P. 1
plikasiValueEngineeringthdpStrukturBalokdanPondasi

plikasiValueEngineeringthdpStrukturBalokdanPondasi

|Views: 2,826|Likes:
Published by Fauzi Abror

More info:

Published by: Fauzi Abror on Apr 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/17/2013

pdf

text

original

Sections

no

descrip

tion

function

cost worth comment

Verb Noun

Kind

1.

Poer

2.

Sloof

3.

Pondasi

TOTAL

2) Tahapan Kreatif

Didalam Value Engineering, berfikir kreatif adalah hal sangat penting

dalam mengembangkan ide-ide untuk membuat alternatif-alternatif dari

elemen yang masih memenuhi fungsi tersebut, kemudian disusun secara

sistematis

Alternatif-alternatif tersebut dapat ditinjau dari berbagai aspek,

diantaranya :

a.) Bahan atau material

Pemunculan penggunaan alternatif bahan dikarenakan semakin

banyaknya jenis bahan bangunan yang diproduksi dengan kriteria

mempunyai fungsi yang sama. Seiring dengan berkembangnya kemajuan

teknologi jenis bahan yang mempunyai fungsi yang sama dapat dibuat

atau dicetak dengan mutu dan kualitas yang hampir sama juga.

39

Hanya karena memiliki merk atau lisensi yang berbeda, maka harga

bahan tersebut menjadi berbeda. Dengan demikian, maka pemilihan

alternatif bahan dapat dilakukan dalam analisis VE. Pencarian bahan

dengan mutu, kualitas dan fungsi yang sama dengan rencana awal tapi

dengan harga lebih rendah dapat dilakukan

b.) Cara atau metode pelaksanaan pekerjaan

Dalam melaksanakan suatu pekerjaan pastinya mempunyai cara atau

metode sendiri-sendiri. Pada zaman dulu cara menyelesaikan suatu

pekerjaan hanya mengandalkan tenaga manusia dengan alat-alat

sederhana, sehingga waktu penyelesaian pekerjaan dapat membutuhkan

waktu yang cukup lama.

Seiring dengan kemajuan teknologi, kini muncul alat-alat bantu yang

lebih canggih dalam menyelesaikan pekerjaan. Sebagai contoh, adanya

alat-alat berat seperti dozer, excavator, crane dan lain-lain yang dapat

membantu dalam menyelesaikan pekerjaan konstruksi bangunan,

sehingga pekerjaan dapat cepat selesai.

Dengan demikian dapat dilihat, bahwa suatu pekerjaan konsrtuksi

bangunan yang dikerjakan dengan tenaga manusia dan alat-alat

sederhana akan membutuhkan waktu yang lama dibandingkan dengan

dikerjakan menggunakan alat-alat yang lebih modern.

Maka analisis VE dalam hal metode pelaksanaan dapat dilakukan,

karena semakin pendek waktu yang dibutuhkan dalam menyelesaikan

pekerjaan, semakin kecil pula biaya yang dikeluarkan. Jadi, nantinya

40

dapat dipilih alternatif metode pekerjaan mana yang dapat membuat

pekerjaan cepat selesai dari jadwal yang sudah direncanakan.

c.) Waktu pelaksanaan pekerjaan

Setiap pekerjaan dalam suatu proyek pastinya sudah mempunyai

jadwal (schedule) pelaksanaan dalam perencanaan time schedule.

Terkadang dengan bobot pekerjaan yang tetap, waktu pelaksanaan

pekerjaan dapat dikurangi, asalkan pekerjaan tersebut tidak terdapat

dalam jalur kritis.Banyak cara yang dilakukan untuk mewujudkan hal

tersebut, diantaranya dengan mengganti metode pelaksanaan, menambah

jumlah tenaga kerja dan lain-lain.

Dengan demikian, alternatif pengurangan waktu pelaksanaan dalam

analisis VE dapat dimunculkan bersamaan dengan pemilihan alternatif

cara atau metode pelaksanaan pekerjaan.

3) Tahapan Analisa

Tujuan tahapan ini adalah :

a.) Mengadakan evaluasi, mengajukan kritik dan menguji alteratif yang

muncul selama tahapan spekulatif

b.) Memperkirakan nilai uang untuk setiap alternatif.

c.) Menentukan alternatif yang akan memberikan kemampuan yang

paling besar untuk penghematan biaya.

Alternatif yang timbul diformulasikan, kemudian melakukan

eliminasi ide-ide yang kurang praktis dan menilai ide kreatifitas tersebut

41

dari segi keuntungan dan kelemahannya dengan mencari potensi

penghematan biaya untuk setiap ide yang dievaluasi.

Pemilihan dapat dilakukan dengan metode zero-one. Kemudian

dibuatkan suatu ranking hasil penilaiannya.

4) Hasil Analisa

Hasil analisa ini dibagi 2 (dua) tahap, yaitu :

a.) Tahap Pengembangan

Mempersiapkan rekomendasi yang telah dilengkapi informasi dan

perhitungannya secara tertulis dari alternatif yang dipilih dengan

mempertimbangkan pelaksanaan secara teknis dan ekonomis.

Langkah-langkah tahapan pengembangan adalah sebagai beriku t:

(1) Membuat konsep/ desain untuk dibandingkan satu sama lain.

(2) Membandingkan konsep semula dengan desain usulan/ alternatif.

(3) Memberikan rekomendasi setiap apa yang terlibat di dalamnya.

b.) Tahapan Rekomendasi

Memberikan rekomendasi yang dapat berupa presentasi secara

tertulis atau lisan dari alternatif yang sudah dipilih dalam usulan tim VE

untuk ditujukan kepada semua pihak, baik pemilik, perencana maupun

pelaksana. Dalam tahap rekomendasi dapat juga berisi usulan alternatif

yang direkomendasikan beserta dasar pertimbangan

5) Tahapan Implementasi

Pada tahap terakhir VE ini mencakup laporan akhir/ringkasan akhir

yang berisikan dokumen akhir yang berlaku dan telah disetujui pemilik

42

proyek untuk dilaksanakan oleh kontraktor dan diawasi bersama

pengawas.

Tapi sebelum disetujui oleh pemilik proyek biasanya laporan akhir ini

dipresentasikan (tahapan sebelumnya) kepada semua pihak yang nantinya

terlibat agar dapat memahami alternatif / usulan perubahan secara singkat,

jelas, cepat dan cermat langsung mengambil langkah-langkah keputusan

dan jalan pemecahannya yang dapat dipertanggungjawabkan dan tidak

merugikan salah satu pihak. Pada tahap paling akhir dari pengawasan VE

adalah membuat evaluasi proses kontrol dari apa yang telah dipilih dan

disepakati.

E. Kedudukan Value Engineering Dalam Organisasi Proyek

Sebagai badan konsultan tersendiri, konsultan Value Engineering dapat

diterapkan pada posisi dan waktu tertentu dalam organisasi proyek. Meskipun

demikian tidak menutup kemungkinan bahwa konsultan VE disertakan pada setiap

posisis pada organisasi proyek dan sepanjang waktu selama proses pembangunan

berlangsung.

Dalam hal ini posisi VE bertindak sebagai anggota dari konsultan Manajemen

Konstruksi (MK). Pada posisi ini konsultan VE bertugas membuat analis kegiatan

proyek dan bersama-sama dengan konsultan MK memberi saran kepada pemilik,

perencana dan kontraktor tentang aspek biaya proyek, baik pada tahap

perencanaan maupun tahap pelaksanaan proyek. Adapun keuntungan

menempatkan konsultan VE pada konsultan Manajemen Konstruksi adalah :

43

1. Terjadi komunikasi yang baik antara pemilik, konsultan VE dan konsultan

MK tentang manajemen dan kontrol biaya, administrasi proyek dan

perencanaan oleh konsultan perencana.

2. Team VE leluasa bertugas memonitor dari tahap pengembangan desain

hingga tahap akhir perencanaan, desain dan mengontrol pelaksanaan VE

pada tahap pelaksanaan pekerjaan proyek.

3. Administrasi pembiayaan proyek lebih sederhana (tanpa merubah alokasi

anggaran yang sudah ada).

Sedangkan kerugiannya adalah :

Tidak dapat dilakukan kontrol langsung terhadap konsultan VE oleh pemilik,

harus melalui konsultan Manajemen Konstruksi lebih dahulu.

Dalam proses pelaksanaan penelitian pada penulisan tugas akhir ini yang telah

banyak dijelaskan diatas, maka akan dipaparkan secara garis besar siklus

perekayasaan struktur (gambar 3.1) dan urutan kerja pada masing masing item

yang akan dikaji/penelitiannya (gambar 3.2)

44

GAMBAR 3.1 Siklus Perekayasaan Struktur

Sumber : diktat ajar Perkuliahan Unversitas Negeri Semarang

MULAI

Konsep Reduksi Biaya

Work Breakdown
Struktur

Elemen Struktur

Struktur Atas

Struktur Pondasi

Struktur Atap

Alternatif Terbaik

Rekomendasi
Terbaik

Perbandingan
biaya

SELESAI

45

Gambar 3.2
Flow Chart Penelitian

Sumber :
diktat ajar Perkuliahan
Unversitas Negeri Semarang

Tidak

Kecukupan data

Ya

BAB IV

Start

Permasalahan

Tujuan Penelitian

Hipotesa

Studi Pustaka
• Peraturan
• Literature
• Internet

Pengumpulan data

Data Primer
• Gambar
• RAB
• RKS

Data Sekunder
• Daftar analisa
pekerjaan (BOW,
SNI)
• Data bahan / material
• dll

Analisa data

Kesimpulan dan saran

Stop

46

BAB IV

APLIKASI PERHITUNGAN DAN ANALISA PROYEK DENGAN VE

A. Latar Belakang Proyek

Dewasa ini, seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi

telah banyak berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat, yaitu semakin

bertambahnya tingkat kebutuhan akan membaca, belajar, dan informasi bagi

pelajar, mahasiswa maupun masyarakat.

Sejalan dengan hal tersebut, maka diperlukan sarana dan prasarana yang

mendukung seperti pembangunan gedung kantor Perpustakaan untuk Propinsi

Jawa Tengah. Banyak fungsi atau manfaat yang bisa didapatkan dengan adanya

pembangunan gedung ini diantaranya selain dapat dimanfaatkan sebagai kantor

Perpustakaan juga sebagai sarana untuk mendapatkan informasi dan ilmu

pengetahuan.

Sehingga dengan dibangunnya gedung ini menambah satu predikat baik

khususnya dalam bidang pendidikan, keilmuan dan teknologi untuk masyarakat

Jawa Tengah.

Dengan adanya Gedung kantor Perpustakaan tersebut maka diharapkan

masyarakat dapat memanfaatkan seoptimal mungkin sebagai tempat untuk

mendapatkan informasi dan ilmu pengetahuan secara luas dan mudah.

46

47

B. Data Proyek

1. Situasi Dan Lokasi Proyek

Proyek pembangunan Gedung Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah ini,

secara geografis terletak di Jl. Sriwijaya 29.A Semarang.

Adapun batas – batas bangunan sebagai berikut :

a. Sebelah Utara : Jl. Sriwijaya

b. Sebelah Timur : Kompleks Gedung Wanita

c. Sebelah Selatan : Gedung Kesenian

d. Sebelah Barat : Gedung Perpustakaan lama

Sumber : penulis

Gambar 4.1 Lokasi Proyek

48

2. Data Teknik Proyek

Adapun data teknik Proyek Pembangunan Gedung Perpustakaan Jawa

Tengah adalah :

a. Jenis Pondasi

: Tiang Pancang ∆ 32x32x32 K 350

b. Struktur Bangunan

: Beton Bertulang + Kuda-kuda Baja ringan

c. Atap Bangunan : Genting

d. Jumlah lantai

: 4 Lantai

e. Tinggi Bangunan

: + 21.00 m

f. Luas Tanah

: 3200 m2

g. Luas Bangunan : 1089 m2

h. Beton tak bertulang menggunakan campuran 1pc : 3ps : 5split (In Situ)

j. Beton bertulang mutu K 275 (struktur) K175 (praktis) sesuai dengan

standard SNI 1991 (Ready Mix)

k. Besi beton dipakai dari mutu U24 untuk polos, dan U39 untuk ulir

dengan kemampuan tekuk 180 derajat

3. Data Administrasi

Besarnya dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan keseluruhan

pembangunan dan renovasi ini sebesar Rp3.578.660.000,00 (Tiga milyar

lima ratus tujuh puluh delapan juta enam ratus enam puluh ribu rupiah).

Yang sepenuhnya berasal dari dana APBD TA 2005.

49

4. Struktur Organisasi Proyek

Organisasi adalah sekumpulan orang atau badan hukum dengan

pembagian kerja yang jelas, saling bekerja sama untuk mencapai tujuan

yang telah ditentukan. Dalam organisasi, masing-masing personil

mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri(Handoko, 2005).

Pelaksanaan kegiatan memerlukan suatu koordinasi yang baik dan

adanya saling pengertian antara unsur satu dengan yang lain, sehingga dapat

memperlancar pekerjaan (Handoko, 2005).. Adapun hal-hal yang dapat

memperlancar pekerjaan antara lain :

a. Saling menjaga hubungan baik antar sesama anggota

b. Masing-masing pihak bertanggung jawab atas pekerjaannya

Pihak-pihak yang terlibat dalam pelaksanaan proyek pembangunan

Gedung Perpustakaan Wilayah Jawa Tengah adalah :

a. Pemilik proyek (Owner)

b. Konsultan perencana

c. Konsultan pengawas

Dalam pelaksanaan proyek, ketiga unsur tersebut harus menjalin

kerjasama yang baik sesuai dengan proposal kerja dan tanggung jawabnya

masing-masing, selain itu masing-masing pihak harus menciptakan suasana

kerja yang serasi dan harmonis antara pihak yang satu dengan yang lainnya

sehingga didapatkan hasil seperti yang diharapkan.

50

Ketiga unsur tersebut bekerja sesuai dengan peraturan dan tata tertib

yang berlaku dan sesuai dengan perjanjian kerja yang telah disepakati

bersama oleh keempat unsur tersebut di atas.

Gambar 4.2 Struktur Organisasi Proyek

Pembangunan Gedung Kantor PERPUSDA

C. Study Value Engineering

Study Value Engineering dimaksudkan untuk mencari dan menentukan item-

item pekerjaan proyek yang sekiranya cukup signifikan untuk dianalisa dengan

metode Value Engineering. Akan tetapi karena keterbatasan data dan informasi

yang diperoleh, maka studi Value Engineering dilakukan hanya pada 2 (dua) item

berbobot potensial (nilai anggaran) yang terdiri dari :

51

1. Studi VE pada item pekerjaan pondasi.

2. Studi VE pada item pekerjaan struktur atas yaitu balok.

Sedangkan aplikasi Value Engineering dilakukan meliputi beberapa fase

diantaranya :

Gambar 4.3. Fase Study Value Engineering

Sumber : diktat ajar perkuliahan Unversitas Negeri Semarang

Adapun beberapa alasan mengapa dilakukan perekayasaan VE pada item

tersebut adalah :

1) Perekayasaan dilakukan pada item yang mempunyai nilai atau bobot

pekerjaan yang cukup besar dibandingkan dengan item yang lainnya.

2) Diasumsikan bahwa konsultan VE berada pada posisi sebagai tim dari

pihak MK ( sebagai koordinator) dan melakukan tugasnya pada awal

Fase Informasi

Fase Spekulatif

Fase Analisa

Fase Rekomendasi

- Berisi Informasi
umum
- Kriteria Design
- Analisa fungsi

- Pembobotan
Kriteria
- Penilaian
perbandingan
- Untung rugi

- Rencana awal
- Usulan
- Dasar
pertimbangan

Final

Pemunculan
alternatif

52

masa perencanaan dan bekerjasama dengan tim perencana sebelum

kontraktor melaksanakan pekerjaannya.

3) Analisa dilakukan terhadap perencanaan struktur dengan satu atau

beberapa alternatif pembanding untuk menentukan pilihan yang

terbaik.

1. Studi VE Pada Item Pekerjaan Struktur Pondasi

Dalam analisa perekayasaan VE pada proyek pembangunan gedung ini,

salah satu elemen yang mempunyai nilai yang potensial untuk dilakukan

rekayasa adalah elemen pekerjaan struktur bawah yaitu pondasi. Karena dalam

proyek ini elemen pondasi ini mempunyai nilai (bobot) yang cukup besar

yaitu 6 % dari biaya total keseluruhan proyek.

Dan pada proyek pembangunan gedung kantor Perpustakaan Daerah

Propinsi Jawa Tengah ini memiliki elemen struktur pondasi yang

menggunakan mini pile dengan ukuran ∆ 32 x 32 x 32 dengan mutu beton K

350 (f’c 28).

Sehingga dengan terbatasnya referensi, dalam penulisan tugas akhir ini

dihadirkan beberapa alternatif pemakaian pondasi tiang pancang dengan mutu

yang sama akan tetapi dengan dimensi tiang yang bervariasi yaitu tiang

silinder dengan diameter 300, diameter 350, dan tiang persegi dimensi 20 x

20, yang diambil dari hasil pendataan observasi dan survei langsung

dilapangan.

2. Studi VE Pada Item Pekerjaan Struktur Atas

53

Pada proyek pembangunan gedung kantor Perpustakaan Daerah Propinsi

Jawa Tengah item pekerjaan struktur atas adalah satu bagian pekerjaan yang

mempunyai bobot pekerjaan yang tertinggi yaitu sekitar 20 % dari biaya total

proyek, sehingga sangat potensial untuk dilakukan analisa Value Engineering.

Pekerjaan struktur atas ini meliputi : kolom, pelat lantai, dan balok.

Akan tetapi dalam tugas akhir ini penulis hanya menyajikan struktur balok

sebagai bagian segmen yang akan dilakukan perekayasaan nilai berdasarkan

comparation/perbandingan nilai antara existing dan alternatif design yang

dihadirkan.

Pada perencanaan awal, semua elemen ini menggunakan beton

konvensional dengan mutu K 275 (f’c 23). Untuk itu dalam analisa VE pada

elemen struktur atas ini, akan dihadirkan alternatif perekayasaan dengan cara

mendesign kembali beton konvensional yang dipakai yaitu menggunakan

beton dengan mutu K 225 (f’c 18), K250 (f’c 21), dan mutu K 300 (f’c 25).

Alasan penggunaan beton masing-masing mutu ini yaitu karena kesemuanya

mutu beton diatas lazim digunakan di pembangunan gedung bertingkat atau

berdasarkan survey dilapangan dan masing-masing mempunyai kualitas yang

hampir sama ketika dipakai dalam proyek.

Perhitungan kembali atau analisa beton dengan masing-masing mutu ini

dibantu dengan menggunakan program komputer SAP 2000 versi 8.08 dengan

pendekatan asumsi dan tahapan analisa yang akan dijabarkan dalam penulisan

tugas akhir ini.

54

D. Analisa Value Engineering Untuk Pekerjaan Struktur Pondasi

Dalam proyek pembangunan gedung kantor Perpustakaan Daerah Propinsi

Jawa Tengah, pada item pekerjaan struktur bawah termasuk diantaranya adalah

struktur pondasi, memiliki alokasi biaya yang cukup besar dari pembiayaan total

sehingga sangat potensial untuk dilaksanakan perekayasaan Value Engineering.

Hal atau permasalahan yang menjadikan mengapa struktur pondasi sangat

potensial untuk dilakukan perekayasaan VE yaitu :

1) Dalam pelaksanaan proyek pembangunan gedung ini, untuk biaya

pekerjaan pondasi ini membutukan alokasi biaya yang cukup besar yaitu 6

% dari biaya keseluruhan.

2) Penggunaan tiang pancang dengan tiap kolom utama memiliki 9 tiang

segitiga dimensi 32 x 32 x 32. Hal ini dirasakan penulis kurang optimal

sehingga diperlukan analisa dengan menggunakan jenis pondasi lain

dengan dihitung berdasarkan daya dukung yang sesuai.

3) Masing-masing titik kolom utama membutuhkan 9 titik tiang pancang

dengan kapasitas total beban yang relatif sedang.

4) Digunakan beberapa alternatif pilihan dengan mengganti dimensi yang

telah ada, akan tetapi tetap mengandalkan mutu, kekuatan, daya dukung,

kemudahan pelaksanaan dan yang terpenting adalah masalah biaya

penghematannya.

5) Untuk pekerjaan pondasi tidak dipengaruhi oleh bentuk arsitektur karena

berada didalam tanah, akan tetapi dicari nilai optimalisasi dengan

55

mengasumsikan penggunaan jenis tiang dengan masing-masing dimensi

yang berbeda.

1. TAHAP INFORMASI

Dalam item pekerjaan pondasi tahapan ini dihadirkan berbagai macam

informasi dan data-data dalam pembangunan proyek ini yang disebut sebagai

Informasi Teknis Proyek

Tabel 4.1. Data Informasi Teknis Proyek

URAIAN

DATA TEKNIS PROYEK

Kriteria Design

Perencanaan pondasi menggunakan pondasi tiang

dengan daya dukung terhadap beban struktur atas

yang besar.

Pondasi di-design dengan pondasi jenis end bearing

pile karena mencapai tanah keras

Kondisi tanah

dilapangan

Tanah proyek termasuk dalam klasifikasi tanah

sedang yaitu : tanah lempung dengan kedalaman

tanah keras sepanjang 10 meter dari permukaan

tanah(lampiran A-2).

Kondisi sosial

lapangan

Keadaan pemukiman dan gedung sekitar sangat

dekat, hanya berjarak beberapa meter saja.

Unsur-unsur Design Untuk struktur gedung utama direnanakan 10 titik

pancang dengan masing-masing titik berjumlah 9

tiang ditambah 3 titik untuk gedung tambahan yang

berjumlah 4 tiang, jadi total pemancangan adalah 102

buah (dalam denah lampiran A-37)

Sumber : Rencana Kerja Dan Syarat

56

Tabel 4.2. Data Informasi Pekerjaan Pondasi

Proyek Pembangunan
Gedung Perpusda

TAHAP INFORMASI

No. Sumber Informasi

Data Yang Diterima

1. Buku-buku tentang
VE

Landasan teori mengenai penerapan VE

Prosedur penerapan VE

2. Buku-buku analisa
RAB

Penghitungan RAB untuk masing-masing
mutu beton

3. PT.Wijaya Karya

Data spesifikasi teknis tiang pancang pra
tekan

Daftar harga beberapa jenis tiang pancang

4. PT.Paton Buana
Semesta

Data spesifikasi teknis tiang pancang pra
tekan

Daftar harga beberapa jenis tiang pancang

Sumber : survey

b.) Analisa Fungsi Pekerjaan Pondasi

Tabel 4.3 Analisa fungsi Pekerjaan Pondasi

Proyek pembangunan gedung

Perpusda

ANALISA FUNGSI

No
.

Uraian

Verb

Noun Kind Cost

x 1000

Worth

x 1000

Ket

1. Pond.Pancang Mendukung

Beban

P

-

-

VE

2. Lantai kerja

Meneruskan Kegiatan

S

-

-

Tidak

3. Pas.Bt.Ksng

Meneruskan Beban

S

-

-

Tidak

4. Pilecap

Meneruskan Beban

P

-

-

VE

TOTAL

-

-

Keterangan : P adalah unsur item pekerjaan yang dianggap primer (utama)

S adalah unsur item pekerjaan yang dianggap sekunder (unsur

pendukung unsur primer )

57

Verb dan Noun adalah fungsi penjelas untuk masing-masing item

pekerjaan (aplikasi metode fast)

Angka-angka dalam kolom Cost dan Worth untuk item yang tidak di VE didapat dari

rencana anggaran biaya dari perencanaan awal

Pada pekerjaan pondasi pancang dan pile cap akan ditampilkan dalam tahap analisa

karena item ini adalah item yang akan dilakukan VE

Analisa fungsi diatas hanya menerangkan item pekerjaan yang akan dilakukan analisa

VE saja dan definisi fungsi dari kata kerja dan kata benda terukur. Nilai manfaat

(worth) belum bisa ditanpilkan biayanya, karena dilakukan pada tahap spekulasi.

Analisa secara lengkap akan ditampilkan dalam tahap Analisa.

2. TAHAP SPEKULASI

Pada tahapan spekulatif dalam perekayasaan VE berisi pemunculan

sejumlah ide alternatif dari semua segmen yang dilihat dengan berbagai macam

keunggulan, sehingga didapatkan suatu hasil yang lebih optimal.

Selain Itu ide alternatif ini juga dihadirkan sebagai pembanding dari

perencanaan awal, baru setelah itu dilakukan penganalisaan terutama dari segi

biaya dan ide-ide yang kurang mendukung atau memberikan hasil yang kurang

optimal dari fungsi item yag diinginkan akan disisihkan, sedangkan ide yang

memungkinkan untuk dilakukan penghematan dapat dianalisa lebih lanjut.

Dalam ide pemunculan alternatif ini penulis menoba menghadirkan beberapa

alternatif pengganti dari elemen struktur bawah yaitu pondasi yang didalam

proyek ini mengunakan jenis pondasi pancang (minipile) dengan dimensi ∆

58

32x32x32 dengan beberapa jenis pondasi lain dengan dimensi atau ukuran yang

berbeda yaitu pondasi tiang pancang silinder dengan diameter 300 mm, tiang

pancang silinder dengan diameter 350 mm dan tiang pancang minipile persegi

dengan dimensi 20 x 20 cm. Sehingga dengan adanya pemunculan beberapa ide

ini diharapkan diperoleh penghematan harga yang cukup signifikan.

a. Alternatif Design

Tabel 4.4 Keuntungan Dan Kerugian Penggunaan Design Alternatif

ALTERNATIF DESIGN

Proyek Perpustakaan Daerah
Propinsi Jateng

Item pekerjaan struktur

Fungsi : Memperkuat struktur

No. Usulan

Keuntungan

Kelemahan

1. Penggunaan tiang pre-
cast silinder dengan
dimensi 300 mm

Tidak Terpengaruh
dengan kondisi cuaca
dan

lingkungan

proyek

Mempunyai

Mutu

Terjamin

Tak perlu galian

Karena dimensi tak
bersudut maka lebih
mempermudah proses
pemancangan

Memerlukan ruang
kerja yang besar

Pada saat masa
konstruksi
pemancangan
Mengganggu
bangunan sekitar

2

Penggunaan tiang silinder
dengan dimensi 350 mm

Tidak Terpengaruh
dengan kondisi cuaca
dan

lingkungan

proyek

Tak perlu galian

Mutu terjamin

Menghasilkan daya
dukung yang lebih

Memerlukan ruang
kerja yang yang besar

Mengganggu
bangunan sekitar pada
saat pemancangan

Proses pemancangan
akan lebih sulit karena
dimensi lebih besar
dari alternatif 1

59

besar dari alternatif 1

Harga relatif lebih
mahal

No.

Usulan

Keuntungan

Kerugian

3.

Penggunaan tiang persegi
dengan dimensi 20 x 20

Tidak Terpengaruh
dengan kondisi cuaca
dan

lingkungan

proyek

Tak perlu galian

Mutu sama dengan
alternatif 1 & 2

Harga relatif lebih
murah dari elternatif
ke-1 dan ke-2

Memerlukan ruang
kerja yang besar

Menghasilkan daya
dukung yang relatif
kecil

Mengganggu
bangunan sekitar pada
saat

proses

pemancangan

b. Penganalisaan Value Engineering

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan software SAP 2000 pada

item pekerjaan pondasi, didapat hasil rekapitulasi analisa pondasi(tabel 4.5)

untuk berbagi macam dimensi tiang pancang (detail perhitungan dapat dilihat

dalam lampiran A-28) adalah sebagai berikut :

60

Tabel 4.5 Rekapitulasi Perhitungan Dimensi Dan Penulangan Pile Cap

No.

Pondasi

Tebal

(th)

Dimensi

Pile cap

Penulangan

Atas Bawah

1. Tiang pancang ∆ 32x32x32

100 250x250 15D25 7D25

2. Tiang pancang silinder Ø 300

100 240x150 13D25 6D25

2. Tiang pancang silinder Ø 350

100 220x220 10D25 5D25

2. Tiang pancang persegi 20x20

100 230x160 12D25 6D25

1 Penggunaan Tiang Pancang Segitiga Dengan Dimensi 32 x 32 x 32

(Existing)

Pada perencanaan existing jenis pondasi yang digunakan yaitu jenis pondasi

tiang pancang dengan dimensi 32 x 32 x 32, dengan spesifik tiang berdasarkan

hasil survey (pendataan lapangan) yaitu :

a.) Daya dukung tiang pancang segitiga 32 x 32 x 32 sesuai dengan data

adalah 29.3 Ton (dalam lampiran A-36).

b.) Pemesanan panjang tiang yaitu berdasarkan hasil uji kekerasan tanah

(sondir test) yaitu dengan kedalaman 10 m

c.) Harga tiang pancang adalah Rp. 92.000,00/m1
.

d.) Harga upah pancang yaitu Rp.13.000,00/m1

e.) Harga mob demobilitras alat pancang yaitu Rp. 1.500.000,00

61

a. Penghitungan Estimasi Biaya (RAB)

1) Harga Bahan

Jumlah tiang pancang : 90 tiang pancang (lampiran A-9)

Panjang Tiang pancang : 10 m

Harga tiang pancang 32 x 32 x 32 yaitu : Rp.92.000,00

Jumlah biaya bahan adalah : 90 x 10 x Rp92.000,00 = Rp. 82.800.000,00

2) Upah Tenaga Kerja

Upah pekerja /m1

adalah Rp.13.000,00

Sedangkan panjang tiang tertanam rata-rata 10 m, dengan jumlah tiang

pancang 90 titik, maka ;

Jumlah biaya untuk membayar upah pekerja yaitu :

= 90 x 10 x Rp. 13.000,00

= Rp. 11.700.000,00

3) Biaya lain-lain

(a) Biaya pengelasan adalah Rp. 30.000.00 jumlah titik pengelasan

adalah 90 joint, jadi jumlah biaya yaitu

= 90 x Rp. 30.000,00

= Rp. 2.700.000,00

(b) Biaya mob demobilisasi alat pancang adalah Rp 1.500.000,00

(untuk wilayah semarang)

62

Sehingga total pembiayaan pemancangan pondasi existing adalah Rp.

98.700.000,00

4) Biaya Beton Bertulang Pile Cap

Dipakai beton dengan mutu K225 yang dicetak ditempat (in situ) dan

dengan analisa harga satuan berdasarkan atas SNI harga satuan pekerjaan

untuk wilayah kota Semarang tahun 2007(lampiran B-4)

(a) Campuran beton

1 M3 cor
beton

Portland
semen

388,000 Kg

Rp 675,00 Rp 417.900,00

Pasir beton

0,650 m3

Rp 120.000,00 Rp 78.000,00

Koral beton

0,650 m3

Rp 120.000,00 Rp 78.000,00

Pekerja

6,000 Hari

Rp 25.000,00 Rp 150.000,00

Tukang

1,000 Hari

Rp 35.000,00 Rp 35.000,00

Kepala
Tukang

0,100 Hari

Rp 40.500,00 Rp 4.050,00

Mandor

0,300 Hari

Rp 35.000,00 Rp 10.500,00

Jumlah

Rp 602.400,00

(b) Pembesian

1 KG besi beton

Besi beton
polos/ulir

1,05 Kg Rp 6.000,00 Rp 6.300,00

Kawat bendrat

0,015 Kg Rp 7.500,00 Rp 112,50

Pekerja

0,007 Hari Rp 22.500,00 Rp 157,50

Tukang besi

0,007 Hari Rp 35.000,00 Rp 245,00

Kepala Tukang
besi

0,0007 Hari Rp 40.000,00 Rp 28,00

Mandor

0,0003 Hari Rp 35.000,00 Rp 10,50

Jumlah

Rp 6.853,50

63

(c) Begesting

1 M2 Bekisting
dengan papan

Kayu terentang

0,040 M3

Rp 500.000,00 Rp 20.000,00

Minyak
bakesting

0,200

ltr

Rp 18.000,00 Rp 3.600,00

Paku

0,400 Kg

Rp 7.500,00 Rp 3.000,00

Balok kayu

0,015 M3

Rp 750.000,00 Rp 11.250,00

Plywood t 9 mm

0,350 lbr

Rp 136.000,00 Rp 47.600,00

Dolken kayu

2,000

12

Rp 12.000,00 Rp 24.000,00

Pekerja

0,300 Hari

Rp 22.500,00 Rp 6.750,00

Tukang

0,330 Hari

Rp 35.000,00 Rp 11.550,00

Kepala Tukang

0,033 Hari

Rp 40.000,00 Rp 4.125,00

Mandor

0,006 Hari

Rp 35.000,00 Rp 210,00

Jumlah

Rp 129.280,00

Maka biaya untuk 1 m3 beton bertulang pada Pile Cap adalah

No. Uraian

Koeff. Sat. Harga Satuan

Jumlah Harga

1 m3 beton

cor beton

1,000 M3

Rp 602.400,00 Rp 602.400,00

besi

170,000 Kg

Rp 6.853,50 Rp 1.165.095,00

bekesting

1,600 M2

Rp 44.244,48 Rp 70.791,17

Jumlah

Rp 1.838.286,17

Keterangan : Perhitungan koefisen Pembesian & Bekesting(lampiran A-28)

Sehingga Biaya Pekerjaan Beton Pile Cap adalah :

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan

Jumlah Biaya

Beton pile cap

M3 62.5 Rp1.838.201.2 Rp 114.887.573,00

Jumlah Pekerjaan Pile Cap

Rp 114.887.573,00

Jumlah total biaya pekerjaan pondasi dan Pile Cap adalah Rp.114.887.573,00

+ Rp.98.700.000,00 = Rp. 213.587.573,00

64

2 Penggunaan Tiang Pancang Silinder Dengan Diameter 300

Pada perencanaan alternatif jenis pondasi yang digunakan yaitu jenis pondasi

tiang pancang dengan dimensi 300 mm), dengan spesifikasi tiang berdasarkan

hasil survey yaitu :

a.) Daya dukung tiang pancang silinder sesuai dengan data adalah rata-

rata 65-72 Ton (lampiran A-34).

b.) Pemesanan panjang tiang yaitu berdasarkan hasil uji kekerasan tanah

(sondir test) yaitu dengan kedalaman 10 m

c.) Harga tiang pancang adalah Rp. 170.000,00/m1

(lampiran A-33).

d.) Harga upah pancang yaitu Rp.13.000,00/m1

(lampiran A-32)

e.) Harga mob demobilitras alat pancang yaitu Rp. 1.500.000,00

a. Penghitungan Estimasi Biaya (RAB)

2) Harga Bahan

Jumlah tiang pancang

: 60 tiang pancang.(lampiran A-14)

Panjang Tiang pancang

: 10 m

Harga tiang pancang

: Rp. 170.000,00/m1
.

Jumlah biaya bahan

: 60 x 10 x Rp170.000,00

: Rp 102.000.000,00

65

2) Upah Tenaga Kerja

Upah pekerja /m1

adalah Rp.13.000,00

Sedangkan panjang tiang tertanam rata-rata 10 m, dengan jumlah tiang

pancang 60 titik, maka ;

Jumlah biaya untuk membayar upah pekerja yaitu :

= 60 x10 x Rp. 13.000,00

= Rp. 11.700.000,00

3) Biaya lain-lain

(a) Biaya pengelasan adalah Rp.30.000.00 jumlah titik pengelasan

adalah 60 joint, jadi jumlah biaya yaitu

= 60 x Rp. 30.000,00

= Rp. 1.800.000,00

(b) Biaya mob demobilisasi alat pancang adalah Rp 1.500.000,00

(untuk wilayah semarang)

Sehingga total pembiayaan pemancangan pondasi tiang diameter 300

adalah Rp. 117.000.000,00

4) Biaya Beton Bertulang Pile Cap

Dipakai beton dengan mutu K225 yang dicetak ditempat (in situ) dan

dengan analisa harga satuan berdasarkan atas SNI harga satuan pekerjaan

untuk wilayah kota Semarang tahun 2007

66

Maka biaya untuk 1 M3 beton bertulang pada Pile Cap adalah

No.

Uraian

Koeff Sat,

Harga Satuan

Jumlah Harga

1 m3 beton
cor beton

1,000 M3

Rp 602.400,00 Rp 602.400,00

besi beton

146,000 Kg

Rp 6.853,50 Rp 1.000.611,00

bekesting

3,700 M2

Rp 44.244,48 Rp 163.704,58

JUMLAH

Rp 1.766.715,58

Sehingga Biaya Pekerjaan Beton Pile Cap adalah

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya

Beton pile cap

m3 36 Rp1.766.715,19 Rp 63.601.760,70

JUMLAH PEKERJAAN PILE CAP

Rp 63.601.760,70

Jumlah total biaya pekerjaan pondasi dan Pile Cap adalah Rp. 117.000.000,00

+ Rp 63.601.760,70 = Rp. 180.601.760,70

3 Penggunaan Tiang Pancang Silinder Dengan Diameter 350

Untuk alternatif digunakan yaitu jenis pondasi tiang pancang dengan dimensi

350, dengan spesifik tiang berdasarkan hasil survey (pendataan dilapangan) yaitu :

a.) Daya dukung tiang pancang silinder sesuai dengan data adalah rata-

rata 85-93 Ton sesuai dengan kelas masing-masing tiang (lampiran A-

34).

b.) Pemesanan panjang tiang yaitu berdasarkan hasil uji kekerasan tanah

(sondir test) yaitu dengan kedalaman 10 m

c.) Harga tiang pancang adalah Rp. 220.000,00/m1

(lampiran A-33).

d.) Harga upah pancang yaitu Rp.13.000,00/m1

(lampiran A-32).

67

e.) Harga mob demobilitas alat pancang yaitu Rp. 1.500.000,00

a. Penghitungan Estimasi Biaya (RAB)

1) Harga Bahan

Jumlah tiang pancang : 5 tiang pancang/titik(lampiran A-18)

Jumlah titik pondasi : 10 titik

Panjang Tiang pancang : 10 m

Harga tiang pancang : Rp.220.000,00/m1

Jumlah biaya bahan adalah : 50x10xRp220.000,00 = Rp 110.000.000,00

2) Upah Tenaga Kerja

Upah pekerja /m1

adalah Rp.13.000,00

Sedangkan panjang tiang tertanam rata-rata 10 m, dengan jumlah tiang

pancang 50 titik, maka ;

Jumlah biaya untuk membayar upah pekerja yaitu :

= 50 x 10 x Rp. 13.000,00

= Rp. 11.700.000,00

3) Biaya lain-lain

(a) Biaya pengelasan adalah Rp. 30.000.00, jumlah titik pengelasan

adalah 50 joint, jadi jumlah biaya yaitu

= 50 x Rp. 30.000,00

= Rp. 1.500.000,00

68

(b) Biaya mob demobilisasi alat pancang adalah Rp 1.500.000,00

(untuk wilayah semarang)

Sehingga total pembiayaan pemancangan pondasi tiang diameter 350

adalah Rp. 124.700.000,00

4) Biaya Beton Bertulang Pile Cap

Dipakai beton dengan mutu K225 yang dicetak ditempat (in situ) dan

dengan analisa harga satuan berdasarkan atas SNI harga satuan pekerjaan

untuk wilayah kota Semarang tahun 2007.

Maka biaya untuk 1 M3 beton bertulang pada Pile Cap adalah ;

No. Uraian

Koeff Sat, Harga Satuan

Jumlah Harga

1 m3 beton

Cor beton

1,000 M3 Rp 602.400,00 Rp 602.400,00

besi

116,000 Kg

Rp 6.853,50 Rp 795.006,00

bekesting

1,800 M2 Rp 44.244,48 Rp 79.640,06
JUMLAH

Rp 1.477.046,06

Sehingga Biaya Pekerjaan Beton Pile Cap adalah ;

Jumlah total biaya pekerjaan pondasi dan pile cap adalah Rp. 124.700.000 +

Rp. Rp71.488.987,68 = Rp. 196.188.987,70

No. Uraian Pekerjaan Sat. Vol. Harga Satuan Jumlah Biaya

Beton pile cap

m3 48.4 Rp1.477.045,20 Rp71.488.987,68

JUMLAH PEKERJAAN BETON PILE CAP

Rp71.488.987,68

69

4 Penggunaan Tiang Pancang persegi Dengan Dimensi 20 x 20

Dalam alternatif ke-3 digunakan yaitu jenis pondasi tiang pancang dengan

dimensi 20 x 20, dengan spesifik tiang berdasarkan hasil survey yaitu :

a.) Daya dukung tiang pancang silinder sesuai dengan data adalah rata-

rata 26.8 Ton (lampiran A-36) sesuai dengan kelas masing-masing

tiang.

b.) Pemesanan panjang tiang yaitu berdasarkan hasil uji kekerasan tanah

(sondir test) yaitu dengan kedalaman 10 m

c.) Harga upah pancang yaitu Rp.13.000,00/m1

d.) Harga tiang pancang adalah Rp. 82.000,00/m1

(lampiran A-32).

e.) Harga mob demobilitras alat pancang yaitu Rp. 1.500.000,00

a. Penghitungan Estimasi Biaya (RAB)

1) Harga Bahan

Jumlah tiang pancang : 10 tiang pancang/titik (lampiran A-23 )

Jumlah titik

: 10 titik

Panjang Tiang pancang : 10 m

Harga tiang pancang 20x20 yaitu : Rp.82.000,00/m1

Jumlah biaya bahan adalah : 100 x 10 x Rp82.000,00 = Rp

82.000.000,00

70

2) Upah Tenaga Kerja

Upah pekerja /m1

adalah Rp.13.000,00

Sedangkan panjang tiang tertanam rata-rata 10 m, dengan jumlah tiang

pancang 100 titik, maka ;

Jumlah biaya untuk membayar upah pekerja yaitu :

= 100 x 10 x Rp. 13.000,00

= Rp. 13.000.000,00

3) Biaya lain-lain

(a) Biaya pengelasan adalah Rp. 30.000.00 jumlah titik pengelasan

adalah 100 joint, jadi jumlah biaya yaitu

= 100 x Rp. 30.000,00

= Rp. 3.000.000,00

(b) Biaya mob demobilisasi alat pancang adalah Rp 1.500.000,00

(untuk wilayah semarang)

Sehingga total pembiayaan pemancangan pondasi tiang diameter 300

adalah Rp. 99.500.000,00

4) Biaya Beton Bertulang Pile Cap

Dipakai beton dengan mutu K225 yang dicetak ditempat (in situ) dan

dengan analisa harga satuan berdasarkan atas SNI harga satuan pekerjaan

untuk wilayah kota Semarang tahun 2007

71

Maka biaya untuk 1 M3 beton bertulang pada Pile Cap adalah ;

No. Uraian

Koeff Sat, Harga Satuan

Jumlah Harga

1 m3 beton

cor beton

1,000 M3 Rp 602.400,00 Rp 602.400,00

besi beton

137,000 Kg Rp 6.853,50 Rp 938.929,50

bekesting

2,100 M2 Rp 44.244,48 Rp 92.913,41

Jumlah

Rp 1.634.242,91

Sehingga biaya Pekerjaan Beton Pile Cap adalah ;

No.

Pekerjaan

Sat. Vol. Harga Satuan

Jumlah Biaya

Beton pile cap

M3 36.8

Rp1.634.242,90 Rp 60.140.138,72

JUMLAH PEKERJAAN PILE CAP

Rp 60.140.138,72

Jumlah total biaya pekerjaan pondasi adalah Rp. 99.500.000,00 + Rp. Rp Rp

60.140.139.01= Rp. 159.640.139

Dari analisa perhitungan biaya diatas maka dapat dibuat tabel perbandingan

harga dalam Tabel 4.6 dan Gambar 4.4. untuk item pondasi setelah dilakukan

VE

Tabel 4.6 Rekapitulasi Hasil Analisa dan perhitungan

No.

Pondasi

Tebal

(th)

n tiang

(jmlh)

Dimensi

Pile Cap

PENULANGAN

Atas Bawah

1. Tiang pancang ∆ 32x32x32

100

9

250x250 15D25 7D25

2. Tiang pancang silinder Ø 30

100

6

240x150 13D25 6D25

2. Tiang pancang silinder Ø 35

100

5

220x220 10D25 5D25

2. Tiang pancang persegi 20x20

100

10 230x160 12D25 6D25

72

213,59

180,60196,19

159,64

0,00

50,00

100,00

150,00

200,00

250,00

Harga
(dalam
juta
rupiah)

∆32x3x32
(existing)

Ø300Ø350

20x20

Jenis Pondasi

Diagram Perbandingan Biaya
Existing Vs Alternatif

Tabel 4.7 Rekapitulasi Harga Pekerjaan

No.

Jenis Pondasi

Harga Total
(Rp)

Selisih
terhadap
existing setelah
di VE (Rp)

Ket

1.

Tiang Pancang
pratekan segitiga
dengan dimensi

32 x 32 x 32

213.587.573,00

-

Existing

2. Tiang Pancang
pratekan silinder
dengan Ø 300

180.601.760,70

32.985.812,23

Alternatif
1

3.

Tiang Pancang
pratekan silinder
dengan Ø 350

196.188.987,70

17.398.585,30 Alternatif
2

4.

Tiang Pancang
pratekan persegi
dengan dimensi
20 x 20

159.640.139,00

53.947.434,00 Alternatif
3

Gambar 4.4. Perbandingan Harga Pekerjaan

73

Gambar diatas menunjukan grafik perbandingan antara biaya existing dengan

biaya yang timbul akibat adanya alternatif, sedangkan nilai perbandingan ini

disajikan hanya untuk pekerjaan yang dilakukan analisa VE saja yaitu pekerjaan

pondasi pancang dan pile cap.

3. TAHAP ANALISA

Pada tahapan analisa dalam perekayasaan VE berisi analisa terhadap

semua alternatif yang muncul dengan menggunakan berbagai macam metode

sehingga diperoleh suatu angka prioritas terhadap alternatif yang akan dipakai

dalam proses perekayasaan. Artinya adalah untuk mendapatkan alternatif yang

terbaik dari beberpa alternatif yang ditinjau disamping masalah pembiayaan.

Analisa yang akan dilakukan meliputi :

a. Analisa Fungsi

b. Analisa Rangking

Analisa Fungsi adalah satu bagian dari tahapan analisa yang berfungsi

untuk menganalisa semua fungsi-fungsi dari item-item pekerjaan dalam satu

segmen pekerjaan yang akan dianalisa VE, dalam tahapan analisa fungsi ini

dijelaskan fungsi dari item pekerjaan pondasi yang disajikan dalam kata kerja

(verb) atau kata benda (nouns), kind yang menunjukan bahwa item tersebut

adalah item primer ataukah item itu hanya item pendukung saja atau sekunder,

sedangkan cost dan worth menunjukkan nilai biaya item baik item yang

dilakukan VE ataupun tidak.

74

Tabel 4.8. Analisa Fungsi

Proyek pembangunan gedung

Perpusda

ANALISA FUNGSI

No.

Uraian

Verb

Noun

Kind Cost(Rp)
x1000

Worth(Rp)

x1000

Ket

1. Pond.Pancang Mendukung Beban

P

98700

99500 VE

2. Lantai kerja

Meneruskan

Kegiatan S

1149

1149 Tidak

3. Pas.Bt.Ksng

Meneruskan

Beban

S

3755

3755 Tidak

4. Pilecap

Meneruskan Beban

P

114887

60140 VE

TOTAL

214736 160789

Perhitungan cost/worth =

335
.
1

160789

214736

=

Keterangan :

P adalah unsur item pekerjaan yang dianggap primer (utama)

S adalah unsur item pekerjaan yang dianggap sekunder (unsur pendukung unsur

primer )

Dari tabel analisa fungsi diatas untuk fungsi pekerjaan pondasi seperti tampak

diatas, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1) Untuk pekerjaan pemancangan pondasi biaya awal perencanaan adalah

Rp.

3,00

214.736.57

untuk semua segmen dalam item pondasi dapat

dilakukan penghematan dengan tanpa mengurangi mutu pondasi dengan

dihadirkannya alternatif yang lain.

2) Penghematan terbesar yang bisa diperoleh dengan alternatif pengganti

tiang persegi 20x20 adalah Rp. 53.947.434,00

75

3) Dan untuk sub item yang lainnya(tidak trcetak tebal), tidak dilakukan

perekayasaan VE karena dilihat dari nilainya tidak terlalu signifikan.

4) Maka dengan dihadirkannya alternatif tiang pancang dimensi 20x20

tersebut biaya proyek dapat tersaving sebesar Rp. 53.947.434,00 dengan

rasio biaya/nilai untuk item ini adalah 1.335, dengan angka ini berarti

terjadi penghematan pada pengusulan alternatif.

b. Analisa Rangking dengan metode Zero-One dan Indeks

Setelah dihadirkan beberapa alternatif diatas maka akan dianalisa

kelayakan penggunaan alternatif itu dengan menghadirkan beberapa kriteria

yang berasal dari kualifikasi penulis dan nantinya menjadi dasar pertimbangan

yang lain terkait penggunaan alternatif tersebut

Tabel 4.9. Penilaian Bobot Sementara

No

Fungsi

Angka rangking bobot

Ket

1 Penghematan Biaya (A)

4

40

Prioritas tertinggi

2 Kualitas (B)

3

30

Prioritas tinggi

3 Waktu (C)

2

20

Prioritas sedang

4 Pelaksanaan (D)

1

10

Prioritas rendah

Jumlah angka rangking

10

100

Ket : perhitungan bobot menggunakan rumus

=

arangking

jumlahangk

iliki

ingyang

angkarangk

dim

x 100

76

Kemudian setelah diketahui bobot, maka dilakukan penganalisaan untuk

semua kriteria yang berfungsi dengan dimunculkan preferensi dari penyaji sebagai

acuan kepentingan dan kekurangpentingan masing-masing alternatif.

Preferensi alternatif untuk kriteria Penghematan Biaya (A) adalah sebagai berikut

;

Alternatif

Preferensi

Keterangan

20 x 20 (I) I > II

: I > III Alt I lebih baik dari Alt II & III
Ø300 (II) II < I : II > III Alt II lebih baik dari III
Ø 350 (III) III < I : III < II Alt I Kurang baik dari Alt I & II

Tabel 4.10 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi A (Penghematan biaya)

Alternatif

I

II

III Jumlah

Indeks

I

II

III

X

0

0

1

X

0

1

1

X

2

1

0

2/3

1/3

0

JUMLAH

3

1

Preferensi alternatif untuk kriteria Kualitas (B) adalah sebagai berikut ;

Alternatif

Preferensi

Keterangan

20 x 20 (I) I = II

: I = III

Alt I sama dengan Alt II & III

Ø300 (II) II = I : II = III

Alt II sama dengan Alt I & III
Ø 350 (III) III = I : III = II Alt III sama dengan Alt I & II

Tabel 4.11 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi B (Kualitas)

Alternatif

I

II

III Jumlah

Indeks

I

II

III

X

1

1

1

X

1

1

1

X

2

2

2

2/6

2/6

2/6

JUMLAH

6

1

77

Preferensi alternatif untuk kriteria Waktu (C) adalah sebagai berikut ;

Alternatif

Preferensi

Keterangan

20 x 20 (I) I < II

: I < III

Alt I kurang baik dari Alt II & III

Ø300 (II) II > I : II > III

Alt II lebih baik dari Alt II & III
Ø 350 (III) III > I : III < II Alt I lebih baik dari Alt I & II

Tabel 4.12 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi C (Waktu)

Alternatif

I

II

III Jumlah

Indeks

I

II

III

X

1

1

0

X

0

0

1

X

0

2

1

0

2/3

1/3

JUMLAH

3

1

Preferensi alternatif untuk kriteria Pelaksanaan (D) adalah sebagai berikut ;

Alternatif Preferensi

Keterangan

I

I > II : I > III Alt I lebih baik dari Alt II & III

II

II < I : II > III Alt II kurang baik dari Alt I

III

III < I : III < II

Alt III kurang baik dari Alt I & II

Tabel 4.13 Penilaian dengan Zero-One terhadap fungsi D (Pelaksanaan)

Alternatif

I

II

III Jumlah

Indeks

I

II

III

X

0

0

1

X

0

1

1

X

2

1

0

2/3

1/3

0

JUMLAH

3

1

78

Tabel 4.14. penganalisaan metode Zero-One

No.

Alternatif

Kriteria

Total

Ket

A

B

C

D

bobot

40

30

20

10

1

Alt I

2/3

2/6

0

2/3

indeks

20X20

26.67

10

0

6.67

43.34

Bobot

2

Alt II

1/3

2/6

2/3

1/3

indeks

Ø300

13.3

10

13.33

3.33

39.96

Bobot

3

Alt III

0

2/6

1/3

0

indeks

Ø350

0

10

6.67

0

16.67

Bobot

Pada tahap penganalisaan rangking digunakan perangkingan dengan

metode matrik evaluasi (lihat tabel 4.14). sehingga dari hasil analisa dapat

diketahui bahwa alternatif I yaitu penggunaan tiang pancang dengan dimensi

20x20 mempunyai keunggulan bobot total 43.34 dibandingkan dengan

alternatif yang lain yaitu penggunaan tiang pancang silinder dengan diameter

300 (II) mempunyai bobot 39.96 dan 350 (III) dengan bobot 16.67.

Nilai bobot tersebut didapatkan berdasarkan kriteria penghematan biaya,

kualitas yang baik, efektifitas waktu dan kemudahan pelaksanaan dengan

penggunaan tenaga yang lebih sedikit. Dengan analisa rangking ini, nilai yang

dihasilkan akan menjadi nilai kelayakan penggunaan alternatif yang

dikembangkan berdasarkan parameter dari penulis dalam sistem pekerjaan

tersebut. Dan nantinya akan dipaparkan lebih lanjut dalam fase rekomendasi.

4 Tahap Pengembangan

Dalam penulisan tugas akhir ini, penganalisaan Value Engineering tidak

dicamtumkan analisa untuk tahapan pengembangan sehingga tidak diperlukan

79

analisa life cycle cost untuk perhitungan biaya-biaya operasional dan

pemeliharaan atau biaya lain yang timbul pasca pembangunan proyek.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->