P. 1
Teknologi Mineral Dan Batubara 2009

Teknologi Mineral Dan Batubara 2009

|Views: 1,103|Likes:
Published by Adjat Sudradjat

More info:

Published by: Adjat Sudradjat on Apr 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/01/2013

pdf

text

original

ISSN 1979 – 6560

Teknologi Mineral dan Batubara
Daftar Isi

Jurnal

Volume 5, Nomor 13, Januari 2009
No Akreditasi : 36/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

Daftar Isi ................................................................................................................................................. i Sekapur Sirih .......................................................................................................................................... ii Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi di Pantai Selatan Kulon Progo, Yogyakarta .................................................................... 1 - 16 Bambang Yunianto Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Skala Kecil dari Batubara Kadar Abu Tinggi .......................................................................................................................... 17 - 30 Suganal Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik: Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4 .................... 31 - 39 Slamet Suprapto Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan Timur dan Karakteristik Pembakarannya................................................................................................ 40 - 46 Stefano Munir dan Ikin Sodikin Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan Aspergillus Niger ............................................................................................................. 47 - 56 Tatang Wahyudi Petunjuk Bagi Penulis .......................................................................................................................... 57

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara terbit pada bulan Januari, Mei, September dan memuat karya ilmiah yang berkaitan dengan litbang mineral dan batubara mulai dari eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, lingkungan, kebijakan dan keekonomiannya. Redaksi menerima sumbangan naskah yang relevan dengan substansi terbitan ini. Biaya langganan : Rp 105.000,-/tahun di luar ongkos kirim, harga eceran Rp 35.000,-/eksemplar.
EDITOR IN CHIEF PEMIMPIN REDAKSI REDAKTUR PELAKSANA EDITOR STAF REDAKSI PENERBIT ALAMAT REDAKSI : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Hadi Nursarya : Umar Antana : Binarko Santoso (Ketua), Tatang Wahyudi, Sri Handayani, Datin Fatia Umar, Jafril, Miftahul Huda, Husaini, I. G. Ngurah Ardha, Siti Rafiah Untung dan Fauzan : Umar Antana, Nining Trisnamurni, Mining Emiliastuti, Rusmanto, Bachtiar Effendi dan Arie Aryansyah : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Jl. Jend. Sudirman 623 Bandung 40211 Telpon : (022) 6030483 - 5, Fax : (022) 6003373 e-mail : publikasitekmira@tekmira.esdm.go.id / publikasitekmira@yahoo.com

Keterangan gambar sampul depan : Pengembangan buah naga oleh petani di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo (atas); Contoh limbah batubara SL dengan pembakar siklon (bawah)
i

Sekapur Sirih
Pada awal 2009 ini, Undang-Undang Nomor 4/2009 tentang pertambangan mineral dan batubara telah diterbitkan untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 11/1967 yang dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Hal-hal penting yang tertera pada klausul-klausul undang-undang baru tersebut, terkait erat dengan masalah peningkatan nilai tambah mineral, pendayagunaan dan peningkatan pemanfaatan potensi sumber daya mineral dan batubara, penciptaan daya tarik investasi dan perlindungan lingkungan serta konservasi sumber daya mineral dan batubara. Semua hal ini juga sejalan dengan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya mineral dan batubara yang dikenal dengan istilah praktek-praktek pertambangan dengan baik dan benar (good mining practices). Apabila hal-hal ini benar-benar dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan pertambangan sesuai dengan semangat baru tersebut, beragam permasalahan pertambangan yang rentan terhadap konflik kepentingan antarsektor pembangunan dan masyarakat sekitar operasi penambangan, dapat diantisipasi dan diminimalisasikan sedini mungkin. Pada nomor terbitan jurnal kali ini, beragam makalah ilmiah yang mendukung paradigma baru bidang pertambangan tersebut mencakup permasalahan lingkungan sosial-ekonomi dan peningkatan kelitbangan dalam bidang teknologi mineral dan batubara. Kajian permasalahan lingkungan dan sosial-ekonomi rencana tambang pasir besi menggambarkan dengan jelas konflik kepentingan dalam penggunaan lahan antarsektor pertambangan dan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat sekitar lokasi tambang. Permasalahan ini bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antarsektor tersebut. Konflik ini dapat memicu pengurangan minat berinvestasi dalam sektor pertambangan, karena adanya ketidakpastian hukum dan tumpang-tindih penggunaan lahan. Proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi dari batubara kadar abu tinggi merupakan usaha pemanfaatan batubara secara nasional sesuai dengan rancangan pengelolaan energi nasional untuk memenuhi pencapaian energi bauran pada 2025. Batubara berkadar abu tinggi di Indonesia dapat digunakan untuk pembuatan briket batubara yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan. Blending batubara untuk pembangkit listrik dilakukan untuk mengatasi masalah pemasokan batubara untuk PLTU Suralaya. Sistem blending ini dapat dilakukan dengan mencampurkan antara batubara peringkat rendah dengan peringkat tinggi sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara Indonesia yang terkait dengan nilai kalornya. Hubungan antara parameter karakteristik limbah batubara dan karakteristik pembakarannya menunjukkan potensi pemanfaatan limbah batubara yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk bahan bakar langsung dengan menggunakan pembakar siklon. Perubahan morfologi dan kimia batuan pembawa fosfat dengan pelindian mikroorganisme menyisakan ampas pelindian. Pengujian kimia dan mikroskopis yang telah dilakukan terhadap ampas tersebut menunjukkan kinerja yang baik dengan melakukan pengaturan pH untuk mengurangi keikutsertaan unsur-unsur pengotornya dalam proses pelindiannya. Peningkatan kelitbangan dalam bidang teknologi mineral dan batubara yang tertuang dalam makalah-makalah tersebut perlu terus ditingkatkan, karena kualitas mineral dan batubara Indonesia harus memenuhi spesifikasi keteknikannya untuk menghasilkan komoditas yang dapat dimanfaatkan, baik secara langsung oleh para penggunanya di tanah air maupun sebagai komoditas ekspor. Dengan demikian, optimalisasi pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara tersebut dapat terlaksana, sesuai dengan arahan yang telah tertuang dalam undang-undang dan paradigma baru dalam mengelola sumber daya mineral dan batubara. Editor

ii

dan merupakan satu-satunya industri pig iron di Asia Tenggara. dengan alasan masalah lingkungan dan sosial ekonomi. berada dalam lahan Pakualaman pada kawasan sepanjang 22 kilometer pesisir Kulon Progo. Saat ini kegiatan PT. 022 – 6030483 Ext. 227 e-mail : yunianto@tekmira. KS) dan Indo Mines Ltd. seluruh tahapan telah sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia dan praktek-praktek pertambangan internasional. isu lingkungan dan sosial ekonomi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar lingkar proyek melalui program pengembangan masyarakat. Produksi direncanakan 500. JMM dan Indo Mines Ltd. permasalahan bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antara sektor pertanian dengan pertambangan. Berdasarkan analisis. Bambang Yunianto 1 . Panjatan dan Galur.000 ton per tahun dan umur tambang diperkirakan sampai 25 tahun. Krakatau Steel (PT. DIY. membantu industri baja nasional (PT. JMM) untuk menghasilkan pig iron di Kabupaten Kulon Progo. sedang memasuki tahap studi kelayakan dan AMDAL yang dibantu oleh UGM. di wilayah Kecamatan Temon. rencana penambangan dan pengolahan. Jenderal Sudirman No.KAJIAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL EKONOMI RENCANA PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN PASIR BESI DI PANTAI SELATAN KULON PROGO. Wates. revisi kedua : 12 Desember 2008. Menurut Bappeda Kabupaten Kulon Progo. kegiatan PT. Jogja Magasa Mining (PT. Reklamasi akan dilakukan sejauh 200 meter ke darat dengan dibuat gumuk artifisial dan ditanami cemara udang. beberapa keuntungan yang akan diperoleh pemerintah dan masyarakat. YOGYAKARTA BAMBANG YUNIANTO Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Deposit pasir besi sekitar 33. Penambangan menerapkan tambang kering dan proses ekstraksi dilakukan dengan teknologi Autokumpu seperti yang diterapkan di New Zealand Steel. JMM dan Indo Mines Ltd. tidak menyalahi tata ruang kawasan pantai pesisir selatan dan sudah sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).6 juta ton. Wilayah Kontrak Karya (KK) PT. revisi terakhir : Januari 2009 SARI Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. Krakatau Steel). Jl. pengolahan. peningkatan PAD. Kata kunci:pasir besi. Secara prosedural perizinan.go. konflik sektoral. Bandung – 40211 Telp. ditolak sebagian masyarakat petani yang mengusahakan lahan tersebut. revisi pertama : 06 Desember 2008..esdm.id Naskah masuk : 11 Nopember 2008. Sedangkan secara ekonomi. JMM. 623.. antara lain terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas baik pada kegiatan penambangan. maupun industri pendukungnya. termasuk PT.

Keywords: iron sand. increase of the regional revenue. maka sebagian besar masyarakat menolak untuk dijadikan lahan pertambangan. PENDAHULUAN Polemik mengenai isu rencana penambangan dan pengolahan pasir besi untuk menghasilkan pig iron di Kabupaten Kulon Progo. Wates. Wates. KS) dan PT.ABSTRACT The plan of mining and processing of iron sand carried out by PT. JMM. Pada awalnya. and it will be the sole pig iron industry in the Asean region.000 tons/year. KS). JMM (termasuk PT. yang mendapat bantuan dan dukungan proyek pengembangan pertanian kawasan pantai. maka Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bupati Kulon Progo tersebut ditingkatkan menjadi KK pertambangan. processing. The iron sand deposit is 33.6 million tons. Wilayah konsesi KK PT. is located in the Pakualaman land along 22 km of the Kulon Progo coast of the Districts of Temon. is rejected by some farmer communities that have used the land due to the environmental and socio-economic issues. meskipun status tanah merupakan tanah Pakualaman. Indo Mines Ltd. yang akan membangun pabrik untuk mengolah pasir besi. Proyek tersebut merupakan kerja sama antara PT. kegiatan pertambangan pasir besi yang akan dilakukan PT. Menurut status tanah. yang berada dalam wilayah 4 kecamatan. secara signifikan lahan pertanian tersebut mampu ditingkatkan produktivitasnya. Jogja Magasa Mining (PT. Nomor 13. merupakan perusahaan tambang dari Australia. Oleh karena ada unsur penanaman modal asing (PMA). Panjatan dan Galur. increase the national steel industry (PT. sedangkan kawasan pantai sebelah barat Sungai Progo ke arah Kutoarjo merupakan tanah Pakualaman/ Pakualam Ground (BPS Kabupaten Kulon Progo. the mining activity is in a line with the spatial use of the south coastline. KS dan Indo Mines) meliputi kawasan sepanjang 22 kilometer pesisir Kulon Progo. According to the Agency for Regional Development Planning of the regency. Setelah berbagai proyek pertanian masuk. and the process of extraction will use autokumpu technology as applied in the New Zealand Steel. kawasan pantai selatan tersebut terbagi dua. Krakatau Steel (PT. environmental and socio-economic issues 1. baik di daerah maupun Pusat dan lokasi kegiatan meliputi wilayah yang luas di 4 Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo. The production is planned to be 500. Permasalahan mulai terjadi. mining and processing plans. sectoral conflict. dan masyarakat kawasan pantai ini banyak mengalami 2 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Procedurally. Nowadays. whilst the age of the mining is assumed 25 years. karena wilayah tersebut sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat pantai sebagai lahan pertanian. Panjatan dan Galur. Krakatau Steel (PT. Wates. PT KS saat ini adalah salah satu perusahaan baja hilir terbesar di Indonesia. all the stages are in accordance with the national prevailing regulations and the international mining practices. the issues are caused by the lack of socialisation and coordination between the sectors of agriculture and mining. Permasalahan tersebut masih tetap akan berlanjut mengingat banyak pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat. Panjatan and Galur. Januari 2009 : 1 – 16 . According to the analyses. kawasan pantai sebelah timur Sungai Progo ke arah Kabupaten Bantul merupakan milik kraton Yogyakarta (Sultan Ground). yaitu Temon. 2007). including PT. JMM) to produce pig iron in the Kulon Progo Regency-DIY. Yogyakarta terus bergulir. dengan nilai investasi 600 juta dolar AS. improvement of the community prosperity around the project through the community empowerment program. KS) and Indo Mines Ltd. The area of the work-contract of the company. The mining will apply dry mining method. Masyarakat daerah ini mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian sejak sebelum tahun 2000. Jogja Magasa Mining (PT. yaitu Temon. Economically. the company activity is reaching the stages of feasibility study and environmental impact study assisted by Gajah Mada University. some benefits that will be obtained by the regional government and the community consist of wide job opportunities from the mining operation. supporting industries. JMM) ini berizin Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bupati Kulon Progro. Reclamation will be conducted in a 200 m long toward inland by making an artificial dune with plants of cemara udang.

(PT. baik sosialisasi ke masyarakat langsung. Luas konsesi Kuasa Pertambangan (KP) PT. dan Banaran seperti ditunjukkan oleh Gambar 3 (PT. JMM sesuai Keputusan Depperindagkoptamb No. 2006a). Garongan.kemajuan. Palihan. Teknik PT. JMM tersebut ditingkatkan menjadi Kontrak Karya (KK) dengan menggandeng Indo Mines PTY Ltd. Karangwuni.. dengan melakukan pemboran eksplorasi pada 929 titik dengan kedalaman rata-rata 16 meter. Dari hasil eksplorasi diperoleh kesimpulan bahwa total cadangan pasir besi Kulon Progo adalah sekitar 605 juta ton dengan kandungan Fe sekitar 10. Data primer berupa informasi yang langsung berasal dari responden. Eksplorasi dilakukan pada area sekitar 2 x 22 km. 2006). Dalam survei lapangan. Pleret. JMM terletak di pesisir selatan Kabupaten Kulon Progo. Pleret. suara pro dan kontra terhadap kehadiran proyek tersebut mulai terpecah. JMM Lokasi rencana kegiatan pertambangan pasir besi PT.1. selain dilakukan pendataan pada sumber data utama juga dilakukan pendataan pada pemilik kepentingan lainnya. 3. Metode penelitian yang diterapkan menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif. dan wawancara langsung ke sumber data.. inventarisasi data. Selanjutnya. Hasil laporan eksplorasi pasir besi Kulon Progo telah mendapatkan sertifikasi internasional dari JORC (Joint Ore Reserve Committee) suatu badan akreditasi cadangan mineral internasional. dan dapat memberi masukan kepada pihak-pihak yang terkait dalam penyelesaian permasalahan tersebut. kompilasi dan eksplanatori. JMM. yaitu Galur. baik di tingkat kabupaten. meliputi 4 kecamatan dengan desa-desa: Jangkaran. Secara umum penelitian dilakukan dengan survei lapangan ke lokasi rencana penambangan dan pengolahan pasir besi di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. Tidak dijumpai resistensi dari warga didaerah eksplorasi karena semua kewajiban yang berupa ganti rugi dan lain-lainnya diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. METODOLOGI pengolahan dan analisis data menggunakan teknik deskriptif. RENCANA PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN PASIR BESI Lokasi dan Wilayah Konsesi PT. 3. Bugel. Karangsewu dan Banaran (Gambar 2). Bambang Yunianto 3 . Kelompok Tani Karangwuni. sejalan dengan semakin gencarnya sosialisasi yang dilakukan oleh PT.2%. provinsi maupun pusat. Masyarakat dan kelompok tani Desa Banaran yang dulunya menolak kini menjadi mendukung setelah mendapat kepastian mengenai lahan garapannya dan manfaat yang akan didapat dari adanya proyek tersebut. Glagah. Bugel. yang dilakukan pada 28 April – 2 Mei 2008. JMM telah menyelesaikan aktivitas eksplorasi pasir besi di Kulon Progo pada akhir 2006. 3. atau melalui orang-orang kunci (formal dan nonformal) masyarakat pantai. dan PT. DIY untuk mencari pemecahannya yang terbaik. meliputi desa-desa: Karangwuni. sehingga muncul perlawanan dari beberapa kelompok tani. JMM dan dinas terkait. Kegiatan Eksplorasi Metodologi yang dilakukan menggunakan pendekatan multidisiplin ilmu. KP008/KPTS/KP/EKPL/X/ 2005 yang diperbaharui dengan No. 2. JMM (Indo Mines Ltd. dengan luas ± 3000 ha. Wates. Hasil pemboran telah dianalisis di Laboratorium Konsultan Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . Kelompok Tani Ngudi Rejeki. DIY. KP PT. meliputi 4 kecamatan. Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan metode Aircore Drilling sebanyak 929 titik lubang bor. sedangkan data sekunder berupa data dan informasi dari PT. Teknik penelitian yang digunakan adalah observasi.000 ha. KS). JMM. seperti Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo.2. dokumentasi. Jenis data yang dikumpulkan dan digunakan dalam kajian berupa data primer dan data sekunder. Maksud penulisan ini adalah menginventarisasi permasalahan mengenai rencana kegiatan penambangan dan pengolahan pasir besi di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. Sindutan. Karangsewu. yaitu digunakannya berbagai parameter keilmuan dalam membahas permasalahan utama yang dikaji. Garongan. 11/KPTS/KP/ EKPL/X/2006 adalah ± 4. Dalam proses selanjutnya. maupun sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo. Temon. Wates dan Panjatan (Gambar 1).8% dan proporsi tertinggi cadangan pasir besi pada kedalaman 6-8 meter dari permukaan dengan total cadangan sekitar 273 juta ton dengan kandungan Fe sekitar 14.

Nomor 13. JMM di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo 4 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.  Gambar 1. Januari 2009 : 1 – 16 . Lokasi rencana penambangan pasir besi PT.

  Gambar 2..Indo Mines Ltd. Peta lokasi wilayah KP PT. Bambang Yunianto 5 . JMM .. Peta lokasi wilayah KK PT. JMM Gambar 3. Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan .

Apabila dilakukan dengan beberapa tingkat (multiple stage). c) Areal penambangan berada pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai ke arah darat. Kepala Laboratorium Fisiologi Pohon dan Bioteknologi Kehutanan UGM. Produksi akan dilakukan sebesar 500. Hasil tes awal dengan menggunakan teknologi Autokumpu. Pengolahan Pasir Besi dan Pengelolaan Lingkungan b) 3.Geologi Mackay & Schnellman Pty Ltd menggunakan JOCR Standard. erosi dan peredam tsunami dan telah terbukti pada percobaan di sepanjang pantai Samas dan Pandansimo (Skema rencana penambangan dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5). JMM.60%. atau 41.8 km wilayah pantai selatan Kabupaten Kulon Progo terdapat cadangan mineral pasir besi 240 juta ton. produksi per tahun.3. Cadangan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo (untuk kedalaman sampai dengan 6 meter) setara dengan 33. cukup untuk memasok produksi minimal 300.000 ton/ tahun. maka lama penambangan akan berkisar kurang lebih 25 tahun. PENANAMAN CEMARA UDANG (PENCEGAH ABRASI PEREDAM TSUNAMI) PRE-CONCENTRATION PLANT PENAMBANGAN Tree Tree LAUT PRA KONSENTRAT BIJI BESI PANTAI 200M (AREA PENAMBANGAN) Gambar 4. sebagai pencegah abrasi.000 ton pig iron per tahun. dan akan dibuatkan ’barrier’ atau tanggul dan ditanami pohon cemara udang. Berdasarkan penelitian Suhardi (PT. dengan produksi 700. Nomor 13. Januari 2009 : 1 – 16 . Rencana Penambangan.6 juta ton Fe. yaitu gravity concentration dan magnetic separation kadar perolehan Fe akan dapat ditingkatkan sampai 58 . hal ini melebihi dari kebutuhan minimum Indo Mines Limited. JMM di Kabupaten Kulon Progo 6 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.000 ton pig iron per tahun selama 15 tahun. tanaman ini sangat efektif untuk pencegahan abrasi. Skema rencana penambangan pasir besi PT. menunjukkan bahwa pasir besi di Kulon Progo dapat ditingkatkan perolehannya (recovery) dari 14% Fe menjadi 50% Fe hanya dengan menggunakan satu proses/tingkat konsentrasi gaya berat (gravity concentration). dengan kadar 14% Fe. Secara garis besar hasil eksplorasi sebagai berikut: a) Di sepanjang 22 km dan lebar 1. JMM. Teknik tersebut telah dilakukan selama 30 tahun untuk operasi pengayaan pasir besi di New Zealand. yaitu d) minimal 4.000 ton/ bulan (PT. permukaan rata-rata air tanah di wilayah KK dan juga berdasarkan faktor wind blow. Dengan jumlah cadangan yang ada di zona ekonomis wilayah KK.5 juta ton Fe. 2006b). 2006b).

Gambar 5.. penambangan dapat berpindah ke blok selanjutnya apabila blok sebelumnya telah selesai ditambang dan direklamasi. maka daerah reklamasi akan menjadi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . maka setiap tahun perlu dilakukan penambangan pada areal sejauh 200-400 m dari bibir pantai pada batas pasang tertinggi dengan kedalaman sekitar 6 m. menghasilkan mineral besi/logam yang terpisahkan dari pasir halus. Pasir besi yang digali akan diangkut dan dimasukkan dalam proses pencucian dan penyaringan. daerah bekas area penambangan akan dapat ditanami kembali dengan produk agrikultur yang lebih bernilai ekonomis. Penambangan dilakukan per blok. 2007). Pada tahun kedua setelah penambangan. Dengan dihilangkan kandungan logamnya. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan PT Antam Tbk. Untuk mendapatkan produk pig iron sekitar 1 juta ton per tahun. Bambang Yunianto 7 . Kedalaman penggalian kurang lebih 6 m dengan total penurunan lahan maksimal 80 cm (PT. sedangkan sisanya sebanyak 80% berupa pasir halus akan dikembalikan lagi ke lokasi galian tambang sebagai bagian dari proses reklamasi. Melalui proses penyaringan dan pemisahan gaya berat (gravity concentration) akan diperoleh 20% pre-konsentrat mineral besi. Pre-konsentrat mineral besi (20%) akan diangkut dan kemudian diproses di pabrik konsentrat. Pengolahan dan peleburannya akan menerapkan teknologi Outokumpu seperti yang dilakukan di New Zealand Steel dan menjadi yang pertama di Indonesia. Oleh karena itu. Skema cara penambangan Sistem penambangan menggunakan metode pengupasan (strip mine) secara kering. dengan alat pemisah magnetik. pada tambang pasir besi Cilacap dan Kutoarjo yang menggunakan monitor air dengan menerapkan metode tambang semprot.. dengan menggunakan air laut atau air tawar sebagai bahan pencuci. JMM. sehingga beratnya menjadi hanya 10% dari total galian pasir besi dan sisanya akan dikembalikan lagi ke lokasi galian tambang sebagai bahan reklamasi. Berdasarkan wawancara langsung dengan Tejoyuwono Notohadiprawiro Dosen Ilmu Tanah UGM. menyatakan bahwa area lahan pasir besi bukan lahan yang bernilai pertanian. dan ditambah dengan tanah dan dipupuk. dengan umur tambang per blok 8-12 bulan.

yaitu industri baja yang dimulai dari proses penambangan pasir besi sampai dengan proses pembuatan pig iron sebagai bahan baku utama baja. Nomor 13. Januari 2009 : 1 – 16 . sebagaimana ditunjukkan oleh bagan alir pada Gambar 6 dan 7. Bagan alir rencana industri baja terpadu di Kabupaten Kulon Progo Gambar 7. Pasir besi dikirim ke pabrik peleburan untuk diolah 8 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.lebih subur dan bernilai pertanian. Industri baja terpadu ini menganut kriteria berikut: PENAMBANGAN PASIR BESI VANADIUM SLAG (BAHAN BAKU BAJA TAHAN KARAT) KONSENTRAT PASIR BESI PASIR BESI CONCENTRATOR (DENGAN MAGNIT) PENCUCIAN DAN PENYARINGAN BATUBARA PABRIK BESI WANTAH (PIG IRON) KONSENTRAT PASIR BESI PIG IRON (BAHAN BAKU BAJA) PASIR HALUS BATUKAPUR PASIR SLAG (DAPAT DIPAKAI BAHAN PERKERASAN KONSTRUKSI JALAN) REKLAMASI CATATAN : DALAM JANGKA PANJANG AKAN DIKEMBANGKAN INDUSTRI BILLET BAJA Gambar 6. Rencana pembangunan pabrik pengolahan pasir besi terpola dalam kerangka industri baja terpadu.

. Gambar 8.a) b) c) d) Untuk pabrik pengolahan diharapkan tidak jauh dari lokasi penambangan. andesit. Bambang Yunianto 9 . dengan tahapan sebagai berikut: a) Material bukan pasir besi setelah dipisahkan langsung dikembalikan. c) Lahan hasil reklamasi akan dibuat lebih subur dengan penambahan pupuk organik dan bahan Pembangunan berbagai sarana pendukung akan direncanakan sebagai berikut: a) Sarana transportasi akan menggunakan dan mengembangkan sarana jalan yang sudah ada dan membuat sarana jalan yang baru sesuai dengan kebutuhan industri. c) Pasokan listrik dapat bersumber dari PLN atau akan dibuat pembangkit tenaga listrik sendiri. Dalam pengelolaan lingkungan diterapkan teknik reklamasi/pengembalian fungsi lahan seperti ditunjukkan pada Gambar 8. b) Reklamasi diwajibkan untuk setiap blok dengan teknik pengembalian perlajur sehingga proses reklamasi beriringan dengan proses penambangan/pengolahan. Bahan pendukung untuk konstruksi pabrik dan proses pengolahan semua tersedia di wilayah Kulon Progo seperti mangan. untuk keluar masuk hasil produksi dan bahan pendukung industri. e) Untuk konstruksi pabrik. kantor. tanah liat.. Ini salah satu alasan pabrik pengolahan ada di Kulon Progo. Tahapan reklamasi dan bentuk penampang lahan setelah reklamasi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . 2007). jalan dan pemukiman karyawan akan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada di Kabupaten Kulon Progo (PT. JMM. Metode pengolahan mengacu pada apa yang dilakukan di New Zealand dengan menggunakan 3 macam alternatif pengolahan (PT. d) Kebutuhan air untuk industri maupun konsumsi akan memanfaatkan sumber air laut ataupun air sungai. 2007). supaya bersatu dengan kegiatan penambangan sebagai sumber bahan bakunya yang juga terdapat di Kabupaten Kulon Progo. JMM. b) Jalur transportasi kereta api dibutuhkan untuk menghubungkan industri pengolahan dengan pelabuhan terdekat di Pulau Jawa. lahan akan difungsikan kembali sebagai lahan pertanian atau sesuai peruntukannya. d) lain yang diperlukan sehingga diharapkan produksi pertanian meningkat. Setelah selesai direklamasi. batugamping.

b) Berbagai pihak yang memiliki kepentingan terkait dengan kegiatan di kawasan pantai tersebut menyampaikan pendapat. tanah desa dan tanah milik dinasti Pakualam (Pakualam Ground). meskipun status tanah sebagian besar merupakan tanah Pakualam. Kelompok Tani Karangwuni-Wates. secara signifikan lahan pertanian tersebut mampu ditingkatkan produktivitasnya. dari aspek c) eksploitasi lebih jauh dan lebih dalam dari semula yang direncanakan. teknis dan ilmiah. sehingga muncul perlawanan dari beberapa kelompok tani. Tanggal 7 Januari 2003. lapisan pasir di bawah permukaan tanah sangat berguna untuk meredam gempa. Menurut Sudaryatno dari Fakultas Geografi UGM. Wilayah eksploitasi lahan di wilayah itu terbagi atas tiga kepemilikan. Isinya antara lain bahwa lahan itu dapat dikembangkan untuk kegiatan pertanian lahan pasir. satu di antaranya di kawasan pesisir selatan Yogyakarta. JMM. 4. seperti untuk penambangan pasir. maka sebagian besar masyarakat menolak untuk dijadikan lahan pertambangan (contoh pertanian rakyat lihat Gambar 9 dan contoh infrastruktur di pantai selatan lihat Gambar 10). Risiko kerusakan alam yang menyertainya akan lebih hebat (PT. Jika pasir diambil. Di dunia ini hanya ada tiga gumuk pasir yang bergerak. KGPAA Pakualaman IX mengeluarkan surat kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi DIY. Kelompok Tani Ngudi Rejeki.4. Dja’far Shiddieq ahli tanah UGM menyatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda pun tidak melakukan penambangan pasir besi di wilayah itu karena dampaknya yang dianggap berbahaya terhadap keseimbangan ekologis di wilayah itu. PERMASALAHAN DAN ANALISIS PENYELESAIANNYA Permasalahan Berdasarkan inventarisasi di lapangan terdapat beberapa permasalahan. Pengembangan buah naga oleh petani dan infrastruktur di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo Selain merusak lingkungan. yaitu: a) Permasalahan mulai terjadi. Masyarakat daerah ini mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian sejak sebelum tahun 2000. dan masyarakat kawasan pantai ini banyak mengalami kemajuan. Ia juga mengingatkan terjadinya Gambar 9 dan 10. bernomor X/PA/ 2003.1. tidak diizinkan mengubah sifat fisik dan hayati. Nomor 13. dan ada sanksi terhadap pelanggar. yakni tanah milik bersertifikat. Setelah berbagai proyek pertanian masuk. seperti Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo. penambangan pasir besi dianggap akan mengancam kelangsungan pertanian lahan pasir. Kombinasi penanaman cemara udang dan gumuk-gumuk pasir bentukan alam itu merupakan penahan tsunami alamiah yang paling efektif. 2007). Januari 2009 : 1 – 16 . yang mendapat bantuan dan dukungan proyek pengembangan pertanian kawasan pantai. karena wilayah tersebut sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat pantai sebagai lahan pertanian. fungsi itu hilang. sejalan dengan semakin gencarnya sosialisasi yang dilakukan 10 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Dalam proses selanjutnya.

oleh PT.undangan yang berlaku.7 Ha (Wates. PT. c) 30 Juni 2005 Indo Mines. c) Aktivitas perusahaan di lapangan akan selalu mendapat pengawasan dan pembinaan dari instansi yang berwenang dalam sektor pertambangan dan instansi terkait lainnya sesuai dengan kewenangannya masing-masing. AMDAL. 4.2. b) Penyusunan dilakukan oleh konsultan lingkungan yang mempunyai kompetensi dan kredibilitas yang diakui secara nasional dan internasional. sarana jalan. lingkungan. JMM dan Indo Mines Ltd. dan sudah sesuai dengan praktekpraktek pertambangan yang diakui secara internasional. telah memenuhi prosedur perizinan di Sektor ESDM. b) Konstruksi meliputi pabrik. JMM mengajukan eksplorasi pasir besi. 008/KPTS/KP/EKKPL/X/2005 luas 4.. Pengawasan dan pembinaan dalam tahapan penambangan dan pengolahan adalah: a) Dalam proses penambangan dan pengolahan perusahaan wajib mengikuti kaidah-kaidah penambangan dan pengolahan yang baik dan benar serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Galur). dan hasilnya diuji oleh komisi AMDAL provinsi dan atau pusat. sosial kemasyarakatan dan sesuai dengan peraturan perundang . ekonomis. d) Tanggal 25 Maret 2006 PT. Namun. b) Perusahaan wajib memberikan laporan penambangan dan pengolahan secara periodik sesuai ketentuan yang berlaku. tenaga kerja dan lain-lain). tahapan tersebut adalah: a) Tanggal 6 Oktober 2005 PT. 1) Proses Perizinan Rencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi PT. JMM melakukan eksplorasi dengan 929 titik bor. maka suara pro dan kontra terhadap kehadiran proyek tersebut mulai terpecah. hal tersebut perlu terus menerus disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan kegiatan penambangan dan pengolahan pasir besi tersebut. Kegiatan pengolahan pasir besi dapat disinergikan dengan kegiatan lain dalam satu kawasan yang dapat diatur melalui RTRW juga Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . atau melalui orang-orang kunci (formal dan nonformal) masyarakat pantai. pemukiman karyawan. Masyarakat dan kelompok tani Desa Banaran yang dulunya menolak. kontraktor. baik di daerah maupun pusat.. Ltd (Australia) bergabung karena mempunyai teknologi Autokumpu pengolahan pasirbesi menjadi pig iron. KS).076. baik sosialisasi ke masyarakat langsung. Panjatan. e) Dalam tahun 2008 akan melakukan Studi Kelayakan. dan melanjutkan pilot proyek penambangan pasir besi sebagai model penambangan nantinya. pembangkit listrik. c) Pembangunan konstruksi diharapkan semaksimal mungkin memanfaatkan sumber daya lokal (material. 2) Keterkaitan Pengolahan Pasir Besi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Sektor Lain Dalam pembahasan berikut akan dianalisis beberapa permasalahan di atas berdasarkan akar masalah yang dijadikan polemik. JMM dan Indo Mines akan menempuh beberapa hal: a) Tahapan konstruksi dilakukan apabila hasil studi kelayakan menyatakan bahwa rencana kegiatan pengolahan dinyatakan layak secara teknis. Temon. c) Perusahaan wajib mengikuti Kebijakan Pemerintah tentang Tata Ruang Wilayah dan Kebijakan Penataan Tata Ruang bersifat dinamis dan dievaluasi setiap 5 tahun. dan PT. maupun sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo. Jadi secara prosedur perizinan seluruhnya telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. dan telah melaporkan hasil eksplorasi sebanyak 14 volume. terutama pemangku kepentingan di daerah dan masyarakat yang nantinya akan terkena dampak langsung adanya kegiatan tersebut. b) KP Eksplorasi No. kini menjadi mendukung setelah mendapat kepastian mengenai lahan garapannya dan manfaat yang akan didapat dari adanya proyek tersebut. Analisis Penyelesaian Permasalahan Pengembangan Sektor lain. Dalam kajian lingkungan yang dijadikan pedoman adalah: a) Perusahaan wajib melakukan studi lingkungan melalui penyusunan dokumen AMDAL. kebutuhan air dan sarana pendukung lainnya yang menunjang kegiatan industri. JMM (Indo Mines Ltd. Sedangkan pada tahap konstruksi. Bambang Yunianto 11 .

000. Aspek kesehatan: pembangunan saranaprasarana kesehatan. pemasok. Aspek keagamaan: pembangunan saranaprasarana ibadah. komunikasi dan lainnya). 3) Manfaat Proyek bagi Masyarakat Lingkar Proyek dan yang Terkena Dampak a) b) c) d) e) f) g) h) 4) Penduduk yang terkena dampak penambangan akan diberi ganti rugi yang layak dan wajar. berarti paling tidak akan memenuhi sekitar 50% bahan baku baja nasional yang sampai saat ini masih diimpor. Berikut manfaat sosial kemasyarakat berdasar hasil kajian sementara: Aspek pertanian: peningkatan kualitas lahan pasca tambang dan pengolahan. setidaktidaknya akan terserap secara langsung 500 tenaga kerja. Bila mampu memproduksi sendiri bahan baku baja. peningkatan produksi hasil pertanian. JMM dan Indo Mines Ltd. Contoh lain. Januari 2009 : 1 – 16 . 2007). terkait dengan sektor lain. hanya 25 km dari Jogya. peningkatan nilai tambah usaha sektor pertanian. karena pengolahan pasir besi bersifat sementara. khususnya di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. Sementara itu. ongkos angkutnya sekitar $60 per ton. Saat ini bahan baku baja yang berupa “biji besi terolah” 100% masih impor dari Amerika Selatan. Kalau PT. peningkatan mutu kesehatan masyarakat. tidak menyalahi tata ruang kawasan pantai pesisir selatan dan sudah sesuai RTRW seperti ditunjukkan oleh Gambar 11 dan Gambar 12 (Bappeda Kabupaten Kulon Progo. tengkulak cabai dan semangka. kegiatan PT. pembinaan dan peningkatan peran perempuan. dengan tanaman yang lebih bernilai ekonomis.dalam Rencana Detil Tata Ruang Kawasan pantai selatan Kulon Progo. pembinaan generasi muda. Keterkaitan Rencana Kegiatan dengan Kebijakan Baja Nasional Indonesia yang dikenal kaya sumber daya alam harus mengimpor 100 % bahan baku baja dan 60-70 % scrap baja untuk keperluan industri bajanya.000 per tahun. Namun. pembibitan dan penanaman cemara udang. program pengembangan sumber daya manusia. Jika potensi ini dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik akan menghasilkan sekitar 1 juta ton pig iron. Berikut manfaat dari aspek penyerapan tenaga kerja: a) Pada area pra-penambangan. Aspek ekonomi: pembinaan dan pengembangan UMKM. karena menggunakan sumber energi gas yang semakin meningkat harganya. penguatan dan pembinaan kelembagaan ekonomi pedesaan. dan ditambah dengan tanah dan dipupuk. 2005). serta akan dipekerjakan dalam proses penambangan. JMM bisa memproduksi pig iron. JMM. Aspek sosial: pengembangan kelompokkelompok sosial kemasyarakatan. Untuk jangka panjang diharapkan akan berkembang industri turunan dari industri peleburan pig iron yang amat luas yang akan memberi manfaat ekonomis bagi kemajuan masyarakat Kulon Progo dan sekitarnya (BPS Kabupaten Kulon Progo. Berdasarkan koordinasi dengan Bappeda Kabupaten Kulon Progo. perbaikan mutu tanah dan pemupukan. industri ini sulit berkompetisi di pasaran ekspor. setelah reklamasi pada area penambangan tahun pertama. Oleh karena itu. proses reklamasi. Industri ini masih membeli bahan baku yang berupa pig iron impor dengan harga sekitar Rp 4000-5000/kg berarti sekitar $400-550/ton. Aspek pendidikan: program beasiswa. Aspek sarana umum: peningkatan infrastruktur di lingkungan kawasan industri. Di negara asal harganya hanya sekitar $300-350/ton. dari ongkos angkut akan bisa menghemat sekitar $50. maka daerah reklamasi akan menjadi lahan yang lebih subur dan bernilai pertanian (PT. d) Setelah pabrik peleburan besi wantah mulai beroperasi. 2008). lahan mungkin hanya bisa memberi manfaat ekonomis pada 10 petani. DIY memiliki potensi yang luar biasa sumber daya alam bahan baku baja yang berupa pasir besi. yang akan dimulai pada tahun 2008. area lahan pasir besi adalah bukan lahan yang bernilai pertanian. pembinaan dan peningkatan kualitas dalam melaksanakan ibadah. Aspek budaya: pelestarian dan pengembangan budaya lokal. penduduk/petani dapat memanfaatkan kembali tanah eks penambangan. Nomor 13. b) Pada masa penambangan akan terserap tenaga kerja minimum 100 tenaga kerja secara langsung dan sekitar 100 secara tidak langsung (sektor angkutan. 12 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. kesuburan tanah setelah ditambang menurut Tejoyuwono Notohadiprawiro (UGM). program pengembangan sarana pendidikan. Ini masih ditambah teknologi pengolahan baja yang tidak efisien. Industri Pengecoran Logam Klaten. setidak-tidaknya akan dibutuhkan sekitar 2000 tenaga kerja langsung untuk memproduksi 1 juta ton pig iron per tahun. tetangga DIY. c) Pada masa konstruksi pabrik peleburan pig iron. setelah dihilangkan kandungan logamnya. Pada tahun kedua.

Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . Bambang Yunianto U Gambar 11... Rencana tata ruang kawasan pantai selatan tahun 2005-2015 13 .

Januari 2009 : 1 – 16 Gambar 12. Peta rencana pemanfaatan lahan kawasan pantai selatan Kabupaten Kulon Progo . Nomor 13.14 U Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.

055/JMM/IX/2006 tgl 22 September 2006. DIY khususnya Kabupaten Kulon Progo memiliki potensi yang amat besar untuk didirikannya suatu industri baja terpadu. b) Industri pig iron di Kulon Progo direncanakan juga akan memanfaatkan bahan baku dari daerah lain di Indonesia. 2005. b) Secara tata ruang pemanfataan lahan.. 2008. kegiatan tersebut akan membuka peluang kerja. d) Industri ini akan menjadi satu-satunya industri yang memproduksi pig iron di Asia Tenggara dan akan dikembangkan sampai menjadi industri baja di Kulon Progo. land rent. Berdasarkan kajian ekonomi sementara. kegiatan tersebut sudah sesuai dengan RTRW Kabupaten Kulon Progo. c) Dengan adanya program pengembangan masyarakat (Community Development) akan membantu mengembangkan masyarakat terutama dalam bidang ekonomi. 5. Wates. Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Pantai Selatan Kabupaten Kabupaten Kulon Progo Tahun 2005 – 2015. dan pendapatan lain yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. serta pengaruh ekonomi dari sektor-sektor lain yang terkait. royalti. Kabupaten Kulon Progo dalam Angka 2006/2007. c) Industri pig iron direncanakan akan dikembangkan menjadi industri baja di Kulon Progo. Wates. 40 Tahun 2005 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Pantai Selatan Tahun 20052015. terutama antara sektor pertanian dengan sektor pertambangan. dan mendukung kebijakan baja nasional sejalan dengan rencana pembangunan pabrik baja di Kalimantan Selatan. Wates. retribusi. pertanian.4 triliun). meningkatkan pendapatan masyarakat. sosial. JMM. Peraturan Bupati Kabupaten Kulon Progo No. Untuk itu. Bambang Yunianto 15 . Beberapa hal yang dijadikan dasar adalah: a) Secara prosedur perizinan di bidang pertambangan.maka akan sangat membantu. JMM kpd KGPA Paku Alam IX No. d) Secara kepentingan nasional dapat memasok kebutuhan pig iron PT. karena harga bahan baku pasti akan lebih murah 20-30% dari bahan baku impor (PT. Krakatau Steel (sesuai Head of Agreement 22 Januari 2007). sebetulnya bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi di antara pemangku kepentingan. 2005. pendidikan. f) Lokasi pabrik dan area eksploitasi akan disesuaikan dengan Rencana Pengembangan Wilayah Pemkab Kulon Progo dan Pemprov DIY termasuk kepemilikan lahan masyarakat dan Puropakualaman (sesuai surat PT. c) Secara sosial ekonomi masyarakat dan pemda. keagamaan dan lainnya. sehingga akan mempercepat proses pembangunan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Kulon Progo. Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . Beberapa keuntungan yang akan diperoleh pemerintah dan masyarakat antara lain: a) Terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas baik di industri utama maupun industri pendukungnya sehingga mengurangi pengangguran di Kulon Progo b) Peningkatan pendapatan pemerintah/Daerah yang sangat besar dari pajak. Bappeda Kabupaten Kulon Progo. PENUTUP Berdasarkan telaahan dari beberapa sudut pandang terhadap permasalahan penolakan sebagian masyarakat petani (isu lingkungan dan sosial ekonomi) terkait rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. dalam penyelesaian setiap permasalahan harus dilakukan kegiatan sosialisasi secara struktural dan komprehensif terhadap seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan rencana kegiatan tersebut. JMM di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo tersebut. mulai dari penambangan bahan baku sampai industri pengolahan bahan baku baja. budaya. KS yang masih mengimpor bahan baku. e) Perusahaan yang telah menyatakan akan membeli pig iron adalah PT. DAFTAR PUSTAKA Anonim. BPS Kabupaten Kulon Progo. rencana pembangunan pabrik pengolahan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo adalah: a) Potensi bahan baku (pasir besi) tersebar di beberapa wilayah Indonesia tetapi sampai saat ini Indonesia belum memiliki teknologi untuk mengolah pasir besi menjadi pig iron.. 2007). kesehatan. d) Prospek investasi untuk pengembangan industri di atas diperkiraan mencapai US$ 600 juta (Rp. JMM dan Indo Mines Ltd. seluruh tahap telah dan akan dipenuhi oleh PT. dan PAD. 5.

JMM dan PT. Ringkasan hasil eksplorasi pasir besi pada wilayah KK PT. 2007. Wates. PT. Jogja Magasa Mining. Bahan sosialisasi rencana penambangan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo kepada masyarakat. 2006b. 2006a.BPS Kabupaten Kulon Progo. Aplikasi Kontrak Karya untuk Pengembangan Pasir Besi di Kabupaten Kulon Progo. Jogja Magasa Mining. Yogyakarta. Nomor 13. PT. Januari 2009 : 1 – 16 . Jogja Magasa Mining. 16 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Indo Mines Ltd. PT. 2008. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Kulon Progo 20022007.

and pressure of 2. design process. ukuran serbuk batubara – 3 mm dan tekanan pembriketan 200 kg/cm2. Berdasarkan hal tersebut. double roll mixer. Investment cost was Rp 1.. size of coal particles was . Hasil menunjukkan bahwa bahan pengikat proses pembriketan adalah molases.58 miliar dengan jumlah karyawan 13 orang. and double roll briquetting machine.id Naskah masuk : 11 November 2008. which needs large coal particles (±4 cm). sehingga memerlukan butiran batubara berbutir besar (± 4 cm). therefore it can be applied widely. double roll mixer. Oleh karena itu perlu dilakukan pembriketan batubara. the use of coal is for small scale industries and households.5 ton/jam diperlukan peralatan utama yang terdiri atas jaw crusher. Akan tetapi. with 13 employees. investment Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .5 ton/hour requires main equipments such as jaw crusher. Kata kunci : briket batubara.. However.34% to 33% in the 2025 energy mix. Based on this purpose. Keywords : coal briquette. hammer mill.investasi ABSTRACT Blue Print of the 2006 National Energy Management appointed that the use of coal needs to be increased from 15. rancangan proses. For this reason.go.esdm.34% menjadi 33% dalam energi bauran pada tahun 2025. kadar abu tinggi.58 million. Untuk pembuatan briket batubara skala kecil dengan kapasitas 2. Result shows that the briquette binder was molasses. Kebutuhan dana investasi sebesar Rp 1. maka dilakukan penelitian pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi termasuk pembuatan rancangan proses serta biaya investasi agar dapat diterapkan pada masyarakat. Bandung email : suganal@tekmira. coal briquetting is considered necessary. revisi kedua : 12 Desember 2008.3 mm. sistem pembakaran batubara pada rumah tangga dan industri kecil umumnya menggunakan sistem grate atau kisi. revisi pertama : 06 Desember 2008. Salah satu sasaran pemanfaatan batubara adalah industri kecil dan rumah tangga.0 kg/ cm2. 623. Suganal 17 .RANCANGAN PROSES PEMBUATAN BRIKET BATUBARA NONKARBONISASI SKALA KECIL DARI BATUBARA KADAR ABU TINGGI SUGANAL Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. coal burning system in households and small scale industries are generally applied grate system. A small scale coal briquetting with the capacity of 2. Jenderal Sudirman No. high ash content. Among the target. hammer mill. revisi terakhir : Januari 2008 ABSTRAK Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu ditingkatan dari 15. dan mesin briket sistem double roll. research on briquetting by using coal with high ash content was carried out including the design of process.

2006). Pemanfaatan batubara dalam bentuk briket batubara saat ini adalah sangat tepat. umumnya sebagian dari batubara tersebut adalah batubara peringkat rendah dengan kadar air tinggi dan mudah pecah terkena terpaan perubahan cuaca. Meskipun briket batubara telah disosialisasikan sejak lama. Tujuan penelitian ini adalah merancangan proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil menggunakan batubara dengan kadar abu tinggi melalui teknologi pembuatan briket batubara sederhana. 2006). Perubahan ukuran material tersebut dilakukan melalui proses penggumpalan dengan penekanan dan penambahan atau tanpa penambahan bahan pengikat. Harga briket batubara bila disetarakan dengan harga minyak tanah jauh lebih rendah sehingga cocok digunakan untuk rumah tangga dan industri kecil (Suganal. penggerusan dan pengayakan kemudian dicetak dengan mesin briket. pencetakan. jika menggunakan serbuk tanah liat sekitar 10%. dkk. dan pengeringan.1. Upaya perbaikan cara penyalaan dan memperkecil biaya produksi dilakukan dengan menggunakan anglo atau kompor briket batubara yang dilengkapi dengan blower. TINJAUAN PUSTAKA Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Briket adalah perubahan bentuk material yang pada awalnya berupa serbuk atau bubuk seukuran pasir menjadi material yang lebih besar dan mudah dalam penanganan atau penggunaannya (http:// www. Bagan alir secara umum terlihat pada Gambar 1. maka dilakukan penelitian pembriketan batubara sebagai upaya untuk memanfaatkan batubara dengan kadar abu tinggi tersebut. 2. pencampuran dengan bahan pengikat.komarindustries. penggunaan batubara sebagai sumber energi masih dapat bertahan sampai 146 tahun. 2006 ). bahan baku batubara yang beraneka ragam ukuran butirnya. untuk pengganti minyak tanah pada industri kecil maupun rumah tangga. penggunaan batubara pada rumah tangga dan industri kecil umumnya menggunakan sistem grate atau kisi. Serbuk batubara dengan ukuran – 3 mm (. untuk memacu peningkatan produksi dan penggunaan secara nasional. kemudian dilanjutkan penggerusan dengan hammer mill sampai berukuran – 3 mm. Hal ini antara lain karena sulitnya penyalaan awal mengingat briket batubara merupakan bahan bakar padat. 2004). Penggunaan batubara peringkat rendah akan tepat untuk kegiatan rumah tangga dan industri kecil padat energi yang tidak memerlukan panas tinggi. Namun. 2004) : jika menggunakan tepung tapioka maksimum sekitar 3% berat.com). Jumlah bahan pengikat yang optimal adalah (Suganal.8 mesh) ditambahkan bahan pengikat berupa tepung tapioka atau serbuk tanah liat – 60 mesh atau molases. Nomor 13.12 cm tergantung kebutuhan penggunaan (Schinzel. kuantitas penggunaannya masih sangat kecil. Januari 2009 : 17 – 30 . sehingga memerlukan butiran batubara berbutir besar (± 4 cm). sedangkan minyak bumi hanya dapat bertahan sampai 23 tahun (Yusgiantoro. terus menerus dan memperkecil radiasi panas dari bagian bawah anglo (Suganal. Berdasarkan informasi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. yaitu hanya ± 27. agar pasokan udara pembakar cukup lancar. jika menggunakan molases sekitar 8%. diseragamkan melalui pemecahan. Sementara itu. Meskipun cadangan batubara cukup besar. PENDAHULUAN Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu ditingkatkan dari 15. Produk dari jaw crusher berukuran – 2 cm.34% pada tahun 2005 menjadi 33% dalam bauran energi pada tahun 2025 (Pusat Informasi Energi. 18 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Secara garis besar pembuatan briket batubara nonkarbonisasi meliputi: penggerusan batubara. 2. Batubara dari stockpile digerus menggunakan alat jaw crusher dan hammer mill. terutama untuk kebutuhan industri kecil dan rumah tangga mengingat minyak tanah semakin langka.000 ton per tahun. sebagian batubara Indonesia berkadar abu tinggi dan relatif kurang diminati oleh industri besar maupun sebagai komoditas ekspor. dkk. Perpindahan bahan pada proses penggerusan dilakukan menggunakan conveyor belt atau pneumatic conveyor. Atas dasar beberapa pertimbangan tersebut di atas. 2008). Ukuran butir briket batubara sekitar 4 . Oleh karena itu perlu pembriketan batubara (Suganal. 1961 ).1. Dalam hal briket batubara.

pembriketan dan pengeringan. bahan baku batubara dan biomassa terlebih dahulu mengalami proses pengeringan.nedo. Serbuk kapur padam berfungsi sebagai material pengikat senyawa sulfur agar lebih bersifat ramah lingkungan. yaitu 3 ton/cm². kemudian dipanaskan sampai membentuk gel.au/ energy center). Campuran batubara dengan bahan pengikat disebut adonan yang siap untuk dicetak dalam mesin briket. Untuk briket batubara bentuk sarang tawon dicetak dengan mesin briket tipe silinder. penentuan jenis peralatan atau perangkat produksi. sehingga produk briket tak perlu dikeringkan kembali. Untuk pencampuran bahan pengikat berupa tepung tapioka. T. Alat pencampur tersebut berupa dua buah roda berputar ber keliling dalam suatu bejana dan dilengkapi dengan scrapper (penggaru) untuk mengaduk material obyek pencampuran.csiro. Umumnya digunakan roll mixer. 2004). Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi (Maruyama.Biomassa Gambar 1.au/energy center) Pembuatan briket biobatubara juga merupakan pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. Suganal 19 . Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Dalam rangka realisasi suatu produksi diperlukan rancangan proses yang antara lain meliputi pembuatan neraca massa dan neraca energi.det.. Briket batubara nonkarbonisasi tanpa bahan pengikat pada umumnya menggunakan mesin briket double roll tetapi bertekanan tinggi (>200 kg/cm2) (Clark. Pencampuran bahan pengikat dilaksanakan dalam suatu mixer. Pada pembuatan briket biobatubara.. terlebih dahulu tepung tapioka ini dibuat gel. Pencampuran berlangsung pada kondisi kering kemudian ditambahkan air sampai terbentuk adonan yang lembab. pencampuran dapat langsung dilaksanakan dalam mixer dengan cara menambahkan tepung tanah liat sebanyak 10% dari berat batubara.csiro. Untuk briket bentuk bantal umumnya dicetak dengan mesin briket double roll (http:/www. Tahap Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . 2002. yaitu penggerusan batubara. Cara yang sederhana adalah mencampur tapioka dengan air dengan kompsisi 1:8. http:/www. 2002 .2. Pada pembuatan briket batubara terdapat beberapa tahap proses yang relatif sederhana. 2. 2008). Pencetakan briket dilakukan dengan mesin briket.jp/sekitan). Suganal. Cara lain adalah mencampurkan batubara dengan tapioka dalam kondisi kering kemudian disemprotkan uap basah dari boiler. pencampuran bahan pengikat. Pencetakan briket biobatubara dilaksanakan dengan mesin double roll bertekanan tinggi. Untuk bahan pengikat berupa serbuk tanah liat.det. 2005. namun terdapat sedikit perbedaan karena adanya penambahan biomassa dan acapkali ditambahkan pula serbuk kapur padam. 2008). perhitungan dimensi dan kapasitas peralatan dan perkiraan harga peralatan.go. http:/ www. Penggerusan batubara dapat menggunakan jaw crusher dan dilanjutkan dengan hammer mill (Perry. Pencampuran bahan pengikat dipilih double roll mixer atau pan muller (Perry. (Maruyama. Tekanan pembriketan adalah 200 kg/ cm2.

METODOLOGI shatter test. Kadar air 5% Cutter Ø< 3mm. nilai kalor dan sulfur total. serbuk kayu sebagai biomassa. Bandung. untuk VM D-3175 – 1989. Januari 2009 : 17 – 30 . Selain itu untuk briket batubara juga dilakukan pengujian drop serbuk gergaji  ±  20 % air   Bahan imbuh (kapur padam) Batubara ± 5% air Dryer 120oC ±  10  %  air Crusher Ø< 3mm.pembriketan batubara cukup dilakukan dengan mesin briket sistem double roll atau double roll press machine (Perry. Metode analisis menggunakan ASTM. 3. yaitu briket biobatubara dan briket batubara. 3. nilai kalor D-5865-04 sedangkan untuk kadar abu D-3174-04.2. Pengeringan briket batubara umumnya dilakukan dengan cara penjemuran di udara terbuka. · Pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. sedangkan briket batubara dibuat hanya dari campuran batubara dan bahan pengikat tepung tapioka atau molases. Bagan alir pembuatan briket biobatubara 20 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. digerus dengan jaw crusher dan hammer mill sampai menghasilkan batubara dengan Batubara kadar abu tinggi sebagai bahan baku yang berasal dari Kalimantan Selatan dan batubara hasil pembriketan sebagai produk dianalisis terhadap proksimat (kadar air. 2008).1. kadar abu. Analisis Contoh Bahan Baku dan Produk Penelitian pembuatan briket batubara nonkarbonisasi dibuat dalam dua jenis. yaitu : · Analisis contoh bahan baku (batubara) dan produk (briket batubara). kecuali untuk kapasitas besar sekitar lebih dari 10 ton per jam. Pembuatan briket biobatubara Prosedur pembuatan briket biobatubara dapat dilihat pada Gambar 2. Nomor 13.    kadar  air 10% Mesin Briket Briket basah Keranjang Berkisi Briket biobatubara       Gambar 2. serbuk kapur padam sebagai desulfurization agent dan molases sebagai bahan pengikat. Kegiatan analisis berlangsung di Laboratorium Batubara Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. Pengering yang umum digunakan adalah band dryer.1. Briket biobatubara dibuat dengan mencetak adonan yang berupa campuran dari batubara. moisture D-3173-1979. kadar zat terbang. Bahan baku terdiri atas : Batubara. Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Kegiatan rancangan proses pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi meliputi beberapa kegiatan. 3. 3.2. karbon padat). dan · Penyusunan rancangan proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. Kadar air 5 % Molases   Mixer Adonan  briket Ø< 3mm.

2. Prosedur pembuatan briket biobatubara : Semua bahan baku berupa batubara. sebagai biomassa dikeringkan dan digerus dengan mesin cutter sampai berukuran . serbuk kayu dan kapur padam. Kadar air ± 5%  Ø> 5 cm Crusher Batubara Kadar air ± 5%  Ø~ 1‐2 cm Mill Batubara Kadar air ± 5%  Ø~ ‐3 mm (‐8mesh) Gel tapioka Mixer Adonan briket Mesin Briket Briket basah Keranjang Berkisi Briket Batubara Gambar 3. 3. Produk briket biobatubara dianalisis dan dicocokkan dengan standar baku mutu. Bagan alir pembuatan briket batubara Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Adonan yang diperoleh dicetak dengan mesin briket double roll tipe kenari pada tekanan pembriketan 3 ton/cm2. serbuk kayu = 5%. 2003. Pembuatan briket batubara Pembuatan briket batubara dilakukan sesuai dengan bagan alir seperti terlihat pada Gambar 3.2.3 mm dan kadar air 10%. molases = 5% dari jumlah berat campuran batubara. Komposisi tersebut merupakan komposisi ideal berdasarkan hasil penelitian pembuatan briket biobatubara di Pilot Plant Briket Biobatubara. Molases dengan kadar air 32%.. berukuran – 3mm dan kadar air 5%.- ukuran butir – 3mm. Briket biobatubara yang terbentuk dimasukkan dalam keranjang berkisi dan dikeringkan di udara terbuka. Serbuk kapur padam. Palimanan (Suganal. Suganal 21 . kapur padam = 5%. serbuk kapur padam dan molases dimasukkan ke unit mixer untuk dilakukan pengadukan agar mendapatkan campuran bahan yang merata dan disebut adonan. Serbuk kayu. Suganal 2004). Komposisi adonan adalah batubara = 90%.. serbuk kayu.

Adonan yang diperoleh dicetak dengan mesin briket double roll tipe kenari pada tekanan pembriketan 3 ton/cm2. maka pembriketan batubara dapat langsung dilaksanakan tanpa harus dikeringkan dengan mesin pengering atau dryer. Namun kadar abu relatif sangat tinggi dan nilai kalor relatif rendah sehingga bahan pengikat yang akan ditambahkan harus serendah mungkin.34 0.0%. Berdasarkan standar baku mutu bahan baku briket batubara adalah maksimum 1. lebih rendah daripada standar baku mutu bahan baku 22 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Penyusunan Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi briket batubara yang menghendaki kadar sulfur total 1.3 mm. 2003). % adb Kadar sulfur total.1. Sebagai pelengkap disusun kebutuhan bangunan dan perkiraan biayanya berdasarkan data yang didapat dari perusahaan yang bergerak di sektor bangunan sipil pabrik. % adb Nilai kalor. Perkiraan harga dari tiap peralatan didapat dari bengkel pembuat peralatan. misalnya tapioka atau molases. % adb Kadar karbon padat.0 % (Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006.555 diperkirakan masih memenuhi batas minimal nilai briket batubara nonkarbonisasi. yaitu 0. Suganal. digerus dengan jaw crusher dan hammer mill sampai berukuran . Prosedur pembuatan briket batubara : Batubara serbuk dicampur dengan gel tepung tapioka dalam roll mixer dengan komposisi 90% batubara serbuk dan 10 % gel tepung tapioka membentuk adonan briket batubara.55%. Dengan demikian. Komposisi adonan tersebut merupakan komposisi ideal berdasarkan rekaman catatan pada kegiatan ujicoba produksi briket batubara nonkarbonisasi di Pilot Plant Briket Biobatubara Palimanan (Suganal.2.56 %. yaitu 5. tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara). Hal ini berarti sejumlah 20% adonan terdapat tidak tercetak dengan baik atau 20% briket yang tidak sempurna pencetakannya. %. adb Kadar abu. % adb Kadar zat terbang.Bahan baku terdiri atas : · batubara. Hal yang menguntungkan pada batubara Kalimantan Selatan tersebut di atas adalah kadar sulfur total cukup rendah. 4.34 2. Kebutuhan tenaga operator juga disajikan dalam tulisan ini. Nomor 13. · tepung tapioka. dibuat menjadi gel dengan cara mencampur 5 kg tapioka dengan 100 liter air panas dan diaduk sampai homogen.400 kkal/kg. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Analisis Bahan Baku Batubara Hasil analisis batubara dapat dilihat pada Tabel 1. kkal/kg adb Nilai 5. Produk briket batubara dianalisis dan dicocokkan dengan standar baku mutu yang tercantum pada Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 Tahun 2006 tertanggal 11 September 2006 tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara. yaitu 4. briket yang tidak sempurna harus dilakukan pembriketan ulang. dapat disimpulkan bahwa kadar sulfur total cukup rendah. tertanggal 11 September 2006. Hasil analisis batubara No 1 2 3 4 5 6 7 Parameter Total kelembaban % Air lembab. 3.57 4.34% dan kadar air lembab hanya 2. Briket batubara yang terbentuk dimasukkan dalam keranjang berkisi dan dikeringkan di udara terbuka.08 gram Berdasarkan data komposisi adonan briket batubara dari hasil percobaan pembuatan briket batubara nonkarbonisasi tersebut dan data parameter proses lainnya pada penelitian briket batubara terdahulu (Suganal 2003. 4.1.3.2 kg/cm2 Berat /butir : 17. 2004) segera dibuat neraca massa untuk menghitung kebutuhan peralatan dan spesifikasinya yang dilanjutkan dengan penyusunan tata letak peralatan dan perkiraan harga peralatan.2.72 30.55 38. Kualitas briket biobatubara Berdasarkan hasil analisis batubara sebagai bahan baku pembuatan briket biobatubara diketahui bahwa kadar air total batubara sangat kecil. Berdasarkan hasil analisis dalam tabel tersebut. Kualitas Briket Batubara Nonkarbonisasi 4.39 28. Januari 2009 : 17 – 30 . diketahui bahwa rendemen atau perolehan pembriketan hanya mencapai 80%. Tabel 1. Hasil analisis fisik briket biobatubara sebagai berikut: Kuat tekan rata-rata : 48. Pengamatan selama proses pencetakan briket. Meskipun nilai kalor batubara relatif rendah. 4.

% 9.54%. Jika dibandingkan dengan pembuatan briket biobatubara tersebut di atas.3.71 36. maka perolehan pencetakan briket batubara lebih mendekati sempurna. agar briket batubara yang dihasilkan masih mempunyai nilai kalori di atas persyaratan baku mutu. Setelah dilakukan pengujian drop shatter test. Distribusi ukuran briket biobatubara No.5 + 25 -25 + 19.93 Rendahnya nilai kalor briket biobatubara disebabkan oleh penambahan biomassa dan penambahan kapur.65 27. Penambahan serbuk kapur juga menimbulkan penurunan nilai kalor dan menambah kadar abu karena kapur bersifat inert dan tidak mempunyai nilai kalor (bahan anorganik tanpa unsur karbon). bahkan kurang dari 4. % adb Nilai kalor. % adb Kadar karbon padat. Suganal 23 .93 0. diketahui bahwa rendemen atau perolehan pembriketan mencapai 90%. briket setelah % drop shatter test.289 Dari Tabel 3. dapat dilihat bahwa kadar sulfur sangat rendah sehingga masih dalam ambang batas yang diizinkan sesuai spesifikasi standar briket batubara.35 . yaitu batas terendah persyaratan baku mutu standar briket batubara nonkarbonisasi. Berdasarkan Tabel 2.5%.71 31.04%. yaitu 13.97 85. Dengan demikian. Pada prinsipnya mencetak adonan briket tanpa campuran biomassa akan lebih mudah karena batubara tidak bersifat kenyal saat ditekan pada pencetakan. 2002).31 8. % adb Kadar zat terbang.66 4. Kualitas briket batubara Pengamatan selama proses pencetakan briket. mm -50 + 37.26 1. Hasil percobaan tersebut di atas menunjukkan bahwa pembuatan briket biobatubara dari batubara kadar abu tinggi dengan bahan pengikat molases menghasilkan sifat fisik yang baik tetapi sifat kimianya sedikit di bawah persyaratan baku mutu briket batubara.3 -6. diperlukan penambahan serbuk kapur sebagai material pengikat gas SO2 dalam gas buang pembakaran briket tersebut. untuk pembuatan briket biobatubara dalam skala komersial tidak perlu penambahan kapur. adb Kadar abu.33 11.71 69. adb Nilai 3. Hasil drop shatter test dapat dilihat pada Tabel 2.65 0. Pada penelitian pembuatan briket biobatubara sebelumnya (Maruyama. Hal ini berarti sejumlah 10% adonan tidak tercetak dengan baik atau 10% briket tidak sempurna pencetakannya. % adb Kadar sulfur total.8 kg/cm² Berat /butir : 11..0 + 12. Spesifikasi briket biobatubara dapat dilihat pada Tabel 3.. berupa serbuk gergaji yang digunakan mempunyai nilai kalor sekitar 3.400 kkal/kg.62 2. Hasil analisis briket biobatubara No 1 2 3 4 5 6 Parameter Air lembab. Analisis drop shatter test tersebut memberikan indikasi bahwa dalam transportasi maupun penyimpanan yang rentan terhadap gesekan atau jatuh dari suatu ketinggian.0 -19. Demikian pula penambahan biomassa bertujuan mempercepat terjadi penyalaan awal karena biomassa mempunyai kadar zat terbang lebih besar dibanding batubara (Suganal.Jenis analisis fisik lainnya adalah drop shatter test yang hasilnya dibandingkan dengan distribusi ukuran briket biobatubara sebelum dilaksanakan drop shatter test.57 0. Briket yang tidak sempurna pada umumnya dilakukan pembriketan ulang. Bukaan ayakan.3 + 3. sehingga penambahan tersebut akan mengurangi nilai kalor hasil briket biobatubara.2.500 kkal/kg dan kadar abu umumnya kurang dari 5% (Perry.5 + 6. 2008).2. Tabel 2.67 gram Perbandingan sifat fisik dari briket biobatubara berbahan pengikat molases dengan briket batubara berbahan pengikat tepung tapioka menunjukan bahwa pembriketan dengan bahan pengikat molasses mempunyai sifat fisik lebih tinggi. Hasil analisis fisik briket batubara adalah : Kuat tekan rata-rata : 37. perubahan ukuran (remuk) yang dialami relatif kecil.86 4. Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .5 -12. 4. %.60 1. 2004). kkal/kg.19 3. terlihat bahwa fraksi kumulatif distribusi ukuran butir briket biobatubara yang dominan (+ 19 mm) adalah sebesar 95. fraksi butiran dengan ukuran + 19 mm menjadi 81. Namun nilai kalor juga rendah.35 1 2 3 4 5 6 7 Fraksi berat Fraksi berat briket awal. Tabel 3. Dengan demikian perubahan ukuran butir yang terjadi relatif kecil.5 -37.

kkal/kg. Berdasarkan hasil analisis bahan baku berupa batubara kadar abu tinggi. maka terlihat bahwa briket batubara dengan bahan pengikat kanji kurang kuat. Fraksi berat Fraksi berat mm briket awal.39%.41 5 -6.39 37.68 4. Peralatan proses pabrik briket batubara ditempatkan pada suatu bangunan berdasarkan prinsip ergonomis agar pelaksanaan produksi berlangsung lancar dan tidak terjadi duplikasi gerak manusia maupun alat. terlihat bahwa fraksi kumulatif distribusi ukuran butir briket batubara yang dominan (+19 mm) adalah sebesar 59. Distribusi ukuran briket batubara No Bukaan ayakan. % adb Kadar sulfur total. maka pada penerapan skala komersial dipilih bahan pengikat molases tanpa penambahan biomassa maupun serbuk kapur padam agar mutu briket batubara terjamin sesuai baku mutu yang telah ditetapkan. % adb Nilai kalor. dan hasil kegiatan penelitian Kapasitas pabrik briket batubara skala kecil adalah 2.0 59. % adb Kadar karbon padat. Spesifikasi briket batubara dapat dilihat pada Tabel 5. analisis fisik melalui uji drop shatter test dan uji kuat tekan serta analisis kimia melalui uji proksimat dan nilai kalor terhadap produk briket biobatubara dan briket batubara yang telah diuraikan di atas. 1961). sifat fisik briket batubara relatif baik. fraksi butiran dengan ukuran + 19 mm menjadi 37.52 4 -12.412 Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 5.27 32. Rangkaian peralatan disusun menjadi bagan alir 24 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.80%.Tabel 4. tertanggal 11 September 2006. Berdasarkan hasil analisis batubara dan briket batubara serta data percobaan lainnya dibuat neraca massa dan energi secara sederhana seperti tercantum pada Gambar 4. 2003. %. Atas pertimbangan hasil penelitian pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi dan hasil penelitian tentang briket batubara sebelumnya.5 + 6.86 11. dan perhitungan peralatan untuk merealisasikan operasi dari masing-masing tahap proses (Perry. adb Kadar abu. 2004).99 Berdasarkan Tabel 4.81 29. Suganal.29 35. namun sifat biomassa yang kenyal acapkali briket yang dihasilkan menjadi kurang kuat. 5. meskipun penambahan biomassa dapat mempercepat penyalaan awal briket batubara. Peralatan utama tersebut antara lain jaw crusher.3 5. penggunaan tepung kanji relatif tidak memengaruhi nilai kalor.% 1 -37. Januari 2009 : 17 – 30 .63 0.0 + 12.35 5. KONSEP RANCANGAN PABRIK BRIKET BATUBARA NONKARBONISASI SKALA KECIL Tabel 5. Spesifikasi dari peralatan terlihat pada Tabel 6.3 + 3.74 3. adb Nilai 4. tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara.27 30. tidak diperlukan penambahan serbuk kapur padam.80 3 -19.66 6 -3. penggunaan molases relatif tidak menurunkan nilai kalor.400 kkal/kg adb).5 ton/jam briket batubara. Dalam hal nilai kalor. hammer mill. yaitu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006. briket setelah % drop shatter test.57 %. Hasil analisis briket batubara No 1 2 3 4 5 6 Parameter Air lembab.5 27. Jika dibandingkan dengan briket biobatubara berbahan pengikat molases pada Tabel 2. terlihat bahwa mutu briket batubara dengan bahan pengikat tepung tapioka mempunyai sifat kimia yang lebih baik dibandingkan dengan briket biobatubara berbahan pengikat molases. briket batubara sebelumnya (Suganal. % adb Kadar zat terbang. maka diperoleh hal hal penting sebagai berikut: penambahan biomassa dan serbuk kapur padam akan menurunkan nilai kalor briket batubara dan menambah kadar abu briket batubara. briket batubara tersebut masih dalam nilai yang diizinkan (> 4. Schinzel. yaitu 0. 2008.66 13. double roll mixer dan mesin briket. Tata letak peralatan terlihat pada Gambar 5. Setelah dilakukan pengujian drop shatter test. Hal ini menunjukkan bahwa sifat fisik briket batubara dengan bahan pengikat tepung tapioka mempunyai kecenderungan remuk lebih besar dibandingkan dengan briket batubara berbahan pengikat molases.5 + 25 2 -25 + 19. karena kadar sulfur total bahan baku batubara cukup rendah.35 1. Nomor 13. namun sifat fisik briket batubara kurang kuat.

besi profil.Diameter roll : 620 mm . 15 cm x 10 cm x 12 cm .. Neraca massa dan neraca energi Tabel 6. transmision cover dan lain-lain: plat mild steel 5 mm Daya : motor listrik 10 HP.Berat briket : ± 60 gram per butir .Main Bearing : self Aligning spherical roller bearings Bahan Konstruksi: .397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Batubara Ø : 3-25 mm 2.Gear Box Chain & Sprocket .Basis : 1 jam operasi Molases 140 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Entalpi pada 25 ºC ~ 0 kkal Ø = ukuran butiran batubara   Jaw Crusher  Hammer Mill   Double Roll  Mixer        Mesin Briket Batubara Ø > 50 mm 2. 12 segmen .5 mm Fungsi Mencetak adonan briket batubara menjadi briket batubara Jumlah 1 unit Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Suganal 25 .397 kg 3.Chain & Sprocket : RS 100 .Rangka.397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Batubara Ø < 3 mm 2.Gear .Bentuk briket : telur/jengkol .Gear: Spur Gear.Hooper.537 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Uap air 37 kg Briket batubara basah 2.537 kg Q = 0 kkal Temp : 25oC Briket Batubara 2. Kebutuhan peralatan No..V Belt : 2 baris type B .Bahan cetakan : Baja cor FC 30 tahan tumbukan . module 11. 220/380 V Sistem Transmisi: Elektro Motor .5 ton/jam Roll.500 kg Q = 0 kkal Temp : 25oC Keranjang Berkisi   Gambar 4.Cetakan : sistem segmen.Ukuran briket : 52x52x35 mm . shaft & bearing : .Main shaft : Baja poros high tensile strength .V Belt & Pulley .397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Adonan briket Molases : 140 kg Batubara : 2. Nama Alat 1 Mesin Briket Tipe Telur Spesifikasi Tipe: double roll Sistem feeding : gravitasi/vertical feeding Kapasitas : 2.Gearbox: Worm Gear .

Kebutuhan peralatan (lanjutan) No. 220/380 V menjadi ukuran Putaran : ± 450 RPM sedang Kapasitas : 1000 s/d 2000 Kg/jam 3 mm – 25 mm Ukuran besar butir output: 3 s/d 25 mm. plat mild steel 12 mm Blade pengaduk.Main shaft: Baja poros high tensile strength 2" .Sistem Transmisi : Vertical Gear Box. kaki penyangga.Rangka. 220/380 Volt (1400 rpm) ukuran sedang Kapasitas: 1000 s/d 2000 Kg/jam Besar butir output <3 mm Feeding System : Screw feeder variable speed Bahan Konstruksi: .Tabel 6. plat baja 6 mm .Rumah Crusher.Kaki penyangga. baja dengan pelapis tahan gesek (sistim las/ manganase steel . plat mild steel 2 mm. V belt .Rumah Crusher. chain & sprocket.Rangka alas kaki penyangga.Main Bearing .Jaw plate.3 mm) dan molases. Jumlah 3 unit 3 Hammer Mill Tipe : Modified Squirel Cage Mill Menggiling batubara 1 unit Daya: motor listrik 10 HP. Bahan Konstruksi: . Nomor 13.Kapasitas : 200 Kg/batch. plat mild steel 12 mm atau 14 mm . plat mild steel 6 mm .Rotor penghancur. plat mild steel 5 mm .Main shaft : Baja poros high tensile strength 2½ inc Main Bearing : Tapered roller Bearings 2½ inc Fungsi Mencampur bahan baku berupa batubara halus (. 3 mm atau 4 mm . waktu 1 batch = 15 s/d 20 menit .Alas shell. Januari 2009 : 17 – 30 .Hooper.Saringan.Shell. pipa Ø 4" . plat mild steel 5 mm Main Shaft & Bearing : . besi profil 10 mm Main Shaft & Bearing : . plat baja dengan pelapis tahan gesek (sistim las)/ manganase 1 steel 1 unit 26 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. tinggi ±120 cm . plat mild steel 10 mm dan 5 mm . Self Aligning Spherical Roller Bearings 2" (3mm – 25 mm) menjadi batubara berukuran – 3 mm 4 Jaw Crusher Tipe: Togle Jaw Crusher Memecah batubara Gap & Opening : 175 x 200 mm ukuran > 50 mm Daya : motor listrik 3 HP.5 HP. Nama Alat 2 Double Roll Mixer Spesifikasi Tipe/Jenis : Pan Mixer dengan Blade pengaduk Diameter shell = ±120 cm.Cover system transmisi. besi profil 6 cm x 8 cm x 10 cm .Daya : motor listrik 7. 220/380 Volt .Putaran : 20 s/d 30 RPM Bahan Konstruksi: .

55 m Bahan Konstruksi: .Bearing : Pillow Block Bearings 1½” . tebal = 7.000.Rangka. besi profil 15 cm .000.3mm) dengan molases Menggiling batubara ukuran sedang (3mm – 25 mm) menjadi batubara berukuran – 8 mesh Memecah batubara ukuran > 50 mm menjadi ukuran sedang 3 mm – 25 mm Memindahan material (batubara atau adonan briket) dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai posisi yang diinginkan Jumlah 1 unit 3 unit 1 unit 1 unit 4 unit Harga per unit Rp 134.800.Rp 86.Tabel 6. pipa 0 8" . Kebutuhan dana peralatan X Rp 1.Main shaft: Baja poros high tensile strength Bearing : Self Aligning Spherical Roller Bearings 2 “ – 3” Tipe : V flat belt Conveyor Belt: lebar = 40 cm.Rp 22.Hooper.5 mm Panjang : 4 s/d 10 m tergantung keperluan Kapasitas: 1250 Kg/jam Daya : motor listrik 2 HP.Rp 86.Rp 88.Cover system transmisi. plat mild steel 5 mm Main Shaft & Bearing : . kaki penyangga.No Nama alat 1 Mesin Briket Tipe Telur 2 Double Roll Mixer 3 4 5 Hammer Mill Jaw Crusher Conveyor Fungsi Mencetak adonan briket batubara menjadi briket batubara Mencampur bahan baku berupa batubara halus (.6 x 2. Suganal 27 .Kaki penyangga. besi profil kanal 10 cm Fungsi Jumlah 5 Conveyor Memindahan 4 unit material (batubara atau adonan briket) dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai posisi yang diinginkan 6 Silo Menyimpan batubara halus sebelum dicampur dalam double roll mixer 2 unit Tabel 7.Kaki penyangga.Roll penyangga belt bagian bawah.000.000.- Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .Cover system transmisi. Gear box.Body. besi kanal C 15 .Drum.Rp 36. 220/380 V System transmisi: V belt. plat 6 mm . plat mild steel 2 mm 3 mm .000.Rp 100.5 m3 Ukuran kotak penampung = 3.35 – 40 cm lebar conveyor Kotak penampung batubara halus. Nama Alat Spesifikasi .000.Harga total Rp 134.000. pipa ø 3" Main Shaft & Bearing : . Chain & sprocket Bahan Konstruksi: .2 m Tinggi Total : 3.Rangka utama.000.000..Rp 36. plat mild steel 2 mm 4 mm . kapasitas 12..4 x 1.Main shaft: Baja poros high tensile strength 1½” .Rp 33.600. besi profil L 7 cm . Kebutuhan peralatan (lanjutan) No.

000.- Tabel 8. Kebutuhan dana peralatan (lanjutan) X Rp 1.747.000.000.Rp.436.Rp. Tata letak peralatan 28 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.574.000.800..070.No Nama alat 6 Silo Fungsi Menyimpan batubara halus sebelum dicampur dalam mixer Jumlah 2 unit Harga per unit Rp 30.120.Rp.000.+ RP 1.937.800.Harga total Rp 60.000.18.163.120. Nama Bangunan 1 Bangunan pabrik 2 3 4 5 Fungsi Tempat melaksanakan operasi produksi briket batubara Gedung pengepakan Tempat pelaksanaan pengepakan produk briket batubara siap dikirim ke konsumen.000.- Catatan : harga tahun 2007 Jumlah = RP 1.Jumlah kebutuhan dana = Rp 504. 737.000.920.= Rp 1. Stockpile Tempat penimbunan bahan baku batubara Mes Karyawan Tem tinggal karyawan pabrik briket abtubara Penyiapan lahan Menyediakan lahan siap bangun luas 450 m2 81 m2 150 m2 90 m2 5.000.Rp.000.000.Tabel 7. Nomor 13.000.000 m2 Harga total Rp.- Gambar 5.- Catatan : harga tahun 2007 Jumlah Rp 504. Januari 2009 : 17 – 30 .000..80.000. Kebutuhan dana bangunan No.000.070. 70.

6. sedangkan kebutuhan tenaga secara keseluruhan tercantum pada Tabel 10. Kebutuhan tenaga kerja sebagai operator peralatan No. Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil Tabel 9. Tegal dan lain lain. Untuk wilayah Jawa. Pada saat ini telah cukup banyak bengkel permesinan yang berhasil membuat peralatan pembuatan briket batubara skala kecil. maka pembuatan briket tidak perlu melalui tahap – – Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil ..Gambar 6. – KESIMPULAN Batubara Kalimantan Selatan dengan kadar abu tinggi. bengkel bengkel tersebut terdapat di Bekasi. Bahan baku briket batubara relatif kering. Kebutuhan tenaga tercantum pada Tabel 9. yaitu 38. Bandung.39 %.. Unit Alat 1 Mesin Briket Tipe Telur 2 Double Roll Mixer 3 Hammer Mill 4 Jaw Crusher 5 Conveyor 6 Silo Kualifikasi Tamatan STM Mesin Tamatan STM mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Fungsi/jabatan Mengoperasikan mesin briket/operator Mengoperasikan unit double roll mixer/ operator Mengoperasikan unit hammer mill/operator Mengoperasikan unit jaw crusher /operator Mengoperasikan conveyor Mengatur laju pengeluarn dan penyimpanan serbuk batubara Jumlah 1 orang 2 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang Tabel 10. Kebutuhan tenaga kerja total No.412 kkal/kg. Perkiraan harga pada tahun 2007 dari tiap peralatan dan bangunan tercantum pada Tabel 7 dan Tabel 8. Mutu briket batubara hasil percobaan masih memenuhi persyaratan briket batubara dengan nilai kalor 4. nilai kalor 4. Unit 1 Mesin pabrik 2 Pengeringan 3 4 5 Pengepakan Administrasi/kantor Manager Spesifikasi Tamatan STM Mesin Tamatan SLTP Tamatan SLTP Tamatan SLTA D3 Teknik Industri Fungsi/jabatan Mengoperasikan mesin pabrik /operator Mengatur proses pengeringan briket secara manual Mengepak produk briket batubara siap dikirim ke konsumen Mengatur administrasi kegiatan pabrik Menjalankan operasional pabrik Jumlah 7 orang 2 orang 2 orang 1 orang 1 orang proses seperti terlihat pada Gambar 6. Untuk kepentingan operasi pabrik briket tersebut diperlukan tenaga terampil untuk menjalankan mesin-mesin maupun perlistrikan lingkungan pabrik. Suganal 29 .555 kkal/kg dapat digunakan untuk pembuatan briket batubara dengan bahan pengikat molases atau tepung tapioka.

. Yusgiantoro. India. Januari 2009 : 17 – 30 .5 ton/jam. tidak disarankan penambahan bahan pengikat berupa serbuk tanah liat dan material imbuh lain seperti serbuk kapur padam dan lainnya. Jurusan Teknik Kimia. Mei 2006. …………. Prosiding Seminar Kimia Nasional XIV. Paparan Seminar Gasifikasi Batubara Peringkat Rendah. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2008. T. Schinzel. Perangkat Pembakaran Batubara Pada Industri Kecil dan Rumah Tangga dalam Rangka Optimalisasi Energi Nasional. dkk.coalbriquettes. Prosiding 30 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Briquette Production Technology. Binderless Coal Briquetting company Pty Limited Maruyama.com ………….com/engbicoal.. K.58 miliar.csiro. Suganal. Pusat Informasi Energi. 2008.. 1961..2005.det. jumlah karyawan 13 orang.H. Seventh edition. Modifikasi Kompor Briket Batubara sebagai Upaya Peningkatan Penggunaan Briket Batubara dan Batubara Skala Nasional Pada Industri Kecil Padat Energi dan Rumah Tangga. sedangkan bahan pengikat yang disarankan adalah molases. Evaluation of coal from PT Berau’s coal lati and Bunyu mine for binderless coal briquetting. Nomor 13. Untuk pembuatan briket skala kecil dengan kapasitas 2. Briquetting.. Universitas Diponegoro Semarang. The Komar Briquetting System. Suganal.. Jakarta. Jaringan Kerjasama Kimia Analitik Indonesia. dkk. 2002. Suganal. 2004.jp/sekitan – – DAFTAR PUSTAKA Clark. Penggunaan Serbuk Gergaji Pada Pilot Plant Briket Biobatubara Palimanan. Chemical Engineers’ Handbook. 2005.go. Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia. Binderless Coal Briquetting company.. http:/www.nedo. http:/www. 2007.com/bb activities …………. 2003. Jurusan FMIA UGM. Yogyakarta 6-7 September 2004. 2007. Perry. Pengembangan Produk Pilot Plant Briket Biobatubara Di Palimanan. – Untuk menjaga penurunan nilai kalor. W. 2007. Bio Coal Plant Project. John Wiley&Son. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. 2008. Agustus 2003. Yogyakarta.pengeringan. diperlukan dana investasi sebesar Rp 1. http:/www. Texas. Peran Strategis Gasifikasi Batubara Untuk Memperkuat Ketahanan Energi Nasional. Prosiding Seminar Kimia Nasional XV.. Chemistry of Coal Utilization. Mc Graw Hill Book. 2006. 2006. 2006. http:/ www.au/energy center …………. Peralatan dan mesin relatif sederhana dan dapat dirakit di dalam negeri Seminar nasional III. USA: 609-665. Binderless Briquetting of Coal. Blue print Pengelolaan Energi Nasional.. R. P.komarindustries. 7 Desember 2006. dalam Martin AE(editor).. http:/www. Suganal. Yogyakarta.unire-jp.

peringkat ABSTRACT The design of Suralaya Power Plant unit 1-4 that started to operate at the end of nineteen eighties was based on Air Laya coal. However. The use of other coal that has different quality with the Air Laya coal can disturb the operation power plant boiler. pembangkit listrik. study on the possibility of blending system for Indonesian coal has been carried out. Dalam rangka melihat kemungkinan penerapan sistem blending batubara untuk pembangkit tersebut. Keywords: coal. Tests on coal mill and coal combustion at higher scale that close to the real practical condition need to be carried out for evaluating the coal blend results. the high rank coal generally has low grindability index.BLENDING BATUBARA UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK STUDI KASUS PLTU SURALAYA UNIT 1. coal blending system can be carried out between low rank coal (lignite) and high rank coal (bituminous) based on the coal quality parameter specification. The study was based on the literature study of coal design parameter of the Suralaya Power Plant and Indonesia coal data. Sumatera Selatan yang termasuk batubara subbituminus dengan parameter kualitas tertentu. batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah. terutama nilai kalor. revisi kedua : 19 Januari 2009. Kata Kunci: batubara. Penggunaan batubara lain yang spesifikasinya tidak sesuai dengan kualitas batubara Air Laya tersebut dapat mengganggu kelancaran pengoperasian ketel uap pembangkit. revisi pertama : 12 Desember 2008. telah diadakan kajian kemungkinan blending batubara Indonesia. revisi terakhir : Januari 2009 SARI PLTU Suralaya unit 1-4 yang mulai beroperasi pada akhir tahun 80-an didesain sesuai dengan kualitas batubara Air Laya. Results of the study showed that to overcome the problem of coal supply the Suralaya Power Plant unit 1-4. Kajian dilakukan berdasarkan pengumpulan data spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4 dan data kualitas batubara Indonesia. blending. Jenderal Sudirman No. Namun demikian. Hasil kajian menunjukkan bahwa untuk mengatasi masalah pasokan batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4. especially calorific value. 623. South Sumatera with certain quality parameters. blending. and therefore this parameter needs to be considered since it tends to be nonadditive. sistem blending dapat dilakukan antara batubara peringkat rendah (lignit) dan batubara peringkat tinggi (bituminus) sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara. In relation to the possibility of development of coal blending for the Suralaya Power Plant. rank Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4. sehingga parameter ini perlu diperhatikan mengingat parameter ini cenderung bersifat nonaditif. Slamet Suprapto 31 .4 SLAMET SUPRAPTO Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. Bandung Naskah masuk : 26 Mei 2008. power plant. Pengujian penggerusan dan pembakaran dalam skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan perlu dilakukan untuk mengevaluasi batubara hasil blending.

Nomor13.7%.000-an tersebut sudah mulai sulit diperoleh di pasaran.3% (Suprapto. kajian yang mendalam perlu dilakukan mengingat bervariasinya parameter kualitas batubara. Untuk mengatasi ketergantungan terhadap pasokan dari satu jenis batubara atau pemasok tersebut. Hal ini mengakibatkan kualitas endapan batubara bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya. 2008) di PLTU Suralaya. 2007). Untuk pemanfaatan batubara sebagai bakar pembangkit listrik. sehingga keterlambatan pasokan batubara Air Laya ke PLTU Suralaya dapat menganggu kelancaran operasi pembangkit.3% dan antrasit hanya 0. Sedangkan batubara lignit baru mulai dieksploitasi terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Selain tingkat pembatubaraan atau peringkat (rank). batubara peringkat rendah seperti lignit dan batubara subbituminus mempunyai kadar air tinggi dan nilai kalor rendah.000 kal/g (as received).000 MW PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) berbahan bakar batubara (MinergyNews. Batubara peringkat yang lebih tinggi seperti batubara bituminus dan antrasit mempunyai nilai kalor tinggi dan kadar air rendah. 2002).000 kal/g dan bahkan ada yang lebih dari 6000 kal/g. upaya peningkatan dan diversifikasi penggunaan batubara terus dilakukan. Endapan batubara Indonesia sebagian besar terdiri atas batubara peringkat rendah. Sedangkan PLTU-PLTU yang sudah ada yang dibangun pada antara 1980-an sampai 1990-an didesain berdasarkan batubara yang mempunyai nilai kalor lebih dari 5. Di samping itu. Karakteristik pembakaran batubara dalam pembangkit listrik sangat dipengaruhi oleh kualitas batubara. PLTU Suralaya yang mulai beroperasi pada akhir tahun 1980-an saat ini masih merupakan salah satu andalan bagi sistem kelistrikan Jawa dan Bali. Januari 2009 : 31 – 39 . subbituminus 26. Batubara Indonesia yang masih belum banyak dimanfaatkan adalah batubara lignit dengan nilai kalor ± 4. Oleh karena itu. Batubara yang diekspoitasi saat ini umumnya batubara subbituminus dan bituminus yang sebagian besar sudah dialokasikan untuk memenuhi kontrak jangka panjang untuk ekspor atau kebutuhan dalam negeri. Batubara dengan nilai kalor 5. Apalagi spesifikasi atau persyaratan kualitas batubara untuk PLTU tidak hanya ditentukan berdasarkan parameter nilai kalor. bukan berarti pembangkit-pembangkit listrik yang sudah lama akan ditinggalkan. Sebaliknya. sumbangan batubara dalam bauran energi (energy mix) nasional diproyeksikan menjadi yang terbesar. PENDAHULUAN Mengingat potensinya yang paling besar di Indonesia. baik sebagai bahan bakar langsung maupun melalui konversi menjadi bahan bakar gas atau bahan bakar cair. TINJAUAN PUSTAKA Batubara Untuk Pembangkit Listrik Batubara merupakan bahan bakar padat yang terbentuk secara alamiah akibat pembusukan sisa tanaman purba dalam waktu jutaan tahun. yakni 33% dibanding sumber energi lainnya (Suprapto. seperti misalnya bahan bakar minyak.000 kal/g.1. 2. PLTU Suralaya. Dalam rangka mencapai sasaran tersebut. sementara peringkat tinggi yakni bituminus 14.Com. karena perannya dalam menunjang kelistrikan nasional tetap dibutuhkan. 32 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.200 kal/g atau PLTU Ombilin kapasitas didesain menggunakan batubara peringkat bituminus dengan nilai kalori lebih dari 6000 kal/g (KONEBA. PLTU Suralaya Unit 1-4 (4x400 MW) dirancang berdasarkan kualitas batubara Air Laya. 2. kualitas suatu endapan batubara juga dipengaruhi oleh lingkungan pengendapannya. PT Indonesia Power (anak perusahaan PT PLN Persero) akan membangun coal blending plant (Kompas. Sumatera Selatan yang termasuk dalam peringkat subbituminus dengan nilai kalor lebih dari 5000 kal/g. batubara telah ditetapkan sebagai bahan bakar alternatif utama pengganti bahan bakar minyak. saat ini sedang dibangun rencana 10. Walaupun pembangkit-pembangkit baru mulai dibangun. Pada tahun 2025. atau bahkan dapat bervariasi dari lapisan satu ke lapisan lainnya pada daerah atau cekungan geologis yang sama.1. Banten contohnya yang dibangun pada tahun akhir 1980-an didesain untuk batubara subbituminus dengan nilai kalornya rata-rata ± 5. yakni lignit 58. 2007).7%. Walaupun blending batubara sudah umum dilakukan dalam pembangkit listrik. Untuk pembangkit listrik yang akan dibangun tersebut direncanakan digunakan batubara lignit dengan nilai kalori ± 4. Tambahan lagi. karakteristik dan kualitas batubara sangat bervariasi dan tidak homogen dibandingkan dengan bahan bakar yang telah mengalami proses pengolahan dalam pabrik. lingkungan pengendapan dan cara penambangan dapat memengaruhi kadar abu serta karakteristik abu (komposisi dan titik leleh abu). batubara peringkat rendah umumnya mempunyai kecenderungan swabakar yang tinggi dan mempunyai sifat fisik yang rendah (mudah hancur). 2007).

hidrogen. konfigurasi fisik dan luas perpindahan panas dalam ketel uap (boiler). Menurut Hower (1988) HGI dapat bersifat aditif hanya untuk blending antara batubara dengan peringkat yang sama. batubara yang dipasok untuk sebuah pembangkit listrik seharusnya sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan. penggunaan batubara di luar spesifikasi juga dapat mengganggu karakteristik dan efisiensi pembakaran. kadar abu tinggi dan abu rendah. Bahkan banyak peneliti dan operator PLTU batubara kemudian mengembangkan model Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4. karbon padat. Kebanyakan analisis dan pengujian parameter nonaditif di laboratorium tidak merefleksikan kondisi pembakaran yang sebenarnya dalam pembangkit listrik. HGI menentukan cocok tidaknya batubara dengan penggerus yang ada. klorin. keterlambatan pasokan batubara sesuai spesifikasi menyebabkan digunakannya batubara lain yang kualitasnya tidak memenuhi spesifikasi. Oleh karena itu. hardgrove grindability index) (Savage. Parameterparameter air. Data kualitas tersebut kemudian digunakan untuk memprediksi karakteristik pembakaran dalam ketel uap. Paramater yang nonaditif tersebut menyebabkan evaluasi terhadap batubara blending untuk pembangkit listrik menjadi kompleks. oksigen. sehingga memungkinkan dapat memenuhi persyaratan konsumen. Beberapa pengaruh yang dapat terjadi jika menggunakan batubara di luar spesifikasi (off design) pada pembangkit yang telah ada (existing) di antaranya adalah kinerja penggerus. Kecenderungan pembentukan endapan abu tergantung komposisi dan titik leleh abu batubaranya.2. Slamet Suprapto 33 . kondisi operasional. Dalam suatu pembangkit listrik. Kinerja mesin penggerus (pulverizer) biasanya berhubungan dengan nilai kalor dan sifat ketergerusan (HGI. Biasanya blending dilakukan antara batubara peringkat rendah dan peringkat tinggi. Mengingat hal tersebut di atas. diversifikasi pasokan batubara untuk keamanan pasokan. karbon total. Selain kinerja mesin penggerus dan pengendapan abu. sehingga dapat menggunakan perhitungan tersebut. Hal ini dapat mengganggu kelancaran pengoperasian pembangkit listrik. Apabila digunakan batubara dengan kalori lebih rendah dari spesifikasi. Namun tidak semua parameter kualitas batubara campuran dapat diprediksi menggunakan data kualitas hasil perhitungan rata-rata berat. sehingga penggerus kemungkinan perlu ditambah atau penggerus cadangan perlu dioperasikan.Karakteristik pembakaran batubara dalam sebuah pembangkit listrik terutama dipengaruhi oleh (Reid. titik leleh abu dan HGI umumnya cenderung bersifat nonaditif. sulfur. Sedangkan nilai muai bebas. selain analisis dan pengujian laboratorium. nitrogen. kadar belerang tinggi dan belerang rendah. Operasi PLTU tanpa penggerus cadangan ini sangat riskan dan dapat mengganggu kelangsungan operasi PLTU. batasan yang ditentukan oleh desain boiler. pengendapan abu (slagging dan fouling) dan karakteristik dan efisiensi pembakaran. Kualitas batubara campuran (hasil blending) umumnya dihitung berdasarkan rata-rata berat data analisis dan pengujian yang diperoleh dari masingmasing batubara individu (yang dicampur). membantu mengatasi masalah yang terjadi apabila digunakan batubara yang di luar spesifikasi. Atau sebaliknya. maka efisiensi menurun dan kadar karbon dalam abu meningkat. kadar maseral. 2. Jika pembakaran tidak sempurna. kadar abu. Hal ini dapat mengganggu kinerja electrostatic precipitator yang berfungsi menangkap abu terbang (fly ash) dan selanjutnya juga mempersulit pemanfaatan abu. maka idealnya desain suatu pembangkit listrik berbahan bakar batubara dibuat berdasarkan kualitas batubara yang akan digunakan. 1974). dan nilai kalor cenderung bersifat aditif. Sedangkan Riley (1989) menyatakan bahwa HGI dapat bersifat aditif asalkan perbedaan nilai HGI masing-masing batubara yang di-blending tidak lebih dari 10. sistem blending dapat memberikan banyak keuntungan di antaranya: meningkatkan kelenturan (fleksibilitas) dan memperluas kisaran batubara yang dapat digunakan. zat terbang. 1991): kualitas atau karakteristik batubara. masih diperlukan pengujian pembakaran dengan kondisi yang mendekati kondisi di lapangan. Batubara keras atau dengan HGI rendah tidak cocok digerus pada penggerus yang dirancang untuk batubara lunak (HGI tinggi). Pengendapan (deposisi) abu pada permukaan area perpindahan panas pada sebuah ketel uap adalah salah satu masalah yang paling serius yang dapat terjadi jika menggunakan batubara di luar spesifikasi. Sering terjadi. Blending Batubara Blending merupakan cara terbaik untuk memperbaiki dan menyatukan sifat dan kualitas batubara dari daerah atau dengan jenis yang berbeda. posisi burner. maka diperlukan jumlah batubara yang lebih banyak.

Batubara dengan nilai kalor lebih rendah dari batas minimum tersebut juga bisa digunakan. Sumatera Selatan yang digunakan untuk dasar pembuatan desain PLTU Suralaya unit 1-4. Untuk batubara bituminus. 3.3. HASIL DAN PEMBAHASAN Spesifikasi Batubara Untuk PLTU PLTU Suralaya yang terletak di Merak.1. Nomor13. 1995): Xb = α1X1 + α2X2 + …. = parameter kualitas produk blending = proporsi batubara ke 1 dalam blending = proporsi batubara ke 2 dalam blending = proporsi batubara ke n dalam blending = parameter kualitas batubara ke 1 = parameter kualitas batubara ke 2 = parameter kualitas batubara ke n METODOLOGI Pengumpulan spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya terutama melalui laporan dan internet. Pengumpulan data dilakukan melalui penulusuran makalah dan laporan yang berhubungan dengan PLTU Suralaya. Januari 2009 : 31 – 39 .8 (minimum 48).000 kal/g.2. dasar kering udara (air dried basis) dan dasar kering (dry basis). Karakteristik abu yang terdiri dari indeks penerakan dan indeks fouling yang menyatakan kecenderungan abu batubara membentuk endapan terak (slagging) dan fouling dihitung menggunakan data komposisi abu dan titik leleh abu batubara. Parameter kualitas bersifat aditif lainnya. yakni batubara lignit (nilai kalor rendah. tetapi keluaran listrik akan turun walaupun semua fasilitas penanganan dan penggiling batubara dijalankan. terutama nilai kalor. 3. karena terdapat lebih banyak parameter dan kemungkinan kombinasi blending. 4000-an kal/g atau kurang) dan batubara bituminus (nilai kalor tinggi. yakni diantaranya HGI 61.225 kal/g masih dapat digunakan dan menghasilkan keluaran (daya) listrik sesuai kapasitas pembangkit asalkan seluruh fasilitas penanganan (handling) dan penggiling (mill) dijalankan. 4. Yang dimaksud dengan batas minimum nilai kalor tersebut adalah batubara dengan nilai kalor 4. software komputer yang sekarang banyak terdapat di pasaran dapat digunakan. Batubara Air Laya. seperti dasar contoh asal (as received). titik leleh abu 1. pengujian pembakaran skala bangku (bench scale) dan kondisi nyata di lapangan. yakni kadar abu dan kadar belerang masingmasing 7.279°C (minimum 1010°C). Oleh karena itu. αnXn Xb α1 α2 αn X1 X2 Xn 3. Software tersebut dikembangkan menggunakan persamaan linier untuk parameter kualitas batubara yang bersifat aditif. 6. tetapi untuk tiga atau lebih jenis batubara akan menjadi lebih kompleks. 1985) sesuai untuk batubara peringkat subbituminus dengan nilai kalor dan kadar air masing 5.242 kal/g (as received) dan 23.berdasarkan data parameter nonaditif laboratorium. Pengolahan Data Data kualitas batubara yang dikumpulkan umumnya masih bervariasi dasar analisisnya.80% (maksimum 12.000-an kal/g). 4. Rumus linier sederhana untuk blending batubara yang menggunakan parameter aditif adalah sebagai berikut (Carpenter.80%) dan 0. yakni 4 x 400 MW (unit 1-4) dan 3 x 600 MW (unit 5-7). untuk melengkapi data batubara Peranap dilakukan analisis dan pengujian contoh batubara di laboratorium. Banten yang mempunyai kapasitas terpasang sebesar 3. Pengumpulan Data Batubara Indonesia Pertimbangan pertama dalam pengumpulan data batubara adalah didasarkan pada peringkatnya. Agar sesuai dengan spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya. 34 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Sedangkan parameter kualitas yang bersifat non-aditif.400 MW terdiri dari 7 unit.225 kal/g dan kadar air maksimum 28. Data kualitas batubara dikumpulkan Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya yang didasarkan atas kualitas batubara Air Laya dapat dilihat pada Tabel 1.60%. Di samping itu.1. mem-blending dua jenis batubara relatif mudah. dengan pembatasan nilai kalor minimum 4.90%). datanya dikumpulkan dari laporan dan internet.30%. indeks penerakan “medium” dan indeks fouling “tinggi”. kadar abu dan kadar belerang. Secara matematis. Untuk kelompok batubara lignit digunakan dua contoh. yakni batubara dari daerah Musi Banyuasin dan Peranap (keduanya Sumatera Selatan). Spesifikasi tersebut (Kannan.40% (maksimum 0. 3. Data batubara tersebut didasarkan pada nilai kalor batubara >6. maka semaksimal mungkin data tersebut dikonversikan ke dasar contoh asal.

8 1. % Kadar abu.200°C dibanding abu batubara Bara Mutiara Prima yang deformasi awalnya sebesar 1.00 4. Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4 Parameter (as received) Kadar air.225 48 1.234 0. kal/g Sulfur. yakni masing-masing 54 dan 60. Sedangkan indeks fouling keduanya termasuk klasifikasi “rendah”.234 kal/g dan 4.Tabel 1.19 3. Sedangkan jika menggunakan batubara Peranap.350 rendah* Rendah Catatan: * dihitung dari kadar abu dan titik leleh abu ( Lampiran 1) Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4.40 61.30%. maka dibutuhkan 275 ton batubara/jam.010 - Maksimum 28. indeks penerakan batubara Peranap termasuk klasifikasi “tinggi” dan batubara Bara Mutiara Prima termasuk “rendah”. 2008). Data kualitas batubara Indonesia peringkat rendah Parameter (as received) Kadar Air. Kedua batubara tersebut mempunyai sifat ketergerusan menengah.80 5. % HGI Tititk leleh abu (Deformasi awal). Kualitas Batubara Indonesia Data kualitas batubara Indonesia yang terdiri atas batubara peringkat rendah.2. Normalnya.11 54 1. Apabila digunakan batubara Bara Mutiara Prima. Mesin penggiling yang tersedia untuk untuk 1 unit 400 MW tersebut tersedia sebanyak 5 buah yang masing-masing berkapasitas 65 ton batubara/jam (KONEBA. kal/g Sulfur. % Kadar Abu. % Nilai Kalor.60 7. batubara peringkat tinggi dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3 (Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia. yakni dengan deformasi awal 1. 2002). batubara Peranap dan Bara Mutiara Prima mempunyai kadar air total masingmasing 49% dan 30% dan dengan nilai kalor 3.200 tinggi* rendah* Bara Mutiara Prima (Sumsel) 30. kedua batubara tersebut termasuk bersih dengan masing-masing kadar abu 1.11% dan 0.400 kal/g (as received).80 0. Apabila kedua batubara peringkat rendah tersebut digunakan untuk PLTU Suralaya unit 1-4.242 0.19% dan 4.30 60 1.279 medium tinggi Catatan: as received = dasar contoh asal 4. Batubara peringkat rendah mempunyai nilai kalor dicirikan terutama oleh tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor.30 4. °C Indeks penerakan Indeks fouling Minimum 4. maka parameter kualitas yang tidak memenuhi spesifikasi adalah nilai kalornya.00 1. Namun demikian.400 0. apabila digunakan batubara Air Laya Tabel 2. % HGI Deformasi awal abu. °C Indeks Penerakan Indeks Fouling Peranap (Sumsel) 49.30 12. Titik leleh abu batubara Peranap cukup rendah. Oleh karena itu. % Nilai kalor.350°C. Normalnya untuk mengoperasikan 1 unit kapasitas 400 MW menggunakan batubara Air Laya dibutuhkan ± 170 ton batubara/jam. Slamet Suprapto 35 . Dari data dua contoh batubara peringkat rendah yang dikaji.30% dan kadar belerang 0.90 - Rata-rata 23. maka untuk menghasilkan listrik yang sama dibutuhkan ± 202 ton batubara/jam.

hanya dioperasikan 3 buah mesin, sehingga 2 mesin lainnya untuk cadangan. Apabila digunakan batubara Bara Mutiara Prima dibutuhkan 4 mesin, sedangkan 1 mesin untuk cadangan. Tetapi apabila digunakan batubara Peranap, maka seluruh mesin harus dioperasikan, sehingga tidak ada cadangan. Pengoperasian seluruh mesin penggerus tersebut dapat menimbulkan risiko gangguan terhadap operasi pembangkit listrik mengingat perlunya waktu perawatan setiap mesin. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan blending plant guna meningkatkan nilai kalor batubara peringkat rendah yang tersedia. Data kualitas batubara peringkat tinggi yang dikaji adalah sebanyak 14 buah, berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Selain dicirikan oleh tingginya nilai kalor dan rendahnya kadar air, batubara-batubara tersebut umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah atau sulit digerus dengan HGI kurang dari 50. Batubara Danau Mas Hitam mempunyai HGI bervariasi antara 40-60. Sedangkan batubara Kartika Selabumi yang mempunyai HGI tinggi atau mudah digerus, yakni sebesar 80. Tetapi batubara ini juga mempunyai nilai bebas yang tinggi yakni 9, tidak seperti umumnya batubara Indonesia yang mempunyai nilai muai bebas rendah. Kadar abu dan kadar belerang batubara peringkat tinggi bervariasi, masing-masing antara 2,0% sampai 19,48% dan 0,15% sampai 2,56%. Sedangkan data indeks penerakan dan indeks fouling hanya tersedia untuk batubara Kartika Selabumi dan Lana Harita. Batubara Selabumi mempunyai indeks penerakan dan indeks fouling klasifikasi “rendah”. Sedangkan untuk batubara Lana Harita klasifikasi “rendah” dan “medium”. 4.3. Blending Batubara

Yang masih perlu dipertimbangkan adalah HGI batubara peringkat tinggi, yang ternyata kebanyakan kurang dari 50. Walaupun HGI batubara peringkat rendah umumnya tinggi, mengingat parameter ini cenderung nonaditif maka HGI hasil blending belum tentu sesuai perhitungan. Apabila nilai HGI hasil blending ternyata lebih rendah dari nilai perhitungan maka kapasitas atau keluaran penggerus turun atau kehalusan produk penggerusan dapat menurun. Menurunnya keluaran penggerus dapat menurunkan keluaran listrik. Sedangkan menurunnya kehalusan batubara dapat menyebabkan menurunnya efisiensi pembangkit dan meningkatnya kadar karbon tak terbakar dalam abu batubara. Untuk mengkaji lebih mendalam, maka pengujian penggerusan dan pembakaran skala yang lebih besar seperti skala meja atau skala yang lebih mendekati kapasitas nyata di lapangan perlu dilakukan sebelum mengaplikasikannya pada kondisi sebenarnya. Batubara Kartika Selabumi mempunyai nilai kalor cukup tinggi, yaitu 7.889 kal/g dan juga HGI yang tinggi yakni 80, tetapi nilai muai bebasnya sangat tinggi mencapai 9. Normalnya, nilai muai bebas batubara untuk pembangkit listrik maksimum 4 (Rance, 1975). Tambahan lagi nilai muai bebas merupakan parameter nonaditif, sehingga karakteristik pembakaran batubara hasil blending batubara ini tidak dapat diprediksi dari masingmasing batubara yang akan di-blending. Selain HGI, karakteristik abu yakni kecenderungan penerakan dan fouling juga perlu dipertimbangkan. Mengingat data indeks penerakan dan indeks fouling kebanyakan tidak tersedia, maka parameter tersebut perlu dilengkapi. Apalagi jika hasil uji di laboratorium dan perhitungan menyatakan kecenderungan kedua indeks tersebut termasuk klasifikasi “tinggi”, maka uji pembakaran pada kondisi yang mendekati ketel uap perlu dilakukan. Pengendapan terak abu terjadi di daerah ruang bakar atau radiasi, sedangkan endapan fouling terjadi pada daerah yang lebih dingin yakni pada pipa-pipa ketel uap. Apabila terak abu yang menempel di dinding tungku (ruang bakar) sulit diambil maka perpindahan panas ke dinding akan menurun dan selanjutnya efisiensi pembakaran juga menurun (Elliot, 1981). Endapan fouling yang terjadi pada pipa ketel uap menyebabkan penyempitan pada deretan pipa yang selanjutnya mempercepat laju alir gas buang. Hal ini dapat menyebabkan naiknya suhu gas buang dan juga erosi terhadap pipa ketel uap.

Blending yang dilakukan didasarkan pada pencampuran kalori rendah dengan kalori tinggi atau antara batubara peringkat rendah dengan peringkat tinggi. Berdasarkan data kualitas tersebut di atas, blending batubara Indonesia antara peringkat rendah dan peringkat tinggi dapat dimungkinkan untuk memenuhi persyaratan nilai kalor sebesar 5.242 kal/ g (as received) dan parameter yang bersifat aditif lainnya, seperti misalnya kadar air, kadar abu dan kadar belerang. Dengan menggunakan rumus (perhitungan rata-rata) linier, maka jumlah proporsi masing-masing batubara yang dicampur dapat ditentukan untuk memenuhi parameter spesifikasi ketel uap PLTU Suralaya 1-4.

36

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39

Tabel 3.

Data kualitas contoh batubara Indonesia peringkat tinggi

Parameter (as received) Lumut 12 3,70 - 9,26 6.021 - 6.947 0,22 - 1,44 45 - 55 Mandiri Inti Perkasa Blok A 14-18 2,81 - 4,69 6.200 - 6.400 0,28 - 0,66 46 - 49 1.200 Kartika Selabumi Mining

Allied Indo Coal Parambahan 9,5 3,8 6.240-6.294 0,54 48 Fajar Bumi Sakti 8 (adb) 7 (adb) 6.700 (adb) 42 - 46 — 3 - 6 (adb) 6 - 15 (adb) 6.000 - 7.500 0,8-2,56 (adb) 45 – 50 1.250 15,5 - 17,00 4,5-5,5 (adb) 6.100 - 6.500 (adb) 0,5-0-0,80 (adb) 45 – 46 Gunung Bayan Pratama Bayan Indominco Mandiri Bontang 18 (adb) 2,0 5.600 - 6.250 0,15 48 – 50 1.150-1.200 16 4,72 6.040 0,94 45 -

Kaltim Prima Kideco Coal Prima Mandau, Payau, Melawan

Multi Harapan Utama Busang

PTBA

Anugerah Bara Kaltim Anugerah

Sari Andara Persada Muara Bungo 10,11 (adb) 19,48 (adb) 5.949 0,83 (adb) 48 1.300 Lana Harita Indonesia Block III

Kadar Air, % Kadar Abu, % Nilai Kalor, kal/g Sulfur, % HGI Deformasi awal abu, °C Indeks Slagging Indeks Fouling

11 9 7.000 1 45 - 50 -

Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4, Slamet Suprapto

Parameter (as received)

Danau Mas Hitam

Kadar Air, % Kadar Abu, % Nilai Kalor, kal/g Sulfur, % HGI Deformasi awal abu, °C Indeks Penerakan Indeks Fouling Nilai Muai Bebas

14 13 - 19 (adb) 5.900 - 6.500 (adb) 1,0 (adb) 40 - 60 1.280 -

19,5 4,65 (adb) 6.210 0,70 (adb) 47 1.490 -

8 3,78 7.889 0,85 80 1.220 rendah* rendah* 9

7,0 (adb) 6.977 1,16 (adb) 43 >1.200 rendah* medium* -

Catatan: adb = air dried basis (dasar kering udara) * = dihitung berdasarkan komposisi dan titik leleh abu (Lampiran 1)

37

5. -

PENUTUP Blending merupakan cara terbaik untuk mengatasi masalah ketersediaan batubara dan ketergantungan terhadap satu sumber pemasok batubara untuk pembangkit listrik di Indonesia. Untuk mengatasi masalah pasokan batubara pada PLTU Suralaya unit 1-4, sistem blending dapat dilakukan antara batubara peringkat rendah (lignit) dan batubara peringkat tinggi (bituminous) sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara, terutama nilai kalor. Batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah atau sulit digerus dan parameter ini perlu diperhatikan karena cenderung tidak bersifat aditif sehingga hasil blending dengan batubara peringkat rendah tidak dapat diprediksi menggunakan rumus linier. Data komposisi abu dan titik leleh abu batubara peringkat tinggi perlu dilengkapi agar dapat digunakan untuk mengevaluasi kemungkinan pembentukan endapan terak dan endapan fouling dalam pembakaran batubara hasil blending. Pengujian pengerusan dan pembakaran dalam skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan perlu dilakukan untuk mengevaluasi batubara hasil blending.

Hower, J.C., 1988. Additivity of hardgrove grindability index: a case study. Journal of Coal Quality, 7(2), 68-70. Kannan, V., 1985. Design considerations for Suralaya Unit 1 & 2 Steam generators. Presented at the Electric Indonesia Exhibition, Jakarta, October 29 – November 2, 1985. Kompas, 2008. CBC Dibangun Atasi Kelangkaan Batubara. 26 Pebruari 2008. KONEBA, 2002. Kuisioner Data PLTU Suralaya. 1 November 2002. MinergyNews.Com, 2007. Program 10 Ribu MW Hanya untuk 3 Tahun. Kamis 13 Desember 2007 Rance, H.C., 1975. Coal Quality Parameters and their influence in coal utilization. Shell International Petroleum Co. Ltd., Jakarta. Reid, W.T., 1991. Coal Ash – Its effects on combustion systems. In: Elliot, M.A. (Ed.), Chemistry of coal utilization. 2nd Suppl. Vol. John Wiley & Sons, New York, 1389-1445. Riley, J.T., Gilleland, S.R., Forsyhte, R.F., Graham, H.D. and Hayes, F.J., 1989. Non-aditif analytical values for coal blend. Proceeding of the 7th international conference on coal testing. Charleston, West Virginia, 21-23 March. Savage, K.I., 1974. Pulverizing characteristics of coal hardgrove grindability index. Keystone Coal Industry Manual. Suprapto, S., 2007. Gasifikasi batubara sebagai alternative pengganti BBM. Makalah disampaikan pada Forum Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 21-22 November 2007.

-

-

-

-

DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia, 2008. Kualitas Batubara.http/www.apbi-icma. Carpenter, A.M., 1995. Coal Blending for Power Station. IEA Coal Research, London. Elliot, M.A. (ed.), 1981. Chemistry of coal utilization. Second Suppl. Vol., John Wiley & Sons, New York.

38

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39

51 8.220 1.360 1. Komposisi dan titik leleh abu batubara Peranap.200 >1.81 0. °C 55.22 1.01 1.249 1.82 4.14 2.45 0.600 Deformasi awal Pelunakan Hemisfer Flow 1.290 1.66 2.01 0.29 0. Bara Mutiara Prima.65 0.420 >1.84 1.56 23.200 >1.350 1.86 SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO K2O Na2O TiO2 MnO2 SO3 P2O5 Titik Leleh Abu.Lampiran 1.54 1.200 1.200 >1.02 Lana Harita Indonesia 40.500 1.94 2.36 0.300 1. Kartika Selabumi Mining dan Lana Harita Komponen.19 9.73 0.68 0.310 1.385 1. Slamet Suprapto 39 .15 0.13 5.200 Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4.50 0.12 0.50 3.21 2.370 1.261 1.73 15.61 24.07 Reduksi Oksidasi 1. % Peranap Bara Mutiara Prima Kartika Sela Bumi 33.77 0.65 4.31 29.

revisi terakhir : Januari 2009 ABSTRAK Limbah batubara (sludge) didefinisikan sebagai bahan karbonan. suhu nyala. Kata kunci : batubara. berasal dari endapan batuan sedimen yang mengandung bahan organik sehingga dapat terbakar. Tipe limbah batubara yang dikaji dalam tulisan ini adalah slurry (=SL) sebagai limbah sisa proses pencucian batubara. Tanito Harum (TH). sehingga limbah batubara dapat langsung dibakar dengan sistem tersebut. : (022) 6030483 Fax. Jenderal Sudirman No. revisi pertama : 16 Januari 2009. karakteristik limbah. hidrogen (Hydrogen =H). yaitu PT. Nomor13.id dan ikin@tekmira.go. Januari 2009 : 40 – 46 .esdm. M dan A tinggi di atas 25% dan fuel ratio (FC/VM) sekitar satu. Bandung – 40211 Telp. Multi Harapan Utama (MHU). zat-terbang (Volatile Matter =VM) dan karbon tertambat (Fixed Carbon =FC). slurry (SL). titik pijar dan suhu pembakaran maksimum yang ditentukan oleh parameter analisis proksimat dan ultimat. dan PT. Pembakar siklon dipilih. Bukit Baiduri Energi (BBE) yang masing-masing mempunyai unit pencucian batubara dengan skala produksi di atas 1 juta ton batubara per tahun. karakteristik pembakaran 40 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. revisi kedua : 28 Januari 2009.id Naskah masuk : 23 Desember 2008.HUBUNGAN ANTARA PARAMETER KARAKTERISTIK LIMBAH BATUBARA KALIMANTAN TIMUR DAN KARAKTERISTIK PEMBAKARANNYA STEFANO MUNIR DAN IKIN SODIKIN Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. : (022) 6038027 e-mail : stefano@tekmira. karena dapat menangani limbah batubara yang berkualitas rendah (low grade coal) dengan kisaran nilai kalori 3000 – 5000 kal/gr. Besar butir limbah batubara tipe SL Kaltim sesuai dengan ukuran untuk umpan pembakar siklon. dan oksigen (Oxygen =O). Hasil menunjukkan bahwa limbah batubara tipe SL dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif sebagai bahan bakar langsung pada industri.go. Karakteristik limbah batubara ditentukan berdasarkan parameter analisis proksimat seperti air-lembab (Moisture =M). Karakteristik limbah batubara tergantung pada karakteristik batubara sumbernya dan pada umumnya berperingkat rendah (low rank coal). Propinsi Kalimantan Timur (Kaltim).esdm. 623. Sedangkan karakteristik pembakaran yang memengaruhi kinerja tungku siklon ditentukan oleh nilai kalori. Contoh diambil dari 3 (tiga) perusahaan tambang batubara yang terletak di sepanjang Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara. PT. dan analisis ultimat seperti karbon (Carbon =C). abu (Ash =A). Selain itu dilakukan analisis ayak untuk mengetahui distribusi ukuran partikel dari contoh batubara SL yang diteliti.

batubara dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) kelompok. most of which are low rank coal. Akumulasi jumlah limbah batubara tipe SL ini akan semakin besar sesuai dengan jumlah tambang batubara yang beroperasi di daerah Kaltim dan umur pengoperasian setiap tambang batubara yang Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan . PT. Tipe limbah batubara SL dijadikan objek penelitian dalam tulisan ini karena mempunyai prospek yang menjanjikan dipandang dari segi jumlah (quantity) dan kualitasnya (quality) sebagai sumber energi alternatif dalam rangka mendukung kebijakan konservasi batubara nasional yang berwawasan lingkungan. Batubara hasil penambangan (Run of Mine-Coal atau raw coal) perlu diolah terlebih dahulu atau tidak. East Kalimantan province. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 41 . The characteristic of sludge depends on the type of its source coal. The cyclone furnace was selected.02 juta ton per tahun (Suhala. dan coal fines = CF. kegiatan operasi penambangan di setiap lokasi tambang batubara pada umumnya menghasilkan 3 (tiga) produk. PENDAHULUAN Potensi sumber daya batubara Indonesia yang ditaksir sebanyak 93. combustion characteristic 1. Result indicates that the sludge of SL type can be utilized as alternative fuel for direct combustion in industry. sludge characteristic. The type of the researched sludge was slurry (SL) in form of the coal washing plant residue of which its samples were taken from the three coal mine located and selected alongside of Mahakam river in Kutai Kartanegara regency.37%. high moisture and ash contents of above 25% and fuel ratio about one. JICA.000 cal/gr. Keywords : coal. timbunan (stockpiles) atau lubang galian tanah (landfill). and PT Bukit Baiduri Energi (BBE) with respective coal production capacities of above one million tons of coal per annum. tergantung pada karakteristik kualitas endapan lapisan batubara yang ditambang. 2007). Produksi batubara dari Kalimantan Timur adalah yang terbesar yaitu sekitar 57% dari produksi batubara nasional sebesar185 juta ton (2007) dan ini akan terus meningkat sesuai dengan pertumbuhan produksi batubara nasional sekitar 12. yaitu slurry = SL. On the other hand the distribution of particle sizes was determined by sizing analysis. volatile matter (VM) and fixed carbon (FC) and ultimate analyses such as carbon (C). yaitu batubara kualitas rendah yang masih perlu dicuci dan batubara kualitas tinggi yang tidak perlu dicuci. ash (A). Kalimantan Timur 28.000-5. Berdasarkan parameter pengotornya seperti kadar air-lembab (% M). abu (% A) dan Sulfur (% S) serta nilai kalori. dan Kalimantan Selatan 17..13%. yaitu batubara yang dapat dijual (saleable coal).4 milyar ton (MEMR. Particle size of SL from Kaltim was similar to the particle size for feeding of cyclone combustion.7% dan sisanya di provinsi-provinsi lain. derived from sedimentary rock deposit containing organic matters so as to become combustible.. sehingga masih dianggap sebagai batubara yang tidak dapat dipasarkan (non-marketable coal. ignition temperature. Pada prinsipnya. Multi Harapan Utama (MHU). because it might handle the sludge as low grade coal within a low calorific value in the range of 3. limbah batubara (sludge) dan air buangan akhir tambang (effluent). glow point and maximum combustion temperature that were determined by parameters of the proximate and the ultimate analyses. Whereas in terms of the characteristic of its combustion that affects the performance of cyclone furnace was determined by calorific value.ABSTRACT Sludge is defined as a carbonaceous material. Potensi SL belum dikelola secara komersial. The characteristic of sludge was determined by the proximate analyses such as moisture (M). yaitu crushing and screening untuk produksi batubara dari tambang yang telah memenuhi persyaratan kualitas (spesifikasi) pasar dan pencucian batubara (coal washing) untuk produksi batubara dari tambang yang belum memenuhi spesifikasi pasar sehingga menghasilkan produk batubara yang dapat dijual dengan ukuran – 50 mm. Tanito Harum (TH). therefore it can be utilized directly. that are PT. Limbah SL merupakan sisa proses pencucian yang ditampung (dikumpulkan dan disimpan) dalam sistem penampungan limbah batubara yang standar (sludge disposal system) dengan menggunakan kolam pengendapan (settling pond). 2008) tersebar di Provinsi Sumatera Selatan 40. 2008). hydrogen (H) and oxygen (O). Sisa industri pertambangan batubara disebut limbah batubara (sludge) terdiri dari 3 (tiga) tipe. slurry(SL). Biasanya ada 2 (dua) tipe unit pengolahan batubara yang dikembangkan. dirty coal = DC.

75 µm juga dilakukan. Nomor13. Karakteristik limbah batubara tipe SL ditentukan melalui analisis proksimat dengan parameter komponen-komponen M. 1982).2. Januari 2009 : 40 – 46 . Sumaryono dkk. sehingga dapat diketahui pengaruh distribusi ukuran partikel terhadap kadar abu dan nilai kalorinya. 2. Sistem tungku siklon yang dikembangkan dapat membakar ukuran umpan batubara yang umum digunakan. 2.595 mm = 595 ìm) (Current Technology. 2007). 2. SL – TH. yaitu sekitar – 4 mesh (4. titik pijar (glow point) hasil pengamatan pada silica tube furnace dan suhu maksimum hasil pembakarannya dengan pembakar siklon dalam hubungannya dengan parameter karakteristiknya. Kriteria penilaian karakteristik pembakaran limbah batubara adalah semakin tinggi suhu titik nyala dan titik pijar. 2007. Sedangkan kriteria penilaian kinerja pembakarannya adalah semakin tinggi suhu maksimum yang dicapai selama pembakaran dengan siklon semakin tinggi kinerja pembakarannya. . Bukit Baiduri Energi (BBE). Di samping itu analisis ayak untuk mengetahui distribusi ukuran partikel dengan karakteristik kualitas per fraksi ukuran yaitu + 2 mm. Sebenarnya semua tipe limbah batubara tersebut di atas adalah bahan karbonan (carbonaceous materials) yang karakteristiknya tergantung pada karakteristik batubara sumbernya yang pada umumnya berperingkat rendah dari lignit sampai subbituminus (low rank coal). . A. VM dan FC dan analisis ultimat dengan parameter unsur-unsur karbon (C). Tanito Harum (TH). Multi Harapan Utama (MHU). . nitrogen (N). terutama untuk tipe SL di sepanjang Sungai Mahakam dan dipilih sebagai wakil Provinsi Kaltim yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu PT. jig atau hydrocyclone). hidrogen (H).bersangkutan. fasilitas penampungan limbah batubara perlu dikelola secara benar mengingat akan terbatasnya lahan dan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. 42 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. dan SL – BBE. PT. Karena itu. terutama percemaran sistem aliran sungai di sekitar tambangtambang batubara. 2. sehingga berpotensi cenderung untuk terjadinya swabakar. oksigen (O).0. . Ada 3 (tiga) perusahaan tambang batubara yang diambil contoh limbah batubaranya. Karena ukuran partikel ketiga contoh SL ini telah sesuai dengan kisaran ukuran umpan yang biasa digunakan untuk pembakar siklon yaitu – 4 mesh maupun lebih halus lagi sampai – 32 mesh. Pemilihan tipe tungku dan metode pembakaran limbah batubara dengan pembakar siklon yang dikembangkan dalam penelitian ini didasarkan pada fakta bahwa pembakar siklon dapat membakar batubara berkadar rendah (low grade coal) dengan kadar air-lembab (% M) dan kadar abu (% A) yang tinggi sampai 25 %. terutama yang terletak di sepanjang Sungai Mahakam.1mm + 0. maka persiapan bahan uji untuk program percobaan pembakaran dengan pembakar siklon cukup dilakukan melalui pengeringan udara pada suhu kamar.2 mm + 1 mm. Karakteristik Limbah Batubara - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parameter karakteristik limbah batubara Kaltim dengan karakteristik pembakarannya dalam rangka mengevaluasi kinerja keterbakarannya apakah dapat dikembangkan sebagai sumber energi alternatif atau tidak. Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara Karakteristik pembakaran limbah batubara dipengaruhi oleh parameter karakteristik limbah batubaranya sendiri. yaitu dari parameter analisis proksimat dan analisis ultimat (Tsai.5 mm + 75 µm. Kriteria pemilihan berdasarkan pada : Perusahaan tambang batubara harus mempunyai unit pencucian batubara dengan peralatan gravity concentration (wash breaker. METODOLOGI Bahan Uji Ada 3 (tiga) contoh limbah batubara tipe SL dari ketiga perusahaan tambang batubara Kaltim yang dipilih untuk penelitian ini yaitu SL – MHU. Ukuran partikel batubara umpan ini hampir sama dengan ukuran partikel SL sebagai tipe limbah batubara utama.3. yang harus dikelola oleh setiap perusahaan tambang batubara melalui sistem manajemen penampungan yang standar.5 mm. Sedangkan kinerja pembakaran limbah batubara dinilai dengan beberapa parameter seperti suhu titik nyala (ignition point) hasil analisis thermogravimetry (TGA).76 mm) atau lebih halus sampai – 30 mesh (0.1. dan Tambang harus mempunyai kapasitas produksi >1 juta ton batubara per tahun. dan PT. sulfur (S) serta pengujian sifat fisik seperti nilai kalori dan berat jenis. semakin sulit bahan tersebut untuk dibakar.

sehingga menghasilkan semburan nyala api keluar dari ruangan siklon dan setiap partikel umpan terbakar habis (burn out) dengan meninggalkan residu atau lelehan abu (slag).. Prosedur Prosedur percobaan dirancang menurut karakteristik pembakaran limbah batubara yang diuji. Kegiatan percobaan pembakaran 3 (tiga) contoh limbah batubara SL dengan pembakar siklon Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan .. Skema rancangan pembakar siklon (Wikipedia. Dimensi rancangan pembakar siklon yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 x 100 cm dengan ukuran partikel batubara umpan – 30 mesh (595 ìm atau 0. Pada prinsipnya rancangan pembakar siklon yang benar dapat dilihat pada Gambar 1.4. Program Ujicoba Pembakaran Peralatan nilai optimal karakteristik pembakarannya. Selanjutnya. perkembangan suhu pembakaran yang dihasilkan dicatat melalui pencatat suhu indicator thermocouple dengan interval waktu 5 menit selama 15 menit. 2007) SL. Suhu maksimum rata-rata hasil pembakaran dari setiap contoh limbah batubara diambil sebagai SL BBE Gambar 2. Kegiatan percobaan pembakaran dari ketiga contoh limbah batubara SL tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. dimasukkan ke dalam penandon umpan berupa hopper dan kemudian diumpankan dengan bantuan blower ke dalam ruangan pembakar siklon yang telah dipanaskan terlebih dahulu dengan bantuan kayu bakar atau karet ban bekas sampai mencapai suhu 450 o C sebagai pematik (igniter). Com.2. Udara pembakaran berupa udara primer maupun udara tersier digunakan untuk menghasilkan gerakan berputar dari partikel-partikel batubara atau limbah batubara umpan di dalam ruangan pembakaran siklon..TH b. 2007). Stefano Munir dan Ikin Sodikin 43 . a. dkk. Aksi gerakan berputar (sentrifugal) ditingkatkan oleh pasokan udara sekunder dengan kecepatan tinggi secara tangensial. SL MHU Udara sekunder Udara primer Batubara Udara tersier Lubang pengeluaran terak Lubang pengeluaran terak utama Gambar 1. Setiap bahan uji SL yang sudah kering di udara.595 mm) (Sumaryono.

6 41.90 5.84 1.51 40.19 9.224 4.20 4.81 41.93 5.1 mm + 0.08 59.1 23.40 2.798 5.76 2.4 23.14 30.61 49.14 33. %.21 19. analisis proksimat .5 mm + 75 µm .05 1.59 60.15 30. juga dipengaruhi oleh proses pencucian dengan peralatan yang digunakan seperti drum washer.5 26. adb Hidrogen (H). %.78 3.594 3. TH dan BBE Ukuran fraksi MHU + 2 mm . adb Oksigen (O).2 mm + 1 mm .33 22.22 12.3 9. %.70 26.0. fuel ratio.25mm – 0.08 0.96 17. adb Nilai kalori. adb Zat terbang (VM).75 µm % massa % kumulatif massa tertahan tertahan 19.758 1.18 4.66 38. adb Abu (A).78 4.2 16.45 35.67 1.25 23.72 15.851 4. Januari 2009 : 40 – 46 .36 45.032 3.05 0.5 mm + 75 µm . 3.12 24.54 6.37 0.0.76 90.895 3.92 0.0.413 0.128 3.79 100 Analisa proksimat (%). %.88 2.84 16.56 44. adb SL MHU 3.30 34.78 11.44 3.2 100 47.277 2.18 66.76 24.93 7.05 1.58 A 54.01 26.15 10.adb 0.636 5.24 6. TH dan BBE Parameter Analisis proksimat : Air lembab (IM). %. %.9 7.96 TH 7.68 30. Nomor13.19 28. Tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik SL dari masing-masing perusahaan pertambangan batubara selain tergantung dari karakteristik batubara sumbernya.59 VM FC Fuel Nilai ratio kalori. Hasil analisis ayak.7 36.33 6.53 51.51 1. %.51 10.33 7.95 18.89 39.55 0.4 60.2 mm + 1 mm .56 37.82 Tabel 2.62 BBE 11.1 mm + 0.686 6.1. adb Sulfur (S). adb Fuel Ratio (FC/VM) Berat jenis (TSG) Analisis ultimat : Karbon (C).86 0.57 0.02 1. %.33 52.88 44 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.7 7.18 0. Karakteristik SL dari masing-masing perusahaan Tabel 1.48 20.53 0.77 13.05 30.690 5.5 mm .32 8.5 mm .66 30.25 28.5 24. dan nilai kalori limbah batubara tipe SL dari MHU.2 mm + 1 mm .53 0.436 1.45 0.8 47.3.5 mm + 75 µm .86 0.02 1. adb Karbon tertambat (FC).34 6.1 mm + 0.683 TH BBE 26.52 12.46 56.69 98.95 12.27 7.93 55. hydrocyclone dan screen (0. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Limbah Batubara Karakteristik limbah batubara tipe SL dari 3 (tiga) perusahaan tambang batubara di Kaltim dapat dilihat pada Tabel 1 dan hasil analisis ayak pada Tabel 2.05 1.59 47.75 µm + 2 mm . %.13 30.6 15.66 0.75 µm + 2 mm .44 13.43 4.93 0.82 28.5 mm .17 14.28 89.7 39.14 24.53 38.39 27.892 1.56 36.15 4.93 31.76 2.49 52.96 1. kal/gr.5 mm).68 11.80 4. (FC/VM) kal/gr.51 2. adb Nitrogen (N).47 44. Karakteristik limbah batubara tipe SL dari MHU. jig.32 6.99 28.631 1.72 42. adb IM 3.33 100 1.778 5.57 9.55 38.

2mm +1mm -1mm +0.0.2.75µm Dari Gambar 3 dan 4..798 kal/gr.25 mm mempunyai nilai kalori yang terendah. kal/gr. walaupun semakin halus fraksi ukuran partikelnya semakin tinggi kadar abu. oC Titik Pijar Silica Tube Furnace. oC Catatan : tdd = tidak dapat ditentukan SL TH 4. Sedangkan suhu maksimum siklon dipengaruhi oleh kadar abu. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 45 . 70 60 A BU . terlihat bahwa menurunnya ukuran partikel menyebabkan menurunnya nilai kalori.5mm UKURAN FRAKSI MHU TH BBE . sehingga akan menurunkan nilai kalori. baik pada fraksi ukuran – 0.436 261 360 566 BBE 4.636 kal/ gr sampai 6. yaitu dari 1. dengan nilai kalori yang terendah sebesar 1895 kal/gr pada fraksi ukuran terkecil – 75 µm.5mm +75µm . 3. SL MHU yang merupakan limbah pengolahan dengan cyclone classifier dan screen 0.5 mm dari 3. Dengan kata lain bahwa semakin halus (– 75 µm) fraksi ukuran SL semakin rendah nilai kalorinya. Begitu pula tinggi rendahnya kandungan karbon dan oksigen akan memengaruhi kandungan nilai kalori.0. Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara Gambar 3.758 340 418 529 2. pembakaran siklon.5mm UKURAN FRAKSI MHU TH BBE .683 kal/gr sampai 5.5 mm + 75 µm maupun pada fraksi ukuran terhalus – 75 µm. yaitu semakin rendah kadar abu limbah batubara akan semakin Gambar 4. sehingga teknik pengolahan untuk pemisahannya dari fraksi-fraksi yang kasar harus dilakukan dengan proses desliming melalui cara decantation untuk meningkatkan nilai kalori limbah batubara tipe SL tersebut.277 kal/gr. % 50 40 30 20 10 0 +2mm .pertambangan batubara menunjukkan bahwa kandungan abu yang tinggi sangat memengaruhi kandungan nilai kalori dan berat jenis yang sebenarnya. Hubungan antara kadar abu dengan ukuran fraksi NILAI KALORI (kal/gram) 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 +2mm . SL TH dengan drum washer. Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas buang hasil pembakaran.2mm +1mm -1mm +0.413 tdd 470 431 Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan . nilai kalor dan ukuran partikel umpan. Distribusi ukuran partikel semua contoh tipe limbah batubara SL telah memenuhi spesifikasi sebagai umpan untuk pembakar siklon. cyclone classifier dan screen 0. Hubungan antara nilai kalori dengan ukuran fraksi Tabel 3.. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa naiknya kadar abu akan menurunkan nilai kalori yang diikuti oleh naiknya kadar karbon dan oksigen.892 kal/gr sampai 3. Karakteristik pembakaran limbah batubara Parameter MHU Karakteristik pembakaran : Nilai kalori. Gambar 3 menunjukkan grafik hubungan antara kadar abu dengan ukuran fraksi dan Gambar 4 grafik hubungan antara nilai kalori dengan ukuran fraksi.128 kal/gr dan SL BBE dengan cyclone classifier dan screen 0.adb Titik Nyala TGA. Tabel 3 menunjukkan bahwa naiknya titik nyala dan titik pijar dipengaruhi oleh fuel ratio. semakin tinggi titik nyala atau titik pijarnya.75µm Karakteristik pembakaran limbah batubara tipe SL dapat dilihat pada Tabel 3. oC Suhu maks.5mm +75µm . Semakin tinggi kadar fixed carbon atau fuel ratio.5 mm dari 3. Fraksi-fraksi ukuran partikel yang sangat halus ini biasanya dianggap sebagai slime.

me. S. 20 Oktober 2007. dan tinggi (SLBBE) sehingga masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung.2. ketiga limbah batubara tipe SL yang diteliti masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung dengan menggunakan pembakar siklon. Januari 2009 : 40 – 46 . Bandung. Yaskuri. http://me-roboto. http:// www. Saran Limbah batubara tipe SL yang banyak tersebar di beberapa perusahaan tambang batubara dan belum dimanfaatkan di Provinsi Kaltim perlu dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber 46 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Tsai. 2008. Cyclone furnace : Definition from Answers. 1982. Lokakarya Program Peduli Mahakam. kinerja pembakarannya dapat diurut menurut kemudahan keterbakarannya dari yang paling rendah.59%. 4. DAFTAR PUSTAKA Current Technology. 4. Sumaryono..com/topic/cyclone-furnace Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pembakaran limbah batubara tipe SL dengan pembakar siklon. Com. 2008. Munir. Titik nyala untuk SL MHU tidak dapat ditentukan karena kandungan abu yang cukup tinggi mencapai 60. Semakin halus ukuran partikel umpan siklon semakin tinggi suhu maksimum yang dicapai sehingga kinerja pembakar siklon meningkat. yaitu SL – MHU. 4.. Bandung. Suhala. Nomor13.. Methods of Burning Coal. Ministry of Energy and Mineral Resources. Fundamentals of Coal Beneficiation and Utilization. 2007. sedang (SL-TH). Com.C.answers. S. Secara umum. dan Fahmi Sulistyohadi. Indonesia Energy Statistics. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan daya energi alternatif untuk industri. Pada prinsipnya. Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas buang hasil pembakaran. tinggi SL – BBE. Pembangunan Pilot Plant Teknologi Pembakaran Batubara Dengan Pembakar Siklon. APBI-ICMA.1. ESDM dan JICA Jakarta. Laporan Intern Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara.tinggi nilai kalornya. Wikipedia. sedang SL – TH. F. 27 Desember 2007. Amsterdam. Perkembangan Industri Pertambangan Batubara Nasional Peluang dan Tantangannya. Elsevier Scientific Publishing Company. Summary of Draft Final Report : The Master Plan Study on Pollution Risk Mitigation Program for Sustainable Coal Development in East Kalimantan Province in the Republic of Indonesia. semua contoh limbah batubara tipe SL menunjukkan kinerja keterbakaran dari yang terrendah (SL–MHU).uiuc.. 2007.edu/ kawka/Public/coal/tech. S.html JICA team.

. hanya sebarannya bersifat sporadis dan cadangannya kecil. Banyak pakar yang telah mencoba untuk meningkatkan kadar fosfat dari daerah ini dengan berbagai cara pengolahan. has proved to be useful in releasing phosphorous from its rocks. revisi terakhir : Januari 2009 ABSTRACT Bioleaching. calcite. PENDAHULUAN Endapan fosfat alam Indonesia kadarnya bervariasi. fitur mikroskopi. Salah satu endapan fosfat berkadar rendah berada di Cijulang. revisi pertama : 13 Juni 2008. bioleaching. Pengolahan secara fisika melalui peremukan (crush- Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . microscopic and chemical studies were conducted to bioleaching. The results show several features occur during the process. meningkatkan kelarutan matriks material dan memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian tubuh mineral.. baik secara fisika maupun kimia. Kedua hal ini merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat. Fitur mikroskopi yang terdeteksi pada mineral dahlit dan kalsit adalah berkembangnya porositas dan permeabilitas yang terbentuk selama proses pelindian. tetapi pada umumnya mempunyai kadar rendah. Fitur terdeteksi lainnya berupa alur-alur pada permukaan mineral yang merupakan refleksi aktivitas larutan pelindi ketika ‘memakan’ komponen yang terkandung dalam material terlindi. Jend. dahlite. Jl. Tatang Wahyudi 47 . Sudirman 623 Bndung. Ciamis-Jawa Barat (± 14% kadar P2O5). Both are competent agents for leaching solution to contact with the required elements available within the minerals. kalsit. microscopic feature. metode tersebut efektif untuk mengolah fosfat. 022-6030483 Naskah masuk : 06 Januari 2008. Porosity and permeability developments on the surface of dahlite and calcite during bioleaching process imply that the process is effective to leach such minerals. bioleaching. Analisis kimia dan mikroskopik terhadap percontoh ampas pelindian tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi percobaan tertentu. dahlit. Tlp. asam oksalat 1. Fosfat berkadar tinggi memang ada.PERUBAHAN MORFOLOGI DAN KIMIA BATUAN PEMBAWA FOSFAT AKIBAT PELINDIAN DENGAN ASPERGILLUS NIGER TATANG WAHYUDI Pusat Peneltian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. revisi kedua : 20 September 2008. The detected pits on the mineral surface reflect solution activity when leached the materials. Kata kunci: batuan pembawa fosfat. utilizing oxalic acid medium generated by the phosphorous oxidizing capabilities of Aspergillus niger in 10 days. Keywords: phosphate-bearing rocks. oxalic acid SARI Pelindian dengan mikroorganisme (bioleaching) menggunakan kapang Aspergillus niger selama 10 hari terhadap batuan pembawa fosfat Cijulang menyisakan ampas pelindian yang menarik untuk dikaji. In terms of evaluating process performance.

B2 dan B3. 1997). Hasilnya memang belum bisa memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan oleh industri yaitu 36% kadar P2O5 (Ardha dkk. sehingga unsur-unsur tertentu yang diinginkan akan mudah dilepaskan. kapang mengeluarkan asam oksalat sebagai hasil samping proses fermentasi asam sitrat yang berperan dalam proses pelindian.org/wiki/Phosphate). Angka 1. Januari 2009 : 47 – 56 . Selanjutnya untuk mengetahui komposisi mineral head sample. Kode A dan B menunjukkan ukuran fraksi umpan pelindian masing-masing -140+200 mesh untuk A dan -200 mesh untuk B. Mineral tersebut adalah dahlit yang mempunyai formula Ca5(PO4. Kepada percontoh tersebut dilakukan pengujian mikroskop polarisasi dan kimia untuk mengetahui perkembangan yang terjadi setelah batuan tersebut dilindi dengan kapang selama 10 hari.moonminer. flotasi.html). Tujuannya untuk mengetahui efek proses tersebut terhadap batuan fosfat yang dilindi. kondisi ini menguntungkan karena memudahkan larutan pelindi untuk meresap ke bagian-bagian tertentu tubuh mineral. Thiobacillus thiooxidans dan lain-lain (http://www. Selain kedua 48 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. pengeringan (drying) dan penggerusan (grinding) telah dilakukan oleh Tim Bimbingan Pertambangan Fosfat dari Pusat Pengembangan Teknologi Mineral pada 1984. dilakukan pengujian dengan teknik difraksi sinar-x (XRD) menggunakan alat difraktometer sinar-x Shimadzu XRD-7000. Keberadaan dahlit dan kolofan diduga akibat pengayaan batugamping oleh kotoran burung (guano) dan air laut (http://en.1. Kendala yang dihadapi dalam mengolah fosfat dengan cara-cara di atas adalah mahalnya biaya pengolahan dan belum dapat diturunkannya material pengotor dalam jumlah signifikan. Salah satu pengolahan alternatif untuk meningkatkan kadar fosfat adalah pelindian dengan jasad renik (micro organism) tertentu (kapang atau bakteri) seperti Aspergillus niger. 29 menjadi 23.79% dengan perolehan 70.1991) juga telah melakukan serangkaian proses untuk meningkatkan kadar fosfat melalui pencucian. Pengolahan secara kimia juga telah dilakukan melalui proses pelarutan HCl tersirkulasi walaupun hasilnya hanya mampu meningkatkan kadar fosfat dari 17. Penelitian perubahan morfologi dan kimia batuan pembawa fosfat akibat pelindian dengan kapang menggunakan ampas hasil pelindian dengan kode percontoh A1.com/ bioleaching. percontoh diuji komposisi kimianya dengan metode kimia basah di Laboratorium Pengujian Kimia. Dalam proses ini. Informasi mengenai fasa serta struktur mikro yang terdapat dalam percontoh head sample juga diperoleh melalui analisis mikroskop polarisasi yang dilengkapi dengan pengujian SEM-EDX untuk mengetahui komposisi unsur-unsur yang terdapat pada permukaan percontoh spesimen. tekstur dan struktur mikro yang terdapat dalam limbah padat tersebut. kalsinasi dan pemisahan secara magnetik dan mampu meningkatkan kadar fosfat sampai 30% . Namun. Ukuran partikel yang diambil untuk keperluan penelitian adalah -140+200 dan 200 mesh contoh awal.18% (Ardha.5F dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan dahlit.wikipedia. Melalui pengujian difraksi sinar-x (XRD). batuan fosfat yang sudah digerus halus dianalisis menggunakan radiasi Cu-Ká.5(CO3)0. 2 dan 3 di depan huruf A dan B mengacu kepada persen padatan yang digunakan pada saat pelindian yaitu 5. A3. Limbah pelindian berupa ampas padat menarik untuk dikaji. Pada tahap awal. Maksud penelitian ini adalah mengevaluasi kenampakan tekstur dan struktur mikro yang terdapat pada percontoh ampas hasil bioleaching. Batuan fosfat Cijulang diolah dengan proses tersebut pada skala laboratorium dengan memanfaatkan kapang Aspergillus niger dengan waktu pemrosesan selama 10 hari. kesulitan peningkatan kadar fosfat disebabkan oleh ikut terlindinya unsur-unsur pengotor. B1. Nomor 13. 3. Hasil pemercontohan kemudian dikering-ovenkan untuk kemudian difraksinasi di Analisis unsur-unsur dan mineralogi percontoh batuan fosfat menunjukkan hadirnya mineral fosfat yang tergolong ke dalam hidroksilapatit. Dalam hal ini. mikroskop optik dan SEM-EDX dapat diperoleh informasi mineralogi mengenai fasa. Leptospirillum ferrooxidans. Ditinjau dari segi pengolahan mineral. Dahlit memperlihatkan struktur menyerat dan perawakan radial sedangkan kolofan menunjukkan struktur rekahan. pencampuran (blending).CO3)3 dan kolofan – sejenis apatit dengan formula empiris Ca5(PO4)2. A2.ing). 10 dan 20%. 2. BAHAN DAN METODE Laboratorium Preparasi. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan Baku (Head Sample) Percontoh batuan fosfat untuk keperluan penelitian ini diperoleh dari daerah Cijulang yang dikenal berkadar rendah. 3. Interpretasi terhadap informasi tersebut yang dipadu dengan pengujian kimia diharapkan dapat mengungkap kinerja proses bioleaching. Thiobacillus ferrooxidans.

Kehadiran unsur-unsur bukan pembentuk fosfat pada batuan fosfat Cijulang merupakan unsur-unsur pengotor yang tidak diharapkan.080 27. silikon (Si) and oksigen (O). mineral opak (opaque) dan fragmen batuan. b . Mineral opak kemungkinannya berupa magnetit atau hematit hasil pelapukan mineral induknya yang berasal dari fragmen batuan.739 2. b c Tiga mineral utama yang terdapat dalam percontoh batuan fosfat Cijulang. Informasi mineralogi di atas diperoleh dari pengujian dengan mikroskop optik. percontoh batuan fosfat juga disusun oleh kalsit (CaCO3). Pada 3..013 3. unsur-unsur belerang dan kalsium masing-masing berkadar 904 dan 411 ppm.kolofane (Cl) dan c .398 1.org.seafriends.dahlit (D).280 06.nz/oceano/seawater. besi (Fe). Tabel 1 dan Gambar 2 memperlihatkan unsur-unsur yang terdeteksi.. Kuantitas yang relatif cukup untuk terjadinya pengayaan Ca dan S pada batuan fosfat (http:// www. mengingat batuan fosfat Cijulang terdapat di area yang berbatasan dengan laut. Fosfor diduga berasal dari dahlit dan kolofan.690 0. kuarsa (SiO2).307 0. tetapi indikasi ke arah itu ada. a . sedangkan besi diduga berasal dari mineral silikat atau opak.kalsit (C) Pengujian unsur-unsur yang terdapat pada permukaan sayatan poles percontoh batuan fosfat Cijulang dilakukan dengan SEM-EDX. Gambar 1 memperlihatkan sebagian komposisi mineral percontoh batuan fosfat head sample.960 17.277 1. . Pemetaan unsur-unsur pada salah satu mineral dahlit yang terdapat dalam spesimen sayatan poles batuan fosfat memperlihatkan kalsium lebih banyak terkonsentrasi di bagian kiri bawah sampai tengah mineral (Gambar 3) yang ditunjukkan oleh skala Unsur-unsur pada spesimen percontoh batuan fosfat yang terdeteksi dengan SEM-EDX metode x-ray mapping Unsur teridentifikasi Fosfor (15P32) Kalsium (20Ca40) Karbon (6C12) Aluminum (13Al27) Besi (26Fe56) Silikon (14Si28) Belerang (16S32) Oksigen (8O16) Intensitas (counts) 30. apabila mineral fosfat ini diolah untuk keperluan industri tertentu.486 6. kalsium (Ca). Tatang Wahyudi 49 .mineral fosfat di atas. Mineral tersebut memang tidak terdeteksi pada batuan yang dijadikan spesimen pengujian mikroskop optik atau SEM.htm). Metode pengujiannya adalah pemetaan secara sinar-x.200 Energyi (keV) 2. Belerang yang terdeteksi dapat berasal dari material sulfit atau sulfat seperti mineral gipsum atau CaSO4·2(H2O). karbon (C).5% salinitas air laut. a Gambar 1.521 Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan .280 02. Tabel 1. aluminum (Al). sedangkan kalsium berasal dari dahlit.720 64. kolofan dan kalsit. Hasil analisis menunjukkan adanya unsur fosfor (P). Aluminum dan silikon kemungkinan berasal dari mineral silikat yang terkandung dalam fragmen batuan.000 48.560 25.

Pengujian percontoh batuan fosfat Cijulang dengan XRD menunjukkan adanya mineral monmorilonit sebagai mineral silikat. sebarannya hampir mengikuti pola sebaran aluminum dan silikon. tidak berarti bagian tepi mineral tersebut tidak terdapat P atau C. Diasumsikan. Namun kuantitasnya dibandingkan dengan kuantitas P di bagian kiri bawah dan atas adalah lebih kecil. Kedua mineral ini berasal dari lapukan fragmen batuan. Januari 2009 : 47 – 56 . material silikat berasosiasi dengan mineral dahlit. Pengujian kimia batuan fosfat Cijulang head sample mengidentifikasi beberapa unsur dalam bentuk oksidanya (Tabel 3). Bagian ini diduga mineral opak. Terdapatnya dua noktah putih mengandung Al dan Si pada hasil pemetaan secara sinar-x menunjukkan bahwa area tersebut adalah partikel silikat. Walaupun konsentrasi unsur terbanyak masingmasing unsur pembentuk fosfat terpisah-pisah (tidak mengelompok menjadi satu). Kedua jenis unsur tersebut secara menyeluruh terdapat pada dahlit hanya konsentrasinya di bagian pinggir mineral tidak sebanyak di bagian tengah mineral. Fosfor paling banyak terkonsentrasi di bagian kiri bawah dan tengah atas mineral. sedangkan konsentrasi karbon terbanyak terdapat di bagian kiri dan kanan mineral. Diduga pada bagianbagian tersebut. Pengujian XRD ini hanya mendeteksi dahlit sebagai mineral fosfat. Keterangan yang sama berlaku untuk unsur pembentuk fosfat lainnya (P). silikon dan besi terkonsentrasi paling banyak pada bagian kanan atas foto dan noktak-noktah yang tersebar di bagian kiri atas dan kanan bawah. Ada kemungkinan kedua noktah tersebut adalah gipsum yang berasosiasi dengan dahlit. Di samping itu. selebihnya unsur belerang merupakan unsur pengganggu yang menyebar di seluruh permukaan mineral. Keberadaan kalsit memang hanya terdeteksi oleh pengujian mikroskop optik saja melalui penelusuran pada spesimen yang memerlukan waktu lama (karena kecilnya kuantitas mineral tersebut dalam percontoh). pada gambar terdapat dua noktah putih yang dikelilingi oleh warna merah (sudut kiri atas dan tengah kanan gambar). Khusus untuk unsur belerang. Percontoh yang dianalisis adalah 50 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. aluminum. Besi sebagai bagian mineral silikat. Satu area berwarna putih di bagian kiri atas foto mengandung unsur besi terkonsentrasi paling banyak. terdeteksi pula adanya mineral silikat – kuarsa.Gambar 2. percontoh yang dianalisis untuk XRD ini (berasal dari bongkah yang dipreparasi sampai fraksi -200 mesh) memang tidak mengandung mineral tersebut seperti terlihat pada Tabel 2. Nomor 13. Kalsit tidak terdeteksi. Komposisi unsur yang terdapat pada batuan fosfat Cijulang yang dianalisis dengan metode energy-dispersive x-ray (EDX) warna merah keunguan. Jika dilihat pada Gambar 3. dan ini berarti pada bagian tengah mineral masih terdapat unsur fosfor.

Mg)2 Si4O10 (OH)2. Tatang Wahyudi 51 . Pengujian mineralogi batuan fosfat Cijulang dengan metode XRD Mineral teridentifikasi Dahlit Monmorilonit Kuarsa Formula mineral Ca5(PO4. Pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping pada batuan fosfat Cijulangmendeteksi adanya 8 unsur. karbon (C). kuantitas fosfat dalam bentuk P2O5 berkisar antara 18 sampai 19%. Kuantitas fosfat hasil pengujian kimia tidak berbeda jauh dengan hasil pengujian terhadap percontoh Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . yaitu kalsium (Ca). aluminum (Al). -140+200 dan 200 mesh. fosfor (P). Dari ketiga percontoh. Kelihatannya. silikon (Si). 4H2O SiO2 bongkah yang telah difraksinasi menjadi tiga (3) ukuran partikel yaitu -100+140. besi (Fe).CO3)3F Na(Al..Gambar 3. makin halus partikel makin banyak mineral fosfat (dahlit) yang terbebaskan sehingga ada kenaikan kadar P2O5 walaupun tidak signifikan. belerang (S) dan oksigen (O) Tabel 2..

Januari 2009 : 47 – 56 . Walaupun tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas. hal ini dapat dimengerti.19 23.84 5.91 1.82 16.04 2.95 2.Tabel 3. Pada perbesaran tertentu biasanya hanya satu atau dua partikel yang termuat pada monitor.76 2. kandungan belerangnya memang rendah (dalam unit ppb). Pengujian kimia terhadap percontoh batuan fosfat Cijulang Kode -100+140 -140+200 -200 SiO2 17.82 3. Karbon (C) memang tidak dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena fasilitas pengujiannya belum tersedia.05 30.091 0.00 Cation 0.62 0.00 Compound C Al2O3 SiO2 P2O5 SO3 CaO FeO mass % 38. juga oksigen dalam bentuk unsur.535 TiO2 0. Kemungkinan pada percontoh uji untuk analisis kimia.63 0.56 0.457 0.690 6.54 19.46 100.56 sejenis dengan metode SEM-EDX (Tabel 4).02 100.55 1.5885 3.40 8. Keduanya sudah diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4). Nomor 13.41 2.26 19. Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia.47 0.486 1.71 Fe2O3 6.52 7. Keduanya sudah diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4).013 2. yaitu material uji terbatas pada material yang terlihat pada monitor saja.398 mass % 36.33 7.25 0.83 2.277 1.62 0.27 100.00 5. Unsur oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang terdeteksi oleh pengujian kimia. yang pertama. pengujiannya lebih bersifat kualitatif dibandingkan dengan yang kedua. Unsur oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang terdeteksi oleh pengujian kimia. Hasil pengujian kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil nihil.71 Al2O3 0.65 13. Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia.14 0.41 K 11.82 21. pengujiannya lebih bersifat kualitatif Hasil pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping untuk head sample fosfat Cijulang Element CK O Al K Si K PK SK Ca K Fe K Total (keV) 0.739 2.467 0. angka yang ditunjukkan relatif mewakili kandungan unsur-unsur yang ada pada percontoh uji. Tabel 4.00 Error % 0.6433 2. tidak mewakili keseluruhan persentase yang ada.82% (Tabel 4). angka yang ditujukkan relatif mewakili kandungan unsur-unsur yang ada pada percontoh uji.67 0. informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan percontoh yang ada.70 K2O 0.208 0. Jadi hasil yang diperoleh hanya mewakili partikel yang terpampang pada layar.3861 6.53 yang pertama.550 0. Walaupun tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas.2755 37. hanya untuk partikel terdeteksi saja.58 5.069 CaO 22.83 5.32 2.6325 8.58 24. Ada keterbatasan pada pengujian SEM-EDX. memang hasil pengujian SEM-EDX mencantumkan dibandingkan dengan yang kedua. informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan percontoh yang ada. yaitu pada angka belasan persen.437 P2O5 18.01 12.65 1.15 9.39 16. Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia. hanya untuk partikel terdeteksi saja.307 3.534 0.00 1.7918 16.04%).37 MgO 0.212 Na2O % 0. Walaupun kuantitas yang diperoleh untuk P2O5 pada pengujian terahir lebih rendah dibandingkan dengan hasil pengujian kimia (hanya 12.61 23.05 At % 78.209 0.27 5. Hasil pengujian 52 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.068 0. memang hasil pengujian SEM-EDX mencantum-kan juga oksigen dalam bentuk unsur. Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia.57 1. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel yang dideteksi hanya 0. angka tersebut masih dalam kisaran wajar.7698 1.55 6.

3. mineral kalsit mengalami pengecilan ukuran terutama bila dibandingkan dengan kalsit yang belum mengalami pelindian (Gambar 1c). Makin lebar struktur ini makin intensif proses pelindian berlangsung. A3 dan B1. Dalam hal ini. yang disebut terakhir berupa padatan dan dianalisis dengan mikroskop optik untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi pada mineral fosfat Cijulang setelah dilindi oleh asam oksalat tersebut. Dalam hal ini. Di lihat dari tampilannya. Keenam foto di atas memperlihatkan adanya aluralur (pits. Karbon (C) memang tidak dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena fasilitas pengujiannya belum tersedia. Muszer dan Karas (2003) menyebutkan bahwa makin kecil ukuran butiran. Wahyudi dkk. Hasil pelindian berupa filtrat dan ampas. pada percontoh uji terdapat pula struktur spons seperti diperlihatkan oleh kalsit (C) semua percontoh ampas yang diuji dengan mikroskop optik (Gambar 5a –f). Terlindinya kuarsa dan fragmen batuan yang keduanya merupakan sumber mineral silikat dengan berbagai kandungan unsur pengotornya.. 2002). Hasil uji mikroskop optik terhadap enam percontoh ampas hasil pelindian telah dilakukan (Gambar 5). tanda panah putih). Mineral ini terdapat pada semua percontoh yang diuji secara mikroskop optik. Dari keenam percontoh. Walaupun kuantitasnya tidak sebanyak mineral kalsit. Dari kondisi ini dapat diketahui bahwa kedua jenis mineral ini tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah pelindian atau relatif tidak terlindi. Fitur ini menunjukkan porositas dan permeabilitas yang mengembang sebagai akibat proses pelindian oleh asam oksalat atau karena rusaknya permukaan kalsit (C). hal ini dapat dimengerti. asam oksalat yang merupakan metabolit hasil ekskresi kapang Aspergillus niger merupakan media pelindi untuk melarutkan fosfat. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel yang dideteksi hanya 0. empat percontoh lainnya (A1. terlihat bahwa mineral dahlit (D) mempunyai struktur menyerat secara radial (Gambar 1a). Kuantitasnya berkisar antara 95 -99%. Dari gambar tersebut terlihat bahwa kalsit merupakan mineral yang paling dominan dalam ampas. Struktur ini juga merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat. mineral opak merupakan mineral dominan kedua setelah kalsit. material karbonat akan dengan mudah terangkat dari struktur mineralnya. sebenarnya merugikan proses karena unsur-unsur pengotor juga ikut terlindi.kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil nihil. Ampas Pelindian Gambar 4. Meyer dan Yen (2002) menyebutkan bahwa alur-alur tersebut adalah bekas larutan pelindi ketika kontak Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . Pelindian yang berlangsung selama 10 hari menyisakan ampas yang masih mengandung mineral dahlit (percontoh A1.2. Pada percontoh asli (head sample yang belum mengalami pelindian). A2 dan B1.A3. meningkatkan kelarutan matriks material dan memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian tubuh mineral (Meyer dan Yen. Selain struktur menyerat.82% (Tabel 4). B2 dan B3) masih menyisakan dahlit cukup banyak sebagai mineral yang tidak terlindi. A2 dan B1. B1 dan B2 serta A2. makin efektif proses disolusi yang terjadi pada material karbonat. Pada dahlit terlihat seperti retakan-retakan di permukaan mineral tersebut (Gambar 5a. Hasil pengamatan mikroskop optik pada ampas tersebut ditabulasikan untuk divisualkan seperti tertera pada Gambar 4. B2 dan B3). c. dahlit terlindi dengan baik pada percontoh. Kemungkinan pada percontoh uji untuk analisis kimia. (2008) menyarankan untuk mengatur pH larutan dengan pengadukan berkecepatan rendah. Tatang Wahyudi 53 . A3. Distribusi mineral yang tersisa dalam dalam ampas hasil pelindian Pelindian terhadap batuan fosfat Cijulang telah dilakukan menggunakan metode bioleaching. Jika dahlit terlindi habis pada percontoh A1. kuarsa dan fragmen batuan masing-masing habis terlindi pada percontoh A1. Struktur menyerat pada mineral ini terlihat makin melebar yang diduga sebagai akibat masuknya larutan pelindi melalui struktur tersebut. e dan f) sedangkan pada kalsit tampilannya sangat halus (Gambar 5c dan f). kandungan belerangnya memang rendah (dalam unit ppb). agar logam-logam pengotor dalam larutan atau filtrat hasil pelindian dapat dipisahkan sehingga diperoleh fosfat dengan kemurnian lebih tinggi..

dengan permukaan material terlindi. Dari histogram terlihat bahwa kalsium dan kuarsa masih mempunyai kuantitas yang lebih besar dibandingkan ketiga oksida lainnya. Gambar 6. Tidak ditemukan adanya dahlit pada kedua percontih uji. Fotomikrograf mineral pembawa fosfat Cijulang. B2. A3.Gambar 5. A2. FB – fragmen batuan. natrium. Bentuknya yang tidak beraturan merupakan efek khas kinerja larutan pelindi (http:// www. Diasumsikan mineral tersebut pada percontoh uji ini telah terlindi habis dan terubah menjadi filtrat sehingga fitur pits yang menjadi penanda bekas kontak antara larutan pelindi dengan mineral terlindi tidak ditemukan lagi. Januari 2009 : 47 – 56 . kalsit merupakan mineral dominan yang terdeteksi pada percontoh uji. Rodriguez-Lorenzo. Oksida fosfat terdeteksi pada percontoh A1. d. asam oksalat hasil ekskresi Aspergillus niger belum mampu melindi total material fosfat dalam umpan pelindian.5%). K – kuarsa. Pada Gambar 5b dan d. tidak terdeteksi pada percontoh A2 dan B1. Nomor 13. e. tetapi metode tersebut belum dapat diterapkan pada penelitian ini. magnesium tidak ditampilkan pada Gambar 6. oksida-oksida kalium. Hal ini berarti bahwa material fosfat pada percontoh A2 dan B1 terlindi relatif habis sedangkan pada keempat percontoh lainnya. A3.gov). B3. Bila mengacu kepada Gambar 3.anl. a. Analisis kimia terhadap ampas hasil pelindian menguji oksida-oksida sejenis seperti tercantum pada Tabel 3. B1. Distribusi oksida-oksida yang tersisa pada 6 percontoh ampas pelindian bioleaching 54 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. dan f adalah mineral pembawa fosfat yang telah mengalami pelindian asam oksalat dengan masing-masing dengan kode percontoh A1. C – kalsit. Kenampakan mikroskopik pada kedua percontoh tersebut hanya sisa-sisa (remnants) material karbonat. 4 dan 5 ada kesesuaian antara hasil pengujian mikroskop optik dengan analisis kimia – fosfat terlindi habis pada percontoh A2 dan B1. Karena kuantitasnya relatif kecil (< 0. b. B2 dan B3. MO – mineral opak. D – dahlit. Kinerja tersebut dapat diketahui secara kuantitatif dengan mengukur luas dan lebar alur melalui metode luas permukaan (surface area). c. Vallet-Reg dan Ferreira (2001) telah melakukan hal ini untuk hidroksilapatit sintetis. Alur ini merefleksikan kuantitas material yang telah terlindi pada area tersebut.

Terlepas dari kuantitas persen ekstraksi yang diperoleh.. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Uji Pelindian batugamping Fosfatan dengan Asam dan asam Tersirkulasi untuk Peningkatan Kadar Fosfat. CA 9007. Pengujian secara kimia terhadap head sample menunjukkan bahwa batuan fosfat Cijulang berkadar rendah (18 – 19%). Pada dahlit ditunjukkan dengan semakin lebarnya struktur menyerat yang dimilikinya. jam 11. Selain itu. n.F.anl. Sri Handayani.00 http://en. yang telah melakukan proses bioleaching batuan fosfat Cijulang. jam 14. 6. thn. Bila mengacu kepada hasil xray mapping salah satu partikel mineral fosfat (dahlit).. untuk mengurangi ikut terlindinya unsur-unsur pengotor. kalsit. N. diakses pada 02/02/09 . jam 9. T. Laporan Teknik Penelitian.. 148. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. mineral opak. Dra. Ris.org/wiki/Phosphate. diakses pada 05/02/09. Kondisi ini berakibat pada semakin luasnya permukaan partikel untuk kontak dengan media pelindi yang ditunjukkan dengan terdeteksinya alur-alur halus yang merupakan refleksi aktifitas larutan pelindi ketika ‘memakan’ komponen-komponen yang ada pada mineral tersebut. Tatang Wahyudi 55 .Met.seafriends. Soenara. Makalah Teknik no.05 http://www. 10% padatan) dan B1 (-200 mesh.. Selama pelindian. dan Yen..40 http://www. 2002. 5% padatan) efektif dalam melepaskan unsur fosfor dari ikatannya. Hal ini menguatkan bahwa endapan fosfat Cijulang memang berkadar rendah.html.S. 2003. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. Antoni dan Karas. Upaya Peningkatan Mutu Fosfat dari Batuan fosfat Kadar Rendah Cijulang – Ciamis. S. penggunaan jasad renik lain seperti Baccillus sp. namun masih tersisa pada empat percontoh lainnya. Ardha. H. kuarsa.C. h. W..htm. KESIMPULAN DAN SARAN Batuan pembawa fosfat (phosphate-bearing rocks) dari daerah Cijulang disusun oleh fragmen batuan. jam 11. Disarankan pada penelitian lanjutan yang akan dilakukan pada skala meja dilakukan pengaturan pH dengan pengadukan berkecepatan rendah. Contoh kongkrit ditunjukkan oleh mineral kalsit yang memperlihatkan struktur spons yang tersusun karena pengecilan ukuran partikel kalsit atau rusaknya permukaan kalsit.Sc.E atas masukan-masukan yang diberikan selama penulisan makalah.4. terjadi pengembangan porositas dan permeabilitas pada mineral yang terlindi. M. M. Department of Geological Sciences and Chemical Engineering. sebagai media pelindi batuan pembawa fosfat layak dicoba untuk mengetahui kinerjanya apakah lebih baik dari kinerja kapang atau tidak. 1997. Pengujian secara kimia dan mikroskop optik terhadap enam percontoh ampas pelindian bioleaching menunjukkan bahwa material fosfat terlindi habis pada percontoh A2 dan B1. 1 – 7. Henry. N.nz/oceano/seawater. Dua mineral yang disebut terakhir merupakan mineral fosfat yang tergolong ke dalam kelompok hidroksilapatit. dahlit dan kolofan. h. Pengujian kimia dan mikroskopi terhadap ampas hasil pelindian bioleaching menggunakan kapang Aspergillus niger tidak bersifat selektif dalam melindi unsur-unsur yang terdapat dalam batuan fosfat. diakses pada 03/02/09. diakses pada 02/02 . 1991. distribusi unsur-unsur penyusun mineral fosfat tersebut (Ca. Ngurah Ardha. kondisi percoban bioleaching untuk percontoh A2 (-140 mesh+200 mesh.55 Meyer.moonminer. http://www. Muszer.com/bioleaching. University of Southrn California. Application Of Microscopic Mineralogical Analysis Of Copper Concentrate After Bioleaching Process. DAFTAR PUSTAKA Ardha. sehingga percontoh ampas yang dihasilkan dapat dikaji kembali secara kimia dan mineralogi. 1. Mineralogical Society of Poland – Special Pa- Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . The Effect of Bioleaching on Green River Oil Shale. P.org.wikipedia. T. Dahlit memperlihatkan struktur mikro radial menyerat sedangkan struktur mikro yang terdapat pada kolofan berupa rekahan (fracture).gov. dan Rasyad. Purnomo. C dan O) tidak merata. Pengembangan porositas dan permeabilitas juga terjadi pada dahlit dan mineral lain. Penelitian ini didanai oleh Proyek Penelitian dan Pengembangan Mineral Tahun Anggaran 2008. 94 – 98.

h. Wahyudi. Fabrication of hydroxyapatite bodies by uniaxial pressing from a precipitated powder. Bandung:Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. 56 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. 2001. Pengembangan Bioteknologi untuk Pengolahan Mineral (Studi Kasus : Ekstraksi Fosfat dari Endapan Fosfat Alam dengan Metode Bioleaching).pers v 22. Nomor 13. Kabupaten Ciamis. MSP – Poland. Bimbingan Pertambangan Fosfat di Batukaras Kecamatan Cijulang. dkk. 1984. Biomaterials n. J. Januari 2009 : 47 – 56 . M.M.F. Rodriguez-Lorenz. Laporan Teknik Penelitian (dalam proses cetak). T. dan Ferreira. 2008. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum. 22. L. 583-588. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. Tim Bimbingan Pertambangan Fosfat..M. Vallet-Reg.

tahun penerbitan. 13.Petunjuk Bagi Penulis 1. 9. Izin untuk memproduksi hak cipta material adalah tanggung jawab penulis. penerbit. Intisari (abstract) naskah memuat ringkasan yang jelas. Foto harus jelas dan siap untuk dicetak (tidak dalam bentuk negatif film). 12. Naskah dan berkas dalam disket/CD dikirim ke Pemimpin Redaksi Jurnal tekMIRA. Naskah ditulis secara ringkas sesuai isinya. Semua huruf dalam peta harus jelas dan bila ukuran peta harus diperkecil. 10. Daftar pustaka ditulis secara alfabetis. judul referensi. alamat. Pengutipan seminimal mungkin. Naskah harus asli dan belum pernah diterbitkan dalam publikasi lain. tinggi huruf dalam peta tersebut tidak lebih kecil dari 1. Redaksi akan melakukan seleksi dan memberitahukan ke penulis. Sudirman No. Kata kunci ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Hanya artikel-artikel yang dipublikasikan yang dimasukkan sebagai referensi. Hanya rumus matematika yang penting yang dimuat dalam naskah. 7. Catatan kaki supaya dihindarkan. 11. 5. kota tempat buku diterbitkan dan halaman.5 mm. Naskah diketik dalam dua spasi menggunakan kertas ukuran A4 dengan lebar margin kanan dan atas 3 cm serta kiri dan bawah 2 cm. Jumlah halaman naskah tidak ditentukan. 2. Bilamana mengacu kepada artikel yang tidak dipublikasikan. agar dijelaskan cara memperoleh bahan tersebut. Peta maksimum berukuran A4 dan harus memakai skala dan arah utara. Naskah dalam disket/CD akan sangat membantu dalam proses peredaksian. Jend. nomor telpon dan faksimili. 4. Nama penulis diketik pada halaman pertama di bawah judul naskah. 8. serta alamat e-mail (bila ada). 623 Bandung 40211. Nama organisasi. 3. Jl. Urutan penulisan : nama penulis. Judul naskah harus bersifat deskriptif dan ringkas. 6. Bila pengutipan melebihi 250 kata penulis harus memperoleh izin tertulis dari penerbit dan penulis referensi yang bersangkutan. bila naskah sudah diterima atau bila naskah tidak sesuai untuk penerbitan ini. Gambar dan tabel harus diberi judul dengan jelas dan dalam kertas terpisah serta ditunjukkan mengenai penempatan gambar dan tabel tersebut dalam naskah tulisan. Petunjuk Bagi Penulis 57 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->