Pembengkakan Pada Cairan Sendi Lutut (Kista Baker) Dipublikasikan pada 22 May 2010 oleh Wawan Lodro Kata

Kunci: Cairan Sendi Lutut, Kista Baker, Pembengkakan Pada Cairan Sendi Lutut

Kista Baker adalah pembengkakan yang disebabkan oleh cairan dari sendi lutut menonjol di bagian belakang lutut. Bagian belakang lutut juga disebut sebagai daerah poplitea lutut. Kista Baker kadang-kadang disebut kista poplitea. Ketika cairan berlebihan cairan membentuk kantung berisi cairan dari kista Baker. Pemberian nama ini untuk diilhami dari ahli bedah Inggris William Morrant Baker (1839-1896). Dokter inilah yang pertama kali meneliti kista dibelakang lutut. Gejalanya: Gejala sangat mudah dikenali yakni terdapat Tonjolan halus di belakang sendi lutut atau di atas betis. Kista Baker biasanya tidak menimbulkan rasa sakit sebelum pecah. Hal ini dapat menyebabkan sakit ringan atau tidak nyaman di belakang lutut, terutama ketika berolahraga. Jika kista pecah, bisa menyebabkan pembengkakan yang menyakitkan. Gejala-gejala kista pecah serupa dengan thrombophlebitis dari tungkai bawah. Perawatannya: Perawatan kista biasanya menyesuaikan dengan penyakit yang menjadi penyebabnya. Suntikan kortison ke dalam kista dapat mengurangi ukuran kista dan peradangan yang terjadi. Jika kista besar dan menyebabkan rasa sakit dianjurkan untuk dibedah.

Introduksi a. Definisi Suatu tindakan pembedahan yang berupa pengangkatan kista yang baisanya terletak pada daerah poplitea b. Ruang lingkup Benjolan pada poplitea oleh karena distensi cairan pada bursa gastroknemius semimembranosus c. Indikasi operasi Kista baker f. Pemeriksaan Penunjang

y y y

USG poplitea CT scan MRI

Teknik Operasi

y y y

Penderita posisi miring dengan lutut yang terdapat kista baker diletakkan di bawah. Desinfeksi lapangan pembedahan dipersempit dengan linen steril. Incisi lazy S diperdalam lapis demi lapis melewati subkutis sampai dengan masa kista.

Diagnosis yang dini sangat penting. pada anak dibawah umur 4 tahun 3. lingkungan dan imunitas yang buruk serta adanya fokus infeksi sebelumnya Osteomyelitis hematogen akut dapat disebabkan oleh : 1. Perawatan Pascabedah Pasca bedah penderita dapat langsung pulang i. Jenis kelamin. seperti E. Etiologi Faktor predisposisi 1. Osteomyelitis hematogen akut Merupakan infeksi tulang dan sumsum tulang akut yang disebabkan bakteri pyogen dimana mikroorganisme berasal dari fokus di tempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah. lebih sering pada laki-laki 3. Haemophylus influenzae. Trauma. oleh karena prognosis tergantung dari pengobatan yang tepat dan segera. pada daerah metafisis. proteus mirabilis dan lain-lain. Organisme lain. Umur. Follow-up Tidak terdapat follow up khusus pada penderita pasca eksisi kista baker 17 Mei 2010 Osteomyelitis adalah merupakan infeksi tulang dan sumsum tulang yang disebabkan bakteri pyogen dimana mikroorganisme berasal dari fokus di tempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah. terutama mengenai bayi dan anak-anak 2. Patologi dan patogenesis . Sering ditemukan pada anak-anak dan sangat jarang pada orang dewasa. hematoma akibat trauma pada daerah metafisis 4.y y Kista dibebaskan dari jaringan sekitarnya sampai dengan pangkal kista kantong kista. Staphylococcus aureus -hemolyticus 2. karena merupakan daerah aktif terjadinya pertumbuhan tulang 5. Luka operasi kemudian ditutup lapis demi lapis dipotong dan dilakukan kauterisasi sisa g. coli. Komplikasi operasi y y Perdarahan Komplikasi lanjut berupa residif kista h. Lokasi. Pseudomonas aeruginosa. Nutrisi.

Bila terjadi infeksi. trueta membagi proses patologi pada osteomyelitis hematogen akut atas tiga jenis : 1. Infeksi terjadi melalui sirkulasi dari focus di tempat lain dalam tubuh pada fase bakteriemi dan dapat menimbulkan septicemia. Penyebaran ke dalam sendi sehingga terjadi arthritis septic. infeksi dapat terlokalisir serta diliputi oleh jaringan fibrosa yang membentuk abses tulang kronis (abses Brodie). membentuk sinus-sinus dengan akibat aliran darah menjadi lebih lambat. Penyebaran local y y y y Subperiosteal abses akibat penerobosan abses melalui periosteum. Meskipun demikian. akan terjadi infeksi pada daerah hematoma tersebut. Apabila pus menembus tulang maka terjadi pengaliran pus dari involucrum melalui lubang yang disebut kloaka/sinus jaringan lunak dan kulit. 3. 2. Patologi yang terjadi pada osteomyelitis hematogen akut tergantung pada factor predisposisi. pembentukkan tulang baru yang ekstensif terjadi pada bagian dalam periosteum sepanjang diafisis (terutama pada anak-anak) sehingga terbentuk suatu lingkungan tulang seperti peti mayat yang disebut involucrum dengan jaringan sekuestrum didalamnya. Terbentuknya pus dalam tulang dimana jaringan tulang tidak dapat berekspansi akan menyebabkan tekanan dalam tulang bertambahsehingga akan mengakibatkan terganggunya sirkulasi dan timbul trombosis pada sirkulasi tulang yang akhirnya menyebabkan nekrosis tulang. Bedasarkan umur dan pola vaskularisasi pada daerah metafisis dan epifisis. Dengan penyuntkkan bakteri secara intravena. Bayi . Teori fagositosis (Rang) Daerah metafisis merupakan daerah pembentukan RES. Pada tahap selanjutnya. Fase selanjutnya terjadi hyperemia dan edema di daerah metafisis disertai pembentukkan pus. Selulitis akibat abses subperiosteal menembus sampai dibawah kulit. yaitu : 1. sehingga beberapa bakteri tidak difagositer dan berkembang biak di daerah ini. Disamping proses yang itu. Teori trauma Bila trauma artificial dilakukan pada binatang percobaan maka akan terjadi hematoma pada daerah lempeng epifisis. Penyebaran umum · Melalui sirkulasi darah berupa bakteriemi dan septikemi. penyakit akan berkembang menjadi osteomyelitis kronis. 2. Hal ini menyebabkan kematian tulang local dengan terbentuknya tulang mati (sekuester) Teori terjadinya infeksi pada daerah metafisis yaitu : 1. Embolus infeksi kemudian masuk kedalam juksta epifisis pada daerah metafisis tulang panjang.Penyebaran osteomyelitis terjadi melalui dua cara. di daerah ini terdapat juga sel-sel fagosit immatur yang tidak dapat memfagosit bakteri. Penyebaran ke medulla tulang sekitarnya sehingga system sirkulasi dalam tulang terganggu. Pada daerah tulang kanselosa.. bakteri akan difagosit oleh sel-sel fagosit matur di tempat ini. · Melalui embolus infeksi yang menyebabkan infeksi multifokal pada daerah lain. Teori vascular (Trueta) Pembuluh darah pada daerah metafisis berkelok-kelok. Proses ini terlihat pada akhir minggu ke dua. Aliran ini akan menyebabkan mudahnya bakteri untuk berkembang biak.

Anak Dengan terbentuknya lempeng epifisis serta osifikasi yang sempurna. tidak ada hubungan vaskularisasi yang berarti antara metafisis dan epifisis. Pemeriksaan Darah · Sel darah putih meningkat sampai 30. · Pemeriksaan Kultur darah untuk menentukan jenis bakterinya (50% positif) dan diikuti dengan uji sensitivitas. Infeksi pada sendi hanya dapat terjadi bila ada infeksi intraartikular. Pada keadaan ini mungkin dapat ditemukan adanya infeksi bacterial pada kulit dan saluran nafas bagian atas. Pada pemeriksaan fisik ditemukan : · Nyeri tekan · Gangguan pergerakan sendi oleh karena pembengkakan sendi dan gangguan akan bertambah berat jika terjadi spasme local. 3. Abses subperiosteal juga sulit terjadi karena periosteum melekat erat dengan korteks. Juga harus diperiksa adanya penyakit anemia sel sabit yang merupakan jenis osteomielitis yang jarang. berupa : · Panas tinggi. resiko infeksi pada epifisis berkurang karena lempeng epifisis merupakan barier terhadap infeksi. Pemeriksaan feses Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri salmonella. Pemeriksaan Laboratorium : 1. 2. 3. · Nafsu makan berkurang.Adanya pola vaskularisasi foetal menyebabkan penyebaran infeksi dari metafisis dan epifisis dengan masuk kedalam sendi.000 disertai peningkatan LED. Osteomielitis hematogen akut berkembang secara progresif/cepat. malnutrisi. sehingga seluruh tulang termasuk sendi dapat terkena. Gejala umum timbul akibat bakteremia dan septicemia. · Pemeriksaan titer antibody anti stafilokokus. Gambaran Klinis Gambaran klinis osteomielitis hematogen tergantung dari stadium patogenesis dari penyakit. Gangguan sendi juga dapat disebabkan oleh efusi sendi atau infeksi sendi (arthritis septic) Pada orang dewasa lokalisasi infeksi biasanya pada daerah vertebra torako-lumbal yang terjadi akibat torakosintesis atau akibat prosedur urologis dan dapat ditemukan adanya riwayat kencing manis. Walaupun infeksi dapat menyebar ke epifisis. Selain itu.Gejala dapat berupa nyeri yang konstan pada daerah infeksi.lempeng epifisis biasanya lebih resisten terhadap infeksi. nyeri tekan dan terdapat gangguam anggota gerak yang bersangkutan. Pemeriksaan biopsy . Dewasa Osteomyelitis hematogen akut sangat jarang terjadi karena lempeng epifisis telah hilang. namun infeksi intraartikuler sangat terjadi. 2. adiksi obat-obatan atau pengobatan dengan imuno supresif.

Pengobatan : 1. 4. Antibiotic diberikan 3-6 minggu. Pemeriksaan radiologist Pemeriksaan foto polos dalam 10 hari pertama. 5. 6. Patologi Biasanya terdapat cavitas dengan batas tegas pada tulang kanselosa dan mengandung cairan semipurulen. 3. Drainase Bedah. 4. Gambaran destruksi tulang dapat terlihat setelah 10 hari berupa rarefraksi tulang yang bersifat difus pada daerah metafisis dan pembentukan tulang baru dibawah periosteum yang terangkat. 2. Istirahat dan pemberian analgesic Pemberian cairan intravena dan kalau perlu transfuse darah Istirahat local dengan bidai atau traksi Pemberian Antibiotik secepatnya sesuai dengan penyebab utama yaitu Stafilokokus aureus. sambil menunggu hasil biakan kuman. Komplikasi : 1. 4. Osteomyelitis Hematogen Subacute Gejala Osteomyelitis hematogen subacute lebih ringan oleh karena organisme yang menyebabkan kurang purulen dan penderita lebih resisten Etiologi Osteomyelitis hematogen subacute biasanya disebabkan oleh staphylococcus aureus dan umumnya berlokasi dibagian distal femur dan proksimal tibia. 5. 3. dilakukan apabila setelah 24 jam pengobatan local dan sistemik antibiotic gagal (tidak ada perbaikan KU). Septikemia Infeksi yang bersifat metastatik Artritis supuratif Gangguan pertumbuhan Osteomielitis kronis Diagnosa Banding : 1. Pemeriksaan Ultrasound Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan adanya efusi pada sendi. 2. Selulitis Artritis supuratif akut Demam reumatik Krisis sel sabit Penyakit gaucher Tumor Ewing. 5. 2. 3. tidak ditemukan kelainan radiologist yang berarti dan mungkin hanya ditemukan pembengkakan jaringan lunak. drainase dilakukan selama beberapa hari dengan menggunakan cairan NaCl dan dengan antibiotic. 4. 5.Dilakukan pada tempat yang dicurigai . Antibiotik tetap diberikan 2 minggu setelah LED normal. Kavitas dilingkari oleh jaringan granulasi yang terdiri dari sel-sel inflamasi acute dan kronik dan biasanya terdapat penebalan trabekula Gambaran Klinis .

kerusakan pembuluh darah. Pemeriksaan labratorium y y Leukosit normal LED meningkat Pengobatan Pengobatan yang diberikan berupa pemberian antibiotic yang adekuat selam 6 minggu. Pengobatan · Eksisi · Kuretase Osteomyelitis Pasca Trauma Osteomyelitis akibat fraktur terbuka merupakan osteomylitis yang paling sering ditemukan pada orang dewasa. Suhu tubuh penderita biasanya normal Diagnosis Foto roentgen biasanya ditemukan kavitas berdiameter 1-2 cm. Gambaran Klinis · Demam . seperti clostridium. apabila diagnosis ragu-ragu. Penderita biasanya remaja dan orang dewasa. Sehingga pada fraktur terbuka umumnya menjadi infeksi. Colli. terutama pada daerah metafisis dari tibia dan femur atau kadang-kadang pada daerah diafisis tulang panjang. E. hanya berupa suatu cavitas yang difus. Etiologi Staphylokokus aureus. hematoma dan hubungan antara fraktur dan dunia luar. streptococcus anaerob atau bakteriodes. terdapat rasa nyeri dan sedikit pembengkakan pada tulang Pemeriksaan radiologist Terlihat adanya kavitas yang dilingkari jaringan sklerotis dan tidak ditemukan kavitas yang sentral. Osteomyelitis Sklerosing/Garre Adalah suatu osteomyelitis subacute dan terdapat kavitas yang dikelilingi jaringan sclerotic pada daerah metafisis. Pada suatu fraktur terbuka dapat ditemukan kerusakan jaringan. pseudomonas dan kadang-kadang oleh bakteri anaerobic.y y y y y y Atrofi otot Nyeri local Sedikit pembengkakan Dan dapat pula penderita menjadi pincang Terdapat rasa nyeri pada daerah sekitar sendi selama beberapa minggu atau mungkin berbulan-bulan. edema. dan diaphisis tulang panjang. maka dapat dilakukan biopsy dan kuretase.

Patologi dan Patogeneses Infeksi tulang dapat menyebabkan terjadinya sekuestrum yang menghambat terjadinya resolusi dan penyembuhan spontan yang normal pada tulang. proteus. . pada fraktur terbuka sebaiknya dilakukan pencegahan infeksi melalui pembersihan dan debridement luka. Pengobatan Prinsip penanganan pada kelainan ini sama dengan osteomyelitis lainnya. Proses selanjutnya terjadi destruksi dan sclerosis tulang yang dapat ditunjukanan melalui foto roentgen. Staphylokokus epidermidis merupakan penyebab utama osteomyelitis kronis pada operasi-operasi orthopedic yang menggunakan implant. atau tidak diobati dengan baik. Luka dibiarkan terbuka dan diberikan antibiotic adekuat. bila ada abses harus didrainase dan luka dibiarkan terbuka sampai bersih. Pada fraktur yang difiksasi internal : Antibiotik IV dengan dosis besar. Osteomyelitis Kronis Osteomyelitis kronis umumnya merupakan lanjutan dari osteomyelitis akut yang tidak terdiagnosis. Pada keadaan ini pencegahan lebih penting dari pada pegobatan. Gejala infeksi dapat timbul segera setelah operasi atau beberapa bulan kemudian Osteomyelitis pasca operasi yang paling ditakuti adalah osteomyelitis setelah suatu operasi artoplasty. dan diirigasi dengan antibiotic secara intermitten dan suction drainasse mungkin dapat mengontrol infeksi dan mencegah terjadinya osteomyelitis kronis. Osteomyelitis Pasca Operasi Osteomyelitis jenis ini terjadi setelah suatu operasi tulang (terutama pada operasi yang menggunakan implant). dimana invasi bakteri disebabkan oleh lingkungan bedah.· Nyeri · Pembengkakan pada daerah fraktur · Dan sekresi pus pada luka Laboratorium Pada fraktur terbuka perlu dilakukan pemeriksaan biakan kuman guna menentukan kuman penyebabnya. pada pemeriksaan darah ditemukan leukositosis dan peningkatan LED. Colli. Sekustrum ini merupakan benda asing bagi tulang dan mencegah terjadinya penutupan kloaka (pada tulang) dan sinus (pada kulita) sekuetrum diselimuti oleh involucrum yang tidak dapat keluar atau dibersihkan dari medulla tulang kecuali dengan tindakan operasi. Pengobatan Pada operasi tanpa implant : pengobatannya sama dengan ostemyelitis post trauma dengan kerusakan jaringan yang sedikit. jika gagal eksisi bagiang yang infeksi dan nekrosis. pseudomonas. Osteomyelitis kronis dapat juga terjadi setelah fraktur terbuka atau setelah operasi pada tulang Etiologi Bakteri penyebab osteomyelitis kronis terutama oleh staphylokokus aureus atau E.

Demam Nyeri local yang hilang timbul didaerah anggota gerak tertentu Pada Pemeriksaan Fisik : adanya sinus. Adakalanya diperlukan penanaman rantai antibiotic didalam bagian tulang yang infeksi. yang bersifat menahun. Pengobatan 1. Selanjutnya dilakukan drainasse kemudian irigasi secara kontinu selama beberapa hari. atau sikatrik bekas operasi dengan nyeri tekan. setelah pemberian antibotik yang adekuat. Kontraktur sendi 2. Perubahan menjadi ganas pada jaringan epidermis 5. Tindakan opertif : dilakukan bila fase eksaserbasi akut telah reda.Gambaran klinis y y y y y Keluarnya cairan dari luka atau sinus setelah operasi. CT Scan dan MRI : bermanfaat untuk membuat rencana pengobatan serta untuk melihat sejauh mana kerusakan tulang yang terjadi. mungkin dapat ditemukan sekuestrum yang menonjol keluar melalui kulit. mengontrol eksaserbasi akut 2. INFEKSI TUBERKULOSA Tuberkolosis Tulang dan Sendi Faktor predisposisi tuberculosis adalah : . baik jaringan lunak maupun jaringan tulang (sekuestrum) sampai jaringan sehat sekitarnya. Penyakit ameloid 3. Kerusakan epiphisis sehingga terjadi gangguan pertumbuhan. Biasanya terdapat riwayat fraktur terbuka atau osteomyelitis pada penderita Laboratorium y y y y Peningkatan LED Leukositosis Peningkatan titer antibody anti staphylococcus Pemeriksaan kultur dan uji sensitifitas diperlukan untuk menentukan organisme penyebabnya Pemeriksaan radiologist y y y Foto polos : ditemukan tanda-tanda porosis dan sclerosis tulang.Nutrisi dan sanitasi yang jelek . Fraktur patologis 4. operasi yang dilakukan bertujuan untuk mengeluarkan seluruh jaringan nekrotik. Pemberian antibiotic : untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi pada tulang sehat lainnya. fistel. penebalan periost. elevasi periosteum dan mungkin adanya sekuetrum Radiology scanning : membantu menegakkan diagnosis osteomyelitis kronis. Sebagai dekompresi pada tulang dan memudahkan antibiotik mencapai sasaran dan mencegah penyebaran osteomyelitis lebih lanjut. Komplikasi 1.

. Osteomyelitis tuberkulosa selalu merupakan penyebaran sekunder dari kelainan tuberkulosa dari tempat lain terutama dari paru-paru.. terutama ditemukan setelah umur satu tahun. seperti morbili dan varisela dapat memprovokasi kuman.tuberkulosis atypik. .Masa kehamilan dan pubertas dapat mengaktifkan tuberculosis. Patologi : 1. Pada saat ini kasus-kasus tuberculosis paru masih tinggi dan kasus tuberculosis tulang dan sendi juga diperkirakan masih tinggi. Lokalisasi spondilitis tuberkulosa terutama .Penyakit sebelumnya. faring atau usus dan kemudian pada saluran limfe menyebar ke limfonodus regional dan disebut sebagai kompleks primer 2.Trauma pada tulang dapat merupakan lokus minoris . Tuberkulosis tulang belakang selalu merupakan infeksi sekunder dari focus di tempat lain dalam tubuh. Keadaan ini dapat terjadi setelah beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian dan bakteri dideposit pada jaringan ekstra-pulmoner. banyak ditemukan pada orang Asia. Meksiko. Indian dan Negro . Insidens Spondilitis tuberkulosa mrupakan 50% dari seluruh tuberkulosis tulang dan sendi yang terjadi. paling sering pada umur 2-10 tahun.Perbedaannya. Lesi tersier Tulang dan sendi merupakan tempat lesi tersier dan sebanyak 5 % dari tuberculosis paru akan menyebar dan berakhir sebagai tuberculosis sendi dan tulang. Primer kompleks Lesi primer biasanya pada paru-paru.Ras . sehingga penyakit ini disebut juga penyakit Pott. 5-10 % oleh M.90-95 % disebabkan oleh M. Penyebaran Sekunder Bila daya tahan tubuh penderita menurun. 3. osteomyelitis hematogen akut umumnya terdapat pada daerah metafisis sementara osteomyelitis tuberkulosa terutama mengenai daerah tulang belakang. Etiologi Tuberkulosis tulang belakang merupakan infeksi sekunder dari tuberculosis di tempat lain dari tubuh. penyebaran infeksi juga terjadi secara hematogen dan biasanya mengenai anak-anak.Umur .Seperti pada osteomyelitis hematogen akut.tuberculosis typik. Osteomyelitis Tuberkulosa. Spondilitis tuberkulosa terutama ditemukan pada kelompok umur 2-10 tahun engan perbandingan yang sama antara wanita dan pria. maka terjadi penyebaran melalui sirkulasi darah menghasilkan tuberculosis milier dan meningitis. Spondilitis Tuberkulosa (Penyakit Pott) Tuberkulosis tulang belakang atau dikenal juga dengan spondilitis tuberkulosa merupakan peradangan granulomatosa yang bersifat kronik destruktif oleh mikobakterium tuberkulosa. Percivall Pott ( 1793) adalah penulis pertama tentang penyakit ini dan menyatakan terdapat hubungan antara penyakit ini dengan deformitas tulang belakang yang terjadi.

sehingga diduga adanya infeksi sekunder dari suatu tuberkulosa traktus urinarius. di bawah ligamentum longitudinal anterior. Kemudian eksudat (yang terdiri atas serum. Patofisiologi Penyakit ini pada umumnya mengenai lebih dari satu vertebra. Kemudian terjadi hiperemi dan eksudasi yang menyebabkan osteoporosis dan perlunakan corpus.pada daerah vertebra torakal bawah dan lumbal atas. gangguan vegetatif Pemeriksaan Fisik · Look : deformitas berupa gibbus adanya abses ( cold abcess ) · Feel : Teraba tnjolan di tulang belakang Adanya fluktuasi abses Gangguan sensoris · Move : Terbatasnya gerak tulang Berkurangnya kekuatan otot Pemeriksaan Penunjang     LED meningkat Mantoux test (+) Biopsi jarum PCR Radiologis o o o o Adanya destruksi corpus vertebra Angulasi ke posterior (gibbus) Paravertebral abses Penyempitan disus intervertebralis Penatalaksanaan Tujuan : . yang penyebabnya melalui vena paravertebralis. tulang yang fibrosis serta basil tuberkulosa) menyebar ke depan. leukosit. discus intervertebralis dan vertebra sekitarnya. paresthesia. Infeksi berawal dari bagian sentral bagian depan atau daerah epifisial corpus vertebra. weakness. Kerusakan pada bagian depan corpus ini akan menyebabkan kifosis. Selanjutnya terjadi kerusakan pada kortek epifisis. Eksudat ini dapat menembus ligamentum dan berekspansi. caseosa. Gambaran Klinis n Riwayat sakit lama (tulang belakang ) n Cold abces.

Obat diberikan setiap hari. yaitu : · Tahap I : Diberikan Streptomycin 750 mg (injeksi). Kategori I Untuk penderita baru BTA (+) dan BTA (-)/Rontgen (+). Keadaan Umum penderita bertambah baik. yang diberikan dalam dua tahap. Syarat Konservatif : .Cegah komplikasi Konservatif y y y y Bed rest Perbaiki KU Pemasangan brace Obat TB : Rifampicin : Dosis oral10mg/KgBB per hari Pirazinamid : maximal dose 1500 mg INH : Dosis oral 5 mg/KgBB per hari. Gambaran radiologis ditemukan adanya union pada vertebrae yang terserang.Eradikasi .. diberikan dalam dua tahap. termasuk penderita dengan BTA (+) yang kambuh/gagal. INH 300 mg dan Pirazinamid 1500 mg. Obat diberikan tiga kali seminggu (intermiten) selama lima bulan (66 kali) Kriteria penghentian penggunaan obat dilakukan apabila : 1. Streptomycin injeksi hanya dua bulan pertama. yaitu : 1. LED menurun 3. Gejala klinis berupa nyeri dan spasme berkurang 4. yakni : · Tahap I : Diberikan Rifampicin 450 mg. INH 600 mg. Pirazinamid 1500 mg dan Etambutol 750 mg. dan obat lainnya selama tiga bulan (90 kali) · Tahap II : Diberikan INH 600 mg. Kategori II Untuk penderita baru BTA (+) yang sudah pernah minum obat selama lebih dari sebulan. Rifampisin 450 mg. Obat diberikan setiap hari selama dua bulan pertama (60 kali) · Tahap II : Diberikan Rifampicin 450 mg. Obat diberikan tiga kali seminggu (intermiten) selama empat bulan (54 kali) 2. Etambutol : Dosis oral 15-25 mg/KgBB per hari Standar pengobatan terbagi dua kategori. INH 300 mg. Rifampisin 450 mg dan Etambutol 1250 mg. Etambutol 750 mg.Perbaiki deformitas . 2.

Open fracture (compound frakture / komplikata/ kompleks). Daftar isi [sembunyikan] 6 bln y y y y y 1 Prevalensi 2 Jenis fraktur 3 Manifestasi klinis 4 Pemeriksaan 5 Penatalaksanaan [sunting] Prevalensi Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki-laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga. Fraktur terbuka digradasi menjadi: . merupakan fraktur dengan luka pada kulit (integritas kulit rusak dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit) atau membran mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur adalah masalah yang akhir-akhir ini sangat banyak menyita perhatian masyarakat. Closed frakture (simple fracture). tidak menyebabkan robeknya kulit. mungkin karena gejalanya mirip dengan orang yang terkilir. 2001).G. pada arus mudik dan arus balik hari raya idulfitri tahun ini banyak terjadi kecelakaan lalu lintas yang sangat banyak yang sebagian korbannya mengalami fraktur. Biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang. Complete fraktur (fraktur komplet). pekerjaan atau kecelakaan.luas dan melintang.C & Bare B. Banyak pula kejadian alam yang tidak terduga yang banyak menyebabkan fraktur. Sedangkan pada Usila prevalensi cenderung lebih banyak terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon. patah pada seluruh garis tengah tulang. 2001) atau setiap retak atau patah pada tulang yang utuh (Reeves C.n Tidak ada abses n Tidak adadefisit neurologis n Tidak ada kifosis Operatif Ø Anterior dan posterior fusi Ø Dilanjutkan pemakaian brace Diagnosa Banding Tumor metastase : pada tumor metastase terdapat discus intact Komplikasi PARAPLEGI ( Pott¶s paraplegia ) Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Smeltzer S. 2. Sering kali untuk penanganan fraktur ini tidak tepat mungkin dikarenakan kurangnya informasi yang tersedia contohnya ada seorang yang mengalami fraktur. tetapi karena kurangnya informasi untuk menanganinya Ia pergi ke dukun pijat.J. Roux G & Lockhart R. integritas kulit masih utuh. 3. [sunting] Jenis fraktur 1.

paku. 13. Transversal. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin. deformitas. pemendekan ekstremitas. 8. fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang). fraktur dengan frakmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah). o o o [sunting] Manifestasi klinis Nyeri terus menerus. dan pulselessnes ( tidak ada denyut ) Rotgen sinar X Pemeriksaan CBC jika terdapat perdarahan untuk menilai banyaknya darah yang hilang. Perkiraan waktu imobilisasi yang dibutuhkan untuk penyatuan fraktur Lamanya ( minggu ) . Iimobilisasi Imobilisasi dapat dilakukan dengan metode eksterna dan interna Mempertahankan dan mengembalikan fungsi Status neurovaskuler selalu dipantau meliputi peredaran darah. Grade I: luka bersih dengan panjang kurang dari 1 cm. Impaksi. Grade III: sangat terkontaminasi. pembengkakan lokal dan perubahan warna. Oblik. dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif. Avulsi. Alat yang digunakan biasanya traksi. kaawat. fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang. Grade II: luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif. plat. 11. Depresi. fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok. Epifisial. paget. fraktur melalui epifisis.4. 7. Kompresi. nyeri. fraktur sepanjang garis tengah tulang. mengembalikan fragmen tulang ke posisinya ( ujung ujungnya saling berhubungan ) dengan manipulasi dan traksi manual. paralisis ( kelumpuhan/ketidakmampuan untuk bergerak ). tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada prlekatannya. 6. paloor ( kepucatan/perubahan warna). Spiral. metastasis tulang. [sunting] Pemeriksaan Tanda dan gejala kemudian setelah bagian yang retak di imobilisasi. perawat perlu mnilai pain ( rasa sakit ). Patologik. 9. 5. Greenstick. fraktur memuntir seputar batang tulang. [sunting] Penatalaksanaan Segera setelah cidera perlu untuk me. fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen.imobilisasi bagian yang cidera apabila klien akan dipindhkan perlu disangga bagian bawah dan atas tubuh yang mengalami cidera tersebut untuk mencegah terjadinya rotasi atau angulasi. hilangnya fungsi. krepitus. sekrup. Komunitif. parasthesia ( kesemutan ). fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya. 14. perabaan. Prinsip penanganan fraktur meliputi : Reduksi Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis Reduksi tertutup. tumor). fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang. bidai dan alat yang lainnya. 10. dengan pendekatan bedah. Reduksi terbuka. 12. gerakan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful