P. 1
Sistem Kewaspadaan Pangan Dan Gizi

Sistem Kewaspadaan Pangan Dan Gizi

|Views: 2,518|Likes:
Published by Khalid Bin Walid

More info:

Published by: Khalid Bin Walid on Apr 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/24/2013

pdf

text

original

Sections

  • BAB I. PENDAHULUAN
  • A. LATAR BELAKANG
  • C. RUANG LINGKUP
  • E. PENGGUNA
  • BAB II. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI INVESTASI PEMBANGUNAN
  • C. PENYEBAB MASALAH PANGAN DAN GIZI
  • Gambar 2. Keterkaitan Kemiskinan dan Status Gizi
  • Gambar 3. Kerangka Sistem Ketahanan Pangan dan Gizi
  • A. STATUS GIZI MASYARAKAT
  • Gambar 4. Prevalensi Anemia pada Anak Balita (SKRT 2001)
  • Tabel 3. Total Goitre Rate (TGR) pada Survei 1996/1998 dan 2003
  • B. KONSUMSI PANGAN
  • Tabel 8. Perkembangan Konsumsi Energi dan Protein Menurut Wilayah
  • C. AKSES RUMAH TANGGA TERHADAP PANGAN
  • Tabel 15. Jumlah Penduduk Rawan Pangan Menurut Propinsi
  • Tabel 16. Volume Beras dan Jumlah Keluarga Sasaran Program Raskin
  • D. KEAMANAN PANGAN
  • Tabel 17. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Menengah ke Atas
  • Tabel 24. Temuan Bahan Berbahaya dalam Produk Pangan
  • . Jumlah Kasus Penolakan Impor Pangan Indonesia O
  • E. POLA HIDUP SEHAT DAN AKTIVITAS FISIK
  • Gambar 9. Tingkat aktivitas penduduk usia diatas 15 tahun (2004)
  • BAB IV. RENCANA AKSI
  • A. ISU STRATEGIS
  • D. KEBIJAKAN
  • DAFTAR PUSTAKA
  • LAMPIRAN

RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI 2006 - 2010

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
ISBN 978-979-3764-27-6

KATA PENGANTAR

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Rawan pangan dan gizi masih menjadi salah satu masalah besar bangsa ini. Masalah gizi berawal dari ketidakmampuan rumah tangga mengakses pangan, baik karena masalah ketersediaan di tingkat lokal, kemiskinan, pendidikan dan pengetahuan akan pangan dan gizi, serta perilaku masyarakat. Kekurangan gizi mikro seperti vitamin A, zat besi dan yodium menambah besar permasalahan gizi di Indonesia. Dengan demikian masalah pangan dan gizi merupakan permasalahan berbagai sektor dan menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan dan langkah-langkah penanggulangannya juga harus dirumuskan dan dilaksanakan bersama. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 menegaskan bahwa “Pembangunan dan perbaikan gizi dilaksanakan secara lintas sektor meliputi produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan dengan kandungan gizi yang cukup, seimbang, serta terjamin keamanannya”. Penyusunan Rencana Aksi Pangan dan Gizi ini, yang disusun ke dalam empat pilar pembangunan pangan dan gizi yaitu : akses terhadap pangan yang didukung oleh ketersediaan dan daya beli; keamanan pangan; status gizi; dan pola hidup sehat, sebagai penjabaran pembangunan pangan dan gizi secara komprehensif. Rencana Aksi ini disusun sebagai panduan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan pangan dan gizi di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota, baik bagi institusi dan aparatur pemerintah, masyarakat dan pelaku lain yang bergerak dalam perbaikan pangan dan gizi di Indonesia. Sebagai tindak lanjut, dokumen ini perlu diterjemahkan ke dalam rencana aksi pangan dan gizi di setiap wilayah. Agar langkah-langkah yang telah dirumuskan ini tidak menjadi sebuah dokumen saja, maka rumusan rencana aksi pangan dan gizi perlu diterjemahkan ke dalam langkah-langkah nyata dalam pembangunan pangan dan gizi di setiap propinsi dan kabupaten/kota. Selanjutnya perlu dilakukan koordinasi, monitoring dan evaluasi secara periodik agar pelaksanaan rencana aksi dapat betul-betul diterapkan dan mencapai tujuan serta dapat membawa kemajuankemajuan yang dicapai. Untuk itu, marilah kita manfaatkan Rencana Aksi Pangan dan Gizi 2006-2010 ini untuk bersama-sama mengatasi masalah gizi di Indonesia agar kita dapat membangun generasi yang sehat, cerdas, dan mandiri. Akhir kata ucapan terima kasih disampaikan kepada wakil-wakil dari Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Departemen Pendidikan Nasional, pakar dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia dan Universitas Hasanudin, asosiasi profesi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan Persatuan Gizi dan Pangan Indonesia serta berbagai lembaga swadaya masyarakat yang telah memberikan pemikiran dan kerja kerasnya dalam penyusunan dokumen ini. Jakarta, Juni 2007 Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

H. Paskah Suze ta

i

DAFTAR SINGKATAN
AGB ASI BBLR BLT CPMB CDPB EYU FDA GAKY GKP HDPP HDR HPP IMT IPM IFPRI ISPA KEK KLB KMS KUB KVA LILA LSM MDGs MP-ASI PAUD PDB PPH RANPG RPJMN RPJPN RPJMD SDM SDKI SKIA SKPG SKRT SUVITAL Susenas TBC = = = = = = = = Anemia Gizi Besi Air Susu Ibu Bayi Berat Lahir Rendah Bantuan Langsung Tunai Cara Produksi Makanan Yang Baik Cara Distribusi Pangan Yang Baik Eksresi Yodium Urine Gangguan Akibat Kurang Yodium Gabah Kering Panen Harga Dasar Pembelian Pemerintah Harga Pembelian Pemerintah Indeks Massa Tubuh Indeks Pembangunan Manusia

= = = =

Food Drug Administration

=

Human Development Report

= = = = =

TGR

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

=

Infeksi Saluran Pernapasan Atas Kurang Energi Kronik Kejadian Luar Biasa Kartu Menuju Sehat Kelompok Usaha Bersama Kurang Vitamin A Lingkar Lengan Atas Lembaga Swadaya Masyarakat

International Food Policy Research Institute

Makanan Pendamping Air Susu Ibu Pendidikan Anak Usia Dini Produk Domestik Bruto Pola Pangan Harapan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Sumberdaya Manusia Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Survei Kesehatan Ibu dan Anak Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi Survei Kesehatan Rumah Tangga Sumber Vitamin A Alami Survei Sosial Ekonomi Nasional Upaya Perbaikan Gizi Keluarga Wanita Usia Subur Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi

Millenium Development Goals

UPGK WUS WNPG

=

Tuberculosis Total Goiter Rate

ii

DAFTAR ISTILAH
Anemia BBLR Diversifikasi Pangan Rendahnya kadar hemoglobin dalam darah, 50 persen kejadian anemia disebabkan kekurangan zat besi Bayi Lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram Penganekaragaman Pangan atau Diversifikasi Pangan adalah upaya peningkatan konsumsi anekaragam pangan dengan prinsip gizi seimbang. Gangguan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan. Indikator yang digunakan untuk mengukur gizi kurang pada anak adalah berdasarkan tinggi barat menurut umur (TB/U), berat badan menurut umur (BB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), untuk dewasa berdasarkan IMT. Kelebihan berat badan dibandingkan tinggi badan, untuk dewasa diukur berdasarkan IMT. Pada anak diukur berdasarkan berat badan per tinggi badan dengan menggunakan referensi internasional z-score. Indeks Massa Tubuh, yaitu berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter (kg/m2) Kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Besarnya energi dari pangan yang dikonsumsi penduduk yang dinyatakan dalam satuan kilo kalori (Kkal) jumlah makanan dan minuman yang dimakan atau diminum penduduk/seseorang dalam satuan gram per kapita per hari. Jumlah protein dari pangan, baik hewani maupun nabati, yang dikonsumsi , dinyatakan dalam satuan gram per kapita per hari. Meliputi kurang gizi makro dan kurang gizi mikro. Kurang gizi makro dulu disebut kurang kalori protein (KKP atau KEP). Sekarang KKP tidak dipakai lagi diganti dengan gizi kurang (z score BB/U <- 2 SD) dan gizi buruk (z score BB/U <-3 SD) jadi gizi kurang pasangan dari gizi buruk, tidak lagi disebut KKP atau KEP karena tidak semata-mata karena kurang kalori dan protein tetapi juga kekurang zat gizi mikro.

Gizi Kurang

Gizi Lebih

IMT Keamanan Pangan

Ketahanan Pangan

Konsumsi Energi Konsumsi Pangan Konsumsi Protein Kurang Gizi

iii

budaya. Pola Pangan Harapan Susunan jumlah pangan menurut 9 kelompok pangan yang didasarkan pada kontribusi energi yang memenuhi kebutuhan gizi secara kuantitas. selingan. pengolahan dari atau pembuatan makanan dan minuman. kualitas maupun keragaman dengan mempertimbangkan aspek sosial. Kegagalan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. berdasarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang. sebagai sarapan atau sebagai makanan pembuka atau penutup. Pangan sumber karbohidrat yang sering dikonsumsi atau dikonsumsi secara teratur sebagai makanan utama. diukur berdasarkan TB/U (tinggi badan menurut umur) Kegagalan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal.Gizi Seimbang Anjuran susunan makanan yang sesuai kebutuhan gizi seseorang/kelompok orang untuk hidup sehat. yang diperuntukkan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan. Sejumlah zat gizi/energi yang diperlukan oleh seseorang dalam suatu populasi untuk hidup sehat. Angka Kecukupan Gizi Pangan Pangan Pokok Pola Konsumsi Pangan Susunan makanan yang biasa dimakan mencakup jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi/dimakan seseorang atau kelompok orang penduduk dalam frekuensi dan jangka waktu tertentu. bahan baku pangan. ekonomi. cerdas dan produktif. dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan. baik yang diolah maupun tidak diolah. Segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air. diukur berdasarkan BB/U (berat badan menurut umur) Gangguan kekurangan vitamin A pada mata yang mengakibatkan kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi retina yang berakibat kebutaan Stunting Wasting Xerophthalmia iv . agama dan cita rasa.

ANALISA SITUASI PANGAN DAN GIZI A. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI PENENTU KUALITAS SUMBER SUMBER DAYA MANUSIA C. RENCANA AKSI A. KONSUMSI PANGAN C. RUANG LINGKUP D. TUJUAN C. LATAR BELAKANG B. PENGGUNA i ii iii v vi vii 1 1 2 3 4 4 5 6 9 13 15 17 17 21 26 34 43 51 51 54 54 56 58 61 77 78 II. SASARAN D. KERANGKA PIKIR KETAHANAN PANGAN DAN GIZI E. PENYEBAB MASALAH PANGAN DAN GIZI D. AKSES RUMAH TANGGA TERHADAP PANGAN D. REVIEW STRATEGI PERBAIKAN GIZI JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG III. PROSES PENYUSUNAN E. MATRIK RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN v . ISU STRATEGIS B. TUJUAN PENYUSUNAN C. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI INVESTASI PEMBANGUNAN A. PENDAHULUAN A. STRATEGI V.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR SINGKATAN DAFTAR ISTILAH DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR I. KEAMANAN PANGAN E. KEBIJAKAN E. STATUS GIZI MASYARAKAT B. POLA HIDUP SEHAT DAN AKTIFITAS FISIK IV.

Perbandingan Konsumsi Pangan Anjuran Dan Aktual Tahun 1999-2005 11. 8. 7.DAFTAR TABEL 1. Hasil pengujian produk pangan beredar 21. Temuan Formalin dalam Produk Pangan 26. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Menengah ke Atas 18. Biaya per Unit dan Manfaat Ekonomi berbagai Program Gizi Prevalensi Pendek/Stunting anak balita < -2SD Total Goitre Rate (TGR) pada Survei 1996/1998 dan 2003 Konsumsi Pangan Sumber Karbohidrat Konsumsi Pangan Sumber Protein Konsumsi Pangan Sumber Lemak dan Vitamin/Mineral Pola Konsumsi Pangan Pokok Menurut Wilayah dan Kelompok Pengeluaran Perkembangan Konsumsi Energi Dan Protein Menurut Wilayah Perkembangan Kualitas Konsumsi Pangan Berdasarkan PPH 8 18 19 22 22 23 24 25 26 26 27 27 28 28 30 33 35 36 37 37 38 38 39 39 40 40 42 10. Persentase Pelanggaran Produk Pangan 22. Pengeluaran Nomor Pendaftaran Produk Pangan Skala Besar Dan Menengah 20. Data Temuan Bahan Berbahaya dalam Produk Pangan 25. 9. 5. Tahu dan Ikan di Enam Propinsi 27. Jumlah Penduduk Rawan Pangan Menurut Propinsi 16. 4. Hasil Pemantauan Produk Mi Basah. 3. Jumlah Pelanggaran pada Berbagai Kriteria Tidak Memenuhi Syarat 24. Persentase hasil pengawasan makanan jajanan anak sekolah 23. 2. Perkembangan Produksi Daging 14. Jumlah Kasus Keracunan Tahun 2001 – 2005 28. 6. Perkembangan Produksi Telur 15. Perkembangan Produksi Palawija Per Kapita 13. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir Per Propinsi Menurut Wilayah Tahun 2004 50 vi . Volume Beras dan Jumlah Keluarga Sasaran Program Raskin 17. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Pangan Rumah Tangga 19. Persebaran Produksi Pangan Pokok Menurut Wilayah Pulau 12.

Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir (Untuk 2005: 15 Tahun Ke Atas) 49 vii . 7. 6. 9. Kerangka Pikir Penyebab Masalah Gizi Anak Balita Keterkaitan Kemiskinan dan Status Gizi Kerangka Sistem Ketahanan Pangan dan Gizi Prevalensi anemia pada anak balita (SKRT 2001) Proporsi WUS resiko KEK (LILA <23. 2. 5.DAFTAR GAMBAR 1. NSS-HKI 1999-2001) Tingkat aktivitas penduduk usia diatas 15 tahun (2004) 10 12 14 19 20 41 43 45 48 10. 8. 4.5 cm) Jumlah kasus penolakan impor pangan Indonesia oleh FDA Prevalensi Penderita Penyakit Degeneratif Tahun 2001 dan 2004 Prevalensi Gizi Lebih Pada Perempuan Dewasa (perdesaan. 3.

Investasi gizi juga berperan penting untuk memutuskan lingkaran setan kemiskinan dan kurang gizi sebagai upaya peningkatan SDM. Masalah gizi kurang sering luput dari penglihatan atau pengamatan biasa dan seringkali tidak cepat ditanggulangi. 2006). kesehatan yang prima. Dengan kata lain saat ini Indonesia tengah menghadapi masalah gizi ganda. Beberapa dampak buruk kurang gizi adalah: (i) rendahnya produktivitas kerja. dan status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. ketersediaan pangan. January 2000. Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi. Investasi di sektor sosial menjadi sangat penting dalam peningkatan SDM karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara. 4th report on The World Nutrition Situation. dan balita. Selain gizi kurang. Dalam sistem ketatanegaraan kita. Selain itu. Kemampuan mengakses pangan ini dipengaruhi oleh daya beli. yaitu gizi kurang dan gizi lebih. serta rendahnya umur harapan hidup. Akses pangan setiap individu ini sangat tergantung pada ketersediaan pangan dan kemampuan untuk mengaksesnya secara kontinyu (spasial dan waktu). Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional. LATAR BELAKANG Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh. mental yang kuat. dan (iii) kehilangan sumberdaya karena biaya kesehatan yang tinggi (World Bank. serta cerdas. Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu. . (ii) kehilangan kesempatan sekolah. budaya dan politik (Unicef. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik.BAB I. dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah. bayi. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. yang berkaitan dengan tingkat pendapatan dan kemiskinan seseorang. 1990). padahal dapat memunculkan masalah besar. serta lambatnya pertumbuhan ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengungkapkan pentingnya penanggulangan kekurangan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur sesuai siklus kehidupan (Januari. 2000)1. upaya peningkatan SDM diatur dalam UUD 1945 pasal 28 H ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap individu berhak hidup RANPG 2006-2010 1 1 Nutrition throughout life cycle. secara bersamaan Indonesia juga mulai menghadapi masalah gizi lebih dengan kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. rendahnya pendidikan. Untuk menjaga agar individu tidak kekurangan gizi maka akses setiap individu terhadap pangan harus dijamin. faktor sosialekonomi. PENDAHULUAN A. Saat ini diperkirakan sekitar 50 persen penduduk Indonesia atau lebih dari 100 juta jiwa mengalami beraneka masalah kekurangan gizi.

kesehatan. Untuk menjabarkan kebijakan dan langkah terpadu di bidang pangan dan gizi serta dalam rangka mendukung pembangunan SDM berkualitas. provinsi maupun kabupaten/kota. Dengan demikian akan dapat dihasilkan generasi muda yang berkualitas. B. perlu disusun Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010 (RANPG 2006-2010) sebagai kelanjutan dari Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional (RAPGN) 2001-2005. dan pelayanan kesehatan adalah salah satu hak asasi manusia. TUJUAN PENYUSUNAN Tujuan Umum. Dengan demikian pemenuhan pangan dan gizi untuk kesehatan warga negara merupakan investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. (2) mencapai pendidikan dasar untuk semua. Upaya-upaya untuk menjamin kecukupan pangan dan gizi serta kesempatan pendidikan tersebut akan mendukung komitmen pencapaian Millennium Development Goals (MDGs). merata dan terjangkau”.7 Tahun 1996 tentang Pangan. baik pada tataran nasional. Memberikan panduan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan pangan dan gizi bagi institusi pemerintah. Pada tingkat nasional. Kecukupan pangan yang baik mendukung tercapainya status gizi yang baik sehingga akan memperlancar penerapan Program Wajib Belajar 9 Tahun sesuai dengan amanat UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. baik jumlah maupun mutunya. dan pendidikan juga ditempatkan sebagai prioritas utama dalam RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004 -2009. RANPG 2006-2010 2 . pengaturan tentang pangan tertuang dalam Undang-undang No. pembangunan pangan. yang dijabarkan dalam rencana strategis Departemen Pertanian. The Forty-eight World Health Assembly 1995. terutama pada sasaran-sasaran: (1) menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Pemenuhan hak atas pangan dicerminkan pada definisi ketahanan pangan yaitu : “kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup. (3) menurunkan angka kematian anak. The World Summit for Children 1990. Sementara itu. aman. Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Nasional. yang menyatakan juga bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat. Komitmen global lain sebagai landasan pembangunan pangan dan gizi adalah: The Global Strategy for Health for All 1981. dan (4) meningkatkan kesehatan ibu pada tahun 2015. masyarakat dan pelaku lain yang bergerak dalam perbaikan pangan dan gizi di Indonesia.sejahtera. World Food Summit 1996 dan Health for All in the Twenty-first Century 1998.

keamanan pangan. provinsi. komitmen pencapaian MDGs.Tujuan Khusus: 1. keamanan. pada bab ini dijabarkan pula kebijakan. 3. Selain itu. Dalam bab ini disajikan pula langkah-langkah untuk mengatasi tantangan baru sesuai dinamika yang terjadi pada tingkat nasional dan global. kabupaten/kota serta pengguna lainnya sesuai dengan kondisi di wilayah masing-masing. yang tercermin pada tercukupinya kebutuhan pangan baik jumlah. RUANG LINGKUP Rencana Aksi ini meliputi strategi dan langkah konkrit yang akan dilakukan dalam perbaikan pangan dan gizi untuk mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan status gizi masyarakat. (iii) mampu membangun dan memfungsikan lembaga pangan dan gizi. kegiatan pokok. dan pola hidup sehat. maupun nasional. sasaran dan strategi penguatan ketahanan pangan dan perbaikan gizi periode 2006-2010. Meningkatkan koordinasi penanganan masalah pangan dan gizi secara terpadu. indikator. Indikator yang terdapat dalam RANPG ini akan menjadi dasar bagi pemantauan dan evaluasi program serta perkembangan status pangan dan gizi baik pada tingkat rumah tangga. 2. setiap kegiatan akan dapat dijabarkan oleh pemerintah provinsi. yang diuraikan lebih lanjut pada Bab V dalam bentuk matriks rencana aksi yang mencakup kebijakan. Meningkatkan kemampuan menganalisis perkembangan situasi pangan dan gizi di setiap wilayah agar: (i) mampu menetapkan prioritas penanganan masalah pangan dan gizi. dan (iv) mampu memantau dan mengevaluasi pembangunan pangan dan gizi. Meningkatkan pemahaman pentingnya peran pembangunan pangan dan gizi sebagai investasi untuk mewujudkan SDM Indonesia berkualitas. (ii) mampu memilih intervensi yang tepat dan cost effective sesuai kebutuhan lokal. program dan instansi penanggung jawab. dan kualitas gizi yang seimbang di tingkat rumah tangga. Dokumen rencana aksi ini diawali dengan uraian mengenai peran pangan dan gizi sebagai investasi pembangunan yang disajikan pada Bab II. Pada Bab III dijabarkan analisis situasi pangan dan gizi lima tahun lalu sebagai cerminan hasil pelaksanaan RANPG 2001-2005 dan sasaran yang belum sepenuhnya tercapai yang masih relevan untuk dilanjutkan dalam RANPG 2006-2010. C. khususnya yang terkait dengan empat pilar pembangunan pangan dan gizi yaitu: akses terhadap pangan. strategi. Kemudian pada Bab IV diuraikan isu strategis pembangunan pangan dan gizi dan tujuan yang akan dicapai melalui RANPG 2006-2010. serta dokumen-dokumen kebijakan pembangunan nasional lain di bidang pangan dan gizi2. status gizi. wilayah kabupaten/kota. Rencana aksi ini mengacu pada RPJM 2004-2009. Dengan demikian. RANPG 2006-2010 3 .

D. India tahun 2005 sebagai acuan. yang memiliki tanggung jawab melakukan upaya perbaikan pangan. RANPG 2006-2010 4 . gizi dan kesehatan. Jabaran rencana aksi atas empat konsep pilar pembangunan pangan dan gizi tersebut kemudian dituangkan secara terpadu dalam RANPG 2006-2010. Dokumen RANPG disusun sebagai acuan pelaksanaan program ketahanan pangan dan perbaikan gizi bagi semua pihak. Selanjutnya. LSM dan organisasi profesi. dibentuk Kelompok Kerja yang secara paralel melakukan analisis dan diskusi untuk menyusun kebijakan. E. pelaku usaha dan pemangku kepentingan lain dari perguruan tinggi. termasuk pemerintah dan masyarakat. PENGGUNA RANPG ini merupakan dokumen operasional yang secara terpadu menyatukan pembangunan pangan dan gizi dalam rangka mewujudkan SDM berkualitas sebagai modal sosial pembangunan bangsa dan negara. PROSES PENYUSUNAN Penyusunan RANPG diawali dengan pertemuan lintas sektor yang menyepakati empat pilar pembangunan pangan dan gizi hasil WHO-FAO Inter-country Workshop for Updating and Implementing Inter-sectoral Food and Nutrition Plans and Policies di Hyderabad. strategi dan rencana aksi untuk masing-masing pilar. Proses penyusunan melibatkan konsultasi dengan para pakar.

8 persen yang berarti sekitar 40 juta jiwa masih berada di bawah garis kemiskinan. Gangguan kurang yodium pada saat janin atau gagal dalam pertumbuhan anak sampai usia dua tahun dapat berdampak buruk pada kecerdasan secara permanen. sedangkan ukuran kesejahteraan masyarakat antara lain dapat dilihat pada tingkat kemiskinan dan status gizi masyarakat. baik zat gizi makro maupun mikro. Anak bergizi buruk (pendek/stunted) mempunyai resiko kehilangan IQ 10-15 poin. pendidikan dan kesehatan. meningkatkan resiko bayi yang dilahirkan kurang zat besi. lebih dari 10 persen penduduk di setiap provinsi mengalami rawan pangan. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI PENENTU KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Pembangunan suatu bangsa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan setiap warga negara. Singapura 22. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI INVESTASI PEMBANGUNAN A. Bali. Hal ini ditunjukkan oleh posisi IPM Indonesia yang berada pada urutan ke-108 dari 177 negara.BAB II. BBLR dapat meningkatkan angka kematian bayi dan balita. dan Nusa Tenggara Barat. Filipina 77. Hal ini berakibat pada kekurangan gizi. dan Brunai 25. IPM merupakan ukuran agregat yang dipengaruhi oleh tingkat ekonomi. Ukuran kualitas sumberdaya manusia dapat dilihat pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Posisi IPM negara ASEAN lainnya lebih baik dibanding Indonesia. Tingginya prevalensi Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) akibat tingginya prevalensi Kurang Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil. Thailand 67. Implikasi dari masalah gizi pada kedua kelompok tersebut sangat luas. Pada tahun 2006 tingkat kemiskinan di Indonesia masih mencapai 17. sehingga secara RANPG 2006-2010 5 . gangguan pertumbuhan fisik dan mental anak. Salah satu akibat kemiskinan adalah ketidakmampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam jumlah dan kualitas yang baik. antara lain: a. Kurang zat besi (anemia gizi besi) pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko kematian waktu melahirkan. Peningkatan kemajuan dan kesejahteraan bangsa sangat tergantung pada kemampuan dan kualitas sumberdaya manusianya. dan berdampak buruk pada pertumbuhan sel-sel otak anak. b. yang dapat diindikasikan dari status gizi anak balita dan wanita hamil. kecuali di Provinsi Sumatera Barat. Kualitas SDM Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara lain. seperti Malaysia pada urutan ke-56. serta penurunan kecerdasan. Persentase penduduk miskin juga menjadi faktor penting penentu IPM.

Selain itu. Selanjutnya sesuai Bank Dunia (2006). perbaikan gizi merupakan suatu investasi yang sangat menguntungkan.7 Tahun 1996. Dari uraian di atas tampak bahwa ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pangan dalam rumah tangga terutama pada ibu hamil dan anak balita akan berakibat pada kekurangan gizi yang berdampak pada lahirnya generasi muda yang tidak berkualitas. Pada orang dewasa dapat menurunkan produktivitas sebesar 20-30 persen. jalan produksi. INVESTASI PANGAN DAN GIZI DALAM PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA Kecukupan pangan dalam jumlah dan mutu yang baik di tingkat rumah tangga merupakan mandat untuk mewujudkan ketahanan pangan sesuai Undang-undang No. Dalam jangka pendek. Kurang vitamin A pada anak balita dapat menurunkan daya tahan tubuh. serta peningkatan produksi pupuk dilakukan untuk mendukung produksi pangan dalam negeri. Apabila masalah ini tidak diatasi maka dalam jangka menengah dan panjang akan terjadi “kehilangan generasi” yang dapat mengganggu kelangsungan kepentingan bangsa dan negara. B. Bantuan dan subsidi pangan juga diberikan pada rumah tangga miskin yang tidak dapat menjangkau harga pangan yang terjadi di pasar. pangan lokal juga terus dikembangkan mengingat beragamnya pola pangan dan wilayah kepulauan yang dimiliki Indonesia untuk membantu daerah-daerah rawan pangan dan daerah-daerah yang jauh dari jangkauan distribusi nasional. Pemerintah selalu menempatkan ketahanan pangan dalam program pembangunan. c. dan meningkatkan resiko kematian akibat infeksi. meningkatkan resiko kebutaan. Efisiensi sistem distribusi pangan terus ditingkatkan agar harga pangan terjangkau oleh masyarakat.konsisten dapat mengurangi kecerdasan anak. Pertama. Investasi besar pada pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi. Setidaknya ada tiga alasan suatu negara perlu melakukan intervensi di bidang gizi. Berbagai program pemerintah untuk meningkatkan produksi dan ketersediaan pangan secara kontinyu melalui penghimpunan stok yang mencukupi masih terus dilakukan. perbaikan gizi memiliki keuntungan ekonomi RANPG 2006-2010 6 . d. Indonesia akan sulit meningkatkan IPM. hal ini juga menyebabkan menurunnya produktivitas. Meluasnya kekurangan gizi pada anak balita dan wanita hamil akan meningkatkan pengeluaran rumah tangga maupun pemerintah untuk biaya kesehatan karena banyak warga yang mudah jatuh sakit akibat kurang gizi. Hal penting yang juga dilakukan adalah upaya peningkatan pendapatan masyarakat. Di samping itu. terutama petani dan masyarakat perdesaan yang tingkat kemiskinannnya tinggi sehingga daya beli dan kemampuan mereka untuk mengakses pangan semakin meningkat.

(economic returns) yang tinggi. Konsensus ini menilai bahwa perbaikan gizi. termasuk Bank Dunia. Konferensi para ekonom di Copenhagen tahun 2005 (Konsensus Copenhagen) menyatakan bahwa intervensi gizi menghasilkan keuntungan ekonomi tinggi dan merupakan salah satu yang terbaik dari 17 alternatif investasi pembangunan lainnya. Selama ini para ahli ekonomi berpendapat bahwa investasi ekonomi merupakan prasyarat utama untuk memperbaiki keadaan gizi masyarakat. dan pengurangan biaya pengobatan. Titik berat investasi adalah untuk membangun prasarana ekonomi seperti jalan. kedua. serta air bersih dan sanitasi. Zimbabwe yang memiliki PDB lebih rendah dari Namibia ternyata memiliki status gizi anak balita yang lebih baik. pengurangan hari sakit. dan seng) memiliki keuntungan ekonomi yang sama tingginya dengan investasi di bidang liberalisasi perdagangan. Pada waktu itu jarang sekali para perencana pembangunan memasukkan perbaikan gizi. Studi yang dilakukan IFPRI di 15 negara menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan sebesar 5 persen per tahun saja tanpa didukung perbaikan infrastruktur penunjang seperti akses air bersih dan program-program gizi ternyata tidak mampu membawa negara-negara tersebut untuk mengurangi setengah masalah gizi kurangnya pada tahun 2020. khususnya program suplementasi dan fortifikasi adalah sangat tinggi. kesehatan dan pendidikan sebagai bagian suatu investasi ekonomi. mengartikan investasi dalam arti sempit. diketahui bahwa perbaikan gizi dapat dilakukan tanpa harus menunggu tercapainya tingkat perbaikan ekonomi tertentu. khususnya intervensi melalui program suplementasi dan fortifikasi zat gizi mikro (memperbaiki kekurangan zat besi. Perkembangan iptek pada dasawarsa terakhir memungkinkan perbaikan gizi dengan lebih cepat tanpa harus menunggu perbaikan ekonomi. Behman. Investasi pembangunan ekonomi lebih diartikan sebagai penanaman modal untuk membangun industri barang dan jasa dalam rangka menciptakan lapangan kerja. RANPG 2006-2010 7 . Sampai 1970-an banyak ahli ekonomi dan ahli perencanaan pembangunan. Alderman dan Hoddinot (2004) dalam Bank Dunia (2006) mengungkapkan bahwa Rasio Manfaat-Biaya (benefit-cost ratio/BC-Ratio) berbagai program gizi. penanggulangan malaria dan HIV. jembatan dan transportasi. berkisar antara 4 hingga 520 (Tabel 1). Beberapa negara dengan PDB yang sama ternyata mempunyai angka prevalensi gizi-kurang pada anak balita yang berbeda-beda. vitamin A. perbaikan gizi membantu menurunkan tingkat kemiskinan melalui perbaikan produktivitas kerja. dan secara agregat menyebabkan kehilangan PDB antara 2-3 persen. Dari analisis hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Pada kondisi gizi buruk. penurunan produktivitas perorangan diperkirakan lebih dari 10 persen dari potensi pendapatan seumur hidup. intervensi gizi terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi. Demikian halnya dengan Cina. PDB per kapita negara ini relatif lebih rendah dibanding negara-negara Asia lainnya namun memiliki prevalensi balita gizi kurang paling rendah. serta analisis ekonomi terhadap keuntungan investasi gizi. dan ketiga. yodium.

1986 Italia.10 0. Situational Analysis of Nutrition Problems in Indonesia: Its Policy. meningkatkan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental. Subsidi Pangan * 2.14 12.4 Sumber: Soekirman dkk (2003).7 Intervensi Pangan dan Gizi Di Masyarakat 1. 1980 India. Fortifikasi Besi Pada Garam 0.44 Hamil 13. 1980 Guatemala. 1977 Indonesia. Keterkaitan upaya perbaikan gizi dengan pembangunan ekonomi juga dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal PBB. Suplementasi Iodium pada Wanita 10. Fortifikasi Besi Pada Pangan Pokok (Terigu) Pemberian Makanan Tambahan 17. 1980 Indonesia. 1978 Zaire. Suplementasi Vitamin A pada balita 0. 2004 Manfaat Ekonomi Per 1 US$ Investasi (BC-Ratio) 0. Kofi Annan. Iodisasi Garam 0. Fortifikasi Besi Pada Gula 0. dan meletakkan fondasi untuk masa depan produktivitas anak. 1980 Tidak Disebut.01 Masyarakat Sebagai Bagian Dari Pelayanan Kesehatan Dasar 3.0 16. 1987 Guatemala.68 11.Memasuki periode 1990-an keadaan ini mulai berubah.6 32. Program Intervensi Gizi Berbasis 8. melindungi kesehatannya. 2004 Indonesia.65-4.1 1.49 0. Biaya per Unit dan Manfaat Ekonomi berbagai Program Pangan dan Gizi Biaya Per Unit Dan Lokasi Jenis Intervensi Biaya per Unit (US$/target) Negara & Tahun Kajian Indonesia. and Hoddinott (2004) dalam Bank Dunia (2006) RANPG 2006-2010 8 . Suplementasi Tablet Besi Pada Ibu 2. Investasi di bidang ini menjadi salah satu prioritas Bank Dunia dalam pemberian pinjaman kepada negara berkembang. Pada 1992 Bank Dunia menyatakan bahwa perbaikan gizi merupakan suatu investasi pembangunan.0 24.21 7.04 9. Programs and Prospective Development. 2004 Peru. Fortifikasi Vitamin A Pada Gula 0. 1986 India. Program Pelayanan Anak Terpadu Intervensi Zat Gizi Mikro 6.80 15.99 176-200 84. Promosi ASI di rumah sakit 5.3 5-67 9-16 28. Fortifikasi zat besi 16. PMT Pada Anak Balita 3.0 15-520 4 -50.46-0.14 0. Pendidikan Gizi 0. Direktorat Gizi dan Bank Dunia (Diolah dari berbagai sumber). Iodinasi Air 0. Alderman. 2004 Indonesia.10 14.37 4. 1976 Tidak Disebut. Perubahan kebijakan pinjaman Bank Dunia dan perhatian PBB terhadap pembangunan perbaikan gizi dibuktikan dengan meningkatnya alokasi pinjaman Bank Tabel 1.04 8.Suntikan Iodium 0. * Behrman.9 2. yang menyatakan bahwa gizi yang baik dapat merubah kehidupan anak.

sehingga perlu dipilih intervensi pemerintah yang benar-benar “costeffective”. Faktor penyebab langsung yang kedua adalah infeksi yang RANPG 2006-2010 9 . C. Sebagai contoh. dalam jumlah yang cukup dan harga terjangkau sangat menentukan tingkat konsumsi pangan di tingkat rumah tangga. Sementara Soekirman dkk (2003). Meskipun peningkatan anggaran cukup tinggi namun jumlah tersebut dinilai masih belum memadai. Selanjutnya pola konsumsi pangan rumah tangga akan berpengaruh pada komposisi konsumsi pangan. 1. yaitu faktor makanan dan penyakit infeksi dan keduanya saling mendorong. Bank Dunia (1996) merekomendasikan bentuk intervensi yang dianggap cost-effective untuk berbagai situasi. yang pada tingkat makro ditunjukkan oleh tingkat produksi nasional dan cadangan pangan yang mencukupi. Ketersediaan pangan sepanjang waktu. Faktor penyebab langsung pertama adalah makanan yang dikonsumsi. Oleh karena itu. PENYEBAB MASALAH PANGAN DAN GIZI Kerangka Penyebab Masalah Pangan dan Gizi Terdapat dua faktor langsung penyebab gizi kurang pada anak balita. dan MP-ASI yang belum memenuhi gizi seimbang oleh karena berbagai sebab. yang dilanjutkan dengan tambahan makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi bayi usia 6 bulan sampai 2 tahun. atau meningkat hampir tiga kali lipat dalam jangka waktu lima tahun. mencegah terjadinya infeksi juga dapat mengurangi kejadian gizi kurang dan gizi buruk. harus memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang. Data menunjukkan masih rendahnya persentase ibu yang memberikan ASI. berdasarkan data dari berbagai sumber juga menyajikan informasi tentang unit cost dan costeffectiveness berbagai program gizi hasil studi di berbagai negara (Tabel 1). Konsumsi pangan dipengaruhi oleh ketersediaan pangan. Berbagai faktor penyebab langsung dan tidak langsung terjadinya gizi kurang digambarkan dalam kerangka pikir UNICEF (1990) (Gambar 1). dan pada tingkat regional dan lokal ditunjukkan oleh tingkat produksi dan distribusi pangan. anak balita yang tidak mendapat cukup makanan bergizi seimbang memiliki daya tahan yang rendah terhadap penyakit sehingga mudah terserang infeksi. Makanan lengkap bergizi seimbang bagi bayi sampai usia enam bulan adalah air susu ibu (ASI). Sebaliknya penyakit infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dapat mengakibatkan asupan gizi tidak dapat diserap tubuh dengan baik sehingga berakibat pada gizi buruk. Sejalan dengan itu.Dunia untuk proyek-proyek perbaikan gizi di negara berkembang yang meningkat 18 kali lipat dari hanya US$ 50 juta pada 1980-an menjadi US$ 900 juta pada 1990-an. alokasi anggaran pembangunan untuk perbaikan gizi di Indonesia juga meningkat secara signifikan dari Rp 61 Milyar pada tahun 2000 menjadi Rp 179 Milyar pada tahun 2005.

TBC. Infeksi ini dapat mengganggu penyerapan asupan gizi sehingga mendorong terjadinya gizi kurang dan gizi buruk. yaitu: (i) ketersediaan dan pola konsumsi pangan dalam rumah tangga. Kedua faktor penyebab langsung tersebut dapat ditimbulkan oleh tiga faktor penyebab tidak langsung. Sebaliknya. dan (iii) jangkauan dan mutu pelayanan RANPG 2006-2010 10 .Penyebab Langsung Penyebab Tidak Langsung lah berkaitan dengan tingginya prevalensi dan kejadian penyakit infeksi terutama diare. gizi kurang melemahkan daya tahan anak sehingga mudah sakit. ISPA. demam berdarah dan HIV/AIDS. malaria. (ii) pola pengasuhan anak. Kedua faktor penyebab langsung gizi kurang itu memerlukan perhatian dalam kebijakan ketahanan pangan dan program perbaikan gizi serta peningkatan kesehatan masyarakat.

pelayanan keluarga berencana.kesehatan masyarakat. Masalah kurang gizi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mendorong proses pemiskinan melalui tiga cara. Keluarga miskin dicerminkan oleh profesi/mata pencaharian yang biasanya adalah buruh/pekerja kasar yang berpendidikan rendah sehingga tingkat pengetahuan pangan dan pola asuh keluarga juga kurang berkualitas. pelayanan kesehatan. 2. kurang gizi dapat menurunkan tingkat ekonomi keluarga karena meningkatnya pengeluaran untuk berobat. Ketidakstabilan ekonomi. Dengan asupan makanan yang tidak mencukupi. Ketiga hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Gambar 2) . Kedua. Rendahnya kualitas konsumsi pangan dipengaruhi oleh kurangnya akses rumah tangga dan masyarakat terhadap pangan. banyaknya anak justru mengakibatkan besarnya beban anggota keluarga dalam sebuah rumah tangga miskin. politik dan sosial yang harus dapat menurunkan tingkat kemiskinan setiap rumah tangga untuk dapat mewujudkan ketahanan pangan dan gizi serta memberikan akses kepada pendidikan dan pelayanan kesehatan. Apabila kondisi ketiganya kurang baik menyebabkan gizi kurang. Upaya mengatasi masalah ini bertumpu pada pembangunan ekonomi. Ketiganya dapat berpengaruh pada kualitas konsumsi makanan anak dan frekuensi penyakit infeksi. Pola asuh. termasuk anak balitanya menjadi lebih rentan terhadap infeksi sehingga sering menderita sakit. kemiskinan dinilai memiliki peranan penting dan bersifat timbal balik. Kemiskinan dan Masalah Gizi Dari berbagai faktor penyebab masalah gizi. Pertama. anggota rumah tangga. serta kelembagaan sosial masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan. dapat berakibat pada rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat yang antara lain tercermin pada maraknya masalah gizi kurang dan gizi buruk di masyarakat. Namun demikian. kurang gizi secara tidak langsung menurunkan kemampuan fungsi kognitif dan berakibat pada rendahnya tingkat pendidikan. Tingkat dan kualitas konsumsi makanan anggota rumah tangga miskin tidak memenuhi kecukupan gizi sesuai kebutuhan. informasi. RANPG 2006-2010 11 . Ketiga. Keluarga miskin juga ditandai dengan tingkat kehamilan tinggi karena kurangnya pengetahuan tentang keluarga berencana dan adanya anggapan bahwa anak dapat menjadi tenaga kerja yang memberi tambahan pendapatan keluarga. politik dan sosial. artinya kemiskinan akan menyebabkan kurang gizi dan individu yang kurang gizi akan berakibat atau melahirkan kemiskinan. pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan dipengaruhi oleh pendidikan. kurang gizi secara langsung menyebabkan hilangnya produktivitas karena kelemahan fisik. baik akses pangan karena masalah ketersediaan maupun tingkat pendapatan yang mempengaruhi daya beli rumah tangga terhadap pangan.

Keseluruhan faktor ini dapat menyebabkan kekurangan gizi pada setiap anggota rumah tangga miskin yang dapat berakibat pada: (i) menurunnya produktivitas individu karena kondisi fisik yang buruk serta tingkat kecerdasan dan pendidikan yang rendah. Banyak cara memperbaiki gizi masyarakat dapat dilakukan justru pada saat masih miskin. (ii) tingginya pengeluaran untuk memelihara kesehatan karena sering sakit. Adanya hubungan kemiskinan dan kekurangan gizi sering diartikan bahwa upaya penanggulangan masalah kekurangan gizi hanya dapat dilaksanakan dengan efektif apabila keadaan ekonomi membaik dan kemiskinanan dapat dikurangi. Pendapat ini tidak seluruhnya benar. kedua hal ini pun menyebabkan kemiskinan pada individu tersebut. Secara empirik sudah dibuktikan bahwa mencegah dan menanggulangi masalah gizi kurang tidak harus menunggu sampai masalah kemiskinan dituntaskan. sebagaimana KEMISKINAN Gambar 2. Semakin banyak rakyat miskin yang diperbaiki gizinya. Sebaliknya.kekurangan gizi . Dengan diperbaiki gizinya. Keterkaitan Kemiskinan dan Status Gizi RANPG 2006-2010 12 . Perlu disadari bahwa investasi pembangunan di bidang gizi tidak mudah dan tidak cepat. akan semakin berkurang jumlah rakyat miskin. produktivitas masyarakat miskin dapat ditingkatkan sebagai modal untuk memperbaiki ekonominya dan mengentaskan diri dari lingkaran kemiskinan.kemiskinan.

Apabila dipadukan dengan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan yang dapat meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga. dan makanan untuk ibu hamil yang kurus. pendidikan terutama pendidikan perempuan. Banyak intervensi gizi telah dilakukan dengan sasaran utama masyarakat miskin dan gizi kurang. intervensi gizi untuk orang miskin akan mempunyai daya ungkit yang besar dalam meningkatkan kesehatan. Perbaikan gizi memerlukan konsistensi dan kesinambungan program dalam jangka pendek dan jangka panjang. yaitu setengah dari kelompok miskin ini adalah petani kecil. D. Wanita Usia Subur (WUS). Secara terintegrasi intervensi gizi tersebut ditunjang dengan pelayanan kesehatan dasar seperti imunisasi. kecerdasan. Di samping itu juga mendapatkan suplemen berupa: zat besi untuk ibu hamil. dan sarana kebersihan lingkungan. termasuk pentingnya Air Susu Ibu (ASI) bagi bayi. Untuk mengantisipasi terjadinya fluktuasi ketahanan pangan rumah tangga yang berpotensi menimbulkan kerawanan pangan. Pada tahun 2006. dan ibu hamil. serta pelayanan kesehatan lainnya di Puskesmas. Kelompok miskin inilah yang seharusnya menjadi fokus perhatian dalam pembangunan di bidang ketahanan pangan dan perbaikan gizi. terutama anak-anak. tingkat kemiskinan penduduk di Indonesia sekitar 17. pertolongan persalinan. dan produktivitas. dilakukan pemantauan terus menerus terhadap situasi pangan masyarakat dan rumah tangga. Dari jumlah penduduk miskin tersebut. (ii) distribusi pangan yang lancar dan merata. yaitu: (i) ketersediaan pangan dalam jumlah dan jenis yang cukup untuk seluruh penduduk.membangun gedung dan prasarana fisik. sistem ketahanan pangan dan gizi tidak hanya menyangkut soal produksi. Mereka mendapatkan pendidikan dan penyuluhan gizi seimbang. distribusi. serta perkembangan penyakit dan status gizi anak dan ibu hamil yang dikenal sebagai Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). dan penyediaan pangan ditingkat makro 13 RANPG 2006-2010 . Data tersebut tidak jauh berbeda dengan data di tingkat dunia. Makanan Pendamping – Air Susu Ibu (MP-ASI) untuk anak 6 . KERANGKA PIKIR KETAHANAN PANGAN DAN GIZI Sistem ketahanan pangan dan gizi secara komprehensif meliputi empat subsistem. Dengan demikian. Upaya tersebut dapat meningkatkan akses rumah tangga miskin kepada pangan yang bergizi seimbang. yang berdampak pada (iv) status gizi masyarakat (Gambar 3). pemeriksaan kehamilan. dan seperlima dari kaum miskin tersebut adalah para buruh tani yang tidak mampu memproduksi bahan pangan untuk kebutuhan keluarganya sendiri. sekitar 68 persen tinggal di pedesaan. Vitamin A untuk anak balita dan ibu nifas. (iii) konsumsi pangan setiap individu yang memenuhi kecukupan gizi seimbang.24 bulan. air bersih. dan layanan penimbangan berat badan bayi dan anak secara teratur setiap bulan di Posyandu. penyuluhan tentang pengasuhan bayi dan kebersihan. dan umumnya bekerja pada sektor pertanian atau berbasis pertanian.8 persen atau sekitar 40 juta jiwa.

yaitu jumlah konsumsi energi (kalori) rata-rata anggota rumah tangga di bawah Gambar 3. Meskipun secara konseptual pengertian ketahanan pangan meliputi aspek mikro.(nasional dan regional). yaitu akses pangan di tingkat rumah tangga dan individu serta status gizi anggota rumah tangga. maka dalam dokumen ini digunakan istilah ketahanan pangan dan gizi. baik secara nasional maupun global. Oleh karena itu. Konsep ketahanan pangan yang sempit meninjau sistem ketahanan pangan dari aspek masukan yaitu produksi dan penyediaan pangan. ketersediaan pangan yang melimpah melebihi kebutuhan pangan penduduk tidak menjamin bahwa seluruh penduduk terbebas dari kelaparan dan gizi kurang. Kerangka Sistem Ketahanan Pangan dan Gizi RANPG 2006-2010 14 . tetapi menurunkan kemiskinan dan kelaparan sebagai indikator kesejahteraan masyarakat. Agar aspek mikro tidak terabaikan. United Nation Development Programme (UNDP) sebagai lembaga PBB yang berkompeten memantau pelaksanaan MDGs telah menetapkan dua ukuran kelaparan. sasaran pertama Millenium Development Goals (MDGs) bukanlah tercapainya produksi atau penyediaan pangan. terutama anak dan ibu hamil dari rumah tangga miskin. Seperti banyak diketahui. tetapi juga menyangkut aspek mikro. Konsep ketahanan pangan yang luas bertolak pada tujuan akhir dari ketahanan pangan yaitu tingkat kesejahteraan manusia. namun dalam pelaksanaan sehari-hari masih sering ditekankan pada aspek makro yaitu ketersediaan pangan. MDGs menggunakan pendekatan dampak bukan masukan.

Keadaan ini secara tidak langsung menggambarkan akses pangan dan pelayanan sosial yang merata dan cukup baik. (iv) fortifikasi bahan pangan seperti fortifikasi garam dengan yodium. analisis situasi ketahanan pangan harus dimulai dari evaluasi status gizi masyarakat diikuti dengan tingkat konsumsi. Oleh karena itu. pangan dan gizi. suatu teknologi budidaya tanaman pangan yang dapat menemukan varietas padi yang mengandung kadar zat besi tinggi dengan nilai biologi tinggi pula. Ukuran tersebut menunjukkan bahwa MDGs lebih menekankan dampak daripada masukan. persediaan dan produksi pangan. E. dan (v) biofortifikasi. produksi dan persediaan pangan yang melebihi kebutuhannya. Sebaliknya. menunjukkan perlunya strategi kebijakan jangka pendek dan jangka panjang.kebutuhan hidup sehat dan proporsi anak balita yang menderita gizi kurang. Status gizi masyarakat yang baik ditunjukkan oleh keadaan tidak adanya masyarakat yang menderita kelaparan dan gizi kurang. fortifikasi terigu dengan zat besi. Untuk itu diperlukan adanya kebijakan pembangunan bidang ekonomi. khususnya pada waktu RANPG 2006-2010 15 . meliputi: (i) Bantuan Langsung Tunai (BLT) bersyarat bagi keluarga miskin. (ii) Kredit mikro untuk pengusaha kecil dan menengah. TINJAUAN STRATEGI PERBAIKAN PANGAN DAN GIZI JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG TA JALAN Masalah gizi kurang maupun gizi lebih tidak dapat ditangani hanya dengan kebijakan dan program jangka pendek sektoral yang tidak terintegrasi. Strategi Jangka Pendek Kebijakan yang mendorong ketersediaan pelayanan meliputi: (i) Pelayanan gizi dan kesehatan yang berbasis masyarakat seperti upaya perbaikan gizi keluarga (UPGK) yang dilaksanakan 1970 sampai 1990-an. bukan sebaliknya. varietas singkong yang mengandung karoten dan sebagainya. seperti Thailand. vitamin B1 dan B2. kapsul Vitamin A kepada anak balita dan ibu nifas. asam folat. 1. tidak menjamin masyarakat terbebas dari kelaparan dan gizi kurang. (iii) bantuan pangan kepada anak kurang gizi dari keluarga miskin. 2006). seng. (iii) Pemberian makanan. Kebijakan yang meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan. dan keluarga berencana yang saling terkait dan terintegrasi untuk meningkatkan status gizi masyarakat (World Bank. Cina dan Malaysia. kesehatan. pendidikan. Pengalaman negara berkembang yang berhasil mengatasi masalah gizi secara tuntas dan berkelanjutan. penimbangan anak balita di Posyandu yang dicatat dalam KMS. (ii) pemberian suplemen zat gizi mikro seperti tablet zat besi kepada ibu hamil.

darurat; (iv) Pemberian suplemen zat gizi mikro, khususnya zat besi, Vitamin A dan zat yodium; (v) Bantuan pangan langsung kepada keluarga miskin; dan (vi) Pemberian kartu miskin untuk keperluan berobat dan membeli makanan dengan harga subsidi, seperti beras untuk orang miskin (Raskin) dan MP-ASI untuk balita keluarga miskin. Kebijakan yang mendorong perubahan ke arah perilaku hidup sehat dan sadar gizi dilakukan melalui pendidikan gizi dan kesehatan. Pendidikan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga khususnya kaum perempuan tentang gizi seimbang, termasuk pentingnya ASI eksklusif, MP-ASI yang baik dan benar; memantau berat badan bayi dan anak sampai usia 2 tahun; pengasuhan bayi dan anak yang baik dan benar: air bersih dan kebersihan diri serta lingkungan; dan pola hidup sehat lainnya seperti berolah raga, tidak merokok, makan sayur dan buah setiap hari. 2. Strategi Jangka Panjang

Kebijakan yang mendorong penyediaan pelayanan meliputi: (i) Pelayanan kesehatan dasar termasuk keluarga berencana dan pemberantasan penyakit menular; (ii) Penyediaan air bersih dan sanitasi; (iii) Kebijakan pengaturan pemasaran susu formula; (iv) Kebijakan pertanian pangan untuk menjamin ketahanan pangan ditingkat keluarga dan perorangan, dengan persediaan dan akses pangan yang cukup, bergizi seimbang, dan aman, termasuk komoditi sayuran dan buah-buahan; (v) Kebijakan pengembangan industri pangan yang mendorong pemasaran produk industri pangan yang sehat dan menghambat pemasaran produk industri pangan yang tidak sehat; dan (vi) Memperbanyak fasilitas olah raga bagi masyarakat. Kebijakan yang mendorong terpenuhinya permintaan atau kebutuhan pangan dan gizi, seperti: (i) Pembangunan ekonomi yang meningkatkan pendapatan rakyat miskin; (ii) Pembangunan ekonomi dan sosial yang melibatkan dan memberdayakan masyarakat miskin; (iii) Pembangunan yang menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran; (iv) Kebijakan fiskal dan harga pangan yang meningkatkan daya beli masyarakat miskin untuk memenuhi kebutuhan pangan yang bergizi seimbang; dan (v) Pengaturan pemasaran pangan yang tidak sehat dan tidak aman. Kebijakan yang mendorong perubahan perilaku yang mendorong hidup sehat dan gizi baik bagi anggota keluarga: (i) Meningkatkan kesetaraan gender; (ii) Mengurangi beban kerja wanita terutama pada waktu hamil; dan (iii) Meningkatkan pendidikan wanita baik pendidikan sekolah maupun di luar sekolah.

RANPG 2006-2010

16

BAB III. ANALISIS SITUASI PANGAN DAN GIZI

A.

STATUS GIZI MASYARAKAT

Salah satu tolok ukur status gizi seseorang adalah ukuran berat badan dan tinggi badan menurut umur. Tolok ukur ini juga dapat mencerminkan kondisi gizi masyarakat. Selain itu, keadaan gizi masyarakat juga dapat ditunjukkan oleh data Kurang Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), Anemia Gizi Besi (AGB), dan gangguan pertumbuhan. Uraian berikut menyajikan analisis masalah gizi sesuai siklus kehidupan, dimulai dari bayi, anak balita, anak usia sekolah hingga usia produktif.

1.

Gizi Bayi dan Balita

Kondisi gizi bayi dapat ditunjukkan dengan BBLR. Kejadian BBLR ini erat kaitannya dengan kondisi gizi kurang pada masa sebelum dan selama kehamilan dan berpengaruh pada angka kematian bayi. Indonesia belum mempunyai data BBLR yang diperoleh melalui survei nasional. Selama ini, angka BBLR merupakan estimasi yang sifatnya sangat kasar yang diperoleh dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) serta dari berbagai studi. Hasil SDKI dan berbagai studi tersebut menunjukkan bahwa selama periode 1986-19993 proporsi BBLR berkisar antara 7–16 persen. Setiap tahun diperkirakan sebanyak 355-710 ribu dari lima juta bayi lahir dengan kondisi BBLR. Kondisi gizi balita secara umum mengalami perbaikan yang ditunjukkan dengan menurunnya prevalensi gizi kurang. Pada tahun 1978-1998, prevalensi gizi kurang balita menurun dari 46,3 persen menjadi 37,5 persen atau rata-rata 0,85 persen per tahun. Prevalensi ini terus menurun menjadi 28,0 persen pada tahun 2005. Masalah gizi kurang pada balita ditunjukkan oleh tingginya prevalensi anak balita yang pendek (stunting < -2SD). Dari beberapa survei, prevalensi anak balita stunting sekitar 40 persen (Tabel 2). Tinggi badan rata-rata anak balita ini umumnya mendekati kondisi normal hanya sampai 5 - 6 bulan, setelah usia enam bulan rata-rata tinggi badan anak balita lebih rendah dari kondisi normal. Pada tahun 1995 prevalensi stunting pada anak laki-laki menurut survei SKIA adalah 46,5 persen. Data tahun 2001 menunjukkan bahwa prevalensi anak perempuan

RANPG 2006-2010

17

Tabel 2.

Prevalensi Pendek/Stunting Anak Balita < - 2SD dari Berbagai Jenis Survei Survei Stunting < - 2SD 41,4 44,5 45,9 43,8 36,3

Suvita (Survei Nasional Vit. A), Tahun 1992 (15 Provinsi) IBT (Indonesia Bagian Timur), Tahun 1991 (4 Provinsi) SKIA (Survei Kesehatan Ibu dan Anak),Tahun 1995 Nasional JPS (Jaring Pengaman Sosial) Survei masalah gizi di 7 Provinsi (Puslitbang gizi 2006)

sebesar 45,2 persen. Berdasarkan survey NSS prevalensi anak laki-laki dan perempuan baik di perdesaan dan perkotaan sebesar 45,6 persen. Pada tahun 1992, Indonesia telah dinyatakan bebas dari xeropthalmia, namun masih dijumpai 50 persen balita mempunyai serum retinol kurang dari 20 µg/100 ml, sebagai pertanda Kurang Vitamin A Sub-Klinik. Kejadian tersebut diduga diakibatkan kurang berhasilnya penyuluhan untuk mengkonsumsi sumber vitamin A alami (SUVITAL) dan rendahnya cakupan distribusi kapsul Vitamin A (< 80 persen). Pada tahun 2000, dilaporkan dari Nusa Tenggara Barat adanya kasus baru xerophthalmia. Hal serupa bisa terjadi di provinsi lain jika cakupan distribusi kapsul Vitamin A di wilayah tersebut kurang dari 80 persen. Berdasarkan SKRT 2001, prevalensi anemia anak balita masih cukup tinggi. Semakin muda usia bayi semakin tinggi prevalensinya; pada bayi kurang dari 6 bulan (61,3 persen), bayi 6-11 bulan (64,8 persen), dan anak usia 12-23 bulan (58 persen). Selanjutnya prevalensi menurun untuk anak usia 2 - 5 tahun (Gambar 4). 2. Gizi Anak Usia Sekolah

Gangguan pertumbuhan dari usia balita berlanjut pada saat anak masuk sekolah. Selama kurun waktu lima tahun terjadi peningkatan status gizi anak sekolah yang diukur dengan tinggi badan menurut umur (TB/U). Pada tahun 1994 jumlah anak sekolah yang pendek sekitar 40 persen dan turun menjadi 36,4 persen pada tahun 1999. Masalah gizi lain yang juga menjadi masalah pada usia sekolah adalah adanya gangguan pertumbuhan. Anak usia sekolah juga mengalami GAKY, walaupun prevalensinya telah menurun secara berarti. Pada tahun 1980, prevalensi GAKY pada anak usia sekolah yang diukur dengan pembesaran kelenjar gondok (Total Goiter Rate/TGR) adalah 30 persen. Angka ini menurun menjadi 27,9 persen pada tahun 1990,

RANPG 2006-2010

18

100,0 80,0 Persen 60,0 40,0 20,0 0,0 % Anemia

< 6 bln 61,3

6-11 bln 64,8

12-23 bln 58,0

24-35 bln 45,1

36-47 bln 38,6

48-59 bln 32,1

Gambar 4. Prevalensi Anemia pada Anak Balita (SKRT 2001) dan menjadi 11,1 persen pada tahun 2003. Walaupun prevalensi GAKY pada anak sekolah telah menurun, ternyata masih terdapat 14 kabupaten yang tergolong daerah endemik berat. Gambaran klasifikasi kabupaten menurut endemisitas GAKY dapat dilihat pada Tabel 3. Secara internasional, perhitungan proporsi penduduk yang menderita gondok sebagai indikator GAKY sudah tidak dianjurkan lagi karena secara statistik dianggap kurang sahih. Di samping itu, indikator tersebut baru timbul pada tingkat akhir sebagai akumulasi terjadinya kekurangan yodium untuk waktu lama sehingga dianggap terlambat jika dipakai sebagai dasar tindak pencegahan. Indikator GAKY yang dianjurkan WHO adalah (i) kadar yodium dalam urine (EYU= Eksresi Yodium Urine), yaitu proporsi EYU dibawah 100 µg/L harus kurang dari 50 persen dan proporsi EYU dibawah 50 µg/L harus kurang dari 20 persen; dan (ii) konsumsi garam beryodium oleh rumah tangga, yaitu 90 persen rumah tangga menggunakan garam mengandung cukup

Tabel 3. Total Goitre Rate (TGR) pada Survei 1996/1998 dan 2003
Klasifikasi kabupaten menurut TGR tahun 1998 Non Endemik Non Endemik Klasifikasi kab Endemik Ringan menurut TGR tahun 2003 Endemik Sedang Endemik Berat Total kabupaten Total Endemik RinganEndemik SedangEndemik Berat kabupaten

86 28 5 3 122

26 52 18 8 104 150 68 50

2 13 7 6 28

1 3 5 5 14

115 96 35 22 268

Tidak berubah Memburuk Membaik

Sumber: National IDD Survey 1998, and National IDD Evaluation Survey 2003

RANPG 2006-2010

19

Pada tahun 2003 median EYU anak sekolah di Indonesia adalah 22. Selain KEK. Berdasarkan hasil survei Puslitbang Gizi tahun 2006. Oleh karena itu.8 persen di tahun 2005 (Susenas 2005). saat tingkat kekurangan yodium masih ringan. kedua indikator itu dapat digunakan sebagai dasar tindak pencegahan sebelum timbul gondok atau akibat lain yang lebih parah seperti kerdil dan cacat mental.5 cm). Proporsi WUS Beresiko KEK (LILA < 23.7 persen dari proporsi 100 µg/L. sedangkan data proporsi EYU sudah mencapai 16.5 cm menurun dari 24. Kedua masalah gizi ini juga terjadi di wilayah kumuh % WUS (LILA<23. Secara nasional. Gizi Usia Produktif Masalah gizi kurang juga dapat terjadi pada kelompok usia produktif.9 µg/L. cakupan konsumsi garam beryodium secara nasional meningkat dari 68. Pada umumnya WUS kelompok usia muda memiliki prevalensi KEK lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lebih tua. yang dapat diukur dengan Lingkar Lengan Atas kurang dari 23. WUS dengan resiko KEK mempunyai resiko melahirkan bayi BBLR (Gambar 5). 3. Hal ini menunjukkan masih besarnya potensi terjadinya GAKY pada masyarakat. Anak yang kekurangan yodium memiliki IQ 1015 poin lebih rendah dari anak sehat.7 persen pada 2003.5 persen di tahun 2002 menjadi 72.5 cm (LILA < 23.yodium. Kedua indikator tersebut sudah dapat dilihat pada tahap awal. pada kelompok usia produktif juga terdapat masalah kegemukan (IMT>25) dan obesitas (IMT>27). proporsi LILA < 23.5 cm) cm) 50% 1999 40% 2000 2001 30% 2002 2003 20% 10% 0% 15-19 20-24 25-29 30-34 Umur (tahun) 35-39 40-44 45-49 Gambar 5.5 cm) 1999-2003 RANPG 2006-2010 20 . Ukuran ini merupakan indikator yang menggambarkan resiko Kekurangan Energi Kronis (KEK).9 persen pada 1999 menjadi 16. Kekurangan yodium tingkat awal pada anak terbukti dapat menurunkan kecerdasan atau IQ.

Masalah gizi juga dapat ditunjukkan oleh prevalensi anemia. vitamin C. Jawa Tengah. Pada masa pemulihan ekonomi (2002-2005). Penelitian skala kecil di Jawa Barat. Pada tahun 1999 tingkat konsumsi hampir semua jenis pangan menurun akibat krisis ekonomi yang berlangsung sejak 1997. Lampung. Semarang. KONSUMSI PANGAN Tingkat dan Pola Konsumsi Pangan Persyaratan kecukupan untuk mencapai keberlanjutan konsumsi pangan adalah adanya aksesibilitas fisik dan ekonomi terhadap pangan. Surabaya) menunjukkan bahwa prevalensi kegemukan pada wanita usia produktif daerah kumuh perkotaan berkisar antara 18-25 persen. Nusa Tenggara Barat. Dengan demikian data konsumsi pangan secara riil dapat menunjukkan kemampuan rumah tangga dalam mengakses pangan dan menggambarkan tingkat kecukupan pangan dalam rumah tangga. Kekurangan seng (kandungan seng <7 mg/dl serum darah) dapat menyebabkan tingginya resiko komplikasi kehamilan dan bibir sumbing pada bayi yang dilahirkan. Perkembangan tingkat konsumsi pangan tersebut secara implisit juga merefleksikan tingkat pendapatan atau daya beli masyarakat terhadap pangan. 24.5 persen dan 40 persen. dan Sulawesi Selatan. Hasil survey NSS-HKI tahun 2001 di empat kota (Jakarta. sedangkan konsumsi ubi RANPG 2006-2010 21 .9 persen. WUS tidak kawin. kalsium. Konsumsi beras menurun sekitar 6 persen. menunjukkan prevalensi kurang seng pada bayi sekitar 6 sampai 39 persen. sementara prevalensi kurus antara 10-14 persen. yang justru lebih besar daripada prevalensi kurus (11-14 persen). Masalah gizi mikro lain yang perlu mendapat perhatian adalah kurang seng (Zinc) pada ibu hamil. sekitar 71 persen wanita hamil menderita kurang seng. di Jawa Tengah prevalensi kurang seng pada wanita hamil cukup tinggi yaitu antara 70 sampai 90 persen. Makassar. Sebuah penelitian di Nusa Tenggara Timur (1996) menunjukkan. Sumatera Barat. dan ibu hamil masing-masing sebesar 26. Demikian juga. Pada tahun 1999. prevalensi kegemukan berkisar 10-21 persen. Jawa Timur. Jawa Tengah dan NTB (1997-1999).perkotaan maupun perdesaan. di wilayah perdesaan provinsi Jawa Barat. Banten. konsumsi beras dan jagung menurun. 1. sedangkan konsumsi jagung dan ubi kayu sedikit meningkat. Aksesibilitas ini tercermin dari jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi oleh rumah tangga. selenium. Survei nasional tahun 2001 menunjukkan prevalensi anemia pada WUS kawin. Sedangkan besarnya masalah kurang zat gizi mikro lainnya seperti asam folat. dan vitamin B1 sampai kini belum diketahui. B.

0 4.7 3. Dengan demikian.4 12.9 9. susu maupun ikan menurun selama masa krisis. Pada masa pemulihan ekonomi.3 -47.0 3.5 0. Dengan daya beli yang menurun.1 Jagung 3.3 Sumber : Susenas 1996.9 8. Sedangkan konsumsi protein hewani dikurangi. peningkatan konsumsi pangan sumber lemak relatif stagnan.7 10.0 4.9 Ubikayu 11.6 Laju 1996-1999 (%/th) -23.9 13. Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi ubi kayu yang mencapai 17. 2005 (diolah) Demikian pula pada konsumsi pangan sumber lemak. vitamin dan mineral menurun pada masa krisis. Tabel 4.4 3.3 -14.3 16.8 2005 1.1 1.1999. Konsumsi pangan protein tersebut kembali meningkat pada 20022005.7 13.4 3.5 105.4 -8.jalar dan ubi kayu meningkat.5 RANPG 2006-2010 22 . masyarakat mengurangi jenis pangan yang harganya mahal dan mensubstitusinya dengan jenis pangan yang relatif murah.5 114. telur. meskipun konsumsi daging ruminansia belum mencapai tingkat konsumsi sebelum krisis (Tabel 5).5 17.8 14.3 -15. 2005 (diolah) Konsumsi pangan sumber protein baik daging.8 4.0 6. Konsumsi beras sebagian digantikan dengan jagung dan umbi-umbian.8 8. terutama konsumsi buah dan sayuran yang mencapai lebih dari 20 persen.3 1.8 15.2 -6.5 116.1 1. 2002.9 7.3 9.0 14. Konsumsi Pangan Sumber Karbohidrat (Kg/kap/th) Tahun 1996 1999 2002 2005 Laju 1996-1999 (%/th) Laju 2002-2005 (%/th) Beras 124. Sedangkan untuk pangan sumber vitamin/mineral telah meningkat di atas lima persen (Tabel 6).5 Laju 2002-2005 (%/th) 5.9 3.6 5.1 3.7 Sumber : Susenas 1996. 1999. 2002.4 18.2 persen (Tabel 4).0 3.2 Ubijalar 3. pemenuhan pangan lebih mengutamakan konsep ’kenyang’ tanpa memperhatikan kandungan gizinya.0 0.6 5.5 1999 1. terjadi penyesuaian strategi pemenuhan kebutuhan pangan di tingkat rumah tangga. Kacangkacangan 18. Konsumsi Pangan Sumber Protein (Kg/kap/th) Daging Daging Tahun Telur Susu Ikan ruminansia unggas 1996 3.1 16. walaupun untuk minyak goreng masih bernilai negatif. Tabel 5.2 -31.6 1.4 -27.1 6.8 4. Kondisi di atas menggambarkan bahwa pada masa krisis.1 2002 1.0 2.7 -2.

Perubahan ini perlu diwaspadai karena gandum adalah komoditas impor dan belum diproduksi di Indonesia.4 3. Saat ini.8 -1.1 0.3 8. sayuran.8 -39. Konsumsi pangan hewani. mie instan (Tabel 7).5 40. yang mengarah kepada beras dan bahan pangan berbasis tepung terigu.5 50. 1999. terutama di pedesaan.5 27. 2005 (diolah) Upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah berdampak positif terhadap peningkatan konsumsi pangan masyarakat.0 Sumber Vit/Mineral Sayuran 67. Konsumsi Energi dan Protein Tercukupinya kebutuhan pangan antara lain dapat diindikasikan dari pemenuhan kebutuhan energi dan protein. konsumsi produk olahan terigu seperti mie instant dan aneka kue cenderung meningkat.2 31. Tingkat konsumsi ini lebih rendah dibanding Malaysia dan Filipina yang masing-masing mencapai 48 kg/kap/tahun dan 18 kg/kapita/tahun. dan buah-buahan meningkat. sehingga arah perubahan pola konsumsi itu dapat menimbulkan ketergantungan pangan pada impor.7 6. Namun demikian. Perkembangan menarik dalam konsumsi pangan sumber karbohidrat adalah kecenderungan menurunnya konsumsi beras dan tepung terigu yang merupakan pangan pokok. RANPG 2006-2010 23 . Konsumsi Pangan Sumber Lemak dan Vitamin/Mineral (Kg/kap/th) Tahun 1996 1999 2002 2005 Laju 1996-1999 (%/th) Laju 2002-2005 (%/th) Sumber Lemak Minyak Buah/biji goreng berminyak 7.9 Buah 24.5 Sumber : Susenas 1996. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (WNPG) tahun 2004 menganjurkan konsumsi energi dan protein penduduk Indonesia masing-masing adalah 2000 kkal/kapita/hari dan 52 gram/kapita/hari. 2. 2002. konsumsi pangan hewani harus terus ditingkatkan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di era globalisasi.7 3. mie basah.2 -2.2 kg/kapita/tahun.7 47.0 8. Hal ini erat kaitannya dengan tingkat pendapatan per kapita penduduk Indonesia yang lebih rendah dibanding dengan negara-negara tersebut diatas.4 -4.8 16.1 2. termasuk mie kering. Perkembangan menarik lainnya adalah kecenderungan berubahnya pola konsumsi pangan pokok kelompok masyarakat berpendapatan rendah.2 4.7 -24.Tabel 6. meskipun tingkat konsumsinya masih tetap tinggi dibanding sumber pangan karbohidrat lainnya.2 7. Pada saat ini konsumsi pangan hewani penduduk Indonesia baru mencapai 6.6 18.

T B.T B. Susenas 2002.UK.T.019 kkal /kapita/hari.T B.T B.000 60.000-79.T.999 100.999 80.T B.999 300.T B.Tabel 7.T B B.T B.T B.T B. sudah lebih tinggi dari yang dianjurkan.J.T B.999 100.T Sumber .T B.T B.T B.T B.000-499.000-79.J.T B.T B.T B.T B.UK B.T B.000 Kota < 60.T B.T B.T B. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 telah menurunkan tingkat konsumsi energi menjadi 1.999 >500.5 persen dari tingkat yang dianjurkan.UK B.999 100.T B.T B.999 >500.T B.T B.000-199. 2004.UK B. meskipun pada masyarakat perkotaan tingkat konsumsinya belum membaik kembali.UJ B.T 2004 B. Tingkat konsumsi protein pada masa krisis mengalami perkembangan yang sama namun setelah masa krisis sudah membaik dan bahkan pada tahun 2005 sudah melebihi tingkat sebelum krisis (Tabel 8).T B.T B.UK B.J.000 2002 B.T B.UK B.T B.T B.T B. Pola Konsumsi Pangan Pokok Menurut Wilayah dan Kelompok Pengeluaran Golongan pengeluaran (Rp/kap/bl) Kota+Desa < 60. 2003.000-299.T B.T B.000-149.999 80.T B.T B.000 60.000-499.T B.UK.T B.T B.000-99.000-299.999 150.J.T B.T B.999 150.T B.000-149. Hal ini mengakibatkan tingkat konsumsi energi rata-rata masyarakat secara nasional masih di bawah anjuran.T B.999 80. konsumsi energi pada tahun 1996 mencapai 2.UK B.T B.T B.T.000-499.T B.999 150.000 60.T B.000-99.T B. Namun demikian setelah krisis berakhir.T B.T 2005 B.T B.T B.UK B.T B.T B.000-299.J.000 Desa < 60.T B.T B.T B.J.J.T B.T B.T.T B.T B.999 >500.T B.T B.T B.000-199.000-79. RANPG 2006-2010 24 .T B.UK B.T B.T B. J = Jagung. UK = Ubi Kayu.T B.T B.J. T = terigu Secara agregat.T B. konsumsi energi masyarakat berangsur pulih.000-99.T B.T 2003 B.999 300.T B.T.J.UK B.849 kkal /kapita/hari pada tahun 1999 atau hanya mencapai 92.T B.999 300.T B.T B.999 200.J B.T B.999 200.T B.T B.T B.000-149.T B.T.999 200.000-199. 2005 (diolah) Keterangan: B = Beras.

7 2002 1.7 2005 1.000 Kkal/kapita/hari.011 1. Kualitas atau mutu konsumsi pangan dilihat dengan menggunakan nilai/skor Pola Pangan Harapan (PPH).5 1999 1. baik pada masa krisis maupun saat ini. Laju peningkatan skor PPH yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan konsumsi energi dan protein mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi pangan.9 53.7 54. 1.983 2. Perkembangan Konsumsi Energi dan Protein Menurut Wilayah No.019 55. Kualitas Konsumsi Pangan Untuk menganalisis perkembangan konsumsi pangan.018 1. Kualitas konsumsi terus meningkat dan pada tahun 2005 mencapai 79.9 53. Namun demikian.23 Energi (Kal/kap/hari) Protein(Gram/kap/hari) 3.7 54.849 49. selain diperlukan informasi tentang kuantitas konsumsi pangan perlu pula diketahui tingkat kualitasnya.Tabel 8.802 1. yang menggambarkan pencapaian ragam (diversifikasi) konsumsi pangan. Uraian Kota Desa Kota+Desa 2 Kota Desa Kota+Desa * Data modul Sumber : Susenas berbagai tahun (diolah) Keterangan : Rekomendasi WNPG 2004 :AKE=2000 kkal/kap/hr dan AKP=52 g/kap/hr 1996 1.986 55.4 55. serta sayur dan RANPG 2006-2010 25 .3 pada tahun 1999 menjadi 72.3 55.879 1.991 56. dan masih cenderung meningkat.986 56. Kualitas konsumsi pangan yang dianggap sempurna diberikan pada angka kecukupan gizi dengan skor PPH mencapai 100.996 55. Upaya pemulihan ekonomi telah meningkatkan kualitas konsumsi pangan yang ditunjukkan dengan peningkatan skor PPH dari 66.6 pada tahun 2002 (Tabel 9).1 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 9. Nilai/skor mutu PPH ini dapat memberikan informasi mengenai pencapaian kuantitas dan kualitas konsumsi. konsumsi kelompok pangan lain masih di bawah tingkat anjuran terutama umbi-umbian.3 48.7 54.060 1.3 55. konsumsi padi-padian aktual sudah lebih dari anjuran.4 2003* 1. Sementara itu.0 53.941 2. Semakin besar skor PPH maka kualitas konsumsi pangan dinilai semakin baik.951 2.0 persen selama 4 tahun. Kualitas konsumsi pangan (Tabel 9) merupakan perwujudan dari kuantitas dan keragaman konsumsi aktual (Tabel 10).2 48.4 2004* 1.018 1. pangan hewani. Sesuai kondisi ideal (PPH=100) konsumsi padipadian yang dianjurkan adalah sebesar 1.2 54.040 2.945 2.923 2.

6 79. Selama periode 2001-2005 ketersediaan padi yang berasal dari produksi dalam negeri mengalami peningkatan rata-rata sebesar RANPG 2006-2010 26 .9 2005 1241 73 139 199 51 67 99 93 35 1997 79.9 75.9 2005 81. AKSES RUMAH TANGGA TERHADAP PANGAN Ketersediaan Pangan per Wilayah Beras merupakan bahan pangan pokok yang dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia.5 2004* 80. 1.0 77.1 C.0 76.1 Desa 64.5 Kota+Desa 66.3 72.3 2002 1253 70 117 205 52 62 96 78 53 1986 72.5 80.4 72. Oleh karena itu produksi beras menjadi indikator yang sangat penting untuk diperhatikan pencapaiannya.1 77.5 2004* 1248 77 134 195 47 64 101 87 33 1986 76. Dengan pola kuantitas dan keragaman konsumsi seperti ini.Tabel 9. tingkat PPH baru mencapai skor 79. Perbandingan Konsumsi Pangan Anjuran dan Aktual Tahun 1999-2005 (kkal/kapita/hari) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kelompok Pangan Padi-padian Umbi-umbian Pangan hewani Minyak+Lemak Buah/biji berminyak Kacang2an Gula Sayur+buah Lain-lain TOTAL Skor PPH Sumber: Susenas(diolah) * Data modul Anjuran 1000 120 240 200 60 100 100 120 60 2000 100 Konsumsi Aktual 1999 1240 69 88 171 41 54 92 70 26 1851 66.6 2003* 1252 66 138 195 56 62 101 90 32 1992 77.1 buah. Perkembangan Kualitas Konsumsi Pangan Berdasarkan PPH Wilayah 1999 2002 Kota 68.6 Sumber : Susenas berbagai tahun (diolah) *Data Modul 2003* 81. Tingkat konsumsi minyak dan lemak serta gula sudah mendekati tingkat anjuran.0 74. Tabel 10.

yaitu meningkat dari 50.657 3.8 persen per tahun.4 136.3 139. Dalam kurun waktu tersebut. Produksi jagung mengalami peningkatan tertinggi dibandingkan dengan komoditas pangan lainnya. maka tingkat produksi padi tersebut setara dengan ketersediaan beras per kapita sebesar 137 kg/tahun.358 3.8 8.301 Maluku & Papua 109 85 149 151 181 Indonesia 50.0 Ubi Kayu 81. RANPG 2006-2010 27 .169 3.312 28.807 2.983 5. Pemenuhan kebutuhan konsumsi daging nasional sebesar 65 persen berasal dari daging unggas dan sebesar 19 persen daging sapi.614 Sulawesi 4.167 29. dan ubi jalar 1.438 5.3 persen.4 136.151 Sumber: BPS Sementara itu produksi jagung dan komoditas pangan lainnya juga meningkat. serta Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 5 persen. (Tabel 13).5 87. sedangkan 24 persen dari daging ayam buras.7 50.287 11. ubi kayu 3.8 45. Sulawesi sebesar 10 persen.764 Sumatera 11.136 12.7 persen per tahun. Kalimantan 6 persen. 88 kg.3 8.7 80.696 2.7 57. Ditinjau dari penyebaran wilayahnya. Pulau Sumatera memiliki proporsi produksi padi sebesar 23 persen. Untuk daging unggas proporsi terbesar diperoleh dari ayam pedaging (broiler) yang mencapai 70 persen.46 juta ton gabah kering giling (GKG) pada tahun 2001 menjadi 54.4 9.4 8.9 Jagung 44.602 5.616 Kalimantan 3. dan ubi jalar pada 2005 masing-masing mencapai 57 kg. Dengan memperhitungkan jumlah penduduk. Persebaran Produksi Padi Menurut Wilayah Pulau (Ribu Ton GKG) 2001 2002 2003 2004 2005 Pulau/Tahun Jawa 28.074 3.489 52. maka ketersediaan per kapita komoditas jagung.1.647 2. Tabel 11 . produksi jagung meningkat dengan ratarata pertumbuhan 7.9 Ubi Jalar 8.8 51.137 54.15 juta ton pada 2005.5 89.4 Bahan pangan sumber protein yang terutama adalah daging dan telur. dan 8.461 51.675 Bali & Nusa Tenggara 2.171 5.666 12. Dengan perkembangan produksi tersebut. produksi padi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan proporsi sebesar 55 persen.636 29.542 12. ubi kayu.0 86. Ketersediaan Beras dan Palawija Per Kapita (kg) Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Beras 135.7 persen. Tabel 12.725 2.088 54. (Tabel 11).5 137.4 kg (Tabel 12).608 28.

7 48.3 68.40 45.6 44.68 1.71 164.60 301.5 67. Jawa Tengah. Sebagaimana padi.6 417. dan 536 ribu ton pada 2005.6 973.817. Pada tahun 2003 produksi susu mencapai 553 ribu ton.09 1.3 44.86 80. Perkembangan Produksi Telur (ribu ton) Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara Sumatera Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua Luar Jawa Indonesia Sumber : Deptan RANPG 2006-2010 2001 433.9 2. Perkembangan Produksi Daging (ribu ton) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jenis Sapi Kerbau Kambing Domba Babi Kuda Ayam Buras Ayam Ras Petelur Ayam Ras Pedaging Itik Jumlah 2001 338.8 341.10 21.30 536.9 432.29 42.3 71. Pemenuhan konsumsi susu saat ini masih mengandalkan dari pasokan susu impor.64 177.148.12 21.2 68. Tabel 14.8 1.4 510.64 48.9 2003 484.871.60 47. produksi telur juga terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatera.20 779.13 66.10 50.06 288.0 4.9 28 .53 2004 447.2 63.78 751.2 5.17 68.14 88. Pangan hewani yang juga penting peranannya adalah susu.60 298.0 37.769.06 194.6 541.3 2002 476.36 2005 358.6 26.71 40.8 68. Tingkat produksi telur ini telah mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri.149 ton pada 2005 (Tabel 14).25 1.4 5.30 58.57 40.3 908.1 850. 2006 Produksi telur yang pada tahun 2001 sebesar 850 ribu ton meningkat menjadi 1.57 296.69 43.78 1.52 48.70 1.30 173.10 22.64 63.21 2.70 38.38 846. Ketersediaan susu dari produksi dalam negeri masih terbatas.2 25.5 78.15 771.6 2004 596.95 23.7 280.10 Sumber : Ditjen Peternakan.70 44.78 160.1 309.4 2005 607.6 1.0 71. dan perkembangan produksinya pun cenderung menurun.34 42.12 1.560.56 2002 330.7 44.2 324.09 275.1 287.15 1.020. menurun menjadi 550 ribu ton pada 2004.0 2.2 489.93 21.42 48.107.24 57. dan propinsi penghasil utama telur adalah Jawa Timur. Jawa Barat dan Sumatera Utara.49 1.40 1.85 2003 369.Tabel 13.

Kerawanan Pangan Ketersediaan pangan secara makro tidak sepenuhnya menjamin ketersediaan pada tingkat mikro. dan tingkat pengetahuan tentang pangan dan gizi sangat berpengaruh kepada konsumsi dan kecukupan pangan dan gizi rumah tangga. jumlah penduduk rawan pangan terendah ada di propinsi Bali yaitu sebesar 4. Dengan demikian. Demikian pula. Penduduk rawan pangan didefinisikan sebagai mereka yang rata-rata tingkat konsumsi energinya antara 71–89 persen dari norma kecukupan energi. kecuali di provinsi Sumbar. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan kerawanan pangan. Pola konsumsi yang relatif sama antar-individu. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan proporsi penduduk rawan pangannya cukup tinggi. Tingginya proporsi rumah tangga rawan pangan dan anak balita kurang gizi menunjukkan bahwa ketahanan pangan pada tingkat nasional atau wilayah tidak selalu berarti bahwa tingkat ketahanan pangan di rumah tangga dan individu juga terpenuhi. maka rumah tangga tidak akan dapat mengakses pangan yang tersedia. meskipun komoditas pangan tersedia di pasar namun apabila harga terlalu tinggi dan tidak terjangkau daya beli rumah tangga. Bali dan NTB. RANPG 2006-2010 29 . mekanisme pasar dan distribusi pangan antar lokasi serta antar waktu dengan mengandalkan ’stok’ akan berpengaruh pada keseimbangan antara ketersediaan dan konsumsi serta pada harga yang terjadi di pasar. Jawa Tengah. jumlah anak balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang di daerah-daerah tersebut juga masih tinggi. Faktor keseimbangan yang tereflekasi pada harga sangat berkaitan dengan daya beli rumah tangga terhadap pangan. dan antar-daerah mengakibatkan adanya masa-masa defisit dan lokasi-lokasi defisit pangan.2. Masalah-masalah distribusi dan mekanisme pasar yang berpengaruh terhadap harga. Bahkan di semua provinsi yang merupakan sentra produksi pangan seperti provinsi Jawa Timur. Sedangkan penduduk sangat rawan pangan hanya mengkonsumsi energi kurang dari 70 persen dari kecukupan energi. Banyaknya penduduk rawan pangan masih terjadi di semua propinsi dengan besaran yang berbeda. Dengan demikian. Proporsi penduduk rawan pangan di semua provinsi masih diatas 10 persen. dan tertinggi di DIY yaitu mencapai 20. Masalah produksi yang hanya terjadi di wilayah tertentu dan pada waktu-waktu tertentu mengakibatkan konsentrasi ketersediaan di sentra-sentra produksi dan pada masa-masa panen. Berdasarkan data SUSENAS yang tertuang dalam Nutrition Map of Indonesia tahun 2006. antarwaktu. daya beli rumah tangga yang berkaitan dengan kemiskinan dan pendapatan rumah tangga.0 persen (Tabel 15). Sumatera Selatan.8 persen.

9 16.224 5.9 17. Jumlah Penduduk Rawan Pangan Menurut Propinsi No.4 10.5 15.8 15.1 17.185 227 98 161 113 335 17.9 13.2 4.3 10. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. pemerintah menerapkan berbagai kebijakan untuk menjamin agar RANPG 2006-2010 30 .5 6.2 11.8 18.2 13.8 13.1 11.0 7.404 6.1 *) Tidak dilakukan survey total Sumber : Gizi dalam Angka (2005) dan Nutrition Map of Indonesia.9 19.089 621 6. Berkaitan dengan itu.3 16.2 12.0 19.8 20.1 13.Tabel 15. Peningkatan Akses Terhadap Pangan Setiap rumah tangga memiliki kemampuan yang berbeda dalam mencukupi kebutuhan pangan secara kuantitas maupun kualitas untuk memenuhi kecukupan gizi.5 18. Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI.162 305 621 290 1.6 11.1 12.182 221 919 122 1.6 16.8 7.684 690 144 295 565 614 119 299 342 225 210 1.Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Jumlah Penduduk Rawan Pangan (Ribu Orang) (%) 295 1.7 14. 2006 3.8 11.

Kebijakan lainnya adalah subsidi/bantuan pangan berupa beras untuk rumah tangga yang berpendapatan di bawah garis kemiskinan. pemerintah menggunakan cadangan beras yang dimiliki untuk menstabilkan harga melalui kegiatan operasi pasar. Pada satu sisi. Pada saat di daerah-daerah tertentu terjadi lonjakan harga yang besar. i. maka prioritas utama pemerintah adalah untuk menjamin masyarakat agar dapat mengakses beras dalam jumlah yang mencukupi. RANPG 2006-2010 31 . pemerintah menerapkan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk memberikan harga produsen yang mencukupi kepada petani agar petani tidak menerima harga lebih rendah dibanding biaya produksi.rumah tangga dan individu memiliki akses terhadap pangan yang tersedia. Pada sisi lainnya. harga eceran rata-rata bulanan untuk beras medium juga tidak mengalami gejolak yang berarti. Perdagangan antar daerah dan antara pulau dapat mempertahankan stabilitas harga. Perkembangan harga transaksi yang terjadi pada umumnya lebih tinggi daripada HPP. Selama kurun tahun 2000 – 2004. Upaya atau kebijakan umum yang diterapkan adalah stabilisasi harga pangan pokok agar mekanisme pasar dan distribusi yang ada dapat menyediakan pangan pokok dengan harga yang terjangkau. Di tingkat konsumen selama 2000-2004. perkembangan harga beras di Jawa dan Bali cenderung stabil yang ditandai dengan koefisien variasi harga yang rendah. Kebijakan pengendalian harga memiliki dua sisi yang diatur dalam Inpres No. Mengingat beras adalah bahan pangan pokok yang paling banyak dikonsumsi. kecuali di daerah yang sulit dijangkau (terisolasi) atau yang komoditas produknya tidak memenuhi syarat pembelian. 13 Tahun 2005. Salah satu instrumen kebijakan untuk stabilisasi harga adalah cadangan pangan yang dimiliki pemerintah. Stabilitas Harga Pangan Stabilitas harga beras diukur berdasarkan perkembangan harga rata-rata dan koefisien variasinya dan dimonitor terus menerus. gabah hasil pembelian dari petani digunakan untuk operasional program Raskin dan sebagai cadangan beras pemerintah untuk menstabilkan harga pada tingkat konsumen. Hasil penerapan insentif harga untuk petani tercermin pada perkembangan harga Gabah Kering Panen (GKP) yang menunjukkan bahwa kebijakan HPP memberikan manfaat yang cukup kepada petani.

namun belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan sesuai norma sebanyak 20 kg per bulan dan seluruh rumah tangga miskin. Namun demikian sebagai akibatnya beras dibagi kepada tiap keluarga miskin dalam jumlah kurang dari 20 kg. Secara volume. Beberapa penyebabnya adalah rasa solidaritas sehingga harus dibagi merata ke seluruh penduduk. Sampai saat ini persentase keluarga miskin yang dapat dijangkau sekitar 65 persen (Tabel 16). Besaran volume beras Raskin yang tidak mencukupi kebutuhan sesuai norma sebesar 20 kg/KK/bulan menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan di tingkat lapangan. (2) tingkat konsumsi kalori keluarga miskin penerima Raskin lebih tinggi antara 17-50 kkal per hari dibandingkan mereka yang tidak memperoleh Raskin. (3) memberikan stimulasi tidak langsung terhadap permintaan agregat karena adanya efek pengganda dari transfer pendapatan yang meningkatkan daya beli penerima Raskin (Tabor dan Sawit. Besarnya volume beras yang didistribusikan dalam program Raskin terus meningkat dari tahun ke tahun. Program ini diterapkan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi kekuarangan pangan pada rumah tangga miskin yang pada masa krisis ekonomi paling menderita. Kendala tersebut diselesaikan di tingkat masyarakat melalui musyawarah desa. pada awalnya disebut Operasi Pasar Khusus (OPK).35 juta ton. RANPG 2006-2010 32 .3 kg/KK/bulan.48 juta ton pada tahun 2001. Melalui program ini pemerintah mendistribusikan beras dengan harga bersubsidi sehinga masyarakat miskin yang daya belinya sangat terbatas bisa mendapatkan bahan pangan pokok yaitu beras. Terlepas dari adanya kelemahan dalam penentuan penerima manfaat. Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) Selain melalui mekanisme pasar dan bantuan pangan saat bencana. Survei evaluasi yang dilaksanakan oleh 35 perguruan tinggi pada tahun 2003 menemukan bahwa rata-rata penerimaan beras Raskin adalah 13. Pada tahun 2000 jumlahnya mencapai sebesar 1.ii. yaitu: (1) program Raskin telah mempersempit celah kemiskinan sekitar 20 persen. namun ada pula yang disebabkan penyimpangan oleh para pelaksana. beras yang didistribusikan dalam program Raskin memang cukup besar. Ini berarti terdapat 16 persen distribusi Raskin yang tidak tepat sasaran. diluncurkan sejak bulan Juli 1998. Jumlah penerima yang memang keluarga miskin “dianggap berhak” diperkirakan sebesar 84 persen. meningkat menjadi 1. program Raskin dinilai telah memberikan kontribusi dalam mengurangi tingkat kemiskinan dengan beberapa alasan.24 juta ton pada tahun 2002.0 juta ton. pemerintah juga memiliki subsidi pangan dalam bentuk beras untuk rumah tangga miskin. 2005). Beras untuk rumah tangga miskin (Raskin). dan 2. Pada tahun-tahun berikutnya volume distribusi beras Raskin relatif stabil pada kisaran 2. Kendala pelaksanaan lainnya adalah adanya kesalahan sasaran.

14 2004 15. masyarakat yang terkena dampak bencana akan dapat terpenuhi kebutuhan konsumsi pangan pokoknya.030 8.353.934.0 1.45 73.131 11.000 8.9 65.864 11. Gubernur dan Bupati/Walikota mempunyai kewenangan untuk meminta CBP secara langsung dengan batas maksimum masing-masing sebesar 200 ton dan 100 ton dalam setahun.98 54.300.061. Sampai saat ini cadangan pangan untuk keperluan tanggap darurat hanya berupa beras.000 9.2 64. Dalam kondisi darurat pada saat bencana.333.56 70. masyarakat mengalami kesulitan pula untuk mendapatkan bahan bakar.4 1.023. air bersih.059.790. Cadangan Pangan Selain digunakan untuk operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga.6 2.057.97 2001 15.0 54.135.350. Volume Beras dan Jumlah Keluarga Sasaran Program Raskin Realisasi KK Miskin Rencana Distribusi Penyaluran Persen thd KK miskin Tahun Beras (Ribu Beras (Ribu (Ribu KK) Rencana Realisasi (ton) KK) (ton) KK) 2000 14.235.991. Dengan adanya CBP dan kewenangan yang dimiliki oleh kepala daerah tersebut.274 9.501.9 59.600 9.793 8.992.574.0 1.8 2.6 1.8 2.707 11.45 75.9 52.832.49 2003 15.248 10. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) juga digunakan untuk mengatasi kekurangan pangan yang terjadi sebagai akibat bencana alam. Untuk memenuhi kekurangan pangan akibat bencana. terutama pangan yang disukai masyarakat setempat.820. bantuan pangan dalam bentuk beras seringkali tidak dapat mengatasi kekurangan pangan secara cepat.482.316. Untuk itu cadangan pangan yang siap digunakan oleh daerah dan cocok dengan pola konsumsi daerah sangat penting untuk dikembangkan.782.207.30 72. Mandat Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan untuk pengembangan cadangan pangan daerah (pemda dan masyarakat) sampai saat ini belum dikembangkan sehingga menyebabkan langkah-langkah untuk mengatasi masalah pangan sebagian besar masih bertumpu pada pemerintah pusat. RANPG 2006-2010 33 .438 8.98 Sumber: Perum BULOG iii.546.94 2002 15. Dengan demikian.029.135.66 81.349.Tabel 16.5 2.9 2.9 1.674.137 12.98 2005 15.9 54.746.6 2.590. Perlu dipikirkan penyediaan cadangan pangan siap konsumsi untuk keperluan darurat. Di tingkat yang lebih tinggi CBP juga digunakan untuk memenuhi komitmen Pemerintah Indonesia dalam menyediakan cadangan beras dalam kerangka kerjasama ASEAN Emergency Rice Reserve. serta peralatan masak.4 1.835.

dan membahayakan kesehatan manusia. Upaya lain adalah melalui penguatan kelembagaan. KEAMANAN PANGAN Isu tentang keamanan pangan merupakan masalah penting karena diperkirakan lebih dari 90 persen masalah kesehatan manusia terkait dengan makanan. angka tersebut merupakan potensi sekaligus tantangan dalam menghasilkan pangan yang aman. Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik.D. jenis dan batas maksimum penggunaan BTP (Bahan Tambahan Pangan).5 milyar kejadian penyakit diare. Berdasarkan data WHO (2000) diketahui penyakit karena pangan (foodborne disease) merupakan penyebab 70 persen dari sekitar 1. sangat penting. kimia dan benda lain yang dapat mengganggu. Selain itu penguatan produksi pangan juga didukung dengan penerapan berbagai praktek dan pengolahan pangan seperti: Cara Budidaya yang Baik. merugikan. teknologi dan cara pengolahan. cara-cara pengujian dan batas maksimum cemaran mikroba. Cara Produksi Pangan Segar yang Baik. Untuk menekan terjadinya penyakit karena pangan dilakukan pengawasan terhadap keamanan pangan antara lain dengan pengawasan produk pangan terdaftar dan pemeriksaan produk pangan beredar. penyimpanan dan penanganan pangan. membangun jejaring keamanan pangan baik dalam negeri maupun luar negeri serta penguatan peran sumber daya manusia (pengawas pangan. kimia dan bahan-bahan lain yang mempengaruhi keamanan pangan. Hal ini sejalan dengan pembangunan keamanan pangan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. Dalam peraturan tersebut keamanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis. produsen dan konsumen). RANPG 2006-2010 34 . dan Cara Produksi Pangan Siap Saji yang Baik. Mutu. termasuk didalamnya pelabelan kemasan.7 tahun 1996 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah No. Dengan jumlah pengolah pangan besar dan menengah sejumlah kurang lebih 5900 dan 1 (satu) juta industri kecil dan industri rumah tangga ditambah dengan importir dan distributor. dan Gizi Pangan. Cara Distribusi Pangan yang Baik. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan. Untuk menjamin kualitas pangan. Dalam aspek legislasi. Cara Ritel Pangan yang Baik. peran produsen dalam mengaplikasikan berbagai teknologi dan prinsip-prinsip pengolahan pangan. dan setiap tahunnya menyebabkan 3 juta kematian anak berusia dibawah 5 tahun. beberapa tanggung jawab yang terkait dengan kegiatan keamanan pangan adalah penyiapan ketentuan tentang standar dan batasan keamanan pangan misal jenis dan cara penggunaan pestisida yang aman.

Lahan pertanian. dan kurang (D).1 236 58. Hasil penilaian sarana produksi pangan dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu baik (B).7 75 22.0 46 7. cukup (C). Oleh karena itu kondisi pabrik. Pengawasan Pangan sebelum Beredar Untuk menghasilkan produk pangan yang bermutu baik dari aspek kesehatan.6 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Baik Jumlah 54 56 55 105 327 91 % 19. industri rumah tangga yang telah memiliki nomor pendaftaran SP/P-IRT (Sertifikat Penyuluhan/Produk-Industri Rumah Tangga) maupun industri rumah tangga yang tidak terdaftar.2 26. Pemeriksaan dilakukan baik untuk industri yang telah memiliki nomor pendaftaran MD (Makanan. Hasil pemeriksaan sarana produksi untuk industri pangan menengah ke atas (telah mendapat nomor MD) selama kurun waktu 2000-2005 dapat dilihat pada Tabel 17. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Menengah ke Atas Jumlah Sampel 278 229 339 741 602 570 Hasil Pemeriksaan Cukup Kurang Jumlah % Jumlah % 184 66. mutu dan gizinya. Indikator ini secara tidak langsung juga dapat menggambarkan pengetahuan dan kesadaran produsen akan keamanan pangan. Tabel 17.0 RANPG 2006-2010 35 .3 16.6 390 68. tempat distribusi dan penjualan produk pangan merupakan bagian dari sistem rantai pangan yang dilalui produk pangan.2 40 14. Seluruh sarana dan prasarana yang berada pada area tersebut serta perlakuan yang diterima oleh produk pangan berpeluang besar mempengaruhi keamanan pangan.1 209 61.7 61 15. Pemeriksaan sarana produksi pangan dilakukan secara rutin oleh tenaga pengawas pangan dalam rangka mengevaluasi penerapan higienitas dan sanitasi sarana produksi atau Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB) serta penerapan Cara Produksi Pangan Siap Saji yang Baik.1 54. 1.4 89 15.4 143 62.4 24. tempat distribusi dan penjualan produk pangan secara tidak langsung merupakan salah satu indikator keamanan pangan.2 229 38. industri pangan seharusnya menerapkan prinsip-prinsip cara produksi pangan yang baik.5 16. pabrik.4 30 13.

Faktor penyebab utama industri produk pangan dinilai kurang dalam penerapan CPMB adalah masih rendahnya penerapan higienitas perorangan. menjadi 16 persen.3 2104 66 3.0 1287 50. 2003. Tabel 18. dan sarana yang menjual produk yang TMS seperti penempatan produk pangan yang mengandung babi tidak terpisah dengan produk lain. Sarana distribusi pangan yang tidak memenuhi syarat (TMS) meliputi sarana yang menjual produk kedaluwarsa.Dari Tabel 17 tersebut terlihat bahwa sebagian besar industri menegah ke atas berpredikat cukup dalam penerapan CPMB. 2003. dalam satu sarana distribusi bisa melakukan beberapa jenis pelanggaran. 2001. TMS tanda khusus.1 903 42. 2004 dan 2005 adalah 45 persen.4 3951 337 8.1 810 49.8 2555 101 4.3 867 56. 56 persen.6 739 45.5 929 56. Hasil pemeriksaan sarana produksi untuk industri rumah tangga selama kurun waktu 2000-2005 dapat dilihat pada Tabel 18 di bawah ini.2 512 33.9 1536 157 10. 56 persen. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan untuk persentase sarana produksi yang berpredikat baik dari tahun 2000 (19. yaitu berturut-turut dari tahun 2000.2 668 40.3 1649 52 3. 88 persen. 2002. Pada hasil pemeriksanaan sarana distribusi tersebut. fasilitas pabrik dan kebersihan yang tidak memadai. dan 45 persen. 80 persen. fasilitas produksi belum terbebas dari binatang serangga. 2002. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Pangan Rumah Tangga Hasil Pemeriksaan Jumlah Baik Cukup Kurang Sampel Jumlah % Jumlah % Jumlah % 1632 83 5. yaitu berturut-turut dari tahun 2000. Sekitar separuh dari industri rumah tangga masih dinilai kurang dalam penerapan CPMB. dan produk pangan yang bercampur dengan produk non pangan. kurangnya kesadaran dalam pengolahan lingkungan seperti pembuangan sampah.9 1135 53. namun pada tahun 2005 terjadi penurunan lagi. RANPG 2006-2010 36 . dan 71 persen.4 1167 45.5 1921 48. rusak.7 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Dari tabel diatas terlihat bahwa sebagian besar industri rumah tangga masih dinilai kurang dalam penerapan CPMB. 42 persen.4 persen) ke tahun 2004 (54. 2004 dan 2005 adalah 80 persen. 74 persen. TMS label. serta peralatan dan suplai air bersih kurang memadai.6 1693 42. 2001. 53 persen.3 persen). tidak terdaftar. 72 persen. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian besar sarana distribusi sudah menerapkan CPMB dan persentase sarana distribusi yang memenuhi syarat (MS) terus meningkat dari tahun ke tahun.

94 persen. 2004. Dari data tersebut terlihat bahwa terdapat kecenderungan kenaikan jumlah produk pangan olahan dengan industri menengah–besar yang terdaftar dan diedarkan di Indonesia. Pengawasan Produk Pangan Beredar Pemeriksaan (sampling dan pengujian) terhadap pangan yang beredar dilakukan secara berkala pada pangan yang terdaftar dengan nomor MD/ML dan SP/P-IRT. 2006 Dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui bahwa sebagian besar produk pangan yang beredar telah memenuhi syarat dengan persentase selama tahun 2001. Pengeluaran Nomor Pendaftaran Produk Pangan Skala Besar Dan Menengah Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Sumber: BPOM.817 1.176 2005 23.934 RANPG 2006-2010 37 .396 2003 19.564 3.289 1. 2006 Jumlah Makanan Dalam Negeri 2539 2227 1768 2793 5377 Makanan Luar Negeri 765 1397 1735 1258 1843 2. untuk memastikan kesesuaiannya dengan data dan informasi yang disetujui pada proses pendaftaran. dan 2005 berturut-turut adalah 73 persen. 90 persen dan 86 persen. 92 persen. dilakukan penilaian terhadap keamanan.Dalam rangka pengawasan sebelum beredar.372 3. 3. 2002. 2003. Tabel 20. Hasil pengujian selama tahun 2001–2005 dapat dilihat pada Tabel 20 dibawah ini.399 2002 16.542 1. Tabel 19.258 2004 29. Hasil pengujian produk pangan beredar 2001 Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Sumber: BPOM. mutu dan gizi produk pangan dan bila sesuai dengan persyaratan yang ditentukan maka dikeluarkan nomor pendaftaran. Data produk pangan yang terdaftar selama tahun 2001–2005 berdasarkan pengelompokan jenis pangan dapat dilihat pada Tabel 19 di bawah ini.

Lain-lain 73.81 57.17 7.Pewarna bukan untuk makanan .i.82 15.43 204 16.Pemanis buatan TMS .22 1396 7.52 106 8.91 52 4.31 5.2005.37 372 11. Persentase Pelanggaran Produk Pangan HASIL PEMERIKSAAN 2001 Jumlah Sample 5216 3817 1399 219 229 2002 Jumlah Sampel % 17938 16542 92.91 40.Pengawet TMS .Cemaran mikroba TMS .88 59.18 26. 2006 Ket: Jumlah sampel merupakan hasil penjumlahan A dan B.71 213 6. Tabel 21.12 43. Jumlah sampel TMS : .81 127 9. Dalam satu produk pangan mungkin ditemukan lebih dari satu kriteria TMS.71 538 16.45 748 23.19 60.72 40.64 Sumber: BPOM.20 170 12.Boraks . Produk Pangan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) Terdapat beberapa parameter yang menentukan suatu produk pangan dikategorikan sebagai produk yang tidak memenuhi syarat.76 2004 Jumlah Sampel % 32740 29564 3176 90.88 1258 6. Tabel 22 menunjukkan data hasil pemeriksaan produk pangan jajanan anak sekolah tahun 2002 .09 42.55 338 10.80 11.95 RANPG 2006-2010 38 .65 16.78 645 46.59 14. label. pelanggaran yang paling banyak ditemukan adalah produk pangan yang menggunakan pemanis buatan yang tidak sesuai dengan ketentuan. Pada Tabel 21 terlihat persentase hasil pengawasan selama tahun 2001 – 2005.13 82 6.80 % Jumlah sampel A. Persentase hasil pengawasan makanan jajanan anak sekolah HASIL PEMERIKSAAN 2002 2003 % 2004 % 2005 % Jumlah Sampel Sampel Memenuhi Syarat 913 Sampel Tidak Memenuhi Syarat 714 Sumber: BPOM.70 2005 Jumlah Sampel % 27306 23372 3934 844 216 282 307 445 225 1605 85.94 967 30.65 811 57.41 21. Tabel 22.49 7.45 5.97 2003 Jumlah Sampel % 20547 19289 93.62 475 37.22 33 2.10 190 13. 2006 Jumlah Sampel 393 263 Jumlah Sampel 390 521 Jumlah Sampel 517 344 % 56. kadar dan penggunaan bahan tambahan pangan yang tidak termasuk diizinkan maupun yang dilarang.05 39. menggunakan bahan tambahan pangan melebihi batas maksimum yang diizinkan serta mengandung cemaran melebihi batas maksimum yang diizinkan.61 79 5.12 326 25. Selama periode 2002–2005. Jumlah sampel yang memenuhi syarat B. Kriteria lain-lain meliputi bobot tuntas.30 9.Formalin .18 137 9. Selama tahun 2002 – 2005. antara lain menggunakan bahan tambahan pangan yang dilarang. telah dilakukan pengawasan terhadap produk pangan jajanan anak sekolah.

Tabel 24. Tabel 23 berikut menunjukkan data hasil pemeriksaan produk pangan jajanan anak sekolah yang tidak memenuhi syarat dari tahun 2002-2005: Tabel 23. dan Methanyl Yellow Total Sampel 19078 20547 32740 26990 Temuan Bahan Berbahaya **) Jumlah % 454 2 392 2 1718 5 935 3 Comment [AH1]: Apa catatan utk bintang ini? RANPG 2006-2010 39 . penggunaan bahan berbahaya formalin. Produk Pangan Mengandung Bahan Berbahaya Dari hasil pemeriksaan selama kurun waktu tahun 2002 sampai dengan 2005. Amaranth) 133 63 147 90 Formalin 139 9 1 7 Boraks 74 20 38 34 Cemaran mikroba Tidak 9 198 198 ada data Sumber: BPOM. 2006 **) Meliputi Formalin. Dalam satu sampel produk pangan mungkin ditemukan lebih dari satu kriteria TMS. Boraks. rhodamin-B. Rhodamin B. Boraks.Dari hasil pemeriksaan terlihat bahwa kriteria tidak memenuhi syarat ditemukan karena pelanggaran penggunaan pengawet yang melebihi batas maksimum. penyalahgunaan pemanis buatan dan pangan tercemar mikroba melebihi batas maksimum. Temuan Bahan Berbahaya dalam Produk Pangan Tahun 2002 2003 2004 2005*) Sumber: BPOM. boraks. Rhodamin B dan Methanyl Yellow (Tabel 24). Pelanggaran pada Berbagai Kriteria Tidak Memenuhi Syarat Kriteria Tidak Memenuhi Syarat Jumlah Pelanggaran (TMS) pada Tahun 2002 2003 2004 2005 Pemanis buatan melebihi batas 282 154 402 122 persyaratan Pengawet melebihi batas 86 8 19 10 Pewarna yang dilarang (Rhodamin-B. ditemukan pelanggaran penggunaan bahan berbahaya dalam produk pangan. Methanyl yellow. Pemakaian bahan berbahaya ini dapat dikarenakan keterbatasan pengetahuan produsen perihal ketentuan larangan penggunaannya dalam produksi pangan ataupun kurangnya kepedulian terhadap masalah keamanan produk pangan yang dapat berakibat buruk terhadap kesehatan. 2006 ii. Bahan berbahaya yang ditemukan terdapat dalam produk pangan meliputi bahan yang dilarang digunakan dalam produksi pangan seperti Formalin.

2006 *) Data sampai Bulan November 2005 Lebih jauh lagi pemeriksaan terhadap jenis pangan tertentu yang mengandung formalin dilakukan per 6 Januari 2006. Temuan Formalin dalam Produk Pangan Total Temuan Produk Pangan yang Tahun Sampel Mengandung Formalin Jumlah % 2002 248 139 56 2003 2004 180 786 73 274 41 35 15 2005*) 1160 177 Sumber: BPOM. Tabel 26 berikut menunjukkan hasil pemantauan produk mie basah. Pemantauan dilakukan ter hadap produk mie basah. cemaran fisik). faktor pelabelan. Dari tabel tersebut terlihat bahwa sejak tahun 2002 formalin sudah ditemukan dalam produk pangan. Hasil Pemantauan Produk Mi Basah. Tabel 25. faktor mutu.Tabel 25 menunjukkan temuan formalin dalam produk pangan periode tahun 2002 sampai dengan 2005. cemaran mikroba. tahu dan ikan di 6 (enam) propinsi terhadap pemakaian formalin. dan Ikan di Enam Propinsi Pengambil Sampel BBPOM Makasar BPOM Jambi BBPOM Manado BBPOM Yogyakarta BBPOM Jakarta BBPOM Semarang Jumlah Sumber: BPOM. 2006 Kondisi keamanan produk pangan juga dapat dilihat dari besarnya kasus penolakan pangan yang diekspor ke negara lain. tahu dan ikan di beberapa propinsi di Indonesia. produsen dan lain-lain. Berbagai faktor yang menentukan diterima atau tidaknya pangan tersebut antara lain faktor keama nan (cemaran kimia. Jumlah Sampel 40 50 55 41 116 107 409 Memenuhi Syarat Sampel 38 48 36 41 91 99 353 % 95 96 65 100 78 93 Mengandung Formalin Sampel 2 2 19 0 25 8 56 % 5 4 35 0 61 7 14 RANPG 2006-2010 40 . Tahu. Tabel 26. dan persentase produk pangan yang mengandung formalin sejak tahun 2002 sampai tahun 2005 mengalami penurunan.

pengolahan. Amerika Serikat. RANPG 2006-2010 41 . 2006 Gambar 6 . Hal ini karena produk perikanan tergolong pada kelompok pangan resiko tinggi dan merupakan komoditas ekspor utama bila dibandingkan dengan produk pangan lain. dan produsen yang tidak terdaftar. Jumlah kasus penolakan impor pangan Indonesia oleh FDA berdasarkan alasan penolakan (Pebruari 2005 . Total penolakan dari Februari 2005 – Januari 2006 adalah 235 kasus. cemaran Salmonella. Sedangkan untuk jenis pangan olahan selain produk perikanan alasan penolakannya adalah kesalahan pelabelan. pengemasan atau distribusi yang baik. cemaran obat pakan. yang mungkin bersumber pada bahan baku pangan yang digunakan tidak memenuhi syarat atau belum diterapkannya prinsip-prinsip penanganan.Januari 2006) (N = 235) 23 212 Keamanan Pangan Pelabelan. cemaran histamin. pelabelan. Dari data yang dikeluarkan oleh FDA (2006) terlihat bahwa selama tahun 2005 sebagian besar pangan yang ditolak adalah hasil perikanan dengan alasan penolakan diantaranya kebersihan produk. Produsen. Produk perikanan lebih banyak ditolak daripada produk lain. mengandung racun. penggunaan pewarna yang tidak aman. cemaran nitrofuran.Gambar 6 menggambarkan alasan penolakan produk pangan dari Indonesia oleh Food and Drug Administration (FDA). Jumlah Kasus Penolakan Impor Pangan Indonesia Oleh FDA Besarnya kasus penolakan dengan alasan keamanan pangan menunjukkan masih rendahnya tingkat keamanan produk pangan. dan kloramfenikol. dll Sumber : Food Drug Administration.

jumlah orang yang sakit.55 IR**) 0. Sementara penyebab keracunan pangan kimia antara lain nitrit. pangan jasa boga (21.11 *) Case Fatality Rate (CFR): perbandingan antara jumlah yang meninggal dengan yang sakit dikalikan 100. demikian pula dengan Case Fatality Rate (CFR) dan Incident Rate (IR). serta tetradotoksin.35 0. sakit.9 persen). Bacillus cereus.2005 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 KLB 26 43 34 164 184 Terpapar 1965 6543 8651 22297 23864 Sakit 1183 3635 1843 7366 8949 Meninggal 16 10 12 51 49 CFR*) 1. Salmonella sp.2 persen). penyebab KLB keracunan pangan yang dilaporkan pada tahun 2005 diketahui sebesar 5. Tabel 27.4 persen). Namun. 2006 Ditinjau dari etiologinya. Selama 2 tahun terakhir nilai IR terbesar terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. 18.28 0. Sumber: BPOM. Data yang diperoleh berdasarkan pelaporan yang diterima mencakup jumlah Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan.2 persen). Tabel 27 menunjukkan. **) Incident Rate (IR) adalah angka kejadian per 100. dan lain-lain (3. dan jumlah orang yang meninggal. Sumber pangan penyebab keracunan pangan untuk tahun 2004 adalah: pangan rumah tangga (53.iii.coli patogen. pangan jajanan (17.2 persen).65 0. formalin. hal ini tidak mengindikasikan KLB keracunan pangan di DI Yogyakarta lebih buruk dibandingkan daerah lain. sedangkan pada tahun 2005 adalah pangan rumah tangga (42.000 penduduk. methanol. sianida. dalam kurun waktu 5 tahun (2001-2005) jumlah KLB keracunan serta orang yang terpapar. serta tidak dilaporkan (3.48 persen suspect dan 76.67 0. Tingginya nilai IR di DI Yogyakarta kemungkinan disebabkan kesadaran yang baik dari petugas kesehatan setempat untuk melaporkan KLB keracunan pangan di daerahnya. pangan jasa boga (15.2 persen).3 persen).7 persen). dan E. Kasus Keracunan Makanan Parameter utama yang paling mudah dilihat untuk menunjukan tingkat keamanan pangan di suatu negara adalah jumlah kasus keracunan yang terjadi akibat pangan. histamin.54 1.37 4. pangan jajanan (12.69 0.84 3. Penyebab keracunan pangan mikrobiologi yang sering timbul antara lain Staphylococcus aureus. RANPG 2006-2010 42 .09 persen tidak diketahui penyebabnya.7 persen). dan meninggal akibat keracunan cenderung meningkat. Jumlah Kasus Keracunan Tahun 2001 . pangan olahan (15.2 persen).43 persen terkonfirmasi. pangan olahan (15. Diduga masih banyak KLB keracunan pangan yang belum dilaporkan di Indonesia.

4 persen (1980) menjadi 48.9 24 17. 2005 H 2001 2004 Gambar 7.4 persen (2001).9 12. POLA HIDUP SEHAT DAN AKTIVITAS FISIK Sebagai negara berkembang Indonesia banyak mengalami permasalahan pada penyakit menular.3 persen mengalami penyakit jantung iskemik.E. yaitu 83 per 1.1 12.2 16. Demikian juga dengan hiperglikemia sebagai akibat asupan lemak yang tinggi serta hiperkolesterol. Pada tahun 2001.9 9.3 Perempuan  26. Penyakit kardiovasluler menjadi penyebab kematian ke 11 pada tahun 1972. Tetapi.2 5.000 anggota rumah tangga tahun 1995.2 8. 1.6 persen wanita mengalami kelebihan berat badan.1 persen (1986) menjadi 26.7 5. Penyakit kardiovaskuler meningkat dari 9. Prevalensi penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi di Indonesia cukup tinggi. Prevalensi Penderita Penyakit Degeneratif Tahun 2001 dan 2004 RANPG 2006-2010 H em a ip er ko le st er ol an an Ke ge m uk Ke ge m uk ip er te ns i ip er te ns i H ip er gl ik H H ip er gl ik H 43 . memperlihatkan peningkatan kegemukan (IMT e” 25) pada laki-laki dan perempuan.5 9. Penyakit kanker merupakan penyebab 6 persen kematian di Indonesia. Gambar 7. kematian yang disebabkan oleh penyakit degeneratif meningkat dari 15.3 persen laki-laki dan 4. pada kalangan penduduk umur 25 tahun keatas sebanyak 27 persen laki-laki dan 29 persen wanita menderita hipertensi.5 persen (2001). 1995 dan 2001. prevalensi penyakit tidak menular menunjukkan kecenderungan peningkatan sebagai penyebab kematian. tetapi kemudian terus meningkat menjadi urutan ke 3 tahun 1986 dan penyebab kematian pertama pada tahun 1992.9 7. 35 Laki ‐ laki   30 25 Persen 20 15 10 5 0 em a ip er ko le st er ol 28.7 8. 0.6 15. dan stroke.2 persen mengalami diabetes dan 1. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan.7 12.8 Sumber : SKRT 2001.

meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan jumlah asupan lemak jenuh. sepertiga jenis kanker dapat dihindari dengan menerapkan pola hidup sehat. rendahnya konsumsi buah dan sayur. faktor resiko penyebab kesakitan dan kematian meliputi hipertensi. Di banyak negara. yaitu makanan yang lebih kaya akan lemak dan energi sementara aktivitas fisik semakin berkurang. hipertensi. Peningkatan industrialisasi. Semua faktor resiko ini merupakan penyebab timbulnya penyakit tidak menular (The World Health Report 2002). tingginya konsumi garam. Misalnya konsumsi buah dan sayur yang rendah diperkirakan menyebabkan 31 persen panyakit jantung iskemik. termasuk Indonesia. hipertensi 66 persen. seperti diabetes. kardiovaskular. termasuk Indonesia. serta serangan jantung dan stroke 40-60 persen. Merokok juga meningkatkan resiko terhadap serangaan penyakit-penyakit tidak menular ini. permasalahan gizi lebih terjadi secara bersamaan dengan kurang gizi dan gizi buruk pada populasi. bahkan keluarga yang sama. terutama kebiasaan makan yang tidak baik dan aktivitas fisik yang berkurang. Selain itu.Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular seperti kardiovaskular. Pola makan yang tidak sehat antara lain meliputi makan secara berlebih. kanker. tetapi juga pada masyarakat miskin di perkotaan dan perdesaan serta pada laki-laki dan perempuan. serta konsumsi tembakau. Meningkatnya kejadian gizi lebih tidak hanya terjadi pada penduduk dengan penghasilan yang cukup untuk membeli makanan. kanker dan lain-lain menunjukkan adanya perubahan pola hidup. Di banyak negara. hiperkolesterol. gula dan lemak. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa kebiasaan makan yang sehat dan aktivitas fisik dapat menurunkan resiko perkembangan diabetes sebanyak 58 persen. Pola Makan yang Tidak Sehat Pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan berbagai penyakit. 11 persen stroke dan 19 persen kanker gastrointestinal (WHO 2005). Dengan demikian pola makan dan aktivitas fisik merupakan bagian dari penyebab utama penyakit tidak menular. RANPG 2006-2010 44 . konsumsi buah dan sayur yang kurang. urbanisasi dan mekanisasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan pola makan. saries gigi dan osteoporosis. Data HKI menunjukkan bahwa prevalensi gizi lebih (IMT>25) pada perempuan di daerah perdesaan dari tahun 1991-2001 memperlihatkan kecenderungan meningkat pada semua kelompok umur dengan kecenderungan kegemukan terjadi pada usia setengah baya (Gambar 8). aktivitas fisik yang rendah. Namun kejadian gizi lebih juga terjadi pada anak-anak dengan prevalensi yang lebih kecil. 1. kegemukan dan obesitas.

Jumlah konsumsi buah dan sayur yang cukup akan memberikan asupan yang cukup bagi serat ke dalam tubuh.44 45. RANPG 2006-2010 45 . diabetes dan obesitas. Menurut The World Health Report 2002.49 Gambar 8.29 30. meningkatkan konsumsi minuman bergula dan jus buah. Diseluruh dunia 2. Prevalensi Gizi Lebih pada Perempuan Dewasa (Perdesaan. NSS-HKI 1999-2001) Kebiasaan makan yang terkait dengan kegemukan dan obesitas antara lain adalah kebiasaan makan makanan ringan (snack) dan makan di restoran.34 Umur ( t ahun) 35. Bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif juga beresiko mengalami kegemukan. asupan buah dan sayur yang masih rendah diperkirakan menjadi penyebab 31 persen penyakit jantung iskemik dan 11 persen stroke.7 juta nyawa dapat diselamatkan setiap tahun jika konsumsi buah dan sayur dapat ditingkatkan. nutrition and the prevention of chronic diseases merekomendasikan asupan minimum 400 gram buah dan sayur per hari (tidak termasuk kentang dan umbi-umbian yang mengandung pati) untuk pencegahan penyakit kronis seperti jantung.1 9 20. sekaligus sebagai upaya pencegahan kekurangan zat gizi mikro. Buah dan sayur yang dikonsumsi dengan cukup dapat membantu mencegah penyakit kardiovaskular dan kanker.50 1999 40 2000 2001 30 20 1 0 0 1 5. Faktor lain yang ikut mendorong kegemukan dan obesitas antara lain adalah peningkatan restoran siap saji. i. Pengaruh lingkungan seperti iklan dan promosi memberikan kontribusi bagi peningkatan konsumsi makanan dengan densitas energi yang tinggi lemak dan karbohidrat.39 40. Joint FAO/WHO Expert Consultation on diet.24 25. Kurang Konsumsi Buah dan Sayur Buah dan sayur merupkan bagian penting dari pola makan yang sehat. kanker.

RANPG 2006-2010 46 . Oleh karena itu peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kebiasaaan makan terkait dengan garam.6 gram per kapita per hari. gula.7 persen (kelas II). dan lemak yang berlebihan Konsumsi garam.1 persen (kelas I) dan 94. kemudian turun menjadi 2. Konsumsi garam oleh penduduk di Indonesia pada tahun 1999 mencapai 5.84 persen dan 4. persentase pengeluaran untuk buah dan sayur pada tingkat rumah tangga cenderung mengalami penurunan. jauh lebih rendah dari kecukupan sebesar 30 gr/hr ( Jahari AB. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) kadar Natrium klorida dalam garam minilan adalah 97. WHO Technical Report on Diet. Konsumsi yang berlebih pada bahan makanan tersebut dapat meningkatkan resiko serangan penyakit hipertensi.33 persen pada tahun 2004. Produksi sayur-sayuran dan buah-buahan menunjukkan pola yang meningkat. Namun upaya untuk mengurangi konsumsi garam. dan penyakit-penyakit kronis lainnya. ii. hingga saat ini belum menjadi kebijakan nasional karena adanya beberapa tantangan seperti upaya untuk mencapai konsumsi garam beryodium untuk semua (Universal Salt Iodization atau USI). gula dan lemak perlu terus ditingkatkan. diabetes. kardiovaskular.1 juta ton dan menjadi 9. dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 6. 2000).2 juta ton tahun 2006 atau mengalami peningkatan 0.3 gram per kapita per hari.5 juta ton tahun 2006. Konsumsi garam. pengeluaran untuk sayur dan buah masing-masing 2.54 persen per tahun. Penurunan pengeluaran untuk buah dan sayur menyebabkan penurunan rata-rata konsumsi buah dan sayur di Indonesia. gula. Selain itu SNI mewajibkan iodisasi pada garam konsumsi guna meningkatkan kadar yodium. Nutrition and the Prevention of Chronic Disease merekomendasikan penurunan asupan garam sebagai bagian kebiasaan makan yang sehat untuk mengurangi resiko serangan penyakit kronis tidak menular.91 persen per tahun. Pada tahun 2002. Pada tahun 2004 tingkat produksi sayur-sayuran mencapai 9. dan lemak yang berlebihan juga merupakan salah satu ciri dari kebiasaan makan yang tidak sehat. dengan kadar minimal Kalium Iodat sebesar 30-80 mg/kg. Upaya peningkatan kebiasaan konsumsi buah dan sayur sebagai salah satu gaya hidup sehat sebenarnya telah didukung dengan ketersediaan buah dan sayur yang cukup melimpah.61 persen dan 4. Produski buah-buahan juga meningkat dari 14. atau meningkat 3.73 persen. Rendahnya konsumsi buah dan sayur ini berkontribusi pada rendahnya konsumsi serat yang baru mencapai rata-rata 10 gr/hari. stroke.Menurut data Susenas 2004. Pada tahun 1999. angka ini turun pada tahun 2004 menjadi 221 gram per kapita per hari (Susenas 1999 dan 2004).3 juta ton tahun 2004 menjadi 15. konsumsi sayur dan buah sebesar 309 gram per kapita per hari.

garam dan gula tidak diikuti dengan aktivitas fisik yang cukup. Dengan demikian. Salah satu jenis makanan yang mempunyai densitas energi tinggi adalah gula.6 gram per kapita per hari (tahun 1999) menjadi 24. adalah “gunakan hanya garam beryodium”. dan berkembangnya penyakit tidak menular yang merekomendasikan pengurangan konsumsi garam. Salah satu pesan utama yang disampaikan dari 13 Pesan Umum Gizi Seimbang (PUGS). Kurangnya Aktivitas Fisik Ketiadaan atau rendahnya aktivitas fisik dan pola konsumsi yang tidak seimbang diperkirakan secara global menyebabkan meningkatnya prevalensi kegemukan dan menyebabkan terjadinya 22 persen penyakit jantung iskemik. Karena gangguan akibat kurang yodium (GAKY) masih menjadi masalah utama di Indonesia. tidak terdapat pesan khusus untuk mengurangi konsumsi garam. juga dapat meningkatkan resiko berbagai jenis penyakit kronis. Selain garam dan gula.81 persen pada tahun 2005 (Susenas 2005). terutama lemak jenuh. 2. maka perlu dipikirkan langkah strategis dalam penetapan kebijakan konsumi garam sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal. apabila konsumsi lemak. Efek dari pola makan dan aktivitas fisik saling berinteraksi. konsumsi lemak yang berlebih. Data konsumsi rumah tangga menunjukkan konsumsi gula pasir di Indonesia meningkat dari rata-rata 22. Selain berfungsi untuk membantu mencegah obesitas. 10-16 persen kanker payudara. Perubahan pola konsumsi kepada jenis makanan yang banyak mengandung lemak antara lain dipengaruhi oleh globalisasi sehingga jenis-jenis makanan berlemak makin mudah di dapat.4 gram per kapita per hari (tahun 2004).9 juta kematian yang disebabkan oleh rendahnya aktivitas fisik. Mengingat keberadaan dua masalah yang terjadi secara bersamaan (co-exist) yaitu GAKY yang menuntut peningkatan konsumsi garam beryodium. perubahan gaya hidup dengan meningkatnya konsumsi makanan siap saji dan lain-lain.Tingkat konsumsi garam beryodium yang cukup baru mencapai 72. Makanan dan aktivitas fisik dapat mempengaruhi kesehatan baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri. maka pemerintah menetapkan kebijakan untuk meningkatkan cakupan konsumsi garam beryodium. kanker usus dan kanker rektal serta diabetes mellitus. Konsumsi makanan dengan densitas energi yang tinggi ikut berkontribusi pada meningkatnya kegemukan dan obesitas yang pada akhirnya meningkatkan kejadian diabetes. sebagaimana rekomendasi Laporan Teknis WHO tersebut di atas. RANPG 2006-2010 47 . Resiko serangan penyakit akan lebih tinggi. Secara keseluruhan terdapat 1. aktivitas fisik merupakan cara yang utama dalam meningkatkan kesehatan fisik dan mental individu. terutama dalam kaitannya dengan obesitas.

infrastruktur dan gaya hidup. misalnya digantikan dengan keberadaan alat transportasi dan fasilitas infrastruktur yang lebih baik.1% Aktif: latihan (exercise) setiap hari selama 10 menit.9% Sumber : Susenas. 2005 Gambar 9. sebesar 9. Pertambahan penduduk menyebabkan makin berkurangnya ruang terbuka dan fasilitas umum serta fasilitas olahraga. terbatasnya fasilitas untuk aktivitas fisik di sekolah dan fasilitas umum menyebabkan makin berkurangnya aktivitas fisik yang dilakukan. Aktif 6. pertunjukkan dan lain sebagainya. seperti menonton televisi. total kumulatif <150 menit/mingggu Kurang Aktif 84.1 persen bahkan tidak aktif. total kumulatif 150 menit/mingggu Kurang Aktif: latihan (exercise) setiap hari selama 10 menit. Berbagai macam hiburan. Dengan ketiadaan fasilitas olahraga yang nyaman dan memadai ditambah dengan pengetahuan. RANPG 2006-2010 48 . pertemuan dan kegiatan-kegiatan lain seringkali menuntut fisik untuk tidak aktif.0% Tidak Aktif 9. film. Selain itu. Kebiasaan berjalan kaki. .Hasil SKRT tahun 2004 menunjukkan sebagian besar (lebih dari 84 persen) dari kelompok umur 15 tahun ke atas kurang aktif melakukan aktivitas fisik. kesadaran dan motivasi yang kurang menyebabkan frekuensi untuk berolahraga sebagai salah satu bentuk aktivitas fisik juga semakin menurun. dan hanya 6 persen yang melakukan aktivitas fisik secara aktif (Gambar 9). Tingkat aktivitas penduduk usia diatas 15 tahun (2004) Pola hidup generasi dewasa muda saat ini mengalami perubahan karena pengaruh lingkungan.

Sebuah penelitian menunjukkan adanya perbedaan pola konsumsi antara perokok dan bukan perokok. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir (Untuk 2005: 15 Tahun Ke Atas) RANPG 2006-2010 49 . vitamin C. serat. 60 di antaranya bersifat karsinogen yang dapat menyebabkan terjadinya kanker. kolesterol dan alkohol. Angka ini meningkat dari 27.6 persen). dan asapnya mengandung nikotin dan bahan kimia lain yang menyebabkan ketagihan serta gangguan kesehatan.44 Gambar 10. Vitamin E. dan beta karoten.7 persen). Tabel 28.7 34. penyakit jantung. rokok. 40 35 30 Persen 25 20 15 10 5 0 1995 2001 2004 26. menurunkan kadar vitamin C dari jaringan tubuh dan darah serta menurunkan tingkat vitamin D dalam tubuh. namun mengkonsumsi lebih rendah lemak tak jenuh ganda. diantaranya menurunkan kadar vitamin dan mineral dalam tubuh. lemak jenuh. emfisia dan penyakit lainnya. dengan prevalensi lebih tinggi di daerah pedesaan (36.23 27. dibanding perkotaan (31. Penggunaan tembakau merupakan salah satu penyumbang utama dari kesakitan di antara penduduk termiskin di Indonesia. sekitar 34 persen penduduk berumur 15 tahun ke atas merokok. baik perokok aktif maupuan pasif. stroke. Orang yang terpapar bahan kimia tersebut. Perokok mengkonsumsi lebih tinggi: energi.000 bahan kimia yang dikandung dalam sebatang rokok. Selain dampak terhadap kesehatan. mempunyai resiko yang lebih besar terserang berbagai penyakit kanker.7 persen di tahun 2001 (Gambar 10). Pada tahun 2004.3. Pola konsumsi perokok seperti ini meningkatkan efek buruk merokok seperti kanker dan serangan jantung. merokok juga mempunyai dampak langsung terhadap status gizi. Terdapat kurang lebih 4. Kebiasaan merokok Tembakau. total lemak.

88 39. pengaturan kemasan dan label.53 33.19 35.37 28.21 36. penduduk termiskin menggunakan 9.64 34.44 36.76 38.Sekitar 77.51 44. Merokok bukan hanya berpengaruh pada biaya-biaya perawatan kesehatan.10 27.67 33. namun juga menurunkan produktivitas kerja.30 32.17 28.10 31.31 34.4 34.02 31.1 persen dari pengeluaran bulanan untuk tembakau.39 32.50 34.02 31. proteksi terhadap paparan asap tembakau.53 39.44 31.38 Di Indonesia. Pengeluaran untuk rokok. pengaturan kadar nikotin.91 32.07 35.90 38.04 41. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir Per Propinsi Menurut Wilayah Tahun 2004 Propinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Indonesia Kota 32.62 39.23 27.29 27.22 41. Satu dari dua perokok jangka panjang.36 34.08 25.75 30.28 37.9 persen (perkotaan).80 29.78 34.72 Desa 36.44 32.42 39. Belanja produk tembakau yang lebih banyak daripada pengeluaran untuk makanan mempunyai dampak yang sangat besar pada kesehatan dan gizi keluarga miskin.27 29.14 34.62 28. pelarangan penjualan kepada anak-anak dan penyediaan kegiatan alternatif secara ekonomis bagi petani dan karyawan pabrik tembakau.64 37.63 24. Persentase pengeluaran untuk tembakau pada kelompok penduduk miskin melebihi pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan yang hanya sebesar 2. dibandingkan 7.60 30. Kelompok miskin adalah yang paling dirugikan karena penggunaan tembakau.44 Propinsi Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Kota 25. RANPG 2006-2010 50 . edukasi.76 32.41 31.21 38.98 37.02 26.60 32.07 32.74 31. seharusnya bisa digunakan untuk mencukupi asupan gizi keluarga.17 31.5 persen (perdesaan) dan 5.47 41.26 41.62 27.20 30.9 persen dari perokok tersebut mulai merokok sebelum usia 19 tahun.81 40. penggunaan tembakau berkontribusi cukup besar pada beban kesehatan.5 persen pada kelompok kaya.95 40.77 Desa 23.22 37.29 29.32 33.32 25.57 34.86 37.74 36. Beberapa langkah yang dianjurkan untuk dapat menurunkan permintaan terhadap rokok antara lainnya adalah penerapan harga dan pajak yang tinggi.05 31.30 39.20 41.83 35. penindakan tegas perdagangan gelap.23 34.09 36. Pada 2001.53 32.75 39.60 Total 35.19 29. dan separuh kematian terjadi dalam usia produktif ekonomi.35 24. meninggal karena kebiasaan tersebut.69 44.62 39. pelarangan iklan dan promosi rokok.41 40.47 33.14 31. diperkirakan jumlah perokok pasif anak-anak adalah 43 juta orang Tabel 28.36 29.49 23.93 Total 24.20 41. yaitu pada saat mereka mungkin belum bisa memahami resiko merokok dan sifat nikotin yang sangat adiktif.8 persen) perokok yang berumur 10 tahun ke atas merokok di dalam rumah ketika bersama dengan anggota keluarga lainnya. Karena sebagian besar (91.48 38.87 29.

khususnya oleh perempuan perkotaan dan pekerja. RENCANA AKSI A. 2. rendahnya mutu layanan kesehatan dasar. (iv) perilaku hidup sehat. garam. Isu Strategis Berkaitan dengan Gizi adalah sebagai berikut: i.BAB IV. iii. Isu-isu strategis tersebut dapat dibagi ke dalam lima kelompok berkaitan dengan: (i) aksesibilitas terhadap pangan. 1. kebiasaan merokok dan berkurangnya aktifitas fisik mengakibatkan gizi lebih merupakan salah satu penyebab penyakit degeneratif (tidak menular). kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat. Meningkatnya masalah gizi lebih karena tingginya konsumsi makanan yang kaya karbohidrat. Masih tingginya prevalensi kurang gizi pada balita erat hubungannya dengan masalah KEK pada WUS dan berkurangnya kebiasaan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. lemak. Masalah utamanya adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi distribusi pangan antar daerah dan antar waktu serta daya beli rumah tangga sehingga mampu mengakses pangan. konsumsi sayuran dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral serta protein hewani masih rendah. dan kurangnya layanan reproduksi iv. RANPG 2006-2010 51 . dan anak sampai usia 2 tahun menjadi penghambat upaya perbaikan gizi. ii. Masih rendahnya derajat kesehatan masyarakat miskin disebabkan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan dasar. (ii) gizi. Isu Strategis Berkaitan dengan Pangan adalah sebagai berikut: Terbatasnya kapasitas produksi beras dan pangan lokal sumber karbohidrat serta terbatasnya produksi pangan asal hewan. bayi. Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga masih terus menjadi masalah dan berpengaruh pada tingkat kecukupan asupan gizi meskipun secara nasional ketersediaan pangan di pasar mencukupi. (iii) keamanan pangan. ISU STRATEGIS Berdasarkan analisis situasi pangan dan gizi pada bab terdahulu diperoleh beberapa isu strategis yang masih perlu mendapatkan perhatian dan penanganan lebih lanjut dalam Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010. yaitu ibu hamil. dan (v) kelembagaan. rendah serat. Pola konsumsi pangan masih didominasi oleh kelompok padi-padian terutama beras. iii. ii. i. Masih kurangnya kesadaran terhadap masalah gizi karena rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya pengetahuan mengenai masa paling kritis dalam peningkatan gizi (Window of Opportunity).

serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai. 3. Belum berkembangnya alternatif produk bahan tambahan makanan yang aman dan terjangkau merupakan salah satu faktor masih banyaknya penggunaan bahan tambahan makanan berbahaya dalam industri pangan. serta ketersediaan bahan-bahan uji pangan yang masih terbatas masih menjadi kendala dalam penerapan standar keamanan pangan secara konsisten. kesadaran produsen dan konsumen yang masih rendah. Isu Strategis Berkaitan dengan Pola Hidup Sehat adalah sebagai berikut: i. Saat ini masalah gizi kurang. Masih kurangnya upaya advokasi dan edukasi tentang pentingnya aktivitas fisik bagi kesehatan yang memerlukan dukungan dan komitmen serta kesepakatan sektor lain terutama dalam penyediaan sarana olahraga dan tempat-tempat terbuka untuk beraktivitas fisik serta upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat ii. Masih tingginya angka penyakit infeksi pada balita yang menyebabkan penurunan status gizi. iii. baik konsumen maupun industri pangan. baik makro dan mikro. ii. terutama berkaitan dengan status air minum dan sanitasi lingkungan yang masih memprihatinkan. terjadi secara bersamaan (co-exist) dengan kelebihan gizi dan penyakit kronis. yang pada saat yang sama juga menanggulangi masalah gizi lebih dan penyakit kronis. Upaya untuk menekan dan menghindari penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya menjadi lebih sulit karena keterbatasan tenaga pengawas dan penegak hukum serta rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Masih maraknya pengunaan bahan tambahan makanan berbahaya. Sebagai contoh. Isu Strategis Berkaitan dengan Keamanan Pangan adalah sebagai berikut: i. 4. Ketersediaan tenaga pengawas yang masih terbatas. Berbagai infeksi dengan tingkat kejadian yang tinggi antara lain adalah demam berdarah dengue. diare dan ISPA. terutama pada industri pangan menengah kecil dan rumah tangga. iv. Kesadaran keamanan pangan baik pada produsen dan konsumen masih perlu ditingkatkan karena kesadaran akan keamanan pangan. upaya peningkatan konsumsi energi dapat berdampak pada peningkatan konsumsi lemak dan upaya peningkatan konsumsi yodium dapat RANPG 2006-2010 52 . namun belum ada strategi dan metode yang komprehensif dalam upaya penanggulangan gizi kurang.v. merupakan awal dari upaya menciptakan produk pangan yang aman untuk dikonsumsi.

maka upaya pemenuhan ketenagaan pangan dan gizi tidaklah mudah. dan profesi. Untuk itu perlu upaya yang ekstra dalam upaya peningkatan ketersediaan tenaga terampil di bidang pangan dan gizi. maka perlu suatu upaya untuk penanganan gizi yang terintegrasi dan memerlukan kepemimpinan yang kuat. namun Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 telah mengarahkan bahwa masalah gizi harus ditangani secara lintas sektor. ditunjukan dengan data produksi yang meningkat. Isu Strategis Berkaitan dengan Kelembagaan adalah sebagai berikut: i. Oleh karenanya pengembangan indikator ketahanan pangan dan gizi yang sensitif baik ditingkat lokal maupun nasional menjadi isu yang perlu ditangani dengan baik. iv. Ketersediaan tenaga di bidang pangan dan gizi masih menjadi kendala. kesadaran. sistem kepagawaian. Padahal ketersediaan sayur dan buah cukup melimpah. 5. sumber keuangan negara dan sumber kehidupan petani tembakau. ii. Hal ini terkait antara lain dengan kebiasaan dan budaya. iii. RANPG 2006-2010 53 . Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan kebiasaan untuk mengkonsumsi sayur dan buah sebagai salah satu gaya hidup sehat. iii. iv. Perlunya ditingkatkan penggunaan data-data ini sebagai indikator yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk intervensi yang sesuai dan tepat waktu dalam menilai ketahanan pangan dan gizi. terlihat dari kecenderungan meningkatnya prevalensi merokok pada penduduk serta meningkatnya prevalensi penyakit kronis akibat tembakau. Indikator pembangunan pangan dan gizi saat ini tersedia dan secara umum merupakan salah satu indikator yang datanya dapat diperoleh secara sistematis sampai tingkat daerah. Masih belum optimalnya upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam memerangi masalah kerawanan pangan dan kekurangan gizi dikarenakan belum adanya pendampingan dan pemberdayaan masyarakat termasuk LSM dan swasta. Belum optimalnya upaya untuk mengurangi kebiasaan merokok. Dengan tidak adanya satu lembaga tersendiri yang khusus menangani masalah gizi.berakibat pada konsumsi garam yang berlebih karena pemberian yodium dilakukan melalui fortifikasi pada garam. Saat ini penanganan masalah gizi masih terpecah-pecah dalam berbagai sektor seperti kesehatan dan pertanian. Karena penyediaan tenaga di bidang pangan dan gizi memerlukan investasi yang cukup lama dan menyangkut pendidikan.

Meningkatkan kemampuan masyarakat dan individu untuk mengakses pelayanan gizi dan kesehatan secara merata. terjangkau dan berkualitas serta cost-effective. dan kurang yodium. Tujuan Khusus Meningkatkan pengetahuan. Tujuan Umum Mewujudkan keadaan gizi masyarakat yang baik sebagai dasar untuk mencapai masyarakat yang sehat. cerdas. merata dan terjangkau. dan produktif melalui pemantapan ketahanan pangan dan gizi nasional dan daerah pada tahun 2010. kurang zat besi. kurang vitamin A. baik dalam jumlah maupun mutu gizinya. i. Menurunkan prevalensi berbagai bentuk kekurangan gizi yaitu gizi kurang. TUJUAN 1. v. Meningkatkan kemampuan masyarakat dan individu untuk mengakses pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan dengan gizi seimbang yang diperlukan bagi kehidupan yang sehat. vi. Meningkatkan keamanan pangan beredar melalui peningkatan partisipasi produsen pangan dan pelaksanaan pengawasan yang efektif dan efisien. SASARAN 1. iii. yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup. Meningkatkan akses keluarga terhadap informasi gizi dan kesehatan untuk membentuk perilaku sadar pangan dan gizi serta hidup sehat. serta mencegah terjadinya peningkatan prevalensi kegemukan akibat kelebihan gizi. pada tahun 2010 sekurangkurangnya menjadi 50 persen dari prevalensi tahun 2005. 2. C. ii. iv. RANPG 2006-2010 54 .B. sikap dan perilaku hidup sehat dengan kesadaran gizi yang tinggi kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya perbaikan gizi masyarakat. aman. Mendukung kebijakan dan upaya penanggulangan kemiskinan melalui pelayanan gizi khusus kepada masyarakat miskin sehingga diwujudkan perbaikan gizi masyarakat sebagai modal untuk mengurangi kemiskinan.

ibu Hamil dan remaja putri yang beresiko Kurang Energi Kronis (LILA < 23. 6. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat dan perilaku sadar pangan dan gizi.2. termasuk pangan yang difortifikasi. Menurunkan prevalensi xerophthalmia. 7. ii. v. Menurunnya prevalensi anemia pada ibu hamil dan Wanita Usia Subur.000 kkal/hari dan protein sebesar 52 gram/hari dan cukup zat gizi mikro. serta meningkatkan keragaman konsumsi pangan dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) minimal 85. iv. Meningka tnya efektifitas surveilen dan intervensi pada WUS. Meningkatnya cakupan dan kualitas pelayanan gizi pada masyarakat terutama kelompok rentan dengan sasaran sebagai berikut : i. mutu dan higiene pangan yang dikonsumsi masyarakat dengan menekan pelanggaran terhadap ketentuan keamanan pangan sampai 90 persen dan meningkatkan penelitian untuk menemukan zat pengawet yang aman dan terjangkau masyarakat miskin.200 kkal/hari. Meningkatkan konsumsi pangan perkapita untuk memenuhi kebutuhan zat gizi seimbang dengan kecukupan energi minimal 2. Meningkatkan keamanan. 4. Menurunkan jumlah penduduk yang mengalami kerawanan dalam konsumsi pangan dengan mengefektifkan sistem distribusi pangan dan meningkatkan kemudahan/kemampuan masyarakat untuk mengakses pangan.5 cm). 3.24 bulan memperoleh Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP . pangan hewani naik 2 persen per tahun. Mempertahankan ketersediaan energi perkapita minimal 2. umbi-umbian naik 1-2 persen per tahun.5 persen per tahun. iii. yang ditunjukkan dengan peningkatan akses pelayanan gizi dan konsumsi pangan keluarga. Meningkatnya persentase anak usia 6 . 5. sehingga konsumsi beras turun sebesar 1 persen per tahun. Meningkatnya pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan. sayuran naik 4. dan penyediaan protein perkapita minimal 57 gram/hari. RANPG 2006-2010 55 .ASI) yang tepat. terutama protein hewani serta meningkatkan konsumsi sayur dan buah. buah-buahan naik 5 persen per tahun.

(b) mendorong. promotif dan pelayanan gizi dan 56 2. dan (e) meningkatkan efisiensi dan efektivitas intervensi bantuan pangan/pangan bersubsidi kepada masyarakat golongan miskin terutama anak-anak dan ibu hamil yang bergizi kurang. serta memfasilitasi peran serta masyarakat dalam pemenuhan pangan sebagai implementasi pemenuhan hak atas pangan. Peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan menuju gizi seimbang. RANPG 2006-2010 . (c) mengembangkan teknologi dan kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan untuk menjaga kualitas produk pangan dan mendorong peningkatan nilai tambah. promotif dan pelayanan gizi dan kesehatan kepada masyarakat miskin dalam rangka mengurangi jumlah penderita gizi kurang. Peningkatan status gizi masyarakat. diantaranya melalui peningkatan dan penguatan program fortifikasi pangan dan program suplementasi zat gizi mikro khususnya zat besi dan vitamin A. Arah kebijakan: (a) meningkatkan daya beli dan mengurangi jumlah penduduk yang miskin. aman dan halal dikonsumsi dan bergizi seimbang. ibu nifas dan menyusui. Peningkatan kemudahan dan kemampuan mengakses pangan. (d) meningkatkan dan memperbaiki infrastruktur dan kelembagaan ekonomi perdesaan dalam rangka mengembangkan skema distribusi pangan kepada kelompok masyarakat tertentu yang mengalami kerawanan pangan. yaitu. (b) memprioritaskan pada kelompok penentu masa depan anak. KEBIJAKAN Pemantapan ketahanan pangan. bayi sampai usia dua tahun tanpa mengabaikan kelompok usia lainnya. mengembangkan dan membangun. Arah kebijakan: (a) menjamin pemenuhan asupan pangan bagi setiap anggota rumah tangga dalam jumlah dan mutu yang memadai. (b) meningkatkan efektivitas dan efisiensi distribusi dan perdagangan pangan melalui pengembangan sarana dan prasarana distribusi dan menghilangkan hambatan distribusi pangan antar daerah. (c) mengembangkan program perbaikan gizi yang cost effective. (b) mengembangkan kemampuan dalam pemupukan dan pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat. 3. (c) meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional melalui penetapan lahan abadi untuk produksi pangan dalam rencana tata ruang wilayah dan meningkatkan kualitas lingkungan serta sumberdaya lahan dan air. Arah kebijakan: (a) mengutamakan upaya preventif. termasuk kurang gizi mikro (kurang vitamin dan mineral). 4. terutama dari produksi dalam negeri. (c) meningkatkan upaya preventif.D. 1. ibu hamil dan calon ibu hamil/remaja putri. dalam jumlah dan keragaman untuk mendukung konsumsi pangan sesuai kaidah kesehatan dan gizi seimbang. Arah kebijakan: (a) menjamin ketersediaan pangan. (d) mengembangkan jaringan antar lembaga masyarakat untuk pemenuhan hak atas pangan dan gizi.

Perbaikan pola hidup sehat. (f) meningkatkan kapasitas dalam administrasi data dan informasi sehingga terbentuk data yang akurat. (h) mengembangkan program pendidikan kecakapan hidup (Life Skills Education). Arah kebijakan: (a) mendukung akses edukasi dan pelayanan yang seluas-luasnya pada masyarakat dalam melaksanakan pola hidup sehat. (b) melengkapi perangkat peraturan perundang-undangan di bidang mutu dan keamanan pangan. agama. (e) meningkatkan profesionalisme tenaga gizi dari berbagai tingkatan melalui pendidikan dan pelatihan yang teratur dan berkelanjutan dan memperbaiki distribusi penempatan tenaga gizi tersebut. tekanan darah tinggi. program dan kegiatan antar sektor di pusat dan daerah. dan (e) mengembangkan teknologi pengawet dan pewarna makanan yang aman dan memenuhi syarat kesehatan serta terjangkau oleh usaha kecil dan menengah produsen makanan dan jajanan. pertanian dan ketahanan pangan. distributor dan ritel terhadap keamanan pangan. pendidikan. Arah kebijakan: (a) meningkatkan pengawasan keamanan pangan. RANPG 2006-2010 57 . (d) melibatkan secara optimal peran serta media dalam upaya sosialisasi program dan kebijakan program pola hidup sehat. (d) meningkatkan kemampuan riset di bidang pangan dan gizi untuk menunjang upaya penyusunan kebijakan dan program. (f) meningkatkan efektivitas fungsi koordinasi lembaga-lembaga pemerintah dan swasta di pusat dan daerah. surveilan gizi. serta pemerintahan daerah. Peningkatan mutu dan keamanan pangan. (c) meningkatkan kesadaran produsen. (d) meningkatkan kesadaran konsumen terhadap keamanan pangan. importir. industri. 5. diabetes. dan kanker. khususnya dengan sektor kesehatan. monitoring. 6. (e) memastikan adanya keterlibatan semua lapisan masyarakat secara aktif baik dalam program maupun kebijakan pelaksanaan program pola hidup sehat. dan evaluasi program pangan dan gizi. (b) meningkatkan komitmen dan peran serta pemangku kepentingan dalam mendukung program pola hidup sehat. (c) meningkatkan fungsi dan kapasitas sektor-sektor terkait dalam pengembangan pola hidup sehat baik di Pusat maupun di daerah. pengentasan kemiskinan. (g) mengembangkan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).kesehatan pada kelompok masyarakat dewasa dan usia lanjut dalam rangka mengurangi laju peningkatan (tren) prevalensi penyakit bukan infeksi yang terkait dengan gizi yaitu kegemukan. dibidang pangan dan gizi sehingga terjamin adanya keterpaduan kebijakan. perdagangan. serta penyakit degeneratif lainnya. berdasarkan bukti (evidence-based).

informasi dan edukasi untuk mencegah gangguan. serta tindakan cepat yang harus dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah setempat. zat yodium. 2. 3. RANPG 2006-2010 58 . tetapi juga pada aspek akses pangan yang menjamin konsumsi pangan dengan gizi seimbang bagi keluarga dan perorangan. melalui suplementasi dan fortifikasi vitamin dan mineral khususnya untuk zat besi. melalui berbagai pendidikan gizi. Status Gizi : 1. Peningkatan keluarga dan masyarakat sadar gizi melalui komunikasi. penyuluhan. ibu menyusui. Pengembangan program diversifikasi pangan ditingkatkan melalui pengkajian berbagai teknologi tepat guna dan terjangkau mengenai pengolahan pangan berbasis tepung. dan kampanye gizi untuk meningkatkan citra pangan lokal. Peningkatan kegiatan dan sasaran ketahanan pangan tidak hanya pada aspek persediaan pangan di tingkat makro. dan vitamin A dalam rangka peningkatan kualitas SDM. Peningkatan kemampuan pemerintah setempat dan masyarakat dalam mengembangkan dan memanfaatkan sistem kewaspadaan pangan dan gizi untuk deteksi dini kemungkinan terjadinya bencana kerawanan pangan. 4. sehingga mendorong komitmen dan investasi di bidang pangan dan gizi dalam pembangunan nasional dan daerah. untuk: (a) mempertahankan pola konsumsi pangan lokal yang didaerah dan kelompok masyarakat tertentu telah beragam terutama untuk makanan pokok. serta dampaknya pada status gizi. Pengutamaan sasaran program gizi kepada kelompok sangat rentan yaitu: remaja putri usia subur. dan (b) pengembangan aspek kuliner dan daya terima konsumen.E. ibu hamil. serta peningkatan pendapatan dan pendidikan umum. 3. STRATEGI Aksesibilitas Pangan: 1. Peningkatan program pencegahan dan penanggulangan masalah kurang gizi mikro. kelaparan dan gizi kurang. 2. Penyusunan kebijakan pembangunan di bidang pangan dan gizi yang bersifat lintas sektor. dan bayi sampai usia 2 tahun dalam rangka memperkuat dasar pencapaian program pengembangan anak usia dini (PAUD) dalam menentukan masa depan kualitas SDM.

RANPG 2006-2010 59 . Pola Hidup Sehat : 1. Meningkatkan aktivitas fisik masyarakat melalui peningkatan promosi. Peningkatan kesadaran tentang keamanan pangan dan gizi melalui upaya pencegahan dini dan penegakan hukum dalam rangka menjaga mutu mutu keamanan pangan. peningkatan surveilen dan epidemiologi. pemantauan dan penegakan hukum.4. Keamanan Pangan : 1. perlindungan konsumen dalam rangka melindungi status kesehatan masyarakat. kebijakan penurunan permintaan suplai rokok dalam rangka mencegah penyakit kronis. 2. Peningkatan promosi tentang bahaya merokok melalui regulasi penertiban iklan rokok. 4. peningkatan penyediaan sarana dan prasarana olah raga dan ruang terbuka. Peningkatan upaya penanggulangan penyakit infeksi khususnya pada balita melalui pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. imunisasi serta KIE. Pengutamaan sasaran program gizi kepada masyarakat miskin melalui upaya penanggulangan kemiskinan yang disebabkan bukan karena pendapatan (“nonincome poverty”) dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. garam dan gula terutama pada kelompok-kelompok tertentu yang beresiko tinggi melalui penyusunan regulasi yang mengatur tentang iklan-iklan makanan dan minuman untuk mengurangi kejadian timbulnya penyakit degeneratif di kalangan muda. manajemen terpadu penanganan kasus gizi lebih dan peningkatan KIE. 2. 6. 3. Peningkatan kualitas pelayanan pada penderita gizi lebih melalui pemantauan secara berkala berat badan dan tinggi badan. dalam rangka menumbuhkan dan menciptakan kesadaran seluruh lapisan masyarakat Peningkatan promosi untuk konsumsi sayur dan buah melalui pola makan gizi seimbang dalam rangka pencegahan penyakit degeneratif Peningkatan promosi pola makan rendah lemak. 5. Peningkatan keamanan pangan melalui penguatan peraturan.

guna memaksimalkan peran tenaga profesional dalam program gizi. 4. perguruan tinggi. RANPG 2006-2010 60 . 2. Peningkatan kemampuan tenaga administrasi dan profesional melalui koordinasi perencanaan dan pengelolaan program pangan dan gizi dalam rangka memaksimalkan efektivitas program perbaikan gizi masyarakat. dalam rangka menghasilkan data dan informasi yang lebih dapat di percaya. 6. dan masyarakat. serta di masyarakat. Revitalisasi SKPG untuk meningkatkan ketersediaan data pangan dan gizi di daerah Memantapkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program pangan dan gizi Menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya dari masyarakat untuk menanggulangi masalah pangan dan gizi Peningkatan kemampuan dan kualitas penelitian dan pengembangan pangan dan gizi melalui lembaga penelitian. 7. 5. Peningkatan pendidikan dan pemanfaatan tenaga profesional di bidang gizi di berbagai tingkat pemerintahan pusat dan daerah.Kelembagaan: 1. Peningkatan kerjasama lintas sektor melalui penyusunan program-program pangan dan gizi yang terkoordinasi dalam rangka pembangunan di bidang pangan dan gizi. 3.

Revitalisasi penyuluhan dan peningkatan kemampuan kelembagaan petani 4. Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga masih Pemantapan Pangan Ketahanan Mengembangkan kapasitas cadangan pangan 1. Ketersediaan pangan pokok yang memenuhi kebutuhan 2. Perum Bulog. Meningkatnya jenis dan ketersediaan pangan pokok yang aman dikonsumsi Ketahanan Pangan Deptan. Pemantapan Pangan Ketahanan Menjamin ketersediaan pangan. Pembelian gabah petani oleh pemerintah 61 . Meningkatkan kemudahan petani untuk mengakses sarana produksi bermutu 2. tidak mudah rusak. Pemda 1. Pemda 1. Dep. terutama dari produksi dalam negeri. Peningkatan ketersediaan jenis pangan alternatif yang murah. AKSESIBILITAS TERHADAP PANGAN 1. dan mudah didistribusikan 5.BAB V. Terbatasnya kapasitas produksi beras dan pangan lokal sumber karbohidrat serta terbatasnya produksi pangan asal hewan. Peningkatan produktivitas dan produksi pangan pokok 2. MATRIKS RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI 2006-2010 NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB I.PU. Meningkatkan efektivitas layanan prasarana irigasi 6. aman. Tercapainya jumlah dan mutu cadangan Ketahanan Pangan Deptan. Pengkajian dan pengembangan teknologi pengolahan pangan 3. dalam jumlah dan ragam yang memadai 1.

Mengembangkan cadangan pangan nonberas siap konsumsi 4. DPR BPN. Mendorong terbentuknya cadangan pangan daerah dan masyarakat 3. Pengembangan sarana dan prasarana distribusi 2.NO ISU STRATEGIS terus menjadi masalah dan berpengaruh pada tingkat kecukupan asupan gizi meskipun secara nasional ketersediaan pangan di pasar mencukupi. Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan efektivitas dan efisiensi distribusi dan perdagangan pangan 1. Menurunnya konversi produktif tingkat lahan Ketahanan Pangan Deptan. Semakin pendeknya rantai distribusi pangan Pengembangan Agribisnis Deptan 62 . Terbitnya peraturan perundangan yang menetapkan lahan pertanian abadi untuk produksi pangan 2. Masalah utamanya adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi distribusi pangan antar daerah dan antar waktu serta daya beli rumah tangga sehingga mampu mengakses pangan. Kualitas sarana dan prasarana distribusi pangan yang meningkat 2. Pengembangan sarana dan prasarana untuk pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat INDIKATOR pangan pemerintah dan masyarakat yang aman 2. Penyusunan regulasi penetapan lahan pertanian abadi 2. Menurunnya jumlah daerah dan penduduk rawan pangan PROGRAM PENANGGUNG JAWAB Pemantapan Pangan Ketahanan Penyediaan lahan abadi untuk produksi pangan dalam rangka menjamin kapasitas produksi yang dapat mencukupi kebutuhan pangan pokok 1. KEBIJAKAN STRATEGI pemerintah dan masyarakat serta kemampuan pengelolaannya KEGIATAN 2. Pengurangan hambatan distribusi pangan antar daerah 1. Pengendalian alih fungsi lahan pertanian produktif 1.

Sosial. Revitalisasi kelembagaan ekonomi perdesaan untuk menunjang distribusi pangan 2. 1. Depkes 63 . Harga pangan stabil dan terjangkau Distribusi bantuan pangan tepat sasaran dan tepat waktu 1. Pemda. Distribusi pangan bersubsidi yang efisien dan tepat sasaran 2. Perbaikan fasilitas distribusi pangan di perdesaan seperti pasar. kios beras. Perdagangan. Meningkatnya kualitas produk pangan 2. Peningkatan nilai tambah produk pangan PROGRAM Pengembangan Agribisnis PENANGGUNG JAWAB Deptan Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan serta memperbaiki infrastruktur dan kelembagaan ekonomi perdesaan Deptan. Dep. Inovasi teknologi pengolahan dan pemasaran pangan 1.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan STRATEGI Pengembangan teknologi serta kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan KEGIATAN 1. Dep. 3. Sosialisasi keragaman bahan pangan yang berkualitas dan bergizi Deptan. Tingginya pemahaman masyarakat akan pentingnya konsumsi Program Peningkatan Ketahanan Pangan Perum Bulog. Depdag Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan efisiensi dan efektivitas intervensi bantuan/subsidi pangan kepada kelompok masyarakat tertentu Distribusi beras bersubsidi bagi rakyat miskin (Raskin) yang lebih efisien dan efektif Operasi Pasar dalam rangka stabilisasi harga pangan Bantuan pangan untuk kondisi darurat/bencana. INDIKATOR 1. Revitalisasi kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan 2. Pola konsumsi pangan masih didominasi oleh kelompok padi-padian Peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan menuju gizi seimbang Mempertahankan pola konsumsi pangan lokal dan kelompok masyarakat 1.

Memberikan penyuluhan ASI eksklusif untuk bayi 06 bulan 3. ibu menyusui. Tersedianya data capaian kegiatan (SKDN. Peningkatan pemahaman pentingnya pangan yang beragam Pengembangan aspek kuliner dan daya terima pangan lokal INDIKATOR pangan yang beragam 2. Tetap terjaganya keragaman konsumsi pangan yang seimbang PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. II. Pemantauan pertumbuhan 4. KEBIJAKAN STRATEGI tertentu yang telah beragam terutama untuk makanan pokok KEGIATAN seimbang 2. BGM. Meningkatnya jumlah posyandu yang aktif 2. Masih tingginya prevalensi kurang gizi pada balita yang erat hubungannya dengan masalah KEK pada WUS dan rendahnya kebiasaan pemberian ASI eksklusif. Terlaksananya mekanisme insentif untuk kader Posyandu 4. konsumsi sayuran dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral serta protein hewani masih rendah. PENINGKATAN STATUS GIZI MASYARAKAT 1. Peningkatan pelayanan antenatal di 64 . Meningkatnya jumlah petugas puskesmas dan kader posyandu yang dilatih 5. dan bayi sampai usia 2 tahun 1. Imunisasi) 3. Revitalisasi Posyandu dan revitalisasi Puskesmas 2. ibu hamil. Pengutamaan sasaran program gizi kepada kelompok sangat rentan yaitu: remaja putri usia subur. Depdiknas Depdagri Deptan Deprin Depdag Meneg PP PKK Pemda 6. Pengembangan Pos Gizi 1.NO ISU STRATEGIS terutama beras. Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat. Meningkatnya penggunaan eksklusif ASI Upaya Kesehatan Masyarakat Perbaikan gizi masyarakat Pendidikan anak usia dini Depkes.

A bagi setiap semua bayi/anak 6-59 bulan 3. Jumlah kasus gizi buruk yang berhasil ditangani 9. Pemberian tablet kepada ibu hamil besi 1. Pemasaran sosial sumber vitamin A 2. Menurunnya prevalensi anemia pada Ibu hamil. busui melalui RT/RW secara berkala. balita. calon pengantin dan tenaga kerja wanita 6.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR Puskesmas PROGRAM PENANGGUNG JAWAB Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat. bumil. 5. Meningkatnya konsumsi tablet besi dan ketepatan konsumsi 2. Promosi dan pemantauan 65 . Peningkatan konsumsi garam beryodium untuk semua (KGBS) 3. program dan masalah 1. Meningkatnya konsumsi beryodium garam Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak Depkes Deptan Deprin Depdagri 6. Pemberian MP-ASI kepada balita gakin dengan resiko kekurangan gizi 7. Peningkatan pencegahan penanggulangan kurang gizi mikro.33%) 4. balita dan wanita usia subur (WUS) 5. Pemberian kapsul vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus 8. Tercapainya pemberian kapsul Vit. Peningkatan pemberian suplementasi tablet besi pada remaja putri. Menurunnya prevalensi xeropthalmia (X1b < 0. Pendataan data sasaran bayi. Fortifikasi minyak sayur dengan vitamin A 4. ibu nifas.

Meningkatnya pengetahuan dan konsumsi penduduk tentang pangan sumber Vitamin A 4.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN konsumsi beryodium 10. Pemanfaatan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga 2. Peningkatan keluarga dan masyarakat sadar gizi. Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pangan bermutu sejak usia dini 3. Pemberian muatan pangan dan gizi pada kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan kejuruan 5. Meningkatnya cakupan rumah tangga dengan konsumsi garam beryodium cukup 5. Penanganan buruk garam kasus gizi INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 11. Menyebarkan informasi 1. informasi dan edukasi 4. Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat. Pembentukan kelompok pendidik sebaya (peer educator) diantara remaja di sekolah dan luar sekolah 3. penyebaran komunikasi. Masih kurangnya kesadaran terhadap masalah gizi karena rendahnya tingkat pendidikan dan masih maraknya perilaku yang menghambat upaya perbaikan gizi. 1. Pendidikan gizi melalui kampanye. Terlaksananya pedoman tata laksana gizi buruk Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga Depkes Meneg PP BKKBN Pemda PKK 66 . Peningkatan pendidikan dan penyetaraan gender guna meningkatkan kualitas perawatan kehamilan dan perawatan bayi dan anak 2. Meningkatnya persentase keluarga sadar gizi (kadarzi) 2.

6. Tersedianya informasi tentang gizi di semua media untuk seluruh lapisan masyarakat 7. 1. LSM. Menyelenggarakan kegiatan peningkatan pendapatan keluarga (KUB. Menyebarkan informasi di sekolah. vitamin A dan yodium 3. Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin 2. Pemberian kartu miskin untuk keperluan berobat dan membeli makanan Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Perbaikan gizi masyarakat Depkes Depdagri 67 . Berkurangnya kejadian gizi buruk pada keluarga miskin PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. karang taruna. Pramuka. Meningkatnya jumlah kelompok yang dibentuk dan melakukan kegiatan diskusi tentang pangan dan gizi 8. 7. Pemberian suplemen zat gizi mikro. tempat umum lain 8. Pemenuhan hak dasar masyarakat miskin atas layanan kesehatan dasaryang bermutu Pengutamaan sasaran program gizi kepada masyarakat miskin. arisan. Meningkatnya jumlah keluarga yang memanfaatkan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau bagi masyarakat miskin terutama penanganan gizi kurang 2. khususnya zat besi.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN melalui media cetak dan elektronik. industri kecil. dll. PKK. 1. Belum optimalnya program penanganan gizi bagi penduduk miskin. tempat kerja. dll) INDIKATOR 6. Menyebarkan informasi melalui kelompok pengajian.

lingkungan Peningkatan upaya penanggulangan penyakit infeksi khususnya pada 1. Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko Menurunnya angka penyakit infeksi pada balita. Pelaksanakan pemantauan secara berkala BB dan TB 2. Meningkatnya kecenderungan gizi lebih.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN dengan harga subsidi seperi beras untuk orang miskin (Raskin) dan MPASI untuk balita keluarga miskin 4. masalah Pencegahan penanggulangan gizi lebih Peningkatan kualitas pelayanan pada penderita gizi lebih 1. Masih tingginya angka penyakit infeksi pada balita yang berkaitan Peningkatan pengetahaun masyarakat tentang penyakit. Melaksanakan manajemen terpadu penanganan kasus gizi lebih dan penyakit degeneratif dan penyakit lainnya 3. Perbaikan gizi masyarakat Pencegahan Depkes 68 . Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemgembangan pelayanan kesehatan dan gizi bagi masyarakat miskin INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 4. Bantuan langsung tunai bersyarat bagi penduduk miskin 5. Peningkatan promosi tentang pencegahan kegemukan dan obesitas Menurunkan kegemukan prevalensi Perbaikan gizi masyarakat Depkes Depdiknas 5.

Ketersediaan tenaga Peningkatan Mutu dan pengawas yang masih Keamanan Pangan terbatas. KEBIJAKAN sehat. lingkungan. merupakan awal dari upaya menciptakan produk pangan yang aman untuk dikonsumsi. Peningkatan kesadaran keamanan pangan pada masyarakat produsen dan konsumen 1. MUTU DAN KEAMANAN PANGAN 1. Peningkatan jumlah dan kompetensi petugas serta laboratorium pengawasan 1. Meningkatkan efektivitas karantina pertanian 1. STRATEGI KEGIATAN 2. kelangsungan dan perkembangan anak. laboratorium pengawasan makanan. Peningkatan KIE tentang pencegahan dan pemberantasan penyakit INDIKATOR PROGRAM dan Pemberantasan Penyakit PENANGGUNG JAWAB III. gizi keluarga dan perilaku hidup sehat balita. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan keamanan pangan 2. dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Meningkatkan sosialisasi peraturan dan standar keamanan pangan 2. Pemahaman produsen terhadap CPMB Pengawasan dan keamanan pangan BPOM Deprin Deptan Depdagri Depdag 2. Memadainya jumlah pengawas. kesadaran produsen dan konsumen Meningkatkan pengawasan keamanan pangan 1. Kesadaran keamanan Peningkatan Mutu dan pangan baik pada Keamanan Pangan produsen dan konsumen masih perlu ditingkatkan karena kesadaran akan keamanan pangan. Tercegahnya pemasukan bahan pangan impor yang tidak memenuhi syarat keamanan pangan 3. Peningkatan cakupan imunisasi 4. Peningkatan surveilen dan epidemiologi dan penaggulangan wabah 3.NO ISU STRATEGIS dengan sanitasi. Badan POM Depdiknas Men-PAN 69 .

KEBIJAKAN STRATEGI Meningkatkan perlindungan kepada konsumen 2. Penetapan standard pangan yang aman dikonsumsi 3. Penyediaan produk pengawet. terutama pada industri pangan menengah kecil dan rumah tangga. PERBAIKAN POLA HIDUP SEHAT 1. Meningkatnya Promosi Depkes 70 . Melengkapi perangkat peraturan perundangundangan di bidang mutu dan keamanan pangan 2. Peningkatan promosi 1. Peningkatan pengawasan keamanan pangan 1. pewarna. Tersusunnya standar keamanan dan mutu pangan 3. serta ketersediaan bahanbahan uji pangan yang masih terbatas masih menjadi kendala dalam penerapan standar keamanan pangan secara konsisten. Peningkatan pengembangan dan penelitian bahan tambahan makanan yang aman.NO ISU STRATEGIS yang masih rendah. KEGIATAN Peningkatan cakupan wilayah dan jenis produk pangan yang diawasi INDIKATOR jumlah produk pangan dan cakupan wilayah yang diawasi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. Menurunnya peredaran produk pangan TMS 2. Pengembangan teknologi pengolahan makanan 2. Pelaksanaan penelitian untuk mencari alternatif produk bahan tambahan makanan BPOM LIPI IV. Tersedia dan terjangkaunya pengawet dan pewarna makanan produsen makanan dan jajanan Tersedianya alternatisf bahan tambahan makanan yang aman dan terjangkau BPOM Deptan 4. Masih maraknya Peningkatan Mutu dan pengunaan bahan Keamanan Pangan tambahan makanan berbahaya. Belum berkembangnya Peningkatan Mutu dan alternatif produk bahan Keamanan Pangan tambahan makanan yang aman dan terjangkau. Rendahnya aktifitas fisik Perbaikan pola hidup Peningkatan aktivitas fisik 1. 1. dan tambahan fungsional pengolahan makanan yang aman 1.

pola hidup Peningkatan promosi pola makan rendah lemak. Meningkatnya konsumsi gula. pola hidup Peningkatan promosi untuk konsumsi sayur dan buah Peningkatan sosialisasi dan advokasi untuk konsumsi sayur dan buah. Meningkatnya frekuensi penayangan informasi tentang pola hidup sehat dan gizi seimbang di media masa. Pengembangan metode penyampaian pesan-pesan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) yang mudah dipahami oleh masyarakat.NO ISU STRATEGIS yang berakibat pada meningkatnya penderita penyakit degeneratif KEBIJAKAN sehat. Meningkatnya kesadaran tentang kebiasaan makan yang sehat 2. STRATEGI masyarakat. Deptan Depdiknas Depkes Depkes Depdiknas BPOM 3. garam. KEGIATAN tentang aktivitas fisik 2. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pesan-pesan PUGS 3. Meningkatnya rata-rata konsumsi sayur dan buah per kapita per hari 1. 2. gula dan garam. lemak Perbaikan sehat. garam dan gula terutama pada kelompok-kelompok tertentu yang beresiko tinggi 71 . 1. Peningkatan promosi tentang manfaat aktifitas fisik untuk kesehatan. pencegahan penyakit degeneratif. Masih rendahnya konsumsi sayur dan buah Perbaikan sehat. Meningkatnya sarana dan prasarana olahraga serta ruang terbuka untuk aktifitas masyarakat PROGRAM Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Pembinaan dan Pemasyarakata n olahraga Peningkatan Sarana dan Prasarana olah raga Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat PENANGGUNG JAWAB Deptan Menpora BPOM Depdiknas Pemda 2. INDIKATOR pemahaman masyarakt tentang manfaat aktifitas fisik 2. Peningkatan promosi tentang pengurangan konsumsi lemak.

Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Depkes Menpora Depdag Pemda 6. Menurunnya pengeluaran rumah tangga untuk rokok 2. Meningkatnya tempattempat umum yang dilarang merokok 1. 1. pola hidup Peningkatan promosi tentang bahaya merokok 4. Advokasi pangan dan gizi pada para pengambil keputusan perencanaan di tingkat pemerintah dan parlemen. Meningkatnya jumlah Sekolah sehat PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 1. Belum optimalnya pencegahan kebiasaan merokok Perbaikan sehat. Peningkatan upaya regulasi dalam rangka menurunkan ketersediaan rokok di pasaran. Peningkatan promosi tentang bahaya merokok bagi kesehatan. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat 5. Masalah pangan dan gizi yang bersifat multi dimensi. V. Kebijakan Pangan dan Gizi terakomodasi secara jelas dalam dokumen perencanaan tingkat nasional dan daerah seperti RPJPRPJPD.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR 4. Dilaksanakannya regulasi tentang pemasaran rokok 5. Penegakan hukum dalam hal pelarangan merokok di tempat umum. PEMANTAPAN DAN PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN 1. multi sektoral dan multi disiplin belum tertangani secara terpadu dan terkoordinasi Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Peningkatan kerjasama lintas sektor melalui penyusunan programprogram pangan dan gizi yang terkoordinasi dalam rangka pembangunan di bidang pangan dan gizi. 1. RPJMPerbaikan Gizi Masyarakat Bappenas Bappeda Depkes Deptan Organisasi 72 .

Pengumpulan. Sudah dimanfaatkannya informasi SKPG untuk pengambilan Ketahanan Pangan Perbaikan Gizi Masyarakat Perbaikan Gizi Masyarakat Depkes Deptan BKKBN Bulog Depdagri BPS 73 . dan masyarakat yang peduli pada mutu pangan dan gizi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB profesi Menpan 2. Dimanfaatkannya sistem pelaporan dan informasi untuk penyusunan kebijakan 2. Terciptanya kerjasama sinergis antara lembaga pemerintah. Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Revitalisasi SKPG 1. Pengembangan dan analisis data pangan dan gizi 2. swasta. Semua kabupaten/kota sudah melaksanakan pemetaan. pengolahan dan analisa data untuk pemantapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) 3. Advokasi hasil analisis SKPG kepada pengambil keputusan (pejabat berwenang) 1.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR RPJMD dan RenstraRenstrada 2. Meningkatnya program dan pembiayaan pangan dan gizi 3. Masih terbatasnya penggunaan data-data pangan dan gizi sebagai indikator untuk menilai ketahanan pangan dan gizi pada tingkat lokal yang sesuai dan tepat waktu untuk pengambilan keputusan. keterampilan Tim SKPG dalam menanggulangi masalah pangan dan gizi 3.

Penyusunan kebijakan pembangunan di bidang pangan dan gizi Meningkatnya peran lembaga penelitian. Meningkatnya jumlah LSM dan swasta yang berperan serta dalam penanggulangan pangan dan gizi Ketahanan Pangan Penelitian dan Pengembangan Perbaikan Gizi Masyarakat Deptan Depdiknas Depkes 4. Menggerakaan LSM dan swasta untuk berperan serta dalam penanggulangan masalah pangan dan gizi 3. perencanaan program dan evaluasi 4. Masih terbatasnya ketersediaan tenaga terampil di bidang Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Peningkatan kemampuan dan kualitas penelitian dan pengembangan pangan dan 1. perguruan tinggi dan Ketahanan Pangan Deptan Depdiknas 74 . Masih belum optimalnya upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam memerangi masalah kerawanan pangan dan kekurangan gizi Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Memantapkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program pangan dan gizi Menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya dari masyarakat untuk menanggulangi masalah pangan dan gizi 1. Peningkatan kerjasama dengan lembaga nonpemerintah dan kelompok masyarakat lain yang peduli terhadap peningkatan sumberdaya manusia (SDM) 2. Tersedianya peta rawan pangan dan gizi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. dan mastyarakat. perumusan kebijakan. Pengembangan sistem penanggulangan masalah kerawanana pangan melalui kerjasama pemerintah. swasta.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR keputusan.

1. lembaga penelitian dan pengelola program. perguruan tinggi. Peningkatan kemampuan tenaga administrasi dan profesional melalui koordinasi perencanaan dan pengelolaan program pangan dan gizi dalam rangka memaksimalkan efektivitas program perbaikan gizi masyarakat. PROGRAM Penelitian dan Pengembangan Perbaikan Gizi Masyarakat PENANGGUNG JAWAB Depkes Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi 1. dan masyarakat. Pengembangan profesi tenaga pangan dan gizi melalui kerja sama institusi pendidikan dengan organisasi profesi Jumlah tenaga pangan dan gizi yang dilatih Ketahanan Pangan Prndidikan Non Formal Pendidikan Kedinasan Deptan Depdiknas Depkes 75 . dalam rangka menghasilkan data dan informasi yang lebih dapat di percaya. KEGIATAN 2. guna memaksimalkan peran tenaga profesional dalam program gizi. Gizi KEBIJAKAN STRATEGI gizi melalui lembaga penelitian. serta di masyarakat. INDIKATOR masyarakat dalam menghasilkan data yang dapat dipercaya. Tersedianya tenaga pangan dan gizi yang memadai Ketahanan Pangan Pendidikan Kedinasan Perbaikan Gizi Masyarakat Deptan Depdiknas Depkes Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Peningkatan pendidikan dan pemanfaatan tenaga profesional di bidang gizi di berbagai tingkat pemerintahan pusat dan daerah. Pengembangan kurikulum dan Pengembangan pendidikan tenaga gizi 2. Peningkatan kerjasama institusi pendidikan.NO ISU STRATEGIS pangan dan gizi. sarana dan dana) yang ada pada LSM dan swasta. Menggali potensi sumber daya (tenaga. Penyusunan rencana kebutuhan tenaga pangan dan gizi 2. Pengembangan sertifikasi profesi 3.

kualitas dan mobilitas Pengintegrasian faktor kependudukan ke dalam pembangunan sektoral dan daerah INDIKATOR PROGRAM Keserasian Kebijakan Kependudukan PENANGGUNG JAWAB BKKBN 7. 76 .NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI Pengendalian pertambahan penduduk 6. KEGIATAN Pengembangan kebijakan dan program pembangunan yang berwawasan kependudukan meliputi aspek kuantitas.

2000. Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Nasional. UU No 20. Peraturan Pemerintah No. 2005 Gizi dalam Angka sampai dengan 2005. 2003. Statistik Pertanian 2005 (Agriculturel Statictisc 2005). Bappenas. Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001-2005. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003. 2006 UNDP. Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Geneva. Human Development Report: Beyond scarcity: Power. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. poverty and the global water crisis. Direktorat Pangan dan Pertanian. World Bank. 2003. Sistem Pendidikan Nasional yang juga mengatur tentang "Wajib belajar 9 tahun". RI-WHO. 2006. 2006. Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005 – 2009. 2006 Dewan Ketahanan Pangan. Situational Analysis of Nutrition Problems in Indonesia: Its Policy. Indonesia Progress Report on the Millenium Development Goal. 2004.2000. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. LIPI.7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2004-2009 Profil Pangan dan Pertanian 2003 – 2006. Programs and Prospective Development. Departemen Kesehatan. Jakarta. Laporan Indonesia untuk persiapan End Decade Goal 2000. 2006 77 . 2000. Jakarta. Bapenas dan Unicef. Soekirman dkk. LIPI. Depdiknas. WHO.DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik (BPS). 2006 Government of Indonesia (GOI). 2005. Physical Activity and Health. 2000. 2003. Global Strategy on Diet. Departemen Pertanian. 2006 Departemen Kesehatan. 2004.2004. Repositioning Nutrition as Central to Development A Strategy for Large-Scale Action. A Framework to Monitor and Evaluate Implementation.

ME 3. Ketua Persatuan Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) 7. Badan POM Anggota : 1. Ketua Persatuan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) 9. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Destri Handayani.LAMPIRAN TIM PENYUSUN RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI TAHUN 2006-2010 (Berdasarkan Keputusan Nomor: KEP. Direktorat Pangan dan Pertanian. Kementerian PPN/ Bappenas 4. Kepala Badan Ketahanan Pangan. Ketua Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) 11. Ketua Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) 8. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Ketua Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Pusat 10. Bappenas : 1.PPN/12/2005 Tentang Pembentukan Tim Penyusun Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi Tahun 2006-2010) Tim Pengarah Ketua : Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan. Bappenas : Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas : Kasubdit Gizi Masyarakat. Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) 6. Ketua Komisi Perlindungan Anak Tim Teknis Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : Direktur Kesehatan dan Gizi mAsyarakat. STP. 339/M. Bappenas 2. Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Kementerian Bappenas Wakil Ketua : Deputi III Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya. Departemen Pertanian 3. Departemen Kesehatan 2. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Pungkas Bahjuri Ali. MS 78 . Depdiknas 5. Kasubdit Pangan. Ir.

Kasubdit Kewaspadaan Pangan. Deptan 79 .. Deptan Anggota : 1. Depkes 5. Direktorat Gizi Masyarakat. Departemen Kesehatan Sekretaris : Kasubdit Gizi Makro. Kabid Analisis Harga. Kasubdit Inspeksi Produksi dan Peredaran Produk Pangan. Staf Direktorat Standarisasi Produk Pangan. Subdit Kewaspadaan Gizi. BPOM 3. Dian Proboyekti. Depkes 4. Kabid Pola Pemberdayaan. Pusat Standarisasi dan Akreditasi. Imam Sumarno. Diretorat Gizi Masyarakat. Kabid Kerawanan dan Mutu Pangan. Deptan III. Pusat Pemberdayaan Ketahanan Pangan Masyarakat. Direktorat Gizi Masyarakat. Abbas Basuni Jahari. Anggraini. Kasubdit Surveilan dan Penanggulangan Keamanan Pangan. Pusat Pengembangan Ketersediaan Pangan. Kasie Standarisasi. Kelompok Gizi Ketua : Direktur Gizi Masyarakat. Kabid Pemantauan Produksi Pangan. Kasie Standarisasi. Puslitbang Gizi. Depkes 2. Depkes Anggota : 1. Pusat Kewaspadaan Pangan. Badan POM Sekretaris : Kasubdit Standarisasi Pangan Khusus. Kelompok Keamanan Pangan Ketua : Direktur Standarisasi Produk Pangan. Depkes 3. BPOM 5.I. Kabag Perencanaan. Kelompok Aksesibilitas Pangan Ketua : Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. Deptan 2. Direktorat Gizi Masyarakat. staf Subdit Gizi Makro. MPH. DR. Subdirt Gizi Mikro. Deptan 6. Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. MSc. Deptan 5. BPOM Anggota : 1. Puslitbang Gizi. Deptan Sekretaris : Kabid Konsumsi Pangan Lokal. Kabid Penganekaragaman Pangan. DR. Kabid Standarisasi. Sekretariat Badan Ketahanan Pangan. Kasubdit Penilaian Pangan Khusus. Depkes II. Deptan 4. BPOM 4. STP. BPOM 2. Pusat Pengembangan Distribusi Pangan. Depkes 6. Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. Deptan 3.

Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani. Direktorat Pendidikan TK dan SD. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Depdiknas Anggota :1. 12. Depdiknas 3. Kasubdit Kesiswaan. 24. 9. 19. 2. Depkes TIM PENYUNTING 1. 18. Kabid Olahraga Kesiswaan. 3. Sihombing Yosi Diani Tresna 80 . Dipo Drajad Martianto Endah Murniningtyas Endang L. 15. 7. SKM. Depdiknas 2. 28. Kasubdit Kesehatan Olahraga. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga 6. 17. 20. 5. 22.IV. 27. Achadi Entos Zaina Hardinsyah Ima Anggraini Inti Wikanestri 16. 25. 8. Depdiknas 4. Abbas Basuni Jahari Ali Muharam Andriyanto Arif Haryana Arum Atmawikarta Atmarita Darwin Karyadi Dhian P. 10. Depdiknas 5. 21. 29. 26. Pusat Promosi Kesehatan. Kasubdit Kesiswaan. 6. 14. Kelompok Pola Hidup Sehat Ketua : Kepala Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Sekretaris : Kabid Pengembangan Pendidikan Keterampilan Hidup dan Kesehatan. Ismoyowati. Irawati Susalit Kismanto Mewa Ariani Minarto Muhammad Zakky Nana Mulyana Nita Yulianis Razak Thaha Soekirman Subiyakto Pungkas Bahjuri Ali Noor Avianto Tety H.Kes. Kasubdit Kesiswaan. Direktorat Pendidikan Menengah Umum. M. 11. 23. 13. 4.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->