BAB I PENGERTIAN, DASAR-DASAR DAN TUJUAN, SERTA RUANG LINGKUP ADMINISTRASI PENDIDIKAN 1. Pengertian Administrasi Pendidikan Untuk dapat memahami administrasi pendidikan secara keseluruhan, maka perlu terlebih dahulu membahas titik awal pengertian tersebut, yaitu Administrasi. Pengertian dasar tentang administrasi itu akan merupakan tumpuan pemahaman administrasi pendidikan seutuhnya. Secara sederhana administrasi ini berasal dari kata Latin ´adµ dan ´ministroµ. Ad mempunyai arti ´kepadaµ dan ministro berarti ´melayaniµ. Secara bebas dapat diartikan bahwa administrasi itu merupakan pelayanan atau pengabdian terhadap subjek terten Memang, zaman dulu tu. administrasi dikenakan kepada pekerjaan yang berkaitan dengan pengabdian atau pelayanan kepada raja atau menteri-menteri dalam tugas mengelola pemerintahannya. Kini administrasi itu telah mengalami perkembangan yang pesat sehingga a dministrasi ini mempunyai pengertian atau konotasi yang luas. Secara garis besarnya pengertian itu antara lain sebagai berikut: - mempunyai pengertian sama dengan manajemen; - menyuruh orang agar bekerja secara produktif; - memanfaatkan manusia, material, uang, metode secara terpadu; - mencapai suatu tujuan melalui orang lain; - fungsi eksekutif pemerintah. Bahkan banyak orang yang beranggapan bahwa administrasi itu sama dengan pekerjaan juru tulis, tata usaha, kerja kantor, atau pekerjaan yang bersangkut paut dengan tulis menulis. Yang dimaksudkan dengan administrasi di sini tentu saja bukan pengertian yang terakhir itu. Administrasi adalah upaya mencapai tujuan secara efektif dan efisien dengan memanfaatkan orang-orang dalam suatu pola kerjasama. Efektif dalam arti hasil yang dicapai upaya itu sama dengan tujuan yang telah ditetapkan. Sedangkan efisien berhubungan dengan penggunaan sumber dana, daya dan waktu yang ekonomis. Selain manusia dan tujuan, administrasi sangat mempedulikan keadaan sumber. Sumber adalah segala hal yang membantu tercapainya tujuan baik berupa tenaga, material, uang, ataupun waktu. Sumber yang langka cenderung menggagalkan tercapainya tujuan. Sedangkan sumber yang berlimpah cenderung kepada pemborosan dan bahkan penyimpangan dari tuj an yang telah disepakati. u Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat dikemukakan bahwa pada dasamya yang menjadi perhatian administrasi adalah tujuan, manusia, sumber, dan juga waktu. Kalau keempat unsur tersebut digabungkan dan dilihat dari bentuk dan perilakunya, maka akan menampakkan dirinya sebagai suatu satuan sosial tertentu, yang sering disebut organisasi. Dan dengan demikian dapat disimpulkan bahwa administrasi itu adalah subsistem dari organisasi itu sendiri yang unsur-unsumya terdiri dari unsur organisasi yaitu tujuan, orang-orang, sumber, dan waktu. Secara umum dapat dinyatakan bahwa organisasi itu adalah sistem kerjasama antara dua orang atau lebih yang secara sadar dimaksudkan untuk mencapai tujuan. Gabungan orang yang bekerja sarna itu didoro g oleh n kesadaran manusia bahwa kebutuhan seseorang itu mudah terpenuhi bila diupayakan bersama orang lain. Karena kekurangmampuan, waktu, daya tahan dan bahan-bahan manusia menjadi sadar bahwa harapan dan kebutuhannya itu perlu bantuan orang lain. Orang-orang itu kemudian bergabung, menetapkan tujuan bersama, menyepakati bentuk kegiatan dan upaya mencapai tujuan, dan terbentuklah organisasi. Dan upaya agar semua unsur organisasi itu bisa berfungsi atau berlaku secara efektif dan efisien, produktif, optimal, atau bahkan maksimal adalah administrasi. Menurut jenisnya organisasi ini terdiri dari tiga jenis yaitu organisasi formal, sosial dan informal. Ciri khusus dari organisasi formal adalah organisasi yang secara formal menetapkan tujuan yang akan dicapainya itu dengan tertulis berdasarkan peraturan atau hukum yang berlaku, menetapkan pola kegiatan, dan menekan pada koordinasi dan hierarki kewenangan. Termasuk ke dalam organisasi ini ialah sekolah, madrasah, perusahaan, penjara, organisasi politik dan massa. Organisasi sosial adalah organisasi yang dibentuk berdasarkan tujuan yang tidak formal, tetapi secara implisit terpaut dengan pola kerja yang longgar dan bahkan tidak ada hierarkis kewenangan. Termasuk ke dalam jenis ini umpamanya sekumpulan sahabat untuk mengisi waktu senggang, pertemuan untuk mengenang masa lalu atau bernostalgia, dan kumpulan lulusan atau alumni suatu organisasi pendidikan. Organisasi informal adalah organisasi yang terbentuk dalam organisasi formal tetapi tidak termasuk dalam struktur atau peraturan yang tertulis. Organisasi ini timbul secara spontan dan didorong oleh kebutuhan akan pergaulan, persahabatan, rasa aman di antara anggota organisasi formal. Termasuk ke dalam jenis ini ialah kumpulan arisan, persahabatan, hobi dan rekreasi di antara para karyawan suatu perusahaan. Keberadaan organisasi informal dalam organisasi formal bersifat 1 kontroversial, dapat menjadi pendukung bagi keberhasilan atau sebaliknya dapat menjadi penghalang tercapainya tujuan suatu organisasi. Administrasi pendidikan mengandung dua pokok pikiran yaitu administrasi dan pendidikan. Pengertian administrasi telah dikemukakan di muka secara agak rinci. Pengertian pendidikan akan dikemukakan pada bagian berikut ini. Berdasarkan asas legal pengertian pendidikan ini dapat disimak dari Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Nomor II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara. Dalam GBHN tahun 1988 ini pendidikan dibataskan sebagai proses budaya untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Pe didikan n berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. Berikut beberapa pendapat para ahli tentang pendidikan : 1) Carter V. Good dalam µDictionary of Educationµ dijelaskan sebagai berikut : - Seni, praktek, atau profesi sebagai pengajar - Ilmu yang sistematis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip -prinsip dan metode mengajar, pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti luas digantikan dengan istilah pendidikan. Menurut Carter, pendidikan berarti : - Proses perkembangan pribadi - Proses sosial - Profesional cources - Seni untuk membuat dan memahami ilmu pengetahuan yang tersusun yang dikembangkan pada masa lampau oleh tiap generasi bangsa. 2) Prof. Richey dalam buku ´Planning for Teaching and Introduction to Educationµ menjelaskan hakekat pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang berlangsung dalam sekolah saj . Pendidikan adalah a suatu aktifitas sosial yang esensial yang memungkinkan masyarakat yang kompleks, modern, fungsi pendidikan ini mengalami proses spesialisasi dan melembaga dengan pendidikan formal, yang tetap berhubungan dalam proses pendidikan informal di luar sekolah. 3) Brubacher dalam bukunya ´Modern Phylosofies, Educationµ dinyatakan sebagai berikut : Pendidikan adalah proses timbal balik dari tiap pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, dengan teman, dan dengan alam semesta. 4) John Dewey memandang pendidikan sebagai suatu proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelektual dalam emosi sesama manusia.1 (1 Tholib Kasan, Dasar-Dasar Pendidikan, Studia Press, Jakarta, 2005) Mengacu pada batasan tersebut di atas terdapat beber apa hal yang berkenaan dengan administrasi. Seperti yang telah dikemukakan di muka, pendidikan itu adalah suatu proses. Proses dalam hal ini dapat diartikan bahwa pendidikan terdiri dari serangkaian tindakan yang menuju ke suatu hasil tertentu. Tindakan tersebut bisa saja suatu perbuatan yang tampak tetapi juga bisa tidak tampak. Pada umumnya tindakan dalam pendidikan itu merupakan tindakan yang tidak tampak nyata. Namun demikian, tindakan dalam pendidikan itu hampir selamanya bersifat formal, dalam artian tindakan-tindakan itu dibuat sengaja dan bertujuan. Kesengajaan proses pendidikan ini akan lebih nyata bila pendidikan itu dipandang secara sosiologis. Pendidikan adalah proses sengaja untuk meneruskan atau mentransmisi budaya orang dewasa kepada generasi yang lebih muda. Proses ini mengandung suatu tindakan asasi yaitu pemilihan atau seleksi keterampilan, fakta, nilai, dan sikap yang paling berharga dan penting dari kebudayaan untuk diajarkan kepada generasi yang lebih muda itu. Pemilihan dan pengambilan keputusan itu merupakan tindakan yang sengaja. Dalam pendidikan itu terdapat dua jenis proses, yaitu proses pendidikan dan nonpendidikan. Proses pendidikan sering juga disebut proses teknis sedangkan nonpendidikan sering disebut nonteknik. Administrasi tergolong proses nonteknis yang pada dasarnya berfungsi agar proses teknik berjalan dengan mulus. Fungsi proses administrasi itu adalah merancang, mengatur, mengkoordinasikan, menyediakan fasilitas, mengarahkan, memperbaiki proses teknis. Sedangkan proses teknis itu merupakan proses yang secara langsung berkenaan dengan pendidikan itu sendiri seperti perencanaan, penilaian, pelaksanaan pengajaran dan kurikulum, Abdurrahman An-Nahlawi (1989; 50) menyatakan bahwa proses pendidikan adalah pengembangan kepribadian manusia, agar seluruh aspek ini dapat terlaksana secara harmonis dan sempurna, di samping seluruh potensi manusia dapat terpadu untuk mencapai tujuan yang merupakan pangkal segala usaha, konsep, tingkah laku, dan getar perasaan hati. 2 Hal lain yang perlu ditinjau lebih lanjut dari pengertian pendidikan itu berkenaan dengan perubahan atau kondisi diri manusia yang diharapkan baik yang bersifat fisik maupun mental. Semua batasan pendidikan yang dikemukakan di muka itu semuanya menunjukkan adanya tujuan. Bahk GBHN 1988 lebih lanjut menunjukkan an tujuan umum pendidikan itu menjadi lebih rinci. Tujuan tersebut adalah pendidikan nasional berdasarkan Pancasila, bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, berdisiplin, berkerja keras, tangguh, bertanggung jawab, mandiri, cerdas dan terarnpil serta sehat jasmani dan rohani.2 (2 Dr. Supandi dkk., Administrasi Pendidikan, UT, Jakarta, 1992.) Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa administrasi adalah aktivitas-aktivitas untuk mencapai suatu tujuan, atau proses penyelenggaraan kerja untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang pengertian administrasi pendidikan, baiklah kita kemukakan di sini beberapa rumusan dari para ahli sebagai berikut: a. Sondang P. Siagian, MPA. PhD. Administrasi adalah keseluruhan proses kerjasama antara dua orang atau lebih yang didasarkan atas rasionalitas tertentu, untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. b. Ars. The Liang Gie, dalam Pengertian, Kedudukan dan Ilmu Administrasi rnengatakan bahwa: Administrasi adalah segenap rangkaian kegiatan penataan terhadap pekerjaan pokok yang dilaksanakan oleh sekelompok orang dalam bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. c. Drs. Soehari Trisna, dalarn Segi-Segi Administrasi Sekolah. Administrasi adalah keseluruhan proses penyelenggaraan dalam usaha kerja sama dua orang atau lebih dengan s ecara rasional untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya secara efisien. d. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, dalam Pedoman Pelaksanaan Kurikulum, buku III D. Administrasi ialah usaha bersama untuk mendayagunakan semua sumber (personel maupun material) secara efektif dan efisien guna untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan. e. Jesse B. Sears, dalam The Nature of Administration Process 1950. Educational administration is the process as including the following activities planning, or anization, g direction, coordination, and control. f. Drs. M. Ngalim Parwanto, dalam Administrasi Pendidikan 1967. Administrasi pendidikan ialah segenap proses pengarahan dan pengintegrasian segala sesuatu baik personel, spiritual dan material yang bersangkut-paut dengan pencapaian tujuan pendidikan. g. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dalam Kurikulum Usaha-Usaha Perbaikan dalam Bidang Pendidikan dan Administrasi Pendidikan. Administrasi pendidikan adalah suatu proses keseluruhan, kegiatan bersama dalam bidang pendidikan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, pengawasan, pembiayaan, dan pelaporan dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personel, material, maupun spiritual untuk mencapai tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. h. Administrasi Pendidikan ialah suatu cara bekerja dengan orang-orang, dalam rangka usaha mencapai tujuan pendidikan yang efektif, yang berarti mendatangkan hasil yang baik dan tepat, sesuai dengan tujuan pendidikan yang telah ditentukan. i. Administrasi pendidikan dapat pula diartikan sebagai pelaksanaan pimpinan yang mewujudkan aktivitas kerjasama yang efektif bagi tercapainya tujuan-tujuan pendidikan. j. Administrasi pendidikan adalah semua kegiatan sekolah dari yang meliputi usaha-usaha besar seperti perumusan polis, pengarahan usaha, koordinasi, konsultasi, korespondensi, kontrol dan seterusnya, sampai kepada usaha-usaha kecil dan sederhana seperti menjaga sekolah, menyapu halaman dan sebagainya. Melihat rumusan-rumusan tersebut di atas, jelaslah kiranya bahwa administrasi pendidikan meliputi berbagai aspek dan kegiatan yang kesemuanya ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan yang dicita -citakan. Perlu diketahui, bahwa rumusan-rumusan tersebut tidak dapat dipisah-pisahkan satu dengan yang lain, melainkan saling berhubungan erat dan saling melengkapi. Hanya saja tekanan dari masing-masing rumusan itu berbeda-beda. Ada yang menekankan pada: cara bekerja dengan orang-orang dalam usaha mencapai tujuan pendidikan. Ada pula yang menekankan pada: pelaksanaan pimpinan. Dan ada lagi yang tekanannya lebih menunjukkan pengertian yang lebih luas, yaitu mencakup semua kegiatan sekolah yang ditujukan ke arah tercapainya tujuan pendidikan. Dengan beberapa pengertian tersebut di atas, maka perlu ditegaskan di sini: a. Bahwa administrasi pendidikan itu merupakan proses keseluruhan dan kegiatan-kegiatan bersama yang harus dilakukan oleh semua pihak yang ada sangkut-pautnya dengan tugas-tugas pendidikan. b. Bahwa administrasi pendidikan itu mencakup kegiatan-kegiatan yang luas, yang meliputi: kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan, khususnya dalam bidang pendidikan yang diselenggarakan di sekolah-sekolah. 3 c. Bahwa administrasi pendidikan itu bukan hanya sekedar kegiatan µtata usahaµ seperti yang dilakukan di kantor-kantor tata usaha sekolah atau kantor-kantor inspeksi pendidikan lainnya. Secara sederhana dan mudah, dapat dikatakan: "Administrasi pendidikan adalah suatu ilmu tentang penyelenggaraan pendidikan di sekolah, agar tercapai tujuan pendidikan di sekolah itu." Singkatnya: Administrasi pendidikan ialah pembinaan, pengawasan dan pelaksanaan dari segala sesuatu yang berhubungan dengan urusan-urusan sekolah. Memperluas pemahaman tentang pengertian administrasi pendidikan berikut ini dikemukakan beberapa batasan atau definisi. a. Hadari Nawawi mengatakan: Administrasi pendidikan adalah rangkaian kegiatan atau keseluruhan proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang untuk mencapai tujuan pend idikan secara berencana dan sistematis yang diselenggarakan dalam lingkungan tertentu, terutama berupa lembaga pendidikan formal. Beliau menekankan pada proses pengendalian usaha kerjasama sejumlah orang terutama pada pendidikan formal. Selanjutnya dikatak an, ada perbedaan antara administrasi pendidikan dan kegiatan operasional kependidikan. Kegiatan operasional kependidikan adalah kegiatan-kegiatan teknis edukatif, seperti kegiatan belajar mengajar, bimbingan dan penyuluhan dan sebagainya. Sedangkan administrasi pendidikan menyangkut kemampuan mengendalikan kegiatan operasional itu agar serempak seluruhnya bergerak dan terarah pada pencapaian tujuan pendidikan. Tujuan itu adalah mengusahakan terwujudnya efisiensi dan efektivitas yang tinggi. b. Pendapat lain yang dikemukakan adalah batasan dari Engkoswara. Beliau mengatakan: Administrasi Pendidikan adalah ilmu yang mempelajari penataan sumber daya yaitu manusia, kurikulum atau sumber belajar dan fasilitas untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal dan penciptaan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta di dalam mencapai tujuan pendidikan yang disepakati. Selanjutnya dikatakan, tujuan administrasi pendidikan adalah untuk mencapai tujuan pendidikan secara produktif yaitu efektif dan efisien. Ukuran keberhasilan administrasi pendidikan adalah produktivitas pendidikan, yang pertama dilihat pada produk, hasil atau efektivitas dan pada proses, suasana atau efisiensi. Dalam pencapaian produktivitas itu diperlukan suatu proses, minimal meliputi perilaku manusia berorganisasi, perilaku itu dapat dinyatakan dalam bentuk perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan atau pembinaan atas tugas kewajiban administratif. Tugas kewajiban administratif itu dapat dikelompokkan dalam tujuh kategori, yaitu: 1) program pendidikan; 2) murid; 3) personel; 4) kantor sekolah; 5) keuangan sekolah; 6) pelayanan bantuan; dan 7) hubungan sekolah masyarakat. Tugas kewajiban di atas dapat dikategorikan ke dalam manusia, program pendidikan atau sumber belajar dan fasilitas. c. Menurut Ngalim Purwanto: Administrasi pendidikan ialah segenap proses pengarahan dan pengintegrasikan segala sesuatu, baik personel, spiritual dan material, yang bersangkut paut dengan pencapaian tujuan pendidikan. Selanjutnya dikatakan, di dalam proses administrasi pendidikan, segenap usaha orang-orang yang terlibat di dalam proses pencapaian tujuan pendidikan itu diintegrasikan, diorganisir dan dikoordinir secara efektif dan semua materi yang diperlukan dan yang telah ada dimanfaatkan secara efisien. Dari beberapa batasan di atas dapat disimpulkan bahwa: administrasi pendidikan adalah tindakan mengkoordinasikan perilaku manusia dalam pendidikan, agar sumber daya yang ada dapat ditata sebaik mungkin, sehingga tujuan pendidikan dapat tercapai secara produktif. 2. Dasar dan Tujuan Dasar Administrasi akan berhasil baik apabila didasarkan atas dasar-dasar yang tepat. Dasar diartikan sebagai suatu kebenaran yang fundamental yang dapat dipergunakan sebagai landasan dan pedoman bertindak dalam kehidupan bermasyarakat. Berikut ini akan dipaparkan beberapa dasar yang perlu diperhatikan agar administrator dapat mencapai sukses dalam tugasnya. Terdapat banyak dasar administrasi, antara lain: a. Prinsip efisiensi 4 Seorang administrasi akan berhasil dalam tugasnya bilamana dia efisien dalam menggunakan semua sumber tenaga dana dan fasilitas yang ada. b. Prinsip pengelolaan Administrator akan memperoleh hasil yang paling efektif dan efisien melalui orang-orang lain dengan jalan melakukan pekerjaan manajemen, yakni merencanakan, mengorganisasikan, mengarahkan dan mengontrol. c. Prinsip pengutamaan tugas pengelolaan Jika disertai pekerjaan manajemen dan operatif dalam waktu yang sama, seseorang administrasi cenderung untuk memberikan prioritas pertama pada pekerjaan operatif. Administrator harus mampu menghindari kecenderungan negatif ini, sebab bila ia terlalu sibuk dengan tugas-tugas operatif, maka pekerjaan pokoknya yaitu pengelolaan akan terbengkalai. Hal ini juga merupakan ciri khas tentang tinggi atau rendahnya taraf organisasi. Makin rendah taraf suatu organisasi, akan dapat dilihat dari makin banyaknya pekerjaan operatif yang harus dilakukan oleh administrator. d. Prinsip kepemimpinan yang efektif Seorang administrator yang berhasil dalam tugasnya apabila ia menggunakan gaya kepemimpinan yang efektif, yakni yang memperhatikan dimensi-dimensi hubungan antar manusia (human relationship), dimensi pelaksanaan tugas dan dimensi situasi dan kondisi (sikon) yang ada. Prinsip keempat ini perlu penjelasan. Administrator akan berhasil dalam melaksanakan tugasnya apabila ia memiiiki gaya kepemimpinan yang efektif. Syarat pertama adalah ia sebagai pemimpin harus memelihara hubungan baik antara bawahannya. Ini berarti ia harus mengenal bawahannya apa kepentingan kepentingannya, dapat menimbulkan motivasi bekerja untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan organisasi, mengusahakan kepuasan kerja. Di samping itu, dimensi kedua juga perlu diperhatikan yaitu pentingnya penyelesaian tugas oleh setiap anggota organisasi sesuai dengan pertelaan tugas (job description). Jangan sampai terjadi kasus, karena pemimpin mementingkan hubungan baik dengan anggotanya, maka ia mengorbankan pentingnya penyelesaian tugas secara baik dan tepat pada waktunya. Dan sebaliknya jangan sampai terlalu mengutamakan kewajiban kerja, sampai melupakan kegairahan kerja dan kepentingan pribadi bawahannya. Gaya kepemimpinan yang tepat adalah apabila administrator memperhitungkan taraf kematangan para anggota organisasi, dan situasi yang ada. Bila dalam organisasi telah ada hubungan baik, tetapi kesadaran bekerja belum memadai, maka pemimpin yang berhasil harus mampu menimbulkan kesadaran untuk menyelesaikan tugas pekerjaannya. e. Prinsip kerjasama Seseorang administrator akan berhasil baik dalam tugasnya bila ia mampu mengembangkan kerjasama di antara orang-orang yang terlibat, baik secara horizontal maupun secara vertikal. Perlu ditambahkan bahwa ada dua asas yang dapat dipergunakan sebagai landasan kerja kegiatan administrasi pendidikan di sekolah, yaitu: asas idiil dan landasan operasional. a. Asas idiil Pelaksanaan administrasi pendidikan di suatu negara tergantung pada sistem pendidikan yang dianut oleh suatu negara. Sistem pendidikan yang dianut oleh negara Indonesia adalah sistem pendidikan Pancasila, yaitu sistem pendidikan yang dilaksanakan berdasarkan pada Pancasila dan Undang -Undang Dasar 1945. Karena administrasi pendidikan pada hakikatnya adalah sub-sistem dari sistem pendidikan secara luas, maka landasan idiil yang dipergunakan dalam kegiatan administrasi pendidikan di sekolah juga Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. b. Asas operasional/prinsip Sebagaimana telah diketahui, bahwa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional seperti yang tercantum dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN), sistem pendidikan di sekolah di Indonesia telah mengalami pembaruan. Upaya pembaruan itu dilakukan antara lain juga untuk meningkatkan mutu pendidikan di tingkat sekolah. Bentuk pembaruan sistem pendidikan di sekolah itu tertuang dalam bentuk kurikulum. Kurikulum yang dimaksud adalah kurikulum 1975. Kurikulum inilah yang menjadi landasan operasional dalam menyelenggarakan pendidikan di Indonesia. Ada lima buah prinsip yang melandasi kurikulum 1975 ini. Dalam pendekatan sistem, kegiatan administrasi merupakan salah satu komponen instrumental proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Karena proses penyelenggaraan pendidikan di sekolah itu dilakukan dalam kurikulum 1975, maka kelima prinsip yang dipergunakan untuk melandasi kurikulum 1975 juga harus menjadi landasan operasional bagi kegiatan administrasi pendidikan di sekolah. Kelima prinsip itu adalah: 1) Prinsip fleksibilitas Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah hendaknya dilakukan dengan mengingat faktorfaktor dan kemampuan untuk menyediakan fasilitas bagi berlangsungnya program pendidikan di sekolah. 5 Berdasarkan pada prinsip ini berarti bahwa dalam melaksanakan kegiatan administrasi hendaknya mengingat faktor-faktor ekosistem dan kemampuan untuk menyediakan fasilitas itu. 2) Prinsip efisien dan efektivitas Pada hakikatnya efisiensi tidak hanya menyangkut penggunaan waktu secara tepat, melainkan juga menyangkut masalah pendayagunaan tenaga secara optimal. Prinsip ini juga harus digunakan sebagai landasan operasional bagi kegiatan administrasi pendidikan di sekolah. 3) Prinsip berorientasi pada tujuan Sesuai dengan pendekatan sistem maka semua kegiatan pendidikan harus berorientasi pada tujuan. Karena administrasi pendidikan di sekolah merupakan komponen input instrumental dalam sistem pendidikan maka untuk menjamin tercapainya tujuan tersebut, tujuan operasional yang sudah dirumuskan itu juga menjadi gantungan orientasi bagi pelaksanaan kegiatan administrasi pendidikan di sekolah. 4) Prinsip kontinuitas Prinsip kontinuitas ini hendaknya juga dipergunakan sebagai landasan operasional dalam melaksanakan kegiatan administrasi pendidikan di sekolah. Misalnya: Walaupun kegiatan administrasi siswa yang dilakukan di Sekolah Dasar berbeda dengan yang dilakukan di Sekolah Menengah Pertama, tetapi ada hubungan hierarkinya. 5) Prinsip pendidikan seumur hidup Prinsip ini berarti bahwa setiap manusia Indonesia diharapkan untuk selalu berkembang sepanjang hidupnya, di lain pihak masyarakat dan pemerintah diharapkan untuk dapat menciptakan situasi yang menantang untuk belajar. Dalam, melaksanakan administrasi pendidikan kiranya prinsip tersebut perlu digunakan sebagai landasan operasional. Tujuan Menurut Sergiovanni dan Carver (1975), ada empat tujuan administrasi, yaitu: efektivitas produksi, efisiensi, kemampuan menyesuaikan diri (adaptiveness), dan kepuasan kerja. Keempat tujuan tersebut dapat digunakan sebagai kriteria untuk menentukan keberhasilan suatu penyelenggaraan sekolah. Karena sekolah merupakan subsistem pendidikan nasional, maka tujuan administrasi pendidikan di Indonesia yang dilaksanakan di sekolah juga bersumber dari tujuan pendidikan nasional. Di samping itu tujuan administrasi pendidikan di Indonesia juga menunjang tercapainya tujuan pendidikan nasional tersebut. Sesuai dengan yang digariskan dalam GBHN tujuan pendidikan nasional adalah: Meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kecerdasan, keterampilan, mempertinggi budi pekerti, memperkuat kepribadian, dan mempertebal semangat kebangsaan agar dapat menumbuhkan manusiamanusia pembangunan yang dapat membangun dirinya sendiri yang serta bersama-sama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa. Sedangkan dalam lembaga atau sekolah, administrasi pendidikan merupakan subsistem dalam sistem pendidikan sekolah. Tujuan administrasi berusaha untuk menunjang tercapainya tujuan pendidikan sekolah tersebut. Tujuan institusional pendidikan untuk semua tingkat dan jenis sekolah telah dibakukan oleh pemerintah dalam kurikulum 1975. Sesuai dengan keputusan-keputusan tersebut, tujuan institusional untuk masing-masing jenjang dan jenis sekolah dalarn kurikulurn tahun 1975 dirumuskan berupa tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umum dirumuskan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang lebih mencakup hal yang luas. Sedang pada tujuan khusus pertanyaan pertanyaan itu sudah dijabarkan secara khusus dengan ditinjau dari tiga bidang pengembangan tingkah laku manusia melalui pendidikan, yaitu: bidang pengetahuan, bidang keterampilan dan bidang nilai dan sikap.3 (3 Tim MKDK IKIP Semarang, Administrasi Pendidikan, IKIP Semarang Press, 1989) Contoh tujuan umum a. Tujuan Umum Pendidikan Sekolah Dasar (SD) adalah agar lulusan: 1) Memiliki sifat-sifat dasar sebagai warga negara yang baik. 2) Sehat jasmani dan rohani. 3) Memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap dasar yang diperlukan untuk melanjutkan pelajaran, bekerja di masyarakat dan mengembangkan diri. b. Tujuan Umum Pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) adalah agar lulusan: 1) Menjadi warga negara yang baik sebagai manusia yang utuh, sehat, kuat lahir dan batin. 2) Menguasai hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari pendidikan di SD. 3) Memiliki bekal untuk melanjutkan pelajaran ke Sekolah Lanjutan Atas dan untuk tujuan ke masyarakat. c. Tujuan Umum Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) adalah agar lulusan: 1) Menjadi warga negara yang baik sebagai manusia utuh, sehat, kuat lahir dan batin. 2) Menguasai hasil-hasil pendidikan umum yang merupakan kelanjutan dari pendidikan di SMP. 6 3) Memiliki bekal untuk melanjutkan studinya ke lembaga perguruan tinggi. 4) Memiliki untuk terjun ke masyarakat dengan mengambil keterampilan untuk bekerja yang dapat dipilih oleh siswa sesuai dengan minat dan kebutuhan masyarakat. d. Tujuan Umum Pendidikan Sekolah Teknologi Menengah (STM) adalah agar lulusan: 1) Menjadi warga negara yang baik, yaitu manusia pembangunan yang bermoral Pancasila yang utuh, sehat, kuat lahir dan batin. 2) Menjadi tenaga kerja tingkat menengah yang memiliki pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai guru teknik dalam bidang teknologi industri sesuai dengan jurusan yang dipilihnya. e. Tujuan Umum Pendidikan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) adalah agar lulusan: 1) Sehat jasmani dan rohani. 2) Menjadi warga negara Indonesia yang bermoral Pancasila yang memiliki sifat yang baik dan konstruktif sebagai warga masyarakat, serta menerima dan percaya kepada kaidah -kaidah dan cara-cara pengamalan agama masing-masing, baik dalam peribadatan maupun kehidupan sehari-hari dan dalam hubungan antar agama dan bidang-bidang kehidupan lainnya. 3) Memiliki pengetahuan, keterampilan dan nilai serta sikap yang diperlukan untuk: a) Melaksanakan tugasnya secara afektif sebagai guru di lembaga pendidikan dasar, yaitu: Sekolah Dasar atau Taman Kanak-kanak. b) Mengembangkan dan mengamalkan Ilmu dan profesinya. c) Menggunakan prinsip pendidikan seumur hidup di sekolah maupun di luar sekolah sebagai alat utama bagi kemajuan pribadi masyarakat. d) Mengembangkan dan membina kepemimpinan yang demokratis dan bertanggung jawab dalam interaksi sosial dengan murid dan anak-anak. e) Menggunakan prinsip kemanusiaan, demokrasi dan keadilan sosial dalam kehidupan, pergaulan, keluarga dan sekolah secara bertanggung jawab.4 Kiranya jelas, bahwa tujuan administrasi pendidikan di sekolah adalah mempersiapkan situasi di sekolah, agar pendidikan dan pengajaran berlangsung baik, sehingga tercapai tujuan khusus sekolah tersebut, yaitu: a. Supaya anak-anak tamatan suatu sekolah memiliki pengetahuan dan pengertian dasar, mengenai hak dan kewajiban sebagai manusia Pancasila sesuai dengan ketetapan MPRS No.IV /1973 dan berbuat selaras dengan pengertian itu. b. Supaya anak-anak tamatan suatu sekolah memiliki salah satu keterampilan atau kecakapan khusus, yang merupakan bekal untuk hidupnya dalam masyarakat. Dan dengan demikian dapat berd sendiri serta iri menyumbangkan kecakapannya bagi pembangunan masyarakat berPancasila. c. Supaya anak-anak tamatan suatu sekolah memiliki dasar-dasar ilmu pengetahuan yang kokoh serta keterampilan untuk melanjutkan pendidikannya ke sekolah yang lebih tinggi. Dapatlah sekarang dimengerti, bahwa penyelenggaraan sekolah menuntut para guru untuk memimpin peningkatan pengetahuan, keterampilan dan sikap hidup yang sangat berbeda dengan petugas di sekolah kuno. Sekolah kuno hanya mengutamakan pengetahuan melulu, kurang memperhatikan adanya perkembangan masyarakat yang selalu berubah itu. Secara singkat, administrasi pendidikan di sekolah bertujuan menciptakan situasi yang memungkinkan anak mempunyai pengetahuan dasar yang kuat untuk melanjutkan pelajaran, mempun yai suatu kecakapan dan keterampilan khusus untuk dapat hidup sendiri dan dalam masyarakat, serta mempunyai sikap hidup sebagai manusia Pancasila dengan pengabdian untuk pembangunan masyarakat Pancasila Indonesia. Tampak jelas, bahwa Indonesia sekarang terus bernsaha meningkatkan adanya sekolah-sekolah progressif community oriented (berorientasi pada masyarakat modern), tidak lagi berpusat pada pengetahuan semata, melainkan berpusat pada kebutuhan hidup (life centered), yaitu sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan makhluk perseorangan. 4 Ibid. hal. 9. Adapun tugas administrasi, tepatnya administrasi pendidikan, mengupayakan agar tujuan pendidikan dapat tercapai. Secara agak rinci dan kewajiban administrasi sehubungan dengan tujuan pendidikan ini dapat di emukakan sebagai k berikut: 1) Berusaha agar tujuan pendidikan tampil secara formal dengan jalan merumuskan, menyeleksi, menjabarkan dan menetapkan tujuan pendidikan yang akan dicapai sesuai dengan lembaga atau organisasi pendidikan yang bersangkutan secara formal. 2) Menyebarluaskan dan berusaha menanamkan tujuan pendidikan itu kepada anggota lembaga, sehingga tujuan pendidikan tersebut menjadi kebutuhan dan pendorong kerja para anggota lembaga. 7 3) Memilih, menyeleksi, menjabarkan dan menetapkan proses berupa tindakan, kegiatan, dan pola kerja yang diperhitungkan dapat memberikan hasil yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Berkaitan dengan hal ini, perlu juga diusahakan agar proses untuk mencapai tujuan nonpendidikan tidak terlalu banyak sehingga menghambat tercapainya tujuan pendidikan. Di dalam praktek, kegiatan yang bersifat kemasyarakatan, administrasi atau teknik justru sering terlalu banyak sehingga kegiatan edukatif menjadi terlalaikan. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa kegiatan yang nonpendidikan atau nonedukatif yang tidak seimbang dengan kegiatan pendidikan akan menurunkan mutu pendidikan itu sendiri. 4) Mengawasi pelaksanaan proses pendidikan dan lainnya dengan memantau memeriksa dan mengendalikan setiap kegiatan dan tindakan pada setiap tahap proses sistem. Upaya ini sering dikaitkan dengan pengawasan melekat ataupun pengendalian mutu dalam pendidikan. Pada dasarnya pengawasan ini lebih menekankan kepada usaha mengembalikan proses yang menyimpang pada hukum dan tahap perkembangan serta interaksinya, dan hukum-hukum untuk mewujudkan kesempurnaan, kebaikan serta kebahagiaan seperti yang diberlakukan Allah. 5) Menilai hasil yang telah dicapai dan proses yang sedang atau telah berlaku, mengupayakan agar informasi tentang hasil dan proses itu menjadi umpan balik yang dapat memperbaiki proses dan hasil selanjutnya. . Unsur lain yang penting dikemukakan dalam pendidikan ini dan mempunyai hubungan yang erat dengan administrasi pendidikan ialah unsur manusia. Pendidikan adalah upaya manusia demi manusia itu sendiri. Dengan pengertian lain manusia itu adalah subjek dan sekaligus pula menjadi objek. Di dalam pendidikan itu terpaut manusia yang mempunyai kepentingan yang berbeda-beda. Sudah dapat dibayangkan bahwa tanpa koordinasi pengat ran kerja, u penempatan serta pengarahan dan bimbingan proses dan tujuan pendidikan akan mengalami kegagalan. Dan itulah merupakan tugas dan kewajiban administrasi pendidikan yang berkaitan dengan manusia sebagai individu, anggota masyarakat, dan abdi Allah. 3. Ruang Lingkup Bidang-bidang yang tercakup dalam administrasi pendidikan adalah sangat banyak dan luas. Tetapi yang sangat penting dan perlu diketahui oleh para kepala sekolah dan guru-guru pada umumnya ialah sebagai berikut: a. Bidang tata usaha sekolah, ini meliputi: 1) Organisasi dan struktur pegawai tata usaha. 2) Anggaran belanja keuangan sekolah. 3) Masalah kepegawaian dan personalia sekolah. 4) Keuangan dan pembukuannya. 5) Korespondensi/ surat menyurat. 6) Masalah pengangkatan, pemindahan, penempatan, laporan, pengisian buku induk, raport dan sebagainya. b. Bidang personalia murid, yang meliputi antara lain: 1) Organisasi murid. 2) Masalah kesehatan murid. 3) Masalah kesejahteraan murid. 4) Evaluasi kemajuan murid. 5) Bimbingan dan penyuluhan bagi murid. c. Bidang personalia guru, meliputi antara lain: 1) Pengangkatan dan penempatan tenaga guru. 2) Organisasi personel guru. 3) Masalah kepegawaian. 4) Masalah kondite dan evaluasi kemajuan guru. 5) Refreshing dan up-grading guru-guru. d. Bidang pengawasan (supervisi), yang meliputi antara lain: 1) Usaha membangkitkan semangat guru-guru dan pegawai tata usaha dalam menjalankan tugasnya masing masing sebaik-baiknya. 2) Mengusahakan dan mengembangkan kerjasama yang baik antara guru, murid dan pegaw tata usaha sekolah. ai 3) Mengusahakan dan membuat pedoman cara-cara menilai hasil-hasil pendidikan dan pengajaran. 4) Usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru-guru pada umumnya. e. Bidang pelaksanaan dan pembinaan kurikulum: 1) Berpedoman dan mengetrapkan apa yang tercantum dalam kurikulum sekolah yang bersangkutan, dalam usaha mencapai dasar-dasar dan tujuan pendidikan dan pengajaran. 2) Melaksanakan organisasi kurikulum beserta metode-metodenya, disesuaikan dengan pembaruan pendidikan dan lingkungan masyarakat. 8 Demikianlah antara lain bidang-bidang yang tercakup di dalam administrasi pendidikan. Dapatlah disingkatkan bahwa bidang-bidang tersebut di atas dapat dikelompokkan sebagai berikut: - Bidang administrasi material, yaitu kegiatan administrasi yang menyangkut bidang-bidang materi, seperti: ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan, alat-alat perlengkapan, dan lain-lain. - Bidang administrasi personal, yang mencakup di dalamnya administrasi personel guru dan pegawai sekolah dan sebagainya. - Bidang administrasi kurikulum, yang mencakup di dalamnya pelaksanaan kurikulum, pembinaan kurikulum, penyusunan silabus, persiapan harian dan sebagainya. Administrasi pendidikan seringkali diistilahkan dengan administrasi sekolah seperti halnya dalam Kurikulum 1984 (Dalam Buku Petunjuk Pengelolaan) disebutkan bahwa administrasi sekolah (maksudnya administrasi pendidikan) mencakup pengaturan, proses belajar-mengajar, kesiswaan, personalia, peralatan pengajaran, gedung dan perlengkapan, keuangan serta humas atau hubungan dengan masyarakat. Ini semua merupakan cakupan atau skopa dari administrasi sekolah / administrasi pendidikan. Dalam buku "Pedoman Umum Menyelenggarakan Administrasi Sekolah Menengah (1984)", disebutkan pula mengenai ruang lingkup kegiatan administrasi sekolah adalah meIiputi: - administrasi program pengajaran; - administrasi murid/ siswa; - administrasi kepegawaian; - administrasi keuangan; - administrasi perlengkapan; - administrasi surat menyurat; - administrasi perpustakaan; - administrasi pembinaan kesiswaan; - administrasi hubungan sekolah dengan masyarakat. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa skopa atau ruang lingkup administrasi pendidikan itu meliputi segala hal yang pada dasarnya ditekankan pada pelaksanaan kegiatan /usaha pendidikan supaya berjalan secara teratur dan tertib yang semua itu diorientasikan pada tujuan pendidikan. Karena itu butir-butir yang menjadi cakupan atau yang termasuk ke dalam skopa administrasi pendidikan sesungguhnya amat luas dan banyak. Adapu rincian ruang n lingkup yang penulis sinyalir tersebut di atas, sebetulnya masih bisa dijelaskan lagi secara lebih rinci dan lebih luas lagi. Sementara itu, Dr. Hadari Nawawi menyatakan, bahwa: secara umum ruang lingkup administrasi berlaku juga di dalam administrasi pendidikan. Ruang lingkup tersebut meliputi bidang-bidang kegiatan sebagai berikut: a. Manajemen administratif (administrative management). Bidang kegiatan ini disebut juga "management of administrative function" yakni kegiatan-kegiatan yang bertujuan mengarahkan agar semua orang dalam organisasi/kelompok kerjasama mengerjakan hal -hal yang tepat sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. b. Manajemen operatif (operative management) Bidang kegiatan ini disebut juga "management of operative function" yakni kegiatan-kegiatan yang bertujuan mengarahkan dan membina agar dalam mengerjakan pekerjaan yang menjadi beban tugas masing-masing setiap orang melaksanakan dengan tepat dan benar5 (5 Drs. Ahmad Rohani HM. & Drs. H. Abu . Ahmadi, Administrasi Pendidikan Sekolah, Bumi Aksara, Jakarta, 1990) 9 BAB II PROSES ADMINISTRASI PENDIDIKAN Proses merupakan serangkaian kegiatan-kegiatan tertentu yang teratur dan terarah, yang memungkinkan suatu kelompok menncapai tujuan usahanya secara efektif dan efisien. Di bidang apapun tujuan yang harus dicapai itu, apakah di bidang pendidikan, di bidang usaha, di bidang industri, di bidang perdagangan, di bidang pemerintahan dan sebagainya, jenis dan urutan kegiatan tertentu diperlukan untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Di bidang apapun usaha itu, kegiatan selalu dimulai dengan perencanaan, dan diakhiri dengan penilaian keberhasilan. Di antaranya terdapat serangkaian kegiatan-kegiatan yang berhubungan dan bersambungan, dan terjadilah suatu proses. A. UNSUR-UNSUR KEGIATAN DALAM ADMINISTRASI Administrasi merupakan suatu proses yang menyeluruh dan terdiri dari bermacam kegiatan/aktivitas di dalam pelaksanaannya. Tentang jumlah dan jenis kegiatan yang tercakup dalam administrasi, terdapat sedikit perbedaan antara beberapa ahli administrasi. Henry Fayol umpamanya, seorang industrialis Prancis pada permulaan abad ini, telah mengemukakan lima unsur kegiatan dalam administrasi, yaitu: (1) perencanaan (2) organisasi (3) direksi (4) koordinasi (5) pengawasan. Lima kegiatan inilah yang dianggap oleh Fayol sebagai unsur unsur kegiatan pokok yang harus terdapat dalam proses administrasi. Ada pula yang melihatnya dalam segi lain, dan dengan pengertian lain mengenai batas-batas tiap jenis kegiatan itu. L. Gulick, seorang ahli Public Administration di Amerika dalam tahun 30-an mengemukakan lebih banyak jumlah kegiatan, yaitu sampai tujuh. Tujuan kegiatan itu, jika huruf-huruf awalnya dirangkaikan, akan merupakan singkatan POSDCORB, yaitu gabungan dari: Planning, Organizing, Staffing, Directing, Coordinating, Reporting dan Budgeting. Antara dua pengelompokan menurut Fayol dan menurut Gulick itu tampaknya seolah-olah ada perbedaan, baik dalam jenis maupun jumlah kegiatan. Sebetulnya tidak sedemikian besar perbedaannya. Yang dimaksudkan oleh Fayol 10 sebetulnya sama saja dengan yang dimaksudkan oleh Gulick, hanya sebutannya berlainan, dan batas-batas kegiatannya berbeda. Umpamanya yang dimaksudkan oleh Fayol dengan organisasi, oleh Gulick lebih diperinci lagi menjadi organizing dan staffing. Dan yang dimaksudkan oleh Fayol dengan pengawasan, yang dalam bidangnya yaitu industri, biasanya , secara langsung, oleh Gulick tidak disebut pengawasan, meskipun dalam kegiatan administrasi tentu ada pengawasan itu. Ini dapat dilakukan secara tidak langsung melalui catatan dan laporan. Karena itu yang diutamakan adalah reporting & recording. Karena yang tujuh unsur ini merupakan yang lengkap dan dapat dijadikan pengertian dasar bagi jenis -jenis kegiatan menurut pembagian siapa pun, kita akan berikan uraian seperlunya dari tiap unsur ini berdasarkan pembagian Gulick. 1. Planning Perencanaan merupakan kegiatan pertama yang harus dilakukan dalam rangka administrasi. Perencanaan merupakan persiapan yang harus dilakukan sebelum suatu usaha dilaksanakan. Rencana adalah prasyarat dalam usaha apapun. Rencana merupakan titik tolak bagi pelaksanaan, merupakan penuntun ke arah mana kegiatan harus dilakukan. Rencana merupakan juga landasan untuk mengadakan penilaian di kemudian hari. Sampai di mana suatu usaha telah terlaksana, apakah dapat dianggap berhasil atau tidak, dapat dinilai dengan membandingkan kemajuannya dengan rencana yang telah ditetapkan pada permulaan. Suatu usaha tanpa rencana, tidak dapat mengharapkan pelaksanaan yang teratur. Ada kemungkinan dalam pelaksanaan terlalu sering diadakan perubahan dan penyesuaian, sehinggatidak mempunyai arah tertentu. Rencana harus dengan jelas mengemukakan: apa yang akan dicapai; dengan cara apa akan dicapainya; alasan-alasan apa yang digunakan dalam menentukan cara-cara pencapaian itu; bilamana dapat diharapkan selesainya; bagaimana pentahapan penyelesaiannya; siapa yang akan melaksanakannya; bilamana dan bagaimana akan mengadakan penilaian; kemungkinan-kemungkinan apa yang kiranya dapat mempengaruhi pelaksanaan; bagaimana mengadakan penyesuaian dan perubahan rencana; dan sebagainya. Mengenai perencanaan ini di bagian lain akan kita mendapatkan uraian yang agak lebih terperinci. 2. Organizing Pengorganisasian merupakan kelanjutan dari perencanaan. Setelah direncanakan apa yang akan dicapai, bagaimana mencapainya, dan sebagainya kita perlu mengadakan pengelompokan tentang kegiatan -kegiatan yang akan dilaksanakan. Kita perlu mengatur/menyusun: ada berapa macam kegiatan; bagaimana mengelompokkan kegiatan-kegiatan itu menurut jenisnya, menurut waktunya, menurut pentingnya; kegiatan mana yang lebih dahulu harus dilaksanakan dan mana yang kemudian; bagaimana hubungan antara bagian-bagian/kelompok kegiatan-kegiatan itu; dan seterusnya. Maksud pengorganisasian ini ialah agar semua pekerjaan dapat berjalan pada waktunya, menuruturutan pentingnya, menurut saluan-saluran yang dapat memberikan kelancaran sebaik-baiknya. Pengelompokan kegiatan berarti pula pengelompokan tanggung jawab, pembagian dan penyusunan tanggung jawab; dan penyusunan tugas-tugas bagi setiap bagian yang mempunyai tanggung jawab tertentu. Ini semua yang kita maksudkan dengan organisasi. Untuk menyusun pola pembagian tugas dan taggungjawab, si pemimpin harus menguasai benar bidang pekerjaannya, mengetahui secara mendetail macam-macam kegiatan yang diperlukan dalam rangka keseluruhan usahanya itu, dan mengetahui pula prinsip-prinsip yang digunakan dalam penyusunan organisasi. 3. Staffing Staffing berarti penyusunan staf, penentuan personil yang diperlukan. Setelah diatur susunan pekerjaan, dan diketahui macam, luas dan bidang pekerjaan yang akan dilakukan, pimpinan harus mengisinya dengan tenaga tenaga yang sesuai, dengan berpedoman pada prinsip ´the right man in the right placeµ. Dalam usaha mencari, memilih dan menentukan tenaga yang diperlukan bagi tiap jenis kegiatan itu, perlu diperhatikan oleh pemimpin: pengetahuan dan kecakapan apa yang diperlukan bagi setiap macam tugas/pekerjaan yang telah disusun itu; di mana dapat dicari/diperoleh tenaga-tenaga yang memiliki pengetahuan dan kecakapan itu; bagaimana mengadakan seleksi agar benar-benar diperoleh tenaga yang diperlukan itu; 11 jika sudah diseleksi, bagaimana menempatkan mereka ke dalam fungsi yang sesuai dan tanggung jawab yang serasi; penghargaan apa yang dapat diberikan kepada mereka, agar mereka bersedia memikul tanggung jawab dan melaksanakan tugas pekerjaannya sebaik-baiknya; bagaimana selanjutnya memberikan bimbingan dan meningkatkan kesanggupan/kemampuan mereka, demi peningkatan usaha dan pencapaian tujuan sebaik -baiknya. Itulah semua yang harus mendapat perhatian pemimpin dalam rangka penempatan personil yang sesuai dengan tugas/pekerjaan yang telah disusun, dalam rangka staffing. Persoalannya tidak hanya sampai pada penempatan dan penugasan saja. Pemimpin harus terus memperhatikan kondisi dan daya kerja petugas-petugasnya, terus-menerus mempelajari sebab-sebab yang dapat melemahkan kesanggupan dan kemauan bekerja, dengan memberikan bimbingan dan pembinaan secara kontinu. 4. Directing Dalam pengertian "directing" ini tersimpul banyak hal, seperti: memberikan petunjuk-petunjuk bagaimana tugas-tugas harus dilaksanakan, memberikan bimbingan dalam rangka perbaikan cara -cara bekerja, menghindarkan kesalahan-kesalahan yang diperkirakan dapat timbul dalam pekerjaan, dan sebagainya. Semua tugas -tugas itu harus dilakukan oleh direktur, yang memberikan direksi atau pengarahan. Dalam kegiatan ini akan ternyata peranan pimpinan sebagai direktur: cakap tidaknya, demokratis tidaknya, menguasai tidaknya bidang pekerjaan yang dihadapinya itu. Sebagai direktur ia merupakan pimpinan eksekutif tertinggi dan merupakan pengawas serta pemberi arah dalam pelaksanaan usaha menurut pola dan rencana yang telah disusun. Kegiatan yang dilakukan dalam peranannya sebagai direktur antara lain: memberikan penerangan/penjelasan/informasi tentang keseluruhan usahanya itu; mengeluarkan perintah/instruksi dalam rangka pelaksanaannya: apa dan bagaimana yang harus dilaksanakan; memberikan contoh dalam sikap dan cara bekerja; mengadakan pengawasan/pemeriksaan/inspeksi; menemukan kebaikan/kemajuan dan kekurangan/kesalahan dalam pekerjaan; mengoreksi kekurangan-kekurangan dan memperkecil/meniadakan hambatan-hambatan. Cara melaksanakan peranannya itu harus sesuai dengan tempat, waktu dan kebutuhan, menurut prinsip -prinsip demokrasi dan efisiensi kerja, dan bijaksana pula, agar tidak merugikan wibawanya dan tidak menimbulkan tekanantekanan atau ketegangan-ketegangan pada yang dipimpinnya. 5. Coordinating Mengkoordinasi artinya menyatukan/menyamakan arah. Dalam tugasnya sebagai direktur, yang diperhatikan oleh pimpinan adalah terutama cara-cara pelaksanaan teknis oleh pelaksana-pelaksana yang harus sesuai dengan tujuan dan tidak menyimpang dari garis/pola yang sudah ditentukan. Sebagai koordinator, pemimpin harus mengarahkan perhatiannya pada cara kerja sama antara petugas-petugas yang diawasi itu. Pemimpin harus berusaha agar: setiap bagian/petugas melaksanakan tugasnya dengan cara dan dalam waktu yang sudah ditentukan; tidak ada bagian/petugas yang menghambat atau merugikan pekerjaan bagian/petugas lain; menghindarkan "overlapping" dalam tugas dan pelaksanaannya yang dapat membingungkan dan mengacaukan; memupuk dan mengembangkan saling percaya-mempercayai dan banyak membantu antara bagianbagian/petugas-petugas: menghindarkan dan menyelesaikan segala macam perbedaan pendapat atau pertentangan yang menghambat lancarnya usaha; menghindarkan konkurensi/kompetisi yang tidak sehat; memupuk rasa persatuan, agar setiap bagian/petugas merupakan unsur -unsur yang tidak lepas dari keseluruhan kelompok. Istilah yang sekarang sering kita dengar ialah KIS, singkatan dari Koordinasi, yang harus menghasilkan Integrasi (=penyatuan) dari tiap bagian ke dalam keseluruhannya, agar ada Sinkronisasi, ialah segala sesuatu berjalan menurut rencana pada waktu yang tepat. (sinkron/synchroon = waktu yang bertepatan, bersamaan). Jika kita telaah peranan seorang koordinator yang diuraikan di atas ini, akan jelaslah bahwa masalah koordinasi dalam pelaksanaannya sangat memerlukan keterampilan dalam Human Relation dan Group Process, di samping penguasaan seluruh kegiatan usaha secara teknis profesional. 6. Recording & Reporting 12 Recording berarti pencatatan, dan reporting berarti pelaporan. Pimpinan bertanggung jawab tentang perkembangan dan maju mundurnya usaha yang dipimpinnya, kepada atasan dan kepada semua pihak yang berkepentingan_dengan usaha itu. Segala sesuatu harus dilaporkan secara teratur. Untuk keperluan ini pemimpin harus menerima laporan pula dari semua bagian/petugas yang bertan ggung jawab kepadanya. . Dengan demikian "reporting" ini mencakup kegiatan-kegiatan yang luas, yaitu: pencatatan/dokumentasi (recording) dari segala macam kegiatan yang dilakukan dan dari semua hasil yang telah dicapai. Jadi untuk itu diperlukan kegiatan "inspeksi" yang memeriksa dan mengadakan checking tentang semua keadaan dan perkembangannya, dan yang diperlukan juga riset sebagai usaha pengumpul data. Dalam rangka pencatatan dan pelaporan ini pemimpin harus mempunyai pedoman tentang: Apa yang harus dicatat. Bagaimana cara mencatatnya. Bagaimana menyimpan catatan-catatan secara teratur dan sistimatis. Apa yang harus dilaporkan. Kepada siapa harus diberikan laporan. Bagaimana menyusun laporan yang singkat, tetapi lengkap dan jelas. Siapa yang harus menyusun laporan, dan bilamana menyusunnya. Bagaimana menyimpan laporan-laporan itu agar setiap saat dapat dipergunakan sebagai sumber data. Bagaimana menggunakan laporan-laporan itu dalam rangka peningkatan dan pengembangan usaha. Dalam bagian pencatatan dan pelaporan ini sangat banyak diperlukan "clerical workµ, pekerjaan ke -tata-usahaan, dengan cara-cara yang sudah lazim menggunakan berbagai alat pencatat (formulir, daftar, buku, dan sebagainya). Dalam banyak hal sudah dapat diadakan usaha-usaha normalisasi menurut bentuk dan ukuran "standard" dalam alatalat pencatatan ini, untuk keseragaman dan kemudahan pemakaiannya. 7. Budgeting Kegiatan ini meliputi bidang administrasi finansial yang meliputi: perencanaan dan penyusunan anggaran biaya, mencari dan mengusahakan sumber-sumber biaya, untuk semua kegiatan yang telah direncanakan. Pemimpin yang bertanggung jawab tentang keseluruhan usaha yang dipimpinnya itu, dan biasanya menjadi bendaharawan yang komtabel (accountable), perlu mempunyai pengeta huan secukupnya mengenai berbagai segi dalam masalah keuangan. meskipun tidak ahli dalam seluruh bidang akutansi. Ia sedikitnya harus dapat menyusun rencana keuangan untuk kantor/perusahaannya dalam garis besar harus mengetahui keadaan umum ekonomi dan keuangan, mengetahui juga beberapa faktor utama yang dapat mempengaruhi keadaan ekonomi dan keuangan negara kita. Di samping itu perlu juga tahu prinsip -prinsip dan beberapa cara pembukuan dan pertangung-jawaban keuangan. Sebagai petugas dalam instansi/jawatan pemerintah, ia harus tahu pula beberapa peraturan pokok mengenai keuangan dan pertanggungan jawab keuangan pemerintah, dan mengenai saluran-saluran resmi yang harus dilalui dalam menerima, mengawasi dan mempertanggungjawabkan uang negara. Melihat luasnya bidang administrasi dan banyaknya unsur-unsur kegiatan di dalamnya, jelaslah kiranya bahwa administrasi bukan hak dan kewajiban perorangan. Administrasi adalah suatu proses, terdiri dari serangkaian kegiatan-kegiatan, yang memerlukan bermacam keahlian, pengalaman dan pengetahuan, dan karena itu merupakan hasil perpaduan antara bermacam potensi yang harus didayagunakan. Masalah kepemimpinan dalam administrasi merupakan masalah tanggung jawab: pengorganisasian tanggungjawab, pengarahan tanggungjawab dan pendelegasian tanggungjawab. Dan semuanya itu merupakan proses yang dinamis. B. BEBERAPA PRINSIP ADMINISTRASI PENDIDIKAN Secara tradisonal ada anggapan bahwa administrasi mencapai tujuannya terutama dengan peraturanperaturan dan instruksi-instruksi. Dalam administrasi demikian, unsur-unsur dan komponen-komponennya merupakan "alat" yang dapat digerakkan dengan berbagai instruksi menurut kehendak pengendalinya. Anggapan yang mekanistis ini melihat semua unsur/bagian/ komponennya sebagai bagian-bagian yang sudah mutlak ditentukan tempatnya dan gunanya, yang sudah ditentukan saluran -saluran hubungannya, dan juga batas-batas prestasinya yang dapat dan harus dihasilkan. Sernua ´bagianµ atau ´onderdilµ harus dapat bekerja secara sinkron mekanis dalam rangka keseluruhannya. Untuk memelihara integrasi dan sinkronisasi ini diperlukan koordinasi yang mengontrol, dan juga yang terkontrol. Dan sebagai alat pengontrol itulah diperlukannya dan berfungsinya peraturan-peraturan dan instruksi-instruksi, yang harus jelas dan tegas. Dalarn beberapa puluh tahun terakhir ini di beberapa negara yang sudah maju sistim pengadministrasiannya, timbul konsepsi baru, yang semakin meluas dan merata, bahwa administrasi adalah suatu proses sosial, yang lebih banyak melihat dan mempertimbangkan segi-segi kemanusiaannya, dan hubungan antar-manusia di dalarn proses administrasi itu. Semua unsur manusia yang menggerakkan proses administrasi, yang menjalankan kegiatan 13 administrasi, merupakan anggota-anggota kelompok yang mempunyai relasi sosial antara sesamanya. Administrasi semacam ini akan lebih mengemukakan segi kooperasi dalam kegiatannya. Unsur-unsur kegiatan yang terdapat dalam administrasi yang bersifat direktif (directive = mengarahkan), atau yang bersifat kooperatif, pada umumnya memang sama: ada planning, organizing, staffmg dan selanjutnya. Tetapi cara rnelaksanakan kegiatan-kegiatan itu, dan titik berat yang diletakkan pada kegiatan-kegiatan itu ada perbedaan antara administrasi yang direktif dan yang kooperatif. Memang dalam tiap macam administrasi diperlukan peraturan, pengarahan dan instruksi untuk memberikan arah dan bimbingan kepada para pelaksananya. Tetapi cara/prosedur pembuatan peraturan -peraturan itu berbeda: ada yang dibuat oleh dan datang dari satu pihak saja, dan ada yang secara kooperatif mengikutsertakan sebanyak mungkin pihak-pihak yang berkepentingan. Dalam administrasi pendidikan sasarannya adalah manusia; pelaksanaannya tidak boleh dan tidak dapat disetarafkan dengan ´onderdilµ mesin. Maka sifat administrasinyapun dalam pendidikan tidak boleh dan tidak dapat bersifat mekanistis. Pelaksanaan administrasi pendidikan harus bersendikan prinsip-prinsip yang sifatnya kooperatif dan demokratis. Beberapa prinsip administrasi pendidikan adalah sebagai berikut: a. Tujuan pendidikan dan perkembangan anak didik harus mendasari semua kegiatan administrasi. Efektif tidaknya suatu keputusan, peraturan atau kegiatan, hendaknya diukur dengan kepentingan pendidikan dan perkembangan anak didik. Kelancaran bekerja, efisiensi tenaga, penghematan biaya, dan sebagainya, jika tidak membawa keuntungan dalam perkembangan anak didik, kurang dapat dipertanggungjawabkan. b. Penggunaan waktu, tenaga, alat secara efektif. Bekerja demi kepentingan pendidikan dan anak didik tidak berarti bahwa kita boleh bekerja dengan cara apa saja. Dengan didasarkan atas tercapainya tujuan pendidikan sebaik -baiknya, administrasi harus berusaha menggunakan waktu, tenaga dan alat se-efektif mungkin. c. Ada koordinasi dalam semua usaha. Setiap anggota hendaknya merupakan bagian dari satu kelompok dan dapat bekerjasama dengan anggota anggota lainnya dalam kelompoknya. la harus dapat mengkoordinasi usahanya dengan usaha keseluruhan kelompoknya. Sifat individualistik, mementingkan pribadi dan ingin mendominasi dan sifat-sifat eksentrik, merupakan penghalang-penghalang bagi tercapainya tujuan bersarna. d. Partisipasi luas dalam penentuan policy dan program. Fihak yang telah diajak dan telah turut serta dalam usaha menentukan haluan dan program kerja, dapat diharapkan akan melaksanakan program itu dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Ajakan berpartisipasi ini harus benar-benar dan sungguh-sungguh; bukan hanya sekedar merupakan sandiwara atau merupakan sandiwara atau merupakan "diplomatic manipulation". Keputusan -keputusan hendaknya benar-benar merupakan hasil musyawarah bersama. Dalam soal partisipasi ini yang menjadi masalah ialah: sampai berapa jauh, dan berapa banyak fihak-fihak dapat dan harus diikutsertakan. Apakah semua fihak yang berkepentingan harus diajak? Apak dalam ah segala macam persoalan mereka harus diajak? Dalam hal ini hendaknya dapatlah kita menerapkan sila ke dari Pancasila kita: "Kerakyatan yang -4 dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan." Perwakilan yang diberi tanggungjawab dan yang bertanggungjawab yang perlu dipartisipasikan. e. Pemindahan kekuasaan sesuai dengan tanggung jawab. Pemindahan wewenang adalah suatu hal yang lazim dalam bentuk organisasi apapun. Tidak mungkin suatu pimpinan dapat melakukan semua tugas-tugas sendiri dan dapat mengadakan pengawasan sendiri terhadap semua pelaksanaannya. Penyerahan tanggung jawab secara hierarkis memang perlu. Yang harus diperhatikan dalam pemindahan kekuasaan dan tanggungjawab ini ialah keadilan, yaitu: agar setiap kewajiban diimbangi dengan hak yang sesuai, dan sebaliknya. Tanggung jawab harus disertai dengan wewenang, dan sebaliknya. f. Menghindarkan overlapping fungsi Dalam program pendidikan yang kooperatif ada kemungkinan suatu fungsi dilakukan oleh lebih dari satu fihak/bagian. Hal ini tidak menguntungkan efisiensi kerja. Maka dari itu diperlukan pembatasan dan perumusan tugas sejelas-jelasnya bagi setiap fihak/unit/bagian. µJob descriptionµ, yaitu perincian dan pembatasan tugas, harus jelas dan tegas: apa yang harus dikerjakan, sampai di mana batas-batasnya dan apa yang di luar wewenangnya. Kalau ada tugas yang mengandung persamaan dan tugas lain, atau harus dilakukan oleh beberapa bagian/fihak bersama-sama, maka perlu ditetapkan batas-batas kegiatan dan tanggung jawab dari setiap bagian itu. 14 Demikianlah beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan administrasi pendidikan yang kooperatif dan demokratis. Prinsip-prinsip tersebut baru merupakan dasar-dasar umum. Untuk dapat digunakan secara efektif dalam praktek administrasi, masih diperlukan: pengalaman, latihan, keterampilan; dan yang tidak kurang pentingnya, ialah faktor sikap, kepribadian dan keyakinan pemimpin sendiri mengenai demokrasi. C. PERENCANAAN DALAM ADMINISTRASI PENDIDlKAN Setiap usaha memerlukan perencanaan. Perencanaan merupakan µa prerequisite to actionµ. Berhasil tidaknya suatu usaha, banyak ditentukan oleh matangnya dan lengkapnya perencanaan. Karena itu, dalam uraian mengenai proses administrasi ini, kita akan memberikan perhatian khusus terhadap perencanaan ini, rneskipun sifat uraiannya masih umum dan berlaku dalam penyusunan rencana di segala bidang. 1. Fungsi dan Prinsip Perencanaan Suatu usaha yang teratur memerlukan perencanaan yang akan menggariskan keteraturan itu: keteraturan dalam tindakan, dalam langkah dan tahapan, dalam kebijaksanaan, dalam waktu, dan sebagainya. Planning adalah suatu keharusan sebelum melaksanakan suatu usaha, merupakan "a pre -requisite to action". a. Fungsi Perencanaan 1) Perencanaan merupakan titik tolak untuk memulai kegiatan; dan akan lebih menjelaskan tujuan yang akan dicapai. Untuk merencanakan sesuatu kita harus mengetahui dengan jelas apa yang hendak kita capai. Dengan kata lain, kita harus dapat merumuskan dan memperinci tujuan-tujuan kita: apa tujuan sementara, apa tujuan yang lebih jauh dan apa tujuan akhirnya. Atau: apa tujuan umum dan apa tujuan khususnya. Dalam rencana kita dapat menentukan apa yang lebih dahulu dan apa yang kemudian akan kita kerjakan. Kita akan mempunyai titik tolak untuk memulai pekerjaan. 2) Planning merupakan pegangan dan arah dalam pelaksanaan. Dengan menentukan langkah -langkah lebih dahulu, kita tahu apa yang akan kita kerjakan tahap demi tahap. Kita tidak akan bertindak oportunistik, menurut keadaan seketika saja, atau menurut kesempatan yang ada saja. 3) Planning meningkatkan kerjasama dan koordiriasi. Penyusunan planning dalam suasana kerja yang demokratis didasarkan atas prinsip-prinsip demokrasi dan kooperasi. Direncanakan pula pengikutsertaan anggota-anggota lain dalam pelaksanaannya. Kemungkinandan cara kerjasama dapat diperkirakan lebih dahulu. 4) Planning mencegah, sedikitnya mengurangi pemborosan, baik berupa pemborosan waktu, tenaga, maupun material. Pada waktu merencanakan, kita sudah harus melihat hubungan antara kegi tan-kegiatan, kebutuhan dan a kemungkinan: bilamana sesuatu akan diperlukan, kegiatan apa yang harus dilakukan, alat dan tenaga apa yang diperlukan dalam kegiatan itu, dan sebagainya. Segala sesuatu sudah dapat diperkirakan, baik mengenai tenaga, alat, tempat, waktu, biaya; dan tidak akan terlau digantungkan pada situasi dan kebutuhan yang mendadak. 5) Planning memudahkan pengawasan. Dengan adanya rencana yang menggariskan dan menentukan langkah -langkah yang harus dikerjakan, petugas pengawasan dapat lebih mengikutinya dan mengawasinya. 6) Planning memungkinkan evaluasi yang teratur. Evaluasi merupakan proses pembandingan antara usaha yang telah dilaksanakan dengan tujuan yang harus dicapai. Dengan adanya rencana yang jelas, yang menggambarkan langkah -langkah yang akan diambil, akan lebih mudah lagi bagi kita untuk mengikuti pelaksanaan usaha sejak permulaan sampai akhir. Setiap saat dapat dibandingkan/diukur apa yang telah dihasilkan dengan apa yang telah direncanakan. Jadi evaluasi dapat diadakan secara kontinu dan teratur. 7) Planning memudahkan penyesuaian dan situasi, lebih memungkinkan untuk mengadakan µadjustingµ (penyesuaian), µreadjustingµ dan µre-planningµ, jika dianggap perlu untuk mengadakan koreksi dan perbaikan, setelah diadakan evaluasi yang teratur. Dalam pendidikan kita berhadapan dengan unsur-unsur manusia, dalam lingkungannya dengan situasinya. Manusia sebagai obyek dan sebagai subyek pendidikan merupakan unsur unsur yang tidak konstan dalam sikap dan tingkah lakunya, akibatnya pengaruh dari lingkungannya. Dan sebaliknya pula, manusia mempengaruhi lingkungannya. Karena itu dalam pendidikan akan kita hadapi lebih banyak masalah, lebih banyak hal-hal yang "unpredictable", yang tidak dapat diperkirakan lebih dulu. Hal ini memerlukan dari kita kesanggupan untuk lebih banyak menggunakan kebijaksanaan dan untuk lebih fleksibel dalam penyesuaian tindakan -tindakan kita pada situasi-situasi baru. Kalau kita tidak dapat memperhitungkan/memperkirakan kemungkinan-kemungkinan yang akan timbul, dan tidak mempunyai rencana sebagai pegangan, kita akan mudah menjadi pelaksanana yang µopportunisticµ, yang hanya mengikuti keadaan yang timbul seketika, yang hanya mencari-cari kesempatan. 15 Rencana dalam pendidikan memang sukar ditentukan secara tegas dan ketat. Planning dalam pendidikan merupakan proses yang kontinu, mengikuti perkembangan dan merupakan perkembangan, dengan selalu disesuaikan pada situasi dan keadaan yang timbul. b. Prinsip-prinsip perencanaan Perencanaan yang mempunyai peranan seperti digambarkan di atas harus memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu; harus didasarkan pada prinsip-prinsip tertentu. Prinsip-prinsipnya adalah sebagai berikut: 1) Planning harus rnerupakan proses yang kooperatif. Suatu program kegiatan di sekolah hendaknya merupakan hasil pemikiran bersama dari Kepala Sekolah dan seluruh stafnya; bahkan dalam beberapa hal juga dengan murid dan orang tua murid. Mengenai policy dasar dan kebijaksanaan umum yang menyangkut keseluruhan program sekolah seeara umum, hendaknya semua fihak diikutsertakan: wakil orangtua murid, wakil murid, wakil kelompok/organisasi masyarakat. Tetapi mengenai hal-hal teknis edukatif, biasanya merupakan masalah bagi golongan profesional saja, yaitu bagi Kepala Sekolah beserta staf Guru. Tetapi data dan informas i masih diperlukan dari semua fihak. 2) Planning harus didasarkan atas kebutuhan dan fakta yang riil dan obyektif. Rencana tidak boleh merupakan µcita-citaµ, atau µimpian indah" belaka. Rencana harus dapat dilaksanakan dan merupakan titik tolak untuk memulai suatu usaha secara konkrit. Rencana harus µfeasableµ, harus mengandung kemungkinan -kemungkinan untuk dilaksanakan. Karena itu kita mengenal istilah µfeasibility study", artinya: penelitian, penjajagan tentang mungkin tidaknya sesuatu gagasan dilaksanakan. Kalau data yang dikumpulkan, setelah dianalisa dan diolah, memberikan gambaran adanya kemungkinan keberhasilan, barulah rencana disusun selengkap -lengkapnya. 3) Planning harus fleksibel. Waktu menyusun rencana harus difikirkan sebanyak -banyaknya kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi; harus dapat kita perkirakan perubahan-perubahan yang mungkin harus dihadapi. Yang kita pilih adalah kemungkinan yang paling dapat diterima, tetapi dengan tidak menghilangkan begitu saja kemungkinan-kemungkinan yang lainnya. Jika keadaan berubah dan memaksa kita untuk menyesuaikan rencana pada tuntutan-tuntutan baru, maka tidak usahlah kita merombak seluruh rencana itu. Di antara kemungkinan-kemungkinan yang dulu telah kita fikirkan, mungkin ada yang sekarang dapat digunakan untuk menyesuaikan rencana itu pada keadaan baru. µAdjustingµ dan µre -adjustingµ harus selalu dapat diadakan. 4) Planning harus mengandung unsur-unsur evaluasi dalam pelaksanaannya. Planning harus dapat memberikan kesempatan kepada para pelaksana dan p engawasan, agar mereka setiap saat dapat mengatur hasil dan cara bekerja, dengan berpedoman pada rencana dan tujuan yang harus dicapai. 5) Planning harus mempunyai tujuan jelas dan terperinci. Prinsip ini sebenarnya merupakan prinsip pertama dan prinsip pokok. Kita tidak dapat membuat suatu rcncana, jika belum ada tujuan yang jelas. Makin jelas apa sebenamya yang ingin kita capai, dan makin terperinci perumusannya, makin mudah untuk menyusun rencana yang konkrit dan terperinci. 6) Planning memerlukan kepemimpinan/leadership. Kita harus berusaha agar para peserta yang menyusun rencana dapat lebih banyak mengemukakan kepentingan bersama dari pada kepentingan sendiri. Untuk memperoleh sikap ini, harus ada yang menggerakkan mereka ke arah kerjasama itu. Yang menggerakkan ini dapat berupa kesadaran sendiri yang timbul dari dalam diri masing-masing, dapat pula merupakan kepercayaan dan pengakuan terhadap kelebihan dan kesanggupan sesama peserta, sehingga rencana tidak macet pada waktu melaksanakannya. Rencana akan dianggap sebagai yang harus ditaati bersama, sebagai hasil kerja bersama. Di sinilah diperlukan suatu kesanggupan: kekuatan, yang dapat mempengaruhi mereka, yang dapat memperkecil/meniadakan perbedaan-perbedaan, dan dapat memperkuat persatuan. Di sinilah diperlukan leadership. 2. Prosedur perencanaan. Planning yang baik bukan saja memerIukan prinsip-prinsip yang harus diperhatikan, tetapi dalam cara-cara dan langkah-langkah penyusunannya pun perlu diperhatikan sistematik tertentu. Ada dua tahapan: tahapan persiapan, dan tahapan penyusunan. a. Tahapan persiapan. 1) Pengumpulan data. Planning harus berdasarkan fakta dan kenyataan yang rill dan obyektif, yang akan dijadikan titik tolak permula¬an. Karena itu perlu dikumpulkan keterangan-keterangan selengkap mungkin tentang: apa yang 16 sekarang sedang dikerjakan, bagaimana sekarang mengeIjakannya, siapa yang mengerjakan, kesulitan kesulitan apa yang sedang dihadapi, kekurangan-kekurangan apa yang terdapat di bidang material, personil, dan sebagainya. 2) Analisa data. Semua data itu dianalisa, dibanding-bandingkan, untuk dapat mengetahui sebab -sebab dari kesulitankesulitan dan hambatan-hambatan yang sekarang sedang dirasakan ada. Dalam analisa ini kita perlu memperhatikan dan memperhitungkan pengalaman-pengalaman yang sudah ada. Semua kemungkinankemungkinan tentang sebab-sebab kesulitan dan semua kemungkinan tentang cara -cara mengatasinya dikumpulkan dan dijadikan bahan pemikiran/perhitungan. Taraf persiapan ini merupakan semacam riset untuk mengevaluasi keadaan. Karena itu pemimpin perlu juga mengetahui prinsip-prinsip tentang mengadakan riset, cara-cara pengumpulan data dan pengolahannya. 3) Mengadakan µfore-castingµ. (To fore-cast = meramalkan, memperkirakan apa yang akan terjadi). Setelah terkumpul hasil analisa data sebanyak-banyaknya, maka diadakanlah seleksi, kemungkinan manakah yang kiranya paling sesuai dengan keadaan yang akan datang. Dengan menggunakan pengalaman -pengalaman bagaimana situasi telah berkembang dan berubah, dan faktor-faktor apa yang telah mempengaruhi perkembangan dan perubahan itu, maka kita berusaha µuntuk melihat ke depanµ. Kita membuat perkiraan, seakan-akan "ramalan", faktor-faktor apa kiranya yang akan dominan nanti, dan bagaimana kiranya situasi akan berkembang. Inilah yang kita namakan µfore-castingµ. Rencana merupakan pedoman yang akan dilaksanakan nanti. Kita harus dapat memperkirakan, bagaimana kiranya situasi nanti, pada waktu rencana akan dilaksanakan. Karena itulah µmelihat ke depanµ ini penting dalam penyusunan suatu rencana. Setelah matang tahapan persiapan ini, barulah kita meningkat ke: b. Tahapan penyusunan. Tahapan ini terdiri dari: 1) Perumusan tujuan. Syarat pertama: tujuan yang jelas dan tegas. Mula-mula dirumuskan dulu tujuan secara umum, yang dapat menggambarkan secara keseluruhan tujuan akhir yang kita ingin capai. Kemudian dirumuskan tujuan-tujuan khusus secara terperinci, dan disusun secara hirarkis, yang akan memudahkan pula usaha kita untuk mencapainya satu demi satu. 2) Penentuan cara/metoda kerja. Dengan tujuan-tujuan yang jelas dan terperinci itu, kita tentukan metoda-metoda yang kiranya paling baik untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Di antara metoda-metoda yang harus dipilih diambil yang paling sesuai dengan keadaan dan yang dapat memenuhi syarat syarat umpamanya: syarat waktu, syarat tenaga personil yang tersedia, dan sebagainya. Kalau sudah tersusun cara/metoda yang akan kita pakai, perlu kita telaah syarat syarat apa yang harus dipenuhi agar metoda-metoda itu benar-benar dapat dijalankan, umpamanya: tenaga yang bagaimana yang diperlukan, alat-alat apa yang akan digunakan, dan sebagainya. Segi segi personil, material, finansial, situasional, harus ditelaah, agar dapat memenuhi persyaratan metoda itu. Penentuan syarat-syarat dan pemilihan metoda sukar dipisah-pisahkan, dan akan saling mempengaruhi. 3) Menyusun dan menuangkan rencana dalam satu bentuk/wadah Kalau sudah lengkap terkumpul bahan-bahan mengenai: tujuan yang akan dicapai, alasan-alasannya mengapa harus tercapai tujuan itu, teknik/metoda pelaksanaannya maka disusunlah kesemuanya itu di , dalam bentuk yang sistematis; biasanya dengan memperhatikan w-w-h-w-w (what, why, how, who, when). (1) Apa yang hams dicapai. (2) Mengapa harus dicapai tujuan itu. (3) Bagaimana cara pencapaiannya. (4) Siapa yang akan mengerjakannya. (5) Bilamana harus dikerjakan, tahap demi tahap. Sering juga ditambahkan tempat dimana kegiatan akan dilaksanakan. 3. Kemampuan yang diperlukan dalam perencanaan pendidikan. Kecuali menguasai prinsip-prinsip planning dan sistimatik penyusunannya, seorang administrator pendidikan yang akan menyusun rencana perlu juga memperhatikan hal-hal di bawah ini: a. Mempunyai gambaran/pengertian yang jelas tentang tujuan-tujuan pendidikan. Mengenai tujuan pendidikan di sekolah kita harus memperhatikan perkembangan dan perubahan anggapan, teori mengenai pendidikan pada umumnya dan mengenai belajar-mengajar khususnya. 17 Dulu pendidikan di sekolah ditekankan pada µmenyampaikan sejumlah pengetahuan dan ketrampilan kepada muridµ, sedangkan sekarang anggapan kita sudah mengarah kepada µpembentukan dan pengembangan anak didik sebagai individu dan sebagai anggota masyarakat, dalam segi: fisik, intelektual, emosional, estetis, moral.µ Hasil pendidikan di sekolah tidak dinilai hanya dengan jumlah lulusan dan nilai angka tinggi saja. Dengan demikian kita harus dapat memberikan arti yang lebih luas kepada µpengalaman pendidikan di sekolahµ dan kepada µteaching-learning situationµ. Pengertian tentang hakekat tujuan pendidikan ini diperlukan untuk membuat rencana. b. Mempunyai pengetahuan tentang masyarakat dan perkembangannya, dalam berbagai segiseginya. Diperlukan pengertian tentang peranan sekolah dalam masyarakat, terutama dilihat dari segi µneedsµ dan µdemandsµ. Apakah yang harus dihasilkan oleh sekolah untuk masyarakat? Apakah yang diperlukan oleh masyarakat dalam pembangunan/perkembangannya? Apakah yang mempengaruhi kemajuan dan kemunduran sekolah? Bagaimana hubungan perkembangan penduduk, kemajuan ekonomi, taraf hidup dan sebagainya, dengan perkembangan sekolah? Semakin tinggi tingkatan perencanaan, makin luas dan mendalam pengetahuan yang diperlukan tentang keadaan dan perkembangan masyarakat. Perencanaan pendidikan untuk suatu sekolah memerlukan pengetahuan/pengertian tentang masyarakat di mana sekolah itu berada atau yang dilayani oleh sekolah itu. c. Mempunyai pengetahuan tentang sumber-sumber potensi yang ada. Administrator perlu mengetahui lingkungan tempat bekerjanya: apa yang dapat diberikan oleh lingkungannya, bahan apa, tenaga yang bagaimana, dan sebaga inya yang kiranya dapat dijadikan masukan (input) dalam usaha yang akan direncanakan itu. Dengan sumber potensi dimaksudkan berbagai jenis potensi: potensi manusia, potensi fisik/material, potensi kultural. d. Mempunyai pengetahuan tentang murid dan guru, psikologik dan sosial. Untuk merencanakan tindakan-tindakan apa yang akan diambil, perlu dipertimbangkan benar -benar akibat yang akan ditimbulkan terhadap murid dan terhadap guru, baik secara psikologis maupun dari segi sosial. Suatu tindakan baik langsung maupun tidak langsung terhadap seseorang, menimbulkan reaksi orang itu, baik sebagai individu maupun sebagai mahluk sosial. Kemungkinan pengaruh terhadap orang-orang itu dan kemungkinan reaksi mereka, perlu diperhatikan dalam menyusun suatu rencana. e. Mempunyai pengetahuan cukup tentang proses belajar-mengajar, tentang didaktik dan metodik. Meskipun µteaching-learning situationµ mempunyai arti yang lebih luas daripada µbelajar -mengajarµ saja, tetapi segala sesuatu berpangkal pada kegiatan pokok: belajar. Perencana pendidikan harus mempunyai cukup pandangan tentang proses belajar-mengajar dengan teori-teorinya yang masih berlaku, dengan metodametoda mengajar yang sesuai dengan teori-teori itu. f. Dapat memperhitungkan faktor waktu. Memperhitungkan faktor waktu termasuk salah satu segi dari fore-casting, melihat ke depan dan memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Hal ini perlu sekali untuk menentukan jadwal kerja, batas waktu, time limit dan sebagainya. Suatu tindakan harus dapat diperkirakan berapa lamanya akan membawa hasil yang diharapkan, faktor faktor apa yang dapat memperlambat atau mempercepat tercapainya hasil itu, dan berapa tahapan yang diperlukan dalam rangka efisiensi kerja. Sebagai pelengkap bagian perencanaan ini, baiklah kita perhatikan juga beberapa hal yang dapat menghambat penyusunan dan pelaksanaan rencana. Hal hal yang dapat menghambat/menyukarkan prosedur perencanaan, a) perencana kurang memiliki pengetahuan dan pengertian mengenai hal-hal yang diuraikan di atas; b) kurang adanya kemampuan untuk µmelihat ke depanµ; c) pengumpulan data yang kurang lengkap, kurang rill dan obyektif; d) kurang adanya µmoral supportµ dari masyarakat/lingkungannya. Yang dikemukakan di atas ini mengenai perencanaan, eskipun sifatnya sangat umum, mudah-mudahan ada jugalah manfaatnya dalam usaha kita untuk menghasilkan suatu rencana yang agak akseptabel. Sebelum kita mengakhiri bagian mengenai planning ini, di bawah akan sedikit diberi uraian tentang perencanaan untuk suatu masa yang agak jauh ke muka: Rencana Jangka Panjang (Long Range Planning). 4. Rencana Jangka Panjang dan Rencana Jangka Pendek. Tujuan sesuatu usaha tidak sama mudah-sukarnya untuk dicapai. Ada yang mudah dicapai dalam waktu singkat tanpa memerlukan banyak tenaga dan upaya; ada pula yang memerlukan jangka waktu agak panjang. Dalam tujuan pun ada perbedaan: ada tujuan sementara, ada tujuan yang merupakan bagian dari tujuan keseluruhan, dan ada pula tujuan yang benar-benar ultimate/akhir. 18 Berdasarkan tujuan yang akan dicapai itu maka usahanya pun akan berbeda sifatnya: ada usaha jangka panjang yang diperkirakan akan dapat mencapai tujuannya dalam waktu yang agak lama secara bertahap, dan ada pula yang dapat dilaksanakan dan diselesaikan dalam waktu singkat. Maka perencana annya pun disusun menurut jauhdekatnya tujuan itu: ada Rencana Jangka Panjang dan ada Rencana Jangka Pendek. Ada yang mengatakan bahwa perencanaan selalu mengandung risiko. ´Planning means risk takingµ. Dan hal ini memang mengandung kebenaran, karena µfore-castingµ yang diperlukan dalam menyusun rencana hanyalah merupakan perkiraan dari kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi. Dan sesuatu yang diperkirakan, tentu mengandung risiko. Pendidikan adalah usaha seumur hidup. Selama bumi dihuni manusia, tetap akan diperlukan generasi baru, tetapi diperlukan sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Makin maju masyarakatnya, makin meningkat taraf hidupnya, makin maju sains dan teknologinya, maka sekolah-sekolahnyapun akan semakin meluas, semakin kompleks susunannya, dan memerlukan pengadministrasian yang lebih teratur pula. Dan karena lernbaga -lembaga pendidikan itu merupakan µinstitutions for lifeµ, maka perencanaannyapun memerlukan rencana jangka panjang. Suatu rencana, bagaimanapun baik dan lengkapnya, tidak dapat memberikan kepastian yang mutlak, bahwa usaha itu akan berhasil seperti yang telah direncanakan. Lebih panjang jangka waktu dari suatu rencana, makin kecil lagi kepastian yang dapat diharapkan itu. Karena itu perlu diperhatikan lagi hal-hal di bawah ini, terutama dalam hal longrange planning. - planning bukan merupakan ramalan tentang nasib dan kegiatan-kegiatan usaha dalam masa-masa yang akan datang. - planning bukan merupakan ketentuan/kepastian yang akan datang (future decissions), tetapi merupakan kemungkinan-kemungkinan dan nilai-nilai dari ketentuan:-ketentuan sekarang untuk masa yang akan datang. - planning bukan merupakan usaha untuk mengurangi atau rneniadakan risiko, tetapi untuk dapat mernilih dan menghadapi risiko secara tepat. Planning untuk rnasa depan rnemerlukan data dari masa yang lampau. Makin banyak dan terpercaya data dari masa yang lampau, rnakin kuat pula dasar-dasar untuk menyusun proyeksi ke depan. Karena itu long -range planning memerlukan data statistik yang lengkap dan terpercaya. Di negara-negara yang sudah maju long-range planning merupakan sebab dan akibat dari timbulnya kekuatan kekuatan yang merubah perusahaan-perusahaan dalam abad ini. Banyak perusahaan-perusahaan yang telah menghasilkan long-range planning, dan banyak pula yang justru timbulnya karena adanya long-range planning. Apakah perencanaan pendidikan di negeri kita sudah merupakan perencanaan jangka panjang yang sudah dapat dipercaya, tergantung dari tujuan yang akan dicapai dan dari data yang digunakan dalam perencanaannya. Pembangunan lima tahun kita di bidang pendidikan dapat dianggap rencana jangka pendek, kalau dilihat dari jauhnya tujuan pendidikan yang harus kita capai. D. ORGANISASI DALAM ADMINISTRASI PENDIDIKAN. Setelah perencanaan, maka organisasi -- yaitu cara mengatur/membagi tugas dan tanggungjawab -merupakan tahapan penting dalam proses administrasi. Kelancaran kegiatan, dan dengan demikian keberhasilan usaha, banyak tergantung dari organisasi. Di bawah ini kita akan melihat beberapa segi organisasi, sebagai salah satu usaha untuk lebih memahami fungsi dan proses administrasi. Sebagai petugas/karyawan pendidikan, kita merupakan satu bagian, satu unsur, satu onderdil (organ) dari satu tata susun, dari satu organisasi, ialah organisasi pendidikan. Sebagai bagian dari satu organisasi, kita harus dapat menempatkan diri dan mengetahui/menyadari tempat dan fungsi kita masing masing dalam keseluruhan tata susun itu. Jika kita tahu di mana tempat kita dalam keseluruhan tata susun itu, jika kita tahu bagaimana organisasi itu berjalannya dan apa dasar-dasar pengorganisasiannya, maka kita dapat lebih sadar akan tugas dan kewajiban kita. Kita dapat lebih aktif melaksanakan tugas-tugas kita, dan dengan demikian turut melancarkan jalannya organisasi dan roda administrasi kita. Untuk itu kita perIu sekedar. pengetahuan tentang organisasi: fungsi dan tujuannya, prinsip-prinsipnya dan bentuk serta mekanisme kerjanya. 1. Fungsi, Tujuan dan Prinsip Organisasi. Definisi dari J. William Schulze memberikan gambaran tentang arti organisasi, dan hubungannya dengan administrasi, manajemen dan dengan direksi. Menurut Schulze itu: - organisasi terdiri dari sejumlah unsur-unsur: manusia, alat, perkakas, perlengkapan, dan sebagainya yang merupakan satu gabungan; 19 - gabungan itu merupakan satu hubungan dan ketergantungan yang sistimatis dan efektif; - semuanya ditujukan kepada usaha pencapaian satu tujuan yang telah ditentukan. Di dalam organisasi terdapat: keteraturan, penggunaan/pendayagunaan potensi dari semua unsur-unsur secara efektif, koordinasi dari semua kegiatan dan usaha, sehingga tertuju kepada tujuan bersama yang telah ditentukan itu. Jika dalam pelaksanaan usaha dan kegiatan terdapat kesimpang -siuran, atau perbedaaan arah, akan timbul desorganisasi. Jadi organisasi merupakan alat dalam administrasi untuk mencapai tujuan administrasi. Organisasi sebagai alat dalam organisasi harus dapat mengkoordinasi, mengatur dan mengarahkan semua potensi yang dapat diberikan oleh setiap unsur di dalamnya, agar tujuan dapat tercapai sebaik-baiknya. Beberapa prinsip dalam organisasi: Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan jika kita menyusun organisasi, supaya ada keteraturan dalam fungsi organisasi sebagai alat penyusun dan penyalur potensi, ialah antara lain: a. Tujuan organisasi harus dirumuskan secara jelas dan konkrit, baik tujuan akhir maupun tujuan sementara, tujuan umum atau tujuan khusus. b. Dalam organisasi harus jelas pembagian tugas dan tanggung jawab: - tugas dan tanggungjawab setiap anggota, dari pimpinan sampai kepada pelaksana terbawah, harus jelas luas dan batas-batasnya. - fungsi-fungsi dan kegiatan dikelompokkan secara sistimatis dan teratur. - luas dan jenis pekerjaan yang diserahkan kepada anggota harus disesuaikan dengan kem ampuan, taraf/kedudukan dan tanggungjawab anggota tersebut. - pembagian tugas dan tanggungjawab harus berdasarkan pedoman tertentu. c. Harus ada ´delegation of authorityµ, suatu pemindahan tanggungjawab dari atas ke bawah, disertai hak dan kewajibannya. d. Ada sistim pengawasan yang bertingkat (hirarkis) dengan memperhitungkan luasnya daya pengawasan (span of control). e. Ada kesatuan perintah dan tanggungjawab (unity of command). Perintah datangnya dari satu arah dan tanggungjawab diberikan kepada satu pihak. f. Organisasi harus fleksibel. Organisasi adalah alat yang membantu tercapainya tujuan administrasi. Kalau situasi berubah, pembagian tugas dan tanggungjawabpun dapat berubah pula; dan organisasi tidak dapat kita pertahankan secara ketat. 2. Beberapa bentuk organisasi. Ada beberapa macam pola/bentuk organisasi yang disesuaikan pada tujuan, kebijaksanaan kerja dan juga pada situasi. Biasanya dapat kita bedakan pada pokoknya dua macam: organisasi otoriter dan organisasi demokratis, jika dilihat dari segi pengambilan keputusan dan pertanggungan jawaban. a. Organisasi otokratis: - Kekuasaan terpusat pada pimpinan yang telah ditunjuk. - Kekuasaan dan tanggungjawab dapat dipindahkan secara hirarkis pada petugas bawahan. - Garis dan saluran yang dilalui pemindahan kekuasaan ini ditentukan dengan tegas dan tajam. - Kewajiban dan kegiatan-kegiatan ditugaskan melalui garis-garis kekuasaan. - Pelaksanaan diperiksa oleh atasan langsung, menurut saluran. b. Organisasi demokratis: - Sumber kekuasaan adalah situasi dan kebutuhan, bukan semata-mata pimpinan yang sudah diserahi kekuasaan formal. - Kekuasaan resmi dan kekuasaan pribadi diganti dengan tanggungjawab kepemimpinan pendidikan. - Semua petugas dari bawah sampai ke atas turut serta dalam memikul tanggungjawab dan kepemimpinan. - Pelaksanaan kepemimpinan menjamin pengikutsertaan semua pihak yang berkepentingan, sejak perencanaannya sampai kepada penilaiannya. Pembedaan organisasi dalam bentuk otoriter dan demokratis yang ciri-cirinya diuraikan di atas, ialah jika dilihat dari segi kegiatannya, atau dari cara berfungsinya unsur-unsur organisasi. Jika kita lihat organisasi dari segi lalu lintas kekuasaan dan tanggungjawab, serta dari hubungan kerja antar bagiannya, dapat kita bedakan: a. Organisasi bentuk lurus (line-organization). b. Organisasi bentuk garis-dan-staf (line and staff organization). c. Organisasi fungsional (functional organization). Di bawah ini akan kita berikan penjelasan sekedarnya: 20 a. Dalam µline-organizationµ. Garis komando terbentang lurus dari atas/pimpinan sampai kepada pelaksana di bawah. Garis pertanggungan jawab naik secara ketat hirarkis dari bawah, melalui unsur-unsur di tengah, sampai ke atas. Jika digambarkan secara skematis, seperti di bawah ini: ³³³ garis komando (ke bawah) dan tanggungjawab (ke atas). Komando diberikan oleh pirnpinan A kepada petugas-petugas menengah 1, 2, dan 3 yang berada di bawahnya; dan oleh petugas 1 diteruskan kepada pelaksana a, b dan c; oleh petugas 2 diteruskan kepada d dan e; dan seterusnya. Pertanggungan jawab diberikan oleh pelaksana a, b dan c kepada petugas menengah 1; dan oleh petugas -petugas 1, 2 dan 3 kepada pimpinan A. Dalam bentuk-bentuk ini terdapat pemindahan kewenangan, sehingga A tidak lagi langsung berhubungan dengan dan mengontrol a, b, c dan seterusnya. Dilihat dari segi pembagian tugas dan tanggungjawab, bentuk ini mempunyai kebaikan-kebaikannya. Pimpinan A tidak usah melibatkan diri dalam soal-soal kecil mendetail, dan dapat mencurahkan perhatiannya kepada masalah-masalah kebijaksanaan pokok dan pengawasan umum. Tetapi tentu ada juga kekurangan-kekurangannya, umpamanya antara lain kemungkinan komando/instruksi dari atas sampainya ke bawah tidak µasliµ lagi. b. Organisasi garis-staf Bentuk organisasi ini dapat saja umpamanya mempunyai jumlah unsur-unsur yang sama dengan organisasi seperti di atas, yaitu A sebagai pimpinan, 1, 2 dan 3 sebagai petugas menengah, dan a s/d h sebagai pelaksana di bawah. Tetapi saluran/lalu lintas kekuasaan dan tanggungjawab berbeda. Untuk menghindarkan beberapa kekurangan yang terdapat pada bentuk garis/lurus, yaitu untuk memberikan kesempatan kepada pimpinan A di atas agar ia dapat langsung memberikan komando dan minta pertanggungan jawab dari pelaksana bawah a, b, dan seterusnya, maka garis komando tidak melalui petugas rnenengah 1, 2 dan 3, melainkan langsung dari A ke bawah, ke a s/d h. Petugas menengah 1, 2 dan 3 masih tetap diperlukan untuk membantu pimpinan A, tetapi tidak lagi berhubungan langsung dengan pelaksana di bawah sebagai pemberi komando. Kala upun ada hubungan, maka hubungan itu hanya bersifat koordinatif dan konsultatif saja. Bentuk ini disebut µorganisasi garis-stafµ (Line and staff organization). Petugas 1, 2, dan 3 merupakan staf dari pimpinan A; tetapi yang mengambil. keputusan, memberikan komando ke bawah dan meminta pertanggungan jawab langsung dari bawah, adalah pirnpinan A. Jika kita gambarkan secara skematis, akan menjadi organigram seperti di bawah ini: ³³³ garis komando dan tanggung jawab --------- garis koordinasi dan konsultasi. c. Organisasi Fungsional. Dalam organisasi bentuk ini, pimpinan A mendelegasikan wewenangnya kepada petugas menengah 1, 2 dan 3, masing-masing dengan fungsinya sendiri-sendiri. Tetapi petugas-petugas pelaksana di bawah a, b, c, dan seterusnya s/d h, tidak dikelompokkan ke dalam kelompok-kelompok yang bertanggungjawab kepada salah seorang pet gas u menengah 1, atau 2 atau 3; tetapi semua petugas pelaksana di bawah bersama-sama bertanggungjawab kepada semua petugas-petugas menengah. Jadi tiap petugas pelaksana di bawah, dapat menerima komando dari masingmasing petugas menengah 1, atau 2 atau 3; dan bertanggungjawab kepada semuanya: kepada 1, dan kepada 2 dan kepada 3, dalam bidang masing-masing. Perhatikan organigram di bawah ini: ³³³ garis komando dan tanggung jawab --------- garis koordinasi. Organisasi fungsional didasarkan pada keahlian masing-masing petugas atau bagian yang bersama-sama memimpin pelaksana-pelaksana di bawah. Dengan demikian setiap pelaksana dapat menerima komando dari lebih dari satu pihak, dan bertanggungjawab pula kepada lebih dari satu pihak, menurut fungsinya masing-masing. Dengan kerjasama yang baik antara pihak-pihak yang memberi komando itu, dan dengan pengertian bersama dalam meminta tanggungjawab, dapatlah semua pihak melaksanakan masing-masing tugasnya tanpa mencampuri tanggungjawab pihak lain. Koordinasi dan kooperasi yang baik sangat diperlukan dalam bentuk fungsional ini. 3. Sentralisasi, de-sentralisasi, de-konsentrasi. Dilihat dari luasnya pemindahan hak/kekuasaan dan tanggungjawab dapat kita bedakan: a. organisasi dengan struktur sentralisasi; b. organisasi dengan struktur de-sentralisasi; 21 c. organisasi dengan struktur de-konsentrasi. Dalam bentuk sentralisasi semua hak dan kewajiban, policy dan kebijaksanaan, pedoman pelaksanaannya, ditentukan di pusat, oleh pimpinan pusat. Bagian-bagian dan petugas-petugas bawahan merupakan pelaksana saja, dan yang di tengah meneruskan komando saja; pengawasan dilakukan bertingkat secara hirarkis. . Tanggungjawab sepenuhnya berada pada pimpinan pusat. Petugas-petugas di lapangan bertindak untuk dan atas nama pimpinan pusat. Dengan struktur de-sentralisasi hak dan kekuasaan dipindahkan/didelegasikan kepada petugas -petugas bawahan: mengenai suatu bidang tertentu (sektoral), atau mengenai semua bidang-bidang usaha di dalam suatu daerah tertentu (secara integral). Petugas pusat hanya menentukan policy dasar, mengadakan koordinasi, dan memberikan bimbingan pelaksanaan jika diperlukan. Segala sesuatu dalam bidang yang sudah didelegasikan itu dilaksanakan oleh pimpinan daerah atau oleh sub-unit/bagian masing-masing: mulai perencanaan, pelaksanaan, pengawasan sampai ke penilaiannya. Dalam hal ini, pedoman pokok dan koordinasi dari pusat diperlukan untuk menjaga integritas. Jika yang didelegasikan bukan bidang-bidang tertentu, tetapi semua bidang-bidang usaha secara keseluruhan, tetapi hanya yang menyangkut daerah atau sub-unit tertentu, kita katakan juga sebagai suatu bentuk de-konsentrasi. Sentralisasi dan de-sentralisasi mempunyai kebaikan-kebaikan dan kelemahan-kelemahannya; dilihat dari segi: keseragaman cara bekerja, mutu, penggunaan tenaga ahli, pembiayaan, kemungkinan pengembangan. Dengan jumlah ahli yang terbatas, cara bekerja dan mutu yang masih terlalu berbeda-beda, jika diadakan de-sentralisasi, dapat menimbulkan akibat yang kurang diharapkan dalam hal pemerataan mutu dan produktivitas. Ada juga yang dinamakan de-sentralisasi terbatas (partial de-centralization), seperti umpamanya pendelegasian administrasi Pendidikan Dasar dari pusat ke daerah/propinsi. Yang diserahkan oleh pusat (Dep. P & K) kepada daerah (Propinsi/Gubernur) hanyalah mengenai personalia dan sarana saja pengangkatan guru, penyediaan dan pemeliharaan gedung, alat dan fasilitas; sedangkan bidang teknis edukatifnya (kurikul m, pemeliharaan mutu u pelajaran, ujian) tetap diatur oleh Pemerintah Pusat/Departemen P & K. E. EVALUASI DALAM PENDIDIKAN. Evaluasi adalah suatu proses untuk meneliti sampai di mana tujuan suatu usaha telah tercapai. Dan dalam evaluasi pendidikan proses itu untuk menentukan sampai dimana maksud-maksud yang terkandung dalam tujuan pendidikan sudah dapat terlaksana. Suatu proses merupakan rangkaian kegiatan dalam jangka waktu tertentu yang berkaitan dan berhubungan; bukan hanya satu macam kegiatan pada satu ketika saja. Memberikan nilai/angka umpamanya atau memberikan penghargaan, hanya merupakan satu bagian, satu moment dalam rangka proses evaluasi pendidikan. Kalau kita mengadakan evaluasi, yang kita nilai bukan hanya hasilnya atau produknya saja, tetapi ke seluruhan program pendidikan, termasuk cara-cara pelaksanaannya, dan bahkan tujuannyapun turut dinilai. Uraian singkat di bawah ini tidak dikhususkan kepada evaluasi dalam proses administrasi saja, tetapi akan membicarakan evaluasi secara umum, untuk memperoleh gambaran umum tetang apa dan bagaimana evaluasi itu. 1. Fungsi evaluasi. Apa peranan evaluasi? Mengapa evaluasi begitu penting? Di bawah ini kita akan bicarakan beberapa fungsi pokok evaluasi. a. Evaluasi sebagai pengukur kemajuan. Evaluasi merupakan suatu proses penelitian yang mempelajari dan menilai/mengukur sampai di mana suatu tujuan sudah dapat dilaksanakan. Kalau tujuan itu direncanakan untuk dicapai secara bertahap, maka dengan evaluasi yang kontinu kita dapat mengikuti tahapan mana. yang sudah terselesaikan, tahapan mana yang lancar dan mana yang mengalami kesukaran/hambatan dalam pelaksanaannya. Proses dan cara-cara evaluasi ditentukan oleh tujuannya. Tujuan untuk menimbulkan dan mengembangkan suatu sikap tertentu umpamanya, memerlukan proses dan cara evaluasi yang berbeda dari tujuan untuk memiliki pengetahuan dan ketrampilan tertentu. Dengan mengadakan evaluasi secara kontinu, kita dapat memperkirakan apakah tujuan akan dapat tercapai pada waktu yang sudah ditentukan. Jika kiranya tidak akan dapat tercapai, kita cari sebab-sebabnya, dan mencari cara-cara untuk mengatasinya. Mungkin cara bekerja perlu disesuaikan/diubah, dan dengan demikian langkah-langkah selanjutnya perlu ditinjau kembali. b. Evaluasi sebagai alat perencanaan. Hasil evaluasi dapat memberikan rasa puas yang merupakan petunjuk dan dorongan untuk usaha selanjutnya dapat pula menimbulkan kekhawatiran yang merupakan peringatan untuk waspada, dan mungkin untuk mengubah/memperbaiki cara-cara pelaksanaannya. Dalam hal ini diperlukan data-data yang lengkap untuk dianalisa. Dengan hasil analisa ini dicari cara cara/metoda-metoda lain yang lebih sesuai dengan keadaan sebenarnya. 22 Perubahan pelaksanaan dengan menggunakan cara/metoda lain yang semula tidak atau kurang diperhatikan, memerlukan perencanaan baru (re-planning), memerlukan penyesuaian rencana yang telah ada kepada keadaan dan metoda baru. Jadi, evaluasi merupakan sebab diadakannya adjusting dan re -planning. c. Evaluasi sebagai alat perbaikan. Dari uraian a dan b di atas dapat kita ambil kesimpulan bahwa fungsi evaluasi sebenarnya adalah dalam rangka usaha untuk mengadakan perbaikan: perbaikan cara bekerja, perbaikan hasil,dan mungkin juga perbaikan tujuannya. Kita mengadakan evaluasi karena kita ingin meningkatkan usaha kita. Perbaikan tanpa evaluasi tidak mungkin, karena untuk mengadakan suatu perbaikan, kita harus tahu dulu apa yang harus diperbaiki, dan mengapa perIu diperbaiki. Evaluasi yang tidak menghasilkan titik tolak untuk perbaikan adalah hampa, tidak mempunyai arti. 2. Bidang-bidang (scope) evaluasi. Apa yang kita harus nilai? Hasil apa, hasil kerja siapa, dalam bidang apa? Karena evaluasi mengenai keseluruhan program pendidikan, maka bidangnya sangat luas. Untuk memperoleh gambaran yang teratur, kita harus mengadakan pembidangan dalam obyek-obyek yang menjadi sasaran proses evaluasi. a. Evaluasi unsur manusia. 1) Murid sebagai obyek terakhir dalam proses pendidikan dapat dievaluasi mengenai: - hasil pelajaran yang diperolehnya (achievement); - perkembangan sikapnya dan penyesuaiannya pada lingkungan (attitude); - perkembangan segi-segi kepribadiannya. 2) Guru sebagai pelaksana program pendidikan dapat dievaluasi mengenai: - keahliannya dalam bidang profesinya: kemampuan mempergunakan ilmu -ilmu tentang pendidikan dan pengajaran dalam pelaksanaan tugasnya; - sikapnya sebagai anggota kelompok: terhadap anak-didik, terhadap sesama guru dan pimpinan, terhadap tugasnya; - segi-segi kepribadiannya; 3) Kepala Sekolah sebagai administrator dan supervisor, sebagai unsu pembina/pemimpin dapat dinilai r mengenai: - segi-segi kepemimpinannya; - pengetahuan dan kemampuannya di bidang teknis edukatif dan administratif. - sikapnya baik ke dalam, maupun ke luar sekolah; - kepribadiannya (moral, etik sebagai manusia Pancasilais). b. Evaluasi unsur material. Unsur-unsur kebendaan ini merupakan bantuan dan alat dalam pelaksanaan program pendidikan sehingga dapat berjalan lancar. Unsur material ini dapat kita bagi-bagi dalam: 1) Alat pelajaran. 2) Alat dan fasilitas lain: mebiler, alat kantor, angkutan, dan sebagainya. 3) Gedung dan perlengkapannya. Penilaian terhadap unsur material ini dapat kita adakan mengenai: - persyaratannya, baik edukatif, ekonomis, maupun dari segi konstruksi dan sebagainya, - penggunaannya: sampai dimana efektivitasnya dan daya gunanya dalam proses pendidikan. c. Evaluasi keseluruhan situasi pendidikan. Dengan ini dimaksudkan semua unsur-unsur lain kecuali yang sudah disebutkan di atas. Unsur -unsur ini umumnya yang tidak bersifat konkrit lagi, seperti: 1) tujuan pendidikan: apakah sudah tepat sesuai dengan kebutuhan, atau apakah masih perlu peninjauan dan perubahan arah; 2) tata, kerja administratif: apakah sudah sesuai dengan µpenggunaan semua potensi, baik material maupun personil, secara efektif dan efisienµ. 3) teknik-teknik supervisi: apakah sudah tepat/sesuai dengan keadaan dan kebutuhan; 4) hubungan antara unsur-unsur manusia: apakah hubungan antara guru dan murid, antara guru dengan guru, antara Kepala Sekolah dengan guru dan murid, antara sekolah dengan masyarakat, sudah sedemikian sehingga tujuan pendidikan dapat dicapai sebaik-baiknya. d. Evaluasi peraturan-peraturan. Apakah peraturan-peraturan yang ada, baik dari instansi yang lebih tinggi maupun dari sekolah yang bersifat lokal, tidak merupakan hambatan bagi pencapaian tujuan pendidikan. 23 e. Evaluasi sendi-sendi demokrasi. Apakah di dalam keseluruhan situasi pendidikan benar -benar sudah dilaksanakan demokrasi Pancasila; apakah sudah tergambar dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan? 3. Langkah-langkah dalam proses evaluasi. Suatu proses merupakan suatu rangkaian kegiatan-kegiatan yang harus teratur dan berhubungan. Dalam proses evaluasi langkah-langkah itu sebagai berikut: a. Menentukan dan merumuskan tujuan. Harus jelas diketahui apa yang akan dinilai: apakah hasil belajar, apakah sikap, kecakapan, dan sebagainya. Kemudian tujuan itu dirumuskan secara konkrit, supaya dapat diperinci lagi menjadi pokok-pokok, atau butirbutir yang lebih konkrit dan terbatas lagi. Umpamanya kita ingin menilai sampai di mana berhasilnya pelajaran kesehatan di Kl. III, mengenai kebersihan. Apakah anak-anak tahu akan kebersihan, sudah berusaha menjaga kebersihan diri sendiri, sudah tidak bersikap acuh-tak-acuh lagi terhadap tempat yang kotor. Ini semua diusahakan perumusannya secara jelas, kemudian diperinci lagi secara konkrit: data yang mengenai µsudah tahu akan kebersihanµ, ialah µtahu membedakan benda kotor dari yang bersihµ, dan sebagainya. Perincian yang terurai menjadi pokok-pokok/butir-butir ini, merupakan tahapan kedua, yaitu: b. Memperinci tujuan menjadi pokok-pokok yang konkrit dan terbatas. Sikap µsenang terhadap yang bersihµ dan µtidak acuh terhadap yang kotorµ sukar untuk dijadikan unsur penelitian. Karena itu perlu dipecah-pecah menjadi hal-hal yang kongkrit dan terbatas, yang dapat diamati dan diteliti secara jelas dan obyektif. umpamanya: - apakah pakaiannya bersih; - tangan dan kukunya bersih; - rambutnya terurus; - mencuci tangan setelah bekerja; - menyapu lantai yang kotor; - menyatakan celaan terhadap yang kotor; - menyatakan pujian/rasa senang terhadap yang besih; dan sebagainya. Hal-hal yang konkrit di atas ini dapat diamati, didengar, dilihat, diperiksa. Dan semua itu akan merupakan bahan untuk mengambil kesimpulan tentang perubahan/perkembangan anak dalam hal kebersihan. c. Memilih alat/teknik evaluasi yang sesuai dan tepat. Yang dimaksud dengan alat/teknik evaluasi di sini ialah teknik-teknik pengumpulan data, untuk memperoleh data yang akan digunakan sebagai bahan penilaian. Teknik-teknik itu dapat terdiri dari: 1) Observasi: pengamatan gejala-gejala secara keseluruhan. Ada yang menyebut observasi itu sebagai µmengukur tanpa alat pengukurµ. Meskipun dalam riset observasi ini dianggap banyak kelemahan-kelemahannya, tetapi dalam penilaian pendidikan merupakan teknik yang banyak digunakan. 2) Interview: pertanyaan/tanya-jawab secara lisan, untuk memperoleh keterangan-keterangan secara langsung dari yang diselidiki/dinilai. 3) Angket/kuestioner: sebagai pengganti interview lisan berupa pertanyaan-pertanyaan tertulis, jika karena waktu dan biaya tidak dapat diadakan interview langsung. Jawaban -jawaban angket dapat µterbukaµ atau µertutupµ, yaitu bebas menurut si penjawab, atau terarah dengan cara memilih dari altematif-altematif yang diajukan oleh penanya. 4) Test, biasanya untuk menilai achievement. Test biasanya tertulis dan dapat merupakan ´objective testµ atau ´essay type testµ. 5) Catatan dan laporan: segala macam catatan dan laporan (records and reports) mengenai orang-orang yang sedang diselidiki/dinilai dapat dimanfaatkan. Yang dimaksudkan ialah terutama ´personal recordsµ atau ´cumulative recordsµ, ialah kumpulan berbagai catatan pribadi seseorang mengenai segala segi seginya. - keadaan fisik, - keadaan/latar belakang sosial, - latar belakang pendidikan, - keberhasilan dan kegagalan dalam pekerjaan, dan sebagainya. Dari teknik-teknik ini harus dipilih yang sesuai dengan tujuan, sesuai dengan apa yang akan dinilai dan dengan orang yang dinilai. Dalam contoh di atas mengenai penilaian keber¬sihan murid Kl. III SD dengan sendirinya 24 kita tidak dapat jika menggunakan angket. Observasi ditambah dengan catatan¬catatan yang dapat diperoleh, dan dapat ditambah lagi dengan sekedar tanya-jawab, akan memberikan data yang lebih baik untuk penilaian. d. Melaksanakan pengumpulan data. Teknik pengumpulan data yang telah dipilih, dipakai sebaik-baiknya untuk mengumpulkan data yang diperlukan secukupnya. e. Interpretasi dan kesimpulan. Setelah data terkumpul, diadakan seleksi dulu, ialah dipilih data mana yang memenuhi syarat untuk diolah. Data itu harus benar-benar ada hubungannya dengan tujuan, harus obyektif dan dapat dipercaya. Data yang sudah dipilih, kemudian dikelompok-kelompokkan menurut jenis dan sifatnya. Klasifikasi ini perlu untuk mengetahui data mana yang akan memberikan keterangan tentang segi segi tertentu. Kemudian kita mengadakan komparasi, membanding-bandingkan data-data itu, mana yang lebih sesuai dengan norma yang kita telah tentukan. Sebagai tindakan akhir kita mengambil konklusi, kita mengambil kesimpulan keseluruhan, berdasarkan hasil komparasi tadi: apa sifat yang mendominir berdasarkan data itu, apakah kesimpulannya positif ata.u negatif, sesuai atau tidak sesuai dan sebagainya. f. Diagnosa dan follow-up. Data yang telah dibanding-bandingkan, diinterpretasi dan diambil konklusinya itu, harus dapat memberikan gambaran tentang kekurangan-kekurangan yang masih terdapat dan yang perlu diperbaiki. Berdasarkan diagnosa itu, dibuatlah rencana untuk mengadakan perbaikan. Jadi, mengadakan evaluasi tidak hanya sampai kepada konklusi saja. Konklusi itu merupakan suatu pendapat sebagai hasil penilaian; dan masih memerlukan follow-up, kelanjutan. Tanpa follow-up, hanya sampai kepada µtahu bahwa ini begini dan itu begituµ saja, sebenamya tidak memberikan banyak manfaat pada usaha usaha evaluasi. 25 BAB III KOMPONEN, ATURAN, MEKANISME, DAN TATA KERJA KELEMBAGAAN PENDIDIKAN Komponen-komponen administrasi pendidikan secara garis besar dapat digolongkan menjadi : Administrasi personel sekolah Administrasi kurikulum Administrasi prasarana dan sarana pendidikan Administrasi siswa Kerja sama sekolah dan masyarakat. Administrasi Personel Sekolah Manusia merupakan unsur penting dalam menjalankan program sekolah, dalam bagian ini perlu dibahas secara lebih mendalam mengenai personel sekolah. bagaimanapun lengkap dan modernnya fasilitas (gedung, perlengkapan, alat kerja), metode-metode kerja, dan dukungan masyarakat akan tetapi harus di dukung oleh manusia-manusia yang bertugas menjalankan program sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan yang dikemukakan. Personel sekolah ialah semua manusia yang tergabung di dalam kerja sama pada suatu sekolah untuk melaksanakan tugas-tugas dalam mencapai tujuan pendidikan. Mereka ini terdiri dari Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, guru, Kepala Tata usaha, semua karyawan tata usaha, termasuk personel pendukung lainnya. Untuk dapat bekerja secara baik, agar tidak terjadi overlap antar petugas, maka perlu diadakan kegiatan penataan untuk bidang kepegawaian. Untuk membatasi pokok permasalahan ini maka perlulah dikemukakan mengenai definisi administrasi personal sekolah. Administrasi personel sekolah adalah segenap proses penataan personel di sekolah. Menurut UU No.8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian Pasal 2: 1. Pegawai negeri terdiri dari: a. Pegawai Negeri Sipil dan b. Anggota Angkatan Bersenjata Republik Indonesia. 2. Pegawai negeri sipil terdiri dari: a. Pegawai negeri sipil pusat b. Pegawai negeri sipil daerah, dan c. Pegawai negeri sipil lain yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah. Pasal 3 Pegawai negeri adalah unsur aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat yang dengan penuh kesetiaan dan ketaatan kepada Pancasila, UUD 1945. Negara dan pemerintah menyelenggarakan tugas pemerintah dan pembangunan. Proses penerimaan, pengangkatan, dan penempatan pegawai harus didasarkan pada prinsip penerimaan, pengangkatan, dan pengangkatan orang yang tepat. Maka penerimaan pegawai harus didasarkan atas kemampuan dan potensi si calon dalam rangka mengisi jabatan. Menurut UU No. 8/1974 Pasal 15 diatur: Jumlah dan susunan pangkat pegawai negeri sipil yang diperlukan ditetapkan dalam formasi untuk jangka tertentu berdasarkan jenis, sifat dan beban kerja yang harus dilaksanakan. Pasal 16 1. Pengadaan pegawai negeri sipil adalah untuk mengisi formasi. 2. Setiap warga negara yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan, mempunyai kesempatan yang sama untuk melamar menjadi pegawai negeri sipil. 3. Apabila pelamar yang dimaksud dalam Ayat (2) pasal ini diterima, maka ia harus melaluli masa percobaan dan selama masa percobaan itu berstatus sebagai calon pegawai negeri sipil. 4. Calon Pegawai Negeri Sipil diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil setelah melalui masa percobaan sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun dan selama-lamanya 2 (dua) tahun. 26 1. 2. 3. 4. 5. 1. Penjelasan Pasal 16: Ayat (1) Pengadaan Pegawai Negeri Sipil adalah untuk mengisi formasi yang lowong. Lowongannya formasi dalam sesuatu organisasi pada umumnya disebabkan oleh dua hal yaitu adanya Pegawai Negeri Sipil yang keluar karena berhenti, atau adanya perluasan organisasi. Karena pengadaan Pegawai Negeri Sipil adalah untuk mengisi formasi yang lowong maka penerimaan Pegawai Negeri Sipil harus berdasarkan kebutuhan. Penugasan: Pedoman penugasan didasarkan atas perimbangan kejuruan, kecakapan dan kemampuan pegawai yang bersangkutan. Jam kerja berdasarkan Kepres RI No. 58/ 1964 Pegawai Negeri Sipil diwajibkan bekerja selama 37 1/2 jam/ minggu, sedangkan guru SMP dan SMU 24 jam / minggu. Pembinaan Pegawai: Pasal 12 UU No. 18/1974. 1. Pembinaan Pegawai Negeri Sipil diarahkan untuk menjamin penyelenggaraan tugas pemerintah dan pembangunan secara berdaya guna dan berhasil guna. 2. Pembinaan yang dimaksud dalam Ayat (1) pasal ini dilaksanakan berdasarkan sistem karier dan sistem prestasi kerja. Pasal 13 Kebijaksanaan pembinaan Pegawai Negeri Sipil secara menyeluruh berada di tangan presiden. Pasal 14 Untuk lebih meningkatkan pembinaan, kebutuhan dan kekompakan serta dalam rangka usaha menjamin kesetiaan dan ketaatan penuh seluruh pegawai negeri sipil terhadap Pancasila, UUD 1945, Negara dan Pemerintah perlu dipupuk dan dikembangkan jiwa Kepres yang bulat di kalangan Pegawai Negeri Sipil. Di samping itu ada juga sekolah swasta pemerintah daerah, jadi kesimpulannya untuk sekolah swasta itu banyak ragamnya. Pada perguruan tinggi swasta biasanya memiliki status: a. Belum terdaftar. b. Terdaftar. c. Diakui. d. Disamakan. Perlu diingat di sini bahwa pegawai yang ditempatkan di sekolah negeri belum tentu pegawai negeri, untuk itu maka kita perlu memahami istilah-istilah yang digunakan di lingkungan kepegawaian sebagai berikut: Menurut UU No.8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian Bab I: Pengertian, Pasal 1 sebagai berikut: a. Pegawai Negeri adalah mereka yang setelah memenuhi syarat syarat yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, diangkat oleh pejabat yang berwenang dan diserahi tugas dalam sesuatu jabatan negeri atau disertai tugas lainnya yang ditetapkan berdasarkan sesuatu peraturan perundang-undangan dan digaji menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. b. Pejabat yang berwenang adalah pejabat yang mempunyai kewenangan mengangkat dan atau memberhentikan Pegawai Negeri berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. c. Jabatan Negeri adalah jabatan dalam bidang eksekutif yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang undangan termasuk di dalamnya jabatan dalam kesekretariatan lembaga tertinggi/ tinggi negara dan kepaniteraan pengadilan. d. Atasan yang berwenang adalah pejabat yang karena kedudukan atau jabatannya membawahi seorang atau lebih pegawai negeri. e. Pejabat yang berwajib adalah pejabat yang karena jabatan atau tugasnya berwenang me lakukan tindakan hukum berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Syarat-syarat Pegawai Negeri 1. Segi kepribadian. 2. Kesetiaan. 3. Kesehatan badan. 4. Kecerdasan. 5. kemampuan. 6. Ketangkasan. 7. Dan syarat-syarat lain yang khusus diperlukan bagi sesuatu jabatan negeri yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah. 27 Yang bersangkut paut dengan masalah memperoleh dan menggunakan tenaga kerja untuk dan di sekolah dengan efisien, untuk mencapai tujuan sekolah yang telah ditentukan sebelumnya. Segenap proses penataran tersebut meliputi bagaimana memperoleh tenaga kerja yang tepat untuk tugas pekerjaannya dan pemutusan hubungan kerja dengan mereka. 1. Masalah pokok Dari bahasan di atas, dapatlah diperinci pokok masalah penataran terhadap pegawai sekolah sebagai berikut: a. Bagaimana memperoleh tenaga kerja yang tepat untuk tugas pekerjaannya, termasuk mengatur pengangkatannya. (bila perIu). b. Bagaimana menggunakan tenaga kerja yang sudah diperolehnya itu dengan efisien, termasuk merangsang kegairahan kerjanya. c. Bagaimana memelihara pegawai, pemberian gaji, intensif, kesejahteraan. d. Bagaimana mengatur kenaikan gaji dan pangkatnya, dan perpindahan mereka jika perlu terjadi. e. Bagaimana mengembangkan mutu pegawai. f. Bagaimana menilai pegawai. g. Bagaimana menata pemutusan hubungan kerja dengan pegawai. Di Indonesia, sekolah menurut status pemilikannya dibagi menjadi dua bagian yaitu: a. Sekolah Negeri b. Sekolah Swasta (dengan berbagai variasi). Untuk sekolah negeri, pegawai tetapnya adalah pegawai negeri sedangkan untuk sekolah swasta pegawai tetapnya dapat pegawai negeri yang diperbantukan dan juga pegawai yayasan yang memiliki sekolah tersebut. Untuk sekolah swasta mendapat bantuan guru-guru pegawai negeri disebut sekolah subsidi, sedangkan sekolah swasta yang tidak mendapatkan bantuan apa-apa dari pemerintah disebut sekolah swasta yayasan dan sekolah swasta yang mendapat bantuan keuangan dari pemerintah disebut sekolah swasta berbantuan. Dari sudut Administrasi Pendidikan (sekolah), dapat dilihat bahwa komunikasi pada hakikatnya adalah problem Proses Berita Sumber isi Alat Bunyi Gambar Kata-kata dsb. Tujuan Penerimaan hubungan kerja kemanusiaan (human relationship). Keberhasilan dalam hubungan -hubungan kerja kemanusiaan ini akan ditentukan oleh efisiensi dan efektivitas mereka yang berkepentingan dalam: a. Menyampaikan berita kepada orang lain. b. Memahami dengan tepat isi/maksudnya dengan harapan mau menerima. 2. Administrasi Kurikulum Pada jenis dan tingkat sekolah apa pun, yang menjadi tugas utama kepala sekolah ialah menjamin adanya program pengajaran yang baik bagi murid-murid. Inilah tanggung jawab kepala sekolah yang paling penting dan banyak tantangannya, sedangkan stafnya mendapat bagian tanggung jawab dalam membantu usaha pelaksanaan dan pengembangan program pengajaran yang efektif. Agar supaya kepala sekolah mampu memberikan pimp inan yang efektif dalam bidang ini hendaknya ia mengetahui berbagai teori mengenai kurikulum dan menyadari kaitannya dengan kebijaksanaan dan langkah-langkah administratif yang sedang berlaku. Masalah-masalah dalam kurikulum Ada macam-macam teori dan praktek mengenai kurikulum dan pengembangannya. Kebanyakan para pendidik sepakat mengenai tujuan yang harus dicapai. Perbedaan-perbedaan pendapat ini tidak mungkin diuraikan dalam tulisan ini, namun ada tujuan kategori masalah yang hampir mencakup perbedaan-perbedaan tersebut yaitu: 1. Apakah kurikulum itu? 2. Apakah yang harus diajarkan? 3. Apakah yang harus diutamakan dalam kurikulum? 4. Sampai di mana kurikulum dapat berbeda-beda untuk masing-masing sekolah? 5. Bilamana dan oleh siapa kurikulum harus direncanakan? 6. Bagaimana kurikulum hauns memperhatikan perbedaan-perbedaan individual? 7. Manakah yang lebih penting proses atau isi? 28 Marilah kita tinjau secara singkat jawaban-jawaban terhadap setiap masalah di atas. 1. Apakah kurikulum itu? Menurut riwayat perkembangan kurikulum, jawaban-jawaban terhadap pertanyaan di atas secara ringkas dapat dilukiskan sebagai berikut: a. Tempo dulu, kurikulum dianggap sebagai kumpulan bermacam-macam mata pelajaran. Ada beberapa kegiatan dan pengalaman murid-murid di sekolah tidak cocok dengan batasan kurikulum ini. Karena itu yang disebut kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler atau ´extra curiculer activitiesµ berada di luar kurikulum, jadi tidak termasuk di dalamnya. Pengalaman-pengalaman di sekolah seperti bermain di halaman sekolah, jalan, istirahat dan lain-lain sebangsanya tidak termasuk kurikulum, dianggap bukan pengalaman belajar. b. Para pemuka pendidikan dewasa ini menonjolkan kenyataan bahwa belajar pada tiap anak merupakan proses yang berlangsung selama 24 jam tiap hari. Mereka berpendapat pengala man-pengalaman dalam perkumpulan kesenian dan olahraga di sekolah, pengalaman-pengalaman dalam darmawisata dan lain-lain, kesemuanya merupakan situasi-situasi belajar yang kaya akan pendidikan. Karena itu kurikulum meliputi segala pengalaman yang sengaja diberikan sekolah untuk memupuk perkembangan anak-anak dengan jalan menciptakan situasi belajar-mengajar. Menurut pendapat ini kurikulum adalah program belajar untuk mencapai kehidupan yang lebih baik, jadi bukan hanya belajar tentang fakta dan kepandaian s emata-mata. Karena itu sekolah berkewajiban untuk mengarahkan dan membimbing segala aspek perkembangan anak yang berada dalam lingkungannya. Pengalaman-pengalaman inilah yang dimaksud kurikulum. Jadi pada dasarnya ada dua definisi mengenai kurikulum. Di satu pihak, kurikulum dianggap sebagai kumpulan matamata pelajaran, tidak lebih dari itu. Di pihak lain, kurikulum dianggap sebagai segala pengalaman yang diperoleh anak dalam tanggung jawab sekolah. Pada definisi kurikulum yang terakhir terdapat bermacam-macam- tafsiran. Perkataan ´dalam tanggung jawab sekolahµ dapat ditafsirkan terbatas pada jam-jam selama murid berada di sekolah, atau dapat ditafsirkan lebih luas lagi yang dalam menafsirkan yang ekstrim berupa ´sekolah masyarakatµ sehingga orang tidak tahu lagi di mana harus menarik garis batas. Umumnya kepala sekolah dan guru-guru berada di antara dua pendapat ekstrim di atas. Memang anggapan bahwa kurikulum sebagai kumpulan-kumpulan mata-mata pelajaran sampai sekarang masih menguasai sekolah, namun di samping itu guru-guru menyadari tanggung jawab edukatif mereka dalam apa yang disebut pengalaman-pengalaman ekstrakurikuler para siswa di sekolah. Barangkali seyogianya pula kita menganggap kurikulum sebagai pengalaman-pengalaman perkembangan muridmurid yang direncanakan sekolah, jadi bukan hanya sekumpulan mata-mata pelajaran belaka. Kurikulum mencakup segala pengalaman yang direncanakan untuk anak -anak yang langsung berada dalam tanggung jawab sekolah. Pengalaman-pengalaman anak di luar sekolah, bukan bagian dari kurikulum sekolah, walaupun pengalaman-pengalaman tersebut ada pengaruhnya terhadap perkembangan anak. 2. Apakah yang harus diajarkan? Terdapat perbedaan pendapat yang berpusat sekitar isi kurikulum. Banyak pemuka pendidikan mengemukakan pendapat bahwa: 1. Kurikulum harus terdiri dari berbagai mata pelajaran yang urutannya harus disusun secara logis dan terperinci. Ada pula yang berpendapat bahwa. 2. Kurikulum harus mencakup seperangkat masalah-masalah luas tertentu yang bertalian dengan kebudayaan, atau yang berkaitan dengan masalah-masalah kehidupan umum yang selalu muncul. Di samping itu ada yang berpendapat bahwa 3. Program pengajaran harus disusun sekitar masalah-masalah kehidupan anak sehari-hari yang berbeda-beda pada tiap kelompok umur. Pendidikan lainnya mempunyai pendapat: 4. Merupakan modifikasi atau variasi dari pendapat-pendapat di atas. Aspek: masalah lainnya adalah mengenai urutan pengalaman belajar yang harus diberikan. Masih banyak para pendidik yang berpendapat bahwa urutan pelajaran harus dite ntukan menurut jalan pikiran yang terkandung dalam mata pelajaran yaitu: 1. Mulai dari satuan-satuan pelajaran yang paling mudah dan berangsur -angsur menuju kepada isi yang sukar dan rumit. 2. Bahwa urutan ditentukan oleh cara-cara yang paling baik dalam mengajarkan tiap mata pelajaran yang dapat ditemukan dengan jalan melakukan studi ilmiah. 3. Urutan atau susunan mata pelajaran bukan harus ditentukan dalam mata pelajaran melainkan para pelajar atau murid itu sendiri dan urutan atau susunannya harus ditentukan menu kebutuhan-kebutuhan anakrut anak dan para remaja yang menjadi matang dalam kebudayaan. 29 Aspek masalah lainnya ialah mengenai persoalan sampai di mana kurikulum harus mencakup pengalaman pengalaman langsung. Ada mengutamakan: 1) Hampir seluruhnya kepada buku dan keterangan-keterangan yang diberikan saja. 2) Kurikulum harus disusun sekitar bahan-bahan dari buku dan dilengkapi dengan pengalaman -pengalaman yang diperoleh dari darmawisata dan kegiatan-kegiatan sekolah lainnya. 3) Kurikulum pertama-tama harus mencakup masalah-masalah yang berasal dari pengalaman anak-anak dengan jalan menggunakan sebagian besar buku-buku untuk membantu memecahkan masalah-masalah tersebut. 3. Apakah yang harus diutamakan dalam kurikulum? Dalam garis besarnya ada tiga anggapan yang berbeda-beda, yaitu: a) Anggapan pertama yang berpendirian, karena sekolah didirikan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, maka program pengajarannya harus mementingkan keadaan, latar belakang dan kebutuhan-kebutuhan masyarakat. b) Anggapan kedua mempertahankan pendirian, karena usaha pendidikan adalah mendidik individu, maka kurikulum harus disusun berdasarkan keadaan, sifat dan kebutuhan-kebutuhan individu. Seperti kita lihat di atas, sedangkan pertama berorientasi kepada kepentingan masyarakat a sosial, tau sedangkan pendirian yang kedua mementingkan individu atau berorientasi psikologis. Barangkali tidak ada orang yang mau mempertahankan salah satu pendapat dalam bentuk ekstrim. Dalam kenyataan setiap program pengajaran yang berpedoman kepada kepentingan masyarakat, sampai batas-batas tertentu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan individu pula, dan sebaliknya setiap kurikulum yang berorientasikan psikologis dengan sendirinya memperhatikan kepentingan masyarakat pula. Masalah berkisar pada tekanan relatif yang harus diberikan kepada kepentingan -kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan individu dan yang harus diberikan kepada kepentingan-kepentingan masyarakat dalam menciptakan kurikulum yang dapat memenuhi kedua macam dan kepentingan. c) Pendirian ketiga menganggap tidak ada pertentangan prinsipiil antara kedua anggapan di atas. Kita tidak usah berpihak kepada salah satu pendirian, sebab itu benar benar tidak realistis. lndividu hanya dapat mewujudkan dirinya sebagai individu jika ia berada dalam masyarakat tempat ia hidup. Karena itu kurikulum harus berorientasi kepada individu di dalam masyarakat. Dalam kurikulum yang berorientasi seperti kebutuhan dan kepentingan kedua belah pihak akan terpenuhi sebagaimana mestinya. Pendapat terak ini hir memang yang paling cocok atau sejalan dengan filsafat pendidikan psikologi perkembangan dan psikologi belajar. d) Aspek lain dalam masalah di atas ialah persoalan: Apakah kurikulum harus ditentukan oleh kebutuhan kebutuhan dan kepentingan-kepentingan orang dewasa (persiapan untuk menghadapi masa dewasa) atau harus ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan murid-murid sekarang ini? Pihak yang mempertahankan kurikulum harus tersusun semata-mata dari mata pelajaran yang didasarkan kepada kebutuhan dan kepentingan masyarakat, biasanya berpendirian bahwa tugas fungsi pendidikan ialah untuk kehidupan orang dewasa. Karena itu kurikulum harus banyak mengandung pelajaran-pelajaran yang berguna untuk kehidupan anak dimasa yang- akan datang. Pendapat yang menentang pendirian di atas mengemukakan teori bahwa anak harus dianggap sebagai anak dengan hakhaknya, bukan dianggap sebagai orang dewasa dalam bentuk mini. Karena itu kurikulum harus memperhatikan masalah -masalah yang menyangkut anak-anak saja. Pendapat ketiga mengemukakan pendiriannya bahwa pada dasarnya tidak usah ada pertentangan antara kedua pendirian di atas, karena di dalam kurikulum cukup diperhatikan kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan kedua belah pihak, baik anak maupun orang dewasa, untuk memberikan masalah-masalah dan pengalaman-pengalaman belajar yang sekaligus menyangkut kepentingan langsung di dalam kehidupan anak dan mempersiapkan mereka untuk hidup sebagai orang dewasa kelak. Dikemukakan pula bahwa teori lama: ´mempersiapkan anak untuk kehidupan orang dewasaµ berimplikasi masyarakat yang statis di mana kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan orang dewasa kelak dapat diramalkan pada anak-anak yang ada sekarang. Pendapat terakhir dalam memberikan pemecahan masalah-masalah anak yang dihadapi sekarang dan yang menyangkut kepentingan anak di masa depan, ialah meningkatkan penggunaan kecerdasan secara fleksibel, mempersiapkan anak untuk menyesuaikan diri kepada perubahan -perubahan pesat dari keanekaragaman dunia dewasa ini. Pandangan terakhir ini agaknya memberikan landasan yang sehat untuk menyusun kerangka yang fleksibel namun mantap untuk perencanaan kurikulum. 4. Sampai di mana kurikulum dapat berbeda-beda untuk masing-masing sekolah? 30 Persoalan ini sangat erat pertaliannya dengan masalah sebelumnya, yaitu masalah keseragaman dan keanekaragaman. Misalnya apakah dikehendaki jika semua sekolah yang setingkat dan sejenis mempunyai program pengajaran yang ruang lingkup, isi, dan urutannya yang seragam? Jawabannya: dapat bermacam-macam. Banyak yang berpendirian, terutama penganut kurikulum yang terdiri dari mata pelajaran, bahwa ruang lingkup, isi dan urutan mata pelajaran dalam kurikulum harus ditentukan oleh kebutuhan-kebutuhan kurikuler orang dewasa. Adapula yang berpendapat bahwa setiap masyarakat mempunyai cirinya tersendiri yang unik dalam berbagai aspek kebudayaan, dan anak -anak memperlihatkan keanekaragaman perbedaan individual, menurut agar supaya program pengajaran tiap sekolah memperlihatkan ciri-cirinya tersendiri yang unik dan jelas itu. Kedua jawaban di atas tentu saja hanya berbeda dalam memberikan penonjolan, dan bukan dalam bentuk jawaban yang benar-benar esktrim. Pendapat pertama menganggap bahwa adanya beberapa perubahan program pengajaran karena adanya perubahan-perubahan dalam masyarakat dan dalam populasi murid. Sedangkan pendapat kedua tidak terlalu tegas mempertahankan keunikan secara mutlak. Karena itu, pendirian yang cukup mantap tetapi luwes ialah adanya pola kurikulum yang longgar atau leluasa sejalan dengan kebutuhankebutuhan kultural, dan kebutuhan-kebutuhan psikologis yang universal, di mana masing -masing sekolah sampai batas-batas tertentu dapat mengadakan variasi dalam program pengajarannya disesuaikan dengan seperlunya kepada kebutuhan-kebutuhan unik dari murid-murid dan masyarakat tempat mereka hidup. 5. Bilamana dan oleh siapa kurikulum. harus direncanakan? Masalah kelima berkisar sekitar masalah tanggung jawab untuk menentukan: harus bagaimana bentuk kurikulum itu, siapa yang merencanakannya, dan bilamana. Ada yang mengemukakan pendapat bahwa perencanaan kurikulum adalah pekerjaan yang memerlukan keahlian dan karena itu harus dikerjakan oleh para ahli atau ´expertµ dalam bidang perencanaan kurikulum. Menurut pendapat ini kurikulum harus d irencanakan baik-baik sebelumnya, seringkali secara terperinci mengenai situasi belajar, dan semua murid di semua sekolah tingkat tertentu mempunyai kurikulum yang kira-kira seragam. Mengenai perencanaan di muka atau ´pre-planningµ terdapat perbedaan pendapat dalam hal sejauh mana perencanaan di muka dapat dilakukan. Ada beberapa ahli yang mengemukakan pendiriannya, bahwa tidak ada aspek-aspek kurikulum yang harus direncanakan jauh sebelum situasi belajar berlangsung. Untuk penjelasan singkat, pendapat-pendapat yang berbeda itu dapat dilukiskan dengan skala seperti tercantum di halaman 46. Dewasa ini terdapat kecenderungan yang bergerak dari kurikulum yang direncanakan jauh di muka dan secara terperinci, ke arah sebelah kanan skala, sekalipun pada umumnya ku rikulum yang sedang berlaku sekarang masih termasuk kategori 1 dan 2. Yang menjadi masalah pokok ialah menentukan kedudukan sebaik -baiknya dan paling menguntungkan anak antara pendirian 1 dan 5. Barangkali bentuk situasi kedudukan yang paling dikehendaki ialah nomor 1, 2, 5. Rencana kurikulum Skala ´Pre-Planningµ 3 4 Kurikulum Kurikulum direncanakan direncanakan dalam garis dalam garis besarnya yang besarnya, berisi luas oleh panitia partisipasi dari yang terdiri dari guru-guru dan guru-guru dalam tokoh-tokoh bentuk pedoman masyarakat. kerja. Perincian Perincian dilakukan oleh dilakukan oleh guru berdasarkan perencanaan kebutuhanbersama guru kebutuhan murid. murid. 1 Kurikulum seluruhnya direncanakan di muka secara terperinci oleh ´expertsµ dalam bentuk kumpulan mata pelajaran. 2 Kurikulum direncanakan secara terperinci di muka oleh panitia yang terdiri dari guru-guru dalam bentuk kumpulan mata pelajaran. 5 Kurikulum direncanakan oleh guru bersama murid pada waktu akan belajar, tanpa perencanaan jauh di muka. yang hampir mendekati kedudukan nomor 4 memberikan stabilitas atau kemantapan dan adaptabilitas yang leluasa. 6. Bagaimana kurikulum harus memperhatikan perbedaan-perbedaan individual? Persoalan ini berkisar sekitar masalah penyesuaian program pengajaran terhadap perbedaan -perbedaan di antara anak-anak. Jawaban terhadap persoalan ini macam macam. Kurikulum yang berorientasikan kumpulan mata pelajaran berasal dari zaman sebelum ada pengetahuan tentang perbedaan-perbedaan individu dan kemampuan pada murid. Pada waktu itu orang menganggap semua murid (kecuali anak -anak yang lemah jiwa) 31 dapat menguasai semua mata pelajaran yang diberikan di sekolah dengan kepandaian yang sama asal mereka rajin belajar. Taraf hasil belajar yang dicapai dalam mata-mata pelajaran hanya ditentukan oleh besarnya usaha atau kerajinan yang ditunjukkan pelajar. Slogan yang berbunyi ´Barangsiapa yang mempunyai kemauan di sanalah ada jalanµ (Where there is a will there is a way) turut mendasari teori di atas. Dewasa ini pada umumnya diakui bahwa makhluk manusia sangat beraneka ragam dalam kemampuannya untuk maju. Keadaan itu telah menggerakkan para pendidik kepada perbedaan -perbedaan individual ini. Disini timbul perbedaan-perbedaan pendapat mengenai persoalan bagaimana hal ini harus dilaksanakan. Pertama, ialah konsep kurikulum yang telah ditetapkan jauh di muka harus dikuasai oleh semua murid menurut kecepatan yang telah diatur sebelumnya. Yang menjadi masalah ialah menyesuaikan individu-individu yang mempunyai kecepatan belajar yang berbeda-beda kepada ´realitasµ ini. Sementara para pendidik secara teoretis menolak pandangan ini, dalam praktek keadaan ini masih banyak dijalankan. Pendapat kedua mengemukakan teori bahwa murid-murid harus dikelompokkan menurut kemampuannya atas dasar anggapan bahwa pengelompokan ini akan memperkecil perbedaan kemampuan dalam tiap kelompok sampai kepada taraf penyederhanaan atau mempermudah pelaksanaan individualisasi program pengajaran, yang antara lain: - kelompok murid-murid yang lambat belajar atau ´slow learnersµ hanya diberi pelajaran tentang halhal penting yang sekurang-kurangnya harus dikuasai oleh semua atau ´minimum assentialsµ atau disebut program umum. - kelompok pelajar yang cerdas dan cepat belajar atau ´fast learnestµ selain dengan cepat menguasai minimum essentials diberi juga program yang lebih luas yang berfungsi memperkaya program umum atau ´enriched program learningµ. Hal ini dapat dilaksanakan dengan program-program dalam bentuk modul semi mengajar diri sendiri atau modula mengajar diri sendiri. Pendapat ketiga ialah menciptakan jenis kurikulum berdasarkan pengalaman yang dipusatkan kepada masalah-masalah dan memberikan kesempatan kepada kelompok -kelompok tersebut dalam pendapat kedua untuk bekerja sama memecahkan masalah bersama yang menarik perhatian bersama. Hal ini menunjukkan tiap anggota kelompok untuk mampu bekerja menurut taraf perkembangan masing -masing dalam bidang akademis, sosial dan emosi dan masih menunjang usaha bersama kelompok. Jika pendapat pertama dan kedua sudah umum dipraktekkan di sekolah-sekolah sekalipun kadang-kadang dalam bentuk yang sederhana, maka teori ketiga secara berangsung-angsur mulai diterima dan dikembangkan di sekolah-sekolah percobaan. Tampaknya teori ketiga ini lebih sejalan dengan pelaksanaan prinsip demokrasi dalam pengajaran, sebagai terjemahan salah satu sila dari Pancasila yang mendasari sistem pendidikan di negara kita, dengan keyakinan bahwa individualisasi dalam pengajaran harus memperhatikan, baik mutu maupun kecepatan belajar. 7. Manakah yang lebih penting, proses atau isi? Jawaban pertama terhadap persoalan ini merupakan implikasi dari teori Dewey yang berpendapat bahwa anak dan juga orang dewasa ´belajar dengan berbuatµ atau ´learning by doingµ. Para pendidikan yang mengutamakan kegiatan dan pengalaman di dalam kurikulum berarti memperhatikan pentingnya apa yang dipelajari sepanjang macam-macam pengalaman dihayati anak memupuk perkembangan sosial, estetika, pikiran dan moral yang dianggap penting oleh mereka. Rupanya teori ini senada dengan pendapat psikologi daya masa lampau yang berpendapat bahwa daya -daya seperti kemauan, kecerdasan, ketahanan dan kerajinan dapat dikembangkan dengan jalan mempelajari mata-mata pelajaran tertentu selama mata-mata pelajaran tersebut cukup sukar dan tidak menyenangkan. Isi yang dipelajari memang penting. Pendekatan terakhir terhadap isi yang dipelajari berbeda dengan pendekatan lama, yaitu dalam penekannya. Pandangan terakhir mengemukakan pendirian bahwa isi yang dipelajari harus dikaitkan dengan kebutuhan-kebutuhan dan kepentingan-kepentingan nyata anak-anak menurut taraf kematangannya. Dalam situasi dewasa ini mata-mata pelajaran tertentu kadang-kadang dinomorduakan atau dianggap kurang penting dalam melaksanakan perencanaan bersama, prosedur demokratis, kegiatan kegiatan penelitian sendiri, dan sebangsanya, dengan mengemukakan pendirian bahwa metode -metode itu pun merupakan isi pula dan hal-hal penting yang dipelajari bukan fakta-fakta melainkan pola-pola berbuat seperti hubungan insani yang demokratis partisipasi yang konstruktif, metode -metode penelitian bebas dan berpikir kritis. Memang kita akui bahwa sarana belajar itu penting dan bahwa proses adalah juga isi dalam arti yang sebenarnya dan merupakan aspek terpenting dalam situasi belajar. Namun kita harus berpendirian hatihati jangan sampai terjerumus ke salah satu pendapat yang ekstrim. Pendekatan yang sehat terhadap belajar berpendirian bahwa belajar merupakan interaksi antara pelajar dengan situasi yang mencakup masalah atau problema, bahwa yang dipergunakan untuk memecahkan masalah, dan pada anak ialah adanya orang dewasa (guru) yang membantu dan membimbing. Dalam situasi ini pengetahuan tentang fakta -fakta ditempatkan dalam 32 fokus baru ini. Isi pelajaran penting karena turut meningkatkan kualitas kehidupan murid-murid di masa kini dan sekaligus merupakan persiapan untuk kehidupan di masa yang akan datang. Walaupun kelompok persoalan di atas dibahas secara singkat, namum pembahasannya menc akup faktorfaktor utama yang menentukan pola kurikulum dan tempat kedudukan kepala sekolah beserta staff dalam keadaan tersebut sampai batas-batas tertentu akan menentukan jenis kurikulum yang sedang dilaksanakan di sekolahnya dan selanjutnya dalam batas-batas tertentu pula akan menentukan pola keseluruhan organisasi dan administrasi pengajaran. 3. Administrasi Prasarana dan Sarana Pendidikan Secara otimologis (arti kata) prasarana berarti alat tidak langsung untuk mencapai tujuan. Dalam pendidikan misalnya: lokasi/tempat, bangunan sekolah, lapangan olahraga, uang dan sebagainya. Sedang sarana seperti alat langsung untuk mencapai tujuan pendidikan. Misalnya: ruang, buku, perpustakaan, laboratorium dan sebagainya. Sedangkan menurut keputusan Menteri P dan K No. 079/1975, sarana pendidikan terdiri dari 3 kelompok besar yaitu: a. Bangunan dan perabot sekolah. b. Alat pelajaran yang terdiri, pembukuan dan alat-alat peraga dan laboratorium. c. Media pendidikan yang dapat dikelompokkan menjadi audiovisual yang menggunakan alat penampil dan media yang tidak menggunakan alat penampil. Siapakah yang bertanggung jawab tentang prasarana dan sarana pendidikan? Jawab: adalah para pengelola/ administrasi pendidikan. Secara micro (sempit) maka kepala sekolah yang bertanggung jawab masalah ini. 1. Hubungan AntaraPeralatan dan Perlengkapan Pengajaran dengan Program Pengajaran Jenis peralatan dan perlengkapan yang disediakan di sekolah dan cara-cara pengadministrasiannya mempunyai pengaruh besar terhadap program mengajar -belajar. Persediaan yang kurang dan tidak memadai akan menghambat proses belajar dan mengajar. Demikian pula administrasinya yang jelek akan mengurangi kegunaan alat-alat dan perlengkapan tersebut, sekalipun peralatan dan perlengkapan pengajaran itu keadaannya istimewa. Titik berat dalam hal ini adalah kepada belajar yang dikaitkan dengan masalah-masalah dan kebutuhan serta kegunaan hasil belajar nanti di dalam kehidupannya. Karena penyediaan sarana pendidikan di suatu sekolah haruslah disesuaikan dengan kebutuhan anak didik serta kegunaan hasilnya di masa-masa mendatang. 2. Tanggung Jawab Kepala Sekolah dan Kaitannya dengan Pengurusan dan Prosedur Salah satu tugas utama kepala sekolah dalam administrasian sarana pengajaran ialah bersama-sama dengan staf menyusun daftar kebutuhan mereka akan alat-alat sarana tersebut dan mempersiapkan perkiraan tahunan untuk diusahakan penyediaannya. Kemudian menyimpan dan memelihara serta mendistribusikan kepada guru¬guru yang bersangkutan, dan menginventarisasi alat-alat/ sarana tersebut pada akhir tahun pelajaran. 1) Mempersiapkan perkiraan tahunan Biasanya kepala sekolah membuat daftar alat-alat yang diperlukan di sekolahnya sesuai dengan kebutuhannya dengan daftar alat yang distandardisasi. Sedangkan untuk alat-alat yang belum distandardisasi, kepala sekolah sama-sama menyusun daftar kebutuhan sekolah masing-masing. 2) Menyimpan dan mendistribusikan Ada beberapa prinsip administrasi penyimpanan peralatan dan perlengkapan pengajaran sekolah. a. Semua alat-alat dan perlengkapan harus disimpan di tempat-tempat yang bebas dari faktor-faktor perusak seperti: panas lembab, lapuk, dan serangga. b. Harus mudah dikerjakan baik untuk menyimpan maupun yang keluar alat. c. Mudah didapat bila sewaktu-waktu diperlukan. d. Semua penyimpanan harus diadministrasikan rnenurut ketentuan bahwa persediaan lama harus lebih dulu dipergunakan. e. Harus diadakan inventarisasi secara berkala. f. Tanggung jawab untuk pelaksanaan yang tepat dari tiap-tiap penyimpanan harus dirumuskan secara terperinci dan dipahami dengan jelas oleh semua pihak yang berkepentingan. Pendistribusian peralatan dan perlengkapan pengajaran ini harus berada dalam tanggung jawab salah seorang anggota staf yang ditunjuk. Karena pelaksanaan tanggung jawab ini hanya bersifat ketatausahaan maka kurang tepat jika kepala sekolah atau guru sendiri yang langsung melaksanakannya. Yang paling tepat adalah pegawai tata usaha. Kebijaksanaan pendistribusian ini hendaklah ditekankan kepada prinsip efisien dan fleksibilitas, maksudnya bila diperlukan sewaktu-waktu segera dapat disediakan. 33 3. Beberapa Pedoman Administrasi Perawatan Walaupun pelaksanaan administrasi peralatan dan perlengkapan sudah merupakan pekerjaan rutin dan orang-orang dihadapkan kesukaran-kesukaran yang kurang berarti, narnun untuk penyempurnaan p ekerjaan tersebut para ahli menyarankan beberapa pedoman pelaksanaan administrasinya. Di antaranya adalah sebagai berikut: 1) Hendaknya kepala sekolah tidak terlalu rnenyibukkan dirinya secara langsung dengan urusan pelaksanaan administrasi peralatan dan perlengkapan pengajaran. 2) Melakukan sistem pencatatan yang tepat sehingga mudah dikerjakan. 3) Administrasi peralatan dan perlengkapan pengajaran harus senantiasa ditinjau dari segi pelayanan untuk turut memperlancar pelaksanaan program pengajaran. 4) Kondisi-kondisi di atas akan terpenuhi jika administrator mengikutsertakan semua guru dalam perencanaan seleksi, distribusi dan penggunaan serta pengawasan peralatan dan perlengkapan pengajaran yang semuanya mendorong mereka untuk memikirkan proses paling tepat dalam melayani kebutuhan-kebutuhan mereka. 4. Administrasi Gedung dan Perlengkapan Sekolah Mungkin banyak para kepala sekolah yang tidak mempunyai kesempatan untuk ikut serta dalam perencanaan bangunan sekolah. Sedangkan sebagai administrator yang bertanggungjawab akan sekolahnya, kepala sekolah mempunyai peranan tersendiri dalam panitia perencanaan bangunan sekolah dan perlengkapannya. Dalam menghadapi tugas ini disarankan menempuh langkah-Iangkah sebagai berikut: 1) Masalah dasar-dasar pengajaran dan penentuan jenis program pengajaran dan perencanaan fasilitas bangunannya. 2) Membentuk panitia untuk mempelajari kebutuhan-kebutuhan khusus yang bertalian dengan bangunan dan perlengkapannya yang diusulkan. 3) Mengatur kunjungan sekolah-sekolah yang dipergunakan sebagai model atau contoh. 4) Mempelajari gambar-gambar contoh bangunan sekolah dan perlengkapannya baik yang diproyeksikan maupun gambar biasa. Langkah-Iangkah di atas bukan satu-satunya cara yang dapat ditempuh kepala sekolah dalam merencanakan bangunan sekolah baru beserta perlengkapannya. Masih ada cara-cara lain yang bisa ditempuh untuk memperoleh informasi mengenai hal-hal penting yang bertalian dengan perencanaan bangunan sekolah. Misalnya melalui lokakarya, konferensi dan mengikuti penataran khusus mengenai masalah bangunan sekolah dan perlengkapannya. Kepala sekolah yang memiliki pengetahuan yang memadai tentang hal tersebut akan sangat ber guna dalam partisipasinya. Ada beberapa aspek yang bertalian dengan perencanaan dan pemeliharaan bangunan sekolah dan perlengkapannya (a - j): a. Perluasan bangunan yang sudah ada Pada bangunan sekolah yang sudah ada sering kali diperlukan tambahan-tambahan bangunan dan perlengkapannya. Dalam masa kerjanya kepala sekolah tentu pernah menghadapi masalah seperti di atas, apabila tuntutan-tuntutan yang berasal dari perkembangan pendidikan. Semakin cepat mendesak baik yang bertalian dengan kualitas maupun, kuantitas. Keadaan pekerjaan akan menentukan lamanya waktu maupun kualitas. Keadaan pekerjaan akan menentukan lamanya waktu dan besarnya tenaga yang dibutuhkan untuk mempelajari kebutuhan-kebutuhan dan mengidentifikasikannya dengan tepat. Sudah tentu guru-guru dan para orang tua murid diikutsertakan dalam melakukan perencanaan mengenai penambahan-penambahan dan perombakan-perombakan bangunan yang sudah ada atau merencanakan bangunan barn, dan saran-saran yang mereka kemukakan ditampung dan dipertimbangkan. Segala bahan penting yang diperlukan harus dikumpulkan agar supaya dapat menyampaikan rekomendasi yang tepat dan masuk akal, baik kepada pemerintah maupun kepada masyarakat. Langkah -Iangkah yang disarankan terdahulu dapat juga ditempuh jika penambahan bangunan itu agak besar. b. Rehabilitasi Dengan melakukan survey terhadap bangunan dan perlengkapan yang sudah ada dan mencatat serta terperinci perbaikan-perbaikan yang diperlukan, kepala sekolah dengan stafnya dapat mengusulkan perbaikan perbaikan untuk kepentingan efektivitas pelaksanaan program sekolah. Perbaikan-perbaikan ini diantaranya mencakup mengecat dan melabur, mengganti bahan-bahan atau bagianbagian yang sudah usang atau lapuk, menyempurnakan akustik ruangan belajar, menambah tempat ruang buang air, memperbaiki fasilitas mencuci tangan dan kaki dan pekerjaan-pekerjaan perbaikan lainnya yang bertalian dengan pelaksanaan inovasi pendidikan. Rencana rehabilitasi hendaknya dibuat sehemat mungkin. c. Meningkatkan mutu keindahan ruang belajar Ada kecenderungan untuk mengecat ruang belajar dengan wama menurut kesukaan dan pilihan individu guru. Guru, walaupun tiap orang mempunyai kesukaan, dan pilihan warna masing-masing, namun ada beberapa prinsip yang telah lama diakui dan dianjurkan para ahli seni dan dekorasi umpamanya reaksi-reaksi psikologis 34 terhadap warna-wama tertentu harus diperhatikan dalam mengecat ruang belajar, seperti wama merah dan orang adalah warna yang hangat dan memberikan tenaga, sedangkan warna hijau memberikan pengaruh mendinginkan dan sejuk. Macam-macam warna yang memantulkan cahaya harus diperhatikan dalam mengecat. ruangan belajar dan gang-gang. Dinding atas ruangan belajar harus dicat putih karena 80% faktor pantulan diperlukan untuk memberikan cahaya yang memadai kepada murid. Demikian pula dinding-dinding samping ruangan harus dicat warna cerah dan pusat. Warna perabot harus coklat muda dan tidak mengkilap. d. Memilih perabot dan perlengkapan Kepala sekolah hendaknya serba bisa, karena bukan saja harus memiliki pengetahuan yang memadai mengenai bangunan sekolah, melainkan juga banyak pengetahuannya tentang perabot dan perlengkapan. Salah satu faktor penting yang dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih perabot dan perlengkapan ruangan kelas yang harus disediakan, ialah dasar pengajaran. Administrator yang progresif akan mengutamakan fleksibilitas dalam fungsi dan letak perabot di ruang belajar. Faktor-faktor psikologis harus diperhatikan dalam pembuatan perabot ruang belajar, jangan sampai ada perabot yang dapat menghambat proses belajar pada muri -murid. Ingatlah bahwa yang belajar adalah murid d sebagai kesatuan pribadi dan bukan kecerdasannya saja yang berkembang. e. Tanggung jawab keberesan sekolah Kepala sekolah dan guru hendaknya selalu menyadari bahwa murid-murid banyak belajar dari lingkungan sekolah. Keadaan kelas yang berantakan dan tidak teratur, kotor, cahaya dan ventilasi yang kurang memadai, akan memberikan pengaruh jelek kepada murid-murid ditinjau dari segi pendidikan dan perkembangannya. Di samping itu keadaan seperti di atas ditinjau dari segi pendidikan kesehatan akan menimbulkan pengaruh yang merugikan, kesehatan jasmani dan rohani. Di samping itu proses belajar dan mengajar akan terhambat, yang berarti menghambat pula kelancaran pelaksanaan program pengajaran di sekolah. Karena itu hendaknya kepala sekolah menyadari tanggung jawab untuk senantiasa mengawasi ruangan belajar dan bagianbagian sekolah lainnya agar selalu beres, bersih dan teratur. f. Memperhatikan kondisi sanitasi Ditinjau dari kebutuhan akan kesehatan pada murid-murid dan seluruh anggota staf di sekolah, masalah sanitasi harus mendapat perhatian pertama. Salah satu kegiatan utama program kesehatan sekolah ialah menciptakan lingkungan kehidupan sekolah yang sehat. Ruang belajar, ruang olahraga, laboratorium, ruang-ruang keterampilan dan sebagainya. Kesemuanya harus diatur sedemikian rupa sehingga kondisinya memberikan pengaruh yang optimal dalam proses belajar dan terhadap perkembangan kesehatan murid~murid, baik kesehatan fisik maupun kesehatan mentalnya. Dalam usaha kesehatan sekolah atau UKS hal ini dibicarakan secara terperinci. Memang kesehatan menjadi salah satu tujuan ini di sekolah, di antaranya menyediakan fasilitas-fasilitas untuk mempraktekkan kebiasaan hidup sehat, salah satu fasilitas penting ialah penyediaan air untuk mencuci tangan dan kaki dan anggota badan lainnya. Hendaknya disediakan sabun dan lap atau handuk kecil. g. Pemeriksaan itu perlu Tanggung jawab kepala sekolah untuk melakukan pemeriksaan dan koreksi terhadap kondisi kondisi ruangan sekolah dan perlengkapannya termasuk halaman dan tempat-tempat bermain murid, harus dilaksanakan terus-menerus dan teratur. Dalam melaksanakan tugas tersebut, ia mengadakan pertemuan -pertemuan dengan penjaga kebersihan sekolah mengenai masalah-masalah dan kekurangan-kekurangan yang harus diatasi. Pemeriksaan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga hal-hal yang sekecil-kecilnya pun tidak sedemikian rupa sehingga hal tersebut tidak lepas dari tanggung jawab. Hendaknya jadwal kerja harian yang terperinci dari penjaga kebersihan sekolah disesuaikan dengan jadwal kegiatan. Kegiatan murid dalam pemeliharaan kebersihan dan keberesan sekolah. Lingkungan fisik sekolah harus senantiasa dijaga dipelihara kesehatan dan kebersihannya. Pengaruh yang berangsurangsur namun pasti dari lingkungan sekolah terhadap kebiasaan hidup sehari hari dan sikap menghargai pada murid-murid akan tampak dari tahun ke tahun. Inilah salah satu tujuan yang harus dipakai dalam pendidikan di sekolah yaitu memperbaiki kebiasaan kebiasaan hidup murid-murid dengan jalan mengatur dan menciptakan kondisi lingkungan yang dapat memperlancar perkembangan kebiasaan yang baik pada murid-murid. h. Penyimpanan alat-alat yang tepat Dari segi pendidikan soal penyimpanan alat-alat kurang mendapat perhatian, baik dalam literatur tentang konstruksi bangunan sekolah maupun dalam rencana struktur bangunannya. Alatalat yang langsung dipergunakan dalam pelajaran memerlukan fasilitas penyimpanan yang memadai dan praktis sehingga sewaktu waktu diperlukan dapat segera disediakan serta keamanannya cukup terpelihara. Alangkah baiknya jika tempat penyimpanan alat-alat ini direncanakan sebelum bangunan didirikan sehingga faktor estetikanya pun mendapat perhatian juga. 35 Agar sulit untuk memelihara dan menjaga ruang belajar agar supaya senantia beres dan bersih, jika sa fasilitas penyimpanan alat-alat tidak mendapat perhatian. Masalah penyimpanan alat-alat dan perlengkapan pengajaran telah dibicarakan secara singkat pula pada halaman-halaman sebelumnya. i. Mengatur dan memelihara ruang belajar Sebagian besar waktu kehidupan murid-murid dan guru selama bersekolah, dipergunakan di ruang belajar. Dari kenyataan ini timbul tuntutan agar supaya kepala sekolah memberikan perhatian cukup terhadap kondisi ruang belajar. Memang guru-guru sering kali memberikan pengawasan langsung terhadap pengaturan, dan pemeliharaan ruang belajar, namun mereka, memerlukan bantuan dan dukungan dari kepala sekolah dan penjaga kebersihan sekolah agar supaya ruang belajar senantiasa siap untuk dipergunakan dan memperlancar proses belajar. Di samping hal-hal lainnya, hal yang sangat penting untuk diperhatikan ialah ruang belajar harus cukup mendapat cahaya, kebanyakan guru -guru kurang menyadari pentingnya cahaya yang memadai bagi murid-murid jika sedang ada dalam ruang belajar. Kepala sekolah hendaknya melakukan observasi yang teratur dan kontinu terhadap kondisi cahaya di ruang belajar ini, dan segera mengadakan perbaikan bilamana terdapat kekurangan -kekurangan. Di samping itu ruang belajar harus selalu diperbarui catnya, dianjurkan tiap-tiap tiga sampai lima tahun sekali. Seperti telah disinggung di muka bahwa warna-warna yang dipergunakan di ruang belajar adalah warna-warna yang memberikan pengaruh psikologis positif dalam proses mengajar dan belajar kepada guru-guru dan murid-murid. Gunakanlah warna-warna yang membangkitkan semangat belajar dan bekerja, namun berpengaruh menenangkan dan memupuk perasaan estetika. j. Pemeliharaan halaman dan tempat bermain Kegiatan rekreasi di sekolah dewasa ini mempunyai peranan penting dalam program pengajaran. Menyediakan tempat dan fasilitas saja untuk keperluan itu, belum memadai. Tempat bermain harus dipelihara, diratakan serta disesuaikan dengan berbagai permainan dan kegiatan yang dilakukan oleh murid -murid. Tempat bermain harus selalu dijaga dan dipelihara supaya bebas dari kondisi dan hal hal atau benda-benda yang mungkin menimbulkan bahaya kecelakaan, atau memberikan pengaruh buruk terhadap perkembangan kesehatan murid-murid dan penghuni sekolah lainnya. Untuk menjaga dan memelihara agar sup aya tempat bermain menarik, aman dan bebas dari hal-hal yang mungkin menimbulkan kecelakaan, kepala sekolah harus bekerja sama-dengan guru-guru, murid, penjaga kebersihan sekolah dan penjaga keamanan sekolah.7 Administrasi Siswa OSIS merupakan organisasi murid yang resmi diakui dan diselenggarakan di sekolah dengan tujuan untuk melatih kepemimpinan murid serta memberikan wahana bagi murid untuk melakukan kegiatan-kegiatan ko-kurikuler yang sesuai. Oleh karena itu supaya pembinaan administrasinya terutama m enyangkut pembinaan pengelolaan organisasinya dan kegiatannya, apa pun kegiatan yang dikembangkan hendaknya selalu dalam rangkaiannya dengan tujuannya, yaitu pengembangan pengetahuan dan kemampuan penalaran, pengembangan keterampilan dan pengembangan sikap, selaras dengan tujuan sekolah yang tertuang dalam kurikulum. Contoh kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan di sekolah melalui Osis adalah sebagai berikut: a. Kegiatan pengembangan pengetahuan dan kemampuan penalaran 1) Diskusi, temu karya, seminar dan lain-lain. 2) Penelitian. 3) Karya wisata. 4) Penulisan karangan untuk berbagai media. 5) Percobaan-percobaan akademis di luar kelas. b. Kegiatan pengembangan keterampilan berdasar hobi 1) Latihan kepemimpinan. 2) Palang Merah Remaja. 3) Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). 4) Pramuka. 5) Lintas Alam. 6) Olahraga. 7) Keseman. 8) Pengaturan lalu-lintas. 9) Pengumpulan benda-benda bekas (perangko, binatang, dan lain-lain). c. Kegiatan-kegiatan pengembangan sikap 1) Pengumpulan dana sosial. 2) Pengertian hari-hari besar nasional, keagamaan 3) Membantu masyarakat yang kena musibah. 36 4. Pengelolaan data kesiswaan merupakan salah satu garapan administrasi murid yang tidak dapat ditinggalkan. Pada intinya ada tiga macam data yang perlu sekali dike1ola, yaitu: data tentang identitas murid, tentang hasil belajar murid dan tentang kehadiran murid. Data ini tidak hanya berguna sewaktu murid tersebut masih sekolah, tetapi juga bermanfaat kelak setelah murid tersebut sudah lulus dan meninggalkan sekolah tersebut. Berikut ini disajikan contoh-contoh format data tentang murid: a. Contoh format Identitas Murid 1. Nama Murid : ............................................................................................... 2. Jenis Kelamin : ................................................................................. pas foto 3. Tempat, tgl. Lahir : ............................................................................................... 4. Warga Negara : ............................................................................................... 5. Anak ke : ...................... ......................................................................... 6. Alamat : ............................................................................................... 7. Asal Sekolah : ........................................................... .................................... 8. Diterima: a. Tanggal : ............................................................................................... b. Di kelas : .................................................................................. ............. 9. Orang Tua/Wali Murid : ............................................................................................... a. Nama : ............................................................................................... b. Pendidikan : ............................................................................................... c. Pekerjaan : ............................................................................................... d. Alamat : ............................... ................................................................ 10. Penghargaan yang diterima murid : ............................................................................................... 11. Data anekdot 12. Keluar : a. Tanggal b. Pada kelas c. Alasan 13. Kelulusan: a. Tanggal b. STTB Nomor c. Melanjutkan ke 14. Perpindahan: a. Pindah ke b. Di kelas c. Tinggal 15. Keterangan lain-lain : ........................................... .................................................... : ............................................................................................... : ............................................................................................... : ............................................................................................... : .......................... ..................................................................... : ............................................................................................... : ................................................... ............................................ : ............................................................................................... : ....................................................................... ........................ : ............................................................................................... : ............................................................................................... b. Contoh format Data Hasil Belajar Murid ============================================================== Program No. Mata Kelas/Th Kelas/Th Pelajaran Sem.1 2 Sem.1 2 Pendidikan Umum 2. 3. 1. Pendidikan Agama PMP Olah Raga. dan Kesehatan ( ) naik ke kelas ( ) tidak naik ( ) lulus ( ) tidak lulus 37 Kelas/Th Sem.1 2 _____________________________________________________________________________________________________________________________ _______________ ... dan seterusnya ... ( ) naik ke kelas ( ) tidak naik ( ) lulus ( ) tidak lulus ( ) naik ke kelas ( ) tidak naik ( ) lulus ( ) tidak lulus _____________________________________________________________________________________________________________________________ ________________ Keterangan: __________________ _____________________________________________________________ _______________________________________________________________ c. Contoh format Data Presensi Murid Daftar Presensi bulan : ..................................................................... Tahun ....................... Kelas : ..................................................................... Jumlah Murid : ..................................................................... ============================================================================No. Nama Murid Tanggal Jumlah 1 2 3 4 5 dst ... 31 Absen _____________________________________________________________________________________________________________________________ _______ 1. 2. 3. 4. 5. ... dan seterusnya ... 50. ____________________ ________________________________________________________________________________________________________________ Jumlah yang hadir _____________________________________________________________________________________________________________________________ _______ d. Confoh format Data Rekapitulasi Kehadiran Murid SMP NEGERI XV SURABAYA Ha ri Tanggal Jumlah murid Izin Sakit Lain-lain : : : : : : ......................................................................................................................... ......................................................................................................................... ...............................................................................................................orang. ...............................................................................................................orang. ...............................................................................................................orang. ...............................................................................................................orang. Cara menyimpan data tentang murid Data-data tersebut harus disimpan oleh sekolah secara baik-baik dan berfungsi sebagai arsip aktif yang sewaktu-waktu dicari kembali untuk keperluan tertentu. Ada beberapa cara untuk menyimpan data tersebut. 1) Untuk data tentang identitas dan hasil belajar siswa sebaiknya tidak terpisah, karena itu merupakan satu kesatuan. Penyimpanan data itu dapat dilakukan dengan menggunakan sistem kartu atau dapat pula menggunakan sistem buku induk. a) Apabila menggunakan sistem kartu sebaiknya dibuatkan sehelai kartu untuk setiap siswa. Kartu itu berukuran quarto (21,50 cm x 28 cm). Agar mudah disusun, sebaiknya digunakan bahan kertas manila, dengan warna berbeda untuk setiap kelas (angkatan). Bagian depan kartu diisi dengan data identitas siswa dan bagian belakangnya dipergunakan untuk data hasil belajar. Kartu-kartu itu diurutkan menurut urutan nomor induk siswa yang ditulis pada pojok kanan atas, sehingga mudah mencarinya kembali. Pada setiap ganti tahun angkatan, sebaiknya diberi kartu penyekat atau kartunya diganti dengan baru yang berwarna lain. Dengan sistem kartu ini upaya pencarian kembali setiap data yang diperlukan akan lebih mudah. b) Apabila menggunakan buku induk, sebaiknya menggunakan buku ukuran folio, dengan menggunakan dua muka sebelah kiri untuk setiap siswa. Lembar muka sebelah kiri untuk, data tentang identitas siswa dan lembar sebelah kanan untuk data hasil belajar siswa. Penulisan data siswa tersebut diurutkan menurut urutan nomor induknya. Untuk mencari data tentang siswa pada buku induk akan lebih sukar dibandingkan dengan bila menggunakan siswa kartu. Untuk mempermudah penggunaan buku induk tersebut dapat dibantu dengan menggunakan buku Klaper di mana-mana siswa yang namanya dimulai dengan huruf sama disusun menjadi satu. 38 Aktivitas murid Program aktivitas sekolah seperti: olahraga, kesenian, kegiatan-kegiatan sosial dan sebagainya. Kegiatan ini merupakan kegiatan kurikuler yaitu untuk menjamin adaptasi murid sekolah yang dapat menunjang proses belajar dan perkembangan murid secara lebih efektif. a) Intra kelas Murid dalam suatu kegiatan dapat diorganisir sedemikian sehingga merupakan suatu gaverment terdiri dari: ketua, wakil, sekretaris, bendahara, dan seksi-seksi. Tugasnya: Kegiatan kelas, dapat seperti kebersihan dan keindahan kelas dan sebagainya. Kegiatan antar kelas seperti, pertandingan olahraga dan kesenian keputrian. b) Intra sekolah Pengembangan organisasi murid yang efektif di sekolah naik terhadap pendidikan dasar maupun menengah harus dapat menjamin partisipasi murid dalam program sekolah yang bersangkutan, program pendidikan, program pengabdian masyarakat. Maka dalam hal ini organisasi/Osis merupakan sarana komunikasi formil antara kelompok murid dan suatu sistem sekolah dengan: - sistem staf pengajaran dan personel sekolah - sistem sosial masyarakat di mana sekolah itu berada. Tanggung jawab murid. Membagi kepemimpinan dengan orang lain. Menjadi pemimpin. Tujuan dari intra sekolah: - membina generasi muda umumnya - membina personel dan sosial murid khususnya. c) Ekstra sekolah Adalah kegiatan untuk membantu memperlancar perkembangan individu murid sebagai manusia seutuhnya. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan murid sekolah antara lain: 1. Pertemuan siswa 2. Olahraga 3. Perkemahan sekolah 4. Ke laboratorium 5. Kegiatan ke masyarakat 6. Perlombaan dan pertandingan 7. Perpustakaan sekolah 8. Publikasi karya tulis 9. Organisasi sosial 10. Organisasi kesiswaan. 5. Kerjasama Sekolah dan Masyarakat Secara sederhana "hubungan" atau "communication"(di Indonesia: komunikasi) dapat diartikan sebagai "process by wich a person transmits a massage to another" (proses penyampaian berita dari seorang kepada orang lain). Komunikasi di dalam administrasi sekolah adalah suatu proses penyampaian sesuatu (berita/idea kepada orang lain). Hal ini bisa secara intern yaitu di dalam organisasi sekolah itu sendiri. Juga bisa ekstern, artinya antara sekolah dengan pihak lain (ke luar) masyarakat lembaga/instansi yang lain. Di dalam pengertian di atas terlihat adanya berbagai unsur antara lain: a. Komunikator, yaitu orang yang menyampaikan sesuatu kepada orang lain (juga sebagai sumber berita). b. Apa yang disampaikan (isi/informasi). c. Alat, medis yang digunakan (dapat berupa kata-kata bunyi, laporan dan sebagainya). d. Tujuan penyampaian (dapat perintah, pemberitahuan laporan dan sebagainya). e. Orang yang menerima informasi (komunikasi communicate/recever ). f. Response/jawaban yang diberikan oleh si penerima. Proses Berita Alat bunyi gambar Sumber isi tujuan 39 penerimaan kata-kata dsb. Dilihat dari sudut administrasi pendidikan (sekolah) dapat dilihat bahwa komunikasi pada hakikatnya adalah problem hubungan kerja kemanusiaan (human relationship). Keberhasilan dalam hubungan-hubungan kerja kemanusiaan ini akan ditentukan oleh efisiensi dan efektivitas mereka yang berkepentingan dalam: a. Menyampaikan berita kepada orang lain. b. Memahami dengan tepat isi/maksudnya dengan harapan mau menerima. Adanya respon-perubahan tingkah laku. Penyampaian Berita Memahami dengan tepat Mau menerima Merespon Perubahan tingkah laku baik kelompok individual. Dalam dunia pendidikan dikenal 2 macam hubungan (komunikasi): a) Komunikasi dalam penyelenggaraan program pendidikan (intern) dengan masyarakatsekolah. Dalam hal ini administrasl sekolah/pendidikan hendaldah membina para guru dan murid untuk: 1. Belajar membaca secara komprehensif, diskriminatif dan kritis. 2. Belajar mendengarkan secara tepat dan kritis, menilai dan mempertimbangkan. gagasangagasan yang didengarnya, sehingga tidak hanyut/terbenam dalam arus propaganda. 3. Sanggup mengekspresikan dalam berbicara yang jelas, lancar dan efektif. 4. Sanggup mengemukakan pendapatnya/ gagasannya dalam bentuknya tertulis sehingga orang lain dapat membaca dan mengerti. 5. Sanggup mengadakan penilaian secara kritis terhadap apa yang dilihatnya. Kesemuanya ini merupakan komunikasi intern bahkan sifatnya lebih subjektif. Namun hal ini perlu adanya motivasi dan stimulasi secara kontinu dari administrasi pendidikan. b) Komunikasi dengan masyarakat di luar sekolah Adalah merupakan sesuatu kenyataan bahwa, sekolah tidak merupakan sesuatu yang berdiri sendiri terpisah dari dunia luar, melainkan berada dalam suatu sistem masyarakat yang telah tetap. Kehadiran sekolah berlandaskan kemauan baik negara dan masyarakat yang mendukungnya. Oleh karena itu orang-orang yang berkerja di sekolah mau tidak mau harus bekerja sama dengan masyarakat. Masyarakat di sini dapat berwujud orang tua murid, badan-badan, organisasi-organisasi, baik negeri maupun swasta. Salah satu alasan mengapa sekolah perlu dukungan dari masyarakat tempat sekolah itu berada ialah karena sekolah harus dibiayai. Tugas sekolah di sini ialah bagaimana menumbuhkan rasa ikut memiliki (senseaf belonging) dan rasa ikut bertanggung jawab (senseresponsibility) masyarakat terhadap sekolah. Dalam hal ini perhimpunan administrator sekolah di Amerika Serikat (the American Association of School Administrators) telah mengumpulkan beberapa indikator (petunjuk) tentang hubungan seko dengan masyarakat, yaitu lah bahwa para kepala sekolah harus memahami. 1. Unsur-unsur penting pada anggota masyarakat lingkungan sekolah, kesetiaan, kepatuhan dan perasaan terikat yang ada pada masyarakat, cara-cara beraksi, menangani idea baru. 2. Tradisi dan adat-istiadat. 3. Organisasi anggota masyarakat. 4. Kepemimpinan/ struktur kekuatan yang terdapat dalam masyarakat. 5. Situasi fisik masyarakat, ciri-ciri pengelompokan forrnil dan hubungan ciri-ciri populasi. Jika para kepala sekolah memperoleh keterangan-keterangan tersebut di atas, berarti ia mendapat informasi yang diperlukan untuk mengembangkan hubungan yang sehat dan sukses antara sekolah dengan masyarakat. Konsep-konsep hubungan sekolah-masyarakat Masalah konsep hubungan sekolah-masyarakat adalah sangat luas dan kompleks dan beranekaragam. Berikut ini ada bermacam-macam konsepsi hubungan sekolah masyarakat untuk dapat dipertimbangkan mana yang lebih efektif untuk dikembangkan di sekolah mendatang. 40 a) Menurut Ameteambun dalam bukunya Guru dalam Administrasi sekolah pembangunan "Konsepsi hubungan sekolah-masyarakat" adalah sebagai berikut: 1. Konsep "menunggu" sekolah hanya menunggu dan mengharapkan perhatian dan bantuan dari masyarakat. 2. Konsep preventif kegiatan-kegiatan sekolah hanyalah untuk mencegah hal hal yang tak diinginkan oleh masyarakat. 3. Konsep tanda bahaya kegiatan-kegiatan hubungan sekolah masyarakat terjadi bila ada bahaya misalnya kebakaran, runtuh dan sebagainya. Sehingga sekolah memerlukan bantuan/kontak dengan masyarakat. 4. Konsep pameran sekolah hanya sekadar memamerkan kegiatannya kepada masyarakat, tentu saja hal-hal yang dipamerkan "show" hanyalah hal-hal yang telah diseleksi/yang baik-baik saja. Sehingga tidak mencerminkan "originalitas" atau asli dari keseluruhan program sekolah tersebut. 5. Konsep prestise kegiatan-kegiatan sekolah sebagai alat untuk menonjolkan kariernya. Biasanya hal ini cenderung. untuk mencari popularitas dan semata-mata mengejar prestise bukan prestasi. Yang biasanya disertai dengan perhitungan-perhitungan keuntungankeuntungan individualitas pribadi. 6. Konsep partnership hubungan ini dapat diinterpretasikan sebagai hubungan proses timbal balik. Di mana kebutuhan-kebutuhan dan keinginan-keinginan masyarakat juga menjadi kebutuhan dan keinginan sekolah. Terutama dalam kegiatan-kegiatan kurikuler. 7. Konsep "social leadership" sekolah sebagai lembaga pendidikan utama masyarakat, harus dapat diharapkan dapat rnembina kepemimpinan dengan pihak yang erat hubungannya dengan problema¬problema sosial. b) Menurut Balai Pendidikan Guru tertulis Jawa Barat dalam garis besarnya terdapat 4 jenis hubungan sekolah masyarakat. 1. Sikap acuh tak acuh di mana kedua belah pihak antara sekolah-rnasyarakat saling membiarkan dia tumbuh. Konsep ini beranggapan bahwa sekolah dan masyarakat merupakan dua lernbaga yang terpisah. Jenis komunikasi di sini adalah kornunikasi tertutup (komunikasi intern) yaitu sekolah hanya berkomunikasi dengan dirinya sendiri. 2. Publisitas yaitu komunikasi satu arah, sekolah seolah-olah menjual iklannya kepada masyarakat, apa yang dikehendaki dan kebutuhan-kebutuhan sekolah hendaknya diketahui masyarakat. 3. Interpretasi pendidikan. Seperti halnya publisitas lebih ditekankan, bahwa informasi yang telah diberikan kepada masyarakat dapat ditafsirkan menurut pengetahuan dan pendapat yang apa adanya. Hal ini cenderung untuk memperkuat sikap dan pendapat yang telah ada melekat di masyarakat. 4. Usaha bersama. Jenis komunikasi di sini bersifat dua arah timbal balik di mana masyarakat cenderung untuk baranggapan bahwa mereka harus secara langsung dilihatkan ke dalam urusan-urusan sekolah mereka. Untuk mengetahui sukses gagalnya suatu kegiatan maka perlu diketahui terlebih dahulu apakah tujuan kegiatan tersebut. Dalam hal ini Bent dan Kronenberg mengemukakan tiga hal tujuan utama hubungan sekolah masyarakat yaitu: a. To prevent misunderstanding. (Untuk mencegah kesalahpahaman antara masyarakat terhadap sekolah). b. To secure financial support. (Untuk memperoleh sumbangan-sumbangan finansiil dan material dari masyarakat). c. To secure coppration in policy making. (Untuk menjalin kerjasama dalam pembuatan kebijaksanaan kebijaksanaan). Dalam kerangka tersebut di atas, sekolah hendaknya selalu bekerja sama membina dan mewujudkan kehidupan sosial yang baik. Prinsip-prinsip program hubungan sekolah-masyarakat Jika suatu kegiatan telah diketahui dan ditentukan tujuannya, rnaka suatu langkah/tindak lanjutnya adalah menyusun suatu program kerja. Sehubungan dengan hal tersebut Ametembun merumuskan program hubungan sekolah masyarakat yaitu: 1. Perencanaan hubungan sekolah-masyarakat haruslah integral dengan program pendidikan yang bersangkutan. 41 2. Setiap pejabat/petugas sekolah terutama para guru haruslah menganggap dirinya adalah petugas hubungan masyarakat (public relations efficer). 3. Program hubungan sekolah masyarakat didasarkan atas kerja sama bukanlah sepihak (one way) tetapi adanya timbal balik (two way) prosesnya. Berbagai media hubungan sekolah-masyarakat Dalam pelaksanaan hubungan sekolah-masyarakat akan diperlukan sarana atau alat yang sering disebut dengan media komunikasi atau mass media. 1. Sistem visual (visual system) yaitu sistem komunikasi dengan mempergunakan alat-alat yang dapat dilihat dengan indra mata. Misalnya: majalah, gambar, poster-poster dan sebagainya. 2. Sistem audio (audio system) yaitu dengan menggunakan alat-alat yang berhubungan dengan indra pendengaran. Misalnya: tatap muka, rapat-rapat, kontak melalui telepon, telegram dan sebagainya. 3. Sistem audio visual yaitu sistem komunikasi dengan menggunakan alat-alat indra penglihatan dan pendengaran. Misalnya: televisi, film, dan sebagainya. Pada umumnya di dalam pelaksanaannya sekolah sering menggunakan kombinasi. Baik kombinasi yang secara lisan dan tertulis. Dan operasionalnya bisa secara formal dan informal. Jalur-jalur komunikasi sekolah masyarakat Ada beberapa jalur yang mungkin dapat ditempuh walaupun demikian jalur yang paling menguntungkan adalah jalur yang langsung berhubungan dengan murid dan situasi pertemuan langsung (face to face). Jalur-jalur lain yang mungkin dapat ditempuh dalam hubungan sekolahmasyarakat adalah: 1) Anak/murid Anak/murid adalah merupakan mata rantai komunikasi yang paling efektif antara masyarakat dengan sekolah. Segala sesuatu dilihat, dirasakan, dihayati di sekolah dapat dikomunikasikan kepada orang tuanya. Tampaknya ha tersebut mengandung implikasi bahwa l landasan utama hubungan sekolah-masyarakat yang sehat adalah program pengajaran yang efektif dan taraf hubungan guru-muridnya yang tinggi. 2) Surat-surat selebaran dan buletin sekolah Biasanya orang tua akan membaca dengan cermat selebaran dan buletin yang langsung diterima dari sekolah. Dan agar lebih efektif, komunikasi tertulis ini harus berisi informasi yang diperlakukan oleh orang tua murid, ini berarti informasi yang diperlukan oleh orang tua murid tersebut, khususnya mengenai hal-hal yang sedang terjadi pada mereka. Untuk itu semua hendaknya diatur sedemikian rupa sehingga dapat menarik dan mengena pada sasarannya. 3) Mass media (media massa) Media massa seperti radio, surat kabar, televisi merupakan media yang sangat berharga untuk menyampaikan informasi kepada orang tua murid. Walaupun efektivitasnya sering dilebih-lebihkan oleh para administrator. Dan kebanyakan siaran-siaran lewat media massa ini ditangani oleh administrator pusat. Sehingga para pelaksana/guru hanya sebagai konsumen saja. Hal ini sebenarnya tidak adil, karena pihak operasional tidak diikutsertakan. 4) Pertemuan informal Para guru dan staf sekolah lainnya dapat mengadakan hubungan dengan warga masyarakat secara tidak resmi, dengan santai. Hal ini memberikan kesempatan untuk memperbincangkan persoalan-persoalan yang dapat segera langsung dijawab dan untuk membina hubungan yang kelak dapat memperlancar pertemuan -pertemuan resmi, jika diperlukan. 5) Laporan kemajuan murid (rapor) Laporan kemajuan murid yang secara formil disampaikan kepada orang tua merupakan alat lain bagi sekolah untuk berkomunikasi dengan mereka. Tetapi dengan jalan ini nampaknya hanya satu arah saja yang menimbulkan tujuan yang berbeda -beda. Bahkan mungkin tidak memberikan arti apa-apa. Untuk mengatasi hal demikian, sebaiknya dalam laporan kemajuan murid disertai lembaran-lembaran isian untuk mereka yang berisi pendapat, tanggapan dan saran-saran kepada sekolah. Dengan demikian komunikasi dua arah sedikit banyak dapat terpelihara. 6) Kontak formal Hal ini dapat dilakukan dengan melalui pertemuan-pertemuan resmi. Masyarakat atau orang tua diundang secara resmi oleh sekolah. Adapun dengan alatalat lain seperti surat, telepon dan sebagainya. Layanan sekolah yang baik dan mengesankan kepada mere akan ka 42 7) 8) membuat kesan yang mendalam bagi masyarakat. Dengan demikian, akan turut meningkatkan hubungan yang sehat antara sekolah dan masyarakat. Memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia di masyarakat. Umumnya para guru memanfaatkan sumber-sumber yang tersedia di masyarakat dalam menghidupkan dan memperkaya program pengajaran. Namun dalam hal ini sering diabaikan bahwa dalam pemanfaatan sumber-sumber tersebut sebetulnya merupakan cara terbaik untuk mengadakan hubungan dengan masyarakat. Misalnya pemanfaatan tokoh-tokoh masyarakat, ataupun dengan jalan karyawisata. lni adalah merupakan komunikasi yang intim karena seolaholah masyarakat ikut diperhatikan. Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan (BP3) Organisasi ini bekerja sama dengan sekolah dalam mengembangkan hubungan-hubungan yang sehat antara sekolah dengan masyarakat, BP3 ini merupakan wadah, sehingga kepala sekolah, guru dan masyarakat, dapat melakukan komunikasi dan memberikan informasi tentang inovasi-inovasi yang sedang dijalankan dalam program pengajaran dewasa ini. 43
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful