P. 1
Penelitian_Dosen_Muda

Penelitian_Dosen_Muda

|Views: 281|Likes:
Published by Sabil_Syawwal_3719

More info:

Published by: Sabil_Syawwal_3719 on Apr 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/15/2014

pdf

text

original

A. JUDUL PENELITIAN Permintaan: Kajian Pragmatik tentang Tindak Tutur dalam Berbahasa Minangkabau B. C.

BIDANG ILMU : SASTRA/FILSAFAT PENDAHULUAN Lain lubuk lain ikannya, lain padang lain belalang, demikian bunyi sebuah ungkapan. Ungkapan ini dapat bermakna bahwa setiap daerah mempunyai ciri khas dan keragaman tertentu yang membuat daerah itu berbeda dengan daerah lain. Perbedaan itu dapat meliputi bahasa dan cara-cara berbahasa atau adat dan budaya yang dimiliki. Dengan demikian, dalam berbahasa seorang penutur harus selalu berhati-hati dalam memilih bentuk-bentuk kebahasaan yang digunakan agar tidak dicap sebagai orang yang tidak berbudaya atau tidak beradat. Pemilihan bentuk-bentuk kebahasaan ini didasarkan atas beberapa pertimbangan, seperti siapa yang menjadi mitra tutur, bagaimana hubungan dengan mitra tutur, di mana peristiwa tutur itu terjadi, dan apa maksud yang terkandung dalam tuturan itu. Minangkabau sebagai salah satu suku terbesar keempat di Indonesia menggunakan bahasa Minangkabau (selanjutnya disingkat BMn) sebagai alat komunikasi antarmasyarakat penuturnya. Penutur BMn ini pada umumnya tinggal di sebuah wilayah yang secara administratif disebut Propinsi Sumatera Barat, kawasan belahan barat Sumatera bagian tengah. Selain di Sumatera Barat, penutur BMn ini juga tersebar di kota-kota besar hampir di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke Negeri Sembilan, Malaysia.

1

Dalam bertutur, masyarakat penutur BMn ini sangat memperhatikan dan mempertimbangkan fenomena-fenomena kebahasaan. Mereka berusaha untuk bersikap bijaksana dalam berbicara supaya mitra tindak tutur tidak tersinggung. Misalnya, untuk meminta, kalimat bijak bahwa ‘Saat meminta gigi harus lunak dari lidah’ sangat diperhatikan. Oleh karena itu, dalam masyarakat Minangkabau dikenal istilah Kato Nan Ampek yang menjadi panduan bagi seorang penutur BMn untuk bertutur. Salah satu keunikan yang ditemukan dalam BMn ini adalah tidak terus terang. Errington (1984) mengatakan bahwa salah satu ciri orang Minangkabau adalah tidak terus terang. Dengan kata lain, ada kemungkinan masyarakat Minangkabau memakai ujaran-ujaran yang mengandung makna implisit dalam mengungkapkan sesuatu. Apa yang dikemukakan Errington tersebut dapat diamati pada contoh berikut: (1). Ndeh, rancaknyo bungo nan ciek itu, Ma. Ma, kalau dipindahan se ka rumah awak baa nyo, Ma? ‘Aduh, cantiknya bunga yang satu itu, Ma. Kalau dipindahkan saja ke rumah saya bagaimana, Ma?’ ‘Aduh, cantiknya bunga yang satu itu, Ma. Kalau dipindahkan saja ke rumah saya bagaimana, Ma?’ Secara literal tuturan pada data (1) bermakna pujian yang diiringi oleh keinginan penutur untuk meminta bunga itu. Jika dihubungkan dengan konteks, bila yang bertutur itu adalah seorang pemuda dan mitra tuturnya memiliki seorang anak gadis yang disukai oleh pemuda tersebut, tuturan di atas bukan saja bermakna pujian, tetapi juga semacam permintaan kepada orang tua si gadis. Permintaan yang dimaksud adalah agar orang tua si gadis bersedia menerimanya sebagai kekasih anak gadisnya atau menerimanya menjadi calon menantu. Si

2

penutur dapat dicap anak tidak tahu dengan adat. yang berarti bahwa seorang penutur harus bersikap arif dan bijaksana dalam menangkap maksud penutur karena dalam suatu tuturan bisa tersirat maksud yang berbeda atau bahkan bertolak belakang dengan bentuk tuturan. Bagi masyarakat nonMinangkabau hal ini terkadang sulit untuk dipahami. kalimat inversi yang memposisikan predikat rancaknyo sebelum subjek bungo iko pun makin mempertegas kekaguman penutur akan kecantikan bunga itu. Ini dilakukannya dengan bahwa yang menjadi mitra tutur adalah orang yang lebih tua usianya dan juga dihormatinya. Permintaan direalisasikan oleh penutur secara pertimbangan tidak langsung tetapi dengan ibarat. Namun demikian.gadis dianalogikan sebagai bunga dan permintaan untuk memindahkan bunga itu diartikan sebagai keinginan yang serius bahwa bila diizinkan kelak penutur akan mempersunting gadis tersebut. Fenomena yang tergambar dalam data di atas lebih mudah dipahami bila peserta tutur juga mengerti dengan ereang jo gendeang dan kato nan sampai. penutur menggunakan interjeksi ndeh dalam mengawali ujaran eksklamatif yang mengungkapkan keheranan dan perasaan kagum terhadap kecantikan sebuah bunga yang tumbuh di halaman rumah mitra tutur. Hal ini tercermin dalam ungkapan berbahasa Minangkabau ‘Alun takilek lah takalam’ dan ‘Takilek ikan dalam aia lah tantu jantan jo batino. Selain itu. Apabila dia menggunakan pilihan tuturan langsung. Untuk memperjelas permintaannya. sebagaimana yang dikatakan Finochiaro (1974) bahasa adalah 3 . yaitu nilai-nilai yang berkaitan dengan sosial dan budaya masyarakat Minangkabau yang dapat menuntun mitra tutur untuk memahami makna sebuah tuturan.

Kutipan ini menjelaskan bahwa BMn dapat dipelajari dan dianalisis sehingga penutur nonMinangkabau dapat menggunakan bahasa ini dengan baik untuk berkomunikasi. untuk berinteraksi. Berdasarkan gambaran di atas. penulis tertarik untuk meneliti dan mengkaji salah satu bagian dari kajian pragmatik. faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pemilihan bentuk- bentuk tindak tutur permintaan dalam BMn? Dalam permasalahan ini peneliti mecoba melihat alasan seorang penutur BMn memilih bentuk tertentu untuk 4 . ada banyak permasalahan yang memungkinkan untuk diteliti dalam bahasa Minangkabau terutama sekali dalam lingkup pragmatik. Namun demikian. PERMASALAHAN Sebagaimana yang telah disinggung pada latar belakang tulisan ini. terlihat bahwa BMn sangat menarik untuk dikaji dari aspek pragmatik. Karena itu. permasalahan yang akan dikaji melalui penelitian ini adalah sebagai berikut. Pertama. D. Hal ini akan lebih menarik lagi bila dihubungkan dengan aspek-aspek non-linguistik seperti sosial dan budaya yang dapat mempengaruhi makna dan maksud dari sebuah tuturan. yaitu tindak tutur permintaan dalam BMn. Kedua. bagaimana bentuk-bentuk lingual tindak tutur permintaan dalam BMn? Di sini akan dilihat wujud-wujud linguistik permintaan yang dilakukan oleh masyarakat Minangkabau.suatu sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang memungkinkan semua orang dari kebudayaan tertentu atau orang dari luar budaya itu yang telah mempelajari sistem budaya tersebut.

Wierzbicka menggambarkan bagaimana perbedaan tuturan permintaan yang dilakukan oleh orang Inggris dan Polandia. baik faktor linguistik maupun nonlinguitik. apa nilai-nilai moral yang terkandung dalam tindak tutur permintaan dalam BMn? Nilai-nilai moral yang dimaksud di sini adalah selain melakukan permintaan apakah seorang penutur BMn juga punya maksud khusus yang sifatnya implisit ketika bertutur. Ketiga. tetapi seringkali memiliki bentuk kalimat interogatif atau kalimat interogatif yang menggunakan bentuk kondisional (interrogative-cum-conditional form). Hal ini memungkinkan terjadi karena berdasarkan pengamatan sementara peneliti terdapat kecendrungan masyarakat Minangkabau. Dikatakan bahwa tuturan dalam bahasa Inggris yang tidak bersifat memaksa atau menekan mitra tutur untuk memenuhinya biasanya tidaklah berbentuk kalimat perintah yang menggunakan verba to request atau to ask. E.meminta. Kato Nan Ampek selaku rules of speakingnya masyarakat penutur BMn dalam berbahasa akan dijadikan acuan dalam menganalisis data. khususnya generasi muda untuk relatif tidak lagi memahami nilainilai budaya atau maksud-maksud tersirat yang terkandung dibalik sebuah ujaran. Dalam tulisannya. Hal ini berbeda dengan permintaan dalam bahasa Polandia yang tidak pernah dilakukan secara literal dan menggunakan kalimat interogatif karena bila ini dilakukan penuturnya dianggap aneh dan dapat 5 . TINJAUAN PUSTAKA Kajian tentang tindak tutur permintaan sudah pernah dilakukan oleh beberapa ahli. seperti Wierzbicka (1991) yang mengulas bentuk tindak tutur permintaan.

permintaan (request). atau penawaran (offer). Artinya. permintaan dapat dilakukan dengan pura-pura bertanya mengenai kemampuan mitra tutur untuk melakukan sesuatu atau dengan menyatakan kebaikan hati mitra tutur. kesungguhan (sincerity). Makna penawaran akan dicapai bila makna informasi sudah terlebih dulu diketahui sebab fungsi penawaran terikat dengan fungsi pertanyaan ini. dalam http://www.aatseel. dan isi (essential). Amerika Serikat. juga telah pada bahasa Rusia. Dari tiga kondisi tersebut. Murphy-Lee abstract-html. dilihat dari maksud yang ingin dicapai penutur. sementara pertanyaan dimaksudkan untuk pemerolehan informasi dari mitra tutur. Penemuan Wierzbicka ini dipertegas oleh Schiffrin (1994) dalam bukunya yang berjudul Approaches to Discourse dengan mengaplikasikankan teori permintaan tersebut pada analisis wacana. yaitu persiapan (preparatory). bila penutur sudah mengetahui informasi dari mitra tutur maka penutur ini dapat melakukan sesuatu untuk mitra tutur. Schiffrin menganalisisnya berdasarkan tiga kondisi.org/program. contoh yang diambilnya adalah Y’ want a piece of candy?. Permintaan dimaksudkan agar mitra tutur melakukan sesuatu untuk penutur.dicap sebagai orang yang munafik. dapat bermakna sebagai pertanyaan (question). ditemukan bahwa permintaan dan pertanyaan pada dasarnya berbeda./aatseel/ 2000/ peneliti dari Universitas Kansas. Dari hasil menerapkan teori tindak tutur permintaan penelitiannya yang berjudul The Speech Act of Request: A Pedagogical 6 . Schiffrin mencoba lebih memperjelas konsep yang membedakan bagaimana sebuah kalimat interogatif. Di sini. Justru.

Dari hasil penelitiannya. mitra 7 . Dengan kata lain. 1988:584). Dalam artikelnya yang berjudul Indonesian Learner’s Requests in English: A Speech Act. Nadar meneliti bagaimana permintaan dilakukan oleh mahasiswa Indoneisa yang kuliah di Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada.Based Study. Nadar menyatakan bahwa ada kecenderungan mahasiswa Indonesia untuk menggunakan kesantunan positif (positive politeness) dalam meminta. mereka menemukan bahwa masyarakat Rusia lebih cenderung langsung dalam meminta. Hal yang sama juga disampaikan oleh Ibrahim (1993:29-30) bahwa dalam permintaan penutur mengekspresikan maksudnya sehingga mitra tutur menyikapi keinginan itu sebagai alasan atau bagian dari alasan untuk bertindak.Perspective. Meminta (to request) dapat didefinisikan sebagai berharap-harap supaya diberi atau mendapat sesuatu. Kajian ringkas tentang penelitian terdahulu yang terkait dengan penelitian ini memperlihatkan bahwa sejauh ini belum ada penelitian dan tulisan mengenai tindak tutur permintaan dalam BMn. Permintaan (request) dikategorikan sebagai perbuatan meminta (Moeliono. Diyakini bahwa pengkajian tentang tindak tutur permintaan dalam BMn dapat memberikan gambaran dan penjelasan yang lebih rinci mengenai bagaimana permintaan itu seharusnya disampaikan Ini sesuai dengan pendapat Gunarwan (2004:2) dan Verhaar (2001:16) bahwa dalam melakukan tindak tutur permintaan seorang penutur akan memilih bentuk-bentuk tuturan tertentu agar permintaannya itu dipenuhi. Penelitian tentang permintaan (request) juga pernah dilakukan oleh Nadar (1998).

dalam permintaan pelaku peristiwa adalah mitra tutur yang merealisasikan apa yang dimaksudkan oleh penutur dalam sebuah tuturan. misalnya otoritas fisik atau otoritas institusional sehingga mitra tutur tidak dapat mengelak untuk tidak melakukan apa yang diinginkan oleh penutur atau bertanya (to question) yang lebih terfokus kepada pemerolehan informasi dari mitra tutur. (3) tuturan yang diujarkan penutur merupakan alasan bagi mitra tutur untuk bersedia melakukan apa yang diminta. yaitu (1) penutur punya alasan untuk meyakini bahwa mitra tutur dapat atau mampu melakukan apa yang diminta. istilah yang akan dipakai adalah permintaan (tindak tutur permintaan). Allan (1986:199) mendeskripsikan ciri-ciri permintaan. Karena yang penulis maksud dalam kajian ini adalah perbuatan. 1996:1070.. Deskripsi di atas diperjelas oleh Alwi (1990:72) bahwa dalam permintaan penutur tidak diidentifikasikan sebagai sumber sehingga berperannya mitra tutur sebagai pelaku aktualisasi peristiwa tidak lagi ditentukan oleh kadar restriksi yang dimiliki penutur tetapi semata-mata oleh kesediaan mitra tutur untuk melakukan apa yang dimaksudkan dalam tuturan. Singkatnya. tanya. 1998:190-191). berbeda dengan memerintah (to command) yang penuturnya memiliki kewenangan yang lebih tinggi daripada mitra tutur. (2) penutur menginginkan sesuatu dilakukan oleh mitra tutur.tutur memenuhi keinginan penutur dengan ikhlas (Marckward dkk. Kreidler. 8 . Bentuk-bentuk ini dipilih berdasarkan situasi tutur saat ujaran disampaikan. atau berita. Secara struktural permintaan dapat direalisaikan dengan menggunakan kalimat perintah.

Konteks yang dimaksud adalah segala latar belakang pengetahuan yang dimiliki bersama oleh penutur dan mitra tutur serta yang menyertai dan mewadahi sebuah pertuturan. hak dan kewajiban. dia berkata. dan lain-lain. konteks situasi tutur mencakup aspek-aspek berikut: 1. tingkat keakraban. Konteks tuturan yaitu konteks dalam semua aspek fisik (koteks) dan seting sosial yang relevan dari tuturan bersangkutan (konteks) (lihat juga Yule. Tujuan tuturan yakni bentuk-bentuk tuturan yang diutarakan penutur dilatarbelakangi oleh maksud dan tujuan tertentu. latar belakang sosial ekonomi. seperti contoh di atas. serta pengalaman yang dialami peserta tutur. Penutur dan mitra tutur yang mencakup aspek-aspek yang berkaitan dengan peserta tutur ini. 2. Ujaran ini dinterpretasikan oleh pembantunya sebagai perintah untuk membersihkan ruangan itu. Menurut Leech (1983:13-4). jenis kelamin. ini merupakan peringatan agar senantiasa mengawasi anak-anak mereka yang masih kecil. 9 . bahkan tidak tepat karena dia berusaha menyesuaikan tuturannya dengan konteks. Misalnya. Poedjosoedarmo. ketika seorang ayah pulang dari kantor dan melihat rumah berantakan. disebabkan oleh konteks sosial yaitu status sosial. seperti usia. Bagi si istri. Pemahaman yang berbeda akan suatu ujaran yang sama. 1995:214-215.Oleh karena itu.” Siapa yang bermain-main di ruangan ini?”. 1985:99 dalam Cahyono. sangatlah memungkinkan dalam suatu tindak tutur seorang penutur menggunakan kalimat yang variatif. 2001:112) 3.

Saya ingin kotak ini dipindahkan. Derajat kelangsungan tindak tutur diukur berdasarkan jarak tempuh yang diambil oleh sebuah ujaran. ruangan inikelihatan sesak.4. 5. mengatakan bahwa tindak tutur permintaan dapat direalisasikan melalui bentuk-bentuk sebagai berikut: (1). Misalnya. Tuturan sebagai bentuk tindakan atau aktivitas. Tuturan performatif eksplisit. Tuturan pernyataan keinginan. Tuturan persiapan pertanyaan. Misalnya. Misalnya. akan diperoleh tindak tutur yang berbeda-beda derajat kelangsungannya dalam menyampaikan maksud ‘menyuruh memindahkan kotak’. ya? Bila kesembilan bentuk di atas diujarkan. berarti bahwa tuturan yang dihasilkan merupakan bentuk dari tindak verbal. (5). Saya minta saudara memindahkan kotak ini! (3). Pindahkan Kotak itu! (2). Tuturan bermodus imperatif. Tuturan pernyataan keharusan. Tuturan isyarat halus. yaitu titik ilokusi (di pikiran penutur) ke titik tujuan ilokusi (di pikiran pendengar). Jarak paling pendek adalah garis lurus 10 . Gunarwan (1994. Misalnya. Misalnya. Saya sebenarnya mau minta saudara memindahkan kotak ini. Misalnya. Misalnya. (4). Tuturan isyarat kuat. Dengan kotak ini di sini. Saudara dapat memindahkan kotak ini? (8). Bagaimana kalau kotak ini dipindahkan? (7). Tuturan performatif berpagar. Ruangan ini kelihatan sesak. Saudara harus memindahkan kotak ini. Misalnya. (9). 1994a). (6). artinya sebuah tuturan berhubungan dengan tindak verbal yang terjadi dalam situasi tertentu. Berdasarkan konteks ini. Misalnya. Tuturan sebagai produk tindak verbal. Tuturan rumusan saran. beranjak dari teori Bulm-Kulka (1987).

baik secara konvensional maupun non-konvensional. (3) tindak tutur langsung tidak literal (direct nonliteral speech act). dan (4) tindak tutur tidak langsung tidak literal (indirect nonliteral speech act). yaitu (1) tindak tutur langsung literal (direct literal speech act) . setiap penutur berharap agar apa yang diujarkan dapat dipahami oleh mitra tuturnya. Kalimat-kalimat tersebut dalam berkomunikasi dapat difungsikan. dan selalu langsung pada persoalan (straight forward) sehingga tidak menghabiskan waktu mitra tuturnya. kalimat dibedakan atas kalimat deklaratif (berita). dalam suatu peristiwa tutur peserta tutur harus menyadari kaidah-kaidah yang mengatur penggunaan bahasa. Dalam berkomunikasi. padat dan ringkas (concise). sedangkan pemfungsian kalimat secara non-konvensional akan membentuk tindak tutur tidak langsung (indirect speech act). dan kalimat imperatif (perintah). Secara formal. makin tidak langsunglah ujaran itu (Gunarwan. 11 . Makin melengkung garis pragmatik itu. penutur berusaha agar tuturannya selalu relevan dengan konteks. maka akan mempengaruhi juga perbedaan tindak tutur yang terjadi. berdasarkan modusnya.yang menghubungkan kedua titik tersebut. kalimat interogatif (tanya). Wijana (1996:30) mengatakan bahwa pemfungsian kalimat secara konvensional akan membentuk tindak tutur langsung (direct speech act). Akibat perbedaan pemfungsian kalimatkalimat tersebut. dan ini dimungkinkan dengan permintaan yang dilakukan menggunakan modus imperatif. Untuk itu. kedua tindak tutur tersebut dapat diperluas lagi berdasarkan maksud (literal atau nonliteral) dari makna katakata yang menyusunnya. Lebih lanjut. (2) tindak tutur tidak langsung literal (indirect literal speech act). jelas dan mudah dipahami. 1994:50). Oleh karena itu.

ada beberapa teori kesantunan yang perlu diperhatikan. seorang penutur harus menghitung derajat keterancaman ujaran yang dia tuturkan dengan mempertimbangkan faktor-faktor: (1) jarak sosial di antara penutur dan mitra tutur. seorang penutur harus dapat menjaga perasaan atau menjaga muka mitra tutur agar tidak terancam (face threatening act) (Brown dan Levinson. Dalam merealisasikan keenam prinsip kesopanan ini. Allan (1986:10) mengatakan bahwa Being co-operative is being polite (mostly). Namun demikian.artinya peserta tutur harus memahami konteks yang melatarbelakangi penggunaan bahasa tersebut. Hal ini terjadi mengingat permintaan berkaitan dengan adanya keinginan agar mitra tutur melakukan apa yang diinginkan oleh penutur. Oleh karena itu. Penutur tidak melaksanakan prinsip kerja sama karena pertimbangan prinsip kesopanan (politeness principles). 1987:92. (2) maksim penerimaan. (4) maksim kerendahan hati. (2) besarnya perbedaan kekuasaan dan dominasi di antara keduanya. (5) maksim kecocokan. Jadi. Prinsip kesopanan ini tergambar dalam enam maksim yaitu (1) maksim kebijaksanaan. adakalanya di saat meminta penutur sengaja lari dari tuturan yang seperti tersebut di atas untuk maksud-maksud tertentu. 12 . seperti permintaan. dapat dikatakan bahwa ada semacam prinsip kerja sama (cooperative principles) yang harus dilakukan oleh peserta tutur agar proses komunikasi berjalan lancar. dan (6) maksim kesimpatian. Inti dari teori kesantunan adalah dalam melakukan tindak tutur permintaan. Wijana. 2004:2). (3) maksim kemurahan hati. dalam situasi tutur yang biasa.

Kato Nan Ampek merupakan aturan bertutur dalam BMn yang penggunaannya tergantung kepada hubungan sosial yang terjadi antara penutur dengan mitra tutur dalam kehidupan sehari-hari (Aslinda. tidak langsung. Dengan kata lain. disana langit dijunjung. Hubungan tersebut bersifat variatif.dan (3) status relatif jenis tindak tutur di dalam kebudayaan yang bersangkutan. dan tidak harmonis yang berpengaruh pada bentuk lingualnya. 1988:55) agar proses komunikasi berjalan dengan lancar dan permintaan itu dipenuhi. orang yang berusia lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya. Fenomena ini sangat dipengaruhi oleh faktor sosial budaya masyarakat penuturnya. atau terselubung. Setiap daerah itu punya perbedaan dan keunikan tersendiri yang membuatnya berbeda dengan wilayah lain. dalam melaksanakan prinsip kerja sama perlu diperhatikan prinsip kesopanan. yaitu ujaran dalam suatu kebudayaan dianggap tidak terlalu mengancam muka. cara meminta kepada teman. Masyarakat Minangkabau memiliki suatu aturan dalam berkomunikasi (rules of speaking) yang disebut dengan Kato Nan Ampek. sekedar kenal. kesantunan itu bersifat nisbi dan tergantung kepada penafsiran pendengar. Setiap orang yang berada di wilayah itu harus mematuhi aturan-aturan yang berlaku. tidak kenal. Bagaimanapun juga. orang yang baru dikenal atau tidak dikenal. yaitu akrab. untuk meminta. sebagaimana kata pepatah dimana bumi dipijak. perlu diperhatikan bentuk tuturan yang bagaimana yang harus digunakan. seperti sasmita (Kartomihardjo. tidak akrab. Misalnya. apakah tuturan yang langsung. Artinya. 2000:187-188). pemilihan bentuk kalimat (modus kalimat dan tipe tuturan yang digunakan) dalam bertutur dipengaruhi oleh 13 .

Misalnya.pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas. Pemakaian tata bahasanya biasanya bersifat bahasa pasar yang lazim memakai suku kata terakhir atau kata-katanya tidak lengkap dan kalimatnya pendek. bahasa yang digunakan oleh orang tua kepada anaknya. Untuk kalimat-kalimat tertentu. Variasi bentuk ini digunakan oleh penutur untuk tujuan pembeda tertentu sesuai dengan prinsip yang nampaknya dimiliki bersama oleh keseluruhan manusia dan berbeda antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya (Martinet. sering juga 14 . murid kepada gurunya. tata bahasanya rapi. 2. 1987: 35. Pemakaian tata bahasanya lebih rapi dan ungkapannya lebih jelas. bahasa yang digunakan oleh anak kepada orang tuanya. atau bawahan kepada atasannya. 1991:169). atau paman/bibi kepada keponakannya. Samsuri. guru kepada muridnya. Dalam Kato Nan Ampek dikenal empat istilah: 1. Kato Manurun (Kata Menurun) ialah tuturan atau bahasa yang digunakan oleh orang yang usianya lebih tua kepada yang lebih muda atau yang status sosialnya lebih tinggi kepada yang lebih rendah. Misalnya. Kato Mandaki (Kata Mendaki) ialah tuturan atau bahasa yang digunakan oleh orang yang usianya lebih muda dan kadangkala orang yang statusnya lebih rendah dari mitra tutur. Kato Mandata (Kata Mendatar) ialah tuturan atau bahasa yang digunakan di antara orang yang seusia dan hubungannya akrab. 3. tetapi dengan kalimat yang lebih pendek dan dapat berbentuk kalimat langsung maupun tidak langsung. atasan kepada bawahannya (tergantung umur). Dalam penggunaan kato manurun ini.

tetapi mempunyai implikatur-implikatur.digunakan kiasan-kiasan untuk mempertegas. bebentuk peribahasa. Misalnya. G. baik sebagai bahan perbandingan maupun 15 . atau memperdalam makna yang disampaikan. bahasa yang dipakai oleh orang yang mempunyai hubungan kekerabatan karena perkawinan. atau sindiran. mendeskripsikan bentuk-bentuk lingual tindak tutur permintaan dalam BMn. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk: 1. guru. KONTRIBUSI PENELITIAN Betapapun sederhananya sebuah penelitian. mengidentifikasikan faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan bentukbentuk tindak tutur permintaan dalam BMn. 3. tetap saja mempunyai arti yang besar bagi penelitian berikutnya. mertua. seperti ipar. seperti penghulu. dan menantu atau orang-orang yang jabatannya dihormati. menggambarkan fungsi atau nilai-nilai moral yang terkandung dalam tindak tutur permintaan dalam BMn. Pemakaian bahasa Kato malereang ini berbentuk kalimat lengkap. kiasan. F. yaitu teori pragmatik ke dalam studi bahasa. mempertajam. besan. Kato Malereang (Kata Melereng) ialah tuturan atau bahasa yang digunakan oleh orang yang saling menyegani. 4. TUJUAN PENELITIAN Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menerapkan teori linguistik. dan ulama. perumpamaan. 2.

penutur BMn cenderung untuk main hantam kromo. Hal ini diketahui dari banyaknya komentar para orang tua tentang tidak tahunya generasi muda sekarang dengan ereang jo gendeang dan kato nan sampai. penelitian ini berisi perian-perian tentang bentuk dan fungsi tindak tutur permintaan dalam BMn. penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pemakaian BMn secara luas untuk mengetahui bagaimana tindak tutur permintaan dalam BMn yang sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku dalam masyarakat Minangkabau karena sekarang ini. Jadi. sejauh 16 . tidak menutup kemungkinan penelitian ini dilanjutkan dan dijadikan pijakan untuk penelitian yang cakupannya lebih luas. menurut pengamatan penulis. Bahkan. Demikian pula halnya dengan penelitian tindak tutur permintaan dalam BMn ini. Pengetahuan yang terhimpun dalam penelitian ini diharapkan dapat menjadi cermin bagi masyarakat Minangkabau bahwa ada terjadi sedikit pergeseran cara meminta masyarakat Minangkabau dulu. penelitian ini diharapkan dapat mengaplikasikan salah satu teori dari ilmu pragmatik. sewaktu penulis masih dalam taraf pendidikan dasar. dengan sekarang. banyak asas-asas sosial budaya yang sudah diabaikan. penelitian ini juga dapat memberikan gambaran bagaimana masyarakat Minangkabau bertutur. para pembaca yang tertarik untuk mengkaji atau meneliti bidang sejenis dapat menjadikan hasil penelitian ini sebagai perbandingan atau referensi untuk penelitian selanjutnya. Di samping itu. khususnya generasi muda. khususnya dalam tuturan permintaan bila dihubungkan dengan konteks sosial budayanya. dalam bertutur. yaitu tindak tutur ke dalam BMn.sebagai bahan acuan penelitian. Selain itu. Artinya. Secara praktis. Secara teoretis.

Untuk melengkapi penelitian ini maka penulis menggunakan data yang ada pada masyarakat tutur (Ibrahim. kepada teman-teman/kolega. 1992:181). di dalam pengamatan objek sasaran penelitian. metode analisis data. Menyimak uraian Asher (1994) tentang metode penelitian pragmatik. kakak/adik. 17 . 1994:256. diharapkan penelitian ini dapat memperkaya daftar bacaan mereka sebagaimana halnya juga mahasiswa jurusan Sastra Minangkabau. namun hasilnya masih sering tidak lengkap. penulis sebagai penutur asli BMn ikut menguji dengan kemampuan intuitif. Semoga hasil penelitian ini ada manfaatnya untuk perkembangan ilmu linguistik umumnya serta perkembangan sosiolinguistik H. suami. berdasarkan apa yang sering dikeluhkan oleh guru-guru yang mengajar muatan lokal budaya adat Minangkabau tentang keterbatasan referensi. Tidak kalah penting.permintaan mereka terpenuhi. Dalam hal ini. pengumpulan data dengan metode ini relatif cepat. dipergunakan metode introspeksi (Asher. dan penyajian hasil analisis. 1992:179). Sebagai langkah awal. penelitian ini dapat dimanfaatkan oleh mereka yang tertarik atau sedang mempelajari BMn. dan atasan. misalnya bagaimana meminta kepada orang tua/mertua. norma-norma yang mengatur sikap dan tingkah laku dalam bertutur tidak diindahkan lagi. Ibrahim. Langkah-langkah tersebut adalah pengumpulan data. Selain itu. METODE PENELITIAN Berkaitan dengan metode penelitian. beberapa langkah mendasar perlu dibicarakan.

Untuk keabsahan data. dan pekerjaan. 1995:174-177). Anwar. usia. data yang tertangkap yang tidak terekam segera dicatat.Pengambilan data dilakukan di daerah Padang. Padang dipilih sebagai daerah penelitian karena ibukota propinsi Sumatera Barat ini didiami oleh masyarakat yang heterogen karena penduduk Kota Padang berasal dari berbagai daerah di Sumatera Barat dengan dialek yang berbeda-beda pula. 1993:133-136. Pesisir Selatan. Dalam berinteraksi. Data direkam dari responden yang dipilih berdasarkan kriteria tertentu. Langkah berikutnya. Alasan pemilihan kriteria tersebut adalah dengan harapan bervariasinya penutur yang memiliki latar belakang berbeda bisa menghasilkan bentuk tuturan permintaan yang bervarisi pula. Artinya. Apalagi bila data itu mucul di tempat-tempat yang tidak direncanakan (Sudaryanto. 1993:11). pendidikan. Tanah Datar. fenomena yang berkembang saat ini.. Pariaman. Di samping itu. 1988:7). masyarakat Padang lebih cendrung menggunakan dialek umum yang sering dianggap sebagai dialek standar BMn (Nio dkk. dan dialek Minang Standar. data diperoleh dengan memakai metode simak dan metode simak libat cakap serta teknik simak libat cakap (SLC) dan teknik simak bebas libat cakap (SLBC) (Sudaryanto. 1979:2. Medan. Tuturan yang diperkirakan merupakan permintaan direkam dan kemudian ditranskripsikan. Kriteria tersebut adalah jenis kelamin. pada beberapa data yang ditemukan terbatas. Lima Puluh Kota. (1980:57) mengatakan ada sejumlah dialek dalm BMn yaitu dialek Agam. Solok. Djajasudarma. teknik catat ikut dipakai sebagai lanjutan dari teknik rekam. Peneliti menanyakan tentang 18 . teknik interview juga dipergunakan.

Penyajian ke dalam bentuk narasi dibagi atas dua jenis yaitu metode formal dan informal (Sudaryanto.variasi-variasi lain yang mungkin digunakan kepada orang yang mengerti dengan adat dan budaya Minangkabau. Penyortiran data dilakukan untuk memudahkan analisis mengingat sumber data cukup banyak. Pengindentifikasian data dilakukan untuk mengelompokkan data berdasarkan bentuk (bentuk lingualnya) dan strategi yang dilakukan dalam tindak tutur permintaan. Penyajian hasil analisis data dilakukan dalam bentuk narasi. tidak tertutup kemungkinan data yang sama muncul berulangkali dalam konteks yang sama pula. Dengan demikian. pengidentifikasian data. dan menjawab permasalahan. Masing-masing pola ini dihubungkan dengan latar belakang pemakainya untuk mengetahui mengapa mereka memakai pola tertentu untuk fungsi meminta. 1993:145). Kutipan ini mengimplikasikan peneliti itu memainkan peran kunci dalam penelitian. Misalnya. Ini sesuai dengan pendapat Moleong (1991:31). Penyajian analisis ini menggunakan metode formal karena dalam menguraikan berbagai fenomena yang berkaitan dengan tindak tutur permintaan dipakai bagan atau lambang. Analisis data terdiri dari beberapa tahap yaitu penyortiran data. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah dan menyederhanakan penganalisisan data ini sehingga hasil analisis dapat dipahami 19 . penyortiran dilakukan untuk menghindari supaya data yang sama tidak teranalisis dua kali. Branen (1997:83) bahwa peneliti memegang fungsi sentral dalam pengumpulan data. seperti pemuka-pemuka adat. kalimat/ujaran hanya dilambangkan dengan angka.

Nama b. S. JADWAL PELAKSANAAN PENELITIAN B U L A N No.x menyurat. 5. Golongan/Pangkat/NIP c. 3. Bidang Keahlian h. Dengan metode ini. Metode informal merupakan penyajian analisis dengan memakai kata-kata biasa. Ketua Peneliti a. persyaratan administrasi Tahapan kajian hipotesis dan memformulasikan tesis awal dan data Tahapan pencarian data dan penganalisisan lanjutan Tahapan pengolahan data lanjutan dan formulasi akhir Penulisan laporan pertama Seminar Perbaikan penulisan akhir x J. PERSONALIA PENELITIAN 1. Linguistik : 15 jam/minggu : 1 orang (ditentukan kemudian) 20 . Jabatan Fungsional e. 4. 2. 6.dengan mudah. dipaparkan serta diberikan argumentasi yang berpedoman pada konsep dan kerangka teori yang dipakai.S : Penata Muda Tk I/III/b/132 229 987 : Sastra/Sastra Inggris : Asisten Ahli : : Universitas Andalas : Sastra Inggris. K E G I A T A N 1 2 x x x x x x x x x x x x x x x 3 4 5 6 7 8 9 10 Tahapan persiapan surat. 7. berbagai fenomena yang menyangkut aspek pragmatik dideskripsikan. I. Tenaga Pembantu : Ike Revita. Jabatan Struktural f. Waktu untuk Penelitian 2. Perguruan Tinggi g. Fakultas/Jurusan d. 1.

Konsumsi dan akomodasi di lapangan 2. 500.- Rp. 11.250.Rp. Biaya Penggandaan Bahan Penelitian a.1.Rp. Kertas dan alat-alat tulis c.- Rp. Pembelian tape recorder 3. Biaya Pembelian Bahan a.700.500. Honorarium a. Rp.000. PERKIRAAN BIAYA PENELITIAN 1.Rp.000.300.Rp.Rp.Rp.000 Jumlah Terbilang: Rp. 500. Rp.200.850.K.000. Rp. Disket. Biaya Perjalanan a. 500. Fotokopi arsip dan dokumen b.500. Biaya Pertemuan dan Seminar 5.000. Surat-menyurat dan Telepon 7.Rp. Peneliti b.000 6.000.000. 1.Rp.000. 800.000.500. 500.000.000.000.Rp.000. 500. Informan (8 orang) @ 100.000. Tenaga Lapangan c.000.1. Foto kopi laporan akhir 4. Fotokopi makalah seminar c. 1. 1.000.000.Sebelas juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah 21 . CD. Sewa komputer selama 120 hari @ 10. Studi Pustaka b. dan tinta komputer d.000. Beli buku-buku teks b.Rp. 600.

Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa. Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atmajaya. 2000. Rowley:Massachusett Newbour House Gunarwan. Englsih as A Second Language: From Theory to Practice. New York:Yale University Finocchario. Cambridge:Cambridge University Press Cahyono. Fatimah. Modalitas dalam Bahasa Indonesia. Penelope dan Stephen C Levinson.H Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset Brown. (Penerjemah H. 1974. 1997. 1970. Linguistic Meaning. 1994. Penyunting Esther N Goody.1 dan Vol. Noorhaidi A. Mary. “Kato Nan Ampek” Tuturan dalam Bahasa Minangkabau Suatu Tinjauan Sosiolinguistik. (Vol. Tesis. PELLBA 7. Dalam Questions and Politeness. “Kesantunan Negatif di Kalangan Dwibahasawan Indonesia-Jawa di Jakarta: Kajian Sosiopragamatik”. USA:Regents Publishing Company Inc Fishman.2).LAMPIRAN-LAMPIRAN DAFTAR PUSTAKA Allan. 1984. Imam Safe’I. R. 1990. Yogyakarta:Universitas Gadjah Mada Branen. Asim. 22 . Manner And Meaning in West Sumatera: The Social Context of Consciousness. Yogyakarta: Kanisisus Anwar. Memadu Metode Penelitian Kualitatif dan Kuantitatif. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Asher. (Penyunting Bambang Kaswanti Purwo). The Encyclopedy of Lanuage and Linguistics. J. Hasan. Oxford: Pergam Aslinda. 1987. Bandung:Eresco Errington. 1993. Khaidir. Metode Linguistik Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Surabaya: Djajasudarma. Nuktah Arfawie Kurde. Sociolinguistics: A Brief Introduction. T. Airlangga University Press Kristal-kristal Ilmu Bahasa. 1994. Julia. “Universals in Language Usage: Politeness Phenomena”.E. London: Routledge & Kegan Paul Inc Alwi. 1986. 1998. Frederick K. 1995. Bambang Yudi. Keith.

1998. New York:Longman Levinson. 1993. 1990. London:Cambridge University Press Marckwardt. Charles W. Yogyakarta: Kanisius Medan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada 23 . Abdul Syukur. Jakarta:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Moleong. ‘Indonesian Learners’ Requests in English: A Speech-Act Based Study’. Humaniora. Bahasa Cermin Kehidupan Masyarakat. Metodologi Penelitian Kualitatif. “Pragmatik. Panduan Penelitian Etnografi Komunikasi. dan Pengajaran Bahasa”. 1996. Surabaya:Usaha Nasional Kartomihardjo. Soeseno. 1998. No. Webster Comprehensive Dictionary Encyclopedic.org/program/aatseel/2000/abstract-48html Moeliono. Mengiring Rekan Sejati Festschrift Buat Pak Ton. Kamus Besar Bahasa Indonesia. London: Routledge Leech. 1991. University of Kansas. Albert H. Jakarta:Unika Atmajaya. Surakarta:Universitas Sebelas Maret Ibrahim. 1988. Chiacgo: J. Anton. 1983. Pragmatics. 9. 2004. 1987. Ilmu Bahasa: Pengantar. Buletin Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada.aatseel. Edition. F. Murphy-Lee. Jakarta:Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Meghan K. “The Speech Act of Requests: A Pedagogical Perspective. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Kreidler. Tamsin. Surabaya: Usaha Nasional -----. -----. Lexy J. Kajian Tindak Tutur. 1983.G Ferguson Publishing Company Martinet. Makalah dalam Seminar Nasional Semantik III:Pragmatik dan Makna Interaksi Sosial. http://www. Principle of Pragmatics. Geoffrey. 1994. Stephen C. Kebudayaan.X. 2000. Andre. “Dialek-dialek Minangkabau di Daerah Minangkabau/Sumatera Barat (Suatu Pemerian Dialektologis)”. Bandung:PT Remaja Rosdakarya Nadar.-----. 1994a. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1988. (Penyunting Soenjono Dardjowidjojo). Introducing English Semantics. Frderick G Cassidy. dan James G Mc Millan. “Pragmatik:Pandangan Mata Burung”.

Yogyakarta:Andi -----. 2004. 1996. Yusran. Penyunting Soenjono Dardjowidjojo. 1985. A. Yusuf.Nio. Zainuddin. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Indonesia Depdikbud Poedjosoedarmo. 2001. “Komponen Tutur”. 1991. 1996. Jakarta:Erlangga Schiffrin. Makalah dalam Seminar Nasional Semantik III:Pragmatik dan Makna Interaksi Sosial. 1991. Pragmatics. Dalam Perkembangan Linguistik di Indonesia. Cross Cultural Pragmatics. USA: Blackwell Publishers. Jakarta:Arcan Samsuri. J. Surakarta:Universitas Sebelas Maret Yule. Approaches to Discourse. HRL. Surin. Yusna. Be Kim Hoa. Verhaar.W. Deborah. Dasar-dasar Pragmatik. 1994. Soepomo. Morfologi dan Sintaksis Bahasa Minangkabau. Agustar.M. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press Wierzbicka. “Teori Kesantunan dan Humor”. 1979. I Dewa Putu. Zainil. Analisis Bahasa. Geroge. Khatib. Berlin: Mouton de Gruyter Wijana. Asas-Asas Linguistik Umum. Oxford:Oxford University Press 24 .

S : Padang Panjang/ 30 September 1973 : Penata Muda Tk I/ III/b/ NIP. Bahasa dan Kekuasaan : Sebuah Tinjauan pada Drama Berbahasa Minang Elo Baleh 3. 132 229 987 : Asisten Ahli : Linguistik : S1 Sastra Inggris Universitas Andalas 1.dalam Bahasa Minangkabau 2.RIWAYAT HIDUP KETUA PENELITI Nama Tempat/Tanggal Lahir Golongna Pangkat /NIP Jabatan Fungsional Bidang Keahlian Pendidikan Terakhir Pengalaman Penelitian: . S. Tindak Tutur dalam Bahasa Minangkabau (Sebuah Kajian dari Aspek Sosial Budaya) 5. Prefix Me. : Ike Revita. Pragmatics Force behind Minangkabau Myths: A Moral Value Point of View 25 . Kata Penyukat dalam Bahasa Minangkabau 4.

2005 26 .S FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS ANDALAS MARET.Penelitian Dosen Muda PERMINTAAN: KAJIAN PRAGMATIK TENTANG TINDAK TUTUR DALAM BAHASA MINANGKABAU USUSL PENELITIAN DOSEN MUDA (BBI) Tahun Anggaran 2005/2006 Oleh: IKE REVITA. S.

Lokasi Penelitian : Kota Padang 6. (0751) 71303. 132 229 987 Menyetujui Ketua Lembaga Penelitian Prof. Dayar Arbain NIP. Jumlah Anggota Peneliti : Ditentukan kemudian 5. a. Alamat Rumah : Komplek Permata Harbaindo H11/6 Pampangan Padang Telp. 131 803 190 Ike Revita. 71085 b. Fakultas/Jurusan : Sastra/Sastra Inggris g. Alamat Ketua Peneliti a. Sumber dana dari Diknas : Rp. 21 Maret 2005 Ketua Peneliti Drs. S.S b. Judul Penelitian : Permintaan : Kajian Pragmatik tentang Tindak Tutur dalam Berbahasa Minangkabau b. Bidang Ilmu : Sastra/Filsafat c. Alamat Kantor : Fakultas Sastra Unand Kampus Limau Manis Padang Telp. Jabatan Struktural : f. Jabatan Fungsional : Asisten Ahli e. 131 677 654 27 . Biaya yang diperlukan a.(Sebelas juta delapan ratus lima puluh ribu rupiah) Mengetahui Dekan Fakultas Sastra Padang.000. 11. Ketua Penelitian : Ike Revita. a. Dr. Lama Penelitian : 10 Bulan 7. Kategori Penelitian : Penelitian untuk penunjang pembangunan 2. MS NIP. Pusat Penelitian : Universitas Andalas 3. Golongan Pangkat dan NIP : Penata Muda Tk I/ III/b/ NIP: 132 229 987 d. Maizufri.850. S. (0751) 71227 Fax. Jenis Kelamin : Perempuan c. (0751) 766355 4.S NIP.HALAMAN PENGESAHAN USUL PENELITIAN DOSEN MUDA 1.

28 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->