Oleh Moch Syarif Hidayatullah (Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta) Abstrak Tulisan ini bertujuan

untuk menjelaskan pandangan Islam ihwal bencana alam. Pandangan itu diambil dari Alquran dan hadis sebagai rujukan utama idiom, istilah, konsep, dan tema pokok dalam Islam.Ini terkait dengan sembilan kata yang diketahui berisi pandangan Islam soal bencana: zhulumat, al-kubar, al-karb, su', nailan, 'adzab, sayyi'ah, da'irah, dan mushIbah. Ada enam bencana alam yang disinggung Alquran, seperti banjir, gempa, angin topan, hujan batu, kemarau, dan kelaparan. Dari keenam bencana alam itu, diskusi mengenai bencana apakah sebagai ujian atau siksa, diketahui lebih banyak sebagai siksa. Meski demikian, bencana tidak bisa dicegah, hanya bisa diantisipasi saja. Cara orang melalui bencana juga ada beraneka, yang berbanding lurus dengan misteri bencana, yang kemudian dianggap sebagai hikmah. Ada delapan hikmah yang bisa didapat saat bencana. Semua data yang berkaitan dengan bencana diunduh untuk menghasilkan pandangan Islam secara utuh. Kata kunci : bencana alam, Islam, ujian, siksa

PENDAHULUAN Yang disebut bencana alam itu--sesuai definisi yang diberikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 131)--adalah sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan yang disebabkan oleh alam. Biasanya bencana ini menyangkut segala kejadian yang menimpa dalam skala yang besar dan efek yang luar biasa. Ada banyak bencana alam yang mengitari kehidupan ini, seperti gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, dan kekeringan. Selain bencana alam, ada bencana lain yang juga bisa berakibat fatal, yaitu bencana akibat ulah tangan manusia, seperti pengeboman, peperangan, kecelakaan beruntun, kecelakaan pesawat, dan kebakaran.Tulisan ini disajikan ketika bencana dalam skala besar datang silih berganti seperti hela nafas. Tsunami, gempa bumi, banjir, lumpur Porong, dan kekeringan, susul-menyusul menghabiskan air mata kita sebagai bangsa. Ini tidak memasukkan bencana ekonomi, politik, budaya, keamanan, pertahanan, dan moral, yang tak akan pernah bisa dibincangkan dalam tulisan sederhana ini. Indonesia benar-benar tak berdaya di tengah keterpurukan di berbagai bidang. Kejatuhan yang bertubi-tubi melanda bumi pertiwi persis seperti pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Lalu, apa sebetulnya yang terjadi dengan bencana yang tak juga menampakkan tanda-tanda akan berhenti? Ada apa dengan negeri ini? Adakah bencana itu ada kaitannya dengan ulah sebagian kita yang mengabaikan merawat dan menjaga anugerah Ilahi, sehingga yang semula anugerah berubah menjadi nestapa? Atau, bencana itu menjadi penanda negeri ini akan diangkat derajatnya? Pandangan Islam yang tercermin dalam Alquran dan sabda Nabi Muhammad (hadis) terkait dengan banyaknya bencana,

Data yang menjadi objek tulisan saya adalah semua kata yang berkaitan dengan bencana alam yang terdapat dalam Alquran dan hadis. Tulisan ini juga memanfaatkan terjemahan Alquran yang dipergunakan untuk memperbandingkan makna kata yang diteliti dengan buku tafsir di atas. Bahasa Arab tulis yang dipergunakan sebagai data tulisan ini adalah bahasa Arab baku (fusha). seperti AlQurthubi (1997) dan Ibn Katsir (1997). Terjemahan Alquran yang dipergunakan berasal dari Tim Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an. istilah.Tulisan ini merupakan studi kasus yang bersifat kualitatif (Merriam 1988: 16 dalam Nunan 1992: 77). metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah kajian lapangan. Dengan pertimbangan untuk menghasilkan konteks makna yang akurat berdasarkan intuisi penutur asli bahasa Arab. Kasus seperti itu bisa saja terjadi bila sebuah kata merujuk pada acuan yang berbeda sesuai dengan konteks pemakaian kata itu. terkait dengan bencana alam. menganalisis. Alasan lain dipilihnya Alquran dan hadis adalah karena keduanya menjadi sumber utama semua idiom. (2) mengamati makna yang terdapat pada kata itu berdasarkan konteks dan koteksnya. Ayat dan hadis yang memuat data dikumpulkan untuk memudahkan pengamatan terhadap konteks masingmasing kata di atas. Pemilihan Alquran dan hadis sebagai sumber data didasarkan pada pandangan bahwa ragam bahasa tulis Alquran dan hadis adalah ragam bahasa baku yang dipahami oleh semua penutur Arab dan kegramatikalannya pun tidak diragukan (Holes 1995). Dengan kata lain. tulisan ini memanfaatkan sumber data utama dari Al Quran Digital Versi 2. Secara umum. tulisan ini juga memanfaatkan kajian pustaka. Data yang dikumpulkan berperan sebagai percontoh untuk menemukan kaidah yang pada akhirnya diharapkan juga menjangkau data yang pada saat diteliti tidak ditemukan. (3) mengklasifikan data yang sudah teridentifikasi berdasarkan ciri semantis untuk memperoleh klasifikasi jenis bencana alam. Namun.2004. yang diharapkan sebisa mungkin melengkapi beberapa tinjauan Islam sebelumnya terkait dengan masalah ini yang terlihat belum utuh dan sistematis. 2004. melalui fasilitas mesin pencari yang tersedia pada CD-ROM.Interpretasi yang diberikan pada kata tertentu akan sangat beragam dari satu konteks ke konteks yang lain.0 (CD-ROM). terutama dalam Alquran (dalam beberapa kasus melibatkan hadis). tulisan ini memanfaatkan pendapat para ahli tafsir Alquran. mendeskripsikan. tulisan ini akan mengamati.akan disajikan di tulisan ini. ragam bahasa tulis yang dipergunakan sebagai data dengan pertimbangan bahwa ragam tulis lebih mantap dan terencana.Untuk analisis pada saat kata itu berada dalam konstruksi kalimat. terutama yang diperoleh dari Alquran dan hadis. Jakarta: Departemen Agama RI. Sebagai contoh kalimat (a) They moored the boat to the bank dan (b) He . Al-Qur’an dan Terjemahannya. secara kronologis dapat dirinci sebagai berikut: (1) menemukan kata yang termasuk dalam kategori musibah dan bencana alam. Langkah pemerolehan data kata pada konstruksi kalimat. METODOLOGI Dalam tulisan ini. Untuk melihat masing-masing kata dalam konstruksi kalimat. Pengumpulan data dilakukan dengan menginventariskan data yang diambil dari sumber data di atas dengan teknik sadap dan catat (Mahsun 2000: 66-67). tulisan ini memanfaatkan teori Cruse (1986) dan (2000). dan menjelaskan pandangan Islam. Cruse (2000: 105) menyebut sebuah kata bisa saja tidak hanya mempunyai satu makna. yaitu pada saat menjelaskan makna kata dalam konstruksi kalimat. dan tema pokok Islam.

(7) musibah mengenai siapa saja. (8) putus asa saat musibah datang. Kedelapan. 64: 11. 39: 51. Selain kata ini. kata da'irah. 7: 100. kedua. Alquran juga menggunakan kata ini di antaranya untuk memaknai apa yang kita kenal sebagai bencana. 2003: 754). 30: 36. seperti terdapat pada QS 6: 23. ‘kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa’. 37: 76. Kata ini sendiri sedikitnya terdapat pada 50 ayat di Alquran. 9: 51. 30: 36. (13) musibah akibat kelalaian manusia. (4) Allah saja yang bisa menyirnakan musibah. kata nailan. Kelima. segala hal yang tidak disukai yang menimpa seseorang disebut mushIbah (lih. 3: 165. 42: 48. seperti pada QS 6: 17. seperti terdapat pada QS 7: 168. (6) siksa berupa musibah. (10) kepanikan menghadapi musibah. (14) musibah . 42: 48. seperti pada QS 3: 165. seperti terdapat pada QS 9: 26. seperti pada QS 17: 83. Sedikitnya ada delapan kata yang kemudian dipadankan dengan bencana. (5) sabar dalam menghadapi musibah. Ketujuh.Pertama. Kelima puluh ayat itu dikelompokkan oleh al-Zuhayli (2002: 762) menjadi 16 tema. Jadi. 57: 22. seperti terdapat pada QS 37: 115. seperti pada QS 7: 156. 22: 11. Alwi dkk. Al-Ayid. HASIL DAN DISKUSI Kata Bencana dalam AlquranDalam bahasa Arab. secara intuitif penutur asli pada umumnya bisa membedakan perbedaan makna yang terjadi pada kata itu. 10: 12. 2002: 766). 3: 33. kata al-karb. 13: 31. kata su'. 38: 25. 4: 78. 4: 78—79. 28: 47.. kata 'adzab. seperti terdapat pada QS 33: 17. 22: 35. 11: 81. (2) keputusan makna intuitif yang dikemukakan oleh penutur asli pada materi bahasa dalam satu jenis atau yang lain. 42: 30. 6: 64. 31: 17. kata zhulumat (bentuk plural dari zhulmah). seperti terdapat pada QS 9: 120.0. 3: 172. 24: 63. seperti pada QS 3: 165. seperti pada QS 8: 25. seperti pada QS 7: 131. 16: 53—54. 4: 106. Berdasarkan konteksnya. CD-ROM 2004)—menggunakan kata lain yang berkonsep bencana. 9: 52. 70: 19—20. seperti pada QS 2: 155—156. ‘malapetaka’ (lih. Namun demikian.is the manager of a local bank. Cruse (1986: 8) menyebut dua sumber utama pada data primer dalam kasus seperti itu: (1) keluaran yang produktif dari seorang penutur asli suatu bahasa baik yang tertulis maupun yang terucap. Kata ini diserap dalama bahasa Indonesia menjadi musibah yang mempunyai dua makna: pertama. (9) kufur ketika musibah datang. seperti pada QS 7: 95. 4: 62. kata mushIbah-lah yang paling banyak dipergunakan sebagai pengganti konsep bencana dalam bahasa Indonesia. seperti pada QS 3: 146. kata sayyi'ah (bentuk tunggal). seperti pada QS 2: 214. Alquran--sesuai terjemahan yang dilakukan oleh tim ahli Departemen Agama (Al Quran Digital 2. 16: 34. 41: 51. 21: 76. Ini paling tidak terlihat dalam bentuk verba perfektif pada QS 3: 146 (ashaba). (2) meramalkan musibah. seperti pada QS 3: 166. (3) musibah itu takdir dari Allah. kata sayyi'at (bentuk jamak). Keenam belas tema itu masing-masing: (1) ketika musibah datang. 10: 107. kata alkubar. seperti pada QS 22: 11. seperti terdapat pada QS 5: 52. Keempat. kata bank pada kalimat (a) harus bermakna ‘sloping side of river’ dan pada kalimat (b) harus bermakna ‘financial institution’. Ketiga. Kedua. (12) musibah di jalan Allah. seperti terdapat pada QS 74: 35. seperti terdapat pada QS 3: 120. dalam bentuk verba imperfektif pada QS 13: 31 (y[t]ushIbu). dan dalam bentuk nomina pada QS 9: 50 (mushIbah). 14: 49. Keenam. (11) musibah yang menjadi siksa.

" (QS Ali Imran [3]: 165). Sejauh pengamatan saya. Kata mushIbah dalam Alquran itu mengacu pada definisi kata ini dalam bahasa Arab. Kelompok bencana yang menjadi ujian terdapat setidaknya pada ayat berikut: "Mengapa ketika ditimpa bencana (pada Perang Uhud). seperti pada QS 3: 120. bila yang dimaksudkan bencana alam. Konsepnya lebih luas daripada kata bencana alam. 'Darimana datangnya (bencana berupa kekalahan) ini?' Katakanlah. karena musibah apa pun meskipun skala dan efeknya kecil tetap saja bisa disebut mushIbah.berupa kematian. petir. banjir. Bencana akibat perilaku maksiat terdapat pada ayat berikut: "Ketika mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: . Kelompok bencana yang menjadi siksa yang diakibatkan perilaku zalim terdapat pada ayat berikut: "Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini. Ujian atau Siksa? Pertanyaan ini selalu saja menarik peneliti yang mengkaji tema bencana alam dalam tinjauan agama apa pun. bila bencana itu diakibatkan oleh perilaku maksiat." (QS Al-A'raf [7]: 165). 'Itu (berasal) dari (kesalahan) dirimu sendiri. Bencana yang menjadi siksa terdapat pada ayat berikut: "Orang yang tidak beriman senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka. yang tentu saja dalam bahasa Indonesia tidak bisa disebut bencana alam. maka Alquran selalu mengelompokkannya ke dalam bencana yang menjadi siksa dan berkait dengan perilaku tidak beriman. maka bencana itu menjadi ujian bagi pelakunya. angin topan." (QS Al-Ra'd [13]: 31). lalu angin itu merusaknya.' Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. pertanyaan ini juga banyak muncul. Dalam Islam pun. Bila bencana itu diakibatkan karena kesalahan yang tidak disengaja. 4: 72. mana bencana yang menjadi ujian dan mana bencana yang menjadi siksa. disebabkan mereka selalu berbuat maksiat. (15) musibah yang disukai musuh. (16) musibah akibat kezaliman. zalim. Namun. dan tidak beriman yang disengaja. Allah tidak menyalahi janji. Alquran mengelompokkan bencana menjadi dua kelompok ini. dan paceklik. seperti pada QS 5: 106. yang menyapu tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri. Ada lima bencana alam yang disinggung dalam Alquran: gempa. maka bencana itu menjadi siksa. Kesan ini pun tercermin dalam beberapa ayat Alquran. kalian berkata. Sebaliknya. seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin. 9: 50. Pada ayat-ayat di atas parameternya sangat jelas. sehingga janji Allah itu terbukti. Kami (Allah) menyelamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras. untuk kemudian mengukur seberapa besar kadar keimanannya. Hanya saja kata mushIbah berikut derivasi dan infleksinya yang terdapat di Alquran itu tidak selalu mengacu pada konsep bencana alam yang menjadi bahasan tulisan ini. seperti pada QS 3: 117. tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Allah tidak menganiaya mereka. Terkait dengan gempa. hujan batu. padahal kalian telah mengalahkan dua kali lipat musuh-musuhmu (pada Perang Badar)." (QS Ali Imran [3]: 117).

maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya." (QS Al-An'am [6]: 65). lalu mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka.No. 'Buatlah bahtera di bawah pantauan dan petunjuk Kami. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau."(QS Al-A'raf [7]: 155). Al-A'raf [7]: 78). Ayat (1) "Katakanlah. Musa berkata. Data (2) juga berkaitan dengan sekelompok orang yang tidak mengimani kenabian Shaleh. (2) "Karena itu mereka ditimpa gempa. (6) "Lalu Kami wahyukan kepadanya. (3) "Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan. Data (1) memang tidak secara eksplisit menyebut gempa. kalau Engkau kehendaki. tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. Sementara itu. Ayat ini berkaitan dengan orang yang tidak beriman atas Alquran sebagai kitab suci. lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (5) "Tetapi mereka berpaling. 'Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan siksa kepadamu. Engkaulah Yang memimpin kami. apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air. pohon Atsl."(QS AlAnkabut [29]: 37)." (QS. . kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis). 'Ya Tuhanku. data (3) terkait dengan perbuatan sekelompok orang yang membuat patung anak lembu untuk dijadikan sesembahan selain Allah." (QS Saba' [34]: 16). Data (4) dengan tegas menyebut sekelopok orang yang tidak mengimani kenabian Syuaib. dan sedikit dari pohon Sidr. Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. dari atas kamu atau dari bawah kakimu. Lalu. (4) "Mereka tidak mengimani Syuaib. dan (juga) keluargamu.Terkait dengan banjir. Kami pun datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit. dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. tetapi yang dimaksud siksa yang dari bawah kakimu adalah gempa bumi. Lalu. ketika mereka digoncang gempa bumi.Keempat data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa gempa bumi itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman.

" (QS Al-Ankabut [29]: 14). lalu mereka ditimpa banjir besar. (10) "Kami meniupkan angin (topan) yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial. siksa akhirat lebih menghinakan.' (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera. (12) . Kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi. Menurut Al-Qurthubi (1997). Informasi pada data (6) itu dilengkapi oleh data (7) bahwa banjir itu diakibatkan perilaku tidak beriman kaum Nuh terhadap kenabian Nuh (Noah). (9) "Tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka. dan mereka adalah orang-orang yang zalim. Banjir besar itu sendiridisebabkan oleh runtuhnya bendungan Ma'rib. data (5) terkait dengan kaum Saba' yang mengingkari nikmat Tuhan. Dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun."(QS Fushshilat [41]: 16).Janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. mereka berkata. 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami.Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun dalam hal ini terhadap (siksaan) Kami. Terpancarnya air di dalam tanur itu menjadi tanda bahwa banjir besar akan melanda negeri itu."(QS AlFath [48]: 4). tidak ada air di dalamnya. Banjir itu sebagai akibat atas ketidakberiman mereka pada Zat yang memberi nikmat. sementara mereka tidak diberi pertolongan." (QS Al-Isra [17]: 69). lalu Dia meniupkan atas kamu angin topan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu.Ketiga data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa banjir itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman. karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksa yang menghinakan dalam kehidupan dunia. Tanur yang disebutkan pada data (6) adalah semacam alat pemasak roti yang diletakkan di dalam tanah terbuat dari tanah liat. (7) "Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya."(QS Al-Ahqaf [46]: 24). Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (8) "Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Padahal. (11) "Atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi. (yaitu) angin (topan) yang mengandung azab yang pedih. Biasanya." (QS Al-Mukminun [23]: 27).Terkait dengan angin topan.

menurut Ibn Katsir (1997). Dengan kata lain. Data (12) terkait dengan sekelompok orang menentang Allah dan Rasul-Nya. melainkan dijadikannya seperti serbuk." (QS Al-Dzariyat [51]: 42). (19) "Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka). binatang-binatang. Data (14) terkait dengan orang . lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat. Data (13) juga terkait dengan kaum 'Ad. (15) "Kaum 'Ad telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang. (18) "Pada (kisah) 'Ad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. (14) "Apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkirbalikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu."Hai orang-orang yang beriman."(QS Al-Ahzab [33]: 9). Kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). angin topan. (13) "Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus. (17) "Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus."(QS Al-Isra [17]: 68)."(QS Al-Haqqah [69]: 7). (16) "Angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilaluinya. ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara. Data (9) terkait dengan kaum 'Ad yang tidak beriman atas kenabian Hud. Data (11) terkait dengan orang yang tidak beriman atas kenikmatan yang diterima. kecuali keluarga Luth. Namun. tentara langit dan bumi yang ada di ayat itu ialah penolong yang dijadikan Allah untuk orang-orang mukmin seperti malaikat-malaikat."(QS Al-Qamar [54]: 34). Data (10) juga terkait dengan kaum 'Ad. tentara langit dan bumi akan memukul orang yang tidak beriman." (QS AlHaqqah [69]: 6)." (QS [54]: 19). dan sebagainya. Data (8) memang tidak disebutkan soal angin topan. Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing." (QS Al-Dzariyat [51]: 41).

Semua data yang menginformasi siksa berupa hujan batu di atas berkaitan dengan kaum Luth yang tidak mengimani kenabian Luth serta tidak mengindahkan anjuran Luth untuk hidup normal secara seksual.'"(QS Al-Syura [41]: 13). (22) "Kami hujani mereka dengan hujan (batu). Mereka berkata.Data (16) pun terkait dengan kaum 'Ad." (QS Al-A'raf [7]: 84). tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri."(QS AlAnkabut [29]: 40). Amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi. 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir.yang tidak beriman atas kenikmatan yang diterima. Ketiga ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa banjir itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman. Data (19) terkait dengan kaum Luth yang tidak mengimani ajakan Luth untuk hidup normal dalam kecenderungan seksual. lalu amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. maka katakanlah."(QS Al-Naml [27]: 58). Data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa angin topan itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman. Mereka menyembah anak sapi. (23) "Masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya." Mereka disambar petir karena kezalimannya. Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka. Data (15) juga terkait dengan kaum 'Ad. Mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata. Terkait dengan petir. Data (17) juga terkait dengan kaum 'Ad.Terkait dengan hujan batu. dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan Tsamud. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (20) "Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu). sesudah datang kepada mereka bukti-bukti ." (QS Al-Syuara [26]: 173). (25) "Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Perhatikanlah bagaimana kesudahan orangorang yang berdosa itu. (21) "Mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan terburuk ( hujan batu). Data (18) pun terkait dengan kaum 'Ad. Apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu?"(QS Al-Furqan [25]: 40). "Kami turunkan kepada mereka hujan (batu). Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (24) "Jika mereka berpaling.

sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya. meskipun tidak disebutkan kata petir di ayat itu. (27) "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini).yang nyata. (30) "Kaum Tsamud telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Mudah-mudahan Dia mengirimkan keputusan (berupa petir) dari langit kepada kebunmu. Data (26) memang tidak menyebut secara langsung ihwal petir. hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin. disebabkan mereka melanggar perjanjian itu. Ayat-ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa bencana alam yang berhubungan dengan petir berkaitan langsung dengan perilaku tidak beriman dan syirik yang berbuah siksa. (28) "Kaum Tsamud telah Kami beri petunjuk. Data (28) menyinggung siksa yang diterima kaum Tsamud. Karenanya mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. dan karena mengatakan. Demikian pula dengan data (29). Data (27) menginformasikan ihwal perilaku sseorang yang syirik sehingga kebunnya disambar petir. Data (24) menyinggung petir yang telah menyambar kaum 'Ad dan Tsamud. 'Hati kami tertutup."(QS Al-Nisa [4]: 155). ." (QS Al-Haqqah [69]: 5). Data (30) pun berkaitan dengan siksa yang diterima kaum Tsamud. menurut Al-Qurthubi (1997). Hanya yang dimaksud dengan kejadian luar biasa itu."(QS Al-Kahf [18]: 40). ialah petir yang amat keras yang menyebabkan suara mengguntur yang dapat menghancurkan. karena membunuh para nabi tanpa (alasan) yang benar. juga karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah. lalu Kami aafkan (mereka) dari yang demikian. (26) "(Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan)[377]. tetapi pada frasa beberapa tindakan. (29) "Mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya. Data (25) menyinggung ihwal orang Yahudi pada zaman Nabi Musa juga tersambar petir karena ingin melihat Allah sebagai buah dari ketidakimanan mereka. karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. menurut Ibn Katsir (1997).' Bahkan. salah satu yang dimaksudkan orang Yahudi disambar petir." (QS Al-Dzariyat [51]: 44). Kami telah berikan kepada Musa keterangan yang nyata.(QS Fushshilat [41]: 17). lalu mereka disambar petir dan mereka melihatnya." (QS Al-Nisa [4]: 153). tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk.

dan kelaparan. Data (34) terkait dengan penduduk suatu negeri yang mengingkari keneikmatan Tuhan lalu mendapat bencana kelaparan dan ketakutan. Ada kesalahan yang kita buat baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa.Terkait dengan kemarau. dan Kami lenyapkan kemudaratan yang mereka alami. Data (31) terkait dengan kaum musyrikin yang mengalami kelaparan. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. ialah bencana kelaparan yang menimpa kaum Quraisy karena mereka menentang Nabi Muhammad Saw. azab kubur. Data yang terhimpun pada bagian ini membantah pandangan yang menyatakan bahwa bencana alam yang terjadi murni akibat gejala alam semata."(QS Al-Mukminun [23]: 75). kelaparan malapetaka yang menimpa mereka. paceklik. bencana alam selalu berkaitan erat dengan perilaku tidak beriman yang berbuah siksa. Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan. Dari data yang ada. Gejala alam memang ada. . dan lain-lain." (QS Al-Dukhan [44]: 10)." (QS Al-Thur [52]: 47). Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (31) "Andaikata mereka Kami belas kasihani."(QS Al-Nahl [16]: 112). Data (35) juga tidak secara gamblang menginformasikan kelaparan. Karena itu. (34) "Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram. supaya mereka mengambil pelajaran. (32) "Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan. disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. saat ittu Mekah dan sekitarnya dalam keadaan paceklik. tetapi itu bukan satu-satunya. (35) "Tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata. Data (33) memang tidak secara eksplisit menginformasikan kemarau. Padahal. menurut Ibn Katsir (1997). tetapi yang dimaksud azab yang lain ialah musim kemarau. Data (32) sangat gamblang menginformasikan hukuman yang diterima Firaun beserta pendukungnya yang tidak mengimani Allah. (33) "Untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu. karena tidak ada bahan makanan yang datang dari Yaman ke Mekah. tetapi yang dimaksud kabut yang nyata. mereka benar-benar akan terus menerus terombang-ambing dalam keterlaluan mereka. rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat. sehingga Tuhan melalui alam sebagai makhluk-Nya menunjukkan kekuatan-Nya." (QS AlA'raf [7]: 130).

Masalah tsunami. meski upaya itu tidak boleh membuat takabur akan kemampuan yang dimiliki. Nabi Nuh memang sudah diperintahkan Allah untuk menyiapkan perahu untuk keselamatannya dan keselamatan orang-orang yang berada di barisannya. yang dengan gagah berani menyatakan Gunung Merapi aman. Masalah gempa misalnya. Mengenai mengantisipasi musibah. berfirman. meski itu hanya meminimalisasi kemungkinan bencana menjadi lebih banyak dampaknya. seseorang yang berada di daerah rawan gempa mesti mendengar apa nasihat para ahli tentang rumah tahan gempa. Mereka itu akan ditenggelamkan. Kisah Nabi Nuh ini memberikan pelajaran amat berharga. ketentuan Tuhan tetap berlaku. 'Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. seseorabf juga harus mendengar dan mengamalkan nasihat para cerdik pandai untuk membuat bangunan yang bisa menyelamatkannya dari bencana dahsyat bila kita berada di wilayah yang rawan tsunami dan siklus tsunami sudah dekat waktunya. "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" (QS Hud [11]: 43). maka mereka tidak mempunyai pilihan lain. Ketakaburan akan antisipasi ini pernah ditunjukkan oleh Qan'an. yang tidak mau mengikuti ajakan Nuh untuk naik ke atas kapal. Caranya dengan mengantisipasi segala kemungkinan sehingga bisa lebih siap dalam menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Bangsa ini pun tidak pernah kehabisan orang-orang seperti Mbah Maridjan ini. patut juga mendengar orang-orang yang memiliki kearifan lokal. Belakangan negeri ini punya Mbah Maridjan. Lalu. Nuh sudah melarang. Ini juga memberi pelajaran agar kita mau mendengar orang-orang yang diberikan kemampuan lebih oleh Allah yang memang diyakini kejujuran dan reputasinya. bencana alam yang memang sudah menjadi keputusan dan skenario Allah. Allah Swt. Selain para ilmuwan. Ketika banjir bandang benar-benar terjadi. karena setiap bencana punya rahasia dan misterinya tersendiri. Allah memerintahkan membuat perahu itu karena akan ada banjir bandang luar biasa di negeri yang ditinggalinya. Padahal. “Buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami Jangan bicarakan di hadapan-ku tentang orang-orang yang zalim itu.'" (QS Hud [11]: 43). maka siapa pun tidak punya pilihan lain untuk menghindarinya. “Ketika Allah dan Rasul-Nya memutuskan sesuatu. Rela atau tidak. kisah perahu Nabi Nuh menjadi pelajaran tersendiri. semua yang sudah ditentukan Tuhan pasti akan terlaksana.” (QS Ali Imran [3]: 36). Bila mengikuti logika ayat ini. Qan'an termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. Meskipun ini tidak bisa menjadi jaminan sepenuhnya.Mengantisipasi BencanaDalam Islam. "Nuh berkata. Dulu ada Ronggowarsito dan tentu saja para wali songo. . Upaya antisipasi harus tetap dilakukan.” (QS Hud [11]: 37). Perahu ini adalah bagian dari antisipasi untuk menghindari musibah. yang memang dianugerahi Allah kemampuan membaca penanda situasi dan kemampuan mengakrabi alam. Orang-orang itu bisa berangkat dari kalangan ilmuwan atau bisa juga dari kalangan awam yang memiliki kearifan lokal. Nabi Nuh bersama kaumnya yang taat selamat. putra Nuh. apakah tidak ada celah untuk bisa menghindarinya? Sebetulnya masih ada celah. Karena tidak mendengar perintah sang ayah.

menurutnya. siapa saja yang marah (pada ketentuan Allah). koruptif. siapa saja menjadi lebih tenang menerima ketentuan Allah. Namun. bila negatif prasangka negatif. maka positif juga takdir yang akan didapatkan.Nabi Muhammad semenjak 15 abad lalu sudah menitipkan prinsip penting dalam masalah antisipasi ini. Namun sesuai sunatullah. Dari sabda Nabi Muhammad ini pula Islam mengajarkan bahwa manusia tidak bisa mengandalkan usaha. sesuatu yang menyenangkan justru banyak mendatangkan madarat di belakang hari. Allah Swt. administratif. "Siapa saja yang rela (akan ketentuan Allah). informatif. dan penghambaan. Masyah (2007) menyebut beberapa variasi orang dalam menyikapi musibah. berhubungan erat dengan kualitas orang yang bersangkutan. inovatif. atau hanya sekadar rekreatif. maka dia akan mendapat murka Allah. Doa sekaligus menunjukkan ketidakmampuannya mencapai apa yang diinginkannya dalam berusaha dan bertawakal. arif. maka takdir yang akan ditetapkan-Nysa juga akan negatif. seperti daging. Sikap seperti ini pasti akan menghantarkannya pada jalan keluar. yang manismanis. introspektif. Melalui Bencana dan Sikap PascabencanaSemua orang pasti tidak mengharapkan mendapat bencana. Sebaliknya. bahkan proaktif. “Bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu. Itu berarti bila seseorang berprasangka positif pada Allah. hanya bisa diperoleh bila seseorang berprasangka baik terhadap-Nya. Semua sikap ini. karena Tuhan juga tidak menurunkan hujan emas begitu saja. Bukankah banyak penyakit yang disebabkan oleh sesuatu yang sangat disukai. antisipatif. Terkait dengan bencana ini.” (HR Al-Tirmidzi)." (HR Al-Thabrani).” (QS Al-Baqarah [2]: 216). biasanya memang belum disadari dampak yang akan timbul setelahnya. Sebaliknya. aktif. pasif.” (QS Al-Thur [52]: 48). dan lain sebagainya? Sebaliknya. altruistif. “Aku ini bergantung dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku. seperti reaktif. Manusia hanyalah hamba yang dikendalikan skenario Tuhan. Ketika ada sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lantaran ia bertawakal sepenuhnya pada Allah. traumatis. padahal sesuatu itu sangat baik buat kalian. kontemplatif. meskipun mereka tahu bencana itu penting dalam proses kemanusiaan. maka dia akan memperoleh kerelaan Allah. berfirman. Terkait dengan ini. Kamu berada dalam penglihatan-Ku. optimalisasi peran usaha dan tawakal hanya bisa mantap apabila diiringi doa. solider. Allah berfirman. emosional. tanpa disertai usaha. tanpa disertai tawakal. Dalam salah satu hadis qudsi. Kerelaan akan ketentuan yang sudah digariskan-Nya juga membuat seseorang mampu menerimanya dengan ikhlas. Beberapa saat . histeris. banyak cara orang dalam menyikapinya. Lalu. Nabi langsung menegur orang itu.Saat bencana datang di menit-menit pertama. responsif. baru tawakal. Manusia juga tidak boleh hanya mengandalkan tawakal. Nabi Muhammad pernah mewanti-wanti.” (HR Al-Bukhari). Sikap berprasangka positif ini ditandai dengan mau bersabar melalui bencana dan rela menerima takdir sembari terus berusaha. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu. keberagaamaan. padahal sesuatu itu sangat tidak baik buat kalian. kontraproduktif. bukankah sebagian besar obat justru rasanya tidak sangat disukai? Inilah sunatullah yang sudah diabadikannya dalam ayat kauniyah di atas dan ayat qauliyah berikut: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu. “Ikat dulu. es. Keyakinan bahwa Dia berlaku adil dan tidak ceroboh dalam menentukan takdir-Nya seperti ini. produktif. Dengan berdoa. tidak jarang sesuatu yang tidak diinginkan justru menjadi sesuatu yang banyak manfaatnya di kemudian hari. korektif. positif atau negatif dalam pandangannya.

Hadis ini yang sering dijadikan alasan orang menyalahkan orang lain yang menangisi dan bersedih saat mendapat bencana seperti kematian. tidak. Dengan kata lain. Tapi. Beliau begitu bersedih hingga tahun itu dinamakan dengan ‘am al-huzn (tahun kesedihan). Ia bahkan tidak mempunyai kekuatan sedikit pun menolak bencana yang menghampiri. barulah terpikirkan banyak hal yang mungkin terjadi di kemudian hari. Ini juga melanggar asas proporsionalitas. bahkan atas apa yang melekat. Seorang muslim harus menyadari bahwa dirinya milik Allah. Tangapan Nabi atas pertanyaan sahabat di atas juga semakin meyakinkan kita semua bahwa menangis dan bersedih bukan suatu yang salah. beliau juga bersedih dan bahkan menangis. anggapan seperti itu tidak benar adanya. Pertanyaannya. Nabi Muhammad saja saat ditinggal putranya yang bernama Ibrahim pergi menghadap Sang Khalik. Memang. seolah-olah tidak ada lagi yang bisa diharapkan. “Apa Anda menangis? Bukankah Anda melarang kita menangis di saat seperti ini?” Apa jawab Nabi? “Aku hanya dilarang berteriak-teriak histeris. Saat itulah biasanya seseorang mulai bersedih. ia sesungguhnya tidak memiliki apa pun. yang memang dipergunakan-Nya untuk menguji sejauh mana ia memanfaatkannya untuk kepentingan yang memang disukaiNya. Ini juga biasa dilakukan orang-orang yang biasa mendramatisasi persoalan. karena kedua hal itu manusiawi. ada hadis Nabi yang menyatakan—kalau benar ini hadis—mayat akan disiksa lantaran teriakan histeris keluarganya. bila teliti melihat redaksi hadis itu. Namun. Khadijah. Bila ada yang hilang pasti akan . memang ternyata banyak yang salah sangka seolah-olah dilarang menangis dan bersedih saat mendapat bencana. putranya. ia pasti tak sanggup menolak ketika Pemiliknya meminta kembali. yang mesti ddisadari dari awal bahwa semua ini pasti akan dimintaNya kembali. Padahal. apa salah seseorang menangis dan bersedih setelah mendapat bencana dalam pandangan Islam? Jawabnya. Berteriak histeris juga merupakan reaksi berlebihan atas bencana yang menimpa. apalagi hanya sekadar menempel di tubuhnyaa. yang dilarang bukan menangis dan bersedih. tapi berteriak histeris. Ketika ada seorang sahabat yang bertanya setelah melihat Nabi menangis atas kematian Ibrahim. menangis. meski itu sekecil titik sariawan yang menghiasi bagian mulutnya.” Jawaban Nabi ini sekaligus memberi kunci menyikapi bencana. Hati pun tak sanggup menahan sedih. aku hanya mengatakan apa yang diridai Allah. Abu Thalib. dan pamannya yang selalu membela perjuangannya. Karena. apakah ketika satu demi satu atau semua yang sudah diberikan-Nya itu diambil. seolah-olah semuanya sudah berakhir. Ini sudah menjadi sunatullah (hukum alam) bahwa ketika ada yang datang pasti ada yang pergi. Dengan bersikap seperti itu. Mata ini tak kuasa menahan tetes air mata. Karena sifatnya merupakan titipan. Nah. Biasanya ini dilakukan oleh orang yang mengidap sindrom Firaun. Nabi Muhammad juga sangat terpukul. bahkan nyawa yang mengalirkan nafas kehidupan ini juga tak akan sanggup ditolak ketika Dia memintanya. dan berkeluh kesah. Dan. Semua yang ada pada dirinya hanya semata-mata titipan ilahi.setelah bencana itu menimpa. seseorang tidak punya harapan lagi? Tentu saja tidak. Saat ditinggal istrinya yang pertama. Mengapa berteriak histeris dilarang? Berteriak histeris itu simbol keputusasaan.

maka Allah akan memberinya jalan keluar dan membukakan pintu rezeki dari tempat yang tak terduga. Asalkan ini dipahami dengan arif dan sanggup dijalani proses demi proses yang harus dilalui sebagai bagian dari ketentuan Allah. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlifni khairan minha” (kita semua milik Allah dan kita pasti akan kembali pada-Nya. yang terpenting.” (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3). selamatkan aku dalam menghadapi musibah ini dan berikan aku ganti yang lebih baik daripada sesuatu yang sudah pergi). “Siapa saja yang bertakwa pada Allah. “Siapa saja yang bertakwa pada Allah. maka yakinlah Dia pula yang akan mencukupi apa pun yang kita butuhkan. Inilah yang dalam bahasa agama biasa disebut takwa. Kunci lain yang bisa mempercepat pemulihan pascamusibah dan pascamasalah ialah menata diri untuk tetap berada di jalan-Nya. baik keselamatan ragawi maupun keselamatan rohani. Optimisme seperti ini yang tersembul dalam doa yang biasa dipanjatkan orang-orang saleh setelah mendapat bencana: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. baik kesalamatan imani maupun kesalamatan materi. Kesadaran akan sunatullah yang paling mendasar ini sebetulnya akan banyak membantu proses pemulihan pascabencana. Ya Allah. Kalaupun berfluktuasi. Harapan ini pun juga dibarengi dengan optimisme bahwa Allah akan mengirimkan ganti yang lebih baik daripada milik-Nya yang sudah diambil-Nya sebelum bencana. Apalagi bila mau menambahkan sikap ini dengan kepasrahan yang disertai usaha dan doa. Biasanya hanya soal waktu saja. Tidak hanya itu. kehambaan dan penghambaan tidak labil. Sikap ini pun sangat bermanfaat untuk mengembalikan dan memulihkan sisi kemanusiaan yang terkoyak pada saat mengalami bencana. Sesuai dengan mekanisme dan manajemen ilahi semenjak zaman azali. adalah Allah. Dan. seseorang harus tetap konsisten menjalankan apa yang menjadi kewajiban dan menjauhi apa yang bukan menjadi hak sebagai orang yang beragama. atau setidaknya tidak terlalu didramatisasi seolah dunia sudah berakhir.ada ganti. Kata ini memang terlalu populer. ini sesungguhnya yang mampu menjamin kesempurnaan keberagamaan seseorang.” (QS Ath-Thalaq [65]: 4). jaminan dan janji Allah tidak pernah diingkari-Nya. Doa ini memberikan penyadaran luar biasa bahwa yang memiliki semua ini. Ia stabil meski digoncang apa pun. Seseorang hanya bisa berharap diberi keselamatan dalam menghadapi musibah itu. akan menjadi mudah saja. bahkan seberat apa pun. Padahal. Dengan memiliki sikap ini. Siapa yang pasrah kepada Allah. satu demi satu atau sekaligus. Dengan kata lain. . perlahan atau langsung mendadak. semua yang menjadi milik-Nya pasti akan kembali pada-Nya. niscaya Allah memudahkan segala urusannya. bukan fluktuasi yang mengantarkannya pada sisi negatif. sikap ini juga mampu mengantarkan seseorang pada kesempurnaan kemanusiaan. tetapi implementasinya tidak mengakar dalam kehidupan keseharian. Dia juga berjanji akan selalu memberi rezeki dari pintu yang tak terduga pada orang yang memiliki sikap ini. niscaya Dia akan mencukupi kebutuhannya. tentu apa pun yang dialami. Allah telah menjamin akan memberikan jalan keluar atas semua kesulitan hidup bila seseorang memiliki sikap ini. termasuk hidup ini dan seluruh perangkat pendukungnya.

Dia tidak akan memberikan bencana melebihi kadar yang sanggup ditanggung. yang meskipun mulanya terlihat menyusahkan. Hikmah di Balik BencanaKesadaran seperti itu juga harus dibarengi dengan optomisme bahwa Allah yang memberi bencana itu telah menyiapkan hikmah di balik b . Itu pun jika Allah berkehendak. Dia juga pasti adil memperlakukan ketentuan-Nya. pasti setelahnya ada kelengangan yang menjadi penghibur bagi pengendara yang melaluinya. semua yang dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Kehendak-Nya pun pasti diiringi kehendak-Nya yang lain. Setiap kemacetan separah apa pun. Karena. Setiap habis hujan deras pasti mentari bersinar lebih indah. ketika kehendak-Nya itu sudah terlaksana. Nah. Seperti sudah disinggung sebelumnya.” (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3-). “Allah pasti melaksanakan semua yang dikehendakiNya." (QS Al-Insyirah [94]: 5). yakinilah bahwa semua sudah diukurnya. manusia memang tidak bisa menolak bencana. Allah juga telah menentukan kadar segala sesuatu."Setiap ada kesulitan pasti ada kelapangan. tetapi pada akhirnya akan menyenangkan. Ia hanya bisa meminimalisasinya.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful