P. 1
Al-Quran dan bencana alam

Al-Quran dan bencana alam

|Views: 1,268|Likes:
Published by mroslan_32

More info:

Published by: mroslan_32 on Apr 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/10/2013

pdf

text

original

Oleh Moch Syarif Hidayatullah (Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta) Abstrak Tulisan ini bertujuan

untuk menjelaskan pandangan Islam ihwal bencana alam. Pandangan itu diambil dari Alquran dan hadis sebagai rujukan utama idiom, istilah, konsep, dan tema pokok dalam Islam.Ini terkait dengan sembilan kata yang diketahui berisi pandangan Islam soal bencana: zhulumat, al-kubar, al-karb, su', nailan, 'adzab, sayyi'ah, da'irah, dan mushIbah. Ada enam bencana alam yang disinggung Alquran, seperti banjir, gempa, angin topan, hujan batu, kemarau, dan kelaparan. Dari keenam bencana alam itu, diskusi mengenai bencana apakah sebagai ujian atau siksa, diketahui lebih banyak sebagai siksa. Meski demikian, bencana tidak bisa dicegah, hanya bisa diantisipasi saja. Cara orang melalui bencana juga ada beraneka, yang berbanding lurus dengan misteri bencana, yang kemudian dianggap sebagai hikmah. Ada delapan hikmah yang bisa didapat saat bencana. Semua data yang berkaitan dengan bencana diunduh untuk menghasilkan pandangan Islam secara utuh. Kata kunci : bencana alam, Islam, ujian, siksa

PENDAHULUAN Yang disebut bencana alam itu--sesuai definisi yang diberikan Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002: 131)--adalah sesuatu yang menyebabkan atau menimbulkan kesusahan, kerugian, atau penderitaan yang disebabkan oleh alam. Biasanya bencana ini menyangkut segala kejadian yang menimpa dalam skala yang besar dan efek yang luar biasa. Ada banyak bencana alam yang mengitari kehidupan ini, seperti gempa bumi, tsunami, banjir bandang, tanah longsor, dan kekeringan. Selain bencana alam, ada bencana lain yang juga bisa berakibat fatal, yaitu bencana akibat ulah tangan manusia, seperti pengeboman, peperangan, kecelakaan beruntun, kecelakaan pesawat, dan kebakaran.Tulisan ini disajikan ketika bencana dalam skala besar datang silih berganti seperti hela nafas. Tsunami, gempa bumi, banjir, lumpur Porong, dan kekeringan, susul-menyusul menghabiskan air mata kita sebagai bangsa. Ini tidak memasukkan bencana ekonomi, politik, budaya, keamanan, pertahanan, dan moral, yang tak akan pernah bisa dibincangkan dalam tulisan sederhana ini. Indonesia benar-benar tak berdaya di tengah keterpurukan di berbagai bidang. Kejatuhan yang bertubi-tubi melanda bumi pertiwi persis seperti pepatah “sudah jatuh tertimpa tangga”. Lalu, apa sebetulnya yang terjadi dengan bencana yang tak juga menampakkan tanda-tanda akan berhenti? Ada apa dengan negeri ini? Adakah bencana itu ada kaitannya dengan ulah sebagian kita yang mengabaikan merawat dan menjaga anugerah Ilahi, sehingga yang semula anugerah berubah menjadi nestapa? Atau, bencana itu menjadi penanda negeri ini akan diangkat derajatnya? Pandangan Islam yang tercermin dalam Alquran dan sabda Nabi Muhammad (hadis) terkait dengan banyaknya bencana,

yaitu pada saat menjelaskan makna kata dalam konstruksi kalimat. metode yang digunakan dalam tulisan ini adalah kajian lapangan. terutama yang diperoleh dari Alquran dan hadis. tulisan ini akan mengamati. tulisan ini memanfaatkan pendapat para ahli tafsir Alquran. Al-Qur’an dan Terjemahannya. Pemilihan Alquran dan hadis sebagai sumber data didasarkan pada pandangan bahwa ragam bahasa tulis Alquran dan hadis adalah ragam bahasa baku yang dipahami oleh semua penutur Arab dan kegramatikalannya pun tidak diragukan (Holes 1995). Kasus seperti itu bisa saja terjadi bila sebuah kata merujuk pada acuan yang berbeda sesuai dengan konteks pemakaian kata itu. Secara umum. dan menjelaskan pandangan Islam. mendeskripsikan. yang diharapkan sebisa mungkin melengkapi beberapa tinjauan Islam sebelumnya terkait dengan masalah ini yang terlihat belum utuh dan sistematis. Langkah pemerolehan data kata pada konstruksi kalimat. Jakarta: Departemen Agama RI. Dengan kata lain. Dengan pertimbangan untuk menghasilkan konteks makna yang akurat berdasarkan intuisi penutur asli bahasa Arab. Namun. Untuk melihat masing-masing kata dalam konstruksi kalimat. terkait dengan bencana alam. seperti AlQurthubi (1997) dan Ibn Katsir (1997). (3) mengklasifikan data yang sudah teridentifikasi berdasarkan ciri semantis untuk memperoleh klasifikasi jenis bencana alam. Pengumpulan data dilakukan dengan menginventariskan data yang diambil dari sumber data di atas dengan teknik sadap dan catat (Mahsun 2000: 66-67). Cruse (2000: 105) menyebut sebuah kata bisa saja tidak hanya mempunyai satu makna.Tulisan ini merupakan studi kasus yang bersifat kualitatif (Merriam 1988: 16 dalam Nunan 1992: 77). 2004.2004.0 (CD-ROM). tulisan ini juga memanfaatkan kajian pustaka. dan tema pokok Islam. Alasan lain dipilihnya Alquran dan hadis adalah karena keduanya menjadi sumber utama semua idiom. Bahasa Arab tulis yang dipergunakan sebagai data tulisan ini adalah bahasa Arab baku (fusha). terutama dalam Alquran (dalam beberapa kasus melibatkan hadis). tulisan ini memanfaatkan sumber data utama dari Al Quran Digital Versi 2. Ayat dan hadis yang memuat data dikumpulkan untuk memudahkan pengamatan terhadap konteks masingmasing kata di atas.akan disajikan di tulisan ini. ragam bahasa tulis yang dipergunakan sebagai data dengan pertimbangan bahwa ragam tulis lebih mantap dan terencana.Interpretasi yang diberikan pada kata tertentu akan sangat beragam dari satu konteks ke konteks yang lain. METODOLOGI Dalam tulisan ini. Data yang menjadi objek tulisan saya adalah semua kata yang berkaitan dengan bencana alam yang terdapat dalam Alquran dan hadis.Untuk analisis pada saat kata itu berada dalam konstruksi kalimat. secara kronologis dapat dirinci sebagai berikut: (1) menemukan kata yang termasuk dalam kategori musibah dan bencana alam. Data yang dikumpulkan berperan sebagai percontoh untuk menemukan kaidah yang pada akhirnya diharapkan juga menjangkau data yang pada saat diteliti tidak ditemukan. Sebagai contoh kalimat (a) They moored the boat to the bank dan (b) He . melalui fasilitas mesin pencari yang tersedia pada CD-ROM. (2) mengamati makna yang terdapat pada kata itu berdasarkan konteks dan koteksnya. Terjemahan Alquran yang dipergunakan berasal dari Tim Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur’an. tulisan ini memanfaatkan teori Cruse (1986) dan (2000). istilah. Tulisan ini juga memanfaatkan terjemahan Alquran yang dipergunakan untuk memperbandingkan makna kata yang diteliti dengan buku tafsir di atas. menganalisis.

(8) putus asa saat musibah datang. kata nailan. seperti pada QS 3: 165. 14: 49. 4: 78—79. 3: 172. seperti pada QS 2: 155—156. kata zhulumat (bentuk plural dari zhulmah). seperti pada QS 22: 11. Alwi dkk. (13) musibah akibat kelalaian manusia.0. Kelima puluh ayat itu dikelompokkan oleh al-Zuhayli (2002: 762) menjadi 16 tema. 64: 11. seperti terdapat pada QS 37: 115. seperti pada QS 6: 17. 42: 48. 42: 30. 22: 11. 7: 100. 4: 62. 22: 35. 21: 76. 41: 51. 57: 22. kata sayyi'at (bentuk jamak). kata mushIbah-lah yang paling banyak dipergunakan sebagai pengganti konsep bencana dalam bahasa Indonesia. seperti pada QS 7: 95.is the manager of a local bank. Al-Ayid. 9: 51. 30: 36. seperti terdapat pada QS 9: 120. CD-ROM 2004)—menggunakan kata lain yang berkonsep bencana. HASIL DAN DISKUSI Kata Bencana dalam AlquranDalam bahasa Arab. 37: 76. kata sayyi'ah (bentuk tunggal). 16: 34. 28: 47. seperti terdapat pada QS 6: 23. (2) meramalkan musibah.. (6) siksa berupa musibah. Keenam belas tema itu masing-masing: (1) ketika musibah datang. Alquran juga menggunakan kata ini di antaranya untuk memaknai apa yang kita kenal sebagai bencana. (10) kepanikan menghadapi musibah. seperti pada QS 8: 25. secara intuitif penutur asli pada umumnya bisa membedakan perbedaan makna yang terjadi pada kata itu. (3) musibah itu takdir dari Allah. 2002: 766). 30: 36. kata da'irah. (9) kufur ketika musibah datang. 13: 31. kata al-karb. Ketiga. 3: 165. (2) keputusan makna intuitif yang dikemukakan oleh penutur asli pada materi bahasa dalam satu jenis atau yang lain. Berdasarkan konteksnya. ‘kejadian (peristiwa) menyedihkan yang menimpa’. seperti pada QS 17: 83. kata 'adzab. (14) musibah . seperti terdapat pada QS 5: 52. 6: 64. 2003: 754). 42: 48. kata alkubar. segala hal yang tidak disukai yang menimpa seseorang disebut mushIbah (lih. 4: 78. Kelima. 10: 107. seperti terdapat pada QS 7: 168. seperti pada QS 2: 214. seperti pada QS 3: 166. Selain kata ini. 31: 17. dan dalam bentuk nomina pada QS 9: 50 (mushIbah).Pertama. (5) sabar dalam menghadapi musibah. kata su'. Kata ini diserap dalama bahasa Indonesia menjadi musibah yang mempunyai dua makna: pertama. seperti terdapat pada QS 33: 17. 16: 53—54. seperti pada QS 3: 165. ‘malapetaka’ (lih. Sedikitnya ada delapan kata yang kemudian dipadankan dengan bencana. (7) musibah mengenai siapa saja. (4) Allah saja yang bisa menyirnakan musibah. Cruse (1986: 8) menyebut dua sumber utama pada data primer dalam kasus seperti itu: (1) keluaran yang produktif dari seorang penutur asli suatu bahasa baik yang tertulis maupun yang terucap. seperti pada QS 3: 146. 10: 12. Jadi. (11) musibah yang menjadi siksa. 39: 51. Alquran--sesuai terjemahan yang dilakukan oleh tim ahli Departemen Agama (Al Quran Digital 2. seperti terdapat pada QS 9: 26. Kata ini sendiri sedikitnya terdapat pada 50 ayat di Alquran. seperti pada QS 7: 131. seperti terdapat pada QS 74: 35. Keempat. Kedelapan. kata bank pada kalimat (a) harus bermakna ‘sloping side of river’ dan pada kalimat (b) harus bermakna ‘financial institution’. 9: 52. 70: 19—20. Namun demikian. seperti terdapat pada QS 3: 120. Kedua. seperti pada QS 7: 156. Ini paling tidak terlihat dalam bentuk verba perfektif pada QS 3: 146 (ashaba). 24: 63. 38: 25. (12) musibah di jalan Allah. dalam bentuk verba imperfektif pada QS 13: 31 (y[t]ushIbu). 11: 81. Ketujuh. 3: 33. kedua. 4: 106. Keenam.

" (QS Ali Imran [3]: 117). Alquran mengelompokkan bencana menjadi dua kelompok ini. Namun. banjir. Kami (Allah) menyelamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang lalim siksaan yang keras. 'Darimana datangnya (bencana berupa kekalahan) ini?' Katakanlah. dan paceklik. Kata mushIbah dalam Alquran itu mengacu pada definisi kata ini dalam bahasa Arab." (QS Al-A'raf [7]: 165). 'Itu (berasal) dari (kesalahan) dirimu sendiri. seperti pada QS 3: 120. (15) musibah yang disukai musuh. dan tidak beriman yang disengaja. tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. angin topan. padahal kalian telah mengalahkan dua kali lipat musuh-musuhmu (pada Perang Badar). karena musibah apa pun meskipun skala dan efeknya kecil tetap saja bisa disebut mushIbah. Allah tidak menganiaya mereka. Dalam Islam pun. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: . yang tentu saja dalam bahasa Indonesia tidak bisa disebut bencana alam. kalian berkata." (QS Al-Ra'd [13]: 31). bila bencana itu diakibatkan oleh perilaku maksiat. hujan batu.berupa kematian. mana bencana yang menjadi ujian dan mana bencana yang menjadi siksa. sehingga janji Allah itu terbukti. Allah tidak menyalahi janji. Sejauh pengamatan saya. untuk kemudian mengukur seberapa besar kadar keimanannya. Hanya saja kata mushIbah berikut derivasi dan infleksinya yang terdapat di Alquran itu tidak selalu mengacu pada konsep bencana alam yang menjadi bahasan tulisan ini. yang menyapu tanaman kaum yang menganiaya diri sendiri. zalim. (16) musibah akibat kezaliman. Ujian atau Siksa? Pertanyaan ini selalu saja menarik peneliti yang mengkaji tema bencana alam dalam tinjauan agama apa pun.' Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Kelompok bencana yang menjadi siksa yang diakibatkan perilaku zalim terdapat pada ayat berikut: "Perumpamaan harta yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini. Bila bencana itu diakibatkan karena kesalahan yang tidak disengaja. petir. seperti pada QS 3: 117. lalu angin itu merusaknya. maka Alquran selalu mengelompokkannya ke dalam bencana yang menjadi siksa dan berkait dengan perilaku tidak beriman. Bencana akibat perilaku maksiat terdapat pada ayat berikut: "Ketika mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka. 4: 72. Pada ayat-ayat di atas parameternya sangat jelas. Kesan ini pun tercermin dalam beberapa ayat Alquran. Kelompok bencana yang menjadi ujian terdapat setidaknya pada ayat berikut: "Mengapa ketika ditimpa bencana (pada Perang Uhud). Bencana yang menjadi siksa terdapat pada ayat berikut: "Orang yang tidak beriman senantiasa ditimpa bencana disebabkan perbuatan mereka sendiri atau bencana itu terjadi dekat tempat kediaman mereka. Konsepnya lebih luas daripada kata bencana alam. maka bencana itu menjadi siksa. seperti pada QS 5: 106." (QS Ali Imran [3]: 165). Ada lima bencana alam yang disinggung dalam Alquran: gempa. seperti angin yang mengandung hawa yang sangat dingin. pertanyaan ini juga banyak muncul. 9: 50. disebabkan mereka selalu berbuat maksiat. bila yang dimaksudkan bencana alam. Sebaliknya. Terkait dengan gempa. maka bencana itu menjadi ujian bagi pelakunya.

lalu mereka ditimpa gempa yang dahsyat. tetapi yang dimaksud siksa yang dari bawah kakimu adalah gempa bumi. Musa berkata. (6) "Lalu Kami wahyukan kepadanya. 'Dialah yang berkuasa untuk mengirimkan siksa kepadamu. pohon Atsl. Data (2) juga berkaitan dengan sekelompok orang yang tidak mengimani kenabian Shaleh. data (3) terkait dengan perbuatan sekelompok orang yang membuat patung anak lembu untuk dijadikan sesembahan selain Allah." (QS. . Sementara itu. Engkaulah Yang memimpin kami. kalau Engkau kehendaki. 'Ya Tuhanku. dan sedikit dari pohon Sidr.No. maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis). Lalu. dan jadilah mereka mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat-tempat tinggal mereka. Data (4) dengan tegas menyebut sekelopok orang yang tidak mengimani kenabian Syuaib. dari atas kamu atau dari bawah kakimu. Engkau sesatkan dengan cobaan itu siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau beri petunjuk kepada siapa yang Engkau kehendaki. tentulah Engkau membinasakan mereka dan aku sebelum ini. lalu mereka menjadi mayat-mayat yang bergelimpangan di tempat tinggal mereka. Lalu. dan (juga) keluargamu. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (5) "Tetapi mereka berpaling. Ayat (1) "Katakanlah. Al-A'raf [7]: 78).Terkait dengan banjir. 'Buatlah bahtera di bawah pantauan dan petunjuk Kami. kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Ayat ini berkaitan dengan orang yang tidak beriman atas Alquran sebagai kitab suci. Apakah Engkau membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang kurang akal di antara kami? Itu hanyalah cobaan dari Engkau. ketika mereka digoncang gempa bumi.Keempat data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa gempa bumi itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman. (4) "Mereka tidak mengimani Syuaib. Data (1) memang tidak secara eksplisit menyebut gempa. (3) "Musa memilih tujuh puluh orang dari kaumnya untuk (memohonkan tobat kepada Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan."(QS AlAnkabut [29]: 37)."(QS Al-A'raf [7]: 155). (2) "Karena itu mereka ditimpa gempa." (QS Saba' [34]: 16). apabila perintah Kami telah datang dan tanur telah memancarkan air." (QS Al-An'am [6]: 65). Kami pun datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit. maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkaulah Pemberi ampun yang sebaik-baiknya.

lalu Dia meniupkan atas kamu angin topan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana." (QS Al-Isra [17]: 69).Janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim. (11) "Atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi. sementara mereka tidak diberi pertolongan."(QS AlFath [48]: 4)."(QS Al-Ahqaf [46]: 24). siksa akhirat lebih menghinakan. Padahal. Kepunyaan Allahlah tentara langit dan bumi." (QS Al-Mukminun [23]: 27).' (Bukan!) bahkan itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera. data (5) terkait dengan kaum Saba' yang mengingkari nikmat Tuhan. (7) "Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Biasanya. Informasi pada data (6) itu dilengkapi oleh data (7) bahwa banjir itu diakibatkan perilaku tidak beriman kaum Nuh terhadap kenabian Nuh (Noah). (yaitu) angin (topan) yang mengandung azab yang pedih. dan mereka adalah orang-orang yang zalim. lalu mereka ditimpa banjir besar."(QS Fushshilat [41]: 16). Terpancarnya air di dalam tanur itu menjadi tanda bahwa banjir besar akan melanda negeri itu.Terkait dengan angin topan. (9) "Tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka. 'Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami. Menurut Al-Qurthubi (1997). (10) "Kami meniupkan angin (topan) yang amat gemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang sial. Banjir itu sebagai akibat atas ketidakberiman mereka pada Zat yang memberi nikmat.Kamu tidak akan mendapat seorang penolong pun dalam hal ini terhadap (siksaan) Kami. karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (8) "Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada).Ketiga data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa banjir itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman. Banjir besar itu sendiridisebabkan oleh runtuhnya bendungan Ma'rib. karena Kami hendak merasakan kepada mereka itu siksa yang menghinakan dalam kehidupan dunia. tidak ada air di dalamnya. Tanur yang disebutkan pada data (6) adalah semacam alat pemasak roti yang diletakkan di dalam tanah terbuat dari tanah liat." (QS Al-Ankabut [29]: 14). Dia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun. mereka berkata. (12) .

"(QS Al-Qamar [54]: 34)."(QS Al-Ahzab [33]: 9). (13) "Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang sangat kencang pada hari nahas yang terus menerus. Data (9) terkait dengan kaum 'Ad yang tidak beriman atas kenabian Hud." (QS Al-Dzariyat [51]: 41). angin topan. Namun. Kamu lihat kaum 'Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Data (12) terkait dengan sekelompok orang menentang Allah dan Rasul-Nya. Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan." (QS Al-Dzariyat [51]: 42). tentara langit dan bumi akan memukul orang yang tidak beriman. menurut Ibn Katsir (1997). lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu lihat. Data (14) terkait dengan orang . ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika datang kepadamu tentara-tentara. (15) "Kaum 'Ad telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang."Hai orang-orang yang beriman. (16) "Angin itu tidak membiarkan satu pun yang dilaluinya. Data (13) juga terkait dengan kaum 'Ad. binatang-binatang." (QS AlHaqqah [69]: 6). Data (8) memang tidak disebutkan soal angin topan."(QS Al-Haqqah [69]: 7). Dengan kata lain. dan sebagainya. melainkan dijadikannya seperti serbuk. tentara langit dan bumi yang ada di ayat itu ialah penolong yang dijadikan Allah untuk orang-orang mukmin seperti malaikat-malaikat."(QS Al-Isra [17]: 68). (19) "Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka). Data (11) terkait dengan orang yang tidak beriman atas kenikmatan yang diterima. (14) "Apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkirbalikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindungpun bagi kamu. (17) "Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus." (QS [54]: 19). (18) "Pada (kisah) 'Ad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan. Mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing. Data (10) juga terkait dengan kaum 'Ad. kecuali keluarga Luth.

Data (16) pun terkait dengan kaum 'Ad. (21) "Mereka (kaum musyrik Mekah) telah melalui sebuah negeri (Sadum) yang (dulu) dihujani dengan hujan terburuk ( hujan batu). Perhatikanlah bagaimana kesudahan orangorang yang berdosa itu. Di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur."(QS AlAnkabut [29]: 40). (22) "Kami hujani mereka dengan hujan (batu). "Kami turunkan kepada mereka hujan (batu)." (QS Al-A'raf [7]: 84). 'Aku telah memperingatkan kamu dengan petir. Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka. Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (24) "Jika mereka berpaling. Data (18) pun terkait dengan kaum 'Ad. maka katakanlah. dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan. sesudah datang kepada mereka bukti-bukti .'"(QS Al-Syura [41]: 13). Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (20) "Kami turunkan hujan atas mereka (hujan batu)." Mereka disambar petir karena kezalimannya. Data (19) terkait dengan kaum Luth yang tidak mengimani ajakan Luth untuk hidup normal dalam kecenderungan seksual.yang tidak beriman atas kenikmatan yang diterima. dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi. Mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu." (QS Al-Syuara [26]: 173). Terkait dengan petir. tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. Mereka berkata. Amat jeleklah hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu. lalu amat buruklah hujan yang ditimpakan atas orang-orang yang diberi peringatan itu. Data di atas sangat jelas menunjukkan bahwa angin topan itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman. Mereka menyembah anak sapi.Terkait dengan hujan batu. 'Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata. (23) "Masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya. Apakah mereka tidak menyaksikan runtuhan itu?"(QS Al-Furqan [25]: 40)."(QS Al-Naml [27]: 58). Data (17) juga terkait dengan kaum 'Ad. seperti petir yang menimpa kaum 'Ad dan Tsamud. Semua data yang menginformasi siksa berupa hujan batu di atas berkaitan dengan kaum Luth yang tidak mengimani kenabian Luth serta tidak mengindahkan anjuran Luth untuk hidup normal secara seksual. Data (15) juga terkait dengan kaum 'Ad. (25) "Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Ketiga ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa banjir itu berkaitan dengan siksa sebagai akibat perilaku tidak beriman.

Mudah-mudahan Dia mengirimkan keputusan (berupa petir) dari langit kepada kebunmu. dan karena mengatakan. menurut Ibn Katsir (1997). Data (25) menyinggung ihwal orang Yahudi pada zaman Nabi Musa juga tersambar petir karena ingin melihat Allah sebagai buah dari ketidakimanan mereka. (26) "(Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan)[377]. Data (24) menyinggung petir yang telah menyambar kaum 'Ad dan Tsamud. (28) "Kaum Tsamud telah Kami beri petunjuk. juga karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah. Data (30) pun berkaitan dengan siksa yang diterima kaum Tsamud. karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka. sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya."(QS Al-Kahf [18]: 40)." (QS Al-Haqqah [69]: 5). disebabkan mereka melanggar perjanjian itu. karena membunuh para nabi tanpa (alasan) yang benar. salah satu yang dimaksudkan orang Yahudi disambar petir. tetapi pada frasa beberapa tindakan. lalu mereka disambar petir dan mereka melihatnya." (QS Al-Nisa [4]: 153).yang nyata. Ayat-ayat di atas sangat jelas menunjukkan bahwa bencana alam yang berhubungan dengan petir berkaitan langsung dengan perilaku tidak beriman dan syirik yang berbuah siksa. Data (26) memang tidak menyebut secara langsung ihwal petir. (29) "Mereka berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya. Hanya yang dimaksud dengan kejadian luar biasa itu. Data (27) menginformasikan ihwal perilaku sseorang yang syirik sehingga kebunnya disambar petir. menurut Al-Qurthubi (1997)."(QS Al-Nisa [4]: 155). meskipun tidak disebutkan kata petir di ayat itu. Kami telah berikan kepada Musa keterangan yang nyata. Karenanya mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan. hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin. (30) "Kaum Tsamud telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. ialah petir yang amat keras yang menyebabkan suara mengguntur yang dapat menghancurkan. tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk. 'Hati kami tertutup." (QS Al-Dzariyat [51]: 44). .' Bahkan. lalu Kami aafkan (mereka) dari yang demikian. (27) "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik daripada kebunmu (ini). Data (28) menyinggung siksa yang diterima kaum Tsamud.(QS Fushshilat [41]: 17). Demikian pula dengan data (29).

Padahal. (32) "Kami telah menghukum (Firaun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan kekurangan buah-buahan." (QS Al-Thur [52]: 47)."(QS Al-Mukminun [23]: 75). Alquran menginformasikan pada beberapa ayat berikut: (31) "Andaikata mereka Kami belas kasihani. Gejala alam memang ada. kelaparan malapetaka yang menimpa mereka. menurut Ibn Katsir (1997). Ada kesalahan yang kita buat baik sebagai pribadi maupun sebagai bangsa. disebabkan apa yang selalu mereka perbuat. bencana alam selalu berkaitan erat dengan perilaku tidak beriman yang berbuah siksa. tetapi yang dimaksud kabut yang nyata. Data yang terhimpun pada bagian ini membantah pandangan yang menyatakan bahwa bencana alam yang terjadi murni akibat gejala alam semata. Data (32) sangat gamblang menginformasikan hukuman yang diterima Firaun beserta pendukungnya yang tidak mengimani Allah. karena tidak ada bahan makanan yang datang dari Yaman ke Mekah. dan lain-lain. (33) "Untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu. (35) "Tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. Dari data yang ada." (QS AlA'raf [7]: 130). (34) "Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dulunya aman lagi tenteram. Karena itu. mereka benar-benar akan terus menerus terombang-ambing dalam keterlaluan mereka. tetapi (penduduk)nya mengingkari nikmat-nikmat Allah. azab kubur. supaya mereka mengambil pelajaran. . Data (33) memang tidak secara eksplisit menginformasikan kemarau. Data (35) juga tidak secara gamblang menginformasikan kelaparan."(QS Al-Nahl [16]: 112). saat ittu Mekah dan sekitarnya dalam keadaan paceklik.Terkait dengan kemarau. ialah bencana kelaparan yang menimpa kaum Quraisy karena mereka menentang Nabi Muhammad Saw. Data (34) terkait dengan penduduk suatu negeri yang mengingkari keneikmatan Tuhan lalu mendapat bencana kelaparan dan ketakutan. rezekinya datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat. tetapi itu bukan satu-satunya. paceklik. dan kelaparan. Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan." (QS Al-Dukhan [44]: 10). tetapi yang dimaksud azab yang lain ialah musim kemarau. Data (31) terkait dengan kaum musyrikin yang mengalami kelaparan. dan Kami lenyapkan kemudaratan yang mereka alami. sehingga Tuhan melalui alam sebagai makhluk-Nya menunjukkan kekuatan-Nya.

Nuh sudah melarang. "Nuh berkata. Belakangan negeri ini punya Mbah Maridjan. putra Nuh. 'Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang. Selain para ilmuwan. Lalu. Kisah Nabi Nuh ini memberikan pelajaran amat berharga. Dulu ada Ronggowarsito dan tentu saja para wali songo. Karena tidak mendengar perintah sang ayah. "Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" (QS Hud [11]: 43). Allah memerintahkan membuat perahu itu karena akan ada banjir bandang luar biasa di negeri yang ditinggalinya. Upaya antisipasi harus tetap dilakukan. meski upaya itu tidak boleh membuat takabur akan kemampuan yang dimiliki. maka mereka tidak mempunyai pilihan lain. berfirman. kisah perahu Nabi Nuh menjadi pelajaran tersendiri. Meskipun ini tidak bisa menjadi jaminan sepenuhnya. Ketika banjir bandang benar-benar terjadi. Allah Swt. Caranya dengan mengantisipasi segala kemungkinan sehingga bisa lebih siap dalam menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Mereka itu akan ditenggelamkan. Nabi Nuh bersama kaumnya yang taat selamat.'" (QS Hud [11]: 43). yang tidak mau mengikuti ajakan Nuh untuk naik ke atas kapal. ketentuan Tuhan tetap berlaku. karena setiap bencana punya rahasia dan misterinya tersendiri. .” (QS Ali Imran [3]: 36). Padahal.” (QS Hud [11]: 37). Qan'an termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. “Ketika Allah dan Rasul-Nya memutuskan sesuatu. seseorang yang berada di daerah rawan gempa mesti mendengar apa nasihat para ahli tentang rumah tahan gempa. apakah tidak ada celah untuk bisa menghindarinya? Sebetulnya masih ada celah. Rela atau tidak. bencana alam yang memang sudah menjadi keputusan dan skenario Allah.Mengantisipasi BencanaDalam Islam. Ketakaburan akan antisipasi ini pernah ditunjukkan oleh Qan'an. Mengenai mengantisipasi musibah. Nabi Nuh memang sudah diperintahkan Allah untuk menyiapkan perahu untuk keselamatannya dan keselamatan orang-orang yang berada di barisannya. maka siapa pun tidak punya pilihan lain untuk menghindarinya. Masalah tsunami. Orang-orang itu bisa berangkat dari kalangan ilmuwan atau bisa juga dari kalangan awam yang memiliki kearifan lokal. Masalah gempa misalnya. semua yang sudah ditentukan Tuhan pasti akan terlaksana. “Buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami Jangan bicarakan di hadapan-ku tentang orang-orang yang zalim itu. patut juga mendengar orang-orang yang memiliki kearifan lokal. meski itu hanya meminimalisasi kemungkinan bencana menjadi lebih banyak dampaknya. seseorabf juga harus mendengar dan mengamalkan nasihat para cerdik pandai untuk membuat bangunan yang bisa menyelamatkannya dari bencana dahsyat bila kita berada di wilayah yang rawan tsunami dan siklus tsunami sudah dekat waktunya. yang memang dianugerahi Allah kemampuan membaca penanda situasi dan kemampuan mengakrabi alam. Bila mengikuti logika ayat ini. Perahu ini adalah bagian dari antisipasi untuk menghindari musibah. Bangsa ini pun tidak pernah kehabisan orang-orang seperti Mbah Maridjan ini. Ini juga memberi pelajaran agar kita mau mendengar orang-orang yang diberikan kemampuan lebih oleh Allah yang memang diyakini kejujuran dan reputasinya. yang dengan gagah berani menyatakan Gunung Merapi aman.

atau hanya sekadar rekreatif. seperti daging. koruptif. Manusia juga tidak boleh hanya mengandalkan tawakal. Keyakinan bahwa Dia berlaku adil dan tidak ceroboh dalam menentukan takdir-Nya seperti ini. berhubungan erat dengan kualitas orang yang bersangkutan. "Siapa saja yang rela (akan ketentuan Allah). maka dia akan memperoleh kerelaan Allah. inovatif. traumatis. altruistif. tanpa disertai tawakal. informatif. solider. tanpa disertai usaha. menurutnya. Terkait dengan bencana ini. maka positif juga takdir yang akan didapatkan. Nabi Muhammad pernah mewanti-wanti. Nabi langsung menegur orang itu. Kamu berada dalam penglihatan-Ku. Boleh jadi pula kalian menyukai sesuatu. “Bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu. introspektif." (HR Al-Thabrani).Saat bencana datang di menit-menit pertama. Kerelaan akan ketentuan yang sudah digariskan-Nya juga membuat seseorang mampu menerimanya dengan ikhlas. “Ikat dulu. dan penghambaan. Bukankah banyak penyakit yang disebabkan oleh sesuatu yang sangat disukai. Sebaliknya. Allah berfirman. bahkan proaktif. siapa saja yang marah (pada ketentuan Allah). berfirman. tidak jarang sesuatu yang tidak diinginkan justru menjadi sesuatu yang banyak manfaatnya di kemudian hari. es. positif atau negatif dalam pandangannya. Lalu. administratif. Dalam salah satu hadis qudsi. biasanya memang belum disadari dampak yang akan timbul setelahnya. Allah Swt. Namun sesuai sunatullah. Masyah (2007) menyebut beberapa variasi orang dalam menyikapi musibah. Namun. responsif. produktif. siapa saja menjadi lebih tenang menerima ketentuan Allah. “Aku ini bergantung dengan prasangka hamba-Ku pada-Ku. baru tawakal. bila negatif prasangka negatif. dan lain sebagainya? Sebaliknya. Dengan berdoa. banyak cara orang dalam menyikapinya. Dari sabda Nabi Muhammad ini pula Islam mengajarkan bahwa manusia tidak bisa mengandalkan usaha. maka takdir yang akan ditetapkan-Nysa juga akan negatif. Sikap berprasangka positif ini ditandai dengan mau bersabar melalui bencana dan rela menerima takdir sembari terus berusaha. arif. yang manismanis. meskipun mereka tahu bencana itu penting dalam proses kemanusiaan.” (QS Al-Baqarah [2]: 216).Nabi Muhammad semenjak 15 abad lalu sudah menitipkan prinsip penting dalam masalah antisipasi ini. padahal sesuatu itu sangat baik buat kalian. Terkait dengan ini. keberagaamaan.” (QS Al-Thur [52]: 48). maka dia akan mendapat murka Allah. Ketika ada sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat lantaran ia bertawakal sepenuhnya pada Allah. Itu berarti bila seseorang berprasangka positif pada Allah. Sikap seperti ini pasti akan menghantarkannya pada jalan keluar. Manusia hanyalah hamba yang dikendalikan skenario Tuhan. Semua sikap ini. Melalui Bencana dan Sikap PascabencanaSemua orang pasti tidak mengharapkan mendapat bencana. emosional. Beberapa saat . padahal sesuatu itu sangat tidak baik buat kalian. histeris. antisipatif.” (HR Al-Bukhari). Sebaliknya. aktif. pasif. kontraproduktif. korektif. sesuatu yang menyenangkan justru banyak mendatangkan madarat di belakang hari.” (HR Al-Tirmidzi). karena Tuhan juga tidak menurunkan hujan emas begitu saja. optimalisasi peran usaha dan tawakal hanya bisa mantap apabila diiringi doa. hanya bisa diperoleh bila seseorang berprasangka baik terhadap-Nya. seperti reaktif. Doa sekaligus menunjukkan ketidakmampuannya mencapai apa yang diinginkannya dalam berusaha dan bertawakal. kontemplatif. bukankah sebagian besar obat justru rasanya tidak sangat disukai? Inilah sunatullah yang sudah diabadikannya dalam ayat kauniyah di atas dan ayat qauliyah berikut: “Boleh jadi kalian membenci sesuatu.

” Jawaban Nabi ini sekaligus memberi kunci menyikapi bencana. aku hanya mengatakan apa yang diridai Allah. Semua yang ada pada dirinya hanya semata-mata titipan ilahi. Hati pun tak sanggup menahan sedih. seolah-olah tidak ada lagi yang bisa diharapkan. Ini juga biasa dilakukan orang-orang yang biasa mendramatisasi persoalan. barulah terpikirkan banyak hal yang mungkin terjadi di kemudian hari. Karena. Ketika ada seorang sahabat yang bertanya setelah melihat Nabi menangis atas kematian Ibrahim. yang mesti ddisadari dari awal bahwa semua ini pasti akan dimintaNya kembali. Biasanya ini dilakukan oleh orang yang mengidap sindrom Firaun. Ini juga melanggar asas proporsionalitas. yang memang dipergunakan-Nya untuk menguji sejauh mana ia memanfaatkannya untuk kepentingan yang memang disukaiNya. karena kedua hal itu manusiawi. Abu Thalib. tidak. Mata ini tak kuasa menahan tetes air mata. Padahal. dan berkeluh kesah. Mengapa berteriak histeris dilarang? Berteriak histeris itu simbol keputusasaan. Tapi. Nabi Muhammad saja saat ditinggal putranya yang bernama Ibrahim pergi menghadap Sang Khalik. ia pasti tak sanggup menolak ketika Pemiliknya meminta kembali. ia sesungguhnya tidak memiliki apa pun. Seorang muslim harus menyadari bahwa dirinya milik Allah. Nabi Muhammad juga sangat terpukul. Khadijah. Ia bahkan tidak mempunyai kekuatan sedikit pun menolak bencana yang menghampiri. Tangapan Nabi atas pertanyaan sahabat di atas juga semakin meyakinkan kita semua bahwa menangis dan bersedih bukan suatu yang salah. anggapan seperti itu tidak benar adanya. apa salah seseorang menangis dan bersedih setelah mendapat bencana dalam pandangan Islam? Jawabnya. putranya. meski itu sekecil titik sariawan yang menghiasi bagian mulutnya. apakah ketika satu demi satu atau semua yang sudah diberikan-Nya itu diambil. Saat itulah biasanya seseorang mulai bersedih. Namun. Nah. beliau juga bersedih dan bahkan menangis. Ini sudah menjadi sunatullah (hukum alam) bahwa ketika ada yang datang pasti ada yang pergi. Karena sifatnya merupakan titipan. Dan. dan pamannya yang selalu membela perjuangannya. Dengan kata lain. apalagi hanya sekadar menempel di tubuhnyaa. tapi berteriak histeris. Memang.setelah bencana itu menimpa. Berteriak histeris juga merupakan reaksi berlebihan atas bencana yang menimpa. memang ternyata banyak yang salah sangka seolah-olah dilarang menangis dan bersedih saat mendapat bencana. ada hadis Nabi yang menyatakan—kalau benar ini hadis—mayat akan disiksa lantaran teriakan histeris keluarganya. bahkan atas apa yang melekat. bahkan nyawa yang mengalirkan nafas kehidupan ini juga tak akan sanggup ditolak ketika Dia memintanya. Hadis ini yang sering dijadikan alasan orang menyalahkan orang lain yang menangisi dan bersedih saat mendapat bencana seperti kematian. seseorang tidak punya harapan lagi? Tentu saja tidak. Bila ada yang hilang pasti akan . yang dilarang bukan menangis dan bersedih. Beliau begitu bersedih hingga tahun itu dinamakan dengan ‘am al-huzn (tahun kesedihan). seolah-olah semuanya sudah berakhir. Saat ditinggal istrinya yang pertama. Pertanyaannya. “Apa Anda menangis? Bukankah Anda melarang kita menangis di saat seperti ini?” Apa jawab Nabi? “Aku hanya dilarang berteriak-teriak histeris. Dengan bersikap seperti itu. menangis. bila teliti melihat redaksi hadis itu.

tentu apa pun yang dialami. Kalaupun berfluktuasi. jaminan dan janji Allah tidak pernah diingkari-Nya. tetapi implementasinya tidak mengakar dalam kehidupan keseharian. sikap ini juga mampu mengantarkan seseorang pada kesempurnaan kemanusiaan. atau setidaknya tidak terlalu didramatisasi seolah dunia sudah berakhir. Ya Allah. Padahal. Tidak hanya itu. Asalkan ini dipahami dengan arif dan sanggup dijalani proses demi proses yang harus dilalui sebagai bagian dari ketentuan Allah. Kata ini memang terlalu populer.ada ganti. satu demi satu atau sekaligus. seseorang harus tetap konsisten menjalankan apa yang menjadi kewajiban dan menjauhi apa yang bukan menjadi hak sebagai orang yang beragama. Seseorang hanya bisa berharap diberi keselamatan dalam menghadapi musibah itu. “Siapa saja yang bertakwa pada Allah. Dengan memiliki sikap ini. Allahumma ajirni fi mushibati wa akhlifni khairan minha” (kita semua milik Allah dan kita pasti akan kembali pada-Nya. niscaya Allah memudahkan segala urusannya. Inilah yang dalam bahasa agama biasa disebut takwa. baik keselamatan ragawi maupun keselamatan rohani.” (QS Ath-Thalaq [65]: 4). ini sesungguhnya yang mampu menjamin kesempurnaan keberagamaan seseorang. Siapa yang pasrah kepada Allah. perlahan atau langsung mendadak. adalah Allah. niscaya Dia akan mencukupi kebutuhannya. selamatkan aku dalam menghadapi musibah ini dan berikan aku ganti yang lebih baik daripada sesuatu yang sudah pergi). Dan. Kunci lain yang bisa mempercepat pemulihan pascamusibah dan pascamasalah ialah menata diri untuk tetap berada di jalan-Nya. Sikap ini pun sangat bermanfaat untuk mengembalikan dan memulihkan sisi kemanusiaan yang terkoyak pada saat mengalami bencana. Optimisme seperti ini yang tersembul dalam doa yang biasa dipanjatkan orang-orang saleh setelah mendapat bencana: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3). Allah telah menjamin akan memberikan jalan keluar atas semua kesulitan hidup bila seseorang memiliki sikap ini. maka Allah akan memberinya jalan keluar dan membukakan pintu rezeki dari tempat yang tak terduga. akan menjadi mudah saja. Dengan kata lain. bahkan seberat apa pun. bukan fluktuasi yang mengantarkannya pada sisi negatif. yang terpenting. termasuk hidup ini dan seluruh perangkat pendukungnya. Harapan ini pun juga dibarengi dengan optimisme bahwa Allah akan mengirimkan ganti yang lebih baik daripada milik-Nya yang sudah diambil-Nya sebelum bencana. maka yakinlah Dia pula yang akan mencukupi apa pun yang kita butuhkan. . kehambaan dan penghambaan tidak labil. Sesuai dengan mekanisme dan manajemen ilahi semenjak zaman azali. Kesadaran akan sunatullah yang paling mendasar ini sebetulnya akan banyak membantu proses pemulihan pascabencana. “Siapa saja yang bertakwa pada Allah. Biasanya hanya soal waktu saja. Doa ini memberikan penyadaran luar biasa bahwa yang memiliki semua ini. Dia juga berjanji akan selalu memberi rezeki dari pintu yang tak terduga pada orang yang memiliki sikap ini. Apalagi bila mau menambahkan sikap ini dengan kepasrahan yang disertai usaha dan doa. semua yang menjadi milik-Nya pasti akan kembali pada-Nya. baik kesalamatan imani maupun kesalamatan materi. Ia stabil meski digoncang apa pun.

Hikmah di Balik BencanaKesadaran seperti itu juga harus dibarengi dengan optomisme bahwa Allah yang memberi bencana itu telah menyiapkan hikmah di balik b . Ia hanya bisa meminimalisasinya. Dia tidak akan memberikan bencana melebihi kadar yang sanggup ditanggung. Dia juga pasti adil memperlakukan ketentuan-Nya. pasti setelahnya ada kelengangan yang menjadi penghibur bagi pengendara yang melaluinya. Setiap habis hujan deras pasti mentari bersinar lebih indah.” (QS Ath-Thalaq [65]: 2-3-). yang meskipun mulanya terlihat menyusahkan. tetapi pada akhirnya akan menyenangkan. yakinilah bahwa semua sudah diukurnya. semua yang dikehendaki-Nya pasti terlaksana. Seperti sudah disinggung sebelumnya. Nah. Setiap kemacetan separah apa pun. Karena. “Allah pasti melaksanakan semua yang dikehendakiNya." (QS Al-Insyirah [94]: 5). ketika kehendak-Nya itu sudah terlaksana. Allah juga telah menentukan kadar segala sesuatu. Kehendak-Nya pun pasti diiringi kehendak-Nya yang lain. Itu pun jika Allah berkehendak."Setiap ada kesulitan pasti ada kelapangan. manusia memang tidak bisa menolak bencana.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->