You are on page 1of 26

I.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam rangka pemanfaatan sumberdaya ikan di laut, para nelayan menggunakan
berbagai jenis kapal penangkap ikan yang berbeda baik ditinjau dari ukuran maupun
dari bahan baku pembuatan kapal. Kapal-kapal tersebut kondisinya juga sangat
beragam, dari yang bersifat tradisional sampai dengan yang memanfaatkan teknologi
maju yang terus disesuaikan sejalan dengan kemajuan dan perkembangan teknologi itu
sendiri. Demikian pula dengan alat tangkap yang digunakan kapal ikan itu terdiri dari
yang sangat sederhana sampai dengan alat tangkap modern.
Di samping itu, kegiatan perikanan merupakan suatu kegiatan ekonomi Sehingga
usaha perikanan harus dapat dilakukan secara berkesinambungan dan lestari. Dalam
upaya menjaga kelestarian sumberdaya ikan dan kelangsungan usaha penangkapan
ikan, Indonesia sudah bertekad untuk melaksanakan Code of Conduct for Responsible
Fsheries (CCRF). Salah satu upaya implementasinya, antara lain menggunakan kapal
penangkap ikan yang “layak tangkap”. Layak tangkap meliputi kesesuaian kapal dengan
alat tangkap dan peralatan bantu penangkapan yang digunakan. Di samping itu,
termasuk juga upaya-upaya yang dilakukan dalam mempertahankan mutu ikan yang
mencakup kondisi peralatan fasilitas pendinginan di dalam palkah ikan dan sistem
penanganan atau pendinginan yang ada di kapal.
Dalam melakukan kegiatan ekonomi di bidang perikanan, kapal sebagai sarana
produksi harus memenuhi berbagai kondisi kelayakan yang diatur oleh perundang-
undangan serta kode etik kegiatan perikanan. Dari segi pelayaran kapal harus laik laut
sehingga menjamin keamanan dari para awak kapal dan juga keselamatan kapal dalam
pelayaran itu sendiri. Dari segi perikanan kapal ikan harus layak tangkap dan mengacu
pada persyaratan-persyaratan mengenai penggunaan peralatan penangkapan yang
sesuai dengan kapal dan juga memenuhi peraturan yang ada.
Dalam rangka menjamin keberhasilan operasional kapal penangkapan ikan, perlu
dilakukan upaya peningkatan dalam pengawasan terhadap alat kelengkapan yang ada.
Pengawasan antara lain dilakukan dengan cara pengukuran dan pengujian sarana
penangkapan ikan yang digunakan dalam hal ini kapal perikanan. Untuk memperoleh
ketepatan pengukuran pengujian dan kapal perikanan diperlukan peningkatan
kemampuan petugas di lapangan, karena kenyataan di lapangan bahwa petugas
pendaftaran dan pemeriksa fisik dan dokumen kapal perikanan mempunyi latar belakang
pendidikan beraneka ragam dan keterbatasan ilmu pengetahuan dan teknologi
perkapalan, maka diperlukan peningkatan kemampuan antara lain dilakukan melalui
Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Identifikasi dan Pengukuran Kapal Perikanan.

1
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
1.2 Tujuan dan Sasaran
Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Prosedur Pengukuran dan Pengujian Kapal
Perikanan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman di bidang pengukuran dan
pengujian kapal perikanan, sehingga akan didapatkan tenaga yang terampil dalam
pelaksanaan pengukuran dan pengujian.
Sedangkan sasaran dari Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) Identifikasi dan
Pengukuran Kapal Perikanan adalah menyeragamkan rumusan ketentuan Identifikasi
dan Pengukuran Kapal Perikanan serta unutk meningkatkan pemahaman dan kesadaran
petugas pendaftaran dan pemeriksa fisik dan dokumen kapal perikanan tentang
prosedur Identifikasi dan Pengukuran Kapal Perikanan.

1.3 Ruang Lingkup


Kapal penangkap ikan sangat tergantung dari alat penangkap ikan yang
digunakan untuk operasi penangkapan ikan, sehingga akan mempengaruhi bentuk
konstruksi kapal.
Adapun ruang lingkup penyusunan petunjuk pelaksana (Juklak) pengukuran
kapal perikanan mencakup : 1) Pengertian kapal perikanan yang meliputi pengertian dan
batasan kapal perikanan, klasifikasi kapal perikanan berdasarkan statistik perikanan
Indonesia dan FAO (Food and Agriculture Organization); 2) Bahan dan peralatan dalam
pengukuran kapal perikanan; 3) Cara identifikasi kapal perikanan yang meliputi
pengukuran dimensi utama kapal, menentukan koefisien bentuk kapal dan menentukan
besaran kapal perikanan.
Cara pengukuran kapal perikanan menggunakan metode pengukuran kapal
sesuai dengan International Convention on Tonnage Measurement of Ship (TMS, 1969).

1.4 Landasan Hukum


1) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.
2) Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran;
3) Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
4) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1984 Tentang Pengelolaan Sumberdaya
alam Hayati di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia.
5) Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha Perikanan. Jo. No.
141 Tahun 2000.
6) Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan.
7) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10 Tahun 2002 tentang
Perizinan Usaha Perikanan.
8) Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 6 Tahun 2005 tentang Pengukuran
Kapal. (*)

2
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
II. PENGERTIAN KAPAL PERIKANAN

2.1 Pengertian dan Batasan Kapal Perikanan


1) Kapal perikanan adalah kapal, perahu atau alat apung lain yang digunakan
untuk melakukan penangkapan ikan, mendukung operasi penangkapan ikan,
pembudidaya ikan, pengangkut ikan pengolah ikan, pelatihan perikanan, dan
penelitian/ eksplorasi perikanan.
2) Kapal penangkap ikan adalah kapal yang secara khusus dipergunakan untuk
menangkap ikan, termasuk menampung, menyimpan, mendinginkan, atau
mengawetkan.
3) Kapal pengangkut ikan adalah kapal yang secara khusus dipergunakan untuk
mengangkut ikan, termasuk memuat, menampung, menyimpan, mendinginkan,
atau mengawetkan.
4) Satuan armada penangkapan ikan adalah kelompok kapal perikanan yang
dipergunakan untuk menangkap ikan jenis pelagis yang bermigrasi dan
dioperasikan dalam satu kesatuan sistem operasi penangkapan atau dalam satu
kesatuan manajemen usaha, yang terdiri dari kapal penangkap ikan, kapal
pembantu penangkap ikan, dan kapal pengangkut ikan, atau kelompok kapal
penangkap ikan dan pengangkut ikan dalam satu manajemen usaha penangkapan
ikan

2.2 Klasifikasi Kapal Perikanan


2.2.1 Klasifikasi berdasarkan Statistik Perikanan Indonesia
Berdasarkan statistik perikanan tangkap Indonesia kategori dan ukuran perahu/
kapal perikanan untuk setiap jenis alat tangkap dibedakan berdasarkan 2 (dua) kategori,
yaitu : 1) perahu tanpa motor (non-powered boat) dan perahu/ kapal (powered boat),
seperti terlihat pada tabel 1.
Tabel 1. Kategori dan ukuran perahu/ kapal.
No Katagori Perahu/ Kapal
1 Kapal Tanpa Jukung
Motor (Non-
Powered Boat) Kecil
Perahu Papan
Sedang
(Plank Built Boat)
Besar
2 Perahu/ Kapal Motor Tempel
(Powered Boat) Kapal Motor <5 GT
5 - 10 GT
10 - 20 GT
20 - 30 GT
30 - 50 GT
50 - 100 GT
100 - 200 GT
200 - 300 GT
300 - 500 GT
500 - 1000 GT
>= 1000 GT

3
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
2.2.2 Klasifikasi Berdasarkan FAO (Food and Agriculture Organization)
Sesuai dengan Standar International Klasifikasi Statistik Kapal Perikanan
(International Standard Statistical Classification of Fishing Vessels, ISSCFV – FAO 1985),
kapal perikanan terbagi atas 2 (dua) jenis kapal perikanan, yakni :
1. Jenis kapal penangkap ikan, dan
2. Jenis kapal bukan penangkap ikan (kapal perikanan lainya).
Jenis kapal penangkap ikan terbagi atas 11 (sebelas) tipe kapal dan kapal
perikanan lainya terbagi atas 7 (tujuh) tipe kapal. Klasifikasi kapal dengan menggunakan
”singkatan standar” dan ”kode ISSCFV” sesuai dengan Standar International Klasifikasi
Statistik Kapal Perikanan, seperti terlihat pada tabel 2.
Tabel 2. Klasifikasi kapal perikanan.
Singkatan Kode
No. Klasifikasi Kapal Perikanan
Standar ISSWCFV
1 KAPAL PENANGKAP IKAN
a. Kapal Pukat Tarik TO 01.0.0
1) Kapal pukat tarik samping TS 01.1.0
a) Perikanan basah TSW 01.1.1
b) Pembekuan Ikan TSF 01.1.02
2) Kapal pukat tarik buritan TT 01.2.0
a) Perikanan basah TTW 01.2.1
b) Pembekuan Ikan TTF 01.2.2
C) Pabrikan TTP 01.2.3
3) Kapal pukat tarik TU 01.3.0
4) Kapal pukat tarik tdt *) TOX 01.9.0
b. Kapal Pukat SO 02.0.0
1) Kapal pukat cincin SP 02.1.0
a) Tipe Amerika Utara SPA 02.1.1
b) Tipe Eropa SPE 02.1.2
2) Kapal pukat cincin tuna SPT 02.1.3
3) Kapal pukat kantong SN 02.2.0
4) Kapal pukat tdt *) SOX 02.9.0
c. Kapal Penggaruk DO 03.0.0
1) Menggunakan penggaruk perahu DB 03.1.0
2) Menggunakan penggaruk mekanis DM 03.2.0
3) Kapal penggaruk tdt *) DOX 03.9.0
d. Kapal Jaring Angkat NO 04.0.0
1) Menggunakan perahu untuk NB 04.1.0
pengoperasian jaring
2) Kapal Jaring Angkat tdt *) NOX 04.9.0
e. Kapal Jaring Insang GO 05.0.0
f. Kapal Pemasang Perangkap WO 06.0.0
1) Kapal pemasang perangkap WOP 06.1.0
2) Kapal pemasang perangkap tdt *) WOX 06.9.0
g. Kapal Tali Pancing LO 07.0.0
1) Kapal pancing tangan LH 07.1.0
2) Kapal rawai LL 07.2.0
3) Kapal rawai tuna LLT 07.2.1
4) Kapal pancing joran (huhate) LP 07.3.0
a) Tipe Jepang LPJ 07.3.1
b) Tipe Amerika LPA 07.3.2
5) Kapal pancing tunda LT 07.4.0
6) Kapal tali pancing tdt *) LOX 07.9.0

4
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
Singkatan Kode
No. Klasifikasi Kapal Perikanan
Standar ISSWCFV
h. Kapal Menggunakan Pompa untuk penangkapan PO 08.0.0
i. Kapal Serba Guna/Aneka guna MO 09.0.0
1) Kapal pukat pancing tangan MSN 09.1.0
2) Kapal pukat tarik - pukat cincin MTS 09.2.0
3) Kapal pukat tarik- jaring hanyut MTG 09.3.0
4) Kapal serba guna tdt *) MOX 09.9.0
j. Kapal penangkapan untuk Rekreasi RO 10.0.0
k. Kapal penangkapan tidak ditetapkan FX 49.0.0

2 KAPAL PERIKANAN LAINNYA


a. Kapal Induk HO
1) Kapal induk - ikan asin HSS 11.1.0
2) Kapal induk - pabrik HSF 11.2.0
3) Kapal induk - tuna HST 11.3.0
4) Kapal induk untuk dua kapal pukat cincin HSP 11.4.0
5) Kapal induk tdt *) HOX 11.9.0
b. Kapal Pengangkut FO 12.0.0
c. Kapal Rumah Sakit KO 13.0.0
d. Kapal Survei dan Perlindungan BO 14.0.0
e. Kapal Riset Perikanan ZO 15.0.0
f. Kapal Latih Perikanan CO 16.0.0
g. Kapal Perikanan Lainnya tdt *) VOY 99.0.0

Keterangan : (* tdt = tidak diidentifikasi di semua tempat)

5
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
III. BAHAN DAN PERALATAN

3.1 Bahan
Pelaksanaan identifikasi dan pengukuran kapal perikanan dengan menggunakan
bahan/ objek, sebagai berikut :
1. Gambar desain kapal
2. Bangunan kobstruksi kapal
3. Formulir isian ”Pengukuran data teknis dimensi utama kapal” (lampiran. 1)
Dalam memperoleh data teknis yang akurat dan teliti megenai dimensi kapal, sebaiknya
pengukuran dilakukan pada saat kapal di atas galangan kapal (dock yard).

3.2 Peralatan
Peralatan yang dibutuhkan dalam pengidentifikasian dan pengukuran kapal
perikanan, dilakukan dengan pengukuran secara langsung dengan menggunakan
peralatan pengukuran, sebagai berikut :
1. Roll meter pendek (5 meter);
2. Roll meter panjang (50 meter);
3. Water level;
4. Unting-unting/ bandul bertali (plumb line).

6
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
IV. PENGUKURAN KAPAL PERIKANAN

4.1 Teknis
Kapal perikanan memiliki dimensi/ ukuran utama dan koefisien bentuk kapal,
yang tergantung dari peruntukannya sehingga mempengaruhi karakteristik konstruksi
kapal.
4.1.1 Gambar desain kapal
Umumnya bangunan konstruksi kapal yang didaftar dengan tanda kelas dalam
klasifikas Indonesia telah dilengkapi gambar desain kapal, antara lain :
1. Gambar rancang garis (lines plan)

Gambar 1. Gambar rancang garis (lines plan)

7
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
2. Gambar rancana umum (general arrangement)

pandangan samping

Geladak utama

Palkah

Geladak atas

Gambar 2. Gambar rancana umum (general arrangement)

8
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
3. Gambar konstruksi profil (profile construction)

Gambar 3. Gambar konstruksi profil (profile construction)

9
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
4. Gambar penampang melintang atau gading besar (midship section)

Gambar 4. Gambar penampang melintang atau gading besar (midship section)

4.1.2 Dimensi/ ukuran utama kapal


Untuk mengukur dimensi utama kapal, sebaiknya bangunan konstruksi kapal
dalam keadaan lunas rata (even keel) dan diupayakan bangunan konstruksi kapal
berada di atas galangan kapal. Hal ini disebabkan untuk memudahkan pengukuran
panjang garis air dan panjang garis tegak kapal serta kedalaman kapal yang berada di
bawah permukaan air laut. Adapun pengertian teknis mengenai dimensi/ ukuran utama
dan koefisien bentuk kapal adalah sebagai berikut :
a. Panjang kapal
1) Panjang seluruh kapal (Length over all, Loa) adalah jarak mendatar
antara ujung depan linggi haluan sampai dengan ujung belakang linggi
buritan kapal.

10
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
2) Panjang garis geladak kapal (Length deck line, Ldl) adalah jarak
mendatar antara sisi depan linggi haluan sampai dengan sisi belakang linggi
buritan yang diukur pada garis geladak utama atau geladak kekuatan.
3) Panjang garis air kapal (Length water line, Lwl) adalah jarak mendatar
antara sisi belakang linggi haluan sampai dengan sisi depan linggi buritan,
yang diukur pada garis air muatan penuh.
4) Panjang garis tegak kapal (Length between perpendicular, Lbp) adalah
jarak mendatar antara garis tegak haluan sampai dengan garis tegak buritan/
sumbu poros kemudi kapal, yang diukur pada garis air muatan penuh.
5) Panjang kapal (Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM 6 Tahun 2005
tentang Pengukuran Kapal, p) adalah panjang yang diukur pada 96 % dari
panjang garis air dengan sarat 85 % dari ukuran dalam terbesar yang
terendah diukur dari sebelah atas lunas, atau panjang garis air tersebut
diukur dari linggi haluan sampai ke sumbu poros kemudi, apabila panjang ini
yang lebih besar.

Gambar 5. Mengukur panjang kapal

b. Lebar kapal
1) Lebar maksimum kapal (Breadth maximum, Bmax) adalah jarak mendatar
antara sisi-sisi luar dari pisang-pisang atau fender kapal, yang diukur pada
lebar kapal terbesar.
2) Lebar garis geladak kapal (Breadth deck line, Bdl atau Breadth moulded,
Bmld) adalah jarak mendatar antara sisi-sisi luar kulit kapal, yang diukur
pada garis tepi geladak dan dipertengahan panjang garis tegak kapal.
3) Lebar garis air kapal (Breadth water line, Bwl) adalah jarak mendatar
antara sisi-sisi luar kulit kapal, yang diukur pada garis muatan penuh dan
dipertengahan panjang garis tegak kapal.

11
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
Gambar 6. Mengukur lebar kapal

c. Tinggi kapal
1) Tinggi maksimum kapal (Height atau Depth maximun, Hmax atau Dmax)
adalah jarak vertikal atau tegak antara garis dasar/ garis sponeng bawah
sampai dengan garis atau sisi atas pagar kapal, yang diukur pada
pertengahan panjang garis tegak kapal.
2) Tinggi kapal atau tinggi geladak kapal (Height, H atau Depth, D) adalah
jarak vertikal atau tegak antara garis dasar/ garis sponeng bawah sampai
dengan garis atau sisi atas geladak pada garis tepi geladak utama, yang
diukur pada pertengahan panjang garis tegak kapal.
3) Sarat air kapal (Draught atau draft, d) adalah jarak vertikal/ tegak antara
garis dasar sampai dengan garis air muatan penuh atau tanda lambung
timbul kapal untuk garis muat musim panas, yang diukur pada pertengahan
panjang garis tegak kapal.

Gambar 7. Mengukur tinggi atau dalam kapal

12
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
Gambar 8. Mengukur sarat air kapal

4.1.3 Koefisien bentuk kapal


1. Koefisien balok (Block coefficient, Cb)
Koefisien balok adalah nilai perbandingan antara volume badan kapal yang berada
dibawah permukaan air dengan volume balok yang membatasinya atau yang
dibentuk oleh panjang, lebar dan tinggi balok.

Gambar 9. Penentuan koefisien balok

Adapun formula untuk menghitung koefisien balok (Cb) badan kapal yang berada
dibawah air adalah :

Cb = ..................................................................................... (1)
LwlxBwlxd
Keterangan :
Cb = Koefisien balok kapal
= Volume displacement kapal (m3)
Lwl = Panjang garis air kapal (m)
Bwl = Lebar garis air kapal (m)
d = Sarat air kapal (m)

2. Koefisien gading besar (Midship coefficient, Cm)


Koefisien gading besar adalah nilai perbandingan antara luasan penampang gading
yang berada di bawah permukaan air dengan luas penampang empat persegi
panjang yang membatasinya atau yang dibentuk oleh lebar dan tinggi empat persegi
panjang.

13
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
Adapun formula untuk menghitung koefisien gading besar (Cm) luasan penampang
gading yang berada di bawah permukaan air adalah :
Am
Cm = .......................................................................................... (2)
Bwlxd
Keterangan :
Cm = Koefisien gading besar kapal
Am = Luasan penampang gading besar (m2)
Bwl = Lebar garis air kapal (m)
d = Sarat air kapal (m)

Luas Penampang
Gading Besar

Gambar 10. Penentuan koefisien balok

3. Koefisien garis air (Water iine coefficient, Cwl)


Koefisien garis air adalah nilai perbandingan antara luasan penampang garis air
dengan luas penampang empat persegi panjang yang membatasinya atau yang
dibentuk oleh panjang dan lebar empat persegi panjang.

Gambar 11. Penentuan koefisien garis air


Adapun formula untuk menghitung koefisien garis air (Cwl) luasan penampang garis
air adalah :

14
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
Aw
Cw = ....................................................................................... (3)
LwlxBwl
Keterangan :
Cw = Koefisien garis air
Aw = Luasan penampang garis air (m2)
Lwl = Panjang garis air kapal (m)
Bwl = Lebar garis air kapal (m)

4. Koefisien Prismatik (Prismatic Coefficient, Cp)


a) Koefisien prismatik memanjang (longitudinal prismatic coefficient : Cpl) adalah
nilai perbandingan antara volume badan kapal yang berada dibawah permukaan
air dengan volume prisma yang membatasinya kearah memanjang kapal atau
yang dibentuk oleh luas penampang gading besar dan panjang prisma.
Adapun formula untuk menghitung koefisien prismatik (Cpl) badan kapal yang
berada dibawah permukaan air secara memanjang adalah :

∇ Cb
Cpl = atau Cpl = .................................................. (4)
Amx ∇xLwl Cm
Keterangan :
Cpl = Koefisien prismatik memanjang kapal
= Volume displacement (m3)
Am = Luasan penampang gading besar (m2)
Lwl = Panjang garis air kapal (m)
Cb = Koefisien balok
Cm = Koefisien gading besar

b) Koefisien prismatik melintang (Vertical Prismatic Coefficient, Cpv) adalah nilai


perbandingan antara volume badan kapal yang berada dibawah permukaan air
dengan volume prisma yang membatasinya kearah melintang kapal atau yang
dibentuk oleh luas penampang garis air dan tinggi prisma.
Adapun formula untuk menghitung koefisien prismatik (Cpv) badan kapal yang
berada dibawah permukaan air secara melintang adalah :

∇ atau Cb .................................................. (5)


Cpv = Cpv =
Awx ∇xd Cw
Keterangan :
Cpv = Koefisien prismatik melintang kapal
= Volume displacement kapal (m3)
Aw = Luasan penampang garis air (m2)
d = Sarat air kapal (m)
Cb = Koefisien balok
Cw = koefisien garis air

15
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
4.2 Besaran Kapal
Terdapat beberapa cara dalam menentukan besaran kapal perikanan,
diantaranya sebagai berikut :
1. Volume displacement kapal
Volume displacement kapal merupakan volume badan kapal yang berada di bawah
permukaan air, dimana besaran yang dihasilkan merupakan hasil perkalian panjang,
lebar, tinggi sarat air (pada garis air muat penuh) dengan koefisien balok (block
coefficient, Cb)
2. Displacement kapal
Displacement kapal merupakan volume kapal apabila kapal berlayar di perairan
dalam hal ini perairan laut, yang dihasilkan dari perkalian antara Volume
displacement dengan berat jenis air laut
3. Tonnage atau Gross Tonnage (GT) kapal
Pengukuran besaran volume kapal perikanan dilakukan pada bagian ruangan –
ruangan yang tertutup dan dianggap kedap air yang berada di dalam kapal dan
dinyatakan dalam Gross Tonnage kapal dengan menggunakan satuan ”Register
Tonnage (1 RT = 100 ft3 = 2,8328 m3). Volume ruangan tertutup dalam kapal terdiri
dari volume ruang tertutup yang terdapat di bagian atas dan bawah dari geladak
utama.
Dimana geladak utama kapal adalah geladak kapal yang menyeluruh dari haluan
sampai buritan kapal, yang dianggap sebagai geladak kekuatan kapal. Sebagian
besar kapal perikanan memiliki 1 (satu) geladak kapal, maka geladak utama sama
dengan geladak kekuatan kapal.
Bangunan di atas kapal (super structure) merupakan bangunan kapal yang terletak
di atas geladak utama dan mempunyai lebar bangunan atas sama dengan moulded
kapal. Apabila lebar bangunan atas lebih kecil dari 96 % lebar moulded kapal, maka
bangunan di atas geladak utama dianggap sebagai rumah geladak (deck house).

Gambar 9. Ruangan tertutup di bawah geladak utama

16
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
Gambar 10. Ruangan tertutup di atas geladak utama

Sesuai dengan ”International Convention on Tonnage Measurment of Ship, TMS


1969”, maka menentukan tonnage atau gross tonnage kapal dilakukan dilakukan
dengan formula sebagai berikut :
a) Panjang seluruh kapal kurang dari sama dengan 24 meter (≤ 24 m)
Metode pengukuran dalam negeri berdasarkan TSM 1969 digunakan bagi kapal
yang memiliki panjang seluruh kapal (Loa) kurang dari sama dengan 24 meter
(≤ 24 m). Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : KM 6
Tahun 2005 tentang Pengukuran Kapal metode pengukuran dalam
negeri (*) adalah sebagai berikut :

GT = 0,25 xV ............................................................................. (6)

Keterangan :
GT = Gross Tonnage atau tonase kotor (RT)
0,25 = faktor
V = Volume ruang tertutup yang berada dalam kapal (m3)
V1 = Volume ruangan di bawah geladak utama (m3)
V2 = Volume ruangan di atas geladak utama (m3)

a.1) Ruangan tertutup di bawah geladak


V1 = LdlxBdlxDx F ....................................................................... (6.1)

Keterangan :
V1 = Volume ruangan di bawah geladak utama (m3)

17
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
Ldl = Panjang (m), diperoleh dengan dengan mengukur jarak
mendatar antara titik temu sisi luar kulit lambung dengan linggi
haluan dan linggi buritan pada ketinggian geladak atas pada
bagian sebelah atas dari rimbat tetap (*)
Bdl = Lebar (m), diperoleh dengan mengukur jarak mendatar antara
kedua sisi luar kulit lambung pada bagian kapal yang terlebar,
tidak termasuk pisang-pisang (*)
D = Tinggi (m), diperoleh dengan mengukur jarak tegak lurus
ditengah-tengah lebar pada bagian kapal yang terlebar dari
sebelah bawah alur lunas sampai bagian bawah geladak atau
samapai garis melintang kapal yang ditarik melalui kedua sisi
atas rimbat tetap (*)
F = Faktor (*)
a) 0,85 = bagi kapal-kapal dengan bentuk dasar rata, secara
umum digunakan bagi kapal tongkang.
b) 0,70 = bagi kapal-kapal dengan bentuk dasar agak miring
dari tengah ke sisi kapal, secara umum digunakan
bagi kapal motor.
c) 0,50 = bagi kapal-kapal yang tidak termasuk golongan (a)
dan (b), secara umum bagi kapal layar atau kapal
layar motor.

Gambar 11. Volume tertutup di bawah geladak utama

a.2) Ruangan tertutup di atas geladak


V2 = l xb( r ) xd ( r ) .......................................................................... (6.2)

Keterangan :
V2 = Volume ruangan di atas geladak utama (m3)
l = Panjang ruangan (m), diukur hingga kesebelah dalam kulit atau
plat dingding (*)
b(r) = Lebar rata-rata (m), diukur hingga kesebelah dalam kulit atau
plat dingding (*)
d(r) = Tinggi rata-rata (m), tinggi ruang bangunan atas diukur dari
sebelah atas geladak sampai sebelah bawah geladak diatasnya;
tinggi kepala palkah diukur dari sebelah bawah geladak sampai
sebelah bawah tutup kepala palkah (*)

18
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
Gambar 12. Volume tertutup di atas geladak utama
Catatan
Umumnya ruangan tertutup di atas geladak utama terdiri dari :
a. Ruangan di depan kapal : akil (fore castle),
b. Ruangan di tengah kapal : anjungan (bridge),
c. Ruangan di belakang kapal : kimbul (poop),
d. Ruangan tutup palka (muatan, gudang dan motor atau mesin),
e. Ruangan yang berbentuk balok atau kotak mempunyai koefisien balok
:Cb = 1,00
f. Ruangan di bawah geladak terpenggal, baik yang berada di haluan
maupun di buritan kapal dan mengikuti kelengkungan bentuk kapal,
maka koefisien baloknya sama dengan koefisien balok kapal.
Note :
Tonase bersih (NT) ditetapkan sebesar 30 % dari Tonase Kotor (GT) atau dalam
bentuk rumus sebagai berikut :
NT = 0,30xGT .......................................................................... (7)

b) Panjang seluruh kapal lebih besar dari 24 meter (≥ 24 m)


Metode pengukuran internasional berdasarkan TSM 1969 digunakan bagi kapal
yang memiliki panjang seluruh kapal (Loa) lebih besar dari sama dengan 24
meter (> 24 m). Berdasarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor :
KM 6 Tahun 2005 tentang Pengukuran Kapal metode pengukuran
dalam negeri (*) adalah sebagai berikut :
GT = kxV ..................................................................................... (8)

Keterangan :
GT = Gross Tonnage atau tonase kotor
k = koefisien
k = 0,2 + 0,02 log102 atau menggunakan tabel
koefisien : k fung dari volume ruangan tertutup
:v, seperti terlihat pada tabel 3.
V = Volume ruang tertutup yang berada dalam kapal (m3)
V1 = Volume ruangan di bawah geladak utama (m3)
V2 = Volume ruangan di atas geladak utama (m3)

19
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
Tabel 3. Koefisien : k Untuk mengukur tonnage/ gross tonnage (GT) dengan
formula internasional

b.1) Ruangan tertutup di bawah geladak


Definisi satuan dalam pengukuran dimensi kapal untuk ruangan tertutup di
bawah geladak adalah sebagi berikut :
• Panjang geladak ukur (m), diperoleh dengan dengan mengukur
jarak mendatar pada tengah-tengah lebar kapal antara titik temu
bagian bawah geladak ukur dengan bagian dalam linggi haluan dan
linggi buritan pada kapal yang terbuat dari bahan logam dan
fibreglass (sisi luar kulit lambung denga nlinggi haluan dan linggi

20
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
buritan pada kapal yang terbuat dari bahan selain logam dan
fibreglass). (*)
• Lebar penampang (m), digunakan untuk menghitung luas
penampang melintang diukur samapi kegaris acuan (bagian luar)
gading-gading untuk kapal-kapal yang kulitnya terbuat dari logam
atau fiberglass dan sampai ke permukaan luar badan kapal untuk
kapal yang kulitnya terbuat dari bahan selain logam atau fiberglass.
(*)
• Tinggi penampang melintang (m), dengan mengukur jarak tegak
lurus pada tengah-tengah lebar kapal dari sebelah bawah geladak
ukur sampai sebelah atas bagian dasar lunas pada kapal yang
dibangun dari logam atau fiberglass dan samapai sebelah bawah alur
lunas pada kapal yang dibangun dari selain logam atau fiberglass. (*)
• Lengkung geladak ditetapkan dengan mengukur jarak tegak lurus
pada tengah-tengah lebar kapal dari sebelah bawah geladak sampai
garis melintang yang menghubungkan titik potong bagian bawah
geladak dengan sisi bagian dalam kulit pada kedua sisi lambung.
Tinggi lengkung geladak dikoreksi dengan memperhatikan bentuk
lengkung geladak sebagai berikut :
a. Dikurangi 1/3 tinggi lengkung geladak jika geladak melengkung
searah melintang kapal atau jika geladak sebagian melengkung
dan sebagian lagi miring lurus;

Gambar 13. Lengkung geladak miring

b. Dikurangi ½ tinggi lengkung geladak jika lengkung geladak


berbentuk segitiga;

Gambar 14. Lengkung geladak berbentuk segitiga

21
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
c. Pengurangan untuk lengkung geladak yang berbentuk trapesium
dihitung dengan rumus :

Gambar 15. Lengkung geladak berbentuk trapesium

ax(B − b) ) ...............................................
Pengurangan = (9)
2B
Keterangan :
a = tinggi lengkung geladak (m)
b = lebar bagian geladak yang mendatar (m)
B = lebar teratas penampang melintang (m)

Adapun Pengukuran dan perhitungan volume ruangan dibawah


geladak ukur dilakukan dengan geladak ukur sebagai berikut :
- Geladak ukur dibagi sejumlah bagian yang jaraknya sama berdasarkan
panjang geladak ukur sebagai berikut :
Panjang sampai dengan kurang dari 15 meter dibagi 4
15 meter sampai dengan kurang dari 30 meter dibagi 6
30 meter sampai dengan kurang dari 45 meter dibagi 8
45 meter sampai dengan kurang dari 60 meter dibagi 10
60 meter sampai dengan kurang dari 75 meter dibagi 12
75 meter sampai dengan kurang dari 90 meter dibagi 14
90 meter sampai dengan kurang dari 105 meter dibagi 16
105 meter sampai dengan kurang deari 120 meter dibagi 18
120 meter atau lebih dibagi 20
Dua bagian terakhir di haluan dan buritan masing-masing dibagi 2
(dua) yang jaraknya sama panjang.

- Pada setiap posisi titik bagi, termasuk kedua titik ujung dari panjang
geladak ukur diambil penampang melintang tegak lurus pada bidang
tengah, sejajar dengan sekat-sekat melintang kapal atau gading-gading
dan diberi nomor urut mulai dari depan ke belakang.
- Tinggi sebagaimana dimaksud dalam dari setiap penampang melintang
dibagi menjadi sejumlah bagian yang jaraknya sama berdasarkan tinggi
penampang melintang, sebagai berikut :

22
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
Tinggi sampai dengan 6 meter dibagi 5;
Tinggi lebih dari 6 meter dibagi 7
Bagian paling bawah dari pembagian tinggi tersebut dibagi 2 (dua) ang
jaraknya sama panjang.
- Pada setiap posisi titik bagi, termasuk titik paling bawah dan titik paling
atas dari tinggi penampang melintang diambil ukuran lebar dan diberi
nomor urut, dimulai dari bawah ke atas.
- Luas penampang melintang dihitung sebagai berikut :
Lebar pertama dikalikan faktor 0,5;
Lebar kedua dikalikan faktor 2;
Lebar ketiga dikalikan faktor 1,5;
Lebar lainnya yang bernomor genap dikalikan faktor 4 dan yang
bernomor ganjil dikalikan faktor 2;
Lebar teratas dikalikan faktor 1.
Luas penampang melintang diperoleh dengan mengalikan sepertiga dari
jarak titik bagi tinggi dengan jumlah hasil perkalian lebar-lebar tersebut
atau ditulis dalam bentuk rumus sebagai berikut :
Luas penampang melintang = 1/3 x jt x ∑A .................. (10)

Catatan :
Jt = jarak titik bagi tinggi ; dan
∑ A = jumlah hasil perkalian lebar-lebar dengan faktor tersebut
diatas

- Perhitungan luas penampang untuk kapal dengan konstruksi dasar yang


tidak seperti biasa dilakukan dengan membagi menjadi beberapa
bagian.
- Volume ruangan dibawah geladak ukur dihitung sebagai berikut :
1) Panjang geladak ukur dibagi 4 (empat) bagian;
Luas penampang nomor 1, 1 ½, 2, 2 1/2 , 3, 3 ½, 4, 4 ½, dan 5
secara berurut dikalikan dengan faktor ½, 2, 1, 2, 1, 2, 1, dan ½.
2) Panjang geladak ukur dibagi 6 (enam) bagian :
Luas penampang nomor 1, 1 ½, 2, 2 ½, 3, 4, 5, 5 ½, 6, 6 ½ dan 7
secara berurut dikalikan dengan faktor ½, 2, 1, 2, 1 ½, 4, 1 ½, 2,
1, 2 dan ½.
3) Panjang geladak ukur dibagi 8 (delapan) bagian :
Luas penampang nomor 1, 1 ½, 2, 2 ½ dan 3 secara berurut
dikalikan dengan faktor ½, 2, 1, 2, 1 ½, luas penampang-
penampang bagian akhir yaitu nomor 7, 7 ½, 8, 8 ½ dan 9 secara
berurut dikalikan dengan faktor 1 ½, 2, 1, 2, 1/2 , luas penampang
lainnya yang bernomor genap dikalikan dengan faktor 4, yang
bernomor ganjil dikalikan dengan faktor 2.

23
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
4) Panjang geladak ukur dibagi 10 (sepuluh) bagian atau lebih :
Ketentuan tersebut pada huruf g.3) berlaku untuk panjang geladak
ukur yang dibagi 10 bagian atau lebih dengan mengganti nomor
penampang-penampang bagian akhir sesuai jumlah pembagian
geladak.

Volume ruangan dibawah geladak ukur diperoleh dengan


mengalikan sepertiga jarak antara titik-titik bagi dari panjang
geladak ukur dengan jumlah perkalian luas penampang-
penampang sebagaimana dimaksud pada butir 1 huruf g angka 1),
2), 3) dan 4) atau ditulis dalam bentuk rumus sebagai berikut :

Volume ruangan dibawah geladak ukur = V1 = 1/ 3 xJPx ∑ LP ....... (11)

Catatan :
Jp = jarak titik bagi panjang geladak ukur penggal
∑ Lp = jumlah hasil perkalian luas penampang-penampang
melintang dengan faktor-faktor dimaksud pada butir 1 huruf
g 1), 2), 3) dan 4).

b.2) Ruangan tertutup di atas geladak


V2 = l xb( r ) xd ( r ) .......................................................................... (10)

Keterangan :
V2 = Volume ruangan di atas geladak utama (m3)
l = Panjang ruangan (m), diukur hingga kesebelah dalam kulit atau
plat dingding (*)
b(r) = Lebar rata-rata (m), diukur hingga kesebelah dalam kulit atau
plat dingding (*)
d(r) = Tinggi rata-rata (m), tinggi ruang bangunan atas diukur dari
sebelah atas geladak sampai sebelah bawah geladak diatasnya;
tinggi kepala palkah diukur dari sebelah bawah geladak sampai
sebelah bawah tutup kepala palkah (*)

Gambar 14. Volume tertutup di bawah dan atas geladak utama

24
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
V. PENUTUP

Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal Perikanan diharapkan dapat menjadi


pedoman dan acuan, bagi Petugas Pemeriksa Fisik dan Dokumen Kapal Perikanan baik
Pusat maupun Daerah dalam rangka identifikasi kapal perikanan, dan diharapkan dapat
meningkatkan pemahaman prosedur di bidang pengukuran dan pengujian kapal
perikanan, sehingga akan didapatkan tenaga yang terampil dalam pelaksanaan
pengukuran dan pengujian.

Dengan adanya identifikasi mengenai kapal perikanan yang teliti serta akurat
akan memberikan kemudahan untuk pengenalan dan pengkajian teknis mengenai kelaik
lautan dan kelaik tangkapanya sesuai dengan alat tangkap ikan yang akan dioperasikan
oleh sebuah kapal perikanan. Sehingga pemanfaatan sumbedaya perikanan dapat
berlangsung secara berkesinambungan dan bertanggung jawab, serta terjaminya
kelestarian sumberdaya perikanan.

Akhir kata, kami ingin sampaikan semoga petunjuk pelaksana ini bermanfaat
bagi masyarakat perikanan dan Petugas Pemeriksa Fisik dan Dokumen Kapal Perikanan
dalam pelaksanaan tugasnya.

25
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kelautan dan Perikanan. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor
10 Tahun 2002 tentang Perizinan Usaha Perikanan, Jakarta 2002.
Departemen Perhubungan. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor KM 6 Tahun 2005
tentang Pengukuran Kapal, Jakarta 2005.
Mulyanto, RB dan Syahasta. 2005. Petunjuk Teknis Identifikasi Sarana Perikanan
Tangkap – Kapal Perikanan (Fishing Vessel). Balai Pengembangan Perikanan
Tangkap – Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap – Departemen Kelautan dan
Perikanan, Semarang 2005.
Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi
Eksklusif Indonesia, Jakarta 1983.
Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran, Jakarta
1992.
Republik Indonesia. Undang-undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, Jakarta
2004.
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1984 Tentang Pengelolaan
Sumberdaya alam Hayati di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia, Jakarta 1984.
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1990 tentang Usaha
Perikanan. Jo. No. 141 Tahun 2000, Jakarta 2000.
Republik Indonesia. Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun 2002 tentang Perkapalan,
Jakarta 2002.

26
Petunjuk Pelaksana Pengukuran Kapal

You might also like