Tahap perkembangan moral Kohlberg

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Tahapan perkembangan moral adalah ukuran dari tinggi rendahnya moral seseorang berdasarkan perkembangan penalaran moralnya seperti yang diungkapkan oleh Lawrence Kohlberg. Tahapan tersebut dibuat saat ia belajar psikologi di University of Chicago berdasarkan teori yang ia buat setelah terinspirasi hasil kerja Jean Piaget dan kekagumannya akan reaksi anak-anak terhadap dilema moral. [1] Ia menulis disertasi doktornya pada tahun 1958 [2] yang menjadi awal dari apa yang sekarang disebut tahapan-tahapan perkembangan moral dari Kohlberg. Teori ini berpandangan bahwa penalaran moral, yang merupakan dasar dari perilaku etis, mempunyai enam tahapan perkembangan yang dapat teridentifikasi. Ia mengikuti perkembangan dari keputusan moral seiring penambahan usia yang semula diteliti Piaget, [3] yang menyatakan bahwa logika dan moralitas berkembang melalui tahapan-tahapan konstruktif.[4] Kohlberg memperluas pandangan dasar ini, dengan menentukan bahwa proses perkembangan moral pada prinsipnya berhubungan dengan keadilan dan perkembangannya berlanjut selama kehidupan,[2] walaupun ada dialog yang mempertanyakan implikasi filosofis dari penelitiannya.[5][6] Kohlberg menggunakan ceritera-ceritera tentang dilema moral dalam penelitiannya, dan ia tertarik pada bagaimana orang-orang akan menjustifikasi tindakan-tindakan mereka bila mereka berada dalam persoalan moral yang sama. Kohlberg kemudian mengkategorisasi dan mengklasifikasi respon yang dimunculkan ke dalam enam tahap yang berbeda. Keenam tahapan tersebut dibagi ke dalam tiga tingkatan: pra-konvensional, konvensional, dan pascakonvensional.[7][8][9] Teorinya didasarkan pada tahapan perkembangan konstruktif; setiap tahapan dan tingkatan memberi tanggapan yang lebih adekuat terhadap dilema-dilema moral dibanding tahap/tingkat sebelumnya.

Tahapan-tahapan Keenam tahapan perkembangan moral dari Kolhlberg dikelompokkan ke dalam tiga tingkatan: prakonvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.[7][8][9] Mengikuti persyaratan yang dikemukakan Piaget untuk suatu Teori perkembangan kognitif, adalah sangat jarang terjadi kemunduran dalam tahapan-tahapan ini.[10][11] Walaupun demikian, tidak ada suatu fungsi yang berada dalam tahapan tertinggi sepanjang waktu. Juga tidak dimungkinkan untuk melompati suatu tahapan; setiap tahap

Orientasi kontrak sosial 6. Kekurangan perspektif tentang . perilaku yang benar didefinisikan dengan apa yang paling diminatinya. suatu tindakan dianggap salah secara moral bila orang yang melakukannya dihukum.[12] Sebagai tambahan. Seseorang yang berada dalam tingkat prakonvensional menilai moralitas dari suatu tindakan berdasarkan konsekuensinya langsung. Dalam tahap pertama. dan murni melihat diri dalam bentuk egosentris. Tahapan ini bisa dilihat sebagai sejenis otoriterisme. Penalaran tahap dua kurang menunjukkan perhatian pada kebutuhan orang lain. Tahap dua menempati posisi apa untungnya buat saya. hanya sampai tahap bila kebutuhan itu juga berpengaruh terhadap kebutuhannya sendiri. Sebagai contoh. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas ( Sikap anak baik) 4. Semakin keras hukuman diberikan dianggap semakin salah tindakan itu.[10][11] Tingkat 1 (Pra-Konvensional) 1. Orientasi minat pribadi ( Apa untungnya buat saya?) Tingkat 2 (Konvensional) 3. Tingkat prakonvensional terdiri dari dua tahapan awal dalam perkembangan moral. Orientasi kepatuhan dan hukuman 2. seperti kamu garuk punggungku. dan terintegrasi dibanding tahap sebelumnya.memiliki perspektif yang baru dan diperlukan. Prinsip etika universal ( Principled conscience) [sunting]Pra-Konvensional Tingkat pra-konvensional dari penalaran moral umumnya ada pada anak-anak. dan akan kugaruk juga punggungmu. walaupun orang dewasa juga dapat menunjukkan penalaran dalam tahap ini. beragam. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial ( Moralitas hukum dan aturan) Tingkat 3 (Pasca-Konvensional) 5. [4]Dalam tahap dua perhatian kepada oranglain tidak didasari oleh loyalitas atau faktor yang berifat intrinsik. ia tidak tahu bahwa sudut pandang orang lain berbeda dari sudut pandang dirinya. individu-individu memfokuskan diri pada konsekuensi langsung dari tindakan mereka yang dirasakan sendiri. dan lebih komprehensif.

Dalam tahap lima.[4] Dalam tahap empat. Keinginan untuk mematuhi aturan dan otoritas ada hanya untuk membantu peran sosial yang stereotip ini. keputusan. hukum dilihat sebagai kontrak sosial dan bukannya keputusan kaku. seperti dalam kasus fundamentalisme. mungkin orang lain juga akan begitu . tidak ada pilihan yang pasti benar atau absolut . adalah penting untuk mematuhi hukum.[4] karena telah mengetahui ada gunanya melakukan hal tersebut. 'mereka bermaksud baik '. [sunting]Konvensional Tingkat konvensional umumnya ada pada seorang remaja atau orang dewasa. terdiri dari tahap lima dan enam dari perkembangan moral. Idealisme utama sering menentukan apa yang benar dan apa yang salah. Bila seseorang bisa melanggar hukum. yang mulai menyertakan hal seperti rasa hormat.[8] Hal tersebut diperoleh . Orang di tahapan ini menilai moralitas dari suatu tindakan dengan membandingkannya dengan pandangan dan harapan masyarakat. maka ia salah secara moral. juga dikenal sebagai tingkat berprinsip. berbeda dengan kontrak sosial (tahap lima).masyarakat dalam tingkat pra-konvensional. Bagi mereka dari tahap dua.'memang anda siapa membuat keputusan kalau yang lain tidak'? Sejalan dengan itu. Aturan-aturan yang tidak mengakibatkan kesejahteraan sosial harus diubah bila perlu demi terpenuhinya kebaikan terbanyak untuk sebanyak-banyaknya orang. Kenyataan bahwa individu-individu adalah entitas yang terpisah dari masyarakat kini menjadi semakin jelas. [sunting]Pasca-Konvensional Tingkatan pasca konvensional. Bila seseorang melanggar hukum. Individu mau menerima persetujuan atau ketidaksetujuan dari orang-orang lain karena hal tersebut merefleksikan persetujuan masyarakat terhadap peran yang dimilikinya. dan adalah penting bahwa mereka dihormati dan dihargai tanpa memihak. rasa terimakasih. Maksud dari suatu tindakan memainkan peran yang lebih signifikan dalam penalaran di tahap ini. Dalam tahap tiga. Perspektif seseorang harus dilihat sebelum perspektif masyarakat.sehingga ada kewajiban atau tugas untuk mematuhi hukum dan aturan. Kenyataannya. Akibat hakekat diri mendahului orang lain ini membuat tingkatan pasca-konvensional sering tertukar dengan perilaku pra-konvensional. dan golden rule. Penalaran moral dalam tahap empat lebih dari sekedar kebutuhan akan penerimaan individual seperti dalam tahap tiga. sebab semua tindakan dilakukan untuk melayani kebutuhan diri sendiri saja. Penalaran tahap tiga menilai moralitas dari suatu tindakan dengan mengevaluasi konsekuensinya dalam bentuk hubungan interpersonal. individu-individu dipandang sebagai memiliki pendapat-pendapat dan nilai-nilai yang berbeda. dan konvensi sosial karena berguna dalam memelihara fungsi dari masyarakat. kebutuhan masyarakat harus melebihi kebutuhan pribadi. Mereka mencoba menjadi seorang anak baik untuk memenuhi harapan tersebut. perpektif dunia dilihat sebagai sesuatu yang bersifat relatif secara moral. Tingkat konvensional terdiri dari tahap ketiga dan keempat dalam perkembangan moral. Permasalahan yang tidak dianggap sebagai relatif seperti kehidupan dan pilihan jangan sampai ditahan atau dihambat. seseorang memasuki masyarakat dan memiliki peran sosial. sehingga celaan menjadi faktor yang signifikan dalam tahap ini karena memisahkan yang buruk dari yang baik.

Obat itu mahal ongkos pembuatannya. tapi ia cuma memperoleh $1.000. tetapi si apoteker menjualnya sepuluh kali lipat ongkos pembuatannya tersebut. saya yang menemukan obat itu dan saya akan mencari uang dari obat itu. legal. setengah dari harga obat seharusnya. Dalam hal ini. pemerintahan yang demokratis tampak berlandaskan pada penalaran tahap lima.[2][9] [sunting]Dilema Heinz Salah satu dilema yang digunakan Kohlberg dalam penelitian awalnya adalah dilema apoteker: Heinz Mencuri Obat di Eropa. seseorang bertindak karena hal itu benar. Dilemanya berupa ceritera fiksi pendek yang menggambarkan situasi yang mengharuskan seseorang membuat keputusan moral. ia merasa kesulitan untuk menemukan seseorang yang menggunakannya secara konsisten. kalaupun ada.000 untuk satu dosis kecil obat tersebut. dan kompromi. seperti apa yang mereka pikir tentang tindakan yang seharusnya dilakukan. Walau Kohlberg yakin bahwa tahapan ini ada. yang juga memikirkan apa yang dilakukan bila berpikiran sama (lihat veil of ignorance dari John Rawls[14]). Suami dari perempuan yang sakit. Tampaknya orang sukar.[11] [sunting]Contoh dilema moral yang digunakan Kohlberg menyusun Wawancara Keputusan Moral dalam disertasi aslinya di tahun 1958. Hak tidak perlu sebagai kontrak sosial dan tidak penting untuk tindakan moral deontis. Dalam tahap enam. dan bukan karena ada maksud pribadi. Hukum hanya valid bila berdasar pada keadilan. dan komitmen terhadap keadilan juga menyertakan keharusan untuk tidak mematuhi hukum yang tidak adil. penalaran moral berdasar pada penalaran abstrak menggunakan prinsip etika universal. Pemberian skor dilakukan terhadap bentuk dan struktur dari jawaban-jawaban tersebut dan bukan pada isinya. Partisipan tersebut diberi serangkaian pertanyaan terbuka yang sistematis. Obat itu adalah semacamradium yang baru saja ditemukan oleh seorang apoteker di kota yang sama. Hal ini bisa dilakukan dengan membayangkan apa yang akan dilakukan seseorang saat menjadi orang lain. yang bisa mencapai tahap enam dari model Kohlberg ini. Tindakan yang diambil adalah hasil konsensus. Ada suatu obat yang menurut dokter dapat menyelamatkannya. pergi ke setiap orang yang dia kenal untuk meminjam uang. Ia membayar $200 untuk radium tersebut dan menjualnya $2.[5] Seorang perempuan sudah hampir meninggal dunia akibat semacam kanker. sesuai harapan. melalui serangkaian dilema moral diperoleh skor secara keseluruhan. Heinz. Heinz menjadi putus asa dan membongkar apotek tersebut untuk mencuri . tindakan tidak pernah menjadi cara tapi selalu menjadi hasil. atau sudah disetujui sebelumnya. Tetapi si apoteker mengatakan: Tidak. Ia berceritera kepada apoteker bahwa isterinya sudah sekarat dan memintanya untuk dapat menjual obat dengan lebih murah atau memperbolehkan dia melunasinya di kemudian hari. Dengan cara ini.melalui keputusan mayoritas. pewawancara menggunakan dilema-dilema moral untuk menentukan penalaran moral tahapan mana yang digunakan partisipan. juga justifikasi seperti mengapa tindakan tertentu dianggap benar atau salah. Keputusan dihasilkan secara kategoris dalam cara yang absolut dan bukannya secara hipotetis secara kondisional (lihat imperatif kategoris dari Immanuel Kant[13]).[2] Selama kurang lebih 45 menit dalam wawancara semi-terstruktur yang direkam.

org/wiki/Tahap_perkembangan_moral_Kohlberg Lawrence Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Ada suatu obat yang menurut dokter dapat menyelamatkannya. Konsekuensinya. bentuk dari repon mereka. Obat tersebut adalah sejenis radium yang baru-baru ini ditemukan oleh seorang apoteker di kota yang sama. hak asasi manusia. mengemukakan bahwa orang sering membuat keputusan moral tanpa mempertimbangkan nilai-nilai seperti keadilan.[10][11] teori perkembangan moral dari Gilligan tidak memusatkan perhatiannya pada norma keadilan. Teori Kohlberg berpendapat bahwa justifikasi yang diberikan oleh partisipanlah yang signifikan.[7] [sunting]Kritik Salah satu kritik terhadap teori Kohlberg adalah bahwa teori tersebut terlalu menekankan pada keadilan dan mengabaikan norma yang lainnya. Berikut ini adalah salah satu cerita dilema Kohlberg yang paling populer: Di Eropa seorang perempuan hampir meninggal akibat sejenis kanker khusus. social intuitionists. Salah satu kelompok yang berpandangan demikian. anak-anak diberikan serangkaian cerita dimana tokoh-tokohnya menghadapi dilemadilema moral. tetapi sang apoteker menetapkan harganya sepuluh kali lipat lebih mahal dari pembuatan obat tersebut. apa yang menurut partisipan perlu dilakukan oleh Heinz tidaklah penting. Kohlberg sampai pada pandangannya setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik dengan anak-anak. teori itu tidak akan menilai secara adekuat orang yang menggunakan aspek moral lainnya dalam bertindak. Giligan berargumentasi bahwa hal tersebut membuat tidak adekuatnya teori itu dalam menggambarkan pandangan seorang perempuan. Biaya membuat obat ini sangat mahal. argumen yang telah dianalisis oleh Kohlberg dan psikolog rasionalist lainnya dapat dianggap hanya merupakan rasionalisasi dari keputusan intuitif. Dalam wawancara. Haruskah Heinz membongkar apotek itu untuk mencuri obat bagi isterinya? Mengapa?[5] Dari sudut pandang teoretis. dan norma etika yang abstrak.[15] Psikolog lain mempertanyakan asumsi bahwa tindakan moral dicapai terutama oleh penalaran formal. http://id. hukum. Walaupun penelitian secara umum telah menemukan tidak adanya perbedaan pola yang signifikan antar jenis kelamin. Ia mengembangkan teori penalaran moral alternatif berdasarkan norma perhatian. Untuk .obat demi istrinya.wikipedia. Bagaimana anak-anak dalam penyikapi setiap cerita yang dilakukan oleh masing-masing tokoh dalam cerita yang disampaikan oleh kohlberg. Carol Gilligan berargumentasi bahwa teori Kohlberg terlalu androsentrik[15] Teori Kohlberg semula dikembangkan berdasarkan penelitian empiris yang menggunakan hanya partisipan lelaki. Ini berarti bahwa penalaran moral kurang relevan terhadap tindakan moral dibanding apa yang dikemukakan oleh Kohlberg. Berdasarkan hal ini.

pada tahap ini seseorang menghargai kebenaran. dan aku harus mendapatkan uang dari obat itu. Tahap 1 : Orientasi hukuman dan ketaatan ialah tahap pertama dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Tingkat Dua: Penalaran Konvensional Penalaran konvensional adalah tingkat kedua atau tingkat menengah dari teori perkembangan moral Kohlberg. dan kesetiaan pada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Pada tahap ini perkembangan moral didasarkan atas hukuman. Anak anak sering . tetapi ia hanya bisa mengumpulkan 1000 dolar atau hanya setengah dari harga obat tersebut. Pada tingkat ini. anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral. aku menemukan obat. penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman ekternal.pembuatan satu dosis kecil obat ia membayar 200 dolar dan menjualnya 2000 dolar. anak-anak menjadi responden menjawab serangkaian pertanyaan tentang dilema moral. Suami pasien perempuan. Internalisasi individu pada tahap ini adalah menengah. ialah internalisasi. Tidak. Seorang mentaati standar-standar (internal) tertentu. Tingkat Satu: Penalaran Prakonvensional Penalaran prakonvensional adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Anak-anak taat karena orangorang dewasa menuntut mereka untuk taat. kepedulian. tetapi mereka tidak mentaati standar-standar (internal) orang lain. Setelah membaca cerita. Heinz menjadi nekat dan membongkar toko obat itu untuk mencuri obat bagi istrinya. Tahap 3: Norma-norma interpersonal. yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal. Cerita ini adalah salah satu dari sebelas cerita yang dikembangkan oleh Kohlberg untuk menginvestigasi hakekat pemikiran moral. Tahap 2: Individualisme dan tujuan adalah tahap kedua dari teori ini. Heinz. yang masing-masing tahap ditandai oleh dua tahap. seperti orangtua atau masyarakat. pergi ke setiap orang yang ia kenal untuk meminjam uang. Konsep kunci dari teori Kohlberg. Pada tahap ini penalaran moral didasarkan pada imbalan dan kepentingan diri sendiri. Tetapi sang apoteker berkata. Haruskah Heinz mencuri obat? Apakah mencuri obat tersebut benar atau salah? Mengapa? Apakah tugas suami untuk mencuri obat bagi istrinya kalau ia tidak mendapatkannya dengan cara lain? Apakah apoteker memiliki hak untuk mengenakan harga semahal itu walaupun tidak ada suatu aturan hukum yang membatasi harga? Mengapa atau mengapa tidak? Berdasarkan penalaran di atas kohlberg kemudian merumuskan tiga tingkat perkembangan moral. Ia memberitahu apoteker bahwa istrinya sedang sakit dan memohon agar apoteker bersedia menjual obatnya lebih murah atau memperbolehkannya membayar setengahnya kemudian.

Seseorang menyadari hukum penting bagi masyarakat. dan kewajiban. Kohlberg percaya terdapat tiga tingkat perkembangan moral. Tahap 6: Prinsip-prinsip etis universal. Bila menghadapi konflik secara hukum dan suara hati. pada tahap ini seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang universal. John W. 2002. Tahap 5: Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual. Konsep kunci untuk memahami perkembangan . Jakarta: Erlangga http://www. Pada tingkat ini.psikologizone.mengadopsi standar-standar moral orangtuanya pada tahap ini. moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Life Span Development: Perkembangan Masa Hidup. menjajaki pilihan-pilihan. Pada tahap ini. anak-anak diberi serangkaian cerita di mana tokoh-tokohnya menghadapi dilema-dilema moral. Dalam wawancara. Edisi 5 Jilid 1. yang setiap tingkatnya ditandai oleh dua tahap. Setelah membaca cerita. Tahap Tiga: Penalaran Pascakonvensional Penalaran pascakonvensional adalah tingkat tertinggi dari teori perkembangan moral Kohlberg. seseorang akan mengikuti suara hati. Seorang mengenal tindakan moral alternatif. Daftar Pustaka Santrok. hukum-hukum. sambil mengharapkan dihargai oelh orangtuanya sebagai seorang perempuan yang baik atau laki-laki yang baik. Kohlberg sampai pada pandangannya setelah 20 tahun melakukan wawancara yang unik dengan anak-anak. walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi. tetapi nilai-nilai seperti kebebasan lebih penting dari pada hukum. dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi. pertimbangan moral didasarkan atas pemahaman aturan sosial. keadilan. anak-anak yang menjadi responden menjawab serangkaian pertanyaan tentang dilema moral. Tahap 4: Moralitas sistem sosial. pada tahap ini seseorang mengalami bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain.com/teori-perkembangan-moral-kohlberg Teori Perkembangan Moral Kohlberg Posted by febriansyah | | Saturday 6 February 2010 10:13 am Kohlberg menekankan bahwa perkembangan moral didasarkan terutama pada penalaran moral dan berkembang secara bertahap. Berdasarkan penalaran-penalaran yang diberikan oleh responden dalam merespons dilema moral.

seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat. Pada tahap ini. khususnya teori Kohlberg. ialah internalisasi (internalization). seseorang menghargai kebenaran. yakni perubahan perkembangan dari perilaku yang dikendalikan secara eksternal menjadi perilaku yang dikendalikan secara internal. Tingkat Satu: Penalaran Prakonvensional Penalaran prakonvensional (preconventional reasoning) adalah tingkat yang paling rendah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada tahap ini. Pada tingkat ini. internalisasi individual ialah menengah.moral. anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral ± penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. keperdulian. sambil mengharapkan dihargai oleh orangtuanya sebagai seorang ³perempuan yang baik´ atau seorang ³lakilaki yang baik´. Anak-anak sering mengadopsi standar-standar moral orangtuanya pada tahap ini. Tahap 1 Orientasi hukuman dan ketaatan (punishment and obedience orientation) ialah tahap pertama dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Anak-anak taat bila mereka ingin taat dan bila yang paling baik untuk kepentingan terbaik adalah taat. Tingkat Dua: Penalaran Konvensional Penalaran konvensional (conventional reasoning) ialah tingkat kedua atau tingkat menengah dalam teori perkembangan moral Kohlberg. tetapi mereka tidak menaati standar-standar orang lain (eksternal). Anak-anak taat karena orang dewasa menuntut mereka untuk taat. Apa yang benar adalah apa yang dirasakan baik dan apa yang dianggap menghasilkan hadiah. Pada tahap ini. penalaran moral didasarkan atas hukuman. dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. Seseorang menaati standar-standar (internal) tertentu. Tahap 4 . penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah) dan kepentingan sendiri. Pada tingkat ini. Tahap 2 Individualisme dan tujuan (individualism and purpose) ialah tahap kedua dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Tahap 3 Norma-norma interpersonal (interpersonal norms) ialah tahap ketiga dalam teori perkembangan moral Kohlberg.

Pada tahap ini. Tahap 5 Hak-hak masyarakat versus hak-hak individual (community rights versus individual rights) ialah tahap kelima dalam teori perkembangan moral Kohlberg. kebanyakan anak-anak berpikir tentang dilema moral dengan cara yang prakonvensional. hukum-hukum. keadilan. Sebelum usia 9 tahun. dan kewajiban. dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi. pertimbangan-pertimbangan didasarkan atas pemahaman aturan sosial. moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. Kohlberg percaya bahwa ketiga tingkat dan keenam tahap tersebut terjadi dalam suatu urutan dan berkaitan dengan usia: 1. yang tidak muncul sama sekali dalam penalaran moral anak berusia 10 tahun. Pada tahap ini. Tahap 6 Prinsip-prinsip etis universal (universal ethical principles) ialah tahap keenam dan tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Tahap 5 tidak . tercermin dalam 62 persen penalaran moral manusia berusia 36 tahun. Seseorang menyadari bahwa hukum penting bagi masyarakat. Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif. sejumlah kecil orang berpikir dengan cara-cara yang pascakonvensional. Pada tahap ini. seseorang memahami bahwa nilai-nilai dan aturan-aturan adalah bersifat relatif dan bahwa standar dapat berbeda dari satu orang ke orang lain. Pada awal masa remaja. seseorang akan mengikuti suara hati. Pada tingkat ini. tetapi juga mengetahui bahwa hukum dapat diubah. penggunaan tahap 1 dan 2 berkurang. Tahap 4. walaupun keputusan itu mungkin melibatkan resiko pribadi. Pada awal masa dewasa. menjajaki pilihan-pilihan. seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang universal. Tingkat Tiga: Penalaran Pascakonvensional Penalaran pascakonvensional ialah tingkat tertinggi dalam teori perkembangan moral Kohlberg. Pada suatu investigasi longitudinal 20 tahun. mereka berpikir dengan cara-cara yang lebih konvensional.Moralitas sistem sosial (social system morality) ialah tahap keempat dalam teori perkembangan moral Kohlberg. 3. lebih penting daripada hukum. seperti kebebasan. Bila menghadapi konflik antara hukum dan suara hati. Seseorang percaya bahwa beberapa nilai. 2.

umm. TAHAP 2. keadilan. Baru-baru ini tahap 6 dibuang dari pedoman skor Kohlberg. Orientasi kepatuhan dan hukuman. Dengan demikian.ac. Orientasi minat pribadi ( Apa untungnya buat saya?) penalaran moral didasarkan atas imbalan (hadiah) dan kepentingan sendiri. dan kesetiaan kepada orang lain sebagai landasan pertimbangan-pertimbangan moral. benarbenar sangat sulit untuk dipahami. Anak-anak taat karena orang dewasa menuntut mereka untuk taat. Pada tahap ini.student. http://febriansyah. sambil mengharapkan dihargai oleh orangtuanya atau orang lain. seseorang menghargai kebenaran. meskipun masih dianggap sebagai sesuatu yang penting secara teoretis dalam skema perkembangan moral Kohlberg. Tingkat 2 (Konvensional) Seseorang menaati standar-standar (internal) tertentu. hukum-hukum. tahap-tahap moral muncul agak kemudian dari yang dibayangkan semula oleh Kohberg. seperti orang tua atau aturan-aturan masyarakat.id/teori-perkembangan-moral-kohlberg/ TEORI PERKEMBANGAN MORAL MENURUT KOHLBERG Tingkat 1 (Pra-Konvensional) anak tidak memperlihatkan internalisasi nilai-nilai moral penalaran moral dikendalikan oleh imbalan (hadiah) dan hukuman eksternal. Orientasi otoritas dan pemeliharaan aturan sosial ( Moralitas hukum dan aturan) pertimbangan-pertimbangan didasarkan atas pemahaman aturan sosial. Orientasi keserasian interpersonal dan konformitas ( Sikap anak baik) Pada tahap ini. keperdulian.muncul sampai usia 20 hingga 22 tahun dan tidak pernah dialami lebih dari 10 persen individu. TAHAP 3. penalaran moral didasarkan atas hukuman. TAHAP 1. . tetapi mereka tidak menaati standar-standar orang lain (eksternal). khususnya tahap 6. TAHAP 4. dan tahap-tahap yang lebih tinggi. dan kewajiban.

TAHAP 5. 6.html . Seseorang mengenal tindakan-tindakan moral alternatif. dan kemudian memutuskan berdasarkan suatu kode moral pribadi. menjajaki pilihan-pilihan. http://riskofdawn. lebih penting daripada hukum. Para remaja mereka lebih sering berpikir dengan cara .blogspot. Seseorang percaya bahwa beberapa nilai. seseorang telah mengembangkan suatu standar moral yang didasarkan pada hak-hak manusia yang universal.Tingkat 3 (Pasca-Konvensional) moralitas benar-benar diinternalisasikan dan tidak didasarkan pada standar-standar orang lain. seperti kebebasan. Prinsip etika universal ( Principled conscience) Pada tahap ini. Orientasi kontrak sosial Seseorang menyadari bahwa hukum penting bagi masyarakat.com/2010/10/teori-perkembangan-moral-menurut.cara kkonvensional yaitu pada tingkat ke 2 pada teori perkembangan Kohlberg. tetapi juga mengetahui bahwa hukum dapat diubah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful