Oleh Moch Syarif Hidayatullah (Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta) Abstrak Tulisan ini bertujuan

untuk menjelaskan pandangan Islam ihwal bencana alam. Pandangan itu diambil dari Alquran dan hadis sebagai rujukan utama idiom, istilah, konsep, dan tema pokok dalam Islam.Ini terkait dengan sembilan kata yang diketahui berisi pandangan Islam soal bencana: zhulumat, al-kubar, al-karb, su', nailan, 'adzab, sayyi'ah, da'irah, dan mushIbah. Ada enam bencana alam yang disinggung Alquran, seperti banjir, gempa, angin topan, hujan batu, kemarau, dan kelaparan. Dari keenam bencana alam itu, diskusi mengenai bencana apakah sebagai ujian atau siksa, diketahui lebih banyak sebagai siksa. Meski demikian, bencana tidak bisa dicegah, hanya bisa diantisipasi saja. Cara orang melalui bencana juga ada beraneka, yang berbanding lurus dengan misteri bencana, yang kemudian dianggap sebagai hikmah. Ada delapan hikmah yang bisa didapat saat bencana. Semua data yang berkaitan dengan bencana diunduh untuk menghasilkan pandangan Islam secara utuh. Kata kunci : bencana alam, Islam, ujian, siksa

PENDAHULUAN Yang disebut bencana alam itu--sesuai definisi yang diberikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 131)--adalah sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan yang disebabkan oleh alam. Biasanya bencana ini menyangkut segala kejadian yang menimpa dalam skala yang besar dan efek yang luar biasa. Ada banyak bencana alam yang mengitari kehidupan ini, seperti gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, dan kekeringan. Selain bencana alam, ada bencana lain yang juga bisa berakibat fatal, yaitu bencana akibat ulah tangan manusia, seperti pengeboman, peperangan, kecelakaan beruntun, kecelakaan pesawat, dan kebakaran.Tulisan ini disajikan ketika bencana dalam skala besar datang silih berganti seperti hela nafas. Tsunami, gempa bumi, banjir, lumpur Porong, dan kekeringan, susul-menyusul menghabiskan air mata kita sebagai bangsa. Ini tidak memasukkan bencana ekonomi, politik, budaya, keamanan, pertahanan, dan moral, yang tak akan pernah bisa dibincangkan dalam tulisan sederhana ini. Indonesia benar-benar tak berdaya di tengah keterpurukan di berbagai bidang. Kejatuhan yang bertubi-tubi melanda bumi pertiwi persis seperti pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Lalu, apa sebetulnya yang terjadi dengan bencana yang tak juga menampakkan tanda-tanda akan berhenti? Ada apa dengan negeri ini? Adakah bencana itu ada kaitannya dengan ulah sebagian kita yang mengabaikan merawat dan menjaga anugerah Ilahi, sehingga yang semula anugerah berubah menjadi nestapa? Atau, bencana itu menjadi penanda negeri ini akan diangkat derajatnya? Pandangan Islam yang tercermin dalam Alquran dan sabda Nabi Muhammad (hadis) terkait dengan banyaknya bencana,

Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Departemen Agama RI. Ayat dan hadis yang memuat data dikumpulkan untuk memudahkan pengamatan terhadap konteks masingmasing kata di atas. metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah kajian lapangan. istilah. Untuk melihat masing-masing kata dalam konstruksi kalimat. tulisan ini memanfaatkan teori Cruse (1986) dan (2000). tulisan ini juga memanfaatkan kajian pustaka.Untuk analisis pada saat kata itu berada dalam konstruksi kalimat. Bahasa Arab tulis yang dipergunakan sebagai data tulisan ini adalah bahasa Arab baku (fusha). tulisan ini akan mengamati. Pengumpulan data dilakukan dengan menginventariskan data yang diambil dari sumber data di atas dengan teknik sadap dan catat (Mahsun 2000: 66-67). seperti AlQurthubi (1997) dan Ibn Katsir (1997). Pemilihan Alquran dan hadis sebagai sumber data didasarkan pada pandangan bahwa ragam bahasa tulis Alquran dan hadis adalah ragam bahasa baku yang dipahami oleh semua penutur Arab dan kegramatikalannya pun tidak diragukan (Holes 1995). Terjemahan Alquran yang dipergunakan berasal dari Tim Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an.akan disajikan di tulisan ini. Data yang menjadi objek tulisan saya adalah semua kata yang berkaitan dengan bencana alam yang terdapat dalam Alquran dan hadis. menganalisis. tulisan ini memanfaatkan pendapat para ahli tafsir Alquran. ragam bahasa tulis yang dipergunakan sebagai data dengan pertimbangan bahwa ragam tulis lebih mantap dan terencana. secara kronologis dapat dirinci sebagai berikut: (1) menemukan kata yang termasuk dalam kategori musibah dan bencana alam. melalui fasilitas mesin pencari yang tersedia pada CD-ROM. METODOLOGI Dalam tulisan ini. Data yang dikumpulkan berperan sebagai percontoh untuk menemukan kaidah yang pada akhirnya diharapkan juga menjangkau data yang pada saat diteliti tidak ditemukan. tulisan ini memanfaatkan sumber data utama dari Al Quran Digital Versi 2. Kasus seperti itu bisa saja terjadi bila sebuah kata merujuk pada acuan yang berbeda sesuai dengan konteks pemakaian kata itu. Namun. terutama yang diperoleh dari Alquran dan hadis. (3) mengklasifikan data yang sudah teridentifikasi berdasarkan ciri semantis untuk memperoleh klasifikasi jenis bencana alam. Cruse (2000: 105) menyebut sebuah kata bisa saja tidak hanya mempunyai satu makna. (2) mengamati makna yang terdapat pada kata itu berdasarkan konteks dan koteksnya. Secara umum. dan tema pokok Islam. terkait dengan bencana alam. Alasan lain dipilihnya Alquran dan hadis adalah karena keduanya menjadi sumber utama semua idiom. Tulisan ini juga memanfaatkan terjemahan Alquran yang dipergunakan untuk memperbandingkan makna kata yang diteliti dengan buku tafsir di atas. yaitu pada saat menjelaskan makna kata dalam konstruksi kalimat. Sebagai contoh kalimat (a) They moored the boat to the bank dan (b) He . terutama dalam Alquran (dalam beberapa kasus melibatkan hadis).Interpretasi yang diberikan pada kata tertentu akan sangat beragam dari satu konteks ke konteks yang lain. Dengan kata lain. Langkah pemerolehan data kata pada konstruksi kalimat. yang diharapkan sebisa mungkin melengkapi beberapa tinjauan Islam sebelumnya terkait dengan masalah ini yang terlihat belum utuh dan sistematis. 2004. Dengan pertimbangan untuk menghasilkan konteks makna yang akurat berdasarkan intuisi penutur asli bahasa Arab.0 (CD-ROM). mendeskripsikan. dan menjelaskan pandangan Islam.2004.Tulisan ini merupakan studi kasus yang bersifat kualitatif (Merriam 1988: 16 dalam Nunan 1992: 77).

6: 64. (2) keputusan makna intuitif yang dikemukakan oleh penutur asli pada materi bahasa dalam satu jenis atau yang lain. Alquran--sesuai terjemahan yang dilakukan oleh tim ahli Departemen Agama (Al Quran Digital 2. 16: 53—54. (11) musibah yang menjadi siksa. seperti pada QS 22: 11. seperti terdapat pada QS 9: 26. 3: 165.. kata nailan. 64: 11. seperti pada QS 3: 165. 39: 51. kata al-karb. Kelima puluh ayat itu dikelompokkan oleh al-Zuhayli (2002: 762) menjadi 16 tema. 28: 47.Pertama. seperti pada QS 8: 25. Keenam belas tema itu masing-masing: (1) ketika musibah datang. 31: 17. 9: 52. Kata ini diserap dalama bahasa Indonesia menjadi musibah yang mempunyai dua makna: pertama. kata da'irah. Ini paling tidak terlihat dalam bentuk verba perfektif pada QS 3: 146 (ashaba). seperti pada QS 6: 17. seperti pada QS 7: 156. 37: 76. 30: 36. Kata ini sendiri sedikitnya terdapat pada 50 ayat di Alquran. 21: 76. (3) musibah itu takdir dari Allah. 38: 25. ‘kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa’. (4) Allah saja yang bisa menyirnakan musibah. ‘malapetaka’ (lih. seperti pada QS 3: 146. seperti terdapat pada QS 6: 23. secara intuitif penutur asli pada umumnya bisa membedakan perbedaan makna yang terjadi pada kata itu. dalam bentuk verba imperfektif pada QS 13: 31 (y[t]ushIbu). 42: 48. seperti pada QS 2: 155—156. 70: 19—20. Keenam. kata sayyi'at (bentuk jamak). kata 'adzab. 10: 107. seperti terdapat pada QS 9: 120. 42: 48. 10: 12. Jadi. (13) musibah akibat kelalaian manusia. seperti pada QS 17: 83. seperti pada QS 3: 165. Selain kata ini. Alquran juga menggunakan kata ini di antaranya untuk memaknai apa yang kita kenal sebagai bencana. 14: 49. kata su'. kata mushIbah-lah yang paling banyak dipergunakan sebagai pengganti konsep bencana dalam bahasa Indonesia. 16: 34. kata bank pada kalimat (a) harus bermakna ‘sloping side of river’ dan pada kalimat (b) harus bermakna ‘financial institution’. Keempat. (2) meramalkan musibah. kata zhulumat (bentuk plural dari zhulmah). seperti terdapat pada QS 33: 17. Namun demikian. Sedikitnya ada delapan kata yang kemudian dipadankan dengan bencana.is the manager of a local bank. segala hal yang tidak disukai yang menimpa seseorang disebut mushIbah (lih. CD-ROM 2004)—menggunakan kata lain yang berkonsep bencana. 4: 78. 2003: 754). 41: 51. seperti terdapat pada QS 3: 120. HASIL DAN DISKUSI Kata Bencana dalam AlquranDalam bahasa Arab.0. Berdasarkan konteksnya. 24: 63. kata alkubar. 13: 31. Al-Ayid. 9: 51. 4: 62. 57: 22. Cruse (1986: 8) menyebut dua sumber utama pada data primer dalam kasus seperti itu: (1) keluaran yang produktif dari seorang penutur asli suatu bahasa baik yang tertulis maupun yang terucap. 4: 106. (14) musibah . Kelima. 42: 30. (5) sabar dalam menghadapi musibah. (6) siksa berupa musibah. seperti terdapat pada QS 74: 35. kata sayyi'ah (bentuk tunggal). 4: 78—79. 11: 81. seperti pada QS 3: 166. (9) kufur ketika musibah datang. 3: 33. (8) putus asa saat musibah datang. (12) musibah di jalan Allah. (7) musibah mengenai siapa saja. Ketujuh. seperti pada QS 7: 95. 3: 172. 2002: 766). seperti pada QS 2: 214. 22: 11. seperti terdapat pada QS 37: 115. seperti terdapat pada QS 7: 168. Alwi dkk. 22: 35. Kedua. Kedelapan. (10) kepanikan menghadapi musibah. kedua. dan dalam bentuk nomina pada QS 9: 50 (mushIbah). Ketiga. seperti terdapat pada QS 5: 52. 7: 100. 30: 36. seperti pada QS 7: 131.

berupa kematian." (QS Al-A'raf [7]: 165). seperti pada QS 3: 120. zalim. Kesan ini pun tercermin dalam beberapa ayat Alquran. maka bencana itu menjadi ujian bagi pelakunya. sehingga janji Allah itu terbukti. seperti pada QS 3: 117. Sejauh pengamatan saya. seperti pada QS 5: 106. Alquran mengelompokkan bencana menjadi dua kelompok ini. Kelompok bencana yang menjadi ujian terdapat setidaknya pada ayat berikut: "Mengapa ketika ditimpa bencana (pada Perang Uhud). Allah tidak menyalahi janji. bila bencana itu diakibatkan oleh perilaku maksiat. Dalam Islam pun. Hanya saja kata mushIbah berikut derivasi dan infleksinya yang terdapat di Alquran itu tidak selalu mengacu pada konsep bencana alam yang menjadi bahasan tulisan ini. 4: 72. banjir. Kelompok bencana yang menjadi siksa yang diakibatkan perilaku zalim terdapat pada ayat berikut: "Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: ." (QS Al-Ra'd [13]: 31). maka Alquran selalu mengelompokkannya ke dalam bencana yang menjadi siksa dan berkait dengan perilaku tidak beriman. Bencana yang menjadi siksa terdapat pada ayat berikut: "Orang yang tidak beriman senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka. Namun. 9: 50. angin topan. (16) musibah akibat kezaliman. tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. karena musibah apa pun meskipun skala dan efeknya kecil tetap saja bisa disebut mushIbah.' Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. yang tentu saja dalam bahasa Indonesia tidak bisa disebut bencana alam. 'Itu (berasal) dari (kesalahan) dirimu sendiri. untuk kemudian mengukur seberapa besar kadar keimanannya. mana bencana yang menjadi ujian dan mana bencana yang menjadi siksa. (15) musibah yang disukai musuh. Pada ayat-ayat di atas parameternya sangat jelas. seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin. lalu angin itu merusaknya. yang menyapu tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri. Ujian atau Siksa? Pertanyaan ini selalu saja menarik peneliti yang mengkaji tema bencana alam dalam tinjauan agama apa pun. maka bencana itu menjadi siksa. dan paceklik. Allah tidak menganiaya mereka. Sebaliknya. Bencana akibat perilaku maksiat terdapat pada ayat berikut: "Ketika mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka." (QS Ali Imran [3]: 165). Kami (Allah) menyelamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras. Ada lima bencana alam yang disinggung dalam Alquran: gempa. Konsepnya lebih luas daripada kata bencana alam. disebabkan mereka selalu berbuat maksiat. pertanyaan ini juga banyak muncul. Terkait dengan gempa. Bila bencana itu diakibatkan karena kesalahan yang tidak disengaja. hujan batu. 'Darimana datangnya (bencana berupa kekalahan) ini?' Katakanlah. padahal kalian telah mengalahkan dua kali lipat musuh-musuhmu (pada Perang Badar). bila yang dimaksudkan bencana alam." (QS Ali Imran [3]: 117). dan tidak beriman yang disengaja. Kata mushIbah dalam Alquran itu mengacu pada definisi kata ini dalam bahasa Arab. kalian berkata. petir.

pohon Atsl. Data (2) juga berkaitan dengan sekelompok orang yang tidak mengimani kenabian Shaleh. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (5) "Tetapi mereka berpaling. (2) "Karena itu mereka ditimpa gempa. Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki." (QS Al-An'am [6]: 65). (6) "Lalu Kami wahyukan kepadanya. tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. 'Buatlah bahtera di bawah pantauan dan petunjuk Kami. Al-A'raf [7]: 78). kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Ayat (1) "Katakanlah. lalu mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Ayat ini berkaitan dengan orang yang tidak beriman atas Alquran sebagai kitab suci. kalau Engkau kehendaki. dan (juga) keluargamu. dan sedikit dari pohon Sidr. Engkaulah Yang memimpin kami. Kami pun datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit. Sementara itu. apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air. Musa berkata.Terkait dengan banjir. (3) "Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. . lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat. 'Ya Tuhanku."(QS Al-A'raf [7]: 155). Data (1) memang tidak secara eksplisit menyebut gempa. dari atas kamu atau dari bawah kakimu. ketika mereka digoncang gempa bumi. dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka.No. (4) "Mereka tidak mengimani Syuaib." (QS."(QS AlAnkabut [29]: 37). Lalu." (QS Saba' [34]: 16). Data (4) dengan tegas menyebut sekelopok orang yang tidak mengimani kenabian Syuaib. maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya. data (3) terkait dengan perbuatan sekelompok orang yang membuat patung anak lembu untuk dijadikan sesembahan selain Allah. tetapi yang dimaksud siksa yang dari bawah kakimu adalah gempa bumi. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau. maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis). Lalu. 'Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan siksa kepadamu.Keempat data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa gempa bumi itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman.

"(QS Al-Ahqaf [46]: 24)." (QS Al-Isra [17]: 69). Dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. Padahal. Terpancarnya air di dalam tanur itu menjadi tanda bahwa banjir besar akan melanda negeri itu. lalu mereka ditimpa banjir besar. mereka berkata. dan mereka adalah orang-orang yang zalim. karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana."(QS AlFath [48]: 4). Menurut Al-Qurthubi (1997). Informasi pada data (6) itu dilengkapi oleh data (7) bahwa banjir itu diakibatkan perilaku tidak beriman kaum Nuh terhadap kenabian Nuh (Noah). Tanur yang disebutkan pada data (6) adalah semacam alat pemasak roti yang diletakkan di dalam tanah terbuat dari tanah liat." (QS Al-Mukminun [23]: 27).Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun dalam hal ini terhadap (siksaan) Kami. (7) "Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. tidak ada air di dalamnya. (9) "Tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka. (11) "Atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi.Janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Banjir itu sebagai akibat atas ketidakberiman mereka pada Zat yang memberi nikmat.Ketiga data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa banjir itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman." (QS Al-Ankabut [29]: 14). (12) . sementara mereka tidak diberi pertolongan. lalu Dia meniupkan atas kamu angin topan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu. data (5) terkait dengan kaum Saba' yang mengingkari nikmat Tuhan. (yaitu) angin (topan) yang mengandung azab yang pedih. karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksa yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Biasanya. Banjir besar itu sendiridisebabkan oleh runtuhnya bendungan Ma'rib."(QS Fushshilat [41]: 16).Terkait dengan angin topan. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (8) "Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). siksa akhirat lebih menghinakan. 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.' (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera. (10) "Kami meniupkan angin (topan) yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial.

(14) "Apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkirbalikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu. Data (11) terkait dengan orang yang tidak beriman atas kenikmatan yang diterima."(QS Al-Isra [17]: 68). melainkan dijadikannya seperti serbuk. tentara langit dan bumi yang ada di ayat itu ialah penolong yang dijadikan Allah untuk orang-orang mukmin seperti malaikat-malaikat. (19) "Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka)." (QS AlHaqqah [69]: 6). (17) "Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus. lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat." (QS [54]: 19). Data (14) terkait dengan orang ."(QS Al-Qamar [54]: 34). Dengan kata lain."(QS Al-Haqqah [69]: 7). (15) "Kaum 'Ad telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. tentara langit dan bumi akan memukul orang yang tidak beriman. Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (13) "Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus."(QS Al-Ahzab [33]: 9). dan sebagainya. angin topan. (18) "Pada (kisah) 'Ad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Data (10) juga terkait dengan kaum 'Ad. kecuali keluarga Luth. Data (13) juga terkait dengan kaum 'Ad. Data (8) memang tidak disebutkan soal angin topan. Namun. binatang-binatang. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing. ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara. Kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). menurut Ibn Katsir (1997)."Hai orang-orang yang beriman." (QS Al-Dzariyat [51]: 41). Data (9) terkait dengan kaum 'Ad yang tidak beriman atas kenabian Hud." (QS Al-Dzariyat [51]: 42). Data (12) terkait dengan sekelompok orang menentang Allah dan Rasul-Nya. (16) "Angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilaluinya.

maka katakanlah. tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Ketiga ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa banjir itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman. seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan Tsamud. lalu amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. Mereka menyembah anak sapi. Mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu." (QS Al-Syuara [26]: 173). Data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa angin topan itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman. dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur. Data (19) terkait dengan kaum Luth yang tidak mengimani ajakan Luth untuk hidup normal dalam kecenderungan seksual.'"(QS Al-Syura [41]: 13). Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (24) "Jika mereka berpaling. Apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu?"(QS Al-Furqan [25]: 40)." Mereka disambar petir karena kezalimannya. Terkait dengan petir. Data (17) juga terkait dengan kaum 'Ad.Data (16) pun terkait dengan kaum 'Ad. Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka. dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orangorang yang berdosa itu. (25) "Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit.Terkait dengan hujan batu."(QS Al-Naml [27]: 58). Data (15) juga terkait dengan kaum 'Ad. Amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata. Mereka berkata. Semua data yang menginformasi siksa berupa hujan batu di atas berkaitan dengan kaum Luth yang tidak mengimani kenabian Luth serta tidak mengindahkan anjuran Luth untuk hidup normal secara seksual."(QS AlAnkabut [29]: 40). "Kami turunkan kepada mereka hujan (batu). Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (20) "Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu).yang tidak beriman atas kenikmatan yang diterima. (22) "Kami hujani mereka dengan hujan (batu). sesudah datang kepada mereka bukti-bukti ." (QS Al-A'raf [7]: 84). (23) "Masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Data (18) pun terkait dengan kaum 'Ad. 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir. (21) "Mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan terburuk ( hujan batu).

(30) "Kaum Tsamud telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. dan karena mengatakan."(QS Al-Nisa [4]: 155). menurut Al-Qurthubi (1997). lalu mereka disambar petir dan mereka melihatnya. disebabkan mereka melanggar perjanjian itu. . tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk. Data (28) menyinggung siksa yang diterima kaum Tsamud. Karenanya mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan." (QS Al-Haqqah [69]: 5). Data (26) memang tidak menyebut secara langsung ihwal petir. (29) "Mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya. menurut Ibn Katsir (1997). hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin. Data (24) menyinggung petir yang telah menyambar kaum 'Ad dan Tsamud.(QS Fushshilat [41]: 17). 'Hati kami tertutup. salah satu yang dimaksudkan orang Yahudi disambar petir. lalu Kami aafkan (mereka) dari yang demikian." (QS Al-Nisa [4]: 153). Demikian pula dengan data (29)." (QS Al-Dzariyat [51]: 44). (27) "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini).yang nyata."(QS Al-Kahf [18]: 40). Data (27) menginformasikan ihwal perilaku sseorang yang syirik sehingga kebunnya disambar petir. karena membunuh para nabi tanpa (alasan) yang benar. juga karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah. ialah petir yang amat keras yang menyebabkan suara mengguntur yang dapat menghancurkan. Data (25) menyinggung ihwal orang Yahudi pada zaman Nabi Musa juga tersambar petir karena ingin melihat Allah sebagai buah dari ketidakimanan mereka. (26) "(Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan)[377].' Bahkan. karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. Kami telah berikan kepada Musa keterangan yang nyata. tetapi pada frasa beberapa tindakan. Mudah-mudahan Dia mengirimkan keputusan (berupa petir) dari langit kepada kebunmu. Hanya yang dimaksud dengan kejadian luar biasa itu. Data (30) pun berkaitan dengan siksa yang diterima kaum Tsamud. meskipun tidak disebutkan kata petir di ayat itu. (28) "Kaum Tsamud telah Kami beri petunjuk. sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya. Ayat-ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa bencana alam yang berhubungan dengan petir berkaitan langsung dengan perilaku tidak beriman dan syirik yang berbuah siksa.

dan lain-lain. rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat. azab kubur. tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. . disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. menurut Ibn Katsir (1997). (33) "Untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu. dan Kami lenyapkan kemudaratan yang mereka alami. bencana alam selalu berkaitan erat dengan perilaku tidak beriman yang berbuah siksa. kelaparan malapetaka yang menimpa mereka. saat ittu Mekah dan sekitarnya dalam keadaan paceklik. Data (33) memang tidak secara eksplisit menginformasikan kemarau. karena tidak ada bahan makanan yang datang dari Yaman ke Mekah. paceklik." (QS AlA'raf [7]: 130). tetapi yang dimaksud kabut yang nyata. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Data (32) sangat gamblang menginformasikan hukuman yang diterima Firaun beserta pendukungnya yang tidak mengimani Allah. (32) "Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan. supaya mereka mengambil pelajaran. sehingga Tuhan melalui alam sebagai makhluk-Nya menunjukkan kekuatan-Nya. ialah bencana kelaparan yang menimpa kaum Quraisy karena mereka menentang Nabi Muhammad Saw. Data (35) juga tidak secara gamblang menginformasikan kelaparan.Terkait dengan kemarau. (34) "Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram." (QS Al-Thur [52]: 47). Gejala alam memang ada. tetapi yang dimaksud azab yang lain ialah musim kemarau. Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan. Dari data yang ada. Data (34) terkait dengan penduduk suatu negeri yang mengingkari keneikmatan Tuhan lalu mendapat bencana kelaparan dan ketakutan." (QS Al-Dukhan [44]: 10). dan kelaparan. (35) "Tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata. Karena itu."(QS Al-Nahl [16]: 112). mereka benar-benar akan terus menerus terombang-ambing dalam keterlaluan mereka. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (31) "Andaikata mereka Kami belas kasihani. Data yang terhimpun pada bagian ini membantah pandangan yang menyatakan bahwa bencana alam yang terjadi murni akibat gejala alam semata. Padahal. Data (31) terkait dengan kaum musyrikin yang mengalami kelaparan. Ada kesalahan yang kita buat baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa."(QS Al-Mukminun [23]: 75). tetapi itu bukan satu-satunya.

"Nuh berkata. Rela atau tidak. kisah perahu Nabi Nuh menjadi pelajaran tersendiri. Masalah tsunami. Ketika banjir bandang benar-benar terjadi. meski itu hanya meminimalisasi kemungkinan bencana menjadi lebih banyak dampaknya. Upaya antisipasi harus tetap dilakukan. seseorabf juga harus mendengar dan mengamalkan nasihat para cerdik pandai untuk membuat bangunan yang bisa menyelamatkannya dari bencana dahsyat bila kita berada di wilayah yang rawan tsunami dan siklus tsunami sudah dekat waktunya. putra Nuh. Orang-orang itu bisa berangkat dari kalangan ilmuwan atau bisa juga dari kalangan awam yang memiliki kearifan lokal. Nuh sudah melarang. Meskipun ini tidak bisa menjadi jaminan sepenuhnya. Caranya dengan mengantisipasi segala kemungkinan sehingga bisa lebih siap dalam menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. semua yang sudah ditentukan Tuhan pasti akan terlaksana. apakah tidak ada celah untuk bisa menghindarinya? Sebetulnya masih ada celah. Ini juga memberi pelajaran agar kita mau mendengar orang-orang yang diberikan kemampuan lebih oleh Allah yang memang diyakini kejujuran dan reputasinya. Lalu. berfirman. Ketakaburan akan antisipasi ini pernah ditunjukkan oleh Qan'an. Bila mengikuti logika ayat ini. Allah memerintahkan membuat perahu itu karena akan ada banjir bandang luar biasa di negeri yang ditinggalinya. Dulu ada Ronggowarsito dan tentu saja para wali songo. Mereka itu akan ditenggelamkan. Nabi Nuh bersama kaumnya yang taat selamat. karena setiap bencana punya rahasia dan misterinya tersendiri.Mengantisipasi BencanaDalam Islam. Nabi Nuh memang sudah diperintahkan Allah untuk menyiapkan perahu untuk keselamatannya dan keselamatan orang-orang yang berada di barisannya. Allah Swt. 'Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. Masalah gempa misalnya. Kisah Nabi Nuh ini memberikan pelajaran amat berharga.'" (QS Hud [11]: 43). Bangsa ini pun tidak pernah kehabisan orang-orang seperti Mbah Maridjan ini. “Ketika Allah dan Rasul-Nya memutuskan sesuatu.” (QS Hud [11]: 37). bencana alam yang memang sudah menjadi keputusan dan skenario Allah. Belakangan negeri ini punya Mbah Maridjan.” (QS Ali Imran [3]: 36). Karena tidak mendengar perintah sang ayah. patut juga mendengar orang-orang yang memiliki kearifan lokal. yang memang dianugerahi Allah kemampuan membaca penanda situasi dan kemampuan mengakrabi alam. ketentuan Tuhan tetap berlaku. Qan'an termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. “Buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami Jangan bicarakan di hadapan-ku tentang orang-orang yang zalim itu. Selain para ilmuwan. Padahal. . maka siapa pun tidak punya pilihan lain untuk menghindarinya. maka mereka tidak mempunyai pilihan lain. seseorang yang berada di daerah rawan gempa mesti mendengar apa nasihat para ahli tentang rumah tahan gempa. Perahu ini adalah bagian dari antisipasi untuk menghindari musibah. yang dengan gagah berani menyatakan Gunung Merapi aman. yang tidak mau mengikuti ajakan Nuh untuk naik ke atas kapal. meski upaya itu tidak boleh membuat takabur akan kemampuan yang dimiliki. "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" (QS Hud [11]: 43). Mengenai mengantisipasi musibah.

Masyah (2007) menyebut beberapa variasi orang dalam menyikapi musibah. Dari sabda Nabi Muhammad ini pula Islam mengajarkan bahwa manusia tidak bisa mengandalkan usaha.” (HR Al-Tirmidzi). Terkait dengan ini. Melalui Bencana dan Sikap PascabencanaSemua orang pasti tidak mengharapkan mendapat bencana. informatif. korektif. seperti daging.” (HR Al-Bukhari). Nabi Muhammad pernah mewanti-wanti. Semua sikap ini. inovatif. Manusia hanyalah hamba yang dikendalikan skenario Tuhan. histeris. siapa saja menjadi lebih tenang menerima ketentuan Allah. Beberapa saat . meskipun mereka tahu bencana itu penting dalam proses kemanusiaan. es. aktif. Kamu berada dalam penglihatan-Ku. Manusia juga tidak boleh hanya mengandalkan tawakal.” (QS Al-Thur [52]: 48). kontraproduktif. bahkan proaktif. tanpa disertai usaha. siapa saja yang marah (pada ketentuan Allah). maka dia akan mendapat murka Allah. pasif. solider. Kerelaan akan ketentuan yang sudah digariskan-Nya juga membuat seseorang mampu menerimanya dengan ikhlas. produktif. Ketika ada sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lantaran ia bertawakal sepenuhnya pada Allah. biasanya memang belum disadari dampak yang akan timbul setelahnya. dan penghambaan. “Ikat dulu. Keyakinan bahwa Dia berlaku adil dan tidak ceroboh dalam menentukan takdir-Nya seperti ini. antisipatif. Sikap seperti ini pasti akan menghantarkannya pada jalan keluar. optimalisasi peran usaha dan tawakal hanya bisa mantap apabila diiringi doa. hanya bisa diperoleh bila seseorang berprasangka baik terhadap-Nya. banyak cara orang dalam menyikapinya. Namun sesuai sunatullah.” (QS Al-Baqarah [2]: 216). yang manismanis. traumatis. seperti reaktif. baru tawakal. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu.Saat bencana datang di menit-menit pertama. atau hanya sekadar rekreatif. maka positif juga takdir yang akan didapatkan. koruptif. altruistif. emosional. Allah Swt. "Siapa saja yang rela (akan ketentuan Allah). Bukankah banyak penyakit yang disebabkan oleh sesuatu yang sangat disukai. bila negatif prasangka negatif. Sebaliknya. berhubungan erat dengan kualitas orang yang bersangkutan. maka takdir yang akan ditetapkan-Nysa juga akan negatif. kontemplatif. dan lain sebagainya? Sebaliknya. Dengan berdoa. positif atau negatif dalam pandangannya. keberagaamaan. introspektif. Sikap berprasangka positif ini ditandai dengan mau bersabar melalui bencana dan rela menerima takdir sembari terus berusaha.Nabi Muhammad semenjak 15 abad lalu sudah menitipkan prinsip penting dalam masalah antisipasi ini. Lalu. Nabi langsung menegur orang itu. administratif. karena Tuhan juga tidak menurunkan hujan emas begitu saja. arif. maka dia akan memperoleh kerelaan Allah. menurutnya. “Aku ini bergantung dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku. Allah berfirman. sesuatu yang menyenangkan justru banyak mendatangkan madarat di belakang hari. padahal sesuatu itu sangat tidak baik buat kalian. responsif. tanpa disertai tawakal. Terkait dengan bencana ini. Sebaliknya. tidak jarang sesuatu yang tidak diinginkan justru menjadi sesuatu yang banyak manfaatnya di kemudian hari." (HR Al-Thabrani). bukankah sebagian besar obat justru rasanya tidak sangat disukai? Inilah sunatullah yang sudah diabadikannya dalam ayat kauniyah di atas dan ayat qauliyah berikut: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu. berfirman. Namun. “Bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu. Doa sekaligus menunjukkan ketidakmampuannya mencapai apa yang diinginkannya dalam berusaha dan bertawakal. Itu berarti bila seseorang berprasangka positif pada Allah. padahal sesuatu itu sangat baik buat kalian. Dalam salah satu hadis qudsi.

menangis. yang mesti ddisadari dari awal bahwa semua ini pasti akan dimintaNya kembali. seseorang tidak punya harapan lagi? Tentu saja tidak. Dan. ada hadis Nabi yang menyatakan—kalau benar ini hadis—mayat akan disiksa lantaran teriakan histeris keluarganya. “Apa Anda menangis? Bukankah Anda melarang kita menangis di saat seperti ini?” Apa jawab Nabi? “Aku hanya dilarang berteriak-teriak histeris. Nabi Muhammad saja saat ditinggal putranya yang bernama Ibrahim pergi menghadap Sang Khalik. Tapi. ia sesungguhnya tidak memiliki apa pun. tidak. beliau juga bersedih dan bahkan menangis. Dengan bersikap seperti itu. barulah terpikirkan banyak hal yang mungkin terjadi di kemudian hari. seolah-olah tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Pertanyaannya. Ketika ada seorang sahabat yang bertanya setelah melihat Nabi menangis atas kematian Ibrahim.setelah bencana itu menimpa. Semua yang ada pada dirinya hanya semata-mata titipan ilahi. apa salah seseorang menangis dan bersedih setelah mendapat bencana dalam pandangan Islam? Jawabnya. bahkan nyawa yang mengalirkan nafas kehidupan ini juga tak akan sanggup ditolak ketika Dia memintanya. ia pasti tak sanggup menolak ketika Pemiliknya meminta kembali. yang dilarang bukan menangis dan bersedih. Ini juga biasa dilakukan orang-orang yang biasa mendramatisasi persoalan. Ia bahkan tidak mempunyai kekuatan sedikit pun menolak bencana yang menghampiri. Mata ini tak kuasa menahan tetes air mata. Ini sudah menjadi sunatullah (hukum alam) bahwa ketika ada yang datang pasti ada yang pergi. Berteriak histeris juga merupakan reaksi berlebihan atas bencana yang menimpa. Ini juga melanggar asas proporsionalitas. Hadis ini yang sering dijadikan alasan orang menyalahkan orang lain yang menangisi dan bersedih saat mendapat bencana seperti kematian. Hati pun tak sanggup menahan sedih. Beliau begitu bersedih hingga tahun itu dinamakan dengan ‘am al-huzn (tahun kesedihan). karena kedua hal itu manusiawi. Khadijah. putranya. yang memang dipergunakan-Nya untuk menguji sejauh mana ia memanfaatkannya untuk kepentingan yang memang disukaiNya. anggapan seperti itu tidak benar adanya. Karena. bila teliti melihat redaksi hadis itu. Karena sifatnya merupakan titipan. Nah. bahkan atas apa yang melekat. Mengapa berteriak histeris dilarang? Berteriak histeris itu simbol keputusasaan. Biasanya ini dilakukan oleh orang yang mengidap sindrom Firaun. Saat ditinggal istrinya yang pertama. aku hanya mengatakan apa yang diridai Allah. Saat itulah biasanya seseorang mulai bersedih. seolah-olah semuanya sudah berakhir. dan pamannya yang selalu membela perjuangannya. Tangapan Nabi atas pertanyaan sahabat di atas juga semakin meyakinkan kita semua bahwa menangis dan bersedih bukan suatu yang salah. Memang. Seorang muslim harus menyadari bahwa dirinya milik Allah. meski itu sekecil titik sariawan yang menghiasi bagian mulutnya. Abu Thalib. dan berkeluh kesah. apakah ketika satu demi satu atau semua yang sudah diberikan-Nya itu diambil. tapi berteriak histeris. apalagi hanya sekadar menempel di tubuhnyaa.” Jawaban Nabi ini sekaligus memberi kunci menyikapi bencana. Namun. Bila ada yang hilang pasti akan . Dengan kata lain. Nabi Muhammad juga sangat terpukul. Padahal. memang ternyata banyak yang salah sangka seolah-olah dilarang menangis dan bersedih saat mendapat bencana.

Siapa yang pasrah kepada Allah. tetapi implementasinya tidak mengakar dalam kehidupan keseharian. Dia juga berjanji akan selalu memberi rezeki dari pintu yang tak terduga pada orang yang memiliki sikap ini. .ada ganti. semua yang menjadi milik-Nya pasti akan kembali pada-Nya. maka Allah akan memberinya jalan keluar dan membukakan pintu rezeki dari tempat yang tak terduga. niscaya Dia akan mencukupi kebutuhannya. satu demi satu atau sekaligus.” (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3). Kata ini memang terlalu populer. seseorang harus tetap konsisten menjalankan apa yang menjadi kewajiban dan menjauhi apa yang bukan menjadi hak sebagai orang yang beragama. maka yakinlah Dia pula yang akan mencukupi apa pun yang kita butuhkan. “Siapa saja yang bertakwa pada Allah. Asalkan ini dipahami dengan arif dan sanggup dijalani proses demi proses yang harus dilalui sebagai bagian dari ketentuan Allah. Optimisme seperti ini yang tersembul dalam doa yang biasa dipanjatkan orang-orang saleh setelah mendapat bencana: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. termasuk hidup ini dan seluruh perangkat pendukungnya. niscaya Allah memudahkan segala urusannya. Apalagi bila mau menambahkan sikap ini dengan kepasrahan yang disertai usaha dan doa. sikap ini juga mampu mengantarkan seseorang pada kesempurnaan kemanusiaan. baik kesalamatan imani maupun kesalamatan materi. Sikap ini pun sangat bermanfaat untuk mengembalikan dan memulihkan sisi kemanusiaan yang terkoyak pada saat mengalami bencana. yang terpenting. Ia stabil meski digoncang apa pun. Doa ini memberikan penyadaran luar biasa bahwa yang memiliki semua ini. Dan. Dengan memiliki sikap ini. Padahal. “Siapa saja yang bertakwa pada Allah. adalah Allah. Ya Allah.” (QS Ath-Thalaq [65]: 4). Tidak hanya itu. Allah telah menjamin akan memberikan jalan keluar atas semua kesulitan hidup bila seseorang memiliki sikap ini. selamatkan aku dalam menghadapi musibah ini dan berikan aku ganti yang lebih baik daripada sesuatu yang sudah pergi). bukan fluktuasi yang mengantarkannya pada sisi negatif. kehambaan dan penghambaan tidak labil. tentu apa pun yang dialami. Kunci lain yang bisa mempercepat pemulihan pascamusibah dan pascamasalah ialah menata diri untuk tetap berada di jalan-Nya. Kalaupun berfluktuasi. Sesuai dengan mekanisme dan manajemen ilahi semenjak zaman azali. jaminan dan janji Allah tidak pernah diingkari-Nya. Biasanya hanya soal waktu saja. akan menjadi mudah saja. Harapan ini pun juga dibarengi dengan optimisme bahwa Allah akan mengirimkan ganti yang lebih baik daripada milik-Nya yang sudah diambil-Nya sebelum bencana. perlahan atau langsung mendadak. Inilah yang dalam bahasa agama biasa disebut takwa. Dengan kata lain. baik keselamatan ragawi maupun keselamatan rohani. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlifni khairan minha” (kita semua milik Allah dan kita pasti akan kembali pada-Nya. Kesadaran akan sunatullah yang paling mendasar ini sebetulnya akan banyak membantu proses pemulihan pascabencana. bahkan seberat apa pun. Seseorang hanya bisa berharap diberi keselamatan dalam menghadapi musibah itu. ini sesungguhnya yang mampu menjamin kesempurnaan keberagamaan seseorang. atau setidaknya tidak terlalu didramatisasi seolah dunia sudah berakhir.

Kehendak-Nya pun pasti diiringi kehendak-Nya yang lain." (QS Al-Insyirah [94]: 5). Seperti sudah disinggung sebelumnya. Hikmah di Balik BencanaKesadaran seperti itu juga harus dibarengi dengan optomisme bahwa Allah yang memberi bencana itu telah menyiapkan hikmah di balik b . Allah juga telah menentukan kadar segala sesuatu. ketika kehendak-Nya itu sudah terlaksana. semua yang dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Nah. yang meskipun mulanya terlihat menyusahkan. “Allah pasti melaksanakan semua yang dikehendakiNya. manusia memang tidak bisa menolak bencana. tetapi pada akhirnya akan menyenangkan. Itu pun jika Allah berkehendak. yakinilah bahwa semua sudah diukurnya. Setiap habis hujan deras pasti mentari bersinar lebih indah. Karena. Setiap kemacetan separah apa pun. pasti setelahnya ada kelengangan yang menjadi penghibur bagi pengendara yang melaluinya. Dia juga pasti adil memperlakukan ketentuan-Nya."Setiap ada kesulitan pasti ada kelapangan.” (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3-). Ia hanya bisa meminimalisasinya. Dia tidak akan memberikan bencana melebihi kadar yang sanggup ditanggung.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful