ISSN 1979 – 6560

Teknologi Mineral dan Batubara
Daftar Isi

Jurnal

Volume 5, Nomor 13, Januari 2009
No Akreditasi : 36/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

Daftar Isi ................................................................................................................................................. i Sekapur Sirih .......................................................................................................................................... ii Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi di Pantai Selatan Kulon Progo, Yogyakarta .................................................................... 1 - 16 Bambang Yunianto Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Skala Kecil dari Batubara Kadar Abu Tinggi .......................................................................................................................... 17 - 30 Suganal Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik: Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4 .................... 31 - 39 Slamet Suprapto Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan Timur dan Karakteristik Pembakarannya................................................................................................ 40 - 46 Stefano Munir dan Ikin Sodikin Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan Aspergillus Niger ............................................................................................................. 47 - 56 Tatang Wahyudi Petunjuk Bagi Penulis .......................................................................................................................... 57

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara terbit pada bulan Januari, Mei, September dan memuat karya ilmiah yang berkaitan dengan litbang mineral dan batubara mulai dari eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, lingkungan, kebijakan dan keekonomiannya. Redaksi menerima sumbangan naskah yang relevan dengan substansi terbitan ini. Biaya langganan : Rp 105.000,-/tahun di luar ongkos kirim, harga eceran Rp 35.000,-/eksemplar.
EDITOR IN CHIEF PEMIMPIN REDAKSI REDAKTUR PELAKSANA EDITOR STAF REDAKSI PENERBIT ALAMAT REDAKSI : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Hadi Nursarya : Umar Antana : Binarko Santoso (Ketua), Tatang Wahyudi, Sri Handayani, Datin Fatia Umar, Jafril, Miftahul Huda, Husaini, I. G. Ngurah Ardha, Siti Rafiah Untung dan Fauzan : Umar Antana, Nining Trisnamurni, Mining Emiliastuti, Rusmanto, Bachtiar Effendi dan Arie Aryansyah : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Jl. Jend. Sudirman 623 Bandung 40211 Telpon : (022) 6030483 - 5, Fax : (022) 6003373 e-mail : publikasitekmira@tekmira.esdm.go.id / publikasitekmira@yahoo.com

Keterangan gambar sampul depan : Pengembangan buah naga oleh petani di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo (atas); Contoh limbah batubara SL dengan pembakar siklon (bawah)
i

Sekapur Sirih
Pada awal 2009 ini, Undang-Undang Nomor 4/2009 tentang pertambangan mineral dan batubara telah diterbitkan untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 11/1967 yang dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Hal-hal penting yang tertera pada klausul-klausul undang-undang baru tersebut, terkait erat dengan masalah peningkatan nilai tambah mineral, pendayagunaan dan peningkatan pemanfaatan potensi sumber daya mineral dan batubara, penciptaan daya tarik investasi dan perlindungan lingkungan serta konservasi sumber daya mineral dan batubara. Semua hal ini juga sejalan dengan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya mineral dan batubara yang dikenal dengan istilah praktek-praktek pertambangan dengan baik dan benar (good mining practices). Apabila hal-hal ini benar-benar dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan pertambangan sesuai dengan semangat baru tersebut, beragam permasalahan pertambangan yang rentan terhadap konflik kepentingan antarsektor pembangunan dan masyarakat sekitar operasi penambangan, dapat diantisipasi dan diminimalisasikan sedini mungkin. Pada nomor terbitan jurnal kali ini, beragam makalah ilmiah yang mendukung paradigma baru bidang pertambangan tersebut mencakup permasalahan lingkungan sosial-ekonomi dan peningkatan kelitbangan dalam bidang teknologi mineral dan batubara. Kajian permasalahan lingkungan dan sosial-ekonomi rencana tambang pasir besi menggambarkan dengan jelas konflik kepentingan dalam penggunaan lahan antarsektor pertambangan dan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat sekitar lokasi tambang. Permasalahan ini bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antarsektor tersebut. Konflik ini dapat memicu pengurangan minat berinvestasi dalam sektor pertambangan, karena adanya ketidakpastian hukum dan tumpang-tindih penggunaan lahan. Proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi dari batubara kadar abu tinggi merupakan usaha pemanfaatan batubara secara nasional sesuai dengan rancangan pengelolaan energi nasional untuk memenuhi pencapaian energi bauran pada 2025. Batubara berkadar abu tinggi di Indonesia dapat digunakan untuk pembuatan briket batubara yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan. Blending batubara untuk pembangkit listrik dilakukan untuk mengatasi masalah pemasokan batubara untuk PLTU Suralaya. Sistem blending ini dapat dilakukan dengan mencampurkan antara batubara peringkat rendah dengan peringkat tinggi sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara Indonesia yang terkait dengan nilai kalornya. Hubungan antara parameter karakteristik limbah batubara dan karakteristik pembakarannya menunjukkan potensi pemanfaatan limbah batubara yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk bahan bakar langsung dengan menggunakan pembakar siklon. Perubahan morfologi dan kimia batuan pembawa fosfat dengan pelindian mikroorganisme menyisakan ampas pelindian. Pengujian kimia dan mikroskopis yang telah dilakukan terhadap ampas tersebut menunjukkan kinerja yang baik dengan melakukan pengaturan pH untuk mengurangi keikutsertaan unsur-unsur pengotornya dalam proses pelindiannya. Peningkatan kelitbangan dalam bidang teknologi mineral dan batubara yang tertuang dalam makalah-makalah tersebut perlu terus ditingkatkan, karena kualitas mineral dan batubara Indonesia harus memenuhi spesifikasi keteknikannya untuk menghasilkan komoditas yang dapat dimanfaatkan, baik secara langsung oleh para penggunanya di tanah air maupun sebagai komoditas ekspor. Dengan demikian, optimalisasi pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara tersebut dapat terlaksana, sesuai dengan arahan yang telah tertuang dalam undang-undang dan paradigma baru dalam mengelola sumber daya mineral dan batubara. Editor

ii

pengolahan. Menurut Bappeda Kabupaten Kulon Progo. 022 – 6030483 Ext. 227 e-mail : yunianto@tekmira. permasalahan bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antara sektor pertanian dengan pertambangan. konflik sektoral.KAJIAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL EKONOMI RENCANA PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN PASIR BESI DI PANTAI SELATAN KULON PROGO. revisi kedua : 12 Desember 2008. Saat ini kegiatan PT. YOGYAKARTA BAMBANG YUNIANTO Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. beberapa keuntungan yang akan diperoleh pemerintah dan masyarakat. isu lingkungan dan sosial ekonomi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . dan merupakan satu-satunya industri pig iron di Asia Tenggara. Jl. Berdasarkan analisis. Reklamasi akan dilakukan sejauh 200 meter ke darat dengan dibuat gumuk artifisial dan ditanami cemara udang.id Naskah masuk : 11 Nopember 2008. termasuk PT. Deposit pasir besi sekitar 33. ditolak sebagian masyarakat petani yang mengusahakan lahan tersebut. JMM) untuk menghasilkan pig iron di Kabupaten Kulon Progo. di wilayah Kecamatan Temon. dengan alasan masalah lingkungan dan sosial ekonomi. Wilayah Kontrak Karya (KK) PT.6 juta ton. 623.go. Panjatan dan Galur. Penambangan menerapkan tambang kering dan proses ekstraksi dilakukan dengan teknologi Autokumpu seperti yang diterapkan di New Zealand Steel. antara lain terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas baik pada kegiatan penambangan. Bandung – 40211 Telp. rencana penambangan dan pengolahan. Bambang Yunianto 1 . peningkatan PAD. Jogja Magasa Mining (PT. seluruh tahapan telah sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia dan praktek-praktek pertambangan internasional.esdm. Wates. Krakatau Steel (PT. KS) dan Indo Mines Ltd. Sedangkan secara ekonomi. Secara prosedural perizinan. JMM. Jenderal Sudirman No. JMM dan Indo Mines Ltd. membantu industri baja nasional (PT. tidak menyalahi tata ruang kawasan pantai pesisir selatan dan sudah sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).. sedang memasuki tahap studi kelayakan dan AMDAL yang dibantu oleh UGM. revisi pertama : 06 Desember 2008. maupun industri pendukungnya.. Kata kunci:pasir besi. DIY. revisi terakhir : Januari 2009 SARI Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. Produksi direncanakan 500. Krakatau Steel). JMM dan Indo Mines Ltd. meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar lingkar proyek melalui program pengembangan masyarakat.000 ton per tahun dan umur tambang diperkirakan sampai 25 tahun. kegiatan PT. berada dalam lahan Pakualaman pada kawasan sepanjang 22 kilometer pesisir Kulon Progo.

6 million tons. Permasalahan tersebut masih tetap akan berlanjut mengingat banyak pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat. KS dan Indo Mines) meliputi kawasan sepanjang 22 kilometer pesisir Kulon Progo. kawasan pantai selatan tersebut terbagi dua. Pada awalnya. Menurut status tanah. Yogyakarta terus bergulir. and it will be the sole pig iron industry in the Asean region. 2007). supporting industries. is located in the Pakualaman land along 22 km of the Kulon Progo coast of the Districts of Temon. Januari 2009 : 1 – 16 . yaitu Temon. sectoral conflict. Wates. Panjatan dan Galur. Keywords: iron sand. yang mendapat bantuan dan dukungan proyek pengembangan pertanian kawasan pantai. Economically. yang berada dalam wilayah 4 kecamatan. yaitu Temon.ABSTRACT The plan of mining and processing of iron sand carried out by PT. Masyarakat daerah ini mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian sejak sebelum tahun 2000. Krakatau Steel (PT. Jogja Magasa Mining (PT. Setelah berbagai proyek pertanian masuk. whilst the age of the mining is assumed 25 years. increase the national steel industry (PT. PENDAHULUAN Polemik mengenai isu rencana penambangan dan pengolahan pasir besi untuk menghasilkan pig iron di Kabupaten Kulon Progo. Panjatan dan Galur. dan masyarakat kawasan pantai ini banyak mengalami 2 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. is rejected by some farmer communities that have used the land due to the environmental and socio-economic issues. JMM (termasuk PT. Wilayah konsesi KK PT. the issues are caused by the lack of socialisation and coordination between the sectors of agriculture and mining. mining and processing plans. KS). JMM) to produce pig iron in the Kulon Progo Regency-DIY. Indo Mines Ltd. JMM) ini berizin Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bupati Kulon Progro. maka Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bupati Kulon Progo tersebut ditingkatkan menjadi KK pertambangan. Procedurally. Reclamation will be conducted in a 200 m long toward inland by making an artificial dune with plants of cemara udang. including PT. merupakan perusahaan tambang dari Australia. Permasalahan mulai terjadi. baik di daerah maupun Pusat dan lokasi kegiatan meliputi wilayah yang luas di 4 Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo. sedangkan kawasan pantai sebelah barat Sungai Progo ke arah Kutoarjo merupakan tanah Pakualaman/ Pakualam Ground (BPS Kabupaten Kulon Progo. JMM. The iron sand deposit is 33. all the stages are in accordance with the national prevailing regulations and the international mining practices. some benefits that will be obtained by the regional government and the community consist of wide job opportunities from the mining operation. the mining activity is in a line with the spatial use of the south coastline. dengan nilai investasi 600 juta dolar AS. secara signifikan lahan pertanian tersebut mampu ditingkatkan produktivitasnya. The area of the work-contract of the company. According to the analyses. meskipun status tanah merupakan tanah Pakualaman. Panjatan and Galur. Jogja Magasa Mining (PT. environmental and socio-economic issues 1. Nowadays. processing. kawasan pantai sebelah timur Sungai Progo ke arah Kabupaten Bantul merupakan milik kraton Yogyakarta (Sultan Ground). The mining will apply dry mining method. Oleh karena ada unsur penanaman modal asing (PMA). karena wilayah tersebut sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat pantai sebagai lahan pertanian. kegiatan pertambangan pasir besi yang akan dilakukan PT. According to the Agency for Regional Development Planning of the regency. improvement of the community prosperity around the project through the community empowerment program. Krakatau Steel (PT. increase of the regional revenue. KS) dan PT. Wates. The production is planned to be 500. Proyek tersebut merupakan kerja sama antara PT. and the process of extraction will use autokumpu technology as applied in the New Zealand Steel. Nomor 13. the company activity is reaching the stages of feasibility study and environmental impact study assisted by Gajah Mada University. PT KS saat ini adalah salah satu perusahaan baja hilir terbesar di Indonesia. maka sebagian besar masyarakat menolak untuk dijadikan lahan pertambangan. KS) and Indo Mines Ltd.000 tons/year. yang akan membangun pabrik untuk mengolah pasir besi. Wates.

Hasil pemboran telah dianalisis di Laboratorium Konsultan Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . DIY untuk mencari pemecahannya yang terbaik. Kegiatan Eksplorasi Metodologi yang dilakukan menggunakan pendekatan multidisiplin ilmu. Kelompok Tani Ngudi Rejeki. Karangwuni. 3. Metode penelitian yang diterapkan menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Wates. Dalam survei lapangan.000 ha. Kelompok Tani Karangwuni. JMM dan dinas terkait. dan PT.8% dan proporsi tertinggi cadangan pasir besi pada kedalaman 6-8 meter dari permukaan dengan total cadangan sekitar 273 juta ton dengan kandungan Fe sekitar 14. Eksplorasi dilakukan pada area sekitar 2 x 22 km. selain dilakukan pendataan pada sumber data utama juga dilakukan pendataan pada pemilik kepentingan lainnya. JMM (Indo Mines Ltd. Selanjutnya.. meliputi 4 kecamatan.1. maupun sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo. meliputi 4 kecamatan dengan desa-desa: Jangkaran. Bambang Yunianto 3 . Data primer berupa informasi yang langsung berasal dari responden. 2006). KP008/KPTS/KP/EKPL/X/ 2005 yang diperbaharui dengan No. kompilasi dan eksplanatori. Pleret.kemajuan. meliputi desa-desa: Karangwuni. 11/KPTS/KP/ EKPL/X/2006 adalah ± 4. Tidak dijumpai resistensi dari warga didaerah eksplorasi karena semua kewajiban yang berupa ganti rugi dan lain-lainnya diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. Luas konsesi Kuasa Pertambangan (KP) PT. Glagah.. JMM telah menyelesaikan aktivitas eksplorasi pasir besi di Kulon Progo pada akhir 2006. dan dapat memberi masukan kepada pihak-pihak yang terkait dalam penyelesaian permasalahan tersebut. Wates dan Panjatan (Gambar 1). Pleret. Garongan. 3. Hasil laporan eksplorasi pasir besi Kulon Progo telah mendapatkan sertifikasi internasional dari JORC (Joint Ore Reserve Committee) suatu badan akreditasi cadangan mineral internasional. 2. Secara umum penelitian dilakukan dengan survei lapangan ke lokasi rencana penambangan dan pengolahan pasir besi di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. Bugel.2%. JMM tersebut ditingkatkan menjadi Kontrak Karya (KK) dengan menggandeng Indo Mines PTY Ltd. inventarisasi data. Dari hasil eksplorasi diperoleh kesimpulan bahwa total cadangan pasir besi Kulon Progo adalah sekitar 605 juta ton dengan kandungan Fe sekitar 10. dokumentasi. KS). provinsi maupun pusat. KP PT. RENCANA PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN PASIR BESI Lokasi dan Wilayah Konsesi PT. yaitu Galur. sejalan dengan semakin gencarnya sosialisasi yang dilakukan oleh PT. sedangkan data sekunder berupa data dan informasi dari PT. Teknik penelitian yang digunakan adalah observasi. JMM terletak di pesisir selatan Kabupaten Kulon Progo. Karangsewu. Jenis data yang dikumpulkan dan digunakan dalam kajian berupa data primer dan data sekunder. Dalam proses selanjutnya. Bugel. Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan metode Aircore Drilling sebanyak 929 titik lubang bor. Temon. dan wawancara langsung ke sumber data. dengan melakukan pemboran eksplorasi pada 929 titik dengan kedalaman rata-rata 16 meter. yaitu digunakannya berbagai parameter keilmuan dalam membahas permasalahan utama yang dikaji. Sindutan. baik sosialisasi ke masyarakat langsung. JMM. Palihan. seperti Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo. JMM Lokasi rencana kegiatan pertambangan pasir besi PT. Maksud penulisan ini adalah menginventarisasi permasalahan mengenai rencana kegiatan penambangan dan pengolahan pasir besi di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. METODOLOGI pengolahan dan analisis data menggunakan teknik deskriptif. suara pro dan kontra terhadap kehadiran proyek tersebut mulai terpecah. Masyarakat dan kelompok tani Desa Banaran yang dulunya menolak kini menjadi mendukung setelah mendapat kepastian mengenai lahan garapannya dan manfaat yang akan didapat dari adanya proyek tersebut. baik di tingkat kabupaten. 3. JMM sesuai Keputusan Depperindagkoptamb No. (PT. 2006a). Teknik PT. atau melalui orang-orang kunci (formal dan nonformal) masyarakat pantai. DIY.2. sehingga muncul perlawanan dari beberapa kelompok tani. dengan luas ± 3000 ha. JMM. dan Banaran seperti ditunjukkan oleh Gambar 3 (PT. Garongan. yang dilakukan pada 28 April – 2 Mei 2008. Karangsewu dan Banaran (Gambar 2).

Lokasi rencana penambangan pasir besi PT. Januari 2009 : 1 – 16 . JMM di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo 4 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Nomor 13.  Gambar 1.

Peta lokasi wilayah KP PT. JMM .Indo Mines Ltd. Peta lokasi wilayah KK PT.. Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan .  Gambar 2. JMM Gambar 3.. Bambang Yunianto 5 .

JMM. JMM.5 juta ton Fe. Kepala Laboratorium Fisiologi Pohon dan Bioteknologi Kehutanan UGM. Secara garis besar hasil eksplorasi sebagai berikut: a) Di sepanjang 22 km dan lebar 1.6 juta ton Fe. hal ini melebihi dari kebutuhan minimum Indo Mines Limited. sebagai pencegah abrasi. Rencana Penambangan.8 km wilayah pantai selatan Kabupaten Kulon Progo terdapat cadangan mineral pasir besi 240 juta ton.000 ton/ bulan (PT. Nomor 13. atau 41.60%. Hasil tes awal dengan menggunakan teknologi Autokumpu. Apabila dilakukan dengan beberapa tingkat (multiple stage). dan akan dibuatkan ’barrier’ atau tanggul dan ditanami pohon cemara udang.000 ton pig iron per tahun. Januari 2009 : 1 – 16 . erosi dan peredam tsunami dan telah terbukti pada percobaan di sepanjang pantai Samas dan Pandansimo (Skema rencana penambangan dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5).3. 2006b). PENANAMAN CEMARA UDANG (PENCEGAH ABRASI PEREDAM TSUNAMI) PRE-CONCENTRATION PLANT PENAMBANGAN Tree Tree LAUT PRA KONSENTRAT BIJI BESI PANTAI 200M (AREA PENAMBANGAN) Gambar 4. dengan kadar 14% Fe.Geologi Mackay & Schnellman Pty Ltd menggunakan JOCR Standard. Berdasarkan penelitian Suhardi (PT. JMM di Kabupaten Kulon Progo 6 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.000 ton pig iron per tahun selama 15 tahun. tanaman ini sangat efektif untuk pencegahan abrasi. yaitu d) minimal 4.000 ton/ tahun. maka lama penambangan akan berkisar kurang lebih 25 tahun. Cadangan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo (untuk kedalaman sampai dengan 6 meter) setara dengan 33. 2006b). Produksi akan dilakukan sebesar 500. Pengolahan Pasir Besi dan Pengelolaan Lingkungan b) 3. c) Areal penambangan berada pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai ke arah darat. cukup untuk memasok produksi minimal 300. Dengan jumlah cadangan yang ada di zona ekonomis wilayah KK. menunjukkan bahwa pasir besi di Kulon Progo dapat ditingkatkan perolehannya (recovery) dari 14% Fe menjadi 50% Fe hanya dengan menggunakan satu proses/tingkat konsentrasi gaya berat (gravity concentration). permukaan rata-rata air tanah di wilayah KK dan juga berdasarkan faktor wind blow. produksi per tahun. dengan produksi 700. Skema rencana penambangan pasir besi PT. yaitu gravity concentration dan magnetic separation kadar perolehan Fe akan dapat ditingkatkan sampai 58 . Teknik tersebut telah dilakukan selama 30 tahun untuk operasi pengayaan pasir besi di New Zealand.

maka setiap tahun perlu dilakukan penambangan pada areal sejauh 200-400 m dari bibir pantai pada batas pasang tertinggi dengan kedalaman sekitar 6 m. Pre-konsentrat mineral besi (20%) akan diangkut dan kemudian diproses di pabrik konsentrat.Gambar 5. Pada tahun kedua setelah penambangan. Untuk mendapatkan produk pig iron sekitar 1 juta ton per tahun. Penambangan dilakukan per blok. penambangan dapat berpindah ke blok selanjutnya apabila blok sebelumnya telah selesai ditambang dan direklamasi. Dengan dihilangkan kandungan logamnya. pada tambang pasir besi Cilacap dan Kutoarjo yang menggunakan monitor air dengan menerapkan metode tambang semprot. Oleh karena itu.. Pengolahan dan peleburannya akan menerapkan teknologi Outokumpu seperti yang dilakukan di New Zealand Steel dan menjadi yang pertama di Indonesia. JMM. Berdasarkan wawancara langsung dengan Tejoyuwono Notohadiprawiro Dosen Ilmu Tanah UGM. sehingga beratnya menjadi hanya 10% dari total galian pasir besi dan sisanya akan dikembalikan lagi ke lokasi galian tambang sebagai bahan reklamasi. menyatakan bahwa area lahan pasir besi bukan lahan yang bernilai pertanian. menghasilkan mineral besi/logam yang terpisahkan dari pasir halus. dengan alat pemisah magnetik. Melalui proses penyaringan dan pemisahan gaya berat (gravity concentration) akan diperoleh 20% pre-konsentrat mineral besi. dengan menggunakan air laut atau air tawar sebagai bahan pencuci. Kedalaman penggalian kurang lebih 6 m dengan total penurunan lahan maksimal 80 cm (PT. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan PT Antam Tbk. daerah bekas area penambangan akan dapat ditanami kembali dengan produk agrikultur yang lebih bernilai ekonomis. maka daerah reklamasi akan menjadi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . dan ditambah dengan tanah dan dipupuk. 2007). Bambang Yunianto 7 .. Skema cara penambangan Sistem penambangan menggunakan metode pengupasan (strip mine) secara kering. sedangkan sisanya sebanyak 80% berupa pasir halus akan dikembalikan lagi ke lokasi galian tambang sebagai bagian dari proses reklamasi. Pasir besi yang digali akan diangkut dan dimasukkan dalam proses pencucian dan penyaringan. dengan umur tambang per blok 8-12 bulan.

yaitu industri baja yang dimulai dari proses penambangan pasir besi sampai dengan proses pembuatan pig iron sebagai bahan baku utama baja. Bagan alir rencana industri baja terpadu di Kabupaten Kulon Progo Gambar 7. Rencana pembangunan pabrik pengolahan pasir besi terpola dalam kerangka industri baja terpadu.lebih subur dan bernilai pertanian. Industri baja terpadu ini menganut kriteria berikut: PENAMBANGAN PASIR BESI VANADIUM SLAG (BAHAN BAKU BAJA TAHAN KARAT) KONSENTRAT PASIR BESI PASIR BESI CONCENTRATOR (DENGAN MAGNIT) PENCUCIAN DAN PENYARINGAN BATUBARA PABRIK BESI WANTAH (PIG IRON) KONSENTRAT PASIR BESI PIG IRON (BAHAN BAKU BAJA) PASIR HALUS BATUKAPUR PASIR SLAG (DAPAT DIPAKAI BAHAN PERKERASAN KONSTRUKSI JALAN) REKLAMASI CATATAN : DALAM JANGKA PANJANG AKAN DIKEMBANGKAN INDUSTRI BILLET BAJA Gambar 6. sebagaimana ditunjukkan oleh bagan alir pada Gambar 6 dan 7. Nomor 13. Pasir besi dikirim ke pabrik peleburan untuk diolah 8 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Januari 2009 : 1 – 16 .

untuk keluar masuk hasil produksi dan bahan pendukung industri. tanah liat. Tahapan reklamasi dan bentuk penampang lahan setelah reklamasi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . kantor. Metode pengolahan mengacu pada apa yang dilakukan di New Zealand dengan menggunakan 3 macam alternatif pengolahan (PT. e) Untuk konstruksi pabrik. JMM. andesit. jalan dan pemukiman karyawan akan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada di Kabupaten Kulon Progo (PT. b) Jalur transportasi kereta api dibutuhkan untuk menghubungkan industri pengolahan dengan pelabuhan terdekat di Pulau Jawa. d) Kebutuhan air untuk industri maupun konsumsi akan memanfaatkan sumber air laut ataupun air sungai. b) Reklamasi diwajibkan untuk setiap blok dengan teknik pengembalian perlajur sehingga proses reklamasi beriringan dengan proses penambangan/pengolahan. d) lain yang diperlukan sehingga diharapkan produksi pertanian meningkat. Gambar 8.. c) Pasokan listrik dapat bersumber dari PLN atau akan dibuat pembangkit tenaga listrik sendiri. batugamping. lahan akan difungsikan kembali sebagai lahan pertanian atau sesuai peruntukannya. Bahan pendukung untuk konstruksi pabrik dan proses pengolahan semua tersedia di wilayah Kulon Progo seperti mangan. JMM. Bambang Yunianto 9 . c) Lahan hasil reklamasi akan dibuat lebih subur dengan penambahan pupuk organik dan bahan Pembangunan berbagai sarana pendukung akan direncanakan sebagai berikut: a) Sarana transportasi akan menggunakan dan mengembangkan sarana jalan yang sudah ada dan membuat sarana jalan yang baru sesuai dengan kebutuhan industri. supaya bersatu dengan kegiatan penambangan sebagai sumber bahan bakunya yang juga terdapat di Kabupaten Kulon Progo. 2007). Ini salah satu alasan pabrik pengolahan ada di Kulon Progo.a) b) c) d) Untuk pabrik pengolahan diharapkan tidak jauh dari lokasi penambangan. Setelah selesai direklamasi. 2007). dengan tahapan sebagai berikut: a) Material bukan pasir besi setelah dipisahkan langsung dikembalikan. Dalam pengelolaan lingkungan diterapkan teknik reklamasi/pengembalian fungsi lahan seperti ditunjukkan pada Gambar 8..

fungsi itu hilang. Januari 2009 : 1 – 16 . Dalam proses selanjutnya. PERMASALAHAN DAN ANALISIS PENYELESAIANNYA Permasalahan Berdasarkan inventarisasi di lapangan terdapat beberapa permasalahan. Masyarakat daerah ini mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian sejak sebelum tahun 2000. lapisan pasir di bawah permukaan tanah sangat berguna untuk meredam gempa. Risiko kerusakan alam yang menyertainya akan lebih hebat (PT. secara signifikan lahan pertanian tersebut mampu ditingkatkan produktivitasnya. b) Berbagai pihak yang memiliki kepentingan terkait dengan kegiatan di kawasan pantai tersebut menyampaikan pendapat. dan ada sanksi terhadap pelanggar. Tanggal 7 Januari 2003. Nomor 13. sejalan dengan semakin gencarnya sosialisasi yang dilakukan 10 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. yang mendapat bantuan dan dukungan proyek pengembangan pertanian kawasan pantai.4.1. karena wilayah tersebut sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat pantai sebagai lahan pertanian. dari aspek c) eksploitasi lebih jauh dan lebih dalam dari semula yang direncanakan. Isinya antara lain bahwa lahan itu dapat dikembangkan untuk kegiatan pertanian lahan pasir. Kelompok Tani Karangwuni-Wates. meskipun status tanah sebagian besar merupakan tanah Pakualam. penambangan pasir besi dianggap akan mengancam kelangsungan pertanian lahan pasir. KGPAA Pakualaman IX mengeluarkan surat kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi DIY. dan masyarakat kawasan pantai ini banyak mengalami kemajuan. 2007). Dja’far Shiddieq ahli tanah UGM menyatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda pun tidak melakukan penambangan pasir besi di wilayah itu karena dampaknya yang dianggap berbahaya terhadap keseimbangan ekologis di wilayah itu. maka sebagian besar masyarakat menolak untuk dijadikan lahan pertambangan (contoh pertanian rakyat lihat Gambar 9 dan contoh infrastruktur di pantai selatan lihat Gambar 10). Ia juga mengingatkan terjadinya Gambar 9 dan 10. tidak diizinkan mengubah sifat fisik dan hayati. Wilayah eksploitasi lahan di wilayah itu terbagi atas tiga kepemilikan. Kombinasi penanaman cemara udang dan gumuk-gumuk pasir bentukan alam itu merupakan penahan tsunami alamiah yang paling efektif. 4. tanah desa dan tanah milik dinasti Pakualam (Pakualam Ground). yaitu: a) Permasalahan mulai terjadi. seperti Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo. seperti untuk penambangan pasir. Pengembangan buah naga oleh petani dan infrastruktur di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo Selain merusak lingkungan. JMM. sehingga muncul perlawanan dari beberapa kelompok tani. Jika pasir diambil. satu di antaranya di kawasan pesisir selatan Yogyakarta. Di dunia ini hanya ada tiga gumuk pasir yang bergerak. teknis dan ilmiah. Setelah berbagai proyek pertanian masuk. Kelompok Tani Ngudi Rejeki. Menurut Sudaryatno dari Fakultas Geografi UGM. bernomor X/PA/ 2003. yakni tanah milik bersertifikat.

kontraktor. c) Perusahaan wajib mengikuti Kebijakan Pemerintah tentang Tata Ruang Wilayah dan Kebijakan Penataan Tata Ruang bersifat dinamis dan dievaluasi setiap 5 tahun. Analisis Penyelesaian Permasalahan Pengembangan Sektor lain. Masyarakat dan kelompok tani Desa Banaran yang dulunya menolak. b) Konstruksi meliputi pabrik. sosial kemasyarakatan dan sesuai dengan peraturan perundang . Pengawasan dan pembinaan dalam tahapan penambangan dan pengolahan adalah: a) Dalam proses penambangan dan pengolahan perusahaan wajib mengikuti kaidah-kaidah penambangan dan pengolahan yang baik dan benar serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku. b) Penyusunan dilakukan oleh konsultan lingkungan yang mempunyai kompetensi dan kredibilitas yang diakui secara nasional dan internasional. b) KP Eksplorasi No. e) Dalam tahun 2008 akan melakukan Studi Kelayakan. 008/KPTS/KP/EKKPL/X/2005 luas 4. c) Pembangunan konstruksi diharapkan semaksimal mungkin memanfaatkan sumber daya lokal (material. atau melalui orang-orang kunci (formal dan nonformal) masyarakat pantai. Ltd (Australia) bergabung karena mempunyai teknologi Autokumpu pengolahan pasirbesi menjadi pig iron. sarana jalan. pemukiman karyawan. dan sudah sesuai dengan praktekpraktek pertambangan yang diakui secara internasional. 1) Proses Perizinan Rencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi PT. Bambang Yunianto 11 . maka suara pro dan kontra terhadap kehadiran proyek tersebut mulai terpecah. maupun sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo. c) 30 Juni 2005 Indo Mines. 4. dan hasilnya diuji oleh komisi AMDAL provinsi dan atau pusat. ekonomis. d) Tanggal 25 Maret 2006 PT. kini menjadi mendukung setelah mendapat kepastian mengenai lahan garapannya dan manfaat yang akan didapat dari adanya proyek tersebut. JMM dan Indo Mines Ltd. Jadi secara prosedur perizinan seluruhnya telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia..7 Ha (Wates. Galur). dan PT. Temon.undangan yang berlaku.2. lingkungan. telah memenuhi prosedur perizinan di Sektor ESDM. dan telah melaporkan hasil eksplorasi sebanyak 14 volume. Sedangkan pada tahap konstruksi. PT. Namun. JMM melakukan eksplorasi dengan 929 titik bor. JMM dan Indo Mines akan menempuh beberapa hal: a) Tahapan konstruksi dilakukan apabila hasil studi kelayakan menyatakan bahwa rencana kegiatan pengolahan dinyatakan layak secara teknis. 2) Keterkaitan Pengolahan Pasir Besi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Sektor Lain Dalam pembahasan berikut akan dianalisis beberapa permasalahan di atas berdasarkan akar masalah yang dijadikan polemik. tenaga kerja dan lain-lain). terutama pemangku kepentingan di daerah dan masyarakat yang nantinya akan terkena dampak langsung adanya kegiatan tersebut. hal tersebut perlu terus menerus disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan kegiatan penambangan dan pengolahan pasir besi tersebut. dan melanjutkan pilot proyek penambangan pasir besi sebagai model penambangan nantinya. c) Aktivitas perusahaan di lapangan akan selalu mendapat pengawasan dan pembinaan dari instansi yang berwenang dalam sektor pertambangan dan instansi terkait lainnya sesuai dengan kewenangannya masing-masing.oleh PT. JMM (Indo Mines Ltd. baik sosialisasi ke masyarakat langsung. Kegiatan pengolahan pasir besi dapat disinergikan dengan kegiatan lain dalam satu kawasan yang dapat diatur melalui RTRW juga Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan .076. tahapan tersebut adalah: a) Tanggal 6 Oktober 2005 PT. Dalam kajian lingkungan yang dijadikan pedoman adalah: a) Perusahaan wajib melakukan studi lingkungan melalui penyusunan dokumen AMDAL. KS). AMDAL. b) Perusahaan wajib memberikan laporan penambangan dan pengolahan secara periodik sesuai ketentuan yang berlaku. kebutuhan air dan sarana pendukung lainnya yang menunjang kegiatan industri. JMM mengajukan eksplorasi pasir besi.. baik di daerah maupun pusat. pembangkit listrik. Panjatan.

JMM dan Indo Mines Ltd. Industri ini masih membeli bahan baku yang berupa pig iron impor dengan harga sekitar Rp 4000-5000/kg berarti sekitar $400-550/ton. area lahan pasir besi adalah bukan lahan yang bernilai pertanian. JMM. 2008). kegiatan PT. pembibitan dan penanaman cemara udang. Contoh lain. Pada tahun kedua. Berikut manfaat sosial kemasyarakat berdasar hasil kajian sementara: Aspek pertanian: peningkatan kualitas lahan pasca tambang dan pengolahan. Sementara itu.dalam Rencana Detil Tata Ruang Kawasan pantai selatan Kulon Progo. Berikut manfaat dari aspek penyerapan tenaga kerja: a) Pada area pra-penambangan. 2005). Namun. JMM bisa memproduksi pig iron. 3) Manfaat Proyek bagi Masyarakat Lingkar Proyek dan yang Terkena Dampak a) b) c) d) e) f) g) h) 4) Penduduk yang terkena dampak penambangan akan diberi ganti rugi yang layak dan wajar. Di negara asal harganya hanya sekitar $300-350/ton. industri ini sulit berkompetisi di pasaran ekspor. pemasok. Aspek keagamaan: pembangunan saranaprasarana ibadah. dan ditambah dengan tanah dan dipupuk. tetangga DIY. Aspek budaya: pelestarian dan pengembangan budaya lokal. kesuburan tanah setelah ditambang menurut Tejoyuwono Notohadiprawiro (UGM). Aspek sarana umum: peningkatan infrastruktur di lingkungan kawasan industri. c) Pada masa konstruksi pabrik peleburan pig iron. program pengembangan sarana pendidikan. 12 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. maka daerah reklamasi akan menjadi lahan yang lebih subur dan bernilai pertanian (PT. penduduk/petani dapat memanfaatkan kembali tanah eks penambangan. serta akan dipekerjakan dalam proses penambangan. Jika potensi ini dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik akan menghasilkan sekitar 1 juta ton pig iron. lahan mungkin hanya bisa memberi manfaat ekonomis pada 10 petani. Nomor 13. peningkatan nilai tambah usaha sektor pertanian. peningkatan produksi hasil pertanian. ongkos angkutnya sekitar $60 per ton. Kalau PT. pembinaan generasi muda. tengkulak cabai dan semangka. d) Setelah pabrik peleburan besi wantah mulai beroperasi.000. proses reklamasi. komunikasi dan lainnya). setelah dihilangkan kandungan logamnya. Aspek sosial: pengembangan kelompokkelompok sosial kemasyarakatan. perbaikan mutu tanah dan pemupukan. penguatan dan pembinaan kelembagaan ekonomi pedesaan. 2007). Berdasarkan koordinasi dengan Bappeda Kabupaten Kulon Progo. setidaktidaknya akan terserap secara langsung 500 tenaga kerja. Saat ini bahan baku baja yang berupa “biji besi terolah” 100% masih impor dari Amerika Selatan. setelah reklamasi pada area penambangan tahun pertama. Aspek pendidikan: program beasiswa. khususnya di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. karena pengolahan pasir besi bersifat sementara. Untuk jangka panjang diharapkan akan berkembang industri turunan dari industri peleburan pig iron yang amat luas yang akan memberi manfaat ekonomis bagi kemajuan masyarakat Kulon Progo dan sekitarnya (BPS Kabupaten Kulon Progo. dari ongkos angkut akan bisa menghemat sekitar $50. hanya 25 km dari Jogya. terkait dengan sektor lain. pembinaan dan peningkatan kualitas dalam melaksanakan ibadah. setidak-tidaknya akan dibutuhkan sekitar 2000 tenaga kerja langsung untuk memproduksi 1 juta ton pig iron per tahun. tidak menyalahi tata ruang kawasan pantai pesisir selatan dan sudah sesuai RTRW seperti ditunjukkan oleh Gambar 11 dan Gambar 12 (Bappeda Kabupaten Kulon Progo. Oleh karena itu. dengan tanaman yang lebih bernilai ekonomis. pembinaan dan peningkatan peran perempuan. program pengembangan sumber daya manusia. yang akan dimulai pada tahun 2008. Keterkaitan Rencana Kegiatan dengan Kebijakan Baja Nasional Indonesia yang dikenal kaya sumber daya alam harus mengimpor 100 % bahan baku baja dan 60-70 % scrap baja untuk keperluan industri bajanya.000 per tahun. Januari 2009 : 1 – 16 . Aspek kesehatan: pembangunan saranaprasarana kesehatan. DIY memiliki potensi yang luar biasa sumber daya alam bahan baku baja yang berupa pasir besi. Aspek ekonomi: pembinaan dan pengembangan UMKM. berarti paling tidak akan memenuhi sekitar 50% bahan baku baja nasional yang sampai saat ini masih diimpor. Ini masih ditambah teknologi pengolahan baja yang tidak efisien. b) Pada masa penambangan akan terserap tenaga kerja minimum 100 tenaga kerja secara langsung dan sekitar 100 secara tidak langsung (sektor angkutan. peningkatan mutu kesehatan masyarakat. karena menggunakan sumber energi gas yang semakin meningkat harganya. Bila mampu memproduksi sendiri bahan baku baja. Industri Pengecoran Logam Klaten.

Rencana tata ruang kawasan pantai selatan tahun 2005-2015 13 .Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan ... Bambang Yunianto U Gambar 11.

14 U Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Nomor 13. Januari 2009 : 1 – 16 Gambar 12. Peta rencana pemanfaatan lahan kawasan pantai selatan Kabupaten Kulon Progo .

. sehingga akan mempercepat proses pembangunan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Kulon Progo. c) Secara sosial ekonomi masyarakat dan pemda. 055/JMM/IX/2006 tgl 22 September 2006. terutama antara sektor pertanian dengan sektor pertambangan. 40 Tahun 2005 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Pantai Selatan Tahun 20052015. Krakatau Steel (sesuai Head of Agreement 22 Januari 2007). Wates. JMM dan Indo Mines Ltd. rencana pembangunan pabrik pengolahan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo adalah: a) Potensi bahan baku (pasir besi) tersebar di beberapa wilayah Indonesia tetapi sampai saat ini Indonesia belum memiliki teknologi untuk mengolah pasir besi menjadi pig iron. royalti. Berdasarkan kajian ekonomi sementara. c) Dengan adanya program pengembangan masyarakat (Community Development) akan membantu mengembangkan masyarakat terutama dalam bidang ekonomi. Wates. KS yang masih mengimpor bahan baku. karena harga bahan baku pasti akan lebih murah 20-30% dari bahan baku impor (PT.maka akan sangat membantu. PENUTUP Berdasarkan telaahan dari beberapa sudut pandang terhadap permasalahan penolakan sebagian masyarakat petani (isu lingkungan dan sosial ekonomi) terkait rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. d) Secara kepentingan nasional dapat memasok kebutuhan pig iron PT. land rent. d) Industri ini akan menjadi satu-satunya industri yang memproduksi pig iron di Asia Tenggara dan akan dikembangkan sampai menjadi industri baja di Kulon Progo. meningkatkan pendapatan masyarakat. dan pendapatan lain yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. pendidikan. DIY khususnya Kabupaten Kulon Progo memiliki potensi yang amat besar untuk didirikannya suatu industri baja terpadu.4 triliun). Untuk itu. Bappeda Kabupaten Kulon Progo. b) Secara tata ruang pemanfataan lahan. BPS Kabupaten Kulon Progo. e) Perusahaan yang telah menyatakan akan membeli pig iron adalah PT. pertanian. kegiatan tersebut akan membuka peluang kerja. JMM kpd KGPA Paku Alam IX No. dan PAD. JMM di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo tersebut. 2005. 5. 5. dalam penyelesaian setiap permasalahan harus dilakukan kegiatan sosialisasi secara struktural dan komprehensif terhadap seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan rencana kegiatan tersebut. seluruh tahap telah dan akan dipenuhi oleh PT. Kabupaten Kulon Progo dalam Angka 2006/2007. 2008. sebetulnya bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi di antara pemangku kepentingan. serta pengaruh ekonomi dari sektor-sektor lain yang terkait. keagamaan dan lainnya. budaya. sosial. b) Industri pig iron di Kulon Progo direncanakan juga akan memanfaatkan bahan baku dari daerah lain di Indonesia. 2005. kegiatan tersebut sudah sesuai dengan RTRW Kabupaten Kulon Progo. Wates. Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Pantai Selatan Kabupaten Kabupaten Kulon Progo Tahun 2005 – 2015. Peraturan Bupati Kabupaten Kulon Progo No. 2007). JMM. dan mendukung kebijakan baja nasional sejalan dengan rencana pembangunan pabrik baja di Kalimantan Selatan. mulai dari penambangan bahan baku sampai industri pengolahan bahan baku baja. retribusi. f) Lokasi pabrik dan area eksploitasi akan disesuaikan dengan Rencana Pengembangan Wilayah Pemkab Kulon Progo dan Pemprov DIY termasuk kepemilikan lahan masyarakat dan Puropakualaman (sesuai surat PT. d) Prospek investasi untuk pengembangan industri di atas diperkiraan mencapai US$ 600 juta (Rp.. Bambang Yunianto 15 . c) Industri pig iron direncanakan akan dikembangkan menjadi industri baja di Kulon Progo. Beberapa hal yang dijadikan dasar adalah: a) Secara prosedur perizinan di bidang pertambangan. Beberapa keuntungan yang akan diperoleh pemerintah dan masyarakat antara lain: a) Terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas baik di industri utama maupun industri pendukungnya sehingga mengurangi pengangguran di Kulon Progo b) Peningkatan pendapatan pemerintah/Daerah yang sangat besar dari pajak. kesehatan. Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . DAFTAR PUSTAKA Anonim.

PT. JMM dan PT. PT. Bahan sosialisasi rencana penambangan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo kepada masyarakat. PT. Ringkasan hasil eksplorasi pasir besi pada wilayah KK PT. 16 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Jogja Magasa Mining. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Kulon Progo 20022007. Wates.BPS Kabupaten Kulon Progo. Indo Mines Ltd. 2008. Aplikasi Kontrak Karya untuk Pengembangan Pasir Besi di Kabupaten Kulon Progo. Jogja Magasa Mining. Yogyakarta. Januari 2009 : 1 – 16 . Nomor 13. 2006a. Jogja Magasa Mining. 2007. 2006b.

However. Based on this purpose. hammer mill.investasi ABSTRACT Blue Print of the 2006 National Energy Management appointed that the use of coal needs to be increased from 15. Untuk pembuatan briket batubara skala kecil dengan kapasitas 2. coal burning system in households and small scale industries are generally applied grate system. with 13 employees. coal briquetting is considered necessary. sehingga memerlukan butiran batubara berbutir besar (± 4 cm).5 ton/jam diperlukan peralatan utama yang terdiri atas jaw crusher. hammer mill. size of coal particles was . double roll mixer. kadar abu tinggi. Kata kunci : briket batubara. design process. Bandung email : suganal@tekmira.go.id Naskah masuk : 11 November 2008.58 million. research on briquetting by using coal with high ash content was carried out including the design of process. Jenderal Sudirman No.3 mm. ukuran serbuk batubara – 3 mm dan tekanan pembriketan 200 kg/cm2.5 ton/hour requires main equipments such as jaw crusher.. Result shows that the briquette binder was molasses. dan mesin briket sistem double roll. revisi pertama : 06 Desember 2008. 623.0 kg/ cm2.esdm.. investment Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Keywords : coal briquette. high ash content. and double roll briquetting machine. and pressure of 2. sistem pembakaran batubara pada rumah tangga dan industri kecil umumnya menggunakan sistem grate atau kisi. Investment cost was Rp 1. For this reason. revisi terakhir : Januari 2008 ABSTRAK Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu ditingkatan dari 15.RANCANGAN PROSES PEMBUATAN BRIKET BATUBARA NONKARBONISASI SKALA KECIL DARI BATUBARA KADAR ABU TINGGI SUGANAL Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. Berdasarkan hal tersebut. A small scale coal briquetting with the capacity of 2. Oleh karena itu perlu dilakukan pembriketan batubara. revisi kedua : 12 Desember 2008. Hasil menunjukkan bahwa bahan pengikat proses pembriketan adalah molases. Among the target.34% menjadi 33% dalam energi bauran pada tahun 2025. Kebutuhan dana investasi sebesar Rp 1. Suganal 17 . Akan tetapi. rancangan proses. which needs large coal particles (±4 cm). double roll mixer. therefore it can be applied widely. Salah satu sasaran pemanfaatan batubara adalah industri kecil dan rumah tangga. maka dilakukan penelitian pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi termasuk pembuatan rancangan proses serta biaya investasi agar dapat diterapkan pada masyarakat. the use of coal is for small scale industries and households.34% to 33% in the 2025 energy mix.58 miliar dengan jumlah karyawan 13 orang.

terus menerus dan memperkecil radiasi panas dari bagian bawah anglo (Suganal. yaitu hanya ± 27. 2006 ). Oleh karena itu perlu pembriketan batubara (Suganal.000 ton per tahun. Bagan alir secara umum terlihat pada Gambar 1.12 cm tergantung kebutuhan penggunaan (Schinzel. dan pengeringan. Januari 2009 : 17 – 30 . sedangkan minyak bumi hanya dapat bertahan sampai 23 tahun (Yusgiantoro. pencampuran dengan bahan pengikat. penggunaan batubara pada rumah tangga dan industri kecil umumnya menggunakan sistem grate atau kisi. Sementara itu. agar pasokan udara pembakar cukup lancar. dkk.8 mesh) ditambahkan bahan pengikat berupa tepung tapioka atau serbuk tanah liat – 60 mesh atau molases. 1961 ). Harga briket batubara bila disetarakan dengan harga minyak tanah jauh lebih rendah sehingga cocok digunakan untuk rumah tangga dan industri kecil (Suganal. 2008). jika menggunakan serbuk tanah liat sekitar 10%. sebagian batubara Indonesia berkadar abu tinggi dan relatif kurang diminati oleh industri besar maupun sebagai komoditas ekspor.1. Ukuran butir briket batubara sekitar 4 . kemudian dilanjutkan penggerusan dengan hammer mill sampai berukuran – 3 mm. penggerusan dan pengayakan kemudian dicetak dengan mesin briket. Upaya perbaikan cara penyalaan dan memperkecil biaya produksi dilakukan dengan menggunakan anglo atau kompor briket batubara yang dilengkapi dengan blower. kuantitas penggunaannya masih sangat kecil. Batubara dari stockpile digerus menggunakan alat jaw crusher dan hammer mill. 2. 2004). terutama untuk kebutuhan industri kecil dan rumah tangga mengingat minyak tanah semakin langka.34% pada tahun 2005 menjadi 33% dalam bauran energi pada tahun 2025 (Pusat Informasi Energi. Berdasarkan informasi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. 2006). sehingga memerlukan butiran batubara berbutir besar (± 4 cm). PENDAHULUAN Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu ditingkatkan dari 15. TINJAUAN PUSTAKA Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Briket adalah perubahan bentuk material yang pada awalnya berupa serbuk atau bubuk seukuran pasir menjadi material yang lebih besar dan mudah dalam penanganan atau penggunaannya (http:// www. Namun. Hal ini antara lain karena sulitnya penyalaan awal mengingat briket batubara merupakan bahan bakar padat. diseragamkan melalui pemecahan.1. Meskipun briket batubara telah disosialisasikan sejak lama. untuk pengganti minyak tanah pada industri kecil maupun rumah tangga.com). Penggunaan batubara peringkat rendah akan tepat untuk kegiatan rumah tangga dan industri kecil padat energi yang tidak memerlukan panas tinggi. Meskipun cadangan batubara cukup besar. 2004) : jika menggunakan tepung tapioka maksimum sekitar 3% berat. Dalam hal briket batubara. bahan baku batubara yang beraneka ragam ukuran butirnya. Produk dari jaw crusher berukuran – 2 cm. jika menggunakan molases sekitar 8%. Atas dasar beberapa pertimbangan tersebut di atas. Perubahan ukuran material tersebut dilakukan melalui proses penggumpalan dengan penekanan dan penambahan atau tanpa penambahan bahan pengikat. Secara garis besar pembuatan briket batubara nonkarbonisasi meliputi: penggerusan batubara. Serbuk batubara dengan ukuran – 3 mm (. 2006). umumnya sebagian dari batubara tersebut adalah batubara peringkat rendah dengan kadar air tinggi dan mudah pecah terkena terpaan perubahan cuaca. 18 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.komarindustries. pencetakan. dkk. penggunaan batubara sebagai sumber energi masih dapat bertahan sampai 146 tahun. Perpindahan bahan pada proses penggerusan dilakukan menggunakan conveyor belt atau pneumatic conveyor. Pemanfaatan batubara dalam bentuk briket batubara saat ini adalah sangat tepat. 2. Nomor 13. Jumlah bahan pengikat yang optimal adalah (Suganal. Tujuan penelitian ini adalah merancangan proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil menggunakan batubara dengan kadar abu tinggi melalui teknologi pembuatan briket batubara sederhana. untuk memacu peningkatan produksi dan penggunaan secara nasional. maka dilakukan penelitian pembriketan batubara sebagai upaya untuk memanfaatkan batubara dengan kadar abu tinggi tersebut.

Pencampuran bahan pengikat dipilih double roll mixer atau pan muller (Perry. Pada pembuatan briket batubara terdapat beberapa tahap proses yang relatif sederhana. Pencampuran berlangsung pada kondisi kering kemudian ditambahkan air sampai terbentuk adonan yang lembab.au/ energy center).det. 2005. (Maruyama.2.csiro. Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi (Maruyama.csiro. Untuk bahan pengikat berupa serbuk tanah liat. T. Pada pembuatan briket biobatubara. Pencampuran bahan pengikat dilaksanakan dalam suatu mixer.jp/sekitan). yaitu penggerusan batubara. perhitungan dimensi dan kapasitas peralatan dan perkiraan harga peralatan.det. Suganal. Serbuk kapur padam berfungsi sebagai material pengikat senyawa sulfur agar lebih bersifat ramah lingkungan. Umumnya digunakan roll mixer. Untuk pencampuran bahan pengikat berupa tepung tapioka. 2. penentuan jenis peralatan atau perangkat produksi. Alat pencampur tersebut berupa dua buah roda berputar ber keliling dalam suatu bejana dan dilengkapi dengan scrapper (penggaru) untuk mengaduk material obyek pencampuran. Pencetakan briket biobatubara dilaksanakan dengan mesin double roll bertekanan tinggi.go. 2008). Untuk briket bentuk bantal umumnya dicetak dengan mesin briket double roll (http:/www. Cara yang sederhana adalah mencampur tapioka dengan air dengan kompsisi 1:8.. pencampuran bahan pengikat. namun terdapat sedikit perbedaan karena adanya penambahan biomassa dan acapkali ditambahkan pula serbuk kapur padam. Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Dalam rangka realisasi suatu produksi diperlukan rancangan proses yang antara lain meliputi pembuatan neraca massa dan neraca energi. Tekanan pembriketan adalah 200 kg/ cm2. Briket batubara nonkarbonisasi tanpa bahan pengikat pada umumnya menggunakan mesin briket double roll tetapi bertekanan tinggi (>200 kg/cm2) (Clark. Pencetakan briket dilakukan dengan mesin briket.au/energy center) Pembuatan briket biobatubara juga merupakan pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. 2004). Tahap Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . pembriketan dan pengeringan. Suganal 19 . 2002 . 2008). 2002.nedo. Campuran batubara dengan bahan pengikat disebut adonan yang siap untuk dicetak dalam mesin briket. Penggerusan batubara dapat menggunakan jaw crusher dan dilanjutkan dengan hammer mill (Perry.Biomassa Gambar 1. http:/ www. kemudian dipanaskan sampai membentuk gel.. yaitu 3 ton/cm². pencampuran dapat langsung dilaksanakan dalam mixer dengan cara menambahkan tepung tanah liat sebanyak 10% dari berat batubara. bahan baku batubara dan biomassa terlebih dahulu mengalami proses pengeringan. Cara lain adalah mencampurkan batubara dengan tapioka dalam kondisi kering kemudian disemprotkan uap basah dari boiler. Untuk briket batubara bentuk sarang tawon dicetak dengan mesin briket tipe silinder. sehingga produk briket tak perlu dikeringkan kembali. http:/www. terlebih dahulu tepung tapioka ini dibuat gel.

nilai kalor D-5865-04 sedangkan untuk kadar abu D-3174-04. 2008).pembriketan batubara cukup dilakukan dengan mesin briket sistem double roll atau double roll press machine (Perry.1.2. digerus dengan jaw crusher dan hammer mill sampai menghasilkan batubara dengan Batubara kadar abu tinggi sebagai bahan baku yang berasal dari Kalimantan Selatan dan batubara hasil pembriketan sebagai produk dianalisis terhadap proksimat (kadar air. METODOLOGI shatter test. Bagan alir pembuatan briket biobatubara 20 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Pengering yang umum digunakan adalah band dryer. yaitu : · Analisis contoh bahan baku (batubara) dan produk (briket batubara).1. Selain itu untuk briket batubara juga dilakukan pengujian drop serbuk gergaji  ±  20 % air   Bahan imbuh (kapur padam) Batubara ± 5% air Dryer 120oC ±  10  %  air Crusher Ø< 3mm. 3. nilai kalor dan sulfur total.    kadar  air 10% Mesin Briket Briket basah Keranjang Berkisi Briket biobatubara       Gambar 2. karbon padat). Analisis Contoh Bahan Baku dan Produk Penelitian pembuatan briket batubara nonkarbonisasi dibuat dalam dua jenis. Briket biobatubara dibuat dengan mencetak adonan yang berupa campuran dari batubara.2. · Pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Kegiatan rancangan proses pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi meliputi beberapa kegiatan. Pembuatan briket biobatubara Prosedur pembuatan briket biobatubara dapat dilihat pada Gambar 2. kecuali untuk kapasitas besar sekitar lebih dari 10 ton per jam. kadar zat terbang. 3. sedangkan briket batubara dibuat hanya dari campuran batubara dan bahan pengikat tepung tapioka atau molases. 3. Januari 2009 : 17 – 30 . moisture D-3173-1979. kadar abu. Bahan baku terdiri atas : Batubara. Kadar air 5% Cutter Ø< 3mm. 3. yaitu briket biobatubara dan briket batubara. Pengeringan briket batubara umumnya dilakukan dengan cara penjemuran di udara terbuka. serbuk kayu sebagai biomassa. Bandung. untuk VM D-3175 – 1989. Metode analisis menggunakan ASTM. Kegiatan analisis berlangsung di Laboratorium Batubara Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. Nomor 13. dan · Penyusunan rancangan proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. serbuk kapur padam sebagai desulfurization agent dan molases sebagai bahan pengikat. Kadar air 5 % Molases   Mixer Adonan  briket Ø< 3mm.

2003.3 mm dan kadar air 10%.2. Suganal 2004). berukuran – 3mm dan kadar air 5%. Suganal 21 . Molases dengan kadar air 32%. serbuk kapur padam dan molases dimasukkan ke unit mixer untuk dilakukan pengadukan agar mendapatkan campuran bahan yang merata dan disebut adonan. Pembuatan briket batubara Pembuatan briket batubara dilakukan sesuai dengan bagan alir seperti terlihat pada Gambar 3. Palimanan (Suganal.- ukuran butir – 3mm.2. serbuk kayu = 5%. Serbuk kapur padam. Kadar air ± 5%  Ø> 5 cm Crusher Batubara Kadar air ± 5%  Ø~ 1‐2 cm Mill Batubara Kadar air ± 5%  Ø~ ‐3 mm (‐8mesh) Gel tapioka Mixer Adonan briket Mesin Briket Briket basah Keranjang Berkisi Briket Batubara Gambar 3. Adonan yang diperoleh dicetak dengan mesin briket double roll tipe kenari pada tekanan pembriketan 3 ton/cm2. Prosedur pembuatan briket biobatubara : Semua bahan baku berupa batubara. serbuk kayu. serbuk kayu dan kapur padam. 3. Briket biobatubara yang terbentuk dimasukkan dalam keranjang berkisi dan dikeringkan di udara terbuka.. molases = 5% dari jumlah berat campuran batubara. Bagan alir pembuatan briket batubara Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . kapur padam = 5%. Komposisi tersebut merupakan komposisi ideal berdasarkan hasil penelitian pembuatan briket biobatubara di Pilot Plant Briket Biobatubara. Komposisi adonan adalah batubara = 90%. Produk briket biobatubara dianalisis dan dicocokkan dengan standar baku mutu. sebagai biomassa dikeringkan dan digerus dengan mesin cutter sampai berukuran .. Serbuk kayu.

Adonan yang diperoleh dicetak dengan mesin briket double roll tipe kenari pada tekanan pembriketan 3 ton/cm2. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Analisis Bahan Baku Batubara Hasil analisis batubara dapat dilihat pada Tabel 1.555 diperkirakan masih memenuhi batas minimal nilai briket batubara nonkarbonisasi. misalnya tapioka atau molases. Meskipun nilai kalor batubara relatif rendah. digerus dengan jaw crusher dan hammer mill sampai berukuran . 4. Tabel 1. maka pembriketan batubara dapat langsung dilaksanakan tanpa harus dikeringkan dengan mesin pengering atau dryer.56 %. dapat disimpulkan bahwa kadar sulfur total cukup rendah.55%.08 gram Berdasarkan data komposisi adonan briket batubara dari hasil percobaan pembuatan briket batubara nonkarbonisasi tersebut dan data parameter proses lainnya pada penelitian briket batubara terdahulu (Suganal 2003. Sebagai pelengkap disusun kebutuhan bangunan dan perkiraan biayanya berdasarkan data yang didapat dari perusahaan yang bergerak di sektor bangunan sipil pabrik. % adb Kadar zat terbang. · tepung tapioka. tertanggal 11 September 2006. 4. Penyusunan Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi briket batubara yang menghendaki kadar sulfur total 1. yaitu 5. adb Kadar abu. Hasil analisis batubara No 1 2 3 4 5 6 7 Parameter Total kelembaban % Air lembab. % adb Nilai kalor. Produk briket batubara dianalisis dan dicocokkan dengan standar baku mutu yang tercantum pada Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 Tahun 2006 tertanggal 11 September 2006 tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara.Bahan baku terdiri atas : · batubara. kkal/kg adb Nilai 5.57 4. tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara). dibuat menjadi gel dengan cara mencampur 5 kg tapioka dengan 100 liter air panas dan diaduk sampai homogen.34% dan kadar air lembab hanya 2. 2004) segera dibuat neraca massa untuk menghitung kebutuhan peralatan dan spesifikasinya yang dilanjutkan dengan penyusunan tata letak peralatan dan perkiraan harga peralatan. Hal yang menguntungkan pada batubara Kalimantan Selatan tersebut di atas adalah kadar sulfur total cukup rendah. yaitu 4. 4. Berdasarkan hasil analisis dalam tabel tersebut. Hasil analisis fisik briket biobatubara sebagai berikut: Kuat tekan rata-rata : 48.34 0.1.2 kg/cm2 Berat /butir : 17.2. %. Kualitas Briket Batubara Nonkarbonisasi 4. Pengamatan selama proses pencetakan briket. Suganal. Nomor 13. Januari 2009 : 17 – 30 . Dengan demikian.34 2. Berdasarkan standar baku mutu bahan baku briket batubara adalah maksimum 1. diketahui bahwa rendemen atau perolehan pembriketan hanya mencapai 80%.1. Hal ini berarti sejumlah 20% adonan terdapat tidak tercetak dengan baik atau 20% briket yang tidak sempurna pencetakannya. Namun kadar abu relatif sangat tinggi dan nilai kalor relatif rendah sehingga bahan pengikat yang akan ditambahkan harus serendah mungkin. yaitu 0. Prosedur pembuatan briket batubara : Batubara serbuk dicampur dengan gel tepung tapioka dalam roll mixer dengan komposisi 90% batubara serbuk dan 10 % gel tepung tapioka membentuk adonan briket batubara. 3. Kebutuhan tenaga operator juga disajikan dalam tulisan ini. 2003). Komposisi adonan tersebut merupakan komposisi ideal berdasarkan rekaman catatan pada kegiatan ujicoba produksi briket batubara nonkarbonisasi di Pilot Plant Briket Biobatubara Palimanan (Suganal. lebih rendah daripada standar baku mutu bahan baku 22 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.0%.39 28.3 mm. % adb Kadar sulfur total.55 38. % adb Kadar karbon padat.2. Briket batubara yang terbentuk dimasukkan dalam keranjang berkisi dan dikeringkan di udara terbuka. briket yang tidak sempurna harus dilakukan pembriketan ulang. Kualitas briket biobatubara Berdasarkan hasil analisis batubara sebagai bahan baku pembuatan briket biobatubara diketahui bahwa kadar air total batubara sangat kecil.400 kkal/kg.0 % (Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006.3. Perkiraan harga dari tiap peralatan didapat dari bengkel pembuat peralatan.72 30.

5 -37. adb Nilai 3. 2002). Kualitas briket batubara Pengamatan selama proses pencetakan briket. Spesifikasi briket biobatubara dapat dilihat pada Tabel 3. kkal/kg.400 kkal/kg. Hasil analisis fisik briket batubara adalah : Kuat tekan rata-rata : 37.62 2.60 1.65 27. % 9. terlihat bahwa fraksi kumulatif distribusi ukuran butir briket biobatubara yang dominan (+ 19 mm) adalah sebesar 95.3 + 3.93 0.67 gram Perbandingan sifat fisik dari briket biobatubara berbahan pengikat molases dengan briket batubara berbahan pengikat tepung tapioka menunjukan bahwa pembriketan dengan bahan pengikat molasses mempunyai sifat fisik lebih tinggi.35 1 2 3 4 5 6 7 Fraksi berat Fraksi berat briket awal.19 3.35 .54%. Pada prinsipnya mencetak adonan briket tanpa campuran biomassa akan lebih mudah karena batubara tidak bersifat kenyal saat ditekan pada pencetakan. Hasil percobaan tersebut di atas menunjukkan bahwa pembuatan briket biobatubara dari batubara kadar abu tinggi dengan bahan pengikat molases menghasilkan sifat fisik yang baik tetapi sifat kimianya sedikit di bawah persyaratan baku mutu briket batubara.0 -19. Namun nilai kalor juga rendah. % adb Kadar sulfur total.71 36.2.0 + 12.31 8. Briket yang tidak sempurna pada umumnya dilakukan pembriketan ulang. Hal ini berarti sejumlah 10% adonan tidak tercetak dengan baik atau 10% briket tidak sempurna pencetakannya. Suganal 23 .71 31. Distribusi ukuran briket biobatubara No.3 -6. agar briket batubara yang dihasilkan masih mempunyai nilai kalori di atas persyaratan baku mutu. briket setelah % drop shatter test. 4. berupa serbuk gergaji yang digunakan mempunyai nilai kalor sekitar 3. Dengan demikian. Jika dibandingkan dengan pembuatan briket biobatubara tersebut di atas. bahkan kurang dari 4. Dengan demikian perubahan ukuran butir yang terjadi relatif kecil. Tabel 3. mm -50 + 37. % adb Nilai kalor. Setelah dilakukan pengujian drop shatter test. sehingga penambahan tersebut akan mengurangi nilai kalor hasil briket biobatubara. %.5 + 6.5%.500 kkal/kg dan kadar abu umumnya kurang dari 5% (Perry.97 85.8 kg/cm² Berat /butir : 11. Penambahan serbuk kapur juga menimbulkan penurunan nilai kalor dan menambah kadar abu karena kapur bersifat inert dan tidak mempunyai nilai kalor (bahan anorganik tanpa unsur karbon). Demikian pula penambahan biomassa bertujuan mempercepat terjadi penyalaan awal karena biomassa mempunyai kadar zat terbang lebih besar dibanding batubara (Suganal. % adb Kadar karbon padat. Tabel 2.3. yaitu 13.04%. diketahui bahwa rendemen atau perolehan pembriketan mencapai 90%..65 0.Jenis analisis fisik lainnya adalah drop shatter test yang hasilnya dibandingkan dengan distribusi ukuran briket biobatubara sebelum dilaksanakan drop shatter test.5 -12. Bukaan ayakan. Hasil drop shatter test dapat dilihat pada Tabel 2.71 69. dapat dilihat bahwa kadar sulfur sangat rendah sehingga masih dalam ambang batas yang diizinkan sesuai spesifikasi standar briket batubara. % adb Kadar zat terbang.289 Dari Tabel 3. 2004).86 4. fraksi butiran dengan ukuran + 19 mm menjadi 81.. yaitu batas terendah persyaratan baku mutu standar briket batubara nonkarbonisasi.2. Pada penelitian pembuatan briket biobatubara sebelumnya (Maruyama. Hasil analisis briket biobatubara No 1 2 3 4 5 6 Parameter Air lembab.33 11. untuk pembuatan briket biobatubara dalam skala komersial tidak perlu penambahan kapur.66 4.93 Rendahnya nilai kalor briket biobatubara disebabkan oleh penambahan biomassa dan penambahan kapur. Analisis drop shatter test tersebut memberikan indikasi bahwa dalam transportasi maupun penyimpanan yang rentan terhadap gesekan atau jatuh dari suatu ketinggian. 2008). diperlukan penambahan serbuk kapur sebagai material pengikat gas SO2 dalam gas buang pembakaran briket tersebut. maka perolehan pencetakan briket batubara lebih mendekati sempurna. perubahan ukuran (remuk) yang dialami relatif kecil. Berdasarkan Tabel 2.5 + 25 -25 + 19.26 1. Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . adb Kadar abu.57 0.

41 5 -6. Rangkaian peralatan disusun menjadi bagan alir 24 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Jika dibandingkan dengan briket biobatubara berbahan pengikat molases pada Tabel 2.66 13. terlihat bahwa fraksi kumulatif distribusi ukuran butir briket batubara yang dominan (+19 mm) adalah sebesar 59. Setelah dilakukan pengujian drop shatter test.57 %. % adb Nilai kalor. kkal/kg. Distribusi ukuran briket batubara No Bukaan ayakan. Nomor 13. 2008. Hasil analisis briket batubara No 1 2 3 4 5 6 Parameter Air lembab. 2004). sifat fisik briket batubara relatif baik. hammer mill.3 5. Dalam hal nilai kalor. terlihat bahwa mutu briket batubara dengan bahan pengikat tepung tapioka mempunyai sifat kimia yang lebih baik dibandingkan dengan briket biobatubara berbahan pengikat molases.5 27.86 11. Januari 2009 : 17 – 30 . dan hasil kegiatan penelitian Kapasitas pabrik briket batubara skala kecil adalah 2. Spesifikasi briket batubara dapat dilihat pada Tabel 5.39%.412 Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 5. % adb Kadar karbon padat.80 3 -19.35 5. adb Nilai 4.27 32.66 6 -3.0 59. namun sifat fisik briket batubara kurang kuat.5 + 6. maka diperoleh hal hal penting sebagai berikut: penambahan biomassa dan serbuk kapur padam akan menurunkan nilai kalor briket batubara dan menambah kadar abu briket batubara. adb Kadar abu. Berdasarkan hasil analisis batubara dan briket batubara serta data percobaan lainnya dibuat neraca massa dan energi secara sederhana seperti tercantum pada Gambar 4. Berdasarkan hasil analisis bahan baku berupa batubara kadar abu tinggi. Peralatan utama tersebut antara lain jaw crusher.5 + 25 2 -25 + 19. penggunaan tepung kanji relatif tidak memengaruhi nilai kalor.Tabel 4. briket batubara sebelumnya (Suganal.0 + 12. tidak diperlukan penambahan serbuk kapur padam. Peralatan proses pabrik briket batubara ditempatkan pada suatu bangunan berdasarkan prinsip ergonomis agar pelaksanaan produksi berlangsung lancar dan tidak terjadi duplikasi gerak manusia maupun alat.29 35. meskipun penambahan biomassa dapat mempercepat penyalaan awal briket batubara. tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara. double roll mixer dan mesin briket. analisis fisik melalui uji drop shatter test dan uji kuat tekan serta analisis kimia melalui uji proksimat dan nilai kalor terhadap produk briket biobatubara dan briket batubara yang telah diuraikan di atas.80%.27 30. 2003. Spesifikasi dari peralatan terlihat pada Tabel 6. briket batubara tersebut masih dalam nilai yang diizinkan (> 4. Fraksi berat Fraksi berat mm briket awal. yaitu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006. briket setelah % drop shatter test. maka terlihat bahwa briket batubara dengan bahan pengikat kanji kurang kuat. Hal ini menunjukkan bahwa sifat fisik briket batubara dengan bahan pengikat tepung tapioka mempunyai kecenderungan remuk lebih besar dibandingkan dengan briket batubara berbahan pengikat molases. % adb Kadar sulfur total.3 + 3. 5.99 Berdasarkan Tabel 4. maka pada penerapan skala komersial dipilih bahan pengikat molases tanpa penambahan biomassa maupun serbuk kapur padam agar mutu briket batubara terjamin sesuai baku mutu yang telah ditetapkan.39 37. dan perhitungan peralatan untuk merealisasikan operasi dari masing-masing tahap proses (Perry. fraksi butiran dengan ukuran + 19 mm menjadi 37. % adb Kadar zat terbang. penggunaan molases relatif tidak menurunkan nilai kalor. Tata letak peralatan terlihat pada Gambar 5. KONSEP RANCANGAN PABRIK BRIKET BATUBARA NONKARBONISASI SKALA KECIL Tabel 5. 1961). karena kadar sulfur total bahan baku batubara cukup rendah.400 kkal/kg adb). tertanggal 11 September 2006.74 3.35 1. Atas pertimbangan hasil penelitian pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi dan hasil penelitian tentang briket batubara sebelumnya.52 4 -12.63 0.5 ton/jam briket batubara.% 1 -37.81 29.68 4. %. namun sifat biomassa yang kenyal acapkali briket yang dihasilkan menjadi kurang kuat. yaitu 0. Suganal. Schinzel.

220/380 V Sistem Transmisi: Elektro Motor . Suganal 25 .Basis : 1 jam operasi Molases 140 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Entalpi pada 25 ºC ~ 0 kkal Ø = ukuran butiran batubara   Jaw Crusher  Hammer Mill   Double Roll  Mixer        Mesin Briket Batubara Ø > 50 mm 2. Kebutuhan peralatan No. 15 cm x 10 cm x 12 cm .397 kg 3.Ukuran briket : 52x52x35 mm .Chain & Sprocket : RS 100 .Gear . Neraca massa dan neraca energi Tabel 6..537 kg Q = 0 kkal Temp : 25oC Briket Batubara 2.Gear Box Chain & Sprocket .537 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Uap air 37 kg Briket batubara basah 2. Nama Alat 1 Mesin Briket Tipe Telur Spesifikasi Tipe: double roll Sistem feeding : gravitasi/vertical feeding Kapasitas : 2.. module 11.Bahan cetakan : Baja cor FC 30 tahan tumbukan .Diameter roll : 620 mm .Cetakan : sistem segmen.Gear: Spur Gear.5 ton/jam Roll. besi profil.V Belt : 2 baris type B .500 kg Q = 0 kkal Temp : 25oC Keranjang Berkisi   Gambar 4. 12 segmen .Berat briket : ± 60 gram per butir .Main Bearing : self Aligning spherical roller bearings Bahan Konstruksi: . transmision cover dan lain-lain: plat mild steel 5 mm Daya : motor listrik 10 HP.Rangka.Gearbox: Worm Gear .Hooper.V Belt & Pulley .Bentuk briket : telur/jengkol . shaft & bearing : .5 mm Fungsi Mencetak adonan briket batubara menjadi briket batubara Jumlah 1 unit Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .Main shaft : Baja poros high tensile strength .397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Adonan briket Molases : 140 kg Batubara : 2.397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Batubara Ø : 3-25 mm 2.397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Batubara Ø < 3 mm 2.

tinggi ±120 cm . 220/380 V menjadi ukuran Putaran : ± 450 RPM sedang Kapasitas : 1000 s/d 2000 Kg/jam 3 mm – 25 mm Ukuran besar butir output: 3 s/d 25 mm.Cover system transmisi.Rumah Crusher. Bahan Konstruksi: . plat mild steel 5 mm . Self Aligning Spherical Roller Bearings 2" (3mm – 25 mm) menjadi batubara berukuran – 3 mm 4 Jaw Crusher Tipe: Togle Jaw Crusher Memecah batubara Gap & Opening : 175 x 200 mm ukuran > 50 mm Daya : motor listrik 3 HP.Alas shell. besi profil 10 mm Main Shaft & Bearing : . waktu 1 batch = 15 s/d 20 menit . plat mild steel 2 mm. V belt .Tabel 6. plat mild steel 6 mm . pipa Ø 4" . Nomor 13. baja dengan pelapis tahan gesek (sistim las/ manganase steel . besi profil 6 cm x 8 cm x 10 cm . plat mild steel 12 mm atau 14 mm .Rangka.Jaw plate.Kaki penyangga.Kapasitas : 200 Kg/batch. plat mild steel 12 mm Blade pengaduk. plat mild steel 5 mm Main Shaft & Bearing : .Main Bearing .Saringan.Main shaft: Baja poros high tensile strength 2" . 220/380 Volt .Shell. Nama Alat 2 Double Roll Mixer Spesifikasi Tipe/Jenis : Pan Mixer dengan Blade pengaduk Diameter shell = ±120 cm.Putaran : 20 s/d 30 RPM Bahan Konstruksi: .5 HP. plat baja 6 mm .Rumah Crusher.Hooper.Main shaft : Baja poros high tensile strength 2½ inc Main Bearing : Tapered roller Bearings 2½ inc Fungsi Mencampur bahan baku berupa batubara halus (.3 mm) dan molases. Januari 2009 : 17 – 30 .Sistem Transmisi : Vertical Gear Box. kaki penyangga.Daya : motor listrik 7. Kebutuhan peralatan (lanjutan) No.Rangka alas kaki penyangga. chain & sprocket.Rotor penghancur. plat baja dengan pelapis tahan gesek (sistim las)/ manganase 1 steel 1 unit 26 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Jumlah 3 unit 3 Hammer Mill Tipe : Modified Squirel Cage Mill Menggiling batubara 1 unit Daya: motor listrik 10 HP. 3 mm atau 4 mm . 220/380 Volt (1400 rpm) ukuran sedang Kapasitas: 1000 s/d 2000 Kg/jam Besar butir output <3 mm Feeding System : Screw feeder variable speed Bahan Konstruksi: . plat mild steel 10 mm dan 5 mm .

5 mm Panjang : 4 s/d 10 m tergantung keperluan Kapasitas: 1250 Kg/jam Daya : motor listrik 2 HP.Hooper.000.Rp 86.Rp 100.Rp 22. besi profil L 7 cm .Cover system transmisi.Tabel 6. Chain & sprocket Bahan Konstruksi: . kaki penyangga.No Nama alat 1 Mesin Briket Tipe Telur 2 Double Roll Mixer 3 4 5 Hammer Mill Jaw Crusher Conveyor Fungsi Mencetak adonan briket batubara menjadi briket batubara Mencampur bahan baku berupa batubara halus (.Body.Rp 88.Rp 36.600.3mm) dengan molases Menggiling batubara ukuran sedang (3mm – 25 mm) menjadi batubara berukuran – 8 mesh Memecah batubara ukuran > 50 mm menjadi ukuran sedang 3 mm – 25 mm Memindahan material (batubara atau adonan briket) dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai posisi yang diinginkan Jumlah 1 unit 3 unit 1 unit 1 unit 4 unit Harga per unit Rp 134. plat mild steel 2 mm 3 mm .Main shaft: Baja poros high tensile strength 1½” .. kapasitas 12. pipa 0 8" . Kebutuhan peralatan (lanjutan) No.2 m Tinggi Total : 3. pipa ø 3" Main Shaft & Bearing : .Kaki penyangga. 220/380 V System transmisi: V belt.35 – 40 cm lebar conveyor Kotak penampung batubara halus. plat mild steel 2 mm 4 mm .000. Nama Alat Spesifikasi .000..Roll penyangga belt bagian bawah.000.000. besi kanal C 15 .Kaki penyangga. Suganal 27 .4 x 1.5 m3 Ukuran kotak penampung = 3.55 m Bahan Konstruksi: . plat 6 mm .- Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Kebutuhan dana peralatan X Rp 1.Rp 86.800.Rangka utama.Main shaft: Baja poros high tensile strength Bearing : Self Aligning Spherical Roller Bearings 2 “ – 3” Tipe : V flat belt Conveyor Belt: lebar = 40 cm.000.000. plat mild steel 5 mm Main Shaft & Bearing : . Gear box.000.Cover system transmisi. besi profil kanal 10 cm Fungsi Jumlah 5 Conveyor Memindahan 4 unit material (batubara atau adonan briket) dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai posisi yang diinginkan 6 Silo Menyimpan batubara halus sebelum dicampur dalam double roll mixer 2 unit Tabel 7.Rangka. tebal = 7.Harga total Rp 134.Drum.Bearing : Pillow Block Bearings 1½” .Rp 33.000.6 x 2. besi profil 15 cm .Rp 36.

800.= Rp 1..- Catatan : harga tahun 2007 Jumlah = RP 1.000. Nama Bangunan 1 Bangunan pabrik 2 3 4 5 Fungsi Tempat melaksanakan operasi produksi briket batubara Gedung pengepakan Tempat pelaksanaan pengepakan produk briket batubara siap dikirim ke konsumen.000. Kebutuhan dana peralatan (lanjutan) X Rp 1.- Catatan : harga tahun 2007 Jumlah Rp 504.436.Rp.163. Januari 2009 : 17 – 30 .000. Stockpile Tempat penimbunan bahan baku batubara Mes Karyawan Tem tinggal karyawan pabrik briket abtubara Penyiapan lahan Menyediakan lahan siap bangun luas 450 m2 81 m2 150 m2 90 m2 5. Kebutuhan dana bangunan No.Jumlah kebutuhan dana = Rp 504.120.No Nama alat 6 Silo Fungsi Menyimpan batubara halus sebelum dicampur dalam mixer Jumlah 2 unit Harga per unit Rp 30.000. Nomor 13.747.000.000.120.+ RP 1.574.000 m2 Harga total Rp.- Gambar 5.Rp.Harga total Rp 60.000.000.000.920. 70.- Tabel 8. Tata letak peralatan 28 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05..80.000. 737.18.070.Rp.800.000.Rp.937.000.Tabel 7.000.000.070.000.

Suganal 29 . nilai kalor 4.412 kkal/kg. Unit Alat 1 Mesin Briket Tipe Telur 2 Double Roll Mixer 3 Hammer Mill 4 Jaw Crusher 5 Conveyor 6 Silo Kualifikasi Tamatan STM Mesin Tamatan STM mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Fungsi/jabatan Mengoperasikan mesin briket/operator Mengoperasikan unit double roll mixer/ operator Mengoperasikan unit hammer mill/operator Mengoperasikan unit jaw crusher /operator Mengoperasikan conveyor Mengatur laju pengeluarn dan penyimpanan serbuk batubara Jumlah 1 orang 2 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang Tabel 10. Untuk kepentingan operasi pabrik briket tersebut diperlukan tenaga terampil untuk menjalankan mesin-mesin maupun perlistrikan lingkungan pabrik. bengkel bengkel tersebut terdapat di Bekasi. Kebutuhan tenaga kerja total No.. Tegal dan lain lain. Bandung. Mutu briket batubara hasil percobaan masih memenuhi persyaratan briket batubara dengan nilai kalor 4. Perkiraan harga pada tahun 2007 dari tiap peralatan dan bangunan tercantum pada Tabel 7 dan Tabel 8.Gambar 6. Kebutuhan tenaga tercantum pada Tabel 9. yaitu 38. 6.555 kkal/kg dapat digunakan untuk pembuatan briket batubara dengan bahan pengikat molases atau tepung tapioka. Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil Tabel 9. Kebutuhan tenaga kerja sebagai operator peralatan No. sedangkan kebutuhan tenaga secara keseluruhan tercantum pada Tabel 10. Pada saat ini telah cukup banyak bengkel permesinan yang berhasil membuat peralatan pembuatan briket batubara skala kecil. Unit 1 Mesin pabrik 2 Pengeringan 3 4 5 Pengepakan Administrasi/kantor Manager Spesifikasi Tamatan STM Mesin Tamatan SLTP Tamatan SLTP Tamatan SLTA D3 Teknik Industri Fungsi/jabatan Mengoperasikan mesin pabrik /operator Mengatur proses pengeringan briket secara manual Mengepak produk briket batubara siap dikirim ke konsumen Mengatur administrasi kegiatan pabrik Menjalankan operasional pabrik Jumlah 7 orang 2 orang 2 orang 1 orang 1 orang proses seperti terlihat pada Gambar 6. – KESIMPULAN Batubara Kalimantan Selatan dengan kadar abu tinggi.39 %. Untuk wilayah Jawa.. Bahan baku briket batubara relatif kering. maka pembuatan briket tidak perlu melalui tahap – – Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .

Perry. Agustus 2003.5 ton/jam.. Jaringan Kerjasama Kimia Analitik Indonesia. Chemistry of Coal Utilization. dkk. Bio Coal Plant Project. tidak disarankan penambahan bahan pengikat berupa serbuk tanah liat dan material imbuh lain seperti serbuk kapur padam dan lainnya. Briquetting. 2004. Nomor 13. Januari 2009 : 17 – 30 . Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. Evaluation of coal from PT Berau’s coal lati and Bunyu mine for binderless coal briquetting. P. John Wiley&Son. Peran Strategis Gasifikasi Batubara Untuk Memperkuat Ketahanan Energi Nasional. Mc Graw Hill Book.jp/sekitan – – DAFTAR PUSTAKA Clark.au/energy center …………. Yogyakarta. 2008. Yogyakarta. Yogyakarta 6-7 September 2004. Binderless Briquetting of Coal. Prosiding Seminar Kimia Nasional XIV. http:/www. Untuk pembuatan briket skala kecil dengan kapasitas 2. …………. Mei 2006. R. Penggunaan Serbuk Gergaji Pada Pilot Plant Briket Biobatubara Palimanan. – Untuk menjaga penurunan nilai kalor. Modifikasi Kompor Briket Batubara sebagai Upaya Peningkatan Penggunaan Briket Batubara dan Batubara Skala Nasional Pada Industri Kecil Padat Energi dan Rumah Tangga.csiro.. 1961.pengeringan. Binderless Coal Briquetting company. 2007. Blue print Pengelolaan Energi Nasional.. The Komar Briquetting System. Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia. http:/www.komarindustries. 2002. 2006. 2008. Schinzel. diperlukan dana investasi sebesar Rp 1.. T. India. jumlah karyawan 13 orang.. http:/ www.unire-jp. Pusat Informasi Energi.. Paparan Seminar Gasifikasi Batubara Peringkat Rendah. Pengembangan Produk Pilot Plant Briket Biobatubara Di Palimanan. 2006. K. W. Texas. Yusgiantoro. Perangkat Pembakaran Batubara Pada Industri Kecil dan Rumah Tangga dalam Rangka Optimalisasi Energi Nasional..58 miliar. 2006. dalam Martin AE(editor). Universitas Diponegoro Semarang. Suganal.2005. http:/www.com …………. Jurusan Teknik Kimia. 2003.nedo. Prosiding Seminar Kimia Nasional XV. 2005.. sedangkan bahan pengikat yang disarankan adalah molases. 7 Desember 2006. Jakarta. Suganal. Suganal. Binderless Coal Briquetting company Pty Limited Maruyama. http:/www. Chemical Engineers’ Handbook. Seventh edition. 2007. Prosiding 30 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2008. 2007.det. USA: 609-665. Briquette Production Technology.H. Jurusan FMIA UGM.com/engbicoal. Peralatan dan mesin relatif sederhana dan dapat dirakit di dalam negeri Seminar nasional III.. dkk.com/bb activities ………….. Suganal.go.coalbriquettes.

study on the possibility of blending system for Indonesian coal has been carried out. coal blending system can be carried out between low rank coal (lignite) and high rank coal (bituminous) based on the coal quality parameter specification. especially calorific value. Tests on coal mill and coal combustion at higher scale that close to the real practical condition need to be carried out for evaluating the coal blend results. batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah. pembangkit listrik.BLENDING BATUBARA UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK STUDI KASUS PLTU SURALAYA UNIT 1.4 SLAMET SUPRAPTO Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. blending. rank Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4. Slamet Suprapto 31 . Jenderal Sudirman No. The use of other coal that has different quality with the Air Laya coal can disturb the operation power plant boiler. sistem blending dapat dilakukan antara batubara peringkat rendah (lignit) dan batubara peringkat tinggi (bituminus) sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara. Keywords: coal. revisi terakhir : Januari 2009 SARI PLTU Suralaya unit 1-4 yang mulai beroperasi pada akhir tahun 80-an didesain sesuai dengan kualitas batubara Air Laya. Hasil kajian menunjukkan bahwa untuk mengatasi masalah pasokan batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4. Results of the study showed that to overcome the problem of coal supply the Suralaya Power Plant unit 1-4. revisi pertama : 12 Desember 2008. blending. Pengujian penggerusan dan pembakaran dalam skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan perlu dilakukan untuk mengevaluasi batubara hasil blending. the high rank coal generally has low grindability index. revisi kedua : 19 Januari 2009. However. Sumatera Selatan yang termasuk batubara subbituminus dengan parameter kualitas tertentu. and therefore this parameter needs to be considered since it tends to be nonadditive. telah diadakan kajian kemungkinan blending batubara Indonesia. Bandung Naskah masuk : 26 Mei 2008. In relation to the possibility of development of coal blending for the Suralaya Power Plant. 623. Kata Kunci: batubara. power plant. The study was based on the literature study of coal design parameter of the Suralaya Power Plant and Indonesia coal data. South Sumatera with certain quality parameters. terutama nilai kalor. Penggunaan batubara lain yang spesifikasinya tidak sesuai dengan kualitas batubara Air Laya tersebut dapat mengganggu kelancaran pengoperasian ketel uap pembangkit. Dalam rangka melihat kemungkinan penerapan sistem blending batubara untuk pembangkit tersebut. Namun demikian. peringkat ABSTRACT The design of Suralaya Power Plant unit 1-4 that started to operate at the end of nineteen eighties was based on Air Laya coal. Kajian dilakukan berdasarkan pengumpulan data spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4 dan data kualitas batubara Indonesia. sehingga parameter ini perlu diperhatikan mengingat parameter ini cenderung bersifat nonaditif.

PLTU Suralaya Unit 1-4 (4x400 MW) dirancang berdasarkan kualitas batubara Air Laya.3% dan antrasit hanya 0. atau bahkan dapat bervariasi dari lapisan satu ke lapisan lainnya pada daerah atau cekungan geologis yang sama. Batubara dengan nilai kalor 5. 2007). yakni 33% dibanding sumber energi lainnya (Suprapto. upaya peningkatan dan diversifikasi penggunaan batubara terus dilakukan. Hal ini mengakibatkan kualitas endapan batubara bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya.000 kal/g (as received).Com. 2007). sehingga keterlambatan pasokan batubara Air Laya ke PLTU Suralaya dapat menganggu kelancaran operasi pembangkit. 2007). Sebaliknya. 2.000 kal/g.000 MW PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) berbahan bakar batubara (MinergyNews. Batubara Indonesia yang masih belum banyak dimanfaatkan adalah batubara lignit dengan nilai kalor ± 4.7%. Untuk pembangkit listrik yang akan dibangun tersebut direncanakan digunakan batubara lignit dengan nilai kalori ± 4. Batubara yang diekspoitasi saat ini umumnya batubara subbituminus dan bituminus yang sebagian besar sudah dialokasikan untuk memenuhi kontrak jangka panjang untuk ekspor atau kebutuhan dalam negeri. PLTU Suralaya yang mulai beroperasi pada akhir tahun 1980-an saat ini masih merupakan salah satu andalan bagi sistem kelistrikan Jawa dan Bali. Januari 2009 : 31 – 39 . karena perannya dalam menunjang kelistrikan nasional tetap dibutuhkan.000 kal/g dan bahkan ada yang lebih dari 6000 kal/g. sementara peringkat tinggi yakni bituminus 14. Karakteristik pembakaran batubara dalam pembangkit listrik sangat dipengaruhi oleh kualitas batubara. 2008) di PLTU Suralaya. lingkungan pengendapan dan cara penambangan dapat memengaruhi kadar abu serta karakteristik abu (komposisi dan titik leleh abu). PT Indonesia Power (anak perusahaan PT PLN Persero) akan membangun coal blending plant (Kompas. 2002). batubara peringkat rendah umumnya mempunyai kecenderungan swabakar yang tinggi dan mempunyai sifat fisik yang rendah (mudah hancur). baik sebagai bahan bakar langsung maupun melalui konversi menjadi bahan bakar gas atau bahan bakar cair.3% (Suprapto. yakni lignit 58. Sedangkan PLTU-PLTU yang sudah ada yang dibangun pada antara 1980-an sampai 1990-an didesain berdasarkan batubara yang mempunyai nilai kalor lebih dari 5. sumbangan batubara dalam bauran energi (energy mix) nasional diproyeksikan menjadi yang terbesar.1. PLTU Suralaya. Walaupun pembangkit-pembangkit baru mulai dibangun.000-an tersebut sudah mulai sulit diperoleh di pasaran. seperti misalnya bahan bakar minyak. Di samping itu. Sumatera Selatan yang termasuk dalam peringkat subbituminus dengan nilai kalor lebih dari 5000 kal/g. PENDAHULUAN Mengingat potensinya yang paling besar di Indonesia. Untuk mengatasi ketergantungan terhadap pasokan dari satu jenis batubara atau pemasok tersebut. kualitas suatu endapan batubara juga dipengaruhi oleh lingkungan pengendapannya. Banten contohnya yang dibangun pada tahun akhir 1980-an didesain untuk batubara subbituminus dengan nilai kalornya rata-rata ± 5. Apalagi spesifikasi atau persyaratan kualitas batubara untuk PLTU tidak hanya ditentukan berdasarkan parameter nilai kalor. karakteristik dan kualitas batubara sangat bervariasi dan tidak homogen dibandingkan dengan bahan bakar yang telah mengalami proses pengolahan dalam pabrik. 2. batubara peringkat rendah seperti lignit dan batubara subbituminus mempunyai kadar air tinggi dan nilai kalor rendah. Sedangkan batubara lignit baru mulai dieksploitasi terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.200 kal/g atau PLTU Ombilin kapasitas didesain menggunakan batubara peringkat bituminus dengan nilai kalori lebih dari 6000 kal/g (KONEBA. Walaupun blending batubara sudah umum dilakukan dalam pembangkit listrik. batubara telah ditetapkan sebagai bahan bakar alternatif utama pengganti bahan bakar minyak.1. Dalam rangka mencapai sasaran tersebut. Untuk pemanfaatan batubara sebagai bakar pembangkit listrik. Batubara peringkat yang lebih tinggi seperti batubara bituminus dan antrasit mempunyai nilai kalor tinggi dan kadar air rendah. bukan berarti pembangkit-pembangkit listrik yang sudah lama akan ditinggalkan. Pada tahun 2025. Tambahan lagi. TINJAUAN PUSTAKA Batubara Untuk Pembangkit Listrik Batubara merupakan bahan bakar padat yang terbentuk secara alamiah akibat pembusukan sisa tanaman purba dalam waktu jutaan tahun. Endapan batubara Indonesia sebagian besar terdiri atas batubara peringkat rendah. saat ini sedang dibangun rencana 10. Nomor13. Selain tingkat pembatubaraan atau peringkat (rank). Oleh karena itu. subbituminus 26.7%. kajian yang mendalam perlu dilakukan mengingat bervariasinya parameter kualitas batubara. 32 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.

kondisi operasional. klorin. konfigurasi fisik dan luas perpindahan panas dalam ketel uap (boiler). Hal ini dapat mengganggu kelancaran pengoperasian pembangkit listrik. kadar maseral. HGI menentukan cocok tidaknya batubara dengan penggerus yang ada. Selain kinerja mesin penggerus dan pengendapan abu. sehingga penggerus kemungkinan perlu ditambah atau penggerus cadangan perlu dioperasikan. masih diperlukan pengujian pembakaran dengan kondisi yang mendekati kondisi di lapangan. karbon padat. Kualitas batubara campuran (hasil blending) umumnya dihitung berdasarkan rata-rata berat data analisis dan pengujian yang diperoleh dari masingmasing batubara individu (yang dicampur). maka diperlukan jumlah batubara yang lebih banyak. Beberapa pengaruh yang dapat terjadi jika menggunakan batubara di luar spesifikasi (off design) pada pembangkit yang telah ada (existing) di antaranya adalah kinerja penggerus. Oleh karena itu. keterlambatan pasokan batubara sesuai spesifikasi menyebabkan digunakannya batubara lain yang kualitasnya tidak memenuhi spesifikasi. zat terbang. 1991): kualitas atau karakteristik batubara. posisi burner. batubara yang dipasok untuk sebuah pembangkit listrik seharusnya sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan. maka efisiensi menurun dan kadar karbon dalam abu meningkat. Sedangkan nilai muai bebas. penggunaan batubara di luar spesifikasi juga dapat mengganggu karakteristik dan efisiensi pembakaran. Namun tidak semua parameter kualitas batubara campuran dapat diprediksi menggunakan data kualitas hasil perhitungan rata-rata berat. titik leleh abu dan HGI umumnya cenderung bersifat nonaditif. hardgrove grindability index) (Savage. batasan yang ditentukan oleh desain boiler. dan nilai kalor cenderung bersifat aditif. Kinerja mesin penggerus (pulverizer) biasanya berhubungan dengan nilai kalor dan sifat ketergerusan (HGI. Jika pembakaran tidak sempurna. Bahkan banyak peneliti dan operator PLTU batubara kemudian mengembangkan model Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4. Data kualitas tersebut kemudian digunakan untuk memprediksi karakteristik pembakaran dalam ketel uap. selain analisis dan pengujian laboratorium. Atau sebaliknya. Apabila digunakan batubara dengan kalori lebih rendah dari spesifikasi. kadar belerang tinggi dan belerang rendah. Slamet Suprapto 33 . kadar abu. Batubara keras atau dengan HGI rendah tidak cocok digerus pada penggerus yang dirancang untuk batubara lunak (HGI tinggi). pengendapan abu (slagging dan fouling) dan karakteristik dan efisiensi pembakaran. Hal ini dapat mengganggu kinerja electrostatic precipitator yang berfungsi menangkap abu terbang (fly ash) dan selanjutnya juga mempersulit pemanfaatan abu. nitrogen. sehingga memungkinkan dapat memenuhi persyaratan konsumen. diversifikasi pasokan batubara untuk keamanan pasokan. sehingga dapat menggunakan perhitungan tersebut. hidrogen. Pengendapan (deposisi) abu pada permukaan area perpindahan panas pada sebuah ketel uap adalah salah satu masalah yang paling serius yang dapat terjadi jika menggunakan batubara di luar spesifikasi. Kebanyakan analisis dan pengujian parameter nonaditif di laboratorium tidak merefleksikan kondisi pembakaran yang sebenarnya dalam pembangkit listrik. 1974). Parameterparameter air.Karakteristik pembakaran batubara dalam sebuah pembangkit listrik terutama dipengaruhi oleh (Reid. maka idealnya desain suatu pembangkit listrik berbahan bakar batubara dibuat berdasarkan kualitas batubara yang akan digunakan. karbon total. Kecenderungan pembentukan endapan abu tergantung komposisi dan titik leleh abu batubaranya. 2. Blending Batubara Blending merupakan cara terbaik untuk memperbaiki dan menyatukan sifat dan kualitas batubara dari daerah atau dengan jenis yang berbeda. Operasi PLTU tanpa penggerus cadangan ini sangat riskan dan dapat mengganggu kelangsungan operasi PLTU. Paramater yang nonaditif tersebut menyebabkan evaluasi terhadap batubara blending untuk pembangkit listrik menjadi kompleks. oksigen. sulfur. kadar abu tinggi dan abu rendah. membantu mengatasi masalah yang terjadi apabila digunakan batubara yang di luar spesifikasi. Mengingat hal tersebut di atas. sistem blending dapat memberikan banyak keuntungan di antaranya: meningkatkan kelenturan (fleksibilitas) dan memperluas kisaran batubara yang dapat digunakan. Sedangkan Riley (1989) menyatakan bahwa HGI dapat bersifat aditif asalkan perbedaan nilai HGI masing-masing batubara yang di-blending tidak lebih dari 10. Sering terjadi. Menurut Hower (1988) HGI dapat bersifat aditif hanya untuk blending antara batubara dengan peringkat yang sama. Dalam suatu pembangkit listrik. Biasanya blending dilakukan antara batubara peringkat rendah dan peringkat tinggi.2.

4. Nomor13.000-an kal/g). Pengumpulan data dilakukan melalui penulusuran makalah dan laporan yang berhubungan dengan PLTU Suralaya. Batubara Air Laya.225 kal/g dan kadar air maksimum 28. yakni batubara lignit (nilai kalor rendah. Untuk kelompok batubara lignit digunakan dua contoh. Yang dimaksud dengan batas minimum nilai kalor tersebut adalah batubara dengan nilai kalor 4. 6. Sumatera Selatan yang digunakan untuk dasar pembuatan desain PLTU Suralaya unit 1-4. tetapi untuk tiga atau lebih jenis batubara akan menjadi lebih kompleks. maka semaksimal mungkin data tersebut dikonversikan ke dasar contoh asal.279°C (minimum 1010°C). 4000-an kal/g atau kurang) dan batubara bituminus (nilai kalor tinggi. yakni diantaranya HGI 61. Untuk batubara bituminus. dengan pembatasan nilai kalor minimum 4. Pengolahan Data Data kualitas batubara yang dikumpulkan umumnya masih bervariasi dasar analisisnya.30%. Software tersebut dikembangkan menggunakan persamaan linier untuk parameter kualitas batubara yang bersifat aditif.1. 1995): Xb = α1X1 + α2X2 + ….242 kal/g (as received) dan 23. 1985) sesuai untuk batubara peringkat subbituminus dengan nilai kalor dan kadar air masing 5. dasar kering udara (air dried basis) dan dasar kering (dry basis). mem-blending dua jenis batubara relatif mudah. Banten yang mempunyai kapasitas terpasang sebesar 3. 34 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. software komputer yang sekarang banyak terdapat di pasaran dapat digunakan. Oleh karena itu. Agar sesuai dengan spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya. Di samping itu. Secara matematis. Sedangkan parameter kualitas yang bersifat non-aditif. indeks penerakan “medium” dan indeks fouling “tinggi”.berdasarkan data parameter nonaditif laboratorium.1. Data kualitas batubara dikumpulkan Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya yang didasarkan atas kualitas batubara Air Laya dapat dilihat pada Tabel 1. Data batubara tersebut didasarkan pada nilai kalor batubara >6. pengujian pembakaran skala bangku (bench scale) dan kondisi nyata di lapangan.8 (minimum 48). 3. 3. Batubara dengan nilai kalor lebih rendah dari batas minimum tersebut juga bisa digunakan. αnXn Xb α1 α2 αn X1 X2 Xn 3.2. Januari 2009 : 31 – 39 .80%) dan 0. karena terdapat lebih banyak parameter dan kemungkinan kombinasi blending.225 kal/g masih dapat digunakan dan menghasilkan keluaran (daya) listrik sesuai kapasitas pembangkit asalkan seluruh fasilitas penanganan (handling) dan penggiling (mill) dijalankan. terutama nilai kalor.3. 3. yakni 4 x 400 MW (unit 1-4) dan 3 x 600 MW (unit 5-7). kadar abu dan kadar belerang. Spesifikasi tersebut (Kannan. 4. Rumus linier sederhana untuk blending batubara yang menggunakan parameter aditif adalah sebagai berikut (Carpenter.80% (maksimum 12.000 kal/g. yakni kadar abu dan kadar belerang masingmasing 7. seperti dasar contoh asal (as received).60%. HASIL DAN PEMBAHASAN Spesifikasi Batubara Untuk PLTU PLTU Suralaya yang terletak di Merak. titik leleh abu 1.400 MW terdiri dari 7 unit. Pengumpulan Data Batubara Indonesia Pertimbangan pertama dalam pengumpulan data batubara adalah didasarkan pada peringkatnya. untuk melengkapi data batubara Peranap dilakukan analisis dan pengujian contoh batubara di laboratorium.40% (maksimum 0.90%). = parameter kualitas produk blending = proporsi batubara ke 1 dalam blending = proporsi batubara ke 2 dalam blending = proporsi batubara ke n dalam blending = parameter kualitas batubara ke 1 = parameter kualitas batubara ke 2 = parameter kualitas batubara ke n METODOLOGI Pengumpulan spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya terutama melalui laporan dan internet. Karakteristik abu yang terdiri dari indeks penerakan dan indeks fouling yang menyatakan kecenderungan abu batubara membentuk endapan terak (slagging) dan fouling dihitung menggunakan data komposisi abu dan titik leleh abu batubara. Parameter kualitas bersifat aditif lainnya. tetapi keluaran listrik akan turun walaupun semua fasilitas penanganan dan penggiling batubara dijalankan. datanya dikumpulkan dari laporan dan internet. yakni batubara dari daerah Musi Banyuasin dan Peranap (keduanya Sumatera Selatan).

30% dan kadar belerang 0.242 0. Normalnya. Batubara peringkat rendah mempunyai nilai kalor dicirikan terutama oleh tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor.350°C.60 7.234 0.19% dan 4.279 medium tinggi Catatan: as received = dasar contoh asal 4.00 4.80 0. Dari data dua contoh batubara peringkat rendah yang dikaji. kal/g Sulfur.Tabel 1.30 4. Kualitas Batubara Indonesia Data kualitas batubara Indonesia yang terdiri atas batubara peringkat rendah. kal/g Sulfur. maka parameter kualitas yang tidak memenuhi spesifikasi adalah nilai kalornya.200 tinggi* rendah* Bara Mutiara Prima (Sumsel) 30. Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4 Parameter (as received) Kadar air.400 kal/g (as received). Data kualitas batubara Indonesia peringkat rendah Parameter (as received) Kadar Air.30 60 1.400 0.19 3. % Nilai Kalor. Normalnya untuk mengoperasikan 1 unit kapasitas 400 MW menggunakan batubara Air Laya dibutuhkan ± 170 ton batubara/jam.40 61.200°C dibanding abu batubara Bara Mutiara Prima yang deformasi awalnya sebesar 1.80 5. % Kadar abu. Slamet Suprapto 35 . Titik leleh abu batubara Peranap cukup rendah. % HGI Deformasi awal abu. Oleh karena itu. indeks penerakan batubara Peranap termasuk klasifikasi “tinggi” dan batubara Bara Mutiara Prima termasuk “rendah”. batubara peringkat tinggi dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3 (Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia.225 48 1.8 1.2.30 12. % HGI Tititk leleh abu (Deformasi awal). °C Indeks penerakan Indeks fouling Minimum 4. apabila digunakan batubara Air Laya Tabel 2. °C Indeks Penerakan Indeks Fouling Peranap (Sumsel) 49. 2008). maka dibutuhkan 275 ton batubara/jam. Apabila digunakan batubara Bara Mutiara Prima.010 - Maksimum 28.00 1. Namun demikian. maka untuk menghasilkan listrik yang sama dibutuhkan ± 202 ton batubara/jam.234 kal/g dan 4. Sedangkan jika menggunakan batubara Peranap.350 rendah* Rendah Catatan: * dihitung dari kadar abu dan titik leleh abu ( Lampiran 1) Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4. Apabila kedua batubara peringkat rendah tersebut digunakan untuk PLTU Suralaya unit 1-4.30%. Mesin penggiling yang tersedia untuk untuk 1 unit 400 MW tersebut tersedia sebanyak 5 buah yang masing-masing berkapasitas 65 ton batubara/jam (KONEBA.11% dan 0. Sedangkan indeks fouling keduanya termasuk klasifikasi “rendah”. yakni dengan deformasi awal 1. batubara Peranap dan Bara Mutiara Prima mempunyai kadar air total masingmasing 49% dan 30% dan dengan nilai kalor 3. 2002). kedua batubara tersebut termasuk bersih dengan masing-masing kadar abu 1. % Nilai kalor. yakni masing-masing 54 dan 60. Kedua batubara tersebut mempunyai sifat ketergerusan menengah.11 54 1. % Kadar Abu.90 - Rata-rata 23.

hanya dioperasikan 3 buah mesin, sehingga 2 mesin lainnya untuk cadangan. Apabila digunakan batubara Bara Mutiara Prima dibutuhkan 4 mesin, sedangkan 1 mesin untuk cadangan. Tetapi apabila digunakan batubara Peranap, maka seluruh mesin harus dioperasikan, sehingga tidak ada cadangan. Pengoperasian seluruh mesin penggerus tersebut dapat menimbulkan risiko gangguan terhadap operasi pembangkit listrik mengingat perlunya waktu perawatan setiap mesin. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan blending plant guna meningkatkan nilai kalor batubara peringkat rendah yang tersedia. Data kualitas batubara peringkat tinggi yang dikaji adalah sebanyak 14 buah, berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Selain dicirikan oleh tingginya nilai kalor dan rendahnya kadar air, batubara-batubara tersebut umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah atau sulit digerus dengan HGI kurang dari 50. Batubara Danau Mas Hitam mempunyai HGI bervariasi antara 40-60. Sedangkan batubara Kartika Selabumi yang mempunyai HGI tinggi atau mudah digerus, yakni sebesar 80. Tetapi batubara ini juga mempunyai nilai bebas yang tinggi yakni 9, tidak seperti umumnya batubara Indonesia yang mempunyai nilai muai bebas rendah. Kadar abu dan kadar belerang batubara peringkat tinggi bervariasi, masing-masing antara 2,0% sampai 19,48% dan 0,15% sampai 2,56%. Sedangkan data indeks penerakan dan indeks fouling hanya tersedia untuk batubara Kartika Selabumi dan Lana Harita. Batubara Selabumi mempunyai indeks penerakan dan indeks fouling klasifikasi “rendah”. Sedangkan untuk batubara Lana Harita klasifikasi “rendah” dan “medium”. 4.3. Blending Batubara

Yang masih perlu dipertimbangkan adalah HGI batubara peringkat tinggi, yang ternyata kebanyakan kurang dari 50. Walaupun HGI batubara peringkat rendah umumnya tinggi, mengingat parameter ini cenderung nonaditif maka HGI hasil blending belum tentu sesuai perhitungan. Apabila nilai HGI hasil blending ternyata lebih rendah dari nilai perhitungan maka kapasitas atau keluaran penggerus turun atau kehalusan produk penggerusan dapat menurun. Menurunnya keluaran penggerus dapat menurunkan keluaran listrik. Sedangkan menurunnya kehalusan batubara dapat menyebabkan menurunnya efisiensi pembangkit dan meningkatnya kadar karbon tak terbakar dalam abu batubara. Untuk mengkaji lebih mendalam, maka pengujian penggerusan dan pembakaran skala yang lebih besar seperti skala meja atau skala yang lebih mendekati kapasitas nyata di lapangan perlu dilakukan sebelum mengaplikasikannya pada kondisi sebenarnya. Batubara Kartika Selabumi mempunyai nilai kalor cukup tinggi, yaitu 7.889 kal/g dan juga HGI yang tinggi yakni 80, tetapi nilai muai bebasnya sangat tinggi mencapai 9. Normalnya, nilai muai bebas batubara untuk pembangkit listrik maksimum 4 (Rance, 1975). Tambahan lagi nilai muai bebas merupakan parameter nonaditif, sehingga karakteristik pembakaran batubara hasil blending batubara ini tidak dapat diprediksi dari masingmasing batubara yang akan di-blending. Selain HGI, karakteristik abu yakni kecenderungan penerakan dan fouling juga perlu dipertimbangkan. Mengingat data indeks penerakan dan indeks fouling kebanyakan tidak tersedia, maka parameter tersebut perlu dilengkapi. Apalagi jika hasil uji di laboratorium dan perhitungan menyatakan kecenderungan kedua indeks tersebut termasuk klasifikasi “tinggi”, maka uji pembakaran pada kondisi yang mendekati ketel uap perlu dilakukan. Pengendapan terak abu terjadi di daerah ruang bakar atau radiasi, sedangkan endapan fouling terjadi pada daerah yang lebih dingin yakni pada pipa-pipa ketel uap. Apabila terak abu yang menempel di dinding tungku (ruang bakar) sulit diambil maka perpindahan panas ke dinding akan menurun dan selanjutnya efisiensi pembakaran juga menurun (Elliot, 1981). Endapan fouling yang terjadi pada pipa ketel uap menyebabkan penyempitan pada deretan pipa yang selanjutnya mempercepat laju alir gas buang. Hal ini dapat menyebabkan naiknya suhu gas buang dan juga erosi terhadap pipa ketel uap.

Blending yang dilakukan didasarkan pada pencampuran kalori rendah dengan kalori tinggi atau antara batubara peringkat rendah dengan peringkat tinggi. Berdasarkan data kualitas tersebut di atas, blending batubara Indonesia antara peringkat rendah dan peringkat tinggi dapat dimungkinkan untuk memenuhi persyaratan nilai kalor sebesar 5.242 kal/ g (as received) dan parameter yang bersifat aditif lainnya, seperti misalnya kadar air, kadar abu dan kadar belerang. Dengan menggunakan rumus (perhitungan rata-rata) linier, maka jumlah proporsi masing-masing batubara yang dicampur dapat ditentukan untuk memenuhi parameter spesifikasi ketel uap PLTU Suralaya 1-4.

36

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39

Tabel 3.

Data kualitas contoh batubara Indonesia peringkat tinggi

Parameter (as received) Lumut 12 3,70 - 9,26 6.021 - 6.947 0,22 - 1,44 45 - 55 Mandiri Inti Perkasa Blok A 14-18 2,81 - 4,69 6.200 - 6.400 0,28 - 0,66 46 - 49 1.200 Kartika Selabumi Mining

Allied Indo Coal Parambahan 9,5 3,8 6.240-6.294 0,54 48 Fajar Bumi Sakti 8 (adb) 7 (adb) 6.700 (adb) 42 - 46 — 3 - 6 (adb) 6 - 15 (adb) 6.000 - 7.500 0,8-2,56 (adb) 45 – 50 1.250 15,5 - 17,00 4,5-5,5 (adb) 6.100 - 6.500 (adb) 0,5-0-0,80 (adb) 45 – 46 Gunung Bayan Pratama Bayan Indominco Mandiri Bontang 18 (adb) 2,0 5.600 - 6.250 0,15 48 – 50 1.150-1.200 16 4,72 6.040 0,94 45 -

Kaltim Prima Kideco Coal Prima Mandau, Payau, Melawan

Multi Harapan Utama Busang

PTBA

Anugerah Bara Kaltim Anugerah

Sari Andara Persada Muara Bungo 10,11 (adb) 19,48 (adb) 5.949 0,83 (adb) 48 1.300 Lana Harita Indonesia Block III

Kadar Air, % Kadar Abu, % Nilai Kalor, kal/g Sulfur, % HGI Deformasi awal abu, °C Indeks Slagging Indeks Fouling

11 9 7.000 1 45 - 50 -

Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4, Slamet Suprapto

Parameter (as received)

Danau Mas Hitam

Kadar Air, % Kadar Abu, % Nilai Kalor, kal/g Sulfur, % HGI Deformasi awal abu, °C Indeks Penerakan Indeks Fouling Nilai Muai Bebas

14 13 - 19 (adb) 5.900 - 6.500 (adb) 1,0 (adb) 40 - 60 1.280 -

19,5 4,65 (adb) 6.210 0,70 (adb) 47 1.490 -

8 3,78 7.889 0,85 80 1.220 rendah* rendah* 9

7,0 (adb) 6.977 1,16 (adb) 43 >1.200 rendah* medium* -

Catatan: adb = air dried basis (dasar kering udara) * = dihitung berdasarkan komposisi dan titik leleh abu (Lampiran 1)

37

5. -

PENUTUP Blending merupakan cara terbaik untuk mengatasi masalah ketersediaan batubara dan ketergantungan terhadap satu sumber pemasok batubara untuk pembangkit listrik di Indonesia. Untuk mengatasi masalah pasokan batubara pada PLTU Suralaya unit 1-4, sistem blending dapat dilakukan antara batubara peringkat rendah (lignit) dan batubara peringkat tinggi (bituminous) sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara, terutama nilai kalor. Batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah atau sulit digerus dan parameter ini perlu diperhatikan karena cenderung tidak bersifat aditif sehingga hasil blending dengan batubara peringkat rendah tidak dapat diprediksi menggunakan rumus linier. Data komposisi abu dan titik leleh abu batubara peringkat tinggi perlu dilengkapi agar dapat digunakan untuk mengevaluasi kemungkinan pembentukan endapan terak dan endapan fouling dalam pembakaran batubara hasil blending. Pengujian pengerusan dan pembakaran dalam skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan perlu dilakukan untuk mengevaluasi batubara hasil blending.

Hower, J.C., 1988. Additivity of hardgrove grindability index: a case study. Journal of Coal Quality, 7(2), 68-70. Kannan, V., 1985. Design considerations for Suralaya Unit 1 & 2 Steam generators. Presented at the Electric Indonesia Exhibition, Jakarta, October 29 – November 2, 1985. Kompas, 2008. CBC Dibangun Atasi Kelangkaan Batubara. 26 Pebruari 2008. KONEBA, 2002. Kuisioner Data PLTU Suralaya. 1 November 2002. MinergyNews.Com, 2007. Program 10 Ribu MW Hanya untuk 3 Tahun. Kamis 13 Desember 2007 Rance, H.C., 1975. Coal Quality Parameters and their influence in coal utilization. Shell International Petroleum Co. Ltd., Jakarta. Reid, W.T., 1991. Coal Ash – Its effects on combustion systems. In: Elliot, M.A. (Ed.), Chemistry of coal utilization. 2nd Suppl. Vol. John Wiley & Sons, New York, 1389-1445. Riley, J.T., Gilleland, S.R., Forsyhte, R.F., Graham, H.D. and Hayes, F.J., 1989. Non-aditif analytical values for coal blend. Proceeding of the 7th international conference on coal testing. Charleston, West Virginia, 21-23 March. Savage, K.I., 1974. Pulverizing characteristics of coal hardgrove grindability index. Keystone Coal Industry Manual. Suprapto, S., 2007. Gasifikasi batubara sebagai alternative pengganti BBM. Makalah disampaikan pada Forum Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 21-22 November 2007.

-

-

-

-

DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia, 2008. Kualitas Batubara.http/www.apbi-icma. Carpenter, A.M., 1995. Coal Blending for Power Station. IEA Coal Research, London. Elliot, M.A. (ed.), 1981. Chemistry of coal utilization. Second Suppl. Vol., John Wiley & Sons, New York.

38

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39

15 0.200 >1.200 >1.22 1.61 24.300 1.82 4.02 Lana Harita Indonesia 40.56 23.21 2.360 1.261 1. Bara Mutiara Prima.31 29.249 1.200 1.50 3.12 0.370 1.200 >1.73 0.13 5.68 0.200 Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4.65 0.290 1. Slamet Suprapto 39 .73 15.500 1.19 9.94 2. % Peranap Bara Mutiara Prima Kartika Sela Bumi 33. Komposisi dan titik leleh abu batubara Peranap. °C 55.84 1.14 2.51 8.66 2.45 0.65 4.600 Deformasi awal Pelunakan Hemisfer Flow 1.Lampiran 1.36 0.07 Reduksi Oksidasi 1.420 >1.350 1.385 1.220 1.81 0. Kartika Selabumi Mining dan Lana Harita Komponen.29 0.310 1.86 SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO K2O Na2O TiO2 MnO2 SO3 P2O5 Titik Leleh Abu.77 0.01 1.01 0.54 1.50 0.

Bandung – 40211 Telp. Bukit Baiduri Energi (BBE) yang masing-masing mempunyai unit pencucian batubara dengan skala produksi di atas 1 juta ton batubara per tahun. dan analisis ultimat seperti karbon (Carbon =C). M dan A tinggi di atas 25% dan fuel ratio (FC/VM) sekitar satu. Propinsi Kalimantan Timur (Kaltim).go. Jenderal Sudirman No.id dan ikin@tekmira. titik pijar dan suhu pembakaran maksimum yang ditentukan oleh parameter analisis proksimat dan ultimat. Tipe limbah batubara yang dikaji dalam tulisan ini adalah slurry (=SL) sebagai limbah sisa proses pencucian batubara. Januari 2009 : 40 – 46 . Contoh diambil dari 3 (tiga) perusahaan tambang batubara yang terletak di sepanjang Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara. revisi pertama : 16 Januari 2009. karakteristik limbah. Pembakar siklon dipilih. revisi kedua : 28 Januari 2009. karakteristik pembakaran 40 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. berasal dari endapan batuan sedimen yang mengandung bahan organik sehingga dapat terbakar. : (022) 6030483 Fax. PT. : (022) 6038027 e-mail : stefano@tekmira. sehingga limbah batubara dapat langsung dibakar dengan sistem tersebut. Tanito Harum (TH). Multi Harapan Utama (MHU). zat-terbang (Volatile Matter =VM) dan karbon tertambat (Fixed Carbon =FC). Besar butir limbah batubara tipe SL Kaltim sesuai dengan ukuran untuk umpan pembakar siklon. Kata kunci : batubara.go. abu (Ash =A). Nomor13. revisi terakhir : Januari 2009 ABSTRAK Limbah batubara (sludge) didefinisikan sebagai bahan karbonan. Selain itu dilakukan analisis ayak untuk mengetahui distribusi ukuran partikel dari contoh batubara SL yang diteliti.HUBUNGAN ANTARA PARAMETER KARAKTERISTIK LIMBAH BATUBARA KALIMANTAN TIMUR DAN KARAKTERISTIK PEMBAKARANNYA STEFANO MUNIR DAN IKIN SODIKIN Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. karena dapat menangani limbah batubara yang berkualitas rendah (low grade coal) dengan kisaran nilai kalori 3000 – 5000 kal/gr. 623. Karakteristik limbah batubara tergantung pada karakteristik batubara sumbernya dan pada umumnya berperingkat rendah (low rank coal).esdm. Sedangkan karakteristik pembakaran yang memengaruhi kinerja tungku siklon ditentukan oleh nilai kalori. hidrogen (Hydrogen =H).esdm. Hasil menunjukkan bahwa limbah batubara tipe SL dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif sebagai bahan bakar langsung pada industri. Karakteristik limbah batubara ditentukan berdasarkan parameter analisis proksimat seperti air-lembab (Moisture =M). slurry (SL). yaitu PT. dan oksigen (Oxygen =O). dan PT. suhu nyala.id Naskah masuk : 23 Desember 2008.

000-5. yaitu crushing and screening untuk produksi batubara dari tambang yang telah memenuhi persyaratan kualitas (spesifikasi) pasar dan pencucian batubara (coal washing) untuk produksi batubara dari tambang yang belum memenuhi spesifikasi pasar sehingga menghasilkan produk batubara yang dapat dijual dengan ukuran – 50 mm. sehingga masih dianggap sebagai batubara yang tidak dapat dipasarkan (non-marketable coal. derived from sedimentary rock deposit containing organic matters so as to become combustible. Potensi SL belum dikelola secara komersial. Multi Harapan Utama (MHU). Limbah SL merupakan sisa proses pencucian yang ditampung (dikumpulkan dan disimpan) dalam sistem penampungan limbah batubara yang standar (sludge disposal system) dengan menggunakan kolam pengendapan (settling pond). dan coal fines = CF. Particle size of SL from Kaltim was similar to the particle size for feeding of cyclone combustion. The cyclone furnace was selected. timbunan (stockpiles) atau lubang galian tanah (landfill).. Akumulasi jumlah limbah batubara tipe SL ini akan semakin besar sesuai dengan jumlah tambang batubara yang beroperasi di daerah Kaltim dan umur pengoperasian setiap tambang batubara yang Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan . Result indicates that the sludge of SL type can be utilized as alternative fuel for direct combustion in industry. sludge characteristic. Batubara hasil penambangan (Run of Mine-Coal atau raw coal) perlu diolah terlebih dahulu atau tidak.4 milyar ton (MEMR.13%.ABSTRACT Sludge is defined as a carbonaceous material. hydrogen (H) and oxygen (O). 2008) tersebar di Provinsi Sumatera Selatan 40. yaitu batubara kualitas rendah yang masih perlu dicuci dan batubara kualitas tinggi yang tidak perlu dicuci. ash (A). East Kalimantan province. volatile matter (VM) and fixed carbon (FC) and ultimate analyses such as carbon (C). batubara dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) kelompok. yaitu slurry = SL. Pada prinsipnya. ignition temperature. most of which are low rank coal. Kalimantan Timur 28. Whereas in terms of the characteristic of its combustion that affects the performance of cyclone furnace was determined by calorific value. because it might handle the sludge as low grade coal within a low calorific value in the range of 3. JICA. The characteristic of sludge was determined by the proximate analyses such as moisture (M). slurry(SL). therefore it can be utilized directly. PT. Keywords : coal. tergantung pada karakteristik kualitas endapan lapisan batubara yang ditambang.000 cal/gr. Biasanya ada 2 (dua) tipe unit pengolahan batubara yang dikembangkan. Tanito Harum (TH). 2007). PENDAHULUAN Potensi sumber daya batubara Indonesia yang ditaksir sebanyak 93. On the other hand the distribution of particle sizes was determined by sizing analysis.. yaitu batubara yang dapat dijual (saleable coal). Sisa industri pertambangan batubara disebut limbah batubara (sludge) terdiri dari 3 (tiga) tipe. combustion characteristic 1. that are PT. Produksi batubara dari Kalimantan Timur adalah yang terbesar yaitu sekitar 57% dari produksi batubara nasional sebesar185 juta ton (2007) dan ini akan terus meningkat sesuai dengan pertumbuhan produksi batubara nasional sekitar 12. limbah batubara (sludge) dan air buangan akhir tambang (effluent). abu (% A) dan Sulfur (% S) serta nilai kalori. high moisture and ash contents of above 25% and fuel ratio about one. glow point and maximum combustion temperature that were determined by parameters of the proximate and the ultimate analyses. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 41 . The characteristic of sludge depends on the type of its source coal.7% dan sisanya di provinsi-provinsi lain. Tipe limbah batubara SL dijadikan objek penelitian dalam tulisan ini karena mempunyai prospek yang menjanjikan dipandang dari segi jumlah (quantity) dan kualitasnya (quality) sebagai sumber energi alternatif dalam rangka mendukung kebijakan konservasi batubara nasional yang berwawasan lingkungan. Berdasarkan parameter pengotornya seperti kadar air-lembab (% M). 2008).02 juta ton per tahun (Suhala. The type of the researched sludge was slurry (SL) in form of the coal washing plant residue of which its samples were taken from the three coal mine located and selected alongside of Mahakam river in Kutai Kartanegara regency.37%. dan Kalimantan Selatan 17. dirty coal = DC. kegiatan operasi penambangan di setiap lokasi tambang batubara pada umumnya menghasilkan 3 (tiga) produk. and PT Bukit Baiduri Energi (BBE) with respective coal production capacities of above one million tons of coal per annum.

Kriteria pemilihan berdasarkan pada : Perusahaan tambang batubara harus mempunyai unit pencucian batubara dengan peralatan gravity concentration (wash breaker. yang harus dikelola oleh setiap perusahaan tambang batubara melalui sistem manajemen penampungan yang standar. Tanito Harum (TH). terutama percemaran sistem aliran sungai di sekitar tambangtambang batubara. hidrogen (H). semakin sulit bahan tersebut untuk dibakar.3. A. dan Tambang harus mempunyai kapasitas produksi >1 juta ton batubara per tahun. terutama yang terletak di sepanjang Sungai Mahakam. yaitu sekitar – 4 mesh (4.2. Bukit Baiduri Energi (BBE). terutama untuk tipe SL di sepanjang Sungai Mahakam dan dipilih sebagai wakil Provinsi Kaltim yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu PT. Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara Karakteristik pembakaran limbah batubara dipengaruhi oleh parameter karakteristik limbah batubaranya sendiri. Ukuran partikel batubara umpan ini hampir sama dengan ukuran partikel SL sebagai tipe limbah batubara utama. jig atau hydrocyclone). Sedangkan kinerja pembakaran limbah batubara dinilai dengan beberapa parameter seperti suhu titik nyala (ignition point) hasil analisis thermogravimetry (TGA). nitrogen (N). 2007. Karakteristik Limbah Batubara - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parameter karakteristik limbah batubara Kaltim dengan karakteristik pembakarannya dalam rangka mengevaluasi kinerja keterbakarannya apakah dapat dikembangkan sebagai sumber energi alternatif atau tidak. dan PT. VM dan FC dan analisis ultimat dengan parameter unsur-unsur karbon (C).1. dan SL – BBE. titik pijar (glow point) hasil pengamatan pada silica tube furnace dan suhu maksimum hasil pembakarannya dengan pembakar siklon dalam hubungannya dengan parameter karakteristiknya. Di samping itu analisis ayak untuk mengetahui distribusi ukuran partikel dengan karakteristik kualitas per fraksi ukuran yaitu + 2 mm. SL – TH.1mm + 0. Kriteria penilaian karakteristik pembakaran limbah batubara adalah semakin tinggi suhu titik nyala dan titik pijar. . 2.bersangkutan. Karena ukuran partikel ketiga contoh SL ini telah sesuai dengan kisaran ukuran umpan yang biasa digunakan untuk pembakar siklon yaitu – 4 mesh maupun lebih halus lagi sampai – 32 mesh. 42 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Ada 3 (tiga) perusahaan tambang batubara yang diambil contoh limbah batubaranya. 2. Karena itu. PT. Pemilihan tipe tungku dan metode pembakaran limbah batubara dengan pembakar siklon yang dikembangkan dalam penelitian ini didasarkan pada fakta bahwa pembakar siklon dapat membakar batubara berkadar rendah (low grade coal) dengan kadar air-lembab (% M) dan kadar abu (% A) yang tinggi sampai 25 %. 1982). .5 mm. sehingga berpotensi cenderung untuk terjadinya swabakar.595 mm = 595 ìm) (Current Technology. 2. Sistem tungku siklon yang dikembangkan dapat membakar ukuran umpan batubara yang umum digunakan. Januari 2009 : 40 – 46 .76 mm) atau lebih halus sampai – 30 mesh (0. . oksigen (O). sulfur (S) serta pengujian sifat fisik seperti nilai kalori dan berat jenis.75 µm juga dilakukan. 2. Sumaryono dkk. Karakteristik limbah batubara tipe SL ditentukan melalui analisis proksimat dengan parameter komponen-komponen M. METODOLOGI Bahan Uji Ada 3 (tiga) contoh limbah batubara tipe SL dari ketiga perusahaan tambang batubara Kaltim yang dipilih untuk penelitian ini yaitu SL – MHU. maka persiapan bahan uji untuk program percobaan pembakaran dengan pembakar siklon cukup dilakukan melalui pengeringan udara pada suhu kamar. . Sedangkan kriteria penilaian kinerja pembakarannya adalah semakin tinggi suhu maksimum yang dicapai selama pembakaran dengan siklon semakin tinggi kinerja pembakarannya. yaitu dari parameter analisis proksimat dan analisis ultimat (Tsai. Nomor13.5 mm + 75 µm. Multi Harapan Utama (MHU).0. sehingga dapat diketahui pengaruh distribusi ukuran partikel terhadap kadar abu dan nilai kalorinya. Sebenarnya semua tipe limbah batubara tersebut di atas adalah bahan karbonan (carbonaceous materials) yang karakteristiknya tergantung pada karakteristik batubara sumbernya yang pada umumnya berperingkat rendah dari lignit sampai subbituminus (low rank coal).2 mm + 1 mm. 2007). fasilitas penampungan limbah batubara perlu dikelola secara benar mengingat akan terbatasnya lahan dan dampak lingkungan yang ditimbulkannya.

. Suhu maksimum rata-rata hasil pembakaran dari setiap contoh limbah batubara diambil sebagai SL BBE Gambar 2. 2007). 2007) SL. dimasukkan ke dalam penandon umpan berupa hopper dan kemudian diumpankan dengan bantuan blower ke dalam ruangan pembakar siklon yang telah dipanaskan terlebih dahulu dengan bantuan kayu bakar atau karet ban bekas sampai mencapai suhu 450 o C sebagai pematik (igniter). a. Pada prinsipnya rancangan pembakar siklon yang benar dapat dilihat pada Gambar 1.. Aksi gerakan berputar (sentrifugal) ditingkatkan oleh pasokan udara sekunder dengan kecepatan tinggi secara tangensial. Program Ujicoba Pembakaran Peralatan nilai optimal karakteristik pembakarannya. sehingga menghasilkan semburan nyala api keluar dari ruangan siklon dan setiap partikel umpan terbakar habis (burn out) dengan meninggalkan residu atau lelehan abu (slag).595 mm) (Sumaryono. Setiap bahan uji SL yang sudah kering di udara. dkk.TH b. Kegiatan percobaan pembakaran 3 (tiga) contoh limbah batubara SL dengan pembakar siklon Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan . Kegiatan percobaan pembakaran dari ketiga contoh limbah batubara SL tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. SL MHU Udara sekunder Udara primer Batubara Udara tersier Lubang pengeluaran terak Lubang pengeluaran terak utama Gambar 1. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 43 .4. Prosedur Prosedur percobaan dirancang menurut karakteristik pembakaran limbah batubara yang diuji. perkembangan suhu pembakaran yang dihasilkan dicatat melalui pencatat suhu indicator thermocouple dengan interval waktu 5 menit selama 15 menit.2. Udara pembakaran berupa udara primer maupun udara tersier digunakan untuk menghasilkan gerakan berputar dari partikel-partikel batubara atau limbah batubara umpan di dalam ruangan pembakaran siklon. Selanjutnya. Com. Skema rancangan pembakar siklon (Wikipedia.. Dimensi rancangan pembakar siklon yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 x 100 cm dengan ukuran partikel batubara umpan – 30 mesh (595 ìm atau 0.

adb Nilai kalori.80 4.032 3.631 1.79 100 Analisa proksimat (%).57 0. %. Tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik SL dari masing-masing perusahaan pertambangan batubara selain tergantung dari karakteristik batubara sumbernya.25mm – 0.690 5. Hasil analisis ayak.70 26.82 28.13 30.68 11.59 VM FC Fuel Nilai ratio kalori.5 mm + 75 µm .6 15.86 0.1 mm + 0.5 mm .4 23.27 7. 3.75 µm + 2 mm .69 98.17 14.5 mm + 75 µm . hydrocyclone dan screen (0.68 30.53 0.88 2.44 3.88 44 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.1.25 28. Januari 2009 : 40 – 46 .2 100 47.76 24.58 A 54.22 12.55 38.851 4.436 1. Karakteristik limbah batubara tipe SL dari MHU. %.96 17.5 26.7 7.18 0.44 13. adb Sulfur (S).45 0. Karakteristik SL dari masing-masing perusahaan Tabel 1.15 10. %.7 39.67 1.12 24. dan nilai kalori limbah batubara tipe SL dari MHU.46 56. TH dan BBE Parameter Analisis proksimat : Air lembab (IM).5 24.02 1.14 33.33 6.8 47.51 1.56 36.686 6. (FC/VM) kal/gr.37 0.53 0.61 49.53 38.32 6.75 µm % massa % kumulatif massa tertahan tertahan 19.19 9.54 6.56 37.895 3.66 0.33 7.78 3.2 mm + 1 mm . %.43 4. %.636 5.96 1.128 3.30 34.72 15.18 66.40 2.95 12.75 µm + 2 mm .89 39. adb Karbon tertambat (FC).93 7.2 16.76 2.33 52.93 55.95 18. %.2 mm + 1 mm .778 5.66 30. adb Oksigen (O).78 4.3.36 45.51 2.5 mm + 75 µm .51 10.47 44.66 38.18 4. adb Fuel Ratio (FC/VM) Berat jenis (TSG) Analisis ultimat : Karbon (C).15 30.224 4.9 7. %. juga dipengaruhi oleh proses pencucian dengan peralatan yang digunakan seperti drum washer.48 20.683 TH BBE 26.1 23.6 41. adb Nitrogen (N). analisis proksimat .798 5.82 Tabel 2. jig.02 1.49 52. TH dan BBE Ukuran fraksi MHU + 2 mm .5 mm .7 36. Nomor13.39 27.32 8.05 0.24 6.1 mm + 0.277 2.14 30.59 47.892 1.20 4.0.4 60.96 TH 7.77 13.93 0.34 6.758 1.2 mm + 1 mm .99 28.55 0. adb Zat terbang (VM).413 0.21 19.28 89.53 51.52 12. kal/gr.92 0.33 22.19 28.08 0.05 30. adb IM 3.93 5.86 0.76 2.14 24.76 90. %. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Limbah Batubara Karakteristik limbah batubara tipe SL dari 3 (tiga) perusahaan tambang batubara di Kaltim dapat dilihat pada Tabel 1 dan hasil analisis ayak pada Tabel 2.62 BBE 11.0.56 44.05 1.33 100 1. adb SL MHU 3.81 41. adb Abu (A). fuel ratio.93 31.05 1.adb 0.0.08 59.57 9.72 42.51 40.15 4.84 16.05 1.594 3.1 mm + 0.90 5. adb Hidrogen (H).59 60.3 9.5 mm .84 1.78 11.5 mm).01 26.25 23. %.45 35.

0. 70 60 A BU . Karakteristik pembakaran limbah batubara Parameter MHU Karakteristik pembakaran : Nilai kalori. Fraksi-fraksi ukuran partikel yang sangat halus ini biasanya dianggap sebagai slime.2.adb Titik Nyala TGA. 3.798 kal/gr. yaitu semakin rendah kadar abu limbah batubara akan semakin Gambar 4. Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas buang hasil pembakaran. terlihat bahwa menurunnya ukuran partikel menyebabkan menurunnya nilai kalori. sehingga teknik pengolahan untuk pemisahannya dari fraksi-fraksi yang kasar harus dilakukan dengan proses desliming melalui cara decantation untuk meningkatkan nilai kalori limbah batubara tipe SL tersebut. oC Titik Pijar Silica Tube Furnace. dengan nilai kalori yang terendah sebesar 1895 kal/gr pada fraksi ukuran terkecil – 75 µm.5 mm + 75 µm maupun pada fraksi ukuran terhalus – 75 µm.636 kal/ gr sampai 6..128 kal/gr dan SL BBE dengan cyclone classifier dan screen 0. oC Suhu maks.5 mm dari 3.2mm +1mm -1mm +0. walaupun semakin halus fraksi ukuran partikelnya semakin tinggi kadar abu. nilai kalor dan ukuran partikel umpan.25 mm mempunyai nilai kalori yang terendah. Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara Gambar 3. yaitu dari 1.75µm Karakteristik pembakaran limbah batubara tipe SL dapat dilihat pada Tabel 3. Begitu pula tinggi rendahnya kandungan karbon dan oksigen akan memengaruhi kandungan nilai kalori. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa naiknya kadar abu akan menurunkan nilai kalori yang diikuti oleh naiknya kadar karbon dan oksigen. Gambar 3 menunjukkan grafik hubungan antara kadar abu dengan ukuran fraksi dan Gambar 4 grafik hubungan antara nilai kalori dengan ukuran fraksi.0. Dengan kata lain bahwa semakin halus (– 75 µm) fraksi ukuran SL semakin rendah nilai kalorinya. SL TH dengan drum washer.5 mm dari 3.5mm UKURAN FRAKSI MHU TH BBE . Tabel 3 menunjukkan bahwa naiknya titik nyala dan titik pijar dipengaruhi oleh fuel ratio. Sedangkan suhu maksimum siklon dipengaruhi oleh kadar abu. oC Catatan : tdd = tidak dapat ditentukan SL TH 4.892 kal/gr sampai 3. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 45 . Distribusi ukuran partikel semua contoh tipe limbah batubara SL telah memenuhi spesifikasi sebagai umpan untuk pembakar siklon. baik pada fraksi ukuran – 0.5mm +75µm ..2mm +1mm -1mm +0. Hubungan antara kadar abu dengan ukuran fraksi NILAI KALORI (kal/gram) 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 +2mm .413 tdd 470 431 Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan . kal/gr. % 50 40 30 20 10 0 +2mm .277 kal/gr. semakin tinggi titik nyala atau titik pijarnya. Hubungan antara nilai kalori dengan ukuran fraksi Tabel 3.5mm UKURAN FRAKSI MHU TH BBE . sehingga akan menurunkan nilai kalori.5mm +75µm .75µm Dari Gambar 3 dan 4. SL MHU yang merupakan limbah pengolahan dengan cyclone classifier dan screen 0.683 kal/gr sampai 5.436 261 360 566 BBE 4. Semakin tinggi kadar fixed carbon atau fuel ratio.758 340 418 529 2.pertambangan batubara menunjukkan bahwa kandungan abu yang tinggi sangat memengaruhi kandungan nilai kalori dan berat jenis yang sebenarnya. cyclone classifier dan screen 0. pembakaran siklon.

http:// www. 1982.me.tinggi nilai kalornya. Yaskuri. F. Januari 2009 : 40 – 46 . dan Fahmi Sulistyohadi. Titik nyala untuk SL MHU tidak dapat ditentukan karena kandungan abu yang cukup tinggi mencapai 60.edu/ kawka/Public/coal/tech. Semakin halus ukuran partikel umpan siklon semakin tinggi suhu maksimum yang dicapai sehingga kinerja pembakar siklon meningkat. Summary of Draft Final Report : The Master Plan Study on Pollution Risk Mitigation Program for Sustainable Coal Development in East Kalimantan Province in the Republic of Indonesia. yaitu SL – MHU.answers. Elsevier Scientific Publishing Company. Cyclone furnace : Definition from Answers. 4.C. 4. Bandung. APBI-ICMA.. S. DAFTAR PUSTAKA Current Technology. 2008. semua contoh limbah batubara tipe SL menunjukkan kinerja keterbakaran dari yang terrendah (SL–MHU). Com. 4. Ministry of Energy and Mineral Resources. Nomor13...1.2. Suhala. sedang SL – TH. Munir. http://me-roboto.com/topic/cyclone-furnace Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pembakaran limbah batubara tipe SL dengan pembakar siklon. Laporan Intern Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Pada prinsipnya. ketiga limbah batubara tipe SL yang diteliti masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung dengan menggunakan pembakar siklon. Bandung. 2008. Amsterdam. 20 Oktober 2007. sedang (SL-TH). 2007. Tsai. Indonesia Energy Statistics. Perkembangan Industri Pertambangan Batubara Nasional Peluang dan Tantangannya. kinerja pembakarannya dapat diurut menurut kemudahan keterbakarannya dari yang paling rendah. S. S. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan daya energi alternatif untuk industri. 27 Desember 2007.uiuc. Wikipedia. tinggi SL – BBE. Sumaryono. dan tinggi (SLBBE) sehingga masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung.. ESDM dan JICA Jakarta. Saran Limbah batubara tipe SL yang banyak tersebar di beberapa perusahaan tambang batubara dan belum dimanfaatkan di Provinsi Kaltim perlu dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber 46 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Methods of Burning Coal. Secara umum. Fundamentals of Coal Beneficiation and Utilization.59%.html JICA team. Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas buang hasil pembakaran. 2007. Lokakarya Program Peduli Mahakam. Pembangunan Pilot Plant Teknologi Pembakaran Batubara Dengan Pembakar Siklon. Com.

Jend. utilizing oxalic acid medium generated by the phosphorous oxidizing capabilities of Aspergillus niger in 10 days. PENDAHULUAN Endapan fosfat alam Indonesia kadarnya bervariasi. asam oksalat 1. The results show several features occur during the process. revisi terakhir : Januari 2009 ABSTRACT Bioleaching. Ciamis-Jawa Barat (± 14% kadar P2O5). baik secara fisika maupun kimia. Pengolahan secara fisika melalui peremukan (crush- Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . has proved to be useful in releasing phosphorous from its rocks. Kedua hal ini merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat. microscopic feature. metode tersebut efektif untuk mengolah fosfat. Kata kunci: batuan pembawa fosfat. Salah satu endapan fosfat berkadar rendah berada di Cijulang.PERUBAHAN MORFOLOGI DAN KIMIA BATUAN PEMBAWA FOSFAT AKIBAT PELINDIAN DENGAN ASPERGILLUS NIGER TATANG WAHYUDI Pusat Peneltian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. calcite. Tatang Wahyudi 47 . Fitur mikroskopi yang terdeteksi pada mineral dahlit dan kalsit adalah berkembangnya porositas dan permeabilitas yang terbentuk selama proses pelindian. In terms of evaluating process performance. Porosity and permeability developments on the surface of dahlite and calcite during bioleaching process imply that the process is effective to leach such minerals. Keywords: phosphate-bearing rocks. The detected pits on the mineral surface reflect solution activity when leached the materials. Analisis kimia dan mikroskopik terhadap percontoh ampas pelindian tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi percobaan tertentu. tetapi pada umumnya mempunyai kadar rendah. revisi pertama : 13 Juni 2008. revisi kedua : 20 September 2008. Sudirman 623 Bndung. Banyak pakar yang telah mencoba untuk meningkatkan kadar fosfat dari daerah ini dengan berbagai cara pengolahan. bioleaching. Fitur terdeteksi lainnya berupa alur-alur pada permukaan mineral yang merupakan refleksi aktivitas larutan pelindi ketika ‘memakan’ komponen yang terkandung dalam material terlindi. bioleaching. oxalic acid SARI Pelindian dengan mikroorganisme (bioleaching) menggunakan kapang Aspergillus niger selama 10 hari terhadap batuan pembawa fosfat Cijulang menyisakan ampas pelindian yang menarik untuk dikaji. dahlite. hanya sebarannya bersifat sporadis dan cadangannya kecil.. 022-6030483 Naskah masuk : 06 Januari 2008. Jl. Fosfat berkadar tinggi memang ada. meningkatkan kelarutan matriks material dan memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian tubuh mineral. fitur mikroskopi. Tlp. microscopic and chemical studies were conducted to bioleaching.. kalsit. dahlit. Both are competent agents for leaching solution to contact with the required elements available within the minerals.

ing).html). Keberadaan dahlit dan kolofan diduga akibat pengayaan batugamping oleh kotoran burung (guano) dan air laut (http://en. Tujuannya untuk mengetahui efek proses tersebut terhadap batuan fosfat yang dilindi. Hasil pemercontohan kemudian dikering-ovenkan untuk kemudian difraksinasi di Analisis unsur-unsur dan mineralogi percontoh batuan fosfat menunjukkan hadirnya mineral fosfat yang tergolong ke dalam hidroksilapatit. batuan fosfat yang sudah digerus halus dianalisis menggunakan radiasi Cu-Ká.wikipedia. BAHAN DAN METODE Laboratorium Preparasi. percontoh diuji komposisi kimianya dengan metode kimia basah di Laboratorium Pengujian Kimia. Pada tahap awal. B2 dan B3. mikroskop optik dan SEM-EDX dapat diperoleh informasi mineralogi mengenai fasa.5F dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan dahlit. tekstur dan struktur mikro yang terdapat dalam limbah padat tersebut. 2.1991) juga telah melakukan serangkaian proses untuk meningkatkan kadar fosfat melalui pencucian.com/ bioleaching. Melalui pengujian difraksi sinar-x (XRD). 10 dan 20%. pencampuran (blending). Dahlit memperlihatkan struktur menyerat dan perawakan radial sedangkan kolofan menunjukkan struktur rekahan. Ditinjau dari segi pengolahan mineral. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan Baku (Head Sample) Percontoh batuan fosfat untuk keperluan penelitian ini diperoleh dari daerah Cijulang yang dikenal berkadar rendah. Dalam hal ini. kapang mengeluarkan asam oksalat sebagai hasil samping proses fermentasi asam sitrat yang berperan dalam proses pelindian. A2. 29 menjadi 23. Informasi mengenai fasa serta struktur mikro yang terdapat dalam percontoh head sample juga diperoleh melalui analisis mikroskop polarisasi yang dilengkapi dengan pengujian SEM-EDX untuk mengetahui komposisi unsur-unsur yang terdapat pada permukaan percontoh spesimen. Kendala yang dihadapi dalam mengolah fosfat dengan cara-cara di atas adalah mahalnya biaya pengolahan dan belum dapat diturunkannya material pengotor dalam jumlah signifikan. dilakukan pengujian dengan teknik difraksi sinar-x (XRD) menggunakan alat difraktometer sinar-x Shimadzu XRD-7000. Selain kedua 48 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Hasilnya memang belum bisa memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan oleh industri yaitu 36% kadar P2O5 (Ardha dkk.79% dengan perolehan 70. Thiobacillus ferrooxidans. 2 dan 3 di depan huruf A dan B mengacu kepada persen padatan yang digunakan pada saat pelindian yaitu 5.CO3)3 dan kolofan – sejenis apatit dengan formula empiris Ca5(PO4)2. Thiobacillus thiooxidans dan lain-lain (http://www. Angka 1. Nomor 13.18% (Ardha. Penelitian perubahan morfologi dan kimia batuan pembawa fosfat akibat pelindian dengan kapang menggunakan ampas hasil pelindian dengan kode percontoh A1. Kode A dan B menunjukkan ukuran fraksi umpan pelindian masing-masing -140+200 mesh untuk A dan -200 mesh untuk B.5(CO3)0.moonminer. Selanjutnya untuk mengetahui komposisi mineral head sample.org/wiki/Phosphate). Namun. Dalam proses ini. Salah satu pengolahan alternatif untuk meningkatkan kadar fosfat adalah pelindian dengan jasad renik (micro organism) tertentu (kapang atau bakteri) seperti Aspergillus niger. flotasi. Batuan fosfat Cijulang diolah dengan proses tersebut pada skala laboratorium dengan memanfaatkan kapang Aspergillus niger dengan waktu pemrosesan selama 10 hari. Kepada percontoh tersebut dilakukan pengujian mikroskop polarisasi dan kimia untuk mengetahui perkembangan yang terjadi setelah batuan tersebut dilindi dengan kapang selama 10 hari. kondisi ini menguntungkan karena memudahkan larutan pelindi untuk meresap ke bagian-bagian tertentu tubuh mineral. B1. Interpretasi terhadap informasi tersebut yang dipadu dengan pengujian kimia diharapkan dapat mengungkap kinerja proses bioleaching. sehingga unsur-unsur tertentu yang diinginkan akan mudah dilepaskan. Januari 2009 : 47 – 56 . pengeringan (drying) dan penggerusan (grinding) telah dilakukan oleh Tim Bimbingan Pertambangan Fosfat dari Pusat Pengembangan Teknologi Mineral pada 1984. Limbah pelindian berupa ampas padat menarik untuk dikaji. Mineral tersebut adalah dahlit yang mempunyai formula Ca5(PO4. 1997). 3. Maksud penelitian ini adalah mengevaluasi kenampakan tekstur dan struktur mikro yang terdapat pada percontoh ampas hasil bioleaching.1. A3. kalsinasi dan pemisahan secara magnetik dan mampu meningkatkan kadar fosfat sampai 30% . Ukuran partikel yang diambil untuk keperluan penelitian adalah -140+200 dan 200 mesh contoh awal. Pengolahan secara kimia juga telah dilakukan melalui proses pelarutan HCl tersirkulasi walaupun hasilnya hanya mampu meningkatkan kadar fosfat dari 17. kesulitan peningkatan kadar fosfat disebabkan oleh ikut terlindinya unsur-unsur pengotor. Leptospirillum ferrooxidans. 3.

Metode pengujiannya adalah pemetaan secara sinar-x. Tabel 1. a Gambar 1.000 48. b .org.seafriends. sedangkan kalsium berasal dari dahlit. besi (Fe). aluminum (Al).560 25.nz/oceano/seawater. unsur-unsur belerang dan kalsium masing-masing berkadar 904 dan 411 ppm.5% salinitas air laut.dahlit (D).280 06. Aluminum dan silikon kemungkinan berasal dari mineral silikat yang terkandung dalam fragmen batuan. a .277 1.720 64. percontoh batuan fosfat juga disusun oleh kalsit (CaCO3). kolofan dan kalsit. b c Tiga mineral utama yang terdapat dalam percontoh batuan fosfat Cijulang. mengingat batuan fosfat Cijulang terdapat di area yang berbatasan dengan laut.486 6.960 17. kuarsa (SiO2).kalsit (C) Pengujian unsur-unsur yang terdapat pada permukaan sayatan poles percontoh batuan fosfat Cijulang dilakukan dengan SEM-EDX.kolofane (Cl) dan c .280 02. Mineral opak kemungkinannya berupa magnetit atau hematit hasil pelapukan mineral induknya yang berasal dari fragmen batuan. Kehadiran unsur-unsur bukan pembentuk fosfat pada batuan fosfat Cijulang merupakan unsur-unsur pengotor yang tidak diharapkan. sedangkan besi diduga berasal dari mineral silikat atau opak.521 Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan .013 3. tetapi indikasi ke arah itu ada. Gambar 1 memperlihatkan sebagian komposisi mineral percontoh batuan fosfat head sample.mineral fosfat di atas.htm).080 27. Kuantitas yang relatif cukup untuk terjadinya pengayaan Ca dan S pada batuan fosfat (http:// www. Tatang Wahyudi 49 .739 2. Belerang yang terdeteksi dapat berasal dari material sulfit atau sulfat seperti mineral gipsum atau CaSO4·2(H2O).. silikon (Si) and oksigen (O). Hasil analisis menunjukkan adanya unsur fosfor (P). kalsium (Ca). Informasi mineralogi di atas diperoleh dari pengujian dengan mikroskop optik. apabila mineral fosfat ini diolah untuk keperluan industri tertentu. Pada 3. Mineral tersebut memang tidak terdeteksi pada batuan yang dijadikan spesimen pengujian mikroskop optik atau SEM. Pemetaan unsur-unsur pada salah satu mineral dahlit yang terdapat dalam spesimen sayatan poles batuan fosfat memperlihatkan kalsium lebih banyak terkonsentrasi di bagian kiri bawah sampai tengah mineral (Gambar 3) yang ditunjukkan oleh skala Unsur-unsur pada spesimen percontoh batuan fosfat yang terdeteksi dengan SEM-EDX metode x-ray mapping Unsur teridentifikasi Fosfor (15P32) Kalsium (20Ca40) Karbon (6C12) Aluminum (13Al27) Besi (26Fe56) Silikon (14Si28) Belerang (16S32) Oksigen (8O16) Intensitas (counts) 30. . Tabel 1 dan Gambar 2 memperlihatkan unsur-unsur yang terdeteksi. karbon (C)..690 0.200 Energyi (keV) 2.307 0. Fosfor diduga berasal dari dahlit dan kolofan.398 1. mineral opak (opaque) dan fragmen batuan.

Gambar 2. Diasumsikan. Januari 2009 : 47 – 56 . Satu area berwarna putih di bagian kiri atas foto mengandung unsur besi terkonsentrasi paling banyak. sedangkan konsentrasi karbon terbanyak terdapat di bagian kiri dan kanan mineral. Pengujian percontoh batuan fosfat Cijulang dengan XRD menunjukkan adanya mineral monmorilonit sebagai mineral silikat. silikon dan besi terkonsentrasi paling banyak pada bagian kanan atas foto dan noktak-noktah yang tersebar di bagian kiri atas dan kanan bawah. Kedua mineral ini berasal dari lapukan fragmen batuan. Nomor 13. Fosfor paling banyak terkonsentrasi di bagian kiri bawah dan tengah atas mineral. aluminum. Di samping itu. Kalsit tidak terdeteksi. Komposisi unsur yang terdapat pada batuan fosfat Cijulang yang dianalisis dengan metode energy-dispersive x-ray (EDX) warna merah keunguan. Walaupun konsentrasi unsur terbanyak masingmasing unsur pembentuk fosfat terpisah-pisah (tidak mengelompok menjadi satu). Pengujian XRD ini hanya mendeteksi dahlit sebagai mineral fosfat. dan ini berarti pada bagian tengah mineral masih terdapat unsur fosfor. percontoh yang dianalisis untuk XRD ini (berasal dari bongkah yang dipreparasi sampai fraksi -200 mesh) memang tidak mengandung mineral tersebut seperti terlihat pada Tabel 2. material silikat berasosiasi dengan mineral dahlit. Pengujian kimia batuan fosfat Cijulang head sample mengidentifikasi beberapa unsur dalam bentuk oksidanya (Tabel 3). terdeteksi pula adanya mineral silikat – kuarsa. Keberadaan kalsit memang hanya terdeteksi oleh pengujian mikroskop optik saja melalui penelusuran pada spesimen yang memerlukan waktu lama (karena kecilnya kuantitas mineral tersebut dalam percontoh). tidak berarti bagian tepi mineral tersebut tidak terdapat P atau C. Namun kuantitasnya dibandingkan dengan kuantitas P di bagian kiri bawah dan atas adalah lebih kecil. sebarannya hampir mengikuti pola sebaran aluminum dan silikon. Khusus untuk unsur belerang. pada gambar terdapat dua noktah putih yang dikelilingi oleh warna merah (sudut kiri atas dan tengah kanan gambar). Besi sebagai bagian mineral silikat. Kedua jenis unsur tersebut secara menyeluruh terdapat pada dahlit hanya konsentrasinya di bagian pinggir mineral tidak sebanyak di bagian tengah mineral. Jika dilihat pada Gambar 3. Bagian ini diduga mineral opak. Terdapatnya dua noktah putih mengandung Al dan Si pada hasil pemetaan secara sinar-x menunjukkan bahwa area tersebut adalah partikel silikat. selebihnya unsur belerang merupakan unsur pengganggu yang menyebar di seluruh permukaan mineral. Keterangan yang sama berlaku untuk unsur pembentuk fosfat lainnya (P). Diduga pada bagianbagian tersebut. Percontoh yang dianalisis adalah 50 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Ada kemungkinan kedua noktah tersebut adalah gipsum yang berasosiasi dengan dahlit.

Kelihatannya. Dari ketiga percontoh. karbon (C). yaitu kalsium (Ca). 4H2O SiO2 bongkah yang telah difraksinasi menjadi tiga (3) ukuran partikel yaitu -100+140. silikon (Si). Kuantitas fosfat hasil pengujian kimia tidak berbeda jauh dengan hasil pengujian terhadap percontoh Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . kuantitas fosfat dalam bentuk P2O5 berkisar antara 18 sampai 19%. Pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping pada batuan fosfat Cijulangmendeteksi adanya 8 unsur. Pengujian mineralogi batuan fosfat Cijulang dengan metode XRD Mineral teridentifikasi Dahlit Monmorilonit Kuarsa Formula mineral Ca5(PO4. Tatang Wahyudi 51 .. makin halus partikel makin banyak mineral fosfat (dahlit) yang terbebaskan sehingga ada kenaikan kadar P2O5 walaupun tidak signifikan. aluminum (Al). besi (Fe).. Mg)2 Si4O10 (OH)2.Gambar 3.CO3)3F Na(Al. belerang (S) dan oksigen (O) Tabel 2. fosfor (P). -140+200 dan 200 mesh.

7698 1.7918 16.71 Al2O3 0.739 2.01 12.25 0.069 CaO 22. Unsur oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang terdeteksi oleh pengujian kimia.84 5. Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia.535 TiO2 0.37 MgO 0.2755 37.26 19.00 Error % 0.41 K 11.47 0. memang hasil pengujian SEM-EDX mencantumkan dibandingkan dengan yang kedua. angka yang ditunjukkan relatif mewakili kandungan unsur-unsur yang ada pada percontoh uji.437 P2O5 18. hanya untuk partikel terdeteksi saja. Januari 2009 : 47 – 56 . Unsur oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang terdeteksi oleh pengujian kimia. Pengujian kimia terhadap percontoh batuan fosfat Cijulang Kode -100+140 -140+200 -200 SiO2 17. yaitu pada angka belasan persen.27 100.14 0. Walaupun tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas.39 16. Pada perbesaran tertentu biasanya hanya satu atau dua partikel yang termuat pada monitor. juga oksigen dalam bentuk unsur. Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia.71 Fe2O3 6.5885 3.6433 2.534 0.62 0.05 30. tidak mewakili keseluruhan persentase yang ada. informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan percontoh yang ada.457 0. Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia.82 3.82 16.307 3.209 0. yang pertama.467 0.690 6. pengujiannya lebih bersifat kualitatif dibandingkan dengan yang kedua.67 0.6325 8. kandungan belerangnya memang rendah (dalam unit ppb).52 7.82 21.57 1.53 yang pertama.277 1.58 5. Hasil pengujian kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil nihil.32 2.82% (Tabel 4). Ada keterbatasan pada pengujian SEM-EDX.Tabel 3.208 0. memang hasil pengujian SEM-EDX mencantum-kan juga oksigen dalam bentuk unsur.46 100.65 13.83 5.3861 6.15 9.55 1.013 2.068 0. Keduanya sudah diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4).398 mass % 36.41 2.63 0.61 23. Kemungkinan pada percontoh uji untuk analisis kimia. Karbon (C) memang tidak dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena fasilitas pengujiannya belum tersedia.91 1. angka yang ditujukkan relatif mewakili kandungan unsur-unsur yang ada pada percontoh uji.05 At % 78.212 Na2O % 0.091 0.70 K2O 0. Walaupun tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas.04%).83 2.04 2. hal ini dapat dimengerti. informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan percontoh yang ada.550 0.00 1. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel yang dideteksi hanya 0.486 1. angka tersebut masih dalam kisaran wajar.56 0.62 0. Hasil pengujian 52 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. yaitu material uji terbatas pada material yang terlihat pada monitor saja.40 8. Walaupun kuantitas yang diperoleh untuk P2O5 pada pengujian terahir lebih rendah dibandingkan dengan hasil pengujian kimia (hanya 12.00 Compound C Al2O3 SiO2 P2O5 SO3 CaO FeO mass % 38.33 7. Jadi hasil yang diperoleh hanya mewakili partikel yang terpampang pada layar.95 2. pengujiannya lebih bersifat kualitatif Hasil pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping untuk head sample fosfat Cijulang Element CK O Al K Si K PK SK Ca K Fe K Total (keV) 0. Nomor 13.00 Cation 0. Tabel 4.00 5.02 100. Keduanya sudah diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4).27 5.54 19.76 2. Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia.55 6.56 sejenis dengan metode SEM-EDX (Tabel 4).58 24. hanya untuk partikel terdeteksi saja.19 23.65 1.

Karbon (C) memang tidak dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena fasilitas pengujiannya belum tersedia. Dari kondisi ini dapat diketahui bahwa kedua jenis mineral ini tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah pelindian atau relatif tidak terlindi. Kuantitasnya berkisar antara 95 -99%. meningkatkan kelarutan matriks material dan memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian tubuh mineral (Meyer dan Yen. kuarsa dan fragmen batuan masing-masing habis terlindi pada percontoh A1. pada percontoh uji terdapat pula struktur spons seperti diperlihatkan oleh kalsit (C) semua percontoh ampas yang diuji dengan mikroskop optik (Gambar 5a –f). Keenam foto di atas memperlihatkan adanya aluralur (pits. Struktur menyerat pada mineral ini terlihat makin melebar yang diduga sebagai akibat masuknya larutan pelindi melalui struktur tersebut. Kemungkinan pada percontoh uji untuk analisis kimia. Terlindinya kuarsa dan fragmen batuan yang keduanya merupakan sumber mineral silikat dengan berbagai kandungan unsur pengotornya. Distribusi mineral yang tersisa dalam dalam ampas hasil pelindian Pelindian terhadap batuan fosfat Cijulang telah dilakukan menggunakan metode bioleaching. A2 dan B1. Hasil pelindian berupa filtrat dan ampas. Fitur ini menunjukkan porositas dan permeabilitas yang mengembang sebagai akibat proses pelindian oleh asam oksalat atau karena rusaknya permukaan kalsit (C). Hasil pengamatan mikroskop optik pada ampas tersebut ditabulasikan untuk divisualkan seperti tertera pada Gambar 4. (2008) menyarankan untuk mengatur pH larutan dengan pengadukan berkecepatan rendah. material karbonat akan dengan mudah terangkat dari struktur mineralnya.A3. mineral kalsit mengalami pengecilan ukuran terutama bila dibandingkan dengan kalsit yang belum mengalami pelindian (Gambar 1c). Struktur ini juga merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel yang dideteksi hanya 0. 3. Dalam hal ini. Pelindian yang berlangsung selama 10 hari menyisakan ampas yang masih mengandung mineral dahlit (percontoh A1.2. Dalam hal ini. Muszer dan Karas (2003) menyebutkan bahwa makin kecil ukuran butiran. B1 dan B2 serta A2. Jika dahlit terlindi habis pada percontoh A1. Dari gambar tersebut terlihat bahwa kalsit merupakan mineral yang paling dominan dalam ampas.. empat percontoh lainnya (A1. dahlit terlindi dengan baik pada percontoh. sebenarnya merugikan proses karena unsur-unsur pengotor juga ikut terlindi. A2 dan B1. Selain struktur menyerat.kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil nihil. yang disebut terakhir berupa padatan dan dianalisis dengan mikroskop optik untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi pada mineral fosfat Cijulang setelah dilindi oleh asam oksalat tersebut.82% (Tabel 4). agar logam-logam pengotor dalam larutan atau filtrat hasil pelindian dapat dipisahkan sehingga diperoleh fosfat dengan kemurnian lebih tinggi. hal ini dapat dimengerti. A3. Walaupun kuantitasnya tidak sebanyak mineral kalsit. Pada percontoh asli (head sample yang belum mengalami pelindian). 2002). Dari keenam percontoh. Pada dahlit terlihat seperti retakan-retakan di permukaan mineral tersebut (Gambar 5a. mineral opak merupakan mineral dominan kedua setelah kalsit. Meyer dan Yen (2002) menyebutkan bahwa alur-alur tersebut adalah bekas larutan pelindi ketika kontak Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . Wahyudi dkk. Tatang Wahyudi 53 . Hasil uji mikroskop optik terhadap enam percontoh ampas hasil pelindian telah dilakukan (Gambar 5). asam oksalat yang merupakan metabolit hasil ekskresi kapang Aspergillus niger merupakan media pelindi untuk melarutkan fosfat. e dan f) sedangkan pada kalsit tampilannya sangat halus (Gambar 5c dan f). terlihat bahwa mineral dahlit (D) mempunyai struktur menyerat secara radial (Gambar 1a). makin efektif proses disolusi yang terjadi pada material karbonat. c. kandungan belerangnya memang rendah (dalam unit ppb).. B2 dan B3) masih menyisakan dahlit cukup banyak sebagai mineral yang tidak terlindi. Di lihat dari tampilannya. A3 dan B1. tanda panah putih). Ampas Pelindian Gambar 4. Mineral ini terdapat pada semua percontoh yang diuji secara mikroskop optik. Makin lebar struktur ini makin intensif proses pelindian berlangsung. B2 dan B3).

Bila mengacu kepada Gambar 3. FB – fragmen batuan. asam oksalat hasil ekskresi Aspergillus niger belum mampu melindi total material fosfat dalam umpan pelindian. Pada Gambar 5b dan d. c. Januari 2009 : 47 – 56 . d. natrium. Analisis kimia terhadap ampas hasil pelindian menguji oksida-oksida sejenis seperti tercantum pada Tabel 3.5%). e. B2 dan B3. dan f adalah mineral pembawa fosfat yang telah mengalami pelindian asam oksalat dengan masing-masing dengan kode percontoh A1. b. Distribusi oksida-oksida yang tersisa pada 6 percontoh ampas pelindian bioleaching 54 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. B3. 4 dan 5 ada kesesuaian antara hasil pengujian mikroskop optik dengan analisis kimia – fosfat terlindi habis pada percontoh A2 dan B1. kalsit merupakan mineral dominan yang terdeteksi pada percontoh uji. dengan permukaan material terlindi. magnesium tidak ditampilkan pada Gambar 6. A3. Tidak ditemukan adanya dahlit pada kedua percontih uji. Gambar 6. K – kuarsa. MO – mineral opak. Rodriguez-Lorenzo. tetapi metode tersebut belum dapat diterapkan pada penelitian ini.gov). C – kalsit. a. Kinerja tersebut dapat diketahui secara kuantitatif dengan mengukur luas dan lebar alur melalui metode luas permukaan (surface area). A2. Dari histogram terlihat bahwa kalsium dan kuarsa masih mempunyai kuantitas yang lebih besar dibandingkan ketiga oksida lainnya. Alur ini merefleksikan kuantitas material yang telah terlindi pada area tersebut. B2. Kenampakan mikroskopik pada kedua percontoh tersebut hanya sisa-sisa (remnants) material karbonat. oksida-oksida kalium. B1. Vallet-Reg dan Ferreira (2001) telah melakukan hal ini untuk hidroksilapatit sintetis. Fotomikrograf mineral pembawa fosfat Cijulang. Bentuknya yang tidak beraturan merupakan efek khas kinerja larutan pelindi (http:// www.anl. Oksida fosfat terdeteksi pada percontoh A1. D – dahlit. Karena kuantitasnya relatif kecil (< 0. tidak terdeteksi pada percontoh A2 dan B1.Gambar 5. Hal ini berarti bahwa material fosfat pada percontoh A2 dan B1 terlindi relatif habis sedangkan pada keempat percontoh lainnya. Diasumsikan mineral tersebut pada percontoh uji ini telah terlindi habis dan terubah menjadi filtrat sehingga fitur pits yang menjadi penanda bekas kontak antara larutan pelindi dengan mineral terlindi tidak ditemukan lagi. Nomor 13. A3.

10% padatan) dan B1 (-200 mesh.wikipedia.org/wiki/Phosphate. dahlit dan kolofan.40 http://www. mineral opak. CA 9007.htm. C dan O) tidak merata.55 Meyer. 5% padatan) efektif dalam melepaskan unsur fosfor dari ikatannya. University of Southrn California. M.Met.. T.moonminer. M. dan Rasyad.C. Pada dahlit ditunjukkan dengan semakin lebarnya struktur menyerat yang dimilikinya.. Dua mineral yang disebut terakhir merupakan mineral fosfat yang tergolong ke dalam kelompok hidroksilapatit. Contoh kongkrit ditunjukkan oleh mineral kalsit yang memperlihatkan struktur spons yang tersusun karena pengecilan ukuran partikel kalsit atau rusaknya permukaan kalsit. Hal ini menguatkan bahwa endapan fosfat Cijulang memang berkadar rendah. DAFTAR PUSTAKA Ardha.. kuarsa. n. Dra. diakses pada 02/02 .Sc. Sri Handayani. distribusi unsur-unsur penyusun mineral fosfat tersebut (Ca. Pengujian secara kimia dan mikroskop optik terhadap enam percontoh ampas pelindian bioleaching menunjukkan bahwa material fosfat terlindi habis pada percontoh A2 dan B1. diakses pada 05/02/09.E atas masukan-masukan yang diberikan selama penulisan makalah.S.00 http://en. 6. jam 14.4.. 1991.seafriends.. Makalah Teknik no. Selama pelindian. Henry. kondisi percoban bioleaching untuk percontoh A2 (-140 mesh+200 mesh. Pengujian secara kimia terhadap head sample menunjukkan bahwa batuan fosfat Cijulang berkadar rendah (18 – 19%). Dahlit memperlihatkan struktur mikro radial menyerat sedangkan struktur mikro yang terdapat pada kolofan berupa rekahan (fracture). 148. diakses pada 03/02/09. penggunaan jasad renik lain seperti Baccillus sp. jam 11. h. jam 9. Soenara. H. T. dan Yen. Purnomo.F.html. http://www. diakses pada 02/02/09 .. 2003. Selain itu. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. Uji Pelindian batugamping Fosfatan dengan Asam dan asam Tersirkulasi untuk Peningkatan Kadar Fosfat. kalsit. untuk mengurangi ikut terlindinya unsur-unsur pengotor. 94 – 98.org. Disarankan pada penelitian lanjutan yang akan dilakukan pada skala meja dilakukan pengaturan pH dengan pengadukan berkecepatan rendah. Pengembangan porositas dan permeabilitas juga terjadi pada dahlit dan mineral lain. Department of Geological Sciences and Chemical Engineering. Ngurah Ardha. Laporan Teknik Penelitian. 1. jam 11. Ris. Penelitian ini didanai oleh Proyek Penelitian dan Pengembangan Mineral Tahun Anggaran 2008. namun masih tersisa pada empat percontoh lainnya. Bila mengacu kepada hasil xray mapping salah satu partikel mineral fosfat (dahlit). Mineralogical Society of Poland – Special Pa- Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral. Ardha. h. yang telah melakukan proses bioleaching batuan fosfat Cijulang. Muszer.nz/oceano/seawater. Pengujian kimia dan mikroskopi terhadap ampas hasil pelindian bioleaching menggunakan kapang Aspergillus niger tidak bersifat selektif dalam melindi unsur-unsur yang terdapat dalam batuan fosfat. N. Application Of Microscopic Mineralogical Analysis Of Copper Concentrate After Bioleaching Process. The Effect of Bioleaching on Green River Oil Shale.anl. Upaya Peningkatan Mutu Fosfat dari Batuan fosfat Kadar Rendah Cijulang – Ciamis.gov. P. sebagai media pelindi batuan pembawa fosfat layak dicoba untuk mengetahui kinerjanya apakah lebih baik dari kinerja kapang atau tidak. Kondisi ini berakibat pada semakin luasnya permukaan partikel untuk kontak dengan media pelindi yang ditunjukkan dengan terdeteksinya alur-alur halus yang merupakan refleksi aktifitas larutan pelindi ketika ‘memakan’ komponen-komponen yang ada pada mineral tersebut. Antoni dan Karas. W. 2002. 1997. N. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. 1 – 7. KESIMPULAN DAN SARAN Batuan pembawa fosfat (phosphate-bearing rocks) dari daerah Cijulang disusun oleh fragmen batuan. thn. S. Tatang Wahyudi 55 . Terlepas dari kuantitas persen ekstraksi yang diperoleh. terjadi pengembangan porositas dan permeabilitas pada mineral yang terlindi.05 http://www. sehingga percontoh ampas yang dihasilkan dapat dikaji kembali secara kimia dan mineralogi.com/bioleaching.

Pengembangan Bioteknologi untuk Pengolahan Mineral (Studi Kasus : Ekstraksi Fosfat dari Endapan Fosfat Alam dengan Metode Bioleaching). Tim Bimbingan Pertambangan Fosfat. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. MSP – Poland. 22. Januari 2009 : 47 – 56 . dan Ferreira. 2001. 56 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. T. M. J.M. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum. h. Vallet-Reg. 1984. Fabrication of hydroxyapatite bodies by uniaxial pressing from a precipitated powder. Biomaterials n. 2008. L. Kabupaten Ciamis..F. Laporan Teknik Penelitian (dalam proses cetak). dkk. Bimbingan Pertambangan Fosfat di Batukaras Kecamatan Cijulang. 583-588.M. Rodriguez-Lorenz. Wahyudi. Bandung:Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. Nomor 13.pers v 22.

nomor telpon dan faksimili. bila naskah sudah diterima atau bila naskah tidak sesuai untuk penerbitan ini. Naskah dalam disket/CD akan sangat membantu dalam proses peredaksian. 623 Bandung 40211. Naskah diketik dalam dua spasi menggunakan kertas ukuran A4 dengan lebar margin kanan dan atas 3 cm serta kiri dan bawah 2 cm. 13. Hanya artikel-artikel yang dipublikasikan yang dimasukkan sebagai referensi. Naskah ditulis secara ringkas sesuai isinya. serta alamat e-mail (bila ada). agar dijelaskan cara memperoleh bahan tersebut. Gambar dan tabel harus diberi judul dengan jelas dan dalam kertas terpisah serta ditunjukkan mengenai penempatan gambar dan tabel tersebut dalam naskah tulisan. Nama organisasi. Jend. penerbit. Foto harus jelas dan siap untuk dicetak (tidak dalam bentuk negatif film). tinggi huruf dalam peta tersebut tidak lebih kecil dari 1. Sudirman No. Pengutipan seminimal mungkin. Naskah harus asli dan belum pernah diterbitkan dalam publikasi lain. Bila pengutipan melebihi 250 kata penulis harus memperoleh izin tertulis dari penerbit dan penulis referensi yang bersangkutan. judul referensi. Redaksi akan melakukan seleksi dan memberitahukan ke penulis. Bilamana mengacu kepada artikel yang tidak dipublikasikan. Kata kunci ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. kota tempat buku diterbitkan dan halaman. 11. 3. 9. alamat. 8. Izin untuk memproduksi hak cipta material adalah tanggung jawab penulis. 5. Urutan penulisan : nama penulis. 4. Judul naskah harus bersifat deskriptif dan ringkas. Jumlah halaman naskah tidak ditentukan. Peta maksimum berukuran A4 dan harus memakai skala dan arah utara.5 mm. Petunjuk Bagi Penulis 57 . Catatan kaki supaya dihindarkan. Semua huruf dalam peta harus jelas dan bila ukuran peta harus diperkecil. Naskah dan berkas dalam disket/CD dikirim ke Pemimpin Redaksi Jurnal tekMIRA. 10. 2. Nama penulis diketik pada halaman pertama di bawah judul naskah. tahun penerbitan. 6. 7. Intisari (abstract) naskah memuat ringkasan yang jelas. Hanya rumus matematika yang penting yang dimuat dalam naskah. Jl. Daftar pustaka ditulis secara alfabetis.Petunjuk Bagi Penulis 1. 12.