CONTOH KASUS SUATU TINDAKAN PIDANA KORUPSI UNTUK DITELAAH SECARA HUKUM, DEMI MENCARI KEPASTIAN PENEGAKAN HUKUM

DI INDONESIA ( UU No.31 Thn 1999 dan revisinya UU No.20 Thn 2001 ) dan UU. Money Laundering dan KUHP di Indonesia ILLUSTRASI KASUS A : ( Kejadian berlangsung sejak September 2002 s/d Agustus 2003) 1. A adalah Warga negara Indonesia, sebagai pengusaha sejak tahun 1982 dan mempunyai beberapa perusahaan, B adalah Warga Negara Asing ( Belanda ) 2. A & B berpartner usaha di bidang Pertambangan Marmer sejak tahun 1997 di NTT, A & B mempunyai beberapa Perusahaan pertambangan marmer, karena mempunyai beberapa lokasi penambangan Marmer, salah satu perusahaan tersebut sudah melakukan eksploitasi terhadap Gunung Marmernya, sehingga menurut Akuntansi Pertambangan sudah dapat membukukan Cadangan Deposit Marmernya dengan harga jual terendah yang berlaku dipasaran dan masuk AKTIVA NERACA PERUSAHAAN, karena merencanakan melakukan ekpor ke Italy, maka diperlukan perhitungan deposit Gunung Marmernya oleh perusahaan GEOLOGIS INDEPENDENT. 3. Dengan dasar Peraturan Akuntansi Pertambangan Indonesia dan Perhitungan Geologis Independent, maka perusahaan marmer ini mempunyai cadangan deposit sebesar 50.750.0000 M3 Ton dengan harga jual sesuai kwalitasnya yaitu US.$ 15 / M3 ton dalam bentuk blok untuk itu dapat dihitung bahwa Nilai Aktiva Perusahaan pada “ BARANG DLM PROSES “ adalah 50 % x 50.750.000 M3 x US.$ 15 = US.$ 380.625.000,00 ( 50% disini adalah safety factor yang harus diperhitungkan, karena produksi belum semua dilakukan ) 4. Setiap tahun sejak tahun 1998, A selalu diajak B ke eropa, untuk melakukan transaksi bisnis & melakukan penawaran produk marmernya di Italy, B telah 2x mendatangkan Investor/Buyer dari Italy ke NTT, dalam rangka berpartner sebagai Investor maupun sebagai Buyer Marmer, yaitu pada tahun 1999 & 2001, tetapi karena sebagai investor tdk ada Jaminan Investasi dari Pemerintah, maka mereka mengundurkan diri, tetapi sebagai buyer mereka setuju, sambil meminta contoh Marmer yang telah diproduksi. ( A memandang B adalah suatu partner yang mempunyai reputasi bagus dan mempunyai hubungan internasional yang cukup baik, & juga mempunyai usaha di belanda yang cukup besar dan baik dalam bidang Garment ) 5. A pada tahun 2001 telah kehabisan modal, karena B memandang A adalah partner yang dapat diandalkan, maka A tetap mendapatkan saham diperusahaan Marmernya dan juga mendapatkan gaji sebagai Di tulis oleh XQ, 6/14/2008 1 professional pada perusahaan milik si B lainnya, dengan jabatan

2 terbesar di Indonesia. dengan maksud melakukan pembicaraan lanjutan kredit tersebut. Karena Decision Maker adalah si B. & pejabat Bank tersebut yakin. timbul keyakinan pejabat Bank tersebut untuk memberikan kredit (dianggap usaha marmer tersebut Bankable dan feasible untuk dapat kredit Rp. 10. walaupun namanya tidak ada dalam akte perusahaan. teman dekat ) dalam perusahaan tersebut. agar menyerahkan Assets miliknya senilai Rp. karena faktanya adalah memang begitu adanya. salah satunya adalah bank Pemerintah no. setelah pertemuan beberapa kali dengan pejabat bank tersebut dan pejabat bank itupun telah melihat semua unit usaha si B. Milyard). maka B meminta tolong kepada A. maka si B meminta agar si A menanda tangani beberapa kop surat kosong. A kemudian pulang ke Indonesia dan aktif lagi sebagai professional dengan jabatan Controller pada perusahaan si B yang baru dibelinya dan berusaha dalam bidang Oil Trading & Kapal Tangker. warkat-2 bank. A pun mengenalkan si B pada pejabat Bank tersebut adalah sebagai pemilik semua usaha tersebut.X) yang mendapat kredit dari Bank tersebut . 8. 25.X ) milik si B ( dalam perusahaan ini A.9. maka A tidak aktif pada perusahaan (PT. dan mengatakan akan mendapatkan Kredit dalam jangka pendek (FUNDS RAISING) dari bank tersebut. tapi dia menaruh nominee ( wakil usaha : saudara. buku check dan giro agar pelaksanaan administrasi kredit dapat berlangsung.sebagai Controller untuk semua unit usaha milik B. bahwa telah ada kredit yang cair. maka dia minta ijin kepada si B untuk selama 1 bulan tidak masuk kantor. 11. mendapat telpun dari B di Indonesia. maka pada suatu saat pejabat bank tersebut melakukan pertemuan dengan si B.X sepenuhnya dijalankan oleh si B. Dan selama kurun waktu itu. maka dengan iktikad baik dan sangat percaya kepada B. dan PT. Kemudian suatu waktu si B memanggil si A. si A menanda tangani halhal diatas yang dimaksud dalam no. Milyard kepada Pejabat Bank tersebut. karena persyaratan pembukaan rekening pada Bank tersebut telah dilakukan atas nama si A dengan menggunakan perusahaan lain ( PT. kop surat yang bermeterai. inipun dilakukan oleh si A dan menyerahkan Asset senilai Rp. maka si A disuruh oleh si B. memang banyak investasi . A sebagai WNI mempunyai hubungan baik dengan perbankan. Dan benar menurut si B pada saat si A sedang umroh. adalah mutlak hanyalah nominee si B dan pejabat Bank ybs juga mengetahuinya ). 9. 7. Pada waktu itu si A akan melakukan ibadah Umroh ke Mekah. walaupun si A tidak berada ditempat. agar mencarikan Kredit Investasi untuk usaha marmernya di Bank tersebut. Karena telah berpartner lama dengan B ( dan telah yakin reputasi usaha si B dan juga sebagai professional yang digaji ). 6. dengan jabatan baru ini. 200. 200 Milyard sebagai Jaminan Kredit yang akan diberikan oleh Bank tersebut.

dengan tanpa didukung bukti ekstern maupun intern. si B menelpun si A dan meminta ketemu untuk membicarakan tentang hak dan kewajiban masingmasing pihak sehubungan sebagai Partner usaha tambang marmer di NTT dan Nominee pada perusahaan si B. 15. PT.1 bulan setelah pengunduran diri si A. tetapi ternyata si B marah-marah dan memecat si A. yaitu tahun 2002.X yang dapat kredit. khusus PT. maka si A menanyakan kepada si B. ( pada saat itu si A sempat bertemu pejabat bank . adalah tetap menjadi tanggung jawab si B.X pada periode September s/d Desember 2002.X telah tidak aktif lagi menggunakan jasa perbankan di Bank ybs. bahwa semua transaksi hutang atau pihutang kepada Bank atau kepada Pihak ketiga yang dilakukan oleh B lewat PT. 16. sehingga A menanyakan pada staf keuangan dan dijawab.X yang kebetulan si A adalah nomineenya. maka dia melakukan pemeriksaan data-data keuangan pada PT.X dengan perjanjian antara A dan B yang juga diketahui oleh pejabat bank yang memberikan kredit. si A mendapat berita ini dari salah satu manager perusahaan marmer tersebut. karena akhir tahun Buku.X.Sehubungan dengan no. karena staf tersebut tidak berhak menjawab dan ini merupakan instruksi dari si B. 13. karena PT.X telah menjadi milik A dengan rekan2 usaha lainnya.Karena rasa tanggung jawab professional. agar menanyakan kepada B saja.Di tulis oleh XQ.Selang 4 bulan kemudian. 12. maka A tidak mau berpartner usaha lagi dengan B dan menyerahkan saham miliknya kepada B tanpa ganti rugi dan kemudian si B juga menyerahkan PT. dan si A akhirnya mengundurkan diri secara resmi dari semua kelompok usaha si B. karena si A sudah tersinggung dengan arogansi si B. maka pada bulan Mei 2003 menutup rekening Banknya secara resmi dibank ybs dan mengambil sisa dana cash sebesar Rp 175 juta dan juga mengembalikan semua warkat-warkat bank. Karena A juga merupakan Nominee pada PT. 6/14/2008 2 pembelian peralatan impor yang dilakukan oleh B untuk usaha pertambangan marmer dan alat-2 impor untuk membangun pabrik pemotongan Marmer ( yaitu dari bentuk Blok diproduksi menjadi bentuk lantai ). Dan transaksi setelah itu adalah menjadi tanggung jawab si A. agar melakukan pertanggung jabawaban usaha dan Laporan Tutup Tahun Buku periode yang bersangkutan. maka si B meminta kepada semua Direksi atau Nominee dari si B pada semua unit usahanya. dimana si A menemukan banyaknya pemasukan dan pengeluaran keuangan yang cukup besar dan disebutkan sebagai investasi luar negeri.14 diatas. 14. sisa buku check dan buku giro yang ada.

tetapi tetap menjadikan satu berkas si A dengan kelompok usaha GM Group. Berkas si A menjadi satu dengan kelompok usaha GM group milik si B. 6/14/2008 3 17.yang memberikan kredit pada si B dan mengatakan silahkan menutup rekening PT. melaporkan adanya tindak pidana Korupsi yang dilakukan oleh Kelompok usaha si B senilai US. karena pada saat si A masih bergabung dengan si B.Para Penyidik telah diberitahu dalam proses BAP.X dijalankan sepenuhnya oleh si B.X sudah tidak mempunyai kewajiban/outstanding/hutang kepada Bank. bahwa ada beberapa direksi yang juga menjadi nominee si B selain sebagai professional yang digaji. yang mana pada kenyataannya.Polisi melakukan penyidikan dan penahanan kepada kelompok usaha si B. karena merasa tertipu dengan skema perbankan yang ada dan merasa tidak pernah ada niatan menipu atau membobol bank.X ( pd saat itu masih milik si B dan si A hanya Nominee si B ). Dengan penjelasan pejabat bank ybs dan aktivitas penutupan rekening Bank PT. si A baru mengetahui. kalau pihak bank tetap konsisten dengan bunyi pasal-pasal pada Akte Pengakuan Utang yang ditanda tangani kedua belah pihak dan menindak lanjuti dengan Perjanjian kredit dengan Jaminan Assets yang telah diserahkan oleh si .X dan bercerita bahwa si B cukup baik reputasinya didalam melakukan pembayaran kredit yang telah diberikan ). si B dikatakan membobol bank. bahwa tidak mengenal dan mengetahui kelompok usaha si B yang bernama GM Group. kelompok usahanya adalah SGD Group. si B.si A didalam berita acara pemeriksaannya sudah mengatakan kepada para penyidik. Adapun kalau si A mengenal beberapa direksi.X telah menjadi milik si A ). dimana si A yang sudah pisah usaha dengan si B juga ikut ditahan.3 Trilyun. adalah karena pernah sama-sama bekerja sebagai professional pada kelompok usaha si B. 18.X ini.$ 150 juta atau equivalent Rp. Tetapi pada bulan Oktober 2003. akhirnya melarikan diri ke luar negeri dan belum tertangkap sampai sekarang ( kalau melihat logika umum. 21. karena tindakan si B pada saat PT. sehingga pada saat proses P. 1. kepada pihak kepolisian 19. maka mengapa si B sebagai WNA harus menanamkan semua investasinya di Indonesia.21 di kejaksaan. 22. Di tulis oleh XQ. yang mana pada saat ditahan. dikarenakan ada outstanding yang belum diselesaikan oleh PT. 20. maka si A mendapatkan suatu informasi yang akurat dan si A mendapatkan jawaban yang berdasarkan logika umum maupun logika khusus ( bahwa bank tidak pernah menagih suatu kewajiban apapun sejak PT. ternyata Bank ybs. bahwa PT.

24. Kasus Lumpur Panas Sidoarjo: Kejahatan Individu atau Kejahatan Korporasi? oleh Ari Juliano Gema Dalam kertas posisi WALHI terhadap kasus lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo. karena berkasnya menjadi 1 (satu) perkara.31/1999 dan UU No. karena banyak novum-2 yang ada ). WALHI mendesak kepada pihak yang berwenang untuk mengupayakan agar PT Lapindo Brantas mempertanggungjawabkan tindakannya di depan pengadilan atas lumpur panas dan kebocoran gas yang telah merugikan masyarakat dan lingkungan hidup yang terjadi di Kabupaten Sidoarjo. sehingga si A tetap divonnis sebagai Pelaku utama tindak pidana Korupsi ini. maka timbul pertanyaan: apakah yang dimaksud dengan kejahatan korporasi itu? Apakah sistem hukum Indonesia mengenal adanya kejahatan korporasi? Apakah kasus lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo tersebut dapat dianggap sebagai akibat dari kejahatan korporasi? Korporasi dan Kejahatan Korporasi .20/2001. keyakinan logika umum saja dapat mengetahui bahwa hutang di bank dapat dibayar dengan baik.31/1999. yang menurut nominalnya dan dapat dilakukan appraisal/penilaian secara bersama-sama adalah jumlahnya lebih besar daripada jumlah hutang yang dilakukan si B kepada bank. si A dikenakan pasal 2 ayat 1 UU. bersama-sama dengan kelompok usaha si B. uang pengganti Rp. ( dalam saat ini sedang akan mengajukan upaya hukum Peninjauan Kembali. si A akhirnya tetap ditahan dan divonnis bersalah dengan hukuman 15 tahun penjara. Jaksa penuntut Umum didalam tuntutannya. WALHI menyimpulkan bahwa telah terjadi kejahatan korporasi yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas.B.No. 6/14/2008 4 23. jadi kalau APU dijalankan.200 juta atau 4 bulan. Di tulis oleh XQ. tapi hakim tetap dalam vonnisnya mengatakan tidak ada pasal turut serta dalam UU. No. Untuk itu. Dari hal tersebut di atas. subsider Rp. 28 Milyard ( muncul saat si A mengajukan banding pada Tingkat Pengadilan Tinggi ) atau hukuman badan 4 tahun. mengatakan bahwa si A tidak terbukti menggunakan uang hasil kejahatan itu untuk kepentingan pribadinya ( rumah & mobil si A sampai dengan sekarang masih dalam proses kredit dengan pihak Bank & leasing ) dan juga dikenakan pasal 56 KUHP tentang “ TURUT SERTA “. karena record pembayaran kredit tsb telah dilakukan oleh si B selama ini kepada Bank dengan cukup baik dan tidak pernah ada keterlambatan ).

23/1997 sendiri telah ditentukan bahwa apabila tindak pidana terhadap lingkungan hidup dilakukan oleh atau atas nama korporasi. 17/1951) (Sjahdeini. 17/1951 dan berbagai undang-undang khusus lainnya di luar KUHP yang mengatur mengenai korporasi sebagai pelaku tindak pidana. Lebih lanjut ditentukan bahwa apabila tindak pidana terhadap lingkungan hidup tersebut dilakukan oleh atau atas nama korporasi. 23/1997. 1981: 30). Pengertian ini memberikan perbedaan yang tegas terhadap kejahatan yang dilakukan oleh manusia atau individu. (iv) . Dengan demikian. 23/1997 adalah: (i) perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana. kejahatan korporasi telah dikenal dalam sistem hukum Indonesia sejak diundangkannya Undang-Undang Darurat No. sanksi pidana serta tindakan tata tertib sebagaimana ditentukan dalam UU No. atau terhadap keduaduanya”. (iii) perbaikan akibat tindak pidana. Dalam UU No. 23/1997 dijatuhkan baik terhadap korporasi maupun terhadap mereka yang memberi perintah untuk melakukan tindak pidana tersebut dan/atau yang bertindak sebagai pemimpin dalam perbuatan itu. namun demikian istilah “korporasi” dalam ranah hukum pidana di Indonesia sebenarnya telah dicoba untuk diperkenalkan oleh para ahli hukum pidana dalam Rancangan KUHP pada tahun 1987/1988 (BPHN: 1987). baik merupakan badan hukum maupun bukan badan hukum. (ii) penutupan seluruhnya atau sebagian perusahaan. No. 5 Tahun 1997 tentang Psikotropika. 17/1951 telah diatur ketentuan sebagai berikut: “Bilamana suatu perbuatan yang boleh dihukum berdasarkan undang-undang ini. UU Drt. dan Undang-Undang No. 20 Tahun 2001. seperti dalam Undang-Undang No. No. Undang-Undang No. Pengertian ini ternyata telah diadopsi dalam beberapa peraturan perundang-undangan yang berlaku saat ini untuk menjelaskan pihak yang menjadi pelaku tindak pidana dalam peraturan perundang-undangan tersebut. dilakukan oleh suatu badan hukum. termasuk korporasi. Dengan demikian. berdasarkan pengertian tersebut di atas. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. maka tuntutan itu dilakukan dan hukuman dijatuhkan terhadap badan-badan hukum itu atau terhadap orang-orang termaksud dalam ayat (2) pasal ini. secara ringkas dapat diambil kesimpulan bahwa kejahatan korporasi adalah kejahatan yang dilakukan oleh kumpulan terorganisasi dari orang dan/atau kekayaan. pelaku tindak pidana terhadap lingkungan hidup. maka ancaman pidana denda diperberat dengan sepertiganya. Selain sanksi pidana sebagaimana diatur dalam KUHP dan UU No. No. Pada dasarnya. yang mana korporasi diartikan sebagai “kumpulan terorganisasi dari orang atau kekayaan baik merupakan badan hukum atau pun bukan”. telah memperluas atau menambah subyek tindak pidana dari semula hanya terbatas kepada manusia menjadi memasukkan pula korporasi sebagai subyek tindak pidana (Muladi dan Priyatno. Adapun tindakan tata tertib sebagaimana diatur dalam Pasal 47 UU No. 2006: 130). dapat pula dikenakan tindakan tata tertib. Dalam Pasal 11 ayat (1) UU Drt.Meski dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang berlaku saat ini tidak dikenal istilah “korporasi”. maka tuntutan pidana. 17 Tahun 1951 tentang Penimbunan Barang-Barang (UU Drt. 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.

aparat penegak hukum juga harus mempertimbangkan dampak keputusannya terhadap stakeholders dari korporasi yang bersangkutan apabila kasus lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo diputuskan sebagai akibat kejahatan korporasi. Namun demikian. 23/1997 tersebut pada dasarnya dapat dijadikan pertimbangan bagi aparat penegak hukum dalam menentukan pelaku tindak pidana dalam kasus lumpur panas di Kabupaten Sidoarjo tersebut. hal tersebut tidak boleh membuat aparat penegak hukum menjadi bimbang dan ragu. Dengan demikian. Para pegawai. suatu korporasi dapat dibebani pertanggungjawaban pidana apabila sekalipun perbuatan korporasi dilakukan oleh orangorang yang menjalankan kepengurusan atau kegiatan korporasi. pemegang saham. Dalam UU No. kreditor dan investor yang tidak terlibat langsung dalam pengambilan keputusan atau perbuatan korporasi tersebut tentu akan turut dirugikan apabila korporasi dijatuhi sanksi pidana dan/atau tindakan tata tertib sebagaimana ditentukan dalam UU No. apa yang disampaikan oleh Prof.mewajibkan mengerjakan apa yang dilalaikan tanpa hak. . namun perbuatan itu dilakukan dengan maksud memberikan manfaat. Sutan Remy Sjahdeini dan ketentuan dalam UU No. (v) meniadakan apa yang dilalaikan tanpa hak. dengan tetap memperhatikan buktibukti yang terdapat di lapangan. Aparat penegak hukum harus berani mengambil sikap berdasarkan pertimbangan yang matang. dan/atau (vi) menempatkan perusahaan di bawah pengampuan paling lama 3 (tiga) tahun. 23/1997 tersebut. Sutan Remy Sjahdeini (2006: 57). Di lain pihak. karena bagaimanapun juga hukum harus tetap ditegakkan dengan upaya maksimal untuk memberikan keadilan bagi semua pihak. 23/1997 sendiri telah ditentukan bahwa tuntutan pidana dapat dilakukan terhadap korporasi apabila tindak pidana terhadap lingkungan hidup dilakukan oleh atau atas nama korporasi. Menentukan Pelaku Tindak Pidana Menurut Prof. terutama berupa keuntungan finansial atau pun menghindarkan/mengurangi kerugian finansial bagi korporasi yang bersangkutan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful