P. 1
Hasbullah Thabrany - Rumah Sakit Sebagai Badan Layanan Umum

Hasbullah Thabrany - Rumah Sakit Sebagai Badan Layanan Umum

|Views: 292|Likes:
Published by mona_173086

More info:

Published by: mona_173086 on Apr 19, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/27/2014

pdf

text

original

Rumah Sakit Publik Bebentuk BLU: Bentuk Paling Pas Dalam Koridor Hukum Saat ini

*
Hasbullah Thabrany**
Belakangan ini ramai dibahas kebijakan Pemda DKI yang mengubah RSD menjadi Perseroan Terbatas. Proponen kebijakan ini menekankan pada aspek manajemen mikro RS dan menilai bahwa kebijakan tersebut melulu merupakan kebijakan RS. Selain itu, proponen kebijakan ini menggunakan asumsi yang tdak berbasis fakta bahwa bentuk PT akan meningkatkan efisiensi dan kualitas pelayanan. Padagal, ribuan PT dan raturan PT Persero seungguhnya berkinerja tidak bagus dan tidak juga efisien. Rancangan bentuk badan hukum PT adalah kendaraan ekonomi yang dalam UUD45 mengacu pada pasal 33 dengan tujuan utama mencari keuntungan finansial. Padahal, rumah sakit bukanlah kendaraan ekonomi akan tetapi kendaraan kesejahteraan dan investasi sumber daya manusia indonesia jangka panjang, yang mengacu pada pasal 34 UUD45. Di banyak negara, sebagian besar RS swastapun bukanlah berbentuk PT, tetapi yayasan atau badan sejenis yang tidak bertujuan mencari keuntungan finansial. Makalah ini mengungkapkan landasan etika-moral, landasan hukum, dan analisis ekonomi kebijakan badan hukum RS. Sesungguhnya faktor terpenting untuk efisiensi dan kualitas adalah otonomi atau fleksibilitas manajemen, khususnya dalam manajemen sumber daya uang dan tenaga. Berdasarkan analisis ini, bentuk Badan Layanan Umum merupakan bentuk yang paling pas saat ini. Badan Layanan Umum adalah suatu badan kuasi pemerintah yang tidak bertujuan mencari laba, meningkatkan kualitas pelayanan publik, dan memberikan otonomi atau fleksibilitas manajemen rumah sakit publik, baik milik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Bentuk BLU merupakan altenatif penting dalam menerapkan UUD Otonomi Daerah yang merumuskan RSD sebagai LTD. Kata kunci: kebijakan kesehatan, rumah sakit publik, BLU, rumah sakit daerah

Sejak Departemen Kesehatan berencana mengubah status 13 rumah sakit umum pusat menjadi Perusahaan Jawatan (Perjan) dan keluarnya Kepres No 40/2001 yang memberikan opsi rumah sakit daerah menjadi BUMD, saya
*

Disampaikan dalam Seminar Sehari “Kontroversi Pengelolaan dan Bentuk

Kelembagaan Rumah Sakit Pemerintah”, Jakarta 12 Maret 2005. Dimuat dalam Jurnal MARSI 2005
**

Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia

H Thabrany, Pandangan Akademisi ttg RSUD

0

sudah melayangkan berbagai reaksi yang menentang kebijakan publik tersebut. Djojosugito (2002) dalam makalahnya menjelaskan beberapa faktor yang mendorong perubahan status RSUP menjadi RS Perjan seperti perubahan fungsi RS dari fungsi sosial menjadi “Industri jasa”, berkurangnya kemampuan keuangan pemerintah untuk “mensubsidi” pelayanan kesehatan, pengelolaan RS swadana yang tidak lagi berjalan akibat adanya UU PNBP, dan berkembangnya paradigma sehat. Perubahan menjadi RS Perjan diharapkan dapat memberikan RS Perjan otonomi tanpa meninggalkan “fungsi sosial”nya. Akhir Tahun 2004, tiga RS Daerah di DKI telah diubah menjadi Perseroan Terbatas dengan alasan rumitnya manajemen RS dalam bentuknya yang sekarang sebagai UPTD atau LTD sebagai mana dikemukakan oleh Rijadi (2005) yang sepemikiran dengan Djojosugito. Pemda DKI beralasan bahwa selama ini Pemda telah banyak “mensubsidi” rumah sakit tersebut yang tetap rugi. Asumsinya kalau diubah menjadi PT, RS akan meraup untung (Masulili, 2005) Kebijakan Pemda DKI ini menuai banyak kritik luas dari masyarakat kesehatan maupun non kesehatan yang lebih parah dari kritik perubahan RSU menjadi Perjan. Saya pun termasuk yang secara tajam mengkritisi perubahan tersebut. Ada alasan-alasan akademis yang tidak mendukung perubahan tersebut dan ada beberapa istilah yang sesungguhnya tidak tepat digunakan untuk RS Publik (pemerintah) yang diselenggarakan untuk melaksanakan kewajiban pemerintah sesuai dengan UUD dan UU Otonomi Daerah. Istilah ‘fungsi sosial”, “subsidi”, dan “merugi”sesungguhnya tidak tepat digunakan untuk sebuah RS Publik. Penggunaan istilah tersebut dalam berbagai diskusi menunjukkan bahwa kita tidak memahami atau pemahaman kita telah terdistorsi tanpa memperhatikan tugas pokok dan fungsi pemerintah. Kita telah mencampur adukan diskusi tentang RS Publik dengan RS swasta. Istilah fungsi sosial, yang umunya diartikan memberikan pelayanan bagi masyarakat yang kurang mampu (yang di Amerika sering disebut uncompensated care), melekat pada RS swasta khususnya yang bertujuan mencari keuntungan atau uang bagi pemegang sahamnya (for profit private hospital). Melayani orang tidak mampu, bukan hanya yang miskin, adalah kewajiban pemerintah yang diberikan antara lain melalui RS Publik, puskesmas, dan upaya-upaya lain. Mengapa istilah fungsi sosial tidak atau

H Thabrany, Pandangan Akademisi ttg RSUD

1

jembatan atau jalan yang merupakan fasilitas umum. tidak bisa kita katakan ‘itu sumbangan/subsidi’ kita untuk anak. Karena petani adalah pihak swasta. Pandangan Akademisi ttg RSUD 2 . Perkataan subsidi kantor Pemda atau subsidi jalan tidak pernah digunakan dan memang tidak tepat. Demikian juga istilah ‘merugi’ tidak sepantasnya digunakan untuk RS Publik yang merupakan suatu perangkat pemerintah untuk menjalankan fungsi pemerintah dalam menyelenggarakan pemerintahan. Jadi kalau kita mau menggunakan fungsi sosial bagi RS publik. antara melayani langsung melalui perangkat pemerintah yang secara tradisional dibiayai oleh pemerintah dan dilaksanakan oleh pegawai H Thabrany. karena kantor dan jalan tersebut adalah fasilitas umum yang memang menjadi kewajiban negara. Aneh kan! Istilah “subsidi’ juga tidak tepat untuk RS Publik. istilah merugi tidak pernah digunakan.jarang kita gunakan untuk puskesmas. belakangan ini dunia ramai membahas pilihan mana yang lebih efisien. wajar dan lazim digunakan di negara barat. Seperti halnya membayar gaji aparat negara. Subsidi pupuk atau subsidi harga kepada petani. Sepertinya halnya kita berkewajiban membiayai kehidupan dan pendidikan anak kita sendiri. Pengertian subsidi yang benar adalah pemberian dana oleh pemerintah kepada lembaga swasta atau yang digunakan untuk swasta agar lembaga swasta tersebut bisa berkembang atau mampu menjual produknya di bawah harga ekonomis agar rakyat banyak bisa menjangkau jasa atau produk yang dijual. jembatan yang dibangun pemerintah. Memang. Subsidi BBM wajar digunakan. Akan tetapi. atau kantor pemerintah? Kedudukan RS Publik sama dengan puskesmas. Istilah subsidy berasalah dari kata ‘subside” yang berarti memperkuat pihak yang secara ekonomis tidak kuat. jalan dan jembatan. maka kita juga harus menggunakan istilah itu untuk puskesmas. karena pemerintah tidak berkewajiban menyediakan BBM bagi semua rakyat. dan berbagai pendanaan aparat atau perangkat pemerintah. Istilah ‘subsidi’ tidak tepat digunakan pada pendanaan pelayanan yang menjadi kewajiban pemerintah. membiayai DPR atau DPRD. membangun fasilitas umum. UUD45 pasal 34 ayat 3 jelas menyebutkan bahwa “Negara bertanggung jawab atas fasilitas kesehatan dan fasilitas umum yang layak”. istilah efisiensi dapat dan lazim digunakan untuk menganalisis aspek ekonomis dari suatu program bahkan institusi.

Dimana kedudukan dan tugas pokok dan fungsi kita sebagai aparat pemerintah telah dicampur baurkan dengan keinginan. Pendekatan penyediaan langsung oleh pemerintah dilakukan jika mekanisme pasar gagal mencapai tujuan suatu negara atau menyediakan produk atau jasa yang terjangkau rakyat dalam rangka memakmurkan rakyat (Thabrany. Campur tangan pemerintah. bukan istilah yang tepat guna. Produk atau jasa yang tidak memiliki sifat informasi asimetris. jembatan dsb tidak menghasilkan uang yang menutup seluruh biaya operasionalnya. Akan tetapi. tentu neraca pelayanan kantor pemda. sesuai sifat barang atau jasa. Istilah merugi. Pemerintah cukup menjadi wasit atau regulator. jembatan. mana yang menjadi kewajiban pemerintah (kita sebagai pegawai pemerintah) dan mana yang menjadi kewajiban swasta. Sesungguhnya jika mekanisme pasar berjalan dengan baik. atau Kantor Camat. dalam penyediaan pelayanan langsung seringkali dikaitkan dengan ciri suatu H Thabrany. Kita telah terkecoh. pemerintah tidak perlu repot-repot menyediakan sebuah produk atau jasa. memenuhi syarat untuk dilepas kepada mekanisme pasar. atau sifat asimetrisnya rendah. Istilah modernnya. apalagi biaya investasinya. Mengapa istilah ‘subsidi’ dan ‘merugi’ tidak pernah kita gunakan untuk membangun sebuah jalan. Padahal. Pandangan Akademisi ttg RSUD 3 . kita berada pada status disorientasi. Mekanisme pasar dengan sendirinya akan mengatur suplai dan harga sehingga penduduk (konsumen) akan diuntungkan. Peran Pemerintah Dalam Pelayanan Kesehatan Peran pemerintah dalam memenuhi kebutuhan penduduknya dapat dilakukan melalui dua pendekatan: pendekatan mekanisme pasar atau pendekatan regulasi dan penyediaan langsung. tugas pokok serta fungsi seorang swasta atau wiraswastawan. tidak semua produk atau jasa bisa berjalan sesuai dengan mekanisme pasar. 2001). Kalau kita cermati UUD dan UU Otonomi Daerah. peran pemerintah jelas dirumuskan sebagai peran pelayanan langsung. mengatur arus lalu lintas pasar. Bahkan tidak juga kita gunakan untuk pelayanan puskesmas atau sekolah dasar. kalau secara ekonomis dihitung-hitung.pemerintah dengan opsi outsourcing atau diswastakan. jalan.

2001). personal care seperti konsultasi dokter dan perawatan di rumah sakit. jelas orang yang baru mau masuk jalan tersebut tidak bisa menggunakan jalan. Barang publik adalah barang yang bersifat non rivalry dan atau non excludabilty. Namun demikian. di sektor kesehatan telah terjadi kesalah-fahaman tentang hal ini. atau makanan adalah barang privat.barang atau jasa yang dibutuhkan masyarakat. Tidak ada sektor swasta yang mau membangun jalan umum. siaran televisi. Sementara jasa salon kecantikan. Tampaknya. menjadi rival dan excludable. 2001). Menurut definisi ini. adalah barang privat dan H Thabrany. Sementara barang atau jasa yang bersifat pure private goods (barang swasta murni) tidak perlu diatur atau disediakan oleh negara. Selama ini terdapat salah faham para pengambil keputusan di bidang kesehatan yang menganggap bahwa pelayanan kesehatan. Di Inggris dan di negara-negara persemakmuran Inggris serta di negara-negara kaya Timur Tengah. Azwar misalnya menyatakan bahwa tanggung jawab pemerintah hanya pada barang publik sementara masyarakat bertanggung jawab untuk barang swasta (Azwar. dan dikelola oleh swasta. pelayanan kesehatan menjadi tanggung-jawab negara yang disediakan secara langsung. radio atau mercu suar merupakan barang publik. Tetapi semua orang tahu bahwa membangun jalan umum menjadi tugas publik (pemerintah). Sapti. orang lain dapat mengkonsumsinya pada saat yang sama dalam jumlah yang sama tanpa menghabiskan barang tersebut. Apabila seseorang menkonsumsi barang tersebut. pembagian barang publik dan barang swasta tidaklah merupakan patokan mutlak tentang tanggung jawab pemerintah. Akan tetapi pelayanan kesehatan dan jalan raya. Sedangkan barang yang menimbulkan rivalry dan atau excludability disebut barang privat (Rosen 1999. bukan barang publik dalam artian dalam mengkonsumsi barang tersebut. Informasi. pada situasi tertentu. Mekanisme pasar merupakan alat yang handal untuk mengaturnya. Suatu barang atau jasa yang karena sifatnya sebagai public goods (barang publik) sangat wajar disediakan oleh publik/pemerintah dalam bentuk penyediaan langsung oleh negara atau memberikan subsidi kepada pihak swasta. karena sudah penuh dengan mobil orang lain (rival dan excludable). Misalnya pada jalan yang macet. disediakan. jelas merupakan barang publik. Toh kebanyakan stasion televisi dan radio dimiliki. kendaraan. Pandangan Akademisi ttg RSUD 4 .

Pertama adalah sifat eksternalitas. seperti yang dilakukan oleh sebuath PT. Jika seorang penderita TB berobat tuntas. Ini adalah kesalahan fundamental di dalam pengambilan keputusan yang hanya berdasar salah satu sifat barang.karenanya BUKAN tanggung jawab pemerintah. apalagi untuk orang tidak mampu. maka pembangunan jalan umum seharusnya bukan tanggung jawab pemerintah. Sebab. baik positif maupun negatif. Pendidikan memiliki eksternalitas positif dimana masyarakat umum akan menikmati juga hasil pendidikan kepada sebagian kecil orang pintar. investasi pelayanan sangat mahal atau merugikan sehingga swasta tidak mau ambil peran. Konsumsi rokok dapat menimbulkan resiko kanker dan serangan jantung yang lebih tinggi kepada bukan perokok yang berada di sekitarnya. tidak menarik bagi swasta. meskipun sifat barang atau jasanya sebenarnya barang privat. Kedua. Pengobatan TB di rumah sakit mempunyai eksternalitas yang tinggi. Pada akhirnya. lulusan universitas akan membawa manfaat bagi bangsa. tanpa memperhatikan berbagai aspek lain. Fasilitas rumah sakit yang mahal atau unggulan Nasional. Disini saya cantumkan kembali alasan-alasan yang telah saya kemukakan tersebut. Ya. Efek eksternalitas ini menjadi dasar pertimbangan. Oleh karenanya tidaklah adil jika orang sekitarnya yang tidak merokok dan kemudian mendapatkan resiko sakit harus menanggung sendiri biaya pengobatannya. Ada tiga alasan utama penyediaan atau pembiayaan suatu barang atau jasa menjadi tanggung jawab publik atau pemerintah. orang sekitarnya mendapat manfaat tidak tertularkan. kalau faham ini benar. Pandangan Akademisi ttg RSUD 5 . Tidak ada satu negarapun di dunia yang mengandalkan pembangunan jalan umum kepada pihak swasta. Disinilah letaknya justifikasi pembiayaan atau subsidi publik. Seorang yang menderita penyakit TB dapat menularkan penyakitnya kepada orang lain tanpa pandang bulu. saya telah jelaskan alasan-alasan karakteristik pelayanan kesehatan yang tidak cocok kalau dijadikan komoditas jual beli. Dalam makalah saya di Jurnal MARSI tahun 2002 yang lalu (Thabrany. 2002). Oleh karenanya tidak adil jika si penderita harus bayar sendiri sementara manfaatnya juga dirasakan orang lain. maka pemerintah/publik harus turun tangan. Penelitian yang amat mahal harus dilakukan oleh atau disubsidi pemerintah. baik jasa rumah sakit maupun universitas pada satu tingkat tertentu memenuhi kriteria ini. Meskipun H Thabrany.

Orang menderita suatu penyakit berat atau kecelakaan berat tetapi ia tidak memiliki cukup uang sering kali ditanggung pemerintah atau disumbang (sebagian) oleh swasta. maka seharusnya peran pemerintah lebih besar dalam bidang kesehatan dibandingkan dengan perannya dalam bidang pendidikan. tetapi kesehatan mempunyai muatan yang besar dalam aspek kemanusiaan ini. Pendidikan tidak memiliki aspek ini. kecelakaan kereta api atau terjadi bencana alam tsunami. tanpa memperhatikan status kepemilikan badan. usahanya perusahaan swasta boleh dikatakan ‘semata-mata mencari untung”? Tidak. Universitas atau rumah sakit swasta sering mendapat bantuan pemerintah di berbagai negara bahkan lintas negara. Banyak perusahaan juga turun tangan membantu korban tsunami. H Thabrany. Pandangan Akademisi ttg RSUD 6 . Maka pemerintah harus turun tangan. Itulah sebabnya pada suatu kecelakaan besar pesawat. Tetapi tidak berarti swasta lepas maupun tidak sesuai.konsumsi barang atau jasa ini tidak mempunyai efek eksternalitas. Dimanapun. Artinya. Ketiga aspek kemanusiaan dimana swasta tidak mau menangani sepenuhnya oleh karena swasta tidak berkepentingan. Jika jumlahnya terlalu besar. Apakah tangan. tidak relevan disini. Kesalah-fahaman konsep bahwa barang privat tidak perlu dibiayai negara ini sedikit banyak mempengaruhi konsep sistem kesehatan masa depan dan perubahan status rumah sakit pemerintah. Penanganan korban menjadi tanggung jawab baik sesuai dengan bidang publik. Apakah setiap orang harus menanggung sendiri? Apakah pemerintah akan mengandalkan swasta untuk menolong para korban? Tidak pernah! Bahkan pemerintah negara lainpun akan turun tangan. Swasta bisa turun tangan hanya sampai batas tertentu. pemerintah (bukan hanya pemerintah suatu negara) dituntut turun tangan--tanpa memperhatikan seberapa besar biayanya. pendidikan dan kesehatan memenuhi paling tidak dua syarat untuk dikelola atau didanai oleh pemerintah. tidak ada yang ekstrim == hanya mencari keuntungan atau hanya melayani seperti halnya malaikat bekerja. Pertimbangan biaya. Jika dilihat dari sifat jasanya. swasta tidak bisa diandalkan. jika memperhatikan ukuran derajat kelengkapan dan intesitas barang yang patut disediakan atau dibiayai pemerintah/publik. Rumah sakit memiliki ketiga syarat pembiayaan publik dalam derajat yang jauh lebih kuat dari universitas.

Jangan heran kalau Indonesia masih berada pada urutan ke 112 dari 191 (UNDP. maka ia boleh menggunakan RS swasta H Thabrany. selama tiga dekade. Hakikat rumah sakit pemerintah dalam negara yang memiliki keseimbangan peran publik-swasta. Pembangunan prasarana dilakukan dengan membangun jalan. yang berhak mendapatkan pelayanan di rumah sakit pemerintah tidak berkenan menggunakannya. 2003) negara karena pemerintah kita. dan air bersih.Jika kita perhatikan anggaran belanja berbagai negara di dunia. Manuia dan penghasilan. Indeks kesehatan. bukan sebagai pesaing. karena kualitas pelayanannya dinilai kurang memadai. maka pemerintah menanamkan investasinya hanya pada dua kelompok besar yaitu pembangunan manusia dan pembangunan prasarana. maka Indonesia akan makin terpuruk. Kesehatan merupakan fondasi dasar untuk berhasilnya pendidikan. jembatan. Mutu sumber daya manusia (bukan sumber alam) yang tinggi inilah yang mampu mengubah kemiskinan menjadi kemakmuran. Rumah sakit swasta harus berperan sebagai substitusi dari rumah sakit pemerintah. Pembangunan manusia dilakukan melalui pembiayaan kesehatan dan pendidikan. indikator (Human Development Index). Pandangan Akademisi ttg RSUD 7 . maka prasarana yang dibangun pemerintah dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan kinerja ekonomi yang tinggi. Pembangun pendidikan. paling tidak harus menjadi jejaring pengaman. Jika kelak. Negara maju yang relatif ekstrim dalam faham publik seperti Inggris dan Australia masih tetap mempertahankan sistem National Health Service di mana RS tetap dikelola dan dibiayai negara (fungsi penyediaan langsung). Dengan mutu SDM yang tinggi. Baik kesehatan maupun pendidikanlah yang menjadi tulang punggung tingginya mutu sumber daya manusia. pemerintah semakin mengurangi investasinya di bidang kesehatan (dengan mengurangi pembiayaan rumah sakit pemerintah sementara golongan tidak mampu dan tidak memiliki asuransi kesehatan masih merupakan sebagian besar penduduk). Itulah sebabnya. telepon. Rumah sakit pemerintah wajib menyediakan pelayanan bagi seluruh penduduk yang memang haknya dijamin UUD. listrik. Jika seorang penduduk. Lembaga Pembangunan Dunia (UNDP) hanya menggunakan sebagai tiga faktor besar. tidak cukup menanamkan investasi dalam kesehatan dan pendidikan sebagai investasi SDM.

gejala rakyat menengah tidak mampu berobat di RSCM sudah mulai tampak. penghasilan hariannya saja tidak cukup untuk makan dengan gizi seimbang untuk keluarganya. Pandangan Akademisi ttg RSUD 8 .000 bisa menggunakan fasilitas konsultasi di RSCM? Pasti tidak. Visi ini kemudian dijabarkan dalam Pasal 34 ayat 3 ‘Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas kesehatan dan fasilitas umum yang layak’. yang merupakan rumah sakit rujukan tertinggi. dengan tarif yang semakin tinggi (yang kini untuk konsultasi saja sudah mencapai Rp 40.atas biaya atau risikonya sendiri. khususnya pasal 22 yang menyatakan ‘Pemerintah Daerah Wajib Menyediakan Fasilitas Kesehatan”. Dimanapun di dunia. dapat membuat kebijakan yang menghambat rakyat memperoleh pelayanan dengan memasang tarif setinggi itu? Nilai-nilai yang diturunkan dari jenis barang dan jasa pelayanan kesehatan. Disini jelas negara (yang harus dijalankan oleh pemerintah) mempunyai misi menyediakan fasilitas kesehatan yang disejajarkan dengan fasilitas umum (seperti taman dan tempat ibadah) yang layak (yang mutu pelayanannya dapat diterima oleh masyarakat banyak. yang para dokter dan pegawai serta pimpinannya dibesarkan dengan fasilitas yang dibiayai uang rakyat. prinsip inilah yang berlaku. bukan persepsi kita yang termasuk kelas atas).000). setelah rumah sakit itu menjadi BUMN? Tampaknya. akibat dituntut untuk mandiri secara finansial. kewajiban Pemda ini diatur lebih lanjut dalam Pasal 125 dimana digariskan bahwa Rumah Sakit H Thabrany. dan Membeli Dari Swasta Visi dan misi dalam pelayanan kesehatan seperti yang termaktub dalam UUD 45 diatas dijabarkan lebih lanjut oleh UU 32/2004 tentang otonomi daerah. yang melandasi pengaturan oleh UUD45. yang dibangun dari uang rakyat. Antara Penyediaan Langsung. Sebab. Kok RS yang beraset ratusan milyar. Quasi Swasta. Secara lebih operasional. Apakah seorang tukang ojek yang penghasilannya per hari paling banyak Rp 30. seperti yang dibahas diatas itulah. Apakah setiap rakyat dapat memperoleh pelayanan yang memadai di RS Cipto Mangunkusumo misalnya. Pasal 28H menyatakan bahwa ‘setiap penduduk berhak atas pelayanan kesehatan’.

visi-misi dan tujuan? badan organisasi operasional harus sesuai dengan visi dan misinya. Bentuk perangkat daerah yang dirumuskan dalam UU otoda ini memang sejalan dengan visi dan misinya. Sebab.Umum Daerah berbentuk Lembaga Teknis Daerah. kita tidak bisa mencapai keadaan tersebut. mengambil bentuk PT merupakan kebijakan yang tidak sesuai atau tidak sealur antara bentuk operasional dengan visimisinya. 1992). 2005). Padahal. (Griffith. UU Perseroan Terbatas jelas-jelas mengatur kepemilikan saham yang tujuannya untuk secara fair membagi hasil usaha (laba atau profit) secara proporsional sesuai dengan saham yang dimiliki seseorang atau suatu badan hukum. rumah sakit swasta not for profit. Bentuk Bukankah organisasi dalam atau manajemen hukum strategis suatu kita diajarkan dan untuk rencana merumuskan segala sesuatunya dimulai dengan value. Tidak dikenal adanya rumah sakit pemerintah for profit. alias kesasar. Sedangkan RS sebagai bagian fasilitas kesehatan diatur dalam Pasal 34 UUD45. PT menurut Uunya merupakan vehicle atau kendaraan untuk urusan ekonomi atau bisnis yang didalam UUD diatur dalam Pasal 33 tentang Perekonomian Negara. Jelas. pembagian besar RS di dunia masih mengacu pada dua golongan kepemilikan pemerintah dan swasta dimana milik swasta lebih lanjut dibagi menjadi dua golongan besar. Gambar 1 Perbandingan Kesesuaian Antara Visi-Misi dengan Bentuk Organisasi (Badan Hukum) RS H Thabrany. Tampaknya Indonesia telah menciptakan “keajaiban dunia ke delapan” dengan menjadikan rumah sakit pemerintah sebagai Perseroan Terbatas. Kalau tidak sesuai. yang bertujuan cari untung dan yang bertujuan sosial yang tidak cari untung. Maka kita kenal rumah sakit pemerintah. Pandangan Akademisi ttg RSUD 9 . Sampai saat ini. yang “berbeda dengan PT lain” (Masulili. Mengambil bentuk badan hukum PT untuk RSUD jelas melanggar UU dan tidak sesuai dengan visi-misi. dan rumah sakit swasta for profit.

Sesungguhnya. Namun. Faktanya. tidak memberikan peluang untuk bersaing dengan RS swasta atau RS asing dan berbagai keluhan lainnya. kritik tidak sesuainya bentuk RS BUMN/BUMD dengan visi-misinya telah saya sampaikan secara tertulis (Thabrany. tidak memberikan insentif untuk kerja bermutu. 2000). Kepala Dinkes DKI Jaya. Suatu pandangan yang sama sekali tidak berbasis fakta (no evidence based policy). sendiri secara gamblang mengakui bahwa pengambilan bentuk PT di DKI memang terpaksa dilakukan (Masulili. Thabrany. 1999. A Cholik Masulili.laba Tujuan utama: Pemertaan pelayanan Nyasar Status: Nirlaba. ratusan bahkan ribuan perusahaan Perseroan Terbatas swasta bangkrut setiap tahunnya 10 H Thabrany. yang bisa menyelesaikan masalah mutu dan efisiensi. yang lebih banyak dilihat dari teori-teori dan benchmarking sebagian usaha swasta. profit maximizerr Indikator sukses utama: Akses dan status kesehatan Indikator sukses utama: Kinerja keuangan Sebenarnya.LTD/BLU (Pasal 34 UUD45) Visi-Misi: Penyediaan pelayanan yang terjangkau dan merata BUMN /BUMD/PT (Pasal 33 UUD45) Visi-Misi: Penyediaan pelayanan / laba /pendapatan Tujuan utama: Pelayanan terjual. 2005). karena pengambil keputusan dan para pelaku (khususnya manajemen RS Publik) terus menghadapi masalah mikro manajemen yang sering kali dikeluhkan sebagai tidak fleksibel. hanya sekitar sepertiga BUMN bebentuk PT Persero yang sehat secara finansial dan baik kinerjanya. Yang lebih parah lagi adalah dikemukakannya asumsi bahwa bentuk PT dianggap sebagai bentuk yang paling baik. service maximizer Status: Cari laba. maka perubahan RS Publik ke BUMN/BUMD oleh sebagian kita terus dipaksakan. Pandangan Akademisi ttg RSUD .

Memang harus diakui bahwa sistem penggajian pegawai negeri di Indonesia. mengubah RSD menjadi PT dengan alasan-alasan yang dikemukakan pihak manajemen. Badan hukum PT H Thabrany. Kita memiliki sedan untuk mengangkut orang secara privat. Kita memiliki traktor untuk pembangunan sarana fisik. Masing-masing dirancang sesuai dengan kebutuhannya. juga tidak sedikit. Kita memiliki truk untuk mengangkut barang. Inilah informasi bias yang kita terima selama ini. meskipun yang berbentuk PT. khususnya bagi pegawai negeri yang jarang mempelajari aspek perushaaan swasta. dan kualitas pegawai negeri menyebabkan timbulnya keluhan ketidakpuasan manajemen dan pengguna pelayanan RS publik. Cuma saja. Sesungguhnya sebagian besar masyarakat (mungkin lebih dari 80%) kelas menengah ke bawah tidak mengeluhkan mutu pelayanan RS publik. dengan tingkat yang jauh lebih rendah. Tetapi kita sering keliru dan tidak menangkap bahwa sesungguhnya keluhan masyarakat akan rendahnya mutu pelayanan di RS swasta. Begitulah bentuk kendaraan badan hukum organisasi. minibus untuk mengangkut keluarga dan kita memiliki bus untuk mengangkut manusia.akibat salah manajemen. Kalau kita menggunakan traktor untuk mengangkut orang banyak. atau korupsi oleh pihak manajemen. maka bukan saja ditertawakan orang. sistem penganggaran dan pengadaan barang. Memang tren mengubah manajemen RS dari organisasi birokrasi menuju organisasi korporat sedang terjadi di berbagai negara. kegagalan manajemen di PT swasta tersebut tidak masuk koran dan tidak dilaporkan ke pengadilan. kemungkinan besar kita juga tidak mencapai tujuan. Jenis kendaraan memang banyak dan bervariasi. karena perusahaan tersebut milik sebagian kecil orang. Pandangan Akademisi ttg RSUD 11 . Kita memiliki traktor dan mesin pembajak tanah untuk pertanian. mungkin lebih merupakan pemenuhan keinginan manajemen daripada keinginan rakyat banyak. Hal yang sama juga terjadi di negara lain. Oleh karena itu. kesadaran pemerintah. Tetapi organisasi korkorat tidak identik dengan PT yang milik swasta dan dirancang sebagai kendaraan ekonomi di sektor swasta. Kita sering keliru menangkap keluhan sebagian kecil orang (umumnya dari kelas atas atau dari sebagian kita yang menginginkan pelayanan yang setara dengan di luar negeri) dengan mengeneralisasi bahwa rakyat banyak tidak puas dengan pelayanan RS publik.

Universitas negeri mendapat angin untuk menjadi otonom melalui Peraturan Pemerintah No. hanya dalam keadaan darurat. Yang sangat penting sesungguhnya adalah perubahan budaya manajemen birokrat menuju manajemen dan budaya korporat yang lebih efisien dan responsif (korporatisasi). ITB.dirancang untuk kendaraan usaha niaga pihak swasta. dan fasilitas kesehatan serta lembaga pendidikan dirancang melayani rakyat banyak dalam meningkatkan kesejahteraan umum. bukan transformasi struktural (tetapi orangnya dan budayanya masih sama) seperti yang dilakukan oleh Pemda DKI. dan opersionalnya. Bukan perubahan badan hukum (transformasi struktural) dari RSUD menjadi BUMN/BUMD atau PT. Lebih lanjut. Apakah kita dalam keadaan darurat sekarang ini? Perubahan badan hukum organisasi RS sesungguhnya tidak penting. Bisa digunakan. 2003:135-204). Kasali menilai bahwa UU nomor 1/2004 tentang perbendaharaan negara merupakan langkah awal dari korporatisasi pemerintah Indonesia. Banyak pihak sesungguhnya menyadari perlunya perubahan menuju bentuk yang sejalan antara visi-misi dengan bentuk organisasi. memang dirasakan masih belum pas benar dengan yang diinginkan. UGM. Mengambil bentuk PT badi RS publik untuk melayani masyarakat sama halnya menggunakan traktor pertanian untuk mengangkut penumpang bus. Bentuk yang pas Tuntutan bentuk dan struktur manajemen otonom yang fleksibel dan memberikan insentif atas perubahan yang cepat sudah dimulai sejak diperkenalkan konsep swadana. Namun demikain. 61/99 yang menetapkan universitas sebagai badan hukum. seperti kesehatan dan pendidikan. maka transformasi struktural dilakukan menuju living company (seperti bentuk Badan Hukum Pendidikan. BHMN atau BLU) ketimbang bentuk economic company seperti PT atau PT (Persero). BHMN) yang jelas disebut H Thabrany. struktur manajemen. BUMN/BUMD dirancang untuk usaha niaga pemerintah (Kansil and Kansil. Empat universitas/institut negeri yaitu UI. Pandangan Akademisi ttg RSUD 12 . dan IPB telah dilepaskan menjadi badan otonom (Badan Hukum Milik Negara. Kasali menganjurkan bahwa untuk jenis pelayanan tertentu. Renald Kasali (2005) merekomendasikan transformasi cultural (mengubah budaya birokrat ke korporat) yang perlu dilakukan terlebih dahulu.

Anggaran pemerintah tidak bisa disalurkan melalui PT . Rumah sakit berbentuk UPTD dan LTD terikat dengan sistem akuntabilitas departemen yang (flexible). sebagai memang kesehatan. Saat ini.bersifat nirlaba. lebih dana Sesungguhnya Pemerintah telah menyadari hal itu dan karenanya telah mengubah sistem keuangan negara dengan UU Pebendahaan Negara yang salah satunya mengatur bentuk manajemen ringan dan dapat menarik jasa yang lebih murah? Rakyat juga tidak akan marah karena persepsi ‘for profit sebuah PT?’ Badan Layanan Umum. untuk fasilitas kesehatan dan pendidikan. RSUD jadi PT. Bentuk semacam BHP itulah yang lebih pas.. mencegah rakyat jadi miskin penyakitnya. yang justeru membuat beban rakyat menjadi berat. Dalam diperlukan bidang adalah RS yang Otonomi Kalau kita. pegawai negeri dan pejabat di pemerintahan.1 Semula juga ada pemikiran untuk menjadikan universitas sebagai BUMN. atau baik upayanya sejalan personil. Namun karena tujuan dan sifat BUMN yang mencari keuntungan dan mengacu pada pasal 33 UUD 35 dinilai tidak sesuai dengan visi-misi universitas negeri. berbagai pihak tengah mempersiapkan UU bentuk badan hukum yang lebih pas yaitu Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang memang sudah diberikan dasarnya dalam UU Sistem Pendidikan Nasional. Bentuk ini memberikan keleluasaan H Thabrany. korporat bentuk keuangan. Peraturan Pemerintah yang mengatur lebih lanjut tentang bentuk BLU ini memang sedikit terlambat dari rencana semula yang diharapkan selesai bulan Januari 2005. dan adalah yang dengan visi-misinya. maka bentuk yang dipilih adalah BHMN. yang dalam dapat membuat beban pelayanan kita kebijakan rakyat karena meringankan mendapat manajemen di rumah sakit yang menjamin RS publik menjalankan usaha luas. mengapa membuat kebijakan. Dengan bentutk BLU. Pandangan Akademisi ttg RSUD 13 . Otonomi yang manajemen pengadaan. Sebuah PT harus berupaya financial sendiri memenuhi yang total pada requirement sebagainya sehingga RS dikelola suatu suatu dipandang ideal saat ini. dan pegawai tidak negeri lentur memang akhirnya dibebankan kepada rakyat. manajemen RS mendapat selain Bukankah kucuran dari beban dana jasa pemerintah pelayanan.

Badan rumah sakit pemerintah. di dalam koridor peraturan perumah sakitan. Rumah sakit harus tetap dikelola sebagai layaknya sebuah perusahaan. minus bukan mencari keuntungan. prinsip dasarnya adalah otonomi atau manajemen korporat. mengapa harus memaksakan diri mencari bentuk lain yang jelas-jelas tidak sejalan dengan visi-misi RS publik. baru mempersiapkan bentuk lain yang lebih tepat dengan membuat aturan yang tepat. H Thabrany. Pandangan Akademisi ttg RSUD 14 . Bukankah sebagai pegawai negeri tugas kita mengikuti aturan yang ada dulu. dan juga rumah sakit swasta nirlaba.RS menggunakan langsung dana yang diterimanya dari pelayanan dan dapat mengangkat pegawai negeri dan bukan pegawai negeri. untuk mengelola sepenuhnya sumber daya keuangan maupun sumber daya manusia yang ada di rumah sakit. tanpa harus merubah badan hukum RS menjadi badan usaha economic company yang sensitif publik dan memberi citra jelek bagi pengelola RS publik. maka pemerintah (pusat maupun daerah) harus mendanai dalam bentuk uang tunai. Direksi mempunyai kewenangan. pengadaan gedung. block grant. Apabila penerimaan rumah sakit dari pelayanan tidak memadai. Apapun namanya. Meskipun. adalah badan otonom. Banyak teknik-teknik ekonomi yang merangsang manajemen efisien. Pemerintah akan “membeli” pelayanan ke rumah sakit tersebut melalui global budget atau block grant atau melalui jumlah out put tertentu sebagai pertanggung-jawaban pemerintah atas tugas publik bagi rakyatnya. biaya operasional. Ini kita setuju semua. bentuk BLU belum memenuhi benar harapan manajemen RS publik. alat atau tana. global badget membeli dengan DRG dan lain sebagainya.

baik dari pemerintah. memiliki otonomi/fleksibilitas dalam pengelolalaan keuangan (tanpa harus disetor ke kas negara). dan hibah tidak terikat BLU juga bisa bekerja sama dengan pihak lain dengan pendapatan dari kerja sama merupakan pendapatan BLU. maupun kerja sama dapat dikelola langsung untuk membiayai belanja BLU (tak ada beda dengan PT) • • • BLU harus membuat Rencana Kerja dan Anggaran BLU. • • • Pengelola BLU harus mencapai sebuah kinerja (mirip dengan PT) sesuai dengan kontrak kinerja dengan pemerintah Laporan keuangan harus diaudit. hibah terikat. Keuntungan investasi jangka panjang juga merupakan pendapatan BLU • Seluruh pendatapan BLU. Karena sifatnya yang nirlaba. Pandangan Akademisi ttg RSUD 15 . yang pada akhirnya dapat bekerja dan menghasilkan uang.Ciri BLU menurut RPP BLU draft tanggal 11 April 2005 • BLU adalah instansi pemerintah dalam memberikan pelayanan umum kepada masyarakat tanpa mengutamakan mencari keuntungan. sebagaimana juga laporan keuangan PT Besaran jasa layanan selain mempertimbangkan aspek keuangan dan kemampuan masyarakat. sebagai mana juga sebuah perusahaan Pengelolaan BLU diawasi oleh Dewan Pengawas Pegawai BLU dapat terdiri dari pegawai negeri dan bukan pegawai negeri. Artinya. Dividen yang diterima pemerintah adalah dalam bentuk rakyat yang sehat dan produktif. tidak ada birokrasi keuangan seperti yang selama dini disalah-persepsikan dan dapat dikelola mirip sebuah PT. jasa layanan. maka pemerintah (pusat maupun daerah) tidak menarik pajak atas penghasilan badan (Pph badan) dan tidak mengambil dividen. Dari hasil kerja inilah pemerintah mengambil pajak penghasilan orang H Thabrany. juga mempertimbangkan kompetisi yang sehat • • BLU dapat meneriman APBN/APBD.

Inilah mekanisme yang paling tepat dan umum berlaku di seluruh dunia. yang menurut ukuran rumah sakit jumlahnya besar sekali. untuk menyelenggarakan program asuransi sosial. yang secara yuridis legal bertujuan mencari laba. Mendengar kedua Persero memiliki laba. Pemerintah. Asumsi bahwa RS berbentuk PT atau badan hukum yang mencari laba tidak membuat akses bagi penduduk yang kurang mampu tidak terabaikan H Thabrany.2. Pandangan Akademisi ttg RSUD 16 . Pelayanan kepada peserta. yang diwakili Departemen Keuangan. Disisi lain. kinerja badan tersebut lebih banyak diukur dengan indikator keuangan. meskipun untuk rumah sakit pemerintah. Hanya dengan UU. suatu program asuransi sosial atau jaminan sosial dikelola oleh pemerintah atau swasta secara nirlaba. yang di negara-negara lain dapat berjalan jauh lebih baik. Padahal hakikat asuransi sosial atau jaminan sosial adalah service maximizer. maka semakin timbullah kecemburuan dan ketidak-puasan pimpinan rumah sakit umum kepada BUMN tersebut.pribadi. perusahaan Departemen Keuangan yang cukup besar. PT Askes misalnya tidak akan mampu membayar dokter dan rumah sakit dengan tarif yang fair. tujuan suatu badan yang telah ditetapkan dengan UU dapat dikoreksi. Untuk RS yang menggunakan kendaraan BUMN/BUMD/PT. UU mana yang akan mengoreksi? Sementara UU Perbendahaan Negara sudah memberikan koreksi atas kelemahan bentuk UPTD/LTD. banyak rumah sakit mengeluh dibayar memperoleh laba yang disetorkan ke terlalu kecil dan tenaga kerja mengeluh jaminannya kurang memadai. Kekeliruan pemilihan badan hukum PT Askes dan PT Jamsostek hendaknya jangan diulang kembali. Akibatnya keadaan ini mengancam kehancuran instrumen sosial. Apa yang terjadi kemudian. Satu dekade yang lalu. sementara kedua Akibatnya. yang nota bene. asuransi sosial dan RSU. adalah sama-sama pegawai pemerintah menjadi tidak optimal. profit maximizer. tiap tahun menuntut bagi hasil (dividen) dan tentu saja pajak penghasilan badan. pemerintah telah membentuk PT Askes dan PT Jamsostek sebagai BUMN PT Persero. 3 Dimanapun di dunia. Kekeliruan ini telah dikoreksi dengan UU nomor 40/2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional yang mengharuskan badan penyelenggara bersifat nirlaba.

and Seiber (2000) melakukan penelitian terhadap 431 RS yang mengalami perbubahan dari RS Publik ke RS not for profit. Eggleston dan Yip (2004) mendapatkan bahwa kompetisi mendapatkan pasien dalam sistem pembayaran FFS meningkatkan biaya (cost escalation).5% dari total expenses.2% menjadi hanya 2. sebaliknya RS for profit lebih fokus pada pasien rawat inap yang lebih menguntungkan. Jadi. Reinhardt (2001) menyatakan bahwa not for profit and for profit hospital sama-sama efisien dalam memproduksi pelayanan kesehatan. di Indonesia. for profit. Penutup Yang perlu diingat adalah bahwa rumah sakit umum adalah milik masyarakat. dan sebaliknya selama tahun 1991-1997 mendapatkan bahwa perubahan status dari not-for profit menjadi for profit menurunkan pelayanan bagi yang tidak mampu (uncompensated care) sebesar 13%. Rumah sakit publik yang berubah menjadi RS for profit mengalami penurunan terbesar dalam dana uncompensated dari 5. RS not for profit seperti memang mempunyai biaya pegawai yang lebih tinggi dibandingkan dengan RS for profit. Tidak benar bahwa RS for profit akan lebih efisien. Efek efisiensi dengan cara pembayaran DRG/case mix mempunyai efek yang sama baik bagi RS for profit maupun not for profit. Florence. Pandangan Akademisi ttg RSUD . Berbagai studi di beberapa negara menunjukkan hal itu. Peningkatan biaya ini menurunkan akses bagi pasien yang harus bayar pelayanan dari kantong sendiri (self-pay).tidak didukung bukti-bukti yang kuat. Tetapi hal itu terjadi karena RS not for profit umumnya jauh lebih tua dan lebih besar sehingga beban overhead dan tingkat upah menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan RS for profit yang relatif baru dan umunya bersekala lebih kecil. Thorpe. namun RS for profit menetapkan tarif (charge) yang lebih tinggi dari RS not for profit untuk menutupi akuisisi modalnya. Sejalan dengan penelitian di Amerika. Penelitian Tong Li dan Rosenman (2001) menunjukkan bahwa rumah sakit not for profit di Amerika memberikan pelayanan rawat jalan lebih banyak dari rumah sakit for profit. yang menjadi faktor penting efisiensi adalah sistem pembayaran. bukan milik pegawai pemeritah apalagi direktur RS atau Kepala 17 H Thabrany.

AUPHA Press. p19-23 Eggleston. pemerintah pusat atau daerah. Marilah kita bekerja dengan lege artis dan prosedural. JR. Hospital Competition under Regulated Prices: Application to Urban Health Sector Reforms in China.300 rumah sakit tidak ada UU Rumah Sakit atau Fasilitas Kesehatan. MI. Renald. Winnie. Oleh karenanya. The Well-Managed Community Hospital. 1992: p13-15 Kansil.1. Jur. Kitab Undang-Undang Hukum Perusahaan . Jakarta. 2002. CT dan Kansil. Djojosugito. Pradnya Paramita. agar segala yang kita upayakan mendapat dukungan rakyat dan tidak mencoreng muka kita karena dinilai ‘hanya memikirkan kepentingan sendiri’.undp. Pidato Ilmiah dalam Dies Natalis Universitas Indonesia ke 55. Ann Arbor. Dec 2004 Griffith. mengapa untuk lebih dari 1. Makalah disampaikan pada Seminar Public-Private Mix in Health Care. Seluk Beluk Rumah Sakit Berbentuk Perusahaan Jawatan. namun menampung kesulitan manajemen. kalau di Indonesia ada 280an BUMN ada UU BUMN. International Journal of Health Care Finance and Economics. A. MARSI Vol III.Dinas Kesehatan. CST. Kalau di Indonesia hanya ada 167 perusahaan asuransi ada UU Asuransi. Persetujuan rakyat hanya dapat diwujudkan dalam bentuk UU yang secara lebih luas dibahas di DPR dan masyarakat banyak. tentang perubahan status rumah sakit. sejak lama saya menganjurkan untuk menyusun dan mengajukan UU Fasilitas Kesehatan atau UU Rumah Sakit yang akan mengatur RS dengan lebih pas atau konsisten dengan visimisinya. Karen and Yip. 4. 343-368. Pandangan Akademisi ttg RSUD 18 . A. 5 Februari 2005 Laporan UNDP 2003. Cetakan ketiga. Oleh karenanya. Jakarta 2003 Kasali. 2-3 Mei 2001. Jilid I. Korporatisasi. Fungsi rumah sakit pemerintah adalah penyehatan rakyatnya yang sakit. No. KEPUSTAKAAN Azwar. jangka pendek dan jangka panjang. Semoga kita dapat segera mengoreksi kekeliruan kita.org/ H Thabrany. bukan sebagai lembaga pengumpul dana bagi pengelola rumah sakit apalagi pemerintah. 2nd Edition. harus meminta persetujuan rakyat dan rakyat harus diberi pengertian tentang keuntungan dan kerugian. website //www.

152/2000 tentang Universitas sebagai Badan Hukum Milik Negara. Estimating Hospital Costs with a Generalized Leontief Function. McGraw Hill. PP 2/92 tentang Pembentukan dan Penujukkan PT Asuransi Kesehatan Indonesia sebagai pengelola JPK PNS. H. Jakarta 19 Februari 2005 Pasal 4. The Economics of For Profit and Not For Profit Hospitals. Makalah disampaikan pada Diskusi Publik Privatisasi RSUD DKI. HS. Uwe. 5th edition. Hospital Conversitons. Health Econ. Margins. 3 2 PP 35/93 tentang Penunjukkan PT Jamsostek sebagai pengelola Program Jamsostek H Thabrany. Jakarta. Pembiayan Publik (MKI) Thabrany. and The Provision of Uncompensated Care. Jakarta 19 Februari 2005 Rosen. 1999 Thabrany. Curtis S and Seiber. H.Li. Majalah Griya Husada Vol 1. H. Eric E. 152/2000 tentang Universitas sebagai Badan Hukum Milik Negara. Vol III. Kemana Arah Kebiajakan Pembiayaan Kesehatan Kita. Public Finance. Departemen AKK FKMUI. Peraturan Pemerintah No. Pandangan Akademisi ttg RSUD 19 . H. Suprijanto. Florence. 2001 Masulili. Kenneth E. Thabrany. Jurnal MARSI. Departemen AKK FKMUI. 1999: p61-63 Sapti. Makalah disampaikan pada Seminar Public-Private Mix in Health Care. N. Chalik. Kebijakan Pemda DKI dalam Tidak RS. Rumah Sakit BUMN/BUMD Menjebak Diri. 10:523-538. No 1. Health Affairs. Barang publik dan barang swasta. PP 35/93 tentang Penunjukkan PT Jamsostek sebagai pengelola Program Jamsostek Reinhardt. Boston. 19 (6):187194 1 Pasal 4. Harian Pelita 20 Oktober 2000 Thorpe. PP 2/92 tentang Pembentukan dan Penujukkan PT Asuransi Kesehatan Indonesia sebagai pengelola JPK PNS. Tong and Rosenman Robert. Rumah Sakit Perjan: Kebijakan Salah Kaprah. 19 (6):178-185 Rijadi. Makalah disampaikan pada Diskusi Publik Privatisasi RSUD DKI. Health Affairs. 2-3 Mei 2001. no 2 2002 Thabrany. Peraturan Pemerintah No.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->