P. 1
Makalah Ekonomi Mikro - Analisa Sektor Industri Pertanian

Makalah Ekonomi Mikro - Analisa Sektor Industri Pertanian

|Views: 1,906|Likes:
Published by Rama Renspandy

More info:

Published by: Rama Renspandy on Apr 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Salah satu target pemerintah dalam meningkatkan perekonomian di daerah Jawa Timur yaitu memacu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menekan laju inflasi di daerah, dan mampu menyerap tenaga kerja yang cukup banyak dan disini kami khususkan di dalam cakupan pertanian yang ada di daerah jawa timur. Untuk mencapai tingkat pertumbuhan dengan struktur ekonomi yang diharapkan melalui bidang pertanian, maka pembangunan perlu direncanakan dengan baik dan hasil pertumbuhan di bidang pertanian yang telah tercapai perlu dievaluasi lagi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur. Sektor Pertanian merupakan sektor unggulan di Jawa Timur, karena memberikan kontribusi terbesar ketiga setelah PHR dan industri pengolahan. Dari sisi besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku, pertanian mengalami peningkatan kuantitas, tetapi dilihat dari sisi distribusi persentase (peranan) terhadap total pembentukan PDRB Jawa Timur dalam beberapa tahun terakhir cenderung menurun. Oleh karena itu, analisis disini perlu dilakukan untuk mengetahui hambatan-hambatan yang ada di dalam pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian, mengetahui seberapa besar laju inflasi di sektor pertanian Jawa Timur , mengetahui seberapa pesat pertumbuhan ekonomi Jawa Timur di sektor pertanian dan mampu menemukan solusi-solusi yang tepat untuk lebih mengembangkan sektor pertanian Jawa Timur.

1.2 Perumusan Masalah
y y y y y

Seberapa besar laju pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dilihat dari sektor pertanian Seberapa besar distribusi presentase sektor pertanian terhadap total PRDB Jawa Timur selama 10 tahun terakhir Laju Inflasi sektor pertanian Jawa Timur selama 10 tahun terakhir Faktor-faktor penyebab inflasi sektor pertanian Jawa Timur Langkah-langkah yang perlu diambil untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dari sektor pertanian

1.3 Tujuan Penulisan
y y y y y

Melatih mahasiswa untuk mampu menganalisis permasalahan ekonomi di sektor pertanian Jawa Timur Mengetahui seberapa besar pertumbuhan ekonomo Jawa Timur dilihat dari sektor pertanian Mengetahui seberapa besar laju inflasi sektor pertanian Jawa Timur selama sepuluh tahun terakhir Mampu menemukan solusi yang tepat dari permasalahan yang ada Mampu melihat potensi yang ada di sektor pertanian Jawa Timur untuk dapat meningkatkan perekonomian Jawa Timur

1.4 Sistematika Penulisan
I. Pendahuluan Berisi pendahuluan yang meliputi: latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan. II. Telaah Pustaka Berisikan Tinjauan Pustaka yang menguraikan tentang inflasi, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur,dan sektor pertanian di Jawa Timur III. Metodologi Penelitian Pada bab ini diuraikan tentang cara-cara melakukanpenulisan yang meliputi pendekatan masalah, jenis dan sumber data, prosedur pengumpulan pengolahan data,dan analisis data. IV. Analisa Dan Pembahasan Pada bab ini diuraikan tentang hasil analisis permasalahan yang meliputi analisis permasalahan yang perlu dibahas serta pembahasan-pembahasan lain yang merujuk pada perumusan masalah V. Kesimpulan Dan Saran Merupakan Bab penutup yang memuat kesimpulan dan saran. VI. Daftar Pustaka Bab yang berisi kumpulan rujukan-rujukan yang dapat memperkuat analisis dengan data-data yang ada VII. Lampiran Berisi dokumen pendukung ataupun data-data pendukung analisis

BAB II TELAAH PUSTAKA

2.1 Inflasi
Inflasi adalah suatu keadaan dalam perekonomian di mana terjadi kenaikan harga -harga secara umum. Kenaikan dalam harga barang dan jasa yang biasa terjadi jika permintaan bertambah dibandingkan dengan jumlah penawaran atau persediaan barang di pasar, dalam hal ini lebih banyak uang yang beredar yang digunakan untuk membeli barang dibanding dengan jumlah barang dan jasa. Perlu diketahui juga bahwa tidak semua yang namanya kenaikan harga selalu diidentikan dengan inflasi, misalnya kenaikan harga pada hari Lebaran, ini hanya gejolak pasar yang terjadi sesaat saja dan tidak berlangsung terus-menerus. Inflasi sebagai bagian dari keadaan perekonomian tentu akan dialami oleh setiap negara, hanya saja setiap negara memiliki tingkat inflasi yang berbeda -beda. Penyebab Inflasi, dapat dibagi menjadi : 1. Demand Side Inflation, yaitu disebabkan oleh kenaikan permintaan agregat yang melebihi kenaikan penawaran agregat 2. Supply Side Inflation, yaitu disebabkan oleh kenaikan penawaran agregat yang melebihi permintaan agregat 3. Demand Supply Inflation, yaiti inflasi yang disebabkan oleh kombinasi antara kenaikan permintaan agregat yang kemudian diikuti oleh kenaikan penawaran agregat,sehingga harga menjadi meningkat lebih tinggi 4. Supressed Inflation atau Inflasi yang ditutup-tutupi, yaitu inflasi yang pada suatu waktu akan timbul dan menunjukkan dirinya karena harga -harga resmi semakin tidak relevan dalam kenyataan Inflasi dapat digolongkan sebagai berikut : 1. Berdasarkan Parah Tidaknya Inflasi y Inflasi Ringan (Di bawah 10% setahun) y Inflasi Sedang (antara 10-30% setahun) y Inflasi Berat ( antara 50-100% setahun) y Hiper Inflasi (di atas 100% setahun) 2. Berdasar Sebab musabab awal dari Inflasi y Demand Inflation, karena permintaan masyarakat akan berbagai barang terlalu kuat y Cost Inflation, karena kenaikan biaya produksi 3. Berdasar asal dari inflasi y Domestic Inflation, Inflasi yang berasal dari dalam negeri y Imported Inflation, Inflasi yang berasal dari luar negeri

2.2 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur 2.3 Sektor Pertanian di Jawa Timur
Sebagai salah satu provinsi besar di Inonesia, Jawa Timur memiliki potensi pertanian yang cukup besar. Pada tahun 2005, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut harga konstan Provinsi

Jawa Timur mencapai Rp. 256,4 triliun, dan sektor pertanian menyumbang 17,4 %.Sektor pertanian itu sendiri memiliki beberapa subsektor antara lain : 2.3.1. Tanaman Bahan Makanan Subsektor ini mencakup komoditi tanaman bahan makanan seperti padi, jagung, ketela pohon, ketela rambat, kacang tanah, kacang kedele, umbi-umbian, sayur-sayuran, buah-buahan, kentang, kacang hijau, tanaman pangan lainnya, dan hasil-hasil produk ikutannya. Termasuk dalam cakupan ini hasil-hasil dari pengolahan yang dilakukan secara sederhana seperti beras tumbuk dan gaplek yag dilakukan oleh petani. Data produksi diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Jawa Timur, sedangkan data harga seluruhnya bersumber dari data harga yang dikumpulkan oleh BPS Provinsi Jawa Timur. Nilai tambah bruto atas dasar harga yang berlaku diperoleh melalui pendekatan produki, yaitu dengan mengalikan terlebih dahulu setiap jenis kuantum produksi dengan masing -masing harganya, kemudian hasilnya dikurangi dengan biaya antara atas dasar harga yang berlaku. Biaya antara tersebut diperoleh dengan menggunakan rasio biaya antara terhadap output yang diperoleh dari hasil survei khusus. Sedangkan nilai tambah atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara revaluasi, yaitu mengalikan kuantum produksi masing-masing tahun dengan harga pada tahun 2000, kemudian dikurangi biaya atas dasar harga konstan 2000. 2.3.2. Tanaman Perkebunan Tanaman perkebunan terbagi menjadi tanaman perkebunan rakyat dan tanaman perkebunan besar, yang dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut : a. Tanaman Perkebunan Rakyat Komoditi yang dicakup adalah hasil tanaman perkebunan yang diusahakan oleh rakyat seperti jambu mente, kelapa, kopi, kapuk, kapas, tebu, tembakau, cengkeh, tanaman obat-obatan, dan tanaman perkebunan lainnya. Data produksi diperoleh dari Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur, sedangkan data harga diperoleh dari BPS Provinsi Jawa Timur dan Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Timur. Nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku dihitung dengan cara pendekatan produksi. Rasio biaya antara serta rasio margin perdagangan dan biaya transport diperoleh dari Tabel Input-Output Jawa Timur Tahun 2000. Sedangkan nilai tambah atas dasar harga konstan 2000 diperoleh dengan cara revaluasi, sama seperti yang dilakukan pada tanaman bahan makanan. b. Tanaman Perkebunan Besar Kegiatan yang dicakup dalam subsektor ini adalah kegiatan yang memproduksi komoditi perkebunan yang diusahakan oleh perusahaan perkebunan besar seperti karet, teh, kopi, coklat, minyak sawit, inti sawit, tebu, rami, serat manila dan tanaman lainnya. Cara penghitungan nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan 2000 sama seperti yang dilakukan pada tanaman perkebunan rakyat. 2.3.3 Peternakan dan Hasil-Hasilnya Subsektor ini mencakup produksi ternak besar, ternak kecil, unggas maupun hasil hasil ternak, seperti sapi, kerbau, kuda, babi, kambing, domba, susu segar, dan telur. Produksi ternak diperkirakan sama dengan jumlah ternak yang dipotong, ditambah perubahan stock populasi

ternak dan ekspor ternak neto. Data mengenai jumlah ternak yang dipotong, populasi ternak, produksi susu dan telur serta banyaknya ternak yang keluar masuk wilayah Jawa Timur diperoleh dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur, sedangkan data harga ternak diperoleh dari laporan harga produsen BPS Provinsi Jawa Timur, dan sebagian dari harga produsen dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur. Nilai tambah atas dasar harga berlaku dan atas dasar harga konstan 2000 dihitung dengan cara mengalikan nilai produksi dengan rasio nilai tambah berdasarkan hasil survei khusus pendapatan regional. 2.3.4 Kehutanan Subsektor kehutanan mencakup kegiatan yang dilakukan di areal hutan oleh perorangan dan badan usaha, yang mencakup usaha penanaman, pemeliharaan dan penebangan kayu, pengambilan hasil hutan lainnya. Kegiatan ini meliputi : penebangan kayu yang menghasilkan kayu gelondongan, kayu bakar, arang dan bambu. Sedangkan hasil kegiatan pengambilan hasil hutan lainnya berupa rotan, damar, kulit kayu, kopal, nipah, nibung, akar-akaran dan sebagainya masih termasuk sektor ini. Data produksi kayu dan hasil hutan lainnya diperoleh dari Perum Perhutani Unit II Jawa Timur. Sebagaimana dengan subsektor lainnya, dalam sektor pertanian output subsektor kehutanan dihitung dengan cara mengalikan kuantum produksi dengan harga masing -masing tahun yang menghasilkan output atas dasar harga berlaku, dan penggunaan harga pada tahun dasar menghasilkan output atas dasar harga konstan 2000. Selanjutnya nilai tambah bruto dihitung dengan menggunakan rasionya terhadap output. Rasio tersebut diperoleh dari hasil input-output Jawa Timur 2000. 2.3.5. Perikanan Yang dicakup dalam kegiatan perikanan adalah seluruh kegiatan penangkapan dan pengambilan serta budidaya perikanan laut, perairan umum, ambak, kolam, sawah (mina padi) dan keramba. Data mengenai produksi dan nilai produksi diperoleh dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Timur. Penghitungan nilai tambah bruto dilakukan dengan mengalikan rasio nilai tambah bruto terhadap output. Rasio nilai tambah diperoleh dari survei khusus pendapatan regional.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Perumusan Masalah
Pada tahap ini, kami merumuskan permasalahan yang ada, yakni mengenai inflasi di sektor pertanian di Jawa Timur. Rumusan masalah yang kami susun, berdasarkan hipotesa dan pengamatan kami tentang kondisi perekonomian di Indonesia pada umumnya, dan Jawa Timur pada khususnya.

2.2 Pengumpulan Data
Data-data yang berkaitan tentang rumusan masalah kami dikumpulkan dari berbagai sumber. Kami memperolehnya melalui studi pustaka, pencarian data ke Badan Pusat Statistik, dan data dari internet.

2.3 Kajian Pustaka
Di tahap ini, kami mempelajari materi-materi terkait dengan permasalahan kami. Tujuannya, agar kami memahami definisi variabel-variabel yang akan digunakan dalam pembahasan nanti.

2.4 Analisa Masalah

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN

DAFTAR PUSTAKA

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->