P. 1
Laporan Pendahuluan Dan Konsep Keperawatan Pada Ibu Hamil Dengan Gangguan Pernafasa

Laporan Pendahuluan Dan Konsep Keperawatan Pada Ibu Hamil Dengan Gangguan Pernafasa

|Views: 639|Likes:
Published by ony

More info:

Published by: ony on Apr 18, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2013

pdf

text

original

LAPORAN PENDAHULUAN DAN KONSEP KEPERAWATAN PADA IBU HAMIL DENGAN GANGGUAN PERNAFASAN ( TBC

)

OLEH:

MUH. LATTIIFUR ROOFI,II

AKADEMI KEPERAWATAN PERINTAH KABUPATEN PONOROGO 2009
I. Definisi Tuberkolusis paru adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh basil Mikrobacterium tuberkolusis yang merupakan salah satu penyakit saluran pernafasan bagian bawah karena sebagian besar basil tuberkolusis masuk ke dalam jaringan paru melalui airbone infection dan selanjutnya mengalami proses yang dikenal sebagai focus primer dari ghon, sedangkan batuk darah (hemoptisis) adalah salah satu manifestasi yang diakibatkannya. Darah atau dahak berdarah yang dibatukkan berasal dari saluran pernafasan bagian bawah yaitu mulai dari glottis kearah distal, batuk darah akan berhenti sendiri jika asal robekan pembuluh darah tidak luas, sehingga penutupan luka dengan cepat terjadi.

-1-

Pada umumnya, penyakit paru-paru tidak mempengaruhi kehamilan dan persalinan nifas, kecuali penyakitnya tidak terkonrol, berat, dan luas yang disertai sesak napas dan hipoksia. Walaupun kehamilan menyebabkan sedikit perubahan pada sistem pernapasan, karena uterus yang membesar dapat mendorong diafragma dan paru-paru ke atas serta sisa udara dalam paru-paru kurang, namun penyakit tersebut tidak selalu menjadi lebih parah. TBC paru merupakan salah satu penyakit yang memerlukan perhatian yang lebih terutama pada seorang wanita yang sedang hamil, karena penyakit ini dapat dijumpai dalam keadaan aktif dan keadaan tenang. Karena penyakit paru-paru yang dalam keadaan aktif akan menimbulkan masalah bagi ibu, bayi, dan orang-orang disekelilingnya. II. Etiologi Sebagaimana telah diketahui, TBC paru disebabkan oleh basil TB (Mycobacterium tuberculosis humanis). • M. tuberculosis termasuk familie Mycobacteriaceae yang mempunyai berbagai genus, satu di antaranya adalah Mycobacterium, yang salah satu speciesnya adalah M. tuberculosis. • M. tuberculosis yang paling berbahaya bagi manusia adalah type humanis (kemungkinan infeksi type bovinus saat ini diabaikan, setelah higiene peternakan makin ditingkatkan). • Basil TB mempunyai dinding sel lipoid sehingga tahan asam, sifat ini dimanfaatkan oleh Robert Koch untuk mewarnai secara khusus. Oleh karena itu, kuman ini disebut pula Basil Tahan Asam (BTA). • Karena sebetulnya Mycobacterium pada umumnya tahan asam, secara teoritis BTA belum tentu identik dengan basil TB. Tetapi karena dalam keadaan normal penyakit paru yang disebabkan oleh Mycobacterium lain (y.i. M. atipik) jarang sekali ditemukan, dalam praktek BTA dianggap identik dengan basil TB. Di negara dengan prevalensi AIDS/infeksi HIV yang tinggi, penyakit paru yang disebabkan M. atipic (=Mycobacteriosis) makin sering ditemukan, sehingga dalam kondisi seperti ini, perlu sekali diwaspadai bahwa BTA belum tentu harus identik dengan basil TB. Malahan mungkin saja BTA belum tentu harus identik dengan basil TB, mungkin saja BTA yang ditemukan adalah M. atipic yang menjadi penyebab Mycobacteriosis. • Kalau untuk bakteri-bakteri lain hanya diperlukan beberapa menit sampai 20 menit untuk mitosis, basil TB memerlukan waktu 12 sampai 24 jam. Hal ini memungkinkan pemberian obat secara intermiten (2 – 3 hari sekali). • Basil TB sangat rentan terhadap sinar matahari, sehingga dalam beberapa menit saja akan mati. Ternyata kerentanan ini terutama terhadap gelombang cahaya

-2-

ultraviolet. Basil TB juga rentan terhadap panas-basah, sehingga dalam 2 menit saja basil TB yang berada dalam lingkungan basah sudah akan mati bila terkena air bersuhu 1000 C. basil TB juga akan terbunuh dalam beberapa menit bila terkena alkohol 70%, atau lisol 5%. III. Anatomi dan fisiologi System pernafasan terdiri dari hidung, faring, laring, trakea, bronkus, sampai dengan alveoli dan paru-paru. (lihat gambar anatomi saluran pernafasan dibawah ini) Hidung merupakan saluran pernafasan yang pertama, mempunyai dua lubang/cavum nasi. Didalam terdapat bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran yang masuk dalam lubang hidung. Hidung dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa. Faring merupakan tempat persimpangan antara jalan pernafasan dan jalan makanan, faring terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher. faring dibagi atas tiga bagian yaitu sebelah atas yang sejajar dengan koana yaitu nasofaring, bagian tengah dengan istimus fausium disebut orofaring, dan dibagian bawah sekali dinamakan laringofaring. Trakea merupakan cincin tulang rawan yang tidak lengkap (16-20cincin), panjang 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi oleh otot polos dan lapisan mukosa. trakea dipisahkan oleh karina menjadi dua bronkus yaitu bronkus kanan dan bronkus kiri. Bronkus merupakan lanjutan dari trakea yang membentuk bronkus utama kanan dan kiri, bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar daripada bronkus kiri cabang bronkus yang lebih kecil disebut bronkiolus yang pada ujung-ujungnya terdapat gelembung paru atau gelembung alveoli. Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-gelembung. Paru-paru terbagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus. Paru-paru terletak pada rongga dada yang diantaranya menghadap ke tengah rongga dada / kavum mediastinum. Paru-paru mendapatkan darah dari arteri bronkialis yang kaya akan darah dibandingkan dengan darah arteri pulmonalis yang berasal dari atrium kiri. Besar daya muat udara oleh paru-paru ialah 4500 ml sampai 5000 ml udara. Hanya sebagian kecil udara ini, kira-kira 1/10 nya atau 500 ml adalah udara pasang surut. sedangkan kapasitas paru-paru adalah volume udara yang dapat di capai masuk dan keluar paru-paru yang dalam keadaan normal kedua paru-paru dapat menampung sebanyak kuranglebih 5 liter. Pernafasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam tubuh (inspirasi) serta mengeluarkan udara yang mengandung karbondioksida sisa oksidasi keluar tubuh (ekspirasi) yang terjadi karena -3-

adanya perbedaan tekanan antara rongga pleura dan paru-paru .proses pernafasan tersebut terdiri dari 3 bagian yaitu: 1. Ventilasi pulmoner. Ventilasi merupakan proses inspirasi dan ekspirasi yang merupakan proses aktif dan pasif yang mana otot-otot interkosta interna berkontraksi dan mendorong dinding dada sedikit ke arah luar, akibatnya diafragma turun dan otot diafragma berkontraksi. Pada ekspirasi diafragma dan otot-otot interkosta eksterna relaksasi dengan demikian rongga dada menjadi kecil kembali, maka udara terdorong keluar. 2. Difusi Gas. Difusi Gas adalah bergeraknya gas CO2 dan CO3 atau partikel lain dari area yang bertekanan tinggi kearah yang bertekanann rendah. Difusi gas melalui membran pernafasan yang dipengaruhi oleh factor ketebalan membran, luas permukaan membran, komposisi membran, koefisien difusi O2 dan CO2 serta perbedaan tekanan gas O2 dan CO2. Dalam Difusi gas ini pernfasan yang berperan penting yaitu alveoli dan darah. 3. Transportasi Gas Transportasi gas adalah perpindahan gas dari paru ke jaringan dan dari jaringan ke paru dengan bantuan darah (aliran darah). Masuknya O2 kedalam sel darah yang bergabung dengan hemoglobin yang kemudian membentuk oksihemoglobin sebanyak 97% dan sisa 3% yang ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel. IV. Patofisiologi Penyebaran kuman Mikrobacterium tuberkolusis bisa masuk melalui tiga tempat yaitu saluran pernafasan, saluran pencernaan dan adanya luka yang terbuka pada kulit. Infeksi kuman ini sering terjadi melalui udara (airbone) yang cara penularannya dengan droplet yang mengandung kuman dari orang yang terinfeksi sebelumnya. Penularan tuberculosis paru terjadi karena penderita TBC membuang ludah dan dahaknya sembarangan dengan cara dibatukkan atau dibersinkan keluar. Dalam dahak dan ludah ada basil TBC-nya, sehingga basil ini mengering lalu diterbangkan angin kemana-mana. Kuman terbawa angin dan jatuh ketanah maupun lantai rumah yang kemudian terhirup oleh manusia melalui paru-paru dan bersarang serta berkembangbiak di paru-paru. Pada permulaan penyebaran akan terjadi beberapa kemungkinan yang bisa muncul yaitu penyebaran limfohematogen yang dapat menyebar melewati getah bening atau pembuluh darah. Kejadian ini dapat meloloskan kuman dari kelenjar getah bening dan menuju aliran darah dalam jumlah kecil yang dapat menyebabkan lesi pada organ tubuh -4-

yang lain. Basil tuberkolusis yang bisa mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari 1-3 basil. Dengan adanya basil yang mencapai ruang alveolus, ini terjadi dibawah lobus atas paru-paru atau dibagian atas lobus bawah, maka hal ini bisa membangkitkan reaksi peradangan.Berkembangnya leukosit pada hari hari pertama ini di gantikan oleh makrofag. Pada alveoli yang terserang mengalami konsolidasi dan menimbulkan tanda dan gejala pneumonia akut. Basil ini juga dapat menyebar melalui getah bening menuju kelenjar getah bening regional, sehingga makrofag yang mengadakan infiltrasi akan menjadi lebih panjang dan yang sebagian bersatu membentuk sel tuberkel epitelloid yang dikelilingi oleh limfosit, proses tersebut membutuhkan waktu 10-20 hari. Bila terjadi lesi primer paru yang biasanya disebut focus ghon dan bergabungnya serangan Kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Kompleks ghon yang mengalami pencampuran ini juga dapat diketahui pada orang sehat yang kebetulan menjalani pemeriksaan radiogram rutin. Beberapa respon lain yang terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas kedalam bronkus dan menimbulkan kavitas. Pada proses ini akan dapat terulang kembali dibagian selain paru-paru ataupun basil dapat terbawa sampai ke laring, telinga tengah atau usus. Kavitas yang kecil dapat menutup sekalipun tanpa adanya pengobatan dan dapat meninggalkan jaringan parut fibrosa. Bila peradangan mereda lumen bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dengan perbatasan rongga bronkus. Bahan perkejuan dapat mengental sehingga tidak dapat mengalir melalui saluran penghubung, sehingga kavitas penuh dengan bahan perkijauan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak lepas. Keadaan ini dapat tidak menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif. Batuk darah (hemaptoe) adalah batuk darah yang terjadi karena penyumbatan trakea dan saluran nafas sehingga timbul sufokal yang sering fatal. Ini terjadi pada batuk darah masif yaitu 600-1000cc/24 jam. Batuk darah pada penderita TB paru disebabkan oleh terjadinya ekskavasi dan ulserasi dari pembuluh darah pada dinding kapitas. V. Penanganan 1) • • • Dalam kehamilan : Ibu hamil dengan proses aktif, hendaknya jangan Untuk diagnosis pasti dan pengobatan selalu bekerjasama Penderita dengan proses aktif, apalagi dengan batuk darah, dicampurkan dengan wanita hamil lainnya pada pemeriksaan antenatal. dengan ahli paru-paru. sebaiknya di rawat di rumah sakit; dalam kamar isolasi. Gunanya untuk mencegah -5-

penularan, untuk menjamin istirahat dan makan yang cukup, serta pengobatan yang intensif dan teratur. • • 2) • • apa-apa. Bila proses aktif, kala I dan II diusahakan seringan mungkin. Pada kala I, ibu hamil di beri obat-obatan penenang dan analgetika dosis rendah. Kala II diperpendek dengan ekstraksi vakum/forseps. • 3) • • • • 4) sangat jarang. • • • • • 5)   Bila ibu dalam proses TBC aktif secepatnya, bayi diberikan BCG. Bayi segera dipisahkan dari ibunya selama 6-8 minggu. Bila uji Mantoux sudah positif pada bayi, barulah bayi dapat ditemukan lagi dengan ibunya. Menyusukan bayi, pada proses aktif, dilarang karena kontak langsung dari mulut ibu dan bayi. Dapat diberikan anti TBC profilaksis pada bayi yaitu INH 25 mg/kg berat badan/hari. TBC paru dan alat reproduksi : TBC paru dapat bersamaan dengan TBC alat genitalia. Wiknjosastro (1995) menemukan pada 15 wanita penderita TBCBila ada indikasi obstetrik untuk seksio caesaria, hal ini dilakukan bekerjasama dengan ahli anestesi untuk memperoleh anestesi mana yang terbaik. Dalam masa nifas : Usahakan jangan terjadi perdarahan yang banyak; diberi uterus tonika dan koagulansia. Usahakan mencegah terjadinya infeksi tambahan dengan memberikan antibiotika yang cukup. Bila ada anemia sebaiknya diberikan transfusi darah, agar daya tahan ibu lebih kuat terhadap infeksi sekunder. Ibu dianjurkan supaya segera memakai kontrasepsi atau bila jumlah anak sudah cukup, segera dilakukan tubektomi. Perawatan bayi Biasanya bayi akan ditulari ibunya setelah kelahiran, dan TBC bawaan (konenital) Obat-obatan : INH, PAS, rifadin, dan streptomisin. TBC paru tidak merupakan indikasi untuk abortus buatan dan Dalam persalinan : Bila proses tenang, persalinan akan berjalan seperti biasa dan tidak perlu tindakan

terminasi kehamilan.

genitalis; 40% sarang primernya terdapat di paru-paru. -6-

  

TBC-genitalis dapat menyebabkan : Infertilitas (kemandulan) Bila terjadi kehamilan, hasil konsepsi sering berakhir dengan TBC-genitalis yang sudah tenang dan pulih, dapat kambuh lagi

abortus, Kehamilan Ektopik Terganggu (KET), dan partus prematurus.  setelah abortus dan persalinan. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN Dalam memberikan asuhan keperawatan digunakan metode proses keperawatan yang dalam pelaksanaannya dibagi menjadi 4 tahap yaitu : Pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (H. Lismidar, 1990). A. 1) Pengkajian Pengumpulan data Nama, umur, kuman TBC menyerang semua umur, jenis kelamin, tempat tinggal (alamat), pekerjaan, pendidikan dan status ekonomi menengah kebawah dan satitasi kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya riwayat kontak dengan penderita TB patu yang lain (Hendrawan Nodesul, 1996) · Riwayat penyakit sekarang Meliputi keluhan atau gangguan yang sehubungan dengan penyakit yang di rasakan saat ini. Dengan adanya sesak napas, batuk, nyeri dada, keringat malam, nafsu makan menurun dan suhu badan meningkat mendorong penderita untuk mencari pengobatan. · Riwayat penyakit dahulu Keadaan atau penyakit-penyakit yang pernah diderita oleh penderita yang mungkin sehubungan dengan tuberkulosis paru antara lain ISPA efusi pleura serta tuberkulosis paru yang kembali aktif. · Riwayat penyakit keluarga Mencari diantara anggota keluarga pada tuberkulosis paru yang menderita penyakit tersebut sehingga sehingga diteruskan penularannya. · Riwayat psikososial Pada penderita yang status ekonominya menengah ke bawah dan sanitasi kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis paru yang lain (Hendrawan Nodesul, 1996). · Identitas klien

-7-

· Pola fungsi kesehatan a). Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat Pada klien dengan TB paru biasanya tinggal didaerah yang berdesakdesakan, kurang cahaya matahari, kurang ventilasi udara dan tinggal dirumah yang sumpek (Hendrawan Nodesul, 1996) b). Pola nutrisi dan metabolik Pada klien dengan TB paru biasanya mengeluh anoreksia, nafsu makan menurun (Marilyn. E. Doenges, 1999). c). Pola eliminasi Klien TB paru tidak mengalami perubahan atau kesulitan dalam miksi maupun defekasi d). Pola aktivitas dan latihan Dengan adanya batuk, sesak napas dan nyeri dada akan menganggu aktivitas (Marilyn. E. Doegoes, 1999). e). Pola tidur dan istirahat Dengan adanya sesak napas dan nyeri dada pada penderita TB paru mengakibatkan terganggunya kenyamanan tidur dan istirahat (Marilyn. E. Doenges, 1999). f). Pola hubungan dan peran Klien dengan TB paru akan mengalami perasaan asolasi karena penyakit menular (Marilyn. E. Doenges, 1999). g). Pola sensori dan kognitif Daya panca indera (penciuman, perabaan, rasa, penglihatan, dan pendengaran) tidak ada gangguan. h). Pola persepsi dan konsep diri Karena nyeri dan sesak napas biasanya akan meningkatkan emosi dan rasa kawatir klien tentang penyakitnya (Marilyn. E. Doenges, 1999). i). Pola reproduksi dan seksual Pada penderita TB paru pada pola reproduksi dan seksual akan berubah karena kelemahan dan nyeri dada. j). Pola penanggulangan stress Dengan adanya proses pengobatan yang lama maka akan mengakibatkan stress pada penderita yang bisa mengkibatkan penolakan terhadap pengobatan (Hendrawan Nodesul, 1996). k). Pola tata nilai dan kepercayaan Karena sesak napas, nyeri dada dan batuk menyebabkan terganggunya aktifitas ibadah klien. 2) Pemeriksaan fisik -8-

Berdasarkan sistem-sistem tubuh : a). Sistem integumen Pada kulit terjadi sianosis, dingin dan lembab, tugor kulit menurun. b). Sistem pernapasan Pada sistem pernapasan pada saat pemeriksaan fisik dijumpai : Inspeksi : Adanya tanda-tanda penarikan paru, diafragma, pergerakan napas yang tertinggal, suara napas melemah. Palpasi : Fremitus suara meningkat Perkusi: Suara ketok redup. Auskultasi : Suara napas brokial dengan atau tanpa ronki basah, kasar dan yang nyaring. c). Sistem pengindraan Pada klien TB paru untuk pengindraan tidak ada kelainan. d). Sistem kordiovaskuler Adanya takipnea, takikardia, sianosis, bunyi P2 yang mengeras (Soeparman, 1998). e). Sistem gastrointestinal Adanya nafsu makan menurun, anoreksia, berat badan turun (Soeparman, 1998). f). Sistem muskuloskeletal Adanya keterbatasan aktivitas akibat kelemahan, kurang tidur dan keadaan seharihari yang kurang meyenangkan g). Sistem neurologis Kesadaran penderita yaitu komposmentis dengan GCS : 456 h). Sistem genetalia Biasanya klien tidak mengalami kelainan pada genitalia 3) Pemeriksaan penunjang a). Pemeriksaan Radiologi b). Pemeriksaan laboratorium · Darah Adanya kurang darah, ada sel-sel darah putih yang meningkatkan serta laju endap darah meningkat terjadi pada proses aktif (Alsogaff, 1995). · Sputum Ditemukan adanya Basil Tahan Asam (BTA) pada sputum yang terdapat pada penderita tuberkulosis paru yang biasanya diambil pada pagi hari (Soeparman dkk, 1998. Barbara. T. Long, 1996) · Test Tuberkulosis Test tuberkulosis memberikan bukti apakah orang yang dites telah mengalami infeksi atau belum. Tes menggunakan dua jenis bahan yang -9-

diberikan yaitu : Old tuberkulosis (OT) dan Purifled Protein Derivative (PPD) yang diberikan dengan sebuah jarum pendek (1/2 inci) no 24 – 26, dengan cara mecubit daerah lengan atas dalam 0,1 yang mempunyai kekuatan dosis 0,0001 mg/dosis atau 5 tuberkulosis unit (5 TU). Reaksi dianggap bermakna jika diameter 10 mm atau lebih reaksi antara 5 – 9 mm dianggap meragukan dan harus di ulang lagi. Hasil akan diketahui selama 48 – 72 jam tuberkulosis disuntikkan (Soeparman, 1998. Barbara. T. Long, 1996). B. Analisa Data Data yang telah dikumpulkan kemudian dianalisa untuk menentukan masalah klien. Masalah klien yang timbul yaitu, sesak napas, batuk, nyeri dada, nafsu makan menurun, aktivitas, lemas, potensial, penularan, gangguan tidur, gangguan harga diri. C. Diagnosa Keperawatan kurangnya upaya batuk (Marilyn E. Doenges, 1999). 2). Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang sehubungan dengan keletihan, anorerksia atau dispnea (Marilyn. E. Doenges, 1999). 3). Potensial terhadap transmisi infeksi yang sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang resiko potongan (Marilyn E. Doenges, 1999). 4). Kurang pengetahuan yang sehubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan dirumah. 5). Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubugan dengan sekret kental, kelemahan dan upaya untuk batuk (Marilyn. E. Doenges, 1999). 6). Potensial terjadinya kerusakan pertukaran gas sehubungan dengan penurunan permukaan efektif proses dan kerusakan membran alveolar – kapiler (Marilyn. E. Doenges, 1999). 7). Ganggguan pemenuhan kebutuhan tidur sehubungan daerah sesak napas dan nyeri dada (Lynda, J. Carpenito, 1998). D. Intervensi 1) Ketidakefektifan pola pernapasan yang sehubungan dengan sekresi mukopurulen dan kurangnya upaya batuk.  Tujuan : Pola nafas efektif  Kriteria hasil : o Klien mempertahankan pola pernafasan yang efektif

1). Ketidakefektifan pola pernapasan sehubungan dengan sekresi mukopurulen dan

- 10 -

o Frekwensi irama dan kedalaman pernafasan normal (RR 16-20 kali/menit) o Dispneu berkurang  Rencana tindakan dan rasional catat setiap perubahan R: Mengetahui penurunan bunyi napas karena adanya sekret b). Kaji kualitas sputum : warna, bau, knsistensi R: Mengetahui perubahan yang terjadi untuk memudahkan pengobatan selanjutnya c). Auskultasi bunyi napas setiap 4 jam R: Mengetahui sendiri mungkin perubahan pada bunyi napas d). Baringan klien untuk mengoptimalkan pernapasan : posisi semi fowler tinggi R: Membantu mengembangkan secara maksimal e). Bantu dan ajarkan klien berbalik posisi, batuk dan napas dalam setiap 2 jam sampai 4 jam R: Batuk dan napas dalam yang tetap dapat mendorong sekret keluar f). Kolaborasi dengan tim dokter dalam pemberian obat-obatan R: Mencegah kekeringan mukosa membran, mengurangi kekentalan sekret dan memperbesar ukuran lumen trakeobroncial 2) Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang sehubungan dengan anoreksia, keletihan atau dispnea.  Tujuan : terjadi peningkatan nafsu makan, berat badan yang stabil dan Kriteria hasil Klien dapat mempertahankan status malnutrisi yang adekuat Berat badan stabil dalam batas yang normal Rencana tindakan dan rasional riwayat mual/muntah atau diare R: Berguna dalam mendefenisikan derajat/luasnya masalah dan pilihan indervensi yang tepat b). Pastikan pola diet biasa klien yang disukai atau tidak Membantu dalam mengidentifukasi kebutuhan/kekuatan khusus. c). Pertimbangan keinginan individu dapat memperbaiki masakan diet R: Mengkaji masukan dan pengeluaran dan berat badan secara periodik bebas tanda malnutrisi  

a). Kaji kualitas dan kedalaman pernapasan, penggunaan otot aksesori pernapasan:

a). Mencatat status nutrisi klien, turgor kulit, berat badan, integritas mukosa oral,

- 11 -

d). Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah tindakan pernafasan R: Menurunkan rasa tidak enak karena sisa sputun atau obat untuk pengobatan respirasi yang merangsang pusat muntah e). Dorong makan sedikit dan sering dengan makanan tinggi protein dan karbohidrat R: Memaksimalkan masukan nutrisi tanpa kelemahan yang tak perlu/ legaster f). Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menetukan komposisi diet R: Memberikan bantuan dalam perencanaan diet dengan nutrisi adekuat untuk kebutuhan metabolik dan diet 3) Potensial terhadap tranmisi infeksi yang sehubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang resiko patogen.  Tujuan : klien mengalami penurunan potensi untuk menularkan penyakit seperti yang ditunjukkan oleh kegagalan kontak klien untuk mengubah tes kulit positif.  Kriteria hasil : klien mengalami penurunan potensi menularkan penyakit yang ditunjukkan oleh kegagalan kontak klien.  Rencana tindakan dan rasional a). Identifikasi orang lain yang berisiko. Contoh anggota rumah, sahabat R: Orang yang terpajan ini perlu program terapi obat intuk mencegah penyebaran infeksi b). Anjurkan klien untuk batuk / bersin dan mengeluarkan pada tisu dan hindari meludah serta tehnik mencuci tangan yang tepat R: Perilaku yang diperlukan untuk mencegah penyebaran infeksi c). Kaji tindakan. Kontrol infeksi sementara, contoh masker atau isolasi pernafasan R: Dapat membantu menurunkan rasa terisolasi klien dengan membuang stigma sosial sehubungan dengan penyakit menular d). Identifikasi faktor resiko individu terhadap pengatifan berulang tuberkulasis R: Pengetahuan tentang faktor ini membantu klien untuk mengubah pola hidup dan menghindari insiden eksaserbasi e). Tekankan pentingnya tidak menghentikan terapi obat R: Periode singkat berakhir 2 sampai 3 hari setelah kemoterapi awal, tetapi pada adanya rongga atau penyakit luas, sedang resiko penyebaran infeksi dapat berlanjut sampai 3 bulan f). Kolaborasi dan melaporkan ke tim dokter dan Depertemen Kesehatan lokal R: Membantu mengidentifikasi lembaga yang dapat dihubungi untuk menurunkan penyebaran infeksi

- 12 -

4) Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan kuranganya impormasi tentang proses penyakit dan penatalaksanaan perawatan di rumah.   Tujuan : klien mengetahui pengetahuan imformasi tentang penyakitnya Kriteria hasil : klien memperlihatkan peningkatan tingkah pengetahuan Rencana tindakan dan rasional lingkungan, media yang terbaik bagi klien R: Belajar tergantung pada emosi dan kesiapan fisik dan ditingkatkan pada tahapan individu b) Identifikasi gejala yang harus dilaporkan keperawatan, contoh hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan bernafas R: Dapat menunjukkan kemajuan atau pengaktifan ulang penyakit atau efek obat yang memerlukan evaluasi lanjut c) Jelaskan dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan dan alasan pengobatan lama,kaji potensial interaksi dengan obat lain R: Meningkatkan kerjasama dalam program pengobatan dan mencegah penghentian obat sesuai perbaikan kondisi klien d) Kaji potensial efek samping pengobatan dan pemecahan masalah R: Mencegah dan menurunkan ketidaknyamanan sehubungan dengan terapi dan meningkatkan kerjasama dalam program e) Dorong klien atau orang terdekat untuk menyatakan takut atau masalah, jawab pertanyaan secara nyata R: Memberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan konsepsi / peningkatan ansietas f) Berikan intruksi dan imformasi tertulis khusus pada klien untuk rujukan contoh jadwal obat R: Informasi tertulis menurunkan hambatan klien untuk mengingat sejumlah besar informasi. Pengulangan penguatkan belajar g) Evaluasi kerja pada pengecoran logam/tambang gunung, semburan pasir R: Terpajan pada debu silikon berlebihan dapat meningkatkan resiko silikosis, yang dapat secara nagatif mempengaruhi fungsi pernafasan 5) Ketidakefektifan jalan nafas yang sehubungan dengan sekret kental, kelemahan dan upaya untuk batuk.   Tujuan : jalan nafas efektif Kriteria hasil :

mengenai perawatan diri.  a) Kaji kemampuan klien untuk belajar mengetahui masalah, kelemahan,

- 13 -

Klien dapat mengeluarkan sekret tanpa bantuan Klien dapat mempertahankan jalan nafas Pernafasan klien normal (16 – 20 kali per menit) Rencana tindakan : penggunaan otot aksesori R: Penurunan bunyi nafas dapat menunjukan atelektasis, ronki, mengi menunjukkan akumulasi sekret atau ketidakmampuan untuk membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan penggunaan otot aksesori pernafasan dan peningkatan kerja penafasan

a) Kaji fungsi pernafasan seperti, bunyi nafas, kecepatan, irama, dan kedalaman

b) Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa/batuk efektif R: Pengeluaran sulit jika sekret sangat tebal sputum berdarah kental diakbatkan oleh kerusakan paru atau luka brongkial dan dapat memerlukan evaluasi lanjut c) Berikan klien posisi semi atau fowler tinggi, bantu klien untuk batuk dan latihan untuk nafas dalam R: Posisi membatu memaksimalkan ekspansi paru dan men urunkan upaya pernapasan. Ventilasi maksimal meningkatkan gerakan sekret kedalam jalan napas bebas untuk dilakukan d) Bersihkan sekret dari mulut dan trakea R: Mencegah obstruksi/aspirasi penghisapan dapat diperlukan bila klien tak mampu mengeluaran sekret e) Pertahanan masukan cairan seditnya 2500 ml / hari, kecuali ada kontraindikasi R: Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengecerkan sekret membuatnya mudah dilakukan f) Lembabkan udara respirasi R: Mencegah pengeringan mambran mukosa, membantu pengenceran sekret g) Berikan obat-obatan sesuai indikasi : agen mukolitik, bronkodilator , dan kortikosteroid R: Menurunkan kekentalan dan perlengketan paru, meningkatkan ukuran kemen percabangan trakeobronkial berguna padu adanya keterlibatan luas dengan hipoksemia 6) Potensial terjadinya kerusakan pertukaran gas sehubungan dengan penurunan permukaan efektif paru dan kerusakan membran alveolar – kapiler.   Tujuan : Pertukaran gas berlangsung normal Kreteria hasil :

- 14 -

o Melaporkan tak adanya / penurunan dispnea o Klien menunjukan tidak ada gejala distres pernapasan o Menunjukan perbaikan ventilasi dan oksigen jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang normal  a. Rencana tindakan dan rasional Kaji dispnea, takipnea, menurunya bunyi napas, peningkatan upaya pernapasan terbatasnya ekspansi dinding dada R: TB paru menyebabkan efek luas dari bagian kecil bronko pneumonia sampai inflamasidifus luas. Efek pernapasan dapat dari ringan sampai dispnea berat sampai distress pernapasan b. Evaluasi perubahan pada tingkat kesadaran, catat sionosis perubahan warna kulit, termasuk membran mukosa R: Akumulasi sekret, pengaruh jalan napas dapat menganggu oksigenasi organ vital dan jarigan c. Tujukkan/dorong bernapas bibir selama ekshalasi R: Membuat tahanan melawan udara luar, untuk mencegah kolaps membantu menyebabkan udara melalui paru dan menghilangkan atau menurtunkan napas pendek d. Tingkatkan tirah baring/batasi aktivitas dan bantu aktivitas perawatan diri sesuai keperluan R: Menurunkan konsumsi oksigen selama periode menurunan pernapasan dapat menurunkan beratnya gejala e. Awasi segi GDA / nadi oksimetri R: Penurunan kandungan oksigen (PaO2) dan atau saturasi atau peningkatan PaCO2 menunjukan kebutuhan untuk intervensi / perubahan program terapi f. Berikan oksigen tambahan yang sesuai R: Alat dalam memperbaiki hipoksemia yang dapat terjadi sekunder terhadap penurunan ventilasi atau menurunya permukaan alveolar paru 7) Gangguan pemenuhan tidur dan istirahat sehubungan dengan sesak napas dan nyeri dada.   o o o  Tujuan : Kebutuhan tidur terpenuhi Kriteria hasil : memahami faktor yang menyebabkan gangguan tidur Dapat menangani penyebab tidur yang tidak adekuat Tanda-tanda kurang tidur dan istirahat tidak ada Rencana tindakan dan rasional

- 15 -

a) Kaji kebiasaan tidur penderita sebelum sakit dan saat sakit R: Untuk mengetahui sejauh mana gangguan tidur penderita b) Observasi efek abot-obatan yang dapat di derita klien R: Gangguan psikis dapat terjadi bila dapat menggunakan kartifosteroid temasuk perubahan mood dan uisomnia c) Mengawasi aktivitas kebiasaan penderita R: Untuk mengetahui apa penyebab gangguan tidur penderita d) Anjurkan klien untuk relaksasi pada waktu akan tidur R: Memudahkan klien untuk bisa tidur e) Ciptakan suasana dan lingkungan yang nyaman R: Lingkungan dan siasana yang nyaman akan mempermudah penderita untuk tidur

DAFTAR PUSTAKA 1. Amin, M., 1999. “Ilmu Penyakit Paru”. Surabaya . Airlangga Univerciti Press 2. Carpenito, L.J., 1999. “Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan”. Ed. 2 Jakarta : EGC 3. (2000). “Diagnosa Keperawatan”. Ed. 8. Jakarta : EGC 4. Doengoes, (1999). “Perencanaan Asuhan Keperawatan”. Jakarta : EGC 5. Danusastro, Halim. 2000. “Buku Saku Ilmu Penyakit Paru”. Hipokrates : Jakarta. - 16 -

6. Mochtar, Rustam. 1998. ”Sinopsis Obstetri : obstetri fisiologi, obstetri patologi”. EGC : Jakarta. 7. Mansjoer, Arif., et all. (1999). “Kapita Selekta Kedokteran”. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius 8. http://ilmukeperawatan4u.blogspot.com/2009/06/askep-ibu-hamil-dengantbc.html

- 17 -

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->