P. 1
Laporan Perjalanan

Laporan Perjalanan

|Views: 444|Likes:
Published by fwidyantari
KKM mahasiswa Ilmu Sejarah ke Candi Cangkuang, Kampung Naga, Astana Gede Kawali dan Bumi Panjalu
KKM mahasiswa Ilmu Sejarah ke Candi Cangkuang, Kampung Naga, Astana Gede Kawali dan Bumi Panjalu

More info:

Categories:Types, Research, History
Published by: fwidyantari on Apr 20, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/28/2013

pdf

text

original

NAMA KEGIATAN Kuliah Kerja Mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia 2010

PENYELENGGARA KEGIATAN Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya Universitas Indonesia

TUJUAN KEGIATAN Memahami, mengetahui dan menganalisis secara langsung situs dan cagar budaya bersejarah

TEMPAT DAN TANGGAL KEGIATAN Kampung Pulo, Garut, Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya, Astana Gede Kawali, Ciamis, Bumi Alit dan Situ Panjalu, Ciamis, 16 Juni 2010 16 Juni 2010 17 Juni 2010 17 Juni 2010

LAPORAN PERJALANAN Pada Rabu tanggal 16 Juni 2010, merupakan hari keberangkatan kami untuk melaksanakan KKM (Kuliah Kerja Mahasiswa) ke beberapa daerah di Jawa Barat yaitu Garut, Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis. Sebelumnya menurut jadwal acara, mahasiswa diharapkan telah berkumpul pukul 06.00 di FIB untuk langsung berangkat, tetapi karena berbagai hal tekhnis keberangkatan baru dilakukan sekitar pukul 06.30. Cagar Budaya yang pertama kali dikunjungi adalah Situs Candi Cangkuang di Kampung Pulo, Garut. Kami berangkat sekitar pukul 12.45 setelah makan siang sebelumnya di daerah Nagrek.

Situs Candi Cangkuang, Garut (16 Juni 2010, 14.00 WIB) Tempat yang pertama kali kami kunjungi adalah Situs Cagar Budaya Candi Cangkuang di Kampung Pulo, Garut. Setibanya disana kami tidak langsung dapat melihat candinya, karena letak candi yang berada di Kampung Pulo itu adalah pulau kecil di tengah-tengah danau. Kami harus menaiki perahu rakit untuk dapat mencapai pulau tersebut. Setelah berada di Kampung Pulo, kami langsung dapat melihat satu bangunan candi yang ada disana. Candi Cangkuang ditemukan pada 9 Desember 1966 oleh arkeolog Drs. Uka Tjandrasasmita. Informasi ini diberitahukan oleh penjaga tempat tersebut yang selanjutnya akan terus memberikan informasi tentang tempat ini. Saat pertama kali menemukan puing-puing candi ini, Bapak Drs. Uka Tjandrasasmita juga menemukan sebuah Arca Siwa dan makam kuno di sekitar puing candi. Beliau melakukan penelitian penggalian dari tahun 1967 – 1968 dan menyimpulkan bahwa candi ini di bangun sekitar abad ke – 8. Kesimpulan ini didasari oleh penelitian terhadap pelapukan batuannya dan melihat bentuknya yang masih sederhana. Nama Cangkuang yang digunakan diambil dari nama daerah tempat candi ini ditemukan. Cangkuang sendiri adalah nama sejenis pohon palem

yang banyak tumbuh di daerah ini, buah dan daunnya biasa digunakan oleh penduduk sekitar untuk membuat obat anti oksidan, tikar maupun pembungkus gula aren. Dari sini lah nama Cangkuang awalnya berasal. Sekitar tahun 1967 – 1968 puing-puing candi yang hanya tersisa 40% terus diteliti sebelum akhirnya, dengan berbagai pertimbangan, dipugar atau dibangun kembali menjadi satu candi yang utuh dengan gambaran 40% sisa candi ini. Rencana ini mulai dijalankan pada tahun 1974 – 1976 dengan biaya dari anggaran APBN setempat. Bapak Drs. Uka Tjandrasasmita sebagai pemimpin dari tim ahli arkeologi di bantu oleh Bapak Hartoyo, secara langsung memantau pemugaran candi dengan ukuran 4.5 m x 8.5 m ini. Sayangnya para peneliti tidak dapat menemukan secara pasti kerajaan mana yang dulunya pernah membangun candi ini, namun mereka meyakini bahwa candi ini sezaman dengan raja dari Kerajaan Galuh yang pertama. Hal menarik yang ada di sekitar candi adalah makam yang ada di dekat puing-pung candi saat ditemukan. Itu adalah makam dari Arif Muhammad atau warga setempat biasa menyebutnya Mbah Dalem Arif Muhammad. Beliau merupakan panglima perang dari Kerajaan Mataram yang saat itu ditugaskan oleh Sultan Agung untuk menyerang tentara VOC di Batavia. Dalam penyerangan tersebut pasukan beliau mengalami kekalahan dan akhirnya harus mundur, tetapi beliau sendiri tidak memiliki keberanian untuk kembali lagi ke Mataram karena membayangkan tentang kemarahan Sultan Agung yang bisa membunuhnya dan rasa malu yang sangat besar terhadap rakyat Mataram. Akhirnya dia memutuskan untuk mengasingkan diri dan bersembunyi sampai akhirnya tiba di Cangkuang ini. Pada awal kedatangannya penduduk di daerah ini menganut kepercayaan animisme, dinamisme dan Hindu. Beliau lah yang menyebarkan Islam pertama kali di kampung ini dengan metode akulturasi kebudayaan setempat dengan Islam. Karena hal inilah maka sampai sekarang penduduk kampung ini beragama Islam tetapi tetap memiliki tradisi-tradisi lama kepercayaannya dulu yang penuh dengan mitos, seperti misalnya ritual memandikan benda-benda pusaka pada awal atau akhir bulan.

Tradisi lama yang masih terlihat di kampung ini sampai sekarang adalah bangunan pokok yang berjumlah 7 buah, terdiri dari 1 mushala dan 6 rumah yang menurut tradisi pula harus ditempati oleh keturunan Mbah Dalem Arif Muhammad yang perempuan. Bila keluarganya tidak memiliki anak perempuan maka digantikan oleh kerabat dekat keluarga yang juga harus perempuan. Terhitung dari datangnya Mbah Dalem, keluarga-keluarga yang menempati rumah ini sekarang adalah generasi ke -7 dan ke – 8. Adat tradisi yang lain adalah pantangan untuk melakukan ziarah ke makam setiap hari Rabu. Selain itu ada hal yang sangat unik lainnya di kampung ini, yaitu patokan waktu di kampung ini berbeda dari daerah manapun di Indonesia, yaitu apabila hari ini adalah Rabu dan waktunya awal shalat ashar maka di Kampung Pulo telah memasuki hari Kamis, tidak jelas bagaimana awal mulanya tetapi perhitungan waktunya memang seperti ini. Berarti rombongan kami saat itu telah berada di Kampung Pulo selama 2 hari waktu setempat karena kami datang sekitar pukul 14.00 dan meninggalkan tempat itu pada 16.00. Terdapat pula tradisi lain yang berupa pantangan seperti dilarang menambah bangunan pokok dan memelihara hewan berkaki empat seperti sapi,kerbau,kambing dan semacamnya, karena Mbah Dalem memiliki ketakutan kalau nantinya diperbolehkan memelihara binatang-binatang ini penduduk akan menganggap suci atau menyembahnya seperti tradisi Hindu di India, karena bagaimanapun juga kebudayaan-kebudayaan sebelum Islam masih tetap melekat pada diri setiap masyarakatnya. Mbah Dalem Arif Muhammad yang sepanjang hayatnya tinggal di kampung ini akhirnya dimakamkan didekat candi. Yang menarik, batu nisan beliau tidak seperti posisi batu nisan seperti umumnya melainkan agak dicondongkan ke dalam dengan merujuk pada ilmu padi yang semakin berisi semain merunduk. Selain candi, arca dan makam, di kampung ini juga terdapat sebuah balai khusus yang menyimpan benda-benda pusaka dan peninggalan dari Mbah Dalem Arif Muhammad, seperti kulit-kulit kayu yang berisikan tentang Al-Quran, Hadis dan Tauhid dalam huruf Jawa Kuno.

Setelah mendengar panjang lebar informasi tentang Cagar Budaya ini dan melihat langsung foto-foto lama tentang candi dan beberapa benda pusaka lainnya serta berkeliling melihat bangunan pokok di kampung ini, kami segera melanjutkan perjalanan berikutnya ke Kampung Naga.

Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya (16 Juni 2010, 17.00 WIB) Hanya butuh waktu sekitar 30 menit dari Candi Cangkuang ke Kampung Naga yang berada di Kabupaten Tasikmalaya. Dari tempat parkir kami langsung bisa melihat sebuah tugu yang cukup besar dengan kujang, senjata khas Jawa Barat, menghias di bagian puncaknya. Terdapat pula aksara Sunda yang turut menghiasi tugu ini sebagai tanda bahwa kami telah berada di Kampung Naga. Untuk mencapai rumah-rumah penduduk di Kampung Naga, kami harus menuruni tangga curam yang sangat panjang. Selama perjalanan kecil ini kami disuguhi pemandangan nan asri khas pedesaan dengan petak-petak sawah dan sungai yang berada di sepanjang pemukiman penduduk setempat. Setelah beberapa menit menyusuri tangga curam, kami akhirnya dapat melihat rumah-rumah yang seragam dengan atap-atap hitamnya, rumah penduduk Kampung Naga. Kami langsung memasuki sebuah bale kampung untuk mendengarkan informasi tentang Kampung Naga. Mang Nana, nara sumber kami mengatakan bahwa kampung yang berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya ini memiliki luas tanah 1.5 ha dengan batas-batas sebelah timur; Sungai Ciwulan, barat; bukit dan sebelah utara dan selatan; parit kecil. Dalam kampung ini terdapat 113 bangunan, yang terdiri dari 110 tempat tinggal dan 3 bale-bale pertemuan, selain itu ada pula masjid dan leuit yang berfungsi sebagai tempat lumbung padi umum. Kampung dengan jumlah penduduk dalam sekitar 314 kepala ini, sebagian besar memilih bertani sebagai mata pencahariannya, sebagian yang lain dengan membuat kerajinan tangan ataupun makanan ringan.

Perlu diketahui bahwa 90% penduduknya bermukim di luar Kampung Naga dan 100% penduduknya beragama Islam. Dalam hal pendidikan, karena terkendala biaya, mayoritas penduduknya hanya lulusan SD, tetapi dari tahun 2007 – 2010 tercatat ada 10 orang yang lulusan SMP dengan 7 orangnya dibiayai secara pribadi oleh orang Belanda. Dalam bidang pemerintahan terdapat dua institusi yang dijalankan disini, yaitu institusi non formal dan formal. Dalam institusi non formal dikenal 3 tetua,yaitu Kuncen yang dijabat oleh Bapak Ade S. yang fungsinya adalah sebagai pemangku adat dan memimpin upacara-upacara adat yang biasa diadakan 6x setiap tahunnya. Punduh, dijabat oleh Bapak Mahmud yang berfungsi sebagai pengayom warga dan yang terakhir adalah Lembe, dijabat oleh Bapak Ateng J. yang berfungsi sebagai pengurus jenazah dari dimandikan sampai dimakamkan. Ketiga tetua ini mendapatkan jabatannya secara turun temurun. Pada institus formal ada pemerintahan yang lebih modern, seperti Rukun Tetangga yang di jabat oleh Mang Nana, Rukun Warga yang dijabat oleh Bapak Okin dan Kepala Dusun yang dijabat oleh Bapak Suharyo. Berbeda dengan non formal yang di dapat secara turun temurun, dalam institisi formal pemilihan perangkat desanya dipilih dengan jalan demokratis. Sayangnya waktu kunjungan kami ini bertepatan dengan waktu yang dianggap pamali untuk membicarakan tentang tradisi, adat istiadat maupun hal-hal yang berhubungan dengan ritual, sehingga kunjungan kali ini tidak terlalu memuaskan. Tapi kami juga mendapat hal menarik lainnya, kami diajak melihatlihat bagian dalam dari rumah penduduk setempat, ternyata dalam satu rumah hanya terdapat ruang tamu, dapur dan satu kamar tidur. Tatanan yang seperti ini juga ditemukan di rumah-rumah lain yang ada di Kampung Naga. Antara rumah satu dan rumah lainnya pun berhimpitan. Ada yang mengatakan bahwa tatanan yang seperti ini baik untuk menjaga kebersamaan diantara tetangga.

Kunjungan di Kampung Naga ini berakhir selepas maghrib dan rombongan kami pun langsung menuju penginapan untuk beristirahat dan bersiap untuk kunjungan keesokan harinya Diskusi Malam, Penginapan (16 Juni 2010, 21.00 WIB) Setibanya kami di penginapan, sekitar pukul 20.30, kami langsung bergegas untuk makan malam dan beristirahat sebentar sebelum diskusi malam pukul 21.00. Diskusi malam dengan tema Sejarah Lokal/daerah wilayah Jawa Barat ini disampaikan dalam 2 sesi, yang pertama oleh Ibu Wardiningsih dengan judul presentasi “Pendekatan dalam Menulis Sejarah Lokal” dan Mas Iskandar dengan judul “Garut Jadi Pangirut, Sukapura Ngadaun Ngora: Dua Kota dalam Sejarah Lokal”. Diskusi yang memaparkan tentang bagaimana cara menulis sejarah lokal, sumber-sumber apa saja yang diperlukan dan contoh langsung tentang sejarah lokal itu sendiri berakhir sekitar pukul 23.00. Astana Gede Kawali, Ciamis (17 Juni 2010, 09.00) Setelah menempuh perjalanan sekitar 2 jam, kami akhirnya tiba di Astana Gede Kawali. Ada yang unik ditempat ini, yaitu di kompleks Astana Gede Kawali ini dikelilingi oleh banyak sekali kalelawar yang beterbangan kesana kemari dan hanya ada di atas tempat ini dan tidak menyebar ke pemukiman penduduk yang ada disekitarnya. Ditempat ini kami diterima oleh juru kunci yang akan banyak menceritakan kepada kami tentang Astana Gede Kawali. Astana Gede Kawali ini dipercaya sebagai tempat dimana Kerajaan Pajajaran berdiri. Dulu tempat ini sangat dikeramatkan oleh penduduk setempat tetapi setelah datangnya tim arkeologi dan menemukan banyak prasasti dan makammakam disini, tempat ini mulai dibuka sebagai salah satu cagar budaya. Ditempat ini kita dapat menemukan banyak prasasti peninggalan Kerajaan Pajajaran, juga terdapat makam-makam raja dan makam-makam penyebar islam yang pernah menetap di tempat ini.

Prasasti yang ditemukan menggunakan aksara Sunda dan isinya merupakan pesan-pesan moral. Seperti yang dijelaskan juru kunci, salah satu ungkapan dalam prasasti ini dijadikan moto juang Kabupaten Ciamis yaitu, Pake Nagara Rahayu Pake Bebel Jaya Dilabuhan, yang maksudnya adalah kita harus meningkatkan kejujuran dan keadilan agar berjaya di dunia, karena jika kita meningkatkan kejujuran dan keadilan ini insya Allah tidak akan ada tantangan. Selain menjelaskan tentang isi prasasti ini, juru kunci juga menceritakan sedikit tentang Kerajaan Pajajaran dan peristiwa Perang Bubat yang terkenal. Perang Bubat ini berawal dari sumpah Patih Gajah Mada yang berjanji tidak akan memakan buah palapa sampai semua wilayah Nusantara dipersatukan di bawah Kerajaan Majapahit, saat itu Kerajaan Pajajaran belum tunduk dibawah kepemimpinan Majapahit. Disaat yang hampir bersamaan, Raja Hayam Wuruk ingin meminang Diah Pitaloka dari Pajajaran sebagai calon permaisurinya. Diadakanlah perjalanan dari Pajajaran ke Majapahit, ini merupakan iring-iringan seserahan yang akan bertemu Hayam Wuruk dan segera melaksanakan pernikahan, rombongan ini berjumlah 300 orang. Saat tiba di wilayah Majapahit, rombongan bukan diterima di keraton melainkan di Lapangan Bubat di daerah Trowulan atau saat ini merupakan daerah Mojokerto. Menurut cerita, Patih Gajah Mada berbicara lain kepada rombongan Pajajaran, tidak seperti yang dikatakan Hayam Wuruk. Ia mengatakan bahwa rombongan Pajajaran akan diterima di keraton apabila bersedia tunduk di bawah kekuasaan Majapahit dan menyerahkan Diah Pitaloka sebagai upeti. Rombongan yang mendengar hal ini merasa telah dibohong serta di injak-injak harga dirinya dan memutuskan untuk perang saat itu juga. Karena kalah jumlah dan tidak ada persiapan, rombongan Pajajaran kalah di bawah tentara Hayam Wuruk. Dalam keadaan terpukul ini dan kehilangan para pembesarnya dalam perang tersebut, Pajajaran memulai pemerintahan baru dibawah Prabu Astukancana yang saat itu masih berusia 7 tahun, karena itu pemerintahannya diwakilkan oleh pamannya sampai ia dewasa. Prabu Astukancana memerintah Pajajaran selama 104 tahun dan ia dikenal sebagai pemimpin yang arif bijaksana dan dibawah

kepemimpinannya ini ia telah menyuburkan 10 desa di Pajajaran, hal ini tertulis pada prasasti pertama, seperti yang diceritakan juru kunci. Setelah beliau wafat, Pajajaran menjadi tidak stabil dan akhirnya terpecah menjadi dua kerajaan yaitu Kerajaan Sunda Galuh dari wilayah Sungai Citarum ke timur dan Kerajaan Pakuan Pajajaran dari Sungai Citarum ke barat dan utara. Prabu Siliwangi lah yang dipercaya dilahirkan dan dibesarkan ditempat ini yang akhirnya menyatukan kembali dua kerajaan tersebut dan menetapkan Bogor sebagai pusat kerajaannya. Dengan desakan dari Kesultanan Islam di Banten dan banyaknya pengaruh Islam dari Cirebon maka ditempat ini sebagian besar di isi oleh makam-makam pembawa Islam dari Cirebon. Dengan berakhirnya cerita yang di tuturkan juru kunci ini maka berakhir pula kunjungan kami di Astana Gede Kawali. Bumi Alit dan Situs Panjalu, Ciamis (17 Juni 2010, 11.06 WIB) Tempat terakhir dalam kunjungan kami ini adalah Situs Panjalu atau Bumi Alit yang merupakan bekas istana dan makam keluarga Kerajaan Sunda Galuh. Seperti kunjungan-kunjungan sebelumnya, di Bumi Alit pun kami ditemani juru kunci yang akan menceritakan kisah tentang Bumi Alit yang berkaitan rat dengan Kerajaan Panjalu. Awalnya Kerajaan Panjalu dipimpin oleh seorang wanita yang bernama Sang Hyang Ratu Permana Dewi, hal ini lah yang menyebabkan kerajaan ini dinamakan Panjalu dalam bahasa Sunda yang artinya adalah wanita. Sekitar tahun 600, menurut yang diceritakan juru kunci, Sang Hyang Borosngora,yang nantinya menjadi pembawa Islam pertama di Kerajaan Panjalu, pergi untuk mencari ilmu yang lebih tinggi untuk menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh ayahnya, Prabu Tjakradewa, tantangannya cukup sederhana yaitu bagaimana caranya mempertahankan air di dalam suatu gelas yang bagian bawahnya telah dilubangi. Ia terus melakukan pencarian sampai ke Asia Timur dan Asia Barat. Saat tiba di Arafah, Arab, ia memutuskan untuk melakukan semedi, saat itulah ia bertemu dengan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang lantas mengajaknya untuk pergi ke Mekkah. Ditempat itu Khalifah Ali mengajarkannya lafadz

Syahadat, mengajarkannya tentang Rukun Iman dan Rukun Islam serta memberikannya pedang Ali bin Abi Thalib untuk dibawa ke Bumi Alit. Khalifah Ali juga memberinya air zam-zam sebagai jawaban dari tantangan yang diberikan ayahnya. Setelah peristiwa tersebut, Sang Hyang Borosngora segera kembali ke Panjalu dan menceritakan peristiwa tersebut kepada ayahnya, ternyata benar saja, air zam-zam yang di berikan Khalifah Ali tidak tumpah sama sekali saat di tuangkan dalam gelas berlubang tersebut. Juru kunci dan penduduk setempat percaya bahwa Situ Lengkong yang mengelilingi Panjalu merupakan campuran dari air zam-zam tersebut. Gambaran tentang kisah ini pun diabadikan disepanjang dinding di daerah Situs Panjalu. Bumi Alit memang bukan pusat dari Kerajaan Panjalu tetapi di tempat inilah benda-benda pusaka seperti pedang Khalifah Ali, tombak dan pusaka-pusaka peninggalan kerajaan lainnya disimpan. Terdapat ritual-ritual tertentu yang dilakukan penduduk setempat setiap Maulid Nabi pada bulan Rabbiulawal, yaitu upacara memandikan benda-benda pusaka tersebut dengan air dari Situ Lengkong. Situs Panjalu, Ciamis (17 Juni 2010, 13.00 WIB) Dari Bumi alit, setelah sebentar beristirahal shalat dzuhur, kami melanjutkan perjalanan ke Situs Panjalu yang kira-kira hanya 15-30 menit dari Bumi Alit ini. Jika di Bumi Alit merupakan tempat menyimpan benda-benda pusaka, Situs Panjalu merupakan tempat makam-makam keluarga Kerajaan Galuh. Sama seperti di Situs Cagar Budaya Candi Cangkuang, Situs Panjalu ini merupakan pulau kecil ditengahtengah danau yang disebut Situ Lengkong, kami juga harus menaiki kapal motor untuk mencapai Panjalu. Tetapi berbeda dari tempat-tempat sebelumnya, di tempat ini kami tidak ditemani oleh kuncen atau juru kunci, kami hanya berkeliling sendiri mencari tahu tentang tempat ini. Tidak ada yang akan mengira tempat ini sering dikunjungi orang jika tidak ada banyak perahu motor dan gerbang cukup besar dengan patung dua ular di atasnya. Secara umum Panjalu merupakan pulau dengan pepohonan rimbun

yang sangat banyak, orang-orang yang ada disini umumnya hanya peziarah atau juru kunci yang memandu mereka. Kebetulan saat kami datang bertepatan dengan rombongan yang akan melakukan ziarah, mereka berkumpul di satu-satunya aula yang ada di Panjalu ini. Setelah melewati gerbang utama kami harus menaiki tangga yang cukup tinggi, sampai diatas hanya ada makam di sebelah kanan dan kiri serta satu ruang aula. Selebihnya kawasan ini dikelilingi oleh peohonan besar. Tetapi ada satu jalan setapak yang saya lihat dan lantas langsung menelusurinya, di ujung jalan tersebut terdapat sebuah gazebo yang dikelilingi pagar batu, di dalamnya terdapat sebuah prasasti yang bertuliskan aksara Sunda dan prasasti tersebut dibungkus oleh kain. Kami tidak dapat mengetahui digunakan untuk apakah tempat tersebut dan apa arti tulisan pada prasasti itu tetapi menurut perkiraan kami tempat itu mungkin saja digunakan sebagai tempat ziarah atau semacamnya. Kunjungan ke Situs Panjalu ini mengakhiri perjalanan KKM kami.

Catatan Serangkaian kunjungan dalam rangka memenuhi kegiatan Kuliah Kerja Mahasiswa ini telah dijalankan dengan baik sehingga melancarkan pembuatan laporan perjalanan ini. Semua informasi dan kisah yang dituliskan diatas didapatkan secara langsung melalui para juru kunci ataupun kuncen dalam tempat-tempat kunjungan serta pengamatan secara langsung penulis. Apabila terdapat kesalahan nama, sebutan atau ungkapan mohon dimaklumi karena kesalahan tekhnis dan keterbatasan sumber.

LAPORAN PERJALANAN KULIAH KERJA MAHASISWA PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH 2009 16 JUNI 2010 – 17 JUNI 2010

PENULIS FIRDHA WIDYANTARI 0906635904

FAKULTAS ILMU PENGETAHUAN DAN BUDAYA UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->