You are on page 1of 17

MASSAGE

Masase adalah pemijatan atau pengurutan pada bagian badan tertentu dengan tangan atau alat-alat khusus untuk
melancarkan peredaran darah sebagai cara pengobatan atau untuk menghilangkan rasa capek.

Sebelum kita mengetahui lebih lanjut soal masase, terlebih dahulu kita akan mengulas  otot yang akan menjadi objek dalam
melakukan masase (pemijatan).

Otot adalah Sebuah jaringan konektif dalam tubuh yang tugas utamanya kontraksi. Kontraksi otot di gunakan untuk
memindahkan bagian-bagian tubuh & substansi dalam tubuh.

Berdasarkan jaringan otot di bagi menjadi :

-          Otot polos

-          Otot lurik

-          Otot jantung

Berdasarkan kecepatan kontraksinya otot di bagi menjadi :

-          Otot lambat

-          Otot cepat

Otot mempunyai tiga fungsi pokok utama yaitu :

-          Fungsi gerak

Terdiri dari gerak bentuk lokomosi (berpindah tempat), bagian gerak bagian tubuh, perubahan ukuran tabung, misalnya
dorongan terhadap darah yang melalui arteri karena dorongan jantung atau lewatnya makanan melalui saluran pencernaan
makanan karena lambung dan usus kontraksi. Lokomosi artinya penyesuaian diri terhadap lingkungannya.
-          Fungsi dalam pemeliharaan postur tubuh.

Kontraksi parsial beberapa otot kerangka dilanjutkan serempak sehingga memungkinkan kita untuk berdiri, duduk atau
dalam bentuk posisi lain.

-          Fungsi sebagai penghasil panas tubuh.

Perubahan kimia yang terjadi dalam kegiatan otot menghasilkan panas yang cukup untuk memelihara panas tubuh.

Adapun penyebab otot bisa berkontraksi karena adanya protein kontraktil. Protein kontraktil ini terdiri dari filamen tipis dan
filamen tebal. Filamen tipis terdiri dari aktin, tropomiosin dan troponin sebagai satu kesatuan unit fungsional. Filamen tebal
terdiri dari miosin dan beberapa jenis protein lainnya (misalnynya C – Protein )

Yang membedakan otot untuk lari jarak pendek dan lari jarak jauh

Yang membedakan antara otot untuk lari jarak pendek dan lari jarak jauh adalah kecepatan kontraksi otot nya. Berdasarkan
kecepatannya otot di bagi menjadi otot lambat dan otot cepat. Pada otot cepat mempunyai aktifitas ATP ase mitokondria
yang tinggi, mendapatkan persyarafan dari motorneuron yang kasar dan cepat lelah. Sebaliknya pada otot lambat aktifitas
ATP ase mitokondria lambat, mendapatkan persyarafan dari motor neuron yang lembut dan tidak cepat lelah. Otot yang
banyak mengandung serabut cepat b berfungsi untuk beradaptasi dengan gerakan yang cepat dan kuat, misalnya
melompat dan lari 100 m atau lari cepat. Sedangkan tipe lambat berfungsi untuk mengatur kontraksi yang lama dan
berkelanjutan seperti menyokong berat badan melewati gravitasi dan lari jarak jauh.

Cenis Cedera Dalam Olahraga

Berbicara tentang Cedera dalam Olahraga, pasti tak seorang pun yang mau mengalaminya.. Pasti itu(Vrs.Bugis), apalagi
bagi mereka yang berkecimpung di bidang olahraga. Hal itu juga berlaku pada para pemain sepak bola profesional. Cedera
merupakan risiko maupun momok yang sangat menakutkan bagi para pemain bola. Tidak hanya rasa sakit yang diderita,
tapi juga kehilangan sejumlah kesempatan untuk tampil, baik dalam lingkup klub maupun hilangnya peluang untuk masuk
ke timnas. Secara umum, ada 5 jenis cedera yang kerap kali dialami oleh para atlet pada umumnya. Berikut adalah kelima
jenis cedera tersebut: 
1. Keseleo (Sprains) 
2. Otot Tertarik atau Kram (Strains) 
3. Patah atau Retak Tulang (Fractures) 
4. Cedera Pada Lutut (Knee Injuries) 
5. Cedera Pada Kepala (Head Injury).

Menurut fungsinya masase/massage dapat digunakan sebagai berikut :

1. Massage/Masase untuk tujuan terapi (therapy massage), adalah upaya masase untuk memberikan pengaruh yang baik
terhadap suatu kondisi cedera atau penyakit (patologi).  
2.Massage/Masase kecantikan (beauty massaege), adalah upaya masase untuk menghindarkan kekeriputan dan
kekeringan kulit.  
3. Massage/Masase kesehatan (hygiene massage), adalah upaya masase untuk memelihara kebugaran tubuh,
menormalkan fungsi organ serta menghindarkan diri dari penyakit atau kelainan.  
4. Massage/Masase olahraga (sport massage), adalah upaya masase dengan menggunakan teknik menipulasi yang
bermacam-macam untuk memperbaiki dan mempertahankan kondisi tubuh olahragawan serta menghilangkan kelainan-
kelainan akibat olahraga yang ditimbulkan.
Untuk lebih lengkapanya silahkan download dengan mengklik link berikut ini (lengkap gambar dan penjelasannya):

Kita coba ulas kembali soal Masage


Siap goo  goo  goo...

1. Tata cara Masase/Massage Part I. Download


2. Tata cara Masase/Massage Part II. Download
3. Tata cara Masase/Massage Part III. Download
4. Tata cara Masase/Massage Part IV. Download
5. Tata cara Masase/Massage Part V. Download

Pengertian Masase

Masase berasal dari bahasa Arab “mash” yang artinya “menekan dengan lembut” atau dari kata Yunani “massien”
yang berarti “memijat atau melulut”. Akan tetapi istilah yang paling populer yang digunakan adalah dalam bahasa Perancis
“masser” yang artinya “menggosok”. Menurut pengertiannya massase yang berasal dari bahasa Inggris “massage” adalah
pemijatan, pengurutan dan sebagainya pada bagian-bagian badan tertentu dengan tangan atau alat-alat khusus untuk
melancarkan peredaran darah sebagai cara pengobatan atau untuk menghilangkan rasa lelah.
Cara melakukan masase atau manipulasi masih menggunakan istilah-istilah dalam bahasa Perancis. Manipulasi-
manipulasi tersebut dilaksanakan dengan tangan secara sistematis yang bertujuan menimbulkan efek pada system otot,
susunan syaraf serta sirkulasi darah secara keseluruhan (general) maupun setempat (lokal).
Masase akan menimbulkan suatu pengaruh fisiologis dan mekanis yang mendatangkan suatu relaksasi atau rasa
sakit yang berkurang akibat adanya pembengkakan (haematome). Selain itu masase juga menimbulkan pengaruh secara
psikologis yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri (self confidence).
Banyak para ahli berpendapat bahwa teknik manipulasi dengan tangan memberikan hasil yang lebih baik daripada
menggunakan alat-alat elektris, karena teknik manipulasi dengan tangan dapat memberikan sentuhan yang sensitife
alamiah.
Menurut fungsinya masase dapat digunakan sebagai berikut :

1. Masase untuk tujuan terapi (therapy massage), adalah upaya masase untuk memberikan pengaruh yang baik
terhadap suatu kondisi cedera atau penyakit (patologi).

2. Masase kecantikan (beauty massaege), adalah upaya masase untuk menghindarkan kekeriputan dan kekeringan
kulit.
3. Masase kesehatan (hygiene massage), adalah upaya masase untuk memelihara kebugaran tubuh, menormalkan
fungsi organ serta menghindarkan diri dari penyakit atau kelainan.
4. Masase olahraga (sport massage), adalah upaya masase dengan menggunakan teknik menipulasi yang
bermacam-macam untuk memperbaiki dan mempertahankan kondisi tubuh olahragawan serta menghilangkan
kelainan-kelainan akibat olahraga yang ditimbulkan.

Masase olahraga mempunyai tujuan dalam menunjang pencapaian prestasi suatu pertandingan atau perlombaan. Hal ini
tersebut dilakukan untuk tujuan preparatife, prefentif dan kuratif.

1. Preparatif, adalah tujuan masase untuk mempersiapkan olahragawan memiliki kondisi badan yang baik sehingga
dapat menghadapi dan menanggulangi ketegangan-ketegangan yang timbul dalam suatu pertandingan atau
perlombaan.

2. Prefentif, adalah tujuan masase dalam mempertahankan dan mengembalikan fungsi alat gerak (pulih asal) agar
tetap dapat berfungsi dengan baik.
3. Kuratif, adalah tujuan masase untuk memperbaiki kembali kondisi tubuh setelah mengalami cedera atau
mengurangi rasa sakit pada otot yang ditimbulkan oleh tertimbunnya asam laktat (lactyt acid).

Sejarah Perkembangan Masase


Masase sebagai cara pengobatan, telah dikenal sejak zaman pra sejarah oleh berbagai suku bangsa di dunia.
Data-data menunjukkan bahwa usia masase sama tuanya dengan peradaban manusia.
Cacatan sejarah menunjukkan bahwa bangsa Cina telah mengenal masase kurang lebih 3.000 tahun sebelum
masehi. Dalam ajaran-ajaran Kung Fhu Tzu, diketahui bahwa masase telah dipergunakan bukan semata-mata untuk
pemeliharaan kesehatan saja tetapi juga sebgai salah satu cara pengobatan. Demikian pula masase juga dikenal oleh
bangsa Yunani purba yang menggunakan masase sebagai bentuk kemewahan setelah melakukan latihan-latihan gymnastik
untuk membentuk keindahan tubuh.
Bapak dari ilmu kedokteran yaitu Hippocrates (430-360 SM) menggunakan masase untuk para pasiennya,
disamping dengan sinar matahari, mandi air panas, serta latihan-latihan badan untuk menyembuhkan kekuatan pada sendi
dan otot-otot yang lemah.

Menurut Hipocrates  “Bahwa seorang dokter harus memiliki keterampilan dalam banyak hal, lebih-lebih dalam
menggunakan masase”. Masase dapat menguatkan sendi-sendi yang lemah dan melemaskan sendi-sendi yang kaku.
Dalam mempraktekkan masase, beliau menggunakan istilah “Anaptripsis” yang berarti pemijatan menuju ke arah jantung,
yaitu mulai dari kaki menuju ke atas, sedangkan dari atas yaitu kepala atau leher ke bawah ke arah jantung. Hal ini
merupakan suatu bukti adanya dasar ilmiah dalam melakukan masase pada jaman itu.
Pada abad XVI pengetahuan tentang anatomi semakin maju, hal tersebut semakin menambah gairah dari
pemakaian masase. Pada tahun 1975, seorang dokter berkebangsaan Perancis yaitu Ambroise Para menjelaskan tentang
teknik serta efeknya masase friction yang lembut, sedang dan kaku dan menganjurkan untuk salah sendi (dislokasi).
Pada tahun-tahun berikutnya masase semakin mengalami perkembangan, apalagi setelah Pehr Hendrik Ling
(1976-1839) yang berkebangsaan Swedia menciptakan Gymnastic Sistem Swedia yang sekarang lebih dikenal dengan
Masase Sistem Swedia. Ling menyusun Gymnasticnya dalam empat bentuk yaitu : educational gymnastic, military
gymnastic, medical gymnastic, dan aesthetic gymnastic.
Tahun 1913 Ling mendirikan “Central Instituteof Gymnastic” di Stocholm, ia mengajar sampai saat meninggalnya
pada tahun 1839. Ling dan para pengikutnya telah banyak berjasa dalam memajukan masase tidak hanya di Swedia tetapi
juga di beberapa Negara Eropa.
Menjelang akhir abad XIX masase telah benar-benar mempunyai kedudukan yang baik di dalam dunia
pengobatan. Dr. Mezger dari Amsterdam adalah dokter terkenal yang menyebarluaskan masase bahkan ia sendiri bertindak
sebagai masseur. Sejak saat itu masase menjadi suatu cara perawatan yang terkenal di Eropa dan Amerika.
Pada tahun 1894 kaum wanita di Inggris membentuk perhimpunan Masseuse yaitu “The Sociaty of Trained
Masseuse” dengan tujuan meningkatkan standar masase dan memperbaiki status wanita yang memilih masase sebagai
profesinya. Perhimpunan tersebut kemudian bergabung dengan “The Institut of Massage And Remedial Exercice” yang
akhirnya membuat peraturan untuk menyelenggarakan pendidikan dan ujian. Pada waktu itu di kota Manchester
anggotanya telah mencapai 5.000 orang. Masase dan Medical Gimnastycnya terus berkembang dan dipergunakan secara
luas sebagai Physical Treatment untuk melengkapi perawatan dengan pengobatan dan pembedahan.

Perkembangan Masase di Indonesia


Di Indonesia, masase telah dikenal dengan sebutan bahasa daerah : pijat, urut atau lulut dan rtelah lama dikenal
sejak jaman kuno oleh nenek moyang kita dengan sebutan “dukun pijat” atau “dukun urut”. Dukun pijat sebagai orang yang
mempraktekkan pijat sering ditafsirkan bermacam-macam, antara lain :

1. Dukun pijat adalah orang yang menyegarkan tubuh (raga) dari rasa lelah atau penat.

2. Dukun pijat adalah orang yang menangani patah tulang, terkilir atau salah urat, kemudian lebih dikenal dengan
dukun sangkal putung.
3. Dukun pijat dapat pula sebagai masseur atau ahli masase, yang umumnya menangani olahragawan.
4. Dukun pijat diartikan pula sebagai dukun alusan atau pijat alus karena pemijatnya terdiri dari wanita yang
umumnya berparas cantik.

Dalam melakukan pemijatan seorang dukun pijat memperoleh keahliannya karena bakat, keturunan dan
pengalaman prateknya. Semakin tua, si dukun dianggap ahli oleh masyarakat awam. Bahkan ada anggapan bahwa dengan
berpantang dan berpuasa kemampuan seorang dukun pijat akan semakin bertambah. Namun seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan, teknik-teknik pijat sebagai salah satu upaya penyembuhan alternatif juga mengalami
kemajuan.
Di Indonesia, kiranya pijat atau lulut yang sekarang dikenal dengan nama “masase” sudah bukan hal yang asing
lagi, karena di setiap daerah sampai ke pelosok-pelosok pun dapat dengan mudah ditemukan, seorang pemijat laki-laki atau
wanita. Mereka melakukan pekerjaan memijat biasanya sebagai pekerjaan sambilan, tetapi ada pula yang merupakan
pekerjaan utamanya (profesi).
Pada umumnya hasil pemijatan memberikan rasa nyaman dan memuaskan pasiennya, tetapi ada pula setelah
dipijat justru meninggalkan rasa sakit yang disebabkan karena tekanan-tekanan yang diberikan terlalu kuat atau keras. Hal
tersebut dapat terjadi karena minimnya pengalaman atau pengetahuan tentang teknik masase yang benar.
Menyadari akan kurangnya pengetahuan tentang masase, di Solo pada tahun 1960, pernah diajarkan sistem dan
teknik masase Swedia (swedish massage) sebagai suatu pedoman cara memijat yang benar. Masase sistem swedia
merupakan salah satu dari sistem masase yang paling banyak digunakan di seluruh dunia.
Mengenai baik atau tidaknya suatu sistem masase ditentukan oleh berhasilnya pelaksanaan masase tersebut.
Jadi setelah menguasai teori maka tahap berikutnya ialah mempraktekkannya dengan mengarahkan seluruh manipulasi ke
arah jantung. Sejauh teori dapat mencapai tujuannya, maka dapat dikatakan bahwa teori dari sistem tersebut adalah baik
dan benar. Misalkan seorang yang menderita kelelahan atau cedera ringan karena mengikuti suatu perlombaan atau
pertandingan, apabila orang tersebut dimasase dengan cara yang benar maka seharusnya rasa sakit yang di derita akan
semakin berkurang atau hilang sama sekali.
Masase atau pijat merupakan keterampilan yang melibatkan unsur-unsur pengetahuan, naluri dan seni merawat
tubuh yang diperoleh dari seringnya melakukan praktek masase atau dalam istilah masase telah memiliki “jam terbang yang
tinggi”. Selain itu seorang pemijat harus mempunyai kekuatan, kelincahan dan kerja tangan secara mekanis diarahkan ke
jantung untuk menghasilkan rasa enak dan menyegarkan yang menghasilkan pengurangan rasa sakit dari suatu cedera
tertentu.
Banyaknya kegiatan olahraga khususnya olahraga yang memerlukan gerakan-gerakan yang cepat dan kuat
(explosive) seperti : sepak bola, bola basket, bulu tangkis, dan lain-lain dapat menyebabkan terjadinya terkilir atau keseleo
yang diikuti dengan pembengkakan. Maka dalam sebuah Tim Olahraga, hal itu merupakan tugas dan tanggung jawab
masseur/masseuse untuk memberikan perawatan dengan teknik dan metode yang benar. Sedangkan, jika terjadi patah
tulang (fracture) sebaiknya segera dibawa ke rumah sakit, karena hal tersebut merupakan tanggung jawab dokter yang ahli
di bidangnya (ortopedi).

FAKTOR-FAKTOR DALAM PELAKSANAAN MASASE

Syarat-syarat Yang Diperlukan Bagi Seorang Masseur/Masseuse


Untuk menjadi seorang pemijat pria/wanita (masseur/masseuse) yang baik dan berhasil, haruslah memiliki minat
dan kecintaan terhadap pekerjaannya, serta memiliki tanggung jawab terhadap keselamatan pasien. Seorang
masseur/masseuse diwajibkan menguasai dan memiliki dasar-dasar pengetahuan tentang keadaan si pasien dan selalu
mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan modern, terutama dalam perkembangan dalam ilmu kedokteraan dan sistem
pengobatan.
Masseur/masseuse selalu bekerja dengan kecerdasannya artinya : dapat berfikir dengan cepat dan bertindak
dengan tepat sesuai dengan berbagai kondisi yang ditemukan pada pasien.

Tangan Seorang Masseur/Masseuse


Tangan yang ideal untuk melakukan masase adalah yang lebar, penuh kelembutan, hangat, dengan sentuhan
yang sensitif dan enak (nyaman). Tangan yang lembab dan selalu berpeluh merupakan ciri tangan yang kurang sesuai
untuk pekerjaan ini. Kalau memang terpaksa dapat digunakan spiritus atau alcohol untuk mengurangi keluarnya keringat
dari telapak tangan.
Untuk menjaga kondisi dan kekuatan tangan pada saat melakukan masase, seorang masseur/masseuse hendaknya juga
melakukan latihan-latihan misalnya : push up, angkat barbell dan hand grip. Selain itu keterampilan tangan harus dilatih
untuk meningkatkan ketepatan, kecepatan dan kelembutan.

Arah Gerakan Tangan


Gerakan tangan yang benara dari seorang masseur/masseuse adalah ke arah centripetal yaitu gerakan tangan
yang mengikuti pembuluh darah balik (vena) yang membawa darah kotor ke jantung.
Pada bagian-bagian di bawah jantung harus diarahkan ke atas (ke arah jantung), sedangkan pada bagian tubuh di
atas jantung terutama leher sebagai jembatan penghubung kepala harus diarahkan ke bawah (ke arah jantung) melalui
pembuluh darah balik (vena).

Manipulasi Pada Pasien


Manipulasi atau Pegangan yang dilakukan seorang masseur/masseuse dilakukan dengan tekanan yang cukup
disesuaikan kondisi si pasien dan penuh perasaan sehingga mendatangkan rasa enak (nyaman) pada pasien yang
bersangkutan.
Pada saat melakukan masase, tangan masseur/masseuse harus dalam keadaan rileks, tidak kaku atau tegang.
Jika perlu harus menggunakan berat badanya untuk memberikan tambahan tekanan, tetapi tetaplah harus dalam batas-
batas yang sesuai menurut kebutuhannya, sehingga tidak sampai menimbulkan bercak-bercak merah (memar) yang
menimbulkan rasa sakit.
Masseur/masseuse tetap harus memusatkan perhatiannya terhadap tugas yang dihadapi dan selalu sensitif
(peka) terhadap segala perubahan-perubahan yang terjadi pada si pasien. Hal-hal yang perlu mendapatkan perhatian
antara lain :

1. Keadaan kulit, misalnya kulit yang kasar, suhu (dingin/panas) atau warna kemerah-merahan (bengkak).

2. Keadaan abnormal pada jaringan di bawah kulit, misalnya pembengkakan (haematome), pengerasan atau
penebalan (miogelosen), jaringan yang lunak, otot kaku atau kejang-kejang.
3. Pergeseran pada sendi atau perubahan dalam luas gerak persendian.
4. Tanda-tanda kelelahan, kesulitan dalam pernafasan dan lain-lain.

Posisi Pasien
Seorang pasien yang akan dimasase hendaknya mengambil posisi serileks mungkin, agar bagian yang akan
dimasase tidak mengalami ketegangan (kendor).
Keadaan rileks dari pasien ini sangatlah penting, agar manipulasi yang diberikan memperoleh hasil yang sebaik-
baiknya, selain itu keadaan rileks akan memberikan istirahat jasmani dan rohani. Hal ini diperlukan mengingat banyak orang
yang mengalami kesibukan, ketegangan dan kecemasan dalam kehidupan sehari-hari. Terkadang jika seorang pasien
diminta untuk rileks, tanpa disadari ia justru menimbulkan ketengangan pada anggota tubuhnya, hal ini timbul karena ada
perasaan cemas, takut sakit atau asing terhadap keadaan sekitarnya.
Untuk melihat apakah si pasien benar-benar dalam keadaan rileks selama perawatan diberikan, maka dapat di tes
dengan memberikan manipulasi dengan sedikit gerakan pasif yaitu mengangkat salah satu anggota badan ke atas dan
kemudian dibiarkan jatuh. Jika masih ada ketengangan, maka pasien diminta berbaring lagi seakan-akan tidak bertenaga
sama sekali.
Pasien harus dalam keadaan hangat selama dimasase, dan diharapkan tidak terhembus oleh angin, meskipun di
dalam ruangan terdapat banyak ventilasi. Selain itu selama di masase, bagian tubuh yang tidak di masase harus ditutup
atau diselimuti. Hal tersebut perlu diperhatikan agar pasien tetap dalam kondisi nyaman dan efek masase dapat dirasakan
secara maksimal.
Beberapa posisi yang dianjurkan selama kegiatan masase antara lain :

1. Posisi Tidur Telungkup

Posisi tidur telungkup yang baik adalah kedua lengan lurus ke bawah di samping badan, kepala dipalingkan ke samping dan
diletakkan diatas bantal yang tidak terlalu tinggi atau bila tidak ada bantal dapat melibatkan kedua tangan yang diletakkan di
bawah dagu. Jika terdapat bangku masase yang lebih modern, biasanya posisi kepala diletakkan pada bagian yang
berlubang dengan hiasan dibawah sebagai penyegar pandangan (misalnya : bunga segar yang diletakkan di baskom).
Posisi lengan yang di samping badan hendaknya jangan sampai terkulai ke bawah, karena akan banyak darah yang
mengalir ke lengan sehingga terjadillah pembendungan. Oleh karena itu lengan diletakkan di samping badan, dengan jari-
jari serta telapak tangan menghadap ke atas.
Untuk menjaga agar kaki bawah (sendi pergelangan  kaki : engkel) tidak terlalu bengkok yang menyebabkan rasa sakit
berilah alas dengan guling di bawah kura-kura kaki. Jika ada pasien yang bentuk badannya tinggi dapat digunakan cara
yaitu meletakkan kakinya pada tepi bangku masase dengan diberi alas bantal tipis atau handuk yang dilipat, dan apabila
pada posisi telungkup ada pasien yang merasa sakit pada daerah lutut, berilah alas berupa handuk atau bahan lain,
sehingga tempurung lutut akan terlindungi.

2. Posisi Tidur Telentang

Untuk memasase tubuh bagian depan, maka posisi pasien harus tidur telentang dan lengan diletakkan di samping badan.
Letakkan bantal yang tidak terlalu tinggi di bawah kepala dan guling atau gulungan handuk di bawah lutut untuk
menghindari rasa sakit pada saat melakukan tekanan pada paha bagian depan (quadriceps).

3. Posisi Duduk

Posisi duduk yang lebih baik adalah pantat diletakkan pada alas kursi, sedangkan pinggang-punggung pada kondisi
bersandar. Kaki, tangan, leher dan kepala dalam keadaan rileks, dan tidak ada bagian tubuh yang kontraksi sedikitpun.
Tempat duduk yang baik adalah bangku masase, tetapi jika tidak ada dapat memakai kursi biasa yang kerangkanya
memenuhi syarat secara otomatis, dan sikap masseur/masseuse pada saat memasase dalam posisi berdiri.

Penggunaan Bahan Pelicin


Beberapa macam bahan pelican yang dapat digunakan dalam melakukan masase, antara lain :

1. Berupa minyak cair : baby oil, minyak zaitun, minyak aroma terapi (almond, lavender dll), minyak kelapa (ikan
dorang), dll.

2. Berupa bedak : baby talk, salycil talk, dll.

3. Berupa bahan cair beraroma : hand body, citra, dll.


4. Berupa vaselin : balsem, vicks, avitson, dll.
5. Berupa cream : counterpain, stop-x, rheumason cream, dll.
6. Berupa sabun : sabun mandi, sabun cuci, dll.

Dari berbagai persyaratan bahan pelican yang dikemukakan di atas, maka ada syarat-syarat yang harus dipenuhi,
yaitu :

1. Tidak mengganggu kulit pasien, misalkan yang tidak tahan rheumason karena panasnya, tidak perlu diberikan
karena akan menimbulkan panas yang berlebihan dan rasa tidak nyaman.

2. Tidak berbau terlalu tajam sehingga mengganggu pasien.

3. Tidak terlalu cepat menguap.


4. Selesai masase hendaknya di bersihkan dengan handuk, jangan sampai banyak pelican yang tertinggal pada
kulit.

Kontra Indikasi Penggunaan Masase


Dalam kondisi-kondisi tertentu masase tidak boleh diberikan, dan merupakan kontra indikasi. Ada saat tubuh
pasien boleh diberikan masase ringan, tetapi ada juga yang tidak boleh dimasase sama sekali, karena pasien sedang
berada dalam keadaan sebagai berikut :

PATHALOGIS                                                                      NON PATHALOGIS


1.      Demam/panas tinggi                                                         1.   Lelah sekali
2.      Peradangan (Haematom)                                                  2.   Sesudah makan
3.      Penyakit kulit                                                                    3.   Sesudah pertandingan
4.      Luka                                                                                  4.   Menstruasi
5.      Varices                                                                              5.   Hamil
6.      Fractur (retak/patah tulang)
7.      Tumor/kanker
8.      Tekanan darah tinggi (Hipertensi)

Catatan :
Sebagai terapi (pengobatan), masase dapat digunakan dalam membantu reposisi dalam kasus-kasus cedera, misalnya
luxatie (salah sendi) atau dislokasi (lepas sendi) tetapi dengan syarat harus sangat hati-hati dan membutuhkan pengalaman
yang cukup lama.

MASASE OLAHRAGA

Setelah melakuka kegiatan olahraga, kita sering merasa lelah, otot pegal, dan sakit. Keadaan ini timbul pada kira-
kira dua atau tiga hari setelah berolahraga. Hal ini biasa dan wajar dan disebut sebagai DOMS (Delayed Onset Muscle
Soreness = rasa sakit pada otot ysng timbul belakang).
Penyebab hal ini adalah otot-otot tubuh terlalu lelah sehingga menyebabkan rasa sakit atau pegal (fatique). Pada
kegiatan yang sangat berat sering terjadi pula serabut-serabut otot putus/robek sehingga rasa sakit akan lebih hebat lagi.
Untuk mengatasi rasa sakit/pegal tersebut, tubuh perlu pemulihan yang cukup sehingga menjadi segar kembali.
Cara untuk mempercepat pemulihan ada bermacam-macam, seperti : istirahat aktif, sauna, akupuntur, masase, dan lain-
lain.
Dari semua cara di atas, masase merupakan hal yang paling sering dilakukan dan paling popular. Biasanya yang
mendororng orang melakukan masase karena rasa sakit pada otot.
Masase sebenarnya ada berbagai macam tetapi yang paling dikenal adalah masae olahraga dengan cara swedia
(Swedish massage). Masase olahraga adalah perbuatan dengan tangan (manipulasi) pada bagian-bagian lunak tubuh
dengan prosedur manual atau mekanis yang mempunyai pengaruh dalam menghilangkan sisa-sisa pembakaran dalam
otot, misalnya asam laktat atau assam susu.
Di dalam menunjang aktifitas olahraga, masase adalah perangsang yang merupakan jaringan lunak yang ikut
serta aktif tidak hanya pada fungsi statis dan dinamis, tetapi juga pada metabolisme tubuh. Masase mempercepat proses
metabolisme otot-otot yang bekerja, membersihkan proses-proses sisa, dan membaharui darah menjadi segar sehingga
penuh dengan bahan-bahan berenergi.

Prosedur Masase
Sebelum orang mempelajari masase sebaiknya telah mempelajari beberapa ilmu yang mendukung, antara lain :
Anatomi, Fisiologi, Biomekanika, P3K, dan Perawatan cedera.

Pemanfaatan dari ilmu-ilmu pendukung tersebut adalah dapat memberikan indikasi yang tepat dalam pelaksanaan
masase. Misalnya pengetahuan tentang ilmu anatomi yang berhubungan dengan system otot rangka, dimana fungsi dari
otot rangka adalah sebagai penggerak, pembentuk postur, menghasilkan panas dan mempertahankan suhu tubuh.
Otot rangka juga bersifat “mudah berubah” artinya otot ini mengalami perubahan sesuai dengan yang
dikehendaki. Tiap golongan otot bekerja sebagai suatu kesatuan untuk menghasilkan satu gerakan tertentu, atau
serangkaian gerakan terpadu.
Oleh karena itu orang yang menekuni bidang masase olahraga hendaknya memiliki pengetahuan tentang fungsi
golongan otot yang menghasilkan gerakan-gerakan dasar (Lihat : Gambar Sistem Otot Rangka tampak depan dan
belakang).
Gambar : Sistem Otot Rangka Tampak Gambar : Sistem Otot Rangka Tampak
Depan. Belakang.
 

Gerakan-gerakan yang dipergunakan dalam masase disebut prosedur manual, dan manipulasi masase
mempunyai bentuk dan variasi yang banyak sekali, tetapi manipulasi ini telah digolongkan dan disesuaikan menurut
dampaknya, sehingga dapat terbagi menjadi dua golongan manipulasi ialah : A. Manipulasi Pokok, B. Manipulasi
Pembantu.

A.     Manipulasi Pokok Masase


Disebut manipulasi pokok karena merupakan dasar (basic) didalam pelaksanaan masase olahraga, teknik
pegangan dalam masase ini terdiri dari 9 manipulasi pokok yaitu :
1. Effleurage (Menggosok)

Teknik masase ini digunakan sebagai manipulai pembuka dan penutup. Pelaksanaanya adalah jari-jari tangan rapat
mencakup otot, gosokan menuju arah jantung dan dilakukan secara berirama dan kontinyu.
Pengaruh mekanis dari effleurage adalah membantu kerja pembuluh darah balik (vena) dan menyebabkan timbulnya panas
tubuh sehingga manipulasi effleurage dapat berfungsi sebagai pemanasan (warming up).
Pengaruh fisiologis dari gosokan yang kuat mempengaruhi sirkulasi darah pada jaringan yang paling dalam dan di otot-otot.
Gosokan sedang lebih mengaktifkan sirkulasi pada pembuluh getah bening (lymphe), sedangkan gosokan lamban
menghasilkan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) local dengan waktu lama yang disebut hyperaemi.

2. Petrissage (Memijat)

Petrissage adalah prosedur masase yang dilakukan dengan teknik perasan, tekanan, dan pencomotan otot dari jaringan
dalam.
Petrissage dapat dilakukan dengan satu tangan atau kedua tangan dengan gerakan bergelombang, berirama, tidak
terputus-putus dan terikat satu sama lain. Gerakan diulang-ulang beberapa kali pada tempat yang sama, kemudian tangan
dipindah-pindahkan sedikit demi sedikit sepanjang kumpulan otot.
Pengaruh mekanis yang ditimbulkan oleh gerakan peras adalah menghancurkan sisa-sisa pembakaran dan melemaskan
kekakuan di dalam jaringan.
Pengaruh fisiologis dari manipulasi petrissage terutama berhubungan dengan suatu perintah latihan bagi saraf motorik yang
merangsang fungsi otot. Selain itu gerakan mengangkat, memeras dan menekan menyebabkan perbaikan aliran darah
dalam otot dan menambah kekuatan (tonus) otot.

3. Friction (Menggerus)

Friction atau menggerus adalah prosedur yang sangat tua dan banyak dipergunakan dalam semua bentuk masase.
Pelaksanaanya adalah dengan gerakan putaran spiral menuju ke arah jantung. Menurut letak dan tempat bagian badan,
maka manipulasi ini dapat dilakukan dengan bermacam-macam variasi yaitu dengan menggunakan jari, ibi jari, telapak
tangan atau bahkan dengan sikut.
Pengaruh mekanis dari friction menghasilkan kelancaran aliran darah setempat (vasodilatasi local), merangsang pergantian
nutrisi, dan juga sebagai pemanasan.
Pengaruh fisiologis adalah aksi friction di dalam melancarkan aliran darah dan pembesaran serabut otot.

4. Shaking (Menggoncang)

Shaking atau menggoncang adalah prosedur masase yang juga sering dipakai untuk membantu para olahragawan agar
otot-ototnya menjadi kendor, sehingga memudahkan sirkulasi darah.
Pelaksanaanya adalah dengan jari-jari membengkok, misalnya bagian bawah dan atas 
pada bagian yang berotot, lengan atas dan lengan bawah, paha atau betis yang dilakukan dengan gerakan-gerakan ke
samping, ke atas dan ke bawah. Manipulasi dilakukan dengan irama yang hidup serta tangan berpindah-pindah dan
berdekatan.
Pengaruh mekanis dari manipulasi shaking adalah jika dilakukan dengan baik, goncangan ini akan melemaskan otot-otot
dan menambah fleksibilitas jaringan-jaringan.
Pengaruh fisiologis adalah merangsang dan memberikan desakan ke dalam, terutama pada organ tubuh bagian perut dan
dada, serta mengendurkan, melemaskan, dan mengulur bagian lunak yang menyebabkan lancarnya peredaran darah dan
meningkatkan kerja syaraf.

5. Tapotement (Memukul)

Manipulasi ini sering digunakan pada masase olahraga, yaitu gerakan pukulan ringan dan berirama dengan jari-jari tangan,
telapak tangan atau kepalan. Dapat juga dilakukan secara mekanis atau dengan bantuan alat yang digerakan tangan atau
listrik. Yang sering digunakan dan lebih baik adalah manipulasi “mencincang”, yang dilakukan oleh jari-jari kedua belah
tangan dengan jarak yang cukup berdekatan. Gerakan dilakukan dengan irama hidup (irama yang bersemangat), sesuai
dengan keadaan dan tidak terputus-putus. Sikap tangan dapat berupa setengah mengepal, jari-jari terbuka, dengan
punggung jari-jari atau dengan membentuk tangan seperti mangkuk (cupping). Biasanya tapotement diberikan di daerah
pinggang-punggung dan pantat, tetapi boleh juga diberikan di tempat lain apabila diperlukan.
Dalam olahraga, manipulasi ini dipergunakan sebagai masase pemanasan dan pengembalian pulihnya fisik ke keadaan
semula.
Pengaruh mekanis dari aksi tapotement, yang dilakukan dengan irama cepat akan menimbulkan warna merah dan rasa
panas yang berarti mengalirnya darah lebih banyak pada daerah yang dimasase.
Pengaruh fisiologis yang ditimbulkan dari manipulasi pukulan adalah meningkatkan peredaran darah arteri terutama pada
jaringan otot, menimbulkan kontraksi otot (idiomuskuler) sehingga dapat membantu kelancaran pertukaran zat dalam tubuh.

6. Walken (Menggosok Melintang Otot)

Manipulasi walken diberikan pada daerah-daerah yang lebar. Pelaksanaanyan hamper sama dengan effleurage, tetapi
dilakukan dengan melintang otot dengan menyusur panjangnya otot. Walken selalu dikerjakan dengan kedua tangan dan
jari-jari rapat. Gosokan kedua tangan dilakukan dengan arah yang berlawanan, satu menarik dan yang satu mendorong,
arahnya naik menuju jantung.
Pengaruh mekanis adalah aksi walken dalam membantu pemanasan badan (warming up) dan sebagai manipulasi untuk
mendeteksi kelainan-kelainan akibat cedera.
Pengaruh fisiologis adalah memberikan rangsangan pada persyaratan dan jaringan di bawah kulit.

7. Vibration (Menggetarkan)

Getaran ini dapat diberikan melalui ujung jari, dua jari atau tiga jari yang dirapatkan. Caranya dengan sikap membengkok
siku, jari-jari ditekankan pada tempat yang dikehendaki, kemudian kejangkan seluruh lengan tersebut. Getaran ini biasanya
diberikan pada tempat-tempat yang sensitive (peka), misalnya di lekuk bawah kepala, sekeliling persendian, di sudut luar
scapula, dsb. Vibration termasuk manipulasi masase terapi dan sangat efektif untuk memacu persyaratan dalam upaya
penyembuhan.
Manipulasi dapat dilakukan beberapa kali, dan biasanya pada akhir masase keseluruhan tubuh (general massage).
Pengaruh mekanis dari aksi vibration adalah merangsang (menstimulasi) pada organ-organ dalam yang penting.
Pengaruh fisiologis pada vibration adalah merangsang syaraf vegetatif (tak sadar) pada alat-alat dalam melalui aksi pada
bagian luar.

8. Skin Rolling (Menggeser Lipatan Kulit)

Sering kali dilakukan untuk masase penyembuhan (terapi). Pada tempat-tempat yang permukaannya sempit (kecil) dapat
dikerjakan dengan menggunakan satu tangan, sedangkan untuk tempat-tempat yang lebar dikerjakan dengan kedua tangan
secara bersama-sama. Caranya dengan mencubit kulit, ibu jari didorongkan dan jari-jari yang lain melangkah-langkah
berjalan ke depan.
Pengaruh mekanis adalah aksi skin rolling dalam mempertinggi tonus otot dan memperbaiki pertukaran zat serta peredaran
darah di bawah kulit.
Pengaruh fisiologis dapat melepaskan kulit dari jaringan ikat dan melebarkan pembuluh kapiler di bawah kulit.

9. Stroking (Mengurut).

Biasanya dilakukan dengan menggunakan ibu jari, kedua ujung jari, tiga jari atau ke empat ujung jari yang dirapatkan
kemudian dengan tekanan menggerakkan jari-jari tersebut menyusur diantara kanan dan kiri tulang belakang (inter
vertebrae), antar otot (inter musculair), antar iga (inter costae), dst.
Manipulasi ini juga merupakan teknik masase pengobatan yaitu untuk menemukan kelainan-kelainan berupa pengerasan-
pengerasan otot (miogelosen), ketegangan-ketegangan atau benjolan-benjolan pada otot tersebut.
Pengaruh mekanis adalah aksi Stroking dalam melemaskan jaringan sehingga sirkulasi darah dan pertukaran zat menjadi
lancer dan baik.
Pengaruh fisiologis yaitu mempengaruhi syaraf vegtatif (syaraf tak sadar) pada jaringan-jaringan di bawah kulit.

B.     Manipulasi Pembantu Masase


Diantara kesembilan manipulasi pokok terdapat pula manipulasi lainnya yang disebut manipulasi pembantu atau
sekunder. Manipulasi ini dapat berfungsi melengakapi dan menyempurnakan prosedur menipulasi pokok. Manipulasi
pembantu dapat dikatakan sebagai teknik pengembangan (improvisasi) dari manipulasi pokok yang dilakukan pada saat
dan kondisi tertentu. Beberapa manipulasi pembantu yang penting adalah :

1. Goncangan (ke kiri/kanan dan atas/bawah) dan memutar.

2. Tekanan.

3. Tarikan (Cubitan) dan peregangan.


4. Beberapa prosedur masase lainnya.

1. Goncangan dan Memutar.


Manipulasi ini dilakukan dengan jari-jari membengkok mengambil bagian bawah dan atas pada bagian yang
berotot pada lengan atas dan bawah, paha atau betis dan gerakan-gerakan kesamping (kiri/kanan) dan keatas/kebawah.
Manipulasi dilakukan dengan irama yang hidup serta tangan berpindah-pindah dengan sangat berdekatan. Bila gerakan
dilakukan dengan baik, goncangan ini akan melemaskan otot-otot, menambah fleksibilitas jaringan-jaringan, menurunkan
ketegangan saraf, dan menenangkan daerah yang dimasase.
Teknik memutar dilakukan seperti halnya dengan goncangan, akan tetapi dengan jari-jari tangan lurus dan telapak
tangan ditekankan lebih kuat pada jaringan (lokal) yang dimasase. Manipulasi memutar ini bermanfaat bagi keseluruhan
jaringan lunak di sekitar daerah tersebut. Efek manipulasi memutar sama halnya dengan goncangan, karena kedua-duanya
dapat dikombinasikan sebagai variasi. Para olahragawan menggunakan goncangan dan memutar dengan tujuan
melemaskan otot-otot pada waktu beristirahat (di sela-sela pertandingan/turun minum) atau sesudah pertandingan.

2. Tekanan
Tekanan adalah prosedur kuno yang diberikan pada bagian yang kecil atau lebih besar dari tubuh. Tekanan akan
berubah secara teknis berdasarkan luas daerah yang dimasase.
Tekanan pada punggung dilakukan dengan kekuatan pada akhir masase local (partial) atau masase keseluruhan
badan (general) dan indikasi hanya pada pasien yang sehat dan kuat. Untuk melakukan manipulasi ini dipergunakan
telapak tangan dengan jari-jari lurus dilakukan pada kiri-kanan tulang belakang (columna vertebralis) dalam posisi
telungkup. Tekanan dilakukan sekali atau berkali-kali pada tempat yang sama tanpa intensitas yang berlebih-lebihan. Untuk
melaksanakan tekanan yang kuat akan tetapi hemat tenaga digunakan berat badan, yang disalurkan pada telapak tangan
melalui lengan yang lurus.
Tekanan yang dilakukan pada saraf adalah prosedur masase terapi, yang dilakukan dengan menekan terus-
menerus atau secara vibration (menggetarkan) pada suatu pangkal saraf yang sensitif atau pada cabang yang pokok.

3. Tarikan (Cubitan) dan Peregangan.


Tarikan dan peregangan adalah prosedur masase pada persendian dan jaringan yang dilakukan pada akhir
masase. Untuk melaksankan tarikan, masseur/masseuse memegang dengan tangan sebelah di bagian atas persendian
dan tangan yang lain berada di bawah persendian kemudian menarik secara bersama-sama menuju ke arah centripetal
(jantung). Menipulasi ini terdiri dari tarikan sederhana yang biasanya dikombinasikan dengan vibration, terutama dalam
masase persendian untuk melawan gejala-gejala penurunan mobilitas persendian dan pembesaran jaringan patologis di
sekitar persendian, terutama pada persendian tangan dan kaki.
Penarikan di samping kanan-kiri columna vertebralis cervicales dilakukan pada posisi telungkup, posisi duduk dan
berdiri dengan mengangkatnya ke arah vertikal. Menipulasi tarikan dilakukan dengan baik dan betul agar tidak menimbulkan
memar dan rasa sakit pada kulit. Peregangan adalah gerakan aktif atau pasif yang menyempurnakan gerakan metodik dari
persendian dalam hal latihan (exercise) dan mempertahankan mobilitas.
Tarikan dan peregangan adalah manipulasi yang sangat berguna dalam masase olahrgawan, terutama dalam
mengembalikan fungsi cedera persendian dan otot.

4. Prosedur Masase Lainnya.


Prosedur masase lainnya adalah semua manipulasi baru atau variasi baru dari beerapa prosedur kuno. Bentuk
atau jepitan kulit disebut pengangkatan otot-otot. Jepitan diberikan pada bagian yang berotot dari anggota tubuh sedangkan
pengangkatan otot-otot dilakukan pada bagian belakang.
Comotlah jaringan di bawah kulit dengan jari-jari bahkan otot sampai batas elastisitas jaringan, kemudian biarkan lepas dari
genggaman. Manipulasi ini dilakukan dengan irama dari satu tempat ke tempat lainnya pada bagian anggota tubuh yang
berotot/berdaging.
Prosedur masase yang ditulis di atas, dapat dilakukan satu persatu atau dikombinasi. Biasanya friction dengan
petrissage, tapotement dengan stroking, goncangan dengan putaran, tekanan dengan vibration atau tarikan dengan
tekanan. Masase dibatasi menurut keperluannya dan indikasinya dengan satu atau dua manipulasi pokok, tetapi jika
diperlukan dalam kondisi yang lebih luas, lebih baik seluruh manipulasi pokok dikerjakan.

Dari ke-sembilan manipulasi pokok yang dipakai dalam masase sistem Swedia, khusus manipulasi tapotement,
skin rolling dan stroking merupakan manipulasi-manipulasi terapi (pengobatan).
Dalam pelaksanaanya ke-sembilan manipulasi pokok ini tidak selalu digunakan secara keseluruhan, tetapi hanya
dipakai beberapa manipulasi saja sesuai kebutuhan. Sebagai contoh seseorang yang mengalami kekakuan pada otot
betisnya setelah mengikuti gerak jalan, maka masasenya adalah dengan memeberikan manipulasi-manipulasi : Effleurage,
Petrissage, Walken, Shaking, Effleurage.
Mengapa hanya 5 (lima) macam manipulasi saja yang digunakan ? Karena kekakuan otot setelah melakukan
gerak jalan jelas bukan merupakan suatu kelainan atau cedera yang serius, tetapi karena tertimbunnya zat lelah (asam
laktat/asam susu) pada otot tersebut.
Dengan memberikan Effleurage (gosokan) diharapkan peredaran darah akan menjadi lebih lancar, sehingga asam
laktat dapat terserap mengikuti peredaran darah balik (vena). Kemudian diberikan Petrissage (pijatan) dimaksudkan agar
kekakuan otot tersebut menjadi lemas kembali dan pengangkutan sisa pembakaran menjadi lebih lancer. Berikutnya
diberikan Walken (gosokan melintang otot) dengan maksud jika ada rangsangan yang terlalu besar pada persyarafan dan
terdapat kelainan jaringan di bawah kulit dapat segera diketahui dan gerakan Walken akan menimbulkan efek panas yang
menyebabkan lancarnya pembuluh darah balik (vena). Setelah itu diberikan manipulasi Shaking (goncangan) yang berguna
untuk menggendorkan, melemaskan otot dan merangsang (menstimulasi) organ-organ tubuh sehingga dapat berfungsi
kembali dengan baik dan pertukaran zat-pun akan menjadi lebih lancar. Akhirnya diulang kembali manipulasi Effleurage
dengan maksud untuk mengadakan re-check (memeriksa kembali) apakah masih ada kekakuan otot di tempat tersebut
atau tidak. Effleurage penutup, selain untuk mengadakan re-check, juga untuk memeberikan rangsangan tambahan untuk
mempelancar peredaran darah dan menimbulkan rasa nyaman pada si pasien.

Masase Pada Tubuh Olahragawan


Sebelum mempelajari masase pada olahragawan sesuai dengan waktunya, maka perlu diketahui kegunaan
masase secara umum terhadap manusia, yaitu :

1. Untuk menyegarkan atau menghilangkan kelelahan.

2. Untuk menaikkan kondisi fisik seseorang (warming up).

3. Untuk membantu prestasi olahragwan.


4. Untuk membantu mempercepat penyembuhan cedera tertentu.

Sesuai dengan fungsinya maka masase boleh diberikan kepada siapa saja sesuai dengan kebutuhan. Masase
yang diberikan kepada olahragawan yang dalam hal ini termasuk kategori orang-orang sehat, maka dengan menggunakan
manipulasi-manipulasi masase olahraga dirasa sudah cukup untuk mengatasi masalah-masalah yang terjadi pada
olahragawan. Hal yang perlu diingat adalah bahwa pemberian masase terlalu banyak atau dosisnya berlebihan, tidak akan
menaikkan suhu badan dan meningkatkan fleksibilitas otot seperti yang diharapkan, bahkan pasien tersebut akan menjadi
lemas atau loyo. Sebaliknya masase yang diberikan dosisnya terlalu kurang, maka tidak akan berpengaruh terhadap kondisi
tubuh olahragawan, sihingga tujuan masase tidak tercapai. Sedangkan masase yang terlalu keras dalam memberikan
tekanan-tekanan, akan mengakibatkan memar-memar atau rasa sakit. Jadi masase yang paling baik adalah yang sesuai
dengan kebutuhan olahragawan, dengan memperhatikan kondisi si pasien, sehingga dosisnya tidak berlebihan. Hal
tersebut diperlukan ketajaman felling (perkiraan) yang dapat dilatih dengan banyak melakukan praktek masase.
Kondisi-Kondisi Dalam Melakukan Praktek Masase

1. Masase Selama Latihan Intensif.

Dapat dilakukan masase pada seluruh tubuh (general masase) maksimum satu sampai dua kali seminggu.
Utamakan otot-otot yang dipergunakan sesuai dengan cabang olahragawan, dan jika terjadi suatu kelainan maka lakukan
masase sampai tuntas, meskipun harus mengulang setiap hari.

2. Masase Sebelum Pertandingan (Pre Activity).

Masase yang dilakukan adalah masase lokal (local massage) yaitu masase pada bagian otot-otot tertentu (lokal)
yang banyak memerlukan persiapan dan digunakan sesuai dengan jenis cabang olahraganya. Masase ini membantu
olahragawan dalam membantu pemanasan (warming up) yang bertujuan merangsang sirkulasi darah, otot dan syaraf
dengan demikian olahragawan dapat dengan cepat menyiapkan kondisi fisiknya.

3. Masase Selama Pertandingan (Inter Activity).

Dilakukan dengan waktu yang singkat, disela-sela istirahat pada saat pemberhentian pertandingan (time out),
yang bertujuan untuk memberikan dampak psikologis pada olahragawan agar tetap mempunyai ketenangan dan fokus
terhadap jalannya pertandingan (biasanya digunakan manipulasi Tapotement dan Shaking yang tidak terlalu keras pada
otot leher/pundak).

4. Masase Sehabis Pertandingan (Post Activity).

Masase yang diberikan setelah pertandingan berahkir dan diberikan beberapa jam kemudian, karena saat lelah
sekali setelah pertandingan tidak boleh dimasase mengingat pada otot masih banyak terdapat endapan asam laktat (lactyt
acid) yang berakibat terjadinya kekakuan, pengerasan dan rasa sakit pada otot sehingga menyebabkan pada esok harinya
olahragawan akan sulit bergerak.
Masase yang dilakukan adalah masase keseluruhan tubuh (general masase) dengan durasi waktu sekitar 45 – 60 menit,
yang bertujuan mengembalikan kondisi olahragawan mendekati kondisi semula (pulih asal) agar dapat melakukan
pertandingan kembali

You might also like