dasar politik hukum agraria/pertanahan Indonesia. Landasan politik hukum agraria Indonesia tersebut secara tegas dituangkan pada rumusan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, bahwa “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Dari ketentuan tersebut di atas, timbul pertanyaan yaitu bagaimana kekuasaan Negara itu dilaksanakan, sedangkan konstitusi tidak menjelaskan secara spesifik?. Konsekwensi vulgar yang dapat ditarik adalah penguasa Negara/pemerintah mendapat kesempatan luas untuk merumuskan Peraturan Perundang-undangan yang rinci mengenai pelaksanaan kekuasaan tersebut. Dengan kata lain, penguasa negara berwenang menetapkannya melalui politik hukum dalam sejumlah undang-undang maupun peraturan pelaksana undang-undang
48

. Yang terpenting dalam hal

ditetapkannya suatu peraturan ialah implikasi-implikasi atau ekses negatif yang muncul dari penerapan tersebut. Pertanyaannya ialah siapa yang paling diuntungkan dengan ditetapkannya suatu peraturan?. Pertanyaan ini menjadi penting mengingat proses pembentukan peraturan sangat tergantung dengan orientasi pemerintah,

Banyak hal yang dapat diidentifikasi sebagai permasalahan politik pertanahan sejak zaman Hindia Belanda, misalnya penerapan sistem Landrente, Cultuurstelsel atau tanam paksa dan asas Domeinverklaring. Pada intinya politik pertanahan tersebut tidak ditujukan untuk kemakmuran rakyat (Indonesia), melainkan untuk pemerintah Belanda dan kaum modal asing lainnya. 48 Maria R Ruwiastuti. Op.cit, hlm. 111.

47

32

tingkat partisipasi politik masyarakat, pertarungan kepentingan, dan konfigurasi politik nasional maupun global. Perkembangan politik hukum agraria di Indonesia, ditandai dengan disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar PokokPokok Agraria pada tanggal 24 September 1960. Peraturan ini lebih dikenal dengan sebutan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA), yang diundangkan dalam Lembaran Negara Tahun 1960 Nomor 104 dan Tambahan Lembaran Negara Nomor 2043. UUPA memuat perubahan-perubahan yang revolusioner, dalam arti perubahan yang terkandung di dalam materi muatannya bersifat mendasar dan fundamental terhadap stelsel hukum agraria warisan kolonial. Misalnya, penyatuan hukum agraria dengan jalan unifikasi, yang dilatarbelakangi oleh sifat dualisme hukum agraria yang berlaku sebelumnya sebagai warisan zaman kolonialisme. Namun, karena sebagian besar rakyat Indonesia masih dipengaruhi hukum adat, maka hukum agraria yang baru tersebut didasarkan pula pada ketentuan-ketentuan hukum adat dan bersandar pada hukum agama, yang disempurnakan dan disesuaikan dengan kepentingan masyarakat dalam negara yang modern dan hubungannya dengan dunia internasional, serta disesuaikan dengan Sosialisme Indonesia.49 Pilihan ideologi politik sosialisme daripada UUPA dapat ditemukan dalam Pasal 5 dan Pasal 14 ayat (1) UUPA, sebagai berikut: “Hukum agraria yang berlaku atas bumi, air dan ruang angkasa ialah hukum adat, sepanjang tidak bertentangan dengan kepentingan nasional dan Negara, yang berdasarkan atas persatuan bangsa, dengan sosialisme Indonesia serta dengan peraturan-peraturan yang tercantum dalam Undang-undang ini dan dengan peraturan perundangan lainnya, segala sesuatu dengan mengindahkan unsur-unsur yang bersandar pada hukum agama”. “Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 2 ayat (2) dan (3) , pasal 9 ayat (2) serta pasal 10 ayat (1) dan (2) Pemerintah dalam rangka sosialisme Indonesia, membuat suatu rencana umum mengenai persediaan, peruntukan dan penggunaan bumi, air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya:”. Kata-kata Sosialisme Indonesia juga ditemukan di dalam Penjelasan Umum UUPA. Penjelasan otentik Sosialisme Indonesia terdapat dalam Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960 tentang Garis-Garis Besar Pola Pembangunan Nasional Semesta Berentjana Tahapan Pertama 1961-1969, yang dirumuskan dengan:
49

Lihat Konsiderans UUPA, Berpendapat huruf a, (cetak miring dari pen).

33

Bahwa Pembangunan Nasional Semesta Berentjana adalah suatu pembangunan dalam masa peralihan, jang bersifat menjeluruh untuk menudju tertjapainja masjarakat – adil – dan – makmur – berdasarkan – Pantjasila atau Masjarakat Sosialis Indonesia dimana tidak terdapat penindasan atau penghisapan atas manusia oleh manusia, guna memenuhi Amanat Penderitaan Rakjat:50 Berdasarkan uraian di atas, jelas bahwa ideologi politik dari UUPA adalah Sosialisme Indonesia yang artinya disamakan dengan tatanan masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila. Sosialisme Indonesia tidak sama dengan sosialisme di negara-negara sosialis Barat, ia bersendikan pada keadilan, kerakyatan dan kesejahteraan. Ideologi politik sosialisme Indonesia selanjutnya direalisasikan menjadi konsepsi politik hukum politik hukum (politico-legal concept) berupa Hak Menguasai Negara (HMN).51 Di bidang agraria, dalam Hukum Agraria Nasional, Hak Menguasai Negara merupakan hak tertinggi yang dikenakan terhadap tanah melebihi hak apapun juga, seperti yang dirumuskan dalam Pasal 2 ayat (1) UUPA, sebagai berikut: Atas dasar ketentuan dalam Pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar dan halhal sebagai yang dimaksud dalam Pasal 1, bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara, sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. Disimak dari ruh atau semangatnya, maka UUPA mengusung semangat reformasi agraria dengan strategi (Neo) populis, sebagaimana dirumuskan dalam tujuan UUPA, yaitu: (a) Meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional, sebagai alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat, terutama rakyat tani, dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur; (b) Meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan, dan; (c) Meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hakhak atas tanah bagi rakyat seluruhnya.52

.Konsiderans Menimbang, angka 2, Ketetapan MPRS No. II/MPRS/1960. Pada perkembangannya kemudian Ketetapan ini dicabut lewat TAP MPRS No. XXXVIII/MPRS/1968. Lihat pada: “Ringkasan Ketetapan MPRS Republik Indonesia No. I dan II/MPRS/1960, M.P.R.S, dan Departemen Penerangan, Bandung, 1961, hlm. 51 51 Dianto Bachriadi & Noer Fauzi, “Sistem dan Konflik Tenurial, Lagi-Lagi Negara versus Rakyat”, Jurnal Suara JAGAT No. I/th. I/1998, Yayasan Pikul, hlm. 18. 52 Penjelasan Umum, angka I, UUPA

50

34

dengan batasan bahwa usaha-usaha pemerintah yang bersifat monopoli hanya dapat diselenggarakan dengan undang-undang.Watak (Neo) populis dari UUPA juga dapat dibaca pada Pasal 13 UUPA yang pada intinya menyatakan. kemakmuran rakyat. Dulu bernama kapitalisme internasional.53 Seiring dengan munculnya liberalisasi dalam bidang perdagangan yang ditandai dengan diberlakukannya secara global (globalisation)54 kebijakan perdagangan bebas lewat suatu perjanjian perdagangan internasional. maka milyaran dollar bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Jakarta.org/. Dengan demikian istilah “Globalisation” secara sederhana dapat dipahami sebagai suatu proses pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam suatu sistem ekonomi global.globaljust. adalah pasar yang meng-global atau kapitalisme global. bahwa pengaturan dalam lapangan agraria merupakan usaha pemerintah untuk meninggikan produksi. Selain itu. dan penerapan asas keadilan sosial yang berprikemanusiaan dalam bidang agraria. Tanah yang pada mulanya merupakan faktor yang sangat penting bagi kehidupan rakyat Indonesia. diupah oleh penguasa/pemilik tanah. padahal tanah tidak hanya mempunyai arti secara ekonomis (komoditas). sosial. politis dan religius. sarana produksi yang utama (tanah) dikuasai oleh individu-individu non-penggarap. hlm. sekarang cukup dalam hitungan per-detik. Lihat dalam: Bonnie. saat ini hanya ditempatkan sebagai komoditas semata. di tahun 1990-an meningkat tajam menjadi 1 trilyun dollar sehari! Kalau dulu transaksi memerlukan waktu berhari-hari. www.1997.org. tenaga kerjanya adalah tenaga kerja keluarga. Penggarap yang langsung mengerjakan tanah adalah pekerja upahan “bebas”. 54 Globalisation. Lembaga Penerbit FE-UI. transaksi keuangan dunia hanya sekitar 300 juta dollar sehari. et-al). Kalau dulu sekitar tahun 1980-an. Sengketa. dan Agenda Pembaruan Agraria di Indonesia”. pengambilan keputusan produksi sepenuhnya ditangan pemilik/penguasa tanah. “Reformasi Agraria. 68. Lihat dalam: Dianto Bachriadi. 2.igj@globaljust. Dalam strategi kapitalis. walaupun tanggung jawab atas akumulasi biasanya diatur oleh negara. karena secara kuantitatif telah membesar secara luar biasa. Perubahan Politik. untuk itu penguasaan tanah dan sarana produksi lainnya tersebar pada masyoritas keluarga tani. tetapi juga mempunyai makna kultural. strategi (Neo) populis menekankan pada satuan usaha keluarga. (editor. Dengan demikian produksi secara keseluruhan merupakan pekerjaan keluarga tani tersebut. Menurut Noer Fauzi. sekarang berubah menjadi kapitalisme global. WE ARE ALL DEAD”. “AT THE END OF GLOBALISATION. Globalisasi merupakan kelanjutan dari kolonialisme. Hubungan antara penguasaan/pemilikan tanah dan pekerjaan sifatnya terpisah. Tenaga kerja adalah barang dagangan (komoditi).S. berkat electronic mail. hlm. 53 35 . Tanggung jawab. pemerintah wajib mencegah adanya monopoli dari pihak swasta maupun usaha pemerintah atas penguasaan tanah. Hal inilah yang membedakannya dengan strategi kapitalis.

sebagian besar motifnya adalah spekulasi.B. karena tanah diperlakukan sebagai komoditi (barang dagangan).753 kasus konflik tanah di Indonesia. dan untuk perkebunan 74%. terutama alih fungsi lahan pertanian ke non-pertanian. namun perlu diatur dengan mempertimbangkan keadilan dalam hal akses rakyat tani terhadap tanah garapan. makalah Semiloka Reforma Agraria. namun Gunawan Wiradi. Jakarta. YLBHI. hlm.892. Hal itu pula yang menjadi salah satu penyebab mengapa akhirnya kita terpaksa mengimpor beras. sebagian besar diterlantarkan. sampai dengan Desember 2001.189.203 hektar dan jumlah korban akibat sengketa ini sebanyak 1. alih fungsi lahan tak mungkin dielakkan. Sumatera Selatan 157 kasus. Tanah Menjadi Komoditas dan Sarat Sengketa Di era Orde Baru perubahan fungsi tanah terjadi sangat cepat. Berdasarkan catatan Majalah Informasi No. Cakupan luas lahan sengketa tersebut sebesar 10. memunculkan berbagai sengketa pertanahan. Sumatera Utara 121 kasus. September 2004. 2. pada tahun 1998 tanah-tanah yang sudah dialokasikan untuk sektor-sektor tertentu. Jawa Timur 169 kasus.000 (dua puluh dua ribu) hektar per tahun tanah pertanian di Pulau Jawa beralih fungsi. Pada data base Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA). “Tantangan dan Agenda Kerja bagi Pemerintahan Baru 2004-2009”. jasa/pariwisata 86%. Lebih dari 60% total produksi pangan nasional Indonesia (khususnya beras) dihasilkan dari pulau Jawa. tercatat bahwa dalam kurun waktu tahun 1970 sampai tahun 2001 telah terjadi 1.482 keluarga.56 Ketertindasan rakyat karena tidak mampu bertarung secara finansial apabila berhadapan dengan swasta. industri 88%. Paling sedikit jumlah kasus sengketa pertanahan adalah Provinsi Papua hanya berjumlah 28 kasus. tanah-tanah yang sudah digusur (“dibebaskan”) ternyata tidak dimanfaatkan sesuai dengan “peruntukannya”. Memang pada dasarnya. setelah itu Provinsi DKI dengan jumlah 175 kasus yang meliputi luas tanah 60. intensitas tertinggi terjadi di Provinsi Jawa Barat dengan jumlah 484 kasus. hlm. 224 Tahun XVIII/1998. 55 36 . 2-3. disisi lain sampai tahun 1995 sekitar 22. Dilihat dari intensitas konflik. 56 Ibid. ataupun pemerintah.615 hektar. Artinya.55 Pada prakteknya. tanah hasil alih fungsi tersebut sebagian besar justru menjadi obyek spekulasi. Tanah terlantar untuk perumahan sebesar 85%.

036. dan 19% merupakan pengembangan areal perkebunan besar. Nomor 27.943 57.100 32.dengan luas lahan sengketa paling luas yaitu 4.224 1.202 Jumlah Korban 237.904 10. 5% berkenaan dengan konflik pemanfaatan hutan yang diklaim sebagai kawasan hutan negara oleh pemerintah yang kemudian menjadi kawasan hutan produksi maupun kawasan hutan lindung/konservasi.614 266.417 1.482 117. Edisi 20 Oktober 2002.494 51.2001 Provinsi Daerah JABAR JAKARTA JATIM SUMSEL SUMUT JATENG SULTENG LAMPUNG SULSEL ACEH NTT RIAU KALTIM SUMBAR PAPUA LAINNYA JUMLAH Jumlah Kasus 484 175 169 157 121 99 58 54 48 47 44 33 33 32 28 171 1.073. Sepanjang tahun 1980-an eskalasi sengketa pertanahan terus meningkat di daerah pedesaan maupun perkotaan.481 Pihak yang Terlibat Sengketa Pemerintah 197 96 77 27 39 57 21 23 25 11 28 8 13 14 15 68 719 Militer 12 5 9 1 8 1 1 3 3 1 2 0 1 1 2 9 59 Perusahaan Negara Swasta 60 225 9 31 18 26 23 4 4 4 9 4 2 5 4 0 16 219 66 59 116 57 25 34 25 17 26 22 23 16 15 12 95 833 Sumber: Data Base KPA.830 89. hlm.840 16. 57 Forum Keadilan.134 35.224 hektar. Karakteristik Sengketa Tanah di Indonesia Tahun 1970 .548 72. sebanyak 27.589 320.571 134.6% merupakan pengembangan kawasan industri dan pabrik.753 kasus yang terekam.027 472.555 362.994 61.892.056 22.323 509.428 71.059 2. kota baru dan fasilitas perkotaan. 54.296 305.885 1. Dari 1.955 120. 2001.597 4.57 Untuk lebih jelas tentang konfigurasi konflik pertanahan di Indonesia dapat dilihat pada table 2.684 29.012.012.194 187. Tabel 2. Sebanyak 10. 37 .189.170 1.484 60. dan sebanyak 6.955 14.753 Luas Lahan Sengketa 184.615 390.716 54.676.1% akibat pengembangan sarana perumahan.

9 100 Sumber: Data Base KPA.1 1.4 2.7 2. hlm.6 13.4 4. “Tanah. 2001. sebagaimana terlihat Tabel 4.1 0.9 13.6 4.2 8.Tabel 3. Untoro Hariadi & Masruchah (Editor). berupa dominasi sektor industri atas sektor pertanian dan perkebunan58.2 3. Jenis Sengketa yang Objeknya Tanah No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Jenis Sengketa Perkebunan Sarana Umum/Fasiltas Perkotaan Perumahan/Kota Baru Kehutan Produksi Kawasan Industri/Pabrik Bendungan/Pengairan Turisme/Hotel/Resort Pertambangan Sarana Militer Kehutanan Konservasi/Lindung Pertambakan Sarana Pemerintahan Perairan Transmigrasi Lain-lain Jumlah Jumlah 344 243 232 141 115 77 73 59 47 44 36 33 20 11 278 1. Masalah besar yang dihadapi bangsa Indonesia. 1995.6 15. Rakyat Dan Demokrasi”. 66. Kondisi demikian akhirnya menimbulkan polarisasi struktur penguasaan tanah yang timpang. Konflik yang terjadi bukanlah konflik kelas di pedesaan.5 2. Dominasi tersebut dilegitimasi oleh kebijakan-kebijakan pertanahan yang secara substansi menguntungkan orang yang melakukan kegiatan usaha di luar pertanian. 58 38 . adalah sengketa tanah skala besar dengan karakter yang rumit. Yogyakarta.9 1. tetapi konflik antara sektor pertanian dan sektor industri sebagai akibat dari transformasi agraria.753 Dalam % 19. Forum LSM – LPSM DIY.0 6.

353.500 1.000 563.026.000 329. Bayangkan tanah seluas 27.189.000 Sumber: Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI).805.800 3.500 2.800 2.4 juta hektare hanya dikuasai oleh 25 kelompok perusahaan dan dua perusahaan perorangan.000 427.142.Tabel 4.000 796. Bakrie Soenaryo Akie Setiawan Much.493.A. Badan Pengurus Konsorsium Pembaruan Agraria (BP-KPA) mempunyai data yang berbeda.300 672.000 114.500 649.455 597.000 519. Tabel 4 menggambarkan struktur penguasaan tanah dan sumber daya alam oleh segelintir orang dengan cakupan lahan yang sangat luas.000 476.000 659.108.000 1.000 100.536.000 544. Perusahaan Besar Pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 Nama Perusahaan Barito Pacifik Timber Kayu Lapis Indonesia Djayanti Alas Kusuma Korindo Kalimanis Budhi Nusa Satya Djaja Surya Dumai Kalamur Panca Eka Bina Pywood Sumalindo Daya Sakti Raja Garuda Mas Hutrindo Wanabangun Bumi Raya Utama Sumber Mas Benua Indah Dayak Besar Kayu Mas Tanjung Raya Bumi Indah Raya Hutrindo Prajen Bhara Induk Siak Raya Rante Mario Wahana Sari Bakti Pemilik Prajogo Pangestu Andi Sutanto Burhan Uray Suwandi In Yong Sun Bob Hasan Burhan Uray Asbert Lyman Martias Anthony Salim Supendi Winarto Oetomo Widya Rachman Sukanto Tanoto Alex Karampis Pintarso Adiyanto Yos Sutomo Budiono Yusuf Hamka Tekman H.000 345.000 438. Jamal Sumarta Hutomo Mandala P Sigit Harjojudanto Jumlah Anak Perusahaan 39 Perusahaan 17 Perusahaan 20 Perusahaan 15 Perusahaan 8 Perusahaan 6 Perusahaan 7 Perusahaan 7 Perusahaan 8 Perusahaan 8 Perusahaan 8 Perusahaan 6 Perusahaan 7 Perusahaan 8 Perusahaan 6 Perusahaan 6 Perusahaan 5 Perusahaan 5 Perusahaan 6 Perusahaan 6 Perusahaan 6 Perusahaan 4 Perusahaan 5 Perusahaan 5 Perusahaan 4 Perusahaan Perorangan Perorangan Luas Lahan (ha) 3.500 835.000 969.700 1.190.000 609.000 1.000 1. Menurut BP-KPA. 1998. sampai tahun 1999 terdapat 620 unit produksi 39 .

2 28.0 69.0 30.25 231.yang mempunyai Hak Penguasaan Hutan atau Hak Penguasaan Hutan Tanaman Industri (HPH/HPHTI) seluas 48 juta hektare.0 19.20 JUMLAH 3700. Palembang. tanah pertanian yang dikuasai RTP-lah yang paling menentukan tingkat pendapatan yang diperoleh dari kegiatan usaha tani. makin tinggi Dianto Bachriadi.13 7183.53 104.92 64. 8% dikuasai hanya oleh 12 konglomerat.5 hA RTP 2637.3 766.75 449.22 57. termasuk Perhutani (perusahaan negara) yang menguasai tanah di pulau Jawa seluas 2. 7 juta hektare atau 34.5 11564 1498. Pendapatan yang diperoleh RTP adalah keseluruhan penjumlahan dari total pendapatan angkatan kerja yang dimiliki dalam berbagai kegiatan produktif yang dilakukan terutama oleh anggota keluarga yang sudah dewasa.01 60.77 51.3 965.6 juta hektare dan di klaim sebagai Hutan Negara.0 580.32 8070.05 425.6 48.80 > 0.21 62. Konflik Agraria. Oleh karena itu.75 71.2 811.5 1240.5 1206 1360.42 70. 3.47 69.99 203.9 4765 11061.08 463.3 1323.0 301. 59 40 .4 1323 906.7 307.0 932.0 29.3 510.74 1483.4 1665 344. dan Mal Adminitrasi: Hasil Perkawinan Dominasi Negara dan Modal”.87 30. “Ketimpangan Penguasaan Tanah.0 42.23 147.6 28.0 4078.68 30. Kemampuan petani mencari nafkah sangat dipengaruhi oleh aspek penguasaan tanah.0 3382.5 3494.9 859. Tabel 5.0 240.9 41.79 565.58 1383.0 153.0 39.90 99. hlm. Juni 2004.0 25.0 991. Makin luas lahan pertanian yang dikuasai.5 Ha RTP % 1063.59 Jumlah ini sangat kontras jika dibandingkan dengan luas lahan yang dikuasai Rumah Tangga Petani (RTP).02 6983.7 10361.5 3178.25 59.51 80. Makalah pada pertemuan: Konsultasi dan Konsolidasi Organisasi Rakyat di Sumatera Selatan dalam Rangka Promosi Nasional untuk Penyelesaian Konflik Agraria.9 35.78 557. Distribusi Rumah Tangga Petani (RTP) Pengguna Lahan dan Luas Lahan yang Dikuasai (1983-1993) Golongan Luas Tanah yang Dikuasai Pulau Sumatera Tahun < 0. sebagaimana yang disajikan pada tabel 5.0 905.0 2085.0 1983 1990 1993 Jawa 1983 1990 1993 Bali & NTT 1983 1990 1993 Kalimantan 1983 1990 1993 Sulawesi 1983 1990 1993 Maluku & 1983 Irian Jaya 1990 1993 Sumber : BPS Tahun 2003.1 40.2 63.6 1101. persediaan.95 74. dan produktifitas tenaga kerjanya.02 72.9 652.7 37.98 36.0 % 71. Dari keseluruhan (10 konsesi) yang dikuasai sebanyak 16.0 69.2 0.10 191.26 58. pemanfaatan.6 3568.4 27.98 368.49 241.

6 15.3 25. hlm. Kanisius.9 38. Pustaka Sinar Harapan.89 Pedesaan Jumlah Persentase 17. dan munculnya berbagai sengketa 60 Ali S Husein. Jakarta. Berdasarkan kenyataan yang ada (tataran penerapan) diindikasikan.78 22.44 67.64 32. 61 41 .4 34.2 25.83 35.17 64.3 26. 55. Dengan melakukan kajian demikian. perlu dikaji kembali politik agraria sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 dan bagaimana implementasinya dalam UUPA dan Peraturan Perundang-undangan lainnya. melainkan karena menjadi bagian dari golongan masyarakat itu.6 12. Dalam beberapa hal.57 31.43 68.2 24. Tabel 6.3 8.36 67.3 12.6 13.9 34.4 29. Kekalahan Manusia Petani Dimensi Manusia dalam Pembangunan Pertanian.1 66. Soetomo. tetapi akibat dari struktur sosial yang menentukan kehidupan golongan mereka. hlm. Jelaslah bahwa problem utama kemiskinan petani bukan karena kemiskinan yang ada dengan sendirinya.4 37.5 47.3 33. Berdasarkan fakta-fakta yang diuraikan.22 77.9 32. 1997. BPS.11 Kota + Desa 27.69 34.total pendapatan yang akan diperolehnya.8 65. Ekonomi Politik Penguasaan Tanah.56 32. 1995. penguasaan tanah seorang petani itu biasanya sejajar dengan tingkat kecukupan keluarganya.56 8. 2003.6 17.9 38.41 72. Lihat dalam: G.9 31. bahwa salah satu faktor penyebab terjadinya penguasaan tanah yang timpang. paling rendah yaitu petani gurem dan buruh tani. 9.60 Hal ini didukung dengan kenyataan bahwa sejumlah besar kemiskinan (kemiskinan struktural)61 terdapat pada strata penguasaan tanah.7 37.1 25. akan diperoleh gambaran mengenai konflik penormaan pada berbagai peraturan perundang-undangan (sinkronisasi).31 65.7 9.44 17.5 49. Problem kemiskinan petani merupakan masalah moral dan keadilan juga. Penduduk Miskin di Pedesaan dan Perkotaan Tahun 1990 – 2003 (Juta Orang) Tahun 1990 1993 1996 1998 1999 2000 2001 2002 2003 Perkotaan Jumlah Persentase 9. Mereka menjadi miskin bukan karena kelemahan atau nasib malang individual yang buruk.59 27. Yogyakarta. Kemiskinan Struktural berarti kemiskinan yang melekat pada kelas-kelas sosial tertentu.3 Sumber : Indikator Kesejahteraan Rakyat.

Tugas utama mereka adalah melakukan studi tentang bagaimana kebijakan pemerintah Amerika dalam era ‘perang dingin’. Yogyakarta. Zed Books. ia merupakan bungkus baru dari kapitalisme. yang berkaitan dengan tata guna tanah. Di Indonesia.pertanahan adalah ketidaksinkronan pengaturan mengenai penguasaan tanah. 63 Demitrius Christodoulou. pola. dan diperparah oleh mekanisme globalisasi yang memungkinkan modal asing masuk ke sektor-sektor perkebunan dan pertanian tanpa batas. 201. sumber. yaitu: 1. The Unpromised Land. 1990. Lihat dalam: Mansour Fakih. 2. dan strategi ekonomi “Tricle Down Effect” lewat paket undang-undang politiknya. akar konflik agraria yang paling dasar adalah adanya sejumlah ketidakserasian. sedikitnya ada empat ketidakserasian atau ketimpangan. hlm. Demitrius Chirstodoulou (mantan pakar FAO). Developmentalism adalah paradigma yang bertujuan membendung pengaruh dan semangat anti kapitalisme di negara dunia ketiga. Menurut. Orde Baru dalam merumuskan dan melaksanakan peraturan kebijakan pertanahannya menerapkan paradigma “Pembangunanisme” (developmentalism). Ketidakserasian dalam hal “peruntukan” sumber-sumber agraria. 3. 62 42 . Pada akhir pertemuan mereka berhasil melahirkan the Foreign Assitance Act of 1966. 4. Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi. dan skala konflik yang sangat beragam. Developmentalism dilontarkan dalam era perang dingin untuk membendung sosialisme. dalam: Gunawan Wiradi. yang mencerminkan dominasi interpretasi ilmuwan liberal terhadap kongsep pembangunan. 61. Ketidakserasian antara persepsi dan konsepsi mengenai agraria.63 Dengan memahami karakteristik peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan. Ketidakserasian antara berbagai produk hukum. Op cit. dengan ciri-ciri melakukan penaklukan ideologi dan teoritis terhadap negara-negara dunia ketiga. London and New Jersey. berupa ribuan sengketa pertanahan dalam bentuk sifat. 2. sudah menjadi rahasia umum bahwa saat ini kita mendapat “waris” dari rejim Orde Baru. khususnya tanah. Insist Press & Pustaka Pelajar. Awal kemunculannya dapat dilacak dari pertemuan para ilmuawan sosial dalam suatu lokakarya tentang “The implementation of Title IX of the foreign Assistance Act of 1961. 2001. Agraria Reform and Conflict Worldwide.. Kajian demikian mendesak dan penting dilakukan karena. sebagai akibat kebijakan sektoral. hlm.62 bahwa pembangunan akan berjalan hampir secara otomatis melalui akumulasi modal lewat bantuan dan investasi dengan motor utamanya ada pada elite swasta. Ketimpangan dalam hal pemilikian dan penguasaan tanah. Untuk mengawal proses akumulasi modal ini Orde Baru menerapkan kebijakan stabilitas politik dan keamanan. dapat ditemukan konflik penormaan (taraf sinkronisasi) peraturan perundang-undangan penguasaan tanah terhadap politik agraria nasional. hlm.

Di dalam UUD 1945. 1995. Reformasi Agraria. sebagai berikut: Apabila kita pelajari pasal 33 UUD 1945. Dalam bagian kedua dan ketiga daripada pasal 33 UUD disebut dikuasai oleh negara. Het Recht in Indonesia. bahwa kekuasaan negara terdapat pada membuat peraturan guna kelancaran jalan ekonomi. hlm. juga mengungkapkan bahwa: Indonesia dimasa datang mau menjadi negeri yang makmur. Menurut Lemaire. yaitu tiap-tiap Warga Negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan”65 Sehubungan dengan itu juga Mohammad Hatta dalam “Dasar Pre-advis kepada Panitia Penyelidik Adat Istiadat dan Tata-usaha lama” di tahun 1943. yaitu Indonesia sebagai negeri agraria. nyata-nyata bahwa masalah yang diurusnya ialah politik perkonomian Republik Indonesia”. Sejalan dengan itu. yaitu sebagai ketentuan yang hanya dijumpai di Indonesia yang memberikan kewenangan yang begitu besar kepada Negara. dalam: Dianto Bachriadi. Oleh karena tanah faktor produksi yang terutama.al. usahawan atau “ondernemer”. 64 43 . Tebaran Pikiran Mengenai Hukum Agraria. Dikuasai oleh negara tidak berarti negara sendiri menjadi penguasa. Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 adalah suatu “deze bepalingen geven vorm aan eigen Indonesisch”64 atau ketentuan yang bersifat khas Indonesia. Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan erat dengan usaha menciptakan kesejahteraan sosial bagi masyarakat Indonesia. Lemaire. Negara mempunyai kewajiban pula supaya penetapan UUD 1945. et.G. 120. Alumni. pasal 27 ayat 2 terlaksana. hlm. supaya rakyatnya dapat serta pada kebudayaan dunia dan ikut serta mempertinggi peradaban. Lebih tepat dikatakan. 37. dalam: Abdurrahman. Mohammad Hatta memaknai Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945. Penghancuran Populisme dan Pembangunan Kapitalisme: Dinamika Politik Agraria Indonesia Pasca Kolonial.L. (ed).C. 1985. Bandung. Untuk mencapai kemakmuran rakyat di masa datang. 1997. 36 65 Ibid. Bandung. Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Politik Agraria dan Landasan Konstitusional Pengelolaan Tanah Politiknya agraria Indonesia dikonsepsikan dalam Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945: Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya di kuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. peraturan yang melarang pula “penghisapan” orang yang lemah oleh orang yang bermodal. ketentuan Pasal 33 tersebut di atasi ditempatkan dalam Bab XIV tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial.66 W. politik perekonomian mestilah disusun di atas dasar yang ternyata sekarang. NV Uitgeverij. 66 Noer Fauzi. hlm. maka hendaklah peraturan milik tanah memperkuat kedudukan tanah sebagai sumber kemakmuran bagi rakyat umumnya”.

yang disusun berdasarkan sendi-sendi pemerintahan jajahan. Barulah pada akhir tahun 1960 tepatnya tanggal 24 September 1960. atas dasar konsep pemberian kuasa/mandat. Jakarta. Maka dari itu dapat ditarik kesimpulan. Lembaga Penerbit FEUI. 13 Tahun 1946 tentang Penghapusan Desa Perdikan. 44 . Ketentuan ini berdasarkan anggapan bahwa pemerintah adalah pemegang mandat yang melaksanakan kehidupan bernegara di Indonesia. “Ruh” dari Pasal 33 ayat (3) tersebut didasarkan pada semangat menciptakan keadilan sosial. yaitu Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria atau yang lebih dikenal dengan Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Sengketa. UUPA memuat azas-azas dan ketentuan-ketentuan pokok Hukum Agraria Nasional yang sekaligus merupakan manifestasi cita-cita bangsa Indonesia untuk menghentikan hukum agraria kolonial. bahwa mandat yang diberikan kepada pemerintah itu melahirkan konsekuensi berupa kewajiban untuk mengatur segala hal yang berkaitan tanah. 1 Tahun 1958 tentang Penghapusan Tanah-Tanah Partikelir. dan sebagainya. dan Agenda Pembaruan Agraria di Indonesia. UU No. 67. Pada awal kemerdekaan.Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 menjadi landasan. antara lain: UU No. Intinya peraturan-peraturan tersebut dibuat dengan tujuan jangka pendek yaitu menghapuskan secara cepat lembaga-lembaga feodal dan lembaga-lembaga kolonial yang masih ada. 13 Tahun 1948 tentang Penghapusan Hak-Hak Konversi. pemerintah berhasil menetapkan suatu undang-undang Agraria Nasional. Karena. yang meletakkan penguasaan sumber daya alam untuk kepentingan publik pada negara. rumusan Pasal 33 ayat (3) tersebut kemudian diimplementasikan melalui beberapa Peraturan Perundang-Undangan agraria yang bersifat ”parsial”. hlm. UU No. 67 Pidato Pengantar Menteri Agraria Sadjarwo sewaktu mengajukan RUU Pokok Agraria di DPRGR tahun 1960. sehingga semua tanah yang berada diseluruh wilayah Indonesia dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. sekaligus merupakan arah dan tujuan kebijakan pengelolaan tanah di Indonesia.67 Perubahan Politik. perjuangan merombak struktur hukum agraria kolonial dan menyusun hukum agraria nasional tidak dapat dilepaskan dari perjuangan bangsa Indonesia yang ingin melepaskan diri dari cengkraman dan pengaruh sisa-sisa sistem feodalisme dan kolonialisme.

penggunaan. 2. sebagai organisasi kekuasaan dari bangsa Indonesia untuk pada tingkatan yang tertinggi: (a) mengatur dan menyelenggarakan peruntukan. persediaan dan pemeliharaannya. huruf b. air dan ruang angkasa. 1983.Kebulatan tekad tersebut dicantumkan dalam konsiderans menimbang UUPA. Adanya penambahan kata-kata “ruang angkasa” pada Pasal 2 (1) UUPA. penambahan tersebut hanya bersifat deklaratif. 70 Penjelasan Umum. yang menyatakan bahwa hukum agraria yang masih berlaku sekarang ini sebagian tersusun berdasarkan tujuan dan sendi-sendi dari pemerintahan jajahan dan sebagian dipengaruhi olehnya. sebagai organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat (bangsa) bertindak selaku Badan Penguasa. termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara. Selanjutnya mengenai hak menguasai negara yang merupakan politik hukum dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. (c) 68 69 Konsiderans Menimbang.68 Pasal 33 ayat (3) UUD 45 yang menjadi landasan konstitusional penguasaan tanah ini (Pasal 33 ayat 3) diadopsi UUPA dan dimuat pada Pasal 2 ayat (1): “Atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1. sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat”. hlm. dan bukan konstitutif. tidak perlu negara bertindak sebagai pemilik tanah dan lebih tepat jika negara.69 Penambahan yang bersifat deklaratif merupakan penegasan bahwa ruang angkasa adalah bagian yang integral dari bumi dan air tersebut dan jika dikaitkan dengan doktrin wawasan nusantara maka Pasal 2 ayat (1) dari UUPA memberikan kejelasan yang mendalam tentang doktrin wawasan nusantara itu70. akan tetapi pengertiannya adalah memberi wewenang kepada negara. Alumni. UUPA. air dan ruang angkasa itu. Aneka Hukum Agraria. (b) menentukan dan mengatur hakhak yang dapat dipunyai atas (bagian dari) bumi. Parlindungan (b). UUPA. UUPA juga memberikan penjelasan bahwa untuk mencapai apa yang ditentukan dalam Pasal 33 ayat 3 UUD 1945. bumi. Bandung. Sesuai dengan pangkal pendirian tersebut diatas perkataan “dikuasai” dalam pasal ini bukanlah berarti “dimiliki”.P. A. sehingga bertentangan dengan kepentingan rakyat dan negara di dalam menyelesaikan revolusi nasional sekarang ini serta pembangunan semesta. angka II (2). tidak berarti penambahan terhadap rumusan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. 45 .

P. Landasan ideal ini. hlm. air.73 A. budaya. 1998. Jakarta. nilai hukum. nilai lokasi 3. karena akan menjadi pusat dari segala hal. Juga untuk menentukan dan mengatur (menetapkan dan membuat peraturan-peraturan) hak-hak apa saja yang dapat dikembangkan dari Hak Menguasai dari Negara tersebut72. kemudian “menyelenggarakan” artinya melaksanakan (execution) atas penggunaan/peruntukan (use). nilai lingkungan 4. nilai produksi. nilai politik. air. memandang tanah sebagai karunia Tuhan mempunyai sifat magis-religius harus dipergunakan sesuai dengan fungsinya untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. bahkan politik serta pertahanan-keamanan dan aspek hukum. Tanah mempunyai makna yang sangat strategis karena di dalamnya terkandung tidak saja aspek fisik akan tetapi juga aspek sosial. dan 6. 72 A. 39. 37. Konsep “Negara menguasai bumi. 2. Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria. 73 Noer Fauzi & Dianto Bachriadi. KRHN & KPA. persediaan (reservation) dan pemeliharaannya (maintenance) dari bumi. 5. ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya” merupakan cita-cita ideal yang menempatkan negara sebagai sentral yang mengatur pemanfaatan kekayaan negeri untuk kemakmuran rakyat. paling tidak dalam hal ini persoalan keagrariaan.Mandar Maju. hlm. dalam: “Usulan Revisi UUPA 1960. 1991. Bandung. Secara teoritis sumber daya tanah memiliki 6 (enam) jenis nilai.menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi. ekonomi. nilai social. Sumber daya alam berupa tanah mempunyai nilai sempurna apabila formasi nilai tanah mencakup ke-enam jenis nilai tersebut di atas. Untuk mencapai cita-cita ini prasyaratnya adalah adanya sebuah negara yang kuat.P. yaitu: 1. 214. Parlindungan (a). 71 46 . Hak Menguasai dari Negara (HMN) Persoalan Sejarah yang Harus Diselesaikan. Parlindungan (a). air dan ruang angkasa71. Dengan demikian negara sebagai organisasi kekuasaan “mengatur” sehingga membuat peraturan. ”Menuju Penegakan Hak-Hak Rakyat atas Sumber-Sumber Agraria”. hlm.

2001. Yogyakarta. Penerbit Rineka Cipta. negara hanya menjadi pendiri. sebagai badan yang publiek rechtelijk. 34-5. Adam Muller. apabila memegang kekuasaan tentang pemakaiannya tanah saja. sehingga dalam konsepsi ini negara tidak lepas dari rakyat. hak emperium. a. Peran Serta Seksi Agraria Universitas Gadjah Mada. beranjak dari Prasaran Seksi Agraria Universitas Gadjah Mada pada Seminar Agraria dari Kementrian Agraria di Tretes bulan November tahun 1958. diberi kedudukan tidak sebagai perseorangan. Hak negara adalah hak dominium. mengasumsikan “negara berdiri di atas kepentingan semua golongan”75 atau dalam istilah Kuntowijoyo “Negara Budiman”. Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia. dapat dipilih tiga kemungkinan: 1. Hak negara adalah hak dominium juga dan disamping itu dapat juga digunakan istilah hak publique. 75 Paham ini sangat dipengaruhi oleh teori integralistik. Padahal. hlm. yang dirumuskan dalam Bagian B angka 32: Dalam mengadakan hubungan langsung antara negara dengan tanah. Jika ditelaah lebih mendalam. yang diajarkan oleh Spinoza. maka hak negara dapat berupa. intinya Badan Pembuat undang-undang meminta saran dari akademisi mengenai dasar-dasar filosofis yang membenarkan kekuasaan negara atas sumber-sumber agraria di seluruh wilayah negeri ini. 37-38. segala bagian. akan tetapi negara sebagai personafikasi rakyat seluruhnya. 3. Proses Terjadinya UUPA. dalam arti tidak sebagai perseorangan dan tidak sebagai badan kenegaraan. b. akan tetapi menjamin kepentingan masyarakat seluruhnya sebagai satu kesatuan. Negara sebagai subyek. kalau negara sebagai personafikasi yang memegang kekuasaan atas tanah. menjadi pendukung daripada kesatuankesatuan rakyat. sehingga dengan demikian hubungan antara negara dan tanah itu mempunyai sifat privaat rechtelijk. hlm. tetapi sebagai negara. Hubungan yang tersebut pada no. konsepsi negara menguasai ini. Negara sebagai subyek. 3. Hegel dan lain-lain yang berpendapat bahwa negara bukan dimaksudkan untuk menjamin kepentingan seseorang atau golongan. sesuai dengan sifat makhluk sosial juga dengan sifat perseorangan yang merupakan kesatuan daripada individu-individunya74. segala golongan. segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat yang organis. Konsep yang tersebut pada angka 2 di atas menjadi prinsip dari politik hukum UUPA. Apabila demikian. pada kenyataannya tidak Iman Soetiknjo. negara sebagai pemilik. negara sebagai personafikasi rakyat bersama. 2.Ide politik hukum hak menguasai daripada negara di dalam UUPA. yang kita persamakan dengan perseorangan. Mahfud MD. Jakarta. jadi sebagai badan kenegaraan. Lebih lanjut: “Negara ialah suatu susunan masyarakat yang integral. hak kommunes. Yang terpenting ialah dalam negara yang berdasar aliran pikiran integral ialah penghidupan bangsa seluruhnya (dalam: Moh. Negara sebagai subyek. Gadjah Mada University Press. 1987. kiranya yang paling tepat karena kalau ditinjau dari sudut perikemanusiaan. dan. 74 47 .

Majalah Hukum dan Keadilan No. tidak dapat dipisahkan dari pilihan terhadap politik hukum agraria. Semarang. hlm. terutama rakyat tani. Sudarto. atau model yang akan digunakan dalam melaksanakan pembangunan hukum dalam rangka mencapai tujuan maupun untuk kepentingan terhadap perubahan hukum yang direncanakan. 3. bahwa UUPA merupakan dasar berpijak bagi penyusunan hukum agraria nasional sebagai alat untuk membawakan kemakmuran. Berangkat dari tujuan pokok UUPA yang dirumuskan dalam penjelasannya. cara. maupun yang memberikan arah pada pembangunan hukum yang dicita-citakan (ius constituendum). 2. Pembangunan hukum yang intinya adalah pembaruan terhadap ketentuan hukum yang telah ada dan yang dianggap usang. kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat. 2006. karena negara merupakan organisasi kekuasaan yang sarat dengan sejumlah kepentingan kelompok atau individu yang mengatasnamakan kepentingan rakyat atau kepentingan negara. Usulan Penelitian Disertasi. dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur.demikian. Sementara politik hukum agraria tidak bisa dilepaskan dari ideologi dan paradigma yang menopang struktur dan sistem sosial yang dianut negara tersebut. 76 48 . 37. Universitas Diponegoro. “Perkembangan Ilmu Hukum dan Politik Hukum”. mempunyai peranan penting. Politik hukum sebagai kerangka umum yang akan membentuk hukum (legal frame work). Melalui politik hukum. Politik hukum nasional bisa meliputi: 1. dapat menjadi pemicu timbulnya sengketasengketa tanah. Penegasan fungsi lembaga penegak atau pelaksana hukum dan pembinaan anggotanya. dalam: Firman Muntaqo.76 Menurut Abdul Hakim G Nusantara. dan penciptaan ketentuan hukum baru yang diperlukan untuk memenuhi tuntutan perkembangan yang terjadi dalam masyarakat. hlm. karena politik hukum merupakan disiplin yang mendasari aktifitas memilih dan menyerasikan berbagai nilai. dikaji hukum yang berlaku (ius constitutum). 5 Tahun ke VII Januari-Februari. politik hukum nasional. Konflik peraturan perundang-undangan yang pada akhirnya secara signifikan. 14-17. Pelaksanaan ketentuan hukum yang telah ada secara konsisten. secara harfiah diartikan sebagai kebijakan hukum (legal policy) yang hendak diterapkan atau dilaksanakan secara nasional oleh suatu pemerintahan negara tertentu. “Harmonisasi Hukum Investasi di Bidang Perkebunan”.

Dasar-Dasar Politik Hukum. 237. terutama di bidang ekonomi yang berkarakter liberal-individualistik. D. Penerbit Djambatan. Jakarta. Desentralisasi atau Sentralisasi Wewenang Bidang Pertanahan Legal issu yang dominan di bidang pertanahan adalah apakah urusan pemerintahan di bidang pertanahan wajib dilaksanakan oleh pemerintah daerah dalam bentuk desentralisasi. hlm. ”Hukum Agraria Indonesia. (II angka 2). 2006. sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria. 30-31. dalam: Imam Syaukani & A. 78 Ibid. Isi dan Peaksanaannya”. dengan sikap kritis terhadap hukum yang berdimensi ius constitutum dan menciptakan hukum yang berdimensi isu constituendum.4. 79 Boedi Harsono. Di bidang agraria. dekonsentrasi. Raja Grafindo Persada. Jilid 1 Hukum Tanah Nasional. Makalah pada Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu). Jakarta. 31. merumuskan: Abdul Hakim G Nusantara. semangat dan visi dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Demikian juga politik pertanahan nasional yang digariskan dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 tetap relevan digunakan sebagai landasan untuk meluruskan pembangunan hukum agraria/pertanahan. Meningkatkan kesadaran hukum masyarakat menurut persepsi kelompok elit pengambil kebijakaan77. melalui UUPA sebenarnya sudah menyediakan rambu-rambu. karena ketentuan-ketentuan dalam UUPA merupakan penjabaran sila-sila Pancasila di bidang pertanahan. UUPA.78 Konsepsi hukum tanah nasional dan ketentuan UUPA masih relevan untuk meluruskan pembangunan. Ahsin Thohari. agar perjalanan bangsa Indonesia bisa sampai pada tujuan yang kita cita-citakan79. 80 Penjelasan Umum. YLBHI & LBH Surabaya. hlm. Oleh karena itu. “Politik Hukum Nasional”. hlm. Karakter yang liberal-individualistik tersebut tidak selaras dengan konsepsi Pancasila yang telah mendasari dan menjiwai pembangunan bangsa dan negara.80 Ketentuan Pasal 2 UUPA yang merupakan turunan langsung dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. dapat dan harus digunakan juga untuk melindungi kepentingan nasional dalam menghadapi akibat arus globalisasi. September 1985. dan tugas pembantuan (medebewind). 77 49 . Edisi Revisi 2005. Keempat faktor tersebut di atas menjelaskan secara gamblang wilayah kerja politik hukum yang mencakup teritorial berlakunya politik hukum dan proses pembaruan dan pembuatan hukum.

b. ruang angkasa dan kekayaan alam yang 50 . menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orang-orang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi. sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat. persediaan dan pemeliharaannya. sebagai organisasi kekuasaan dari Bangsa Indonesia. air dan ruang angkasa itu. Pasal 2 Ayat (1) tersebut di atas menegaskan sikap. untuk pada tingkatan yang tertinggi: a. menentukan dan mengatur hak-hak yang dapat dipunyai atas (bagian dari) bumi. (2) Hak menguasai dari Negara termaksud dalam ayat (1) pasal ini memberi wewenang untuk: a. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orangorang dengan bumi. Dengan demikian kewenangan negara sebagai organisasi kekuasaan adalah ”mengatur” artinya membuat peraturan. (3) Wewenang yang bersumber pada hak menguasai dari Negara tersebut pada ayat (2) pasal ini digunakan untuk mencapai sebesar-besar kemakmuran rakyat. sekedar diperlukan dan tidak bertentangan dengan kepentingan nasional. ”Dikuasai” berarti memberi wewenang kepada negara. penggunaan. negara tidak perlu bertindak sebagai pemilik tanah dan yang lebih tepat adalah bertindak selaku badan penguasa. air dan ruang angkasa. kesejahteraan dan kemerdekaan dalam masyarakat dan Negara hukum Indonesia yang merdeka berdaulat. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan. persediaan dan pemeliharaan bumi. air. termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara. persediaan (reservation) dan pemeliharaan (maintenance) bumi. air dan ruang angkasa. dan ”menyelenggarakan” yang artinya melaksanakan (execution) penggunaan/peruntukkan (use). b. adil dan makmur. bumi. air dan ruang angkasa.(1) Atas dasar ketentuan dalam pasal 33 ayat (3) Undang-undang Dasar dan hal-hal sebagai yang dimaksud dalam pasal 1. c. mengatur dan menyelenggarakan peruntukan. air dan ruang angkasa tersebut. bahwa untuk mencapai ketentuan di dalam Pasal 33 ayat (3) UUUD 1945. Perkataan ”dikuasai” dalam ayat (2) pasal ini bukanlah berarti dimiliki. c. air dan ruang angkasa. menentukan dan mengatur hubungan-hubungan hukum antara orangorang dan perbuatan-perbuatan hukum yang mengenai bumi. penggunaan. menurut ketentuan-ketentuan Peraturan Pemerintah. Sejalan dengan Penjelasan Umum angka II (2) UUPA. (4) Hak menguasai dari Negara tersebut di atas pelaksanaannya dapat dikuasakan kepada daerah-daerah Swatantra dan masyarakat-masyarakat hukum adat. ”adalah lebih tepat jika negara sebagai organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat (bangsa) bertindak selaku Badan Penguasa”. dalam arti kebahagiaan.

air dan ruang angkasa.82 Berdasarkan memori penjelasan UUPA. Sedangkan pemerintah daerah. dan pemerintahan daerah tidak boleh melakukan tindakantindakan di bidang agraria jika tidak ditunjuk ataupun dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah pusat (asas medebewind). disebutkan bahwa perlu adanya suatu rencana ("planning") yang dimulai dari rencana umum ("national planning") yang kemudian dirinci menjadi rencana-rencana khusus ("regional planning") dari tiaptiap daerah mengenai peruntukan.terkandung di dalamnya. hlm. industri dan pertambangan perlu diperhatikan. air serta ruang angkasa untuk daerahnya. Selain itu. karena Pasal 14 secara eksplisit memerintahkan otonomisasi di bidang agraria. Parlindungan. 82 Periksa Pasal 14 ayat (1) dan (2) UUPA. maka pengertian pelimpahan wewenang untuk melaksanakan hak penguasaan negara atas tanah menurut Pasal 2 ayat (4) di atas menjadi berbeda.P. Selanjutnya. peruntukan. Bandung. penjelasan dari Pasal 2 ayat (4) berkaitan dengan asas ekonomi dan medebewind dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah. pemerintah pusat mempunyai kewenangan membuat suatu rencana umum mengenai persediaan. 81 51 . Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria.81 Sedangkan. Berdasarkan penafsiran otentik (authentieke atau officiele interpretatie) atau sesuai dengan tafsir yang dinyatakan dalam undang-undang itu sendiri. Jika argumentasi didasarkan pada Pasal 2 ayat (4). peruntukan dan penggunaan bumi. bahwa wewenang agraria dalam sistem UUPA ada pada pemerintahan pusat. Dengan demikian. 39. pelimpahan wewenang untuk melaksanakan hak penguasaan negara atas tanah merupakan medebewind. arti dari ”menentukan dan mengatur” (huruf b) yaitu: menetapkan dan membuat peraturan-peraturan mengenai hak-hak apa saja yang dapat dikembangkan dari hak menguasai negara tersebut. Berdasarkan Pasal 14 UUPA. maka di samping perencanaan pertanian. 1991. sesuai dengan keadaan daerah masing-masing. maka persoalan agraria merupakan tugas pemerintah pusat. Sedangkan yang berkaitan A. air dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung didalamnya. maka Pasal 2 ayat (4) UUPA menegaskan. mengingat akan corak perekonomian negara di kemudian hari dimana industri dan pertambangan menjadi penting. jika argumentasinya didasarkan pada Pasal 14 UUPA. dan penggunaan bumi. Mandar Maju. berdasarkan rencana umum tersebut berwenang mengatur persediaan. penggunaan dan persediaan bumi. Namun.

Bee Media Indonesia. hlm. maka Pasal 14 UUPA tersebut memerintahkan. Untuk selanjutnya ditindaklanjuti dengan menetapkan dan membuat peraturan-peraturan daerah yang mengacu pada rencana umum (national planning) yang dibuat oleh pemerintah. Jakarta. Kalaupun ada pelimpahan Memori Penjelasan Umum Angka II (8). 84 83 52 . penguasaan dan perbuatan-perbuatan hukum mengenai tanah serta pendaftaran tanah. Teori Umum Hukum dan Negara (Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum DeskriptifEmpirik). 2007. peruntukan dan penggunaan bumi. untuk itulah pengaturannya di desentralisasikan kepada daerah. air serta ruang angkasa harus pula disesuaikan dengan kondisi geografis atau keadaan tertentu dari daerah masing-masing. General Theory of Law and State. dapat dilaksanakan dengan asas desentralisasi sesuai dengan keadaan daerahnya masing-masing. Kewenangan pertanahan yang dilaksanakan secara sentralisasi oleh pemerintahan pusat adalah mengenai hal-hal yang berkaitan dengan rencana umum (national planning) seperti pengaturan dan penetapan hukum tanah nasional yang meliputi perencanaan dan peruntukan tanah. nasional atau keagamaan. air serta ruang angkasa untuk daerah. medebewind atau asas pembantuan dan secara desentralisasi.dengan ayat (3) di atas mengenai pemerintah daerah dapat membentuk peraturan daerah. Semakin besar teritorial negara. maka akan semakin diharuskan desentralisasi melalui pembagian teritorial. dalam bukunya ”General Theory of Law and State”. Hans Kelsen. bahwa urusan-urusan bidang pertanahan yang berkaitan dengan regional planning yang meliputi persediaan. Pertimbangan yang membuat perbedaan tata hukum nasional semacam itu lebih dikehendaki mungkin karena pertimbangan-pertimbangan geografis. dan Penjelasan Pasal 14 UUPA.84 Berdasarkan uraian di atas. pengesahannya harus dilakukan dalam rangka rencana umum yang dibuat oleh pemerintah pusat. dan semakin bervariasi kondisi-kondisi sosial. yang dinyatakan bahwa: “…desentralisasi memberi kemungkinan pengaturan masalah yang sama secara berbeda untuk daerah-daerah yang berbeda. Hal ini sejalan dengan salah satu alasan utama dari desentralisasi yang dikemukakan oleh Hans Kelsen.83 Jika ditafsirkan secara gramatikal atau interpretasi bahasa yang menekankan pada makna teks yang dinyatakan di dalam kaidah hukum. Artinya pembuat undang-undang sadar bahwa perencanaan peruntukan dan penggunaan akan bumi. 370. bahwa penyelenggaraan kewenangan di bidang pertanahan dapat dilaksanakan secara dekonsentrasi (yang merupakan penghalusan dari sentralisasi). Alih Bahasa oleh Somardi.

53 .kewenangan dalam pelaksanaannya. 85 Arie S. yang mana pelaksanaan kebijakannya dapat dituangkan dalam bentuk Peraturan Daerah maupun Keputusan Kepala Daerah. teramasuk peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan. dikarenakan dalam materi muatannya tidak menegaskan bentuk kewenangan yang didesentralisasikan tersebut.Hutagalung. sedangkan UUD 45 setelah amandemen tidak dilengkapi dengan penjelasan.85 Sedangkan desentralisasi kewenangan di bidang pertanahan memerlukan suatu ketentuan perudang-undangan yang secara jelas mengatur pembagian kewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. dalam hal ini PP No. Inilah yang menjadi pangkal tolak kerancuan peraturan perundang-undangan bidang pertanahan yang dikeluarkan setelah tahun 2000. sulit untuk menemukan dan menentukan dasar filosofi hukum. hlm. konsep-konsep yang dapat menjadi pegangan untuk melakukan analisis sinkronoisasi dan konsistensi suatu peraturan perundang-undangan dalam rangka menentukan ada tidaknya konflik peraturan perundang-undangan. Meskipun demikian. 25 Tahun 2000. nilai-nilai. ditetapkan dengan peraturan pemerintah (PP). Aspek Historis Sejak dilakukannya amandemen terhadap UUD 45 sebanyak 4 (empat) kali. pelimpahan itu dalam rangka dekonsentrasi kepada pejabat-pejabat Pemerintah Pusat yang ada di Daerah ataupun kepada Pemerintah Daerah dalam rangka medebewind bukan otonomi. serta penempatan Penjelasan UUD 1945 tidak lagi sebagai penjelasan otentik dari UUD 1945. Jika kita menengok kembali kepada UU No. karena setiap pasal dari peraturan perundang-undangan yang akan dianalisis menjadi sangat terbuka penafsirannya.cit. E. Op. 22 Tahun 1999 (sudah tidak berlaku lagi) dengan merujuk pada Pasal 2 dan 14 UUPA. sebenarnya telah selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Hakikat Ketentuan Pasal 33 UUD 1945 1. Hal ini didasarkan pada Pasal 11 UU 22/1999 yang mengatur masalah desentralisasi. salah satunya bidang pertanahan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. Untuk pengaturan penjabarannya berdasarkan Pasal 12. dalam PP tersebut masih menyisahkan persoalan. 40. asas-asas.

Walaupun penjelasan UUD 45 tidak lagi berkedudukan sebagai penafsiran otentik UUD 45. 268. dengan nomor Pasal 32. Jajasan Prapantja. yaitu suatu aliran pikiran yang menyatukan negara dengan seluruh rakyat. Untuk menelaah hakikat dalam rangka memperoleh pengertian maksud dari Undang-Undang Dasar suatu negara. Djilid Pertama. dan dirumuskan sebagai berikut: (1) Perékonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas kekeluargaan.86 Rumusan Pasal 32 Rancangan UUD tersebut mencakup nilai-nilai yang terkandung di dalam dasar negara yaitu sistem kekeluargaan. 86 54 . namun masih berperan signifikan untuk menggali hakikat Pasal 33 UUD 1945 yang menjadi landasan konstitusionil pengaturan hukum di bidang agraria. Bukankah pemahaman atas Pasal 33 UUD 1945 itu tidak cukup dilakukan hanya dengan membaca teks maupun penjelasan suatu peraturan perundang-undangan. hlm. yang mengatasi segala faham golongan dan Risalah Rapat Panitia Perantjang Undang-undang Dasar tanggal 11 Juli 1945. Di dalam Rancangan Undang-Undang Dasar yang dibahas dalam Rapat Panitia Hukum Dasar tanggal 11 Juli 1945. materimateri pokok (dasar-dasar negara) dari rancangan UUD itu telah dibahas sejak tanggal 29 Mei 1945 dalam sidang-sidang pertama BPUPKI. 1959. maka suasana dan realitas objektif pada waktu Undang-Undang Dasar itu dirumuskan. sampai kemudian ditetapkan menjadi UUD 1945 pada tanggal 18 Agustus 1945 pada Rapat Panitia Persiapan Kemedekaan Indonesia (PPKI). BAB mengenai kesejahteraan sosial ditempatkan pada BAB XIII Tentang Kesedjahteraan Sosial. (2) Tjabang-tjabang produksi jang penting bagi negara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak dikuasai oléh Pemerintah. harus dimengerti terlebih dahulu. termasuk di bidang pertanahan. sesuai dengan pengertian negara sebagai suatu keluarga besar. Lihat dalam: Muhammad Yamin. termasuk aspek ideologi dari perancangnya yang tentunnya sedikit banyak mempengaruhi proses perumusannya. Secara histories. (3) Bumi dan air dan kekajaan alam jang terkandung didalamnja dikuasai oléh negara dan harus dipergunakan untuk sebesar-besarnja kemakmuran rakjat. Tetapi. perumusan Rancangan UUD 1945 dilakukan oleh Panitia Perancang Undang-undang Dasar yang ditetapkan pada rapat Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) bulan Juli 1945. Kitab Naskah Undang-undang Dasar Républik Indonésia. Jakarta.

Inilah jang mendjadi sumber malapetaka-malapetaka didunia ini…Tuan-tuan dan njonja-njonja jang terhormat! Kita semua mengetahui bahwa faham atau dasar individulisme telah mendjadi sumber économisch liberalisme Adam Smith…jang sebenarnja tidak lain tidak bukan mendjalankan téori-téori ékonomi diatas dasar-dasar falsafah jang individualistis…Dengan adanja ékonomisch liberalisme. bahwa dasar falsafah negara-negara Eropa dan Amérika itu adalah benar falsafah jang salah. Misalnya. Selanjutnya Soekarno pada sidang pertama Dokuritu Zyunbi Tyoosakai juga membicarakan dasar kekeluargaan atau yang disebutnya gotong-royong yang merupakan dasar sistem. kita 350 tahun tidak merdéka…Nyata tuan-tuan njonja-njonja jang terhormat.. laissez fasser”…. Timbulah itu oléh karena ékonomisch liberalisme itu sistim jang memberi hak sepenuh-penuhnja kepada beberapa orang manusia sadja. untuk menghisap. jaitu individualisme dan liberalisme... pertanyan-pertanyaan apa sebab undang-undang dasar yang kita rancang tidak memasukkan hak-hak asasi manusia dan hak-hak warga-negara.…Dengan adanja imperialisme itulah. dan falsafah yang terkadung dalam Rancangan UUD. Muhammad Yamin.87 Hal ini kemudian dijawab oleh Soekarno dalam Rapat Besar tanggal 15 Juli 1945. hlm. terdapat beberapa perubahan dan penambahan. tuan-tuan dan njonja-njonja jang terhormat. Misalnya. hlm. Setelah Rancangan UUD ini dibagikan dikalangan anggota. panitia penyusun Rancangan UUD ini banyak mendapat pertanyaan seputar dasar dan falsafah dari rancangan UUD tesebut.faham perseorangan (kollektivisme) sebagaimana pikiran Soepomo (negara integralistik). semula dirumuskan “Tjabang-tjabang produksi jang penting bagi negara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak 87 88 Risalah Rapat Besar tanggal 15 Juli 1945. Ibid. lewat pidatonya yang menerangkan dan menjelaskan pertanyaan-pertanyaan itu sebagai berikut: “…Undang-undang Dasar dari pada negara-negara (Eropa dan Amérika) didasarkan atas dasar falsafah pikiran jang dikemukakan oléh revolutie Perantjis. Ibid. 287-294. memeras. jang bersembojan: “laissez faire. timbullah kapitalisme jang sehébat-hébatnja di negeri-negeri jang merdéka. 55 . menindas sesama manusia jang lain. Inilah sebabnja suburnja kapitalisme dan imperialisme di Eropa dan Amérika itu”. Setelah Rancangan Undang-Undang Dasar di atas ditetapkan menjadi UndangUndang Dasar 1945 (18 Agustus 1945). bahwa kitapun menghendaki di dalam UUD itu apa yang dinamakan “droits de l’homme et du citoyen” atau “rights of the citizen”. Apakah kita hendak menuliskan dasar jang demikian itu dalam Undang-undang Dasar kita?88. 287. Pasal 33 ayat (2).

Misalnya. yang dirumuskan sebagai berikut: ayat (3) “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Alumni. memberikan makna bahwa Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 adalah suatu “deze bepalingen geven vorm aan eigen Indonesisch” atau ketentuan yang bersifat khas Indonesia. dan Ketiga adalah Politik Agraria Nasional yang bertujuan menciptakan keadilan sosial lewat jalan meningkatkan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. hlm. secara umum erat sekali hubungannya dengan teori “integralistik” atau “negara integralistik” yang Lemaire. Tebaran Pikiran Mengenai Hukum Agraria. Bandung.dikuasai oléh Pemerintah”. Pertama. konsep ini dirumuskan pada ayat (1) yaitu: “Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”. Hal ini adalah sintesa dari ayat (1) dan (2). Bandung. Van Hoeve.1985. yaitu sebagai ketentuan yang hanya dijumpai di Indonesia yang memberikan kewenangan yang begitu besar kepada Negara. Het Recht in Indonesia.G. 2. Berdasarkan uraian di atas. 1955. yaitu. S’Gravenhage. Lemaire dalam bukunya“Het Recht in Indonesia”. 89 56 . Dikaji dari tempatnya di dalam UUD ketentuan ini ditempatkan dalam Bab XIV tentang Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial. W. 120. Asas Kekeluargaan Asas kekeluargaan yang tercantum dalam Pasal 33 ayat (1). Kedua adalah Sosialisme yang merupakan turunan dari sistem ekonomi kekeluargaan dan antitesa daripada kapitalisme. dirumuskan dalam ayat (2) “cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara”. banyak bermunculan pendapat-pendapat yang berupaya memaknai rumusan dari Pasal 33.L. terdapat tiga kata kunci yang merupakan sari dari tiga ayat yang dinaungi oleh Pasal 33. NV Uitgeverij W. kata “dikuasai oleh Pemerintah” kemudian dirubah dengan “dikuasai oleh Negara”. jelaslah bahwa di dalam rumusan Pasal 33 UUD 1945 terkandung nilai-nilai dan falsafah Negara. Pasca Proklamasi Kemerdekaan. 36. hlm. Jika dikonversikan dengan konsepkonsep yang diutarakan di atas. artinya persoalan ini erat hubungannya dengan usaha menciptakan kesejahteraan sosial bagi masyarakat Indonesia89. dalam: Abdurrahman. Kollektivitas atau dasar kesatuan dalam sebuah keluarga besar.

dan V. sebagaimana yang dinyatakan oleh Soepomo: “…struktur kerochanian dari bangsa Indonesia bersifat dan bercita-cita persatuan hidup. keseluruhan warga negara haruslah dilihat sebagai satu individu yang tidak terpisah. Sedangkan Teori Golongan (teori kelas). 129. 110-111. negara bukan dimaksudkan untuk menjamin kepentingan orang perorang atau golongan tertentu. PSHK. Soepomo tidak mau terjebak antara staatside yang didasarkan pada “Teori Individualistik” dan “Teori Golongan”. dan Hegel (filsuf abad 18 dan 19). Jakarta. inti dari teori integralistik adalah. Lebih tepatnya lagi. Inti dari teori ini menyatakan bahwa negara merupakan masyarakat hukum yang disusun atas kontrak antara seluruh orang dalam masyarakat dengan susunan hukum negara yang berdasar individualisme. 90 57 . 91 Spinoza yang dikutip oleh Etienne Balibar. 64. yang berwujud dalam susunan tatanegaranya jang asli”92. Ajaran ini berasal dari Karl Marx. Pilihan Soepomo jatuh pada “Teori Integralistik”. 1998). Menurut Spinoza. Menurut Soepomo staatside dari UUD 1945 tidak didasarkan pada teori Trias Politica yang dikemukakan oleh Motesquieu. akan tetapi negara harus menjamin kepentingan masyarakat secara keseluruhan sebagai satu kesatuan. (London: Verso. 92 Muhammad Yamin.91 negara (the state) mestilah dibayangkan sebagai sebuah individu. Engels. segala bagian. individu dari individu-individu (individual of indivduals) yang memiliki “tubuh” dan “jiwa” atau pikiran. dalam: Ibid. Jentera (Jurnal Hukum). teori ini dipraktekkan di Eropa Barat dan Amerika. Teori Individualistik. khususnya hlm. dan H. Lihat dalam: Pidato Soepomo dalam Rapat BPUPKI tanggal 31 Mei 1945. segala golongan. tetapi satu kesatuan yang bersatu jiwa. Secara khusus makna dari kalimat “usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan” adalah sebuah bangunan perusahaan yang berbentuk “koperasi”.90 sebagaimana dikemukakan oleh Spinoza. dan ajarannya disebut “Marxisme”. hlm.cit. Muhammad Yamin. mendasarkan pendirian negara pada teori perseorangan yang diajarkan oleh Hobbes. Negara adalah alat dari golongan yang kuat secara ekonomis. 109-121. “in the political order the whole body of citizens must be thoughts of as equivalent or an individual in the state of nature”. “Spinoza and Politics”. Edisi 10 – tahun III. ide integralistik dari bangsa Indonesia. Jadi. Dengan demikian. untuk menghisap golongan yang lemah secara ekonomi. Oktober 2005. hlm. Sebagaimana ditekankan olehnya. dalam: Daniel Hutagalung. persatuan kawulo dan gusti yaitu persatuan antara dunia luar dan dunia batin. segala anggotanya berhubungan erat satu sama lain dan merupakan persatuan masyarakat organis yang harmonis. “Menapaki Jejak Pemikiran Soepomo Tentang Negara Indonesia”.J. Dengan demikian. antara rakjat dan pemimpin-pemimpinnya…Inilah ide totaliter. Op. Lenin. Laski. Ajaran ini mennganjurkan revolusi politik dari kaum buruh untuk merebut kekuasaan. menurut teori integralistik negara diartikan sebagai susunan masyarakat yang integral. Adam Muller.dilontarkan oleh Soepomo dalam pidatonya pada sidang-sidang BPUPKI antara bulan Mei–Juni 1945 yang padat dengan agenda sidang BPUPKI untuk membahas dasar-dasar (falsafah) dan tujuan pembentukan negara. Spencer. antara mikrokosmos dan makrokosmos. hlm. Untuk itulah negara dijadikan alat bagi kaum kapitalis untuk menindas kaum buruh. F. teori ini menganggap bahwa negara sebagai alat dari sesuatu golongan (kelas) untuk menindas kelas lainnya.

Azas-Azas Hukum Tata Negara Indonesia. hal ini ditegaskan kembali oleh Mohammad Hatta. Beberapa Pemikiran Pembangunan Hukum di Indonesia. Penafsiran limitatief.sebagaimana yang disebutkan juga dalam Penjelasan Pasal 33 paragraf pertama. Hakim Nusantara & Nasroen Yasabari. bahwa “buah pikiran yang tertanam di dalam Pasal 33 UUD 1945 sekarang ini berasal dari saya sendiri. hlm. Asikin Kusuma Atmadja memaknai azas kekeluargaan dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang sesuai dengan Pasal 33 ayat (1). tetap dimungkinkan bangunan perusahaan selain koperasi yang juga sesuai dengan azas kekeluargaan ini. Sedangkan menurut penafsiran enunciative. Dengan demikian berdasarkan penafsiran enunciative.94 Berkaitan dengan penafsiran terhadap azas kekeluargaan sebagaimana yang telah diuraikan di atas. hlm Wirjono Prodjodikoro 1983. Asikin Kusuna Atmadja. Menurutnya. 195. Jakarta. bahwa yang sesuai dengan azas kekeluargaan paling utama adalah koperasi. maka akan menjurus kepada anarchie. sedangkan penafsiran enunciative menganggap hal-hal yang disebutkan sebagai “enunciated” atau sekedar menerangkan. 1980. 95 Z. Politik Hukum Nasional. jika liberalisme tidak dikendalikan. G. Alumni.93 Dalam ilmu pengetahuan hukum terdapat penafsiran “limitatief” dan penafsiran “enunciative”. artinya koperasi hanya sebagai contoh tetapi sebagai contoh sebagai utama. Dian Rakyat. bahwa yang sesuai dengan azas kekeluargaan ialah hanya koperasi saja.cit. Dengan demikian. Sebab itu terimalah pernyataan saya. menganggap hal-hal yang disebutkan sebagai “gelimiteerd” atau terbatas pada hal itu saja. hlm. dan jika kekuasaan Pemerintah terlalu besar maka akan melahirkan totaliterisme95. Dalam: A. tetapi juga tidak menginginkan totaliterisme”. berdasarkan penafsiran limitatief. dengan “hak menguasai negara” sebagai konsep politik hukumnya Abdurrahman. bahwa memang koperasilah yang dimaksud dengan usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan”. bahwa hal itulah yang dimaksudkan. adalah: “menolak faham liberalisme mutlak. 94 93 58 . 38. Dalam Musyawarah Nasional Pembangunan yang dilaksanakan di Jakarta pada tahun 1957. Dikuasai oleh Negara atau Hak Menguasai Negara Pasal 33 UUD 1945 dikenal sebagai ideologi politik ekonomi Indonesia [ayat (1) dan (2)]. Bandung. Op. 3.

3. antara lain: Pan Mohamad Faiz. sehingga kepadanya diberikan wewenang atau kekuasaan untuk mengatur. Rumusan kalimat “dikuasai oleh negara” inilah yang kemudian dikenal sebagai konsep “Hak Menguasai Negara” (HMN) yang berarti penguasaan. Sedangkan rumusan ayat (3)-nya merupakan arah dan tujuan politik ekonomi Indonesia yaitu untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.jurnalhukum. Penafsiran Konasep Penguasaan Negara Berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 dan Putusan Mahkamah Konstitusi. negara hanya melakukan pengurusan (bestuursdaad) dan pengolahan (beheersdaad).(political legal concept). Segala bentuk pemanfaatan (bumi dan air) serta hasil yang didapat (kekayaan alam). Mencegah segala tindakan dari pihak manapun yang akan menyebabkan rakyat tidak mempunyai kesempatan atau akan kehilangan haknya dalam menikmati kekayaan alam. harus secara nyata meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.com/. 96 59 . namun tidak sebagai pemilik. Pasal 33 ayat (3) terkandung konsep politik agraria dirumuskan: “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara”. 2.96 Ketiga kewajiban di atas menjelaskan segala jaminan bagi tujuan hak penguasaan negara atas sumber daya alam yang sekaligus memberikan pemahaman bahwa dalam hak penguasaan itu. memelihara dan mengawasi pemanfaatan seluruh potensi sumber daya agraria yang ada dalam wilayahnya secara intensif. Pembahasan mengenai makna kata-kata “dikuasai oleh negara” secara lebih mendalam dapat didekati dengan memahami pengertian-pengertian yang diberikan para ahli. Secara teoritik kekuasaan negara atas sumber-sumber agraria bersumber dari rakyat yang dikenal dengan hak bangsa. air dan berbagai kekayaan alam tertentu yang dapat dihasilkan secara langsung atau dinikmati langsung oleh rakyat. dan pemanfaatan sumbersumber agraria terpusat pada kekuasaan yang begitu besar daripada negara. karena pemiliknya adalah Bangsa Indonesia. Dalam hal ini negara dipandang sebagai yang memiliki karakter lembaga masyarakat umum. Adapun kaitan hak penguasaan negara dengan tujuan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. melahirkan kewajiban Negara untuk mengatur: 1. http://www. mengurus. tidak untuk melakukannya sendiri (eigensdaad).blogspot. Melindungi dan menjamin segala hak-hak rakyat yang terdapat di dalam atau di atas bumi.

mengusahakan memelihara dan mengatur hidup bersama. Ia mendasarkan argumentasinya ini pada pandangan Van Vollenhoven yang menyatakan bahwa.a. kita melihat kepada kekuasaan negara. Tanah merupakan suatu spesmen (hal khusus). hlm. Selanjutnya. melainkan berarti diperlakukan dengan tindakan-tindakan yang berdasarkan pada kekuasaan tertinggi dalam tangan negara. kita harus mendasarkan diri menurut kedudukan hak menguasai tanah oleh negara itu dalam rangkaian kekuasaan negara pada umumnya”. maka sudah tentu tidak boleh mengurangi dan mengubah kedudukan negara terhadap segala sesuatu itu. dalam bukunya “Pelaksanaan Undang-undang Dasar 1945 Pasal 33” memaknai dikuasai oleh negara tidak berarti negara sendiri menjadi penguasa. jika dalam hal ini perlu diberi bentuk lain. diselenggarakan. 38. Khusus mengenai tanah berarti membangun mengusahakan. usahawan atau “ondernemer”. hlm. atau diawasi.97 b. ia menyatakan bahwa untuk menentukan hakikat sifat hak menguasai tanah. Lebih tepat dikatakan. memelihara dan 97 98 Abdurrahman. privaat eigendom) karena sesuai dengan kepribadian Indonesia dan tidak dilarang Pasal 33. Notonagoro menyatakan pendapatnya tentang kata-kata “dikuasai oleh negara” dalam tema pokok “hak menguasai daripada negara” sebagai dasar baru hukum agraria di Indonesia. menurutnya Pasal 33 ayat (3) melarang organisasi-organisasi yang bersifat monopoli partikelir yang merugikan ekonomi nasional. 60 . 37 Ibid. Walaupun “Sosialisme Indonesia” mengenal milik swasta perseorangan (privaatbezit. bahwa kekuasaan negara terdapat pada membuat peraturan guna kelancaran jalan ekonomi. Mohammad Hatta. tidak lain daripada kekuasaan negara terhadap segala sesuatu. dan UUPA merupakan aturan pelaksana dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. sebenarnya hak negara terhadap tanah ialah untuk mengatur dan sebagainya itu. Op. peraturan yang melarang pula “penghisapan” orang yang lemah oleh orang yang bermodal. yang tidak lain ialah membangun. Menurut Notonagoro “untuk menentukan hakekat sifat hak menguasai tanah. baginya perkataan “dikuasai oleh negara” tidaklah berarti dimiliki. adalah salah seorang konseptor dari Undang-Undang Nomor 5 tahun 1960 tentang Peraturan Pokok Agraria (UUPA). Notonagoro.cit. Selain itu. Muhammad Yamin.98 c.

negara bertindak selaku Badan Penguasa. 99 61 . 117-119. Mahkamah Konstitusi sebagai lembaga negara yang berfungsi menangani perkara tertentu di bidang ketatanegaraan. 100 Sudargo Gautama. air dan ruang angkasa. Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria. juga Notonagoro. juga berfungsi mengawal konstitusi (the guardian of costitution) agar dilaksanakan secara bertanggung jawab sesuai dengan kehendak rakyat dan cita-cita demokrasi. Keberadaan Mahkamah Konstitusi di samping untuk menjaga terselenggaranya pemerintahan negara yang stabil. hlm. Oleh karenanya berdasarkan kwalitasnya itu. ialah: “dalam membangun. walaupun tidak merubah tiga ayat yang asli. Pikirannya ini dipararelkan dengan susunan kata-kata dalam Pasal 33 ayat (3). seperti halnya dengan teori domein. diberikan wewenang untuk mengatur sesuatu yang berkenaan dengan tanah. 1984. sebagai organisasi kekuasaan seluruh rakyat”.100 Pada perkembangan selanjutnya. termasuk kekayaan alam yang terkandung didalamnya itu pada tingkatan tertinggi dikuasai oleh Negara. Politik Hukum dan Pembangunan Agraria di Indonesia. memelihara dan mengatur tanah untuk kepentingan negara kepentingan umum. dalam menafsirkan hak menguasai negara mendasarkan argumentasinya pada pandangan yang melihat negara sebagai organisasi kekuasaan dari seluruh rakyat (bangsa). Jakarta. Bina Aksara. kepentingan rakyat sama dan membantu kepentingan perseorangan”. yang diadopsi dalam Pasal 2 ayat (1) UUPA “bumi. Istilah dikuasai ini berarti bahwa negara sebagai organisasi kekuasaan daripada bangsa Indonesia.99 d. mengusahakan. Alumni. Belum lagi masalah Penjelasan dari UUD 1945 yang tidak lagi menjadi Penjelasan Otentik. 1973. hlm. perubahan ke empat UUD 1945 (2002) khususnya mengenai Pasal 33 telah mengalami pengembangan makna dari yang sebelumnya. penambahan dua ayat terakhir pada Pasal 33 berimplikasi pada perubahan makna Pasal 33 secara keseluruhan.mengatur segala sesuatu mengenai tanah. Dengan adanya pendirian semacam ini tidaklah diperlukan bagi negara untuk bekerja dengan pengertian milik. Bandung. Dengan demikian dapatlah kita rumuskan hakikat dan sifat hak menguasai tanah itu. Artinya istilah “dikuasai” dalam ayat ini bukan berarti “dimiliki”. 47-48. Sudargo Gautama.

Fungsi pengaturan oleh negara (regelendaad) dilakukan melalui kewenangan legislasi oleh DPR bersama dengan Pemerintah. …Rakyat secara kolektif itu dikonstruksikan oleh UUD 1945 memberikan mandat kepada negara untuk mengadakan kebijakan (beleid) dan tindakan pengurusan (bestuursdaad). Dengan tidak adanya lagi penjelasan otentik terhadap UUD 1945. dan regulasi oleh Pemerintah (eksekutif). Fungsi pengurusan (bestuursdaad) oleh negara dilakukan oleh pemerintah dengan kewenangannya untuk mengeluarkan dan mencabut fasilitas perizinan (vergunning). sebagai berikut: “Pengertian “dikuasai oleh negara” dalam Pasal 33 UUD 1945 mengandung pengertian yang lebih tinggi atau lebih luas daripada pemilikan dalam konsepsi hukum perdata. pemilik dan sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi dalam kehidupan bernegara. hlm. Putusan Perkara Nomor 001-021-022/PUUI/2003. rakyatlah yang diakui sebagai sumber. tercakup pula pengertian kepemilikan publik oleh rakyat secara kolektif. pengaturan (regelendaad). sesuai dengan doktrin “dari rakyat. mengharuskan Mahkamah Konstitusi berperan untuk menafsirkan UUD 1945 apabila munculnya pertentangan norma antara undang-undang dengan UUD 1945. pengelolaan (beheersdaad) dan pengawasan (toezichthoudensdaad) untuk tujuan sebesarbesarnya kemakmuran rakyat. dan konsesi (concessie). baik di bidang politik (demokrasi politik) maupun ekonomi (demokrasi ekonomi). Perlu dicermati kembali dari putusan Mahkamah Konstitusi tersebut di atas yang menyatakan. 332-334. 101 62 . lisensi (licentie). Dalam pengertian kekuasaan tertinggi tersebut. Pemerintah mendayagunakan penguasaannya atas sumber-sumber kekayaan itu untuk digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.q.q.merupakan koreksi terhadap pengalaman kehidupan ketatanegaraan di masa lalu yang ditimbulkan oleh tafsir ganda terhadap konstitusi. Demikian pula fungsi pengawasan oleh negara (toezichthoudensdaad) dilakukan oleh negara c. bahwa pengertian “dikuasai oleh negara” dalam Pasal 33 UUD 1945 mengandung pengertian yang lebih tinggi atau lebih luas daripada pemilikan Mahkamah Konstitusi. Dalam paham kedaulatan rakyat itu. Pertimbangan Hukum. Pemerintah dalam rangka mengawasi dan mengendalikan agar pelaksanaan penguasaan oleh negara atas cabang produksi yang penting dan/atau yang menguasai hajat hidup orang banyak dimaksud benar-benar dilakukan untuk sebesar-besarnya kemakmuran seluruh rakyat101. Fungsi pengelolaan (beheersdaad) dilakukan melalui mekanisme pemilikan saham (share-holding) dan/atau melalui keterlibatan langsung dalam manajemen Badan Usaha Milik Negara atau Badan Hukum Milik Negara sebagai instrumen kelembagaan melalui mana negara c. oleh rakyat dan untuk rakyat”. Konsepsi penguasaan oleh negara merupakan konsepsi hukum publik yang berkaitan dengan prinsip kedaulatan rakyat yang dianut dalam UUD 1945. Dalam salah satu putusannya Mahkamah Konstitusi telah memberikan pengertian atau makna dari kalimat “dikuasai oleh negara”.

Dalam teori kenegaraan dikenal teori kontrak sosial yang terdiri dari perjanjian umum (volente de generalle) dan perjanjian khusus (volente de tour). secara sosio-yuridis tidaklah hapus akibat dibentuknya negara dan pemerintah yang bernama Indonesia102. secara normatif tidak pernah ada kontrak sosial yang berisi penyerahan kekuasaan atas agraria/tanah dari rakyat kepada negara/pemerintah. liberalis. telah mempersamakan pengertian negara dengan bangsa. dan semboyan Bhinnika Ketentuan Pasal 18B UUD 1945: (1) Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang. Selain itu. …”. Pendapat dari Mahkamah Konstitusi tersebut. Namun demikian. namun mengenal konsepsi komunal yang dikenal dengan hak ulayat/hak ulaya. perjanjian dibuat berbentuk perjanjian antar sesama (rakyat) untuk membentuk negara. tidak secara otomatis hak-hak bangsa beralih menjadi hak negara. Pada volente de generalle. konsepsi yang berhubungan dengan hak-hak agraria. konsep eigendom tidak lahir dari struktur masyarakat yang komunalis.dalam konsepsi hukum perdata (konsepsi eigendom-pen). (2) Negara mengakkui dan menghormati kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia. dengan demikian. termasuk hak atas tanah bersumber pada hukum yang hidup sebagai ciri khas tatanan kerakyatan Indonesia (sebagai peculiar form of social life). sedangkan pada volente de tour adalah perjanjian yang berisikan seberapa besar kedaulatan/kekuasaan yang ada pada rakyat akan diserahkan kepada negara agar pemerintah sebagai organ negara dapat menyelenggarakan kewajibannya untuk mencapai tujuan berbangsa dan bernegara. Bahkan apabila dikaji dari sudut Pancasila. Pemaknaan yang demikian merupakan pemaknaan yang keliru. yang sekarang dengan hak menguasai negara. negara adalah produk dari budaya dari bangsa. Dalam praktiknya. karena pengertian negara tidak sama dengan pengertian bangsa. Dilihat dari sudut sejarah. yang diatur dalam undang-undang. Tatanan tersebut tidak mengenal konsepsi eigendom. hak menguasai negara cenderung ditafsirkan sebagai hak milik negara. Negara itu sendiri adalah organisasi kekuasaan yang dibentuk oleh bangsa agar tujuan berbangsa dapat dicapai. atau dengan sebutan lain. dan materialis. tetapi lahir dari masyarakat dengan tatatan individualis. 102 63 . terutama sila ketiga: Persatuan Indonesia. Dengan demikian. Karakter bangsa Indonesia yang pluralis.

Menafsirkan Menguasai Negara sebagai lembaga hukum yang lebih tinggi dari eigendom adalah bersifat destruktif. oleh karena itu lahir konsep “Staatdomein” untuk eigendom yang dimiliki oleh negara. dibandingkan dengan hak eigendom. Oleh karena itu. karena negara hanya merupakan salah satu unsur dari bangsa. serta magisch religius. tidak berkedudukan sebagai sebagai pemilik agraria. dan gotong royong. c. Dengan demikian. komunal. tidak sesuai dengan faham yang dianut Bangsa Indonesia. dan konsep “eigendom” untuk hak yang dapat dimiliki oleh individu/rakyat. Hal tersebut dikarenakan dalam konsepsi masyarakat (hak menguasai masyarakat adat). Penguasa adat adalah sebagai pemegang mandat untuk memanfaatkan agraria untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. dapat ditafsirkan bahwa konsep kesatuan adalah konsep politik. b. menggunakan konsep eigendom sebagai acuan untuk menafsirkan makna Hak Menguasai Negara adalah tidak tepat. namun tidak berkedudukan sebagai pemilik. Faham individualis yang menghasilkan konsep eigendom menempatkan negara dan rakyat pada dua posisi yang berhadapan dengan kedudukan yang sama. Dasar filosofis dan sosiologis lahirnya eigendom yaitu faham individualis. sedangkan konsep pelaksanaan pemerintahan adalah konsep persatuan. konsep hak ulayat lebih tepat digunakan untuk menjadi acuan penafsiran bagi Hak Menguasai Negara.Tunggal Ika. Dengan demikian. yaitu manusia sebagai mahkluk mono-dualis. penguasa adat yang dapat disamakan dengan negara/pemerintah. dan materialis. (Perlu ada ditegaskan) negara hanya berkedudukan sebagai lembaga yang memperoleh mandat untuk menguasai pada tingkatan tertinggi. pemilikan agraria tersebut tetap menjadi hak rakyat. harus dimaknakan sebagai pelaksanaan peran negara/pemerintah sebagai penerima/pemegang kuasa dari bangsa sebagai pemilik agraria. liberalis. dengan alasan: a. terlebih apabila yang berkuasa adalah 64 . konsep eigendom yang dijadikan dasar dari hak menguasai negara oleh Mahkamah Konstitusi tidak dapat diterima. Benar bahwa negara adalah organisasi seluruh rakyat Indonesia. namun tidak berarti bahwa negara memperoleh seluruh asset yang dimiliki Bangsa Indonesia. Seangkan secara abstrak umum. untuk memberikan suatu hak kepada subjek hukum tertentu. pemberian suatu hak atas agraria oleh negara/pemerintah kepada subjek hukum tertentu. Dengan demikian.

dalam hal ini Pasal 33 UUD 45. terutama peraturan perundangundangan di bidang agraria/pertanahan. F. Walaupun harus diakui. Kondisi demikian dapat mengakibatkan berbagai peraturan perundang-undangan yang merupakan penjabaran lebih lanjut dari Konstitusi. Kajian atas nilai dan asas-asas tersebut bertujuan untuk menemukan hakikat konsep hukum yang menjadi dasar pembangunan ekonomi di Indonesia. Pemaknaan “Hak Menguasai Negara” bukan berarti “Negara adalah pemilik agraria” saja sebagaimana pengertian-pengertian yang diberikan para ahli dapat memberikan dampak destruktif apabila pemerintah dikuasai oleh rezim kapitalis. termasuk di bidang agraria. yaitu UUD 45. maka penguasaan negara atas bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya ditujukan pada sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Jika konsep HMN diterapkan dibawah rezim yang populis. maka penguasaan oleh negara akan didistribusikan kepada segelintir orang yang kuat secara ekonomi maupun politik.rezim kapitalis. Namun. atau dalam bahasa Kuntowijoyo “negara budiman”. khususnya di bidang pertanahan. Konflik Peraturan Perundang-undangan Bidang Pertanahan Terhadap Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 1. Pengkajian nilai-nilai dan asas-asas tersebut di atas diperlukan mengingat konflik peraturan perundang-undangan di bidang agraria. Tentu akan lebih merusak lagi apabila “Hak Menguasai Negara” dimaknakan sebagai hak yang lebih tinggi dari eigendom. mengharuskan terlebih dahulu melakukan kajian terhadap nilainilai dan asas-asas yang terkandung dalam konstitusi. bahwa konsep “Hak Menguasai Negara” mengacu pada pemikiran bahwa negara/pemerintahan diselenggarakan oleh rezim yang populis. diyakini akibat adanya 65 . bertentangan dengan Pasal 33 UUD 45. Pergeseran Nilai dan Asas dari Pasal 33 UUD 1945 Pengkajian terhadap konflik peraturan perundang-undangan (aturan hukum) di bidang pertanahan. Tetapi jika penyelenggara pemerintah dibawah rezim yang kapitalistik. sehingga sangat potensial mempengaruhi rumusan berbagai peraturan perundang-undangan. tidak pernah dapat dipastikan bahwa rezim yang muncul dan berkuasa untuk melaksanakan pemerintahan adalah rezim populis.

Nilai-nilai Pancasila tersebut. bahwa aspirasi akan terciptanya kesejahteraan umum. bahwa peraturan perundang-undangan di bidang agraria. yaitu: (1) Melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Asumsi tersebut di atas didasarkan banyaknya kritik yang diajukan. terutama kemanusiaan yang adil dan beradab.perubahan nilai dan asas dari amandemen UUD 1945. mengemban dan mengejewantah suatu negara kesejahteraan (welfare state). Sebelum Amandemen UUD 1945 Pada alenia keempat Pembukaan UUD 1945 dirumuskan tujuan pembentukan Negara Indonesia dan prinsip-prinsip dasar untuk mencapai tujuan tersebut. (2) Memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. dan melemahkan rakyat untuk dapat mengakses hak atas tanah. dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. a. Tanah adalah modal dasar yang strategis dan vital dalam rangka menciptakan masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan (mayarakat adil dan makmur). yang sekaligus merupakan suatu tekad perlawanan terhadap tata kehidupan kolonial dan tekad bulat (ekaprasetia) untuk menata pemerintahan dan masyarakat 66 . Solly Lubis menafsirkan. hanya dinyatakan bahwa: “Negara hendak mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat”. dan keadilan sosial. perdamaian abadi. berarti aspirasi akan terciptanya suatu tata bina negara dan tata pemerintahannya yang mampu mencerminkan. lebih banyak melindungi penanam modal. masalah kesejahteraan umum dan keadilan sosial tidak dijelaskan secara panjang lebar. khususnya di bidang pertanahan. Perubahan nilai dan asas tersebut tidak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung pada Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum di Indonesia. dan (3) Ikut serta memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. oleh karena itu pembahasan terhadap pengaturan hukum di bidang pertanahan dalam rangka menentukan taraf sinkronisasi dan konsistensinya tidak dapat lepas dari pembahasan karena politik agraria/pertanahan yang secara konkrit dituangkan dalam berbagai peraturan perundang-undangan di bawah UUD 1945 merupakan bagian dari pengembanan politik kesejahteraan dan keadilan sosial. Dalam Penjelasan Umum UUD 1945.

dan (3). hlm. yaitu pada Bab XIV yang sebelum perubahan berjudul Kesejahteraan Sosial. Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi. perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas usaha kekeluargaan. 25 dan 63. Solly Lubis. (3) Bumi dan air dan kekajaan alam jang terkandung di dalamnja dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnja kemakmuran rakjat”. dan membina kemakmuran yang merata adil dan makmur. adalah lawan daripada sistem ekonomi kapitalisme yang mengutamakan perseorangan/individu (individualism). Pembahasan UUD 1945. secara tegas Pasal 33 UUD 1945. melarang adanya penguasaan cabang-cabang produksi yang 103 M. 67 ..yang merdeka. (2). sebagai berikut: (1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas azas kekeluargaan. Bumi dan air dan kekajaan alam jang terkandung dalam bumi adalah pokokpokok kemakmuran rakjat. oleh karena itu. Hanja perusahaan jang tidak menguasai hadjat hidup orang banjak boleh ditangan orang seorang. untuk semua.Alumni. produksi dikerdjakan oleh semua. kemakmuran bagi segala orang. Bandung. 1985. Makna kata-kata produksi dikerjakan oleh semua. maka bidang ekonomi menjadi faktor utama dalam kehidupan bernegara. bidang ekonomi diatur dalam bab tersendiri dalam UUD 1945. Di bawah Bab XIV tersebut tercantum Pasal 33 yang sebelum perubahan terdiri dari ayat (1). Sebab itu tjabang-tjabang produksi jang penting bagi Negara dan jang menguasai hidup orang banjak harus dikuasai oleh Negara. berhak menetukan nasib sendiri (self determination). Sebab itu. Bangun perusahaan jang sesuai dengan itu ialah koperasi. Kalau tidak. Penjelasan Pasal 33: Dalam pasal 33 tertjantum dasar demokrasi ekonomi. (2) Tjabang-tjabang produksi yang penting bagi Negara dan jang menguasai hadjat hidup orang banjak dikuasai oleh Negara. Sebab itu harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakjat. Oleh karena itu. untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggauta-anggauta masjarakat.103 Sebagai negara yang bertujuan memberikan kesejahteraan bagi rakyat. berdaulat.yang diutamakan bukan kemakmuran orang perorang. Rumusan Pasal tersebut berdasarkan ejaan lama. Sistem ekonomi kapitalisme hanya akan melahirkan ketimpangan sosial yang sangat tajam atau hanya memakmurkan segelintir orang saja. Kemakmuran masjarakatlah jang diutamakan bukan kemakmuran orang seorang.. tampuk produksi djatuh ketangan orang seorang jang berkuasa dan rakjat jang banjak ditindasnja.

Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara. mulai dari tahun 1999 sampai tahun 2002 yang menghasilkan empat kali perubahan. Perubahan penting lainnya adalah Penjelasan UUD 1945 tidak lagi ditempatkan sebagai penjelasan otentik dari UUD 1945. berkelanjutan. efisiensi berkeadilan. Dan bentuk perusahaan yang sesuai bagi prinsip-prinsip demokrasi ekonomi sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 33 adalah koperasi. Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Setelah perubahan. berwawasan lingkungan.penting bagi negara oleh orang perorang (individu) secara terpusat (monopoli dan oligopoli) maupun praktek-praktek cartel dalam hal pengelolannya. Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan.104 menyatakan. 104 Berpengalaman sebagai legal drafter mewakili F-PPP di DPR Rl pada Badan Pekerja MPR Rl dan Pansus pelbagai RUU dalam periode DPR/MPR Rl periode 1977-1982 dan 1982-1987. kemandirian. Pembahasan rancangan peruabahannya dilakukan oleh Badan Pekerja Majelis Permusyawaratan Rakyat (BP-MPR). (1) (2) (3) (4) (5) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. yaitu berkisar pada materi perubahan (substansial) maupun dari segi proses amandemen. menjadi Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial. dengan pasal yang diliputinya yaitu: Pasal 33. b. Rumusan Pasal 33 UUD 1945 setelah diamandemen selengkapnya adalah: Secara umum amandemen UUD 1945 perubahan pertama sampai dengan perubahan ke empat menimbulkan ‘kontroversi’ di kalangan cendekiawan (intellectual) maupun dari masyarakat sipil lainnya. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang. Pasal 34 danPasal 37. judul BAB XIV dirubah dari Kesejahteraan Sosial. 68 . Ridwan Saidi. adanya keinginan sebagian masyarakat untuk kembali ke UUD 1945. serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. Pasal 33 yang semula terdiri dari tiga ayat diubah menjadi 5 (lima) ayat. Setelah Amandemen UUD 1945 UUD 1945 mengalami perubahan sebagaimana tuntutan reformasi tahun 1998.

Jika merujuk pada pengertian asasi demokrasi politik. Mubyarto menyatakan. Mubyarto menyatakan. Pendapat lain yang muncul berkaitan dengan penambahan ayat pada Pasal 28. memiliki. yaitu “Perekonomian Nasional” dan “Kesejahteraan Sosial”. maka tafsir yang didapat adalah mayoritas (kekuatan) kapital yang menentukan. masyarakat menyakini bahwa UUD 1945 hasil amandemen MPR tahun 1999–2002 membawa semangat ‘(Neo) Liberalisme’ dalam kehidupan kenegaraan. sesuai dengan hati nuraninya”. menimbulkan pertanyaan: demokrasi ekonomi yang bagaimana yang menjadi faham ekonomi Indonesia sekarang setelah terjadi penambahan ayat tersebut?. karena pada saat disahkannya UUD 1945. oleh karena itu perubahan BAB XIV dirumuskan dalam 2 (dua) variable.105 Perubahan Pasal 28 mengakibatkan aspek ideologi dan keamanan nasional menjadi tidak jelas kedudukannya (vide: pasal 28E ayat (4) dan pasal 28F). Indonesia Pasca Reformasi menganut sistem ekonomi kapitalis. yaitu penambahan Pasal 33 ayat (4). mengolah dan menyampaikan informasi dengan menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”. memperoleh. Pasal 28F: “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya. Pasal 33. perubahan tersebut terjadi karena (anggota MPR) menganggap bahwa perekonomian nasional bisa dilepaskan kaitannya dengan kesejahteraan sosial. Sedangkan penambahan ayat pada Pasal 33 dengan Pasal 33 ayat (4) yang intinya mengedepankan prinsip demokrasi ekonomi. yaitu Pasal 28E ayat (2). esensinya adalah mayoritas suara yang menentukan. Pasal 28F dan. menyatakan pikiran dan sikap. Hal ini berarti. 105 69 . perubahan Judul BAB XIV UUD 1945 tentang “Kesejahteraan Sosial” menjadi “Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial” adalah perubahan yang menyesatkan. faham ekonomi kekeluargaan yang dianut bangsa Indonesia juga menjadi tidak jelas kedudukannya.terutama tdisebabkan. Jika makna demikian dijadikan patokan untuk memahami makna demokrasi ekonomi. menyimpan. bahwa baik buruknya perekonomian nasional akan ikut menentukan tinggi rendahnya kesejahteraan sosial. Perumusan demikian bertentangan dengan pendirian founding fathers. serta berhak untuk mencari. Konsekwensi penambahan ayat pada Pasal 28 tersebut adalah. para pendiri negara tidak pernah ragu dalam pendiriannya. Pasal 28E ayat (2): “Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan.

yaitu: (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing. perekonomian yang berasaskan kekeluargaan (ekonomi Pancasila) tidak berarti sistem ekonomi “bukan pasar”. (4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1970 Tentang Penghapusan Pengadilan Landreform. 106 70 . Jurnal Ekonomi Rakyat. (5) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1972 Tentang Ketentuan Pokok Transmigrasi Mubyarto adalah salah satu pakar ekonomi yang awalnya terlibat dalam perumusan perubahan Pasal 33 UUD 1945. Mereka yang ingin menggusur asas kekeluargaan mengira asas kekeluargaan menolak sistem ekonomi pasar yang berprinsip efisiensi. www. Padahal.“Paradigma Kesejahteraan Rakyat dalam Ekonomi Pancasila“. dan (v) Peraturan Menteri Dalam Negeri.II–No. berarti hilangnya pengertian ‘demokrasi ekonomi’ dan hilangnya kata ‘koperasi’ sebagai bangunan perusahaan yang sesuai dengan demokrasi ekonomi. yang kemudian mengundurkan diri karena ada perbedaan pandangan dengan anggota tim pakar ekonomi lainnya. (2) (3) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan.4–Juli 2003.Lebih jauh Mubyarto menyatakan. (iii) Keputusan Presiden. amandemen Pasal 33 dengan menambahkan ayat (4) tentang “penyelenggaraan perekonomian nasional” yang dibedakan dari “penyusunan perekonomian” pada ayat (1) adalah sekedar mencari kompromi antara mereka yang ingin mempertahankan dan yang ingin menggusur asas kekeluargaan pada ayat (1). Berkaitan dengan penghapusan Penjelasan UUD 1945. Mubyarto berpendapat sebagai kekeliruan fatal dan dapat dianggap sebagai “pengkhianatan” terhadap ikrar para pendiri negara.ekonomirakyat. Terdapat 12 (dua belas) Peraturan Perundang-undangan yang diterbitkan. (iv) Instruksi Presiden. Produk Aturan Hukum Pertanahan Orde Baru (1967 – 1998) Peraturan Perundang-undangan yang dikaji pada era Orde Baru terdiri: (i) Undang-Undang.org. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 Tentang Ketentuan Pokok Pertambangan. Penghapusan penjelasan Pasal 33. (ii) Peraturan Pemerintah.106 2. Artikel–Th. Argumentasinya mengenai Perubahan BAB IXV UUD 1945 secara lengkap dapat dilihat dalam:Mubyarto.

(10) Keputusan Pesiden Nomor 26 Tahun 1988 Tentang Badan Pertanahan Nasional. yaitu: (1) (2) (3) Periode stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi Periode produktivitas dengan sistem modernisasi dan Periode deregulasi pertanahan. Kajian terhadap kedua belas peraturan perundang-undangan tersebut akan dibagi menjadi 3 (tiga) periodesasi. (7) Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1973 Tentang Pelaksanaan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya. Untuk menjawab pertanyaan apakah terdapat konflik peraturan perundangundangan di bidang pertanahan pada era Pemerintahan Orde Baru dalam rangka menentukan keselarasannya dengan Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945. (9) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1976 Tentang Penggunaan Acara Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan Pemerintah Bagi Pembebasan Tanah Oleh Pihak Swasta. pendekatan yang dipakai ialah dengan cara mengukur taraf sinkronisasi dan konsistensi Peraturan Perundang-undangan yang dimaksud dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dengan mendalami karakteristiknya berdasarkan periodesasi diterbitkannya aturan hukum tersebut. yaitu: a. (8) Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 Tentang Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah. Periode Stabilitas Politik Demi Pertumbuhan Ekonomi (1967 – 1973) Produk hukum mengenai penguasaan tanah yang dikaji pada periode stabilitas politik dan pertumbuhan ekonomi adalah: 71 .(6) Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1973 Tentang Acara Penetapan Ganti Kerugian Oleh Pengadilan Tinggi Sehubungan Dengan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya. (12) Keputusan Pesiden Nomor 55 Tahun 1993 Tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. (11) Keputusan Pesiden Nomor 53 Tahun 1989 Tentang Kawasan Industri.

dan. Peraturan Perundang-Undangan yang dikaji pada bagian ini seluruhnya berkaitan erat dengan sumber-sumber agraria. apakah dapat disimpulkan bahwa peraturan perundangan-undangan tersebut tidak selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 ? 72 . yaitu yang satu merupakan pengaturan secara khusus dari yang lain. bagaimanakah jika peraturanperaturan yang dimaksud di atas bertentangan dengan asas-asas yang tecantum dalam UUPA. (5) Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1972 tentang Ketentuan Pokok Transmigrasi. oleh karenanya disebut Undang-Undang Pokok Agraria. (4) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1970 tentang Penghapusan Pengadilan Landreform.(1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 Tentang Penanaman Modal Asing. Adapun pelaksanaannya akan diatur didalam berbagai undang-undang. Mengingat akan sifatnya (UUPA) sebagai peraturan dasar bagi hukum agraria yang baru. tetapi di dalam konsiderans mengingat masing-masing peraturan-peraturan ini tidak sama sekali mencantumkan UUPA. maka yang dimuat hanyalah azas-azas serta soal-soal garis besarnya saja. peraturan-peraturan Pemerintah dan peraturan-perundangan lainnya. (2) Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Kehutanan (UUPK). peraturan-peraturan yang tersebut di atas materi muatannya merupakan pengaturan secara khusus dari UUPA. akan tetapi ruang lingkup materi muatan antara kedua peraturan perundang-undangan itu tidak sama. Beranjak dari hal ini. Oleh karena itu. untuk itulah materi muatan yang diaturnya tidak boleh bertentangan dengan asas-asas yang telah ditetapkan oleh UUPA. Asas ini merujuk kepada dua peraturan perundang-undangan yang secara hierarkis mempunyai kedudukan yang sama. pertanyaannya adalah. artinya Peraturan Perundang-undangan yang berkaitan dengan agraria yang ditetapkan setelah lahirnya UUPA berlaku asas “lex specialis derogat legi generali”. Padahal di dalam Penjelasan Umum UUPA telah ditetapkan bahwa UUPA merupakan dasar bagi penyusunan peraturan-peraturan lainnya yang berkaitan dengan dengan agraria. Dengan demikian. (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan Pokok Pertambangan.

Kemudian Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 di adopsi oleh Pasal 2 ayat (1) UUPA. dapat ditarik pengertian bahwa. berkaitan dengan ayat (1) menekankan pada asas kollektivitas atau dasar kekeluargaan yang dimaksudkan bahwa corak perusahaan yang nantinya akan menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi negara yang sesuai adalah koperasi. Jika dilihat dari muatannnya. kedua belas aturan hukum tersebut berkarakter: (1) (2) Sangat eksploitatif terhadap sumber daya alam. baik modal asing maupun dalam negeri. hingga semua tanah diseluruh wilayah kedaulatan bangsa dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Kedua. artinya peraturan-peraturan yang berkaitan dengan agraria yang ditetapkan setelah lahirnya UUPA harus sejalan dengan asas-asas yang tercantum dalam UUPA. jika peraturan-peraturan tersebut tidak di dasarkan pada asas-asas yang ada di dalam UUPA maka peraturan tersebut akan tidak selaras dengan UUPA yang otomatis juga tidak selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. hukum menjadi alat yang ampuh bagi pelaksanaan ideologi dan program negara (Positivis Instrumentalis) yang dalam hal ini diposisikan sebagai alat peningkatan pendapatan dan devisa negara demi tercapainya pertumbuhan ekonomi. jika disimak dari Konsiderans Berpendapat huruf d dari UUPA dinyatakan secara tegas bahwa UUPA merupakan pelaksanaan dari ketentuan dalam Pasal 33 Undang-undang Dasar dan Manifesto Politik Republik Indonesia. Jadi jelaslah bahwa semangat yang terkandung dalam Pasal 33 ayat (3) adalah sosialisme Indonesia (populisme) yang mementingkan dan memperjuangkan rakyat 73 . Sedangkan jika kita merujuk pada karakteristik dari Pasal 33 ayat (3). Sangat berpihak pada sistem ekonomi kapitalis (akumulasi modal). Pertama. (3) Konservatif/Ortodoks. pertama-pertama harus dilihat apakah UUPA merupakan delegasi dari Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. baik secara perseorangan maupun secara gotong-royong.Untuk menjawab pertanyaan di atas. yang mewajibkan Negara untuk mengatur pemilikan tanah dan memimpin penggunaannya. Ketiga. Bagaimanakah karakteristik dari kedua belas aturan hukum tersebut. seluruh asas tersebut bermuara pada peningkatan kemakmuran rakyat. sistem sosialisme yang merupakan turunan dari asas kekeluargaan di atas merupakan antitesis dari sistem perekonomian kapitalistik. Namun.

Lembaran-Negara Tahun 1966 Nomor 104). Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1973 tentang Pelaksanaan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 tentang Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah. Pencabutan hak dimungkinkan. Pasal 18. tetapi diikat dengan syarat-syarat. UUPA: “Pasal ini merupakan jaminan bagi rakyat mengenai hak-haknya atas tanah.kecil yang lemah. 3. yang mana seluruh ormas petani diikut sertakan untuk mengontrol program tersebut. 4. Seluruh Peraturan Perundang-undangan di atas berkaitan erat pada UndangUndang Nomor 20 tahun 1961 tentang Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan BendaBenda yang ada di Atasnya. Dengan demikian dapat disimpulkan Peraturan Perundang-undangan yang dikaji pada periode ini tidak selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. misalnya harus disertai pemberian ganti-kerugian yang layak”. 2. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1976 tentang Penggunaan Acara Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan Pemerintah Bagi Pembebasan Tanah oleh Pihak Swasta. b. terutama dalam rangka melaksanakan usaha-usaha pembangunan Negara”. Hal ini terlihat jelas pada saat pemerintahan Orde Lama melaksanakan program landreform (1960-1965). Undang-undang ini merupakan peraturan pelaksana dari Pasal 18 UUPA107 sebagaimana yang rumusan dari Konsiderans Menimbang huruf a peraturan tersebut: 197 “bahwa perlu diadakan peraturan baru mengenai pencabutan hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya sebagai yang dimaksud dalam pasal 18 Undang-undang Pokok Agraria (Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960. 107 74 . Peraturan Pemerintah Nomor 39 Tahun 1973 tentang Acara Penetapan Ganti Kerugian Oleh Pengadilan Tinggi Sehubungan Dengan Pencabutan Hak-Hak Atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di Atasnya. Politik populis berarti menonjolkan prinsip-prinsip partisipasi atau mengikutsertakan kekuatan-kekuatan politik yang ada di masyarakat dalam melaksanakan program-program agraria. yaitu: 1. dan. Periode Produktivitas dengan Sistem Modernisasi (1973 – 1984) Pada periode ini Peraturan Perundangan-undangan yang dikaji ada empat.

memuat prinsip. Artinya proses pelepasan hak atas tanah untuk kepentingan umum. 39 tahun 1973 yang kemudian diatur lebih lanjut dengan Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 1973. Namun pada era pemerintahan Orde Baru. 15 tahun 1975 108 75 . Peraturan-peraturan yang lebih operasional ini sebenarnya hanya dimaksudkan untuk merekayasa atau melicinkan program-program pembangunan yang telah ditargetkan pemerintah. yang pada intinya mereduksi prosedur pencabutan hak atas tanah untuk kepentingan pembangunan pada saat itu.Rumusan Pasal 18 UUPA dan materi muatan UU No. atau tidak secara sepihak ditetapkan oleh pemerintah. Mereka menilai Permendagri No. tercium itikad yang kurang baik dalam pembentukan peraturan-peraturan pelaksana itu. hanya dapat dilakukan melalui pencabutan hak berdasarkan ketentuan yang dituangkan ke dalam undang-undang. dan tidak menguntungkan pihak “pencabut” hak yang ingin menguasai tanah dengan cepat dan murah. memerlukan tanah untuk keperluan pembangunan. Jika disimak dari penjelasan Pasal 6 UU No. apabila pihak lain. ketika diadakan Seminar Nasional di Ambon tahun 1977 oleh BPHN. Artinya prosedur pencabutan hak itu telah pula diatur dalam peraturan ini. karena terlihat hanya sekedar ingin melegalisasi perbuatannya agar kelihatan konstitusional dan tidak melanggar hukum. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 2 Tahun 1976. secara tegas dinyatakan bahwa “Pasal ini memuat ketentuan mengenai acara pencabutan hak yang khusus sebagai yang telah diuraikan di dalam Penjelasan Umum…”. Oleh karena itulah dibuat deregulasi dalam hal pencabutan hak atas tanah. Pasal 5 dan 6 UU No. penguasa maupun pengusaha. 20 tahun 1961. maka cara untuk memperoleh tanah yang diperlukan harus ditempuh musyawarah dengan pemegang hak atas tanah hingga tercapai kata mufakat yang benar-benar keluar dari maksud baik antara kedua belah pihak.108 Hal ini sejalan dengan semangat pemerintah pada periode tahun Kontroversi masalah ini telah diangkat oleh kalangan pakar hukum. Berkaitan dengan alasan-alasan inilah. Menurut Ali Sofwan Husein. 20 Tahun 1961. pemerintah Orde Baru menganggap undang-undang pencabutan hak atas tanah dirasakan bertele-tele—tidak efisien. 20 Tahun 1961 dibuatkan peraturan pelaksananya lewat PP No. Argumentasi ini didasari pada prinsip bahwa peraturan yang sangat menyentuh kehidupan vital dimasyarakat (tanah) pembuatannya harus dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan DPR.

apalagi keadilan substantif. terutama kekuatan modal asing lewat negara donor maupun lembagalembaga keuangan Internasional. Karena tatanan hukum refresif sangat terikat pada status quo dengan otoritas yang sangat kuat kepada penguasa. Berdasarkan uraian di atas dapat ditemukan karakteristik Peraturan Perundangundangan pada periode ini adalah sebagai berikut: 1. sebagaimana argumentasi Hannah Arendt yang dikutip Philippe Nonet. misalnya dengan mendorong dan mengorganisir persetujuan pasif dalam rangka musyawarah penetapan ganti rugi dalam hal pencabutan hak atas tanah. Pada periode orde baru tingkat refresifitas hukum diperlihatkan secara mencolok. Pragmatis dan sangat akomodatif terhadap kekuatan modal (capitalism). 2. Dampak yang sangat terasa dari karakter hukum yang refresif ialah “ketidak adilan yang tegas” atau keberadaan hukum tidak menjamin keadilan. Represif. 3. dengan ciri pemerintah sangat dominan dalam pembentukkan hukum dan menentukan arah perkembangan hukum masyarakat. hlm. Konservatif/Ortodoks. Semangat inilah yang mendorong pemerintah mengeluarkan peraturan pelaksana (yang dilepaskan kaitannya) dari UU No. terutama terhadap rakyat miskin di pedesaan maupun di perkotaan. 38-40. Konflik Pertanahan (Dimensi Keadilan dan Kepentingan Ekonomi). 1997. misalnya penggunaan kekerasan dengan melibatkan aparat keamanan (tentara) dalam melakukan pembebasan tanah. a repressive potential is generated when urgent task must be met under sebagai peraturan yang cacat yuridis dan menyalahi jenjang hierarkis peraturan perundang-undangan sebagaimana yang diatur oleh TAP MPR. Pustaka Sinar Harapan. Secara umum potensi represif dimunculkan ketika tugas yang mendesak harus dihadapi dengan kondisi adanya kekuasaan yang cukup namun kekurangan sumber daya.1973-1983 yaitu memacu produktivitas di pedesaan dengan proyek-proyek pembangunan yang dipicu dengan meningkatnya penerimaan negara dari sektor migas (oil boom). Tetapi adakalanya represi diterapkan dengan sangat halus dan dilakukan secara tidak langsung. Dalam: Ali Sofwan Husein. sehingga membuat kekuasaan semakin efektif. “In general. 76 . Jakarta. 20 tahun 1961 tentang Pencabutan Hak Atas Tanah dalam upaya memfasilitasi proyek-proyek pembangunan yang akan dilaksanakannya.

134-155. 15 tahun 1975: “bahwa untuk memenuhi kebutuhan akan tanah dalam usaha-usaha Pembangunan…dirasakan perlu adanya ketentuan mengenai pembebasan tanah dan sekaligus menentukan besarnya ganti rugi atas tanah yang diperlukan secara teratur. Penjelasan Umum PP No. Dan hampir disetiap konflik tanah yang ada. 2 tahun 1976: “bahwa untuk merangsang pihak swasta dalam pelaksanaan pembangunan dipandang perlu adanya bantuan fasilitas dari Pemerintah yang berbentuk jasa-jasa dalam pembebasan tanah rakyat dalam rangka penyediaan tanah. New York. hlm. hal ini makin diperparah dengan peranan pemerintah (daerah) sebagai negosiator dan penyedia tanah murah bagi investor. maka tidak mengherankan jika pada periode ini (1974-1983) atau katakanlah selama 32 tahun masa pemerintahan orde baru bermunculan sengketa tanah disetiap proses pembebasannya. Sebagaimana yang dinyatakan di dalam penjelasan maupun konsideransnya. hlm. untuk pembangunan proyek-proyek yang bersifat menunjang kepentingan umum…”. Hagerstown. Harper Colophon Books. peran pemerintah lebih mengutamakan kepentingan investor demi mensukseskan program pembangunannya. London. Berdasarkan paparan di atas. 109 77 .conditions of adequate power but scarce resources”109. c. Philippe Nonet & Philip Selznick. “On Violence” in Crisis of Republic (New York: Harcourt Brace Jovanovich. Harper & Row. apabila dicermati secara apriori orang awam pun akan menuding pada masalah besaran ganti kerugian yang tidak disepakati. tertib dan seragam”. 1972. Sengketa-sengketa yang timbul ini. Law and Society in Transition-Toward Responsive Law. 1972). antara rakyat dengan pemerintah atau rakyat dengan investor yang diwakili oleh pemerintah. Sedangkan dari tinjauan yang lebih mendalam akan bermuara pada Hannah Arendt. karena semua pihak berkepentingan terhadap putusan yang cepat tersebut”. 39 tahun 1973: “tujuan utama dari acara ini adalah untuk mendapatkan putusan secara cepat. sebagai berikut: a. 1978. Konsiderans Menimbang huruf a. Permendagri No. b. Argumentasi ini menjadi sejalan dengan alasan ditetapkannya peraturan perundang-undangan di atas.36. San Fransisco. Konsiderans Menimang huruf b Permendagri No.

dan menentukan arah perkembangan hukum dimasyarakat. merebaknya konflik pertanahan yang memicu aksi-aksi protes petani pada tahun 1980-an hingga tahun 1990-an dan menjadi salah satu issu politik nasional yang paling menonjol pada saat itu. Misalnya. 2005. yang mana justru sangat melindungi keberadaan petani kecil dan petani tak bertanah dari penghisapan yang sangat potensial dilakukan oleh kelompok berekonomi kuat (investor). nyata-nyata telah bertentangan dengan semangat dan makna yang terkandung di dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 junto UndangUndang Pokok Agraria (UU No. Kebijakan-kebijakan pada periode ini sebenarnya lebih kepada upaya-upaya menanggulangi dan meminimalisasi dampak.110 Dengan demikian dapatlah ditarik kesimpulan bahwa produk hukum yang berkaitan dengan penguasaan tanah pada era pemerintahan orde baru periode tahun 1974–1983 cenderung berkarakter represif dan bersifat positivis-instrumentalis. Keputusan Pesiden Nomor 26 Tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional. Keputusan Presiden Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. Karena pemerintahan Orde Baru pada masa ini. Arie S.kondisi dimana warganegara/rakyat dihadapkan pada pilihan menerima ganti kerugian (diganti tapi rugi) yang ditetapkan oleh penguasa. 3. Lembaga Pemberdayaan Hukum Indonesia. yaitu: 1. 174. c. 2. hlm. Periode Derugulasi Pertanahan (1984 – 1990-an) Pada periode ini Peraturan Perundangan-undangan yang dikaji ada tiga.Hutagalung. Keputusan Pesiden Nomor 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri. dan. 110 78 . Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah. dari kebijakan masa sebelumnya. 5 tahun 1960). Kesimpulan di atas membawa impliksi bahwa produk hukum mengenai penguasaan tanah pada periode ini. banyak mendapat pelajaran dari akibat yang ditimbulkan kebijakan-kebijakan yang telah dikeluarkannya. Sifat dan karakter represif produk hukum pada periode ini merupakan konsekuensi logis dari paradigma “modernisasi/pembangunanisme” (ekonomi) yang dianut pemerintah orde baru. Artinya hukum hanya menjadi alat (instrumen) untuk memaksakan program-program pemerintah. Jakarta.

Upaya untuk meningkatkan penanaman modal ini tentunya harus disertai dengan deregulasi beberapa paket kebijakan untuk melancarkan jalan pihak swasta dalam menanamkan modalnya. Oleh karena itu. 2 Tahun 1976 tentang Pengunaan Acara Pembebasan Tanah Untuk Kepentingan Pemerintah Bagi Pembebasan Tanah oleh Pihak Swasta. 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum. Pembiayaan pembangunan pada sektor agro-industri ini ternyata tidak mampu ditopang oleh RAPBN pada masa itu (1986/1987) karena turunnya harga minyak di pasaran Internasional. Adapun karateristik atau watak dari ketiga Permendagri No. kebijakan-kebijakan mengenai penguasaan tanah pada periode ini tujuannya semata-mata untuk mempermudah perusahaanperusahaan swasta asing (PMA) maupun dalam negeri (PMDN) untuk mendapatkan hak atas tanah. Ketiga keputusan presiden di atas mewakili kebijakan mengenai penguasaan tanah pada periode tahun 1984-1990-an. Pada perkembangan selanjutnya penyediaan kawasan industri ini menemui hambatanhambatan terutama mengenai penyediaan lahan sebagai kawasan industri. Pada sisi lain. Setelah itu. dan Permendagri No. terjadi juga pergeseran fokus pembangunan ke sektor agro-industri khususnya ekspor non migas. 111 79 . Kaitannya dengan bidang agro-industri adalah masalah pengadaan tanah harus menjadi prioritas utama. 15 Tahun 1975 tentang Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah. Permendagri No. Untuk menjawab permasalahan tersebut pemerintah mengeluarkan Keppres No. Mula-mula dikeluarkan kebijakan untuk meningkatkan kedudukan dan fungsi Derektorat Jenderal Agraria Departemen Dalam Negeri menjadi Badan Pertanahan Nasional lewat Keppres No. 2 Tahun 1985 tentang Tata Cara Pengadaaan Tanah untuk Keperluan Proyek Pembangunan di Wilayah Kecamatan. Selain itu peraturan-peraturan yang ada mengenai pembebasan hak atas tanah111 memunculkan reaksi dari berbagai pihak sehingga dapat menghambat proses pembangunan. 53 Tahun 1989 tentang Kawasan Industri.Munculnya konflik-konflik pertanahan pada periode ini. pemerintah tetap ingin mempertahankan pertumbuhan ekonomi. untuk merangsang investasi dalam kaitannya dengan pembiayaan pembangunan. 26 Tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional. selain disebabkan karena meningkatnya pertumbuhan penduduk. pemerintah perlu menyediakan kawasan industri dengan berbagai kemudahannya lewat Keppres No. maka salah satu jalannya adalah mendorong pihak swasta untuk menanamkan modalnya disektor agro-industri.

Lincoln Institute of Land Policy. dan penggunaan tanah. adanya kebutuhan. baik untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri maupun untuk ekspor. yaitu: (a) mempercepat pertumbuhan industri. yang secara umum menyebutkan bahwa pengadaan tanah harus berdasarkan kepentingan umum. Anatomi Keppres 55 Tahun 1993 112 80 . dan penggunaan tanah. artinya peraturan yang dikeluarkan bersifat reaksioner terhadap berbagai sengketa agraria yang muncul. pada periode ini sifat pragmatis dan sangat akomodatif terhadap kepentingan modal tetap bertahan. Misalnya.dirasakan makin meningkat. dikutip oleh Maria S. rumusan mengenai kepentingan umum tetap menjadi issu krusial. (c) mendorong kegiatan industri untuk berlokasi di Kawasan Industri. Istilah kepentingan umum yang dipakai dapat bervariasi. Kedua.. Menurut Michail G. Sumardjono. pada umumnya terdapat dua cara untuk mengungkapkan tentang doktrin kepentingan umum itu. Dalam Konsiderans Menimbang Keppres No. yaitu: Pertama.. Land Acquisition In Developing Countries. dan sesuai dengan sifatnya sebagai pedoman. 53 Tahun 1989 disebutkan: ”bahwa dalam rangka mempercepat pertumbuhan industri. 55 tahun 1993. di dalam Konsiderans Menimbang Keppres No. pedoman umum..meningkat pula permasalahan yang timbul di bidang pertanahan. dan (c) menyediakan fasilitas lokasi industri yang berwawasan lingkungan. 26 Tahun 1988 disebutkan: ”bahwa dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Kasus-kasus pertanahan semata-mata hanya dianggap sebagai persoalan administratif belaka. yaitu: Pertama. Sedangkan di dalam Keppres No. dalam bukunya ”Land Acquisition in Developing Countries”. (b) memberikan kemudahan bagi kegiatan industri. Kedua.aturan hukum ini. sebagaimana periode sebelumnya. bahwa dengan meningkatnya kebutuhan.112 Michael G Kitay. dipetakan menjadi dua karakter. Karateristik tersebut terlihat jelas dari rumusan-rumusan di dalam konsiderans maupun materi muatannya. penguasaan. dipandang perlu untuk mengatur pengusahaan kawasan industri secara produktif dan efisien.W. Kitay. kemudian dalam Pasal 2 disebutkan tujuan dari pembangunan kawasan industri.. bersifat defensifreaktif. penyebutan kepentingan umum dalam suatu daftar kegiatan yang secara jelas mengidentifikasikan tujuannya (list provitions). Boston. maka hal ini mudah menyebabkan kebebasan eksekutif untuk menyatakan suatu proyek memenuhi kepentingan umum dimasyarakat dengan menafsirkan pedoman tersebut. penguasaan.

Dalam Untoro Hariadi & Masruchah (editor). Forum LSM-LPSM DIY. 3. sedangkan pembangunan untuk kepentingan umum di dibatasi pada: (i) kegiatan pembangunan yang dilakukan dan (ii) selanjutnya dimiliki Pemerintah serta (iii) tidak digunakan untuk mencari keuntungan. Tanah. lahar lain-lain bencana. (f) Pendidikan atau sekolahan. Lihat Pasal 1 angka 3. (c) Rumah Sakit Umum dan Pusat-pusat Kesehatan Masyarakat. Yogyakarta. (m) Kantor Pemerintah. semua Peraturan Perundang-undangan yang dikeluarkan mengenai penguasaan tanah pada periode ini ditujukan untuk mempermudah perolehan tanah dalam hal penanaman modal demi mengejar pertumbuhan ekonomi.113 Tetapi rumusan norma ini menjadi kabur dengan dirumuskannya Pasal 5 ayat (2) yang menyatakan bahwa kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum selain yang dimaksud dalam daftar kegiatan sebagaimana diatur pada ayat (1) dapat ditetapkan dengan Keputusan Presiden. (b) Waduk. dan (2) Periode resentralisasi kewenangan pertanahan. 113 Daftar kegiatan kepentingan umum tersebut adalah: (a) Jalan umum. (e) Peribadatan. yang dibagi dalam dua periodesasi. tetapi juga tidak menginginkan totaliterisme. Hal ini tidak selaras dengan semangat yang terkandung dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 yang menolak faham liberalisme mutlak. 55 tahun 1993. 105. (j) Pos dan Telekomunikasi.Pada Pasal 1 angka 3 kepentingan umum didefinisikan sebagai kepentingan seluruh lapisan masyarakat. (h) Fasilitas pemakaman umum. dan Pasal 5 ayat (1) Keppres No. TentangPengadaan Tanah. saluran pembuangan air. 81 . bendungan dan bangunan pengairan lainnya termasuk saluran irigasi. (k) Sarana Olah Raga. (g) Pasar Umum atau Pasar INPRES. Selanjutnya batasan ini disertai dengan penyebutan kepentingan umum dalam suatu daftar kegiatan (list provision). televisi beserta sarana pendukungnya. Produk Aturan Hukum Pertanahan Era Reformasi (1998–2006) Peraturan Perundang-undangan yang dikaji pada era Reformasi berjumlah 6 peraturan. (i) Fasilitas Keselamatan Umum seperti antara lain tanggul penanggulangan bahaya banjir. Rakyat dan Dmokrasi. hlm. yaitu: (1) Periode desentralisasi kewenangan pertanahan. 1995. Keputusan Pesiden Nomor 48 Tahun 1999 tentang Tim Pengkajian Kebijaksanaan Peraturan Perundang-undangan dalam Rangka Pelaksanaan Landreform. Dengan demikian. (l) Stasiun penyiaran radio. (n) Fasilitas Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. Adapun Peraturan Perundang-Undangan yang dikaji adalah sebagai berikut: 1. (d) Pelabuhan atau bandar udara atau terminal.

Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah di Bidang Pertanahan. dan. 1. Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah dibidang Pertanahan. Keputusan Pesiden Nomor 48 Tahun 1999 tentang Tim Pengkajian Kebijaksanaan Peraturan Perundang-Undangan dalam Rangka Pelaksanaan Landreform. tepatnya tanggal 7 Mei 1999 ditetapkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang menganut asas desentralisasi dalam penyelenggaraan pemerintahan.2. Keputusan Pesiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. namun analisisnya akan ditulis dalam satu kerangka. 3. mengingat issu yang muncul pada era pemerintahan reformasi masih dalam satu issu pokok yaitu apakah desentralisasi atau sentralisasi di bidang pertanahan selaras dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Periode Desentralisasi Kewenangan Pertanahan (1998 – 2003) Pada periode ini Peraturan Perundang-undangan yang dikaji adalah. 3. Perubahan dalam sistem penyelenggaraan pemerintahan ini 82 . Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Keputusan Pesiden Nomor 34 Tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Peraturan Perundang-undangan mengenai penguasaan tanah pada era Reformasi dibagi atas dua periodesasi yaitu periode tahun 1998–2003 dan periode tahun 2004–2006. 2. Satu tahun setelah Reformasi Mei 1998. 6. dengan memberikan kesempatan kepada daerah untuk menyelenggarakan otonomi daerah. 4. a. Aturan hukum ini sangat berbeda dengan aturan hukum sebelumnya tentang pemerintahan daerah. 5. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional.

kesehatan. lingkungan hidup. perhubungan. Kewenangan Daerah Kabupaten dan Daerah Kota mencakup semua kewenangan pemerintahan selain kewenangan yang dikecualikan dalam Pasal 7 dan yang diatur dalam Pasal 9. penanaman modal. Tim ini selanjutnya disebut Tim Landreform dengan tugas-tugasnya sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 3 Keppres tersebut. Menyusun dan merumuskan kebijaksanaan dan rancangan peraturan perundang-undangan yang diperlukan untuk terlaksananya Landreform. pertanian. Melakukan pengkajian terhadap peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan.membawa implikasi pada perubahan pranata dan struktur pemerintahan daerah. b. Bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi pekerjaan umum. yakni: a. pemerintah mengeluarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 48 Tahun 1999 yang mengamanatkan pembentukan Tim Pengkajian Kebijaksanaan dan Peraturan Perundang-undangan dalam Rangka Pelaksanaan Landreform. Hal ini merupakan konsekuensi dari rumusan Pasal 11 UU No. sekaligus merumuskan 83 . pendidikan dan kebudayaan. Secara tersirat Keppres tersebut di atas menginginkan dilaksanakannya landreform dengan terlebih dahulu melakukan sinkronisasi seluruh peraturan perundang-undangan bidang pertanahan dengan UUPA. c. koperasi. dan tenaga kerja. Keppres ini di dasari pada kondisi Peraturan Perundang-undangan di bidang pertanahan yang berlaku belum sepenuhnya sejalan dengan UUPA dan belum mendukung terciptanya penguasaan dan pemanfaatan tanah yang sesuai dengan nilai-nilai kerakyatan dan norma-norma yang berkeadilan sosial. Melakukan pengkajian dan penelaahan terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan landreform. sebagai berikut: a. Dalam rangka merespon perubahan-perubahan yang menjadi tuntuan reformasi di bidang pertanahan. pertanahan. b. yang salah satunya adalah perubahan-perubahan kewenangan di bidang pertanahan. industri dan perdagangan. 22 Tahun 1999.

yang menetapkan kewenangan di bidang pertanahan ada pada Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. 22 tahun 1999 yang menyatakan bahwa: “Dengan diberlakukannya undang-undang ini. penyerahan dan peralihan kewenangan di bidang pertanahan dari pemerintah kepada daerah Kabupaten/Kota sudah dapat dilaksanakan. Selanjutnya penjelasan ayat (2) menegaskan pula bahwa: “…untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan 84 . tetapi dilakukan melalui pengakuan oleh Pemerintah”. 26 Tahun 1988. Menteri Dalam Negeri selaku Kepala Badan Pertanahan segera mengambil langkah-langkah penyesuaian tugas dan fungsi Badan Pertanahan Nasional dalam kaitannya dengan pelaksanaan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. penyerahan kewenangan tidak perlu dilakukan secara aktif. Kepala dibantu oleh seorang Wakil Kepala. apalagi jika merujuk pada penjelasan Pasal 11 ayat (1) UU No.kebijaksanaan dan rancangan peraturan yang diperlukan untuk melaksanakan landreform. (2) Badan Pertanahan dipimpin oleh seorang Kepala. (3) Dalam melaksanakan tugasnya. Seharusnya berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang telah diuraikan di atas. 154 adalah mengembalikan pimpinan Badan Pertanahan kepada Menteri Dalam Negeri. Perubahan ini berkaitan dengan Pasal 11 UU No." Pasal II Dengan berlakunya Keputusan Presiden ini. 154 Tahun 1999 tentang Perubahan Keppres No. yang dijabat oleh Menteri Dalam Negeri. Maka dari itulah materi muatan pasal perubahan dari Keppres No. Pada level kelembagaan penyesuaian dilakukan dengan merubah Keppres No. Oleh karena itu. 26 Tahun 1988 tentang BPN dengan Keppres No. sehingga Pasal 1 seluruhnya berbunyi sebagai berikut: (1) Badan Pertanahan Nasional dalam Keputusan Presiden ini selanjutnya disebut Badan Pertanahan adalah Lembaga Pemerintah Non-departemen yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden. seperti yang dirumuskan dalam Pasal I dan Pasal II. 22 tahun 1999. pada dasarnya seluruh kewenangan sudah berada pada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota. Pasal I Beberapa ketentuan dalam Keputusan Presiden Nomor 26 Tahun 1988 tentang Badan Pertanahan Nasional diubah sebagai berikut: Ketentuan Pasal 1 diubah.

5.pelayanan dasar kepada masyarakat. Dengan demikian. Hal ini semakin rancu dengan munculnya pembentukan Dinas Agraria/Pertanahan ditingkat Kabupaten/Kota. sarana dan prasarana serta sumber daya manusia tidak pernah dilaksanakan oleh Kepala BPN. jadi tidak adanya pengakuan berarti tidak adanya penyerahan atau peralihan kewenangan. Fakta tersebut mengandung kenyataan bahwa penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada Daerah Kabupaten dan Daerah Kota tidak ada pengakuan dari pemerintah. XXXVI–XXXVIII. penyerahan dan peralihan kewenangan pemerintah kepada daerah melalui pengakuan yang dilakksanakan dalam bentuk penyerahan dan pengalihan pembiayaan. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan. sesuai dengan kondisi Daerah masing-masing…”. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam Bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. 2. 2006. serta sumber daya manusia sesuai dengan kewenangan yang diserahkan tersebut”. 3. Pada kenyataannya. pengakuan dalam bentuk pengalihan pembiayaan. Penetapan persyaratan pemberian hak atas tanah Penetapan persyaratan landreform Penetapan standar administrasi pertanahan Penetapan pedoman biaya pelayanan pertanahan Penetapan Kerangka Dasar Kadastral Nasional dan pelaksanaan pengukuran Kerangka Dasar Kadastral Orde I dan II 114 .114 Persoalan lain muncul ketika pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom yang secara tidak langsung justru mengaburkan pelaksanaan otonomi daerah khususnya kewenangan di bidang pertanahan yang menjadi tidak jelas oleh rumusan Pasal 2 ayat (3) angka 14 PP No. 85 .25 Tahun 2000 yang mengatur tentang kewenangan pemerintah pusat dibidang pertanahan. hlm. Artinya kewenangan di bidang pertanahan masih tetap ada pada pemerintah. 25 Tahun 2000. meliputi: 1. Pasal 2 ayat (3) angka 14 PP No. sarana dan prasarana. Lihat dalam: Boedi Harsono. 4. dengan kantor wilayah ditiap Propinsi dan ditingkat Kabupaten/Kota. Hukum Agraria Indonesia-Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah. sarana dan prasarana. yang dilaksanakan oleh BPN baik dipusat maupun di daerah. dan wujud pengakuan tersebut berkaitan erat dengan norma hukum pada Pasal 8 ayat (1) yang menyatakan bahwa: “Kewenangan Pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah dalam rangka desentralisasi harus disertai dengan penyerahan dan pengalihan pembiayaan. Arti dari kata-kata “melalui pengakuan oleh pemerintah” menurut hemat penulis merupakan syarat terjadinya peralihan kewenangan. Djambatan. Jakarta.

terutama tuntutan-tuntutan penyelesaian sengketa pertanahan. yang mengakibatkan instabilitas pelayanan di bidang pertanahan. Keputusan. 86 .22/99. selambat-lambatnya 2 (dua) tahun”. pelaksanaan otonomi daerah di bidang pertanahan. 22 Tahun 1999. yang mana salah satu ketentuannya menyatakan bahwa: ”Sebagian tugas pemerintahan yang dilaksanakan oleh BPN di daerah tetap dilaksanakan oleh Pemerintah sampai dengan ditetapkannya seluruh peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan. Kesimpulannya. adapun materi inti dari Keppres ini dirumuskan pada Pasal 1 sebagai berikut: Sebelum ditetapkan peraturan yang baru berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom. berlaku Peraturan. Tidak konsistennya pemerintah dalam upaya penyerahan kewenangan pertanahan kepada daerah semakin jelas dengan diterbitkannya Keputusan Presiden Nomor 62 Tahun 2001. Instruksi. 25 Tahun 2000 tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2001 tentang Pelaksanaan Otonomi Daerah dibidang Pertanahan.PP No. Keppres ini sebenarnya diposisikan sebagai jawaban pemerintah atas sikap pesimistik yang ditunjukkan beberapa kalangan dalam kaitannya dengan desentralisasi kewenangan di bidang pertanahan. Hal ini diakibatkan karena masih adanya tarik ulur kewenangan pertanahan (inconsistence). 115 Pasal I "Pasal 109 Ayat (6).115 Dengan demikian sampai pada titik ini terjadi ambivalensi kebijakan mengenai kewenangan bidang pertanahan yang berpangkal tolak pada UU No. apa yang ditetapkan dalam UU No. Karena proses otonomi daerah yang telah berjalan dua tahun dan telah melahirkan landasan hukum yang penting bagi penyelenggaraan otonomi di bidang pertanahan ternyata belum mampu memenuhi tuntutan masyarakat. Keppres ini hanya terdiri dari dua pasal yaitu Pasal 1 dan 2. 22 Tahun 1999 mengenai penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada Daerah Kabupaten/Kota belum terlaksana terlaksana namun telah keluar peraturan perundang-undangan baru yang muatannya bertentangan dengan semangat otonomi daerah di bidang pertanahan yang diamanatkan oleh UU No. dan Surat Edaran Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional yang telah ada.

pemerintah dalam hal ini BPN telah gagal menyusun seluruh Peraturan Perundang-undangan di bidang pertanahan dalam rangka desentralisasi di bidang pertanahan. penetapan dan penyelesaian masalah tanah ulayat. dan parsial. bahwa karateristik Peraturan Perundang-undangan pada periode tahun 1998–2003 bersifat pragmatis-reaktif. 62 Tahun 2001. pemberian ijin membuka tanah. perencanaan penggunaan tanah wilayah Kabupaten/Kota. maka terkesan bahwa lahirnya Keppres No. d. dan i. sebagaimana yang telah ditentukan dalam Pasal I jo ”Pasal 109 ayat (6) Keppres No. Artinya 87 . 34 Tahun 2003: (1) Sebagian kewenangan Pemerintah di bidang pertanahan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten /Kota. Berdasarkan uraian di atas. penyelesaian masalah ganti kerugian dan santunan tanah untuk pembangunan. penyelenggaraan pengadaan tanah untuk kepentingan pembangunan. 34 Tahun 2003 merupakan jawaban dari pelaksanaan penyerahan kewenangan bidang pertanahan kepada daerah. f. 34 Tahun 2003 tetap menyisakan pekerjaan rumah. penetapan subyek dan obyek redistribusi tanah. Meskipun demikian. dipecahkan dengan kemunculan Keputusan Presiden Nomor 34 Tahun 2003 Tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan. 62 Tahun 2001. hal ini dapat disimak dari Pasal 2 ayat (1) dan (2) Kepres No. b. c. Artinya. Seharusnya pekerjaan rumah ini sudah dapat diselesaikan oleh pemerintah dalam kurun waktu dua tahun (2001-2003). pemanfaatan dan penyelesaian masalah tanah kosong. Keppres ini merupakan pelaksanaan dari TAP MPR Nomor IX/MPR/2001 tentang Pembaruan Agraria dan Pengelolaan Sumber Daya Alam. g. penyelesaian sengketa tanah garapan. yaitu mengamanatkan kepada BPN untuk melakukan langkah-langkah percepatan dalam hal penyusunan Rancangan Undang-Undang Penyempurnaan UUPA dan Rancangan Undang-Undang tentang Hak Atas Tanah serta Peraturan Perundang-undangan lainnya di bidang pertanahan dan pelaksanaan paling lambat tanggal 1 Agustus 2004 (Pasal 1 dan 4 Keppres No. h. Jika kita hubungkan dengan ketentuan Pasal I jo “Pasal 109 ayat (6) Keppres No. 34 tahun 2003). (2) Kewenangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah: a. Keppres No.Kebekuan terhadap aturan hukum mengenai penyerahan kewenangan pertanahan. serta ganti kerugian tanah kelebihan maksimum dan tanah absentee. pemberian ijin lokasi. e.

bahkan Komisi II DPR dalam rapat dengar pendapat dengan Sekretaris Kabinet meminta pemerintah mencabut ketentuan tersebut. mengenai ditetapkannya Peraturan Presiden No. 36 Tahun 2005 merupakan peraturan pengganti dari Keputusan Presiden (Keppres) No. mengenai ditetapkannya Peraturan Presiden No. Peraturan Presiden Nomor 65 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum. Pertama. berkaitan dengan perubahan UU No. Periode Resentralisasi Kewenangan Pertanahan (2004 – 2006) Pada periodesasi Resentralisme Kewenangan Pertanahan (2004 – 2006). Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional. Jika ditelusuri 88 . 22 Tahun 1999 ke UU No. yaitu. melahirkan tatanan hukum yang disharmoni atau tidak ada kesinkronan diantara produk hukum yang dihasilkan. 65 Tahun 2005. b. 10 Tahun 2006 tentang BPN yang aromanya sangat kental sekali ingin mengembalikan kewenangan bidang pertanahan secara sentralisme. Dampak dari karakter hukum sebagaimana diuraikan di atas. Peraturan Presiden (Perpres) No. 32 Tahun 2004. Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan Untuk Kepentingan Umum. Dalam bidang pertanahan hal ini menjadi faktor yang menghambat proses penyelesaian sengketa pertanahan karena prosedurnya dan kewenangannya menjadi tidak jelas. Kedua. Hal tersebut mencerminkan tidak adanya konsistensi (ambivalence) pemerintah. 55 Tahun 1993. 36 Tahun 2005 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Umum yang mendapat sorotan tajam dan ditolak dari berbagai kalangan melalui aksi unjuk rasa hampir diseluruh kota di Indoensia. Kajian Peraturan Perundang-undangan pada periode ini meliputi dua issu pokok yang dominan pada saat itu. Peraturan ini kemudian dirubah dengan Peraturan Presiden No.peraturan-peraturan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada suatu format tertentu yang secara integral berkesinambungan dan sistematis. sehingga terkesan pembentukannya sarat dengan kepentingan jangka pendek. 2. 3. Peraturan Perundang-undangan yang dikaji adalah: 1.

Harian Kompas. serta tidak jelas batasannya. batasan pengadaan tanah yang di atur dalam Perpres sangat luas sekali. Juga dinyatakan. penetapannya (Perpres No. 55 Tahun 1993 sudah tidak sesuai lagi sebagai landasan hukum dalam rangka melaksanakan pembangunan untuk kepentingan umum. 55 Tahun 1993 yang tujuannya semata-mata untuk mempermudah dan melancarkan para investor dalam mendapatkan hak atas tanah. Fajrimei A Gofar.secara vertikal Perpres No. alias kurang represif ditengah kondisi masyarakat yang mulai kritis akan hak-haknya. 36 Tahun 2005-pen) didasarkan pada realitas meningkatnya pembangunan untuk kepentingan umum yang berjalan pararel dengan kebutuhan akan tanah. 36/2005. Hal ini diprediksi akan menjadi hambatan dalam pelaksanaan pembangunan kedepan.. Dilihat dari semangatnya Perpres No. Beberapa kalangan menganggap bahwa. 55/1993 sebagaimana yang dinyatakan dalam pertimbangan Perpres No. Pada Konsiderans Perpres No.. alasan penggantian Keppres No. Pada pertemuan tersebut. ”Perpres No. adalah karena Keppres No. 36 Tahun 2005 dinyatakan bahwa. 36 Tahun 2005 Melegalkan Penggusuran Paksa?”. pemerintah mengundang investor luar negeri untuk mencari sumber pembiayaan yang dapat menutupi kebutuhan dana pembangunan infrastruktur di Indonesia. maka dari itu pengadaan akan tanah perlu dilakukan secara cepat dan transparan. oleh karena itu Keppres tersebut perlu diganti dengan peraturan yang lebih represif.semata-mata hanya digunakan untuk pemenuhan kebutuhan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum”. tanggal 25 Juni 2005. Hal ini dapat dibaca pada Pasal 1 angka 3 Perpres. Pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah dengan cara memberikan ganti rugi kepada yang melepaskan atau menyerahkan tanah. Namun. 36 Tahun 2005 merupakan turunan dari UU No. 55/1993 terlalu lunak. Apalagi disinyalir keluarnya Perpres ini adalah sebagai komitmen pemerintah untuk memfasilitasi hasil infrastructure summit (Januari 2005). 116 89 . 36 Tahun 2005 sebenarnya hanya merupakan kelanjutan dari Keppres No. bahwa Keppres No. 20 Tahun 1961 tentang Pecabutan Hak-Hak atas Tanah dan Benda-Benda yang ada di atasnya yang merupakan peraturan pelaksana dari Pasal 18 UUPA. yaitu.116 Hal ini dapat dibaca pada Pasal 2 ayat (1) Keppres tersebut :”.

b. Menteri Kehakiman dan Menteri yang bersangkutan dapat mencabut hak-hak atas tanah dan benda-benda yang ada diatasnya. sesuai dengan peraturan induknya yaitu UU No. pelepasan atau penyerahan hak atas tanah. Makna kata ”pengadaan tanah adalah setiap kegiatan untuk mendapatkan tanah” dapat ditasirkan pengadaan tanah tidak semata-mata untuk pembangunan.bangunan. 90 . 20 tahun 1961. Perpres lebih menonjolkan semangat represif. Tata cara pengadaan tanah diatur dalam Pasal 2 ayat (1) Perpres. dirumuskan sebagai berikut: “”Pengadaan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh Pemerintah atau pemerintah daerah dilaksanakan dengan cara: a. Lihat: Pasal 2 ayat (2) Keppres No. tetapi juga untuk hal lain yang dianggap pemerintah sebagai kepentingan umum. dengan rumusan sebagai berikut: Untuk kepentingan umum. ini dapat diartikan bahwa pelaksanaan pengadaan tanah dengan cara pencabutan hak atas tanah merupakan pilihan terakhir dan dalam kondisi yang sangat terpaksa. die ment 117 118 Lihat: Pasal 3 ayat (2) dan Pasal 18 Perpres No. Inilah yang disebut dengan seni membuat peraturan. termasuk kepentingan Bangsa dan Negara serta kepentingan bersama dari rakyat. Khusus mengenai tata cara pencabutan hak atas tanah (Pasal 2 ayat (1) huruf b) dilakukan berdasarkan UU No. 20 Tahun 1961 yang merumuskan syarat pencabutan hak atas tanah pada Pasal 1.benda-benda yang berkaitan dengan tanah atau dengan pencabutan hak atas tanah”. atau. pencabutan hak atas tanah. Selain itu. tanaman. rumusan di dalam Keppres sedikit lebih lunak. Sedangkan Keppres menempatkan ketentuan tersebut dipasal akhir (Pasal 21). sedemikian pula kepentingan pembangunan.117 Dalam hal ini. maka Presiden dalam keadaan yang memaksa setelah mendengar Menteri Agraria. Tetapi menurut hemat penulis ada semangat yang berbeda dilihat dari strategi (seni) perumusannya. yaitu: ”pengadan tanah bagi pelaksanaan pembangunan untuk kepentingan umum oleh pemerintah dilaksanakan dengan cara pelepasan atau penyerahan hak atas tanah”. 55 Tahun 1993. hal ini dapat telihat dari penempatan ketentuan tersebut pada pasal awal (Pasal 2). dan . watak represif dari Perpres ini juga dapat dilihat dari cara merumuskan ketentuan yang mengatur tata cara pengadaan tanah. 36 Tahun 2005.118 Walaupun kemudian Keppres juga mengadopsi cara pencabutan hak atas tanah yang dirumuskan pada Pasal 21. sebagaimana yang pernah diungkapkan oleh Opzoomer (Nederland) di tahun 1873:”Er is geen kunst.

17. Penitipan ganti kerugian di pengadilan sebelum adanya kesepakatan 119 Irawan Soejito. maka panitia pengadaan tanah akan menetapkan besaran ganti rugi dan dititipkan kepada pengadilan negeri sementara pelepasan atau pencabutan hak akan tanah akan terus berlangsung. sebagaimana yang diinginkan oleh praktek. tetapi juga membuka peluang bagi perkembangan dimasa yang akan datang. Sedangkan Perpres 36/2005 pada Pasal 5.119 Selanjutnya jika diperhatikan benar-benar apa yang diuraikan di atas ini. sehingga peraturan itu tidak hanya cukup memberi kepastian. tidak disebutkan apakah bangunan yang dibangun tersebut untuk selanjutnya akan dimiliki oleh pemerintah atau tidak. Disamping harus mengetahui secara mendalam masalah yang akan diatur (soal pengetahuan).121 Keppres 55/1993 membatasi arti kegiatan pembangunan untuk kepentingan umum yang boleh dilakukan adalah yang selanjutnya dimiliki oleh pemerintah serta tidak digunakan untuk mencari keuntungan. hanya menyebutkan pembangunan untuk kepentingan umum yang dilaksanakan oleh pemerintah. Keppres menyebutkan 14 (empat belas) kegiatan.120 Materi lainnya yang menjadi issu krusial dalam Perpres ini adalah masalah rumusan kepentingan umum. Rumusan Kepentingan Umum dalam Keppres maupun Perpres disertai dengan penyebutan kepentingan umum dalam suatu daftar kegiatan yang secara jelas mengidentifikasikan tujuannya (list provitions). serta digunakan untuk mencari keuntungan. Karena jika lewat dari jangka waktu ini. kecakapan menguraikan bagian-bagian yang essensiil adalah soal seni meng-ikhtisarkan (samenvatten). 13. hlm. 121 120 91 .122 Selain itu. 122 Fajrimei A Gofar..bij ons minder veerstaat dan den kunst van wetgeving” (di negara kita tidak ada suatu kesenian yang kurang kita pahami selain seni membuat undang-undang). 36 Tahun 20065. 55 Tahun 1993 dan Pasal 5 Perpres No.cit. masalah ganti rugi yang diselesaikan melalui musyawarah yang dibatasi waktunya paling lama 90 hari jelas akan berbenturan dengan rasa keadilan yang ada dimasyarakat. maka merancang undang-undang itu tidak hanya merupakan soal pengetahuan saja. Jakarta. 1988. sedangkan Perpres mengidentifikasi 21 (dua puuh satu) kegiatan. Artinya bisa saja pembangunan yang dimaksud selanjutnya tidak dimiliki oleh pemerintah (swasta) dan digunakan untuk mencari keuntungan. Ibid. hlm. Untuk lebih jelasnya dapat dibandingkan dengan melihat Pasal 5 Keppres No. akan tetapi ada pula soal seninya. Op. Teknik Membuat Undang-Undang. Pradnya Paramita.

Perpres Nomor 36 Tahun 2005 diubah dengan Perpres Nomor 65 Tahun 2006. maka panitia pengadaan tanah tetap dapat langsung menetapkan besarnya ganti rugi dan menitipkan ganti rugi uang kepada pengadilan negeri yang wilayah hukumnya lokasi tanah yang bersangkutan.125 Prakteknya. Perubahan-perubahan di maksud langsung mendapat respon dari berbagai pihak. dibuat terkesan agak lunak atau terlihat tidak se-represif dari sebelumnya. 36 Tahun 2006. Jika dalam waktu yang telah ditentukan tersebut tidak tercapai kesepakatan. seperti pembatasan waktu musyawarah hanya diubah kuantitasnya dari 90 (sembilan puluh) hari menjadi 120 (seratus dua puluh) hari. 92 . dan sebagian besar memandang Perpres 65/2006 secara substansi tetap berpihak pada kepentingan modal (capital). 36 Tahun 2005. Namun. artinya peserta musyawarah tetap didominasi oleh pihak yang menginginkan tanah. (ii) pihak yang menginginkan tanah (pemerintah) dan (iii) mediator yaitu panitia pengadaan tanah yang terdiri dari perangkat daerah terkait dan unsur Badan Pertanahan Nasional (Pemerintah).124 Selain itu. Perubahan pasal ini hanya menambahkan unsur Badan Pertanahan Nasional ke dalam panitia pengadaan tanah. walaupun pasal yang mengatur tentang panitia pengadaan tanah telah diubah. pasal-pasal yang bermasalah masih tetap dipertahankan. Sebagai contoh. secara kualitas proses musyawarahnya sendiri tetap tidak seimbang. Pasal 10 ayat (1) dan ayat (2) Perpres No. Secara umum perubahan-perubahan pada Perpres 65/2006 sebatas pada tampilannya saja (appearance). dikarenakan lemahnya posisi tawar rakyat (pemegang hak atas tanah) yang tanahnya terkena proyek pengadaan tanah untuk pembangunan terhadap keinginan pemerintah. 125 Pasal 6 ayat (5) Perpres No. 65 Tahun 2006. perubahan pada ”Pasal 1 angka 3 yang sebenarnya hanya mengembalikan ketentuan yang diatur sebelumnya dalam Keppres 55/1993. Perubahan-perubahan Perpres 36/2005 yang dituangkan ke dalam Perpres 65/2006 mencakup 11 (sebelas) poin dengan dua pasal penambahan yaitu Pasal 7A dan Pasal 18A. 123 124 Pasal 10 Perpres No. setelah ditolak dari berbagai kalangan melalui aksi unjuk rasa hampir diseluruh kota di Indonesia. proses musyawarah dengan kondisi di atas menjadi bias dan cenderung manipulatif. khususnya bidang infrastruktur.123 Pada perkembangan selanjutnya. yaitu: (i) pemegang hak atas tanah.kedua belah pihak nyata-nyata merupakan bentuk pemaksaan oleh pemerintah terhadap warganegaranya.

.pertanahan.127 kewenangan yang menjadi urusan wajib Pemerintahan Kabupaten/Kota yang berskala Kabupaten/Kota meliputi: ”k. 22 Tahun 1999 ke UU No. merujuk pada UU No. yaitu ditetapkannya Perpres No. 34 Tahun 2003. tanpa disertai dengan kata pelayanan.. Pasal tersebut mengindikasikan bahwa daerah tidak mempunyai kewenangan lagi atas bidang pertanahan. Pasal 13 ayat (1) UU No.126 Pada periode 2004–2006 muncul permasalahan. 22 Tahun 1999. Uraian selanjutnya berkaitan erat dengan peralihan UU No. 22 Tahun 1999. peraturan perundang-undangan mengenai penguasaan tanah pada periode tahun 2004–2006 berkarakter represif. Dalam UU No.128 Sedangkan UU No. 32 Tahun 2004 128 Pasal 14 ayat (1) UU No. 22 Tahun 1999 dan UU No. 93 . 22 tahun 1999 menyatakan. bahwa periode tahun 1998– 2003 telah terjadi inkonsistensi terhadap aturan hukum yang mengatur desentralisasi kewenangan di bidang pertahanan sebagaimana yang diamanatkan oleh UU No. kewenangan yang menjadi urusan wajib Pemerintahan Propinsi dalam skala Propinsi meliputi: ”k..”. 32 Tahun 2004.129 Ketentuan 126 127 Pasal 2 ayat (2) Keppres No. Terdapat perbedaan dalam pengaturan penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada pemerintah daerah berdasarkan UU No. 32 Tahun 2004. yang memberikan sembilan kewenangan pemerintah di bidang pertanahan yang dapat dilaksanakan oleh pemerintah Kabupaten/Kota. pelayanan pertanahan”. Dari sisi lain. karena semua tugas yang berhubungan dengan bidang pertanahan diatur dari pusat lewat Badan Pertanahan Nasional secara nasional. 32 Tahun 2004. regional maupun sektoral. Inkonsistensi ini relatif dapat dicairkan dengan ditetapkannya Keputusan Presiden Nomor 34 tahun 2003 tentang Kebijakan Nasional di Bidang Pertanahan pada bulan Mei 2003. 32 Tahun 2004. 10 Tahun 2006 yang mengembalikan kewenangan di bidang pertanahan sepenuhnya menjadi urusan pemerintahan pusat (resentralisme). regional dan sektoral”. 32 Tahun 2004. Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Perpres tersebut: ”Badan Pertanahan Nasional mempunyai tugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pertanahan secara nasional.Pembahasan mengenai Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 tentang Badan Pertanahan Nasional. pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota”. Sebagaimana yang telah diuraikan. 129 Pasal 11 ayat (2) UU No. bahwa bidang pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota meliputi: ”.

sesuai dengan kondisi Daerah masingmasing. lebih luas jika dibandingkan dengan UU No.” Pemberian otonomi di bidang pertanahan kepada Kabupaten dan Kota berdasarkan UU No. tidak bersifat nasional secara utuh. Kewenangan yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten dan Kota tidak dapat dialihkan ke Propinsi. 22 Tahun 1999.ini diberikan penjelasan bahwa: ”Tanpa mengurangi arti dan pentingnya prakarsa Daerah dalam penyelenggaraan otonominya. 22 Tahun 1999 tersebut masih bersifat kedaerahan. perubahan yang diusung oleh UU No. Sebaliknya. Dari segi lingkup kewenangan. 32 Tahun 2004. 32 Tahun 2004 telah mereduksi kewenangan bidang pertanahan menjadi sebatas pelayanan pertanahan. dipandang sebagai suatu perubahan yang besar dalam pelaksanaan hukum tanah nasional dan menjadi bagian dari urusan pemerintahan yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota. untuk menghindarkan terjadinya kekosongan penyelenggaraan pelayanan dasar kepada masyarakat. 22 Tahun 1999 dalam hal penyerahan kewenangan di bidang pertanahan kepada pemerintah daerah (Pemerintah Kabupaten/ Kota). Meskipun demikian. Daerah Kabupaten dan Daerah Kota wajib melaksanakan kewenangan dalam bidang pemerintahan tertentu menurut pasal ini. UU No. 94 . sebenarnya UU No.

UU kesehatan ini menyempurnakan dan mengintegrasikan perangkat hukum yang sudah ada. dengan pengertian bahwa sarana pelayanan kesehatan harus tetap memperhatikan golongan masyarakat yang kurang mampu dan tidak semata-mata mencari keuntungan. mengenai tindakan medis tertentu yang boleh dilakukan dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya. 6. Pasal 16. 2. Sumber daya kesehatan sebagai pendukung penyelenggaran upaya kesehatan. Tugas dan tanggung jawab Pemerintah pada dasarnya adalah mengatur. Ketentuan pidana untuk melindungi pemberi dan penerima jasa pelayanan kesehatan bila terjadi pelanggaran terhadap Undang-Undang ini. Upaya kesehatan dilaksanakan secara menyeluruh. 23/1992 hanya mengatur hal-hal yang bersifat pokok. 3. Asas dan tujuan yang menjadi landasan dan memberi arah pembangunan kesehatan yang dilaksanakan melalui upaya kesehatan untuk meningkatkan kesadaran. pencegahan penyakit. kemauan. Berdasarkan Penjelasan Umum. sedangkan yang bersifat teknis operasional diatur dalam Peraturan Pemerintah dan peraturan pelaksanaan lainnya. yang pengaturan hukumnya mencakup: 1. 2. selanjutnya disingkat UU No. 95 . sehingga terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal tanpa membedakan status sosialnya. 23/1992. mulai berlaku pada 17 September 1992. 5. terpadu. penyembuhan penyakit. dan kemampuan hidup sehat bagi orang. dan pemulihan kesehatan. Aturan Hukum Sektor Kesehatan Aturan pokok bidang kesehatan saat ini adalah Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (LNRI Tahun 1992 Nomor 100). UU No. dan berkesinambungan melalui pendekatan peningkatan kesehatan.BAB IV ANALISIS ATURAN HUKUM SEKTOR KESEHATAN A. harus tetap melaksanakan fungsi dan tanggung jawab sosialnya. yaitu: 1. mengenai persyaratan penyelenggaraan kehamilan di luar cara alami sebagai upaya terakhir untuk membantu suami istri mendapat keturunan. Sejumlah pasal memerlukan Aturan pelaksanaan dengan Peraturan Pemerintah. 4. membina. Pasal 15. dan mengawasai penyelenggaraan upaya kesehatan serta menggerakkan peran serta masyarakat. Hak dan kewajiban setiap orang untuk memperoleh derajat kesehatan yang optimal serta wajib untuk ikut serta di dalam memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan.

Pasal 23. mengenai kesehatan olah raga untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan melalui kegiatan olah raga. mengenai pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif agar tidak mengganggu dan membahayakan kesehatan perorangan. kemauan. mengenai syarat dan tata cara penyelenggaran implan obat atau alat kesehatan ke dalam tubuh manusia oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. 15. masyarakat. jenis. 18. dan berkembang secara optimal menjadi sumber daya manusia yang lebih berkualitas. mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan transplantasi organ atau jaringan tubuh oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. Pasal 36. mengenai pengobatan tradisional sebagai upaya pengobatan dan atau perawatan cara lain di luar ilmu kedokteran dan atau ilmu keperawatan. keluarga. 8. Pasal 44. 13. mengenai kategori. 14. baik intelektual maupun emosional. mengenai kesehatan sekolah untuk meningkatkan kemampuan hidup sehat peserta didik dalam lingkungan hidup sehat.3. Pasal 38. 16. dan lingkungannya. 6. Pasal 37. 17. Pasal 50. mengenai kesehatan jiwa dan upaya penanggulangannya untuk mewujudkan jiwa yang sehat secara optimal. mengenai penyelenggaraan kesehatan lingkungan untuk mewujudkan kualitas hidup yang sehat. mengenai syarat dan tata cara transfusi darah oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. 5. Pasal 47. Pasal 34. 9. mengenai pengamanan makanan dan minuman untuk melindungi masyarakat dari manakan dan minuman yang tidak memenuhi ketentuan mengenai standar dan atau persyaratan kesehatan. Pasal 22. Pasal 27. mengenai penyelenggaraan kesehatan kerja untuk mewujudkan produktivitas kerja yang optimal. mengenai pengamanan sediaan farmasi dan alat kesehatan untuk melindungi masyarakat dari bahaya yang disebabkan oleh penggunaan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan mutu dan atau keamanan dan atau kemanfaatan. dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat dan aktif berperan serta dalam upaya kesehatan. Pasal 21. Pasal 46. Pasal 35. Pasal 45. dan kualifikasi tenaga kesehatan yang bertugas menyelenggarakan atau melakukan kegiatan kesehatan sesuai 96 . mengenai syarat dan tata cara bedah plastik dan rekonstruksi oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di sarana kesehatan tertentu. 11. Pasal 43. 4. kesadaran. Pasal 48. 7. mengenai penyuluhan kesehatan masyarakat guna meningkatkan pengetahuan. 12. sehingga peserta didik dapat belajar. mengenai kesehatan matra sebagai bentuk khusus upaya kesehatan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal dalam lingkungan matra yang selalu berubah. tumbuh. 10.

Pasal 58. Selain Peraturan Pemerintah. 23/1992 juga memerintahkan pengaturan di bidang kesehatan lebih lanjut dalam bentuk Keputusan Presiden. Pasal 63. fungsi. dan pelayanan sediaan farmasi yang harus dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu. mengenai syarat dan tata cara memperoleh izin penyelenggaraan sarana kesehatan. UU No. 2. 30. tugas pokok. mengenai penempatan tenaga kesehatan dalam rangka pemerataan pelayanan kesehatan. 23/1992 juga merujuk pengaturan di bidang kesehatan kepada aturan hukum positif lainnya. Pasal 72. mengenai pelaksanaan pekerjaan kefarmasian dalam pengadaan. 26. dengan bidang keahlian dan atau kewenangan tenaga kesehatan yang bersangkutan. 27. 23. 22. berasaskan usaha bersama dan kekeluargaan. 24. mengenai perbekalan kesehatan yang dilakukan agar dapat terpenuhinya kebutuhan sediaan farmasi dan alat kesehatan serta perbekalan lainnya terjangkau oleh masyarakat. dan penerapan hasil penelitian yang harus dilakukan dengan memperhatikan kesehatan dan keselamatan serta norma yang berlaku dalam masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Pasal 71. mengenai sarana kesehatan tertentu yang diselenggarakan oleh masyarakat yang harus berbentuk badan hukum. 25. 20. fungsi. mengenai kewenangan Pemerintah dalam pembinaan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. mengenai pelaksanaan penelitian dan pengembangan yang dilakukan dengan bedah mayat untuk penyelidikan sebab penyakit dan atau sebab kematian serta pendidikan tenaga kesehatan. UU No. baik yang dilakukan oleh Pemerintah maupun swasta. Pasal 75. 28. 29. mengenai penyelenggaraan jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat yang dilaksanakan secara praupaya. tugas. mengenai standar profesi tenaga kesehatan dan hak-hak pasien sebagai bentuk perlindungan hukum tenaga kesehatan dan pasien. Pasal 69. dan tata kerja Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan yang berwenang menentukan ada tidaknya kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan dalam melaksanakan profesinya. yaitu: 97 . produksi. mengenai kewenangan Pemerintah melakukan pengawasan terhadap semua kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan upaya kesehatan. mengenai penelitian. mengenai syarat dan tata cara peran serta masyarakat di bidang kesehatan. distribusi. Pasal 53. 21. Pasal 70. Pasal 59. Pasal 55. mengenai pembentukan. Selanjutnya. pengembangan. Pasal 64.19. Pasal 52. yaitu: 1. Pasal 66. mengenai pembentukan. dan tata kerja Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional. Pasal 78.

Pembukaan alinea keempat. mencerdaskan kehidupan bangsa. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. penghilangan sumber dan perantara penyakit. Dalam melakukan inventarisasi terhadap aturan hukum positif di bidang kesehatan. yang kemudian terbukti tidak memenuhi persyaratan mutu dan atau keamanan dan atau kemanfaatan. 5. Pasal 51. perlu mengacu kepada Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan (selanjutnya disingkat UU No.. meliputi: 1. Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1966 tentang Wajib Simpan Rahasia Kedokteran.1.. pengebalan. yaitu: ”. mengenai pemberantasan penyakit menular dengan upaya penyuluhan. ditemukan aturan hukum positif di bidang kesehatan. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. meliputi: 1. 2. 4. 2.melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. 3. 3. 3.. Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. yaitu: “Setiap orang berhak memperoleh pelayanan kesehatan”. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 1960 tentang Lafal Sumpah Dokter Indonesia. tindakan karantina. antara lain: Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 1. 10/2004). penyelidikan. 4.. Berdasarkan hasil inventarisasi. yaitu: “Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas kesehatan untuk setiap orang yang berhak memperoleh pelayanan kesehatan tersebut”. 98 . 7. mengenai ganti rugi kepada setiap orang akibat kesalahan atau kelalaian yang dilakukan tenaga kesehatan. Undang-Undang. Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2004 tentang Perubahan atas UndangUndang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Pasal 34 ayat (3). Peraturan Pemerintah. Pasal 31. Pasal 28 H ayat (1).”. Pasal 55. 2.. 2. mengenai penyitaan dan pemusnahan sediaan farmasi dan alat kesehatan yang telah memperoleh izin edar. dan upaya lain yang diperlukan. Pasal 41. mengenai penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan yang dilaksanakan oleh Pemerintah dan atau masyarakat... 6.keadilan sosial.

2. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 920/ MENKES/PER/XII/1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik. 8. Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah. 9. Pemerintah Provinsi. 99 . Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1173/ MENKES/PER/X/2004 tentang Rumah Sakit Gigi dan Mulut. 6. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 983/ MenKes/SK/XI/1992 tentang Pedoman Organisasi Rumah Sakit Umum. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah.Kes/Per/IX/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis. 4. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1333/ Menkes/SK/XII/1999 tentang Standar Pelayanan Rumah Sakit. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 772/ MENKES/SK/VI/2002 tentang Pedoman Peraturan Internal Rumah Sakit (Hospital Bylaw). meliputi: 1. 6. 3. 4. Peraturan Menteri. 7. dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 282/ MENKES/SK/III/1993 tentang Pola Tarif Rumah Sakit Swasta. Keputusan Menteri. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/ MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan.4. 7. 3. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 585/ Men. 8. 5. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 595/ MenKes/SK/VII/1993 tentang Standar Pelayanan Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/ MENKES/PER/IV/2007 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Kedokteran. 9. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 159b/ MENKES/PER/II/1988 tentang Rumah Sakit. 5. Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 1998 tentang Pengamanan Sediaan Farmasi dan Alat Kesehatan. 6. 5. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 269/ MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 806b/ MenKes/SK/XII/1987 tentang Klasifikasi Rumah Sakit Umum Swasta. 2. meliputi: 1. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 004/ MENKES/SK/I/2003 tentang Kebijakan dan Strategi Desentralisasi Bidang Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 131/ Menkes/SK/II/2004 tentang Sistem Kesehatan Nasional. 10. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 363/ MENKES/PER/IV/1993 tentang Pengujian dan Kalibrasi Alat-alat Kesehatan. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 756/ MENKES/SK/VI/2004 tentang Tim Persiapan Liberalisasi Perdagangan Jasa di Bidang Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 84/ MenKes/II/Per/1990 tentang Legalisasi Keberadaan Rumah Sakit Swasta Pemodal.

17. Oleh sebab itu. 12. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 125/ Menkes/SK/II/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tahun 2008. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 631/ MENKES/IV/2005 tentang Pengorganisasian Staf Medis dan Komite Medis. 100 . desentralisasi menunjuk pada distribusi kekuasaan secara teritorial (spatial). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1202/ Men. Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan Secara leksikografi. sedangkan sisanya merupakan kewenangan daerah otonom.Kes/SK/VIII/2005 tentang Pedoman Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas. 32/2004 menggunakan sistem residu ketika menentukan apa saja yang menjadi kewenangan daerah. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1165A/ MENKES/SK/X/2004 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit. Konsekuensi hukum desentralisasi. desentralisasi adalah pembalikan dari konsekuensi administrasi pada satu pusat sekaligus ”pemberian” kekuasaan kepada daerah. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 332/ Men. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 069/ Menkes/SK/II/2006 tentang Pencantuman Harga Eceran Tertinggi pada Label Obat.10. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit. 13. Rujukan Rawat Jalan dan Rawat Inap Kelas III di Rumah Sakit yang Dijamin Pemerintah. Pada sisi hukum positif. Oleh karena itu. NKRI telah ”memilih” untuk menyerahkan sebagian kewenangannya kepada daerah otonom. Kewenangan yang didelegasikan tersebut sangat luas. sebab UU No. 16. 32/2004 memaknai desentralisasi kesehatan sebagai penyerahan kewenangan pemerintahan oleh Pemerintah (Pusat) kepada daerah otonom dalam rangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 18. Dengan sistem residu. 11. kewenangan-kewenangan pusat telah ditentukan secara jelas terlebih dahulu. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 720/ MENKES/SK/IX/2006 tentang Harga Obat Generik.Kes/SK/V/2006 tentang Pedoman Pelaksanaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/ MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. pelaksanaannya dapat dilakukan dengan penyerahan kewenangan dan/atau urusan kepada Pemerintah Daerah yang lebih rendah tingkatannya. 15. 14. Berdasarkan hukumk positif. yang umumnya menjadi fokus dalam suatu negara kesatuan. Pasal 1 UU No. B.

Satu contoh yang menunjukkan borderless-nya kewenangan di bidang kesehatan adalah masalah polusi. “Desentralisasi dan Perkembangan Peraturan Perundangundangan di Bidang Kesehatan: Sebuah Evaluasi Normatif”. ternyata juga terjadi konflik dalam pengawasan rumah sakit di daerah sebagaimana diungkapkan oleh Laksono Trisnantono merujuk hasil penelitian mengenai reformasi sistem kesehatan yang dilakukan oleh Pusat Manajemen Pelayanan Kesehatan FK-UGM. Staf dinas kesehatan Kota S tersebut dengan nada pesimistis menyatakan bahwa apa jadinya dinas kesehatan kota apabila puskesmas menjadi otonom? Apa tugas dinas kesehatan kota di masa depan? Andi Sandi dan Vivi Lignawati. maupun limbah. suara. Makalah. Namun. baik air. Hal ini pada satu sisi menguntungkan pemerintah daerah sebab dengan menggunakan kewenangannya. pihak pemerintah daerah yang terkena dampak tidak mempunyai kewenangan untuk menindak industri tersebut karena industri tersebut berkedudukan di luar yurisdiksinya. di sisi lain pemberian kewenangan yang didasarkan pada teritori ini telah mengakibatkan ”pengkotakkotakan” wilayah yang dilakukan oleh pemerintah daerah. pemerintah daerah dapat mengatur bidang kesehatan sesuai aspirasi dan kemampuan yang dimilikinnya. sehingga perlu dilakukan secara komprehensif dan lintas batas wilayah. Universitas Gajah Mada. Ketika suara suatu industri yang terletak di salah satu daerah mengeluarkan limbah yang mempengaruhi kondisi kesehatan di daerah-daerah lain. Akibatnya. sebagai berikut: Kasus 1: Di Kota S.130 Selain konflik dalam pengendalian dampak polusi industri lintas batas daerah sebagaimana ditengarai di atas. seorang staf di dinas kesehatan kota mengeluh karena puskesmas meminta otonomi. Disampaikan dalam Seminar Desentralisasi Kesehatan di Indonesia: Apa yang Sudah Dicapai dan Apa yang Belum? Apakah lebih baik Resentralisasi? Tanggal 17-19 Maret 2004 di Fakultas Kedokteran. Dalam kenyataan memang sudah terjadi adanya pemberian dana langsung dari pemerintah kota ke puskesma tanpa melalui dinas kesehatan kota. Padahal pelaksanaan pelayanan dibidang kesehatan tidak mengenal batas wilayah (borderless). 130 101 . pelaksanaannya cenderung parsial dan hanya dilakukan pada teritori yang menjadi wilayah kerja pemerintah daerah yang bersangkutan.kewenangan di bidang kesehatan telah dijadikan kewenangan pemerintah daerah otonom karena kewenangan itu tidak ditentukan sebgai kewenangan pemerintah pusat.

sebagai berikut: ”Setelah kami menjadi Lembaga Teknis Daerah. Jadi. dan World Health Organization. Tetap menjaga perasaan masing-masing”. Proyek-proyek pengembangan kelembagaan tidak pernah masuk ke rumah sakit. Unit Desentralisasi Departemen Kesehatan RI. di Makassar. hlm. 131 102 . pensiun dan belum ada orang yang siap menggantikan”131. Sebenarnya apa fungsi mereka? Pada intinya direktur rumah sakit swasta berharap bahwa dinas kesehatan dapat membantu mereka dalam pengembangan sumber daya manusia. Ya kami sama-sama tahu diri. yaitu: Laksono Trisnantoro. ditemukan kepala dinas kesehatan dan direktur rumah sakit daerah dalam rangka berdiskusi mengenai perkembangan rumah sakit sebagai Lembaga Teknis Daerah. pada 2005. Berikut ini kutipan pernyataan dari kepala dinas kesehatan Kabupaten X tentang perkembangan rumah sakit sebagai Lembaga Teknis Daerah: ”Setelah rumah sakit menjadi Lembaga Teknis Daerah. dijelaskan ada beberapa hambatan pelaksanaan desentralisasi kesehatan di Indonesia. Salah satu tandanya adalah perhatian dinas kesehatan terhadap rumah sakit tidaklah besar.Kasus 2: Dalam suatu kegiatan penelitian ke Kabupaten X. memberi subsidi. seorang perawat senior. Yogyakarta. Peralatan radiologi Puskesmas saat ini malah lebih canggih dibanding rumah sakit karena ada dana dari pusat. Kasus 3: Dalam suatu pertemuan antar direktur rumah sakit swasta di Kota M. 176. jangan sampai konflik. Aspek Strategis dalam Manajemen Rumah Sakit. Universitas Gajah Mada. Seksi rumah sakit di Dinas sulit memeriksa rumah sakit dan kaim tidak tahu memeriksanya dengan dasar apa?” Adapun kutipan pernyataan dari Direktur rumah sakit daerah Kabupaten X tentang perkembangan rumah sakit sebagai Lembaga Teknis Daerah. kami sulit masuk ke rumah sakit. kami jalan sendiri-sendiri. Kami tidak kebagian. Akan tetapi harapan ini terlihat sulit dipenuhi. Rumah sakit seperti tempat pembuangan sampah tenaga kerja manusia. Selain itu. ANDI. Sepertinya direject. dan meningkatkan mutu pelayanan. 2005. ada pertanyaan menggelitik mengenai fungsi dinas kesehatan kota dan propinsi. Kepala Dinas mengacuhkan kami. Hal ini dapat dilihat pada kenyataan bahwa sudah 4 bulan ini seksi pelayanan di dinas kesehatan kosong karena pejabat lama. berdasarkan laporan hasil Seminar Nasional Desentralisasi Kesehatan di Indonesia” yang diselenggarakan oleh Universitas Hasanuddin.

Diselenggarakan oleh UNHAS. 132 103 . Ada problem serius dalam kemampuan dan keterlambatan DEPKES dan DINKES untuk menyusun peraturan yang mendukung desentralisasi. UGM. Pemerintah Pusat c. 132 Memperhatikan adanya kasus-kasus sebagaimana diungkapkan oleh Laksono Trisnantoro dan adanya hambatan-hambatan pelaksanaan desentralisasi kesehatan di Indonesia sebagaimana dijelaskan oleh laporan hasil ”Seminar Nasional Desentralisasi Kesehatan di Indonesia” di atas. yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan ketatanegaraan dan otonomi daerah. Unit Desentralisasi DEPKES RI. ternyata Menkes Tim Perumus. 32/2004 dan UU No. 33/2004. Isu Hukum Aktual dalam Konflik Aturan Hukum Sektor Kesehatan Pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan berdasarkan UU No. 7-8-9 Juni 2005.q. terhitung sejak pembentukan UU No. 2. dapat diuraikan bahwa dalam kurun waktu lebih dari 2 (dua) tahun. 5-6. 32/2004 dan UU No. 25/2000 dan PP No. Saat ini. 32/2004 sampai dengan tahun 2007 desentralisasi kesehatan masih mendasarkan pada PP No. Komitmen pemerintah pusat untuk mengembangkan peraturan dan standar yang mendukung desentralisasi terlihat lemah. Pada tingkat nasional. C. pascatahun 2007. 8/2003 yang pembentukannya masih mengacu kepada UU No. 4. “Seminar Nasional 4 Tahun Desentralisasi Kesehatan di Indonesia”. maka dapat disimpulkan bahwa ada banyak konflik yang terjadi di dinas kesehatan dan rumah sakit di daerah yang perlu segera diatasi agar pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan dapat terwujud sesuai arahan normatif UU No. 33/2004 hanyalah suatu konsep yang sangat ideal. Makassar. hlm. 22/1999. “Perubahan Fungsi Pemerintah dalam Sektor Kesehatan di Berbagai Tingkat Setelah Penetapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004”. Idealnya. Memperhatikan PP yang menjabarkan desentralisasi. Departemen Kesehatan maupun Pemerintah Daerah untuk melaksanakan ”hasil kesepakatan nasional” dalam pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan. Laporan. Kebijakan kesehatan di Indonesia cenderung menganggap semua daerah sama. Departemen Kesehatan terlihat telah berupaya untuk mempertahankan watak sentralisasi dalam pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan. konsep ini disebabkan tidak adanya kesiapan Pemerintah Pusat c.1.q. Belum dilakukan pembagian urusan secara jelas dalam hubungan pemerintah pusat dan propinsi/kabupaten/kota. dan WHO. 3.

133 sehingga menjadi hambatan normatif bagi pemerintahan daerah Propinsi/Kabupaten/Kota dalam menyusun Perda dan Kepkada yang substansinya secara teknis (untuk Perda Propinsi) dan sangat teknis (untuk Perda Kota) menjabarkan fungsi dan wewenangnya di bidang kesehatan. yaitu Pasal 9 ayat (2) PP No. 29/2004 jo. standarisasi. Upaya Pemerintah Pusat c. yang seharusnya sudah ditetapkan selambat-lambatnya dalam waktu 6 (enam) bulan sejak pembentukan PP No. dan sertifikasi di bidang kesehatan yang diperintahkan oleh Pasal 1 UU No. 25/2000 tersebut. karena Pasal 71 UU No. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit tidak memuat sanksi hukum yang tegas terhadap rumah sakit yang tidak mengendalikan mutu dan biaya pelayanan Keharusan bagi PEMPUS untuk menetapkan kebijakan pengawasan dalam bentuk NSPK perizinan. Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Pola Tarif Pelayanan Kesehatan Pasal 2 angka 3 Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 282/ MENKES/SK/III/1993 tentang Pola Tarif Rumah Sakit Swasta yang mengharuskan fungsi sosial dalam bentuk pemberian keringanan/pembebasan biaya pelayanan rumah sakit diatur oleh direktur rumah sakit swasta sampai saat ini ketentuan atau pedomannya ternyata belum ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. 1575/2005. Pasal 4 PERMENKES No. yaitu: 1. 32/2004 jo. 133 104 . standarisasi. 2. akreditasi dan sertifikasi pelayanan kesehatan RSS-BHPT sebenarnya sudah diperintahkan oleh PP yang lama. dan kriteria perizinan. 38/2007 jo. 25/2000. akreditasi.belum juga menerapkan kebijakan dalam bentuk norma. Departemen Kesehatan mempertahankan watak sentralisasi dalam pelaksanaan desentralisasi di bidang kesehatan itu dilakukan melalui beberapa aturan kebijakan sebagai aturan pelaksana desentralisasi di bidang kesehatan yang secara tidak langsung mengurangi kewenangan Pemerintah Daerah. prosedur. antara lain. Pasal 2 ayat (4) huruf b dan Pasal 11 PP No. Ketidakkonsistenan dan Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan Terdapat ketidakkonsistenan aturan kebijakan sebagai peraturan pelaksana pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan. standar.q.

UU No. termasuk RSS-BHPT. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit sebagai acuan bagi aparatur hukum pada Direktur Jenderal Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kota/Kabupaten. setelah berkonsultasi dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) setempat. Selanjutnya. belum ada pedoman berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan yang menjabarkan Pasal 71 UU No. karena tidak ada pedoman berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan yang menjabarkan pejabat/badan berwenang dan mekanisme pemberian dan penggunaan SKTM atau bukti lain yang mendukung tersebut. dalam melaksanakan pembebasan atau keringanan biaya pelayanan kesehatan dalam rangka fungsi sosialnya berdasarkan Surat Keterangan Kurang dan Tidak Mampu (SKTM) atau bukti lain yang mendukung. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. ternyata mengandung kelemahan normatif jo. dan Pemerintah Kabupaten/Kota jis. dalam 105 . 29/2004 jo. tetapi praktiknya tidak pernah direalisasikan. 32/2004 telah memberikan wewenang kepada Kepala Dinas Kesehtan Propinsi setempat untuk menetapkan ketentuan besaran tarif pelayanan kelas III/kelas terendah bagi masyarakat kurang dan tidak mampu. Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan Bentuk-bentuk fungsi sosial pelayanan kesehatan rumah sakit swasta yang dijabarkan dalam Pasal 4 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1173/ MENKES/PER/X/2004 tentang Rumah Sakit Gigi dan Mulut jis. serta Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) setempat dalam melakukan audit medis eksternal terhadap rumah sakit.kesehatan. Pemerintah Provinsi. Selain itu. juga terdapat kelemahan normatif. terkait dengan Pasal 5 angka 2 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta yang mengharuskan RSS. 3.

memang mengabaikan ”semangat desentralisasi”. Namun. Pemerintah Provinsi. karena menyimpangi asas desentralisasi kesehatan dalam UU No. 1165A/2004. ketidaksinkronan. 106 . yang menghendaki agar wewenang melaksanakan akreditasi rumah sakit diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. dan izin penyelenggaraan adalah wewenang Pemerintah Pusat. Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi Secara yuridis pembentukan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1165A/ MENKES/SK/X/2004 tentang Komisi Akreditasi Rumah Sakit (selanjutnya disingkat KEPMENKES No. 32/2004. standar perizinan rumah sakit. Keterlambatan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan Berdasarkan Pasal 4 huruf g Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/ MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan. ternyata belum ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. 1165A/2004) tidak mengacu kepada UU No. maka perizinan rumah sakit ditentukan sebagai berikut: izin mendirikan adalah wewenang Pemerintah Kabupaten/Kota. izin penyelenggaraan sementara adalah wewenang Pemerintah Propinsi. “Semangat resentralisasi” dalam Surat Edaran Menteri Kesehatan ini mengandung ketidakkonsistenan. Ini berarti bahwa Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS) yang dibentuk berdasarkan KEPMENKES No. Menteri Kesehatan justru menerbitkan Surat Edaran Nomor 725/MENKES/E/VI/2004 yang isi pokoknya menyatakan bahwa sambil menunggu proses penyelesaian Revisi. Menteri Kesehatan mempunyai wewenang menetapkan standar perizinan rumah sakit yang dilaksanakan oleh Pemerintah Daerah. dan menimbulkan konflik kewenangan. 25/2000 (yang masih berlaku saat itu). dan Pemerintah Kabupaten/Kota. 22/1999 dan PP No.4. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 920/ MENKES/PER/XII/1986 tentang Upaya Pelayanan Kesehatan Swasta di Bidang Medik. 5. yang diperkuat oleh Pasal 9 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah.

134 107 . Pemerintah Daerah. sedangkan keterlibatan Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dalam pembinaan pascaakreditasi rumah sakit meskipun bersifat ”imperatif” tetapi fungsinya hanya ”asistensi” saja terhadap tugas pokok KARS. Pasal Tim Perumus. 4. 2007. ternyata tidak dijelaskan dengan Peraturan Menteri Kesehatan. 5 dan 29. tetapi hanya berdasarkan buku PARSI. Selain itu. yang pelaksanaannya tergantung kepada sikap normatif Pemerintah Pusat. yang menghendaki agar wewenang melaksanakan akreditasi rumah sakit diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota. Ketidakjelasan dan Ketidakkonsistenan Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi Menurut Pasal 22 jis Pasal 23 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 512/ MENKES/PER/IV/2007 tentang Izin Praktik dan Pelaksanaan Kedokteran jo.I. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI). Konsil Kedokteran Indonesia (KKI).134 keterlibatan Dinas Kesehatan Propinsi dalam pembinaan praakreditasi rumah sakit hanya bersifat ”fakultatif”. monitoring dan evaluasi pelaksanaan audit medis eksternal yang diintegrasikan dengan akreditasi rumah sakit oleh KARS berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit. DITJEN YANMEDIK-DEPKES R. 6. Jakarta. KKI. hlm. telah menyimpangi ”asas desentralisasi” dalam UU No. dalam pelaksanaan audit medis eksternal di rumah sakit yang diatur dalam Pasal 71. 7. Komisi Akreditasi Rumah Sakit. Ketidakjelasan dan Keterlambatan Aturan Hukum dan Kebijakan Audit Medis Rumah Sakit Ketidakjelasan ruang lingkup dan rincian fungsi dan tugas Pemerintah Pusat. 32/2004. Pemerintah Daerah. Pasal 72 dan Pasal 74 UU No. Selanjutnya.Menurut buku Pedoman Akreditasi Rumah Sakit (PARSI). Selain itu. 29/2004. audit medis eksternal sifatnya hanya ”fakultatif”. IDI dan PDGI. Pedoman Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia. pelibatan Dinas Kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota dalam pembinaan pra dan pascaakreditasi rumah sakit tidak berdasar hukum yang kuat.

q. 29/2004 berikut aturan kebijakan sebagai peraturan pelaksananya. Namun. Direktur Jenderal 108 . Tim yang terdiri dari unsur-unsur profesi itu sifatnya ”aksidental”. terhadap rumah sakit yang melanggar kewajiban-kewajiban hukum dalam UU No. karena: pertama. 29/2004 berikut aturan kebijakan sebagai peraturan pelaksananya. terdapat ketidakjelasan fungsi dan tugas para pihak dalam proses pembuktian pelanggaran kewajiban hukum oleh dokter dan pengenaan sanksi administrasinya. 23/1992 jo. 23/1992 dan UU No. adalah wewenang Menteri Kesehatan c. atau MKDKI telah terbentuk di tingkat pusat tetapi belum terbentuk di tingkat propinsi. Selanjutnya. tidak konstitutif. Jika MKDKI belum terbentuk baik di tingkat pusat maupun di tingkat propinsi. Artinya. dan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197/ MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit.77 UU No. pencabutan SIP dokter oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota hanya bersifat ”deklaratif”. 23/1992 dan UU No. yang hanya (akan) dibentuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Menteri Kesehatan jika ada pengaduan dari setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan karena pelanggaran kewajiban hukum oleh dokter. Kepala Dinas Kesehatan Propinsi di Tingkat Pertama dan Menteri Kesehatan di Tingkat Banding berwenang memeriksa dan memutus kasus pelanggaran kewajiban hukum oleh dokter berdasarkan pertimbangan Tim yang terdiri dari unsur-unsur profesi yang dibentuk oleh Kepala Dinas Kesehatan Propinsi dan Menteri Kesehatan. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota baru dapat mencabut Surat Izin Praktik (SIP) dokter jika pelanggaran kewajiban-kewajiban hukumnya dalam UU No. dan ”pasif”. maka berdasarkan Pasal 77 UU No. telah terbukti berdasarkan putusan Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI). Pasal 71 UU No. 29/2004. dapat dikenakan sanksi administrasi oleh Pemerintah. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 496/ MENKES/SK/IV/2006 tentang Pedoman Audit Medis di Rumah Sakit. kedua. maka berdasarkan Pasal 83 UU No. 23/1992. Namun. sanksi administrasi yang diatur dalam menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 282/ MENKES/SK/III/1993 tentang Pola Tarif Rumah Sakit Swasta. 29/2004. kelemahan normatif timbul. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 378/ MENKES/PER/V/1993 tentang Pelaksanaan Fungsi Sosial Rumah Sakit Swasta.

yang kemudian diperkuat oleh Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. 9. dan Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota. 8.q. namun perubahan yang bermakna belum terjadi. Padahal. Keterlambatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah Terdapat keterlambatan Pemerintah Daerah Propinsi/Kota/Kabupaten membentuk Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah yang menjabarkan fungsi dan wewenangnya di bidang kesehatan dikarenakan norma. 32/2004 ternyata belum tercermin dalam struktur organisasi Depkes yang ditetapkan dalam Pasal 5 Permenkes No. dalam arti mengarahkan dan menetapkan kebijakan kesehatan dalam bentuk NSPK mengacu asas desentralisasi. ada 2 (dua) fungsi penting Depkes yang memerlukan perubahan struktur Depkes terkait dengan 109 . 32/2004 dan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1575/ MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan PERMENKES No. Meskipun ada Staf Ahli Menteri Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi. standar. akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan yang menjadi acuan hukumnya ternyata belum ditetapkan oleh Pemerintah Pusat c. direktorat jenderal khusus yang berwenang dan bertanggung jawab atas kebijakan dan strategi desentralisasi kesehatan belum dibentuk dalam struktur organisasi Depkes. 1575/2005. 1575/2005. disebabkan oleh ketidakkonsistenan Pemerintah Pusat menegakkan ”asas desentralisasi” dalam UU No. standarisasi. Menteri Kesehatan. Pemerintah Provinsi. dalam UU No.Pelayanan Medik untuk mengenakannya. Kelemahan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan Hukum (Pemerintah) Sektor Kesehatan Fungsi steering dan regulating Depkes. prosedur dan kriteria perizinan. 32/2004 yang menghendaki agar wewenang melaksanakan pengawasan berikut pengenaan sanksi administrasinya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota. mengandung ketidakkonsistenan dengan ”asas desentralisasi” dalam UU No. Hingga kini.

cit. di Indonesia. yaitu: 1. diakses tanggal 15 Januari 2005.135 Namun.kebijakan dan strategi desentralisasi kesehatan. serta Kandep dan Dinkes Kabupaten-Kota. desentralisasi kesehatan di tingkat kelemahannya. hlm. Terjadi perubahan radikal di propinsi dan kabupaten/kota dengan ditandai merger Kanwil dan DINKES Propinsi. yang dibentuk berdasarkan KEPMENKES. pelatihan. ada yang netral. adalah pembentukan Unit Desentralisasi untuk mendukung keberhasilan Propinsi dan Kabupaten/Kota. yaitu: 1) pembinaan dan pengawasan atas penyelenggaraan OTODA yang meliputi pemberian pedoman.php.. namun hingga kini belum ada action yang nyata. “Peran DEPKES di Era Desentralisasi Kesehatan”. arahan.net/buletin. dalam www. sehingga perlu terus dipantau dan dievaluasi oleh Menkes. Belum ada pembinaan sistematis. Op. Kapasitas DepKes RI untuk mengelola anggaran pusat menjadi terbatas karena sudah tidak ada lagi Kanwil. dan 2) penyelesaian perselisihan antar Propinsi di bidang kesehatan. Sampai kini.136 2. komunikasi yang sedikit mengenai masalah pembagian urusan. Ada pihak dan individu yang mendukung kebijakan desentralisasi. 4. Satu-satunya perubahan struktur Depkes terkait dengan desentralisasi kesehatan. tidak ada perubahan bermakna dalam struktur DEPKES. 7. Manajemen. terdapat temuan beberapa kelemahan struktur dan kapasitas (daya dukung) kelembagaan hukum (pemerintah) di bidang kesehatan dalam rangka otonomi daerah. menjelaskan bahwa sebenarnya sudah ada wacana mengubah struktur Depkes terkait dengan desentralisasi kesehatan. sehingga tidak mendukung pelaksanaan kebijakan desentralisasi. 135 110 . bahkan kompetisi yang menimbulkan konflik. Selain itu. Azrul Azwar. guna ditetapkan tindak lanjut untuk tahun berikutnya. Volume III/02/2005. dan supervisi di bidang kesehatan. 136 Tim Perumus. kedudukan Unit Desentralisasi hanya sebagai unit nonstruktural dan bersifat ad-hoc (untuk periode 1 tahun saja). Departemen Kesehatan. dalam kapasitasnya sebagai Dirjen Kesmas Depkes-RI. 3. bimbingan. dan Departemen Dalam Azrul Azwar. Yang terjadi adalah situasi saling curiga. dan ada yang menentang kebijakan ini. Namun. pemberdayaan dan pelatihan staf DINKES propinsi dan Kab/Kota agar mampu menjalankan urusannya dalam konteks desentralisasi. struktur pemerintahan yang sangat sentralistik masih tercermin di sektor kesehatan yang masih didominasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.desentralisasi-kesehatan. Departemen Keuangan.

Negeri. Selain itu, sistem pelayanan kesehatan nasional, dengan segala keterbatasan sumber dayanya, tidak ada saling keterkaitan antarprogram dan unit dalam Departemen Kesehatan sendiri, dan antarunit di pusat dan daerah, sehingga tidak berkerja sebagai suatu sistem, tetapi justru saling berkompetisi untuk mempengaruhi daerah.137 Struktur organisasi dinas kesehatan-dinas kesehatan ternyata memiliki kelemahan supratruktural, yaitu tidak/belum dibentuknya Bagian atau Subbagian Hukum, yang tentunya dapat menghambat upaya hukum Pemerintah Daerah dalam merancang, membentuk, mengawasi dan mengevaluasi Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah di bidang kesehatan. Kelemahan supratruktural itu, juga terkait dengan keterbatasan jumlah dan kualifikasi sumber daya manusia di bidang hukum kesehatan serta ilmu dan teknologi kesehatan, termasuk segi-segi teknis perumahsakitan, sehingga menemui kesulitan dalam menetapkan persyaratan teknis dalam Peraturan Daerah apalagi Keputusan Kepala Daerah yang menjabarkan fungsi dan wewenang pengawasan Pemerintah Daerah Propinsi/Kabupaten/Kota di bidang perizinan, standarisasi, akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan.138 Dwidjo Susono, dalam kapasitasnya sebagai Staf Ahli Menkes Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi, menegaskan bahwa hambatan dan tantangan dalam penerapan kebijakan dan strategi desentralisasi kesehatan, adalah: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Komitmen dari semua pihak terkait; Kelangsungan dan keselarasan pembangunan kesehatan; Ketersediaan dan pemerataan SDM yang berkualitas; Kecukupan pembiayaan kesehatan; Kelengkapan sarana dan prasarana kesehatan; Kejelasan pembagian kewenangan dan pengaturan kelembagaan; Kemampuan manajemen kesehatan dalam penerapan desentralisasi.139

Selain itu, Dwidjo Susono menjelaskan bahwa rendahnya wewenang antara pusat dan daerah, rendahnya kerja sama antara pusat dan daerah, rendahnya
Soedarmono Soejitno, Ali Alkatiri, Emil Ibrahim. 2002. Reformasi Perumahsakitan Indonesia. PT. Grasindo, Jakarta, hlm. 191. 138 Muhammad Syaifuddin. 2009. Menggagas Hukum Humanistis-Komersial: Upaya Perlindungan Hak Masyarakat Kurang dan Tidak Mampu atas Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Swasta Berbadan Hukum Perseroan Terbatas. Bayu Media, Malang, hlm. 197. 139 Dwidjo Susono (Staf Ahli MENKES Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi), “Kebijakan & Strategi Desentralisasi Kesehatan dan KW/SPM”, Makalah, Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur, pada 21 Juni 2007, di Surabaya, hlm. 32.
137

111

kapasitas aparatur pemerintah, terbatasnya keuangan, dan otonomi menjadi masalah yang harus dihadapi oleh desentralisasi di Indonesia.140 Penjelasan yang sama juga dikemukakan oleh Bachtiar Oesman, dalam kapasitasnya sebagai Direktur Usaha dan Pemasaran Lembaga Asosiasi Dinkes Indonesia, yang menjelaskan bahwa perubahan dari sentralistik ke desentralistik membawa perubahan yang mendasar kepada Dinkes. Untuk itu, perlu adanya peningkatan pengetahuan, keterampilan dan kompetensi kepada kepala Dinkes dan staf agar dapat meningkatkan kinerja Dinkes.141 Jadi, perubahan fungsi dan wewenang pemerintah pusat dan pemerintah daerah belum ditindaklanjuti dengan perubahan dan penguatan struktur, SDM, dana, sarana dan prasarana pada Depkes di pusat dan Dinkes Propinsi/Kabupaten/Kota di daerah, sehingga menjadi kendala strultur dan kapasitas kelembagaan hukum (pemerintah) di bidang kesehatan, yang dapat menghambat upaya hukum melindungi hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal.

D. Asas-asas Hukum yang Mendasari Fungsi dan Wewenang Pemerintah dalam Otonomi Daerah Sektor Kesehatan Fungsi dan wewenang pemerintah dalam otonomi daerah di bidang kesehatan terikat pada asas-asas hukum dalam UU No. 32/2004 yang memberikan otonomi daerah seluas-luasnya sebagaimana diamanatkan oleh Pasal 18 ayat (2) dan ayat (5) UUD NRI Tahun 1945. Pemberian otonomi seluas-luasnya pada daerah, menurut Penjelasan Umum angka 1 huruf a UU No. 32/2004 didasarkan alasan fundamental, yaitu: ”...mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat....daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan, dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Ibid. Bachtiar Oesman. “Pengembangan Eksekutif Kepala Dinas Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Dinas Kesehatan Daerah di Era Desentralisasi”. Makalah, Disampaikan pada Seminar Desentralisasi Bidang Kesehatan: ”Reformasi Sektor Kesehatan dalam Desentralisasi di Indonesia”, Bandung, 6 Juni 2006.
141

140

112

Asas otonomi daerah dalam UU No, 32/2004, menurut Penjelasan Umumnya, adalah ”prinsip otonomi seluas-luasnya”, dalam arti daerah diberikan kewenangan mengurus dan mengatur semua urusan pemerintahan di luar yang menjadi urusan Pemerintah Pusat yang ditetapkan dalam UU No. 32/2004. Berdasarkan Pasal 2 ayat (2) jo. Pasal 10 ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) UU No. 32/2004, ditentukan bahwa kecuali politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan fiskal nasional. serta agama sebagai urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah Pusat, maka Pemerintah Daerah mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut “asas otonomi dan tugas pembantuan”, sehingga ada keseimbangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dan mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat berdasarkan keadilan. Adapun makna “asas otonomi dan tugas pembantuan” menurut Pasal 2 ayat (2) UU No. 32/2004 adalah “pelaksanaan urusan pemerintahan oleh daerah dapat

diselenggarakan secara langsung oleh pemerintahan daerah itu sendiri dan dapat pula penugasan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota dan Desa atau penugasan dari Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota ke Desa”. Selanjutnya, sesuai dengan Pasal 12 ayat (1) jis. Pasal 11 ayat (3) UU No. 32/2004, maka penyelenggaraan urusan pemerintahan berdasarkan “asas

desentralisasi”, yang maknanya menurut pasal 1 angka 7 UU No. 32/2004, yaitu “penyerahan wewenang pemerintahan oleh Pemerintah Pusat kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia”. Kini, desentralisasi, khususnya desentralisasi di bidang kesehatan, secara tegas telah dinyatakan dalam Pasal 13 ayat (1) huruf e UU No. 32/2004 yang menetapkan “penanganan bidang kesehatan” sebagai 1 (satu) di antara 16 (enam belas) urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah propinsi, dan Pasal 14 ayat (2) huruf e UU No. 32/2004 yang menetapkan “penanganan bidang kesehatan” sebagai 1 (satu) di antara 16 (enam belas) urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah kabupaten/kota. Kemudian, sesuai dengan Pasal 14 ayat (1) huruf e UU No. 32/2004 penyelenggaraan penanganan bidang kesehatan oleh Pemerintah Daerah didasarkan

113

mencakup: 114 . Pemerintah Daerah Propinsi. Jadi. “Pemerintah” berwenang melakukan pengawasan dan pembinaan di bidang kesehatan. dalam arti menetapkan kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk norma. “Pemerintah” yang dimaksud dalam Pasal 76 dan Pasal 78 UU No. asas desentralisasi. 38/2007. asas otonomi. menurut Pasal 11 ayat (1) UU No. E. adalah “Pemerintah Pusat” menurut Pasal 1 angka 1 jo. dan asas keserasian. 32/2004 dan Penjelasannya. dan kriteria (selanjutnya disingkat NSPK) yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 23/1992. prosedur.pada asas desentralisasi dengan peletakan titik berat otonomi di daerah kabupaten/kota. atau propinsi dengan kabupaten/kota. Pasal 238 (yang memuat asas hukum peralihan) UU No. adalah asas-asas hukum yang menjadi landasan filosofis fungsi dan wewenang pemerintah dalam otonomi daerah di bidang kesehatan. berdasarkan Pasal 2 ayat (4) huruf b jo. Menteri Kesehatan sebagai unsur pelaksana Pemerintah Pusat di bidang kesehatan. dan Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota (selanjutnya disingkat PP No. Pasal 5 ayat (3) PP No. dalam arti keserasian hubungan antar propinsi dengan propinsi. yang antara lain. Pembagian Fungsi dan Wewenang Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Daerah Sektor Kesehatan Berdasarkan Pasal 76 dan Pasal 78 UU No. kabupaten/kota dengan kabupaten/kota. 32/2004 jis. Pasal 1 angka 1 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. harus memperhatikan “keserasian hubungan antar susunan pemerintahan”. 38/2007). 23/1992. Khusus di bidang kesehatan. standar. yaitu “Presiden Republik Indonesia yang memegang kekuasaan pemerintahan negara Republik Indonesia beserta para Menteri sebagaimana dimaksud dalam UUD NRI Tahun 1945”. Penanganan bidang kesehatan sebagai urusan wajib pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah propinsi/kabupaten/kota. mempunyai wewenang berdasarkan fungsi mengatur (regulating) dan mengarahkan (steering).

pedoman standar pendidikan dan pendayagunaan tenaga kesehatan. dalam arti Departemen Kesehatan tidak berfungsi sebagai pelaksana (operating). registrasi. pedoman pembiayaan pelayanan kesehatan. 7. 38/2007. pemberian izin sarana kesehatan tertentu. 4. persyaratan kualifikasi usaha jasa di bidang kesehatan. dan sertifikasi tenaga kesehatan skala nasional. memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan sesuai dengan kebijakan kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. akreditasi.1. 6. 5. pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Pusat. ayat (5) dan ayat (6) jo. 1575/2005) Departemen Kesehatan tidak memiliki wewenang di bidang kesehatan yang bersifat operasional. 2. 3. dan pembinaan. akreditasi. registrasi. 115 . 4. persyaratan sertifikasi tenaga profesional/ahli serta persyaratan jabatan di bidang kesehatan. registrasi. pemberian izin tenaga kesehatan asing. evaluasi dan pengawasan skala nasional. 2. dan standar akreditasi sarana dan prasarana kesehatan. 8. registrasi. antara lain. 6. dan sertifikasi komoditi kesehatan. monitoring. sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan. 5. akreditasi. 3. pedoman penapisan. sertifikasi sarana kesehatan. yaitu: 5. akreditasi. sehingga Depertemen Kesehatan hanya memiliki wewenang menetapkan: 1. 6. dengan Pasal 4 Peraturan Menteri Kesehatan Nomor Sesuai 1575/MENKES/PER/XI/2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Kesehatan (selanjutnya disingkat Permenkes No. Pemerintah Propinsi sebagai daerah otonom menurut Pasal 2 ayat (4) huruf b. Pasal 11 PP No. pengembangan dan penerapan teknologi kesehatan. Selanjutnya. pedoman sertifikasi teknologi kesehatan dan gizi. standar pemberian izin oleh daerah di bidang kesehatan. tetapi berfungsi sebagai pengatur dan pengarah.

41/2007) dikaji dalam hubungannya dengan fungsi dan wewenang Pemerintah Daerah di bidang kesehatan. dan 7) pembinaan. pemberian izin sarana kesehatan rumah sakit swasta khusus dan rumah sakit swasta yang setara dengan rumah sakit pemerintah Kelas B nonpendidikan. 2) pemberian rekomendasi izin sarana kesehatan tertentu yang diberikan oleh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi. dan 11. 10. Pasal 11 PP No. maka Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai organisasi perangkat daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota di bidang kesehatan. sertifikasi tenaga kesehatan tertentu skala kabupaten/kota sesuai peraturan perundang-undangan. akreditasi. 38/2007 dan Permenkes No. pemberian rekomendasi izin tenaga kesehatan asing. akreditasi. 8. 9. 3) pemberian izin sarana kesehatan meliputi rumah sakit swasta yang setara dengan rumah sakit pemerintah Kelas C dan Kelas D. 38/2007. 1575/2005. mempunyai wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan saja yang berpedoman kepada NSPK yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan selaku unsur pelaksana Pemerintah Pusat di bidang kesehatan. monitoring. Dinas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota juga memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur tetapi “terbatas”. memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan sesuai dengan kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. evaluasi dan pengawasan skala propinsi. Kemudian. sesuai dengan PP No. Jika rumusan Pasal 7 dan Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah (selanjutnya disingkat PP No. pembinaan. Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota sebagai daerah otonom menurut Pasal 2 ayat (4) huruf b. monitoring. 4) registrasi. sertifikasi sarana kesehatan sesuai peraturan perundang-undangan. sertifikasi sarana produksi dan distribusi alat kesehatan. dalam arti hanya merumuskan 116 . akreditasi.7. sertifikasi tenaga kesehatan tertentu skala propinsi sesuai peraturan perundang-undangan. 6) sertifikasi alat kesehatan. 5) pemberian izin praktik tenaga kesehatan tertentu. ayat (5) dan ayat (6) jo. yaitu: 1) registrasi. evaluasi dan pengawasan skala kabupaten/kota. antara lain. registrasi.

mengarahkan. 23/1992 dan UU No. Tabel 7. Pemerintah Fungsi dan Wewenang di Bidang Kesehatan Pusat Pada dasarnya memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur dan mengarahkan. dalam arti melaksanakan wewenang di bidang kesehatan sesuai dengan kebijakan di kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan Pemerintah Pusat. 1. Kabupaten/ Pada dasarnya memiliki wewenang di bidang kesehatan Kota berdasarkan fungsi melaksanakan saja. sebagaimana dijelaskan di atas. Pembagian wewenang Pemerintah di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur. 3. Sumber: Bahan hukum primer. dan melaksanakan. 29/2004 yang secara yuridis. kecuali perizinan rumah sakit swasta khusus dan rumah sakit swasta yang (kelasnya) setara dengan rumah sakit pemerintah Kelas B nonpendidikan. masih 117 .kebijakan yang bersifat teknis sebagai penjabaran dari kebijakan di bidang kesehatan yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. tetapi hanya terbatas pada perumusan kebijakan di bidang kesehatan yang bersifat “teknis” sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Propinsi. Propinsi Pada dasarnya hanya memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi melaksanakan saja. yaitu hanya menetapkan kebijakan di bidang kesehatan saja dalam bentuk NSPK. 2. Juga memiliki wewenang di bidang kesehatan berdasarkan fungsi mengatur. diolah. dapat ditabulasikan dalam tabel 7. Juga memiliki wewenang di bidang berdasarkan fungsi mengatur. tetapi terbatas pada perumusan kebijakan di bidang kesehatan yang bersifat “teknis” sebagai penjabaran lebih lanjut dari kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan Pemerintah Pusat. dalam arti melaksanakan wewenang di bidang kesehatan sesuai dengan kebijakan di bidang kesehatan dalam bentuk NSPK yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat. Pembagian Wewenang Pemerintah Sektor Kesehatan Berdasarkan Fungsi Mengatur. sesuai dengan asas hukum peralihan. Pemerintah Pusat. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota juga memiliki wewenang di bidang kesehatan yang dijabarkan dalam beberapa Permenkes dan Kepmenkes sebagai aturan pelaksana dari UU No. Mengarahkan dan Melaksanakan No.

ayat (4) dan ayat (6) UU No. dan Permenkes No. 29/2004. PP 38/2007 jis. penggunaan standar pelayanan kedokteran dan standar pelayanan rumah sakit yang berorientasi hak pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 32 ayat (4) UU No. 269/2008. 32/2004. Khusus terhadap penetapan pola tarif pelayanan kesehatan rumah sakit swasta sesuai kemampuan membayar masyarakat setempat sebagaimana diharuskan dalam Pasal 8 UU No. Kepmenkes No. 26/1960. 10/1960. Permenkes No. Pasal 71 UU No. 23/1992 jo. c. penyimpanan rahasia kedokteran berdasarkan kepercayaan pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 48 UU No. dan Permenkes No. Pasal 13 dan Pasal 14 Kepmenkes No. 118 . karena belum atau tidak direvisi (dalam arti belum dicabut. 23/1992. Pasal 44 ayat (1). dalam bentuk-bentuk sebagai berikut: 1) Penanganan penderita gawat darurat medik atas dasar perikemanusiaan sebagaimana diharuskan dalam Pasal 51 huruf a. 2) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan kepada pasien secara bermutu dan manusiawi. 29/2004 dan PP No. jika merujuk kepada Pasal 77 UU No. 32/2004. Berdasarkan Pasal 77 UU No. UUPD No. yang merupakan inti dari pelayanan kesehatan. dan ayat (3) UU No. 29/2004. khususnya alinea 5 dan 6. 23/1992. 282/1993 jo. 23/1992 jo. ayat (2). d. dan ayat (3) UU No. memiliki fungsi dan wewenang pengawasan terhadap pelaksanaan praktik kedokteran. dan Permenkes No. dan huruf d UU No. UU No. 1333/1999. penggunaan rekam medis untuk kepentingan pengobatan dan perawatan pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 46 ayat (1). dan Kepmenkes No. 1173/2004 jis. dan PP No. 282/1993. ayat (2). 29/2004 jo. 29/2004. ayat (2). yang meliputi: a. diganti. b. persetujuan tindsakan kedokteran berdasarkan hak pasien menentukan nasib sendiri dan memperoleh informasi sebagaimana diharuskan dalam Pasal 45 ayat (1). dan ayat (3) dan Pasal 47 ayat (1). 585/1989. 29/2004. maka Dinas Kesehatan Kabupaten/Dinas Kesehatan Kota setempat sebagai unsur pelaksana otonomi daerah Pemerintah Kabupetan/Pemerintah Kota di bidang kesehatan. 512/2007. ayat (2). dan dinyatakan tidak berlaku).berlaku. maka Dinas Kesehatan Propinsi setempat yang berwenang melakukan pengawasan. huruf c.

d. ayat (2) dan ayat (3) UU No. Pasal 43 Kepmenkes No. dan Kepmenkes No. Direktur Jenderal Pelayanan Medik. UU No. dengan/tanpa mengikutsertakan IDI dan PDGI setempat. Direktur Jenderal Pelayanan Medik hanya berwenang melakukan pembinaan. Selanjutnya. fungsi dan wewenang pengawasan Pemerintah Pusat. 363/1998.q. 29/2004. 38/2007 jis. Kepmenkes No. 1173/2004 jis. UU No. dapat ditabulasikan pada tabel 8. PP No. Permenkes No. dan Kepmenkes No. Permenkes No. 23/1992. jika merujuk kepada Pasal 77 UU No.q. 631/2005.q. jika merujuk kepada Pasal 71 UU No. Pasal 16 PP No. Danas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Dinas Kesehatan Kota setempat yang berwenang melakukan pengawasan. 32/2004. 378/1993 jis. 426/2006. 23/1992 jo. 378/1993. khusus terhadap pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan rumah sakit sesuai kebutuhan medis pasien sebagaimana diharuskan dalam Pasal 49 ayat (1). 1197/2004. Pasal 8 dan Pasal 9 Permenkes No.sedangkan Menteri Kesehatan c. 72/1998. maka Menteri Kesehatan c. merata dan terjangkau oleh masyarakat sebagaimana diharuskan dalam Pasal 61 UU No. jika merujuk kepada Pasal 77 UU No. khusus terhadap penjabaran dan pelaksanaan bentuk fungsi sosial pelayanan kesehatan rumah sakit swasta sebagaimana diharuskan dalam Pasal 57 ayat (2) UU No. 23/1992. Kemudian. 983/1992. 23/1992 jo. Berikutnya. khusus terhadap pengelolaan perbekalan kesehatan rumah sakit yang bermutu. Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Pemerintah Kota terhadap pelayanan kesehatan rumah sakit sebagaimana diuraikan diatas. Pasal 2 s. maka Menteri Kesehatan c. 720/2006. Pasal 25 Permenkes No. 159b/1988. Pasal 58 jis. Permenkes No. 363/1998 dan Kepmenkes No. dengan mengikutsertakan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat dan unit-unit lain dalam satu Tim Pembina. 32/2004. Pasal 57 ayat (2) UU No. Direktur Jenderal Pelayanan Medik yang berwenang melakukan pengawasan. 29/2004 dan Kepmenkes No. Secara lebih konkrit.q. Direktur Jenderal Pelayanan Medik. Danas Kesehatan Propinsi dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Dinas Kesehatan Kota yang berwenang melakukan pengawasan. Kepmenkes No. 23/1992. 1197/2004. 119 . maka Menteri Kesehatan c.

Penggunaan standar pelayanan kedokteran Propinsi/Kabupaten/ dan standar pelayanan rumah sakit yang Kota setempat. merata dan terjangkau oleh Yanmedik. Pengendalian mutu dan biaya pelayanan Menkes c. Sumber: Bahan hukum primer. 5. Yanmedik. berorientasi hak pasien. Dirjen sosial pelayanan kesehatan. 7. diolah. 9.Tabel 8. 120 .q. Propinsi 6. Penggunaan rekam medis untuk kepentingan pengobatan dan perawatan pasien. Penyimpanan rahasia kedokteran berdasarkan kepercayaan pasien. Pengelolaan perbekalan kesehatan yang Menkes c. Dinkes atas dasar perikemanusiaan. Yanmedik mengikutsertakan Kepala Dinkes Propinsi setempat dan unit terkait dalam satu Tim Pembina. Dirjen Yanmedik. Persetujuan tindakan kedokteran berdasarkan hak pasien menentukan nasib sendiri dan memperoleh informasi. Menkes c.q.q. Bentuk Pelayanan Kesehatan Pengawas Rumah Sakit 1. Penjabaran dan pelaksanaan bentuk fungsi Menkes c. 8. Dirjen bermutu. Dinkes Propinsi/Kabupaten/ masyarakat.q. 2. 3. Penanganan penderita gawat darurat medik Menkes cq. Kota. Dinkes Propinsi/Kabupaten/ Kota dengan/ tanpa IDI dan PDGI setempat. 4. Penetapan pola tarif pelayanan kesehatan Dinkes (khusus sesuai kemampuan membayar masyarakat setempat pengawasan) dan setempat. Dirjen kesehatan sesuai kebutuhan medis pasien. Dirjen Yanmedik (khusus pembinaan). Fungsi dan Wewenang Pengawasan Pemerintah Terhadap Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit No.

41/2007. Faza Media. G. Jakarta. yang secara konstitusional mengacu kepada Pasal 18 ayat (6) UUD NRI Tahun 1945. 142 121 . kondisi dan kebutuhan daerah Suko Wiyono. 32/2004.142 termasuk perlindungan hukum di bidang kesehatan. 10/2004. Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam Otonomi Sektor Kesehatan UU No. Isu mengenai perimbangan keuangan antara antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah sehubungan pembiayaan kebijakan kesehatan dan implementasinya di daerah adalah berkenaan dengan apakah kebijakan kesehatan dan implementasinya tersebut termasuk ranah otonomi daerah atau kewenangan pemerintah pusat yang didekonsentrasi atau tugas pembantuan. dan sejumlah Permenkes dan Kepmenkes. sesuai dengan Pasal 136 ayat (2) UU No. harus dijabarkan di tingkat daerah propinsi/kabupaten/kota dalam bentuk Peraturan Daerah (selanjutnya disingkat PERDA). dengan mempertimbangkan potensi. UU No. demokratis. PP No. Atas dasar itu. dengan tegas menyatakan bahwa PERDA adalah bagian integral dari peraturan perundangan-undangan Republik Indonesia. PP No. hlm. 32/2004. proporsional.F. PERDA harus dapat memberikan perlindungan hukum bagi rakyat di daerah. Pasal 7 UU No. Yang dimaksud dengan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah adalah suatu sistem pembagian keuangan yang adil. Keberadaan PERDA. 80. 33/2004 pada hakikatnya mengatur tentang keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah Fungsi dan wewenang Pemerintah Daerah di bidang kesehatan yang diatur dalam UU No. 38/2007. 1575/2005. transparan dan efisien dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi. Otonomi Daerah dalam Negara Hukum Indonesia: Pembentukan Peraturan Daerah Partisipatif. 2006. 29/2004. dan Pemenkes No. 23/1992. serta UU No. adalah conditio sine quanon dalam rangka melaksanakan kewenangan OTODA. menurut Suko Wiyono. sebagaimana telah diuraikan di atas.

tidak termasuk dana yang dialokasikan untuk instansi vertikal pusat dan daerah (Pasal 1 angka 26). Sehubungan perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah ini terdapat beberapa konsep penting dalam UU No. 33/2004). 1107/Menkes/E/VII/2000). peristiwa luar biasa dan/atau krisis solvabilitas (Pasal 1nagka 29). Sehubungan isu desentralisasi dan perimbangan keuangan pusat-daerah. 3) Dana Alokasi Khusus adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai prioritas nasional (Pasal 1 angka 23) 4) Dana Dekonsentrasi adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh gubernur sebagai wakil pemerintah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan dekonsentrasi. 6) Dana Darurat adalah dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada daerah yang mengalami bencana nasional. 2) Dana Alokasi Umum adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (Pasal 1 angka 21). Sedasar dengan itu.serta besaran pendanaan penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan (vide Pasal 1 angka 3 UU No. 33/2004). Tugas pemerintah daerah. undang-undang menetapkan suatu dana perimbangan. 33/2004. baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota yang utama adalah melakukan tugas-tugas mengurus sehubungan asas otonomi daerah dan dalam rangka tugas mengatur melakukan pengawasan/penegakan hukum sesuai kewenangannya (vide Surat Edaran Menkes No. Untuk daerah yang secara keuangan masih belum dapat melaksanakan otonominya secara 122 . Yang dimaksud dengan dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (vide Pasal 1 angka 19) UU No. yaitu: 1) Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi (vide Pasal 1 angka 20). 5) Dana Tugas Pembantuan adalah dana yang berasal dari APBN yang dilaksanakan oleh daerah yang mencakup semua penerimaan dan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan tugas pembantuan (Pasal 1 angka 27). maka dapat dijelaskan bahwa tugas pemerintah pusat yang utama adalah melakukan pengaturan dalam rangka melindungi kesehatan seluruh rakyat Indonesia.

yang menurut Pasal 282/1993 harus diatur oleh direktur RSS.memadai. seharusnya tidak hanya terbatas pada tarif tempat tidur pasien rawat inap kelas III. Pasal 5. 23/1992. seharusnya parameternya ditentukan dengan jelas. yang mencakup: (1) “Kemampuan membayar masyarakat setempat”. agar konsisten dengan “spirit hukum” Pasal 57 ayat (2) UU No. yang menurut Pasal 2 angka 1 Kepmenkes No. 282/1993. Pasal 6. pemerintah menyediakan sejumlah dana yang dapat digunakan oleh pemerintah daerah dalam rangka memenuhi kewajiban mewujdkan hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. 123 . H. teknologi”. 282/1993 harus ditetapkan oleh direktur rumah sakit swasta. 282/1993 harus diperhatikan dalam menetapkan pola tarif pelayanan kesehatan rumah sakit swasta. 282/1993 merupakan dasar penetapan tarif pelayanan kesehatan rumah sakit swasta. (3) Pemberian keringanan/pembebasan biaya pelayanan kesehatan bagi pasien 2 angka 3 Kepmenkes No. Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Tarif Pelayanan Kesehatan Penguatan asas konsistensi dan kejelasan pengaturan hukum dan kebijakan pola tarif pelayanan kesehatan harus terkonseptualisasi dalam Kepmenkes 282/1993 yang perlu segera direvisi. Pasal 10 dan Pasal 11 Kepmenkes No. (2) “Tingkat Kepmenkes kecanggihan No. kurang/tidak mampu. tetapi juga tarif untuk jenis pelayanan kesehatan lainnya. seharusnya pedomannya ditetapkan oleh Dirjen Yanmedik Depkes-RI segera setelah dilakukannya revisi Kepmenkes No. yang menurut Pasal 2 angka 1 No. seharusnya kriterianya juga dijabarkan dengan jelas. termasuk jasa dokter. Pasal 4. (4) “Tarif khusus” bagi masyarakat kurang/tidak mampu. yang menurut Pasal 3.

I. Penguatan Asas Konsistensi dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengendalian Mutu dan Biaya Pelayanan Kesehatan Penguatan asas konsistensi dan kesegeraan pengaturan hukum dan kebijakan pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan harus terkonseptualisasi dalam hal-hal, sebagai berikut: (1) Pembentukan Permenkes yang menjabarkan wewenang IDI dan PDGI dalam membina dan mengawasi dokter dalam melakukan praktik kedokteran di rumah sakit sebagai tindaklanjut dari Pasal 49 ayat (3) UU No. 29/2004. Mengingat audit medis bersifat konfidensial, maka substansi hukumnya seharusnya juga memuat sanksi bagi IDI dan PDGI (sebagai pihak eksternal rumah sakit) yang mempubikasikan audit medis tanpa persetujuan dari pihak internal rumah sakit. (2) Hasil audit medis internal yang dilakukan Komite Medis Rumah Sakit menurut Kepmenkes No. 496/2006 seharusnya bersifat mengikat, sehingga tindak

lanjutnya tidak hanya tergantung kepada kehendak dan sikap normatif direktur rumah sakit saja. (3) Pembentukan Permenkes yang menjabarkan wewenang Menkes cq. Dirjen

Yanmedik dan Dinas Kesehatan Propinsi/Kota/Kabupaten untuk mengawasi dan mengaudit medis eksternal rumah sakit, mengikutsertakan IDI dan PDGI setempat, sebagai tindak lanjut dari Pasal 71 jis. Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) UU No. 29/2004 jo. Kepmenkes No. 496/2006. Permenkes ini seharusnya juga memuat sanksi administratif yang jelas dan dan tegas kepada rumah sakit, yang terbukti tidak mengendalikan mutu dan biaya pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan medis pasien.

J. Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Fungsi Sosial Pelayanan Kesehatan Penguatan asas kejelasan dan kesegeraan pengaturan hukum dan kebijkan fungsi sosial pelayanan kesehatan harus tercermin dalam Permenkes No. 159b/1988 dan Permenkes No. 378/1993 yang perlu segera direvisi, agar substansi hukumnya jelas, mencakup:

124

(1) Pembebasan/keringanan biaya pelayanan kesehatan bagi masyarakat kurang dan tidak mampu, yang menurut Pasal 5 angka 5 Permenkes No. 378/1993 harus dilaksanakan oleh rumah sakit swasta dalam rangka fungsi sosialnya, seharusnya juga didukung oleh adanya pedoman yang jelas dalam Permenkes mengenai pejabat/badan yang berwenang dan mekanisme hukum pemberian dan penggunaan SKTM atau bukti lain yang mendukung sebagai syarat untuk memperoleh pembebasan/keringanan biaya pelayanan kesehatan. (2) Penetapan ketentuan besaran tarif pelayanan kesehatan kelas III/kelas

terendah bagi masyarakat kurang dan tidak mampu, yang menurut Pasal 4 Permenkes No. 378/1993 jo. Permenkes No. 1173/2004 jis. PP No. 38/2007 jis. UU No. 32/2004 merupakan wewenang Kepala Dinas Kesehatan Propinsi setempat (setelah berkonsultasi dengan PERSI setempat), harus dilaksanakan dengan konsisten segera setelah (sesuai dengan) revisi Permenkes No. 159b/1988 dan Permenkes No. 378/1993.

K. Penguatan Asas Konsistensi dan Kejelasan Aturan Hukum dan Kebijakan Pengelolaan Perbekalan Kesehatan Penguatan asas konsistensi pengaturn hukum dan kebijakan pengelolaan perbekalan kesehatan harus terkonseptualisasi dalam hal-hal, sebagai berikut: (1) Permenkes No. 085/1989 perlu segera direvisi, agar substansi hukumnya dengan jelas membebankan kewajiban menulis resep dan/atau menggunakan obat generik yang harganya terjangkau masyarakat kurang dan tidak mampu tidak hanya kepada fasilitas pelayanan kesehatan pemerintah, tetapi juga fasilitas pelayanan kesehatan swasta, sehingga konsisten dengan Pasal 61 UUK No. 23/1992 dan Pasal 49 ayat (1) UU No. 29/2004 yang telah mengharuskan ”setiap rumah sakit dan dokternya” mengendalikan mutu dan biaya pelayanan kesehatan agar dapat terjangkau oleh masyarakat kurang dan tidak mampu. (2) Permenkes No. 363/1998 perlu segera direvisi, agar substansi hukumnya tidak hanya mengatur penggunaan alat kesehatan yang harus memenuhi persyaratan mutu, keamanan dan kemanfaatan, tetapi juga mengatur persyaratan keterjangkauan biayanya untuk mengendalikan overutilisasi alat kesehatan di 125

rumah sakit, yang harus didukung oleh adanya sanksi dan diperkuat oleh struktur kelembagaan hukum kesehatan dengan wewenang pengawasan yang jelas, sehingga konsisten dengan spirit hukum Pasal 61 UU No. 23/1992 jo. PP No. 72/1998.

L. Penguatan Asas Konsistensi, Sinkronisasi, dan Kesegeraan Aturan Hukum dan Kebijakan Perizinan Perlu pembentukan aturan hukum dan kebijakan perizinan di bidang kesehatan dalam bentuk PP sebagai penjabaran dari Pasal 59 UU No. 23/1992, yang harus segera ditindaklanjuti dengan pembentukan Permenkes yang substansi hukumnya mengatur tentang standar perizinan di bidang kesehatan sebagai penjabaran yang konsisten dan sinkron dari Pasal 4 huruf g Permenkes No. 1575/2005 dan diperkuat oleh Pasal 9 PP No. 38/2007, yang secara formal mencabut/menggantikan Permenkes No. 920/1986 dan Surat Edaran Menkes No. 725/2004, sesuai dengan asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No. 32/2004, yang menghendaki agar perizinan di bidang kesehatan didasarkan atas asas desentralisasi dengan peletakan titik berat otonomi di daerah kota/kabupaten.

M. Penguatan Asas Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Akreditasi Konsistensi aturan hukum dan kebijakan akreditasi di bidang kesehatan harus diwujudkan dengan pembentukan PP yang substansi hukumnya antara lain mengatur akreditasi rumah sakit, yang harus segera diikuti dengan upaya merevisi Kepmenkes No. 1165A/2004 yang mengatur tentang akreditasi rumah sakit sesuai dengan asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No. 32/2004 dan Permenkes No. 1575/2005 yang diperkuat PP No. 38/2007, agar secara substantif memberikan wewenang mengakreditasi rumah sakit kepada Pemkab/Pemkot, yang sifatnya imperatif bukan fakultatif, dan fungsinya sebagai tugas pokoknya sendiri bukan ”asistensi” terhadap tugas pokok KARS.

126

yang sifatnya imperatif bukan fakultatif. agar secara substantif: (1) Memberikan wewenang mengaudit medis eksternals rumah sakit kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah bersama dengan KKI. perlu segera diwujudkan. 32/2004 dan Permenkes No. O. Pasal 72 UU No. 32/2004 dan Permenkes No. (2) Konsisten dan sinkron dengan asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No. dengan cara: a) Pembentukan MKDKI di tingkat propinsi dan penyusunan pedoman tata cara penanganan kasus pelanggaran disiplin dokter oleh KKI. yang jelas ruang lingkup dan rincian fungsi dan tugas masing-masing. 1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. yang menghendaki agar audit medis eksternal rumah sakit oleh pemerintah didasarkan atas asas desentralisasi dengan peletakan titik berat otonomi di daerah kota/kabupaten. 127 . 29/2004. mengingat pencabutan SIP oleh Kepala Dinkes Kabupaten/Kota terhadap dokter yang melanggar kewajiban hukumnya harus didasarkan atas putusan MKDKI.N. b) Pembentukan Permenkes yang menjabarkan bentuk-bentuk sanksi administrasi terhadap rumah sakit yang melanggar kewajiban hukumnya dan menegaskan badan/pejabat pemerintah berwenang serta mekanisme pengenaan sanksi administrasinya. Penguatan Asas Kejelasan dan Konsistensi Aturan Hukum dan Kebijakan Sanksi Administrasi Aturan hukum dan kebijakan yang substansi hukumnya mengatur tentang sanksi administrasi. 38/2007. yang konsisten dengan asas desentralisasi dalam rangka otoda berdasarkan UU No. Penguatan Asas Kejelasan dan Kesegeraan Peraturan Hukum Audit Medis Pembentukan Permenkes yang mengatur tentang audit medis eksternal sebagai penjabaran yang jelas dari Pasal 71 jo. perlu segera diwujudkan. 38/2007. 1575/2005 yang diperkuat PP No. IDI dan PDGI setempat.

P. Percepatan Penjabaran Fungsi dan Wewenang Pemerintah Daerah Sektor Kesehatan dalam Peraturan Daerah Percepatan penjabaran fungsi dan wewenang pemerintah daerah di bidang kesehatan, yang mencakup perizinan, akreditasi, audit medis, dan sanksi administrasi, harus ditata dalam Perda dan Kepkada, yang jelas, segera, sinkron dan konsisten dengan asas otonomi daerah. Secara konkrit, perlu penataan (normatif), berupa pembentukan Perda dan Kepkada yang menjabarkan secara “teknis” (untuk tingkat propinsi) dan ”sangat teknis” (untuk tingkat kabupaten/kota) perizinan, standarisasi, akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan, segera setelah Menkes selaku unsur pelaksana wewenang pemerintah pusat di bidang kesehatan menetapkan kebijakan dalam bentuk norma, standar, prosedur, dan kriteria sebagai acuan hukumnya (dalam bentuk Permenkes). Secara formil, pembentukan Perda dan Kepkada itu harus

mengacu kepada UU No. 32/2004 dan Permenkes No. 1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. 38/2007 dan secara substantif harus menjadikan perizinan, standarisasi, akreditasi dan sertifikasi sebagai instrumen hukum melindungi hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal, bukan sebagai sarana hukum memperoleh retribusi daerah.

Q.

Penataan Struktur dan Kapasitas Kelembagaan Hukum (Pemerintah) Sektor Kesehatan Mengacu Konsep Good Governance Lembaga Administrasi Negara (LAN) menjelaskan bahwa good governance

(selanjutnya disingkat GG) adalah penyelenggaraan pemerintahan yang solid dan bertanggung jawab secara efektif dan efisien, dengan menjaga “kesinergian” interaksi yang konstruktif di antara domain-domain negara, sektor swasta dan masyarakat (society). GG pada umumnya diartikan sebagai pengelolaan

pemerintahan yang baik, dalam arti mengikuti kaidah-kaidah tertentu sesuai dengan prinsip-prinsip dasar GG.143 Asas-asas GG yang dikemukakan UNDP sebagaimana dikutip oleh LAN, yaitu:
Lembaga Administrasi Negara, dalam Joko Widodo. 2001. Good Governance: Telaah dari Dimensi Akuntabilitas dan Kontrol pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Ihsan Cendikia, Surabaya, hlm. 24.
143

128

1.

2. 3.

4. 5.

6. 7.

8.

9.

Partisipasi: Setiap warganegara berpartisipsi dalam pengambilan keputusan, baik secara langsung maupun melalui institusi yang mewakili kepentingannya, atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara secara konstruktif. Taat hukum (rule of law): kerangka hukum yang adil dan dilaksanakan tanpa diskriminasi, terutama untuk perlindungan HAM. Transparansi: Dibangun atas dasar kebebasan arus informasi mengenai proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan kerja lembaga-lembaga dapat diterima oleh mereka yang membutuhkan. Responsif: Lembaga-lembaga negara/badan usaha harus berusaha untuk melayani stakeholdersnya. Responsif terhadap aspirasi masyarakat. Berorientasi kesepakatan (consessus orientation): GG menjadi perantara kepentingan yang berbeda untuk mendapatkan pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas, dalam hal kebijakan-kebijakan maupun prosedur-prosedur kerja. Kesetaraan (equity): Semua warga negara mempunyai kesempatan yang sama untuk meningkatkan atau mempertahankan kesejahteraan. Effektif dan efisien: proses-proses dan lembaga-lembaga menghasilkan sesuai dengan apa yang telah digariskan dengan menggunakan sumbersumber yang tersedia. Akuntabilitas (accountability): Para pembuat keputusan dalam pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat (civil society) bertanggung jawab kepada publik dan lembaga-lembaga stakeholders. Visi strategis (strategic vision): Para pemimpin dan publik harus mempunyai perspektif GG dan pengembangan SDM yang luas dan jauh ke depan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan.144

Secara umum ada konsensus tentang faktor-faktor kunci GG, yaitu: kemampuan teknis dan manajerial, kapasitas organisasi, kepastian hukum, pertanggungjawaban, transparansi dan sistem informasi yang terbuka, dan partisipasi.145 G.H. Addink memaknai asas-asas GG sama dengan asas-asas good administration (selanjutnya disingkat GA) dan merumuskan secara detail menjadi delapan asas yang mencakup karakter positif maupun negatif, yaitu: asas larangan bertindak sewenang-wenang, asas keadilan atau asas kewajaran, asas kepastian hukum, asas kepercayaan, asas kesamaan, asas proporsionalitas atau asas keseimbangan, asas kehati-hatian, dan asas pertimbangan.146

Bintaro Tjokroamidjojo. 2002. Reformasi Nasional Penyelenggaraan Good Governance dan Perwujudan Masyarakat Madani. Lembaga Administrasi Negara, Jakarta, hlm. 133-136. 145 Jurnal Transparansi Indonesia. 2006. “Good Governance”, dalam http://www.goodlocalgovernance.multiply.com/journal/item/, diakses tanggal 12 Januari 2008. 146 G.H. Addink, dalam Sadjijono. 2008. Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi. LaksBang PRESSindo, Yogyakarta, hlm. 173 dan 176.

144

129

Pemberian makna yang sama antara asas-asas GG dan asas-asas GA, menurut Sadjijono, merupakan suatu suatu pemikiran dan onovasi baru dalam hukum administrasi. Walaupun Kuntjoro Purbopranoto pernah menulis ”asas-asas umum untuk pemerintahan yang baik”,147 akan tetapi tidak diberi penjelasan persamaan makna dari asas dimaksud. Selanjutnya, Sadjijono mendukung pendapat G.H. Addink dengan argumentasi bahwa istilah GG berarti penggunaan atau pelaksanaan kewenangan bidang administrasi oleh organ pemerintah dan menimbulkan akibatakibat hukum bidang administrasi negara, sehingga indikasi suatu pemerintahan yang baik apabila administrasinya baik.148 Jadi, GG pada dasarnya adalah penyelenggaraan pemerintahan yang bersih, teratur, tertib, tanpa cacat dan berwibawa, oleh karena itu tindak lanjut untuk menjadikan pemerintahan yang baik dan bersih dengan mengaktualisasikan secara efektif ”asas-asas umum pemerintahan yang baik”, yang digunakan sebagai hukum tidak tertulis dengan melalui pelaksanaan hukum dan penerapan hukum serta pembentukan hukum.149 Dengan mengacu konsep good governance GG, maka dapat dipahami bahwa struktur kelembagaan hukum (pemerintah) secara internal dan eksternal harus mempunyai keterkaitan sistemik dan didukung oleh kapasitas atau daya dukung kelembagaan (SDM, dana, sarana dan prasarana) yang kuat, serta ada konsistensi struktur dan fungsinya dengan asas hukum yang mendasari pembentukannya, sehingga dapat mengkonkritisasi asas-asas hukum ke dalam wujud norma-norma hukum dalam aturan hukum dan kebijakan, agar pemerintah dapat melakukan tindakan pemerintahan yang baik tentang perizinan, akreditasi, audit medis, dan sanksi administrasi d bidang kesehatan yang memadai (adekuat), guna melindungi hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. Kemudian, kelemahan struktur dan kapasitas kelembagaan hukum

(pemerintah) di bidang kesehatan, sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, maka perlu penataan (normatif), sebagai berikut:

Kuntjoro Purbopranoto. 1981. Beberapa Catatan Hukum Tata Pemerintahan dan Peradilan Administrasi Negara. Alumni, Bandung, hlm. 28. 148 Sadjijono. Op. Cit., hlm. 173-174. 149 S.F. Marbun. ”Eksistensi Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan yang Layak dalam Menjelmakan Pemerintahan yang Baik dan Bersih”. Ringkasan Disertasi, UNPAD, Bandung, 2001, hlm. 13.

147

130

standarisasi. harus segera direalisasikan. guna mengurangi dominasi Depkes. Berikutnya. Selanjutnya. 41/2007. Selain itu. 2. akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan. perubahan struktur pemerintahan yang lebih desentralistik. juga perlu dilakukan. dan Depdagri di sektor kesehatan. Pengkaitan Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional dan Daerah Sistem pelayanan kesehatan nasional yang terwujud dalam SKN harus mempunyai keterkaitan secara internal dan eksternal. Bappenas. termasuk penggalian sumber keuangannya. Depkeu. 38/2007. dengan mengacu kepada asas desentralisasi kesehatan dalam rangka otoda berdasarkan UU No. 1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. pengkaitan sistem pelayanan kesehatan nasional dan daerah perlu didukung dengan pengaturan wewenang yang jelas. 32/2004 dan Permenkes No. guna menjadi rujukan bagi PEMDA dalam membentuk Perda dan Kepkada. pesnegasan komitmen pemerintah pusat melaksanakan fungsi regulatif di bidang kesehatan diperlukan guna mendukung Pemda dalam membentuk Perda dan Kepkada yang tidak hanya terfokus pada tugas pokok dan fungsi organisasi perangkat daerah di bidang kesehatan. peningkatan kerjasama. dengan mengacu kepada fungsi pengarahan dan fungsi pengaturan yang konsisten dengan asas desentralisasi dalam rangka otoda berdasarkan UU No. 131 . implementasi fungsi Depkes dalam membentuk aturan hukum dan kebijakan tentang perizinan. 1575/2005 yang diperkuat oleh PP No. tetapi juga menekankan pada perlindungan hak setiap warga negara atas derajat kesehatan yang optimal.1. dan penguatan kapasitas aparatur hukum antara pemerintah pusat (Depkes) dan Pemda (Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten). 32/2004 dan Permenkes No. Kemudian. baik antarprogram dan unit dalam Depkes pusat maupun antarunit dalam Depkes di pusat dengan Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah. Perubahan Struktur dan Fungsi Departemen Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah Perubahan struktur organisasi Depkes perlu diwujudkan.

pemberdayaan dan pelatihan dalam konteks desentralisasi dalam semangat otoda. dengan merujuk kepada pandangan Agus Dwiyanto. guna mendukung upaya perumusan persyaratan teknis dalam Perda dan Kepkada tentang perizinan.Guna mendukung upaya perancangan. “Mewujudkan Good Governance Melalui Reformasi Pelayanan Publik”. dalam Suparto Wijoyo. 2006. bahkan mencegah dan menyelesaikan konflik. Selain itu. 3. pengawasan dan evaluasi Perda dan Kepkada di bidang kesehatan. 52. akreditasi dan sertifikasi di bidang kesehatan. Karena itu. 150 132 . Pembinaan sistematis. Penguatan Kapasitas Kelembagaan Kementerian Kesehatan di Pusat dan Dinas Kesehatan di Daerah Penguatan kapasitas kelembagaan Kementerian Kesehatan di pusat dan Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah harus dilakukan dalam rangka pembenahan birokrasi sebagai langkah strategis dalam pengembangan GG.150 Penguatan kapasitas kelembagaan Depkes dan Dinkes Propinsi/Kota/ Kabupaten perlu dilakukan dalam bentuk peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM disertai pembinaan sistematis. Surabaya. hlm. Airlangga University Press. meningkatkan komunikasi yang intens dan transparan. standarisasi. misalnya kasus perizinan. kuatnya budaya KKN serta akuntabilitas birokrasi yang rendah dapat menuntaskan sebagian besar masalah dalam pengembangan GG. tidak kalah pentingnya adalah peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM pada Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah yang menguasai IPTEK kesehatan. disertai peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM. maka perlu segera pembentukan bagian/subbagian hukum dalam struktur organisasi Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah. termasuk segi-segi teknis perumahsakitan. rigiditas dan daya tanggap yang buruk. bahwa keberhasilan menyelesaikan masalah mendasar dalam birokrasi pemerintah seperti inefisiensi. Pelayanan Publik dari Dominasi ke Partisipasi. keberhasilan dalam mereformasi birokrasi dapat mempercepat terwujudnya GG. guna menghilangkan situasi saling curiga. pembentukan. pemberdayaan dan pelatihan staf Depkes di pusat dan staf Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah harus bertujuan menyeimbangkan Agus Dwiyanto.

3) Pinjaman. antara lain: 1) Pendapatan Asli Daerah yang mencakup pajak setempat.kebutuhan SDM secara materil dan spiritual. perusahaan pemerintah daerah dan aset manajemen lainnya. Kualitas kinerja staf atau aparatur pemerintah atau pegawai yang erat kaitannya dengan upaya pencapaian produktivitas dan kinerja birokrasi. minyak dan gas. terdapat kemungkinan beberapa pemerintah daerah di Indonesia menjadi kaya. retribusi lokal. terdiri dari Dana Bagi Hasil beberapa sektor seperti Pajak Bumi dan Bangunan. 2. pembinaan sistematis. pemberdayaan dan pelatihan aparatur pemerintah Depkes di pusat dan staf Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten di daerah. 2) Dana perimbangan yang merupakan dana desentralisasi. R. dan 4) Penerimaan lain (sumbangan Dana Darurat). Desentralisasi memicu perkembangan daerah menjadi beberapa lingkungan ekonomi yang mempengaruhi potensi pembiayaan daerah di bidang kesehatan. 2. Pengembangan Potensi Sumber Pembiayaan dari Pemerintah Daerah dan Alokasi Subsidi dari Pemerintah Pusat di Bidang Kesehatan Pemerintah daerah pascadesentralisasi mempunyai sumber-sumber pembiayaan yang juga telah diatur dalam UU No. dengan dua orientasi dasar dan dua dimensi kemampuan. giral dan aset penjualan. sehingga kemampuan teknisnya dapat dimanfaatkan secara maksimal. seperti di Kabupaten Kutai di Kalimantan Timur. yaitu: 1. sebagian besar kabupaten di Indonesia tidak mendapat manfaat berarti dari desentralisasi. Kesiapan kondisi mental dan fisik staf atau aparatur pemerintah atau pegawai yang erat kaitannya dengan tingkat penghargaan secara utuh terhadap harkat dan martabat kemanusiaannya. dan Kabupaten Bengkalis di Riau. Dimensi budaya. Dimensi teknis. tambang dan periknan. yakni seperangkat nilai yang harus menjadi pegangan setiap aparatur pemerintah dalam menjalankan wewenang dan tugasnya. yakni keahlian yang harus dimiliki aparatur pemerintah untuk menjalankan wewenang dan tugas mereka dengan baik. juga harus dapat mengembangkan dua dimensi kemampuan. Selain itu. Ada 133 . Kabupaten Aceh Utara di Nangroe Aceh Darussalam. Akan tetapi. Memperhatikan hal ini. Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus. hutan. 33/2004. yaitu: 1.

Op. Daerah ini membutuhkan perhatian besar dari pemerintah pusat dan bantuan asing (block grant. dll) dan dana kemanusiaan lain untuk pembiayaan kesehatan di daerah tersebut. Daerah ini merupakan daerah di mana sebagian pembiayaan kesehatan dapat diserahkan ke mekanisme pasar. Dalam hal pembiayaan. Ada kemungkinan di daerah ini peran pemerintah daerah lebih banyak pada regulator. atau seluruh masyarakat di wilayahnya. pemerintah daerah dituntut lebih kuat peranannya. Sebaliknya. namun kekuatan ekonomi masyarakat kecil. cit. Di daerah ini peran pemerintah daerah sangat kuat dalam pembiayaan kesehatan. hibah. namun kekuatan ekonomi masyarakat besar. Bagi masyarakat yang berada dalam garis kemiskinan. Daerah ini sangat membutuhkan dana dan subsidi dari pemerintah pusat.. peran pemerintah pusat dalam pembiayaan kesehatan tetap diperlukan. Peran pemerintah (diharapkan pemerintah pusat) pada pembiayaan diharapkan untuk menjamin akses pelayanan kesehatan. peran pemerintah pusat untuk membiayai pelayanan kesehatan menjadi penting. Bagi masyarakat miskin. 4) Daerah mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah daerah yang kecil dan kekuatan ekonomi masyarakat yang kecil pula. 257-268. peran pemerintah daerah tidak begitu kuat. menurut Laksono Trisnantoro. yaitu kekuatan ekonomi pemerintah daerah dan kekuatan ekonomi masyarakat. hlm.dua faktor penting yang mempengaruhi bidang kesehatan. Peran pemerintah daerah yang kuat dapat difokuskan kepada penyediaan pelayanan kesehatan dan pembiayaan kesehatan keluarga miskin serta pelayanan yang bersifat public good (khususnya promotif dan preventif kesehatan). 134 . 2) Daerah yang mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah kecil. ada 4 tipe daerah yang mungkin terjadi dengan prospek sumber pembiayaannya sebagai berikut: 1) Daerah mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah daerah yang besar dan kekuatan ekonomi masyarakat yang besar pula. mengigat kemampuan masyarakat di daerah ini rendah. khususnya bagi masyarakat tidak mampu. Sumber pembiayaan dari masyarakat perlu ditingkatkan.151 151 Laksono Trisnantoro. 3) Daerah mempunyai kekuatan ekonomi pemerintah daerah yang kuat. Dengan menggunakan dua variabel ini. Asuransi Kesehatan). pemerintah daerah dapat memberikan jaminan pelayanan kesehatan melalui asuransi kesehatan (misalnya kontrak ke PT. Dalam kondisi ini. Pemerintah daerah dapat mengkontrak lembaga penyelenggaraan pelayanan kesehatan swasta dan asuransi kesehatan untuk menjamin pelayanan bagi masyarakat miskin. walaupun dari sisi ”jumlah dana” yang dialokasikan dapat diminimalkan.

timbul pertanyaan penting. Sebagai catatan. Dengan demikian. dana dekonsentrasi ini akan semakin menurun seiring semakin meningkatnya dana desentralisasi. semakin besar pendapatan asli daerah. konsep alokasi dann perimbangan melalui Dana Alokasi Umum adalah cara baru untuk membiayai pelayanan kesehatan di daerah. artinya upaya mendorong mengurangi praktik-praktik inefisiensi dalam penganggaran daerah. Akan tetapi. misalnya dalam kurun waktu lima tahun. 3) Dapat Diprediksi (Predictablitiy).152 Shah A. sehingga mampu mengerjakan tugas yang diberikan.. pemerintah daerah perlu diberi kriteria yang disebut revenue adequacy. 4) Efisiensi (Efficiency). 5) Kesederhanaan (Simplicity). terdapat berbagai kriteria yang dapat digunakan mengacu kepada pendapat Shah A. Agar pemerintah daerah mempunyai sumber biaya cukup. artinya dana yang dialokasikan pemerintah pusat harus adil bagi mereka yang membutuhkan dan berhubungan terbalik dengan kemampuan ekonomi propinsi. Berkaitan dengan anggaran kesehatan pemerintah pusat yang masih tinggi. artinya perlu kesederhanaan untuk menyusun formula. artinya berusaha menjamin agar alokasi dana bersifat netral terhadap pilihan berbagai sektor. dikhawatirkan kriteria transfer keuangan dari pusat ke daerah belum baik. artinya pemerintah daerah dapat fleksibel dan otonom menetapkan prioritas kegiatan yang diberi dana. 33/2004). Sehubungan dengan transfer keuangan dari pusat ke daerah. bidang kesehatan. yaitu: 1) Otonomi (Authonomy). 6) Insentif (Incentive). Washington DC. Kriteria ini menunjukkan bahwa dana ditransfer ke daerah dalam bentuk block grant yang dan tidak dibatasi dengan kategori-kategori setta ketidakpastian dari pemerintah pusat. artinya bantuan yang diterima oleh daerah diharapkan dapat dijamin kelanggengannya. maka akan semakin besar pula transfer dana yang diberikan. kemungkinan transfer dana dari pusat akan lebih kecil. Policy and Research Series 2. bagaimanakah teknik alokasi anggarannya? Apakah aspek keadilan perlu diperhatikan untuk daerah-daerah yang relatif miskin? Teknik alokasi anggaran menjadi hal penting karena pengaliran dana dari pusat ke daerah untuk masyarakat atau daerah yang tidak berhak mendapatkannya jangan sampai terjadi kesalahan.Dalam konsep desentralisasi. 2) Adil dan Merata (Equity). 1994. Dengn demikian. Karena merupakan hal baru. semakin banyak junmlah penduduk. World Bank. 152 135 . pemerintah pusat masih mempunyai peran sebagai pemberi anggaran malalui anggaran dekonsentrasi yang akan diterima propinsi (vide Pasal 1 angka 26 UU No. The Reform of Intergovenrmental Fiscal Relations in Developing and Emerging Market Economies.

dan jasa angkutan. Namun. baik dari aspek ekonomi. adil dan sejahtera. Di laut tersedia berbagai potensi untuk membawa bangsa dan negara ini menjadi makmur. Sumber Daya Kelautan Indonesia Belum Optimal Dimanfaatkan. pertahanan dan keamanan.BAB V ANALISIS ATURAN HUKUM PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM SEKTOR KELAUTAN A.id/berita/sumber-dayakelautan-indonesia-belum-optimal-dimanfaatkan/ Diakses tanggal 30 Juli 2009. sambutan tertulis pada Seminar Nasional “Strategi Peningkatan Keunggulan dan Komparatif Komoditas dan Kelautan Dalam Rangka Perkuatan Posisi Sektor Perikanan dan Kelautan Sebagai Pilar Penting Pembangunan Nasional”. 11 Maret 2009. Sudah saatnya pembangunan nasional di sektor kelautan mendapat perhatian besar pula.unpad. maka pemanfaatan sumber daya alam di laut menjadi alternatif yang harus dipilih. jasa lingkungan. Sebagai negara bahari. sosiologis maupun pendidikan dengan segala hasil yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Dalam hal ini termasuk pula sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan nasional untuk Ganjar Kurnia. Wilayah pesisir Indonesia memiliki berbagai fungsi. Jatinangor. Semuanya memiliki arti penting bagi pembangunan nasional.ac. Ratih Anbarini. ekologi. Akibatnya produktivitas nelayan Indonesia hingga saat ini masih tergolong rendah. termasuk pesisirnya yang melimpah sumber daya. Sektor Kelautan Aset yang Melimpah Sumber daya alam di darat makin terbatas sedangkan tuntutan kebutuhan pembangunan nasional sudah mendesak. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Padjajaran. agribisnis dan agroindustri. seperti pariwisata bahari. Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan yang jauh lebih besar daripada sumber daya alam yang ada di darat. kawasan industri. industri maritim. 153 Sumber daya kelautan meliputi juga berbagai macam jasa lingkungan lautan yang dapat dikembangkan untuk pembangunan kelautan dan perikanan. http://www. potensi tersebut belum mampu dimanfaatkan secara optimal. sebagaimana di wilayah darat. serta penelitian kelautan. Hal ini terjadi antara lain karena masih kuatnya paradigma pembangunan Indonesia yang masih berorientasi di darat. 153 136 . serta kawasan permukiman dan tempat pembuangan limbah. rekreasi dan pariwisata. seperti transportasi dan pelabuhan. Rektor Unpad.

tetapi juga adanya komitmen yang kuat serta keseriusan dari berbagai pihak untuk melakukan percepatan penguasaan rekayasa teknologi maritim. Memang upaya membangun sektor kelauatan memerlukan penguasaan teknologi rekayasa maritim yang sarat dengan high-tech dan high-cost.mil. including exclusive economic zones”.id/tabid/61/articleType/ArticleView/articleId/1258/Default. Kepala Staf Angkatan Laut. yaitu pada program (a) dirumuskan: “Integrated management and sustainable development of coastal areas.melindungi pesisir pulau-pulau terdepan wilayah NKRI. melainkan juga mengelola Tejo Edhy Purdijatno. d) The Forrest principles. dan e) Rio Declaration on Environment and Development. Tidak cukup hanya dengan tekad dan semangat saja. diantaranya melalui penerbitan aturan hukum dan ditindaklanjuti dengan kerjasama di bidang pendidikan dan pelatihan serta penelitian. dibutuhkan sumber daya manusia yang cerdas. tidak hanya mengelola pesisir dan laut dengan sebagian lautnya. http://www. Bagi negara-negara yang mempunyai wilayah laut yang luas. and Coastal Areas. Laksamana TNI. Pengelolaan pesisir dan laut secara integral dan berkelanjutan. sebagai rencana aksi di Abad 21 dengan judul: “Protection of Oceans. Salah satu program dalam Chapter 17. 155 UNCED dikenal juga dengan nama Earth Summit. profesional dan berdedikasi tinggi serta memiliki disiplin ilmu berbasis kemaritiman yang dibarengi kerjasama transfer of knowledge melalui peran aktif semua komponen bangsa.aspx. dapat merujuk kepada hasil United Nations Conference on Environment and Development (UNCED) di Rio de Janeiro tahun 1992155. All Kinds of Seas. Diakses tanggal 22 Agustus 2009. pada Seminar Nasional Maritim Tahun 2009 di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut Surabaya. Rational use and Development of Their Living Resources”. menghasilkan: a) Convention on Biological Diversity. Wilayah Pesisir yang Tak Terpisahkan Tata kelola sumberdaya laut harus dalam konteks keterkaitan dengan ekosistem wilaya pesisir secara terpadu dan berkelanjutan. including Enclosed and Semi-enclosed Seas.154 B. Ketentuan mengenai pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu. b) Convention on Climate Change. UNCED merumuskan tentang pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu (integrated coastal management) dalam Agenda 21 Chapter 17. c) Agenda 21. 137 154 . and the Protection. Untuk mengadopsi dan mengaplikasikan teknologi yang dimaksud.tnial. maka program Integrated management tersebut harus menjadi fokus utama perhatian.

kepastian. nilai dan etika dalam pembangunan. kawasan dan laut bebas. Institutional Arrangement for Managing Coastal Resources”. dan J. secara ekologis terkait satu sama lain. 2001. Integrated coastal management. zona ekonomi eksklusif. Jakarta.157 Tata kelola wilayah pesisir dan laut bertumpu pada prinsip integrated coastal management. Sorensen and McCreary. 157 Jacub Rai.C. Tata kelola kelautan dibangun secara sistemik melalui pembangunan dan pemahaman keterpaduan antar pengelola di wilayah pesisir dan laut dengan pihak-pihak terkait. Diakui bahwa. et al. hlm. muncul setelah ditungkannya Agenda 21 dalam Agenda 21 Indonesia Tahun 1996. namun di sisi lain wilayah pesisir dan laut juga memiliki sejumlah persoalan yang terkait dengan ekologi. 17. zona tambahan. sehingga memiliki dan menjamin terbangunnya suatu kondisi bermuatan ketertiban. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu. salah satu penyebabnya adalah perencanaan dan pelaksanaannya dijalankan secara sektoral dan tidak tertata sesuai dengan penataan ruang yang baik. di satu sisi wilayah pesisir dan laut Indonesia. pemerintah. 5. adanya tujuan dan sasaran. harus menjadi acuan bagi pembentukan aturan hukum pelaksanaan pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut yang terintegrasi. maka pengelolaan secara optimal hanya dapat diwujudkan dengan pendekatan holistik dan teritegrasi. serta upaya penyelesaian sengketa dan kerjasama di antara masyarakat pesisir. Perlunya pengaturan mengenai wilayah pesisir dan laut secara terpadu oleh Indonesia. mulai dari perairan pedalaman. dan stakehlders. et. sosialekonomi. Proceeding of International Symposium. dirumuskan dalam bentuk aturan hukum. Undang-Undang No. memiliki makna yang penting bagi pembangunan ekonomi. dan kelembagaan. laut teritorial. al. 156 138 . Integrated Coastal and Marine Resources Management. Pembangunan sumberdaya pesisir dan laut selama ini tidak optimal dan berkelanjutan. berhubungan dengan integrasi undangundang terkait dan integrasi antar sektor. Pradnya Paramita. Pengelolaan wilayah pesisir dan laut membutuhkan perangkat aturan hukum. 1997. Sesuai dengan karakteristik dan dinamika alamiah ekosistem pesisir dan laut. lingkungan laut (The Marine Environment) merupakan komponen penting sistem penyangga kehidupan global156. Rokhmin Dahuri. Dalam pengelolaan wilayah pesisir dan laut secara terpadu (integrated coastal management). Malang. landas kontinen.wilayah laut secara keseluruhan. hlm. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil. “Coast.

prinsip-prinsip integrated coastal management perlu dituangkan ke dalam produk aturan hukum nasional dan daerah secara sinkron yang mengatur mengenai pengelolaan wilayah pesisir dan laut. keterpaduan menata ruang pulau-pulau kecil dan laut dengan pendekatan bioregionism yang mengkaitkan karakter fisik oseanografi. Kerjasama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. serta kepentingan dan keterkaitan Indonesia terhadap aturan global di perairan laut internasional. sosial. dan 3. Salah satu elemen penting dalam program integrated coastal management adalah penyusunan suatu rencana zonasi yang merujuk pada penetapan wilayah administratif. perubahan iklim dengan karakter demografi. Undang-Undang No. Jacub Rais. 158 139 . dan kurangnya data sumberdaya laut yang akurat. 26 Tahun 2004 tentang Penataan Ruang. Untuk itu. 113. maka kebijakan kelautan Indonesia hendaklah mengakomodasi kepentingan nasional terhadap wilayah kedaulatan dan yurisdiksi. budaya yang hidup di pulau-pulau kecil. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Pada hakikatnya penataan ruang laut adalah suatu kebijakan publik yang bermaksud untuk mengoptimalkan pemanfaatan ruang laut bagi semua kepentingan Jacub Rais. Untuk itu diperlukan pula suatu instrumen kebijakan kelautan berupa tata ruang laut beserta sumberdaya yang terdapat di dalamnya. 2005. Jakarta. Undang-Undang No. Penetapan zonasi wilayah administratif tersebut dapat merujuk kepada Undang-Undang No. 2. ekonomi. “Harmonisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir Melalui Penatan Ruang Laut.Darat Terpadu”. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Coastal Resources Management Project. keterpaduan menata ruang laut dan daratan melalui pendekatan Daerah Aliran Sungai (DAS). hlm. Inisiatif Harmonisasi Sistem Hukum Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia. mengemukakan tiga konsep penataan ruang laut:158 1. Penetapan zonasi laut lebih sulit untuk dilakukan karena kurangnya data ruang yang konsisten. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah.keadilan. Zona Ekonomi Eksklusif. atmosfer. sifat multi dimensional lingkungan laut. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulaupulau Kecil. Undang-Undang No. lengkap dan terkini. dan Undang-Undang No. Menuju tata kelola kelautan yang baik (good ocean governance).

seperti pelarangan bagi nelayan dari Daerah lain untuk melaut dalam suatu Daerah. antara lain pengaturan tata ruang. Daerah berkewajiban dan bertanggungjawab untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya melalui pengelolaan dan pemanfaatan wilayah laut tersebut. 32 Tahun 2004. baik melalui eksploitasi yang bertanggung jawab maupun budidaya dengan tetap memelihara kearifan lokal. Dengan kewenangan di wilayah laut tersebut. dan berkelanjutan. 26 Tahun 2007). Undang-undang penataan ruang (UU No. Pemerintah daerah harus pula melakukan pembangunan di daerah dan kelautan secara seimbang. maka sekarang Daerah mempunyai kewenangan untuk melindungi nelayan setempat.para pelaku pembangunan secara terpadu. Sebagai contoh. Peran pemerintah daerah dapat menggerakkan potensi masyarakat di daerahnya untuk menggali potensi laut. Memang sempat terjadi konflik horizontal di masyarakat dan mengarah pada ego-kedaerahan sehubungan dengan implementasi kewenangan daerah di wilayah laut. kewenangan daerah untuk mengelola sumberdaya di wilayah laut (paling jauh 12 mil laut diukur dari garis pantai dan sepertiga (1/3) dari wilayah kewenangan provinsi untuk kabupaten/kota. Pada tahap awal suatu undang-undang sangat mungkin timbul keragaman pemahaman dan interpretasi dari banyak kalangan terhadap suatu ketentuan aturan. Tata Kelola Wilayah Pesisir dan Laut oleh Daerah Berdasarkan ketentuan Pasal 18 ayat (3) dan (4) Undang-Undang No. selama ini nelayan tradisional seringkali kehilangan lahan untuk penangkapan ikan karena sudah dikuasai oleh nelayan asing yang menggunakan perlengkapan modern. berhasil guna. baru terfokus pada tata ruang daratan. 140 . Hal tersebut bukanlah disebabkan oleh kesalahan kebijakan Otonomi Daerah. namun lebih merupakan dinamika transisi implementasi Otonomi Daerah. C. Oleh karena itu. sehingga ketersediaan pangan yang bersumber pada laut tetap lestari. seimbang. Daerah berkewajiban pula untuk ikut melindungi dan mengamankan wilayah laut dan segala aktivitas yang berkaitan dengan pemanfaatan wilayah laut dan sumber daya alamnya. Konsekwensi dari kewenangan tersebut. Secara aktual penataan ruang laut dan ruang udara hampir tidak pernah dilakukan. oleh karena itu penataan dan pengelolaan ruang laut dan udara diatur dengan undang-undang tersendiri (Pasal 6 ayat (5)). selaras. berdaya guna.

misalnya Negara Bagi Norwegia.159 Sungguh ironis.p2sdkpkendari. tidak sekedar difokuskan pada pengaturan terhadap objeknya saja (sumberdaya alam).dalam hal ini otonomi Daerah di wilayah laut. Akibat “pencurian” tersebut Indonesia justru dituduh oleh banyak negara sebagai 'pelaku' “pencurian” ikan terbesar di dunia. untuk memastikan bahwa panen disesuaikan dengan kapasitas ternak untuk berkembang biak. Pengaturan wewenang dan hubungan antara Pemerintah dan pemerintah daerah dalam tata kelola sumber daya alam sektor kelauatan (wilayah pesisir dan laut). sehingga dituduh sebagai pencuri ikan terbesar.or. Indonesia sangat dirugikan akibat sumberdaya perikanan banyak “dicuri’ (illegal fishing) oleh nelayan-nelayan (kapalkapal) asing. nelayan Indonesia dituduh telah menangkap ikan tuna sirip biru yang jumlahnya melebihi kuota (ditetapkan sepihak oleh negara-negara tertentu). pemerintah Daerah. D.norwegia. 160 baik oleh negara lain.id/policy/trade/marine/marine. Manajemen Norwegia untuk sumber daya laut hidup. Tujuan pengelolaan sumber daya laut hidup Norwegia adalah memastikan penggunaan yang berkelanjutan. Diakses tanggal 20 Juli 2009. dapat merujuk kepada upaya-upaya yang dilakukan secara Norwegia (Norway). Oleh karena itu. http://www. antara lain sehubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya laut. Penegakan Hukum dan Kebijakan Sektor Kelautan Multi Dimensi Dalam hal penegakan hukum di laut. antara pemerintah Pusat.php?id=668.com/cetak. industri perikanan merupakan tulang punggung daerah pesisir pantai dan menempatkannya sebagai salah satu sektor ekspor terbesar Norwegia. Sebagai perbandingan tentang manajemen dan penegakan hukum sehubungan dengan pengelolaan sumber daya laut (hidup). Padahal penangkapan jenis ikan tersebut dilakukan oleh nelayan Indonesia di wilayah perairan sendiri. 141 . sebagai contoh. masyarakat dan pelaku ekonomi dibutuhkan pemahaman dan persepsi yang sama terhadap kewenangan Daerah di wilayah laut. Oleh karena itu sangat penting bagi Norwegia untuk menerapkan manajemen sumber daya laut hidup yang sangat baik.htm Diakses tanggal 20 Juli 2009. http://www. tapi ditekankan pula kewajiban dan tanggung jawab pemerintah (pusat dan daerah) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 159 160 Mustopa.

Norwegia juga memiliki perjanjian tentang penelusuran jejak melalui satelit dengan beberapa negara dimana sumber ikan mereka berada di bawah daerah hukum perikanan Norwegia. Perlu keterkaitan secara sinergis dengan berbagai instansi. Namun seberat apapun tantangan itu. aturan hukum bidang perikanan ditegakkan baik di laut dan ketika ikan ditangkap. dan dengan pelayanan prima. Kasus pemalsuan laporan atau ketidaksamaan dirujuk ke pengadilan. Kapal asing yang memancing di perairan di bawah kekuasaan Norwegia juga diperiksa. termasuk pemerintah daerah yang memiliki wilayah pantai dan laut. efektif. akan menghadapi sejumlah tantangan. Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) telah merumuskan rencana pembangunan jangka panjang di bidang kelautan. penjaga pantai bertanggung jawab untuk memeriksa kapal yang memancing dan tangkapannya. Namun proyek besar pembangunan kelautan tersebut tidak semata milik DKP. Direktorat Perikanan bertanggung jawab untuk mengkontrol jumlah ikan yang ditangkap dan menjaga statistik perikanan. sehingga memungkinkan para pejabat memonitor kegiatan mereka secara berkala. Perubahan iklim dan kerusakan lingkungan juga dapat menganggu kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan. menjadikan tantangan tersebut makin berat. Pembangunan sektor kelautan dan perikanan serta wilayah pesisir di masa datang. juga membangun ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber kekayaan laut secara berkelanjutan. tuntutan terhadap pembangunan kelautan dan perikanan secara efisien. diarahkan untuk mengelola wilayah laut dalam rangka mempertahankan kedaulatan dan kemakmuran negara. pembangunan tetap harus berjalan dengan menggunakan berbagai sumberdaya dan memanfaatkan peluang yang ada. pemerintah Norwegia mengharuskan kapal yang berlayar di laut untuk memasang dan menggunakan peralatan berbasis satelit. melainkan kait-mengkait secara integral dari seluruh komponen bangsa. 142 . Sejak 1 Juli 2000. Di laut. Dari aspek kebijakan. Secara spesifik.Di Norwegia. Selain itu.

Oleh karena itu diadakan pengaturan mengenai keuangan negara dan keuangan daerah dalam bentuk aturan hukum. Undang-Undang No. Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah Dalam rangka menjalankan organisasi negara melalui sistem pemerintahan sampai ke daerah-daerah. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara 3. serta Jumlah Kumulatif Pinjaman Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah 161 Periksa teks lengkap ketentuan Pasal 18A ayat (2) UUD 1945. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara 2. baik untuk pembiayaan urusan pemerintah pusat (nasional) maupun untuk menjalankan urusan pemerintahan pada tingkat lokal (daerah). Undang-Undang No.BAB VI ANALISIS ATURAN HUKUM HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PUSAT DAN DAERAH A. mempunyai Beberapa aturan hukum mengenai keuangan negara dan hubungan keuangan antara pusat dan daerah. yaitu: 1. Undang-Undang No. dapat dilakukan dalam pelbagai bentuk desentralisasi. Undang-Undang No. 23 Tahun 2003 tentang Pengendalian Jumlah Kumulatif Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Implikasi langsung dari pelaksanaan urusan pemerintahan tersebut adalah kebutuhan dana (keuangan) yang cukup besar. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara 4. hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang161. dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Sebagaimana diamanatkan konstitusi (Pasal 18 A ayat (2) UUD 1945). 143 . 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah 5. disamping tetap mendasarkan pada asas sentralisasi untuk sebagian urusan pemerintahan. Peraturan Pemerintah No. yaitu undang-undang dan aturan hukum penjabarannya.

Hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan daerah.6. 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah 7. Desentralisasi Fiskal Salah satu wujud dari desentralisasi fiskal adalah penyerahan oleh pemerintah pusat atas sumber penerimaan tertentu kepada daerah dari sektor pajak dan retribusi. terutama dalam undang-undang pemerintahan daerah. Secara substansial terjadi ketimpangan wewenang di bidang pajak dan retribusi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi Keuangan Daerah 9. 57 Tahun 2005 tentang Hibah Kepada Daerah 10. Pajak dan retribusi daerah menjadi andalan dalam kontribusi pendapatan asli daerah. dan undang-undang perimbangan keuangan. Peraturan Pemerintah No. dan pinjaman daerah. Terdapat sejumlah jenis pajak daerah dan jenis retribusi daerah yang menjadi lapangan masing-masing dari propinsi dan kabupaten/kota. Peraturan Pemerintah No. 104 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi Dana Alokasi Umum. Hal tersebut dapat ditelusuri dari aturan dasarnya. Peraturan Presiden No. serta undang-undang keuangan negara. 1. dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Peraturan Pemerintah No. Peraturan Pemerintah No. daerah dapat menggali dan menggunakan sendiri sesuai dengan potensinya masing-masing. 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah 11. hal tersebut tercermin dari sumbersumber pajak dan retribusi daerah yang sangat terbatas lapangan dan potensinya. 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan 8. namun masih relatif kecil persentasenya dari total keseluruhan penerimaan daerah. dapat dilakukan secara desentralisasi fiskal. 39 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Uang Negara/Daerah 12. Peraturan Pemerintah No. 144 . Dari kedua sumber penerimaan yang diserahkan kepada daerah tersebut. yaitu dengan nama pajak daerah dan retribusi daerah. Peraturan Pemerintah No. undang-undang pajak daerah dan retribusi daerah.

misalnya terhdap PPh Orang Pribadi. dan Dana Alokasi Khusus. Bagi hasil penerimaan negara tersebut meliputi bagi hasil Pajak Bumi dan Bangunan (PBB). Terhadap lapangan pajak yang sudah menjadi lapangan pajak pemerintah pusat tidak dapat dikenakan pajak lagi oleh daerah. serta besaran pendanaan penyelenggaraan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. di samping itu. dan kehutanan. dan perikanan. berdasarkan UU Nomor 17 Tahun 2000. Bagi hasil penerimaan tersebut di atas dilakukan dengan persentase tertentu yang didasarkan atas daerah penghasil. dengan mempertimbangkan potensi. dimungkinkan dilakukan opsen atau penetapan tambahan atas pajak pusat. dapat mengurangi sebagian ketimpangan hubungan keuangan antara pusat daerah. Dana Alokasi Umum.2. seperti minyak bumi dan gas alam (migas). pertambangan umum. Meskipun demikian. Dari dana bagi hasil penerimaan negara tersebut. baik dari sektor pajak maupun SDA dapat menimbulkan ketimpangan horizontal antar daerah sejenis. hanya beberapa daerah yang memiliki potensi SDA secara signifikan. kondisi. Bagi hasil penerimaan (revenue sharing) berasal dari penerimaan pajak dan penerimaan dari sumber daya alam (SDA). minyak bumi dan gas alam. dan kebutuhan daerah. 145 . yaitu UU Pajak Penghasilan (PPh) sebagai perubahan UU sebelumnya. Di samping itu. Dana Perimbangan Dalam konteks desentralisasi fiskal dikenal pula dana perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. pertambangan. dan bagi hasil sumber daya alam (SDA) yang terdiri dari sektor kehutanan. Daerah memperoleh bagi hasil dari PPh orang pribadi yaitu PPh Karyawan (Pasal 21) serta PPh Pasal 25 dan PPh Pasal 29 Orang Pribadi. Perimbangan adalah suatu sistem pembagian keuangan dalam rangka pendanaan penyelenggaraan desentralisasi. Hal ini disebabkan potensi subjek dan objek pajak yang tidak sama antar daerah. Sistem bagi hasil tersebut di atas. yaitu dana bagi hasil. khususnya dari aspek fiskal. Bea Perolahan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).

penciptaan dan pemeliharaan ketentraman dan ketertiban umum. 4. atau dari kabupaten/kota ke desa. kabupaten. apabila kegiatan tersebut menghasilkan pendapatan. dan desa. pada tugas pembantuan dalam pelaksanaannya dapat ditugaskan kepada propinsi. Pendanaan atas pelaksanaan urusan dekonsentrasi tersebut merupakan tanggungjawab pemerintah pusat dan dengan sendirinya bersumber dari APBN. Dalam hubungan ini. 146 . Dalam hal urusan yang dilaksanakan berdasarkan tugas pembantuan tersebut berasal dari pemerintah pusat. kota. maka pendapatan tersebut menjadi penerimaan negara (pemerintah pusat). namun pelaksanaannya di daerah dilakukan oleh dinas Daerah dan instansi vertikal di daerah. Perbedaan dengan dekonsentrasi. pihak yang memberikan tugas pembantuan tidak terbatas dari Pemerintah Pusat saja. Tugas Pembantuan Tugas pembantuan juga diadakan dalam rangka memperlancar pelaksanaan urusan pemerintah pusat di daerah. Disamping itu. Apabila dari pelaksanaan urusan dekonsentrasi tersebut menghasilkan pendapatan. Urusan dekonsentrasi antara lain fasilitasi kerja sama dan penyelesaian perselisihan antar daerah dalam wilayah kerjanya. pembinaan penyelenggaraan tugas-tugas umum Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. maka pendapatan itu menjadi penerimaan pemerintah pusat. Sifat urusan yang dilimpahkan tersebut tetap sebagai urusan pemerintah pusat. Dekonsentrasi Dekonsentrasi merupakan pelimpahan wewenang pemerintah pusat kepada Gubernur sebagai wakil pemerintah pusat di propinsi. tapi juga dapat berasal dari pemerintah propinsi kepada kabupaten/kota. maka dana yang digunakan untuk membiayai kegiatan dimaksud berasal dari APBN.3.

jaminan dan akuntabilitas. Dengan demikian sumber pinjaman daerah dapat berasal dari sumber di luar keuangan negara. Selain memberikan manfaat bagi pelayanan umum. namun belum dapat disalurkan karena persoalan aturan hukum yang disebutkan tadi tidak jelas. mekanisme pembayaran kembali. digunakan untuk membiayai pembangunan prasarana yang akan menjadi aset daerah. B. maka daerah dapat melakukan pinjaman baik dari dalam negeri (Pemerintah Pusat dan Lembaga Keuangan) maupun dari luar negeri dengan persetujuan dan melalui pemerintah pusat. Konflik Aturan Hukum dan Disharmoni Tata Kelola Sektor Keuangan Pusat dan Daerah Konflik aturan hukum dan disharmoni mengenai tata kelola sektor keuangan antara pusat dan daerah diidentifikasikan sebagai berikut: 1. sebagian besar perjanjian pinjaman luar negeri untuk pemerintah paerah telah ditandatangani. Kurang efektifnya koordinasi antara Departemen Keuangan. dan Pemerintah Daerah dalam menentukan besarnya realisasi Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (SDA) sehingga penyalurannya terlambat. hanya dapat dilakukan dalam rangka pengelolaan kas daerah yang sifatnya hanya untuk membantu likuiditas. Departemen Teknis. diharapkan dari pengelolaan aset tersebut nantinya dapat menghasilkan penerimaan untuk pembayaran pinjaman. Kebijakan Pemerintah terhadap pinjaman luar negeri (penerusan pinjaman) dalam kerangka desentralisasi fiscal.5. Pinjaman daerah yang bersifat jangka panjang. Adapun pinjaman daerah yang bersifat jangka pendek. 147 . Pinjaman Daerah Untuk membiayai kebutuhan daerah berkaitan dengan penyediaan prasarana yang dapat menghasilkan (pengeluaran modal). belum diikuti dengan aturan hukum yang jelas dari segi mekanisme penyaluran. yaitu pinjaman yang berasal dari lembaga swasta atau masyarakat langsung. Akibat dari semua itu.

Pengaturan hubungan keuangan tersebut harus memberikan jaminan terciptanya kesesuaian antara besarnya kewenangan yang diserahkan kepada daerah 148 . Tidak adanya harmonisasi dan konsistensi antara ketentuan Pasal 4 ayat 3 Peraturan Presiden Nomor 104 Tahun 2006 tentang Penetapan Alokasi DAU dengan peraturan yang lebih tinggi sehingga beberapa daerah mendapat alokasi DAU lebih daripada seharusnya. meskipun proses pendistribusian tidak secara merata atau sama besarnya antara daerah yang satu dengan daerah yang lainnya. kriteria khusus. 55 Tahun 2005) berakibat pada adanya pertentangan pada kedua ketentuan tersebut dalam hal penetapan Dana Perimbangan sehingga berpotensi pada ketidakadilan dan ketidakselarasan dalam pengalokasian dana tersebut. 3. Ketentuan tersebut mempunyai arti bahwa pengaturan hubungan keuangan tersebut harus memberikan kemanfaatan bagi seluruh rakyat Indonesia. Penghitungan alokasi DAK tidak mengikuti kriteria umum. Isu Hukum Mendasar dan Aktual dalam Pengaturan Keuangan Pusat dan Daerah Serta Solusinya Lemahnya koordinasi antara Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat dalam mengimplementasikan ketentuan Dana Perimbangan (Undang-Undang No. Pasal 18A ayat (2) UUD 1945 menentukan bahwa hubungan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras. 4.2. Peluang terjadinya penyalahgunaan kebijakan Pemerintah Pusat yang memberikan perintah untuk segera mencairkan Dana Alokasi Khusus tanpa melihat kesiapan Pemerintah Daerah untuk merealisasikannya. C. Penerimaan Dana Perimbangan oleh banyak Pemerintah Daerah dilakukan tanpa melalui kas daerah. 33 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah No. di antaranya digunakan secara langsung tanpa melalui mekanisme APBD dan ada yang belum disetorkan ke daerah. 5. dan kriteria teknis yang ditetapkan sehingga alokasi DAK tersebut tidak mempunyai dasar.

dan bagi hasil pajak dan SDA. Adapun tingkat hasil sangat dipengaruhi oleh sejauh mana sumber pajak responsif terhadap kekuatan-kekuatan yang mempengaruhi objek pengeluaran seperti inflasi. bahwa penyerahan urusan pemerintahan kepada daerah 149 . sumber daya alam. 3. Oleh karena itu. serta sesuai dengan tujuan negara sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945. khususnya kata-kata adil dan selaras. Sejauh mana pemerintah daerah mempunyai kemampuan untuk menentukan secara objektif kebutuhan akan keuangan yang diperlukan untuk menyediakan pelayanan yang diperlukan masyarakat daerah.dengan sumber-sumber keuangan yang dapat dikelola oleh daerah. Pemberian sumber-sumber penerimaan tersebut akan mencerminkan kemampuan atau potensi di bidang keuangan dari suatu daerah. besaran wilayah. Penggunaan istilah ”perimbangan keuangan” dalam UU Nomor 33 Tahun 2004. pertambahan penduduk dan pertumbuhan ekonomi. Hal ini dikarenakan kemampuan keuangan daerah sangat ditentukan oleh ketersediaan sumber-sumber pajak dan dan retribusi serta hasil dari objek pajak dan retribusi tersebut. dapat dikatakan merupakan upaya untuk memenuhi jiwa dan semangat Pasal 18A ayat (2) UUD 1945 . Sejauh mana pemerintah pusat memberikan subsidi yang adil dan terukur kepada masing-masing daerah untuk membiayai kekurangan dana. dan besaran penduduk. Apakah Pemerintah Pusat telah menyerahkan sumber-sumber keuangan yang cukup terutama yang berhubungan dengan pajak daerah. Hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah itu dapat berlangsung dengan adil dan selaras jika dipenuhi beberapa aspek: 1. perimbangan keuangan harus menunjukkan. retribusi daerah. tingkat pengangguran. Sumber-sumber pendapatan potensial yang dimiliki Daerah akan menentukan juga tingkat kemampuan keuangannya. Setiap daerah mempunyai potensi pendapatan yang berbeda karena perbedaan kondisi ekonomi. Penyerahan sumber-sumber keuangan kepada daerah oleh pemerintah pusat sangat erat kaitannya dengan penyerahan urusan pemerintahan kepada daerah sebagai konsekuensi dianutnya asas desentralisasi. 2. Dengan perkataan lain. sumber-sumber keuangan yang diserahkan kepada daerah mestinya sebanding dengan tugas dan tanggung jawab yang diserahkan kepada daerah untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan.

5% untuk pemerintah pusat dan sisanya untuk daerah. dan hasil sektor pertambangan gas bumi 69. khususnya yang berkaitan dengan pajak dan retribusi daerah. khususnya dari sektor pertambangan minyak dan gas bumi. Memang perimbangan keuangan tidak berarti pemberian sumber-sumber keuangan dibagi secara secara sama rata (sama besar) antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Luasnya urusan pemerintah daerah. 150 . tidak dibarengi dengan penyerahan sumber-sumber keuangan potensial yang berada di wilayah daerah otonom sebagai pemasok utama PAD. Langkah Penyempurnaan Hubungan Keuangan Antara Pusat dan Daerah Beberapa hal yang harus dicermati dan dijadikan sebagai langkah penyempurnaan dalam pelaksanaan perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah. Masih ada keengganan pemerintah pusat untuk memberikan dana bagi hasil yang lebih besar kepada daerah. Pemerintah daerah juga harus dapat melakukan perhitungan secara matang dan rasional mengenai rencana kegiatan yang akan dilaksanakan sehubungan dengan penyerahan urusan pemerintahan kepada daerah. akan dapat diketahui kebutuhan keuangan yang diperlukan dalam satu tahun anggaran.mencerminkan adanya keseimbangan dengan penyerahan pengelolaan dan pemanfaatan sumber-sumber keuangan yang ada di daerah. D. karena perimbangan keuangan hakikatnya merupakan subsidi dari pusat kepada daerah. Penyerahan sumber-sumber keuangan oleh Pemerintah Pusat kepada Pemerintah Daerah belum mencerminkan besarnya urusan pemerintahan yang diserahkan kepada Daerah. Pemerintah daerah harus mempunyai kemampuan untuk menentukan secara objektif kebutuhan akan keuangan yang diperlukan untuk membiayai penyelenggaraan pelayanan yang diperlukan masyarakat daerah. Berdasarkan rencana kegiatan itu. adalah: 1.5% untuk pemerintah pusat dan sisanya dibagi antara provinsi dan kabupaten/kota. Hasil sektor pertambangan minyak bumi 84. Dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal perlu dipikirkan adanya semacam pedoman dari pemerintah pusat sebagai sarana pengawasan.

harus dilibatkan masyarakat Daerah baik yang berasal dari LSM. dan penyerahan sebagian PNBP kepada Daerah.45% tergolong sangat sentaralistis. Prinsip money follow function harus dilaksanakan secara konsisten sehingga kewenangan harus ditetapkan lebih dahulu baru kemudian ditetapkan dan ditransfer dana yang dibutuhkan. Berdasarkan uraian di atas maka beberapa hal perlu ditegaskan: 1. Terdapat keseimbangan antara akuntabilitas dan kewenangan dalam pengelolaan pajak dan retribusi Daerah. Hubungan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah di Indonesia diwujudkan dengan memberikan kewenangan yang lebih besar kepada Daerah untuk mengatur dan mengurus sumber-sumber pendapatan Daerah dalam rangka membiayai penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan. maupun jumlah prosentase pembagian antara Pusat dan Daerah. 4. 3. Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah yang menyangkut dana perimbangan belum memberikan peran kepada Daerah untuk terlibat langsung dalam menentukan kriteria. antara lain dengan DAK. 2. 5. perguruan tinggi. sehingga penyimpangan penggunaan anggaran daerah dapat diperkecil atau bahkan ditiadakan. agar pemerintah pusat senantiasa mengadakan koreksi atas ketimpangan antar daerah. Dalam pelaksanaan desentralisasi fiskal. Dari gambaran consolidated revenues (APBD Kabupaten/Kota + Provinsi + Penerimaan Dana Dalam Negeri dalam APBN). porsi PAD hanya sekitar 3. Hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah terutama yang berkaitan dengan pencairan DAU dan DAK dalam pelaksanaannya kurang transparan. maka dalam menentukan besaran persentase yang akan dicantumkan dalam peraturan yang mengatur tentang perimbangan keuangan antara Pusat dan Daerah. Agar diperoleh suatu pemahaman yang sama. 3. 4.2. dan 151 . Kebijakan ini sekaligus untuk menghilangkan upaya Daerah untuk menggali sumbersumber PAD yang berdampak distortif terhadap perekonomian dan lingkungan. antara lain melalui penyerahan beberapa pajak Pusat dan Daerah. variabel. Untuk itu perlu peningkatan taxing powers Daerah.

5. Untuk meningkatkan kemampuan Daerah dalam membiayai atau membelanjai kegiatan pemerintahan. Pemberian subsidi atau bantuan hendaknya tetap dapat menjamin kemandirian Daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangga Daerah sesuai dengan aspirasi dan kepentingan masyarakat daerah. transparansi dan akuntabilitas.Dewan Perwakilan Daerah (DPD) agar terjamin keadilan. 6. 152 . maka objek pajak yang potensial hendaknya diserahkan hak pemungutan dan pengelolaannya kepada Daerah.

karena terlebih dahulu ditentukan dan diatur apa saja lingkup urusan Pemerintah pusat dan urusan propinsi. hingga sekarang belum terselesaikan dengan tuntas. menimbulkan persoalan pembagian urusan pemerintahan dan ruang lingkup kewenangannya. Pengelolaan sumber-sumber keuangan daerah berkisar pada sumber-sumber yang sangat terbatas dibandingkan dengan sumber-sumber yang ditetapkan untuk pemerintah pusat. juga memiliki urusan sebagai daerah otonom. sumber daya pajak dan retribusi. terutama tentang ruang lingkup masing-masing urusan tersebut dan mengintegrasikan secara sinergis dalam tataran normatif dan pelaksanaannya. Relatif kecilnya 153 . Pada sisi lain. Padahal. menuntut tanggung jawab yang lebih besar dalam pelayanan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Urusan-urusan pemerintahan yang dapat dibagi dan diselenggarakan bersama-sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. maupun sumber daya dari bukan pajak dan bukan retribusi yang bernilai uang. baik jenis maupun ruang lingkup yang besar. sebagai daerah otonom yang berbasis langsung pada rakyat. Namun urusan kabupaten dan kota lebih merupakan urusan residu (sisa). menunjukkan realitas bahwa otonomi pada dua jenis daerah tersebut belum berarti banyak bagi kesejahteraan masyarakat. Pembagian Wewenang yang Timpang Antara Pusat dan Daerah Penyusunan daerah otonom ke tingkatan propinsi-propinsi (atau sejenisnya) dan dibagi lagi dalam kabupaten-kabupaten dan kota-kota. kabupaten atau kota hanya mendapat sisa. Apakah itu dari sumber daya alam. terutama sumber daya yang bernilai ekonomi tinggi (banyak menghasilkan uang). Sebagian pihak bersikukuh agar propinsi tetap sebagai daerah yang memiliki urusan otonom. Pembagian pengelolaan sumber daya yang ada di daerah.BAB VII PROBLEM DAN LANDASAN PIJAK PENATAAN HUBUNGAN PUSAT DAN DAERAH DAN PERAN MASYARAKAT ADAT A. penyelenggaraan otonomi yang berbasis langsung dengan rakyat. kabupaten atau kota. Akibat keterbatasan sumber daya keuangan pada kabupaten dan kota.

pendapat asli daerah bila dibandingkan dengan penerimaan APBD. iuran. bahkan tidak diikuti dengan pengecekan secara objektif di lapangan. sangat rawan terjadinya tumpang tindih dan sengkta kepemilikan lahan. baik dengan proses pembebasan yang sesuai prosedur maupun dengan proses yang tidak sesuai dengan prosedur. Sutau kebijakan yang tidak populer di masyarakat. dan tatanan sosial kemasyarakatan. retribusi. Berlarutnya penyelesaian dan tidak jelas akhir penyelesaian sengketa pertanahan. mencerminkan bahwa otonomi itu masih jauh dari yang diharapkan. Untuk keperlukan lahan yang luas bagi usaha perkebunan besar. Berbagai eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan. Penetapan luas wilayah atau areal lahan secara sepihak oleh pemerintah bagi suatu perusahaan yang membutuh lahan yang luas. baik dalam bentuk 154 . Kemerosotan fungsi lingkungan. telah menimbulkan dampak kemerosotan daya dukung dan keberlanjutan fungsinya bagi lingkungan hidup. banyak tanah-tanah warga masyarakat yang diambil alih. Sisi lain dari eksploitasi sumber daya alam di daerah adalah makin terdesaknya hak-hak masyarakat setempat atas akses terhadap hutan dan hasilnya serta akses hak atas tanah. kegiatan pertambangan. Bagi daerah-daerah yang memiliki potensi kekayaan sumber daya alam yang besar. bagi dari aspek kesehatan. Daerah masih sangat bergantung kepada dana alokasi dan bagi hasil penerimaan dari Pemerintah Pusat. sumbangan) dan eksploitasi sumber daya alam. hal tersebut diwujudkan dalam bentuk pungutan (pajak. rawan terjadinya tindak kekerasan yang dilakukan oleh warga. seperti penebangan hutan. bahkan terjadinya kerusakan lingkungan sangat mengancam bagi kehidupan masyarakat setempat dan sekitarnya. menjadi andalan utama dalam menggali sumber-sumber keuangan daerah. Faktor kunci ukuran keberhasilan otonomi daerah ditentukan oleh kekuatan pendapatan asli daerah yang bersangkutan untuk membiayai penyelenggaraan urusan pemerintahan dan pembangunan. Terdapat banyak kecendeungan bahwa upaya peningkatan penerimaan daerah lebih banyak bersifat beban bagi masyarakat. dan perkebunan oleh berbagai perusahaan baik dalam skala kecil maupun skala besar. Itulah sebabnya dapat dikatakan sengketa pertanahan antara warga dengan pihak perusahaan. keberlanjutan mata pencarian. terjadi di tiap propinsi. Kenyataan sekarang. termasuk pemerintah.

misalnya bahan tambang dan mineral. Pada tataran antar sesama pemerintah daerah dikenal dengan sengketa wilayah administrasi yaitu mengenai batas wilayah administratif masing-masing daerah yang berbatasan langsung. seperti dengan Malaysia di Pulau Kalimantan dan di Propinsi Papua dengan Papua New Guinea (Papua Nugini). maupun kekerasan fisik lainnya. tidak cukup dipandang dan dipaksa diselesaikan secara pemetaan wilayah administratif. maka persoalan kepentingan ekonomi menjadi 155 . tidak persis sama batas wilayahnya dengan wilayah administratif daerah yang ditentukan berdasarkan peta tertulis. memiliki kawasan tersendiri secara alami yang kadangkala tidak mudah ditentukan dari atas permukaan bumi. serta kemungkinan dengan negara lain yang berbatasan langsung terutama wilayah daratan.pengrusakan. Seperti halnya bahan tambang (mineral. dan antar warga dengan pemerintah. misalnya di bidang pertambangan dan perkebunan. tidak hanya terjadi pada tataran sesama warga masyarakat. melainkan juga harus didekati dari sisi bio-region dan nature region. namun dapat menyebabkan macet atau terabaikan pelayanan kepada masyarakat yang berada di daerah perbatasan tersebut. Sengketa wilayah perbatasan antar pemerintah daerah di Indonesia tidak akan menimbulkan kekerasan atau bentrokan di masyarakat. antar warga dengan perusahaan. antar kabupaten. batubara. oleh karena itu secara ekologik dapat meliputi sejumlah wilayah atau daerah yang berbatasan langsung. Konflik batas lahan dan kepemilikan lahan. Jika sumber daya alam yang terdapat di kawasan perbatasan wilayah daerah tersebut potensial dan bernilai tinggi. pembakaran terhadap asset. baik yang bersifat biotik maupun non biotik. Sengketa batas wilayah dapat terjadi antar provinsi. Persoalan menjadi bertambah krusial oleh karena kawasan potensi sumber daya tambang dan mineral. demikian juga sumber daya biotik lainnya mempunyai karakter ekologik. Karakter ekologik dari sumber daya alam tersebut. atau jenis lainnya). sebagai miniatur dari permukaan bumi. Potensi sumber daya tambang dan mineral. melainkan juga terjadi antar sesama pemerintah daerah. Konflik (administrasi) perbatasan antar pemerintah daerah akan makin mencuat jika di wilayah tersebut dan sekitarnya kaya sumber daya alam. dan antar kabupaten dan kota. termasuk terhadap fisik manusia. serta terdapatnya perusahaan yang menanamkaan modal di kawasan tersebut.

seperti terdapat dalam masyarakat hukum adat orang Batak. B. seperti pada masyarakat hukum adat orang Bugis (Sulawesi). keturunan menurut garis laki-laki. 2. 2. Masyarakat Adat Beserta Hak Komunalnya dalam Perspektif Desentralisasi Secara singkat dapat dideskripsikan pemaknaan tentang masyarakat adat itu sebagai berikut: 1. 3. Masyarakat adat (masyarakat hukum adat) yang dimaksud di sini lebih ditekankan pada masyarakat adat yang secara fisik berdomisili dan memanfaatkan tanah dalam ikatan wilayah adat mereka. saling klaim dan menyatakan diri sebagai pihak yang berhak dan berwenang mengambil keputusan. Kerinci (Jambi). termasuk terhadap pihak ketiga yang akan melakukan investasi atas sumber daya alam tersebut. Masyarakat adat yang memiliki ikatan atas wilayah adat sebagai tanah leluhur dan secara fisik berdomisili dan menggunakannya. Tidak dipersoalkan apakah anggota masyarakat tersebut mengikatkan diri secara sukarela atau karena terpaksa. Masyarakat adat yang memiliki ikatan atas wilayah adat sebagai wilayah leluhurnya tetapi tidak berdomisili di sana secara fisik serta tidak memanfaatkan tanah adat tersebut karena suatu kesukarelaan atau suatu keterpaksaan. dan Ambon. Kedua daerah atau lebih. Dayak (Kalimantan). Ada pula masyarakat hukum adat yang bersifat genealogis (berdasarkan asas keturunan). Dalam masyarakat hukum adat yang genealogis dikenal tiga pertalian keturunan. ialah masyarakat hukum adat yang para anggotanya terikat berdasarkan keyakinan bahwa mereka berasal dari keturunan yang sama. seperti terdapat dalam masyarakat hukum adat orang Minangkabau (Sumatera Barat). Bali. Tentu saja dalam ikatan yang demikian bercampur pula ikatan yang bersifat genealogis dan 156 .motif pertarungan dari daerah masing-masing yang perbatasannya persis di kawasan tersebut. dan Semendo (Sumatera Selatan). yaitu: 1. 3. dan Jawa. Masyarakat heterogen (campuran antara masyarakat adat dan pendatang). keturunan menurut garis perempuan. keturunan menurut garis ibu dan bapak.

Berbagai alasan alasan atau kepentingan yang melatarbelakangi kedatangan orang luar sehingga memasuki komunitas dan wilayah masyarakat adat. mengakibatkan struktur masyarakat adat dan budayanya menjadi terpecah-pecah (fragmented) dalam beberapa daerah otonom. terutama: 157 . Dalam kebijakan otonomi daerah. Karakter hukum yang dibentuk oleh negara cenderung dirumuskan dalam aturan hukum dan norma hukum yang bersifat general (umum). akan membangun ketertibannya sendiri. ternyata masyarakat adat beserta hak komunalnya. oleh hukum negara (nasional) tidak selalu compatible dengan budaya lokal. manusia tidak bisa hidup di luar ketertiban. Dengan demikian. dan pembagian urusan pemerintahan. Kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat dan hak-hak tradisionalnya. sebaliknya manusia tetap bisa hidup tanpa harus menggunakan hukum modern (negara) dan tiap komunitas sesuai dengan kearifannya. Ketika hukum yang dibuat oleh negara itu diterapkan di masyarakat (termasuk masyarakat adat) sering kali menimbulkan goncangan terhadap tertib hukum dan budaya lokal. tidak dijadi komponen yang menentukan dalam pembentukan daerah dan pembagian urusan pemerintahan. Komunitas masyarakat adat dalam perjalanannya lambat laun akan berinteraksi dengan masyarakat lain (luar). juga dalam pembagian wilayah administratif daerah. Di samping hukum adat yang mereka gunakan dalam kehidupan bermasyarakat. terjadi karena masuknya orang luar tersebut ke dalam wilayah atau kesatuan masyarakat adat tersebut. tidak didasarkan pada kekhasan dan kearifan lokal. hal ini terjadi karena kehidupan masyarakat luar yang dinamis dan terus mengembangkan aktivitas kehidupan. pemekaran daerah.ikatan yang bersifat kewilayahan. seperti pembentukan daerah. proses terjadinya interaksi antara masyarakat hukum adat dengan segala tatanan kemasyarakatan dan hak-hak komunalnya dengan penduduk atau masyarakat lain. lambat-laun akan terpinggirkan. sebab pengakuan dan penghormatan atas kesatuan masyarakat adat dan hak tradisionalnya harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat. baik aturan hukum yang dibuat oleh pemerintah pusat maupun yang dibuat oleh pemerintah daerah. Pembagian wilayah-wilayah daerah otonom. juga berlaku hukum (aturan hukum tertulis) yang dibuat oleh negara. sekalipun harus menjelajah jauh ke daerah pelosok. Padahal.

Konflik tersebut di atas diakibatkan oleh perampasan hak atas tanah (teritori) tanah adat baik oleh negara (pemerintah) dengan dalih “untuk kepentingan umum” maupun oleh swasta (perusahaan). dan pembukaan ruas jalan untuk kelancaran mobilitas kegiatan investasi perusahanperusahaan besar. Cikal bakal persoalan (konflik) pertanahan berskala besar dan berkepanjangan yang menyangkut hak-hak masyarakat adat atas tanah dan hak atas tanah masyarakat lokal lainnya. pertambangan. sedangkan masyarakat adat (pemilik asli) hampir selalu menjadi pihak yang dipinggirkan. dan eksploitasi kekayaan sumber daya alam oleh korporasi. Perampasan teritori (territory violence) terhadap masyarakat adat dengan mengatasnamakan undang-undang. tidak hanya membuat masyarakat adat dan masyarakat lokal sekitarnya yang terdesak dan terjepit. yakni karena adanya aktivitas yang langsung berhubungan dengan tanah. seperti kegiatan penebangan kayu melalui hak penguhaan hutan (HPH). 158 . penebangan hutan secara besar-besaran untuk kebutuhan industri pengolahan kayu. peraturan atau kebijakan pemerintah. - melakukan aktivitas perdagangan antar daerah. Dampak eksploitasi sumber daya alam yang tidak selaras dengan prinsif Pasal 33 UUD 1945. pembukaan area pertanian (oleh pemerintah). Pihak yang diuntungkan biasanya adalah pemerintah atau pihak lain yang mendapat “legitimasi” negara untuk menguasai kawasan tertentu. seperti pembukaan lahan untuk perkebunan besar. pertambangan. kegiatan politik. pembukaan jalan. seringkali menimbulkan friksi antara pihak yang diuntungkan (the winner) dengan pihak yang kalah (the looser). Hal inilah yang menjadi benih konflik ketika masyarakat sebagai pemilik awal melakukan tindakan penguasaan kembali atas haknya yang dirampas.- perpindahan penduduk dari daerah lain ke dalam wilayah suatu masyarakat hukum. dan perkebunan. kegiatan sosial. serta pengusahaan tanaman industri untuk bahan kertas misalnya. melainkan berdampak secara kawasan.

Cara demikian dapat 159 . telah menyebabkan banjir pada musim hujan. Terancamnya kelestarian keragaman jenis dan kekhasan sumberdaya alam untuk mewujudkan nilai tambah. nilai tambah dari produk hutan nonkayu seperti air. Berbagai dampak terhadap lingkungan telah terjadi. menyebabkan tetap memberlakukan aturan hukum yang bersifat implementing regulations yang dibentuk berdasarkan UU yang lama. C. Terbentuknya suatu UU baru tanpa diikuti pembentukan aturan penjabaran. daya saing serta modal bagi pembangunan nasional. Terdapat ketidaksesuaian antara berbagai aturan hukum yang bersifat sektoral dan aturan hukum yang bersifat sentralistik. Titik Tolak Penyelarasan Hubungan Pusat dan Daerah Berdasarkan Prinsip Otonomi yang Luas Tidak ada sistem yang sempurna. yaitu kerusakan ekosistem di kawasan tersebut dan merambah ke dalam tatanan daerah aliran sungai (DAS). Praktik penebangan liar dan konversi lahan juga telah menimbulkan dampak yang luas. menurunnya fungsi dan daya dukung lingkungan dalam mendukung kualitas kehidupan sosial dan ekonomi secara serasi. sehingga temuan adanya inkonsistensi mengindikasikan adanya kelemahan suatu sistem aturan hukum. keanekaragaman hayati. dan keindahan alam belum berkembang seperti yang diharapkan untuk mendukung sektor ekonomi. udara bersih. Berbagai kebijakan yang telah dilaksanakan masih belum mampu menyelesaikan permasalahan di bidang kehutanan. dan antara aturan hukum yang bersifat payung dengan aturan hukum yang bersifat implementing regulations. seimbang dan lestari. Pemanfaatan hutan sebagai modal pembangunan ekonomi nasional telah melebihi kemampuannya sebagai sumber daya alam yang dapat diperbaharui. Sementara itu. melainkan ada banyak inkonsistensi dan inkoherensi (ketidaksesuaian) antara aturan yang satu dengan yang lainnya.regional bahkan global. sebaliknya terjadi kekeringan pada musim kemarau di beberapa daerah. perubahan iklim secara ekstrem. sepertin penurunan kualitas sumberdaya air. Kerusakan pada DAS makin parah disebabkan oleh lemahnya kapasitas kelembagaan pengelolaan DAS dan kurangnya koordinasi antara kegiatan di hulu dan hilir. Inkonsistensi menunjukkan adanya kontraksi dalam sistem aturan hukum.

dalam hal ini UU pemerintahan daerah (UU No. sulit dicapai. padahal sesungguhnya otonomi daerah adalah penjelmaan konkrit dari asas desentralisasi. sedangkan asas dekonsentrasi tidak disebut secara tegas. serta urusan pembantuan”. seperti UU No. Desentralisasi secara penuh. sehingga susbstansi Negara Kesatuan yang terkandung di dalamnya menjadi bias. Adanya UU sentralistik dan UU sektoral. pasti menerapkan desentralisasi. hanya dirumuskan terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan. 32 Tahun 2004 menjadi titik tolak sinkronisiasi aturan hukum sektoral dan sentralistik dengan pelaksanaan otonomi daerah. perubahan yang ingin dicapai oleh UU baru. dan asas medebewind tidak dinyatakan secara proporsional dalam UU No. Bahkan ada pula asas otonomi daerah. seperti PP. Ketentuan Pasal 237 UU No. asas dekonsentrasi. Juga asas pembantuan yang sesungguhnya wujud dari asas medebewind. baik secara penuh maupun secara tidak penuh. 32 Tahun 2004. urusan pilihan.mencegah kevakuman hukum. Hal ini menyebabkan ketidakkonsistenan dan ketidakharmonisan antara semangat negara kesatuan dengan praktek pengaturan wewenang pemerintahan. penyelenggaraan urusan pemerintahan itu selalu dilakukan secara bersamaan antara sentralisasi dan desentralisasi. Urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah. tidak dapat berjalan secara bersamaan dengan UU desentralisasi. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara). Sesungguhnya. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup dan UU No. Asas desentralisasi. 32 Tahun 2004 dan perubahannya). Desentralisasi secara tidak penuh memiliki varian160 . Pasal 237 tersebut menegaskan. serta aturan hukum penjabarannya. Pada hal. melahirkan suatu otonomi bagi suatu pemerintahan lokal. 11 Tahun 1967 tentang Pokokpokok Pertambangan (telah dicabut dan diganti dengan UU No. dan Perpres. masih ada lagi urusan pembantuan sebagai konsekwensi digunakan asas medebewind. semua peraturan perundang-undangan (aturan hukum – pen) yang berkaitan secara langsung dengan daerah otonom. wajib didasarkan dan disesuaikan pengaturannya pada UU ini. Negara sebagai suatu organisasi yang besar dan rumit. Seharusnya dirumuskan “Urusan pemerintahan pemerintahan daerah terdiri atas urusan wajib. namun di sisi lain.

varian yaitu dekonsentrasi. Sentralisasi dan desentralisasi selama ini dibangun atas dasar kemampuan pusat memaksakan kepentingan dengan justifikasi-justifikasi yuridis yang cenderung sepihak dan sulit dikontrol. dan delegasi seperti BUMN dan otorita. 161 . dalam pengertian diverifikasi dan diarahkan pada upaya pencapaian tujuan bernegara. medebewind.

Kebhinikaan (heterogenitas). Pengaturan wewenang dan hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam tata kelola sumber daya alam.BAB VIII PENUTUP A. Umum Di masa mendatang. oleh karena itu tidak seharusnya membongkar susunan dan struktur asli pemerintahan adat. 6. Asas desentralisasi diletakkan secara proporsional sehingga. perlu dilakukan revisi. 162 . baik dalam bentuk kuantitas maupun kualitas secara seimbang. sinergis. 5. 2. tidak sekedar difokuskan pada pengaturan terhadap objeknya saja. haruslah berdasarkan dan diarahkan pada: 1. tapi ditekankan pula kewajiban dan tanggung jawab pemerintah (pusat dan daerah) dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pemeliharaan dan pengembangan prinsip-prinsip pemerintahan asli. Pengaturan sumber-sumber pendapatan daerah ditata berdasarkan asas-asas desentralisasi sedemikian rupa. menghormati. Di samping itu. Semangat negara kesatuan RI harus menjadi pengikat penataan substansi yang mengatur wewenang antara pemerintah pusat dengan pemerintah daerah. terutama penyelenggaraan sentralisasi dan desentralisasi dalam sistem pemerintahan negara. penataan wewenang pemerintahan. tapi sebaliknya dikembangkan agar tetap aktual dalam penyelenggaraan negara moderen. pembentukan organ-organ pemerintahan daerah berikut wewenangnya dapat efektif dan efisien selaras dengan pemerintahan tingkat atasnya. 4. dan harmonis. 3. mengakui. dan mengembangkan susunan asli pemerintahan Bangsa Indonesia. Pada akhirnya. 7. sejumlah undang-undang sektoral yang ada. akses yang paling kokoh atau secara tradisional dengan memberi pengakuan terhadap eksistensi budaya.

berpihak pada sistem ekonomi kapitalis (akumulasi modal). Represif. aturan hukum mengenai penguasaan tanah memiliki karakter: Konservatif/ortodoks. 2. Pada periode tahun 1973–1984. Selama Orde Baru (1967 – 1998). khususnya di bidang pertanahan diterbitkan dikeluarkan secara sektoral dengan melepaskan kaitannya dengan UUPA sebagai aturan hukum pokok (“payung”) dari semua aturan hukum agraria. dengan ciri pemerintah sangat dominan dalam pembentukkan hukum dan menentukan arah perkembangan hukum masyarakat. sebagai berikut: a. Pada periode tahun 1984–1990-an. yaitu hukum menjadi alat bagi pelaksanaan ideologi dan program negara (positivis instrumentalis). aturan hukum mengenai penguasaan tanah berorientasi untuk memudahkan perolehan tanah bagi investasi. c. oleh karena itu karakter peraturannya bersifat pragmatis dan sangat akomodatif 163 . aturan hukum pada periode ini juga tidak selaras (tidak sinkron dan tidak konsisten) dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Dengan demikian. terutama kekuatan modal asing lewat negara donor maupun lembaga-lembaga keuangan Internasional. Karakteristik aturan hukum dan taraf kesinkronannya dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Oleh karena itu prinsif-prinsif konstitusional pengelolaan sumber daya alam harus dijabarkan secara normatif dalam aturan hukum sebagai dasar pelaksanaannya. Problematik yang terjadi pada tataran normatif yaitu terdapat persoalan sinkronisasi dan konsistensi berbagai aturan hukum di bidang pertanahan dalam kaitannya dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.B. Sudah disepakati bahwa penguasaan sumber daya alam di Indonesia ditujukan kepada sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. aturan hukum mengenai pertanahan tidak sinkron dan tidak konsisten dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 dan berkarakter: eksploitatif terhadap sumber daya alam. Khusus 1. aturan hukum mengenai sumber daya alam. dan Pragmatis dan sangat akomodatif terhadap kekuatan modal (capitalism). b. Pada periode 1967–1973. Hal ini telah berlangsung secara periodik dan memiliki variasi karakter hukumnya. dan konservatif/ortodoks.

Artinya peraturan-peraturan yang dikeluarkan tidak didasarkan pada suatu format tertentu yang secara integral berkesinambungan dan sistematis. 65 Tahun 2006 dan Perpres No. Meskipun peraturan tersebut berkarakter pragmatism-reaktif. Selain itu. artinya sangat reaksioner terhadap berbagai sengketa agraria yang muncul pada saat itu dan melihatnya sebagai persoalan administratif belaka. 3. Disamping itu. beberapa saran yang digunakan sebagai rekomendasi dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: 164 . Periode Desentralisasi (1998–2003). 22 Tahun 1999. Pada Era Pemerintahan Reformasi (1998 – 2006). b. Peraturan Perundang-undangan pada periode ini tidak selaras (tidak sinkron dan tidak konsisten) dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. terjadi arus penarikan kembali kewenangan daerah di bidang agrarian oleh pemerintah pusat. bersifat defensif-reaktif. dan parsial. peraturan perundang-undangan di bidang pertanahan yang mencerminkan ketidakpastian hukum (ambivalence). menempatkan otoritas/kewenangan yang begitu besar kepada BPN (institusi pemerintah (pusat). Karakter Peraturan Perundangundangan pada periode ini bersifat pragmatism-reaktif. akibatnya terjadi ketidaksinkronan dan ketidakkonsistenan aturan hukum di bidang pertanahan. 36 Tahun 2005 yang kemudian diubah dengan Perpres No. Substansi ketiga Perpres tersebut berkarakter represif dan berorientasi meningkatkan devisa negara lewat pembangunan dengan keberpihakan penuh pada pemilik modal (capital). 10 Tahun 2006. Hal ini ditandai dengan diberlakukannya Perpres No. Aturan hukum pada periode ini juga tidak sinkron dan tidak konsisten dengan semangat yang terkandung dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945. Berkenaan dengan hal itu. sehingga wewenang agraria/pertanahan menjadi tersentralisasi lagi pada pemerintah (pusat). 4.terhadap kepentingan modal. Periode Resentralisasi (2004–2006). tetapi materi muatannya lebih selaras (sinkron dan konsisten) dengan Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 junto Pasal 2 dan 14 UUPA junto Pasal 11 dan 12 UU No. Dengan demikian. secara periodik juga memiliki karakteristik: a.

Memperhatikan kelemahan normatif dan kendala struktural dalam pelaksanaan otonomi daerah di bidang kesehatan. serta lingkup wewenang pemerintah daerah yang mendukung otonomi daerah di bidang kesehatan. b. Prinsip yang dimaksud adalah menempatkan rakyat sebagai arus utama. kelembagaan. dan ketidaksinkronan. berbagai persoalan hukum bidang kesehatan. keterlambatan penjabaran fungsi dan wewenang pemerintah daerah di bidang kesehatan dalam peraturan daerah. 7. telah menghambat pencapaian good governance di bidang kesehatan. maka perlu pengembangan hukum secara normatif dan penataan struktur kelembagaan. SDM. Keadaan demikian telah menghambat upaya hukum melindungi hak warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. belum adanya perubahan dan penguatan struktur. dana. Pada akhirnya. 5. Dalam rangka penyempurnaan UUPA. Upaya tersebut agar UUUPA betulbetul ditempatkan sebagai aturan payung bidang pertanahan. c. Di samping itu. sarana dan prasarana pada Departemen Kesehatan di pusat dan daerah. dilakukan sinkronisasi dan harmonisasi seluruh peraturan yang berkaitan dengan agraria. Dari segi aturan hukum dan kebijakan. ketidakkonsistenan. pengkajian pada tahap awal minimal dapat merumuskan tentang kedudukan UUPA di dalam peraturan perundang-undangan agraria Indonesia. sehingga kebijakan-kebijakan operasionalnya tidak saling tumpang tindih satu sama lain. dengan mengacu kepada desentralsiasi urusan pemerintahan. bukan aspek ekonomi atau modal (capital) sebagaimana yang pernah diterapkan oleh pemerintahan Orde Baru. termasuk dinas kesehatan Propinsi/Kabupaten/Kota. sebagai berikut: 165 . 6. Akibat lebih lanjut. terdapat ketidakjelasan. dan birokrasi Depkes dan Dinkes Propinsi/Kota/Kabupaten. Setelah UUPA telah disempurnakan. yaitu menyelaraskan dan menyesuaikan seluruh peraturan perundang-undangan yang bersangkutan dengan UUPA. Penyempurnaan peraturan di bidang agraria hendaklah didasarkan pada prinsip-prinsip yang terkandung di dalam Pasal 33 ayat (3) UUD 1945 sebagai aturan dasar dan pangkal tolak pembentukan aturan hukum di bidang agraria.a.

a. Guna mendukung upaya perancangan. b. perizinan. dana. juga perlu percepatan penjabaran fungsi dan wewenang pemerintah daerah di bidang kesehatan dalam peraturan daerah dan keputusan kepala daerah. Komitmen pemerintah pusat untuk melaksanakan fungsi regulatif di bidang kesehatan. Secara kelembagaan. sinkronisasi. pengelolaan perbekalan kesehatan. perlu kejelasan.181 kilometer. pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan. standar. pengawasan dan evaluasi peraturan daerah di bidang kesehatan. serta ada konsistensi struktur dan fungsinya dengan asas hukum yang mendasari pembentukannya. asas desentralisasi. namun dari segi penataan hukum dan penegakan hukum banyak mengandung 166 . Secara folosofis. Dari segi aset dan potensi kelautan. e. supaya dapat mengembangkan struktur kelembagaan hukum secara internal dan eksternal yang mempunyai keterkaitan sistemik. pembentukan. c. Secara normatif. perlu konsistensi menegakkan asas otonomi. akreditasi. dan kesegeraan aturan hukum dan kebijakan. maka perlu segera pembentukan bagian/subbagian hukum dalam struktur organisasi Dinas Kesehatan Propinsi/Kota/Kabupaten. perlu penataan struktur dan kapasitas kelembagaan hukum (pemerintah pusat dan pemerintah daerah) di bidang kesehatan. fungsi sosial pelayanan kesehatan. audit medis. termasuk norma. Selain itu. d. 8. guna mendukung pemerintah daerah dalam membentuk peraturan daerah yang lebih berorientasi pada pemenuhan hak warga negara atas derajat kesehatan yang optimal. f. Penataan fungsi dan struktur organisasi Depkes dengan mengacu kepada fungsi pengarahan dan fungsi pengaturan yang konsisten dengan asas desentralisasi dalam rangka otonomi daerah di sektor kesehatan. Indonesia memiliki luas laut lebih kurang 5. dan sanksi administrasi. konsistensi. disertai peningkatan jumlah dan kualifikasi SDM.8 juta kilometer persegi dengan panjang garis pantai 95. dan kriteria tentang pola tarif pelayanan kesehatan. prosedur. Memiliki daya dukung kelembagaan (SDM. sarana dan prasarana) yang kuat. dan asas keserasian sebagai landasan filosofis fungsi dan wewenang pemerintah dalam otonomi daerah di bidang kesehatan.

yang jika diatasi dapat menjadi salah satu keunggulan komparatif sumber daya kelautan. terkendala permodalan dan teknologi. Malaysia. Pengelolaan terhadap pulau-pulau kecil di wilayah perbatasan (+92 buah) belum dilakukan secara optimal. Berlakunya UU sektoral dan UU sentralistik di satu sisi. dan di sisi lain berlaku pula secara bersamaan UU yang bersifat desentralisasi. mengakibatkan erosi pantai dan berkurangnya keanekaragaman hayati laut. 9. baik yang berdampak dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang. Pengembangan sumber daya di wilayah laut dalam. yaitu: a. Kesemua itu sekaligus menjadi tantangan dan memerlukan penanganan segera mungkin guna mendapatkan solusi terbaik. Pengelolaan aset tersebut dapat didayagunakan sebagai tambahan modal dalam pengembangan sumber daya kelautan. g. jika tidak disusun secara sinergis. Papua New Guinea. c. Timor Leste. penambangan pasir laut secara illegal. f. e. Belum terselesaikannya batas wilayah laut dengan negara tetangga. Pengaturan wewenang 167 . tidak bisa berjalan secara bersamaan. Kegiatan industri yang mengakibatkan kerusakan lingkungan pada ekosistem pesisir dan laut. praktek illegal fishing terutama di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE). dan Filipina. Terdapat sejumlah aktivitas yang banyak merugikan negara dan bangsa Indonesia. Di wilayah laut Indonesia masih banyak barang muatan kapal tenggelam yang belum diupayakan pemanfaatannya secara optimal.kelemahan dan permasalahan. Penataan ruang dan pengembangan wilayah pesisir dan laut belum diupayakan secara tepat. terjadinya deforestrasi hutan mangrove dan degradasi terumbu karang di kawasan pesisir dan laut. i. d. berupa kerusakan fisik dan pencemaran di beberapa kawasan pesisir dan laut. b. h. terutama dengan Singapura.

diperlukan sinkronisasi aturan hukum sebagai landasan wewenang pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam pengelolaan sumber daya kelautan. sedangkan wewenang daerah didasarkan pada aturan hukum yang desentralistik. Oleh karena itu. 168 . Wewenang pemerintah pusat didasarkan pada aturan hukum sektoral dan sentralistik.pengelolaan sumber daya kelautan masih tersebar dalam sejumlah UU sektoral.

Ind-Hill. Alumni. New York. Disampaikan dalam Seminar Desentralisasi Kesehatan di Indonesia: Apa yang Sudah Dicapai dan Apa yang Belum? Apakah lebih baik Resentralisasi? Tanggal 17-19 Maret 2004 di Fakultas Kedokteran. UII Press. Reprinted. Bandung. diakses tanggal 15 Januari 2005. Makalah. Bandung. Jakarta. Penerbit Bina Aksara. Andi Sandi dan Vivi Lignawati. Jakarta. Hukum dan Peraturan Kebijaksanaan (Beleidsregel) pada Pemerintahan Daerah. Arendt. Dasar-dasar Perundang-undangan Indonesia. Universitas Gajah Mada. Gramedia Pustaka Utama.. 1980. Abdul Latief. Volume III/02/2005. Manajemen. Disampaikan pada Seminar Desentralisasi Bidang Kesehatan: ”Reformasi Sektor Kesehatan dalam Desentralisasi di Indonesia”. Harcourt Brace Jovanovich. 1972. Ali Sofwan Husein. On Violence” in Crisis of Republic. Jakarta. 1997. 1992. 1995. 7. Negara. YLBHI. Perundang-undangan: Dasar. Politik Hukum Indonesia. 2002. Konflik Pertanahan (Dimensi Keadilan dan Kepentingan Ekonomi. Ali S Husein. Beberapa Pemikiran Pembangunan Hukum di Indonesia. Alumni. Jakarta. Jakarta. Alan Norton. 1988. “Peran DEPKES di Era Desentralisasi Kesehatan”. Lembaga Administrasi Negara. Bachtiar Oesman. “Desentralisasi dan Perkembangan Peraturan Perundang-undangan di Bidang Kesehatan: Sebuah Evaluasi Normatif”. 6 Juni 2006. Suffolk. Pustaka Sinar Harapan. The Ipswich Book Company. ---------------------------------.desentralisasi-kesehatan. 1997.DAFTAR PUSTAKA Abdul Hakim G Nusantara dan Nasroen Yasabari. Jogjakarta. . International Handbook of Local and Regional Government: a comparative analysis of advanced democracies. Pustaka Sinar Harapan.Co. Hannah. dalam www. Jakarta. 1997. Kekuasaan dan Ideologi. Great Britain. Reformasi Nasional Penyelenggaraan Good Governance dan Perwujudan Masyarakat Madani.1985. Bagir Manan. “Pengembangan Eksekutif Kepala Dinas Kesehatan dalam Upaya Peningkatan Kinerja Dinas Kesehatan Daerah di Era Desentralisasi”. Makalah. 2005. Bintaro Tjokroamidjojo. Arief Budiman. Jenis dan Teknik Membuatnya. Ekonomi Politik Penguasaan Tanah. Amiroeddin Syarif. Teori Negara. Azrul Azwar.php.net/buletin. Bandung. Abdurrahman. hlm. Tebaran Pikiran Mengenai Hukum Agraria.

Sumatera Selatan. Surabaya.pdf. Konflik Agraria. Jurnal Suara JAGAT No. Disertasi. Djambatan. dan Agenda Pembaruan Agraria di Indonesia. . 2006.org/file-global/GLOBALISASI%20lengkap. Fajrimei A Gofar. Dwidjo Susono (Staf Ahli MENKES Bidang Peningkatan Kapasitas Kelembagaan dan Desentralisasi). G. Zed Books. Reformasi Agraria. Makalah pada pertemuan: Konsultasi dan Konsolidasi Organisasi Rakyat di Sumatera Selatan dalam Rangka Promosi Nasional untuk Penyelesaian Konflik Agraria.Boedi Harsono. 2005. Isi dan Peaksanaannya. Lagi-Lagi Negara versus Rakyat”. September 2004. Jilid 1 Hukum Tanah Nasional. ----------------------. 1990.globaljust. Sejarah Pembentukan Undang-Undang Pokok Agraria. I/1998. “Kebijakan & Strategi Desentralisasi Kesehatan dan KW/SPM”. Makalah. Soetomo. Harian Kompas. Dianto Bachriadi. Tantangan dan Agenda Kerja bagi Pemerintahan Baru 2004-2009.1997. Badan Diklat Provinsi Sumatera Selatan. Kanisius. Forum Keadilan. Palembang. Hirarki Aturan Hukum di Indonesia. ”Perpres No.al (ed). Perubahan Politik. Pemerintah Propinsi Sumatera Selatan dan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia cq. http://www. tanggal 25 Juni 2005. Program Studi Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Airlangga. 36 Tahun 2005 Melegalkan Penggusuran Paksa?”. Palembang. The Unpromised Land. Jakarta. At The End of Globalisation. Universitas Diponegoro. et. dan Mal Adminitrasi: Hasil Perkawinan Dominasi Negara dan Modal”. Sengketa. Semarang. Demitrius. Auditorium Pemda Prop. Christodoulou. Jakarta. Nomor 27. Jakarta. Agraria Reform and Conflict Worldwide. Usulan Penelitian Disertasi. Diakses tanggal 5 Desember 2009. Lembaga Penerbit FE-UI. Firman Muntaqo. 2006. pada 21 Juni 2007. Gunawan Wiradi. Bonnie Setiawan. Yogyakarta. Edisi 20 Oktober 2002. Djambatan. “Ketimpangan Penguasaan Tanah. Makalah Semiloka Reforma Agraria. Hukum Agraria Indonesia. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya. Kekalahan Manusia Petani Dimensi Manusia dalam Pembangunan Pertanian. Gustam Idris. We are All Dead. --------------------. di Surabaya. 2004. I/th. Jakarta. Otonomi dan Hubungan Luar Negeri”. 4 Agustus 2001. 1997. YLBHI. Dianto Bachriadi & Noer Fauzi. London and New Jersey. Makalah pada Diskusi Panel tentang Hubungan Luar Negeri oleh Pemerintah Daerah. Disampaikan dalam Rapat Koordinasi Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Timur. Hukum Agraria Indonesia-Himpunan Peraturan-Peraturan Hukum Tanah. “Sistem dan Konflik Tenurial. Yayasan Pikul. Febrian. “Harmonisasi Hukum Investasi di Bidang Perkebunan”. Juni 2004.

2002. Jacub Rai. Jurnal Transparansi Indonesia. 2007. Yogyakarta. 1981. Arend. Alumni. Liberty. Mencari Bentuk Otonomi Daerah. Yogyakarta. Joeniarto. Gadjah Mada University Press.multiply. Lijphart. . et al. NV Uitgeverij W. Lubis. Integrated Coastal and Marine Resources Management. 1997.com/journal/item/. 1955. 2005. Surabaya. Hans. 1954. Alih Bahasa oleh Somardi. Daniel. Ahsin Thohari. Jakarta.G. Van Hoeve. diakses tanggal 12 Januari 2008. Het Recht in Indonesia. Jakarta. -----------------. Oktober 2005. 2005. M. Bandung. General Theory of Law and State.L. Jakarta. Raja Grafindo Persada. Proceeding of International Symposium. dalam http://www. Imam Syaukani & A. S’Gravenhage. Bandung. Muhammadiyah University Press. Malang.Hutagalung. Proses Terjadinya UUPA. 2006.Alumni. Nasroen. Kaloh. W. 1987. New York. 2004. 2001. Jacub Rais. Teori Umum Hukum dan Negara (Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif-Empirik). Teorisasi Hukum. Peran Serta Seksi Agraria Universitas Gadjah Mada. Joko Widodo. Kelsen. Kerjasama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional. Ihsan Cendikia. M. Rineka Cipta. 1973. Good Governance: Telaah dari Dimensi Akuntabilitas dan Kontrol pada Era Desentralisasi dan Otonomi Daerah. Bandung. Beberapa Catatan Hukum Tata Pemerintahan dan Peradilan Administrasi Negara. Inisiatif Harmonisasi Sistem Hukum Pengelolaan Wilayah Pesisir Indonesia. Iman Soetiknjo. Russell & Russell. Dasar-Dasar Politik Hukum. Aspek Strategis dalam Manajemen Rumah Sakit. 1980. Kuntjoro Purbopranoto. PSHK. Jentera (Jurnal Hukum). Khudzaifah Dimyati. Menapaki Jejak Pemikiran Soepomo Tentang Negara Indonesia. 1985. Pembahasan UUD 1945. J.goodlocalgovernance. Edisi 10 – tahun III. EndaNG. “Good Governance”. Studi Tentang Perkembangan Pemikiran Hukum di Indonesia 1945-1990. “Harmonisasi Pengelolaan Wilayah Pesisir Melalui Penatan Ruang LautDarat Terpadu”. Jakarta. Soal Pembentukan Daerah Otonom Dan Tingkatan Daerah Otonom. Jakarta. 2006. General Theory of Law and State. Jakarta. Selayang Pandang Tentang Sumber-Sumber Hukum Tata Negara Di Indonesia. Solly. 1983. Surakarta. Bee Media Indonesia. Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia dan Coastal Resources Management Project. New Haven and London Yale University Press. ANDI. Yogyakarta. Lemaire. Democracy In Plural Societies. Laksono Trisnantoro.

or. Pidato Pengantar Menteri Agraria Sadjarwo sewaktu mengajukan RUU Pokok Agraria di DPRGR tahun 1960. hlm. Bayu Media. Muhammad Syaifuddin. Djilid Pertama. Jakarta. Jakarta. London. Penerbit Rineka Cipta.ekonomirakyat. Mansour Fakih. Jurnal Ekonomi Rakyat.com/. http://www. Membongkar Alas Penguasaan Negara Atas Hak-Hak Adat. Penelitian Hukum. Kitab Naskah Undang-undang Dasar Républik Indonésia. Harper & Row.Mahkamah Konstitusi.P. Nonet. Mahfud MD. 2005. Harper Colophon Books. Noer Fauzi & Dianto Bachriadi. 1978.4–Juli 2003.norwegia. 1991. Yogyakarta. Jakarta. Jakarta. www. Peter Mahmud Marzuki. Moh. dalam: Usulan Revisi UUPA 1960: Menuju Penegakan Hak-Hak Rakyat atas Sumber-Sumber Agraria. Pertimbangan Hukum. Diakses tanggal 20 Juli 2009. Sesat Pikir Politik Hukum Agraria. 1984. Pan Mohamad Faiz. ------------------------. Alumni. San Fransisco. Putusan Perkara Nomor 001-021022/PUU-I/2003. Yogyakarta. Penafsiran Konsep Penguasaan Negara Berdasarkan Pasal 33 UUD 1945 dan Putusan Mahkamah Konstitusi. Law and Society in Transition-Toward Responsive Law.jurnalhukum. Insist Press & Pustaka Pelajar.Mandar Maju. Jajasan Prapantja. Bina Aksara. Malang.II–No. 2001. Komentar atas Undang-Undang Pokok Agraria. Bandung. 109110.p2sdkpkendari. 1983. Mustopa. Dasar dan Struktur Ketatanegaraan Indonesia. http://www. Parlindungan.id/policy/trade/marine/marine. Aneka Hukum Agraria.org. Merebut` Hak Indonesia atas Tuna Sirip Biru. New York. Hak Menguasai dari Negara (HMN) Persoalan Sejarah yang Harus Diselesaikan.blogspot. Sesat Pikir Teori Pembangunan dan Globalisasi. A. Maria R Ruwiastuti. Mubyarto. 2009. Muhammad Yamin. Politik Hukum dan Pembangunan Agraria di Indonesia. Hagerstown. Paradigma Kesejahteraan Rakyat dalam Ekonomi Pancasila. Bandung. 2000. Jakarta. 2001. 1959. Manajemen Norwegia untuk sumber daya laut hidup. 1998. Prenada Media. Artikel–Th. Menggagas Hukum Humanistis-Komersial: Upaya Perlindungan Hak Masyarakat Kurang dan Tidak Mampu atas Pelayanan Kesehatan Rumah Sakit Swasta Berbadan Hukum Perseroan Terbatas. Philippe & Selznick. http://www.com/cetak. Diakses tanggal 26 Nopember 2009.htm Diakses tanggal 20 Juli 2009. KRHN & KPA. Pustaka Pelajar. . Notonagoro. Philip.php?id=668.

2004. et al. Policy and Research Series 2. Jakarta. 48. Bandung. Angkasa Bandung. Pradnya Paramita. al. 2000. M. hlm. Sosiologi Hukum Perkembangan Metode dan Pilihan Masalah. tanggal 3 Januari 2001. Hukum dan Masyarakat. 5 Tahun ke VII Januari-Februari. Jakarta. Hukum Kita Liberal (Apa Yang Dapat Kita Lakukan).Purnadi Purbacaraka & Soerjono Soekanto. Ratih Anbarini. LaksBang PRESSindo. Jakart. Shah A. -----------------------. Arie. The Reform of Intergovenrmental Fiscal Relations in Developing and Emerging Market Economies. Sudarto. Bandung. Ringkasan Ketetapan MPRS Republik Indonesia No. Pustaka Sinar Harapan. Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Laut Secara Terpadu. “Perkembangan Ilmu Hukum dan Politik Hukum”.. World Bank. UNPAD. hlm. Opcit. Bandung. Soedarmono Soejitno. Sudargo Gautama.Hutagalung. dan Departemen Penerangan. Surakarta.R. Satjipto Rahardjo. Raja Grafindo Persada. 16. 1994. Inderalaya. 2001.H. dalam: Rosjidi Ranggawidjaja. 1973. S. Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah. Bandung. Makalah pada Seminar Bagian “Pemerintahan Daerah Setelah Perubahan Kedua UUD 1945”Hukum Tata Negara. ”Eksistensi Asas-asas Umum Penyelenggaraan Pemerintahan yang Layak dalam Menjelmakan Pemerintahan yang Baik dan Bersih”. Lembaga Pemberdayaan Hukum Indonesia. Memahami Beberapa Bab Pokok Hukum Administrasi.F.S. Marbun.2002. kerjasama Fakultas Hukum Universitas Sriwiijaya dengan Program HEDS. Harian Kompas. Ridwan. I dan II/MPRS/1960. .P. Tebaran Pemikiran Seputar Masalah Hukum Tanah. Tafsiran Undang-Undang Pokok Agraria. 8 Desember 2006. Soerjono Soekanto.id/berita/sumber-daya-kelautan-indonesia-belum-optimaldimanfaatkan/ Diakses tanggal 30 Juli 2009. PT.ac. Reformasi Perumahsakitan Indonesia. Alumni.unpad. 1986. Sumber Daya Kelautan Indonesia Belum Optimal Dimanfaatkan. 2008. Washington DC. Ringkasan Disertasi. Rokhmin Dahuri. Sadjijono. 2002. Dalam Majalah Hukum dan Keadilan No. S. Jakarta. Sarundajang. Pokok-Pokok Sosiologi Hukum. 1979. http://www. et. S. Grasindo. ----------------------. Muhammadiyah University Press. 2005. Bandung. Yogyakarta. Jakarta. Perundang-Undangan & Yurisprudensi. Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 058-059-060-063/PUU-II/2004 dan Nomor 008/PUU-III/2005 mengenai pengujian undang-undang Sumber Daya Air. Alumni.

asp x. Kepala Staf Angkatan Laut. 2006. 1980. 2007. UGM. Untoro Hariadi & Masruchah. Alumni. Unit Desentralisasi DEPKES RI. Pedoman Akreditasi Rumah Sakit di Indonesia. Diakses tanggal 22 Agustus 2009. Laporan. Beberapa Pemikiran Pembangunan Hukum di Indonesia.mil. Pelayanan Publik dari Dominasi ke Partisipasi. Tim Perumus. “Perubahan Fungsi Pemerintah dalam Sektor Kesehatan di Berbagai Tingkat Setelah Penetapan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004”. pada Seminar Nasional Maritim Tahun 2009 di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut Surabaya. Azas-Azas Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta. Forum LSMLPSM DIY.id/tabid/61/articleType/ArticleView/articleId/1258/Default. Surabaya. Tejo Edhy Purdijatno. Sekretariat Tim P-7. Talizuduhu Ndraha. Airlangga University Press.Suko Wiyono. Dian Rakyat. Makalah pada Seminar Gagasan Otonomi Daerah dalam Konteks Negara Kesatuan RI. Bandung. dan WHO. G. Yogyakarta. 7-8-9 Juni 2005. (ed). Faza Media. “Sebuah Catatan tentang Otonomi dalam Penyelenggaraan Negara”. 1995. Hakim Nusantara & Nasroen Yasabari.tnial. Komisi Akreditasi Rumah Sakit. Tim Perumus. Tanah.I. Makassar. Asikin Kusuna Atmadja. DITJEN YANMEDIK-DEPKES R. Wijoyo. http://www. Jakarta. Diselenggarakan oleh UNHAS. Dalam: A. “Seminar Nasional 4 Tahun Desentralisasi Kesehatan di Indonesia”. Politik Hukum Nasional. . Wirjono Prodjodikoro 1983. 20-21 Maret 1992. Jakarta. Laksamana TNI. Otonomi Daerah dalam Negara Hukum Indonesia: Pembentukan Peraturan Daerah Partisipatif. Z. Rakyat dan Dmokrasi. Jakarta. 2006.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->