Kata Pengantar

HIV/AIDS merupakan salah satu masalah kesehatan di Indonesia. Prevalensi HIV cenderung bertambah tinggi dari tahun ke tahun. Peningkatan ini sejalan dengan peningkatan orang yang melakukan perilaku berisiko tinggi untuk tertular HIV. Pemerintah Indonesia dan lembaga swadaya masyarakat telah banyak melakukan intervensi untuk mengurangi penularan HIV di masyarakat. Sejalan dengan intervensi yang dilakukan, alat tes HIV yang sederhana dan akurat sangat dipelukan. Ketersediaan alat tes HIV yang sederhana, akurat dan ekonomis akan membantu pemerintah maupun lembaga swadaya masyarakat dalam memberikan pelayanan konseling dan tes HIV sukarela maupun pemantauan prevalensi HIV di kelompok berisiko dan masyarakat. OraQuick® merupakan salah satu alat tes yang praktis karena tidak memerlukan darah dan sudah mendapat persetujuan oleh Food and Drug Administration USA maupun Badan POM di Indonesia. Sebelum alat ini dipasarkan dan digunakan secara luas d Indonesia, penelitian tentang akurasi OraQuick® langsung di lapangan pada kelompok berisiko sangat diperlukan. Penelitian uji akurasi ini dapat terselenggara atas dukungan dana dari PT. Biotech Farma sebagai distributor OraQuick® di Indonesia. Kami menghaturkan banyak terima kasih kepada ibu Yeyen Ardianti, direktur PT Biotech Farma, bapak Dodi manajer pemasaran OraQuick® dan bapak M. Ridwan Husni atas kesediaannya untuk mendukung dan membiayai penelitian ini serta menyediakan alat tes OraQuick®. Penelitian ini dapat terselenggara atas bantuan 5 lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pencegahan HIV di Jakarta dan Depok, yaitu: Unit Penjangkauan Kelompok Berisiko HIV/AIDS Puslitkes UI, Yayasan Gerbang, LSM Rempah, Kiosk Universitas Atmajaya, dan Yayasan Kharisma. Atas bantuan mereka mencari subyek penelitian yang mau ikut penelitian ini dengan sukarela, kami juga mengucapkan banyak terima kasih. Kami mengucapkan banyak terima kash juga kepada Laboratorium Klinik RS Duren Sawit yang telah melakukan tes ELISA sebagai baku emas pada penelitian ini. Tidak lupa pula kami mengucapakan banyak terima kasih kepada pada subyek penelitian yang telah secara sukarela bersedia ikut dalam penelitian ini. Kami berharap penelitian ini dapat membawa manfaat bagi program pencegahan HIV di Indonesia. Tiada gading yang tak retak, kami mohon maaf jika ada kekurangan dalam pelaksanaan penelitian maupun penulisan laporan ini.

Depok, 18 Desember 2007 Tim Peneliti Iwan Ariawan, Rita Damayanti, Agus Solichin, Ferdinand P Siagian, Arif Iryawan 
 i
 


7
 3...ii
 Bab
1:
Pendahuluan
……………………………………………………………………………………………………………………...……………………………………………………………………………………………………..1
Karakteristik
Subyek
…………………………………………………………………………………………………6
 3.6
 3..12
 Daftar
Kepustakaan
………………………………………………………………………………………………………………….2 Tujuan
………………………………………………………………………………………………………………………2
 Bab
2:
Metode
Penelitian
…………………………………………………………………………………………………………….…1
 1.1
Uji
Akurasi
OraQuick®……………………………………………………………………………………………….3
 2..i
 Daftar
Isi
…………………………………………………………………………………………………………………………………….3
 
 
 2..2
Prevalensi
HIV
………………………………………………………………………………………………………….15
 
 
 
 ii
 
 .3
Uji
Akurasi
……………………………………………………………………………………………………………….2
Diskusi
Kelompok
Terarah
…………………………………………………………………………………………5
 Bab
3:
Hasil
dan
Pembahasan
……………………………………………………………………………………………………..14
 Lampiran
………………………………………………………………………………………………………………………………….6
 
 
 
 
 3.1
 1.1 Latar
Belakang
.4
Skenario
Aplikasi
OraQuick®
pada
Berbagai
Prevalensi
HIV
………………………………………9
 Bab
4:
Kesimpulan
dan
Saran
…………………………………………………………………………………………………….Daftar Isi 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 Halaman
 Kata
Pengantar
……………………………………………………………………………………………………………………………...

Bab 1 Pendahuluan 1.3. pendidikan ketrampilan hidup. Konseling bertujuan untuk memberikan edukasi tentang pencegahan penularan HIV dan mempersiapkan klien untuk mengetahui hasil tes HIV. uji HIV harus dilakukan secara sukarela.1 Latar Belakang Jumlah orang dengan HIV/AIDS terus meningkat di Indonesia dalam 5 tahun terakhir ini. sehingga perlu ada petugas laboratorium yang terlatih untuk mengambil darah vena.8%2. Hasil penelitian sebelumnya oleh juga menunjukkan akurasi OraQuick® yang baik untuk tes HIV.3% dan spesifisitas 99. perbaikan distribusi kondom dan penyediaan tempat konseling dan tes HIV1. diawali dan diakhiri dengan konseling. pendidikan teman sebaya. OraQuick® telah mendapat persetujuan dari Food and Drug Administration Amerika Serikat dan juga Depatermen Kesehatan Republik Indonesia untuk dipasarkan. Hasil uji OraQuick® dapat diketahui dalam waktu 15-30 menit dan karena tidak diperlukan darah. Banyak usaha telah dilakukan oleh pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat untuk mengurangi penularan HIV. tes dapat dilakukan dengan lebih mudah dan cepat. dari 2575 kasus pada tahun 2001 menjadi 4091 kasus pada tahun 2003 dan informasi terakhir menunjukkan jumlah kumulatif sampai dengan September 2007 sebesar 16288. OraQuick® merupakan tes cepat HIV yang dapat menggunakan bahan darah ataupun air liur klien. baik yang menggunakan darah ataupun cairan tubuh lainnya. Saat ini telah tersedia beberapa tes cepat untuk HIV. antara lain edukasi umum tentang HIV/AIDS. sensitifitas 99. Penyediaan tempat konseling dan tes HIV bertujuan untuk menyediakan tempat pelayanan bagi anggota masyarakat yang ingin berkonsultasi masalah HIV dan ingin tahu status HIV mereka. Sesuai dengan konvensi PBB. Sebelum memulai pemasaran di 1
 
 . seperti hubungan seks tidak aman dan penggunaan jarum suntik bersama pengguna narkoba. Peningkatan prevalensi ini sejalan dengan peningkatan orang yang melakukan perilaku berisiko tinggi untuk tertular HIV. Salah satu kendala dalam tes HIV adalah diperlukannya darah. Kendala lainnya pemeriksaan darah menggunakan metode ELISA yang memakan waktu 1 hari atau lebih.

PT Biotech Farma sebagai distributor tunggal OraQuick® di Indonesia bermaksud untuk mengetahui akurasi OraQuick® untuk tes HIV di Jakarta.2 Tujuan Tujuan Umum Tujuan umum penelitian ini adalah untuk mengetahui akurasi dari tes saliva HIV dengan menggunakan OraQuick® di Jabodetabek. Tujuan Khusus Tujuan khusus penelitian ini adalah: • • • • • Mengetahui sensitifitas tes saliva HIV OraQuick® dibandingan tes standar HIV Mengetahui spesifisitas tes saliva HIV OraQuick® dibandingkan tes standar HIV Mengetahui nilai prediksi positif tes saliva HIV OraQuick® dibandingkan tes standar HIV Mengetahui nilai prediksi negatif tes saliva HIV OraQuick® dibandingkan tes standar HIV Mengetahui persepsi lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang pencegahan HIV/AIDS tentang OraQuick® 2
 
 . 1.Indonesia.

Bab 2 Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan 2 metode. LSM Rempah. 3
 
 . Kiosk Universitas Atmajaya. Besar sampel untuk penelitian ini dihitung bersadarkan asumsi sensitifitas 95%. Surveilans dilakukan pada tanggal 30 Oktober sampai dengan 16 November 2007. presisi 2. yaitu: Pusat Penelitian Kesehatan UI. d=presisi.1 Populasi dan Sampel Penelitian akan dilakukan di Jakarta pada populasi berisiko untuk tertular HIV secara sukarela. Desain sampel menggunakan metode surveilans pada subyek berisiko tertular HIV pada daerah binaan 6 LSM. Yayasan Gerbang. Menurut catatan berbagai pusat layanan konseling dan tes HIV sukarela. yaitu: (1) metode penelitian uji diagnostik untuk mengetahui akurasi tes OraQuick® dan (2) diskusi kelompol terarah (DKT) untuk mengetahui persepsi LSM terhadap OraQuick®. spesifisitas 95%.5% dan derajat kepercayaan 95%. 2. z21-a/2=nilai z pada derajat kepercayaan 1-α/2. Besar sampel minimal yang diperlukan adalah 292 orang dengan HIV positif dan 292 orang dengan HIV negatif menurut tes baku emas.1. rata-rata 30% dari klien yang datang untuk tes HIV menunjukkan hasil HIV positif dan prakiraan drop out sebesar 10%. 1990)4: dengan p=sensitifitas atau spesifisitas.1 Uji Akurasi OraQuick® 2. dan Yayasan Kharisma. Besar sampel dihitung berdasarkan rumus besar sampel untuk estimasi proporsi (Lemeshow. sehingga diperlukan subyek sejumlah 1072 sebagai sampel.

nilai prediksi positif dan negatif pada berbagai skenario prevalensi HIV. Hasil uji OraQuick® tidak diberitahu ke subyek. Setelah ada hasil uji tes standar HIV. Hasil analisis berupa perhitungan sensitifitas dan spesifisitas. Nama subyek sama sekali tidak dicantumkan. Formulir akan diambil oleh staf peneliti dengan terlebih dahulu menyobek bagian kanan bawah yang berisi nomor identifikasi subyek dan memisahkan dari formulir inform consent. 2. 7. Darah subyek diberikan kode identifikasi yang sama dan dikirim ke laboratorium RSU Duren Sawit. Uji Elisa dilakukan dengan Vironostika HIV AG/AB Lot A 57 NB ed 12-07 dari Biomerieux .1. 6. Subyek diberikan pre test konseling sesuai prosedur KPA/WHO.2 Prosedur Pemeriksaan Prosedur pemeriksaan subyek dengan menggunakan teknik unlink anonimous sebagai berkut: 1. Hasil uji OraQuick® dibaca oleh petugas dan dicatat dalam formulir data tanpa nama. 3. Subyek ditanyakan kesediaanya untuk ikut dalam penelitian uji akurasi OraQuick®. 10. Semua perhitungan akan disertai estimasi selang dengan derajat kepercayaan 95%. Cara ini dilakukan untuk menjamin kerahasiaan subyek. Subyek secara sukarela bersedia untuk tes HIV. Nama subyek sama sekali tidak ada dan tidak boleh ditulis dalam formulir data. 4. 8. sehingga tidak mungkin lagi menghubungan informasi yang ada pada formulir data dengan nama subyek. 9. 2.1. 5. Jika subyek bersedia untuk ikut penelitian. tetapi menggunakan kode identifikasi. Subyek meninggalkan tempat tes. ia diminta untuk menandatangi persetujuan tertulis kesediaan untuk ikut penelitian (inform consent).2. 4
 
 . Formulir data disimpan oleh petugas. Petugas laboratorium dari RSU Duren Sawit mengambil saliva subyek dengan alat OraQuick® dan darah. petugas pusat layanan mencatat hasilnya pada formulir data.3 Manajemen dan Analisis Data Manajemen data akan dilakukan dengan menggunakan EpiData dan analisis dengan Stata 10.

MSPH. Tiap kelompok DKT terdiri dari 6-8 orang pimpinan dan aktivis LSM. DR dan Ferdinan Siagian. Msi. DKT dilakukan pada 2 kelompok dan difasilitasi oleh Rita Damayanti. drs. 5
 
 . Analisis hasil DKT dilakukan dengan analisis isi.2 Diskusi Kelompok Terarah Diskusi kelompok terarah (DKT) dengan para pimpinan dan aktivis dari 6 LSM dilakukan pada tanggal 4 Oktober 2007 di hotel Ibis Arkadia. dra.2.

Karakteristik subyek penelitian sebagai berikut: Populasi binaan ke 6 LSM sebagian besar adalah pengguna narkoba suntik sehingga sebagian besar mereka adalah laki-laki berusia antara 20-39 tahun. 3.1 Karateristik Subyek Pada penelitian ini berhasil dikumpulkan 1080 subyek yang secara sukarela bersedia untuk di uji HIV saliva dan darah.2 Prevalensi HIV Delapan dari 1080 subyek tidak dapat dilakukan uji ELISA pada darah karena darah sudah membeku segera setelah diambil. Prevalensi HIV menurut lokasi tes menurut tes ELISA sebagai berikut: 6
 
 .Bab 3 Hasil dan Pembahasan 3.

2007 Prevalensi HIV di daerah penelitian relatif tinggi dibandingkan dengan hasil surveilans yang perah dilakukan di DKI Jakarta.8% HIV positif. sedangkan uji ELISA pada 1072 subyek menunjukkan 54. Prevalensi berkisar antara 40-60% dengan prevalensi tertinggi pada daerah Jakarta Utara dan Jakarta Barat. 3.2 Uji Akurasi Uji saliva OraQuick® pada 1080 subyek menunjukkan 55.1 Pevalensi HIV Menurut Lokasi. Perbandingah hasil uji OraQuick® dengan ELISA sebagai berikut: 7
 
 . Penelitian Uji Akurasi Tes OraQuick®.Grafik 3.2% HIV positif.

7
 Jumlah
 587
 485
 1072
 % baris (OraQuick)
 54.4%.01
 98.8
 45.3
 HIV negatif
 2
 477
 479
 % baris (OraQuick)
 0. Penelitian Uji Akurasi OraQuick
 
 .
 Penelitian Uji Akurasi OraQuick
 ®
 .7
 1.4
 -
 99.03
 Keterangan: a) Dihitung pada prevalensi HIV+ 54.6
 5.8
 -
 99.7
 98.7% dan spesifisitas 98.01
 -
 0.3
 98.6
 55. yang ditunjukkan dengan sensitifitas 99.6
 0. Nilai prediksi positif maupun negatif pada prevalensi HIV positif 54.3
 95.4
 1.0
 100.26
 -
 942.8% dari sampel penelitian
 8
 
 .7% untuk nilai prediksi positif dan 99.8
 -
 99.2
 97.7
 -
 2.4
 44.2
 100.03
 0.®
 Tabel 3.0
 % kolom (ELISA)
 100.6
 100.3 Indikator Akurasi Uji Saliva OraQuick
 ®
 dibandingkan ELISA. 2007
 Indikator Akurasi
 Estimasi titik
 
 Selang kerpercayaan 95%
 Sensitifitas
 Spesifisitas
 Nilai prediksi positif
a
 Nilai prediksi negatif
a
 Positif palsu
a
 Negatif palsu
a
 Likelihood ratio +
 Likelihood ratio -
 99.6
 -
 99.7
 99.9
 0.4
 98.27
 0.9
 96.0
 Tabel di atas menunjukkan akurasi OraQuick® yang tinggi dibandingkan dengan baku emas ELISA. 2007
 ELISA
 
 tm
 OraQuick
 HIV positif
 HIV negatif
 Jumlah
 HIV positif
 585
 8
 593
 % baris (OraQuick)
 98.4
 236.4
 99. yaitu 98.8% juga tinggi.6% nilai prediksi negatif.5
 0.2 Perbandingan Hasil Uji Saliva OraQuick
 dengan
 ®
 Uji ELISA Darah.0
 % kolom (ELISA)
 99.0
 100. Perhitungan dari berbagai indikator akurasi uji diagnostik ditampilkan dalam tabel berikut: Tabel 3.3
 100.7
 1.0
 % kolom (ELISA)
 0.1
 -
 1.

selang kepercayaan pada nilai sensitifitas. Sedangkan nilai likelihood.2 dan 3. nilai prediksi positif dan nilai prediksi negatif menjadi penting.3 hanya berlaku pada prevalensi HIV positif 54. Kedua nilai prediksi ini sangat bergantung pada prevalensi penyakit yang diuji.8% yang merupakan prevalensi HIV positif pada 1072 subyek penelitian. Nilai likelihood ratio+ yang tinggi menunjukkan bahwa hasil uji OraQuick® positif sangat meningkatkan keyakinan (kurang lebih 236 kali lipat) pemeriksa bahwa subyek yang diperiksa mengidap virus HIV.6: Post-test odds = pre-test odds * likelihood ratio Pre-test odds = prevalensi/(1-prevalensi) Post-test probability = post-test odds/(post-test odds + 1) Perhitungan nilai prediksi positif dan nilai prediksi negatif pada berbagai prevalensi HIV dapat dilihat pada tabel berikut: 9
 
 . nilai prediksi negatif menunjukkan berapa kemungkinannya subyek yang diperiksa benar-benar tidak mengidap virus HIV. yang menunjukkan presisi nilai-nilai tersebut baik. spesifisitas.01 kali).Pada tabel 3. keyakinan peneliti bahwa subyek mengidap virus HIV menjadi sangat jauh berkurang (0.3 Skenario Aplikasi OraQuick® pada Berbagai Prevalensi HIV Pada saat suatu uji/tes digunakan.yang sangat rendah menunjukkan bahwa jika hasil uji OraQuick® negatif. Nilai prediksi positif menunjukkan berapa kemungkinannya subyek yang diperiksa benar-benar positif mengidap virus HIV jika uji/tes hasilnya positif. 3. Nilai prediksi positif dan negatif pada tabel 3.3. nilai prediksi positif dan nilai prediksi negatif relatif sempit. Jika hasil uji/tes negatif. Nilai prediksi positif dan negatif pada berbagai prevalensi HIV dapat dihitung berdasarkan rumus5.

4. hanya pada prevalensi 80% ke atas nilai prediksi negatifnya berkurang di bawah 95%. Jika hasil uji OraQuick® negatif.Pada tabel 3. 10
 
 . nilai prediksi positifnya tinggi. tetapi pada prevalensi HIV di atas 5%. kita dapat menyimpulkan bahwa uji OraQuick® memiliki nilai prediksi negatif yang lebih baik dari nilai prediksi positif pada berbagai prevalensi HIV. Pada keadaan seperti ini. tetapi jika positif harus dilakukan uji lain untuk memastikannya.4 terlihat bahwa uji OraQuick® memiliki nilai prediksi negatif yang tinggi pada bebagai prevalensi HIV. Berdasarkan simulasi pada tabel 3. Nilai prediksi positif pada prevalensi HIV yang rendah (0.1 – 5%) relatif rendah. berarti uji OraQuick® lebih baik digunakan untuk uji penapisan (screening) seperti pada surveilans. maka subyek dapat langsung dinyatakan sebagai HIV negatif. Karateristik OraQuick® ini mirip dengan karakteristik uji ELISA untuk HIV.

Hal ini bertentangan dengan edukasi yang selama ini disampaikan pada para penasun bahwa HIV tidak ditularkan melalui air liur. Sebagian menginginkan adanya hasil penelitian yang membuktikan keakuratan dari uji OraQuick®. Walaupun yang diperiksa oleh OraQuick® ini adalah antibodi dan bukan virusnya. banyak yang tidak mengambil hasilnya karena selang waktu yang cukup yang lama. namun jika harganya mahal.3. Mereka juga menginginkan adanya pemberian informasi yang lebih banyak mengenai OraQuick®. 11
 
 . karena jika dijual bebas maka setiap orang dapat menggunakannya seperti alat uji kehamilan. Para petugas lapangan tidak setuju jika alat uji HIV ini dijual bebas di apotik karena uji dapat dilakukan tanpa konseling dan hal ini mungkin berakibat fatal bagi orang yang melakukan uji dan hasilnya positif. Kendala lain dalam menggunakan alat uji ini adalah kegamangan bahwa dari air liur dapat diketahui apakah penasun mengidap HIV atau tidak. para penasun akan mempertanyakan hal yang selama ini mereka telah sosialisasikan. para petugas penjangkau lapangan justru banyak yang masih ragu dengan akurasi hasil uji ini. Walaupun para petugas lapangan menganggap OraQuick® ini unggul dalam kepraktisannya dan kecepatannya.. namun para petugas lapangan tetap menginginkan adanya pelatihan yang intensif dengan praktek penggunaannya jika mereka akan menggunakan OraQuick®. Hal ini karena orang-orang yang datang untuk uji HIV dijangkau sebagian besar berasal dari kalangan dengan status ekonomi rendah. Kecepatan dan kemudahan dalam melakukan uji ini dapat bermata dua. para petugas penjangkau lapangan (out reach worker) menganggap bahwa OraQuick® merupakan alat uji HIV yang handal karena cara pengujiannya yang praktis tanpa harus mengambil darah.4 Persepsi Lembaga Swadaya Masyarakat tentang OraQuick® Pada diskusi kelompok terstruktur. sehingga tidak menyakitkan dan hasilnya dapat dengan cepat diketahui. Penggunaan OraQuick® tampaknya sangat mudah dan sederhana. sehingga mereka benar-benar yakin. Jika alat ini digunakan. Kecepatan hasil dari OraQuick® ini mengatasi permasalahan dimana para penasun setelah mengikuti pre-konseling dan diambil darahnya. LSM akan mengalami kesulitan untuk memebelinya. namun para petugas lapangan tetap khawatir kredibilitas mereka terganggu. Mereka menyarankan agar OraQuick® ini digunakan untuk sero surveilans terlebih dahulu dan jangan langsung digunakan dalam VCT. Para penasun (penyalahguna jarum suntik) banyak yang takut jika harus diambil darahnya. Karena uji OraQuick® mudah dan cepat.

Sambutan dari LSM terhadap uji OraQuick® pada umumnya baik.1 Kesimpulan 1. Nilai prediksi negatif OraQuick® lebih baik dari nilai prediksi positifnya. Penyebaran informasi tentang uji OraQuick® kepada KPA. 4. 6. Pada uji HIV sukarela hasil uji OraQuick® positif sebaiknya dilanjutkan dengan uji HIV lain untuk memastikan hasil uji HIV positif tersebut. kekuatiran tentang kemungkinan penularan HIV melalui air liur harus dijelaskan dengan benar untuk mencegah kerancuan dalam informasi tentang HIV. LSM tidak setuju jika OraQuick® dijual bebas di apotik. di atas 95%. sehingga uji ini dapat digunakan baik untuk sero surveilans maupun uji HIV sukarela. 3. tetapi harga alat uji ini harus disesuaikan dengan kemampuan mereka untuk membeli. LSM dan donor sehingga mereka tahu ada uji cepat untuk HIV. Ada kekuatiran pada LSM tentang kerancuan informasi tentang kemungkinan penularan HIV melaui air liur. Dalam melakukan promosi OraQuick®. 4. Depos. Penjelasan tentang OraQuick® menguji antibodi bukan langsung keberadaan virus HIV harus jelas sehingga tidak 12
 
 . 2. 5.7% untuk sensitifitas dan 98. Uji OraQuick® terbukti memiliki sensitifitas dan spesifitas yang tinggi.2 Saran 1. Nilai prediksi positif untuk populasi dengan prevalensi HIV di atas 10% tinggi.4 untuk spesifisitas.Bab 4 Kesimpulan dan Saran 4. 2. yaitu 99. toko obat atau toko lainnya tanpa konseling pre dan post test. sedangkan nilai prediksi negatif untuk populasi dengan prevalensi HIV di bawah 80% juga tinggi. seperti yang disyaratkan oleh UNAIDS dan KPA. Depkes.

toko obat atau toko lainnya tanpa konseling pre dan post test karena hal tersebut bertentangan dengan persayaratan UNAIDS dan KPA untuk uji HIV. Meskipun uji OraQuick® mudah dan praktis. 3. 13
 
 . namun penjualan alat uji ini tidak boleh dilakukan langsung di apotik.menimbulkan kesan bahwa virus HIV terdapat pada air liur dan dapat ditularkan melalui air liur.

Churchill Livingstone. 2004. Strauss SE.com /p/articles/mi_m1370/is_3_37/ai_102025571. Phanaphak P.or. Diunduh 18 Desember 2007. Nookhai JG. 2001 Feb 4-8. Sackett DL. 4. Haynes RB. Hosmer D. Sinthuwattanawibool C. Wider use of rapid HIV test . McGraw Hill International Edition. 8th Conf Retrovir Opportunistic Infect Sheraton Chic Hotel Towers Chic Ill Feb 4 Feb 8 2001 Conf Retrovir Opportunistic Infect 8th 2001 Chic Ill. Chichester. 2003 http://findarticles. 14
 
 . Boston. 6. Evaluation of OraQuick HIV-1/2 rapid test and a rapid/simple test algorithm in a high-risk/highprevalence population in Bangkok. 2. MayJune. 3. Evidence Based Medicine: How to Practice and Teach EBM. 2001.Daftar Kepustakaan 1. Dawson B.Brief Article. Adequacy of Sample Size for Health Studies.Updates . 8: 111 (abstract no. FDA Consumer. Thailand.php?option=com_content&task=view&id=1068 &Item33. Rosenberg W. Basic & Clinical Biostatistics 4th Edition. 232). Trapp RG. 5. John Wiley & Sons.OraQuick Rapid HIV-1 Antibody Test manufactured by OraSure Technologies Inc .aidsindonesia. Richardson WS. Lemeshow S. 1990. Nookhai S. Edinburg. Lwanga S. Diunduh 18 Desember 2007. Statistik Kasus HIV/AIDS s/d September 2007http://www. Komisi Penanggulangan AIDS Nasional.id/index.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful