DEPARTEMEN KEHUTANAN

DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM PAPUA II SORONG
Jln. Jenderal Sudirman 40, SORONG, PAPUA Telp. (0951) 321986

Kerjasama BKSDA Papua II Sorong dengan The Nature Conservancy
BINTUNI, AGUSTUS 2005

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI PROPINSI IRIAN JAYA BARAT 2006-2030

Oleh: Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Sergius Kosamah, SH

Editor Prof. Dr. Frans Wanggai Dr. Ir. Jamartin Sihite Dr. Ir. Lukman Yunus Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Desain cover dan Tata Letak Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense Fotografi Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Peta Tematik Ir. Yosias Gandhi, M.Sc (Lab. GIS Fahutan Unipa Manokwari) Ir. Obed Lense, M.Sc.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI PROVINSI IRIAN JAYA BARAT 2006-2030
Dr. Jamartin Sihite, dkk. x, 266 hal; 21x30 cm Penulis Dr. Jamartin Sihite, dkk. Terbitan Pertama, Agustus 2005 Editor Prof. Dr. Frans Wanggai Dr. Jamartin Sihite Dr. Lukman Yunus Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Desain cover dan Tata Letak Dr. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense Fotografi Dr. Jamartin Sihite Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Peta Tematik Ir. Yosias Gandhi, M.Sc (Lab. GIS Fahutan Unipa Manokwari) Ir. Obed Lense, M.Sc. Penerbit: The Nature Conservancy (TNC), Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEA CMPA) (Jl. Pengembak No. 2 Sanur-Bali, Indonesia. Phone: (62-361) 287272 (hunting), Fax: (62361) 270737) Bekerjasama dengan UNIVERSITAS NEGERI PAPUA MANOKWARI Jl. G. Salju Amban Manokwari, Irian Jaya Barat PO Box 23 Manokwari Phone : (0986) 211754 Fax : (0986) 211455
Hak Cipta pada TNC (The Nature Conservancy) dan Universitas Negeri Papua ISBN: 979-97700-4-1

DEPARTEMEN KEHUTANAN
DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM PAPUA II
Alamat: Jl. Jenderal Sudirman No. 40 Po. Box 1053 Sorong-Papua Telp 0951-321926, Faks. 0951-334073, Email: ksda@sorong.wasantara.net.id

RENCANA PENGELOLAAN
CAGAR ALAM TELUK BINTUNI TAHUN 2006 – 2030

.

terutama dari hasil Perikanan seperti udang. Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menjawab berbagai tantangan yang muncul dari adanya kebijakan pelaksanaan otonomi daerah dan meningkatnya tuntutan masyarakat untuk dapat terlibat langsung dalam proses pembangunan bidang kehutanan. Kegiatan yang dilakukan masih terbatas pada pengamanan kawasan sedangkan kegiatan yang mengarah kepada pelestarian fungsi kawasan belum dilakukan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni RINGKASAN EKSEKUTIF BKSDA Papua II Sorong Cagar Alam Teluk Bintuni adalah salah satu kawasan konservasi di Kabupaten Bintuni yang sebagian besar merupakan tipe hutan mangrove. Resort KSDA Bintuni).memunculkan dilema baru bagi pengelolaan kawasan konservasi di daerah. Sejak Penunjukan. Menyikapi masalah tersebut. pada dasarnya merupakan wujud tuntutan publik atas perlunya suatu program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang benar- Ringkasan Eksekutif RI-1 . Tekanan masyarakat terhadap sumberdaya hutan semakin gencar bermunculan. khusus bagi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Dalam upaya untuk mengelola Cagar Alam Teluk Bintuni yang lebih baik. The Nature Conservancy (TNC) dalam hal ini Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) yang berkedudukan di Denpasar. berbatasan langsung dengan pusat kota dan merupakan tempat dimana masyarakat kota Bintuni dan sekitarnya menggantungkan kehidupannya. Karena keunikan wilayahnya serta terdapatnya beragam jenis flora dan fauna endemik Papua. menunjuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai Kawasan Cagar Alam dengan luas 124.Seksi Konservasi Wilayah I Manokwari.q. Pada era desentralisasi sektor kehutanan sejalan dengan diberlakukannya otonomi khusus bagi Propinsi Papua serta implementasi paradigma pengelolaan hutan berbasis masyarakat.850 Ha. sebagai salah satu kawasan konservasi yang strategis. pengelolaan kawasan CATB berada di bawah Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II Sorong . dan organisasi non pemerintah serta didukung oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. Tantangan ini. baik ditinjau dari segi tuntutan masyarakat pemilik hak ulayat akan haknya terhadap kawasan hutan bahkan juga kegiatan pemanfaatan sumberdaya di dalam kawasan semakin tidak terkendali. Tim ini dibentuk untuk membantu pemerintah daerah dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II dalam merumuskan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara partisipatif yang mampu mempertahankan dan melestarikan fungsi kawasan sesuai peruntukannya. c. maka pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua. akademisi. dan kepiting. Bali membentuk suatu Tim Penyusun yang bertugas menyusun Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK) yang terdiri dari unsur pengelola kawasan (BKSDA Papua II. ikan.

serta Rapid Biological Assesment (RBA) dalam rangka pengumpulan data SOSEKBUD dan biologi kawasan. dapun skenario yang menjadi impian ataupun harapan para pemangku kepentingan dan Ringkasan Eksekutif RI-2 . dan Tokoh masyarakat di setiap kampung yang memiliki akses langsung ke kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kabupaten Bintuni oleh Tim Penyusun dilakukan melalui serangkaian tahapan (1) Konsultasi. yang dilakukan selama periode akhir Maret s/d awal Mei 2005. Disamping itu penyusunan dokumen ini ditujukan untuk menciptakan salah satu instrumen pengelolaan yang mampu memberikan landasan bagi perencanaan dan pengembangan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Pemerintah Kabupaten Bintuni. tanggal 1 Juni 2005. c. demokratif . dan (5) Pemaparan Draft Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2005 di Departemen Kehutanan. Rektor Unipa Manokwari. (2) Pertemuan Kampung (village meeting) dan Rapid Social Assesment (RSA) di 14 kampung/kelurahan yang berada di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Dengan adanya dokumen ini. dinas terkait (Dinas kehutanan dan Dinas Kelautan dan Perikanan) di Teluk Bintuni. (3) Lokakarya khusus dengan seluruh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan yang di wakili oleh Kepala Kampung. diharapkan dapat mendorong penyelenggaraan pengelolaan kawasan CATB yang akomodatif .Berkelanjutan dan Berdaya Guna”. sehingga dokumen yang dibuat dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Dokumen Rencana Pengelolaan ini bertujuan untuk mengakomodir berbagai aspirasi dari stakeholder dan merumuskannya dalam rencana strategis dan rencana aksi. koordinasi. dan masyarakat Teluk Bintuni yang diwakili oleh wakil masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB. Wakil masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB. Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam. dan LSM Mitra Pesisir. Akhir Maret 2005. partisipatif dan bertanggung jawab. Kepala Suku. Visi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk tahun 2006 – 2030 adalah mewujudkan “Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang Lestari. Kepala Bappeda Propinsi Irian Jaya Barat dan Kabupaten Teluk Bintuni. (5) Kajian ilmiah (scientific review) draft Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh “reviewer”.q. Proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Teluk Bintuni. Dinas-Dinas Terkait di Teluk Bintuni. Jakarta. (4) Lokakarya Penjabaran dan Perumusan Draft Rencana Pengelolaan CATB yang dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2005. Koordinator Badan Monitoring. dan sosialiasi kegiatan penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni kepada Bupati Teluk Bintuni. di Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong benar dapat dijalankan dan isinya merupakan kumpulan agenda dari aspirasi segenap pemangku kepentingan yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan. di Bintuni.

dalam dokumen ini telah dirumuskan secara detai Rencana kegiatan pengelolaan yang difokuskan pada 7 (tujuh) aspek. dalam dokumen ini juga telah disusun Rencana pembiayaan serta kemungkinankemungkinan sumber dana yang bisa di gali dalam menunjang implementasi kegiatan Rencana pengelolaan periode limatahunan dan duapuluh limatahunan. prioritas kegiatan perlu dievaluasi dan dimodifikasi. Selain itu. yaitu aspek Pemantapan Kawasan. Untuk menunjang terwujudnya visi pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. sehingga dalam aktivitas perencanaan lebih lanjut akan didapatkan beberapa strategistrategi tertentu yang tidak relevan lagi. Dalam implementasi kegiatan Rencana pengelolaan Kawasan. Perlindungan dan Pengamanan Kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong masyarakat kota Bintuni pada masa 25 tahun mendatang adalah “Pada Tahun 2030 Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Akan Berjalan Ideal Dan Optimal. isu-isu pengelolaan kawasan yang baru akan muncul. Ringkasan Eksekutif RI-3 . Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan. Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati. Dalam perjalanan waktu. Pemanfaatan. Oleh karena itu. akan dimonitor dan dievaluasi oleh unsur internal pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni maupun oleh Forum komunikasi yang bersifat independent. serta aspek Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan. Pendukung/Kelembagaan. Karena Kebijakan Pemerintah Yang Akomodatif Dan Didukung Oleh Kelembagaan Pemangku Kepentingan Yang Demokratif.

.

tidak hanya pada daerah dimana kawasan konservasi berada tetapi juga memberikan manfaat kepada lingkungan global. Perhatian yang besar dari masyarakat dan kerja keras Tim Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni diperlihatkan dari antusiasme semua pemangku kepentingan dalam mengikuti proses penyusunan. Sehubungan dengan upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas. Keberadaan kawasan konservasi di suatu daerah. mampu memberikan manfaat yang besar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong SAMBUTAN BUPATI Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan salah satu dari beberapa kawasan konservasi yang terletak di Kabupaten Teluk Bintuni. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni juga mengharapkan dengan adanya dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Resort KSDA Bintuni). dan didukung oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni telah selesai menyusun rencana pengelolaan dan ini merupakan suatu momentum yang baik dimana ada banyak pihak yang berjuang bersama dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. terutama segenap masyarakat Teluk Bintuni dalam upaya impelementasinya. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menyambut baik hasil dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 25 tahunan yang telah dirumuskan dan disusun oleh Tim secara bersama-sama dengan para pemangku kepentingan. Upaya pengelolaan yang bertujuan untuk penyelamatan dan pelestarian kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan wujud dari tanggungjawab kita bersama selaku umat ciptaan Tuhan terhadap anugerah yang diberikan kepada masyarakat Teluk Bintuni. South East Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali. sudah dikenal di dunia internasional dan juga tempat banyak penduduk menggantungkan hidupnya. maka sinergitas dan kinerja para pemangku kepentingan dalam pengelolaan maupun pengembangan kawasan dapat berjalan secara efektif. Cagar alam ini merupakan kebanggaan masyarakat Kota Bintuni. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni tetap mengharapkan dukungan dari semua pihak. Tim penyusun Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dibentuk oleh The Nature Conservancy (TNC). diskusi intern dengan institusi terkait di daerah. transparan dan bertanggung jawab. Oleh sebab itu. berkelanjutan dan berdaya guna dapat terlaksana.q. yang terdiri dari unsur pengelola kawasan (BKSDA Papua II. akademisi. c. sehingga upaya mewujudkan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara lestari. secara khusus saya meminta Pengelola Cagar Alam untuk dapat melaksanakan dengan sungguh-sungguh dan sekaligus pula melakukan koordinasi pelaksanaan berbagai kegiatan yang ada dalam Sambutan Bupati SB-1 . dan lokakarya tingkat Kabupaten merupakan bukti kepedulian kita bersama dalam upaya penyelamatan kawasan ini. dimulai dari proses konsultasi publik baik pertemuan kampung.

secara khusus pelestarian dan perlidungan kawasan konservasi di Kabupaten Teluk Bintuni. termasuk kemungkinan konflik kepentingan. Atas nama Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Tim Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan atas segala upaya dan kerja keras yang dilakukan selama ini. saya sampaikan kepada lembaga pendukung kegiatan The Nature Conservancy (TNC). Agustus 2005 Sambutan Bupati SB-2 . hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa kita panjatkan puji dan syukur. Akhirnya. South East Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali. Masyarakat Kabupaten Teluk Bintuni secara umum juga saya minta untuk dapat mendukung sepenuhnya upaya pelaksanaan kegiatan di lapangan. Terima kasih dan penghargaan yang sama pula saya sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas partisipasinya dalam proses penyusunan rencana pengelolaan ini. Namun demikian. dinas lainnya se-Kabupaten Teluk Bintuni. untuk menambah arti dan nilai manfaat dokumen ini maka sekali lagi saya mengajak semua para pemangku kepentingan dan segenap masyarakat Teluk Bintuni untuk secara bersamasama mendukung implementasi kegiatan dalam dokumen program rencana pengelolaan ini. Terhadap hal-hal yang mungkin muncul atau dijumpai di lapangan. dalam atau selama pelaksanaan kegiatan ini saya minta dengan sangat untuk dapat dipecahkan bersama secara terbuka. partisipatif dan berpegang pada azas demokrasi. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan pula kepada semua pihak baik instansi teknis terkait. Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan suatu momentum awal yang baik bagi pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi di Tanah Papua. Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dokumen rencana kegiatan dimaksud bersama dengan Kepala Dinas dan Instansi terkait. sehingga kita boleh menikmati hidup yang baik hingga saat ini. Ucapan terima kasih dan penghargaan juga. yang telah membantu dan menfasilitasi proses penyusunan Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Bintuni selama ini. lembaga pendidikan dan lembaga penelitian serta lembaga pelaksana teknis Departemen Kehutanan di Kabupaten Teluk Bintuni yang telah membantu memberikan konstribusi pemikiran dan berpartisipasi aktif dalam proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni.

perlibatan masyarakat adat dan penetapan kawasan konervasi yang kurang mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat di masa lalu. Upaya proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang digagasi oleh The Nature Conservancy (TNC) merupakan suatu langkah awal yang bijak dan bukti nyata kepedulian para penggiat konservasi dan pemerhati lingkungan Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya dalam upaya mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi di Papua yang partisipatif. sehingga pengelolaan kawasan konervasi tidak dapat berjalan secara efektif. proses penyusunan yang melibatkan para pemangku kepentingan serta publik di Kabupaten Teluk Bintuni memberikan makna yang penting dalam membangun dan merubah paradigma kebijakan pengelolaan yang lebih akomodatiif. Selain itu pula.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong SAMBUTAN KEPALA BALAI KSDA PAPUA II Perubahan arah kebijakan Departemen Kehutanan RI yang prioritasnya kegiatan lebih dititikberatkan pada konservasi dan rehabilitasi kawasan merupakan suatu peluang yang baikdalam upaya penyelamatan kawasan hutan di Papua. Permasalahan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi dan kepentingan masyarakat. Selain itu pula. secara khusus dalam wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua II Sorong. berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat. Menginggat keterbatasan sumber daya kami yang kurang proposional dengan luas wilayah konservasi yang ada dalam wilayah pemangkuhan Balai KSDA Papua II Sorong di Papua. apabila diperhadapkan pada era desentralisasi pengelolaan hutan di daerah. Penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang digagasi oleh Tim penyusun rencana pengelolaan kawasan CATB serta berkoordinasi dengan Balai KSDA Papua II juga merupakan langkah yang sejalan dan sesuai dengan program dan prosedural penetapan dan pengelolaan suatu kawasan konservasi. Sehingga. tuntutan kepentingan akan kebutuhan dasar hidup masyarakat di Papua secara khusus masyarakat yang bermukim di sekitar dan dalam kawasan konservasi menjadi suatu tantangan yang harus segera dipecahkan bersama oleh para penggiat konservasi dan pemerhati lingkungan di Tanah Papua. transparan. erutama masyarakat yang berdiam di sekitar dan dalam kawasan konservasi di Papua merupakan masalah krusial yang harus segera diselesaikan. Disamping itu. Upaya ini merupakan salah satu bantuan yang sangat berharga bagi kami dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi di Papua. model pengelolaan maupun instrumen kebijakan yang digunakan dalam pengelolaan kawasan konservasi selama ini di Papua kurang mengakomodir kepentingan dan aspirasi masyarakat . Namun demikian. pengelolaan kawasan konservasi menjadi hal yang dilematis dan tidak konstruktif di Papua. demokratik dan bertanggung gugat. transparan dan demoktratik. kebijakan pengelolaan kawasan konservasi di Papua bersifat partisipatif yang Sambutan Kepala BKSDA Papua II SKBKSDA-1 .

Agustus 2005 Sambutan Kepala BKSDA Papua II SKBKSDA-2 . secara khusus pada wilayah Kepala Burung Pulau Papua bukan semata-mata merupakan tanggungjawab Balai KSDA Papua II selaku pemangku dan pengemban tugas pengelola kawasan. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada The Nature Conservancy atas segala dukungan dalam menfasilitasi proses penyusunan dokumen selama ini. berkat dan anugerah yang tak ternilai harganya. Balai KSDA Papua II Sorong menyambut baik dan menyampaikan selamat dan sukses atas diselesaikannya dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ini. maka kontribusi dan dukungan para pemangku kepentingan serta publik Manokwari masih sangat diharapkan juga dalam implementasi program selanjutnya. Oleh sebab itu. melainkan merupakan tanggungjawab kita bersama segenap masyarakat Papua untuk melestarikan dan mewariskan kekayaan alam yang unik dan maha kaya bagi generasi akan datang di tanah ini. disadari bahwa sumberdaya pada Balai KSDA Papua II masih sangat terbatas. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian dokumen ini. Dengan demikian. Pada kesempatan ini pula. kami ucapkan terima kasih kepada Tim Faslitasi Penyusunan Rencana Pengelolaan CATB atas upaya dan kerja keras yang diberikan selama ini. sehingga proses kegiatan ini dapat diselesaikan dengan baik. Selanjutnya. Akhirnya. Pengelolaan dan pelestarian kawasan konservasi di Tanah Papua. implementasi program pengelolaan kawasan selanjutnya dapat berjalan lebih efektif dan seinergis serta meminilisasi konflik yang selama ini terjadi. Sorong.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dapat mengakomodir semua aspirasi para pemangku kepentingan dalam kawasan. kami sampaikan kepada Bupati Teluk Bintuni serta Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni atas segala dukungan dan bantuan yang diberikan. Ucapan terima kasih juga. segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan perlindungan. yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu juga kami ucapkan banyak terimakasih.

6. dilaksanakan di kantor TNC. Dinas-Dinas Terkait di Teluk Bintuni. dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2005. Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali pada tgl 6-8 Maret 2005. dan LSM Mitra Pesisir. BP Tangguh. Penyusunan rencana kegiatan (work-plan) untuk keperluan internal Tim Penyusun RPK Cagar Alam Teluk Bintuni. baik internal tim berupa konsolidasi dan koordinasi yang dilakukan secara regular. dan beberapa LSM lokal di Manokwari. Penelusuran informasi-informasi yang pernah dilakukan di Cagar Alam Teluk Bintuni bekerjasama dengan beberapa stakeholder seperti Universitas Negeri Papua. koordinasi. Kata Pengantar KP-1 . Akhir Maret 2005 . di Bintuni. maupun eksternal tim antara berupa konsultasi publik dan field survei. Pertemuan Kampung (village meeting) dan Rapid Social Assesment (RSA) di 14 kampung/kelurahan yang berada di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. yang dilakukan selama periode akhir Maret s/d awal Mei 2005. Bulan Pebruari – April 2005. Rangkaian tahapan proses yang dilakukan Tim Penyusun RPK CATB secara umum terdiri dari beberapa tahapan kegiatan. Lokakarya khusus dengan seluruh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan yang di wakili oleh Kepala Kampung. Konsultasi. serta Rapid Biological Assesment (RBA) dalam rangka pengumpulan data SOSEKBUD dan biologi kawasan. dan Tokoh masyarakat di setiap kampung yang memiliki akses langsung ke kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. TNC Bali. kesehatan dan menyertai serta melindungi kita. 4. Kepala Suku. sehingga proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dapat diselesaikan dengan baik. yaitu : 1. CRMP Jakarta dan Mitra Pesisir Bintuni. Dokumen ini dihasilkan melalui serangkaian tahapan kegiatan diskusi baik formal dan informal yang dilakukan Tim Penyusun RPK Cagar Alam Teluk Bintuni. 2. 5. Masyarakat yang diwakili LMA Bintuni dan Lemasom. Pemerintah Daerah Teluk Bintuni termasuk beberapa Dinas terkait. Lokakarya Penjabaran dan Perumusan Draft Rencana Pengelolaan CATB bersama pemangku kepentingan terkait di Kabupaten Teluk Bintuni. di Bintuni. BKSDA Papua I dan Resort KSDA Bintuni. dan sosialiasi kegiatan penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni kepada Bupati Teluk Bintuni. 3. tanggal 1 Juni 2005. yang telah membantu memberikan kekuatan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni KATA PENGANTAR BKSDA Papua II Sorong Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang maha kuasa.

DS. 9. Khusus untuk rencana kegiatan. pembiayaan. pengorganisasian. Sukristijono Sukardjo. c. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dan para pemangku kepentingan dalam kawasan. Dokumen Rencana Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan arahan umum kegiatan yang diharapkan dapat di realisasikan oleh para pemangku kepentingan dalam program pengelolaan kawasan CATB sesuai dengan kewenangan serta tugas pokok dan fungsinya. Jakarta. Pengesahan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Dirjen PHKA. bukan lagi menjadi tugas Tim Penyusun RPK CATB. Koordinator Badan Monitoring. 8. bantuan dan kerjasama yang diberikan kepada kami. Dengan selesainya Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni ini. dinas terkait (Dinas kehutanan dan Dinas Kelautan dan Perikanan) di Teluk Bintuni.q. Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Teluk Bintuni. 3. yaitu aspek Pemantapan Kawasan. APU Oseanologi-LIPI). Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam. Kepala Bappeda Propinsi Irian Jaya Barat dan Kabupaten Teluk Bintuni. Namun demikian. Dokumen ini memuat kondisi umum kawasan. kebijakan. sehingga koordinasi dan kerjasama dapat berjalan lancar dan sukses. Pemaparan Draft Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2005 di Departemen Kehutanan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 7. Pengelolaan. 2. Badan Perencana Daerah Kabupaten Teluk Bintuni beserta jajarannya atas bantuan dan arahan selama proses penyusunan dokumen ini. analisis permasalahan. melainkan tanggungjawab bersama para pemangku kepentingan dalam kawasan dan juga masyarakat Teluk Bintuni dalam mendukung dan menyukseskan pelaksanaannya. Kajian ilmiah (scientific review) draft Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Dr. Bupati Teluk Bintuni yang telah memberikan perhatian serius dan mendukung kami. merupakan tugas pokok dan fungsi serta kewenangan Balai KSDA Papua II. Implementasi kegiatan pengelolaan selanjutnya. rencana kegiatan. dan masyarakat Teluk Bintuni yang diwakili oleh Ketua LMA Bintuni dan Lemasom. di Jakarta. Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Kelembagaan. Rektor Unipa Manokwari. Perlindungan serta dan Pengamanan Prasarana Kawasan. difokuskan pada 7 (tujuh) aspek. Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan. pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada: 1. pelaksanaan kegiatan bukan merupakan tanggungjawab sepihak pengelola kawasan dan pemerintah daerah. Pendukung/ Kegiatan (Peneliti Mangrove. Kepala Balai KSDA Papua II atas dukungan. sehingga semua proses kegiatan dapat berjalan dengan baik. Kata Pengantar KP-2 Hayati. Puslitbang Pemanfaatan. aspek Sarana Pendukung . dan monitoring dan evaluasi.c.

MSi Ir. MSi Sergius Kosamah. Masyarakat Teluk Bintuni. berkelanjutan dan berdaya guna. Piere dan Habel atas bantuan dan dukungan yang diberikan 8. Teman-teman di Pusat Studi Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PS2AL) . Ir. 9. Chandra Gustiar. Mendama Tambe Jaga Tane Cagar Alam Teluk Bintuni Bintuni. Semoga dokumen ini dapat menjadi acuan dan instrumen dasar bagi Balai KSDA Papua II Sorong dan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni sebagai upaya dalam pengembangan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. sehingga penyusunan dokumen dapat diselesaikan dengan baik. Obed Lense. khususnya masyarakat yang bermukim di kampung-kampung di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. MSc Ir. SH Kata Pengantar KP-3 . The Nature Conservancy (TNC). bantuan dan fasilitas. sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Teluk Bintuni dan juga mewujudkan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari. atas bantuan teknis dan informasi yang diberikan. Universitas Negeri Papua Manokwari dan Universitas Trisakti Jakarta. Retno Suratri. MSc Ir. Dr.Bogor atas bantuan editing dan koreksian serta dukungan data-informasi yang diberikan 7. Jamartin Sihite. atas dukungan. Kepada instansi teknis terkait dan dinas serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu di sini. sehingga proses penyusunan dokumen ini dapat direalisasikan dengan baik.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 4. 6. Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali. 5. Teman di BP Indonesia khususnya Jalal. Agustus 2005 Tim Penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni.

.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong .

.

Peningkatan Sistem Pengelolaan . E...... Penduduk…………………………………………………………………….….............. A... ………………………. ………………. A.... ………………………………………………………………… C2...……………………………………………… A........…………..........2.. C.... Flora ……………………………...... A... …………………………………………………………………………… C1...1....... …..…………………… A.…………………………………….....3... Risalah Kawasan .....Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman PETA SITUASI RINGKASAN EKSEKUTIF SAMBUTAN BUPATI KABUPATEN TELUK BINTUNI SAMBUTAN KEPALA BALAI KSDA PAPUA II KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I... C4.... F. Latar Belakang.......………………………... A...…… A3... ………….............. KEADAAN UMUM KAWASAN......... Kondisi Biologi Kawasan ............... A...…………... ……………………………………………………………… II....3........ B...……………………………………………….. Kondisi Fisik Kawasan.....…………...…………………………………………….2.. Iklim.......... A...2........2.......3.....3.………………………….........……………………………………………………………………..…………... ……………………………………….......... A....... Konservasi.......………………..... I-1 I-1 I-5 I-6 I-6 I-6 I-6 I-7 I-7 I-8 I-8 I-9 II-1 II-1 II-1 II-1 II-2 II-3 II-4 II-4 II-5 II-5 II-6 II-7 II-7 II-7 II-9 II-15 II-16 II-17 II-25 II-25 II-28 Daftar Isi i . …………………………………………………………..………………………………… B.. Metode Pendekatan ..... Letak dan Luas.………….....……….. Ruang Lingkup.2. Hutan Hujan Dataran Rendah ..............1... A..…………………………... B.... ………….... C3..2.1. Maksud dan Tujuan ........ Aksesibilitas..………...…………………….....3..........2.2... Mata Pencaharian…………………………………………………………. . Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hidrologi ..... ………………………………………… A...... Pendidikan.......... Informasi Umum Kawasan ..... .. Perlindungan ...…………………………………………………………………........ A... ...... Visi dan Misi Cagar Alam Teluk Bintuni .... Species ........... …………………………………………………….................………..1.....………. A2....1...... PENDAHULUAN .....2.......1.3.....……………………….... Karakteristik Sosial..1... Pemanfaatan Sumberdaya......……………. D.. Fauna .... Sasaran ...........3.. A.......…… A... B...................4. Tanah.....…... …………………………………………...……………….………………………………………..………………………………..1.....3........2...1. Ekosistem . A... Hutan Mangrove ..2..1. …………………………………………………………........…………………………………………....... Ekonomi dan Budaya....2. ………………………………………………………... Geologi.....1 Sejarah Penetapan Kawasan ..…….. A1..... C5.........

.... D......……..... Adanya Perburuan Buaya.........6...............……………………………………………… C2....... C..Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman B...2... .................................... …………………….. D...... B.3..........………………………………...........… B. Kearifan Tradisional Masyarakat............... C.2. … C............................ B.....……..6...........…………………... Tumpang Tindih Kawasan dengan Penggunaan Lahan Lain .......... Adanya Perkampungan di Dalam Kawasan ........... ........ C1. Faktor Penghambat ...……………………………………………………… C..... C.......3................. ……….6. C3..... ……………………………………………………………………….... Agama ... B... Adanya Tempat Penimbunan kayu di Dalam Kawasan ..3.....6.. Biologi………………………………………………..……………………………………..……………………………………… B. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai ...4.............. Tempat Berladang .. Penangkapan dan Pengumpulan Hasil Laut ......... C.………………………........ III...1... D...........………………………………...1.. C.. B...………………………………… B......……………………………………………………..3...1. Sosial Ekonomi Budaya......................……………………….... BAPI 1993……………………………………………………………………… B.. Pemanfaatan Sumberdaya Alam ....... .8.............6..3.......…………….2.......1............... B.3..........…………………………………………........................ C.. Fisik... ................... ...... Pemanfaatan Tumbuhan .. A....... Pengelolaan Hutan Lestari.............1...3.5....………………………………… B..………………………………………………... C. ..4...... C.... C........... .................…………………………………………......3........ Kebijakan Konservasi Biodiversity di Indonesia .6.......... . IBSAP 2003.....3. Pengembangan Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni......3...... Pemanfaatan SDA di Kawasan CATB....3..2.......2. C..1...5..................... II-30 II-30 II-31 II-33 II-34 II-34 II-34 II-35 II-37 II-38 II-40 II-44 II-45 II-46 II-48 II-50 II-54 II-55 II-55 II-55 II-56 II-56 II-57 II-57 II-58 II-59 II-60 II-60 II-61 II-61 II-62 II-62 III-1 III-1 III-2 III-2 III-4 III-5 III-5 III-5 III-15 III-20 III-23 Daftar Isi ii ......................2........ Kebijakan Umum dan Strategi Pembangunan Cagar Alam .....5... Pola Pemanfaatan SDA........3.........6............ Sektor Kehutanan...4...... B.. C...... B...............7....……..1............ ... B...........4.......... Dasar Hukum.....3............... Penangkapan Hasil Perikanan yang tidak Ramah Lingkungan .1.. Kesehatan …………………………………….....................…………………………………………………… B... Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan Hutan Mangrove . Rencana Strategis Ditjen PHKA……………………………………..4... ..……………………………............... Kapasitas Pengelola Kawasan.……….........................…………………………… B.. Sarana dan Prasarana Transportasi……………………………………….................. C. Pendidikan …………………………………….........1......3.... ........ Letak Kawasan .3. KEBIJAKAN ..3...1..2..........1................... ……………………..... Kepemilikan Lahan ...3...... Peran Masyarakat (Community Involvement) .………………………... Tempat Berburu...... D....... B............................ Pandangan Masyarakat Adat terhadap SDA (Tanah & Hutan)....6.. ........ Rusa dan Burung ...2. Pengelolaan Cagar Alam .....3.6... Pendidikan dan Kesehatan . Permasalahan.................. Pendugaan Nilai Ekonomi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.. Infrastruktur.................................. B..... B...... C....

1.................. A............. Pola Pemanfaatan Sumberdaya Alam ...…………………………….. E............……………………......2..............………………………………………………. .......................1..............1... Pemantapan Kawasan ……………………………………………………… B................ Aspek Kebijakan ....... Identifikasi dan Penilaian faktor Internal dan Eksternal ................1....1... Permasalahan ........... Analisis Kekuatan... C........... B......3............ Pendukung/Kelembagaan……………………………………...1..................………………..........……………….................2........ B..…… A......... Sarana Prasarana Penelitian ... ……………………………………………............ Kelemahan............. …………………………………………… C... Ekosistem ..... ... C........... Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya.......3......... A.............…………………………………………………...………….... D..... IV-1 IV-1 IV-1 IV-1 IV-6 IV-6 IV-8 IV-8 IV-8 IV-17 IV-21 IV-26 IV-26 IV-26 IV-26 IV-29 IV-34 IV-34 IV-35 IV-35 IV-36 IV-36 IV-37 IV-39 IV-40 V-1 V-1 V-2 V-2 V-3 V-6 V-10 V-12 V-13 V-17 V-17 V-18 V-19 Daftar Isi iii ..................1........... Pengelolaan dan Kebijaksanaan .2 ......2.... Peluang..... Alternatif Pemecahan Masalah .... A..2...... ………………………......5.6..........…………… C....1..1....……………………. Sarana Prasarana Pengelolaan ............. C... Umum……………………………........ F.. Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati...2.... A... ANALISIS PERMASALAHAN .............1 . B.4.......... Pemanfaatan........................... Perlindungan dan Pengamanan Kawasan......... …………………… III-26 D...1.....2.......... Alternatif Pemecahan Masalah .... B...... D......1......................... D.……………. ………………………………………………………………. Skenario Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni .. Sarana Prasarana Pendidikan .... B.... …………………...……………............... Sarana dan Prasarana……………………………………………………………… C.....1.......... V.........…………………………………......................... Alternatif Pemecahan Masalah .. E..Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman D..................... B......... Perumusan Strategi Pengelolaan . ........ C....……………………………………….…………………………. Rendahnya partsipasi Masyarakat ..... RENCANA KEGIATAN ......... Flora dan Fauna . B...........2...... D..... C......... B........... A.......... Permasalahan …………................ ……………………………………………..……………………............................. Permasalahan .............. ………………………....…….. Aspek Pengelolaan. E........2. B..... Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Otoritik ....... C....…….........3.... Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan……………………………........................... Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Demokratik............ III-28 IV... D.........1......................2..... Hubungan Ruang Kawasan Cagar Alam Dengan Daerah Sekitarnya....………………………………………………... Pengembangan Wilayah …………………………………………………………… III-26 D.. Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Demokratik ...2.................1................. Tinjauan Panataan Ruang Kabupaten Teluk Bintuni ... B... Aspek Biologi Kawasan ...... ……………………………...... Rencana Kegiatan Pengelolaan …………………………………………………........1........4...... dan Ancaman (KKPA) .................. Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Otoritik....... B...1........... Analisis Keterkaitan antar Unsur SWOT ...

............... . PEMBIAYAAN ............. ……………………………………......…….........2. Tugas dan Tanggungjawab . Mekanisme Kerja Forum Komunikasi Independen........................ Forum Komunikasi Independen .......... Sumber Dana......... VI-1 B. B.................. A........... ……………………………………. Lingkup Kegiatan Badan Forum Komunikasi Independen ....2........ PENGORGANISASIAN .. A.. Koordinasi dalam Lingkup Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni.... ……………………………. B. VI-2 VII.2......1....2 ........1........ ……………………………........ ………………………………………………………………………............ Pembinaan SDM... VI-1 A........... Rincian Biaya………………………………………………………………………..2......... Pelaksana Kegiatan. Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni …………………………….......................2......... . A.......... A. …………………………………………… A. IX..1.............. Pengembangan Organisasi dan SDM .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman VI... A.1....... Komposisi Forum Komunikasi MONEV CATB...........................………………………………… A...............3.............1.. Forum Komunikasi Independen .. Koordinasi dengan Instansi Lain …………………………………………… B..... PENUTUP .. B.. A..2... ……………………………………………………………….. Rencana Waktu Pemantauan dan Evaluasi........... A2.... Tanggungjawab Administrasi ……………………………………………………… C........ A.......……........................ ............... .…………………………………………………………………… VIII.......…………………………….2.......….....……………………………………….................... B........……………………………………………………. Penyusunan Staf . B..........MONITORING DAN EVALUASI . Kelembagaan dan Koordinasi ... Sumberdaya Pendukung ............. Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni .....3...............4....... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN VII-1 VII-1 VII-1 VII-2 VII-3 VII-3 VII-6 VII-8 VIII-1 VIII-1 VIII-1 VIII-2 VIII-2 VIII-6 VIII-7 VIII-7 VIII-7 VIII-8 VIII-8 VIII-9 IX-1 Daftar Isi iv ..2.. Kebijakan Pengelolaan................ A..

......... II-18 Jenis burung yang dicatat selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.................. II-40 II-17 Pemanfaatan vegetasi palem oleh masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ................................................................................................ Jenis-Jenis mangrove sejati pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ......................................................... II-6 II-16 Jenis-Jenis asosiasi mangrove pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . II-31 II-14 Tenaga Kesehatan yang ada di kampung sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005.............. .......................................................................................... ……………………… II-20 Jenis mamalia yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) serta berdasarkan informasi masyarakat setempat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ..........................................................................…… II-26 II-28 II-9 II-10 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di sekitar Cagar Aalam Teluk Bintuni........... Distrik Dan Kampung yang Memiliki Akses Terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni……………………………………………………………………… II-4 Jenis tanah yang terdapat di sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . II-11 Mata Pencaharian penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ....................................……………………………………………........................................ ......................................……………………………………………………………… II-33 II-16 Hasil perikanan yang dihasilkan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) beserta harganya............. II-17 Jenis herpetofuana yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ................................. II-41 II-18 Pemanfaatan komponen flora dan fauna pada ekosistem mangrove di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ..................................................... ...…………………………………………………… II-32 II-15 Jumlah penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan agama.....................................................………………………………… II-49 II-20 Jalur pelayaran reguler dari dan ke Bintuni yang dilayani oleh PT Pelni dan pelayaran swasta lain ..........Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No I-1 II-1 II-2 II-3 II-4 II-5 II-6 II-7 II-8 Keterangan Halaman I-9 Stakeholder di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) .............. II-30 II-13 Sarana Kesehatan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 ...................................……........…………………………………… II-50 II-21 Fungsi dan Manfaat Lingkungan Ekosistem Mangrove...................................... ………………….. II-53 Daftar Isi v .......................................... …...............................................……………………………………………………………...........................................................................……....................................... II-52 II-23 Prediksi Nilai Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan CATB......... II-43 II-19 Sarana dan jenis transportasi kampung di sekitar CATB ke Ibukota Distrik dengan saran transportasi sungai/laut ...................... .................................................. II-22 Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni ............................... II-51 II-22 Asumsi Dasar Penilaian Jenis Manfaat Hutan Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .......... .....………………………………………… II-29 II-12 Sarana Pendidikan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2002............................ II-16 Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi ekosistem hutan dataran Rendah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni........................................................

IV-33 IV-11 Matriks hasil analisis SWOT .......... VI-3 Rencana alokasi biaya pengadaan sarana dan prasarana untuk jangka pendek (per tahun) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010) .................................. IV-10 IV-6 Permasalahan sekaligus ancaman dan penyebabnya terhadap keberadaan ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 ..........................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No Keterangan Halaman IV-1 Kondisi personil pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005 ………………………………………………………………………… IV-3 IV-2 Kondisi sarana dan prasarana pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005............................................... ................ V-9 Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek perlindungan dan pengamanan kawasan.......................................... V-5 Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam mengembangkan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati............................. ……………………………………………………….................. . V-13 V-16 VI-2 VI-9 VI-16 VI-1 Rencana alokasi biaya pengelolaan jangka pendek kawasan CATB (per tahun) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010) .... ................. VI-2 Rencana alokasi biaya pengelolaan kawasan CATB jangka panjang (lima-tahunan) pada periode 25 tahun pertama (2006-2030)....................... IV-22 IV-8 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ........ VI-4 Rencana alokasi biaya pengadaan sarana dan prasarana untuk jangka panjang (per tahun) pada periode 25 tahun (2006-2030) ....................................…………… V-1 Rencana kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan.............................. IV-24 IV-10 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ................................................................................................ IV-7 IV-4 Permasalahan sekaligus ancaman terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasanCagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 ................ V-12 Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek pendukung/kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ....…………………………………………………… IV-4 IV-3 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ……………………………………………………………................................................................................... V-3 Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan...........… IV-14 IV-7 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove dan nipah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. ……………………… IV-23 IV-9 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ....... Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ................................................. VI-19 Daftar Isi vi ....................... IV-40 V-1 V-2 V-3 V-4 V-5 V-6 V-7 Prioritas rencana kegiatan pengelolaan kawasan selama dua puluh lima tahun (2006-2030) Cagar Alam Teluk Bintuni............................................................................................……… IV-9 IV-5 Tempat Penimbunan Kayu (TPK)/ Logyard yang menempati ekosistem hutan dataran rendah dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan tahun 2005 ......................................................... ………………………………………………………................................

............ ………...........…………… VIII-8 Daftar Isi vii ..................................................................................... VIII-1 Kondisi fasilitas pendukung pengelola Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa......Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No Keterangan Halaman VII-1 Kondisi staf pengelola cagar alam dan rencana pemenuhan staf berserta rencana pelatihan .......................................................... VII-9 VII-10 VIII-3 VIII-4 VIII-3 Rencana monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh unsur internal pengelola kawasan ........................... VIII-2 Kondisi personil pendukung pengelolaan Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa ................. VII-2 Rencana kebutuhan biaya pemenuhan staf dan rencana pelatihan di Cagar Alam Teluk Bintuni.

................................... ………………………………………………… II-17 II-16 Jenis buaya muara (Crocodylus porosus) yang ditemukan di kawasan CATB ........................................................................................... kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni......... II-8 II-8 II-9 II-9 II-10 II-10 II-10 II-12 II-12 II-14 II-14 II-10 Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) campuran pada Zona Pasang Surut di S............................... Cagar Alam Teluk Bintuni ...... Tirasai........ Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) di S...................................... Cagar Alam Teluk Bintuni .............................. Yensei Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ....................................... Pasamai …………………………………………............................... II-12 Vegetasi Mangrove S.................... Cagar Alam Teluk Bintuni ................................... Vegetasi mangrove Zona Avicenia-Sonneratia di P.................... Simeri di kawasan CATB ...... II-17 Peta Lokasi Kegiatan Survei Keberadaan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .................. I-14 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang Diusulkan WWF/IUCN/PHPA 1983.................................................................... I-2 Abrasi di Hutan Mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni...……………………………………… II-7 Tipe hutan hujan dataran rendah primer di belakang formasi hutan mangrove S................................ Kaboi di kawasan CATB......................................................................... Tirasai.................................................................. I-3 Kerangka Umum Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (General Framework)................................................) yang bisa ditemukan di hutan dataran rendah dan magrove di Kawasan CATB .................................................................. II-14 Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Sungai Sumberi Cagar Alam Teluk Bintuni ........ Tipe hutan hujan dataran rendah sekunder di dekat kampung Mamuranu............…....................................................... Simeri Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ........... Cagar Alam Teluk Bintuni ...................................... II-11 Pengukuran dan pengambilan titik koordinat plot pengamatan vegetasi mangrove di P........... Struktur Hutan Dataran Rendah Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni....………………………….. II-26 Daftar Isi viii ........... II-1 II-2 Peta Kerja Kegiatan Survei Kondisi dan Potensi Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 ......................................................... II-15 Jenis Anggrek (Bulbophylum sp............................................................................ Vegetasi mangrove Zona Rhizophora-Bruguiera di S....................................................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No I-1 I-2 I-3 I-4 I-5 II-1 II-2 II-3 II-4 II-5 II-6 II-7 II-8 II-9 Keterangan Halaman Cagar Alam Teluk Bintuni……………………………………………………………… I-1 Hutan Mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni………………………………………..................) yang memiliki nilai ekonomis yang dapat ditemukan di kawasan CATB .. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil Tata Batas Sub Biphut Manokwari Tahun 1999 ..................... II-18 II-19 II-18 Jenis kepiting bakau (Scylla sp....................................…… II-24 II-19 Lokasi Pemukiman penduduk K.... II-13 Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Tanjung Pitaboni...................... Mania...…………………………………………………… I-12 Hierarki Penentuan Prioritas Kegiatan Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni......................

............................................................................................................................ II-40 II-27 Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.................. ............... dan (c) anyaman keranjang …………………………………….............................................. II-55 II-38 Pengendapan lumpur (sedimentasi) yang membentuk delta di muara S..... II-42 II-28 Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni................................. II-21 Salah seorang anggota masyarakat nelayan di K............................................................. II-29 Rumah tradisional masyarakat lokal yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari vegetasi nipah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ............... Bintuni/ Wasian di dalam Kawasan CTAB......................................................................…………………………………………… II-56 II-39 Masyarakat baru pulang berburu di dalam Kawasan CATB………………………............... II-32 Lahan kebun dan bekas kebun masyarakat lokal di Kampung Mamoranu yang berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .. Distrik Idoor ...... II-33 Peta kepemilikan lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat ..............................................................…..................... II-49 II-37 Pembukaan lahan hutan dataran rendah untuk logyard kegiatan logging di dekat Kampung Tirasai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .... yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB .......... Korano Jaya setelah melaut .......Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No Keterangan Halaman II-20 Peta Lokasi Kampung yang berada di dalam dan sekitar Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005............................................... II-60 Daftar Isi ix ................................... II-38 II-25 Jenis kepiting bakau Scilla sp.............. II-42 II-42 II-44 II-45 II-45 II-47 II-48 II-35 Sarana transportasi darat jenis land cruiser (hardtop) yang melayani transportasi Manokwari-Bintuni PP ...... II-38 II-23 Jenis siput bor Bactronophorus sp.............................................................. (b) lantai rumah/para-para............................. II-31 Model Kandang pembesaran anakan buaya di Kampung Yensei.................……………………………………………….................................... II-27 II-28 II-22 Penangkapan ikan dengan menggunakan “JARING BALABUH” yang dilakukan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB ………........................ II-38 II-24 Jenis kerang Polymesoda coaxan yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB ..................................................................... II-59 II-40 Salah satu Kondisi Pemukiman penduduk (K............... II-30 Dendeng rusa dan babi hutan yang diperoleh dari berburu di hutan sekitar kampung Mamoranu dalam Cagar Alam Teluk Bintuni............................................. yang biasa dikumpulkan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB ....... II-34 Sarana transportasi udara jenis Twin-Otter di pelabuhan udara kota Bintuni yang melayani penerbangan ke dan dari kota Bintuni ........................ II-59 II-41 Diskusi dengan masyarakat Banjar Ausoy tentang tumpang tindih LU 2 dengan Batas kawasan CATB........................................... II-39 II-26 Bentuk pemanfaatan jenis palem sebagai (a) busur dan anak panah.........……………….......... II-48 II-36 Sarana transportasi laut/sungai jenis longboat yang digunakan masyarakat di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni .... Mamuranu) yang terletak di dalam kawasan CTAB ..........................................................................

... Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ....................................................... IV-12 Jenis satwa buaya muara (Crocodylus porosus) yang telah dilindungi undang-undang populasinya menurun akibat perburuan liar di Cagar Alam Teluk Bintuni ............Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No Keterangan Halaman III-1 Rencana Pola Pengembangan Kota Bintuni sebagai Ibu Kota kabupaten Teluk Bintuni .......... IV-18 IV-19 IV-19 IV-19 IV-29 IV-14 Kegiatan Lokakarya Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan ....................................... Korano Jaya dan K................................ Yensei dalam rangka penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni........................ IV-5 Salah satu logyard yang memanfaatkan sebagian ekosistem mangrove di S...................................................... IV-11 Jenis kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus) yang telah dilindung undang-undang yang sudah jarang dijumpai di hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni ...... IV-3 IV-3 Pembukaan lahan hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove sebagai logyard di S.............................. IV-13 Diskusi bersama masyarakat K.................................................................................................................................................... VII-3 Struktur organisasi pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni .......................... Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni............................................................................................................ ............. VII-1 Struktur arus informasi dari tahapan pelaksanaan pengelolaan di Cagar Alam Teluk Bintuni ................................... .............. IV-7 Kerusakan hutan mangrove akibat erosi tepi dekat muara sungai Wasian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni............................. IV-11 IV-12 IV-14 IV-15 IV-8 Terinvasinya hutan bekas perladangan oleh jenis pionir di K................................................................ CATB IV-17 IV-9 Jenis burung mambruk (Goura cristata) yang telah dilindungi undang-undang yang populasinya terancam..... IV-2 IV-2 Satu-satu sarana transportasi dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...... Sumberi di kawasan CATB........... Mamuranu................ IV-30 VI-1 Alur pengusulan pelaksanaan kegiatan dan implementasi kegiatan..... VIII-1 Mekanisme kerja Forum Komunikasi Independen ......... III-27 IV-1 Pemukiman di Desa Anak Kasih yang dibangun Dinas Sosial Propinsi Papua dan berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ………………………… .................................................................................. IV-11 IV-4 Kebun masyarakat lokal di Kampung Mamuranu di dalam kawasan CATB ............................. VII-2 Struktur sistem pengelolaan kawasan Cagar Alam......................................... VI-1 VII-2 VII-6 VII-7 VIII-9 Daftar Isi x ........................................................................................................................ IV-10 Jenis burung kasuari kerdil (casuarius benetti) yang telah dilindungi undang-undang yang populasinya terancam ....................................... IV-6 Bentuk gangguan ekosistem mangrove yang diakibatkan oleh tongkang pengangkut kayu log di S........................................... .....

.. L-10 Data kelembaban relatif udara ambien (%) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah......................... Frekuensi..... Kerapatan (N/Ha). L-2 Data suhu udara ambien (0C) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil dicatat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah.. Frekuensi.... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai)... Cagar Alam Teluk Bintuni ..... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).... Jenis.... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni)... Famili......... Cagar Alam Teluk Bintuni ........... ...... L-12 4 5 6 7 8 L-12 9 L-12 10 Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni)..... Kerapatan (N/Ha)....... Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0. Famili... L-10 Jenis.......... Famili....................... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Mangrove S........... Famili................................... Babo ................ dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi..... Cagar Alam Teluk Bintuni ................ Simeri..............................................46 ha) .................. Cagar Alam Teluk Bintuni .... Cagar Alam Teluk Bintuni ........ Frekuensi.............. Famili.............. ..................................................... Kerapatan (N/Ha)............... Kerapatan (N/Ha).. Kerapatan (N/Ha)..... L-21 17 Rangkuman Catatan Hasil Presentasi Draf Akhir Rencana Pengelolaan Kawasan CATB di PHKA Jakarta (22 Juli 2005) ………………………………………………… 18 Peta Kerja Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2006-2030………................................ dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Mangrove S.......................................... Cagar Alam Teluk Bintuni L-11 Jenis. Kerapatan (N/Ha)................................... Frekuensi....... Famili.............................. L-13 L-14 13 Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi................................ dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai)..... Frekuensi....46 ha) ....... L-14 14 Rangkuman Hasil Workshop Tingkat Kabupaten Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 ………………………………………..................................... .... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Sungai Sumberi......... Jenis......... L-13 11 Jenis..................... L-20 16 A COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the traditional community members who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve during the Kabupaten Meeting in Bintuni …………………………........... L-15 15 Programme of two-days meeting on Establishing the Bintuni Bay Nature Reserve Management Plan………………………………………………………………………........................... L-11 Jenis............... Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0............ L-11 Jenis........................ L-23 L-25 Daftar Isi xi . Cagar Alam Teluk Bintuni ........... Kerapatan (N/Ha).................. Simeri........................... ............ Frekuensi........................................... Frekuensi... 12 Jenis............. Babo ..... Kerapatan (N/Ha). Famili..Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR LAMPIRAN No 1 2 3 Keterangan Halaman Istilah dan Terminologi yang termuat dalam dukumen ...... Frekuensi. Famili.......................... Cagar Alam Teluk Bintuni .............

.

Salah satu upaya yang perlu dilaksanakan untuk kepentingan pengelolaan sumberdaya yang menyeluruh adalah melakukan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya yang tepat yang mempertimbangkan aspek ekonomi dan lingkungan berada pada posisi yang seimbang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong I. PENDAHULUAN A. dan atribut ekosistem mangrove. Selat Malaka. Krisis ini berdampak tidak hanya pada sistem perekonomian tetapi juga pada sistem lingkungan (ekologi) nasional. Pantai Utara Jawa. Pada banyak daerah dapat dijumpai terjadinya eksploitasi sumberdaya alam yang mengabaikan kelayakan ekologis dan keberadaan kawasan lindung. terumbu karang.50% dari total Gambar I-1. Cagar Alam Teluk Bintuni luas mangrove di dunia. habitat kawasan pesisir di setiap pulau-pulau di Indonesia berada dalam tekanan yang berat sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan. Latar Belakang Pengalaman ketika krisis moneter memberikan pengalaman yang sangat berharga. fungsi.6 juta ha yang berada dalam wilayah administrasi kawasan hutan dan non-kawasan hutan (Spalding et al. Dari ketiga ekosistem pesisir tersebut. yaitu mangrove. dan padang lamun. Luas mangrove di Indonesia menyumbang 23. serta pencemaran perairan pesisir yang Pendahuluan I-1 . tangkap lebih (over fishing) terhadap sumberdaya ikan yang akan mengakibatkan musnahnya berbagai jenis ikan ekonomis penting. misalnya. biodiversitas mangrove dan konservasinya telah menjadi perhatian dunia. Skala dampak manusia pada eksositem mangrove di Indonesia telah secara dramatis selama dekade terakhir memperlihatkan ancaman serius. Hasil-hasil penelitian juga telah menngkatkan pemahaman tentang nilai. ekosistem mangrove mempunyai peran lebih menonjol. seperti eksploitasi berlebihan terhadap mangrove dan terumbu karang yang akan menghilangkan fungsinya sebagai perlindungan alami terhadap badai dan gelombang. Wilayah pesisir Indonesia. telah mengalami kerusakan yang melewati toleransi daya dukung lingkungan. yaitu kurang lebih 9. Sehingga dalam tahun-tahun terakhir ini. yang terdiri dari tiga ekosistem utama. Pada waktu yang sama. 1997). Kondisi ini seyogyanya menyadarkan bangsa Indonesia untuk memperbaiki pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan agar tercapai pembangunan yang berkelanjutan. tersebut Keberadaan ketiga ekoistem sangat vital bagi produktivitas perairan dan perikanan. Kondisi krisis menyebabkan upaya pemenuhan kepentingan ekonomi melupakan aspek lingkungan.. Teluk Jakarta.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong akan mengurangi produksi ikan dengan merusak tempat pemijahan dan habitat yang bernilai lainnya (Cicin-Sain dan Knecht. Pada sisi lain diketahui bahwa menurunnya produksi perikanan di Bagan Siapi-api yang sebelum perang Dunia II merupakan wilayah penghasil utama ikan di Indonesia bahkan di dunia. pantai selatan dan timur Kalimantan. (3) lahan pertanian dan kolam garam. baik yang hidup di perairan. udang dan kerang-kerangan) baik yang hidup di perairan pantai maupun Iepas pantai. gelombang. (4) melindungi ekosistem pantai secara global. (2) habitat fauna terutama fauna laut. Hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial di Indonesia seperti di perairan sebelah timur Sumatera. Gambar I-2. Menurut Kusmana (2002) pada tingkat ekosistem sebagai wetland secara keseluruhan hutan mangrove mempunyai peranan/fungsi sebagai (1) pembangunan lahan dan pengendapan lumpur. badai dan juga merupakan panyangga bagi kehidupan biota lainnya yang merupakan sumber penghidupan masyarakat sekitamya. serta peredam gejala-gejala alam yang ditimbulkan oleh perairan. seperti abrasi. daerah mencari makan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan (ikan. Fungsi mangrove yang terpenting bagi daerah pesisir adalah menjadi penyambung darat dan laut. (5) keindahan bentang darat dan (6) pendidikan dan pelatihan. Selain itu fungsi ekologis hutan mangrove yang penting adalah sebagai daerah asuhan (nursery ground). di atas lahan maupun di Pendahuluan I-2 . pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya semuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan. 1998). Hutan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. Hutan Mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni Besarnya peranan hutan mangrove atau ekosistem mangrove bagi kehidupan dapat diketahui dari banyak jenis hewan. 1999). salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Noor et al.

Selanjutnya hewan pemakan detritus menjadi makanan larva ikan. Daun mangrove yang gugur melalui proses penguraian oleh mikroorganisme diuraikan menjadi partikel partikel detritus. 1999). Indonesia mempunyai areal hutan mangrove yang sangat besar. Hal ini terjadi antara lain diakibatkan oleh: kegiatan konversi mangrove menjadi peruntukkan lain. Detritus kemudian menjadi bahan makanan bagi hewan pemakan detritus. karena mereka dapat berperan sebagai perusak ataupun penjaga hutan mangrove. Masyarakat di sekitar kawasan hutan mangrove juga mempunyai ketergantungan sangat besar terhadap ekosistem mangrove tersebut. al. Pada tingkat berikutnya hewan-hewan tersebut menjadi makanan bagi hewan yang lebih besar dan begitu seterusnya untuk menghasilkan ikan. Dari Pendahuluan I-3 . tetapi menurut Spalding (1997) dalam Noor dkk (1999) luas ini sudah mengalami penyusutan sampai 40% terutama pada periode 1990-1999.9 juta Ha telah mengalami kerusakan dan hanya 2. udang dan berbagai jenis bahan makanan lainnya yang berguna bagi kepentingan manusia (Sugiarto dan Willy 1995 dalam Suhaeb. lahan tambak. 1992). Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan pada Tahun 1997 dari total hutan mangrove 8.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong sekitar pohon mangrove. tempat berlindung dan berkembang biak bagi satwa liar. Fungsi lain yang penting adalah sebagai penghasil bahan organik yang merupakan mata rantai utama dalam jaringan makanan ekosistem hutan mangrove. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang dapat memperbaiki dan meningkatkan partisipasi masyarakat dan pengelolaan yang baik agar fungsi ganda dari hutan mangrove dapat berjalan dengan baik dan dapat dimanfaatkan secara optimal. tempat Gambar I-3. terutama disebabkan oleh tekanan penduduk untuk pemukiman.7 juta Ha sebesar 5.000 Ha. bahkan beberapa diantaranya termasuk kedalam jenis yang endemik atau keberadaannya telah langka seperti harimau sumatra (Pantera tigris sumatranensis). udang dan hewan lainnya.. Ekosistem mangrove menyediakan makanan. serta bangunan lainnya. bekantan (Nasalis larvatus). seperti cacing. lahan pertanian. serta beberapa jenis berang-berang (otters) (Noor 1995).152. Produk yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi dari ekosistem mangrove adalah perikanan. Abrasi di Hutan Mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni pendaratan kapal. Menipisnya areal mangrove di kawasan pesisir ditunjukkan oleh luasan mangrove yang mengalami kerusakan.8 juta Ha yang kondisinya masih baik. Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada habitat mangrove (Sasekumar et. mysidceae (udang-udang kecil/rebon). mencapai 4.

Pada saat yang bersamaan. vegetasi pegunungan. Pulau ini memiliki 5-7% kekayaan hayati (biodiversity) dunia. merusak areal kebun kelapa penduduk dan lahan pertanian lainnya. 1983). Pulau Irian/Papua merupakan pulau dengan keanekaragaman hayati yang cukup besar. dimana abrasi sudah berjarak sekitar 3-5 m dari posisi jarak lima tahun yang lalu (sekitar 30.000 Ha (Petocz. perkembangan ekonomi di Teluk Bintuni bergerak maju. Penelitian Ruitenbeek (1992) menunjukkan bahwa hutan mangrove di Teluk Bintuni mendukung keberadaan sejumlah industri dan secara ekonomi cukup besar.000 Ha.850 Ha yang diperkuat dengan SK Menhut No. Industri udang. Di Irian juga bisa dijumpai 14 ecoregion daratan dan 5 ecoregion air. Usulan ini kemudian ditindaklanjuti dengan penetapan oleh Departemen Pertanian RI dengan SK Mentan No. Analisis citra satelit TNC (2003) menunjukkan bahwa di Teluk Bintuni masih ada hutan mangrove seluas 435. Pada tahun 1991 PHKA/AWB merevisi luasan dengan mengusulkan luas Cagar Alam ini menjadi 260. Kawasan saat ini dikepalai oleh Kepala Ressort dan hanya memiliki jagawana dengan fasilitas Pendahuluan I-4 . Pelaksanaan tata batas kawasan pada tahun 2000 oleh Biphut Manokwari menetapkan luasan akhir dari kawasan adalah 124. mulai dari gunung yang diselimuti es. Sejalan dengan semakin menipisnya mangrove. Ini bisa dipahami karena secara geografis pulau Irian mempunyai variasi yang luas. dkk. Cagar Alam di Teluk Bintuni diusulkan untuk pertama sekali oleh WWF pada permulaan tahun 1980. dataran rendah sampai hutan rawa.168 Ha dan merupakan luasan mangrove terbesar yang berada pada satu kawasan di Indonesia. Dari 19 ecoregion ini maka di dalam 8 ecoregion yang tercatat dalam WWF Global dapat dijumpai keberadaan 200 habitat. Di dalam kawasan Teluk Bintuni yang merupakan ecoregion #129 terdapat kawasan mangrove yang cukup luas bahkan merupakan kawasan mangrove terbesar di dunia.000 Ha (Zuwendra.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong isu pokok lingkungan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hutan mangrove sebagai ekosistem di kawasan pesisir telah mengalami kerusakan. Terjadinya proses abrasi-erosi ini diindikasikan oleh kenyataan yang menunjukkan garis pantai di beberapa tempat seperti di daerah Kalimantan Barat dan Kabupaten Rembang hampir menyentuh badan jalan. 182/Kpts/UM/II/1982 dengan luasan Cagar Alam 300.5 juta dan perikanan artisanal US $ 10 juta per tahun. 891/Kpts-II/1999. woodchips dan LNG serta penetapan kabupaten baru mengharuskan dibangunnya banyak infrastruktur dan baik langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan dampak pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. penurunan luasan dan mutu habitat sebesar 68 %. 1991). laju abrasi-erosi di kawasan pesisir menunjukkan kecenderungan yang semakin tinggi. Kerusakan pesisir diperkirakan mempunyai besaran dampak lebih dari 80 %. kayu chips US $ 1. Sampai saat ini rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni belum tersusun.40 m). Dari sektor perikanan dihasilkan US$ 35 juta per tahun. dengan total luas 450.

Ketidaktersediaan rencana pengelolaan menyebabkan aktivitas pengelolaan di Cagar Alam menjadi tidak terencana bahkan hampir tidak ada. pelibatan dukungan di luar pemerintahan menjadi perhatian penting bagi pembangunan Teluk Bintuni. adanya sedimentasi akibat pengelolaan kawasan hulu yang kurang baik menjadi ancaman bagi keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Menerapkan zona pemanfaatan tradisional dengan memberikan hak penangkapan sumberdaya perikanan di dalam kawasan khusus bagi penduduk kawasan. UNDP dan BP sudah terlibat dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan pembangunan kapasitas kelembagaan di Pemerintahan. 4. ekosistem mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni mempunyai peran ekonomi yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi kawasan Teluk Bintuni. B Maksud dan Tujuan Tujuan pengelolan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah untuk melestarikan habitat hutan mangrove. Perkembangan menjadi kabupaten baru menyebabkan pemerintah kabupaten membutuhkan adanya pengelolaan sumberdaya alam yang baik. dimana dokumen ini juga digunakan sebagai acuan bagi penyusunan rencana pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni. Pendahuluan I-5 . Menjamin keberlanjutan sumberdaya alam bagi penelitian. 2. 3. pengambilan kayu bakar dan bahan bangunan rumah. Ketergantungan masyarakat sekitar terhadap sumberdaya perikanan dari kawasan. Disamping itu. serta melindungi satwa langka. dibandingkan dengan hutan dataran rendah di sekitarnya yang mengandung 1200 spesies tanaman. pendidikan. Keberadaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang ada masih relatif belum efektif dan efisien. Khusus di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni pernah dilakukan beberapa survey dan penelitian khususnya pada kawasan ekosistem mangrove dan dapat digunakan sebagai informasi ekologis daerah Cagar Alam. Diharapkan adanya rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang baik akan memudahkan pengawasan bersama antara BKSDA Papua II dengan pemerintah daerah Kabupaten Teluk Bintuni. dalam strategi pembangunan Teluk Bintuni. Survei ini menunjukkan bahwa mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni tergolong kepada sistem yang relatif tidak kompleks – hanya terdapat 20 spesies tanaman mangrove.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pendukung terbatas untuk melakukan pengawasan. Menyusun suatu struktur pengelolaan bersama yang lebih mandiri dan kapasitas memadai. ilmu pengetahuan. USAID dan CRMP/Mitra Pesisir telah menyusun rencana pengelolaan untuk kawasan pesisir Teluk Bintuni. pemanfaatan terbatas oleh masyarakat setempat dan pengembangan pariwisata alam. Tetapi. hutan nipah dan pesisir di dalam kawasan untuk : 1. Menjamin perlindungan bagi kehidupan biota pesisir dan perairan.

Pemeliharaan sebaik-baiknya rute-rute migrasi satwa di dalam kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni C Sasaran BKSDA Papua II Sorong Sararan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah tercapainya pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni melalui pola pengelolaan komprehensif yang efisien tetapi berdayaguna (efektif). Kegiatan pemanenan terbatas yang tidak mengancam populasi jenis manapun di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan menjamin perlindungan sumberdaya alam dan menghormati pemanfaatan tradisional. serta menjamin berlangsungnya pemanfaatan potensi secara berlanjut (sustainable use) guna mendorong pembangunan ekonomi daerah. C1. Pendidikan Mengembangkan fasilitas dan infrastruktur untuk pendidikan dan penelitian tentang konservasi sumberdaya alam di Cagar Alam Teluk Bintuni. Perlindungan dan pelestarian fauna dan flora kawasan pada habitat alamnya. C3. Konservasi Flora dan fauna kawasan dilestarikan pada ekosistem alamnya. Penerapan sistem pengawasan yang efektif oleh staf jagawana Cagar Alam Teluk Bintuni untuk menegakkan peraturan. Secara umum sasaran pengelolaan meliputi aspek (i) perlindungan. Perlindungan Pengukuhan hukum atas Batas kawasan baik di darat/Sungai dan laut. (iii) pendidikan. sehingga mampu menjamin keberadaan biota langka dan endemik. Pengembangan dan penerapan secara efektif sistem pemantauan dan evaluasi. Penerapan suatu sistem zonasi di lapangan Cagar Alam Teluk Bintuni. (ii) konservasi. Pendahuluan I-6 . Perlindungan dan menjaga fungsi tempat pemijahan ikan dan biota perairan. Rehabilitasi atau pemulihan daerah yang mengalami degradasi lingkungan. Peraturan Cagar Alam Teluk Bintuni yang jelas. C2. Melakukan intervensi pengelolaan yang efektif bila terdapat spesies atau ekosistem yang terancam. dapat diterapkan. (iv) pemanfaatan sumberdaya yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan serta (v) peningkatan sistem pengelolaan. yang melindungi semua daerah yang memiliki nilai biologi tinggi.

Peningkatan tingkat ketrampilan masyarakat setempat untuk memberikan perlindungan komunitas terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Peningkatan partisipasi stakeholder lokal secara positif untuk mendukung pengelolaan kawasan. Perlindungan tempat pemijahan ikan terutama yang ada di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. C5. Pelatihan dalam meningkatkan ketrampilan petugas khususnya jagawana (ranger) Cagar Alam Teluk Bintuni agar mampu mengawasi dan megelola Cagar Alam Teluk Bintuni secara lebih mandiri. Penyusunan suatu rencana penelitian menyeluruh dan dilaksanakan bekerjasama dengan mitra mitra ilmiah terutama untuk menangani isu-isu penting bagi kawasan. Mengembangkan kearifan tradisional yang mendukung pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya perikanan dan satwa buru Penelitian Penyusunan kesepakatan tentang hak kepemilikan intelektual khususnya bagi kearifan tradisional. Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia khususnya yang terlibat langsung dalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Peningkatan sarana dan prasarana Cagar Alam.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Peningkatan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terhadap kelestarian kawasan. C4. Pendahuluan I-7 . Peningkatan Sistem Pengelolaan Pengembangan dan penerapan sistem pengelolaan yang berkelanjutan untuk Cagar Alam Teluk Bintuni. Pelaksanaan suatu rencana pemantauan dan inventarisasi biologi untuk habitat di Cagar Alam Teluk Bintuni. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Berburu Pemanfaatan sumberdaya perikanan dan satwa buru oleh masyarakat secara tradisional. terutama bagi habitat yang rentan dan spesies yang terancam punah.

Berdasarkan beberapa isu pengelolaan seperti yang dijabarkan pada Bab selanjutnya. 6. penelitian dan pendidikan. Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di di dalam dan sekitar Kawasan melalui kegiatan pemberdayaan. Visi dan Misi Cagar Alam Teluk Bintuni Konsep pengelolaan kawasan perlu mempunyai tujuan ideal. Meningkatkan upaya penegakan hukum terhadap kegiatan-kegiatan yang dapat menurunkan kualitas kawasan. Rencana tersebut meliputi bahasan kebijakan. Misi inilah yang akan dijabarkan lebih lanjut menjadi program dan rencana aksi dalam dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. rincian kegiatan dan pentahapan kegiatan baik untuk pembanggunan sarana prasarana. E. Meningkatkan kinerja dan kemampuan pengelola Kawasan. Visi atau pusat kepedulian tersebut hanya akan terwujud apabila semua stakeholder membangun komitmen bersama yang tercermin dalam kepedulian untuk bertindak melestarikan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni serta terbentuknya kesadaran publik secara luas di seluruh wilayah Kabupaten Teluk Bintuni. Pendahuluan I-8 . Menciptakan keutuhan dan kualitas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . Pusat kepedulian atau visi pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai Tahun 2030 adalah: TERWUJUDNYA PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI SESUAI FUNGSINYA SECARA LESTARI. perlindungan dan pengamanan hutan. Meningkatkan kesadaran masyarakat di dalam dan sekitar Kawasan tentang pentingnya keberadaan Kawasan sebagai system penyanggah kehidupan. Misi merupakan gambaran deklaratif tentang tujuan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga. 3. koordinasi. Untuk itu diperlukan adanya visi dan misi. organisasi atau kegiatan. 5. analisis masalah. 2. 4. BERKELANJUTAN DAN BERDAYA GUNA. pengelolaan potensi kawasan. dimana konsep ini akan diperjuangkan oleh pengelola. maka misi yang diemban dalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk periode 25 tahun mendatang adalah: 1. Meningkatkan database dan sistem informasi yang memadai. Ruang Lingkup BKSDA Papua II Sorong Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni terdiri dari Rencana Pengelolaan jangka Panjang (25 Tahun) dan Rencana Jangka Pendek (5 Tahun Pertama).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni D.

Ikatan Pemuda Teluk Bintuni (IPTB) 8 Masyarakat A. Tujuannya adalah agar data dan informasi yang diperoleh mengenai kondisi. khusus yang mempunyai peran terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Rencana kegiatan pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni mempunyai banyak komponen kegiatan yang didasarkan kepada potensi kawasan dan juga permasalahan kawasan. persepsi dan aspirasi tentang CATB meliputi semua pihak yang berkepentingan (Tabel I-1). Untuk melihat fungsi dan peran dari setiap pemangku kepentingan (stakeholder) maka dilakukan analisis stakeholder. Kampung Mamuranu/Anak Kasih Pendahuluan I-9 . maka diperlukan prinsip pendekatan yang terpadu dalam menyusun Rencana Pengelolaan (Management Plan) Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni F. Kerangka pendekatan yang akan digunakan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan disajikan dalam Gambar 1-4. Tabel I-1. Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Lemason d. Yayasan Forum Dialog Pembangunan Masyarakat Teluk Bintuni (YFDPMTB) e. Hal ini dimaksudkan agar rencana pengelolaan (management plan) bisa digunakan sebagai acuan bagi Balai Konservasi Sumber Daya Alam wilayah Papua II-Sorong dan Departemen Kehutanan cq Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Kelestarian Alam serta Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni untuk mengelola kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni. Metode Pendekatan BKSDA Papua II Sorong Mengingat bahwa sasaran dari kajian ini adalah tersusunnya rencana pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya (tahun 2005-2024) melalui pendekatan ekosistem dan berbasis masyarakat. serta tersedianya rencana kegiatan selama 5 tahun. aktivitas. Masyarakat di dalam Kawasan * Distrik Idoor 1. Mitra Pesisir b. Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Bintuni c. Stakeholder di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) No 1 2 3 4 5 6 7 Stakeholder Departemen Kehutanan BKSDA Papua II Resort Bintuni Bappeda Teluk Bintuni Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Teluk Bintuni Dinas Perikanan dan Kelautan Teluk Bintuni Syahbandar Teluk Bintuni Dinas Pertanian dan Perkebunan Teluk Bintuni Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) a.

Kampung Yakati 2. tokoh agama. tokoh adat dan 2 orang anggota masyarakat). Teluk Bintuni. Di luar Kawasan * Distrik Bintuni 1. Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Bersinggungan dengan Kawasan * Distrik Bintuni 1. Metode Rapid Socio-economic Assessment . Mitra Pesisir.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No 2. Metode FGD dilakukan untuk mendapatkan informasi yang banyak dalam waktu yang relatif singkat. Ikatan Pemuda Teluk Bintuni) dan masyarakat dari desa-desa yang berbatasan atau berada dalam kawasan CATB. LSM (al. Kampung Tuasai 5.10 . dimana untuk Masyarakat di sekitar kawasan CATB jumlah responden totalnya 70 orang. LMA Lemason. Lembaga Masyarakat Adat-LMA Bintuni. Kampung Yensei * Distrik Kuri 1. Kampung Tirasai B. Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kab. perasaan dan motif yang berada dalam individu maupun kelompok. Pendahuluan I . Yayasan Forum Dialog Pembangunan Masyarakat Teluk Bintuni. Kampung Banjar Ausoy (SP 4) 4. Teluk Bintuni. LSM 1 orang sedangkan untuk kelompok masyarakat 5 orang (Ketua Kampung. Kelurahan Bintuni Barat * Distrik Idoor 1. Kampung Argo Sigemerai (SP 5) 6. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab. Total seluruh responden yaitu 87 orang.RSA diterapkan untuk mendapatkan gambaran tentang persepsi dan kondisi sosial ekonomi budaya masyarakat desa sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kampung Bumi Waraitama (SP 1) 3. Kampung Korano Jaya (SP 2) C. Kelurahan Bintuni Timur 2. Sub BKSDA Resort Bintuni. Wawancara pada lembaga pemerintahan dan LSM dilakukan secara purposive dimana untuk pemerintah dilakukan 2 orang. Sedangkan Indepth Interview dilakukan untuk menggali data berdasarkan kasuskasus tertentu yang tidak bisa diungkapkan pada saat diskusi berlangsung seperti pengalaman. Teluk Bintuni. Kampung Pasamai 2. RSA merupakan pendekatan dengan indepth interview dan diskusi grup terfokus (FGD) dimana peneliti hanya akan berperan menjadi fasilitator diskusi. Kampung Naramasa Stakeholder BKSDA Papua II Sorong Stakeholders yang dilihat peran dan fungsinya antara lain : Departemen Kehutanan-BKSDA Papua II Sorong.

dilakukan dengan metode garis berpetak (line-plot sampling method) serta metode penjelajahan (explorasi) pada beberapa lokasi yang ditetapkan berdasarkan tipe ekosistem (Soerianegara. pada lokasi tempat pengamatan flora mangrove. Sedangkan untuk melihat struktur dan komposisi jenis serta potensi flora mangrove. Selain itu untuk memperoleh rencana pengelolaan untuk Cagar Alam Teluk Bintuni dilakukan Analisis SWOT (Strenghts. dan diameter (untuk tingkat vegetasi tiang dan pohon). Weaknesses. dan data primer yang dikumpulkan selama proses penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pengamatan yang dilakukan pada hutan dataran rendah dilakukan dengan metode penjelajahan pada beberapa tempat untuk melihata struktur dan komposisi jenis flora. Opportunities. 1998). informasi keberadaan satwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat lokal yang bermukim di kampongkampung di dalam dan di sekitar kawasan yang berhasil dikunjungi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Wawancara dilakukan dengan bantuan ”Kuesioner” agar pertanyaan lebih terfokus dan menghindari kemungkinan melupakan hal-hal yang harus ditanyakan. melihat jejak kaki (footprint/trail). Pendahuluan I . Selain itu. Threats). Aspek biologi kawasan dikaji berdasarkan survey lapangan (field survey) dan telaah silang dengan publikasi dan laporan hasil penelitian yang telah dilakukan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya serta berbagai informasi yang diperoleh melalui penelusuran pustaka. jumlah . Data yang dikumpulkan dianalisis secara kualitatif untuk menggambarkan hubungan antara data yang satu dengan data lainnya. tinggi.11 . juga dilakukan pengamatan keberadaan jenis-jenis satwa dengan metode penglihatan langsung (direct seen). Data yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai instansi terkait dan LSM – LSM yang aktif dalam pengembangan Teluk Bintuni. Selain pengamatan langsung. dan wawancara dengan berbagai stakeholder. dan suara (noisy). Pada setiap petak pengamatan di lakukan pencatatan jenis.

Teluk Bintuni Review Konsep Pengelolaan Review Kebijakan Pemda Review Kebijakan Pendidikan dan Penelitian di Cagar Alam Rencana dan Strategi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Identifikasi Dinas Perikanan Kabupaten Masalah & Universitas Papua Kendala Instansi Terkait Kabupaten Inventarisasi & Masyarakat Adat Teluk Bintuni Atlas Sumberdaya Teluk Bintuni Identifikasi LOKAKARYA KABUPATEN PROSES SELEKSI RENCANA KEGIATAN TERPILIH DAN PENTAHAPAN KEGIATAN Desain dan Program Manfaat Lingkungan Rencana Pengembangan Program Usulan Skenario dan Strategi Pengelolaan Cagar Alam Usulan Kelembagaan Pendukung Usulan Pentahapan Kegiatan Pengelolaan Jangka Panjang dan Pendek Gambar 1-4. PERSIAPAN III.Daftar Stakeholder /Responder Interview Recor Questionnaire .12 . ANALISIS SWOT Analysis Rencana Strategi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni List Isu II.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong I. PENGOLAHAN DATA V.Metode Survey Tujuan (Interview.Sorong Review Program-program Konservasi Biodiversity IBSAP dan Kebijakan Konservasi SDA Hayati Isu-isu Konservasi Biodiversity per Aspect dari IBSAP Bappeda Propinsi Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Kehutanan Kab. Questionnaire) Kesan/harapan Stakeholder terhadap Cagar Alam Teluk Bintuni IV. Kerangka Umum Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (General Framework) Pendahuluan I . PENGUMPULAN DATA Sorting Daftar Prioritas Isu . REVIEW PROGRAM Program-program Kabupaten Review Program-program Penngelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Review Program-program Pengelolaan Pesisir Kabupaten Teluk Bintuni Program-program BKSDA – Re Teluk Bintuni Aspek-aspek Pengelolaan Biodiversity/ Survey Item Category PERTEMUAN & KONSULTASI BKSDA Papua II .

g. Dalam suatu kawasan konservasi. b. Dalam pengambilan keputusan dan kegiatan-kegiatan lainnya khususnya dalam perencanaan pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni perlu melibatkan unsur sektor perikanan dan kelautan.13 . untuk Penyusunan Rencana Pengelolaan biasanya terdapat lebih dari satu kelompok sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang dapat dikembangkan untuk kepentingan pembangunan. Untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dari sektor terkait ke kawasan konservasi dan di antara kelompok pemanfaat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu ditetapkan prosedur dan mekanisme pada tingkat administratif yang tepat. yaitu: Adanya keterkaitan ekologis baik antar ekosistem mangrove dan perairan di dalam kawasan konservasi dengan areal budidaya penduduk. Perlu ditingkatkan kesadaran publik akan perlunya perlindungan dan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk Penyusunan Rencana Pendayagunaan Kawasan Teluk dan keikutsertaan mereka yang terkena pengaruh dalam proses pengelolaan. f. e. Pelibatan masyarakat sejak awal perencanaan dimaksudkan untuk menghindari konflik diantara kelompok pemanfaat kawasan konservasi terutama dengan kelompok pemanfaat dari lingkungan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . Untuk membantu pengambilan keputusan mengenai Cagar Alam Teluk Bintuni perlu dilakukan pengkajian dengan mempertimbangkan faktor ekologi. ekonomi. c. Untuk mencapai pemanfaatan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari dan terpadu perlu diperhatikan kerentanan ekosistem kawasan konservasi. Untuk perencanaan Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu diperhatikan beberapak aspek utama yang menjadi acuan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Beberapa hal yang diperhatikan dalam Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah sebagai berikut : a. Pendahuluan I . h. mitra pesisir serta masyarakat adat. kapasitas sumberdaya alam dan ketergantungan masyarakat di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni. Dalam rangka menetapkan pemanfaatan sumberdaya di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni maka pengaturan akses ke sumberdaya tersebut harus memperhatikan “hak penduduk sekitar kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni dan praktek turuntemurun yang menggambarkan kearifan tradisional” dalam pengelolaan sumberdaya alam sepanjang pola atau kegiatan tersebut sesuai dengan pembangunan yang berkelanjutan d. sosial dan budaya.

walau secara khusus di Papua ada batasan aturan hak adat.14 . Kelestarian ekosistem dan fungsinya (hutan mangrove) b. Terpeliharanya kualitas air (sedimentasi tidak terlalu besar) Pendahuluan I . Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. pemanfaatan suatu kawasan konservasi secara monokultur adalah sangat rentan terhadap perubahan internal maupun eksternal yang menjurus pada kegagalan usaha. hukum dan kelembagaan menjadi faktor yang sangat berperan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (Gambar 1-5). sosial ekonomi. sosial budaya. Faktor dimensi ekologis. tetapi akses cukup terbuka untuk dapat dimanfaatkan oleh semua orang. Hierarki Penentuan Prioritas Kegiatan Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Kriteria indikator pembangunan berkelanjutan Ekologi : a. Kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni pada umumnya merupakan sumberdaya terbuka (open acces resources). Daya dukung lingkungan terhadap kegiatan pemanfaatan d. Tahap I Tujuan/Fokus Penentuan Prioritas Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Tahap 2 Komponen Pembangunan Berkelanjutan Ekologi Ekonomi Sosial Budaya Regional Tahap III Indikator Pembangunan Berkelanjutan a b c d e f g h i j k l m n o p Tahap IV Strategi Pengelolaan Cagar Alam Penataan Pemeliharaan Pemanfaatan Pengawasan Pengendalian Pemulihan Penelitian Pengembangan Gambar I-5. Kelestarian beranekaragamnya spesies dilindungi dan endemik c.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Baik secara ekologis dan ekonomis. i.

j. Peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya pengguna kawasan mangrove h. k. Keberlanjutan usaha dan akuntabilitas Sosial Budaya: i. Dampak terhadap perekonomian secara makro BKSDA Papua II Sorong g. Posisi kawasan berdasarkan kondisi geografis p.15 . Posisi kawasan dari sudut pandang sistem Tata Ruang Propinsi dan Kabupaten o.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Ekonomi: e. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) f. l. Terpeliharanya kearifan dan budaya lokal Keamanan dan ketentraman masyarakat Kesehatan masyarakat Peningkatan pengetahuan dan keterampilan Regional: m. Status kepemilikan lahan Pendahuluan I . Aksesibilitas kawasan n.

.

1 Risalah Kawasan Informasi Umum Kawasan Sejarah Penetapan Kawasan A. 1987). Di kawasan in hidup kurang lebih 160 jenis jenis burung. dan kurang lebih 39 jenis mamalia (Petocz. Kemudian pada awal tahun 1982.300 ha termasuk mangrove kelompok Sungai hutan Aramasa. KEADAAN UMUM KAWASAN A.000 ha. yang meliputi areal seluas 300.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong II.1 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) The Bintuni Bay Nature Reserve pertama kali diusulkan oleh WWF pada tahun 1980-an. Luasan tersebut ternyata lebih kecil daripada luasan yang diusulkan sebelumnya (357. Kawasan ini merupakan areal penting untuk menyangga kegiatan perikanan komersil dan industri udang yang ada. tertanggal 22 Desember 1982 antara Keadaan Umum Kawasan II . and Sungai Kaitero untuk ditetapkan Gambar. Cagar Alam Teluk Bintuni secara definitif ditunjuk sebagai daerah Cagar Alam melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No.1. Luasan yang diusulkan WWF pada tahun 1980-an adalah mencakup areal seluas kurang lebih 450. Pada tanggal 10 Nopember 1982. Departemen Pertanian Republik Indonesia mengusulkan areal seluas kurang lebih 357. 182/Kpts/UM/11/1982. Hal ini karena areal seluas 57. Sungai Wagura. II-1 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang diusulkan WWF/IUCN/PHPA Tahun 1983 sebagai Kawasan Cagar Alam. kawasan ini mengalami beberapa kali perubahan luasan.300 ha telah dialih fungsikan menjadi hutan produksi berdasarkan Forest Agreement No: FA/N/024/XII/1982. A.1 .000 hektar (Petocz. 1983) (Gambar II-1. Sungai Weperar. lebih dari 17 marsupial.). 2. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan diusulkan areal ini sebagai kawasan konservasi adalah: 1. Dari segi luasan.300 ha). Kawasan ini merupakan habitat penting dan pusat populasi paling padat bagi berkembang biaknya jenis buaya muara (Crocoylus porosus). Luasan mangrove yang ada merupakan rumpun mangrove yang paling baik di Papua (Irian Jaya saat itu). 3.

suatu AWB/PHKA studi luasan untuk Cagar melakukan merevisi Alam kembali yang sudah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. maka adalah 124. Iriana.850 Ha (Gambar II-2). AWB/PHKA mengusulkan areal seluas ± 260.2 Letak dan Luas Berdasarkan pembagian administrative pemerintahan. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil Tata Batas Sub Biphut Manokwari Tahun 1999.247.846.000 ha sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. kegiatan penataan batas pertama di Kawasan cagar alam dilakukan oleh PT BASRICO CEMERLANG. Berdasarkan beberapa alternatif di atas.76 meter.20 meter yang kemudian ditunjuk dengan SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua.20 30’ LS. Pada tahun 1991.000 ha dengan koordinat 133° 131 . PT BUMWI.2 Keadaan Umum Kawasan .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Menteri Pertanian Republik Indonesia dan PT Bintuni Utama Murni Wood Industries (PT BUMWI). dilakukan tata batas tahap kedua yang dilaksanakan oleh Sub Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan (BIPHUT) Manokwari pada tahun 1999 yang merupakan batas luar dan batas fungsi (melingkar/temu gelang) dengan panjang terealisasi 172. tentang realisasi surat permohonan PT BUMWI NO: 07/su-1/1980. Pada tahun 1997.1. termasuk daerah daerah perairan teluk seluas ± 60. Kabupaten Teluk Bintuni merupakan salah satu Kabupaten hasil II . Propinsi Irian Jaya Barat (IJB). Selanjutnya.134° 02’ BT dan 20 02’ . Hal ini karena terjadi tumpang tindih peruntukan kawasan antara CATB dengan areal Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di sekitar kawasan teluk Bintuni seperti PT Henrison Gambar II-2. kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) berada di wilayah kerja Pemerintahan Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. dan PT Yotefa Sarana Timber. tanggal 9 januari 1980 yang ditujukan kepada MENTAN untuk mendapatkan Hak Pengusahaan Hutan Di Wilayah Propinsi Irian Jaya. yang merupakan batas persekutuan areal HPH PT Henrison Iriana dengan panjang batas yang terrealisasi sepanjang 77. 182/Kpts/UM/11/1982 dan usulan WWF/IUCN/PHPA tahun 1983. luas Kawasan Cagar Teluk Bintuni A.

A.3 .850 Ha. Untuk mencapai kawasan CATB dari ibukota Propinsi Irian Jaya Barat (Manokwari) dan Sorong. Secara geografis terletak antara 02º.1. Irian Jaya Barat. (2) menggunakan perahu motor (longboat) menyusuri sungai Steenkol/Wasian ke batas barat kawasan dengan waktu tempuh kurang lebih 30 .3 Aksesibilitas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat diakses dari beberapa tempat. Keadaan Umum Kawasan II . Seksi Konservasi Wilayah I Manokwari. dan perairan Teluk Bintuni Bagian Timur berbatasan dengan wilayah Distrik Idoor dan HPH PT Henrison Iriana Berdasarkan SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua.30' LS dan 133º.02' BT. Cagar Alam Teluk Bintuni terletak di bagian timur Kawasan perairan Teluk Bintuni. Selanjutnya dari kota Bintuni kawasan CATB dapat diakses dengan dua cara. dimana lebih 90% areal merupakan ekosistem hutan mangrove. Pada tingkat Distrik. dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: Bagian utara berbatasan dengan areal HPH PT Yotefa Sarana Timber Bagian selatan berbatasan dengan sungai Naramasa dan HPH PT BUMWI Bagian Barat berbatasan dengan Sungai Wasian. Dari hasil pengamatan di lapangan kawasan CATB juga dapat diakses dari beberapa kampung berada di batas utara kawasan seperti disajikan pada Tabel II-1.02'-02º.15 menit. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua II yang berkedudukan di Sorong.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemekaran di propinsi Papua yang baru disahkan pada tahun 2002. dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat udara jenis Twin-Otter milik Maskapai penerbangan Merpati Nusantara ke kota Bintuni (Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni) selama kurang lebih 45 menit dan kendaraan roda empat (Toyota Hard-top) dari Manokwari dengan waktu tempuh kurang lebih 10 – 12 jam. Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) berada di wilayah kerja Resort KSDA Bintuni dan Resort KSDA Babo.31' -134º.45 menit. Distrik Idoor. dan Distrik Kuri. Berdasarkan pembagian wilayah pengelolaan Hutan dan Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam. kawasan Cagar Alam ini berada di dalam wilayah administratif Distrik Bintuni. yaitu (1) menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua ke batas utara kawasan dengan waktu tempuh kurang lebih 10 . luas Kawasan Cagar Teluk Bintuni adalah124.

4 . Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Jalan Darat.61 inches (980.17 inches (131. Perahu dayung/motor Sungai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-1.32 inches (439. 1 2 3 Kampung Kelurahan Bintuni Timur Kelurahan Bintuni Barat Kampung Pasamai Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Jarak ke CATB 2 km 3 km 2 km Sarana dan Jenis Transportasi Sungai dan Jalan Darat. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Jalan Darat. yaitu daerah tropika basah yang bersuhu tinggi.2. jalan kaki Sungai.69 mm) dan 17. Keadaan Umum Kawasan II . roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. Curah hujan bulanan tertinggi terjadi pada bulan Pebruari dengan curah hujan maksimum dan rata-rata masing-masing 38. Perahu dayung/motor 4 Waraitama/SP 1 Kampung Korano Jaya/SP 2 Kampung Banjar Ausoy/SP 4 Kampung Tuasai Kampung Argo Sigemerai/SP 5 KampungTirasai Kampung Mamoranui Kampung Anak Kasih Kampung Yakati Kampung Yensei Kampung Naramasa Bintuni 2K m 5 Bintuni 1 Km 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idor Idor Idor Idor Kuri 1 km 1 km 2 km Dalam Kawasan CATB Dalam Kawasan CATB Dalam Kawasan CATB 15 km 10 km 5 km Sumber : Hasil Survei Tim TNC (2005) A. yaitu daerah sangat basah.2 A. roda dua/empat jalan kaki Jalan Darat. Curah hujan bulanan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup bervariasi. Sedangkan berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson kawasan ini termasuk dalam tipe iklim A.36 mm).1 Kondisi Fisik Kawasan Iklim Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni termasuk daerah tropika dan berdasarkan klasifikasi iklim Koppen termasuk dalam tipe iklim Afa. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. Sedangkan curah hujan bulanan terendah terjadi pada bulan September dengan curah hujan maksimum dan rata-rata berturut-turut 5.32 mm) dan 3.93 mm). Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. Perahu dayung/motor Sungai. Distrik Dan Kampung yang Memiliki Akses Terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No.34 inches (86.

yaitu Sungai Wasian. Data kecepatan angin selama tiga tahun (1997-2000) menggambarkan kecepatan angin di Teluk Bintuni dan sekitarnya pada umumnya lambat hingga sedang dengan rata-rata 8 m/detik (28. Sungai Yakati.1 mb. A.2%. variasi suhu udara rata-rata bulanan berkisar antara 25. A. dimana suhu bulanan rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Januari Kelembaban udara di kawasan berkisar antara 40% hingga 100%. 1994).013 milibar (mb) dan minimumnya adalah 998. dan konglomerat (PT BUMWI.6 mb. Aramasa. Tekanan udara barometrik maksim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk adalah 1. 2002). dan Keadaan Umum Kawasan II . Sungai Sorobaba. secara fisiografis terdiri dari daerah rawa/pasang surut yang umumnya bervegetasi mangrove yang berbahan induk aluvium muda (recent alluvium) dari zaman kwarter yang menutupi sedimen masam Tersier dan Pleistosin seperti sandstone.26 °C untuk basis data selama 3 tahun. dengan nilai rata-rata selama periode pengukuran mencapai 90. Tekanan udara rata-rata sepanjang periode pengukuran adalah 1.002. Sungai Yensei. dengan rentang pengukuran relatif lebih kecil. Nilai suhu udara rata rata bulanan adalah 26. Sungai Kamisayo.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya suhu udara berkisar antara 20.3 Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hidrologi Secara umum.74 °C – 27. Kelembaban sangat tinggi terjadi di malam hari ketika suhu udara rendah dan sedang terjadi hujan. yakni ketika terjadi curah hujan maksimum. Sungai Rarjoi.50 dengan variasi tidak lebih dari 2 °C.2.8 km/jam). Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mengalir beberapa sungai besar yang bermuara ke Teluk Bintuni dan merupakan Sub-Das dari DAS-DAS tersebut mulai dari sebelah barat.02 °C sampai dengan 37.5 . Sedangkan selama periode siklus tahunan. dan sekitar 90% data berada di antara 1.006. shale. Korol-Bomberai.92 °C dengan hampir 54% data yang terukur terletak dalam kisaran antara 23 °C hingga 27 °C. dan DAS Remu. Sungai Tirasai. Sungai Bokor. kawasan Teluk Bintuni termasuk dalam kelompok Daerah Aliran Sungai (DAS) Muturi.2. Sungai Tatawori. Sungai Kodai. Sungai Muturi. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) merupakan kawasan rawan gempa yang selalu diikuti dengan gelombang tsunami karena berada dalam wilayah tektonis yang aktif sebagai akibat dari tubrukan dua lempengan besar. Sungai Sobrawara.010mb (BP Pertamina. namun sebagian besar (hampir 60%) hasil pengukuran lebih besar dari 90%. Sungai Sumber.2 Geologi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB).5 mb hingga 1. Suhu udara maksimum terjadi selama musim monson timur laut.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Sungai Naramasa. Saat musim hujan dan debit air meningkat biasanya warna air sungai berubah warna menjadi kecoklatan. 2005 dan Pemda Propinsi Papua. berlumpur. air minum dan cuci ada yang diperoleh dari sumur bor. dan tebal 1. Keadaan Umum Kawasan II . dan sedikit asam. memiliki karakteristik tanah fluvial deltatik dengan ciri-ciri: melengkung halus. porositas rendah – tinggi. Kebutuhan masyarakat akan air minum dan MCK yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terutama di ibukota distrik Bintuni. berwarna gelap. Khusus untuk Distrik Bintuni (Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni). bersifat alkali. Organik Aluvium Ciri-Ciri Jenuh air. daya dukung rendah. draenase buruk. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi proses erosi pada daerah-daerah yang mengalirkan air tersebut ke sungai-sungai di bawahnya. dan Kuri di peroleh dari sumursumur yang digali. lempung lanau. gambut. debit air sungai-sungai tersebut dapat naik beberapa kali lipat dan kadang-kadang dapat menyebabkan banjir (menggenangi daerah sekitar).2. Jenis Tanah yang terdapat di sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Idoor. Di samping ketiga sungai yang selalu berair tersebut. Pada daerah yang berbatasan langsung dengan perairan Teluk Bintuni. dan beeting pasir. permeabilitas rendah-sedang.5 – 2 m Tekstur halus – kasar. dan aluvium dengan ciri-ciri sperti disajikan pada Tabel II-2 Tabel II-2. UNIPA. relief rendah. Jenis Tanah Organosol. Sungai-sungai tersebut berfungsi sebagai daerah tampungan air beberapa anak sungai yang bermuara ke sungai-sungai tersebut dan selanjutnya mengatur pembuangan air ke Teluk Bintuni. A. asam. Sumber: Hasil Survei Tim TNC. komprebilitas tinggi. 2003. Kebutuhan air masyarakat di Kampung-Kampung di luar Ibukota Distrik lebih banyak memanfaatan air dari sungai-sungai besar tersebut di atas serta beberapa sungai/kali kecil yang mengalir di dekat Kampung mereka.6 . serta aliran sungai-sungai kecil yang melintasi atau mengalir di pinggiran perkampungan penduduk. berwarna abu-abu. CRMP. PEMKAB Manokwari. terdapat pula kali-kali mati yang hanya berair atau menyalurkan air (banjir) bila turun hujan lebat.4 Tanah Sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ditutupi oleh vegetasi mangrove dengan jenis tanah organosol. Sungai-sungai tersebut memiliki debit yang cukup besar sehingga pada saat musim penghujan terutama di bagian hulu sungai.

tipe ekosistem ini juga dapat ditemui pada beberapa pulau mengrove baik berbentuk hamparan pegunungan rendah maupun bukit-bukit kecil. di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga bisa dijumpai ekosistem hutan rawa campuran dengan luasan yang sangat kecil.3. Peta Kerja Kegiatan Survei Kondisi dan Potensi Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 A.3.1 Hutan Hujan Dataran Rendah Ekosistem ini tersebar terutama pada batas-batas Utara dan Timur kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Suatu keunikan tersendiri bahwa di beberapa tempat di kawasan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong A.3) yang ada menunjukan bahwa secara umum kondisi vegetasi pada kedua ekosistem tersebut masih terpelihara dengan baik. yakni ekosistem hutan hujan dataran rendah dan ekosistem mangrove.1 Ekosistem Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mencakup dua tipe ekosistem utama. Selain kedua ekosistem tersebut. walaupun pada beberapa bagian telah mengalami degradasi dalam luasan yang kecil akibat aktivitas manusia. Hasil survei lapangan dengan mengunjungi beberapa lokasi ekosistem (Gambar II.7 . Hal ini dapat dijumpai di Pulau Mangrove Keadaan Umum Kawasan II . Seluruh ekosistem tersebut adalah ekosistem alami dan sebagian vegetasinya masih terpelihara dengan baik.1. Gambar II-3.3 Kondisi Biologi Kawasan A.

Kamai. Ekosistem ini umumnya tersusun atas vegetasi primer (Primary Forest) dan vegetasi sekunder (Secondary Forest). dan Pulau Modan.). Simeri Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai salah satu komponen pendukung kawasan. dataran rendah di kawasan CATB menyimpan berbagai spesies tumbuhan berkayu (pohon) yang bernilai ekonomis tinggi seperti matoa (Pometia spp.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Maniai. Dalam ekosistem hutan ini tumbuh beraneka ragam jenis flora mulai dari Hutan tumbuhan tingkat rendah seperti fungi sampai dengan tumbuhan tingkat tinggi. epifit. palembanica). Ekosistem hutan hujan dataran rendah memiliki peran yang sangat penting Gambar II-4. sedangkan pada strata bawah ditumbuhi perdu dan semak yang mendukung berbagai tanaman pemanjat.).) Medang (Litsea sp.) serta beberapa spesies dari famili Dipterocapaceae seperti mersawa (Anisoptera sp. Nyatoh (Palaquium sp. dan hopea (Hopea sp.). Rainforest) ini membentuk lapisan tajuk BKSDA Papua II Sorong Hutan Hujan Dataran Rendah (Lowland dan sub tajuk (Gambar II-5) dengan keanekaragaman jenis yang cukup tinggi dan diperkirakan 60-90% tumbuhan yang ada di ekosistem ini merupakan spesies endemik. Sedangkan pada hutan hujan dataran rendah sekunder (bekas perladangan) didominasi oleh Gambar II-5. Nusuama. Pada strata atas dan tengah didominasi oleh jenis-jenis tumbuhan berkayu seperti kayu besi/merbau (Intsia bijuga) dan matoa (Pometia sp.). resak (Vatica papuana). Profil Struktur Hutan Dataran Rendah Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Keadaan Umum Kawasan II .). pulai (Alstonia spp. Tipe ekosistem hutan dataran rendah (hutan lahan kering) ini kebanyakan berada di belakang dan formasi pada hutan mangrove bagian peralihan beberapa kawasan dapat dijumpai komunitas hutan dataran belakang rendah berada hutan langsung di formasi mangrove (Gambar II-4).8 . paku-pakuan. dan jenis-jenis palem (Palmae) termasuk juga berbagai jenis rotan. Tipe hutan hujan dataran rendah primer di belakang formasi hutan mangrove S. Pada ekosistem yang tersusun oleh vegetasi primer terlihat masih alami dan memiliki karakteristik strata tajuk yang jelas. kayu besi/merbau (Intsia bijuga dan I.

Keadaan Umum Kawasan II . Selain membentuk zonasi seperti di atas. Ekosistem hutan dataran rendah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong jenis-jenis pionir seperti makaranga (Macaranga mappa dan Macaranga tanarius) dan sirih hutan (Piper sp.). dkk. Dasyuridae. (1991) pada sungai jernih di ekosistem hutan dataran rendah dapat dijumpai jenis ikan pelangi (rainbow fish) dari genus Melanotaenia. walabi liar biasa (Macropus agilis). (Peroryctes (Phalanger (Cercatetus kerdil caudatus. Tipe hutan hujan dataran rendah sekunder di dekat kampung Mamoranu. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bruijni). kangguru pohon (Dendrolagus fursinus). Vegetasi mangrove Zona Avicenia – Sonneratia di P. Cagar Alam Teluk Bintuni. Rhizophora-Sonneratia. endemis Bandycoot kuskus possum marga yang tikus aneh.1.3.2 Hutan Mangrove Vegetasi hutan mangrove di Teluk Bintuni secara umum dapat dibedakan menjadi 3 zona berdasarkan jenis pohon pembentuk tajuk dominan. burung cenderawasih (Paradisae minor). terutama yang berada pada batas luas kawasan Cagar Alam juga dapat dipandang sebagi daerah penyanggah (Buffer zones) yang berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap ancaman kerusakan ekosistem mangrove yang merupakan ekosistem terluas di kawasan. yang merupakan jenis endemik kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Distoechurus pennatus.). dan Pseudocheirus spp. walabi hutan (Dorcpsis spp. A. Maniai. Bahkan menurut Zuwendra. Echidna berparuh pendek (Tachyglossus aculeatus). burung mambruk (Goura cristata). yaitu zona Avicenia- Sonneratia. dijumpai juga beberapa jenis yang membentuk tegakan murni. dan Rhizophora-Bruguiera. orientalis). ekosistem hutan hujan dataran rendah merupakan habitat berbagai jenis reptil seperti buaya air tawar (Crocodylus novaguinensis). Selain sebagai habitat flora. Sebagian besar hutan dataran rendah sekunder adalah merupakan bekas kebun masyarakat (Gambar II-6) dan bekas areal tempat penimbunan kayu (logyard) dari HPH dan Kopermas yang beroperasi di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Echidna berparuh panjang (Zaglossus berkantung Gambar II-6.9 .). raffrayanus). Gambar II-7.

. Aegiceras corniculatum dan Avicenia intermedia (api-api merah). Ceriops tagal. yaitu Acanthus ebracteatus. Acanthus ilicifolius. Cagar Alam Teluk Bintuni. Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) di S. Rhizophora spp. Jenis yang dijumpai pada daerah ini didominasi oleh jenis Avicenia alba. Apiculata. R. Sedangkan substrat yang ada di bawah wilayah mangrove terutama untuk zona Avicenia-Sonneratia sudah agak lebih padat. Secara umum. Bruguiera Gymnoriza. Cagar Alam Teluk Bintuni Keadaan Umum Kawasan II . Sedangkan Zona Rhizophora-Bruguiera merupakan wilayah hutan mangrove yang Gambar II-8. Zona Avicenia-Sonneratia dan Rhizophora-Sonneratia adalah zona komunitas mangrove yang paling luar dan langsung berhadapan dengan perairan Teluk Bintuni. Pada zona ini juga dijumpai jenis tumbuhan bawah. Substrat yang ada di bawah tegakan pada zona ini sudah lebih keras dan kompak (tidak lepas) yang di dominasi oleh faksi liat. Vegetasi nipah (Nypa fructicans) campuran pada zona pasang surut di S. Gambar II-9. umumnya tumbuh lebih ke darat. Xylocarpus spp. Avicenia marina. dan Bruguiera spp. Pasang surut pada daerah ini sangat nyata terlihat dengan adanya perubahan permukaan air. Tirasai. Avicenia officinalis.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan pengamatan di lapangan. Tirasai.10 . Pasang surut dan banjir sangat nyata terlihat dengan adanya perubahan permukaan air. Yensei Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Gambar II-10. Lebih lanjut jenis-jenis yang banyak dijumpai di zona ini adalah Rhizophora mucronata. Vegetasi mangrove Zona RizhiphoraBruguiera di S. Substrat yang ada di bawah tegakan pada zona ini adalah endapan lumpur yang masih lunak dan tanah lepas yang terendap oleh pasang surut. Bruguiera parviflora. Merupakan pohon-pohon pembentuk tajuk utama dalam zona ini. dan Rhizophora mucronata dengan tinggi pohon rata mencapai 10 m. terutama di sepanjang penggirian sungai-sungai besar dan kecil yang bermuara ke perairan Teluk Bintuni.

Kehadiran jenis-jenis mangrove ini semakin berkurang atau tidak hadir sama sekali pada daerah yang lebih ke arah daratan di sepanjang sungai. Hutan mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat di kelompokan ke dalam beberapa kelompok. Sedangkan pada bagian dalam (bagian tengah) ditemui jenis Rhizophora apiculata yang mendominasi semua tingkatan vegetasi dengan kerapatan berturut-turut 260 pohon/ha untuk tingkat pohon. Pada bagian luar vegetasi mangrove yang berbatasan langsung dengan garis pantai/muara teluk. Berikut adalah beberapa informasi kuantitatif potensi mangrove di beberapa bagian CATB yang berhasil dihimpun dari hasil survei lapangan Tim TNC (2005).6”E. dijumpai vegetasi nipah (Nypa fructicans) yang tumbuh bercampur dengan tegakan mangrove dan umumnya terbentang di antara daerah semi saline hingga ke air tawar permanen. Keadaan Umum Kawasan II . yaitu dari genus Rhizophora. koordinat 133o52’31. Komunitas ini mangrove di daerah ini membentuk formasi Avicenia-Sonneratia (bagian luar) dan Rhizophora-Bruguiera (bagian tengah). dan 6. Sungai Modan. jumlah individu tiap jenis. Jumlah plot pengamatan ditentukan sebanyak 4 buah yang dibuat secara kontinu dari tepi sungai/pantai. Pada daerah yang paling dekat dengan zona pasang surut vegetasi ini tumbuh bersama jenis mangrove dengan kerapatan cukup tinggi. dan Avicenia (Gambar II-10). jenis nipah (Nypa fructicans) tumbuh bercampur dengan jenis mangrove Xylocarpus moluccensis (Wamesa: Kabau hitam) dan X. yaitu kelompok hutan mangrove sungai Wasian. Sungai Muturi.000 anakan/ha. untuk tingkat pancang dan semai dengan kerapatan berturut-turut 470 pohon/ha dan 5. struktur jumlah pohonnya lebih kecil di bandingkan dengan vegetasi mangrove yang tumbuh lebih ke belakang. Hasil penelusuran data sekunder diketahui bahwa informasi quantitatif tentang potensi mangrove di kawasan CATB relatif kurang. Pengamatan dilakukan dengan membuat transek dan sub-plotnya sepanjang 100 meter yang tegak lurus dengan dari tepi sungai/pantai ke bagian dalam pulau dengan azimut 1800.000 anakan/ha untuk fase semai. Sungai Weperar. pada zona peralihan pasang surut (intertidal zone) dan air tawar dan air asin di hutan mangrove dan zona dataran banjir pinggiran sungai dan formasi yang menutupi dataran banjir. tinggi (tiang dan pohon).11 . 02o16’86. granatum (Wamesa: Kabau merah) (Gambar II-9). Di bagian luar (dekat pantai) yang merupakan daerah pengendapan lumpur di dominasi oleh jenis Sonneratia alba dengan kerapatan 270 pohon/ha. Sonneratia. 730 pohon/ha untuk tingkat tiang. dan Sungai Naramasa.8’’S. Kelompok hutan mangrove Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai). Bruguiera. terutama di sepanjang sungai-sungai besar yang bermuara di kawasan perairan Teluk Bintuni. dan melakukan pencatatan terhadap jenis. Kelompok hutan mangrove Sungai Wasian. Pada daerah lebih ke arah daratan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Disamping itu. diameter batang (tiang dan pohon).

363 anakan/ha. Jenis-jenis yang yang ditemukan di daerah ini tidak jauh berbeda dengan jenis mangrove pada kelompok hutan mangrove Pulau Nusuama. pancang. beberapa bagian Hasil hutan menunjukan bahwa pada daerah pinggiran sungai. dan 162 pohon/ha sekaligus menjadi spesies yang dominan pada semua tingkatan vegetasi (Lampiran 4 dan 5). Kelompok hutan mangrove Pulau Nusuama (Koordinat: 133o51’86. terlihat Gambar II-12. B. Hal ini karena kondisi habitat dan letak kedua tempat tersebut relatif sama.12 . 02o18’36.0’’S). B. Pengukuran dan mengambilan titik koordinat plot pengamatan vegetasi mangrove di P. Metode yang digunakan dalam pengamatan vegetasi mangrove di kawasan ini adalah penjelajahan didampingi Gambar II-11. Kaboi di kawasan CATB. observasi pada 02o07’07. Vegetasi mangrove S. Gymnorrhiza. parviflora. pengamatan menunjukan bahwa jenis-jenis yang ditemukan hampir sama dengan jenis- jenis yang ditemukan di Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni) yang didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata. Parviflora. dan Bruguiera spp. Ceriops decandra. Bruguiera sexangula. B. Gymnorrhiza. dan Ceriops tagal. mucronata menunjukan kerapatan tertinggi masing 5000 anakan/ha. Hutan mangrove di daerah hutan tua atau hutan seperti mangrove sekunder yang membentuk pulau- Keadaan Umum Kawasan II . dan pohon. Simeri di kawasan CATB. Bruguiera sexangula. dan Ceriops decandra. jenis R. Jenis lain yang ditemukan di daerah ini adalah Aegiceras corniculatum. Hasil analisis vegetasi menggambarkan bahwa pada tingkat anakan/semai. Kelompok hutan mangrove Sungai Simeri. Avicennia alba. vegetasi mangrove di daerah ini di dominasi oleh jenis Xylocarpus spp.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Hasil pengamatan menunjukan bahwa pada daerah ini didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora mucronata.5”E. Pengamatan mangrove di daerah ini dilakukan dengan observasi pada beberapa bagian hutan dengan menggunakan perahu motor (longboat) serta pengamatan plot (Koordinat: 133o56’37. dalam informan suatu lokal jalur untuk yang melihat Hasil komposisi jenis mangrove yang ada.7’’S).1”E. B.

Keadaan Umum Kawasan II .) (Lampiran 7).1’’S. Hasil tersebut menunjukan bahwa pada tingkat anakan/semai.70). Avicennia alba.58 dan 0. terjadi pengurangan jenis (mortality) terhadap jenis-jenis tertentu. B.85 dan 96. dan tersebar paling merata (F=0.42).44) dengan persebaran yang paling merata (F=0. Ceriops decandra. Aegiceras corniculatum. sedangkan pada tingkat pohon meningkat lagi menjadi 10 jenis (Lampiran 9). 02o12’05. Hasil analisa vegetasi dari pengamatan transek menunjukan bahwa pada tingkat semai dan pancang. sedangkan untuk tingkat pancang didominasi oleh Aegiceras corniculatum (INP=64.13 . gymnorrhiza (INP=120. yang tumbuh kerdil menyerupai bonsai raksasa. sehingga kajian mendalam perlu dilakukan untuk melihat perkembangan populasi (dinamika populasi) baik jenis maupun jumlah jenis mangrove mulai dari tingkat semai sampai mencapai tingkat pohon. Sedangkan pada tingkat pohon didominasi oleh Rhizophora mucronata (INP=180) dan B.2”E. Untuk jenis Rhizophora jumlahnya tidak terlalu banyak ditemukan di wilayah ini sedangkan jenis Aegiceras corniculatum dan jenis Xylocarpus hanya ditemukan satu-satu di pinggir sungai. Gymnorrhiza. Kelompok hutan mangrove Sungai Taberai. tingkat pancang 178 dan 55 (Lampiran 6). Hal ini mengindikasikan bahwa khusus untuk kawasan mangrove tanjung Pitaboni sudah cukup stabil untuk pertumbuhan permudaan jenis-jenis non-pionir. jenis R. pengamatan menunjukan bahwa pada daerah ini di dominasi oleh jenis-jenis Bruguiera gymnorrhiza dan Ceriops decandra. kerapatan 500 semai/ha. parviflora.48). dan B. Hal yang menarik untuk disimak adalah berkurangnya jumlah jenis tertentu pada saat mencapai tingkat tiang. sedangkan pada tingkat pancang Ceriops decandra tidak ditemukan (Lampiran 8).75). yaitu Rhizophora mucronata.75).17 pohon/ha) dengan persebaran yang paling merata (F=0. 0 Plot pengamatan mangrove dibuat tegak Hasil lurus Pulau dengan Azimut 280 dengan koordinat 133o57’08. Bruguiera sexangula. dengan karakter pohon-pohon Xylocarpus spp. 0 0 Pada kelompok hutan mangrove Pulau Maniai/Tanjung Pitabone (2 16’86. 133 52’ 31. Vegetasi mangrove pada tingkat tiang dan pohon. Myrsinaceae dan Avicenniaceae) mangrove. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam dinamika populasi jenis-jenis mangrove di daerah ini. dan sekaligus meruapakan spesies dengan kerapatan tertinggi (150 pohon/ha dan 104.8”S. jenis Rhizophora mucronata dan Xylocarpus molucensis merupakan jenis dominan dengan Nilai Penting berturut-turut untuk semai 68 dan 56. Kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni). jenis Rhizophora apiculata merupakan spesies dominan (INP=140.6” E).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pulau kecil. jenis yang ditemukan agak sedikit berkurang menjadi 5 jenis. Pada tingkatan vegetasi tiang. mucronata menunjukan kerapatan tertinggi (11875 anakan/ha) sekaligus menjadi spesies yang dominan (INP=84. untuk tingkat anakan ditemui 8 jenis mangrove dari 3 famili (Rhizophoraceae.

tengah. dimana dalam satu transek terjadi percampuran jenis sampai pada zona belakang (Gambar II-13). dan D. kerapatan tertinggi masing- masing 50 pohon/ha dan 100 pohon/ha. Sedangkan untuk vegetasi mangrove tingkat tiang dan pohon didominasi oleh Rizophora Apiculata (INP=86. Rizophora apiculata. dan persebaran yang hampir sama dengan jenis lain untuk tingkat pancang dan pada tingkat pohon penyebarannya cukup luas dibanding jenis lainnya (Lampiran 12). yaitu Acrosticum speciosum. Hasil ini menggambarkan bahwa pada tingkat anakan/semai dan pancang didominasi oleh jenis Acrosticum speciosum dengan kerapatan tertinggi (9167 anakan/ha dan 600 anakan/ha) sekaligus menjadi spesies yang dominan (INP=62. mucronata dan D. Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Sungai Sumberi Cagar Alam Teluk Bintuni data yang diperoleh (Lampiran 11 dan 12) adalah menghilangnya jenis tertentu seperti Rizophora Apiculata dan Keadaan Umum Kawasan II . X. C. Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Tanjung Pitaboni.012’’S.18). spathacea. namun persebaran hampir sama dengan jenis-jenis lain. Xylocarpus granatum.14 . Pada kelompok hutan mangrove ini ditemukan 9 jenis untuk tingkat semai. R. yaitu Ac.94 dan 100.50 dan 113.780’’E). Cagar Alam Teluk Bintuni akibat selalu terendam pada saat pasang naik (high tide) sehingga jenis- jenis yang seharusnya tidak berada pada zona depan. Kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi (020 04’.00). tagal. namun pada tingkat pancang hanya ditemukan 3 jenis. Ceriops decandra. Hal yang menarik untuk disimak dari Gambar II-14. Hal ini diduga karena kondisi substrat pada daerah tersebut hampir merata (seragam) Gambar II-13. 1330 53’. Speciosum. spathacea (Lampiran 11).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lebih lanjut BKSDA Papua II Sorong ditemui bahwa hutan mangrove di Tanjung Pitaboni memiliki zonasi yang tidak jelas (irreguler zonation). Granatum. Bruguiera gymnorrhiza. dan belakang bisa tumbuh bercampur. Aegiceras corniculatum.

namun hal perlu dikaji lebih jauh lagi penyebab penurunan jumlah jenis tersebut. Xylocarpus moluccensis. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pada kelokan bagian luar S.3. A. komposisi tajuk hutan mangrove di areal ini terlihat kurang teratur dan mulai membentuk strata. Sumberi (Gambar II-14) tidak jauh berbeda dengan hutan mangrove Tanjung Pitaboni di masih terjadi percampuran jenis pada zona tengah dan belakang. Endapan lumpur lunak hasil proses sedimentasi ini sangat cocok untuk habitat jenis-jenis pionir seperti Sonneratia alba. spathacea. Aegiceras corniculatum. Perbedaan jenis yang dominan antara bagian dalam dan bagian luar kelokan. Sonneratia alba.Tirasai didominasi oleh jenis bakau kurap (Rhizophora mucronata). Hal ini diduga terjadi kematian (mortality) pada proses dinamika populasi di areal ini. sedangkan di bagian dalam kelokan didominasi oleh Sonneratia alba dan Avicenia alba. mungkin dipengaruhi oleh faktor sedimentasi atau deposit substrat lumpur. alba dan R. Pada bagian dalam kelokan. Pada komunitas hutan ini terlihat adanya perbedaan yang sangat nyata antar plot. semakin dalam semakin menampakkan ke arah vegetasi peralihan yang dicirikan oleh tumbuhnya jenis vegetasi peralihan ke hutan dataran rendah dan rawa air tawar seperti Xylocarpus granatum dan D. Areal sepanjang S. apiculata dengan potensi berturut-turut adalah 65. Tirasai. jenis palem yang tumbuh di pesisir sungai. Pandanus odoratissima. Sedangkan pada bagian luar kelokan arusnya relatif kuat.2 Species Pada sub Bab sebelumnya telah dideskripsikan mengenai ekosistem alami penyusun kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang juga merupakan habitat dari berbagai species flora Keadaan Umum Kawasan II . Pada bagian hulu juga ditemukan jenis Nypa fruticans. menyebabkan abrasi pada bagian tepi dan proses sedimentasi berjalan lambat atau bahkan tidak terjadi yang berakibat jenisjenis pioner tidak bisa tumbuh.42 m3/ha dan 44. dan Bruguiera gymnorrhiza. Berbeda dengan hutan mangrove Tanjung Pitaboni.4 m/ha (Lampiran 9 dan 12). Pola zonasi hutan mangrove di S. Nilai kubikasi tertinggi ditunjukan oleh jenis A. Dari hasil pengamatan di lapangan didapatkan nilai rata-rata kubikasi vegetasi tingkat tiang dan pohon untuk tiap hektar luasan mangrove adalah sebesar 107. Avicennia alba.80 m3/ha (Lampiran 10 dan 13).15 . Tirasai banyak dijumpai jenis Bruguiera parviflora kemudian Rhizophora mucronata pada lapis kedua.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Bruguiera gymnorrhiza saat mencapai tingkat pancang dan tiang kemudian muncul lagi pada saat mencapai tinkat pohon. Jenis lain yang tumbuh adalah Bruguiera parvifolia. arusnya lemah sehingga daya angkut airnya menurun yang mengakibatkan terjadi penimbunan lumpur (akresi) dari hulu sungai. Hal ini karena komposisi jenis dari komunitas ini mulai beragam dengan hadirnya beberapa jenis vegetasi peralihan hutan dataran rendah (lowland forest). Hutan mangrove S. Xylocarpus granatum.

Selain flora ekosistem hutan mangrove. No. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa jenis-jenis mangrove pada Tabel II-3.16 . Hal ini mengindikasikan bahwa keragaman jenis tumbuhan Tabel II-4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Spesie Acrosticum sp. 2005. termasuk species-species (flora dan fauna) langka yang dilindungi serta species kunci.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni maupun fauna. hutan hujan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga menyimpan keanekaragaman flora yang relatif tinggi. Keadaan Umum Kawasan II . No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Spesies Avicenia alba Avicenia marina Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera sexangula Bruguiera parviflora Ceriops decandra Ceriops tagal Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Sonneratia alba Sonneratia caseolaris Xylocarpus granatum Xylocarpus moluccensis Famili Aviceniaceae Aviceniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Soneratiaceae Soneratiaceae Meliaceae Meliaceae Jenis-jenis flora yang terdapat di Kawasan Cagar Alam TB sangat berhubungan ekosistem erat dengan kawasan penyusun seperti telah di uraikan panjang lebar pada bagian sebelumnya. Sumber: Hasil survei Tim TNC. A. Acanthus ilicifolius Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Famili Pteridaceae Apocynaceae Bignonaceae Sterculiaceae Combretaceae Myristicaceae Palmae Acanthaceae Plumbaginaceae Myrsinaceae mangrove di Teluk Bintuni tergolong tinggi. BKSDA Papua II Sorong Terdapat banyak species penting yang berasosiasi dengan habitat dan Untuk itu perlu di ketahui keragaman species di kawasan karakteristik biologi lainnya. Jenis-Jenis mangrove sejati pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Jenis-jenis tersebut belum termasuk jenis-jenis dari kelompok epifit dan liana yang terlihat banyak tersebar di kawasan. terutama dari jenis-jenis tumbuhan berkayu (Tabel II-5).2. Untuk ekosistem hutan mangrove.3. didominasi oleh flora mangrove dan jenis-jenis lain yang biasa berasosiasi dengan vegetasi mangrove. mengidentifikasi jenis-jenis mangrove sejati yang mendiami ekosistem mangrove pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan pada Tabel II-3.1 Flora Tabel II-3. Cerbera manghas Dolichandrone spathacea Heritiera littoralis Lumnitzera littorea Myristica hollrungii Nypa fruticans. 2005. Jenis-Jenis asosiasi mangrove pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Hasil survei lapangan yang dilakukan Tim TNC (2005) berhasil Sumber: Hasil survei Tim TNC. diperkaya lagi dengan jenis-jenis vegetasi yang tumbuh berasosiasi dengan jenis mangrove seperti disajikan pada Tabel II-4.

Baccaurea b t t gnemon Gnetum Gigantochola sp. jenis-jenis yang Sumber: Hasil survei Tim TNC. 11. A. 10. Hopea sp.3. Jenis anggrek (Bulbophyllum sp. Vatica papuana Annisoptera sp. 7. Pandanus sp. Garcinia sp. Arthocarpus sp. Terminali sp. Ficus sp. juga ditemui di Cagar Alam Teluk Bintuni. mamalia. serta tempat berkembang biak yang sesuai dengan kehidupan satwa liar baik dari jenis burung. 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Tabel II-5. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi ekosistem hutan dataran Rendah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 17. Pometia spp. dan jenis-jenis palem (Palmae) termasuk juga pelbagai jenis rotan. 4. 2005. reptil dan amfibi serta jenis avertebrata. paku-pakuan. epifit termasuk anggrek. 5. Jenis Intsia spp.2. di lapangan dalam pada beberapa (Gambar Cagar kawasan bahwa memiliki menunjukan Bintuni Alam Teluk keanekaragaman fauna yang cukup tinggi. ditemui di daerah ini. Callophylum sp. Sayangnya data dasar mengenai daftar tumbuhan/flora yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni belum tersedia. 8. berhasil Dari sejumlah yang sebagian besar diidentifikasi. 18. Hal ini didukung oleh kondisi fisiografi dan ketersediaan sumber daya seperti pakan. Gambar II-15. BKSDA Papua II Sorong Pada strata tajuk didominasi oleh famili antara lain Leguminosae. 2. Berdasarkan informasi dari pengelola kawasan dan masyarakat setempat.17 . 1. Famili Caesalpiniaceae Sapindaceae Guttiferae Combretaceae Burseraceae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Euphorbiaceae Gnetaceae Graminae Guttiferae Lauraceae Moraceae Moraceae Myrtaceae Palmae Pandanaceae Dipterocarpaceae. Caesalpiniaceae.2 Hasil Fauna pengamatan lokasi II-16). adalah jenis-jenis endemik dan beberapa genus yang telah dilindungi undang-undang Indonesia antara lain antara lain genus Nepenthes Kemungkinan (Famili besar Nepenthaceae). Sedangkan pada strata bawah ditumbuhi perdu dan semak yang mendukung berbagai tanaman pemanjat. Calamus sp. tempat berlindung. Litsea sp. 6. di ekosistem hutan dataran bisa rendah juga dijumpai jenis-jenis anggrek dari genus Bulbophyllum yang secara hukum Indonesia telah dilindungi. 12.) yang bisa ditemukan di hutan dataran rendah dan mangrove di kawasan CATB Keadaan Umum Kawasan II . 13. 15. Eugenia sp. 9. 16. dan No. Canarium sp. 14. air. Moraceae.

Mamuranu Hutan Dataran rendah Tirasai Hutan Dataran rendah Anak Kasih Hutan Dataran rendah Anak Kasih. Jenis buaya muara (Crocodylus porosus) yang ditemukan di kawasan CATB (Crocodylus porosus). Tirasai.Tirasai H.6. yaitu 27 spesies reptil dan 9 spesies amfibi. Boiga irregulatus Litoria infrafenata Buaya muara Buaya air tawar Soa-soa Biawak Biawak bakau Ular bakau Ular sanca Ular coklat pohon Katak pohon hijau S.18 . di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya bisa dijumpai beberapa jenis reptil dan amfibi seperti disajikan pada Tabel II-6 Tabel II-6. Hydropis sp. 327KPTS/Um/5/1978 V = Vulnerable (rentan) 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Jenis-jenis herpetofauna yang disajikan pada Tabel II. K. Hasil pengamatan langsung (direct seen) dan wawancara dengan penduduk lokal. Mangrove K.Mamuranu. Tirasai K. Varanu sindicus Enhydris sp. Sumberi K. Keterangan: H = Keputusan Menteri Pertanian No. buaya Keadaan Umum Kawasan II . Yakati S. Mamuranu Mangrove dekat K. dan Mamuranu H H H C - CITES1 I I II - V - Sumber: Hasil survei Tim TNC.6. 716/KPTS/Um/l0/1980 C = Keputusan Menteri Pertanlan No. lebih sedikit dibandingkan dengan hasil survei yang dilakukan BP Pertamina (2002) di ekosistem mangrove dan hutan dataran rendah Saengga dan Tanah Merah yang hampir sama dengan ekosistem yang ada di Cagar Alam Teluk Bintuni. 2005. yaitu buaya air muara tawar Gambar II-17. Terdapat tiga jenis. ditemukannya Hal ini memberi peluang jenis-jenis herpetofauna lain selain jenis-jenis yang disajikan pada Tabel II.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Reptil dan Ampibi (Amphibians and Reptiles) BKSDA Papua II Sorong Kawasan CATB dan sekitarnya merupakan habitat penting bagi perkembangbiakan jenisjenis reptil dan amfibi. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Crocodylus porosus Crocodylus novaguinensis Hydrosaurus amboinensis Varanus sp. Jenis herpetofuana yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Status Konservasi Dilindungi Endemik RDB2 No.

air. tempat berlindung dan berkembang biak yang merupakan komponen pendukung kehidupan satwa tersebut. kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat kurang lebih 26 jenis burung yang tersebar di beberapa bagian kawasan CATB seperti disajikan pada Tabel II-7. (SK Mentan No. Kedua jenis satwa reptilia tersebut. porosus dan C. dan termasuk jenis binatang yang dilindungi dengan UndangUndang di Indonesia. 176/Kpts/um/10/1978). Gambar II. 327/Kpts/um/5/1978 dan No. yaitu jenis yang terancam punah dalam IUCN Red Data Book (IUCN. termasuk kedalam jenis satwa yang dilindungi dengan undang-undang di Indonesia (Petocz. 1979).19 . Peta Lokasi Kegiatan Survei Keberadaan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 Burung (Birds) Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya memiliki keanekaragaman jenis burung yang cukup tinggi. dan biawak bakau (Varanus prafinuvi). I CITES. yaitu C. yang dilakukan melalui pengamatan langsung (direct seen). Novaeguinensis adalah satwa endemik New Guinea dan telah tercatat dalam App. suara (noisy). Hal ini didukung oleh kondisi fisiografi dan ketersediaan sumberdaya seperti pakan. 1983). dan informasi dari masyarakat lokal. Selama survei yang dilakukan oleh Tim TNC (2005).16. Keadaan Umum Kawasan II .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong (Crocodylus novaguinensis).

Sumberi. Naramasa. Mamuranu S. S. Naramasa S.Simeri.Simeri. Naramasa. Mamuranu - F - NeT 2 Cacatua galerita Kakatua Jambul Kunig B.Sumberi.Tirasai. K.F - 22 23 Nectarinia jugularis Paradisaea minor Burung madu sriganti Cenderawasih kuning kecil A.Tirasai.D. S.E - III - Kuntul Kerbau Kuntul perak (Bangau putih) Kuntul karang Robin bakau (Manggrove robin) Muara Sungai Muturi S.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-7.F A.E. S. Mamuranu Kampung Anak Kasih. Tatawori S. S. Jenis burung yang dicatat selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Status Konservasi Dilindungi Endemik 1 Ardea sumatrana Cangak laut S. S. Sumberi Kampung Anak Kasih. Wasian. Muturi. Naramasa. Yakati - II 5 6 7 8 9 10 11 12 Muara Tirasai S.E. - 20 Milvus migrans - G II 21 Nectarinia aspasia Burung madu hitam A. Muturi. S. Muturi.Tirasai. Tatawori S. Naramasa. S.Tirasai S.Simeri. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - - - - - - - - - . S. S.Sumberi. K. Mamuranu - - 13 Falcon cenchroides Alap-alap layang - - II 14 15 16 17 18 19 Geoffroyus geoffroy Goura cristata Gygas alba Halcyon cholaris Larus novaehollandia Lorius lory Kakatua paruh merah Mambruk ubiaat (dara mahkota) Dara laut putih Cekakak sungai Dara laut putih Nuri kepala hitam Elang paria/ Alap-alap malam - F G C I II Vul. Naramasa S.20 RDB2 No.F II Keadaan Umum Kawasan II . S. K. Naramasa S. Wasian S. K. Mamuranu S. S.C II 3 Casuarius bennetti Kasuari kerdil Cenderawasih molek (Magnificent Bird of Paradise) Anis puyuh ajax Walet sapi Kukubara perut merah A II NeT 4 Cicinnurus magnificus Cinclosoma ajax Colacalia esculenta Dacelo gaudichaud Dicrurus hottentottus Egretta ibis Egretta intermedia Egretta sacra Eopsaltria pulverulenta S. S. Sumberi. S. Muturi S.E. Sumberi Muara Muturi S. Tatawori - F A. Mamuranu K. S. Anak Kasih S. Anak Kasih K.

Zuwendra dkk. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - . Wasian Perairan Pulau Modan - F B - - A - Sumber: Hasil survei Tim TNC. Besar kemungkinan. Keterangan: A = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1931 No. Rudiyanto (1996). 266 B = Kepulusan Menleri Pertanian No. Hasil rangkuman dari sejumlah referensi pendukung antara lain Petocz (1987). 27 January 1999 F = Keputusan Menteri Pertanian No. 1970 C = Keputusan Menteri Pertanlan No. 421/KPTS-Um/8/1970 August 26.7 tersebut di atas dapat bertambah. (1986). 1991 G = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1935 No. 2002). (1991) yang melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni (termasuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni) sedikitnya teramati 95 jenis burung. yang terdiri dari 75 spesies burung yang menetap dan 20 spesies burung migran. Hal ini mengindikasikan bahwa keragaman jenis burung di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup tinggi dan perlu mendapat perhatian lebih serius baik dari perlindungan dan penelitian. Manggosa yang memiliki kemiripan ekosistem dengan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan BP Pertamina (2002) diketahui bahwa dari jenis satwa burung yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (hasil survei Tim TNC. 301/KPTS-Um/6/1991 June 10. Petocz dan Raspado (1994). berhasil teramati lebih dari 140 jenis burung (BP Pertamina. 2005). 7421KPTS/Um/12/1978 December 2. 2005. Kodai Sekitar Kampung Naramasa S. diketahui bahwa Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat jenis-jenis satwa endemik Papua serta satwa/fauna yang telah dilindungi undang-undang. 513 NeT = Near Threaten (hampir terancam) V = Vulnerable (rentan) 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Jumlah tersebut (Tabel II-7) lebih sedikit dibandingkan hasil survei yang dilakukan Zuwendra dkk..7 of 1999. melalui penelitian yang lebih seksama. 14 jenis diantaranya adalah Keadaan Umum Kawasan II .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Status Konservasi Dilindungi Endemik 24 25 26 27 Philemon buceroides Probosciger aterrimus Stercorarius pomarinus Sterna albifrons Cikukua tanduk Kakatua raja Camar Dara laut kecil S. dimana 45 spesies diantaramya sudah di lindungi oleh undang-undang. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka. 757/KPTS/Um/12/1979 E = Peraturan Pemerinlah NO. Behler dkk. keragaman jenis seperti yang disajikan pada Tabel II. (1991). Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan BP Tangguh dalam rangka penyususnan dokumen ANDAL melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni khususnya daerah Sungai Saengga dan S.21 RDB2 No. 1978 D = Keputusan Menteri Pertanlan No.

cristata) dan dua jenis lagi dikategorikan “hampir terancam”. Lory. 1999). C. galerita.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong spesies endemik. Menurut informasi dari masyarakat setempat burung-burung tersebut akan datang pada bulan April – Mei dan kemudian pergi pada bulan Desember saat musim ombak. Anak Kasih I I II II Keadaan Umum Kawasan II .22 RDB2 No. Anak Kasih. K. sumatrana dan C. Tabel II-8. K. (1991) yang melaporkan bahwa di daerah CATB dan sekitar ditemukan paling sedikit 12 jenis endemik. L. di kawasan ini bisa dijumpai 12 jenis mamalia. dua diantaranya merupakan jenis yang sudah dilindungi undang dan masuk dalam appendix II CITES (Tabel II-8). Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - . Tirasai K.7. Jenis mamalia yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) serta berdasarkan informasi masyarakat setempat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. C. minor. tujuh jenis lain (P. Menurut the Convention on International Trade in Endangered Species (CITES). di antara spesies burung yang dapat dijumpai di CATB. Naramasa K. Dalam survei dijumpai ratusan burung pelican (Pelecanus conspicillatus) dan umukia raja (Tadorna rajah) pada beberapa bagian Cagar Alam terutama pada daerah muara dengan bentangan bentik pasir. Status Konservasi Dilindungi Endemik 1 2 3 Pteropus neohibernicus Spilocuscus maculatus Phalanger orientalis Kelelawar besar Kuskus bertotol Kuskus kelabu K. 14 jenis telah dilindungi baik oleh hukum Indonesia maupun hukum Internasional (CITES dan IUCN) seperti disajikan pada Tabel II. Selain itu menurut RDB (Red Data Book) jenis mambruk masuk dalam kategori “rentan” (vurnerable). Kawasan Teluk Bintuni nampaknya merupakan daerah pencarian pakan (winter ground) dari beberapa jenis burung pengembara (migran). K. M. yaitu A. dan Casuarius bennetti) masuk Appendix II. migrans. Mamuranu. Jumlah jenis endemik untuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang berhasil dicatat selama survei hampir sama dengan jumlah spesies burung endemik hasil survei Zuwendra dkk. dan satu jenis (Egreta ibis) masuk Appendix III. cenchroides. magnificus. satu jenis burung mambruk (Goura cristata) masuk dalam Appendix I. yaitu jenis mambruk ubiat/mahkota (G. bennetti (Conservation International. F. Mamuranu. Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menjadi penting sebagai habitat dan perkembangbiakan jenis-jenis endemik khususnya satwa avifauna. Mamalia (Mammals) Hasil pengamatan selama survei dengan metode pengamatan langsung (direct seen) dan jejak kaki (footprint/trail) serta informasi dari penduduk lokal.

Anak Kasih. K. 15 spesies binatang pengerat (rodents). K. Mamuranu.). seperti kelelawar berhidung tabung. 421/KPTS-Um/8/1970 August 26. Mamuranu. 2005. Tirasai K. Mamuranu. marga tikus berkantung endemis yang aneh. dan kelelawar mastif. K. dan Pseudocheirus spp. Anak Kasih K.23 RDB2 No. kuskus (Phalanger orientalis) pada habitat hutan mangrove. Kawasan perairan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat jenis lumba-lumba. rubah terbang. Naramasa K. Distoechurus pennatus. K. Anak Kasih.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Status Konservasi Dilindungi Endemik 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Cervus timorensis Dorcopsis muelleri Dendrolagus ursinus Peroryctes raffayana Sus crofa Pteropus conspilicatus Pogonomys macrourus Isodon macrourus Pristis microden Rusa Walabi hutan Kangguru pohon Bandikot Babi hutan Kelelawar Tikus hutan dataran rendah Tikus tanah Cucut gergaji K. 1970 I = Keputusan Menteri Pertanian No. K. Namun jumlah tersebut masih jauh lebih rendah dari hasil penelitian yang di lakukan oleh PT Geobis Woodward-Clyde Indonesia pada tahun 1998 yang melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni /Bearau dapat ditemui kurang lebih 70 spesies mamalia yang terdiri dari 36 spesies kelelawar (Chiroptera). Anak Kasih K. Anak Kasih. possum kerdil (Cercatetus caudatus. 66/KPTS/Um/2/1973 V = Vulnerable (rentan) Intr Introduce = 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Hasil pengamatan terhadap jenis-jenis mamalia yang disajikan pada Tabel II. walabi hutan (Dorcpsis spp. dan Allen (1991) yang melaporkan bahwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dijumpai mamalia seperti Echidna berparuh pendek (Tachyglossus aculeatus). sering terlihat Keadaan Umum Kawasan II . serta rusa dan babi hutan. Mamuranu. seperti jenis Seusa plumbea yang bersirip putih yang menurut informasi masyarakat. dan jenis-jenis Chiroptera yang merupakan kelompok mamalia yang luar biasa aneka ragamnya. kangguru pohon (Dendrolagus fursinus). Mamuranu. dan Bandycoot (Peroryctes raffrayanus) atau tikus. Echidna berparuh panjang (Zaglossus bruijni).8 hampir sama dengan jenis-jenis mamalia yang ditemukan dalam survei yang dilakukan oleh Zuwendra. K. Anak Kasih K. Tirasai K. K. 17 spesies marsupial (Marsupialia). Anak Kasih. Dasyuridae. K. kelelawar tapal kuda. Keterangan: A = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1931 No. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 V V .). Tirasai K. kelelawar ekor berarung. Tirasai Perairan Teluk Intr A B - - Intr - Sumber: Hasil survei Tim TNC. 266 B = Kepulusan Menleri Pertanian No. Erftemeijer. walabi liar biasa (Macropus agilis).

dan ikan merah. Ikan Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kawasan yang terkena pasang surut. Beberapa jenis udang yang ditemui di perairan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Mengacu pada informasi tersebut di atas. Informasi yang diperoleh dari penduduk bahwa di beberapa daerah muara sungai besar di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dijumpai marga Delphinidae. Jenis ikan ini sangat potensial untuk dijadikan ikan hias sehingga memberikan peluang bagi masyarakat setempat untuk mengembangkan jenis ini untuk meningkatkan pendapatan keluarga. rawa. peran kawasan Cagar Alam Teluk menjadi sangat penting bagi masyarakat sekitar kawasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama ikan baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dijual sebagai pendapatan pendapatan keluarga. banyak dijumpai ikan gergaji (saw-fishes). terutama dari jenis udang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam satu group bermain mengikuti jalannya armada kapal penangkap udang untuk mendapatkan ikan-ikan yang lebih kecil sebagai makanannya. Jenis ikan tersebut merupakan jenia endemik dan tersebar di beberapa sungai. dan danau di sekitar kawasan di mana makanan utamanya adalah nyamuk.) yang memiliki nilai ekonmis yang dapat ditemukan di kawasan CATB semisulcatus sculptilis). Informasi dari penduduk setempat bahwa ikan cucut gergaji (Pristis microden) yang merupakan ikan terbesar dan telah dilindungi undang-undang yang sering masuk sampai ke sungai-sungai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Bahkan sejenis ikan paus berukuran besar pernah terlihat di perairan Teluk Bintuni yang lebih dalam.24 . hiu. Informasi dari nelayan tradisional (penduduk lokal) diketahui bahwa jenis Lutjanus johnii (ikan merah) dan Himantura uarnak (ikan pari) sering juga tertangkap saat memancing di sungai-sungai dekat hutan mangrove di kawasan CA Teluk Bintuni. (Penaeus Parapenaeopsis yaitu udang tiger/Tiger Prawn dan udang Gambar II-18. Keadaan Umum Kawasan II . Avertebrata Perairan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat beberapa jenis avertebrata. Sedangkan jenis hiu yang terdapat di perairan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah jenis hiu bodoh (Chyloscyllium punctatum dan C. Brevipinna) yang dapat mencapai panjang 3 m. Jenis kepiting bakau (Scylla sp. Hasil survei serta didukung oleh informasi dari penduduk setempat bahwa dii kawasan habitat air tawar ditemukan ditemukan jenis ikan air tawar dimana dua di antaranya merupakan ikan pelangi (rainbow fish) dari genus Melanotaenia.

mantis srimp (Squitta sp. salps (Salpa sp. kerang timba/Bailer’s shells (Nilo acthiopicus dan Syrinx aruanus). sedangkan penduduk pendatang yaitu berasal dari masyarakat transmigrasi dan atau para pedagang serta penduduk Papua pendatang (dari Sorong. Di kawasan perairan CA Teluk Bintuni juga di jumpai jenis avertebrata lain seperti jelly fish (Scyphozoa). setempat . serta jenis kepiting bakau Scylla sp. yaitu penduduk asli /lokal dan pendatang. Kampung Anak Kasih dan Tirasai merupakan kampung yang baru terbentuk sehingga secara definitif belum ada. Ketika hadirnya maupun pihak gereja Kopermas maka kelompok Marga Imeri berniat membuka pemukiman baru di logyard Tirasai. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan lapangan. Banana BKSDA Papua II Sorong prawn (Penaeus marguensis dan Penaeus indicus). bersinggungan dan di dalam) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) sampai dengan Bulan Maret 2005 yaitu sebanyak 9. Gorgoniau corals (Gorgonaceae). Beberapa penduduk tersebut berasal dari penduduk Kampung Mamuranu yang pada awalnya hanya membuat pondok dan ladang disekitar daerah logyard yang dibuka oleh kopermas . Biak. diawali dengan adanya mobilisasi penduduk marga pemangku hak ulayat di Anak Kasih pada saat kopermas mulai beroperasi. B. Bugis.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni endeavour/Endeavour Prawn (Metapenaeus monoceros).25 . Penduduk secara garis dibedakan atas dua. udang raja/king prawn (Penaues hatisalcatus). Pada tahun 2003 Dinas Sosial Propinsi Papua membuat rumah semi permanen dengan jumlah 54 rumah. Serui dan tempat tempat lain diluar Teluk Bintuni). dari luar Papua seperti Jawa. B.557 Jiwa. Crinoid sealilies. juga terdapat berbagai etnis pendatang lainnya. dari 14 kampung yang ada di sekitar kawasan CATB. Hal ini menjadikan kawasan perairan sekitar CA Teluk Bintuni menjadi penting sebagai habitat udang yang dapat mendukung industri udang komersial di Kabupaten Teluk Bintuni. dimana pembuatan rumah-rumah tersebut tidak ada koordinasi terutama dengan pihak BKSDA Papua 2. pada tahun 1992 lokasi tersebut dibuka oleh PT. Penduduk asli adalah penduduk yang telah lama bermukim disekitara kawasan Cagar Alam yang dikenal sebagai pemangku hak masyarakat hukum adat. Kampung Tirasai pada awalnya hanya berupa gubuk sebagai tempat berburu. Henrison Iriana sebagai logyard.1 Karakteristik Sosial Ekonomi dan Budaya Penduduk Jumlah penduduk yang berada di 14 Kampung di sekitar (di luar. Keadaan Umum Kawasan II . Penduduk secara etnisitas selain didiami oleh etnis asli (Papua). (Gambar II-18).). dan lobster (Panulirus ornatus). Mamuranu adalah desa yang berada di dalam kawasan CATB yang sudah ada sebeluk kawasan diusulkan dan ditunjuk sebagai Cagar Alam Teluk Bintuni. Anak kasih merupakan kampung yang baru terbentuk pada tahun 2002. dan Ambon.).

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kelurahan/Kampung Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP 5 Tirasai Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Jumlah Persentase Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idoor Idoor Idoor Idoor Kuri Jumlah (KK) 325 606 42 254 123 191 209 242 28 20 15 60 50 35 2200 46.26 . Lokasi Pemukiman penduduk K. terlihat bahwa telah diajukan permohonan untuk pemukiman baru di lokasi Logyard Tirasai ke Pemda Distrik Bintuni pada tahun 2002. Gambar. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni No. II. masyarakat tersebut sudah banyak kembali lagi ke Tirasai dan sementara menenempati rumah bekas karyawan Kopermas yang sementara ini ditinggalkan. Pasamai Akan tetapi sehingga dengan berbagai alasan mulai awal tahun 2005. Persebaran penduduk yang bermukim di sekitar kawasan berdasarkan kampung (Gambar II.19.71 853 1471 82 375 271 445 274 710 89 70 47 202 127 117 5133 Total 1588 2781 156 729 528 792 556 1309 147 125 83 342 219 202 9557 100 Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. Pada tahun 1994 melalui Program Bina Desa PT Henrison Iriana. sebagian masyarakat mengikuti yang program ada di Tirasai yang tersebut berlokasi di Pasamai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Keinginan masyarakat untuk membentuk kampung baru.29 Jumlah Penduduk (Jiwa) Perempuan Laki-laki 735 1310 74 354 257 347 282 599 58 55 36 140 92 85 4424 53. dan langsung memberi rekomendasi bahwa usulan mereka akan ditindaklanjuti. 2005 Diolah Keadaan Umum Kawasan II . Pihak pemerintah daerah tidak mengkoordinasikan masalah tersebut dengan KSDA Papua II Resort Bintuni.19) dan jenis kelamin disajikan pada Tabel II-9. Hasil Survei Tim TNC. Sehingga penduduk sekarang Tirasai masyarakat banyak cukup bermukim disana sambil menantikan surat keputusan tentang penetapan status kampung tersebut . Tabel II-9.

Gambar II-20. Peta Lokasi Kampung yang berada di dalam dan sekitar Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 Keadaan Umum Kawasan II .926 Km2 (Atlas Sumberdaya Pesisir Kawasan Teluk Bintuni. Korano Jaya. Luas wilayah Distrik (Kecamatan) Bintuni yaitu 7. maka potensi para penduduk pendatang akan semakin banyak sehingga jumlah penduduk dimasa yang akan datang diprediksikan akan semakin cepat bertambah. bahwa kepadatan penduduk di sekitar kawasan CATB masih rendah (1.27 . Yensei dan Naramasa merupakan kampung yang secara letak berada diluar kawasan akan tetapi keterkaitannya terutama dalam pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan cukup besar. Akan tetapi seiring dengan perkembangan Kabupaten Teluk Bintuni yang merupakan Kabupaten pemekaran baru. Sedangkan Kampung Yakati.2 jiwa/Km2). Tuasai dan Argo Sigemerai merupakan pemukiman transmigrasi yang letaknya bersinggungan dengan Kawasan CATB. sedangkan Distrik Idoor dan Kuri tidak diperoleh data luasan wilayah (karena merupakan distrik baru). Banjar Ausoy. 2003). sedangkan Kampung Anak Kasih dan Tirasai merupakan perkampungan baru yang ada didalam kawasan. Berdasarkan Tabel 10. Kampung Mamuranu merupakan kampung yang berada didalam kawasan dan sudah ada sebelum ditetapkannya Kawasan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kampung Waraitama.

82 %). 2005 Diolah B.86 19 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kelurahan/Kampung Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 TirasaI Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Jumlah Persentase Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idoor Idoor Idoor Idoor Kuri 0–6 214 243 31 84 74 101 72 211 15 26 13 35 29 15 1163 12.63 %.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II. Tabel II.28 .63 > 50 217 462 25 124 80 138 61 173 24 15 9 75 30 32 1465 15.16.2 Mata Pencaharian Masyarakat yang berada di sekitar (diluar. Hal ini terjadi karena terutama Kampung (Desa) yang bersinggungan dengan kawasan CATB.34 Jumlah (Jiwa) 1588 2781 156 729 528 792 556 1309 147 125 83 342 219 202 9557 100 Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005.80 %) dan diikuti oleh nelayan (18.17 7 -18 342 617 37 170 114 152 105 320 36 29 18 107 63 75 2185 22.86 %. memperlihatkan bahwa sebaran proporsi jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan dengan proporsi jumlah penduduk perempuan. Hasil Survei Tim TNC. disusul penduduk dengan kelompok usia sekolah (7–18 tahun) sebesar 22. Persebaran penduduk yang bermukim di kampung-kampung sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan kelompok umur disajikan pada Tabel II. Korano Jaya setelah melaut permukiman transmigrasi Keadaan Umum Kawasan II . Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni Kelompok Umur (Thn) No.10. Salah seorang anggota masyarakat nelayan di K. Ratio perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki terhadap perempuan adalah 1.10. bersinggungan dan di dalam) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Hasil pengamatan di lapangan yang diperkuat dengan hasil penelitian Yalhimo (2003) memberi gambaran bahwa penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagian besar berusia produktif (19–50 tahun) dengan persentase 49. merupakan sehingga Gambar II-21.50 815 1459 63 351 260 401 318 605 72 55 43 125 97 80 4744 49.10. mayoritas bermatapencaharian sebagai petani (45.

82 %). Buaya dan babi) Menokok Sagu PNS/ TNI/ POL Nelayan Swasta 28 87 3 24 14 26 4 37 0 0 0 0 0 2 225 9. Hasil Survei Tim TNC.28 17 74 0 13 14 0 0 5 0 0 0 0 0 0 123 5. Akan tetapi untuk Kampung (Desa) yang berada di dalam kawasan CATB seperti Kampung Mamuranu. Ketiga jenis mata pencaharian tersebut.80 Tani Distrik Kampung/Kelurahan 0 0 0 0 0 0 0 0 9 7 7 19 10 15 67 2. Anak Kasih. berburu (2. diprediksikan dimasa yang akan datang tekanan terhadap kawasan CATB akan semakin besar.28 %).29 Lain2 . 2005 Diolah Keadaan Umum Kawasan II . sehingga ketergantungan mereka terhadap sumberdaya alam kawasan cukup besar.82 %) dan menokok sagu (1. sangat mengandalkan kepada sumberdaya alam yang ada di dalam kawasan CATB.822 61 148 25 187 96 154 196 184 6 2 1 0 9 4 1073 45.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong penduduknya banyak yang bermatapencaharian sebagai petani. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan kawasan CATB yang baik dengan bekerjasama dengan masyarakat setempat sehingga kawasan CATB terjaga kelestariannya dan masyarakat tetap dapat melakukan kehidupannya sehari-hari.35 64 77 1 11 54 9 7 12 0 0 0 0 0 0 235 10.25 17 59 2 3 8 29 2 21 0 2 0 3 3 0 149 6. dengan laju pertumbuhan penduduk 1-2 %/tahun. Secara lengkap kondisi penduduk berdasarkan matapencaharian dapat dilihat pada Tabel II-11. Tabel II-11.04 Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Persentase Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005.86 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 12 0 30 1. dan Tirasai serta kampung yang secara lokasi berada di luar. Yensei dan Naramasa akan tetapi bermatapencaharian didalam kawasan CATB yaitu nelayan (18. Dengan persentase penduduk lebih dari 20 % yang mengandalkan sumberdaya alam kawasan CATB secara langsung. kawasan CATB seperti Kampung Yakati.60 Buruh Bintuni Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai 138 161 11 16 1 27 0 8 13 9 7 20 16 14 441 18. Mata Pencaharian penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Mata Pencaharian (Jiwa) Berburu (Rusa.

Hal ini disebabkan oleh minimnya informasi tentang cagar alam dan pelestarian alam yang mereka terima karena kurangnya sarana dan media informasi. dengan kondisi sarana prasarana pendidikan yang kurang memadai. Tabel II-12.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. sedangkan tingkat SMP dan SMU masih terkonsentrasi di pusat kota Kabupaten Teluk Bintuni (kelurahan Bintuni Timur dan Bintuni Barat) serta daerah pemukiman transmigrasi (kampung Korano Jaya/SP2 dan Banjar Ausoy/SP4). Secara umum untuk tingkat Kabupaten Teluk Bintuni. Keadaan Umum Kawasan II . mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT).30 .3 B. pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap cagar alam dan pelestarian alam masih rendah (84%). menunjukan bahwa hampir semua kampung telah memiliki sarana pendidikan untuk tingkat SD. 2005 Diolah Tabel II-12. Sebagai contoh rata-rata jumlah guru untuk tingkat sekolah dasar disetiap kampung (desa) sebanyak 1-3 orang. Sarana pendidikan yang terdapat di sekitar kawasan CATB disajikan pada Tabel II-12.1 Pendidikan dan Kesehatan Pendidikan BKSDA Papua II Sorong Kualitas pendidikan dari penduduk yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara umum masih rendah. terutama jumlah guru untuk setiap sekolah masih rendah.3. Hasil Survei Tim TNC. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar kawasan CATB. Sarana Pendidikan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2002 Sarana Pendidikan Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan TK Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah 1 2 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 5 SD 2 3 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 (Rusak) 13 SMP 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 4 SMU 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 PT 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 Jumlah (unit) 7 8 0 0 2 3 1 2 0 1 0 1 1 1 27 Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. pelaksanaan pendidikan telah berlangsung pada berbagai jenjang pendidikan.

Permasalahan lain yang cukup menonjol hampir sama dengan sekolah-sekolah yang ada di sekitar kawasan CATB. Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (PusTu) hanya ada di ibukota Kabupaten (Bintuni Barat) dan pemukiman transmigrasi (Banjar Ausoy/SP4).3. Hal yang sama juga di alami para siswa lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMU. yaitu guru sebagai tenaga pengajar yang dirasakan masih kurang terutama guru-guru bidang IPA dan bahasa Inggris baik pada tingkat SMP maupun tingkat SMU. Kendala utama yang dirasakan adalah jarak sekolah lanjutan dengan pemukiman mereka cukup jauh.2 Kesehatan Sarana kesehatan yang ada di kampung-kampung di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sangat terbatas. Tabel II-13. juga sarana transportasi yang belum lancar/langka. Pada kampung-kampung tertentu bahkan tidak memiliki sarana kesehatan sama sekali seperti terlihat pada Tabel II-13. sedangkan beberapa kampung lain di wilayah ini hanya memiliki poliklinik desa (Polindes) atau posyandu. B. Hal ini membuat para siswa mengalami kesulitan untuk datang ke sekolah tepat waktu. Sarana Kesehatan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Sumber: Hasil survei tim TNC. bahkan banyak dari mereka yang terpaksa tidak masuk sekolah (meliburkan diri) dalam waktu lama.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Terkonsentrasinya sarana pendidikan lanjutan di ibukota Kabupaten dan daerah transmigrasi mengakibatkan banyak anak-anak usia sekolah lulusan sekolah dasar (SD) mengalami kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (SMP). 2005. Puskemas 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Sarana Kesehatan Pustu Polindes/P’Yandu 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Jumlah (unit) 2 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Keadaan Umum Kawasan II .31 .

Hal ini menyebabkan tidak terpenuhinya pelayanan pengobatan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Tenaga Kesehatan yang ada di kampung sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Tenaga Kesehatan Perawat/Bidan 0 12 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 16 Dokter 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Mantri 1 7 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 11 Dukun Beranak 4 3 1 0 1 0 2 0 0 1 0 3 2 1 18 Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. Hasil Survei Tim TNC. diare. dan ISPA merupakan penyakit yang banyak Keadaan Umum Kawasan II . diare. Kendala yang menonjol dalam kunjungan petugas kesehatan adalah masalah transportasi. infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Di ibukota Kabupaten hanya terdapat seorang dokter dan beberapa mantri serta perawat/bidan yang bertugas di Puskesmas. dan bidan yang terdapat di kampung-kampung di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih sangat kurang. mantri. tergantung pasang surutnya air.32 . Khusus untuk pelayanan persalinan. Untuk ke kampung Yakati dan Yensei misalnya harus ditempuh dengan menggunakan perahu motor (longboat) dengan waktu tempuh 4-6 jam. 2005 Diolah Tabel II-14 memperlihatkan bahwa tenaga medis seperti dokter. Tabel II-14. penyakit kulit. Jenis penyakit yang paling umum di derita oleh masyarakat di sekitar kawasan adalah malaria. masyarakat lebih banyak menggunakan jasa dukun beranak (traditional healers) yang jumlahnya cukup banyak dan hampir tersedia di setiap kampung di sekitar kawasan CATB. dan penyakit mata dimana penyakit malaria. Keadaan tenaga kesehatan yang ada di daerah sekitar kawasan juga masih terbatas seperti disajikan pada Tabel II-14. Frambusia.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Meskipun demikian rutinitas kunjungan dari para medis tetap dilakukan ke kampungkampung yang ada.

36 Islam 413 182 0 489 469 684 0 1205 0 0 0 0 7 3449 36.33 . Keadaan Umum Kawasan II . B. dan 55 kasus penyakit mata.55 %).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diderita dan menjadi penyebab utama kematian.4 Agama Penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagian besar sudah memeluk agama seperti Kristen Protestan. dan ISPA diduga disebabkan oleh lingkungan tempat tinggal masyarkat yang dekat denagn hutan rawa dan mangrove yang merupakan tempat berkembang biak nyamuk malaria. Tabel II-15. Jumlah penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan Agama Jumlah Tempat Ibadah 1 4 0 1 1 1 3 1 0 1 1 1 1 16 Jumlah Tempat Ibadah 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Jumlah Tempat Ibadah 2 0 0 3 6 5 0 6 0 0 0 0 0 22 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Kristen Protestan 997 2395 52 203 47 70 556 77 147 208 342 219 187 5500 57. Hal ini ditunjang oleh sarana ibadah yang cukup memadai (Tabel II-15). 59 kasus ISPA dibanding dengan 22 kasus penyakit kulit. Hasil Survei Tim TNC. Hasil studi Yalhimo (2003) menunjukan bahwa selama tahun 2003 terdapat 246 kasus malaria dan 135 kasus diare. Katolik.09 Idoor Mamuranu/ Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Persentase Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. air baku untuk minum sangat kurang dan tidak memenuhi standar baku kesehatan. dan Islam. serta kondisi lingkungan jalan umum yang berdebu pada musim kemarau yang membuat kualitas udara menjadi buruk akibat banyaknya debu. Menonjolnya kasus malaria.55 Katolik 178 204 104 37 12 38 0 27 0 0 0 0 8 608 6. memperlihatkan bahwa jumlah penduduk yang menganut agama kristen protestan lebih besar dibandingkan jumlah penganut agama lain (57. Tempat ibadah umumnya juga telah ada di setiap kampung (desa). 27 kasus Frambusia. diare. 2005 Diolah Tabel II-15.

sehingga tidak sembarang orang bisa masuk kesana. Apalagi bila tanah tersebut mengandung sumber daya tambang.6. Hasil wawancara dengan tokoh adat Naramasa (Bpk. Selain itu daerah yang dianggap sebagai tempat “pamali” yaitu sekitar Pulau Jawarupai yaitu Sungai Asi Inabuo. Masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan CATB. Dalam proses pengambilan karaka.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. Oleh sebab itu mereka berusaha memiliki tanah seluas-luasnya untuk dapat di pertahankan dalam jangka waktu lama serta untuk di wariskan dari generasi ke generasi. pada hakekatnya sejalan dengan prinsipprinsip konservasi. Disamping itu masih ada tempat tertentu yang oleh masyarakat dilindungi keberadaannya karena bernilai ritual seperti mata air. masyarakat adat harus mendapat kompensasi apabila tanah adat mereka Keadaan Umum Kawasan II . goa. memandang tanah dan hutan sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Menurut keterangan dari Tokoh masyarakat Bintuni Bpk. Otto Manibuy.34 .5 Kearifan Tradisional Masyarakat BKSDA Papua II Sorong Masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) masih memiliki kepercayaan bahwa tempat-tempat tertentu di daerah mereka masih dianggap keramat (tempat pamali). dan sebagainya. B. Indikator yang dipakai adalah pohon sagu yang telah berbunga dan menghasilkan puting sari. masyarakat biasanya tidak mengambil seluruh jumlah karaka dalam satu liang (lubang) dengan pertimbangan karaka yang ditinggalkan dapat berkembang biak. masyarakat adat Wamesa dalam menebang pohon sagu mencari yang tua/matang. Bila dicermati aturan-aturan mengenai pemanfaatan tanah-hutan seperti itu. Hal ini membuat masyarakat adat mulai berpikir tentang status tanah dan hutan yang saat ini di kelola oleh “pihak-pihak luar” seperti areal transmigrasi dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). pohon-pohon tertentu. Pulau Modan termasuk tanah adat Suku Kuri . Salah satu pengelolaan sumberdaya alam di dalam CATB berkaitan dengan kearifan tradisional masyarakat. Selain itu dalam pengambilan/pemanenan hasil pohon sagu.1 Pemanfaatan Sumberdaya Alam Pandangan Masyarakat Adat terhadap sumberdaya alam (Tanah dan Hutan) Masyarakat adat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) memandang tanah dan hutan merupakan sesuatu yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan mereka sebagian pemilik hak ulayat.6 B. khususnya masyarakat adat Wamesa adalah pada kegiatan pengambilan hasil laut dari mangrove berupa kepiting (karaka). Set Efredire) menyatakan bahwa Pulau Modan merupakan tempat “pamali” dimana menurut kepercayaan mereka di sana terdapat buaya putih.

Hutan dimanfaatkan untuk memenuhi beragam kebutuhan seperti kegiatan berkebun (perladangan berpindah). kapan. dan jenis-jenis burung tertentu sebagai sumber protein keluarga. Masyarakat Suku Wamesa yang mengklaim sebagian besar wilayah hutan yang ada didalam kawasan CATB. hal tersebut merupakan usaha agar masyarakat adat tidak hanya menjadi “penonton” tetapi juga merasakan hasil kegiatan yang dilakukan. Selain itu tinggi rendahnya status sosial (social status) seseorang atau sekelompok orang dalam satu marga. Hutan juga merupakan sumber sayuran. dan obat-obatan. kakatua dan mambruk untuk di jual. Secara sosial budaya masyarakat memiliki ikatan erat dengan hutan. dan jenis burung lain seperti nuri. Hutan bagi masyarakat adat berfungsi sebagai tempat berburu rusa. babi hutan. serta sebagai tempat pengambilan bahan baku untuk pembuatan rumah. Tiri. berburu binatang liar. Sayori. Bagi masyarakat adat. marga Iba. biji-bijian. Masyarakat adat melihat hutan mempunyai fungsi ekonomi karena merupakan tempat menggantungkan kehidupan sehari-hari. klan. dan dimana seseorang atau kelompok orang boleh memanfaatkan tanah termasuk sistem pewarisan konflik dan cara penyelesaiannya. Pola ini merupakan aturan tak tertulis yang disepakati bersama oleh para pemilik tanah yang berlangsung turun temurun. Yettu. mencari ikan.35 . menokok sagu. norma dan hukum adat yang mengatur tentang siapa. dan Horna “mengklaim” sebagi kelompok dengan status sosial tinggi karena memiliki tanah yang sangat luas yang membentang mulai dari pegunungan Arfak sampai ke Pesisir Teluk Bintuni.6.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diusahakan untuk usaha tertentu. Sebagai contoh pada Suku Sough yang bermukim di sekitar kawasan CATB.2 Pola pemanfaatan sumberdaya alam. B. ataupun suku dapat di tentukan oleh seberapa luas tanah yang dimiliki orang/kelompok/klain/marga/suku tertentu. Keadaan Umum Kawasan II . Pola pemanfaatan sumber daya tanah secara tradisional biasanya mengacu pada sistem kelembagaan yang meliputi aturan. nilai. anggota masyarakatnya juga tersebar di sekitar kawasan dan kota Bintuni. sehingga mereka bisa bertahan hidup dari generasi ke geneeasi sampai saat ini. Dengan adanya kondisi tersebut rasa persaudaran mereka tetap terikat kuat karena adanya rasa bersama dalam memiliki hutan adat mereka. Pemanfaatan dan pengelolaan hutan oleh masyarakat di sekitar kawasan CATB menunjukan bahwa hutan merupakan sumber utama kehidupan. hutan merupakan sarana pemersatu hubungan sosial antar warga dalam satu suku maupun antar suku. Hutan bagi masyarakat adat yang bermukim di sekitar kawasan CATB juga memiliki fungsi sosial. Pemanfaatan sumber daya alam berupa tanah dan hutan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) masih mengandalkan kearifan tradisional.

ada pemburu yang adakalanya berhasil dari pada yang lain. Pola pemanfaatan tersebut diatas. para pemilik tanah mulai terperikat untuk Keadaan Umum Kawasan II . dekat kebun. atau para kerabat dekat di luar radius tersebut. tidak boleh diubah begitu saja tanpa kesepakatan bersama antar anggota klan atau suku dengan harapan bahwa dalam pengelolaannya tidak mengganggu kepentingan anggota yang lain. kekeringan. bunga. Lahan yang dikelola dianjurkan berdekatan dengan lahan milik anggota klan atau suku lain dengan harapan memudahkan dalam pengerjaan dan pengontrolan bersama. dan dapat juga diwarisakan kepada keturunannya. (4) Pembukaan lahan. atau kebakaran hutan dapat dilakukan pengaturan dan penanggulangan secara bersama-sama oleh anggota atau suku yang bersangkutan. yang tumbuh disekitar pemukiman. pembakaran. dapat di klaim sebagai milik pribadi oleh mereka yang pertama kali menemukan. Aturan-aturan tersebut antara lain: (1) (2) Lahan yang dikelola haruslah milik marga/klan/anggota suku. Dalam meramu sayuran dan buah-buahan untuk konsumsi seperti daun. pada pelaksanaan kegiatan berburu. saudara kandung. penebangan pohon. Namun seiring dengan perkembangan jaman. masyarakat menggantungkan hidupnya pada kegiatan berkebun dimana mereka juga terikat pada aturan-aturan yang berlaku yang disepakati bersama. atau di kawasan pamali dapat diklaim sebagai milik pribadi oleh mereka yang pertama kali menemukan atau membersihkannya. buah. pohon dan tumbuhan yang biasanya digunakan untuk bangunan atau keperluan rumah tangga. (3) Batas-batas lahan yang telah disepakati. pemagaran. Dari segi pengumpulan bahan bangunan. Aturan juga dibuat dalam berburu binatang liar dimana pola pemanfaatan dilakukan hanya pada areal hutan yang merupakan milik klan atau suku yang bersangkutan. bisa berdampak terhadap terjadinya pertentangan bahkan konflik. Hal ini senantiasa diperhatikan karena bila kegiatan perburuan dilakukan tanpa didasarkan atas aturan batasbatas tanah ulayat klan. lebih berhubungan dengan prinsip-prinsip pengaturan dalam memenuhi kebutuhan subsistensi keluarga. dimana “pihak luar” mulai masuk. Pemburu yang berhasil tersebut senantiasa membagi-bagikan hasil buruannya kepada tetangganya dengan radius dua rumah juga kepada keluarga dekat seperti kakek-nenek. orang tua.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dalam bertani misalnya. dan penanaman sedapat mungkin dilakukan secara bersama-sama anggota klan atau suku yang lain agar bila terjadi musibah seperti banjir. membersihkan atau yang punya lahan dimana tumbuhan tersebut berada dan selanjutnya diwariskan kepada keturunannya. Dari segi pemanfaatan hasil buruan.36 . tunas atau buah-buahan yang tumbuh di sekitar kampung atau dekat dengan kebun-kebun penduduk.

Bentuk interaksi dengan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.6.3 Pemanfaatan Sumberdaya Alam di Kawasan CATB.37 . Hal ini karena ketika beroperasi sejumlah HPH. pemukiman. Pola interaksi masyarakat sekitar dengan kawasan CATB yaitu dalam bentuk mata pencaharian. udang. dan lain-lain menyebabkan terjadinya perubahan struktur pemilikan dan pola peruntukan yang telah lama dianut masyarakat. Pemanfaatan fauna lebih terfokus pada fauna perairan.rusa dan beberapa jenis burung banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai hewan buruan. Yensei. Khusus untuk buaya. Selain itu sumberdaya alam hutan mangrove berupa lahan pada daerah peralihan telah dimanfaatkan sebagai kebun. B. Pemanfaatan beberapa jenis flora oleh masyarakat lebih tertuju pada kayu sebagai bahan bakar dan juga bahan bangunan. Jenis fauna yang ada di dalam kawasan CATB seperti buaya. berburu dan menokok sagu. yaitu berupa pemanfaatan jenis-jenis flora dan fauna serta lahan untuk kebun. seperti ikan. Kegiatan pemanfaatan tersebut telah terjadi sejak jaman dahulu dan menjadi warisan bagi generasi sekarang. Umumnya kompensasi adalah berupa uang tunai dan pembangunan rumah tinggal yang tentunya berdampak terhadap perubahan fungsi hutan untuk berbagai stakeholder. kepiting. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara fisik dikelilingi oleh pemukiman penduduk yang secara turun temurun telah berinteraksi dalam bentuk memanfaatkan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan. dimana sebagian masyarakat ada yang bermatapencaharian sebagai nelayan. rusa dan babi merupakan fauna yang sering diburu dan telah menjadi sumber mata pencaharian di beberapa kampung seperti Naramasa. maka penggunaan hutan lebih banyak mengarah pada prinsip-prinsip ekonomi yang menghasilkan keuntungan materiil. Ketika masuk sistem ekonomis kapitalis yang berbasis pada penggunaan uang. Hal ini berdampak pada semakin terkikisnya sistem kearifan tradisional yang mengandung nilai-nilai konservasi atas sumber daya tanah. Hutan konversi untuk program transmigrasi. Anak Kasih dan Tirasai. dimana masyarakat mengamabil sumberdaya alam tersebut hampir setiap hari. Mamuranu. seperti pembuatan tiang-tiang rumah tradisional dan tiang pagar rumah. dan kerang (bia). Keadaan Umum Kawasan II . Yakati. Apabila melihat pola tersebut maka pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan CATB cukup intensif. Areal hutan milik komunal telah dikonversi untuk berbagai kepentingan sekaligus dan masyarakat menerima kompensasi langsung. Buaya diambil kulitnya sedangkan rusa dan babi diambil dagingnya untuk dibuat dendeng.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong “menyerahkan” sumberdayanya untuk digunakan.

pada dalam mulut/muara kawasan kali/sungai/kanal dibentangkan sejenis jaring (bekas trawl) sampai ke dasar sungai dengan bantuan tiang-tiang kayu mangrove dari jenis Gambar II-24.38 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. yaitu penangkapan ikan dengan cara membentangkan (memotong) muara Gambar II-23.6. Kolam-kolam yang terbentuk saat air surut (low tide) selanjutnya di beri sejenis racun yang berasal dari tumbuhan dikenal dengan “akar bore /tuba” yang dapat membuat ikan terbius “mabuk”.3. Pada saat air sungai penuh/pasang naik (high tide). sungai/kali/kanal kecil dalam kawasan yang terpengaruh pasang surut dan menggunakan jaring bekas trawl. Teknik ini sudah berlangsung lama dan turun temurun dengan memanfaatkan salah satu karakteristik fisik kawasan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. seser dan sero. Jenis Kerang Polymesoda coaxan yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB Rizophora sp. “PELEKALI. Jenis siput bor Bactronophorus sp. “PELEKALI”.1 Penangkapan dan Pengumpulan Hasil Laut Penangkapan ikan dan hasil perikanan lain oleh masyarakat di dalam dan sekitar BKSDA Papua II Sorong kawasan CA Teluk Bintuni umumnya masih sederhana. Keadaan Umum Kawasan II . Penangkapan ikan dengan menggunakan “JARING BALABUH” yang dilakukan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB cara/teknik yaitu teknik penangkapan penangkapan dan JARING BALABUH. Selain itu sebagian masyarakat sekitar kawasan juga sudah mulai mengenal dan menggunakan alat tangkap yang lebih modern yang diadopsi seperti rawai dan jaring udang (trammel net). Dalam kegiatan penangkapan ikan dan hasil laut lainnya. MANCING”. Peralatan tangkap yang digunakan masih bersifat tradisional seperti tombak. masyarakat lokal yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan mengenal beberapa tradisional. yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB Gambar II-22.

000.70.500/liter) yang memerlukan sekitar 15 liter (± Rp.10 ekor. “MANCING”. dan “Tambelo”. Apabila bersih = Rp. diasumsikan rata-rata pendapatan 65.000Sedangkan untuk yang menangkap kepiting (karaka) pada umumnya menggunakan perahu tanpa mesin/dayung (kole-kole) dan sekali melaut dapat menghasilkan 7. sejenis molusca (marine borer) yang hidup di dalam batang kayu mangrove yang mati. kerang/siput (shellfish). sekali melaut (sehari semalam) mereka dapat menghasilkan 1030 tali ikan.000/sekali melaut. sehingga dapat menghasilkan rata-rata Rp. Alat yang digunakan adalah alat pancing (nelon plus mata kail). udang. 4. Hasil wawancara dengan para nelayan menunjukan bahwa. Pengumpulan hasil perikanan oleh masyarakat hanya dilakukan pada saat air surut (low tide).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong “JARING BALABUH”.000 – 70.000/orang Rp. 200. pancing. Pengumpulan hasil laut biasanya dilakukan di komunitas hutan mangrove oleh penduduk lokal yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. hasil tersebut belum dipotong oleh bahan bakar (harga bensin Rp.100. Keadaan Umum Kawasan II . yaitu teknik penangkapan ikan. Daerah penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan CATB. Teknik pengambilan masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan “pengait” yang terbuat dari besi dengan panjang 1 m.000 = 130.650.000-300. Kodai serta sungai kecil lainnya.000. yaitu penangkapan hasil laut terutama ikan di dalam dan sekitar kawasan Cagar Teluk Bintuni oleh penduduk lokal dengan menggunakan perahu dayung/motor.39 .000) dan dibagi dengan nelayan lain (1 perahu 2 orang). dalam seminggu mereka melaut 2-3 penghasilan kotor kali.000/2 = Rp. Pada umumnya para nelayan melaut tidak setiap hari. dan kantong (noken). Pengumpulan hasil laut yang dimaksud disini adalah pengambilan/pengumpulan hasil perikanan berupa kepiting (mud crabs) yang dalam istilah lokal disebut “Karaka”. menggunakan alat besi pengait. Bokor. keranjang. Jenis Kepiting bakau Scilla sp. Jadi rata-rata sekali melaut yaitu Sedangkan untuk menangkap kepiting (karaka) Rp.975. dan hasil perikanan lain secara tradisional dengan menggunakan jaring apung (lokal: jaring balabuh). yang biasa dikumpulkan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB sekali melaut maka penghasilan sebulan rata-rata adalah Rp. hampir meliputi seluruh kawasan terutama di Sungai Tirasai. Gambar II-25. Pemanfaatan berbagai jenis ikan dan udang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring ”berlabuh” dan untuk ”pele kali”. Muturi. akar bore (tuba) serta menggunakan perahu mesin/tanpa mesin.000-100. 50.

000 25.000-10.000 10.3.000 5. Tabel II-16. dan (c) anyamankeranjang Keadaan Umum Kawasan II . Hasil wawancara dengan beberapa nelayan tradisional (pengumpul) bahwa dalam satu kali pengambilan.000 Sumber : Hasil Survei Tim TNC. obat-obatan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong khususnya bila pergantian pasang surut dan pasang naik terjadi pada siang hari. Hutan ini bagi masyarakat setempat merupakan sumber sumber bahan makanan. B. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jenis Hasil Perikanan Ikan Ekor Satu Ikan Sembilan Ikan Kepala Batu Ikan Congge Ikan Lasi Ikan Bubara Ikan Kakap Merah Ikan Sisip Udang Kepiting (Karaka) Tambelo kerang/bia/siput Satuan Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Ekor Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Kg Ekor Kantong Kantong Harga (Rupiah) 10. kayu bakar. Hasil Perikanan yang dihasilkan di dalam Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) beserta harganya.40 . (b) lantai rumah/para-para.000 10.000 10.000 12000 10.000-10.000-35. 2005.000 10. tiap orang dapat mengumpul/mengambil 10-15 ekor/orang untuk “ karaka” dan 1-3 kantong/orang untuk kerang/siput. terutama oleh masyarakat traditional yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.6.000 10. Bentuk pemanfaatan jenis palem sebagai (a) busur dan anak panah.000 5. (a) (b) (c) Gambar II-26.2 Pemanfaatan Tumbuhan Keberadaan ekosistem hutan dataran rendah dan ekosistem mangrove di kawasan dirasa sangat penting. dan bahan bangunan.000 7.000-10.

dibersihkan dan digunakan sebagai lantai rumah Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan anak panah Batang dibelah. Hasil survei Tim TNC (2005) menunjukan bahwa masyarakat suku Sough yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni memanfaatkan beberapa jenis palem yang tumbuh di hutan dataran rendah CATB sebagai bahan makanan. dibersihkan sebagai tali busur Batang dianyam untuk pembuatan keranjang dan anyaman lain Batang dibelah sesuai ukuran. terutama ubi yang ditumbuk Batang langsung digunakan untuk mengikat tiang rumah Batang dibelah.1 (Amough) Pinanga sp.2 (Humog) Pinanga sp. 2005 Pemanfaatan sumberdaya mangrove dapat dilihat dari dua tingkatan. dibersihkan. yaitu menggunakan parang dan kapak. Pengambilan kayu bakar dilakukan dengan mengumpulkan ranting/cabang pohon di hutan dataran rendah dan pohon mangrove yang mati/gugur dan pohon mangrove yang tumbang secara alami (akibat angin dan umur pohon tua). Kehadiran jenis-jenis palem dalam ekosistem hutan dataran rendah membuat hutan ini menjadi berarti bagi masyarkat sekitar. serta senjata dan perkakas (Gambar II-27 dan Tabel II-17 ). Hal ini menjadikan hutan mangrove terutama di kawasan CATB masih terpelihara dengan baik.41 . Peralatan yang digunakan untuk penebangan mangrove masih sederhana.2 (aitaga cidemeh) Calamus sp. dibersihkan dan digunakan sebagai lantai rumah/parapara Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan anak panah Daun digunakan sebagai pembungkus makanan 4 5 6 7 8 Sumber: Hasil survei TNC. Tabel II-17. bahan bangunan. dikikis sebagai bahan baku pembuatan busur panah Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan busur dan hulu tombak (sejata tradisional) Batang dibelah. (beimes) Pinanga sp. dan digunakan sebagai lantai rumah atau tempat duduk (para-para) Batang dibelah. Pemanfaatan vegetasi palem oleh masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No 1 2 3 Jenis (nama lokal) Caryota rumpiana (guta more) Calamus sp. Masyarakat sekitar banyak memanfaatkan salah satu komponen flora ini untuk berbagai macam keperluan.3 (Corohuij moro) Kegunaan Bagian pucuk diambil sebagai bahan makanan Ijuk digunakan sebaga atat dan bubungan rumah Batang dikupas dan dibersihkan dan digunakan sebagai pengikat pagar dan tiang rumah dan tali busur Daun digunakan sebagai pembungkus makanan. obat tradisional.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Khusus untuk pemanfaatan sebagai kayu bakar.3 (aitaga besameh)) Licuala sp.1 (aitaga moredek) Calamus sp. yaitu pemanfaatan tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai Keadaan Umum Kawasan II . masyarakat sekitar hanya memanfaatkan ranting dan cabang yang gugur tanpa menebang pohon.

energi. Kuri. yaitu masyarakat suku Sough. yaitu anak daun.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong komponen utama kehidupan (primary biotic component). Khusus untuk masyarakat yang yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam. dan perlengkapan perahu tradisional. tangkai daun. Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. umumnya masih terbatas pada pemanfaatan tingkat komponen ekosistem (flora dan fauna) sebagai komponen primer kehidupan di hutan mangrove. perlengkapan perahu tradisional (Gambar II-27). dan Wamesa dalam kehidupan lintas generasi telah memanfaatkan tujuh bagian nipah yang dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan jenis mangrove oleh masyarakat lokal umumnya digunakan sebagai kayu bakar. Jenis-jenis yang dimanfaatkan hanya terbatas pada jenis mangrove dan nipah. perkakas. tulang daun.42 . Gambar II-28. Pemanfaatan hutan mangrove di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni hanya terbatas pada pemanfaatan hutan mangrove dalam skala traditional (traditional uses). Pemanfaatan flora hutan mangrove secara traditional pada umumnya dilakukan oleh masyarakat setempat untuk keperluan rumah tangga. bahan bangunan rumah. Keadaan Umum Kawasan II . Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Rumah tradisional masyarakat lokal yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari vegetasi nipah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni makanan/minuman. obat-obatan. dan kerajinan. Pemanfaatan nipah oleh masyarkat suku-suku ini antara lain sebagai bahan Gambar II-29. perkakas. buah malai dan akar. pucuk. Khusus untuk vegetasi nipah. penduduk asli di sekitar kawasan Cagar Teluk Bintuni. serta untuk keperluan tiang-tiang pagar dalam kegiatan mencari ikan (fishing) yang dalam istilah lokal disebut “ tiang belo” (Gambar II-28). bahan bangunan seperti untuk atap dan dinding rumah (Gambar II-29). Gambar II-27.

4 Energi bakar) (bahan Nypah Fructicans Bruguiera sp. tangkai daun nipah dijemur sampai kering. cabang anak daun 5 Perkakas anak – anak daun dijahit pada bahan mudah lentur dengan panjang 50 – 60 cm.43 . Tabel II-18. sejenis minuman tradisional/lokal tangkai daun dipotong kecil. dikuliti. dibersihkan dibelah menjadi dua bagian selanjutnya dimanfaatkan sebagai pengikat pengganti paku untuk mengikat atap atau kajang Digunakan langsung sebagai tiang rumah Akar dibakar dan arangnya diletakan pada gigi yang sakit Kulit diparut digunakan sebagai obet kudis Anak daun maupun tangkai daun yang telah kering diambil sejanjutnya dibakar Digunakan langsung sebagai kayu bakar Digunakan langsung sebagai kayu bakar Rhizophora sp. Tujuan pemanfaatan Bahan makanan/minuman Jenis yang dimanfaatkan Nypah Fructicans Bagian yang dimanfaatkan Buah No. Batang akar Kulit anak daun dan tangkai daun Batang Batang. selanjutnya dibentuk menjadi sebuah tabung yang berdiameter 25 – 30 cm dan tinggi 80 – 100 cm untuk WADAH TEPUNG SAGU. setelah kering dibakar. 3 Obat-obatan Nypah Fructicans Rhizophora sp. ranting. 1 Cara pemanfaatan Buah mudah dibelah air dan daging dimakan dan diminum dengan rasa seperti buah kelapa muda Malai dipotong kemudian disadp untuk mengahsilkan nira (bobo). abunya diambil dan disimpan di dalam media bambu sebagai subtitusi GARAM dapur. Bahan baku pembuatan atap dan kajang (dinding) rumah. tangkai daun dibersihkan selanjutnya ditancapkan sepanjang bentangan jaring sebagai penahan jaring agar tidak terbawa arus air pasang dan surut atau dipotong sesuai ukuran para – para lalu disusun sebagai tempat duduk saat memancing ikan. pondok. seperti disajikan pada Tabel II-18. AYAKAN SAGU. dan KAMBOTI (pengganti kantong) Keadaan Umum Kawasan II . diasapi di atas tungku api. dipotong sesuai ukuran kemudian dirakit sebagai dinding Untuk para-para (tempat duduk). Pemanfaatan komponen flora pada ekosistem mangrove oleh masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan perahu yang dapat beratahan 3 – 5 tahun masa pakai Untuk dinding.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berikut adalah rangkuman pemanfaatan komponen flora pada ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Malai Tangkai daun 2 Bahan Bangunan Nypah Fructicans Daun Tangkai daun Bakal tangkai daun (pucuk) Pucuk dibersihkan dari anak daun. Rhizophora sp.

3 Tempat Berburu Masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni dengan ekosistem utama adalah manggrove yang kaya berbagai jenis satwa liar seperti babi huta (Sus sp. Selain pemanfaatan hasil perikanan berupa ikan. dan kepiting.). udang. Mereka berburu buaya minimal 2 orang (satu perahu) dan berburu pada saat malam hari. Tujuan pemanfaatan Jenis yang dimanfaatkan Bagian yang dimanfaatkan BKSDA Papua II Sorong Cara pemanfaatan sebagai pembungkus untuk memasak (bakar) bahan makanan seperti sagu. terutama di Kampung Naramasa. 2005. masyarakat yang bermukim di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni masih tergantung pada ketersediaanya di alam. Dalam memenuhi kebutuhan akan protein. Peranan kawasan CATB menjadi penting sebagai sumber protein hewani bagi penduduk sekitar. Yakati dan Yensei juga melakukan perburuan buaya di Sungai Naramasa. Batang Sumber: Hasil survei Tim TNC. di Tulang daun 6 Kerajinan Anak daun Anak daun dianyam membentuk kerajinan tangan seperti topi.6. rusa (Cervus timorensis). Batang 8 Tiang belo Rhizophora sp. Buaya yang diburu harus memiliki diameter badan antara 12 sampai 20 inci. B.44 . parang.3. dan daging. Dendeng rusa dan babi hutan yang diperoleh dari berburu di hutan sekitar kampung Mamoranu dalam Cagar Alam Teluk Bintuni perburuan maupun penangkapan terhadap satwa liar untuk memenuhi akan protein hewani. serta berbagai jenis burang dan mamalia. masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar CATB. Yensei dan Yakati. Bahan baku pembuatan atap perahu yang dapat beratahan 3 – 5 tahun masa pakai Digunakan langsung sebagai tiang rumah perahu Digunakan langsung sebagai tiang-tiang pancang (belo) untuk ditempatkan jaring trawl dalam kegiatan “pele kali” 7 Perlengkapan perahu tradisional Nypah Fructicans Daun Rhizophora sp. karena ukuran Keadaan Umum Kawasan II . ikan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. keranjang yang atasnya terbuka (idate) dan tertutup (kirore). Kondisi ini menyebabkan dalam kehidupan lintas generasi selalu melakukan aktivitas Gambar II-30. Alat yang mereka gunakan berupa tombak. senter serta perahu dayung (kole-kole). Sobrawara. Tangkai daun Tulang dibersihkan kemudian dijadikan sendok (gata-gata) yang digunakan untuk mengkonsumsi makanan tradisional (papeda) sebagai sapu untuk membersihkan dalam dan di sekitar rumah.

4 Tempat Berladang Ladang dan kebun masyarakat yang terdapat di dalam kawasan umumnya berlokasi/letaknya jauh dari pemukiman. Dalam berburu rusa dan babi dilakukan secara sendiri maupun berkelompok. yaitu rusa dan babi. Distrik Idoor. Berdasarkan hasil wawancara dengan yang berburu buaya.15. Rusa dan babi banyak terdapat di hutan dataran rendah di sekitar hutan mangrove. Ladang atau kebun pada umumnya diusahakan baik oleh masyarakat yang tinggal di luar maupun di dalam kawasan CATB. Gambar II-31. B. Keadaan Umum Kawasan II . Usaha dari masyarakat untuk melakukan pembesaran anakan buaya sudah mulai dilakukan di kampung Yensei. Alat yang digunakan berupa tombak. parang. dan Bintuni Timur. buaya Selain diambil kulitnya daging oleh masyarakat serta Para dikonsumsi “tangkur” buaya cukup laku di pasaran.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong badan buaya tersebut yang laku di pasaran. Naramasa. harga pasaran sekarang yaitu Rp. pembeli kulit. sekitar 7 – 10 ekor anak buaya dimasukan dalam kandang anakan buaya berukuran 4 m x 6 m (Gambar II-31). Sekarang sekali berburu memerlukan waktu 1 – 2 minggu dan rata-rata hanya memperoleh 3 – 4 ekor. Harga kulit buaya saat ini. hasil masyarakat tangkapan saat ini sudah semakin sulit di dapat.6. sehingga pola pemanfaatan buaya dengan cara pengambilan dari alam lambat laun bisa dikurangi. dalam waktu seminggu berburu mereka dapat menghasilkan 7 sampai 10 ekor buaya. daging serta bagian lain dari tubuh buaya hampir hal setiap ini minggu datang ke kampung. Usaha yang dikembangkan oleh masyarakat Yensei. Naramasa. panah. Daging rusa dan babi di jual dalam bentuk dendeng.000/inci. Perburuan lain terhadap fauna yang ada di kawasan CATB. mengindikasikan bahwa permintaan terhadap komoditas tersebut cukup tinggi.000/Kg. Dalam kegiatan ini. yaitu rata-rata Rp. dan Bintuni ini bisa dikembangkan di Kampung lain atau dikembangkan skala usahanya.45 . Apabila dibandingkan dengan 5 sampai 10 tahun yang lalu. jerat serta anjing.3. 15. Model Kandang pembesaran anakan buaya di Kampung Yensei. Pola perladangan adalah dengan sistem perladangan berpindah yang Gambar II-32 Lahan kebun dan bekas kebun masyarakat lokal di Kampung Mamoranu yang berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ditanami dengan jenis tanaman semusim.

Suku ini terutama dari marga Yettu dan Tiri “mengklaim” wilayah hukum adat mereka meliputi wilayah muara Sungai Wasian. Ranting pohon dan semak-belukar yang ada dikumpulkan pada suatu tempat dalam lahan/kebun dan atau dipinggir. Manibuy. margamarga yang memiliki hak ulayat cukup besar di kawasan adalah Susumbokop. Tatiri. Tirasay. Sedangkan Marga Iba memiliki wilayah hukum adat mulai dari Sungai Sigirau sampai dengan S. Waney.0 ha untuk tiap kepala keluarga. dan Kemon. Kindewara. dan suku WAMESA (marga Fimbay. Menebang pohon–pohon besar yang ada dalam lahan. menebang pohon-pohon tingkat pancang dan tiang. Bintuni. B. dan Pigo. Yettu. kawasan ini berada dalam pengelolaan wilayah adat tiga suku besar yakni Suku SOUGH (marga Imeri. Simeri. dan S. sebagai berikut : Pembersihan lantai hutan. Efredire. 2005). Setelah tanaman dipanen. dan Susumbokop). Anak Kasih.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong ubi-ubian. Tirasay. S.6. yaitu menebas semak belukar. Sirimbe. Maboro. Kemon. Suku Sough yang mendiami kawasan S. Menurut informasi dari tokoh kunci (Andarias Iba) di Kampung Tuasai bahwa tanah yang saat ini menjadi hak ulayat marga Iba merupakan pemberian dari marga Yettu sebagai balas jasa atas bantuan marga Keadaan Umum Kawasan II . Marga Imery meliputi S. Tiri. S. Simeri lebih dikenal dengan panggilan Manikion Parirei. Setelah itu dilakukan penanaman sesuai jenis tanaman yang akan diusahakan. Tisai. S. Kawab. dan suku KURI dari marga Urbon. Muturi. Secara tradisional. Wasian. Maboro. Tikamari. Banjar Ausoy.Bintuni hingga S. Masyewi. S. S. kemudian lahan tersebut dibiarkan beberapa waktu tertentu agar bekas ranting pohon dan semak belukar menjadi kering. Tatitri. Pola pembukaan lahan atau kebun masyarakat secara umum mempunyai beberapa tahapan. S. sayuran dan jenis tanaman buah-buahan dengan rata-rata luas lahan 0. Khusus untuk suku Wamesa. Sungai Sumberi.3 Kepemilikan Lahan Hasil survey lapangan Tim TNC (2005) berhasil mengidentifikasi kepemilikan lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat (Gambar II-33). maka mereka akan berpindah ke lokasi lahan yang baru dengan lama pengusahaan lahan (masa bera) 1-2 tahun. dan S. Banjar Ausoy. sedangkan marga yang lain hanya memiliki kurang dari 15 % dari total wilayah yang menjadi hak ulayat suku Wamesa (Hasil Survey Tim. Pembakaran dilakukan setelah ranting-ranting pohon dan semak-belukar yang ada sudah Kering dan kemudian hasil pembakaran berupa abu dibiarkan agar terdekomposisi/bercampur dengan tanah yang ada. S. dan Iba).46 .25 – 1.

Masyewi yang berasal dari kampung Yensei “mengklaim” wilayah hukum adat mereka meliputi Pulau Maniai. P. Hal ini terjadi karena menurut sejarah yang diceritakan oleh tokoh adat Wamesa (Bpk. Sirimbe. Adrian Tatiri) dan Kuri (Bpk. Set Efredire). Hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat (Bernadus Sioho) bahwa hal yang sama juga terjadi pada marga Sioho yang memiliki hak ulayat di daerah Sungai Tikamari dan S. Sedangkan suku KURI mengklaim wilayah adat mereka meliputi daerah sekitar Sungai Menurut pengakuan orang Kuri.Jawarupai dan P. Anak Kasih yang merupakan pemberian dari marga Imery.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Iba yang telah ikut membantu menyelesaikan masalah (perang saudara) yang waktu itu dialami oleh marga Yettu. Kedua suku tersebut mengklaim bahwa suku merekalah yang punya hanya aulat di Pulau Modan tersebut. Pulau Modan pada jaman kerajaan Tidore merupakan pusat pemerintahan daerah kekuasaan kerajaan Tidore di Irian. Kemon. Gambar II-33. Marga Tatiri. adalah milik orang Yensei ( Suku Wamesa). S.47 . Susumbokop. Peta Kepemilikan Lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat Suku Wamesa khususnya marga Manibuy “mengklaim” bahwa sebelum adanya perang suku wilayah adat mereka mulai dari Sungai Simeri hingga S. dan Maboro yang berasal dari kampung Yakati “mengklaim” wilayah Gunung Taberay Pulau Nusuama. Sampai saat ini kepemilikan Pulau Modan masih menjadi percebatan antara suku Wamesa dengan Suku Kuri. Manibuy. Pulau Kaboi sampai dengan Sungai Kodai. Modan. dan S.Sobrowara. Pulau Modan Naramasa. Marga Fimbay. Keadaan Umum Kawasan II . Modan.

48 .Sos.34.34) dan Cesna. Darat dan Sungai/Laut. Tessa. Selain itu juga bisa menggunakan pesawat carteran jenis cesna milik AMA dari Manokwari. apabila cuaca buruk maka setiap maskapai tidak jadi Gambar II.7 Sarana dan Prasarana Transportasi Sarana transportasi yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni khususnya di 3 Distrik (Distrik Bintuni. terdiri dari sarana Transportasi Udara. Penerbangan reguler ke kabupaten Teluk Bintuni dilayani oleh maskapai Merpati Nusantara.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Batas-batas kepemilikan tanah adat tersebut. Disamping itu juga tersedia sarana transportasi roda dua (ojek) yang melayani penumpang umum Gambar II-35.S. Distrik Kuri) yang terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan dimasa yang akan datang Bappeda Teluk Bintuni akan mencoba memfasilitasi hal tersebut. Hal tersebut diakui juga oleh Kepala Bidang Sosekbud Bappeda Teluk Bintuni Bpk. Transportasi Udara Di Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni terdapat sebuah lapangan terbang dengan konstruksi aspal yang bisa di darati oleh jenis Pesawat Twin-Otter (Gambar II. Kesepakatan mengenai batas tanah adat perlu segera dilakukan agar tidak terjadi “konflik” antar ketiga suku dimasa yang akan datang. B. Sarana transportasi darat jenis land cruiser (hardtop) yang melayani transportasi Manokwari-Bintuni PP Keadaan Umum Kawasan II . Akan tetapi transportasi udara di Kabupaten Teluk Bintuni sangat tergantung dari cuaca. Sarana transportasi udara jenis TwinOtter di pelabuhan udara kota Bintuni yang melayani penerbangan ke dan dari kota Bintuni melakukan penerbangan . bahwa kesepakatan mengenai batas tanah adat harus segera dilakukan agar tidak terjadi konflik antar suku. Tansportasi Darat Untuk mencapai kampung-kampung terdekat di sekitar Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni dapat di tempuh dengan menggunakan kendaraan umum roda empat (taxi) dengan jumlah armada yang terbatas. Distrik Idoor. dengan frekuensi penerbangan sekali seminggu (Kamis) dari manokwari dan hari Minggu dari Sorong. Karena sampai saat ini belum dilakukan kesepakatan antara ketiga suku besar tersebut. belum merupakan batas adat yang mutlak.

perahu motor Waktu Tempuh 3 jam 2. 2003).Tatawori-LautS.Wasian S.Wasian Sumber: Hasil survei tim TNC. Unipa.Wasian S. khususnya kampung-kampung yang berada di wilayah pemerintah Distrik Idoor dan Kuri.5 jam 4 jam 4 jam 6 jam Keterangan S.Anak kasih-S.Kamisayo-Laut-S. sedangkan jalan yang menghubungkan ibukota Kabupaten Teluk Bintuni dengan kampung-kampung di sekitarnya adalah jalan tanah timbunan dan jalan tanah yang dipadatkan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam kota dan ke kampung di sekitar kota Bintuni.20. Sarana transportasi laut/sungai jenis longboat yang digunakan masyarakat di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni. perahu motor Sungai & laut. Papua.49 . CRMP. 2005. Keadaan Umum Kawasan II . perahu motor Sungai & laut. Tansportasi Sungai/Laut Peran sarana transportasi sungai/laut sangat penting untuk kampung-kampung di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). perahu motor Sungai & laut. Keadaan transportasi jalan kota Bintuni adalah jalan beraspal (sebagian besar sudah rusak) sepanjang 13 km yang menghubungkan lokasi-lokasi pemukiman penduduk. Sarana transportasi darat yang menghubungkan Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni dengan Kabupaten terdekat (Kabupaten Manokwari) adalah jalan timbunan (pengerasan) dan jalan beraspal 74 km 126 km (Pemda Prov.Manibuy-LautS. Sarana dan Jenis Transportasi Kampung di sekitar CATB ke Ibukota Distrik dengan saran Transportasi Sungai/Laut. Jumlah dan jenis sarana transportasi darat yang ada di Kota Bintuni disajikan pada Tabel II. No 1 2 3 4 5 Kampung Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Sarana dan Jenis Transportasi Sungai & laut.Tatawori-LautS.Wasian S. perahu motor Sungai & laut. Sarana transportasi utama adalah perahu motor atau longboat (Gambar II-36) dan perahu dayung. Akses beberapa kampung di sekitar Cagar Gambar II-36. Tabel II-19. Naramasa-Laut-S.Yakati-S. Alam Teluk Bintuni ke pusat kota Kabupaten Teluk Bintuni menggunakan sarana transportasi sungai/laut disajikan pada Tabel II-19. Sedangkan transportasi darat yang melayani penumpang umum yang akan berpergian ke luar kota/Kabupaten Teluk Bintuni khususnya Manokwari menggunakan Hardtop (Gambar II-35) dengan waktu tempuh 12 – 16 jam.Yensei-S. Pemda Manokwari.

Jalur pelayaran reguler dari dan ke Bintuni yang dilayani oleh PT Pelni dan pelayaran swasta lain No 1 2 3 4 5 Nama Kapal KM Papua III KM Lady Marina KM Bintang Satya KM Raflesia* KM Semuel* Trayek Mkw-Sorong-Babo-Bintuni-Kokas-Fakfak (PP) Merauke-Agats-Timika-Tual-Kaimana-Fakfak-Bintuni-Sorong (PP) Sorong-Babo-Bintuni-Kokas-Fakfak (PP) Bintuni-Babo-Kelapa Dua-Sorong Belum dioperasikan Sumber: Hasil survei tim TNC. Sedangkan. NUV adalah jumlah dari nilai eksistensi (existensi value = XV) dan nilai warisan (bequest value = BV). nilai pilihan (option value = OV). Sehingga semua pihak merasa perlu untuk melestarikan kawasan CATB.Teluk Bintuni telah memiliki sebuah dermaga/pelabuhan. agar generasi yang akan datang masih dapat memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. pasar pengganti. 2005.8 Pendugaan Nilai Ekonomi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Pendugaan nilai ekonomi kawasan CATB perlu dilakukan agar semua pihak mengetahui betapa besarnya manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan. Tabel II-20. Dengan demikian nilai ekonomi total dapat diformulasikan sebagai berikut: TEV = UV + NUV = (DUV + IUV + OV) + ( XV + BV) Pendekatan penilaian dalam perhitungan nilai manfaat kawasan CATB (ekosistem hutan mangrove) melalui perhitungan nilai total ekonomi yaitu menggunakan pendekatan produksi dan nilai pasar (productivity and market values). Jalur pelayaran yang mempunyai akses dari dan ke Teluk Bintuni melalui Sorong adalah pelayaran reguler PT PELNI dan pelayaran swasta lain seperti disajikan pada Tabel II-20. nilai pemanfaatan tidak langsung (indirect use value = IUV). UV adalah jumlah dari nilai pemanfaatan langsung (direct use value = DUV). Pendugaan nilai ekonomi kawasan CATB dilakukan hanya pada hutan mangrovenya. Nilai ekonomi total (total economic value = TEV) merupakan jumlah dari nilai pemanfaatan (use value = UV) dan nilai non pemanfaatan (non-use value = NUV). karena mayoritas kawasan merupakan hutan mangrove.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Selain itu untuk transportasi laut antar kabupaten. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan penilaian manfaat kawasan CATB (ekosistem hutan mangrove) didekati dengan menggunakan konsep penilaian ekonomi total (total economic valuation) dari produk barang dan jasa yang berguna (use value) dan yang tidak berguna secara langsung (non use value) . pendekatan biaya ganti Keadaan Umum Kawasan II . * Armada Milik PEMKAB Teluk Bintuni B.50 .

Camillle Bann (1999) mencoba membaginya kedalam 3 domain yaitu: (i) fungsi produksi yang berkelanjutan. biaya di sekitar kawasan CATB. ekosistem hutan mangrove juga memiliki “keunikan” dan berfungsi secara sosial dan ekonomi. sejaran dan pengembangan ilmu pengetahuan Habitat bagi penduduk asli Tempat rekreasi Memelihara biodiversity Tempat migrasi habitat Tempat pemijahan dan pembibitan Supplai unsur hara (nutrient) Regenerasi nutrien Melindungi dan memelihara terumbu karang Perhitungan nilai ekonomi dari setiap jenis manfaat ekosistem hutan mangrove untuk nilai aktual didasarkan atas asumsi-asumsi pada tingkat harga.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong (replacement cost). Table II-21. penangkapan ikan dan pengumpulan produk Sumberdaya genetic Sosial Ekonomi/ Fungsi Konversi Industri dan penggunaan lahan Tambak Usahatani padi Fungsi Informasi Informasi religius dan spiritual Inspirasi artistic dan budaya Informasi pendidikan. Mencermati manfaat yang dapat dihasilkan dari ekosistem mangrove.51 . dan (iii) fungsi Informasi. Dalam terminologi yang sifatnya holistik. (ii) fungsi pengatur lingkungan. dan contingen valuation method dengan memanfaatkan data hipotetik mengenai kesediaan membayar dan menerima (willingness to pay/ WTP and willingness to accept/ WTA) dari pengguna sumberdaya ekosistem hutan mangrove. selanjutnya dapat kita lihat pada Tabel II-21. Fungsi dan Manfaat Lingkungan Ekosistem Mangrove Fungsi Produksi Berkelanjutan Kayu bakar Arang Fungsi Pembawa dan Pangatur Pengendali erosi Penyerap dan recycle limbah manusia dan polutan lainnya Ikan Udang Tannin Nipa Obat-obatan Perburuan tradisional. Sementara penilaian manfaat potensial dikawasan CATB dihitung dengan pendekatan asumsi dalam penilaian ekonomi (Tabel II-22). produksi. Klasifikasi manfaat dan fungsi dari ekosistem mangrove ini. Keadaan Umum Kawasan II .

Potensi Luas panen tegakan mangrove 22.52 . biaya 20% dari penerimaan Didasarkan pada pendapatan penggunaan lokal (berburu dan meramu) Rp. chipwood plant = 300.000/ekor (2 Kg) Jadi Harga rata-rata Rp 10. biaya 20% dari penerimaan Produksi 19. 2003) dan potensi tegakan 66 m3/ha. dikonversi ke dalam tegakan mangrove per hektar (107 m3/ha). Potensi tegakan mangrove marupakan potensi keseluruhan jenis dan diasumsikan semua dipakai untuk chip 2 Chip 17974000 142500 Nilai biodiversitas hutan mangrove perhektar US $ 1500 km2/thn atau sekitar US $ 15/ha/tahun (Ruitenbeek. 9500 /US$ 3 Ikan 104837 11 6291000 Asumsi penilaian diatas dimasukkan unsur biaya yang merupakan biaya proses produksi seperti tenaga kerja. Biaya 45% dari penerimaan Keterangan : Produksi ikan dan udang (1178 dan 1495 ton/tahun) merupakan produksi total perairan Teluk Bintuni 2003 (Sumber : Atlas Sumberdaya Pesisir).500/US$ 10 Manfaat pilihan biodiversitas Manfaat Keberadaan Habitat No Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn) 1 Kayu Bangunan 942000 Cagar Alam Teluk Bintuni (Hutan Mangrove) Asumsi Pendugaan Nilai Potensial Luas mangrove 112.000/m3. biaya 30 % dari penerimaan 2 Atap Daun Nipah 240000 Produksi 150 bengkawang/ha/thn. 2000/bengkawang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-22. Produksi 0.Hilmi. 9500/US$). 50.05 kg/ha/thn dengan harga rata-rata Rp. 4.9 juta/KK/ tahun (2200 KK). harga carbon/kg = US $ 10/ton. Keadaan Umum Kawasan II . 1996) Konversi Rp. sagu sampai dengan satwa liar merupakan nilai aktual yang selama ini telah ada dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Asumsi Dasar Penilaian Jenis Manfaat Hutan Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn) 1 Kayu Bakar 2188 Cagar Alam Teluk Bintuni (Hutan Mangrove) Asumsi Dasar Penilaian Manfaat (Aktual) Luas mangrove 112.000. 9. Nilai manfaat keberadaan habitat mangrove US$ 2516/ha/thn (Meilant. 1991) konversi Rp. 9. harga rata-rata Rp. 6.000 m3/thn harga ekspor chip = US $ 40/m3. serta biaya produksi lainnya.5.0625 m3/ha/th harga Rp. dibagi dengan luas areal mangrove (112. dibagi luas areal mangrove Diproksi dari kandungan karbon hutan mangrove 19. dikonversi (Rp.365 ha) Produksi 23.473 ha (rotasi 20 thn).000/kg. diasumsikan potensi yang digunakan untuk chip yaitu 80% yaitu 86 m3/ha. Jenis manfaat kayu bakar.365 ha .000/ekor. yang sering digunakan sebagai bahan bangunan harga Rp.000/Batang. harga atap daun nipah Rp. jumlah penduduk 2200 KK. dengan luas areal nipah 480 ha Produksi 1178 Ton/thn.365 ha (157Pohon(Batang)/ha) jenis Rhizopora sp.7. Rusa.926 kg/ha di Riau (E. 9500/US$). biaya sekitar 20% dari penerimaan. Ikan besar (kakap merah) Rp. Sementara jenis manfaat bahan bangunan dan chip merupakan nilai potensial. Babi.15. harga US$ 6.000/kg.5 juta/KK/ tahun.04 ekor/ha/thn dengan harga Rp. Biaya 40% dari penerimaan Potensi tegakan mangrove 107 m3/ha.25/kg (konversi Rp. dibagi dengan luas areal mangrove (112. Burung) 8 9 Pengendali Erosi Penyerapan Carbon 95937 3441763 789976 129024 76200 127264 Produksi 1495 ton/tahun. konvers Rp.10.500/US$.365 ha) 4 5 6 7 Udang Kepiting/Karaka Kerang/bia Satwaliar (Buaya. dibagi dengan luas areal mangrove Penilaian berdasarkan produktivitas pertanian lokal Rp. 10000/Tali (2 Kg) = Rp 5.

000 2.853.150.673.240.269.333 6.176.058.984 39.563.667 5.297 4. Tabel II-23.699.000 2.916 158.779.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Sebagai suatu sumberdaya. ekologis.400 23.318.780.720 2.425.633.000. Manfaat langsung yang ada di kawasan juga ada yang tidak bisa dimanfaatkan dan ini dikategorikan sebagai manfaat potensial atau manfaat kesempatan. baik fungsi produksi.402.791.980 Manfaat Tidak Langsung 1 2 3 4 5 6 Perangkap sedimen Penyerapan Karbon Manfaat Pilihan Biodiversitas Manfaat Keberadaan Habitat Penahan abrasi Pencegah Intrusi 95.000 306.708.960. manfaat pilihan dan manfaat keberadaan.53 .233.041.160 211. Sebagai kawasan konservasi.000 1.125.442.200 20.727.247.497. kayu dari Cagar Alam Teluk Bintuni tidak bisa dimanfaatkan sebagai Keadaan Umum Kawasan II .892.652.126 31. Prediksi Nilai Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan CATB Jenis Manfaat Ekonomi per Ha Manfaat Langsung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kayu Bangunan Chip Kayu Bakar Atap Daun Nipah Ikan Udang Kepiting/Karaka Kerang/Bia Satwa Liar 150. Nilai potensial diaproksimasi dengan menghitung manfaat potensial yang ada dan atau berpeluang dikembangkan jika masyarakat dapat memanfaatkan secara optimal.935. Yang termasuk kedalam nilai ini adalah manfaat kayu jika digunakan sebagai bahan baku chip dan kayu bangunan.800 328.926.000 11.833 10.296 3.990.100 384. Penilaian total manfaat ekonomi dari ekosistem hutan mangrove meliputi penilaian manfaat langsung.939 5.200 17.522. Keragaan nilai manfaat ekosistem mangrove kawasan CATB dapat dilihat pada Tabel II-23.000 330. diketahui bahwa total nilai ekonomi ekosistem mangrove dapat dibedakan menjadi manfaat langsung dan tidak langsung.392 1.479.810.338.294. penilaian ekosistem mangrove didasarkan kepada manfaat dan fungsi-fungsi yang dihasilkan.937 2.895 Berdasarkan hasil analisis data Tabel II-23.901 14.404.000. Nilai aktual adalah nilai pemanfaatan hutan mangrove saat ini.225. Total nilai ekonomi yang dihitung yaitu nilai aktual dan nilai potensial.444 576.322.192 26.300. manfaat tidak langsung.000 694.508.000 620.522.825 18.915 Manfaat Ekonomi Kawasan Sumber : Perhitungan data lapangan Manfaat Ekonomi (Rp) Total Kawasan 16. dan fungsi sosial ekonomi.715 238.000 3.992 2.

72%). sebagai penyerap karbon serta nilai manfaat pilihan keanekaragaman hayati dan keberadaan habitat akan hilang. BKSDA Papua II Sorong Kehilangan kesempatan ini akan menghasilkan manfaat langsung bagi penduduk dan manfaat jasa lingkungan yang nilainya jauh lebih besar. konservasi habitat. 95. Analisis pendugaan terhadap nilai hutan mangrove Kawasan CATB merupakan gambaran awal berapa besar nilai manfaatnya secara ekonomi . satwa liar dan atap daun nipah relatif cukup kecil akan tetapi nilai tersebut sangat penting karena merupakan nilai manfaat langsung yang setiap hari dirasakan oleh masyarakat didalam dan sekitar kawasan CATB untuk menunjang kehidupannya sehari-hari. Nilai manfaat langsung yang dimanfaatkan masyarakat dari kawasan mencapai 10.916 /ha/tahun. udang. 3. maka manfaat langsung hanya mencapai 18. babi dan burung) Nilai manfaat tidak langsung (aktual dan potensial) hutan mangrove sebagai fungsi pengendali erosi Rp. 158. Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian yang komprehensif tentang nilai manfaat ekonomi kawasan CATB.54 . kerang/bia.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sumberdaya kayu terutama untuk kegiatan komersial. kayu bangunan dan chip menunjukan nilai terbesar akan tetapi nilai tersebut hanya jangka pendek (sesaat).915/Ha/Tahun).892.1% yaitu dari atap daun nipah. kepiting/karaka. 2.425.3% (Rp. karena belum semua manfaat hutan mangrove diperhitungkan seperti nilai manfaat obatobatan.176.937/ha/tahun. Meskipun dari hasil pendugaan nilai manfaat ekonomi hasil perikanan. Nilai ini diprediksi masih lebih rendah. atap daun nipah. Hal yang paling penting adalah bila hutan mangrovenya hilang maka nilai manfaat lain seperti hasil perikanan. rusa.667 /ha/tahun (20. Jika dicermati maka terlihat dari manfaat langsung dan tidak langsung. hasil perikanan dan satwa liar (meliputi ikan. buaya. 14. Keragaan nilai ekonomi manfaat langsung (aktual dan potensial) hutan mangrove menurut jenis dirinci sebagai berikut: nilai tegakan hutan mangrove sebesar 89.727. Sementara manfaat pilihan terhadap keanekaragaman hayati hutan mangrove sebesar Rp.7% (Rp. satwa liar serta manfaat tidak langsung seperti pengendali erosi. C.9% meliputi manfaat kayu bakar.980/Ha/Tahun) sedangkan manfaat tidak langsung dari jasa lingkungan mencapai 81. dan sebagai penyerap carbon Rp.333/ha/tahun dan keberadaan habitat ekosistem hutan mangrove agar tetap tersedia mempunyai nilai ekonomi Rp. Permasalahan Hasil pengamatan dan wawancara langsung dengan masyarkat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) mengindikasikan adanya beberapa Keadaan Umum Kawasan II . kayu bangunan dan chip. perlindungan spesies langka serta hutan dataran rendah yang luasnya ±10% dari luas kawasan. 6. Oleh karena itu kelestarian hutan mangrove perlu dijaga terus agar nilai atau manfaat lain yang diperoleh selain nilai tegakan mangrove dapat tetap diperoleh. Secara nilai ekonomi memang kayu mangrove untuk kayu bakar.

Kampung-kampung yang letaknya dalam kawasan adalah Kampung E133 56. di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mengalir beberapa sungai besar dan kecil yang bermuara di perairan Teluk Bintuni dan mempunyai fungsi sebagai sarana transportasi bagi masyarakat lokal. Hasil pengamatan di lapangan serta informasi dari masyarakat.55 . Pembukaan lahan hutan dataran rendah untuk logyard kegiatan logging di dekat Kampung Tirasai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil pengamatan di lapangan juga menunjukan bahwa letak kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga berbatasan langsung dengan hutan produksi yang merupakan areal penebangan beberapa Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seperti PT Yotefa Sarana Timber di bagian Utara. Bahkan beberapa kampung yang didiami oleh penduduk asli letaknya berada dalam kawasan. Kampung Anak Kasih (Koordinat: menyebabkan aksesibilitas masyarakat di sekitar ke kawasan sangat mudah dan sedikit mengalami kesulitan dalam pengawasanya sehingga tekanan terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sangat besar.092S 20 03’ 0. Untuk keperluan Tempat Penimbunan Kayu (TPK) atau logyard beberapa industri perkayuan tersebut membuka beberapa bagian Cagar Alam Teluk Bintuni terutama pada ekosistem hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove.69’’ dan E 1330 56’ 0. dan tumpang tindih kawasan. C. Gambar II-37. pengelolaan DAS. Hal ini bisa di kategorikan sebagai ancaman (threat) bagi keberadaan kawasan saat ini dan masa datang. infrastruktur.1.09’’). Kampung Tirasai (Koordinat: S 20 03’ 2. PT Bintuni Utama Murni Wood Industries (PT BUMWI) di bagian selatan dan PT Manokwari Lestari di bagian Timur.71’’ dan E 1330 58’6. Kondisi Mamuranu (Koordinat: S 20 14’8. C.1.2 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Secara fisik.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong permasalahan serius yang sedang terjadi di kawasan.31’’ dan E 1330 51’ 6. C. pada Keadaan Umum Kawasan II .1 Letak Kawasan Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa letak kawasan Cagar Alam TB yang sangat dekat dan pada beberapa bagian langsung berbatasan dengan pemukiman penduduk.37”).1 Fisik Permasalahan fisik yang dimaksud di sini adalah kondisi fisik kawasan saat ini yang telah mengalami ganguan yang dapat mengancam keberadaan kawasan Cagar Alam seperti letak kawasan.92’’).

Keadaan Umum Kawasan II .56 . Pengendapan lumpur (sedimentasi) yang membentuk delta di muara S. Hal ini diduga karena pengusahaan hutan yang tidak memperhatikan aspek kelestarian lingkungan banyak terjadi pada ekosistem hutan hujan dataran rendah yang menyimpan potensi jenis-jenis kayu yang bernilai komersial. yaitu pembukaan lahan untuk keperluan tempat penimbunan kayu oleh pengusaha HPH di sekitar kawasan. Infrastruktur yang ada saat ini hanya berupa satu buah pondok kerja berukuran 36 m2 yang sekaligus merupakan rumah tinggal kepala resort KSDA Bintuni. Aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya permasalahan tersebut. yaitu degradasi dan perubahan struktur hutan dataran rendah. Hasil pengamatan di lapangan berhasil diidentifikasi beberapa permasalahan yang dihadapi pada ekosistem/flora/fauna yang berada di dalam kawasan. degradasi sebagian kecil hutan mangrove. dan penurunan populasi beberapa jenis satwa tertentu disebabkan oleh aktivitas manusia.3 Infrastruktur Hasil pengamatan di menunjukan bahwa infrastruktur pendukung dalam kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dengan luasan yang cukup besar (124. C.2 Biologi Hal Permasalahan internal biologi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih belum terlihat. Bintuni/Wasian di dalam Kawasan CTAB C. dan faktor sosial budaya. ini karena sebagian besar ekosistem penyusun kawasan terutama ekosistem mangove sebagai komponen ekosistem utama masih alami dan terpelihara dengan baik.1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong saat musim penghujan sungai-sungai tersebut seringkali meluap dan airnya berubah warna coklat-keruh. Akibatnya substrat yang terbawa banjir di musim hujan akan menumpuk membentuk delta di muaramuara sungai di perairan Teluk Bintuni. Gambar II-38. Hal ini mengindikasikan besarnya tingkat erosi yang terjadi pada daerah hulu (upland) sebagai akibat “laju pengrusakan” lahan hutan yang tak terkendali. 850 ha) sangat kurang memadai. Permasalahan biologi yang bisa terlihat adalah permasalahan karena faktor eksternal yang terjadi karena bukan merupakan hubungan antar ekosistem atau spesies . Hal ini sangat mempengaruhi kegiatan pengelolaan terutama dalam hal pengawasan dan perlindungan kawasan. dilakukan para Kegiatan ini umumnya pemegang HPH dan Kopermas yang memiliki konsesi di sekitar CATB. gejala alam.

C. penebangan liar. Beberapa permasalahan sosial ekonomi dan budaya terhadap CATB adalah menurunnya hasil tangkapan dan buruan sebagai akibat dari praktek penangkapan hasil perikanan yang tidak ramah lingkungan dan perburuan satwa liar (buaya. Oleh karena itu banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya Masyarakat yang bermata pencaharian nelayan II . Kondisi sosial budaya ini telah menciptakan suatu interaksi dengan kawasan dalam bentuk pemanfaatan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan maupun ekosistemnya. dan pembangunan infrastruktur lain.3. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa terdapat beberapa bagian dari ekosistem mangrove. C. kasuari) dan fauna perairan (seperti ikan. Sosial Ekonomi dan Budaya Kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar sangat berpengaruh besar terhadap kelestarian CATB. kerang).57 dalam mengambil hasil perikanan. Penangkapan Hasil Perikanan yang Tidak Ramah Lingkungan Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan. seperti pembuatan tiang-tiang rumah tradisional dan tiang pagar rumah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemumahan. dimana menurut peraturan yang ada sebenarnya hal itu dilarang. Pemanfaatan fauna lebih terfokus pada perburuan satwa liar (seperti rusa. Keadaan Umum Kawasan . maka pengaturan yang melibatkan dan diterima semua pihak harus dilakukan. kepiting. di sekitar CATB menempati urutan kedua (18. udang. Terganggunya beberapa bagian ekosistem mangrove juga sebagai akibat gejala alam yang disebabkan oleh angin dan erosi pinggiran sungai. Sedangkan pemanfaatan ekosistem hanya dilakukan oleh mayarakat lokal yang bermukim di dalam kawasan untuk keperluan tempat berkebun. serta tumpang tindih antara batas kawasan dengan penggunaan lahan lain. Karena hal ini berhubungan dengan adanya pengambilan beberapa jenis flora dan fauna. terutama mata pencaharian yang wilayah kerjanya berada di dalam kawasan. telah mengalami kerusakan/hilang yang diakibatkan oleh terpaan angin dan pengikisan pinggiran sungai oleh ombak pada saat musim angin. Pemanfaatan jenis-jenis flora oleh masyarakat lebih tertuju pada kayu sebagai bahan bakar dan juga bahan bangunan.1. terutama pada daerah-daerah dengan sungai yang terbuka luas. Akan tetapi karena hal tersebut sudah dilakukan sebelum ditunjuk adanya kawasan CATB.82 %). adanya perkampungan logyard (tempat penimbunan kayu) di dalam kawasan. masyarakat lokal telah lama dan secara turun temurun bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.3. babi hutan. rusa dan beberapa jenis burung). pemukiman dan perladangan oleh penduduk lokal di dalam dan sekitar kawasan. Faktor lain yang memberi andil dalam permasalahan lingkungan biologi kawasan adalah sosial budaya.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong menggunakan alat tangkap jaring untuk “pele kali” . Rusa dan Beberapa Jenis Burung Masyarakat yang berada di sekitar kawasan CATB. jaring berlabuh dan pancing. Hasil tangkapan yang dulu masih mendapat “ 2 sampai 3 ember” sekarang hanya dapat “0. Mamuranu.2. Berdasarkan hasil wawancara dan survei lapangan. Yensei. Minimnya sarana dan prasarana aparat (BKSDA Papua. Menurut informasi dari beberapa nelayan di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni. Hal ini diduga disebabkan oleh kegiatan penangkapan hasil yang tidak memeperhatikan kelestarian lingkungan yang dapat berdampak pada menurunnya populasi biota perairan. khusus untuk buaya diburu terutama oleh masyarakat Naramasa. Keadaan Umum Kawasan II . Masyarakat tersebut berburu sepanjang Sungai Naramasa. yaitu Sungai Sobrawara.850 hektar) serta belum adanya koordinasi dengan aparat penegak hukum lain (Kepolisian dan Koramil) membuat penegakan hukum sangat lemah. Selain itu daerah tangkapan sudah semakin jauh. sekarang sudah memerlukan waktu 1 jam lebih bahkan sampai ke sekitar Teluk Bintuni. hasil tangkapan ikan sudah semakin menurun bila di bandingkan dengan beberapa tahun lalu (3-5 tahun lalu). Berdasarkan pengamatan di lapangan serta informasi dari pengelola kawasan dan beberapa nelayan lokal. Babi dan beberapa jenis burung). dimana hampir setiap minggu datang para pengumpul kulit buaya yang berasal dari Babo dan Bintuni untuk selanjutnya dikumpulkan di Sorong lalu di jual ke Surabaya. Anak Kasih dan Tirasai. berhasil diidentifikasi beberapa praktek penangkapan adalah penggunaan akar bore ini dilakukan pada saat “pele kali” yang membuat ikan-ikan tersebut mabuk sehingga mudah diambil. Rusa. alat yang digunakan berupa tombak dan perahu tanpa mesin (kole-kole). dimana dahulu hanya 15 sampai 30 menit dari perkampungan. Yakati dan Yensei. Permintaan akan kulit buaya menurut informasi dari masyarakat Naramasa masih cukup tinggi. C.58 . Adanya Perburuan Buaya.3. serta menggunakan akar bore (tuba). Yakati. Yakati sampai ke dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. indikasi penangkapan ikan dengan menggunakan racun serangga (insektisida). serta penggunaan pukat harimau (trawler) oleh perusahaan udang sampai ke dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . terutama masyarakat di Kampung Naramasa. Cara-cara penangkapan ikan yang merusak tersebut belum diberikan sangsi hukum yang tegas. II Resort Bintuni) yang hanya ada satu orang petugas dengan luas kawasan yang sangat luas (124.5 sampai 1 ember”. ada yang bermatapencaharian dalam berburu (Buaya.

Hasil tangkapan rusa dan babi. Mamuranu) yang terletak di dalam Kawasan CTAB dalam sehari-hari akan sangat tergantung pada sumberdaya alam yang ada di dalam CATB.3. Cara masyarakat tersebut dalam berburu dilakukan dengan dua cara yaitu berburu sendiri dan berkelompok (5-10 orang). Anak Kasih dan Tirasai. diburu di dalam kawasan CATB terutama di sekitar Pulai Maniai. Berdasarkan kondisi diatas. rusa dan beberapa jenis burung dimana fauna tersebut merupakan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di CATB. Nusuamar dan Modan. Menurut hasil wawancara dengan beberapa Gambar II-39. seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk. anjing dan parang. Hasil buruan waktu lalu (5-10 tahun yang lalu). babi dan beberapa jenis burung. biasanya di jual dalam bentuk dendeng. tapi sekarang mereka memerlukan waktu yang lebih lama (1-2 minggu) dengan hasil 1-2 ekor ataupun tidak dapat hasil buruan sama sekali. Selain Keadaan Umum Kawasan II . serta tingginya permintaaan atas hasil buruan tersebut menyebakan jumlah buaya. maka masyarakat tersebut yang tinggal melakukan di kampung aktivitasnya Gambar II-40 Salah satu Kondisi Pemukiman penduduk (K. dalam 1-3 hari berburu bisa mendapatkan 5-10 ekor. rusa dan beberapa jenis burung. sedangkan untuk burung menggunakan senapan angin. Alat yang BKSDA Papua II Sorong sering digunakan untuk berburu rusa dan babi yaitu panah. Keberadaan kampungkampung tersebut terutama Kampung Mamuranu memang sudah ada sebelum adanya penunjukan CATB. Adanya Perkampungan di dalam Kawasan Berdasarkan hasil survei lapangan menunjukan bahwa ada beberapa kampung (desa) yang berada di dalam kawasan CATB yaitu Kampung Mamuranu.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Sedangkan rusa. maka hal ini dapat mengancam kelestarian terutama buaya. Masyarakat baru pulang berburu di dalam Kawasan CATB masyarakat yang bermatapencaharian berburu. dengan tingginya tingkat perburuan buaya. jerat. C.59 . Dengan keberadaan ketiga kampung tersebut. rusa dan beberapa jenis burung sudah semakin berkurang. tombak.3.

HPH/IPKMA tersebut mengeluarkan kayu untuk selanjutnya di kumpulkan disuatu tempat yang disebut Keadaan Umum Kawasan II . Oleh karena itu dalam rangka rencana pengelolaanya. C. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di semua kampung yang ada di sekitar kawasan. C. lebih dari 60% responden (46 responden atau 65. Hal ini terjadi karena tidak adanya koordinasi antara pihak transmigrasi dengan BKSDA Papua 2 Resort Bintuni pada saat penetapan LU 2 tersebut serta belum dilaksanakannya proses tata batas.4. Pemukiman transmigrasi yang ada di sebelah Utara batas kawasan CATB mulai tahun 1994. sehingga semakin besar sumberdaya alam yang akan diambil yang selanjutnya menyebabkan jumlah dan jenis flora maupun fauna di dalam kawasan CATB semakin menurun. Adanya Tempat Penimbunan Kayu (Logyard) di dalam Kawasan Adanya hak pengusahaan hutan (HPH) mulai Tahun 1990 dan IPKMA (Izin Pemanfaatan Kayu Masyarakat Adat)/ Kopermas (Tahun 2002) yang berada di sekitar serta bagian hulu CATB memberikan dampak yang cukup besar terhadap kelestarian CATB.7%) kurang mengetahui adanya batas kawasan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong itu dengan “dibentuknya” perkampungan baru seperti Kampung Anak Kasih dan Tirasai di dalam CATB.3. Hal tersebut akan menambah jumlah masyarakat yang akan tinggal di dalam kawasan CATB. Tumpang tindih antara Batas Kawasan dengan Penggunaan Lahan lain. akan semakin bertambahnya masyarakat yang tergantung terhadap sumberdaya alam dalam aktivitasnya sehari-hari.3. tanpa adanya koordinasi khususnya dengan BKSDA resort Bintuni. Kondisi diatas diperburuk dengan adanya pembuatan “perumahan sosial” oleh pihak Pemda Propinsi Papua pada tahaun 2003. Hal ini menunjukan Gambar II-41 Diskusi dengan Masyarakat Banjar Ausoy tentang Tumpang Tindih LU 2 dengan Batas kawasan CATB bahwa proses penataan batas tahap 1 tahun 1997 (tata batas persekutuan) batas Utara dan Timur serta tahap 2 tahun 1999 batas Barat dan Selatan. maka diperlukan proses penataan batas ulang dimana dalam prosesnya melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan serta adanya proses sosialisasi. memberikan permasalahan yaitu adanya lahan usaha 2 (LU 2) Kampung Banjar Ausoy SP 4 (200 hektar) dan Waraitama SP 1 (160 hektar) masuk kedalam kawasan.4. dengan dibangunnya 54 rumah semi permanen di Kampung Anak Kasih (di dalam kawasan CATB). belum tersosialisasi dengan baik atau kurang melibatkan masyarakat setempat.60 .

Faktor penghambat merupakan suatu kondisi dimana lembaga pengelola dalam hal ini BKSDA Papua 2. karena di lokasi tersebut telah dibangun rumah karyawan dan perkantoran yang dilengkapi dengan sarana lain seperi listrik. Dokumen yang telah ada yaitu Rencana Detil Tata Ruang (RDTRK) Kota Bintuni tahun 2004. Akibat lain yang ditimbulkan dengan adanya Logyard tersebut.. yang merupakan cikal bakal Kota Bintuni. D. maka Logyard tersebut dibuat di sekitar sungai dan pada umumnya posisinya berada di dalam kawasan CATB. Logyard 5 di Sungai Awarepi dibuat oleh IPKMA/Kopermas. Beberapa Logyard yang berada di dalam kawasan CATB yaitu Logyard 4 (di Sungai Muturi) PT. Beberapa faktor penghambat yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan CATB antara lain : D. Keberadaan Logyard tersebut mengakibatkan datangnya masyarakat untuk tinggal di sekitar Logyard tersebut. Satu “generator” berada di ujung barat kota. karena jalan darat telah dibuat dari daerah penebangan sampai ke Logyard. Kota Bintuni meliputi Kampung Sibena sampai dengan Kampung Argosigemerai (SP5).61 . Pola ruang Kota Bintuni yang terbentuk berupa Strip Development.1. Faktor Penghambat Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni akan berhasil apabila bisa mengurangi faktor penghambat yang ada. Kondisi diatas menimbulkan konsekuensi dari adanya dua “generator” aktivitas yang sama kuatnya. Yotefa Sarana Timber dan IPKMA/Kopermas. yaitu semakin mudahnya akses masyarakat untuk masuk kedalam kawasan CATB. “generator” aktivitas baru yang muncul sebagai akibat keberadaan kawasan pusat Keadaan Umum Kawasan II . serta Logyard SP 4 di Sungai Banjar Ausoy di buat oleh IPKMA/Kopermas. Logyard SP 5 di Sungai Sigirang dibuat oleh IPKMA/Kopermas. Logyard Anak Kasih di Sungai Tikamari/Anak Kasih di buat oleh IPKMA/Kopermas. tidak memiliki kewenangan (Authority) untuk menyelesaikannya. Karena sarana angkutan selanjutnya untuk membawa kayu keluar Bintuni menggunakan transportasi sungai dan laut. kelurahan bintuni barat dan timur bersama-sama dengan Kampung Sibena. Dengan kondisi tersebut maka akan semakin banyak masyarakat yang akan tinggal di dalam kawasan serta akses masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya alam di dalam CATB semakin besar sehingga akan mengurangi jumlah dan jenis flora dan fauna yang ada. Logyard Sumberi dibuat oleh IPKMA/Kopermas.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dengan Tempat Penimbunan Kayu (Logyard). air bersih serta sarana hiburannya lainnya. dan di ujung timur kota. dimana bentuk kotanya memanjang dari Barat ke Timur. Pengembangan Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kabupaten Teluk Bintuni sampai saat ini belum ada. Berdasarkan dokumen RDTRK Kota Bintuni.

Apabila melihat posisi dari kota yang memanjang sepanjang jalan. D. dimana sebelah Selatan dari jalan dengan jarak 1 sampai 5 Km. maka peluang masyarakat untuk mengambil flora.2 Kapasitas Pengelola Kawasan Salah satu faktor penentu dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi adalah peranan dan kapasitas pengelola baik dari jumlah (quantity) dan kemampuan (quality/skill). khususnya Cagar Alam. Dikatakan strategis sebab tanpa partisipasi nyata masyarakat sekitar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni (dekat dengan Kampung Korano Jaya) beserta kegiatan-kegiatan ikutan yang menyertainya. Berdasarkan kondisi diatas maka dimasa yang akan datang. Keadaan Umum Kawasan II .62 . tidak mungkin kawasan konservasi tersebut akan lestari. Dikatakan prospektif dengan keyakinan bahwa masyarakat di dalam dan sekitar kawasan tidak akan menolak upaya pemberdayaan yang sangat terkait langsung dengan kepentingannya. fauna dan lahan untuk kebun akan semakin besar sehingga kelestarian CATB semakn menurun.850 ha) hanya di awasi oleh seorang kepala resort yang dibantu dua orang jagawana. Hal ini akan menjadi ancaman yang cukup serius terutama kawasan CATB di Bagian Barat dan Utara yang berdekatan sepanjang jalan/perkampungan. Kondisi saat ini (current situation) menunjukan bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dengan luasan yang cukup besar (± 124. Hal ini bisa terlihat dari terganggunya beberapa bagian kawasan Cagar Alam yang juga “melibatkan” masyarakat di dalam dan sekitar kawasan seperti pembukaan lahan untuk logyard milik Kopermas dan perambahan hutan untuk kegiatan perladangan (shifting cultivation).3 Peran Masyarakat (Community involvement) Kaitannya dengan pelestarian kawasan. Hal ini sangat mempengaruhi atau bahkan boleh dikatakan sebagai faktor penghambat dalam mencapai tujuan pengelolaan dan tujuan pembangunan suatu kawasan konservasi. D. Dengan semakin mudahnya akses masyarakat ke dalam kawasan CATB. Kemungkinan besar karena pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kawasan relatif kurang bahkan tidak mengerti sama sekali. Hal ini diperparah lagi dengan minimnya sarana pendukung seperti perahu motor (longboat) dan kemampuan managerial yang terbatas. peran masyarakat sekitar sangat strategis dan prospekstif. merupakan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) maka akses masyarakat kedalam kawasan CATB akan semakin mudah. Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa peran masyarakat dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam ikut menjaga kelestarian kawasan masih rendah. mulai dari Kampung Sibena sampai dengan Kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni diprediksi akan menjadi kawasan pemukiman/perkantoran/perdagangan serta aktivitas lainnya.

tentang Analisa Lingkungan PP No. tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup UU No. 3. 27 tahun 1991. tentang Perikanan UU No. tentang Pemantauan Polusi Air PP No. 69 tahun 1996. tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang 19. 29 Tahun 1986.31 tahun 2004. 27/1999 tentang AMDAL Kebijakan III . 11 tahun 1974. tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya 5.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong III. 15 tahun 1990.Swantara" Tingkat I 13. tentang Pariwisata UU No. 23 tahun 1997. tentang Irigasi UU No. 14.5 tahun 1990. UUD 1945. KEBIJAKAN A. tentang Delegasi Wewenang Perkenbunan. 10. PP No.1 . 47 tahun 1997. 7. 18. 11. 6. 16. 4. tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam 21. tentang Kehutanan UU NO. 64 tahun 1967. PP No. 24 tahun 1992. tentang Agraria UU No. Perikanan dan Kehutanan kepada Daerah . 41 tahun 1999. 8.9 tahun 1990. 20 tahun 1990. 15. 5 tahun 1994. tentang Sungai-sungai PP No. tentang Usaha Perikanan PP No. 9. 17. tentang Penataan Ruang UU No. 68 tahun 1998. 12. PP No. Pasal 33 ayat 3 UU NO. 2. Dasar Hukum Peraturan-peraturan Perundangan yang terkait dengan Pengelolaan Cagar Alam di Indonesia adalah sebagai berikut: 1.5 tahun 1960. 35 tahun 1991. tentang Tata Ruang Wilayah Nasional PP No. tentang Ratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati UU No. 20. tentang Rawa-rawa PP No. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah PP No. UU NO.

tentang Komisi Pengarah untuk Pengelolaan Klasifikasi Lahan Nasional 27. tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan. 23. BAPI (The Biodiversity Action Plan for Indonesia) 1993 meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Sebelum Keanekeragaman Hayati. 29. Ada sedikit perbedaan antara BAPI dan IBSAP. Kondisi kenaekaragaman hayati (biodiversity) Indonesia dan proses degradasi yang terjadi dapat dilihat di dalam IBSAP. 63 tahun 2002. menggantikan BAPI 1993. Dengan adanya BAPI 1993 maka Kebijakan III . B. Keppres No. perambahan hutan. penggunaan teknologi yang merusak.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 22. antara lain : BAPI 1993 digunakan hanya untuk memahami histori action plan nasional sebagai dokumen nasional pertama dalam konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia.1. Kebijakan ini dapat dilihat dalam BAPI (The Biodiversity Action Plan for Indonesia. 2003). Selain itu. Kebijakan Konservasi Biodiversity di Indonesia Indonesia memberikan perhatian yang besar kepada konservasi keanekaragaman hayati. 45 tahun 2004. Indonesia telah menyusun BAPI. PP No. yang merupakan rujukan utama yang digunakan sebagai pembanding untuk identifikasi isu-isu konservasi di Indonesia.2 . penebangan liar. 34 tahun 2002. kurangnya kelengkapan peraturan dan perundangan serta lemahnya penegakan hukum dalam bidang konservasi biodiversity/lingkungan juga menyebabkan proses degradasi semakin cepat. Sumber atau penyebab degradasi ini antara lain adalah kebakaran hutan. tentang Perlindungan Hutan Mangrove sebagai Jalur Hijau B. Keppres No. kurangnya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dan lingkungan. PP No. 28. 41 tentang Kehutanan 26. 48/1991 tentang Pengesahan Konvensi Ramsar Instruksi Mendagri No. tentang Hutan Kota PP No. 57 tahun 1989. 26/1997. 1993) dan IBSAP (Indonesia Biodiversity Strategi and Action Plan. IBSAP 2003 sebagai dokumen nasional kedua dalam konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. tentang Pengelolaan Kawasan Lindung Keppres No. 25. 32 tahun 1990. Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan 24. tentang Perlindungan Hutan BKSDA Papua II Sorong Perpu No 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang Undang No.

yaitu : 1. Memperlambat laju kehilangan tutupan hutan primer. Isu-isu yang ada dalam BAPI adalah : 1. Tujuan ataupun sasaran yang ditetapkan adalah mengkonservasi sebanyak mungkin keanekaragaman hayati untuk menjadi tumpuan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Mengembangkan ketersediaan data dan informasi tentang kekayaan keanekaragaman hayati nasional. perlindungan varietas. Prioritas dari BAPI ada 4 (empat) kegiatan utama. lahan basah. 3. partisipasi masyarakat. NGO dan kerjasama internasional juga tidak terdapat dalam dokumen BAPI 1993. Aspek sosial ekonomi.3 . mencakup kawasan hutan. Selain itu. terdiri dari konservasi in-situ dan eks-situ biodiversity. Isu yang terkait dengan aspek kebijakan. 2. terumbu karang serta habitat daratan maupun lautan lainnya yang sangat penting bagi keberadaan keanekaragaman hayati. yaitu isu mengenai kapasitas SDM Isu yang terkait dengan aspek pengelolaan biodiversity.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diharapkan akan ada panduan untuk menetapkan prioritas dan investasi di bidang konservasi keanekaragaman hayati terutama untuk periode Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) V dan VI (hingga 1999). Memperluas pemanfaatan sumberdaya hayati secara lestari dan lebih ramah lingkungan dibandingkan praktik yang telah berlangsung selama ini. Konservasi in-situ taman nasional dan kawasan lindung daratan. Konservasi sumberdaya pesisir dan laut. sehingga dapat dimanfaatkan oleh para pembuat kebijakan dan masyarakat luas. Konservasi in-situ di luar kawasan lindung. 3. pendidikan dan pelatihan. dan program penangkaran. Konservasi eks-situ melalui bank gen dan bank benih. Isu yang terkait dengan aspek sistem informasi dan teknologi. 2. Kebijakan III . yaitu isu mengenai riset dan training. serta valuasi biodiversity. BAPI 1993 juga tidak mempunyai dasar hukum formal dalam struktur perundangan nasional sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. 3. lahan basah dan kawasan budidaya pertanian. Di dalam BAPI tidak disebutkan pihak/lembaga yang dengan tegas bertanggungjawab menjamin implementasi serta pencapaian sasaran dan tujuan yang ditetapkan. Tujuan utama dari BAPI 1993 adalah : 1. 2. 4.

dan tidak partisipatif. Kebijakan III . Menyusun strategi baru yang jelas. IBSAP 2003 mempunyai tujuan : 1. Melakukan kajian atas kebutuhan dan aksi prioritas yang tercantum dalam BAPI 1993 untuk mengetahui apa saja yang sudah dicapai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. sentralistis. 4. Menentukan peluang dan kendala yang ada saat ini dalam konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan atas keanekaragaman hayati secara efektif. degradasi sumberdaya hayati. serta penegakan hukum dan kelembagaan yang lemah. terdiri dari isu masalah kebijakan yang over eksploitasi. terkait dengan kerjasama internasional dan kesadaran. 2. kemiskinan. serta kapasitas SDM yang tidak memadai. termasuk kekurangan dalam pengetahuan yang ada dan sasaran serta tindakan yang realistis untuk menutup kekurangan ini. pencemaran lingkungan.4 . Isu yang terkait dengan aspek pengelolaan biodiversity. Isu yang terkait dengan aspek kebijakan/kelembagaan. apa yang belum dilaksanakan. IBSAP (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) 2003 BKSDA Papua II Sorong IBSAP 2003 merupakan penyempurnaan dari BAPI 1993 dan merupakan strategi dan rencana aksi biodiversity nasional. 3. mencakup isu mengenai eksploitasi berlebih. 4. Isu yang terkait dengan sistem informasi dan teknologi. introduksi spesies dan varietas eksotik. Isu-isu tentang biodiversity adalah sebagai berikut : 1. dan kekeliruan penilaian sumberdaya. globalisasi bisnis keanekaragaman. serta penggunaan teknologi yang merusak. pemahaman dan kepedulian. 2. 5. Isu yang terkait dengan aspek sosial ekonomi. mencakup isu mengenai tekanan penduduk. sektoral.2. pembagian manfaat yang tidak adil. 3. Isu dalam aspek peran NGO dan kerjasama internasional. dan disertai dengan rencana aksi yang rinci. konversi habitat yang tinggi. dan mencari penyebab mengapa dana dan/atau motivasi yang diperlukan belum didapatkan. mencakup isu mengenai riset dan sistem informasi yang tidak memadai. Mengidentifikasi kebutuhan dan aksi prioritas yang baru dan merevisi rencana aksi menurut perubahan yang mungkin akan terjadi pada kebijakan lingkungan hidup di masa yang akan datang.

456/Menhut-II/2004 tanggal 29 Nopember 2004 tentang 5 (lima) Kebijakan Prioritas Bidang Kehutanan dalam Program Pembangunan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2005 – 2009 diarahkan kepada : 1. C. Kegiatan ini meningkatkan konsolidasi semua aparat Departemen Kehutanan dalam rangka meningkatkan kinerja rehabilitasi dan konservasi. 5. khususnya industri kehutanan. Pemberantasan pencurian kayu di Hutan Negara dan Perdagangan Kayu Illegal. Departemen Kehutanan sebagai struktur memerlukan penunjang antara lain teknologi yang didasarkan pada pendekatan ilmu kelautan (sebagai infrastruktur) yang implementasinya dalam bentuk tata ruang pantai. melestarikan. dan mengembangkan ekosistem hutan baik mulai dari wilayah pegunungan hingga wilayah pantai dalam suati wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS). Rehabilitasi dan konservasi Sumberdaya Hutan. wajib melaksanakan rehabilitasi hutan untuk tujuan perlindungan konservasi (Pasal 43). Berkaitan dengan hal itu. pengelola dan atau memanfaatkan hutan kritis atau produksi. Pemantapan Kawasan Hutan. Pengelolaan Hutan Lestari BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan bahwa mangrove merupakan ekosistem hutan. Adapun berdasarkan statusnya. Kebijakan III .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni C. Kegiatan ini adalah meminimalisir penebangan liar dan pencurian kayu sesuai dengan kewenangan Departemen Kehutanan. Departemen dan Kehutanan secara teknis fungsional menyelenggarakan fungsi pemerinthan pembangunan dengan menggunakan pendekatan ilmu kehutanan untuk melindungi. maka pemerintah bertanggungjawab dalam pengelolaan yang berasaskan manfaat dan lestari. Revitalisasi sektor kehutanan. termasuk struktur sosialnya. 4. Rencana Strategis Ditjen PHKA Departemen Kehutanan menetapkan kebijakan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.2. Sektor Kehutanan C. ayat 1).1. dan oleh karena itu.5 . kebersamaan. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Dalam dan Sekitar Kawasan Hutan. keadilan. keterbukaan dan keterpaduan (Pasal 2). kepada setiap orang yang memiliki. 2. hutan terdiri dari hutan negara dan hutan hak (pasal 5. Dengan demikian sasaran Departemen Kehutanan dalam pengelolaan hutan mangrove adalah membangun infrastruktur fisik dan sosial baik di dalam hutan negara maupun hutan hak. Selanjutnya dalam kaitan kondisi mangrove yang rusak. Selanjutnya dalam rangka melaksanakan fungsinya. kerakyatan. 3.

Perumusan standar.13/Menhut-II/2005 tanggal 13 Juni 2005 tentang Organisasi dan Tata Hubungan Kerja Departemen Kehutanan. Untuk itu dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Pengendalian Kebakaran Hutan. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. Pelaksanaan administrasi di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. 5. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam 5. tugas dan fungsi Direktorat Jenderal PHKA adalah merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di Bidang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. norma. 2. 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan P. 2. Pelaksanaan kebijakan di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi pelaksanaan standar. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam 4. pedoman. Pengendalian Kebakaran Hutan. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. Pengendalian Kebakaran Hutan. 6. tetapi meliputi seluruh kawasan hutan yang ada di Indonesia. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. Penyiapan rumusan kebijakan Departemen Kehutanan di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. kriteria dan prosedur di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam. 4. pedoman. Pengendalian Kebakaran Hutan. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. Pengendalian Kebakaran Hutan. norma. 7. organisasi Direktorat Jenderal PHKA di pusat dan di daerah adalah sebagai berikut : 1.6 . maka tugas PHKA tidak hanya di dalam kawasan konservasi saja. 3. kriteria dan prosedur di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. 8. Dari tugas pokok dan fungsi di atas. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. Sekretariat Direktorat Jenderal PHKA Direktorat Penyidikan dan Perlindungan Hutan Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan Direktorat Konservasi Kawasan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Balai Konservasi Sumber Daya Alam Balai Taman Nasional Kebijakan III . Ditjen PHKA menyelenggarakan fungsi: 1.

Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2004.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kegiatan Pengelolaan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. sinergis dan strategis sehingga mampu memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat secara optimal. Pernyataan Visi Keadaan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) sampai saat ini tidak banyak mengalami perubahan seperti lima tahun sebelumnya yaitu antara lain meliputi : a. dengan kata lain belum seluruhnya mempunyai batas di lapangan yang jelas. dengan demikian diperlukan adanya kegiatan-kegiatan yang bersifat strategis sehingga dapat mendukung upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. sehingga KSDAHE belum secara optimal dan efektif memberikan manfaat kepada masyarakat. Untuk itu pemahaman secara menyeluruh posisi konservasi dalam pembangunan nasional harus dipahami dan diketahui secara menyeluruh oleh seluruh personil lingkup Ditjen PHKA.13/Menhut-II/2005. Disamping itu pengelolaan kawasan belum seluruhnya dilaksanakan dengan standar. Peraturan Menteri Kehutanan P. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2004. perlu dipahami oleh seluruh unsur pengelola maupun para pihak hal-hal yang berkaitan dengan kondisi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya saat ini. Perauran Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004. norma dan kriteria yang jelas. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004.7 . Permasalahan Kawasan Sampai saat ini yang berkaitan dengan status kawasan konservasi belum secara keseluruhan sudah dikukuhkan. Sedangkan visi dan misi dan Ditjen PHKA adalah sebagai berikut : 1. untuk dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara benar dan terarah diperlukan perencanaan yang menyeluruh. Oleh karena itu. semakin lama semakin berat tantangannya. b. Rencana Stratejik Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam merupakan penjabaran dari Renstra Departemen Kehutanan dimana dalam penyusunannya didasarkan kepada Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999. Perlindungan Hutan dan Penegakan Hukum Dampak krisis multi dimensi yang dialami oleh Bangsa Indonesia mengakibatkan terjadinya permasalahan sosial yang memprihatinkan. Sehingga hal ini sering menimbulkan konflik dengan pihak lain. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. 123/KPTS-II/2001. Keputusan Menteri Kehutanan No. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004. Dalam rangka penyusunan rencana strategis di atas. beberapa kasus yang terjadi antara lain: terjadinya kesenjangan sosial. kebutuhan lahan garapan yang sangat Kebijakan III .

Didukung ”Transboundary haze pollution”. Dari visi tersebut ditetapkan empat misi Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam sebagai berikut : Kebijakan III . Hal-hal yang perlu ditingkatkan antara lain : level organisasi. norma dan kriteria yang ada. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di bidang KSDA masih perlu ditingkatkan. Sampai saat ini. sarana dan prasarana. perambahan hutan dan sebagainya). SDM. sehingga dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Pemanfaatan SDAHE Pemanfaatan flora dan fauna masih banyak menimbulkan dampak negatif seperti misalnya maraknya penyelundupan flora dan fauna. disamping itu juga membentuk organisasi pengelola yang baru. penyelundupan kayu. Kelembagaan Pemerintah dan lembaga yang menangani atau mengelola KSDAHE sampai saat ini masih jauh dari standar. Hal ini terjadi disebabkan pengelolaan hutan yang kurang baik serta ditunjang oleh kurangnya sumberdaya yang ada untuk penanggulangan kebakaran hutan. d. Dengan mempertimbangkan beberapa hal di atas maka dalam lima tahun mendatang visi yang harus dicapai dan dipahami oleh jajaran Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam baik di pusat maupun di daerah adalah : “Mewujudkan Kawasan Hutan dan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang Aman dan Mantap secara Legal Formal. 2. masih lemahnya akses masyarakat terhadap pengelolaan hutan. kecenderungan memperoleh hasil cepat melalui kegiatan illegal (over cutting. diperlukan bentuk nyata implementasinya dan menggambarkan yang seharusnya terlaksana. c. penebangan liar. dimana kebakaran hutan ini sudah menimbulkan kerugian yang sangat besar dan juga secara internasional timbul internasional. yang menjadi sorotan Kelembagaan yang Kuat dalam Pengelolaannya serta Mampu Memberikan Manfaat Optimal Kepada Masyarakat”. tetapi juga manfaat lain yang bukan dalam bentuk uang (ekonomis) juga harus diperhatikan dan ditingkatkan serta dipublikasikan tentang pentingnya manfaat KSDAHE bagi pembangunan. Gangguan terhadap kawasan konservasi dan kawasan hutan lainnya juga terjadi akibat kebakaran hutan (harmfull fire). Pernyataan Misi Untuk mewujudkan visi dalam lima tahun mendatang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong besar (lapar lahan) sehingga menimbulkan konflik lahan.8 . Manfaat kawasan konservasi tidak seluruhnya diukur dari PNBP.

Pemanfaatan SDA perlu dikelola dan dikembangkan secara optimal. Sampai saat ini PNBP bidang PHKA dirasa masih sangat kecil kontribusinya di sektor kehutanan. Adapun tujuan dari masing-masing misi Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. norma dan standar pengelolaan kawasan konservasi. Pemanfaatan SDA yang potensial untuk dikembangkan meliputi wisata alam. sehingga tidak menimbulkan konflik dengan pihak lainnya. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya Kelembagaan dan peraturan perundang-undangan yang mendukung KSDAHE masih perlu ditingkatkan. sehingga KSDAHE dapat didukung dan dilaksanakan dengan baik. Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian. sehingga tidak mencapai fungsi secara optimal. BKSDA Papua II Sorong Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Pola kemitraan perlu dikembangkan dan diwujudkan dalam pengelolaan KSDAHE. Pengelolaan KSDAHE tidak bisa dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. Misi 3. Oleh karenanya. hal ini terlihat dari laju kerusakan hutan setiap tahunnya mencapai 2. Disamping itu pengelolaan yang seharusnya dilaksanakan pada kawasan konservasi tersebut harus jelas kriteria. Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. Agar pengelolaan KSDAHE dapat tercapai tujuannya dengan baik. Misi 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni MISI DIREKTORAT JENDERAL PHKA : Misi 1. sebagai berikut: Kebijakan III .83 juta hektar. jasa lingkungan dan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar. dana sarana dan prasarana yang ada perlu dioptimalkan dan ditingkatkan. Disamping itu kebakaran hutan selalu terjadi setiap tahun pada musim kemarau. maka kawasan konservasi yang dikelola harus jelas batas-batasnya. Dengan demikian gangguan terhadap kawasan konservasi maupun kawasan hutan serta tumbuhan dan satwa liar harus dieliminir sedemikian rupa. Misi 4. Disamping itu SDM. Namun demikian tidak semua pemanfaatan jasa KSDAHE diidentikkan dengan pendapatan dalam bentuk uang. Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan.9 . maka dalam pengelolaan ini kemitraan sangat diperlukan. perlu adanya penyebarluasan informasi agar dapat dipahami oleh semua pihak. Sampai saat ini gangguan terhadap hutan dan hasil hutan semakin meningkat. Dengan adanya kejadian tersebut tentunya akan menyulitkan pengelolaan kawasan konservasi maupun kawasan hutan lainnya.

Memantapkan perencanaan. Memfasilitasi (pembinaan kawasan di luar kawasan konservasi) pengelolaan ekosistem esensial 4. Adapun sasaran dari masing-masing misi Direktorat Jenderal PHKA. Terbangunnya 20 taman nasional model 2. sebagai berikut : Misi 1 :Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Meningkatkan upaya pengawetan tumbuhan dan satwa liar Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. Meningkatkan pemanfaatan Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) dan jasa lingkungan serta mengembangkan Bina Cinta Alam 2. evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan dibidang PHKA. KPA baru di 32 Propinsi 3. kawasan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya serta pengendalian kebakaran hutan dan penegakan hukum. di Pusat dan 66 UPT 4.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Misi 1 : BKSDA Papua II Sorong Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. dengan sasaran : 1. Meningkatkan efektifitas pengelolaan KSA/KPA/TB/HL sesuai fungsi kawasan 2. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. dengan tujuan : 1. Memantapkan peraturan perundang-undangan bidang KSDAHE 6. dengan tujuan : 1. dengan tujuan : 1. dengan tujuan : Meningkatkan upaya perlindungan hutan. Mewujudkan SDM yang mampu mendukung pengelolaan KSDAHE 3. Meningkatkan pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan. Mewujudkan pemenuhan sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE 5. Meningkatkan peran masyarakat dan para pihak terkait dalam kemitraan pengelolaan KSDAHE dan perlindungan hutan.10 . Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian. Memantapkan institusi pengelola KSDAHE 2. dan TB Kebijakan III . KPA. Terselesaikannya proses pengukuhan 150 KSA. Mengembangkan KSA.

Kebun Buru dan Blok Buru (KB dan BB). Terselesaikannya site plan pada zona/blok pemanfaatan di 200 KPA dan TB 5. kelompok swadaya masyarakat. Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian dengan sasaran : 1. perusakan habitat. Terlaksananya pengendalian perburuan liarTSL di 66 UPT. HP dan kawasan konservasi (prioritas perdagangan carbon. 7. pemanfaatan air) di 15 propinsi. TB dan HL pada 200 kawasan 7. pemadaman. kebakaran hutan/hot spot dan pencurian TSL di 32 propinsi 2. Terlaksananya pengkajian. 6. Terlaksananya penangkaran jenis TSL di 66 UPT. KSA di 300 lokasi 8. Meningkatnya peran serta dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka perlindungan hutan dan pengendalian kebakaran hutan di 32 propinsi. Terlaksananya penegakan hukum terhadap tindak pidana kehutanan: perambahan kawasan. KPA. kelompok profesi serta kader konservasi di 66 UPT. penelitian dan pengembangan (kalitbang) tumbuhan dan satwa liar di 66 UPT. Terwujudnya peningkatan pengusahaan pariwisata alam di 32 propinsi 2. perburuan TSL. Terlaksananya pemanfaatan jasa lingkungan di HL.000 ha. Terwujudnya peningkatan kemampuan operasional pengendalian kebakaran hutan meliputi: pencegahan. 5. dengan sasaran : 1. KPA dan TB seluas 100. Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. peredaran hasil hutan illegal termasuk TSL. Terlaksananya evaluasi fungsi KSA.11 . Terlaksananya pembinaan habitat TSL di SM. KPA dan TB BKSDA Papua II Sorong 4. penebangan liar. 6. dan penanganan pasca kebakaran hutan di 32 propinsi 3. Terselesaikannya penetapan daerah penyangga kawasan konservasi di 66 UPT dan pembinaan daerah penyangga KPA. Terlaksananya pengendalian peredaran TSL di 32 BKSDA. Kebijakan III . Terbentuknya kader konservasi tingkat madya dan utama serta terbinanya kelompok pecinta alam. 8. Terkelolanya data informasi dan publikasi konservasi KSDAHE di pusat dan 6 UPT. 4. Terlaksananya penyiapan penyelenggaraan perburuan di 5 TB. 3. Terselesaikannya penataan zona/blok di 300 KSA.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 3.

Optimalisasi pengelolaan data informasi dan publikasi konservasi SDAHE Kebijakan III . Meningkatnya kesadaran masyarakat dan keterlibatan para pihak dalam mendukung tercapainya KSDAHE dan perlindungan hutan.KPA dan TB Percepatan penyelesaian site plan pada zona/blok pemanfaatan di 200 KPA. non struktural dan fungsional 3. Optimalisasi pelaksanaan evaluasi fungsi KSA. evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan bidang PHKA 4. 10. Adapun strategi dari masing-masing misi Direktorat Jenderal PHKA. Terlaksananya pengendalian pemeliharaan TSL untuk kesenangan di 32 BKSDA. Meningkatnya sistem perencanaan. 3. Terwujudnya peraturan perundangan yang mendukung pengelolaan KSDAHE 6. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. TB dan HL. Terwujudnya institusi yang mampu menyelenggarakan pengelolaan KSDAHE dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat 2. Misi 1 : Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. sebagai berikut : a. pada 200 kawasan 6. dengan sasaran : 1. Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan. Koordinasi pelaksanaan pembinaan habitat TSL di SM. Percepatan proses pembangunan 20 TN model Percepatan penataan zona/blok di 300 KSA. KPA.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 9. 11. 2. KPA dan TB seluas 100.KSA di 300 lokasi 7.12 . Terlaksananya pengendalian peragaan dan pertukaran TSL di 50 lembaga konservasi. Terlaksananya peningkatan budidaya tanaman obat-obatan di 66 UPT. setrategi adalah : 1. Terpenuhinya sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE di pusat dan daerah (66 UPT). TB 4. Meningkatnya jumlah dan kompetensi SDM aparatur struktural. Percepatan penyelesaian penetapan daerah penyangga kawasan konservasi di 66 UPT dan pembinaan daerah penyangga KPA. 5. 000 ha 5.

HP dan Kawasan Konservasi (prioritas perdagangan carbon . kebakaran hutan/hot spot dan pencurian TSL di 32 propinsi 2. kelompok profesi serta kader konservasi di 66 UPT 4. Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum setrategi adalah : 1. Peningkatan kemampuan operasional pengendalian kebakaran hutan meliputi : pencegahan. 5. peredaran hasil hutan illegal termasuk TSL. KB & BB) Kebijakan III . Koordinasi pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana kehutanan: perambahan kawasan. perburuan TSL. perusakan habitat. penelitian dan pengembangan (kalitbang) tumbuhan dan satwa liar di 66 UPT. pemadaman dan penanganan pasca kebakaran hutan di 32 propinsi. Kebun Buru & Blok Buru (KB. Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian. BKSDA Papua II Sorong Percepatan penyelesaian identifikasi tipe-tipe ekosistem dan terpenuhinya keterwakilannya di kawasan konservasi di 32 propinsi 9. Koordinasi penyelenggaraan habitatnya di 66 UPT b. Optimalisasi pelaksanaan pengkajian. di 32 propinsi 2.13 . Peningkatan peran serta dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa serta perlindungan hutan dan pengendalian kebakaran hutan di 32 propinsi. kelompok swadaya masyarakat. Optimalisasi pelaksanaan penangkaran jenis TSL di 66 UPT 6.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 8. penebangan liar. pemanfaatan air) di 15 propinsi 3. Koordinasi pengelolaan TSL dan kawasan konservasi yang termasuk di dalam kesepakatan internasional 10. Percepatan pembentukan kader konservasi tingkat madya dan utama serta terbinanya kelompok pencinta alam. c. Optimalisasi pelaksanaan pemanfaatan jasa lingkungan di HL. Peningkatan pengusahaan pariwisata alam. Percepatan penyelenggaraan penetapan dan pengelolaan satwa liar yang dilindungi dan tidak dilindungi (3 jenis) 12. Koordinasi pelaksanaan pemeliharaan habitat satwa migran dan ekosistem karst di 20 lokasi 11. Koordinasi pelaksanaan penyiapan penyelenggaraan per-buruan di 5 TB. strateginya adalah : 1. 3.

mengawetkan sumber daya alam Kebijakan III . Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengendalian peragaan dan pertukaran TSL di 50 pengelolaan. dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara optimal. masalah sosial.14 para pihak dalam . Meningkatkan jumlah dan kompetensi SDM aparatur struktural. dan budaya. Kebijakan Pemberantasan Pencurian Kayu di Hutan Negara dan Perdagangan Kayu Illegal Kebijakan ini dimaksudkan untuk membangun persepsi yang sama dari seluruh pemangku kepentingan bahwa pencurian kayu dan peredaran kayu illegal yang telah berkembang sangat memprihatinkan dan mengakibatkan penurunan fungsi kawasan konservasi. fragmentasi habitat. Mewujudkan peraturan perundangan yang mendukung pengelolaan KSDAHE. Kebijakan Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Hutan. Koordinasi pelaksanaan lembaga konservasi. 2. Koordinasi pelaksanaan pengendalian perburuan liar TSL di 66 UPT 8. Memenuhi sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE di pusat dan daerah (66 UPT). 9. 4. 3. evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan bidang PHKA. Meningkatkan sistem perencanaan. Koordinasi pelaksanaan pengendalian peredaran TSL di 32 BKSDA. 5. 10. 11. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Optimalisasi Pelaksanaan peningkatan budidaya tanaman obat-obatan di 66 UPT. Untuk mencapai sasaran pembangunan kehutanan bidang PHKA tahun 2005-2009. Mewujudkan institusi yang mampu menyelenggarakan pengelolaan KSDAHE. b. Koordinasi pelaksanaan pengendalian pemeliharaan untuk kesenangan di 32 BKSDA c. Meningkatkan kesadaran masyarakat dan keterlibatan mendukung tercapainya KSDAHE dan perlindungan hutan. kebijakan mengacu pada 5 (lima) kebijakan ptrioritas pembangunan kehutanan. strateginya adalah : 1. sebagai berikut : a. non struktural dan fungsional. ekonomi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 7. Kebijakan ini dimaksudkan untuk melindungi dan memelihara proses ekologis esensial dan sistem penyangga kehidupan.

mengacu pada program nasional sebagaimana program dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 serta Program Departemen Kehutanan. Dalam rangka peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi akan sangat ditentukan oleh kepastian status suatu kawasan. tujuan. Program Lingkungan Hidup. Program Pemantapan Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam. b. C. Penguatan usaha produktif masyarakat sekitar kawasan konservasi. Kebijakan Pemantapan Kawasan Hutan. c. memanfaatkan BKSDA Papua II Sorong sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian serta mempercepat pulihnya kawasan konservasi yang rusak sehingga kembali berfungsi normal. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mempercepat pemantapan penataan kawasan konservasi. e. Berdasarkan visi. misi. sehingga potensi sumberdaya alam lainnya seperti hasil hutan non-kayu (flora dan fauna) dan jenis lingkungan menjadi rusak dan hilang Kebijakan III .3. Kebijakan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Dalam dan Sekitar Hutan. c. d.15 . Program Pemantapan Keamanan Dalam Negri. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memfasilitasi serta mengakomodir kegiatan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Memperkuat kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat/para pemangku kepentingan dalam kegiatan konservasi dan rehabilitasi SDA. Program tersebut adalah: a. telah cenderung terjadinya eksploitasi hutan secara berlebihan. program pembangunan kehutanan bidang PHKA. Kebijakan Umum dan Strategi Pembangunan Cagar Alam Pola pembangunan dan pemanfaatan hutan di masa lalu yang hanya berorientasi kepada pembalakan (timber oriented) tanpa memperhatikan dan memperhitungkan nilai-nilai lingkungan/ekologi. ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Program Peningkatan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. sosial. Dampak yang diharapkan dari kebijakan tersebut adalah berkembangnya kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi melalui perolehan manfaat secara langsung atau tidak langsung bagi pelaku usaha maupun mitra. sasaran dan kebijakan. PHKA mempunyai 5 program untuk menampung kegiatan-kegiatan pembangunan kehutanan bidang PHKA. Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan d.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni hayati dan ekosistemnya.

5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. dengan memperhatikan aspek lingkungan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tanpa memberikan hasil yang optimal. Dalam UU ini. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan kita mengenal hutan dan klasifikasinya sebagai berikut : Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dan persekutuan alam lingkungannya. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian alam. yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. ekonomi. yaitu : fungsi konservasi. pengertian hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Hal tersebut telah pula memunculkan dan tumbuhnya konglomerasi. Pemerintah menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokok atas : o o o Hutan konservasi Hutan lindung. sosial dan budaya. yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan mempunyai tiga fungsi.16 . fungsi lindung dan fungsi produksi. Ketentuan hukum yang mengatur mengenai keberadaan dan pengelolaan kawasan konservasi antara lain Undang-undang No. Memperhatikan hal tersebut. dan terabaikannya hak-hak masyarakat sekitar hutan. Sedang dalam ketentuan Undang-undang No. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. serta Peraturan Pemerintah No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Undang-undang No. serta menyebabkan hilangnya akses masyarakat sekitar hutan untuk dapat menikmati kekayaan alam hutan tersebut dan kesejahteraan mereka tetap tertinggal. dan Hutan produksi Berdasarkan UU No 41 ini. Berdasarkan Undang-undang No. hendaknya program pembangunan dan pemanfaatan hutan dan kawasan konservasi dari aspek konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem di masa mendatang harus diarahkan kepada pemanfaatan yang bersifat multi fungsi. serta dengan melibatkan dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan. Sumberdaya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumberdaya alam nabati (tumbuhan) dan sumberdaya alam hewani (satwa) yang bersama-sama dengan unsur non-hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. pengertian Kebijakan III . kita mengenal kawasan konservasi dan salah satunya adalah kawasan suaka alam.

68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam : Mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa dan tipe ekosistem: Mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya. Mempunyai kondisi alam. Salah satunya adalah kawasan cagar alam Kawasan Cagar Alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia. Peran dan fungsi kawasan menjadi titik tolak kepentingan pemanfaatan dari segi nilai ekologis dan nilai finansial. melindungi dan meningkatkan fungsi kawasan konservasi. satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Cagar alam sebagai salah satu kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang memiliki fungsi pokok perlindungan serta penyangga kehidupan. dan atau Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa beserta ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah. Mempunyai ciri khas potensi dan dapat merupakan contoh ekosistem yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi. Kawasan cagar alam juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perlindungan fungsi tata air (hidro-orologis). Pemanfaatan potensi kawasan konservasi hanya akan dapat dilaksanakan secara konseptual dan terencana apabila potensi kawasan yang ada tersebut diketahui peran dan fungsinya. adalah sebagai berikut Fungsi tata air.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. Oleh karena itu pengetahuan mengenai nilai potensi merupakan hal yang penting untuk pemberdayaan manfaat kawasan konservasi.17 . Pemanfaatan kawasan konservasi dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga. Perlindungan fungsi tersebut berperan pula di dalam Beberapa fungsi dari kawasan konservasi termasuk Cagar Alam Kebijakan III . Adapun kriteria untuk penunjukan dan penetapan sebagai kawasan cagar alam seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. Mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin keberlangsungan proses ekologis secara alami.

Disamping itu beberapa jenis dari tumbuhan yang terpelihara dan terlindungi secara baik di kawasan-kawasan konservasi berperan pula untuk mencegah polusi udara dan pemanasan global. CO2 dan penyerap panas. Kawasan konservasi di daerah tropis memiliki peranan yang sekarang dikenal sebagai paru-paru dunia. Pemanfaatan kawasan konservasi untuk berperan sebagai penyerap gas karbondioksida maupun zat polutan serta sebagai penghasil oksigen maupun penyerapan efek panas dari gas rumah kaca belum banyak dikemukakan secara kuantitatif dari segi nilai ekologi maupun finansial. penangkaran satwa. nasional dan bahkan internasional. industri dan lain-lainnya. Pada kawasan cagar alam mangrove. Dimasa mendatang dimana sumberdaya air akan menjadi terbatas maka peran kawasan konservasi. dan lainlain. Pemanfaatan jasa lingkungan pada kawasan konservasi tanpa merusak lingkungan dan mengurangi fungsi utamanya seperti pemanfaatan wisata alam. Studi yang berkaitan dengan hal-hal tersebut harus mulai untuk terus dikembangkan. Studi-studi yang berkaitan dengan kepentingan pemanfaatan kawasan konservasi untuk hal tersebut harus mulai untuk dikembangkan. fungsi pengendali intrusi air asin dan pengendali banjir akan menjadi fungsi penting kawasan bagi masyarakat sekitar kawasan. budidaya tanaman obat dan tanaman hias. Merupakan bentuk kegiatan untuk mengambil hasil hutan bukan kayu dengan tidak merusak fungsi utama Kebijakan III . dan hal tersebut diharapkan akan menyadarkan mereka untuk selalu berupaya melestarikan dan menjaga keberadaan kawasan konservasi bagi kelangsungan sistem penyangga kehidupan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat secara regional. khususnya bagi penyediaan dan kelangsungan sumberdaya air untuk kawasan pemukiman. Menggunakan kawasan konservasi sebagai sumber plasma nutfah dengan tidak mengurangi fungsi utama kawasan. khususnya cagar alam dengan fungsi hidro-orologisnya akan memainkan peranan yang berarti. Pemungutan hasil hutan bukan kayu pada kawasan konservasi. pemanfaatan keindahan dan kenyamanan. yang membuat iklim mikro menjadi lebih nyaman. Manfaat O2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni mendukung perlindungan sistem penyangga kehidupan. Sumber Plasma Nutfah. berbagai jenis tumbuhan mulai dari yang bersifat semak belukar sampai bentuk pohon memiliki kemampuan untuk menyerap gas karbondioksida untuk kemudian dirubah menjadi gas oksigen. untuk plasma nutfah tersebut dibudidayakan dan dikembangkan di luar kawasan seperti antara lain untuk kepentingan budidaya jamur. BKSDA Papua II Sorong Namun peran dan fungsi tersebut nampaknya pada saat ini belum sepenuhnya dinilai secara kuantitatif dari manfaat finansial serta baru dinilai secara mikro dari nilai ekologinya. sehingga nilai-nilai pemanfaatan kawasan konservasi dari segi nilai ekologis akan semakin diketahui masyarakat luas.18 .

Berdasarkan Pasal 67 ayat (1) UU No. antara lain penelitian tentang tingkah laku satwa. Bentuk penelitian terapan. mengambil getah. Pemanfaatan tradisional yang diperbolehkan hanyalah pemanfaatan potensi kawasan berupa hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan spiritual masyarakat lokal/setempat/sekitar kawasan konservasi yang dilaksanakan oleh masyarakat lokal/setempat/sekitar taman nasional sendiri dengan mempergunakan peralatan tradisional dan sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi. Dikaitkan dengan Undang-Undang No.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kawasan konservasi. maka pengelolaan dan penelitian dan pendidikan diarahkan pada kegiatan. Sesuai fungsi kawasan konservasi. seperti untuk mengambil madu. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya maka kegiatan pemanfaatan tradisional menjadi salah satu aktivitas yang harus diadopsi dalam kegiatan pengelolaan kawasan cagar alam. satwa. Penyusunan skala prioritas pelaksanaan program penelitian yang disesuaikan dengan tujuan dan sasaran pengelolaan kawasan konservasi. Bentuk dan materi penelitian dan pendidikan perlu diarahkan dan diselaraskan dengan kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. dapat dilangsungkan dalam kawasan konservasi.19 . Pengembangan bentuk kerjasama dengan masyarakat. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan disebutkan bahwa masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan diakui keberadaanya berhak : Melakukan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan. melindungi dan meningkatkan fungsi kawasan konservasi. Melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang. ekosistem dan sosial ekonomi budaya masyarakat. meningkatkan Usaha pemanfaatan dan pemungutan tersebut dimaksudkan untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga. Untuk pendayagunaan dan hasilguna. mengambil buah. Kegiatan Penelitian dan Pendidikan. dan lain-lain. sebagai berikut : Identifikasi obyek dan jenis tumbuhan. kawasan cagar alam haruslah mengakomodasi kegiatan penelitian dan pendidikan. Mendapatkan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. misalnya penelitian tentang teknologi konservasi sumberdaya alam atau penelitian murni. Kebijakan III .

maka ditetapkan program konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di dalam pengelolaan kawasan konservasi sebagai berikut : a. untuk mewujudkan misi tersebut serta dipandu dengan ketetapan GBHN tahun 1999 yang menekankan kepada perwujudan pengelolalan sumber daya alam hutan secara lestari. antara lain diwujudkan dengan penunjukan kawasan konservasi dan hutan lindung. kekhasan. C.20 . b. c. keunikan dan keindahan sumber daya alam . guna lebih menjamin keberadaan dan keterwakilan tipe-tipe ekosistem dan gejala alam lainnya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pengembangan sistem promosi rencana penelitian dan hasil penelitian kepada masyarakat luas. Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kawasan-kawasan konservasi sehingga benar-benar mencerminkan kepentingan konservasi keanekaragaman jenis flora dan fauna. Kebijakan III . Meningkatkan pembinaan kawasan suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa) melalui penilaian keunikan dan keasliannya serta mengembangkan pengelolaannya melalui model pengelolaan yang memadai dan diharapkan mampu memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kesadaran konservasi masyarakat setempat. berkeadilan dan mandiri untuk sebesar-besarnya. kesejahteraan rakyat. Bila dimasa lalu titik berat pengelolaan kawasan konservasi lebih difokuskan pada aspek perlindungan dan pengawetan. dan berbagai upaya pengamanan dan perlindungan serta kegiatan preventif lainnya. Pengelolaan Cagar Alam Melihat kondisi dan permasalahan yang terjadi saat ini pada kawasan konservasi maka kebijaksanaan pengelolaan kawasan konservasi mengalami perubahan paradigma. rehabilitasi dan pembinaan habitat guna menjamin kelestarian populasi jenis dan pemanfaatannya. Dengan memperhatikan perkembangan keadaan yang berjalan tersebut kebijakan pembangunan kawasan konservasi termasuk cagar alam diarahkan untuk mengemban misi terwujudnya manfaat optimal konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu. d. Meningkatkan pembinaan satwa liar baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi melalui peningkatan kegiatan inventarisasi.4. Mengembangkan kawasan konservasi keanekaragaman hayati yang memenuhi persyaratan dan kriteria baik di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. penetapan jenis-jenis flora dan fauna yang dilindungi. maka bobot peningkatan dan pengembangan aspek pemanfaatan berdasarkan azas kelestarian menjadi titik berat dengan didukung perlindungan dan pengawetan yang memadai. dalam rangka mewujudkan seluruh aspek konservasi dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan konservasi termasuk cagar alam.

mendorong pemanfaatan secara lestari dan optimal dari fungsi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian. g.21 . pendidikan konservasi dan menunjang budidaya. Meningkatkan pembangunan dan pengelolaan kawasan konservasi alam melalui pengembangan pengelolaan yang mantap dan memadai. sehingga mampu memberikan manfaat dan hasil produk yang ramah lingkungan dan terstandarisasi. Kebijakan III . pemantauan dan pengawasannya secara konsisten di lapangan. Meningkatkan keterpaduan pembangunan kawasan konservasi dengan pembangunan wilayah. Meningkatkan kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam bentuk partisipasi aktif yang positif sebagai masukan bagi pemerintah dalam pelaksanaan operasional konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. h. l. j. serta diharapkan mampu memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kesadaran konservasi masyarakat setempat. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. f. Meningkatkan pembinaan konservasi keanekaragaman hayati di luar kawasan konservasi dan di luar kawasan hutan baik daratan dan perairan. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Undang-Undang No. n. Membangun dan mengembangkan peranserta aktif masyarakat disekitar hutan dan kawasan konservasi dalam mengembangkan usaha ekonomi berbasis sumberdaya alam setempat dan mampu melestarikan potensi keanekaragaman hayati yang ada. sehingga kawasan konservasi tersebut mampu mendukung dan memberikan kontribusi yang berarti bagi pembangunan wilayah serta peningkatan kesejah-teraan dan kepedulian konservasi pada masyarakat. i. Memberdayakan dan mengembangkan lebih lanjut kearifan dan tradisi masyarakat setempat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan dan lestari dalam upaya pelestarian hutan dan konservasi alam. m. Mendorong dan meningkatkan partisipasi pemerintah daerah dalam pengelolaan kawasan konservasi yang telah diproyeksikan dalam ketentuan Undang-Undang No. k.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong e. Pemanfaatan dan peningkatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam pengelolaan hutan dan kawasan konservasi. Melakukan dan mengembangkan pendekatan baru dalam analisis biaya dan keuntungan dengan memperhitungkan biaya-biaya lingkungan dan sosial dengan disertai kajian dampak lingkungan dan sosial. Meningkatkan pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hutan dari kawasan hutan dan kawasan konservasi guna peningkatan nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat disekitar hutan melalui kegiatan penunjang budidaya.

fauna. e. Peningkatan inventarisasi potensi kawasan hutan yang mencakup seluruh potensi flora. Meningkatkan supremasi hukum dan memberikan sanksi yang tegas dan jera terhadap para pelanggar yang berkaitan dengan pelestarian alam dan lingkungan. serta penegakan hukum bagi kasus penindakan pelanggaran dan perusakan kawasan. lestari. sehingga secara bertahap pengetahuan mengenai potensi dan kegunaan setiap komponen penyusun ekosistem dan dapat diungkapkan dan diketahui. p.22 . efektif dan efesien. mandiri. guna memberikan kepastian pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan dan lestari. Membangun dan menggali sumber pendanaan untuk konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem melalui trust fund atau debt for nature swap serta mendorong pengelola kawasan konservasi untuk mengembangkan kemampuan pendanaan secara mandiri di dalam pengelolaan kawasannya. Kebijakan III . termasuk membangun sistem informasi dan data base sebagai basis untuk mendukung serta membantu penyelesaian permasalahan yang dihadapi maupun pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan dan lestari.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong o. efisien. pengukuran. Pengembangan kegiatan penelitian dan ilmu pengetahuan. jasa lingkungan dan ekosistem. Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan masyarakat melalui berbagai pelatihan dan pendidikan mengenai upaya pencegahan dan penanggulangan berbagai kerusakan lingkungan dan pelestariannya. lembaga masyarakat dibidang politik dan sebagainya untuk mampu mendorong terciptanya berbagai peraturan dan kelembagaan yang mendukung upaya pelestarian alam dan lingkungan. Peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia yang mampu mendukung semua upaya pengelolaan kawasan konservasi secara efektif. Untuk pencapaian program konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di kawasan konservasi. Pengembangan partisipasi dan swakarsa masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi secara adil. berkelanjutan dan lestari. c. Pemantapan kawasan melalui kegiatan kajian potensi satuan unit pengelolaan ekosistem yang efektif dan efisien. b. maka kegiatan prioritas yang dapat dilaksanakan adalah : a. q. d. r. serta hal ini penting di dalam perencanaan pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan. Meningkatkan peran aktif para ahli konservasi. penataan batas. berkelanjutan dan lestari. pemetaan dan pengukuhan status kawasan.

Memusatkan perhatian pada permasalahan polusi laut yang timbul di daratan. Strategi Nasional Ekosistem Mangrove dan Agenda 21 Indonesia memuat antara lain : 1. serta mencari institusi dan strategi yang dapat menanggulangi permasalahan tersebut. i. evaluasi dan administrasi sumberdaya. Perencanaan terpadu dan pengembangan sumberdaya di zona pantai: Memusatkan perhatian pada masalah monitoring.23 . BKSDA Papua II Sorong Pengembangan usaha kecil menengah dan koperasi yang mampu mendorong berkembangnya iklim usaha yang kondusif dalam pemberdayaan ekonomi rakyat/masyarakat disekitar kawasan yang mampu mendukung ekonomi nasional. Pemanfaatan sumberdaya kelautan yang berkelanjutan Menyoroti kesulitan sekitar keseimbangan antara konservasi sumberdaya alam yang tidak dapat pulih dan penggunaan sumberdaya biologi secara berkesinambungan. Memonitor dan melindungi lingkungan pantai dan lautan. Pengembangan kelembagaan termasuk ketentuan peraturan perundangan. h. efektif dan efisien. organisasi pengelolaan yang secara kondusif mampu meningkatkan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistem secara lestari. 2. j. g.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni f. Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan Hutan Mangrove Pengelolaan kawasan hutan khususnya hutan mangrove di Indonesia terususun dalam suatu strategi Nasional yang merujuk kepada pola pengelolaan lingkungan di dalam Agenda 21 Indonesia. 3. Mewujudkan perlindungan dan pengamanan sumberdaya alam hayati dan ekosistem pada kawasan konservasi melalui peranserta secara aktif dari masyarakat di sekitarnya. Rehabilitasi dan revitalisasi habitat-habitat yang mengalami degradasi dan pragmentasi di dalam upaya mencegah kepunahan plasma nutfah dan penyelamatan kekayaan keanekaragaman hayati. C. Mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat pantai Mempertelakan masalah-masalah kemiskinan dan kesempatan ekonomi yang terbatas yang dihadapi masyarakat pantai. Pengembangan sistem pengawasan dan pengendalian yang diikuti dengan penerapan sanksi yang tegas pada tiap bentuk pelanggaran dan kerusakan terhadap kawasan dan potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistem agar pengelolaan dan pemanfaatannya dapat dilaksanakan secara lebih efektif dan efisien. Kebijakan III .5.

pengelolaan kawasan mangrove khususnya kawasan cagar alam haruslah sesuai dengan “prinsip pengelolaan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Adapun untuk mengarahkan pencapaian tujuan sesuai dengan jiwa otonomi daerah. Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta keselmbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upava peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Sedangkan untuk meningkatkan intensitas penguasaan teknologi dan diseminasi informasi mangrove. Untuk mencapai tujuan ini maka secara umum kebijakan yang ada berdasar dan berpedoman kepada : Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang (Pasal 2 UU No. Departemen Kehutanan membawahi Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bekerja di daerah. Pemerintah Daerah (Propinsi dan Kabupaten/Kota) serta masyarakat. Landasan dan prinsip dasar yang dibuat harus berdasarkan peraturan yang berlaku. departemen teknis yang mengemban tugas dalam pengelolaan hutan mangrove adalah Departemen Kehutanan.24 . Pemerintah (pusat) telah menetapkan Pola Umum dan Standar serta Kriteria Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Keputusan Menteri Kehutanan No. termasuk di dalamnya rehabilitasi hutan yang merupakan pedoman penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan bagi Pemerintah. 5/1990). Departemen Kehutanan sedang mengembangkan Pusat Rehabilitasi Mangrove (Mangrove Centre) di Denpasar – Bali (untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara) yang selanjutnya akan difungsikan untuk kepentingan pelatihan. dan konvensikonvensi internasional terkait dimana Indonesia turut meratifikasinya. di Langkat – Sumatera Utara (untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Di lingkup Departemen. yaitu Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) akan tetapi operasional penyelenggaraan rehabilitasi dilaksanakan Pemerintah Propinsi dan terutama Pemerintah Kabupaten/Kota (dinas yang membidangi kehutanan). (3) Penggalangan dana dari berbagai sumber. 20/Kpts-II/2001). landasan keilmuan yang relevan. Kebijakan III . penyusunan dan sebagai pusat informasi. 5/1990). Maluku dan Irian Jaya). (2) Rehabilitasi dan konservasi. Secara umum. Strategi yang diterapkan Departemen Kehutanan untuk menuju kelestarian pengelolaan hutan mangrove: (1) Sosialisasi fungsi hutan mangrove. Di dalam menyelenggarakan kewenangannya dalam pengelolaan hutan mangrove. di Sinjai – Sulawesi Selatan (untuk wilayah Sulawesi. (Pasal 3 UU No. Untuk kedepan sedang dikembangkan Sub Centre Informasi Mangrove di Pemalang – Jawa Tengah (untuk wilayah Pulau Jawa).

pembentukan wilayah pengelolaan hutan. dan akan melakukan kegiatan-kegiatan baik dalam bentuk kegiatan operasional teknis di lapangan maupun yang bersifat konseptual. Secara khusus. 41/1999). rencana atau pokok kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan hutan mangrove. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Departemen Kehutanan telah. 5/1990). penatagunaan kawasan hutan. pengukuhan kawasan hutan. 2. Secara spesifik. sedang. Operasional Teknis Sejak Tahun Anggaran 1994/1995 sampai dengan Tahun Dinas 2001. yang tersebar di 18 Propinsi. (UU No. Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. dan Dalam hal ini. (Pasal12 UU No. kegiatan operasional teknis yang dilaksanakan di lapangan oleh Balai/Sub Balai RLKT (sekarang bernama Balai Pengelolaan DAS) sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Kehutanan adalah rehabilitasi hutan mangrove di luar kawasan hutan dan di dalam kawasan hutan seluas 22.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan (Pasal 5 UU No.25 . (Pasal 34 Keppres No. Pemerintah menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. perencanaan juga memuat aspek dan informasi sebagai penyusunan rencana kehutanan. Pemerintah Kabupaten menjabarkan lebih lanjut kawasan lindung ke dalam peta yang lebih detil dengan Peraturan Daerah. Berdasarkan inventarisasi hutan. 3. 5/1990) : o o o perlindungan sistem penyangga kehidupan. Pemerintah menyelenggarakan pengukuhan kawasan hutan untuk memberikan kepastian hukum atas kawasan hutan tersebut.699 Ha melalui bantuan bibit. 41/1999). Pemerintah Propinsi menetapkan wilayah-wilayah tertentu sebagai kawasan lindung dalam suatu Peraturan Daerah. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. pembuatan unit percontohan empang parit dan penanaman/rehab bakau. dalam hal pengelolaan hutan Mangrove maka aspek perencanaan menjadi sangat penting. Kebijakan III . Inventarisasi kerusakan hutan mangrove (22 Propinsi). (Pasal14 UU No. berikut : Perencanaan Kehutanan meliputi : inventarisasi hutan. 32/1990). Penyusunan Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove.

Berdasarkan kondisi diatas. perikanan. Pengembangan Wilayah Pengembangan wilayah harus dipandang sebagai upaya pemanfaatan sumberdaya wilayah agar sesuai dengan tujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. CATB memiliki peranan yang cukup besar dalam menjaga kelestarian ekosistem di sekitar Teluk Bintuni. Akan tetapi seiring dengan rencana pembangunan yang akan dilakukan. kesenjangan antar wilayah. serta beberapa jenis burung) terdapat di dalam kawasan CATB. perkembangan sosial dan lain-lain). D.26 . pertanian. 1993. BKSDA Papua II Sorong D.1. harus ada koordinasi dengan BKSDA Papua 2 yang memiliki kantor Resort di Bintuni. pengembangan sentra-senta produksi. Kebutuhan masyarakat untuk melakukan perubahan atau upaya untuk mencegah terjadinya perubahan yang tidak diinginkan Kebijakan III . Jadi pada dasarnya harus ada dua kondisi yang harus dipenuhi di dalam perencanaan tata ruang (Clayton and Dent. alam dan buatan) untuk mewujudkan pembangunan di semua bidang. dalam Rustiadi et al. Sesuai dengan fungsinya yang merupakan kawasan konservasi. serta peningkatan kualitas hidup masyarakat adalah beberapa dari sejumlah program pembangunan yang harus dilaksanakan. kawasan CATB tidak akan terlepas dari pengaruh untuk dimanfaatkan sebagai modal pembagunan. buaya. Oleh karena itu setiap rencana pembangunan yang akan dilakukan oleh pemda. bencana alam. Penyusunan Rencana Tata Ruang Daerah Pantai Kabupaten. Penyusunan basis data pengelolaan hutan mangrove. SDA alam yang ada di kabupaten Teluk Bintuni diantaranya yaitu berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Salah satu modal pembangunan dari Kabupaten Teluk Bintuni yaitu sumberdaya alam (SDA) yaitu berupa SDA hutan. dengan demikian pengembangan wilayah adalah bagian tak terpisahkan dari tujuan pembangunan secara keseluruhan. rusa. serta gas bumi (LNG Tangguh).. pertambangan (batubara). Kabupaten Teluk Bintuni yang merupakan Kabupaten Pemekaran (12 November 2002) dari Kabupaten Manokwari harus segera memecahkan beragam permasalahan yang dihadapi masyarakat. SDA hasil perikanan merupakan SDA yang banyak terdapat di dalam kawasan CATB. Tinjauan Penataan Ruang Kota Kabupaten Teluk Bintuni Awal dari proses penataan ruang adalah beranjak dari adanya kebutuhan untuk melakukan perubahan sebagai akibat dari perubahan pengelolaan maupun akibat perubahan-perubahan keadaan (peningkatan kesejahteraan. 5. Selain itu flora serta fauna yang eksotis (mangrove.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. maka Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni dituntut untuk memaksimalkan semua sumberdaya yang ada (manusia. 2003): 1.

Adanya political will dan kemampuan untuk mengimplementasikan perencanaan yang disusun. sehingga terdapat kesulitan untuk mengetahui arahan pembangunan untuk tingkat Kabupaten. Rencana Pola Perkembangan Kota Bintuni sebagai Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kabupaten Teluk Bintuni sampai saat ini belum ada. Sasaran utama dari perencanaan tata ruang pada dasarnya adalah untuk menghasilkan penggunaan yang terbaik. ibu kota letaknya berdekatan dengan Kota Bintuni. dan 3) keberlanjutan. Tata ruang harus merupakan perwujudan keadilan dan melibatkan partisipasi masyarakat. Kebijakan III . pembangunan RDTRK Kota Bintuni dapat dijadikan sebagai dasar untuk melihat arahan yang akan mempengaruhi terhadap kawasan. karena kawasan CATB Berdasarkan RDTRK Kota Bintuni. Dokumen yang telah ada yaitu Rencana Detil Tata Ruang (RDTRK) Kota Bintuni tahun 2004. oleh karenanya perencanaan yang disusun harus dapat diterima oleh masyarakat. Gambar III-1.27 .. melainkan lahir dari adanya kebutuhan. Dengan demikian penyusunan perencanaan tata ruang pada dasarnya bukan merupakan suatu keharusan tanpa sebab.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2. dimana dalam konteks kepentingan publik pemanfaatan ruang diarahkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (publik). namun biasanya dapat dikelompokan atas tiga sasaran umum: 1) efisiensi. 2) keadilan dan akseptabilitas masyarakat. Perencanaan tata ruang juga harus berorientasi pada keseimbangan fisik dan sosial sehingga menjamin peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan. Sasaran efisiensi merujuk pada manfaat ekonomi.

karena daerah tersebut merupakan daerah hutan dataran rendah serta menjauh dari batas kawasan CATB. Dengan adanya Hak Pengusahaan Hutan (HPH) maka kondisi hutan di bagian hulu sungai tersebut semakin rusak sehingga dapat mengakibatkan erosi dan tingkat sedimentasi di setiap sungai semakin besar. Naramasa serta beberapa sungai kecil lainnya. Tirasai.. Tetapi bila sedimentasi bertambahnya sangat cepat maka laju perubahan semakin cepat dimana perubahan dari ekosistem mangrove menjadi hutan dataran rendah lebih cepat dari terbentuknya mangrove Kebijakan III . Sedimentasi yang memasuki kawasan mempunyai peran ganda. Penambahan besar erosi dan sedimentasi menyebabkan tekanan terhadap kawasan cagar alam semakin besar. Perubahan pola penggunaan lahan di hulu DAS dari hutan alam menjadi usaha hutan baik oleh masyarakat maupun HPH. Berdasarkan kondisi diatas maka dapat dilihat bahwa batas Barat Laut dan Utara kawasan CATB. Kampung Argo Sigemerai direncanakan sebagai kawasan komersil dan bisnis baru berskala regional. Agar kawasan CATB dapat terjaga dengan baik maka perlu adanya daerafh buffer antara jalan dengan batas kawasan CATB. Tatawori. serta telah dibangunnya pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni yang berjarak 27 Km sebelah Timur dari Kota Bintuni (dekat Kampung Korano Jaya). Hubungan Ruang Kawasan Cagar Alam dengan Daerah Sekitarnya Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) secara geografis merupakan daerah hilir dari beberapa sungai besar seperi Sungai Muturi. D. ditambah dengan usaha pertanian yang tidak sesuai daya dukung lahan menyebabkan laju erosi dan sedimentasi bertambah. maka setiap pemanfaatan/penggunaan lahan dilakukan di sebelah Utara jalan Trans Bintuni – Manokwari. Daerah hulu dari sungai-sungai tersebut merupakan kawasan hutan yang sampai saat ini masih merupakan hutan produksi. agar tidak terjadinya konflik kepentingan karena kawasan tersebut merupakan kawasan konservasi. Selain itu untuk pengembangan sektor lain seperti perikanan diharapkan dilakukan di luar kawasan CATB. untuk selanjutnya aliran sungai tersebut masuk ke Teluk Bintuni. Bokor.2. Kodai. Mangrove hanya bisa berkembang jika ada suplai sedimen sebagai substrat pertumbuhan. Selain itu untuk mengurangi tekanan terhadap penggunaan lahan.28 . merupakan daerah yang sangat dekat dengan perkampungan dan pusat aktivitas lainnya. sebagai potensi pendukung keberadaan ekosistem mangrove dan sekaligus ancaman. Melihat kondisi diatas maka kawasan CATB merupakan daerah buffer sebelum aliran sungai masuk ke Teluk Bintuni. Selain itu berdasarkan RDTRK Kota Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kabupaten mulai dari Kampung Sibena sampai dengan Kampung Argosigemerai (SP5). Perencanaan pengembangan sektor pertanian/perkebunan sebaiknya dikembangkan di sebelah Utara jalan Trans Bintuni – Manokwari.

Kondisi ini menyebabkan akses di dekat dan dalam kawasan sangat intens untuk transportasi. tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) bagi berbagai jenis ikan. karena memiliki peranan yang cukup penting dalam menjaga fungsinya sebagai buffer bagi aliran sungai yang masuk ke Teluk Bintuni serta sebagai ”rumah/gudang” bagi berbagai jenis hasil perikanan agar Teluk Bintuni tetap menjadi daerah penghasil ikan. udang. Jika ini berkembang terus maka luas kawasan hutan mangrove semakin kecil dan keberadaan cagar alam ini menjadi terancam.850 hektar. sehingga hal yang sangat penting untuk menjaga kelestarian kawasan CATB. merupakan ”pintu gerbang” bagi masuknya kapal penumpang/barang dari Sorong ataupun daerah lain. pola transportasi ke dan dari Kabupaten umumnya menggunakan sungai. sehingga dari perhubungan laut Kabupaten Teluk Bintuni akan terisolir.29 . dan bagi biota laut lainnya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong baru. kepiting. Berdasarkan kondisi diatas menunjukan bahwa kawasan CATB merupakan ”rumah/gudang” dari beberapa jenis hasil perikanan. kepiting (karaka) dan lain-lain. kerang. udang. Kawasan CATB mayoritas wilayahnya (lebih dari 90%) merupakan hutan mangrove (mangi-mangi) dengan luasan seluruhnya 124. Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas menunjukan bahwa kawasan CATB perlu dijaga kelestariannya. udang yang merupakan sumber pencaharian masyarakat yang berdiam di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni Pada sisi lain. Perubahan ekosistem ini akan menyebabkan terjadinya kehilangan fungsi ekonomi kawasan sebagai spawning ground bagi ikan. Melihat posisi muara sungai tersebut yang sangat dipengaruhi oleh sungai-sungai yang berasal dari kawasan CATB (terutama Sungai Muturi) dimana tingkat sedimentasinya sudah tinggi. Hal ini ditunjukan dengan berdirinya perusahaan- perusahaan perikanan. Sungai Wasian (Sungai Steenkol) yang merupakan batas alam sebelah Timur kawasan CATB. Oleh karena itu dalam kebijakan pengembangan wilayah. diharapkan agar dapat meminimalkan akses/pemanfaatan terhadap kawasan CATB agar kelestariannya dapat terjaga. yang merupakan tempat mencari makan (feeding ground). sehingga memiliki peranan yang cukup penting bagi keberlangsungan produksi perikanan di Teluk Bintuni dan sekitarnya. Kebijakan III . Teluk Bintuni terkenal sebagai daerah penghasil beberapa jenis hasil perikanan seperti ikan. salah satunya yaitu PT. Bintuni Mina Raya yang berlokasi di Wimro Distrik Babo. Dengan kondisi demikian maka bukan hal yang mustahil dimasa yang akan datang kapal-kapal tidak dapat lagi masuk ke Sungai Wasian. Selain itu banyak masyarakat yang tinggal di sekitar Teluk Bintuni atau kawasan CATB yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Hal tersebut menunjukan bahwa peranan kawasan CATB sebagai daerah buffer bagi aliran sungai yang bermuara di Teluk Bintuni cukup besar. maka berdasarkan pengamatan lapangan sedimentasi di muara Sungai Wasian semakin mempersempit muaranya.

.

2. tata ruang daerah juga belum resmi ada.1 Aspek Pengelolaan Dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi. maka tidak ada alasan untuk membatalkannya karena secara hukum. padahal pengelolaan dan pengawasan kawasan konservasi juga menjadi Analisis Permasalahan IV . Permasalahan ini juga dijumpai di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. pengelola teknis Cagar Alam Teluk Bintuni menunjukan bahwa tanggung jawab pengelolaan terkesan sepenuhnya berada di tangan KSDA Bintuni dan belum mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Status Kawasan secara yuridis formal masih lemah Status kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni sampai saat ini masih dalam status hukum penunjukan dan belum penetapan. sementara status masih penunjukan. evaluasi kondisi pengelolaan. permasalahan yang merupakan kelemahan yang bersifat teknis dan atau non-teknis merupakan hal sering terjadi. Pengelolaan dan Kebijaksanaan Aspek pengelolaan menguraikan tentang tujuan pengelolaan. Jika pemerintah daerah membuat perda dalam tata ruang yang mengurangi atau menghilangkan cagar alam.1 . ANALISIS PERMASALAHAN A. A. proses perkembangan wilayah dan tekanan terhadap cagar alam cukup besar. Disamping itu.1. Kondisi ini sangat potensial menyebabkan Informasi yang diperoleh dari kegiatan pengelolaan belum bisa maksimal dan efektif. Sedangkan aspek kebijaksanaan menguraikan tentang perkembangan kebijakan yang ada dan digunakan sebagai dasar untuk memenuhi fungsi kawasan beserta efektifitasnya.1 Permasalahan A.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong IV. keberadaan kawasan masih dalam tahap penunjukkan dan belum penetapan. dan input-input dalam rangka merumuskan strategi kebijaksanaan. Pengelolaan dan kebijaksanaan dalam analisis difokuskan kepada tujuan penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan. Kurangnya koordinasi Pengelola Cagar Alam dengan jajaran Pemerintah Daerah Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih sepenuhnya ditangani oleh institusi yang berstatus instansi pusat dan wewenang kendali ada pada BKSDA Papua II Sorong dan bukan di wilayah atau kawasan Cagar Alam. Kondisi ini secara hukum membuat kepastian kawasan menjadi sangat rawan karena ke depan. Beberapa permasalahan dari aspek pengelolaan yang berhasil teridentifikasi antara lain adalah : 1.

Numfor. Raja Ampat. 3. institusi pengelola kawasan konservasi yang ada adalah Resort KSDA Bintuni yang membawahi dua kawasan Cagar Alam. Sorong Selatan. Peran institusi pengelola belum maksimal. serta “rumitnya” mekanisme birokrasi yang harus diikuti. seperti : Kabupaten Biak.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong bagian tanggung jawab Pemerintah Daerah. koordinasi yang lemah ini juga terlihat dari ditemukannya pembangunan pemukiman masyarakat di Gambar IV-1. luas kawasan. Teluk Bintuni. Manokwari. Teluk Bintuni yang dulunya masih kecamatan dan berinduk di Propinsi Papua mempunyai kendala jarak. yaitu Cagar Alam Wagura Kote dan Cagar Alam Teluk Bintuni. Serui. Peranan institusi pengelola dalam mengikuti mekanisme koordinasi dan birokrasi dengan Pemerintah Daerah (PEMDA) juga masih kurang efektif. Teluk Wondama. Sorong. Kaimana. balai membawahi kegiatan pengelolaan kawasan di 14 Kabupaten. Hal ini di perparah lagi dengan birokrasi yang panjang yang harus di tempuh oleh institusi pengelola di daerah dalam membuat kebijakankebijakan yang menyangkut pengelolaan kawasan karena tanggungjawab dan kendali masih ada di BKSDA Papua II yang berkedudukan di Sorong. Khusus untuk Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni. beragamnya obyek yang harus dikelola. Pemukiman di Desa Anak Kasih yang dibangun Dinas Sosial Propinsi Papua dan berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan kota Sorong. Akibatnya. Ini bisa disebabkan karena adanya perbedaan struktur dan eselonisasi antara pengelola dengan dinas di dalam Pemda. Institusi pengelola kawasan konservasi di daerah. Kondisi sebagai kabupaten baru juga menjadi salah satu penyebab masalah ini muncul. Keberadaan koordinasi yang berada di Sorong dan aksesibilitas serta komunikasi ke wilayah Teluk Bintuni juga menjadi salah satu sebab kurang optimalnya peran institusi pengelola. Selain dengan pemerintah yang daerah lemah di juga Kabupaten. dalam hal ini Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Papua II merupakan perpanjangan tangan institusi pusat (PHKA). koordinasi terlihat muncul dengan pemerintah propinsi. Dalam aktivitas kegiatannya. Anak Kasih oleh Dinas Sosial Propinsi Papua dan lokasi ini berada di dalam kawasan cagar alam.2 . Analisis Permasalahan IV . Waropen. Fak-fak. Mimika. Bila dilihat dari kondisi geografis. tanggung jawab instansi ini terasa sangat berat dalam mencapai tujuan pengelolaan kawasan. Seharusnya penempatan wilayah pemukiman baru didasarkan kepada peta dan tata ruang wilayah sehingga keberadaan kawasan konservasi dan batasnya bisa menjadi pertimbangan pembangunan.

Hal ini tidak sebanding dengan luasan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.000 ha. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dari Gambar IV-2.000 Ha. Kawasan cagar alam dengan luas 125. tanpa ada longboat atau speedboat (Tabel IV-2). Kondisi personil pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005. yaitu kurang lebih 15. Dalam kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. No. Status/Golongan/ Masa Kerja PNS/III-a/22 tahun PNS/II-b/6 tahun PNS/II-b/6 tahun Kualifikasi Sarjana Hukum SLTA SLTA Keterangan Kepala Resort Jagawana Jagawana pengelola pada Tabel di atas tergambar kapasitas yang masih memadai. ada bahwa pengelola saat ini kurang Hal ini Sumber: Resort KSDA Bintuni terlihat dari kualifikasi dari pengelola yang semuanya tidak memiliki latar belakang pendidikan kehutanan. Minimnya kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. pengelolaan kawasan. yaitu kurang lebih 124. sarana dan prasarana penunjang yang ada sangat kurang. BKSDA Papua II Sorong Dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi di Kabupaten Teluk Bintuni. Pengawasan dan patroli yang efektif serta upaya untuk pembinaan dan koordinasi dengan masyarakat yang ada di dalam dan sekitar kawasan sangat tidak mendukung dengan sarana yang ada. pengelolaan dilakukan oleh Kepala Ressort dan 3 orang Jagawana (Tabel IV-1). Dari data personil kawasan Tabel IV-1. 2. dominan kawasan mangrove dan kawasan sungai hanya didukung prasarana pengelola yang sangat minim yaitu satu motor.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. 3. 1.850 ha dan Cagar Alam Wagura Kote. Dengan kekuatan pengelola seperti ini. 5. sarana prasarana yang ada masih jauh dari memadai. Khusus untuk Cagar Alam Teluk Bintuni. institusi pengelola saat ini ditunjang oleh sarana dan prasarana yang sangat minim. Satu-satu sarana transportasi dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. proses pencapaian tujuan pengelolaan kawasan akan sangat jauh dari yang diharapkan. Upaya penambahan sarana dan petugas menjadi salah satu prioritas yang harus dilakukan agar aksesibilitas pengelola ke dalam kawasan dan Analisis Permasalahan IV . Bila dilihat dari tugas dan tanggung jawab yang dituntut. tanggung jawab pengelolaan kawasan hanya ditangani oleh tiga orang personil yang terdiri dari 1 orang Kepala Resort dan 2 orang tenaga Polisi Kehutanan. Minimnya sarana dan prasarana penunjang.3 . Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan informasi dari kepala Resort KSDA Bintuni.

ternyata informasi dasar kawasan masih belum memadai dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Tidak tersedianya proporsi dana yang seimbang dengan luas kawasan. prinsip pencegahan selalu dipandang lebih baik dibandingkan dengan rehabilitasi atau perbaikan.4 . 1. hampir tidak dijumpai adanya data dan laporan hasil kegiatan yang terdokumentasi di pengelola. dan dana pameran konservasi dan tidak dikhususkan untuk pembangunan kawasan. pembinaan kader. 3. Tabel IV-2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong melakukan pembinaan masyarakat semakin baik. Perubahan kebijakan keuangan untuk pengelolaan kawasan dimana sebelumnya bersumber dari dana APBN. Salah satu contoh adalah laporan kegiatan tata batas kawasan. Dalam pengelolaan kawasan konservasi. Pembinaan masyarakat akan meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan cagar alam. Hal ini juga diperkuat dari hasil penelusuran data sekunder. 2. Informasi yang di peroleh dari pengelola kawasan menunjukkan bahwa kajian dan penelitian telah banyak dilakukan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Dari informasi kegiatan yang pernah dilakukan di kawasan Cagar Alam baik di dalam Departemen Kehutanan maupun di luar kehutanan. Sumber dana ini hanya digunakan untuk membiayai kegiatan pengelolaan kawasan yang lebih dikategorikan sebagai dana rutin seperti pengamanan kawasan. Sarana dan Prasarana Pondok kerja ukuran 36 M2 Motor Dinas Mesin ketik Sumber: Resort KSDA Bintuni 6. khususnya pengawasan dan perlindungan. Kegiatan ini sudah dilakukan tahun 1999 tetapi peta hasil pengukuran dan laporan kegiatannya tidak dijumpai sebagai dokumen di resort atau lokasi cagar alam. Akan tetapi prinsip ini belum terlaksana di Analisis Permasalahan IV . dan Pemerintah Daerah. Hal ini menjadi salah satu kelemahan sistem dokumentasi data tentang kawasan dan secara tidak langsung juga akan mempengaruhi kinerja dari pengelola kawasan 7. Data dasar kawasan. sekarang hanya menerima dana yang bersumber dari Dana Reboisasi. Kondisi sarana dan prasarana pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005 Jumlah (Unit) 1 1 2 Kondisi Sedang Buruk Rusak Keterangan Perlu perbaikan Perlu perbaikan - No. LSM. namun hasil-hasilnya tidak terdokumentasi dengan baik sebagai arsip yang ditinggalkan pada institusi pengelola baik di BKSDA Papua II Sorong maupun di Ressort Bintuni. BP Tangguh. dari data yang telah terdokumentasi yang bersumber dari beberapa stakeholder seperti Perguruan Tinggi.

Ini tergambar dari alokasi dana untuk Cagar Alam Teluk Bintuni yang sangat kecil. Disamping itu. Ketidakjelasan batas kawasan di lapangan. Disamping itu. Dalam pelaksanaan tata batas kawasan. Menurut informasi dari Kepala Resort KSDA Bintuni. Cagar Alam Teluk Bintuni membutuhkan alokasi dana yang cukup besar dalam pengelolaannya. ketidaktersediaan buku saku pengelolaan dan pedoman koordinasi juga menyebabkan upaya pengelolaan terbentur pada masalah legalitas kegiatan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Hal ini menyebabkan kegiatan pemberdayaan masyarakat sulit dilakukan dan diukur keberhasilannya. Batas yang tidak jelas dapat menyebabkan terjadinya tumpang tindih penggunaan dan sangat potensial menjadi sumber konflik. Batas kawasan yang jelas akan membuat semua pemangku kepentingan memahami dan menyadari keberadaan kawasan Cagar Alam. khusus dalam pengawasan. Ketidakjelasan batas kawasan dan kurangnya koordinasi dengan instansi terkait mengakibatkan pada beberapa bagian kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terjadi tumpang tindih dengan peruntukan lain. pola pemetaan dan kegiatan partisipatif sangat diperlukan. 9. Aksesibilitas yang dominan lewat air membutuhkan biaya patroli yang cukup besar.5 . Hal ini dapat dijumpai pada batas barat-laut kawasan dimana dijumpai adanya tumpang tindih kawasan cagar alam dengan lahan usaha II untuk peserta Analisis Permasalahan IV . padahal dari segi luas kawasan. Hal lain yang menjadi permasalahan adalah pola pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat di dalam kawasan dimana mereka umumnya adalah masyarakat tradisional yang tidak terbiasa berurusan dengan kondisi yang serba formal. Padahal perangkat ini sangat diperlukan dalam pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. penyuluhan kepada masyarakat yang berada di dalam maupun di sekitar kawasan juga sangat diperlukan agar pengelolaan kawasan bisa didukung oleh masyarakat. Pedoman dan petunjuk teknis bagi pengelolaan kawasan dan jenis yang merupakan perangkat lunak dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan masih belum tersedia di Pondok Kerja Resort KSDA Bintuni. Minimnya perangkat lunak yang tersedia. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa batas kawasan berupa pal-pal batas tidak ditemui lagi atau telah rusak dimakan usia. 8. pada tahun 1997 telah dilakukan penataan batas kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh konsultan PT BASRICO CEMERLANG dan oleh Sub BIPHUT Manokwari pada tahun 1999. Kondisi hutan mangrove yang relatif masih baik dan tekanan kerusakan yang belum besar diduga menjadi salah satu sebab kurangnya perhatian dalam pengelolaan. Untuk itu sangat diperlukan adanya pedoman bagi pelaksana teknis pengelolaan Cagar Alam.

penyebaran informasi dan sosialisasi kawasan.6 .1. pemukiman. Hal ini ditandai dengan adanya kegiatan yang berkaitan dengan pembukaan lahan untuk pembuatan tempat penimbunan kayu. Apabila kondisi ini dibiarkan akan dapat menjadi faktor penghambat dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Selain itu.2 Altenatif pemecahan masalah Dari beberapa permasalahan pengelolaan kawasan tersebut di atas. namun itupun hanya bersifat insidentil yang bersamaan dengan penelitian atau survei yang dilakukan oleh beberapa LSM konservasi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong transmigrasi nasional. A. Beberapa alternatif pemecahan masalah yang dapat diberikan sehubungan dengan kelemahan yang terjadi dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan pada Tabel IV-3. perladangan. Baik buruknya apresiasi ini sangat ditentukan Di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Analisis Permasalahan IV . Kondisi ini bisa dipahami mengingat adanya keterbatasan dari pengelola teknis kawasan untuk bisa berkunjung ke desa-desa yang menggunakan transportasi melalui air/sungai. dan penebangan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. kegiatan pengawasan kawasan pernah dilakukan beberapa kali. Kegiatan yang pernah ada hanyalah penataan kawasan berupa keterlibatan pengelola dalam kegiatan penataan batas definitif bersama konsultan PT BASRICO CEMERLANG dan oleh Sub BIPHUT Manokwari pada tahun 1999. diketahui bahwa kelemahan-kelemahan yang muncul lebih banyak di pengaruhi oleh faktor internal. Dari wawancara diketahui bahwa ini bisa terjadi karena kurangnya penyuluhan. 10. areal transmigrasi ini sudah dikeluarkan dari areal cagar alam. Kegiatan pengawasan secara periodik tidak pernah ada di Penyebab utama adalah tidak tersedianya sarana untuk melakukan pengawasan dari sungai dimana lebih dari 90% kawasan merupakan hutan mangrove sementara sarana transportasi pengelola adalah motor. pemahaman dan pengetahuan mereka. apresiasi ini terlihat masih kecil. Sejak itu tidak pernah ada kebijakan penataan sampai rencana ini disusun. Apresiasi dan pemahaman masyarakat terhadap kawasan diukur dari bagaimana masyarakat memperlakukan kawasan Cagar Alam. A.2 Aspek Kebijakan Berdasarkan penjelasan dari institusi pengelola kawasan. sampai pada saat disusunnya rencana pengelolaan kawasan ini relatif hampir tidak pernah ada kebijakan yang diambil oleh pengelola teknis (resort) untuk memenuhi fungsi kawasan. Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap kawasan. kawasan. Seharusnya dalam peta akhir tata batas.

dan Lembaga Penelitian. Pembangunan sarana dan prasarana penunjang pengelolaan seperti pembangunan kantor resort. dan Pemerintah Daerah. sehingga beban yang harus ditanggung institusi pengelola menjadi lebih ringan. Peningkatan mutu dan pemeliharaan sarana prasarana yang telah ada. pondok kerja. PEMDA Teluk Bintuni BKSDA Papua II Minim data dasar kawasan Inventarisasi potensi kawasan secara menyeluruh. baik di bidang SOSEK. Ditjen PHKA BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari. Dirjen PHKA BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari . BIOLOGI. Stakeholders Permasalahan Status Kawasan secara yuridis formal masih lemah (Kawasan CATB berstatus penunjukan) Alternatif pemecahan masalah Penanggung Jawab Peningkatan status kawasan secara yuridis formal dan ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah Kurangnya koordinasi dengan jajaran Pemerintah Daerah. Mempromosikan kegiatan penelitian dan kajian untuk menggambarkan kondisi kawasan. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. pondok jaga. LSM. BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari (koordinasi) Unipa Manokwari (koordinasi) BKSDA Papua II Unipa Manokwari . Dirjen PHKA Jakarta. dan FISIK kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel IV-3. Meningkatkan kemampuan personil pengelola melalui berbagai kesempatan pendidikan dan latihan pengelolaan kawasan konservasi yang lebih profesional. status pengelola Ditjen PHKA BAPLAN dan Pendukung BKSDA Papua II dan Biphut PEMDA Teluk Bintuni dan BKSDA Papua II. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan melalui kerjasama dengan mitra lain seperti PT. dan pengadaan perahu motor. Lembaga Penelitian. Resort KSDA Bintuni. BP Tangguh Project Minimnya sarana dan prasarana Penunjang BKSDA Papua II BP Tangguh Project. BP Tangguh Project (koordinasi) Tidak memadainya proporsi dana dengan luas kawasan Alokasi dana untuk kegiatan pengelolaan yang cukup memada melalui mekanisme skala prioritas. Membangun kerjasama dengan stakeholder yang lain seperti LSM dan Pemerintah daerah melakukan kegiatan pengelolaan kawasan. LSM (lokal dan internasional). LSM. Belum maksimalnya peranan institusi pengelola dan minimnya kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola Peningkatan kawasan. Investor. dan Lembaga Penelitian Analisis Permasalahan IV . menara pengawas. LSM lokal dan NGO BKSDA Papua II Penambahan jumlah personil pengelola. Resort KSDA Bintuni Ditjen PHKA BKSDA Papua II.7 . PEMDA Teluk Bintuni BP Tangguh Project.

BKSDA Papua II BKSDA Papua II Sorong Pendukung BP Tangguh Project. dermaga. BKSDA Biphut Papua Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap kawasan. dan Lembaga Penelitian (koordinasi) Penyederhanaan pedoman penegelolaan yang ada sehingga mudah dipahami masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. baik secara langsung seperti konversi lahan maupun tidak langsung. Ketidakjelasn batas kawasan di lapangan. Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Rekonstruksi batas kawasan bila dirasa perlu. termasuk ekosistem penyusun kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. terutama untuk kegiatankegiatan yang dapat meningkatkan keikutsertaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai penyangga sistem kehidupan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Meningkatnya tekanan ini dapat mengancam keberadaan dan kelangsungan ekosistem dan sumberdayanya. jalan. Unipa Manokwari . Pemeliharaan batas kawasan. BKSDA Papua II Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. BKSDA Papua II BKSDA Papua II Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan II.1.1 Ekosistem Kawasan CagarAlam Teluk Bintuni tersusun oleh dua ekosistem utama. jembatan. Unipa Manokwari .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Stakeholders Permasalahan Minimnya perangkat lunak Alternatif pemecahan masalah Penanggung Jawab Pembuatan pedoman pengelolaan kawasan dan jenis. Kedua ekosistem penyusun kawasan ini adalah ekosistem alami dan sebagian besar masih Analisis Permasalahan IV . B.8 . 2005. LSM. B. dan infrastruktur lainnya. misalnya pencemaran oleh limbah kegiatan pembangunan. Hal ini dapat memicu semakin meningkatnya tekanan terhadap sumberdaya alam hayati dan ekosistem yang ada di daerah ini. yaitu ekosistem hutan mangrove sebagai penyusun utama kawasan dan hutan hujan dataran rendah. Aspek Biologi Kawasan Pemekaran Kawasan Teluk Bintuni menjadi Kabupaten Teluk Bintuni membawa beberapa konsekuensi logis seperti pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi dan bertambahnya kebutuhan lahan baru untuk berbagai keperluan seperti perumahan.1 Permasalahan B. dan Lembaga Penelitian (koordinasi) BP Tangguh Project. LSM.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong terpelihara dengan baik. kecuali beberapa bagian ekosistem hutan hujan dataran rendah dan sebagian kecil hutan mangrove telah mengalami gangguan/tekanan akibat faktor manusia seperti pembukaan lahan untuk pemukiman. penebangan liar. 2005. Perladangan (cultivated land) Pemukiman penduduk Sumber: Survei Tim TNC. Kemunduran yang terjadi pada ekosistem ini sebagian besar disebabkan oleh adanya intervensi manusia seperti pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh beberapa HPH dan KOPERMAS yang beroperasi di sekitar kawasan. terutama pohon-pohon jenis komersil seperti merbau dan matoa. serta untuk keperluan pemukiman penduduk lokal. Penebangan liar (illegal logging) Keterangan Ada yang dilakukan sebelum tata batas definitif kawasan Pelaku kegiatan ini belum bisa di justifikasi dan memerlukan pengamatan yang lebih seksama. Terutama dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di dalam kawasan Memanfaatkan bekas logyard dan ada yang dibuka jauh sebelum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. perladangan. Tabel IV-4 mengindikasikan bahwa ekosistem hutan dataran rendah sedang menghadapi dua permasalahan utama. dan sebagai akibat gejala alam seperti erosi tepi dan angin. Temuan di lapangan menunjukan Analisis Permasalahan IV . pada beberapa bagian ekosistem ini telah terjadi penebangan. Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa beberapa bagian ekosistem ini.9 . Tabel IV-4. Selain itu. Permasalahan sekaligus ancaman terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Permasalahan Degradasi ekosistem Stakeholder/penyebab Pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh HPH dan Kopermas. pembuatan kebun masyarakat. dan Barat Laut kawasan CATB sebagian telah mengalami kemunduran. Ekosistem Hutan Hujan Dataran Rendah Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa permasalahan dan ancaman utama terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasan CATB adalah degradasi ekosistem yang merupakan akibat dari beberapa aktivitas manusia seperti disajikan pada Tabel IV-4. serta lahan usaha untuk peserta transmigrasi nasional. yaitu degradasi ekosistem dan tumpah tindih kawasan. baik yang berada di pulau mangrove maupun di batas Timur. tempat penimbunan kayu (logyard). Utara.

Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan sementara non aktif. informasi dari pengelola kawasan dan masyarakat yang bermukim di areal tersebut.6” S 20 03’ 04. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan sudah tidak digunakan tapi sekarang diupayakan untuk dijadikan Dermaga Fery (ASDP).56’’ E1330 34’ 47.2” S 20 06’ 04.4’’ 0 E 133 40’ 13. Tabel IV-5.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong terdapat beberapa tempat penimbunan kayu (logyard) yang terdapat dalam pada ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam (Tabel IV-5). Sumberi Kopermas Kopermas Kopermas S. Ausoi S 20 06’.2” Keterangan Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan Masih digunakan oleh Kopermas dan HPH PT Manokwari Lestari. Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh PT Yotefa Sarana Timber dan Kopermas.18. Anak Kasih.9’’ 0 E 133 51’ 38. pembukaan lahan untuk keperluan logyard Analisis Permasalahan IV . khususnya ekosistem hutan dataran rendah.3” S 20 07’. Tikamari/ Anak Kasih S.57.4’’ E133 55. Tempat-tempat tersebut setelah digunakan oleh pemegang HPH dan Kopermas belum dilakukan rehabilitasi.10 .8” Sumber: Survei Tim TNC. Awarepi Logyard SP IV Kopermas S. Muturi Logyard Anak kasih Logyard Sumberi Logyard Sp V Logyard V Kopermas S.5” S 20 09’ 30.9” E1330 40’.36. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan sudah tidak digunakan Logyard III Logyard IV PT Yotefa Sarana Timber PT Yotefa Sarana Timber S. Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh Kopermas. Bahkan terdapat beberapa logyard yang sudah tidak digunakan oleh pemegang HPH masih digunakan oleh KOPERMAS untuk tempat penimbunan kayu sebelum dilakukan pemuatan ke tongkang.5’’ S 20 02’ 39. 2005.Tirasai 0 GPS S 2 03’ 13.5’’ 0 E 133 43’ 49. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. Ausoi S.4” S 20 06’ 25. Sigirau S. Tempat Penimbunan Kayu (TPK)/ Logyard yang menempati ekosistem hutan dataran rendah dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Tahun 2005.1’’ 0 E 133 56’ 05.Henrison Iriana Lokasi S.02. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan digunakan sebagai areal pemukiman K.3” E1330 37’. Letak Logyard Logyard II Dibuka oleh PT.86. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh Kopermas. Tabel IV-5 menunjukan bahwa di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang secara hukum merupakan daerah konservasi terdapat aktivitas pembukaan lahan untuk keperluan pembuatan logyard yang jumlahnya dapat mengancam keberadaan eksositem yang ada.

11 . beberapa bagian ekosistem ini telah dibuka untuk keperluan pembuatan kebun masyarakat. dan Pulau Modan. Kebun masyarakat lokal yang bermukim di Kampung Mamuranu di kawasan CATB Nusuama. Sumberi di kawasan CATB Kegiatan perladangan/berkebun juga merupakan faktor yang memberi andil terhadap kemunduran eksositem hutan dataran rendah. Kamai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tersebut terjadi sebelum dan sesudah kegiatan tata batas kawasan. Lokasi kebun masyarakat pada ekosistem ini lebih banyak terdapat pada beberapa pulau mengrove baik berbentuk hamparan pegunungan rendah maupun bukit-bukit kecil seperti Pulau Mangrove Maniai. Kegiatan perladangan/membuka kebun ini lebih banyak dilakukan oleh masyarakat yang bermukim dalam dalam kawasan. Cara Analisis Permasalahan IV . Pembukaan lahan ini dimungkinkan karena letak areal penebangan HPH/Kopermas yang langsung berbatasan dengan ekosistem hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni. Pembukaan lahan hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove sebagai logyard di S. Sedangkan logyard yang dibangun setelah adanya tata batas kawasan semuanya dibuka oleh Kopermas. Logyard yang dibuka sebelum adanya tata batas kawasan sebagian besar dilakukan oleh pemegang HPH yang arealnya berbatasan dengan kawasan CATB. seperti yang dilakukan oleh masyarakat lokal yang yang bermukim di kampung Mamuranu dan Anak Kasih yang ada dalam kawasan CATB. Hasil pengamatan di lapangan. Namun setelah adanya tata batas kawasan. Gambar IV-3. Selain itu. Gambar IV-4. areal tersebut tidak direhabilitasi bahkan digunakan kembali oleh sebagian Kopermas yang beroperasi di sekitar wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni. sehingga pembuatan tempat penimbunan kayu (logyard) di tepi-tepi sungai yang ada dalam kawasan CATB tidak bisa terhindarkan. untuk keperluan pengangkutan kayu bulat/gergajian para pemegang HPH dan Kopermas “tidak memiliki” alternatif lain dan lebih banyak memilih alternatif melalui sungai-sungai yang ada dalam Cagar Alam Teluk Bintuni.

Pada beberapa bagian kawasan CATB. seperti juga pada kegiatan pembukaan lahan untuk logyard.0 ha tiap kepala keluarga. Lahan tersebut umumnya diusahakan selama 1 – 2 tahun (3 – 4 kali panen). Waktu (masa bera) yang diperlukan untuk mengusahakan kembali bekas kebun yang ditinggalkan adalah 3-5 tahun. (ii) pembukaan lahan pemukiman oleh pemegang HPH dalam kawasan. kemudian mereka akan berpindah ke lahan yang baru. Pembukaan lahan untuk keperluan pemukiman pada kawasan dan sekitar kawasan yang dijumpai ada beberapa bekas pola. Penanaman sesuai jenis yang akan diusahakan. c. menebang pohon-pohon tingkat pancang dan tiang. yaitu menebas semak belukar. Pembersihan lantai hutan. Analisis Permasalahan IV . keberadaanya sudah ada sejak kawasan ini belum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam. kemudian dibakar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong berkebun yang digunakan adalah sistem tebas bakar (slashed and burned system) dan telah berlangsung lama dan turun-temurun dari generasi ke generasi. Menebang pohon-pohon besar yang ada dalam lahan. Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pembukaan lahan untuk pemukiman. d. Khusus untuk pemukiman masyarakat Kampung Mamuranu yang berada dalam kawasan CATB.2 – 1. Informasi yang diperoleh dari pengelola kawasan CATB. ada yang di lakukan sebelum tata batas kawasan. Pola pembukaan lahan atau kebun masyarakat secara umum mempunyai beberapa tahapan sebagai berikut: a. Setelah kering. seperti Kampung Tirasai yang dibangun oleh PT Henrison Iriana. bekas tebangan berupa ranting dan semak belukar dikumpulkan pada suatu tempat dalam kebun dan atau di pinggiran kebun. seperti (i) memanfaatakan logyard yang ditinggalkan oleh Kopermas seperti Kampung Anak Kasih. kemudian dibiarkan beberapa waktu tertentu agar bekas tebangan mengering. yaitu Kampung Anak Kasih.12 . yaitu Kampung Tirasai dan sesudah tata batas kawasan. Salah satu logyard yang memanfaatkan sebagian ekosistem mangrove di S. kegiatan ini dilakukan sebelum adanya tata batas kawasan atau karena “ketidakjelasan” batas kawasan di lapangan. kawasan CATB telah mengalami sedikit tekanan/gangguan oleh adanya penebangan. Luas lahan yang diusahakan bervariasi antara 0. b. terutama pada bagian sebelah utara yang langsung berbatasan dengan beberapa areal konsesi HPH dan Kopermas. (iii) serta pemukiman yang masyarakat sendiri seperti dibuka oleh Kampung Mamuranu. Gambar IV-5.

Hasil pengamatan lapangan mengidentifikasi bahwa permasalahan utama yang dihadapi ekosistem ini adalah degradasi lahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia (Tabel IV-6).).). serta akibat faktor alam seperti erosi tepi sungai dan angin. 1992). dan jenis-jenis dari famili Dipterocarpaceae. Analisis Permasalahan IV . maka perlindungan. Tanarius) yang menggantikan jenis asli seperti Matoa (Pometia spp. Secara tidak langsung. pelestarian. Merbau (Intsia spp. 4. Beberapa hal yang lebih jauh dapat ditimbulkan sebagai akibat kemunduran eksositem ini antara lain: 1. Penyebab utama kemunduran ekosistem ini secara langsung adalah akibat pembukaan lahan untuk pembuatan logyard dan pemukiman penduduk. pemanfaatan oleh penduduk setempat. Masuknya jenis-jenis luar (introduksi) yang bisa menjadi sumber pembawa hama dan penyakit. Dengan melihat kondisi permasalahan dan lebih jauh yang dapat terjadi di ekosistem ini. kelembaban dan intensitas cahaya) dapat mempengaruhi pertumbuhan permudaan alam pada ekosistem ini. Terinvasinya areal-areal bekas kebun masyarakat dengan jenis-jenis tumbuhan pionir seperti Macaranga (Macaranga mappa dan M. Ekosistem mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni paling luas dan paling sedikit mendapat gangguan di kawasan Asia Pasifik dan perlu mendapat perhatian (Ruitenbeek. Ekosistem mangrove ini terlihat cukup dinamik yang diindikasikan oleh pertambahan luasan di beberapa bagian dan pengurangan luasan di bagian lain yang terjadi secara alami. Ekosistem Mangrove Ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan komunitas alami dan pertumbuhannya masih terlihat cukup baik. Perubahan iklim mikro (suhu. aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas yang memanfaatkan sungai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kemunduran ekosistem hutan dataran rendah yang disebabkan oleh beberpa hal tersebut di atas akan membawa beberapa konsekuensi terganggunya fungsi ekosistem tersebut sebagai salah satu penyusun kawasan CATB. 2. Perubahan struktur hutan yang bisa mengakibatkan terganggunya habitat yang merupakan tempat berkembangbiak jenis-jenis satwa. 3.13 . ekosistem ini juga terancam degradasi sebagai akibat dari dari pengusahaan hutan yang dilakukan di bagian atas (upland) kawasan yang tidak memperhatikan kelestarian dan keberlanjutan. dan rehabilitasi menjadi suatu hal yang mendesak di lakukan dalam rencana pengelolaan kawasan ke depan.

Aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas Pemukiman dan perumahan penduduk. dan tiang belo. Untuk keperluan kayu bakar. abrasi pantai. Pengusahaan hutan daerah atas (upland/ hinterland) yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni setelah adanya tata batas oleh kawasan Kopermas. kasus yang yang sama juga terjadi pada ekosistem ini namun pada skala luasan yang lebih kecil. 2005. dan angin.14 . tiang rumah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel IV-6. Pembukaan lahan untuk keperluan logyard tersebut terjadi sebelum kegiatan dan sesudah kegiatan tata batas kawasan. areal tersebut tidak direhabilitasi bahkan sebagian besar masih digunakan oleh HPH maupun Kopermas yang beroperasi di sekitar wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni. Permasalahan sekaligus ancaman dan penyebabnya terhadap keberadaan ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Permasalahan Degradasi ekosistem Penyebab Pembukaan lahan (land clearing) untuk tempat penimbunan kayu (logyard) HPH dan Kopermas. Keterangan Ada yang dilakukan sebelum tata batas definitif kawasan Penggunaan tongkang dalam pengangkutan kayu di sungai. Erosi tepi sungai. Bentuk gangguan ekosistem mangrove yang diakibatkan oleh tongkang pengangkut kayu log di S. terutama pada bagian pinggiran sungai. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa sebagian kecil luasan hutan mangrove ikut dibuka dalam pembukaan lahan untuk keperluan tempat penimbunan kayu (logyard). Logyard yang dibuka sebelum adanya tata batas kawasan sebagian HPH besar yang dilakukan arealnya oleh pemegang berbatasan dengan kawasan CATB. semuanya dibuka Analisis Permasalahan IV . Memanfaatkan bekas logyard dan ada yang dibuka jauh sebelum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Perubahan masukan dari ekosistem air tawar dan sedimentasi yang sangat besar Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. Sedangkan logyard yang dibangun Gambar IV-6. Seperti yang terjadi pada ekosistem hutan dataran rendah. Karena gejala manusia alam dan aktivitas Pemanfaatan pohon mangrove oleh penduduk lokal. Namun setelah adanya tata batas kawasan.

Namun menurut informasi dari pengelola kawasan bahwa pada beberapa bagian kawasan. yaitu periode Juni – Agustus yang merupakan musim monson tenggara biasanya bertiup angin tenggara yang cukup kencang dengan kecepatan lebih dari 90 km/jam. perkakas. Naramasa. Kerusakan hutan mangrove akibat erosi tepi dekat muara sungai Wasian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Degradasi ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. juga tidak jarang diakibatkan oleh faktor alam seperti erosi tepi sungai dan angin. pemanfaatan vegetasi mangrove sudah berkembang untuk keperluan kayu bakar dan bahan bangunan. Seiring dengan berkembangnya Kabupaten Teluk Bintuni dimana salah satu konsekuensi yang laju Gambar IV-7. . Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kejadian ini paling banyak terjadi pada ekosistem mangrove yang tumbuh di pinggiran pada daerah dekat muara sungai-sungai besar seperti Sungai Wasian. dan S. Muturi. pertambahan cepat. Tekanan terhadap keberadaan hutan mangrove juga datang dari pemanfaatan vegetasi mangrove oleh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan. Dari data iklim yang diperoleh.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pada beberapa bagian ekosistem ini juga dijumpai kerusakan/gangguan dalam skala kecil sebagai akibat dari kegiatan pengangkutan kayu oleh oleh HPH dan Kopermas yang memanfaatkan beberapa sungai di kawasan Cagar Alam. S. penduduk ini semakin aktivitas dapat mengancam beberapa keberadaan ekosistem pada waktu ke depan. S. terutama pada batas sebelah barat laut di pinggiran Sungai Wasian. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pemanfaatan hutan mangrove di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni hanya terbatas pada pemanfaatan hutan mangrove dalam skala tradisional/subsistem (traditional uses) untuk keperluan rumah tangga seperti kayu bakar. Sedangkan pada periode Desember Analisis Permasalahan IV . Kegiatan ini biasanya Hasil pengamatan di lapangan dan wawancara dengan penduduk lokal bahwa beberapa bagian hutan mangrove yang tumbuh di tepi-tepi sungai di kawasan ada yang tumbang atau patah yang disebabkan oleh lalu lintas Tongkang dalam mengangkut kayu dari logyard menuju ke perairan Teluk.15 . bahan bangunan rumah. menggunakan sarana Tug Boat dan Tongkang. Hal ini dimungkinkan karena hutan mangrove pada batas Barat Laut kawasan posisinya sangat dekat dengan pemukiman sehingga aksesibilitas sangat mudah. Bokor. selain diakibatkan oleh faktor manusia. sehingga masyarakat sudah mulai melakukan penebangan pohon mangrove dari jenis Bruguiera sp. pada bulan-bulan tertentu. terutama kecepatan angin. serta untuk keperluan tiang-tiang pagar dalam kegiatan mencari ikan (fishing) yang dalam istilah lokal disebut “tiang belo”. S. Tatawori.

sungai-sungai yang bermuara di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sering meluap (banjir) dengan warna air berubah menjadi coklatkeruh. yaitu lebih dari 3000 mm. Secara alami masukan air tawar dari atas ekosistem mangrove sangat diperlukan sebagai salah satu sumber unsur hara (nutrient) selain air hujan untuk pertumbuhan. Hal lain yang yang menjadi ancaman terhadap degradasi yang dihadapi ekosistem ini adalah dampak yang akan ditimbulkan oleh perubahan masukan (input) dari ekosistem air tawar. Tiupan angin kencang tersebut juga menyebabkan robohnya pohon-pohon mangrove di beberapa bagian kawasan. dan pemukiman di daerah atas diduga sebagai penyebab meningkatnya aliran permukaan yang masuk ke kawasan. dimana pada bulanbulan tertentu seperti bulan Pebruari. secara kuantitatif jumlah input air tawar meningkat namun secara kualitatif berupa kandungan bahan organik menurun. Menurut informasi penduduk setempat. kecepatan angin kadang mencapai lebih dari 30 km/jam. Material ini hanya akan tertumpuk di ekosistem ini dalam bentuk delta-delta di kelokan sungai maupun di daerah muara. Analisis Permasalahan IV . Kopermas. Hasil penelitian Lugo dan Clintron (1975) mengatakan bahwa hutan mangrove dengan komposisi pohon-pohon yang tinggi sangat rentan terhadap kerusakan bila berkembang pada kondisi aliran permukaan yang tinggi. akan berakibat pada pertumbuhan vegetasi mangrove menjadi terhambat (Lugo and Snedaker. Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa masukan air tawar yang masuk ke dalam eksosistem mangrove lebih banyak merupakan aliran permukaan. kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitar setiap tahun mendapat rata-rata curah hujan yang tinggi. Berdasarkan data iklim yang ada. Nopember. Perubahan masukan ini dapat berupa meningkatnya aliran permukaan (run-off) dan berkurangnya masukan unsur hara (nutrient) yang terjadi secara simultan. pada saat musim hujan. Pada saat masukan yang diterima lebih banyak berasal dari aliran permukaan (runoff). Apabila hal ini berlangsung dalam waktu lama. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi ekosistem daerah atas (upland) telah mengalami gangguan. Adanya beberapa HPH. Kondisi ini membuat daerah kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya sangat rentan terhadap erosi/aliran permukaan bila tidak dikelola berdasarkan asas kelestarian. Hal ini karena yang terangkut oleh runoff adalah berupa material kasar yang berasal dari lapisan tanah yang lebih dalam dan bukan merupakan bahan halus berupa humus sebagai hasil dekomposisi yang terjadi di lantai hutan di atasnya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong .19 hektar telah berkurang luasnya menjadi 6. Dari studi yang dilakukan oleh Tim TNC (2003) diketahui bahwa luasan mangrove Pulau Karaka yang menurut peta Citra Satelit Lansat tahun 1989 adalah 15.Pebruari yang merupakan musim monson barat-laut. Hilangnya sebagian luasan hutan mangrove di daerah ini diduga lebih banyak disebabkan oleh “abrasi” pantai.81 hektar berdasarkan peta Citra Satelit Lansat tahun 2002. dan Desember curah hujan bulanannya cukup tinggi. 1974).16 . Kondisi ini menyebabkan perairan di sungai-sungai besar tersebut bergelombang yang sering menghantam pinggiran sungai yang ditumbuhi vegetasi mangrove sehingga terjadi “abrasi”.

Pada habitat tersebut tumbuh berbagai spesies tumbuhan. Mamurana. reptil dan amfibi serta jenis avertebrata. Dari sejumlah jenis satwa yang ada di kawasan. mamalia. daerah asuhan (nursery ground). B. Dari segi ekologi. yaitu hutan mangrove dan hutan hujan dataran rendah. tempat berlindung. Ini sangat terlihat nyata pada ekosistem hutan dataran rendah yang letaknya berbatasan langsung dengan areal hutan produksi. daerah mencari makanan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan. undang-undang international. penahan lumpur dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan. dan minimnya data dasar tentang flora dan fauna di kawasan. serta tempat berkembang biak yang sesuai dengan kehidupan fauna juga sangat mendukung kehadiran satwa liar baik dari jenis avifauna.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Implikasi negatif terhadap keberadaan ekosistem mangrove sebagai dampak dari beberapa permasalahan tersebut di atas adalah terganggunya fungsi ekologis penting dari ekosistem ini seperti peredam gelombang dan angin badai. Kondisi fisiografi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan ketersediaan sumber daya seperti pakan. CATB. 1. air. Flora di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan suatu mosaik yang terdiri dari dua tipe vegetasi utama. kompoen flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah berkurangnya jenisjenis flora asli.17 .1. pelindung pantai dari abrasi. Terinvasinya hutan bekas perladangan oleh jenis pionir di K. keberadaanya di alam Permasalahan utama yang dihadapi oleh sudah masuk dalam kategori terancam punah. Terancamnya habitat flora setempat Hal ini merupakan dampak dari degradasi ekosistem sebagai akibat kegiatan manusia seperti pembukaan lahan untuk pembuatan logyard dan kebun masyarakat.2 Flora dan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang cukup tinggi. penurunan populasi beberapa jenis satwa liar. pemukiman dan kebun penduduk. beberapa di antaranya merupakan spesies endemik dan jenis-jenis yang keberadaannya di alam sudah dilindungi Gambar IV-8. kegiatan ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan regenerasi permudaan dari jenis-jenis asli yang pada Analisis Permasalahan IV . nasional maupun Bahkan beberapa diantara satwa yang ada. penghasil sejumlah besar detritus (daun dan dahan pohon mangrove yang rontok). baik spesies tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis maupun spesies kunci (key species).

Burung Mambruk (Goura cristata). jenis-jenis cenderawasih seperti cenderawasih minor (Paradisea minor) dan cenderawasih indah (Ptiloris magnificus). 2. Penurunan populasi satwa. dan cenderawasih minor (Paradisaea minor) misalnya. jenis-jenis burung ini masih bisa dijumpai di sekitar kampung dan masih mudah bagi mereka untuk menangkap jenis-jenis satwa ini. Mamuranu. Terganggunya beberapa bagian ekosistem kawasan membawa akibat implikasi kegiatan pada manusia perubahan Hal ini Gambar IV-9. Anak Kasih. Hal ini diduga karena jenis satwa ini sangat rentan terhadap gangguan habitat yang sekaligus tempat berkembang biak jenis-jenis satwa ini. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa penurunan populasi dan keanekaragaman jenis satwa diduga diakibatkan oleh degradasi ekosistem dan perburuan yang berlebihan (overhunting) baik yang dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan maupun pendatang dari luar kota Bintuni. Perubahan iklim mikro dan naungan dapat menekan pertumbuhan jenisjenis ini. terutama pada fase kecambah. membutuhkan habitat berupa hutan dengan karakter tajuk yang Analisis Permasalahan IV . Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pada beberapa bekas lahan yang dibuka untuk tujuan tersebut di atas.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong umumnya merupakan jenis-jenis yang tahan naungan (toleran). Akan tetapi saat ini. Kasuari kerdil (Casuarius benetti).18 . Untuk berkembang. hutan sekunder yang terbentuk didominasi jenis-jenis pionir seperti makaranga (Macaranga mappa dan Macaranga tanarius ) dan sirih hutan (Piper sp. mengakibatkan menurunnya kualitas habitat yang sangat satwa berpengaruh liar yang terhadap menghuni kehidupan beberapa tipe ekosistem di kawasan. dan Naramasa bahwa dalam kurun waktu lebih 10 tahun yang lalu. Berkurangnya keanekaragaman jenis satwa di kawasan juga diduga disebabkan oleh aktivitas beberapa industri kehutanan yang memanfaatkan kawasan Cagar sungai-sungai Alam di dalam sarana sebagai transportasi seperti kapal penarik (tug boat). Sumberi.). keberadaannya jenis-jenis satwa tersebut sangat jarang dijumpai sekitar kampung. dan pancang sangat peka terhadap perubahan iklim mikro dan naungan. khususnya biota perairan diduga juga disebabkan adanya isu penggunaan racun serangga (agriculture pesticide) dalam penangkapan hasil laut. Tirasai. Regenerasi jenis-jenis ini. semai. Penurunan populasi dan keanekaragaman jenis satwa. Jenis burung mambruk (Goura cristata) yang telah dilindung undang-undang yang populasinya terancam struktur dan komposisi vegetasi. menurut informasi penduduk yang bermukim di K. secara khusus.

faktor perburuan liar juga diduga memberi andil terhadap menurunnya populasi beberapa jenis satwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. masyarakat lokal. bahwa ada tiga pemangku kepentingan utama yang terlibat dalam perburuan satwa liar di kawasan CA. Jenis satwa buaya muara (Crocodylus porosus) yang telah dilindung undang-undang populasinya menurun akibat perburuan liar di Cagar Alam Teluk Bintuni. Selain isu degradasi ekosistem. Hal ini mengakibatkan jumlah satwa yang Analisis Permasalahan IV . diketahui Gambar IV-11. namun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. kelabu (Phalanger orientalis). serta jenis Gambar IV-10. babi hutan (Sus scrofa).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup Iebat. Bahkan hasil buruan yang telah menjadi dendeng merupakan diproses Gambar IV-12. Pada awalnya. maculatus). informasi dari pengelola kawasan. dan pedagang satwa (trader/middlemen). Habitat jenis-jenis satwa tersebut telah terdesak sebagai akibat aktivitas manusia.19 . Jenis burung kasuari kerdil (casuarius benetti) yang telah dilindung undangundang yang populasinya terancam reptil seperti buaya muara (Crocodylus porosus) dan biawak (Varanus sp. Jenis kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus) yang telah dilindung undang-undang yang sudah jarang dijumpai di hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni. seperti rusa dan babi hutan. barang oleh-oleh (souvenir) yang biasa dicari tamu-tamu yang datang ke Bintuni. serta informasi dari masyarakat setempat bahwa perburuan satwa liar.). permintaan akan daging buruan meningkat pula. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. yaitu oknum aparat keamanan. perburuan satwa dilakukan oleh masyarakat setempat untuk keperluan sendiri (subsisten). Hal yang sama juga terjadi pada beberapa satwa mamalia seperti rusa (Cervus timorensis). Kangguru kuskus dan pohon bertotol kuskus (Dendrolagus (Spilocuscus ursinus). utuh (belum BKSDA Papua II Sorong mengalami kerusakan) dengan vegetasi pepohonan besar yang tumbuh rapat dan tajuknya terdiri atas tiga strata.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
diburu semakin meningkat pula.

BKSDA Papua II Sorong

Metode perburuan yang dilakukan adalah dengan

menggunakan lampu senter dan tombak, pemasangan jerat (perangkap), dan kadang-kadang menggunakan senjata (melibatkan oknum petugas keamanan). Menurunnya populasi satwa yang sering diburu oleh pihak tersebut dapat dilihat dari trend hasil buruan yang diperoleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan yang semakin turun. Hasil dari pertemuan kampung (village meeting) yang dilakukan di beberapa kampung seperti K. Tirasai, Anak Kasih, Mamuranu, Yensei, Yakati dan Kampung Naramasa tergambar bahwa kecenderungan (trend) hasil buruan dan tangkapan masyarakat menurun tajam dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil buruan rusa dan babi misalnya, pada sepuluh tahun yang lalu masyarakat yang berburu hanya dengan menggunakan peralatan tradisional seperti lampu senter dan tombak dengan lokasi tempat berburu yang tidak terlalu jauh dari kampung

mereka, dapat menghasilkan sampai 10 ekor rusa atau babi hutan. Namun saat ini hanya bisa membawa pulang satu atau dua ekor dan tidak jarang pulang tanpa hasil buruan. Lokasi buruan pun semakin jauh dari kampung mereka. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada hasil tangkapan satwa perairan seperti ikan, udang, dan siput. Kondisi fisiografis serta ketersediaan pakan yang cukup membuat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat yang cocok bagi tempat berkembang biaknya buaya muara Crocodylus porosus. Hasil survei yang dilakukan oleh WWF-IUCN-PHPA pada tahun 1985 dan FAO-PHPA pada tahun 1988 ternyata populasi buaya di kawasan Teluk Bintuni menurun tajam. Penyebab utama menurunnya populasi buaya ini adalah karena perburuan terhadap buaya besar dan buaya kecil serta pengambilan telur yang kurang terkendali, yang merupakan salah satu mata pencaharian pokok penduduk setempat. Disamping isu penurunan populasi, keanekaragaman fauna di kawasan juga diduga mengalami pengurangan. Hal ini terlihat nyata pada jenis satwa burung yang banyak

menempati habitat mangrove dan hutan dataran rendah. Menurut hasil survei yang dilakukan Zuwendra dkk. (1991) sedikitnya teramati 95 jenis burung di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. Namun selama survei lapangan yang dilakukan hanya berhasil

tercatat kurang lebih 26 jenis burung. Dari jumlah tersebut, keberadaan beberapa beberapa jenis di antaranya diperoleh berdasarkan informasi dari penduduk yang bermukim di dalam kawasan. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa keanekaragaman jenis, khususnya jenis avifauna di kawasan mengalami penurunan yang signifikan selama 10 tahun terakhir. Selain menurunnya kualitas habitat akibat degradasi ekosistem, hal lain yang memberi andil menurunnya keanekaragaman jenis satwa di kawasan adalah aktivitas pengusahaan hutan yang menggunakan alat-alat mekanik yang menimbulkan kebisingan, khususnya penggunaan kapal penarik (tug boat) yang memanfaatkan beberapa sungai-sungai dalam kawasan. Kebisingan ini diduga mengakibatkan jenis-jenis satwa tertentu, terutama burung, bermigrasi ke tempat yang lebih “aman”.

Analisis Permasalahan

IV - 20

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
3. Kurangnya Data Dasar.

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan lain yang dihadapi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni, khususnya aspek flora dan fauna yang menempati ekosistem kawasan, adalah minimnya data flora dan fauna yang tersedia. Pengelola hampir tidak memiliki data dasar tentang flora dan fauna sehingga

pengelolaan tidak pernah didasarkan kepada informasi data. Kurangnya data dasar flora dan fauna kawasan Cagar Alam terutama disebabkan karena studi atau kegiatan penelitian tentang keberadaan fauna di kawasan masih sangat jarang. Padahal ketersediaan data dasar yang memadai, terutama data kuantitatif suatu kawasan konservasi merupakan salah satu faktor penting dalam proses pengelolaan kawasan. Beberapa aspek flora kawasan yang

dirasa belum memadai adalah daftar (check list) jenis-jenis, potensi, serta penyebaran flora di kawasan. Berdasarkan informasi-informasi tersebut, dapat diketahui jenis-jenis flora yang

merupakan spesies kunci dan spesies yang dilindungi yang sangat menunjang dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Kondisi minimnya data dasar selain terjadi pada komponen flora kawasan juga terjadi pada komponen fauna. Penelusuran data sekunder yang dilakukan menunjukan bahwa informasi tentang keanekaragaman, dinamika populasi, dan penyebaran fauna di kawasan masih kurang memadai dalam mendukung kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ketersedian informasi tersebut sangat penting guna menjawab dua pertanyaan umum yang sering muncul dan di hadapi para pengelola kawasan konservasi seperti juga kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni, yaitu: 1. Komunitas spesies apa yang terdapat dalam kawasan konservasi, dimana dan berapa jumlahnya? 2. Bagaimana kecenderungan (trend) atau dinamika populasi dari waktu ke waktu?

B.2

Altenatif pemecahan masalah

Permasalahan biologi kawasan yang lebih banyak di pengaruhi oleh faktor eksternal apabila dibiarkan akan menjadi faktor pemnghambat dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Oleh karena itu sesegera mungkin dicarikan alternatif pemecahan masalahnya (Tabel IV-7, Tabel IV-8, Tabel IV-9).

Analisis Permasalahan

IV - 21

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Tabel IV-7. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove dan nipah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi).

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh. Larangan pembukaan lahan.

Degradasi ekosistem

Pembukaan lahan (land clearing) untuk tempat penimbunan kayu (logyard) HPH dan Kopermas. Aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas. Pemukiman dan perumahan penduduk.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Dinas Pertania Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi) BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat Pemanfaat

Relokasi Logyard ke luar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bila memungkinkan. Penataan kawasan dalam bentuk pembagian blok ekosistem kedalam 2 blok, yaitu blok inti dan blok “pemanfaatan”. Minimalisasi kegiatan penebangan di daerah atas (upland) kawasan. Penindakan secara tegas dengan pemberlakuan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan tersebut. Monitoring dan kontrol secara kontinyu terhadap luasan logyard yang sudah ada sehingga tidak ada penambahan luasan areal logyard. Pemasangan tanda larangan menebang di kawasan.

Pemanfaatan pohon mangrove oleh penduduk lokal.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Erosi tepi sungai, abrasi pantai, dan angin.

Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

Perubahan masukan dari ekosistem air tawar. Penebangan liar (illegal logging). Perladangan (cultivated land)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Dinas Pertania Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Kelompok Masyarakat bermukim di dalam - sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan

Pembinaan dan penerangan tentang pentingnya kawasan.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Analisis Permasalahan

IV - 22

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah Mengikut sertakan masyarakat dalam perlindungan dan pengawasan kawasan. Pembinaan terhadap peladang di dalam kawasan melalui penerapan teknologi pemanfaatan lahan minimal dengan tetap memperhatikan kebutuhan. Anjuran penggunaan spesies lokal bukan introduksi.

Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Pendukung Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat pemanfaat. Dinas Pertanian Kab. Teluk Bintuni (Koordinasi). Kelompok Masyarakat pemanfaat. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC, 2005.

Tabel IV-8. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah 1. Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis asli yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh yang ada. 2. Penindakan secara tegas dengan pemberlakuan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan tersebut. 3. Monitoring dan kontrol secara kontinyu terhadap luasan logyard yang sudah ada sehingga tidak ada penambahan luasan areal logyard.

Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi).

Degradasi ekosistem

1. Pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh HPH dan Kopermas.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni .

Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni .

Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi).

Analisis Permasalahan

IV - 23

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah 4. Pemindahan logyard ke lokasi di luar kawasan.

Pendukung Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Polres Teluk Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan 1. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi). 2. Kelompok Masyarakat pemanfaat. 1. Kelompok Masyarakat pemanfaat. 1. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan

2. Penebangan liar (illegal logging)

1. Pemasangan tanda larangan menebang di kawasan. 2. Penegakan hukum.

3. Penyadaran tentang pentingnya kawasan.

4. Mengikutsertakan masyarakat dalam perlindungan dan pengawasan kawasan. 3. Perladangan (cultivated land) 1. Pembinaan terhadap peladang di dalam kawasan melalui penerapan teknologi pemanfaatan lahan minimal dengan tetap memperhatikan kebutuhan. 2. Anjuran penggunaan spesies lokal bukan introduksi.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Dinas Pertanian Kab. Teluk Bintuni (Koordinasi).

4. Pemukiman penduduk

Pembinaan dan penerangan tentang pentingnya kawasan.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC, 2005.

Tabel IV-9. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi). Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

Permasalahan Berkurangnya jenis-jenis flora asli

Penyebab Degradasi habitat

Alternatif pemecahan masalah 1. Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh. 2. Penegakan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan yang mengakibatkan kemunduruan habitat.

Analisis Permasalahan

IV - 24

Pendukung Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi).q Resort KSDA Bintuni Perubahan Keanekaragama n jenis satwa Penggunaan alat-alat mekanik oleh HPH dan Kopermas Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. Penyuluhan dan penerangan tentang penting keutuhan ekosistem sebagai habitat satwa dan keberadaannya di kawasan. BKSDA Papua II c. BKSDA Papua II c.25 . Pemetaan tempattempat penting bagi perkembangan satwa liar seperti tempat pemijahan biota perairan. tempat perkawinan burung. Larangan perburuan satwa liar bagi masyarakat yang bukan pemilik hak ulayat dan tidak tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan. 4.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Permasalahan Penyebab Alternatif pemecahan masalah 3. 1. 4.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c. Larangan perburuan terhadap satwa yang dilindungi dan masuk dalam kategori terancam.. Minimalisasi penggunaan peralatan mekanik dengan tingkat kebisingan yang tinggi di dalam kawasan CA.q Resort KSDA Bintuni . (sistem “sasi”) BKSDA Papua II Sorong Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c. Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Analisis Permasalahan IV . dan tempat bertelur buaya dan burung.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c. Penurunan Populasi satwa Perburuan liar/ berlebihan 1. Pembatasan perburuan satwa oleh masyarakat yang pemilik hak ulayat dan menetap di dalam dan sekitar kawasan hanya untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. 2.q Resort KSDA Bintuni .q Resort KSDA Bintuni Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni BKSDA Papua II c. Pengaturan pemanfaatan sumberdaya di kawasan. Penggunaan Racun Larangan keras menggunakan bahan kimia dalam penangkapan hasil perikanan. Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . BKSDA Papua II c. 3.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c. Relokasi Logyard ke luar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bila memungkinkan. Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). Mitra Pesisir Teluk Bintuni BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . 2. 3. Pemberdayaan masyarakat misalnya penangkaran buaya dan keramba apung di sungai.

Aspek Sosial dan Ekonomi dan Budaya Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif apabila dalam proses perencanaannya memperhatikan semua aspek termasuk aspek sosial ekonomi dan budaya.q Resort KSDA Bintuni . C.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Permasalahan Kurangnya data dasar Penyebab Minimnya studi/penelitian dan monitoring flora dan fauna di kawasan Alternatif pemecahan masalah Penelitian dan monitoring yang intensif terhadap keberadaan flora dan fauna kawasan. Koentjaraningrat (1980) menyatakan bahwa partisipasi masyarakat. yang bila dikaitkan dengan pembangunan maka akan merupakan upaya peran serta dalam pembangunan. Berdasarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan CATB. BKSDA Papua II Sorong Stakeholders Penanggungjawab Universitas Negeri Papua Manokwari Pendukung BKSDA Papua II c. Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Mitra Pesisir Teluk Bintuni Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. C. C. terutama masyarakat pedesaan dapat dibagi kedalam dua tipe.1 Rendahnya Partisipasi Masyarakat Partisipasi merupakan suatu istilah yang diartikan sebagai upaya untuk menunjukan keikutsertaan individu/kelompok dalam suatu kegiatan.1 Permasalahan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan merupakan permasalahan dari aspek sosial ekonomi dan budaya dalam rangka rencana Pola pengelolaan kawasan Sumberdaya CATB. dan (2) Partisipasi sebagai individu di luar aktivitas bersama. yaitu harus adanya dorongan atau motivasi dari luar dalam hal ini bisa di inisiasi oleh BKSDA Papua II cq Resort Bintuni atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Dari pendapat Kontjaraningrat tersebut terdapat dua sumber munculnya partisipasi masyarakat.26 . yaitu : (1) Partisipasi dalam aktivitas-aktivitas bersama dalam proyek pembangunan khusus.1. Alam. Lembaga swadaya masyarakat yang sudah melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan di sekitar kawasan CATB diantaranya yaitu LSM Mitra Pesisir. yaitu dan pengembangan partisipasi masyarakat. partisipasi masyarakat yang perlu dilakukan. Kegiatan yang sedang dilakukan sekarang adalah Analisis Permasalahan IV . Pemanfaatan Pengembangan Pendidikan dan Penelitian. yaitu partisipasi masyarakat karena dorongan atau motivasi dari luar dan partisipasi karena keinginan dari diri manusia itu sendiri. 2005.

dimana dahulu hanya 15 sampai 30 menit dari perkampungan. Selain itu daerah tangkapan sudah semakin jauh. masyarakat lokal yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni telah berinteraksi dengan kawasan dalam bentuk memanfaatkan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan.babi serta berbagai jenis burung. rusa. dan satwa burung. kepiting (karaka). Hasil pengamatan di lapangan serta infromasi dari pengelola kawasan bahwa partisipasi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan yang sangat diperlukan dalam rangka rencana pengelolaan kawasan CATB masih rendah. yaitu untuk fauna adalah berbagai jenis ikan. Informasi dari masyarakat menunjukan bahwa berburu satwa liar seperti disebutkan di atas sudah semakin sulit. Kegiatan pemanfaatan tersebut telah terjadi sejak jaman dahulu dan menjadi warisan bagi generasi sekarang. hasil tangkapan dibandingkan dengan 3-5 tahun lalu sudah semakin menurun. sekarang sudah memerlukan waktu 1 jam lebih bahkan sampai ke sekitar Teluk Bintuni. LSM tersebut dapat dijadikan sebagai mitra dalam rangka mengembangkan partisipasi masyarakat. khususnya sumber daya alam fauna baik berupa hasil tangkapan maupun buruan menurun dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Sepuluh tahun lalu satwa rusa banyak terlihat di Analisis Permasalahan IV . Hal ini diduga karena tingkat pengetahuan serta pemahaman tentang fungsi kawasan cagar alam sebagai penyanggah sistem kehidupan masih rendah. Hal ini terbukti dengan adanya tumpang tindih kawasan dengan lahan usaha II transmigrasi (Waraitama dan Banjar Ausoy) dengan luas total 360 hektar serta adanya pembangunan 54 rumah di Kampung Anak Kasih. C.1. Sedangkan flora. yaitu nipah dan tanaman mangrove serta sagu (di sekitar Yensei dan Yakati). Penyebabnya diduga karena kurangnya kegiatan sosialisasi tentang fungsi kawasan CATB.2. Hasil pengamatan di lapangan dan wawancara dengan masyarakat menunjukan bahwa kecenderungan (trend) produksi. ungkap beberapa penduduk lokal yang biasa melakukan aktivitas penangkapan hasil laut di beberapa kampung yang dikunjungi. Sumberdaya alam yang banyak dimanfaatkan antara lain. buaya. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan misalnya. sekarang hanya dapat setengah sampe 1 ember”. “Dulu kita kalo mencari bisa bawa pulang 2 sampai 3 ember.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong menyusunan rencana strategis (Renstra) Pengelolaan Kawasan Pesisir Kabupaten Teluk Bintuni. Hal yang sama juga terjadi pada kegiatan perburuan satwa liar seperti rusa. Kemungkinan besar terjadi karena minimnya media dan sarana informasi mengenai keberadaan Cagar Alam dan pelestarian alam.27 . serta beberapa kegiatan ilegal seperti perburuan dan pembukaan lahan untuk perladangan dan logyard di dalam kawasan. Pola Pemanfaatan Sumberdaya Alam Secara turun temurun. udang. babi hutan.

dapat dilihat bahwa ketergantungan masyarakat terutama yang bermatapencaharian sebagai nelayan.28 . pada umumnya hanya untuk dikonsumsi/penggunaan sendiri dengan jumlah yang cukup sedikit. Batang mangrove yang kecil biasanya diambil untuk kayu bakar. Daun nipah diambil untuk membuat atap rumah. berburu dan menokok sagu terhadap sumberdaya alam baik fauna maupun flora di dalam kawasan CATB cukup tinggi. 2. akan tetapi kearah pegunungan di luar kawasan CATB. Salah satu faktor penyebab kecenderungan (trend) produksi ini adalah pola pemanfaatan yang tidak begitu memperhatikan aspek kelestarian hasil. pengaruh dari akar bore tersebut cepat hilang (2-3 hari) di lokasi tersebut. Kondisi saat ini sudah sangat jauh berbeda. Menurut informasi beberapa nelayan dari beberapa kampung (desa) di sekitar CATB. dimana kualitas air semakin menurun (tercemar) karena penggunaan obat kimia tersebut yang dapat berakibat buruk terhadap kesinambungan hasil. Hal tersebut yang saat ini menjadi permasalahan. Penggunaan akar bore ini dilakukan pada saat “pele kali” yang membuat ikan-ikan tersebut mabuk sehingga mudah diambil. Penggunakan akar bore (tuba) dan indikasi penggunaan racun serangga (insektisida). terutama ikan. apalagi bila penggunaannya hanya dalam jumlah yang sedikit. daun nipah serta sagu. Hasil pengamatan di lapangan. Padahal jenis bahan kimia tersebut dapat mengakibatkan ikan-ikan mati serta fauna atau flora lain pun ikut mati. Dengan melihat trend hasil tangkapan yang semakin menurun maka dapat diprediksikan jumlah populasi fauna yang ada di dalam kawasan CATB semakin menurun. Sedangkan untuk masyarakat yang memanfaatkan batang mangrove. terdapat beberapa perusahaan Analisis Permasalahan IV .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong sekitar perkampungan. Tetapi bila digunakan terus menerus. Kondisi lain yang menyebabkan semakin menurunnya jenis dan jumlah perikanan di dalam CATB yaitu mulai tahun 1988 sampai dengan Februari 2005. serta yang terpengaruh hanya ikan. seperti Kampung Mamuranu dan Tirasai. Berdasarkan kondisi diatas. namun hal ini perlu pengkajian yang lebih dalam. khususnya fauna yang diduga menjadi faktor penyebab produksi tangkapan dan buruan sebagai berikut: 1. sedangkan sagu untuk konsumsi sehari-hari (di Yensei dan Yakati) . Penggunaan pukat harimau (trawl) oleh Kapal Penangkap udang. akan terjadi akumulasi dan dapat mengancam perkembangbiakan biota perairan. berhasil diidentifikasi beberapa pola pemanfaatan sumber daya alam. Dampak dari penggunaan jenis racun ini terhadap populasi biota laut seperti ikan memang tidak langsung terlihat seketika. dimana kegiatan perburuan tidak lagi di sekitar kampung atau hutan mangrove. terdapat indikasi penggunaan bahan kimia pembasmi hama (insektisida) jenis Dhesis 2. sedangkan yang besar untuk tiang rumah. Berdasarkan informasi dari pengelola kawasan dan beberapa nelayan lokal.5 dan Apoda dalam kegiatan penangkapan hasil laut.

Sebagai alternatif pemecahan masalah rendahnya partisipasi masyarakat dan adanya pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan CATB yang tidak ramah lingkungan dapat dilakukan berupa: 1. Bokor dan Naramasa. udang. serta pengawasan kawasan CATB. Seharusnya daerah penangkapan perusahaan tersebut berada di perairan Teluk Bintuni. dan bagi biota laut lainnya dapat lestari. Dengan menggunakan jaring pukat harimau (trawler) dan kapal cukup besar.29 . pelaksanaan. akan tetapi kenyataannya perusahaan tersebut menangkap udang masuk sampai ke sungai-sungai di dalam Cagar Alam Teluk Bintuni. Berdasarkan kondisi diatas. Bintuni Mina Raya yang berlokasi di Wimro. perusahaan tersebut menangkap semua hasil perikanan yang ada. sehingga fungsinya sebagai tempat mencari makan (feeding ground).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong penangkapan udang salah satunya. Saat ini perusahaan tersebut menghentikan operasi penangkapan untuk sementara waktu. maka ikan (terutama yang kecil) yang tertangkap di buang begitu saja. yaitu Sungai Muturi. akan tetapi karena perusahaan tersebut hanya mengambil udang saja. maka sebagai langkah awal perlu dilakukan proses pembelajaran bagi semua pihak baik melalui sosialisasi. yaitu PT.2 Alternatif Pemecahan Masalah Agar masyarakat sekitar kawasan CATB serta pihak-pihak yang berkepentingan lain ikut terlibat secara aktif berpartisipasi dalam perencanaan. Peningkatan (melibatkan partisipasi masyarakat masyarakat dalam setiap Gambar IV-13. dengan alasan perubahan manajemen. kerang. tentang pengadaan alam media serta informasi berbagai pelestarian aktivitas lainnya yang dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya. maka penangkapan hasil perikanan yang tidak ramah lingkungan merupakan masalah yang sangat penting dan harus segera dicarikan penyelesaiannya agar kelestarian CATB dapat dijaga. Korano Jaya dan K. tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) bagi berbagai jenis ikan. Diskusi Bersama Masyarakat K. Yensei dalam Rangka Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni kegiatan pengelolaan) serta penyuluhan yang intensif kepada masyarakat yang ada didalam dan sekitar kawasan CATB Analisis Permasalahan IV . C.

ikut dalam proses tata batas dan menyetujui batas).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2. maka Pokja disekitar kampung tersebut yang akan ikut aktif terlibat. Sebagai contoh nyata partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan CATB. Pada kegiatan tata batas. tersebut diantaranya Beberapa isu strategis dari hasil diskusi disetiap kampung yaitu masalah sosialisasi kawasan. Setelah itu dilakukan pertemuan dengan aparat pemerintah untuk mensinkronkan dengan rencana pembangunan pemerintah. dalam penyusunan rencana pengelolaan Kawasan CATB telah dilakukan diskusi di 14 kampung yang berada didalam. Gambar IV-14. terkelompokan dalam beberapa kampung. Sebagai langkah awal dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. Pada setiap kampung dibangun pengetahuan dan pemahaman tentang cagar alam dan pelestarian alam lalu dibentuk semacam kelompok kerja (Pokja) yang anggotanya dipilih oleh mereka sendiri. Diskusi tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga masyarakat yang ikut dalam diskusi tersebut terlibat aktif dan peneliti hanya berfungsi sebagai fasilitator. Kegiatan Lokakarya Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan. akan lebih efisien dan efektif apabila pengamanan dilakukan Analisis Permasalahan IV . Setiap kampung memiliki aparat serta pada umumnya berkelompok menurut asal/sukunya masingmasing.30 . Demikian juga dalam pengamanan kawasan. Proses tata batas yang dilakukan disekitar suatu kampung. pelaksana melakukan penatabatasan melibatkan masyarakat sekitar kawasan (mengetahui. pemanfaatan sumberdaya alam (flora dan fauna) serta harapan masyarakat untuk ikut terus terlibat dalam setiap kegiatan di Kawasan CATB. bersinggungan dan diluar kawasan. yaitu dalam hal tata batas (ulang) dan pengamanan kawasan. maka selanjutnya dilakukan adanya pertemuan antar Pokja dari masing-masing kampung untuk dibangun pemahaman bersama tentang pelestarian alam serta merumuskan rencana kerja yang akan dilakukan. Setelah masing-masing kampung (desa) memiliki Pokja. Adanya pengaturan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan CATB yang ramah lingkungan Masyarakat sekitar kawasan CATB. Hal ini dapat dijadikan dasar sebagai awal partisipasi mereka berdasarkan kampung (desa).

babi hutan dan burung 5. Kami dapat berkebun dan mendapat bantuan bimbingan teknis dari dinas terkait (Untuk Masyarakat di dalam kawasan) 3. Kegiatan yang ”Boleh” dilakukan antara lain adalah: 1. Kami dapat melakukan pemanfaatan kayu mangi-mangi untuk kayu bakar sendiri (bukan untuk dijual) dan kegiatan menangkap ikan ”pele kali” 4. bagaimana mengelola kawasan CATB secara bersama-sama. Tidak boleh menebang kayu di hutan tanah kering atau gunung didalam cagar alam 4.31 . Tidak boleh menggunakan obat (bahan kimia) dalam menangkap ikan. Kami boleh menangkap ikan dengan dengan menggunakan ”akar bore” dan jaring Kegiatan yang ”Tidak Boleh” dilakukan didalam kawasan CATB antara lain: 1. Kami dapat melakukan penangkapan hasil-hasil perikanan seperti ikan. Sebagai langkah awal untuk melakukan ”Pengaturan pemanfaatan sumberadaya alan didalam kawasan CATB”. Kami dapat berburu hewan atau satwa liar seperti buaya. Pada hari pertama lokakarya diadakan pertemuan khusus untuk masyarakat dan pada hari kedua dilakukan pertemuan dengan semua stakeholder.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong oleh seluruh masyarakat (Pokja) yang ada di sekitar kawasan CATB. rusa. siapapun boleh mencari makan didalam kawasan tanpa memandang suku/marga/batas-batas wilayah adat asalkan mematuhi aturan kesepakatan yang sudah dibuat. pada pertemuan hari pertama dihasilkannya ”Kesepakatan Masyarakat” yang ditandatangani oleh perwakilan dari 14 kampung. Tidak boleh kapal besar atau kapal udang atau kapal pukat harimau untuk beroperasi di dalam kawasan cagar alam Butir-butir Analisis Permasalahan IV . karaka. Tidak boleh menebang mangi-mangi atau bakar dari cagar alam dalam skala besar untuk keperluan usaha kayu atau tambak atau lainnya 3. Diskusi disetiap kampung tersebut. kesepakatan tersebut antara lain : Dalam pemanfaatan sumberdaya alam di dalam Kawasan CATB. udang dll 2. Tidak membolehkan kapal-kapal yang berlayar di sungai untuk membuang sampah atau limbah minyak atau bahan kimia ke sungai 5. udang. siput atau bia dan hasil laut lainnya 2. ditindaklanjuti dengan mengadakan Lokakarya Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan CATB pada tanggal 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan. dimana sebelumnya telah terbentuk kesepakatan mengenai keharusan menjaga wilayah kampung (desa) masingmasing terutama yang masuk kedalam kawasan CATB dari usaha-usaha yang dapat merusak kelestariannya.

Masyarakat mengharapkan masih bisa memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di dalam kawasan terutama hasil perikanan. Resort Bintuni) karena hal tersebut merupakan aspirasi/harapan dan niat dari masyarakat sekitar kawasan CATB untuk ikut aktif dalam melestarikan kawasan tetapi tanpa melupakan kebutuhan hidup masyarakat seharihari. menebang mangrove untuk industri atau tambak serta pelarangan kapal trawl/pukat harimau masuk kedalam kawasan CATB. Akan tetapi hal tersebut perlu didukung oleh sosialisasi dan penyuluhan yang baik dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat. Untuk itu masyarakat mengharapkan pemerintah melakukan hal-hal : 1. Butir-butir ”Kesepakatan Masyarakat” tersebut merupakan suatu upaya untuk ”mengatur pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan CATB”. Karena kita sadari bersama bahwa peranan masyarakat sekitar terhadap kelestarian kawasan CATb sangat besar. serta perlu ditanggapi secara bijak oleh pihak pengelolaa (BKSDA Papua II Sorong cq. Pembentukan kelompok kerja disetiap kampung yang ada di dalam dan sekitar kawasan yang akan dilibatkan dalam pelaksanaan rencana kegiatan pengelolaan Masyarakat juga berharap pemerintah daerah turut mendukung kegiatan pengelolaan cagar alam. Kami akan menangkap langsung pelanggaran aturan yang sudah disepakati bersama 3. masyarakat akan mendukung berupa : 1. Kami meminta pemerintah daerah memberikan perhatian lebih besar pada pendidikan masyarakat.32 . Hal ini menunjukan bahwa masyarakat berkeinginan untuk tetap menjaga kelestaraian kawasan CATB. Membuat peraturan daerah mengenai cagar alam 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. Pemanfaatan ini tetap diimbangi dengan adanya larangan menggunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. Tidak boleh ada eksplorasi bahan tambang di dalam kawasan cagar alam Teluk Bintuni Untuk mendukung pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Apabila kondisi sosial ekonomi masyarakat Analisis Permasalahan IV . dan satwa liar serta mangrove secara terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (ekonomi). Melakukan pembinaan dan penyuluhan serta pendampingan yang terus menerus kepada masyarakat di dalam dan sekitar cagar alam. Karena bukan hal yang tidak mungkin suatu saat nanti akan datang investor yang menawarkan sejumlah uang untuk membuka usaha (tambak dll) didalam kawasan dengan memanfaatkan ”masyarakat adat” yang mayoritas kurang mampu secara ekonomi. Kami akan melaporkan pelanggaran kesepakatan yang terjadi kepada pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni 2. khusus untuk peningkatan ekonomi masyarakat 3.

Permasalahn dan alternatif pemecahan terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Mitra Pesisir Teluk Bintuni Permasalahan Rendahnya Pengetahuan dan pemahaman tentang Cagar Alam Rendahnya Partisipasi Masyarakat Penangkapan Hasil Perikanan yang Tidak Ramah Lingkungan (Penggunakan akar bore (tuba) dan Indikasi penggunaan racun serangga) Alternatif pemecahan masalah Penyuluhan tentang Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni Melibatkan masyarakat dalam setiap kegiatan Penyuluhan dan penerangan yang intensif kepada masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Tumpang tindih antara Batas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dengan Penggunaan Lahan lain. Analisis Permasalahan IV .q Resort KSDA Bintuni . sosialisasi serta adanya pengaturan pemanfaatan sumberdaya alam didalam kawasan CATB. 2. kerajinan dari kulit buaya. khususnya nelayan tentang bahaya dari penggunaan bahan kimia terhadap kesinambungan hasil tangkapan Penegakan hukum Penggunaan pukat harimau (Trawl) oleh Kapal Penangkap udang di dalam kawasan CATB Adanya Perkampungan di dalam Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) BKSDA Papua II c.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tetap menjadi perhatian. Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c. Berikut adalah rangkuman permasalahan dan alternatif pemecahan masalah terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan pada Tabel IV-10. Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi).q Resort KSDA Bintuni. maka masyarakat sekitar kawasan CATB diharapkan tidak akan mudah tergoda oleh para pengusaha yang hanya melihat keuntungan ekonomi saja. 2005. Pemberdayaan masyarakat (Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis.q Resort KSDA Bintuni .abon.33 . BKSDA Papua II c. Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). dan budidaya pertanian) Rekonstruksi Batas Pal Tata BKSDA Papua II c. Tabel IV-10.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c. BKSDA Papua II c. Dengan alternatif pemecahan masalah yaitu berupa peningkatan peran serta masyarakat.q Resort KSDA Bintuni Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Pendukung Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan 1. maka diharapkan kawasan CATB dapat dijaga kelestariannya dan masyarakat sekitar bisa meningkatkan taraf kehidupannya secara sosial dan ekonomi.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC.

Pembangunan fisik yang tidak sesuai fungsi dan peruntukan kawasan tidak dijumpai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni D.34 . Masyarakat sadar dan secara bersama-sama memelihara keutuhan kawasan. berkelanjutan dan berdayaguna. yang mengfokuskan pemikiran ke masa depan bukan pada masa kini atau masa lampau. didukung Peraturan Daerah dan keberadaan kawasan Cagar Alam terlihat jelas dalam Tata Ruang Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni. Kebijakan yang ideal dan didukung oleh kelembagaan baik pengelola kawasan maupun pemangku kepentingan lainnya yang bersifat demokratif akan membuat terciptanya program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari. Tidak ada klaim hak ulayat dari masyarakat adat terhadap keberadaan kawasan. Pemberdayaan masyarakat asli/pemilik ulayat berjalan efektif. Tidak ada lagi konflik kepentingan antar pemangku kepentingan dalam kawasan. Dukungan dan partisipasi aktif dari semua pemangku kepentingan membuat pengelolaan kawasan bersifat aspiratif. Skenario ini dapat pula menghasilkan suatu strategi yang kokoh. Berikut adalah beberapa skenario yang didasarkan pada kondisi kawasan yang mungkin dapat diterapkan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai tahun 2030. merangsang pemikiran dan perdebatan mendalam atas isu pokok penting. Skenario Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Perencanaan Skenario adalah sebuah alat manajemen yang strategis yang dapat merangsang berbagai pemikiran mengenai kemungkinan–kemungkinan di masa depan. D. Sasaran akhir dari skenario ini adalah penyadaran publik telah terbentuk secara mantap bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama. Pemanfaatan terbatas oleh masyarakat adat di bawah bimbingan pengelola. Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni telah dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah Pusat dalam hal ini BKSDA Papua II Sorong dan sudah disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan. Beberapa ciri skenario ini antara lain: Status kawasan yang sudah jelas sebagai kawasan Cagar Alam melalui penetapan Menteri Kehutanan. Analisis Permasalahan IV .1 Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Demokratik Skenario ini merupakan kondisi ideal yang dapat diwujudkan dan merupakan skenario yang didambaan kita semua. Skenario ini menggambarkan situasi dimana kebijakan Pemerintah Pusat (Departemen Kehutanan) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni yang dapat mengakomodir semua kepentingan stakeholder yang ada dengan tetap memperhatikan fungsi dan peruntukan kawasan.

Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Demokratik Skenario ini menggambarkan kondisi dimana kebijakan pengelolaan kawasan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak mempertimbangkan aspek kelestarian dan keutuhan kawasan. antara lain : Kebijakan pembangunan sarana fisik dalam kawasan yang tidak berhubungan dengan fungsi kawasan sebagai Cagar Alam masih diijinkan. namun para pemangku kepentingan dalam kawasan (stakeholders) tidak memperhatikan atau melaksanakannya. Pada akhirnya. Dalam skenario ini. Kelompok pemerhati lingkungan ini berasal dari masyarakat pemilik ulayat. Kebijakan yang dikeluarkan hanya didasarkan pada pertimbangan ekonomi daerah dan untuk kepentingan kelompok tertentu semata dengan dalih kepentingan masyarakat secara umum. Kelompok ini memperjuangkan terbentuknya kelembagaan pengelolaan yang demokratif dan partisipatif. Namun demikian. walaupun pemanfaatan kawasan oleh pemerintah secara sepihak tetap ada. Ijin pembangunan sarana dan prasarana untuk kepentingan kelompok tertentu. Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Otoritik Skenario ini adalah kebijakan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni telah dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ataupun peraturan daerah tentang pengelolaan kawasan yang aspiratif. Analisis Permasalahan IV . Beberapa ciri yang dapat menjelaskan situasi tersebut. legislatif dan NGO lokal dan internasional yang masih peduli dan berjuang untuk mempertahankan keutuhan dan kelestarian kawasan. D. mereka tetap berjuang diantara berbagai tekanan kepentingan tersebut dengan keyakinan bahwa berjuang diatas jalur kebenaran demi kepentingan bersama.2. cepat atau lambat pasti akan terwujudkan diatas panji demokratisasi.35 . Kelompok pemerhati lingkungan secara bersama-sama berjuang untuk mempertahankan kawasan. Pemangku kepentingan (stakeholder) hanya melaksanakan kegiatan pengelolaan kawasan berdasarkan kebutuhan dan kepentingan masing-masing lembaga/institusinya saja. D. akademisi. Sekalipun demikian. terkadang pesimis dalam memperjuangkan keutuhan dan kelestarian kawasan. ada upaya bersama oleh kelompok pemerhati lingkungan untuk membentuk aliansi memperjuangkan dan mempertahankan kelestarian dan keutuhan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai kawasan ekosistem kebanggaan seluruh penduduk Kabupaten Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong manfaatnya dinikmati secara bersama oleh seluruh lapisan masyarakat serta keutuhan kawasan menjadi kebanggaan kita bersama pula. setiap instansi hanya mementingkan pencapaian tujuan masing-masing tanpa memperdulikan tujuan bersama seperti yang tertuang dalam Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK). pemerhati lingkungan terkadang optimis.3.

Opportunities. Skenario ini dicirikan oleh kebijakan yang diambil hanya memberi peluang kepada pemodal mampu tertentu untuk mengelola kawasan sesuai keinginan pemodal tanpa memperhatikan fungsi penetapan kawasan. Koordinasi instansi teknis dan instansi terkait lainnya tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan dalam rencana pengelolaan kawasan. Peluang. lahan akan semakin besar. Adanya perkampungan dan Logyard di dalam kawasan CATB sehingga pemanfaatan flora. Kebijakan Sentralistik & Kelembagaan Otokritik Skenario ini adalah situasi terburuk yang dapat terjadi.4. 4. dan Ancaman (KKPA) Pendekatan analisis SWOT (Strength. fauna. 3. E. Kelemahan. Pemangku kawasan mendukungnya dengan dalih bahwa telah sesuai aturan tanpa memperhatikan dampak teknis yang akan terjadi yang akhirnya akan merubah fungsi kawasan. Weakness. antara lain: BKSDA Papua II Sorong Kegiatan yang dilakukan dalam kawasan oleh beberapa instansi. Analisis Kekuatan. Peluang dan Ancaman kondisi kawasan CATB. analisis keterkaitan unsur SWOT dan tahapan penentuan alternatif rencana pengelolaan. 2.Kelemahan. Lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan dalam Cagar Alam Teluk Bintuni.36 . dilaksanakan secara sektoral. Dalam analisis potensi dan kelemahan serta kekuatan dan peluang. kebijakan pemerintah yang tidak aspiratif dibarengi dengan kelembagaan pemangku kepentingan yang kaku dalam menerapkan kebijakan serta otoriter dalam menjalankan aturan tanpa mau menerima masukan dari berbagai stakeholder. Kurangnya kesadaran masyarakat tentangnya penting pelestarian kawaan Cagar Alam Teluk Bintuni. khususnya data kuantitatif biologi mengenai kawasan. issu-issu yang terjadi dapat diidentifikasi menjadi dasar kajian antara lain : 1. Analisis Permasalahan IV . Threat) untuk Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan pendekatan yang didasarkan pada Kekuatan . Belum tersedianya informasi dasar yang memadai. walaupun lokasi dan sasaran kegiatannya sama pada satu wilayah. Tahapan analisis SWOT yang dilakukan meliputi : tahapan identifikasi dan penilaian faktor internal dan eksternal. D.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Beberapa ciri yang dapat menjelaskan situasi tersebut.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

5. Tingginya tingkat permintaan terhadap satwa dari jenis-jenis tertentu seperti buaya, rusa, cenderawasih dan mambruk serta adanya indikasi masyarakat nelayan yang mengunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. 6. Rencana pengembangan Kota Bintuni yang berada dekat dengan batas sebelah Utara kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 7. Aktivitas pemegang HPH dan Kopermas, di daerah up land yang kurang memperhatikan aspek kelestarian serta pada beberapa logyard dan dalam pengangkutan kayu melalui sungai-sungai di dalam kawasan yang menggunakan peralatan mekanis seperti buldoser, logging truck, dan tug boat dapat menimbulkan kebisingan dan pencemaran yang menyebabkan terganggunya satwa-satwa tertentu. 8. Minimnya sarana dan prasarana serta kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. 9. Kepemilikan lahan yang merupakan hak ulayat masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.

E.1 Identifikasi dan penilaian faktor internal dan eksternal Faktor internal yaitu Kekuatan (Strength) dan Kelemahan (Weakness), sedangkan faktor eksternal yaitu Peluang (Opportunity) dan Ancaman (Threat). Analisis kekuatan yang

dimaksud adalah potensi atau keunggulan yang dimiliki kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam aspek pengelolaan dan kebijaksanaan, biologi kawasan serta sosial ekonomi dan budaya yang sesuai dengan tujuan pengelolaan kawasan sebagai Cagar Alam. Kelemahan yang dimaksud, yaitu kondisi aspek pengelolaan dan kebijaksanaan, biologi kawasan serta sosial ekonomi dan budaya yang dipandang dapat menghambat program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Peluang yang dimaksud adalah kondisi

eksternal yang dapat mendatangkan keuntungan apabila dapat memanfaatkannya. Berbagai peluang yang tersedia dapat dikembangkan secara optimal berdasarkan potensi, hambatan dan rencana program pengelolaan sebagai kawasan Cagar Alam. Ancaman adalah keadaan eksternal yang apabila dibiarkan akan menjadi faktor penghambat terhadap keberhasilan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ancaman ini perlu diwaspadai dan harus diatasi karena dapat memberikan pengaruh terhadap bisa atau tidaknya faktor-faktor peluang untuk dimanfaatkan. Hasil analisis SWOT Aspek Pengelolaan dan Kebijaksanaan, Biologi Kawasan serta Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah sebagai berikut : Kekuatan (Strength) S1. SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua, termasuk Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Analisis Permasalahan

IV - 37

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
S2.

BKSDA Papua II Sorong

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya.

S3.

Ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan komunitas alami dan pertumbuhannya masih terlihat cukup baik, sehingga fungsi ekologinya sebagai tempat mencari makan (feeding ground), daerah asuhan (nursery ground), dan tempat pemijahan (spawning ground) masih bekerja dengan.

S4.

Keanekaragaman flora yang cukup tinggi mulai dari tumbuhan tingkat rendah seperti fungi sampai dengan tumbuhan tingkat tinggi, baik spesies tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis maupun spesies kunci (key species) dengan keendemikan jenis yang cukup tinggi.

S5

Beberapa jenis fauna yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan jenis endemik dan sudah dilindungi undang-undang nasional maupun internasional, bahkan beberapa jenis burung tertentu sudah masuk dalam kategori hampir terancam (near threatend).

S6.

Adanya kearifan tradisional dalam pengelolaan sumberdaya alam.

Kelemahan (Weakness) W1. Lemahnya koordinasi institusi pengelola dengan Pemerintah Daerah. W2. Minimnya sarana dan prasarana serta kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. W3. Belum tersedianya informasi dasar yang memadai, khususnya data kuantitatif biologi mengenai kawasan. W4. Masih rendahnya pemahaman masyarakat dan aparat pelestarian alam W5. Lemahnya penegakan hukum bagi pihak-pihak yang melakukan pengrusakan di dalam kawasan, terutama bagi para nelayan yang menggunakan obat kimia saat mencari ikan. Peluang (Opportunity) O1. Dukungan bantuan dari donor baik Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Nasional dan Internasional, yang peduli terhadap kelestarian ekosistem Cagar Alam Teluk Bintuni. O2. O3. UU No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus. Kawasan CATB merupakan tempat mencari kehidupan bagi sebagian masyarakat di sekitar kawasan, sehingga apabila diberi penyuluhan tentang fungsi dan manfaat dari kelestariannya maka partisipasi masyarakat akan besar. O4. Belum tersusunnya Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Teluk Bintuni, sehingga dapat mendorong dalam rencana penyusunan RUTR Kabupaten untuk menjadikan kawasan CATB sebagai “Paru-paru” Kabupaten Teluk Bintuni. Analisis Permasalahan IV - 38 tentang cagar alam dan

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
O5.

BKSDA Papua II Sorong

Adanya beberapa LSM (seperti Mitra Pesisir) yang telah melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan di sekitar pesisir Teluk Bintuni, untuk dijadikan sebagai mitra dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

O6.

Kawasan CATB yang berfungsi sebagai buffer bagi Teluk Bintuni, sehingga sangat penting untuk menjaga kelestariannya

Ancaman (Threat) T1. Kepemilikan lahan yang merupakan hak ulayat masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. T2. Tingginya tingkat permintaan terhadap satwa dari jenis-jenis tertentu seperti buaya, rusa, cenderawasih dan mambruk serta adanya indikasi masyarakat nelayan yang mengunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. T3. Aktivitas pemegang HPH dan Kopermas, di daerah up land yang kurang memperhatikan aspek kelestarian serta pada beberapa logyard dan dalam

pengangkutan kayu melalui sungai-sungai di dalam kawasan yang menggunakan peralatan mekanis seperti buldoser, logging truck, dan tug boat dapat menimbulkan kebisingan dan pencemaran yang menyebabkan terganggunya satwa-satwa tertentu. T4. Adanya perkampungan dan Logyard di dalam kawasan CATB sehingga pemanfaatan flora, fauna, lahan akan semakin besar. T5. Rencana pengembangan Kota Bintuni yang berada dekat dengan Batas sebelah Utara kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

E.2 Analisis Keterkaitan antar Unsur SWOT Dari hasil analisis diatas, disusun rencana pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Rencana pengelolaan dihasilkan dari penggunaan unsur-unsur kekuatan Aspek Pengelolaan dan Kebijaksanaan, Biologi Kawasan serta Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan CATB untuk meraih peluang yang ada (SO), penggunaan kekuatan yang ada untuk menghadapi ancaman yang datang (ST), pengurangan kelemahan dari kondisi yang ada dengan memanfaatkan peluang yang ada (WO) dan pengurangan kelemahan yang ada untuk menghadapi ancaman yang akan datang (WT).

Analisis Permasalahan

IV - 39

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Tabel IV-11. Matriks Hasil Analisis antar unsur SWOT

BKSDA Papua II Sorong

Peluang (O) Strategi 1. Inventarisasi dan pemetaan sebaran flora, fauna dan ekosistem (S3,S4,S5,O1) 1. 2.

Ancaman (T) Strategi Rekonstruksi Tata Batas (S1, T4) Pemanfaatan terbatas sumberdaya alam dari Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (S2, S3, T4) Pemantauan rutin (S3, S4, S5, T2) Monitoring dampak lingkungan (S4, S5, T3, T4, T5) Perlindungan jenis flora/fauna beserta habitatnya (S4, S5, T3) Pencegahan bahaya erosi, sedimentasi dan Rehabilitasi kawasan CATB (S3, S5, S6,T3, T4) Penyuluhan terhadap pentingnya eksistensi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai penyanggah sistem kehidupan (S4,O6,T1)

3. 4. Kekuatan (S) 5. 6.

7.

Kelemahan (W)

Strategi 1. Sistem informasi dan Database (W3, O1) 2. Sarana prasarana pengelolaan (W2, O1, O2) 3. Sarana prasarana pendidikan (W2, W4, O1, O2, O5). 4. Sarana dan prasarana penelitian (W2, W4, O1, O2, O5).

Strategi 1. Penegakan hukum (W5, T2) 2. Patroli gabungan dan koordinasi pengamanan (W1,W5, T2, T4, T5)

F.

Perumusan Strategi Pengelolaan

Dari analisis SWOT dari data kajian pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni maka isu strategis yang terkait dengan pengelolaan CATB yang berhasil diidentifikasi menjadi dasar bagi penyusunan rencana aksi. Deskripsi rencana aksi ini menjadi indikator bagi penilaian keberhasilan dan dasar bagi monitoring dan evaluasi.

STRATEGI 1. Sasaran:

REKONSTRUKSI TATA BATAS KAWASAN

Batas kawasan menjadi jelas dan diketahui semua pihak terkait Kegiatan: Pembuatan jalur rintisan di sepanjang batas kawasan pada hutan dataran rendah Penggantian pal batas yang rusak Pemasangan plat seng tanda batas

Analisis Permasalahan

IV - 40

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Indikator:

BKSDA Papua II Sorong

Tersedianya jalur rintisan sepanjang batas kawasan pada hutan dataran rendah Terpasangnya pal batas kawasan baru yang jelas Terpasangnya plat seng sebagai tanda batas kawasan pada pohon-pohon di sepanjang batas kawasan.

STRATEGI 2. Sasaran:

PENEGAKAN HUKUM

Terciptanya suatu pemahaman yang menyeluruh terhadap hal-hal yang tidak boleh dilakukan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan: Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari sda di Cagar Alam Teluk Bintuni untuk masyarakat adat Sosialisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan illegal di kawasan kepada semua stakeholder Indikator: Tersedianya aturan khusus tentang larangan dan sangsi terhadap pelanggaran yang terjadi di dalam kawasan Terciptanya pemahaman yang utuh oleh masyarakat adat terhadap pemanfaatan terbatas oleh masyarakat adat Meningkatnya pemahaman seluruh pemangku kepentingan terhadap hal-hal yang tidak diperkenankan dilakukan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

STRATEGI 3. Sasaran:

PEMANTAUAN/PATROLI RUTIN

Terjaganya keamanan kawasan dari kegiatan-kegiatan yang dapat menurunkan kualitas kawasan. Kegiatan: Patroli terjadwal oleh internal pengelola. Analisis Permasalahan IV - 41

FAUNA. Pembuatan pedoman pemantauan bagi pengelola kawasan Indikator: Meningkatnya keamanan kawasan dari kegiatan-kegiatan ilegal. Kegiatan: Identifikasi tipe ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di Cagar Alam Teluk Bintuni Analisis Permasalahan IV . FAUNA DAN EKOSISTEM KAWASAN Sasaran: Data Dasar FLORA. Sasaran: PATROLI GABUNGAN DAN KOORDINASI PENGAMANAN Terciptanya suatu pemahaman bersama antar stakeholder terhadap tanggung jawab pengamanan dan pengawasan kawasan Kegiatan: Koordinasi dengan instansi terkait dalam merencanakan pengamanan terpadu Patroli terpadu yang melibatkan beberapa instansi terkait Indikator: Terciptanya kerjasama dan koordinasi antara pengelola dan instansi terkait dalam pengamanan kawasan Menurunnya tingkat gangguan keamanan kawasan STRATEGI 5. STRATEGI 4. DAN EKOSISTEM yang memadai dalam menunjang pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.42 . INVENTARISASI DAN PEMETAAN KEBERADAAN FLORA. Tersedianya pedoman pemantauan sebagai acuan bagi pengelola dalam melakukan kegiatan pemantauan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pelatihan Jagawana/Polisi Hutan untuk meningkatkan kemampuan pengawasan Penyuluhan dan penerangan tentang pentingnya keberadaan kawasan. Meningkatnya kemampuan pengelola dalam kegiatan pengamanan kawasan Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keberadaan dan fungsi kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan.

Tersedianya informasi perubahan ekosistem dan populasi flora dan fauna kawasan Adanya prasarana untuk kepentingan penelitian dan pendidikan Terdokumentasinya hasil-hasil penelitian dan kajian tentang ekosistem dan flora fauna kawasan secara menyeluruh. fauna. bertelur.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Inventarisasi dan pemetaan status flora dan fauna kawasan Penelitian dinamika ekosistem dan populasi flora dan fauna kawasan BKSDA Papua II Sorong Inventarisasi. Indikator: Terjalinnya kerjasama yang baik dengan institusi terkait yang menunjang kegiatan perlindungan dan pengembangan Analisis Permasalahan IV . Sasaran: PERLINDUNGAN JENIS FLORA/FAUNA BESERTA HABITATNYA Terjaminnya keberadaan flora dan fauna dan keutuhan habitanya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan: Kerjasama dengan institusi terkait dalam upaya perlindungan jenis flora dan fauna di kawasan. dan pemijahan di kawasan Pembuatan petak ukur permanen Pengumpulan hasil-hasil penelitian tentang flora. Pengamatan dan perkembangan flora/fauna di petak ukur permanen. Penelitian tentang keberadaan flora/fauna langka. Pemasangan tanda larangan dan pembuatan poster.43 . dilindungi. identifikasi. atau leaflet tentang jenisjenis flora/fauna langka dan dilindungi serta larangan perburuan/pemanfaatannya. brosur. dan atau terancam di Cagar Alam Teluk Bintuni. dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan. dan ekosistem yang pernah dilakukan di CATB Indikator: Tersedianya data tipe ekosistem dan penutupan lahan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Tersedianya informasi dan peta kondisi flora dan fauna kawasan. STRATEGI 6.

dilindungi. Tersedianya informasi yang memadai tentang keberadaan flora/fauna langka. PENCEGAHAN BAHAYA EROSI DAN SEDIMENTASI REHABILITASI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. Indikator: Menurunnya tingkat kerusakan ekosistem kawasan akibat aktivitas manusia.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Meningkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang keberadaan flora/fauna langka. PENYULUHAN TERHADAP PENTINGNYA EKSISTENSI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI SEBAGAI PENYANGGAH SISTEM KEHIDUPAN Sasaran: Terciptanya Kesadaran dan Penghargaan masyarakat terhadap keberadaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. STRATEGI 7. Meningkatnya kualitas ekosistem kawasan Tersedianya informasi yang memadai tentang laju kerusakan ekosistem kawasan dalam menunjang kegiatan pengelolaan. dan atau terancam punah di Cagar Alam Teluk Bintuni. Tersedianya informasi tentang perkembangan flora/fauna tertentu untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. dan atau terancam punah di Cagar Alam Teluk Bintuni. dilindungi. Kegiatan:: Pencegahan kerusakan ekosistem sebagai akibat aktivitas manusia Rehabilitasi kawasan yang telah mengalami kerusakan di Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan: Penyuluhan dan penerangan yang intensif tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyanggah kehidupan Analisis Permasalahan IV .44 . STRATEGI 8. Penelitian dan kajian yang intensif tentang tingkat kerusakan ekosistem kawasan. DAN Sasaran: Pulih dan terjaganya keutuhan ekosistem kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Pembuatan sistem data terhadap hasil-hasil penelitian/kajian yang berhubungan pemanfaatan terbatas. Analisis Permasalahan IV . teknik perbanyakan tanaman berguna. Indikator: Tersedianya panduan pemanfaatan bagi pengelola kawasan Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pemanfaatan sumberdaya alam yang lestari. dan atau brosur tentang fungsi kawasan bagi kehidupan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan Indikator: Meningkatnya kesadaran dan penghargaan masyarakat terhadap pentingnya keberadaan kawasan CATB Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kerjasama dengan instansi terkait dalam kegiatan penyuluhan dan pendampingan Penerapan sistem penangkapan hasil perikanan yang ramah lingkungan Penerapan sistem pertanian yang memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutan Pemanfaatan satwa liar tertentu di bawah bimbingan pengelola bekerjasama dengan instansi terkait.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pembuatan poster. serta inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat. siklus hidup biota perairan. STRATEGI 9. leaflet.45 . PEMANFAATAN TRADISIONAL SDA DI TELUK BINTUNI KAWASAN CAGAR ALAM Sasaran: Meningkatnya Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB Kegiatan: Pembuatan panduan pemanfaatan sda di kawasan bagi pengelola Pembuatan poster tentang pemanfaatan sda secara lestari Penelitian tentang pola perkembangbiakan satwa.

Tersedianya koleksi media informasi yang memadai dalam menunjang kegiatan penelitian. Terjalinnya kerjasama yang baik dengan instansi terkait yang menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Berkurang bahkan tidak ada lagi aktivitas penangkapan ikan menggunakan cara-cara yang tidak ramah lingkungan.46 . cara perbanyakan tanaman berguna.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tersedianya informasi menyangkut pola perkembangbiakan satwa. STRATEGI 10. pendidikan dan pengembangan kawasan Analisis Permasalahan IV . Berkurangnya tekanan terhadap keberadaan ekosistem kawasan sebagai akibat perluasan lahan pertanian Terciptanya pola pemanfaatan satwa liar yang memperhatikan keseimbangan alam. serta jenis-jenis komoditi pertanian setempat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Sasaran: SISTEM INFORMASI DAN DATA BASE Tersedianya sistem informasi data yang memadai untuk semua aspek kegiatan pengelolaan dalam rangka menunjang perencanaan dan pengembangan kawasan Kegiatan: Koordinasi dengan instansi terkait dalam mengembangkan SIG Pengadaan perangkat keras dan lunak untuk menunjang sistem informasi dan basis data Peningkatan kemampuan pengelola dalam penguasaan teknik SIG dan data base Mengumpulkan dan memelihara koleksi media-media informasi Indikator: Terciptanya kerjasama dalam mengembangkan SIG dan basis data kawasan Tersedianya perangkat penunjang kegiatan SIG dan data base Tersedianya tenaga pengelola dengan kemampuan yang memadai di bidang SIG dan basis data. siklus hidup biota perairan. Tersedianya sistem data dari hasil-hasil kajian yang berhubungan dengan kegiatan pemanfaatan terbatas oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.

dan penelitian.47 . BKSDA Papua II Sorong SARANA PRASARANA PENUNJANG KEGIATAN PENGELOLAAN KAWASAN Sasaran: Tersedianya sarana prasarana yang memadai dalam rangka menunjang kegiatan pengelolaan. Pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana penelitian seperti pondok peneliti.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni STRATEGI 11. Tersedia dan terpeliharanya sarana penelitian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan: Pengadaan dan pemeliharaan sarana prasarana pengelolaan seperti kantor/pondok kerja Pembuatan brosur/leaflet/buku/ serta media lain tentang keberadaan dan fungsi Cagar Alam Teluk Bintuni. Pengadaan dan pemeliharaan Pusat komunikasi dan informasi (PUSKOMIN) kawasan. Analisis Permasalahan IV . Indikator: Tersedia dan terpeliharanya sarana prasarana pengelolaan seperti bangunan kantor dan pondok kerja pengelola yang memadai selain bangunan kantor yang sudah ada Tersedianya prasarana penerangan yang memadai untuk kepentingan pendidikan Tersedia dan terpeliharanya sarana berupa pusat komunikasi dan informasi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. pendidikan.

.

Peraturan Pemerintah Nomor 20 tentang Rencana Kerja Pemerintah. secara khusus juga memuat usulan kegiatan Pembangunan Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan. kelemahan dan hambatan yang ada menunjukkan adanya pilihan strategi yang harus dilakukan. Implementasi Kegaiatan Lima Thn Lima Thn Lima Thn II III IV 2011-2015 2016-2020 2021-2025 +++++ +++++ +++++ No 1. RENCANA KEGIATAN A. kekuatan. Tabel V-1. Perlindungan dan Pengamanan Kawasan. Berikut adalah skala prioritas aspek-aspek kegiatan dalam Rencana Kerja Pengelolaan Kawasan selama duapuluh lima tahun seperti disajikan pada Tabel V-1. Beberapa aspek pengelolaan yang menjadi fokus dalam rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah aspek Pemantapan Kawasan. Aspek Kegiatan Pemantapan Kawasan Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Lima Thn I 2006-2010 +++++ +++++ Lima Thn V 2026-2030 +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ 4. +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ Rencana Kegiatan V-1 . Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati. 2. Disamping aspek-aspek pengelolaan tersebut. Peningkatan efektivitas Pengelolaan Kawasan. lima-tahunan. Pendukung/Kelembagaan. di dalam Rencana kegiatan pengelolaan kawasan ini. dan aspek Pemanfaatan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong V. Dalam implementasi kegiatan Rencana Pengelolaan Kawasan. aspek tersebut yang menjadi fokus dalam rencana kegiatan yang diusulkan dilakukan berdasarkan skala prioritas yang dituangkan dalam bentuk Rencana kerja tahunan. tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. 3. Hasil analisis SWOT dari peluang. Prioritas Rencana Kegiatan Pengelolaan Kawasan Selama Duapuluh Lima Tahun (2006-2030) Cagar Alam Teluk Bintuni. Peraturan Pemerintah Nomor 21 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999. Pilihan strategi ini diterjemahkan menjadi rencana kegiatan yang difokuskan kepada beberapa aspek yang mengacu pada Rencana Stratejik (Renstra) Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Tahun 2005 – 2009 merupakan tindak lanjut dari Undang-undang Nomor : 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. dan duapuluh lima-tahunan. UMUM Rencana kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni didasarkan kepada hasil analisis dari permasalahan dan kondisi yang ada.

B.1 RENCANA KEGIATAN PENGELOLAAN Pemantapan Kawasan Dalam mengelola suatu kawasan konservasi yang lebih baik dan mantap. 4. Pelaksanaan pemasangan kembali pal batas kawasan akan dilakukan secara bertahap. Rekonstruksi pal batas bukan melakukan tata batas ulang tetapi berupa pemasangan kembali pal batas yang pernah ada sesuai koordinat yang ada secara menyeluruh mulai dari titik nol. 2. 3. Untuk itu proses kepastian hukum dengan menetapkan status hukum kawasan menjadi prioritas utama. Kerjasama. Lima Thn I 2006-2010 +++++ +++++ +++++ Lima Thn V 2026-2030 +++++ +++++ B. 7. Aspek Kegiatan Pendukung/Kelembaga an Pemanfaatan Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan. Pemerintah Kecamatan dengan masyarakat. 1. yaitu pemasangan kembali pal batas secara menyeluruh. Kepastian Hukum Kawasan. Berikut adalah beberapa Rencana kegiatan yang diusulkan dalam rangka pemantapan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan ini akan dilaksanakan bersama Bappeda. Kepastian hukum yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang memberikan kepastian hukum yang jelas atas kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang saat ini masih berstatus Penunjukan bukan Penetapan oleh Menteri Kehutanan. Proses penetapan kawasan Cagar Alam menjadi definitif juga harus ditindak lanjuti dalam peraturan daerah yang mensahkan keberadaan kawasan di dalam tata ruang propinsi maupun kabupaten. Rekostruksi pal batas diperlukan untuk menetapkan kawasan dalam status hukum yang jelas. khususnya dalam kegiatan rekonstruksi pal batas Kawasan. Total panjang batas dengan daratan diperkirakan 125 km dari total batas 250 km. Rekonstruksi pal batas.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Implementasi Kegaiatan Lima Thn Lima Thn Lima Thn II III IV 2011-2015 2016-2020 2021-2025 +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ BKSDA Papua II Sorong No 5. Kerjasama yang dimaksud disini adalah pelibatan stakeholder di luar pengelola kawasan dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan pengelolaan. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah. Kegiatan ini harus dilakukan secara koordinatif serta partisipatif dengan pihak-pihak lain yang berkompeten dan terkait. Rencana Kegiatan V-2 . 6. status hukum dari kawasan tersebut merupakan suatu hal yang penting. Untuk memastikan posisi awal jalur batas digunakan GPS atau mengikuti tata batas awal.

3. 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Adapun rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk menunjang kegiatan pemantapan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan pada Tabel V-2. 5. Pemasangan Pal batas kawasan No. Pemasangan Papan Petunjuk Kawasan. Pembuatan Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang berisi tentang petunjuk teknis kegiatan pengelolaan kawasan. sehingga batas tersebut dapat dengan mudah diidentifikasi. keberadaan kawasan. 1. Pemeliharaan batas ini dilakukan mulai tahun 1 sampai tahun ke 5 dan selanjutnya dilakukan pemeliharaan rutin setiap 2 tahun. 1. Tabel V-2. 2. Jalur dan pal batas memerlukan pemeliharaan dan pengamanan secara teratur oleh petugas. Melakukan penelitian yang berkaitan dengan kepentingan penataan Kawasan. Pemeliharaan batas Kawasan. Pembuatan SK. Kepastian Hukum Kawasan Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah 3. Kajian/Penelitian Potensi Fungsi Kawasan. Kerjasama Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas B. Rekonstruksi pal batas 4. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan. Kegiatan Pokok Komponen kegiatan Pembuatan SK. Arahan Penataan dan Penetapan Blok.2 Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan Cagar alam Teluk Bintuni sesuai fungsi kawasan. Menteri tentang Penetapan Kawasan 1. Beberapa kegiatan pengelolaan yang diusulkan dalam menunjang aspek ini adalah sebagai berikut: 1. Papan petunjuk yang dimaksud disini adalah papan petunjuk batas kawasan. Kegiatan ini bertujuan untuk menata kawasan ke dalam blok-blok. Rencana Kegiatan V-3 . dan papan pengumuman yang berisi aturan dan larangan. Bupati Tentang Keberadaan Cagar Alam 2. 4. Pembuatan Peraturan Daerah (PERDA) tentang Cagar Alam Teluk Bintuni. Pengadaan/pembuatan pal batas 2. Tapal batas di lapangan sedapat mungkin dapat terlihat jelas dan mudah diidentifikasi misalnya batas alam dan tanda-tanda buatan manusia.

Monitoring dampak lingkungan ini pelaksanaannya dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak lain seperti perguruan tinggi atau LSM. sebanyak mungkin penelitian akan dilakukan oleh pihak lain.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. Keterlibatan masyarakat sangat penting dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Dampak di luar kawasan dapat berupa dampak positif dalam bidang ekonomi seperti perbaikan sarana dan prasarana transportasi. 7. Sedangkan dampak negatifnya berupa pengaruh budaya luar terhadap pelestarian budaya kawasan. Hasil penelitian yang diuraikan di atas dimanfaatkan untuk pembaharuan informasi tematis kawasan. 10. SIG juga bermanfaat untuk produksi bahan media informasi dan komunikasi. Sistern Informasi Geografis (Geographical Information System) adalah alat analisis yang sangat ampuh untuk perencanaan pengembangan Kawasan Konservasi. serta konsumerisme berkembang di masyarakat setempat sehingga dapat menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam berlebihan. klasifikasi habitat dan inventarisasi. Kegiatan bertujuan untuk menyebarluaskan informasi dan meningkatkan pengetahuan/kesadaran masyarakat tentang keberadaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni serta fungsinya sebagai sistem penyangga kehidupan. sehingga dirasa perlu untuk melibatkan mereka dengan pembentukan suatu kelompok kerja yang dapat membantu pengelola dalam memberikan masukan ataupun pemecahan masalah yang berkaitan dengan pemanfaatan kawasan. Hasil studi ini sangat berguna sebagai salah satu masukan dalam pengambilan kebijakan pengembangan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dapat membantu dan memfasilitasi penelitian tersebut dengan Rencana Kegiatan V-4 . Pengadaan Poster/Leaflet Kegiatan Pengelolaan Kawasan. 8. 9. Kegiatan ini ditujukan untuk membina masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan. terutama peneliti dari perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri. Sistem Informasi Geografis dan Database. Karena keterbatasan tenaga lapangan di Cagar Alam Teluk Bintuni. Data tersebut merupakan baseline data yang dibutuhkan untuk evaluasi pengembangan ekosistem Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pembinaan Masyarakat. maka direncanakan ada kegiatan Monitoring Dampak Lingkungan setiap tahun sekali. Untuk pengembangan SIG diperlukan koordinasi dengan instansi-instansi yang lain terkait. Pelibatan Masyarakat. khusus yang bermukim di blok penyangga (Buffer block). Penelitian. dan adanya peluang usaha baru. Untuk memonitor kemungkinan yang ditimbulkan oleh adanya pengembangan wilayah maka pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. komunikasi. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dapat melakukan atau memfasilitasi penelitian mengenai klasifikasi ekosistem. keamanan dan stabilitas wilayah.

Memperbaiki pal batas yang sudah rusak atau hilang. 4. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan. Identifikasi dan Pemetaan Penutupan Lahan sesuai Ekosistem. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan. pola penggunaan lahan. 2. dan jurnal. 1. 4. 2) media informasi termasuk brosur. Identifikasi dan Pemetaan tipe ekosistem yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dsb). majalah. Kegiatan Pokok Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan Komponen kegiatan 1. Pemeliharaan Batas Kawasan Rencana Kegiatan V-5 . Kajian potensi fungsi kawasan 1. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan. Papan Petunjuk Kawasan Pengadaan dan Pemasangan papan pengumuman dan petunjuk di sepanjang jalur rintisan dan beberapa pulau yang sering dilewati masyarakat/pelayaran. Tabel V-3. peta navigasi. gambar tempel. 3. dan film. plat seng dan tanda cat pada pohon di jalur batas Kawasan. 4) peta (termasuk peta rupa bumi. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan disajikan pada Tabel V-3. 2. 3) koleksi foto. Untuk kepentingan tersebut Cagar Alam Teluk Bintuni akan mengumpulkan dan memelihara koleksi media-media informasi meliputi: 1) buku. Pembuatan jalur rintisan dan jalan setapak pada batas kawasan dengan lebar 2 meter. poster. No. 1. Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 2. 5. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pemeliharaan kawasan. 3. slide. Database dikembangkan untuk melengkapi Sistem Informasi Pengelolaan atau Management Information System (MIS) yang sedang dikembangkan untuk kawasan konservasi di Indonesia. Hasil penelitian tersebut digunakan untuk melengkapi database dan SIG yang dikembangkan untuk Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong bantuan sarana dan pemberian izin untuk menciptakan kondisi yang produktif untuk para peneliti. 2. 3. Memberikan tanda batas pada pohon di batas kawasan dengan nomor. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan penelitian dan pengembangan kawasan.

Kegiatan ini lebih difokuskan pada penilaian kondisi ekosistem Kawasan yang merupakan habitat flora dan fauna kawasan. Pelibatan Masyarakat Penelitian 10.3 Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati Kegiatan pengembangan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati berkaitan dengan kegiatan penelitian. Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 3. Pengadaan Poster tentang kondisi fekosistem di Kawasan CATB 7. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang berisi tentang petunjuk teknis kegiatan pengelolaan kawasan. 6. Beberapa kegiatan pengelolaan yang diusulkan dalam menunjang aspek ini adalah sebagai berikut: 1. Fauna. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2. Sistem Informasi Geografis dan Database Pengadaan sistem informasi geografis (SIG) dan pemutahiran data hasil-hasil peneltian B. Penelitian tentang dampak lingkungan 2. pengembangan dan kegiatan lain yang menunjang budidaya. Pedoman ini merupakan buku saku/juknis/pedoman kegiatan pemeliharaan flora dan fauna beserta habitatnya. terutama yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati. 5. Pembinaan Habitat. Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 8. 3. 2. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan upaya pengawetan tumbuhan dan satwa liar dan memfasilitasi pengelolaan ekosistem esensial. Penelitian/Kajian Tentang Kondisi Flora. Komponen kegiatan BKSDA Papua II Sorong Penataan dan pembuatan peta arahan blok di dalam kawasan 1. Buku Panduan. Rencana Kegiatan V-6 . Pembinaan masyarakat Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyanggah sistem kehidupan Pembuatan Kelompok Kerja dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan 1. Kegiatan bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi flora dan fauna kawasan beserta habitatnya dalam mendukung upaya kegiatan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 9. Kegiatan Pokok Arahan Penataan dan Penetapan Blok Pengadaan Poster/Leaflet Kegaiatn Pengelolaan Kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. dan Ekosistem Kawasan.

Pengendalian. Secara umum kegiatan yang dapat dilakukan antara lain : Pemusnahan jenis tumbuhan eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di kawasan. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi. Kegiatan pemantauan oleh petugas terhadap hama penyakit di daerah-daerah tersebut perlu dilakukan secara periodik atau dengan memperhatikan laporan-laporan dari masyarakat tentang hama dan penyakit tanaman.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. BKSDA Papua II Sorong Uraian mengenai upaya pengendalian. Identifikasi dan Dampak jenis-jenis eksotik yang ada di kawasan CATB. aktivitas yang dapat dilakukan adalah : Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat. Kegiatan ini antara lain adalah : Rencana Kegiatan V-7 . leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah. 5. misalnya pengendalian jenis eksotik. tidak seumur dan kondisi ekosistemnya relatif stabil. Beberapa biota yang dilindungi perlu usaha perlindungan khusus. Pemulihan. Dalam ekosistem hutan alam yang strukturnya terdiri dari berbagai jenis biota. Cagar Alam Teluk Bintuni mungkin harus lebih memperhatikan kemungkinan adanya hama penyakit berbahaya di daerahdaerah pertanian dalam kawasan atau sekitar batas kawasan. Untuk bisa mengelola perubahan bentang lahan baik karena aktivitas manusia maupun alam. Dalam hal ini. Membuat brosur. Gejolak populasi hama penyakit hutan biasanya bisa diatasi dengan kemampuan alam sendiri sehingga alam dapat pulih kembali. Pencegahan Hama dan Penyakit. Satu hal yang perlu diperhatikan kemungkinan invasi biota eksotik ke dalam kawasan. Upaya yang dilakukan seperti introduksi spesies yang memiliki potensi sebagai hama. Untuk aktivitas perlindungan jenis ini. Secara umum penyadaran masyarakat dan instansi terkait tentang status biota yang dilindungi perlu ditingkatkan. pengelola kawasan CATB harus berkoordinasi dengan instansi terkait. Perlindungan Jenis. oleh karena itu bila ada kasus hama dan penyakit yang dianggap membahayakan kawasan. maka harus segera dicarikan jalan pemecahannya baik secara preventif maupun refresif. hama penyakit tanaman jarang sekali mengalami ledakan yang dapat merugikan komunitas hutan. kerusakan dan upaya pencegahan kerusakan dikelompokkan dalam rencana kegiatan pemulihan. introduksi spesies yang fungsinya sama dengan spesies lokal dan lain-lain. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. Melakukan penelitian Inventarisasi. Pemulihan merupakan kegiatan yang berkaitan dengan adanya kerusakan dan perubahan dalam bentang lahan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Ausoi. Pengelolaan terutama ditujukan pada daerah-daerah yang rawan abrasi-erosi yang biasanya terjadi di lokasi yang terkena gelombang besar. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Terutama di bekas logyard HPH dan kopermas yaitu di Tirasai. Dalam rangka menunjang kegiatan ini. Adanya kegiatan ini sangat mempengaruhi keutuhan ekosistem kawasan yang juga akan berpengaruh terhadap flora dan fauna penting dalam kawasan. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerjasama dengan mitra kerja yang berkaitan seperti perguruan tinggi. Penelitian yang dapat dilakukan berkaitan dengan upaya pemulihan antara lain adalah : Penelitian tingkat sedimentasi di beberapa sungai utama di dalam kawasan Penelitian dan kajian kerusakan ekosistem dan penyebabnya di dalam kawasan CATB Rencana Kegiatan V-8 . disamping adanya pembukaan wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai areal log-yard beberapa usaha kehutanan masyarakat. di muara semakin banyak calon pulau. Pada saat ini dalam kawasan telah ada kegiatan pemanfaatan oleh masyarakat secara tradisional berupa usaha perikanan (penangkapan). Pemeliharaan tanaman.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi. Logyard SP IV S. Untuk efisiensi dan efektivitas kegiatan rehabilitasi perlu disusun perencanaan teknis terlebih dahulu. namun sudah mulai ada indikasi di beberapa lokasi adanya pengaruh abrasi-erosi dan sungai semakin kecil. Untuk itu diperlukan : Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi. LIPI dan LSM. Oleh karena itu perlu diupayakan kegiatan sebagai berikut: Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. perlu dilakukan melalui pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan instansi-instansi terkait. Rehabilitasi kawasan dengan tanaman asli. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni belum memiliki informasi yang lengkap tentang lokasi yang rawan abrasi-erosi dan lokasi penumpukan sedimen. Sumberi. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III. usaha perladangan/kebun rakyat. Logyard SP V S. Awarapi. Sementara pengelolaan sedimen sangat terkait dengan upaya Dinas Kehutanan membangun pengelolaan hutan berkelanjutan di areal HPH dan hutan masyarakat.

Kegiatan Pokok Buku Panduan Komponen kegiatan 1. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di kawasan. No. Dampak negatif dari kehadiran jenis-jenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 6. Melakukan kerjasama dan membuat MOU kerjasama antara BKSDA Papua II Sorong cq Ressort Bintuni dengan lembaga penelitian. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 7. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan 2. Pengadaan Buku Panduan Rehabilitasi kawasan 1. Pembuatan petak ukur permanen 4. Tabel V-4. Penelitian tentang Dinamika Populasi Flora dan Fauna 3. dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik lokal. dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2. maupun internasional. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian 1. 7. Universitas. Pencegahan Hama dan Penyakit Rencana Kegiatan V-9 . Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1. 1. Pengembangan Sistem Data Base. bertelur. Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 4. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 3. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 5. Pembinaan Habitat 4. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan 3. 2. nasional. Kegiatan ini bertujuan untuk memutakhirkan informasi kondisi flora dan fauna beserta habitatnya guna penunjang kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kerjasama. Inventarisasi dan Pemetaan Status Flora dan Fauna di Kawasan 2. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam mengembangkan konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. Pengendalian a. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 3. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan dalam mengembangkan konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan disajikan pada Tabel V-4.

1. penggembalaan ternak dan lain-lain. Pengembangan system data base 7. 1. pengumpulan hasil hutan. Perlindungan Jenis Komponen kegiatan 2. pelanggaran batas berupa pemukiman penduduk dan perladangan berpindah. Pemulihan a. Identifikasi dan Dampak jenis-jenis eksotik yang ada di kawasan CATB. 3. Melakukan penelitian Inventarisasi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2. 1. Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 3. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni c. Penelitian dan kajian kerusakan ekosistem dan penyebabnya di dalam kawasan CATB. Membuat brosur. Penelitian yang dapat dilakukan berkaitan dengan upaya pemulihan 6. 5. 1. 2. Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. Kegiatan Pokok BKSDA Papua II Sorong b. Kerjasama B. Penelitian tingkat sedimentasi di beberapa sungai utama di dalam Kawasan.10 . Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 3. Perlindungan dan pengamanan kawasan yang akan dilakukan didalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah pengamanan dalam rangka penggunaan sumberdaya alam. penebangan kayu secara liar. 2. Pencegahan bahaya erosiabrasi dan sedimentasi b. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati. Rehabilitasi kawasan Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III Pemeliharaan tanaman. leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan instansi-instansi terkait. Rencana Kegiatan V . Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2.4 Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan bertujuan untuk meningkatkan upaya perlindungan hutan serta penegakan hukum di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

serta pengamanan/patroli gabungan yang melibatkan instansi terkait yang lain. pemantauan berbasis masyarakat atau pihak swasta yang bersifat sukarela (voluntir) di bawah arahan dan panduan dari pengelola Cagar Alam Teluk Untuk mendukung maka Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Upaya pengamanan umum yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan untuk mengamankan dan memonitor setiap gangguan terhadap keutuhan kawasan. maka intensitas operasi gabungan bisa dikurangi atau bahkan ditiadakan. Untuk mendukung kegiatan penegakan hukum di Kawasan CATB. 2. mereka merupakan mata pengawasan yang sangat efisien. polisi. Demikian pula halnya dengan kerjasama dalam pengamanan yang bersifat sporadis. Dinas Perikanan. Sesuai dengan prinsip pengelolaan yang efisien dan cost-effective. Kegiatan pengamanan harus direncanakan dan apabila perlu. Pengamanan Cagar Alam Teluk Bintuni memerlukan koordinasi yang baik tidak saja antar instansi terkait tetapi juga dengan tokoh masyarakat di sekitar kawasan. Penegakan peraturan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni harus merupakan lintas sektoral yang melibatkan otoritas pengelola CATB. Setiap petugas harus juga mempelajari pola hidup dan kegiatan masyarakat setempat agar dapat mengidentifikasi pendatang dari luar. yaitu: Pembuatan Peraturan dan Larangan yang sederhana dan jelas Peraturan yang ada perlu dievaluasi untuk memastikan relevansi dan ketepatgunaannya dalam pengamanan kawasan CATB. TNI dan masyarakat setempat. rute patroli dapat diprogramkan di GPS sebelum berangkat. Jika keadaan relatif aman. berdasarkan laporan masyarakat setempat. Patroli gabungan yang bekerjasama dengan instansi terkait perlu dilakukan minimal setahun dua kali. Sistem patroli harus sporadis agar rutinitas patroli tidak dapat dipelajari oleh pelanggar. pencegahan kerusakan habitat akibat kegiatan pemanfaatan dilakukan oleh pemanfaat sendirl. antara lain : 1. Oleh karena itu koordinasi ini harus terus dilakukan dari waktu ke waktu minimal setiap akan dan setelah pelaksanaan operasi gabungan. Pengamanan Rutin (patroli). perlu diusulkan beberapa kegiatan penunjang.11 . Setiap petugas harus mengetahui batas kawasan dan peraturannya dan faktor yang dilindungi. Petugas lapangan harus siap bertindak berdasarkan informasi yang berasal dari masyarakat karena mereka berada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni setiap hari. diperlukan beberapa kegiatan. Penegakan Hukum. Upaya untuk membuat Rencana Kegiatan V . Operasi sebaiknya dilaksanakan jika keadaan keamanan benar-benar membutuhkan dukungan dari unsur pengamanan lain seperti dari Polri dan TNI serta Pemda. Kegiatan perlindungan dan pengamanan rutin diusulkan dapat dilakukan oleh pengelola Kawasan (POLHUT).

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

peraturan menjadi jelas, bisa dimengerti dan sesuai dengan tujuan konservasi serta pemanfaatan berkelanjutan perlu dilakukan. Sosialisasi Peraturan Aturan harus disosialisasikan dan fungsi serta peran setiap stakeholder harus jelas sehingga tidak ada interpretasi ganda. Perlu juga dibuat peraturan khusus dan disepakati semua pihak, terutama peraturan yang melarang semua kegiatan ekstraktif yang merusak kawasan CATB. Pelarangan penggunaan trawl, bahan

kimia, bom, pelarangan penebangan hutan di CATB untuk usaha kehutanan, perikanan dan perkebunan perlu dibuat dan dilaksanakan. Khusus untuk masyarakat adat perlu juga dibuatkan aturan khusus yang menyangkut pemanfaatan eksklusif di dalam kawasan tetapi dengan syarat tertentu dan mendukung pemanfaatan lestari. 3. Pembuatan Buku Panduan Perlindungan dan Pengamanan Kawasan. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-5.

Tabel V-5. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. Kegiatan Pokok Pengamanan Rutin (patroli) Komponen kegiatan 1. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2. Patroli gabungan 3. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (voluntir) 2. Penegakan Hukum 1. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sanksi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi 2. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat 3. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sanksi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder 3. Buku Panduan Pengadaan buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB

B.5

Pendukung /Kelembagaan

Kegiatan pendukung/kelembagaan ditujukan untuk memantapkan institusi pengelola kawasan serta mewujudkan Sumberdaya Manusia (SDM) yang mampu mendukung pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Rencana Kegiatan

V - 12

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

1. Peningkatan Kapasitas Pengelola. Tekanan terhadap Cagar Alam di masa depan akan lebih berat dan dibutuhkan kapasitas SDM khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang lebih baik. Untuk itu perlu ada pelatihan dan training kepada jagawana. 2. Penambahan Jumlah Personil Pengelola. Saat ini petugas di Ressort Teluk Bintuni hanya ada 2 petugas sementara per 10.000 Ha dibutuhkan 1 orang polisi hutan. Berarti dibutuhkan 10-12 orang Polisi Hutan (POLHUT) untuk Cagar Alam Teluk Bintuni. Direncanakan akan ada 10 petugas lapangan, setiap saat 5 di antaranya menjaga koordinasi dan komunikasi dengan kelompok pemanfaat di lapangan. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Pendukung /Kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-6.

Tabel V-6. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Pendukung /Kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. Kegiatan Pokok Peningkatan Kapasitas Pengelola Komponen kegiatan 1. Pelatihan jagawana voluntir 2. Pelatihan/Penyegaran Polhut 2. Personil Pengelola Penambahan jumlah personil pengelola, khususnya Polisi Hutan (POLHUT)

B.6

Pemanfaatan

Kegiatan pemanfaatan yang dimaksud disini lebih banyak difokuskan pada kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Dari survei dan pertemuan dengan masyarakat dalam pembahasan rencana pengelolaan kawasan ternyata bahwa masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan sangat menggantungkan kehidupan sehari-hari mereka pada keberadaan Cagar Alam.

Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan sudah dilakukan sejak lama dan turun temurun sebelum daerah ini ditunjuk sebagai Kawasan Konservasi. Walaupun demikian, masyarakat adat yang merupakan pemilik hak ulayat kawasan dan bermukim di dalam dan sekitar kawasan masih berkomitmen untuk menjaga keberadaan CATB dengan membangun suatu kesepakatan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam kawasan CATB yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam ini seperti yang telah di bahas pada Bab V. 1. Buku Panduan. Pedoman ini merupakan buku saku/juknis/pedoman kegiatan

pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) dan kelompok masyarakat pemanfaat.

Rencana Kegiatan

V - 13

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

2. Pemanfaatan Hasil Perikanan. Penduduk yang memiliki hak ulayat dan tinggal di dalam dan sekitar kawasan diperbolehkan memanfaatkan hasil perikanan dari dalam kawasan secara tradisional. Pengembangan dan pengawasan pemanfaatan hasil setempat

dilakukan Balai KSDA cq Ressort pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dengan pemilik hak ulayat yang tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan berdasarkan kesepakatan bersama. Kesepakatan ini juga mencakup pemanfaatan oleh masyarakat desa sekitar kawasan yang bukan pemilik hak ulayat. Sistem pengaturan pemanfaatan tradisional sumberdaya perikanan seharusnya dilakukan masyarakat pemilik hak ulayat dan tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan secara tertulis dengan bimbingan BKSDA. Untuk itu, pengelola cagar alam harus

membangun pemahaman dan pentingnya kearifan tradisional dikembangkan dan dapat diketahui pihak lain. Pengembangan usaha perikanan di dalam kawasan hanya diperkenankan kepada pemilik hak ulayat dan tinggal di dalam dan sekitar kawasan. Usulan untuk pengembangan usaha budidaya lain misalnya budidaya ikan di sungai dengan keramba harus diajukan kepada pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dan bimbingan teknis untuk pemanfaatan dilakukan bekerjasama dengan instansi terkait (Dinas Perikanan dan Kelautan) dan Mitra Pesisir. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Penyuluhan manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan Pembinaan masyarakat soal pemanfaatan perikanan di dalam kawasan yang ramah lingkungan dan tidak merusak mangrove, bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan serta LSM Mitra Pesisir, seperti : o o Pelatihan budidaya ikan dalam keramba apung di sungai Pengenalan sistem “sasi” agar ada peluang recovery dari sumberdaya yang dimanfaatkan o Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring penangkap ikan, bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Melakukan sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 3. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan. Ancaman utama dari kegiatan pertanian dan perkebunan di dalam dan sekitar kawasan adalah penggunaan pestisida, herbisida dan pupuk buatan, dan masalah lainnya menyangkut konservasi tanah. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni akan bekerja sama dengan Dinas Pertanian dalam memfasilitasi masyarakat yang ada di sekitar dan dalam kawasan kepada akses terhadap pola

Rencana Kegiatan

V - 14

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

pertanian yang lebih efisien. Dengan pengembangan pola pertanian dan perkebunan yang lebih efisien kecenderungan untuk perluasan lahan dapat dicegah, serta pendapatan petani dapat ditingkatkan. Usaha pertanian dan kebun masyarakat di dalam kawasan dimungkinkan jika peruntukannya adalah untuk konsumsi sehari-hari dan harus dipetakan untuk mencegah perluasan. Pengembangan usaha perkebunan dengan skala luas dan jenis introduksi dilarang dilakukan di dalam kawasan. Pengembangan kawasan budidaya perkebunan di sekitar kawasan harus berkoordinasi dengan BKSDA agar tidak terjadi tumpang tindih kawasan. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan masyarakat, ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan, antara lain adalah : Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan Penerapan Sistem Pertanian yang Berkelanjutan o Pengenalan sistem agroforestry khusus bagi penduduk yang ada di dalam kawasan o Pelatihan budidaya pertanian menetap secara terbatas pada pemukiman penduduk di dalam kawasan o Penyediaan bibit tanaman setempat.

Pemanfaatan terbatas satwa liar o Pengembangan dan Pembinaan upaya perbesaran buaya di desa Naramasa, Yensei, Yakati, Mamuranu o Pembinaan pengaturan waktu berburu sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan o Pelatihan dan bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari kulit buaya di Desa Naramasa, Yensei dan Yakati o Pelatihan dan bimbingan teknis untuk pembuatan dendeng manis, abon dari daging babi dan rusa, bekerjasama dengan Dinas Perindustrian Kabupaten Penyuluhan dan sosialisasi masa berburu berdasarkan hasil kajian/penelitian. 4. Penelitian. Kegiatan penelitian disini lebih difokuskan pada studi dalam rangka mendukung kegiatan pemanfaatan oleh masyarakat secara lestari dan berkelanjutan. 5. Kerjasama. Kerjasama ditujukan untuk membangun kesepahaman bersama dengan stakeholder terkait seperti Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, dan Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan, khususnya aspek pemanfaatan secara lestari dan berkelanjutan.

Rencana Kegiatan

V - 15

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
6. Pengembangan Sistem Data Base.

BKSDA Papua II Sorong

Kegiatan ini dimaksudkan untuk pemutakhiran

informasi kawasan khususnya hasil-hasil kajian yang berhubungan dengan pemanfaatan sumberdaya alam oleh penduduk yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan.

Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-7.

Tabel V-7. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. 2. Kegiatan Pokok Buku Panduan Pemanfaatan Hasil Perikanan Komponen kegiatan Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan 1. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan 2. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 3. Pelatihan pengenalan system “Sasi”. 4. Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring 3. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 1. Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2. Pengenalan sistem agroforestri. 3. Pelatihan budidaya pertanian menetap, terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 4. Pelatihan pembesaran anakan buaya 5. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 6. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa 7. Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktuwaktu beranak dan mengasuh anak 4. Penelitian 1. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan lokasi perburuan 2. Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman, khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

Rencana Kegiatan

V - 16

Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 6. SARANA DAN PRASARANA Membuat rencana pembangunan sarana dan prasarana dengan prioritas pentahapan pembangunannya. 1 unit. udang. Kebutuhan sarana yang harus dilengkapi adalah : Pembebasan lahan Bangunan kantor Barak polisi hutan Sarana listrik Sarana air bersih Sarana Komunikasi Sarana Transportasi : : : : : : : 500 m2 1 Unit. Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 5. Dalam perencanaan ini perlu dipertimbangkan guna kepentingan pengelolaannya antara lain : C.17 . 1 unit Speedboat 80 pk 1 unit longboat 40 pk Sarana kerja : 3 unit CPU + printer + peralatan kantor lainnya 7 unit GPS 7 unit kompas suunto Rencana Kegiatan V . Bangunan kantor Mengingat Cagar Alam Teluk Bintuni berada pada Kabupaten yang akan berkembang sangat cepat. Sarana prasarana pengelolaan : a. ukuran 90 m2. untuk 6 keluarga. 108 m2 1 unit Genset 3 KW Sumur bor. Handy talky 7 unit dan menara SSB Motor 2 unit. baik sebagai pusat kegiatan pengelolaan maupun pusat informasi. Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 4.1. mesin air dan tower air SSB 1 unit. Kerjasama Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan pemanfaatan. 1. Kegiatan Pokok Komponen kegiatan BKSDA Papua II Sorong 3. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. Pengembangan sistem data base C. sarana kantor sangat dibutuhkan.

jalan patroli dapat digabung bersama jalur batas rintisan sehingga lebih efisien (berkaitan dengan pemeliharaan batas kawasan).2. pompa air dan tower SSB 3 unit. papan larangan dan rambu-rambu peringatan. Papan petunjuk Sarana ini harus ada di Cagar Alam. Kampung Mamuranu dan Tirasai. Pusat informasi Di Cagar Alam Teluk Bintuni. Pulau Bore. dilengkapi dengan perlengkapan yang memadai untuk kegiatan yang akan ditangani di tempat tersebut. Sarana yang dibutuhkan antara lain : Pembebasan lahan Bangunan pondok kerja Generator listrik Pompa air Sarana Komunikasi Peralatan Kerja : : : : : : 3 unit.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni b. c. Papan Petunjuk ttg kawasan Papan Larangan & informasi : : 50 unit 100 unit. Penempatan diatur di tempat yang strategis mudah dilihat. sarana ini penting untuk : pengamatan satwa. Naramasa. Letak pondok kerja ini adalah di Kampung Banjar Ausoy.5 KW 3 unit sumur bor. Handy talky 3 unit 3 unit Mesin Tik 80 cm 3 unit GPS d. Jalan patroli BKSDA Papua II Sorong Di Cagar Alam harus ada jalan patroli. Pulau Modan. b.18 . Sarana prasarana pendidikan a. kantor dapat difungsikan sebagai pusat informasi. Di CA Teluk Bintuni. keindahan alam dan kebakaran. Termasuk di dalam papan petunjuk ini adalah papan pengumuman. Lokasi pembangunan menara pengamat adalah di Awarepi. yang dapat menjangkau keseluruh kawasan sehingga memudahkan bagi petugas untuk melaksanakan tugasnya. Pondok kerja Bangunan ini diperuntukan bagi unit pengelola terkecil. jalur air merupakan salah satu cara yang terpenting. Aktivitas patroli bisa dilakukan bersamaan dengan pemeliharaan batas. Simeri. Pondok kerja di dalam CA Teluk Bintuni direncanakan akan menjadi 4 unit di luar kantor. ukuran setiap lokasi 100 m2 3 unit. C. ukuran setiap pondok 48 m2 3 unit kapasitas 2. Tetapi pada batas kawasan yang berbatasan dengan hutan dataran rendah. Pondok jaga dan Menara Pengawas Untuk pengamatan satwa. diutamakan di jalur batas rintisan yang berdekatan dengan kampung Rencana Kegiatan V .

Jalan rintis penelitian Dibuat sesuai kepentingan dan sederhana. Stasiun pengamat air sungai otomatis (AWLR : automatic water level recording) Pembangunan AWLR sangat membantu pengelola CATB dalam memantau dampak dari perubahan penggunaan lahan yang ada di hulu terhadap CATB. Lokasi pengamatan atau Rencana Kegiatan V . Ini akan membuat waktu penelitian tidak terbuang akibat Pondok ini bisa dipindah dengan menggunakan mobilitas yang terbatas.3. Pusat informasi dan sarana penelitian Bangunan ini dapat dibuat di dalam kawasan sesuai kepentingannya.19 . pusat informasi dan data base dibangun bersamaan dengan kantor (satu bangunan). Jalan setapak permanen di dalam kawasan mangrove dibangun pada tempat yang ada menara pengamat dan petak ukur permanen saja. Disamping itu. C. dan jarang terjadi bulan kering. Jalan setapak BKSDA Papua II Sorong Di Cagar Alam sarana ini diperuntukan sebagai sarana patroli dan pendidikan. maka perlu dibangun stasiun klimatologi dan meteorologi. Sarana dan prasarana penelitian a. Lokasi yang diusulkan dibangun AWLR adalah Sungai Muturi. Curah hujan di kawasan dan sekitarnya berlangsung sepanjang tahun. c. Laboratorium alam (areal penelitian) Penempatan areal lokasi penelitian disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Yang dapat dilakukan adalah membangun petak ukur permanen. Di Cagar Alam Teluk Bintuni. yang berfungsi untuk pengamanan dan memudahkan melihat obyek wisata tertentu di Cagar Alam Teluk Bintuni. longboat b.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni c. Untuk itu perlu dikembangkan dan dibangun pondok peneliti terapung yang bisa dipindah-pindah tergantung lokasi wilayah penelitian. Pembuatan pondok penelitian terapung Pondok peneliti untuk kebutuhan penelitian di dalam Cagar Alam Teluk Bintuni sebaiknya tidak dibangun di banyak tempat. perlu juga dibangun beberapa sarana seperti : Pembangunan stasiun iklim dan cuaca Karena situasi iklim dan cuaca belum diketahui dengan pasti. Data dan informasi dari stasiun ini dapat digunakan untuk kelengkapan data base dan sistem informasi geografis kawasan.

20 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong laboratorium alam akan sangat tergantung dari penelitian tentang pemetaan flora-fauna di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni d. Sarana penelitian berupa pondok peneliti yang punya mobilitas tinggi juga dibangun dengan membuat pondok yang bisa dipindah-pindah di sungai dengan ditarik boat. Ini sesuai dengan areal Cagar Alam yang didominasi areal sungai dan mangrove. Rencana Kegiatan V . Pondok atau rumah tamu peneliti Pondok peneliti permanen dibangun disamping bangunan kantor pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni.

patroli atau bangunan kantor. Pembuat Usulan Program/Kegiatan Pemberi Dana Proposal Dana Disetujui Pemerintah Indonesia Pengelola CATB Departemen Kehutanan BKSDA Papua II Sorong Swasta NGO/LSM Negara Asing Pelaksanaan . Non APBN atau dana lainnya antara lain berupa bantuan dalam dan luar negeri.1 Pembiayaan . Bantuan juga dapat digalang oleh LSM atau organisasi lainnya dan pelaksanaan pembangunan juga dapat dilakukan oleh pihak ketiga yang ditunjuk pemberi . permohonan bantuan kegiatan dan penanggungjawab pelaksanaan disajikan dalam Gambar VI-1. Alur Pengusulan Pelaksanaan Kegiatan dan Implementasi Kegiatan VI . Misalnya. Semua asset yang dibangun di dalam kawasan atau mendukung Mekanisme pengusulan pelaksanaan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menjadi asset dari Cagar Alam atau pemerintah Indonesia.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VI. PEMBIAYAAN A. sumbangan dalam bentuk pengadaan sarana komunikasi. Bantuan dan dukungan ini tidak harus dalam bentuk uang tetapi dapat dalam bentuk barang. Sumber Dana Sumber dana dalam pembangunan dan pengelolaan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa dapat menggunakan dana APBN. Penggalangan biaya pengelolaan dari swasta khususnya yang ada di daerah Kabupaten Bintuni dapat dilakukan oleh pengelola dengan sepengetahuan Kepala Balai KSDA Papua II Sorong.penggalang dana tetapi harus sepengetahuan BKSDA Papua II Sorong.Implementasi Usulan Pembangunan atau Aktivitas Pengelolaan Cagar Alam Proposal Pengelolaan Proposal Penelitian Proposal Pembangunan Sarana Penanggungjawab : BKSDA Papua II Sorong Pelaksana : Pengelola Teknis Cagar Alam Teluk Bintuni Swasta LSM Gambar VI-1.

Rekonstruksi Pal Batas 22. Kepastian Hukum kawasan b. Rincian Biaya Rincian biaya untuk kegiatan pengelolaan disajikan dalam Tabel VI-1 dan Tabel VI-2 sedangkan untuk rencana biaya pengadaan sarana dan prasaran penunjang kegiatan pengelolaan disajikan pada Tabel VI-3.100 22.000 41.000 30.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong B. Pembuatan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 125 1 1 Paket Paket 1. Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan 20 Unit 30.250 82. Kerjasama 2 1.500 112. Pembuatan Papan Pengumuman dan Petunjuk Kawasan 20 20 Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Unit Unit 30.2 . Tabel VI-1. Pembuatan SK Bupati 2.000 1. dan Tabel VI-4. Pembuatan Plat Seng tanda batas Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas 22.500 1.200 1. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan.200 1.200 1. 3.500 Pembiayaan VI . Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 2.200 b. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan.000 1. Pembuatan Perda tentang Cagar Alam 1.100 - d. Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) 1 Pembuatan SK Defenitif 1.200 1.500 1.000 3. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah c.500 - Pemantapan Kawasan - a.114.000 2.500 22.200 a. Papan Petunjuk Kawasan 50 Paket 1.500 22. Pembuatan Pal batas 3.000 Km 900.650.250 41.114 3.114 3.100. Rencana alokasi biaya pengelolaan Kawasan CATB jangka pendek (tahunan) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010).

Pemeliharaan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 50 Km d.500.500 3 1. Penataan dan pembuatan peta Penutupan Lahan di Dalam Kawasan 1. Pembinaan masyarakat 5 Paket Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga Kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan Pembuatan Kelompok Kerja Penelitian tentang dampak lingkungan Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 1 Pengadaan system informasi geografis (SIG) dan pemutakhiran data hasil-hasil peneltian 1 1 Paket Paket 1 Paket 9.Penggantian Pal Rusak 3.500 37.500 i.000 3.000 37.375 1 Paket 1 Paket 1.375 22.500 h.900 49.500 37. Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 150 Paket 22. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2.375 g.500 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 22.500 - - 37.000 10.000 - - - - 37. Kajian potensi fungsi kawasan e.100 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 900. Pelibatan Masyarakat dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan 10.900 9.375 c.000.450.500 1.000 37.114.Pembuatan Plat Seng tanda batas 1.500 3. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 1 Paket 10. Identifikasi Tipe Ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di CATB 150 Paket 2. Pembuatan Poster/Leaftlet - - 3.450 - - 37.900 9.900.375 - - - 3.3 .000 1.000 9.100 3. Pemeliharaan Batas Kawasan 2.500. Buku Panduan Pembiayaan VI .000 1.500 37.500 3.000 10.000 22.114 3.114 3.900 9.500.100. Sistem Informasi Geografis dan Database Paket 37.375 3.000 a. Penelitian j. Pengadaan Poster tentang kondisi ekosistem di Kawasan CATB 150 Paket 22.500 Total 5 tahun (x’000) 45.375 3.000 10.900 9.

500. dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2.500 5.000 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 10.000 Total 5 tahun (x’000) 10. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 1 Paket 1.500.000 37.500 37.500 16.500 37.500 37.000 d.000 6.500.900 Pembiayaan VI .900.000 37. Penelitian ttg Dinamika Populasi Flora dan Fauna b.000 37.000 16. Dampak negatif dari kehadiran jenisjenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.500.900 9.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 10.000 9. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.500. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian.950 65.500 37.500 2.000. bertelur.500 37. Inventarisasi dan Pemetaan jenis Flora dan Fauna di Kawasan 1 1 Paket 37.500.000 9.500 3. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik.500 c.500 Paket 37. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di Kawasan.500.500 16. Pencegahan Hama dan Penyakit 2 Paket 9.000 37.500 37. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 2 1 1 3.950.500 37.4 . Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 5 Paket 37.500 37.900 a.500.950 65.000 65.900. 1 Paket 9. 2. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan 37.000 2. Pembinaan Habitat 3 Paket 1.000 37.000 37. Pengendalian 1.000 37. Paket Paket Km 37. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 1 Paket 37. Pembuatan petak ukur permanen 4.000 37.500 4.

000 10. Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2. leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan irstansi-instansi terkait.900.000 10.000 2. Rehabilitasi kawasan Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi.000.900 Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) b. Penelitian tingkat dan laju sedimentasi di beberapa sungai yang bermuara di kawasan 1 2. 1.000 20.000.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No 1.000 Pembiayaan VI . Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 9. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III.500. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2. Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi b. 1.000 2 Paket 10. Pemulihan a. Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak.000 37. Membuat brosur.000 37.500.5 .000 10.000 16. Penelitian dan kajian laju kerusakan ekosistem dan penyebabnya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1. 1 Paket 9.500 37.500 Paket 37. Peneltian 37.000 20. Perlindungan Jenis 16.000 10.900 c.500 f. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 10 Paket 16.500.500 9.500 3.500 e. Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 1 Paket 37. Pengembangan system data base 2 Paket 10.

000 5.000 5.000.6 .500 Voluntir a. Pembuatan Panduan 5.000 5.000 4.500 5.000 7.000 5. Penegakan Hukum Unit - 1. Pelatihan jagawana volunteer 2.760 9.000.000 7.760 9. Pelatihan/Penyegaran Polhut 6 5 paket paket 7. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (volunteer) 5 Paket 5 Paket 9. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat Unit 3.500 10. Personil Pengelola b.000 7.000.500 5.000 20. 1.800 47. Pendukung /Kelembagaan Penambahan personil pengelola kawasan 1. Kerjasama 1 Paket 5. Patroli gabungan 3.500 PHKA 45. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi - 2.000 Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 5. Pengamanan Rutin (patroli) e.000 5.500 10.000 a.760 9. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2.500 Perlindungan dan Pengamanan Kawasan 5.000 Total 5 tahun (x’000) 25. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder Buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB - - d.500.000 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 5.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 5.000 5.000 9.000 15.500 10.500 240 Paket 120. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan 5 Paket e.500 28.760 9.000 7.500.000 3.760 5. Pelatihan/Penyegaran Pembiayaan VI .000 10.000 50.

900.900.900 20. Pelatihan pembesaran anakan buaya 6.000 20.000 20.900 3.900 20.900 37.900.900 c.000 Paket 20.900 37.500 20. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan 2.900 20.800 20.900 20. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 2 Paket 20.900 1.900 20.900.000 20. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 1 1 1 1 Paket 20.900.900.900. Pelatihan budidaya pertanian menetap.500.7 . Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5.000 20.900 8.900. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring 20. Pelatihan pengenalan system “Sasi”.900 20. Pengenalan sistem agroforestri.900 41.900 Pembiayaan VI .900 20.000 20.900 20. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa Paket Paket Paket 1 Paket 20. 1 1 1 5.900 20. Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktu-waktu beranak dan mengasuh anak 1 Paket 20.900.900 1 Paket 20. Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan 2 - Pemanfaatan a.000 20. Pemanfaatan Hasil Perikanan 2 Paket 20.500 20.000 20.900 20.000 20. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas. 3.900 41.900 Paket 20.900.000 Paket 20. 4.900 20. terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 1 Paket 4.900 20.900.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) - 6.800 20.000 37.000 20.000 1. Buku Panduan - b. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 7. Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2.900 20.900.

Kerjasama 2.500 37.000 10. udang. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2 Paket 37.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 37.000 10.000 Total 5 tahun (x’000) 75.500 75.000 Pembiayaan VI .500. Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 1 Paket 10.500.8 .000 4.000 10.000 10.500 37. Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman.000 2. Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 10. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 10.000. Penelitian 2 Paket 1.500 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 37.000.000 1. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan Lokasi perburuan 2.000.000 Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan Pemanfaatan 2 Paket 2.500 - f. Pengembangan sistem data base 10.500 37. Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan.000 e. khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni - - 3.500.000 2.000 10.000 d.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Tabel VI-2. Rencana alokasi biaya pengelolaan Kawasan CATB jangka panjang (lima-tahunan) pada periode 25 tahun pertama (2006-2030).
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000

Total 25 tahun (x’000)

1 Pembuatan SK Defenitif 125 1 1 Paket 3.100 3,100 Paket 1.114 1,114 Km 900 112500 Pembuatan SK Bupati Pembuatan Perda tentang Cagar Alam Pembuatan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) Pembuatan Pal batas Pembuatan Plat Seng tanda batas Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas -

Pemantapan Kawasan -

a. Kepastian Hukum kawasan

b. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah

c. Rekonstruksi Pal Batas

112,500 1,114 3,100 -

d. Kerjasama

2 1. Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 20 20 Unit Unit 2. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan. 20

Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan 30.000 30,000 Unit 1,200 1,200 1.200 1.200 -

a. Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan

3. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan. Pembuatan Papan Pengumuman dan Petunjuk Kawasan 1. Pemeliharaan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 2.Penggantian Pal Rusak 3.Pembuatan Plat Seng tanda batas 50 50 5 3

30,000 Paket Km Paket Paket 1,650 900 1,114 3.100

1,200

1.200

b. Papan Petunjuk Kawasan

82.500 45.000 1.114 3.100 45.000 1.114 -

82.500 45.000 1.114 3.100 1.114 -

82.500

247.500 135.000 1.114 3,100 5.570 9.300

c. Pemeliharaan Batas Kawasan

Pembiayaan

VI - 9

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 37.500 3.375 3.375 3.375 37.500 37.500 37.500 37.500 37.500 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 37.500 37.500 22.5

Total 25 tahun (x’000) 112.500 37.500 10.125

d. Kajian potensi fungsi kawasan 1. Identifikasi Tipe Ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di CATB 3 3 450 Paket Paket Paket 2. Penataan dan pembuatan peta Penutupan Lahan di Dalam Kawasan 1. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2. Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 450 Paket 22,5 3.375 3.375 3. Pengadaan Poster tentang kondisi ekosistem di Kawasan CATB 450 Paket 22,5 3.375 3.375 3.375

e. Pembuatan Poster/Leaftlet

-

-

10.125

3.375

-

-

10.125

f. Pembinaan masyarakat 20 Paket 9,900

Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga Kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan 49.500 Pembuatan Kelompok Kerja 1. Penelitian tentang dampak lingkungan 2. Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 1 Paket Pengadaan system informasi geografis (SIG) dan pemutakhiran data hasil-hasil peneltian 5 Paket 2 Paket 37.500 37.500 1 Paket 10.450 10.450 37.500

49.500

49.500

49.500

198.000

g. Pelibatan Masyarakat dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan

37.500 -

-

37.500 -

-

10.450 75.000 37,500

h. Penelitian

i. Sistem Informasi Geografis dan Database

37.500

37.500

37.500

37.500

37.500

37.500

187.500

3 1. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan 2. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 1. Inventarisasi dan Pemetaan jenis Flora dan Fauna di Kawasan

Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 1 Paket 10.000 10.000 10.000

a. Buku Panduan

1

Paket

10.000

10.000

-

10.000

b. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan

3

Paket

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

Pembiayaan

VI - 10

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 37.500 37.500 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 37.500

Total 25 tahun (x’000) 65.000

2. Penelitian ttg Dinamika Populasi Flora dan Fauna 2 Paket 3. Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 3 Paket 37.500 37.500 37.500 37.500 4. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.500 37.500 5. Dampak negatif dari kehadiran jenisjenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2 Paket 37.500 37.500 6. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 3 Paket 37.500 37.500 37.500

112.500

37.500

37.500

65.000

37.500

112.500

c. Pembinaan Habitat 3 Paket 37.500

1. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan, bertelur, dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 5 3 5 Km Paket Paket 3. Pembuatan petak ukur permanen 4. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian. 37.500 16.950 50.000

37.500

37.500

37.500

112.500

37.500 16.950 50.000

37.500 16.950 50.000

37.500 16.950 50.000

37.500

37.500

187.500 50850 50.000 50.000 250.000

d. Pengendalian 1. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di Kawasan. 1 2. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. 1. Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 2 Paket 9.900 9.900 9.900

a. Pencegahan Hama dan Penyakit

Paket

9.900

9.900

9.900

19.800

b. Perlindungan Jenis

3

Paket

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

5

Paket

16.500

16.500

16.500

16.500

16.500

16.500

82500

Pembiayaan

VI - 11

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 3.375 3.375 3.375 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 22.5

Total 25 tahun (x’000) 10.125

3. Membuat brosur, leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah 450 Paket

e. Pemulihan Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan irstansi-instansi terkait. 1 1 Paket 9.900 9.900 9.900 Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. Rehabilitasi kawasan 1. Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi. 3 Paket 50.000 50.000 50.000 50.000 150.000

a. Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi

b. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

2. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III. 3 Paket 50.000 1. Penelitian tingkat dan laju sedimentasi di beberapa sungai yang bermuara di kawasan 3 Paket 2. Penelitian dan kajian laju kerusakan ekosistem dan penyebabnya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 1. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2 2. Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 3. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan 2 Paket 50.000

50.000

50.000

50.000

150.000

c. Peneltian

50.000

50.000

50.000

150.000

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

f. Pengembangan system data base

10.000

10.000

10.000

20.000

Paket

10.000

10.000

10.000

20.000

5

Paket

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

25.000

e. Kerjasama

Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati

1

Paket

5.000

5.000

5.000

Pembiayaan

VI - 12

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000

Total 25 tahun (x’000)

4. 1. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2. Patroli gabungan 3. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (volunteer) 25 Paket 1.500 7.500 7.500 7.500 25 Paket 9.500 47.500 47.500 47.500 1240 Paket 120 28.800 28.800 28.800 28.800 47.500 7.500

Perlindungan dan Pengamanan Kawasan 28.800 47.500 7.500 144.000 237.500 37.500

a. Pengamanan Rutin (patroli)

e. Penegakan Hukum 5 paket 7.500 7.500 7.500

1. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi

7.500

7.500

7.500

37.500

2. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat 5 7.500 paket 7.500 3. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder 5 paket 15.000 Buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB 2 paket 7.500 15.000

7.500

7.500

7.500

7.500

37.500

15.000

15.000

15.000

15.000

75.000

d. Pembuatan Panduan

7.500

7.500

15.000

5. Penambahan personil pengelola kawasan 1. Pelatihan jagawana volunteer 2. Pelatihan/Penyegaran Polhut 15 15 3

Pendukung /Kelembagaan paket paket paket 7.500 10.000 45.000 50.000 22.500 22.500 50.000 22.500 50.000 PHKA 112.500 150.000

a. Personil Pengelola

b. Pelatihan/Penyegaran

6. Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan

Pemanfaatan 2 paket 7.500 7.500 7.500

15.000

a. Buku Panduan

b. Pemanfaatan Hasil Perikanan

1. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan

10

Paket

20.900

41.800

41.800

41.800

41.800

41.800

209.800

Pembiayaan

VI - 13

900 4.000 75.900 20.900 20.900 20.800 41. Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktu-waktu beranak dan mengasuh anak 1. 4.900 3 Paket 20.900 20.900 20.000 20.700 62.500 75. Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5.500 20.900 20.700 37.900 9.000 75.900 20.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 9.900 62. Penelitian 10 Paket 37.900 9. Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2.900 20112015 20162020 20212025 20252030 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan Rp x 000 9.700 2.14 .600 104.900 20. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa 3 Paket 37.900 37.900 62.900 62.000 2.900 20.000 375.900 20.900 20.900 20.900 20.900 62.800 41.800 209.500 20.900 20. khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 20.900 20.900 20.700 8.900 65.900 20.900 41. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas.900 20.900 20.900 Total 25 tahun (x’000) 39.900 20.900 20.900 20. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 7.700 d.900 20. 2 3 3 Paket Paket Paket 5.900 20. Pelatihan budidaya pertanian menetap. Pelatihan pengenalan system “Sasi”. terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 3 Paket 20. 3. Pelatihan pembesaran anakan buaya 6. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 10 Paket 20. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan Lokasi perburuan 3 Paket 20. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring c. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 4 5 3 3 Paket Paket Paket Paket 3.900 20.900 20.800 41.500 62.700 20.000 62.900 20.900 20. Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman.000 75. Pengenalan sistem agroforestri.900 20.700 62.900 20.000 75.900 20.800 1.900 20.700 62.700 Pembiayaan VI .500 20.900 41.900 9.900 20.

000 5.000 30.000 30.15 .000 Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan Pemanfaatan 3 Paket 5. Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 2 Paket 10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan Rp x 000 Total 25 tahun (x’000) 3.000 20.000 10.000 75.000 1.000 10.000 75.000 10.000 4. Pengembangan sistem data base 10.000 75.000 2.000 10.000 Pembiayaan VI .500 75.000 e.000 10.000 5. udang. Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 10.000 10. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 10.000 10.000 75. Kerjasama 15.000 5.000 375. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 10 Paket 37. Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan.000- f.

000 4.000 75.500 unit 10.000 7.000 500.000 3.000 1 1.51) Pembebasan Lahan Kantor Bangunan Kantor (m) Barak Polhut (untuk 6 orang atau klg) Genset Kantor (4.000 35.820 2.500 900 900 900 900 900 2.500.5 KW) Komputer P IV Printer A3 (HP 1180C)+ USB Conector Peralatan kantor Faksimil Pengadaan Sambungan Telpon Radio SSB GPS Kompas Sunto Speed boat patroli 40 PK Longboat patroli 40 pk Handy talky motor roda 2 Sarana air bersih Pemeliharaan Kantor (KPPN.500 7.000 20.500 2.000 30. Rencana Alokasi Biaya Pengadaan Sarana dan Prasarana untuk Jangka Pendek (per tahun) pada Periode 5 Tahun Pertama (2006-2010) Komponen 1 2 3 4 5 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.000.000 157.000.000 4.000 1 7.500.000.000 unit 250.000 15.000 2.000 5.000 10.000 75.000 2.000 25.000.000 5.500 1.51) Bangunan Kantor (m) + barak Halaman kantor komputer dan printer Peralatan kantor Radio SSB Pembiayaan VI .000 7.500 unit 4.000 10.500 paket 7.000 10.066/33.500 4.000 1.500 250 25.000 10.000 75.000 15.000 1.000 10.500 Pengadaan Kantor/pondok (KPPN.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VI-3.000 20.500 3.500 2.500 150.000 25.000 157.000 75.000 15.000.820 2.000 10.000 22.500.000 2.000 24.500 2.500 2.500.500 7.000 20.000 8.000 1 unit 900.000 7.16 .000.000 243.000 2.000 2.000 2.000 8.000 1.640 12.500.000 17.500 8.750.000 7.000 No Aktivitas/Kegiatan 1 Sarana Pengelolaan Kantor 500 90 162 1 2 1 3 1 1 1 7 7 1 1 7 1 1 unit 30.000 252 500 4 unit 1 35.000.000 250 unit 1.000 5.000.000.066/33.500 2.000 20.500.000 30.500 243.

750 1.5KW Mesin tik 60 cm Radio SSB GPS Handy talky Longboat patroli.000 5.000 7.500 5.000 1.500 135.000 150 2.000 3.500 1.000 22.000.000 100 1.000 25.000 20.000 unit 2.000 2.000 84.800 500 7.000 2.500 7.000 15.500.250 31.000 3.550.000 7.000 1.200.000 6.000 1.000 3.000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Handy talky Speed boat patroli (operasional) Longboat patroli (operasional) Motor roda 2 opeasional genset (liter bensin) Biaya Telpon Pondok Kerja Bangunan Pondok kerja (KPPN. 25 pk Peralatan pondok kerja Sarana air bersih Pemeliharaan (KPPN.500 1.200 9.000 900.000 25.500.500 15.000.500 5.750 2 3 4 5 7 1 2 1 1 1 1.000.000 9.500 1.500 7.000 5.000 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.000 20.500 45.000 5.000 25.000 unit 250.000 5.000 7.000 50.040 22.000 1.000 15.000 250.000 1.000 20.200 1.500 15.500 5.000.000 2.000 7.000 60.500 10.000 7.200 3.000 3.000 84.700 750 10.000 1.000.100 45.500.000 450 8.000 30.000 25.000 50 900 250 3.700 750 10.680 15.51) Pondok kerja (m) Operasional Genset Operasional longboat Mesin tik 60 cm Radio SSB Handy talky Longboat patroli Peralatan pondok kerja Pembiayaan VI .550 9.000 tahun 9.000 84.000 7.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Komponen 1 500 6.000 3.500 5.000.000 48 3 3 3 3 3 3 3 3 35.500 2.000 75.000 3. 1.500.000.500 15.000 10.500.500 45.500 6.500.500 22.500 1.000 1.500 1.066/33.066/33.500 1.000 2.000 3.17 .200 1.500.200 48 100 3 3 3 3 3 3 3 3 5.080 67.000 3.500 5.500 3.000 9.000 10.500 3 petak 50.000 3 unit 1.360 22.51) Pondok kerja (m) Pembebasan lahan (m) Genset Pondok kerja.000 7.000 3.500 12.000 5.000 20.000 6.750.500 3.100 2.550 9.000 150 2.500 5.500 1.000 252.500 5.000.

000 48 3 1 48 1 48 1 1 48 35.000 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Komponen 1 2 3 4 5 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.000.000 30.400 5.51) Pondok Peneliti (dlm kompleks kantor) Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung (m) Longboat untuk peneliti (40 pk) Pemelliharaan Pondok Peneliti Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung Longboat untuk peneliti (40 pk) Pembiayaan VI .400 2.680 15.000 unit 75.200 1.000 84.680 unit 30.066/33.680 84.040 - BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan 2 Sarana Pendidikan Brosur/leaflet/buku komik cagar alam Pusat data n informasi 3 Sarana Penelitian Pengadaan pondok penelitian(KPPN.000 600 35.000 75.000 1.000 m 1.000 30.200.000 unit 15.680 600 1.000 45.000.200 1.000 15.680 600 1.000 1.000 6.000.000.680 600 1.680 2.000 600.000 96.000 75.18 .000 1.000 15.720 2.000 1.750.000 96.

500 7.500 88.000 21.000 15.500 1.500 17.000 21.000 20.500 150.000 8.000.000 4.550 37.000 8.000 20.000 21.000 - 60.000 22.000 3.000.000 157.000 35.850 8.500 Pemeliharaan Kantor (KPPN.000 15.000 12.500.000 12.200 62.000 2.000 243.640 12.000 80.000 12.000 24.000 Pengadaan Kantor/pondok (KPPN.500 17.500.000 unit paket unit 4.000.000 1 7.640 12.066/33.000 75.830 132. Rencana Alokasi Biaya Pengadaan Sarana dan Prasarana untuk Jangka Panjang (per tahun) pada Periode 25 Tahun (2006-2030) Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 2006-2010 2011-2015 2016-2020 2021-2025 2026-2030 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.000 7.000 Pembebasan Lahan Kantor Bangunan Kantor (m) Barak Polhut (untuk 6 orang atau klg) Genset Kantor (4.000 3.500 243.500 17.000 17.000 25.000 24.500.000 22.000 900.000 250 25.500 5.640 12.500 250 25.000.000 6.000 10.000 20.000 20.500.000 8.500 5.000 5.5 KW) Komputer P IV Printer A3 (HP 1180C)+ USB Conector Peralatan kantor faksimil Pengadaan Sambungan Telpon Radio SSB GPS Kompas Sunto Speed boat patroli 40 PK Longboat patroli 40 pk Handy talky motor roda 2 Sarana air bersih 2 7 4 1 unit 30.280 30.000 8.000 62.500 26.000.000.500 8.000 5.000.640 12.000 1.450 30.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VI-4.500 4.000 20.066/33.500 5.000 60.000 30.500 1.000 75.500.000 12.175 7.000.640 12.000 15.000 1 1.500 7.000 75.400 7.500 5.51) 10.000 40.500 12.125 30.000 157.500 Pembiayaan VI .500.000 10.475 30.000 - 8.000 30.000 1.000 1 3 1 1 1 7 7 1 75.000 500.750.500 4.000 75.51) 252 500 4 1 7 1 2 unit unit unit 1 Bangunan Kantor (m) + barak Halaman kantor komputer dan printer Peralatan kantor Radio SSB Handy talky Speed boat patroli Longboat patroli 35.19 .000 12.000 - 20.000 21.625 8.000 unit 250.000 35.000 No Aktivitas/Kegiatan Komponen 1 Sarana Pengelolaan Kantor 500 90 162 1 3 unit 10.000 1.000 250.500 17.000 94.500.000.000 20.000.500 6.

000 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 3 1 1 tahun 9.066/33.20 .000 45.000 15.000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Komponen Motor roda 2 opeasional genset (liter bensin) Biaya Telpon Pondok Kerja 48 100 3 3 3 3 3 3 3 3 48 3 3 3 3 3 3 3 2.000 2006-2010 3.250 252.500 258.200 45.000 518 9.500.000.500 1.500 27.000 3.750 540 9.000 252.500 2.000 10.125 2.720 2.200 112.500 15.000 1.000 1.000 22.200 45. 1.51) 48 m Pondok Peneliti (dlm kompleks kantor) 1.500 15.000.588 52.315 2.000 10.880 517.275 241.300 2026-2030 12.925 52.100 2011-2015 6.500 225.500 29.000 10.700 52.500 15.000 75.100 2. 25 pk Peralatan pondok kerja Sarana air bersih Pemeliharaan (KPPN.250 585 10.500 310.000 900.750.000 75.000.000 135.000 Pengadaan Pondok kerja (KPPN.000 1.200 2016-2020 6.000 20.000 84.000 7.400 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.000 60.530 2.875 7.200 112.066/33.200 1.000.000.000 1.500 25.750 - Pondok kerja (m) Operasional Genset Operasional longboat Mesin tik 60 cm Radio SSB Handy talky Longboat patroli Peralatan pondok kerja 2 1 Sarana Pendidikan Brosur/leaflet/buku komik cagar alam Pusat data n informasi 2 paket 5.5KW Mesin tik 60 cm Radio SSB GPS Handy talky Longboat patroli.250 31.000 5.000 3 unit 1.000 25.000 unit 2.500.500 3 35.000 1.000 1.500 28.200 112.500.500 25.000 25.200 45.000 7.500 3.500 3.655 47.500 15.000 3 Sarana Penelitian Pengadaan pondok penelitian(KPPN.000.000 7.000 Pembiayaan VI .200.51) 22.066/33.500.000 60.750.000 22.200 225.000.790 13.000 5.210.000 250.080 67.000 50.200 2021-2025 9.500 563 10.813 52.000 - - - - 84.125 3 petak 50.000 37.500 15.550.000 110.000 15.000 25.500 132.51) Pondok kerja (m) Pembebasan lahan (m) Genset Pondok kerja.500 281.200 112.000 450 8.000 25.000 1.000.500.500.200 45.

500.680 37.500 unit 30.000 45.040 150.000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Komponen Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung (m) Longboat untuk Peneliti (40 pk) Pemelliharaan 30.000 Pondok Peneliti Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung Longboat untuk peneliti (40 pk) Pembiayaan VI .680 600 1.400 5.000 15.200.680 1.000 15.500 1.000.400 2.680 600 1.000 1.000 6.000 37.000 unit 75.200 1.500 35.680 1.000 1.000 2011-2015 2016-2020 2021-2025 2026-2030 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.000 1.000.000 75.500 unit 15.000 96.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 2006-2010 3 1 48 1 48 1 1 48 1 1 7.000 30.000 15.000 75.000 600 600 35.200 1.000 2.680 37.000 96.000.21 .720 2.680 37.000.000 600.

.

maupun lingkup lainnya merupakan kebutuhan penting. pola peran partisipatif masyarakat dan pihak swasta yang ada di sekitar Teluk perlu dilibatkan.1 . Secara struktural. dibutuhkan ukuran pengelolaan yang kecil tetapi efektif. dan Koordinasi Pengembangan Organisasi dan SDM Pelaksanaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni dilakukan BKSDA Papua II cq Resort Bintuni. Untuk itu dibutuhkan kerangka logis pengelolaan yang efisien dan dinamis. Kebutuhan pelatihan bersifat dinamis. BKSDA harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VII. Lingkungan Hidup. Untuk mewujudkan pola pengelolaan yang efisien dan dinamis. Ini bertujuan untuk mengefisienkan anggaran personalia. Oleh karena itu. jumlah personal di Resort Cagar Alam Teluk Bintuni diusulkan bertambah sesuai dengan pos pengawasan yang diusulkan. Secara administratif BKSDA Papua II akan berkoordinasi dan bertanggung jawab kepada Departemen Kehutanan. Kelautan dan Perikanan. sesuai dengan kemajuan-kemajuan teknologi dan prinsip-prinsip umum pengelolaan. Penerapan adanya Polisi Hutan volunteer yang biayanya dibebankan kepada pihak swasta yang berniat membantu dapat dikembangkan tetapi garis komando terhadap Polisi Hutan ini ada di Kepala Resort dan pihak swasta hanya sebatas memberikan dukungan berupa fasilitas. dan pendidikan. untuk melancarkan kegiatan pengelolaan kawasan dan terpadu dengan pembangunan di wilayah sekitarnya. Sebagai pihak pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. PENGORGANISASIAN A. Kepala Resort Cagar Alam Teluk Bintuni harus lebih bersifat fungsional. dimana setiap pos akan diisi satu sampai 2 orang Polisi Hutan. program-program pengembangan sumberdaya manusia. Untuk itu. tetapi mengoptimalkan anggaran operasional dan pengelolaan inventarisasi perlengkapan di Resort Cagar Alam Teluk Bintuni. Kelembagaan Resort KSDA Teluk Bintuni yang langsung mengelola Cagar Alam Teluk Bintuni berada langsung di bawah BKSDA Papua II. yang terutama didasarkan pada strategi komunikasi. baik berupa pelatihan dalam lingkup Kehutanan. Disamping itu. diusulkan beberapa posisi yang bersifat fungsional penuh. Pembinaan SDM. agar mampu mengoptimalkan pola pengelolaan yang koordinatif dan partisipatif dengan tetap berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni.1. A. Prinsip pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni bersifat terpadu dan partisipatif. Pengorganisasian VII . koordinasi. untuk menunjang pengelolaan yang optimal. Kelembagaan. multistakeholders. Disamping itu perlu mengoptimalkan kemampuan teknis masing-masing personalia yang ada dalam proses pengelolaan.

Struktur Arus Informasi dari Tahapan Pelaksanaan Pengelolaan di Cagar Alam Teluk Bintuni Struktur organisasi dan sumberdaya manusia perlu di evaluasi terus-menerus melalui suatu analisis beban kerja dan kebutuhan tenaga sehingga diharapkan lebih berdayaguna dan berhasilguna serta dapat mengantisipasi beban pekerjaan yang akan dihadapi dan direncanakan. pemberdayaan masyarakat dan komunikasi Melakukan kerjasama dalam pengawasan kawasan dengan membina Polisi Hutan volunteer dengan kerjasama pihak III A. pengendalian dan pemulihan di kawasan cagar alam (Gambar VII-1). Aktivitas pengawasan dapat memberikan informasi dan data untuk kepentingan pemeliharaan dan selanjutnya penataan.2 . Penataan Pemeliharaan Pemanfaatan Pengawasan Perlindungan dan Pengembangan Pemulihan Pengendalian Gambar VII-1. Pengorganisasian VII . pelaksanaan penelitian dan pengembangan akan memperkaya informasi untuk kepentingan pemeliharaan. semua aktivitas pengelolaan saling mendukung satu sama lain.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Meningkatkan status pengelolaan kawasan konservasi di Teluk Bintuni menjadi seksi KSDA mengingat di wilayah ini ada 2 kawasan cagar alam (Cagar Alam Teluk Bintuni dan Wagura Kote) atau Cagar Alam Teluk Bintuni Menambah jumlah Polisi Hutan sehingga setiap wilayah pengawasan yang ada terisi dengan Polisi Hutan penanggungjawab wilayah Melakukan pelatihan Polisi Hutan dalam bidang pengamanan hutan. Di lain pihak. Kebijakan Pengelolaan Di dalam pengelolaan cagar alam.2. pemanfaatan.

Masyarakat. Koordinasi dengan Instansi Lain Secara umum. kepastian hukum kawasan juga harus menjadi perhatian. A. yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan formasi dan biaya yang tersedia. media massa. Forum ini merupakan forum multistakeholder dan menjadi forum atau wadah komunikasi yang membicarakan semua kegiatan yang akan dilakukan di Cagar Alam. koordinasi pengelolaan dilakukan antara pengelola CATB dengan instansi di atasnya yaitu BKSDA Papua II Sorong. Koordinasi secara khusus dengan pemerintah Pemerintah Propinsi dan Pusat. koordinasi pengelolaan dilakukan oleh pengelola Cagar Alam (Resort BKSDA) dengan instansi terkait lain di dalam kabupaten dapat berlangsung optimal untuk membuka peluang koordinasi dan kerja sama dalam kegiatan-kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Membentuk forum Komunikasi dan Kelompok Masyarakat Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni. Forum ini dibentuk dengan tujuan cagar alam lestari. media massa. Dalam pelaksanaannya. Tujuannya adalah untuk memudahkan pengawasan dan koordinasi sekaligus menjadi mata rantai pengawasan di seluruh kawasan cagar alam Membantu pemerintah daerah dalam perumusan peraturan daerah khusus untuk keberadaan kawasan konservasi Cagar Alam dalam tata ruang kabupaten. dan swasta dilakukan oleh BKSDA atau Resort dengan sepengetahuan BKSDA Papua II. Lembaga Pendidikan dan Penelitian. Koordinasi Dalam Lingkup Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Secara umum. Pengorganisasian VII . Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Koordinasi khususnya dibutuhkan untuk menjangkau pihak-pihak di lain dalam intansi Pemerintah Kabupaten. lembaga swadaya masyarakat (LSM).4. Hal ini dimaksudkan agar keberadaan Cagar Alam menjadi tanggungjawab semua pihak dan keberadaan serta pemanfaatan berhasil guna bagi masyarakat sekitar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dalam rangka menyesuaikan beban pekerjaan yang terus berkembang maka dari hasil analisis diperlukan penambahan tenaga pada berbagai bidang keahlian. kelompok masyarakat yang mencari nafkah dari dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga harus diorganisir.3 . Pemerintah Propinsi dan Pusat. A. Untuk menunjang pelaksanaan pengelolaan. dan swasta. forum ini bisa menjadi perpanjangan tangan atau sumber informasi bagi Badan Monitoring Pada sisi lain.3.

3) Tokoh-tokoh masyarakat lainnya. 4. Kegiatan-kegiatan penelitian oleh lembaga-lembaga internasional untuk tingkat operasional diatur sepenuhnya oleh Ditjen PHKA dan BKSDA Papua II Sorong. Bentuk koordinasi yang dilakukan dalam hal ini berupa pelaporan. 2) Dinas Pariwisata. serta 11) Kepolisian dan TNI. dan konsultasi. sebagai berikut: 1) Dinas Perikanan dan Kelautan. dan Umum se Kabupaten Teluk Bintuni dan 2) Perguruan Tinggi. informasi. maka pengelola CATB harus berkoordinasi dengan instansi dalam lingkup Pemerintah Kabupaten. 9) Dinas Pendidikan. Koordinasi dengan masyarakat setempat. kerjasama kegiatan dan konsultasi. Lingkup Pemerintah Propinsi dan Pusat BKSDA Resort Cagar Alam Teluk Bintuni harus berkoordinasi dengan Pemerintah Propinsi Irian Jaya Barat. Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni dan instansi teknis lainnya Bentuk koordinasi dalam hal ini berupa.4 . Menengah. 8) Dinas Perindustrian dan Perdagangan. 6) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. pelaporan. 3. 7) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. 2) Badan Perwakilan Kampung atau Lembaga Masyarakat Adat (LMA). 4) Dinas Tanaman Pangan. Bentuk koordinasi dalam hal ini berupa. Koordinasi tersebut meliputi: 1) Lembaga Pendidikan Dasar. maka koordinasi dengan masyarakat setempat sangat penting dilakukan. 2. 5) Dinas Perhubungan. Koordinasi dalam hal ini berupa.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 1. maka koordinasi dalam kegiatan pendidikan dan penelitian sangat penting dilakukan. kerjasama kegiatan dan konsultasi. 10) Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah. Lingkup Pemerintah Kabupaten BKSDA Papua II Sorong Agar strategi dan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat sejalan dan terpadu dengan strategi dan program pembangunan Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. berkaitan dengan keterlibatan masyarakat luas serta usaha peningkatan kesadartahuan masyarakat tentang nilai dan manfaat Cagar Alam Teluk Bintuni. Masyarakat Setempat Guna mengoptimalkan pengelolaan kawasan yang efisien dan partisipatif. Semua kegiatan koordinasi dengan masyarakat setempat dilaporkan kepada BKSDA Papua II Sorong dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. informasi dan kerjasama kegiatan. Lembaga Pendidikan dan Penelitian Dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia. pelaporan. 3) Dinas Kehutanan. kerja sama kegiatan. Pengorganisasian VII . terutama dengan: 1) Aparat desa.

Masyarakat di dalam pengelolaan cagar alam bias menjadi perpanjangan tangan dari kepala Polisi Hutan sebagai pengelola teknis di daerah pengelolaan cagar alam untuk mengumpulkan banyak informasi yang berguna bagi pengelolaan. pelaporan. Swasta Koordinasi dengan swasta juga tidak kalah penting. terutama perusahaan besar di Kabupaten Teluk Bintuni. 7. kerjasama kegiatan dan konsultasi. Media Massa Usaha untuk menumbuhkan kesadartahuan dan keterlibatan masyarakat dalarn pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sulit tercapai apabila komunikasi dan informasl hanya dilakukan oleh Kepala Resort Cagar Alam Teluk Bintuni atau BKSDA Papua II Sorong. Media masa dalam hal ini.5 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 5. Lembaga Swadaya Masyarakat BKSDA Papua II Sorong LSM memiliki peran penting baik sebagai fasilitator atau pendamping masyarakat. Pengorganisasian VII . WWF. sangat dibutuhkan. Conservation International (CI) dan lain-lain 2) LSM nasional: Yayasan Kehati. Secara umum. Masyarakat sebagai salah satu pemangku kepentingan (stake holder) dapat berperan sebagai Polisi Hutan volunteer yang membantu proses pengawasan sekaligus juga menjadi pengguna jasa cagar alam. Perusahaan swasta ini bisa berperan aktif bersama Resort untuk mengawasi atau pengamanan kawasan Cagar Alam. dan sebagainya 3) LSM lokal: . Dukungan media massa bagi strategi komunikasi dan informasi pengelolaan akan memperluas daya imbasnya. Untuk itu koordinasi antara Resort Cagar Alam Teluk Bintuni dengan LSM baik di Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya. Koordinasi tersebut terutama dengan: 1) LSM internasional: The Nature Conservancy (TNC). Semua kegiatan koordinasi dengan LSM dilaporkan kepada BKSDA Papua II Sorong dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. tidak hanya untuk masyarakat sekitar tetapi juga mampu menjangkau tingkat nasional dan internasional. Swasta bisa juga berperan dalam memfasilitasi keberadaan Polisi Hutan volunteer untuk pengawasan. dan lain-lain Koordinasi dalam hal ini berupa. adalah media cetak. 6. dan media alternatif. para pemangku kepentingan di Teluk Bintuni yang dapat berperan dalam pengelolaan Cagar Alam perlu mengetahui peran apa saja yang bisa dilakukan. media elektronik. maupun dari luar teluk. Walhi. maupun sebagai pengumpan masukan-masukan alternatif bagi strategi dan kebijakan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Di dalam pelaksana teknis. Keanggotaan dari badan yang cukup beragam akan membuat sinkronisasi kegiatan dengan instansi terkait di lingkup Kabupaten Teluk Bintuni bias berjalan dengan baik (Gambar VII-2). Dalam pelaksanaan pengelolaan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Disamping itu. masyarakat juga harus berkoordinasi dengan cagar alam. Masyarakat Dalam Kawasan CA dan di sekitar kawasan CA Teluk Bintuni Ka BKSDA Papua II Sorong Badan Monitoring Swasta Kepala Ressort Cagar Alam Teluk Bintuni Universitas Papua LMA Bappeda Kab TB Dinas Kehutanan Dinas Perikanan Polisi Hutan Forum Komunikasi Kelompok Pemanfaat Gambar VII-2. Struktur Sistem Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Posisi bada monitoring yang berada di luar struktur internal BKSDA ataupun pelaksana teknis Cagar Alam membuat badan ini lebih independent dalam melakukan tugasnya untuk mengawasi pelaksanaan pengelolaan tetapi badan ini terikat kepada rencana pengelolaan kawasan.6 . baik oleh masyarakat maupun oleh badan monitoring. B. Akan tetapi dalam perannya untuk pengelolaan. Kondisi ini menempatkan pelaksana teknis pengelolaan akan diawasi secara menyeluruh. Badan ini akan memberikan input kepada resort dan BKSDA sebagai penanggungjawab. tanggungjawab pelaksanaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni berada di bawah BKSDA Papua II Sorong. kepala resort bertanggungjawab sepenuhnya bagaimana melakukan implementasi pengelolaan kawasan. Pengorganisasian VII . masyarakat juga bias berperan sama untuk badan monitoring. dikembangkan adanya peran badan monitoring pengelolaan kawasan yang direncanakan dalam dokumen rencana pengelolaan. Tanggungjawab dan Administrasi Secara administrasi.

Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan 2. Membangun kerjasama dengan instansi swasta yang ada di Kabupaten untuk Pengelolaan CA dan melaporkan kepada Ka BKSDA 5. Tirasai. melakukan tugas Polisi Hutan Pengorganisasian VII . seperti Naramasa. Struktur Organisasi Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Kawasan CATB (Cagar Alam Teluk Bintuni) dengan luasan yang cukup besar sebaiknya dikelola dengan jumlah staf yang memadai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Ka BKSDA Papua II Sorong BKSDA Papua II Sorong Badan Monitoring Universitas Papua LMA Bappeda Kab TB Dinas Kehutanan Dinas Perikanan Administrasi Kepala Polisi Hutan Cagar Alam Teluk Bintuni Ka Wilayah Naramasa Ka Wilayah Mamuranu Ka Wilayah Tirasai Polisi Hutan Polisi Hutan Polisi Hutan Gambar VII-3. Menyusun pengawasan dan evaluasi bulanan pelaksanaan rencana pengelolaan 6. Untuk itu direncanakan untuk menambah staf dan struktur pengelola dengan membuat adanya kantor pembantu pada beberapa wilayah. Setiap kantor wilayah ini akan bertanggungjawab ke kepala resort dalam melaksanakan tugas pengelolaan kawasan. Mamuranu. Di setiap wilayah pembantu akan diisi juga dengan Polisi Hutan (Gambar VII-3). Bertanggungjawab terhadap koordinasi dengan instansi lain yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni 4. Memberikan laporan pelaksanaan kepada Kepala BKSDA Papua II Sorong Polisi Hutan 1. Mengkoordinir Polisi Hutan yang ada di Cagar Alam Teluk Bintuni dalam melaksanakan tugas pengelolaan kawasan 3. Tugas dan Fungsi : Kepala Polisi Hutan 1.7 .

atau SMA dengan masa kerja lebih dari 15 tahun bekerja sebagai Polisi Hutan di Cagar Alam Pernah mengikuti pendidikan penyidik pegawai negeri sipil (PPNS). Untuk luas CATB yang mencapai 124. Membantu kepala Polisi Hutan dalam pengarsipan dokumen penelitian dan rencana penelitian 4. Membantu kepala Polisi Hutan dalam mengkoordinasi kegiatan penelitian di kawasan C. Kulitas pengelola juga bisa dipenuhi dengan adanya pelatihan. Bertanggungjawab terhadap dokumentasi kegiatan resort 3. kebutuhan tenaga tidak hanya dari jumlah tetapi juga kualifikasi harus memadai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2. Melakukan tugas adminstrasi kantor resort 2. memberikan laporan dan evaluasi pekerjaan setiap bulan kepada kepala Polisi Hutan Administrasi 1. pelatihan penyusunan program. atau SMA dengan masa kerja 5-10 Tahun sebagai Polisi Hutan Pernah mengikuti pelatihan penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat Polisi Hutan (Pohut) 1. Untuk efisien dan efektifnya pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. baik dalam pengawasan. Kepala Polisi Hutan/Kepala Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni/Kepala Resort : Pendidikan Sarjana/D3 Kehutanan masa kerja 3-5 tahun.8 . penjenjang teknis kehutanan (PTK). Penyusunan Staf Kebutuhan staf untuk pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu ditingkatkan baik jumlah maupun kualitas. pemberdayaan masyarakat. penyuluhan dan pembinaan masyarakat. Mengikuti pendidikan polisi kehutanan Staf Komputer dan Administrasi Pengorganisasian VII . membantu kepala Polisi Hutan dalam pengelolaan CA BKSDA Papua II Sorong 3. Kepala Wilayah (penanggungjawab wilayah) : Pendidikan D3 Kehutanan masa kerja 1-3 tahun. Membantu kepala Polisi Hutan dalam mengelola data base kawasan 5. penyuluhan dan perencanaan partisipatif.000 Ha dibutuhkan tambahan tenaga Polisi Hutan yang bisa berfungsi ganda.

9 . maka syarat minimal harus dipenuhi dan ketrampilan akan dipenuhi lewat pelatihan (Tabel VII-1) dan rencana kebutuhan pembiayaan didasarkan kepada standard biaya 2005 (Tabel VII-2) Tabel VII-1. atau SMA dengan masa kerja 5-7 tahun di bidang komputer/administrasi Kebutuhan tenaga untuk pengelolaan Cagar Alam direncanakan akan dipenuhi sampai pada periode 2020 dan kapasitasnya juga akan diperkuat melalui kegiatan pelatihan dan kursus. Kondisi Staf Pengelola Cagar Alam dan Rencana Pemenuhan Staf berserta Rencana Pelatihan Kebutuhan Staff No Aktivitas/Kegiatan Eksisting A 1 2 Staf Polisi Hutan Senior/Kepala Resort Polisi Hutan (polhut) Polhut Pelaksana Pemula Polhut Pelaksana 3 Administrasi Staf komputer dan administrasi B Pelatihan Pelatihan Pengenalan Jenis Pelathan Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Penyusunan Program Pelatihan Penyuluhan Pelatihan Pembuatan Data Base Pelatihan GIS Pelatihan Perencanaan Partisipatif 3 1 1 1 1 0 1 1 D3/ SLTA 1 0 1 6 6 6 5 D3/ SLTA D3/ SLTA 3 2 2 3 1 1 1 0 Sarjana/ D3 0 Kebutuhan Selisih Kualifikasi 2010 Pemenuhan Tenaga 2006.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2.2011.2016. Bila kebutuhan staf di daerah tidak ada yang memenuhi.20262015 2020 2025 2030 - 3 3 3 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Pengorganisasian VII . Pendidikan D3 komputer/administrasi masa kerja 1-3 tahun.2021.

000 4.400 5.000 4.000 4.000 96.400 8.400 5.000 12.800 5.000.000 APBN.000 4. Rencana Kebutuhan Biaya Pemenuhan Staf dan Rencana Pelatihan di Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya (Rp.000 5.000 7.000 6.865 4. Swasta 396. 20062010 20112015 20162020 20212025 20262030 Sumber Dana APBN Pengorganisasian VII . X 000) No A 1 2 Aktivitas/Kegiatan Staf Polisi Hutan Senior/Kepala Resort Polisi Hutan (polisi Hutan) Polhut Pelaksana Pemula Polhut Pelaksana 3 Administrasi Staf komputer dan administrasi B Pelatihan dan Kursus Pelatihan Pengenalan Jenis Pelathan Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Penyusunan Program Pelatihan Penyuluhan Pelatihan Pembuatan Data Base Pelatihan GIS Pelatihan Perencanaan Partisipatif 15.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VII-2.000 5.000 5.000 6.500 8.400 60.000 468.000 15.150 4.800 7.000 4.000 4.651 4.10 .000 5.000 5.000 4.400 3.000 8.000 4.000 12.400 5.

survei. dalam sistem manajemen konservasi. Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Pemantaun dan evaluasi yang dilakukan disini adalah merupakan kegiatan rutin dari pengelola kawasan terhadap kinerja anggota pengelola. Dalam perjalanan waktu. dimodifikasi untuk Tetapi. terminologi ini mengetahui perbedaan antara kejadian-kejadian alami. Pengawasan tersebut bisa diwujudkan berupa kegiatan pembinaan ke lokasi secara reguler atau dengan kunjungan/inspeksi mendadak. dst).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VIII. sehingga dalam aktivitas perencanaan lebih lanjut akan didapatkan beberapa strategi-strategi tertentu yang tidak relevan lagi.1 . memutuskan apakah perlu ada perubahan rencana dan membuat perbaikan-perbaikan. serta rapat berkala yang diikuti oleh semua pegawai Ressort KSDA Teluk Bintuni. Demikian juga pelaksanaan rapat rutin yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional. Sedangkan evaluasi berarti mengidentifikasi apa yang sudah dicapai dan mana yang belum serta apa yang harusnya dilakukan ke depan dengan melibatkan atau mengumpulkan umpan balik dari stakeholder-stakeholder kunci dan pengelola.1. sehingga pemantauan dan evaluasi kegiatan merupakan hal yang sangat penting dilakukan agar seluruh kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Pemantauan dan evaluasi oleh unsur internal ini bisa berupa pengawasan melekat oleh atasan langsung baik di kantor maupun di lapangan. A. yaitu pertama pemantauan atas rencana-rencana yang telah dibuat. Hal ini akan sangat efektif dalam pemantauan dan evaluasi kegiatan pengelolaan baik yang menyangkut kemajuan Monitoring dan Evaluasi VIII . prioritas kegiatan perlu dievaluasi dan dimodifikasi. pengamatan dan penelitian. Oleh karena itu. PELAKSANA KEGIATAN Kegiatan pemantauan yang dilanjutkan dengan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan kawasan disarankan untuk dilakukan oleh unsur internal pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni maupun oleh Forum komunikasi yang independen. A. isu-isu pengelolaan kawasan yang baru akan muncul. pemantauan. Cara lain untuk pemantauan dan evaluasi kegiatan adalah dengan mengirimkan laporan periodik dan laporan khusus dari hirarki yang lebih rendah kepada pejabat di atasnya (misalnya dari petugas wilayah kepada kepala resort. Secara umum melakukan kegiatan monitoring berarti melakukan dua hal. MONITORING DAN EVALUASI Kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan proses yang berkelanjutan. kedua membandingkan kinerja dengan ukuran yang telah di buat.

A.2. Forum ini diharapkan selain berperan dalam mengevaluasi kinerja rencana kerja yang telah dibuat. tidak diragukan lagi institusi ini telah memiliki sumberdaya manusia yang handal dan pengalaman dalam melakukan pemantauan dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan baik kawasan konservasi maupun kegiatan kehutanan lainnya. Disamping itu.2 . Berikut adalah komposisi forum komunikasi yang akan dusulkan dengan memperhatikan aspek kemampuan pelaksana dan keterwakilan pemangku kepentingan utama dalam pengelolaan kawasan: 1. Monitoring dan Evaluasi VIII . Universitas Negeri Papua Institusi ini perlu mendapat pertimbangan sebagai pelaksana kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan pengelolaan. dukungan peralatan yang ada dirasa cukup memadai untuk suatu kegiatan pemantauan dan evaluasi. Saat ini institusi ini telah memiliki laboratorium Geographical Information System (GIS) dengan beberapa perangkat keras dan lunak yang memadai dan dipimpin oleh seorang kepala laboratorium yang telah memiliki kualifikasi yang cukup dalam memonitor dinamika suatu kawasan konservasi. A. komposisi forum komunikasi diharapkan memperhatikan tidak hanya kapasitas personil tetapi juga faktor keterwakilan pemangku kepentingan (stakeholders) dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Dari segi kemampuan personil yang ada. Forum Komunikasi Independen Selain Pemantauan dan evaluasi kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilakukan oleh pengelola kawasan.2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kegiatan maupun permasalahan yang dihadapi. dan VIII-2. Pemecahan masalah biasanya dapat lebih cepat ditangani dibanding hanya komunikasi surat atau laporan. kehadiran dan peran suatu Forum Komunikasi yang independen sangat diperlukan.1 Komposisi Forum Komunikasi MONEV CATB Untuk keperluan monitoring dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan. juga berfungsi sebagai kontrol dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan kawasan. Berikut adalah kondisi peralatan dan personil pendukung yang ada di Laboratorium GIS yang bernaung di bawah Fakultas Kehutanan. Universitas Negeri Papua Manokwari seperti disajikan pada Tabel VIII-1.

16 M. 1. 32 M. 1. 256 MHz. 7. 2 G Pentium IV. 11. Epson Stylus pro 7500 Calcom Jumlah 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit Sumber Pengadaan P2T. Nama Barang Komputer Hardwares Spesifikasi Pentium I. 8. Kondisi fasilitas pendukung pengelola Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa No. Meja Digitasi Portable Meja Digitasi Gulung Ploter Ploter Scanner D-Link 10/100 Fast Ethernet Switch DES-1008D. 1. 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 2000 2000 2000 2003 Inventaris Pinjaman Inventaris Inventaris Baik Baik Rusa k Baik 9. 1000 W UNION 50/60 Hz. 40 G Pentium II.3 . Sarmi 3.0 GHz. Teluk Bintuni Citra Landsat 7 ETM. Kamera Digital UPS Stabilazer Elektrik Kid 1 Unit 1 Unit 1 Unit - P2T Faperta Uncen Semi Que IV Jrs Kehutanan Semi Que IV Jrs Kehutanan Lab.26 GHz. 600 Mb. 261 Mb. 500 VA A1.7 GHz. 20 G Pentium IV. Faperta Uncen Semi Que IV Jrs Kehutanan Diploma MHAP Fahutan Unipa Diploma MHAP Fahutan Unipa Tahun 2000 2002 2003 Status Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Ket. 6. 3. 2.3 Lisenced Citra Landsat 7 ETM. Baik Baik Baik Baik 5 Unit 2004 Inventaris Baik 1 Unit 1 Unit 5 Scene 5 Scene TNC TNC Proyek Atlas SD Pesisir Unipa Semi Que IV Jrs Kehutanan Bappeda TK I Irian Jaya P2T Faperta Uncen Bappeda TK I Irian Jaya P2T Faperta Uncen TNC 2000 2003 2002 2002 Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Baik Baik Baik 1 Unit 2002 Baik 4. 40 G 2.0 Gb. Komputer Soft wares ILWIS 3. 10. 20 G Pentium IV.1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VIII-1. Lisenced ArcView 3. 256 MHz. 1 Unit 1999 Pinjaman Baik 5. 12. 8 link Kodak Easy Share Pro Link Pro 2100. Biometrika dan GIS 2000 2003 2002 2002/ 2005 Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Baik Baik Baik Baik Monitoring dan Evaluasi VIII .

4 . Kontribusi yang dapat diberikan oleh institusi ini dalam kegiatan monitoring dan evaluasi adalah lebih banyak difokuskan pada pemantauan dan mengevaluasi keberhasilan kegiatan. 2. 1. Tahun 2004. Presentasi Hasil Pelatihan SIG pada CA Teluk Bintuni di Biologi Conference IV. Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. institusi ini telah beberapa kali menjalin kerjasama dengan beberapa LSM dan Pemerintah Daerah dalam penelitian dan pengkajian di kawasan Teluk Bintuni. 2. Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. PNGTahun 2002. termasuk daerah Cagar Alam Teluk Bintuni. Unipa Manokwari. Goroka. Unipa Manokwari Sponsor TNC & UNIPA TNC TNC TNC TNC & UNIPA TNC TNC TNC & UNIPA TNC 4.2. 4. Christian Imburi Fransina Kesaulija Sarjana Sarjana Magang SIG untuk pemula di Biotrop. Unipa Manokwari. Bogor. BIOTROP. BKSDA Papua II c. khususnya yang berhubungan dengan aspek keilmuan yang dihadapi pengelola. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001. BIOTROP. BIOTROP. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001. Yoseph Rahawarin Sarjana 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VIII. Bogor 2. Julius D. Nugroho Master 1. Unipa Manokwari. Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. Dari peran dan fungsi yang akan Monitoring dan Evaluasi VIII . sebagai pemegang kendali kegiatan pengelolaan kawasan. institusi ini juga diharapkan berperan dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi secara eksternal. Unipa Manokwari 3. Bogor Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. Unipa Manokwari 3.q Resort KSDA Bintuni Selain melakukan monitoring dan evaluasi internal sebagai institusi pengelola. Unipa TNC & UNIPA Selain itu. Nama pengelola Yosias Gandhi Kualifikasi Master Pelatihan SIG 1. Remote Sensing and GIS for Coastal Zone Management Tahun 2003. membantu mengidentifikasi dan memfasilitasi pemecahan masalah-masalah. Remote Sensing and GIS for Coastal Zone ManagementTahun 2003. Bogor 3. Unipa Manokwari. 2. 2. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001. Kondisi personil pendukung pengelolaan Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa No. 5.

Peran masyarakat adat dalam kegiatan monitoring dan evaluasi lebih di fokuskan pada mengkaji atau memantau peristiwa-peristiwa yang diperkirakan memiliki dampak penting terhadap nilai dan fungsi kawasan. segala bentuk permasalahan dan hambatan dalam implementasi rencana kegiatan di lapangan akan lebih banyak diketahui oleh institusi ini.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dimainkan oleh institusi ini dalam kegiatan pengelolaan. Badan ini diharapkan memainkan peran lebih banyak dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni Sebagai institusi perencana di Kabupaten Teluk Bintuni. Masyarakat adat yang diwakili oleh Lembaga Masyarakat Adat Teluk Bintuni. yang di wakili oleh Lembaga Musyawara Adat (LMA) Bintuni dan Lemasom. sesuai dengan tipe kelompok pemanfaat dan tipe dampak. Selain partisipasi langsung masyarakat dalam kegiatan rencana kelola. Dinas terkait di Kabupaten seperti Dinas Kehutanan dan Dinas Perikanan dan Kelautan. Badan ini telah dilengkapi dengan Sub Bagian Monitoring dan Evaluasi. namun kapasitas institusi ini yang didukung oleh sumberdaya manusia yang ada tidak diragukan lagi dalam kegiatan monitoring dan evaluasi. terutama dalam pemantauan dan evaluasi. 5. peran masyarakat adat.5 Monitoring dan Evaluasi . perlu dipertimbangan sebagai anggota VIII . Selain Badan Perencana Daerah (Bappeda) Kabupaten Teluk Bintuni. pengarahan dan kerjasama dengan kelompok target yang beragam. Sehingga diharapkan dalam kegiatan evaluasi kegiatan pengelolaan yang akan dilakukan oleh forum komunikasi. Institusi ini memang masih relatif baru seiring dengan pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni. 3. dapat tercapai. Melalui koordinasi dan peran serta masyarakat. dalam kegiatan monitoring sekaligus evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan dirasa penting. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa dalam keberhasilan kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni harus banyak melibatkan komponen masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan. Koordinasi untuk kegiatan pemantauan dan evaluasi pengelolaan meliputi Forum Koordinasi dan Wadah Partisipasi. serta pemanfaat potensi kawasan yang lainnya. Koordinasi juga diperlukan dengan masyarakat setempat. Peran yang bisa dimainkan oleh institusi ini menunjang kegiatan monitoring dan evaluasi adalah memfasilitasi pemecahan dan penyelesaian masalah-masalah yang terkait dengan pembangunan dan pengembangan yang dilakukan oleh dengan pemerintah daerah. Apalagi di dalam struktur organisasi. Kegiatan ini umumnya adalah koordinasi kegiatan dalam bentuk bentuk konsultasi. 4. pengelolaan yang efisien. institusi akan banyak berperan dalam mengkomunikasikan masalah dan hambatan yang ditemui dengan stakeholder yang lain dalam di forum ini. Dinas-Dinas yang relevan dengan kegiatan pengelolaan kawasan.

sehingga keberadaanya dalam struktur hukum di Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menjadi jelas. Hal ini membuat aktivitas perikanan dan kehutanan di dalam dan sekitar kawasan tidak dapat terelekan. dan Kelompok Pemanfaat) di dalam dan sekitar kawasan (Gambar VII-1). 5. Membantu pengelola dalam memfasilitasi penyelesaian masalah pengelolaan. Forum komunikasi yang diusulkan perlu di perkuat dengan Surat Keputusan Bupati. Peran penting yang bisa diambil oleh kedua institusi ini adalah dalam hal memfasilitasi penyelesaian masalah pengelolaan khususnya yang berkaitan dengan masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya alam di dalam dan sekitar kawasan. serta pada bagian tertentu berbatasan dengan hutan produksi dan hutan lindung.850 ha). Memonitor pelaksanaan rencana pengelolaan yang dilakukan oleh BKSDA Papua II Sorong dan Ressort Teluk Bintuni 2. sebagian besar terdiri dari ekosistem mangrove dan hutan dataran rendah. Monitoring dan Evaluasi VIII . namun tidak tertutup kemungkinan pada saatnya nanti koordinator badan ini dipercayakan pada stakeholder yang lain seperti Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. Melakukan evaluasi terhadap implementasi kegiatan sesuai dengan rencana pengelolaan yang sudah ditetapkan. forum ini dapat melakukan pengecekan lapangan (site visit) untuk melihat langsung kondisi lapangan yang sebenarnya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong forum komunikasi yang diusulkan.2 Tugas dan Tanggung Jawab Tugas utama dari forum ini antara lain : 1. Berdasarkan kondisi stakeholder yang disebutkan di atas. Dalam pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi. Dari luasan kawasan yang ada (±124. 4. Memberikan masukan kepada pengelola bila dari hasil evaluasi terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan yang telah digariskan sebelumnya. A.6 . Apabila dirasa perlu. 3. Membuat laporan evaluasi implementasi kegiatan rencana pengelolaan kawasan yang disampaikan kepada pengelola dan Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni.2. Dinas-Dinas yang terkait langsung dan dianggap sebagai mitra kerja pengelola adalah Dinas Kehutanan (DINHUT) dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). forum independen yang dibentuk akan selalu berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II Sorong dan kepala Resort KSDA Bintuni sebagai pemegang mandat utama pengelola kawasan serta masyarakat (Jagawana Voluntir. khususnya yang berkaitan dengan masyarakat. diusulkan forum independen ini bisa di bawah koordinasi Universitas Negeri Papua (UNIPA). Forum Komunikasi. sehingga peranan kedua pemangku kepentingan (stakeholder) ini mutlak diperlukan baik dalam kegiatan pengelolaan maupun monitoring dan evaluasi.

2. badan ini juga perlu ditunjang oleh kemampuan personil yang kualified. Khusus untuk masyarakat yang diwakili oleh Lembaga Musyawarah Adat (LMA) kampung. yang bisa difasilitasi oleh pengelola kawasan yang didukung koordinasi dengan pihak-pihak LSM. Pelatihan sistem monitoring dan evaluasi proyek yang bisa di fasilitasi oleh Unipa dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. Pelatihan pengenalan sistem informasi geografis (SIG) yang bisa difasilitasi oleh pengelola Lab GIS di Unipa Manokwari dan kerjasama dengan LSM Internasional seperti The Nature Conservancy (TNC). Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Khusus untuk pemantauan dan evaluasi oleh unsur internal pengelola kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni A. dirasa perlu untuk didukung oleh semacam pedoman pernantauan lapangan yang bersifat populer.3 Sumberdaya pendudung BKSDA Papua II Sorong Dalam memperlancar kinerja. 3. namun masih perlu pengadaan beberapa perangkat lunak seperti foto citra satelit (Satelite imagenery) dan perangkat pengolahan data digital. Hal ini penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang nilai dan manfaat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terletak pada senjang (gap) antara kegiatan teknis pelestarian dengan penginformasian kepada masyarakat luas.7 . Selain itu dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi. B. pelatihan atau kursus yang bisa diusulkan adalah pelatihan untuk penggunaan pedoman pernantauan lapangan. B. Kepala Kesort sebagai agen pelaksana kegiatan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni diharuskan melakukan monitoring dan evaluasi terjadwal secara internal terhadap semua implementasi Monitoring dan Evaluasi VIII . Pelatihan atau kursus yang bisa diusulkan dalam menunjang kegiatan forum ini antara lain: 1. RENCANA WAKTU PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam implementasinya. strategi-strategi pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu dimonitor dan di evaluasi untuk setiap periode waktu implementasi kegiatan tertentu oleh unsur internal pengelola kawasan maupun oleh suatu forum komunikasi independen. Salah satu strategi dalam yang bisa dilakukan dalam memfasilitasi peningkatan kemampuan (capacity building) dari personil dalam forum yang diusulkan adalah melalui pelatihan-pelatihan yang terprogram. Selain ditunjang oleh peralatan yang memadai. sehingga dapat membantu pemantauan dan pengawasan potensi Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. forum yang diusulkan harus dilengkapi dengan fasilitas penunjang serta peningkatan kemampuan. 2. Fasilitas penunjang yang dimiliki oleh Lab GIS di Unipa Manokwari dirasa sudah cukup memadai.1.

4. 2. Masalah dan hambatan yang ditemui di lapangan. Rapat evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional pengelola kawasan.8 . Rencana monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh unsur internal pengelola kawasan. 3. 2.2. Pemantauan secara menyeluruh terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama satu tahun. Triwulan 1. B. Rapat evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional pengelola kawasan. No. B. yaitu: 1. 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong rencana kegiatan pengelolaan kawasan (Bab V) yang dijabarkan lebih lanjut pada pada Tabel VIII-3. Tabel VIII-3. Evaluasi Mengevaluasi seluruh kegiatan selama satu bulan yang dituangkan dalam bentuk laporan bulanan yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. Waktu Pelaksanaan Bulanan Bentuk Kegiatan Monitoring Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama sebulan penuh yang meliputi hal-hal: Target dan Realisasi kegiatan dan pembiayaan. Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan untuk semua aspek dalam rencana kelola akan dievaluasi setiap tahun. Rapat berkala untuk mengevaluasi komprehensif terhadap seluruh implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh seluruh pengelola kawasan. Tahunan 2. 1. 2. Monitoring dan Evaluasi VIII . Laporan tahunan yang disampaikan kepada BKSDA Papua II.1 Forum komunikasi Independen Lingkup Kegiatan Badan Forum komunikasi Independen Kegiatan monitoring oleh forum komunikasi independen terhadap implementasi rencana pengelolaan dapat dibagi dalam tiga kategori. Kinerja personil pelaksana kegiatan. 1. Laporan rutin yang disampaikan kepada BKSDA Papua II.2. Semesteran Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama enam bulan terakhir yang difokuskan pada halhal seperti pada pemantauan bulanan. Monitoring dan evaluasi menyeluruh terhadap semua rencana pengelolaan kawasan dan semua tujuan yang telah digariskan dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali. Laporan rutin yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama tiga bula terakhir yang difokuskan pada hal-hal seperti pada pemantauan bulanan. 2.

B. Sebagai pedoman dalam proses monitoring dan evaluasi terhadap strategi-strategi yang diimplementasikan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 3. sewaktu-waktu dapat dilakukan monitoring dan evaluasi. forum ini akan bekerja berdasarkan skenario seperti ditampilkan pada diagram alur berikut: FORUM KOMUNIKASI PENGELOLA KAWASAN Saran.2. VII-1. Mekanisme Kerja Forum komunikasi Independen Monitoring dan Evaluasi VIII . solusi pemecahan masalah. Apabila diperlukan. solusi pemecahan masalah. mengacu kepada rencana kegiatan pengelolaan (Bab V) dan pembiayaan (Bab VI). dan atau revisi program Monitoring dan Evaluasi Tahunan IMPLEMENTASI KEGIATAN TAHUNAN Implementasi kegiatan tidak berjalan sesuai rencana kegiatan IMPLEMETASI KEGIATAN DI SETUJUI Saran. dan atau revisi program serta peninjauan kembali atau perubahan rencana pengelolaan yang ada Monitoring dan Evaluasi Lima -Tahunan IMPLEMENTASI KEGIATAN LIMA TAHUNAN Implementasi kegiatan tidak berjalan sesuai rencana kegiatan IMPLEMETASI KEGIATAN DI SETUJUI Gambar.2 Mekanisme Kerja Forum Komunikasi Independen Berdasarkan lingkup kerja seperti diuraikan sebelumnya.9 . namun hanya bersifat insidensial.

Apabila dalam monitoring dan evaluasi kegiatan lima-tahunan tidak ditemukan permasalahan. maka implementasi kegiatan rencana pengelolaan diterima yang ditindaklanjuti dalam bentuk laporan tertulis. 5. Apabila dalam monitoring dan evaluasi kegiatan tahunan tidak ditemukan permasalahan. dilakukan peninjauan Kemudian dilanjutkan dengan kembali atau perubahan rencana pengelolaan yang ada. 4. maka implementasi kegiatan rencana pengelolaan diterima yang ditindak lanjuti dalam bentuk laporan tertulis. hambatan dan atau hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. dan atau revisi program kepada pihak pengelola. 3. Forum ini akan melalukan monitoring dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan setiap tahun. kegiatan Monitoring dan evaluasi limatahunan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dari gambar di atas dapat dijelaskan mekanisme kerja Forum komunikasi Independen adalah sebagai berikut: 1. dan atau revisi program kepada pihak pengelola. Apabila diperlukan. hambatan dan atau hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. Apabila dalam kegiatan MONEV lima tahunan ditemukan permasalahan. solusi pemecahan masalah. 2. maka forum ini wajib memberikan saran. maka forum ini wajib memberikan saran.10 . solusi pemecahan masalah. Monitoring dan Evaluasi VIII . hambatan dan atau hal yang berjalan tidak sesuai rencana kegiatan. hambatan dan atau hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. Apabila ditemukan permasalahan.

serta para pemerhati lingkungan lainnya. ekosistem mangrove dan perairan sehingga dalam pengelolaannya dibutuhkan suatu piranti yang dinamis. Dalam implementasinya. Ekosistem Cagar Alam Teluk Bintuni memiliki ekosistem pesisir pulau-pulau kecil. karena dokumen ini disusun berdasarkan hasil dari serangkaian proses yang melibatkan seluruh stakeholder. Sumber anggaran lain dapat diupayakan. keterlibatan pihak lain seperti pihak swasta/investor. Beberapa program yang dirumuskan. Dokumen ini akan menjadi acuan bagi pemerintah dan stakeholder di dalam melakukan kegiatan pengelolaan CATB pada periode 25 tahun ke depan. hal ini Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHKA) sebagai institusi pelaksana rencana kegiatan pengelolaan yang telah disusun. sangat diharapkan dalam implementasi rencana kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni di lapangan. partisipasi dan transparansi yang tinggi. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dikelola secara optimal dan lestari sesuai fungsi peruntukannya. Departemen Kehutanan dalam. Pemerintah Daerah. Dokumen ini juga dapat berfungsi sebagai alat kontrol dan koordinasi berbagai instansi sehingga diperoleh sinergitas dalam pelaksanaan setiap kegiatan yang direncanakan. baik yang bersumber dari swasta maupun dana hibah lainnya yang sah. LSM lokal dan internasional. telah disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi dari instansi teknis terkait pada lingkup pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dan juga telah mengakomodir berbagai kepentingan stakeholder pendukung pengelolaan kawasan CATB serta tetap mempertimbangkan kelestarian fungsi kawasan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dengan terbitnya Dokumen Rencana Pengelolaan ini. Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah suatu dokumen yang memiliki nilai akomodatif. memiliki banyak keterbatasan sumberdaya. Untuk itu. Komitmen pihak pengelola terhadap kelompok- kelompok terkait merupakan landasan penting bagi suatu pengelolaan yang dinamis.1 . termasuk masyarakat pemilik hak ulayat. PENUTUP Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni bukan merupakan suatu rencana pengelolaan yang kaku yang harus digunakan untuk mengelola kawasan yang memiliki proses ekologis yang rumit. Penutup IX .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong IX. dokumen ini diharapkan akan dilegalisasi dengan keputusan Bupati Teluk Bintuni sehingga mempunyai kekuatan hukum tetap. Kerangka utama dalam pengelolaan dinamis adalah peran serta dan koordinasi lintas sektoral dari semua pemangku kepentingan di Cagar Alam Teluk Bintuni. Pertimbangan ini menjadi strategis karena dalam penganggaran hendaknya mengikuti skema anggaran pada instansi teknis terkait untuk program yang bersesuaian dengan tugas dan fungsi pokoknya.

.

and Attiwill. Makalah di sampaikan pada Seminar “ Prospek Pengembangan Wisata Bahari di KTI. Christensen. Bot..F. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut serta Prinsip Pengelolaannya. Management of sustainable community-based natural diversity in Bintuni Bay with emphasis on Mangroves. B. Bogor. 2002. and YDPTB. B.. Farber. CI Washington DC. 2002. D. KONPHALINDO... A. Cicin-Sain. Konservasi Conyer. K. Pemanfaatan Nipah (Nypa Fruticans ) Oleh Lima Suku Di Bintuni. DinHut Prov. Bogor. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB. O. 2003. dan Lense. University Florida. Survei Potensi Sumberdaya Perikanan dan Pertanian di Kawasan Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR PUSTAKA Asia Pacific Study Center – University of Gajah Mada. Food and Agric. Manokwari. Berwulo. Dahuri. Integrated Coastal and Ocean Management. Perencanaan Sosial di Dunia Ke Tiga : Suatu Pengantar. 1999. Naeem. R. Kajian Potensi Biofisik Hutan Mangrove di Desa Guraping-Maluku Utara. 28 Desember 1998. Concept and Practices. 1999.. P. Clough. Yogyakarta. Pengusulan Lahan Basah Teluk Bintuni Menjadi Cagar Alam. 1998. Asmusruf. Vol. Conservation International. Dkk. in a mangrove in southern Thailand. A. In: Proceeding International Symp. Limburg. Pratt. 2001. 2002. Fla. The Economic Valuation of Mangroves: A Manual Research for Researcher. S. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. G.M. Burung-burung di Kawasan Papua (terjemahan). The Value of the World’s Ecosystem Services and Natural Capital. B and Knecht W. Biology and Management of Mangroves. Bogor Bengen. T. PKSPL-IPB.R. 1988. 1995.. Daftar Pustaka DP . R. Boli. M. Gajah Mada University Press. Rumbino. Beehler. WWF. de Groot. USA. Birdlife International Indonesia Programme. d’Arge.1 . Aquat. M. Yogyakarta. Lokakarya Penentuan Prioritas Keanekaragaman Hayati Irian Jaya. Bengen. Camillan Bann. Maluku Utara – BPPK Papua Maluku. S. Indonesia.M. Washington DC. Nutrient cycling in a community of Avicenia marina in a temperature region of Australia. 1991.A. 1999. Island Press. 1978. pp 137-146. 2005. P. D. 1975.M. Laporan Hasil Survei Lapang. Inst. UGM. Costanza. Hannon. Potensi Keanekaragaman Hayati Dalam Dimensi Kepariwisataan Bahari di Kawasan Indonesia Timur. Gainsville. Beccariana. Unipa-CRMP. Sci. Grasso. 4:2. 101-112. Biomass and primary production of Rhizophora apiculata BL. D. dan Zimmerman. Nature 387 (1997). R. Kerjasama YPMAS-Sultra dengan LP2SN. BPPK Papua Maluku. 1997.K. B. B. D. 4:43-52. I.

The structure and Metabolism of Puerto Rican red Mangrove forest in May. P. Koentjaranigrat. and Teas. 1974. Keanekaragaman Hayati Kawasan Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari. University Florida. Symp. USA (Un pblished). 1999.R. Bogor. C dan Onrizal. N. pp 825-846. Lugo. 2002. Bogor. Ecology and Systematic. Khazali M. Rev. 1998. Jakarta Noor.N. Sydney. On Biology and Management of Mangroves. 2004. Second International Conference on Wetlands and Development.E.C. A. Pemalang.. 1971. Australian J. Pelabuhan Bagi Keanekaragaman Hayati : Evaluasi Keberadaannya saat ini.E. Y.F. 2. PT. F. Leftungun. Evaluasi Kerusakan Kawasan Mangrove dan Arahan Teknik Rehabilitasinya di Pulau Jawa. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan.. P hd Thesis. Endang.N. Inst. 1980. Production of Organic Detritus in a South Florida Estuary.T. 1975. A. 1979). 2003. 1998. R. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Jawa Tengah. Goulter. Ekologi Mangrove. and Clintron. Golley. and Allaway. Bogor Noor. 8-14 November 1998 Febrianto.) Proceedings of Int. Ecology. I. Fakultas Kehutanan IPB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Erftemeijer.J. Fakultas Kehutan Unipa (Tidak diterbitkan). Pemanfaatan Palem oleh Masyarakat Suku Sougb di Kampung Sibena II Distrik Bintuni. Materi Teori dalam Pelatihan Pengelolaan Hutan Mangrove Lestari Angkatan I di Bali. PKA/Wetlands International. Noor Y.) in a Middle Harbour .J. Laporan Survei UNIPA dan CRMP..S. Suryadiputra I. Snedaker. F. 5:39-64. (Eds. Jurusan Teknologi Hasil Hutan IPB Bogor. and Snedaker. Bogor. Food and Agric.S. W. Lense. E.. H. Skripsi Sarjana Kehutanan.L. Thailand : Learning from Successes and Failures. Gainsville.N.. Ann. Lugo. Heald.N. 43: 9-19. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Mangrove Indonesia. M. Y. C. and Wilson.. Dakar.. C. Khazali dan IN.F. Jakarta. Fla. Prosiding Seminar V Ekosistem Mangrove. Vol. 1999. Gramedia Kusmana. Hilmi. 2002. G. Participation of Local Communities in Mangrove Forest Rehabilitation in Pattani Bay. 1962. Sci. The Mangrove Forest of Puerto Rico and Their Management. O dan Kilmaskossu. P.A dan A. 2002. Bualuang. Kusmana.2 . Litter fall and decomposistion in a mangrove stand (Avicenia marina Folks. Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Mangrove Kayu dan Non Kayu. Suryadiputra.C. PKA dan Wetland International Programme. LIPI-MAB Indonesia. Odum. Profil Kandungan Karbon pada Pohon Kelompok Jenis Rhizhopora.G. Vol. University of Miami. The Ecology of Mangrove. spp dan Bruguiera spp Dalam Tegakan Hutan Mangrove Alami di Indonesia. H. Lokakarya Jaringan Kerja Pelestari Mangrove. Bogor Daftar Pustaka DP . 1995. S. Senegal. In: Walsh. Marine Freshwater Resources. A. S. Program Pascasarjana IPB.N. 12-13 Agustus 1998.

R. 1975. A.K. Final Report to Atlantic Richfield Berau. pp 213-237. BP Indonesia. PKSPL IPB dan Ditjen Bangda Depdagri. W. 2003.C. Petocz. Also published in Indonesian language. M. CRMP Project.. Economic of Natural Resources and The Environment. Pengembangan Wilayah. Pertamina .U Leh. E.G. Inc. I. 1994. Manokwari. Jakarta. Sunsun Saeful Hakim. PT BUMWI. Panuju. NRM. 2004. Odum. Pokok-Pokok Pikiran tentang Pemberdayaan hak-hak masyarakat adat dalam mengeksploitasi sumberdaya alam provinsi Papua. Fasilitas LNG. Fla.C Chong and R. Jakarta.B.. 1998. Sci. Raspada. Biology and Management of Mangroves. Harvester Wheatsheaf. V.3 . WWW/IUCN Report. Potret dan Rencana Umum Pengelolaan Taman Wisata Alam Gunung Meja Manokwari. 2002. Indonesia. Bogor: PHPA. Pemda Kab. Atlas sumberdaya pesisir Kawasan Teluk Bintuni. Vol. and Y de Fretes. 1984. Pearce. Raharjo. Pelabuhan. Jakarta. Fundamentals of Ecology. Studi Evaluasi Lingkungan Hak Pengusahaan Hutan PT Bintuni Untama Murni Wood Industries di Kabupaten Manokwari. 1983. PT BUMWI. Bogor. Andal Kegiatan Terpadu (Eksplorasi Gas. Bandar Udara dan Pemukiman LNG Tangguh Kabupaten Manokwari. Ekologi Hutan Indonesia. and Snedaker. Sidney. IPB. D’Cruz. Sasekumar.. 2003. R. Bogor. Production in Mangrove forests of Southern Florida and Puerto Rico. Lugo. Recommended reserves for Irian Jaya Province. London. 89 pp.E.G. Mangroves as a Habitat for Fish and Prawns. Food and Agric. Bogor. Proyek Pesisir (USAID) Indonesia. Propinsi Irian Jaya (Buku II: Laporan Utama). Manokwari. 1983. E. Mammals of the reserves in Irian Jaya. Gainsville. 1988. Statement prepared for the formal gazettment of thirty one conservation areas. 1992.W and R. Fakultas Kehutanan IPB.J. Turner. Indonesia.BP Indonesia. Manokwari. UNIPA. University Florida. Philadelphia. Geobis Woodward-Clyde Indonesia. Saunders Company.P. In: Proceeding International Symp. and George P. S. Conservation and development in Irian Jaya: A strategy for rational resource utilization. D. Sorong dan Fak-fak Propinsi Papua). 1990. Pool. Petocz. dan Proyek Pesisir (USAID). PEMDA Provinsi Papua. Environmenttan Baseline Study. Hydrobiologia.G.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong NRM. Community Base Management di Wilayah Pesisir Indonesia. Daftar Pustaka DP . Prosiding Pelatihan ICZPM. Jayapura.. 2002. New York. PT. prepared in cooperation with PHPA: “usulan-usulan suaka di propinsi Irian Jaya”. P3FED. I. 61 pp. USA. P3FED Unipa. Perencanaan dan Soerianegara. WWF/IUCN special report. R. dan Dyah R.. A. Petocz. Rustiadi. 1996. Inst. 1971. Y. D. Conservation for development programme in Indonesia.

Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Manokwari. Institut Pertanian Bogor.4 . Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Kabupaten Manokwari. Babo dan sekitarnya. Sorong. 1999. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. 1997. 1991. INDONESIA. Sorong. A. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Kabupaten Manokwari. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Tim P3FED Unipa. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni.S. Babo dan sekitarnya. 1994. Dinhut Manokwari Suhaeb. Daftar Pustaka DP . Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. 1990. Sorong. Palu Sulawesi Tengah. Sorong. 1995. 1993. Sorong.000. Babo dan sekitarnya. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Tesis Pascasarjana. Kabupaten Manokwari. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. 1992. Sorong. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Sub Biphut Manokwari. Pemberdayaan Masyarakat Lapis Bawah : Kasus Kegiatan Suatu LSM di Jawa Tengah. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. 1988. Tesis Pascasarjana. Universitas Negeri Papua bekerjasama dengan Badan Prencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Manokwari. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. P3FED Unipa. Kajian Model-Model Mekanisme Pemberian Kompensasi Hak Masyarakat Adat atas Pengelolaan Hutan dan Penggunaan Tanah di Distrik Bintuni. UNIPA dan Bappeda Manokwari. 2000. Babo dan sekitarnya. E. Kabupaten Manokwari. Institut Pertanian Bogor. Tim TNC. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. 2003. 2004. Kabupaten Manokwari. Kabupaten Manokwari. Bogor. Kabupaten Manokwari. Rencana Pengembangan Sektor Ekonomi Potensial secara terpadu di Kawasan Teluk Bintuni. Babo dan sekitarnya. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Babo dan sekitarnya. 2001. Sorong. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Survei Potensi Hutan Bakau Cagar Alam Teluk Bintuni .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Soesilowati. The Nature Conservancy Papua Conservation Program. Peta Pengunaan Hutan di Kabupaten Manokwari Skala 1:250. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Babo dan sekitarnya. Kabupaten Manokwari. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Analisis Kebijakan Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Teluk Kendari. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni.

P.S. (Ed). 2002. Daftar Pustaka DP . PERDU-CRMP. Pp 51-174.).H. Bogor. Yayasan PERDU. 1991. Queen. J. 1974. Handbook of the Flora of Papua New Guinea. Melbourne University Press. Yayasan Lingkungan Hidup Humeibouw Manokwari.J. Studi Sosial Budaya di Kecamatan Bintuni Kabupaten Manokwari. Vol. PHKA/ AWBIndonesia (Forestry Institute and Asian Wetlands Bureau).1. In: Ecology Halophytes (R.E. Academic Press. G. Mangroves: A Review. G.5 . New York. dan Allen. Studi Sosial Budaya di Kecamatan Bintuni Kabupaten Manokwari. Inventarisasi Sumber Daya Alam Teluk Bintuni dan Rekomendasi untuk Manajemen dan Konservasi. Womersley. 278 pages. 978. 2002. Erftemeijer. Raymond and W. Yalhimo-CRMP.. Indonesia.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Walsh. Zuwendra. Eds.

.

1 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran-Lampiran L.

Biopirasi (biopiracy) Eksplorasi dan pemanfaatan. Arboretum Tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan. Lampiran-Lampiran L. Agro-Ekosistem Sistem pertanian yang didasarkan pada hubungan timbal balik antara sekelompok manusia dan lingkungan fisiknya guna memungkinkan kelangsungan hidup kelompok manusia itu.2 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 1. Agroforestri Sistem-sistem dan teknologi tata guna lahan di mana pepohonan berumur panjang (termasuk semak. kayu. Biro Tanah Basah Asia BAPEDALDA Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah BAPPEDA Badan Perencana Pembangunan Daerah BAPPENAS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BAPI The Biodiversity Action Plan for Indonesia. spesies dan genetis dan meliputi wilayah darat. Istilah dan Terminologi yang termuat dalam dukumen BKSDA Papua II Sorong Abrasi Pengikisan batuan. bambu. Biogeografi Penyebaran tumbuh-tumbuhan dan binatang secara geografis di muka bumi. Bioprospecting (bioprospeksi) Penilaian terhadap sumber daya genetis dan sumber daya hayati. bentuk interaksi antar sesama mahluk hidup dan antar mahluk hidup dengan lingkungannya. Dalam praktiknya kegiatan ini dibarengi dengan munculnya isu-isu hak kepemilikan intelektual. Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di Indonesia BKSDA Balai Konservasi Sumberdaya Alam Biodiversity Keaneka-ragaman hayati yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keanekaragaman bentuk kehidupan di bumi. palem. dll.) dan tanaman pangan dan atau pakan temak berumur pendek diusahakan pada petak lahan yang sama dalam suatu pengaturan ruang atau waktu. perairan tawar. Keanekaragaman hayati mencakup tiga hal. yakni ekosistem. AWB Asian Wetland Bureau. pesisir dan laut. atau angin. dinding tanah oleh air. es. pengetahuan lokal dan sumber daya genetis tanpa pengetahuan ataupun persetujuan pemiliknya/masyarakat setempat.

Bioregion Kawasan/lingkungan fisik yang pengelolaannya tidak ditentukan oleh batasan politik dan administrasi. komunitas manusia serta sistem ekologi. karya arsitektur. Cagar Warisan Dunia (World Heritage Site) Menurut World Heritage Convention yang dikeluarkan oleh UNESCO. Cagar Alam adalah kawasan Suaka Alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. dan kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang secara universal sangat bemilai tinggi dari sisi sejarah. misalnya menjadi lahan pertanian.3 . Dengan demikian. Ekoregion Suatu pendekatan pengelolaan kawasan konservasi yang menggunakan pembagian wilayah berdasarkan kondisi perbedaan ekosistem (lihat bioregion). Cagar Biosfer Kawasan di dalam suatu negara yang mendapat status khusus dari negara-negara yang tergabung dalam program The Man and The Biosphere (MAB) di bawah UNESCO. Debt for Nature Swap Dana untuk konservasi alam didefinisikan sebagai pembatalan utang luar negeri dengan menukarnya dengan mobilisasi sumber daya alam dalam negeri untuk pelestarian alam. bioregion juga mempunyai pengertian ekoregion. Konvensi untuk Perdagangan Internasional Spesies Langka Daerah Burung Endemik Wilayah pengelompokan alami burung-burung yang kisaran hidupnya terbatas. gua-gua hunian. Bioteknologi Penerapan teknologi berbasis ilmu biologi untuk memanfaatkan makhluk hidup bagi kebutuhan manusia. seni. satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangusung secara alami. habitat atau kelompok formasi geologis dan fisiografis beserta spesies flora dan fauna yang terancam. ada dua yaitu: 1. yaitu pengelolaan kawasan yang didasarkan pada prioritas ekosistem dan habitat alami setempat. pahatan dan lukisan. CITES Convention on International Trade of Endangered Species. dan ilmu pengetahuan. tetapi oleh batasan geografi. "Natural World Heritage" mengacu pada ekosistem. sebagai kawasan konservasi khusus dengan fungsi ekonomi. perkebunan atau penggunaan lainnya. "Cultural World Heritage" mengacu pada monumen. prasasti. Deforestasi Penggundulan hutan sehingga lahan yang semula berupa hutan menjadi berubah fungsinya. Lampiran-Lampiran L. ekologi dan sosial. 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pembagian keuntungan yang adil dan merata. elemen atau struktur arkeologis. serta dampak negative akibat pemanfaatan produk rekayasa genetis.

Tanah ini sangat masam dan tidak subur. Tanah yang terlapuk berat dan mengandung silika terbentuk pada teras-teras kuarsa. Ekuator Garis imajiner yang mengelilingi bumi. kapur dll. Habitat Tempat hidup alami bagi binatang dan tumbuhan. misalnya berbagai jenis meranti. Hutan Kerangas Hutan yang tumbuh di atas tanah podsolik. Epifit Tumbuhan yang hidup pada tumbuhan lain tetapi tidak merugikan. batuan pasir. hutan alam konservasi (nature conservation forest) dan taman berburu (hunting forest).41 menjelaskan bahwa yang termasuk hutan konservasi adalah hutan alam cadangan (nature preservation forest). Herpetofauna Kelompok binatang yang temasuk dalam amfibi (katak/kodok) dan reptilia (buaya. Hutan Hujan Dataran Rendah ’selalu-hijau’ Hutan yang berisi tanaman berkayu dan tumbuhan selalu-hijau. ular. penyu. diagonalnya 0 derajat (membagi bumi menjadi 2 wilayah: utara dan selatan) Endemik. Fenomena El Nino Peristiwa alam yang menimbulkan kemarau panjang yang hebat. di mana besidan humus terkumpul di bawah lapisan atas pasir putih. biawak. Hutan Dipterocarpaceae Hutan yang didominasi spesies pohon dari famili Dipterocarpaceae. Lampiran-Lampiran L. Hutan Konservasi UU no. Endemisme Spesies tumbuhan atau binatang yang hanya terdapat di wilayah tertentu dan sering bersifat unik untuk daerah tersebut.4 . Hutan Primer Hutan perawan atau hutan alam yang belum dijamah manusia. Hutan Sekunder Hutan alam yang sudah dimanfaatkan oleh manusia. kruing. Fragmentasi Habitat Proses yang menyebabkan kawasan hutan primer yang semula saling bersambungan terpecah menjadi petak-petak yang saling terpisah dan terpencar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Ekosistem Komponen biotik dan abiotik dalam suatu lingkungan yang saling berinteraksi sehingga menghasilkan aliran energi dan daur hara. atau puncakpuncak batu cadas. terdapat di dataran rendah daerah tropis dengan curah hujan 2500 mm/tahun. komodo). Eutrofikasi Pengayaan zat-zat hara yang berlebihan di dalam suatu perairan sehingga mendorong ledakan pertumbuhan tumbuhan air dan mengakibatkan kekurangan kadar oksigen di dalam perairan.

IUCN International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources Karamba Kurungan dari anyaman bambu yang ditempatkan (diapungkan) di sungai sebagai tempat perkembangbiakan ikan atau udang. Kawasan Intertidal/Iitoral Kawasan yang terletak di antara daerah pasang tertinggi dan surut terendah di pantai. pemanfaatan dan pelestarian spesies di luar habitat aslinya berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian. pengawetan plasma nutfah serta pemanfaatan keanekaragaman hayati berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian. sebagai jendela bagi para ilmuan dan pendidik dari seluruh dunia untuk bekerjasama meningkatkan komunikasi tentang ilmu-ilmu penting berbasis biodiversity.41 tahun 1999 muncul pengelompokan hutan berdasarkan fungsinya yaitu hutan konservasi. pemanfaatan dan pelestarian spesies di dalam habitat aslinya berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian. dan taman buru. Sedangkan UU No.5 tahun 1990. Keanekaragaman hayati (Biodiversity) Lihat biodiversity Kegiatan yang menunjang budidaya di dalam kawasan Suaka Alam ialah kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam bentuk pengambilan. hutan lindung dan hutan produksi. Konservasi Upaya perlindungan ekosistem penyangga kehidupan. dan taman buru.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni IBOY BKSDA Papua II Sorong Merupakan singkatan dari International Biodiversity Observation Year (tahun observasi biodiversity internasional) yang dilaksanakan pada tahun 2001 dan 2002. kawasan suaka alam yaitu cagar alam.5 . hutan lindung. hutan pelestarian alam. Lampiran-Lampiran L. Istilah konservasi tidak dijumpai dalam UU No. Sedangkan hutan konservasi dibagi ke dalam hutan suaka alam. Konservasi In-Situ Upaya perlindungan. Strategi dan Rencana Aksi Biodiversity Indonesia Indeks Keragaman Spesies (Species Diversity Index) Indeks yang digunakan oleh para ilmuwan lingkungan untuk membandingkan tingkat keanekaragaman spesies berdasarkan jumlah dan kelimpahan spesies binatang dan tumbuhan di suatu tempat. taman wisata alam dan taman hutan raya. Kawasan Konservasi Kawasan-kawasan yang digolongkan dalam kawasan pelestarian alam yaitu taman nasional. suaka margasatwa. IBSAP Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan. pengangkutan dan penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam kawasan alam yang bersangkutan untuk keperluan pemuliaan jenis dan penangkaran. Konservasi Eks-Situ Upaya perlindungan. Karnivora Mahluk hidup pemakan daging.

jumlah populasi diperkirakan kurang dari 1000 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 10% dalam 100 tahun. Kriteria Ramsar Kriteria yang digunakan di bawah Konvensi Ramsar. Populasinya berkurang paling sedikit 50% selama 10 tahun terakhir. (lihat rincian kategori dalam Mogea dkk. sehingga memungkinkan aliran gen serta kolonisasi lokasi yang sesuai. jumlah populasi diperkirakan kurang dari 50 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 50% dalam 10 tahun. komunitas binatang dan tumbuhan yang ada di dalam lahan basah. Koridor dapat berfungsi membantu melestarikan satwa yang harus melakukan migrasi musiman di antara rangkaian habitat yang berbeda-beda untuk mendapatkan makanan. MAB Merupakan singkatan dari the Man And the Biosphere. Kritis (Critically endangered) : jika taksa menghadapi resiko kepunahan yang sangat ekstrim (tinggi) di alam dalam waktu yang sangat dekat. jumlah populasi diperkirakan kurang dari 250 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 20% dalam 20 tahun. populasi diperkirakan kurang dari 10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Konvensi Keanekaragaman Hayati Konvensi yang ditandatangani oleh 150 negara dalam Konferensi Tingkat Tinggi PBB mengenai Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro pada tahun 1992. Rentan {Vulnerable): jika taksa tidak termasuk kriteria genting atau terancam tetapi mengalami resiko kepunahan yang tinggi di alam dalam waktu dekat. Program UNESCO yang dimulai tahun 1971 untuk pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi biodiversity dengan mengembangkan landasan natural dan social sciences. 3.000 km2 atau yang dapat ditempati kurang dari 2000 km2. Populasinya berkurang paling sedikit 80% selama 10 tahun terakhir. luas wilayah diperkirakan kurang dari 100 km2. untuk menilai kualitas atau nilai lahan basah berdasarkan kekayaan keanekaragaman hayati dan keunikan ekosistem sehingga layak mendapat status sebagai kawasan penting di dunia.luas wilayah diperkirakan kurang dari 5000 km2 atau yang dapat ditempati kurang dari 500 km2. Kriteria ini meliputi keunikan tipe lahan basah. Kriteria Status Flora atau Fauna menurut IUCN: 1. 2. populasi kurang dari 250 individu dewasa. Genting/terancam {Endangered): jika taksa tidak termasuk kriteria genting tetapi mengalami resiko kepunahan yang sangat tinggi di alam dalam waktu dekat.000 individu dewasa. Juga ditujukan untuk meningkatkan hubungan yang harmonis antara masyarakat dan lingkungan globalnya.6 . luas wilayah diperkirakan kurang dari 20. Lampiran-Lampiran L. Dikenal sebagai koridor konservasi atau koridor perpindahan yang memungkinkan tumbuhan dan satwa untuk menyebar. Populasinya berkurang paling sedikit 20% selama 10 tahun terakhir. populasi diperkirakan kurang dari 2500 individu dewasa. kriteria khusus sebagai habitat burung atau ikan yang unik. Koridor Jalur-jalur lahan yang dilindungi yang menghubungkan satu kawasan konservasi dengan kawasan konservasi lainnya. 2001).

Potassium Sianida Zat kimia yang digunakan untuk bahan racun untuk menangkap ikan. pengendalian. pemanfaatan. Lampiran-Lampiran L. Pembangunan Berkelanjutan Pola pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa melemahkan kemampuan pembangunan untuk memenuhi kebutuban generasi mendatang. pengawasan. Moratorium Penghentian sementara/jeda. yang dihubungkan secara melembaga melalui kontrak dengan sebuah perusahaan inti yang lebih besar yang menangani satu atau lebih kegiatan hilir dan hulu seperti penyediaan sarana produksi. pengolahan dan pemasaran hasil. pemulihan. Perdagangan Karbon (carbon trade) Suatu mekanisme yang sedang dikembangkan secara intemasional melalui negaranegara yang masih memiliki hutan yang cukup luas (yang berfungsi menyerap karbon dari emisi bahan bakar) mendapatkan kompensasi dari kalangan internasional berupa dana untuk membiayai kegiatan konservasi yang dikaitkan dengan emisi karbon. Metode PRA adalah media untuk berkomunikasi dengan cara dialog antara Perencana – Pelaksana Administratif dan partner mereka (masyarakat) untuk memecahkan masalah dan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah-masalah yang terjadi.7 . Nilai Omitologis Nilai-nilai mengenai keragaman spesies. jumlah. ikan. ternak. perlindungan dan pengembangan kawasan Suaka Alam. telur. udang dan sebagainya) tidak terpusat pada unit produksi kapitalis (atau sosialis) yang besar tetapi tetap berada di tangan petani kecil.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Megadiversity Country Istilah yang digunakan untuk menggambarkan negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya yang tinggi. Plasma Nutfah Substansi sebagai sumber sifat keturunan yang terdapat di dalam setiap kelompok organisme yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sehingga tercipta suatu jenis unggul atau Kultivar baru. pemeliharaan. Pola Inti-Plasma Sistem pertanian yang menghubungkan pertanian dan agroindustri di mana produksi primer (tanaman tahunan atau tanaman keras. susu. karena dapat membuat ikan yang terpapar zat ini menjadi pingsan sehingga mudah ditangkap. Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia setelah Brazil. PRA Merupakan singkatan dari Participatory Rural Appraisal. penyebaran dan kehidupan burung. unggas. Nokturnal Sifat binatang yang aktif bergerak dan mencari makan pada malam hari. Pengelolaan kawasan Suaka Alam adalah upaya terpadu dalam penataan.

transparan. namun kemudian mampu berkembang biak secara massal dan menguasai wilayah tumbuh komunitas spesies tumbuhan lainnya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rawa Aluvial Rawa di tanah lempung yang terendapkan oleh air mengalir. umumnya bukan asli di suatu habitat. berkomunikasi dengan cara dialog antara peneliti dengan masyarakat. Rekayasa Genetis Teknologi yang digunakan untuk mengubah materi genetis sel hidup melalui campur tangan manusia sebagai upaya agar sel tersebut mampu menghasilkan senyawa yang diinginkan atau mengemban fungsi-fungsi yang berbeda dengan sel-set lain yang tidak mengalami manipulasi. pemanfaatan. air tawar dan payau) dari cara-cara tradisional ke arah intensifikasi untuk meningkatkan produksi. pengawasan. Restocking Kegiatan yang ditujukan pada peningkatan populasi jenis flora dan fauna liar di habitat alam aslinya. Rencana Pengelolaan kawasan Suaka Alam adalah upaya terpadu dalam penataan. sering disebut sebagai pukat harimau. pemeliharaan.8 . Silvikultur Pemeliharaan dan pembinaan hutan atau manipulasi vegetasi hutan untuk tujuan tertentu seperti untuk mengontrol pembentukan. dan kompak. Metode RSA adalah media untuk mengumpulkan data dan informasi. Resin Hasil sekresi tanaman yang susunan kimianya sangat kompleks. Trawl Jenis perangkat penangkapan ikan. Transmigrasi Umum Perpindahan penduduk dari satu daerah yang padat penduduknya ke daerah lain yang berpenduduk jarang. dilakukan secara rutin atas prakarsa pemerintah. yang ditanam secara sengaja atau karena terbawa oleh faktor alam. perlindungan dan pengembangan kawasan Suaka Alam. suatu badan PBB untuk pembangunan Lampiran-Lampiran L. pemulihan. RSA Merupakan singkatan dari Rapid Social Assessment. Savana Padang rumput yang diselingi oleh kelompok kecil pepohonan. BKSDA Papua II Sorong Rawa Herbaceous Rawa yang ditumbuhi tumbuhan kecil yang tumbuh seperti rumput dan batangnya tidak berkayu. UNDP United Nations Development Program. Tumbuhan Invasif Spesies tumbuhan. Transmigrasi Swakarsa Transmigrasi atas usaha sendiri atau spontan. Revolusi Biru Proses perubahan produksi perikanan (khususnya darat. komposisi dan pertumbuhan pohon. pengendalian. padat.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni USAID BKSDA Papua II Sorong United State Aid. Lembaga Bantuan dari Amerika Serikat untuk Pembangunan di Negara Berkembang Valuasi Ekonomi Cara penilaian ekonomi sumber daya alam dengan menetapkan atau mengukur nilainya secara moneter. Lembaga internasional untuk pelestarian sumberdaya alam Lampiran-Lampiran L.9 . WWF World Wide Fund for Nature atau lebih dikenal dengan World Wildlife Fund.

3 100 92.7 53.7 50.26 22.94 22.8 Des 100 87.86 23.9 Okt 100 85.83 34.2 54.4 59.4 100 93.99 34.19 33.99 25.19 22.69 21.2 - Sumber: BP Pertamina (2002) Lampiran-Lampiran L.88 33.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 2.19 26.5 100 90.76 35.09 27.7 100 91.17 23.7 49.17 22. Tahun 1997 maksimum 1997 rata-rata 1997 minimum Suhu Udara ( C) Mei Jun Jul Agu 34.1 46.96 22.45 33.2 51 100 90.2 52.9 61 Mei 100 86.2 100 93.26 28.2 32.6 Peb 100 89.5 57.82 35.4 61 100 91.2 36.48 22.89 22.02 27.2 SO.71 1998 maksimum 36.7 48.92 27.4 22.11 33.6 26.1 57.5 100 91.5 39.51 35. Data suhu udara ambien (0C) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah.31 1998 rata-rata 1998 minimum 27.44 21.42 Sept 32.7 100 91.26 35.58 25.8 100 92.3 100 93.96 - Okt 33.19 26.02 34.6 100 91.25 22.56 27.14 35.85 22.11 22.3 58.14 22.37 26.9 27.21 27.83 22.7 37.79 35.43 20.02 25.6 100 93.93 2000 maksimum 35.72 1999 maksimum 36.53 27.92 22 36.6 60.4 65.1 59.87 2000 rata-rata 2000 minimum 26.28 23.59 26.73 26.4 100 89 55.64 27.2 56. Babo.6 45.15 27.13 21. Tahun 1997 maksimum 1997 rata-rata 1997 minimum 1998 maksimum 1998 rata-rata 1998 minimum 1999 maksimum 1999 rata-rata 1999 minimum 2000 maksimum 2000 rata-rata 2000 minimum Kelembaban Udara (%) Jan 100 85.08 26.88 26.7 100 93 60.99 - Nop 34.4 100 90.81 27.93 20.26 22.9 48.96 22.12 27.6 26.9 100 93 56.10 .7 22.6 57.34 20.45 35.8 100 93.1 Sept 100 85.61 23. Data kelembaban relatif udara ambien (%) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah.4 34.27 22.31 23.3 55.59 25.4 54.07 27.8 Agu 100 83.2 51 Nop 100 86.2 100 93.55 27.87 0 Jan - Peb - Mar Apr 35.05 27.5 Jun 100 83.9 55.3 63.8 53.45 36.7 62.03 26.2 Mar 100 86.78 27.88 23.8 Apr 100 86.36 34.44 22.4 100 91.29 22.1 50.11 36.36 26.84 37.62 34.5 43.74 37.1 100 91.4 21.7 53.91 23. Babo.13 26.05 35.2 100 93.9 54.42 21.98 25.2 34.85 Sumber: BP Pertamina (2002) Lampiran 3.91 - Des 33.71 - 36.4 100 94.5 100 93.35 1999 rata-rata 1999 minimum 27.88 27.22 22.75 22.6 Jul 100 88.4 100 89.

Kerapatan (N/Ha). Lampiran 5.11 . Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha B. Frekuensi. Kerapatan (N/Ha). Frekuensi. mucronata Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae 2500 2500 5000 F INP 58 58 84 N/Ha 262 63 363 Tingkat pancang F INP 92 33 175 Jenis Famili Rhizophoraceae R. Jenis. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat tiang N/Ha F INP N/Ha 87 150 26 150 162 Tingkat pohon F INP 62 51 19 11 157 Jenis B. moluccensis B. Lampiran 6. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 4. parviflora Ceriops tagal R. Famili. granatum Sumber: Hasil survei Tim TNC. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha R. corniculatum B. sexangula Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae 7000 6000 5000 4000 F INP 68 56 44 32 N/Ha 770 30 160 10 130 20 Tingkat pancang F INP 178 55 41 9 11 7 Jenis Famili Meliaceae X. 2005. 2005. Famili. mucronata X. 2005. Simeri. Jenis. Jenis. apiculata Sumber: Hasil survei Tim TNC. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai). Famili. Lampiran-Lampiran L. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Mangrove S. gymnorrhiza B. Kerapatan (N/Ha). gymnorrhiza Ae. gymnorrhiza B. parviflora Ceriops tagal R. mucronata Famili Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae - Rhizophoraceae R. apiculata Sumber: Hasil survei Tim TNC. Frekuensi.

08 60. corniculatum Avicennia alba B. Cagar Alam Teluk Bintuni Tingkat tiang Tingkat pohon INP 88.41 140. parviflora B.17 0. Jenis.78 12.28 10.08 0.21 54.21 58. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).87 4.41 Jenis Ae.42 8.44 42.50 0.33 INP 64.53 N/Ha 500 67 133 133 67 33 500 Tingkat pancang F 0. gymnorrhiza B. alba Famili Rhizophoraceae Avicenniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Sonneratiaceae N/Ha 108 25 8 25 150 - F 0.95 16. Jenis. sexangula Ceriops decandra R.08 0. sexangula C.17 0.08 0.18 26.90 12.08 0. mucronata R.50 0.08 84.17 0.58 2. Kerapatan (N/Ha).17 0.98 5. parviflora B. Famili. Kerapatan (N/Ha).50 37. apiculata S.92 4.75 0. sexangula X. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).81 6.42 0. corniculatum B. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat tiang N/Ha R.32 9. moluccensis B.85 N/Ha 2.50 INP 24. Famili.86 43. Simeri. gymnorrhiza B.42 0. Famili. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha F 0.08 INP 3. 2005 Lampiran 9. gymnorrhiza Ae.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 7.12 . Jenis.08 0.08 0.17 12.42 104.08 0.04 Jenis A.17 0.17 F 0. Kerapatan (N/Ha). mucronata X.53 15.85 37. 2005 Lampiran-Lampiran L.75 0. Frekuensi. mucronata R.17 4. apiculata Famili Myrsinaceae Avicenniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae 1458 833 625 625 1250 1250 11875 4792 Sumber: Hasil Survei Tim TNC.81 19.33 15.42 0.08 0.08 0. granatum Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae Meliaceae F INP N/Ha 160 80 40 Tingkat pohon F INP 180 102 18 - Jenis Famili Sumber: Hasil survei Tim TNC.58 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC. Frekuensi. corniculatum Avicennia alba A.98 59.25 0.08 0. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Mangrove S.08 2.48 5. marina B. Frekuensi.65 9.25 0.70 10.80 96.08 0. 2005.17 0. decandra R.56 10. Lampiran 8.50 14.

2 1.33 0. parviflora Total Rata-rata Famili Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Avicenniaceae Sonneratiaceae Rhizophoraceae Diamter 14.42 104. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Sungai Sumberi.4 18 14.70 32.6 Potensi/ha (M3/ha) 0.27 21. decandra R.00 47.22 Total potensi Rata2/ha (m3/ha) 14.73 12.2 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 10.03 12 12. Kerapatan (N/Ha).15 16.33 0.17 0.92 3. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha F 0.43 16.1 0.0 1.08 60.89 13.3 0. gymnorrhiza X.20 1.25 11.7 244.49 25. apiculata D.7 Tinggi 11. gymnorrhiza B.5 1.17 INP 100.8 N/ha 150 Lampiran 11.17 12.2 0.88 16.11 1.42 1.61 23.57 29.59 28.60 10.8 15.17 Potensi/phn (M3/phn) 0. Frekuensi.1 1. alba S.35 65. granatum C.9 16.3 13. Jenis.35 52.3 14.33 0.46 ha) Tiang Pohon Potensi/phn (M3/phn) 0.58 2.17 4.0 0.03 9.33 0.66 30.459 10.3 8 25 0.22 Jenis R.03 Tinggi 14 16.1 1. sexangula X.99 2.20 0. BKSDA Papua II Sorong Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).48 2. Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0.76 26. corniculatum B.5 14. alba B.1 1. spathacea B.6 1.8 16. Famili.17 0.08 2.61 31.22 52.17 0.94 27.79 30. tagal R.9 1.2 108 0.11 29. 2005 Lampiran-Lampiran L.80 9.33 0.8 15 N/ha 2.5 1.60 11. spathacea Famili Pteridaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Bignoniaceae 9167 2917 2500 3750 1667 1250 417 417 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC. mucronata X. decandra C.76 26. mucronata D.92 4.83 12.78 Jenis Ac.85 35.5 37.17 INP 62.94 1.96 29.5 14.32 29.13 .34 28.81 Diamter 21. moluccensis A.4 164.32 5. speciosum R.33 0.2 Potensi/ha (M3/ha) 13.88 36.09 131.32 5.48 1.3 25 316 63. apiculata Ae.59 24.48 2. granatum C.29 1.03 N/Ha 600 267 333 Tingkat pancang F 0.

74 0.7 11 7.17 INP 113.4 0. Kerapatan (N/Ha).76 5.5 2.17 0. 2005 Lampiran 13. mucronata X.46 0.17 0.33 12.88 N/Ha 100. apiculata D.33 4.56 44.7 0.75 2. spathacea B. decandra R. sexangula X. decandra R. Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 140 m = 0. BKSDA Papua II Sorong Jenis.00 23.41 1. Diamter Tinggi N/ha Potensi/phn (M3/phn) Potensi/ha (M3/ha) Diamter (Cm) Tinggi (M) N/ha Potensi/phn (M3/phn) Potensi/ha (M3/ha) R.71 8.17 0.67 8.17 0.88 250 25 11. decandra Total Rata-rata Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Avicenniaceae Sonneratiaceae Rhizophoraceae 19.80 4. Famili.20 0.3 17.44 22.50 30.50 8.28 ha).4 36. spathacea B.80 10. alba C.1 13 10.83 16.70 1.8 15.70 1.00 30. alba C.6 35.14 .8 10. sexangula X.25 3.2 4.17 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC.72 50.17 0. gymnorrhiza B. gymnorrhiza B.4 0.67 8.17 20.68 12.5 33 33 33 0.5 0.33 0.89 9.97 20.15 26.7 7 17 183.33 4. Frekuensi.2 0.91 1.7 33. tagal Famili Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Aviceniaceae Soneratiaceae Rhizophoraceae N/Ha 50 17 33 33 17 33 F 0.9 6.2 0.49 - Jenis R. moluccensis A.9 24.76 4.83 29.33 0. moluccensis A.2 39.8 1.17 F 0. apiculata D.5 10 7.1 39.83 0.62 12.20 0.5 27. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi.3 38.4 12.33 0.4 13.17 4.17 4. Cagar Alam Teluk Bintuni Tingkat tiang Tingkat pohon INP 86.6 0.17 20.38 47.79 12.33 12. alba S.27 1. mucronata X.75 2. granatum C. Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi.9 13.17 1.77 10.3 0. Tiang Pohon Total potensi/ha (M3/ha) Jenis Fam.62 26.56 12.01 8.83 29.33 0.83 2.4 22.33 53.9 15. granatum C.33 0.09 4.0 1.67 Lampiran-Lampiran L. alba S.8 1.00 45.33 0.46 0.11 35.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 12.1 1.1 0.51 37.94 4.18 35.2 12 10 50 17 0.3 14.5 8.7 30.31 2.3 1.17 0.40 7.78 1.49 11.83 16.5 15 25 100 45.5 0.88 54.

there was an activity carried out during the establishment of 1st draft of Management Plan of Bintuni Bay Nature Reserve called Village meeting in 14 villages (kampung/kelurahan) in and surrounding BBNR. Discussion amongst villagers who live inside and surrounding the BBNR about their expectation to the BBNR. In related to this matter. Second day: presentation of the 1st draft of Management Plan of Bintuni Bay Nature Reserve. General The document of Bintuni Bay Nature Reserve Management plan has tried to establish based on Fully Participatory Method. By doing this. Regional Planning Agency (Bappeda). and Communities represented by Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Bintuni and Lembaga Musyarawarah Adat SoughMoskona (LEMASOM). it is necessary to be discussed (presented) with the all stakeholders involved: Bupati Kab. and one respect person (Tokoh Masyarakat) in the village. Information collected individually in every single village and need to be confirmed through a special meeting (workshop) by inviting the traditional community members (masyarakat adat) which are represented by head of tribe (Kepala Suku). The aim of this activity was to gain more information about interaction between communities and the site as well their “expectation” to the BBNR in supporting their daily life now and future. 2. To verify all the information collected from every single village inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve. To formulate a “commitment” amongst the communities who live inside and surrounding the BBNR. 3. Local NGO. BKSDA Papua II Sorong Rangkuman Hasil Workshop Tingkat Kabupaten Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 A. Lampiran-Lampiran L. In addition.15 . Teluk Bintuni. 2. B.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 14. head of kampong (Kepala Kampung). The workshop was divided in to two: 1. Local institutions (Dinas terkait). implementation team could get as many as opinions and inputs in which useful during implementation of the management plan of BBNR. Objective The objectives of the 1st-day workshop were: 1. First day: special workshop with communities (masyarakat adat) who live at 14 villages inside and surrounding the BBNR. to improve the available 1st draft.

2005. A. Regional Planning Agency (Bappeda). Programme 1st -day meeting (1 June. and PHKA Jakarta. head of kampong (Kepala Kampung). Whilst the 2nd day workshop was attended by fifty-five participants representing local government (Bupati Teluk Bintuni). Church represented by the head of Klasis GKI Bintuni. and communities who come to the 1st day workshop.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong The objective of the 2nd-day workshop was presentation of the 1st draft of the management plan of Bintuni Bay Nature Reserve in order to get inputs and critics from stakeholders present in this workshop. The programme of the opening session included: Praying was lead by Pdt. University (UNIPA). local institutions (dinas-dinas terkait). C. Participant In the 1st day meeting.00 on Wednesday 1 June. Kondologit.. There were three main issues raised during the roundtable discussion as follow: What are allowed and not allowed to be done in Bintuni Bay Nature Reserve? How the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay can participate in protecting and keeping the reserve? What kind of traditional rule should the people form outside the traditional community members (masyarakat adat) want to do something inside the BBNR? Lampiran-Lampiran L. Local NGO (Mitra Pesisir Bintuni). Opening the workshop formally by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni representing Bupati Kabupaten Teluk Bintuni. The head of Gospel Christian Church (GKI) in Papua. D.16 . 2005) Opening Session The meeting was opened at 9. British Petroleum Tangguh Project. Head of traditional community organisation represented by the head of Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Bintuni and Lembaga Musyarawarah Adat Sough-Moskona (LEMASOM). Remarks by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni. twenty-five people were present representing head of tribe (Kepala Suku). Roundtable Discussion This discussion was lead by the implementation team from The Nature Conservancy (TNC).Th. Church (Klasis GKI Bintuni). and one respect person (Tokoh Masyarakat) in the village. Bintuni. S. BKSDA Papua II.

Catching fish using “akar bore” and net. Following are the main points of the commitment produced by the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay present in the 1st-day meeting: 1. crabs. deer. Lampiran-Lampiran L.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong During this session. BUT must follow the rule made amongst traditional community members as follow: (1) ACTIVITIES ALLOWED IN BINTUNI BAY NATURE RESERVE: Catching fish. Gardening with technical assistant from Local Agriculture Institution (Dinas Pertanian). Using mangrove (mangi-mangi) for traditional needs ONLY (not for commercial purposes) like catching fish “pele kali”. Traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve committed to support the management of BBNR through several activities as follow: (1) (2) Report all activities against the rule agreed to the management of BBNR: Catch on the spot whoever break the rule agreed. finally a very useful COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the group. shell-fish. Using trawl in catching fish or prawn. Conclusion of Roundtable Discussion The discussion amongst traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve was going well. Hunting wild animals (crocodile. (1) ACTIVITIES ARE NOT ALLOWED IN BINTUNI BAY NATURE RESERVE: Catching fish and another sea products using chemicals. Even though sometimes there was “hot” debate but dynamic amongst the participants. Cutting down mangrove (mangi-mangi) in big scale like logging or fish-pond. feral pig. Trowing waste like used engine-oil and chemicals into the rivers. all the issues discussed were concluded as a COMMITMENT produced by the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay. Mining operation. Cutting down logs in low land forest in BBNR. and another sea product.17 . and particular birds). prawn. 2. Every body could use resources in BBNR.

Traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay also asked for the local government to support the management through: (1) (2) Produce a local regulation on BBNR: Intensive community-services to increase building and economic capacity of the traditional communities who live inside and surrounding the Bintuni Bay. J. A. Bintuni. The main job of this working group is to formulate the law enforcement of the commitment agreed which is assisted by local government and sponsor (TNC and BKSDA II Papua). 3. Presentation of the 1st draft of MP of Bintuni Bay Nature Reserve and Roundtable Discussion In this session. 2nd -day meeting (2 June. The head of Gospel Christian Church (GKI) in Papua. by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni.00 PM by Mr. Arman Mallolongan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (3) BKSDA Papua II Sorong Form a working group at every village inside and surrounding the BBNR during the implementation of management plan. Paiki. M.18 Lampiran-Lampiran . working group will be formed consist of represent of traditional people (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay. Additional observing-tower at the mouth of Bintuni River. J. During the implementation of commitment above. Opening the workshop formally by Drs. the implementation team of establishing the MP of Bintuni Bay Nature Reserve presented the 1st draft of Management Plan. L. Remarks by Drs. STh.30 on Thursday 2 June. Bupati Teluk Bintuni. 2005. MM. The programme of the opening session included: Praying was lead by Pdt. (Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional IV. Workshop-Committee Report. 2005) Opening Session The meeting was opened at 9. Bupati Teluk Bintuni. Konologit. Paiki. Following are several inputs and issues have been raised during the roundtable discussion: 1. Closing Session The meeting was formally closed at 3. Secretary General of Forestry Department of RI).

Pay more attention in increasing the economic sector of the traditional communities who live inside and surrounding the BBNR. 10. (Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional IV. Arman Mallolongan. There should also be a commitment of traditional communities who live in upland areas as the degradation of the forest located in upland may cause very significant impact to the BBNR. MM. Scenarios in management plan. Socialise the management plan to the communities inside and surrounding the BBNR is important.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2. Increase the status of Resort KSDA Bintuni to become “SEKSI”. Lampiran-Lampiran L. M. 8. 7.19 . 5. 9.30 PM by Mr. BKSDA Papua II Sorong The status of the Bintuni Bay Nature Reserve is not yet definitive as Nature Reserve. Closing Session The meeting was formally closed at 3. Policy in recruiting local staff during the implementation of Management of BBNR. Approaching method in establishing the management plan. 4. 3. Integrated management organisation (lembaga pengelola terpadu) during the first 5year implementation of MP is necessary. 6. Secretary General of Forestry Department of RI).

Paiki.00 Coffee break Roundtable Discussion Lunch Workshop Conclusion Closing Session Implementation Team Committee Implementation Team Committee Thursday 2 June. C.30 Registration Opening Session Praying Workshop-Committee Report Ketua Klasis GKI Bintuni Mr.30 9. 2005 8. C. Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Drs. BKSDA Papua II Sorong Programme of two-days meeting on Establishing the Bintuni Bay Nature Reserve Management Plan Wednesday 1 June. Lunch Roundtable Discussion Workshop Conclusion Coffee break Closing Session 12.00 13. J. on behalf of The head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Mr.00 15.00 12.30 15. on behalf of The head of Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Drs.30 11.00 14. Thesia.30 11. Thesia. Thesia.00 Coffee break Presentation of the 1st draft of MP of BBNR.30 15. C. 2005 8.30 13. Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Committee Implementation Team Remarks Opening the workshop 10. on behalf of The head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Opening the workshop 10.30 9. Paiki.00 Registration Opening Session Praying Remarks Ketua Klasis GKI Bintuni Mr.30 Implementation Team Implementation Team Committee Committee Lampiran-Lampiran L.20 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 15. J.

TIDAK MEMBOLEHKAN KAPAL-KAPAL YANG BERLAYAR DI SUNGAI UNTUK MEMBUANG SAMPAH ATAU LIMBAH MINYAK ATAU BAHAN KIMIA KE SUNGAI 5. KAMI MEMBUAT KESEPAKATAN KELOMPOK MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. KAMI MASYARAKAT YANG ADA DI DALAM DAN DI SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM MENYATAKAN SIKAP KAMI ANTARA LAIN: SIAPAPUN BOLEH MENCARI MAKAN DI DALAM KAWASAN TANPA MEMANDANG SUKU/MARGA/BATAS-BATAS WILAYAH ADAT ASALKAN MEMATUHI ATURAN KESEPAKATAN YANG SUDAH DIBUAT UNTUK ITU. KAMI DAPAT BERBURU HEWAN ATAU SATWA LIAR SEPERTI BUAYA. UDANG. KAMI DAPAT BERKEBUN DAN MENDAPAT BANTUAN BIMBINGAN TEKNIS DARI DINAS TERKAIT 3. SIPUT ATAU BIA. BABI HUTAN. RUSA. DAN BURUNG 5. DAN HASIL LAUT LAINNYA. TIDAK BOLEH MENEBANG MANGI-MANGI ATAU BAKAU DARI CAGAR ALAM DALAM SKALA BESAR UNTUK KEPERLUAN USAHA KAYU ATAU TAMBAK ATAU LAINNYA 3. TELAH BERTEMU DAN BERBICARA BERSAMA TENTANG CAGAR ALAM. A COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the traditional community members who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve during the Kabupaten Meeting in Bintuni LOKAKARYA PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI TGL 1 JUNI 2005 BAPAK BUPATI YANG KAMI HORMATI. 2. DLL 2. KEGIATAN YANG BOLEH DILAKUKAN DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI ANTARA LAIN ADALAH: 1. BAPAK. UDANG. IBU PEJABAT DI KABUPATEN TELUK BINTUNI BAPAK DAN IBU HADIRIN SEMUA KAMI MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI SEKITAR DAN DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. TIDAK BOLEH MENEBANG KAYU DI HUTAN TANAH KERING ATAU GUNUNG DI DALAM CAGAR ALAM 4. YANG TERDIRI DARI 14 KAMPUNG.21 . KAMI DAPAT MELAKUKAN PENANGKAPAN HASIL-HASIL PERIKANAN SEPERTI IKAN. Lampiran-Lampiran L. TIDAK BOLEH KAPAL BESAR ATAU KAPAL UDANG ATAU PUKAT HARIMAU UNTUK BEROPERASI DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. KAMI DAPAT MELAKUKAN PEMANFAATAN KAYU MANGI-MANGI UNTUK KAYU BAKAR SENDIRI (BUKAN UNTUK DIJUAL) DAN KEGIATAN MENANGKAP IKAN “PELE KALI” 4. DARI PERTEMUAN TERSEBUT. TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN “OBAT” (BAHAN KIMIA) DALAM MENANGKAP IKAN. KAMI BOLEH MENANGKAP IKAN DENGAN MENGGUNAKAN “AKAR BORE” DAN JARING KEGIATAN YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN DI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI ANTARA LAIN ADALAH: 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 16. KARAKA.

KHUSUS UNTUK PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT 3. UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. PENYULUHAN DAN PENDAMPINGAN YANG TERUS MENERUS KEPADA MASYARAKAT DI DALAM DAN SEKITAR CAGAR ALAM. KAMI AKAN MENANGKAP LANGSUNG PELANGGAR ATURAN YANG SUDAH DISEPAKATI BERSAMA 3. PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA DI SETIAP KAMPUNG YANG ADA DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN YANG AKAN DILIBATKAN DALAM PELAKSANAAN RENCANA KEGIATAN PENGELOLAAN KAMI JUGA BERHARAP PEMERINTAH TURUT MENDUKUNG KEGIATAN PENGELOLAAN CAGAR ALAM. KAMI MASYARAKAT AKAN MELAKUKAN DUKUNGAN BERUPA: 1. KAMI AKAN MELAPORKAN PELANGGARAN KESEPAKATAN YANG TERJADI KE PENGELOLA CAGAR ALAM TELUK BINTUNI 2. KAMI MEMINTA PEMERINTAH DAERAH MEMBERIKAN PERHATIAN LEBIH BESAR PADA PENDIDIKAN MASYARAKAT DEMIKIAN KESEPAKATAN YANG KAMI BUAT DARI 14 KAMPUNG YANG ADA DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI MENDAMA TAMBE JAGA TANE CAGAR ALAM TELUK BINTUNI BINTUNI. 2 JUNI 2005 PERWAKILAN MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI DALAM DAN SEKITAR CAGAR ALAM TELUK BINTUNI: Lampiran-Lampiran L. MEMBUAT PERATURAN DAERAH MENGENAI CAGAR ALAM 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. UNTUK ITU. TIDAK BOLEH ADA EKSPLORASI BAHAN TAMBANG DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI.22 . MELAKUKAN PEMBINAAN. KAMI MENGHARAPKAN PEMERINTAH MELAKUKAN HALHAL SEBAGAI BERIKUT: 1.

10. 3. 4. Input/Critics/Question How about the contribution of another stakeholders outside the Bintuni Region? How the community can support the implementation of the Management Plan? Once the MP is implemented. Jakarta 1. 9. 2. 2.10. 1 Name Banjar Laban Institution PHKA. F. 6. 2 Adi Susmianto PHKA. No. Jakarta Position Dir. 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 17. 3. do not think about the current status of the site The current document of MP of BBNR is not applicable if the status of the site is indefinite The current document of MP can be considered as a starting point in fixed the site status of BBNR Proposed not only one organization but several in Managing the BBNR Especially in Papua. 2. the communities who are living inside and surrounding the site should be fully involved The BBNR should be promoted not only in regional but also in national even international level The analysis of problems and solutions stated in MP are applicable. keep going with the MP. 7. Forum for example Balai is more suitable instead of Resort in Organization Move the Vision and Mission section in to the Chapter of Introduction The position and size should be based on Water Catchments Area in BBNR Page II. Manokwari Rector 1. need to form an alternative organization based on local condition Add the contribution of all stakeholders in current document of MP of BBNR Proposed a zoning in MP (Arahan Zoning) Use different term for MONITORING BODY. but they need to be analyzed deeply Regarding the activity in Reconstruct the border of BBNR. 6.23 . Lampiran-Lampiran L. 3 Prof. 8. Wanggai University of Papua (UNIPA). 7 8. add data of sedimentation level? 4. it should be based on old border How can the BBNR be synchronize with the local/traditional culture (see Government Regulation-PP 68) The scenario of Management of BBNR stated in MP need to be strengthen At the time. Dr. BKSDA Papua II Sorong Rangkuman Catatan Hasil Presentasi Draf Akhir Rencana Pengelolaan Kawasan CATB di PHKA Jakarta (22 Juli 2005). 5. Konservasi Kawasan PHKA 1.

Unu PHKA.24 . 5-year plan. there may be some possibilities of changing function of the site Correction. 7 Mr. Lekitoo Forestry Department of Kabupaten Teluk Bintuni Fisheries and Marine Department of Kabupaten Teluk Bintuni Head of office 1 2. 4 Ir. the position (GPS) of every pal should be included The management needs more supporting facilities as the current one is not proportional compare to the size of the BBNR The status of BBNR is very crucial in supporting the Management Plan Fisheries and Marine Department of Kabupaten Teluk Bintuni is planned to established a local regulation on catching area in Bintuni Bay A local rule of catching area (12 mil and 10 m isobar) is unclear In controlling activity. Puspa PHKA. however it needs to elaborate broadly The planning should be divided into 25year plan. yearly plan in the document 5. 7. not (No Suggestions)). 3. 2. if any. 9 Wahyu PHKA. Karubui 2. POLHUT instead of JAGAWANA The reconstruction of site border should be proposed by Bupati Proposed re-bordering in MP Based on Government law. 5. 4.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. and yearly plan State the main activities of 25-year plan. Jakarta Kasubdit Cagar Alam 1. BKSDA Papua II Sorong In Sub Chapter of Soil. 2. 3. 8 Ms. Head of office 1.1. 6. Jakarta 1. include the land use in every village inside and surrounding the BBNR Chapter III. J. 6. Jakarta 1 2 Lampiran-Lampiran L. there should be a commitment of PEMDA in plotting the BBNR in their strategic plan or layout planning of Kabupaten Page V. P. 5 Drs. It is necessary to form a group of people from the communities inside and surroundings BBNR All activities based on the a commitment amongst people who are living inside and surroundings BBNR should be supported by government regulation There should be a buffer zone With the current status of BBNR (Penunjukan. 5-year plan. there should not be a Rehabilitation activity in Nature Reserve Management of BBNR should be based on Mangrove ecosystem as 90 % of the site is dominated by mangrove forest Good to see that the economic value of the BBNR is mentioned in the document.

G / S / Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni . S ! / G = Kantor = Pondok Kerja = Menara Pengawas = Tanda larangan = Pondok Peneliti = Pemukiman ! ! / ! / S / ! ! S Lampiran-Lampiran L. Peta Kerja Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2006-2030 ! .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 18.25 .

.

.

Semoga pengelola cagar alam bisa bekerja bersama masyarakat menjaga Cagar Alam Teluk Bintuni Adrian Tatiri – Kepala Kampung Yakati Cagar Alam Teluk Bintuni kami orang pu barang. Fransisco Moga.Kepala Bappeda Teluk Bintuni Rencana Pengelolaan ini merupakan bukti nyata kerjasama masyarakat adat. Implementasi rencana ini harus bisa menjaga kekayaan sumberdaya alam yang merupakan anugerah Tuhan Prof. MT . Implementasi tetap membutuhkan dukungan dari semua pemangku kepentingan untuk mencapai lingkugnan yang lestari dan masyarakat sejahtera Ir. MP – Kepala BKSDA Papua II – Sorong Cagar Alam milik kami. Kami ingin bisa bekerja bersama untuk menjaga cagar alam ini. LSM dan Pemerintah. J. Frans Wanggai – Rektor Universitas Papua Rencana Pengelolaan ini akan membantu kami bekerja lebih baik bersama pengelola cagar alam untuk kemajuan Kabupaten Teluk Bintuni Ir. Kita mau kita pu mangi-mangi terjaga dan kita bisa dapat hasil laut dari kekayaan Cagar Alam Otto Manibuy – Tokoh Adat Wamesa ISBN : 979-97700-4-1 . hidup kami tergantung disana. kami bisa dapat ikan. karaka dan buaya dari mangi-mangi. Dr. Petrus Kasihiw. Kami berharap pengelolaan akan mensejahterakan kami masyarakat Abraham Wekaburi (Koordinator 7 Suku di Bintuni) Kami mau cagar alam bisa lestari. udang. Semoga implementasi akan membuat cagar alam terjaga dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya Drs.Apa Kata Mereka Rencana Pengelolaan menunjukkan komitmen semua pemangku kepentingan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Cagar Alam ini kami masyarakat Bintuni pu barang. Paiki – Pjbt Bupati Teluk Bintuni Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah tanggungjawab kita semua. masyarakat dan pemerintah. Semua masyarakat bisa mencari makan disana asal ikut kita pu aturan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful