ROBEKAN JALAN LAHIR

Hampir 3 juta wanita melahirkan per vaginam setiap tahunnya di Amerika Serikat, dan kebanyakan dari mereka mengalami trauma pada traktus genital akibat episiotomi, laserasi obstetrik spontan, atau keduanya. Data lebih dari 25 tahun menunjukkan angka kejadian dilakukan episiotomi menurun, namun laserasi obstetrik secara gradual meningkat. Menurunkan trauma traktus genital pada waktu melahirkan merupakan prioritas untuk seorang ibu. Trauma seperti itu bisa menimbulkan masalah jangka pendek dan jangka panjang untuk ibu baru. Masalah jangka pendek meliputi hilangnya darah, kebutuhan penjahitan, dan nyeri perineum. Sedangkan, masalah jangka panjang meliputi nyeri berkepanjangan dan gangguan fungsional seperti masalah intestinal, urinarius, dan seksual. Pertolongan persalinan yang semakin manipulatif dan traumatik akan memudahkan robekan jalan lahir dan karena itu dihindarkan memimpin persalinan pada saat pembukaan serviks belum lengkap. Robekan jalan lahir biasanya akibat episiotomi, robekan spontan perineum, trauma forseps atau vakum ekstraksi, atau karena versi ekstraksi. Robekan yang terjadi bisa ringan (lecet, laserasi), luka episiotomi, robekan perineum spontan derajat ringan sampai ruptur perinei totalis, robekan pada dinding vagina, forniks uteri, serviks, daerah sekitar klitoris, uretra, dan bahkan yang terberat adalah ruptura uteri. Oleh karena itu, pada setiap persalinan hendaknya dilakukan inspeksi yang teliti untuk mencari adanya kemungkinan robekan ini. Perdarahan yang terjadisaat kontraksi uterus baik, biasanya, karena ada robekan atau sisa plasenta. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara melakukan inspeksi pada vulva, vagina, dan serviks dengan memakai spekulum untuk mencari sumber perdarahan dengan ciri warna merah segar. Robekan jalan lahir bisa terjadi pada : a. Dasar panggul berupa episiotomi atau robekan preineum spontan b. Vulva dan vagina c. Serviks uteri d. uterus A. Robekan akibat episiotomi

2. Namun jika dilakukan terlambat. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan episiotomi. • Waktu dilakukannya insisi Jika dilakukan lebih awal. cincin selaput dara. Ketika digunakan dalam penggunaan forsep. Episiotomi adalah insisi pada pudenda. posisi oksiput di posterior. dan janin besar. Namun kadang penggunaan istilah episiotomi bersinonim dengan perineotomi. seperti waktu insisi. otot-otot dan fasia perineum dan kulit sebelah depan perineum. Perineotomi adalah insisi dari perineum. Apabila terjadi peregangan perineum yang berlebihan sehingga ditakuti akan terjadi robekan perineum. • Tipe episiotomi Keuntungan dan kerugian dari 2 tipe episiotomi akan tampak dalam tabel. persalinan dengan cunam. dan lain-lain. Tujuannya untuk mencegah terjadinya trauma yang berlebihan pada kepala janin b. Sewaktu melahirkan janin prematur. Insisi yang dilakukan di daerah tengah membentuk episiotomi medialis atau insisi yang dilakukan di daerah tengah tapi kemudian secara lateral ke bawah menjauhi rektum dinamakan episiotomi mediolateralis. persalinan sungsang. namun penggunaan episiotomi telah berkurang dalam 25 tahun terakhir. Indikasi ibu a. ekstraksi vakum.Episiotomi adalah suatu tindakan insisi pada perineum yang menyebabkan terpotongnya selaput lendir vagina. Indikasi untuk melakukan episiotomi dapat timbul dari pihak ibu atau janin : 1. tipe insisi. Tujuan dari episiotomi Episiotomi masih merupakan salah satu prosedur obstetrik. penggunaan forsep atau vakum. Sewaktu melahirkan janin letak sungsang. jaringan pada septum rektovaginal. ekstraksi vakum. perdarahan dari episiotomi bisa terjadi selama waktu insisi sampai persalinan. laserasi tidak bisa dicegah. dan teknik memperbaikinya. beberapa di antaranya adalah indikasi fetus seperti distosia bahu dan persalinan sungsang. . umpama pada primipara. beberapa praktisi melakukan episiotomi setelah memasang “blade”. Indikasi janin a. Namun belakangan diketahui bahwa prosedur ini seharusnya diaplikasikan secara selektif untuk indikasi yang sesuai. Biasanya episiotomi dilakukan ketika kepala dengan diameter 3-4 cm sudah terlihat selama kontraksi. melahirkan janin dengan cunam. dan anak besar.

Combs (1990) melaporkan bahwa ada beberapa faktor yang berhubungan dengan meningkatnya risiko laserasi derajat 3 dan 4 sepert: – – – – – – Nuliparitas Kala II memanjang Posisi oksiput posterior yang persisten Mild/ low forcep Penggunaan anestesi lokal Ras Asia Anthony dan teman-teman (1994) menemukan bahwa laserasi perineum yang berat lebih rendah 4 kali lipat bila dilakukan episiotomi mediolateralis dibandingkan dengan insisi medialis. Teknik 1. Episiotomi medialis ○ Pada teknik ini insisi dimulai dari ujung terbawah introitus vagina sampai batas atas sfingter ani. namun hemostasis dan perbaikan bentuk anatomis penting untuk keberhasilan beberapa metode. tetapi . atau larutan xylocaine 1-2%. Cara anestesi yang dipakai adalah larutan procaine 1-2%. • Waktu dilakukan perbaikan episiotomi Perbaikan prosedur episiotomi dilakukan pasling sering setelah plasenta telah dikeluarkan. Biasanya teknik yang dilakukan tampak pada gambar di bawah ini. Setelah pemberian anestesi.Episiotomi medialis lebih superior namun terdapat kemungkinan terjadinya laserasi derajat 3-4. atau larutan lidonest 1-2%. dilakukan insisi dengan mempergunakan gunting yang tajam dimulai dari bagian terbawah introitus vagina menuju anus. • Teknik Ada beberapa cara untuk menutup insisi episiotomi.

sehingga dapat menimbulkan perdarahan yang banyak. . hingga kepala dapat dilahirkan. Bila kurang lebar bisa disambung ke lateral (episiotomi mediolateralis) ○ Untuk menjahit luka episiotomi medialis. Terakhir kulit perineum dijahit dengan empat atau lima jahitan. Penjahitan dilakukan sedemikian rupa sehingga setelah penjahitan selesai hasilnya harus simetris.  Teknik ini sekarang tidak dilakukan lagi karena banyak menimbulkan komplikasi. Episiotomi lateralis  Pada teknik ini insisi dilakukan ke arah lateral mulai dari kira-kira pada jam 3 atau jam 9 menurut arah jarum jam. Selain itu parut yang terjadi dapat menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu penderita. tergantung pada kebiasaan orang yang melakukannya. dan selaput lendir adalah catgut khromik.  Teknik menjahit luka pada episiotomi mediolateralis hampir sam adnegan teknik menjahit medialis. fasia.tidak sampai memotong pinggir atas sfingter ani. Mula-mula otot perineum kiri dan kanan dirapatkan dengan beberapa jahitan. Panjang insisi kurang lebih 4 cm. Benang yang dipakai untuk menjahit otot. Jahitan dapat dilakukan secara interuptus atau kontinu. Arah insisi ini dapat dilakukan ke arah kanan atau kiri. 1. 1. Kemudian fasia dijahit dengan beberapa jahitan. Luka insisi ini dapat melebar ke arah di mana terdapat pembuluh darah pundendal interna. Lalu selaput lendir vagina dijahit pula dengan beberapa jahitan. sedang untuk kulit perineum dipakai benang sutera. Episiotomi mediolateralis  Pada teknik ini insisi dimulai dari bagian belakang introitus vagina menuju ke arah belakang dan samping.

E. Jahitan kontinu ke atas sebagai jahitan subkutis. Kemudian 3-4 jahitan interuptus diletakkan pada fasia dan otot dari perineum. jahitan diikat dan dipotong. Setelah menutup insisi vagina. A. Some women may experience continuing fecal incontinence caused by injury to the innervation of the pelvic floor musculature (Roberts and co-workers. C. D. Jahitan kontinu ke bawah untuk menyatukan fasia superfisialis. Prophylactic antimicrobials should be considered. Postrepair. and enemas should be avoided. Jahitan menggunakan Chromic 2-0 atau 3-0 dengan tipe kontinu untuk menutup mukosa dan submukosa vagina. stool softeners should be prescribed for a week. normal function is not always assured even with correct and complete surgical repair. Beberapa jahitan interuptus chromic 3-0 diletakkan di sepanjang kulit dan fasia dan diikat. B. .Perbaikan episiotomi medialis. 1990). Unfortunately. as described by Goldaber and colleagues (1993).

Persalinan tidak dipimpin sebagaimana mestinya 3. Penjahitan robekan perineum derajat I dapat dilakukan hanya dengan catgut yang dijahitkan secara kontinu atau dengan cara angka delapan. dan membran mukosa vagina tapi tidak mengenai fascia dan otot. antara lain : 1. . Robekan ini biasanya melebar ke atas pada salah satu atau kedua sisi vagina. Mula-mula otot dijahit dengan catgut. kemudian digunting. Pada persalinan dengan distosia bahu. Setelah pinggir robekan rata. ROBEKAN PERINEUM Ada beberapa penyebab robekan pada perineum. membentu luka segitiga yang ireguler. jika dijumpai pinggir robekan yang tidak rata atau bergerigi. Laserasi vagina dan perineum diklasifikasikan menjadi derajat I-IV. Sebelum dilakukan penjahitan pada robekan perineum tingkat II atau III. Pinggir robekan sebelah kiri dan kanan masing-masing diklem terlebih dahulu. • Laserasi derajat I melibatkan fourchette. Sebelumnya pada perineum terdapat banyak jaringan parut 4. Kepala janin terlalu cepat lahir 2. maka pinggir yang bergerigi tersebut harus diratakan terlebih dahulu. • Laserasi derajat II melibatkan fascia dan otot (muskulus perinei transversalis) dari badan perineum tapi tidak mengenai sfinkter anus. baru dilakukan penjahitan luka robekan. Kemudian selaput lendir vagina dijahit dengan catgut secara interuptus atau kontinu.A. kulit perineum.

Penjahitan selaput lendir vagina dimulai dari puncak robekan. Kemudian fasia perirektal dan fasia septum rektovaginal dijahit dengan catgut kromik. namun otot-oto levator ani dijahit terlebih dahulu dengan jahitan interuptus. Sama seperti teknik menjadi pada laserasi derajat 2. Terakhir kulit perineum dijahit dengan benang sutera secara interuptus. Ujung-ujung otot sfingter ani yang terpisah oleh karena robekan dikelm dengan klem Pean lurus. • Laserasi derajat IV meluas sampai mukosa rektum sampai ke lumen rektum. Robekan di daerah uretra dengan perdarahan hebat bisa menyertai laserasi tipe ini. • Laserasi derajat III meluas melewati kulit. dan melibatkan sfinkter anus. membran mukosa. sehingga bertemu kembali. Teknik menjahit : Mula-mula dinding depan rektum yang robek dijahit. kemudian dijahit dengan 2-3 jahitan catgut kromik . dan badan perineum.

2%) Robekan jalan lahir derajat II (9. – – – – – Tidak ada robekan jalan lahir (50. vestibulum. ROBEKAN VULVA Perlukaan vulva sering terjadi pada waktu persalinan.7%) Sedangkan .8%) Robekan jalan lahir derajat II (29%) Robekan jalan lahir derajat III (1. lebih-lebih jika robekan terjadi pada pembuluh darah di . Jika robekan atau lecet hanya kecil dan tidak menimbulkan perdarahan banyak. akan sering terlihat robekan-robekan kecil pada labium minus. sebagai berikut : – – – – – Tidak mengalami robekan jalan lahir (64%) Robekan jalan lahir derajat I (26.3%) Robekan jalan lahir derajat IV (0. Selanjutnya robekan dijahit lapis demi lapis seperti menjahit robekan perineum tingkat II. atau bagian belakang vulva. insidensi robekan jalan lahir pada persalinan spontan per vaginam kedua atau lebih.1%) A.2%) Robekan jalan lahir derajat I (18. Tetapi jika luka robek agak besar dan banyak berdarah. Jika diperiksa dengan cermat. insidensi robekan jalan lahir pada proses persalinan spontan per vaginam yang pertama adalah sebagai berikut.4%) Robekan jalan lahir derajat III (0.3%) Robekan jalan lahir derajat IV (0.sehingga bertemu kembali. tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa. Dari penelitian yang ada.

Sebagai akibat lepasnya tulang simfisis pubis (simfisiolisis) Bentuk robekan vagina bisa memanjang atau melintang. Jaringan pada saat pembukaan vagina tegang dan rapat pada saat persalinan. Reposisi presentasi kepala janin. Lukoa robekan dijahit dengan catgut secara interuptus ataupun kontinu. 2. Persalinan per vaginam pertama kali. faktor risiko untuk trauma vagina akan berkurang untuk persalinan berikutnya. 3. perlu dilakukan penghentian perdarahan dan penjahitan luka robekan. terlebih jika mengenai pembuluh darah dapat menimbulkan perdarahan yang hebat. jaringan akan melebar dan melunak. Namun bagaimanapun. Ekstraksi bokong 3. saat bayi mengalami desensus melalui jalan lahir. akan tetapi jika robekan lebar dan dalam. sebaiknya sebelum dilakukan penjahitan. Komplikasi dari robekan dinding vagina bisa berupa : 1.daerah klitoris. Umumnya luka robek yang kecil dan superfisial tidak terjadi perdarahan yang bnayak. 5. Perdarahan. umpamanya pada letak oksipito posterior. ROBEKAN DINDING VAGINA Berikut ini adalah faktor yang berhubungan dengan peningkatan risiko dari laserasi vagina atau serviks : 1. Makrosomia Semakin besar bayi. 2. Jika luka robekan terdapat di sekitar orifisium uretra atau diduga mengenai vesika urinaria. Ekstraksi vakum 4. B. dipasang dulu kateter tetap. Posisi kepala janin abnormal Perlukaan vagina sering terjadi sewaktu : 1. Penanganan . bahkan dapat timbul sepsis. Jika robekan tidak ditangani dengan semestinya dapat terjadi infeksi. Melahirkan dengan cunam 2. Infeksi. Faktor risiko tersering untuk laserasi vagina adalah nuliparitas. Sekali seorang ibu melahirkan secara per vaginam. semakin serviks dan vagina harus melebar sehingga menimbulkan beberapa robekan.

sehingga kavum Douglassi menjadi terbuka. kemudian otot-otot dinding vesika urinaria lalu dinding depan vagina. yaitu mula-mula dijahit selaput lendir. Apabila segmen bawah rahim tidak terfiksir antara kepala janin dan tulang panggul. Gejala baru terlihat setelah 3-10 hari paska persalinan. Jika robekan mengenai puncak vagina. tidak diperlukan penanganan khusus. kemudian baru luka dijahit lapis demi lapis sesuai dengan bentuk anatomi vesika urinaria. 3. seperti sewatu menggunakan alat (cunam). robekan ini dapat melebar ke arah rongga panggul. Kolporeksis adalah suatu keadaan di mana terjadi robekan pada vagina bagian atas sehingga sebagian serviks uteri dan sebagian uterus terlepas dari vagina. Dalam hal ini dinding vagina dan dasar vesika urinaria tertekan dalam waktu yang lama antara kepala dan tulang panggul. Jika hal ini ditemukan. Jahitan dapat dilakukan secara interuptus atau angka 8. sehingga kavum Douglas menjadi terbuka. 2. Beberapa hari setelah melahirkan. Pada luka robek yang lebar dan dalam. jaringan nekrosis ini terlepas sehingga terjadi fistula antara vesika urinaria dengan vagina. harus segera dilakukan penjahitan luka yang terjadi. Penyebabnya antara lain : 1. Sebelum penjahitan. terlebih dahulu dipasang kateter tetap dalam vesika urinaria. Persalinan yang terlalu lama. kelihatan air kencing yang menetes ke dalam vagina.Pada luka robek yang kecil dan superfisialis. Biasanya robekan pada vagina sering diiringi dengan robekan pada vulva maupun perineum. sehingga menyebabkan terjadinya nekrosis jaringan. Trauma. 2. Kadang fistula yang kecil dapat menutup sendiri. akan terjadi robekan pada vagina bagian atas. Keadaan ini disebut kolporeksis. robekan pada vagina bisa menimbulkan fistula vesikovaginal. Fistulai ini bisa terjadi karena : 1. Selain itu. Pada waktu melakukan koitus yang kasar disertai dengan kekerasan. Pada fistula yang agak besar. Kateter tetap terpasang untuk beberapa waktu. Dalam hal ini gejala beser kencing tidak segera dapat dilihat. Dalam hal ini tangan tidak masuk ke kavum uteri tetapi menembus forniks posterior. Pada keadaan ini segera setelah terjadi fistula. Pada partus dengan CPD (Cephalo-Pelvic Disproportion). trauma sewaktu mengeluarkan plasenta secara manual. perlu dilakukan penjahitan secara interuptus atau kontinu. . maka tarikan regangan ini sudah melewati kekuatan jaringan. Robekan ini dapat memanjang atau melintang. penutupan fistula baruu dapat dilakukan setelah 3-6 bulan paska persalinan.

Robekan demikian bisa membuka pembuluh darah besar dan menimbulkan perdarahan yang hebat. yang kadang bisa sampai mencapai forniks. selain menimbulkan perdarahan hebat juga bisa dapat menyebabkan servisitis. 4. parametritis. vakum) 3. 5. Robekan seperti ini biasanya terjadi pada ekstraksi forsep dan letak sungsang. Ini dilakukan untuk menghindarkan terjadinya hematoma dalam rongga di bawah jahitan. Komplikasi Komplikasi yang segera terjadi adalah perdarahan. Pertama-tama pinggir robekan sebelah kiri dan kanan dijepit dengan klem. Setelah itu robekan dijahit dengan catgut kromik dengan nomor 00 atau 000. sebaiknya sebelum dijahit. Namun yang harus mendapat perhatian adalah robekan yang dalam. jahitan harus dilakukan lapis demi lapis. 4. Pada robekan yang dalam. sehingga perdarahan menjadi berkurang atau berhenti. sehingga lebih jelas kelihatan dari luar. . Terapi : Robekan serviks harus dijahit jika berdarah atau > 1 cm. Partus presipitatus 2. 2. SERVIKS UTERI Robekan kecil selalu terjadi dalam persalinan. Partus lama. Bila robekan ini tidak dijahit. Jahitan dimulai dari ujung robekan dengan jahitan interuptus atau angka 8. Trauma karena pemakaian alat (cunam. pinggiran tersebut diratakan dulu dengan jalan menggunting pinggir yang bergerigi tersebut. Kadang-kadang perdarahan ini sangat banyak sehingga dapat menimbulkan syok bahkan kematian. Kemudian serviks ditarik sedikit. Diagnosis : Perdarahan postpartum pada uterus yang berkontraksi baik harus dicurigai berasal dari serviks uteri dengan melakukan spekulum. di mana telah terjadi edema serviks.A. sehingga jaringan serviks sudah menjadi rapuh dan mudah robek. Robekan serviks secara umum bisa disebabkan oleh: 1. 3. dan mungkin juga terjadi pembesaran karsinoma serviks. Teknik menjahit robekan serviks : 1. Melahirkan kepala janin pada letak sungsang secara paksa padahal pembukaan serviks belum lengkap. Robekan biasanya terdapat di pinggir samping serviks bahkan bisa sampai ke segmen bawah rahim dan mebuka parametrium. Jika pinggir robekan bergerigi.

inkreta. Karena trauma (kecelakaan) dan pertolongan versi dan ekstraksi Klasifikasi ruptura uteri menurut sebabnya adalah sebagai berikut : • Kerusakan atau anomali uterus yang telah ada sebelum hamil. terjadinya infiltrasi jaringan fibrotik dalam otot rahim penderita. Secara teori. misalnya panggul sempit. dan sepsis paska persalinan atau paska abortus.A. 4.1-100%. Angka kejadiannya di Indonesia masih tinggi. Begitu juga angka kematian ibu masih tinggi yaitu berkisar antara 17. Angka kematian anak akibat ruptur uteri berkisar antara 89.6%. atau perkreta. Spontan : a. Kelainan letak dan implantasi plasenta umpamanya pada plasenta akreta. Gabungan 2. Kelainan bentuk uterus. janin sering lebih besar. sehingga dapat menimbulkan CPD. reseksi . c. Pada dinding rahim yang baik. metroplasti histerorafia. Terjadi karena dinding rahim yang lemah seperti pada luka bekas SC. sehingga mudah terjadi ruptur. dan hipoplasia uteri. atau kelainan letak. pada kornu uterus atau bagian intersisial. Multipara/ grandemultipara Ini disebabkan karena dinding perut yang lembek dengan kedudukan uterus dalam posisi antefleksi. ○ Pembedahan pada miometrium : SC atau histerotomi. miomektomi yang sampai menembus seluruh ketebalan otot uterus. Rudapaksa a. luka enukleasi mioma. sehingga terjadi kelainan letak dan posisi janin.962. pelepasan plasenta secara manual. umpamanya uterus bikornis 5. robekan rahim dapat dibagi sebagai berikut: 1. Mungkin juga karena kuretase. Faktor predisposisi ruptur uteri : 1. 2. Pemakaian oksitosin untuk menginduksi persalinan yang tidak tepat 3. yaitu berkisar antara 1:92 sampai 1:428 persalinan. ROBEKAN RAHIM Ruptura uteri merupakan suatu komplikasi yang sangat berbahaya dalam persalinan. terjadi robekan karena bagian depan tidak maju. b. Hidramnion.

○ Trauma uterus koinsidental : instrumentasi sendok kuret atau sonde pada penanganan abortus. anomali janin yang menyebabkan distensi berlebihan pada segmen bawah rahim. trauma tumpul atau tajam. tekanan kuat pada uterus dalam persalinan. Terjadi lebih sering pada multipara daripada primipara dan mungkin disebabkan karena dinding rahim pada multipara sudah lemah. • Kerusakan atau anomali uterus yang terjadi dalam kehamilan ○ Sebelum kelahiran anak : his spontan yang kuat dan terus menerus. letak lintang. dan presentasi dahi dan muka. ruptur bisa terjadi karena kuretase. ○ Cacat rahim yang didapat : plasenta inkreta atau perkreta. sepsis paska persalinan atau paska abortus. Penyebab yang penting adalah panggul sempit. Ruptura spontan biasanya terjadi dalam kala pengeluaran. Pada grandemultipara. hidrosefalus. masalah yang kecil saja dapat menimbulkan robekan rahim. Ruptura uteri dibagi 2 menurut anatomisnya yaitu : . trauma luar tumpul atau tajam. pemakaian oksitosin atau prostaglandin untuk merangsang persalinan. sedangkan jika terjadi dalam persalinan. tumor yang menghalangi jalan lahir. ○ Kelainan bawaan : kehamilan dalam bagian rahim yang tidak berkembang. neoplasia trofoblas gestasional. ○ Dalam periode intrapartum : verrsi – ekstraksi. versi luar. ekstraksi bokong. Sedangkan ruptura yang terjadi dalam kehamilan. adenomiosis. Robekan spontan pada rahim yang utuh. ekstraksi cunam yang sukar. misalnya terjadi pada hidrosefalus atau jika dinding rahim lemah. terjadi pada segmen bawah rahim. retroversio uterus gravidus inkarserata. ruptur tanpa gejala pada kehamilan sebelumnya. instilasi cairan ke dalam kantong gestasi atau ruang amnion seperti larutan garam fisiologis atau prostaglandin. Ruptura yang terjadi pada kehamilan biasanya terjadi di korpus uteri. Secara praktis. Ruptur juga lebih sering terjadi pada orang yang berumur. walaupun persalinan yang lampau terjadi spontan. kesulitan dalam melakukan manual plasenta. perforasi dengan kateter pengukur tekanan intrauterin. pembagian robekan rahim sebagai berikut: 1. pembesaran rahim yang berlebihan misalnya hidramnion dan kehamilan ganda.

Jadi sebaiknya dilakukan laparotomi Transfusi darah merupakan syarat mutlak pada pengobatan ruptur uteri Paska operasi. 6. pasien diletakkan secara Fowler sepaya infeksi terpada pada pelvis Antibiotik dosis tinggi Prognosis . Bagian anak mudah diraba jika anak masuk ke dalam rongga perut. lapisan serosa (peritoneum) juga robek sehingga janin dapat berada dalam rongga perut. biasanya tidak banyak. Janin belum masuk rongga peritoneum Sebelum terjadi ruptur. pasien tiba-tiba merasa nyeri di perut bagian bawah. 3. nyeri sekali pada saat dilakukan palpasi. Gejala ruptura uteri antara lain : 1. Ruptura uteri komplit.a. Ruptura uteri inkomplit. b. Biasanya pasien jatuh dalam syok. His berhenti/ hilang. Perdarahan per vaginam. yang dikenal dengan istilah gejala yang mengancam robekan rahim. Bila ruptur uteri sudah pasti. Segmen bawah rahim. terjadilah ruptura uteri. Sewaktu kontraksi yang kuat. Diagnosis banding Solusio plasenta dan kehamilan abdominal Pengobatan – – – – – Bila terdapat gejala robekan rahim merupakan indikasi untuk segera menyeleseaikan persalinan. bila dinding uterus robek. Definisi dari ruptura uteri komplit adalah keadaan robekan pada rahim di mana telah terjadi hubungan langsung antara rongga amnion dan rongga perineum. 5. 4. Gejala tersebut antara lain : 1. DJJ biasanya tidak baik karena asfiksia janin yang disebabkan karena kontraksi dan retraksi rahim yang berlebihan. jangan diusahakan melahirkan secara per vaginam. biasanya ada tanda-tanda yang mendahuluinya. Penderita gelisah dan nyeri di perut bagian bawah. Kontraksi rahim kuat dan terus menerus 2. bila hanya dinding uterus yang robek. sedangkan lapisan serosa tetap utuh. 2. Jika keadaan ini berlarut. juga di laur his 3. Pada palpasi segmen bawah rahim terasa nyeri (di atas simfisis) 4.

Ruptura uteri pada bekas SC (jaringan parut) Dalam hal ini. ruptura uteri terjadi oleh karena adanya locus minoris pada dinding uterus sebagai akibat bekas operasi sebelumnya pada uterus. Ruptura uteri traumatik Ruptura uteri terjadi karena ada rudapaksa pada uterus umpamanya oleh karena dorongan pada fundus uteri. Sedang pada bentuk tersembunyi. akibat tindakan melahirkan anak per vaginam seperti versi ekstraksi. 2. sedang selaput ketuban tetap utuh. Ruptura uteri pada jaringan parut ini dapat dijumpai dalam bentuk nyata ataupun dalam bentuk tersembunyi. maka perdarahan yang terjadi retroperitoneal. plasenta manual dan kecelakaan. histerektomi. ruptura terjadi sedikit demi sedikit. hanya jaringan parut yang terbuka. seperti parut bekas SC. . Untuk mengurangi kemungkinan ruptura uteri. penggunaan cunam. Penyebab kematian ibu adalah perdarahan dan infeksi (peritonitis dan sepsis). sekurang-kurangnya 2 tahun untuk memberi kesempatan luka sembuh dengan baik. dan lain-lain. Yang dimaksud dengan bentuk nyata adalah apabila jaringan parut terbuka seluruhnya dan disertai pula denga robekan ketuban.Prognosis bagi ibu dan janin buruk. Ruptur semacam ini sering disebut “silent rupture”. enukleasi mioma/ miomektomi. 1. histerorafi. Hal ini disebabkan karena biasanya pada bekas SC. dianjurkan supaya ibu yang telah mengalami seksio jangan terlalu cepat hamil lagi. Bila SC dilakukan secara profunda.

6. ed. Birth 2006 : 33. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.org/ps/vol1/sect0040. 179-186. Sastrawinata S.mayoclinic. 170-186. Cunningham FG.primarysuregery. ed. hal. 4. ed. Albers LL et al. Factors Related to Genital Tract Trauma in Normal Spontaneous Vaginal Births. http://www. Prawiroharjo S. Bandung : EGC. 5. et al.html . 1. 2. Ilmu Bedah Kebidanan. http://www. hal. 23.2 2.com/health/vaginal-tears/PR00143&slide=2 3.DAFTAR PUSTAKA 1. Obstetri Patologi : Ilmu Kesehatan Reproduksi. Williams Obstetrics. Appleton and Lange 2010.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful