ISSN 1979 – 6560

Teknologi Mineral dan Batubara
Daftar Isi

Jurnal

Volume 5, Nomor 13, Januari 2009
No Akreditasi : 36/Akred-LIPI/P2MBI/9/2006

Daftar Isi ................................................................................................................................................. i Sekapur Sirih .......................................................................................................................................... ii Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi di Pantai Selatan Kulon Progo, Yogyakarta .................................................................... 1 - 16 Bambang Yunianto Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Skala Kecil dari Batubara Kadar Abu Tinggi .......................................................................................................................... 17 - 30 Suganal Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik: Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4 .................... 31 - 39 Slamet Suprapto Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan Timur dan Karakteristik Pembakarannya................................................................................................ 40 - 46 Stefano Munir dan Ikin Sodikin Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan Aspergillus Niger ............................................................................................................. 47 - 56 Tatang Wahyudi Petunjuk Bagi Penulis .......................................................................................................................... 57

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara terbit pada bulan Januari, Mei, September dan memuat karya ilmiah yang berkaitan dengan litbang mineral dan batubara mulai dari eksplorasi, eksploitasi, pengolahan, lingkungan, kebijakan dan keekonomiannya. Redaksi menerima sumbangan naskah yang relevan dengan substansi terbitan ini. Biaya langganan : Rp 105.000,-/tahun di luar ongkos kirim, harga eceran Rp 35.000,-/eksemplar.
EDITOR IN CHIEF PEMIMPIN REDAKSI REDAKTUR PELAKSANA EDITOR STAF REDAKSI PENERBIT ALAMAT REDAKSI : Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Hadi Nursarya : Umar Antana : Binarko Santoso (Ketua), Tatang Wahyudi, Sri Handayani, Datin Fatia Umar, Jafril, Miftahul Huda, Husaini, I. G. Ngurah Ardha, Siti Rafiah Untung dan Fauzan : Umar Antana, Nining Trisnamurni, Mining Emiliastuti, Rusmanto, Bachtiar Effendi dan Arie Aryansyah : Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara : Jl. Jend. Sudirman 623 Bandung 40211 Telpon : (022) 6030483 - 5, Fax : (022) 6003373 e-mail : publikasitekmira@tekmira.esdm.go.id / publikasitekmira@yahoo.com

Keterangan gambar sampul depan : Pengembangan buah naga oleh petani di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo (atas); Contoh limbah batubara SL dengan pembakar siklon (bawah)
i

Sekapur Sirih
Pada awal 2009 ini, Undang-Undang Nomor 4/2009 tentang pertambangan mineral dan batubara telah diterbitkan untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 11/1967 yang dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan tuntutan zaman. Hal-hal penting yang tertera pada klausul-klausul undang-undang baru tersebut, terkait erat dengan masalah peningkatan nilai tambah mineral, pendayagunaan dan peningkatan pemanfaatan potensi sumber daya mineral dan batubara, penciptaan daya tarik investasi dan perlindungan lingkungan serta konservasi sumber daya mineral dan batubara. Semua hal ini juga sejalan dengan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya mineral dan batubara yang dikenal dengan istilah praktek-praktek pertambangan dengan baik dan benar (good mining practices). Apabila hal-hal ini benar-benar dilaksanakan oleh para pemangku kepentingan pertambangan sesuai dengan semangat baru tersebut, beragam permasalahan pertambangan yang rentan terhadap konflik kepentingan antarsektor pembangunan dan masyarakat sekitar operasi penambangan, dapat diantisipasi dan diminimalisasikan sedini mungkin. Pada nomor terbitan jurnal kali ini, beragam makalah ilmiah yang mendukung paradigma baru bidang pertambangan tersebut mencakup permasalahan lingkungan sosial-ekonomi dan peningkatan kelitbangan dalam bidang teknologi mineral dan batubara. Kajian permasalahan lingkungan dan sosial-ekonomi rencana tambang pasir besi menggambarkan dengan jelas konflik kepentingan dalam penggunaan lahan antarsektor pertambangan dan pertanian yang dilakukan oleh masyarakat sekitar lokasi tambang. Permasalahan ini bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antarsektor tersebut. Konflik ini dapat memicu pengurangan minat berinvestasi dalam sektor pertambangan, karena adanya ketidakpastian hukum dan tumpang-tindih penggunaan lahan. Proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi dari batubara kadar abu tinggi merupakan usaha pemanfaatan batubara secara nasional sesuai dengan rancangan pengelolaan energi nasional untuk memenuhi pencapaian energi bauran pada 2025. Batubara berkadar abu tinggi di Indonesia dapat digunakan untuk pembuatan briket batubara yang memenuhi persyaratan teknis dan lingkungan. Blending batubara untuk pembangkit listrik dilakukan untuk mengatasi masalah pemasokan batubara untuk PLTU Suralaya. Sistem blending ini dapat dilakukan dengan mencampurkan antara batubara peringkat rendah dengan peringkat tinggi sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara Indonesia yang terkait dengan nilai kalornya. Hubungan antara parameter karakteristik limbah batubara dan karakteristik pembakarannya menunjukkan potensi pemanfaatan limbah batubara yang dapat dimanfaatkan sebagai energi alternatif untuk bahan bakar langsung dengan menggunakan pembakar siklon. Perubahan morfologi dan kimia batuan pembawa fosfat dengan pelindian mikroorganisme menyisakan ampas pelindian. Pengujian kimia dan mikroskopis yang telah dilakukan terhadap ampas tersebut menunjukkan kinerja yang baik dengan melakukan pengaturan pH untuk mengurangi keikutsertaan unsur-unsur pengotornya dalam proses pelindiannya. Peningkatan kelitbangan dalam bidang teknologi mineral dan batubara yang tertuang dalam makalah-makalah tersebut perlu terus ditingkatkan, karena kualitas mineral dan batubara Indonesia harus memenuhi spesifikasi keteknikannya untuk menghasilkan komoditas yang dapat dimanfaatkan, baik secara langsung oleh para penggunanya di tanah air maupun sebagai komoditas ekspor. Dengan demikian, optimalisasi pemanfaatan sumber daya mineral dan batubara tersebut dapat terlaksana, sesuai dengan arahan yang telah tertuang dalam undang-undang dan paradigma baru dalam mengelola sumber daya mineral dan batubara. Editor

ii

dengan alasan masalah lingkungan dan sosial ekonomi. Jogja Magasa Mining (PT. seluruh tahapan telah sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia dan praktek-praktek pertambangan internasional. Sedangkan secara ekonomi. antara lain terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas baik pada kegiatan penambangan. pengolahan. Krakatau Steel (PT.6 juta ton.esdm. Secara prosedural perizinan. ditolak sebagian masyarakat petani yang mengusahakan lahan tersebut. JMM dan Indo Mines Ltd.KAJIAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN DAN SOSIAL EKONOMI RENCANA PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN PASIR BESI DI PANTAI SELATAN KULON PROGO. tidak menyalahi tata ruang kawasan pantai pesisir selatan dan sudah sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). konflik sektoral. Jenderal Sudirman No. permasalahan bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi antara sektor pertanian dengan pertambangan. Wilayah Kontrak Karya (KK) PT. Menurut Bappeda Kabupaten Kulon Progo. sedang memasuki tahap studi kelayakan dan AMDAL yang dibantu oleh UGM. meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar lingkar proyek melalui program pengembangan masyarakat. Saat ini kegiatan PT. termasuk PT. Produksi direncanakan 500. JMM) untuk menghasilkan pig iron di Kabupaten Kulon Progo. Kata kunci:pasir besi. Penambangan menerapkan tambang kering dan proses ekstraksi dilakukan dengan teknologi Autokumpu seperti yang diterapkan di New Zealand Steel. kegiatan PT. maupun industri pendukungnya. DIY. 022 – 6030483 Ext. peningkatan PAD. Panjatan dan Galur. beberapa keuntungan yang akan diperoleh pemerintah dan masyarakat. Bandung – 40211 Telp.go. Berdasarkan analisis. Wates. membantu industri baja nasional (PT.. isu lingkungan dan sosial ekonomi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan .. Deposit pasir besi sekitar 33. YOGYAKARTA BAMBANG YUNIANTO Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. revisi terakhir : Januari 2009 SARI Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. KS) dan Indo Mines Ltd. revisi pertama : 06 Desember 2008. Bambang Yunianto 1 . rencana penambangan dan pengolahan. berada dalam lahan Pakualaman pada kawasan sepanjang 22 kilometer pesisir Kulon Progo. Reklamasi akan dilakukan sejauh 200 meter ke darat dengan dibuat gumuk artifisial dan ditanami cemara udang. 623. JMM.id Naskah masuk : 11 Nopember 2008. Krakatau Steel). revisi kedua : 12 Desember 2008. di wilayah Kecamatan Temon. 227 e-mail : yunianto@tekmira. Jl. JMM dan Indo Mines Ltd. dan merupakan satu-satunya industri pig iron di Asia Tenggara.000 ton per tahun dan umur tambang diperkirakan sampai 25 tahun.

Jogja Magasa Mining (PT. Wilayah konsesi KK PT. the issues are caused by the lack of socialisation and coordination between the sectors of agriculture and mining. maka sebagian besar masyarakat menolak untuk dijadikan lahan pertambangan. KS) dan PT. Panjatan and Galur. JMM) to produce pig iron in the Kulon Progo Regency-DIY. JMM) ini berizin Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bupati Kulon Progro. is rejected by some farmer communities that have used the land due to the environmental and socio-economic issues. Panjatan dan Galur. including PT. sectoral conflict. Keywords: iron sand. Nowadays. Krakatau Steel (PT. Jogja Magasa Mining (PT. Proyek tersebut merupakan kerja sama antara PT. 2007). and it will be the sole pig iron industry in the Asean region. some benefits that will be obtained by the regional government and the community consist of wide job opportunities from the mining operation. increase of the regional revenue. The iron sand deposit is 33. PT KS saat ini adalah salah satu perusahaan baja hilir terbesar di Indonesia. karena wilayah tersebut sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat pantai sebagai lahan pertanian. Economically. increase the national steel industry (PT. Yogyakarta terus bergulir. Wates. kegiatan pertambangan pasir besi yang akan dilakukan PT. Indo Mines Ltd. yang akan membangun pabrik untuk mengolah pasir besi. Setelah berbagai proyek pertanian masuk. JMM (termasuk PT. sedangkan kawasan pantai sebelah barat Sungai Progo ke arah Kutoarjo merupakan tanah Pakualaman/ Pakualam Ground (BPS Kabupaten Kulon Progo. JMM. The mining will apply dry mining method. Pada awalnya. the mining activity is in a line with the spatial use of the south coastline. kawasan pantai sebelah timur Sungai Progo ke arah Kabupaten Bantul merupakan milik kraton Yogyakarta (Sultan Ground). Menurut status tanah. Wates. Oleh karena ada unsur penanaman modal asing (PMA). Wates. processing. kawasan pantai selatan tersebut terbagi dua. baik di daerah maupun Pusat dan lokasi kegiatan meliputi wilayah yang luas di 4 Kecamatan di Kabupaten Kulon Progo. Reclamation will be conducted in a 200 m long toward inland by making an artificial dune with plants of cemara udang. environmental and socio-economic issues 1. is located in the Pakualaman land along 22 km of the Kulon Progo coast of the Districts of Temon.6 million tons. Nomor 13. According to the Agency for Regional Development Planning of the regency. yang mendapat bantuan dan dukungan proyek pengembangan pertanian kawasan pantai. merupakan perusahaan tambang dari Australia. KS) and Indo Mines Ltd.000 tons/year. PENDAHULUAN Polemik mengenai isu rencana penambangan dan pengolahan pasir besi untuk menghasilkan pig iron di Kabupaten Kulon Progo. The production is planned to be 500. Krakatau Steel (PT. meskipun status tanah merupakan tanah Pakualaman. According to the analyses. mining and processing plans. the company activity is reaching the stages of feasibility study and environmental impact study assisted by Gajah Mada University. KS dan Indo Mines) meliputi kawasan sepanjang 22 kilometer pesisir Kulon Progo. Masyarakat daerah ini mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian sejak sebelum tahun 2000. supporting industries. dan masyarakat kawasan pantai ini banyak mengalami 2 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. KS). yang berada dalam wilayah 4 kecamatan. The area of the work-contract of the company. yaitu Temon. whilst the age of the mining is assumed 25 years. secara signifikan lahan pertanian tersebut mampu ditingkatkan produktivitasnya. Panjatan dan Galur. improvement of the community prosperity around the project through the community empowerment program. dengan nilai investasi 600 juta dolar AS. Permasalahan mulai terjadi. and the process of extraction will use autokumpu technology as applied in the New Zealand Steel. Procedurally. Januari 2009 : 1 – 16 . Permasalahan tersebut masih tetap akan berlanjut mengingat banyak pemangku kepentingan (stakeholders) yang terlibat.ABSTRACT The plan of mining and processing of iron sand carried out by PT. yaitu Temon. maka Kuasa Pertambangan (KP) Eksplorasi Bupati Kulon Progo tersebut ditingkatkan menjadi KK pertambangan. all the stages are in accordance with the national prevailing regulations and the international mining practices.

sehingga muncul perlawanan dari beberapa kelompok tani. sejalan dengan semakin gencarnya sosialisasi yang dilakukan oleh PT. Pleret. Selanjutnya. 2006). Temon. maupun sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo. JMM Lokasi rencana kegiatan pertambangan pasir besi PT. Bugel. Sindutan. Dari hasil eksplorasi diperoleh kesimpulan bahwa total cadangan pasir besi Kulon Progo adalah sekitar 605 juta ton dengan kandungan Fe sekitar 10. yaitu digunakannya berbagai parameter keilmuan dalam membahas permasalahan utama yang dikaji. Hasil pemboran telah dianalisis di Laboratorium Konsultan Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . Dalam survei lapangan. KP008/KPTS/KP/EKPL/X/ 2005 yang diperbaharui dengan No. JMM (Indo Mines Ltd.000 ha. DIY untuk mencari pemecahannya yang terbaik. Kelompok Tani Ngudi Rejeki. Kelompok Tani Karangwuni.2. suara pro dan kontra terhadap kehadiran proyek tersebut mulai terpecah. Teknik PT. Kegiatan Eksplorasi Metodologi yang dilakukan menggunakan pendekatan multidisiplin ilmu. dokumentasi. dan PT. Karangsewu dan Banaran (Gambar 2). Kegiatan eksplorasi dilakukan dengan metode Aircore Drilling sebanyak 929 titik lubang bor. JMM tersebut ditingkatkan menjadi Kontrak Karya (KK) dengan menggandeng Indo Mines PTY Ltd. meliputi desa-desa: Karangwuni. KS).kemajuan. inventarisasi data.. METODOLOGI pengolahan dan analisis data menggunakan teknik deskriptif. 3.8% dan proporsi tertinggi cadangan pasir besi pada kedalaman 6-8 meter dari permukaan dengan total cadangan sekitar 273 juta ton dengan kandungan Fe sekitar 14. JMM. Bambang Yunianto 3 . dan wawancara langsung ke sumber data. seperti Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo. dan dapat memberi masukan kepada pihak-pihak yang terkait dalam penyelesaian permasalahan tersebut. dengan melakukan pemboran eksplorasi pada 929 titik dengan kedalaman rata-rata 16 meter. JMM. DIY. Eksplorasi dilakukan pada area sekitar 2 x 22 km. Dalam proses selanjutnya. Bugel. Garongan. baik di tingkat kabupaten. Wates. yaitu Galur. kompilasi dan eksplanatori. selain dilakukan pendataan pada sumber data utama juga dilakukan pendataan pada pemilik kepentingan lainnya. Maksud penulisan ini adalah menginventarisasi permasalahan mengenai rencana kegiatan penambangan dan pengolahan pasir besi di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. Pleret. Palihan. (PT. JMM telah menyelesaikan aktivitas eksplorasi pasir besi di Kulon Progo pada akhir 2006. Secara umum penelitian dilakukan dengan survei lapangan ke lokasi rencana penambangan dan pengolahan pasir besi di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo.. 2. JMM sesuai Keputusan Depperindagkoptamb No. Jenis data yang dikumpulkan dan digunakan dalam kajian berupa data primer dan data sekunder.1. Data primer berupa informasi yang langsung berasal dari responden. RENCANA PENAMBANGAN DAN PENGOLAHAN PASIR BESI Lokasi dan Wilayah Konsesi PT. yang dilakukan pada 28 April – 2 Mei 2008. dan Banaran seperti ditunjukkan oleh Gambar 3 (PT. Garongan. 2006a). atau melalui orang-orang kunci (formal dan nonformal) masyarakat pantai. JMM terletak di pesisir selatan Kabupaten Kulon Progo. Teknik penelitian yang digunakan adalah observasi.2%. meliputi 4 kecamatan dengan desa-desa: Jangkaran. dengan luas ± 3000 ha. Luas konsesi Kuasa Pertambangan (KP) PT. 3. sedangkan data sekunder berupa data dan informasi dari PT. Karangsewu. 11/KPTS/KP/ EKPL/X/2006 adalah ± 4. Wates dan Panjatan (Gambar 1). Metode penelitian yang diterapkan menggabungkan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Masyarakat dan kelompok tani Desa Banaran yang dulunya menolak kini menjadi mendukung setelah mendapat kepastian mengenai lahan garapannya dan manfaat yang akan didapat dari adanya proyek tersebut. JMM dan dinas terkait. KP PT. Tidak dijumpai resistensi dari warga didaerah eksplorasi karena semua kewajiban yang berupa ganti rugi dan lain-lainnya diselesaikan dengan baik dan tepat waktu. 3. Hasil laporan eksplorasi pasir besi Kulon Progo telah mendapatkan sertifikasi internasional dari JORC (Joint Ore Reserve Committee) suatu badan akreditasi cadangan mineral internasional. baik sosialisasi ke masyarakat langsung. Karangwuni. meliputi 4 kecamatan. Glagah. provinsi maupun pusat.

Lokasi rencana penambangan pasir besi PT. Nomor 13. JMM di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo 4 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.  Gambar 1. Januari 2009 : 1 – 16 .

Peta lokasi wilayah KP PT. JMM .  Gambar 2.. JMM Gambar 3.Indo Mines Ltd. Peta lokasi wilayah KK PT. Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan .. Bambang Yunianto 5 .

permukaan rata-rata air tanah di wilayah KK dan juga berdasarkan faktor wind blow.000 ton/ tahun. yaitu gravity concentration dan magnetic separation kadar perolehan Fe akan dapat ditingkatkan sampai 58 . maka lama penambangan akan berkisar kurang lebih 25 tahun. 2006b). JMM di Kabupaten Kulon Progo 6 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. PENANAMAN CEMARA UDANG (PENCEGAH ABRASI PEREDAM TSUNAMI) PRE-CONCENTRATION PLANT PENAMBANGAN Tree Tree LAUT PRA KONSENTRAT BIJI BESI PANTAI 200M (AREA PENAMBANGAN) Gambar 4.000 ton pig iron per tahun selama 15 tahun. Kepala Laboratorium Fisiologi Pohon dan Bioteknologi Kehutanan UGM.000 ton/ bulan (PT. sebagai pencegah abrasi. 2006b). Hasil tes awal dengan menggunakan teknologi Autokumpu.8 km wilayah pantai selatan Kabupaten Kulon Progo terdapat cadangan mineral pasir besi 240 juta ton. c) Areal penambangan berada pada jarak sekitar 200 meter dari garis pantai ke arah darat. erosi dan peredam tsunami dan telah terbukti pada percobaan di sepanjang pantai Samas dan Pandansimo (Skema rencana penambangan dapat dilihat pada Gambar 4 dan 5). menunjukkan bahwa pasir besi di Kulon Progo dapat ditingkatkan perolehannya (recovery) dari 14% Fe menjadi 50% Fe hanya dengan menggunakan satu proses/tingkat konsentrasi gaya berat (gravity concentration). yaitu d) minimal 4. JMM. dengan kadar 14% Fe. Januari 2009 : 1 – 16 . dengan produksi 700. atau 41.Geologi Mackay & Schnellman Pty Ltd menggunakan JOCR Standard.6 juta ton Fe. Berdasarkan penelitian Suhardi (PT. Apabila dilakukan dengan beberapa tingkat (multiple stage).5 juta ton Fe. produksi per tahun. JMM. tanaman ini sangat efektif untuk pencegahan abrasi. Nomor 13. Dengan jumlah cadangan yang ada di zona ekonomis wilayah KK. Pengolahan Pasir Besi dan Pengelolaan Lingkungan b) 3. dan akan dibuatkan ’barrier’ atau tanggul dan ditanami pohon cemara udang. Skema rencana penambangan pasir besi PT.60%. Cadangan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo (untuk kedalaman sampai dengan 6 meter) setara dengan 33. Teknik tersebut telah dilakukan selama 30 tahun untuk operasi pengayaan pasir besi di New Zealand. Produksi akan dilakukan sebesar 500.000 ton pig iron per tahun.3. Rencana Penambangan. hal ini melebihi dari kebutuhan minimum Indo Mines Limited. Secara garis besar hasil eksplorasi sebagai berikut: a) Di sepanjang 22 km dan lebar 1. cukup untuk memasok produksi minimal 300.

Pada tahun kedua setelah penambangan. Untuk mendapatkan produk pig iron sekitar 1 juta ton per tahun. Pengolahan dan peleburannya akan menerapkan teknologi Outokumpu seperti yang dilakukan di New Zealand Steel dan menjadi yang pertama di Indonesia. penambangan dapat berpindah ke blok selanjutnya apabila blok sebelumnya telah selesai ditambang dan direklamasi. Pre-konsentrat mineral besi (20%) akan diangkut dan kemudian diproses di pabrik konsentrat.. sedangkan sisanya sebanyak 80% berupa pasir halus akan dikembalikan lagi ke lokasi galian tambang sebagai bagian dari proses reklamasi. dengan menggunakan air laut atau air tawar sebagai bahan pencuci. Berdasarkan wawancara langsung dengan Tejoyuwono Notohadiprawiro Dosen Ilmu Tanah UGM. Skema cara penambangan Sistem penambangan menggunakan metode pengupasan (strip mine) secara kering.. Kedalaman penggalian kurang lebih 6 m dengan total penurunan lahan maksimal 80 cm (PT. Oleh karena itu. JMM. sehingga beratnya menjadi hanya 10% dari total galian pasir besi dan sisanya akan dikembalikan lagi ke lokasi galian tambang sebagai bahan reklamasi. Pasir besi yang digali akan diangkut dan dimasukkan dalam proses pencucian dan penyaringan. menyatakan bahwa area lahan pasir besi bukan lahan yang bernilai pertanian. dengan alat pemisah magnetik. maka setiap tahun perlu dilakukan penambangan pada areal sejauh 200-400 m dari bibir pantai pada batas pasang tertinggi dengan kedalaman sekitar 6 m. dengan umur tambang per blok 8-12 bulan. Melalui proses penyaringan dan pemisahan gaya berat (gravity concentration) akan diperoleh 20% pre-konsentrat mineral besi. Hal ini berbeda dengan yang dilakukan PT Antam Tbk. Dengan dihilangkan kandungan logamnya. menghasilkan mineral besi/logam yang terpisahkan dari pasir halus. daerah bekas area penambangan akan dapat ditanami kembali dengan produk agrikultur yang lebih bernilai ekonomis. pada tambang pasir besi Cilacap dan Kutoarjo yang menggunakan monitor air dengan menerapkan metode tambang semprot. 2007). dan ditambah dengan tanah dan dipupuk.Gambar 5. maka daerah reklamasi akan menjadi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . Bambang Yunianto 7 . Penambangan dilakukan per blok.

Rencana pembangunan pabrik pengolahan pasir besi terpola dalam kerangka industri baja terpadu. yaitu industri baja yang dimulai dari proses penambangan pasir besi sampai dengan proses pembuatan pig iron sebagai bahan baku utama baja. Pasir besi dikirim ke pabrik peleburan untuk diolah 8 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Januari 2009 : 1 – 16 . Industri baja terpadu ini menganut kriteria berikut: PENAMBANGAN PASIR BESI VANADIUM SLAG (BAHAN BAKU BAJA TAHAN KARAT) KONSENTRAT PASIR BESI PASIR BESI CONCENTRATOR (DENGAN MAGNIT) PENCUCIAN DAN PENYARINGAN BATUBARA PABRIK BESI WANTAH (PIG IRON) KONSENTRAT PASIR BESI PIG IRON (BAHAN BAKU BAJA) PASIR HALUS BATUKAPUR PASIR SLAG (DAPAT DIPAKAI BAHAN PERKERASAN KONSTRUKSI JALAN) REKLAMASI CATATAN : DALAM JANGKA PANJANG AKAN DIKEMBANGKAN INDUSTRI BILLET BAJA Gambar 6. Nomor 13. sebagaimana ditunjukkan oleh bagan alir pada Gambar 6 dan 7.lebih subur dan bernilai pertanian. Bagan alir rencana industri baja terpadu di Kabupaten Kulon Progo Gambar 7.

kantor. d) lain yang diperlukan sehingga diharapkan produksi pertanian meningkat. Tahapan reklamasi dan bentuk penampang lahan setelah reklamasi Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan .a) b) c) d) Untuk pabrik pengolahan diharapkan tidak jauh dari lokasi penambangan. dengan tahapan sebagai berikut: a) Material bukan pasir besi setelah dipisahkan langsung dikembalikan. supaya bersatu dengan kegiatan penambangan sebagai sumber bahan bakunya yang juga terdapat di Kabupaten Kulon Progo. Ini salah satu alasan pabrik pengolahan ada di Kulon Progo. tanah liat. andesit. untuk keluar masuk hasil produksi dan bahan pendukung industri. b) Reklamasi diwajibkan untuk setiap blok dengan teknik pengembalian perlajur sehingga proses reklamasi beriringan dengan proses penambangan/pengolahan. 2007). e) Untuk konstruksi pabrik. JMM. c) Pasokan listrik dapat bersumber dari PLN atau akan dibuat pembangkit tenaga listrik sendiri. Setelah selesai direklamasi. Bahan pendukung untuk konstruksi pabrik dan proses pengolahan semua tersedia di wilayah Kulon Progo seperti mangan. jalan dan pemukiman karyawan akan memanfaatkan sumber daya lokal yang ada di Kabupaten Kulon Progo (PT. batugamping. JMM. 2007). Dalam pengelolaan lingkungan diterapkan teknik reklamasi/pengembalian fungsi lahan seperti ditunjukkan pada Gambar 8. Bambang Yunianto 9 .. Gambar 8. Metode pengolahan mengacu pada apa yang dilakukan di New Zealand dengan menggunakan 3 macam alternatif pengolahan (PT. lahan akan difungsikan kembali sebagai lahan pertanian atau sesuai peruntukannya. c) Lahan hasil reklamasi akan dibuat lebih subur dengan penambahan pupuk organik dan bahan Pembangunan berbagai sarana pendukung akan direncanakan sebagai berikut: a) Sarana transportasi akan menggunakan dan mengembangkan sarana jalan yang sudah ada dan membuat sarana jalan yang baru sesuai dengan kebutuhan industri. b) Jalur transportasi kereta api dibutuhkan untuk menghubungkan industri pengolahan dengan pelabuhan terdekat di Pulau Jawa. d) Kebutuhan air untuk industri maupun konsumsi akan memanfaatkan sumber air laut ataupun air sungai..

tanah desa dan tanah milik dinasti Pakualam (Pakualam Ground). 2007). Setelah berbagai proyek pertanian masuk. Risiko kerusakan alam yang menyertainya akan lebih hebat (PT. sejalan dengan semakin gencarnya sosialisasi yang dilakukan 10 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Isinya antara lain bahwa lahan itu dapat dikembangkan untuk kegiatan pertanian lahan pasir. maka sebagian besar masyarakat menolak untuk dijadikan lahan pertambangan (contoh pertanian rakyat lihat Gambar 9 dan contoh infrastruktur di pantai selatan lihat Gambar 10). Januari 2009 : 1 – 16 . secara signifikan lahan pertanian tersebut mampu ditingkatkan produktivitasnya. Dalam proses selanjutnya. tidak diizinkan mengubah sifat fisik dan hayati. PERMASALAHAN DAN ANALISIS PENYELESAIANNYA Permasalahan Berdasarkan inventarisasi di lapangan terdapat beberapa permasalahan. penambangan pasir besi dianggap akan mengancam kelangsungan pertanian lahan pasir. Di dunia ini hanya ada tiga gumuk pasir yang bergerak. lapisan pasir di bawah permukaan tanah sangat berguna untuk meredam gempa. Kelompok Tani Karangwuni-Wates. dan masyarakat kawasan pantai ini banyak mengalami kemajuan. JMM. Jika pasir diambil. Wilayah eksploitasi lahan di wilayah itu terbagi atas tiga kepemilikan. Dja’far Shiddieq ahli tanah UGM menyatakan bahwa pemerintah kolonial Belanda pun tidak melakukan penambangan pasir besi di wilayah itu karena dampaknya yang dianggap berbahaya terhadap keseimbangan ekologis di wilayah itu. 4. yakni tanah milik bersertifikat. sehingga muncul perlawanan dari beberapa kelompok tani. Menurut Sudaryatno dari Fakultas Geografi UGM.4. KGPAA Pakualaman IX mengeluarkan surat kepada Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Provinsi DIY. b) Berbagai pihak yang memiliki kepentingan terkait dengan kegiatan di kawasan pantai tersebut menyampaikan pendapat.1. yaitu: a) Permasalahan mulai terjadi. Pengembangan buah naga oleh petani dan infrastruktur di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo Selain merusak lingkungan. Nomor 13. Ia juga mengingatkan terjadinya Gambar 9 dan 10. fungsi itu hilang. yang mendapat bantuan dan dukungan proyek pengembangan pertanian kawasan pantai. bernomor X/PA/ 2003. Tanggal 7 Januari 2003. meskipun status tanah sebagian besar merupakan tanah Pakualam. karena wilayah tersebut sudah sejak lama dibudidayakan oleh masyarakat pantai sebagai lahan pertanian. seperti untuk penambangan pasir. Kombinasi penanaman cemara udang dan gumuk-gumuk pasir bentukan alam itu merupakan penahan tsunami alamiah yang paling efektif. seperti Paguyuban Petani Lahan Pantai (PPLP) Kulon Progo. satu di antaranya di kawasan pesisir selatan Yogyakarta. dari aspek c) eksploitasi lebih jauh dan lebih dalam dari semula yang direncanakan. dan ada sanksi terhadap pelanggar. Masyarakat daerah ini mengolah lahan tersebut menjadi lahan pertanian sejak sebelum tahun 2000. Kelompok Tani Ngudi Rejeki. teknis dan ilmiah.

2) Keterkaitan Pengolahan Pasir Besi dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan Sektor Lain Dalam pembahasan berikut akan dianalisis beberapa permasalahan di atas berdasarkan akar masalah yang dijadikan polemik. Ltd (Australia) bergabung karena mempunyai teknologi Autokumpu pengolahan pasirbesi menjadi pig iron. dan PT. dan sudah sesuai dengan praktekpraktek pertambangan yang diakui secara internasional. atau melalui orang-orang kunci (formal dan nonformal) masyarakat pantai. c) Aktivitas perusahaan di lapangan akan selalu mendapat pengawasan dan pembinaan dari instansi yang berwenang dalam sektor pertambangan dan instansi terkait lainnya sesuai dengan kewenangannya masing-masing. dan melanjutkan pilot proyek penambangan pasir besi sebagai model penambangan nantinya. Jadi secara prosedur perizinan seluruhnya telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. telah memenuhi prosedur perizinan di Sektor ESDM. Dalam kajian lingkungan yang dijadikan pedoman adalah: a) Perusahaan wajib melakukan studi lingkungan melalui penyusunan dokumen AMDAL. Temon. b) Konstruksi meliputi pabrik. JMM dan Indo Mines Ltd.. JMM mengajukan eksplorasi pasir besi. c) Pembangunan konstruksi diharapkan semaksimal mungkin memanfaatkan sumber daya lokal (material. maka suara pro dan kontra terhadap kehadiran proyek tersebut mulai terpecah. kebutuhan air dan sarana pendukung lainnya yang menunjang kegiatan industri. 1) Proses Perizinan Rencana Penambangan dan Pengolahan Pasir Besi Rencana penambangan dan pengolahan pasir besi PT. Panjatan. Namun. Kegiatan pengolahan pasir besi dapat disinergikan dengan kegiatan lain dalam satu kawasan yang dapat diatur melalui RTRW juga Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . Sedangkan pada tahap konstruksi.2. c) 30 Juni 2005 Indo Mines. Analisis Penyelesaian Permasalahan Pengembangan Sektor lain. Pengawasan dan pembinaan dalam tahapan penambangan dan pengolahan adalah: a) Dalam proses penambangan dan pengolahan perusahaan wajib mengikuti kaidah-kaidah penambangan dan pengolahan yang baik dan benar serta sesuai dengan ketentuan yang berlaku. JMM (Indo Mines Ltd. terutama pemangku kepentingan di daerah dan masyarakat yang nantinya akan terkena dampak langsung adanya kegiatan tersebut. kini menjadi mendukung setelah mendapat kepastian mengenai lahan garapannya dan manfaat yang akan didapat dari adanya proyek tersebut. 008/KPTS/KP/EKKPL/X/2005 luas 4. Bambang Yunianto 11 . b) KP Eksplorasi No. baik di daerah maupun pusat. tahapan tersebut adalah: a) Tanggal 6 Oktober 2005 PT. Masyarakat dan kelompok tani Desa Banaran yang dulunya menolak. sarana jalan. b) Penyusunan dilakukan oleh konsultan lingkungan yang mempunyai kompetensi dan kredibilitas yang diakui secara nasional dan internasional. pemukiman karyawan. tenaga kerja dan lain-lain). AMDAL. kontraktor.076. lingkungan. b) Perusahaan wajib memberikan laporan penambangan dan pengolahan secara periodik sesuai ketentuan yang berlaku. KS).. PT. ekonomis. JMM melakukan eksplorasi dengan 929 titik bor. dan telah melaporkan hasil eksplorasi sebanyak 14 volume. hal tersebut perlu terus menerus disosialisasikan kepada seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan kegiatan penambangan dan pengolahan pasir besi tersebut.7 Ha (Wates. e) Dalam tahun 2008 akan melakukan Studi Kelayakan. baik sosialisasi ke masyarakat langsung. pembangkit listrik. d) Tanggal 25 Maret 2006 PT.undangan yang berlaku. c) Perusahaan wajib mengikuti Kebijakan Pemerintah tentang Tata Ruang Wilayah dan Kebijakan Penataan Tata Ruang bersifat dinamis dan dievaluasi setiap 5 tahun. sosial kemasyarakatan dan sesuai dengan peraturan perundang . dan hasilnya diuji oleh komisi AMDAL provinsi dan atau pusat. JMM dan Indo Mines akan menempuh beberapa hal: a) Tahapan konstruksi dilakukan apabila hasil studi kelayakan menyatakan bahwa rencana kegiatan pengolahan dinyatakan layak secara teknis. Galur). 4.oleh PT. maupun sosialisasi yang dilakukan melalui dinas dan di hadapan DPRD Kabupaten Kulon Progo.

Aspek sarana umum: peningkatan infrastruktur di lingkungan kawasan industri. 3) Manfaat Proyek bagi Masyarakat Lingkar Proyek dan yang Terkena Dampak a) b) c) d) e) f) g) h) 4) Penduduk yang terkena dampak penambangan akan diberi ganti rugi yang layak dan wajar. Industri Pengecoran Logam Klaten. Bila mampu memproduksi sendiri bahan baku baja. tidak menyalahi tata ruang kawasan pantai pesisir selatan dan sudah sesuai RTRW seperti ditunjukkan oleh Gambar 11 dan Gambar 12 (Bappeda Kabupaten Kulon Progo. DIY memiliki potensi yang luar biasa sumber daya alam bahan baku baja yang berupa pasir besi. penguatan dan pembinaan kelembagaan ekonomi pedesaan. Kalau PT. pemasok. setidaktidaknya akan terserap secara langsung 500 tenaga kerja. lahan mungkin hanya bisa memberi manfaat ekonomis pada 10 petani. 2008). Ini masih ditambah teknologi pengolahan baja yang tidak efisien. hanya 25 km dari Jogya. area lahan pasir besi adalah bukan lahan yang bernilai pertanian. Jika potensi ini dapat dimanfaatkan dan dikelola dengan baik akan menghasilkan sekitar 1 juta ton pig iron. d) Setelah pabrik peleburan besi wantah mulai beroperasi. dengan tanaman yang lebih bernilai ekonomis. serta akan dipekerjakan dalam proses penambangan. JMM. khususnya di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo. Pada tahun kedua. pembinaan dan peningkatan kualitas dalam melaksanakan ibadah. peningkatan produksi hasil pertanian. perbaikan mutu tanah dan pemupukan. karena pengolahan pasir besi bersifat sementara. Sementara itu. komunikasi dan lainnya). industri ini sulit berkompetisi di pasaran ekspor. berarti paling tidak akan memenuhi sekitar 50% bahan baku baja nasional yang sampai saat ini masih diimpor. program pengembangan sarana pendidikan. Industri ini masih membeli bahan baku yang berupa pig iron impor dengan harga sekitar Rp 4000-5000/kg berarti sekitar $400-550/ton. peningkatan nilai tambah usaha sektor pertanian. kesuburan tanah setelah ditambang menurut Tejoyuwono Notohadiprawiro (UGM). Namun. maka daerah reklamasi akan menjadi lahan yang lebih subur dan bernilai pertanian (PT. tetangga DIY. c) Pada masa konstruksi pabrik peleburan pig iron. Aspek sosial: pengembangan kelompokkelompok sosial kemasyarakatan. setelah dihilangkan kandungan logamnya. Contoh lain. pembinaan dan peningkatan peran perempuan. Keterkaitan Rencana Kegiatan dengan Kebijakan Baja Nasional Indonesia yang dikenal kaya sumber daya alam harus mengimpor 100 % bahan baku baja dan 60-70 % scrap baja untuk keperluan industri bajanya. peningkatan mutu kesehatan masyarakat. Aspek ekonomi: pembinaan dan pengembangan UMKM. proses reklamasi. setelah reklamasi pada area penambangan tahun pertama. Aspek pendidikan: program beasiswa. kegiatan PT. Berdasarkan koordinasi dengan Bappeda Kabupaten Kulon Progo. Aspek budaya: pelestarian dan pengembangan budaya lokal. dari ongkos angkut akan bisa menghemat sekitar $50. Januari 2009 : 1 – 16 . Aspek kesehatan: pembangunan saranaprasarana kesehatan. yang akan dimulai pada tahun 2008.000. karena menggunakan sumber energi gas yang semakin meningkat harganya. b) Pada masa penambangan akan terserap tenaga kerja minimum 100 tenaga kerja secara langsung dan sekitar 100 secara tidak langsung (sektor angkutan. 2007). dan ditambah dengan tanah dan dipupuk. 2005). Berikut manfaat sosial kemasyarakat berdasar hasil kajian sementara: Aspek pertanian: peningkatan kualitas lahan pasca tambang dan pengolahan. Nomor 13. JMM dan Indo Mines Ltd. Saat ini bahan baku baja yang berupa “biji besi terolah” 100% masih impor dari Amerika Selatan.000 per tahun. tengkulak cabai dan semangka. Di negara asal harganya hanya sekitar $300-350/ton.dalam Rencana Detil Tata Ruang Kawasan pantai selatan Kulon Progo. ongkos angkutnya sekitar $60 per ton. setidak-tidaknya akan dibutuhkan sekitar 2000 tenaga kerja langsung untuk memproduksi 1 juta ton pig iron per tahun. Oleh karena itu. JMM bisa memproduksi pig iron. Untuk jangka panjang diharapkan akan berkembang industri turunan dari industri peleburan pig iron yang amat luas yang akan memberi manfaat ekonomis bagi kemajuan masyarakat Kulon Progo dan sekitarnya (BPS Kabupaten Kulon Progo. Berikut manfaat dari aspek penyerapan tenaga kerja: a) Pada area pra-penambangan. 12 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Aspek keagamaan: pembangunan saranaprasarana ibadah. program pengembangan sumber daya manusia. pembinaan generasi muda. terkait dengan sektor lain. pembibitan dan penanaman cemara udang. penduduk/petani dapat memanfaatkan kembali tanah eks penambangan.

.. Rencana tata ruang kawasan pantai selatan tahun 2005-2015 13 .Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . Bambang Yunianto U Gambar 11.

Peta rencana pemanfaatan lahan kawasan pantai selatan Kabupaten Kulon Progo . Januari 2009 : 1 – 16 Gambar 12.14 U Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Nomor 13.

PENUTUP Berdasarkan telaahan dari beberapa sudut pandang terhadap permasalahan penolakan sebagian masyarakat petani (isu lingkungan dan sosial ekonomi) terkait rencana penambangan dan pengolahan pasir besi oleh PT. 40 Tahun 2005 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Pantai Selatan Tahun 20052015. d) Industri ini akan menjadi satu-satunya industri yang memproduksi pig iron di Asia Tenggara dan akan dikembangkan sampai menjadi industri baja di Kulon Progo. JMM. BPS Kabupaten Kulon Progo. dalam penyelesaian setiap permasalahan harus dilakukan kegiatan sosialisasi secara struktural dan komprehensif terhadap seluruh pemangku kepentingan yang terkait dengan rencana kegiatan tersebut. Wates. 2005. serta pengaruh ekonomi dari sektor-sektor lain yang terkait.. sehingga akan mempercepat proses pembangunan yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat di Kabupaten Kulon Progo. Kajian Permasalahan Lingkungan dan Sosial Ekonomi Rencana Penambangan . terutama antara sektor pertanian dengan sektor pertambangan. b) Secara tata ruang pemanfataan lahan. b) Industri pig iron di Kulon Progo direncanakan juga akan memanfaatkan bahan baku dari daerah lain di Indonesia.4 triliun). pendidikan. JMM dan Indo Mines Ltd. meningkatkan pendapatan masyarakat.. dan pendapatan lain yang sesuai dengan peraturan yang berlaku. dan mendukung kebijakan baja nasional sejalan dengan rencana pembangunan pabrik baja di Kalimantan Selatan. royalti. Berdasarkan kajian ekonomi sementara. sosial. Rencana Detail Tata Ruang Kawasan Pantai Selatan Kabupaten Kabupaten Kulon Progo Tahun 2005 – 2015. Bambang Yunianto 15 . d) Secara kepentingan nasional dapat memasok kebutuhan pig iron PT. seluruh tahap telah dan akan dipenuhi oleh PT. c) Dengan adanya program pengembangan masyarakat (Community Development) akan membantu mengembangkan masyarakat terutama dalam bidang ekonomi. Wates. JMM di pantai selatan Kabupaten Kulon Progo tersebut. Untuk itu. land rent. Peraturan Bupati Kabupaten Kulon Progo No. 2005. dan PAD. kegiatan tersebut sudah sesuai dengan RTRW Kabupaten Kulon Progo. Kabupaten Kulon Progo dalam Angka 2006/2007. sebetulnya bersumber dari kurangnya sosialisasi dan koordinasi di antara pemangku kepentingan. Beberapa keuntungan yang akan diperoleh pemerintah dan masyarakat antara lain: a) Terbukanya lapangan pekerjaan yang sangat luas baik di industri utama maupun industri pendukungnya sehingga mengurangi pengangguran di Kulon Progo b) Peningkatan pendapatan pemerintah/Daerah yang sangat besar dari pajak. mulai dari penambangan bahan baku sampai industri pengolahan bahan baku baja. 055/JMM/IX/2006 tgl 22 September 2006. 5. DIY khususnya Kabupaten Kulon Progo memiliki potensi yang amat besar untuk didirikannya suatu industri baja terpadu. keagamaan dan lainnya. JMM kpd KGPA Paku Alam IX No. rencana pembangunan pabrik pengolahan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo adalah: a) Potensi bahan baku (pasir besi) tersebar di beberapa wilayah Indonesia tetapi sampai saat ini Indonesia belum memiliki teknologi untuk mengolah pasir besi menjadi pig iron.maka akan sangat membantu. 2008. 2007). 5. Beberapa hal yang dijadikan dasar adalah: a) Secara prosedur perizinan di bidang pertambangan. karena harga bahan baku pasti akan lebih murah 20-30% dari bahan baku impor (PT. DAFTAR PUSTAKA Anonim. kesehatan. retribusi. budaya. d) Prospek investasi untuk pengembangan industri di atas diperkiraan mencapai US$ 600 juta (Rp. pertanian. Wates. e) Perusahaan yang telah menyatakan akan membeli pig iron adalah PT. KS yang masih mengimpor bahan baku. kegiatan tersebut akan membuka peluang kerja. c) Secara sosial ekonomi masyarakat dan pemda. Krakatau Steel (sesuai Head of Agreement 22 Januari 2007). f) Lokasi pabrik dan area eksploitasi akan disesuaikan dengan Rencana Pengembangan Wilayah Pemkab Kulon Progo dan Pemprov DIY termasuk kepemilikan lahan masyarakat dan Puropakualaman (sesuai surat PT. c) Industri pig iron direncanakan akan dikembangkan menjadi industri baja di Kulon Progo. Bappeda Kabupaten Kulon Progo.

Ringkasan hasil eksplorasi pasir besi pada wilayah KK PT. 16 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. 2006b. PT. Jogja Magasa Mining. Wates. 2008. JMM dan PT. PT. PT.BPS Kabupaten Kulon Progo. Yogyakarta. 2007. Indo Mines Ltd. 2006a. Jogja Magasa Mining. Aplikasi Kontrak Karya untuk Pengembangan Pasir Besi di Kabupaten Kulon Progo. Nomor 13. Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Kulon Progo 20022007. Bahan sosialisasi rencana penambangan pasir besi di Kabupaten Kulon Progo kepada masyarakat. Januari 2009 : 1 – 16 . Jogja Magasa Mining.

id Naskah masuk : 11 November 2008. coal briquetting is considered necessary.58 million. 623.5 ton/hour requires main equipments such as jaw crusher. revisi terakhir : Januari 2008 ABSTRAK Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu ditingkatan dari 15.34% menjadi 33% dalam energi bauran pada tahun 2025. Oleh karena itu perlu dilakukan pembriketan batubara. Untuk pembuatan briket batubara skala kecil dengan kapasitas 2. design process. hammer mill. Jenderal Sudirman No. Result shows that the briquette binder was molasses.esdm. with 13 employees. the use of coal is for small scale industries and households. Suganal 17 . and double roll briquetting machine. revisi pertama : 06 Desember 2008. However. Bandung email : suganal@tekmira.3 mm. investment Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .58 miliar dengan jumlah karyawan 13 orang. therefore it can be applied widely. ukuran serbuk batubara – 3 mm dan tekanan pembriketan 200 kg/cm2.go. Akan tetapi. high ash content. double roll mixer. Among the target. rancangan proses. hammer mill. and pressure of 2. coal burning system in households and small scale industries are generally applied grate system. double roll mixer.. research on briquetting by using coal with high ash content was carried out including the design of process.investasi ABSTRACT Blue Print of the 2006 National Energy Management appointed that the use of coal needs to be increased from 15.34% to 33% in the 2025 energy mix. Kebutuhan dana investasi sebesar Rp 1. Hasil menunjukkan bahwa bahan pengikat proses pembriketan adalah molases..RANCANGAN PROSES PEMBUATAN BRIKET BATUBARA NONKARBONISASI SKALA KECIL DARI BATUBARA KADAR ABU TINGGI SUGANAL Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. Kata kunci : briket batubara. Berdasarkan hal tersebut. maka dilakukan penelitian pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi termasuk pembuatan rancangan proses serta biaya investasi agar dapat diterapkan pada masyarakat. dan mesin briket sistem double roll. sehingga memerlukan butiran batubara berbutir besar (± 4 cm). A small scale coal briquetting with the capacity of 2.5 ton/jam diperlukan peralatan utama yang terdiri atas jaw crusher. kadar abu tinggi. Keywords : coal briquette. Salah satu sasaran pemanfaatan batubara adalah industri kecil dan rumah tangga. Investment cost was Rp 1. sistem pembakaran batubara pada rumah tangga dan industri kecil umumnya menggunakan sistem grate atau kisi. size of coal particles was .0 kg/ cm2. revisi kedua : 12 Desember 2008. For this reason. which needs large coal particles (±4 cm). Based on this purpose.

kemudian dilanjutkan penggerusan dengan hammer mill sampai berukuran – 3 mm. Produk dari jaw crusher berukuran – 2 cm. bahan baku batubara yang beraneka ragam ukuran butirnya. Ukuran butir briket batubara sekitar 4 .34% pada tahun 2005 menjadi 33% dalam bauran energi pada tahun 2025 (Pusat Informasi Energi. sedangkan minyak bumi hanya dapat bertahan sampai 23 tahun (Yusgiantoro. Januari 2009 : 17 – 30 . Perubahan ukuran material tersebut dilakukan melalui proses penggumpalan dengan penekanan dan penambahan atau tanpa penambahan bahan pengikat. Harga briket batubara bila disetarakan dengan harga minyak tanah jauh lebih rendah sehingga cocok digunakan untuk rumah tangga dan industri kecil (Suganal. jika menggunakan serbuk tanah liat sekitar 10%. 2. 1961 ). Secara garis besar pembuatan briket batubara nonkarbonisasi meliputi: penggerusan batubara. agar pasokan udara pembakar cukup lancar. Oleh karena itu perlu pembriketan batubara (Suganal. 2006 ). 2004). yaitu hanya ± 27.1.1. pencampuran dengan bahan pengikat. penggunaan batubara sebagai sumber energi masih dapat bertahan sampai 146 tahun. Atas dasar beberapa pertimbangan tersebut di atas.8 mesh) ditambahkan bahan pengikat berupa tepung tapioka atau serbuk tanah liat – 60 mesh atau molases. Perpindahan bahan pada proses penggerusan dilakukan menggunakan conveyor belt atau pneumatic conveyor. PENDAHULUAN Blue print Pengelolaan Energi Nasional 2006 mengarahkan bahwa penggunaan batubara perlu ditingkatkan dari 15. 18 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. dkk. penggerusan dan pengayakan kemudian dicetak dengan mesin briket. sehingga memerlukan butiran batubara berbutir besar (± 4 cm). Namun. untuk memacu peningkatan produksi dan penggunaan secara nasional. jika menggunakan molases sekitar 8%. terutama untuk kebutuhan industri kecil dan rumah tangga mengingat minyak tanah semakin langka. Penggunaan batubara peringkat rendah akan tepat untuk kegiatan rumah tangga dan industri kecil padat energi yang tidak memerlukan panas tinggi. 2. Meskipun briket batubara telah disosialisasikan sejak lama. Bagan alir secara umum terlihat pada Gambar 1. sebagian batubara Indonesia berkadar abu tinggi dan relatif kurang diminati oleh industri besar maupun sebagai komoditas ekspor. Batubara dari stockpile digerus menggunakan alat jaw crusher dan hammer mill. diseragamkan melalui pemecahan. penggunaan batubara pada rumah tangga dan industri kecil umumnya menggunakan sistem grate atau kisi. untuk pengganti minyak tanah pada industri kecil maupun rumah tangga. dan pengeringan. Sementara itu. 2006). Meskipun cadangan batubara cukup besar. Nomor 13. Hal ini antara lain karena sulitnya penyalaan awal mengingat briket batubara merupakan bahan bakar padat. Dalam hal briket batubara. maka dilakukan penelitian pembriketan batubara sebagai upaya untuk memanfaatkan batubara dengan kadar abu tinggi tersebut. 2006).com).12 cm tergantung kebutuhan penggunaan (Schinzel.000 ton per tahun. terus menerus dan memperkecil radiasi panas dari bagian bawah anglo (Suganal. Tujuan penelitian ini adalah merancangan proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil menggunakan batubara dengan kadar abu tinggi melalui teknologi pembuatan briket batubara sederhana. Berdasarkan informasi dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. pencetakan. dkk.komarindustries. Upaya perbaikan cara penyalaan dan memperkecil biaya produksi dilakukan dengan menggunakan anglo atau kompor briket batubara yang dilengkapi dengan blower. Serbuk batubara dengan ukuran – 3 mm (. TINJAUAN PUSTAKA Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Briket adalah perubahan bentuk material yang pada awalnya berupa serbuk atau bubuk seukuran pasir menjadi material yang lebih besar dan mudah dalam penanganan atau penggunaannya (http:// www. Jumlah bahan pengikat yang optimal adalah (Suganal. Pemanfaatan batubara dalam bentuk briket batubara saat ini adalah sangat tepat. 2008). kuantitas penggunaannya masih sangat kecil. 2004) : jika menggunakan tepung tapioka maksimum sekitar 3% berat. umumnya sebagian dari batubara tersebut adalah batubara peringkat rendah dengan kadar air tinggi dan mudah pecah terkena terpaan perubahan cuaca.

Untuk briket batubara bentuk sarang tawon dicetak dengan mesin briket tipe silinder. Cara lain adalah mencampurkan batubara dengan tapioka dalam kondisi kering kemudian disemprotkan uap basah dari boiler. Pencampuran berlangsung pada kondisi kering kemudian ditambahkan air sampai terbentuk adonan yang lembab. yaitu penggerusan batubara. sehingga produk briket tak perlu dikeringkan kembali. Untuk briket bentuk bantal umumnya dicetak dengan mesin briket double roll (http:/www.csiro.nedo.au/ energy center). Suganal. Untuk bahan pengikat berupa serbuk tanah liat. Suganal 19 . pencampuran dapat langsung dilaksanakan dalam mixer dengan cara menambahkan tepung tanah liat sebanyak 10% dari berat batubara. 2008). namun terdapat sedikit perbedaan karena adanya penambahan biomassa dan acapkali ditambahkan pula serbuk kapur padam. 2002. pencampuran bahan pengikat. Penggerusan batubara dapat menggunakan jaw crusher dan dilanjutkan dengan hammer mill (Perry. penentuan jenis peralatan atau perangkat produksi.det. perhitungan dimensi dan kapasitas peralatan dan perkiraan harga peralatan. Cara yang sederhana adalah mencampur tapioka dengan air dengan kompsisi 1:8. 2008). 2005. Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Dalam rangka realisasi suatu produksi diperlukan rancangan proses yang antara lain meliputi pembuatan neraca massa dan neraca energi. Pada pembuatan briket biobatubara. Pencampuran bahan pengikat dilaksanakan dalam suatu mixer.csiro. Pencetakan briket dilakukan dengan mesin briket. Briket batubara nonkarbonisasi tanpa bahan pengikat pada umumnya menggunakan mesin briket double roll tetapi bertekanan tinggi (>200 kg/cm2) (Clark.jp/sekitan). Umumnya digunakan roll mixer. 2. 2004).go. (Maruyama.. Serbuk kapur padam berfungsi sebagai material pengikat senyawa sulfur agar lebih bersifat ramah lingkungan.2. yaitu 3 ton/cm². kemudian dipanaskan sampai membentuk gel. bahan baku batubara dan biomassa terlebih dahulu mengalami proses pengeringan. Pada pembuatan briket batubara terdapat beberapa tahap proses yang relatif sederhana. Campuran batubara dengan bahan pengikat disebut adonan yang siap untuk dicetak dalam mesin briket. Alat pencampur tersebut berupa dua buah roda berputar ber keliling dalam suatu bejana dan dilengkapi dengan scrapper (penggaru) untuk mengaduk material obyek pencampuran. Tekanan pembriketan adalah 200 kg/ cm2. http:/www.Biomassa Gambar 1. http:/ www. 2002 .. Pencampuran bahan pengikat dipilih double roll mixer atau pan muller (Perry. terlebih dahulu tepung tapioka ini dibuat gel. Pencetakan briket biobatubara dilaksanakan dengan mesin double roll bertekanan tinggi. T.det.au/energy center) Pembuatan briket biobatubara juga merupakan pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi (Maruyama. Tahap Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . pembriketan dan pengeringan. Untuk pencampuran bahan pengikat berupa tepung tapioka.

sedangkan briket batubara dibuat hanya dari campuran batubara dan bahan pengikat tepung tapioka atau molases. Kadar air 5 % Molases   Mixer Adonan  briket Ø< 3mm. Pembuatan briket biobatubara Prosedur pembuatan briket biobatubara dapat dilihat pada Gambar 2. Metode analisis menggunakan ASTM. 3. untuk VM D-3175 – 1989. Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi Kegiatan rancangan proses pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi meliputi beberapa kegiatan. Kadar air 5% Cutter Ø< 3mm. Pengering yang umum digunakan adalah band dryer. yaitu briket biobatubara dan briket batubara. Januari 2009 : 17 – 30 .pembriketan batubara cukup dilakukan dengan mesin briket sistem double roll atau double roll press machine (Perry. · Pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. kadar abu. 3. 3. Pengeringan briket batubara umumnya dilakukan dengan cara penjemuran di udara terbuka. Nomor 13. digerus dengan jaw crusher dan hammer mill sampai menghasilkan batubara dengan Batubara kadar abu tinggi sebagai bahan baku yang berasal dari Kalimantan Selatan dan batubara hasil pembriketan sebagai produk dianalisis terhadap proksimat (kadar air. 2008). dan · Penyusunan rancangan proses pembuatan briket batubara nonkarbonisasi. kadar zat terbang. Bagan alir pembuatan briket biobatubara 20 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.1. Kegiatan analisis berlangsung di Laboratorium Batubara Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. karbon padat). 3. nilai kalor D-5865-04 sedangkan untuk kadar abu D-3174-04. Selain itu untuk briket batubara juga dilakukan pengujian drop serbuk gergaji  ±  20 % air   Bahan imbuh (kapur padam) Batubara ± 5% air Dryer 120oC ±  10  %  air Crusher Ø< 3mm. yaitu : · Analisis contoh bahan baku (batubara) dan produk (briket batubara). METODOLOGI shatter test.    kadar  air 10% Mesin Briket Briket basah Keranjang Berkisi Briket biobatubara       Gambar 2. Bahan baku terdiri atas : Batubara.2.2. kecuali untuk kapasitas besar sekitar lebih dari 10 ton per jam.1. serbuk kayu sebagai biomassa. nilai kalor dan sulfur total. Analisis Contoh Bahan Baku dan Produk Penelitian pembuatan briket batubara nonkarbonisasi dibuat dalam dua jenis. Briket biobatubara dibuat dengan mencetak adonan yang berupa campuran dari batubara. Bandung. moisture D-3173-1979. serbuk kapur padam sebagai desulfurization agent dan molases sebagai bahan pengikat.

. Serbuk kayu. Palimanan (Suganal. Komposisi adonan adalah batubara = 90%. Serbuk kapur padam.2. serbuk kayu = 5%.- ukuran butir – 3mm. molases = 5% dari jumlah berat campuran batubara. berukuran – 3mm dan kadar air 5%. 2003. Briket biobatubara yang terbentuk dimasukkan dalam keranjang berkisi dan dikeringkan di udara terbuka. serbuk kapur padam dan molases dimasukkan ke unit mixer untuk dilakukan pengadukan agar mendapatkan campuran bahan yang merata dan disebut adonan.2. 3. Pembuatan briket batubara Pembuatan briket batubara dilakukan sesuai dengan bagan alir seperti terlihat pada Gambar 3. Kadar air ± 5%  Ø> 5 cm Crusher Batubara Kadar air ± 5%  Ø~ 1‐2 cm Mill Batubara Kadar air ± 5%  Ø~ ‐3 mm (‐8mesh) Gel tapioka Mixer Adonan briket Mesin Briket Briket basah Keranjang Berkisi Briket Batubara Gambar 3. Prosedur pembuatan briket biobatubara : Semua bahan baku berupa batubara. Molases dengan kadar air 32%. sebagai biomassa dikeringkan dan digerus dengan mesin cutter sampai berukuran . Suganal 2004).3 mm dan kadar air 10%. kapur padam = 5%. Produk briket biobatubara dianalisis dan dicocokkan dengan standar baku mutu. serbuk kayu dan kapur padam. Bagan alir pembuatan briket batubara Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .. Suganal 21 . serbuk kayu. Adonan yang diperoleh dicetak dengan mesin briket double roll tipe kenari pada tekanan pembriketan 3 ton/cm2. Komposisi tersebut merupakan komposisi ideal berdasarkan hasil penelitian pembuatan briket biobatubara di Pilot Plant Briket Biobatubara.

34% dan kadar air lembab hanya 2. Tabel 1. Penyusunan Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Nonkarbonisasi briket batubara yang menghendaki kadar sulfur total 1. 2003). dibuat menjadi gel dengan cara mencampur 5 kg tapioka dengan 100 liter air panas dan diaduk sampai homogen. HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Analisis Bahan Baku Batubara Hasil analisis batubara dapat dilihat pada Tabel 1.34 2.0 % (Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006. Perkiraan harga dari tiap peralatan didapat dari bengkel pembuat peralatan.39 28. Suganal. Pengamatan selama proses pencetakan briket. Hal yang menguntungkan pada batubara Kalimantan Selatan tersebut di atas adalah kadar sulfur total cukup rendah. Produk briket batubara dianalisis dan dicocokkan dengan standar baku mutu yang tercantum pada Peraturan Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 Tahun 2006 tertanggal 11 September 2006 tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara. Prosedur pembuatan briket batubara : Batubara serbuk dicampur dengan gel tepung tapioka dalam roll mixer dengan komposisi 90% batubara serbuk dan 10 % gel tepung tapioka membentuk adonan briket batubara.1.Bahan baku terdiri atas : · batubara. yaitu 0. Hasil analisis batubara No 1 2 3 4 5 6 7 Parameter Total kelembaban % Air lembab. % adb Kadar sulfur total.3 mm. Kualitas Briket Batubara Nonkarbonisasi 4. %. misalnya tapioka atau molases.08 gram Berdasarkan data komposisi adonan briket batubara dari hasil percobaan pembuatan briket batubara nonkarbonisasi tersebut dan data parameter proses lainnya pada penelitian briket batubara terdahulu (Suganal 2003. Dengan demikian. kkal/kg adb Nilai 5.555 diperkirakan masih memenuhi batas minimal nilai briket batubara nonkarbonisasi.2. Kebutuhan tenaga operator juga disajikan dalam tulisan ini.55 38. diketahui bahwa rendemen atau perolehan pembriketan hanya mencapai 80%.2. Hal ini berarti sejumlah 20% adonan terdapat tidak tercetak dengan baik atau 20% briket yang tidak sempurna pencetakannya. maka pembriketan batubara dapat langsung dilaksanakan tanpa harus dikeringkan dengan mesin pengering atau dryer. lebih rendah daripada standar baku mutu bahan baku 22 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.400 kkal/kg. dapat disimpulkan bahwa kadar sulfur total cukup rendah. Hasil analisis fisik briket biobatubara sebagai berikut: Kuat tekan rata-rata : 48. % adb Kadar zat terbang. · tepung tapioka. 4.0%.72 30.1. Meskipun nilai kalor batubara relatif rendah. Namun kadar abu relatif sangat tinggi dan nilai kalor relatif rendah sehingga bahan pengikat yang akan ditambahkan harus serendah mungkin. Sebagai pelengkap disusun kebutuhan bangunan dan perkiraan biayanya berdasarkan data yang didapat dari perusahaan yang bergerak di sektor bangunan sipil pabrik.56 %. 2004) segera dibuat neraca massa untuk menghitung kebutuhan peralatan dan spesifikasinya yang dilanjutkan dengan penyusunan tata letak peralatan dan perkiraan harga peralatan.2 kg/cm2 Berat /butir : 17. Nomor 13.57 4. Berdasarkan standar baku mutu bahan baku briket batubara adalah maksimum 1. 4. Kualitas briket biobatubara Berdasarkan hasil analisis batubara sebagai bahan baku pembuatan briket biobatubara diketahui bahwa kadar air total batubara sangat kecil.55%. 3. % adb Nilai kalor. Briket batubara yang terbentuk dimasukkan dalam keranjang berkisi dan dikeringkan di udara terbuka. tertanggal 11 September 2006.34 0. adb Kadar abu.3. digerus dengan jaw crusher dan hammer mill sampai berukuran . briket yang tidak sempurna harus dilakukan pembriketan ulang. Januari 2009 : 17 – 30 . Adonan yang diperoleh dicetak dengan mesin briket double roll tipe kenari pada tekanan pembriketan 3 ton/cm2. Komposisi adonan tersebut merupakan komposisi ideal berdasarkan rekaman catatan pada kegiatan ujicoba produksi briket batubara nonkarbonisasi di Pilot Plant Briket Biobatubara Palimanan (Suganal. yaitu 4. Berdasarkan hasil analisis dalam tabel tersebut. yaitu 5. tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara). % adb Kadar karbon padat. 4.

2002). Pada penelitian pembuatan briket biobatubara sebelumnya (Maruyama.04%. Hasil analisis briket biobatubara No 1 2 3 4 5 6 Parameter Air lembab.65 27.5 -12. Distribusi ukuran briket biobatubara No. Dengan demikian perubahan ukuran butir yang terjadi relatif kecil.97 85.65 0.5 -37. % adb Nilai kalor.57 0.93 Rendahnya nilai kalor briket biobatubara disebabkan oleh penambahan biomassa dan penambahan kapur. adb Kadar abu. Namun nilai kalor juga rendah. % adb Kadar karbon padat. Hasil drop shatter test dapat dilihat pada Tabel 2.2.3. Tabel 2. Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . Spesifikasi briket biobatubara dapat dilihat pada Tabel 3.Jenis analisis fisik lainnya adalah drop shatter test yang hasilnya dibandingkan dengan distribusi ukuran briket biobatubara sebelum dilaksanakan drop shatter test. Hasil percobaan tersebut di atas menunjukkan bahwa pembuatan briket biobatubara dari batubara kadar abu tinggi dengan bahan pengikat molases menghasilkan sifat fisik yang baik tetapi sifat kimianya sedikit di bawah persyaratan baku mutu briket batubara.66 4. 2008). Demikian pula penambahan biomassa bertujuan mempercepat terjadi penyalaan awal karena biomassa mempunyai kadar zat terbang lebih besar dibanding batubara (Suganal.35 1 2 3 4 5 6 7 Fraksi berat Fraksi berat briket awal.. Analisis drop shatter test tersebut memberikan indikasi bahwa dalam transportasi maupun penyimpanan yang rentan terhadap gesekan atau jatuh dari suatu ketinggian. Pada prinsipnya mencetak adonan briket tanpa campuran biomassa akan lebih mudah karena batubara tidak bersifat kenyal saat ditekan pada pencetakan.8 kg/cm² Berat /butir : 11. % 9. mm -50 + 37. sehingga penambahan tersebut akan mengurangi nilai kalor hasil briket biobatubara. Suganal 23 . berupa serbuk gergaji yang digunakan mempunyai nilai kalor sekitar 3..60 1.71 36. Jika dibandingkan dengan pembuatan briket biobatubara tersebut di atas. Hal ini berarti sejumlah 10% adonan tidak tercetak dengan baik atau 10% briket tidak sempurna pencetakannya. % adb Kadar sulfur total.5 + 25 -25 + 19. yaitu batas terendah persyaratan baku mutu standar briket batubara nonkarbonisasi.67 gram Perbandingan sifat fisik dari briket biobatubara berbahan pengikat molases dengan briket batubara berbahan pengikat tepung tapioka menunjukan bahwa pembriketan dengan bahan pengikat molasses mempunyai sifat fisik lebih tinggi.500 kkal/kg dan kadar abu umumnya kurang dari 5% (Perry. terlihat bahwa fraksi kumulatif distribusi ukuran butir briket biobatubara yang dominan (+ 19 mm) adalah sebesar 95.62 2. Kualitas briket batubara Pengamatan selama proses pencetakan briket. Setelah dilakukan pengujian drop shatter test.5 + 6. Dengan demikian.35 . %. yaitu 13.289 Dari Tabel 3. Tabel 3. diketahui bahwa rendemen atau perolehan pembriketan mencapai 90%. kkal/kg.33 11.86 4. adb Nilai 3. perubahan ukuran (remuk) yang dialami relatif kecil. maka perolehan pencetakan briket batubara lebih mendekati sempurna. Briket yang tidak sempurna pada umumnya dilakukan pembriketan ulang.2.0 -19. 4. Penambahan serbuk kapur juga menimbulkan penurunan nilai kalor dan menambah kadar abu karena kapur bersifat inert dan tidak mempunyai nilai kalor (bahan anorganik tanpa unsur karbon).19 3. briket setelah % drop shatter test.5%. dapat dilihat bahwa kadar sulfur sangat rendah sehingga masih dalam ambang batas yang diizinkan sesuai spesifikasi standar briket batubara. Berdasarkan Tabel 2.26 1.93 0.71 31.3 -6. diperlukan penambahan serbuk kapur sebagai material pengikat gas SO2 dalam gas buang pembakaran briket tersebut. agar briket batubara yang dihasilkan masih mempunyai nilai kalori di atas persyaratan baku mutu. % adb Kadar zat terbang. Hasil analisis fisik briket batubara adalah : Kuat tekan rata-rata : 37. Bukaan ayakan. fraksi butiran dengan ukuran + 19 mm menjadi 81.54%.71 69.0 + 12.400 kkal/kg.3 + 3. untuk pembuatan briket biobatubara dalam skala komersial tidak perlu penambahan kapur. bahkan kurang dari 4.31 8. 2004).

66 13. adb Nilai 4.41 5 -6. hammer mill.66 6 -3. dan perhitungan peralatan untuk merealisasikan operasi dari masing-masing tahap proses (Perry. penggunaan tepung kanji relatif tidak memengaruhi nilai kalor. % adb Kadar sulfur total.39%. Schinzel. maka diperoleh hal hal penting sebagai berikut: penambahan biomassa dan serbuk kapur padam akan menurunkan nilai kalor briket batubara dan menambah kadar abu briket batubara. briket batubara sebelumnya (Suganal. karena kadar sulfur total bahan baku batubara cukup rendah. maka pada penerapan skala komersial dipilih bahan pengikat molases tanpa penambahan biomassa maupun serbuk kapur padam agar mutu briket batubara terjamin sesuai baku mutu yang telah ditetapkan. yaitu Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 047 tahun 2006.5 + 25 2 -25 + 19. double roll mixer dan mesin briket.27 30. 2008.86 11. Rangkaian peralatan disusun menjadi bagan alir 24 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Peralatan proses pabrik briket batubara ditempatkan pada suatu bangunan berdasarkan prinsip ergonomis agar pelaksanaan produksi berlangsung lancar dan tidak terjadi duplikasi gerak manusia maupun alat. sifat fisik briket batubara relatif baik. % adb Kadar zat terbang.63 0.5 ton/jam briket batubara. Setelah dilakukan pengujian drop shatter test.% 1 -37. 5. yaitu 0.0 59.0 + 12.80 3 -19.5 + 6.35 5.80%. dan hasil kegiatan penelitian Kapasitas pabrik briket batubara skala kecil adalah 2. terlihat bahwa mutu briket batubara dengan bahan pengikat tepung tapioka mempunyai sifat kimia yang lebih baik dibandingkan dengan briket biobatubara berbahan pengikat molases.Tabel 4.68 4. 2004). Nomor 13.52 4 -12. Berdasarkan hasil analisis bahan baku berupa batubara kadar abu tinggi. %.74 3. adb Kadar abu. Suganal.3 + 3. briket setelah % drop shatter test.35 1. 1961).5 27.29 35. Hal ini menunjukkan bahwa sifat fisik briket batubara dengan bahan pengikat tepung tapioka mempunyai kecenderungan remuk lebih besar dibandingkan dengan briket batubara berbahan pengikat molases. tidak diperlukan penambahan serbuk kapur padam. Fraksi berat Fraksi berat mm briket awal.412 Berdasarkan hasil analisis pada Tabel 5. meskipun penambahan biomassa dapat mempercepat penyalaan awal briket batubara. maka terlihat bahwa briket batubara dengan bahan pengikat kanji kurang kuat. namun sifat fisik briket batubara kurang kuat. KONSEP RANCANGAN PABRIK BRIKET BATUBARA NONKARBONISASI SKALA KECIL Tabel 5. Berdasarkan hasil analisis batubara dan briket batubara serta data percobaan lainnya dibuat neraca massa dan energi secara sederhana seperti tercantum pada Gambar 4.27 32.81 29. 2003. Peralatan utama tersebut antara lain jaw crusher.39 37. briket batubara tersebut masih dalam nilai yang diizinkan (> 4. tentang Pedoman Pembuatan dan Pemanfaatan Briket Batubara dan Bahan Bakar Padat Berbasis Batubara. % adb Kadar karbon padat. Spesifikasi briket batubara dapat dilihat pada Tabel 5. Januari 2009 : 17 – 30 .99 Berdasarkan Tabel 4.3 5. fraksi butiran dengan ukuran + 19 mm menjadi 37. analisis fisik melalui uji drop shatter test dan uji kuat tekan serta analisis kimia melalui uji proksimat dan nilai kalor terhadap produk briket biobatubara dan briket batubara yang telah diuraikan di atas. kkal/kg. % adb Nilai kalor.400 kkal/kg adb). Tata letak peralatan terlihat pada Gambar 5. Distribusi ukuran briket batubara No Bukaan ayakan. penggunaan molases relatif tidak menurunkan nilai kalor. tertanggal 11 September 2006. Hasil analisis briket batubara No 1 2 3 4 5 6 Parameter Air lembab. Jika dibandingkan dengan briket biobatubara berbahan pengikat molases pada Tabel 2. Spesifikasi dari peralatan terlihat pada Tabel 6. namun sifat biomassa yang kenyal acapkali briket yang dihasilkan menjadi kurang kuat. terlihat bahwa fraksi kumulatif distribusi ukuran butir briket batubara yang dominan (+19 mm) adalah sebesar 59. Atas pertimbangan hasil penelitian pembuatan briket batubara dari batubara kadar abu tinggi dan hasil penelitian tentang briket batubara sebelumnya. Dalam hal nilai kalor.57 %.

Main shaft : Baja poros high tensile strength . transmision cover dan lain-lain: plat mild steel 5 mm Daya : motor listrik 10 HP.Rangka.Basis : 1 jam operasi Molases 140 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Entalpi pada 25 ºC ~ 0 kkal Ø = ukuran butiran batubara   Jaw Crusher  Hammer Mill   Double Roll  Mixer        Mesin Briket Batubara Ø > 50 mm 2.397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Batubara Ø < 3 mm 2. module 11.537 kg Q = 0 kkal Temp : 25oC Briket Batubara 2. shaft & bearing : .Main Bearing : self Aligning spherical roller bearings Bahan Konstruksi: .Cetakan : sistem segmen.397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Batubara Ø : 3-25 mm 2..Gear .500 kg Q = 0 kkal Temp : 25oC Keranjang Berkisi   Gambar 4. besi profil.5 ton/jam Roll. Neraca massa dan neraca energi Tabel 6.Gear Box Chain & Sprocket . Kebutuhan peralatan No.397 kg 3.Bahan cetakan : Baja cor FC 30 tahan tumbukan .Hooper.Diameter roll : 620 mm .Ukuran briket : 52x52x35 mm .V Belt : 2 baris type B .397 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Adonan briket Molases : 140 kg Batubara : 2. 220/380 V Sistem Transmisi: Elektro Motor .5 mm Fungsi Mencetak adonan briket batubara menjadi briket batubara Jumlah 1 unit Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .Gearbox: Worm Gear . 12 segmen .537 kg Q = 0 kkal o Temp : 25 C Uap air 37 kg Briket batubara basah 2. Suganal 25 ..Bentuk briket : telur/jengkol . 15 cm x 10 cm x 12 cm .V Belt & Pulley .Chain & Sprocket : RS 100 . Nama Alat 1 Mesin Briket Tipe Telur Spesifikasi Tipe: double roll Sistem feeding : gravitasi/vertical feeding Kapasitas : 2.Gear: Spur Gear.Berat briket : ± 60 gram per butir .

besi profil 6 cm x 8 cm x 10 cm .Main shaft : Baja poros high tensile strength 2½ inc Main Bearing : Tapered roller Bearings 2½ inc Fungsi Mencampur bahan baku berupa batubara halus (.Kapasitas : 200 Kg/batch. baja dengan pelapis tahan gesek (sistim las/ manganase steel .Putaran : 20 s/d 30 RPM Bahan Konstruksi: . 220/380 V menjadi ukuran Putaran : ± 450 RPM sedang Kapasitas : 1000 s/d 2000 Kg/jam 3 mm – 25 mm Ukuran besar butir output: 3 s/d 25 mm. waktu 1 batch = 15 s/d 20 menit . plat mild steel 2 mm. besi profil 10 mm Main Shaft & Bearing : . plat mild steel 5 mm .Rumah Crusher. Januari 2009 : 17 – 30 .Daya : motor listrik 7. Nomor 13.Cover system transmisi. Jumlah 3 unit 3 Hammer Mill Tipe : Modified Squirel Cage Mill Menggiling batubara 1 unit Daya: motor listrik 10 HP. plat baja dengan pelapis tahan gesek (sistim las)/ manganase 1 steel 1 unit 26 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. plat mild steel 5 mm Main Shaft & Bearing : .Rotor penghancur. pipa Ø 4" . 3 mm atau 4 mm . V belt .Sistem Transmisi : Vertical Gear Box. Bahan Konstruksi: .Rumah Crusher. plat baja 6 mm . plat mild steel 12 mm atau 14 mm . Kebutuhan peralatan (lanjutan) No.Kaki penyangga.3 mm) dan molases.Jaw plate. Self Aligning Spherical Roller Bearings 2" (3mm – 25 mm) menjadi batubara berukuran – 3 mm 4 Jaw Crusher Tipe: Togle Jaw Crusher Memecah batubara Gap & Opening : 175 x 200 mm ukuran > 50 mm Daya : motor listrik 3 HP.Tabel 6. plat mild steel 6 mm .Saringan.Hooper.Main shaft: Baja poros high tensile strength 2" .5 HP. plat mild steel 12 mm Blade pengaduk. kaki penyangga. chain & sprocket.Rangka alas kaki penyangga.Shell. plat mild steel 10 mm dan 5 mm .Rangka. 220/380 Volt . tinggi ±120 cm .Alas shell. Nama Alat 2 Double Roll Mixer Spesifikasi Tipe/Jenis : Pan Mixer dengan Blade pengaduk Diameter shell = ±120 cm. 220/380 Volt (1400 rpm) ukuran sedang Kapasitas: 1000 s/d 2000 Kg/jam Besar butir output <3 mm Feeding System : Screw feeder variable speed Bahan Konstruksi: .Main Bearing .

Rangka utama. Nama Alat Spesifikasi .000. besi kanal C 15 .Hooper.Cover system transmisi. plat mild steel 2 mm 3 mm . kapasitas 12.Main shaft: Baja poros high tensile strength 1½” . plat mild steel 2 mm 4 mm . plat mild steel 5 mm Main Shaft & Bearing : .000.600.000. plat 6 mm .5 m3 Ukuran kotak penampung = 3.2 m Tinggi Total : 3.5 mm Panjang : 4 s/d 10 m tergantung keperluan Kapasitas: 1250 Kg/jam Daya : motor listrik 2 HP. 220/380 V System transmisi: V belt.Rp 88.000. Kebutuhan peralatan (lanjutan) No.Bearing : Pillow Block Bearings 1½” .Rp 100.Rp 33. pipa ø 3" Main Shaft & Bearing : .. besi profil 15 cm .Kaki penyangga.Body.Kaki penyangga. kaki penyangga.Tabel 6.000.- Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil .Harga total Rp 134.Cover system transmisi. Suganal 27 . Kebutuhan dana peralatan X Rp 1.000. besi profil kanal 10 cm Fungsi Jumlah 5 Conveyor Memindahan 4 unit material (batubara atau adonan briket) dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai posisi yang diinginkan 6 Silo Menyimpan batubara halus sebelum dicampur dalam double roll mixer 2 unit Tabel 7.55 m Bahan Konstruksi: .Rangka.3mm) dengan molases Menggiling batubara ukuran sedang (3mm – 25 mm) menjadi batubara berukuran – 8 mesh Memecah batubara ukuran > 50 mm menjadi ukuran sedang 3 mm – 25 mm Memindahan material (batubara atau adonan briket) dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai posisi yang diinginkan Jumlah 1 unit 3 unit 1 unit 1 unit 4 unit Harga per unit Rp 134.000.Rp 86.No Nama alat 1 Mesin Briket Tipe Telur 2 Double Roll Mixer 3 4 5 Hammer Mill Jaw Crusher Conveyor Fungsi Mencetak adonan briket batubara menjadi briket batubara Mencampur bahan baku berupa batubara halus (.Rp 36.35 – 40 cm lebar conveyor Kotak penampung batubara halus.4 x 1.Roll penyangga belt bagian bawah. Gear box.000.Main shaft: Baja poros high tensile strength Bearing : Self Aligning Spherical Roller Bearings 2 “ – 3” Tipe : V flat belt Conveyor Belt: lebar = 40 cm. tebal = 7.Rp 36.Rp 86. pipa 0 8" .800. besi profil L 7 cm .Rp 22.000.6 x 2.Drum.. Chain & sprocket Bahan Konstruksi: .

000.000. Kebutuhan dana bangunan No. 737.163.920.= Rp 1.18.120.800.747. Nomor 13.Jumlah kebutuhan dana = Rp 504..No Nama alat 6 Silo Fungsi Menyimpan batubara halus sebelum dicampur dalam mixer Jumlah 2 unit Harga per unit Rp 30.- Gambar 5.000. Stockpile Tempat penimbunan bahan baku batubara Mes Karyawan Tem tinggal karyawan pabrik briket abtubara Penyiapan lahan Menyediakan lahan siap bangun luas 450 m2 81 m2 150 m2 90 m2 5.070.000 m2 Harga total Rp.000. Januari 2009 : 17 – 30 .000.80.000.120.+ RP 1.Harga total Rp 60.- Tabel 8.000.Tabel 7.000.000.000..937.574.000.000.000. Nama Bangunan 1 Bangunan pabrik 2 3 4 5 Fungsi Tempat melaksanakan operasi produksi briket batubara Gedung pengepakan Tempat pelaksanaan pengepakan produk briket batubara siap dikirim ke konsumen.Rp.- Catatan : harga tahun 2007 Jumlah = RP 1.070.- Catatan : harga tahun 2007 Jumlah Rp 504.800.Rp.436. Tata letak peralatan 28 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. 70.Rp. Kebutuhan dana peralatan (lanjutan) X Rp 1.Rp.000.000.

Bahan baku briket batubara relatif kering.39 %. Tegal dan lain lain. Kebutuhan tenaga kerja sebagai operator peralatan No. Kebutuhan tenaga kerja total No.555 kkal/kg dapat digunakan untuk pembuatan briket batubara dengan bahan pengikat molases atau tepung tapioka. Mutu briket batubara hasil percobaan masih memenuhi persyaratan briket batubara dengan nilai kalor 4. Pada saat ini telah cukup banyak bengkel permesinan yang berhasil membuat peralatan pembuatan briket batubara skala kecil. Bandung. bengkel bengkel tersebut terdapat di Bekasi. Perkiraan harga pada tahun 2007 dari tiap peralatan dan bangunan tercantum pada Tabel 7 dan Tabel 8.. nilai kalor 4. sedangkan kebutuhan tenaga secara keseluruhan tercantum pada Tabel 10. Untuk kepentingan operasi pabrik briket tersebut diperlukan tenaga terampil untuk menjalankan mesin-mesin maupun perlistrikan lingkungan pabrik.. – KESIMPULAN Batubara Kalimantan Selatan dengan kadar abu tinggi. Suganal 29 . Unit Alat 1 Mesin Briket Tipe Telur 2 Double Roll Mixer 3 Hammer Mill 4 Jaw Crusher 5 Conveyor 6 Silo Kualifikasi Tamatan STM Mesin Tamatan STM mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Tamatan STM Mesin Fungsi/jabatan Mengoperasikan mesin briket/operator Mengoperasikan unit double roll mixer/ operator Mengoperasikan unit hammer mill/operator Mengoperasikan unit jaw crusher /operator Mengoperasikan conveyor Mengatur laju pengeluarn dan penyimpanan serbuk batubara Jumlah 1 orang 2 orang 1 orang 1 orang 1 orang 1 orang Tabel 10. Bagan alir pembuatan briket batubara nonkarbonisasi skala kecil Tabel 9.Gambar 6.412 kkal/kg. Kebutuhan tenaga tercantum pada Tabel 9. Untuk wilayah Jawa. yaitu 38. Unit 1 Mesin pabrik 2 Pengeringan 3 4 5 Pengepakan Administrasi/kantor Manager Spesifikasi Tamatan STM Mesin Tamatan SLTP Tamatan SLTP Tamatan SLTA D3 Teknik Industri Fungsi/jabatan Mengoperasikan mesin pabrik /operator Mengatur proses pengeringan briket secara manual Mengepak produk briket batubara siap dikirim ke konsumen Mengatur administrasi kegiatan pabrik Menjalankan operasional pabrik Jumlah 7 orang 2 orang 2 orang 1 orang 1 orang proses seperti terlihat pada Gambar 6. maka pembuatan briket tidak perlu melalui tahap – – Rancangan Proses Pembuatan Briket Batubara Non Karbonisasi Skala Kecil . 6.

com/engbicoal. Universitas Diponegoro Semarang. The Komar Briquetting System. Evaluation of coal from PT Berau’s coal lati and Bunyu mine for binderless coal briquetting.au/energy center …………. 2008.2005. Suganal. Chemistry of Coal Utilization.5 ton/jam.unire-jp. Bio Coal Plant Project. sedangkan bahan pengikat yang disarankan adalah molases. 2006.. dalam Martin AE(editor). K. Binderless Briquetting of Coal. Nomor 13. http:/www. Pusat Informasi Energi. dkk. Suganal. Januari 2009 : 17 – 30 .jp/sekitan – – DAFTAR PUSTAKA Clark. – Untuk menjaga penurunan nilai kalor. Peran Strategis Gasifikasi Batubara Untuk Memperkuat Ketahanan Energi Nasional. Binderless Coal Briquetting company Pty Limited Maruyama. Jurusan Teknik Kimia. Suganal. Perangkat Pembakaran Batubara Pada Industri Kecil dan Rumah Tangga dalam Rangka Optimalisasi Energi Nasional. Agustus 2003. 2007.komarindustries.58 miliar. Penggunaan Serbuk Gergaji Pada Pilot Plant Briket Biobatubara Palimanan. 2008. 2007.coalbriquettes. 2006. tidak disarankan penambahan bahan pengikat berupa serbuk tanah liat dan material imbuh lain seperti serbuk kapur padam dan lainnya.go. 1961.csiro..com …………. Chemical Engineers’ Handbook. 2007. Briquette Production Technology. Yogyakarta. http:/www. Yogyakarta. Briquetting. Modifikasi Kompor Briket Batubara sebagai Upaya Peningkatan Penggunaan Briket Batubara dan Batubara Skala Nasional Pada Industri Kecil Padat Energi dan Rumah Tangga. Prosiding Seminar Kimia Nasional XV. Paparan Seminar Gasifikasi Batubara Peringkat Rendah. Prosiding 30 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.. Perry.nedo. 2004. http:/ www. Jurusan FMIA UGM. 2003. ………….com/bb activities …………. Suganal. W.. Yusgiantoro. Prosiding Seminar Nasional Rekayasa Kimia dan Proses 2008. Jaringan Kerjasama Kimia Analitik Indonesia. Peralatan dan mesin relatif sederhana dan dapat dirakit di dalam negeri Seminar nasional III.det. dkk. Blue print Pengelolaan Energi Nasional. 2002. Texas.. Jakarta. P. Jaringan Kerjasama Kimia Indonesia. Binderless Coal Briquetting company. Seventh edition. India. Prosiding Seminar Kimia Nasional XIV. John Wiley&Son.. 2005. T.. USA: 609-665. Untuk pembuatan briket skala kecil dengan kapasitas 2. http:/www. R.H.. Schinzel. Departemen Energi Dan Sumber Daya Mineral. Mc Graw Hill Book. Mei 2006. Yogyakarta 6-7 September 2004.. 7 Desember 2006. diperlukan dana investasi sebesar Rp 1. jumlah karyawan 13 orang. 2006.pengeringan. http:/www.. Pengembangan Produk Pilot Plant Briket Biobatubara Di Palimanan.

power plant. Kajian dilakukan berdasarkan pengumpulan data spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4 dan data kualitas batubara Indonesia. batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah. The study was based on the literature study of coal design parameter of the Suralaya Power Plant and Indonesia coal data. Dalam rangka melihat kemungkinan penerapan sistem blending batubara untuk pembangkit tersebut. study on the possibility of blending system for Indonesian coal has been carried out.BLENDING BATUBARA UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK STUDI KASUS PLTU SURALAYA UNIT 1. However. Keywords: coal. Pengujian penggerusan dan pembakaran dalam skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan perlu dilakukan untuk mengevaluasi batubara hasil blending. Results of the study showed that to overcome the problem of coal supply the Suralaya Power Plant unit 1-4. Bandung Naskah masuk : 26 Mei 2008. sehingga parameter ini perlu diperhatikan mengingat parameter ini cenderung bersifat nonaditif. revisi kedua : 19 Januari 2009. blending. Kata Kunci: batubara. The use of other coal that has different quality with the Air Laya coal can disturb the operation power plant boiler. and therefore this parameter needs to be considered since it tends to be nonadditive. the high rank coal generally has low grindability index. especially calorific value. Penggunaan batubara lain yang spesifikasinya tidak sesuai dengan kualitas batubara Air Laya tersebut dapat mengganggu kelancaran pengoperasian ketel uap pembangkit. telah diadakan kajian kemungkinan blending batubara Indonesia. 623. blending. Tests on coal mill and coal combustion at higher scale that close to the real practical condition need to be carried out for evaluating the coal blend results. Slamet Suprapto 31 . sistem blending dapat dilakukan antara batubara peringkat rendah (lignit) dan batubara peringkat tinggi (bituminus) sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara.4 SLAMET SUPRAPTO Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara (tekMIRA) Jl. pembangkit listrik. peringkat ABSTRACT The design of Suralaya Power Plant unit 1-4 that started to operate at the end of nineteen eighties was based on Air Laya coal. Jenderal Sudirman No. Sumatera Selatan yang termasuk batubara subbituminus dengan parameter kualitas tertentu. revisi pertama : 12 Desember 2008. revisi terakhir : Januari 2009 SARI PLTU Suralaya unit 1-4 yang mulai beroperasi pada akhir tahun 80-an didesain sesuai dengan kualitas batubara Air Laya. South Sumatera with certain quality parameters. terutama nilai kalor. coal blending system can be carried out between low rank coal (lignite) and high rank coal (bituminous) based on the coal quality parameter specification. In relation to the possibility of development of coal blending for the Suralaya Power Plant. Hasil kajian menunjukkan bahwa untuk mengatasi masalah pasokan batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4. Namun demikian. rank Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4.

2002).1. Banten contohnya yang dibangun pada tahun akhir 1980-an didesain untuk batubara subbituminus dengan nilai kalornya rata-rata ± 5. PT Indonesia Power (anak perusahaan PT PLN Persero) akan membangun coal blending plant (Kompas. PLTU Suralaya Unit 1-4 (4x400 MW) dirancang berdasarkan kualitas batubara Air Laya.000 kal/g dan bahkan ada yang lebih dari 6000 kal/g. Batubara dengan nilai kalor 5. karena perannya dalam menunjang kelistrikan nasional tetap dibutuhkan. Walaupun pembangkit-pembangkit baru mulai dibangun. Apalagi spesifikasi atau persyaratan kualitas batubara untuk PLTU tidak hanya ditentukan berdasarkan parameter nilai kalor.7%. Di samping itu. 2007). 2008) di PLTU Suralaya. yakni 33% dibanding sumber energi lainnya (Suprapto. lingkungan pengendapan dan cara penambangan dapat memengaruhi kadar abu serta karakteristik abu (komposisi dan titik leleh abu). sumbangan batubara dalam bauran energi (energy mix) nasional diproyeksikan menjadi yang terbesar. kualitas suatu endapan batubara juga dipengaruhi oleh lingkungan pengendapannya. batubara telah ditetapkan sebagai bahan bakar alternatif utama pengganti bahan bakar minyak. Sedangkan PLTU-PLTU yang sudah ada yang dibangun pada antara 1980-an sampai 1990-an didesain berdasarkan batubara yang mempunyai nilai kalor lebih dari 5. Nomor13. PENDAHULUAN Mengingat potensinya yang paling besar di Indonesia.3% (Suprapto. Tambahan lagi.3% dan antrasit hanya 0.200 kal/g atau PLTU Ombilin kapasitas didesain menggunakan batubara peringkat bituminus dengan nilai kalori lebih dari 6000 kal/g (KONEBA. saat ini sedang dibangun rencana 10. Oleh karena itu. karakteristik dan kualitas batubara sangat bervariasi dan tidak homogen dibandingkan dengan bahan bakar yang telah mengalami proses pengolahan dalam pabrik. sementara peringkat tinggi yakni bituminus 14. bukan berarti pembangkit-pembangkit listrik yang sudah lama akan ditinggalkan. PLTU Suralaya.000 kal/g (as received). Dalam rangka mencapai sasaran tersebut. Januari 2009 : 31 – 39 . Walaupun blending batubara sudah umum dilakukan dalam pembangkit listrik. seperti misalnya bahan bakar minyak. sehingga keterlambatan pasokan batubara Air Laya ke PLTU Suralaya dapat menganggu kelancaran operasi pembangkit. Untuk pembangkit listrik yang akan dibangun tersebut direncanakan digunakan batubara lignit dengan nilai kalori ± 4. 2007). Batubara yang diekspoitasi saat ini umumnya batubara subbituminus dan bituminus yang sebagian besar sudah dialokasikan untuk memenuhi kontrak jangka panjang untuk ekspor atau kebutuhan dalam negeri. Endapan batubara Indonesia sebagian besar terdiri atas batubara peringkat rendah. 32 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Karakteristik pembakaran batubara dalam pembangkit listrik sangat dipengaruhi oleh kualitas batubara. Sebaliknya. TINJAUAN PUSTAKA Batubara Untuk Pembangkit Listrik Batubara merupakan bahan bakar padat yang terbentuk secara alamiah akibat pembusukan sisa tanaman purba dalam waktu jutaan tahun.Com. 2. atau bahkan dapat bervariasi dari lapisan satu ke lapisan lainnya pada daerah atau cekungan geologis yang sama. yakni lignit 58. Untuk mengatasi ketergantungan terhadap pasokan dari satu jenis batubara atau pemasok tersebut. 2. Pada tahun 2025. 2007). Hal ini mengakibatkan kualitas endapan batubara bervariasi dari satu lokasi ke lokasi lainnya.1. Sedangkan batubara lignit baru mulai dieksploitasi terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Batubara Indonesia yang masih belum banyak dimanfaatkan adalah batubara lignit dengan nilai kalor ± 4. Selain tingkat pembatubaraan atau peringkat (rank). Batubara peringkat yang lebih tinggi seperti batubara bituminus dan antrasit mempunyai nilai kalor tinggi dan kadar air rendah. batubara peringkat rendah seperti lignit dan batubara subbituminus mempunyai kadar air tinggi dan nilai kalor rendah.000 MW PLTU (pembangkit listrik tenaga uap) berbahan bakar batubara (MinergyNews. Untuk pemanfaatan batubara sebagai bakar pembangkit listrik. subbituminus 26.000 kal/g.7%.000-an tersebut sudah mulai sulit diperoleh di pasaran. kajian yang mendalam perlu dilakukan mengingat bervariasinya parameter kualitas batubara. batubara peringkat rendah umumnya mempunyai kecenderungan swabakar yang tinggi dan mempunyai sifat fisik yang rendah (mudah hancur). upaya peningkatan dan diversifikasi penggunaan batubara terus dilakukan. PLTU Suralaya yang mulai beroperasi pada akhir tahun 1980-an saat ini masih merupakan salah satu andalan bagi sistem kelistrikan Jawa dan Bali. baik sebagai bahan bakar langsung maupun melalui konversi menjadi bahan bakar gas atau bahan bakar cair. Sumatera Selatan yang termasuk dalam peringkat subbituminus dengan nilai kalor lebih dari 5000 kal/g.

kadar maseral. Operasi PLTU tanpa penggerus cadangan ini sangat riskan dan dapat mengganggu kelangsungan operasi PLTU. Kebanyakan analisis dan pengujian parameter nonaditif di laboratorium tidak merefleksikan kondisi pembakaran yang sebenarnya dalam pembangkit listrik. Jika pembakaran tidak sempurna. Hal ini dapat mengganggu kinerja electrostatic precipitator yang berfungsi menangkap abu terbang (fly ash) dan selanjutnya juga mempersulit pemanfaatan abu.Karakteristik pembakaran batubara dalam sebuah pembangkit listrik terutama dipengaruhi oleh (Reid. dan nilai kalor cenderung bersifat aditif. maka idealnya desain suatu pembangkit listrik berbahan bakar batubara dibuat berdasarkan kualitas batubara yang akan digunakan. kadar abu tinggi dan abu rendah. membantu mengatasi masalah yang terjadi apabila digunakan batubara yang di luar spesifikasi. konfigurasi fisik dan luas perpindahan panas dalam ketel uap (boiler). nitrogen. sehingga memungkinkan dapat memenuhi persyaratan konsumen. sistem blending dapat memberikan banyak keuntungan di antaranya: meningkatkan kelenturan (fleksibilitas) dan memperluas kisaran batubara yang dapat digunakan. sehingga penggerus kemungkinan perlu ditambah atau penggerus cadangan perlu dioperasikan. Apabila digunakan batubara dengan kalori lebih rendah dari spesifikasi. hardgrove grindability index) (Savage. zat terbang. Data kualitas tersebut kemudian digunakan untuk memprediksi karakteristik pembakaran dalam ketel uap. 1974). maka efisiensi menurun dan kadar karbon dalam abu meningkat. karbon total. maka diperlukan jumlah batubara yang lebih banyak. 2. Beberapa pengaruh yang dapat terjadi jika menggunakan batubara di luar spesifikasi (off design) pada pembangkit yang telah ada (existing) di antaranya adalah kinerja penggerus. Sedangkan nilai muai bebas. keterlambatan pasokan batubara sesuai spesifikasi menyebabkan digunakannya batubara lain yang kualitasnya tidak memenuhi spesifikasi. sulfur. diversifikasi pasokan batubara untuk keamanan pasokan.2. Selain kinerja mesin penggerus dan pengendapan abu. 1991): kualitas atau karakteristik batubara. Dalam suatu pembangkit listrik. Batubara keras atau dengan HGI rendah tidak cocok digerus pada penggerus yang dirancang untuk batubara lunak (HGI tinggi). titik leleh abu dan HGI umumnya cenderung bersifat nonaditif. kadar belerang tinggi dan belerang rendah. Kecenderungan pembentukan endapan abu tergantung komposisi dan titik leleh abu batubaranya. posisi burner. Blending Batubara Blending merupakan cara terbaik untuk memperbaiki dan menyatukan sifat dan kualitas batubara dari daerah atau dengan jenis yang berbeda. klorin. Parameterparameter air. Namun tidak semua parameter kualitas batubara campuran dapat diprediksi menggunakan data kualitas hasil perhitungan rata-rata berat. Oleh karena itu. Slamet Suprapto 33 . sehingga dapat menggunakan perhitungan tersebut. batubara yang dipasok untuk sebuah pembangkit listrik seharusnya sesuai dengan spesifikasi yang dipersyaratkan. Pengendapan (deposisi) abu pada permukaan area perpindahan panas pada sebuah ketel uap adalah salah satu masalah yang paling serius yang dapat terjadi jika menggunakan batubara di luar spesifikasi. Sedangkan Riley (1989) menyatakan bahwa HGI dapat bersifat aditif asalkan perbedaan nilai HGI masing-masing batubara yang di-blending tidak lebih dari 10. Biasanya blending dilakukan antara batubara peringkat rendah dan peringkat tinggi. Menurut Hower (1988) HGI dapat bersifat aditif hanya untuk blending antara batubara dengan peringkat yang sama. Sering terjadi. penggunaan batubara di luar spesifikasi juga dapat mengganggu karakteristik dan efisiensi pembakaran. HGI menentukan cocok tidaknya batubara dengan penggerus yang ada. Bahkan banyak peneliti dan operator PLTU batubara kemudian mengembangkan model Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4. kadar abu. pengendapan abu (slagging dan fouling) dan karakteristik dan efisiensi pembakaran. karbon padat. Mengingat hal tersebut di atas. Paramater yang nonaditif tersebut menyebabkan evaluasi terhadap batubara blending untuk pembangkit listrik menjadi kompleks. Kualitas batubara campuran (hasil blending) umumnya dihitung berdasarkan rata-rata berat data analisis dan pengujian yang diperoleh dari masingmasing batubara individu (yang dicampur). oksigen. Hal ini dapat mengganggu kelancaran pengoperasian pembangkit listrik. Atau sebaliknya. batasan yang ditentukan oleh desain boiler. hidrogen. Kinerja mesin penggerus (pulverizer) biasanya berhubungan dengan nilai kalor dan sifat ketergerusan (HGI. selain analisis dan pengujian laboratorium. masih diperlukan pengujian pembakaran dengan kondisi yang mendekati kondisi di lapangan. kondisi operasional.

Spesifikasi tersebut (Kannan.225 kal/g dan kadar air maksimum 28. maka semaksimal mungkin data tersebut dikonversikan ke dasar contoh asal. Agar sesuai dengan spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya. 3. software komputer yang sekarang banyak terdapat di pasaran dapat digunakan. Batubara Air Laya.225 kal/g masih dapat digunakan dan menghasilkan keluaran (daya) listrik sesuai kapasitas pembangkit asalkan seluruh fasilitas penanganan (handling) dan penggiling (mill) dijalankan. Di samping itu. Software tersebut dikembangkan menggunakan persamaan linier untuk parameter kualitas batubara yang bersifat aditif. Oleh karena itu.279°C (minimum 1010°C).30%. tetapi keluaran listrik akan turun walaupun semua fasilitas penanganan dan penggiling batubara dijalankan.400 MW terdiri dari 7 unit.berdasarkan data parameter nonaditif laboratorium. karena terdapat lebih banyak parameter dan kemungkinan kombinasi blending. 6.3.000 kal/g. pengujian pembakaran skala bangku (bench scale) dan kondisi nyata di lapangan. kadar abu dan kadar belerang. Sumatera Selatan yang digunakan untuk dasar pembuatan desain PLTU Suralaya unit 1-4. yakni kadar abu dan kadar belerang masingmasing 7. Parameter kualitas bersifat aditif lainnya.1. Untuk kelompok batubara lignit digunakan dua contoh. Karakteristik abu yang terdiri dari indeks penerakan dan indeks fouling yang menyatakan kecenderungan abu batubara membentuk endapan terak (slagging) dan fouling dihitung menggunakan data komposisi abu dan titik leleh abu batubara.1. dengan pembatasan nilai kalor minimum 4. = parameter kualitas produk blending = proporsi batubara ke 1 dalam blending = proporsi batubara ke 2 dalam blending = proporsi batubara ke n dalam blending = parameter kualitas batubara ke 1 = parameter kualitas batubara ke 2 = parameter kualitas batubara ke n METODOLOGI Pengumpulan spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya terutama melalui laporan dan internet. Data batubara tersebut didasarkan pada nilai kalor batubara >6.90%).000-an kal/g). yakni diantaranya HGI 61. 1985) sesuai untuk batubara peringkat subbituminus dengan nilai kalor dan kadar air masing 5. 34 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. tetapi untuk tiga atau lebih jenis batubara akan menjadi lebih kompleks. 4.80% (maksimum 12. Data kualitas batubara dikumpulkan Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya yang didasarkan atas kualitas batubara Air Laya dapat dilihat pada Tabel 1. Januari 2009 : 31 – 39 . Secara matematis. Pengolahan Data Data kualitas batubara yang dikumpulkan umumnya masih bervariasi dasar analisisnya.40% (maksimum 0. Banten yang mempunyai kapasitas terpasang sebesar 3. Untuk batubara bituminus. HASIL DAN PEMBAHASAN Spesifikasi Batubara Untuk PLTU PLTU Suralaya yang terletak di Merak.8 (minimum 48). Pengumpulan data dilakukan melalui penulusuran makalah dan laporan yang berhubungan dengan PLTU Suralaya. yakni 4 x 400 MW (unit 1-4) dan 3 x 600 MW (unit 5-7). αnXn Xb α1 α2 αn X1 X2 Xn 3. indeks penerakan “medium” dan indeks fouling “tinggi”. terutama nilai kalor. yakni batubara lignit (nilai kalor rendah. mem-blending dua jenis batubara relatif mudah. seperti dasar contoh asal (as received). titik leleh abu 1.242 kal/g (as received) dan 23. 3. datanya dikumpulkan dari laporan dan internet. 1995): Xb = α1X1 + α2X2 + ….2. yakni batubara dari daerah Musi Banyuasin dan Peranap (keduanya Sumatera Selatan).60%.80%) dan 0. Pengumpulan Data Batubara Indonesia Pertimbangan pertama dalam pengumpulan data batubara adalah didasarkan pada peringkatnya. Yang dimaksud dengan batas minimum nilai kalor tersebut adalah batubara dengan nilai kalor 4. untuk melengkapi data batubara Peranap dilakukan analisis dan pengujian contoh batubara di laboratorium. Batubara dengan nilai kalor lebih rendah dari batas minimum tersebut juga bisa digunakan. 3. 4000-an kal/g atau kurang) dan batubara bituminus (nilai kalor tinggi. Rumus linier sederhana untuk blending batubara yang menggunakan parameter aditif adalah sebagai berikut (Carpenter. Nomor13. Sedangkan parameter kualitas yang bersifat non-aditif. 4. dasar kering udara (air dried basis) dan dasar kering (dry basis).

batubara peringkat tinggi dapat dilihat pada Tabel 2 dan 3 (Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia. Sedangkan jika menggunakan batubara Peranap. °C Indeks Penerakan Indeks Fouling Peranap (Sumsel) 49. Mesin penggiling yang tersedia untuk untuk 1 unit 400 MW tersebut tersedia sebanyak 5 buah yang masing-masing berkapasitas 65 ton batubara/jam (KONEBA. Normalnya.2. % HGI Deformasi awal abu. apabila digunakan batubara Air Laya Tabel 2. Spesifikasi batubara untuk PLTU Suralaya unit 1-4 Parameter (as received) Kadar air.80 0. maka untuk menghasilkan listrik yang sama dibutuhkan ± 202 ton batubara/jam. Slamet Suprapto 35 .200 tinggi* rendah* Bara Mutiara Prima (Sumsel) 30.30% dan kadar belerang 0.00 1.60 7.00 4.350°C.234 kal/g dan 4.400 0. Namun demikian.350 rendah* Rendah Catatan: * dihitung dari kadar abu dan titik leleh abu ( Lampiran 1) Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4.010 - Maksimum 28. Kualitas Batubara Indonesia Data kualitas batubara Indonesia yang terdiri atas batubara peringkat rendah.11% dan 0. Normalnya untuk mengoperasikan 1 unit kapasitas 400 MW menggunakan batubara Air Laya dibutuhkan ± 170 ton batubara/jam. Oleh karena itu. % Kadar Abu. °C Indeks penerakan Indeks fouling Minimum 4. kal/g Sulfur.8 1. 2002). % Nilai Kalor. maka parameter kualitas yang tidak memenuhi spesifikasi adalah nilai kalornya.80 5. Batubara peringkat rendah mempunyai nilai kalor dicirikan terutama oleh tingginya kadar air dan rendahnya nilai kalor. Apabila digunakan batubara Bara Mutiara Prima. kedua batubara tersebut termasuk bersih dengan masing-masing kadar abu 1. % Nilai kalor. Titik leleh abu batubara Peranap cukup rendah. yakni masing-masing 54 dan 60. Sedangkan indeks fouling keduanya termasuk klasifikasi “rendah”. kal/g Sulfur.200°C dibanding abu batubara Bara Mutiara Prima yang deformasi awalnya sebesar 1. maka dibutuhkan 275 ton batubara/jam.400 kal/g (as received).225 48 1.90 - Rata-rata 23.19 3. Apabila kedua batubara peringkat rendah tersebut digunakan untuk PLTU Suralaya unit 1-4. % HGI Tititk leleh abu (Deformasi awal). yakni dengan deformasi awal 1.279 medium tinggi Catatan: as received = dasar contoh asal 4. 2008). batubara Peranap dan Bara Mutiara Prima mempunyai kadar air total masingmasing 49% dan 30% dan dengan nilai kalor 3.30 60 1.Tabel 1.19% dan 4.242 0.30 12.40 61. Kedua batubara tersebut mempunyai sifat ketergerusan menengah.234 0.30%.30 4. indeks penerakan batubara Peranap termasuk klasifikasi “tinggi” dan batubara Bara Mutiara Prima termasuk “rendah”. Data kualitas batubara Indonesia peringkat rendah Parameter (as received) Kadar Air. % Kadar abu.11 54 1. Dari data dua contoh batubara peringkat rendah yang dikaji.

hanya dioperasikan 3 buah mesin, sehingga 2 mesin lainnya untuk cadangan. Apabila digunakan batubara Bara Mutiara Prima dibutuhkan 4 mesin, sedangkan 1 mesin untuk cadangan. Tetapi apabila digunakan batubara Peranap, maka seluruh mesin harus dioperasikan, sehingga tidak ada cadangan. Pengoperasian seluruh mesin penggerus tersebut dapat menimbulkan risiko gangguan terhadap operasi pembangkit listrik mengingat perlunya waktu perawatan setiap mesin. Oleh karena itu, untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan blending plant guna meningkatkan nilai kalor batubara peringkat rendah yang tersedia. Data kualitas batubara peringkat tinggi yang dikaji adalah sebanyak 14 buah, berasal dari Sumatera dan Kalimantan. Selain dicirikan oleh tingginya nilai kalor dan rendahnya kadar air, batubara-batubara tersebut umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah atau sulit digerus dengan HGI kurang dari 50. Batubara Danau Mas Hitam mempunyai HGI bervariasi antara 40-60. Sedangkan batubara Kartika Selabumi yang mempunyai HGI tinggi atau mudah digerus, yakni sebesar 80. Tetapi batubara ini juga mempunyai nilai bebas yang tinggi yakni 9, tidak seperti umumnya batubara Indonesia yang mempunyai nilai muai bebas rendah. Kadar abu dan kadar belerang batubara peringkat tinggi bervariasi, masing-masing antara 2,0% sampai 19,48% dan 0,15% sampai 2,56%. Sedangkan data indeks penerakan dan indeks fouling hanya tersedia untuk batubara Kartika Selabumi dan Lana Harita. Batubara Selabumi mempunyai indeks penerakan dan indeks fouling klasifikasi “rendah”. Sedangkan untuk batubara Lana Harita klasifikasi “rendah” dan “medium”. 4.3. Blending Batubara

Yang masih perlu dipertimbangkan adalah HGI batubara peringkat tinggi, yang ternyata kebanyakan kurang dari 50. Walaupun HGI batubara peringkat rendah umumnya tinggi, mengingat parameter ini cenderung nonaditif maka HGI hasil blending belum tentu sesuai perhitungan. Apabila nilai HGI hasil blending ternyata lebih rendah dari nilai perhitungan maka kapasitas atau keluaran penggerus turun atau kehalusan produk penggerusan dapat menurun. Menurunnya keluaran penggerus dapat menurunkan keluaran listrik. Sedangkan menurunnya kehalusan batubara dapat menyebabkan menurunnya efisiensi pembangkit dan meningkatnya kadar karbon tak terbakar dalam abu batubara. Untuk mengkaji lebih mendalam, maka pengujian penggerusan dan pembakaran skala yang lebih besar seperti skala meja atau skala yang lebih mendekati kapasitas nyata di lapangan perlu dilakukan sebelum mengaplikasikannya pada kondisi sebenarnya. Batubara Kartika Selabumi mempunyai nilai kalor cukup tinggi, yaitu 7.889 kal/g dan juga HGI yang tinggi yakni 80, tetapi nilai muai bebasnya sangat tinggi mencapai 9. Normalnya, nilai muai bebas batubara untuk pembangkit listrik maksimum 4 (Rance, 1975). Tambahan lagi nilai muai bebas merupakan parameter nonaditif, sehingga karakteristik pembakaran batubara hasil blending batubara ini tidak dapat diprediksi dari masingmasing batubara yang akan di-blending. Selain HGI, karakteristik abu yakni kecenderungan penerakan dan fouling juga perlu dipertimbangkan. Mengingat data indeks penerakan dan indeks fouling kebanyakan tidak tersedia, maka parameter tersebut perlu dilengkapi. Apalagi jika hasil uji di laboratorium dan perhitungan menyatakan kecenderungan kedua indeks tersebut termasuk klasifikasi “tinggi”, maka uji pembakaran pada kondisi yang mendekati ketel uap perlu dilakukan. Pengendapan terak abu terjadi di daerah ruang bakar atau radiasi, sedangkan endapan fouling terjadi pada daerah yang lebih dingin yakni pada pipa-pipa ketel uap. Apabila terak abu yang menempel di dinding tungku (ruang bakar) sulit diambil maka perpindahan panas ke dinding akan menurun dan selanjutnya efisiensi pembakaran juga menurun (Elliot, 1981). Endapan fouling yang terjadi pada pipa ketel uap menyebabkan penyempitan pada deretan pipa yang selanjutnya mempercepat laju alir gas buang. Hal ini dapat menyebabkan naiknya suhu gas buang dan juga erosi terhadap pipa ketel uap.

Blending yang dilakukan didasarkan pada pencampuran kalori rendah dengan kalori tinggi atau antara batubara peringkat rendah dengan peringkat tinggi. Berdasarkan data kualitas tersebut di atas, blending batubara Indonesia antara peringkat rendah dan peringkat tinggi dapat dimungkinkan untuk memenuhi persyaratan nilai kalor sebesar 5.242 kal/ g (as received) dan parameter yang bersifat aditif lainnya, seperti misalnya kadar air, kadar abu dan kadar belerang. Dengan menggunakan rumus (perhitungan rata-rata) linier, maka jumlah proporsi masing-masing batubara yang dicampur dapat ditentukan untuk memenuhi parameter spesifikasi ketel uap PLTU Suralaya 1-4.

36

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39

Tabel 3.

Data kualitas contoh batubara Indonesia peringkat tinggi

Parameter (as received) Lumut 12 3,70 - 9,26 6.021 - 6.947 0,22 - 1,44 45 - 55 Mandiri Inti Perkasa Blok A 14-18 2,81 - 4,69 6.200 - 6.400 0,28 - 0,66 46 - 49 1.200 Kartika Selabumi Mining

Allied Indo Coal Parambahan 9,5 3,8 6.240-6.294 0,54 48 Fajar Bumi Sakti 8 (adb) 7 (adb) 6.700 (adb) 42 - 46 — 3 - 6 (adb) 6 - 15 (adb) 6.000 - 7.500 0,8-2,56 (adb) 45 – 50 1.250 15,5 - 17,00 4,5-5,5 (adb) 6.100 - 6.500 (adb) 0,5-0-0,80 (adb) 45 – 46 Gunung Bayan Pratama Bayan Indominco Mandiri Bontang 18 (adb) 2,0 5.600 - 6.250 0,15 48 – 50 1.150-1.200 16 4,72 6.040 0,94 45 -

Kaltim Prima Kideco Coal Prima Mandau, Payau, Melawan

Multi Harapan Utama Busang

PTBA

Anugerah Bara Kaltim Anugerah

Sari Andara Persada Muara Bungo 10,11 (adb) 19,48 (adb) 5.949 0,83 (adb) 48 1.300 Lana Harita Indonesia Block III

Kadar Air, % Kadar Abu, % Nilai Kalor, kal/g Sulfur, % HGI Deformasi awal abu, °C Indeks Slagging Indeks Fouling

11 9 7.000 1 45 - 50 -

Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4, Slamet Suprapto

Parameter (as received)

Danau Mas Hitam

Kadar Air, % Kadar Abu, % Nilai Kalor, kal/g Sulfur, % HGI Deformasi awal abu, °C Indeks Penerakan Indeks Fouling Nilai Muai Bebas

14 13 - 19 (adb) 5.900 - 6.500 (adb) 1,0 (adb) 40 - 60 1.280 -

19,5 4,65 (adb) 6.210 0,70 (adb) 47 1.490 -

8 3,78 7.889 0,85 80 1.220 rendah* rendah* 9

7,0 (adb) 6.977 1,16 (adb) 43 >1.200 rendah* medium* -

Catatan: adb = air dried basis (dasar kering udara) * = dihitung berdasarkan komposisi dan titik leleh abu (Lampiran 1)

37

5. -

PENUTUP Blending merupakan cara terbaik untuk mengatasi masalah ketersediaan batubara dan ketergantungan terhadap satu sumber pemasok batubara untuk pembangkit listrik di Indonesia. Untuk mengatasi masalah pasokan batubara pada PLTU Suralaya unit 1-4, sistem blending dapat dilakukan antara batubara peringkat rendah (lignit) dan batubara peringkat tinggi (bituminous) sesuai dengan spesifikasi parameter kualitas batubara, terutama nilai kalor. Batubara peringkat tinggi umumnya mempunyai sifat ketergerusan rendah atau sulit digerus dan parameter ini perlu diperhatikan karena cenderung tidak bersifat aditif sehingga hasil blending dengan batubara peringkat rendah tidak dapat diprediksi menggunakan rumus linier. Data komposisi abu dan titik leleh abu batubara peringkat tinggi perlu dilengkapi agar dapat digunakan untuk mengevaluasi kemungkinan pembentukan endapan terak dan endapan fouling dalam pembakaran batubara hasil blending. Pengujian pengerusan dan pembakaran dalam skala yang mendekati kondisi nyata di lapangan perlu dilakukan untuk mengevaluasi batubara hasil blending.

Hower, J.C., 1988. Additivity of hardgrove grindability index: a case study. Journal of Coal Quality, 7(2), 68-70. Kannan, V., 1985. Design considerations for Suralaya Unit 1 & 2 Steam generators. Presented at the Electric Indonesia Exhibition, Jakarta, October 29 – November 2, 1985. Kompas, 2008. CBC Dibangun Atasi Kelangkaan Batubara. 26 Pebruari 2008. KONEBA, 2002. Kuisioner Data PLTU Suralaya. 1 November 2002. MinergyNews.Com, 2007. Program 10 Ribu MW Hanya untuk 3 Tahun. Kamis 13 Desember 2007 Rance, H.C., 1975. Coal Quality Parameters and their influence in coal utilization. Shell International Petroleum Co. Ltd., Jakarta. Reid, W.T., 1991. Coal Ash – Its effects on combustion systems. In: Elliot, M.A. (Ed.), Chemistry of coal utilization. 2nd Suppl. Vol. John Wiley & Sons, New York, 1389-1445. Riley, J.T., Gilleland, S.R., Forsyhte, R.F., Graham, H.D. and Hayes, F.J., 1989. Non-aditif analytical values for coal blend. Proceeding of the 7th international conference on coal testing. Charleston, West Virginia, 21-23 March. Savage, K.I., 1974. Pulverizing characteristics of coal hardgrove grindability index. Keystone Coal Industry Manual. Suprapto, S., 2007. Gasifikasi batubara sebagai alternative pengganti BBM. Makalah disampaikan pada Forum Litbang Energi dan Sumber Daya Mineral, Jakarta, 21-22 November 2007.

-

-

-

-

DAFTAR PUSTAKA Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia, 2008. Kualitas Batubara.http/www.apbi-icma. Carpenter, A.M., 1995. Coal Blending for Power Station. IEA Coal Research, London. Elliot, M.A. (ed.), 1981. Chemistry of coal utilization. Second Suppl. Vol., John Wiley & Sons, New York.

38

Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05, Nomor13, Januari 2009 : 31 – 39

54 1.86 SiO2 Al2O3 Fe2O3 CaO MgO K2O Na2O TiO2 MnO2 SO3 P2O5 Titik Leleh Abu.420 >1. °C 55.385 1.300 1.200 >1.600 Deformasi awal Pelunakan Hemisfer Flow 1.56 23.65 0.290 1.01 1.81 0.84 1.360 1.50 0. % Peranap Bara Mutiara Prima Kartika Sela Bumi 33.51 8.66 2.12 0.310 1.21 2.68 0. Kartika Selabumi Mining dan Lana Harita Komponen.15 0.200 Blending Batubara untuk Pembangkit Listrik : Studi Kasus PLTU Suralaya Unit 1-4.94 2.500 1.19 9.73 15.249 1.61 24.65 4.77 0. Komposisi dan titik leleh abu batubara Peranap.73 0.350 1.82 4.Lampiran 1.261 1.36 0.02 Lana Harita Indonesia 40.370 1.29 0.22 1.200 >1.01 0.200 1.220 1.200 >1. Bara Mutiara Prima.13 5.31 29.45 0. Slamet Suprapto 39 .50 3.07 Reduksi Oksidasi 1.14 2.

hidrogen (Hydrogen =H). karena dapat menangani limbah batubara yang berkualitas rendah (low grade coal) dengan kisaran nilai kalori 3000 – 5000 kal/gr. abu (Ash =A). Hasil menunjukkan bahwa limbah batubara tipe SL dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif sebagai bahan bakar langsung pada industri. revisi kedua : 28 Januari 2009. karakteristik pembakaran 40 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Propinsi Kalimantan Timur (Kaltim).id Naskah masuk : 23 Desember 2008. Besar butir limbah batubara tipe SL Kaltim sesuai dengan ukuran untuk umpan pembakar siklon. zat-terbang (Volatile Matter =VM) dan karbon tertambat (Fixed Carbon =FC). 623. Jenderal Sudirman No. revisi terakhir : Januari 2009 ABSTRAK Limbah batubara (sludge) didefinisikan sebagai bahan karbonan.id dan ikin@tekmira. PT. Multi Harapan Utama (MHU). M dan A tinggi di atas 25% dan fuel ratio (FC/VM) sekitar satu. Tipe limbah batubara yang dikaji dalam tulisan ini adalah slurry (=SL) sebagai limbah sisa proses pencucian batubara.esdm. Tanito Harum (TH). Januari 2009 : 40 – 46 . : (022) 6030483 Fax. yaitu PT. Kata kunci : batubara. karakteristik limbah.HUBUNGAN ANTARA PARAMETER KARAKTERISTIK LIMBAH BATUBARA KALIMANTAN TIMUR DAN KARAKTERISTIK PEMBAKARANNYA STEFANO MUNIR DAN IKIN SODIKIN Pusat Penelitian dan Pegembangan Teknologi Mineral dan Batubara Jl. Nomor13. revisi pertama : 16 Januari 2009. Selain itu dilakukan analisis ayak untuk mengetahui distribusi ukuran partikel dari contoh batubara SL yang diteliti. Sedangkan karakteristik pembakaran yang memengaruhi kinerja tungku siklon ditentukan oleh nilai kalori. dan PT. Bandung – 40211 Telp. : (022) 6038027 e-mail : stefano@tekmira. Karakteristik limbah batubara ditentukan berdasarkan parameter analisis proksimat seperti air-lembab (Moisture =M). slurry (SL). Karakteristik limbah batubara tergantung pada karakteristik batubara sumbernya dan pada umumnya berperingkat rendah (low rank coal). sehingga limbah batubara dapat langsung dibakar dengan sistem tersebut. dan oksigen (Oxygen =O). berasal dari endapan batuan sedimen yang mengandung bahan organik sehingga dapat terbakar. Bukit Baiduri Energi (BBE) yang masing-masing mempunyai unit pencucian batubara dengan skala produksi di atas 1 juta ton batubara per tahun. Contoh diambil dari 3 (tiga) perusahaan tambang batubara yang terletak di sepanjang Sungai Mahakam di Kabupaten Kutai Kartanegara. Pembakar siklon dipilih.go. titik pijar dan suhu pembakaran maksimum yang ditentukan oleh parameter analisis proksimat dan ultimat. dan analisis ultimat seperti karbon (Carbon =C). suhu nyala.go.esdm.

Result indicates that the sludge of SL type can be utilized as alternative fuel for direct combustion in industry.000 cal/gr. abu (% A) dan Sulfur (% S) serta nilai kalori. yaitu batubara kualitas rendah yang masih perlu dicuci dan batubara kualitas tinggi yang tidak perlu dicuci. The characteristic of sludge depends on the type of its source coal. 2007). ignition temperature. Berdasarkan parameter pengotornya seperti kadar air-lembab (% M). On the other hand the distribution of particle sizes was determined by sizing analysis. that are PT. Akumulasi jumlah limbah batubara tipe SL ini akan semakin besar sesuai dengan jumlah tambang batubara yang beroperasi di daerah Kaltim dan umur pengoperasian setiap tambang batubara yang Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan . and PT Bukit Baiduri Energi (BBE) with respective coal production capacities of above one million tons of coal per annum.13%. derived from sedimentary rock deposit containing organic matters so as to become combustible. Potensi SL belum dikelola secara komersial. yaitu batubara yang dapat dijual (saleable coal). hydrogen (H) and oxygen (O). combustion characteristic 1. Tanito Harum (TH).4 milyar ton (MEMR. kegiatan operasi penambangan di setiap lokasi tambang batubara pada umumnya menghasilkan 3 (tiga) produk. dirty coal = DC. Whereas in terms of the characteristic of its combustion that affects the performance of cyclone furnace was determined by calorific value. Keywords : coal. Produksi batubara dari Kalimantan Timur adalah yang terbesar yaitu sekitar 57% dari produksi batubara nasional sebesar185 juta ton (2007) dan ini akan terus meningkat sesuai dengan pertumbuhan produksi batubara nasional sekitar 12. Pada prinsipnya.ABSTRACT Sludge is defined as a carbonaceous material. batubara dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) kelompok.02 juta ton per tahun (Suhala. limbah batubara (sludge) dan air buangan akhir tambang (effluent). Limbah SL merupakan sisa proses pencucian yang ditampung (dikumpulkan dan disimpan) dalam sistem penampungan limbah batubara yang standar (sludge disposal system) dengan menggunakan kolam pengendapan (settling pond). Stefano Munir dan Ikin Sodikin 41 . Batubara hasil penambangan (Run of Mine-Coal atau raw coal) perlu diolah terlebih dahulu atau tidak. ash (A). timbunan (stockpiles) atau lubang galian tanah (landfill).7% dan sisanya di provinsi-provinsi lain. tergantung pada karakteristik kualitas endapan lapisan batubara yang ditambang. The type of the researched sludge was slurry (SL) in form of the coal washing plant residue of which its samples were taken from the three coal mine located and selected alongside of Mahakam river in Kutai Kartanegara regency.. dan Kalimantan Selatan 17.. because it might handle the sludge as low grade coal within a low calorific value in the range of 3. therefore it can be utilized directly.000-5. most of which are low rank coal. high moisture and ash contents of above 25% and fuel ratio about one. 2008) tersebar di Provinsi Sumatera Selatan 40. Particle size of SL from Kaltim was similar to the particle size for feeding of cyclone combustion. PENDAHULUAN Potensi sumber daya batubara Indonesia yang ditaksir sebanyak 93. The characteristic of sludge was determined by the proximate analyses such as moisture (M). Kalimantan Timur 28. dan coal fines = CF. East Kalimantan province. yaitu slurry = SL. glow point and maximum combustion temperature that were determined by parameters of the proximate and the ultimate analyses. sehingga masih dianggap sebagai batubara yang tidak dapat dipasarkan (non-marketable coal. PT. volatile matter (VM) and fixed carbon (FC) and ultimate analyses such as carbon (C). Tipe limbah batubara SL dijadikan objek penelitian dalam tulisan ini karena mempunyai prospek yang menjanjikan dipandang dari segi jumlah (quantity) dan kualitasnya (quality) sebagai sumber energi alternatif dalam rangka mendukung kebijakan konservasi batubara nasional yang berwawasan lingkungan. Sisa industri pertambangan batubara disebut limbah batubara (sludge) terdiri dari 3 (tiga) tipe. Multi Harapan Utama (MHU). Biasanya ada 2 (dua) tipe unit pengolahan batubara yang dikembangkan. 2008).37%. JICA. slurry(SL). yaitu crushing and screening untuk produksi batubara dari tambang yang telah memenuhi persyaratan kualitas (spesifikasi) pasar dan pencucian batubara (coal washing) untuk produksi batubara dari tambang yang belum memenuhi spesifikasi pasar sehingga menghasilkan produk batubara yang dapat dijual dengan ukuran – 50 mm. The cyclone furnace was selected. sludge characteristic.

.1mm + 0.75 µm juga dilakukan. sulfur (S) serta pengujian sifat fisik seperti nilai kalori dan berat jenis. 2007). sehingga berpotensi cenderung untuk terjadinya swabakar. Sedangkan kriteria penilaian kinerja pembakarannya adalah semakin tinggi suhu maksimum yang dicapai selama pembakaran dengan siklon semakin tinggi kinerja pembakarannya. dan Tambang harus mempunyai kapasitas produksi >1 juta ton batubara per tahun. fasilitas penampungan limbah batubara perlu dikelola secara benar mengingat akan terbatasnya lahan dan dampak lingkungan yang ditimbulkannya.bersangkutan. maka persiapan bahan uji untuk program percobaan pembakaran dengan pembakar siklon cukup dilakukan melalui pengeringan udara pada suhu kamar.1. 2. . METODOLOGI Bahan Uji Ada 3 (tiga) contoh limbah batubara tipe SL dari ketiga perusahaan tambang batubara Kaltim yang dipilih untuk penelitian ini yaitu SL – MHU. dan PT. Sistem tungku siklon yang dikembangkan dapat membakar ukuran umpan batubara yang umum digunakan.0.5 mm + 75 µm. Karena itu. Multi Harapan Utama (MHU). yaitu sekitar – 4 mesh (4. Nomor13. jig atau hydrocyclone). . . Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara Karakteristik pembakaran limbah batubara dipengaruhi oleh parameter karakteristik limbah batubaranya sendiri. Tanito Harum (TH). titik pijar (glow point) hasil pengamatan pada silica tube furnace dan suhu maksimum hasil pembakarannya dengan pembakar siklon dalam hubungannya dengan parameter karakteristiknya. Sumaryono dkk. dan SL – BBE. VM dan FC dan analisis ultimat dengan parameter unsur-unsur karbon (C). semakin sulit bahan tersebut untuk dibakar. 42 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.76 mm) atau lebih halus sampai – 30 mesh (0. terutama yang terletak di sepanjang Sungai Mahakam. yaitu dari parameter analisis proksimat dan analisis ultimat (Tsai. terutama percemaran sistem aliran sungai di sekitar tambangtambang batubara. PT. nitrogen (N). Pemilihan tipe tungku dan metode pembakaran limbah batubara dengan pembakar siklon yang dikembangkan dalam penelitian ini didasarkan pada fakta bahwa pembakar siklon dapat membakar batubara berkadar rendah (low grade coal) dengan kadar air-lembab (% M) dan kadar abu (% A) yang tinggi sampai 25 %. oksigen (O). 2007. hidrogen (H). Karakteristik Limbah Batubara - Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara parameter karakteristik limbah batubara Kaltim dengan karakteristik pembakarannya dalam rangka mengevaluasi kinerja keterbakarannya apakah dapat dikembangkan sebagai sumber energi alternatif atau tidak. SL – TH. Ukuran partikel batubara umpan ini hampir sama dengan ukuran partikel SL sebagai tipe limbah batubara utama. Januari 2009 : 40 – 46 .595 mm = 595 ìm) (Current Technology. Di samping itu analisis ayak untuk mengetahui distribusi ukuran partikel dengan karakteristik kualitas per fraksi ukuran yaitu + 2 mm.2 mm + 1 mm. terutama untuk tipe SL di sepanjang Sungai Mahakam dan dipilih sebagai wakil Provinsi Kaltim yang terletak di Kabupaten Kutai Kartanegara yaitu PT. Bukit Baiduri Energi (BBE). Ada 3 (tiga) perusahaan tambang batubara yang diambil contoh limbah batubaranya. 2. yang harus dikelola oleh setiap perusahaan tambang batubara melalui sistem manajemen penampungan yang standar. 2.2.5 mm. A. Karakteristik limbah batubara tipe SL ditentukan melalui analisis proksimat dengan parameter komponen-komponen M. 2.3. Kriteria penilaian karakteristik pembakaran limbah batubara adalah semakin tinggi suhu titik nyala dan titik pijar. Kriteria pemilihan berdasarkan pada : Perusahaan tambang batubara harus mempunyai unit pencucian batubara dengan peralatan gravity concentration (wash breaker. sehingga dapat diketahui pengaruh distribusi ukuran partikel terhadap kadar abu dan nilai kalorinya. Karena ukuran partikel ketiga contoh SL ini telah sesuai dengan kisaran ukuran umpan yang biasa digunakan untuk pembakar siklon yaitu – 4 mesh maupun lebih halus lagi sampai – 32 mesh. Sedangkan kinerja pembakaran limbah batubara dinilai dengan beberapa parameter seperti suhu titik nyala (ignition point) hasil analisis thermogravimetry (TGA). Sebenarnya semua tipe limbah batubara tersebut di atas adalah bahan karbonan (carbonaceous materials) yang karakteristiknya tergantung pada karakteristik batubara sumbernya yang pada umumnya berperingkat rendah dari lignit sampai subbituminus (low rank coal). 1982).

Selanjutnya. Program Ujicoba Pembakaran Peralatan nilai optimal karakteristik pembakarannya. Dimensi rancangan pembakar siklon yang digunakan dalam penelitian ini adalah 40 x 100 cm dengan ukuran partikel batubara umpan – 30 mesh (595 ìm atau 0. Udara pembakaran berupa udara primer maupun udara tersier digunakan untuk menghasilkan gerakan berputar dari partikel-partikel batubara atau limbah batubara umpan di dalam ruangan pembakaran siklon. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 43 . 2007). dimasukkan ke dalam penandon umpan berupa hopper dan kemudian diumpankan dengan bantuan blower ke dalam ruangan pembakar siklon yang telah dipanaskan terlebih dahulu dengan bantuan kayu bakar atau karet ban bekas sampai mencapai suhu 450 o C sebagai pematik (igniter). Aksi gerakan berputar (sentrifugal) ditingkatkan oleh pasokan udara sekunder dengan kecepatan tinggi secara tangensial.2. Setiap bahan uji SL yang sudah kering di udara. Com. Skema rancangan pembakar siklon (Wikipedia... Kegiatan percobaan pembakaran 3 (tiga) contoh limbah batubara SL dengan pembakar siklon Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan . a.TH b. Pada prinsipnya rancangan pembakar siklon yang benar dapat dilihat pada Gambar 1. Suhu maksimum rata-rata hasil pembakaran dari setiap contoh limbah batubara diambil sebagai SL BBE Gambar 2.4.595 mm) (Sumaryono. sehingga menghasilkan semburan nyala api keluar dari ruangan siklon dan setiap partikel umpan terbakar habis (burn out) dengan meninggalkan residu atau lelehan abu (slag). dkk.. Kegiatan percobaan pembakaran dari ketiga contoh limbah batubara SL tersebut dapat dilihat pada Gambar 2. perkembangan suhu pembakaran yang dihasilkan dicatat melalui pencatat suhu indicator thermocouple dengan interval waktu 5 menit selama 15 menit. SL MHU Udara sekunder Udara primer Batubara Udara tersier Lubang pengeluaran terak Lubang pengeluaran terak utama Gambar 1. Prosedur Prosedur percobaan dirancang menurut karakteristik pembakaran limbah batubara yang diuji. 2007) SL.

99 28.58 A 54.33 7.14 30.8 47.895 3.55 0.1 mm + 0.4 60.18 66.5 mm).25 28.224 4.2 mm + 1 mm .61 49. adb IM 3.93 7.5 mm .15 10.1. Karakteristik SL dari masing-masing perusahaan Tabel 1.5 mm + 75 µm .01 26.683 TH BBE 26. Hasil analisis ayak.72 15.39 27.72 42.48 20.27 7. adb Abu (A).57 9.19 28.81 41.54 6. %. adb Hidrogen (H).44 3. TH dan BBE Ukuran fraksi MHU + 2 mm .1 23.37 0.33 22.76 2. %.28 89.413 0.32 8. dan nilai kalori limbah batubara tipe SL dari MHU.57 0.96 1.52 12.2 100 47.02 1.78 4.75 µm + 2 mm .3.59 60.5 mm .70 26.15 30.92 0.594 3. adb Nilai kalori.128 3. adb Karbon tertambat (FC). hydrocyclone dan screen (0. juga dipengaruhi oleh proses pencucian dengan peralatan yang digunakan seperti drum washer.3 9.2 mm + 1 mm . TH dan BBE Parameter Analisis proksimat : Air lembab (IM).08 59.53 51.80 4.851 4.25mm – 0. %. %.93 5.88 2.66 38. adb SL MHU 3.15 4.277 2.86 0.77 13.90 5.62 BBE 11.19 9.51 2.7 39.95 12.7 7. adb Zat terbang (VM).89 39.5 mm + 75 µm . %.05 1. adb Nitrogen (N).47 44.30 34.79 100 Analisa proksimat (%).18 0.631 1.0.88 44 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.686 6.14 33.5 mm .12 24.84 16. %.02 1.436 1.2 16.13 30.76 2.96 17.2 mm + 1 mm .20 4.08 0.95 18.636 5.93 31. 3.66 0. Nomor13.68 30.86 0.0. analisis proksimat .51 10.67 1. fuel ratio.33 100 1.82 28. Karakteristik limbah batubara tipe SL dari MHU.690 5.44 13. %.24 6.7 36.0.05 1. adb Oksigen (O).17 14.51 1.25 23.56 44.53 38.36 45.5 24.778 5.68 11.78 3. HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Limbah Batubara Karakteristik limbah batubara tipe SL dari 3 (tiga) perusahaan tambang batubara di Kaltim dapat dilihat pada Tabel 1 dan hasil analisis ayak pada Tabel 2.82 Tabel 2.96 TH 7.21 19.892 1.59 VM FC Fuel Nilai ratio kalori.6 41.53 0.93 0.14 24.34 6.43 4.5 mm + 75 µm .76 90.76 24.75 µm + 2 mm .6 15. %.22 12.9 7.55 38.84 1.93 55.18 4.53 0.032 3.49 52.4 23.59 47.56 37.45 35.51 40. adb Fuel Ratio (FC/VM) Berat jenis (TSG) Analisis ultimat : Karbon (C).33 52.5 26.45 0.05 30.05 0.798 5. adb Sulfur (S). Januari 2009 : 40 – 46 . Tabel 1 menunjukkan bahwa karakteristik SL dari masing-masing perusahaan pertambangan batubara selain tergantung dari karakteristik batubara sumbernya.758 1.33 6.69 98.1 mm + 0.78 11.1 mm + 0. kal/gr.46 56.40 2.56 36.66 30.05 1.75 µm % massa % kumulatif massa tertahan tertahan 19.adb 0.32 6. jig. %. (FC/VM) kal/gr.

2mm +1mm -1mm +0.75µm Karakteristik pembakaran limbah batubara tipe SL dapat dilihat pada Tabel 3.75µm Dari Gambar 3 dan 4.5mm +75µm .128 kal/gr dan SL BBE dengan cyclone classifier dan screen 0. Tabel 3 menunjukkan bahwa naiknya titik nyala dan titik pijar dipengaruhi oleh fuel ratio.25 mm mempunyai nilai kalori yang terendah. terlihat bahwa menurunnya ukuran partikel menyebabkan menurunnya nilai kalori.0..pertambangan batubara menunjukkan bahwa kandungan abu yang tinggi sangat memengaruhi kandungan nilai kalori dan berat jenis yang sebenarnya. SL MHU yang merupakan limbah pengolahan dengan cyclone classifier dan screen 0. kal/gr. 70 60 A BU . Distribusi ukuran partikel semua contoh tipe limbah batubara SL telah memenuhi spesifikasi sebagai umpan untuk pembakar siklon. cyclone classifier dan screen 0. walaupun semakin halus fraksi ukuran partikelnya semakin tinggi kadar abu.277 kal/gr. % 50 40 30 20 10 0 +2mm .5mm UKURAN FRAKSI MHU TH BBE . oC Titik Pijar Silica Tube Furnace.798 kal/gr.5 mm + 75 µm maupun pada fraksi ukuran terhalus – 75 µm. yaitu semakin rendah kadar abu limbah batubara akan semakin Gambar 4.636 kal/ gr sampai 6. dengan nilai kalori yang terendah sebesar 1895 kal/gr pada fraksi ukuran terkecil – 75 µm. Hubungan antara kadar abu dengan ukuran fraksi NILAI KALORI (kal/gram) 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 +2mm . SL TH dengan drum washer.683 kal/gr sampai 5. Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas buang hasil pembakaran. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa naiknya kadar abu akan menurunkan nilai kalori yang diikuti oleh naiknya kadar karbon dan oksigen. pembakaran siklon. nilai kalor dan ukuran partikel umpan. oC Suhu maks.5mm +75µm . sehingga teknik pengolahan untuk pemisahannya dari fraksi-fraksi yang kasar harus dilakukan dengan proses desliming melalui cara decantation untuk meningkatkan nilai kalori limbah batubara tipe SL tersebut.758 340 418 529 2. Dengan kata lain bahwa semakin halus (– 75 µm) fraksi ukuran SL semakin rendah nilai kalorinya. Semakin tinggi kadar fixed carbon atau fuel ratio.5 mm dari 3.892 kal/gr sampai 3. baik pada fraksi ukuran – 0.adb Titik Nyala TGA. Karakteristik pembakaran limbah batubara Parameter MHU Karakteristik pembakaran : Nilai kalori.5 mm dari 3.. Stefano Munir dan Ikin Sodikin 45 . Hubungan antara nilai kalori dengan ukuran fraksi Tabel 3. semakin tinggi titik nyala atau titik pijarnya. oC Catatan : tdd = tidak dapat ditentukan SL TH 4. sehingga akan menurunkan nilai kalori.5mm UKURAN FRAKSI MHU TH BBE . 3. Sedangkan suhu maksimum siklon dipengaruhi oleh kadar abu. Karakteristik Pembakaran Limbah Batubara Gambar 3. Gambar 3 menunjukkan grafik hubungan antara kadar abu dengan ukuran fraksi dan Gambar 4 grafik hubungan antara nilai kalori dengan ukuran fraksi. Fraksi-fraksi ukuran partikel yang sangat halus ini biasanya dianggap sebagai slime. yaitu dari 1. Begitu pula tinggi rendahnya kandungan karbon dan oksigen akan memengaruhi kandungan nilai kalori.413 tdd 470 431 Hubungan antara Parameter Karakteristik Limbah Batubara Kalimantan .0.2mm +1mm -1mm +0.436 261 360 566 BBE 4.2.

.. 1982. 2007. Cyclone furnace : Definition from Answers.C. dan tinggi (SLBBE) sehingga masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung. Semakin halus ukuran partikel umpan siklon semakin tinggi suhu maksimum yang dicapai sehingga kinerja pembakar siklon meningkat. Secara umum. Yaskuri.com/topic/cyclone-furnace Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik pembakaran limbah batubara tipe SL dengan pembakar siklon. Saran Limbah batubara tipe SL yang banyak tersebar di beberapa perusahaan tambang batubara dan belum dimanfaatkan di Provinsi Kaltim perlu dikelola dengan baik agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber 46 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Indonesia Energy Statistics.59%. Laporan Intern Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara.1. Suhala.answers. Amsterdam. Com. Sumaryono. 27 Desember 2007. 2008. Titik nyala untuk SL MHU tidak dapat ditentukan karena kandungan abu yang cukup tinggi mencapai 60. Summary of Draft Final Report : The Master Plan Study on Pollution Risk Mitigation Program for Sustainable Coal Development in East Kalimantan Province in the Republic of Indonesia. 20 Oktober 2007. Bandung. Munir.uiuc. 2007. APBI-ICMA. dan Fahmi Sulistyohadi. Fundamentals of Coal Beneficiation and Utilization. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan daya energi alternatif untuk industri. tinggi SL – BBE. F. Bandung. sedang SL – TH. Tsai. sedang (SL-TH). ESDM dan JICA Jakarta. kinerja pembakarannya dapat diurut menurut kemudahan keterbakarannya dari yang paling rendah. 4. 2008. Pembangunan Pilot Plant Teknologi Pembakaran Batubara Dengan Pembakar Siklon.me. Nomor13.2. Com. Sedangkan kandungan sulfur yang tinggi akan memengaruhi kinerja peralatan pembakaran dan gas buang hasil pembakaran.. 4. Lokakarya Program Peduli Mahakam. Elsevier Scientific Publishing Company. http:// www. Wikipedia. 4. S.tinggi nilai kalornya.. Perkembangan Industri Pertambangan Batubara Nasional Peluang dan Tantangannya. Januari 2009 : 40 – 46 . Pada prinsipnya. S. S. semua contoh limbah batubara tipe SL menunjukkan kinerja keterbakaran dari yang terrendah (SL–MHU). DAFTAR PUSTAKA Current Technology.edu/ kawka/Public/coal/tech. ketiga limbah batubara tipe SL yang diteliti masih dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi alternatif untuk bahan bakar langsung dengan menggunakan pembakar siklon.html JICA team. Ministry of Energy and Mineral Resources. yaitu SL – MHU. http://me-roboto. Methods of Burning Coal.

Both are competent agents for leaching solution to contact with the required elements available within the minerals. The detected pits on the mineral surface reflect solution activity when leached the materials. bioleaching. Pengolahan secara fisika melalui peremukan (crush- Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . calcite. Fitur terdeteksi lainnya berupa alur-alur pada permukaan mineral yang merupakan refleksi aktivitas larutan pelindi ketika ‘memakan’ komponen yang terkandung dalam material terlindi. Ciamis-Jawa Barat (± 14% kadar P2O5). Keywords: phosphate-bearing rocks. Jend. baik secara fisika maupun kimia. microscopic and chemical studies were conducted to bioleaching. Sudirman 623 Bndung.. microscopic feature. utilizing oxalic acid medium generated by the phosphorous oxidizing capabilities of Aspergillus niger in 10 days. asam oksalat 1. Banyak pakar yang telah mencoba untuk meningkatkan kadar fosfat dari daerah ini dengan berbagai cara pengolahan. metode tersebut efektif untuk mengolah fosfat. bioleaching. The results show several features occur during the process.PERUBAHAN MORFOLOGI DAN KIMIA BATUAN PEMBAWA FOSFAT AKIBAT PELINDIAN DENGAN ASPERGILLUS NIGER TATANG WAHYUDI Pusat Peneltian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara. Analisis kimia dan mikroskopik terhadap percontoh ampas pelindian tersebut menunjukkan bahwa pada kondisi percobaan tertentu. dahlit. revisi terakhir : Januari 2009 ABSTRACT Bioleaching. fitur mikroskopi. revisi pertama : 13 Juni 2008. Tatang Wahyudi 47 . Fitur mikroskopi yang terdeteksi pada mineral dahlit dan kalsit adalah berkembangnya porositas dan permeabilitas yang terbentuk selama proses pelindian. Porosity and permeability developments on the surface of dahlite and calcite during bioleaching process imply that the process is effective to leach such minerals. Tlp. Fosfat berkadar tinggi memang ada. revisi kedua : 20 September 2008. Kata kunci: batuan pembawa fosfat. hanya sebarannya bersifat sporadis dan cadangannya kecil. Salah satu endapan fosfat berkadar rendah berada di Cijulang. In terms of evaluating process performance.. tetapi pada umumnya mempunyai kadar rendah. dahlite. meningkatkan kelarutan matriks material dan memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian tubuh mineral. 022-6030483 Naskah masuk : 06 Januari 2008. Kedua hal ini merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat. kalsit. has proved to be useful in releasing phosphorous from its rocks. oxalic acid SARI Pelindian dengan mikroorganisme (bioleaching) menggunakan kapang Aspergillus niger selama 10 hari terhadap batuan pembawa fosfat Cijulang menyisakan ampas pelindian yang menarik untuk dikaji. PENDAHULUAN Endapan fosfat alam Indonesia kadarnya bervariasi. Jl.

Ukuran partikel yang diambil untuk keperluan penelitian adalah -140+200 dan 200 mesh contoh awal. Dalam proses ini. sehingga unsur-unsur tertentu yang diinginkan akan mudah dilepaskan. HASIL DAN PEMBAHASAN Bahan Baku (Head Sample) Percontoh batuan fosfat untuk keperluan penelitian ini diperoleh dari daerah Cijulang yang dikenal berkadar rendah. BAHAN DAN METODE Laboratorium Preparasi.org/wiki/Phosphate). tekstur dan struktur mikro yang terdapat dalam limbah padat tersebut.moonminer. Keberadaan dahlit dan kolofan diduga akibat pengayaan batugamping oleh kotoran burung (guano) dan air laut (http://en. 29 menjadi 23. Hasil pemercontohan kemudian dikering-ovenkan untuk kemudian difraksinasi di Analisis unsur-unsur dan mineralogi percontoh batuan fosfat menunjukkan hadirnya mineral fosfat yang tergolong ke dalam hidroksilapatit.CO3)3 dan kolofan – sejenis apatit dengan formula empiris Ca5(PO4)2. pencampuran (blending). Dalam hal ini. kondisi ini menguntungkan karena memudahkan larutan pelindi untuk meresap ke bagian-bagian tertentu tubuh mineral.ing). Hasilnya memang belum bisa memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan oleh industri yaitu 36% kadar P2O5 (Ardha dkk. Penelitian perubahan morfologi dan kimia batuan pembawa fosfat akibat pelindian dengan kapang menggunakan ampas hasil pelindian dengan kode percontoh A1. 2 dan 3 di depan huruf A dan B mengacu kepada persen padatan yang digunakan pada saat pelindian yaitu 5. Leptospirillum ferrooxidans.1. flotasi. Nomor 13. 1997). 3. Batuan fosfat Cijulang diolah dengan proses tersebut pada skala laboratorium dengan memanfaatkan kapang Aspergillus niger dengan waktu pemrosesan selama 10 hari. Kode A dan B menunjukkan ukuran fraksi umpan pelindian masing-masing -140+200 mesh untuk A dan -200 mesh untuk B. Tujuannya untuk mengetahui efek proses tersebut terhadap batuan fosfat yang dilindi. Januari 2009 : 47 – 56 . Kendala yang dihadapi dalam mengolah fosfat dengan cara-cara di atas adalah mahalnya biaya pengolahan dan belum dapat diturunkannya material pengotor dalam jumlah signifikan.1991) juga telah melakukan serangkaian proses untuk meningkatkan kadar fosfat melalui pencucian. B2 dan B3. A3. 3.5(CO3)0.79% dengan perolehan 70. Namun. 10 dan 20%. dilakukan pengujian dengan teknik difraksi sinar-x (XRD) menggunakan alat difraktometer sinar-x Shimadzu XRD-7000. Ditinjau dari segi pengolahan mineral.18% (Ardha. Informasi mengenai fasa serta struktur mikro yang terdapat dalam percontoh head sample juga diperoleh melalui analisis mikroskop polarisasi yang dilengkapi dengan pengujian SEM-EDX untuk mengetahui komposisi unsur-unsur yang terdapat pada permukaan percontoh spesimen. Mineral tersebut adalah dahlit yang mempunyai formula Ca5(PO4. Thiobacillus thiooxidans dan lain-lain (http://www. 2.com/ bioleaching. Kepada percontoh tersebut dilakukan pengujian mikroskop polarisasi dan kimia untuk mengetahui perkembangan yang terjadi setelah batuan tersebut dilindi dengan kapang selama 10 hari. percontoh diuji komposisi kimianya dengan metode kimia basah di Laboratorium Pengujian Kimia. Maksud penelitian ini adalah mengevaluasi kenampakan tekstur dan struktur mikro yang terdapat pada percontoh ampas hasil bioleaching. Pada tahap awal. mikroskop optik dan SEM-EDX dapat diperoleh informasi mineralogi mengenai fasa. Interpretasi terhadap informasi tersebut yang dipadu dengan pengujian kimia diharapkan dapat mengungkap kinerja proses bioleaching. batuan fosfat yang sudah digerus halus dianalisis menggunakan radiasi Cu-Ká. kapang mengeluarkan asam oksalat sebagai hasil samping proses fermentasi asam sitrat yang berperan dalam proses pelindian. Thiobacillus ferrooxidans. Angka 1.wikipedia.5F dalam jumlah yang relatif lebih sedikit dibandingkan dahlit. kalsinasi dan pemisahan secara magnetik dan mampu meningkatkan kadar fosfat sampai 30% . kesulitan peningkatan kadar fosfat disebabkan oleh ikut terlindinya unsur-unsur pengotor.html). Pengolahan secara kimia juga telah dilakukan melalui proses pelarutan HCl tersirkulasi walaupun hasilnya hanya mampu meningkatkan kadar fosfat dari 17. Selanjutnya untuk mengetahui komposisi mineral head sample. A2. Selain kedua 48 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Salah satu pengolahan alternatif untuk meningkatkan kadar fosfat adalah pelindian dengan jasad renik (micro organism) tertentu (kapang atau bakteri) seperti Aspergillus niger. pengeringan (drying) dan penggerusan (grinding) telah dilakukan oleh Tim Bimbingan Pertambangan Fosfat dari Pusat Pengembangan Teknologi Mineral pada 1984. B1. Melalui pengujian difraksi sinar-x (XRD). Dahlit memperlihatkan struktur menyerat dan perawakan radial sedangkan kolofan menunjukkan struktur rekahan. Limbah pelindian berupa ampas padat menarik untuk dikaji.

Metode pengujiannya adalah pemetaan secara sinar-x. percontoh batuan fosfat juga disusun oleh kalsit (CaCO3). Pemetaan unsur-unsur pada salah satu mineral dahlit yang terdapat dalam spesimen sayatan poles batuan fosfat memperlihatkan kalsium lebih banyak terkonsentrasi di bagian kiri bawah sampai tengah mineral (Gambar 3) yang ditunjukkan oleh skala Unsur-unsur pada spesimen percontoh batuan fosfat yang terdeteksi dengan SEM-EDX metode x-ray mapping Unsur teridentifikasi Fosfor (15P32) Kalsium (20Ca40) Karbon (6C12) Aluminum (13Al27) Besi (26Fe56) Silikon (14Si28) Belerang (16S32) Oksigen (8O16) Intensitas (counts) 30. .280 02.seafriends. Mineral opak kemungkinannya berupa magnetit atau hematit hasil pelapukan mineral induknya yang berasal dari fragmen batuan. Hasil analisis menunjukkan adanya unsur fosfor (P). kolofan dan kalsit.htm).277 1.013 3.720 64. mineral opak (opaque) dan fragmen batuan. b c Tiga mineral utama yang terdapat dalam percontoh batuan fosfat Cijulang.org. Mineral tersebut memang tidak terdeteksi pada batuan yang dijadikan spesimen pengujian mikroskop optik atau SEM. tetapi indikasi ke arah itu ada.080 27. Tabel 1. b . silikon (Si) and oksigen (O). Gambar 1 memperlihatkan sebagian komposisi mineral percontoh batuan fosfat head sample. unsur-unsur belerang dan kalsium masing-masing berkadar 904 dan 411 ppm.307 0.280 06. Fosfor diduga berasal dari dahlit dan kolofan. sedangkan besi diduga berasal dari mineral silikat atau opak.. Tatang Wahyudi 49 . a ..521 Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan .200 Energyi (keV) 2.960 17. sedangkan kalsium berasal dari dahlit.398 1. apabila mineral fosfat ini diolah untuk keperluan industri tertentu.690 0.dahlit (D).739 2.nz/oceano/seawater. Kehadiran unsur-unsur bukan pembentuk fosfat pada batuan fosfat Cijulang merupakan unsur-unsur pengotor yang tidak diharapkan.kolofane (Cl) dan c . a Gambar 1. Belerang yang terdeteksi dapat berasal dari material sulfit atau sulfat seperti mineral gipsum atau CaSO4·2(H2O). Tabel 1 dan Gambar 2 memperlihatkan unsur-unsur yang terdeteksi. besi (Fe). mengingat batuan fosfat Cijulang terdapat di area yang berbatasan dengan laut. kalsium (Ca).000 48. kuarsa (SiO2). Informasi mineralogi di atas diperoleh dari pengujian dengan mikroskop optik.5% salinitas air laut.486 6.kalsit (C) Pengujian unsur-unsur yang terdapat pada permukaan sayatan poles percontoh batuan fosfat Cijulang dilakukan dengan SEM-EDX.mineral fosfat di atas.560 25. Kuantitas yang relatif cukup untuk terjadinya pengayaan Ca dan S pada batuan fosfat (http:// www. aluminum (Al). Pada 3. Aluminum dan silikon kemungkinan berasal dari mineral silikat yang terkandung dalam fragmen batuan. karbon (C).

tidak berarti bagian tepi mineral tersebut tidak terdapat P atau C. Pengujian kimia batuan fosfat Cijulang head sample mengidentifikasi beberapa unsur dalam bentuk oksidanya (Tabel 3). Diasumsikan. Keterangan yang sama berlaku untuk unsur pembentuk fosfat lainnya (P). Fosfor paling banyak terkonsentrasi di bagian kiri bawah dan tengah atas mineral. silikon dan besi terkonsentrasi paling banyak pada bagian kanan atas foto dan noktak-noktah yang tersebar di bagian kiri atas dan kanan bawah. material silikat berasosiasi dengan mineral dahlit. Kalsit tidak terdeteksi. Khusus untuk unsur belerang. dan ini berarti pada bagian tengah mineral masih terdapat unsur fosfor. Diduga pada bagianbagian tersebut. terdeteksi pula adanya mineral silikat – kuarsa.Gambar 2. Besi sebagai bagian mineral silikat. sedangkan konsentrasi karbon terbanyak terdapat di bagian kiri dan kanan mineral. Di samping itu. sebarannya hampir mengikuti pola sebaran aluminum dan silikon. aluminum. Bagian ini diduga mineral opak. percontoh yang dianalisis untuk XRD ini (berasal dari bongkah yang dipreparasi sampai fraksi -200 mesh) memang tidak mengandung mineral tersebut seperti terlihat pada Tabel 2. Nomor 13. Percontoh yang dianalisis adalah 50 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Kedua jenis unsur tersebut secara menyeluruh terdapat pada dahlit hanya konsentrasinya di bagian pinggir mineral tidak sebanyak di bagian tengah mineral. Pengujian percontoh batuan fosfat Cijulang dengan XRD menunjukkan adanya mineral monmorilonit sebagai mineral silikat. Satu area berwarna putih di bagian kiri atas foto mengandung unsur besi terkonsentrasi paling banyak. pada gambar terdapat dua noktah putih yang dikelilingi oleh warna merah (sudut kiri atas dan tengah kanan gambar). Walaupun konsentrasi unsur terbanyak masingmasing unsur pembentuk fosfat terpisah-pisah (tidak mengelompok menjadi satu). Pengujian XRD ini hanya mendeteksi dahlit sebagai mineral fosfat. Komposisi unsur yang terdapat pada batuan fosfat Cijulang yang dianalisis dengan metode energy-dispersive x-ray (EDX) warna merah keunguan. Ada kemungkinan kedua noktah tersebut adalah gipsum yang berasosiasi dengan dahlit. selebihnya unsur belerang merupakan unsur pengganggu yang menyebar di seluruh permukaan mineral. Terdapatnya dua noktah putih mengandung Al dan Si pada hasil pemetaan secara sinar-x menunjukkan bahwa area tersebut adalah partikel silikat. Januari 2009 : 47 – 56 . Namun kuantitasnya dibandingkan dengan kuantitas P di bagian kiri bawah dan atas adalah lebih kecil. Kedua mineral ini berasal dari lapukan fragmen batuan. Keberadaan kalsit memang hanya terdeteksi oleh pengujian mikroskop optik saja melalui penelusuran pada spesimen yang memerlukan waktu lama (karena kecilnya kuantitas mineral tersebut dalam percontoh). Jika dilihat pada Gambar 3.

CO3)3F Na(Al. Mg)2 Si4O10 (OH)2. besi (Fe). -140+200 dan 200 mesh. makin halus partikel makin banyak mineral fosfat (dahlit) yang terbebaskan sehingga ada kenaikan kadar P2O5 walaupun tidak signifikan. yaitu kalsium (Ca). 4H2O SiO2 bongkah yang telah difraksinasi menjadi tiga (3) ukuran partikel yaitu -100+140. Dari ketiga percontoh.. Kelihatannya. Tatang Wahyudi 51 . karbon (C).Gambar 3. kuantitas fosfat dalam bentuk P2O5 berkisar antara 18 sampai 19%. silikon (Si). Kuantitas fosfat hasil pengujian kimia tidak berbeda jauh dengan hasil pengujian terhadap percontoh Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . aluminum (Al). Pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping pada batuan fosfat Cijulangmendeteksi adanya 8 unsur. belerang (S) dan oksigen (O) Tabel 2.. Pengujian mineralogi batuan fosfat Cijulang dengan metode XRD Mineral teridentifikasi Dahlit Monmorilonit Kuarsa Formula mineral Ca5(PO4. fosfor (P).

25 0. angka yang ditujukkan relatif mewakili kandungan unsur-unsur yang ada pada percontoh uji.6433 2. informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan percontoh yang ada.71 Al2O3 0.534 0. Keduanya sudah diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4). informasi yang diperoleh tidak mewakili keseluruhan percontoh yang ada.65 13.82 16.33 7.013 2. tidak mewakili keseluruhan persentase yang ada.58 5. Walaupun tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas.57 1. kandungan belerangnya memang rendah (dalam unit ppb).02 100.41 2.Tabel 3. Unsur oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang terdeteksi oleh pengujian kimia.307 3.2755 37.05 30.91 1. pengujiannya lebih bersifat kualitatif dibandingkan dengan yang kedua. yang pertama.40 8.00 Error % 0.32 2.7918 16.690 6.04%).52 7. Karbon (C) memang tidak dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena fasilitas pengujiannya belum tersedia.00 Cation 0.76 2.56 sejenis dengan metode SEM-EDX (Tabel 4).091 0. hanya untuk partikel terdeteksi saja.63 0. Pengujian kimia terhadap percontoh batuan fosfat Cijulang Kode -100+140 -140+200 -200 SiO2 17.27 100.71 Fe2O3 6. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel yang dideteksi hanya 0.39 16.3861 6. yaitu material uji terbatas pada material yang terlihat pada monitor saja. Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia.65 1. Hasil pengujian 52 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Ada keterbatasan pada pengujian SEM-EDX. hanya untuk partikel terdeteksi saja. Kemungkinan pada percontoh uji untuk analisis kimia.61 23.277 1.53 yang pertama.5885 3.00 5.27 5. Pada perbesaran tertentu biasanya hanya satu atau dua partikel yang termuat pada monitor. Sebenarnya ada perbedaan yang mendasar mengenai pengujian secara SEM-EDX dengan metode kimia.46 100. yaitu pada angka belasan persen.398 mass % 36. Nomor 13.437 P2O5 18. angka yang ditunjukkan relatif mewakili kandungan unsur-unsur yang ada pada percontoh uji.7698 1.37 MgO 0.70 K2O 0.6325 8.14 0.47 0.19 23.41 K 11.83 5.62 0.62 0.04 2. Unsur oksigen (O) yang terdeteksi oleh pengujian dengan metode SEM sebenarnya sama dengan oksigen yang terdeteksi oleh pengujian kimia. hal ini dapat dimengerti.00 1. pengujiannya lebih bersifat kualitatif Hasil pengujian SEM-EDS metode x-ray mapping untuk head sample fosfat Cijulang Element CK O Al K Si K PK SK Ca K Fe K Total (keV) 0.208 0. Hasil pengujian kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil nihil.67 0. juga oksigen dalam bentuk unsur. Tabel 4.95 2.56 0.212 Na2O % 0.26 19. Keduanya sudah diubah ke dalam bentuk oksida (Tabel 3 dan 4). Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia.82 3.467 0.209 0.739 2.58 24. memang hasil pengujian SEM-EDX mencantum-kan juga oksigen dalam bentuk unsur. Jadi hasil yang diperoleh hanya mewakili partikel yang terpampang pada layar.01 12.069 CaO 22.55 6.486 1. memang hasil pengujian SEM-EDX mencantumkan dibandingkan dengan yang kedua.82% (Tabel 4).15 9. Januari 2009 : 47 – 56 . angka tersebut masih dalam kisaran wajar.05 At % 78.84 5.550 0.83 2.457 0.068 0.54 19.55 1.82 21. Walaupun kuantitas yang diperoleh untuk P2O5 pada pengujian terahir lebih rendah dibandingkan dengan hasil pengujian kimia (hanya 12.00 Compound C Al2O3 SiO2 P2O5 SO3 CaO FeO mass % 38.535 TiO2 0. Hal ini berbeda dengan pengujian secara kimia. Walaupun tercantum angka-angka yang menunjukkan kuantitas.

(2008) menyarankan untuk mengatur pH larutan dengan pengadukan berkecepatan rendah. Fitur ini menunjukkan porositas dan permeabilitas yang mengembang sebagai akibat proses pelindian oleh asam oksalat atau karena rusaknya permukaan kalsit (C). Struktur ini juga merupakan sarana efektif bagi larutan pelindi untuk kontak dengan permukaan batuan fosfat. Di lihat dari tampilannya. Bila mengacu kepada hasil analisis SEM-EDX yang menunjukkan kandungan belerang pada partikel yang dideteksi hanya 0.2. Wahyudi dkk. Struktur menyerat pada mineral ini terlihat makin melebar yang diduga sebagai akibat masuknya larutan pelindi melalui struktur tersebut. B2 dan B3). Dalam hal ini.82% (Tabel 4). Dari kondisi ini dapat diketahui bahwa kedua jenis mineral ini tidak mengalami perubahan yang signifikan setelah pelindian atau relatif tidak terlindi. Muszer dan Karas (2003) menyebutkan bahwa makin kecil ukuran butiran.kimia terhadap unsur belerang dilakukan dalam bentuk belerang trioksida (SO3) menunjukkan hasil nihil. A3. agar logam-logam pengotor dalam larutan atau filtrat hasil pelindian dapat dipisahkan sehingga diperoleh fosfat dengan kemurnian lebih tinggi. Distribusi mineral yang tersisa dalam dalam ampas hasil pelindian Pelindian terhadap batuan fosfat Cijulang telah dilakukan menggunakan metode bioleaching. mineral opak merupakan mineral dominan kedua setelah kalsit. Karbon (C) memang tidak dianalisis untuk keperluan penelitian ini karena fasilitas pengujiannya belum tersedia. Tatang Wahyudi 53 . makin efektif proses disolusi yang terjadi pada material karbonat. Pada percontoh asli (head sample yang belum mengalami pelindian). Walaupun kuantitasnya tidak sebanyak mineral kalsit. A2 dan B1. 3. Dalam hal ini. B2 dan B3) masih menyisakan dahlit cukup banyak sebagai mineral yang tidak terlindi. Selain struktur menyerat. Kuantitasnya berkisar antara 95 -99%. tanda panah putih). kuarsa dan fragmen batuan masing-masing habis terlindi pada percontoh A1. Ampas Pelindian Gambar 4. empat percontoh lainnya (A1. hal ini dapat dimengerti. c. sebenarnya merugikan proses karena unsur-unsur pengotor juga ikut terlindi. terlihat bahwa mineral dahlit (D) mempunyai struktur menyerat secara radial (Gambar 1a). Terlindinya kuarsa dan fragmen batuan yang keduanya merupakan sumber mineral silikat dengan berbagai kandungan unsur pengotornya. mineral kalsit mengalami pengecilan ukuran terutama bila dibandingkan dengan kalsit yang belum mengalami pelindian (Gambar 1c). Mineral ini terdapat pada semua percontoh yang diuji secara mikroskop optik. asam oksalat yang merupakan metabolit hasil ekskresi kapang Aspergillus niger merupakan media pelindi untuk melarutkan fosfat. Hasil pelindian berupa filtrat dan ampas. e dan f) sedangkan pada kalsit tampilannya sangat halus (Gambar 5c dan f). A3 dan B1. pada percontoh uji terdapat pula struktur spons seperti diperlihatkan oleh kalsit (C) semua percontoh ampas yang diuji dengan mikroskop optik (Gambar 5a –f). Jika dahlit terlindi habis pada percontoh A1. B1 dan B2 serta A2. material karbonat akan dengan mudah terangkat dari struktur mineralnya. 2002). Pada dahlit terlihat seperti retakan-retakan di permukaan mineral tersebut (Gambar 5a. A2 dan B1. kandungan belerangnya memang rendah (dalam unit ppb). Dari keenam percontoh. Keenam foto di atas memperlihatkan adanya aluralur (pits. Meyer dan Yen (2002) menyebutkan bahwa alur-alur tersebut adalah bekas larutan pelindi ketika kontak Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan . Kemungkinan pada percontoh uji untuk analisis kimia. dahlit terlindi dengan baik pada percontoh... Pelindian yang berlangsung selama 10 hari menyisakan ampas yang masih mengandung mineral dahlit (percontoh A1. Hasil uji mikroskop optik terhadap enam percontoh ampas hasil pelindian telah dilakukan (Gambar 5).A3. yang disebut terakhir berupa padatan dan dianalisis dengan mikroskop optik untuk mengetahui sejauh mana perubahan yang terjadi pada mineral fosfat Cijulang setelah dilindi oleh asam oksalat tersebut. Hasil pengamatan mikroskop optik pada ampas tersebut ditabulasikan untuk divisualkan seperti tertera pada Gambar 4. meningkatkan kelarutan matriks material dan memperbesar jalan bagi larutan meresap ke bagian tubuh mineral (Meyer dan Yen. Makin lebar struktur ini makin intensif proses pelindian berlangsung. Dari gambar tersebut terlihat bahwa kalsit merupakan mineral yang paling dominan dalam ampas.

C – kalsit. dengan permukaan material terlindi. b.anl. K – kuarsa. magnesium tidak ditampilkan pada Gambar 6. B2 dan B3.gov). Pada Gambar 5b dan d. Tidak ditemukan adanya dahlit pada kedua percontih uji. tidak terdeteksi pada percontoh A2 dan B1. d. Vallet-Reg dan Ferreira (2001) telah melakukan hal ini untuk hidroksilapatit sintetis. B2. A3. Gambar 6. MO – mineral opak. A3. Hal ini berarti bahwa material fosfat pada percontoh A2 dan B1 terlindi relatif habis sedangkan pada keempat percontoh lainnya.5%). Karena kuantitasnya relatif kecil (< 0. asam oksalat hasil ekskresi Aspergillus niger belum mampu melindi total material fosfat dalam umpan pelindian. oksida-oksida kalium. Oksida fosfat terdeteksi pada percontoh A1. B3. Distribusi oksida-oksida yang tersisa pada 6 percontoh ampas pelindian bioleaching 54 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05.Gambar 5. Fotomikrograf mineral pembawa fosfat Cijulang. Januari 2009 : 47 – 56 . Bila mengacu kepada Gambar 3. Dari histogram terlihat bahwa kalsium dan kuarsa masih mempunyai kuantitas yang lebih besar dibandingkan ketiga oksida lainnya. kalsit merupakan mineral dominan yang terdeteksi pada percontoh uji. Kenampakan mikroskopik pada kedua percontoh tersebut hanya sisa-sisa (remnants) material karbonat. Analisis kimia terhadap ampas hasil pelindian menguji oksida-oksida sejenis seperti tercantum pada Tabel 3. Diasumsikan mineral tersebut pada percontoh uji ini telah terlindi habis dan terubah menjadi filtrat sehingga fitur pits yang menjadi penanda bekas kontak antara larutan pelindi dengan mineral terlindi tidak ditemukan lagi. Kinerja tersebut dapat diketahui secara kuantitatif dengan mengukur luas dan lebar alur melalui metode luas permukaan (surface area). tetapi metode tersebut belum dapat diterapkan pada penelitian ini. D – dahlit. Nomor 13. Alur ini merefleksikan kuantitas material yang telah terlindi pada area tersebut. 4 dan 5 ada kesesuaian antara hasil pengujian mikroskop optik dengan analisis kimia – fosfat terlindi habis pada percontoh A2 dan B1. Bentuknya yang tidak beraturan merupakan efek khas kinerja larutan pelindi (http:// www. c. dan f adalah mineral pembawa fosfat yang telah mengalami pelindian asam oksalat dengan masing-masing dengan kode percontoh A1. natrium. B1. A2. a. Rodriguez-Lorenzo. e. FB – fragmen batuan.

DAFTAR PUSTAKA Ardha. dan Yen.org/wiki/Phosphate. jam 11. Dahlit memperlihatkan struktur mikro radial menyerat sedangkan struktur mikro yang terdapat pada kolofan berupa rekahan (fracture). CA 9007.nz/oceano/seawater. T. Dua mineral yang disebut terakhir merupakan mineral fosfat yang tergolong ke dalam kelompok hidroksilapatit. Pengujian secara kimia terhadap head sample menunjukkan bahwa batuan fosfat Cijulang berkadar rendah (18 – 19%).40 http://www..E atas masukan-masukan yang diberikan selama penulisan makalah.00 http://en. 1991. C dan O) tidak merata.C.org. kondisi percoban bioleaching untuk percontoh A2 (-140 mesh+200 mesh. Muszer. penggunaan jasad renik lain seperti Baccillus sp. 2003. M. diakses pada 02/02/09 . The Effect of Bioleaching on Green River Oil Shale. kuarsa. Uji Pelindian batugamping Fosfatan dengan Asam dan asam Tersirkulasi untuk Peningkatan Kadar Fosfat. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. jam 14. Antoni dan Karas. Mineralogical Society of Poland – Special Pa- Perubahan Morfologi dan Kimia Batuan Pembawa Fosfat Akibat Pelindian dengan .. Laporan Teknik Penelitian. h. Tatang Wahyudi 55 . Selama pelindian. distribusi unsur-unsur penyusun mineral fosfat tersebut (Ca. Pada dahlit ditunjukkan dengan semakin lebarnya struktur menyerat yang dimilikinya. Kondisi ini berakibat pada semakin luasnya permukaan partikel untuk kontak dengan media pelindi yang ditunjukkan dengan terdeteksinya alur-alur halus yang merupakan refleksi aktifitas larutan pelindi ketika ‘memakan’ komponen-komponen yang ada pada mineral tersebut.wikipedia.html. Pengujian secara kimia dan mikroskop optik terhadap enam percontoh ampas pelindian bioleaching menunjukkan bahwa material fosfat terlindi habis pada percontoh A2 dan B1. Application Of Microscopic Mineralogical Analysis Of Copper Concentrate After Bioleaching Process. Ris. n. jam 11. M. Pengembangan porositas dan permeabilitas juga terjadi pada dahlit dan mineral lain.htm.. N. sehingga percontoh ampas yang dihasilkan dapat dikaji kembali secara kimia dan mineralogi.S. Sri Handayani. Dra.. dan Rasyad. 10% padatan) dan B1 (-200 mesh. N. W. Bila mengacu kepada hasil xray mapping salah satu partikel mineral fosfat (dahlit). Ngurah Ardha. Selain itu. Disarankan pada penelitian lanjutan yang akan dilakukan pada skala meja dilakukan pengaturan pH dengan pengadukan berkecepatan rendah.Sc. H.anl. 2002. kalsit.. University of Southrn California.seafriends. 6. Makalah Teknik no. untuk mengurangi ikut terlindinya unsur-unsur pengotor.gov. jam 9. Purnomo. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. thn. Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral.55 Meyer. 148. 1997.05 http://www.Met. 1. http://www. 1 – 7. Hal ini menguatkan bahwa endapan fosfat Cijulang memang berkadar rendah.. Contoh kongkrit ditunjukkan oleh mineral kalsit yang memperlihatkan struktur spons yang tersusun karena pengecilan ukuran partikel kalsit atau rusaknya permukaan kalsit.moonminer. Pengujian kimia dan mikroskopi terhadap ampas hasil pelindian bioleaching menggunakan kapang Aspergillus niger tidak bersifat selektif dalam melindi unsur-unsur yang terdapat dalam batuan fosfat. Upaya Peningkatan Mutu Fosfat dari Batuan fosfat Kadar Rendah Cijulang – Ciamis. Penelitian ini didanai oleh Proyek Penelitian dan Pengembangan Mineral Tahun Anggaran 2008. 5% padatan) efektif dalam melepaskan unsur fosfor dari ikatannya. h. T. namun masih tersisa pada empat percontoh lainnya.4. mineral opak. P. Ardha. diakses pada 02/02 . Department of Geological Sciences and Chemical Engineering. terjadi pengembangan porositas dan permeabilitas pada mineral yang terlindi. Soenara. S.F. KESIMPULAN DAN SARAN Batuan pembawa fosfat (phosphate-bearing rocks) dari daerah Cijulang disusun oleh fragmen batuan. 94 – 98. dahlit dan kolofan.com/bioleaching. yang telah melakukan proses bioleaching batuan fosfat Cijulang. diakses pada 05/02/09. Henry. diakses pada 03/02/09. sebagai media pelindi batuan pembawa fosfat layak dicoba untuk mengetahui kinerjanya apakah lebih baik dari kinerja kapang atau tidak. Terlepas dari kuantitas persen ekstraksi yang diperoleh.

Fabrication of hydroxyapatite bodies by uniaxial pressing from a precipitated powder. Pengembangan Bioteknologi untuk Pengolahan Mineral (Studi Kasus : Ekstraksi Fosfat dari Endapan Fosfat Alam dengan Metode Bioleaching). 583-588. 22. MSP – Poland. Laporan Teknik Penelitian (dalam proses cetak). Bandung:Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara. 2008. Kabupaten Ciamis.F. T. Biomaterials n. 2001.. Vallet-Reg. Pusat Pengembangan Teknologi Mineral. Januari 2009 : 47 – 56 . 1984. L.M.pers v 22. h. Rodriguez-Lorenz. Bimbingan Pertambangan Fosfat di Batukaras Kecamatan Cijulang. Tim Bimbingan Pertambangan Fosfat. M. Wahyudi. dkk. Nomor 13. dan Ferreira.M. 56 Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Volume 05. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum. J.

Gambar dan tabel harus diberi judul dengan jelas dan dalam kertas terpisah serta ditunjukkan mengenai penempatan gambar dan tabel tersebut dalam naskah tulisan. nomor telpon dan faksimili. Izin untuk memproduksi hak cipta material adalah tanggung jawab penulis. Naskah harus asli dan belum pernah diterbitkan dalam publikasi lain. Naskah diketik dalam dua spasi menggunakan kertas ukuran A4 dengan lebar margin kanan dan atas 3 cm serta kiri dan bawah 2 cm. Foto harus jelas dan siap untuk dicetak (tidak dalam bentuk negatif film). judul referensi. 3. Redaksi akan melakukan seleksi dan memberitahukan ke penulis. kota tempat buku diterbitkan dan halaman. 6. 8. Judul naskah harus bersifat deskriptif dan ringkas. Jumlah halaman naskah tidak ditentukan. Pengutipan seminimal mungkin. Petunjuk Bagi Penulis 57 . Naskah ditulis secara ringkas sesuai isinya. alamat. 4. 5. Bilamana mengacu kepada artikel yang tidak dipublikasikan. Hanya rumus matematika yang penting yang dimuat dalam naskah. tahun penerbitan. Jend. Daftar pustaka ditulis secara alfabetis. Kata kunci ditulis dalam Bahasa Indonesia dan Inggris. Sudirman No. Jl. tinggi huruf dalam peta tersebut tidak lebih kecil dari 1. bila naskah sudah diterima atau bila naskah tidak sesuai untuk penerbitan ini. Nama penulis diketik pada halaman pertama di bawah judul naskah. Semua huruf dalam peta harus jelas dan bila ukuran peta harus diperkecil. agar dijelaskan cara memperoleh bahan tersebut. Naskah dan berkas dalam disket/CD dikirim ke Pemimpin Redaksi Jurnal tekMIRA. Bila pengutipan melebihi 250 kata penulis harus memperoleh izin tertulis dari penerbit dan penulis referensi yang bersangkutan. Catatan kaki supaya dihindarkan. 11. 9. 12. Hanya artikel-artikel yang dipublikasikan yang dimasukkan sebagai referensi. 623 Bandung 40211. Intisari (abstract) naskah memuat ringkasan yang jelas. Nama organisasi. Urutan penulisan : nama penulis. 13. 10.Petunjuk Bagi Penulis 1.5 mm. penerbit. serta alamat e-mail (bila ada). Peta maksimum berukuran A4 dan harus memakai skala dan arah utara. 2. Naskah dalam disket/CD akan sangat membantu dalam proses peredaksian. 7.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful