RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI 2006 - 2010

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional
ISBN 978-979-3764-27-6

KATA PENGANTAR

Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Rawan pangan dan gizi masih menjadi salah satu masalah besar bangsa ini. Masalah gizi berawal dari ketidakmampuan rumah tangga mengakses pangan, baik karena masalah ketersediaan di tingkat lokal, kemiskinan, pendidikan dan pengetahuan akan pangan dan gizi, serta perilaku masyarakat. Kekurangan gizi mikro seperti vitamin A, zat besi dan yodium menambah besar permasalahan gizi di Indonesia. Dengan demikian masalah pangan dan gizi merupakan permasalahan berbagai sektor dan menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan dan langkah-langkah penanggulangannya juga harus dirumuskan dan dilaksanakan bersama. Undang-Undang No. 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional tahun 2005-2025 menegaskan bahwa “Pembangunan dan perbaikan gizi dilaksanakan secara lintas sektor meliputi produksi, pengolahan, distribusi, hingga konsumsi pangan dengan kandungan gizi yang cukup, seimbang, serta terjamin keamanannya”. Penyusunan Rencana Aksi Pangan dan Gizi ini, yang disusun ke dalam empat pilar pembangunan pangan dan gizi yaitu : akses terhadap pangan yang didukung oleh ketersediaan dan daya beli; keamanan pangan; status gizi; dan pola hidup sehat, sebagai penjabaran pembangunan pangan dan gizi secara komprehensif. Rencana Aksi ini disusun sebagai panduan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan pangan dan gizi di tingkat pusat, provinsi dan kabupaten/kota, baik bagi institusi dan aparatur pemerintah, masyarakat dan pelaku lain yang bergerak dalam perbaikan pangan dan gizi di Indonesia. Sebagai tindak lanjut, dokumen ini perlu diterjemahkan ke dalam rencana aksi pangan dan gizi di setiap wilayah. Agar langkah-langkah yang telah dirumuskan ini tidak menjadi sebuah dokumen saja, maka rumusan rencana aksi pangan dan gizi perlu diterjemahkan ke dalam langkah-langkah nyata dalam pembangunan pangan dan gizi di setiap propinsi dan kabupaten/kota. Selanjutnya perlu dilakukan koordinasi, monitoring dan evaluasi secara periodik agar pelaksanaan rencana aksi dapat betul-betul diterapkan dan mencapai tujuan serta dapat membawa kemajuankemajuan yang dicapai. Untuk itu, marilah kita manfaatkan Rencana Aksi Pangan dan Gizi 2006-2010 ini untuk bersama-sama mengatasi masalah gizi di Indonesia agar kita dapat membangun generasi yang sehat, cerdas, dan mandiri. Akhir kata ucapan terima kasih disampaikan kepada wakil-wakil dari Departemen Kesehatan, Departemen Pertanian, Badan Pengawas Obat dan Makanan, Departemen Pendidikan Nasional, pakar dari Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia dan Universitas Hasanudin, asosiasi profesi Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) dan Persatuan Gizi dan Pangan Indonesia serta berbagai lembaga swadaya masyarakat yang telah memberikan pemikiran dan kerja kerasnya dalam penyusunan dokumen ini. Jakarta, Juni 2007 Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Badan Perencanaan Pembangunan Nasional

H. Paskah Suze ta

i

DAFTAR SINGKATAN
AGB ASI BBLR BLT CPMB CDPB EYU FDA GAKY GKP HDPP HDR HPP IMT IPM IFPRI ISPA KEK KLB KMS KUB KVA LILA LSM MDGs MP-ASI PAUD PDB PPH RANPG RPJMN RPJPN RPJMD SDM SDKI SKIA SKPG SKRT SUVITAL Susenas TBC = = = = = = = = Anemia Gizi Besi Air Susu Ibu Bayi Berat Lahir Rendah Bantuan Langsung Tunai Cara Produksi Makanan Yang Baik Cara Distribusi Pangan Yang Baik Eksresi Yodium Urine Gangguan Akibat Kurang Yodium Gabah Kering Panen Harga Dasar Pembelian Pemerintah Harga Pembelian Pemerintah Indeks Massa Tubuh Indeks Pembangunan Manusia

= = = =

Food Drug Administration

=

Human Development Report

= = = = =

TGR

= = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = =

=

Infeksi Saluran Pernapasan Atas Kurang Energi Kronik Kejadian Luar Biasa Kartu Menuju Sehat Kelompok Usaha Bersama Kurang Vitamin A Lingkar Lengan Atas Lembaga Swadaya Masyarakat

International Food Policy Research Institute

Makanan Pendamping Air Susu Ibu Pendidikan Anak Usia Dini Produk Domestik Bruto Pola Pangan Harapan Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Sumberdaya Manusia Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Survei Kesehatan Ibu dan Anak Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi Survei Kesehatan Rumah Tangga Sumber Vitamin A Alami Survei Sosial Ekonomi Nasional Upaya Perbaikan Gizi Keluarga Wanita Usia Subur Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi

Millenium Development Goals

UPGK WUS WNPG

=

Tuberculosis Total Goiter Rate

ii

DAFTAR ISTILAH
Anemia BBLR Diversifikasi Pangan Rendahnya kadar hemoglobin dalam darah, 50 persen kejadian anemia disebabkan kekurangan zat besi Bayi Lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram Penganekaragaman Pangan atau Diversifikasi Pangan adalah upaya peningkatan konsumsi anekaragam pangan dengan prinsip gizi seimbang. Gangguan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan. Indikator yang digunakan untuk mengukur gizi kurang pada anak adalah berdasarkan tinggi barat menurut umur (TB/U), berat badan menurut umur (BB/U) dan berat badan menurut tinggi badan (BB/TB), untuk dewasa berdasarkan IMT. Kelebihan berat badan dibandingkan tinggi badan, untuk dewasa diukur berdasarkan IMT. Pada anak diukur berdasarkan berat badan per tinggi badan dengan menggunakan referensi internasional z-score. Indeks Massa Tubuh, yaitu berat badan dalam kilogram dibagi dengan kuadrat dari tinggi badan dalam meter (kg/m2) Kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan dan membahayakan kesehatan manusia. Kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Besarnya energi dari pangan yang dikonsumsi penduduk yang dinyatakan dalam satuan kilo kalori (Kkal) jumlah makanan dan minuman yang dimakan atau diminum penduduk/seseorang dalam satuan gram per kapita per hari. Jumlah protein dari pangan, baik hewani maupun nabati, yang dikonsumsi , dinyatakan dalam satuan gram per kapita per hari. Meliputi kurang gizi makro dan kurang gizi mikro. Kurang gizi makro dulu disebut kurang kalori protein (KKP atau KEP). Sekarang KKP tidak dipakai lagi diganti dengan gizi kurang (z score BB/U <- 2 SD) dan gizi buruk (z score BB/U <-3 SD) jadi gizi kurang pasangan dari gizi buruk, tidak lagi disebut KKP atau KEP karena tidak semata-mata karena kurang kalori dan protein tetapi juga kekurang zat gizi mikro.

Gizi Kurang

Gizi Lebih

IMT Keamanan Pangan

Ketahanan Pangan

Konsumsi Energi Konsumsi Pangan Konsumsi Protein Kurang Gizi

iii

cerdas dan produktif. Pangan sumber karbohidrat yang sering dikonsumsi atau dikonsumsi secara teratur sebagai makanan utama. sebagai sarapan atau sebagai makanan pembuka atau penutup. Pola Pangan Harapan Susunan jumlah pangan menurut 9 kelompok pangan yang didasarkan pada kontribusi energi yang memenuhi kebutuhan gizi secara kuantitas. Segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air. yang diperuntukkan sebagai makanan dan minuman bagi konsumsi manusia termasuk bahan tambahan pangan. dan bahan lain yang digunakan dalam proses penyiapan. baik yang diolah maupun tidak diolah. pengolahan dari atau pembuatan makanan dan minuman. budaya. ekonomi. bahan baku pangan. diukur berdasarkan TB/U (tinggi badan menurut umur) Kegagalan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. selingan. agama dan cita rasa. diukur berdasarkan BB/U (berat badan menurut umur) Gangguan kekurangan vitamin A pada mata yang mengakibatkan kelainan anatomi bola mata dan gangguan fungsi retina yang berakibat kebutaan Stunting Wasting Xerophthalmia iv . kualitas maupun keragaman dengan mempertimbangkan aspek sosial. Kegagalan untuk mencapai pertumbuhan yang optimal. berdasarkan Pedoman Umum Gizi Seimbang. Sejumlah zat gizi/energi yang diperlukan oleh seseorang dalam suatu populasi untuk hidup sehat. Angka Kecukupan Gizi Pangan Pangan Pokok Pola Konsumsi Pangan Susunan makanan yang biasa dimakan mencakup jenis dan jumlah bahan makanan yang dikonsumsi/dimakan seseorang atau kelompok orang penduduk dalam frekuensi dan jangka waktu tertentu.Gizi Seimbang Anjuran susunan makanan yang sesuai kebutuhan gizi seseorang/kelompok orang untuk hidup sehat.

KEBIJAKAN E. REVIEW STRATEGI PERBAIKAN GIZI JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG III. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI PENENTU KUALITAS SUMBER SUMBER DAYA MANUSIA C. ANALISA SITUASI PANGAN DAN GIZI A. PENGGUNA i ii iii v vi vii 1 1 2 3 4 4 5 6 9 13 15 17 17 21 26 34 43 51 51 54 54 56 58 61 77 78 II. TUJUAN PENYUSUNAN C. SASARAN D. STATUS GIZI MASYARAKAT B. PENDAHULUAN A. PENYEBAB MASALAH PANGAN DAN GIZI D. AKSES RUMAH TANGGA TERHADAP PANGAN D. KERANGKA PIKIR KETAHANAN PANGAN DAN GIZI E. PROSES PENYUSUNAN E. POLA HIDUP SEHAT DAN AKTIFITAS FISIK IV. MATRIK RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN v . STRATEGI V. RENCANA AKSI A. LATAR BELAKANG B.DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR SINGKATAN DAFTAR ISTILAH DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR I. ISU STRATEGIS B. TUJUAN C. KONSUMSI PANGAN C. RUANG LINGKUP D. KEAMANAN PANGAN E. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI INVESTASI PEMBANGUNAN A.

Perkembangan Produksi Telur 15. Perbandingan Konsumsi Pangan Anjuran Dan Aktual Tahun 1999-2005 11. 8. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Menengah ke Atas 18. 7. Jumlah Pelanggaran pada Berbagai Kriteria Tidak Memenuhi Syarat 24. 5. Persebaran Produksi Pangan Pokok Menurut Wilayah Pulau 12. Volume Beras dan Jumlah Keluarga Sasaran Program Raskin 17. Tahu dan Ikan di Enam Propinsi 27. 9. Perkembangan Produksi Daging 14. Persentase Pelanggaran Produk Pangan 22.DAFTAR TABEL 1. Jumlah Kasus Keracunan Tahun 2001 – 2005 28. Hasil Pemantauan Produk Mi Basah. Temuan Formalin dalam Produk Pangan 26. Persentase hasil pengawasan makanan jajanan anak sekolah 23. 6. Pengeluaran Nomor Pendaftaran Produk Pangan Skala Besar Dan Menengah 20. Perkembangan Produksi Palawija Per Kapita 13. Biaya per Unit dan Manfaat Ekonomi berbagai Program Gizi Prevalensi Pendek/Stunting anak balita < -2SD Total Goitre Rate (TGR) pada Survei 1996/1998 dan 2003 Konsumsi Pangan Sumber Karbohidrat Konsumsi Pangan Sumber Protein Konsumsi Pangan Sumber Lemak dan Vitamin/Mineral Pola Konsumsi Pangan Pokok Menurut Wilayah dan Kelompok Pengeluaran Perkembangan Konsumsi Energi Dan Protein Menurut Wilayah Perkembangan Kualitas Konsumsi Pangan Berdasarkan PPH 8 18 19 22 22 23 24 25 26 26 27 27 28 28 30 33 35 36 37 37 38 38 39 39 40 40 42 10. Hasil pengujian produk pangan beredar 21. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Pangan Rumah Tangga 19. 2. 4. Jumlah Penduduk Rawan Pangan Menurut Propinsi 16. 3. Data Temuan Bahan Berbahaya dalam Produk Pangan 25. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir Per Propinsi Menurut Wilayah Tahun 2004 50 vi .

Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir (Untuk 2005: 15 Tahun Ke Atas) 49 vii . 9. 2. Kerangka Pikir Penyebab Masalah Gizi Anak Balita Keterkaitan Kemiskinan dan Status Gizi Kerangka Sistem Ketahanan Pangan dan Gizi Prevalensi anemia pada anak balita (SKRT 2001) Proporsi WUS resiko KEK (LILA <23.5 cm) Jumlah kasus penolakan impor pangan Indonesia oleh FDA Prevalensi Penderita Penyakit Degeneratif Tahun 2001 dan 2004 Prevalensi Gizi Lebih Pada Perempuan Dewasa (perdesaan. 8.DAFTAR GAMBAR 1. 3. 5. 6. NSS-HKI 1999-2001) Tingkat aktivitas penduduk usia diatas 15 tahun (2004) 10 12 14 19 20 41 43 45 48 10. 7. 4.

budaya dan politik (Unicef. (ii) kehilangan kesempatan sekolah. bayi. Selain gizi kurang. Bukti empiris menunjukkan bahwa hal ini sangat ditentukan oleh status gizi yang baik. Selain itu. serta cerdas.BAB I. upaya peningkatan SDM diatur dalam UUD 1945 pasal 28 H ayat (1) yang menyatakan bahwa setiap individu berhak hidup RANPG 2006-2010 1 1 Nutrition throughout life cycle. faktor sosialekonomi. Investasi gizi juga berperan penting untuk memutuskan lingkaran setan kemiskinan dan kurang gizi sebagai upaya peningkatan SDM. dan (iii) kehilangan sumberdaya karena biaya kesehatan yang tinggi (World Bank. rendahnya pendidikan. PENDAHULUAN A. serta lambatnya pertumbuhan ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) mengungkapkan pentingnya penanggulangan kekurangan gizi dalam kaitannya dengan upaya peningkatan SDM pada seluruh kelompok umur sesuai siklus kehidupan (Januari. ketersediaan pangan. Beberapa dampak buruk kurang gizi adalah: (i) rendahnya produktivitas kerja. LATAR BELAKANG Keberhasilan pembangunan suatu bangsa ditentukan oleh ketersediaan sumberdaya manusia (SDM) yang berkualitas. Masalah gizi kurang dan buruk dipengaruhi langsung oleh faktor konsumsi pangan dan penyakit infeksi. Kemampuan mengakses pangan ini dipengaruhi oleh daya beli. Masalah gizi kurang sering luput dari penglihatan atau pengamatan biasa dan seringkali tidak cepat ditanggulangi. padahal dapat memunculkan masalah besar. dan balita. dan status gizi yang baik ditentukan oleh jumlah asupan pangan yang dikonsumsi. Akses pangan setiap individu ini sangat tergantung pada ketersediaan pangan dan kemampuan untuk mengaksesnya secara kontinyu (spasial dan waktu). serta rendahnya umur harapan hidup. dampak kekurangan gizi terlihat juga pada rendahnya partisipasi sekolah. kesehatan yang prima. Secara tidak langsung dipengaruhi oleh pola asuh. Apabila gizi kurang dan gizi buruk terus terjadi dapat menjadi faktor penghambat dalam pembangunan nasional. 2006). . Saat ini diperkirakan sekitar 50 persen penduduk Indonesia atau lebih dari 100 juta jiwa mengalami beraneka masalah kekurangan gizi. 4th report on The World Nutrition Situation. yaitu gizi kurang dan gizi lebih. yang berkaitan dengan tingkat pendapatan dan kemiskinan seseorang. Secara perlahan kekurangan gizi akan berdampak pada tingginya angka kematian ibu. Untuk menjaga agar individu tidak kekurangan gizi maka akses setiap individu terhadap pangan harus dijamin. yaitu SDM yang memiliki fisik yang tangguh. mental yang kuat. January 2000. Dalam sistem ketatanegaraan kita. secara bersamaan Indonesia juga mulai menghadapi masalah gizi lebih dengan kecenderungan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. 1990). Investasi di sektor sosial menjadi sangat penting dalam peningkatan SDM karena akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi negara. 2000)1. Dengan kata lain saat ini Indonesia tengah menghadapi masalah gizi ganda.

Pemenuhan hak atas pangan dicerminkan pada definisi ketahanan pangan yaitu : “kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup.7 Tahun 1996 tentang Pangan. Memberikan panduan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan pangan dan gizi bagi institusi pemerintah. The World Summit for Children 1990. pengaturan tentang pangan tertuang dalam Undang-undang No. yang menyatakan juga bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat. Sementara itu. baik pada tataran nasional. RANPG 2006-2010 2 . Dengan demikian akan dapat dihasilkan generasi muda yang berkualitas. World Food Summit 1996 dan Health for All in the Twenty-first Century 1998. masyarakat dan pelaku lain yang bergerak dalam perbaikan pangan dan gizi di Indonesia. dan pelayanan kesehatan adalah salah satu hak asasi manusia. Pada tingkat nasional. Dengan demikian pemenuhan pangan dan gizi untuk kesehatan warga negara merupakan investasi untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia. Komitmen global lain sebagai landasan pembangunan pangan dan gizi adalah: The Global Strategy for Health for All 1981. yang dijabarkan dalam rencana strategis Departemen Pertanian. The Forty-eight World Health Assembly 1995.sejahtera. baik jumlah maupun mutunya. Kecukupan pangan yang baik mendukung tercapainya status gizi yang baik sehingga akan memperlancar penerapan Program Wajib Belajar 9 Tahun sesuai dengan amanat UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. kesehatan. merata dan terjangkau”. Untuk menjabarkan kebijakan dan langkah terpadu di bidang pangan dan gizi serta dalam rangka mendukung pembangunan SDM berkualitas. TUJUAN PENYUSUNAN Tujuan Umum. dan (4) meningkatkan kesehatan ibu pada tahun 2015. (2) mencapai pendidikan dasar untuk semua. provinsi maupun kabupaten/kota. dan pendidikan juga ditempatkan sebagai prioritas utama dalam RPJPN (Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional) 2005-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004 -2009. Upaya-upaya untuk menjamin kecukupan pangan dan gizi serta kesempatan pendidikan tersebut akan mendukung komitmen pencapaian Millennium Development Goals (MDGs). perlu disusun Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010 (RANPG 2006-2010) sebagai kelanjutan dari Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional (RAPGN) 2001-2005. (3) menurunkan angka kematian anak. terutama pada sasaran-sasaran: (1) menanggulangi kemiskinan dan kelaparan. Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Nasional. aman. B. pembangunan pangan.

kegiatan pokok. RANPG 2006-2010 3 . khususnya yang terkait dengan empat pilar pembangunan pangan dan gizi yaitu: akses terhadap pangan. dan (iv) mampu memantau dan mengevaluasi pembangunan pangan dan gizi. status gizi. Dokumen rencana aksi ini diawali dengan uraian mengenai peran pangan dan gizi sebagai investasi pembangunan yang disajikan pada Bab II. serta dokumen-dokumen kebijakan pembangunan nasional lain di bidang pangan dan gizi2. Indikator yang terdapat dalam RANPG ini akan menjadi dasar bagi pemantauan dan evaluasi program serta perkembangan status pangan dan gizi baik pada tingkat rumah tangga. dan pola hidup sehat. Meningkatkan koordinasi penanganan masalah pangan dan gizi secara terpadu. Meningkatkan kemampuan menganalisis perkembangan situasi pangan dan gizi di setiap wilayah agar: (i) mampu menetapkan prioritas penanganan masalah pangan dan gizi. Meningkatkan pemahaman pentingnya peran pembangunan pangan dan gizi sebagai investasi untuk mewujudkan SDM Indonesia berkualitas. setiap kegiatan akan dapat dijabarkan oleh pemerintah provinsi. C. 2. keamanan. Dalam bab ini disajikan pula langkah-langkah untuk mengatasi tantangan baru sesuai dinamika yang terjadi pada tingkat nasional dan global. RUANG LINGKUP Rencana Aksi ini meliputi strategi dan langkah konkrit yang akan dilakukan dalam perbaikan pangan dan gizi untuk mewujudkan ketahanan pangan dan meningkatkan status gizi masyarakat. dan kualitas gizi yang seimbang di tingkat rumah tangga. yang tercermin pada tercukupinya kebutuhan pangan baik jumlah. provinsi. wilayah kabupaten/kota. indikator. sasaran dan strategi penguatan ketahanan pangan dan perbaikan gizi periode 2006-2010. Dengan demikian. (ii) mampu memilih intervensi yang tepat dan cost effective sesuai kebutuhan lokal.Tujuan Khusus: 1. Kemudian pada Bab IV diuraikan isu strategis pembangunan pangan dan gizi dan tujuan yang akan dicapai melalui RANPG 2006-2010. komitmen pencapaian MDGs. (iii) mampu membangun dan memfungsikan lembaga pangan dan gizi. kabupaten/kota serta pengguna lainnya sesuai dengan kondisi di wilayah masing-masing. pada bab ini dijabarkan pula kebijakan. program dan instansi penanggung jawab. keamanan pangan. Pada Bab III dijabarkan analisis situasi pangan dan gizi lima tahun lalu sebagai cerminan hasil pelaksanaan RANPG 2001-2005 dan sasaran yang belum sepenuhnya tercapai yang masih relevan untuk dilanjutkan dalam RANPG 2006-2010. Rencana aksi ini mengacu pada RPJM 2004-2009. yang diuraikan lebih lanjut pada Bab V dalam bentuk matriks rencana aksi yang mencakup kebijakan. 3. maupun nasional. Selain itu. strategi.

India tahun 2005 sebagai acuan. dibentuk Kelompok Kerja yang secara paralel melakukan analisis dan diskusi untuk menyusun kebijakan. Jabaran rencana aksi atas empat konsep pilar pembangunan pangan dan gizi tersebut kemudian dituangkan secara terpadu dalam RANPG 2006-2010.D. yang memiliki tanggung jawab melakukan upaya perbaikan pangan. PROSES PENYUSUNAN Penyusunan RANPG diawali dengan pertemuan lintas sektor yang menyepakati empat pilar pembangunan pangan dan gizi hasil WHO-FAO Inter-country Workshop for Updating and Implementing Inter-sectoral Food and Nutrition Plans and Policies di Hyderabad. Proses penyusunan melibatkan konsultasi dengan para pakar. strategi dan rencana aksi untuk masing-masing pilar. Selanjutnya. pelaku usaha dan pemangku kepentingan lain dari perguruan tinggi. gizi dan kesehatan. Dokumen RANPG disusun sebagai acuan pelaksanaan program ketahanan pangan dan perbaikan gizi bagi semua pihak. termasuk pemerintah dan masyarakat. PENGGUNA RANPG ini merupakan dokumen operasional yang secara terpadu menyatukan pembangunan pangan dan gizi dalam rangka mewujudkan SDM berkualitas sebagai modal sosial pembangunan bangsa dan negara. E. RANPG 2006-2010 4 . LSM dan organisasi profesi.

sedangkan ukuran kesejahteraan masyarakat antara lain dapat dilihat pada tingkat kemiskinan dan status gizi masyarakat. lebih dari 10 persen penduduk di setiap provinsi mengalami rawan pangan. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI INVESTASI PEMBANGUNAN A.BAB II. Anak bergizi buruk (pendek/stunted) mempunyai resiko kehilangan IQ 10-15 poin. serta penurunan kecerdasan. antara lain: a. sehingga secara RANPG 2006-2010 5 . kecuali di Provinsi Sumatera Barat. Gangguan kurang yodium pada saat janin atau gagal dalam pertumbuhan anak sampai usia dua tahun dapat berdampak buruk pada kecerdasan secara permanen. Thailand 67. Kurang zat besi (anemia gizi besi) pada ibu hamil dapat meningkatkan resiko kematian waktu melahirkan. Hal ini berakibat pada kekurangan gizi. Bali. Filipina 77. Posisi IPM negara ASEAN lainnya lebih baik dibanding Indonesia. dan Brunai 25. Kualitas SDM Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara lain. BBLR dapat meningkatkan angka kematian bayi dan balita. dan Nusa Tenggara Barat. pendidikan dan kesehatan. PANGAN DAN GIZI SEBAGAI PENENTU KUALITAS SUMBER DAYA MANUSIA Pembangunan suatu bangsa bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan setiap warga negara. dan berdampak buruk pada pertumbuhan sel-sel otak anak. Persentase penduduk miskin juga menjadi faktor penting penentu IPM. Hal ini ditunjukkan oleh posisi IPM Indonesia yang berada pada urutan ke-108 dari 177 negara. Ukuran kualitas sumberdaya manusia dapat dilihat pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Peningkatan kemajuan dan kesejahteraan bangsa sangat tergantung pada kemampuan dan kualitas sumberdaya manusianya. Tingginya prevalensi Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR) akibat tingginya prevalensi Kurang Energi Kronik (KEK) pada ibu hamil. yang dapat diindikasikan dari status gizi anak balita dan wanita hamil. Pada tahun 2006 tingkat kemiskinan di Indonesia masih mencapai 17. b. baik zat gizi makro maupun mikro. Singapura 22. meningkatkan resiko bayi yang dilahirkan kurang zat besi. gangguan pertumbuhan fisik dan mental anak. IPM merupakan ukuran agregat yang dipengaruhi oleh tingkat ekonomi. Salah satu akibat kemiskinan adalah ketidakmampuan rumah tangga untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam jumlah dan kualitas yang baik. Implikasi dari masalah gizi pada kedua kelompok tersebut sangat luas. seperti Malaysia pada urutan ke-56.8 persen yang berarti sekitar 40 juta jiwa masih berada di bawah garis kemiskinan.

Investasi besar pada pembangunan dan pemeliharaan jaringan irigasi. Apabila masalah ini tidak diatasi maka dalam jangka menengah dan panjang akan terjadi “kehilangan generasi” yang dapat mengganggu kelangsungan kepentingan bangsa dan negara. meningkatkan resiko kebutaan. Berbagai program pemerintah untuk meningkatkan produksi dan ketersediaan pangan secara kontinyu melalui penghimpunan stok yang mencukupi masih terus dilakukan. Setidaknya ada tiga alasan suatu negara perlu melakukan intervensi di bidang gizi.7 Tahun 1996. serta peningkatan produksi pupuk dilakukan untuk mendukung produksi pangan dalam negeri. Bantuan dan subsidi pangan juga diberikan pada rumah tangga miskin yang tidak dapat menjangkau harga pangan yang terjadi di pasar. Meluasnya kekurangan gizi pada anak balita dan wanita hamil akan meningkatkan pengeluaran rumah tangga maupun pemerintah untuk biaya kesehatan karena banyak warga yang mudah jatuh sakit akibat kurang gizi. Di samping itu. Pemerintah selalu menempatkan ketahanan pangan dalam program pembangunan. perbaikan gizi merupakan suatu investasi yang sangat menguntungkan. Kurang vitamin A pada anak balita dapat menurunkan daya tahan tubuh. Pada orang dewasa dapat menurunkan produktivitas sebesar 20-30 persen. pangan lokal juga terus dikembangkan mengingat beragamnya pola pangan dan wilayah kepulauan yang dimiliki Indonesia untuk membantu daerah-daerah rawan pangan dan daerah-daerah yang jauh dari jangkauan distribusi nasional. jalan produksi. Pertama. d. dan meningkatkan resiko kematian akibat infeksi. Selanjutnya sesuai Bank Dunia (2006). Indonesia akan sulit meningkatkan IPM. INVESTASI PANGAN DAN GIZI DALAM PEMBANGUNAN SUMBER DAYA MANUSIA Kecukupan pangan dalam jumlah dan mutu yang baik di tingkat rumah tangga merupakan mandat untuk mewujudkan ketahanan pangan sesuai Undang-undang No. Efisiensi sistem distribusi pangan terus ditingkatkan agar harga pangan terjangkau oleh masyarakat. hal ini juga menyebabkan menurunnya produktivitas. c. terutama petani dan masyarakat perdesaan yang tingkat kemiskinannnya tinggi sehingga daya beli dan kemampuan mereka untuk mengakses pangan semakin meningkat. Dalam jangka pendek.konsisten dapat mengurangi kecerdasan anak. Dari uraian di atas tampak bahwa ketidakmampuan memenuhi kebutuhan pangan dalam rumah tangga terutama pada ibu hamil dan anak balita akan berakibat pada kekurangan gizi yang berdampak pada lahirnya generasi muda yang tidak berkualitas. perbaikan gizi memiliki keuntungan ekonomi RANPG 2006-2010 6 . Selain itu. B. Hal penting yang juga dilakukan adalah upaya peningkatan pendapatan masyarakat.

perbaikan gizi membantu menurunkan tingkat kemiskinan melalui perbaikan produktivitas kerja. berkisar antara 4 hingga 520 (Tabel 1). Pada waktu itu jarang sekali para perencana pembangunan memasukkan perbaikan gizi. dan seng) memiliki keuntungan ekonomi yang sama tingginya dengan investasi di bidang liberalisasi perdagangan. Dari analisis hubungan timbal balik antara kurang gizi dan kemiskinan. Pada kondisi gizi buruk. serta analisis ekonomi terhadap keuntungan investasi gizi. Sampai 1970-an banyak ahli ekonomi dan ahli perencanaan pembangunan. PDB per kapita negara ini relatif lebih rendah dibanding negara-negara Asia lainnya namun memiliki prevalensi balita gizi kurang paling rendah. kedua. Perkembangan iptek pada dasawarsa terakhir memungkinkan perbaikan gizi dengan lebih cepat tanpa harus menunggu perbaikan ekonomi. pengurangan hari sakit. penanggulangan malaria dan HIV. yodium. dan pengurangan biaya pengobatan. Konsensus ini menilai bahwa perbaikan gizi. mengartikan investasi dalam arti sempit. Behman.(economic returns) yang tinggi. termasuk Bank Dunia. Konferensi para ekonom di Copenhagen tahun 2005 (Konsensus Copenhagen) menyatakan bahwa intervensi gizi menghasilkan keuntungan ekonomi tinggi dan merupakan salah satu yang terbaik dari 17 alternatif investasi pembangunan lainnya. dan secara agregat menyebabkan kehilangan PDB antara 2-3 persen. vitamin A. dan ketiga. jembatan dan transportasi. Studi yang dilakukan IFPRI di 15 negara menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan sebesar 5 persen per tahun saja tanpa didukung perbaikan infrastruktur penunjang seperti akses air bersih dan program-program gizi ternyata tidak mampu membawa negara-negara tersebut untuk mengurangi setengah masalah gizi kurangnya pada tahun 2020. RANPG 2006-2010 7 . intervensi gizi terbukti mendorong pertumbuhan ekonomi. Alderman dan Hoddinot (2004) dalam Bank Dunia (2006) mengungkapkan bahwa Rasio Manfaat-Biaya (benefit-cost ratio/BC-Ratio) berbagai program gizi. Zimbabwe yang memiliki PDB lebih rendah dari Namibia ternyata memiliki status gizi anak balita yang lebih baik. Selama ini para ahli ekonomi berpendapat bahwa investasi ekonomi merupakan prasyarat utama untuk memperbaiki keadaan gizi masyarakat. serta air bersih dan sanitasi. Investasi pembangunan ekonomi lebih diartikan sebagai penanaman modal untuk membangun industri barang dan jasa dalam rangka menciptakan lapangan kerja. penurunan produktivitas perorangan diperkirakan lebih dari 10 persen dari potensi pendapatan seumur hidup. kesehatan dan pendidikan sebagai bagian suatu investasi ekonomi. khususnya program suplementasi dan fortifikasi adalah sangat tinggi. diketahui bahwa perbaikan gizi dapat dilakukan tanpa harus menunggu tercapainya tingkat perbaikan ekonomi tertentu. Titik berat investasi adalah untuk membangun prasarana ekonomi seperti jalan. Demikian halnya dengan Cina. khususnya intervensi melalui program suplementasi dan fortifikasi zat gizi mikro (memperbaiki kekurangan zat besi. Beberapa negara dengan PDB yang sama ternyata mempunyai angka prevalensi gizi-kurang pada anak balita yang berbeda-beda.

9 2. * Behrman.Memasuki periode 1990-an keadaan ini mulai berubah. 1980 Guatemala.44 Hamil 13.68 11. Situational Analysis of Nutrition Problems in Indonesia: Its Policy. yang menyatakan bahwa gizi yang baik dapat merubah kehidupan anak. Direktorat Gizi dan Bank Dunia (Diolah dari berbagai sumber). PMT Pada Anak Balita 3. Pendidikan Gizi 0.3 5-67 9-16 28. 2004 Peru.4 Sumber: Soekirman dkk (2003). Keterkaitan upaya perbaikan gizi dengan pembangunan ekonomi juga dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal PBB.7 Intervensi Pangan dan Gizi Di Masyarakat 1. 1986 Italia. Suplementasi Tablet Besi Pada Ibu 2. 1980 India. Fortifikasi Besi Pada Pangan Pokok (Terigu) Pemberian Makanan Tambahan 17. 1978 Zaire. Programs and Prospective Development. meningkatkan pertumbuhan fisik dan perkembangan mental.0 24. Subsidi Pangan * 2. Fortifikasi Besi Pada Gula 0. and Hoddinott (2004) dalam Bank Dunia (2006) RANPG 2006-2010 8 . Suplementasi Vitamin A pada balita 0. dan meletakkan fondasi untuk masa depan produktivitas anak.10 14.65-4.10 0. Perubahan kebijakan pinjaman Bank Dunia dan perhatian PBB terhadap pembangunan perbaikan gizi dibuktikan dengan meningkatnya alokasi pinjaman Bank Tabel 1.49 0. Iodisasi Garam 0.21 7. Kofi Annan.99 176-200 84.14 12. Program Pelayanan Anak Terpadu Intervensi Zat Gizi Mikro 6. 2004 Indonesia. Program Intervensi Gizi Berbasis 8. Investasi di bidang ini menjadi salah satu prioritas Bank Dunia dalam pemberian pinjaman kepada negara berkembang. Pada 1992 Bank Dunia menyatakan bahwa perbaikan gizi merupakan suatu investasi pembangunan. 1977 Indonesia. Suplementasi Iodium pada Wanita 10.0 15-520 4 -50. melindungi kesehatannya.14 0.Suntikan Iodium 0. 2004 Indonesia. Fortifikasi Vitamin A Pada Gula 0.46-0.01 Masyarakat Sebagai Bagian Dari Pelayanan Kesehatan Dasar 3.37 4.0 16.04 9. 2004 Manfaat Ekonomi Per 1 US$ Investasi (BC-Ratio) 0.1 1. Fortifikasi zat besi 16. Biaya per Unit dan Manfaat Ekonomi berbagai Program Pangan dan Gizi Biaya Per Unit Dan Lokasi Jenis Intervensi Biaya per Unit (US$/target) Negara & Tahun Kajian Indonesia.6 32. 1986 India. Fortifikasi Besi Pada Garam 0. Promosi ASI di rumah sakit 5. Alderman. Iodinasi Air 0. 1980 Indonesia.04 8. 1987 Guatemala. 1976 Tidak Disebut.80 15. 1980 Tidak Disebut.

yang pada tingkat makro ditunjukkan oleh tingkat produksi nasional dan cadangan pangan yang mencukupi. C. yang dilanjutkan dengan tambahan makanan pendamping ASI (MP-ASI) bagi bayi usia 6 bulan sampai 2 tahun. Sebaliknya penyakit infeksi seperti diare dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) dapat mengakibatkan asupan gizi tidak dapat diserap tubuh dengan baik sehingga berakibat pada gizi buruk. dalam jumlah yang cukup dan harga terjangkau sangat menentukan tingkat konsumsi pangan di tingkat rumah tangga. Meskipun peningkatan anggaran cukup tinggi namun jumlah tersebut dinilai masih belum memadai. Sejalan dengan itu. sehingga perlu dipilih intervensi pemerintah yang benar-benar “costeffective”. yaitu faktor makanan dan penyakit infeksi dan keduanya saling mendorong. alokasi anggaran pembangunan untuk perbaikan gizi di Indonesia juga meningkat secara signifikan dari Rp 61 Milyar pada tahun 2000 menjadi Rp 179 Milyar pada tahun 2005. harus memenuhi jumlah dan komposisi zat gizi yang memenuhi syarat gizi seimbang. Makanan lengkap bergizi seimbang bagi bayi sampai usia enam bulan adalah air susu ibu (ASI). 1. PENYEBAB MASALAH PANGAN DAN GIZI Kerangka Penyebab Masalah Pangan dan Gizi Terdapat dua faktor langsung penyebab gizi kurang pada anak balita. berdasarkan data dari berbagai sumber juga menyajikan informasi tentang unit cost dan costeffectiveness berbagai program gizi hasil studi di berbagai negara (Tabel 1). dan pada tingkat regional dan lokal ditunjukkan oleh tingkat produksi dan distribusi pangan. Konsumsi pangan dipengaruhi oleh ketersediaan pangan. Faktor penyebab langsung yang kedua adalah infeksi yang RANPG 2006-2010 9 . atau meningkat hampir tiga kali lipat dalam jangka waktu lima tahun. Sementara Soekirman dkk (2003). Oleh karena itu. dan MP-ASI yang belum memenuhi gizi seimbang oleh karena berbagai sebab. anak balita yang tidak mendapat cukup makanan bergizi seimbang memiliki daya tahan yang rendah terhadap penyakit sehingga mudah terserang infeksi. Selanjutnya pola konsumsi pangan rumah tangga akan berpengaruh pada komposisi konsumsi pangan. Ketersediaan pangan sepanjang waktu. Bank Dunia (1996) merekomendasikan bentuk intervensi yang dianggap cost-effective untuk berbagai situasi.Dunia untuk proyek-proyek perbaikan gizi di negara berkembang yang meningkat 18 kali lipat dari hanya US$ 50 juta pada 1980-an menjadi US$ 900 juta pada 1990-an. Berbagai faktor penyebab langsung dan tidak langsung terjadinya gizi kurang digambarkan dalam kerangka pikir UNICEF (1990) (Gambar 1). Data menunjukkan masih rendahnya persentase ibu yang memberikan ASI. Faktor penyebab langsung pertama adalah makanan yang dikonsumsi. mencegah terjadinya infeksi juga dapat mengurangi kejadian gizi kurang dan gizi buruk. Sebagai contoh.

yaitu: (i) ketersediaan dan pola konsumsi pangan dalam rumah tangga. gizi kurang melemahkan daya tahan anak sehingga mudah sakit. TBC. malaria. Infeksi ini dapat mengganggu penyerapan asupan gizi sehingga mendorong terjadinya gizi kurang dan gizi buruk. dan (iii) jangkauan dan mutu pelayanan RANPG 2006-2010 10 . (ii) pola pengasuhan anak.Penyebab Langsung Penyebab Tidak Langsung lah berkaitan dengan tingginya prevalensi dan kejadian penyakit infeksi terutama diare. Kedua faktor penyebab langsung gizi kurang itu memerlukan perhatian dalam kebijakan ketahanan pangan dan program perbaikan gizi serta peningkatan kesehatan masyarakat. Kedua faktor penyebab langsung tersebut dapat ditimbulkan oleh tiga faktor penyebab tidak langsung. ISPA. demam berdarah dan HIV/AIDS. Sebaliknya.

Ketiganya dapat berpengaruh pada kualitas konsumsi makanan anak dan frekuensi penyakit infeksi. serta kelembagaan sosial masyarakat untuk pemberdayaan masyarakat khususnya perempuan. RANPG 2006-2010 11 . kurang gizi secara tidak langsung menurunkan kemampuan fungsi kognitif dan berakibat pada rendahnya tingkat pendidikan. Masalah kurang gizi memperlambat pertumbuhan ekonomi dan mendorong proses pemiskinan melalui tiga cara. anggota rumah tangga.kesehatan masyarakat. kurang gizi dapat menurunkan tingkat ekonomi keluarga karena meningkatnya pengeluaran untuk berobat. banyaknya anak justru mengakibatkan besarnya beban anggota keluarga dalam sebuah rumah tangga miskin. pelayanan kesehatan. artinya kemiskinan akan menyebabkan kurang gizi dan individu yang kurang gizi akan berakibat atau melahirkan kemiskinan. Pola asuh. pelayanan keluarga berencana. Ketiga. informasi. termasuk anak balitanya menjadi lebih rentan terhadap infeksi sehingga sering menderita sakit. Rendahnya kualitas konsumsi pangan dipengaruhi oleh kurangnya akses rumah tangga dan masyarakat terhadap pangan. Kedua. Dengan asupan makanan yang tidak mencukupi. Ketidakstabilan ekonomi. kemiskinan dinilai memiliki peranan penting dan bersifat timbal balik. 2. Ketiga hal tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut (Gambar 2) . pelayanan kesehatan dan sanitasi lingkungan dipengaruhi oleh pendidikan. Upaya mengatasi masalah ini bertumpu pada pembangunan ekonomi. Pertama. politik dan sosial. kurang gizi secara langsung menyebabkan hilangnya produktivitas karena kelemahan fisik. Apabila kondisi ketiganya kurang baik menyebabkan gizi kurang. baik akses pangan karena masalah ketersediaan maupun tingkat pendapatan yang mempengaruhi daya beli rumah tangga terhadap pangan. Namun demikian. Tingkat dan kualitas konsumsi makanan anggota rumah tangga miskin tidak memenuhi kecukupan gizi sesuai kebutuhan. dapat berakibat pada rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat yang antara lain tercermin pada maraknya masalah gizi kurang dan gizi buruk di masyarakat. Keluarga miskin dicerminkan oleh profesi/mata pencaharian yang biasanya adalah buruh/pekerja kasar yang berpendidikan rendah sehingga tingkat pengetahuan pangan dan pola asuh keluarga juga kurang berkualitas. Kemiskinan dan Masalah Gizi Dari berbagai faktor penyebab masalah gizi. Keluarga miskin juga ditandai dengan tingkat kehamilan tinggi karena kurangnya pengetahuan tentang keluarga berencana dan adanya anggapan bahwa anak dapat menjadi tenaga kerja yang memberi tambahan pendapatan keluarga. politik dan sosial yang harus dapat menurunkan tingkat kemiskinan setiap rumah tangga untuk dapat mewujudkan ketahanan pangan dan gizi serta memberikan akses kepada pendidikan dan pelayanan kesehatan.

Dengan diperbaiki gizinya. (ii) tingginya pengeluaran untuk memelihara kesehatan karena sering sakit. Banyak cara memperbaiki gizi masyarakat dapat dilakukan justru pada saat masih miskin. Perlu disadari bahwa investasi pembangunan di bidang gizi tidak mudah dan tidak cepat. sebagaimana KEMISKINAN Gambar 2.Keseluruhan faktor ini dapat menyebabkan kekurangan gizi pada setiap anggota rumah tangga miskin yang dapat berakibat pada: (i) menurunnya produktivitas individu karena kondisi fisik yang buruk serta tingkat kecerdasan dan pendidikan yang rendah. Semakin banyak rakyat miskin yang diperbaiki gizinya. Secara empirik sudah dibuktikan bahwa mencegah dan menanggulangi masalah gizi kurang tidak harus menunggu sampai masalah kemiskinan dituntaskan. kedua hal ini pun menyebabkan kemiskinan pada individu tersebut. Adanya hubungan kemiskinan dan kekurangan gizi sering diartikan bahwa upaya penanggulangan masalah kekurangan gizi hanya dapat dilaksanakan dengan efektif apabila keadaan ekonomi membaik dan kemiskinanan dapat dikurangi.kekurangan gizi . akan semakin berkurang jumlah rakyat miskin.kemiskinan. Pendapat ini tidak seluruhnya benar. Sebaliknya. produktivitas masyarakat miskin dapat ditingkatkan sebagai modal untuk memperbaiki ekonominya dan mengentaskan diri dari lingkaran kemiskinan. Keterkaitan Kemiskinan dan Status Gizi RANPG 2006-2010 12 .

Kelompok miskin inilah yang seharusnya menjadi fokus perhatian dalam pembangunan di bidang ketahanan pangan dan perbaikan gizi. pertolongan persalinan. Pada tahun 2006. Data tersebut tidak jauh berbeda dengan data di tingkat dunia. dan layanan penimbangan berat badan bayi dan anak secara teratur setiap bulan di Posyandu. dan makanan untuk ibu hamil yang kurus. Apabila dipadukan dengan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan yang dapat meningkatkan ketahanan pangan rumah tangga. termasuk pentingnya Air Susu Ibu (ASI) bagi bayi. tingkat kemiskinan penduduk di Indonesia sekitar 17. pemeriksaan kehamilan. Mereka mendapatkan pendidikan dan penyuluhan gizi seimbang. Di samping itu juga mendapatkan suplemen berupa: zat besi untuk ibu hamil. Secara terintegrasi intervensi gizi tersebut ditunjang dengan pelayanan kesehatan dasar seperti imunisasi. (iii) konsumsi pangan setiap individu yang memenuhi kecukupan gizi seimbang.membangun gedung dan prasarana fisik. dan sarana kebersihan lingkungan. yang berdampak pada (iv) status gizi masyarakat (Gambar 3). air bersih. dan umumnya bekerja pada sektor pertanian atau berbasis pertanian. Vitamin A untuk anak balita dan ibu nifas. Untuk mengantisipasi terjadinya fluktuasi ketahanan pangan rumah tangga yang berpotensi menimbulkan kerawanan pangan. Perbaikan gizi memerlukan konsistensi dan kesinambungan program dalam jangka pendek dan jangka panjang.8 persen atau sekitar 40 juta jiwa. (ii) distribusi pangan yang lancar dan merata. pendidikan terutama pendidikan perempuan. dilakukan pemantauan terus menerus terhadap situasi pangan masyarakat dan rumah tangga. Upaya tersebut dapat meningkatkan akses rumah tangga miskin kepada pangan yang bergizi seimbang. dan seperlima dari kaum miskin tersebut adalah para buruh tani yang tidak mampu memproduksi bahan pangan untuk kebutuhan keluarganya sendiri. D. serta pelayanan kesehatan lainnya di Puskesmas. serta perkembangan penyakit dan status gizi anak dan ibu hamil yang dikenal sebagai Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Wanita Usia Subur (WUS). kecerdasan. Makanan Pendamping – Air Susu Ibu (MP-ASI) untuk anak 6 . Dari jumlah penduduk miskin tersebut. intervensi gizi untuk orang miskin akan mempunyai daya ungkit yang besar dalam meningkatkan kesehatan. yaitu setengah dari kelompok miskin ini adalah petani kecil. Banyak intervensi gizi telah dilakukan dengan sasaran utama masyarakat miskin dan gizi kurang. sekitar 68 persen tinggal di pedesaan. dan produktivitas. distribusi. penyuluhan tentang pengasuhan bayi dan kebersihan.24 bulan. Dengan demikian. sistem ketahanan pangan dan gizi tidak hanya menyangkut soal produksi. dan penyediaan pangan ditingkat makro 13 RANPG 2006-2010 . terutama anak-anak. dan ibu hamil. yaitu: (i) ketersediaan pangan dalam jumlah dan jenis yang cukup untuk seluruh penduduk. KERANGKA PIKIR KETAHANAN PANGAN DAN GIZI Sistem ketahanan pangan dan gizi secara komprehensif meliputi empat subsistem.

yaitu akses pangan di tingkat rumah tangga dan individu serta status gizi anggota rumah tangga. baik secara nasional maupun global. tetapi menurunkan kemiskinan dan kelaparan sebagai indikator kesejahteraan masyarakat.(nasional dan regional). Agar aspek mikro tidak terabaikan. Konsep ketahanan pangan yang sempit meninjau sistem ketahanan pangan dari aspek masukan yaitu produksi dan penyediaan pangan. Oleh karena itu. maka dalam dokumen ini digunakan istilah ketahanan pangan dan gizi. ketersediaan pangan yang melimpah melebihi kebutuhan pangan penduduk tidak menjamin bahwa seluruh penduduk terbebas dari kelaparan dan gizi kurang. United Nation Development Programme (UNDP) sebagai lembaga PBB yang berkompeten memantau pelaksanaan MDGs telah menetapkan dua ukuran kelaparan. terutama anak dan ibu hamil dari rumah tangga miskin. Kerangka Sistem Ketahanan Pangan dan Gizi RANPG 2006-2010 14 . Seperti banyak diketahui. tetapi juga menyangkut aspek mikro. yaitu jumlah konsumsi energi (kalori) rata-rata anggota rumah tangga di bawah Gambar 3. Konsep ketahanan pangan yang luas bertolak pada tujuan akhir dari ketahanan pangan yaitu tingkat kesejahteraan manusia. Meskipun secara konseptual pengertian ketahanan pangan meliputi aspek mikro. MDGs menggunakan pendekatan dampak bukan masukan. namun dalam pelaksanaan sehari-hari masih sering ditekankan pada aspek makro yaitu ketersediaan pangan. sasaran pertama Millenium Development Goals (MDGs) bukanlah tercapainya produksi atau penyediaan pangan.

dan keluarga berencana yang saling terkait dan terintegrasi untuk meningkatkan status gizi masyarakat (World Bank. (iii) Pemberian makanan. Oleh karena itu. asam folat. (ii) Kredit mikro untuk pengusaha kecil dan menengah. persediaan dan produksi pangan. varietas singkong yang mengandung karoten dan sebagainya. kapsul Vitamin A kepada anak balita dan ibu nifas. kesehatan.kebutuhan hidup sehat dan proporsi anak balita yang menderita gizi kurang. seperti Thailand. Cina dan Malaysia. seng. pendidikan. Untuk itu diperlukan adanya kebijakan pembangunan bidang ekonomi. menunjukkan perlunya strategi kebijakan jangka pendek dan jangka panjang. (ii) pemberian suplemen zat gizi mikro seperti tablet zat besi kepada ibu hamil. Sebaliknya. tidak menjamin masyarakat terbebas dari kelaparan dan gizi kurang. Ukuran tersebut menunjukkan bahwa MDGs lebih menekankan dampak daripada masukan. penimbangan anak balita di Posyandu yang dicatat dalam KMS. pangan dan gizi. Strategi Jangka Pendek Kebijakan yang mendorong ketersediaan pelayanan meliputi: (i) Pelayanan gizi dan kesehatan yang berbasis masyarakat seperti upaya perbaikan gizi keluarga (UPGK) yang dilaksanakan 1970 sampai 1990-an. produksi dan persediaan pangan yang melebihi kebutuhannya. suatu teknologi budidaya tanaman pangan yang dapat menemukan varietas padi yang mengandung kadar zat besi tinggi dengan nilai biologi tinggi pula. analisis situasi ketahanan pangan harus dimulai dari evaluasi status gizi masyarakat diikuti dengan tingkat konsumsi. 2006). meliputi: (i) Bantuan Langsung Tunai (BLT) bersyarat bagi keluarga miskin. dan (v) biofortifikasi. vitamin B1 dan B2. (iii) bantuan pangan kepada anak kurang gizi dari keluarga miskin. TINJAUAN STRATEGI PERBAIKAN PANGAN DAN GIZI JANGKA PENDEK DAN JANGKA PANJANG TA JALAN Masalah gizi kurang maupun gizi lebih tidak dapat ditangani hanya dengan kebijakan dan program jangka pendek sektoral yang tidak terintegrasi. Status gizi masyarakat yang baik ditunjukkan oleh keadaan tidak adanya masyarakat yang menderita kelaparan dan gizi kurang. fortifikasi terigu dengan zat besi. khususnya pada waktu RANPG 2006-2010 15 . Pengalaman negara berkembang yang berhasil mengatasi masalah gizi secara tuntas dan berkelanjutan. bukan sebaliknya. (iv) fortifikasi bahan pangan seperti fortifikasi garam dengan yodium. Keadaan ini secara tidak langsung menggambarkan akses pangan dan pelayanan sosial yang merata dan cukup baik. Kebijakan yang meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan. E. 1.

darurat; (iv) Pemberian suplemen zat gizi mikro, khususnya zat besi, Vitamin A dan zat yodium; (v) Bantuan pangan langsung kepada keluarga miskin; dan (vi) Pemberian kartu miskin untuk keperluan berobat dan membeli makanan dengan harga subsidi, seperti beras untuk orang miskin (Raskin) dan MP-ASI untuk balita keluarga miskin. Kebijakan yang mendorong perubahan ke arah perilaku hidup sehat dan sadar gizi dilakukan melalui pendidikan gizi dan kesehatan. Pendidikan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan anggota keluarga khususnya kaum perempuan tentang gizi seimbang, termasuk pentingnya ASI eksklusif, MP-ASI yang baik dan benar; memantau berat badan bayi dan anak sampai usia 2 tahun; pengasuhan bayi dan anak yang baik dan benar: air bersih dan kebersihan diri serta lingkungan; dan pola hidup sehat lainnya seperti berolah raga, tidak merokok, makan sayur dan buah setiap hari. 2. Strategi Jangka Panjang

Kebijakan yang mendorong penyediaan pelayanan meliputi: (i) Pelayanan kesehatan dasar termasuk keluarga berencana dan pemberantasan penyakit menular; (ii) Penyediaan air bersih dan sanitasi; (iii) Kebijakan pengaturan pemasaran susu formula; (iv) Kebijakan pertanian pangan untuk menjamin ketahanan pangan ditingkat keluarga dan perorangan, dengan persediaan dan akses pangan yang cukup, bergizi seimbang, dan aman, termasuk komoditi sayuran dan buah-buahan; (v) Kebijakan pengembangan industri pangan yang mendorong pemasaran produk industri pangan yang sehat dan menghambat pemasaran produk industri pangan yang tidak sehat; dan (vi) Memperbanyak fasilitas olah raga bagi masyarakat. Kebijakan yang mendorong terpenuhinya permintaan atau kebutuhan pangan dan gizi, seperti: (i) Pembangunan ekonomi yang meningkatkan pendapatan rakyat miskin; (ii) Pembangunan ekonomi dan sosial yang melibatkan dan memberdayakan masyarakat miskin; (iii) Pembangunan yang menciptakan lapangan kerja sehingga mengurangi pengangguran; (iv) Kebijakan fiskal dan harga pangan yang meningkatkan daya beli masyarakat miskin untuk memenuhi kebutuhan pangan yang bergizi seimbang; dan (v) Pengaturan pemasaran pangan yang tidak sehat dan tidak aman. Kebijakan yang mendorong perubahan perilaku yang mendorong hidup sehat dan gizi baik bagi anggota keluarga: (i) Meningkatkan kesetaraan gender; (ii) Mengurangi beban kerja wanita terutama pada waktu hamil; dan (iii) Meningkatkan pendidikan wanita baik pendidikan sekolah maupun di luar sekolah.

RANPG 2006-2010

16

BAB III. ANALISIS SITUASI PANGAN DAN GIZI

A.

STATUS GIZI MASYARAKAT

Salah satu tolok ukur status gizi seseorang adalah ukuran berat badan dan tinggi badan menurut umur. Tolok ukur ini juga dapat mencerminkan kondisi gizi masyarakat. Selain itu, keadaan gizi masyarakat juga dapat ditunjukkan oleh data Kurang Vitamin A (KVA), Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY), Anemia Gizi Besi (AGB), dan gangguan pertumbuhan. Uraian berikut menyajikan analisis masalah gizi sesuai siklus kehidupan, dimulai dari bayi, anak balita, anak usia sekolah hingga usia produktif.

1.

Gizi Bayi dan Balita

Kondisi gizi bayi dapat ditunjukkan dengan BBLR. Kejadian BBLR ini erat kaitannya dengan kondisi gizi kurang pada masa sebelum dan selama kehamilan dan berpengaruh pada angka kematian bayi. Indonesia belum mempunyai data BBLR yang diperoleh melalui survei nasional. Selama ini, angka BBLR merupakan estimasi yang sifatnya sangat kasar yang diperoleh dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) serta dari berbagai studi. Hasil SDKI dan berbagai studi tersebut menunjukkan bahwa selama periode 1986-19993 proporsi BBLR berkisar antara 7–16 persen. Setiap tahun diperkirakan sebanyak 355-710 ribu dari lima juta bayi lahir dengan kondisi BBLR. Kondisi gizi balita secara umum mengalami perbaikan yang ditunjukkan dengan menurunnya prevalensi gizi kurang. Pada tahun 1978-1998, prevalensi gizi kurang balita menurun dari 46,3 persen menjadi 37,5 persen atau rata-rata 0,85 persen per tahun. Prevalensi ini terus menurun menjadi 28,0 persen pada tahun 2005. Masalah gizi kurang pada balita ditunjukkan oleh tingginya prevalensi anak balita yang pendek (stunting < -2SD). Dari beberapa survei, prevalensi anak balita stunting sekitar 40 persen (Tabel 2). Tinggi badan rata-rata anak balita ini umumnya mendekati kondisi normal hanya sampai 5 - 6 bulan, setelah usia enam bulan rata-rata tinggi badan anak balita lebih rendah dari kondisi normal. Pada tahun 1995 prevalensi stunting pada anak laki-laki menurut survei SKIA adalah 46,5 persen. Data tahun 2001 menunjukkan bahwa prevalensi anak perempuan

RANPG 2006-2010

17

Tabel 2.

Prevalensi Pendek/Stunting Anak Balita < - 2SD dari Berbagai Jenis Survei Survei Stunting < - 2SD 41,4 44,5 45,9 43,8 36,3

Suvita (Survei Nasional Vit. A), Tahun 1992 (15 Provinsi) IBT (Indonesia Bagian Timur), Tahun 1991 (4 Provinsi) SKIA (Survei Kesehatan Ibu dan Anak),Tahun 1995 Nasional JPS (Jaring Pengaman Sosial) Survei masalah gizi di 7 Provinsi (Puslitbang gizi 2006)

sebesar 45,2 persen. Berdasarkan survey NSS prevalensi anak laki-laki dan perempuan baik di perdesaan dan perkotaan sebesar 45,6 persen. Pada tahun 1992, Indonesia telah dinyatakan bebas dari xeropthalmia, namun masih dijumpai 50 persen balita mempunyai serum retinol kurang dari 20 µg/100 ml, sebagai pertanda Kurang Vitamin A Sub-Klinik. Kejadian tersebut diduga diakibatkan kurang berhasilnya penyuluhan untuk mengkonsumsi sumber vitamin A alami (SUVITAL) dan rendahnya cakupan distribusi kapsul Vitamin A (< 80 persen). Pada tahun 2000, dilaporkan dari Nusa Tenggara Barat adanya kasus baru xerophthalmia. Hal serupa bisa terjadi di provinsi lain jika cakupan distribusi kapsul Vitamin A di wilayah tersebut kurang dari 80 persen. Berdasarkan SKRT 2001, prevalensi anemia anak balita masih cukup tinggi. Semakin muda usia bayi semakin tinggi prevalensinya; pada bayi kurang dari 6 bulan (61,3 persen), bayi 6-11 bulan (64,8 persen), dan anak usia 12-23 bulan (58 persen). Selanjutnya prevalensi menurun untuk anak usia 2 - 5 tahun (Gambar 4). 2. Gizi Anak Usia Sekolah

Gangguan pertumbuhan dari usia balita berlanjut pada saat anak masuk sekolah. Selama kurun waktu lima tahun terjadi peningkatan status gizi anak sekolah yang diukur dengan tinggi badan menurut umur (TB/U). Pada tahun 1994 jumlah anak sekolah yang pendek sekitar 40 persen dan turun menjadi 36,4 persen pada tahun 1999. Masalah gizi lain yang juga menjadi masalah pada usia sekolah adalah adanya gangguan pertumbuhan. Anak usia sekolah juga mengalami GAKY, walaupun prevalensinya telah menurun secara berarti. Pada tahun 1980, prevalensi GAKY pada anak usia sekolah yang diukur dengan pembesaran kelenjar gondok (Total Goiter Rate/TGR) adalah 30 persen. Angka ini menurun menjadi 27,9 persen pada tahun 1990,

RANPG 2006-2010

18

100,0 80,0 Persen 60,0 40,0 20,0 0,0 % Anemia

< 6 bln 61,3

6-11 bln 64,8

12-23 bln 58,0

24-35 bln 45,1

36-47 bln 38,6

48-59 bln 32,1

Gambar 4. Prevalensi Anemia pada Anak Balita (SKRT 2001) dan menjadi 11,1 persen pada tahun 2003. Walaupun prevalensi GAKY pada anak sekolah telah menurun, ternyata masih terdapat 14 kabupaten yang tergolong daerah endemik berat. Gambaran klasifikasi kabupaten menurut endemisitas GAKY dapat dilihat pada Tabel 3. Secara internasional, perhitungan proporsi penduduk yang menderita gondok sebagai indikator GAKY sudah tidak dianjurkan lagi karena secara statistik dianggap kurang sahih. Di samping itu, indikator tersebut baru timbul pada tingkat akhir sebagai akumulasi terjadinya kekurangan yodium untuk waktu lama sehingga dianggap terlambat jika dipakai sebagai dasar tindak pencegahan. Indikator GAKY yang dianjurkan WHO adalah (i) kadar yodium dalam urine (EYU= Eksresi Yodium Urine), yaitu proporsi EYU dibawah 100 µg/L harus kurang dari 50 persen dan proporsi EYU dibawah 50 µg/L harus kurang dari 20 persen; dan (ii) konsumsi garam beryodium oleh rumah tangga, yaitu 90 persen rumah tangga menggunakan garam mengandung cukup

Tabel 3. Total Goitre Rate (TGR) pada Survei 1996/1998 dan 2003
Klasifikasi kabupaten menurut TGR tahun 1998 Non Endemik Non Endemik Klasifikasi kab Endemik Ringan menurut TGR tahun 2003 Endemik Sedang Endemik Berat Total kabupaten Total Endemik RinganEndemik SedangEndemik Berat kabupaten

86 28 5 3 122

26 52 18 8 104 150 68 50

2 13 7 6 28

1 3 5 5 14

115 96 35 22 268

Tidak berubah Memburuk Membaik

Sumber: National IDD Survey 1998, and National IDD Evaluation Survey 2003

RANPG 2006-2010

19

proporsi LILA < 23.yodium. sedangkan data proporsi EYU sudah mencapai 16. kedua indikator itu dapat digunakan sebagai dasar tindak pencegahan sebelum timbul gondok atau akibat lain yang lebih parah seperti kerdil dan cacat mental. cakupan konsumsi garam beryodium secara nasional meningkat dari 68. WUS dengan resiko KEK mempunyai resiko melahirkan bayi BBLR (Gambar 5). Ukuran ini merupakan indikator yang menggambarkan resiko Kekurangan Energi Kronis (KEK).5 cm) 1999-2003 RANPG 2006-2010 20 .7 persen pada 2003.7 persen dari proporsi 100 µg/L.9 µg/L.9 persen pada 1999 menjadi 16. Pada umumnya WUS kelompok usia muda memiliki prevalensi KEK lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lebih tua. Berdasarkan hasil survei Puslitbang Gizi tahun 2006.5 cm (LILA < 23. Pada tahun 2003 median EYU anak sekolah di Indonesia adalah 22. Kekurangan yodium tingkat awal pada anak terbukti dapat menurunkan kecerdasan atau IQ. pada kelompok usia produktif juga terdapat masalah kegemukan (IMT>25) dan obesitas (IMT>27). Gizi Usia Produktif Masalah gizi kurang juga dapat terjadi pada kelompok usia produktif. Kedua masalah gizi ini juga terjadi di wilayah kumuh % WUS (LILA<23. yang dapat diukur dengan Lingkar Lengan Atas kurang dari 23. Kedua indikator tersebut sudah dapat dilihat pada tahap awal. Oleh karena itu. saat tingkat kekurangan yodium masih ringan. Anak yang kekurangan yodium memiliki IQ 1015 poin lebih rendah dari anak sehat. Selain KEK. Proporsi WUS Beresiko KEK (LILA < 23.8 persen di tahun 2005 (Susenas 2005). 3. Secara nasional.5 cm menurun dari 24. Hal ini menunjukkan masih besarnya potensi terjadinya GAKY pada masyarakat.5 cm).5 cm) cm) 50% 1999 40% 2000 2001 30% 2002 2003 20% 10% 0% 15-19 20-24 25-29 30-34 Umur (tahun) 35-39 40-44 45-49 Gambar 5.5 persen di tahun 2002 menjadi 72.

Masalah gizi juga dapat ditunjukkan oleh prevalensi anemia. Penelitian skala kecil di Jawa Barat. Pada masa pemulihan ekonomi (2002-2005). dan vitamin B1 sampai kini belum diketahui. prevalensi kegemukan berkisar 10-21 persen.perkotaan maupun perdesaan. dan ibu hamil masing-masing sebesar 26. di wilayah perdesaan provinsi Jawa Barat. Demikian juga. B. konsumsi beras dan jagung menurun. selenium. Masalah gizi mikro lain yang perlu mendapat perhatian adalah kurang seng (Zinc) pada ibu hamil. Lampung. Pada tahun 1999 tingkat konsumsi hampir semua jenis pangan menurun akibat krisis ekonomi yang berlangsung sejak 1997. Kekurangan seng (kandungan seng <7 mg/dl serum darah) dapat menyebabkan tingginya resiko komplikasi kehamilan dan bibir sumbing pada bayi yang dilahirkan. Aksesibilitas ini tercermin dari jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi oleh rumah tangga. sedangkan konsumsi ubi RANPG 2006-2010 21 . KONSUMSI PANGAN Tingkat dan Pola Konsumsi Pangan Persyaratan kecukupan untuk mencapai keberlanjutan konsumsi pangan adalah adanya aksesibilitas fisik dan ekonomi terhadap pangan. sementara prevalensi kurus antara 10-14 persen. Banten.5 persen dan 40 persen. Konsumsi beras menurun sekitar 6 persen. dan Sulawesi Selatan. Pada tahun 1999. Perkembangan tingkat konsumsi pangan tersebut secara implisit juga merefleksikan tingkat pendapatan atau daya beli masyarakat terhadap pangan. yang justru lebih besar daripada prevalensi kurus (11-14 persen). di Jawa Tengah prevalensi kurang seng pada wanita hamil cukup tinggi yaitu antara 70 sampai 90 persen. Nusa Tenggara Barat.9 persen. 1. vitamin C. Semarang. sedangkan konsumsi jagung dan ubi kayu sedikit meningkat. Dengan demikian data konsumsi pangan secara riil dapat menunjukkan kemampuan rumah tangga dalam mengakses pangan dan menggambarkan tingkat kecukupan pangan dalam rumah tangga. sekitar 71 persen wanita hamil menderita kurang seng. kalsium. Jawa Tengah. 24. Hasil survey NSS-HKI tahun 2001 di empat kota (Jakarta. Jawa Timur. Sebuah penelitian di Nusa Tenggara Timur (1996) menunjukkan. Jawa Tengah dan NTB (1997-1999). Sedangkan besarnya masalah kurang zat gizi mikro lainnya seperti asam folat. WUS tidak kawin. Survei nasional tahun 2001 menunjukkan prevalensi anemia pada WUS kawin. menunjukkan prevalensi kurang seng pada bayi sekitar 6 sampai 39 persen. Sumatera Barat. Makassar. Surabaya) menunjukkan bahwa prevalensi kegemukan pada wanita usia produktif daerah kumuh perkotaan berkisar antara 18-25 persen.

4 12.7 13. Pada masa pemulihan ekonomi.0 3.0 4.4 3.2 Ubijalar 3.5 Laju 2002-2005 (%/th) 5. Kacangkacangan 18. 2005 (diolah) Demikian pula pada konsumsi pangan sumber lemak.5 0. 2002. Peningkatan terbesar terjadi pada konsumsi ubi kayu yang mencapai 17.0 2.6 5.0 3.2 -31.1 6.7 -2.4 -27. walaupun untuk minyak goreng masih bernilai negatif. Tabel 5.9 9.5 114. 1999.0 0.1 Jagung 3.4 -8.8 8. vitamin dan mineral menurun pada masa krisis.1 1.7 Sumber : Susenas 1996. 2005 (diolah) Konsumsi pangan sumber protein baik daging.2 persen (Tabel 4). telur. Dengan daya beli yang menurun. Kondisi di atas menggambarkan bahwa pada masa krisis. meskipun konsumsi daging ruminansia belum mencapai tingkat konsumsi sebelum krisis (Tabel 5).9 8.7 10.8 4.3 1.9 Ubikayu 11.3 Sumber : Susenas 1996. susu maupun ikan menurun selama masa krisis. Konsumsi pangan protein tersebut kembali meningkat pada 20022005.1 3. Konsumsi Pangan Sumber Protein (Kg/kap/th) Daging Daging Tahun Telur Susu Ikan ruminansia unggas 1996 3. Sedangkan konsumsi protein hewani dikurangi. 2002. terutama konsumsi buah dan sayuran yang mencapai lebih dari 20 persen.8 2005 1.6 Laju 1996-1999 (%/th) -23.1 1.5 RANPG 2006-2010 22 . masyarakat mengurangi jenis pangan yang harganya mahal dan mensubstitusinya dengan jenis pangan yang relatif murah.6 5.jalar dan ubi kayu meningkat. terjadi penyesuaian strategi pemenuhan kebutuhan pangan di tingkat rumah tangga. Tabel 4.5 105.3 -15. peningkatan konsumsi pangan sumber lemak relatif stagnan.0 4.7 3.8 14. Konsumsi Pangan Sumber Karbohidrat (Kg/kap/th) Tahun 1996 1999 2002 2005 Laju 1996-1999 (%/th) Laju 2002-2005 (%/th) Beras 124.5 1999 1. Konsumsi beras sebagian digantikan dengan jagung dan umbi-umbian.8 4.0 6.1 2002 1.3 -14.1999.5 116.4 18.4 3.3 16.8 15. Sedangkan untuk pangan sumber vitamin/mineral telah meningkat di atas lima persen (Tabel 6).9 13.0 14.3 -47. Dengan demikian. pemenuhan pangan lebih mengutamakan konsep ’kenyang’ tanpa memperhatikan kandungan gizinya.1 16.5 17.9 3.2 -6.6 1.9 7.3 9.

mie instan (Tabel 7).0 Sumber Vit/Mineral Sayuran 67.8 16. Saat ini. Hal ini erat kaitannya dengan tingkat pendapatan per kapita penduduk Indonesia yang lebih rendah dibanding dengan negara-negara tersebut diatas. sayuran. yang mengarah kepada beras dan bahan pangan berbasis tepung terigu. Perkembangan menarik dalam konsumsi pangan sumber karbohidrat adalah kecenderungan menurunnya konsumsi beras dan tepung terigu yang merupakan pangan pokok. Pada saat ini konsumsi pangan hewani penduduk Indonesia baru mencapai 6.5 Sumber : Susenas 1996. sehingga arah perubahan pola konsumsi itu dapat menimbulkan ketergantungan pangan pada impor.5 27.1 2. mie basah. 2005 (diolah) Upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah berdampak positif terhadap peningkatan konsumsi pangan masyarakat. 2002. termasuk mie kering. 2.7 6. meskipun tingkat konsumsinya masih tetap tinggi dibanding sumber pangan karbohidrat lainnya. Tingkat konsumsi ini lebih rendah dibanding Malaysia dan Filipina yang masing-masing mencapai 48 kg/kap/tahun dan 18 kg/kapita/tahun.Tabel 6. Konsumsi pangan hewani. 1999.7 -24. terutama di pedesaan.2 4. konsumsi produk olahan terigu seperti mie instant dan aneka kue cenderung meningkat.2 31.2 kg/kapita/tahun.3 8.8 -39.2 -2. Konsumsi Pangan Sumber Lemak dan Vitamin/Mineral (Kg/kap/th) Tahun 1996 1999 2002 2005 Laju 1996-1999 (%/th) Laju 2002-2005 (%/th) Sumber Lemak Minyak Buah/biji goreng berminyak 7. RANPG 2006-2010 23 .0 8. konsumsi pangan hewani harus terus ditingkatkan untuk peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu bersaing di era globalisasi. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII (WNPG) tahun 2004 menganjurkan konsumsi energi dan protein penduduk Indonesia masing-masing adalah 2000 kkal/kapita/hari dan 52 gram/kapita/hari.6 18.7 3.5 50.4 3. Namun demikian.2 7.7 47.4 -4.5 40.1 0. Perkembangan menarik lainnya adalah kecenderungan berubahnya pola konsumsi pangan pokok kelompok masyarakat berpendapatan rendah. dan buah-buahan meningkat. Perubahan ini perlu diwaspadai karena gandum adalah komoditas impor dan belum diproduksi di Indonesia.9 Buah 24.8 -1. Konsumsi Energi dan Protein Tercukupinya kebutuhan pangan antara lain dapat diindikasikan dari pemenuhan kebutuhan energi dan protein.

T B. meskipun pada masyarakat perkotaan tingkat konsumsinya belum membaik kembali. 2003.UK B.999 80.J.J. T = terigu Secara agregat.T B.T B.J.999 150.000-79.T B.T B.J.T B. UK = Ubi Kayu.T B.999 200.J.T B.000-149.UK B.J.000 Kota < 60.T B.T B.T B.T B.T B.T B.000 60.T B.J B.T Sumber .T B.T.999 150.000-299.T B.T B.000 2002 B.000-199.T B. sudah lebih tinggi dari yang dianjurkan.T B.T B.T B.T B.T B.T B.T B.T 2005 B.T B.T.999 >500.UK B.UK B.999 300.J. 2004.T B.T B.UK B.849 kkal /kapita/hari pada tahun 1999 atau hanya mencapai 92.T B.UK.T B.T B.J.999 80.T B.000-499.UK B.999 300.000-99.999 150.000-99.T B.T 2003 B.T B.T B.T B.999 >500.000-149.T B.T B.Tabel 7.T B.T B.T B.T B.T B.999 >500.T B.T B.000-149.T.T B.T B.T B. Susenas 2002. Krisis ekonomi yang terjadi pada pertengahan tahun 1997 telah menurunkan tingkat konsumsi energi menjadi 1.T B.T B.T B. Hal ini mengakibatkan tingkat konsumsi energi rata-rata masyarakat secara nasional masih di bawah anjuran.000-299.UK.T B.999 100.T B.000-199.5 persen dari tingkat yang dianjurkan.T B.T B.T B.000 Desa < 60. RANPG 2006-2010 24 . 2005 (diolah) Keterangan: B = Beras.000 60.000-79.T B.T B.UK B.T B.000-299.999 80.T B.J.T B.T B.T B.T B. konsumsi energi masyarakat berangsur pulih.999 200. Tingkat konsumsi protein pada masa krisis mengalami perkembangan yang sama namun setelah masa krisis sudah membaik dan bahkan pada tahun 2005 sudah melebihi tingkat sebelum krisis (Tabel 8).T B.000 60.UK B.000-499.T B. Pola Konsumsi Pangan Pokok Menurut Wilayah dan Kelompok Pengeluaran Golongan pengeluaran (Rp/kap/bl) Kota+Desa < 60.T B.T 2004 B.T B.T B.T B. konsumsi energi pada tahun 1996 mencapai 2.000-499.000-199.019 kkal /kapita/hari.T B.999 300.T B.T B.T B.T B.T.T.999 200.T B.999 100. Namun demikian setelah krisis berakhir.T B.000-79.T.UJ B.000-99. J = Jagung.T B B.T B.UK B.999 100.

Laju peningkatan skor PPH yang lebih tinggi dibandingkan peningkatan konsumsi energi dan protein mengindikasikan bahwa telah terjadi perubahan dalam pola konsumsi pangan.3 pada tahun 1999 menjadi 72.6 pada tahun 2002 (Tabel 9). dan masih cenderung meningkat.5 1999 1.7 54.2 48.951 2. selain diperlukan informasi tentang kuantitas konsumsi pangan perlu pula diketahui tingkat kualitasnya. serta sayur dan RANPG 2006-2010 25 .9 53.000 Kkal/kapita/hari.4 55. 1. Upaya pemulihan ekonomi telah meningkatkan kualitas konsumsi pangan yang ditunjukkan dengan peningkatan skor PPH dari 66.2 54.7 2002 1.986 56. konsumsi kelompok pangan lain masih di bawah tingkat anjuran terutama umbi-umbian.986 55.1 yang berarti terjadi peningkatan sebesar 9. Nilai/skor mutu PPH ini dapat memberikan informasi mengenai pencapaian kuantitas dan kualitas konsumsi.996 55.23 Energi (Kal/kap/hari) Protein(Gram/kap/hari) 3.879 1. yang menggambarkan pencapaian ragam (diversifikasi) konsumsi pangan. pangan hewani.941 2. Uraian Kota Desa Kota+Desa 2 Kota Desa Kota+Desa * Data modul Sumber : Susenas berbagai tahun (diolah) Keterangan : Rekomendasi WNPG 2004 :AKE=2000 kkal/kap/hr dan AKP=52 g/kap/hr 1996 1.945 2.9 53. Kualitas konsumsi terus meningkat dan pada tahun 2005 mencapai 79.4 2003* 1.983 2.0 53.3 55.802 1. Semakin besar skor PPH maka kualitas konsumsi pangan dinilai semakin baik.3 48. Sementara itu.7 54. baik pada masa krisis maupun saat ini. Kualitas Konsumsi Pangan Untuk menganalisis perkembangan konsumsi pangan.Tabel 8. Sesuai kondisi ideal (PPH=100) konsumsi padipadian yang dianjurkan adalah sebesar 1. Perkembangan Konsumsi Energi dan Protein Menurut Wilayah No.7 2005 1.4 2004* 1.040 2.923 2.849 49.019 55. Kualitas atau mutu konsumsi pangan dilihat dengan menggunakan nilai/skor Pola Pangan Harapan (PPH).018 1. Kualitas konsumsi pangan yang dianggap sempurna diberikan pada angka kecukupan gizi dengan skor PPH mencapai 100.0 persen selama 4 tahun.011 1. Namun demikian.991 56.018 1.3 55. Kualitas konsumsi pangan (Tabel 9) merupakan perwujudan dari kuantitas dan keragaman konsumsi aktual (Tabel 10). konsumsi padi-padian aktual sudah lebih dari anjuran.060 1.7 54.

Dengan pola kuantitas dan keragaman konsumsi seperti ini. Perbandingan Konsumsi Pangan Anjuran dan Aktual Tahun 1999-2005 (kkal/kapita/hari) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kelompok Pangan Padi-padian Umbi-umbian Pangan hewani Minyak+Lemak Buah/biji berminyak Kacang2an Gula Sayur+buah Lain-lain TOTAL Skor PPH Sumber: Susenas(diolah) * Data modul Anjuran 1000 120 240 200 60 100 100 120 60 2000 100 Konsumsi Aktual 1999 1240 69 88 171 41 54 92 70 26 1851 66. Tabel 10.1 77. Tingkat konsumsi minyak dan lemak serta gula sudah mendekati tingkat anjuran.4 72.5 2004* 80.0 74. AKSES RUMAH TANGGA TERHADAP PANGAN Ketersediaan Pangan per Wilayah Beras merupakan bahan pangan pokok yang dikonsumsi oleh hampir seluruh masyarakat Indonesia.6 79.1 buah. Selama periode 2001-2005 ketersediaan padi yang berasal dari produksi dalam negeri mengalami peningkatan rata-rata sebesar RANPG 2006-2010 26 .5 Kota+Desa 66. tingkat PPH baru mencapai skor 79.6 2003* 1252 66 138 195 56 62 101 90 32 1992 77.5 2004* 1248 77 134 195 47 64 101 87 33 1986 76. Oleh karena itu produksi beras menjadi indikator yang sangat penting untuk diperhatikan pencapaiannya.9 2005 81.9 75.5 80.9 2005 1241 73 139 199 51 67 99 93 35 1997 79.3 72.6 Sumber : Susenas berbagai tahun (diolah) *Data Modul 2003* 81.0 77.3 2002 1253 70 117 205 52 62 96 78 53 1986 72. Perkembangan Kualitas Konsumsi Pangan Berdasarkan PPH Wilayah 1999 2002 Kota 68.0 76.1 Desa 64.1 C. 1.Tabel 9.

Untuk daging unggas proporsi terbesar diperoleh dari ayam pedaging (broiler) yang mencapai 70 persen.666 12.5 89.9 Ubi Jalar 8.5 87.4 136. Kalimantan 6 persen.7 57.136 12.438 5. Sulawesi sebesar 10 persen. Produksi jagung mengalami peningkatan tertinggi dibandingkan dengan komoditas pangan lainnya.807 2.764 Sumatera 11. dan ubi jalar pada 2005 masing-masing mencapai 57 kg.725 2. Pemenuhan kebutuhan konsumsi daging nasional sebesar 65 persen berasal dari daging unggas dan sebesar 19 persen daging sapi.167 29.4 8. Ketersediaan Beras dan Palawija Per Kapita (kg) Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Beras 135.8 51.616 Kalimantan 3.602 5.542 12. ubi kayu.074 3.4 kg (Tabel 12). 88 kg.137 54.287 11. sedangkan 24 persen dari daging ayam buras.8 persen per tahun. produksi jagung meningkat dengan ratarata pertumbuhan 7.8 45. Pulau Sumatera memiliki proporsi produksi padi sebesar 23 persen. dan 8.7 persen per tahun.4 9. dan ubi jalar 1. Dengan memperhitungkan jumlah penduduk.46 juta ton gabah kering giling (GKG) pada tahun 2001 menjadi 54.3 persen.489 52.171 5. Ditinjau dari penyebaran wilayahnya. yaitu meningkat dari 50.657 3. Persebaran Produksi Padi Menurut Wilayah Pulau (Ribu Ton GKG) 2001 2002 2003 2004 2005 Pulau/Tahun Jawa 28.4 Bahan pangan sumber protein yang terutama adalah daging dan telur.169 3. serta Bali dan Kepulauan Nusa Tenggara 5 persen.0 Ubi Kayu 81. produksi padi masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan proporsi sebesar 55 persen. (Tabel 11).15 juta ton pada 2005.983 5.3 139.8 8.636 29. (Tabel 13).461 51. RANPG 2006-2010 27 .3 8.647 2.151 Sumber: BPS Sementara itu produksi jagung dan komoditas pangan lainnya juga meningkat. Dengan perkembangan produksi tersebut.301 Maluku & Papua 109 85 149 151 181 Indonesia 50.696 2.1.5 137. maka tingkat produksi padi tersebut setara dengan ketersediaan beras per kapita sebesar 137 kg/tahun.358 3.4 136. Tabel 11 .312 28.675 Bali & Nusa Tenggara 2.614 Sulawesi 4.7 80.088 54.7 50. maka ketersediaan per kapita komoditas jagung.7 persen.608 28. Dalam kurun waktu tersebut.0 86. ubi kayu 3. Tabel 12.9 Jagung 44.

10 Sumber : Ditjen Peternakan.09 1.40 1. Tingkat produksi telur ini telah mencukupi kebutuhan konsumsi dalam negeri.3 71.6 44.1 287.1 850.9 2. 2006 Produksi telur yang pada tahun 2001 sebesar 850 ribu ton meningkat menjadi 1.9 28 .70 38.09 275.06 194.69 43.4 2005 607.6 417.71 164.25 1.149 ton pada 2005 (Tabel 14). Ketersediaan susu dari produksi dalam negeri masih terbatas.53 2004 447.70 44.2 25.4 510.7 280.21 2.12 1.7 48.8 1.3 2002 476.71 40. Pemenuhan konsumsi susu saat ini masih mengandalkan dari pasokan susu impor.9 2003 484.60 47. Pangan hewani yang juga penting peranannya adalah susu. Jawa Tengah.2 63.49 1.70 1. dan perkembangan produksinya pun cenderung menurun.10 22.57 40.78 1.5 78.10 50. dan propinsi penghasil utama telur adalah Jawa Timur.95 23.817.769.60 301.30 173. Jawa Barat dan Sumatera Utara.38 846.6 26.3 44.020.17 68.13 66.42 48.20 779.148.6 2004 596.0 4.2 489.6 1.6 973.24 57.7 44. Perkembangan Produksi Telur (ribu ton) Wilayah Jawa Bali dan Nusa Tenggara Sumatera Kalimantan Sulawesi Maluku dan Papua Luar Jawa Indonesia Sumber : Deptan RANPG 2006-2010 2001 433.85 2003 369.560.2 324. Tabel 14.2 68.64 177.78 751.64 63.Tabel 13.29 42.0 2.86 80.10 21.30 58.15 771.9 432.57 296.06 288. Sebagaimana padi.56 2002 330.78 160.2 5.1 309.68 1.15 1.30 536.871. Perkembangan Produksi Daging (ribu ton) No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Jenis Sapi Kerbau Kambing Domba Babi Kuda Ayam Buras Ayam Ras Petelur Ayam Ras Pedaging Itik Jumlah 2001 338.4 5.34 42.8 68.12 21.60 298.3 68.8 341.0 71.0 37.14 88.107.6 541.64 48. Pada tahun 2003 produksi susu mencapai 553 ribu ton.36 2005 358.93 21. dan 536 ribu ton pada 2005. menurun menjadi 550 ribu ton pada 2004.5 67.52 48. produksi telur juga terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Sumatera.3 908.40 45.

Masalah produksi yang hanya terjadi di wilayah tertentu dan pada waktu-waktu tertentu mengakibatkan konsentrasi ketersediaan di sentra-sentra produksi dan pada masa-masa panen. mekanisme pasar dan distribusi pangan antar lokasi serta antar waktu dengan mengandalkan ’stok’ akan berpengaruh pada keseimbangan antara ketersediaan dan konsumsi serta pada harga yang terjadi di pasar. Tingginya proporsi rumah tangga rawan pangan dan anak balita kurang gizi menunjukkan bahwa ketahanan pangan pada tingkat nasional atau wilayah tidak selalu berarti bahwa tingkat ketahanan pangan di rumah tangga dan individu juga terpenuhi. kecuali di provinsi Sumbar. Proporsi penduduk rawan pangan di semua provinsi masih diatas 10 persen. maka rumah tangga tidak akan dapat mengakses pangan yang tersedia. RANPG 2006-2010 29 . Dengan demikian. jumlah penduduk rawan pangan terendah ada di propinsi Bali yaitu sebesar 4. jumlah anak balita dengan status gizi buruk dan gizi kurang di daerah-daerah tersebut juga masih tinggi. dan tingkat pengetahuan tentang pangan dan gizi sangat berpengaruh kepada konsumsi dan kecukupan pangan dan gizi rumah tangga. Bahkan di semua provinsi yang merupakan sentra produksi pangan seperti provinsi Jawa Timur. Pola konsumsi yang relatif sama antar-individu. Demikian pula. Sedangkan penduduk sangat rawan pangan hanya mengkonsumsi energi kurang dari 70 persen dari kecukupan energi. Sumatera Selatan.2. Jawa Barat dan Sulawesi Selatan proporsi penduduk rawan pangannya cukup tinggi. Kondisi seperti ini dapat menyebabkan kerawanan pangan. Dengan demikian. Bali dan NTB. Faktor keseimbangan yang tereflekasi pada harga sangat berkaitan dengan daya beli rumah tangga terhadap pangan. meskipun komoditas pangan tersedia di pasar namun apabila harga terlalu tinggi dan tidak terjangkau daya beli rumah tangga. Banyaknya penduduk rawan pangan masih terjadi di semua propinsi dengan besaran yang berbeda. daya beli rumah tangga yang berkaitan dengan kemiskinan dan pendapatan rumah tangga.8 persen. dan tertinggi di DIY yaitu mencapai 20. Jawa Tengah.0 persen (Tabel 15). Berdasarkan data SUSENAS yang tertuang dalam Nutrition Map of Indonesia tahun 2006. Penduduk rawan pangan didefinisikan sebagai mereka yang rata-rata tingkat konsumsi energinya antara 71–89 persen dari norma kecukupan energi. Kerawanan Pangan Ketersediaan pangan secara makro tidak sepenuhnya menjamin ketersediaan pada tingkat mikro. Masalah-masalah distribusi dan mekanisme pasar yang berpengaruh terhadap harga. antarwaktu. dan antar-daerah mengakibatkan adanya masa-masa defisit dan lokasi-lokasi defisit pangan.

182 221 919 122 1.1 13.9 16.224 5. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep.3 10. Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI.1 *) Tidak dilakukan survey total Sumber : Gizi dalam Angka (2005) dan Nutrition Map of Indonesia.2 11.2 4.404 6.8 7.8 13.6 11.Yogyakarta Jawa Timur Banten Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Jumlah Penduduk Rawan Pangan (Ribu Orang) (%) 295 1.1 11.6 16.8 20. Peningkatan Akses Terhadap Pangan Setiap rumah tangga memiliki kemampuan yang berbeda dalam mencukupi kebutuhan pangan secara kuantitas maupun kualitas untuk memenuhi kecukupan gizi.9 19.8 15.9 17.5 15.9 13.5 18.684 690 144 295 565 614 119 299 342 225 210 1.Tabel 15. Jumlah Penduduk Rawan Pangan Menurut Propinsi No.7 14.4 10. 2006 3.089 621 6.2 12.0 7.2 13.8 18.1 17.5 6.162 305 621 290 1.0 19.185 227 98 161 113 335 17.8 11. pemerintah menerapkan berbagai kebijakan untuk menjamin agar RANPG 2006-2010 30 .3 16.1 12. Berkaitan dengan itu.

Perdagangan antar daerah dan antara pulau dapat mempertahankan stabilitas harga. Di tingkat konsumen selama 2000-2004. Upaya atau kebijakan umum yang diterapkan adalah stabilisasi harga pangan pokok agar mekanisme pasar dan distribusi yang ada dapat menyediakan pangan pokok dengan harga yang terjangkau. Hasil penerapan insentif harga untuk petani tercermin pada perkembangan harga Gabah Kering Panen (GKP) yang menunjukkan bahwa kebijakan HPP memberikan manfaat yang cukup kepada petani. gabah hasil pembelian dari petani digunakan untuk operasional program Raskin dan sebagai cadangan beras pemerintah untuk menstabilkan harga pada tingkat konsumen. Pada satu sisi. Perkembangan harga transaksi yang terjadi pada umumnya lebih tinggi daripada HPP. Salah satu instrumen kebijakan untuk stabilisasi harga adalah cadangan pangan yang dimiliki pemerintah. Kebijakan pengendalian harga memiliki dua sisi yang diatur dalam Inpres No. pemerintah menerapkan kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk memberikan harga produsen yang mencukupi kepada petani agar petani tidak menerima harga lebih rendah dibanding biaya produksi. Kebijakan lainnya adalah subsidi/bantuan pangan berupa beras untuk rumah tangga yang berpendapatan di bawah garis kemiskinan. Pada saat di daerah-daerah tertentu terjadi lonjakan harga yang besar. pemerintah menggunakan cadangan beras yang dimiliki untuk menstabilkan harga melalui kegiatan operasi pasar. Mengingat beras adalah bahan pangan pokok yang paling banyak dikonsumsi.rumah tangga dan individu memiliki akses terhadap pangan yang tersedia. harga eceran rata-rata bulanan untuk beras medium juga tidak mengalami gejolak yang berarti. RANPG 2006-2010 31 . Stabilitas Harga Pangan Stabilitas harga beras diukur berdasarkan perkembangan harga rata-rata dan koefisien variasinya dan dimonitor terus menerus. kecuali di daerah yang sulit dijangkau (terisolasi) atau yang komoditas produknya tidak memenuhi syarat pembelian. maka prioritas utama pemerintah adalah untuk menjamin masyarakat agar dapat mengakses beras dalam jumlah yang mencukupi. Pada sisi lainnya. 13 Tahun 2005. perkembangan harga beras di Jawa dan Bali cenderung stabil yang ditandai dengan koefisien variasi harga yang rendah. i. Selama kurun tahun 2000 – 2004.

Beras Untuk Keluarga Miskin (Raskin) Selain melalui mekanisme pasar dan bantuan pangan saat bencana. beras yang didistribusikan dalam program Raskin memang cukup besar. Secara volume. Beras untuk rumah tangga miskin (Raskin). yaitu: (1) program Raskin telah mempersempit celah kemiskinan sekitar 20 persen.3 kg/KK/bulan. meningkat menjadi 1. Kendala tersebut diselesaikan di tingkat masyarakat melalui musyawarah desa. Ini berarti terdapat 16 persen distribusi Raskin yang tidak tepat sasaran. program Raskin dinilai telah memberikan kontribusi dalam mengurangi tingkat kemiskinan dengan beberapa alasan. pada awalnya disebut Operasi Pasar Khusus (OPK). Melalui program ini pemerintah mendistribusikan beras dengan harga bersubsidi sehinga masyarakat miskin yang daya belinya sangat terbatas bisa mendapatkan bahan pangan pokok yaitu beras. Besarnya volume beras yang didistribusikan dalam program Raskin terus meningkat dari tahun ke tahun.48 juta ton pada tahun 2001. (3) memberikan stimulasi tidak langsung terhadap permintaan agregat karena adanya efek pengganda dari transfer pendapatan yang meningkatkan daya beli penerima Raskin (Tabor dan Sawit.0 juta ton. (2) tingkat konsumsi kalori keluarga miskin penerima Raskin lebih tinggi antara 17-50 kkal per hari dibandingkan mereka yang tidak memperoleh Raskin. Beberapa penyebabnya adalah rasa solidaritas sehingga harus dibagi merata ke seluruh penduduk. RANPG 2006-2010 32 . Kendala pelaksanaan lainnya adalah adanya kesalahan sasaran. pemerintah juga memiliki subsidi pangan dalam bentuk beras untuk rumah tangga miskin.24 juta ton pada tahun 2002. Terlepas dari adanya kelemahan dalam penentuan penerima manfaat. Pada tahun 2000 jumlahnya mencapai sebesar 1. Pada tahun-tahun berikutnya volume distribusi beras Raskin relatif stabil pada kisaran 2.35 juta ton. Survei evaluasi yang dilaksanakan oleh 35 perguruan tinggi pada tahun 2003 menemukan bahwa rata-rata penerimaan beras Raskin adalah 13. 2005). Program ini diterapkan sebagai salah satu upaya untuk menanggulangi kekuarangan pangan pada rumah tangga miskin yang pada masa krisis ekonomi paling menderita. namun ada pula yang disebabkan penyimpangan oleh para pelaksana. Namun demikian sebagai akibatnya beras dibagi kepada tiap keluarga miskin dalam jumlah kurang dari 20 kg. Besaran volume beras Raskin yang tidak mencukupi kebutuhan sesuai norma sebesar 20 kg/KK/bulan menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan di tingkat lapangan. namun belum dapat memenuhi seluruh kebutuhan sesuai norma sebanyak 20 kg per bulan dan seluruh rumah tangga miskin. diluncurkan sejak bulan Juli 1998. Sampai saat ini persentase keluarga miskin yang dapat dijangkau sekitar 65 persen (Tabel 16).ii. dan 2. Jumlah penerima yang memang keluarga miskin “dianggap berhak” diperkirakan sebesar 84 persen.

300. RANPG 2006-2010 33 .782. Untuk itu cadangan pangan yang siap digunakan oleh daerah dan cocok dengan pola konsumsi daerah sangat penting untuk dikembangkan. Dalam kondisi darurat pada saat bencana.Tabel 16. air bersih.135.674.482.137 12.6 2.56 70.45 73.000 8. Sampai saat ini cadangan pangan untuk keperluan tanggap darurat hanya berupa beras.835.746.98 54.350.98 Sumber: Perum BULOG iii.793 8.135.029.349.057.49 2003 15.934. masyarakat yang terkena dampak bencana akan dapat terpenuhi kebutuhan konsumsi pangan pokoknya.023. Gubernur dan Bupati/Walikota mempunyai kewenangan untuk meminta CBP secara langsung dengan batas maksimum masing-masing sebesar 200 ton dan 100 ton dalam setahun.14 2004 15.5 2. Volume Beras dan Jumlah Keluarga Sasaran Program Raskin Realisasi KK Miskin Rencana Distribusi Penyaluran Persen thd KK miskin Tahun Beras (Ribu Beras (Ribu (Ribu KK) Rencana Realisasi (ton) KK) (ton) KK) 2000 14.94 2002 15.9 59. terutama pangan yang disukai masyarakat setempat.574.4 1.274 9.9 2.030 8.9 1. serta peralatan masak.000 9. Dengan adanya CBP dan kewenangan yang dimiliki oleh kepala daerah tersebut.98 2005 15.6 1. Mandat Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan untuk pengembangan cadangan pangan daerah (pemda dan masyarakat) sampai saat ini belum dikembangkan sehingga menyebabkan langkah-langkah untuk mengatasi masalah pangan sebagian besar masih bertumpu pada pemerintah pusat.6 2.248 10.590.832.207. bantuan pangan dalam bentuk beras seringkali tidak dapat mengatasi kekurangan pangan secara cepat.8 2.333.0 1. Dengan demikian.235.707 11.501.992.991.30 72.0 54.061. Cadangan Beras Pemerintah (CBP) juga digunakan untuk mengatasi kekurangan pangan yang terjadi sebagai akibat bencana alam.8 2.438 8.2 64. Cadangan Pangan Selain digunakan untuk operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga.820.97 2001 15.66 81.790.316. Di tingkat yang lebih tinggi CBP juga digunakan untuk memenuhi komitmen Pemerintah Indonesia dalam menyediakan cadangan beras dalam kerangka kerjasama ASEAN Emergency Rice Reserve.9 52.546.4 1. Untuk memenuhi kekurangan pangan akibat bencana.45 75.9 65. Perlu dipikirkan penyediaan cadangan pangan siap konsumsi untuk keperluan darurat.864 11.353. masyarakat mengalami kesulitan pula untuk mendapatkan bahan bakar.059.9 54.0 1.131 11.600 9.

Cara Produksi Pangan Segar yang Baik.7 tahun 1996 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah No. angka tersebut merupakan potensi sekaligus tantangan dalam menghasilkan pangan yang aman. 28 Tahun 2004 tentang Keamanan. dan Cara Produksi Pangan Siap Saji yang Baik. kimia dan bahan-bahan lain yang mempengaruhi keamanan pangan. beberapa tanggung jawab yang terkait dengan kegiatan keamanan pangan adalah penyiapan ketentuan tentang standar dan batasan keamanan pangan misal jenis dan cara penggunaan pestisida yang aman.5 milyar kejadian penyakit diare. merugikan. termasuk didalamnya pelabelan kemasan. dan Gizi Pangan. cara-cara pengujian dan batas maksimum cemaran mikroba. Mutu.D. Dalam aspek legislasi. Berdasarkan data WHO (2000) diketahui penyakit karena pangan (foodborne disease) merupakan penyebab 70 persen dari sekitar 1. Hal ini sejalan dengan pembangunan keamanan pangan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang No. dan setiap tahunnya menyebabkan 3 juta kematian anak berusia dibawah 5 tahun. KEAMANAN PANGAN Isu tentang keamanan pangan merupakan masalah penting karena diperkirakan lebih dari 90 persen masalah kesehatan manusia terkait dengan makanan. Dalam peraturan tersebut keamanan pangan didefinisikan sebagai kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis. Cara Distribusi Pangan yang Baik. sangat penting. RANPG 2006-2010 34 . peran produsen dalam mengaplikasikan berbagai teknologi dan prinsip-prinsip pengolahan pangan. Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik. dan membahayakan kesehatan manusia. kimia dan benda lain yang dapat mengganggu. Selain itu penguatan produksi pangan juga didukung dengan penerapan berbagai praktek dan pengolahan pangan seperti: Cara Budidaya yang Baik. jenis dan batas maksimum penggunaan BTP (Bahan Tambahan Pangan). Upaya lain adalah melalui penguatan kelembagaan. teknologi dan cara pengolahan. penyimpanan dan penanganan pangan. membangun jejaring keamanan pangan baik dalam negeri maupun luar negeri serta penguatan peran sumber daya manusia (pengawas pangan. produsen dan konsumen). Untuk menekan terjadinya penyakit karena pangan dilakukan pengawasan terhadap keamanan pangan antara lain dengan pengawasan produk pangan terdaftar dan pemeriksaan produk pangan beredar. Untuk menjamin kualitas pangan. Cara Ritel Pangan yang Baik. Dengan jumlah pengolah pangan besar dan menengah sejumlah kurang lebih 5900 dan 1 (satu) juta industri kecil dan industri rumah tangga ditambah dengan importir dan distributor.

Pemeriksaan sarana produksi pangan dilakukan secara rutin oleh tenaga pengawas pangan dalam rangka mengevaluasi penerapan higienitas dan sanitasi sarana produksi atau Cara Produksi Makanan yang Baik (CPMB) serta penerapan Cara Produksi Pangan Siap Saji yang Baik. Pengawasan Pangan sebelum Beredar Untuk menghasilkan produk pangan yang bermutu baik dari aspek kesehatan. Indikator ini secara tidak langsung juga dapat menggambarkan pengetahuan dan kesadaran produsen akan keamanan pangan. Seluruh sarana dan prasarana yang berada pada area tersebut serta perlakuan yang diterima oleh produk pangan berpeluang besar mempengaruhi keamanan pangan.1 236 58.2 40 14. pabrik.7 75 22.4 24. Hasil pemeriksaan sarana produksi untuk industri pangan menengah ke atas (telah mendapat nomor MD) selama kurun waktu 2000-2005 dapat dilihat pada Tabel 17.Lahan pertanian.4 89 15. Tabel 17.3 16.6 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Baik Jumlah 54 56 55 105 327 91 % 19.0 RANPG 2006-2010 35 . Hasil penilaian sarana produksi pangan dikelompokkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu baik (B). Oleh karena itu kondisi pabrik. industri rumah tangga yang telah memiliki nomor pendaftaran SP/P-IRT (Sertifikat Penyuluhan/Produk-Industri Rumah Tangga) maupun industri rumah tangga yang tidak terdaftar. 1.6 390 68.2 26. cukup (C). Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Menengah ke Atas Jumlah Sampel 278 229 339 741 602 570 Hasil Pemeriksaan Cukup Kurang Jumlah % Jumlah % 184 66.4 143 62.4 30 13. mutu dan gizinya. tempat distribusi dan penjualan produk pangan merupakan bagian dari sistem rantai pangan yang dilalui produk pangan.7 61 15.0 46 7.5 16.1 209 61. industri pangan seharusnya menerapkan prinsip-prinsip cara produksi pangan yang baik. Pemeriksaan dilakukan baik untuk industri yang telah memiliki nomor pendaftaran MD (Makanan. dan kurang (D).1 54. tempat distribusi dan penjualan produk pangan secara tidak langsung merupakan salah satu indikator keamanan pangan.2 229 38.

3 persen). Hasil pemeriksaan sarana produksi untuk industri rumah tangga selama kurun waktu 2000-2005 dapat dilihat pada Tabel 18 di bawah ini.3 2104 66 3.4 persen) ke tahun 2004 (54. fasilitas pabrik dan kebersihan yang tidak memadai. dan 45 persen. kurangnya kesadaran dalam pengolahan lingkungan seperti pembuangan sampah. 2002. Sekitar separuh dari industri rumah tangga masih dinilai kurang dalam penerapan CPMB.7 Tahun 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Dari tabel diatas terlihat bahwa sebagian besar industri rumah tangga masih dinilai kurang dalam penerapan CPMB. 56 persen. 2003. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian besar sarana distribusi sudah menerapkan CPMB dan persentase sarana distribusi yang memenuhi syarat (MS) terus meningkat dari tahun ke tahun.6 1693 42. namun pada tahun 2005 terjadi penurunan lagi. Tabel 18. Faktor penyebab utama industri produk pangan dinilai kurang dalam penerapan CPMB adalah masih rendahnya penerapan higienitas perorangan.2 668 40.2 512 33.6 739 45. yaitu berturut-turut dari tahun 2000. TMS label.9 1536 157 10. 53 persen.4 3951 337 8. menjadi 16 persen.5 929 56. 2004 dan 2005 adalah 80 persen. 80 persen. Sarana distribusi pangan yang tidak memenuhi syarat (TMS) meliputi sarana yang menjual produk kedaluwarsa. serta peralatan dan suplai air bersih kurang memadai. 74 persen. dan 71 persen. yaitu berturut-turut dari tahun 2000.3 867 56.1 903 42. 56 persen.5 1921 48.9 1135 53. 2004 dan 2005 adalah 45 persen.8 2555 101 4. fasilitas produksi belum terbebas dari binatang serangga. dalam satu sarana distribusi bisa melakukan beberapa jenis pelanggaran. rusak.4 1167 45. Terjadi peningkatan yang cukup signifikan untuk persentase sarana produksi yang berpredikat baik dari tahun 2000 (19.Dari Tabel 17 tersebut terlihat bahwa sebagian besar industri menegah ke atas berpredikat cukup dalam penerapan CPMB. 2001. TMS tanda khusus. RANPG 2006-2010 36 . 2001.3 1649 52 3. dan produk pangan yang bercampur dengan produk non pangan. 72 persen.1 810 49. 88 persen. 2003.0 1287 50. tidak terdaftar. Pada hasil pemeriksanaan sarana distribusi tersebut. 2002. Hasil Pemeriksaan Sarana Produksi Industri Pangan Rumah Tangga Hasil Pemeriksaan Jumlah Baik Cukup Kurang Sampel Jumlah % Jumlah % Jumlah % 1632 83 5. dan sarana yang menjual produk yang TMS seperti penempatan produk pangan yang mengandung babi tidak terpisah dengan produk lain. 42 persen.

Hasil pengujian produk pangan beredar 2001 Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Sumber: BPOM.176 2005 23.258 2004 29.564 3.Dalam rangka pengawasan sebelum beredar. 2002.289 1.399 2002 16. mutu dan gizi produk pangan dan bila sesuai dengan persyaratan yang ditentukan maka dikeluarkan nomor pendaftaran. 92 persen.542 1. dilakukan penilaian terhadap keamanan.396 2003 19. 94 persen. untuk memastikan kesesuaiannya dengan data dan informasi yang disetujui pada proses pendaftaran. 2004. Pengeluaran Nomor Pendaftaran Produk Pangan Skala Besar Dan Menengah Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 Sumber: BPOM. 2006 Jumlah Makanan Dalam Negeri 2539 2227 1768 2793 5377 Makanan Luar Negeri 765 1397 1735 1258 1843 2. dan 2005 berturut-turut adalah 73 persen. Tabel 19. Pengawasan Produk Pangan Beredar Pemeriksaan (sampling dan pengujian) terhadap pangan yang beredar dilakukan secara berkala pada pangan yang terdaftar dengan nomor MD/ML dan SP/P-IRT. 90 persen dan 86 persen.817 1. Data produk pangan yang terdaftar selama tahun 2001–2005 berdasarkan pengelompokan jenis pangan dapat dilihat pada Tabel 19 di bawah ini. Hasil pengujian selama tahun 2001–2005 dapat dilihat pada Tabel 20 dibawah ini. Tabel 20.934 RANPG 2006-2010 37 .372 3. Dari data tersebut terlihat bahwa terdapat kecenderungan kenaikan jumlah produk pangan olahan dengan industri menengah–besar yang terdaftar dan diedarkan di Indonesia. 2003. 2006 Dari hasil pemeriksaan tersebut diketahui bahwa sebagian besar produk pangan yang beredar telah memenuhi syarat dengan persentase selama tahun 2001. 3.

menggunakan bahan tambahan pangan melebihi batas maksimum yang diizinkan serta mengandung cemaran melebihi batas maksimum yang diizinkan. Jumlah sampel yang memenuhi syarat B.30 9.97 2003 Jumlah Sampel % 20547 19289 93.10 190 13.12 43.37 372 11.65 16.88 1258 6.59 14.12 326 25. Dalam satu produk pangan mungkin ditemukan lebih dari satu kriteria TMS. Tabel 22. Pada Tabel 21 terlihat persentase hasil pengawasan selama tahun 2001 – 2005.91 40.80 11.05 39.71 213 6.45 5.2005.Pengawet TMS .88 59.61 79 5. Persentase hasil pengawasan makanan jajanan anak sekolah HASIL PEMERIKSAAN 2002 2003 % 2004 % 2005 % Jumlah Sampel Sampel Memenuhi Syarat 913 Sampel Tidak Memenuhi Syarat 714 Sumber: BPOM.81 127 9.62 475 37.Cemaran mikroba TMS .Pemanis buatan TMS .80 % Jumlah sampel A.17 7.82 15.19 60. Produk Pangan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) Terdapat beberapa parameter yang menentukan suatu produk pangan dikategorikan sebagai produk yang tidak memenuhi syarat.18 26.41 21.71 538 16.52 106 8.94 967 30.55 338 10.70 2005 Jumlah Sampel % 27306 23372 3934 844 216 282 307 445 225 1605 85.95 RANPG 2006-2010 38 . antara lain menggunakan bahan tambahan pangan yang dilarang.Boraks .64 Sumber: BPOM. Jumlah sampel TMS : . Tabel 22 menunjukkan data hasil pemeriksaan produk pangan jajanan anak sekolah tahun 2002 . pelanggaran yang paling banyak ditemukan adalah produk pangan yang menggunakan pemanis buatan yang tidak sesuai dengan ketentuan. Selama tahun 2002 – 2005.18 137 9. Selama periode 2002–2005.78 645 46.91 52 4. label. 2006 Jumlah Sampel 393 263 Jumlah Sampel 390 521 Jumlah Sampel 517 344 % 56.20 170 12. 2006 Ket: Jumlah sampel merupakan hasil penjumlahan A dan B.22 33 2.45 748 23.Lain-lain 73.72 40.65 811 57. Tabel 21.31 5. kadar dan penggunaan bahan tambahan pangan yang tidak termasuk diizinkan maupun yang dilarang.76 2004 Jumlah Sampel % 32740 29564 3176 90.13 82 6.81 57.Formalin . Kriteria lain-lain meliputi bobot tuntas.i.Pewarna bukan untuk makanan . telah dilakukan pengawasan terhadap produk pangan jajanan anak sekolah.43 204 16.09 42.49 7.22 1396 7. Persentase Pelanggaran Produk Pangan HASIL PEMERIKSAAN 2001 Jumlah Sample 5216 3817 1399 219 229 2002 Jumlah Sampel % 17938 16542 92.

penyalahgunaan pemanis buatan dan pangan tercemar mikroba melebihi batas maksimum. rhodamin-B. 2006 **) Meliputi Formalin. Boraks. boraks. penggunaan bahan berbahaya formalin. ditemukan pelanggaran penggunaan bahan berbahaya dalam produk pangan. Amaranth) 133 63 147 90 Formalin 139 9 1 7 Boraks 74 20 38 34 Cemaran mikroba Tidak 9 198 198 ada data Sumber: BPOM. dan Methanyl Yellow Total Sampel 19078 20547 32740 26990 Temuan Bahan Berbahaya **) Jumlah % 454 2 392 2 1718 5 935 3 Comment [AH1]: Apa catatan utk bintang ini? RANPG 2006-2010 39 . Dalam satu sampel produk pangan mungkin ditemukan lebih dari satu kriteria TMS. Bahan berbahaya yang ditemukan terdapat dalam produk pangan meliputi bahan yang dilarang digunakan dalam produksi pangan seperti Formalin. Boraks. Rhodamin B. Temuan Bahan Berbahaya dalam Produk Pangan Tahun 2002 2003 2004 2005*) Sumber: BPOM. Methanyl yellow.Dari hasil pemeriksaan terlihat bahwa kriteria tidak memenuhi syarat ditemukan karena pelanggaran penggunaan pengawet yang melebihi batas maksimum. Produk Pangan Mengandung Bahan Berbahaya Dari hasil pemeriksaan selama kurun waktu tahun 2002 sampai dengan 2005. Tabel 24. Rhodamin B dan Methanyl Yellow (Tabel 24). Pemakaian bahan berbahaya ini dapat dikarenakan keterbatasan pengetahuan produsen perihal ketentuan larangan penggunaannya dalam produksi pangan ataupun kurangnya kepedulian terhadap masalah keamanan produk pangan yang dapat berakibat buruk terhadap kesehatan. Pelanggaran pada Berbagai Kriteria Tidak Memenuhi Syarat Kriteria Tidak Memenuhi Syarat Jumlah Pelanggaran (TMS) pada Tahun 2002 2003 2004 2005 Pemanis buatan melebihi batas 282 154 402 122 persyaratan Pengawet melebihi batas 86 8 19 10 Pewarna yang dilarang (Rhodamin-B. 2006 ii. Tabel 23 berikut menunjukkan data hasil pemeriksaan produk pangan jajanan anak sekolah yang tidak memenuhi syarat dari tahun 2002-2005: Tabel 23.

Temuan Formalin dalam Produk Pangan Total Temuan Produk Pangan yang Tahun Sampel Mengandung Formalin Jumlah % 2002 248 139 56 2003 2004 180 786 73 274 41 35 15 2005*) 1160 177 Sumber: BPOM. Tahu. Pemantauan dilakukan ter hadap produk mie basah. faktor mutu. Berbagai faktor yang menentukan diterima atau tidaknya pangan tersebut antara lain faktor keama nan (cemaran kimia. tahu dan ikan di beberapa propinsi di Indonesia. Tabel 25. Tabel 26 berikut menunjukkan hasil pemantauan produk mie basah. produsen dan lain-lain. dan Ikan di Enam Propinsi Pengambil Sampel BBPOM Makasar BPOM Jambi BBPOM Manado BBPOM Yogyakarta BBPOM Jakarta BBPOM Semarang Jumlah Sumber: BPOM.Tabel 25 menunjukkan temuan formalin dalam produk pangan periode tahun 2002 sampai dengan 2005. dan persentase produk pangan yang mengandung formalin sejak tahun 2002 sampai tahun 2005 mengalami penurunan. Jumlah Sampel 40 50 55 41 116 107 409 Memenuhi Syarat Sampel 38 48 36 41 91 99 353 % 95 96 65 100 78 93 Mengandung Formalin Sampel 2 2 19 0 25 8 56 % 5 4 35 0 61 7 14 RANPG 2006-2010 40 . Tabel 26. Hasil Pemantauan Produk Mi Basah. tahu dan ikan di 6 (enam) propinsi terhadap pemakaian formalin. 2006 Kondisi keamanan produk pangan juga dapat dilihat dari besarnya kasus penolakan pangan yang diekspor ke negara lain. Dari tabel tersebut terlihat bahwa sejak tahun 2002 formalin sudah ditemukan dalam produk pangan. cemaran mikroba. 2006 *) Data sampai Bulan November 2005 Lebih jauh lagi pemeriksaan terhadap jenis pangan tertentu yang mengandung formalin dilakukan per 6 Januari 2006. cemaran fisik). faktor pelabelan.

RANPG 2006-2010 41 . penggunaan pewarna yang tidak aman. yang mungkin bersumber pada bahan baku pangan yang digunakan tidak memenuhi syarat atau belum diterapkannya prinsip-prinsip penanganan. cemaran histamin. pengemasan atau distribusi yang baik. dan kloramfenikol. cemaran obat pakan.Januari 2006) (N = 235) 23 212 Keamanan Pangan Pelabelan. Amerika Serikat. 2006 Gambar 6 . dan produsen yang tidak terdaftar. cemaran Salmonella. Jumlah Kasus Penolakan Impor Pangan Indonesia Oleh FDA Besarnya kasus penolakan dengan alasan keamanan pangan menunjukkan masih rendahnya tingkat keamanan produk pangan. Produsen. Jumlah kasus penolakan impor pangan Indonesia oleh FDA berdasarkan alasan penolakan (Pebruari 2005 . mengandung racun. dll Sumber : Food Drug Administration.Gambar 6 menggambarkan alasan penolakan produk pangan dari Indonesia oleh Food and Drug Administration (FDA). pelabelan. cemaran nitrofuran. pengolahan. Dari data yang dikeluarkan oleh FDA (2006) terlihat bahwa selama tahun 2005 sebagian besar pangan yang ditolak adalah hasil perikanan dengan alasan penolakan diantaranya kebersihan produk. Hal ini karena produk perikanan tergolong pada kelompok pangan resiko tinggi dan merupakan komoditas ekspor utama bila dibandingkan dengan produk pangan lain. Produk perikanan lebih banyak ditolak daripada produk lain. Total penolakan dari Februari 2005 – Januari 2006 adalah 235 kasus. Sedangkan untuk jenis pangan olahan selain produk perikanan alasan penolakannya adalah kesalahan pelabelan.

48 persen suspect dan 76. Namun.69 0.4 persen).37 4. sedangkan pada tahun 2005 adalah pangan rumah tangga (42. 2006 Ditinjau dari etiologinya. pangan jajanan (17. methanol. Sementara penyebab keracunan pangan kimia antara lain nitrit.3 persen). Bacillus cereus. Tabel 27. RANPG 2006-2010 42 .2 persen). Selama 2 tahun terakhir nilai IR terbesar terjadi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. dalam kurun waktu 5 tahun (2001-2005) jumlah KLB keracunan serta orang yang terpapar.55 IR**) 0. dan jumlah orang yang meninggal.000 penduduk.28 0.65 0. serta tidak dilaporkan (3. histamin.7 persen).9 persen). pangan olahan (15. Sumber pangan penyebab keracunan pangan untuk tahun 2004 adalah: pangan rumah tangga (53. Sumber: BPOM. Data yang diperoleh berdasarkan pelaporan yang diterima mencakup jumlah Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan.11 *) Case Fatality Rate (CFR): perbandingan antara jumlah yang meninggal dengan yang sakit dikalikan 100. serta tetradotoksin. Jumlah Kasus Keracunan Tahun 2001 . Salmonella sp.7 persen).iii. Penyebab keracunan pangan mikrobiologi yang sering timbul antara lain Staphylococcus aureus. Tingginya nilai IR di DI Yogyakarta kemungkinan disebabkan kesadaran yang baik dari petugas kesehatan setempat untuk melaporkan KLB keracunan pangan di daerahnya.09 persen tidak diketahui penyebabnya.67 0.2 persen). pangan olahan (15. penyebab KLB keracunan pangan yang dilaporkan pada tahun 2005 diketahui sebesar 5. Diduga masih banyak KLB keracunan pangan yang belum dilaporkan di Indonesia.35 0.2 persen). sianida. pangan jajanan (12. sakit.84 3. 18.coli patogen. dan meninggal akibat keracunan cenderung meningkat. pangan jasa boga (21. Kasus Keracunan Makanan Parameter utama yang paling mudah dilihat untuk menunjukan tingkat keamanan pangan di suatu negara adalah jumlah kasus keracunan yang terjadi akibat pangan.2 persen). dan E. hal ini tidak mengindikasikan KLB keracunan pangan di DI Yogyakarta lebih buruk dibandingkan daerah lain. dan lain-lain (3. pangan jasa boga (15.2 persen). demikian pula dengan Case Fatality Rate (CFR) dan Incident Rate (IR).54 1.2005 Tahun 2001 2002 2003 2004 2005 KLB 26 43 34 164 184 Terpapar 1965 6543 8651 22297 23864 Sakit 1183 3635 1843 7366 8949 Meninggal 16 10 12 51 49 CFR*) 1. jumlah orang yang sakit. formalin. **) Incident Rate (IR) adalah angka kejadian per 100. Tabel 27 menunjukkan.43 persen terkonfirmasi.

3 persen mengalami penyakit jantung iskemik.000 anggota rumah tangga tahun 1995.2 16. prevalensi penyakit tidak menular menunjukkan kecenderungan peningkatan sebagai penyebab kematian.E.2 5. Demikian juga dengan hiperglikemia sebagai akibat asupan lemak yang tinggi serta hiperkolesterol.1 12.6 15.8 Sumber : SKRT 2001. Hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan.5 persen (2001).2 8. Penyakit kanker merupakan penyebab 6 persen kematian di Indonesia. Pada tahun 2001. Gambar 7.9 7.1 persen (1986) menjadi 26.5 9. 1995 dan 2001. Penyakit kardiovasluler menjadi penyebab kematian ke 11 pada tahun 1972. Tetapi. kematian yang disebabkan oleh penyakit degeneratif meningkat dari 15.7 8. POLA HIDUP SEHAT DAN AKTIVITAS FISIK Sebagai negara berkembang Indonesia banyak mengalami permasalahan pada penyakit menular.6 persen wanita mengalami kelebihan berat badan.3 persen laki-laki dan 4.4 persen (1980) menjadi 48. Prevalensi Penderita Penyakit Degeneratif Tahun 2001 dan 2004 RANPG 2006-2010 H em a ip er ko le st er ol an an Ke ge m uk Ke ge m uk ip er te ns i ip er te ns i H ip er gl ik H H ip er gl ik H 43 .7 12. yaitu 83 per 1. tetapi kemudian terus meningkat menjadi urutan ke 3 tahun 1986 dan penyebab kematian pertama pada tahun 1992.7 5. 0. 35 Laki ‐ laki   30 25 Persen 20 15 10 5 0 em a ip er ko le st er ol 28. memperlihatkan peningkatan kegemukan (IMT e” 25) pada laki-laki dan perempuan. Prevalensi penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi di Indonesia cukup tinggi.9 24 17.4 persen (2001). pada kalangan penduduk umur 25 tahun keatas sebanyak 27 persen laki-laki dan 29 persen wanita menderita hipertensi.9 12. 2005 H 2001 2004 Gambar 7.3 Perempuan  26.9 9.2 persen mengalami diabetes dan 1. Penyakit kardiovaskuler meningkat dari 9. 1. dan stroke.

konsumsi buah dan sayur yang kurang. kardiovaskular. tetapi juga pada masyarakat miskin di perkotaan dan perdesaan serta pada laki-laki dan perempuan. serta serangan jantung dan stroke 40-60 persen. permasalahan gizi lebih terjadi secara bersamaan dengan kurang gizi dan gizi buruk pada populasi. Merokok juga meningkatkan resiko terhadap serangaan penyakit-penyakit tidak menular ini. termasuk Indonesia. Semua faktor resiko ini merupakan penyebab timbulnya penyakit tidak menular (The World Health Report 2002). termasuk Indonesia. serta konsumsi tembakau. Misalnya konsumsi buah dan sayur yang rendah diperkirakan menyebabkan 31 persen panyakit jantung iskemik. kanker. Pola Makan yang Tidak Sehat Pola makan yang tidak sehat dapat menyebabkan berbagai penyakit. terutama kebiasaan makan yang tidak baik dan aktivitas fisik yang berkurang. Pola makan yang tidak sehat antara lain meliputi makan secara berlebih. yaitu makanan yang lebih kaya akan lemak dan energi sementara aktivitas fisik semakin berkurang. 1. Namun kejadian gizi lebih juga terjadi pada anak-anak dengan prevalensi yang lebih kecil. kanker dan lain-lain menunjukkan adanya perubahan pola hidup. bahkan keluarga yang sama. seperti diabetes. gula dan lemak. 11 persen stroke dan 19 persen kanker gastrointestinal (WHO 2005).Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular seperti kardiovaskular. meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan jumlah asupan lemak jenuh. sepertiga jenis kanker dapat dihindari dengan menerapkan pola hidup sehat. aktivitas fisik yang rendah. faktor resiko penyebab kesakitan dan kematian meliputi hipertensi. kegemukan dan obesitas. Dengan demikian pola makan dan aktivitas fisik merupakan bagian dari penyebab utama penyakit tidak menular. Selain itu. Meningkatnya kejadian gizi lebih tidak hanya terjadi pada penduduk dengan penghasilan yang cukup untuk membeli makanan. saries gigi dan osteoporosis. Bukti-bukti ilmiah menunjukkan bahwa kebiasaan makan yang sehat dan aktivitas fisik dapat menurunkan resiko perkembangan diabetes sebanyak 58 persen. Peningkatan industrialisasi. urbanisasi dan mekanisasi dapat menyebabkan terjadinya perubahan pola makan. Di banyak negara. Di banyak negara. RANPG 2006-2010 44 . rendahnya konsumsi buah dan sayur. Data HKI menunjukkan bahwa prevalensi gizi lebih (IMT>25) pada perempuan di daerah perdesaan dari tahun 1991-2001 memperlihatkan kecenderungan meningkat pada semua kelompok umur dengan kecenderungan kegemukan terjadi pada usia setengah baya (Gambar 8). hipertensi. tingginya konsumi garam. hiperkolesterol. hipertensi 66 persen.

24 25. NSS-HKI 1999-2001) Kebiasaan makan yang terkait dengan kegemukan dan obesitas antara lain adalah kebiasaan makan makanan ringan (snack) dan makan di restoran. Buah dan sayur yang dikonsumsi dengan cukup dapat membantu mencegah penyakit kardiovaskular dan kanker. nutrition and the prevention of chronic diseases merekomendasikan asupan minimum 400 gram buah dan sayur per hari (tidak termasuk kentang dan umbi-umbian yang mengandung pati) untuk pencegahan penyakit kronis seperti jantung.49 Gambar 8.34 Umur ( t ahun) 35.7 juta nyawa dapat diselamatkan setiap tahun jika konsumsi buah dan sayur dapat ditingkatkan. Faktor lain yang ikut mendorong kegemukan dan obesitas antara lain adalah peningkatan restoran siap saji. sekaligus sebagai upaya pencegahan kekurangan zat gizi mikro. Joint FAO/WHO Expert Consultation on diet. Pengaruh lingkungan seperti iklan dan promosi memberikan kontribusi bagi peningkatan konsumsi makanan dengan densitas energi yang tinggi lemak dan karbohidrat. Jumlah konsumsi buah dan sayur yang cukup akan memberikan asupan yang cukup bagi serat ke dalam tubuh. diabetes dan obesitas. kanker.1 9 20. meningkatkan konsumsi minuman bergula dan jus buah. i.44 45. Bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif juga beresiko mengalami kegemukan. Prevalensi Gizi Lebih pada Perempuan Dewasa (Perdesaan.39 40.50 1999 40 2000 2001 30 20 1 0 0 1 5. RANPG 2006-2010 45 . Kurang Konsumsi Buah dan Sayur Buah dan sayur merupkan bagian penting dari pola makan yang sehat.29 30. Menurut The World Health Report 2002. asupan buah dan sayur yang masih rendah diperkirakan menjadi penyebab 31 persen penyakit jantung iskemik dan 11 persen stroke. Diseluruh dunia 2.

84 persen dan 4. kemudian turun menjadi 2. Namun upaya untuk mengurangi konsumsi garam. kardiovaskular. RANPG 2006-2010 46 . konsumsi sayur dan buah sebesar 309 gram per kapita per hari. angka ini turun pada tahun 2004 menjadi 221 gram per kapita per hari (Susenas 1999 dan 2004). dengan kadar minimal Kalium Iodat sebesar 30-80 mg/kg. jauh lebih rendah dari kecukupan sebesar 30 gr/hr ( Jahari AB. persentase pengeluaran untuk buah dan sayur pada tingkat rumah tangga cenderung mengalami penurunan.1 persen (kelas I) dan 94. 2000). WHO Technical Report on Diet. gula dan lemak perlu terus ditingkatkan. Produski buah-buahan juga meningkat dari 14. dan lemak yang berlebihan Konsumsi garam. atau meningkat 3. Konsumsi garam oleh penduduk di Indonesia pada tahun 1999 mencapai 5. Produksi sayur-sayuran dan buah-buahan menunjukkan pola yang meningkat.54 persen per tahun.Menurut data Susenas 2004. dan lemak yang berlebihan juga merupakan salah satu ciri dari kebiasaan makan yang tidak sehat. Pada tahun 2002. stroke. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) kadar Natrium klorida dalam garam minilan adalah 97. ii.3 gram per kapita per hari. Konsumsi yang berlebih pada bahan makanan tersebut dapat meningkatkan resiko serangan penyakit hipertensi.3 juta ton tahun 2004 menjadi 15. Pada tahun 1999. dan penyakit-penyakit kronis lainnya. Nutrition and the Prevention of Chronic Disease merekomendasikan penurunan asupan garam sebagai bagian kebiasaan makan yang sehat untuk mengurangi resiko serangan penyakit kronis tidak menular. Rendahnya konsumsi buah dan sayur ini berkontribusi pada rendahnya konsumsi serat yang baru mencapai rata-rata 10 gr/hari. Penurunan pengeluaran untuk buah dan sayur menyebabkan penurunan rata-rata konsumsi buah dan sayur di Indonesia. pengeluaran untuk sayur dan buah masing-masing 2. hingga saat ini belum menjadi kebijakan nasional karena adanya beberapa tantangan seperti upaya untuk mencapai konsumsi garam beryodium untuk semua (Universal Salt Iodization atau USI).5 juta ton tahun 2006.91 persen per tahun. Upaya peningkatan kebiasaan konsumsi buah dan sayur sebagai salah satu gaya hidup sehat sebenarnya telah didukung dengan ketersediaan buah dan sayur yang cukup melimpah. Oleh karena itu peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kebiasaaan makan terkait dengan garam.61 persen dan 4.73 persen. gula.7 persen (kelas II).2 juta ton tahun 2006 atau mengalami peningkatan 0. Pada tahun 2004 tingkat produksi sayur-sayuran mencapai 9. diabetes. Selain itu SNI mewajibkan iodisasi pada garam konsumsi guna meningkatkan kadar yodium. gula.1 juta ton dan menjadi 9.33 persen pada tahun 2004. dan pada tahun 2004 meningkat menjadi 6.6 gram per kapita per hari. Konsumsi garam.

juga dapat meningkatkan resiko berbagai jenis penyakit kronis. Makanan dan aktivitas fisik dapat mempengaruhi kesehatan baik secara bersama-sama maupun sendiri-sendiri.4 gram per kapita per hari (tahun 2004). konsumsi lemak yang berlebih. dan berkembangnya penyakit tidak menular yang merekomendasikan pengurangan konsumsi garam.81 persen pada tahun 2005 (Susenas 2005). Secara keseluruhan terdapat 1. 2. Efek dari pola makan dan aktivitas fisik saling berinteraksi. Konsumsi makanan dengan densitas energi yang tinggi ikut berkontribusi pada meningkatnya kegemukan dan obesitas yang pada akhirnya meningkatkan kejadian diabetes. adalah “gunakan hanya garam beryodium”. Dengan demikian. terutama dalam kaitannya dengan obesitas. tidak terdapat pesan khusus untuk mengurangi konsumsi garam. Perubahan pola konsumsi kepada jenis makanan yang banyak mengandung lemak antara lain dipengaruhi oleh globalisasi sehingga jenis-jenis makanan berlemak makin mudah di dapat. maka perlu dipikirkan langkah strategis dalam penetapan kebijakan konsumi garam sehingga manfaatnya dapat dirasakan secara maksimal. terutama lemak jenuh. Resiko serangan penyakit akan lebih tinggi.6 gram per kapita per hari (tahun 1999) menjadi 24. Selain garam dan gula. kanker usus dan kanker rektal serta diabetes mellitus. Selain berfungsi untuk membantu mencegah obesitas. Salah satu jenis makanan yang mempunyai densitas energi tinggi adalah gula. RANPG 2006-2010 47 .9 juta kematian yang disebabkan oleh rendahnya aktivitas fisik. perubahan gaya hidup dengan meningkatnya konsumsi makanan siap saji dan lain-lain. Kurangnya Aktivitas Fisik Ketiadaan atau rendahnya aktivitas fisik dan pola konsumsi yang tidak seimbang diperkirakan secara global menyebabkan meningkatnya prevalensi kegemukan dan menyebabkan terjadinya 22 persen penyakit jantung iskemik.Tingkat konsumsi garam beryodium yang cukup baru mencapai 72. aktivitas fisik merupakan cara yang utama dalam meningkatkan kesehatan fisik dan mental individu. garam dan gula tidak diikuti dengan aktivitas fisik yang cukup. Mengingat keberadaan dua masalah yang terjadi secara bersamaan (co-exist) yaitu GAKY yang menuntut peningkatan konsumsi garam beryodium. sebagaimana rekomendasi Laporan Teknis WHO tersebut di atas. maka pemerintah menetapkan kebijakan untuk meningkatkan cakupan konsumsi garam beryodium. Karena gangguan akibat kurang yodium (GAKY) masih menjadi masalah utama di Indonesia. Data konsumsi rumah tangga menunjukkan konsumsi gula pasir di Indonesia meningkat dari rata-rata 22. Salah satu pesan utama yang disampaikan dari 13 Pesan Umum Gizi Seimbang (PUGS). 10-16 persen kanker payudara. apabila konsumsi lemak.

Selain itu. Dengan ketiadaan fasilitas olahraga yang nyaman dan memadai ditambah dengan pengetahuan. total kumulatif <150 menit/mingggu Kurang Aktif 84. terbatasnya fasilitas untuk aktivitas fisik di sekolah dan fasilitas umum menyebabkan makin berkurangnya aktivitas fisik yang dilakukan. . Pertambahan penduduk menyebabkan makin berkurangnya ruang terbuka dan fasilitas umum serta fasilitas olahraga. RANPG 2006-2010 48 .0% Tidak Aktif 9. infrastruktur dan gaya hidup. seperti menonton televisi. total kumulatif 150 menit/mingggu Kurang Aktif: latihan (exercise) setiap hari selama 10 menit. Aktif 6.9% Sumber : Susenas. misalnya digantikan dengan keberadaan alat transportasi dan fasilitas infrastruktur yang lebih baik. film. dan hanya 6 persen yang melakukan aktivitas fisik secara aktif (Gambar 9). pertunjukkan dan lain sebagainya. 2005 Gambar 9. pertemuan dan kegiatan-kegiatan lain seringkali menuntut fisik untuk tidak aktif.1 persen bahkan tidak aktif. Berbagai macam hiburan. Tingkat aktivitas penduduk usia diatas 15 tahun (2004) Pola hidup generasi dewasa muda saat ini mengalami perubahan karena pengaruh lingkungan.1% Aktif: latihan (exercise) setiap hari selama 10 menit.Hasil SKRT tahun 2004 menunjukkan sebagian besar (lebih dari 84 persen) dari kelompok umur 15 tahun ke atas kurang aktif melakukan aktivitas fisik. Kebiasaan berjalan kaki. sebesar 9. kesadaran dan motivasi yang kurang menyebabkan frekuensi untuk berolahraga sebagai salah satu bentuk aktivitas fisik juga semakin menurun.

menurunkan kadar vitamin C dari jaringan tubuh dan darah serta menurunkan tingkat vitamin D dalam tubuh. stroke. rokok. diantaranya menurunkan kadar vitamin dan mineral dalam tubuh.000 bahan kimia yang dikandung dalam sebatang rokok.6 persen).7 persen di tahun 2001 (Gambar 10). Pola konsumsi perokok seperti ini meningkatkan efek buruk merokok seperti kanker dan serangan jantung. Pada tahun 2004. Perokok mengkonsumsi lebih tinggi: energi. Angka ini meningkat dari 27. penyakit jantung. total lemak. kolesterol dan alkohol. merokok juga mempunyai dampak langsung terhadap status gizi.7 persen). vitamin C. 60 di antaranya bersifat karsinogen yang dapat menyebabkan terjadinya kanker. Terdapat kurang lebih 4. Sebuah penelitian menunjukkan adanya perbedaan pola konsumsi antara perokok dan bukan perokok. lemak jenuh. namun mengkonsumsi lebih rendah lemak tak jenuh ganda.7 34. emfisia dan penyakit lainnya. mempunyai resiko yang lebih besar terserang berbagai penyakit kanker. serat. Kebiasaan merokok Tembakau. baik perokok aktif maupuan pasif.3. dibanding perkotaan (31. dan asapnya mengandung nikotin dan bahan kimia lain yang menyebabkan ketagihan serta gangguan kesehatan. 40 35 30 Persen 25 20 15 10 5 0 1995 2001 2004 26. sekitar 34 persen penduduk berumur 15 tahun ke atas merokok. Orang yang terpapar bahan kimia tersebut. Selain dampak terhadap kesehatan. Vitamin E. Persentase Penduduk Berumur 10 Tahun ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir (Untuk 2005: 15 Tahun Ke Atas) RANPG 2006-2010 49 . Penggunaan tembakau merupakan salah satu penyumbang utama dari kesakitan di antara penduduk termiskin di Indonesia. dengan prevalensi lebih tinggi di daerah pedesaan (36. Tabel 28.23 27. dan beta karoten.44 Gambar 10.

47 33.07 35.02 26.76 32.35 24. dibandingkan 7.30 39.62 39.9 persen dari perokok tersebut mulai merokok sebelum usia 19 tahun. pelarangan iklan dan promosi rokok.83 35.36 29.60 32.39 32. Kelompok miskin adalah yang paling dirugikan karena penggunaan tembakau.9 persen (perkotaan).5 persen (perdesaan) dan 5.22 41. Belanja produk tembakau yang lebih banyak daripada pengeluaran untuk makanan mempunyai dampak yang sangat besar pada kesehatan dan gizi keluarga miskin.50 34.02 31.60 Total 35.62 28.76 38.57 34.81 40.26 41.64 34.87 29. penindakan tegas perdagangan gelap.10 27.28 37.1 persen dari pengeluaran bulanan untuk tembakau.23 27.42 39.64 37. penggunaan tembakau berkontribusi cukup besar pada beban kesehatan.07 32.41 31. namun juga menurunkan produktivitas kerja.41 40.21 38.75 39.75 30.14 31. Satu dari dua perokok jangka panjang.93 Total 24.44 Propinsi Bali NTB NTT Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Gorontalo Maluku Maluku Utara Papua Kota 25.47 41.02 31.21 36. edukasi.77 Desa 23.09 36.20 30. Beberapa langkah yang dianjurkan untuk dapat menurunkan permintaan terhadap rokok antara lainnya adalah penerapan harga dan pajak yang tinggi.36 34. penduduk termiskin menggunakan 9.63 24.78 34.67 33. Pada 2001.31 34.19 29.44 31. Merokok bukan hanya berpengaruh pada biaya-biaya perawatan kesehatan. pelarangan penjualan kepada anak-anak dan penyediaan kegiatan alternatif secara ekonomis bagi petani dan karyawan pabrik tembakau.38 Di Indonesia.80 29.32 25. meninggal karena kebiasaan tersebut. yaitu pada saat mereka mungkin belum bisa memahami resiko merokok dan sifat nikotin yang sangat adiktif.62 39. diperkirakan jumlah perokok pasif anak-anak adalah 43 juta orang Tabel 28.29 29.29 27.37 28. pengaturan kemasan dan label.17 31.53 39.5 persen pada kelompok kaya.90 38.88 39.62 27.69 44.53 32.27 29.32 33. dan separuh kematian terjadi dalam usia produktif ekonomi. pengaturan kadar nikotin.86 37.20 41.08 25.20 41.19 35.17 28.04 41. Persentase pengeluaran untuk tembakau pada kelompok penduduk miskin melebihi pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan yang hanya sebesar 2.48 38.44 36.05 31.95 40.10 31.30 32. seharusnya bisa digunakan untuk mencukupi asupan gizi keluarga.22 37. RANPG 2006-2010 50 .44 32.8 persen) perokok yang berumur 10 tahun ke atas merokok di dalam rumah ketika bersama dengan anggota keluarga lainnya.23 34.74 36.4 34.91 32.98 37.72 Desa 36.Sekitar 77.74 31.60 30.14 34. Pengeluaran untuk rokok.53 33. Karena sebagian besar (91. Persentase Penduduk Usia 15 Tahun Ke Atas Yang Merokok Dalam Satu Bulan Terakhir Per Propinsi Menurut Wilayah Tahun 2004 Propinsi NAD Sumatra Utara Sumatra Barat Riau Jambi Sumatra Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DI Yogyakarta Jawa Timur Banten Indonesia Kota 32. proteksi terhadap paparan asap tembakau.49 23.51 44.

(ii) gizi. iii. 1. Masalah utamanya adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi distribusi pangan antar daerah dan antar waktu serta daya beli rumah tangga sehingga mampu mengakses pangan. Pola konsumsi pangan masih didominasi oleh kelompok padi-padian terutama beras. Masih kurangnya kesadaran terhadap masalah gizi karena rendahnya tingkat pendidikan dan kurangnya pengetahuan mengenai masa paling kritis dalam peningkatan gizi (Window of Opportunity). Isu Strategis Berkaitan dengan Pangan adalah sebagai berikut: Terbatasnya kapasitas produksi beras dan pangan lokal sumber karbohidrat serta terbatasnya produksi pangan asal hewan. Meningkatnya masalah gizi lebih karena tingginya konsumsi makanan yang kaya karbohidrat. ii. Isu-isu strategis tersebut dapat dibagi ke dalam lima kelompok berkaitan dengan: (i) aksesibilitas terhadap pangan. rendah serat. (iv) perilaku hidup sehat. Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga masih terus menjadi masalah dan berpengaruh pada tingkat kecukupan asupan gizi meskipun secara nasional ketersediaan pangan di pasar mencukupi. bayi. dan (v) kelembagaan. kebiasaan merokok dan berkurangnya aktifitas fisik mengakibatkan gizi lebih merupakan salah satu penyebab penyakit degeneratif (tidak menular). garam. dan anak sampai usia 2 tahun menjadi penghambat upaya perbaikan gizi. ii. kurangnya pemahaman terhadap perilaku hidup sehat. i. RANPG 2006-2010 51 . Masih rendahnya derajat kesehatan masyarakat miskin disebabkan rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan dasar. (iii) keamanan pangan. yaitu ibu hamil. Masih tingginya prevalensi kurang gizi pada balita erat hubungannya dengan masalah KEK pada WUS dan berkurangnya kebiasaan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. 2. RENCANA AKSI A. iii. lemak.BAB IV. ISU STRATEGIS Berdasarkan analisis situasi pangan dan gizi pada bab terdahulu diperoleh beberapa isu strategis yang masih perlu mendapatkan perhatian dan penanganan lebih lanjut dalam Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi 2006-2010. Isu Strategis Berkaitan dengan Gizi adalah sebagai berikut: i. konsumsi sayuran dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral serta protein hewani masih rendah. khususnya oleh perempuan perkotaan dan pekerja. dan kurangnya layanan reproduksi iv. rendahnya mutu layanan kesehatan dasar.

Masih kurangnya upaya advokasi dan edukasi tentang pentingnya aktivitas fisik bagi kesehatan yang memerlukan dukungan dan komitmen serta kesepakatan sektor lain terutama dalam penyediaan sarana olahraga dan tempat-tempat terbuka untuk beraktivitas fisik serta upaya peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat ii. Upaya untuk menekan dan menghindari penggunaan bahan tambahan pangan berbahaya menjadi lebih sulit karena keterbatasan tenaga pengawas dan penegak hukum serta rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat. ii. terutama pada industri pangan menengah kecil dan rumah tangga.v. Isu Strategis Berkaitan dengan Keamanan Pangan adalah sebagai berikut: i. kesadaran produsen dan konsumen yang masih rendah. terjadi secara bersamaan (co-exist) dengan kelebihan gizi dan penyakit kronis. iv. Masih maraknya pengunaan bahan tambahan makanan berbahaya. Belum berkembangnya alternatif produk bahan tambahan makanan yang aman dan terjangkau merupakan salah satu faktor masih banyaknya penggunaan bahan tambahan makanan berbahaya dalam industri pangan. 4. Sebagai contoh. baik makro dan mikro. 3. iii. serta ketersediaan bahan-bahan uji pangan yang masih terbatas masih menjadi kendala dalam penerapan standar keamanan pangan secara konsisten. Ketersediaan tenaga pengawas yang masih terbatas. Masih tingginya angka penyakit infeksi pada balita yang menyebabkan penurunan status gizi. upaya peningkatan konsumsi energi dapat berdampak pada peningkatan konsumsi lemak dan upaya peningkatan konsumsi yodium dapat RANPG 2006-2010 52 . serta pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Berbagai infeksi dengan tingkat kejadian yang tinggi antara lain adalah demam berdarah dengue. Isu Strategis Berkaitan dengan Pola Hidup Sehat adalah sebagai berikut: i. terutama berkaitan dengan status air minum dan sanitasi lingkungan yang masih memprihatinkan. baik konsumen maupun industri pangan. merupakan awal dari upaya menciptakan produk pangan yang aman untuk dikonsumsi. yang pada saat yang sama juga menanggulangi masalah gizi lebih dan penyakit kronis. Saat ini masalah gizi kurang. diare dan ISPA. namun belum ada strategi dan metode yang komprehensif dalam upaya penanggulangan gizi kurang. Kesadaran keamanan pangan baik pada produsen dan konsumen masih perlu ditingkatkan karena kesadaran akan keamanan pangan.

Padahal ketersediaan sayur dan buah cukup melimpah. Indikator pembangunan pangan dan gizi saat ini tersedia dan secara umum merupakan salah satu indikator yang datanya dapat diperoleh secara sistematis sampai tingkat daerah. Isu Strategis Berkaitan dengan Kelembagaan adalah sebagai berikut: i. ii. kesadaran. Karena penyediaan tenaga di bidang pangan dan gizi memerlukan investasi yang cukup lama dan menyangkut pendidikan. Untuk itu perlu upaya yang ekstra dalam upaya peningkatan ketersediaan tenaga terampil di bidang pangan dan gizi. iv. maka upaya pemenuhan ketenagaan pangan dan gizi tidaklah mudah. RANPG 2006-2010 53 . iv. Masih belum optimalnya upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam memerangi masalah kerawanan pangan dan kekurangan gizi dikarenakan belum adanya pendampingan dan pemberdayaan masyarakat termasuk LSM dan swasta. Dengan tidak adanya satu lembaga tersendiri yang khusus menangani masalah gizi. maka perlu suatu upaya untuk penanganan gizi yang terintegrasi dan memerlukan kepemimpinan yang kuat. sumber keuangan negara dan sumber kehidupan petani tembakau. iii. 5. terlihat dari kecenderungan meningkatnya prevalensi merokok pada penduduk serta meningkatnya prevalensi penyakit kronis akibat tembakau. Perlunya ditingkatkan penggunaan data-data ini sebagai indikator yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk intervensi yang sesuai dan tepat waktu dalam menilai ketahanan pangan dan gizi. Saat ini penanganan masalah gizi masih terpecah-pecah dalam berbagai sektor seperti kesehatan dan pertanian. sistem kepagawaian. Ketersediaan tenaga di bidang pangan dan gizi masih menjadi kendala. namun Rencana Pembangunan Jangka Panjang 2005-2025 telah mengarahkan bahwa masalah gizi harus ditangani secara lintas sektor.berakibat pada konsumsi garam yang berlebih karena pemberian yodium dilakukan melalui fortifikasi pada garam. Oleh karenanya pengembangan indikator ketahanan pangan dan gizi yang sensitif baik ditingkat lokal maupun nasional menjadi isu yang perlu ditangani dengan baik. Belum optimalnya upaya untuk mengurangi kebiasaan merokok. Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam menerapkan kebiasaan untuk mengkonsumsi sayur dan buah sebagai salah satu gaya hidup sehat. iii. dan profesi. Hal ini terkait antara lain dengan kebiasaan dan budaya. ditunjukan dengan data produksi yang meningkat.

iii. SASARAN 1.B. aman. merata dan terjangkau. Meningkatkan keamanan pangan beredar melalui peningkatan partisipasi produsen pangan dan pelaksanaan pengawasan yang efektif dan efisien. kurang vitamin A. kurang zat besi. v. dan kurang yodium. dan produktif melalui pemantapan ketahanan pangan dan gizi nasional dan daerah pada tahun 2010. terjangkau dan berkualitas serta cost-effective. TUJUAN 1. vi. baik dalam jumlah maupun mutu gizinya. RANPG 2006-2010 54 . serta mencegah terjadinya peningkatan prevalensi kegemukan akibat kelebihan gizi. pada tahun 2010 sekurangkurangnya menjadi 50 persen dari prevalensi tahun 2005. Tujuan Umum Mewujudkan keadaan gizi masyarakat yang baik sebagai dasar untuk mencapai masyarakat yang sehat. Tujuan Khusus Meningkatkan pengetahuan. sikap dan perilaku hidup sehat dengan kesadaran gizi yang tinggi kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya perbaikan gizi masyarakat. iv. Menurunkan prevalensi berbagai bentuk kekurangan gizi yaitu gizi kurang. cerdas. Meningkatkan kemampuan masyarakat dan individu untuk mengakses pelayanan gizi dan kesehatan secara merata. ii. Meningkatkan akses keluarga terhadap informasi gizi dan kesehatan untuk membentuk perilaku sadar pangan dan gizi serta hidup sehat. Meningkatkan kemampuan masyarakat dan individu untuk mengakses pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan dengan gizi seimbang yang diperlukan bagi kehidupan yang sehat. i. Mendukung kebijakan dan upaya penanggulangan kemiskinan melalui pelayanan gizi khusus kepada masyarakat miskin sehingga diwujudkan perbaikan gizi masyarakat sebagai modal untuk mengurangi kemiskinan. yang tercermin dari ketersediaan pangan yang cukup. 2. C.

serta meningkatkan keragaman konsumsi pangan dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH) minimal 85. ii. Meningkatnya cakupan dan kualitas pelayanan gizi pada masyarakat terutama kelompok rentan dengan sasaran sebagai berikut : i. Meningkatkan keamanan. Meningkatkan konsumsi pangan perkapita untuk memenuhi kebutuhan zat gizi seimbang dengan kecukupan energi minimal 2. RANPG 2006-2010 55 .2. yang ditunjukkan dengan peningkatan akses pelayanan gizi dan konsumsi pangan keluarga. sehingga konsumsi beras turun sebesar 1 persen per tahun. Mempertahankan ketersediaan energi perkapita minimal 2. 7.000 kkal/hari dan protein sebesar 52 gram/hari dan cukup zat gizi mikro. 3. Menurunkan jumlah penduduk yang mengalami kerawanan dalam konsumsi pangan dengan mengefektifkan sistem distribusi pangan dan meningkatkan kemudahan/kemampuan masyarakat untuk mengakses pangan. dan penyediaan protein perkapita minimal 57 gram/hari. termasuk pangan yang difortifikasi. 5. iv. pangan hewani naik 2 persen per tahun.200 kkal/hari. v.5 persen per tahun. terutama protein hewani serta meningkatkan konsumsi sayur dan buah. buah-buahan naik 5 persen per tahun. sayuran naik 4. Menurunkan prevalensi xerophthalmia. Meningka tnya efektifitas surveilen dan intervensi pada WUS. 4. iii. umbi-umbian naik 1-2 persen per tahun. mutu dan higiene pangan yang dikonsumsi masyarakat dengan menekan pelanggaran terhadap ketentuan keamanan pangan sampai 90 persen dan meningkatkan penelitian untuk menemukan zat pengawet yang aman dan terjangkau masyarakat miskin. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat dan perilaku sadar pangan dan gizi. Menurunnya prevalensi anemia pada ibu hamil dan Wanita Usia Subur. Meningkatnya persentase anak usia 6 .24 bulan memperoleh Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP . ibu Hamil dan remaja putri yang beresiko Kurang Energi Kronis (LILA < 23.5 cm).ASI) yang tepat. Meningkatnya pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan. 6.

(d) meningkatkan dan memperbaiki infrastruktur dan kelembagaan ekonomi perdesaan dalam rangka mengembangkan skema distribusi pangan kepada kelompok masyarakat tertentu yang mengalami kerawanan pangan. KEBIJAKAN Pemantapan ketahanan pangan. (b) memprioritaskan pada kelompok penentu masa depan anak. 1. 4. ibu hamil dan calon ibu hamil/remaja putri. dan (e) meningkatkan efisiensi dan efektivitas intervensi bantuan pangan/pangan bersubsidi kepada masyarakat golongan miskin terutama anak-anak dan ibu hamil yang bergizi kurang. termasuk kurang gizi mikro (kurang vitamin dan mineral). (c) meningkatkan upaya preventif. (b) mendorong.D. bayi sampai usia dua tahun tanpa mengabaikan kelompok usia lainnya. diantaranya melalui peningkatan dan penguatan program fortifikasi pangan dan program suplementasi zat gizi mikro khususnya zat besi dan vitamin A. RANPG 2006-2010 . (c) meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional melalui penetapan lahan abadi untuk produksi pangan dalam rencana tata ruang wilayah dan meningkatkan kualitas lingkungan serta sumberdaya lahan dan air. dalam jumlah dan keragaman untuk mendukung konsumsi pangan sesuai kaidah kesehatan dan gizi seimbang. (b) mengembangkan kemampuan dalam pemupukan dan pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat. promotif dan pelayanan gizi dan kesehatan kepada masyarakat miskin dalam rangka mengurangi jumlah penderita gizi kurang. Arah kebijakan: (a) menjamin pemenuhan asupan pangan bagi setiap anggota rumah tangga dalam jumlah dan mutu yang memadai. aman dan halal dikonsumsi dan bergizi seimbang. Arah kebijakan: (a) menjamin ketersediaan pangan. 3. Arah kebijakan: (a) mengutamakan upaya preventif. (c) mengembangkan teknologi dan kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan untuk menjaga kualitas produk pangan dan mendorong peningkatan nilai tambah. yaitu. ibu nifas dan menyusui. Peningkatan status gizi masyarakat. Arah kebijakan: (a) meningkatkan daya beli dan mengurangi jumlah penduduk yang miskin. (b) meningkatkan efektivitas dan efisiensi distribusi dan perdagangan pangan melalui pengembangan sarana dan prasarana distribusi dan menghilangkan hambatan distribusi pangan antar daerah. Peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan menuju gizi seimbang. Peningkatan kemudahan dan kemampuan mengakses pangan. promotif dan pelayanan gizi dan 56 2. (d) mengembangkan jaringan antar lembaga masyarakat untuk pemenuhan hak atas pangan dan gizi. serta memfasilitasi peran serta masyarakat dalam pemenuhan pangan sebagai implementasi pemenuhan hak atas pangan. mengembangkan dan membangun. terutama dari produksi dalam negeri. (c) mengembangkan program perbaikan gizi yang cost effective.

distributor dan ritel terhadap keamanan pangan. (f) meningkatkan efektivitas fungsi koordinasi lembaga-lembaga pemerintah dan swasta di pusat dan daerah. Arah kebijakan: (a) mendukung akses edukasi dan pelayanan yang seluas-luasnya pada masyarakat dalam melaksanakan pola hidup sehat. program dan kegiatan antar sektor di pusat dan daerah. (g) mengembangkan program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).kesehatan pada kelompok masyarakat dewasa dan usia lanjut dalam rangka mengurangi laju peningkatan (tren) prevalensi penyakit bukan infeksi yang terkait dengan gizi yaitu kegemukan. (c) meningkatkan kesadaran produsen. pendidikan. pengentasan kemiskinan. 5. Arah kebijakan: (a) meningkatkan pengawasan keamanan pangan. dan kanker. (e) memastikan adanya keterlibatan semua lapisan masyarakat secara aktif baik dalam program maupun kebijakan pelaksanaan program pola hidup sehat. serta pemerintahan daerah. (b) melengkapi perangkat peraturan perundang-undangan di bidang mutu dan keamanan pangan. monitoring. dan (e) mengembangkan teknologi pengawet dan pewarna makanan yang aman dan memenuhi syarat kesehatan serta terjangkau oleh usaha kecil dan menengah produsen makanan dan jajanan. Perbaikan pola hidup sehat. (b) meningkatkan komitmen dan peran serta pemangku kepentingan dalam mendukung program pola hidup sehat. agama. surveilan gizi. (d) melibatkan secara optimal peran serta media dalam upaya sosialisasi program dan kebijakan program pola hidup sehat. (d) meningkatkan kemampuan riset di bidang pangan dan gizi untuk menunjang upaya penyusunan kebijakan dan program. (h) mengembangkan program pendidikan kecakapan hidup (Life Skills Education). 6. serta penyakit degeneratif lainnya. (e) meningkatkan profesionalisme tenaga gizi dari berbagai tingkatan melalui pendidikan dan pelatihan yang teratur dan berkelanjutan dan memperbaiki distribusi penempatan tenaga gizi tersebut. dibidang pangan dan gizi sehingga terjamin adanya keterpaduan kebijakan. (c) meningkatkan fungsi dan kapasitas sektor-sektor terkait dalam pengembangan pola hidup sehat baik di Pusat maupun di daerah. khususnya dengan sektor kesehatan. RANPG 2006-2010 57 . (f) meningkatkan kapasitas dalam administrasi data dan informasi sehingga terbentuk data yang akurat. importir. (d) meningkatkan kesadaran konsumen terhadap keamanan pangan. Peningkatan mutu dan keamanan pangan. industri. diabetes. berdasarkan bukti (evidence-based). pertanian dan ketahanan pangan. dan evaluasi program pangan dan gizi. tekanan darah tinggi. perdagangan.

untuk: (a) mempertahankan pola konsumsi pangan lokal yang didaerah dan kelompok masyarakat tertentu telah beragam terutama untuk makanan pokok. ibu hamil. melalui suplementasi dan fortifikasi vitamin dan mineral khususnya untuk zat besi. informasi dan edukasi untuk mencegah gangguan. ibu menyusui. zat yodium. dan kampanye gizi untuk meningkatkan citra pangan lokal. 3. serta peningkatan pendapatan dan pendidikan umum. Peningkatan keluarga dan masyarakat sadar gizi melalui komunikasi. dan bayi sampai usia 2 tahun dalam rangka memperkuat dasar pencapaian program pengembangan anak usia dini (PAUD) dalam menentukan masa depan kualitas SDM. Pengembangan program diversifikasi pangan ditingkatkan melalui pengkajian berbagai teknologi tepat guna dan terjangkau mengenai pengolahan pangan berbasis tepung. Status Gizi : 1. 4. serta tindakan cepat yang harus dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah setempat. 2. serta dampaknya pada status gizi. dan (b) pengembangan aspek kuliner dan daya terima konsumen. Pengutamaan sasaran program gizi kepada kelompok sangat rentan yaitu: remaja putri usia subur. melalui berbagai pendidikan gizi. Penyusunan kebijakan pembangunan di bidang pangan dan gizi yang bersifat lintas sektor. kelaparan dan gizi kurang. Peningkatan program pencegahan dan penanggulangan masalah kurang gizi mikro. penyuluhan. 3. dan vitamin A dalam rangka peningkatan kualitas SDM. STRATEGI Aksesibilitas Pangan: 1. Peningkatan kegiatan dan sasaran ketahanan pangan tidak hanya pada aspek persediaan pangan di tingkat makro. Peningkatan kemampuan pemerintah setempat dan masyarakat dalam mengembangkan dan memanfaatkan sistem kewaspadaan pangan dan gizi untuk deteksi dini kemungkinan terjadinya bencana kerawanan pangan. 2. RANPG 2006-2010 58 . sehingga mendorong komitmen dan investasi di bidang pangan dan gizi dalam pembangunan nasional dan daerah. tetapi juga pada aspek akses pangan yang menjamin konsumsi pangan dengan gizi seimbang bagi keluarga dan perorangan.E.

3. peningkatan surveilen dan epidemiologi. Peningkatan keamanan pangan melalui penguatan peraturan. RANPG 2006-2010 59 . kebijakan penurunan permintaan suplai rokok dalam rangka mencegah penyakit kronis.4. Peningkatan kualitas pelayanan pada penderita gizi lebih melalui pemantauan secara berkala berat badan dan tinggi badan. peningkatan penyediaan sarana dan prasarana olah raga dan ruang terbuka. Meningkatkan aktivitas fisik masyarakat melalui peningkatan promosi. 6. Pola Hidup Sehat : 1. pemantauan dan penegakan hukum. Pengutamaan sasaran program gizi kepada masyarakat miskin melalui upaya penanggulangan kemiskinan yang disebabkan bukan karena pendapatan (“nonincome poverty”) dalam rangka pengembangan sumber daya manusia. manajemen terpadu penanganan kasus gizi lebih dan peningkatan KIE. perlindungan konsumen dalam rangka melindungi status kesehatan masyarakat. Peningkatan upaya penanggulangan penyakit infeksi khususnya pada balita melalui pencegahan dan penanggulangan faktor resiko. imunisasi serta KIE. 2. garam dan gula terutama pada kelompok-kelompok tertentu yang beresiko tinggi melalui penyusunan regulasi yang mengatur tentang iklan-iklan makanan dan minuman untuk mengurangi kejadian timbulnya penyakit degeneratif di kalangan muda. Peningkatan kesadaran tentang keamanan pangan dan gizi melalui upaya pencegahan dini dan penegakan hukum dalam rangka menjaga mutu mutu keamanan pangan. dalam rangka menumbuhkan dan menciptakan kesadaran seluruh lapisan masyarakat Peningkatan promosi untuk konsumsi sayur dan buah melalui pola makan gizi seimbang dalam rangka pencegahan penyakit degeneratif Peningkatan promosi pola makan rendah lemak. Peningkatan promosi tentang bahaya merokok melalui regulasi penertiban iklan rokok. 2. 4. 5. Keamanan Pangan : 1.

RANPG 2006-2010 60 . serta di masyarakat. 3. dan masyarakat. Peningkatan pendidikan dan pemanfaatan tenaga profesional di bidang gizi di berbagai tingkat pemerintahan pusat dan daerah. perguruan tinggi. Peningkatan kerjasama lintas sektor melalui penyusunan program-program pangan dan gizi yang terkoordinasi dalam rangka pembangunan di bidang pangan dan gizi. 5. 6. Peningkatan kemampuan tenaga administrasi dan profesional melalui koordinasi perencanaan dan pengelolaan program pangan dan gizi dalam rangka memaksimalkan efektivitas program perbaikan gizi masyarakat. 7. dalam rangka menghasilkan data dan informasi yang lebih dapat di percaya. Revitalisasi SKPG untuk meningkatkan ketersediaan data pangan dan gizi di daerah Memantapkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program pangan dan gizi Menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya dari masyarakat untuk menanggulangi masalah pangan dan gizi Peningkatan kemampuan dan kualitas penelitian dan pengembangan pangan dan gizi melalui lembaga penelitian. guna memaksimalkan peran tenaga profesional dalam program gizi. 4.Kelembagaan: 1. 2.

tidak mudah rusak. Dep. Peningkatan produktivitas dan produksi pangan pokok 2. dan mudah didistribusikan 5. Pemda 1. dalam jumlah dan ragam yang memadai 1.BAB V.PU. Ketersediaan pangan pokok yang memenuhi kebutuhan 2. Tercapainya jumlah dan mutu cadangan Ketahanan Pangan Deptan. Pengkajian dan pengembangan teknologi pengolahan pangan 3. Meningkatnya jenis dan ketersediaan pangan pokok yang aman dikonsumsi Ketahanan Pangan Deptan. aman. Meningkatkan efektivitas layanan prasarana irigasi 6. Meningkatkan kemudahan petani untuk mengakses sarana produksi bermutu 2. Pemantapan Pangan Ketahanan Menjamin ketersediaan pangan. Perum Bulog. AKSESIBILITAS TERHADAP PANGAN 1. Terbatasnya kapasitas produksi beras dan pangan lokal sumber karbohidrat serta terbatasnya produksi pangan asal hewan. MATRIKS RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI 2006-2010 NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB I. Pemda 1. Ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga masih Pemantapan Pangan Ketahanan Mengembangkan kapasitas cadangan pangan 1. Peningkatan ketersediaan jenis pangan alternatif yang murah. Pembelian gabah petani oleh pemerintah 61 . Revitalisasi penyuluhan dan peningkatan kemampuan kelembagaan petani 4. terutama dari produksi dalam negeri.

Pengurangan hambatan distribusi pangan antar daerah 1. Pengembangan sarana dan prasarana distribusi 2. Pengendalian alih fungsi lahan pertanian produktif 1. Masalah utamanya adalah peningkatan efektivitas dan efisiensi distribusi pangan antar daerah dan antar waktu serta daya beli rumah tangga sehingga mampu mengakses pangan. Terbitnya peraturan perundangan yang menetapkan lahan pertanian abadi untuk produksi pangan 2. Mengembangkan cadangan pangan nonberas siap konsumsi 4. DPR BPN. Semakin pendeknya rantai distribusi pangan Pengembangan Agribisnis Deptan 62 . Mendorong terbentuknya cadangan pangan daerah dan masyarakat 3. Menurunnya jumlah daerah dan penduduk rawan pangan PROGRAM PENANGGUNG JAWAB Pemantapan Pangan Ketahanan Penyediaan lahan abadi untuk produksi pangan dalam rangka menjamin kapasitas produksi yang dapat mencukupi kebutuhan pangan pokok 1. Penyusunan regulasi penetapan lahan pertanian abadi 2. KEBIJAKAN STRATEGI pemerintah dan masyarakat serta kemampuan pengelolaannya KEGIATAN 2. Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan efektivitas dan efisiensi distribusi dan perdagangan pangan 1. Menurunnya konversi produktif tingkat lahan Ketahanan Pangan Deptan. Pengembangan sarana dan prasarana untuk pengelolaan cadangan pangan pemerintah dan masyarakat INDIKATOR pangan pemerintah dan masyarakat yang aman 2. Kualitas sarana dan prasarana distribusi pangan yang meningkat 2.NO ISU STRATEGIS terus menjadi masalah dan berpengaruh pada tingkat kecukupan asupan gizi meskipun secara nasional ketersediaan pangan di pasar mencukupi.

Sosialisasi keragaman bahan pangan yang berkualitas dan bergizi Deptan. Pola konsumsi pangan masih didominasi oleh kelompok padi-padian Peningkatan kuantitas dan kualitas konsumsi pangan menuju gizi seimbang Mempertahankan pola konsumsi pangan lokal dan kelompok masyarakat 1. 1. Revitalisasi kelembagaan ekonomi perdesaan untuk menunjang distribusi pangan 2.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan STRATEGI Pengembangan teknologi serta kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan KEGIATAN 1. 3. INDIKATOR 1. Dep. Harga pangan stabil dan terjangkau Distribusi bantuan pangan tepat sasaran dan tepat waktu 1. Depdag Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan efisiensi dan efektivitas intervensi bantuan/subsidi pangan kepada kelompok masyarakat tertentu Distribusi beras bersubsidi bagi rakyat miskin (Raskin) yang lebih efisien dan efektif Operasi Pasar dalam rangka stabilisasi harga pangan Bantuan pangan untuk kondisi darurat/bencana. Revitalisasi kelembagaan pengolahan dan pemasaran pangan 2. Tingginya pemahaman masyarakat akan pentingnya konsumsi Program Peningkatan Ketahanan Pangan Perum Bulog. Distribusi pangan bersubsidi yang efisien dan tepat sasaran 2. kios beras. Depkes 63 . Inovasi teknologi pengolahan dan pemasaran pangan 1. Dep. Pemda. Sosial. Perbaikan fasilitas distribusi pangan di perdesaan seperti pasar. Peningkatan nilai tambah produk pangan PROGRAM Pengembangan Agribisnis PENANGGUNG JAWAB Deptan Peningkatan Kemudahan dan Kemampuan mengakses pangan Meningkatkan serta memperbaiki infrastruktur dan kelembagaan ekonomi perdesaan Deptan. Meningkatnya kualitas produk pangan 2. Perdagangan.

Terlaksananya mekanisme insentif untuk kader Posyandu 4. Tersedianya data capaian kegiatan (SKDN. ibu hamil. Masih tingginya prevalensi kurang gizi pada balita yang erat hubungannya dengan masalah KEK pada WUS dan rendahnya kebiasaan pemberian ASI eksklusif. Meningkatnya jumlah posyandu yang aktif 2. Pengembangan Pos Gizi 1. Tetap terjaganya keragaman konsumsi pangan yang seimbang PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. Meningkatnya jumlah petugas puskesmas dan kader posyandu yang dilatih 5. II. konsumsi sayuran dan buah sebagai sumber vitamin dan mineral serta protein hewani masih rendah. Memberikan penyuluhan ASI eksklusif untuk bayi 06 bulan 3. ibu menyusui. dan bayi sampai usia 2 tahun 1. PENINGKATAN STATUS GIZI MASYARAKAT 1. Depdiknas Depdagri Deptan Deprin Depdag Meneg PP PKK Pemda 6. Revitalisasi Posyandu dan revitalisasi Puskesmas 2. KEBIJAKAN STRATEGI tertentu yang telah beragam terutama untuk makanan pokok KEGIATAN seimbang 2. Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat. Pengutamaan sasaran program gizi kepada kelompok sangat rentan yaitu: remaja putri usia subur. Meningkatnya penggunaan eksklusif ASI Upaya Kesehatan Masyarakat Perbaikan gizi masyarakat Pendidikan anak usia dini Depkes. BGM. Imunisasi) 3. Peningkatan pemahaman pentingnya pangan yang beragam Pengembangan aspek kuliner dan daya terima pangan lokal INDIKATOR pangan yang beragam 2. Peningkatan pelayanan antenatal di 64 . Pemantauan pertumbuhan 4.NO ISU STRATEGIS terutama beras.

Meningkatnya konsumsi beryodium garam Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak Depkes Deptan Deprin Depdagri 6.33%) 4. calon pengantin dan tenaga kerja wanita 6. balita dan wanita usia subur (WUS) 5. busui melalui RT/RW secara berkala. Jumlah kasus gizi buruk yang berhasil ditangani 9. Menurunnya prevalensi anemia pada Ibu hamil. Peningkatan konsumsi garam beryodium untuk semua (KGBS) 3. Tercapainya pemberian kapsul Vit. A bagi setiap semua bayi/anak 6-59 bulan 3. Pemberian MP-ASI kepada balita gakin dengan resiko kekurangan gizi 7. Pemberian kapsul vitamin A setiap bulan Februari dan Agustus 8. Peningkatan pencegahan penanggulangan kurang gizi mikro. program dan masalah 1. Fortifikasi minyak sayur dengan vitamin A 4. Menurunnya prevalensi xeropthalmia (X1b < 0. Peningkatan pemberian suplementasi tablet besi pada remaja putri. Pemasaran sosial sumber vitamin A 2. 5. balita. ibu nifas. Promosi dan pemantauan 65 . Meningkatnya konsumsi tablet besi dan ketepatan konsumsi 2. Pendataan data sasaran bayi. bumil. Pemberian tablet kepada ibu hamil besi 1.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR Puskesmas PROGRAM PENANGGUNG JAWAB Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat.

Meningkatnya cakupan rumah tangga dengan konsumsi garam beryodium cukup 5. Terlaksananya pedoman tata laksana gizi buruk Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga Depkes Meneg PP BKKBN Pemda PKK 66 . Peningkatan keluarga dan masyarakat sadar gizi. Meningkatnya persentase keluarga sadar gizi (kadarzi) 2. 1. Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang pangan bermutu sejak usia dini 3. Pendidikan gizi melalui kampanye. informasi dan edukasi 4. Masih kurangnya kesadaran terhadap masalah gizi karena rendahnya tingkat pendidikan dan masih maraknya perilaku yang menghambat upaya perbaikan gizi.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN konsumsi beryodium 10. Peningkatan pendidikan dan penyetaraan gender guna meningkatkan kualitas perawatan kehamilan dan perawatan bayi dan anak 2. Pemanfaatan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga 2. Menyebarkan informasi 1. Penanganan buruk garam kasus gizi INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 11. Meningkatnya pengetahuan dan konsumsi penduduk tentang pangan sumber Vitamin A 4. Pemberian muatan pangan dan gizi pada kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan kejuruan 5. Pembentukan kelompok pendidik sebaya (peer educator) diantara remaja di sekolah dan luar sekolah 3. penyebaran komunikasi. Peningkatan status gizi dan kesehatan masyarakat.

dll. arisan. 1. Pramuka. Belum optimalnya program penanganan gizi bagi penduduk miskin. Pemberian kartu miskin untuk keperluan berobat dan membeli makanan Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Perbaikan gizi masyarakat Depkes Depdagri 67 . Meningkatnya jumlah kelompok yang dibentuk dan melakukan kegiatan diskusi tentang pangan dan gizi 8. vitamin A dan yodium 3. Berkurangnya kejadian gizi buruk pada keluarga miskin PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. karang taruna. tempat umum lain 8.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN melalui media cetak dan elektronik. Meningkatnya jumlah keluarga yang memanfaatkan pekarangan untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. 7. Menyelenggarakan kegiatan peningkatan pendapatan keluarga (KUB. Pemenuhan hak dasar masyarakat miskin atas layanan kesehatan dasaryang bermutu Pengutamaan sasaran program gizi kepada masyarakat miskin. khususnya zat besi. Pemberian suplemen zat gizi mikro. PKK. tempat kerja. 1. Menyebarkan informasi melalui kelompok pengajian. Menyebarkan informasi di sekolah. Menyediakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau bagi masyarakat miskin terutama penanganan gizi kurang 2. Tersedianya informasi tentang gizi di semua media untuk seluruh lapisan masyarakat 7. 6. Meningkatnya pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin 2. industri kecil. dll) INDIKATOR 6. LSM.

masalah Pencegahan penanggulangan gizi lebih Peningkatan kualitas pelayanan pada penderita gizi lebih 1. Masih tingginya angka penyakit infeksi pada balita yang berkaitan Peningkatan pengetahaun masyarakat tentang penyakit. Bantuan langsung tunai bersyarat bagi penduduk miskin 5. Perbaikan gizi masyarakat Pencegahan Depkes 68 . Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko Menurunnya angka penyakit infeksi pada balita. Peningkatan promosi tentang pencegahan kegemukan dan obesitas Menurunkan kegemukan prevalensi Perbaikan gizi masyarakat Depkes Depdiknas 5. Pelaksanakan pemantauan secara berkala BB dan TB 2. Melaksanakan manajemen terpadu penanganan kasus gizi lebih dan penyakit degeneratif dan penyakit lainnya 3. Meningkatnya kecenderungan gizi lebih.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN dengan harga subsidi seperi beras untuk orang miskin (Raskin) dan MPASI untuk balita keluarga miskin 4. lingkungan Peningkatan upaya penanggulangan penyakit infeksi khususnya pada 1. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemgembangan pelayanan kesehatan dan gizi bagi masyarakat miskin INDIKATOR PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 4.

Ketersediaan tenaga Peningkatan Mutu dan pengawas yang masih Keamanan Pangan terbatas.NO ISU STRATEGIS dengan sanitasi. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan keamanan pangan 2. STRATEGI KEGIATAN 2. Badan POM Depdiknas Men-PAN 69 . Peningkatan surveilen dan epidemiologi dan penaggulangan wabah 3. KEBIJAKAN sehat. kesadaran produsen dan konsumen Meningkatkan pengawasan keamanan pangan 1. lingkungan. Peningkatan jumlah dan kompetensi petugas serta laboratorium pengawasan 1. Memadainya jumlah pengawas. Peningkatan KIE tentang pencegahan dan pemberantasan penyakit INDIKATOR PROGRAM dan Pemberantasan Penyakit PENANGGUNG JAWAB III. Meningkatkan efektivitas karantina pertanian 1. Tercegahnya pemasukan bahan pangan impor yang tidak memenuhi syarat keamanan pangan 3. dan pelayanan kesehatan yang tidak memadai. Peningkatan kesadaran keamanan pangan pada masyarakat produsen dan konsumen 1. gizi keluarga dan perilaku hidup sehat balita. Peningkatan cakupan imunisasi 4. merupakan awal dari upaya menciptakan produk pangan yang aman untuk dikonsumsi. Kesadaran keamanan Peningkatan Mutu dan pangan baik pada Keamanan Pangan produsen dan konsumen masih perlu ditingkatkan karena kesadaran akan keamanan pangan. Meningkatkan sosialisasi peraturan dan standar keamanan pangan 2. laboratorium pengawasan makanan. Pemahaman produsen terhadap CPMB Pengawasan dan keamanan pangan BPOM Deprin Deptan Depdagri Depdag 2. MUTU DAN KEAMANAN PANGAN 1. kelangsungan dan perkembangan anak.

Belum berkembangnya Peningkatan Mutu dan alternatif produk bahan Keamanan Pangan tambahan makanan yang aman dan terjangkau. Masih maraknya Peningkatan Mutu dan pengunaan bahan Keamanan Pangan tambahan makanan berbahaya. Penyediaan produk pengawet. Rendahnya aktifitas fisik Perbaikan pola hidup Peningkatan aktivitas fisik 1.NO ISU STRATEGIS yang masih rendah. KEGIATAN Peningkatan cakupan wilayah dan jenis produk pangan yang diawasi INDIKATOR jumlah produk pangan dan cakupan wilayah yang diawasi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. KEBIJAKAN STRATEGI Meningkatkan perlindungan kepada konsumen 2. Pengembangan teknologi pengolahan makanan 2. Tersedia dan terjangkaunya pengawet dan pewarna makanan produsen makanan dan jajanan Tersedianya alternatisf bahan tambahan makanan yang aman dan terjangkau BPOM Deptan 4. Menurunnya peredaran produk pangan TMS 2. 1. terutama pada industri pangan menengah kecil dan rumah tangga. pewarna. Penetapan standard pangan yang aman dikonsumsi 3. serta ketersediaan bahanbahan uji pangan yang masih terbatas masih menjadi kendala dalam penerapan standar keamanan pangan secara konsisten. Melengkapi perangkat peraturan perundangundangan di bidang mutu dan keamanan pangan 2. Peningkatan pengawasan keamanan pangan 1. Peningkatan promosi 1. Meningkatnya Promosi Depkes 70 . dan tambahan fungsional pengolahan makanan yang aman 1. Pelaksanaan penelitian untuk mencari alternatif produk bahan tambahan makanan BPOM LIPI IV. Tersusunnya standar keamanan dan mutu pangan 3. PERBAIKAN POLA HIDUP SEHAT 1. Peningkatan pengembangan dan penelitian bahan tambahan makanan yang aman.

garam dan gula terutama pada kelompok-kelompok tertentu yang beresiko tinggi 71 .NO ISU STRATEGIS yang berakibat pada meningkatnya penderita penyakit degeneratif KEBIJAKAN sehat. INDIKATOR pemahaman masyarakt tentang manfaat aktifitas fisik 2. Masih rendahnya konsumsi sayur dan buah Perbaikan sehat. lemak Perbaikan sehat. Meningkatnya kesadaran tentang kebiasaan makan yang sehat 2. Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pesan-pesan PUGS 3. pola hidup Peningkatan promosi pola makan rendah lemak. 2. pola hidup Peningkatan promosi untuk konsumsi sayur dan buah Peningkatan sosialisasi dan advokasi untuk konsumsi sayur dan buah. garam. 1. KEGIATAN tentang aktivitas fisik 2. Meningkatnya konsumsi gula. Peningkatan promosi tentang manfaat aktifitas fisik untuk kesehatan. gula dan garam. STRATEGI masyarakat. Deptan Depdiknas Depkes Depkes Depdiknas BPOM 3. Meningkatnya sarana dan prasarana olahraga serta ruang terbuka untuk aktifitas masyarakat PROGRAM Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Pembinaan dan Pemasyarakata n olahraga Peningkatan Sarana dan Prasarana olah raga Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat PENANGGUNG JAWAB Deptan Menpora BPOM Depdiknas Pemda 2. Meningkatnya rata-rata konsumsi sayur dan buah per kapita per hari 1. Pengembangan metode penyampaian pesan-pesan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) yang mudah dipahami oleh masyarakat. Peningkatan promosi tentang pengurangan konsumsi lemak. pencegahan penyakit degeneratif. Meningkatnya frekuensi penayangan informasi tentang pola hidup sehat dan gizi seimbang di media masa.

Meningkatnya tempattempat umum yang dilarang merokok 1.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR 4. Masalah pangan dan gizi yang bersifat multi dimensi. pola hidup Peningkatan promosi tentang bahaya merokok 4. Meningkatnya jumlah Sekolah sehat PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 1. RPJMPerbaikan Gizi Masyarakat Bappenas Bappeda Depkes Deptan Organisasi 72 . Menurunnya pengeluaran rumah tangga untuk rokok 2. 1. V. Penegakan hukum dalam hal pelarangan merokok di tempat umum. 1. Meningkatnya pengetahuan dan kemampuan keluarga untuk menerapkan pola hidup sehat 5. Peningkatan promosi tentang bahaya merokok bagi kesehatan. PEMANTAPAN DAN PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN 1. Promosi Kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Depkes Menpora Depdag Pemda 6. Dilaksanakannya regulasi tentang pemasaran rokok 5. Peningkatan upaya regulasi dalam rangka menurunkan ketersediaan rokok di pasaran. multi sektoral dan multi disiplin belum tertangani secara terpadu dan terkoordinasi Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Peningkatan kerjasama lintas sektor melalui penyusunan programprogram pangan dan gizi yang terkoordinasi dalam rangka pembangunan di bidang pangan dan gizi. Kebijakan Pangan dan Gizi terakomodasi secara jelas dalam dokumen perencanaan tingkat nasional dan daerah seperti RPJPRPJPD. Belum optimalnya pencegahan kebiasaan merokok Perbaikan sehat. Advokasi pangan dan gizi pada para pengambil keputusan perencanaan di tingkat pemerintah dan parlemen.

Pengumpulan. Dimanfaatkannya sistem pelaporan dan informasi untuk penyusunan kebijakan 2. Advokasi hasil analisis SKPG kepada pengambil keputusan (pejabat berwenang) 1.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR RPJMD dan RenstraRenstrada 2. pengolahan dan analisa data untuk pemantapan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) 3. Sudah dimanfaatkannya informasi SKPG untuk pengambilan Ketahanan Pangan Perbaikan Gizi Masyarakat Perbaikan Gizi Masyarakat Depkes Deptan BKKBN Bulog Depdagri BPS 73 . swasta. keterampilan Tim SKPG dalam menanggulangi masalah pangan dan gizi 3. Semua kabupaten/kota sudah melaksanakan pemetaan. Meningkatnya program dan pembiayaan pangan dan gizi 3. dan masyarakat yang peduli pada mutu pangan dan gizi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB profesi Menpan 2. Terciptanya kerjasama sinergis antara lembaga pemerintah. Masih terbatasnya penggunaan data-data pangan dan gizi sebagai indikator untuk menilai ketahanan pangan dan gizi pada tingkat lokal yang sesuai dan tepat waktu untuk pengambilan keputusan. Pengembangan dan analisis data pangan dan gizi 2. Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Revitalisasi SKPG 1.

Meningkatnya jumlah LSM dan swasta yang berperan serta dalam penanggulangan pangan dan gizi Ketahanan Pangan Penelitian dan Pengembangan Perbaikan Gizi Masyarakat Deptan Depdiknas Depkes 4.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI KEGIATAN INDIKATOR keputusan. Pengembangan sistem penanggulangan masalah kerawanana pangan melalui kerjasama pemerintah. dan mastyarakat. perumusan kebijakan. Penyusunan kebijakan pembangunan di bidang pangan dan gizi Meningkatnya peran lembaga penelitian. Tersedianya peta rawan pangan dan gizi PROGRAM PENANGGUNG JAWAB 3. Masih terbatasnya ketersediaan tenaga terampil di bidang Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Peningkatan kemampuan dan kualitas penelitian dan pengembangan pangan dan 1. Masih belum optimalnya upaya untuk meningkatkan kepedulian masyarakat dalam memerangi masalah kerawanan pangan dan kekurangan gizi Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Memantapkan kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam pelaksanaan program pangan dan gizi Menggali dan memanfaatkan potensi sumber daya dari masyarakat untuk menanggulangi masalah pangan dan gizi 1. Peningkatan kerjasama dengan lembaga nonpemerintah dan kelompok masyarakat lain yang peduli terhadap peningkatan sumberdaya manusia (SDM) 2. perencanaan program dan evaluasi 4. Menggerakaan LSM dan swasta untuk berperan serta dalam penanggulangan masalah pangan dan gizi 3. swasta. perguruan tinggi dan Ketahanan Pangan Deptan Depdiknas 74 .

PROGRAM Penelitian dan Pengembangan Perbaikan Gizi Masyarakat PENANGGUNG JAWAB Depkes Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi 1. Penyusunan rencana kebutuhan tenaga pangan dan gizi 2. Pengembangan sertifikasi profesi 3. dalam rangka menghasilkan data dan informasi yang lebih dapat di percaya. Pengembangan kurikulum dan Pengembangan pendidikan tenaga gizi 2. Tersedianya tenaga pangan dan gizi yang memadai Ketahanan Pangan Pendidikan Kedinasan Perbaikan Gizi Masyarakat Deptan Depdiknas Depkes Pemantapan dan Pengembangan Kelembagaan Pangan dan Gizi Peningkatan pendidikan dan pemanfaatan tenaga profesional di bidang gizi di berbagai tingkat pemerintahan pusat dan daerah. Peningkatan kemampuan tenaga administrasi dan profesional melalui koordinasi perencanaan dan pengelolaan program pangan dan gizi dalam rangka memaksimalkan efektivitas program perbaikan gizi masyarakat. dan masyarakat. serta di masyarakat.NO ISU STRATEGIS pangan dan gizi. sarana dan dana) yang ada pada LSM dan swasta. Menggali potensi sumber daya (tenaga. lembaga penelitian dan pengelola program. Peningkatan kerjasama institusi pendidikan. KEGIATAN 2. guna memaksimalkan peran tenaga profesional dalam program gizi. perguruan tinggi. Pengembangan profesi tenaga pangan dan gizi melalui kerja sama institusi pendidikan dengan organisasi profesi Jumlah tenaga pangan dan gizi yang dilatih Ketahanan Pangan Prndidikan Non Formal Pendidikan Kedinasan Deptan Depdiknas Depkes 75 . Gizi KEBIJAKAN STRATEGI gizi melalui lembaga penelitian. 1. INDIKATOR masyarakat dalam menghasilkan data yang dapat dipercaya.

kualitas dan mobilitas Pengintegrasian faktor kependudukan ke dalam pembangunan sektoral dan daerah INDIKATOR PROGRAM Keserasian Kebijakan Kependudukan PENANGGUNG JAWAB BKKBN 7.NO ISU STRATEGIS KEBIJAKAN STRATEGI Pengendalian pertambahan penduduk 6. KEGIATAN Pengembangan kebijakan dan program pembangunan yang berwawasan kependudukan meliputi aspek kuantitas. 76 .

Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII. Programs and Prospective Development. Jakarta. 2003. 2004. A Framework to Monitor and Evaluate Implementation. 2006 Dewan Ketahanan Pangan. Jakarta. Geneva. poverty and the global water crisis. 2006 Departemen Kesehatan. World Bank. LIPI. UU No 20.2004. Departemen Kesehatan. 2005. Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). WHO. Sistem Pendidikan Nasional yang juga mengatur tentang "Wajib belajar 9 tahun". Soekirman dkk. Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Penanggulangan Gizi Buruk 2005 – 2009. 2000. Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VII. Indonesia Progress Report on the Millenium Development Goal. 2006 Government of Indonesia (GOI). Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Nasional.7 tahun 2005 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Tahun 2004-2009 Profil Pangan dan Pertanian 2003 – 2006. 2004. 2003. Human Development Report: Beyond scarcity: Power. Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2002-2003.2000.DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik (BPS). Bappenas. RI-WHO. Depdiknas. 2006. LIPI. Direktorat Pangan dan Pertanian. Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001-2005. 2005 Gizi dalam Angka sampai dengan 2005. Statistik Pertanian 2005 (Agriculturel Statictisc 2005). 2006 UNDP. 2006 77 . 2003. Laporan Indonesia untuk persiapan End Decade Goal 2000. Situational Analysis of Nutrition Problems in Indonesia: Its Policy. Departemen Pertanian. 2000. 2006. 2000. Bapenas dan Unicef. Physical Activity and Health. Repositioning Nutrition as Central to Development A Strategy for Large-Scale Action. Global Strategy on Diet. Peraturan Pemerintah No.

Destri Handayani. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah. Ketua Persatuan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI) 8. Departemen Kesehatan 2. Kasubdit Pangan. STP. Ketua Persatuan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) 9. 339/M.PPN/12/2005 Tentang Pembentukan Tim Penyusun Rencana Aksi Nasional Pangan dan Gizi Tahun 2006-2010) Tim Pengarah Ketua : Deputi Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan.LAMPIRAN TIM PENYUSUN RENCANA AKSI NASIONAL PANGAN DAN GIZI TAHUN 2006-2010 (Berdasarkan Keputusan Nomor: KEP. Pungkas Bahjuri Ali. Deputi Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Badan POM Anggota : 1. Kepala Badan Ketahanan Pangan. Dirjen Bina Kesehatan Masyarakat. Bappenas : 1. Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) 6. Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Direktorat Pangan dan Pertanian. Kementerian Bappenas Wakil Ketua : Deputi III Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya. Kementerian PPN/ Bappenas 4. Ketua Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia (YKAI) 11. Departemen Pertanian 3. Ir. Bappenas : Direktur Pangan dan Pertanian Bappenas : Kasubdit Gizi Masyarakat. Ketua Komisi Perlindungan Anak Tim Teknis Ketua Wakil Ketua Sekretaris Anggota : Direktur Kesehatan dan Gizi mAsyarakat. Bappenas 2. ME 3. Depdiknas 5. Ketua Tim Penggerak Program Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Pusat 10. MS 78 . Ketua Persatuan Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) 7.

Kabid Pemantauan Produksi Pangan. Kelompok Gizi Ketua : Direktur Gizi Masyarakat. DR. Depkes 4. Kasie Standarisasi. Depkes 2. Staf Direktorat Standarisasi Produk Pangan. Pusat Pengembangan Distribusi Pangan. Kabid Penganekaragaman Pangan. Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. Kabid Standarisasi. Kabid Kerawanan dan Mutu Pangan. Diretorat Gizi Masyarakat. Deptan 3. Deptan Anggota : 1. Subdirt Gizi Mikro. Direktorat Gizi Masyarakat. Depkes II. Deptan Sekretaris : Kabid Konsumsi Pangan Lokal. Kasubdit Surveilan dan Penanggulangan Keamanan Pangan. Abbas Basuni Jahari. BPOM 3.. Deptan 2. Pusat Standarisasi dan Akreditasi. Direktorat Gizi Masyarakat. Pusat Kewaspadaan Pangan. Kelompok Aksesibilitas Pangan Ketua : Kepala Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. Pusat Konsumsi dan Keamanan Pangan. BPOM 5. BPOM 2. MSc. Kasubdit Kewaspadaan Pangan. Kabid Pola Pemberdayaan. MPH. Kabid Analisis Harga. Direktorat Gizi Masyarakat. Kelompok Keamanan Pangan Ketua : Direktur Standarisasi Produk Pangan. Pusat Pemberdayaan Ketahanan Pangan Masyarakat. DR. Sekretariat Badan Ketahanan Pangan. Departemen Kesehatan Sekretaris : Kasubdit Gizi Makro. staf Subdit Gizi Makro. Depkes 5. Anggraini. Kasubdit Inspeksi Produksi dan Peredaran Produk Pangan. Deptan 4. Kabag Perencanaan. Subdit Kewaspadaan Gizi. Pusat Pengembangan Ketersediaan Pangan. Badan POM Sekretaris : Kasubdit Standarisasi Pangan Khusus. STP. Depkes 6. Deptan III. Imam Sumarno. Puslitbang Gizi. BPOM 4. Deptan 79 . Puslitbang Gizi. Depkes Anggota : 1. Deptan 5. Kasubdit Penilaian Pangan Khusus. Dian Proboyekti. Depkes 3.I. BPOM Anggota : 1. Deptan 6. Kasie Standarisasi.

Depdiknas 2. 12. Abbas Basuni Jahari Ali Muharam Andriyanto Arif Haryana Arum Atmawikarta Atmarita Darwin Karyadi Dhian P. 8. Depdiknas Anggota :1. 14. 15. Dipo Drajad Martianto Endah Murniningtyas Endang L. Depdiknas 5. Kabid Olahraga Kesiswaan. Sihombing Yosi Diani Tresna 80 . 10. 3. 9. Kasubdit Kesiswaan. 17. SKM. 19. 18. 2. 13.Kes. Kasubdit Kesehatan Olahraga. Kasubdit Kesiswaan. Achadi Entos Zaina Hardinsyah Ima Anggraini Inti Wikanestri 16.IV. 22. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga 6. Kasubdit Kesiswaan. 25. 4. Irawati Susalit Kismanto Mewa Ariani Minarto Muhammad Zakky Nana Mulyana Nita Yulianis Razak Thaha Soekirman Subiyakto Pungkas Bahjuri Ali Noor Avianto Tety H. Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani. Direktorat Pendidikan Menengah Umum. 21. 23. Kelompok Pola Hidup Sehat Ketua : Kepala Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani Sekretaris : Kabid Pengembangan Pendidikan Keterampilan Hidup dan Kesehatan. M. Direktorat Pendidikan TK dan SD. 7. Pusat Promosi Kesehatan. Depdiknas 4. 24. 6. Depkes TIM PENYUNTING 1. Ismoyowati. 20. 5. 28. Depdiknas 3. 26. 29. 27. 11.