ISSN 1979 – 6560

Teknologi Mineral dan Batubara
Daftar Isi

Jurnal

Volume 5, Nomor 13, Januari 2009
No Akreditasi : 36/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

Daftar Isi ................................................................................................................................................. i Sekapur Sirih .......................................................................................................................................... ii Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi di Pantai Selatan Kulon Progo, Yogyakarta .................................................................... 1 - 16 Bambang Yunianto Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Skala Kecil dari Batubara Kadar Abu Tinggi .......................................................................................................................... 17 - 30 Suganal Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik: Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4 .................... 31 - 39 Slamet Suprapto Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan Timur dan Karakteristik Pembakarannya................................................................................................ 40 - 46 Stefano Munir dan Ikin Sodikin Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan Aspergillus Niger ............................................................................................................. 47 - 56 Tatang Wahyudi Petunjuk Bagi Penulis .......................................................................................................................... 57

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara terbit pada bulan Januari, Mei, September dan memuat karya ilmiah yang berkaitan dengan litbang mineral dan batubara mulai dari eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, lingkungan, kebijakan dan keekonomiannya. Redaksi menerima sumbangan naskah yang relevan dengan substansi terbitan ini. Biaya langganan : Rp 105.000,-/tahun di luar ongkos kirim, harga eceran Rp 35.000,-/eksemplar.
EDITOR IN CHIEF PEMIMPIN REDAKSI REDAKTUR PELAKSANA EDITOR STAF REDAKSI PENERBIT ALAMAT REDAKSI : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Hadi Nursarya : Umar Antana : Binarko Santoso (Ketua), Tatang Wahyudi, Sri Handayani, Datin Fatia Umar, Jafril, Miftahul Huda, Husaini, I. G. Ngurah Ardha, Siti Rafiah Untung dan Fauzan : Umar Antana, Nining Trisnamurni, Mining Emiliastuti, Rusmanto, Bachtiar Effendi dan Arie Aryansyah : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Jl. Jend. Sudirman 623 Bandung 40211 Telpon : (022) 6030483 - 5, Fax : (022) 6003373 e-mail : publikasitekmira@tekmira.esdm.go.id / publikasitekmira@yahoo.com

Keterangan gambar sampul depan : Pengembangan buah naga oleh petani di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo (atas); Contoh limbah batubara SL dengan pembakar siklon (bawah)
i

Sekapur Sirih
Pada awal 2009 ini, Undang-Undang Nomor 4/2009 tentang pertambangan mineral dan batubara telah diterbitkan untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 11/1967 yang dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Hal-hal penting yang tertera pada klausul-klausul undang-undang baru tersebut, terkait erat dengan masalah peningkatan nilai tambah mineral, pendayagunaan dan peningkatan pemanfaatan potensi sumber daya mineral dan batubara, penciptaan daya tarik investasi dan perlindungan lingkungan serta konservasi sumber daya mineral dan batubara. Semua hal ini juga sejalan dengan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya mineral dan batubara yang dikenal dengan istilah praktek-praktek pertambangan dengan baik dan benar (good mining practices). Apabila hal-hal ini benar-benar dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan pertambangan sesuai dengan semangat baru tersebut, beragam permasalahan pertambangan yang rentan terhadap konflik kepentingan antarsektor pembangunan dan masyarakat sekitar operasi penambangan, dapat diantisipasi dan diminimalisasikan sedini mungkin. Pada nomor terbitan jurnal kali ini, beragam makalah ilmiah yang mendukung paradigma baru bidang pertambangan tersebut mencakup permasalahan lingkungan sosial-ekonomi dan peningkatan kelitbangan dalam bidang teknologi mineral dan batubara. Kajian permasalahan lingkungan dan sosial-ekonomi rencana tambang pasir besi menggambarkan dengan jelas konflik kepentingan dalam penggunaan lahan antarsektor pertambangan dan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat sekitar lokasi tambang. Permasalahan ini bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antarsektor tersebut. Konflik ini dapat memicu pengurangan minat berinvestasi dalam sektor pertambangan, karena adanya ketidakpastian hukum dan tumpang-tindih penggunaan lahan. Proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi dari batubara kadar abu tinggi merupakan usaha pemanfaatan batubara secara nasional sesuai dengan rancangan pengelolaan energi nasional untuk memenuhi pencapaian energi bauran pada 2025. Batubara berkadar abu tinggi di Indonesia dapat digunakan untuk pembuatan briket batubara yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan. Blending batubara untuk pembangkit listrik dilakukan untuk mengatasi masalah pemasokan batubara untuk PLTU Suralaya. Sistem blending ini dapat dilakukan dengan mencampurkan antara batubara peringkat rendah dengan peringkat tinggi sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara Indonesia yang terkait dengan nilai kalornya. Hubungan antara parameter karakteristik limbah batubara dan karakteristik pembakarannya menunjukkan potensi pemanfaatan limbah batubara yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk bahan bakar langsung dengan menggunakan pembakar siklon. Perubahan morfologi dan kimia batuan pembawa fosfat dengan pelindian mikroorganisme menyisakan ampas pelindian. Pengujian kimia dan mikroskopis yang telah dilakukan terhadap ampas tersebut menunjukkan kinerja yang baik dengan melakukan pengaturan pH untuk mengurangi keikutsertaan unsur-unsur pengotornya dalam proses pelindiannya. Peningkatan kelitbangan dalam bidang teknologi mineral dan batubara yang tertuang dalam makalah-makalah tersebut perlu terus ditingkatkan, karena kualitas mineral dan batubara Indonesia harus memenuhi spesifikasi keteknikannya untuk menghasilkan komoditas yang dapat dimanfaatkan, baik secara langsung oleh para penggunanya di tanah air maupun sebagai komoditas ekspor. Dengan demikian, optimalisasi pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara tersebut dapat terlaksana, sesuai dengan arahan yang telah tertuang dalam undang-undang dan paradigma baru dalam mengelola sumber daya mineral dan batubara. Editor

ii

Bambang Yunianto 1 . 623.id Naskah masuk : 11 Nopember 2008. pengolahan. JMM dan Indo Mines Ltd. DIY. Krakatau Steel). ditolak sebagian masyarakat petani yang mengusahakan lahan tersebut. seluruh tahapan telah sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia dan praktek-praktek pertambangan internasional. revisi terakhir : Januari 2009 SARI Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. Krakatau Steel (PT. JMM) untuk menghasilkan pig iron di Kabupaten Kulon Progo. beberapa keuntungan yang akan diperoleh pemerintah dan masyarakat. Wates. JMM. Produksi direncanakan 500. 227 e-mail : yunianto@tekmira. 022 – 6030483 Ext.KAJIAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL EKONOMI RENCANA PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN PASIR BESI DI PANTAI SELATAN KULON PROGO.6 juta ton. membantu industri baja nasional (PT. Menurut Bappeda Kabupaten Kulon Progo. YOGYAKARTA BAMBANG YUNIANTO Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Bandung – 40211 Telp. Deposit pasir besi sekitar 33. Saat ini kegiatan PT. rencana penambangan dan pengolahan. KS) dan Indo Mines Ltd. Panjatan dan Galur. meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar lingkar proyek melalui program pengembangan masyarakat. Kata kunci:pasir besi. isu lingkungan dan sosial ekonomi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . Wilayah Kontrak Karya (KK) PT. peningkatan PAD. berada dalam lahan Pakualaman pada kawasan sepanjang 22 kilometer pesisir Kulon Progo. Jogja Magasa Mining (PT. konflik sektoral. Secara prosedural perizinan. Jl. Sedangkan secara ekonomi.go. kegiatan PT. termasuk PT. permasalahan bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antara sektor pertanian dengan pertambangan. revisi pertama : 06 Desember 2008. revisi kedua : 12 Desember 2008. tidak menyalahi tata ruang kawasan pantai pesisir selatan dan sudah sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). maupun industri pendukungnya. Jenderal Sudirman No. di wilayah Kecamatan Temon. Reklamasi akan dilakukan sejauh 200 meter ke darat dengan dibuat gumuk artifisial dan ditanami cemara udang. JMM dan Indo Mines Ltd. Penambangan menerapkan tambang kering dan proses ekstraksi dilakukan dengan teknologi Autokumpu seperti yang diterapkan di New Zealand Steel.esdm.. antara lain terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas baik pada kegiatan penambangan. dengan alasan masalah lingkungan dan sosial ekonomi. Berdasarkan analisis..000 ton per tahun dan umur tambang diperkirakan sampai 25 tahun. dan merupakan satu-satunya industri pig iron di Asia Tenggara. sedang memasuki tahap studi kelayakan dan AMDAL yang dibantu oleh UGM.

secara signifikan lahan pertanian tersebut mampu ditingkatkan produktivitasnya. yang mendapat bantuan dan dukungan proyek pengembangan pertanian kawasan pantai. mining and processing plans. meskipun status tanah merupakan tanah Pakualaman. Nowadays. JMM) to produce pig iron in the Kulon Progo Regency-DIY. Setelah berbagai proyek pertanian masuk. kegiatan pertambangan pasir besi yang akan dilakukan PT. KS). merupakan perusahaan tambang dari Australia. The production is planned to be 500. Nomor 13. improvement of the community prosperity around the project through the community empowerment program. Permasalahan tersebut masih tetap akan berlanjut mengingat banyak pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat. PENDAHULUAN Polemik mengenai isu rencana penambangan dan pengolahan pasir besi untuk menghasilkan pig iron di Kabupaten Kulon Progo. Masyarakat daerah ini mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian sejak sebelum tahun 2000. Reclamation will be conducted in a 200 m long toward inland by making an artificial dune with plants of cemara udang. the company activity is reaching the stages of feasibility study and environmental impact study assisted by Gajah Mada University. the issues are caused by the lack of socialisation and coordination between the sectors of agriculture and mining. Oleh karena ada unsur penanaman modal asing (PMA). maka Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bupati Kulon Progo tersebut ditingkatkan menjadi KK pertambangan.000 tons/year. and it will be the sole pig iron industry in the Asean region. Jogja Magasa Mining (PT. maka sebagian besar masyarakat menolak untuk dijadikan lahan pertambangan. Januari 2009 : 1 – 16 . Indo Mines Ltd. The iron sand deposit is 33. Yogyakarta terus bergulir. JMM. Wates. 2007). baik di daerah maupun Pusat dan lokasi kegiatan meliputi wilayah yang luas di 4 Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo.ABSTRACT The plan of mining and processing of iron sand carried out by PT. Menurut status tanah. According to the Agency for Regional Development Planning of the regency. Procedurally. some benefits that will be obtained by the regional government and the community consist of wide job opportunities from the mining operation. whilst the age of the mining is assumed 25 years. KS) dan PT. karena wilayah tersebut sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat pantai sebagai lahan pertanian. sedangkan kawasan pantai sebelah barat Sungai Progo ke arah Kutoarjo merupakan tanah Pakualaman/ Pakualam Ground (BPS Kabupaten Kulon Progo. The area of the work-contract of the company. Wates. yaitu Temon. JMM (termasuk PT. Panjatan dan Galur. sectoral conflict. Wates. KS) and Indo Mines Ltd. yang berada dalam wilayah 4 kecamatan. and the process of extraction will use autokumpu technology as applied in the New Zealand Steel. kawasan pantai sebelah timur Sungai Progo ke arah Kabupaten Bantul merupakan milik kraton Yogyakarta (Sultan Ground). processing. Panjatan dan Galur. JMM) ini berizin Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bupati Kulon Progro. Krakatau Steel (PT. including PT. supporting industries. kawasan pantai selatan tersebut terbagi dua. The mining will apply dry mining method. KS dan Indo Mines) meliputi kawasan sepanjang 22 kilometer pesisir Kulon Progo. Jogja Magasa Mining (PT. dengan nilai investasi 600 juta dolar AS. Proyek tersebut merupakan kerja sama antara PT. yang akan membangun pabrik untuk mengolah pasir besi. the mining activity is in a line with the spatial use of the south coastline. Krakatau Steel (PT. dan masyarakat kawasan pantai ini banyak mengalami 2 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. increase the national steel industry (PT. yaitu Temon. PT KS saat ini adalah salah satu perusahaan baja hilir terbesar di Indonesia. Panjatan and Galur. Pada awalnya. According to the analyses. environmental and socio-economic issues 1.6 million tons. Permasalahan mulai terjadi. Economically. Keywords: iron sand. all the stages are in accordance with the national prevailing regulations and the international mining practices. Wilayah konsesi KK PT. is located in the Pakualaman land along 22 km of the Kulon Progo coast of the Districts of Temon. increase of the regional revenue. is rejected by some farmer communities that have used the land due to the environmental and socio-economic issues.

dengan melakukan pemboran eksplorasi pada 929 titik dengan kedalaman rata-rata 16 meter. 11/KPTS/KP/ EKPL/X/2006 adalah ± 4. Karangsewu dan Banaran (Gambar 2). atau melalui orang-orang kunci (formal dan nonformal) masyarakat pantai. Metode penelitian yang diterapkan menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Hasil pemboran telah dianalisis di Laboratorium Konsultan Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . inventarisasi data. Jenis data yang dikumpulkan dan digunakan dalam kajian berupa data primer dan data sekunder. JMM telah menyelesaikan aktivitas eksplorasi pasir besi di Kulon Progo pada akhir 2006. yaitu Galur. Dalam proses selanjutnya. meliputi desa-desa: Karangwuni. yang dilakukan pada 28 April – 2 Mei 2008. RENCANA PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN PASIR BESI Lokasi dan Wilayah Konsesi PT.. JMM terletak di pesisir selatan Kabupaten Kulon Progo. sedangkan data sekunder berupa data dan informasi dari PT. Temon. baik di tingkat kabupaten. dokumentasi.000 ha. dan PT.8% dan proporsi tertinggi cadangan pasir besi pada kedalaman 6-8 meter dari permukaan dengan total cadangan sekitar 273 juta ton dengan kandungan Fe sekitar 14. Teknik PT.1. KS). Glagah. Wates dan Panjatan (Gambar 1).kemajuan. Hasil laporan eksplorasi pasir besi Kulon Progo telah mendapatkan sertifikasi internasional dari JORC (Joint Ore Reserve Committee) suatu badan akreditasi cadangan mineral internasional. Kelompok Tani Karangwuni. DIY. maupun sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo. JMM. DIY untuk mencari pemecahannya yang terbaik. Eksplorasi dilakukan pada area sekitar 2 x 22 km. meliputi 4 kecamatan dengan desa-desa: Jangkaran. Karangsewu. Sindutan. 2006a). provinsi maupun pusat. 3. JMM dan dinas terkait. Dari hasil eksplorasi diperoleh kesimpulan bahwa total cadangan pasir besi Kulon Progo adalah sekitar 605 juta ton dengan kandungan Fe sekitar 10. JMM tersebut ditingkatkan menjadi Kontrak Karya (KK) dengan menggandeng Indo Mines PTY Ltd. Palihan. sejalan dengan semakin gencarnya sosialisasi yang dilakukan oleh PT. dengan luas ± 3000 ha.2%. Kelompok Tani Ngudi Rejeki. (PT. Luas konsesi Kuasa Pertambangan (KP) PT. JMM Lokasi rencana kegiatan pertambangan pasir besi PT. yaitu digunakannya berbagai parameter keilmuan dalam membahas permasalahan utama yang dikaji. JMM sesuai Keputusan Depperindagkoptamb No. baik sosialisasi ke masyarakat langsung. Masyarakat dan kelompok tani Desa Banaran yang dulunya menolak kini menjadi mendukung setelah mendapat kepastian mengenai lahan garapannya dan manfaat yang akan didapat dari adanya proyek tersebut.. Selanjutnya. seperti Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo. 3. 3. Maksud penulisan ini adalah menginventarisasi permasalahan mengenai rencana kegiatan penambangan dan pengolahan pasir besi di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. KP PT. Bugel. Secara umum penelitian dilakukan dengan survei lapangan ke lokasi rencana penambangan dan pengolahan pasir besi di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. Kegiatan Eksplorasi Metodologi yang dilakukan menggunakan pendekatan multidisiplin ilmu. 2. 2006). meliputi 4 kecamatan. dan dapat memberi masukan kepada pihak-pihak yang terkait dalam penyelesaian permasalahan tersebut. Garongan. JMM. METODOLOGI pengolahan dan analisis data menggunakan teknik deskriptif. Dalam survei lapangan. Bugel. Karangwuni. dan Banaran seperti ditunjukkan oleh Gambar 3 (PT. Pleret. KP008/KPTS/KP/EKPL/X/ 2005 yang diperbaharui dengan No. kompilasi dan eksplanatori. dan wawancara langsung ke sumber data. Bambang Yunianto 3 . Data primer berupa informasi yang langsung berasal dari responden. Garongan. Pleret. Teknik penelitian yang digunakan adalah observasi. Tidak dijumpai resistensi dari warga didaerah eksplorasi karena semua kewajiban yang berupa ganti rugi dan lain-lainnya diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.2. suara pro dan kontra terhadap kehadiran proyek tersebut mulai terpecah. sehingga muncul perlawanan dari beberapa kelompok tani. JMM (Indo Mines Ltd. selain dilakukan pendataan pada sumber data utama juga dilakukan pendataan pada pemilik kepentingan lainnya. Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan metode Aircore Drilling sebanyak 929 titik lubang bor. Wates.

Januari 2009 : 1 – 16 . Nomor 13.  Gambar 1. Lokasi rencana penambangan pasir besi PT. JMM di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo 4 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.

Bambang Yunianto 5 ..  Gambar 2. JMM Gambar 3.Indo Mines Ltd. Peta lokasi wilayah KK PT. Peta lokasi wilayah KP PT. Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . JMM ..

JMM. JMM. 2006b). Pengolahan Pasir Besi dan Pengelolaan Lingkungan b) 3. 2006b). cukup untuk memasok produksi minimal 300.000 ton pig iron per tahun selama 15 tahun.60%.5 juta ton Fe. Teknik tersebut telah dilakukan selama 30 tahun untuk operasi pengayaan pasir besi di New Zealand. c) Areal penambangan berada pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai ke arah darat.Geologi Mackay & Schnellman Pty Ltd menggunakan JOCR Standard. Rencana Penambangan. yaitu d) minimal 4. sebagai pencegah abrasi. menunjukkan bahwa pasir besi di Kulon Progo dapat ditingkatkan perolehannya (recovery) dari 14% Fe menjadi 50% Fe hanya dengan menggunakan satu proses/tingkat konsentrasi gaya berat (gravity concentration). Berdasarkan penelitian Suhardi (PT. erosi dan peredam tsunami dan telah terbukti pada percobaan di sepanjang pantai Samas dan Pandansimo (Skema rencana penambangan dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5). produksi per tahun. dan akan dibuatkan ’barrier’ atau tanggul dan ditanami pohon cemara udang.000 ton pig iron per tahun. Hasil tes awal dengan menggunakan teknologi Autokumpu. Apabila dilakukan dengan beberapa tingkat (multiple stage).6 juta ton Fe.000 ton/ bulan (PT. dengan kadar 14% Fe. dengan produksi 700. atau 41. tanaman ini sangat efektif untuk pencegahan abrasi.8 km wilayah pantai selatan Kabupaten Kulon Progo terdapat cadangan mineral pasir besi 240 juta ton. JMM di Kabupaten Kulon Progo 6 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.000 ton/ tahun. Produksi akan dilakukan sebesar 500. PENANAMAN CEMARA UDANG (PENCEGAH ABRASI PEREDAM TSUNAMI) PRE-CONCENTRATION PLANT PENAMBANGAN Tree Tree LAUT PRA KONSENTRAT BIJI BESI PANTAI 200M (AREA PENAMBANGAN) Gambar 4. Secara garis besar hasil eksplorasi sebagai berikut: a) Di sepanjang 22 km dan lebar 1. Skema rencana penambangan pasir besi PT. Dengan jumlah cadangan yang ada di zona ekonomis wilayah KK. Januari 2009 : 1 – 16 . Nomor 13. hal ini melebihi dari kebutuhan minimum Indo Mines Limited. Kepala Laboratorium Fisiologi Pohon dan Bioteknologi Kehutanan UGM. yaitu gravity concentration dan magnetic separation kadar perolehan Fe akan dapat ditingkatkan sampai 58 .3. Cadangan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo (untuk kedalaman sampai dengan 6 meter) setara dengan 33. permukaan rata-rata air tanah di wilayah KK dan juga berdasarkan faktor wind blow. maka lama penambangan akan berkisar kurang lebih 25 tahun.

menghasilkan mineral besi/logam yang terpisahkan dari pasir halus. Oleh karena itu. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan PT Antam Tbk. menyatakan bahwa area lahan pasir besi bukan lahan yang bernilai pertanian. Dengan dihilangkan kandungan logamnya. Berdasarkan wawancara langsung dengan Tejoyuwono Notohadiprawiro Dosen Ilmu Tanah UGM. Skema cara penambangan Sistem penambangan menggunakan metode pengupasan (strip mine) secara kering. daerah bekas area penambangan akan dapat ditanami kembali dengan produk agrikultur yang lebih bernilai ekonomis. penambangan dapat berpindah ke blok selanjutnya apabila blok sebelumnya telah selesai ditambang dan direklamasi. Melalui proses penyaringan dan pemisahan gaya berat (gravity concentration) akan diperoleh 20% pre-konsentrat mineral besi. Kedalaman penggalian kurang lebih 6 m dengan total penurunan lahan maksimal 80 cm (PT. dan ditambah dengan tanah dan dipupuk. dengan alat pemisah magnetik. 2007). sedangkan sisanya sebanyak 80% berupa pasir halus akan dikembalikan lagi ke lokasi galian tambang sebagai bagian dari proses reklamasi. maka daerah reklamasi akan menjadi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan .Gambar 5.. Untuk mendapatkan produk pig iron sekitar 1 juta ton per tahun. maka setiap tahun perlu dilakukan penambangan pada areal sejauh 200-400 m dari bibir pantai pada batas pasang tertinggi dengan kedalaman sekitar 6 m. Bambang Yunianto 7 . dengan umur tambang per blok 8-12 bulan. Pada tahun kedua setelah penambangan. Pre-konsentrat mineral besi (20%) akan diangkut dan kemudian diproses di pabrik konsentrat. Pengolahan dan peleburannya akan menerapkan teknologi Outokumpu seperti yang dilakukan di New Zealand Steel dan menjadi yang pertama di Indonesia. dengan menggunakan air laut atau air tawar sebagai bahan pencuci. Penambangan dilakukan per blok. Pasir besi yang digali akan diangkut dan dimasukkan dalam proses pencucian dan penyaringan. sehingga beratnya menjadi hanya 10% dari total galian pasir besi dan sisanya akan dikembalikan lagi ke lokasi galian tambang sebagai bahan reklamasi.. pada tambang pasir besi Cilacap dan Kutoarjo yang menggunakan monitor air dengan menerapkan metode tambang semprot. JMM.

Nomor 13. Rencana pembangunan pabrik pengolahan pasir besi terpola dalam kerangka industri baja terpadu. Januari 2009 : 1 – 16 . sebagaimana ditunjukkan oleh bagan alir pada Gambar 6 dan 7. Bagan alir rencana industri baja terpadu di Kabupaten Kulon Progo Gambar 7. Industri baja terpadu ini menganut kriteria berikut: PENAMBANGAN PASIR BESI VANADIUM SLAG (BAHAN BAKU BAJA TAHAN KARAT) KONSENTRAT PASIR BESI PASIR BESI CONCENTRATOR (DENGAN MAGNIT) PENCUCIAN DAN PENYARINGAN BATUBARA PABRIK BESI WANTAH (PIG IRON) KONSENTRAT PASIR BESI PIG IRON (BAHAN BAKU BAJA) PASIR HALUS BATUKAPUR PASIR SLAG (DAPAT DIPAKAI BAHAN PERKERASAN KONSTRUKSI JALAN) REKLAMASI CATATAN : DALAM JANGKA PANJANG AKAN DIKEMBANGKAN INDUSTRI BILLET BAJA Gambar 6.lebih subur dan bernilai pertanian. Pasir besi dikirim ke pabrik peleburan untuk diolah 8 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. yaitu industri baja yang dimulai dari proses penambangan pasir besi sampai dengan proses pembuatan pig iron sebagai bahan baku utama baja.

Ini salah satu alasan pabrik pengolahan ada di Kulon Progo. kantor. b) Jalur transportasi kereta api dibutuhkan untuk menghubungkan industri pengolahan dengan pelabuhan terdekat di Pulau Jawa. andesit. tanah liat. Dalam pengelolaan lingkungan diterapkan teknik reklamasi/pengembalian fungsi lahan seperti ditunjukkan pada Gambar 8. Tahapan reklamasi dan bentuk penampang lahan setelah reklamasi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . supaya bersatu dengan kegiatan penambangan sebagai sumber bahan bakunya yang juga terdapat di Kabupaten Kulon Progo. jalan dan pemukiman karyawan akan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada di Kabupaten Kulon Progo (PT. e) Untuk konstruksi pabrik. b) Reklamasi diwajibkan untuk setiap blok dengan teknik pengembalian perlajur sehingga proses reklamasi beriringan dengan proses penambangan/pengolahan. c) Lahan hasil reklamasi akan dibuat lebih subur dengan penambahan pupuk organik dan bahan Pembangunan berbagai sarana pendukung akan direncanakan sebagai berikut: a) Sarana transportasi akan menggunakan dan mengembangkan sarana jalan yang sudah ada dan membuat sarana jalan yang baru sesuai dengan kebutuhan industri. Bahan pendukung untuk konstruksi pabrik dan proses pengolahan semua tersedia di wilayah Kulon Progo seperti mangan. JMM. batugamping. c) Pasokan listrik dapat bersumber dari PLN atau akan dibuat pembangkit tenaga listrik sendiri.. untuk keluar masuk hasil produksi dan bahan pendukung industri. Gambar 8. d) lain yang diperlukan sehingga diharapkan produksi pertanian meningkat..a) b) c) d) Untuk pabrik pengolahan diharapkan tidak jauh dari lokasi penambangan. dengan tahapan sebagai berikut: a) Material bukan pasir besi setelah dipisahkan langsung dikembalikan. lahan akan difungsikan kembali sebagai lahan pertanian atau sesuai peruntukannya. 2007). 2007). d) Kebutuhan air untuk industri maupun konsumsi akan memanfaatkan sumber air laut ataupun air sungai. Metode pengolahan mengacu pada apa yang dilakukan di New Zealand dengan menggunakan 3 macam alternatif pengolahan (PT. Bambang Yunianto 9 . Setelah selesai direklamasi. JMM.

sejalan dengan semakin gencarnya sosialisasi yang dilakukan 10 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. tanah desa dan tanah milik dinasti Pakualam (Pakualam Ground). satu di antaranya di kawasan pesisir selatan Yogyakarta. dan ada sanksi terhadap pelanggar. Risiko kerusakan alam yang menyertainya akan lebih hebat (PT. Pengembangan buah naga oleh petani dan infrastruktur di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo Selain merusak lingkungan. dan masyarakat kawasan pantai ini banyak mengalami kemajuan. karena wilayah tersebut sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat pantai sebagai lahan pertanian. Kelompok Tani Ngudi Rejeki. Tanggal 7 Januari 2003. seperti Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo. KGPAA Pakualaman IX mengeluarkan surat kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi DIY. Kombinasi penanaman cemara udang dan gumuk-gumuk pasir bentukan alam itu merupakan penahan tsunami alamiah yang paling efektif. maka sebagian besar masyarakat menolak untuk dijadikan lahan pertambangan (contoh pertanian rakyat lihat Gambar 9 dan contoh infrastruktur di pantai selatan lihat Gambar 10). Kelompok Tani Karangwuni-Wates. Januari 2009 : 1 – 16 . JMM. seperti untuk penambangan pasir. yang mendapat bantuan dan dukungan proyek pengembangan pertanian kawasan pantai. Dalam proses selanjutnya. yakni tanah milik bersertifikat. penambangan pasir besi dianggap akan mengancam kelangsungan pertanian lahan pasir. bernomor X/PA/ 2003. Di dunia ini hanya ada tiga gumuk pasir yang bergerak. Nomor 13. Menurut Sudaryatno dari Fakultas Geografi UGM. fungsi itu hilang. meskipun status tanah sebagian besar merupakan tanah Pakualam. Isinya antara lain bahwa lahan itu dapat dikembangkan untuk kegiatan pertanian lahan pasir.4. Setelah berbagai proyek pertanian masuk. 4. Ia juga mengingatkan terjadinya Gambar 9 dan 10. teknis dan ilmiah. b) Berbagai pihak yang memiliki kepentingan terkait dengan kegiatan di kawasan pantai tersebut menyampaikan pendapat. Wilayah eksploitasi lahan di wilayah itu terbagi atas tiga kepemilikan. tidak diizinkan mengubah sifat fisik dan hayati.1. lapisan pasir di bawah permukaan tanah sangat berguna untuk meredam gempa. dari aspek c) eksploitasi lebih jauh dan lebih dalam dari semula yang direncanakan. sehingga muncul perlawanan dari beberapa kelompok tani. PERMASALAHAN DAN ANALISIS PENYELESAIANNYA Permasalahan Berdasarkan inventarisasi di lapangan terdapat beberapa permasalahan. Jika pasir diambil. yaitu: a) Permasalahan mulai terjadi. Dja’far Shiddieq ahli tanah UGM menyatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda pun tidak melakukan penambangan pasir besi di wilayah itu karena dampaknya yang dianggap berbahaya terhadap keseimbangan ekologis di wilayah itu. secara signifikan lahan pertanian tersebut mampu ditingkatkan produktivitasnya. Masyarakat daerah ini mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian sejak sebelum tahun 2000. 2007).

2. baik di daerah maupun pusat. Dalam kajian lingkungan yang dijadikan pedoman adalah: a) Perusahaan wajib melakukan studi lingkungan melalui penyusunan dokumen AMDAL. maupun sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo. b) KP Eksplorasi No. Sedangkan pada tahap konstruksi. 4. PT. Panjatan. JMM mengajukan eksplorasi pasir besi. Jadi secara prosedur perizinan seluruhnya telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. telah memenuhi prosedur perizinan di Sektor ESDM. c) Aktivitas perusahaan di lapangan akan selalu mendapat pengawasan dan pembinaan dari instansi yang berwenang dalam sektor pertambangan dan instansi terkait lainnya sesuai dengan kewenangannya masing-masing. c) 30 Juni 2005 Indo Mines. KS).oleh PT.undangan yang berlaku. 1) Proses Perizinan Rencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi PT. pemukiman karyawan. Pengawasan dan pembinaan dalam tahapan penambangan dan pengolahan adalah: a) Dalam proses penambangan dan pengolahan perusahaan wajib mengikuti kaidah-kaidah penambangan dan pengolahan yang baik dan benar serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku. tahapan tersebut adalah: a) Tanggal 6 Oktober 2005 PT. dan melanjutkan pilot proyek penambangan pasir besi sebagai model penambangan nantinya. hal tersebut perlu terus menerus disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan kegiatan penambangan dan pengolahan pasir besi tersebut.. JMM dan Indo Mines Ltd. dan hasilnya diuji oleh komisi AMDAL provinsi dan atau pusat. kebutuhan air dan sarana pendukung lainnya yang menunjang kegiatan industri. Kegiatan pengolahan pasir besi dapat disinergikan dengan kegiatan lain dalam satu kawasan yang dapat diatur melalui RTRW juga Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . atau melalui orang-orang kunci (formal dan nonformal) masyarakat pantai. e) Dalam tahun 2008 akan melakukan Studi Kelayakan. b) Perusahaan wajib memberikan laporan penambangan dan pengolahan secara periodik sesuai ketentuan yang berlaku. baik sosialisasi ke masyarakat langsung. b) Konstruksi meliputi pabrik. sosial kemasyarakatan dan sesuai dengan peraturan perundang . Temon. dan sudah sesuai dengan praktekpraktek pertambangan yang diakui secara internasional. JMM dan Indo Mines akan menempuh beberapa hal: a) Tahapan konstruksi dilakukan apabila hasil studi kelayakan menyatakan bahwa rencana kegiatan pengolahan dinyatakan layak secara teknis. dan PT. tenaga kerja dan lain-lain). 008/KPTS/KP/EKKPL/X/2005 luas 4. c) Perusahaan wajib mengikuti Kebijakan Pemerintah tentang Tata Ruang Wilayah dan Kebijakan Penataan Tata Ruang bersifat dinamis dan dievaluasi setiap 5 tahun. Namun. JMM melakukan eksplorasi dengan 929 titik bor. sarana jalan. Masyarakat dan kelompok tani Desa Banaran yang dulunya menolak. d) Tanggal 25 Maret 2006 PT. Ltd (Australia) bergabung karena mempunyai teknologi Autokumpu pengolahan pasirbesi menjadi pig iron. lingkungan. kontraktor. 2) Keterkaitan Pengolahan Pasir Besi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Sektor Lain Dalam pembahasan berikut akan dianalisis beberapa permasalahan di atas berdasarkan akar masalah yang dijadikan polemik. b) Penyusunan dilakukan oleh konsultan lingkungan yang mempunyai kompetensi dan kredibilitas yang diakui secara nasional dan internasional. ekonomis.7 Ha (Wates. Galur). dan telah melaporkan hasil eksplorasi sebanyak 14 volume. kini menjadi mendukung setelah mendapat kepastian mengenai lahan garapannya dan manfaat yang akan didapat dari adanya proyek tersebut. Analisis Penyelesaian Permasalahan Pengembangan Sektor lain. terutama pemangku kepentingan di daerah dan masyarakat yang nantinya akan terkena dampak langsung adanya kegiatan tersebut. JMM (Indo Mines Ltd. Bambang Yunianto 11 . pembangkit listrik. c) Pembangunan konstruksi diharapkan semaksimal mungkin memanfaatkan sumber daya lokal (material.. maka suara pro dan kontra terhadap kehadiran proyek tersebut mulai terpecah. AMDAL.076.

Kalau PT. berarti paling tidak akan memenuhi sekitar 50% bahan baku baja nasional yang sampai saat ini masih diimpor. Januari 2009 : 1 – 16 . Bila mampu memproduksi sendiri bahan baku baja. Sementara itu. Namun. khususnya di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. 2008). pembinaan dan peningkatan peran perempuan. Aspek sosial: pengembangan kelompokkelompok sosial kemasyarakatan. penduduk/petani dapat memanfaatkan kembali tanah eks penambangan. pemasok. tidak menyalahi tata ruang kawasan pantai pesisir selatan dan sudah sesuai RTRW seperti ditunjukkan oleh Gambar 11 dan Gambar 12 (Bappeda Kabupaten Kulon Progo. kegiatan PT. dengan tanaman yang lebih bernilai ekonomis. tetangga DIY. karena pengolahan pasir besi bersifat sementara. kesuburan tanah setelah ditambang menurut Tejoyuwono Notohadiprawiro (UGM). Untuk jangka panjang diharapkan akan berkembang industri turunan dari industri peleburan pig iron yang amat luas yang akan memberi manfaat ekonomis bagi kemajuan masyarakat Kulon Progo dan sekitarnya (BPS Kabupaten Kulon Progo. hanya 25 km dari Jogya. c) Pada masa konstruksi pabrik peleburan pig iron. peningkatan nilai tambah usaha sektor pertanian. ongkos angkutnya sekitar $60 per ton. karena menggunakan sumber energi gas yang semakin meningkat harganya. 12 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. JMM bisa memproduksi pig iron. 3) Manfaat Proyek bagi Masyarakat Lingkar Proyek dan yang Terkena Dampak a) b) c) d) e) f) g) h) 4) Penduduk yang terkena dampak penambangan akan diberi ganti rugi yang layak dan wajar. proses reklamasi. program pengembangan sarana pendidikan. DIY memiliki potensi yang luar biasa sumber daya alam bahan baku baja yang berupa pasir besi. Nomor 13. industri ini sulit berkompetisi di pasaran ekspor. komunikasi dan lainnya). 2005). area lahan pasir besi adalah bukan lahan yang bernilai pertanian. lahan mungkin hanya bisa memberi manfaat ekonomis pada 10 petani. setidak-tidaknya akan dibutuhkan sekitar 2000 tenaga kerja langsung untuk memproduksi 1 juta ton pig iron per tahun. Industri ini masih membeli bahan baku yang berupa pig iron impor dengan harga sekitar Rp 4000-5000/kg berarti sekitar $400-550/ton. pembinaan generasi muda. Contoh lain. perbaikan mutu tanah dan pemupukan. setelah reklamasi pada area penambangan tahun pertama. 2007). dari ongkos angkut akan bisa menghemat sekitar $50. Keterkaitan Rencana Kegiatan dengan Kebijakan Baja Nasional Indonesia yang dikenal kaya sumber daya alam harus mengimpor 100 % bahan baku baja dan 60-70 % scrap baja untuk keperluan industri bajanya. dan ditambah dengan tanah dan dipupuk. Aspek kesehatan: pembangunan saranaprasarana kesehatan. Jika potensi ini dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik akan menghasilkan sekitar 1 juta ton pig iron. peningkatan mutu kesehatan masyarakat. Aspek ekonomi: pembinaan dan pengembangan UMKM. Berikut manfaat dari aspek penyerapan tenaga kerja: a) Pada area pra-penambangan. peningkatan produksi hasil pertanian. setelah dihilangkan kandungan logamnya. JMM. Oleh karena itu. Aspek sarana umum: peningkatan infrastruktur di lingkungan kawasan industri. Saat ini bahan baku baja yang berupa “biji besi terolah” 100% masih impor dari Amerika Selatan.dalam Rencana Detil Tata Ruang Kawasan pantai selatan Kulon Progo. terkait dengan sektor lain. tengkulak cabai dan semangka.000. Industri Pengecoran Logam Klaten. setidaktidaknya akan terserap secara langsung 500 tenaga kerja. Ini masih ditambah teknologi pengolahan baja yang tidak efisien.000 per tahun. b) Pada masa penambangan akan terserap tenaga kerja minimum 100 tenaga kerja secara langsung dan sekitar 100 secara tidak langsung (sektor angkutan. pembibitan dan penanaman cemara udang. Pada tahun kedua. program pengembangan sumber daya manusia. pembinaan dan peningkatan kualitas dalam melaksanakan ibadah. Berdasarkan koordinasi dengan Bappeda Kabupaten Kulon Progo. maka daerah reklamasi akan menjadi lahan yang lebih subur dan bernilai pertanian (PT. yang akan dimulai pada tahun 2008. Aspek keagamaan: pembangunan saranaprasarana ibadah. Berikut manfaat sosial kemasyarakat berdasar hasil kajian sementara: Aspek pertanian: peningkatan kualitas lahan pasca tambang dan pengolahan. penguatan dan pembinaan kelembagaan ekonomi pedesaan. Di negara asal harganya hanya sekitar $300-350/ton. Aspek pendidikan: program beasiswa. Aspek budaya: pelestarian dan pengembangan budaya lokal. d) Setelah pabrik peleburan besi wantah mulai beroperasi. serta akan dipekerjakan dalam proses penambangan. JMM dan Indo Mines Ltd.

Rencana tata ruang kawasan pantai selatan tahun 2005-2015 13 .. Bambang Yunianto U Gambar 11.Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan ..

14 U Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Peta rencana pemanfaatan lahan kawasan pantai selatan Kabupaten Kulon Progo . Nomor 13. Januari 2009 : 1 – 16 Gambar 12.

Wates. Peraturan Bupati Kabupaten Kulon Progo No. sosial. 2005. Wates. 2005. keagamaan dan lainnya. BPS Kabupaten Kulon Progo. Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . kesehatan. JMM di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo tersebut.. 5. dan PAD. JMM kpd KGPA Paku Alam IX No. Wates. mulai dari penambangan bahan baku sampai industri pengolahan bahan baku baja. serta pengaruh ekonomi dari sektor-sektor lain yang terkait. sehingga akan mempercepat proses pembangunan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Kulon Progo. Kabupaten Kulon Progo dalam Angka 2006/2007.maka akan sangat membantu. terutama antara sektor pertanian dengan sektor pertambangan. pertanian.4 triliun). d) Prospek investasi untuk pengembangan industri di atas diperkiraan mencapai US$ 600 juta (Rp. royalti. f) Lokasi pabrik dan area eksploitasi akan disesuaikan dengan Rencana Pengembangan Wilayah Pemkab Kulon Progo dan Pemprov DIY termasuk kepemilikan lahan masyarakat dan Puropakualaman (sesuai surat PT. dalam penyelesaian setiap permasalahan harus dilakukan kegiatan sosialisasi secara struktural dan komprehensif terhadap seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan rencana kegiatan tersebut. kegiatan tersebut akan membuka peluang kerja. JMM dan Indo Mines Ltd. 2007). b) Secara tata ruang pemanfataan lahan. c) Industri pig iron direncanakan akan dikembangkan menjadi industri baja di Kulon Progo. 055/JMM/IX/2006 tgl 22 September 2006. Beberapa keuntungan yang akan diperoleh pemerintah dan masyarakat antara lain: a) Terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas baik di industri utama maupun industri pendukungnya sehingga mengurangi pengangguran di Kulon Progo b) Peningkatan pendapatan pemerintah/Daerah yang sangat besar dari pajak. Krakatau Steel (sesuai Head of Agreement 22 Januari 2007). Bappeda Kabupaten Kulon Progo. b) Industri pig iron di Kulon Progo direncanakan juga akan memanfaatkan bahan baku dari daerah lain di Indonesia. d) Industri ini akan menjadi satu-satunya industri yang memproduksi pig iron di Asia Tenggara dan akan dikembangkan sampai menjadi industri baja di Kulon Progo. Berdasarkan kajian ekonomi sementara. sebetulnya bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi di antara pemangku kepentingan. 40 Tahun 2005 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Pantai Selatan Tahun 20052015. dan mendukung kebijakan baja nasional sejalan dengan rencana pembangunan pabrik baja di Kalimantan Selatan. dan pendapatan lain yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. c) Dengan adanya program pengembangan masyarakat (Community Development) akan membantu mengembangkan masyarakat terutama dalam bidang ekonomi. 5. JMM. e) Perusahaan yang telah menyatakan akan membeli pig iron adalah PT. pendidikan. Untuk itu. PENUTUP Berdasarkan telaahan dari beberapa sudut pandang terhadap permasalahan penolakan sebagian masyarakat petani (isu lingkungan dan sosial ekonomi) terkait rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. 2008.. d) Secara kepentingan nasional dapat memasok kebutuhan pig iron PT. DAFTAR PUSTAKA Anonim. DIY khususnya Kabupaten Kulon Progo memiliki potensi yang amat besar untuk didirikannya suatu industri baja terpadu. c) Secara sosial ekonomi masyarakat dan pemda. Beberapa hal yang dijadikan dasar adalah: a) Secara prosedur perizinan di bidang pertambangan. seluruh tahap telah dan akan dipenuhi oleh PT. meningkatkan pendapatan masyarakat. land rent. karena harga bahan baku pasti akan lebih murah 20-30% dari bahan baku impor (PT. Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Pantai Selatan Kabupaten Kabupaten Kulon Progo Tahun 2005 – 2015. KS yang masih mengimpor bahan baku. rencana pembangunan pabrik pengolahan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo adalah: a) Potensi bahan baku (pasir besi) tersebar di beberapa wilayah Indonesia tetapi sampai saat ini Indonesia belum memiliki teknologi untuk mengolah pasir besi menjadi pig iron. budaya. kegiatan tersebut sudah sesuai dengan RTRW Kabupaten Kulon Progo. Bambang Yunianto 15 . retribusi.

Jogja Magasa Mining. Ringkasan hasil eksplorasi pasir besi pada wilayah KK PT. 2007. 16 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. PT. Indo Mines Ltd. Jogja Magasa Mining. Jogja Magasa Mining. PT.BPS Kabupaten Kulon Progo. Wates. Januari 2009 : 1 – 16 . 2006b. Yogyakarta. 2008. PT. JMM dan PT. Aplikasi Kontrak Karya untuk Pengembangan Pasir Besi di Kabupaten Kulon Progo. Nomor 13. 2006a. Bahan sosialisasi rencana penambangan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo kepada masyarakat. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Kulon Progo 20022007.

58 miliar dengan jumlah karyawan 13 orang. high ash content.investasi ABSTRACT Blue Print of the 2006 National Energy Management appointed that the use of coal needs to be increased from 15.34% menjadi 33% dalam energi bauran pada tahun 2025. Kebutuhan dana investasi sebesar Rp 1. revisi pertama : 06 Desember 2008. research on briquetting by using coal with high ash content was carried out including the design of process. However. kadar abu tinggi.id Naskah masuk : 11 November 2008. Hasil menunjukkan bahwa bahan pengikat proses pembriketan adalah molases. sehingga memerlukan butiran batubara berbutir besar (± 4 cm). Investment cost was Rp 1.go.0 kg/ cm2. and pressure of 2. Bandung email : suganal@tekmira. which needs large coal particles (±4 cm).3 mm. 623. Akan tetapi. Among the target..58 million. Kata kunci : briket batubara. revisi kedua : 12 Desember 2008. Based on this purpose. hammer mill. coal burning system in households and small scale industries are generally applied grate system. rancangan proses.. maka dilakukan penelitian pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi termasuk pembuatan rancangan proses serta biaya investasi agar dapat diterapkan pada masyarakat. Jenderal Sudirman No. size of coal particles was . and double roll briquetting machine. coal briquetting is considered necessary. double roll mixer.5 ton/hour requires main equipments such as jaw crusher. hammer mill. Keywords : coal briquette.34% to 33% in the 2025 energy mix.5 ton/jam diperlukan peralatan utama yang terdiri atas jaw crusher. A small scale coal briquetting with the capacity of 2. the use of coal is for small scale industries and households. Result shows that the briquette binder was molasses. with 13 employees. revisi terakhir : Januari 2008 ABSTRAK Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu ditingkatan dari 15. ukuran serbuk batubara – 3 mm dan tekanan pembriketan 200 kg/cm2. For this reason. double roll mixer. sistem pembakaran batubara pada rumah tangga dan industri kecil umumnya menggunakan sistem grate atau kisi. investment Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Oleh karena itu perlu dilakukan pembriketan batubara. Suganal 17 . Berdasarkan hal tersebut. dan mesin briket sistem double roll. Untuk pembuatan briket batubara skala kecil dengan kapasitas 2. Salah satu sasaran pemanfaatan batubara adalah industri kecil dan rumah tangga.RANCANGAN PROSES PEMBUATAN BRIKET BATUBARA NONKARBONISASI SKALA KECIL DARI BATUBARA KADAR ABU TINGGI SUGANAL Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. design process. therefore it can be applied widely.esdm.

2. terutama untuk kebutuhan industri kecil dan rumah tangga mengingat minyak tanah semakin langka. 1961 ). kuantitas penggunaannya masih sangat kecil. Berdasarkan informasi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. pencampuran dengan bahan pengikat. 2. PENDAHULUAN Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu ditingkatkan dari 15. Secara garis besar pembuatan briket batubara nonkarbonisasi meliputi: penggerusan batubara. Ukuran butir briket batubara sekitar 4 . TINJAUAN PUSTAKA Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Briket adalah perubahan bentuk material yang pada awalnya berupa serbuk atau bubuk seukuran pasir menjadi material yang lebih besar dan mudah dalam penanganan atau penggunaannya (http:// www. dkk.000 ton per tahun. Produk dari jaw crusher berukuran – 2 cm. 2006). Januari 2009 : 17 – 30 . jika menggunakan serbuk tanah liat sekitar 10%. sedangkan minyak bumi hanya dapat bertahan sampai 23 tahun (Yusgiantoro.komarindustries. 2004) : jika menggunakan tepung tapioka maksimum sekitar 3% berat. Perpindahan bahan pada proses penggerusan dilakukan menggunakan conveyor belt atau pneumatic conveyor.34% pada tahun 2005 menjadi 33% dalam bauran energi pada tahun 2025 (Pusat Informasi Energi. sehingga memerlukan butiran batubara berbutir besar (± 4 cm). pencetakan. untuk pengganti minyak tanah pada industri kecil maupun rumah tangga. Serbuk batubara dengan ukuran – 3 mm (. agar pasokan udara pembakar cukup lancar. 2006). Nomor 13. terus menerus dan memperkecil radiasi panas dari bagian bawah anglo (Suganal. jika menggunakan molases sekitar 8%. Dalam hal briket batubara. untuk memacu peningkatan produksi dan penggunaan secara nasional. 2004). Penggunaan batubara peringkat rendah akan tepat untuk kegiatan rumah tangga dan industri kecil padat energi yang tidak memerlukan panas tinggi.8 mesh) ditambahkan bahan pengikat berupa tepung tapioka atau serbuk tanah liat – 60 mesh atau molases. dan pengeringan. Perubahan ukuran material tersebut dilakukan melalui proses penggumpalan dengan penekanan dan penambahan atau tanpa penambahan bahan pengikat. Namun. Pemanfaatan batubara dalam bentuk briket batubara saat ini adalah sangat tepat. 2006 ). kemudian dilanjutkan penggerusan dengan hammer mill sampai berukuran – 3 mm. umumnya sebagian dari batubara tersebut adalah batubara peringkat rendah dengan kadar air tinggi dan mudah pecah terkena terpaan perubahan cuaca. yaitu hanya ± 27. Atas dasar beberapa pertimbangan tersebut di atas. Upaya perbaikan cara penyalaan dan memperkecil biaya produksi dilakukan dengan menggunakan anglo atau kompor briket batubara yang dilengkapi dengan blower.1. penggerusan dan pengayakan kemudian dicetak dengan mesin briket. sebagian batubara Indonesia berkadar abu tinggi dan relatif kurang diminati oleh industri besar maupun sebagai komoditas ekspor. Jumlah bahan pengikat yang optimal adalah (Suganal. Meskipun cadangan batubara cukup besar. penggunaan batubara sebagai sumber energi masih dapat bertahan sampai 146 tahun.com). Batubara dari stockpile digerus menggunakan alat jaw crusher dan hammer mill.1. 2008). 18 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. dkk. Hal ini antara lain karena sulitnya penyalaan awal mengingat briket batubara merupakan bahan bakar padat. Sementara itu. Harga briket batubara bila disetarakan dengan harga minyak tanah jauh lebih rendah sehingga cocok digunakan untuk rumah tangga dan industri kecil (Suganal. maka dilakukan penelitian pembriketan batubara sebagai upaya untuk memanfaatkan batubara dengan kadar abu tinggi tersebut. penggunaan batubara pada rumah tangga dan industri kecil umumnya menggunakan sistem grate atau kisi. Bagan alir secara umum terlihat pada Gambar 1. Oleh karena itu perlu pembriketan batubara (Suganal. Meskipun briket batubara telah disosialisasikan sejak lama. diseragamkan melalui pemecahan.12 cm tergantung kebutuhan penggunaan (Schinzel. bahan baku batubara yang beraneka ragam ukuran butirnya. Tujuan penelitian ini adalah merancangan proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil menggunakan batubara dengan kadar abu tinggi melalui teknologi pembuatan briket batubara sederhana.

. Pada pembuatan briket batubara terdapat beberapa tahap proses yang relatif sederhana. Briket batubara nonkarbonisasi tanpa bahan pengikat pada umumnya menggunakan mesin briket double roll tetapi bertekanan tinggi (>200 kg/cm2) (Clark. Alat pencampur tersebut berupa dua buah roda berputar ber keliling dalam suatu bejana dan dilengkapi dengan scrapper (penggaru) untuk mengaduk material obyek pencampuran. T. 2005.au/ energy center). Untuk briket batubara bentuk sarang tawon dicetak dengan mesin briket tipe silinder. Penggerusan batubara dapat menggunakan jaw crusher dan dilanjutkan dengan hammer mill (Perry. sehingga produk briket tak perlu dikeringkan kembali. Pencetakan briket dilakukan dengan mesin briket.go. bahan baku batubara dan biomassa terlebih dahulu mengalami proses pengeringan. pencampuran bahan pengikat. Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi (Maruyama. yaitu penggerusan batubara. penentuan jenis peralatan atau perangkat produksi.det. pencampuran dapat langsung dilaksanakan dalam mixer dengan cara menambahkan tepung tanah liat sebanyak 10% dari berat batubara. 2002 .2. Cara yang sederhana adalah mencampur tapioka dengan air dengan kompsisi 1:8. Cara lain adalah mencampurkan batubara dengan tapioka dalam kondisi kering kemudian disemprotkan uap basah dari boiler.au/energy center) Pembuatan briket biobatubara juga merupakan pembuatan briket batubara nonkarbonisasi.csiro. Pencetakan briket biobatubara dilaksanakan dengan mesin double roll bertekanan tinggi.Biomassa Gambar 1.. Pencampuran bahan pengikat dipilih double roll mixer atau pan muller (Perry. Serbuk kapur padam berfungsi sebagai material pengikat senyawa sulfur agar lebih bersifat ramah lingkungan. Umumnya digunakan roll mixer.det. (Maruyama.jp/sekitan). Untuk pencampuran bahan pengikat berupa tepung tapioka. perhitungan dimensi dan kapasitas peralatan dan perkiraan harga peralatan. pembriketan dan pengeringan. 2008). Tahap Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .nedo. http:/www. Tekanan pembriketan adalah 200 kg/ cm2. http:/ www. Untuk briket bentuk bantal umumnya dicetak dengan mesin briket double roll (http:/www. 2. kemudian dipanaskan sampai membentuk gel. yaitu 3 ton/cm². 2002. Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Dalam rangka realisasi suatu produksi diperlukan rancangan proses yang antara lain meliputi pembuatan neraca massa dan neraca energi. Pencampuran bahan pengikat dilaksanakan dalam suatu mixer.csiro. namun terdapat sedikit perbedaan karena adanya penambahan biomassa dan acapkali ditambahkan pula serbuk kapur padam. 2004). Suganal 19 . Suganal. 2008). Pencampuran berlangsung pada kondisi kering kemudian ditambahkan air sampai terbentuk adonan yang lembab. terlebih dahulu tepung tapioka ini dibuat gel. Pada pembuatan briket biobatubara. Campuran batubara dengan bahan pengikat disebut adonan yang siap untuk dicetak dalam mesin briket. Untuk bahan pengikat berupa serbuk tanah liat.

3. nilai kalor dan sulfur total. karbon padat).1. untuk VM D-3175 – 1989.2. Bandung.pembriketan batubara cukup dilakukan dengan mesin briket sistem double roll atau double roll press machine (Perry. Januari 2009 : 17 – 30 . sedangkan briket batubara dibuat hanya dari campuran batubara dan bahan pengikat tepung tapioka atau molases. Metode analisis menggunakan ASTM. kadar abu. Bagan alir pembuatan briket biobatubara 20 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Bahan baku terdiri atas : Batubara. Pengeringan briket batubara umumnya dilakukan dengan cara penjemuran di udara terbuka. Pembuatan briket biobatubara Prosedur pembuatan briket biobatubara dapat dilihat pada Gambar 2. METODOLOGI shatter test. serbuk kayu sebagai biomassa. Pengering yang umum digunakan adalah band dryer. yaitu : · Analisis contoh bahan baku (batubara) dan produk (briket batubara). dan · Penyusunan rancangan proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. moisture D-3173-1979. Analisis Contoh Bahan Baku dan Produk Penelitian pembuatan briket batubara nonkarbonisasi dibuat dalam dua jenis.2. Kadar air 5 % Molases   Mixer Adonan  briket Ø< 3mm. kadar zat terbang. 3. yaitu briket biobatubara dan briket batubara. Briket biobatubara dibuat dengan mencetak adonan yang berupa campuran dari batubara.1. Kadar air 5% Cutter Ø< 3mm. 3. · Pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. 2008). kecuali untuk kapasitas besar sekitar lebih dari 10 ton per jam. Selain itu untuk briket batubara juga dilakukan pengujian drop serbuk gergaji  ±  20 % air   Bahan imbuh (kapur padam) Batubara ± 5% air Dryer 120oC ±  10  %  air Crusher Ø< 3mm. nilai kalor D-5865-04 sedangkan untuk kadar abu D-3174-04. Nomor 13. serbuk kapur padam sebagai desulfurization agent dan molases sebagai bahan pengikat. Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Kegiatan rancangan proses pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi meliputi beberapa kegiatan. digerus dengan jaw crusher dan hammer mill sampai menghasilkan batubara dengan Batubara kadar abu tinggi sebagai bahan baku yang berasal dari Kalimantan Selatan dan batubara hasil pembriketan sebagai produk dianalisis terhadap proksimat (kadar air.    kadar  air 10% Mesin Briket Briket basah Keranjang Berkisi Briket biobatubara       Gambar 2. 3. Kegiatan analisis berlangsung di Laboratorium Batubara Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara.

Komposisi adonan adalah batubara = 90%.3 mm dan kadar air 10%. berukuran – 3mm dan kadar air 5%. serbuk kapur padam dan molases dimasukkan ke unit mixer untuk dilakukan pengadukan agar mendapatkan campuran bahan yang merata dan disebut adonan.2. 3. Serbuk kayu.- ukuran butir – 3mm. 2003. sebagai biomassa dikeringkan dan digerus dengan mesin cutter sampai berukuran . Molases dengan kadar air 32%. kapur padam = 5%. Bagan alir pembuatan briket batubara Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Produk briket biobatubara dianalisis dan dicocokkan dengan standar baku mutu. Komposisi tersebut merupakan komposisi ideal berdasarkan hasil penelitian pembuatan briket biobatubara di Pilot Plant Briket Biobatubara. Suganal 2004).. Pembuatan briket batubara Pembuatan briket batubara dilakukan sesuai dengan bagan alir seperti terlihat pada Gambar 3. Prosedur pembuatan briket biobatubara : Semua bahan baku berupa batubara. Kadar air ± 5%  Ø> 5 cm Crusher Batubara Kadar air ± 5%  Ø~ 1‐2 cm Mill Batubara Kadar air ± 5%  Ø~ ‐3 mm (‐8mesh) Gel tapioka Mixer Adonan briket Mesin Briket Briket basah Keranjang Berkisi Briket Batubara Gambar 3. Palimanan (Suganal. serbuk kayu. serbuk kayu = 5%. Adonan yang diperoleh dicetak dengan mesin briket double roll tipe kenari pada tekanan pembriketan 3 ton/cm2. Briket biobatubara yang terbentuk dimasukkan dalam keranjang berkisi dan dikeringkan di udara terbuka. Serbuk kapur padam. Suganal 21 . serbuk kayu dan kapur padam.. molases = 5% dari jumlah berat campuran batubara.2.

Hal yang menguntungkan pada batubara Kalimantan Selatan tersebut di atas adalah kadar sulfur total cukup rendah.0 % (Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006.1. Prosedur pembuatan briket batubara : Batubara serbuk dicampur dengan gel tepung tapioka dalam roll mixer dengan komposisi 90% batubara serbuk dan 10 % gel tepung tapioka membentuk adonan briket batubara. 3. Adonan yang diperoleh dicetak dengan mesin briket double roll tipe kenari pada tekanan pembriketan 3 ton/cm2. Komposisi adonan tersebut merupakan komposisi ideal berdasarkan rekaman catatan pada kegiatan ujicoba produksi briket batubara nonkarbonisasi di Pilot Plant Briket Biobatubara Palimanan (Suganal.2. kkal/kg adb Nilai 5.55 38.1.34 2. Tabel 1. 4.34 0. % adb Kadar sulfur total. dibuat menjadi gel dengan cara mencampur 5 kg tapioka dengan 100 liter air panas dan diaduk sampai homogen. Produk briket batubara dianalisis dan dicocokkan dengan standar baku mutu yang tercantum pada Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 Tahun 2006 tertanggal 11 September 2006 tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara. Januari 2009 : 17 – 30 . %. Hasil analisis batubara No 1 2 3 4 5 6 7 Parameter Total kelembaban % Air lembab. % adb Nilai kalor.3. yaitu 4. Nomor 13. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Analisis Bahan Baku Batubara Hasil analisis batubara dapat dilihat pada Tabel 1. Briket batubara yang terbentuk dimasukkan dalam keranjang berkisi dan dikeringkan di udara terbuka.56 %. tertanggal 11 September 2006. briket yang tidak sempurna harus dilakukan pembriketan ulang. digerus dengan jaw crusher dan hammer mill sampai berukuran . maka pembriketan batubara dapat langsung dilaksanakan tanpa harus dikeringkan dengan mesin pengering atau dryer. dapat disimpulkan bahwa kadar sulfur total cukup rendah. yaitu 0. 2004) segera dibuat neraca massa untuk menghitung kebutuhan peralatan dan spesifikasinya yang dilanjutkan dengan penyusunan tata letak peralatan dan perkiraan harga peralatan.57 4.55%. Kualitas briket biobatubara Berdasarkan hasil analisis batubara sebagai bahan baku pembuatan briket biobatubara diketahui bahwa kadar air total batubara sangat kecil. lebih rendah daripada standar baku mutu bahan baku 22 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Berdasarkan standar baku mutu bahan baku briket batubara adalah maksimum 1. Namun kadar abu relatif sangat tinggi dan nilai kalor relatif rendah sehingga bahan pengikat yang akan ditambahkan harus serendah mungkin.39 28. % adb Kadar zat terbang. Sebagai pelengkap disusun kebutuhan bangunan dan perkiraan biayanya berdasarkan data yang didapat dari perusahaan yang bergerak di sektor bangunan sipil pabrik. Perkiraan harga dari tiap peralatan didapat dari bengkel pembuat peralatan.34% dan kadar air lembab hanya 2. Penyusunan Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi briket batubara yang menghendaki kadar sulfur total 1.08 gram Berdasarkan data komposisi adonan briket batubara dari hasil percobaan pembuatan briket batubara nonkarbonisasi tersebut dan data parameter proses lainnya pada penelitian briket batubara terdahulu (Suganal 2003. misalnya tapioka atau molases. 2003).3 mm. adb Kadar abu. Suganal.72 30.2. Pengamatan selama proses pencetakan briket. tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara). Berdasarkan hasil analisis dalam tabel tersebut.555 diperkirakan masih memenuhi batas minimal nilai briket batubara nonkarbonisasi. Dengan demikian. Hasil analisis fisik briket biobatubara sebagai berikut: Kuat tekan rata-rata : 48.0%. · tepung tapioka. Kebutuhan tenaga operator juga disajikan dalam tulisan ini.400 kkal/kg. % adb Kadar karbon padat. Meskipun nilai kalor batubara relatif rendah. 4. yaitu 5. diketahui bahwa rendemen atau perolehan pembriketan hanya mencapai 80%. 4.2 kg/cm2 Berat /butir : 17.Bahan baku terdiri atas : · batubara. Kualitas Briket Batubara Nonkarbonisasi 4. Hal ini berarti sejumlah 20% adonan terdapat tidak tercetak dengan baik atau 20% briket yang tidak sempurna pencetakannya.

Analisis drop shatter test tersebut memberikan indikasi bahwa dalam transportasi maupun penyimpanan yang rentan terhadap gesekan atau jatuh dari suatu ketinggian. 2008).0 + 12. yaitu batas terendah persyaratan baku mutu standar briket batubara nonkarbonisasi. Tabel 2. untuk pembuatan briket biobatubara dalam skala komersial tidak perlu penambahan kapur. maka perolehan pencetakan briket batubara lebih mendekati sempurna.71 36.2. Jika dibandingkan dengan pembuatan briket biobatubara tersebut di atas.71 31. kkal/kg.04%. Hasil percobaan tersebut di atas menunjukkan bahwa pembuatan briket biobatubara dari batubara kadar abu tinggi dengan bahan pengikat molases menghasilkan sifat fisik yang baik tetapi sifat kimianya sedikit di bawah persyaratan baku mutu briket batubara.Jenis analisis fisik lainnya adalah drop shatter test yang hasilnya dibandingkan dengan distribusi ukuran briket biobatubara sebelum dilaksanakan drop shatter test. % 9.54%.3 + 3.67 gram Perbandingan sifat fisik dari briket biobatubara berbahan pengikat molases dengan briket batubara berbahan pengikat tepung tapioka menunjukan bahwa pembriketan dengan bahan pengikat molasses mempunyai sifat fisik lebih tinggi. % adb Nilai kalor.65 0. Distribusi ukuran briket biobatubara No. Hasil analisis briket biobatubara No 1 2 3 4 5 6 Parameter Air lembab. mm -50 + 37. Berdasarkan Tabel 2.35 .86 4. Dengan demikian.71 69. adb Kadar abu.5%.35 1 2 3 4 5 6 7 Fraksi berat Fraksi berat briket awal. yaitu 13. Pada prinsipnya mencetak adonan briket tanpa campuran biomassa akan lebih mudah karena batubara tidak bersifat kenyal saat ditekan pada pencetakan.31 8.26 1. Suganal 23 . briket setelah % drop shatter test. % adb Kadar karbon padat. diketahui bahwa rendemen atau perolehan pembriketan mencapai 90%.0 -19. 4.8 kg/cm² Berat /butir : 11.65 27. fraksi butiran dengan ukuran + 19 mm menjadi 81.5 -12. Setelah dilakukan pengujian drop shatter test.93 0.. 2002).5 -37. Hasil drop shatter test dapat dilihat pada Tabel 2. Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Demikian pula penambahan biomassa bertujuan mempercepat terjadi penyalaan awal karena biomassa mempunyai kadar zat terbang lebih besar dibanding batubara (Suganal. Bukaan ayakan. diperlukan penambahan serbuk kapur sebagai material pengikat gas SO2 dalam gas buang pembakaran briket tersebut.19 3.2. Namun nilai kalor juga rendah. Dengan demikian perubahan ukuran butir yang terjadi relatif kecil.57 0. bahkan kurang dari 4.93 Rendahnya nilai kalor briket biobatubara disebabkan oleh penambahan biomassa dan penambahan kapur. % adb Kadar sulfur total.3 -6.289 Dari Tabel 3. terlihat bahwa fraksi kumulatif distribusi ukuran butir briket biobatubara yang dominan (+ 19 mm) adalah sebesar 95. perubahan ukuran (remuk) yang dialami relatif kecil. Briket yang tidak sempurna pada umumnya dilakukan pembriketan ulang. % adb Kadar zat terbang. Spesifikasi briket biobatubara dapat dilihat pada Tabel 3.97 85.5 + 6.33 11.3. adb Nilai 3. %. Tabel 3. berupa serbuk gergaji yang digunakan mempunyai nilai kalor sekitar 3.60 1.5 + 25 -25 + 19. Hal ini berarti sejumlah 10% adonan tidak tercetak dengan baik atau 10% briket tidak sempurna pencetakannya. dapat dilihat bahwa kadar sulfur sangat rendah sehingga masih dalam ambang batas yang diizinkan sesuai spesifikasi standar briket batubara. sehingga penambahan tersebut akan mengurangi nilai kalor hasil briket biobatubara. agar briket batubara yang dihasilkan masih mempunyai nilai kalori di atas persyaratan baku mutu.400 kkal/kg. 2004).. Pada penelitian pembuatan briket biobatubara sebelumnya (Maruyama.500 kkal/kg dan kadar abu umumnya kurang dari 5% (Perry. Hasil analisis fisik briket batubara adalah : Kuat tekan rata-rata : 37. Penambahan serbuk kapur juga menimbulkan penurunan nilai kalor dan menambah kadar abu karena kapur bersifat inert dan tidak mempunyai nilai kalor (bahan anorganik tanpa unsur karbon). Kualitas briket batubara Pengamatan selama proses pencetakan briket.62 2.66 4.

3 5. namun sifat biomassa yang kenyal acapkali briket yang dihasilkan menjadi kurang kuat. 5. adb Nilai 4. dan perhitungan peralatan untuk merealisasikan operasi dari masing-masing tahap proses (Perry.5 ton/jam briket batubara. Nomor 13. kkal/kg.52 4 -12. %. Peralatan proses pabrik briket batubara ditempatkan pada suatu bangunan berdasarkan prinsip ergonomis agar pelaksanaan produksi berlangsung lancar dan tidak terjadi duplikasi gerak manusia maupun alat.400 kkal/kg adb). Peralatan utama tersebut antara lain jaw crusher. briket setelah % drop shatter test. Rangkaian peralatan disusun menjadi bagan alir 24 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.81 29. tidak diperlukan penambahan serbuk kapur padam. Suganal.86 11. namun sifat fisik briket batubara kurang kuat.99 Berdasarkan Tabel 4.74 3. Distribusi ukuran briket batubara No Bukaan ayakan.57 %. 2008. meskipun penambahan biomassa dapat mempercepat penyalaan awal briket batubara. Januari 2009 : 17 – 30 .27 30.39%.5 + 25 2 -25 + 19. sifat fisik briket batubara relatif baik.41 5 -6. adb Kadar abu. Setelah dilakukan pengujian drop shatter test. % adb Kadar zat terbang. briket batubara sebelumnya (Suganal.66 6 -3.5 27. maka terlihat bahwa briket batubara dengan bahan pengikat kanji kurang kuat. maka pada penerapan skala komersial dipilih bahan pengikat molases tanpa penambahan biomassa maupun serbuk kapur padam agar mutu briket batubara terjamin sesuai baku mutu yang telah ditetapkan.39 37. % adb Nilai kalor. Schinzel. penggunaan molases relatif tidak menurunkan nilai kalor. karena kadar sulfur total bahan baku batubara cukup rendah. maka diperoleh hal hal penting sebagai berikut: penambahan biomassa dan serbuk kapur padam akan menurunkan nilai kalor briket batubara dan menambah kadar abu briket batubara.80%. hammer mill.66 13.27 32. 1961). dan hasil kegiatan penelitian Kapasitas pabrik briket batubara skala kecil adalah 2. double roll mixer dan mesin briket.29 35.68 4. analisis fisik melalui uji drop shatter test dan uji kuat tekan serta analisis kimia melalui uji proksimat dan nilai kalor terhadap produk briket biobatubara dan briket batubara yang telah diuraikan di atas.0 59. terlihat bahwa mutu briket batubara dengan bahan pengikat tepung tapioka mempunyai sifat kimia yang lebih baik dibandingkan dengan briket biobatubara berbahan pengikat molases.0 + 12. Berdasarkan hasil analisis bahan baku berupa batubara kadar abu tinggi. Atas pertimbangan hasil penelitian pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi dan hasil penelitian tentang briket batubara sebelumnya.412 Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 5. % adb Kadar karbon padat. Fraksi berat Fraksi berat mm briket awal. Berdasarkan hasil analisis batubara dan briket batubara serta data percobaan lainnya dibuat neraca massa dan energi secara sederhana seperti tercantum pada Gambar 4. Tata letak peralatan terlihat pada Gambar 5. fraksi butiran dengan ukuran + 19 mm menjadi 37. briket batubara tersebut masih dalam nilai yang diizinkan (> 4.3 + 3. 2003. Jika dibandingkan dengan briket biobatubara berbahan pengikat molases pada Tabel 2. Hasil analisis briket batubara No 1 2 3 4 5 6 Parameter Air lembab.Tabel 4.% 1 -37.5 + 6. Spesifikasi dari peralatan terlihat pada Tabel 6.35 1. Hal ini menunjukkan bahwa sifat fisik briket batubara dengan bahan pengikat tepung tapioka mempunyai kecenderungan remuk lebih besar dibandingkan dengan briket batubara berbahan pengikat molases. penggunaan tepung kanji relatif tidak memengaruhi nilai kalor. % adb Kadar sulfur total. KONSEP RANCANGAN PABRIK BRIKET BATUBARA NONKARBONISASI SKALA KECIL Tabel 5. yaitu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006.63 0. 2004).35 5. tertanggal 11 September 2006. Spesifikasi briket batubara dapat dilihat pada Tabel 5.80 3 -19. tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara. yaitu 0. Dalam hal nilai kalor. terlihat bahwa fraksi kumulatif distribusi ukuran butir briket batubara yang dominan (+19 mm) adalah sebesar 59.

Gear .Bahan cetakan : Baja cor FC 30 tahan tumbukan .537 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Uap air 37 kg Briket batubara basah 2.Basis : 1 jam operasi Molases 140 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Entalpi pada 25 ºC ~ 0 kkal Ø = ukuran butiran batubara   Jaw Crusher  Hammer Mill   Double Roll  Mixer        Mesin Briket Batubara Ø > 50 mm 2. Nama Alat 1 Mesin Briket Tipe Telur Spesifikasi Tipe: double roll Sistem feeding : gravitasi/vertical feeding Kapasitas : 2.500 kg Q = 0 kkal Temp : 25oC Keranjang Berkisi   Gambar 4.Diameter roll : 620 mm . shaft & bearing : .Gear: Spur Gear.5 ton/jam Roll..Cetakan : sistem segmen. 220/380 V Sistem Transmisi: Elektro Motor . transmision cover dan lain-lain: plat mild steel 5 mm Daya : motor listrik 10 HP.Gearbox: Worm Gear .397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Adonan briket Molases : 140 kg Batubara : 2.Berat briket : ± 60 gram per butir .Hooper.5 mm Fungsi Mencetak adonan briket batubara menjadi briket batubara Jumlah 1 unit Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Suganal 25 .537 kg Q = 0 kkal Temp : 25oC Briket Batubara 2.Ukuran briket : 52x52x35 mm . module 11.V Belt & Pulley .Bentuk briket : telur/jengkol .Gear Box Chain & Sprocket .Chain & Sprocket : RS 100 .Main Bearing : self Aligning spherical roller bearings Bahan Konstruksi: . 12 segmen . Neraca massa dan neraca energi Tabel 6. Kebutuhan peralatan No..397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Batubara Ø : 3-25 mm 2.397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Batubara Ø < 3 mm 2.Main shaft : Baja poros high tensile strength .397 kg 3. besi profil.V Belt : 2 baris type B .Rangka. 15 cm x 10 cm x 12 cm .

Tabel 6. Nama Alat 2 Double Roll Mixer Spesifikasi Tipe/Jenis : Pan Mixer dengan Blade pengaduk Diameter shell = ±120 cm. plat baja dengan pelapis tahan gesek (sistim las)/ manganase 1 steel 1 unit 26 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. besi profil 10 mm Main Shaft & Bearing : . besi profil 6 cm x 8 cm x 10 cm .Main shaft: Baja poros high tensile strength 2" . baja dengan pelapis tahan gesek (sistim las/ manganase steel .Cover system transmisi. Jumlah 3 unit 3 Hammer Mill Tipe : Modified Squirel Cage Mill Menggiling batubara 1 unit Daya: motor listrik 10 HP. pipa Ø 4" .Rumah Crusher.Rangka. plat mild steel 5 mm Main Shaft & Bearing : . Nomor 13. plat mild steel 10 mm dan 5 mm . Januari 2009 : 17 – 30 .Sistem Transmisi : Vertical Gear Box.Alas shell.3 mm) dan molases.Saringan.Daya : motor listrik 7. 220/380 Volt (1400 rpm) ukuran sedang Kapasitas: 1000 s/d 2000 Kg/jam Besar butir output <3 mm Feeding System : Screw feeder variable speed Bahan Konstruksi: . plat mild steel 2 mm. plat mild steel 12 mm atau 14 mm . chain & sprocket.Rumah Crusher. Kebutuhan peralatan (lanjutan) No.Main shaft : Baja poros high tensile strength 2½ inc Main Bearing : Tapered roller Bearings 2½ inc Fungsi Mencampur bahan baku berupa batubara halus (.Rotor penghancur.5 HP.Shell. kaki penyangga.Hooper. plat mild steel 12 mm Blade pengaduk.Kapasitas : 200 Kg/batch. plat mild steel 5 mm . plat baja 6 mm . 220/380 V menjadi ukuran Putaran : ± 450 RPM sedang Kapasitas : 1000 s/d 2000 Kg/jam 3 mm – 25 mm Ukuran besar butir output: 3 s/d 25 mm. plat mild steel 6 mm .Kaki penyangga. V belt .Jaw plate. 3 mm atau 4 mm . tinggi ±120 cm . Self Aligning Spherical Roller Bearings 2" (3mm – 25 mm) menjadi batubara berukuran – 3 mm 4 Jaw Crusher Tipe: Togle Jaw Crusher Memecah batubara Gap & Opening : 175 x 200 mm ukuran > 50 mm Daya : motor listrik 3 HP. Bahan Konstruksi: .Putaran : 20 s/d 30 RPM Bahan Konstruksi: .Rangka alas kaki penyangga.Main Bearing . waktu 1 batch = 15 s/d 20 menit . 220/380 Volt .

Cover system transmisi.Body. Kebutuhan dana peralatan X Rp 1. plat 6 mm . 220/380 V System transmisi: V belt..Kaki penyangga.Kaki penyangga.800.Main shaft: Baja poros high tensile strength 1½” .000..000.Rp 88.Rp 33.- Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . pipa 0 8" .Tabel 6. plat mild steel 2 mm 4 mm .No Nama alat 1 Mesin Briket Tipe Telur 2 Double Roll Mixer 3 4 5 Hammer Mill Jaw Crusher Conveyor Fungsi Mencetak adonan briket batubara menjadi briket batubara Mencampur bahan baku berupa batubara halus (.4 x 1.000. Gear box. besi profil L 7 cm .Drum.Rangka. plat mild steel 5 mm Main Shaft & Bearing : . besi profil 15 cm .000.5 mm Panjang : 4 s/d 10 m tergantung keperluan Kapasitas: 1250 Kg/jam Daya : motor listrik 2 HP.Rp 100. Kebutuhan peralatan (lanjutan) No.Harga total Rp 134. pipa ø 3" Main Shaft & Bearing : . tebal = 7.5 m3 Ukuran kotak penampung = 3. Chain & sprocket Bahan Konstruksi: .6 x 2.Rp 86.Rangka utama.Cover system transmisi.Rp 22.000.000. Suganal 27 . kapasitas 12.2 m Tinggi Total : 3.000.Roll penyangga belt bagian bawah.3mm) dengan molases Menggiling batubara ukuran sedang (3mm – 25 mm) menjadi batubara berukuran – 8 mesh Memecah batubara ukuran > 50 mm menjadi ukuran sedang 3 mm – 25 mm Memindahan material (batubara atau adonan briket) dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai posisi yang diinginkan Jumlah 1 unit 3 unit 1 unit 1 unit 4 unit Harga per unit Rp 134.35 – 40 cm lebar conveyor Kotak penampung batubara halus.Rp 36.000.000. besi profil kanal 10 cm Fungsi Jumlah 5 Conveyor Memindahan 4 unit material (batubara atau adonan briket) dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai posisi yang diinginkan 6 Silo Menyimpan batubara halus sebelum dicampur dalam double roll mixer 2 unit Tabel 7.Rp 86. plat mild steel 2 mm 3 mm .Hooper.Rp 36. kaki penyangga. Nama Alat Spesifikasi .Bearing : Pillow Block Bearings 1½” . besi kanal C 15 .Main shaft: Baja poros high tensile strength Bearing : Self Aligning Spherical Roller Bearings 2 “ – 3” Tipe : V flat belt Conveyor Belt: lebar = 40 cm.55 m Bahan Konstruksi: .600.

Stockpile Tempat penimbunan bahan baku batubara Mes Karyawan Tem tinggal karyawan pabrik briket abtubara Penyiapan lahan Menyediakan lahan siap bangun luas 450 m2 81 m2 150 m2 90 m2 5.000.800.Tabel 7.436.120.000.- Tabel 8. Januari 2009 : 17 – 30 .Rp.920.000.070.000.937.No Nama alat 6 Silo Fungsi Menyimpan batubara halus sebelum dicampur dalam mixer Jumlah 2 unit Harga per unit Rp 30.000.000.Harga total Rp 60.000.000. Nomor 13.000. Nama Bangunan 1 Bangunan pabrik 2 3 4 5 Fungsi Tempat melaksanakan operasi produksi briket batubara Gedung pengepakan Tempat pelaksanaan pengepakan produk briket batubara siap dikirim ke konsumen.+ RP 1.800. Kebutuhan dana peralatan (lanjutan) X Rp 1.070.000.- Catatan : harga tahun 2007 Jumlah Rp 504.163.000.120.= Rp 1.000. Tata letak peralatan 28 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.18.574.- Gambar 5.Rp.Rp. 737. 70.747.000.- Catatan : harga tahun 2007 Jumlah = RP 1.000.Rp.000 m2 Harga total Rp... Kebutuhan dana bangunan No.80.Jumlah kebutuhan dana = Rp 504.000.

Unit Alat 1 Mesin Briket Tipe Telur 2 Double Roll Mixer 3 Hammer Mill 4 Jaw Crusher 5 Conveyor 6 Silo Kualifikasi Tamatan STM Mesin Tamatan STM mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Fungsi/jabatan Mengoperasikan mesin briket/operator Mengoperasikan unit double roll mixer/ operator Mengoperasikan unit hammer mill/operator Mengoperasikan unit jaw crusher /operator Mengoperasikan conveyor Mengatur laju pengeluarn dan penyimpanan serbuk batubara Jumlah 1 orang 2 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang Tabel 10.555 kkal/kg dapat digunakan untuk pembuatan briket batubara dengan bahan pengikat molases atau tepung tapioka. nilai kalor 4. Unit 1 Mesin pabrik 2 Pengeringan 3 4 5 Pengepakan Administrasi/kantor Manager Spesifikasi Tamatan STM Mesin Tamatan SLTP Tamatan SLTP Tamatan SLTA D3 Teknik Industri Fungsi/jabatan Mengoperasikan mesin pabrik /operator Mengatur proses pengeringan briket secara manual Mengepak produk briket batubara siap dikirim ke konsumen Mengatur administrasi kegiatan pabrik Menjalankan operasional pabrik Jumlah 7 orang 2 orang 2 orang 1 orang 1 orang proses seperti terlihat pada Gambar 6. Bandung. Kebutuhan tenaga kerja total No. Untuk wilayah Jawa. Untuk kepentingan operasi pabrik briket tersebut diperlukan tenaga terampil untuk menjalankan mesin-mesin maupun perlistrikan lingkungan pabrik. bengkel bengkel tersebut terdapat di Bekasi.39 %. Kebutuhan tenaga tercantum pada Tabel 9.. 6..Gambar 6. sedangkan kebutuhan tenaga secara keseluruhan tercantum pada Tabel 10. – KESIMPULAN Batubara Kalimantan Selatan dengan kadar abu tinggi. Tegal dan lain lain. yaitu 38. Perkiraan harga pada tahun 2007 dari tiap peralatan dan bangunan tercantum pada Tabel 7 dan Tabel 8. Pada saat ini telah cukup banyak bengkel permesinan yang berhasil membuat peralatan pembuatan briket batubara skala kecil. Bahan baku briket batubara relatif kering. Suganal 29 . Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil Tabel 9.412 kkal/kg. maka pembuatan briket tidak perlu melalui tahap – – Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Mutu briket batubara hasil percobaan masih memenuhi persyaratan briket batubara dengan nilai kalor 4. Kebutuhan tenaga kerja sebagai operator peralatan No.

dkk.58 miliar. Prosiding Seminar Kimia Nasional XIV. Januari 2009 : 17 – 30 . W. Binderless Coal Briquetting company.unire-jp.. India. sedangkan bahan pengikat yang disarankan adalah molases.2005.. Prosiding 30 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.. Paparan Seminar Gasifikasi Batubara Peringkat Rendah. Suganal. Prosiding Seminar Kimia Nasional XV. Seventh edition. 1961. – Untuk menjaga penurunan nilai kalor.. 2007. 2003. diperlukan dana investasi sebesar Rp 1. Yogyakarta. 2008. Suganal. Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia. Mc Graw Hill Book. http:/ www.com …………. Agustus 2003. USA: 609-665. 2005. Perangkat Pembakaran Batubara Pada Industri Kecil dan Rumah Tangga dalam Rangka Optimalisasi Energi Nasional. Yusgiantoro. Suganal..csiro..coalbriquettes. Binderless Briquetting of Coal. Blue print Pengelolaan Energi Nasional.. 2006. P. K. Bio Coal Plant Project. Jurusan FMIA UGM. Peralatan dan mesin relatif sederhana dan dapat dirakit di dalam negeri Seminar nasional III. The Komar Briquetting System. Chemistry of Coal Utilization. 7 Desember 2006.nedo. 2006. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2008.komarindustries. Pusat Informasi Energi. Texas. 2004. Briquette Production Technology. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. dalam Martin AE(editor). ………….. 2002.com/bb activities …………. Untuk pembuatan briket skala kecil dengan kapasitas 2. 2006.au/energy center ………….det. Briquetting. Jaringan Kerjasama Kimia Analitik Indonesia. 2007. Binderless Coal Briquetting company Pty Limited Maruyama.. Modifikasi Kompor Briket Batubara sebagai Upaya Peningkatan Penggunaan Briket Batubara dan Batubara Skala Nasional Pada Industri Kecil Padat Energi dan Rumah Tangga. Chemical Engineers’ Handbook.go.jp/sekitan – – DAFTAR PUSTAKA Clark. http:/www.. 2007. Pengembangan Produk Pilot Plant Briket Biobatubara Di Palimanan. Mei 2006. Peran Strategis Gasifikasi Batubara Untuk Memperkuat Ketahanan Energi Nasional.pengeringan. jumlah karyawan 13 orang. tidak disarankan penambahan bahan pengikat berupa serbuk tanah liat dan material imbuh lain seperti serbuk kapur padam dan lainnya. Nomor 13. http:/www. Jakarta. Perry. Schinzel. dkk. Universitas Diponegoro Semarang.H.5 ton/jam.com/engbicoal. Penggunaan Serbuk Gergaji Pada Pilot Plant Briket Biobatubara Palimanan. R. Jurusan Teknik Kimia. Yogyakarta. John Wiley&Son. T. Suganal. http:/www. Evaluation of coal from PT Berau’s coal lati and Bunyu mine for binderless coal briquetting. http:/www. Yogyakarta 6-7 September 2004. 2008.

4 SLAMET SUPRAPTO Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. Namun demikian. especially calorific value. Tests on coal mill and coal combustion at higher scale that close to the real practical condition need to be carried out for evaluating the coal blend results. The study was based on the literature study of coal design parameter of the Suralaya Power Plant and Indonesia coal data. revisi terakhir : Januari 2009 SARI PLTU Suralaya unit 1-4 yang mulai beroperasi pada akhir tahun 80-an didesain sesuai dengan kualitas batubara Air Laya. pembangkit listrik. 623. Pengujian penggerusan dan pembakaran dalam skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan perlu dilakukan untuk mengevaluasi batubara hasil blending. coal blending system can be carried out between low rank coal (lignite) and high rank coal (bituminous) based on the coal quality parameter specification. Dalam rangka melihat kemungkinan penerapan sistem blending batubara untuk pembangkit tersebut. rank Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4. Slamet Suprapto 31 . Sumatera Selatan yang termasuk batubara subbituminus dengan parameter kualitas tertentu.BLENDING BATUBARA UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK STUDI KASUS PLTU SURALAYA UNIT 1. power plant. sehingga parameter ini perlu diperhatikan mengingat parameter ini cenderung bersifat nonaditif. However. study on the possibility of blending system for Indonesian coal has been carried out. Penggunaan batubara lain yang spesifikasinya tidak sesuai dengan kualitas batubara Air Laya tersebut dapat mengganggu kelancaran pengoperasian ketel uap pembangkit. South Sumatera with certain quality parameters. blending. In relation to the possibility of development of coal blending for the Suralaya Power Plant. revisi kedua : 19 Januari 2009. blending. and therefore this parameter needs to be considered since it tends to be nonadditive. the high rank coal generally has low grindability index. sistem blending dapat dilakukan antara batubara peringkat rendah (lignit) dan batubara peringkat tinggi (bituminus) sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara. Results of the study showed that to overcome the problem of coal supply the Suralaya Power Plant unit 1-4. revisi pertama : 12 Desember 2008. The use of other coal that has different quality with the Air Laya coal can disturb the operation power plant boiler. batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah. telah diadakan kajian kemungkinan blending batubara Indonesia. Kata Kunci: batubara. Kajian dilakukan berdasarkan pengumpulan data spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4 dan data kualitas batubara Indonesia. Hasil kajian menunjukkan bahwa untuk mengatasi masalah pasokan batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4. peringkat ABSTRACT The design of Suralaya Power Plant unit 1-4 that started to operate at the end of nineteen eighties was based on Air Laya coal. Keywords: coal. terutama nilai kalor. Jenderal Sudirman No. Bandung Naskah masuk : 26 Mei 2008.

Sedangkan PLTU-PLTU yang sudah ada yang dibangun pada antara 1980-an sampai 1990-an didesain berdasarkan batubara yang mempunyai nilai kalor lebih dari 5.000 kal/g (as received). Sumatera Selatan yang termasuk dalam peringkat subbituminus dengan nilai kalor lebih dari 5000 kal/g. atau bahkan dapat bervariasi dari lapisan satu ke lapisan lainnya pada daerah atau cekungan geologis yang sama. PLTU Suralaya Unit 1-4 (4x400 MW) dirancang berdasarkan kualitas batubara Air Laya. 2. upaya peningkatan dan diversifikasi penggunaan batubara terus dilakukan. batubara peringkat rendah seperti lignit dan batubara subbituminus mempunyai kadar air tinggi dan nilai kalor rendah. karakteristik dan kualitas batubara sangat bervariasi dan tidak homogen dibandingkan dengan bahan bakar yang telah mengalami proses pengolahan dalam pabrik.7%. Untuk pemanfaatan batubara sebagai bakar pembangkit listrik. sehingga keterlambatan pasokan batubara Air Laya ke PLTU Suralaya dapat menganggu kelancaran operasi pembangkit.000 MW PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) berbahan bakar batubara (MinergyNews.000-an tersebut sudah mulai sulit diperoleh di pasaran. batubara telah ditetapkan sebagai bahan bakar alternatif utama pengganti bahan bakar minyak.Com. Untuk mengatasi ketergantungan terhadap pasokan dari satu jenis batubara atau pemasok tersebut.7%. Pada tahun 2025. 2. Hal ini mengakibatkan kualitas endapan batubara bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya. yakni lignit 58. 2002). batubara peringkat rendah umumnya mempunyai kecenderungan swabakar yang tinggi dan mempunyai sifat fisik yang rendah (mudah hancur). 2007). Selain tingkat pembatubaraan atau peringkat (rank). subbituminus 26. 2007). Batubara Indonesia yang masih belum banyak dimanfaatkan adalah batubara lignit dengan nilai kalor ± 4. sementara peringkat tinggi yakni bituminus 14. Batubara peringkat yang lebih tinggi seperti batubara bituminus dan antrasit mempunyai nilai kalor tinggi dan kadar air rendah. 2008) di PLTU Suralaya. kajian yang mendalam perlu dilakukan mengingat bervariasinya parameter kualitas batubara. PT Indonesia Power (anak perusahaan PT PLN Persero) akan membangun coal blending plant (Kompas. Dalam rangka mencapai sasaran tersebut. seperti misalnya bahan bakar minyak. Walaupun blending batubara sudah umum dilakukan dalam pembangkit listrik.000 kal/g.1. Oleh karena itu. Endapan batubara Indonesia sebagian besar terdiri atas batubara peringkat rendah. Sedangkan batubara lignit baru mulai dieksploitasi terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. PLTU Suralaya yang mulai beroperasi pada akhir tahun 1980-an saat ini masih merupakan salah satu andalan bagi sistem kelistrikan Jawa dan Bali. Batubara yang diekspoitasi saat ini umumnya batubara subbituminus dan bituminus yang sebagian besar sudah dialokasikan untuk memenuhi kontrak jangka panjang untuk ekspor atau kebutuhan dalam negeri. Karakteristik pembakaran batubara dalam pembangkit listrik sangat dipengaruhi oleh kualitas batubara.3% dan antrasit hanya 0. Sebaliknya. Tambahan lagi. Di samping itu. Apalagi spesifikasi atau persyaratan kualitas batubara untuk PLTU tidak hanya ditentukan berdasarkan parameter nilai kalor. 32 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Banten contohnya yang dibangun pada tahun akhir 1980-an didesain untuk batubara subbituminus dengan nilai kalornya rata-rata ± 5.1. sumbangan batubara dalam bauran energi (energy mix) nasional diproyeksikan menjadi yang terbesar. Batubara dengan nilai kalor 5. saat ini sedang dibangun rencana 10. Untuk pembangkit listrik yang akan dibangun tersebut direncanakan digunakan batubara lignit dengan nilai kalori ± 4. Januari 2009 : 31 – 39 . TINJAUAN PUSTAKA Batubara Untuk Pembangkit Listrik Batubara merupakan bahan bakar padat yang terbentuk secara alamiah akibat pembusukan sisa tanaman purba dalam waktu jutaan tahun. lingkungan pengendapan dan cara penambangan dapat memengaruhi kadar abu serta karakteristik abu (komposisi dan titik leleh abu).200 kal/g atau PLTU Ombilin kapasitas didesain menggunakan batubara peringkat bituminus dengan nilai kalori lebih dari 6000 kal/g (KONEBA.000 kal/g dan bahkan ada yang lebih dari 6000 kal/g. bukan berarti pembangkit-pembangkit listrik yang sudah lama akan ditinggalkan.3% (Suprapto. yakni 33% dibanding sumber energi lainnya (Suprapto. karena perannya dalam menunjang kelistrikan nasional tetap dibutuhkan. Walaupun pembangkit-pembangkit baru mulai dibangun. baik sebagai bahan bakar langsung maupun melalui konversi menjadi bahan bakar gas atau bahan bakar cair. Nomor13. 2007). PENDAHULUAN Mengingat potensinya yang paling besar di Indonesia. PLTU Suralaya. kualitas suatu endapan batubara juga dipengaruhi oleh lingkungan pengendapannya.

maka efisiensi menurun dan kadar karbon dalam abu meningkat. 2. Hal ini dapat mengganggu kelancaran pengoperasian pembangkit listrik. titik leleh abu dan HGI umumnya cenderung bersifat nonaditif. diversifikasi pasokan batubara untuk keamanan pasokan. karbon total. kadar maseral. 1991): kualitas atau karakteristik batubara. dan nilai kalor cenderung bersifat aditif. kadar abu tinggi dan abu rendah. posisi burner. Kinerja mesin penggerus (pulverizer) biasanya berhubungan dengan nilai kalor dan sifat ketergerusan (HGI. Atau sebaliknya. maka idealnya desain suatu pembangkit listrik berbahan bakar batubara dibuat berdasarkan kualitas batubara yang akan digunakan.2. Slamet Suprapto 33 . Paramater yang nonaditif tersebut menyebabkan evaluasi terhadap batubara blending untuk pembangkit listrik menjadi kompleks. zat terbang. Apabila digunakan batubara dengan kalori lebih rendah dari spesifikasi. klorin. Menurut Hower (1988) HGI dapat bersifat aditif hanya untuk blending antara batubara dengan peringkat yang sama. Sedangkan Riley (1989) menyatakan bahwa HGI dapat bersifat aditif asalkan perbedaan nilai HGI masing-masing batubara yang di-blending tidak lebih dari 10. Batubara keras atau dengan HGI rendah tidak cocok digerus pada penggerus yang dirancang untuk batubara lunak (HGI tinggi). Selain kinerja mesin penggerus dan pengendapan abu. Sering terjadi. Biasanya blending dilakukan antara batubara peringkat rendah dan peringkat tinggi. nitrogen. Sedangkan nilai muai bebas. penggunaan batubara di luar spesifikasi juga dapat mengganggu karakteristik dan efisiensi pembakaran.Karakteristik pembakaran batubara dalam sebuah pembangkit listrik terutama dipengaruhi oleh (Reid. HGI menentukan cocok tidaknya batubara dengan penggerus yang ada. batasan yang ditentukan oleh desain boiler. Bahkan banyak peneliti dan operator PLTU batubara kemudian mengembangkan model Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4. hidrogen. Jika pembakaran tidak sempurna. Oleh karena itu. oksigen. Data kualitas tersebut kemudian digunakan untuk memprediksi karakteristik pembakaran dalam ketel uap. konfigurasi fisik dan luas perpindahan panas dalam ketel uap (boiler). Parameterparameter air. Pengendapan (deposisi) abu pada permukaan area perpindahan panas pada sebuah ketel uap adalah salah satu masalah yang paling serius yang dapat terjadi jika menggunakan batubara di luar spesifikasi. sistem blending dapat memberikan banyak keuntungan di antaranya: meningkatkan kelenturan (fleksibilitas) dan memperluas kisaran batubara yang dapat digunakan. maka diperlukan jumlah batubara yang lebih banyak. hardgrove grindability index) (Savage. sehingga memungkinkan dapat memenuhi persyaratan konsumen. karbon padat. 1974). keterlambatan pasokan batubara sesuai spesifikasi menyebabkan digunakannya batubara lain yang kualitasnya tidak memenuhi spesifikasi. masih diperlukan pengujian pembakaran dengan kondisi yang mendekati kondisi di lapangan. selain analisis dan pengujian laboratorium. Dalam suatu pembangkit listrik. membantu mengatasi masalah yang terjadi apabila digunakan batubara yang di luar spesifikasi. kondisi operasional. Hal ini dapat mengganggu kinerja electrostatic precipitator yang berfungsi menangkap abu terbang (fly ash) dan selanjutnya juga mempersulit pemanfaatan abu. Beberapa pengaruh yang dapat terjadi jika menggunakan batubara di luar spesifikasi (off design) pada pembangkit yang telah ada (existing) di antaranya adalah kinerja penggerus. Kualitas batubara campuran (hasil blending) umumnya dihitung berdasarkan rata-rata berat data analisis dan pengujian yang diperoleh dari masingmasing batubara individu (yang dicampur). kadar belerang tinggi dan belerang rendah. Mengingat hal tersebut di atas. sulfur. sehingga penggerus kemungkinan perlu ditambah atau penggerus cadangan perlu dioperasikan. Namun tidak semua parameter kualitas batubara campuran dapat diprediksi menggunakan data kualitas hasil perhitungan rata-rata berat. kadar abu. sehingga dapat menggunakan perhitungan tersebut. Operasi PLTU tanpa penggerus cadangan ini sangat riskan dan dapat mengganggu kelangsungan operasi PLTU. pengendapan abu (slagging dan fouling) dan karakteristik dan efisiensi pembakaran. Kebanyakan analisis dan pengujian parameter nonaditif di laboratorium tidak merefleksikan kondisi pembakaran yang sebenarnya dalam pembangkit listrik. batubara yang dipasok untuk sebuah pembangkit listrik seharusnya sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan. Blending Batubara Blending merupakan cara terbaik untuk memperbaiki dan menyatukan sifat dan kualitas batubara dari daerah atau dengan jenis yang berbeda. Kecenderungan pembentukan endapan abu tergantung komposisi dan titik leleh abu batubaranya.

yakni diantaranya HGI 61. karena terdapat lebih banyak parameter dan kemungkinan kombinasi blending. terutama nilai kalor.1.30%.3. 1985) sesuai untuk batubara peringkat subbituminus dengan nilai kalor dan kadar air masing 5. tetapi keluaran listrik akan turun walaupun semua fasilitas penanganan dan penggiling batubara dijalankan. 3.60%. Software tersebut dikembangkan menggunakan persamaan linier untuk parameter kualitas batubara yang bersifat aditif. software komputer yang sekarang banyak terdapat di pasaran dapat digunakan. Sedangkan parameter kualitas yang bersifat non-aditif. Pengolahan Data Data kualitas batubara yang dikumpulkan umumnya masih bervariasi dasar analisisnya. Sumatera Selatan yang digunakan untuk dasar pembuatan desain PLTU Suralaya unit 1-4. yakni 4 x 400 MW (unit 1-4) dan 3 x 600 MW (unit 5-7). Oleh karena itu.80%) dan 0. Nomor13. titik leleh abu 1. = parameter kualitas produk blending = proporsi batubara ke 1 dalam blending = proporsi batubara ke 2 dalam blending = proporsi batubara ke n dalam blending = parameter kualitas batubara ke 1 = parameter kualitas batubara ke 2 = parameter kualitas batubara ke n METODOLOGI Pengumpulan spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya terutama melalui laporan dan internet. 3. yakni batubara lignit (nilai kalor rendah. Parameter kualitas bersifat aditif lainnya.225 kal/g masih dapat digunakan dan menghasilkan keluaran (daya) listrik sesuai kapasitas pembangkit asalkan seluruh fasilitas penanganan (handling) dan penggiling (mill) dijalankan. Pengumpulan data dilakukan melalui penulusuran makalah dan laporan yang berhubungan dengan PLTU Suralaya. Pengumpulan Data Batubara Indonesia Pertimbangan pertama dalam pengumpulan data batubara adalah didasarkan pada peringkatnya.8 (minimum 48). tetapi untuk tiga atau lebih jenis batubara akan menjadi lebih kompleks. pengujian pembakaran skala bangku (bench scale) dan kondisi nyata di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Spesifikasi Batubara Untuk PLTU PLTU Suralaya yang terletak di Merak. Untuk kelompok batubara lignit digunakan dua contoh. Yang dimaksud dengan batas minimum nilai kalor tersebut adalah batubara dengan nilai kalor 4. untuk melengkapi data batubara Peranap dilakukan analisis dan pengujian contoh batubara di laboratorium.berdasarkan data parameter nonaditif laboratorium. 6. Batubara dengan nilai kalor lebih rendah dari batas minimum tersebut juga bisa digunakan. yakni kadar abu dan kadar belerang masingmasing 7. 3. mem-blending dua jenis batubara relatif mudah. Secara matematis. maka semaksimal mungkin data tersebut dikonversikan ke dasar contoh asal. Di samping itu. seperti dasar contoh asal (as received).2.40% (maksimum 0. Data kualitas batubara dikumpulkan Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya yang didasarkan atas kualitas batubara Air Laya dapat dilihat pada Tabel 1. Spesifikasi tersebut (Kannan.90%). Batubara Air Laya. 1995): Xb = α1X1 + α2X2 + …. datanya dikumpulkan dari laporan dan internet.000 kal/g. yakni batubara dari daerah Musi Banyuasin dan Peranap (keduanya Sumatera Selatan). dengan pembatasan nilai kalor minimum 4. dasar kering udara (air dried basis) dan dasar kering (dry basis).1.80% (maksimum 12. kadar abu dan kadar belerang.242 kal/g (as received) dan 23. 34 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Karakteristik abu yang terdiri dari indeks penerakan dan indeks fouling yang menyatakan kecenderungan abu batubara membentuk endapan terak (slagging) dan fouling dihitung menggunakan data komposisi abu dan titik leleh abu batubara.279°C (minimum 1010°C). Januari 2009 : 31 – 39 . Rumus linier sederhana untuk blending batubara yang menggunakan parameter aditif adalah sebagai berikut (Carpenter. Data batubara tersebut didasarkan pada nilai kalor batubara >6. Banten yang mempunyai kapasitas terpasang sebesar 3.000-an kal/g). αnXn Xb α1 α2 αn X1 X2 Xn 3. 4. Untuk batubara bituminus.400 MW terdiri dari 7 unit. indeks penerakan “medium” dan indeks fouling “tinggi”.225 kal/g dan kadar air maksimum 28. 4000-an kal/g atau kurang) dan batubara bituminus (nilai kalor tinggi. Agar sesuai dengan spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya. 4.

Oleh karena itu. batubara peringkat tinggi dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3 (Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia.80 0. indeks penerakan batubara Peranap termasuk klasifikasi “tinggi” dan batubara Bara Mutiara Prima termasuk “rendah”.30 4.30 12.200°C dibanding abu batubara Bara Mutiara Prima yang deformasi awalnya sebesar 1.242 0. Kualitas Batubara Indonesia Data kualitas batubara Indonesia yang terdiri atas batubara peringkat rendah. Sedangkan jika menggunakan batubara Peranap. Slamet Suprapto 35 .010 - Maksimum 28. Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4 Parameter (as received) Kadar air.90 - Rata-rata 23. % Nilai Kalor. Normalnya untuk mengoperasikan 1 unit kapasitas 400 MW menggunakan batubara Air Laya dibutuhkan ± 170 ton batubara/jam. Normalnya.30 60 1.11% dan 0. % Kadar abu. Batubara peringkat rendah mempunyai nilai kalor dicirikan terutama oleh tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor. kal/g Sulfur.Tabel 1. maka untuk menghasilkan listrik yang sama dibutuhkan ± 202 ton batubara/jam. yakni dengan deformasi awal 1. % Nilai kalor. Mesin penggiling yang tersedia untuk untuk 1 unit 400 MW tersebut tersedia sebanyak 5 buah yang masing-masing berkapasitas 65 ton batubara/jam (KONEBA.400 0. yakni masing-masing 54 dan 60.00 4. kal/g Sulfur.400 kal/g (as received).19% dan 4. °C Indeks penerakan Indeks fouling Minimum 4.30%.30% dan kadar belerang 0. maka parameter kualitas yang tidak memenuhi spesifikasi adalah nilai kalornya. % HGI Tititk leleh abu (Deformasi awal).234 0.234 kal/g dan 4. 2002). apabila digunakan batubara Air Laya Tabel 2. % HGI Deformasi awal abu.00 1. Apabila digunakan batubara Bara Mutiara Prima.11 54 1.60 7. Kedua batubara tersebut mempunyai sifat ketergerusan menengah.279 medium tinggi Catatan: as received = dasar contoh asal 4. Namun demikian.40 61. Titik leleh abu batubara Peranap cukup rendah. kedua batubara tersebut termasuk bersih dengan masing-masing kadar abu 1. % Kadar Abu.8 1. Sedangkan indeks fouling keduanya termasuk klasifikasi “rendah”. 2008).80 5. Apabila kedua batubara peringkat rendah tersebut digunakan untuk PLTU Suralaya unit 1-4. Dari data dua contoh batubara peringkat rendah yang dikaji. batubara Peranap dan Bara Mutiara Prima mempunyai kadar air total masingmasing 49% dan 30% dan dengan nilai kalor 3.200 tinggi* rendah* Bara Mutiara Prima (Sumsel) 30.350°C. Data kualitas batubara Indonesia peringkat rendah Parameter (as received) Kadar Air.2.350 rendah* Rendah Catatan: * dihitung dari kadar abu dan titik leleh abu ( Lampiran 1) Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4.19 3. °C Indeks Penerakan Indeks Fouling Peranap (Sumsel) 49.225 48 1. maka dibutuhkan 275 ton batubara/jam.

hanya dioperasikan 3 buah mesin, sehingga 2 mesin lainnya untuk cadangan. Apabila digunakan batubara Bara Mutiara Prima dibutuhkan 4 mesin, sedangkan 1 mesin untuk cadangan. Tetapi apabila digunakan batubara Peranap, maka seluruh mesin harus dioperasikan, sehingga tidak ada cadangan. Pengoperasian seluruh mesin penggerus tersebut dapat menimbulkan risiko gangguan terhadap operasi pembangkit listrik mengingat perlunya waktu perawatan setiap mesin. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan blending plant guna meningkatkan nilai kalor batubara peringkat rendah yang tersedia. Data kualitas batubara peringkat tinggi yang dikaji adalah sebanyak 14 buah, berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Selain dicirikan oleh tingginya nilai kalor dan rendahnya kadar air, batubara-batubara tersebut umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah atau sulit digerus dengan HGI kurang dari 50. Batubara Danau Mas Hitam mempunyai HGI bervariasi antara 40-60. Sedangkan batubara Kartika Selabumi yang mempunyai HGI tinggi atau mudah digerus, yakni sebesar 80. Tetapi batubara ini juga mempunyai nilai bebas yang tinggi yakni 9, tidak seperti umumnya batubara Indonesia yang mempunyai nilai muai bebas rendah. Kadar abu dan kadar belerang batubara peringkat tinggi bervariasi, masing-masing antara 2,0% sampai 19,48% dan 0,15% sampai 2,56%. Sedangkan data indeks penerakan dan indeks fouling hanya tersedia untuk batubara Kartika Selabumi dan Lana Harita. Batubara Selabumi mempunyai indeks penerakan dan indeks fouling klasifikasi “rendah”. Sedangkan untuk batubara Lana Harita klasifikasi “rendah” dan “medium”. 4.3. Blending Batubara

Yang masih perlu dipertimbangkan adalah HGI batubara peringkat tinggi, yang ternyata kebanyakan kurang dari 50. Walaupun HGI batubara peringkat rendah umumnya tinggi, mengingat parameter ini cenderung nonaditif maka HGI hasil blending belum tentu sesuai perhitungan. Apabila nilai HGI hasil blending ternyata lebih rendah dari nilai perhitungan maka kapasitas atau keluaran penggerus turun atau kehalusan produk penggerusan dapat menurun. Menurunnya keluaran penggerus dapat menurunkan keluaran listrik. Sedangkan menurunnya kehalusan batubara dapat menyebabkan menurunnya efisiensi pembangkit dan meningkatnya kadar karbon tak terbakar dalam abu batubara. Untuk mengkaji lebih mendalam, maka pengujian penggerusan dan pembakaran skala yang lebih besar seperti skala meja atau skala yang lebih mendekati kapasitas nyata di lapangan perlu dilakukan sebelum mengaplikasikannya pada kondisi sebenarnya. Batubara Kartika Selabumi mempunyai nilai kalor cukup tinggi, yaitu 7.889 kal/g dan juga HGI yang tinggi yakni 80, tetapi nilai muai bebasnya sangat tinggi mencapai 9. Normalnya, nilai muai bebas batubara untuk pembangkit listrik maksimum 4 (Rance, 1975). Tambahan lagi nilai muai bebas merupakan parameter nonaditif, sehingga karakteristik pembakaran batubara hasil blending batubara ini tidak dapat diprediksi dari masingmasing batubara yang akan di-blending. Selain HGI, karakteristik abu yakni kecenderungan penerakan dan fouling juga perlu dipertimbangkan. Mengingat data indeks penerakan dan indeks fouling kebanyakan tidak tersedia, maka parameter tersebut perlu dilengkapi. Apalagi jika hasil uji di laboratorium dan perhitungan menyatakan kecenderungan kedua indeks tersebut termasuk klasifikasi “tinggi”, maka uji pembakaran pada kondisi yang mendekati ketel uap perlu dilakukan. Pengendapan terak abu terjadi di daerah ruang bakar atau radiasi, sedangkan endapan fouling terjadi pada daerah yang lebih dingin yakni pada pipa-pipa ketel uap. Apabila terak abu yang menempel di dinding tungku (ruang bakar) sulit diambil maka perpindahan panas ke dinding akan menurun dan selanjutnya efisiensi pembakaran juga menurun (Elliot, 1981). Endapan fouling yang terjadi pada pipa ketel uap menyebabkan penyempitan pada deretan pipa yang selanjutnya mempercepat laju alir gas buang. Hal ini dapat menyebabkan naiknya suhu gas buang dan juga erosi terhadap pipa ketel uap.

Blending yang dilakukan didasarkan pada pencampuran kalori rendah dengan kalori tinggi atau antara batubara peringkat rendah dengan peringkat tinggi. Berdasarkan data kualitas tersebut di atas, blending batubara Indonesia antara peringkat rendah dan peringkat tinggi dapat dimungkinkan untuk memenuhi persyaratan nilai kalor sebesar 5.242 kal/ g (as received) dan parameter yang bersifat aditif lainnya, seperti misalnya kadar air, kadar abu dan kadar belerang. Dengan menggunakan rumus (perhitungan rata-rata) linier, maka jumlah proporsi masing-masing batubara yang dicampur dapat ditentukan untuk memenuhi parameter spesifikasi ketel uap PLTU Suralaya 1-4.

36

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39

Tabel 3.

Data kualitas contoh batubara Indonesia peringkat tinggi

Parameter (as received) Lumut 12 3,70 - 9,26 6.021 - 6.947 0,22 - 1,44 45 - 55 Mandiri Inti Perkasa Blok A 14-18 2,81 - 4,69 6.200 - 6.400 0,28 - 0,66 46 - 49 1.200 Kartika Selabumi Mining

Allied Indo Coal Parambahan 9,5 3,8 6.240-6.294 0,54 48 Fajar Bumi Sakti 8 (adb) 7 (adb) 6.700 (adb) 42 - 46 — 3 - 6 (adb) 6 - 15 (adb) 6.000 - 7.500 0,8-2,56 (adb) 45 – 50 1.250 15,5 - 17,00 4,5-5,5 (adb) 6.100 - 6.500 (adb) 0,5-0-0,80 (adb) 45 – 46 Gunung Bayan Pratama Bayan Indominco Mandiri Bontang 18 (adb) 2,0 5.600 - 6.250 0,15 48 – 50 1.150-1.200 16 4,72 6.040 0,94 45 -

Kaltim Prima Kideco Coal Prima Mandau, Payau, Melawan

Multi Harapan Utama Busang

PTBA

Anugerah Bara Kaltim Anugerah

Sari Andara Persada Muara Bungo 10,11 (adb) 19,48 (adb) 5.949 0,83 (adb) 48 1.300 Lana Harita Indonesia Block III

Kadar Air, % Kadar Abu, % Nilai Kalor, kal/g Sulfur, % HGI Deformasi awal abu, °C Indeks Slagging Indeks Fouling

11 9 7.000 1 45 - 50 -

Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4, Slamet Suprapto

Parameter (as received)

Danau Mas Hitam

Kadar Air, % Kadar Abu, % Nilai Kalor, kal/g Sulfur, % HGI Deformasi awal abu, °C Indeks Penerakan Indeks Fouling Nilai Muai Bebas

14 13 - 19 (adb) 5.900 - 6.500 (adb) 1,0 (adb) 40 - 60 1.280 -

19,5 4,65 (adb) 6.210 0,70 (adb) 47 1.490 -

8 3,78 7.889 0,85 80 1.220 rendah* rendah* 9

7,0 (adb) 6.977 1,16 (adb) 43 >1.200 rendah* medium* -

Catatan: adb = air dried basis (dasar kering udara) * = dihitung berdasarkan komposisi dan titik leleh abu (Lampiran 1)

37

5. -

PENUTUP Blending merupakan cara terbaik untuk mengatasi masalah ketersediaan batubara dan ketergantungan terhadap satu sumber pemasok batubara untuk pembangkit listrik di Indonesia. Untuk mengatasi masalah pasokan batubara pada PLTU Suralaya unit 1-4, sistem blending dapat dilakukan antara batubara peringkat rendah (lignit) dan batubara peringkat tinggi (bituminous) sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara, terutama nilai kalor. Batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah atau sulit digerus dan parameter ini perlu diperhatikan karena cenderung tidak bersifat aditif sehingga hasil blending dengan batubara peringkat rendah tidak dapat diprediksi menggunakan rumus linier. Data komposisi abu dan titik leleh abu batubara peringkat tinggi perlu dilengkapi agar dapat digunakan untuk mengevaluasi kemungkinan pembentukan endapan terak dan endapan fouling dalam pembakaran batubara hasil blending. Pengujian pengerusan dan pembakaran dalam skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan perlu dilakukan untuk mengevaluasi batubara hasil blending.

Hower, J.C., 1988. Additivity of hardgrove grindability index: a case study. Journal of Coal Quality, 7(2), 68-70. Kannan, V., 1985. Design considerations for Suralaya Unit 1 & 2 Steam generators. Presented at the Electric Indonesia Exhibition, Jakarta, October 29 – November 2, 1985. Kompas, 2008. CBC Dibangun Atasi Kelangkaan Batubara. 26 Pebruari 2008. KONEBA, 2002. Kuisioner Data PLTU Suralaya. 1 November 2002. MinergyNews.Com, 2007. Program 10 Ribu MW Hanya untuk 3 Tahun. Kamis 13 Desember 2007 Rance, H.C., 1975. Coal Quality Parameters and their influence in coal utilization. Shell International Petroleum Co. Ltd., Jakarta. Reid, W.T., 1991. Coal Ash – Its effects on combustion systems. In: Elliot, M.A. (Ed.), Chemistry of coal utilization. 2nd Suppl. Vol. John Wiley & Sons, New York, 1389-1445. Riley, J.T., Gilleland, S.R., Forsyhte, R.F., Graham, H.D. and Hayes, F.J., 1989. Non-aditif analytical values for coal blend. Proceeding of the 7th international conference on coal testing. Charleston, West Virginia, 21-23 March. Savage, K.I., 1974. Pulverizing characteristics of coal hardgrove grindability index. Keystone Coal Industry Manual. Suprapto, S., 2007. Gasifikasi batubara sebagai alternative pengganti BBM. Makalah disampaikan pada Forum Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 21-22 November 2007.

-

-

-

-

DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia, 2008. Kualitas Batubara.http/www.apbi-icma. Carpenter, A.M., 1995. Coal Blending for Power Station. IEA Coal Research, London. Elliot, M.A. (ed.), 1981. Chemistry of coal utilization. Second Suppl. Vol., John Wiley & Sons, New York.

38

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39

15 0.385 1.61 24.77 0.360 1.12 0.310 1.68 0.31 29.50 0.73 0. % Peranap Bara Mutiara Prima Kartika Sela Bumi 33.56 23.200 >1.Lampiran 1.200 >1.22 1.200 1.94 2.86 SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO K2O Na2O TiO2 MnO2 SO3 P2O5 Titik Leleh Abu.51 8.07 Reduksi Oksidasi 1.249 1.21 2.300 1.82 4. Komposisi dan titik leleh abu batubara Peranap.36 0.370 1.84 1.29 0.420 >1.65 4. Bara Mutiara Prima.19 9.54 1.261 1.500 1.14 2.200 Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4.13 5.50 3.73 15.350 1. Slamet Suprapto 39 .02 Lana Harita Indonesia 40.01 1.600 Deformasi awal Pelunakan Hemisfer Flow 1.200 >1.290 1.220 1. Kartika Selabumi Mining dan Lana Harita Komponen. °C 55.65 0.45 0.01 0.81 0.66 2.

abu (Ash =A). karena dapat menangani limbah batubara yang berkualitas rendah (low grade coal) dengan kisaran nilai kalori 3000 – 5000 kal/gr. revisi terakhir : Januari 2009 ABSTRAK Limbah batubara (sludge) didefinisikan sebagai bahan karbonan. Nomor13. Contoh diambil dari 3 (tiga) perusahaan tambang batubara yang terletak di sepanjang Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara. Tipe limbah batubara yang dikaji dalam tulisan ini adalah slurry (=SL) sebagai limbah sisa proses pencucian batubara. titik pijar dan suhu pembakaran maksimum yang ditentukan oleh parameter analisis proksimat dan ultimat.esdm. Karakteristik limbah batubara ditentukan berdasarkan parameter analisis proksimat seperti air-lembab (Moisture =M). : (022) 6030483 Fax. M dan A tinggi di atas 25% dan fuel ratio (FC/VM) sekitar satu. Hasil menunjukkan bahwa limbah batubara tipe SL dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif sebagai bahan bakar langsung pada industri. karakteristik limbah. sehingga limbah batubara dapat langsung dibakar dengan sistem tersebut. karakteristik pembakaran 40 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.HUBUNGAN ANTARA PARAMETER KARAKTERISTIK LIMBAH BATUBARA KALIMANTAN TIMUR DAN KARAKTERISTIK PEMBAKARANNYA STEFANO MUNIR DAN IKIN SODIKIN Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. revisi kedua : 28 Januari 2009. dan analisis ultimat seperti karbon (Carbon =C). 623.id Naskah masuk : 23 Desember 2008. Bandung – 40211 Telp. Pembakar siklon dipilih. berasal dari endapan batuan sedimen yang mengandung bahan organik sehingga dapat terbakar. Jenderal Sudirman No. Selain itu dilakukan analisis ayak untuk mengetahui distribusi ukuran partikel dari contoh batubara SL yang diteliti. dan PT. PT.go.esdm. yaitu PT. Multi Harapan Utama (MHU). : (022) 6038027 e-mail : stefano@tekmira. Bukit Baiduri Energi (BBE) yang masing-masing mempunyai unit pencucian batubara dengan skala produksi di atas 1 juta ton batubara per tahun. Propinsi Kalimantan Timur (Kaltim).go. hidrogen (Hydrogen =H). Januari 2009 : 40 – 46 . Besar butir limbah batubara tipe SL Kaltim sesuai dengan ukuran untuk umpan pembakar siklon.id dan ikin@tekmira. revisi pertama : 16 Januari 2009. Kata kunci : batubara. zat-terbang (Volatile Matter =VM) dan karbon tertambat (Fixed Carbon =FC). slurry (SL). dan oksigen (Oxygen =O). suhu nyala. Sedangkan karakteristik pembakaran yang memengaruhi kinerja tungku siklon ditentukan oleh nilai kalori. Karakteristik limbah batubara tergantung pada karakteristik batubara sumbernya dan pada umumnya berperingkat rendah (low rank coal). Tanito Harum (TH).

that are PT. Limbah SL merupakan sisa proses pencucian yang ditampung (dikumpulkan dan disimpan) dalam sistem penampungan limbah batubara yang standar (sludge disposal system) dengan menggunakan kolam pengendapan (settling pond). The type of the researched sludge was slurry (SL) in form of the coal washing plant residue of which its samples were taken from the three coal mine located and selected alongside of Mahakam river in Kutai Kartanegara regency. dan Kalimantan Selatan 17. yaitu crushing and screening untuk produksi batubara dari tambang yang telah memenuhi persyaratan kualitas (spesifikasi) pasar dan pencucian batubara (coal washing) untuk produksi batubara dari tambang yang belum memenuhi spesifikasi pasar sehingga menghasilkan produk batubara yang dapat dijual dengan ukuran – 50 mm.37%. hydrogen (H) and oxygen (O).000 cal/gr. 2008) tersebar di Provinsi Sumatera Selatan 40.ABSTRACT Sludge is defined as a carbonaceous material. Result indicates that the sludge of SL type can be utilized as alternative fuel for direct combustion in industry. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 41 . On the other hand the distribution of particle sizes was determined by sizing analysis. slurry(SL). high moisture and ash contents of above 25% and fuel ratio about one. East Kalimantan province. sludge characteristic. timbunan (stockpiles) atau lubang galian tanah (landfill). most of which are low rank coal. glow point and maximum combustion temperature that were determined by parameters of the proximate and the ultimate analyses. Whereas in terms of the characteristic of its combustion that affects the performance of cyclone furnace was determined by calorific value. yaitu batubara yang dapat dijual (saleable coal). yaitu slurry = SL. Potensi SL belum dikelola secara komersial. Akumulasi jumlah limbah batubara tipe SL ini akan semakin besar sesuai dengan jumlah tambang batubara yang beroperasi di daerah Kaltim dan umur pengoperasian setiap tambang batubara yang Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan .02 juta ton per tahun (Suhala. ignition temperature. 2007). The characteristic of sludge was determined by the proximate analyses such as moisture (M). The characteristic of sludge depends on the type of its source coal.000-5. PENDAHULUAN Potensi sumber daya batubara Indonesia yang ditaksir sebanyak 93. Batubara hasil penambangan (Run of Mine-Coal atau raw coal) perlu diolah terlebih dahulu atau tidak. Multi Harapan Utama (MHU). Tanito Harum (TH). kegiatan operasi penambangan di setiap lokasi tambang batubara pada umumnya menghasilkan 3 (tiga) produk. Kalimantan Timur 28. dirty coal = DC. yaitu batubara kualitas rendah yang masih perlu dicuci dan batubara kualitas tinggi yang tidak perlu dicuci. Keywords : coal. JICA.4 milyar ton (MEMR. Biasanya ada 2 (dua) tipe unit pengolahan batubara yang dikembangkan. 2008). therefore it can be utilized directly.. batubara dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) kelompok. volatile matter (VM) and fixed carbon (FC) and ultimate analyses such as carbon (C). Produksi batubara dari Kalimantan Timur adalah yang terbesar yaitu sekitar 57% dari produksi batubara nasional sebesar185 juta ton (2007) dan ini akan terus meningkat sesuai dengan pertumbuhan produksi batubara nasional sekitar 12.13%. Particle size of SL from Kaltim was similar to the particle size for feeding of cyclone combustion. PT.7% dan sisanya di provinsi-provinsi lain. ash (A). and PT Bukit Baiduri Energi (BBE) with respective coal production capacities of above one million tons of coal per annum.. dan coal fines = CF. tergantung pada karakteristik kualitas endapan lapisan batubara yang ditambang. limbah batubara (sludge) dan air buangan akhir tambang (effluent). The cyclone furnace was selected. because it might handle the sludge as low grade coal within a low calorific value in the range of 3. abu (% A) dan Sulfur (% S) serta nilai kalori. Sisa industri pertambangan batubara disebut limbah batubara (sludge) terdiri dari 3 (tiga) tipe. combustion characteristic 1. Tipe limbah batubara SL dijadikan objek penelitian dalam tulisan ini karena mempunyai prospek yang menjanjikan dipandang dari segi jumlah (quantity) dan kualitasnya (quality) sebagai sumber energi alternatif dalam rangka mendukung kebijakan konservasi batubara nasional yang berwawasan lingkungan. Pada prinsipnya. sehingga masih dianggap sebagai batubara yang tidak dapat dipasarkan (non-marketable coal. derived from sedimentary rock deposit containing organic matters so as to become combustible. Berdasarkan parameter pengotornya seperti kadar air-lembab (% M).

Kriteria pemilihan berdasarkan pada : Perusahaan tambang batubara harus mempunyai unit pencucian batubara dengan peralatan gravity concentration (wash breaker. Sumaryono dkk.1. Sedangkan kinerja pembakaran limbah batubara dinilai dengan beberapa parameter seperti suhu titik nyala (ignition point) hasil analisis thermogravimetry (TGA). semakin sulit bahan tersebut untuk dibakar. . sehingga dapat diketahui pengaruh distribusi ukuran partikel terhadap kadar abu dan nilai kalorinya.5 mm. Karakteristik Limbah Batubara - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parameter karakteristik limbah batubara Kaltim dengan karakteristik pembakarannya dalam rangka mengevaluasi kinerja keterbakarannya apakah dapat dikembangkan sebagai sumber energi alternatif atau tidak. Kriteria penilaian karakteristik pembakaran limbah batubara adalah semakin tinggi suhu titik nyala dan titik pijar. terutama percemaran sistem aliran sungai di sekitar tambangtambang batubara. sehingga berpotensi cenderung untuk terjadinya swabakar. PT. 2. Karena ukuran partikel ketiga contoh SL ini telah sesuai dengan kisaran ukuran umpan yang biasa digunakan untuk pembakar siklon yaitu – 4 mesh maupun lebih halus lagi sampai – 32 mesh. terutama untuk tipe SL di sepanjang Sungai Mahakam dan dipilih sebagai wakil Provinsi Kaltim yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu PT. terutama yang terletak di sepanjang Sungai Mahakam. Karakteristik limbah batubara tipe SL ditentukan melalui analisis proksimat dengan parameter komponen-komponen M.bersangkutan. 2. METODOLOGI Bahan Uji Ada 3 (tiga) contoh limbah batubara tipe SL dari ketiga perusahaan tambang batubara Kaltim yang dipilih untuk penelitian ini yaitu SL – MHU.75 µm juga dilakukan. 2007. dan SL – BBE. 2007). SL – TH.1mm + 0. 2. . Januari 2009 : 40 – 46 . jig atau hydrocyclone). A. Nomor13.5 mm + 75 µm.2 mm + 1 mm. 2.3. fasilitas penampungan limbah batubara perlu dikelola secara benar mengingat akan terbatasnya lahan dan dampak lingkungan yang ditimbulkannya. dan Tambang harus mempunyai kapasitas produksi >1 juta ton batubara per tahun. Di samping itu analisis ayak untuk mengetahui distribusi ukuran partikel dengan karakteristik kualitas per fraksi ukuran yaitu + 2 mm. sulfur (S) serta pengujian sifat fisik seperti nilai kalori dan berat jenis. Pemilihan tipe tungku dan metode pembakaran limbah batubara dengan pembakar siklon yang dikembangkan dalam penelitian ini didasarkan pada fakta bahwa pembakar siklon dapat membakar batubara berkadar rendah (low grade coal) dengan kadar air-lembab (% M) dan kadar abu (% A) yang tinggi sampai 25 %. hidrogen (H). . dan PT. VM dan FC dan analisis ultimat dengan parameter unsur-unsur karbon (C). 1982). Ukuran partikel batubara umpan ini hampir sama dengan ukuran partikel SL sebagai tipe limbah batubara utama. Bukit Baiduri Energi (BBE). Multi Harapan Utama (MHU).595 mm = 595 ìm) (Current Technology. Sistem tungku siklon yang dikembangkan dapat membakar ukuran umpan batubara yang umum digunakan. oksigen (O). Tanito Harum (TH). Ada 3 (tiga) perusahaan tambang batubara yang diambil contoh limbah batubaranya. yaitu sekitar – 4 mesh (4. maka persiapan bahan uji untuk program percobaan pembakaran dengan pembakar siklon cukup dilakukan melalui pengeringan udara pada suhu kamar.0. yaitu dari parameter analisis proksimat dan analisis ultimat (Tsai. Sebenarnya semua tipe limbah batubara tersebut di atas adalah bahan karbonan (carbonaceous materials) yang karakteristiknya tergantung pada karakteristik batubara sumbernya yang pada umumnya berperingkat rendah dari lignit sampai subbituminus (low rank coal). Karena itu. titik pijar (glow point) hasil pengamatan pada silica tube furnace dan suhu maksimum hasil pembakarannya dengan pembakar siklon dalam hubungannya dengan parameter karakteristiknya. . Sedangkan kriteria penilaian kinerja pembakarannya adalah semakin tinggi suhu maksimum yang dicapai selama pembakaran dengan siklon semakin tinggi kinerja pembakarannya. nitrogen (N). 42 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.76 mm) atau lebih halus sampai – 30 mesh (0. yang harus dikelola oleh setiap perusahaan tambang batubara melalui sistem manajemen penampungan yang standar.2. Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara Karakteristik pembakaran limbah batubara dipengaruhi oleh parameter karakteristik limbah batubaranya sendiri.

Program Ujicoba Pembakaran Peralatan nilai optimal karakteristik pembakarannya. Com. SL MHU Udara sekunder Udara primer Batubara Udara tersier Lubang pengeluaran terak Lubang pengeluaran terak utama Gambar 1. Aksi gerakan berputar (sentrifugal) ditingkatkan oleh pasokan udara sekunder dengan kecepatan tinggi secara tangensial. dkk.2.4.. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 43 . Udara pembakaran berupa udara primer maupun udara tersier digunakan untuk menghasilkan gerakan berputar dari partikel-partikel batubara atau limbah batubara umpan di dalam ruangan pembakaran siklon. dimasukkan ke dalam penandon umpan berupa hopper dan kemudian diumpankan dengan bantuan blower ke dalam ruangan pembakar siklon yang telah dipanaskan terlebih dahulu dengan bantuan kayu bakar atau karet ban bekas sampai mencapai suhu 450 o C sebagai pematik (igniter). sehingga menghasilkan semburan nyala api keluar dari ruangan siklon dan setiap partikel umpan terbakar habis (burn out) dengan meninggalkan residu atau lelehan abu (slag). Dimensi rancangan pembakar siklon yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 x 100 cm dengan ukuran partikel batubara umpan – 30 mesh (595 ìm atau 0.. Kegiatan percobaan pembakaran 3 (tiga) contoh limbah batubara SL dengan pembakar siklon Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan .. Setiap bahan uji SL yang sudah kering di udara. 2007). 2007) SL. Pada prinsipnya rancangan pembakar siklon yang benar dapat dilihat pada Gambar 1. Prosedur Prosedur percobaan dirancang menurut karakteristik pembakaran limbah batubara yang diuji. a. Suhu maksimum rata-rata hasil pembakaran dari setiap contoh limbah batubara diambil sebagai SL BBE Gambar 2. Skema rancangan pembakar siklon (Wikipedia. perkembangan suhu pembakaran yang dihasilkan dicatat melalui pencatat suhu indicator thermocouple dengan interval waktu 5 menit selama 15 menit.TH b. Kegiatan percobaan pembakaran dari ketiga contoh limbah batubara SL tersebut dapat dilihat pada Gambar 2.595 mm) (Sumaryono. Selanjutnya.

adb SL MHU 3.778 5.37 0. Januari 2009 : 40 – 46 .32 6.96 TH 7.66 38.62 BBE 11.631 1. adb IM 3.1.1 mm + 0.15 4.67 1. 3. adb Nitrogen (N).53 0.68 11. fuel ratio.14 33.72 42. %.92 0.02 1.57 9.93 0.59 VM FC Fuel Nilai ratio kalori.59 47.05 1.88 2.93 5.683 TH BBE 26. adb Oksigen (O).18 66.02 1.48 20. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Limbah Batubara Karakteristik limbah batubara tipe SL dari 3 (tiga) perusahaan tambang batubara di Kaltim dapat dilihat pada Tabel 1 dan hasil analisis ayak pada Tabel 2.95 12.75 µm + 2 mm .44 13.19 28.8 47.40 2.1 mm + 0.43 4. TH dan BBE Ukuran fraksi MHU + 2 mm .12 24.1 23.0. hydrocyclone dan screen (0. adb Zat terbang (VM).128 3.33 100 1. adb Nilai kalori.56 36.5 mm .89 39.17 14.96 1.33 7.5 mm + 75 µm .59 60.58 A 54.2 mm + 1 mm .20 4.2 mm + 1 mm .0.2 mm + 1 mm .032 3.93 55.7 36. %. %.08 59.84 1.13 30.18 0.90 5.594 3.51 1.78 4. Nomor13.66 30. kal/gr.51 10.adb 0. %.45 35.15 30.75 µm % massa % kumulatif massa tertahan tertahan 19. adb Abu (A). adb Karbon tertambat (FC).690 5.9 7.52 12.61 49. adb Fuel Ratio (FC/VM) Berat jenis (TSG) Analisis ultimat : Karbon (C).70 26.53 51. %.77 13.53 38.39 27.32 8.2 100 47.93 7.758 1.80 4.277 2.53 0. analisis proksimat .892 1. Karakteristik SL dari masing-masing perusahaan Tabel 1.14 30.86 0.55 0.25mm – 0.79 100 Analisa proksimat (%).2 16.82 28. %. adb Sulfur (S). Karakteristik limbah batubara tipe SL dari MHU.78 3.413 0.93 31.72 15.15 10.05 0.88 44 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.7 7.636 5.08 0. Tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik SL dari masing-masing perusahaan pertambangan batubara selain tergantung dari karakteristik batubara sumbernya.68 30.25 28.51 40.21 19.30 34.3 9. %.84 16.895 3.25 23.86 0.0.436 1.851 4.76 24.55 38.5 mm .5 mm .56 44.76 2.45 0.34 6. %.95 18.44 3.5 mm + 75 µm .99 28.27 7.7 39.82 Tabel 2.5 24.5 mm + 75 µm . jig.46 56.14 24.4 23.66 0.51 2.6 15. (FC/VM) kal/gr.798 5.224 4.19 9.4 60.5 mm).49 52.6 41. juga dipengaruhi oleh proses pencucian dengan peralatan yang digunakan seperti drum washer.47 44. adb Hidrogen (H).05 1.57 0.686 6.28 89. TH dan BBE Parameter Analisis proksimat : Air lembab (IM).33 22. %.76 2.3. dan nilai kalori limbah batubara tipe SL dari MHU.76 90.33 6.69 98.75 µm + 2 mm .5 26.78 11.01 26.05 1.18 4. Hasil analisis ayak.22 12.1 mm + 0.33 52.24 6.81 41.05 30.36 45.56 37.96 17.54 6.

Sedangkan suhu maksimum siklon dipengaruhi oleh kadar abu.adb Titik Nyala TGA. yaitu semakin rendah kadar abu limbah batubara akan semakin Gambar 4. terlihat bahwa menurunnya ukuran partikel menyebabkan menurunnya nilai kalori.798 kal/gr. SL MHU yang merupakan limbah pengolahan dengan cyclone classifier dan screen 0.436 261 360 566 BBE 4. Begitu pula tinggi rendahnya kandungan karbon dan oksigen akan memengaruhi kandungan nilai kalori. Dengan kata lain bahwa semakin halus (– 75 µm) fraksi ukuran SL semakin rendah nilai kalorinya. SL TH dengan drum washer. Semakin tinggi kadar fixed carbon atau fuel ratio.5 mm dari 3.636 kal/ gr sampai 6. Karakteristik pembakaran limbah batubara Parameter MHU Karakteristik pembakaran : Nilai kalori. sehingga teknik pengolahan untuk pemisahannya dari fraksi-fraksi yang kasar harus dilakukan dengan proses desliming melalui cara decantation untuk meningkatkan nilai kalori limbah batubara tipe SL tersebut. Hubungan antara kadar abu dengan ukuran fraksi NILAI KALORI (kal/gram) 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 +2mm .25 mm mempunyai nilai kalori yang terendah.5 mm + 75 µm maupun pada fraksi ukuran terhalus – 75 µm.5mm UKURAN FRAKSI MHU TH BBE .5mm +75µm . cyclone classifier dan screen 0. nilai kalor dan ukuran partikel umpan. 70 60 A BU .277 kal/gr. Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara Gambar 3.413 tdd 470 431 Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan . Hubungan antara nilai kalori dengan ukuran fraksi Tabel 3. oC Catatan : tdd = tidak dapat ditentukan SL TH 4.75µm Karakteristik pembakaran limbah batubara tipe SL dapat dilihat pada Tabel 3. walaupun semakin halus fraksi ukuran partikelnya semakin tinggi kadar abu..75µm Dari Gambar 3 dan 4. Gambar 3 menunjukkan grafik hubungan antara kadar abu dengan ukuran fraksi dan Gambar 4 grafik hubungan antara nilai kalori dengan ukuran fraksi.5mm +75µm . Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa naiknya kadar abu akan menurunkan nilai kalori yang diikuti oleh naiknya kadar karbon dan oksigen.. Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas buang hasil pembakaran. Tabel 3 menunjukkan bahwa naiknya titik nyala dan titik pijar dipengaruhi oleh fuel ratio.0.0.2. semakin tinggi titik nyala atau titik pijarnya.2mm +1mm -1mm +0. oC Suhu maks.892 kal/gr sampai 3. oC Titik Pijar Silica Tube Furnace. dengan nilai kalori yang terendah sebesar 1895 kal/gr pada fraksi ukuran terkecil – 75 µm.5 mm dari 3.128 kal/gr dan SL BBE dengan cyclone classifier dan screen 0. sehingga akan menurunkan nilai kalori. yaitu dari 1. Fraksi-fraksi ukuran partikel yang sangat halus ini biasanya dianggap sebagai slime. baik pada fraksi ukuran – 0. pembakaran siklon. % 50 40 30 20 10 0 +2mm . Stefano Munir dan Ikin Sodikin 45 .2mm +1mm -1mm +0. kal/gr.683 kal/gr sampai 5.pertambangan batubara menunjukkan bahwa kandungan abu yang tinggi sangat memengaruhi kandungan nilai kalori dan berat jenis yang sebenarnya. 3.758 340 418 529 2. Distribusi ukuran partikel semua contoh tipe limbah batubara SL telah memenuhi spesifikasi sebagai umpan untuk pembakar siklon.5mm UKURAN FRAKSI MHU TH BBE .

C. Wikipedia. ketiga limbah batubara tipe SL yang diteliti masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung dengan menggunakan pembakar siklon. Yaskuri.. 2007. Titik nyala untuk SL MHU tidak dapat ditentukan karena kandungan abu yang cukup tinggi mencapai 60.com/topic/cyclone-furnace Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pembakaran limbah batubara tipe SL dengan pembakar siklon. dan Fahmi Sulistyohadi. Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas buang hasil pembakaran. 4. S.tinggi nilai kalornya. Amsterdam. kinerja pembakarannya dapat diurut menurut kemudahan keterbakarannya dari yang paling rendah. 20 Oktober 2007. Perkembangan Industri Pertambangan Batubara Nasional Peluang dan Tantangannya. S. S. 1982. APBI-ICMA. yaitu SL – MHU. 4. Com. Indonesia Energy Statistics. Fundamentals of Coal Beneficiation and Utilization. http:// www. 27 Desember 2007. Pembangunan Pilot Plant Teknologi Pembakaran Batubara Dengan Pembakar Siklon. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan daya energi alternatif untuk industri. 2008. Tsai. sedang SL – TH.uiuc.. Saran Limbah batubara tipe SL yang banyak tersebar di beberapa perusahaan tambang batubara dan belum dimanfaatkan di Provinsi Kaltim perlu dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber 46 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. 4.2.me.html JICA team. tinggi SL – BBE. Cyclone furnace : Definition from Answers. Pada prinsipnya. Suhala. sedang (SL-TH). Munir. Laporan Intern Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara.1. dan tinggi (SLBBE) sehingga masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung.edu/ kawka/Public/coal/tech. Sumaryono. semua contoh limbah batubara tipe SL menunjukkan kinerja keterbakaran dari yang terrendah (SL–MHU). Bandung. http://me-roboto.59%. DAFTAR PUSTAKA Current Technology.answers. Bandung. Elsevier Scientific Publishing Company. Lokakarya Program Peduli Mahakam. Januari 2009 : 40 – 46 . 2008. Summary of Draft Final Report : The Master Plan Study on Pollution Risk Mitigation Program for Sustainable Coal Development in East Kalimantan Province in the Republic of Indonesia. 2007. Methods of Burning Coal. F. Nomor13. Secara umum. Semakin halus ukuran partikel umpan siklon semakin tinggi suhu maksimum yang dicapai sehingga kinerja pembakar siklon meningkat.. ESDM dan JICA Jakarta. Com. Ministry of Energy and Mineral Resources..

has proved to be useful in releasing phosphorous from its rocks. fitur mikroskopi. asam oksalat 1. tetapi pada umumnya mempunyai kadar rendah. PENDAHULUAN Endapan fosfat alam Indonesia kadarnya bervariasi.PERUBAHAN MORFOLOGI DAN KIMIA BATUAN PEMBAWA FOSFAT AKIBAT PELINDIAN DENGAN ASPERGILLUS NIGER TATANG WAHYUDI Pusat Peneltian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. microscopic and chemical studies were conducted to bioleaching. Sudirman 623 Bndung. The results show several features occur during the process. dahlite. revisi terakhir : Januari 2009 ABSTRACT Bioleaching. Fosfat berkadar tinggi memang ada. meningkatkan kelarutan matriks material dan memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian tubuh mineral. Kata kunci: batuan pembawa fosfat. calcite. kalsit. bioleaching. The detected pits on the mineral surface reflect solution activity when leached the materials. Ciamis-Jawa Barat (± 14% kadar P2O5). Both are competent agents for leaching solution to contact with the required elements available within the minerals. metode tersebut efektif untuk mengolah fosfat. Fitur mikroskopi yang terdeteksi pada mineral dahlit dan kalsit adalah berkembangnya porositas dan permeabilitas yang terbentuk selama proses pelindian. oxalic acid SARI Pelindian dengan mikroorganisme (bioleaching) menggunakan kapang Aspergillus niger selama 10 hari terhadap batuan pembawa fosfat Cijulang menyisakan ampas pelindian yang menarik untuk dikaji. baik secara fisika maupun kimia. revisi kedua : 20 September 2008. Pengolahan secara fisika melalui peremukan (crush- Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . bioleaching. Analisis kimia dan mikroskopik terhadap percontoh ampas pelindian tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi percobaan tertentu. revisi pertama : 13 Juni 2008. hanya sebarannya bersifat sporadis dan cadangannya kecil. 022-6030483 Naskah masuk : 06 Januari 2008. dahlit. Tlp. Tatang Wahyudi 47 . Jl.. Fitur terdeteksi lainnya berupa alur-alur pada permukaan mineral yang merupakan refleksi aktivitas larutan pelindi ketika ‘memakan’ komponen yang terkandung dalam material terlindi. utilizing oxalic acid medium generated by the phosphorous oxidizing capabilities of Aspergillus niger in 10 days. microscopic feature.. Banyak pakar yang telah mencoba untuk meningkatkan kadar fosfat dari daerah ini dengan berbagai cara pengolahan. Salah satu endapan fosfat berkadar rendah berada di Cijulang. Kedua hal ini merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat. Porosity and permeability developments on the surface of dahlite and calcite during bioleaching process imply that the process is effective to leach such minerals. In terms of evaluating process performance. Keywords: phosphate-bearing rocks. Jend.

Batuan fosfat Cijulang diolah dengan proses tersebut pada skala laboratorium dengan memanfaatkan kapang Aspergillus niger dengan waktu pemrosesan selama 10 hari. BAHAN DAN METODE Laboratorium Preparasi. kapang mengeluarkan asam oksalat sebagai hasil samping proses fermentasi asam sitrat yang berperan dalam proses pelindian. 3. 3. Keberadaan dahlit dan kolofan diduga akibat pengayaan batugamping oleh kotoran burung (guano) dan air laut (http://en. batuan fosfat yang sudah digerus halus dianalisis menggunakan radiasi Cu-Ká. 2 dan 3 di depan huruf A dan B mengacu kepada persen padatan yang digunakan pada saat pelindian yaitu 5. Hasil pemercontohan kemudian dikering-ovenkan untuk kemudian difraksinasi di Analisis unsur-unsur dan mineralogi percontoh batuan fosfat menunjukkan hadirnya mineral fosfat yang tergolong ke dalam hidroksilapatit.wikipedia. Interpretasi terhadap informasi tersebut yang dipadu dengan pengujian kimia diharapkan dapat mengungkap kinerja proses bioleaching. tekstur dan struktur mikro yang terdapat dalam limbah padat tersebut. Dalam proses ini.ing). Maksud penelitian ini adalah mengevaluasi kenampakan tekstur dan struktur mikro yang terdapat pada percontoh ampas hasil bioleaching. pengeringan (drying) dan penggerusan (grinding) telah dilakukan oleh Tim Bimbingan Pertambangan Fosfat dari Pusat Pengembangan Teknologi Mineral pada 1984.html).18% (Ardha. B2 dan B3. Hasilnya memang belum bisa memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan oleh industri yaitu 36% kadar P2O5 (Ardha dkk. kesulitan peningkatan kadar fosfat disebabkan oleh ikut terlindinya unsur-unsur pengotor. dilakukan pengujian dengan teknik difraksi sinar-x (XRD) menggunakan alat difraktometer sinar-x Shimadzu XRD-7000. A3. Penelitian perubahan morfologi dan kimia batuan pembawa fosfat akibat pelindian dengan kapang menggunakan ampas hasil pelindian dengan kode percontoh A1.5(CO3)0. kalsinasi dan pemisahan secara magnetik dan mampu meningkatkan kadar fosfat sampai 30% . Thiobacillus thiooxidans dan lain-lain (http://www. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan Baku (Head Sample) Percontoh batuan fosfat untuk keperluan penelitian ini diperoleh dari daerah Cijulang yang dikenal berkadar rendah. Dalam hal ini. Selanjutnya untuk mengetahui komposisi mineral head sample. Kendala yang dihadapi dalam mengolah fosfat dengan cara-cara di atas adalah mahalnya biaya pengolahan dan belum dapat diturunkannya material pengotor dalam jumlah signifikan. Kepada percontoh tersebut dilakukan pengujian mikroskop polarisasi dan kimia untuk mengetahui perkembangan yang terjadi setelah batuan tersebut dilindi dengan kapang selama 10 hari. Nomor 13. Mineral tersebut adalah dahlit yang mempunyai formula Ca5(PO4. Melalui pengujian difraksi sinar-x (XRD). Tujuannya untuk mengetahui efek proses tersebut terhadap batuan fosfat yang dilindi. pencampuran (blending). 10 dan 20%. 1997). Dahlit memperlihatkan struktur menyerat dan perawakan radial sedangkan kolofan menunjukkan struktur rekahan. sehingga unsur-unsur tertentu yang diinginkan akan mudah dilepaskan. Ukuran partikel yang diambil untuk keperluan penelitian adalah -140+200 dan 200 mesh contoh awal. Angka 1. Informasi mengenai fasa serta struktur mikro yang terdapat dalam percontoh head sample juga diperoleh melalui analisis mikroskop polarisasi yang dilengkapi dengan pengujian SEM-EDX untuk mengetahui komposisi unsur-unsur yang terdapat pada permukaan percontoh spesimen. Pengolahan secara kimia juga telah dilakukan melalui proses pelarutan HCl tersirkulasi walaupun hasilnya hanya mampu meningkatkan kadar fosfat dari 17.moonminer. percontoh diuji komposisi kimianya dengan metode kimia basah di Laboratorium Pengujian Kimia. flotasi.org/wiki/Phosphate). mikroskop optik dan SEM-EDX dapat diperoleh informasi mineralogi mengenai fasa. Namun. 29 menjadi 23. Thiobacillus ferrooxidans.5F dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan dahlit.CO3)3 dan kolofan – sejenis apatit dengan formula empiris Ca5(PO4)2. Leptospirillum ferrooxidans. Salah satu pengolahan alternatif untuk meningkatkan kadar fosfat adalah pelindian dengan jasad renik (micro organism) tertentu (kapang atau bakteri) seperti Aspergillus niger. Selain kedua 48 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Ditinjau dari segi pengolahan mineral. kondisi ini menguntungkan karena memudahkan larutan pelindi untuk meresap ke bagian-bagian tertentu tubuh mineral. 2.1. Januari 2009 : 47 – 56 .79% dengan perolehan 70. Pada tahap awal. A2. Kode A dan B menunjukkan ukuran fraksi umpan pelindian masing-masing -140+200 mesh untuk A dan -200 mesh untuk B.com/ bioleaching. Limbah pelindian berupa ampas padat menarik untuk dikaji. B1.1991) juga telah melakukan serangkaian proses untuk meningkatkan kadar fosfat melalui pencucian.

a .521 Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan .000 48. Kuantitas yang relatif cukup untuk terjadinya pengayaan Ca dan S pada batuan fosfat (http:// www. Belerang yang terdeteksi dapat berasal dari material sulfit atau sulfat seperti mineral gipsum atau CaSO4·2(H2O).720 64. Kehadiran unsur-unsur bukan pembentuk fosfat pada batuan fosfat Cijulang merupakan unsur-unsur pengotor yang tidak diharapkan.nz/oceano/seawater. apabila mineral fosfat ini diolah untuk keperluan industri tertentu.080 27. mengingat batuan fosfat Cijulang terdapat di area yang berbatasan dengan laut. mineral opak (opaque) dan fragmen batuan. sedangkan besi diduga berasal dari mineral silikat atau opak.280 06. Fosfor diduga berasal dari dahlit dan kolofan.560 25. aluminum (Al).kolofane (Cl) dan c . a Gambar 1. Pada 3. unsur-unsur belerang dan kalsium masing-masing berkadar 904 dan 411 ppm.. Pemetaan unsur-unsur pada salah satu mineral dahlit yang terdapat dalam spesimen sayatan poles batuan fosfat memperlihatkan kalsium lebih banyak terkonsentrasi di bagian kiri bawah sampai tengah mineral (Gambar 3) yang ditunjukkan oleh skala Unsur-unsur pada spesimen percontoh batuan fosfat yang terdeteksi dengan SEM-EDX metode x-ray mapping Unsur teridentifikasi Fosfor (15P32) Kalsium (20Ca40) Karbon (6C12) Aluminum (13Al27) Besi (26Fe56) Silikon (14Si28) Belerang (16S32) Oksigen (8O16) Intensitas (counts) 30. Tatang Wahyudi 49 .. kuarsa (SiO2).5% salinitas air laut. Mineral opak kemungkinannya berupa magnetit atau hematit hasil pelapukan mineral induknya yang berasal dari fragmen batuan.307 0. b c Tiga mineral utama yang terdapat dalam percontoh batuan fosfat Cijulang.960 17.690 0.htm). silikon (Si) and oksigen (O). Metode pengujiannya adalah pemetaan secara sinar-x. kolofan dan kalsit. tetapi indikasi ke arah itu ada. Gambar 1 memperlihatkan sebagian komposisi mineral percontoh batuan fosfat head sample. Tabel 1. besi (Fe).739 2.277 1.398 1. Informasi mineralogi di atas diperoleh dari pengujian dengan mikroskop optik. kalsium (Ca). percontoh batuan fosfat juga disusun oleh kalsit (CaCO3).013 3.486 6. Aluminum dan silikon kemungkinan berasal dari mineral silikat yang terkandung dalam fragmen batuan.dahlit (D).280 02. b .seafriends.mineral fosfat di atas. karbon (C).org.kalsit (C) Pengujian unsur-unsur yang terdapat pada permukaan sayatan poles percontoh batuan fosfat Cijulang dilakukan dengan SEM-EDX. Tabel 1 dan Gambar 2 memperlihatkan unsur-unsur yang terdeteksi. . Hasil analisis menunjukkan adanya unsur fosfor (P).200 Energyi (keV) 2. sedangkan kalsium berasal dari dahlit. Mineral tersebut memang tidak terdeteksi pada batuan yang dijadikan spesimen pengujian mikroskop optik atau SEM.

Komposisi unsur yang terdapat pada batuan fosfat Cijulang yang dianalisis dengan metode energy-dispersive x-ray (EDX) warna merah keunguan. Pengujian kimia batuan fosfat Cijulang head sample mengidentifikasi beberapa unsur dalam bentuk oksidanya (Tabel 3). Januari 2009 : 47 – 56 . Khusus untuk unsur belerang. pada gambar terdapat dua noktah putih yang dikelilingi oleh warna merah (sudut kiri atas dan tengah kanan gambar). terdeteksi pula adanya mineral silikat – kuarsa. Terdapatnya dua noktah putih mengandung Al dan Si pada hasil pemetaan secara sinar-x menunjukkan bahwa area tersebut adalah partikel silikat. Pengujian percontoh batuan fosfat Cijulang dengan XRD menunjukkan adanya mineral monmorilonit sebagai mineral silikat. Jika dilihat pada Gambar 3. Percontoh yang dianalisis adalah 50 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. aluminum. Keberadaan kalsit memang hanya terdeteksi oleh pengujian mikroskop optik saja melalui penelusuran pada spesimen yang memerlukan waktu lama (karena kecilnya kuantitas mineral tersebut dalam percontoh). Ada kemungkinan kedua noktah tersebut adalah gipsum yang berasosiasi dengan dahlit.Gambar 2. Walaupun konsentrasi unsur terbanyak masingmasing unsur pembentuk fosfat terpisah-pisah (tidak mengelompok menjadi satu). Satu area berwarna putih di bagian kiri atas foto mengandung unsur besi terkonsentrasi paling banyak. sedangkan konsentrasi karbon terbanyak terdapat di bagian kiri dan kanan mineral. Diasumsikan. Keterangan yang sama berlaku untuk unsur pembentuk fosfat lainnya (P). silikon dan besi terkonsentrasi paling banyak pada bagian kanan atas foto dan noktak-noktah yang tersebar di bagian kiri atas dan kanan bawah. Besi sebagai bagian mineral silikat. Pengujian XRD ini hanya mendeteksi dahlit sebagai mineral fosfat. dan ini berarti pada bagian tengah mineral masih terdapat unsur fosfor. selebihnya unsur belerang merupakan unsur pengganggu yang menyebar di seluruh permukaan mineral. material silikat berasosiasi dengan mineral dahlit. Kalsit tidak terdeteksi. Kedua mineral ini berasal dari lapukan fragmen batuan. percontoh yang dianalisis untuk XRD ini (berasal dari bongkah yang dipreparasi sampai fraksi -200 mesh) memang tidak mengandung mineral tersebut seperti terlihat pada Tabel 2. Kedua jenis unsur tersebut secara menyeluruh terdapat pada dahlit hanya konsentrasinya di bagian pinggir mineral tidak sebanyak di bagian tengah mineral. Di samping itu. Nomor 13. Bagian ini diduga mineral opak. sebarannya hampir mengikuti pola sebaran aluminum dan silikon. Fosfor paling banyak terkonsentrasi di bagian kiri bawah dan tengah atas mineral. tidak berarti bagian tepi mineral tersebut tidak terdapat P atau C. Namun kuantitasnya dibandingkan dengan kuantitas P di bagian kiri bawah dan atas adalah lebih kecil. Diduga pada bagianbagian tersebut.

Pengujian mineralogi batuan fosfat Cijulang dengan metode XRD Mineral teridentifikasi Dahlit Monmorilonit Kuarsa Formula mineral Ca5(PO4. Tatang Wahyudi 51 .Gambar 3. Kelihatannya. karbon (C). silikon (Si). aluminum (Al). fosfor (P). -140+200 dan 200 mesh.. Mg)2 Si4O10 (OH)2. kuantitas fosfat dalam bentuk P2O5 berkisar antara 18 sampai 19%. besi (Fe). yaitu kalsium (Ca). Kuantitas fosfat hasil pengujian kimia tidak berbeda jauh dengan hasil pengujian terhadap percontoh Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . Dari ketiga percontoh. Pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping pada batuan fosfat Cijulangmendeteksi adanya 8 unsur.. 4H2O SiO2 bongkah yang telah difraksinasi menjadi tiga (3) ukuran partikel yaitu -100+140. belerang (S) dan oksigen (O) Tabel 2.CO3)3F Na(Al. makin halus partikel makin banyak mineral fosfat (dahlit) yang terbebaskan sehingga ada kenaikan kadar P2O5 walaupun tidak signifikan.

467 0.62 0.398 mass % 36.61 23.58 5.56 sejenis dengan metode SEM-EDX (Tabel 4).7698 1. Januari 2009 : 47 – 56 . yaitu material uji terbatas pada material yang terlihat pada monitor saja.550 0.41 K 11. Keduanya sudah diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4). Walaupun tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas. Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia.00 Cation 0.739 2.Tabel 3.47 0.437 P2O5 18.82 3.25 0.05 30. angka yang ditujukkan relatif mewakili kandungan unsur-unsur yang ada pada percontoh uji.82% (Tabel 4). pengujiannya lebih bersifat kualitatif Hasil pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping untuk head sample fosfat Cijulang Element CK O Al K Si K PK SK Ca K Fe K Total (keV) 0.91 1.690 6.40 8.05 At % 78.84 5. Hasil pengujian kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil nihil.52 7.307 3.71 Al2O3 0. informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan percontoh yang ada. Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia.57 1.457 0.27 100.71 Fe2O3 6. hanya untuk partikel terdeteksi saja. kandungan belerangnya memang rendah (dalam unit ppb).00 Compound C Al2O3 SiO2 P2O5 SO3 CaO FeO mass % 38.83 5.63 0.56 0.58 24. tidak mewakili keseluruhan persentase yang ada.54 19.013 2.76 2.41 2.33 7. memang hasil pengujian SEM-EDX mencantumkan dibandingkan dengan yang kedua. Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia.65 13.6433 2. juga oksigen dalam bentuk unsur. Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia. pengujiannya lebih bersifat kualitatif dibandingkan dengan yang kedua.091 0. hal ini dapat dimengerti.62 0.04%). Ada keterbatasan pada pengujian SEM-EDX.82 16. yang pertama.14 0. Walaupun tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas.209 0. Pada perbesaran tertentu biasanya hanya satu atau dua partikel yang termuat pada monitor. memang hasil pengujian SEM-EDX mencantum-kan juga oksigen dalam bentuk unsur. angka yang ditunjukkan relatif mewakili kandungan unsur-unsur yang ada pada percontoh uji.39 16.32 2.00 5.00 1.7918 16.277 1.95 2.37 MgO 0.208 0. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel yang dideteksi hanya 0.19 23.55 1.65 1. Karbon (C) memang tidak dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena fasilitas pengujiannya belum tersedia.2755 37.70 K2O 0.00 Error % 0. Walaupun kuantitas yang diperoleh untuk P2O5 pada pengujian terahir lebih rendah dibandingkan dengan hasil pengujian kimia (hanya 12.069 CaO 22. informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan percontoh yang ada. Hasil pengujian 52 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.5885 3.212 Na2O % 0.46 100. angka tersebut masih dalam kisaran wajar.55 6. Unsur oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang terdeteksi oleh pengujian kimia.6325 8.534 0.83 2.486 1. Jadi hasil yang diperoleh hanya mewakili partikel yang terpampang pada layar.53 yang pertama.26 19.535 TiO2 0. Unsur oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang terdeteksi oleh pengujian kimia. Nomor 13.27 5. Kemungkinan pada percontoh uji untuk analisis kimia.01 12.068 0.04 2. Pengujian kimia terhadap percontoh batuan fosfat Cijulang Kode -100+140 -140+200 -200 SiO2 17. hanya untuk partikel terdeteksi saja.3861 6. Tabel 4.15 9. Keduanya sudah diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4).82 21. yaitu pada angka belasan persen.02 100.67 0.

makin efektif proses disolusi yang terjadi pada material karbonat. Kemungkinan pada percontoh uji untuk analisis kimia. kandungan belerangnya memang rendah (dalam unit ppb). A2 dan B1. Dari kondisi ini dapat diketahui bahwa kedua jenis mineral ini tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah pelindian atau relatif tidak terlindi. Struktur ini juga merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat. Pada percontoh asli (head sample yang belum mengalami pelindian). Mineral ini terdapat pada semua percontoh yang diuji secara mikroskop optik. 2002). Dalam hal ini. Keenam foto di atas memperlihatkan adanya aluralur (pits. hal ini dapat dimengerti.A3. Wahyudi dkk. Di lihat dari tampilannya. 3. B2 dan B3) masih menyisakan dahlit cukup banyak sebagai mineral yang tidak terlindi. Jika dahlit terlindi habis pada percontoh A1. Hasil pelindian berupa filtrat dan ampas. dahlit terlindi dengan baik pada percontoh. Hasil pengamatan mikroskop optik pada ampas tersebut ditabulasikan untuk divisualkan seperti tertera pada Gambar 4. e dan f) sedangkan pada kalsit tampilannya sangat halus (Gambar 5c dan f). A2 dan B1. Dari keenam percontoh. Dalam hal ini. Terlindinya kuarsa dan fragmen batuan yang keduanya merupakan sumber mineral silikat dengan berbagai kandungan unsur pengotornya. kuarsa dan fragmen batuan masing-masing habis terlindi pada percontoh A1. material karbonat akan dengan mudah terangkat dari struktur mineralnya. Pada dahlit terlihat seperti retakan-retakan di permukaan mineral tersebut (Gambar 5a.2. Struktur menyerat pada mineral ini terlihat makin melebar yang diduga sebagai akibat masuknya larutan pelindi melalui struktur tersebut. A3 dan B1. Karbon (C) memang tidak dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena fasilitas pengujiannya belum tersedia. Dari gambar tersebut terlihat bahwa kalsit merupakan mineral yang paling dominan dalam ampas. Fitur ini menunjukkan porositas dan permeabilitas yang mengembang sebagai akibat proses pelindian oleh asam oksalat atau karena rusaknya permukaan kalsit (C). Walaupun kuantitasnya tidak sebanyak mineral kalsit. yang disebut terakhir berupa padatan dan dianalisis dengan mikroskop optik untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi pada mineral fosfat Cijulang setelah dilindi oleh asam oksalat tersebut. agar logam-logam pengotor dalam larutan atau filtrat hasil pelindian dapat dipisahkan sehingga diperoleh fosfat dengan kemurnian lebih tinggi. B2 dan B3).. sebenarnya merugikan proses karena unsur-unsur pengotor juga ikut terlindi. Muszer dan Karas (2003) menyebutkan bahwa makin kecil ukuran butiran. empat percontoh lainnya (A1. Hasil uji mikroskop optik terhadap enam percontoh ampas hasil pelindian telah dilakukan (Gambar 5).. Distribusi mineral yang tersisa dalam dalam ampas hasil pelindian Pelindian terhadap batuan fosfat Cijulang telah dilakukan menggunakan metode bioleaching. pada percontoh uji terdapat pula struktur spons seperti diperlihatkan oleh kalsit (C) semua percontoh ampas yang diuji dengan mikroskop optik (Gambar 5a –f). Makin lebar struktur ini makin intensif proses pelindian berlangsung. c. (2008) menyarankan untuk mengatur pH larutan dengan pengadukan berkecepatan rendah. A3. B1 dan B2 serta A2. Selain struktur menyerat. Kuantitasnya berkisar antara 95 -99%. Meyer dan Yen (2002) menyebutkan bahwa alur-alur tersebut adalah bekas larutan pelindi ketika kontak Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . Pelindian yang berlangsung selama 10 hari menyisakan ampas yang masih mengandung mineral dahlit (percontoh A1. tanda panah putih).82% (Tabel 4). Ampas Pelindian Gambar 4. asam oksalat yang merupakan metabolit hasil ekskresi kapang Aspergillus niger merupakan media pelindi untuk melarutkan fosfat.kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil nihil. meningkatkan kelarutan matriks material dan memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian tubuh mineral (Meyer dan Yen. terlihat bahwa mineral dahlit (D) mempunyai struktur menyerat secara radial (Gambar 1a). Tatang Wahyudi 53 . mineral kalsit mengalami pengecilan ukuran terutama bila dibandingkan dengan kalsit yang belum mengalami pelindian (Gambar 1c). mineral opak merupakan mineral dominan kedua setelah kalsit. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel yang dideteksi hanya 0.

Diasumsikan mineral tersebut pada percontoh uji ini telah terlindi habis dan terubah menjadi filtrat sehingga fitur pits yang menjadi penanda bekas kontak antara larutan pelindi dengan mineral terlindi tidak ditemukan lagi. tidak terdeteksi pada percontoh A2 dan B1. Rodriguez-Lorenzo. A3. B2 dan B3. Kinerja tersebut dapat diketahui secara kuantitatif dengan mengukur luas dan lebar alur melalui metode luas permukaan (surface area). Distribusi oksida-oksida yang tersisa pada 6 percontoh ampas pelindian bioleaching 54 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. B2. Vallet-Reg dan Ferreira (2001) telah melakukan hal ini untuk hidroksilapatit sintetis. Bila mengacu kepada Gambar 3. 4 dan 5 ada kesesuaian antara hasil pengujian mikroskop optik dengan analisis kimia – fosfat terlindi habis pada percontoh A2 dan B1. c. Kenampakan mikroskopik pada kedua percontoh tersebut hanya sisa-sisa (remnants) material karbonat. MO – mineral opak. Hal ini berarti bahwa material fosfat pada percontoh A2 dan B1 terlindi relatif habis sedangkan pada keempat percontoh lainnya. a. Tidak ditemukan adanya dahlit pada kedua percontih uji. natrium. Nomor 13. Pada Gambar 5b dan d. K – kuarsa. B1. b.anl. magnesium tidak ditampilkan pada Gambar 6. A2. oksida-oksida kalium. Januari 2009 : 47 – 56 . Analisis kimia terhadap ampas hasil pelindian menguji oksida-oksida sejenis seperti tercantum pada Tabel 3. Dari histogram terlihat bahwa kalsium dan kuarsa masih mempunyai kuantitas yang lebih besar dibandingkan ketiga oksida lainnya. asam oksalat hasil ekskresi Aspergillus niger belum mampu melindi total material fosfat dalam umpan pelindian. B3.5%). D – dahlit. e. FB – fragmen batuan. C – kalsit. dengan permukaan material terlindi. A3. tetapi metode tersebut belum dapat diterapkan pada penelitian ini. Alur ini merefleksikan kuantitas material yang telah terlindi pada area tersebut. Gambar 6.Gambar 5. Oksida fosfat terdeteksi pada percontoh A1. Bentuknya yang tidak beraturan merupakan efek khas kinerja larutan pelindi (http:// www. Karena kuantitasnya relatif kecil (< 0. dan f adalah mineral pembawa fosfat yang telah mengalami pelindian asam oksalat dengan masing-masing dengan kode percontoh A1. kalsit merupakan mineral dominan yang terdeteksi pada percontoh uji. d. Fotomikrograf mineral pembawa fosfat Cijulang.gov).

jam 14.. Dua mineral yang disebut terakhir merupakan mineral fosfat yang tergolong ke dalam kelompok hidroksilapatit. 94 – 98.org.55 Meyer. h.anl.gov. Bila mengacu kepada hasil xray mapping salah satu partikel mineral fosfat (dahlit)..F.html. Uji Pelindian batugamping Fosfatan dengan Asam dan asam Tersirkulasi untuk Peningkatan Kadar Fosfat. Hal ini menguatkan bahwa endapan fosfat Cijulang memang berkadar rendah. Upaya Peningkatan Mutu Fosfat dari Batuan fosfat Kadar Rendah Cijulang – Ciamis. mineral opak. Application Of Microscopic Mineralogical Analysis Of Copper Concentrate After Bioleaching Process. 1997. 2003. Contoh kongkrit ditunjukkan oleh mineral kalsit yang memperlihatkan struktur spons yang tersusun karena pengecilan ukuran partikel kalsit atau rusaknya permukaan kalsit. Sri Handayani. Tatang Wahyudi 55 . University of Southrn California. terjadi pengembangan porositas dan permeabilitas pada mineral yang terlindi. C dan O) tidak merata.nz/oceano/seawater. Pengujian secara kimia terhadap head sample menunjukkan bahwa batuan fosfat Cijulang berkadar rendah (18 – 19%).C. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral.moonminer. Selama pelindian. Henry. W. Department of Geological Sciences and Chemical Engineering. Pengujian secara kimia dan mikroskop optik terhadap enam percontoh ampas pelindian bioleaching menunjukkan bahwa material fosfat terlindi habis pada percontoh A2 dan B1.seafriends. http://www. Penelitian ini didanai oleh Proyek Penelitian dan Pengembangan Mineral Tahun Anggaran 2008. M. h. n. jam 11. Terlepas dari kuantitas persen ekstraksi yang diperoleh. CA 9007.S. untuk mengurangi ikut terlindinya unsur-unsur pengotor. P. Pengujian kimia dan mikroskopi terhadap ampas hasil pelindian bioleaching menggunakan kapang Aspergillus niger tidak bersifat selektif dalam melindi unsur-unsur yang terdapat dalam batuan fosfat. H.org/wiki/Phosphate. Pengembangan porositas dan permeabilitas juga terjadi pada dahlit dan mineral lain. Disarankan pada penelitian lanjutan yang akan dilakukan pada skala meja dilakukan pengaturan pH dengan pengadukan berkecepatan rendah. T. Kondisi ini berakibat pada semakin luasnya permukaan partikel untuk kontak dengan media pelindi yang ditunjukkan dengan terdeteksinya alur-alur halus yang merupakan refleksi aktifitas larutan pelindi ketika ‘memakan’ komponen-komponen yang ada pada mineral tersebut. Makalah Teknik no. Dra. dan Yen. thn. Dahlit memperlihatkan struktur mikro radial menyerat sedangkan struktur mikro yang terdapat pada kolofan berupa rekahan (fracture). kuarsa. jam 9. Laporan Teknik Penelitian. Antoni dan Karas. sebagai media pelindi batuan pembawa fosfat layak dicoba untuk mengetahui kinerjanya apakah lebih baik dari kinerja kapang atau tidak. kondisi percoban bioleaching untuk percontoh A2 (-140 mesh+200 mesh. Muszer.05 http://www.. DAFTAR PUSTAKA Ardha. KESIMPULAN DAN SARAN Batuan pembawa fosfat (phosphate-bearing rocks) dari daerah Cijulang disusun oleh fragmen batuan..4. namun masih tersisa pada empat percontoh lainnya. 148. 5% padatan) efektif dalam melepaskan unsur fosfor dari ikatannya. Purnomo. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. N. kalsit. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral.com/bioleaching.. 6. diakses pada 02/02/09 . Ngurah Ardha. 1 – 7. yang telah melakukan proses bioleaching batuan fosfat Cijulang. diakses pada 02/02 . diakses pada 05/02/09. Mineralogical Society of Poland – Special Pa- Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . T. penggunaan jasad renik lain seperti Baccillus sp. Soenara.. distribusi unsur-unsur penyusun mineral fosfat tersebut (Ca. Selain itu.00 http://en. Ris. 2002. 10% padatan) dan B1 (-200 mesh. diakses pada 03/02/09. 1991.E atas masukan-masukan yang diberikan selama penulisan makalah. 1.htm. Ardha.Sc.40 http://www. Pada dahlit ditunjukkan dengan semakin lebarnya struktur menyerat yang dimilikinya. jam 11. dan Rasyad. The Effect of Bioleaching on Green River Oil Shale. dahlit dan kolofan.wikipedia. M. N. sehingga percontoh ampas yang dihasilkan dapat dikaji kembali secara kimia dan mineralogi.Met. S.

dan Ferreira. 2001. h. L.F. J. T.M. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. Wahyudi. Bimbingan Pertambangan Fosfat di Batukaras Kecamatan Cijulang. Kabupaten Ciamis. Fabrication of hydroxyapatite bodies by uniaxial pressing from a precipitated powder. Biomaterials n. MSP – Poland. dkk. Bandung:Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Rodriguez-Lorenz. M. 56 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.M.. 2008. Tim Bimbingan Pertambangan Fosfat. 1984. 22. Pengembangan Bioteknologi untuk Pengolahan Mineral (Studi Kasus : Ekstraksi Fosfat dari Endapan Fosfat Alam dengan Metode Bioleaching). Laporan Teknik Penelitian (dalam proses cetak).pers v 22. Nomor 13. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum. Vallet-Reg. Januari 2009 : 47 – 56 . 583-588.

agar dijelaskan cara memperoleh bahan tersebut. kota tempat buku diterbitkan dan halaman. 3. 623 Bandung 40211. Hanya rumus matematika yang penting yang dimuat dalam naskah. Bila pengutipan melebihi 250 kata penulis harus memperoleh izin tertulis dari penerbit dan penulis referensi yang bersangkutan. 12. judul referensi. Catatan kaki supaya dihindarkan. Intisari (abstract) naskah memuat ringkasan yang jelas. Petunjuk Bagi Penulis 57 . bila naskah sudah diterima atau bila naskah tidak sesuai untuk penerbitan ini. 5. Sudirman No. Nama organisasi. 7. Foto harus jelas dan siap untuk dicetak (tidak dalam bentuk negatif film). Semua huruf dalam peta harus jelas dan bila ukuran peta harus diperkecil. Naskah dalam disket/CD akan sangat membantu dalam proses peredaksian. Pengutipan seminimal mungkin.Petunjuk Bagi Penulis 1. Naskah diketik dalam dua spasi menggunakan kertas ukuran A4 dengan lebar margin kanan dan atas 3 cm serta kiri dan bawah 2 cm. Bilamana mengacu kepada artikel yang tidak dipublikasikan. Naskah harus asli dan belum pernah diterbitkan dalam publikasi lain. Jumlah halaman naskah tidak ditentukan. 13.5 mm. nomor telpon dan faksimili. Naskah ditulis secara ringkas sesuai isinya. 4. Izin untuk memproduksi hak cipta material adalah tanggung jawab penulis. 2. alamat. tinggi huruf dalam peta tersebut tidak lebih kecil dari 1. 10. Gambar dan tabel harus diberi judul dengan jelas dan dalam kertas terpisah serta ditunjukkan mengenai penempatan gambar dan tabel tersebut dalam naskah tulisan. Redaksi akan melakukan seleksi dan memberitahukan ke penulis. Naskah dan berkas dalam disket/CD dikirim ke Pemimpin Redaksi Jurnal tekMIRA. Kata kunci ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Peta maksimum berukuran A4 dan harus memakai skala dan arah utara. 6. Hanya artikel-artikel yang dipublikasikan yang dimasukkan sebagai referensi. Urutan penulisan : nama penulis. 9. Jend. 8. Jl. Daftar pustaka ditulis secara alfabetis. Nama penulis diketik pada halaman pertama di bawah judul naskah. tahun penerbitan. 11. Judul naskah harus bersifat deskriptif dan ringkas. penerbit. serta alamat e-mail (bila ada).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful