ISSN 1979 – 6560

Teknologi Mineral dan Batubara
Daftar Isi

Jurnal

Volume 5, Nomor 13, Januari 2009
No Akreditasi : 36/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

Daftar Isi ................................................................................................................................................. i Sekapur Sirih .......................................................................................................................................... ii Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi di Pantai Selatan Kulon Progo, Yogyakarta .................................................................... 1 - 16 Bambang Yunianto Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Skala Kecil dari Batubara Kadar Abu Tinggi .......................................................................................................................... 17 - 30 Suganal Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik: Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4 .................... 31 - 39 Slamet Suprapto Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan Timur dan Karakteristik Pembakarannya................................................................................................ 40 - 46 Stefano Munir dan Ikin Sodikin Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan Aspergillus Niger ............................................................................................................. 47 - 56 Tatang Wahyudi Petunjuk Bagi Penulis .......................................................................................................................... 57

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara terbit pada bulan Januari, Mei, September dan memuat karya ilmiah yang berkaitan dengan litbang mineral dan batubara mulai dari eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, lingkungan, kebijakan dan keekonomiannya. Redaksi menerima sumbangan naskah yang relevan dengan substansi terbitan ini. Biaya langganan : Rp 105.000,-/tahun di luar ongkos kirim, harga eceran Rp 35.000,-/eksemplar.
EDITOR IN CHIEF PEMIMPIN REDAKSI REDAKTUR PELAKSANA EDITOR STAF REDAKSI PENERBIT ALAMAT REDAKSI : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Hadi Nursarya : Umar Antana : Binarko Santoso (Ketua), Tatang Wahyudi, Sri Handayani, Datin Fatia Umar, Jafril, Miftahul Huda, Husaini, I. G. Ngurah Ardha, Siti Rafiah Untung dan Fauzan : Umar Antana, Nining Trisnamurni, Mining Emiliastuti, Rusmanto, Bachtiar Effendi dan Arie Aryansyah : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Jl. Jend. Sudirman 623 Bandung 40211 Telpon : (022) 6030483 - 5, Fax : (022) 6003373 e-mail : publikasitekmira@tekmira.esdm.go.id / publikasitekmira@yahoo.com

Keterangan gambar sampul depan : Pengembangan buah naga oleh petani di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo (atas); Contoh limbah batubara SL dengan pembakar siklon (bawah)
i

Sekapur Sirih
Pada awal 2009 ini, Undang-Undang Nomor 4/2009 tentang pertambangan mineral dan batubara telah diterbitkan untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 11/1967 yang dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Hal-hal penting yang tertera pada klausul-klausul undang-undang baru tersebut, terkait erat dengan masalah peningkatan nilai tambah mineral, pendayagunaan dan peningkatan pemanfaatan potensi sumber daya mineral dan batubara, penciptaan daya tarik investasi dan perlindungan lingkungan serta konservasi sumber daya mineral dan batubara. Semua hal ini juga sejalan dengan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya mineral dan batubara yang dikenal dengan istilah praktek-praktek pertambangan dengan baik dan benar (good mining practices). Apabila hal-hal ini benar-benar dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan pertambangan sesuai dengan semangat baru tersebut, beragam permasalahan pertambangan yang rentan terhadap konflik kepentingan antarsektor pembangunan dan masyarakat sekitar operasi penambangan, dapat diantisipasi dan diminimalisasikan sedini mungkin. Pada nomor terbitan jurnal kali ini, beragam makalah ilmiah yang mendukung paradigma baru bidang pertambangan tersebut mencakup permasalahan lingkungan sosial-ekonomi dan peningkatan kelitbangan dalam bidang teknologi mineral dan batubara. Kajian permasalahan lingkungan dan sosial-ekonomi rencana tambang pasir besi menggambarkan dengan jelas konflik kepentingan dalam penggunaan lahan antarsektor pertambangan dan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat sekitar lokasi tambang. Permasalahan ini bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antarsektor tersebut. Konflik ini dapat memicu pengurangan minat berinvestasi dalam sektor pertambangan, karena adanya ketidakpastian hukum dan tumpang-tindih penggunaan lahan. Proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi dari batubara kadar abu tinggi merupakan usaha pemanfaatan batubara secara nasional sesuai dengan rancangan pengelolaan energi nasional untuk memenuhi pencapaian energi bauran pada 2025. Batubara berkadar abu tinggi di Indonesia dapat digunakan untuk pembuatan briket batubara yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan. Blending batubara untuk pembangkit listrik dilakukan untuk mengatasi masalah pemasokan batubara untuk PLTU Suralaya. Sistem blending ini dapat dilakukan dengan mencampurkan antara batubara peringkat rendah dengan peringkat tinggi sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara Indonesia yang terkait dengan nilai kalornya. Hubungan antara parameter karakteristik limbah batubara dan karakteristik pembakarannya menunjukkan potensi pemanfaatan limbah batubara yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk bahan bakar langsung dengan menggunakan pembakar siklon. Perubahan morfologi dan kimia batuan pembawa fosfat dengan pelindian mikroorganisme menyisakan ampas pelindian. Pengujian kimia dan mikroskopis yang telah dilakukan terhadap ampas tersebut menunjukkan kinerja yang baik dengan melakukan pengaturan pH untuk mengurangi keikutsertaan unsur-unsur pengotornya dalam proses pelindiannya. Peningkatan kelitbangan dalam bidang teknologi mineral dan batubara yang tertuang dalam makalah-makalah tersebut perlu terus ditingkatkan, karena kualitas mineral dan batubara Indonesia harus memenuhi spesifikasi keteknikannya untuk menghasilkan komoditas yang dapat dimanfaatkan, baik secara langsung oleh para penggunanya di tanah air maupun sebagai komoditas ekspor. Dengan demikian, optimalisasi pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara tersebut dapat terlaksana, sesuai dengan arahan yang telah tertuang dalam undang-undang dan paradigma baru dalam mengelola sumber daya mineral dan batubara. Editor

ii

termasuk PT. Bandung – 40211 Telp. Panjatan dan Galur.. revisi terakhir : Januari 2009 SARI Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. Secara prosedural perizinan. 022 – 6030483 Ext. dan merupakan satu-satunya industri pig iron di Asia Tenggara.esdm. seluruh tahapan telah sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia dan praktek-praktek pertambangan internasional. sedang memasuki tahap studi kelayakan dan AMDAL yang dibantu oleh UGM. JMM) untuk menghasilkan pig iron di Kabupaten Kulon Progo. JMM. meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar lingkar proyek melalui program pengembangan masyarakat. beberapa keuntungan yang akan diperoleh pemerintah dan masyarakat. isu lingkungan dan sosial ekonomi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . 623. Bambang Yunianto 1 . Menurut Bappeda Kabupaten Kulon Progo.id Naskah masuk : 11 Nopember 2008. ditolak sebagian masyarakat petani yang mengusahakan lahan tersebut. DIY. Jl. membantu industri baja nasional (PT. Krakatau Steel (PT.6 juta ton. JMM dan Indo Mines Ltd. tidak menyalahi tata ruang kawasan pantai pesisir selatan dan sudah sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Berdasarkan analisis.go. KS) dan Indo Mines Ltd.000 ton per tahun dan umur tambang diperkirakan sampai 25 tahun. konflik sektoral. Penambangan menerapkan tambang kering dan proses ekstraksi dilakukan dengan teknologi Autokumpu seperti yang diterapkan di New Zealand Steel. Jenderal Sudirman No. kegiatan PT. Reklamasi akan dilakukan sejauh 200 meter ke darat dengan dibuat gumuk artifisial dan ditanami cemara udang. Sedangkan secara ekonomi. dengan alasan masalah lingkungan dan sosial ekonomi. YOGYAKARTA BAMBANG YUNIANTO Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Kata kunci:pasir besi. Wates. revisi pertama : 06 Desember 2008. rencana penambangan dan pengolahan.KAJIAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL EKONOMI RENCANA PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN PASIR BESI DI PANTAI SELATAN KULON PROGO. berada dalam lahan Pakualaman pada kawasan sepanjang 22 kilometer pesisir Kulon Progo.. JMM dan Indo Mines Ltd. revisi kedua : 12 Desember 2008. permasalahan bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antara sektor pertanian dengan pertambangan. pengolahan. maupun industri pendukungnya. Produksi direncanakan 500. Wilayah Kontrak Karya (KK) PT. Jogja Magasa Mining (PT. di wilayah Kecamatan Temon. peningkatan PAD. Saat ini kegiatan PT. 227 e-mail : yunianto@tekmira. Krakatau Steel). Deposit pasir besi sekitar 33. antara lain terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas baik pada kegiatan penambangan.

Januari 2009 : 1 – 16 . Wates. Jogja Magasa Mining (PT. yang akan membangun pabrik untuk mengolah pasir besi. Wilayah konsesi KK PT. KS) dan PT. whilst the age of the mining is assumed 25 years. sectoral conflict. JMM. maka Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bupati Kulon Progo tersebut ditingkatkan menjadi KK pertambangan. Oleh karena ada unsur penanaman modal asing (PMA). Nowadays. the company activity is reaching the stages of feasibility study and environmental impact study assisted by Gajah Mada University. PENDAHULUAN Polemik mengenai isu rencana penambangan dan pengolahan pasir besi untuk menghasilkan pig iron di Kabupaten Kulon Progo. Wates. improvement of the community prosperity around the project through the community empowerment program. merupakan perusahaan tambang dari Australia. karena wilayah tersebut sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat pantai sebagai lahan pertanian. supporting industries. the issues are caused by the lack of socialisation and coordination between the sectors of agriculture and mining. some benefits that will be obtained by the regional government and the community consist of wide job opportunities from the mining operation. Pada awalnya. Jogja Magasa Mining (PT.ABSTRACT The plan of mining and processing of iron sand carried out by PT.000 tons/year. JMM) to produce pig iron in the Kulon Progo Regency-DIY. KS). Yogyakarta terus bergulir. dan masyarakat kawasan pantai ini banyak mengalami 2 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. is rejected by some farmer communities that have used the land due to the environmental and socio-economic issues. Reclamation will be conducted in a 200 m long toward inland by making an artificial dune with plants of cemara udang. KS dan Indo Mines) meliputi kawasan sepanjang 22 kilometer pesisir Kulon Progo. maka sebagian besar masyarakat menolak untuk dijadikan lahan pertambangan. 2007). is located in the Pakualaman land along 22 km of the Kulon Progo coast of the Districts of Temon. Proyek tersebut merupakan kerja sama antara PT. kegiatan pertambangan pasir besi yang akan dilakukan PT. yang berada dalam wilayah 4 kecamatan. environmental and socio-economic issues 1. yaitu Temon. The area of the work-contract of the company. Indo Mines Ltd. Masyarakat daerah ini mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian sejak sebelum tahun 2000. kawasan pantai selatan tersebut terbagi dua. baik di daerah maupun Pusat dan lokasi kegiatan meliputi wilayah yang luas di 4 Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo. yaitu Temon. Keywords: iron sand. Procedurally. Panjatan dan Galur. According to the analyses. Menurut status tanah. Permasalahan tersebut masih tetap akan berlanjut mengingat banyak pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat. KS) and Indo Mines Ltd. yang mendapat bantuan dan dukungan proyek pengembangan pertanian kawasan pantai. Wates. Panjatan dan Galur. JMM (termasuk PT. Nomor 13. According to the Agency for Regional Development Planning of the regency. and it will be the sole pig iron industry in the Asean region. The iron sand deposit is 33. Permasalahan mulai terjadi. increase the national steel industry (PT. sedangkan kawasan pantai sebelah barat Sungai Progo ke arah Kutoarjo merupakan tanah Pakualaman/ Pakualam Ground (BPS Kabupaten Kulon Progo. JMM) ini berizin Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bupati Kulon Progro. all the stages are in accordance with the national prevailing regulations and the international mining practices. The mining will apply dry mining method. increase of the regional revenue. mining and processing plans. The production is planned to be 500. Krakatau Steel (PT. meskipun status tanah merupakan tanah Pakualaman. the mining activity is in a line with the spatial use of the south coastline. kawasan pantai sebelah timur Sungai Progo ke arah Kabupaten Bantul merupakan milik kraton Yogyakarta (Sultan Ground). Economically. Panjatan and Galur. Krakatau Steel (PT. dengan nilai investasi 600 juta dolar AS. processing.6 million tons. Setelah berbagai proyek pertanian masuk. including PT. PT KS saat ini adalah salah satu perusahaan baja hilir terbesar di Indonesia. and the process of extraction will use autokumpu technology as applied in the New Zealand Steel. secara signifikan lahan pertanian tersebut mampu ditingkatkan produktivitasnya.

DIY untuk mencari pemecahannya yang terbaik. Dalam survei lapangan. dengan luas ± 3000 ha. DIY. Dalam proses selanjutnya. dan dapat memberi masukan kepada pihak-pihak yang terkait dalam penyelesaian permasalahan tersebut. inventarisasi data. Karangsewu dan Banaran (Gambar 2). dan PT. 2006a). 3. sedangkan data sekunder berupa data dan informasi dari PT. Karangwuni. seperti Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo. Bugel. Wates. KP008/KPTS/KP/EKPL/X/ 2005 yang diperbaharui dengan No. Hasil laporan eksplorasi pasir besi Kulon Progo telah mendapatkan sertifikasi internasional dari JORC (Joint Ore Reserve Committee) suatu badan akreditasi cadangan mineral internasional. baik di tingkat kabupaten. meliputi 4 kecamatan dengan desa-desa: Jangkaran. Teknik penelitian yang digunakan adalah observasi. yaitu Galur. Metode penelitian yang diterapkan menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif. JMM.8% dan proporsi tertinggi cadangan pasir besi pada kedalaman 6-8 meter dari permukaan dengan total cadangan sekitar 273 juta ton dengan kandungan Fe sekitar 14. provinsi maupun pusat. Masyarakat dan kelompok tani Desa Banaran yang dulunya menolak kini menjadi mendukung setelah mendapat kepastian mengenai lahan garapannya dan manfaat yang akan didapat dari adanya proyek tersebut. kompilasi dan eksplanatori. sehingga muncul perlawanan dari beberapa kelompok tani. JMM terletak di pesisir selatan Kabupaten Kulon Progo. (PT. 2006). Kegiatan Eksplorasi Metodologi yang dilakukan menggunakan pendekatan multidisiplin ilmu. Selanjutnya. Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan metode Aircore Drilling sebanyak 929 titik lubang bor. 3. JMM Lokasi rencana kegiatan pertambangan pasir besi PT. Secara umum penelitian dilakukan dengan survei lapangan ke lokasi rencana penambangan dan pengolahan pasir besi di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. Bugel.2. dan wawancara langsung ke sumber data. Kelompok Tani Karangwuni. meliputi 4 kecamatan. Teknik PT. 3. sejalan dengan semakin gencarnya sosialisasi yang dilakukan oleh PT. meliputi desa-desa: Karangwuni. atau melalui orang-orang kunci (formal dan nonformal) masyarakat pantai. Data primer berupa informasi yang langsung berasal dari responden. 2. selain dilakukan pendataan pada sumber data utama juga dilakukan pendataan pada pemilik kepentingan lainnya. Garongan. Bambang Yunianto 3 . suara pro dan kontra terhadap kehadiran proyek tersebut mulai terpecah. Glagah. dokumentasi. Tidak dijumpai resistensi dari warga didaerah eksplorasi karena semua kewajiban yang berupa ganti rugi dan lain-lainnya diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. JMM telah menyelesaikan aktivitas eksplorasi pasir besi di Kulon Progo pada akhir 2006. RENCANA PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN PASIR BESI Lokasi dan Wilayah Konsesi PT. Hasil pemboran telah dianalisis di Laboratorium Konsultan Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . dengan melakukan pemboran eksplorasi pada 929 titik dengan kedalaman rata-rata 16 meter. JMM. Jenis data yang dikumpulkan dan digunakan dalam kajian berupa data primer dan data sekunder. baik sosialisasi ke masyarakat langsung. maupun sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo. Temon. Karangsewu. KP PT. Luas konsesi Kuasa Pertambangan (KP) PT. JMM sesuai Keputusan Depperindagkoptamb No.2%. Wates dan Panjatan (Gambar 1). Sindutan. METODOLOGI pengolahan dan analisis data menggunakan teknik deskriptif. yaitu digunakannya berbagai parameter keilmuan dalam membahas permasalahan utama yang dikaji.kemajuan. KS). Dari hasil eksplorasi diperoleh kesimpulan bahwa total cadangan pasir besi Kulon Progo adalah sekitar 605 juta ton dengan kandungan Fe sekitar 10. Pleret. yang dilakukan pada 28 April – 2 Mei 2008. Palihan. JMM dan dinas terkait. Maksud penulisan ini adalah menginventarisasi permasalahan mengenai rencana kegiatan penambangan dan pengolahan pasir besi di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. Eksplorasi dilakukan pada area sekitar 2 x 22 km. Pleret. dan Banaran seperti ditunjukkan oleh Gambar 3 (PT. Garongan.. 11/KPTS/KP/ EKPL/X/2006 adalah ± 4. JMM (Indo Mines Ltd. Kelompok Tani Ngudi Rejeki.1.000 ha. JMM tersebut ditingkatkan menjadi Kontrak Karya (KK) dengan menggandeng Indo Mines PTY Ltd..

Lokasi rencana penambangan pasir besi PT. Nomor 13. JMM di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo 4 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Januari 2009 : 1 – 16 .  Gambar 1.

Bambang Yunianto 5 . Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan .Indo Mines Ltd.. JMM . JMM Gambar 3..  Gambar 2. Peta lokasi wilayah KK PT. Peta lokasi wilayah KP PT.

Teknik tersebut telah dilakukan selama 30 tahun untuk operasi pengayaan pasir besi di New Zealand. Pengolahan Pasir Besi dan Pengelolaan Lingkungan b) 3. yaitu d) minimal 4. cukup untuk memasok produksi minimal 300.000 ton pig iron per tahun selama 15 tahun.60%.000 ton/ bulan (PT. menunjukkan bahwa pasir besi di Kulon Progo dapat ditingkatkan perolehannya (recovery) dari 14% Fe menjadi 50% Fe hanya dengan menggunakan satu proses/tingkat konsentrasi gaya berat (gravity concentration). yaitu gravity concentration dan magnetic separation kadar perolehan Fe akan dapat ditingkatkan sampai 58 . Secara garis besar hasil eksplorasi sebagai berikut: a) Di sepanjang 22 km dan lebar 1. c) Areal penambangan berada pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai ke arah darat. Rencana Penambangan.Geologi Mackay & Schnellman Pty Ltd menggunakan JOCR Standard. erosi dan peredam tsunami dan telah terbukti pada percobaan di sepanjang pantai Samas dan Pandansimo (Skema rencana penambangan dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5). permukaan rata-rata air tanah di wilayah KK dan juga berdasarkan faktor wind blow. tanaman ini sangat efektif untuk pencegahan abrasi. Apabila dilakukan dengan beberapa tingkat (multiple stage). Nomor 13. atau 41.3. Kepala Laboratorium Fisiologi Pohon dan Bioteknologi Kehutanan UGM. JMM. Cadangan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo (untuk kedalaman sampai dengan 6 meter) setara dengan 33. PENANAMAN CEMARA UDANG (PENCEGAH ABRASI PEREDAM TSUNAMI) PRE-CONCENTRATION PLANT PENAMBANGAN Tree Tree LAUT PRA KONSENTRAT BIJI BESI PANTAI 200M (AREA PENAMBANGAN) Gambar 4. Dengan jumlah cadangan yang ada di zona ekonomis wilayah KK.6 juta ton Fe. Skema rencana penambangan pasir besi PT.000 ton/ tahun. Januari 2009 : 1 – 16 . 2006b). maka lama penambangan akan berkisar kurang lebih 25 tahun. dengan produksi 700. sebagai pencegah abrasi.000 ton pig iron per tahun. dan akan dibuatkan ’barrier’ atau tanggul dan ditanami pohon cemara udang. dengan kadar 14% Fe. hal ini melebihi dari kebutuhan minimum Indo Mines Limited. Produksi akan dilakukan sebesar 500. JMM. 2006b).5 juta ton Fe. Berdasarkan penelitian Suhardi (PT. produksi per tahun.8 km wilayah pantai selatan Kabupaten Kulon Progo terdapat cadangan mineral pasir besi 240 juta ton. JMM di Kabupaten Kulon Progo 6 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Hasil tes awal dengan menggunakan teknologi Autokumpu.

dengan menggunakan air laut atau air tawar sebagai bahan pencuci. Melalui proses penyaringan dan pemisahan gaya berat (gravity concentration) akan diperoleh 20% pre-konsentrat mineral besi. Kedalaman penggalian kurang lebih 6 m dengan total penurunan lahan maksimal 80 cm (PT. menghasilkan mineral besi/logam yang terpisahkan dari pasir halus. Pre-konsentrat mineral besi (20%) akan diangkut dan kemudian diproses di pabrik konsentrat. Skema cara penambangan Sistem penambangan menggunakan metode pengupasan (strip mine) secara kering. Penambangan dilakukan per blok. pada tambang pasir besi Cilacap dan Kutoarjo yang menggunakan monitor air dengan menerapkan metode tambang semprot. dan ditambah dengan tanah dan dipupuk. sehingga beratnya menjadi hanya 10% dari total galian pasir besi dan sisanya akan dikembalikan lagi ke lokasi galian tambang sebagai bahan reklamasi. dengan umur tambang per blok 8-12 bulan. Pasir besi yang digali akan diangkut dan dimasukkan dalam proses pencucian dan penyaringan. dengan alat pemisah magnetik. Pengolahan dan peleburannya akan menerapkan teknologi Outokumpu seperti yang dilakukan di New Zealand Steel dan menjadi yang pertama di Indonesia. menyatakan bahwa area lahan pasir besi bukan lahan yang bernilai pertanian. JMM. maka daerah reklamasi akan menjadi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . Hal ini berbeda dengan yang dilakukan PT Antam Tbk. 2007). Pada tahun kedua setelah penambangan. daerah bekas area penambangan akan dapat ditanami kembali dengan produk agrikultur yang lebih bernilai ekonomis. Untuk mendapatkan produk pig iron sekitar 1 juta ton per tahun. Berdasarkan wawancara langsung dengan Tejoyuwono Notohadiprawiro Dosen Ilmu Tanah UGM. Bambang Yunianto 7 .Gambar 5. penambangan dapat berpindah ke blok selanjutnya apabila blok sebelumnya telah selesai ditambang dan direklamasi. Oleh karena itu. maka setiap tahun perlu dilakukan penambangan pada areal sejauh 200-400 m dari bibir pantai pada batas pasang tertinggi dengan kedalaman sekitar 6 m. sedangkan sisanya sebanyak 80% berupa pasir halus akan dikembalikan lagi ke lokasi galian tambang sebagai bagian dari proses reklamasi.. Dengan dihilangkan kandungan logamnya..

Bagan alir rencana industri baja terpadu di Kabupaten Kulon Progo Gambar 7. Nomor 13. Industri baja terpadu ini menganut kriteria berikut: PENAMBANGAN PASIR BESI VANADIUM SLAG (BAHAN BAKU BAJA TAHAN KARAT) KONSENTRAT PASIR BESI PASIR BESI CONCENTRATOR (DENGAN MAGNIT) PENCUCIAN DAN PENYARINGAN BATUBARA PABRIK BESI WANTAH (PIG IRON) KONSENTRAT PASIR BESI PIG IRON (BAHAN BAKU BAJA) PASIR HALUS BATUKAPUR PASIR SLAG (DAPAT DIPAKAI BAHAN PERKERASAN KONSTRUKSI JALAN) REKLAMASI CATATAN : DALAM JANGKA PANJANG AKAN DIKEMBANGKAN INDUSTRI BILLET BAJA Gambar 6. Pasir besi dikirim ke pabrik peleburan untuk diolah 8 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.lebih subur dan bernilai pertanian. Januari 2009 : 1 – 16 . sebagaimana ditunjukkan oleh bagan alir pada Gambar 6 dan 7. yaitu industri baja yang dimulai dari proses penambangan pasir besi sampai dengan proses pembuatan pig iron sebagai bahan baku utama baja. Rencana pembangunan pabrik pengolahan pasir besi terpola dalam kerangka industri baja terpadu.

Bahan pendukung untuk konstruksi pabrik dan proses pengolahan semua tersedia di wilayah Kulon Progo seperti mangan. Dalam pengelolaan lingkungan diterapkan teknik reklamasi/pengembalian fungsi lahan seperti ditunjukkan pada Gambar 8. c) Pasokan listrik dapat bersumber dari PLN atau akan dibuat pembangkit tenaga listrik sendiri. b) Jalur transportasi kereta api dibutuhkan untuk menghubungkan industri pengolahan dengan pelabuhan terdekat di Pulau Jawa. lahan akan difungsikan kembali sebagai lahan pertanian atau sesuai peruntukannya. JMM. JMM. andesit.a) b) c) d) Untuk pabrik pengolahan diharapkan tidak jauh dari lokasi penambangan. Setelah selesai direklamasi. jalan dan pemukiman karyawan akan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada di Kabupaten Kulon Progo (PT.. Gambar 8. b) Reklamasi diwajibkan untuk setiap blok dengan teknik pengembalian perlajur sehingga proses reklamasi beriringan dengan proses penambangan/pengolahan. d) lain yang diperlukan sehingga diharapkan produksi pertanian meningkat. tanah liat. Tahapan reklamasi dan bentuk penampang lahan setelah reklamasi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . c) Lahan hasil reklamasi akan dibuat lebih subur dengan penambahan pupuk organik dan bahan Pembangunan berbagai sarana pendukung akan direncanakan sebagai berikut: a) Sarana transportasi akan menggunakan dan mengembangkan sarana jalan yang sudah ada dan membuat sarana jalan yang baru sesuai dengan kebutuhan industri. untuk keluar masuk hasil produksi dan bahan pendukung industri. Ini salah satu alasan pabrik pengolahan ada di Kulon Progo. Bambang Yunianto 9 . kantor. 2007). d) Kebutuhan air untuk industri maupun konsumsi akan memanfaatkan sumber air laut ataupun air sungai.. 2007). batugamping. dengan tahapan sebagai berikut: a) Material bukan pasir besi setelah dipisahkan langsung dikembalikan. supaya bersatu dengan kegiatan penambangan sebagai sumber bahan bakunya yang juga terdapat di Kabupaten Kulon Progo. Metode pengolahan mengacu pada apa yang dilakukan di New Zealand dengan menggunakan 3 macam alternatif pengolahan (PT. e) Untuk konstruksi pabrik.

JMM. Kelompok Tani Ngudi Rejeki. dan ada sanksi terhadap pelanggar. dari aspek c) eksploitasi lebih jauh dan lebih dalam dari semula yang direncanakan. maka sebagian besar masyarakat menolak untuk dijadikan lahan pertambangan (contoh pertanian rakyat lihat Gambar 9 dan contoh infrastruktur di pantai selatan lihat Gambar 10).1. satu di antaranya di kawasan pesisir selatan Yogyakarta. 2007). Masyarakat daerah ini mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian sejak sebelum tahun 2000. PERMASALAHAN DAN ANALISIS PENYELESAIANNYA Permasalahan Berdasarkan inventarisasi di lapangan terdapat beberapa permasalahan. b) Berbagai pihak yang memiliki kepentingan terkait dengan kegiatan di kawasan pantai tersebut menyampaikan pendapat. tanah desa dan tanah milik dinasti Pakualam (Pakualam Ground). Januari 2009 : 1 – 16 . yaitu: a) Permasalahan mulai terjadi. Kombinasi penanaman cemara udang dan gumuk-gumuk pasir bentukan alam itu merupakan penahan tsunami alamiah yang paling efektif. Risiko kerusakan alam yang menyertainya akan lebih hebat (PT.4. meskipun status tanah sebagian besar merupakan tanah Pakualam. Dalam proses selanjutnya. dan masyarakat kawasan pantai ini banyak mengalami kemajuan. lapisan pasir di bawah permukaan tanah sangat berguna untuk meredam gempa. Setelah berbagai proyek pertanian masuk. teknis dan ilmiah. 4. sehingga muncul perlawanan dari beberapa kelompok tani. yakni tanah milik bersertifikat. sejalan dengan semakin gencarnya sosialisasi yang dilakukan 10 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. yang mendapat bantuan dan dukungan proyek pengembangan pertanian kawasan pantai. Ia juga mengingatkan terjadinya Gambar 9 dan 10. KGPAA Pakualaman IX mengeluarkan surat kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi DIY. Kelompok Tani Karangwuni-Wates. Pengembangan buah naga oleh petani dan infrastruktur di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo Selain merusak lingkungan. seperti untuk penambangan pasir. Menurut Sudaryatno dari Fakultas Geografi UGM. secara signifikan lahan pertanian tersebut mampu ditingkatkan produktivitasnya. Tanggal 7 Januari 2003. Dja’far Shiddieq ahli tanah UGM menyatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda pun tidak melakukan penambangan pasir besi di wilayah itu karena dampaknya yang dianggap berbahaya terhadap keseimbangan ekologis di wilayah itu. fungsi itu hilang. Isinya antara lain bahwa lahan itu dapat dikembangkan untuk kegiatan pertanian lahan pasir. Nomor 13. karena wilayah tersebut sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat pantai sebagai lahan pertanian. bernomor X/PA/ 2003. Wilayah eksploitasi lahan di wilayah itu terbagi atas tiga kepemilikan. seperti Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo. tidak diizinkan mengubah sifat fisik dan hayati. Di dunia ini hanya ada tiga gumuk pasir yang bergerak. penambangan pasir besi dianggap akan mengancam kelangsungan pertanian lahan pasir. Jika pasir diambil.

. b) Perusahaan wajib memberikan laporan penambangan dan pengolahan secara periodik sesuai ketentuan yang berlaku. Analisis Penyelesaian Permasalahan Pengembangan Sektor lain. Ltd (Australia) bergabung karena mempunyai teknologi Autokumpu pengolahan pasirbesi menjadi pig iron. Kegiatan pengolahan pasir besi dapat disinergikan dengan kegiatan lain dalam satu kawasan yang dapat diatur melalui RTRW juga Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan .undangan yang berlaku. pemukiman karyawan. atau melalui orang-orang kunci (formal dan nonformal) masyarakat pantai. hal tersebut perlu terus menerus disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan kegiatan penambangan dan pengolahan pasir besi tersebut. telah memenuhi prosedur perizinan di Sektor ESDM. KS). maupun sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo. Panjatan. JMM dan Indo Mines Ltd. tenaga kerja dan lain-lain). e) Dalam tahun 2008 akan melakukan Studi Kelayakan. d) Tanggal 25 Maret 2006 PT. terutama pemangku kepentingan di daerah dan masyarakat yang nantinya akan terkena dampak langsung adanya kegiatan tersebut. JMM (Indo Mines Ltd. lingkungan. c) Pembangunan konstruksi diharapkan semaksimal mungkin memanfaatkan sumber daya lokal (material. b) Penyusunan dilakukan oleh konsultan lingkungan yang mempunyai kompetensi dan kredibilitas yang diakui secara nasional dan internasional.. baik sosialisasi ke masyarakat langsung. baik di daerah maupun pusat. dan PT. 4.7 Ha (Wates. dan sudah sesuai dengan praktekpraktek pertambangan yang diakui secara internasional. dan melanjutkan pilot proyek penambangan pasir besi sebagai model penambangan nantinya. Dalam kajian lingkungan yang dijadikan pedoman adalah: a) Perusahaan wajib melakukan studi lingkungan melalui penyusunan dokumen AMDAL. Namun. Galur). kebutuhan air dan sarana pendukung lainnya yang menunjang kegiatan industri. dan telah melaporkan hasil eksplorasi sebanyak 14 volume. Masyarakat dan kelompok tani Desa Banaran yang dulunya menolak. 008/KPTS/KP/EKKPL/X/2005 luas 4. b) KP Eksplorasi No. kini menjadi mendukung setelah mendapat kepastian mengenai lahan garapannya dan manfaat yang akan didapat dari adanya proyek tersebut. ekonomis.076. pembangkit listrik. Sedangkan pada tahap konstruksi. 1) Proses Perizinan Rencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi PT. AMDAL. sarana jalan. tahapan tersebut adalah: a) Tanggal 6 Oktober 2005 PT. Bambang Yunianto 11 .2.oleh PT. kontraktor. c) Aktivitas perusahaan di lapangan akan selalu mendapat pengawasan dan pembinaan dari instansi yang berwenang dalam sektor pertambangan dan instansi terkait lainnya sesuai dengan kewenangannya masing-masing. PT. Pengawasan dan pembinaan dalam tahapan penambangan dan pengolahan adalah: a) Dalam proses penambangan dan pengolahan perusahaan wajib mengikuti kaidah-kaidah penambangan dan pengolahan yang baik dan benar serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 2) Keterkaitan Pengolahan Pasir Besi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Sektor Lain Dalam pembahasan berikut akan dianalisis beberapa permasalahan di atas berdasarkan akar masalah yang dijadikan polemik. Temon. JMM dan Indo Mines akan menempuh beberapa hal: a) Tahapan konstruksi dilakukan apabila hasil studi kelayakan menyatakan bahwa rencana kegiatan pengolahan dinyatakan layak secara teknis. c) Perusahaan wajib mengikuti Kebijakan Pemerintah tentang Tata Ruang Wilayah dan Kebijakan Penataan Tata Ruang bersifat dinamis dan dievaluasi setiap 5 tahun. maka suara pro dan kontra terhadap kehadiran proyek tersebut mulai terpecah. JMM melakukan eksplorasi dengan 929 titik bor. sosial kemasyarakatan dan sesuai dengan peraturan perundang . Jadi secara prosedur perizinan seluruhnya telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. JMM mengajukan eksplorasi pasir besi. c) 30 Juni 2005 Indo Mines. b) Konstruksi meliputi pabrik. dan hasilnya diuji oleh komisi AMDAL provinsi dan atau pusat.

Berikut manfaat dari aspek penyerapan tenaga kerja: a) Pada area pra-penambangan. pembinaan dan peningkatan peran perempuan. 2007). Saat ini bahan baku baja yang berupa “biji besi terolah” 100% masih impor dari Amerika Selatan. tetangga DIY. Ini masih ditambah teknologi pengolahan baja yang tidak efisien. Keterkaitan Rencana Kegiatan dengan Kebijakan Baja Nasional Indonesia yang dikenal kaya sumber daya alam harus mengimpor 100 % bahan baku baja dan 60-70 % scrap baja untuk keperluan industri bajanya. program pengembangan sarana pendidikan. Industri Pengecoran Logam Klaten. area lahan pasir besi adalah bukan lahan yang bernilai pertanian.000. pembinaan dan peningkatan kualitas dalam melaksanakan ibadah. program pengembangan sumber daya manusia. Aspek keagamaan: pembangunan saranaprasarana ibadah. dari ongkos angkut akan bisa menghemat sekitar $50. pembinaan generasi muda. dengan tanaman yang lebih bernilai ekonomis. Aspek pendidikan: program beasiswa.000 per tahun. kegiatan PT. Januari 2009 : 1 – 16 . peningkatan nilai tambah usaha sektor pertanian. Oleh karena itu. Bila mampu memproduksi sendiri bahan baku baja. c) Pada masa konstruksi pabrik peleburan pig iron. Aspek budaya: pelestarian dan pengembangan budaya lokal. perbaikan mutu tanah dan pemupukan. Kalau PT. b) Pada masa penambangan akan terserap tenaga kerja minimum 100 tenaga kerja secara langsung dan sekitar 100 secara tidak langsung (sektor angkutan. karena menggunakan sumber energi gas yang semakin meningkat harganya. Industri ini masih membeli bahan baku yang berupa pig iron impor dengan harga sekitar Rp 4000-5000/kg berarti sekitar $400-550/ton. Namun. 2005). ongkos angkutnya sekitar $60 per ton. setidak-tidaknya akan dibutuhkan sekitar 2000 tenaga kerja langsung untuk memproduksi 1 juta ton pig iron per tahun. dan ditambah dengan tanah dan dipupuk. Pada tahun kedua. tidak menyalahi tata ruang kawasan pantai pesisir selatan dan sudah sesuai RTRW seperti ditunjukkan oleh Gambar 11 dan Gambar 12 (Bappeda Kabupaten Kulon Progo. tengkulak cabai dan semangka. setelah dihilangkan kandungan logamnya. Nomor 13. Contoh lain. JMM bisa memproduksi pig iron. komunikasi dan lainnya). Aspek ekonomi: pembinaan dan pengembangan UMKM. penguatan dan pembinaan kelembagaan ekonomi pedesaan. industri ini sulit berkompetisi di pasaran ekspor. hanya 25 km dari Jogya. Aspek sosial: pengembangan kelompokkelompok sosial kemasyarakatan. berarti paling tidak akan memenuhi sekitar 50% bahan baku baja nasional yang sampai saat ini masih diimpor. karena pengolahan pasir besi bersifat sementara. peningkatan produksi hasil pertanian. Berdasarkan koordinasi dengan Bappeda Kabupaten Kulon Progo. Berikut manfaat sosial kemasyarakat berdasar hasil kajian sementara: Aspek pertanian: peningkatan kualitas lahan pasca tambang dan pengolahan. proses reklamasi. khususnya di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. JMM dan Indo Mines Ltd. pemasok. Sementara itu. pembibitan dan penanaman cemara udang. 12 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.dalam Rencana Detil Tata Ruang Kawasan pantai selatan Kulon Progo. Aspek kesehatan: pembangunan saranaprasarana kesehatan. d) Setelah pabrik peleburan besi wantah mulai beroperasi. Untuk jangka panjang diharapkan akan berkembang industri turunan dari industri peleburan pig iron yang amat luas yang akan memberi manfaat ekonomis bagi kemajuan masyarakat Kulon Progo dan sekitarnya (BPS Kabupaten Kulon Progo. setidaktidaknya akan terserap secara langsung 500 tenaga kerja. yang akan dimulai pada tahun 2008. maka daerah reklamasi akan menjadi lahan yang lebih subur dan bernilai pertanian (PT. 3) Manfaat Proyek bagi Masyarakat Lingkar Proyek dan yang Terkena Dampak a) b) c) d) e) f) g) h) 4) Penduduk yang terkena dampak penambangan akan diberi ganti rugi yang layak dan wajar. peningkatan mutu kesehatan masyarakat. serta akan dipekerjakan dalam proses penambangan. Aspek sarana umum: peningkatan infrastruktur di lingkungan kawasan industri. kesuburan tanah setelah ditambang menurut Tejoyuwono Notohadiprawiro (UGM). Jika potensi ini dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik akan menghasilkan sekitar 1 juta ton pig iron. setelah reklamasi pada area penambangan tahun pertama. JMM. 2008). lahan mungkin hanya bisa memberi manfaat ekonomis pada 10 petani. DIY memiliki potensi yang luar biasa sumber daya alam bahan baku baja yang berupa pasir besi. terkait dengan sektor lain. penduduk/petani dapat memanfaatkan kembali tanah eks penambangan. Di negara asal harganya hanya sekitar $300-350/ton.

.. Bambang Yunianto U Gambar 11.Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . Rencana tata ruang kawasan pantai selatan tahun 2005-2015 13 .

Nomor 13. Peta rencana pemanfaatan lahan kawasan pantai selatan Kabupaten Kulon Progo . Januari 2009 : 1 – 16 Gambar 12.14 U Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.

Wates. Bambang Yunianto 15 . DAFTAR PUSTAKA Anonim. 5. PENUTUP Berdasarkan telaahan dari beberapa sudut pandang terhadap permasalahan penolakan sebagian masyarakat petani (isu lingkungan dan sosial ekonomi) terkait rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. e) Perusahaan yang telah menyatakan akan membeli pig iron adalah PT. dalam penyelesaian setiap permasalahan harus dilakukan kegiatan sosialisasi secara struktural dan komprehensif terhadap seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan rencana kegiatan tersebut. 2005. 2007). serta pengaruh ekonomi dari sektor-sektor lain yang terkait. c) Industri pig iron direncanakan akan dikembangkan menjadi industri baja di Kulon Progo. c) Secara sosial ekonomi masyarakat dan pemda. JMM. Untuk itu. DIY khususnya Kabupaten Kulon Progo memiliki potensi yang amat besar untuk didirikannya suatu industri baja terpadu. rencana pembangunan pabrik pengolahan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo adalah: a) Potensi bahan baku (pasir besi) tersebar di beberapa wilayah Indonesia tetapi sampai saat ini Indonesia belum memiliki teknologi untuk mengolah pasir besi menjadi pig iron. karena harga bahan baku pasti akan lebih murah 20-30% dari bahan baku impor (PT. sebetulnya bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi di antara pemangku kepentingan. JMM dan Indo Mines Ltd.4 triliun). JMM kpd KGPA Paku Alam IX No. d) Industri ini akan menjadi satu-satunya industri yang memproduksi pig iron di Asia Tenggara dan akan dikembangkan sampai menjadi industri baja di Kulon Progo. retribusi. pendidikan. Bappeda Kabupaten Kulon Progo. seluruh tahap telah dan akan dipenuhi oleh PT. pertanian.. KS yang masih mengimpor bahan baku. 2008. Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Pantai Selatan Kabupaten Kabupaten Kulon Progo Tahun 2005 – 2015. f) Lokasi pabrik dan area eksploitasi akan disesuaikan dengan Rencana Pengembangan Wilayah Pemkab Kulon Progo dan Pemprov DIY termasuk kepemilikan lahan masyarakat dan Puropakualaman (sesuai surat PT. b) Secara tata ruang pemanfataan lahan. kegiatan tersebut akan membuka peluang kerja. royalti. Berdasarkan kajian ekonomi sementara. land rent. BPS Kabupaten Kulon Progo. dan mendukung kebijakan baja nasional sejalan dengan rencana pembangunan pabrik baja di Kalimantan Selatan. sosial. b) Industri pig iron di Kulon Progo direncanakan juga akan memanfaatkan bahan baku dari daerah lain di Indonesia.maka akan sangat membantu. mulai dari penambangan bahan baku sampai industri pengolahan bahan baku baja. Beberapa keuntungan yang akan diperoleh pemerintah dan masyarakat antara lain: a) Terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas baik di industri utama maupun industri pendukungnya sehingga mengurangi pengangguran di Kulon Progo b) Peningkatan pendapatan pemerintah/Daerah yang sangat besar dari pajak. 5. d) Secara kepentingan nasional dapat memasok kebutuhan pig iron PT. budaya. Beberapa hal yang dijadikan dasar adalah: a) Secara prosedur perizinan di bidang pertambangan. Peraturan Bupati Kabupaten Kulon Progo No. Wates. meningkatkan pendapatan masyarakat. Wates. 055/JMM/IX/2006 tgl 22 September 2006. 40 Tahun 2005 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Pantai Selatan Tahun 20052015. JMM di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo tersebut. dan PAD. kegiatan tersebut sudah sesuai dengan RTRW Kabupaten Kulon Progo. Kabupaten Kulon Progo dalam Angka 2006/2007.. sehingga akan mempercepat proses pembangunan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Kulon Progo. dan pendapatan lain yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. d) Prospek investasi untuk pengembangan industri di atas diperkiraan mencapai US$ 600 juta (Rp. terutama antara sektor pertanian dengan sektor pertambangan. 2005. keagamaan dan lainnya. Krakatau Steel (sesuai Head of Agreement 22 Januari 2007). kesehatan. c) Dengan adanya program pengembangan masyarakat (Community Development) akan membantu mengembangkan masyarakat terutama dalam bidang ekonomi.

Bahan sosialisasi rencana penambangan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo kepada masyarakat. Nomor 13. 2006b. Jogja Magasa Mining. Wates. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Kulon Progo 20022007. Jogja Magasa Mining. 2007. Yogyakarta. PT. Ringkasan hasil eksplorasi pasir besi pada wilayah KK PT. PT. Indo Mines Ltd. 16 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. JMM dan PT. PT. Januari 2009 : 1 – 16 . 2008.BPS Kabupaten Kulon Progo. Aplikasi Kontrak Karya untuk Pengembangan Pasir Besi di Kabupaten Kulon Progo. 2006a. Jogja Magasa Mining.

sistem pembakaran batubara pada rumah tangga dan industri kecil umumnya menggunakan sistem grate atau kisi. Untuk pembuatan briket batubara skala kecil dengan kapasitas 2. hammer mill. Among the target.go. dan mesin briket sistem double roll. revisi pertama : 06 Desember 2008..3 mm. double roll mixer. rancangan proses.RANCANGAN PROSES PEMBUATAN BRIKET BATUBARA NONKARBONISASI SKALA KECIL DARI BATUBARA KADAR ABU TINGGI SUGANAL Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. research on briquetting by using coal with high ash content was carried out including the design of process. Jenderal Sudirman No. double roll mixer.58 miliar dengan jumlah karyawan 13 orang. Suganal 17 . However. therefore it can be applied widely. design process. coal briquetting is considered necessary. Salah satu sasaran pemanfaatan batubara adalah industri kecil dan rumah tangga.34% menjadi 33% dalam energi bauran pada tahun 2025.5 ton/hour requires main equipments such as jaw crusher. Keywords : coal briquette. coal burning system in households and small scale industries are generally applied grate system. hammer mill. Kata kunci : briket batubara. Berdasarkan hal tersebut. which needs large coal particles (±4 cm). the use of coal is for small scale industries and households. kadar abu tinggi. 623.id Naskah masuk : 11 November 2008. with 13 employees. maka dilakukan penelitian pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi termasuk pembuatan rancangan proses serta biaya investasi agar dapat diterapkan pada masyarakat. and double roll briquetting machine.0 kg/ cm2. revisi terakhir : Januari 2008 ABSTRAK Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu ditingkatan dari 15. A small scale coal briquetting with the capacity of 2. Bandung email : suganal@tekmira. Akan tetapi. Oleh karena itu perlu dilakukan pembriketan batubara.esdm. Kebutuhan dana investasi sebesar Rp 1. ukuran serbuk batubara – 3 mm dan tekanan pembriketan 200 kg/cm2.investasi ABSTRACT Blue Print of the 2006 National Energy Management appointed that the use of coal needs to be increased from 15. sehingga memerlukan butiran batubara berbutir besar (± 4 cm). high ash content.34% to 33% in the 2025 energy mix. size of coal particles was .58 million. and pressure of 2. revisi kedua : 12 Desember 2008. For this reason.. Investment cost was Rp 1. investment Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .5 ton/jam diperlukan peralatan utama yang terdiri atas jaw crusher. Hasil menunjukkan bahwa bahan pengikat proses pembriketan adalah molases. Result shows that the briquette binder was molasses. Based on this purpose.

terutama untuk kebutuhan industri kecil dan rumah tangga mengingat minyak tanah semakin langka. Namun. Nomor 13. 2006 ).8 mesh) ditambahkan bahan pengikat berupa tepung tapioka atau serbuk tanah liat – 60 mesh atau molases. dan pengeringan. maka dilakukan penelitian pembriketan batubara sebagai upaya untuk memanfaatkan batubara dengan kadar abu tinggi tersebut. sedangkan minyak bumi hanya dapat bertahan sampai 23 tahun (Yusgiantoro. 2004). Ukuran butir briket batubara sekitar 4 . Meskipun briket batubara telah disosialisasikan sejak lama. Berdasarkan informasi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. Atas dasar beberapa pertimbangan tersebut di atas. pencampuran dengan bahan pengikat.com). yaitu hanya ± 27.komarindustries. dkk. dkk. Januari 2009 : 17 – 30 . sebagian batubara Indonesia berkadar abu tinggi dan relatif kurang diminati oleh industri besar maupun sebagai komoditas ekspor. Jumlah bahan pengikat yang optimal adalah (Suganal. kemudian dilanjutkan penggerusan dengan hammer mill sampai berukuran – 3 mm. bahan baku batubara yang beraneka ragam ukuran butirnya. umumnya sebagian dari batubara tersebut adalah batubara peringkat rendah dengan kadar air tinggi dan mudah pecah terkena terpaan perubahan cuaca. diseragamkan melalui pemecahan. jika menggunakan serbuk tanah liat sekitar 10%. Serbuk batubara dengan ukuran – 3 mm (. jika menggunakan molases sekitar 8%.12 cm tergantung kebutuhan penggunaan (Schinzel. PENDAHULUAN Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu ditingkatkan dari 15. Perpindahan bahan pada proses penggerusan dilakukan menggunakan conveyor belt atau pneumatic conveyor. Batubara dari stockpile digerus menggunakan alat jaw crusher dan hammer mill. 2006). Bagan alir secara umum terlihat pada Gambar 1. 2. 1961 ). TINJAUAN PUSTAKA Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Briket adalah perubahan bentuk material yang pada awalnya berupa serbuk atau bubuk seukuran pasir menjadi material yang lebih besar dan mudah dalam penanganan atau penggunaannya (http:// www. 2004) : jika menggunakan tepung tapioka maksimum sekitar 3% berat. untuk memacu peningkatan produksi dan penggunaan secara nasional.34% pada tahun 2005 menjadi 33% dalam bauran energi pada tahun 2025 (Pusat Informasi Energi.1. Harga briket batubara bila disetarakan dengan harga minyak tanah jauh lebih rendah sehingga cocok digunakan untuk rumah tangga dan industri kecil (Suganal. Oleh karena itu perlu pembriketan batubara (Suganal.1. Perubahan ukuran material tersebut dilakukan melalui proses penggumpalan dengan penekanan dan penambahan atau tanpa penambahan bahan pengikat. 2008). Upaya perbaikan cara penyalaan dan memperkecil biaya produksi dilakukan dengan menggunakan anglo atau kompor briket batubara yang dilengkapi dengan blower. terus menerus dan memperkecil radiasi panas dari bagian bawah anglo (Suganal. Meskipun cadangan batubara cukup besar. Produk dari jaw crusher berukuran – 2 cm. penggerusan dan pengayakan kemudian dicetak dengan mesin briket.000 ton per tahun. kuantitas penggunaannya masih sangat kecil. 18 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Pemanfaatan batubara dalam bentuk briket batubara saat ini adalah sangat tepat. 2006). 2. Sementara itu. untuk pengganti minyak tanah pada industri kecil maupun rumah tangga. pencetakan. agar pasokan udara pembakar cukup lancar. Hal ini antara lain karena sulitnya penyalaan awal mengingat briket batubara merupakan bahan bakar padat. Penggunaan batubara peringkat rendah akan tepat untuk kegiatan rumah tangga dan industri kecil padat energi yang tidak memerlukan panas tinggi. penggunaan batubara sebagai sumber energi masih dapat bertahan sampai 146 tahun. Tujuan penelitian ini adalah merancangan proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil menggunakan batubara dengan kadar abu tinggi melalui teknologi pembuatan briket batubara sederhana. sehingga memerlukan butiran batubara berbutir besar (± 4 cm). Secara garis besar pembuatan briket batubara nonkarbonisasi meliputi: penggerusan batubara. Dalam hal briket batubara. penggunaan batubara pada rumah tangga dan industri kecil umumnya menggunakan sistem grate atau kisi.

Cara lain adalah mencampurkan batubara dengan tapioka dalam kondisi kering kemudian disemprotkan uap basah dari boiler. 2002. Pencampuran berlangsung pada kondisi kering kemudian ditambahkan air sampai terbentuk adonan yang lembab. 2002 .jp/sekitan). Penggerusan batubara dapat menggunakan jaw crusher dan dilanjutkan dengan hammer mill (Perry.det. kemudian dipanaskan sampai membentuk gel. Alat pencampur tersebut berupa dua buah roda berputar ber keliling dalam suatu bejana dan dilengkapi dengan scrapper (penggaru) untuk mengaduk material obyek pencampuran. 2.det. Pencampuran bahan pengikat dilaksanakan dalam suatu mixer.csiro. perhitungan dimensi dan kapasitas peralatan dan perkiraan harga peralatan.go.au/ energy center). Pencampuran bahan pengikat dipilih double roll mixer atau pan muller (Perry. terlebih dahulu tepung tapioka ini dibuat gel. sehingga produk briket tak perlu dikeringkan kembali. Tekanan pembriketan adalah 200 kg/ cm2. Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Dalam rangka realisasi suatu produksi diperlukan rancangan proses yang antara lain meliputi pembuatan neraca massa dan neraca energi. Suganal 19 . 2008). Untuk pencampuran bahan pengikat berupa tepung tapioka. T.. Pencetakan briket dilakukan dengan mesin briket. 2005. Umumnya digunakan roll mixer. penentuan jenis peralatan atau perangkat produksi. Suganal. (Maruyama.2. Untuk bahan pengikat berupa serbuk tanah liat. yaitu penggerusan batubara. Serbuk kapur padam berfungsi sebagai material pengikat senyawa sulfur agar lebih bersifat ramah lingkungan. Tahap Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .Biomassa Gambar 1. Briket batubara nonkarbonisasi tanpa bahan pengikat pada umumnya menggunakan mesin briket double roll tetapi bertekanan tinggi (>200 kg/cm2) (Clark. Pencetakan briket biobatubara dilaksanakan dengan mesin double roll bertekanan tinggi. Untuk briket bentuk bantal umumnya dicetak dengan mesin briket double roll (http:/www. Campuran batubara dengan bahan pengikat disebut adonan yang siap untuk dicetak dalam mesin briket.nedo. 2004). Pada pembuatan briket biobatubara.au/energy center) Pembuatan briket biobatubara juga merupakan pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi (Maruyama. yaitu 3 ton/cm². pembriketan dan pengeringan. pencampuran bahan pengikat. Pada pembuatan briket batubara terdapat beberapa tahap proses yang relatif sederhana. Untuk briket batubara bentuk sarang tawon dicetak dengan mesin briket tipe silinder. pencampuran dapat langsung dilaksanakan dalam mixer dengan cara menambahkan tepung tanah liat sebanyak 10% dari berat batubara. namun terdapat sedikit perbedaan karena adanya penambahan biomassa dan acapkali ditambahkan pula serbuk kapur padam. 2008). Cara yang sederhana adalah mencampur tapioka dengan air dengan kompsisi 1:8.csiro. http:/www. http:/ www.. bahan baku batubara dan biomassa terlebih dahulu mengalami proses pengeringan.

· Pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. 3.2. yaitu : · Analisis contoh bahan baku (batubara) dan produk (briket batubara). kecuali untuk kapasitas besar sekitar lebih dari 10 ton per jam.2. dan · Penyusunan rancangan proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. METODOLOGI shatter test.pembriketan batubara cukup dilakukan dengan mesin briket sistem double roll atau double roll press machine (Perry. 3. serbuk kapur padam sebagai desulfurization agent dan molases sebagai bahan pengikat. Bagan alir pembuatan briket biobatubara 20 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Nomor 13. Briket biobatubara dibuat dengan mencetak adonan yang berupa campuran dari batubara. kadar abu. Januari 2009 : 17 – 30 . Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Kegiatan rancangan proses pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi meliputi beberapa kegiatan.1. Kadar air 5% Cutter Ø< 3mm. 3. Metode analisis menggunakan ASTM. Bahan baku terdiri atas : Batubara. yaitu briket biobatubara dan briket batubara. 3. Pembuatan briket biobatubara Prosedur pembuatan briket biobatubara dapat dilihat pada Gambar 2. sedangkan briket batubara dibuat hanya dari campuran batubara dan bahan pengikat tepung tapioka atau molases. Kadar air 5 % Molases   Mixer Adonan  briket Ø< 3mm. Selain itu untuk briket batubara juga dilakukan pengujian drop serbuk gergaji  ±  20 % air   Bahan imbuh (kapur padam) Batubara ± 5% air Dryer 120oC ±  10  %  air Crusher Ø< 3mm. 2008). untuk VM D-3175 – 1989. nilai kalor dan sulfur total. moisture D-3173-1979. Bandung. kadar zat terbang. Analisis Contoh Bahan Baku dan Produk Penelitian pembuatan briket batubara nonkarbonisasi dibuat dalam dua jenis. karbon padat). serbuk kayu sebagai biomassa. nilai kalor D-5865-04 sedangkan untuk kadar abu D-3174-04.    kadar  air 10% Mesin Briket Briket basah Keranjang Berkisi Briket biobatubara       Gambar 2. Pengeringan briket batubara umumnya dilakukan dengan cara penjemuran di udara terbuka. Pengering yang umum digunakan adalah band dryer. Kegiatan analisis berlangsung di Laboratorium Batubara Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. digerus dengan jaw crusher dan hammer mill sampai menghasilkan batubara dengan Batubara kadar abu tinggi sebagai bahan baku yang berasal dari Kalimantan Selatan dan batubara hasil pembriketan sebagai produk dianalisis terhadap proksimat (kadar air.1.

kapur padam = 5%. serbuk kapur padam dan molases dimasukkan ke unit mixer untuk dilakukan pengadukan agar mendapatkan campuran bahan yang merata dan disebut adonan. Pembuatan briket batubara Pembuatan briket batubara dilakukan sesuai dengan bagan alir seperti terlihat pada Gambar 3. Suganal 21 . Molases dengan kadar air 32%. Briket biobatubara yang terbentuk dimasukkan dalam keranjang berkisi dan dikeringkan di udara terbuka. Serbuk kapur padam. sebagai biomassa dikeringkan dan digerus dengan mesin cutter sampai berukuran . Produk briket biobatubara dianalisis dan dicocokkan dengan standar baku mutu. Palimanan (Suganal.3 mm dan kadar air 10%. serbuk kayu dan kapur padam.. serbuk kayu.- ukuran butir – 3mm. Adonan yang diperoleh dicetak dengan mesin briket double roll tipe kenari pada tekanan pembriketan 3 ton/cm2. Komposisi tersebut merupakan komposisi ideal berdasarkan hasil penelitian pembuatan briket biobatubara di Pilot Plant Briket Biobatubara. berukuran – 3mm dan kadar air 5%. Kadar air ± 5%  Ø> 5 cm Crusher Batubara Kadar air ± 5%  Ø~ 1‐2 cm Mill Batubara Kadar air ± 5%  Ø~ ‐3 mm (‐8mesh) Gel tapioka Mixer Adonan briket Mesin Briket Briket basah Keranjang Berkisi Briket Batubara Gambar 3. Suganal 2004).2.2. molases = 5% dari jumlah berat campuran batubara.. Komposisi adonan adalah batubara = 90%. Bagan alir pembuatan briket batubara Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . 3. Serbuk kayu. 2003. Prosedur pembuatan briket biobatubara : Semua bahan baku berupa batubara. serbuk kayu = 5%.

Kualitas Briket Batubara Nonkarbonisasi 4. Tabel 1.555 diperkirakan masih memenuhi batas minimal nilai briket batubara nonkarbonisasi. maka pembriketan batubara dapat langsung dilaksanakan tanpa harus dikeringkan dengan mesin pengering atau dryer. Pengamatan selama proses pencetakan briket. digerus dengan jaw crusher dan hammer mill sampai berukuran .34 2.3 mm. Hasil analisis fisik briket biobatubara sebagai berikut: Kuat tekan rata-rata : 48. Suganal.Bahan baku terdiri atas : · batubara.2.2. Kebutuhan tenaga operator juga disajikan dalam tulisan ini. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Analisis Bahan Baku Batubara Hasil analisis batubara dapat dilihat pada Tabel 1.0 % (Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006. 2004) segera dibuat neraca massa untuk menghitung kebutuhan peralatan dan spesifikasinya yang dilanjutkan dengan penyusunan tata letak peralatan dan perkiraan harga peralatan. yaitu 5. Prosedur pembuatan briket batubara : Batubara serbuk dicampur dengan gel tepung tapioka dalam roll mixer dengan komposisi 90% batubara serbuk dan 10 % gel tepung tapioka membentuk adonan briket batubara. % adb Kadar sulfur total. kkal/kg adb Nilai 5. tertanggal 11 September 2006.2 kg/cm2 Berat /butir : 17. Penyusunan Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi briket batubara yang menghendaki kadar sulfur total 1. Sebagai pelengkap disusun kebutuhan bangunan dan perkiraan biayanya berdasarkan data yang didapat dari perusahaan yang bergerak di sektor bangunan sipil pabrik.72 30. misalnya tapioka atau molases. · tepung tapioka.55%. 4.34 0. Januari 2009 : 17 – 30 . briket yang tidak sempurna harus dilakukan pembriketan ulang. Perkiraan harga dari tiap peralatan didapat dari bengkel pembuat peralatan. Hasil analisis batubara No 1 2 3 4 5 6 7 Parameter Total kelembaban % Air lembab. % adb Kadar karbon padat. Kualitas briket biobatubara Berdasarkan hasil analisis batubara sebagai bahan baku pembuatan briket biobatubara diketahui bahwa kadar air total batubara sangat kecil.08 gram Berdasarkan data komposisi adonan briket batubara dari hasil percobaan pembuatan briket batubara nonkarbonisasi tersebut dan data parameter proses lainnya pada penelitian briket batubara terdahulu (Suganal 2003. yaitu 4.3. dapat disimpulkan bahwa kadar sulfur total cukup rendah. tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara). % adb Nilai kalor. Berdasarkan standar baku mutu bahan baku briket batubara adalah maksimum 1. Adonan yang diperoleh dicetak dengan mesin briket double roll tipe kenari pada tekanan pembriketan 3 ton/cm2.0%.1. Produk briket batubara dianalisis dan dicocokkan dengan standar baku mutu yang tercantum pada Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 Tahun 2006 tertanggal 11 September 2006 tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara.39 28. %.56 %. diketahui bahwa rendemen atau perolehan pembriketan hanya mencapai 80%.400 kkal/kg. Namun kadar abu relatif sangat tinggi dan nilai kalor relatif rendah sehingga bahan pengikat yang akan ditambahkan harus serendah mungkin. adb Kadar abu. Briket batubara yang terbentuk dimasukkan dalam keranjang berkisi dan dikeringkan di udara terbuka. Berdasarkan hasil analisis dalam tabel tersebut. Meskipun nilai kalor batubara relatif rendah.57 4. 4. Dengan demikian.34% dan kadar air lembab hanya 2. yaitu 0. dibuat menjadi gel dengan cara mencampur 5 kg tapioka dengan 100 liter air panas dan diaduk sampai homogen. % adb Kadar zat terbang. Nomor 13.1. lebih rendah daripada standar baku mutu bahan baku 22 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. 4. Hal yang menguntungkan pada batubara Kalimantan Selatan tersebut di atas adalah kadar sulfur total cukup rendah.55 38. 2003). Komposisi adonan tersebut merupakan komposisi ideal berdasarkan rekaman catatan pada kegiatan ujicoba produksi briket batubara nonkarbonisasi di Pilot Plant Briket Biobatubara Palimanan (Suganal. 3. Hal ini berarti sejumlah 20% adonan terdapat tidak tercetak dengan baik atau 20% briket yang tidak sempurna pencetakannya.

agar briket batubara yang dihasilkan masih mempunyai nilai kalori di atas persyaratan baku mutu. Setelah dilakukan pengujian drop shatter test. yaitu batas terendah persyaratan baku mutu standar briket batubara nonkarbonisasi..57 0. fraksi butiran dengan ukuran + 19 mm menjadi 81. 4.0 -19. Analisis drop shatter test tersebut memberikan indikasi bahwa dalam transportasi maupun penyimpanan yang rentan terhadap gesekan atau jatuh dari suatu ketinggian.93 Rendahnya nilai kalor briket biobatubara disebabkan oleh penambahan biomassa dan penambahan kapur. briket setelah % drop shatter test. Hal ini berarti sejumlah 10% adonan tidak tercetak dengan baik atau 10% briket tidak sempurna pencetakannya. Jika dibandingkan dengan pembuatan briket biobatubara tersebut di atas.62 2. terlihat bahwa fraksi kumulatif distribusi ukuran butir briket biobatubara yang dominan (+ 19 mm) adalah sebesar 95. dapat dilihat bahwa kadar sulfur sangat rendah sehingga masih dalam ambang batas yang diizinkan sesuai spesifikasi standar briket batubara. Dengan demikian. Demikian pula penambahan biomassa bertujuan mempercepat terjadi penyalaan awal karena biomassa mempunyai kadar zat terbang lebih besar dibanding batubara (Suganal.400 kkal/kg.2.35 . 2004).0 + 12.65 27. kkal/kg.66 4. maka perolehan pencetakan briket batubara lebih mendekati sempurna. Spesifikasi briket biobatubara dapat dilihat pada Tabel 3.60 1. 2002). perubahan ukuran (remuk) yang dialami relatif kecil.5 + 6. Hasil analisis briket biobatubara No 1 2 3 4 5 6 Parameter Air lembab. Pada penelitian pembuatan briket biobatubara sebelumnya (Maruyama.5%. Hasil drop shatter test dapat dilihat pada Tabel 2.65 0.67 gram Perbandingan sifat fisik dari briket biobatubara berbahan pengikat molases dengan briket batubara berbahan pengikat tepung tapioka menunjukan bahwa pembriketan dengan bahan pengikat molasses mempunyai sifat fisik lebih tinggi.93 0. adb Nilai 3. Bukaan ayakan.Jenis analisis fisik lainnya adalah drop shatter test yang hasilnya dibandingkan dengan distribusi ukuran briket biobatubara sebelum dilaksanakan drop shatter test.8 kg/cm² Berat /butir : 11. Namun nilai kalor juga rendah. Tabel 2. bahkan kurang dari 4.5 + 25 -25 + 19.31 8. Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . mm -50 + 37. Distribusi ukuran briket biobatubara No.54%.97 85. % adb Kadar sulfur total. adb Kadar abu.35 1 2 3 4 5 6 7 Fraksi berat Fraksi berat briket awal.26 1.19 3. 2008).5 -12. % adb Kadar zat terbang. Penambahan serbuk kapur juga menimbulkan penurunan nilai kalor dan menambah kadar abu karena kapur bersifat inert dan tidak mempunyai nilai kalor (bahan anorganik tanpa unsur karbon).3 -6. Hasil percobaan tersebut di atas menunjukkan bahwa pembuatan briket biobatubara dari batubara kadar abu tinggi dengan bahan pengikat molases menghasilkan sifat fisik yang baik tetapi sifat kimianya sedikit di bawah persyaratan baku mutu briket batubara. % adb Kadar karbon padat. Suganal 23 .289 Dari Tabel 3. berupa serbuk gergaji yang digunakan mempunyai nilai kalor sekitar 3.71 69. diperlukan penambahan serbuk kapur sebagai material pengikat gas SO2 dalam gas buang pembakaran briket tersebut. Tabel 3. Berdasarkan Tabel 2.71 31.500 kkal/kg dan kadar abu umumnya kurang dari 5% (Perry.71 36. Dengan demikian perubahan ukuran butir yang terjadi relatif kecil. Kualitas briket batubara Pengamatan selama proses pencetakan briket.3 + 3. sehingga penambahan tersebut akan mengurangi nilai kalor hasil briket biobatubara.3.86 4. Pada prinsipnya mencetak adonan briket tanpa campuran biomassa akan lebih mudah karena batubara tidak bersifat kenyal saat ditekan pada pencetakan.04%.. untuk pembuatan briket biobatubara dalam skala komersial tidak perlu penambahan kapur. Briket yang tidak sempurna pada umumnya dilakukan pembriketan ulang. yaitu 13. % adb Nilai kalor.5 -37.2. %. % 9.33 11. diketahui bahwa rendemen atau perolehan pembriketan mencapai 90%. Hasil analisis fisik briket batubara adalah : Kuat tekan rata-rata : 37.

52 4 -12. 2003.86 11. Dalam hal nilai kalor.63 0. dan hasil kegiatan penelitian Kapasitas pabrik briket batubara skala kecil adalah 2. tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara. 1961). adb Kadar abu. dan perhitungan peralatan untuk merealisasikan operasi dari masing-masing tahap proses (Perry. Berdasarkan hasil analisis batubara dan briket batubara serta data percobaan lainnya dibuat neraca massa dan energi secara sederhana seperti tercantum pada Gambar 4. adb Nilai 4.81 29. karena kadar sulfur total bahan baku batubara cukup rendah.41 5 -6.3 + 3. namun sifat biomassa yang kenyal acapkali briket yang dihasilkan menjadi kurang kuat. fraksi butiran dengan ukuran + 19 mm menjadi 37. yaitu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006.3 5. maka terlihat bahwa briket batubara dengan bahan pengikat kanji kurang kuat.35 5. analisis fisik melalui uji drop shatter test dan uji kuat tekan serta analisis kimia melalui uji proksimat dan nilai kalor terhadap produk briket biobatubara dan briket batubara yang telah diuraikan di atas. sifat fisik briket batubara relatif baik. Spesifikasi dari peralatan terlihat pada Tabel 6.80 3 -19. % adb Kadar sulfur total. Peralatan utama tersebut antara lain jaw crusher. meskipun penambahan biomassa dapat mempercepat penyalaan awal briket batubara. Jika dibandingkan dengan briket biobatubara berbahan pengikat molases pada Tabel 2. Rangkaian peralatan disusun menjadi bagan alir 24 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.27 30.412 Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 5. briket batubara sebelumnya (Suganal. terlihat bahwa mutu briket batubara dengan bahan pengikat tepung tapioka mempunyai sifat kimia yang lebih baik dibandingkan dengan briket biobatubara berbahan pengikat molases. Atas pertimbangan hasil penelitian pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi dan hasil penelitian tentang briket batubara sebelumnya. penggunaan molases relatif tidak menurunkan nilai kalor. penggunaan tepung kanji relatif tidak memengaruhi nilai kalor.80%. double roll mixer dan mesin briket.27 32. 5.35 1. 2004).5 + 25 2 -25 + 19. namun sifat fisik briket batubara kurang kuat. yaitu 0. Hal ini menunjukkan bahwa sifat fisik briket batubara dengan bahan pengikat tepung tapioka mempunyai kecenderungan remuk lebih besar dibandingkan dengan briket batubara berbahan pengikat molases.66 6 -3. maka diperoleh hal hal penting sebagai berikut: penambahan biomassa dan serbuk kapur padam akan menurunkan nilai kalor briket batubara dan menambah kadar abu briket batubara.66 13. Spesifikasi briket batubara dapat dilihat pada Tabel 5. Hasil analisis briket batubara No 1 2 3 4 5 6 Parameter Air lembab.400 kkal/kg adb).% 1 -37.5 ton/jam briket batubara.0 + 12.5 27. Berdasarkan hasil analisis bahan baku berupa batubara kadar abu tinggi.5 + 6.39 37. maka pada penerapan skala komersial dipilih bahan pengikat molases tanpa penambahan biomassa maupun serbuk kapur padam agar mutu briket batubara terjamin sesuai baku mutu yang telah ditetapkan. % adb Kadar zat terbang. % adb Kadar karbon padat.74 3.Tabel 4. tertanggal 11 September 2006. Suganal.99 Berdasarkan Tabel 4. Distribusi ukuran briket batubara No Bukaan ayakan. Tata letak peralatan terlihat pada Gambar 5. KONSEP RANCANGAN PABRIK BRIKET BATUBARA NONKARBONISASI SKALA KECIL Tabel 5. %. briket batubara tersebut masih dalam nilai yang diizinkan (> 4.68 4.57 %. Nomor 13. Januari 2009 : 17 – 30 . Fraksi berat Fraksi berat mm briket awal. 2008. terlihat bahwa fraksi kumulatif distribusi ukuran butir briket batubara yang dominan (+19 mm) adalah sebesar 59. % adb Nilai kalor. Peralatan proses pabrik briket batubara ditempatkan pada suatu bangunan berdasarkan prinsip ergonomis agar pelaksanaan produksi berlangsung lancar dan tidak terjadi duplikasi gerak manusia maupun alat.29 35.39%. Schinzel. briket setelah % drop shatter test. kkal/kg. Setelah dilakukan pengujian drop shatter test.0 59. tidak diperlukan penambahan serbuk kapur padam. hammer mill.

Main Bearing : self Aligning spherical roller bearings Bahan Konstruksi: .5 mm Fungsi Mencetak adonan briket batubara menjadi briket batubara Jumlah 1 unit Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .Rangka.Gear . 220/380 V Sistem Transmisi: Elektro Motor . besi profil. Suganal 25 ..Bahan cetakan : Baja cor FC 30 tahan tumbukan .397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Batubara Ø : 3-25 mm 2. 12 segmen .Main shaft : Baja poros high tensile strength . Nama Alat 1 Mesin Briket Tipe Telur Spesifikasi Tipe: double roll Sistem feeding : gravitasi/vertical feeding Kapasitas : 2.397 kg 3.537 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Uap air 37 kg Briket batubara basah 2.Hooper. module 11.Diameter roll : 620 mm .Gearbox: Worm Gear . shaft & bearing : .Basis : 1 jam operasi Molases 140 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Entalpi pada 25 ºC ~ 0 kkal Ø = ukuran butiran batubara   Jaw Crusher  Hammer Mill   Double Roll  Mixer        Mesin Briket Batubara Ø > 50 mm 2.Bentuk briket : telur/jengkol .Chain & Sprocket : RS 100 .500 kg Q = 0 kkal Temp : 25oC Keranjang Berkisi   Gambar 4.Cetakan : sistem segmen. transmision cover dan lain-lain: plat mild steel 5 mm Daya : motor listrik 10 HP.V Belt : 2 baris type B . Neraca massa dan neraca energi Tabel 6.Gear Box Chain & Sprocket . Kebutuhan peralatan No.Gear: Spur Gear.Berat briket : ± 60 gram per butir ..V Belt & Pulley . 15 cm x 10 cm x 12 cm .Ukuran briket : 52x52x35 mm .537 kg Q = 0 kkal Temp : 25oC Briket Batubara 2.5 ton/jam Roll.397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Adonan briket Molases : 140 kg Batubara : 2.397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Batubara Ø < 3 mm 2.

Cover system transmisi. plat mild steel 2 mm. Bahan Konstruksi: . Kebutuhan peralatan (lanjutan) No.Hooper.Rotor penghancur. plat baja 6 mm . tinggi ±120 cm .Daya : motor listrik 7. plat baja dengan pelapis tahan gesek (sistim las)/ manganase 1 steel 1 unit 26 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. plat mild steel 5 mm .Putaran : 20 s/d 30 RPM Bahan Konstruksi: . kaki penyangga. 220/380 Volt (1400 rpm) ukuran sedang Kapasitas: 1000 s/d 2000 Kg/jam Besar butir output <3 mm Feeding System : Screw feeder variable speed Bahan Konstruksi: .Shell.Rumah Crusher.Main shaft: Baja poros high tensile strength 2" . Jumlah 3 unit 3 Hammer Mill Tipe : Modified Squirel Cage Mill Menggiling batubara 1 unit Daya: motor listrik 10 HP. Januari 2009 : 17 – 30 .3 mm) dan molases.Kapasitas : 200 Kg/batch. baja dengan pelapis tahan gesek (sistim las/ manganase steel . Nomor 13. waktu 1 batch = 15 s/d 20 menit . plat mild steel 5 mm Main Shaft & Bearing : . plat mild steel 12 mm Blade pengaduk.Alas shell. besi profil 6 cm x 8 cm x 10 cm . plat mild steel 6 mm .Tabel 6. pipa Ø 4" .Rangka.Kaki penyangga.Jaw plate. V belt .Saringan. plat mild steel 12 mm atau 14 mm . Nama Alat 2 Double Roll Mixer Spesifikasi Tipe/Jenis : Pan Mixer dengan Blade pengaduk Diameter shell = ±120 cm. plat mild steel 10 mm dan 5 mm .Rumah Crusher.Main shaft : Baja poros high tensile strength 2½ inc Main Bearing : Tapered roller Bearings 2½ inc Fungsi Mencampur bahan baku berupa batubara halus (. besi profil 10 mm Main Shaft & Bearing : . chain & sprocket. 220/380 Volt . 3 mm atau 4 mm . Self Aligning Spherical Roller Bearings 2" (3mm – 25 mm) menjadi batubara berukuran – 3 mm 4 Jaw Crusher Tipe: Togle Jaw Crusher Memecah batubara Gap & Opening : 175 x 200 mm ukuran > 50 mm Daya : motor listrik 3 HP.5 HP. 220/380 V menjadi ukuran Putaran : ± 450 RPM sedang Kapasitas : 1000 s/d 2000 Kg/jam 3 mm – 25 mm Ukuran besar butir output: 3 s/d 25 mm.Main Bearing .Sistem Transmisi : Vertical Gear Box.Rangka alas kaki penyangga.

Drum.6 x 2.Rp 36. Gear box. besi profil L 7 cm .000.Rp 86.Rangka utama.35 – 40 cm lebar conveyor Kotak penampung batubara halus.Rp 86.000.Rp 88. plat mild steel 2 mm 4 mm .Kaki penyangga. tebal = 7.3mm) dengan molases Menggiling batubara ukuran sedang (3mm – 25 mm) menjadi batubara berukuran – 8 mesh Memecah batubara ukuran > 50 mm menjadi ukuran sedang 3 mm – 25 mm Memindahan material (batubara atau adonan briket) dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai posisi yang diinginkan Jumlah 1 unit 3 unit 1 unit 1 unit 4 unit Harga per unit Rp 134.000.000.. plat 6 mm .Rp 100.2 m Tinggi Total : 3.5 mm Panjang : 4 s/d 10 m tergantung keperluan Kapasitas: 1250 Kg/jam Daya : motor listrik 2 HP.Roll penyangga belt bagian bawah.000. 220/380 V System transmisi: V belt. kapasitas 12. Kebutuhan peralatan (lanjutan) No..- Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Suganal 27 . Nama Alat Spesifikasi .Cover system transmisi.800.Bearing : Pillow Block Bearings 1½” .000.55 m Bahan Konstruksi: . besi profil 15 cm .000. besi kanal C 15 .Tabel 6.Body.000.Main shaft: Baja poros high tensile strength 1½” .Rp 33.600.Rp 22.Cover system transmisi.5 m3 Ukuran kotak penampung = 3.Main shaft: Baja poros high tensile strength Bearing : Self Aligning Spherical Roller Bearings 2 “ – 3” Tipe : V flat belt Conveyor Belt: lebar = 40 cm. plat mild steel 5 mm Main Shaft & Bearing : . plat mild steel 2 mm 3 mm .Harga total Rp 134. pipa ø 3" Main Shaft & Bearing : .4 x 1.000.Hooper.Rangka. besi profil kanal 10 cm Fungsi Jumlah 5 Conveyor Memindahan 4 unit material (batubara atau adonan briket) dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai posisi yang diinginkan 6 Silo Menyimpan batubara halus sebelum dicampur dalam double roll mixer 2 unit Tabel 7. Chain & sprocket Bahan Konstruksi: . kaki penyangga.No Nama alat 1 Mesin Briket Tipe Telur 2 Double Roll Mixer 3 4 5 Hammer Mill Jaw Crusher Conveyor Fungsi Mencetak adonan briket batubara menjadi briket batubara Mencampur bahan baku berupa batubara halus (. Kebutuhan dana peralatan X Rp 1.Rp 36. pipa 0 8" .Kaki penyangga.

000.070.= Rp 1.920.Rp.000.937. 737.- Gambar 5.747..Rp. Kebutuhan dana peralatan (lanjutan) X Rp 1.- Catatan : harga tahun 2007 Jumlah = RP 1.000.000.800.Tabel 7.000.000 m2 Harga total Rp.000. Nama Bangunan 1 Bangunan pabrik 2 3 4 5 Fungsi Tempat melaksanakan operasi produksi briket batubara Gedung pengepakan Tempat pelaksanaan pengepakan produk briket batubara siap dikirim ke konsumen.070.000.800.000.+ RP 1.Rp. Januari 2009 : 17 – 30 . Kebutuhan dana bangunan No. 70.. Stockpile Tempat penimbunan bahan baku batubara Mes Karyawan Tem tinggal karyawan pabrik briket abtubara Penyiapan lahan Menyediakan lahan siap bangun luas 450 m2 81 m2 150 m2 90 m2 5.80.No Nama alat 6 Silo Fungsi Menyimpan batubara halus sebelum dicampur dalam mixer Jumlah 2 unit Harga per unit Rp 30.000.18.000.- Catatan : harga tahun 2007 Jumlah Rp 504.436.000. Tata letak peralatan 28 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.000.Rp.163.Jumlah kebutuhan dana = Rp 504.574.000.Harga total Rp 60.- Tabel 8.120.000. Nomor 13.120.000.

. Pada saat ini telah cukup banyak bengkel permesinan yang berhasil membuat peralatan pembuatan briket batubara skala kecil. Untuk wilayah Jawa. yaitu 38.555 kkal/kg dapat digunakan untuk pembuatan briket batubara dengan bahan pengikat molases atau tepung tapioka. Unit 1 Mesin pabrik 2 Pengeringan 3 4 5 Pengepakan Administrasi/kantor Manager Spesifikasi Tamatan STM Mesin Tamatan SLTP Tamatan SLTP Tamatan SLTA D3 Teknik Industri Fungsi/jabatan Mengoperasikan mesin pabrik /operator Mengatur proses pengeringan briket secara manual Mengepak produk briket batubara siap dikirim ke konsumen Mengatur administrasi kegiatan pabrik Menjalankan operasional pabrik Jumlah 7 orang 2 orang 2 orang 1 orang 1 orang proses seperti terlihat pada Gambar 6. Kebutuhan tenaga tercantum pada Tabel 9. Unit Alat 1 Mesin Briket Tipe Telur 2 Double Roll Mixer 3 Hammer Mill 4 Jaw Crusher 5 Conveyor 6 Silo Kualifikasi Tamatan STM Mesin Tamatan STM mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Fungsi/jabatan Mengoperasikan mesin briket/operator Mengoperasikan unit double roll mixer/ operator Mengoperasikan unit hammer mill/operator Mengoperasikan unit jaw crusher /operator Mengoperasikan conveyor Mengatur laju pengeluarn dan penyimpanan serbuk batubara Jumlah 1 orang 2 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang Tabel 10. sedangkan kebutuhan tenaga secara keseluruhan tercantum pada Tabel 10.. 6. bengkel bengkel tersebut terdapat di Bekasi. Bandung. Perkiraan harga pada tahun 2007 dari tiap peralatan dan bangunan tercantum pada Tabel 7 dan Tabel 8.39 %. Untuk kepentingan operasi pabrik briket tersebut diperlukan tenaga terampil untuk menjalankan mesin-mesin maupun perlistrikan lingkungan pabrik.412 kkal/kg. Mutu briket batubara hasil percobaan masih memenuhi persyaratan briket batubara dengan nilai kalor 4. Suganal 29 . nilai kalor 4. Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil Tabel 9. Bahan baku briket batubara relatif kering.Gambar 6. maka pembuatan briket tidak perlu melalui tahap – – Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Kebutuhan tenaga kerja total No. Tegal dan lain lain. – KESIMPULAN Batubara Kalimantan Selatan dengan kadar abu tinggi. Kebutuhan tenaga kerja sebagai operator peralatan No.

Jaringan Kerjasama Kimia Analitik Indonesia. Untuk pembuatan briket skala kecil dengan kapasitas 2. Blue print Pengelolaan Energi Nasional. Paparan Seminar Gasifikasi Batubara Peringkat Rendah. Briquetting. dkk. 2006. Peran Strategis Gasifikasi Batubara Untuk Memperkuat Ketahanan Energi Nasional. Prosiding 30 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. http:/ www. Jakarta. Nomor 13. diperlukan dana investasi sebesar Rp 1. 2003. Pusat Informasi Energi. T.. Perry. 2002. India. Chemistry of Coal Utilization.csiro. Yogyakarta 6-7 September 2004. Texas.jp/sekitan – – DAFTAR PUSTAKA Clark. 7 Desember 2006. Yusgiantoro.go. Mc Graw Hill Book. Penggunaan Serbuk Gergaji Pada Pilot Plant Briket Biobatubara Palimanan. tidak disarankan penambahan bahan pengikat berupa serbuk tanah liat dan material imbuh lain seperti serbuk kapur padam dan lainnya. John Wiley&Son. 2008. Peralatan dan mesin relatif sederhana dan dapat dirakit di dalam negeri Seminar nasional III. Binderless Coal Briquetting company Pty Limited Maruyama. http:/www.. http:/www.H. Suganal. Perangkat Pembakaran Batubara Pada Industri Kecil dan Rumah Tangga dalam Rangka Optimalisasi Energi Nasional.unire-jp.komarindustries.. http:/www. 2006. W.nedo.2005. Suganal.det..58 miliar. Suganal. The Komar Briquetting System. http:/www. Evaluation of coal from PT Berau’s coal lati and Bunyu mine for binderless coal briquetting.. Briquette Production Technology. P. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral.com/bb activities …………. R.. 2005. K..com/engbicoal. Jurusan FMIA UGM. Prosiding Seminar Kimia Nasional XIV. Chemical Engineers’ Handbook. Jurusan Teknik Kimia.. Januari 2009 : 17 – 30 . 2007. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2008.. …………. Schinzel.au/energy center …………. Binderless Briquetting of Coal. Mei 2006. 2007. 2006.com …………. Seventh edition. Prosiding Seminar Kimia Nasional XV. Agustus 2003.5 ton/jam. Modifikasi Kompor Briket Batubara sebagai Upaya Peningkatan Penggunaan Briket Batubara dan Batubara Skala Nasional Pada Industri Kecil Padat Energi dan Rumah Tangga. dkk. Universitas Diponegoro Semarang. Yogyakarta. dalam Martin AE(editor). jumlah karyawan 13 orang. Suganal. Pengembangan Produk Pilot Plant Briket Biobatubara Di Palimanan. Bio Coal Plant Project.coalbriquettes. 2004. 2007. – Untuk menjaga penurunan nilai kalor..pengeringan. Binderless Coal Briquetting company. 2008. Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia. Yogyakarta. USA: 609-665. sedangkan bahan pengikat yang disarankan adalah molases. 1961.

rank Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4. blending. The use of other coal that has different quality with the Air Laya coal can disturb the operation power plant boiler. batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah. Tests on coal mill and coal combustion at higher scale that close to the real practical condition need to be carried out for evaluating the coal blend results. Kata Kunci: batubara. Slamet Suprapto 31 . Keywords: coal. Pengujian penggerusan dan pembakaran dalam skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan perlu dilakukan untuk mengevaluasi batubara hasil blending. power plant. However. In relation to the possibility of development of coal blending for the Suralaya Power Plant. South Sumatera with certain quality parameters. Dalam rangka melihat kemungkinan penerapan sistem blending batubara untuk pembangkit tersebut. especially calorific value.4 SLAMET SUPRAPTO Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. revisi pertama : 12 Desember 2008. sehingga parameter ini perlu diperhatikan mengingat parameter ini cenderung bersifat nonaditif. Penggunaan batubara lain yang spesifikasinya tidak sesuai dengan kualitas batubara Air Laya tersebut dapat mengganggu kelancaran pengoperasian ketel uap pembangkit. the high rank coal generally has low grindability index. study on the possibility of blending system for Indonesian coal has been carried out. 623. Bandung Naskah masuk : 26 Mei 2008. Namun demikian. coal blending system can be carried out between low rank coal (lignite) and high rank coal (bituminous) based on the coal quality parameter specification. Hasil kajian menunjukkan bahwa untuk mengatasi masalah pasokan batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4.BLENDING BATUBARA UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK STUDI KASUS PLTU SURALAYA UNIT 1. peringkat ABSTRACT The design of Suralaya Power Plant unit 1-4 that started to operate at the end of nineteen eighties was based on Air Laya coal. telah diadakan kajian kemungkinan blending batubara Indonesia. Sumatera Selatan yang termasuk batubara subbituminus dengan parameter kualitas tertentu. Results of the study showed that to overcome the problem of coal supply the Suralaya Power Plant unit 1-4. terutama nilai kalor. Jenderal Sudirman No. revisi terakhir : Januari 2009 SARI PLTU Suralaya unit 1-4 yang mulai beroperasi pada akhir tahun 80-an didesain sesuai dengan kualitas batubara Air Laya. and therefore this parameter needs to be considered since it tends to be nonadditive. revisi kedua : 19 Januari 2009. The study was based on the literature study of coal design parameter of the Suralaya Power Plant and Indonesia coal data. pembangkit listrik. blending. sistem blending dapat dilakukan antara batubara peringkat rendah (lignit) dan batubara peringkat tinggi (bituminus) sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara. Kajian dilakukan berdasarkan pengumpulan data spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4 dan data kualitas batubara Indonesia.

sehingga keterlambatan pasokan batubara Air Laya ke PLTU Suralaya dapat menganggu kelancaran operasi pembangkit.3% (Suprapto. Batubara peringkat yang lebih tinggi seperti batubara bituminus dan antrasit mempunyai nilai kalor tinggi dan kadar air rendah. TINJAUAN PUSTAKA Batubara Untuk Pembangkit Listrik Batubara merupakan bahan bakar padat yang terbentuk secara alamiah akibat pembusukan sisa tanaman purba dalam waktu jutaan tahun. 2007). PLTU Suralaya.000 kal/g (as received). yakni lignit 58. Sumatera Selatan yang termasuk dalam peringkat subbituminus dengan nilai kalor lebih dari 5000 kal/g. Endapan batubara Indonesia sebagian besar terdiri atas batubara peringkat rendah. Walaupun blending batubara sudah umum dilakukan dalam pembangkit listrik. PENDAHULUAN Mengingat potensinya yang paling besar di Indonesia. upaya peningkatan dan diversifikasi penggunaan batubara terus dilakukan. Walaupun pembangkit-pembangkit baru mulai dibangun. batubara telah ditetapkan sebagai bahan bakar alternatif utama pengganti bahan bakar minyak.7%. batubara peringkat rendah seperti lignit dan batubara subbituminus mempunyai kadar air tinggi dan nilai kalor rendah. Di samping itu.000 kal/g dan bahkan ada yang lebih dari 6000 kal/g.1. karena perannya dalam menunjang kelistrikan nasional tetap dibutuhkan. Tambahan lagi. Nomor13. Januari 2009 : 31 – 39 .000-an tersebut sudah mulai sulit diperoleh di pasaran. lingkungan pengendapan dan cara penambangan dapat memengaruhi kadar abu serta karakteristik abu (komposisi dan titik leleh abu). subbituminus 26. Pada tahun 2025. Batubara dengan nilai kalor 5.000 MW PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) berbahan bakar batubara (MinergyNews. Karakteristik pembakaran batubara dalam pembangkit listrik sangat dipengaruhi oleh kualitas batubara. sementara peringkat tinggi yakni bituminus 14. Batubara yang diekspoitasi saat ini umumnya batubara subbituminus dan bituminus yang sebagian besar sudah dialokasikan untuk memenuhi kontrak jangka panjang untuk ekspor atau kebutuhan dalam negeri. 2008) di PLTU Suralaya. 2002). Sedangkan batubara lignit baru mulai dieksploitasi terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. 2007). seperti misalnya bahan bakar minyak. Sebaliknya. 2.3% dan antrasit hanya 0. PT Indonesia Power (anak perusahaan PT PLN Persero) akan membangun coal blending plant (Kompas.000 kal/g. 32 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. batubara peringkat rendah umumnya mempunyai kecenderungan swabakar yang tinggi dan mempunyai sifat fisik yang rendah (mudah hancur). baik sebagai bahan bakar langsung maupun melalui konversi menjadi bahan bakar gas atau bahan bakar cair.1. Untuk mengatasi ketergantungan terhadap pasokan dari satu jenis batubara atau pemasok tersebut. 2007). Untuk pemanfaatan batubara sebagai bakar pembangkit listrik. karakteristik dan kualitas batubara sangat bervariasi dan tidak homogen dibandingkan dengan bahan bakar yang telah mengalami proses pengolahan dalam pabrik. atau bahkan dapat bervariasi dari lapisan satu ke lapisan lainnya pada daerah atau cekungan geologis yang sama. yakni 33% dibanding sumber energi lainnya (Suprapto. bukan berarti pembangkit-pembangkit listrik yang sudah lama akan ditinggalkan. Selain tingkat pembatubaraan atau peringkat (rank).Com. Hal ini mengakibatkan kualitas endapan batubara bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya.200 kal/g atau PLTU Ombilin kapasitas didesain menggunakan batubara peringkat bituminus dengan nilai kalori lebih dari 6000 kal/g (KONEBA.7%. PLTU Suralaya yang mulai beroperasi pada akhir tahun 1980-an saat ini masih merupakan salah satu andalan bagi sistem kelistrikan Jawa dan Bali. Batubara Indonesia yang masih belum banyak dimanfaatkan adalah batubara lignit dengan nilai kalor ± 4. kajian yang mendalam perlu dilakukan mengingat bervariasinya parameter kualitas batubara. PLTU Suralaya Unit 1-4 (4x400 MW) dirancang berdasarkan kualitas batubara Air Laya. kualitas suatu endapan batubara juga dipengaruhi oleh lingkungan pengendapannya. Sedangkan PLTU-PLTU yang sudah ada yang dibangun pada antara 1980-an sampai 1990-an didesain berdasarkan batubara yang mempunyai nilai kalor lebih dari 5. Untuk pembangkit listrik yang akan dibangun tersebut direncanakan digunakan batubara lignit dengan nilai kalori ± 4. Oleh karena itu. sumbangan batubara dalam bauran energi (energy mix) nasional diproyeksikan menjadi yang terbesar. Apalagi spesifikasi atau persyaratan kualitas batubara untuk PLTU tidak hanya ditentukan berdasarkan parameter nilai kalor. 2. Banten contohnya yang dibangun pada tahun akhir 1980-an didesain untuk batubara subbituminus dengan nilai kalornya rata-rata ± 5. Dalam rangka mencapai sasaran tersebut. saat ini sedang dibangun rencana 10.

1974). Sedangkan Riley (1989) menyatakan bahwa HGI dapat bersifat aditif asalkan perbedaan nilai HGI masing-masing batubara yang di-blending tidak lebih dari 10. Parameterparameter air. sehingga memungkinkan dapat memenuhi persyaratan konsumen. karbon padat. sistem blending dapat memberikan banyak keuntungan di antaranya: meningkatkan kelenturan (fleksibilitas) dan memperluas kisaran batubara yang dapat digunakan. zat terbang. Biasanya blending dilakukan antara batubara peringkat rendah dan peringkat tinggi. HGI menentukan cocok tidaknya batubara dengan penggerus yang ada. 2. kadar abu tinggi dan abu rendah. penggunaan batubara di luar spesifikasi juga dapat mengganggu karakteristik dan efisiensi pembakaran. keterlambatan pasokan batubara sesuai spesifikasi menyebabkan digunakannya batubara lain yang kualitasnya tidak memenuhi spesifikasi.2. Namun tidak semua parameter kualitas batubara campuran dapat diprediksi menggunakan data kualitas hasil perhitungan rata-rata berat. Bahkan banyak peneliti dan operator PLTU batubara kemudian mengembangkan model Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4. maka efisiensi menurun dan kadar karbon dalam abu meningkat. nitrogen. kadar abu. posisi burner. konfigurasi fisik dan luas perpindahan panas dalam ketel uap (boiler). Kebanyakan analisis dan pengujian parameter nonaditif di laboratorium tidak merefleksikan kondisi pembakaran yang sebenarnya dalam pembangkit listrik. 1991): kualitas atau karakteristik batubara. selain analisis dan pengujian laboratorium. hardgrove grindability index) (Savage. Kinerja mesin penggerus (pulverizer) biasanya berhubungan dengan nilai kalor dan sifat ketergerusan (HGI. masih diperlukan pengujian pembakaran dengan kondisi yang mendekati kondisi di lapangan. Oleh karena itu. klorin. Blending Batubara Blending merupakan cara terbaik untuk memperbaiki dan menyatukan sifat dan kualitas batubara dari daerah atau dengan jenis yang berbeda. kadar maseral. hidrogen. Kualitas batubara campuran (hasil blending) umumnya dihitung berdasarkan rata-rata berat data analisis dan pengujian yang diperoleh dari masingmasing batubara individu (yang dicampur). Hal ini dapat mengganggu kelancaran pengoperasian pembangkit listrik. Atau sebaliknya. Sedangkan nilai muai bebas. Kecenderungan pembentukan endapan abu tergantung komposisi dan titik leleh abu batubaranya. pengendapan abu (slagging dan fouling) dan karakteristik dan efisiensi pembakaran. Operasi PLTU tanpa penggerus cadangan ini sangat riskan dan dapat mengganggu kelangsungan operasi PLTU. dan nilai kalor cenderung bersifat aditif. diversifikasi pasokan batubara untuk keamanan pasokan. sehingga penggerus kemungkinan perlu ditambah atau penggerus cadangan perlu dioperasikan.Karakteristik pembakaran batubara dalam sebuah pembangkit listrik terutama dipengaruhi oleh (Reid. batasan yang ditentukan oleh desain boiler. Slamet Suprapto 33 . kadar belerang tinggi dan belerang rendah. Selain kinerja mesin penggerus dan pengendapan abu. oksigen. Mengingat hal tersebut di atas. karbon total. Pengendapan (deposisi) abu pada permukaan area perpindahan panas pada sebuah ketel uap adalah salah satu masalah yang paling serius yang dapat terjadi jika menggunakan batubara di luar spesifikasi. membantu mengatasi masalah yang terjadi apabila digunakan batubara yang di luar spesifikasi. batubara yang dipasok untuk sebuah pembangkit listrik seharusnya sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan. maka diperlukan jumlah batubara yang lebih banyak. kondisi operasional. titik leleh abu dan HGI umumnya cenderung bersifat nonaditif. Apabila digunakan batubara dengan kalori lebih rendah dari spesifikasi. Dalam suatu pembangkit listrik. maka idealnya desain suatu pembangkit listrik berbahan bakar batubara dibuat berdasarkan kualitas batubara yang akan digunakan. sehingga dapat menggunakan perhitungan tersebut. Menurut Hower (1988) HGI dapat bersifat aditif hanya untuk blending antara batubara dengan peringkat yang sama. sulfur. Sering terjadi. Jika pembakaran tidak sempurna. Hal ini dapat mengganggu kinerja electrostatic precipitator yang berfungsi menangkap abu terbang (fly ash) dan selanjutnya juga mempersulit pemanfaatan abu. Batubara keras atau dengan HGI rendah tidak cocok digerus pada penggerus yang dirancang untuk batubara lunak (HGI tinggi). Beberapa pengaruh yang dapat terjadi jika menggunakan batubara di luar spesifikasi (off design) pada pembangkit yang telah ada (existing) di antaranya adalah kinerja penggerus. Paramater yang nonaditif tersebut menyebabkan evaluasi terhadap batubara blending untuk pembangkit listrik menjadi kompleks. Data kualitas tersebut kemudian digunakan untuk memprediksi karakteristik pembakaran dalam ketel uap.

HASIL DAN PEMBAHASAN Spesifikasi Batubara Untuk PLTU PLTU Suralaya yang terletak di Merak. dasar kering udara (air dried basis) dan dasar kering (dry basis).berdasarkan data parameter nonaditif laboratorium. 3.225 kal/g dan kadar air maksimum 28. Yang dimaksud dengan batas minimum nilai kalor tersebut adalah batubara dengan nilai kalor 4. seperti dasar contoh asal (as received).80%) dan 0. titik leleh abu 1. Pengolahan Data Data kualitas batubara yang dikumpulkan umumnya masih bervariasi dasar analisisnya. Data kualitas batubara dikumpulkan Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya yang didasarkan atas kualitas batubara Air Laya dapat dilihat pada Tabel 1. Nomor13. Sedangkan parameter kualitas yang bersifat non-aditif.279°C (minimum 1010°C).3. 4. terutama nilai kalor. Untuk kelompok batubara lignit digunakan dua contoh.400 MW terdiri dari 7 unit. Secara matematis. karena terdapat lebih banyak parameter dan kemungkinan kombinasi blending.1. 34 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. 1985) sesuai untuk batubara peringkat subbituminus dengan nilai kalor dan kadar air masing 5. kadar abu dan kadar belerang. Pengumpulan data dilakukan melalui penulusuran makalah dan laporan yang berhubungan dengan PLTU Suralaya. Parameter kualitas bersifat aditif lainnya. indeks penerakan “medium” dan indeks fouling “tinggi”.000 kal/g.225 kal/g masih dapat digunakan dan menghasilkan keluaran (daya) listrik sesuai kapasitas pembangkit asalkan seluruh fasilitas penanganan (handling) dan penggiling (mill) dijalankan. Agar sesuai dengan spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya.2. tetapi keluaran listrik akan turun walaupun semua fasilitas penanganan dan penggiling batubara dijalankan. 3. Batubara dengan nilai kalor lebih rendah dari batas minimum tersebut juga bisa digunakan. Sumatera Selatan yang digunakan untuk dasar pembuatan desain PLTU Suralaya unit 1-4.80% (maksimum 12. untuk melengkapi data batubara Peranap dilakukan analisis dan pengujian contoh batubara di laboratorium. Januari 2009 : 31 – 39 . yakni kadar abu dan kadar belerang masingmasing 7. Banten yang mempunyai kapasitas terpasang sebesar 3. Data batubara tersebut didasarkan pada nilai kalor batubara >6.40% (maksimum 0. Batubara Air Laya. 4000-an kal/g atau kurang) dan batubara bituminus (nilai kalor tinggi. Spesifikasi tersebut (Kannan. mem-blending dua jenis batubara relatif mudah. yakni batubara dari daerah Musi Banyuasin dan Peranap (keduanya Sumatera Selatan).60%.000-an kal/g).242 kal/g (as received) dan 23. 6. pengujian pembakaran skala bangku (bench scale) dan kondisi nyata di lapangan. Rumus linier sederhana untuk blending batubara yang menggunakan parameter aditif adalah sebagai berikut (Carpenter. αnXn Xb α1 α2 αn X1 X2 Xn 3. Oleh karena itu. 1995): Xb = α1X1 + α2X2 + ….30%. 4. datanya dikumpulkan dari laporan dan internet.1. Karakteristik abu yang terdiri dari indeks penerakan dan indeks fouling yang menyatakan kecenderungan abu batubara membentuk endapan terak (slagging) dan fouling dihitung menggunakan data komposisi abu dan titik leleh abu batubara. yakni 4 x 400 MW (unit 1-4) dan 3 x 600 MW (unit 5-7). Pengumpulan Data Batubara Indonesia Pertimbangan pertama dalam pengumpulan data batubara adalah didasarkan pada peringkatnya. tetapi untuk tiga atau lebih jenis batubara akan menjadi lebih kompleks. yakni batubara lignit (nilai kalor rendah.90%). dengan pembatasan nilai kalor minimum 4. Software tersebut dikembangkan menggunakan persamaan linier untuk parameter kualitas batubara yang bersifat aditif. Di samping itu. Untuk batubara bituminus.8 (minimum 48). yakni diantaranya HGI 61. 3. maka semaksimal mungkin data tersebut dikonversikan ke dasar contoh asal. = parameter kualitas produk blending = proporsi batubara ke 1 dalam blending = proporsi batubara ke 2 dalam blending = proporsi batubara ke n dalam blending = parameter kualitas batubara ke 1 = parameter kualitas batubara ke 2 = parameter kualitas batubara ke n METODOLOGI Pengumpulan spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya terutama melalui laporan dan internet. software komputer yang sekarang banyak terdapat di pasaran dapat digunakan.

batubara peringkat tinggi dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3 (Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia. maka untuk menghasilkan listrik yang sama dibutuhkan ± 202 ton batubara/jam.80 0.19 3. Mesin penggiling yang tersedia untuk untuk 1 unit 400 MW tersebut tersedia sebanyak 5 buah yang masing-masing berkapasitas 65 ton batubara/jam (KONEBA.010 - Maksimum 28. % Kadar Abu. Namun demikian. % Kadar abu. Kedua batubara tersebut mempunyai sifat ketergerusan menengah.40 61. Sedangkan jika menggunakan batubara Peranap. kal/g Sulfur.350°C. Apabila kedua batubara peringkat rendah tersebut digunakan untuk PLTU Suralaya unit 1-4.11 54 1.30 4. 2008). Slamet Suprapto 35 .30% dan kadar belerang 0.30 12.242 0.90 - Rata-rata 23.Tabel 1. 2002).400 0. apabila digunakan batubara Air Laya Tabel 2. yakni masing-masing 54 dan 60.200°C dibanding abu batubara Bara Mutiara Prima yang deformasi awalnya sebesar 1. kal/g Sulfur. maka parameter kualitas yang tidak memenuhi spesifikasi adalah nilai kalornya. Normalnya.2.234 kal/g dan 4. yakni dengan deformasi awal 1.350 rendah* Rendah Catatan: * dihitung dari kadar abu dan titik leleh abu ( Lampiran 1) Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4. Oleh karena itu. Sedangkan indeks fouling keduanya termasuk klasifikasi “rendah”.30%. °C Indeks Penerakan Indeks Fouling Peranap (Sumsel) 49.200 tinggi* rendah* Bara Mutiara Prima (Sumsel) 30. % HGI Deformasi awal abu. indeks penerakan batubara Peranap termasuk klasifikasi “tinggi” dan batubara Bara Mutiara Prima termasuk “rendah”.30 60 1.19% dan 4.00 1.279 medium tinggi Catatan: as received = dasar contoh asal 4.11% dan 0. Dari data dua contoh batubara peringkat rendah yang dikaji. Apabila digunakan batubara Bara Mutiara Prima.8 1. Kualitas Batubara Indonesia Data kualitas batubara Indonesia yang terdiri atas batubara peringkat rendah. % HGI Tititk leleh abu (Deformasi awal). kedua batubara tersebut termasuk bersih dengan masing-masing kadar abu 1. batubara Peranap dan Bara Mutiara Prima mempunyai kadar air total masingmasing 49% dan 30% dan dengan nilai kalor 3.234 0. % Nilai Kalor. °C Indeks penerakan Indeks fouling Minimum 4. Data kualitas batubara Indonesia peringkat rendah Parameter (as received) Kadar Air.60 7. Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4 Parameter (as received) Kadar air.225 48 1.80 5. Titik leleh abu batubara Peranap cukup rendah. Normalnya untuk mengoperasikan 1 unit kapasitas 400 MW menggunakan batubara Air Laya dibutuhkan ± 170 ton batubara/jam. % Nilai kalor.400 kal/g (as received). maka dibutuhkan 275 ton batubara/jam.00 4. Batubara peringkat rendah mempunyai nilai kalor dicirikan terutama oleh tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor.

hanya dioperasikan 3 buah mesin, sehingga 2 mesin lainnya untuk cadangan. Apabila digunakan batubara Bara Mutiara Prima dibutuhkan 4 mesin, sedangkan 1 mesin untuk cadangan. Tetapi apabila digunakan batubara Peranap, maka seluruh mesin harus dioperasikan, sehingga tidak ada cadangan. Pengoperasian seluruh mesin penggerus tersebut dapat menimbulkan risiko gangguan terhadap operasi pembangkit listrik mengingat perlunya waktu perawatan setiap mesin. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan blending plant guna meningkatkan nilai kalor batubara peringkat rendah yang tersedia. Data kualitas batubara peringkat tinggi yang dikaji adalah sebanyak 14 buah, berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Selain dicirikan oleh tingginya nilai kalor dan rendahnya kadar air, batubara-batubara tersebut umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah atau sulit digerus dengan HGI kurang dari 50. Batubara Danau Mas Hitam mempunyai HGI bervariasi antara 40-60. Sedangkan batubara Kartika Selabumi yang mempunyai HGI tinggi atau mudah digerus, yakni sebesar 80. Tetapi batubara ini juga mempunyai nilai bebas yang tinggi yakni 9, tidak seperti umumnya batubara Indonesia yang mempunyai nilai muai bebas rendah. Kadar abu dan kadar belerang batubara peringkat tinggi bervariasi, masing-masing antara 2,0% sampai 19,48% dan 0,15% sampai 2,56%. Sedangkan data indeks penerakan dan indeks fouling hanya tersedia untuk batubara Kartika Selabumi dan Lana Harita. Batubara Selabumi mempunyai indeks penerakan dan indeks fouling klasifikasi “rendah”. Sedangkan untuk batubara Lana Harita klasifikasi “rendah” dan “medium”. 4.3. Blending Batubara

Yang masih perlu dipertimbangkan adalah HGI batubara peringkat tinggi, yang ternyata kebanyakan kurang dari 50. Walaupun HGI batubara peringkat rendah umumnya tinggi, mengingat parameter ini cenderung nonaditif maka HGI hasil blending belum tentu sesuai perhitungan. Apabila nilai HGI hasil blending ternyata lebih rendah dari nilai perhitungan maka kapasitas atau keluaran penggerus turun atau kehalusan produk penggerusan dapat menurun. Menurunnya keluaran penggerus dapat menurunkan keluaran listrik. Sedangkan menurunnya kehalusan batubara dapat menyebabkan menurunnya efisiensi pembangkit dan meningkatnya kadar karbon tak terbakar dalam abu batubara. Untuk mengkaji lebih mendalam, maka pengujian penggerusan dan pembakaran skala yang lebih besar seperti skala meja atau skala yang lebih mendekati kapasitas nyata di lapangan perlu dilakukan sebelum mengaplikasikannya pada kondisi sebenarnya. Batubara Kartika Selabumi mempunyai nilai kalor cukup tinggi, yaitu 7.889 kal/g dan juga HGI yang tinggi yakni 80, tetapi nilai muai bebasnya sangat tinggi mencapai 9. Normalnya, nilai muai bebas batubara untuk pembangkit listrik maksimum 4 (Rance, 1975). Tambahan lagi nilai muai bebas merupakan parameter nonaditif, sehingga karakteristik pembakaran batubara hasil blending batubara ini tidak dapat diprediksi dari masingmasing batubara yang akan di-blending. Selain HGI, karakteristik abu yakni kecenderungan penerakan dan fouling juga perlu dipertimbangkan. Mengingat data indeks penerakan dan indeks fouling kebanyakan tidak tersedia, maka parameter tersebut perlu dilengkapi. Apalagi jika hasil uji di laboratorium dan perhitungan menyatakan kecenderungan kedua indeks tersebut termasuk klasifikasi “tinggi”, maka uji pembakaran pada kondisi yang mendekati ketel uap perlu dilakukan. Pengendapan terak abu terjadi di daerah ruang bakar atau radiasi, sedangkan endapan fouling terjadi pada daerah yang lebih dingin yakni pada pipa-pipa ketel uap. Apabila terak abu yang menempel di dinding tungku (ruang bakar) sulit diambil maka perpindahan panas ke dinding akan menurun dan selanjutnya efisiensi pembakaran juga menurun (Elliot, 1981). Endapan fouling yang terjadi pada pipa ketel uap menyebabkan penyempitan pada deretan pipa yang selanjutnya mempercepat laju alir gas buang. Hal ini dapat menyebabkan naiknya suhu gas buang dan juga erosi terhadap pipa ketel uap.

Blending yang dilakukan didasarkan pada pencampuran kalori rendah dengan kalori tinggi atau antara batubara peringkat rendah dengan peringkat tinggi. Berdasarkan data kualitas tersebut di atas, blending batubara Indonesia antara peringkat rendah dan peringkat tinggi dapat dimungkinkan untuk memenuhi persyaratan nilai kalor sebesar 5.242 kal/ g (as received) dan parameter yang bersifat aditif lainnya, seperti misalnya kadar air, kadar abu dan kadar belerang. Dengan menggunakan rumus (perhitungan rata-rata) linier, maka jumlah proporsi masing-masing batubara yang dicampur dapat ditentukan untuk memenuhi parameter spesifikasi ketel uap PLTU Suralaya 1-4.

36

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39

Tabel 3.

Data kualitas contoh batubara Indonesia peringkat tinggi

Parameter (as received) Lumut 12 3,70 - 9,26 6.021 - 6.947 0,22 - 1,44 45 - 55 Mandiri Inti Perkasa Blok A 14-18 2,81 - 4,69 6.200 - 6.400 0,28 - 0,66 46 - 49 1.200 Kartika Selabumi Mining

Allied Indo Coal Parambahan 9,5 3,8 6.240-6.294 0,54 48 Fajar Bumi Sakti 8 (adb) 7 (adb) 6.700 (adb) 42 - 46 — 3 - 6 (adb) 6 - 15 (adb) 6.000 - 7.500 0,8-2,56 (adb) 45 – 50 1.250 15,5 - 17,00 4,5-5,5 (adb) 6.100 - 6.500 (adb) 0,5-0-0,80 (adb) 45 – 46 Gunung Bayan Pratama Bayan Indominco Mandiri Bontang 18 (adb) 2,0 5.600 - 6.250 0,15 48 – 50 1.150-1.200 16 4,72 6.040 0,94 45 -

Kaltim Prima Kideco Coal Prima Mandau, Payau, Melawan

Multi Harapan Utama Busang

PTBA

Anugerah Bara Kaltim Anugerah

Sari Andara Persada Muara Bungo 10,11 (adb) 19,48 (adb) 5.949 0,83 (adb) 48 1.300 Lana Harita Indonesia Block III

Kadar Air, % Kadar Abu, % Nilai Kalor, kal/g Sulfur, % HGI Deformasi awal abu, °C Indeks Slagging Indeks Fouling

11 9 7.000 1 45 - 50 -

Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4, Slamet Suprapto

Parameter (as received)

Danau Mas Hitam

Kadar Air, % Kadar Abu, % Nilai Kalor, kal/g Sulfur, % HGI Deformasi awal abu, °C Indeks Penerakan Indeks Fouling Nilai Muai Bebas

14 13 - 19 (adb) 5.900 - 6.500 (adb) 1,0 (adb) 40 - 60 1.280 -

19,5 4,65 (adb) 6.210 0,70 (adb) 47 1.490 -

8 3,78 7.889 0,85 80 1.220 rendah* rendah* 9

7,0 (adb) 6.977 1,16 (adb) 43 >1.200 rendah* medium* -

Catatan: adb = air dried basis (dasar kering udara) * = dihitung berdasarkan komposisi dan titik leleh abu (Lampiran 1)

37

5. -

PENUTUP Blending merupakan cara terbaik untuk mengatasi masalah ketersediaan batubara dan ketergantungan terhadap satu sumber pemasok batubara untuk pembangkit listrik di Indonesia. Untuk mengatasi masalah pasokan batubara pada PLTU Suralaya unit 1-4, sistem blending dapat dilakukan antara batubara peringkat rendah (lignit) dan batubara peringkat tinggi (bituminous) sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara, terutama nilai kalor. Batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah atau sulit digerus dan parameter ini perlu diperhatikan karena cenderung tidak bersifat aditif sehingga hasil blending dengan batubara peringkat rendah tidak dapat diprediksi menggunakan rumus linier. Data komposisi abu dan titik leleh abu batubara peringkat tinggi perlu dilengkapi agar dapat digunakan untuk mengevaluasi kemungkinan pembentukan endapan terak dan endapan fouling dalam pembakaran batubara hasil blending. Pengujian pengerusan dan pembakaran dalam skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan perlu dilakukan untuk mengevaluasi batubara hasil blending.

Hower, J.C., 1988. Additivity of hardgrove grindability index: a case study. Journal of Coal Quality, 7(2), 68-70. Kannan, V., 1985. Design considerations for Suralaya Unit 1 & 2 Steam generators. Presented at the Electric Indonesia Exhibition, Jakarta, October 29 – November 2, 1985. Kompas, 2008. CBC Dibangun Atasi Kelangkaan Batubara. 26 Pebruari 2008. KONEBA, 2002. Kuisioner Data PLTU Suralaya. 1 November 2002. MinergyNews.Com, 2007. Program 10 Ribu MW Hanya untuk 3 Tahun. Kamis 13 Desember 2007 Rance, H.C., 1975. Coal Quality Parameters and their influence in coal utilization. Shell International Petroleum Co. Ltd., Jakarta. Reid, W.T., 1991. Coal Ash – Its effects on combustion systems. In: Elliot, M.A. (Ed.), Chemistry of coal utilization. 2nd Suppl. Vol. John Wiley & Sons, New York, 1389-1445. Riley, J.T., Gilleland, S.R., Forsyhte, R.F., Graham, H.D. and Hayes, F.J., 1989. Non-aditif analytical values for coal blend. Proceeding of the 7th international conference on coal testing. Charleston, West Virginia, 21-23 March. Savage, K.I., 1974. Pulverizing characteristics of coal hardgrove grindability index. Keystone Coal Industry Manual. Suprapto, S., 2007. Gasifikasi batubara sebagai alternative pengganti BBM. Makalah disampaikan pada Forum Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 21-22 November 2007.

-

-

-

-

DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia, 2008. Kualitas Batubara.http/www.apbi-icma. Carpenter, A.M., 1995. Coal Blending for Power Station. IEA Coal Research, London. Elliot, M.A. (ed.), 1981. Chemistry of coal utilization. Second Suppl. Vol., John Wiley & Sons, New York.

38

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39

84 1. Bara Mutiara Prima. Slamet Suprapto 39 .81 0.200 1.19 9.02 Lana Harita Indonesia 40.15 0.300 1.36 0.21 2. Komposisi dan titik leleh abu batubara Peranap.350 1.290 1.600 Deformasi awal Pelunakan Hemisfer Flow 1.200 Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4.249 1.22 1.385 1.82 4.56 23.Lampiran 1.220 1.13 5.68 0.66 2.54 1.200 >1.86 SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO K2O Na2O TiO2 MnO2 SO3 P2O5 Titik Leleh Abu.45 0.14 2.07 Reduksi Oksidasi 1.73 15. % Peranap Bara Mutiara Prima Kartika Sela Bumi 33.310 1.200 >1.73 0.65 4.94 2.50 0.360 1.12 0.370 1.51 8.200 >1.31 29.50 3.420 >1.77 0.61 24. °C 55.261 1.65 0.500 1.01 1.29 0. Kartika Selabumi Mining dan Lana Harita Komponen.01 0.

go. hidrogen (Hydrogen =H). Tipe limbah batubara yang dikaji dalam tulisan ini adalah slurry (=SL) sebagai limbah sisa proses pencucian batubara.esdm. Propinsi Kalimantan Timur (Kaltim). : (022) 6038027 e-mail : stefano@tekmira. karakteristik limbah. PT. Januari 2009 : 40 – 46 . 623. dan oksigen (Oxygen =O). zat-terbang (Volatile Matter =VM) dan karbon tertambat (Fixed Carbon =FC). Multi Harapan Utama (MHU). : (022) 6030483 Fax. Tanito Harum (TH). dan analisis ultimat seperti karbon (Carbon =C).id dan ikin@tekmira. titik pijar dan suhu pembakaran maksimum yang ditentukan oleh parameter analisis proksimat dan ultimat. Besar butir limbah batubara tipe SL Kaltim sesuai dengan ukuran untuk umpan pembakar siklon. Bukit Baiduri Energi (BBE) yang masing-masing mempunyai unit pencucian batubara dengan skala produksi di atas 1 juta ton batubara per tahun. revisi pertama : 16 Januari 2009. yaitu PT. Pembakar siklon dipilih.esdm. suhu nyala. Karakteristik limbah batubara tergantung pada karakteristik batubara sumbernya dan pada umumnya berperingkat rendah (low rank coal). Hasil menunjukkan bahwa limbah batubara tipe SL dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif sebagai bahan bakar langsung pada industri. Contoh diambil dari 3 (tiga) perusahaan tambang batubara yang terletak di sepanjang Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara. Kata kunci : batubara. revisi terakhir : Januari 2009 ABSTRAK Limbah batubara (sludge) didefinisikan sebagai bahan karbonan. berasal dari endapan batuan sedimen yang mengandung bahan organik sehingga dapat terbakar.go. dan PT. karena dapat menangani limbah batubara yang berkualitas rendah (low grade coal) dengan kisaran nilai kalori 3000 – 5000 kal/gr. Nomor13. revisi kedua : 28 Januari 2009. M dan A tinggi di atas 25% dan fuel ratio (FC/VM) sekitar satu. Jenderal Sudirman No. Bandung – 40211 Telp. abu (Ash =A). slurry (SL). Sedangkan karakteristik pembakaran yang memengaruhi kinerja tungku siklon ditentukan oleh nilai kalori.HUBUNGAN ANTARA PARAMETER KARAKTERISTIK LIMBAH BATUBARA KALIMANTAN TIMUR DAN KARAKTERISTIK PEMBAKARANNYA STEFANO MUNIR DAN IKIN SODIKIN Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. karakteristik pembakaran 40 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Karakteristik limbah batubara ditentukan berdasarkan parameter analisis proksimat seperti air-lembab (Moisture =M). sehingga limbah batubara dapat langsung dibakar dengan sistem tersebut. Selain itu dilakukan analisis ayak untuk mengetahui distribusi ukuran partikel dari contoh batubara SL yang diteliti.id Naskah masuk : 23 Desember 2008.

000-5.. dan coal fines = CF. high moisture and ash contents of above 25% and fuel ratio about one. Produksi batubara dari Kalimantan Timur adalah yang terbesar yaitu sekitar 57% dari produksi batubara nasional sebesar185 juta ton (2007) dan ini akan terus meningkat sesuai dengan pertumbuhan produksi batubara nasional sekitar 12. Biasanya ada 2 (dua) tipe unit pengolahan batubara yang dikembangkan. Tanito Harum (TH). PT. sehingga masih dianggap sebagai batubara yang tidak dapat dipasarkan (non-marketable coal. Sisa industri pertambangan batubara disebut limbah batubara (sludge) terdiri dari 3 (tiga) tipe.000 cal/gr. dan Kalimantan Selatan 17. batubara dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) kelompok. On the other hand the distribution of particle sizes was determined by sizing analysis. The type of the researched sludge was slurry (SL) in form of the coal washing plant residue of which its samples were taken from the three coal mine located and selected alongside of Mahakam river in Kutai Kartanegara regency.. 2007). ignition temperature. Result indicates that the sludge of SL type can be utilized as alternative fuel for direct combustion in industry. Tipe limbah batubara SL dijadikan objek penelitian dalam tulisan ini karena mempunyai prospek yang menjanjikan dipandang dari segi jumlah (quantity) dan kualitasnya (quality) sebagai sumber energi alternatif dalam rangka mendukung kebijakan konservasi batubara nasional yang berwawasan lingkungan. yaitu slurry = SL. because it might handle the sludge as low grade coal within a low calorific value in the range of 3. ash (A). sludge characteristic. derived from sedimentary rock deposit containing organic matters so as to become combustible. tergantung pada karakteristik kualitas endapan lapisan batubara yang ditambang. 2008) tersebar di Provinsi Sumatera Selatan 40.7% dan sisanya di provinsi-provinsi lain. The characteristic of sludge depends on the type of its source coal. Keywords : coal. Particle size of SL from Kaltim was similar to the particle size for feeding of cyclone combustion. that are PT. therefore it can be utilized directly. slurry(SL). hydrogen (H) and oxygen (O). combustion characteristic 1. JICA. yaitu crushing and screening untuk produksi batubara dari tambang yang telah memenuhi persyaratan kualitas (spesifikasi) pasar dan pencucian batubara (coal washing) untuk produksi batubara dari tambang yang belum memenuhi spesifikasi pasar sehingga menghasilkan produk batubara yang dapat dijual dengan ukuran – 50 mm. limbah batubara (sludge) dan air buangan akhir tambang (effluent). abu (% A) dan Sulfur (% S) serta nilai kalori. Whereas in terms of the characteristic of its combustion that affects the performance of cyclone furnace was determined by calorific value.37%.02 juta ton per tahun (Suhala. Potensi SL belum dikelola secara komersial. yaitu batubara yang dapat dijual (saleable coal). Berdasarkan parameter pengotornya seperti kadar air-lembab (% M). The characteristic of sludge was determined by the proximate analyses such as moisture (M). glow point and maximum combustion temperature that were determined by parameters of the proximate and the ultimate analyses. most of which are low rank coal. The cyclone furnace was selected. timbunan (stockpiles) atau lubang galian tanah (landfill). yaitu batubara kualitas rendah yang masih perlu dicuci dan batubara kualitas tinggi yang tidak perlu dicuci. volatile matter (VM) and fixed carbon (FC) and ultimate analyses such as carbon (C). Akumulasi jumlah limbah batubara tipe SL ini akan semakin besar sesuai dengan jumlah tambang batubara yang beroperasi di daerah Kaltim dan umur pengoperasian setiap tambang batubara yang Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan . Batubara hasil penambangan (Run of Mine-Coal atau raw coal) perlu diolah terlebih dahulu atau tidak. kegiatan operasi penambangan di setiap lokasi tambang batubara pada umumnya menghasilkan 3 (tiga) produk. dirty coal = DC. and PT Bukit Baiduri Energi (BBE) with respective coal production capacities of above one million tons of coal per annum.13%. PENDAHULUAN Potensi sumber daya batubara Indonesia yang ditaksir sebanyak 93. 2008). Limbah SL merupakan sisa proses pencucian yang ditampung (dikumpulkan dan disimpan) dalam sistem penampungan limbah batubara yang standar (sludge disposal system) dengan menggunakan kolam pengendapan (settling pond). East Kalimantan province. Kalimantan Timur 28.4 milyar ton (MEMR.ABSTRACT Sludge is defined as a carbonaceous material. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 41 . Multi Harapan Utama (MHU). Pada prinsipnya.

Di samping itu analisis ayak untuk mengetahui distribusi ukuran partikel dengan karakteristik kualitas per fraksi ukuran yaitu + 2 mm.5 mm + 75 µm. terutama yang terletak di sepanjang Sungai Mahakam.1. . 2007). 2. 2. Sedangkan kriteria penilaian kinerja pembakarannya adalah semakin tinggi suhu maksimum yang dicapai selama pembakaran dengan siklon semakin tinggi kinerja pembakarannya. SL – TH. dan SL – BBE. Sistem tungku siklon yang dikembangkan dapat membakar ukuran umpan batubara yang umum digunakan. Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara Karakteristik pembakaran limbah batubara dipengaruhi oleh parameter karakteristik limbah batubaranya sendiri.5 mm. . A. Kriteria penilaian karakteristik pembakaran limbah batubara adalah semakin tinggi suhu titik nyala dan titik pijar. Karena ukuran partikel ketiga contoh SL ini telah sesuai dengan kisaran ukuran umpan yang biasa digunakan untuk pembakar siklon yaitu – 4 mesh maupun lebih halus lagi sampai – 32 mesh. Januari 2009 : 40 – 46 . PT. . Sedangkan kinerja pembakaran limbah batubara dinilai dengan beberapa parameter seperti suhu titik nyala (ignition point) hasil analisis thermogravimetry (TGA). Tanito Harum (TH). jig atau hydrocyclone). Sumaryono dkk. Karakteristik limbah batubara tipe SL ditentukan melalui analisis proksimat dengan parameter komponen-komponen M. VM dan FC dan analisis ultimat dengan parameter unsur-unsur karbon (C). 42 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. sulfur (S) serta pengujian sifat fisik seperti nilai kalori dan berat jenis. yang harus dikelola oleh setiap perusahaan tambang batubara melalui sistem manajemen penampungan yang standar.75 µm juga dilakukan. titik pijar (glow point) hasil pengamatan pada silica tube furnace dan suhu maksimum hasil pembakarannya dengan pembakar siklon dalam hubungannya dengan parameter karakteristiknya. 2.595 mm = 595 ìm) (Current Technology. semakin sulit bahan tersebut untuk dibakar. Kriteria pemilihan berdasarkan pada : Perusahaan tambang batubara harus mempunyai unit pencucian batubara dengan peralatan gravity concentration (wash breaker. 2007.1mm + 0. Bukit Baiduri Energi (BBE). maka persiapan bahan uji untuk program percobaan pembakaran dengan pembakar siklon cukup dilakukan melalui pengeringan udara pada suhu kamar. fasilitas penampungan limbah batubara perlu dikelola secara benar mengingat akan terbatasnya lahan dan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. terutama percemaran sistem aliran sungai di sekitar tambangtambang batubara. Nomor13.0. Sebenarnya semua tipe limbah batubara tersebut di atas adalah bahan karbonan (carbonaceous materials) yang karakteristiknya tergantung pada karakteristik batubara sumbernya yang pada umumnya berperingkat rendah dari lignit sampai subbituminus (low rank coal). yaitu sekitar – 4 mesh (4. Ukuran partikel batubara umpan ini hampir sama dengan ukuran partikel SL sebagai tipe limbah batubara utama. . 1982). Multi Harapan Utama (MHU). nitrogen (N). METODOLOGI Bahan Uji Ada 3 (tiga) contoh limbah batubara tipe SL dari ketiga perusahaan tambang batubara Kaltim yang dipilih untuk penelitian ini yaitu SL – MHU. yaitu dari parameter analisis proksimat dan analisis ultimat (Tsai. sehingga berpotensi cenderung untuk terjadinya swabakar.2 mm + 1 mm. hidrogen (H). terutama untuk tipe SL di sepanjang Sungai Mahakam dan dipilih sebagai wakil Provinsi Kaltim yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu PT. Karena itu. sehingga dapat diketahui pengaruh distribusi ukuran partikel terhadap kadar abu dan nilai kalorinya. dan Tambang harus mempunyai kapasitas produksi >1 juta ton batubara per tahun. Ada 3 (tiga) perusahaan tambang batubara yang diambil contoh limbah batubaranya. 2. Karakteristik Limbah Batubara - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parameter karakteristik limbah batubara Kaltim dengan karakteristik pembakarannya dalam rangka mengevaluasi kinerja keterbakarannya apakah dapat dikembangkan sebagai sumber energi alternatif atau tidak. oksigen (O).bersangkutan.76 mm) atau lebih halus sampai – 30 mesh (0.2.3. dan PT. Pemilihan tipe tungku dan metode pembakaran limbah batubara dengan pembakar siklon yang dikembangkan dalam penelitian ini didasarkan pada fakta bahwa pembakar siklon dapat membakar batubara berkadar rendah (low grade coal) dengan kadar air-lembab (% M) dan kadar abu (% A) yang tinggi sampai 25 %.

Selanjutnya. SL MHU Udara sekunder Udara primer Batubara Udara tersier Lubang pengeluaran terak Lubang pengeluaran terak utama Gambar 1. Skema rancangan pembakar siklon (Wikipedia. Kegiatan percobaan pembakaran dari ketiga contoh limbah batubara SL tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. Setiap bahan uji SL yang sudah kering di udara. Kegiatan percobaan pembakaran 3 (tiga) contoh limbah batubara SL dengan pembakar siklon Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan ... Program Ujicoba Pembakaran Peralatan nilai optimal karakteristik pembakarannya.. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 43 .595 mm) (Sumaryono. 2007) SL. sehingga menghasilkan semburan nyala api keluar dari ruangan siklon dan setiap partikel umpan terbakar habis (burn out) dengan meninggalkan residu atau lelehan abu (slag). dimasukkan ke dalam penandon umpan berupa hopper dan kemudian diumpankan dengan bantuan blower ke dalam ruangan pembakar siklon yang telah dipanaskan terlebih dahulu dengan bantuan kayu bakar atau karet ban bekas sampai mencapai suhu 450 o C sebagai pematik (igniter).TH b. perkembangan suhu pembakaran yang dihasilkan dicatat melalui pencatat suhu indicator thermocouple dengan interval waktu 5 menit selama 15 menit. a. Prosedur Prosedur percobaan dirancang menurut karakteristik pembakaran limbah batubara yang diuji. Suhu maksimum rata-rata hasil pembakaran dari setiap contoh limbah batubara diambil sebagai SL BBE Gambar 2.2. Com. Pada prinsipnya rancangan pembakar siklon yang benar dapat dilihat pada Gambar 1. dkk. Aksi gerakan berputar (sentrifugal) ditingkatkan oleh pasokan udara sekunder dengan kecepatan tinggi secara tangensial. 2007). Dimensi rancangan pembakar siklon yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 x 100 cm dengan ukuran partikel batubara umpan – 30 mesh (595 ìm atau 0.4. Udara pembakaran berupa udara primer maupun udara tersier digunakan untuk menghasilkan gerakan berputar dari partikel-partikel batubara atau limbah batubara umpan di dalam ruangan pembakaran siklon.

78 11.690 5.84 1.62 BBE 11.22 12.84 16. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Limbah Batubara Karakteristik limbah batubara tipe SL dari 3 (tiga) perusahaan tambang batubara di Kaltim dapat dilihat pada Tabel 1 dan hasil analisis ayak pada Tabel 2. adb Hidrogen (H).76 2.0. adb IM 3.5 24. %.36 45.82 Tabel 2. adb Sulfur (S). kal/gr.18 0.15 4.1 mm + 0.44 3.3 9.72 15.12 24.33 6. dan nilai kalori limbah batubara tipe SL dari MHU.6 41.05 0.66 38.05 1. jig.14 24.5 mm + 75 µm . %.58 A 54.2 mm + 1 mm .51 2.224 4.96 1.76 24.636 5.57 0. analisis proksimat .43 4.76 2.01 26.851 4.54 6.2 100 47.18 66.55 38.59 47.1 mm + 0.80 4.5 mm .24 6.2 mm + 1 mm . Nomor13.59 60.69 98.93 5.21 19.79 100 Analisa proksimat (%).895 3.51 1. %.93 55.66 30.05 30.68 30.2 16.08 59.86 0.96 TH 7. %.56 37.75 µm + 2 mm .25mm – 0.631 1. adb Fuel Ratio (FC/VM) Berat jenis (TSG) Analisis ultimat : Karbon (C). adb Nilai kalori.2 mm + 1 mm .66 0.758 1.53 0.47 44. Hasil analisis ayak.90 5.18 4.81 41.0.5 mm).3.02 1.7 7.14 30.55 0. adb SL MHU 3.5 26.7 39.95 18.32 6.49 52. %.20 4.48 20.5 mm .78 4.0.33 22.46 56.70 26.892 1.86 0.45 0.95 12.61 49.08 0. adb Nitrogen (N).33 100 1.88 44 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.33 7.6 15. %.78 3.4 60.51 40.37 0.19 9.33 52.52 12.67 1.57 9.56 44.277 2.44 13.92 0.96 17.40 2. adb Abu (A). %. Karakteristik SL dari masing-masing perusahaan Tabel 1. adb Karbon tertambat (FC).28 89. TH dan BBE Ukuran fraksi MHU + 2 mm .adb 0. (FC/VM) kal/gr.1 23.39 27.1. Karakteristik limbah batubara tipe SL dari MHU. Tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik SL dari masing-masing perusahaan pertambangan batubara selain tergantung dari karakteristik batubara sumbernya.128 3.75 µm % massa % kumulatif massa tertahan tertahan 19.14 33.59 VM FC Fuel Nilai ratio kalori.15 10.93 0.89 39.5 mm . adb Oksigen (O).53 0. adb Zat terbang (VM).05 1.53 51.45 35.53 38. juga dipengaruhi oleh proses pencucian dengan peralatan yang digunakan seperti drum washer.25 23.7 36.4 23.30 34.798 5.32 8.27 7.72 42.683 TH BBE 26.56 36. %.8 47.93 31.99 28.77 13.778 5. TH dan BBE Parameter Analisis proksimat : Air lembab (IM).93 7. Januari 2009 : 40 – 46 .76 90. fuel ratio.17 14.05 1.51 10. 3. %.1 mm + 0.5 mm + 75 µm .594 3.13 30.75 µm + 2 mm .032 3.88 2.686 6.9 7.436 1. hydrocyclone dan screen (0.5 mm + 75 µm .25 28.413 0.19 28.34 6.82 28.02 1.68 11.15 30.

oC Titik Pijar Silica Tube Furnace.436 261 360 566 BBE 4. SL MHU yang merupakan limbah pengolahan dengan cyclone classifier dan screen 0. yaitu dari 1.0. Tabel 3 menunjukkan bahwa naiknya titik nyala dan titik pijar dipengaruhi oleh fuel ratio.2mm +1mm -1mm +0. Hubungan antara kadar abu dengan ukuran fraksi NILAI KALORI (kal/gram) 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 +2mm . Distribusi ukuran partikel semua contoh tipe limbah batubara SL telah memenuhi spesifikasi sebagai umpan untuk pembakar siklon. Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara Gambar 3. nilai kalor dan ukuran partikel umpan.798 kal/gr. SL TH dengan drum washer.683 kal/gr sampai 5. Fraksi-fraksi ukuran partikel yang sangat halus ini biasanya dianggap sebagai slime.892 kal/gr sampai 3.2mm +1mm -1mm +0.5mm UKURAN FRAKSI MHU TH BBE . oC Suhu maks..5mm +75µm . Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas buang hasil pembakaran.5 mm + 75 µm maupun pada fraksi ukuran terhalus – 75 µm.5mm UKURAN FRAKSI MHU TH BBE . Sedangkan suhu maksimum siklon dipengaruhi oleh kadar abu. kal/gr. walaupun semakin halus fraksi ukuran partikelnya semakin tinggi kadar abu. 3. Karakteristik pembakaran limbah batubara Parameter MHU Karakteristik pembakaran : Nilai kalori. dengan nilai kalori yang terendah sebesar 1895 kal/gr pada fraksi ukuran terkecil – 75 µm.0..2.75µm Dari Gambar 3 dan 4.636 kal/ gr sampai 6.277 kal/gr. yaitu semakin rendah kadar abu limbah batubara akan semakin Gambar 4. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 45 . oC Catatan : tdd = tidak dapat ditentukan SL TH 4.5 mm dari 3.128 kal/gr dan SL BBE dengan cyclone classifier dan screen 0. terlihat bahwa menurunnya ukuran partikel menyebabkan menurunnya nilai kalori. Begitu pula tinggi rendahnya kandungan karbon dan oksigen akan memengaruhi kandungan nilai kalori. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa naiknya kadar abu akan menurunkan nilai kalori yang diikuti oleh naiknya kadar karbon dan oksigen. 70 60 A BU .75µm Karakteristik pembakaran limbah batubara tipe SL dapat dilihat pada Tabel 3. % 50 40 30 20 10 0 +2mm .adb Titik Nyala TGA. Semakin tinggi kadar fixed carbon atau fuel ratio. Dengan kata lain bahwa semakin halus (– 75 µm) fraksi ukuran SL semakin rendah nilai kalorinya.5mm +75µm .758 340 418 529 2.25 mm mempunyai nilai kalori yang terendah. sehingga teknik pengolahan untuk pemisahannya dari fraksi-fraksi yang kasar harus dilakukan dengan proses desliming melalui cara decantation untuk meningkatkan nilai kalori limbah batubara tipe SL tersebut. Hubungan antara nilai kalori dengan ukuran fraksi Tabel 3. baik pada fraksi ukuran – 0. sehingga akan menurunkan nilai kalori. pembakaran siklon.5 mm dari 3. semakin tinggi titik nyala atau titik pijarnya.413 tdd 470 431 Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan . cyclone classifier dan screen 0. Gambar 3 menunjukkan grafik hubungan antara kadar abu dengan ukuran fraksi dan Gambar 4 grafik hubungan antara nilai kalori dengan ukuran fraksi.pertambangan batubara menunjukkan bahwa kandungan abu yang tinggi sangat memengaruhi kandungan nilai kalori dan berat jenis yang sebenarnya.

Ministry of Energy and Mineral Resources. F. 4. Elsevier Scientific Publishing Company. Tsai. Munir. 2007.uiuc. kinerja pembakarannya dapat diurut menurut kemudahan keterbakarannya dari yang paling rendah. Com.edu/ kawka/Public/coal/tech. Amsterdam. Secara umum.. 2007. Titik nyala untuk SL MHU tidak dapat ditentukan karena kandungan abu yang cukup tinggi mencapai 60.html JICA team. APBI-ICMA. Nomor13. Sumaryono. semua contoh limbah batubara tipe SL menunjukkan kinerja keterbakaran dari yang terrendah (SL–MHU). Januari 2009 : 40 – 46 .. Pada prinsipnya. 2008. sedang (SL-TH). Cyclone furnace : Definition from Answers. http://me-roboto.tinggi nilai kalornya. Indonesia Energy Statistics. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan daya energi alternatif untuk industri. Suhala.. yaitu SL – MHU.. tinggi SL – BBE. Laporan Intern Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. S. 1982. ketiga limbah batubara tipe SL yang diteliti masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung dengan menggunakan pembakar siklon. 20 Oktober 2007. dan Fahmi Sulistyohadi. Wikipedia. http:// www. Pembangunan Pilot Plant Teknologi Pembakaran Batubara Dengan Pembakar Siklon.answers. dan tinggi (SLBBE) sehingga masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung. sedang SL – TH. Lokakarya Program Peduli Mahakam. Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas buang hasil pembakaran. Bandung.2. Perkembangan Industri Pertambangan Batubara Nasional Peluang dan Tantangannya. Yaskuri.1. DAFTAR PUSTAKA Current Technology. Semakin halus ukuran partikel umpan siklon semakin tinggi suhu maksimum yang dicapai sehingga kinerja pembakar siklon meningkat. Summary of Draft Final Report : The Master Plan Study on Pollution Risk Mitigation Program for Sustainable Coal Development in East Kalimantan Province in the Republic of Indonesia. 4. S. Methods of Burning Coal. 2008.com/topic/cyclone-furnace Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pembakaran limbah batubara tipe SL dengan pembakar siklon. Com. Bandung.C.me.59%. 4. 27 Desember 2007. ESDM dan JICA Jakarta. Fundamentals of Coal Beneficiation and Utilization. Saran Limbah batubara tipe SL yang banyak tersebar di beberapa perusahaan tambang batubara dan belum dimanfaatkan di Provinsi Kaltim perlu dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber 46 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. S.

dahlite. Ciamis-Jawa Barat (± 14% kadar P2O5). Analisis kimia dan mikroskopik terhadap percontoh ampas pelindian tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi percobaan tertentu. Tatang Wahyudi 47 . metode tersebut efektif untuk mengolah fosfat. In terms of evaluating process performance. Keywords: phosphate-bearing rocks. Jend. Tlp. bioleaching. dahlit. kalsit. Fosfat berkadar tinggi memang ada. Fitur terdeteksi lainnya berupa alur-alur pada permukaan mineral yang merupakan refleksi aktivitas larutan pelindi ketika ‘memakan’ komponen yang terkandung dalam material terlindi. revisi pertama : 13 Juni 2008. Salah satu endapan fosfat berkadar rendah berada di Cijulang. microscopic feature. baik secara fisika maupun kimia. microscopic and chemical studies were conducted to bioleaching. Porosity and permeability developments on the surface of dahlite and calcite during bioleaching process imply that the process is effective to leach such minerals. utilizing oxalic acid medium generated by the phosphorous oxidizing capabilities of Aspergillus niger in 10 days. tetapi pada umumnya mempunyai kadar rendah. bioleaching. Pengolahan secara fisika melalui peremukan (crush- Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . calcite.. Jl. hanya sebarannya bersifat sporadis dan cadangannya kecil. revisi kedua : 20 September 2008. The detected pits on the mineral surface reflect solution activity when leached the materials. revisi terakhir : Januari 2009 ABSTRACT Bioleaching. Banyak pakar yang telah mencoba untuk meningkatkan kadar fosfat dari daerah ini dengan berbagai cara pengolahan.PERUBAHAN MORFOLOGI DAN KIMIA BATUAN PEMBAWA FOSFAT AKIBAT PELINDIAN DENGAN ASPERGILLUS NIGER TATANG WAHYUDI Pusat Peneltian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. Both are competent agents for leaching solution to contact with the required elements available within the minerals. asam oksalat 1. fitur mikroskopi. Kedua hal ini merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat. Sudirman 623 Bndung. 022-6030483 Naskah masuk : 06 Januari 2008. has proved to be useful in releasing phosphorous from its rocks. The results show several features occur during the process.. PENDAHULUAN Endapan fosfat alam Indonesia kadarnya bervariasi. oxalic acid SARI Pelindian dengan mikroorganisme (bioleaching) menggunakan kapang Aspergillus niger selama 10 hari terhadap batuan pembawa fosfat Cijulang menyisakan ampas pelindian yang menarik untuk dikaji. Fitur mikroskopi yang terdeteksi pada mineral dahlit dan kalsit adalah berkembangnya porositas dan permeabilitas yang terbentuk selama proses pelindian. meningkatkan kelarutan matriks material dan memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian tubuh mineral. Kata kunci: batuan pembawa fosfat.

Kendala yang dihadapi dalam mengolah fosfat dengan cara-cara di atas adalah mahalnya biaya pengolahan dan belum dapat diturunkannya material pengotor dalam jumlah signifikan. Pengolahan secara kimia juga telah dilakukan melalui proses pelarutan HCl tersirkulasi walaupun hasilnya hanya mampu meningkatkan kadar fosfat dari 17. Melalui pengujian difraksi sinar-x (XRD). A3. 10 dan 20%. Keberadaan dahlit dan kolofan diduga akibat pengayaan batugamping oleh kotoran burung (guano) dan air laut (http://en. 2. Hasilnya memang belum bisa memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan oleh industri yaitu 36% kadar P2O5 (Ardha dkk.79% dengan perolehan 70. mikroskop optik dan SEM-EDX dapat diperoleh informasi mineralogi mengenai fasa. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan Baku (Head Sample) Percontoh batuan fosfat untuk keperluan penelitian ini diperoleh dari daerah Cijulang yang dikenal berkadar rendah. Nomor 13. Januari 2009 : 47 – 56 .com/ bioleaching. flotasi. batuan fosfat yang sudah digerus halus dianalisis menggunakan radiasi Cu-Ká. Ditinjau dari segi pengolahan mineral.5(CO3)0. Mineral tersebut adalah dahlit yang mempunyai formula Ca5(PO4.html). kalsinasi dan pemisahan secara magnetik dan mampu meningkatkan kadar fosfat sampai 30% . 3. Ukuran partikel yang diambil untuk keperluan penelitian adalah -140+200 dan 200 mesh contoh awal. Dahlit memperlihatkan struktur menyerat dan perawakan radial sedangkan kolofan menunjukkan struktur rekahan. pengeringan (drying) dan penggerusan (grinding) telah dilakukan oleh Tim Bimbingan Pertambangan Fosfat dari Pusat Pengembangan Teknologi Mineral pada 1984.ing). pencampuran (blending). Limbah pelindian berupa ampas padat menarik untuk dikaji. sehingga unsur-unsur tertentu yang diinginkan akan mudah dilepaskan.org/wiki/Phosphate).1.5F dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan dahlit. Kode A dan B menunjukkan ukuran fraksi umpan pelindian masing-masing -140+200 mesh untuk A dan -200 mesh untuk B. Leptospirillum ferrooxidans. Thiobacillus thiooxidans dan lain-lain (http://www. Dalam proses ini. percontoh diuji komposisi kimianya dengan metode kimia basah di Laboratorium Pengujian Kimia. Selanjutnya untuk mengetahui komposisi mineral head sample. 1997). kondisi ini menguntungkan karena memudahkan larutan pelindi untuk meresap ke bagian-bagian tertentu tubuh mineral. Hasil pemercontohan kemudian dikering-ovenkan untuk kemudian difraksinasi di Analisis unsur-unsur dan mineralogi percontoh batuan fosfat menunjukkan hadirnya mineral fosfat yang tergolong ke dalam hidroksilapatit. Angka 1. Salah satu pengolahan alternatif untuk meningkatkan kadar fosfat adalah pelindian dengan jasad renik (micro organism) tertentu (kapang atau bakteri) seperti Aspergillus niger. B1. tekstur dan struktur mikro yang terdapat dalam limbah padat tersebut. Dalam hal ini. Tujuannya untuk mengetahui efek proses tersebut terhadap batuan fosfat yang dilindi. Maksud penelitian ini adalah mengevaluasi kenampakan tekstur dan struktur mikro yang terdapat pada percontoh ampas hasil bioleaching. kapang mengeluarkan asam oksalat sebagai hasil samping proses fermentasi asam sitrat yang berperan dalam proses pelindian.moonminer. Informasi mengenai fasa serta struktur mikro yang terdapat dalam percontoh head sample juga diperoleh melalui analisis mikroskop polarisasi yang dilengkapi dengan pengujian SEM-EDX untuk mengetahui komposisi unsur-unsur yang terdapat pada permukaan percontoh spesimen. Kepada percontoh tersebut dilakukan pengujian mikroskop polarisasi dan kimia untuk mengetahui perkembangan yang terjadi setelah batuan tersebut dilindi dengan kapang selama 10 hari. Pada tahap awal. Batuan fosfat Cijulang diolah dengan proses tersebut pada skala laboratorium dengan memanfaatkan kapang Aspergillus niger dengan waktu pemrosesan selama 10 hari.CO3)3 dan kolofan – sejenis apatit dengan formula empiris Ca5(PO4)2.1991) juga telah melakukan serangkaian proses untuk meningkatkan kadar fosfat melalui pencucian. Selain kedua 48 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.18% (Ardha. Interpretasi terhadap informasi tersebut yang dipadu dengan pengujian kimia diharapkan dapat mengungkap kinerja proses bioleaching. kesulitan peningkatan kadar fosfat disebabkan oleh ikut terlindinya unsur-unsur pengotor. Namun. dilakukan pengujian dengan teknik difraksi sinar-x (XRD) menggunakan alat difraktometer sinar-x Shimadzu XRD-7000. 29 menjadi 23. B2 dan B3. 3. Thiobacillus ferrooxidans. Penelitian perubahan morfologi dan kimia batuan pembawa fosfat akibat pelindian dengan kapang menggunakan ampas hasil pelindian dengan kode percontoh A1. 2 dan 3 di depan huruf A dan B mengacu kepada persen padatan yang digunakan pada saat pelindian yaitu 5. A2. BAHAN DAN METODE Laboratorium Preparasi.wikipedia.

percontoh batuan fosfat juga disusun oleh kalsit (CaCO3).080 27.200 Energyi (keV) 2.htm).kalsit (C) Pengujian unsur-unsur yang terdapat pada permukaan sayatan poles percontoh batuan fosfat Cijulang dilakukan dengan SEM-EDX..560 25. kalsium (Ca). sedangkan kalsium berasal dari dahlit. Pemetaan unsur-unsur pada salah satu mineral dahlit yang terdapat dalam spesimen sayatan poles batuan fosfat memperlihatkan kalsium lebih banyak terkonsentrasi di bagian kiri bawah sampai tengah mineral (Gambar 3) yang ditunjukkan oleh skala Unsur-unsur pada spesimen percontoh batuan fosfat yang terdeteksi dengan SEM-EDX metode x-ray mapping Unsur teridentifikasi Fosfor (15P32) Kalsium (20Ca40) Karbon (6C12) Aluminum (13Al27) Besi (26Fe56) Silikon (14Si28) Belerang (16S32) Oksigen (8O16) Intensitas (counts) 30. . kolofan dan kalsit. tetapi indikasi ke arah itu ada. Mineral opak kemungkinannya berupa magnetit atau hematit hasil pelapukan mineral induknya yang berasal dari fragmen batuan. Fosfor diduga berasal dari dahlit dan kolofan.nz/oceano/seawater.739 2. Tatang Wahyudi 49 .013 3. besi (Fe). apabila mineral fosfat ini diolah untuk keperluan industri tertentu.690 0.5% salinitas air laut. Metode pengujiannya adalah pemetaan secara sinar-x. Gambar 1 memperlihatkan sebagian komposisi mineral percontoh batuan fosfat head sample. aluminum (Al). Kehadiran unsur-unsur bukan pembentuk fosfat pada batuan fosfat Cijulang merupakan unsur-unsur pengotor yang tidak diharapkan.dahlit (D). silikon (Si) and oksigen (O). unsur-unsur belerang dan kalsium masing-masing berkadar 904 dan 411 ppm.960 17. Kuantitas yang relatif cukup untuk terjadinya pengayaan Ca dan S pada batuan fosfat (http:// www. Informasi mineralogi di atas diperoleh dari pengujian dengan mikroskop optik. b .280 06. a . karbon (C). kuarsa (SiO2). a Gambar 1.277 1.mineral fosfat di atas. sedangkan besi diduga berasal dari mineral silikat atau opak.486 6.kolofane (Cl) dan c . Aluminum dan silikon kemungkinan berasal dari mineral silikat yang terkandung dalam fragmen batuan. mengingat batuan fosfat Cijulang terdapat di area yang berbatasan dengan laut. b c Tiga mineral utama yang terdapat dalam percontoh batuan fosfat Cijulang.398 1.720 64.seafriends. Belerang yang terdeteksi dapat berasal dari material sulfit atau sulfat seperti mineral gipsum atau CaSO4·2(H2O).307 0.521 Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan .org. Tabel 1.000 48. Tabel 1 dan Gambar 2 memperlihatkan unsur-unsur yang terdeteksi.. Mineral tersebut memang tidak terdeteksi pada batuan yang dijadikan spesimen pengujian mikroskop optik atau SEM.280 02. Hasil analisis menunjukkan adanya unsur fosfor (P). mineral opak (opaque) dan fragmen batuan. Pada 3.

Komposisi unsur yang terdapat pada batuan fosfat Cijulang yang dianalisis dengan metode energy-dispersive x-ray (EDX) warna merah keunguan. Satu area berwarna putih di bagian kiri atas foto mengandung unsur besi terkonsentrasi paling banyak. silikon dan besi terkonsentrasi paling banyak pada bagian kanan atas foto dan noktak-noktah yang tersebar di bagian kiri atas dan kanan bawah. pada gambar terdapat dua noktah putih yang dikelilingi oleh warna merah (sudut kiri atas dan tengah kanan gambar). Pengujian XRD ini hanya mendeteksi dahlit sebagai mineral fosfat. Namun kuantitasnya dibandingkan dengan kuantitas P di bagian kiri bawah dan atas adalah lebih kecil. Besi sebagai bagian mineral silikat. sedangkan konsentrasi karbon terbanyak terdapat di bagian kiri dan kanan mineral. Ada kemungkinan kedua noktah tersebut adalah gipsum yang berasosiasi dengan dahlit. Walaupun konsentrasi unsur terbanyak masingmasing unsur pembentuk fosfat terpisah-pisah (tidak mengelompok menjadi satu). tidak berarti bagian tepi mineral tersebut tidak terdapat P atau C. Di samping itu. dan ini berarti pada bagian tengah mineral masih terdapat unsur fosfor. Diduga pada bagianbagian tersebut. Kedua jenis unsur tersebut secara menyeluruh terdapat pada dahlit hanya konsentrasinya di bagian pinggir mineral tidak sebanyak di bagian tengah mineral. material silikat berasosiasi dengan mineral dahlit. Kedua mineral ini berasal dari lapukan fragmen batuan. Terdapatnya dua noktah putih mengandung Al dan Si pada hasil pemetaan secara sinar-x menunjukkan bahwa area tersebut adalah partikel silikat. Pengujian percontoh batuan fosfat Cijulang dengan XRD menunjukkan adanya mineral monmorilonit sebagai mineral silikat. Keberadaan kalsit memang hanya terdeteksi oleh pengujian mikroskop optik saja melalui penelusuran pada spesimen yang memerlukan waktu lama (karena kecilnya kuantitas mineral tersebut dalam percontoh). percontoh yang dianalisis untuk XRD ini (berasal dari bongkah yang dipreparasi sampai fraksi -200 mesh) memang tidak mengandung mineral tersebut seperti terlihat pada Tabel 2.Gambar 2. Bagian ini diduga mineral opak. Kalsit tidak terdeteksi. Nomor 13. selebihnya unsur belerang merupakan unsur pengganggu yang menyebar di seluruh permukaan mineral. Fosfor paling banyak terkonsentrasi di bagian kiri bawah dan tengah atas mineral. aluminum. Keterangan yang sama berlaku untuk unsur pembentuk fosfat lainnya (P). Diasumsikan. Januari 2009 : 47 – 56 . Khusus untuk unsur belerang. Pengujian kimia batuan fosfat Cijulang head sample mengidentifikasi beberapa unsur dalam bentuk oksidanya (Tabel 3). terdeteksi pula adanya mineral silikat – kuarsa. Percontoh yang dianalisis adalah 50 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Jika dilihat pada Gambar 3. sebarannya hampir mengikuti pola sebaran aluminum dan silikon.

karbon (C). -140+200 dan 200 mesh. Pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping pada batuan fosfat Cijulangmendeteksi adanya 8 unsur. Kelihatannya. aluminum (Al). makin halus partikel makin banyak mineral fosfat (dahlit) yang terbebaskan sehingga ada kenaikan kadar P2O5 walaupun tidak signifikan. kuantitas fosfat dalam bentuk P2O5 berkisar antara 18 sampai 19%. Tatang Wahyudi 51 . 4H2O SiO2 bongkah yang telah difraksinasi menjadi tiga (3) ukuran partikel yaitu -100+140. belerang (S) dan oksigen (O) Tabel 2.Gambar 3.. Pengujian mineralogi batuan fosfat Cijulang dengan metode XRD Mineral teridentifikasi Dahlit Monmorilonit Kuarsa Formula mineral Ca5(PO4. fosfor (P).CO3)3F Na(Al. silikon (Si). besi (Fe). Kuantitas fosfat hasil pengujian kimia tidak berbeda jauh dengan hasil pengujian terhadap percontoh Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan .. yaitu kalsium (Ca). Dari ketiga percontoh. Mg)2 Si4O10 (OH)2.

76 2. Keduanya sudah diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4).67 0.277 1. angka yang ditunjukkan relatif mewakili kandungan unsur-unsur yang ada pada percontoh uji. Hasil pengujian kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil nihil. yaitu pada angka belasan persen. Walaupun kuantitas yang diperoleh untuk P2O5 pada pengujian terahir lebih rendah dibandingkan dengan hasil pengujian kimia (hanya 12. Keduanya sudah diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4).209 0.486 1.82% (Tabel 4).32 2. pengujiannya lebih bersifat kualitatif dibandingkan dengan yang kedua.46 100.00 Compound C Al2O3 SiO2 P2O5 SO3 CaO FeO mass % 38.04%).63 0.62 0.55 6. memang hasil pengujian SEM-EDX mencantum-kan juga oksigen dalam bentuk unsur. Karbon (C) memang tidak dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena fasilitas pengujiannya belum tersedia.47 0.53 yang pertama.6325 8.069 CaO 22.57 1.457 0.739 2.56 sejenis dengan metode SEM-EDX (Tabel 4).534 0.02 100.00 1. Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia. juga oksigen dalam bentuk unsur.56 0.61 23.83 2.26 19.5885 3. informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan percontoh yang ada.91 1. hanya untuk partikel terdeteksi saja.04 2. Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia.307 3.01 12. Unsur oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang terdeteksi oleh pengujian kimia.52 7. Ada keterbatasan pada pengujian SEM-EDX.05 30.690 6.398 mass % 36.82 16.7918 16.27 5.068 0. hal ini dapat dimengerti.208 0.25 0.54 19.3861 6. pengujiannya lebih bersifat kualitatif Hasil pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping untuk head sample fosfat Cijulang Element CK O Al K Si K PK SK Ca K Fe K Total (keV) 0. angka yang ditujukkan relatif mewakili kandungan unsur-unsur yang ada pada percontoh uji.05 At % 78.00 5. Walaupun tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas.55 1. angka tersebut masih dalam kisaran wajar. Pada perbesaran tertentu biasanya hanya satu atau dua partikel yang termuat pada monitor.7698 1. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel yang dideteksi hanya 0.39 16.00 Error % 0. Hasil pengujian 52 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Januari 2009 : 47 – 56 . Pengujian kimia terhadap percontoh batuan fosfat Cijulang Kode -100+140 -140+200 -200 SiO2 17.00 Cation 0.550 0.71 Al2O3 0.535 TiO2 0.14 0. hanya untuk partikel terdeteksi saja. Walaupun tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas.62 0.437 P2O5 18. yang pertama.58 24. Nomor 13. kandungan belerangnya memang rendah (dalam unit ppb).212 Na2O % 0. Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia. Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia.013 2. memang hasil pengujian SEM-EDX mencantumkan dibandingkan dengan yang kedua.82 3.84 5.19 23.6433 2. tidak mewakili keseluruhan persentase yang ada.41 K 11.27 100.95 2.65 1.83 5.65 13.091 0. yaitu material uji terbatas pada material yang terlihat pada monitor saja.467 0.71 Fe2O3 6. Tabel 4.15 9. Kemungkinan pada percontoh uji untuk analisis kimia.40 8.70 K2O 0. Unsur oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang terdeteksi oleh pengujian kimia.2755 37.58 5.33 7.41 2.82 21. informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan percontoh yang ada. Jadi hasil yang diperoleh hanya mewakili partikel yang terpampang pada layar.37 MgO 0.Tabel 3.

Dalam hal ini. material karbonat akan dengan mudah terangkat dari struktur mineralnya. Tatang Wahyudi 53 . Keenam foto di atas memperlihatkan adanya aluralur (pits. B2 dan B3) masih menyisakan dahlit cukup banyak sebagai mineral yang tidak terlindi. Mineral ini terdapat pada semua percontoh yang diuji secara mikroskop optik. Struktur menyerat pada mineral ini terlihat makin melebar yang diduga sebagai akibat masuknya larutan pelindi melalui struktur tersebut. Hasil pengamatan mikroskop optik pada ampas tersebut ditabulasikan untuk divisualkan seperti tertera pada Gambar 4. mineral kalsit mengalami pengecilan ukuran terutama bila dibandingkan dengan kalsit yang belum mengalami pelindian (Gambar 1c). Muszer dan Karas (2003) menyebutkan bahwa makin kecil ukuran butiran. Meyer dan Yen (2002) menyebutkan bahwa alur-alur tersebut adalah bekas larutan pelindi ketika kontak Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . Di lihat dari tampilannya. empat percontoh lainnya (A1. B2 dan B3). Hasil uji mikroskop optik terhadap enam percontoh ampas hasil pelindian telah dilakukan (Gambar 5). Wahyudi dkk. (2008) menyarankan untuk mengatur pH larutan dengan pengadukan berkecepatan rendah. A3 dan B1. asam oksalat yang merupakan metabolit hasil ekskresi kapang Aspergillus niger merupakan media pelindi untuk melarutkan fosfat.82% (Tabel 4). Fitur ini menunjukkan porositas dan permeabilitas yang mengembang sebagai akibat proses pelindian oleh asam oksalat atau karena rusaknya permukaan kalsit (C).kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil nihil. Pada dahlit terlihat seperti retakan-retakan di permukaan mineral tersebut (Gambar 5a. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel yang dideteksi hanya 0.. sebenarnya merugikan proses karena unsur-unsur pengotor juga ikut terlindi. Terlindinya kuarsa dan fragmen batuan yang keduanya merupakan sumber mineral silikat dengan berbagai kandungan unsur pengotornya. Struktur ini juga merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat. dahlit terlindi dengan baik pada percontoh. mineral opak merupakan mineral dominan kedua setelah kalsit. 3. hal ini dapat dimengerti. pada percontoh uji terdapat pula struktur spons seperti diperlihatkan oleh kalsit (C) semua percontoh ampas yang diuji dengan mikroskop optik (Gambar 5a –f). Ampas Pelindian Gambar 4. Dari kondisi ini dapat diketahui bahwa kedua jenis mineral ini tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah pelindian atau relatif tidak terlindi. A2 dan B1. agar logam-logam pengotor dalam larutan atau filtrat hasil pelindian dapat dipisahkan sehingga diperoleh fosfat dengan kemurnian lebih tinggi. Karbon (C) memang tidak dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena fasilitas pengujiannya belum tersedia. makin efektif proses disolusi yang terjadi pada material karbonat. c. Walaupun kuantitasnya tidak sebanyak mineral kalsit. Dalam hal ini. Pada percontoh asli (head sample yang belum mengalami pelindian).2. Jika dahlit terlindi habis pada percontoh A1. Dari keenam percontoh. e dan f) sedangkan pada kalsit tampilannya sangat halus (Gambar 5c dan f). yang disebut terakhir berupa padatan dan dianalisis dengan mikroskop optik untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi pada mineral fosfat Cijulang setelah dilindi oleh asam oksalat tersebut. Kemungkinan pada percontoh uji untuk analisis kimia. Makin lebar struktur ini makin intensif proses pelindian berlangsung. Selain struktur menyerat.A3. A2 dan B1. kuarsa dan fragmen batuan masing-masing habis terlindi pada percontoh A1. tanda panah putih). Kuantitasnya berkisar antara 95 -99%.. Dari gambar tersebut terlihat bahwa kalsit merupakan mineral yang paling dominan dalam ampas. meningkatkan kelarutan matriks material dan memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian tubuh mineral (Meyer dan Yen. B1 dan B2 serta A2. 2002). Hasil pelindian berupa filtrat dan ampas. kandungan belerangnya memang rendah (dalam unit ppb). Distribusi mineral yang tersisa dalam dalam ampas hasil pelindian Pelindian terhadap batuan fosfat Cijulang telah dilakukan menggunakan metode bioleaching. A3. Pelindian yang berlangsung selama 10 hari menyisakan ampas yang masih mengandung mineral dahlit (percontoh A1. terlihat bahwa mineral dahlit (D) mempunyai struktur menyerat secara radial (Gambar 1a).

K – kuarsa. Vallet-Reg dan Ferreira (2001) telah melakukan hal ini untuk hidroksilapatit sintetis.Gambar 5. magnesium tidak ditampilkan pada Gambar 6. tetapi metode tersebut belum dapat diterapkan pada penelitian ini. Oksida fosfat terdeteksi pada percontoh A1. C – kalsit. e. Bentuknya yang tidak beraturan merupakan efek khas kinerja larutan pelindi (http:// www. B3. 4 dan 5 ada kesesuaian antara hasil pengujian mikroskop optik dengan analisis kimia – fosfat terlindi habis pada percontoh A2 dan B1. d. Diasumsikan mineral tersebut pada percontoh uji ini telah terlindi habis dan terubah menjadi filtrat sehingga fitur pits yang menjadi penanda bekas kontak antara larutan pelindi dengan mineral terlindi tidak ditemukan lagi. Fotomikrograf mineral pembawa fosfat Cijulang. kalsit merupakan mineral dominan yang terdeteksi pada percontoh uji. MO – mineral opak. A3. Analisis kimia terhadap ampas hasil pelindian menguji oksida-oksida sejenis seperti tercantum pada Tabel 3. natrium. Dari histogram terlihat bahwa kalsium dan kuarsa masih mempunyai kuantitas yang lebih besar dibandingkan ketiga oksida lainnya. Karena kuantitasnya relatif kecil (< 0. Pada Gambar 5b dan d. a. tidak terdeteksi pada percontoh A2 dan B1. Nomor 13. D – dahlit.5%). B2 dan B3.gov). A3.anl. oksida-oksida kalium. c. Januari 2009 : 47 – 56 . dengan permukaan material terlindi. Kinerja tersebut dapat diketahui secara kuantitatif dengan mengukur luas dan lebar alur melalui metode luas permukaan (surface area). Bila mengacu kepada Gambar 3. Gambar 6. Tidak ditemukan adanya dahlit pada kedua percontih uji. Distribusi oksida-oksida yang tersisa pada 6 percontoh ampas pelindian bioleaching 54 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. FB – fragmen batuan. B2. B1. Rodriguez-Lorenzo. b. Hal ini berarti bahwa material fosfat pada percontoh A2 dan B1 terlindi relatif habis sedangkan pada keempat percontoh lainnya. Kenampakan mikroskopik pada kedua percontoh tersebut hanya sisa-sisa (remnants) material karbonat. asam oksalat hasil ekskresi Aspergillus niger belum mampu melindi total material fosfat dalam umpan pelindian. dan f adalah mineral pembawa fosfat yang telah mengalami pelindian asam oksalat dengan masing-masing dengan kode percontoh A1. A2. Alur ini merefleksikan kuantitas material yang telah terlindi pada area tersebut.

htm. H. sehingga percontoh ampas yang dihasilkan dapat dikaji kembali secara kimia dan mineralogi. 1 – 7. Tatang Wahyudi 55 . Application Of Microscopic Mineralogical Analysis Of Copper Concentrate After Bioleaching Process. diakses pada 03/02/09. Department of Geological Sciences and Chemical Engineering. diakses pada 02/02 . Muszer. N. n. Ris.. jam 11. Dua mineral yang disebut terakhir merupakan mineral fosfat yang tergolong ke dalam kelompok hidroksilapatit. 94 – 98. Ardha. distribusi unsur-unsur penyusun mineral fosfat tersebut (Ca. dan Rasyad. Upaya Peningkatan Mutu Fosfat dari Batuan fosfat Kadar Rendah Cijulang – Ciamis. 10% padatan) dan B1 (-200 mesh. mineral opak.seafriends. thn.moonminer. Sri Handayani. W..00 http://en.Sc. N.gov. 1. Uji Pelindian batugamping Fosfatan dengan Asam dan asam Tersirkulasi untuk Peningkatan Kadar Fosfat. Penelitian ini didanai oleh Proyek Penelitian dan Pengembangan Mineral Tahun Anggaran 2008. Dra. Contoh kongkrit ditunjukkan oleh mineral kalsit yang memperlihatkan struktur spons yang tersusun karena pengecilan ukuran partikel kalsit atau rusaknya permukaan kalsit. Antoni dan Karas. C dan O) tidak merata.org.. Terlepas dari kuantitas persen ekstraksi yang diperoleh. diakses pada 05/02/09..anl. 6. jam 11. yang telah melakukan proses bioleaching batuan fosfat Cijulang. Hal ini menguatkan bahwa endapan fosfat Cijulang memang berkadar rendah. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof.40 http://www. Dahlit memperlihatkan struktur mikro radial menyerat sedangkan struktur mikro yang terdapat pada kolofan berupa rekahan (fracture). P. M. T. namun masih tersisa pada empat percontoh lainnya. penggunaan jasad renik lain seperti Baccillus sp. 1997. Disarankan pada penelitian lanjutan yang akan dilakukan pada skala meja dilakukan pengaturan pH dengan pengadukan berkecepatan rendah. Bila mengacu kepada hasil xray mapping salah satu partikel mineral fosfat (dahlit). Selama pelindian. Makalah Teknik no.org/wiki/Phosphate.. S.com/bioleaching.S. DAFTAR PUSTAKA Ardha. Laporan Teknik Penelitian. kuarsa.55 Meyer. kalsit. 2003. Ngurah Ardha. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral.html. Pada dahlit ditunjukkan dengan semakin lebarnya struktur menyerat yang dimilikinya. Pengembangan porositas dan permeabilitas juga terjadi pada dahlit dan mineral lain.C. Mineralogical Society of Poland – Special Pa- Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . University of Southrn California.4. Kondisi ini berakibat pada semakin luasnya permukaan partikel untuk kontak dengan media pelindi yang ditunjukkan dengan terdeteksinya alur-alur halus yang merupakan refleksi aktifitas larutan pelindi ketika ‘memakan’ komponen-komponen yang ada pada mineral tersebut. Selain itu. jam 9. The Effect of Bioleaching on Green River Oil Shale.wikipedia. M.05 http://www. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. http://www. Purnomo. 148. dahlit dan kolofan. 2002. jam 14. untuk mengurangi ikut terlindinya unsur-unsur pengotor. Pengujian kimia dan mikroskopi terhadap ampas hasil pelindian bioleaching menggunakan kapang Aspergillus niger tidak bersifat selektif dalam melindi unsur-unsur yang terdapat dalam batuan fosfat. Henry.Met.nz/oceano/seawater. CA 9007. sebagai media pelindi batuan pembawa fosfat layak dicoba untuk mengetahui kinerjanya apakah lebih baik dari kinerja kapang atau tidak. 1991. Soenara. diakses pada 02/02/09 .. kondisi percoban bioleaching untuk percontoh A2 (-140 mesh+200 mesh.F. h. Pengujian secara kimia terhadap head sample menunjukkan bahwa batuan fosfat Cijulang berkadar rendah (18 – 19%). terjadi pengembangan porositas dan permeabilitas pada mineral yang terlindi. KESIMPULAN DAN SARAN Batuan pembawa fosfat (phosphate-bearing rocks) dari daerah Cijulang disusun oleh fragmen batuan. T. h. Pengujian secara kimia dan mikroskop optik terhadap enam percontoh ampas pelindian bioleaching menunjukkan bahwa material fosfat terlindi habis pada percontoh A2 dan B1. 5% padatan) efektif dalam melepaskan unsur fosfor dari ikatannya. dan Yen.E atas masukan-masukan yang diberikan selama penulisan makalah.

Tim Bimbingan Pertambangan Fosfat. Fabrication of hydroxyapatite bodies by uniaxial pressing from a precipitated powder. 2008. 1984. M. 56 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Wahyudi. Laporan Teknik Penelitian (dalam proses cetak). J. dkk. Bimbingan Pertambangan Fosfat di Batukaras Kecamatan Cijulang.F.. 22. T. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. Januari 2009 : 47 – 56 .M.pers v 22. dan Ferreira. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum. Biomaterials n. Bandung:Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. h. L.M. MSP – Poland. Rodriguez-Lorenz. Nomor 13. Pengembangan Bioteknologi untuk Pengolahan Mineral (Studi Kasus : Ekstraksi Fosfat dari Endapan Fosfat Alam dengan Metode Bioleaching). Vallet-Reg. 2001. Kabupaten Ciamis. 583-588.

Jl. Naskah diketik dalam dua spasi menggunakan kertas ukuran A4 dengan lebar margin kanan dan atas 3 cm serta kiri dan bawah 2 cm. Petunjuk Bagi Penulis 57 . Izin untuk memproduksi hak cipta material adalah tanggung jawab penulis. Kata kunci ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. 623 Bandung 40211. Jend. Peta maksimum berukuran A4 dan harus memakai skala dan arah utara. 6.5 mm. 12. Intisari (abstract) naskah memuat ringkasan yang jelas. Jumlah halaman naskah tidak ditentukan. 3. Sudirman No. penerbit. serta alamat e-mail (bila ada). Naskah dalam disket/CD akan sangat membantu dalam proses peredaksian. agar dijelaskan cara memperoleh bahan tersebut. 2. alamat. Urutan penulisan : nama penulis. Nama penulis diketik pada halaman pertama di bawah judul naskah. 5. Gambar dan tabel harus diberi judul dengan jelas dan dalam kertas terpisah serta ditunjukkan mengenai penempatan gambar dan tabel tersebut dalam naskah tulisan. Daftar pustaka ditulis secara alfabetis. Naskah ditulis secara ringkas sesuai isinya. Foto harus jelas dan siap untuk dicetak (tidak dalam bentuk negatif film). 11. bila naskah sudah diterima atau bila naskah tidak sesuai untuk penerbitan ini. tinggi huruf dalam peta tersebut tidak lebih kecil dari 1. 9. Naskah dan berkas dalam disket/CD dikirim ke Pemimpin Redaksi Jurnal tekMIRA. Nama organisasi. Redaksi akan melakukan seleksi dan memberitahukan ke penulis. judul referensi. Hanya artikel-artikel yang dipublikasikan yang dimasukkan sebagai referensi. Judul naskah harus bersifat deskriptif dan ringkas. Pengutipan seminimal mungkin. 13. nomor telpon dan faksimili. 10. tahun penerbitan.Petunjuk Bagi Penulis 1. Catatan kaki supaya dihindarkan. 4. Bila pengutipan melebihi 250 kata penulis harus memperoleh izin tertulis dari penerbit dan penulis referensi yang bersangkutan. kota tempat buku diterbitkan dan halaman. 8. Naskah harus asli dan belum pernah diterbitkan dalam publikasi lain. Hanya rumus matematika yang penting yang dimuat dalam naskah. Bilamana mengacu kepada artikel yang tidak dipublikasikan. 7. Semua huruf dalam peta harus jelas dan bila ukuran peta harus diperkecil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful