DEPARTEMEN KEHUTANAN

DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM PAPUA II SORONG
Jln. Jenderal Sudirman 40, SORONG, PAPUA Telp. (0951) 321986

Kerjasama BKSDA Papua II Sorong dengan The Nature Conservancy
BINTUNI, AGUSTUS 2005

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI PROPINSI IRIAN JAYA BARAT 2006-2030

Oleh: Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Sergius Kosamah, SH

Editor Prof. Dr. Frans Wanggai Dr. Ir. Jamartin Sihite Dr. Ir. Lukman Yunus Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Desain cover dan Tata Letak Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense Fotografi Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Peta Tematik Ir. Yosias Gandhi, M.Sc (Lab. GIS Fahutan Unipa Manokwari) Ir. Obed Lense, M.Sc.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI PROVINSI IRIAN JAYA BARAT 2006-2030
Dr. Jamartin Sihite, dkk. x, 266 hal; 21x30 cm Penulis Dr. Jamartin Sihite, dkk. Terbitan Pertama, Agustus 2005 Editor Prof. Dr. Frans Wanggai Dr. Jamartin Sihite Dr. Lukman Yunus Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Desain cover dan Tata Letak Dr. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense Fotografi Dr. Jamartin Sihite Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Peta Tematik Ir. Yosias Gandhi, M.Sc (Lab. GIS Fahutan Unipa Manokwari) Ir. Obed Lense, M.Sc. Penerbit: The Nature Conservancy (TNC), Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEA CMPA) (Jl. Pengembak No. 2 Sanur-Bali, Indonesia. Phone: (62-361) 287272 (hunting), Fax: (62361) 270737) Bekerjasama dengan UNIVERSITAS NEGERI PAPUA MANOKWARI Jl. G. Salju Amban Manokwari, Irian Jaya Barat PO Box 23 Manokwari Phone : (0986) 211754 Fax : (0986) 211455
Hak Cipta pada TNC (The Nature Conservancy) dan Universitas Negeri Papua ISBN: 979-97700-4-1

DEPARTEMEN KEHUTANAN
DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM PAPUA II
Alamat: Jl. Jenderal Sudirman No. 40 Po. Box 1053 Sorong-Papua Telp 0951-321926, Faks. 0951-334073, Email: ksda@sorong.wasantara.net.id

RENCANA PENGELOLAAN
CAGAR ALAM TELUK BINTUNI TAHUN 2006 – 2030

.

Dalam upaya untuk mengelola Cagar Alam Teluk Bintuni yang lebih baik. menunjuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai Kawasan Cagar Alam dengan luas 124. maka pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua. baik ditinjau dari segi tuntutan masyarakat pemilik hak ulayat akan haknya terhadap kawasan hutan bahkan juga kegiatan pemanfaatan sumberdaya di dalam kawasan semakin tidak terkendali.850 Ha. ikan. berbatasan langsung dengan pusat kota dan merupakan tempat dimana masyarakat kota Bintuni dan sekitarnya menggantungkan kehidupannya. Tim ini dibentuk untuk membantu pemerintah daerah dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II dalam merumuskan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara partisipatif yang mampu mempertahankan dan melestarikan fungsi kawasan sesuai peruntukannya. Tekanan masyarakat terhadap sumberdaya hutan semakin gencar bermunculan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni RINGKASAN EKSEKUTIF BKSDA Papua II Sorong Cagar Alam Teluk Bintuni adalah salah satu kawasan konservasi di Kabupaten Bintuni yang sebagian besar merupakan tipe hutan mangrove. pengelolaan kawasan CATB berada di bawah Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II Sorong . dan organisasi non pemerintah serta didukung oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. Tantangan ini. sebagai salah satu kawasan konservasi yang strategis. Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menjawab berbagai tantangan yang muncul dari adanya kebijakan pelaksanaan otonomi daerah dan meningkatnya tuntutan masyarakat untuk dapat terlibat langsung dalam proses pembangunan bidang kehutanan.Seksi Konservasi Wilayah I Manokwari. The Nature Conservancy (TNC) dalam hal ini Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) yang berkedudukan di Denpasar. terutama dari hasil Perikanan seperti udang. Karena keunikan wilayahnya serta terdapatnya beragam jenis flora dan fauna endemik Papua. pada dasarnya merupakan wujud tuntutan publik atas perlunya suatu program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang benar- Ringkasan Eksekutif RI-1 . Menyikapi masalah tersebut.q.memunculkan dilema baru bagi pengelolaan kawasan konservasi di daerah. Sejak Penunjukan. c. Bali membentuk suatu Tim Penyusun yang bertugas menyusun Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK) yang terdiri dari unsur pengelola kawasan (BKSDA Papua II. Kegiatan yang dilakukan masih terbatas pada pengamanan kawasan sedangkan kegiatan yang mengarah kepada pelestarian fungsi kawasan belum dilakukan. Resort KSDA Bintuni). akademisi. khusus bagi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Pada era desentralisasi sektor kehutanan sejalan dengan diberlakukannya otonomi khusus bagi Propinsi Papua serta implementasi paradigma pengelolaan hutan berbasis masyarakat. dan kepiting.

dan (5) Pemaparan Draft Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2005 di Departemen Kehutanan. Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Teluk Bintuni. c. Kepala Bappeda Propinsi Irian Jaya Barat dan Kabupaten Teluk Bintuni. Kepala Suku. Disamping itu penyusunan dokumen ini ditujukan untuk menciptakan salah satu instrumen pengelolaan yang mampu memberikan landasan bagi perencanaan dan pengembangan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Pemerintah Kabupaten Bintuni. (2) Pertemuan Kampung (village meeting) dan Rapid Social Assesment (RSA) di 14 kampung/kelurahan yang berada di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Dinas-Dinas Terkait di Teluk Bintuni. Jakarta. dan Tokoh masyarakat di setiap kampung yang memiliki akses langsung ke kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Dengan adanya dokumen ini. diharapkan dapat mendorong penyelenggaraan pengelolaan kawasan CATB yang akomodatif . dan sosialiasi kegiatan penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni kepada Bupati Teluk Bintuni. dapun skenario yang menjadi impian ataupun harapan para pemangku kepentingan dan Ringkasan Eksekutif RI-2 . dan masyarakat Teluk Bintuni yang diwakili oleh wakil masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB. dinas terkait (Dinas kehutanan dan Dinas Kelautan dan Perikanan) di Teluk Bintuni. Rektor Unipa Manokwari. demokratif . (5) Kajian ilmiah (scientific review) draft Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh “reviewer”. tanggal 1 Juni 2005.q. Koordinator Badan Monitoring. yang dilakukan selama periode akhir Maret s/d awal Mei 2005. Kabupaten Bintuni oleh Tim Penyusun dilakukan melalui serangkaian tahapan (1) Konsultasi. sehingga dokumen yang dibuat dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Akhir Maret 2005.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong benar dapat dijalankan dan isinya merupakan kumpulan agenda dari aspirasi segenap pemangku kepentingan yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan. di Bintuni. Proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Visi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk tahun 2006 – 2030 adalah mewujudkan “Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang Lestari. (4) Lokakarya Penjabaran dan Perumusan Draft Rencana Pengelolaan CATB yang dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2005. Wakil masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB. koordinasi.Berkelanjutan dan Berdaya Guna”. (3) Lokakarya khusus dengan seluruh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan yang di wakili oleh Kepala Kampung. Dokumen Rencana Pengelolaan ini bertujuan untuk mengakomodir berbagai aspirasi dari stakeholder dan merumuskannya dalam rencana strategis dan rencana aksi. Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam. di Bintuni. dan LSM Mitra Pesisir. partisipatif dan bertanggung jawab. serta Rapid Biological Assesment (RBA) dalam rangka pengumpulan data SOSEKBUD dan biologi kawasan.

dalam dokumen ini telah dirumuskan secara detai Rencana kegiatan pengelolaan yang difokuskan pada 7 (tujuh) aspek. Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan. yaitu aspek Pemantapan Kawasan. akan dimonitor dan dievaluasi oleh unsur internal pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni maupun oleh Forum komunikasi yang bersifat independent. Perlindungan dan Pengamanan Kawasan. sehingga dalam aktivitas perencanaan lebih lanjut akan didapatkan beberapa strategistrategi tertentu yang tidak relevan lagi. Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati. Pendukung/Kelembagaan. Selain itu. dalam dokumen ini juga telah disusun Rencana pembiayaan serta kemungkinankemungkinan sumber dana yang bisa di gali dalam menunjang implementasi kegiatan Rencana pengelolaan periode limatahunan dan duapuluh limatahunan. Karena Kebijakan Pemerintah Yang Akomodatif Dan Didukung Oleh Kelembagaan Pemangku Kepentingan Yang Demokratif.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong masyarakat kota Bintuni pada masa 25 tahun mendatang adalah “Pada Tahun 2030 Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Akan Berjalan Ideal Dan Optimal. Oleh karena itu. Pemanfaatan. Dalam perjalanan waktu. isu-isu pengelolaan kawasan yang baru akan muncul. Dalam implementasi kegiatan Rencana pengelolaan Kawasan. serta aspek Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan. prioritas kegiatan perlu dievaluasi dan dimodifikasi. Untuk menunjang terwujudnya visi pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ringkasan Eksekutif RI-3 .

.

transparan dan bertanggung jawab. sudah dikenal di dunia internasional dan juga tempat banyak penduduk menggantungkan hidupnya. tidak hanya pada daerah dimana kawasan konservasi berada tetapi juga memberikan manfaat kepada lingkungan global. c. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni juga mengharapkan dengan adanya dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Keberadaan kawasan konservasi di suatu daerah. Oleh sebab itu. Tim penyusun Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dibentuk oleh The Nature Conservancy (TNC). Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni tetap mengharapkan dukungan dari semua pihak. Resort KSDA Bintuni). diskusi intern dengan institusi terkait di daerah. sehingga upaya mewujudkan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara lestari. Cagar alam ini merupakan kebanggaan masyarakat Kota Bintuni. dan lokakarya tingkat Kabupaten merupakan bukti kepedulian kita bersama dalam upaya penyelamatan kawasan ini.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong SAMBUTAN BUPATI Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan salah satu dari beberapa kawasan konservasi yang terletak di Kabupaten Teluk Bintuni. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menyambut baik hasil dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 25 tahunan yang telah dirumuskan dan disusun oleh Tim secara bersama-sama dengan para pemangku kepentingan. Sehubungan dengan upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas. mampu memberikan manfaat yang besar.q. South East Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali. secara khusus saya meminta Pengelola Cagar Alam untuk dapat melaksanakan dengan sungguh-sungguh dan sekaligus pula melakukan koordinasi pelaksanaan berbagai kegiatan yang ada dalam Sambutan Bupati SB-1 . berkelanjutan dan berdaya guna dapat terlaksana. yang terdiri dari unsur pengelola kawasan (BKSDA Papua II. dimulai dari proses konsultasi publik baik pertemuan kampung. Upaya pengelolaan yang bertujuan untuk penyelamatan dan pelestarian kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan wujud dari tanggungjawab kita bersama selaku umat ciptaan Tuhan terhadap anugerah yang diberikan kepada masyarakat Teluk Bintuni. akademisi. terutama segenap masyarakat Teluk Bintuni dalam upaya impelementasinya. Perhatian yang besar dari masyarakat dan kerja keras Tim Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni diperlihatkan dari antusiasme semua pemangku kepentingan dalam mengikuti proses penyusunan. dan didukung oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni telah selesai menyusun rencana pengelolaan dan ini merupakan suatu momentum yang baik dimana ada banyak pihak yang berjuang bersama dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. maka sinergitas dan kinerja para pemangku kepentingan dalam pengelolaan maupun pengembangan kawasan dapat berjalan secara efektif.

sehingga kita boleh menikmati hidup yang baik hingga saat ini. dinas lainnya se-Kabupaten Teluk Bintuni. Bintuni. saya sampaikan kepada lembaga pendukung kegiatan The Nature Conservancy (TNC). Namun demikian. partisipatif dan berpegang pada azas demokrasi. Agustus 2005 Sambutan Bupati SB-2 . Masyarakat Kabupaten Teluk Bintuni secara umum juga saya minta untuk dapat mendukung sepenuhnya upaya pelaksanaan kegiatan di lapangan. Terhadap hal-hal yang mungkin muncul atau dijumpai di lapangan. Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan suatu momentum awal yang baik bagi pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi di Tanah Papua. yang telah membantu dan menfasilitasi proses penyusunan Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Bintuni selama ini.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dokumen rencana kegiatan dimaksud bersama dengan Kepala Dinas dan Instansi terkait. dalam atau selama pelaksanaan kegiatan ini saya minta dengan sangat untuk dapat dipecahkan bersama secara terbuka. untuk menambah arti dan nilai manfaat dokumen ini maka sekali lagi saya mengajak semua para pemangku kepentingan dan segenap masyarakat Teluk Bintuni untuk secara bersamasama mendukung implementasi kegiatan dalam dokumen program rencana pengelolaan ini. lembaga pendidikan dan lembaga penelitian serta lembaga pelaksana teknis Departemen Kehutanan di Kabupaten Teluk Bintuni yang telah membantu memberikan konstribusi pemikiran dan berpartisipasi aktif dalam proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ucapan terima kasih dan penghargaan juga. termasuk kemungkinan konflik kepentingan. hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa kita panjatkan puji dan syukur. Terima kasih dan penghargaan yang sama pula saya sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas partisipasinya dalam proses penyusunan rencana pengelolaan ini. Akhirnya. secara khusus pelestarian dan perlidungan kawasan konservasi di Kabupaten Teluk Bintuni. South East Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali. Atas nama Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Tim Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan atas segala upaya dan kerja keras yang dilakukan selama ini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan pula kepada semua pihak baik instansi teknis terkait.

apabila diperhadapkan pada era desentralisasi pengelolaan hutan di daerah. Disamping itu.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong SAMBUTAN KEPALA BALAI KSDA PAPUA II Perubahan arah kebijakan Departemen Kehutanan RI yang prioritasnya kegiatan lebih dititikberatkan pada konservasi dan rehabilitasi kawasan merupakan suatu peluang yang baikdalam upaya penyelamatan kawasan hutan di Papua. Selain itu pula. Upaya proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang digagasi oleh The Nature Conservancy (TNC) merupakan suatu langkah awal yang bijak dan bukti nyata kepedulian para penggiat konservasi dan pemerhati lingkungan Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya dalam upaya mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi di Papua yang partisipatif. model pengelolaan maupun instrumen kebijakan yang digunakan dalam pengelolaan kawasan konservasi selama ini di Papua kurang mengakomodir kepentingan dan aspirasi masyarakat . tuntutan kepentingan akan kebutuhan dasar hidup masyarakat di Papua secara khusus masyarakat yang bermukim di sekitar dan dalam kawasan konservasi menjadi suatu tantangan yang harus segera dipecahkan bersama oleh para penggiat konservasi dan pemerhati lingkungan di Tanah Papua. erutama masyarakat yang berdiam di sekitar dan dalam kawasan konservasi di Papua merupakan masalah krusial yang harus segera diselesaikan. kebijakan pengelolaan kawasan konservasi di Papua bersifat partisipatif yang Sambutan Kepala BKSDA Papua II SKBKSDA-1 . demokratik dan bertanggung gugat. sehingga pengelolaan kawasan konervasi tidak dapat berjalan secara efektif. Namun demikian. transparan. transparan dan demoktratik. Sehingga. proses penyusunan yang melibatkan para pemangku kepentingan serta publik di Kabupaten Teluk Bintuni memberikan makna yang penting dalam membangun dan merubah paradigma kebijakan pengelolaan yang lebih akomodatiif. pengelolaan kawasan konservasi menjadi hal yang dilematis dan tidak konstruktif di Papua. Penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang digagasi oleh Tim penyusun rencana pengelolaan kawasan CATB serta berkoordinasi dengan Balai KSDA Papua II juga merupakan langkah yang sejalan dan sesuai dengan program dan prosedural penetapan dan pengelolaan suatu kawasan konservasi. Menginggat keterbatasan sumber daya kami yang kurang proposional dengan luas wilayah konservasi yang ada dalam wilayah pemangkuhan Balai KSDA Papua II Sorong di Papua. berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat. perlibatan masyarakat adat dan penetapan kawasan konervasi yang kurang mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat di masa lalu. secara khusus dalam wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua II Sorong. Upaya ini merupakan salah satu bantuan yang sangat berharga bagi kami dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi di Papua. Permasalahan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi dan kepentingan masyarakat. Selain itu pula.

implementasi program pengelolaan kawasan selanjutnya dapat berjalan lebih efektif dan seinergis serta meminilisasi konflik yang selama ini terjadi. berkat dan anugerah yang tak ternilai harganya. secara khusus pada wilayah Kepala Burung Pulau Papua bukan semata-mata merupakan tanggungjawab Balai KSDA Papua II selaku pemangku dan pengemban tugas pengelola kawasan. Sorong. maka kontribusi dan dukungan para pemangku kepentingan serta publik Manokwari masih sangat diharapkan juga dalam implementasi program selanjutnya. melainkan merupakan tanggungjawab kita bersama segenap masyarakat Papua untuk melestarikan dan mewariskan kekayaan alam yang unik dan maha kaya bagi generasi akan datang di tanah ini. sehingga proses kegiatan ini dapat diselesaikan dengan baik. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian dokumen ini. kami ucapkan terima kasih kepada Tim Faslitasi Penyusunan Rencana Pengelolaan CATB atas upaya dan kerja keras yang diberikan selama ini. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada The Nature Conservancy atas segala dukungan dalam menfasilitasi proses penyusunan dokumen selama ini. Oleh sebab itu.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dapat mengakomodir semua aspirasi para pemangku kepentingan dalam kawasan. Dengan demikian. segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan perlindungan. Pada kesempatan ini pula. yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu juga kami ucapkan banyak terimakasih. disadari bahwa sumberdaya pada Balai KSDA Papua II masih sangat terbatas. Pengelolaan dan pelestarian kawasan konservasi di Tanah Papua. Balai KSDA Papua II Sorong menyambut baik dan menyampaikan selamat dan sukses atas diselesaikannya dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ini. Selanjutnya. Agustus 2005 Sambutan Kepala BKSDA Papua II SKBKSDA-2 . Akhirnya. Ucapan terima kasih juga. kami sampaikan kepada Bupati Teluk Bintuni serta Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni atas segala dukungan dan bantuan yang diberikan.

CRMP Jakarta dan Mitra Pesisir Bintuni. Masyarakat yang diwakili LMA Bintuni dan Lemasom. Kepala Suku. 6. dan LSM Mitra Pesisir. tanggal 1 Juni 2005. Penelusuran informasi-informasi yang pernah dilakukan di Cagar Alam Teluk Bintuni bekerjasama dengan beberapa stakeholder seperti Universitas Negeri Papua. Dinas-Dinas Terkait di Teluk Bintuni. Rangkaian tahapan proses yang dilakukan Tim Penyusun RPK CATB secara umum terdiri dari beberapa tahapan kegiatan. 4. 2. yang telah membantu memberikan kekuatan. Akhir Maret 2005 . Penyusunan rencana kegiatan (work-plan) untuk keperluan internal Tim Penyusun RPK Cagar Alam Teluk Bintuni. BP Tangguh. Pemerintah Daerah Teluk Bintuni termasuk beberapa Dinas terkait. 3. yaitu : 1. Kata Pengantar KP-1 . baik internal tim berupa konsolidasi dan koordinasi yang dilakukan secara regular. yang dilakukan selama periode akhir Maret s/d awal Mei 2005. dilaksanakan di kantor TNC. BKSDA Papua I dan Resort KSDA Bintuni. Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali pada tgl 6-8 Maret 2005. dan beberapa LSM lokal di Manokwari. 5. dan sosialiasi kegiatan penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni kepada Bupati Teluk Bintuni. dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2005. sehingga proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dapat diselesaikan dengan baik. Bulan Pebruari – April 2005. serta Rapid Biological Assesment (RBA) dalam rangka pengumpulan data SOSEKBUD dan biologi kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni KATA PENGANTAR BKSDA Papua II Sorong Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang maha kuasa. TNC Bali. Lokakarya Penjabaran dan Perumusan Draft Rencana Pengelolaan CATB bersama pemangku kepentingan terkait di Kabupaten Teluk Bintuni. dan Tokoh masyarakat di setiap kampung yang memiliki akses langsung ke kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. kesehatan dan menyertai serta melindungi kita. Konsultasi. Dokumen ini dihasilkan melalui serangkaian tahapan kegiatan diskusi baik formal dan informal yang dilakukan Tim Penyusun RPK Cagar Alam Teluk Bintuni. Lokakarya khusus dengan seluruh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan yang di wakili oleh Kepala Kampung. di Bintuni. koordinasi. maupun eksternal tim antara berupa konsultasi publik dan field survei. di Bintuni. Pertemuan Kampung (village meeting) dan Rapid Social Assesment (RSA) di 14 kampung/kelurahan yang berada di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

bantuan dan kerjasama yang diberikan kepada kami. Kepala Balai KSDA Papua II atas dukungan. DS. Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Teluk Bintuni. Pemaparan Draft Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2005 di Departemen Kehutanan. difokuskan pada 7 (tujuh) aspek. Bupati Teluk Bintuni yang telah memberikan perhatian serius dan mendukung kami. Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam. Dokumen Rencana Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan arahan umum kegiatan yang diharapkan dapat di realisasikan oleh para pemangku kepentingan dalam program pengelolaan kawasan CATB sesuai dengan kewenangan serta tugas pokok dan fungsinya. Perlindungan serta dan Pengamanan Prasarana Kawasan. APU Oseanologi-LIPI). pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada: 1. dan masyarakat Teluk Bintuni yang diwakili oleh Ketua LMA Bintuni dan Lemasom. Rektor Unipa Manokwari.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 7. 3. Kajian ilmiah (scientific review) draft Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Dr.c. Dokumen ini memuat kondisi umum kawasan. di Jakarta. Kepala Bappeda Propinsi Irian Jaya Barat dan Kabupaten Teluk Bintuni. Kata Pengantar KP-2 Hayati. Namun demikian. Implementasi kegiatan pengelolaan selanjutnya. bukan lagi menjadi tugas Tim Penyusun RPK CATB. Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Kelembagaan. analisis permasalahan. pelaksanaan kegiatan bukan merupakan tanggungjawab sepihak pengelola kawasan dan pemerintah daerah. c. 9.q. yaitu aspek Pemantapan Kawasan. Puslitbang Pemanfaatan. Jakarta. aspek Sarana Pendukung . Sukristijono Sukardjo. Badan Perencana Daerah Kabupaten Teluk Bintuni beserta jajarannya atas bantuan dan arahan selama proses penyusunan dokumen ini. 8. Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan. 2. pengorganisasian. Dengan selesainya Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni ini. pembiayaan. melainkan tanggungjawab bersama para pemangku kepentingan dalam kawasan dan juga masyarakat Teluk Bintuni dalam mendukung dan menyukseskan pelaksanaannya. Pendukung/ Kegiatan (Peneliti Mangrove. merupakan tugas pokok dan fungsi serta kewenangan Balai KSDA Papua II. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dan para pemangku kepentingan dalam kawasan. rencana kegiatan. Koordinator Badan Monitoring. Pengesahan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Dirjen PHKA. sehingga koordinasi dan kerjasama dapat berjalan lancar dan sukses. kebijakan. sehingga semua proses kegiatan dapat berjalan dengan baik. Pengelolaan. dan monitoring dan evaluasi. Khusus untuk rencana kegiatan. dinas terkait (Dinas kehutanan dan Dinas Kelautan dan Perikanan) di Teluk Bintuni.

berkelanjutan dan berdaya guna. Agustus 2005 Tim Penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni. Universitas Negeri Papua Manokwari dan Universitas Trisakti Jakarta. Kepada instansi teknis terkait dan dinas serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu di sini. Ir. khususnya masyarakat yang bermukim di kampung-kampung di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. sehingga penyusunan dokumen dapat diselesaikan dengan baik. Jamartin Sihite. Masyarakat Teluk Bintuni. MSc Ir. Piere dan Habel atas bantuan dan dukungan yang diberikan 8. Chandra Gustiar. sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Teluk Bintuni dan juga mewujudkan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari. 9. SH Kata Pengantar KP-3 . MSc Ir. sehingga proses penyusunan dokumen ini dapat direalisasikan dengan baik. Semoga dokumen ini dapat menjadi acuan dan instrumen dasar bagi Balai KSDA Papua II Sorong dan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni sebagai upaya dalam pengembangan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. atas bantuan teknis dan informasi yang diberikan. MSi Sergius Kosamah. MSi Ir. Teman di BP Indonesia khususnya Jalal. 5. Teman-teman di Pusat Studi Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PS2AL) . Mendama Tambe Jaga Tane Cagar Alam Teluk Bintuni Bintuni. The Nature Conservancy (TNC). Retno Suratri. Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 4.Bogor atas bantuan editing dan koreksian serta dukungan data-informasi yang diberikan 7. Dr. Obed Lense. bantuan dan fasilitas. 6. atas dukungan.

.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong .

.

. Metode Pendekatan ...………………………….2.2. D.......…………........1........2....... …………. Iklim.………………………................ B.………….... A.………. A..... ………………………………………………………………… C2.……………………………………………... C4......………………………………… B...... Latar Belakang. ……………………………………………………...……………….....….... ...... C3..3.... Ruang Lingkup..... Hutan Hujan Dataran Rendah . E...3.....................3...... Pemanfaatan Sumberdaya.... Peningkatan Sistem Pengelolaan ..…..2........ PENDAHULUAN ...........2...... ….. Fauna . Perlindungan .......... KEADAAN UMUM KAWASAN... Pendidikan..3... ……………………………………………………………… II.2. Kondisi Fisik Kawasan....... C5.. A...1....................... Informasi Umum Kawasan .. Karakteristik Sosial.... A..…………………… A....……….................. B....2...... Species ... Risalah Kawasan .......1 Sejarah Penetapan Kawasan ..………….... Flora ……………………………....…………………………....……………………………………………… A.......3... Maksud dan Tujuan ........ A.....Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman PETA SITUASI RINGKASAN EKSEKUTIF SAMBUTAN BUPATI KABUPATEN TELUK BINTUNI SAMBUTAN KEPALA BALAI KSDA PAPUA II KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I............ Kondisi Biologi Kawasan .3..……………………………….....2...……………………………………………….... B..... Tanah.....2.. Sasaran .…………………………………………………………………. ………………………………………. …………... …………………………………………………………................3.....2..... . A...... Ekonomi dan Budaya.…………………………………………. A..1....………………………....……………………………………….3. A.1.. …………………………………………………………………………… C1..... A2......... Aksesibilitas...... Mata Pencaharian…………………………………………………………..................……………………………………………………………………..... ………………………............... Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hidrologi .. A..2........…… A. ………………………………………….…….......... ………………... Penduduk……………………………………………………………………..1.........…………....…………………….…………………………………….........…………….... C. …………………………………………………………... F. ………………………………………………………..2......……………….4... ………………………………………… A..... A..………. Letak dan Luas.. A....1.........1.... Visi dan Misi Cagar Alam Teluk Bintuni ......1... A1...………....…… A3. Hutan Mangrove .... Konservasi.1..... Geologi... Ekosistem ... ... I-1 I-1 I-5 I-6 I-6 I-6 I-6 I-7 I-7 I-8 I-8 I-9 II-1 II-1 II-1 II-1 II-2 II-3 II-4 II-4 II-5 II-5 II-6 II-7 II-7 II-7 II-9 II-15 II-16 II-17 II-25 II-25 II-28 Daftar Isi i ....1.......………….

. C...4.... .... Tempat Berladang ... .... .... Kebijakan Umum dan Strategi Pembangunan Cagar Alam ... A........ …………………….......…………………....... C....... Kapasitas Pengelola Kawasan......... .………................1... C3. Pengelolaan Hutan Lestari...... B.6....... D...............1................. C. .... Adanya Perburuan Buaya......................2.3... Pemanfaatan Tumbuhan ....2.. Pola Pemanfaatan SDA....………………………………… B... C............................5... ... Tempat Berburu.... Pengembangan Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni. B. C...3....... D. Pendugaan Nilai Ekonomi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.2.. D.. .. Agama ..........3.6....3... Tumpang Tindih Kawasan dengan Penggunaan Lahan Lain .... Infrastruktur..... III....1........ ...……………..................... C.. C. Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan Hutan Mangrove ....................2....... Kearifan Tradisional Masyarakat. C........... … C............ C1.4..3.......... Rencana Strategis Ditjen PHKA……………………………………..6........ Kesehatan ……………………………………......... Pengelolaan Daerah Aliran Sungai .....3............. ………………………………………………………………………. D...5......3. Pendidikan ……………………………………........ KEBIJAKAN .6........ Permasalahan.................. C....... Kepemilikan Lahan ....4. C........1.......4...........7...... Adanya Perkampungan di Dalam Kawasan ....... B... Peran Masyarakat (Community Involvement) ...1...........……………………………………… B...2.............3....3...........3... .........1.2........... Sosial Ekonomi Budaya. Kebijakan Konservasi Biodiversity di Indonesia ..... ………........ …………………….....3...........……………………………………………….6...... Rusa dan Burung ........……………………………….. B. Pendidikan dan Kesehatan .... Penangkapan dan Pengumpulan Hasil Laut ....................3.............. Pemanfaatan Sumberdaya Alam ...………………………....1.8.3......5.. IBSAP 2003................……………………………………………………… C... C......…………………………………………..……………………………….... Fisik...3. B............. Biologi……………………………………………….. ......6..................................………………………………………….. B...... ........... Letak Kawasan ..…………………………… B... Dasar Hukum... Penangkapan Hasil Perikanan yang tidak Ramah Lingkungan ............... C.......4.........................3............ C.. II-30 II-30 II-31 II-33 II-34 II-34 II-34 II-35 II-37 II-38 II-40 II-44 II-45 II-46 II-48 II-50 II-54 II-55 II-55 II-55 II-56 II-56 II-57 II-57 II-58 II-59 II-60 II-60 II-61 II-61 II-62 II-62 III-1 III-1 III-2 III-2 III-4 III-5 III-5 III-5 III-15 III-20 III-23 Daftar Isi ii ....................………………………..............………………………......6....1...........……………………………………………………..............2........ B....……………………………………………… C2.......................……........ B.……………………………………..…………………………………………………… B................3...........… B..6......... . Faktor Penghambat ......1...6.... B..................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman B.............………………………………… B..... Pandangan Masyarakat Adat terhadap SDA (Tanah & Hutan)....3..............2...........…….......……...... B... Pengelolaan Cagar Alam .……………………………..1......... B.1..... Sektor Kehutanan......... Adanya Tempat Penimbunan kayu di Dalam Kawasan ......3.. Sarana dan Prasarana Transportasi……………………………………….... BAPI 1993……………………………………………………………………… B.. Pemanfaatan SDA di Kawasan CATB..

..1.……………………........1................. D.....2.......……....... C.... Sarana Prasarana Pendidikan .....……………………………………………….......... Kelemahan. E.........…………………………......... dan Ancaman (KKPA) .................3...............2 .. D........ ……………………………………………..... Rencana Kegiatan Pengelolaan …………………………………………………..........6. Pemantapan Kawasan ……………………………………………………… B.................………………....1..... ………………………...……………………....................................... RENCANA KEGIATAN ....... Tinjauan Panataan Ruang Kabupaten Teluk Bintuni ..............1......... B.... Permasalahan …………................. C.. A... B........... D.......... Hubungan Ruang Kawasan Cagar Alam Dengan Daerah Sekitarnya.......................... Peluang.......... Sarana dan Prasarana……………………………………………………………… C.. …………………… III-26 D... …………………... A......……………. V.……………………………... C. ……………………………............. Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Otoritik.... B.... ……………………………………………..... Perlindungan dan Pengamanan Kawasan.................... Skenario Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni .. A........ Permasalahan . …………………………………………… C. B................. Identifikasi dan Penilaian faktor Internal dan Eksternal ........................................ Perumusan Strategi Pengelolaan ........2......... B......... Sarana Prasarana Penelitian . Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati. Pola Pemanfaatan Sumberdaya Alam ...................2.......2.2........ Alternatif Pemecahan Masalah ......... D.... ………………………... Sarana Prasarana Pengelolaan ... Aspek Biologi Kawasan ..2..................... . ANALISIS PERMASALAHAN ....1..…………………………………............... E...................3......…………………………………………………........………………………………………....... F....4........... Permasalahan ....1................... Pendukung/Kelembagaan…………………………………….. Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Demokratik................................. D.. C.... C......2.....1.... A... B....... A.1.... Alternatif Pemecahan Masalah .........2.. B...Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman D....... Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan……………………………... B..…………......... Flora dan Fauna ........………………............ ..... Analisis Keterkaitan antar Unsur SWOT . C............1 ..... Pemanfaatan... Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Demokratik ..........5...1........…… A...... IV-1 IV-1 IV-1 IV-1 IV-6 IV-6 IV-8 IV-8 IV-8 IV-17 IV-21 IV-26 IV-26 IV-26 IV-26 IV-29 IV-34 IV-34 IV-35 IV-35 IV-36 IV-36 IV-37 IV-39 IV-40 V-1 V-1 V-2 V-2 V-3 V-6 V-10 V-12 V-13 V-17 V-17 V-18 V-19 Daftar Isi iii ... Alternatif Pemecahan Masalah ..……... Aspek Pengelolaan..…………………….....1. B.. Analisis Kekuatan.........…………… C. Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya.. Aspek Kebijakan ..1.............……………………………………………….......1... III-28 IV.. ………………………………………………………………......1................... ..1.... Pengelolaan dan Kebijaksanaan ............2.......................1................... Rendahnya partsipasi Masyarakat .. Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Otoritik ........ Ekosistem .....4.............. E......1...... B.3.................……………....................................... Pengembangan Wilayah …………………………………………………………… III-26 D. B......... Umum…………………………….2...........

. PENUTUP ...... Penyusunan Staf ................ .........................2 .. Kelembagaan dan Koordinasi . A2................ Pelaksana Kegiatan.................4.......Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman VI. ……………………………………………………………….1.. ..... ……………………………………...........2... ………………………………………………………………………. Tanggungjawab Administrasi ……………………………………………………… C....... Rincian Biaya………………………………………………………………………..2.......... Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni ... Forum Komunikasi Independen .. PEMBIAYAAN ...... Komposisi Forum Komunikasi MONEV CATB..... A. A........ …………………………….. Sumberdaya Pendukung ...... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN VII-1 VII-1 VII-1 VII-2 VII-3 VII-3 VII-6 VII-8 VIII-1 VIII-1 VIII-1 VIII-2 VIII-2 VIII-6 VIII-7 VIII-7 VIII-7 VIII-8 VIII-8 VIII-9 IX-1 Daftar Isi iv ................................ A...... Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni ……………………………...................... Rencana Waktu Pemantauan dan Evaluasi. Koordinasi dengan Instansi Lain …………………………………………… B.…...........1.. ……………………………..... B. Kebijakan Pengelolaan.............. A..2...... IX. Lingkup Kegiatan Badan Forum Komunikasi Independen .......... VI-2 VII. ........2....…………………………………………………….... Sumber Dana....………………………………………........…….....MONITORING DAN EVALUASI ..3......... Pembinaan SDM............. .................... A.... Koordinasi dalam Lingkup Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni... Mekanisme Kerja Forum Komunikasi Independen.....................2........3.. B.............………………………………… A.. Pengembangan Organisasi dan SDM ........................ ……………………………………....1..... Forum Komunikasi Independen ..2. A...............1...... …………………………………………… A.... VI-1 A.. PENGORGANISASIAN ........ VI-1 B.....2. A... B........ B......1......................…………………………….......…………………………………………………………………… VIII...……. A... Tugas dan Tanggungjawab .2............. B...

............................ II-30 II-13 Sarana Kesehatan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 ..................................................……... Jenis-Jenis mangrove sejati pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ..............……………………………………………………………............... II-53 Daftar Isi v . II-51 II-22 Asumsi Dasar Penilaian Jenis Manfaat Hutan Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...................................... ......................…………………………………………………… II-32 II-15 Jumlah penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan agama...... II-41 II-18 Pemanfaatan komponen flora dan fauna pada ekosistem mangrove di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ............................... II-16 Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi ekosistem hutan dataran Rendah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.......................................……………………………………………………………… II-33 II-16 Hasil perikanan yang dihasilkan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) beserta harganya....... ..................................................... II-22 Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni ......... II-18 Jenis burung yang dicatat selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.......................………………………………………… II-29 II-12 Sarana Pendidikan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2002.............Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No I-1 II-1 II-2 II-3 II-4 II-5 II-6 II-7 II-8 Keterangan Halaman I-9 Stakeholder di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) ................................................................................……………………………………………...... Distrik Dan Kampung yang Memiliki Akses Terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni……………………………………………………………………… II-4 Jenis tanah yang terdapat di sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ................................ .................... II-43 II-19 Sarana dan jenis transportasi kampung di sekitar CATB ke Ibukota Distrik dengan saran transportasi sungai/laut .............................. ………………….............................................................. ...............................................................................................…… II-26 II-28 II-9 II-10 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di sekitar Cagar Aalam Teluk Bintuni........................................................................................... II-52 II-23 Prediksi Nilai Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan CATB...... ................................................. II-11 Mata Pencaharian penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ......................... …......…….............. ……………………… II-20 Jenis mamalia yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) serta berdasarkan informasi masyarakat setempat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...............…………………………………… II-50 II-21 Fungsi dan Manfaat Lingkungan Ekosistem Mangrove.............................. II-40 II-17 Pemanfaatan vegetasi palem oleh masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ............………………………………… II-49 II-20 Jalur pelayaran reguler dari dan ke Bintuni yang dilayani oleh PT Pelni dan pelayaran swasta lain ......... II-6 II-16 Jenis-Jenis asosiasi mangrove pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ........................ II-31 II-14 Tenaga Kesehatan yang ada di kampung sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005.......................................................................................................................................................................................... II-17 Jenis herpetofuana yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .................

....................... V-13 V-16 VI-2 VI-9 VI-16 VI-1 Rencana alokasi biaya pengelolaan jangka pendek kawasan CATB (per tahun) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010) ...........…………… V-1 Rencana kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan..................... ................................... V-5 Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam mengembangkan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati......................................................................... ……………………… IV-23 IV-9 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ............................ V-9 Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek perlindungan dan pengamanan kawasan............... IV-24 IV-10 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .......................... IV-10 IV-6 Permasalahan sekaligus ancaman dan penyebabnya terhadap keberadaan ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 ................…………………………………………………… IV-4 IV-3 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ……………………………………………………………...................... ..... Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ................................................................................................ IV-7 IV-4 Permasalahan sekaligus ancaman terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasanCagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 ..................... V-3 Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan...................................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No Keterangan Halaman IV-1 Kondisi personil pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005 ………………………………………………………………………… IV-3 IV-2 Kondisi sarana dan prasarana pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005... IV-22 IV-8 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .................................................. VI-3 Rencana alokasi biaya pengadaan sarana dan prasarana untuk jangka pendek (per tahun) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010) ..........................… IV-14 IV-7 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove dan nipah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni........................................................................................................... ...................................... IV-33 IV-11 Matriks hasil analisis SWOT ...... ………………………………………………………................................. VI-19 Daftar Isi vi ......... VI-2 Rencana alokasi biaya pengelolaan kawasan CATB jangka panjang (lima-tahunan) pada periode 25 tahun pertama (2006-2030).............................. ………………………………………………………........ IV-40 V-1 V-2 V-3 V-4 V-5 V-6 V-7 Prioritas rencana kegiatan pengelolaan kawasan selama dua puluh lima tahun (2006-2030) Cagar Alam Teluk Bintuni...... V-12 Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek pendukung/kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...... VI-4 Rencana alokasi biaya pengadaan sarana dan prasarana untuk jangka panjang (per tahun) pada periode 25 tahun (2006-2030) .......................……… IV-9 IV-5 Tempat Penimbunan Kayu (TPK)/ Logyard yang menempati ekosistem hutan dataran rendah dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan tahun 2005 ........................................

............................. VIII-2 Kondisi personil pendukung pengelolaan Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa .... ………........................................................................... VII-2 Rencana kebutuhan biaya pemenuhan staf dan rencana pelatihan di Cagar Alam Teluk Bintuni....Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No Keterangan Halaman VII-1 Kondisi staf pengelola cagar alam dan rencana pemenuhan staf berserta rencana pelatihan ............................. VIII-1 Kondisi fasilitas pendukung pengelola Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa..... VII-9 VII-10 VIII-3 VIII-4 VIII-3 Rencana monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh unsur internal pengelola kawasan .............................…………… VIII-8 Daftar Isi vii ..........................................

.............................. II-12 Vegetasi Mangrove S.... Pasamai …………………………………………..................... II-15 Jenis Anggrek (Bulbophylum sp........................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No I-1 I-2 I-3 I-4 I-5 II-1 II-2 II-3 II-4 II-5 II-6 II-7 II-8 II-9 Keterangan Halaman Cagar Alam Teluk Bintuni……………………………………………………………… I-1 Hutan Mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni………………………………………......................................................................... Mania................... Cagar Alam Teluk Bintuni ................................. Kaboi di kawasan CATB................. I-14 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang Diusulkan WWF/IUCN/PHPA 1983.......................................................................…… II-24 II-19 Lokasi Pemukiman penduduk K....... II-14 Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Sungai Sumberi Cagar Alam Teluk Bintuni ...................... I-3 Kerangka Umum Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (General Framework).................................... Struktur Hutan Dataran Rendah Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni............................ II-13 Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Tanjung Pitaboni........................... Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil Tata Batas Sub Biphut Manokwari Tahun 1999 ........ Tirasai............................................................................................. Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) di S......................................................................................................... ………………………………………………… II-17 II-16 Jenis buaya muara (Crocodylus porosus) yang ditemukan di kawasan CATB ....................................................…............................................................…………………………....................................................... II-11 Pengukuran dan pengambilan titik koordinat plot pengamatan vegetasi mangrove di P. Cagar Alam Teluk Bintuni ............ II-8 II-8 II-9 II-9 II-10 II-10 II-10 II-12 II-12 II-14 II-14 II-10 Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) campuran pada Zona Pasang Surut di S...................................... Simeri Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .... II-26 Daftar Isi viii .................. II-18 II-19 II-18 Jenis kepiting bakau (Scylla sp............……………………………………… II-7 Tipe hutan hujan dataran rendah primer di belakang formasi hutan mangrove S.......................... Tipe hutan hujan dataran rendah sekunder di dekat kampung Mamuranu................................ Tirasai.................... Yensei Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .... II-1 II-2 Peta Kerja Kegiatan Survei Kondisi dan Potensi Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 ................... Simeri di kawasan CATB . kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni...................... Vegetasi mangrove Zona Rhizophora-Bruguiera di S....................... Vegetasi mangrove Zona Avicenia-Sonneratia di P......................................................... Cagar Alam Teluk Bintuni ...............................) yang memiliki nilai ekonomis yang dapat ditemukan di kawasan CATB ....................…………………………………………………… I-12 Hierarki Penentuan Prioritas Kegiatan Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni......... I-2 Abrasi di Hutan Mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni.. Cagar Alam Teluk Bintuni ....................................... II-17 Peta Lokasi Kegiatan Survei Keberadaan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ....................................................) yang bisa ditemukan di hutan dataran rendah dan magrove di Kawasan CATB ...........

.... II-27 II-28 II-22 Penangkapan ikan dengan menggunakan “JARING BALABUH” yang dilakukan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB ………........................... II-33 Peta kepemilikan lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat .......................... II-21 Salah seorang anggota masyarakat nelayan di K..................................... II-39 II-26 Bentuk pemanfaatan jenis palem sebagai (a) busur dan anak panah.........................................………………. II-40 II-27 Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni......... Distrik Idoor ..........................…………………………………………… II-56 II-39 Masyarakat baru pulang berburu di dalam Kawasan CATB………………………........................................................................ II-34 Sarana transportasi udara jenis Twin-Otter di pelabuhan udara kota Bintuni yang melayani penerbangan ke dan dari kota Bintuni ......................….................................................... Korano Jaya setelah melaut ......................................... II-42 II-28 Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.............. yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB ... II-38 II-23 Jenis siput bor Bactronophorus sp............................................................................................... II-30 Dendeng rusa dan babi hutan yang diperoleh dari berburu di hutan sekitar kampung Mamoranu dalam Cagar Alam Teluk Bintuni... Bintuni/ Wasian di dalam Kawasan CTAB............................................ (b) lantai rumah/para-para.....Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No Keterangan Halaman II-20 Peta Lokasi Kampung yang berada di dalam dan sekitar Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005......................................................... II-42 II-42 II-44 II-45 II-45 II-47 II-48 II-35 Sarana transportasi darat jenis land cruiser (hardtop) yang melayani transportasi Manokwari-Bintuni PP .............………………………………………………....... II-38 II-24 Jenis kerang Polymesoda coaxan yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB ............................... II-32 Lahan kebun dan bekas kebun masyarakat lokal di Kampung Mamoranu yang berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ........... ...... yang biasa dikumpulkan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB ...... dan (c) anyaman keranjang ……………………………………......................................... II-49 II-37 Pembukaan lahan hutan dataran rendah untuk logyard kegiatan logging di dekat Kampung Tirasai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ....... II-60 Daftar Isi ix ............................................................... II-59 II-40 Salah satu Kondisi Pemukiman penduduk (K....... II-59 II-41 Diskusi dengan masyarakat Banjar Ausoy tentang tumpang tindih LU 2 dengan Batas kawasan CATB...................................................... II-55 II-38 Pengendapan lumpur (sedimentasi) yang membentuk delta di muara S........................................................................ II-31 Model Kandang pembesaran anakan buaya di Kampung Yensei............................................................. Mamuranu) yang terletak di dalam kawasan CTAB ................................................. II-48 II-36 Sarana transportasi laut/sungai jenis longboat yang digunakan masyarakat di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni ............... II-38 II-25 Jenis kepiting bakau Scilla sp....................................................... II-29 Rumah tradisional masyarakat lokal yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari vegetasi nipah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .......

...... VIII-1 Mekanisme kerja Forum Komunikasi Independen ......................................... IV-5 Salah satu logyard yang memanfaatkan sebagian ekosistem mangrove di S.................. VII-1 Struktur arus informasi dari tahapan pelaksanaan pengelolaan di Cagar Alam Teluk Bintuni ............................ IV-13 Diskusi bersama masyarakat K.......................................................................................... .................. Korano Jaya dan K............................................................................................................. VI-1 VII-2 VII-6 VII-7 VIII-9 Daftar Isi x ............................................... IV-18 IV-19 IV-19 IV-19 IV-29 IV-14 Kegiatan Lokakarya Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan .......... IV-2 IV-2 Satu-satu sarana transportasi dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .................................................. IV-11 Jenis kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus) yang telah dilindung undang-undang yang sudah jarang dijumpai di hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni ............. IV-11 IV-12 IV-14 IV-15 IV-8 Terinvasinya hutan bekas perladangan oleh jenis pionir di K......................... VII-3 Struktur organisasi pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni ......................................................................... IV-3 IV-3 Pembukaan lahan hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove sebagai logyard di S......... Sumberi di kawasan CATB............................ ...................................................................................................................... .................... Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .................................................. IV-6 Bentuk gangguan ekosistem mangrove yang diakibatkan oleh tongkang pengangkut kayu log di S............... IV-10 Jenis burung kasuari kerdil (casuarius benetti) yang telah dilindungi undang-undang yang populasinya terancam .......................................... Mamuranu....... III-27 IV-1 Pemukiman di Desa Anak Kasih yang dibangun Dinas Sosial Propinsi Papua dan berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ………………………… ... IV-30 VI-1 Alur pengusulan pelaksanaan kegiatan dan implementasi kegiatan........................................ IV-7 Kerusakan hutan mangrove akibat erosi tepi dekat muara sungai Wasian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni............................ CATB IV-17 IV-9 Jenis burung mambruk (Goura cristata) yang telah dilindungi undang-undang yang populasinya terancam.................................................................................................. VII-2 Struktur sistem pengelolaan kawasan Cagar Alam.............Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No Keterangan Halaman III-1 Rencana Pola Pengembangan Kota Bintuni sebagai Ibu Kota kabupaten Teluk Bintuni ........................... Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.................................. IV-12 Jenis satwa buaya muara (Crocodylus porosus) yang telah dilindungi undang-undang populasinya menurun akibat perburuan liar di Cagar Alam Teluk Bintuni ..... Yensei dalam rangka penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni..................................... IV-11 IV-4 Kebun masyarakat lokal di Kampung Mamuranu di dalam kawasan CATB ...........

............ L-2 Data suhu udara ambien (0C) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil dicatat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah............. Frekuensi. L-11 Jenis........... Famili............... L-11 Jenis. Kerapatan (N/Ha).......................................... L-12 4 5 6 7 8 L-12 9 L-12 10 Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni)........... Jenis................. Frekuensi......... 12 Jenis....... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Mangrove S.. Frekuensi..... Frekuensi............. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Mangrove S.. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai)..... Famili............ L-15 15 Programme of two-days meeting on Establishing the Bintuni Bay Nature Reserve Management Plan……………………………………………………………………….............. ................... Famili....... Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0.. Babo ...... Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0. Famili.................... L-21 17 Rangkuman Catatan Hasil Presentasi Draf Akhir Rencana Pengelolaan Kawasan CATB di PHKA Jakarta (22 Juli 2005) ………………………………………………… 18 Peta Kerja Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2006-2030………............. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Sungai Sumberi..... Famili.............................. Jenis. Cagar Alam Teluk Bintuni . L-10 Data kelembaban relatif udara ambien (%) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah...... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).... .................. Cagar Alam Teluk Bintuni ............... Frekuensi..... L-13 11 Jenis.............. Cagar Alam Teluk Bintuni .................. Frekuensi.... Famili....... Famili........ Kerapatan (N/Ha)... Simeri........ dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai). ................ L-23 L-25 Daftar Isi xi ..... Kerapatan (N/Ha).. Simeri..................................... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi...... Cagar Alam Teluk Bintuni L-11 Jenis......................................................................................... L-13 L-14 13 Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi............... Kerapatan (N/Ha)......... Famili.......................... L-20 16 A COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the traditional community members who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve during the Kabupaten Meeting in Bintuni …………………………..Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR LAMPIRAN No 1 2 3 Keterangan Halaman Istilah dan Terminologi yang termuat dalam dukumen ....... L-10 Jenis...... Kerapatan (N/Ha).... ...............46 ha) ...................................... Cagar Alam Teluk Bintuni ................... L-14 14 Rangkuman Hasil Workshop Tingkat Kabupaten Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 ………………………………………...... Cagar Alam Teluk Bintuni ... Kerapatan (N/Ha)...................... Babo .......... Cagar Alam Teluk Bintuni ............................. Frekuensi....................46 ha) ........................... Kerapatan (N/Ha). Cagar Alam Teluk Bintuni ...................... Kerapatan (N/Ha)........ Frekuensi........................................................... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni)..............................

.

Pada banyak daerah dapat dijumpai terjadinya eksploitasi sumberdaya alam yang mengabaikan kelayakan ekologis dan keberadaan kawasan lindung. Kondisi ini seyogyanya menyadarkan bangsa Indonesia untuk memperbaiki pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan agar tercapai pembangunan yang berkelanjutan. Latar Belakang Pengalaman ketika krisis moneter memberikan pengalaman yang sangat berharga. fungsi. Pantai Utara Jawa. seperti eksploitasi berlebihan terhadap mangrove dan terumbu karang yang akan menghilangkan fungsinya sebagai perlindungan alami terhadap badai dan gelombang. habitat kawasan pesisir di setiap pulau-pulau di Indonesia berada dalam tekanan yang berat sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan. Wilayah pesisir Indonesia. serta pencemaran perairan pesisir yang Pendahuluan I-1 . yaitu kurang lebih 9. misalnya. Kondisi krisis menyebabkan upaya pemenuhan kepentingan ekonomi melupakan aspek lingkungan. Dari ketiga ekosistem pesisir tersebut. PENDAHULUAN A. Krisis ini berdampak tidak hanya pada sistem perekonomian tetapi juga pada sistem lingkungan (ekologi) nasional. 1997).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong I. yang terdiri dari tiga ekosistem utama. tersebut Keberadaan ketiga ekoistem sangat vital bagi produktivitas perairan dan perikanan. yaitu mangrove. dan padang lamun. biodiversitas mangrove dan konservasinya telah menjadi perhatian dunia. Skala dampak manusia pada eksositem mangrove di Indonesia telah secara dramatis selama dekade terakhir memperlihatkan ancaman serius.. Selat Malaka. Luas mangrove di Indonesia menyumbang 23. Salah satu upaya yang perlu dilaksanakan untuk kepentingan pengelolaan sumberdaya yang menyeluruh adalah melakukan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya yang tepat yang mempertimbangkan aspek ekonomi dan lingkungan berada pada posisi yang seimbang.6 juta ha yang berada dalam wilayah administrasi kawasan hutan dan non-kawasan hutan (Spalding et al. telah mengalami kerusakan yang melewati toleransi daya dukung lingkungan. Teluk Jakarta. Sehingga dalam tahun-tahun terakhir ini. terumbu karang. Cagar Alam Teluk Bintuni luas mangrove di dunia. ekosistem mangrove mempunyai peran lebih menonjol. Pada waktu yang sama.50% dari total Gambar I-1. Hasil-hasil penelitian juga telah menngkatkan pemahaman tentang nilai. dan atribut ekosistem mangrove. tangkap lebih (over fishing) terhadap sumberdaya ikan yang akan mengakibatkan musnahnya berbagai jenis ikan ekonomis penting.

Fungsi mangrove yang terpenting bagi daerah pesisir adalah menjadi penyambung darat dan laut. di atas lahan maupun di Pendahuluan I-2 . (4) melindungi ekosistem pantai secara global. 1998). Hutan Mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni Besarnya peranan hutan mangrove atau ekosistem mangrove bagi kehidupan dapat diketahui dari banyak jenis hewan. baik yang hidup di perairan. (2) habitat fauna terutama fauna laut. badai dan juga merupakan panyangga bagi kehidupan biota lainnya yang merupakan sumber penghidupan masyarakat sekitamya. (5) keindahan bentang darat dan (6) pendidikan dan pelatihan. Pada sisi lain diketahui bahwa menurunnya produksi perikanan di Bagan Siapi-api yang sebelum perang Dunia II merupakan wilayah penghasil utama ikan di Indonesia bahkan di dunia. Hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial di Indonesia seperti di perairan sebelah timur Sumatera. Menurut Kusmana (2002) pada tingkat ekosistem sebagai wetland secara keseluruhan hutan mangrove mempunyai peranan/fungsi sebagai (1) pembangunan lahan dan pengendapan lumpur. 1999). Selain itu fungsi ekologis hutan mangrove yang penting adalah sebagai daerah asuhan (nursery ground). daerah mencari makan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan (ikan. udang dan kerang-kerangan) baik yang hidup di perairan pantai maupun Iepas pantai. (3) lahan pertanian dan kolam garam.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong akan mengurangi produksi ikan dengan merusak tempat pemijahan dan habitat yang bernilai lainnya (Cicin-Sain dan Knecht. salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Noor et al. Gambar I-2. seperti abrasi. gelombang. pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya semuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan. serta peredam gejala-gejala alam yang ditimbulkan oleh perairan. Hutan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. pantai selatan dan timur Kalimantan.

serta beberapa jenis berang-berang (otters) (Noor 1995). Abrasi di Hutan Mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni pendaratan kapal. Fungsi lain yang penting adalah sebagai penghasil bahan organik yang merupakan mata rantai utama dalam jaringan makanan ekosistem hutan mangrove. terutama disebabkan oleh tekanan penduduk untuk pemukiman. bekantan (Nasalis larvatus). Selanjutnya hewan pemakan detritus menjadi makanan larva ikan.9 juta Ha telah mengalami kerusakan dan hanya 2. al. Pada tingkat berikutnya hewan-hewan tersebut menjadi makanan bagi hewan yang lebih besar dan begitu seterusnya untuk menghasilkan ikan. Indonesia mempunyai areal hutan mangrove yang sangat besar. lahan pertanian. lahan tambak. Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada habitat mangrove (Sasekumar et. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan pada Tahun 1997 dari total hutan mangrove 8. tetapi menurut Spalding (1997) dalam Noor dkk (1999) luas ini sudah mengalami penyusutan sampai 40% terutama pada periode 1990-1999. karena mereka dapat berperan sebagai perusak ataupun penjaga hutan mangrove.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong sekitar pohon mangrove.152.. tempat Gambar I-3. Detritus kemudian menjadi bahan makanan bagi hewan pemakan detritus.000 Ha. Daun mangrove yang gugur melalui proses penguraian oleh mikroorganisme diuraikan menjadi partikel partikel detritus. udang dan hewan lainnya. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang dapat memperbaiki dan meningkatkan partisipasi masyarakat dan pengelolaan yang baik agar fungsi ganda dari hutan mangrove dapat berjalan dengan baik dan dapat dimanfaatkan secara optimal. Menipisnya areal mangrove di kawasan pesisir ditunjukkan oleh luasan mangrove yang mengalami kerusakan. Dari Pendahuluan I-3 . mysidceae (udang-udang kecil/rebon). mencapai 4. Ekosistem mangrove menyediakan makanan. udang dan berbagai jenis bahan makanan lainnya yang berguna bagi kepentingan manusia (Sugiarto dan Willy 1995 dalam Suhaeb. seperti cacing.8 juta Ha yang kondisinya masih baik.7 juta Ha sebesar 5. Masyarakat di sekitar kawasan hutan mangrove juga mempunyai ketergantungan sangat besar terhadap ekosistem mangrove tersebut. bahkan beberapa diantaranya termasuk kedalam jenis yang endemik atau keberadaannya telah langka seperti harimau sumatra (Pantera tigris sumatranensis). Hal ini terjadi antara lain diakibatkan oleh: kegiatan konversi mangrove menjadi peruntukkan lain. serta bangunan lainnya. Produk yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi dari ekosistem mangrove adalah perikanan. tempat berlindung dan berkembang biak bagi satwa liar. 1999). 1992).

Dari 19 ecoregion ini maka di dalam 8 ecoregion yang tercatat dalam WWF Global dapat dijumpai keberadaan 200 habitat. Pelaksanaan tata batas kawasan pada tahun 2000 oleh Biphut Manokwari menetapkan luasan akhir dari kawasan adalah 124. Usulan ini kemudian ditindaklanjuti dengan penetapan oleh Departemen Pertanian RI dengan SK Mentan No. vegetasi pegunungan. Analisis citra satelit TNC (2003) menunjukkan bahwa di Teluk Bintuni masih ada hutan mangrove seluas 435.168 Ha dan merupakan luasan mangrove terbesar yang berada pada satu kawasan di Indonesia. 1991). mulai dari gunung yang diselimuti es. Terjadinya proses abrasi-erosi ini diindikasikan oleh kenyataan yang menunjukkan garis pantai di beberapa tempat seperti di daerah Kalimantan Barat dan Kabupaten Rembang hampir menyentuh badan jalan. dataran rendah sampai hutan rawa. 1983). Sejalan dengan semakin menipisnya mangrove.850 Ha yang diperkuat dengan SK Menhut No. Sampai saat ini rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni belum tersusun. Penelitian Ruitenbeek (1992) menunjukkan bahwa hutan mangrove di Teluk Bintuni mendukung keberadaan sejumlah industri dan secara ekonomi cukup besar. Pada saat yang bersamaan. perkembangan ekonomi di Teluk Bintuni bergerak maju.000 Ha (Zuwendra. Kerusakan pesisir diperkirakan mempunyai besaran dampak lebih dari 80 %.000 Ha (Petocz. Dari sektor perikanan dihasilkan US$ 35 juta per tahun.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong isu pokok lingkungan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hutan mangrove sebagai ekosistem di kawasan pesisir telah mengalami kerusakan. 182/Kpts/UM/II/1982 dengan luasan Cagar Alam 300. Ini bisa dipahami karena secara geografis pulau Irian mempunyai variasi yang luas.5 juta dan perikanan artisanal US $ 10 juta per tahun. Pulau ini memiliki 5-7% kekayaan hayati (biodiversity) dunia. Industri udang. Di Irian juga bisa dijumpai 14 ecoregion daratan dan 5 ecoregion air. Pulau Irian/Papua merupakan pulau dengan keanekaragaman hayati yang cukup besar.000 Ha. dimana abrasi sudah berjarak sekitar 3-5 m dari posisi jarak lima tahun yang lalu (sekitar 30. woodchips dan LNG serta penetapan kabupaten baru mengharuskan dibangunnya banyak infrastruktur dan baik langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan dampak pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kawasan saat ini dikepalai oleh Kepala Ressort dan hanya memiliki jagawana dengan fasilitas Pendahuluan I-4 . merusak areal kebun kelapa penduduk dan lahan pertanian lainnya. Di dalam kawasan Teluk Bintuni yang merupakan ecoregion #129 terdapat kawasan mangrove yang cukup luas bahkan merupakan kawasan mangrove terbesar di dunia. dengan total luas 450. 891/Kpts-II/1999. penurunan luasan dan mutu habitat sebesar 68 %. laju abrasi-erosi di kawasan pesisir menunjukkan kecenderungan yang semakin tinggi. Cagar Alam di Teluk Bintuni diusulkan untuk pertama sekali oleh WWF pada permulaan tahun 1980.40 m). kayu chips US $ 1. Pada tahun 1991 PHKA/AWB merevisi luasan dengan mengusulkan luas Cagar Alam ini menjadi 260. dkk.

pelibatan dukungan di luar pemerintahan menjadi perhatian penting bagi pembangunan Teluk Bintuni. 3. dimana dokumen ini juga digunakan sebagai acuan bagi penyusunan rencana pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni. Menyusun suatu struktur pengelolaan bersama yang lebih mandiri dan kapasitas memadai. Ketergantungan masyarakat sekitar terhadap sumberdaya perikanan dari kawasan. Disamping itu. Menerapkan zona pemanfaatan tradisional dengan memberikan hak penangkapan sumberdaya perikanan di dalam kawasan khusus bagi penduduk kawasan. dibandingkan dengan hutan dataran rendah di sekitarnya yang mengandung 1200 spesies tanaman. Keberadaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang ada masih relatif belum efektif dan efisien. serta melindungi satwa langka. Pendahuluan I-5 . 4. Tetapi. USAID dan CRMP/Mitra Pesisir telah menyusun rencana pengelolaan untuk kawasan pesisir Teluk Bintuni. Menjamin keberlanjutan sumberdaya alam bagi penelitian. Perkembangan menjadi kabupaten baru menyebabkan pemerintah kabupaten membutuhkan adanya pengelolaan sumberdaya alam yang baik. UNDP dan BP sudah terlibat dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan pembangunan kapasitas kelembagaan di Pemerintahan. 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pendukung terbatas untuk melakukan pengawasan. Diharapkan adanya rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang baik akan memudahkan pengawasan bersama antara BKSDA Papua II dengan pemerintah daerah Kabupaten Teluk Bintuni. ilmu pengetahuan. dalam strategi pembangunan Teluk Bintuni. Khusus di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni pernah dilakukan beberapa survey dan penelitian khususnya pada kawasan ekosistem mangrove dan dapat digunakan sebagai informasi ekologis daerah Cagar Alam. pengambilan kayu bakar dan bahan bangunan rumah. Menjamin perlindungan bagi kehidupan biota pesisir dan perairan. Survei ini menunjukkan bahwa mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni tergolong kepada sistem yang relatif tidak kompleks – hanya terdapat 20 spesies tanaman mangrove. Ketidaktersediaan rencana pengelolaan menyebabkan aktivitas pengelolaan di Cagar Alam menjadi tidak terencana bahkan hampir tidak ada. pendidikan. hutan nipah dan pesisir di dalam kawasan untuk : 1. B Maksud dan Tujuan Tujuan pengelolan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah untuk melestarikan habitat hutan mangrove. ekosistem mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni mempunyai peran ekonomi yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi kawasan Teluk Bintuni. pemanfaatan terbatas oleh masyarakat setempat dan pengembangan pariwisata alam. adanya sedimentasi akibat pengelolaan kawasan hulu yang kurang baik menjadi ancaman bagi keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni.

dapat diterapkan. Perlindungan Pengukuhan hukum atas Batas kawasan baik di darat/Sungai dan laut. Pendahuluan I-6 . C2. Perlindungan dan pelestarian fauna dan flora kawasan pada habitat alamnya. Melakukan intervensi pengelolaan yang efektif bila terdapat spesies atau ekosistem yang terancam. Pemeliharaan sebaik-baiknya rute-rute migrasi satwa di dalam kawasan. Konservasi Flora dan fauna kawasan dilestarikan pada ekosistem alamnya. C3. C1. Rehabilitasi atau pemulihan daerah yang mengalami degradasi lingkungan. Kegiatan pemanenan terbatas yang tidak mengancam populasi jenis manapun di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. (iii) pendidikan. (ii) konservasi. sehingga mampu menjamin keberadaan biota langka dan endemik. (iv) pemanfaatan sumberdaya yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan serta (v) peningkatan sistem pengelolaan. Peraturan Cagar Alam Teluk Bintuni yang jelas. serta menjamin berlangsungnya pemanfaatan potensi secara berlanjut (sustainable use) guna mendorong pembangunan ekonomi daerah. yang melindungi semua daerah yang memiliki nilai biologi tinggi. Penerapan sistem pengawasan yang efektif oleh staf jagawana Cagar Alam Teluk Bintuni untuk menegakkan peraturan. Pengembangan dan penerapan secara efektif sistem pemantauan dan evaluasi. dan menjamin perlindungan sumberdaya alam dan menghormati pemanfaatan tradisional. Secara umum sasaran pengelolaan meliputi aspek (i) perlindungan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni C Sasaran BKSDA Papua II Sorong Sararan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah tercapainya pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni melalui pola pengelolaan komprehensif yang efisien tetapi berdayaguna (efektif). Pendidikan Mengembangkan fasilitas dan infrastruktur untuk pendidikan dan penelitian tentang konservasi sumberdaya alam di Cagar Alam Teluk Bintuni. Perlindungan dan menjaga fungsi tempat pemijahan ikan dan biota perairan. Penerapan suatu sistem zonasi di lapangan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Peningkatan partisipasi stakeholder lokal secara positif untuk mendukung pengelolaan kawasan. Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia khususnya yang terlibat langsung dalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Penyusunan suatu rencana penelitian menyeluruh dan dilaksanakan bekerjasama dengan mitra mitra ilmiah terutama untuk menangani isu-isu penting bagi kawasan. Pendahuluan I-7 . Pelaksanaan suatu rencana pemantauan dan inventarisasi biologi untuk habitat di Cagar Alam Teluk Bintuni. Peningkatan Sistem Pengelolaan Pengembangan dan penerapan sistem pengelolaan yang berkelanjutan untuk Cagar Alam Teluk Bintuni. C5. Peningkatan tingkat ketrampilan masyarakat setempat untuk memberikan perlindungan komunitas terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Mengembangkan kearifan tradisional yang mendukung pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya perikanan dan satwa buru Penelitian Penyusunan kesepakatan tentang hak kepemilikan intelektual khususnya bagi kearifan tradisional.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Peningkatan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terhadap kelestarian kawasan. Peningkatan sarana dan prasarana Cagar Alam. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Berburu Pemanfaatan sumberdaya perikanan dan satwa buru oleh masyarakat secara tradisional. C4. Pelatihan dalam meningkatkan ketrampilan petugas khususnya jagawana (ranger) Cagar Alam Teluk Bintuni agar mampu mengawasi dan megelola Cagar Alam Teluk Bintuni secara lebih mandiri. terutama bagi habitat yang rentan dan spesies yang terancam punah. Perlindungan tempat pemijahan ikan terutama yang ada di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Meningkatkan kesadaran masyarakat di dalam dan sekitar Kawasan tentang pentingnya keberadaan Kawasan sebagai system penyanggah kehidupan. organisasi atau kegiatan. Visi dan Misi Cagar Alam Teluk Bintuni Konsep pengelolaan kawasan perlu mempunyai tujuan ideal. 6. BERKELANJUTAN DAN BERDAYA GUNA. 5. maka misi yang diemban dalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk periode 25 tahun mendatang adalah: 1. pengelolaan potensi kawasan. Berdasarkan beberapa isu pengelolaan seperti yang dijabarkan pada Bab selanjutnya. 4. Misi merupakan gambaran deklaratif tentang tujuan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga. 3. perlindungan dan pengamanan hutan. dimana konsep ini akan diperjuangkan oleh pengelola. penelitian dan pendidikan. E. Visi atau pusat kepedulian tersebut hanya akan terwujud apabila semua stakeholder membangun komitmen bersama yang tercermin dalam kepedulian untuk bertindak melestarikan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni serta terbentuknya kesadaran publik secara luas di seluruh wilayah Kabupaten Teluk Bintuni. Pendahuluan I-8 . Meningkatkan kinerja dan kemampuan pengelola Kawasan. rincian kegiatan dan pentahapan kegiatan baik untuk pembanggunan sarana prasarana. 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni D. Meningkatkan upaya penegakan hukum terhadap kegiatan-kegiatan yang dapat menurunkan kualitas kawasan. Ruang Lingkup BKSDA Papua II Sorong Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni terdiri dari Rencana Pengelolaan jangka Panjang (25 Tahun) dan Rencana Jangka Pendek (5 Tahun Pertama). Menciptakan keutuhan dan kualitas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . Pusat kepedulian atau visi pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai Tahun 2030 adalah: TERWUJUDNYA PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI SESUAI FUNGSINYA SECARA LESTARI. Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di di dalam dan sekitar Kawasan melalui kegiatan pemberdayaan. koordinasi. analisis masalah. Rencana tersebut meliputi bahasan kebijakan. Misi inilah yang akan dijabarkan lebih lanjut menjadi program dan rencana aksi dalam dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Untuk itu diperlukan adanya visi dan misi. Meningkatkan database dan sistem informasi yang memadai.

persepsi dan aspirasi tentang CATB meliputi semua pihak yang berkepentingan (Tabel I-1). Yayasan Forum Dialog Pembangunan Masyarakat Teluk Bintuni (YFDPMTB) e.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni F. Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Bintuni c. Metode Pendekatan BKSDA Papua II Sorong Mengingat bahwa sasaran dari kajian ini adalah tersusunnya rencana pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya (tahun 2005-2024) melalui pendekatan ekosistem dan berbasis masyarakat. Ikatan Pemuda Teluk Bintuni (IPTB) 8 Masyarakat A. Stakeholder di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) No 1 2 3 4 5 6 7 Stakeholder Departemen Kehutanan BKSDA Papua II Resort Bintuni Bappeda Teluk Bintuni Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Teluk Bintuni Dinas Perikanan dan Kelautan Teluk Bintuni Syahbandar Teluk Bintuni Dinas Pertanian dan Perkebunan Teluk Bintuni Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) a. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni mempunyai banyak komponen kegiatan yang didasarkan kepada potensi kawasan dan juga permasalahan kawasan. maka diperlukan prinsip pendekatan yang terpadu dalam menyusun Rencana Pengelolaan (Management Plan) Cagar Alam Teluk Bintuni. Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Lemason d. Tujuannya adalah agar data dan informasi yang diperoleh mengenai kondisi. aktivitas. Hal ini dimaksudkan agar rencana pengelolaan (management plan) bisa digunakan sebagai acuan bagi Balai Konservasi Sumber Daya Alam wilayah Papua II-Sorong dan Departemen Kehutanan cq Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Kelestarian Alam serta Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni untuk mengelola kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni. Untuk melihat fungsi dan peran dari setiap pemangku kepentingan (stakeholder) maka dilakukan analisis stakeholder. Mitra Pesisir b. serta tersedianya rencana kegiatan selama 5 tahun. Kampung Mamuranu/Anak Kasih Pendahuluan I-9 . Tabel I-1. Masyarakat di dalam Kawasan * Distrik Idoor 1. Kerangka pendekatan yang akan digunakan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan disajikan dalam Gambar 1-4. khusus yang mempunyai peran terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB).

RSA diterapkan untuk mendapatkan gambaran tentang persepsi dan kondisi sosial ekonomi budaya masyarakat desa sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Wawancara pada lembaga pemerintahan dan LSM dilakukan secara purposive dimana untuk pemerintah dilakukan 2 orang. Lembaga Masyarakat Adat-LMA Bintuni. Teluk Bintuni. tokoh agama. Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kab. Ikatan Pemuda Teluk Bintuni) dan masyarakat dari desa-desa yang berbatasan atau berada dalam kawasan CATB. Kampung Yakati 2. Kampung Korano Jaya (SP 2) C. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab.10 . Total seluruh responden yaitu 87 orang. Metode FGD dilakukan untuk mendapatkan informasi yang banyak dalam waktu yang relatif singkat. Kampung Naramasa Stakeholder BKSDA Papua II Sorong Stakeholders yang dilihat peran dan fungsinya antara lain : Departemen Kehutanan-BKSDA Papua II Sorong. LSM (al. Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Kampung Pasamai 2. Kampung Yensei * Distrik Kuri 1. dimana untuk Masyarakat di sekitar kawasan CATB jumlah responden totalnya 70 orang. Kampung Bumi Waraitama (SP 1) 3. Pendahuluan I . LSM 1 orang sedangkan untuk kelompok masyarakat 5 orang (Ketua Kampung. Kampung Banjar Ausoy (SP 4) 4. perasaan dan motif yang berada dalam individu maupun kelompok. Teluk Bintuni. RSA merupakan pendekatan dengan indepth interview dan diskusi grup terfokus (FGD) dimana peneliti hanya akan berperan menjadi fasilitator diskusi. Sub BKSDA Resort Bintuni. Teluk Bintuni. Yayasan Forum Dialog Pembangunan Masyarakat Teluk Bintuni. tokoh adat dan 2 orang anggota masyarakat). Metode Rapid Socio-economic Assessment . Kampung Tuasai 5.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No 2. LMA Lemason. Kelurahan Bintuni Barat * Distrik Idoor 1. Di luar Kawasan * Distrik Bintuni 1. Kelurahan Bintuni Timur 2. Sedangkan Indepth Interview dilakukan untuk menggali data berdasarkan kasuskasus tertentu yang tidak bisa diungkapkan pada saat diskusi berlangsung seperti pengalaman. Kampung Tirasai B. Mitra Pesisir. Kampung Argo Sigemerai (SP 5) 6. Bersinggungan dengan Kawasan * Distrik Bintuni 1.

pada lokasi tempat pengamatan flora mangrove. dan data primer yang dikumpulkan selama proses penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Selain itu. Pengamatan yang dilakukan pada hutan dataran rendah dilakukan dengan metode penjelajahan pada beberapa tempat untuk melihata struktur dan komposisi jenis flora. Data yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai instansi terkait dan LSM – LSM yang aktif dalam pengembangan Teluk Bintuni. tinggi. dan diameter (untuk tingkat vegetasi tiang dan pohon). dan wawancara dengan berbagai stakeholder. Sedangkan untuk melihat struktur dan komposisi jenis serta potensi flora mangrove. dan suara (noisy). Selain itu untuk memperoleh rencana pengelolaan untuk Cagar Alam Teluk Bintuni dilakukan Analisis SWOT (Strenghts. melihat jejak kaki (footprint/trail). jumlah . dilakukan dengan metode garis berpetak (line-plot sampling method) serta metode penjelajahan (explorasi) pada beberapa lokasi yang ditetapkan berdasarkan tipe ekosistem (Soerianegara. Pendahuluan I . Threats). juga dilakukan pengamatan keberadaan jenis-jenis satwa dengan metode penglihatan langsung (direct seen). Aspek biologi kawasan dikaji berdasarkan survey lapangan (field survey) dan telaah silang dengan publikasi dan laporan hasil penelitian yang telah dilakukan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya serta berbagai informasi yang diperoleh melalui penelusuran pustaka. Weaknesses. Selain pengamatan langsung. informasi keberadaan satwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat lokal yang bermukim di kampongkampung di dalam dan di sekitar kawasan yang berhasil dikunjungi. Opportunities.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Wawancara dilakukan dengan bantuan ”Kuesioner” agar pertanyaan lebih terfokus dan menghindari kemungkinan melupakan hal-hal yang harus ditanyakan. 1998). Pada setiap petak pengamatan di lakukan pencatatan jenis.11 . Data yang dikumpulkan dianalisis secara kualitatif untuk menggambarkan hubungan antara data yang satu dengan data lainnya.

ANALISIS SWOT Analysis Rencana Strategi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni List Isu II.Sorong Review Program-program Konservasi Biodiversity IBSAP dan Kebijakan Konservasi SDA Hayati Isu-isu Konservasi Biodiversity per Aspect dari IBSAP Bappeda Propinsi Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Kehutanan Kab.Metode Survey Tujuan (Interview. Teluk Bintuni Review Konsep Pengelolaan Review Kebijakan Pemda Review Kebijakan Pendidikan dan Penelitian di Cagar Alam Rencana dan Strategi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Identifikasi Dinas Perikanan Kabupaten Masalah & Universitas Papua Kendala Instansi Terkait Kabupaten Inventarisasi & Masyarakat Adat Teluk Bintuni Atlas Sumberdaya Teluk Bintuni Identifikasi LOKAKARYA KABUPATEN PROSES SELEKSI RENCANA KEGIATAN TERPILIH DAN PENTAHAPAN KEGIATAN Desain dan Program Manfaat Lingkungan Rencana Pengembangan Program Usulan Skenario dan Strategi Pengelolaan Cagar Alam Usulan Kelembagaan Pendukung Usulan Pentahapan Kegiatan Pengelolaan Jangka Panjang dan Pendek Gambar 1-4. REVIEW PROGRAM Program-program Kabupaten Review Program-program Penngelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Review Program-program Pengelolaan Pesisir Kabupaten Teluk Bintuni Program-program BKSDA – Re Teluk Bintuni Aspek-aspek Pengelolaan Biodiversity/ Survey Item Category PERTEMUAN & KONSULTASI BKSDA Papua II . PENGUMPULAN DATA Sorting Daftar Prioritas Isu .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong I. PERSIAPAN III. Kerangka Umum Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (General Framework) Pendahuluan I .Daftar Stakeholder /Responder Interview Recor Questionnaire . Questionnaire) Kesan/harapan Stakeholder terhadap Cagar Alam Teluk Bintuni IV.12 . PENGOLAHAN DATA V.

mitra pesisir serta masyarakat adat.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Beberapa hal yang diperhatikan dalam Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah sebagai berikut : a.13 . Dalam suatu kawasan konservasi. ekonomi. b. Pelibatan masyarakat sejak awal perencanaan dimaksudkan untuk menghindari konflik diantara kelompok pemanfaat kawasan konservasi terutama dengan kelompok pemanfaat dari lingkungan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . g. kapasitas sumberdaya alam dan ketergantungan masyarakat di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni. e. yaitu: Adanya keterkaitan ekologis baik antar ekosistem mangrove dan perairan di dalam kawasan konservasi dengan areal budidaya penduduk. sosial dan budaya. c. Untuk membantu pengambilan keputusan mengenai Cagar Alam Teluk Bintuni perlu dilakukan pengkajian dengan mempertimbangkan faktor ekologi. untuk Penyusunan Rencana Pengelolaan biasanya terdapat lebih dari satu kelompok sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang dapat dikembangkan untuk kepentingan pembangunan. h. Untuk mencapai pemanfaatan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari dan terpadu perlu diperhatikan kerentanan ekosistem kawasan konservasi. Dalam pengambilan keputusan dan kegiatan-kegiatan lainnya khususnya dalam perencanaan pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni perlu melibatkan unsur sektor perikanan dan kelautan. Pendahuluan I . f. Perlu ditingkatkan kesadaran publik akan perlunya perlindungan dan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk Penyusunan Rencana Pendayagunaan Kawasan Teluk dan keikutsertaan mereka yang terkena pengaruh dalam proses pengelolaan. Untuk perencanaan Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu diperhatikan beberapak aspek utama yang menjadi acuan. Dalam rangka menetapkan pemanfaatan sumberdaya di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni maka pengaturan akses ke sumberdaya tersebut harus memperhatikan “hak penduduk sekitar kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni dan praktek turuntemurun yang menggambarkan kearifan tradisional” dalam pengelolaan sumberdaya alam sepanjang pola atau kegiatan tersebut sesuai dengan pembangunan yang berkelanjutan d. Untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dari sektor terkait ke kawasan konservasi dan di antara kelompok pemanfaat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu ditetapkan prosedur dan mekanisme pada tingkat administratif yang tepat.

Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. pemanfaatan suatu kawasan konservasi secara monokultur adalah sangat rentan terhadap perubahan internal maupun eksternal yang menjurus pada kegagalan usaha. Kelestarian ekosistem dan fungsinya (hutan mangrove) b.14 . walau secara khusus di Papua ada batasan aturan hak adat. sosial ekonomi. i. Terpeliharanya kualitas air (sedimentasi tidak terlalu besar) Pendahuluan I . Kelestarian beranekaragamnya spesies dilindungi dan endemik c. Tahap I Tujuan/Fokus Penentuan Prioritas Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Tahap 2 Komponen Pembangunan Berkelanjutan Ekologi Ekonomi Sosial Budaya Regional Tahap III Indikator Pembangunan Berkelanjutan a b c d e f g h i j k l m n o p Tahap IV Strategi Pengelolaan Cagar Alam Penataan Pemeliharaan Pemanfaatan Pengawasan Pengendalian Pemulihan Penelitian Pengembangan Gambar I-5. sosial budaya. tetapi akses cukup terbuka untuk dapat dimanfaatkan oleh semua orang. hukum dan kelembagaan menjadi faktor yang sangat berperan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (Gambar 1-5). Daya dukung lingkungan terhadap kegiatan pemanfaatan d.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Baik secara ekologis dan ekonomis. Kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni pada umumnya merupakan sumberdaya terbuka (open acces resources). Faktor dimensi ekologis. Hierarki Penentuan Prioritas Kegiatan Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Kriteria indikator pembangunan berkelanjutan Ekologi : a.

j. Terpeliharanya kearifan dan budaya lokal Keamanan dan ketentraman masyarakat Kesehatan masyarakat Peningkatan pengetahuan dan keterampilan Regional: m. Posisi kawasan dari sudut pandang sistem Tata Ruang Propinsi dan Kabupaten o. Peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya pengguna kawasan mangrove h. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) f. Posisi kawasan berdasarkan kondisi geografis p. k.15 . Keberlanjutan usaha dan akuntabilitas Sosial Budaya: i. Status kepemilikan lahan Pendahuluan I . Dampak terhadap perekonomian secara makro BKSDA Papua II Sorong g. Aksesibilitas kawasan n. l.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Ekonomi: e.

.

1987). dan kurang lebih 39 jenis mamalia (Petocz. Luasan yang diusulkan WWF pada tahun 1980-an adalah mencakup areal seluas kurang lebih 450. Departemen Pertanian Republik Indonesia mengusulkan areal seluas kurang lebih 357.300 ha).300 ha telah dialih fungsikan menjadi hutan produksi berdasarkan Forest Agreement No: FA/N/024/XII/1982.). Kemudian pada awal tahun 1982. Pada tanggal 10 Nopember 1982. and Sungai Kaitero untuk ditetapkan Gambar. 1983) (Gambar II-1. Luasan tersebut ternyata lebih kecil daripada luasan yang diusulkan sebelumnya (357.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong II. lebih dari 17 marsupial. Hal ini karena areal seluas 57. 3. Di kawasan in hidup kurang lebih 160 jenis jenis burung. Sungai Wagura.000 ha. 2. 182/Kpts/UM/11/1982. Cagar Alam Teluk Bintuni secara definitif ditunjuk sebagai daerah Cagar Alam melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Luasan mangrove yang ada merupakan rumpun mangrove yang paling baik di Papua (Irian Jaya saat itu).1 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) The Bintuni Bay Nature Reserve pertama kali diusulkan oleh WWF pada tahun 1980-an. KEADAAN UMUM KAWASAN A. Sungai Weperar. yang meliputi areal seluas 300.300 ha termasuk mangrove kelompok Sungai hutan Aramasa. kawasan ini mengalami beberapa kali perubahan luasan. Kawasan ini merupakan areal penting untuk menyangga kegiatan perikanan komersil dan industri udang yang ada.1 . A. tertanggal 22 Desember 1982 antara Keadaan Umum Kawasan II . Dari segi luasan.1.1 Risalah Kawasan Informasi Umum Kawasan Sejarah Penetapan Kawasan A. II-1 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang diusulkan WWF/IUCN/PHPA Tahun 1983 sebagai Kawasan Cagar Alam. Kawasan ini merupakan habitat penting dan pusat populasi paling padat bagi berkembang biaknya jenis buaya muara (Crocoylus porosus).000 hektar (Petocz. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan diusulkan areal ini sebagai kawasan konservasi adalah: 1.

kegiatan penataan batas pertama di Kawasan cagar alam dilakukan oleh PT BASRICO CEMERLANG.134° 02’ BT dan 20 02’ . tentang realisasi surat permohonan PT BUMWI NO: 07/su-1/1980. tanggal 9 januari 1980 yang ditujukan kepada MENTAN untuk mendapatkan Hak Pengusahaan Hutan Di Wilayah Propinsi Irian Jaya. Hal ini karena terjadi tumpang tindih peruntukan kawasan antara CATB dengan areal Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di sekitar kawasan teluk Bintuni seperti PT Henrison Gambar II-2. dilakukan tata batas tahap kedua yang dilaksanakan oleh Sub Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan (BIPHUT) Manokwari pada tahun 1999 yang merupakan batas luar dan batas fungsi (melingkar/temu gelang) dengan panjang terealisasi 172. Pada tahun 1991.2 Letak dan Luas Berdasarkan pembagian administrative pemerintahan. AWB/PHKA mengusulkan areal seluas ± 260.2 Keadaan Umum Kawasan . maka adalah 124. Propinsi Irian Jaya Barat (IJB). Pada tahun 1997. dan PT Yotefa Sarana Timber. luas Kawasan Cagar Teluk Bintuni A. termasuk daerah daerah perairan teluk seluas ± 60. Kabupaten Teluk Bintuni merupakan salah satu Kabupaten hasil II .247.850 Ha (Gambar II-2). yang merupakan batas persekutuan areal HPH PT Henrison Iriana dengan panjang batas yang terrealisasi sepanjang 77. Selanjutnya. PT BUMWI.76 meter. suatu AWB/PHKA studi luasan untuk Cagar melakukan merevisi Alam kembali yang sudah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil Tata Batas Sub Biphut Manokwari Tahun 1999.20 30’ LS.000 ha sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.20 meter yang kemudian ditunjuk dengan SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua. 182/Kpts/UM/11/1982 dan usulan WWF/IUCN/PHPA tahun 1983.000 ha dengan koordinat 133° 131 . kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) berada di wilayah kerja Pemerintahan Daerah Kabupaten Teluk Bintuni.1.846.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Menteri Pertanian Republik Indonesia dan PT Bintuni Utama Murni Wood Industries (PT BUMWI). Berdasarkan beberapa alternatif di atas. Iriana.

Cagar Alam Teluk Bintuni terletak di bagian timur Kawasan perairan Teluk Bintuni. (2) menggunakan perahu motor (longboat) menyusuri sungai Steenkol/Wasian ke batas barat kawasan dengan waktu tempuh kurang lebih 30 . A. luas Kawasan Cagar Teluk Bintuni adalah124.31' -134º. dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: Bagian utara berbatasan dengan areal HPH PT Yotefa Sarana Timber Bagian selatan berbatasan dengan sungai Naramasa dan HPH PT BUMWI Bagian Barat berbatasan dengan Sungai Wasian. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua II yang berkedudukan di Sorong. dan perairan Teluk Bintuni Bagian Timur berbatasan dengan wilayah Distrik Idoor dan HPH PT Henrison Iriana Berdasarkan SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua.1.02' BT. Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) berada di wilayah kerja Resort KSDA Bintuni dan Resort KSDA Babo.30' LS dan 133º. dan Distrik Kuri.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemekaran di propinsi Papua yang baru disahkan pada tahun 2002. Distrik Idoor.15 menit. Irian Jaya Barat.3 Aksesibilitas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat diakses dari beberapa tempat.45 menit. Untuk mencapai kawasan CATB dari ibukota Propinsi Irian Jaya Barat (Manokwari) dan Sorong.850 Ha. Seksi Konservasi Wilayah I Manokwari. Keadaan Umum Kawasan II . kawasan Cagar Alam ini berada di dalam wilayah administratif Distrik Bintuni. Dari hasil pengamatan di lapangan kawasan CATB juga dapat diakses dari beberapa kampung berada di batas utara kawasan seperti disajikan pada Tabel II-1. dimana lebih 90% areal merupakan ekosistem hutan mangrove. Secara geografis terletak antara 02º. Pada tingkat Distrik. dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat udara jenis Twin-Otter milik Maskapai penerbangan Merpati Nusantara ke kota Bintuni (Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni) selama kurang lebih 45 menit dan kendaraan roda empat (Toyota Hard-top) dari Manokwari dengan waktu tempuh kurang lebih 10 – 12 jam.3 . Berdasarkan pembagian wilayah pengelolaan Hutan dan Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam. yaitu (1) menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua ke batas utara kawasan dengan waktu tempuh kurang lebih 10 . Selanjutnya dari kota Bintuni kawasan CATB dapat diakses dengan dua cara.02'-02º.

Curah hujan bulanan tertinggi terjadi pada bulan Pebruari dengan curah hujan maksimum dan rata-rata masing-masing 38. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. jalan kaki Sungai. yaitu daerah tropika basah yang bersuhu tinggi. roda dua/empat jalan kaki Jalan Darat. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. 1 2 3 Kampung Kelurahan Bintuni Timur Kelurahan Bintuni Barat Kampung Pasamai Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Jarak ke CATB 2 km 3 km 2 km Sarana dan Jenis Transportasi Sungai dan Jalan Darat. Distrik Dan Kampung yang Memiliki Akses Terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No.1 Kondisi Fisik Kawasan Iklim Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni termasuk daerah tropika dan berdasarkan klasifikasi iklim Koppen termasuk dalam tipe iklim Afa.2. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. Keadaan Umum Kawasan II .93 mm). Perahu dayung/motor Sungai. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Jalan Darat. yaitu daerah sangat basah.34 inches (86.32 mm) dan 3.61 inches (980.17 inches (131. roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat.2 A.32 inches (439.69 mm) dan 17.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-1.36 mm). Sedangkan berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson kawasan ini termasuk dalam tipe iklim A. Sedangkan curah hujan bulanan terendah terjadi pada bulan September dengan curah hujan maksimum dan rata-rata berturut-turut 5. Perahu dayung/motor Sungai. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Jalan Darat.4 . Curah hujan bulanan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup bervariasi. Perahu dayung/motor 4 Waraitama/SP 1 Kampung Korano Jaya/SP 2 Kampung Banjar Ausoy/SP 4 Kampung Tuasai Kampung Argo Sigemerai/SP 5 KampungTirasai Kampung Mamoranui Kampung Anak Kasih Kampung Yakati Kampung Yensei Kampung Naramasa Bintuni 2K m 5 Bintuni 1 Km 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idor Idor Idor Idor Kuri 1 km 1 km 2 km Dalam Kawasan CATB Dalam Kawasan CATB Dalam Kawasan CATB 15 km 10 km 5 km Sumber : Hasil Survei Tim TNC (2005) A.

A. dan konglomerat (PT BUMWI.2. dan sekitar 90% data berada di antara 1.2%.1 mb. dengan rentang pengukuran relatif lebih kecil. Aramasa.02 °C sampai dengan 37. Sungai Kamisayo. dan DAS Remu. Sungai Sumber. Korol-Bomberai. A. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) merupakan kawasan rawan gempa yang selalu diikuti dengan gelombang tsunami karena berada dalam wilayah tektonis yang aktif sebagai akibat dari tubrukan dua lempengan besar.6 mb. Sungai Rarjoi. Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mengalir beberapa sungai besar yang bermuara ke Teluk Bintuni dan merupakan Sub-Das dari DAS-DAS tersebut mulai dari sebelah barat. Sungai Sobrawara. Sungai Tirasai. Sungai Bokor. Suhu udara maksimum terjadi selama musim monson timur laut. Data kecepatan angin selama tiga tahun (1997-2000) menggambarkan kecepatan angin di Teluk Bintuni dan sekitarnya pada umumnya lambat hingga sedang dengan rata-rata 8 m/detik (28.013 milibar (mb) dan minimumnya adalah 998.74 °C – 27. yaitu Sungai Wasian. Tekanan udara rata-rata sepanjang periode pengukuran adalah 1.2. kawasan Teluk Bintuni termasuk dalam kelompok Daerah Aliran Sungai (DAS) Muturi. Sedangkan selama periode siklus tahunan. Sungai Kodai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya suhu udara berkisar antara 20.50 dengan variasi tidak lebih dari 2 °C. dimana suhu bulanan rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Januari Kelembaban udara di kawasan berkisar antara 40% hingga 100%.2 Geologi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). namun sebagian besar (hampir 60%) hasil pengukuran lebih besar dari 90%. Sungai Sorobaba.5 mb hingga 1. Sungai Tatawori.92 °C dengan hampir 54% data yang terukur terletak dalam kisaran antara 23 °C hingga 27 °C. 1994).010mb (BP Pertamina.3 Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hidrologi Secara umum. Tekanan udara barometrik maksim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk adalah 1.8 km/jam). Nilai suhu udara rata rata bulanan adalah 26. shale. Sungai Yakati. yakni ketika terjadi curah hujan maksimum. 2002).002.26 °C untuk basis data selama 3 tahun.006. Sungai Muturi. dan Keadaan Umum Kawasan II . Sungai Yensei.5 . dengan nilai rata-rata selama periode pengukuran mencapai 90. Kelembaban sangat tinggi terjadi di malam hari ketika suhu udara rendah dan sedang terjadi hujan. secara fisiografis terdiri dari daerah rawa/pasang surut yang umumnya bervegetasi mangrove yang berbahan induk aluvium muda (recent alluvium) dari zaman kwarter yang menutupi sedimen masam Tersier dan Pleistosin seperti sandstone. variasi suhu udara rata-rata bulanan berkisar antara 25.

permeabilitas rendah-sedang. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi proses erosi pada daerah-daerah yang mengalirkan air tersebut ke sungai-sungai di bawahnya.5 – 2 m Tekstur halus – kasar. daya dukung rendah. gambut. Jenis Tanah Organosol.6 . dan beeting pasir.4 Tanah Sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ditutupi oleh vegetasi mangrove dengan jenis tanah organosol.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Sungai Naramasa. relief rendah. debit air sungai-sungai tersebut dapat naik beberapa kali lipat dan kadang-kadang dapat menyebabkan banjir (menggenangi daerah sekitar). 2005 dan Pemda Propinsi Papua. Sumber: Hasil Survei Tim TNC. Jenis Tanah yang terdapat di sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Di samping ketiga sungai yang selalu berair tersebut. lempung lanau. memiliki karakteristik tanah fluvial deltatik dengan ciri-ciri: melengkung halus. Kebutuhan masyarakat akan air minum dan MCK yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terutama di ibukota distrik Bintuni. asam. berwarna gelap. terdapat pula kali-kali mati yang hanya berair atau menyalurkan air (banjir) bila turun hujan lebat. Sungai-sungai tersebut berfungsi sebagai daerah tampungan air beberapa anak sungai yang bermuara ke sungai-sungai tersebut dan selanjutnya mengatur pembuangan air ke Teluk Bintuni. UNIPA. air minum dan cuci ada yang diperoleh dari sumur bor. CRMP. porositas rendah – tinggi. Keadaan Umum Kawasan II . bersifat alkali. Idoor. dan sedikit asam. dan Kuri di peroleh dari sumursumur yang digali. Pada daerah yang berbatasan langsung dengan perairan Teluk Bintuni. A. dan aluvium dengan ciri-ciri sperti disajikan pada Tabel II-2 Tabel II-2.2. Kebutuhan air masyarakat di Kampung-Kampung di luar Ibukota Distrik lebih banyak memanfaatan air dari sungai-sungai besar tersebut di atas serta beberapa sungai/kali kecil yang mengalir di dekat Kampung mereka. berwarna abu-abu. komprebilitas tinggi. Khusus untuk Distrik Bintuni (Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni). draenase buruk. Saat musim hujan dan debit air meningkat biasanya warna air sungai berubah warna menjadi kecoklatan. berlumpur. 2003. PEMKAB Manokwari. serta aliran sungai-sungai kecil yang melintasi atau mengalir di pinggiran perkampungan penduduk. Sungai-sungai tersebut memiliki debit yang cukup besar sehingga pada saat musim penghujan terutama di bagian hulu sungai. Organik Aluvium Ciri-Ciri Jenuh air. dan tebal 1.

Seluruh ekosistem tersebut adalah ekosistem alami dan sebagian vegetasinya masih terpelihara dengan baik.3.3 Kondisi Biologi Kawasan A. Hasil survei lapangan dengan mengunjungi beberapa lokasi ekosistem (Gambar II.3) yang ada menunjukan bahwa secara umum kondisi vegetasi pada kedua ekosistem tersebut masih terpelihara dengan baik. Selain kedua ekosistem tersebut. yakni ekosistem hutan hujan dataran rendah dan ekosistem mangrove.3. tipe ekosistem ini juga dapat ditemui pada beberapa pulau mengrove baik berbentuk hamparan pegunungan rendah maupun bukit-bukit kecil.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong A.1 Ekosistem Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mencakup dua tipe ekosistem utama. Suatu keunikan tersendiri bahwa di beberapa tempat di kawasan CATB. Gambar II-3. di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga bisa dijumpai ekosistem hutan rawa campuran dengan luasan yang sangat kecil. walaupun pada beberapa bagian telah mengalami degradasi dalam luasan yang kecil akibat aktivitas manusia. Hal ini dapat dijumpai di Pulau Mangrove Keadaan Umum Kawasan II . Peta Kerja Kegiatan Survei Kondisi dan Potensi Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 A.1 Hutan Hujan Dataran Rendah Ekosistem ini tersebar terutama pada batas-batas Utara dan Timur kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.7 .1.

Pada ekosistem yang tersusun oleh vegetasi primer terlihat masih alami dan memiliki karakteristik strata tajuk yang jelas. dan hopea (Hopea sp. dan jenis-jenis palem (Palmae) termasuk juga berbagai jenis rotan. Dalam ekosistem hutan ini tumbuh beraneka ragam jenis flora mulai dari Hutan tumbuhan tingkat rendah seperti fungi sampai dengan tumbuhan tingkat tinggi. Kamai. Tipe ekosistem hutan dataran rendah (hutan lahan kering) ini kebanyakan berada di belakang dan formasi pada hutan mangrove bagian peralihan beberapa kawasan dapat dijumpai komunitas hutan dataran belakang rendah berada hutan langsung di formasi mangrove (Gambar II-4). Tipe hutan hujan dataran rendah primer di belakang formasi hutan mangrove S.).8 . palembanica). Profil Struktur Hutan Dataran Rendah Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Keadaan Umum Kawasan II .). pulai (Alstonia spp. Sedangkan pada hutan hujan dataran rendah sekunder (bekas perladangan) didominasi oleh Gambar II-5.).) Medang (Litsea sp. Nyatoh (Palaquium sp.). Rainforest) ini membentuk lapisan tajuk BKSDA Papua II Sorong Hutan Hujan Dataran Rendah (Lowland dan sub tajuk (Gambar II-5) dengan keanekaragaman jenis yang cukup tinggi dan diperkirakan 60-90% tumbuhan yang ada di ekosistem ini merupakan spesies endemik. epifit.). kayu besi/merbau (Intsia bijuga dan I. paku-pakuan. Simeri Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai salah satu komponen pendukung kawasan.) serta beberapa spesies dari famili Dipterocapaceae seperti mersawa (Anisoptera sp. Ekosistem ini umumnya tersusun atas vegetasi primer (Primary Forest) dan vegetasi sekunder (Secondary Forest). Pada strata atas dan tengah didominasi oleh jenis-jenis tumbuhan berkayu seperti kayu besi/merbau (Intsia bijuga) dan matoa (Pometia sp. sedangkan pada strata bawah ditumbuhi perdu dan semak yang mendukung berbagai tanaman pemanjat. resak (Vatica papuana).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Maniai. Nusuama. dan Pulau Modan. dataran rendah di kawasan CATB menyimpan berbagai spesies tumbuhan berkayu (pohon) yang bernilai ekonomis tinggi seperti matoa (Pometia spp. Ekosistem hutan hujan dataran rendah memiliki peran yang sangat penting Gambar II-4.

Tipe hutan hujan dataran rendah sekunder di dekat kampung Mamoranu.9 . Ekosistem hutan dataran rendah. dkk. dan Rhizophora-Bruguiera.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong jenis-jenis pionir seperti makaranga (Macaranga mappa dan Macaranga tanarius) dan sirih hutan (Piper sp. Rhizophora-Sonneratia. yang merupakan jenis endemik kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.). walabi liar biasa (Macropus agilis). burung mambruk (Goura cristata). orientalis). Vegetasi mangrove Zona Avicenia – Sonneratia di P. Maniai. Dasyuridae. Cagar Alam Teluk Bintuni.2 Hutan Mangrove Vegetasi hutan mangrove di Teluk Bintuni secara umum dapat dibedakan menjadi 3 zona berdasarkan jenis pohon pembentuk tajuk dominan. raffrayanus). Bahkan menurut Zuwendra. walabi hutan (Dorcpsis spp. Distoechurus pennatus. A. Selain membentuk zonasi seperti di atas. dan Pseudocheirus spp. yaitu zona Avicenia- Sonneratia.). Sebagian besar hutan dataran rendah sekunder adalah merupakan bekas kebun masyarakat (Gambar II-6) dan bekas areal tempat penimbunan kayu (logyard) dari HPH dan Kopermas yang beroperasi di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. ekosistem hutan hujan dataran rendah merupakan habitat berbagai jenis reptil seperti buaya air tawar (Crocodylus novaguinensis). Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bruijni). endemis Bandycoot kuskus possum marga yang tikus aneh. Echidna berparuh panjang (Zaglossus berkantung Gambar II-6. Keadaan Umum Kawasan II . (Peroryctes (Phalanger (Cercatetus kerdil caudatus. burung cenderawasih (Paradisae minor). terutama yang berada pada batas luas kawasan Cagar Alam juga dapat dipandang sebagi daerah penyanggah (Buffer zones) yang berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap ancaman kerusakan ekosistem mangrove yang merupakan ekosistem terluas di kawasan. kangguru pohon (Dendrolagus fursinus).). Selain sebagai habitat flora. Echidna berparuh pendek (Tachyglossus aculeatus). Gambar II-7.3. dijumpai juga beberapa jenis yang membentuk tegakan murni. (1991) pada sungai jernih di ekosistem hutan dataran rendah dapat dijumpai jenis ikan pelangi (rainbow fish) dari genus Melanotaenia.1.

. Lebih lanjut jenis-jenis yang banyak dijumpai di zona ini adalah Rhizophora mucronata. Substrat yang ada di bawah tegakan pada zona ini sudah lebih keras dan kompak (tidak lepas) yang di dominasi oleh faksi liat. Apiculata. Sedangkan Zona Rhizophora-Bruguiera merupakan wilayah hutan mangrove yang Gambar II-8. Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) di S. Vegetasi nipah (Nypa fructicans) campuran pada zona pasang surut di S. terutama di sepanjang penggirian sungai-sungai besar dan kecil yang bermuara ke perairan Teluk Bintuni.10 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan pengamatan di lapangan. Cagar Alam Teluk Bintuni. Acanthus ilicifolius. Vegetasi mangrove Zona RizhiphoraBruguiera di S. Pada zona ini juga dijumpai jenis tumbuhan bawah. R. Pasang surut pada daerah ini sangat nyata terlihat dengan adanya perubahan permukaan air. yaitu Acanthus ebracteatus. Zona Avicenia-Sonneratia dan Rhizophora-Sonneratia adalah zona komunitas mangrove yang paling luar dan langsung berhadapan dengan perairan Teluk Bintuni. Rhizophora spp. Bruguiera Gymnoriza. Secara umum. Pasang surut dan banjir sangat nyata terlihat dengan adanya perubahan permukaan air. Yensei Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Gambar II-10. Sedangkan substrat yang ada di bawah wilayah mangrove terutama untuk zona Avicenia-Sonneratia sudah agak lebih padat. Xylocarpus spp. Gambar II-9. umumnya tumbuh lebih ke darat. Aegiceras corniculatum dan Avicenia intermedia (api-api merah). Bruguiera parviflora. Ceriops tagal. Tirasai. Merupakan pohon-pohon pembentuk tajuk utama dalam zona ini. Substrat yang ada di bawah tegakan pada zona ini adalah endapan lumpur yang masih lunak dan tanah lepas yang terendap oleh pasang surut. Cagar Alam Teluk Bintuni Keadaan Umum Kawasan II . Jenis yang dijumpai pada daerah ini didominasi oleh jenis Avicenia alba. dan Bruguiera spp. Avicenia marina. Avicenia officinalis. Tirasai. dan Rhizophora mucronata dengan tinggi pohon rata mencapai 10 m.

Pada daerah yang paling dekat dengan zona pasang surut vegetasi ini tumbuh bersama jenis mangrove dengan kerapatan cukup tinggi. tinggi (tiang dan pohon). koordinat 133o52’31. Sedangkan pada bagian dalam (bagian tengah) ditemui jenis Rhizophora apiculata yang mendominasi semua tingkatan vegetasi dengan kerapatan berturut-turut 260 pohon/ha untuk tingkat pohon.6”E. jumlah individu tiap jenis. Hasil penelusuran data sekunder diketahui bahwa informasi quantitatif tentang potensi mangrove di kawasan CATB relatif kurang. Hutan mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat di kelompokan ke dalam beberapa kelompok.000 anakan/ha untuk fase semai. Sonneratia. yaitu kelompok hutan mangrove sungai Wasian. 02o16’86. terutama di sepanjang sungai-sungai besar yang bermuara di kawasan perairan Teluk Bintuni. struktur jumlah pohonnya lebih kecil di bandingkan dengan vegetasi mangrove yang tumbuh lebih ke belakang.11 . Kelompok hutan mangrove Sungai Wasian. Berikut adalah beberapa informasi kuantitatif potensi mangrove di beberapa bagian CATB yang berhasil dihimpun dari hasil survei lapangan Tim TNC (2005). granatum (Wamesa: Kabau merah) (Gambar II-9). Bruguiera. dijumpai vegetasi nipah (Nypa fructicans) yang tumbuh bercampur dengan tegakan mangrove dan umumnya terbentang di antara daerah semi saline hingga ke air tawar permanen. Kehadiran jenis-jenis mangrove ini semakin berkurang atau tidak hadir sama sekali pada daerah yang lebih ke arah daratan di sepanjang sungai. dan Avicenia (Gambar II-10). dan 6. Di bagian luar (dekat pantai) yang merupakan daerah pengendapan lumpur di dominasi oleh jenis Sonneratia alba dengan kerapatan 270 pohon/ha.000 anakan/ha. Sungai Weperar. Sungai Muturi. untuk tingkat pancang dan semai dengan kerapatan berturut-turut 470 pohon/ha dan 5. Komunitas ini mangrove di daerah ini membentuk formasi Avicenia-Sonneratia (bagian luar) dan Rhizophora-Bruguiera (bagian tengah). Pada bagian luar vegetasi mangrove yang berbatasan langsung dengan garis pantai/muara teluk. Pada daerah lebih ke arah daratan. Jumlah plot pengamatan ditentukan sebanyak 4 buah yang dibuat secara kontinu dari tepi sungai/pantai.8’’S. jenis nipah (Nypa fructicans) tumbuh bercampur dengan jenis mangrove Xylocarpus moluccensis (Wamesa: Kabau hitam) dan X. Keadaan Umum Kawasan II . 730 pohon/ha untuk tingkat tiang. diameter batang (tiang dan pohon). Pengamatan dilakukan dengan membuat transek dan sub-plotnya sepanjang 100 meter yang tegak lurus dengan dari tepi sungai/pantai ke bagian dalam pulau dengan azimut 1800. Sungai Modan. pada zona peralihan pasang surut (intertidal zone) dan air tawar dan air asin di hutan mangrove dan zona dataran banjir pinggiran sungai dan formasi yang menutupi dataran banjir. yaitu dari genus Rhizophora. Kelompok hutan mangrove Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Disamping itu. dan melakukan pencatatan terhadap jenis. dan Sungai Naramasa.

observasi pada 02o07’07. dalam informan suatu lokal jalur untuk yang melihat Hasil komposisi jenis mangrove yang ada. Parviflora. pancang. pengamatan menunjukan bahwa jenis-jenis yang ditemukan hampir sama dengan jenis- jenis yang ditemukan di Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni) yang didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata.1”E. Ceriops decandra. 363 anakan/ha. Jenis lain yang ditemukan di daerah ini adalah Aegiceras corniculatum. Simeri di kawasan CATB. B. Pengukuran dan mengambilan titik koordinat plot pengamatan vegetasi mangrove di P. Pengamatan mangrove di daerah ini dilakukan dengan observasi pada beberapa bagian hutan dengan menggunakan perahu motor (longboat) serta pengamatan plot (Koordinat: 133o56’37. B.0’’S). Hasil analisis vegetasi menggambarkan bahwa pada tingkat anakan/semai. Bruguiera sexangula. Hutan mangrove di daerah hutan tua atau hutan seperti mangrove sekunder yang membentuk pulau- Keadaan Umum Kawasan II .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Hasil pengamatan menunjukan bahwa pada daerah ini didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora mucronata. dan pohon. parviflora. mucronata menunjukan kerapatan tertinggi masing 5000 anakan/ha. B. jenis R. beberapa bagian Hasil hutan menunjukan bahwa pada daerah pinggiran sungai. Metode yang digunakan dalam pengamatan vegetasi mangrove di kawasan ini adalah penjelajahan didampingi Gambar II-11. Vegetasi mangrove S. B. dan Ceriops tagal. vegetasi mangrove di daerah ini di dominasi oleh jenis Xylocarpus spp. Kaboi di kawasan CATB. Avicennia alba. dan 162 pohon/ha sekaligus menjadi spesies yang dominan pada semua tingkatan vegetasi (Lampiran 4 dan 5). Kelompok hutan mangrove Sungai Simeri. dan Ceriops decandra.12 . 02o18’36. Gymnorrhiza. Gymnorrhiza. Bruguiera sexangula. terlihat Gambar II-12.7’’S). Kelompok hutan mangrove Pulau Nusuama (Koordinat: 133o51’86. dan Bruguiera spp.5”E. Jenis-jenis yang yang ditemukan di daerah ini tidak jauh berbeda dengan jenis mangrove pada kelompok hutan mangrove Pulau Nusuama. Hal ini karena kondisi habitat dan letak kedua tempat tersebut relatif sama.

Gymnorrhiza. Sedangkan pada tingkat pohon didominasi oleh Rhizophora mucronata (INP=180) dan B.85 dan 96. jenis yang ditemukan agak sedikit berkurang menjadi 5 jenis.48).2”E. yang tumbuh kerdil menyerupai bonsai raksasa.58 dan 0.44) dengan persebaran yang paling merata (F=0. 0 Plot pengamatan mangrove dibuat tegak Hasil lurus Pulau dengan Azimut 280 dengan koordinat 133o57’08. jenis Rhizophora apiculata merupakan spesies dominan (INP=140. jenis R. Untuk jenis Rhizophora jumlahnya tidak terlalu banyak ditemukan di wilayah ini sedangkan jenis Aegiceras corniculatum dan jenis Xylocarpus hanya ditemukan satu-satu di pinggir sungai.1’’S.13 . sedangkan pada tingkat pancang Ceriops decandra tidak ditemukan (Lampiran 8).75).70). Keadaan Umum Kawasan II . sedangkan untuk tingkat pancang didominasi oleh Aegiceras corniculatum (INP=64.8”S.75). Bruguiera sexangula.6” E). 0 0 Pada kelompok hutan mangrove Pulau Maniai/Tanjung Pitabone (2 16’86.17 pohon/ha) dengan persebaran yang paling merata (F=0. mucronata menunjukan kerapatan tertinggi (11875 anakan/ha) sekaligus menjadi spesies yang dominan (INP=84. 02o12’05. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam dinamika populasi jenis-jenis mangrove di daerah ini. Kelompok hutan mangrove Sungai Taberai. pengamatan menunjukan bahwa pada daerah ini di dominasi oleh jenis-jenis Bruguiera gymnorrhiza dan Ceriops decandra.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pulau kecil.42). Vegetasi mangrove pada tingkat tiang dan pohon. B. dan tersebar paling merata (F=0. gymnorrhiza (INP=120. Pada tingkatan vegetasi tiang. Hal ini mengindikasikan bahwa khusus untuk kawasan mangrove tanjung Pitaboni sudah cukup stabil untuk pertumbuhan permudaan jenis-jenis non-pionir. kerapatan 500 semai/ha. Kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni). tingkat pancang 178 dan 55 (Lampiran 6). dengan karakter pohon-pohon Xylocarpus spp. Ceriops decandra. jenis Rhizophora mucronata dan Xylocarpus molucensis merupakan jenis dominan dengan Nilai Penting berturut-turut untuk semai 68 dan 56. Avicennia alba. Hal yang menarik untuk disimak adalah berkurangnya jumlah jenis tertentu pada saat mencapai tingkat tiang.) (Lampiran 7). sedangkan pada tingkat pohon meningkat lagi menjadi 10 jenis (Lampiran 9). Myrsinaceae dan Avicenniaceae) mangrove. Hasil analisa vegetasi dari pengamatan transek menunjukan bahwa pada tingkat semai dan pancang. Aegiceras corniculatum. Hasil tersebut menunjukan bahwa pada tingkat anakan/semai. yaitu Rhizophora mucronata. dan sekaligus meruapakan spesies dengan kerapatan tertinggi (150 pohon/ha dan 104. terjadi pengurangan jenis (mortality) terhadap jenis-jenis tertentu. parviflora. dan B. untuk tingkat anakan ditemui 8 jenis mangrove dari 3 famili (Rhizophoraceae. 133 52’ 31. sehingga kajian mendalam perlu dilakukan untuk melihat perkembangan populasi (dinamika populasi) baik jenis maupun jumlah jenis mangrove mulai dari tingkat semai sampai mencapai tingkat pohon.

Pada kelompok hutan mangrove ini ditemukan 9 jenis untuk tingkat semai.94 dan 100. Hal ini diduga karena kondisi substrat pada daerah tersebut hampir merata (seragam) Gambar II-13. Hal yang menarik untuk disimak dari Gambar II-14. yaitu Ac. Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Sungai Sumberi Cagar Alam Teluk Bintuni data yang diperoleh (Lampiran 11 dan 12) adalah menghilangnya jenis tertentu seperti Rizophora Apiculata dan Keadaan Umum Kawasan II . Cagar Alam Teluk Bintuni akibat selalu terendam pada saat pasang naik (high tide) sehingga jenis- jenis yang seharusnya tidak berada pada zona depan. Xylocarpus granatum. 1330 53’. kerapatan tertinggi masing- masing 50 pohon/ha dan 100 pohon/ha.18). R. Rizophora apiculata. Bruguiera gymnorrhiza. Ceriops decandra. X. Hasil ini menggambarkan bahwa pada tingkat anakan/semai dan pancang didominasi oleh jenis Acrosticum speciosum dengan kerapatan tertinggi (9167 anakan/ha dan 600 anakan/ha) sekaligus menjadi spesies yang dominan (INP=62. mucronata dan D. Sedangkan untuk vegetasi mangrove tingkat tiang dan pohon didominasi oleh Rizophora Apiculata (INP=86. dan belakang bisa tumbuh bercampur. dan D.012’’S. spathacea (Lampiran 11). dimana dalam satu transek terjadi percampuran jenis sampai pada zona belakang (Gambar II-13). Speciosum. namun pada tingkat pancang hanya ditemukan 3 jenis. Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Tanjung Pitaboni. dan persebaran yang hampir sama dengan jenis lain untuk tingkat pancang dan pada tingkat pohon penyebarannya cukup luas dibanding jenis lainnya (Lampiran 12).14 . Kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi (020 04’. spathacea.780’’E).00).50 dan 113. tagal. yaitu Acrosticum speciosum. C.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lebih lanjut BKSDA Papua II Sorong ditemui bahwa hutan mangrove di Tanjung Pitaboni memiliki zonasi yang tidak jelas (irreguler zonation). tengah. namun persebaran hampir sama dengan jenis-jenis lain. Aegiceras corniculatum. Granatum.

Sedangkan pada bagian luar kelokan arusnya relatif kuat. dan Bruguiera gymnorrhiza.80 m3/ha (Lampiran 10 dan 13). A. jenis palem yang tumbuh di pesisir sungai. Perbedaan jenis yang dominan antara bagian dalam dan bagian luar kelokan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Bruguiera gymnorrhiza saat mencapai tingkat pancang dan tiang kemudian muncul lagi pada saat mencapai tinkat pohon. alba dan R. Hutan mangrove S. sedangkan di bagian dalam kelokan didominasi oleh Sonneratia alba dan Avicenia alba.Tirasai didominasi oleh jenis bakau kurap (Rhizophora mucronata). Sonneratia alba.3. spathacea. Pandanus odoratissima. Tirasai banyak dijumpai jenis Bruguiera parviflora kemudian Rhizophora mucronata pada lapis kedua. mungkin dipengaruhi oleh faktor sedimentasi atau deposit substrat lumpur. namun hal perlu dikaji lebih jauh lagi penyebab penurunan jumlah jenis tersebut.4 m/ha (Lampiran 9 dan 12). Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pada kelokan bagian luar S. menyebabkan abrasi pada bagian tepi dan proses sedimentasi berjalan lambat atau bahkan tidak terjadi yang berakibat jenisjenis pioner tidak bisa tumbuh. Xylocarpus granatum.2 Species Pada sub Bab sebelumnya telah dideskripsikan mengenai ekosistem alami penyusun kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang juga merupakan habitat dari berbagai species flora Keadaan Umum Kawasan II . arusnya lemah sehingga daya angkut airnya menurun yang mengakibatkan terjadi penimbunan lumpur (akresi) dari hulu sungai. Tirasai. Aegiceras corniculatum. Dari hasil pengamatan di lapangan didapatkan nilai rata-rata kubikasi vegetasi tingkat tiang dan pohon untuk tiap hektar luasan mangrove adalah sebesar 107. Berbeda dengan hutan mangrove Tanjung Pitaboni. Pada bagian hulu juga ditemukan jenis Nypa fruticans. Hal ini diduga terjadi kematian (mortality) pada proses dinamika populasi di areal ini. Xylocarpus moluccensis. Areal sepanjang S. komposisi tajuk hutan mangrove di areal ini terlihat kurang teratur dan mulai membentuk strata.15 . Pada bagian dalam kelokan. Pola zonasi hutan mangrove di S. semakin dalam semakin menampakkan ke arah vegetasi peralihan yang dicirikan oleh tumbuhnya jenis vegetasi peralihan ke hutan dataran rendah dan rawa air tawar seperti Xylocarpus granatum dan D. Nilai kubikasi tertinggi ditunjukan oleh jenis A. apiculata dengan potensi berturut-turut adalah 65. Sumberi (Gambar II-14) tidak jauh berbeda dengan hutan mangrove Tanjung Pitaboni di masih terjadi percampuran jenis pada zona tengah dan belakang. Avicennia alba. Jenis lain yang tumbuh adalah Bruguiera parvifolia. Endapan lumpur lunak hasil proses sedimentasi ini sangat cocok untuk habitat jenis-jenis pionir seperti Sonneratia alba. Pada komunitas hutan ini terlihat adanya perbedaan yang sangat nyata antar plot. Hal ini karena komposisi jenis dari komunitas ini mulai beragam dengan hadirnya beberapa jenis vegetasi peralihan hutan dataran rendah (lowland forest).42 m3/ha dan 44.

Keadaan Umum Kawasan II . Hal ini mengindikasikan bahwa keragaman jenis tumbuhan Tabel II-4. No. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa jenis-jenis mangrove pada Tabel II-3. terutama dari jenis-jenis tumbuhan berkayu (Tabel II-5).16 . 2005. Acanthus ilicifolius Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Famili Pteridaceae Apocynaceae Bignonaceae Sterculiaceae Combretaceae Myristicaceae Palmae Acanthaceae Plumbaginaceae Myrsinaceae mangrove di Teluk Bintuni tergolong tinggi. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Spesie Acrosticum sp. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Spesies Avicenia alba Avicenia marina Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera sexangula Bruguiera parviflora Ceriops decandra Ceriops tagal Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Sonneratia alba Sonneratia caseolaris Xylocarpus granatum Xylocarpus moluccensis Famili Aviceniaceae Aviceniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Soneratiaceae Soneratiaceae Meliaceae Meliaceae Jenis-jenis flora yang terdapat di Kawasan Cagar Alam TB sangat berhubungan ekosistem erat dengan kawasan penyusun seperti telah di uraikan panjang lebar pada bagian sebelumnya. hutan hujan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga menyimpan keanekaragaman flora yang relatif tinggi. Jenis-Jenis asosiasi mangrove pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Sumber: Hasil survei Tim TNC. BKSDA Papua II Sorong Terdapat banyak species penting yang berasosiasi dengan habitat dan Untuk itu perlu di ketahui keragaman species di kawasan karakteristik biologi lainnya. A. Jenis-Jenis mangrove sejati pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Untuk ekosistem hutan mangrove. Cerbera manghas Dolichandrone spathacea Heritiera littoralis Lumnitzera littorea Myristica hollrungii Nypa fruticans. Jenis-jenis tersebut belum termasuk jenis-jenis dari kelompok epifit dan liana yang terlihat banyak tersebar di kawasan. Hasil survei lapangan yang dilakukan Tim TNC (2005) berhasil Sumber: Hasil survei Tim TNC.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni maupun fauna. No.3.2. didominasi oleh flora mangrove dan jenis-jenis lain yang biasa berasosiasi dengan vegetasi mangrove. Selain flora ekosistem hutan mangrove. mengidentifikasi jenis-jenis mangrove sejati yang mendiami ekosistem mangrove pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan pada Tabel II-3.1 Flora Tabel II-3. 2005. diperkaya lagi dengan jenis-jenis vegetasi yang tumbuh berasosiasi dengan jenis mangrove seperti disajikan pada Tabel II-4. termasuk species-species (flora dan fauna) langka yang dilindungi serta species kunci.

jenis-jenis yang Sumber: Hasil survei Tim TNC. Pometia spp. Callophylum sp. Terminali sp. Litsea sp. air. 7. 13.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Tabel II-5. Jenis anggrek (Bulbophyllum sp. BKSDA Papua II Sorong Pada strata tajuk didominasi oleh famili antara lain Leguminosae. 2005. Moraceae. serta tempat berkembang biak yang sesuai dengan kehidupan satwa liar baik dari jenis burung. Garcinia sp. 16. di lapangan dalam pada beberapa (Gambar Cagar kawasan bahwa memiliki menunjukan Bintuni Alam Teluk keanekaragaman fauna yang cukup tinggi. Jenis Intsia spp. 11. A. dan jenis-jenis palem (Palmae) termasuk juga pelbagai jenis rotan. Gambar II-15. 5. 18. di ekosistem hutan dataran bisa rendah juga dijumpai jenis-jenis anggrek dari genus Bulbophyllum yang secara hukum Indonesia telah dilindungi. 4. Baccaurea b t t gnemon Gnetum Gigantochola sp. 15. 3. Vatica papuana Annisoptera sp. reptil dan amfibi serta jenis avertebrata. 2. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi ekosistem hutan dataran Rendah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Sayangnya data dasar mengenai daftar tumbuhan/flora yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni belum tersedia. Berdasarkan informasi dari pengelola kawasan dan masyarakat setempat. Caesalpiniaceae. Pandanus sp. Calamus sp. tempat berlindung. 6.2 Hasil Fauna pengamatan lokasi II-16). 12. 8. Canarium sp. berhasil Dari sejumlah yang sebagian besar diidentifikasi. adalah jenis-jenis endemik dan beberapa genus yang telah dilindungi undang-undang Indonesia antara lain antara lain genus Nepenthes Kemungkinan (Famili besar Nepenthaceae). 1. Ficus sp. mamalia. 10. dan No. Sedangkan pada strata bawah ditumbuhi perdu dan semak yang mendukung berbagai tanaman pemanjat. juga ditemui di Cagar Alam Teluk Bintuni.17 . paku-pakuan. Hal ini didukung oleh kondisi fisiografi dan ketersediaan sumber daya seperti pakan. ditemui di daerah ini. 17. Eugenia sp.) yang bisa ditemukan di hutan dataran rendah dan mangrove di kawasan CATB Keadaan Umum Kawasan II . 14. Hopea sp. Arthocarpus sp.2. Famili Caesalpiniaceae Sapindaceae Guttiferae Combretaceae Burseraceae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Euphorbiaceae Gnetaceae Graminae Guttiferae Lauraceae Moraceae Moraceae Myrtaceae Palmae Pandanaceae Dipterocarpaceae. epifit termasuk anggrek.3. 9.

Tirasai H.Mamuranu Hutan Dataran rendah Tirasai Hutan Dataran rendah Anak Kasih Hutan Dataran rendah Anak Kasih. Hasil pengamatan langsung (direct seen) dan wawancara dengan penduduk lokal. buaya Keadaan Umum Kawasan II . ditemukannya Hal ini memberi peluang jenis-jenis herpetofauna lain selain jenis-jenis yang disajikan pada Tabel II. Hydropis sp.18 . yaitu buaya air muara tawar Gambar II-17. 716/KPTS/Um/l0/1980 C = Keputusan Menteri Pertanlan No. yaitu 27 spesies reptil dan 9 spesies amfibi. lebih sedikit dibandingkan dengan hasil survei yang dilakukan BP Pertamina (2002) di ekosistem mangrove dan hutan dataran rendah Saengga dan Tanah Merah yang hampir sama dengan ekosistem yang ada di Cagar Alam Teluk Bintuni. dan Mamuranu H H H C - CITES1 I I II - V - Sumber: Hasil survei Tim TNC. Tirasai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Reptil dan Ampibi (Amphibians and Reptiles) BKSDA Papua II Sorong Kawasan CATB dan sekitarnya merupakan habitat penting bagi perkembangbiakan jenisjenis reptil dan amfibi. 327KPTS/Um/5/1978 V = Vulnerable (rentan) 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Jenis-jenis herpetofauna yang disajikan pada Tabel II. Mamuranu Mangrove dekat K. Keterangan: H = Keputusan Menteri Pertanian No. Terdapat tiga jenis. Jenis herpetofuana yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Status Konservasi Dilindungi Endemik RDB2 No. K. Mangrove K. Yakati S.6. di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya bisa dijumpai beberapa jenis reptil dan amfibi seperti disajikan pada Tabel II-6 Tabel II-6. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Crocodylus porosus Crocodylus novaguinensis Hydrosaurus amboinensis Varanus sp.6.Mamuranu. Sumberi K. Boiga irregulatus Litoria infrafenata Buaya muara Buaya air tawar Soa-soa Biawak Biawak bakau Ular bakau Ular sanca Ular coklat pohon Katak pohon hijau S. 2005. Varanu sindicus Enhydris sp. Tirasai K. Jenis buaya muara (Crocodylus porosus) yang ditemukan di kawasan CATB (Crocodylus porosus).

Gambar II. 1979). porosus dan C. Novaeguinensis adalah satwa endemik New Guinea dan telah tercatat dalam App. Hal ini didukung oleh kondisi fisiografi dan ketersediaan sumberdaya seperti pakan. dan informasi dari masyarakat lokal. Selama survei yang dilakukan oleh Tim TNC (2005).19 . Peta Lokasi Kegiatan Survei Keberadaan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 Burung (Birds) Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya memiliki keanekaragaman jenis burung yang cukup tinggi. yaitu C. yaitu jenis yang terancam punah dalam IUCN Red Data Book (IUCN. dan termasuk jenis binatang yang dilindungi dengan UndangUndang di Indonesia. suara (noisy). air.16. yang dilakukan melalui pengamatan langsung (direct seen). I CITES. 176/Kpts/um/10/1978). kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat kurang lebih 26 jenis burung yang tersebar di beberapa bagian kawasan CATB seperti disajikan pada Tabel II-7. termasuk kedalam jenis satwa yang dilindungi dengan undang-undang di Indonesia (Petocz. dan biawak bakau (Varanus prafinuvi).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong (Crocodylus novaguinensis). (SK Mentan No. 327/Kpts/um/5/1978 dan No. 1983). Keadaan Umum Kawasan II . Kedua jenis satwa reptilia tersebut. tempat berlindung dan berkembang biak yang merupakan komponen pendukung kehidupan satwa tersebut.

S. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - - - - - - - - - . Tatawori S. S.Tirasai.20 RDB2 No.F A. Wasian S. K. Mamuranu - - 13 Falcon cenchroides Alap-alap layang - - II 14 15 16 17 18 19 Geoffroyus geoffroy Goura cristata Gygas alba Halcyon cholaris Larus novaehollandia Lorius lory Kakatua paruh merah Mambruk ubiaat (dara mahkota) Dara laut putih Cekakak sungai Dara laut putih Nuri kepala hitam Elang paria/ Alap-alap malam - F G C I II Vul. Sumberi Muara Muturi S.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-7. Mamuranu S. Mamuranu S. S.Sumberi. S. S. Mamuranu - F - NeT 2 Cacatua galerita Kakatua Jambul Kunig B. Yakati - II 5 6 7 8 9 10 11 12 Muara Tirasai S. Naramasa S.D.E - III - Kuntul Kerbau Kuntul perak (Bangau putih) Kuntul karang Robin bakau (Manggrove robin) Muara Sungai Muturi S.Sumberi. Naramasa. - 20 Milvus migrans - G II 21 Nectarinia aspasia Burung madu hitam A. Muturi. Naramasa.Simeri. Naramasa S.Tirasai. Naramasa. Tatawori - F A. Muturi. S. Jenis burung yang dicatat selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Status Konservasi Dilindungi Endemik 1 Ardea sumatrana Cangak laut S. S. Naramasa. Anak Kasih S.F II Keadaan Umum Kawasan II . Wasian.F - 22 23 Nectarinia jugularis Paradisaea minor Burung madu sriganti Cenderawasih kuning kecil A.E. Muturi S. S.Tirasai. Naramasa S.E.Simeri. Sumberi. S. K. K. S. Sumberi Kampung Anak Kasih. S.Sumberi. S. Muturi. Mamuranu Kampung Anak Kasih. Anak Kasih K.C II 3 Casuarius bennetti Kasuari kerdil Cenderawasih molek (Magnificent Bird of Paradise) Anis puyuh ajax Walet sapi Kukubara perut merah A II NeT 4 Cicinnurus magnificus Cinclosoma ajax Colacalia esculenta Dacelo gaudichaud Dicrurus hottentottus Egretta ibis Egretta intermedia Egretta sacra Eopsaltria pulverulenta S. S. K. Tatawori S.Tirasai S.Simeri.E. S. Mamuranu K.

Kodai Sekitar Kampung Naramasa S. dimana 45 spesies diantaramya sudah di lindungi oleh undang-undang. diketahui bahwa Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat jenis-jenis satwa endemik Papua serta satwa/fauna yang telah dilindungi undang-undang.7 tersebut di atas dapat bertambah. berhasil teramati lebih dari 140 jenis burung (BP Pertamina. Rudiyanto (1996). 14 jenis diantaranya adalah Keadaan Umum Kawasan II . 513 NeT = Near Threaten (hampir terancam) V = Vulnerable (rentan) 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Jumlah tersebut (Tabel II-7) lebih sedikit dibandingkan hasil survei yang dilakukan Zuwendra dkk. 2005). Petocz dan Raspado (1994). 301/KPTS-Um/6/1991 June 10. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - . Hasil rangkuman dari sejumlah referensi pendukung antara lain Petocz (1987). keragaman jenis seperti yang disajikan pada Tabel II. yang terdiri dari 75 spesies burung yang menetap dan 20 spesies burung migran. 1970 C = Keputusan Menteri Pertanlan No. Keterangan: A = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1931 No.7 of 1999. Wasian Perairan Pulau Modan - F B - - A - Sumber: Hasil survei Tim TNC. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan BP Tangguh dalam rangka penyususnan dokumen ANDAL melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni khususnya daerah Sungai Saengga dan S. melalui penelitian yang lebih seksama. 266 B = Kepulusan Menleri Pertanian No. 7421KPTS/Um/12/1978 December 2. 1991 G = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1935 No.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Status Konservasi Dilindungi Endemik 24 25 26 27 Philemon buceroides Probosciger aterrimus Stercorarius pomarinus Sterna albifrons Cikukua tanduk Kakatua raja Camar Dara laut kecil S. (1991) yang melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni (termasuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni) sedikitnya teramati 95 jenis burung. 2002). Manggosa yang memiliki kemiripan ekosistem dengan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. (1986). 2005. Behler dkk. Hal ini mengindikasikan bahwa keragaman jenis burung di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup tinggi dan perlu mendapat perhatian lebih serius baik dari perlindungan dan penelitian.21 RDB2 No. dan BP Pertamina (2002) diketahui bahwa dari jenis satwa burung yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (hasil survei Tim TNC.. (1991). 27 January 1999 F = Keputusan Menteri Pertanian No. 421/KPTS-Um/8/1970 August 26. 757/KPTS/Um/12/1979 E = Peraturan Pemerinlah NO. 1978 D = Keputusan Menteri Pertanlan No. Besar kemungkinan. Zuwendra dkk.

(1991) yang melaporkan bahwa di daerah CATB dan sekitar ditemukan paling sedikit 12 jenis endemik. Jenis mamalia yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) serta berdasarkan informasi masyarakat setempat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. magnificus. Menurut the Convention on International Trade in Endangered Species (CITES). cristata) dan dua jenis lagi dikategorikan “hampir terancam”. Menurut informasi dari masyarakat setempat burung-burung tersebut akan datang pada bulan April – Mei dan kemudian pergi pada bulan Desember saat musim ombak. Kawasan Teluk Bintuni nampaknya merupakan daerah pencarian pakan (winter ground) dari beberapa jenis burung pengembara (migran). Selain itu menurut RDB (Red Data Book) jenis mambruk masuk dalam kategori “rentan” (vurnerable). dua diantaranya merupakan jenis yang sudah dilindungi undang dan masuk dalam appendix II CITES (Tabel II-8). yaitu A. Anak Kasih I I II II Keadaan Umum Kawasan II . K. satu jenis burung mambruk (Goura cristata) masuk dalam Appendix I. Mamalia (Mammals) Hasil pengamatan selama survei dengan metode pengamatan langsung (direct seen) dan jejak kaki (footprint/trail) serta informasi dari penduduk lokal. dan satu jenis (Egreta ibis) masuk Appendix III. Mamuranu. tujuh jenis lain (P.7. K. Anak Kasih. sumatrana dan C. di antara spesies burung yang dapat dijumpai di CATB. M. Dalam survei dijumpai ratusan burung pelican (Pelecanus conspicillatus) dan umukia raja (Tadorna rajah) pada beberapa bagian Cagar Alam terutama pada daerah muara dengan bentangan bentik pasir. Tirasai K. Jumlah jenis endemik untuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang berhasil dicatat selama survei hampir sama dengan jumlah spesies burung endemik hasil survei Zuwendra dkk. Status Konservasi Dilindungi Endemik 1 2 3 Pteropus neohibernicus Spilocuscus maculatus Phalanger orientalis Kelelawar besar Kuskus bertotol Kuskus kelabu K. Naramasa K. C. yaitu jenis mambruk ubiat/mahkota (G. di kawasan ini bisa dijumpai 12 jenis mamalia. minor. migrans. F. 14 jenis telah dilindungi baik oleh hukum Indonesia maupun hukum Internasional (CITES dan IUCN) seperti disajikan pada Tabel II. C. 1999). bennetti (Conservation International. K. L. Tabel II-8. Lory. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - . cenchroides. dan Casuarius bennetti) masuk Appendix II.22 RDB2 No.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong spesies endemik. galerita. Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menjadi penting sebagai habitat dan perkembangbiakan jenis-jenis endemik khususnya satwa avifauna. Mamuranu.

Anak Kasih. Anak Kasih. Anak Kasih. kangguru pohon (Dendrolagus fursinus). Namun jumlah tersebut masih jauh lebih rendah dari hasil penelitian yang di lakukan oleh PT Geobis Woodward-Clyde Indonesia pada tahun 1998 yang melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni /Bearau dapat ditemui kurang lebih 70 spesies mamalia yang terdiri dari 36 spesies kelelawar (Chiroptera). 17 spesies marsupial (Marsupialia). Anak Kasih K. Tirasai K. K. kuskus (Phalanger orientalis) pada habitat hutan mangrove. K.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Status Konservasi Dilindungi Endemik 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Cervus timorensis Dorcopsis muelleri Dendrolagus ursinus Peroryctes raffayana Sus crofa Pteropus conspilicatus Pogonomys macrourus Isodon macrourus Pristis microden Rusa Walabi hutan Kangguru pohon Bandikot Babi hutan Kelelawar Tikus hutan dataran rendah Tikus tanah Cucut gergaji K. K. Mamuranu. Tirasai K. seperti jenis Seusa plumbea yang bersirip putih yang menurut informasi masyarakat. K. Mamuranu. sering terlihat Keadaan Umum Kawasan II . dan Pseudocheirus spp. 421/KPTS-Um/8/1970 August 26. K. Dasyuridae. possum kerdil (Cercatetus caudatus. Anak Kasih. 266 B = Kepulusan Menleri Pertanian No. Mamuranu. Tirasai K. 2005. K.8 hampir sama dengan jenis-jenis mamalia yang ditemukan dalam survei yang dilakukan oleh Zuwendra. Distoechurus pennatus. dan jenis-jenis Chiroptera yang merupakan kelompok mamalia yang luar biasa aneka ragamnya. walabi hutan (Dorcpsis spp. Anak Kasih K. Anak Kasih K. Tirasai Perairan Teluk Intr A B - - Intr - Sumber: Hasil survei Tim TNC. K. rubah terbang.). dan Bandycoot (Peroryctes raffrayanus) atau tikus. Mamuranu. Mamuranu. kelelawar ekor berarung. K. Keterangan: A = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1931 No. marga tikus berkantung endemis yang aneh. 15 spesies binatang pengerat (rodents). Erftemeijer. Echidna berparuh panjang (Zaglossus bruijni). 66/KPTS/Um/2/1973 V = Vulnerable (rentan) Intr Introduce = 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Hasil pengamatan terhadap jenis-jenis mamalia yang disajikan pada Tabel II. Kawasan perairan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat jenis lumba-lumba. serta rusa dan babi hutan. 1970 I = Keputusan Menteri Pertanian No.). walabi liar biasa (Macropus agilis). kelelawar tapal kuda. seperti kelelawar berhidung tabung.23 RDB2 No. dan kelelawar mastif. Naramasa K. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 V V . dan Allen (1991) yang melaporkan bahwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dijumpai mamalia seperti Echidna berparuh pendek (Tachyglossus aculeatus).

Ikan Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kawasan yang terkena pasang surut. Jenis kepiting bakau (Scylla sp. dan ikan merah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam satu group bermain mengikuti jalannya armada kapal penangkap udang untuk mendapatkan ikan-ikan yang lebih kecil sebagai makanannya. banyak dijumpai ikan gergaji (saw-fishes). Sedangkan jenis hiu yang terdapat di perairan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah jenis hiu bodoh (Chyloscyllium punctatum dan C. Brevipinna) yang dapat mencapai panjang 3 m. Jenis ikan tersebut merupakan jenia endemik dan tersebar di beberapa sungai. rawa.) yang memiliki nilai ekonmis yang dapat ditemukan di kawasan CATB semisulcatus sculptilis). peran kawasan Cagar Alam Teluk menjadi sangat penting bagi masyarakat sekitar kawasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama ikan baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dijual sebagai pendapatan pendapatan keluarga. Hasil survei serta didukung oleh informasi dari penduduk setempat bahwa dii kawasan habitat air tawar ditemukan ditemukan jenis ikan air tawar dimana dua di antaranya merupakan ikan pelangi (rainbow fish) dari genus Melanotaenia. Bahkan sejenis ikan paus berukuran besar pernah terlihat di perairan Teluk Bintuni yang lebih dalam. Informasi dari penduduk setempat bahwa ikan cucut gergaji (Pristis microden) yang merupakan ikan terbesar dan telah dilindungi undang-undang yang sering masuk sampai ke sungai-sungai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Informasi dari nelayan tradisional (penduduk lokal) diketahui bahwa jenis Lutjanus johnii (ikan merah) dan Himantura uarnak (ikan pari) sering juga tertangkap saat memancing di sungai-sungai dekat hutan mangrove di kawasan CA Teluk Bintuni. hiu. (Penaeus Parapenaeopsis yaitu udang tiger/Tiger Prawn dan udang Gambar II-18. Avertebrata Perairan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat beberapa jenis avertebrata. Keadaan Umum Kawasan II . Beberapa jenis udang yang ditemui di perairan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan danau di sekitar kawasan di mana makanan utamanya adalah nyamuk. Informasi yang diperoleh dari penduduk bahwa di beberapa daerah muara sungai besar di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dijumpai marga Delphinidae. terutama dari jenis udang.24 . Mengacu pada informasi tersebut di atas. Jenis ikan ini sangat potensial untuk dijadikan ikan hias sehingga memberikan peluang bagi masyarakat setempat untuk mengembangkan jenis ini untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

dimana pembuatan rumah-rumah tersebut tidak ada koordinasi terutama dengan pihak BKSDA Papua 2.557 Jiwa. Ketika hadirnya maupun pihak gereja Kopermas maka kelompok Marga Imeri berniat membuka pemukiman baru di logyard Tirasai. bersinggungan dan di dalam) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) sampai dengan Bulan Maret 2005 yaitu sebanyak 9. Keadaan Umum Kawasan II . Kampung Tirasai pada awalnya hanya berupa gubuk sebagai tempat berburu. (Gambar II-18). Hal ini menjadikan kawasan perairan sekitar CA Teluk Bintuni menjadi penting sebagai habitat udang yang dapat mendukung industri udang komersial di Kabupaten Teluk Bintuni. B.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni endeavour/Endeavour Prawn (Metapenaeus monoceros).). Gorgoniau corals (Gorgonaceae). Biak. kerang timba/Bailer’s shells (Nilo acthiopicus dan Syrinx aruanus). sedangkan penduduk pendatang yaitu berasal dari masyarakat transmigrasi dan atau para pedagang serta penduduk Papua pendatang (dari Sorong. Beberapa penduduk tersebut berasal dari penduduk Kampung Mamuranu yang pada awalnya hanya membuat pondok dan ladang disekitar daerah logyard yang dibuka oleh kopermas . Bugis. Di kawasan perairan CA Teluk Bintuni juga di jumpai jenis avertebrata lain seperti jelly fish (Scyphozoa). B. pada tahun 1992 lokasi tersebut dibuka oleh PT. dan lobster (Panulirus ornatus). Pada tahun 2003 Dinas Sosial Propinsi Papua membuat rumah semi permanen dengan jumlah 54 rumah. Serui dan tempat tempat lain diluar Teluk Bintuni). mantis srimp (Squitta sp. dan Ambon. dari 14 kampung yang ada di sekitar kawasan CATB. juga terdapat berbagai etnis pendatang lainnya. Mamuranu adalah desa yang berada di dalam kawasan CATB yang sudah ada sebeluk kawasan diusulkan dan ditunjuk sebagai Cagar Alam Teluk Bintuni. Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan lapangan. udang raja/king prawn (Penaues hatisalcatus). serta jenis kepiting bakau Scylla sp. dari luar Papua seperti Jawa. Kampung Anak Kasih dan Tirasai merupakan kampung yang baru terbentuk sehingga secara definitif belum ada. Penduduk secara garis dibedakan atas dua. setempat . yaitu penduduk asli /lokal dan pendatang.). Penduduk secara etnisitas selain didiami oleh etnis asli (Papua). diawali dengan adanya mobilisasi penduduk marga pemangku hak ulayat di Anak Kasih pada saat kopermas mulai beroperasi.1 Karakteristik Sosial Ekonomi dan Budaya Penduduk Jumlah penduduk yang berada di 14 Kampung di sekitar (di luar.25 . Penduduk asli adalah penduduk yang telah lama bermukim disekitara kawasan Cagar Alam yang dikenal sebagai pemangku hak masyarakat hukum adat. Henrison Iriana sebagai logyard. Banana BKSDA Papua II Sorong prawn (Penaeus marguensis dan Penaeus indicus). Anak kasih merupakan kampung yang baru terbentuk pada tahun 2002. salps (Salpa sp. Crinoid sealilies.

2005 Diolah Keadaan Umum Kawasan II . Lokasi Pemukiman penduduk K.19. Persebaran penduduk yang bermukim di sekitar kawasan berdasarkan kampung (Gambar II. Pada tahun 1994 melalui Program Bina Desa PT Henrison Iriana. II. Tabel II-9. dan langsung memberi rekomendasi bahwa usulan mereka akan ditindaklanjuti.71 853 1471 82 375 271 445 274 710 89 70 47 202 127 117 5133 Total 1588 2781 156 729 528 792 556 1309 147 125 83 342 219 202 9557 100 Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. Pasamai Akan tetapi sehingga dengan berbagai alasan mulai awal tahun 2005.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Keinginan masyarakat untuk membentuk kampung baru.19) dan jenis kelamin disajikan pada Tabel II-9. Gambar. sebagian masyarakat mengikuti yang program ada di Tirasai yang tersebut berlokasi di Pasamai.26 .29 Jumlah Penduduk (Jiwa) Perempuan Laki-laki 735 1310 74 354 257 347 282 599 58 55 36 140 92 85 4424 53. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kelurahan/Kampung Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP 5 Tirasai Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Jumlah Persentase Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idoor Idoor Idoor Idoor Kuri Jumlah (KK) 325 606 42 254 123 191 209 242 28 20 15 60 50 35 2200 46. Hasil Survei Tim TNC. Pihak pemerintah daerah tidak mengkoordinasikan masalah tersebut dengan KSDA Papua II Resort Bintuni. masyarakat tersebut sudah banyak kembali lagi ke Tirasai dan sementara menenempati rumah bekas karyawan Kopermas yang sementara ini ditinggalkan. Sehingga penduduk sekarang Tirasai masyarakat banyak cukup bermukim disana sambil menantikan surat keputusan tentang penetapan status kampung tersebut . terlihat bahwa telah diajukan permohonan untuk pemukiman baru di lokasi Logyard Tirasai ke Pemda Distrik Bintuni pada tahun 2002.

sedangkan Kampung Anak Kasih dan Tirasai merupakan perkampungan baru yang ada didalam kawasan. Tuasai dan Argo Sigemerai merupakan pemukiman transmigrasi yang letaknya bersinggungan dengan Kawasan CATB. Banjar Ausoy. Gambar II-20.2 jiwa/Km2). maka potensi para penduduk pendatang akan semakin banyak sehingga jumlah penduduk dimasa yang akan datang diprediksikan akan semakin cepat bertambah. Kampung Mamuranu merupakan kampung yang berada didalam kawasan dan sudah ada sebelum ditetapkannya Kawasan CATB. sedangkan Distrik Idoor dan Kuri tidak diperoleh data luasan wilayah (karena merupakan distrik baru). Sedangkan Kampung Yakati.926 Km2 (Atlas Sumberdaya Pesisir Kawasan Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kampung Waraitama. Berdasarkan Tabel 10. Luas wilayah Distrik (Kecamatan) Bintuni yaitu 7.27 . Peta Lokasi Kampung yang berada di dalam dan sekitar Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 Keadaan Umum Kawasan II . Yensei dan Naramasa merupakan kampung yang secara letak berada diluar kawasan akan tetapi keterkaitannya terutama dalam pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan cukup besar. Korano Jaya. 2003). Akan tetapi seiring dengan perkembangan Kabupaten Teluk Bintuni yang merupakan Kabupaten pemekaran baru. bahwa kepadatan penduduk di sekitar kawasan CATB masih rendah (1.

Hasil pengamatan di lapangan yang diperkuat dengan hasil penelitian Yalhimo (2003) memberi gambaran bahwa penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagian besar berusia produktif (19–50 tahun) dengan persentase 49.80 %) dan diikuti oleh nelayan (18.10.86 %. bersinggungan dan di dalam) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB).2 Mata Pencaharian Masyarakat yang berada di sekitar (diluar. 2005 Diolah B.10. Hasil Survei Tim TNC.17 7 -18 342 617 37 170 114 152 105 320 36 29 18 107 63 75 2185 22. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kelurahan/Kampung Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 TirasaI Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Jumlah Persentase Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idoor Idoor Idoor Idoor Kuri 0–6 214 243 31 84 74 101 72 211 15 26 13 35 29 15 1163 12. merupakan sehingga Gambar II-21.63 %. memperlihatkan bahwa sebaran proporsi jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan dengan proporsi jumlah penduduk perempuan. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni Kelompok Umur (Thn) No.82 %). Ratio perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki terhadap perempuan adalah 1. Hal ini terjadi karena terutama Kampung (Desa) yang bersinggungan dengan kawasan CATB. Salah seorang anggota masyarakat nelayan di K.10.63 > 50 217 462 25 124 80 138 61 173 24 15 9 75 30 32 1465 15. Korano Jaya setelah melaut permukiman transmigrasi Keadaan Umum Kawasan II . disusul penduduk dengan kelompok usia sekolah (7–18 tahun) sebesar 22.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II. mayoritas bermatapencaharian sebagai petani (45.34 Jumlah (Jiwa) 1588 2781 156 729 528 792 556 1309 147 125 83 342 219 202 9557 100 Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005.86 19 . Persebaran penduduk yang bermukim di kampung-kampung sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan kelompok umur disajikan pada Tabel II.28 .50 815 1459 63 351 260 401 318 605 72 55 43 125 97 80 4744 49. Tabel II.16.

Yensei dan Naramasa akan tetapi bermatapencaharian didalam kawasan CATB yaitu nelayan (18. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan kawasan CATB yang baik dengan bekerjasama dengan masyarakat setempat sehingga kawasan CATB terjaga kelestariannya dan masyarakat tetap dapat melakukan kehidupannya sehari-hari.80 Tani Distrik Kampung/Kelurahan 0 0 0 0 0 0 0 0 9 7 7 19 10 15 67 2.82 %). Ketiga jenis mata pencaharian tersebut. Akan tetapi untuk Kampung (Desa) yang berada di dalam kawasan CATB seperti Kampung Mamuranu.86 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 12 0 30 1.35 64 77 1 11 54 9 7 12 0 0 0 0 0 0 235 10. dengan laju pertumbuhan penduduk 1-2 %/tahun. sangat mengandalkan kepada sumberdaya alam yang ada di dalam kawasan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong penduduknya banyak yang bermatapencaharian sebagai petani. Tabel II-11.82 %) dan menokok sagu (1. Dengan persentase penduduk lebih dari 20 % yang mengandalkan sumberdaya alam kawasan CATB secara langsung. Hasil Survei Tim TNC.29 Lain2 . Mata Pencaharian penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Mata Pencaharian (Jiwa) Berburu (Rusa. sehingga ketergantungan mereka terhadap sumberdaya alam kawasan cukup besar. dan Tirasai serta kampung yang secara lokasi berada di luar.28 %). diprediksikan dimasa yang akan datang tekanan terhadap kawasan CATB akan semakin besar.28 17 74 0 13 14 0 0 5 0 0 0 0 0 0 123 5. berburu (2. Buaya dan babi) Menokok Sagu PNS/ TNI/ POL Nelayan Swasta 28 87 3 24 14 26 4 37 0 0 0 0 0 2 225 9.25 17 59 2 3 8 29 2 21 0 2 0 3 3 0 149 6. Anak Kasih.04 Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Persentase Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. Secara lengkap kondisi penduduk berdasarkan matapencaharian dapat dilihat pada Tabel II-11.60 Buruh Bintuni Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai 138 161 11 16 1 27 0 8 13 9 7 20 16 14 441 18. 2005 Diolah Keadaan Umum Kawasan II . kawasan CATB seperti Kampung Yakati.822 61 148 25 187 96 154 196 184 6 2 1 0 9 4 1073 45.

3 B.1 Pendidikan dan Kesehatan Pendidikan BKSDA Papua II Sorong Kualitas pendidikan dari penduduk yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara umum masih rendah. Keadaan Umum Kawasan II . terutama jumlah guru untuk setiap sekolah masih rendah. sedangkan tingkat SMP dan SMU masih terkonsentrasi di pusat kota Kabupaten Teluk Bintuni (kelurahan Bintuni Timur dan Bintuni Barat) serta daerah pemukiman transmigrasi (kampung Korano Jaya/SP2 dan Banjar Ausoy/SP4). pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap cagar alam dan pelestarian alam masih rendah (84%). Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar kawasan CATB. Sarana Pendidikan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2002 Sarana Pendidikan Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan TK Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah 1 2 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 5 SD 2 3 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 (Rusak) 13 SMP 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 4 SMU 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 PT 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 Jumlah (unit) 7 8 0 0 2 3 1 2 0 1 0 1 1 1 27 Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. Hal ini disebabkan oleh minimnya informasi tentang cagar alam dan pelestarian alam yang mereka terima karena kurangnya sarana dan media informasi. Hasil Survei Tim TNC.30 .3. menunjukan bahwa hampir semua kampung telah memiliki sarana pendidikan untuk tingkat SD. pelaksanaan pendidikan telah berlangsung pada berbagai jenjang pendidikan. Sarana pendidikan yang terdapat di sekitar kawasan CATB disajikan pada Tabel II-12. dengan kondisi sarana prasarana pendidikan yang kurang memadai. Secara umum untuk tingkat Kabupaten Teluk Bintuni. Sebagai contoh rata-rata jumlah guru untuk tingkat sekolah dasar disetiap kampung (desa) sebanyak 1-3 orang. mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Tabel II-12. 2005 Diolah Tabel II-12.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B.

Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (PusTu) hanya ada di ibukota Kabupaten (Bintuni Barat) dan pemukiman transmigrasi (Banjar Ausoy/SP4). Hal yang sama juga di alami para siswa lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMU. Puskemas 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Sarana Kesehatan Pustu Polindes/P’Yandu 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Jumlah (unit) 2 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Keadaan Umum Kawasan II .2 Kesehatan Sarana kesehatan yang ada di kampung-kampung di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sangat terbatas. sedangkan beberapa kampung lain di wilayah ini hanya memiliki poliklinik desa (Polindes) atau posyandu.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Terkonsentrasinya sarana pendidikan lanjutan di ibukota Kabupaten dan daerah transmigrasi mengakibatkan banyak anak-anak usia sekolah lulusan sekolah dasar (SD) mengalami kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (SMP). juga sarana transportasi yang belum lancar/langka.3. Tabel II-13. 2005. Sarana Kesehatan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Sumber: Hasil survei tim TNC. Hal ini membuat para siswa mengalami kesulitan untuk datang ke sekolah tepat waktu. bahkan banyak dari mereka yang terpaksa tidak masuk sekolah (meliburkan diri) dalam waktu lama. Pada kampung-kampung tertentu bahkan tidak memiliki sarana kesehatan sama sekali seperti terlihat pada Tabel II-13.31 . Kendala utama yang dirasakan adalah jarak sekolah lanjutan dengan pemukiman mereka cukup jauh. B. yaitu guru sebagai tenaga pengajar yang dirasakan masih kurang terutama guru-guru bidang IPA dan bahasa Inggris baik pada tingkat SMP maupun tingkat SMU. Permasalahan lain yang cukup menonjol hampir sama dengan sekolah-sekolah yang ada di sekitar kawasan CATB.

diare. Khusus untuk pelayanan persalinan. Hal ini menyebabkan tidak terpenuhinya pelayanan pengobatan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Tenaga Kesehatan yang ada di kampung sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Tenaga Kesehatan Perawat/Bidan 0 12 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 16 Dokter 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Mantri 1 7 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 11 Dukun Beranak 4 3 1 0 1 0 2 0 0 1 0 3 2 1 18 Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. Tabel II-14. masyarakat lebih banyak menggunakan jasa dukun beranak (traditional healers) yang jumlahnya cukup banyak dan hampir tersedia di setiap kampung di sekitar kawasan CATB. dan penyakit mata dimana penyakit malaria. infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Meskipun demikian rutinitas kunjungan dari para medis tetap dilakukan ke kampungkampung yang ada. mantri. penyakit kulit. Untuk ke kampung Yakati dan Yensei misalnya harus ditempuh dengan menggunakan perahu motor (longboat) dengan waktu tempuh 4-6 jam. Hasil Survei Tim TNC. diare. Kendala yang menonjol dalam kunjungan petugas kesehatan adalah masalah transportasi. Di ibukota Kabupaten hanya terdapat seorang dokter dan beberapa mantri serta perawat/bidan yang bertugas di Puskesmas. tergantung pasang surutnya air. Jenis penyakit yang paling umum di derita oleh masyarakat di sekitar kawasan adalah malaria. 2005 Diolah Tabel II-14 memperlihatkan bahwa tenaga medis seperti dokter. Keadaan tenaga kesehatan yang ada di daerah sekitar kawasan juga masih terbatas seperti disajikan pada Tabel II-14. dan ISPA merupakan penyakit yang banyak Keadaan Umum Kawasan II . dan bidan yang terdapat di kampung-kampung di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih sangat kurang. Frambusia.32 .

36 Islam 413 182 0 489 469 684 0 1205 0 0 0 0 7 3449 36.33 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diderita dan menjadi penyebab utama kematian. memperlihatkan bahwa jumlah penduduk yang menganut agama kristen protestan lebih besar dibandingkan jumlah penganut agama lain (57. Tempat ibadah umumnya juga telah ada di setiap kampung (desa). Jumlah penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan Agama Jumlah Tempat Ibadah 1 4 0 1 1 1 3 1 0 1 1 1 1 16 Jumlah Tempat Ibadah 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Jumlah Tempat Ibadah 2 0 0 3 6 5 0 6 0 0 0 0 0 22 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Kristen Protestan 997 2395 52 203 47 70 556 77 147 208 342 219 187 5500 57. serta kondisi lingkungan jalan umum yang berdebu pada musim kemarau yang membuat kualitas udara menjadi buruk akibat banyaknya debu. diare. Keadaan Umum Kawasan II . Menonjolnya kasus malaria. dan 55 kasus penyakit mata. Tabel II-15. Hal ini ditunjang oleh sarana ibadah yang cukup memadai (Tabel II-15).55 Katolik 178 204 104 37 12 38 0 27 0 0 0 0 8 608 6. Hasil studi Yalhimo (2003) menunjukan bahwa selama tahun 2003 terdapat 246 kasus malaria dan 135 kasus diare.09 Idoor Mamuranu/ Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Persentase Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. 2005 Diolah Tabel II-15. 59 kasus ISPA dibanding dengan 22 kasus penyakit kulit.4 Agama Penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagian besar sudah memeluk agama seperti Kristen Protestan. Katolik. dan Islam.55 %). 27 kasus Frambusia. dan ISPA diduga disebabkan oleh lingkungan tempat tinggal masyarkat yang dekat denagn hutan rawa dan mangrove yang merupakan tempat berkembang biak nyamuk malaria. B. air baku untuk minum sangat kurang dan tidak memenuhi standar baku kesehatan. Hasil Survei Tim TNC.

masyarakat adat Wamesa dalam menebang pohon sagu mencari yang tua/matang. sehingga tidak sembarang orang bisa masuk kesana. masyarakat biasanya tidak mengambil seluruh jumlah karaka dalam satu liang (lubang) dengan pertimbangan karaka yang ditinggalkan dapat berkembang biak.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. masyarakat adat harus mendapat kompensasi apabila tanah adat mereka Keadaan Umum Kawasan II . Selain itu daerah yang dianggap sebagai tempat “pamali” yaitu sekitar Pulau Jawarupai yaitu Sungai Asi Inabuo. Oleh sebab itu mereka berusaha memiliki tanah seluas-luasnya untuk dapat di pertahankan dalam jangka waktu lama serta untuk di wariskan dari generasi ke generasi. Bila dicermati aturan-aturan mengenai pemanfaatan tanah-hutan seperti itu. Menurut keterangan dari Tokoh masyarakat Bintuni Bpk. Masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan CATB. dan sebagainya. goa. pada hakekatnya sejalan dengan prinsipprinsip konservasi.6.1 Pemanfaatan Sumberdaya Alam Pandangan Masyarakat Adat terhadap sumberdaya alam (Tanah dan Hutan) Masyarakat adat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) memandang tanah dan hutan merupakan sesuatu yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan mereka sebagian pemilik hak ulayat. Dalam proses pengambilan karaka. memandang tanah dan hutan sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Otto Manibuy. Hasil wawancara dengan tokoh adat Naramasa (Bpk. Disamping itu masih ada tempat tertentu yang oleh masyarakat dilindungi keberadaannya karena bernilai ritual seperti mata air.6 B. B. pohon-pohon tertentu. Apalagi bila tanah tersebut mengandung sumber daya tambang. Salah satu pengelolaan sumberdaya alam di dalam CATB berkaitan dengan kearifan tradisional masyarakat.34 . khususnya masyarakat adat Wamesa adalah pada kegiatan pengambilan hasil laut dari mangrove berupa kepiting (karaka). Set Efredire) menyatakan bahwa Pulau Modan merupakan tempat “pamali” dimana menurut kepercayaan mereka di sana terdapat buaya putih. Hal ini membuat masyarakat adat mulai berpikir tentang status tanah dan hutan yang saat ini di kelola oleh “pihak-pihak luar” seperti areal transmigrasi dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Indikator yang dipakai adalah pohon sagu yang telah berbunga dan menghasilkan puting sari. Pulau Modan termasuk tanah adat Suku Kuri . Selain itu dalam pengambilan/pemanenan hasil pohon sagu.5 Kearifan Tradisional Masyarakat BKSDA Papua II Sorong Masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) masih memiliki kepercayaan bahwa tempat-tempat tertentu di daerah mereka masih dianggap keramat (tempat pamali).

ataupun suku dapat di tentukan oleh seberapa luas tanah yang dimiliki orang/kelompok/klain/marga/suku tertentu. B.6. Yettu. Secara sosial budaya masyarakat memiliki ikatan erat dengan hutan. Pola pemanfaatan sumber daya tanah secara tradisional biasanya mengacu pada sistem kelembagaan yang meliputi aturan. Hutan bagi masyarakat adat yang bermukim di sekitar kawasan CATB juga memiliki fungsi sosial. Hutan dimanfaatkan untuk memenuhi beragam kebutuhan seperti kegiatan berkebun (perladangan berpindah). Selain itu tinggi rendahnya status sosial (social status) seseorang atau sekelompok orang dalam satu marga. Pola ini merupakan aturan tak tertulis yang disepakati bersama oleh para pemilik tanah yang berlangsung turun temurun. hutan merupakan sarana pemersatu hubungan sosial antar warga dalam satu suku maupun antar suku. anggota masyarakatnya juga tersebar di sekitar kawasan dan kota Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diusahakan untuk usaha tertentu. biji-bijian. Tiri. babi hutan. norma dan hukum adat yang mengatur tentang siapa. menokok sagu. Pemanfaatan sumber daya alam berupa tanah dan hutan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) masih mengandalkan kearifan tradisional. sehingga mereka bisa bertahan hidup dari generasi ke geneeasi sampai saat ini. nilai. dan Horna “mengklaim” sebagi kelompok dengan status sosial tinggi karena memiliki tanah yang sangat luas yang membentang mulai dari pegunungan Arfak sampai ke Pesisir Teluk Bintuni. Bagi masyarakat adat. Keadaan Umum Kawasan II . Masyarakat Suku Wamesa yang mengklaim sebagian besar wilayah hutan yang ada didalam kawasan CATB. dan jenis burung lain seperti nuri. hal tersebut merupakan usaha agar masyarakat adat tidak hanya menjadi “penonton” tetapi juga merasakan hasil kegiatan yang dilakukan. dan dimana seseorang atau kelompok orang boleh memanfaatkan tanah termasuk sistem pewarisan konflik dan cara penyelesaiannya. serta sebagai tempat pengambilan bahan baku untuk pembuatan rumah. klan. Pemanfaatan dan pengelolaan hutan oleh masyarakat di sekitar kawasan CATB menunjukan bahwa hutan merupakan sumber utama kehidupan. marga Iba. kapan.35 . dan jenis-jenis burung tertentu sebagai sumber protein keluarga. Hutan bagi masyarakat adat berfungsi sebagai tempat berburu rusa. mencari ikan. berburu binatang liar. Masyarakat adat melihat hutan mempunyai fungsi ekonomi karena merupakan tempat menggantungkan kehidupan sehari-hari.2 Pola pemanfaatan sumberdaya alam. Hutan juga merupakan sumber sayuran. Sayori. Dengan adanya kondisi tersebut rasa persaudaran mereka tetap terikat kuat karena adanya rasa bersama dalam memiliki hutan adat mereka. Sebagai contoh pada Suku Sough yang bermukim di sekitar kawasan CATB. dan obat-obatan. kakatua dan mambruk untuk di jual.

Namun seiring dengan perkembangan jaman. buah. Pemburu yang berhasil tersebut senantiasa membagi-bagikan hasil buruannya kepada tetangganya dengan radius dua rumah juga kepada keluarga dekat seperti kakek-nenek. membersihkan atau yang punya lahan dimana tumbuhan tersebut berada dan selanjutnya diwariskan kepada keturunannya. kekeringan.36 . Dari segi pemanfaatan hasil buruan. (4) Pembukaan lahan. Dari segi pengumpulan bahan bangunan. yang tumbuh disekitar pemukiman. pada pelaksanaan kegiatan berburu. masyarakat menggantungkan hidupnya pada kegiatan berkebun dimana mereka juga terikat pada aturan-aturan yang berlaku yang disepakati bersama. bisa berdampak terhadap terjadinya pertentangan bahkan konflik. dekat kebun. dan penanaman sedapat mungkin dilakukan secara bersama-sama anggota klan atau suku yang lain agar bila terjadi musibah seperti banjir. Aturan juga dibuat dalam berburu binatang liar dimana pola pemanfaatan dilakukan hanya pada areal hutan yang merupakan milik klan atau suku yang bersangkutan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dalam bertani misalnya. atau di kawasan pamali dapat diklaim sebagai milik pribadi oleh mereka yang pertama kali menemukan atau membersihkannya. atau kebakaran hutan dapat dilakukan pengaturan dan penanggulangan secara bersama-sama oleh anggota atau suku yang bersangkutan. saudara kandung. (3) Batas-batas lahan yang telah disepakati. dapat di klaim sebagai milik pribadi oleh mereka yang pertama kali menemukan. Aturan-aturan tersebut antara lain: (1) (2) Lahan yang dikelola haruslah milik marga/klan/anggota suku. Pola pemanfaatan tersebut diatas. dan dapat juga diwarisakan kepada keturunannya. Hal ini senantiasa diperhatikan karena bila kegiatan perburuan dilakukan tanpa didasarkan atas aturan batasbatas tanah ulayat klan. penebangan pohon. Lahan yang dikelola dianjurkan berdekatan dengan lahan milik anggota klan atau suku lain dengan harapan memudahkan dalam pengerjaan dan pengontrolan bersama. ada pemburu yang adakalanya berhasil dari pada yang lain. bunga. orang tua. pemagaran. dimana “pihak luar” mulai masuk. Dalam meramu sayuran dan buah-buahan untuk konsumsi seperti daun. para pemilik tanah mulai terperikat untuk Keadaan Umum Kawasan II . tunas atau buah-buahan yang tumbuh di sekitar kampung atau dekat dengan kebun-kebun penduduk. atau para kerabat dekat di luar radius tersebut. pohon dan tumbuhan yang biasanya digunakan untuk bangunan atau keperluan rumah tangga. lebih berhubungan dengan prinsip-prinsip pengaturan dalam memenuhi kebutuhan subsistensi keluarga. tidak boleh diubah begitu saja tanpa kesepakatan bersama antar anggota klan atau suku dengan harapan bahwa dalam pengelolaannya tidak mengganggu kepentingan anggota yang lain. pembakaran.

Bentuk interaksi dengan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dimana sebagian masyarakat ada yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Khusus untuk buaya. Keadaan Umum Kawasan II . Kegiatan pemanfaatan tersebut telah terjadi sejak jaman dahulu dan menjadi warisan bagi generasi sekarang. maka penggunaan hutan lebih banyak mengarah pada prinsip-prinsip ekonomi yang menghasilkan keuntungan materiil. Yakati. Ketika masuk sistem ekonomis kapitalis yang berbasis pada penggunaan uang. yaitu berupa pemanfaatan jenis-jenis flora dan fauna serta lahan untuk kebun. berburu dan menokok sagu. dan kerang (bia). kepiting. Anak Kasih dan Tirasai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong “menyerahkan” sumberdayanya untuk digunakan.6. Mamuranu.37 . Selain itu sumberdaya alam hutan mangrove berupa lahan pada daerah peralihan telah dimanfaatkan sebagai kebun. Buaya diambil kulitnya sedangkan rusa dan babi diambil dagingnya untuk dibuat dendeng. pemukiman. seperti pembuatan tiang-tiang rumah tradisional dan tiang pagar rumah. Jenis fauna yang ada di dalam kawasan CATB seperti buaya. Pola interaksi masyarakat sekitar dengan kawasan CATB yaitu dalam bentuk mata pencaharian. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara fisik dikelilingi oleh pemukiman penduduk yang secara turun temurun telah berinteraksi dalam bentuk memanfaatkan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan. Yensei. B. Areal hutan milik komunal telah dikonversi untuk berbagai kepentingan sekaligus dan masyarakat menerima kompensasi langsung.3 Pemanfaatan Sumberdaya Alam di Kawasan CATB. Hal ini berdampak pada semakin terkikisnya sistem kearifan tradisional yang mengandung nilai-nilai konservasi atas sumber daya tanah. dimana masyarakat mengamabil sumberdaya alam tersebut hampir setiap hari. dan lain-lain menyebabkan terjadinya perubahan struktur pemilikan dan pola peruntukan yang telah lama dianut masyarakat. Pemanfaatan beberapa jenis flora oleh masyarakat lebih tertuju pada kayu sebagai bahan bakar dan juga bahan bangunan. udang. Pemanfaatan fauna lebih terfokus pada fauna perairan. seperti ikan.rusa dan beberapa jenis burung banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai hewan buruan. Hutan konversi untuk program transmigrasi. rusa dan babi merupakan fauna yang sering diburu dan telah menjadi sumber mata pencaharian di beberapa kampung seperti Naramasa. Hal ini karena ketika beroperasi sejumlah HPH. Apabila melihat pola tersebut maka pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan CATB cukup intensif. Umumnya kompensasi adalah berupa uang tunai dan pembangunan rumah tinggal yang tentunya berdampak terhadap perubahan fungsi hutan untuk berbagai stakeholder.

Selain itu sebagian masyarakat sekitar kawasan juga sudah mulai mengenal dan menggunakan alat tangkap yang lebih modern yang diadopsi seperti rawai dan jaring udang (trammel net). Pada saat air sungai penuh/pasang naik (high tide).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. Jenis Kerang Polymesoda coaxan yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB Rizophora sp. pada dalam mulut/muara kawasan kali/sungai/kanal dibentangkan sejenis jaring (bekas trawl) sampai ke dasar sungai dengan bantuan tiang-tiang kayu mangrove dari jenis Gambar II-24. “PELEKALI. Keadaan Umum Kawasan II . masyarakat lokal yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan mengenal beberapa tradisional.3. Kolam-kolam yang terbentuk saat air surut (low tide) selanjutnya di beri sejenis racun yang berasal dari tumbuhan dikenal dengan “akar bore /tuba” yang dapat membuat ikan terbius “mabuk”.1 Penangkapan dan Pengumpulan Hasil Laut Penangkapan ikan dan hasil perikanan lain oleh masyarakat di dalam dan sekitar BKSDA Papua II Sorong kawasan CA Teluk Bintuni umumnya masih sederhana. Dalam kegiatan penangkapan ikan dan hasil laut lainnya. sungai/kali/kanal kecil dalam kawasan yang terpengaruh pasang surut dan menggunakan jaring bekas trawl.38 . yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB Gambar II-22. yaitu penangkapan ikan dengan cara membentangkan (memotong) muara Gambar II-23. Teknik ini sudah berlangsung lama dan turun temurun dengan memanfaatkan salah satu karakteristik fisik kawasan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Jenis siput bor Bactronophorus sp.6. Peralatan tangkap yang digunakan masih bersifat tradisional seperti tombak. MANCING”. Penangkapan ikan dengan menggunakan “JARING BALABUH” yang dilakukan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB cara/teknik yaitu teknik penangkapan penangkapan dan JARING BALABUH. seser dan sero. “PELEKALI”.

Jadi rata-rata sekali melaut yaitu Sedangkan untuk menangkap kepiting (karaka) Rp. dan kantong (noken). Hasil wawancara dengan para nelayan menunjukan bahwa. udang. hasil tersebut belum dipotong oleh bahan bakar (harga bensin Rp. sehingga dapat menghasilkan rata-rata Rp.500/liter) yang memerlukan sekitar 15 liter (± Rp. yang biasa dikumpulkan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB sekali melaut maka penghasilan sebulan rata-rata adalah Rp. 50. Pengumpulan hasil laut yang dimaksud disini adalah pengambilan/pengumpulan hasil perikanan berupa kepiting (mud crabs) yang dalam istilah lokal disebut “Karaka”.000 = 130. Gambar II-25.100. Pada umumnya para nelayan melaut tidak setiap hari.70. dan “Tambelo”.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong “JARING BALABUH”.000/2 = Rp. kerang/siput (shellfish). menggunakan alat besi pengait. Pemanfaatan berbagai jenis ikan dan udang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring ”berlabuh” dan untuk ”pele kali”. Keadaan Umum Kawasan II . dan hasil perikanan lain secara tradisional dengan menggunakan jaring apung (lokal: jaring balabuh). pancing. Alat yang digunakan adalah alat pancing (nelon plus mata kail). Kodai serta sungai kecil lainnya. 4. Teknik pengambilan masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan “pengait” yang terbuat dari besi dengan panjang 1 m. yaitu teknik penangkapan ikan. Daerah penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan CATB.000 – 70. yaitu penangkapan hasil laut terutama ikan di dalam dan sekitar kawasan Cagar Teluk Bintuni oleh penduduk lokal dengan menggunakan perahu dayung/motor. 200.000.000/orang Rp.000. sejenis molusca (marine borer) yang hidup di dalam batang kayu mangrove yang mati. “MANCING”. Apabila bersih = Rp. keranjang. sekali melaut (sehari semalam) mereka dapat menghasilkan 1030 tali ikan. Bokor. akar bore (tuba) serta menggunakan perahu mesin/tanpa mesin. Muturi.000) dan dibagi dengan nelayan lain (1 perahu 2 orang).000/sekali melaut.10 ekor.000-300.39 .975.650. Jenis Kepiting bakau Scilla sp.000-100. dalam seminggu mereka melaut 2-3 penghasilan kotor kali. diasumsikan rata-rata pendapatan 65. Pengumpulan hasil laut biasanya dilakukan di komunitas hutan mangrove oleh penduduk lokal yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. hampir meliputi seluruh kawasan terutama di Sungai Tirasai. Pengumpulan hasil perikanan oleh masyarakat hanya dilakukan pada saat air surut (low tide).000Sedangkan untuk yang menangkap kepiting (karaka) pada umumnya menggunakan perahu tanpa mesin/dayung (kole-kole) dan sekali melaut dapat menghasilkan 7.

kayu bakar.000 10. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jenis Hasil Perikanan Ikan Ekor Satu Ikan Sembilan Ikan Kepala Batu Ikan Congge Ikan Lasi Ikan Bubara Ikan Kakap Merah Ikan Sisip Udang Kepiting (Karaka) Tambelo kerang/bia/siput Satuan Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Ekor Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Kg Ekor Kantong Kantong Harga (Rupiah) 10. dan bahan bangunan.000 12000 10. (a) (b) (c) Gambar II-26. Hutan ini bagi masyarakat setempat merupakan sumber sumber bahan makanan. Tabel II-16.000-10.000 7.000-10. 2005.6. terutama oleh masyarakat traditional yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. B.000 10.40 . Hasil wawancara dengan beberapa nelayan tradisional (pengumpul) bahwa dalam satu kali pengambilan. Bentuk pemanfaatan jenis palem sebagai (a) busur dan anak panah. tiap orang dapat mengumpul/mengambil 10-15 ekor/orang untuk “ karaka” dan 1-3 kantong/orang untuk kerang/siput. dan (c) anyamankeranjang Keadaan Umum Kawasan II .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong khususnya bila pergantian pasang surut dan pasang naik terjadi pada siang hari. (b) lantai rumah/para-para.000 5.000 Sumber : Hasil Survei Tim TNC.000 25.2 Pemanfaatan Tumbuhan Keberadaan ekosistem hutan dataran rendah dan ekosistem mangrove di kawasan dirasa sangat penting. obat-obatan.000-10.000 5.000 10.000 10.000-35.000 10. Hasil Perikanan yang dihasilkan di dalam Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) beserta harganya.3.

Masyarakat sekitar banyak memanfaatkan salah satu komponen flora ini untuk berbagai macam keperluan. dikikis sebagai bahan baku pembuatan busur panah Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan busur dan hulu tombak (sejata tradisional) Batang dibelah. bahan bangunan. (beimes) Pinanga sp.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Khusus untuk pemanfaatan sebagai kayu bakar.2 (Humog) Pinanga sp. dibersihkan dan digunakan sebagai lantai rumah Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan anak panah Batang dibelah. dibersihkan. Hal ini menjadikan hutan mangrove terutama di kawasan CATB masih terpelihara dengan baik. masyarakat sekitar hanya memanfaatkan ranting dan cabang yang gugur tanpa menebang pohon.2 (aitaga cidemeh) Calamus sp.3 (Corohuij moro) Kegunaan Bagian pucuk diambil sebagai bahan makanan Ijuk digunakan sebaga atat dan bubungan rumah Batang dikupas dan dibersihkan dan digunakan sebagai pengikat pagar dan tiang rumah dan tali busur Daun digunakan sebagai pembungkus makanan. Tabel II-17. Peralatan yang digunakan untuk penebangan mangrove masih sederhana.3 (aitaga besameh)) Licuala sp.1 (aitaga moredek) Calamus sp. yaitu menggunakan parang dan kapak. dan digunakan sebagai lantai rumah atau tempat duduk (para-para) Batang dibelah. obat tradisional.41 . serta senjata dan perkakas (Gambar II-27 dan Tabel II-17 ). 2005 Pemanfaatan sumberdaya mangrove dapat dilihat dari dua tingkatan. dibersihkan dan digunakan sebagai lantai rumah/parapara Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan anak panah Daun digunakan sebagai pembungkus makanan 4 5 6 7 8 Sumber: Hasil survei TNC. Pengambilan kayu bakar dilakukan dengan mengumpulkan ranting/cabang pohon di hutan dataran rendah dan pohon mangrove yang mati/gugur dan pohon mangrove yang tumbang secara alami (akibat angin dan umur pohon tua). dibersihkan sebagai tali busur Batang dianyam untuk pembuatan keranjang dan anyaman lain Batang dibelah sesuai ukuran. Hasil survei Tim TNC (2005) menunjukan bahwa masyarakat suku Sough yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni memanfaatkan beberapa jenis palem yang tumbuh di hutan dataran rendah CATB sebagai bahan makanan.1 (Amough) Pinanga sp. yaitu pemanfaatan tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai Keadaan Umum Kawasan II . terutama ubi yang ditumbuk Batang langsung digunakan untuk mengikat tiang rumah Batang dibelah. Kehadiran jenis-jenis palem dalam ekosistem hutan dataran rendah membuat hutan ini menjadi berarti bagi masyarkat sekitar. Pemanfaatan vegetasi palem oleh masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No 1 2 3 Jenis (nama lokal) Caryota rumpiana (guta more) Calamus sp.

perkakas. Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong komponen utama kehidupan (primary biotic component). perkakas. pucuk. Khusus untuk masyarakat yang yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam. Rumah tradisional masyarakat lokal yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari vegetasi nipah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni makanan/minuman. Gambar II-27. tulang daun. penduduk asli di sekitar kawasan Cagar Teluk Bintuni. tangkai daun. Khusus untuk vegetasi nipah. Pemanfaatan flora hutan mangrove secara traditional pada umumnya dilakukan oleh masyarakat setempat untuk keperluan rumah tangga. energi. bahan bangunan rumah. buah malai dan akar. Pemanfaatan hutan mangrove di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni hanya terbatas pada pemanfaatan hutan mangrove dalam skala traditional (traditional uses). perlengkapan perahu tradisional (Gambar II-27).42 . obat-obatan. umumnya masih terbatas pada pemanfaatan tingkat komponen ekosistem (flora dan fauna) sebagai komponen primer kehidupan di hutan mangrove. yaitu anak daun. Pemanfaatan nipah oleh masyarkat suku-suku ini antara lain sebagai bahan Gambar II-29. Keadaan Umum Kawasan II . Gambar II-28. Pemanfaatan jenis mangrove oleh masyarakat lokal umumnya digunakan sebagai kayu bakar. bahan bangunan seperti untuk atap dan dinding rumah (Gambar II-29). Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan perlengkapan perahu tradisional. dan Wamesa dalam kehidupan lintas generasi telah memanfaatkan tujuh bagian nipah yang dapat dimanfaatkan. Kuri. yaitu masyarakat suku Sough. dan kerajinan. Jenis-jenis yang dimanfaatkan hanya terbatas pada jenis mangrove dan nipah. serta untuk keperluan tiang-tiang pagar dalam kegiatan mencari ikan (fishing) yang dalam istilah lokal disebut “ tiang belo” (Gambar II-28).

3 Obat-obatan Nypah Fructicans Rhizophora sp. Rhizophora sp. setelah kering dibakar. ranting. dan KAMBOTI (pengganti kantong) Keadaan Umum Kawasan II . Batang akar Kulit anak daun dan tangkai daun Batang Batang. abunya diambil dan disimpan di dalam media bambu sebagai subtitusi GARAM dapur. 4 Energi bakar) (bahan Nypah Fructicans Bruguiera sp. Tabel II-18. Tujuan pemanfaatan Bahan makanan/minuman Jenis yang dimanfaatkan Nypah Fructicans Bagian yang dimanfaatkan Buah No. selanjutnya dibentuk menjadi sebuah tabung yang berdiameter 25 – 30 cm dan tinggi 80 – 100 cm untuk WADAH TEPUNG SAGU. tangkai daun nipah dijemur sampai kering. 1 Cara pemanfaatan Buah mudah dibelah air dan daging dimakan dan diminum dengan rasa seperti buah kelapa muda Malai dipotong kemudian disadp untuk mengahsilkan nira (bobo). cabang anak daun 5 Perkakas anak – anak daun dijahit pada bahan mudah lentur dengan panjang 50 – 60 cm. tangkai daun dibersihkan selanjutnya ditancapkan sepanjang bentangan jaring sebagai penahan jaring agar tidak terbawa arus air pasang dan surut atau dipotong sesuai ukuran para – para lalu disusun sebagai tempat duduk saat memancing ikan. Pemanfaatan komponen flora pada ekosistem mangrove oleh masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.43 . dipotong sesuai ukuran kemudian dirakit sebagai dinding Untuk para-para (tempat duduk).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berikut adalah rangkuman pemanfaatan komponen flora pada ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. pondok. sejenis minuman tradisional/lokal tangkai daun dipotong kecil. dikuliti. Bahan baku pembuatan atap dan kajang (dinding) rumah. seperti disajikan pada Tabel II-18. AYAKAN SAGU. diasapi di atas tungku api. dan perahu yang dapat beratahan 3 – 5 tahun masa pakai Untuk dinding. dibersihkan dibelah menjadi dua bagian selanjutnya dimanfaatkan sebagai pengikat pengganti paku untuk mengikat atap atau kajang Digunakan langsung sebagai tiang rumah Akar dibakar dan arangnya diletakan pada gigi yang sakit Kulit diparut digunakan sebagai obet kudis Anak daun maupun tangkai daun yang telah kering diambil sejanjutnya dibakar Digunakan langsung sebagai kayu bakar Digunakan langsung sebagai kayu bakar Rhizophora sp. Malai Tangkai daun 2 Bahan Bangunan Nypah Fructicans Daun Tangkai daun Bakal tangkai daun (pucuk) Pucuk dibersihkan dari anak daun.

terutama di Kampung Naramasa. Bahan baku pembuatan atap perahu yang dapat beratahan 3 – 5 tahun masa pakai Digunakan langsung sebagai tiang rumah perahu Digunakan langsung sebagai tiang-tiang pancang (belo) untuk ditempatkan jaring trawl dalam kegiatan “pele kali” 7 Perlengkapan perahu tradisional Nypah Fructicans Daun Rhizophora sp. serta berbagai jenis burang dan mamalia.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. Yensei dan Yakati. B. Kondisi ini menyebabkan dalam kehidupan lintas generasi selalu melakukan aktivitas Gambar II-30. Sobrawara. masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar CATB. masyarakat yang bermukim di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni masih tergantung pada ketersediaanya di alam. Peranan kawasan CATB menjadi penting sebagai sumber protein hewani bagi penduduk sekitar. ikan. di Tulang daun 6 Kerajinan Anak daun Anak daun dianyam membentuk kerajinan tangan seperti topi.3. senter serta perahu dayung (kole-kole).44 . rusa (Cervus timorensis). Buaya yang diburu harus memiliki diameter badan antara 12 sampai 20 inci.). Tujuan pemanfaatan Jenis yang dimanfaatkan Bagian yang dimanfaatkan BKSDA Papua II Sorong Cara pemanfaatan sebagai pembungkus untuk memasak (bakar) bahan makanan seperti sagu. Batang Sumber: Hasil survei Tim TNC. Mereka berburu buaya minimal 2 orang (satu perahu) dan berburu pada saat malam hari. Alat yang mereka gunakan berupa tombak. Selain pemanfaatan hasil perikanan berupa ikan. keranjang yang atasnya terbuka (idate) dan tertutup (kirore). dan kepiting. Batang 8 Tiang belo Rhizophora sp. parang. udang. Yakati dan Yensei juga melakukan perburuan buaya di Sungai Naramasa. dan daging. karena ukuran Keadaan Umum Kawasan II . Dalam memenuhi kebutuhan akan protein.3 Tempat Berburu Masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni dengan ekosistem utama adalah manggrove yang kaya berbagai jenis satwa liar seperti babi huta (Sus sp. 2005.6. Dendeng rusa dan babi hutan yang diperoleh dari berburu di hutan sekitar kampung Mamoranu dalam Cagar Alam Teluk Bintuni perburuan maupun penangkapan terhadap satwa liar untuk memenuhi akan protein hewani. Tangkai daun Tulang dibersihkan kemudian dijadikan sendok (gata-gata) yang digunakan untuk mengkonsumsi makanan tradisional (papeda) sebagai sapu untuk membersihkan dalam dan di sekitar rumah.

parang. Rusa dan babi banyak terdapat di hutan dataran rendah di sekitar hutan mangrove. yaitu rusa dan babi. mengindikasikan bahwa permintaan terhadap komoditas tersebut cukup tinggi. buaya Selain diambil kulitnya daging oleh masyarakat serta Para dikonsumsi “tangkur” buaya cukup laku di pasaran.15. B. Gambar II-31.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong badan buaya tersebut yang laku di pasaran. Pola perladangan adalah dengan sistem perladangan berpindah yang Gambar II-32 Lahan kebun dan bekas kebun masyarakat lokal di Kampung Mamoranu yang berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ditanami dengan jenis tanaman semusim. jerat serta anjing. Usaha dari masyarakat untuk melakukan pembesaran anakan buaya sudah mulai dilakukan di kampung Yensei.000/inci. dan Bintuni Timur. Sekarang sekali berburu memerlukan waktu 1 – 2 minggu dan rata-rata hanya memperoleh 3 – 4 ekor. Naramasa. panah.4 Tempat Berladang Ladang dan kebun masyarakat yang terdapat di dalam kawasan umumnya berlokasi/letaknya jauh dari pemukiman. Model Kandang pembesaran anakan buaya di Kampung Yensei. sekitar 7 – 10 ekor anak buaya dimasukan dalam kandang anakan buaya berukuran 4 m x 6 m (Gambar II-31). Distrik Idoor. 15. Dalam berburu rusa dan babi dilakukan secara sendiri maupun berkelompok.45 . Alat yang digunakan berupa tombak.3. harga pasaran sekarang yaitu Rp. Usaha yang dikembangkan oleh masyarakat Yensei. Keadaan Umum Kawasan II . Apabila dibandingkan dengan 5 sampai 10 tahun yang lalu. dan Bintuni ini bisa dikembangkan di Kampung lain atau dikembangkan skala usahanya. Dalam kegiatan ini. Harga kulit buaya saat ini. yaitu rata-rata Rp.000/Kg. daging serta bagian lain dari tubuh buaya hampir hal setiap ini minggu datang ke kampung. hasil masyarakat tangkapan saat ini sudah semakin sulit di dapat. Berdasarkan hasil wawancara dengan yang berburu buaya. Daging rusa dan babi di jual dalam bentuk dendeng. Naramasa. dalam waktu seminggu berburu mereka dapat menghasilkan 7 sampai 10 ekor buaya. pembeli kulit. Perburuan lain terhadap fauna yang ada di kawasan CATB. Ladang atau kebun pada umumnya diusahakan baik oleh masyarakat yang tinggal di luar maupun di dalam kawasan CATB.6. sehingga pola pemanfaatan buaya dengan cara pengambilan dari alam lambat laun bisa dikurangi.

S. maka mereka akan berpindah ke lokasi lahan yang baru dengan lama pengusahaan lahan (masa bera) 1-2 tahun. Tiri. sedangkan marga yang lain hanya memiliki kurang dari 15 % dari total wilayah yang menjadi hak ulayat suku Wamesa (Hasil Survey Tim. Masyewi. S. Tatiri. dan suku WAMESA (marga Fimbay. dan Kemon. Tatitri. Banjar Ausoy. Efredire. sebagai berikut : Pembersihan lantai hutan. Suku Sough yang mendiami kawasan S. Kawab. Menebang pohon–pohon besar yang ada dalam lahan. S. Setelah itu dilakukan penanaman sesuai jenis tanaman yang akan diusahakan. B. Tirasay. dan Pigo.6. Suku ini terutama dari marga Yettu dan Tiri “mengklaim” wilayah hukum adat mereka meliputi wilayah muara Sungai Wasian. Pola pembukaan lahan atau kebun masyarakat secara umum mempunyai beberapa tahapan.0 ha untuk tiap kepala keluarga. kemudian lahan tersebut dibiarkan beberapa waktu tertentu agar bekas ranting pohon dan semak belukar menjadi kering.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong ubi-ubian. Tirasay. Marga Imery meliputi S. menebang pohon-pohon tingkat pancang dan tiang. sayuran dan jenis tanaman buah-buahan dengan rata-rata luas lahan 0. Sungai Sumberi. dan S. Pembakaran dilakukan setelah ranting-ranting pohon dan semak-belukar yang ada sudah Kering dan kemudian hasil pembakaran berupa abu dibiarkan agar terdekomposisi/bercampur dengan tanah yang ada. dan Susumbokop). S. Kindewara. Sirimbe. Manibuy. Wasian. dan S.25 – 1. Simeri. Simeri lebih dikenal dengan panggilan Manikion Parirei. Ranting pohon dan semak-belukar yang ada dikumpulkan pada suatu tempat dalam lahan/kebun dan atau dipinggir. dan suku KURI dari marga Urbon. Bintuni. dan Iba). Sedangkan Marga Iba memiliki wilayah hukum adat mulai dari Sungai Sigirau sampai dengan S. Yettu. Menurut informasi dari tokoh kunci (Andarias Iba) di Kampung Tuasai bahwa tanah yang saat ini menjadi hak ulayat marga Iba merupakan pemberian dari marga Yettu sebagai balas jasa atas bantuan marga Keadaan Umum Kawasan II . S. Tisai. Muturi. margamarga yang memiliki hak ulayat cukup besar di kawasan adalah Susumbokop. 2005). Khusus untuk suku Wamesa.Bintuni hingga S. kawasan ini berada dalam pengelolaan wilayah adat tiga suku besar yakni Suku SOUGH (marga Imeri. Kemon. Anak Kasih. Maboro. S. yaitu menebas semak belukar. Banjar Ausoy. Setelah tanaman dipanen.3 Kepemilikan Lahan Hasil survey lapangan Tim TNC (2005) berhasil mengidentifikasi kepemilikan lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat (Gambar II-33). S.46 . Maboro. Secara tradisional. Waney. Tikamari.

Sobrowara. Peta Kepemilikan Lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat Suku Wamesa khususnya marga Manibuy “mengklaim” bahwa sebelum adanya perang suku wilayah adat mereka mulai dari Sungai Simeri hingga S. Gambar II-33.Jawarupai dan P. Adrian Tatiri) dan Kuri (Bpk.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Iba yang telah ikut membantu menyelesaikan masalah (perang saudara) yang waktu itu dialami oleh marga Yettu. Hal ini terjadi karena menurut sejarah yang diceritakan oleh tokoh adat Wamesa (Bpk. dan Maboro yang berasal dari kampung Yakati “mengklaim” wilayah Gunung Taberay Pulau Nusuama. Sedangkan suku KURI mengklaim wilayah adat mereka meliputi daerah sekitar Sungai Menurut pengakuan orang Kuri. Kemon. Sirimbe. dan S. Manibuy. Marga Tatiri. Sampai saat ini kepemilikan Pulau Modan masih menjadi percebatan antara suku Wamesa dengan Suku Kuri. Anak Kasih yang merupakan pemberian dari marga Imery.47 . P. Susumbokop. Modan. Masyewi yang berasal dari kampung Yensei “mengklaim” wilayah hukum adat mereka meliputi Pulau Maniai. S. adalah milik orang Yensei ( Suku Wamesa). Keadaan Umum Kawasan II . Pulau Kaboi sampai dengan Sungai Kodai. Set Efredire). Marga Fimbay. Pulau Modan pada jaman kerajaan Tidore merupakan pusat pemerintahan daerah kekuasaan kerajaan Tidore di Irian. Modan. Hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat (Bernadus Sioho) bahwa hal yang sama juga terjadi pada marga Sioho yang memiliki hak ulayat di daerah Sungai Tikamari dan S. Kedua suku tersebut mengklaim bahwa suku merekalah yang punya hanya aulat di Pulau Modan tersebut. Pulau Modan Naramasa.

Tessa. Kesepakatan mengenai batas tanah adat perlu segera dilakukan agar tidak terjadi “konflik” antar ketiga suku dimasa yang akan datang. Transportasi Udara Di Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni terdapat sebuah lapangan terbang dengan konstruksi aspal yang bisa di darati oleh jenis Pesawat Twin-Otter (Gambar II. Disamping itu juga tersedia sarana transportasi roda dua (ojek) yang melayani penumpang umum Gambar II-35. bahwa kesepakatan mengenai batas tanah adat harus segera dilakukan agar tidak terjadi konflik antar suku.Sos. Darat dan Sungai/Laut. B. Distrik Idoor. Selain itu juga bisa menggunakan pesawat carteran jenis cesna milik AMA dari Manokwari.48 . belum merupakan batas adat yang mutlak. Sarana transportasi darat jenis land cruiser (hardtop) yang melayani transportasi Manokwari-Bintuni PP Keadaan Umum Kawasan II . dengan frekuensi penerbangan sekali seminggu (Kamis) dari manokwari dan hari Minggu dari Sorong. apabila cuaca buruk maka setiap maskapai tidak jadi Gambar II. Sarana transportasi udara jenis TwinOtter di pelabuhan udara kota Bintuni yang melayani penerbangan ke dan dari kota Bintuni melakukan penerbangan .34) dan Cesna. Akan tetapi transportasi udara di Kabupaten Teluk Bintuni sangat tergantung dari cuaca.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Batas-batas kepemilikan tanah adat tersebut.S. Hal tersebut diakui juga oleh Kepala Bidang Sosekbud Bappeda Teluk Bintuni Bpk. dan dimasa yang akan datang Bappeda Teluk Bintuni akan mencoba memfasilitasi hal tersebut.34. Penerbangan reguler ke kabupaten Teluk Bintuni dilayani oleh maskapai Merpati Nusantara. Distrik Kuri) yang terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Karena sampai saat ini belum dilakukan kesepakatan antara ketiga suku besar tersebut. Tansportasi Darat Untuk mencapai kampung-kampung terdekat di sekitar Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni dapat di tempuh dengan menggunakan kendaraan umum roda empat (taxi) dengan jumlah armada yang terbatas.7 Sarana dan Prasarana Transportasi Sarana transportasi yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni khususnya di 3 Distrik (Distrik Bintuni. terdiri dari sarana Transportasi Udara.

Wasian S.Tatawori-LautS. Jumlah dan jenis sarana transportasi darat yang ada di Kota Bintuni disajikan pada Tabel II.Tatawori-LautS.Yensei-S.Yakati-S.Wasian S. perahu motor Sungai & laut. Keadaan transportasi jalan kota Bintuni adalah jalan beraspal (sebagian besar sudah rusak) sepanjang 13 km yang menghubungkan lokasi-lokasi pemukiman penduduk.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam kota dan ke kampung di sekitar kota Bintuni. Sarana transportasi laut/sungai jenis longboat yang digunakan masyarakat di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni. Sedangkan transportasi darat yang melayani penumpang umum yang akan berpergian ke luar kota/Kabupaten Teluk Bintuni khususnya Manokwari menggunakan Hardtop (Gambar II-35) dengan waktu tempuh 12 – 16 jam.Anak kasih-S. Akses beberapa kampung di sekitar Cagar Gambar II-36. perahu motor Sungai & laut.Kamisayo-Laut-S. khususnya kampung-kampung yang berada di wilayah pemerintah Distrik Idoor dan Kuri. perahu motor Waktu Tempuh 3 jam 2. Alam Teluk Bintuni ke pusat kota Kabupaten Teluk Bintuni menggunakan sarana transportasi sungai/laut disajikan pada Tabel II-19. perahu motor Sungai & laut. perahu motor Sungai & laut.Manibuy-LautS.Wasian Sumber: Hasil survei tim TNC. Papua. Unipa.20. Naramasa-Laut-S. No 1 2 3 4 5 Kampung Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Sarana dan Jenis Transportasi Sungai & laut.Wasian S. Sarana dan Jenis Transportasi Kampung di sekitar CATB ke Ibukota Distrik dengan saran Transportasi Sungai/Laut. Pemda Manokwari. Keadaan Umum Kawasan II . 2003). Sarana transportasi utama adalah perahu motor atau longboat (Gambar II-36) dan perahu dayung. Tabel II-19. Sarana transportasi darat yang menghubungkan Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni dengan Kabupaten terdekat (Kabupaten Manokwari) adalah jalan timbunan (pengerasan) dan jalan beraspal 74 km 126 km (Pemda Prov.49 . 2005. Tansportasi Sungai/Laut Peran sarana transportasi sungai/laut sangat penting untuk kampung-kampung di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB).5 jam 4 jam 4 jam 6 jam Keterangan S. sedangkan jalan yang menghubungkan ibukota Kabupaten Teluk Bintuni dengan kampung-kampung di sekitarnya adalah jalan tanah timbunan dan jalan tanah yang dipadatkan. CRMP.

Tabel II-20. Nilai ekonomi total (total economic value = TEV) merupakan jumlah dari nilai pemanfaatan (use value = UV) dan nilai non pemanfaatan (non-use value = NUV). Jalur pelayaran reguler dari dan ke Bintuni yang dilayani oleh PT Pelni dan pelayaran swasta lain No 1 2 3 4 5 Nama Kapal KM Papua III KM Lady Marina KM Bintang Satya KM Raflesia* KM Semuel* Trayek Mkw-Sorong-Babo-Bintuni-Kokas-Fakfak (PP) Merauke-Agats-Timika-Tual-Kaimana-Fakfak-Bintuni-Sorong (PP) Sorong-Babo-Bintuni-Kokas-Fakfak (PP) Bintuni-Babo-Kelapa Dua-Sorong Belum dioperasikan Sumber: Hasil survei tim TNC. Jalur pelayaran yang mempunyai akses dari dan ke Teluk Bintuni melalui Sorong adalah pelayaran reguler PT PELNI dan pelayaran swasta lain seperti disajikan pada Tabel II-20. 2005.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Selain itu untuk transportasi laut antar kabupaten. Sehingga semua pihak merasa perlu untuk melestarikan kawasan CATB. UV adalah jumlah dari nilai pemanfaatan langsung (direct use value = DUV). Sedangkan. nilai pilihan (option value = OV). pendekatan biaya ganti Keadaan Umum Kawasan II . Pendekatan yang digunakan dalam melakukan penilaian manfaat kawasan CATB (ekosistem hutan mangrove) didekati dengan menggunakan konsep penilaian ekonomi total (total economic valuation) dari produk barang dan jasa yang berguna (use value) dan yang tidak berguna secara langsung (non use value) .Teluk Bintuni telah memiliki sebuah dermaga/pelabuhan. * Armada Milik PEMKAB Teluk Bintuni B.50 . pasar pengganti. karena mayoritas kawasan merupakan hutan mangrove. agar generasi yang akan datang masih dapat memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. nilai pemanfaatan tidak langsung (indirect use value = IUV). NUV adalah jumlah dari nilai eksistensi (existensi value = XV) dan nilai warisan (bequest value = BV). Pendugaan nilai ekonomi kawasan CATB dilakukan hanya pada hutan mangrovenya. Dengan demikian nilai ekonomi total dapat diformulasikan sebagai berikut: TEV = UV + NUV = (DUV + IUV + OV) + ( XV + BV) Pendekatan penilaian dalam perhitungan nilai manfaat kawasan CATB (ekosistem hutan mangrove) melalui perhitungan nilai total ekonomi yaitu menggunakan pendekatan produksi dan nilai pasar (productivity and market values).8 Pendugaan Nilai Ekonomi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Pendugaan nilai ekonomi kawasan CATB perlu dilakukan agar semua pihak mengetahui betapa besarnya manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan.

Keadaan Umum Kawasan II . ekosistem hutan mangrove juga memiliki “keunikan” dan berfungsi secara sosial dan ekonomi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong (replacement cost). Camillle Bann (1999) mencoba membaginya kedalam 3 domain yaitu: (i) fungsi produksi yang berkelanjutan. Sementara penilaian manfaat potensial dikawasan CATB dihitung dengan pendekatan asumsi dalam penilaian ekonomi (Tabel II-22). biaya di sekitar kawasan CATB. Fungsi dan Manfaat Lingkungan Ekosistem Mangrove Fungsi Produksi Berkelanjutan Kayu bakar Arang Fungsi Pembawa dan Pangatur Pengendali erosi Penyerap dan recycle limbah manusia dan polutan lainnya Ikan Udang Tannin Nipa Obat-obatan Perburuan tradisional. produksi.51 . sejaran dan pengembangan ilmu pengetahuan Habitat bagi penduduk asli Tempat rekreasi Memelihara biodiversity Tempat migrasi habitat Tempat pemijahan dan pembibitan Supplai unsur hara (nutrient) Regenerasi nutrien Melindungi dan memelihara terumbu karang Perhitungan nilai ekonomi dari setiap jenis manfaat ekosistem hutan mangrove untuk nilai aktual didasarkan atas asumsi-asumsi pada tingkat harga. Mencermati manfaat yang dapat dihasilkan dari ekosistem mangrove. dan contingen valuation method dengan memanfaatkan data hipotetik mengenai kesediaan membayar dan menerima (willingness to pay/ WTP and willingness to accept/ WTA) dari pengguna sumberdaya ekosistem hutan mangrove. Table II-21. penangkapan ikan dan pengumpulan produk Sumberdaya genetic Sosial Ekonomi/ Fungsi Konversi Industri dan penggunaan lahan Tambak Usahatani padi Fungsi Informasi Informasi religius dan spiritual Inspirasi artistic dan budaya Informasi pendidikan. Dalam terminologi yang sifatnya holistik. Klasifikasi manfaat dan fungsi dari ekosistem mangrove ini. selanjutnya dapat kita lihat pada Tabel II-21. (ii) fungsi pengatur lingkungan. dan (iii) fungsi Informasi.

Nilai manfaat keberadaan habitat mangrove US$ 2516/ha/thn (Meilant. 9. 9500 /US$ 3 Ikan 104837 11 6291000 Asumsi penilaian diatas dimasukkan unsur biaya yang merupakan biaya proses produksi seperti tenaga kerja. Biaya 45% dari penerimaan Keterangan : Produksi ikan dan udang (1178 dan 1495 ton/tahun) merupakan produksi total perairan Teluk Bintuni 2003 (Sumber : Atlas Sumberdaya Pesisir). 9500/US$).7.000/kg. 6. dikonversi (Rp. 50. dibagi dengan luas areal mangrove (112. harga atap daun nipah Rp. Burung) 8 9 Pengendali Erosi Penyerapan Carbon 95937 3441763 789976 129024 76200 127264 Produksi 1495 ton/tahun. diasumsikan potensi yang digunakan untuk chip yaitu 80% yaitu 86 m3/ha.000. yang sering digunakan sebagai bahan bangunan harga Rp. biaya 30 % dari penerimaan 2 Atap Daun Nipah 240000 Produksi 150 bengkawang/ha/thn. chipwood plant = 300.5.5 juta/KK/ tahun. harga carbon/kg = US $ 10/ton. dengan luas areal nipah 480 ha Produksi 1178 Ton/thn.365 ha (157Pohon(Batang)/ha) jenis Rhizopora sp. biaya 20% dari penerimaan Didasarkan pada pendapatan penggunaan lokal (berburu dan meramu) Rp. 2000/bengkawang. biaya 20% dari penerimaan Produksi 19. serta biaya produksi lainnya.9 juta/KK/ tahun (2200 KK).05 kg/ha/thn dengan harga rata-rata Rp. harga rata-rata Rp. Sementara jenis manfaat bahan bangunan dan chip merupakan nilai potensial. Potensi tegakan mangrove marupakan potensi keseluruhan jenis dan diasumsikan semua dipakai untuk chip 2 Chip 17974000 142500 Nilai biodiversitas hutan mangrove perhektar US $ 1500 km2/thn atau sekitar US $ 15/ha/tahun (Ruitenbeek.15. 2003) dan potensi tegakan 66 m3/ha. dibagi dengan luas areal mangrove Penilaian berdasarkan produktivitas pertanian lokal Rp. Jenis manfaat kayu bakar. 1996) Konversi Rp.10.04 ekor/ha/thn dengan harga Rp.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-22. 9500/US$). dibagi dengan luas areal mangrove (112. Asumsi Dasar Penilaian Jenis Manfaat Hutan Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn) 1 Kayu Bakar 2188 Cagar Alam Teluk Bintuni (Hutan Mangrove) Asumsi Dasar Penilaian Manfaat (Aktual) Luas mangrove 112. 9. Ikan besar (kakap merah) Rp. 1991) konversi Rp.365 ha .52 .500/US$ 10 Manfaat pilihan biodiversitas Manfaat Keberadaan Habitat No Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn) 1 Kayu Bangunan 942000 Cagar Alam Teluk Bintuni (Hutan Mangrove) Asumsi Pendugaan Nilai Potensial Luas mangrove 112.365 ha) 4 5 6 7 Udang Kepiting/Karaka Kerang/bia Satwaliar (Buaya.000/Batang. harga US$ 6. Produksi 0.000/ekor. jumlah penduduk 2200 KK.473 ha (rotasi 20 thn).0625 m3/ha/th harga Rp.000/ekor (2 Kg) Jadi Harga rata-rata Rp 10.Potensi Luas panen tegakan mangrove 22. biaya sekitar 20% dari penerimaan. Keadaan Umum Kawasan II . konvers Rp. dikonversi ke dalam tegakan mangrove per hektar (107 m3/ha).926 kg/ha di Riau (E. Babi.500/US$. 4. 10000/Tali (2 Kg) = Rp 5.000/kg. dibagi luas areal mangrove Diproksi dari kandungan karbon hutan mangrove 19.Hilmi. Rusa.000/m3.000 m3/thn harga ekspor chip = US $ 40/m3.25/kg (konversi Rp.365 ha) Produksi 23. Biaya 40% dari penerimaan Potensi tegakan mangrove 107 m3/ha. sagu sampai dengan satwa liar merupakan nilai aktual yang selama ini telah ada dan dimanfaatkan oleh masyarakat.

Manfaat langsung yang ada di kawasan juga ada yang tidak bisa dimanfaatkan dan ini dikategorikan sebagai manfaat potensial atau manfaat kesempatan.125.000 1. Tabel II-23.294.915 Manfaat Ekonomi Kawasan Sumber : Perhitungan data lapangan Manfaat Ekonomi (Rp) Total Kawasan 16.338.000.699.176.497.058.240.404.000 2.673.000 3.400 23.333 6. Sebagai kawasan konservasi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Sebagai suatu sumberdaya.984 39.508.269. penilaian ekosistem mangrove didasarkan kepada manfaat dan fungsi-fungsi yang dihasilkan.825 18.041.479.780. Penilaian total manfaat ekonomi dari ekosistem hutan mangrove meliputi penilaian manfaat langsung. Total nilai ekonomi yang dihitung yaitu nilai aktual dan nilai potensial. diketahui bahwa total nilai ekonomi ekosistem mangrove dapat dibedakan menjadi manfaat langsung dan tidak langsung.233.000 2.100 384.200 17.800 328.895 Berdasarkan hasil analisis data Tabel II-23.667 5.150.708.939 5.779. ekologis.322. baik fungsi produksi.853.901 14. Yang termasuk kedalam nilai ini adalah manfaat kayu jika digunakan sebagai bahan baku chip dan kayu bangunan.833 10.300.960. dan fungsi sosial ekonomi.791.000 330.425.720 2. kayu dari Cagar Alam Teluk Bintuni tidak bisa dimanfaatkan sebagai Keadaan Umum Kawasan II .892.53 .000 11.633.935.522.000.247.937 2.160 211.563.992 2.980 Manfaat Tidak Langsung 1 2 3 4 5 6 Perangkap sedimen Penyerapan Karbon Manfaat Pilihan Biodiversitas Manfaat Keberadaan Habitat Penahan abrasi Pencegah Intrusi 95.000 306.318.926.225. manfaat pilihan dan manfaat keberadaan.392 1. Nilai potensial diaproksimasi dengan menghitung manfaat potensial yang ada dan atau berpeluang dikembangkan jika masyarakat dapat memanfaatkan secara optimal. manfaat tidak langsung.810.522. Prediksi Nilai Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan CATB Jenis Manfaat Ekonomi per Ha Manfaat Langsung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kayu Bangunan Chip Kayu Bakar Atap Daun Nipah Ikan Udang Kepiting/Karaka Kerang/Bia Satwa Liar 150.990.442.296 3.200 20.126 31.715 238.297 4.444 576.727.916 158.652.000 620. Nilai aktual adalah nilai pemanfaatan hutan mangrove saat ini.192 26.000 694.402. Keragaan nilai manfaat ekosistem mangrove kawasan CATB dapat dilihat pada Tabel II-23.

3. Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian yang komprehensif tentang nilai manfaat ekonomi kawasan CATB.727. Keragaan nilai ekonomi manfaat langsung (aktual dan potensial) hutan mangrove menurut jenis dirinci sebagai berikut: nilai tegakan hutan mangrove sebesar 89. Jika dicermati maka terlihat dari manfaat langsung dan tidak langsung. BKSDA Papua II Sorong Kehilangan kesempatan ini akan menghasilkan manfaat langsung bagi penduduk dan manfaat jasa lingkungan yang nilainya jauh lebih besar. Nilai ini diprediksi masih lebih rendah. Sementara manfaat pilihan terhadap keanekaragaman hayati hutan mangrove sebesar Rp. Permasalahan Hasil pengamatan dan wawancara langsung dengan masyarkat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) mengindikasikan adanya beberapa Keadaan Umum Kawasan II . atap daun nipah.915/Ha/Tahun). babi dan burung) Nilai manfaat tidak langsung (aktual dan potensial) hutan mangrove sebagai fungsi pengendali erosi Rp. Meskipun dari hasil pendugaan nilai manfaat ekonomi hasil perikanan. Secara nilai ekonomi memang kayu mangrove untuk kayu bakar. Oleh karena itu kelestarian hutan mangrove perlu dijaga terus agar nilai atau manfaat lain yang diperoleh selain nilai tegakan mangrove dapat tetap diperoleh.1% yaitu dari atap daun nipah.916 /ha/tahun.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sumberdaya kayu terutama untuk kegiatan komersial.72%). 2. maka manfaat langsung hanya mencapai 18. 14. karena belum semua manfaat hutan mangrove diperhitungkan seperti nilai manfaat obatobatan.3% (Rp. rusa. dan sebagai penyerap carbon Rp. 158. 95. hasil perikanan dan satwa liar (meliputi ikan. kayu bangunan dan chip menunjukan nilai terbesar akan tetapi nilai tersebut hanya jangka pendek (sesaat). 6.176. satwa liar dan atap daun nipah relatif cukup kecil akan tetapi nilai tersebut sangat penting karena merupakan nilai manfaat langsung yang setiap hari dirasakan oleh masyarakat didalam dan sekitar kawasan CATB untuk menunjang kehidupannya sehari-hari. kerang/bia. udang.54 .9% meliputi manfaat kayu bakar. Nilai manfaat langsung yang dimanfaatkan masyarakat dari kawasan mencapai 10. kayu bangunan dan chip. perlindungan spesies langka serta hutan dataran rendah yang luasnya ±10% dari luas kawasan. kepiting/karaka.425. satwa liar serta manfaat tidak langsung seperti pengendali erosi. C. buaya. Analisis pendugaan terhadap nilai hutan mangrove Kawasan CATB merupakan gambaran awal berapa besar nilai manfaatnya secara ekonomi .333/ha/tahun dan keberadaan habitat ekosistem hutan mangrove agar tetap tersedia mempunyai nilai ekonomi Rp.7% (Rp. konservasi habitat.937/ha/tahun. sebagai penyerap karbon serta nilai manfaat pilihan keanekaragaman hayati dan keberadaan habitat akan hilang.667 /ha/tahun (20. Hal yang paling penting adalah bila hutan mangrovenya hilang maka nilai manfaat lain seperti hasil perikanan.980/Ha/Tahun) sedangkan manfaat tidak langsung dari jasa lingkungan mencapai 81.892.

1 Letak Kawasan Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa letak kawasan Cagar Alam TB yang sangat dekat dan pada beberapa bagian langsung berbatasan dengan pemukiman penduduk. C.37”).1.1. pengelolaan DAS. C. Hal ini bisa di kategorikan sebagai ancaman (threat) bagi keberadaan kawasan saat ini dan masa datang. Untuk keperluan Tempat Penimbunan Kayu (TPK) atau logyard beberapa industri perkayuan tersebut membuka beberapa bagian Cagar Alam Teluk Bintuni terutama pada ekosistem hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove.1 Fisik Permasalahan fisik yang dimaksud di sini adalah kondisi fisik kawasan saat ini yang telah mengalami ganguan yang dapat mengancam keberadaan kawasan Cagar Alam seperti letak kawasan. Kondisi Mamuranu (Koordinat: S 20 14’8. C.2 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Secara fisik.092S 20 03’ 0. Pembukaan lahan hutan dataran rendah untuk logyard kegiatan logging di dekat Kampung Tirasai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil pengamatan di lapangan juga menunjukan bahwa letak kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga berbatasan langsung dengan hutan produksi yang merupakan areal penebangan beberapa Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seperti PT Yotefa Sarana Timber di bagian Utara. dan tumpang tindih kawasan. PT Bintuni Utama Murni Wood Industries (PT BUMWI) di bagian selatan dan PT Manokwari Lestari di bagian Timur. Kampung Anak Kasih (Koordinat: menyebabkan aksesibilitas masyarakat di sekitar ke kawasan sangat mudah dan sedikit mengalami kesulitan dalam pengawasanya sehingga tekanan terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sangat besar.09’’).31’’ dan E 1330 51’ 6. Kampung-kampung yang letaknya dalam kawasan adalah Kampung E133 56. pada Keadaan Umum Kawasan II .55 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong permasalahan serius yang sedang terjadi di kawasan. di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mengalir beberapa sungai besar dan kecil yang bermuara di perairan Teluk Bintuni dan mempunyai fungsi sebagai sarana transportasi bagi masyarakat lokal.71’’ dan E 1330 58’6. Kampung Tirasai (Koordinat: S 20 03’ 2. Hasil pengamatan di lapangan serta informasi dari masyarakat.69’’ dan E 1330 56’ 0.92’’). infrastruktur. Bahkan beberapa kampung yang didiami oleh penduduk asli letaknya berada dalam kawasan. Gambar II-37.

yaitu degradasi dan perubahan struktur hutan dataran rendah. Keadaan Umum Kawasan II . dan faktor sosial budaya. Hal ini diduga karena pengusahaan hutan yang tidak memperhatikan aspek kelestarian lingkungan banyak terjadi pada ekosistem hutan hujan dataran rendah yang menyimpan potensi jenis-jenis kayu yang bernilai komersial. Aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya permasalahan tersebut.2 Biologi Hal Permasalahan internal biologi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih belum terlihat. C. Infrastruktur yang ada saat ini hanya berupa satu buah pondok kerja berukuran 36 m2 yang sekaligus merupakan rumah tinggal kepala resort KSDA Bintuni. Pengendapan lumpur (sedimentasi) yang membentuk delta di muara S. dilakukan para Kegiatan ini umumnya pemegang HPH dan Kopermas yang memiliki konsesi di sekitar CATB. Permasalahan biologi yang bisa terlihat adalah permasalahan karena faktor eksternal yang terjadi karena bukan merupakan hubungan antar ekosistem atau spesies .56 . degradasi sebagian kecil hutan mangrove. dan penurunan populasi beberapa jenis satwa tertentu disebabkan oleh aktivitas manusia.3 Infrastruktur Hasil pengamatan di menunjukan bahwa infrastruktur pendukung dalam kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dengan luasan yang cukup besar (124. 850 ha) sangat kurang memadai. Hasil pengamatan di lapangan berhasil diidentifikasi beberapa permasalahan yang dihadapi pada ekosistem/flora/fauna yang berada di dalam kawasan. ini karena sebagian besar ekosistem penyusun kawasan terutama ekosistem mangove sebagai komponen ekosistem utama masih alami dan terpelihara dengan baik. Hal ini mengindikasikan besarnya tingkat erosi yang terjadi pada daerah hulu (upland) sebagai akibat “laju pengrusakan” lahan hutan yang tak terkendali. Bintuni/Wasian di dalam Kawasan CTAB C. Akibatnya substrat yang terbawa banjir di musim hujan akan menumpuk membentuk delta di muaramuara sungai di perairan Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong saat musim penghujan sungai-sungai tersebut seringkali meluap dan airnya berubah warna coklat-keruh. yaitu pembukaan lahan untuk keperluan tempat penimbunan kayu oleh pengusaha HPH di sekitar kawasan. Hal ini sangat mempengaruhi kegiatan pengelolaan terutama dalam hal pengawasan dan perlindungan kawasan. gejala alam.1. Gambar II-38.

Penangkapan Hasil Perikanan yang Tidak Ramah Lingkungan Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Sosial Ekonomi dan Budaya Kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar sangat berpengaruh besar terhadap kelestarian CATB.3. Kondisi sosial budaya ini telah menciptakan suatu interaksi dengan kawasan dalam bentuk pemanfaatan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan maupun ekosistemnya. babi hutan. seperti pembuatan tiang-tiang rumah tradisional dan tiang pagar rumah. di sekitar CATB menempati urutan kedua (18. Akan tetapi karena hal tersebut sudah dilakukan sebelum ditunjuk adanya kawasan CATB. terutama mata pencaharian yang wilayah kerjanya berada di dalam kawasan. Karena hal ini berhubungan dengan adanya pengambilan beberapa jenis flora dan fauna. kasuari) dan fauna perairan (seperti ikan.1. Pemanfaatan jenis-jenis flora oleh masyarakat lebih tertuju pada kayu sebagai bahan bakar dan juga bahan bangunan. Oleh karena itu banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya Masyarakat yang bermata pencaharian nelayan II . penebangan liar. C. pemukiman dan perladangan oleh penduduk lokal di dalam dan sekitar kawasan. adanya perkampungan logyard (tempat penimbunan kayu) di dalam kawasan. dan pembangunan infrastruktur lain. Keadaan Umum Kawasan . Sedangkan pemanfaatan ekosistem hanya dilakukan oleh mayarakat lokal yang bermukim di dalam kawasan untuk keperluan tempat berkebun. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa terdapat beberapa bagian dari ekosistem mangrove. udang. telah mengalami kerusakan/hilang yang diakibatkan oleh terpaan angin dan pengikisan pinggiran sungai oleh ombak pada saat musim angin. Terganggunya beberapa bagian ekosistem mangrove juga sebagai akibat gejala alam yang disebabkan oleh angin dan erosi pinggiran sungai. dimana menurut peraturan yang ada sebenarnya hal itu dilarang. kepiting.82 %).57 dalam mengambil hasil perikanan. Faktor lain yang memberi andil dalam permasalahan lingkungan biologi kawasan adalah sosial budaya.3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemumahan. maka pengaturan yang melibatkan dan diterima semua pihak harus dilakukan. terutama pada daerah-daerah dengan sungai yang terbuka luas. C. rusa dan beberapa jenis burung). kerang). Beberapa permasalahan sosial ekonomi dan budaya terhadap CATB adalah menurunnya hasil tangkapan dan buruan sebagai akibat dari praktek penangkapan hasil perikanan yang tidak ramah lingkungan dan perburuan satwa liar (buaya. serta tumpang tindih antara batas kawasan dengan penggunaan lahan lain. Pemanfaatan fauna lebih terfokus pada perburuan satwa liar (seperti rusa. masyarakat lokal telah lama dan secara turun temurun bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Mamuranu. Rusa. Yakati sampai ke dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. yaitu Sungai Sobrawara. Hal ini diduga disebabkan oleh kegiatan penangkapan hasil yang tidak memeperhatikan kelestarian lingkungan yang dapat berdampak pada menurunnya populasi biota perairan.3. Babi dan beberapa jenis burung).850 hektar) serta belum adanya koordinasi dengan aparat penegak hukum lain (Kepolisian dan Koramil) membuat penegakan hukum sangat lemah. dimana dahulu hanya 15 sampai 30 menit dari perkampungan. dimana hampir setiap minggu datang para pengumpul kulit buaya yang berasal dari Babo dan Bintuni untuk selanjutnya dikumpulkan di Sorong lalu di jual ke Surabaya. Berdasarkan pengamatan di lapangan serta informasi dari pengelola kawasan dan beberapa nelayan lokal. Menurut informasi dari beberapa nelayan di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni. Selain itu daerah tangkapan sudah semakin jauh. hasil tangkapan ikan sudah semakin menurun bila di bandingkan dengan beberapa tahun lalu (3-5 tahun lalu). jaring berlabuh dan pancing. indikasi penangkapan ikan dengan menggunakan racun serangga (insektisida). Cara-cara penangkapan ikan yang merusak tersebut belum diberikan sangsi hukum yang tegas.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong menggunakan alat tangkap jaring untuk “pele kali” . berhasil diidentifikasi beberapa praktek penangkapan adalah penggunaan akar bore ini dilakukan pada saat “pele kali” yang membuat ikan-ikan tersebut mabuk sehingga mudah diambil. Yakati. Berdasarkan hasil wawancara dan survei lapangan. II Resort Bintuni) yang hanya ada satu orang petugas dengan luas kawasan yang sangat luas (124.5 sampai 1 ember”. Minimnya sarana dan prasarana aparat (BKSDA Papua. Adanya Perburuan Buaya. Yakati dan Yensei. terutama masyarakat di Kampung Naramasa. C. khusus untuk buaya diburu terutama oleh masyarakat Naramasa. Permintaan akan kulit buaya menurut informasi dari masyarakat Naramasa masih cukup tinggi. serta penggunaan pukat harimau (trawler) oleh perusahaan udang sampai ke dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . Masyarakat tersebut berburu sepanjang Sungai Naramasa. ada yang bermatapencaharian dalam berburu (Buaya. Anak Kasih dan Tirasai.2. Yensei. serta menggunakan akar bore (tuba).58 . Keadaan Umum Kawasan II . alat yang digunakan berupa tombak dan perahu tanpa mesin (kole-kole). Hasil tangkapan yang dulu masih mendapat “ 2 sampai 3 ember” sekarang hanya dapat “0. Rusa dan Beberapa Jenis Burung Masyarakat yang berada di sekitar kawasan CATB. sekarang sudah memerlukan waktu 1 jam lebih bahkan sampai ke sekitar Teluk Bintuni.

Nusuamar dan Modan. Menurut hasil wawancara dengan beberapa Gambar II-39. biasanya di jual dalam bentuk dendeng. Anak Kasih dan Tirasai. dalam 1-3 hari berburu bisa mendapatkan 5-10 ekor. rusa dan beberapa jenis burung dimana fauna tersebut merupakan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di CATB. sedangkan untuk burung menggunakan senapan angin. Cara masyarakat tersebut dalam berburu dilakukan dengan dua cara yaitu berburu sendiri dan berkelompok (5-10 orang). Hasil buruan waktu lalu (5-10 tahun yang lalu). seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk. C.59 . rusa dan beberapa jenis burung. Alat yang BKSDA Papua II Sorong sering digunakan untuk berburu rusa dan babi yaitu panah. rusa dan beberapa jenis burung sudah semakin berkurang. anjing dan parang. tombak. Dengan keberadaan ketiga kampung tersebut. Adanya Perkampungan di dalam Kawasan Berdasarkan hasil survei lapangan menunjukan bahwa ada beberapa kampung (desa) yang berada di dalam kawasan CATB yaitu Kampung Mamuranu. maka hal ini dapat mengancam kelestarian terutama buaya.3. Mamuranu) yang terletak di dalam Kawasan CTAB dalam sehari-hari akan sangat tergantung pada sumberdaya alam yang ada di dalam CATB. Hasil tangkapan rusa dan babi. serta tingginya permintaaan atas hasil buruan tersebut menyebakan jumlah buaya. maka masyarakat tersebut yang tinggal melakukan di kampung aktivitasnya Gambar II-40 Salah satu Kondisi Pemukiman penduduk (K.3. dengan tingginya tingkat perburuan buaya. Berdasarkan kondisi diatas. Keberadaan kampungkampung tersebut terutama Kampung Mamuranu memang sudah ada sebelum adanya penunjukan CATB. babi dan beberapa jenis burung. tapi sekarang mereka memerlukan waktu yang lebih lama (1-2 minggu) dengan hasil 1-2 ekor ataupun tidak dapat hasil buruan sama sekali. Selain Keadaan Umum Kawasan II . Masyarakat baru pulang berburu di dalam Kawasan CATB masyarakat yang bermatapencaharian berburu.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Sedangkan rusa. diburu di dalam kawasan CATB terutama di sekitar Pulai Maniai. jerat.

4.3. Hal tersebut akan menambah jumlah masyarakat yang akan tinggal di dalam kawasan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong itu dengan “dibentuknya” perkampungan baru seperti Kampung Anak Kasih dan Tirasai di dalam CATB.60 . lebih dari 60% responden (46 responden atau 65. Tumpang tindih antara Batas Kawasan dengan Penggunaan Lahan lain.3. Oleh karena itu dalam rangka rencana pengelolaanya. Hal ini terjadi karena tidak adanya koordinasi antara pihak transmigrasi dengan BKSDA Papua 2 Resort Bintuni pada saat penetapan LU 2 tersebut serta belum dilaksanakannya proses tata batas. HPH/IPKMA tersebut mengeluarkan kayu untuk selanjutnya di kumpulkan disuatu tempat yang disebut Keadaan Umum Kawasan II . tanpa adanya koordinasi khususnya dengan BKSDA resort Bintuni. Pemukiman transmigrasi yang ada di sebelah Utara batas kawasan CATB mulai tahun 1994. maka diperlukan proses penataan batas ulang dimana dalam prosesnya melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan serta adanya proses sosialisasi. C. Adanya Tempat Penimbunan Kayu (Logyard) di dalam Kawasan Adanya hak pengusahaan hutan (HPH) mulai Tahun 1990 dan IPKMA (Izin Pemanfaatan Kayu Masyarakat Adat)/ Kopermas (Tahun 2002) yang berada di sekitar serta bagian hulu CATB memberikan dampak yang cukup besar terhadap kelestarian CATB. Hal ini menunjukan Gambar II-41 Diskusi dengan Masyarakat Banjar Ausoy tentang Tumpang Tindih LU 2 dengan Batas kawasan CATB bahwa proses penataan batas tahap 1 tahun 1997 (tata batas persekutuan) batas Utara dan Timur serta tahap 2 tahun 1999 batas Barat dan Selatan. Kondisi diatas diperburuk dengan adanya pembuatan “perumahan sosial” oleh pihak Pemda Propinsi Papua pada tahaun 2003.7%) kurang mengetahui adanya batas kawasan CATB.4. sehingga semakin besar sumberdaya alam yang akan diambil yang selanjutnya menyebabkan jumlah dan jenis flora maupun fauna di dalam kawasan CATB semakin menurun. C. akan semakin bertambahnya masyarakat yang tergantung terhadap sumberdaya alam dalam aktivitasnya sehari-hari. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di semua kampung yang ada di sekitar kawasan. memberikan permasalahan yaitu adanya lahan usaha 2 (LU 2) Kampung Banjar Ausoy SP 4 (200 hektar) dan Waraitama SP 1 (160 hektar) masuk kedalam kawasan. dengan dibangunnya 54 rumah semi permanen di Kampung Anak Kasih (di dalam kawasan CATB). belum tersosialisasi dengan baik atau kurang melibatkan masyarakat setempat.

dimana bentuk kotanya memanjang dari Barat ke Timur. Keberadaan Logyard tersebut mengakibatkan datangnya masyarakat untuk tinggal di sekitar Logyard tersebut. Berdasarkan dokumen RDTRK Kota Bintuni. Logyard Sumberi dibuat oleh IPKMA/Kopermas. “generator” aktivitas baru yang muncul sebagai akibat keberadaan kawasan pusat Keadaan Umum Kawasan II .61 . Karena sarana angkutan selanjutnya untuk membawa kayu keluar Bintuni menggunakan transportasi sungai dan laut. karena jalan darat telah dibuat dari daerah penebangan sampai ke Logyard. kelurahan bintuni barat dan timur bersama-sama dengan Kampung Sibena. maka Logyard tersebut dibuat di sekitar sungai dan pada umumnya posisinya berada di dalam kawasan CATB. Yotefa Sarana Timber dan IPKMA/Kopermas. Logyard SP 5 di Sungai Sigirang dibuat oleh IPKMA/Kopermas.. D. Logyard Anak Kasih di Sungai Tikamari/Anak Kasih di buat oleh IPKMA/Kopermas. Beberapa faktor penghambat yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan CATB antara lain : D. karena di lokasi tersebut telah dibangun rumah karyawan dan perkantoran yang dilengkapi dengan sarana lain seperi listrik. Akibat lain yang ditimbulkan dengan adanya Logyard tersebut.1. Faktor Penghambat Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni akan berhasil apabila bisa mengurangi faktor penghambat yang ada. Dengan kondisi tersebut maka akan semakin banyak masyarakat yang akan tinggal di dalam kawasan serta akses masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya alam di dalam CATB semakin besar sehingga akan mengurangi jumlah dan jenis flora dan fauna yang ada. Pengembangan Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kabupaten Teluk Bintuni sampai saat ini belum ada. Faktor penghambat merupakan suatu kondisi dimana lembaga pengelola dalam hal ini BKSDA Papua 2. Dokumen yang telah ada yaitu Rencana Detil Tata Ruang (RDTRK) Kota Bintuni tahun 2004. Satu “generator” berada di ujung barat kota. tidak memiliki kewenangan (Authority) untuk menyelesaikannya. Beberapa Logyard yang berada di dalam kawasan CATB yaitu Logyard 4 (di Sungai Muturi) PT. yang merupakan cikal bakal Kota Bintuni. serta Logyard SP 4 di Sungai Banjar Ausoy di buat oleh IPKMA/Kopermas. air bersih serta sarana hiburannya lainnya. Kondisi diatas menimbulkan konsekuensi dari adanya dua “generator” aktivitas yang sama kuatnya. Kota Bintuni meliputi Kampung Sibena sampai dengan Kampung Argosigemerai (SP5). Pola ruang Kota Bintuni yang terbentuk berupa Strip Development.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dengan Tempat Penimbunan Kayu (Logyard). yaitu semakin mudahnya akses masyarakat untuk masuk kedalam kawasan CATB. dan di ujung timur kota. Logyard 5 di Sungai Awarepi dibuat oleh IPKMA/Kopermas.

Hal ini diperparah lagi dengan minimnya sarana pendukung seperti perahu motor (longboat) dan kemampuan managerial yang terbatas. mulai dari Kampung Sibena sampai dengan Kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni diprediksi akan menjadi kawasan pemukiman/perkantoran/perdagangan serta aktivitas lainnya. dimana sebelah Selatan dari jalan dengan jarak 1 sampai 5 Km. Apabila melihat posisi dari kota yang memanjang sepanjang jalan. Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa peran masyarakat dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam ikut menjaga kelestarian kawasan masih rendah. maka peluang masyarakat untuk mengambil flora. tidak mungkin kawasan konservasi tersebut akan lestari. Keadaan Umum Kawasan II .850 ha) hanya di awasi oleh seorang kepala resort yang dibantu dua orang jagawana. Hal ini sangat mempengaruhi atau bahkan boleh dikatakan sebagai faktor penghambat dalam mencapai tujuan pengelolaan dan tujuan pembangunan suatu kawasan konservasi. Dengan semakin mudahnya akses masyarakat ke dalam kawasan CATB. Hal ini bisa terlihat dari terganggunya beberapa bagian kawasan Cagar Alam yang juga “melibatkan” masyarakat di dalam dan sekitar kawasan seperti pembukaan lahan untuk logyard milik Kopermas dan perambahan hutan untuk kegiatan perladangan (shifting cultivation). Kemungkinan besar karena pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kawasan relatif kurang bahkan tidak mengerti sama sekali.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni (dekat dengan Kampung Korano Jaya) beserta kegiatan-kegiatan ikutan yang menyertainya. Berdasarkan kondisi diatas maka dimasa yang akan datang. Dikatakan strategis sebab tanpa partisipasi nyata masyarakat sekitar. D.2 Kapasitas Pengelola Kawasan Salah satu faktor penentu dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi adalah peranan dan kapasitas pengelola baik dari jumlah (quantity) dan kemampuan (quality/skill). merupakan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) maka akses masyarakat kedalam kawasan CATB akan semakin mudah. Kondisi saat ini (current situation) menunjukan bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dengan luasan yang cukup besar (± 124. khususnya Cagar Alam.62 . Hal ini akan menjadi ancaman yang cukup serius terutama kawasan CATB di Bagian Barat dan Utara yang berdekatan sepanjang jalan/perkampungan. D. peran masyarakat sekitar sangat strategis dan prospekstif.3 Peran Masyarakat (Community involvement) Kaitannya dengan pelestarian kawasan. Dikatakan prospektif dengan keyakinan bahwa masyarakat di dalam dan sekitar kawasan tidak akan menolak upaya pemberdayaan yang sangat terkait langsung dengan kepentingannya. fauna dan lahan untuk kebun akan semakin besar sehingga kelestarian CATB semakn menurun.

4. UU NO. 17. tentang Perikanan UU No. tentang Analisa Lingkungan PP No. 47 tahun 1997. 29 Tahun 1986. tentang Tata Ruang Wilayah Nasional PP No. 20 tahun 1990. 7. tentang Usaha Perikanan PP No. PP No. tentang Sungai-sungai PP No.31 tahun 2004.5 tahun 1990.Swantara" Tingkat I 13. 64 tahun 1967. Dasar Hukum Peraturan-peraturan Perundangan yang terkait dengan Pengelolaan Cagar Alam di Indonesia adalah sebagai berikut: 1. KEBIJAKAN A.1 . 2. 27 tahun 1991. 16. 68 tahun 1998. tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya 5. 23 tahun 1997. 18. 12. 10. PP No. tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang 19. 20. 3. tentang Ratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati UU No. tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup UU No. 6. tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam 21. 15. 35 tahun 1991. tentang Penataan Ruang UU No. PP No. 9. 11 tahun 1974. Pasal 33 ayat 3 UU NO. 8. tentang Kehutanan UU NO. tentang Rawa-rawa PP No. 11. tentang Agraria UU No.9 tahun 1990. 41 tahun 1999. 69 tahun 1996. tentang Pariwisata UU No. UUD 1945. tentang Irigasi UU No. 24 tahun 1992. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah PP No. 5 tahun 1994.5 tahun 1960. tentang Delegasi Wewenang Perkenbunan. 27/1999 tentang AMDAL Kebijakan III .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong III. Perikanan dan Kehutanan kepada Daerah . 15 tahun 1990. 14. tentang Pemantauan Polusi Air PP No.

29. 25. IBSAP 2003 sebagai dokumen nasional kedua dalam konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Sumber atau penyebab degradasi ini antara lain adalah kebakaran hutan. 57 tahun 1989. tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan. 26/1997. 34 tahun 2002. 48/1991 tentang Pengesahan Konvensi Ramsar Instruksi Mendagri No. Indonesia telah menyusun BAPI. kurangnya kelengkapan peraturan dan perundangan serta lemahnya penegakan hukum dalam bidang konservasi biodiversity/lingkungan juga menyebabkan proses degradasi semakin cepat. 2003). tentang Pengelolaan Kawasan Lindung Keppres No. Kebijakan ini dapat dilihat dalam BAPI (The Biodiversity Action Plan for Indonesia. 41 tentang Kehutanan 26. yang merupakan rujukan utama yang digunakan sebagai pembanding untuk identifikasi isu-isu konservasi di Indonesia. Kondisi kenaekaragaman hayati (biodiversity) Indonesia dan proses degradasi yang terjadi dapat dilihat di dalam IBSAP. PP No. PP No. menggantikan BAPI 1993. tentang Perlindungan Hutan Mangrove sebagai Jalur Hijau B. tentang Komisi Pengarah untuk Pengelolaan Klasifikasi Lahan Nasional 27. antara lain : BAPI 1993 digunakan hanya untuk memahami histori action plan nasional sebagai dokumen nasional pertama dalam konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. tentang Perlindungan Hutan BKSDA Papua II Sorong Perpu No 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang Undang No. 32 tahun 1990. 1993) dan IBSAP (Indonesia Biodiversity Strategi and Action Plan. kurangnya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dan lingkungan.2 . Ada sedikit perbedaan antara BAPI dan IBSAP. 63 tahun 2002. Keppres No. Dengan adanya BAPI 1993 maka Kebijakan III . Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan 24. penebangan liar. penggunaan teknologi yang merusak. tentang Hutan Kota PP No.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 22. BAPI (The Biodiversity Action Plan for Indonesia) 1993 meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Sebelum Keanekeragaman Hayati. Keppres No. Selain itu. B. perambahan hutan. 45 tahun 2004. 28. 23.1. Kebijakan Konservasi Biodiversity di Indonesia Indonesia memberikan perhatian yang besar kepada konservasi keanekaragaman hayati.

Tujuan ataupun sasaran yang ditetapkan adalah mengkonservasi sebanyak mungkin keanekaragaman hayati untuk menjadi tumpuan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Mengembangkan ketersediaan data dan informasi tentang kekayaan keanekaragaman hayati nasional. yaitu isu mengenai riset dan training. Memperlambat laju kehilangan tutupan hutan primer. 4. 3. lahan basah dan kawasan budidaya pertanian. Konservasi in-situ taman nasional dan kawasan lindung daratan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diharapkan akan ada panduan untuk menetapkan prioritas dan investasi di bidang konservasi keanekaragaman hayati terutama untuk periode Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) V dan VI (hingga 1999). terdiri dari konservasi in-situ dan eks-situ biodiversity. NGO dan kerjasama internasional juga tidak terdapat dalam dokumen BAPI 1993. Di dalam BAPI tidak disebutkan pihak/lembaga yang dengan tegas bertanggungjawab menjamin implementasi serta pencapaian sasaran dan tujuan yang ditetapkan. Tujuan utama dari BAPI 1993 adalah : 1. Prioritas dari BAPI ada 4 (empat) kegiatan utama. Konservasi eks-situ melalui bank gen dan bank benih. 2. Memperluas pemanfaatan sumberdaya hayati secara lestari dan lebih ramah lingkungan dibandingkan praktik yang telah berlangsung selama ini. Isu-isu yang ada dalam BAPI adalah : 1. Konservasi sumberdaya pesisir dan laut. Isu yang terkait dengan aspek sistem informasi dan teknologi. BAPI 1993 juga tidak mempunyai dasar hukum formal dalam struktur perundangan nasional sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. dan program penangkaran. 2. Isu yang terkait dengan aspek kebijakan. sehingga dapat dimanfaatkan oleh para pembuat kebijakan dan masyarakat luas. serta valuasi biodiversity. Kebijakan III . partisipasi masyarakat. mencakup kawasan hutan.3 . perlindungan varietas. yaitu isu mengenai kapasitas SDM Isu yang terkait dengan aspek pengelolaan biodiversity. 2. yaitu : 1. pendidikan dan pelatihan. Aspek sosial ekonomi. Selain itu. lahan basah. 3. terumbu karang serta habitat daratan maupun lautan lainnya yang sangat penting bagi keberadaan keanekaragaman hayati. Konservasi in-situ di luar kawasan lindung. 3.

IBSAP 2003 mempunyai tujuan : 1. Isu-isu tentang biodiversity adalah sebagai berikut : 1.4 . Isu yang terkait dengan aspek kebijakan/kelembagaan. termasuk kekurangan dalam pengetahuan yang ada dan sasaran serta tindakan yang realistis untuk menutup kekurangan ini. Isu dalam aspek peran NGO dan kerjasama internasional. mencakup isu mengenai tekanan penduduk. pencemaran lingkungan. dan kekeliruan penilaian sumberdaya. Melakukan kajian atas kebutuhan dan aksi prioritas yang tercantum dalam BAPI 1993 untuk mengetahui apa saja yang sudah dicapai. serta penggunaan teknologi yang merusak. degradasi sumberdaya hayati. serta penegakan hukum dan kelembagaan yang lemah. IBSAP (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) 2003 BKSDA Papua II Sorong IBSAP 2003 merupakan penyempurnaan dari BAPI 1993 dan merupakan strategi dan rencana aksi biodiversity nasional. dan mencari penyebab mengapa dana dan/atau motivasi yang diperlukan belum didapatkan. 5. terkait dengan kerjasama internasional dan kesadaran. sektoral. dan disertai dengan rencana aksi yang rinci. serta kapasitas SDM yang tidak memadai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. 2. pemahaman dan kepedulian. 2. Menyusun strategi baru yang jelas. mencakup isu mengenai riset dan sistem informasi yang tidak memadai. apa yang belum dilaksanakan. Kebijakan III . 4. sentralistis. konversi habitat yang tinggi. pembagian manfaat yang tidak adil. mencakup isu mengenai eksploitasi berlebih. globalisasi bisnis keanekaragaman. 4. introduksi spesies dan varietas eksotik. Mengidentifikasi kebutuhan dan aksi prioritas yang baru dan merevisi rencana aksi menurut perubahan yang mungkin akan terjadi pada kebijakan lingkungan hidup di masa yang akan datang. 3. Isu yang terkait dengan aspek pengelolaan biodiversity. Menentukan peluang dan kendala yang ada saat ini dalam konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan atas keanekaragaman hayati secara efektif.2. terdiri dari isu masalah kebijakan yang over eksploitasi. 3. dan tidak partisipatif. Isu yang terkait dengan sistem informasi dan teknologi. kemiskinan. Isu yang terkait dengan aspek sosial ekonomi.

Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Dalam dan Sekitar Kawasan Hutan. Berkaitan dengan hal itu. ayat 1). Pengelolaan Hutan Lestari BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan bahwa mangrove merupakan ekosistem hutan. Selanjutnya dalam kaitan kondisi mangrove yang rusak. kepada setiap orang yang memiliki. 5. Pemantapan Kawasan Hutan. pengelola dan atau memanfaatkan hutan kritis atau produksi. Sektor Kehutanan C. keterbukaan dan keterpaduan (Pasal 2). kerakyatan.5 . 2. Revitalisasi sektor kehutanan. Rehabilitasi dan konservasi Sumberdaya Hutan. maka pemerintah bertanggungjawab dalam pengelolaan yang berasaskan manfaat dan lestari. keadilan. khususnya industri kehutanan. hutan terdiri dari hutan negara dan hutan hak (pasal 5. C. termasuk struktur sosialnya.1. Rencana Strategis Ditjen PHKA Departemen Kehutanan menetapkan kebijakan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. Kegiatan ini meningkatkan konsolidasi semua aparat Departemen Kehutanan dalam rangka meningkatkan kinerja rehabilitasi dan konservasi. Selanjutnya dalam rangka melaksanakan fungsinya. kebersamaan. 4. dan mengembangkan ekosistem hutan baik mulai dari wilayah pegunungan hingga wilayah pantai dalam suati wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni C. Kegiatan ini adalah meminimalisir penebangan liar dan pencurian kayu sesuai dengan kewenangan Departemen Kehutanan. Kebijakan III . dan oleh karena itu. Departemen dan Kehutanan secara teknis fungsional menyelenggarakan fungsi pemerinthan pembangunan dengan menggunakan pendekatan ilmu kehutanan untuk melindungi. 3. wajib melaksanakan rehabilitasi hutan untuk tujuan perlindungan konservasi (Pasal 43). Adapun berdasarkan statusnya.2.456/Menhut-II/2004 tanggal 29 Nopember 2004 tentang 5 (lima) Kebijakan Prioritas Bidang Kehutanan dalam Program Pembangunan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2005 – 2009 diarahkan kepada : 1. Departemen Kehutanan sebagai struktur memerlukan penunjang antara lain teknologi yang didasarkan pada pendekatan ilmu kelautan (sebagai infrastruktur) yang implementasinya dalam bentuk tata ruang pantai. melestarikan. Dengan demikian sasaran Departemen Kehutanan dalam pengelolaan hutan mangrove adalah membangun infrastruktur fisik dan sosial baik di dalam hutan negara maupun hutan hak. Pemberantasan pencurian kayu di Hutan Negara dan Perdagangan Kayu Illegal.

6. Pengendalian Kebakaran Hutan. 3. kriteria dan prosedur di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. 5. Pelaksanaan administrasi di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. 4. norma. organisasi Direktorat Jenderal PHKA di pusat dan di daerah adalah sebagai berikut : 1. 2. Sekretariat Direktorat Jenderal PHKA Direktorat Penyidikan dan Perlindungan Hutan Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan Direktorat Konservasi Kawasan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Balai Konservasi Sumber Daya Alam Balai Taman Nasional Kebijakan III . pedoman.13/Menhut-II/2005 tanggal 13 Juni 2005 tentang Organisasi dan Tata Hubungan Kerja Departemen Kehutanan. Ditjen PHKA menyelenggarakan fungsi: 1. 8. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. tetapi meliputi seluruh kawasan hutan yang ada di Indonesia. maka tugas PHKA tidak hanya di dalam kawasan konservasi saja. 7. Perumusan standar. Pengendalian Kebakaran Hutan. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam 4. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam. Penyiapan rumusan kebijakan Departemen Kehutanan di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan.6 . Pengendalian Kebakaran Hutan. Pengendalian Kebakaran Hutan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan P. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. kriteria dan prosedur di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam 5. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi pelaksanaan standar. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. pedoman. Untuk itu dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. 3. Pelaksanaan kebijakan di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. Dari tugas pokok dan fungsi di atas. 2. tugas dan fungsi Direktorat Jenderal PHKA adalah merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di Bidang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Pengendalian Kebakaran Hutan. norma. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

dengan kata lain belum seluruhnya mempunyai batas di lapangan yang jelas. b.13/Menhut-II/2005. dengan demikian diperlukan adanya kegiatan-kegiatan yang bersifat strategis sehingga dapat mendukung upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. sinergis dan strategis sehingga mampu memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat secara optimal. 123/KPTS-II/2001. Peraturan Menteri Kehutanan P. untuk dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara benar dan terarah diperlukan perencanaan yang menyeluruh. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004. Perlindungan Hutan dan Penegakan Hukum Dampak krisis multi dimensi yang dialami oleh Bangsa Indonesia mengakibatkan terjadinya permasalahan sosial yang memprihatinkan. norma dan kriteria yang jelas. Oleh karena itu. Dalam rangka penyusunan rencana strategis di atas. Rencana Stratejik Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam merupakan penjabaran dari Renstra Departemen Kehutanan dimana dalam penyusunannya didasarkan kepada Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kegiatan Pengelolaan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004. Keputusan Menteri Kehutanan No. Untuk itu pemahaman secara menyeluruh posisi konservasi dalam pembangunan nasional harus dipahami dan diketahui secara menyeluruh oleh seluruh personil lingkup Ditjen PHKA. Permasalahan Kawasan Sampai saat ini yang berkaitan dengan status kawasan konservasi belum secara keseluruhan sudah dikukuhkan. perlu dipahami oleh seluruh unsur pengelola maupun para pihak hal-hal yang berkaitan dengan kondisi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya saat ini. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004.7 . Perauran Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004. Pernyataan Visi Keadaan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) sampai saat ini tidak banyak mengalami perubahan seperti lima tahun sebelumnya yaitu antara lain meliputi : a. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2004. Disamping itu pengelolaan kawasan belum seluruhnya dilaksanakan dengan standar. semakin lama semakin berat tantangannya. beberapa kasus yang terjadi antara lain: terjadinya kesenjangan sosial. sehingga KSDAHE belum secara optimal dan efektif memberikan manfaat kepada masyarakat. Sedangkan visi dan misi dan Ditjen PHKA adalah sebagai berikut : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004. Sehingga hal ini sering menimbulkan konflik dengan pihak lain. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2004. kebutuhan lahan garapan yang sangat Kebijakan III .

Hal-hal yang perlu ditingkatkan antara lain : level organisasi. SDM. Manfaat kawasan konservasi tidak seluruhnya diukur dari PNBP. d.8 . masih lemahnya akses masyarakat terhadap pengelolaan hutan. dimana kebakaran hutan ini sudah menimbulkan kerugian yang sangat besar dan juga secara internasional timbul internasional. Dari visi tersebut ditetapkan empat misi Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam sebagai berikut : Kebijakan III . tetapi juga manfaat lain yang bukan dalam bentuk uang (ekonomis) juga harus diperhatikan dan ditingkatkan serta dipublikasikan tentang pentingnya manfaat KSDAHE bagi pembangunan. sehingga dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Sampai saat ini. penyelundupan kayu. Gangguan terhadap kawasan konservasi dan kawasan hutan lainnya juga terjadi akibat kebakaran hutan (harmfull fire). sarana dan prasarana. disamping itu juga membentuk organisasi pengelola yang baru. yang menjadi sorotan Kelembagaan yang Kuat dalam Pengelolaannya serta Mampu Memberikan Manfaat Optimal Kepada Masyarakat”. norma dan kriteria yang ada. Dengan mempertimbangkan beberapa hal di atas maka dalam lima tahun mendatang visi yang harus dicapai dan dipahami oleh jajaran Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam baik di pusat maupun di daerah adalah : “Mewujudkan Kawasan Hutan dan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang Aman dan Mantap secara Legal Formal. Hal ini terjadi disebabkan pengelolaan hutan yang kurang baik serta ditunjang oleh kurangnya sumberdaya yang ada untuk penanggulangan kebakaran hutan. 2. perambahan hutan dan sebagainya). Didukung ”Transboundary haze pollution”. c. penebangan liar. diperlukan bentuk nyata implementasinya dan menggambarkan yang seharusnya terlaksana. kecenderungan memperoleh hasil cepat melalui kegiatan illegal (over cutting. Kelembagaan Pemerintah dan lembaga yang menangani atau mengelola KSDAHE sampai saat ini masih jauh dari standar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong besar (lapar lahan) sehingga menimbulkan konflik lahan. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di bidang KSDA masih perlu ditingkatkan. Pernyataan Misi Untuk mewujudkan visi dalam lima tahun mendatang. Pemanfaatan SDAHE Pemanfaatan flora dan fauna masih banyak menimbulkan dampak negatif seperti misalnya maraknya penyelundupan flora dan fauna.

BKSDA Papua II Sorong Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. dana sarana dan prasarana yang ada perlu dioptimalkan dan ditingkatkan. sehingga KSDAHE dapat didukung dan dilaksanakan dengan baik. Agar pengelolaan KSDAHE dapat tercapai tujuannya dengan baik. Oleh karenanya. Disamping itu SDM. sehingga tidak mencapai fungsi secara optimal. Disamping itu kebakaran hutan selalu terjadi setiap tahun pada musim kemarau. Dengan adanya kejadian tersebut tentunya akan menyulitkan pengelolaan kawasan konservasi maupun kawasan hutan lainnya. norma dan standar pengelolaan kawasan konservasi. Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan.9 . Pola kemitraan perlu dikembangkan dan diwujudkan dalam pengelolaan KSDAHE. Misi 4. Sampai saat ini PNBP bidang PHKA dirasa masih sangat kecil kontribusinya di sektor kehutanan. Pemanfaatan SDA perlu dikelola dan dikembangkan secara optimal. Dengan demikian gangguan terhadap kawasan konservasi maupun kawasan hutan serta tumbuhan dan satwa liar harus dieliminir sedemikian rupa. jasa lingkungan dan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar. Namun demikian tidak semua pemanfaatan jasa KSDAHE diidentikkan dengan pendapatan dalam bentuk uang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni MISI DIREKTORAT JENDERAL PHKA : Misi 1. Misi 2. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya Kelembagaan dan peraturan perundang-undangan yang mendukung KSDAHE masih perlu ditingkatkan. maka kawasan konservasi yang dikelola harus jelas batas-batasnya. maka dalam pengelolaan ini kemitraan sangat diperlukan. hal ini terlihat dari laju kerusakan hutan setiap tahunnya mencapai 2. Pengelolaan KSDAHE tidak bisa dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. Sampai saat ini gangguan terhadap hutan dan hasil hutan semakin meningkat. Misi 3. sehingga tidak menimbulkan konflik dengan pihak lainnya. Disamping itu pengelolaan yang seharusnya dilaksanakan pada kawasan konservasi tersebut harus jelas kriteria. perlu adanya penyebarluasan informasi agar dapat dipahami oleh semua pihak. sebagai berikut: Kebijakan III . Adapun tujuan dari masing-masing misi Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. Pemanfaatan SDA yang potensial untuk dikembangkan meliputi wisata alam. Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian.83 juta hektar.

10 . Adapun sasaran dari masing-masing misi Direktorat Jenderal PHKA. Memantapkan perencanaan. di Pusat dan 66 UPT 4. dengan tujuan : 1. Memantapkan peraturan perundang-undangan bidang KSDAHE 6. KPA baru di 32 Propinsi 3. dengan tujuan : 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Misi 1 : BKSDA Papua II Sorong Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Meningkatkan efektifitas pengelolaan KSA/KPA/TB/HL sesuai fungsi kawasan 2. kawasan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya serta pengendalian kebakaran hutan dan penegakan hukum. Mengembangkan KSA. evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan dibidang PHKA. sebagai berikut : Misi 1 :Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. dengan tujuan : Meningkatkan upaya perlindungan hutan. Meningkatkan pemanfaatan Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) dan jasa lingkungan serta mengembangkan Bina Cinta Alam 2. KPA. dengan sasaran : 1. Memantapkan institusi pengelola KSDAHE 2. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Mewujudkan pemenuhan sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE 5. Meningkatkan peran masyarakat dan para pihak terkait dalam kemitraan pengelolaan KSDAHE dan perlindungan hutan. Terbangunnya 20 taman nasional model 2. dan TB Kebijakan III . Terselesaikannya proses pengukuhan 150 KSA. Meningkatkan upaya pengawetan tumbuhan dan satwa liar Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. dengan tujuan : 1. Mewujudkan SDM yang mampu mendukung pengelolaan KSDAHE 3. Memfasilitasi (pembinaan kawasan di luar kawasan konservasi) pengelolaan ekosistem esensial 4. Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian. Meningkatkan pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan.

peredaran hasil hutan illegal termasuk TSL. Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian dengan sasaran : 1. Terwujudnya peningkatan pengusahaan pariwisata alam di 32 propinsi 2. Terselesaikannya penetapan daerah penyangga kawasan konservasi di 66 UPT dan pembinaan daerah penyangga KPA. Kebijakan III . Terselesaikannya site plan pada zona/blok pemanfaatan di 200 KPA dan TB 5. dengan sasaran : 1. KPA dan TB seluas 100. penelitian dan pengembangan (kalitbang) tumbuhan dan satwa liar di 66 UPT. Terlaksananya pengendalian perburuan liarTSL di 66 UPT.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 3. Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. Terlaksananya pengkajian. Terwujudnya peningkatan kemampuan operasional pengendalian kebakaran hutan meliputi: pencegahan. dan penanganan pasca kebakaran hutan di 32 propinsi 3. pemadaman. 6. KPA. 6. Terlaksananya pengendalian peredaran TSL di 32 BKSDA. kelompok swadaya masyarakat. perusakan habitat.11 . TB dan HL pada 200 kawasan 7. Terlaksananya pemanfaatan jasa lingkungan di HL. Terlaksananya evaluasi fungsi KSA. Terlaksananya penegakan hukum terhadap tindak pidana kehutanan: perambahan kawasan. 3. Meningkatnya peran serta dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka perlindungan hutan dan pengendalian kebakaran hutan di 32 propinsi. kelompok profesi serta kader konservasi di 66 UPT. Kebun Buru dan Blok Buru (KB dan BB). pemanfaatan air) di 15 propinsi. 5.000 ha. KPA dan TB BKSDA Papua II Sorong 4. 8. Terlaksananya pembinaan habitat TSL di SM. Terlaksananya penyiapan penyelenggaraan perburuan di 5 TB. penebangan liar. 7. KSA di 300 lokasi 8. Terselesaikannya penataan zona/blok di 300 KSA. perburuan TSL. Terlaksananya penangkaran jenis TSL di 66 UPT. kebakaran hutan/hot spot dan pencurian TSL di 32 propinsi 2. 4. Terbentuknya kader konservasi tingkat madya dan utama serta terbinanya kelompok pecinta alam. HP dan kawasan konservasi (prioritas perdagangan carbon. Terkelolanya data informasi dan publikasi konservasi KSDAHE di pusat dan 6 UPT.

Percepatan penyelesaian penetapan daerah penyangga kawasan konservasi di 66 UPT dan pembinaan daerah penyangga KPA. KPA. Terlaksananya pengendalian pemeliharaan TSL untuk kesenangan di 32 BKSDA. sebagai berikut : a. Optimalisasi pengelolaan data informasi dan publikasi konservasi SDAHE Kebijakan III . Terpenuhinya sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE di pusat dan daerah (66 UPT). non struktural dan fungsional 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 9. 3. 2.KPA dan TB Percepatan penyelesaian site plan pada zona/blok pemanfaatan di 200 KPA. Meningkatnya kesadaran masyarakat dan keterlibatan para pihak dalam mendukung tercapainya KSDAHE dan perlindungan hutan. Meningkatnya sistem perencanaan. 10. TB dan HL.KSA di 300 lokasi 7. evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan bidang PHKA 4. KPA dan TB seluas 100. setrategi adalah : 1. Percepatan proses pembangunan 20 TN model Percepatan penataan zona/blok di 300 KSA. Koordinasi pelaksanaan pembinaan habitat TSL di SM.12 . Meningkatnya jumlah dan kompetensi SDM aparatur struktural. TB 4. 000 ha 5. 5. 11. dengan sasaran : 1. Terlaksananya pengendalian peragaan dan pertukaran TSL di 50 lembaga konservasi. Optimalisasi pelaksanaan evaluasi fungsi KSA. Adapun strategi dari masing-masing misi Direktorat Jenderal PHKA. Terwujudnya institusi yang mampu menyelenggarakan pengelolaan KSDAHE dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat 2. Terwujudnya peraturan perundangan yang mendukung pengelolaan KSDAHE 6. Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan. Misi 1 : Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. pada 200 kawasan 6. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Terlaksananya peningkatan budidaya tanaman obat-obatan di 66 UPT.

KB & BB) Kebijakan III . pemadaman dan penanganan pasca kebakaran hutan di 32 propinsi. perburuan TSL. Peningkatan peran serta dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa serta perlindungan hutan dan pengendalian kebakaran hutan di 32 propinsi. Optimalisasi pelaksanaan pemanfaatan jasa lingkungan di HL. perusakan habitat. Optimalisasi pelaksanaan pengkajian. Percepatan pembentukan kader konservasi tingkat madya dan utama serta terbinanya kelompok pencinta alam.HP dan Kawasan Konservasi (prioritas perdagangan carbon . Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian. 3. Kebun Buru & Blok Buru (KB. Koordinasi pelaksanaan penyiapan penyelenggaraan per-buruan di 5 TB. di 32 propinsi 2. peredaran hasil hutan illegal termasuk TSL. Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum setrategi adalah : 1. 5. kelompok profesi serta kader konservasi di 66 UPT 4. Percepatan penyelenggaraan penetapan dan pengelolaan satwa liar yang dilindungi dan tidak dilindungi (3 jenis) 12. penebangan liar. kebakaran hutan/hot spot dan pencurian TSL di 32 propinsi 2. Optimalisasi pelaksanaan penangkaran jenis TSL di 66 UPT 6. kelompok swadaya masyarakat. penelitian dan pengembangan (kalitbang) tumbuhan dan satwa liar di 66 UPT. pemanfaatan air) di 15 propinsi 3. BKSDA Papua II Sorong Percepatan penyelesaian identifikasi tipe-tipe ekosistem dan terpenuhinya keterwakilannya di kawasan konservasi di 32 propinsi 9. strateginya adalah : 1. c. Peningkatan kemampuan operasional pengendalian kebakaran hutan meliputi : pencegahan. Koordinasi pengelolaan TSL dan kawasan konservasi yang termasuk di dalam kesepakatan internasional 10.13 . Koordinasi pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana kehutanan: perambahan kawasan. Koordinasi penyelenggaraan habitatnya di 66 UPT b. Koordinasi pelaksanaan pemeliharaan habitat satwa migran dan ekosistem karst di 20 lokasi 11. Peningkatan pengusahaan pariwisata alam.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 8.

Kebijakan ini dimaksudkan untuk melindungi dan memelihara proses ekologis esensial dan sistem penyangga kehidupan. Koordinasi pelaksanaan pengendalian peredaran TSL di 32 BKSDA. Koordinasi pelaksanaan lembaga konservasi. evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan bidang PHKA. 3. Mewujudkan peraturan perundangan yang mendukung pengelolaan KSDAHE. 4. strateginya adalah : 1. 11. kebijakan mengacu pada 5 (lima) kebijakan ptrioritas pembangunan kehutanan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 7. 2. 10. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. b. Optimalisasi Pelaksanaan peningkatan budidaya tanaman obat-obatan di 66 UPT. Kebijakan Pemberantasan Pencurian Kayu di Hutan Negara dan Perdagangan Kayu Illegal Kebijakan ini dimaksudkan untuk membangun persepsi yang sama dari seluruh pemangku kepentingan bahwa pencurian kayu dan peredaran kayu illegal yang telah berkembang sangat memprihatinkan dan mengakibatkan penurunan fungsi kawasan konservasi.14 para pihak dalam . sebagai berikut : a. masalah sosial. 5. ekonomi. Untuk mencapai sasaran pembangunan kehutanan bidang PHKA tahun 2005-2009. Meningkatkan jumlah dan kompetensi SDM aparatur struktural. Meningkatkan kesadaran masyarakat dan keterlibatan mendukung tercapainya KSDAHE dan perlindungan hutan. Memenuhi sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE di pusat dan daerah (66 UPT). non struktural dan fungsional. Mewujudkan institusi yang mampu menyelenggarakan pengelolaan KSDAHE. Meningkatkan sistem perencanaan. fragmentasi habitat. 9. Koordinasi pelaksanaan pengendalian pemeliharaan untuk kesenangan di 32 BKSDA c. Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengendalian peragaan dan pertukaran TSL di 50 pengelolaan. Koordinasi pelaksanaan pengendalian perburuan liar TSL di 66 UPT 8. dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara optimal. Kebijakan Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Hutan. mengawetkan sumber daya alam Kebijakan III . dan budaya.

15 . Program Peningkatan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.3. b. Penguatan usaha produktif masyarakat sekitar kawasan konservasi. Kebijakan Umum dan Strategi Pembangunan Cagar Alam Pola pembangunan dan pemanfaatan hutan di masa lalu yang hanya berorientasi kepada pembalakan (timber oriented) tanpa memperhatikan dan memperhitungkan nilai-nilai lingkungan/ekologi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni hayati dan ekosistemnya. mengacu pada program nasional sebagaimana program dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 serta Program Departemen Kehutanan. program pembangunan kehutanan bidang PHKA. c. c. sosial. e. ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Memperkuat kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat/para pemangku kepentingan dalam kegiatan konservasi dan rehabilitasi SDA. C. Program tersebut adalah: a. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mempercepat pemantapan penataan kawasan konservasi. d. tujuan. Program Pemantapan Keamanan Dalam Negri. memanfaatkan BKSDA Papua II Sorong sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian serta mempercepat pulihnya kawasan konservasi yang rusak sehingga kembali berfungsi normal. sasaran dan kebijakan. Program Pemantapan Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan. Dampak yang diharapkan dari kebijakan tersebut adalah berkembangnya kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi melalui perolehan manfaat secara langsung atau tidak langsung bagi pelaku usaha maupun mitra. sehingga potensi sumberdaya alam lainnya seperti hasil hutan non-kayu (flora dan fauna) dan jenis lingkungan menjadi rusak dan hilang Kebijakan III . Kebijakan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Dalam dan Sekitar Hutan. Dalam rangka peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi akan sangat ditentukan oleh kepastian status suatu kawasan. telah cenderung terjadinya eksploitasi hutan secara berlebihan. Berdasarkan visi. Program Lingkungan Hidup. PHKA mempunyai 5 program untuk menampung kegiatan-kegiatan pembangunan kehutanan bidang PHKA. Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan d. misi. Kebijakan Pemantapan Kawasan Hutan. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memfasilitasi serta mengakomodir kegiatan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam.

kita mengenal kawasan konservasi dan salah satunya adalah kawasan suaka alam. Sedang dalam ketentuan Undang-undang No. dengan memperhatikan aspek lingkungan. yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. serta dengan melibatkan dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan. pengertian hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu. pengertian Kebijakan III . 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Undang-undang No. hendaknya program pembangunan dan pemanfaatan hutan dan kawasan konservasi dari aspek konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem di masa mendatang harus diarahkan kepada pemanfaatan yang bersifat multi fungsi. Sumberdaya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumberdaya alam nabati (tumbuhan) dan sumberdaya alam hewani (satwa) yang bersama-sama dengan unsur non-hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. yaitu : fungsi konservasi. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Ketentuan hukum yang mengatur mengenai keberadaan dan pengelolaan kawasan konservasi antara lain Undang-undang No. dan terabaikannya hak-hak masyarakat sekitar hutan. fungsi lindung dan fungsi produksi. dan Hutan produksi Berdasarkan UU No 41 ini.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tanpa memberikan hasil yang optimal. Hal tersebut telah pula memunculkan dan tumbuhnya konglomerasi. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Dalam UU ini. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. sosial dan budaya. serta menyebabkan hilangnya akses masyarakat sekitar hutan untuk dapat menikmati kekayaan alam hutan tersebut dan kesejahteraan mereka tetap tertinggal. Berdasarkan Undang-undang No.16 . yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan kita mengenal hutan dan klasifikasinya sebagai berikut : Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dan persekutuan alam lingkungannya. Hutan mempunyai tiga fungsi. serta Peraturan Pemerintah No. Memperhatikan hal tersebut. Pemerintah menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokok atas : o o o Hutan konservasi Hutan lindung. ekonomi. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian alam.

Kawasan cagar alam juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perlindungan fungsi tata air (hidro-orologis). Pemanfaatan kawasan konservasi dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga. Pemanfaatan potensi kawasan konservasi hanya akan dapat dilaksanakan secara konseptual dan terencana apabila potensi kawasan yang ada tersebut diketahui peran dan fungsinya. Cagar alam sebagai salah satu kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang memiliki fungsi pokok perlindungan serta penyangga kehidupan. Mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin keberlangsungan proses ekologis secara alami. Mempunyai ciri khas potensi dan dapat merupakan contoh ekosistem yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi. Mempunyai kondisi alam.17 . baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia. baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Oleh karena itu pengetahuan mengenai nilai potensi merupakan hal yang penting untuk pemberdayaan manfaat kawasan konservasi. adalah sebagai berikut Fungsi tata air. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. melindungi dan meningkatkan fungsi kawasan konservasi. Salah satunya adalah kawasan cagar alam Kawasan Cagar Alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Peran dan fungsi kawasan menjadi titik tolak kepentingan pemanfaatan dari segi nilai ekologis dan nilai finansial.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. dan atau Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa beserta ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah. Perlindungan fungsi tersebut berperan pula di dalam Beberapa fungsi dari kawasan konservasi termasuk Cagar Alam Kebijakan III . Adapun kriteria untuk penunjukan dan penetapan sebagai kawasan cagar alam seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam : Mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa dan tipe ekosistem: Mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya.

penangkaran satwa. nasional dan bahkan internasional. Menggunakan kawasan konservasi sebagai sumber plasma nutfah dengan tidak mengurangi fungsi utama kawasan. Kawasan konservasi di daerah tropis memiliki peranan yang sekarang dikenal sebagai paru-paru dunia. Pada kawasan cagar alam mangrove. Pemungutan hasil hutan bukan kayu pada kawasan konservasi. untuk plasma nutfah tersebut dibudidayakan dan dikembangkan di luar kawasan seperti antara lain untuk kepentingan budidaya jamur. berbagai jenis tumbuhan mulai dari yang bersifat semak belukar sampai bentuk pohon memiliki kemampuan untuk menyerap gas karbondioksida untuk kemudian dirubah menjadi gas oksigen. sehingga nilai-nilai pemanfaatan kawasan konservasi dari segi nilai ekologis akan semakin diketahui masyarakat luas.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni mendukung perlindungan sistem penyangga kehidupan. Pemanfaatan kawasan konservasi untuk berperan sebagai penyerap gas karbondioksida maupun zat polutan serta sebagai penghasil oksigen maupun penyerapan efek panas dari gas rumah kaca belum banyak dikemukakan secara kuantitatif dari segi nilai ekologi maupun finansial. khususnya cagar alam dengan fungsi hidro-orologisnya akan memainkan peranan yang berarti. CO2 dan penyerap panas. dan hal tersebut diharapkan akan menyadarkan mereka untuk selalu berupaya melestarikan dan menjaga keberadaan kawasan konservasi bagi kelangsungan sistem penyangga kehidupan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat secara regional. Studi yang berkaitan dengan hal-hal tersebut harus mulai untuk terus dikembangkan. Disamping itu beberapa jenis dari tumbuhan yang terpelihara dan terlindungi secara baik di kawasan-kawasan konservasi berperan pula untuk mencegah polusi udara dan pemanasan global. Manfaat O2. Pemanfaatan jasa lingkungan pada kawasan konservasi tanpa merusak lingkungan dan mengurangi fungsi utamanya seperti pemanfaatan wisata alam. Sumber Plasma Nutfah. industri dan lain-lainnya.18 . yang membuat iklim mikro menjadi lebih nyaman. dan lainlain. fungsi pengendali intrusi air asin dan pengendali banjir akan menjadi fungsi penting kawasan bagi masyarakat sekitar kawasan. BKSDA Papua II Sorong Namun peran dan fungsi tersebut nampaknya pada saat ini belum sepenuhnya dinilai secara kuantitatif dari manfaat finansial serta baru dinilai secara mikro dari nilai ekologinya. khususnya bagi penyediaan dan kelangsungan sumberdaya air untuk kawasan pemukiman. budidaya tanaman obat dan tanaman hias. Studi-studi yang berkaitan dengan kepentingan pemanfaatan kawasan konservasi untuk hal tersebut harus mulai untuk dikembangkan. Dimasa mendatang dimana sumberdaya air akan menjadi terbatas maka peran kawasan konservasi. Merupakan bentuk kegiatan untuk mengambil hasil hutan bukan kayu dengan tidak merusak fungsi utama Kebijakan III . pemanfaatan keindahan dan kenyamanan.

melindungi dan meningkatkan fungsi kawasan konservasi. Melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang. seperti untuk mengambil madu. Bentuk dan materi penelitian dan pendidikan perlu diarahkan dan diselaraskan dengan kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. misalnya penelitian tentang teknologi konservasi sumberdaya alam atau penelitian murni. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan disebutkan bahwa masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan diakui keberadaanya berhak : Melakukan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan. Kegiatan Penelitian dan Pendidikan. dan lain-lain.19 . Pengembangan bentuk kerjasama dengan masyarakat. sebagai berikut : Identifikasi obyek dan jenis tumbuhan. Kebijakan III . Mendapatkan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. mengambil getah. Bentuk penelitian terapan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kawasan konservasi. Pemanfaatan tradisional yang diperbolehkan hanyalah pemanfaatan potensi kawasan berupa hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan spiritual masyarakat lokal/setempat/sekitar kawasan konservasi yang dilaksanakan oleh masyarakat lokal/setempat/sekitar taman nasional sendiri dengan mempergunakan peralatan tradisional dan sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi. dapat dilangsungkan dalam kawasan konservasi. Untuk pendayagunaan dan hasilguna. mengambil buah. ekosistem dan sosial ekonomi budaya masyarakat. satwa. Dikaitkan dengan Undang-Undang No. Penyusunan skala prioritas pelaksanaan program penelitian yang disesuaikan dengan tujuan dan sasaran pengelolaan kawasan konservasi. meningkatkan Usaha pemanfaatan dan pemungutan tersebut dimaksudkan untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya maka kegiatan pemanfaatan tradisional menjadi salah satu aktivitas yang harus diadopsi dalam kegiatan pengelolaan kawasan cagar alam. Sesuai fungsi kawasan konservasi. maka pengelolaan dan penelitian dan pendidikan diarahkan pada kegiatan. kawasan cagar alam haruslah mengakomodasi kegiatan penelitian dan pendidikan. antara lain penelitian tentang tingkah laku satwa. Berdasarkan Pasal 67 ayat (1) UU No.

4. Oleh karena itu. kesejahteraan rakyat. dalam rangka mewujudkan seluruh aspek konservasi dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan konservasi termasuk cagar alam. C. guna lebih menjamin keberadaan dan keterwakilan tipe-tipe ekosistem dan gejala alam lainnya. antara lain diwujudkan dengan penunjukan kawasan konservasi dan hutan lindung. Kebijakan III . maka ditetapkan program konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di dalam pengelolaan kawasan konservasi sebagai berikut : a. b. Mengembangkan kawasan konservasi keanekaragaman hayati yang memenuhi persyaratan dan kriteria baik di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. c. Meningkatkan pembinaan kawasan suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa) melalui penilaian keunikan dan keasliannya serta mengembangkan pengelolaannya melalui model pengelolaan yang memadai dan diharapkan mampu memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kesadaran konservasi masyarakat setempat. untuk mewujudkan misi tersebut serta dipandu dengan ketetapan GBHN tahun 1999 yang menekankan kepada perwujudan pengelolalan sumber daya alam hutan secara lestari. rehabilitasi dan pembinaan habitat guna menjamin kelestarian populasi jenis dan pemanfaatannya. Dengan memperhatikan perkembangan keadaan yang berjalan tersebut kebijakan pembangunan kawasan konservasi termasuk cagar alam diarahkan untuk mengemban misi terwujudnya manfaat optimal konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi kesejahteraan masyarakat. dan berbagai upaya pengamanan dan perlindungan serta kegiatan preventif lainnya. Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kawasan-kawasan konservasi sehingga benar-benar mencerminkan kepentingan konservasi keanekaragaman jenis flora dan fauna. keunikan dan keindahan sumber daya alam . d. maka bobot peningkatan dan pengembangan aspek pemanfaatan berdasarkan azas kelestarian menjadi titik berat dengan didukung perlindungan dan pengawetan yang memadai. Bila dimasa lalu titik berat pengelolaan kawasan konservasi lebih difokuskan pada aspek perlindungan dan pengawetan. kekhasan. Meningkatkan pembinaan satwa liar baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi melalui peningkatan kegiatan inventarisasi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pengembangan sistem promosi rencana penelitian dan hasil penelitian kepada masyarakat luas. berkeadilan dan mandiri untuk sebesar-besarnya.20 . Pengelolaan Cagar Alam Melihat kondisi dan permasalahan yang terjadi saat ini pada kawasan konservasi maka kebijaksanaan pengelolaan kawasan konservasi mengalami perubahan paradigma. penetapan jenis-jenis flora dan fauna yang dilindungi.

k. m. Pemanfaatan dan peningkatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam pengelolaan hutan dan kawasan konservasi. l. Meningkatkan pembangunan dan pengelolaan kawasan konservasi alam melalui pengembangan pengelolaan yang mantap dan memadai. Membangun dan mengembangkan peranserta aktif masyarakat disekitar hutan dan kawasan konservasi dalam mengembangkan usaha ekonomi berbasis sumberdaya alam setempat dan mampu melestarikan potensi keanekaragaman hayati yang ada. Melakukan dan mengembangkan pendekatan baru dalam analisis biaya dan keuntungan dengan memperhitungkan biaya-biaya lingkungan dan sosial dengan disertai kajian dampak lingkungan dan sosial. serta diharapkan mampu memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kesadaran konservasi masyarakat setempat. Kebijakan III . n. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Undang-Undang No. Meningkatkan pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hutan dari kawasan hutan dan kawasan konservasi guna peningkatan nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat disekitar hutan melalui kegiatan penunjang budidaya.21 . i. f. j. Meningkatkan pembinaan konservasi keanekaragaman hayati di luar kawasan konservasi dan di luar kawasan hutan baik daratan dan perairan. pendidikan konservasi dan menunjang budidaya. h. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. g. pemantauan dan pengawasannya secara konsisten di lapangan. Meningkatkan kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam bentuk partisipasi aktif yang positif sebagai masukan bagi pemerintah dalam pelaksanaan operasional konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Mendorong dan meningkatkan partisipasi pemerintah daerah dalam pengelolaan kawasan konservasi yang telah diproyeksikan dalam ketentuan Undang-Undang No. Meningkatkan keterpaduan pembangunan kawasan konservasi dengan pembangunan wilayah. mendorong pemanfaatan secara lestari dan optimal dari fungsi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong e. Memberdayakan dan mengembangkan lebih lanjut kearifan dan tradisi masyarakat setempat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan dan lestari dalam upaya pelestarian hutan dan konservasi alam. sehingga mampu memberikan manfaat dan hasil produk yang ramah lingkungan dan terstandarisasi. sehingga kawasan konservasi tersebut mampu mendukung dan memberikan kontribusi yang berarti bagi pembangunan wilayah serta peningkatan kesejah-teraan dan kepedulian konservasi pada masyarakat.

fauna. Pemantapan kawasan melalui kegiatan kajian potensi satuan unit pengelolaan ekosistem yang efektif dan efisien. termasuk membangun sistem informasi dan data base sebagai basis untuk mendukung serta membantu penyelesaian permasalahan yang dihadapi maupun pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan dan lestari. guna memberikan kepastian pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan dan lestari. Peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia yang mampu mendukung semua upaya pengelolaan kawasan konservasi secara efektif. Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan masyarakat melalui berbagai pelatihan dan pendidikan mengenai upaya pencegahan dan penanggulangan berbagai kerusakan lingkungan dan pelestariannya. pengukuran. Peningkatan inventarisasi potensi kawasan hutan yang mencakup seluruh potensi flora. maka kegiatan prioritas yang dapat dilaksanakan adalah : a. serta hal ini penting di dalam perencanaan pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan. Membangun dan menggali sumber pendanaan untuk konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem melalui trust fund atau debt for nature swap serta mendorong pengelola kawasan konservasi untuk mengembangkan kemampuan pendanaan secara mandiri di dalam pengelolaan kawasannya. d. pemetaan dan pengukuhan status kawasan. Meningkatkan peran aktif para ahli konservasi. Meningkatkan supremasi hukum dan memberikan sanksi yang tegas dan jera terhadap para pelanggar yang berkaitan dengan pelestarian alam dan lingkungan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong o. berkelanjutan dan lestari. Kebijakan III . serta penegakan hukum bagi kasus penindakan pelanggaran dan perusakan kawasan. jasa lingkungan dan ekosistem. efisien. lembaga masyarakat dibidang politik dan sebagainya untuk mampu mendorong terciptanya berbagai peraturan dan kelembagaan yang mendukung upaya pelestarian alam dan lingkungan. Pengembangan partisipasi dan swakarsa masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi secara adil.22 . Pengembangan kegiatan penelitian dan ilmu pengetahuan. lestari. r. efektif dan efesien. q. sehingga secara bertahap pengetahuan mengenai potensi dan kegunaan setiap komponen penyusun ekosistem dan dapat diungkapkan dan diketahui. Untuk pencapaian program konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di kawasan konservasi. mandiri. e. p. berkelanjutan dan lestari. b. c. penataan batas.

5. j. organisasi pengelolaan yang secara kondusif mampu meningkatkan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistem secara lestari. serta mencari institusi dan strategi yang dapat menanggulangi permasalahan tersebut. Pengembangan kelembagaan termasuk ketentuan peraturan perundangan. g. efektif dan efisien. h. BKSDA Papua II Sorong Pengembangan usaha kecil menengah dan koperasi yang mampu mendorong berkembangnya iklim usaha yang kondusif dalam pemberdayaan ekonomi rakyat/masyarakat disekitar kawasan yang mampu mendukung ekonomi nasional. Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan Hutan Mangrove Pengelolaan kawasan hutan khususnya hutan mangrove di Indonesia terususun dalam suatu strategi Nasional yang merujuk kepada pola pengelolaan lingkungan di dalam Agenda 21 Indonesia.23 . C. Memusatkan perhatian pada permasalahan polusi laut yang timbul di daratan. Strategi Nasional Ekosistem Mangrove dan Agenda 21 Indonesia memuat antara lain : 1. Rehabilitasi dan revitalisasi habitat-habitat yang mengalami degradasi dan pragmentasi di dalam upaya mencegah kepunahan plasma nutfah dan penyelamatan kekayaan keanekaragaman hayati. Memonitor dan melindungi lingkungan pantai dan lautan. evaluasi dan administrasi sumberdaya. 3. i. Mewujudkan perlindungan dan pengamanan sumberdaya alam hayati dan ekosistem pada kawasan konservasi melalui peranserta secara aktif dari masyarakat di sekitarnya. Pengembangan sistem pengawasan dan pengendalian yang diikuti dengan penerapan sanksi yang tegas pada tiap bentuk pelanggaran dan kerusakan terhadap kawasan dan potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistem agar pengelolaan dan pemanfaatannya dapat dilaksanakan secara lebih efektif dan efisien. Pemanfaatan sumberdaya kelautan yang berkelanjutan Menyoroti kesulitan sekitar keseimbangan antara konservasi sumberdaya alam yang tidak dapat pulih dan penggunaan sumberdaya biologi secara berkesinambungan. 2. Perencanaan terpadu dan pengembangan sumberdaya di zona pantai: Memusatkan perhatian pada masalah monitoring.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni f. Mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat pantai Mempertelakan masalah-masalah kemiskinan dan kesempatan ekonomi yang terbatas yang dihadapi masyarakat pantai. Kebijakan III .

Untuk mencapai tujuan ini maka secara umum kebijakan yang ada berdasar dan berpedoman kepada : Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang (Pasal 2 UU No. 5/1990). Pemerintah Daerah (Propinsi dan Kabupaten/Kota) serta masyarakat. Departemen Kehutanan membawahi Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bekerja di daerah. landasan keilmuan yang relevan.24 . (Pasal 3 UU No. 20/Kpts-II/2001). Secara umum. di Sinjai – Sulawesi Selatan (untuk wilayah Sulawesi. Strategi yang diterapkan Departemen Kehutanan untuk menuju kelestarian pengelolaan hutan mangrove: (1) Sosialisasi fungsi hutan mangrove. (2) Rehabilitasi dan konservasi. departemen teknis yang mengemban tugas dalam pengelolaan hutan mangrove adalah Departemen Kehutanan. Sedangkan untuk meningkatkan intensitas penguasaan teknologi dan diseminasi informasi mangrove. dan konvensikonvensi internasional terkait dimana Indonesia turut meratifikasinya. yaitu Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) akan tetapi operasional penyelenggaraan rehabilitasi dilaksanakan Pemerintah Propinsi dan terutama Pemerintah Kabupaten/Kota (dinas yang membidangi kehutanan). Di dalam menyelenggarakan kewenangannya dalam pengelolaan hutan mangrove. Kebijakan III . Landasan dan prinsip dasar yang dibuat harus berdasarkan peraturan yang berlaku. (3) Penggalangan dana dari berbagai sumber. Adapun untuk mengarahkan pencapaian tujuan sesuai dengan jiwa otonomi daerah. 5/1990). penyusunan dan sebagai pusat informasi. di Langkat – Sumatera Utara (untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan). Untuk kedepan sedang dikembangkan Sub Centre Informasi Mangrove di Pemalang – Jawa Tengah (untuk wilayah Pulau Jawa).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Di lingkup Departemen. Pemerintah (pusat) telah menetapkan Pola Umum dan Standar serta Kriteria Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Keputusan Menteri Kehutanan No. Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta keselmbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upava peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. pengelolaan kawasan mangrove khususnya kawasan cagar alam haruslah sesuai dengan “prinsip pengelolaan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. termasuk di dalamnya rehabilitasi hutan yang merupakan pedoman penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan bagi Pemerintah. Departemen Kehutanan sedang mengembangkan Pusat Rehabilitasi Mangrove (Mangrove Centre) di Denpasar – Bali (untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara) yang selanjutnya akan difungsikan untuk kepentingan pelatihan. Maluku dan Irian Jaya).

dalam hal pengelolaan hutan Mangrove maka aspek perencanaan menjadi sangat penting. Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. pengukuhan kawasan hutan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan (Pasal 5 UU No. sedang. 5/1990). Pemerintah Propinsi menetapkan wilayah-wilayah tertentu sebagai kawasan lindung dalam suatu Peraturan Daerah. penatagunaan kawasan hutan. Pemerintah menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. kegiatan operasional teknis yang dilaksanakan di lapangan oleh Balai/Sub Balai RLKT (sekarang bernama Balai Pengelolaan DAS) sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Kehutanan adalah rehabilitasi hutan mangrove di luar kawasan hutan dan di dalam kawasan hutan seluas 22. perencanaan juga memuat aspek dan informasi sebagai penyusunan rencana kehutanan. Kebijakan III .699 Ha melalui bantuan bibit. (Pasal 34 Keppres No. 3. rencana atau pokok kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan hutan mangrove. pembentukan wilayah pengelolaan hutan. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pemerintah menyelenggarakan pengukuhan kawasan hutan untuk memberikan kepastian hukum atas kawasan hutan tersebut. Departemen Kehutanan telah. (UU No. 5/1990) : o o o perlindungan sistem penyangga kehidupan. 2. dan akan melakukan kegiatan-kegiatan baik dalam bentuk kegiatan operasional teknis di lapangan maupun yang bersifat konseptual. Berdasarkan inventarisasi hutan. Penyusunan Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove. Inventarisasi kerusakan hutan mangrove (22 Propinsi). (Pasal12 UU No. pembuatan unit percontohan empang parit dan penanaman/rehab bakau. 41/1999). Pemerintah Kabupaten menjabarkan lebih lanjut kawasan lindung ke dalam peta yang lebih detil dengan Peraturan Daerah. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. Operasional Teknis Sejak Tahun Anggaran 1994/1995 sampai dengan Tahun Dinas 2001. Secara spesifik. berikut : Perencanaan Kehutanan meliputi : inventarisasi hutan.25 . Secara khusus. (Pasal14 UU No. yang tersebar di 18 Propinsi. dan Dalam hal ini. 41/1999). 32/1990).

perikanan. bencana alam. rusa. pertambangan (batubara). D. pertanian. harus ada koordinasi dengan BKSDA Papua 2 yang memiliki kantor Resort di Bintuni. Selain itu flora serta fauna yang eksotis (mangrove. Penyusunan basis data pengelolaan hutan mangrove. SDA alam yang ada di kabupaten Teluk Bintuni diantaranya yaitu berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Jadi pada dasarnya harus ada dua kondisi yang harus dipenuhi di dalam perencanaan tata ruang (Clayton and Dent. kawasan CATB tidak akan terlepas dari pengaruh untuk dimanfaatkan sebagai modal pembagunan. Berdasarkan kondisi diatas.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. CATB memiliki peranan yang cukup besar dalam menjaga kelestarian ekosistem di sekitar Teluk Bintuni. SDA hasil perikanan merupakan SDA yang banyak terdapat di dalam kawasan CATB.. BKSDA Papua II Sorong D. buaya. dalam Rustiadi et al. Sesuai dengan fungsinya yang merupakan kawasan konservasi. Oleh karena itu setiap rencana pembangunan yang akan dilakukan oleh pemda. alam dan buatan) untuk mewujudkan pembangunan di semua bidang.1. pengembangan sentra-senta produksi. serta peningkatan kualitas hidup masyarakat adalah beberapa dari sejumlah program pembangunan yang harus dilaksanakan. serta gas bumi (LNG Tangguh). dengan demikian pengembangan wilayah adalah bagian tak terpisahkan dari tujuan pembangunan secara keseluruhan. Akan tetapi seiring dengan rencana pembangunan yang akan dilakukan. Kabupaten Teluk Bintuni yang merupakan Kabupaten Pemekaran (12 November 2002) dari Kabupaten Manokwari harus segera memecahkan beragam permasalahan yang dihadapi masyarakat. kesenjangan antar wilayah. Penyusunan Rencana Tata Ruang Daerah Pantai Kabupaten. maka Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni dituntut untuk memaksimalkan semua sumberdaya yang ada (manusia. Tinjauan Penataan Ruang Kota Kabupaten Teluk Bintuni Awal dari proses penataan ruang adalah beranjak dari adanya kebutuhan untuk melakukan perubahan sebagai akibat dari perubahan pengelolaan maupun akibat perubahan-perubahan keadaan (peningkatan kesejahteraan. perkembangan sosial dan lain-lain).26 . serta beberapa jenis burung) terdapat di dalam kawasan CATB. 2003): 1. 5. Pengembangan Wilayah Pengembangan wilayah harus dipandang sebagai upaya pemanfaatan sumberdaya wilayah agar sesuai dengan tujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Kebutuhan masyarakat untuk melakukan perubahan atau upaya untuk mencegah terjadinya perubahan yang tidak diinginkan Kebijakan III . Salah satu modal pembangunan dari Kabupaten Teluk Bintuni yaitu sumberdaya alam (SDA) yaitu berupa SDA hutan. 1993.

melainkan lahir dari adanya kebutuhan. sehingga terdapat kesulitan untuk mengetahui arahan pembangunan untuk tingkat Kabupaten. dan 3) keberlanjutan.. Adanya political will dan kemampuan untuk mengimplementasikan perencanaan yang disusun. Rencana Pola Perkembangan Kota Bintuni sebagai Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kabupaten Teluk Bintuni sampai saat ini belum ada. karena kawasan CATB Berdasarkan RDTRK Kota Bintuni. Dokumen yang telah ada yaitu Rencana Detil Tata Ruang (RDTRK) Kota Bintuni tahun 2004. Tata ruang harus merupakan perwujudan keadilan dan melibatkan partisipasi masyarakat. oleh karenanya perencanaan yang disusun harus dapat diterima oleh masyarakat.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2.27 . Gambar III-1. ibu kota letaknya berdekatan dengan Kota Bintuni. Dengan demikian penyusunan perencanaan tata ruang pada dasarnya bukan merupakan suatu keharusan tanpa sebab. Sasaran utama dari perencanaan tata ruang pada dasarnya adalah untuk menghasilkan penggunaan yang terbaik. Sasaran efisiensi merujuk pada manfaat ekonomi. 2) keadilan dan akseptabilitas masyarakat. pembangunan RDTRK Kota Bintuni dapat dijadikan sebagai dasar untuk melihat arahan yang akan mempengaruhi terhadap kawasan. namun biasanya dapat dikelompokan atas tiga sasaran umum: 1) efisiensi. Kebijakan III . dimana dalam konteks kepentingan publik pemanfaatan ruang diarahkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (publik). Perencanaan tata ruang juga harus berorientasi pada keseimbangan fisik dan sosial sehingga menjamin peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan.

Melihat kondisi diatas maka kawasan CATB merupakan daerah buffer sebelum aliran sungai masuk ke Teluk Bintuni. untuk selanjutnya aliran sungai tersebut masuk ke Teluk Bintuni. Sedimentasi yang memasuki kawasan mempunyai peran ganda. Bokor. maka setiap pemanfaatan/penggunaan lahan dilakukan di sebelah Utara jalan Trans Bintuni – Manokwari.28 . Daerah hulu dari sungai-sungai tersebut merupakan kawasan hutan yang sampai saat ini masih merupakan hutan produksi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kabupaten mulai dari Kampung Sibena sampai dengan Kampung Argosigemerai (SP5). Perubahan pola penggunaan lahan di hulu DAS dari hutan alam menjadi usaha hutan baik oleh masyarakat maupun HPH. Berdasarkan kondisi diatas maka dapat dilihat bahwa batas Barat Laut dan Utara kawasan CATB. sebagai potensi pendukung keberadaan ekosistem mangrove dan sekaligus ancaman. Tetapi bila sedimentasi bertambahnya sangat cepat maka laju perubahan semakin cepat dimana perubahan dari ekosistem mangrove menjadi hutan dataran rendah lebih cepat dari terbentuknya mangrove Kebijakan III . Selain itu untuk mengurangi tekanan terhadap penggunaan lahan. merupakan daerah yang sangat dekat dengan perkampungan dan pusat aktivitas lainnya. Penambahan besar erosi dan sedimentasi menyebabkan tekanan terhadap kawasan cagar alam semakin besar. Hubungan Ruang Kawasan Cagar Alam dengan Daerah Sekitarnya Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) secara geografis merupakan daerah hilir dari beberapa sungai besar seperi Sungai Muturi. ditambah dengan usaha pertanian yang tidak sesuai daya dukung lahan menyebabkan laju erosi dan sedimentasi bertambah. serta telah dibangunnya pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni yang berjarak 27 Km sebelah Timur dari Kota Bintuni (dekat Kampung Korano Jaya). Tatawori. Naramasa serta beberapa sungai kecil lainnya. Tirasai. agar tidak terjadinya konflik kepentingan karena kawasan tersebut merupakan kawasan konservasi. Dengan adanya Hak Pengusahaan Hutan (HPH) maka kondisi hutan di bagian hulu sungai tersebut semakin rusak sehingga dapat mengakibatkan erosi dan tingkat sedimentasi di setiap sungai semakin besar. Selain itu berdasarkan RDTRK Kota Bintuni. Kampung Argo Sigemerai direncanakan sebagai kawasan komersil dan bisnis baru berskala regional. Agar kawasan CATB dapat terjaga dengan baik maka perlu adanya daerafh buffer antara jalan dengan batas kawasan CATB. D. Kodai. Perencanaan pengembangan sektor pertanian/perkebunan sebaiknya dikembangkan di sebelah Utara jalan Trans Bintuni – Manokwari.2. karena daerah tersebut merupakan daerah hutan dataran rendah serta menjauh dari batas kawasan CATB.. Selain itu untuk pengembangan sektor lain seperti perikanan diharapkan dilakukan di luar kawasan CATB. Mangrove hanya bisa berkembang jika ada suplai sedimen sebagai substrat pertumbuhan.

pola transportasi ke dan dari Kabupaten umumnya menggunakan sungai. diharapkan agar dapat meminimalkan akses/pemanfaatan terhadap kawasan CATB agar kelestariannya dapat terjaga. Sungai Wasian (Sungai Steenkol) yang merupakan batas alam sebelah Timur kawasan CATB. tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) bagi berbagai jenis ikan. Kebijakan III . maka berdasarkan pengamatan lapangan sedimentasi di muara Sungai Wasian semakin mempersempit muaranya.29 . kerang. Kondisi ini menyebabkan akses di dekat dan dalam kawasan sangat intens untuk transportasi. sehingga dari perhubungan laut Kabupaten Teluk Bintuni akan terisolir. Selain itu banyak masyarakat yang tinggal di sekitar Teluk Bintuni atau kawasan CATB yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Oleh karena itu dalam kebijakan pengembangan wilayah. Teluk Bintuni terkenal sebagai daerah penghasil beberapa jenis hasil perikanan seperti ikan. Jika ini berkembang terus maka luas kawasan hutan mangrove semakin kecil dan keberadaan cagar alam ini menjadi terancam. dan bagi biota laut lainnya. kepiting (karaka) dan lain-lain.850 hektar. Hal tersebut menunjukan bahwa peranan kawasan CATB sebagai daerah buffer bagi aliran sungai yang bermuara di Teluk Bintuni cukup besar. yang merupakan tempat mencari makan (feeding ground). Perubahan ekosistem ini akan menyebabkan terjadinya kehilangan fungsi ekonomi kawasan sebagai spawning ground bagi ikan. udang. Melihat posisi muara sungai tersebut yang sangat dipengaruhi oleh sungai-sungai yang berasal dari kawasan CATB (terutama Sungai Muturi) dimana tingkat sedimentasinya sudah tinggi. sehingga hal yang sangat penting untuk menjaga kelestarian kawasan CATB. udang. Dengan kondisi demikian maka bukan hal yang mustahil dimasa yang akan datang kapal-kapal tidak dapat lagi masuk ke Sungai Wasian.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong baru. Bintuni Mina Raya yang berlokasi di Wimro Distrik Babo. Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas menunjukan bahwa kawasan CATB perlu dijaga kelestariannya. Hal ini ditunjukan dengan berdirinya perusahaan- perusahaan perikanan. kepiting. merupakan ”pintu gerbang” bagi masuknya kapal penumpang/barang dari Sorong ataupun daerah lain. udang yang merupakan sumber pencaharian masyarakat yang berdiam di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni Pada sisi lain. sehingga memiliki peranan yang cukup penting bagi keberlangsungan produksi perikanan di Teluk Bintuni dan sekitarnya. Berdasarkan kondisi diatas menunjukan bahwa kawasan CATB merupakan ”rumah/gudang” dari beberapa jenis hasil perikanan. salah satunya yaitu PT. karena memiliki peranan yang cukup penting dalam menjaga fungsinya sebagai buffer bagi aliran sungai yang masuk ke Teluk Bintuni serta sebagai ”rumah/gudang” bagi berbagai jenis hasil perikanan agar Teluk Bintuni tetap menjadi daerah penghasil ikan. Kawasan CATB mayoritas wilayahnya (lebih dari 90%) merupakan hutan mangrove (mangi-mangi) dengan luasan seluruhnya 124.

.

permasalahan yang merupakan kelemahan yang bersifat teknis dan atau non-teknis merupakan hal sering terjadi. Jika pemerintah daerah membuat perda dalam tata ruang yang mengurangi atau menghilangkan cagar alam. pengelola teknis Cagar Alam Teluk Bintuni menunjukan bahwa tanggung jawab pengelolaan terkesan sepenuhnya berada di tangan KSDA Bintuni dan belum mendapat dukungan dari pemerintah daerah. 2. keberadaan kawasan masih dalam tahap penunjukkan dan belum penetapan. A. maka tidak ada alasan untuk membatalkannya karena secara hukum. Disamping itu. padahal pengelolaan dan pengawasan kawasan konservasi juga menjadi Analisis Permasalahan IV .1 Permasalahan A.1 . ANALISIS PERMASALAHAN A. evaluasi kondisi pengelolaan. Beberapa permasalahan dari aspek pengelolaan yang berhasil teridentifikasi antara lain adalah : 1.1 Aspek Pengelolaan Dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi.1. Kondisi ini sangat potensial menyebabkan Informasi yang diperoleh dari kegiatan pengelolaan belum bisa maksimal dan efektif. Pengelolaan dan kebijaksanaan dalam analisis difokuskan kepada tujuan penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan. dan input-input dalam rangka merumuskan strategi kebijaksanaan. Status Kawasan secara yuridis formal masih lemah Status kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni sampai saat ini masih dalam status hukum penunjukan dan belum penetapan. tata ruang daerah juga belum resmi ada. sementara status masih penunjukan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong IV. Kondisi ini secara hukum membuat kepastian kawasan menjadi sangat rawan karena ke depan. Kurangnya koordinasi Pengelola Cagar Alam dengan jajaran Pemerintah Daerah Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih sepenuhnya ditangani oleh institusi yang berstatus instansi pusat dan wewenang kendali ada pada BKSDA Papua II Sorong dan bukan di wilayah atau kawasan Cagar Alam. proses perkembangan wilayah dan tekanan terhadap cagar alam cukup besar. Pengelolaan dan Kebijaksanaan Aspek pengelolaan menguraikan tentang tujuan pengelolaan. Sedangkan aspek kebijaksanaan menguraikan tentang perkembangan kebijakan yang ada dan digunakan sebagai dasar untuk memenuhi fungsi kawasan beserta efektifitasnya. Permasalahan ini juga dijumpai di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Khusus untuk Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni. Anak Kasih oleh Dinas Sosial Propinsi Papua dan lokasi ini berada di dalam kawasan cagar alam. institusi pengelola kawasan konservasi yang ada adalah Resort KSDA Bintuni yang membawahi dua kawasan Cagar Alam. Sorong Selatan. dan kota Sorong. Kaimana. Pemukiman di Desa Anak Kasih yang dibangun Dinas Sosial Propinsi Papua dan berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. koordinasi yang lemah ini juga terlihat dari ditemukannya pembangunan pemukiman masyarakat di Gambar IV-1. beragamnya obyek yang harus dikelola. Dalam aktivitas kegiatannya. Hal ini di perparah lagi dengan birokrasi yang panjang yang harus di tempuh oleh institusi pengelola di daerah dalam membuat kebijakankebijakan yang menyangkut pengelolaan kawasan karena tanggungjawab dan kendali masih ada di BKSDA Papua II yang berkedudukan di Sorong. Teluk Wondama. Waropen. Akibatnya. seperti : Kabupaten Biak. Kondisi sebagai kabupaten baru juga menjadi salah satu penyebab masalah ini muncul. dalam hal ini Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Papua II merupakan perpanjangan tangan institusi pusat (PHKA). 3. Teluk Bintuni. Peranan institusi pengelola dalam mengikuti mekanisme koordinasi dan birokrasi dengan Pemerintah Daerah (PEMDA) juga masih kurang efektif. Manokwari.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong bagian tanggung jawab Pemerintah Daerah. Seharusnya penempatan wilayah pemukiman baru didasarkan kepada peta dan tata ruang wilayah sehingga keberadaan kawasan konservasi dan batasnya bisa menjadi pertimbangan pembangunan. balai membawahi kegiatan pengelolaan kawasan di 14 Kabupaten. Institusi pengelola kawasan konservasi di daerah. Selain dengan pemerintah yang daerah lemah di juga Kabupaten. Analisis Permasalahan IV . Mimika. Teluk Bintuni yang dulunya masih kecamatan dan berinduk di Propinsi Papua mempunyai kendala jarak. Peran institusi pengelola belum maksimal. Fak-fak. yaitu Cagar Alam Wagura Kote dan Cagar Alam Teluk Bintuni. tanggung jawab instansi ini terasa sangat berat dalam mencapai tujuan pengelolaan kawasan. Raja Ampat. Bila dilihat dari kondisi geografis.2 . Serui. Ini bisa disebabkan karena adanya perbedaan struktur dan eselonisasi antara pengelola dengan dinas di dalam Pemda. serta “rumitnya” mekanisme birokrasi yang harus diikuti. Keberadaan koordinasi yang berada di Sorong dan aksesibilitas serta komunikasi ke wilayah Teluk Bintuni juga menjadi salah satu sebab kurang optimalnya peran institusi pengelola. Numfor. Sorong. luas kawasan. koordinasi terlihat muncul dengan pemerintah propinsi.

Dengan kekuatan pengelola seperti ini. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dari Gambar IV-2. 2. sarana prasarana yang ada masih jauh dari memadai. 1. No. Minimnya sarana dan prasarana penunjang. Minimnya kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. Upaya penambahan sarana dan petugas menjadi salah satu prioritas yang harus dilakukan agar aksesibilitas pengelola ke dalam kawasan dan Analisis Permasalahan IV . pengelolaan kawasan. tanggung jawab pengelolaan kawasan hanya ditangani oleh tiga orang personil yang terdiri dari 1 orang Kepala Resort dan 2 orang tenaga Polisi Kehutanan. dominan kawasan mangrove dan kawasan sungai hanya didukung prasarana pengelola yang sangat minim yaitu satu motor. Kawasan cagar alam dengan luas 125. ada bahwa pengelola saat ini kurang Hal ini Sumber: Resort KSDA Bintuni terlihat dari kualifikasi dari pengelola yang semuanya tidak memiliki latar belakang pendidikan kehutanan.000 Ha.850 ha dan Cagar Alam Wagura Kote. 3. 5. institusi pengelola saat ini ditunjang oleh sarana dan prasarana yang sangat minim. Kondisi personil pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005. Khusus untuk Cagar Alam Teluk Bintuni.3 . pengelolaan dilakukan oleh Kepala Ressort dan 3 orang Jagawana (Tabel IV-1).000 ha. Hal ini tidak sebanding dengan luasan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Satu-satu sarana transportasi dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Status/Golongan/ Masa Kerja PNS/III-a/22 tahun PNS/II-b/6 tahun PNS/II-b/6 tahun Kualifikasi Sarjana Hukum SLTA SLTA Keterangan Kepala Resort Jagawana Jagawana pengelola pada Tabel di atas tergambar kapasitas yang masih memadai. tanpa ada longboat atau speedboat (Tabel IV-2). Bila dilihat dari tugas dan tanggung jawab yang dituntut. yaitu kurang lebih 15.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. sarana dan prasarana penunjang yang ada sangat kurang. Dari data personil kawasan Tabel IV-1. BKSDA Papua II Sorong Dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi di Kabupaten Teluk Bintuni. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan informasi dari kepala Resort KSDA Bintuni. yaitu kurang lebih 124. proses pencapaian tujuan pengelolaan kawasan akan sangat jauh dari yang diharapkan. Dalam kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pengawasan dan patroli yang efektif serta upaya untuk pembinaan dan koordinasi dengan masyarakat yang ada di dalam dan sekitar kawasan sangat tidak mendukung dengan sarana yang ada.

Salah satu contoh adalah laporan kegiatan tata batas kawasan. Kegiatan ini sudah dilakukan tahun 1999 tetapi peta hasil pengukuran dan laporan kegiatannya tidak dijumpai sebagai dokumen di resort atau lokasi cagar alam. namun hasil-hasilnya tidak terdokumentasi dengan baik sebagai arsip yang ditinggalkan pada institusi pengelola baik di BKSDA Papua II Sorong maupun di Ressort Bintuni. prinsip pencegahan selalu dipandang lebih baik dibandingkan dengan rehabilitasi atau perbaikan. pembinaan kader. Dalam pengelolaan kawasan konservasi. Dari informasi kegiatan yang pernah dilakukan di kawasan Cagar Alam baik di dalam Departemen Kehutanan maupun di luar kehutanan. Tabel IV-2. Perubahan kebijakan keuangan untuk pengelolaan kawasan dimana sebelumnya bersumber dari dana APBN. hampir tidak dijumpai adanya data dan laporan hasil kegiatan yang terdokumentasi di pengelola. dan Pemerintah Daerah. LSM. Informasi yang di peroleh dari pengelola kawasan menunjukkan bahwa kajian dan penelitian telah banyak dilakukan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. BP Tangguh. Sumber dana ini hanya digunakan untuk membiayai kegiatan pengelolaan kawasan yang lebih dikategorikan sebagai dana rutin seperti pengamanan kawasan. 2. dan dana pameran konservasi dan tidak dikhususkan untuk pembangunan kawasan. ternyata informasi dasar kawasan masih belum memadai dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pembinaan masyarakat akan meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan cagar alam. Sarana dan Prasarana Pondok kerja ukuran 36 M2 Motor Dinas Mesin ketik Sumber: Resort KSDA Bintuni 6.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong melakukan pembinaan masyarakat semakin baik. khususnya pengawasan dan perlindungan. Data dasar kawasan. Kondisi sarana dan prasarana pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005 Jumlah (Unit) 1 1 2 Kondisi Sedang Buruk Rusak Keterangan Perlu perbaikan Perlu perbaikan - No. 3.4 . Hal ini menjadi salah satu kelemahan sistem dokumentasi data tentang kawasan dan secara tidak langsung juga akan mempengaruhi kinerja dari pengelola kawasan 7. Hal ini juga diperkuat dari hasil penelusuran data sekunder. Tidak tersedianya proporsi dana yang seimbang dengan luas kawasan. 1. Akan tetapi prinsip ini belum terlaksana di Analisis Permasalahan IV . dari data yang telah terdokumentasi yang bersumber dari beberapa stakeholder seperti Perguruan Tinggi. sekarang hanya menerima dana yang bersumber dari Dana Reboisasi.

Ini tergambar dari alokasi dana untuk Cagar Alam Teluk Bintuni yang sangat kecil. 8. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa batas kawasan berupa pal-pal batas tidak ditemui lagi atau telah rusak dimakan usia. Batas kawasan yang jelas akan membuat semua pemangku kepentingan memahami dan menyadari keberadaan kawasan Cagar Alam. 9. Dalam pelaksanaan tata batas kawasan. Pedoman dan petunjuk teknis bagi pengelolaan kawasan dan jenis yang merupakan perangkat lunak dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan masih belum tersedia di Pondok Kerja Resort KSDA Bintuni. Ketidakjelasan batas kawasan dan kurangnya koordinasi dengan instansi terkait mengakibatkan pada beberapa bagian kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terjadi tumpang tindih dengan peruntukan lain. Hal ini menyebabkan kegiatan pemberdayaan masyarakat sulit dilakukan dan diukur keberhasilannya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Hal ini dapat dijumpai pada batas barat-laut kawasan dimana dijumpai adanya tumpang tindih kawasan cagar alam dengan lahan usaha II untuk peserta Analisis Permasalahan IV . Disamping itu.5 . Hal lain yang menjadi permasalahan adalah pola pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat di dalam kawasan dimana mereka umumnya adalah masyarakat tradisional yang tidak terbiasa berurusan dengan kondisi yang serba formal. Menurut informasi dari Kepala Resort KSDA Bintuni. ketidaktersediaan buku saku pengelolaan dan pedoman koordinasi juga menyebabkan upaya pengelolaan terbentur pada masalah legalitas kegiatan. pada tahun 1997 telah dilakukan penataan batas kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh konsultan PT BASRICO CEMERLANG dan oleh Sub BIPHUT Manokwari pada tahun 1999. Minimnya perangkat lunak yang tersedia. Ketidakjelasan batas kawasan di lapangan. Disamping itu. Cagar Alam Teluk Bintuni membutuhkan alokasi dana yang cukup besar dalam pengelolaannya. padahal dari segi luas kawasan. Padahal perangkat ini sangat diperlukan dalam pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Aksesibilitas yang dominan lewat air membutuhkan biaya patroli yang cukup besar. penyuluhan kepada masyarakat yang berada di dalam maupun di sekitar kawasan juga sangat diperlukan agar pengelolaan kawasan bisa didukung oleh masyarakat. Kondisi hutan mangrove yang relatif masih baik dan tekanan kerusakan yang belum besar diduga menjadi salah satu sebab kurangnya perhatian dalam pengelolaan. pola pemetaan dan kegiatan partisipatif sangat diperlukan. khusus dalam pengawasan. Untuk itu sangat diperlukan adanya pedoman bagi pelaksana teknis pengelolaan Cagar Alam. Batas yang tidak jelas dapat menyebabkan terjadinya tumpang tindih penggunaan dan sangat potensial menjadi sumber konflik.

Apabila kondisi ini dibiarkan akan dapat menjadi faktor penghambat dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. perladangan. kawasan. sampai pada saat disusunnya rencana pengelolaan kawasan ini relatif hampir tidak pernah ada kebijakan yang diambil oleh pengelola teknis (resort) untuk memenuhi fungsi kawasan. penyebaran informasi dan sosialisasi kawasan. pemukiman. diketahui bahwa kelemahan-kelemahan yang muncul lebih banyak di pengaruhi oleh faktor internal. Hal ini ditandai dengan adanya kegiatan yang berkaitan dengan pembukaan lahan untuk pembuatan tempat penimbunan kayu. Baik buruknya apresiasi ini sangat ditentukan Di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Seharusnya dalam peta akhir tata batas.6 .2 Aspek Kebijakan Berdasarkan penjelasan dari institusi pengelola kawasan. areal transmigrasi ini sudah dikeluarkan dari areal cagar alam. Kondisi ini bisa dipahami mengingat adanya keterbatasan dari pengelola teknis kawasan untuk bisa berkunjung ke desa-desa yang menggunakan transportasi melalui air/sungai. Beberapa alternatif pemecahan masalah yang dapat diberikan sehubungan dengan kelemahan yang terjadi dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan pada Tabel IV-3. pemahaman dan pengetahuan mereka. Analisis Permasalahan IV . namun itupun hanya bersifat insidentil yang bersamaan dengan penelitian atau survei yang dilakukan oleh beberapa LSM konservasi. A. A. Kegiatan pengawasan secara periodik tidak pernah ada di Penyebab utama adalah tidak tersedianya sarana untuk melakukan pengawasan dari sungai dimana lebih dari 90% kawasan merupakan hutan mangrove sementara sarana transportasi pengelola adalah motor.2 Altenatif pemecahan masalah Dari beberapa permasalahan pengelolaan kawasan tersebut di atas. kegiatan pengawasan kawasan pernah dilakukan beberapa kali. Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap kawasan. Apresiasi dan pemahaman masyarakat terhadap kawasan diukur dari bagaimana masyarakat memperlakukan kawasan Cagar Alam.1. dan penebangan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong transmigrasi nasional. Dari wawancara diketahui bahwa ini bisa terjadi karena kurangnya penyuluhan. Selain itu. Kegiatan yang pernah ada hanyalah penataan kawasan berupa keterlibatan pengelola dalam kegiatan penataan batas definitif bersama konsultan PT BASRICO CEMERLANG dan oleh Sub BIPHUT Manokwari pada tahun 1999. apresiasi ini terlihat masih kecil. Sejak itu tidak pernah ada kebijakan penataan sampai rencana ini disusun. 10.

Meningkatkan kemampuan personil pengelola melalui berbagai kesempatan pendidikan dan latihan pengelolaan kawasan konservasi yang lebih profesional. Belum maksimalnya peranan institusi pengelola dan minimnya kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola Peningkatan kawasan. dan pengadaan perahu motor. LSM. menara pengawas. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan melalui kerjasama dengan mitra lain seperti PT. BIOLOGI. Resort KSDA Bintuni Ditjen PHKA BKSDA Papua II. Stakeholders Permasalahan Status Kawasan secara yuridis formal masih lemah (Kawasan CATB berstatus penunjukan) Alternatif pemecahan masalah Penanggung Jawab Peningkatan status kawasan secara yuridis formal dan ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah Kurangnya koordinasi dengan jajaran Pemerintah Daerah. status pengelola Ditjen PHKA BAPLAN dan Pendukung BKSDA Papua II dan Biphut PEMDA Teluk Bintuni dan BKSDA Papua II. pondok kerja. Membangun kerjasama dengan stakeholder yang lain seperti LSM dan Pemerintah daerah melakukan kegiatan pengelolaan kawasan. LSM. Lembaga Penelitian. baik di bidang SOSEK.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel IV-3. dan FISIK kawasan. BP Tangguh Project Minimnya sarana dan prasarana Penunjang BKSDA Papua II BP Tangguh Project. sehingga beban yang harus ditanggung institusi pengelola menjadi lebih ringan. Peningkatan mutu dan pemeliharaan sarana prasarana yang telah ada. dan Lembaga Penelitian. BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari (koordinasi) Unipa Manokwari (koordinasi) BKSDA Papua II Unipa Manokwari .7 . LSM lokal dan NGO BKSDA Papua II Penambahan jumlah personil pengelola. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ditjen PHKA BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari. PEMDA Teluk Bintuni BKSDA Papua II Minim data dasar kawasan Inventarisasi potensi kawasan secara menyeluruh. dan Lembaga Penelitian Analisis Permasalahan IV . BP Tangguh Project (koordinasi) Tidak memadainya proporsi dana dengan luas kawasan Alokasi dana untuk kegiatan pengelolaan yang cukup memada melalui mekanisme skala prioritas. PEMDA Teluk Bintuni BP Tangguh Project. Investor. Mempromosikan kegiatan penelitian dan kajian untuk menggambarkan kondisi kawasan. LSM (lokal dan internasional). dan Pemerintah Daerah. Resort KSDA Bintuni. pondok jaga. Dirjen PHKA BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari . Pembangunan sarana dan prasarana penunjang pengelolaan seperti pembangunan kantor resort. Dirjen PHKA Jakarta.

dan infrastruktur lainnya. misalnya pencemaran oleh limbah kegiatan pembangunan. yaitu ekosistem hutan mangrove sebagai penyusun utama kawasan dan hutan hujan dataran rendah. BKSDA Papua II Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. BKSDA Papua II BKSDA Papua II Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan II. LSM. Unipa Manokwari . BKSDA Papua II BKSDA Papua II Sorong Pendukung BP Tangguh Project. termasuk ekosistem penyusun kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. terutama untuk kegiatankegiatan yang dapat meningkatkan keikutsertaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Aspek Biologi Kawasan Pemekaran Kawasan Teluk Bintuni menjadi Kabupaten Teluk Bintuni membawa beberapa konsekuensi logis seperti pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi dan bertambahnya kebutuhan lahan baru untuk berbagai keperluan seperti perumahan. Unipa Manokwari .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Stakeholders Permasalahan Minimnya perangkat lunak Alternatif pemecahan masalah Penanggung Jawab Pembuatan pedoman pengelolaan kawasan dan jenis. Kedua ekosistem penyusun kawasan ini adalah ekosistem alami dan sebagian besar masih Analisis Permasalahan IV . jembatan. LSM. Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Rekonstruksi batas kawasan bila dirasa perlu. dan Lembaga Penelitian (koordinasi) Penyederhanaan pedoman penegelolaan yang ada sehingga mudah dipahami masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.1 Permasalahan B. dermaga. B. BKSDA Biphut Papua Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap kawasan. Pemeliharaan batas kawasan. B.8 . Meningkatnya tekanan ini dapat mengancam keberadaan dan kelangsungan ekosistem dan sumberdayanya. jalan. 2005. dan Lembaga Penelitian (koordinasi) BP Tangguh Project.1 Ekosistem Kawasan CagarAlam Teluk Bintuni tersusun oleh dua ekosistem utama. baik secara langsung seperti konversi lahan maupun tidak langsung. Ketidakjelasn batas kawasan di lapangan. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai penyangga sistem kehidupan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Hal ini dapat memicu semakin meningkatnya tekanan terhadap sumberdaya alam hayati dan ekosistem yang ada di daerah ini.1.

serta lahan usaha untuk peserta transmigrasi nasional. Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa beberapa bagian ekosistem ini. Tabel IV-4 mengindikasikan bahwa ekosistem hutan dataran rendah sedang menghadapi dua permasalahan utama. pada beberapa bagian ekosistem ini telah terjadi penebangan. Ekosistem Hutan Hujan Dataran Rendah Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa permasalahan dan ancaman utama terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasan CATB adalah degradasi ekosistem yang merupakan akibat dari beberapa aktivitas manusia seperti disajikan pada Tabel IV-4.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong terpelihara dengan baik. pembuatan kebun masyarakat. Penebangan liar (illegal logging) Keterangan Ada yang dilakukan sebelum tata batas definitif kawasan Pelaku kegiatan ini belum bisa di justifikasi dan memerlukan pengamatan yang lebih seksama. yaitu degradasi ekosistem dan tumpah tindih kawasan. Selain itu. Utara. Terutama dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di dalam kawasan Memanfaatkan bekas logyard dan ada yang dibuka jauh sebelum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kemunduran yang terjadi pada ekosistem ini sebagian besar disebabkan oleh adanya intervensi manusia seperti pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh beberapa HPH dan KOPERMAS yang beroperasi di sekitar kawasan.9 . Tabel IV-4. perladangan. penebangan liar. kecuali beberapa bagian ekosistem hutan hujan dataran rendah dan sebagian kecil hutan mangrove telah mengalami gangguan/tekanan akibat faktor manusia seperti pembukaan lahan untuk pemukiman. tempat penimbunan kayu (logyard). serta untuk keperluan pemukiman penduduk lokal. dan Barat Laut kawasan CATB sebagian telah mengalami kemunduran. terutama pohon-pohon jenis komersil seperti merbau dan matoa. Perladangan (cultivated land) Pemukiman penduduk Sumber: Survei Tim TNC. Temuan di lapangan menunjukan Analisis Permasalahan IV . Permasalahan sekaligus ancaman terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Permasalahan Degradasi ekosistem Stakeholder/penyebab Pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh HPH dan Kopermas. 2005. baik yang berada di pulau mangrove maupun di batas Timur. dan sebagai akibat gejala alam seperti erosi tepi dan angin.

5’’ 0 E 133 43’ 49. Sigirau S. Tabel IV-5. Ausoi S. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan sudah tidak digunakan Logyard III Logyard IV PT Yotefa Sarana Timber PT Yotefa Sarana Timber S.10 .4” S 20 06’ 25.2” Keterangan Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan Masih digunakan oleh Kopermas dan HPH PT Manokwari Lestari.02. Tempat-tempat tersebut setelah digunakan oleh pemegang HPH dan Kopermas belum dilakukan rehabilitasi. Letak Logyard Logyard II Dibuka oleh PT.57. Tikamari/ Anak Kasih S.3” E1330 37’.86. Ausoi S 20 06’. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan sudah tidak digunakan tapi sekarang diupayakan untuk dijadikan Dermaga Fery (ASDP).4’’ E133 55.4’’ 0 E 133 40’ 13. khususnya ekosistem hutan dataran rendah. Sumberi Kopermas Kopermas Kopermas S.5” S 20 09’ 30.3” S 20 07’.9’’ 0 E 133 51’ 38.18.2” S 20 06’ 04. Tabel IV-5 menunjukan bahwa di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang secara hukum merupakan daerah konservasi terdapat aktivitas pembukaan lahan untuk keperluan pembuatan logyard yang jumlahnya dapat mengancam keberadaan eksositem yang ada.1’’ 0 E 133 56’ 05. informasi dari pengelola kawasan dan masyarakat yang bermukim di areal tersebut. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan digunakan sebagai areal pemukiman K.8” Sumber: Survei Tim TNC. Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh PT Yotefa Sarana Timber dan Kopermas.Henrison Iriana Lokasi S.56’’ E1330 34’ 47.6” S 20 03’ 04.36. Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh Kopermas. 2005.5’’ S 20 02’ 39. Anak Kasih. Awarepi Logyard SP IV Kopermas S. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh Kopermas. Tempat Penimbunan Kayu (TPK)/ Logyard yang menempati ekosistem hutan dataran rendah dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Tahun 2005. Bahkan terdapat beberapa logyard yang sudah tidak digunakan oleh pemegang HPH masih digunakan oleh KOPERMAS untuk tempat penimbunan kayu sebelum dilakukan pemuatan ke tongkang. pembukaan lahan untuk keperluan logyard Analisis Permasalahan IV . Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan sementara non aktif.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong terdapat beberapa tempat penimbunan kayu (logyard) yang terdapat dalam pada ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam (Tabel IV-5).9” E1330 40’. Muturi Logyard Anak kasih Logyard Sumberi Logyard Sp V Logyard V Kopermas S.Tirasai 0 GPS S 2 03’ 13. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan.

beberapa bagian ekosistem ini telah dibuka untuk keperluan pembuatan kebun masyarakat. Pembukaan lahan ini dimungkinkan karena letak areal penebangan HPH/Kopermas yang langsung berbatasan dengan ekosistem hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni. Gambar IV-4. Kegiatan perladangan/membuka kebun ini lebih banyak dilakukan oleh masyarakat yang bermukim dalam dalam kawasan. Sumberi di kawasan CATB Kegiatan perladangan/berkebun juga merupakan faktor yang memberi andil terhadap kemunduran eksositem hutan dataran rendah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tersebut terjadi sebelum dan sesudah kegiatan tata batas kawasan. untuk keperluan pengangkutan kayu bulat/gergajian para pemegang HPH dan Kopermas “tidak memiliki” alternatif lain dan lebih banyak memilih alternatif melalui sungai-sungai yang ada dalam Cagar Alam Teluk Bintuni. Selain itu. Pembukaan lahan hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove sebagai logyard di S.11 . Namun setelah adanya tata batas kawasan. Lokasi kebun masyarakat pada ekosistem ini lebih banyak terdapat pada beberapa pulau mengrove baik berbentuk hamparan pegunungan rendah maupun bukit-bukit kecil seperti Pulau Mangrove Maniai. Sedangkan logyard yang dibangun setelah adanya tata batas kawasan semuanya dibuka oleh Kopermas. Kamai. Kebun masyarakat lokal yang bermukim di Kampung Mamuranu di kawasan CATB Nusuama. dan Pulau Modan. Cara Analisis Permasalahan IV . Hasil pengamatan di lapangan. sehingga pembuatan tempat penimbunan kayu (logyard) di tepi-tepi sungai yang ada dalam kawasan CATB tidak bisa terhindarkan. Gambar IV-3. areal tersebut tidak direhabilitasi bahkan digunakan kembali oleh sebagian Kopermas yang beroperasi di sekitar wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni. seperti yang dilakukan oleh masyarakat lokal yang yang bermukim di kampung Mamuranu dan Anak Kasih yang ada dalam kawasan CATB. Logyard yang dibuka sebelum adanya tata batas kawasan sebagian besar dilakukan oleh pemegang HPH yang arealnya berbatasan dengan kawasan CATB.

c. kegiatan ini dilakukan sebelum adanya tata batas kawasan atau karena “ketidakjelasan” batas kawasan di lapangan. kawasan CATB telah mengalami sedikit tekanan/gangguan oleh adanya penebangan. Pada beberapa bagian kawasan CATB. Pembersihan lantai hutan. yaitu Kampung Tirasai dan sesudah tata batas kawasan.12 . Pola pembukaan lahan atau kebun masyarakat secara umum mempunyai beberapa tahapan sebagai berikut: a. d. ada yang di lakukan sebelum tata batas kawasan. keberadaanya sudah ada sejak kawasan ini belum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam. Pembukaan lahan untuk keperluan pemukiman pada kawasan dan sekitar kawasan yang dijumpai ada beberapa bekas pola. Pembukaan lahan untuk pemukiman. terutama pada bagian sebelah utara yang langsung berbatasan dengan beberapa areal konsesi HPH dan Kopermas. b. Setelah kering. Informasi yang diperoleh dari pengelola kawasan CATB.0 ha tiap kepala keluarga. menebang pohon-pohon tingkat pancang dan tiang. Gambar IV-5. yaitu Kampung Anak Kasih. seperti (i) memanfaatakan logyard yang ditinggalkan oleh Kopermas seperti Kampung Anak Kasih. Lahan tersebut umumnya diusahakan selama 1 – 2 tahun (3 – 4 kali panen). Khusus untuk pemukiman masyarakat Kampung Mamuranu yang berada dalam kawasan CATB. seperti juga pada kegiatan pembukaan lahan untuk logyard. Waktu (masa bera) yang diperlukan untuk mengusahakan kembali bekas kebun yang ditinggalkan adalah 3-5 tahun.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong berkebun yang digunakan adalah sistem tebas bakar (slashed and burned system) dan telah berlangsung lama dan turun-temurun dari generasi ke generasi. (iii) serta pemukiman yang masyarakat sendiri seperti dibuka oleh Kampung Mamuranu. bekas tebangan berupa ranting dan semak belukar dikumpulkan pada suatu tempat dalam kebun dan atau di pinggiran kebun. Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. kemudian mereka akan berpindah ke lahan yang baru. kemudian dibakar. Penanaman sesuai jenis yang akan diusahakan. Menebang pohon-pohon besar yang ada dalam lahan. kemudian dibiarkan beberapa waktu tertentu agar bekas tebangan mengering. seperti Kampung Tirasai yang dibangun oleh PT Henrison Iriana. Salah satu logyard yang memanfaatkan sebagian ekosistem mangrove di S. (ii) pembukaan lahan pemukiman oleh pemegang HPH dalam kawasan. Analisis Permasalahan IV . Luas lahan yang diusahakan bervariasi antara 0.2 – 1. yaitu menebas semak belukar.

Merbau (Intsia spp. ekosistem ini juga terancam degradasi sebagai akibat dari dari pengusahaan hutan yang dilakukan di bagian atas (upland) kawasan yang tidak memperhatikan kelestarian dan keberlanjutan. dan rehabilitasi menjadi suatu hal yang mendesak di lakukan dalam rencana pengelolaan kawasan ke depan. Tanarius) yang menggantikan jenis asli seperti Matoa (Pometia spp. Penyebab utama kemunduran ekosistem ini secara langsung adalah akibat pembukaan lahan untuk pembuatan logyard dan pemukiman penduduk.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kemunduran ekosistem hutan dataran rendah yang disebabkan oleh beberpa hal tersebut di atas akan membawa beberapa konsekuensi terganggunya fungsi ekosistem tersebut sebagai salah satu penyusun kawasan CATB. Hasil pengamatan lapangan mengidentifikasi bahwa permasalahan utama yang dihadapi ekosistem ini adalah degradasi lahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia (Tabel IV-6). Ekosistem mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni paling luas dan paling sedikit mendapat gangguan di kawasan Asia Pasifik dan perlu mendapat perhatian (Ruitenbeek. 2.). Perubahan iklim mikro (suhu. 4. Ekosistem mangrove ini terlihat cukup dinamik yang diindikasikan oleh pertambahan luasan di beberapa bagian dan pengurangan luasan di bagian lain yang terjadi secara alami. Terinvasinya areal-areal bekas kebun masyarakat dengan jenis-jenis tumbuhan pionir seperti Macaranga (Macaranga mappa dan M. Dengan melihat kondisi permasalahan dan lebih jauh yang dapat terjadi di ekosistem ini. dan jenis-jenis dari famili Dipterocarpaceae.13 . Masuknya jenis-jenis luar (introduksi) yang bisa menjadi sumber pembawa hama dan penyakit. Perubahan struktur hutan yang bisa mengakibatkan terganggunya habitat yang merupakan tempat berkembangbiak jenis-jenis satwa. maka perlindungan. serta akibat faktor alam seperti erosi tepi sungai dan angin. Beberapa hal yang lebih jauh dapat ditimbulkan sebagai akibat kemunduran eksositem ini antara lain: 1.). 1992). kelembaban dan intensitas cahaya) dapat mempengaruhi pertumbuhan permudaan alam pada ekosistem ini. pemanfaatan oleh penduduk setempat. 3. Ekosistem Mangrove Ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan komunitas alami dan pertumbuhannya masih terlihat cukup baik. pelestarian. aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas yang memanfaatkan sungai. Analisis Permasalahan IV . Secara tidak langsung.

Karena gejala manusia alam dan aktivitas Pemanfaatan pohon mangrove oleh penduduk lokal. tiang rumah. Perubahan masukan dari ekosistem air tawar dan sedimentasi yang sangat besar Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. Permasalahan sekaligus ancaman dan penyebabnya terhadap keberadaan ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Permasalahan Degradasi ekosistem Penyebab Pembukaan lahan (land clearing) untuk tempat penimbunan kayu (logyard) HPH dan Kopermas. 2005.14 . Aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas Pemukiman dan perumahan penduduk. dan angin. Seperti yang terjadi pada ekosistem hutan dataran rendah. Pengusahaan hutan daerah atas (upland/ hinterland) yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Untuk keperluan kayu bakar. terutama pada bagian pinggiran sungai. kasus yang yang sama juga terjadi pada ekosistem ini namun pada skala luasan yang lebih kecil. Namun setelah adanya tata batas kawasan. Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni setelah adanya tata batas oleh kawasan Kopermas. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa sebagian kecil luasan hutan mangrove ikut dibuka dalam pembukaan lahan untuk keperluan tempat penimbunan kayu (logyard). Keterangan Ada yang dilakukan sebelum tata batas definitif kawasan Penggunaan tongkang dalam pengangkutan kayu di sungai. Pembukaan lahan untuk keperluan logyard tersebut terjadi sebelum kegiatan dan sesudah kegiatan tata batas kawasan. areal tersebut tidak direhabilitasi bahkan sebagian besar masih digunakan oleh HPH maupun Kopermas yang beroperasi di sekitar wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel IV-6. Erosi tepi sungai. abrasi pantai. Memanfaatkan bekas logyard dan ada yang dibuka jauh sebelum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. semuanya dibuka Analisis Permasalahan IV . Bentuk gangguan ekosistem mangrove yang diakibatkan oleh tongkang pengangkut kayu log di S. dan tiang belo. Sedangkan logyard yang dibangun Gambar IV-6. Logyard yang dibuka sebelum adanya tata batas kawasan sebagian HPH besar yang dilakukan arealnya oleh pemegang berbatasan dengan kawasan CATB.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pada beberapa bagian ekosistem ini juga dijumpai kerusakan/gangguan dalam skala kecil sebagai akibat dari kegiatan pengangkutan kayu oleh oleh HPH dan Kopermas yang memanfaatkan beberapa sungai di kawasan Cagar Alam. Kegiatan ini biasanya Hasil pengamatan di lapangan dan wawancara dengan penduduk lokal bahwa beberapa bagian hutan mangrove yang tumbuh di tepi-tepi sungai di kawasan ada yang tumbang atau patah yang disebabkan oleh lalu lintas Tongkang dalam mengangkut kayu dari logyard menuju ke perairan Teluk. Degradasi ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Bokor. Hal ini dimungkinkan karena hutan mangrove pada batas Barat Laut kawasan posisinya sangat dekat dengan pemukiman sehingga aksesibilitas sangat mudah. pemanfaatan vegetasi mangrove sudah berkembang untuk keperluan kayu bakar dan bahan bangunan. Tekanan terhadap keberadaan hutan mangrove juga datang dari pemanfaatan vegetasi mangrove oleh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan. yaitu periode Juni – Agustus yang merupakan musim monson tenggara biasanya bertiup angin tenggara yang cukup kencang dengan kecepatan lebih dari 90 km/jam. . pada bulan-bulan tertentu. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pemanfaatan hutan mangrove di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni hanya terbatas pada pemanfaatan hutan mangrove dalam skala tradisional/subsistem (traditional uses) untuk keperluan rumah tangga seperti kayu bakar. Muturi. pertambahan cepat. juga tidak jarang diakibatkan oleh faktor alam seperti erosi tepi sungai dan angin. serta untuk keperluan tiang-tiang pagar dalam kegiatan mencari ikan (fishing) yang dalam istilah lokal disebut “tiang belo”. bahan bangunan rumah. Namun menurut informasi dari pengelola kawasan bahwa pada beberapa bagian kawasan. Naramasa. Kerusakan hutan mangrove akibat erosi tepi dekat muara sungai Wasian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Tatawori. S. menggunakan sarana Tug Boat dan Tongkang.15 . Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kejadian ini paling banyak terjadi pada ekosistem mangrove yang tumbuh di pinggiran pada daerah dekat muara sungai-sungai besar seperti Sungai Wasian. Dari data iklim yang diperoleh. Sedangkan pada periode Desember Analisis Permasalahan IV . penduduk ini semakin aktivitas dapat mengancam beberapa keberadaan ekosistem pada waktu ke depan. perkakas. terutama pada batas sebelah barat laut di pinggiran Sungai Wasian. dan S. Seiring dengan berkembangnya Kabupaten Teluk Bintuni dimana salah satu konsekuensi yang laju Gambar IV-7. terutama kecepatan angin. S. sehingga masyarakat sudah mulai melakukan penebangan pohon mangrove dari jenis Bruguiera sp. S. selain diakibatkan oleh faktor manusia.

Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi ekosistem daerah atas (upland) telah mengalami gangguan. sungai-sungai yang bermuara di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sering meluap (banjir) dengan warna air berubah menjadi coklatkeruh. kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitar setiap tahun mendapat rata-rata curah hujan yang tinggi. Secara alami masukan air tawar dari atas ekosistem mangrove sangat diperlukan sebagai salah satu sumber unsur hara (nutrient) selain air hujan untuk pertumbuhan. Hilangnya sebagian luasan hutan mangrove di daerah ini diduga lebih banyak disebabkan oleh “abrasi” pantai. Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa masukan air tawar yang masuk ke dalam eksosistem mangrove lebih banyak merupakan aliran permukaan. Menurut informasi penduduk setempat. Apabila hal ini berlangsung dalam waktu lama. Tiupan angin kencang tersebut juga menyebabkan robohnya pohon-pohon mangrove di beberapa bagian kawasan. Analisis Permasalahan IV . Dari studi yang dilakukan oleh Tim TNC (2003) diketahui bahwa luasan mangrove Pulau Karaka yang menurut peta Citra Satelit Lansat tahun 1989 adalah 15. kecepatan angin kadang mencapai lebih dari 30 km/jam.81 hektar berdasarkan peta Citra Satelit Lansat tahun 2002.Pebruari yang merupakan musim monson barat-laut. dan pemukiman di daerah atas diduga sebagai penyebab meningkatnya aliran permukaan yang masuk ke kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong .19 hektar telah berkurang luasnya menjadi 6. pada saat musim hujan. Kopermas. secara kuantitatif jumlah input air tawar meningkat namun secara kualitatif berupa kandungan bahan organik menurun. Nopember. Hal ini karena yang terangkut oleh runoff adalah berupa material kasar yang berasal dari lapisan tanah yang lebih dalam dan bukan merupakan bahan halus berupa humus sebagai hasil dekomposisi yang terjadi di lantai hutan di atasnya. yaitu lebih dari 3000 mm. Pada saat masukan yang diterima lebih banyak berasal dari aliran permukaan (runoff). Material ini hanya akan tertumpuk di ekosistem ini dalam bentuk delta-delta di kelokan sungai maupun di daerah muara. Adanya beberapa HPH. Hasil penelitian Lugo dan Clintron (1975) mengatakan bahwa hutan mangrove dengan komposisi pohon-pohon yang tinggi sangat rentan terhadap kerusakan bila berkembang pada kondisi aliran permukaan yang tinggi. dan Desember curah hujan bulanannya cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan perairan di sungai-sungai besar tersebut bergelombang yang sering menghantam pinggiran sungai yang ditumbuhi vegetasi mangrove sehingga terjadi “abrasi”. akan berakibat pada pertumbuhan vegetasi mangrove menjadi terhambat (Lugo and Snedaker. Berdasarkan data iklim yang ada.16 . 1974). Hal lain yang yang menjadi ancaman terhadap degradasi yang dihadapi ekosistem ini adalah dampak yang akan ditimbulkan oleh perubahan masukan (input) dari ekosistem air tawar. Perubahan masukan ini dapat berupa meningkatnya aliran permukaan (run-off) dan berkurangnya masukan unsur hara (nutrient) yang terjadi secara simultan. Kondisi ini membuat daerah kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya sangat rentan terhadap erosi/aliran permukaan bila tidak dikelola berdasarkan asas kelestarian. dimana pada bulanbulan tertentu seperti bulan Pebruari.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Implikasi negatif terhadap keberadaan ekosistem mangrove sebagai dampak dari beberapa permasalahan tersebut di atas adalah terganggunya fungsi ekologis penting dari ekosistem ini seperti peredam gelombang dan angin badai. B. pelindung pantai dari abrasi. Mamurana. Pada habitat tersebut tumbuh berbagai spesies tumbuhan. serta tempat berkembang biak yang sesuai dengan kehidupan fauna juga sangat mendukung kehadiran satwa liar baik dari jenis avifauna. air. dan minimnya data dasar tentang flora dan fauna di kawasan.17 . kegiatan ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan regenerasi permudaan dari jenis-jenis asli yang pada Analisis Permasalahan IV . undang-undang international. beberapa di antaranya merupakan spesies endemik dan jenis-jenis yang keberadaannya di alam sudah dilindungi Gambar IV-8. daerah mencari makanan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan. mamalia. 1. keberadaanya di alam Permasalahan utama yang dihadapi oleh sudah masuk dalam kategori terancam punah. baik spesies tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis maupun spesies kunci (key species).1. nasional maupun Bahkan beberapa diantara satwa yang ada. kompoen flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah berkurangnya jenisjenis flora asli. CATB. Dari segi ekologi. Terinvasinya hutan bekas perladangan oleh jenis pionir di K. penahan lumpur dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan. daerah asuhan (nursery ground). Dari sejumlah jenis satwa yang ada di kawasan. Kondisi fisiografi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan ketersediaan sumber daya seperti pakan. Terancamnya habitat flora setempat Hal ini merupakan dampak dari degradasi ekosistem sebagai akibat kegiatan manusia seperti pembukaan lahan untuk pembuatan logyard dan kebun masyarakat.2 Flora dan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang cukup tinggi. reptil dan amfibi serta jenis avertebrata. yaitu hutan mangrove dan hutan hujan dataran rendah. pemukiman dan kebun penduduk. penghasil sejumlah besar detritus (daun dan dahan pohon mangrove yang rontok). tempat berlindung. Ini sangat terlihat nyata pada ekosistem hutan dataran rendah yang letaknya berbatasan langsung dengan areal hutan produksi. penurunan populasi beberapa jenis satwa liar. Flora di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan suatu mosaik yang terdiri dari dua tipe vegetasi utama.

Perubahan iklim mikro dan naungan dapat menekan pertumbuhan jenisjenis ini. jenis-jenis burung ini masih bisa dijumpai di sekitar kampung dan masih mudah bagi mereka untuk menangkap jenis-jenis satwa ini. Hal ini diduga karena jenis satwa ini sangat rentan terhadap gangguan habitat yang sekaligus tempat berkembang biak jenis-jenis satwa ini. Berkurangnya keanekaragaman jenis satwa di kawasan juga diduga disebabkan oleh aktivitas beberapa industri kehutanan yang memanfaatkan kawasan Cagar sungai-sungai Alam di dalam sarana sebagai transportasi seperti kapal penarik (tug boat). Anak Kasih. membutuhkan habitat berupa hutan dengan karakter tajuk yang Analisis Permasalahan IV . jenis-jenis cenderawasih seperti cenderawasih minor (Paradisea minor) dan cenderawasih indah (Ptiloris magnificus). Mamuranu. Untuk berkembang. keberadaannya jenis-jenis satwa tersebut sangat jarang dijumpai sekitar kampung.18 . Kasuari kerdil (Casuarius benetti). semai. hutan sekunder yang terbentuk didominasi jenis-jenis pionir seperti makaranga (Macaranga mappa dan Macaranga tanarius ) dan sirih hutan (Piper sp. khususnya biota perairan diduga juga disebabkan adanya isu penggunaan racun serangga (agriculture pesticide) dalam penangkapan hasil laut. menurut informasi penduduk yang bermukim di K. Penurunan populasi satwa. Sumberi. Penurunan populasi dan keanekaragaman jenis satwa. mengakibatkan menurunnya kualitas habitat yang sangat satwa berpengaruh liar yang terhadap menghuni kehidupan beberapa tipe ekosistem di kawasan. Regenerasi jenis-jenis ini. Terganggunya beberapa bagian ekosistem kawasan membawa akibat implikasi kegiatan pada manusia perubahan Hal ini Gambar IV-9. dan Naramasa bahwa dalam kurun waktu lebih 10 tahun yang lalu. Burung Mambruk (Goura cristata). Tirasai. Akan tetapi saat ini. Jenis burung mambruk (Goura cristata) yang telah dilindung undang-undang yang populasinya terancam struktur dan komposisi vegetasi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong umumnya merupakan jenis-jenis yang tahan naungan (toleran).). Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pada beberapa bekas lahan yang dibuka untuk tujuan tersebut di atas. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa penurunan populasi dan keanekaragaman jenis satwa diduga diakibatkan oleh degradasi ekosistem dan perburuan yang berlebihan (overhunting) baik yang dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan maupun pendatang dari luar kota Bintuni. dan cenderawasih minor (Paradisaea minor) misalnya. dan pancang sangat peka terhadap perubahan iklim mikro dan naungan. terutama pada fase kecambah. 2. secara khusus.

Pada awalnya. Hal yang sama juga terjadi pada beberapa satwa mamalia seperti rusa (Cervus timorensis). informasi dari pengelola kawasan. Habitat jenis-jenis satwa tersebut telah terdesak sebagai akibat aktivitas manusia. Jenis satwa buaya muara (Crocodylus porosus) yang telah dilindung undang-undang populasinya menurun akibat perburuan liar di Cagar Alam Teluk Bintuni. seperti rusa dan babi hutan. yaitu oknum aparat keamanan. serta informasi dari masyarakat setempat bahwa perburuan satwa liar. Jenis burung kasuari kerdil (casuarius benetti) yang telah dilindung undangundang yang populasinya terancam reptil seperti buaya muara (Crocodylus porosus) dan biawak (Varanus sp. faktor perburuan liar juga diduga memberi andil terhadap menurunnya populasi beberapa jenis satwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup Iebat. Kangguru kuskus dan pohon bertotol kuskus (Dendrolagus (Spilocuscus ursinus). permintaan akan daging buruan meningkat pula. namun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. masyarakat lokal.). diketahui Gambar IV-11. Jenis kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus) yang telah dilindung undang-undang yang sudah jarang dijumpai di hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni. Selain isu degradasi ekosistem. utuh (belum BKSDA Papua II Sorong mengalami kerusakan) dengan vegetasi pepohonan besar yang tumbuh rapat dan tajuknya terdiri atas tiga strata. kelabu (Phalanger orientalis). maculatus). Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. perburuan satwa dilakukan oleh masyarakat setempat untuk keperluan sendiri (subsisten). Bahkan hasil buruan yang telah menjadi dendeng merupakan diproses Gambar IV-12. babi hutan (Sus scrofa). bahwa ada tiga pemangku kepentingan utama yang terlibat dalam perburuan satwa liar di kawasan CA. serta jenis Gambar IV-10. Hal ini mengakibatkan jumlah satwa yang Analisis Permasalahan IV .19 . barang oleh-oleh (souvenir) yang biasa dicari tamu-tamu yang datang ke Bintuni. dan pedagang satwa (trader/middlemen).

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
diburu semakin meningkat pula.

BKSDA Papua II Sorong

Metode perburuan yang dilakukan adalah dengan

menggunakan lampu senter dan tombak, pemasangan jerat (perangkap), dan kadang-kadang menggunakan senjata (melibatkan oknum petugas keamanan). Menurunnya populasi satwa yang sering diburu oleh pihak tersebut dapat dilihat dari trend hasil buruan yang diperoleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan yang semakin turun. Hasil dari pertemuan kampung (village meeting) yang dilakukan di beberapa kampung seperti K. Tirasai, Anak Kasih, Mamuranu, Yensei, Yakati dan Kampung Naramasa tergambar bahwa kecenderungan (trend) hasil buruan dan tangkapan masyarakat menurun tajam dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil buruan rusa dan babi misalnya, pada sepuluh tahun yang lalu masyarakat yang berburu hanya dengan menggunakan peralatan tradisional seperti lampu senter dan tombak dengan lokasi tempat berburu yang tidak terlalu jauh dari kampung

mereka, dapat menghasilkan sampai 10 ekor rusa atau babi hutan. Namun saat ini hanya bisa membawa pulang satu atau dua ekor dan tidak jarang pulang tanpa hasil buruan. Lokasi buruan pun semakin jauh dari kampung mereka. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada hasil tangkapan satwa perairan seperti ikan, udang, dan siput. Kondisi fisiografis serta ketersediaan pakan yang cukup membuat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat yang cocok bagi tempat berkembang biaknya buaya muara Crocodylus porosus. Hasil survei yang dilakukan oleh WWF-IUCN-PHPA pada tahun 1985 dan FAO-PHPA pada tahun 1988 ternyata populasi buaya di kawasan Teluk Bintuni menurun tajam. Penyebab utama menurunnya populasi buaya ini adalah karena perburuan terhadap buaya besar dan buaya kecil serta pengambilan telur yang kurang terkendali, yang merupakan salah satu mata pencaharian pokok penduduk setempat. Disamping isu penurunan populasi, keanekaragaman fauna di kawasan juga diduga mengalami pengurangan. Hal ini terlihat nyata pada jenis satwa burung yang banyak

menempati habitat mangrove dan hutan dataran rendah. Menurut hasil survei yang dilakukan Zuwendra dkk. (1991) sedikitnya teramati 95 jenis burung di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. Namun selama survei lapangan yang dilakukan hanya berhasil

tercatat kurang lebih 26 jenis burung. Dari jumlah tersebut, keberadaan beberapa beberapa jenis di antaranya diperoleh berdasarkan informasi dari penduduk yang bermukim di dalam kawasan. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa keanekaragaman jenis, khususnya jenis avifauna di kawasan mengalami penurunan yang signifikan selama 10 tahun terakhir. Selain menurunnya kualitas habitat akibat degradasi ekosistem, hal lain yang memberi andil menurunnya keanekaragaman jenis satwa di kawasan adalah aktivitas pengusahaan hutan yang menggunakan alat-alat mekanik yang menimbulkan kebisingan, khususnya penggunaan kapal penarik (tug boat) yang memanfaatkan beberapa sungai-sungai dalam kawasan. Kebisingan ini diduga mengakibatkan jenis-jenis satwa tertentu, terutama burung, bermigrasi ke tempat yang lebih “aman”.

Analisis Permasalahan

IV - 20

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
3. Kurangnya Data Dasar.

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan lain yang dihadapi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni, khususnya aspek flora dan fauna yang menempati ekosistem kawasan, adalah minimnya data flora dan fauna yang tersedia. Pengelola hampir tidak memiliki data dasar tentang flora dan fauna sehingga

pengelolaan tidak pernah didasarkan kepada informasi data. Kurangnya data dasar flora dan fauna kawasan Cagar Alam terutama disebabkan karena studi atau kegiatan penelitian tentang keberadaan fauna di kawasan masih sangat jarang. Padahal ketersediaan data dasar yang memadai, terutama data kuantitatif suatu kawasan konservasi merupakan salah satu faktor penting dalam proses pengelolaan kawasan. Beberapa aspek flora kawasan yang

dirasa belum memadai adalah daftar (check list) jenis-jenis, potensi, serta penyebaran flora di kawasan. Berdasarkan informasi-informasi tersebut, dapat diketahui jenis-jenis flora yang

merupakan spesies kunci dan spesies yang dilindungi yang sangat menunjang dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Kondisi minimnya data dasar selain terjadi pada komponen flora kawasan juga terjadi pada komponen fauna. Penelusuran data sekunder yang dilakukan menunjukan bahwa informasi tentang keanekaragaman, dinamika populasi, dan penyebaran fauna di kawasan masih kurang memadai dalam mendukung kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ketersedian informasi tersebut sangat penting guna menjawab dua pertanyaan umum yang sering muncul dan di hadapi para pengelola kawasan konservasi seperti juga kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni, yaitu: 1. Komunitas spesies apa yang terdapat dalam kawasan konservasi, dimana dan berapa jumlahnya? 2. Bagaimana kecenderungan (trend) atau dinamika populasi dari waktu ke waktu?

B.2

Altenatif pemecahan masalah

Permasalahan biologi kawasan yang lebih banyak di pengaruhi oleh faktor eksternal apabila dibiarkan akan menjadi faktor pemnghambat dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Oleh karena itu sesegera mungkin dicarikan alternatif pemecahan masalahnya (Tabel IV-7, Tabel IV-8, Tabel IV-9).

Analisis Permasalahan

IV - 21

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Tabel IV-7. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove dan nipah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi).

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh. Larangan pembukaan lahan.

Degradasi ekosistem

Pembukaan lahan (land clearing) untuk tempat penimbunan kayu (logyard) HPH dan Kopermas. Aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas. Pemukiman dan perumahan penduduk.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Dinas Pertania Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi) BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat Pemanfaat

Relokasi Logyard ke luar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bila memungkinkan. Penataan kawasan dalam bentuk pembagian blok ekosistem kedalam 2 blok, yaitu blok inti dan blok “pemanfaatan”. Minimalisasi kegiatan penebangan di daerah atas (upland) kawasan. Penindakan secara tegas dengan pemberlakuan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan tersebut. Monitoring dan kontrol secara kontinyu terhadap luasan logyard yang sudah ada sehingga tidak ada penambahan luasan areal logyard. Pemasangan tanda larangan menebang di kawasan.

Pemanfaatan pohon mangrove oleh penduduk lokal.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Erosi tepi sungai, abrasi pantai, dan angin.

Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

Perubahan masukan dari ekosistem air tawar. Penebangan liar (illegal logging). Perladangan (cultivated land)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Dinas Pertania Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Kelompok Masyarakat bermukim di dalam - sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan

Pembinaan dan penerangan tentang pentingnya kawasan.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Analisis Permasalahan

IV - 22

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah Mengikut sertakan masyarakat dalam perlindungan dan pengawasan kawasan. Pembinaan terhadap peladang di dalam kawasan melalui penerapan teknologi pemanfaatan lahan minimal dengan tetap memperhatikan kebutuhan. Anjuran penggunaan spesies lokal bukan introduksi.

Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Pendukung Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat pemanfaat. Dinas Pertanian Kab. Teluk Bintuni (Koordinasi). Kelompok Masyarakat pemanfaat. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC, 2005.

Tabel IV-8. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah 1. Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis asli yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh yang ada. 2. Penindakan secara tegas dengan pemberlakuan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan tersebut. 3. Monitoring dan kontrol secara kontinyu terhadap luasan logyard yang sudah ada sehingga tidak ada penambahan luasan areal logyard.

Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi).

Degradasi ekosistem

1. Pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh HPH dan Kopermas.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni .

Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni .

Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi).

Analisis Permasalahan

IV - 23

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah 4. Pemindahan logyard ke lokasi di luar kawasan.

Pendukung Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Polres Teluk Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan 1. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi). 2. Kelompok Masyarakat pemanfaat. 1. Kelompok Masyarakat pemanfaat. 1. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan

2. Penebangan liar (illegal logging)

1. Pemasangan tanda larangan menebang di kawasan. 2. Penegakan hukum.

3. Penyadaran tentang pentingnya kawasan.

4. Mengikutsertakan masyarakat dalam perlindungan dan pengawasan kawasan. 3. Perladangan (cultivated land) 1. Pembinaan terhadap peladang di dalam kawasan melalui penerapan teknologi pemanfaatan lahan minimal dengan tetap memperhatikan kebutuhan. 2. Anjuran penggunaan spesies lokal bukan introduksi.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Dinas Pertanian Kab. Teluk Bintuni (Koordinasi).

4. Pemukiman penduduk

Pembinaan dan penerangan tentang pentingnya kawasan.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC, 2005.

Tabel IV-9. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi). Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

Permasalahan Berkurangnya jenis-jenis flora asli

Penyebab Degradasi habitat

Alternatif pemecahan masalah 1. Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh. 2. Penegakan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan yang mengakibatkan kemunduruan habitat.

Analisis Permasalahan

IV - 24

dan tempat bertelur buaya dan burung. 3. BKSDA Papua II c. Larangan perburuan terhadap satwa yang dilindungi dan masuk dalam kategori terancam. (sistem “sasi”) BKSDA Papua II Sorong Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c. 3. Minimalisasi penggunaan peralatan mekanik dengan tingkat kebisingan yang tinggi di dalam kawasan CA. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . Pemberdayaan masyarakat misalnya penangkaran buaya dan keramba apung di sungai. Penurunan Populasi satwa Perburuan liar/ berlebihan 1.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi). BKSDA Papua II c. Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Analisis Permasalahan IV .q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Permasalahan Penyebab Alternatif pemecahan masalah 3. 2.q Resort KSDA Bintuni Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni BKSDA Papua II c. Larangan perburuan satwa liar bagi masyarakat yang bukan pemilik hak ulayat dan tidak tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan. 2. tempat perkawinan burung.25 . Pembatasan perburuan satwa oleh masyarakat yang pemilik hak ulayat dan menetap di dalam dan sekitar kawasan hanya untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c. Penggunaan Racun Larangan keras menggunakan bahan kimia dalam penangkapan hasil perikanan. 4.q Resort KSDA Bintuni ..q Resort KSDA Bintuni Perubahan Keanekaragama n jenis satwa Penggunaan alat-alat mekanik oleh HPH dan Kopermas Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. Pendukung Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). Pemetaan tempattempat penting bagi perkembangan satwa liar seperti tempat pemijahan biota perairan. Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c. Pengaturan pemanfaatan sumberdaya di kawasan. Penyuluhan dan penerangan tentang penting keutuhan ekosistem sebagai habitat satwa dan keberadaannya di kawasan. 4. Relokasi Logyard ke luar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bila memungkinkan.q Resort KSDA Bintuni . Mitra Pesisir Teluk Bintuni BKSDA Papua II c. 1. Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi).q Resort KSDA Bintuni .

BKSDA Papua II Sorong Stakeholders Penanggungjawab Universitas Negeri Papua Manokwari Pendukung BKSDA Papua II c. 2005.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Permasalahan Kurangnya data dasar Penyebab Minimnya studi/penelitian dan monitoring flora dan fauna di kawasan Alternatif pemecahan masalah Penelitian dan monitoring yang intensif terhadap keberadaan flora dan fauna kawasan. yaitu dan pengembangan partisipasi masyarakat.q Resort KSDA Bintuni . C.1.1 Rendahnya Partisipasi Masyarakat Partisipasi merupakan suatu istilah yang diartikan sebagai upaya untuk menunjukan keikutsertaan individu/kelompok dalam suatu kegiatan. yaitu : (1) Partisipasi dalam aktivitas-aktivitas bersama dalam proyek pembangunan khusus. Koentjaraningrat (1980) menyatakan bahwa partisipasi masyarakat. Aspek Sosial dan Ekonomi dan Budaya Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif apabila dalam proses perencanaannya memperhatikan semua aspek termasuk aspek sosial ekonomi dan budaya. dan (2) Partisipasi sebagai individu di luar aktivitas bersama. Kegiatan yang sedang dilakukan sekarang adalah Analisis Permasalahan IV . Dari pendapat Kontjaraningrat tersebut terdapat dua sumber munculnya partisipasi masyarakat.1 Permasalahan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan merupakan permasalahan dari aspek sosial ekonomi dan budaya dalam rangka rencana Pola pengelolaan kawasan Sumberdaya CATB. yaitu partisipasi masyarakat karena dorongan atau motivasi dari luar dan partisipasi karena keinginan dari diri manusia itu sendiri. Pemanfaatan Pengembangan Pendidikan dan Penelitian. terutama masyarakat pedesaan dapat dibagi kedalam dua tipe. partisipasi masyarakat yang perlu dilakukan. Alam. Berdasarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan CATB. Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Mitra Pesisir Teluk Bintuni Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. C. yaitu harus adanya dorongan atau motivasi dari luar dalam hal ini bisa di inisiasi oleh BKSDA Papua II cq Resort Bintuni atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Lembaga swadaya masyarakat yang sudah melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan di sekitar kawasan CATB diantaranya yaitu LSM Mitra Pesisir. yang bila dikaitkan dengan pembangunan maka akan merupakan upaya peran serta dalam pembangunan.26 . C.

sekarang sudah memerlukan waktu 1 jam lebih bahkan sampai ke sekitar Teluk Bintuni. hasil tangkapan dibandingkan dengan 3-5 tahun lalu sudah semakin menurun. ungkap beberapa penduduk lokal yang biasa melakukan aktivitas penangkapan hasil laut di beberapa kampung yang dikunjungi. Hasil pengamatan di lapangan dan wawancara dengan masyarakat menunjukan bahwa kecenderungan (trend) produksi. yaitu untuk fauna adalah berbagai jenis ikan. khususnya sumber daya alam fauna baik berupa hasil tangkapan maupun buruan menurun dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. rusa. Sedangkan flora. Hasil pengamatan di lapangan serta infromasi dari pengelola kawasan bahwa partisipasi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan yang sangat diperlukan dalam rangka rencana pengelolaan kawasan CATB masih rendah. Hal ini terbukti dengan adanya tumpang tindih kawasan dengan lahan usaha II transmigrasi (Waraitama dan Banjar Ausoy) dengan luas total 360 hektar serta adanya pembangunan 54 rumah di Kampung Anak Kasih. Kemungkinan besar terjadi karena minimnya media dan sarana informasi mengenai keberadaan Cagar Alam dan pelestarian alam. Selain itu daerah tangkapan sudah semakin jauh. Hal yang sama juga terjadi pada kegiatan perburuan satwa liar seperti rusa.27 . kepiting (karaka). Pola Pemanfaatan Sumberdaya Alam Secara turun temurun.babi serta berbagai jenis burung. babi hutan.1. dan satwa burung. yaitu nipah dan tanaman mangrove serta sagu (di sekitar Yensei dan Yakati). dimana dahulu hanya 15 sampai 30 menit dari perkampungan. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan misalnya. Sepuluh tahun lalu satwa rusa banyak terlihat di Analisis Permasalahan IV . LSM tersebut dapat dijadikan sebagai mitra dalam rangka mengembangkan partisipasi masyarakat. masyarakat lokal yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni telah berinteraksi dengan kawasan dalam bentuk memanfaatkan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan. serta beberapa kegiatan ilegal seperti perburuan dan pembukaan lahan untuk perladangan dan logyard di dalam kawasan. Informasi dari masyarakat menunjukan bahwa berburu satwa liar seperti disebutkan di atas sudah semakin sulit. “Dulu kita kalo mencari bisa bawa pulang 2 sampai 3 ember.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong menyusunan rencana strategis (Renstra) Pengelolaan Kawasan Pesisir Kabupaten Teluk Bintuni.2. Hal ini diduga karena tingkat pengetahuan serta pemahaman tentang fungsi kawasan cagar alam sebagai penyanggah sistem kehidupan masih rendah. buaya. Kegiatan pemanfaatan tersebut telah terjadi sejak jaman dahulu dan menjadi warisan bagi generasi sekarang. Sumberdaya alam yang banyak dimanfaatkan antara lain. sekarang hanya dapat setengah sampe 1 ember”. C. udang. Penyebabnya diduga karena kurangnya kegiatan sosialisasi tentang fungsi kawasan CATB.

pengaruh dari akar bore tersebut cepat hilang (2-3 hari) di lokasi tersebut. 2. Salah satu faktor penyebab kecenderungan (trend) produksi ini adalah pola pemanfaatan yang tidak begitu memperhatikan aspek kelestarian hasil. Sedangkan untuk masyarakat yang memanfaatkan batang mangrove. Dengan melihat trend hasil tangkapan yang semakin menurun maka dapat diprediksikan jumlah populasi fauna yang ada di dalam kawasan CATB semakin menurun. akan terjadi akumulasi dan dapat mengancam perkembangbiakan biota perairan. Dampak dari penggunaan jenis racun ini terhadap populasi biota laut seperti ikan memang tidak langsung terlihat seketika. berhasil diidentifikasi beberapa pola pemanfaatan sumber daya alam. dapat dilihat bahwa ketergantungan masyarakat terutama yang bermatapencaharian sebagai nelayan. namun hal ini perlu pengkajian yang lebih dalam. Hal tersebut yang saat ini menjadi permasalahan. sedangkan yang besar untuk tiang rumah. Menurut informasi beberapa nelayan dari beberapa kampung (desa) di sekitar CATB.5 dan Apoda dalam kegiatan penangkapan hasil laut. Penggunaan akar bore ini dilakukan pada saat “pele kali” yang membuat ikan-ikan tersebut mabuk sehingga mudah diambil. sedangkan sagu untuk konsumsi sehari-hari (di Yensei dan Yakati) . Kondisi lain yang menyebabkan semakin menurunnya jenis dan jumlah perikanan di dalam CATB yaitu mulai tahun 1988 sampai dengan Februari 2005. terdapat beberapa perusahaan Analisis Permasalahan IV . Berdasarkan informasi dari pengelola kawasan dan beberapa nelayan lokal. terdapat indikasi penggunaan bahan kimia pembasmi hama (insektisida) jenis Dhesis 2. Daun nipah diambil untuk membuat atap rumah. Berdasarkan kondisi diatas. terutama ikan. apalagi bila penggunaannya hanya dalam jumlah yang sedikit. dimana kualitas air semakin menurun (tercemar) karena penggunaan obat kimia tersebut yang dapat berakibat buruk terhadap kesinambungan hasil. dimana kegiatan perburuan tidak lagi di sekitar kampung atau hutan mangrove. serta yang terpengaruh hanya ikan. akan tetapi kearah pegunungan di luar kawasan CATB. daun nipah serta sagu. Penggunaan pukat harimau (trawl) oleh Kapal Penangkap udang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong sekitar perkampungan. Penggunakan akar bore (tuba) dan indikasi penggunaan racun serangga (insektisida). pada umumnya hanya untuk dikonsumsi/penggunaan sendiri dengan jumlah yang cukup sedikit. Tetapi bila digunakan terus menerus. Hasil pengamatan di lapangan. berburu dan menokok sagu terhadap sumberdaya alam baik fauna maupun flora di dalam kawasan CATB cukup tinggi. Batang mangrove yang kecil biasanya diambil untuk kayu bakar. seperti Kampung Mamuranu dan Tirasai. Padahal jenis bahan kimia tersebut dapat mengakibatkan ikan-ikan mati serta fauna atau flora lain pun ikut mati. Kondisi saat ini sudah sangat jauh berbeda. khususnya fauna yang diduga menjadi faktor penyebab produksi tangkapan dan buruan sebagai berikut: 1.28 .

dengan alasan perubahan manajemen. maka penangkapan hasil perikanan yang tidak ramah lingkungan merupakan masalah yang sangat penting dan harus segera dicarikan penyelesaiannya agar kelestarian CATB dapat dijaga. akan tetapi kenyataannya perusahaan tersebut menangkap udang masuk sampai ke sungai-sungai di dalam Cagar Alam Teluk Bintuni. Sebagai alternatif pemecahan masalah rendahnya partisipasi masyarakat dan adanya pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan CATB yang tidak ramah lingkungan dapat dilakukan berupa: 1. Saat ini perusahaan tersebut menghentikan operasi penangkapan untuk sementara waktu. sehingga fungsinya sebagai tempat mencari makan (feeding ground). maka sebagai langkah awal perlu dilakukan proses pembelajaran bagi semua pihak baik melalui sosialisasi. Yensei dalam Rangka Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni kegiatan pengelolaan) serta penyuluhan yang intensif kepada masyarakat yang ada didalam dan sekitar kawasan CATB Analisis Permasalahan IV .2 Alternatif Pemecahan Masalah Agar masyarakat sekitar kawasan CATB serta pihak-pihak yang berkepentingan lain ikut terlibat secara aktif berpartisipasi dalam perencanaan. Berdasarkan kondisi diatas. udang. yaitu Sungai Muturi. yaitu PT.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong penangkapan udang salah satunya. Diskusi Bersama Masyarakat K. Korano Jaya dan K. tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) bagi berbagai jenis ikan. Seharusnya daerah penangkapan perusahaan tersebut berada di perairan Teluk Bintuni. tentang pengadaan alam media serta informasi berbagai pelestarian aktivitas lainnya yang dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya. perusahaan tersebut menangkap semua hasil perikanan yang ada. maka ikan (terutama yang kecil) yang tertangkap di buang begitu saja. serta pengawasan kawasan CATB. dan bagi biota laut lainnya dapat lestari. Dengan menggunakan jaring pukat harimau (trawler) dan kapal cukup besar. Peningkatan (melibatkan partisipasi masyarakat masyarakat dalam setiap Gambar IV-13. Bokor dan Naramasa. akan tetapi karena perusahaan tersebut hanya mengambil udang saja.29 . kerang. pelaksanaan. Bintuni Mina Raya yang berlokasi di Wimro. C.

Sebagai contoh nyata partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan CATB. Setiap kampung memiliki aparat serta pada umumnya berkelompok menurut asal/sukunya masingmasing. tersebut diantaranya Beberapa isu strategis dari hasil diskusi disetiap kampung yaitu masalah sosialisasi kawasan. Adanya pengaturan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan CATB yang ramah lingkungan Masyarakat sekitar kawasan CATB.30 . Pada kegiatan tata batas. Demikian juga dalam pengamanan kawasan. maka selanjutnya dilakukan adanya pertemuan antar Pokja dari masing-masing kampung untuk dibangun pemahaman bersama tentang pelestarian alam serta merumuskan rencana kerja yang akan dilakukan. Setelah masing-masing kampung (desa) memiliki Pokja. Hal ini dapat dijadikan dasar sebagai awal partisipasi mereka berdasarkan kampung (desa). dalam penyusunan rencana pengelolaan Kawasan CATB telah dilakukan diskusi di 14 kampung yang berada didalam. Proses tata batas yang dilakukan disekitar suatu kampung. yaitu dalam hal tata batas (ulang) dan pengamanan kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2. Gambar IV-14. Kegiatan Lokakarya Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan. pelaksana melakukan penatabatasan melibatkan masyarakat sekitar kawasan (mengetahui. akan lebih efisien dan efektif apabila pengamanan dilakukan Analisis Permasalahan IV . bersinggungan dan diluar kawasan. maka Pokja disekitar kampung tersebut yang akan ikut aktif terlibat. Setelah itu dilakukan pertemuan dengan aparat pemerintah untuk mensinkronkan dengan rencana pembangunan pemerintah. pemanfaatan sumberdaya alam (flora dan fauna) serta harapan masyarakat untuk ikut terus terlibat dalam setiap kegiatan di Kawasan CATB. Pada setiap kampung dibangun pengetahuan dan pemahaman tentang cagar alam dan pelestarian alam lalu dibentuk semacam kelompok kerja (Pokja) yang anggotanya dipilih oleh mereka sendiri. Sebagai langkah awal dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. ikut dalam proses tata batas dan menyetujui batas). terkelompokan dalam beberapa kampung. Diskusi tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga masyarakat yang ikut dalam diskusi tersebut terlibat aktif dan peneliti hanya berfungsi sebagai fasilitator.

rusa. dimana sebelumnya telah terbentuk kesepakatan mengenai keharusan menjaga wilayah kampung (desa) masingmasing terutama yang masuk kedalam kawasan CATB dari usaha-usaha yang dapat merusak kelestariannya. Kami dapat berburu hewan atau satwa liar seperti buaya. bagaimana mengelola kawasan CATB secara bersama-sama. Kami dapat melakukan penangkapan hasil-hasil perikanan seperti ikan. Kami dapat melakukan pemanfaatan kayu mangi-mangi untuk kayu bakar sendiri (bukan untuk dijual) dan kegiatan menangkap ikan ”pele kali” 4. Pada hari pertama lokakarya diadakan pertemuan khusus untuk masyarakat dan pada hari kedua dilakukan pertemuan dengan semua stakeholder.31 . Sebagai langkah awal untuk melakukan ”Pengaturan pemanfaatan sumberadaya alan didalam kawasan CATB”. siapapun boleh mencari makan didalam kawasan tanpa memandang suku/marga/batas-batas wilayah adat asalkan mematuhi aturan kesepakatan yang sudah dibuat. Tidak membolehkan kapal-kapal yang berlayar di sungai untuk membuang sampah atau limbah minyak atau bahan kimia ke sungai 5. Tidak boleh kapal besar atau kapal udang atau kapal pukat harimau untuk beroperasi di dalam kawasan cagar alam Butir-butir Analisis Permasalahan IV . Kami dapat berkebun dan mendapat bantuan bimbingan teknis dari dinas terkait (Untuk Masyarakat di dalam kawasan) 3. Kegiatan yang ”Boleh” dilakukan antara lain adalah: 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong oleh seluruh masyarakat (Pokja) yang ada di sekitar kawasan CATB. udang dll 2. Tidak boleh menggunakan obat (bahan kimia) dalam menangkap ikan. Tidak boleh menebang mangi-mangi atau bakar dari cagar alam dalam skala besar untuk keperluan usaha kayu atau tambak atau lainnya 3. kesepakatan tersebut antara lain : Dalam pemanfaatan sumberdaya alam di dalam Kawasan CATB. Tidak boleh menebang kayu di hutan tanah kering atau gunung didalam cagar alam 4. udang. ditindaklanjuti dengan mengadakan Lokakarya Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan CATB pada tanggal 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan. karaka. siput atau bia dan hasil laut lainnya 2. babi hutan dan burung 5. Kami boleh menangkap ikan dengan dengan menggunakan ”akar bore” dan jaring Kegiatan yang ”Tidak Boleh” dilakukan didalam kawasan CATB antara lain: 1. Diskusi disetiap kampung tersebut. pada pertemuan hari pertama dihasilkannya ”Kesepakatan Masyarakat” yang ditandatangani oleh perwakilan dari 14 kampung.

menebang mangrove untuk industri atau tambak serta pelarangan kapal trawl/pukat harimau masuk kedalam kawasan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. Membuat peraturan daerah mengenai cagar alam 2.32 . Kami akan melaporkan pelanggaran kesepakatan yang terjadi kepada pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni 2. Resort Bintuni) karena hal tersebut merupakan aspirasi/harapan dan niat dari masyarakat sekitar kawasan CATB untuk ikut aktif dalam melestarikan kawasan tetapi tanpa melupakan kebutuhan hidup masyarakat seharihari. dan satwa liar serta mangrove secara terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (ekonomi). Pembentukan kelompok kerja disetiap kampung yang ada di dalam dan sekitar kawasan yang akan dilibatkan dalam pelaksanaan rencana kegiatan pengelolaan Masyarakat juga berharap pemerintah daerah turut mendukung kegiatan pengelolaan cagar alam. Tidak boleh ada eksplorasi bahan tambang di dalam kawasan cagar alam Teluk Bintuni Untuk mendukung pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Butir-butir ”Kesepakatan Masyarakat” tersebut merupakan suatu upaya untuk ”mengatur pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan CATB”. Melakukan pembinaan dan penyuluhan serta pendampingan yang terus menerus kepada masyarakat di dalam dan sekitar cagar alam. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat berkeinginan untuk tetap menjaga kelestaraian kawasan CATB. Masyarakat mengharapkan masih bisa memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di dalam kawasan terutama hasil perikanan. Kami meminta pemerintah daerah memberikan perhatian lebih besar pada pendidikan masyarakat. masyarakat akan mendukung berupa : 1. Pemanfaatan ini tetap diimbangi dengan adanya larangan menggunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. Apabila kondisi sosial ekonomi masyarakat Analisis Permasalahan IV . Akan tetapi hal tersebut perlu didukung oleh sosialisasi dan penyuluhan yang baik dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat. Karena kita sadari bersama bahwa peranan masyarakat sekitar terhadap kelestarian kawasan CATb sangat besar. khusus untuk peningkatan ekonomi masyarakat 3. Kami akan menangkap langsung pelanggaran aturan yang sudah disepakati bersama 3. Karena bukan hal yang tidak mungkin suatu saat nanti akan datang investor yang menawarkan sejumlah uang untuk membuka usaha (tambak dll) didalam kawasan dengan memanfaatkan ”masyarakat adat” yang mayoritas kurang mampu secara ekonomi. Untuk itu masyarakat mengharapkan pemerintah melakukan hal-hal : 1. serta perlu ditanggapi secara bijak oleh pihak pengelolaa (BKSDA Papua II Sorong cq.

Analisis Permasalahan IV . Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi).q Resort KSDA Bintuni .q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. kerajinan dari kulit buaya. Tabel IV-10. Permasalahn dan alternatif pemecahan terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pemberdayaan masyarakat (Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis. Berikut adalah rangkuman permasalahan dan alternatif pemecahan masalah terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan pada Tabel IV-10.q Resort KSDA Bintuni. Dengan alternatif pemecahan masalah yaitu berupa peningkatan peran serta masyarakat. 2005. Mitra Pesisir Teluk Bintuni Permasalahan Rendahnya Pengetahuan dan pemahaman tentang Cagar Alam Rendahnya Partisipasi Masyarakat Penangkapan Hasil Perikanan yang Tidak Ramah Lingkungan (Penggunakan akar bore (tuba) dan Indikasi penggunaan racun serangga) Alternatif pemecahan masalah Penyuluhan tentang Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni Melibatkan masyarakat dalam setiap kegiatan Penyuluhan dan penerangan yang intensif kepada masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.abon. khususnya nelayan tentang bahaya dari penggunaan bahan kimia terhadap kesinambungan hasil tangkapan Penegakan hukum Penggunaan pukat harimau (Trawl) oleh Kapal Penangkap udang di dalam kawasan CATB Adanya Perkampungan di dalam Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) BKSDA Papua II c. maka masyarakat sekitar kawasan CATB diharapkan tidak akan mudah tergoda oleh para pengusaha yang hanya melihat keuntungan ekonomi saja. Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tetap menjadi perhatian. 2. BKSDA Papua II c. BKSDA Papua II c. Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Pendukung Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan 1.q Resort KSDA Bintuni . maka diharapkan kawasan CATB dapat dijaga kelestariannya dan masyarakat sekitar bisa meningkatkan taraf kehidupannya secara sosial dan ekonomi.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c. sosialisasi serta adanya pengaturan pemanfaatan sumberdaya alam didalam kawasan CATB. dan budidaya pertanian) Rekonstruksi Batas Pal Tata BKSDA Papua II c.33 . Tumpang tindih antara Batas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dengan Penggunaan Lahan lain.

yang mengfokuskan pemikiran ke masa depan bukan pada masa kini atau masa lampau. berkelanjutan dan berdayaguna. Pemanfaatan terbatas oleh masyarakat adat di bawah bimbingan pengelola. D. Skenario ini menggambarkan situasi dimana kebijakan Pemerintah Pusat (Departemen Kehutanan) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni yang dapat mengakomodir semua kepentingan stakeholder yang ada dengan tetap memperhatikan fungsi dan peruntukan kawasan. Skenario Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Perencanaan Skenario adalah sebuah alat manajemen yang strategis yang dapat merangsang berbagai pemikiran mengenai kemungkinan–kemungkinan di masa depan. Dukungan dan partisipasi aktif dari semua pemangku kepentingan membuat pengelolaan kawasan bersifat aspiratif. Masyarakat sadar dan secara bersama-sama memelihara keutuhan kawasan. Skenario ini dapat pula menghasilkan suatu strategi yang kokoh. Pembangunan fisik yang tidak sesuai fungsi dan peruntukan kawasan tidak dijumpai. Tidak ada klaim hak ulayat dari masyarakat adat terhadap keberadaan kawasan. Analisis Permasalahan IV .34 . Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni telah dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah Pusat dalam hal ini BKSDA Papua II Sorong dan sudah disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni D. Beberapa ciri skenario ini antara lain: Status kawasan yang sudah jelas sebagai kawasan Cagar Alam melalui penetapan Menteri Kehutanan. Tidak ada lagi konflik kepentingan antar pemangku kepentingan dalam kawasan.1 Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Demokratik Skenario ini merupakan kondisi ideal yang dapat diwujudkan dan merupakan skenario yang didambaan kita semua. merangsang pemikiran dan perdebatan mendalam atas isu pokok penting. Berikut adalah beberapa skenario yang didasarkan pada kondisi kawasan yang mungkin dapat diterapkan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai tahun 2030. Sasaran akhir dari skenario ini adalah penyadaran publik telah terbentuk secara mantap bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama. Pemberdayaan masyarakat asli/pemilik ulayat berjalan efektif. Kebijakan yang ideal dan didukung oleh kelembagaan baik pengelola kawasan maupun pemangku kepentingan lainnya yang bersifat demokratif akan membuat terciptanya program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari. didukung Peraturan Daerah dan keberadaan kawasan Cagar Alam terlihat jelas dalam Tata Ruang Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni.

Ijin pembangunan sarana dan prasarana untuk kepentingan kelompok tertentu. Kelompok pemerhati lingkungan secara bersama-sama berjuang untuk mempertahankan kawasan. setiap instansi hanya mementingkan pencapaian tujuan masing-masing tanpa memperdulikan tujuan bersama seperti yang tertuang dalam Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK). Kelompok ini memperjuangkan terbentuknya kelembagaan pengelolaan yang demokratif dan partisipatif. akademisi. ada upaya bersama oleh kelompok pemerhati lingkungan untuk membentuk aliansi memperjuangkan dan mempertahankan kelestarian dan keutuhan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai kawasan ekosistem kebanggaan seluruh penduduk Kabupaten Teluk Bintuni. Analisis Permasalahan IV . Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Demokratik Skenario ini menggambarkan kondisi dimana kebijakan pengelolaan kawasan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak mempertimbangkan aspek kelestarian dan keutuhan kawasan.35 . Dalam skenario ini. antara lain : Kebijakan pembangunan sarana fisik dalam kawasan yang tidak berhubungan dengan fungsi kawasan sebagai Cagar Alam masih diijinkan. legislatif dan NGO lokal dan internasional yang masih peduli dan berjuang untuk mempertahankan keutuhan dan kelestarian kawasan. Pada akhirnya. terkadang pesimis dalam memperjuangkan keutuhan dan kelestarian kawasan. mereka tetap berjuang diantara berbagai tekanan kepentingan tersebut dengan keyakinan bahwa berjuang diatas jalur kebenaran demi kepentingan bersama. Pemangku kepentingan (stakeholder) hanya melaksanakan kegiatan pengelolaan kawasan berdasarkan kebutuhan dan kepentingan masing-masing lembaga/institusinya saja. pemerhati lingkungan terkadang optimis. Sekalipun demikian. Beberapa ciri yang dapat menjelaskan situasi tersebut. Kebijakan yang dikeluarkan hanya didasarkan pada pertimbangan ekonomi daerah dan untuk kepentingan kelompok tertentu semata dengan dalih kepentingan masyarakat secara umum. Namun demikian.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong manfaatnya dinikmati secara bersama oleh seluruh lapisan masyarakat serta keutuhan kawasan menjadi kebanggaan kita bersama pula.3. Kelompok pemerhati lingkungan ini berasal dari masyarakat pemilik ulayat. walaupun pemanfaatan kawasan oleh pemerintah secara sepihak tetap ada. D. namun para pemangku kepentingan dalam kawasan (stakeholders) tidak memperhatikan atau melaksanakannya. D. Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Otoritik Skenario ini adalah kebijakan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni telah dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ataupun peraturan daerah tentang pengelolaan kawasan yang aspiratif. cepat atau lambat pasti akan terwujudkan diatas panji demokratisasi.2.

D. Belum tersedianya informasi dasar yang memadai. Lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan dalam Cagar Alam Teluk Bintuni. Threat) untuk Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan pendekatan yang didasarkan pada Kekuatan . analisis keterkaitan unsur SWOT dan tahapan penentuan alternatif rencana pengelolaan. walaupun lokasi dan sasaran kegiatannya sama pada satu wilayah. kebijakan pemerintah yang tidak aspiratif dibarengi dengan kelembagaan pemangku kepentingan yang kaku dalam menerapkan kebijakan serta otoriter dalam menjalankan aturan tanpa mau menerima masukan dari berbagai stakeholder. Peluang dan Ancaman kondisi kawasan CATB. 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Beberapa ciri yang dapat menjelaskan situasi tersebut. antara lain: BKSDA Papua II Sorong Kegiatan yang dilakukan dalam kawasan oleh beberapa instansi. Kurangnya kesadaran masyarakat tentangnya penting pelestarian kawaan Cagar Alam Teluk Bintuni. khususnya data kuantitatif biologi mengenai kawasan. Kelemahan. 3. lahan akan semakin besar. dilaksanakan secara sektoral. Pemangku kawasan mendukungnya dengan dalih bahwa telah sesuai aturan tanpa memperhatikan dampak teknis yang akan terjadi yang akhirnya akan merubah fungsi kawasan. Adanya perkampungan dan Logyard di dalam kawasan CATB sehingga pemanfaatan flora. Dalam analisis potensi dan kelemahan serta kekuatan dan peluang. Koordinasi instansi teknis dan instansi terkait lainnya tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan dalam rencana pengelolaan kawasan. Kebijakan Sentralistik & Kelembagaan Otokritik Skenario ini adalah situasi terburuk yang dapat terjadi. E.Kelemahan. Opportunities.36 . Analisis Kekuatan. Peluang. Skenario ini dicirikan oleh kebijakan yang diambil hanya memberi peluang kepada pemodal mampu tertentu untuk mengelola kawasan sesuai keinginan pemodal tanpa memperhatikan fungsi penetapan kawasan. Analisis Permasalahan IV .4. fauna. issu-issu yang terjadi dapat diidentifikasi menjadi dasar kajian antara lain : 1. Weakness. dan Ancaman (KKPA) Pendekatan analisis SWOT (Strength. 4. Tahapan analisis SWOT yang dilakukan meliputi : tahapan identifikasi dan penilaian faktor internal dan eksternal.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

5. Tingginya tingkat permintaan terhadap satwa dari jenis-jenis tertentu seperti buaya, rusa, cenderawasih dan mambruk serta adanya indikasi masyarakat nelayan yang mengunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. 6. Rencana pengembangan Kota Bintuni yang berada dekat dengan batas sebelah Utara kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 7. Aktivitas pemegang HPH dan Kopermas, di daerah up land yang kurang memperhatikan aspek kelestarian serta pada beberapa logyard dan dalam pengangkutan kayu melalui sungai-sungai di dalam kawasan yang menggunakan peralatan mekanis seperti buldoser, logging truck, dan tug boat dapat menimbulkan kebisingan dan pencemaran yang menyebabkan terganggunya satwa-satwa tertentu. 8. Minimnya sarana dan prasarana serta kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. 9. Kepemilikan lahan yang merupakan hak ulayat masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.

E.1 Identifikasi dan penilaian faktor internal dan eksternal Faktor internal yaitu Kekuatan (Strength) dan Kelemahan (Weakness), sedangkan faktor eksternal yaitu Peluang (Opportunity) dan Ancaman (Threat). Analisis kekuatan yang

dimaksud adalah potensi atau keunggulan yang dimiliki kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam aspek pengelolaan dan kebijaksanaan, biologi kawasan serta sosial ekonomi dan budaya yang sesuai dengan tujuan pengelolaan kawasan sebagai Cagar Alam. Kelemahan yang dimaksud, yaitu kondisi aspek pengelolaan dan kebijaksanaan, biologi kawasan serta sosial ekonomi dan budaya yang dipandang dapat menghambat program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Peluang yang dimaksud adalah kondisi

eksternal yang dapat mendatangkan keuntungan apabila dapat memanfaatkannya. Berbagai peluang yang tersedia dapat dikembangkan secara optimal berdasarkan potensi, hambatan dan rencana program pengelolaan sebagai kawasan Cagar Alam. Ancaman adalah keadaan eksternal yang apabila dibiarkan akan menjadi faktor penghambat terhadap keberhasilan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ancaman ini perlu diwaspadai dan harus diatasi karena dapat memberikan pengaruh terhadap bisa atau tidaknya faktor-faktor peluang untuk dimanfaatkan. Hasil analisis SWOT Aspek Pengelolaan dan Kebijaksanaan, Biologi Kawasan serta Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah sebagai berikut : Kekuatan (Strength) S1. SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua, termasuk Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Analisis Permasalahan

IV - 37

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
S2.

BKSDA Papua II Sorong

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya.

S3.

Ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan komunitas alami dan pertumbuhannya masih terlihat cukup baik, sehingga fungsi ekologinya sebagai tempat mencari makan (feeding ground), daerah asuhan (nursery ground), dan tempat pemijahan (spawning ground) masih bekerja dengan.

S4.

Keanekaragaman flora yang cukup tinggi mulai dari tumbuhan tingkat rendah seperti fungi sampai dengan tumbuhan tingkat tinggi, baik spesies tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis maupun spesies kunci (key species) dengan keendemikan jenis yang cukup tinggi.

S5

Beberapa jenis fauna yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan jenis endemik dan sudah dilindungi undang-undang nasional maupun internasional, bahkan beberapa jenis burung tertentu sudah masuk dalam kategori hampir terancam (near threatend).

S6.

Adanya kearifan tradisional dalam pengelolaan sumberdaya alam.

Kelemahan (Weakness) W1. Lemahnya koordinasi institusi pengelola dengan Pemerintah Daerah. W2. Minimnya sarana dan prasarana serta kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. W3. Belum tersedianya informasi dasar yang memadai, khususnya data kuantitatif biologi mengenai kawasan. W4. Masih rendahnya pemahaman masyarakat dan aparat pelestarian alam W5. Lemahnya penegakan hukum bagi pihak-pihak yang melakukan pengrusakan di dalam kawasan, terutama bagi para nelayan yang menggunakan obat kimia saat mencari ikan. Peluang (Opportunity) O1. Dukungan bantuan dari donor baik Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Nasional dan Internasional, yang peduli terhadap kelestarian ekosistem Cagar Alam Teluk Bintuni. O2. O3. UU No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus. Kawasan CATB merupakan tempat mencari kehidupan bagi sebagian masyarakat di sekitar kawasan, sehingga apabila diberi penyuluhan tentang fungsi dan manfaat dari kelestariannya maka partisipasi masyarakat akan besar. O4. Belum tersusunnya Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Teluk Bintuni, sehingga dapat mendorong dalam rencana penyusunan RUTR Kabupaten untuk menjadikan kawasan CATB sebagai “Paru-paru” Kabupaten Teluk Bintuni. Analisis Permasalahan IV - 38 tentang cagar alam dan

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
O5.

BKSDA Papua II Sorong

Adanya beberapa LSM (seperti Mitra Pesisir) yang telah melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan di sekitar pesisir Teluk Bintuni, untuk dijadikan sebagai mitra dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

O6.

Kawasan CATB yang berfungsi sebagai buffer bagi Teluk Bintuni, sehingga sangat penting untuk menjaga kelestariannya

Ancaman (Threat) T1. Kepemilikan lahan yang merupakan hak ulayat masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. T2. Tingginya tingkat permintaan terhadap satwa dari jenis-jenis tertentu seperti buaya, rusa, cenderawasih dan mambruk serta adanya indikasi masyarakat nelayan yang mengunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. T3. Aktivitas pemegang HPH dan Kopermas, di daerah up land yang kurang memperhatikan aspek kelestarian serta pada beberapa logyard dan dalam

pengangkutan kayu melalui sungai-sungai di dalam kawasan yang menggunakan peralatan mekanis seperti buldoser, logging truck, dan tug boat dapat menimbulkan kebisingan dan pencemaran yang menyebabkan terganggunya satwa-satwa tertentu. T4. Adanya perkampungan dan Logyard di dalam kawasan CATB sehingga pemanfaatan flora, fauna, lahan akan semakin besar. T5. Rencana pengembangan Kota Bintuni yang berada dekat dengan Batas sebelah Utara kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

E.2 Analisis Keterkaitan antar Unsur SWOT Dari hasil analisis diatas, disusun rencana pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Rencana pengelolaan dihasilkan dari penggunaan unsur-unsur kekuatan Aspek Pengelolaan dan Kebijaksanaan, Biologi Kawasan serta Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan CATB untuk meraih peluang yang ada (SO), penggunaan kekuatan yang ada untuk menghadapi ancaman yang datang (ST), pengurangan kelemahan dari kondisi yang ada dengan memanfaatkan peluang yang ada (WO) dan pengurangan kelemahan yang ada untuk menghadapi ancaman yang akan datang (WT).

Analisis Permasalahan

IV - 39

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Tabel IV-11. Matriks Hasil Analisis antar unsur SWOT

BKSDA Papua II Sorong

Peluang (O) Strategi 1. Inventarisasi dan pemetaan sebaran flora, fauna dan ekosistem (S3,S4,S5,O1) 1. 2.

Ancaman (T) Strategi Rekonstruksi Tata Batas (S1, T4) Pemanfaatan terbatas sumberdaya alam dari Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (S2, S3, T4) Pemantauan rutin (S3, S4, S5, T2) Monitoring dampak lingkungan (S4, S5, T3, T4, T5) Perlindungan jenis flora/fauna beserta habitatnya (S4, S5, T3) Pencegahan bahaya erosi, sedimentasi dan Rehabilitasi kawasan CATB (S3, S5, S6,T3, T4) Penyuluhan terhadap pentingnya eksistensi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai penyanggah sistem kehidupan (S4,O6,T1)

3. 4. Kekuatan (S) 5. 6.

7.

Kelemahan (W)

Strategi 1. Sistem informasi dan Database (W3, O1) 2. Sarana prasarana pengelolaan (W2, O1, O2) 3. Sarana prasarana pendidikan (W2, W4, O1, O2, O5). 4. Sarana dan prasarana penelitian (W2, W4, O1, O2, O5).

Strategi 1. Penegakan hukum (W5, T2) 2. Patroli gabungan dan koordinasi pengamanan (W1,W5, T2, T4, T5)

F.

Perumusan Strategi Pengelolaan

Dari analisis SWOT dari data kajian pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni maka isu strategis yang terkait dengan pengelolaan CATB yang berhasil diidentifikasi menjadi dasar bagi penyusunan rencana aksi. Deskripsi rencana aksi ini menjadi indikator bagi penilaian keberhasilan dan dasar bagi monitoring dan evaluasi.

STRATEGI 1. Sasaran:

REKONSTRUKSI TATA BATAS KAWASAN

Batas kawasan menjadi jelas dan diketahui semua pihak terkait Kegiatan: Pembuatan jalur rintisan di sepanjang batas kawasan pada hutan dataran rendah Penggantian pal batas yang rusak Pemasangan plat seng tanda batas

Analisis Permasalahan

IV - 40

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Indikator:

BKSDA Papua II Sorong

Tersedianya jalur rintisan sepanjang batas kawasan pada hutan dataran rendah Terpasangnya pal batas kawasan baru yang jelas Terpasangnya plat seng sebagai tanda batas kawasan pada pohon-pohon di sepanjang batas kawasan.

STRATEGI 2. Sasaran:

PENEGAKAN HUKUM

Terciptanya suatu pemahaman yang menyeluruh terhadap hal-hal yang tidak boleh dilakukan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan: Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari sda di Cagar Alam Teluk Bintuni untuk masyarakat adat Sosialisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan illegal di kawasan kepada semua stakeholder Indikator: Tersedianya aturan khusus tentang larangan dan sangsi terhadap pelanggaran yang terjadi di dalam kawasan Terciptanya pemahaman yang utuh oleh masyarakat adat terhadap pemanfaatan terbatas oleh masyarakat adat Meningkatnya pemahaman seluruh pemangku kepentingan terhadap hal-hal yang tidak diperkenankan dilakukan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

STRATEGI 3. Sasaran:

PEMANTAUAN/PATROLI RUTIN

Terjaganya keamanan kawasan dari kegiatan-kegiatan yang dapat menurunkan kualitas kawasan. Kegiatan: Patroli terjadwal oleh internal pengelola. Analisis Permasalahan IV - 41

Kegiatan: Identifikasi tipe ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di Cagar Alam Teluk Bintuni Analisis Permasalahan IV . STRATEGI 4. DAN EKOSISTEM yang memadai dalam menunjang pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pembuatan pedoman pemantauan bagi pengelola kawasan Indikator: Meningkatnya keamanan kawasan dari kegiatan-kegiatan ilegal. FAUNA.42 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pelatihan Jagawana/Polisi Hutan untuk meningkatkan kemampuan pengawasan Penyuluhan dan penerangan tentang pentingnya keberadaan kawasan. Sasaran: PATROLI GABUNGAN DAN KOORDINASI PENGAMANAN Terciptanya suatu pemahaman bersama antar stakeholder terhadap tanggung jawab pengamanan dan pengawasan kawasan Kegiatan: Koordinasi dengan instansi terkait dalam merencanakan pengamanan terpadu Patroli terpadu yang melibatkan beberapa instansi terkait Indikator: Terciptanya kerjasama dan koordinasi antara pengelola dan instansi terkait dalam pengamanan kawasan Menurunnya tingkat gangguan keamanan kawasan STRATEGI 5. Meningkatnya kemampuan pengelola dalam kegiatan pengamanan kawasan Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keberadaan dan fungsi kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan. INVENTARISASI DAN PEMETAAN KEBERADAAN FLORA. FAUNA DAN EKOSISTEM KAWASAN Sasaran: Data Dasar FLORA. Tersedianya pedoman pemantauan sebagai acuan bagi pengelola dalam melakukan kegiatan pemantauan.

STRATEGI 6. dan pemijahan di kawasan Pembuatan petak ukur permanen Pengumpulan hasil-hasil penelitian tentang flora. Indikator: Terjalinnya kerjasama yang baik dengan institusi terkait yang menunjang kegiatan perlindungan dan pengembangan Analisis Permasalahan IV . identifikasi. Sasaran: PERLINDUNGAN JENIS FLORA/FAUNA BESERTA HABITATNYA Terjaminnya keberadaan flora dan fauna dan keutuhan habitanya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan atau terancam di Cagar Alam Teluk Bintuni. Pemasangan tanda larangan dan pembuatan poster. Pengamatan dan perkembangan flora/fauna di petak ukur permanen. Penelitian tentang keberadaan flora/fauna langka.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Inventarisasi dan pemetaan status flora dan fauna kawasan Penelitian dinamika ekosistem dan populasi flora dan fauna kawasan BKSDA Papua II Sorong Inventarisasi. dilindungi. brosur.43 . fauna. atau leaflet tentang jenisjenis flora/fauna langka dan dilindungi serta larangan perburuan/pemanfaatannya. dan ekosistem yang pernah dilakukan di CATB Indikator: Tersedianya data tipe ekosistem dan penutupan lahan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Tersedianya informasi dan peta kondisi flora dan fauna kawasan. bertelur. Tersedianya informasi perubahan ekosistem dan populasi flora dan fauna kawasan Adanya prasarana untuk kepentingan penelitian dan pendidikan Terdokumentasinya hasil-hasil penelitian dan kajian tentang ekosistem dan flora fauna kawasan secara menyeluruh. dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan. Kegiatan: Kerjasama dengan institusi terkait dalam upaya perlindungan jenis flora dan fauna di kawasan.

Tersedianya informasi tentang perkembangan flora/fauna tertentu untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. dilindungi. PENYULUHAN TERHADAP PENTINGNYA EKSISTENSI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI SEBAGAI PENYANGGAH SISTEM KEHIDUPAN Sasaran: Terciptanya Kesadaran dan Penghargaan masyarakat terhadap keberadaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Penelitian dan kajian yang intensif tentang tingkat kerusakan ekosistem kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Meningkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang keberadaan flora/fauna langka. dan atau terancam punah di Cagar Alam Teluk Bintuni.44 . Tersedianya informasi yang memadai tentang keberadaan flora/fauna langka. PENCEGAHAN BAHAYA EROSI DAN SEDIMENTASI REHABILITASI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. dilindungi. Kegiatan: Penyuluhan dan penerangan yang intensif tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyanggah kehidupan Analisis Permasalahan IV . STRATEGI 8. Kegiatan:: Pencegahan kerusakan ekosistem sebagai akibat aktivitas manusia Rehabilitasi kawasan yang telah mengalami kerusakan di Cagar Alam Teluk Bintuni. Meningkatnya kualitas ekosistem kawasan Tersedianya informasi yang memadai tentang laju kerusakan ekosistem kawasan dalam menunjang kegiatan pengelolaan. Indikator: Menurunnya tingkat kerusakan ekosistem kawasan akibat aktivitas manusia. DAN Sasaran: Pulih dan terjaganya keutuhan ekosistem kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan atau terancam punah di Cagar Alam Teluk Bintuni. STRATEGI 7.

STRATEGI 9. leaflet. teknik perbanyakan tanaman berguna.45 . Indikator: Tersedianya panduan pemanfaatan bagi pengelola kawasan Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pemanfaatan sumberdaya alam yang lestari. Analisis Permasalahan IV . Pembuatan sistem data terhadap hasil-hasil penelitian/kajian yang berhubungan pemanfaatan terbatas. PEMANFAATAN TRADISIONAL SDA DI TELUK BINTUNI KAWASAN CAGAR ALAM Sasaran: Meningkatnya Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB Kegiatan: Pembuatan panduan pemanfaatan sda di kawasan bagi pengelola Pembuatan poster tentang pemanfaatan sda secara lestari Penelitian tentang pola perkembangbiakan satwa. Kerjasama dengan instansi terkait dalam kegiatan penyuluhan dan pendampingan Penerapan sistem penangkapan hasil perikanan yang ramah lingkungan Penerapan sistem pertanian yang memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutan Pemanfaatan satwa liar tertentu di bawah bimbingan pengelola bekerjasama dengan instansi terkait. siklus hidup biota perairan. serta inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat. dan atau brosur tentang fungsi kawasan bagi kehidupan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan Indikator: Meningkatnya kesadaran dan penghargaan masyarakat terhadap pentingnya keberadaan kawasan CATB Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pembuatan poster.

serta jenis-jenis komoditi pertanian setempat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Tersedianya koleksi media informasi yang memadai dalam menunjang kegiatan penelitian. Terjalinnya kerjasama yang baik dengan instansi terkait yang menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Berkurang bahkan tidak ada lagi aktivitas penangkapan ikan menggunakan cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Tersedianya sistem data dari hasil-hasil kajian yang berhubungan dengan kegiatan pemanfaatan terbatas oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. pendidikan dan pengembangan kawasan Analisis Permasalahan IV . Berkurangnya tekanan terhadap keberadaan ekosistem kawasan sebagai akibat perluasan lahan pertanian Terciptanya pola pemanfaatan satwa liar yang memperhatikan keseimbangan alam. cara perbanyakan tanaman berguna.46 . Sasaran: SISTEM INFORMASI DAN DATA BASE Tersedianya sistem informasi data yang memadai untuk semua aspek kegiatan pengelolaan dalam rangka menunjang perencanaan dan pengembangan kawasan Kegiatan: Koordinasi dengan instansi terkait dalam mengembangkan SIG Pengadaan perangkat keras dan lunak untuk menunjang sistem informasi dan basis data Peningkatan kemampuan pengelola dalam penguasaan teknik SIG dan data base Mengumpulkan dan memelihara koleksi media-media informasi Indikator: Terciptanya kerjasama dalam mengembangkan SIG dan basis data kawasan Tersedianya perangkat penunjang kegiatan SIG dan data base Tersedianya tenaga pengelola dengan kemampuan yang memadai di bidang SIG dan basis data.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tersedianya informasi menyangkut pola perkembangbiakan satwa. STRATEGI 10. siklus hidup biota perairan.

Kegiatan: Pengadaan dan pemeliharaan sarana prasarana pengelolaan seperti kantor/pondok kerja Pembuatan brosur/leaflet/buku/ serta media lain tentang keberadaan dan fungsi Cagar Alam Teluk Bintuni. dan penelitian. Pengadaan dan pemeliharaan Pusat komunikasi dan informasi (PUSKOMIN) kawasan. Indikator: Tersedia dan terpeliharanya sarana prasarana pengelolaan seperti bangunan kantor dan pondok kerja pengelola yang memadai selain bangunan kantor yang sudah ada Tersedianya prasarana penerangan yang memadai untuk kepentingan pendidikan Tersedia dan terpeliharanya sarana berupa pusat komunikasi dan informasi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.47 . Tersedia dan terpeliharanya sarana penelitian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana penelitian seperti pondok peneliti.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni STRATEGI 11. Analisis Permasalahan IV . BKSDA Papua II Sorong SARANA PRASARANA PENUNJANG KEGIATAN PENGELOLAAN KAWASAN Sasaran: Tersedianya sarana prasarana yang memadai dalam rangka menunjang kegiatan pengelolaan. pendidikan.

.

UMUM Rencana kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni didasarkan kepada hasil analisis dari permasalahan dan kondisi yang ada. dan aspek Pemanfaatan. dan duapuluh lima-tahunan. lima-tahunan. secara khusus juga memuat usulan kegiatan Pembangunan Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan. Prioritas Rencana Kegiatan Pengelolaan Kawasan Selama Duapuluh Lima Tahun (2006-2030) Cagar Alam Teluk Bintuni. 2. Peraturan Pemerintah Nomor 21 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999. +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ Rencana Kegiatan V-1 . aspek tersebut yang menjadi fokus dalam rencana kegiatan yang diusulkan dilakukan berdasarkan skala prioritas yang dituangkan dalam bentuk Rencana kerja tahunan. 3. Peningkatan efektivitas Pengelolaan Kawasan. Perlindungan dan Pengamanan Kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong V. Aspek Kegiatan Pemantapan Kawasan Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Lima Thn I 2006-2010 +++++ +++++ Lima Thn V 2026-2030 +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ 4. kekuatan. Dalam implementasi kegiatan Rencana Pengelolaan Kawasan. Implementasi Kegaiatan Lima Thn Lima Thn Lima Thn II III IV 2011-2015 2016-2020 2021-2025 +++++ +++++ +++++ No 1. tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Peraturan Pemerintah Nomor 20 tentang Rencana Kerja Pemerintah. Hasil analisis SWOT dari peluang. Pilihan strategi ini diterjemahkan menjadi rencana kegiatan yang difokuskan kepada beberapa aspek yang mengacu pada Rencana Stratejik (Renstra) Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Tahun 2005 – 2009 merupakan tindak lanjut dari Undang-undang Nomor : 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. Berikut adalah skala prioritas aspek-aspek kegiatan dalam Rencana Kerja Pengelolaan Kawasan selama duapuluh lima tahun seperti disajikan pada Tabel V-1. Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati. Pendukung/Kelembagaan. RENCANA KEGIATAN A. di dalam Rencana kegiatan pengelolaan kawasan ini. kelemahan dan hambatan yang ada menunjukkan adanya pilihan strategi yang harus dilakukan. Tabel V-1. Disamping aspek-aspek pengelolaan tersebut. Beberapa aspek pengelolaan yang menjadi fokus dalam rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah aspek Pemantapan Kawasan.

Rekostruksi pal batas diperlukan untuk menetapkan kawasan dalam status hukum yang jelas. 4. khususnya dalam kegiatan rekonstruksi pal batas Kawasan. Proses penetapan kawasan Cagar Alam menjadi definitif juga harus ditindak lanjuti dalam peraturan daerah yang mensahkan keberadaan kawasan di dalam tata ruang propinsi maupun kabupaten. 7. Rekonstruksi pal batas. 3. Kerjasama. B. Kepastian hukum yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang memberikan kepastian hukum yang jelas atas kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang saat ini masih berstatus Penunjukan bukan Penetapan oleh Menteri Kehutanan. Kegiatan ini akan dilaksanakan bersama Bappeda. Lima Thn I 2006-2010 +++++ +++++ +++++ Lima Thn V 2026-2030 +++++ +++++ B. Total panjang batas dengan daratan diperkirakan 125 km dari total batas 250 km. Pemerintah Kecamatan dengan masyarakat. Aspek Kegiatan Pendukung/Kelembaga an Pemanfaatan Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan. yaitu pemasangan kembali pal batas secara menyeluruh. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah. Pelaksanaan pemasangan kembali pal batas kawasan akan dilakukan secara bertahap.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Implementasi Kegaiatan Lima Thn Lima Thn Lima Thn II III IV 2011-2015 2016-2020 2021-2025 +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ BKSDA Papua II Sorong No 5. 6. Kepastian Hukum Kawasan.1 RENCANA KEGIATAN PENGELOLAAN Pemantapan Kawasan Dalam mengelola suatu kawasan konservasi yang lebih baik dan mantap. Rencana Kegiatan V-2 . Kegiatan ini harus dilakukan secara koordinatif serta partisipatif dengan pihak-pihak lain yang berkompeten dan terkait. 1. 2. status hukum dari kawasan tersebut merupakan suatu hal yang penting. Berikut adalah beberapa Rencana kegiatan yang diusulkan dalam rangka pemantapan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Rekonstruksi pal batas bukan melakukan tata batas ulang tetapi berupa pemasangan kembali pal batas yang pernah ada sesuai koordinat yang ada secara menyeluruh mulai dari titik nol. Untuk itu proses kepastian hukum dengan menetapkan status hukum kawasan menjadi prioritas utama. Kerjasama yang dimaksud disini adalah pelibatan stakeholder di luar pengelola kawasan dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan pengelolaan. Untuk memastikan posisi awal jalur batas digunakan GPS atau mengikuti tata batas awal.

Rekonstruksi pal batas 4. Bupati Tentang Keberadaan Cagar Alam 2. Pembuatan Peraturan Daerah (PERDA) tentang Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan Pokok Komponen kegiatan Pembuatan SK. 1. dan papan pengumuman yang berisi aturan dan larangan. Pemeliharaan batas Kawasan. Melakukan penelitian yang berkaitan dengan kepentingan penataan Kawasan. Rencana Kegiatan V-3 . Papan petunjuk yang dimaksud disini adalah papan petunjuk batas kawasan. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang berisi tentang petunjuk teknis kegiatan pengelolaan kawasan. Kegiatan ini bertujuan untuk menata kawasan ke dalam blok-blok. Kerjasama Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas B. Pembuatan Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan. Menteri tentang Penetapan Kawasan 1. 2. Kepastian Hukum Kawasan Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah 3. 3.2 Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan Cagar alam Teluk Bintuni sesuai fungsi kawasan. Arahan Penataan dan Penetapan Blok. Beberapa kegiatan pengelolaan yang diusulkan dalam menunjang aspek ini adalah sebagai berikut: 1. Pembuatan SK. keberadaan kawasan. Pemasangan Papan Petunjuk Kawasan. Pemeliharaan batas ini dilakukan mulai tahun 1 sampai tahun ke 5 dan selanjutnya dilakukan pemeliharaan rutin setiap 2 tahun. Pengadaan/pembuatan pal batas 2. Pemasangan Pal batas kawasan No. Tapal batas di lapangan sedapat mungkin dapat terlihat jelas dan mudah diidentifikasi misalnya batas alam dan tanda-tanda buatan manusia. Tabel V-2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Adapun rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk menunjang kegiatan pemantapan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan pada Tabel V-2. Kajian/Penelitian Potensi Fungsi Kawasan. 2. sehingga batas tersebut dapat dengan mudah diidentifikasi. 4. 5. Jalur dan pal batas memerlukan pemeliharaan dan pengamanan secara teratur oleh petugas. 1. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan.

Sistem Informasi Geografis dan Database. 7. dan adanya peluang usaha baru. serta konsumerisme berkembang di masyarakat setempat sehingga dapat menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam berlebihan. Keterlibatan masyarakat sangat penting dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Untuk pengembangan SIG diperlukan koordinasi dengan instansi-instansi yang lain terkait. 8. Pembinaan Masyarakat.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. sebanyak mungkin penelitian akan dilakukan oleh pihak lain. Penelitian. Kegiatan bertujuan untuk menyebarluaskan informasi dan meningkatkan pengetahuan/kesadaran masyarakat tentang keberadaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni serta fungsinya sebagai sistem penyangga kehidupan. Pengadaan Poster/Leaflet Kegiatan Pengelolaan Kawasan. Dampak di luar kawasan dapat berupa dampak positif dalam bidang ekonomi seperti perbaikan sarana dan prasarana transportasi. sehingga dirasa perlu untuk melibatkan mereka dengan pembentukan suatu kelompok kerja yang dapat membantu pengelola dalam memberikan masukan ataupun pemecahan masalah yang berkaitan dengan pemanfaatan kawasan. Data tersebut merupakan baseline data yang dibutuhkan untuk evaluasi pengembangan ekosistem Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Hasil studi ini sangat berguna sebagai salah satu masukan dalam pengambilan kebijakan pengembangan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. Kegiatan ini ditujukan untuk membina masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan. Untuk memonitor kemungkinan yang ditimbulkan oleh adanya pengembangan wilayah maka pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Sedangkan dampak negatifnya berupa pengaruh budaya luar terhadap pelestarian budaya kawasan. Hasil penelitian yang diuraikan di atas dimanfaatkan untuk pembaharuan informasi tematis kawasan. Monitoring dampak lingkungan ini pelaksanaannya dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak lain seperti perguruan tinggi atau LSM. Karena keterbatasan tenaga lapangan di Cagar Alam Teluk Bintuni. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dapat melakukan atau memfasilitasi penelitian mengenai klasifikasi ekosistem. khusus yang bermukim di blok penyangga (Buffer block). keamanan dan stabilitas wilayah. 10. SIG juga bermanfaat untuk produksi bahan media informasi dan komunikasi. komunikasi. Pelibatan Masyarakat. terutama peneliti dari perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri. maka direncanakan ada kegiatan Monitoring Dampak Lingkungan setiap tahun sekali. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dapat membantu dan memfasilitasi penelitian tersebut dengan Rencana Kegiatan V-4 . klasifikasi habitat dan inventarisasi. 9. Sistern Informasi Geografis (Geographical Information System) adalah alat analisis yang sangat ampuh untuk perencanaan pengembangan Kawasan Konservasi.

3. plat seng dan tanda cat pada pohon di jalur batas Kawasan. gambar tempel. Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 2. Pemeliharaan Batas Kawasan Rencana Kegiatan V-5 . Tabel V-3. 1. Identifikasi dan Pemetaan tipe ekosistem yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Database dikembangkan untuk melengkapi Sistem Informasi Pengelolaan atau Management Information System (MIS) yang sedang dikembangkan untuk kawasan konservasi di Indonesia. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan disajikan pada Tabel V-3. 4. pola penggunaan lahan. 2. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan. poster. dan jurnal. majalah. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan penelitian dan pengembangan kawasan. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan. Identifikasi dan Pemetaan Penutupan Lahan sesuai Ekosistem. dan film. Untuk kepentingan tersebut Cagar Alam Teluk Bintuni akan mengumpulkan dan memelihara koleksi media-media informasi meliputi: 1) buku. slide. 5. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pemeliharaan kawasan. Memberikan tanda batas pada pohon di batas kawasan dengan nomor. Kegiatan Pokok Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan Komponen kegiatan 1. Memperbaiki pal batas yang sudah rusak atau hilang. 3) koleksi foto.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong bantuan sarana dan pemberian izin untuk menciptakan kondisi yang produktif untuk para peneliti. 3. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan. 4) peta (termasuk peta rupa bumi. dsb). 2. peta navigasi. 4. Pembuatan jalur rintisan dan jalan setapak pada batas kawasan dengan lebar 2 meter. No. 3. Hasil penelitian tersebut digunakan untuk melengkapi database dan SIG yang dikembangkan untuk Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kajian potensi fungsi kawasan 1. 1. 2. 2) media informasi termasuk brosur. Papan Petunjuk Kawasan Pengadaan dan Pemasangan papan pengumuman dan petunjuk di sepanjang jalur rintisan dan beberapa pulau yang sering dilewati masyarakat/pelayaran.

pengembangan dan kegiatan lain yang menunjang budidaya. 3. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2. Buku Panduan. Kegiatan ini lebih difokuskan pada penilaian kondisi ekosistem Kawasan yang merupakan habitat flora dan fauna kawasan. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang berisi tentang petunjuk teknis kegiatan pengelolaan kawasan. Pedoman ini merupakan buku saku/juknis/pedoman kegiatan pemeliharaan flora dan fauna beserta habitatnya.3 Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati Kegiatan pengembangan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati berkaitan dengan kegiatan penelitian. Pelibatan Masyarakat Penelitian 10. Pembinaan masyarakat Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyanggah sistem kehidupan Pembuatan Kelompok Kerja dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan 1. dan Ekosistem Kawasan. Kegiatan Pokok Arahan Penataan dan Penetapan Blok Pengadaan Poster/Leaflet Kegaiatn Pengelolaan Kawasan. Komponen kegiatan BKSDA Papua II Sorong Penataan dan pembuatan peta arahan blok di dalam kawasan 1. Beberapa kegiatan pengelolaan yang diusulkan dalam menunjang aspek ini adalah sebagai berikut: 1. Kegiatan bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi flora dan fauna kawasan beserta habitatnya dalam mendukung upaya kegiatan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. terutama yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati. Fauna. Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 3. Rencana Kegiatan V-6 . Penelitian/Kajian Tentang Kondisi Flora.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 8. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan upaya pengawetan tumbuhan dan satwa liar dan memfasilitasi pengelolaan ekosistem esensial. Pembinaan Habitat. 6. 9. Sistem Informasi Geografis dan Database Pengadaan sistem informasi geografis (SIG) dan pemutahiran data hasil-hasil peneltian B. Pengadaan Poster tentang kondisi fekosistem di Kawasan CATB 7. Penelitian tentang dampak lingkungan 2. 2. 5.

Gejolak populasi hama penyakit hutan biasanya bisa diatasi dengan kemampuan alam sendiri sehingga alam dapat pulih kembali. BKSDA Papua II Sorong Uraian mengenai upaya pengendalian. Pemulihan merupakan kegiatan yang berkaitan dengan adanya kerusakan dan perubahan dalam bentang lahan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Upaya yang dilakukan seperti introduksi spesies yang memiliki potensi sebagai hama. introduksi spesies yang fungsinya sama dengan spesies lokal dan lain-lain. Secara umum penyadaran masyarakat dan instansi terkait tentang status biota yang dilindungi perlu ditingkatkan. Satu hal yang perlu diperhatikan kemungkinan invasi biota eksotik ke dalam kawasan. pengelola kawasan CATB harus berkoordinasi dengan instansi terkait. Membuat brosur. Kegiatan ini antara lain adalah : Rencana Kegiatan V-7 . Dalam ekosistem hutan alam yang strukturnya terdiri dari berbagai jenis biota. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. Perlindungan Jenis. maka harus segera dicarikan jalan pemecahannya baik secara preventif maupun refresif. hama penyakit tanaman jarang sekali mengalami ledakan yang dapat merugikan komunitas hutan. misalnya pengendalian jenis eksotik. Pengendalian. kerusakan dan upaya pencegahan kerusakan dikelompokkan dalam rencana kegiatan pemulihan. Kegiatan pemantauan oleh petugas terhadap hama penyakit di daerah-daerah tersebut perlu dilakukan secara periodik atau dengan memperhatikan laporan-laporan dari masyarakat tentang hama dan penyakit tanaman. Untuk bisa mengelola perubahan bentang lahan baik karena aktivitas manusia maupun alam. Beberapa biota yang dilindungi perlu usaha perlindungan khusus. Dalam hal ini. Cagar Alam Teluk Bintuni mungkin harus lebih memperhatikan kemungkinan adanya hama penyakit berbahaya di daerahdaerah pertanian dalam kawasan atau sekitar batas kawasan. 5. Secara umum kegiatan yang dapat dilakukan antara lain : Pemusnahan jenis tumbuhan eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di kawasan. leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah. Melakukan penelitian Inventarisasi. oleh karena itu bila ada kasus hama dan penyakit yang dianggap membahayakan kawasan. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi. aktivitas yang dapat dilakukan adalah : Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat. Identifikasi dan Dampak jenis-jenis eksotik yang ada di kawasan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. Pemulihan. Pencegahan Hama dan Penyakit. tidak seumur dan kondisi ekosistemnya relatif stabil. Untuk aktivitas perlindungan jenis ini.

Untuk efisiensi dan efektivitas kegiatan rehabilitasi perlu disusun perencanaan teknis terlebih dahulu. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni belum memiliki informasi yang lengkap tentang lokasi yang rawan abrasi-erosi dan lokasi penumpukan sedimen. Ausoi. Logyard SP IV S. di muara semakin banyak calon pulau. Rehabilitasi kawasan dengan tanaman asli. Penelitian yang dapat dilakukan berkaitan dengan upaya pemulihan antara lain adalah : Penelitian tingkat sedimentasi di beberapa sungai utama di dalam kawasan Penelitian dan kajian kerusakan ekosistem dan penyebabnya di dalam kawasan CATB Rencana Kegiatan V-8 . Logyard SP V S. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pemeliharaan tanaman. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerjasama dengan mitra kerja yang berkaitan seperti perguruan tinggi. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III. disamping adanya pembukaan wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai areal log-yard beberapa usaha kehutanan masyarakat. Pengelolaan terutama ditujukan pada daerah-daerah yang rawan abrasi-erosi yang biasanya terjadi di lokasi yang terkena gelombang besar. Dalam rangka menunjang kegiatan ini. namun sudah mulai ada indikasi di beberapa lokasi adanya pengaruh abrasi-erosi dan sungai semakin kecil. perlu dilakukan melalui pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan instansi-instansi terkait. Sumberi. Untuk itu diperlukan : Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi. usaha perladangan/kebun rakyat. Sementara pengelolaan sedimen sangat terkait dengan upaya Dinas Kehutanan membangun pengelolaan hutan berkelanjutan di areal HPH dan hutan masyarakat. Oleh karena itu perlu diupayakan kegiatan sebagai berikut: Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. Awarapi. LIPI dan LSM. Pada saat ini dalam kawasan telah ada kegiatan pemanfaatan oleh masyarakat secara tradisional berupa usaha perikanan (penangkapan). Adanya kegiatan ini sangat mempengaruhi keutuhan ekosistem kawasan yang juga akan berpengaruh terhadap flora dan fauna penting dalam kawasan. Terutama di bekas logyard HPH dan kopermas yaitu di Tirasai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi.

dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2. Pembinaan Habitat 4. Penelitian tentang Dinamika Populasi Flora dan Fauna 3. maupun internasional. No.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di kawasan. Pengendalian a. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan 3. Inventarisasi dan Pemetaan Status Flora dan Fauna di Kawasan 2. Kegiatan ini bertujuan untuk memutakhirkan informasi kondisi flora dan fauna beserta habitatnya guna penunjang kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 7. Kegiatan Pokok Buku Panduan Komponen kegiatan 1. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam mengembangkan konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati. Pengadaan Buku Panduan Rehabilitasi kawasan 1. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 3. Melakukan kerjasama dan membuat MOU kerjasama antara BKSDA Papua II Sorong cq Ressort Bintuni dengan lembaga penelitian. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 7. Pengembangan Sistem Data Base. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 3. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan dalam mengembangkan konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan disajikan pada Tabel V-4. Pembuatan petak ukur permanen 4. Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 4. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1. dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik lokal. bertelur. 1. 2. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 5. Universitas. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian 1. Pencegahan Hama dan Penyakit Rencana Kegiatan V-9 . nasional. Kerjasama. Dampak negatif dari kehadiran jenis-jenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 6. Tabel V-4. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan 2.

Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2. 2. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2. Kegiatan Pokok BKSDA Papua II Sorong b. 2. 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. Penelitian yang dapat dilakukan berkaitan dengan upaya pemulihan 6. Kerjasama B. 3. pelanggaran batas berupa pemukiman penduduk dan perladangan berpindah. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 3. Penelitian dan kajian kerusakan ekosistem dan penyebabnya di dalam kawasan CATB. Rencana Kegiatan V . penebangan kayu secara liar. Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. 1.10 . Perlindungan dan pengamanan kawasan yang akan dilakukan didalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah pengamanan dalam rangka penggunaan sumberdaya alam. Pengembangan system data base 7.4 Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan bertujuan untuk meningkatkan upaya perlindungan hutan serta penegakan hukum di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni c. leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan instansi-instansi terkait. Pencegahan bahaya erosiabrasi dan sedimentasi b. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. Pemulihan a. Penelitian tingkat sedimentasi di beberapa sungai utama di dalam Kawasan. 5. Rehabilitasi kawasan Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III Pemeliharaan tanaman. 1. Identifikasi dan Dampak jenis-jenis eksotik yang ada di kawasan CATB. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati. penggembalaan ternak dan lain-lain. 1. pengumpulan hasil hutan. Membuat brosur. Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 3. Perlindungan Jenis Komponen kegiatan 2. Melakukan penelitian Inventarisasi.

Sistem patroli harus sporadis agar rutinitas patroli tidak dapat dipelajari oleh pelanggar. 2. Kegiatan pengamanan harus direncanakan dan apabila perlu. antara lain : 1. Dinas Perikanan. Patroli gabungan yang bekerjasama dengan instansi terkait perlu dilakukan minimal setahun dua kali. Petugas lapangan harus siap bertindak berdasarkan informasi yang berasal dari masyarakat karena mereka berada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni setiap hari. yaitu: Pembuatan Peraturan dan Larangan yang sederhana dan jelas Peraturan yang ada perlu dievaluasi untuk memastikan relevansi dan ketepatgunaannya dalam pengamanan kawasan CATB. Jika keadaan relatif aman. Setiap petugas harus juga mempelajari pola hidup dan kegiatan masyarakat setempat agar dapat mengidentifikasi pendatang dari luar. Operasi sebaiknya dilaksanakan jika keadaan keamanan benar-benar membutuhkan dukungan dari unsur pengamanan lain seperti dari Polri dan TNI serta Pemda. Untuk mendukung kegiatan penegakan hukum di Kawasan CATB. diperlukan beberapa kegiatan. rute patroli dapat diprogramkan di GPS sebelum berangkat. Setiap petugas harus mengetahui batas kawasan dan peraturannya dan faktor yang dilindungi.11 . polisi. serta pengamanan/patroli gabungan yang melibatkan instansi terkait yang lain. berdasarkan laporan masyarakat setempat. mereka merupakan mata pengawasan yang sangat efisien. pemantauan berbasis masyarakat atau pihak swasta yang bersifat sukarela (voluntir) di bawah arahan dan panduan dari pengelola Cagar Alam Teluk Untuk mendukung maka Bintuni. Pengamanan Rutin (patroli). Pengamanan Cagar Alam Teluk Bintuni memerlukan koordinasi yang baik tidak saja antar instansi terkait tetapi juga dengan tokoh masyarakat di sekitar kawasan. perlu diusulkan beberapa kegiatan penunjang. Penegakan Hukum. TNI dan masyarakat setempat. Upaya untuk membuat Rencana Kegiatan V . Oleh karena itu koordinasi ini harus terus dilakukan dari waktu ke waktu minimal setiap akan dan setelah pelaksanaan operasi gabungan. pencegahan kerusakan habitat akibat kegiatan pemanfaatan dilakukan oleh pemanfaat sendirl.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Upaya pengamanan umum yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan untuk mengamankan dan memonitor setiap gangguan terhadap keutuhan kawasan. Kegiatan perlindungan dan pengamanan rutin diusulkan dapat dilakukan oleh pengelola Kawasan (POLHUT). Penegakan peraturan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni harus merupakan lintas sektoral yang melibatkan otoritas pengelola CATB. maka intensitas operasi gabungan bisa dikurangi atau bahkan ditiadakan. Sesuai dengan prinsip pengelolaan yang efisien dan cost-effective. Demikian pula halnya dengan kerjasama dalam pengamanan yang bersifat sporadis.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

peraturan menjadi jelas, bisa dimengerti dan sesuai dengan tujuan konservasi serta pemanfaatan berkelanjutan perlu dilakukan. Sosialisasi Peraturan Aturan harus disosialisasikan dan fungsi serta peran setiap stakeholder harus jelas sehingga tidak ada interpretasi ganda. Perlu juga dibuat peraturan khusus dan disepakati semua pihak, terutama peraturan yang melarang semua kegiatan ekstraktif yang merusak kawasan CATB. Pelarangan penggunaan trawl, bahan

kimia, bom, pelarangan penebangan hutan di CATB untuk usaha kehutanan, perikanan dan perkebunan perlu dibuat dan dilaksanakan. Khusus untuk masyarakat adat perlu juga dibuatkan aturan khusus yang menyangkut pemanfaatan eksklusif di dalam kawasan tetapi dengan syarat tertentu dan mendukung pemanfaatan lestari. 3. Pembuatan Buku Panduan Perlindungan dan Pengamanan Kawasan. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-5.

Tabel V-5. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. Kegiatan Pokok Pengamanan Rutin (patroli) Komponen kegiatan 1. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2. Patroli gabungan 3. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (voluntir) 2. Penegakan Hukum 1. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sanksi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi 2. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat 3. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sanksi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder 3. Buku Panduan Pengadaan buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB

B.5

Pendukung /Kelembagaan

Kegiatan pendukung/kelembagaan ditujukan untuk memantapkan institusi pengelola kawasan serta mewujudkan Sumberdaya Manusia (SDM) yang mampu mendukung pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Rencana Kegiatan

V - 12

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

1. Peningkatan Kapasitas Pengelola. Tekanan terhadap Cagar Alam di masa depan akan lebih berat dan dibutuhkan kapasitas SDM khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang lebih baik. Untuk itu perlu ada pelatihan dan training kepada jagawana. 2. Penambahan Jumlah Personil Pengelola. Saat ini petugas di Ressort Teluk Bintuni hanya ada 2 petugas sementara per 10.000 Ha dibutuhkan 1 orang polisi hutan. Berarti dibutuhkan 10-12 orang Polisi Hutan (POLHUT) untuk Cagar Alam Teluk Bintuni. Direncanakan akan ada 10 petugas lapangan, setiap saat 5 di antaranya menjaga koordinasi dan komunikasi dengan kelompok pemanfaat di lapangan. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Pendukung /Kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-6.

Tabel V-6. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Pendukung /Kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. Kegiatan Pokok Peningkatan Kapasitas Pengelola Komponen kegiatan 1. Pelatihan jagawana voluntir 2. Pelatihan/Penyegaran Polhut 2. Personil Pengelola Penambahan jumlah personil pengelola, khususnya Polisi Hutan (POLHUT)

B.6

Pemanfaatan

Kegiatan pemanfaatan yang dimaksud disini lebih banyak difokuskan pada kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Dari survei dan pertemuan dengan masyarakat dalam pembahasan rencana pengelolaan kawasan ternyata bahwa masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan sangat menggantungkan kehidupan sehari-hari mereka pada keberadaan Cagar Alam.

Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan sudah dilakukan sejak lama dan turun temurun sebelum daerah ini ditunjuk sebagai Kawasan Konservasi. Walaupun demikian, masyarakat adat yang merupakan pemilik hak ulayat kawasan dan bermukim di dalam dan sekitar kawasan masih berkomitmen untuk menjaga keberadaan CATB dengan membangun suatu kesepakatan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam kawasan CATB yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam ini seperti yang telah di bahas pada Bab V. 1. Buku Panduan. Pedoman ini merupakan buku saku/juknis/pedoman kegiatan

pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) dan kelompok masyarakat pemanfaat.

Rencana Kegiatan

V - 13

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

2. Pemanfaatan Hasil Perikanan. Penduduk yang memiliki hak ulayat dan tinggal di dalam dan sekitar kawasan diperbolehkan memanfaatkan hasil perikanan dari dalam kawasan secara tradisional. Pengembangan dan pengawasan pemanfaatan hasil setempat

dilakukan Balai KSDA cq Ressort pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dengan pemilik hak ulayat yang tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan berdasarkan kesepakatan bersama. Kesepakatan ini juga mencakup pemanfaatan oleh masyarakat desa sekitar kawasan yang bukan pemilik hak ulayat. Sistem pengaturan pemanfaatan tradisional sumberdaya perikanan seharusnya dilakukan masyarakat pemilik hak ulayat dan tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan secara tertulis dengan bimbingan BKSDA. Untuk itu, pengelola cagar alam harus

membangun pemahaman dan pentingnya kearifan tradisional dikembangkan dan dapat diketahui pihak lain. Pengembangan usaha perikanan di dalam kawasan hanya diperkenankan kepada pemilik hak ulayat dan tinggal di dalam dan sekitar kawasan. Usulan untuk pengembangan usaha budidaya lain misalnya budidaya ikan di sungai dengan keramba harus diajukan kepada pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dan bimbingan teknis untuk pemanfaatan dilakukan bekerjasama dengan instansi terkait (Dinas Perikanan dan Kelautan) dan Mitra Pesisir. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Penyuluhan manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan Pembinaan masyarakat soal pemanfaatan perikanan di dalam kawasan yang ramah lingkungan dan tidak merusak mangrove, bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan serta LSM Mitra Pesisir, seperti : o o Pelatihan budidaya ikan dalam keramba apung di sungai Pengenalan sistem “sasi” agar ada peluang recovery dari sumberdaya yang dimanfaatkan o Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring penangkap ikan, bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Melakukan sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 3. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan. Ancaman utama dari kegiatan pertanian dan perkebunan di dalam dan sekitar kawasan adalah penggunaan pestisida, herbisida dan pupuk buatan, dan masalah lainnya menyangkut konservasi tanah. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni akan bekerja sama dengan Dinas Pertanian dalam memfasilitasi masyarakat yang ada di sekitar dan dalam kawasan kepada akses terhadap pola

Rencana Kegiatan

V - 14

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

pertanian yang lebih efisien. Dengan pengembangan pola pertanian dan perkebunan yang lebih efisien kecenderungan untuk perluasan lahan dapat dicegah, serta pendapatan petani dapat ditingkatkan. Usaha pertanian dan kebun masyarakat di dalam kawasan dimungkinkan jika peruntukannya adalah untuk konsumsi sehari-hari dan harus dipetakan untuk mencegah perluasan. Pengembangan usaha perkebunan dengan skala luas dan jenis introduksi dilarang dilakukan di dalam kawasan. Pengembangan kawasan budidaya perkebunan di sekitar kawasan harus berkoordinasi dengan BKSDA agar tidak terjadi tumpang tindih kawasan. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan masyarakat, ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan, antara lain adalah : Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan Penerapan Sistem Pertanian yang Berkelanjutan o Pengenalan sistem agroforestry khusus bagi penduduk yang ada di dalam kawasan o Pelatihan budidaya pertanian menetap secara terbatas pada pemukiman penduduk di dalam kawasan o Penyediaan bibit tanaman setempat.

Pemanfaatan terbatas satwa liar o Pengembangan dan Pembinaan upaya perbesaran buaya di desa Naramasa, Yensei, Yakati, Mamuranu o Pembinaan pengaturan waktu berburu sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan o Pelatihan dan bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari kulit buaya di Desa Naramasa, Yensei dan Yakati o Pelatihan dan bimbingan teknis untuk pembuatan dendeng manis, abon dari daging babi dan rusa, bekerjasama dengan Dinas Perindustrian Kabupaten Penyuluhan dan sosialisasi masa berburu berdasarkan hasil kajian/penelitian. 4. Penelitian. Kegiatan penelitian disini lebih difokuskan pada studi dalam rangka mendukung kegiatan pemanfaatan oleh masyarakat secara lestari dan berkelanjutan. 5. Kerjasama. Kerjasama ditujukan untuk membangun kesepahaman bersama dengan stakeholder terkait seperti Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, dan Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan, khususnya aspek pemanfaatan secara lestari dan berkelanjutan.

Rencana Kegiatan

V - 15

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
6. Pengembangan Sistem Data Base.

BKSDA Papua II Sorong

Kegiatan ini dimaksudkan untuk pemutakhiran

informasi kawasan khususnya hasil-hasil kajian yang berhubungan dengan pemanfaatan sumberdaya alam oleh penduduk yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan.

Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-7.

Tabel V-7. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. 2. Kegiatan Pokok Buku Panduan Pemanfaatan Hasil Perikanan Komponen kegiatan Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan 1. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan 2. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 3. Pelatihan pengenalan system “Sasi”. 4. Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring 3. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 1. Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2. Pengenalan sistem agroforestri. 3. Pelatihan budidaya pertanian menetap, terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 4. Pelatihan pembesaran anakan buaya 5. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 6. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa 7. Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktuwaktu beranak dan mengasuh anak 4. Penelitian 1. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan lokasi perburuan 2. Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman, khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

Rencana Kegiatan

V - 16

1. Dalam perencanaan ini perlu dipertimbangkan guna kepentingan pengelolaannya antara lain : C. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 4.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. Kegiatan Pokok Komponen kegiatan BKSDA Papua II Sorong 3. Kebutuhan sarana yang harus dilengkapi adalah : Pembebasan lahan Bangunan kantor Barak polisi hutan Sarana listrik Sarana air bersih Sarana Komunikasi Sarana Transportasi : : : : : : : 500 m2 1 Unit. baik sebagai pusat kegiatan pengelolaan maupun pusat informasi. Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 5. Kerjasama Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan pemanfaatan. Handy talky 7 unit dan menara SSB Motor 2 unit. sarana kantor sangat dibutuhkan. 1 unit Speedboat 80 pk 1 unit longboat 40 pk Sarana kerja : 3 unit CPU + printer + peralatan kantor lainnya 7 unit GPS 7 unit kompas suunto Rencana Kegiatan V .1. 108 m2 1 unit Genset 3 KW Sumur bor. untuk 6 keluarga. 1 unit. udang. Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 6. Pengembangan sistem data base C. Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan. SARANA DAN PRASARANA Membuat rencana pembangunan sarana dan prasarana dengan prioritas pentahapan pembangunannya. ukuran 90 m2.17 . mesin air dan tower air SSB 1 unit. Sarana prasarana pengelolaan : a. Bangunan kantor Mengingat Cagar Alam Teluk Bintuni berada pada Kabupaten yang akan berkembang sangat cepat. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 2.

dilengkapi dengan perlengkapan yang memadai untuk kegiatan yang akan ditangani di tempat tersebut. Sarana yang dibutuhkan antara lain : Pembebasan lahan Bangunan pondok kerja Generator listrik Pompa air Sarana Komunikasi Peralatan Kerja : : : : : : 3 unit. pompa air dan tower SSB 3 unit. C. sarana ini penting untuk : pengamatan satwa. ukuran setiap pondok 48 m2 3 unit kapasitas 2. Pusat informasi Di Cagar Alam Teluk Bintuni. Pondok jaga dan Menara Pengawas Untuk pengamatan satwa. b. Tetapi pada batas kawasan yang berbatasan dengan hutan dataran rendah. Termasuk di dalam papan petunjuk ini adalah papan pengumuman. Letak pondok kerja ini adalah di Kampung Banjar Ausoy. ukuran setiap lokasi 100 m2 3 unit. Pulau Bore. c.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni b. papan larangan dan rambu-rambu peringatan. Naramasa.5 KW 3 unit sumur bor. Simeri. yang dapat menjangkau keseluruh kawasan sehingga memudahkan bagi petugas untuk melaksanakan tugasnya. jalur air merupakan salah satu cara yang terpenting. Pondok kerja di dalam CA Teluk Bintuni direncanakan akan menjadi 4 unit di luar kantor.18 . Handy talky 3 unit 3 unit Mesin Tik 80 cm 3 unit GPS d. diutamakan di jalur batas rintisan yang berdekatan dengan kampung Rencana Kegiatan V . Pondok kerja Bangunan ini diperuntukan bagi unit pengelola terkecil. Papan petunjuk Sarana ini harus ada di Cagar Alam. kantor dapat difungsikan sebagai pusat informasi. Pulau Modan. jalan patroli dapat digabung bersama jalur batas rintisan sehingga lebih efisien (berkaitan dengan pemeliharaan batas kawasan). Penempatan diatur di tempat yang strategis mudah dilihat. Aktivitas patroli bisa dilakukan bersamaan dengan pemeliharaan batas.2. Di CA Teluk Bintuni. Kampung Mamuranu dan Tirasai. Papan Petunjuk ttg kawasan Papan Larangan & informasi : : 50 unit 100 unit. Sarana prasarana pendidikan a. Lokasi pembangunan menara pengamat adalah di Awarepi. Jalan patroli BKSDA Papua II Sorong Di Cagar Alam harus ada jalan patroli. keindahan alam dan kebakaran.

longboat b.19 . yang berfungsi untuk pengamanan dan memudahkan melihat obyek wisata tertentu di Cagar Alam Teluk Bintuni. Untuk itu perlu dikembangkan dan dibangun pondok peneliti terapung yang bisa dipindah-pindah tergantung lokasi wilayah penelitian. Sarana dan prasarana penelitian a. perlu juga dibangun beberapa sarana seperti : Pembangunan stasiun iklim dan cuaca Karena situasi iklim dan cuaca belum diketahui dengan pasti. Lokasi yang diusulkan dibangun AWLR adalah Sungai Muturi. Pembuatan pondok penelitian terapung Pondok peneliti untuk kebutuhan penelitian di dalam Cagar Alam Teluk Bintuni sebaiknya tidak dibangun di banyak tempat. Lokasi pengamatan atau Rencana Kegiatan V . Curah hujan di kawasan dan sekitarnya berlangsung sepanjang tahun. Yang dapat dilakukan adalah membangun petak ukur permanen. C. Di Cagar Alam Teluk Bintuni. Pusat informasi dan sarana penelitian Bangunan ini dapat dibuat di dalam kawasan sesuai kepentingannya. Jalan setapak permanen di dalam kawasan mangrove dibangun pada tempat yang ada menara pengamat dan petak ukur permanen saja.3. Jalan setapak BKSDA Papua II Sorong Di Cagar Alam sarana ini diperuntukan sebagai sarana patroli dan pendidikan. Disamping itu. Stasiun pengamat air sungai otomatis (AWLR : automatic water level recording) Pembangunan AWLR sangat membantu pengelola CATB dalam memantau dampak dari perubahan penggunaan lahan yang ada di hulu terhadap CATB. maka perlu dibangun stasiun klimatologi dan meteorologi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni c. dan jarang terjadi bulan kering. pusat informasi dan data base dibangun bersamaan dengan kantor (satu bangunan). Laboratorium alam (areal penelitian) Penempatan areal lokasi penelitian disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. Ini akan membuat waktu penelitian tidak terbuang akibat Pondok ini bisa dipindah dengan menggunakan mobilitas yang terbatas. Jalan rintis penelitian Dibuat sesuai kepentingan dan sederhana. Data dan informasi dari stasiun ini dapat digunakan untuk kelengkapan data base dan sistem informasi geografis kawasan. c.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong laboratorium alam akan sangat tergantung dari penelitian tentang pemetaan flora-fauna di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni d. Pondok atau rumah tamu peneliti Pondok peneliti permanen dibangun disamping bangunan kantor pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni. Ini sesuai dengan areal Cagar Alam yang didominasi areal sungai dan mangrove.20 . Sarana penelitian berupa pondok peneliti yang punya mobilitas tinggi juga dibangun dengan membuat pondok yang bisa dipindah-pindah di sungai dengan ditarik boat. Rencana Kegiatan V .

penggalang dana tetapi harus sepengetahuan BKSDA Papua II Sorong. Bantuan juga dapat digalang oleh LSM atau organisasi lainnya dan pelaksanaan pembangunan juga dapat dilakukan oleh pihak ketiga yang ditunjuk pemberi . Misalnya. Penggalangan biaya pengelolaan dari swasta khususnya yang ada di daerah Kabupaten Bintuni dapat dilakukan oleh pengelola dengan sepengetahuan Kepala Balai KSDA Papua II Sorong. Semua asset yang dibangun di dalam kawasan atau mendukung Mekanisme pengusulan pelaksanaan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menjadi asset dari Cagar Alam atau pemerintah Indonesia. sumbangan dalam bentuk pengadaan sarana komunikasi. permohonan bantuan kegiatan dan penanggungjawab pelaksanaan disajikan dalam Gambar VI-1. Sumber Dana Sumber dana dalam pembangunan dan pengelolaan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa dapat menggunakan dana APBN. Non APBN atau dana lainnya antara lain berupa bantuan dalam dan luar negeri. patroli atau bangunan kantor.Implementasi Usulan Pembangunan atau Aktivitas Pengelolaan Cagar Alam Proposal Pengelolaan Proposal Penelitian Proposal Pembangunan Sarana Penanggungjawab : BKSDA Papua II Sorong Pelaksana : Pengelola Teknis Cagar Alam Teluk Bintuni Swasta LSM Gambar VI-1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VI. Bantuan dan dukungan ini tidak harus dalam bentuk uang tetapi dapat dalam bentuk barang. PEMBIAYAAN A. Pembuat Usulan Program/Kegiatan Pemberi Dana Proposal Dana Disetujui Pemerintah Indonesia Pengelola CATB Departemen Kehutanan BKSDA Papua II Sorong Swasta NGO/LSM Negara Asing Pelaksanaan . Alur Pengusulan Pelaksanaan Kegiatan dan Implementasi Kegiatan VI .1 Pembiayaan .

000 2.100 22. Tabel VI-1.200 1. Pembuatan Perda tentang Cagar Alam 1. Pembuatan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 125 1 1 Paket Paket 1.500 1.200 1.200 b.114 3.500 22.200 1. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah c.500 Pembiayaan VI .500 - Pemantapan Kawasan - a. Pembuatan Papan Pengumuman dan Petunjuk Kawasan 20 20 Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Unit Unit 30.2 . Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) 1 Pembuatan SK Defenitif 1.500 22.500 1. Kerjasama 2 1.000 41. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan.000 Km 900.000 1. Pembuatan Plat Seng tanda batas Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas 22.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong B. Papan Petunjuk Kawasan 50 Paket 1. Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 2. Rincian Biaya Rincian biaya untuk kegiatan pengelolaan disajikan dalam Tabel VI-1 dan Tabel VI-2 sedangkan untuk rencana biaya pengadaan sarana dan prasaran penunjang kegiatan pengelolaan disajikan pada Tabel VI-3.100. Rekonstruksi Pal Batas 22.250 82.500 112. Pembuatan Pal batas 3. Pembuatan SK Bupati 2. Kepastian Hukum kawasan b.650.114 3. dan Tabel VI-4.200 1.250 41. Rencana alokasi biaya pengelolaan Kawasan CATB jangka pendek (tahunan) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010).000 1.200 a.114. Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan 20 Unit 30.000 3. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan. 3.100 - d.000 30.

375 g.100 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 900.000 22.900 9.500 37. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 1 Paket 10.500 3.500 3 1.000 9.375 - - - 3.100.500 h.375 c.000 1.500 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 22. Pengadaan Poster tentang kondisi ekosistem di Kawasan CATB 150 Paket 22. Pembuatan Poster/Leaftlet - - 3.500 37. Kajian potensi fungsi kawasan e. Penataan dan pembuatan peta Penutupan Lahan di Dalam Kawasan 1.450. Penelitian j. Pelibatan Masyarakat dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan 10.500.000 10.000 10.114 3.450 - - 37.375 3.114. Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 150 Paket 22. Pembinaan masyarakat 5 Paket Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga Kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan Pembuatan Kelompok Kerja Penelitian tentang dampak lingkungan Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 1 Pengadaan system informasi geografis (SIG) dan pemutakhiran data hasil-hasil peneltian 1 1 Paket Paket 1 Paket 9.Penggantian Pal Rusak 3.500 1.375 1 Paket 1 Paket 1.000 10.3 .114 3.500 37.500 Total 5 tahun (x’000) 45.Pembuatan Plat Seng tanda batas 1.000 a.900 9.500 - - 37.375 3.000 37.000 37. Sistem Informasi Geografis dan Database Paket 37. Identifikasi Tipe Ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di CATB 150 Paket 2.900 9.000 - - - - 37.500.900 49.375 22.500 3. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2. Pemeliharaan Batas Kawasan 2.500 i.900.900 9.000 1.500.100 3. Pemeliharaan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 50 Km d.000 3.000. Buku Panduan Pembiayaan VI .

900. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di Kawasan.000 16.900.500 37.000 2.500 2.500.000 37. Pembinaan Habitat 3 Paket 1.000 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 10. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian.500 37.500 Paket 37.000 65.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 10.000 9.500 37.000 6.500 37. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 1 Paket 37.500 3. Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 5 Paket 37.500 37.500. Penelitian ttg Dinamika Populasi Flora dan Fauna b. Inventarisasi dan Pemetaan jenis Flora dan Fauna di Kawasan 1 1 Paket 37. Pencegahan Hama dan Penyakit 2 Paket 9.500.000 37.500 16.500. 2. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan 37.000 9. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik.4 .000 37. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.000 37.500.000 d.500.000 37. Paket Paket Km 37.900 a.900 9.950.500 37. dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2.500 16.000 37. Pembuatan petak ukur permanen 4.500 4.500.500 37.000 37.950 65. 1 Paket 9.500 c.500 37. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 2 1 1 3. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan.500 5.500. Dampak negatif dari kehadiran jenisjenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.000.000 Total 5 tahun (x’000) 10. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 1 Paket 1.000 37.950 65. Pengendalian 1.900 Pembiayaan VI . bertelur.

Pemulihan a.000 2 Paket 10.500 e.000.000 10.000 16. Rehabilitasi kawasan Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi. Peneltian 37. Penelitian tingkat dan laju sedimentasi di beberapa sungai yang bermuara di kawasan 1 2.500 3.500 Paket 37. Membuat brosur. Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2. Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak.000 37. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 10 Paket 16.000 10.000 37.000 20. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III.000 20. Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi b.500. Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 1 Paket 37. 1.500 f.500.000.900.000 Pembiayaan VI .900 c.500 9.000 2. leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan irstansi-instansi terkait. Perlindungan Jenis 16. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2.500. 1.000 10. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 9.000 10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No 1.900 Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) b. Penelitian dan kajian laju kerusakan ekosistem dan penyebabnya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1. Pengembangan system data base 2 Paket 10.5 .500 37. 1 Paket 9.

000 5. Pengamanan Rutin (patroli) e. Penegakan Hukum Unit - 1.000.500 PHKA 45.500. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan 5 Paket e. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi - 2. 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 5. Pendukung /Kelembagaan Penambahan personil pengelola kawasan 1.800 47.500 5.760 9. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (volunteer) 5 Paket 5 Paket 9.500 Voluntir a.500 Perlindungan dan Pengamanan Kawasan 5.500 28.760 5.000 3.000 5. Patroli gabungan 3.000 50. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat Unit 3.760 9.000 7.500.000 4.000 9.000 5.000 5.000 5.500 10. Pembuatan Panduan 5.000. Pelatihan/Penyegaran Polhut 6 5 paket paket 7.000.000 20.000 a.500 240 Paket 120.000 10.000 15.000 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 5.500 5. Personil Pengelola b. Pelatihan jagawana volunteer 2. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder Buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB - - d.000 Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 5.500 10.000 7. Pelatihan/Penyegaran Pembiayaan VI . Kerjasama 1 Paket 5.6 .000 5.000 7.760 9.500 10.760 9.000 7.000 Total 5 tahun (x’000) 25. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2.

500 20. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring 20.900 20.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) - 6.000 20.900 Paket 20.900 20. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 1 1 1 1 Paket 20.900 3.900 20.000 Paket 20.900 20.900 c.000 20. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 2 Paket 20.900 20.900 1 Paket 20.900 41.900.500.900.000 20.000 20.900. Pengenalan sistem agroforestri.900 8.900 20.900.900.900 20.900 41. Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5.000 20. Pelatihan pembesaran anakan buaya 6. Pelatihan pengenalan system “Sasi”.000 1. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa Paket Paket Paket 1 Paket 20.000 37.000 20.900 20. 3. Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktu-waktu beranak dan mengasuh anak 1 Paket 20.7 .900 20.900 20. Buku Panduan - b.900.000 Paket 20. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan 2. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas.900 37. Pemanfaatan Hasil Perikanan 2 Paket 20.900.900.900.000 20. terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 1 Paket 4.500 20.900 20.900.000 20. Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2. 1 1 1 5.800 20.900 1. 4.900.900 37.900 20.800 20.900.900 20.900 Pembiayaan VI .000 20. Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan 2 - Pemanfaatan a. Pelatihan budidaya pertanian menetap. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 7.

Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 1 Paket 10. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan Lokasi perburuan 2.000 10.500 37.000. Pengembangan sistem data base 10. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2 Paket 37. udang.500 37. khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni - - 3. Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman. Penelitian 2 Paket 1.000 Total 5 tahun (x’000) 75.000 1.000 Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan Pemanfaatan 2 Paket 2. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 10.8 .000 2.000 10. Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 10.000 e.000 2.500 - f.500 75.500.000.000 10.000 d.000 Pembiayaan VI .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 37. Kerjasama 2. Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan.000 10.500.500 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 37.500 37.000 10.000.500.000 4.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Tabel VI-2. Rencana alokasi biaya pengelolaan Kawasan CATB jangka panjang (lima-tahunan) pada periode 25 tahun pertama (2006-2030).
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000

Total 25 tahun (x’000)

1 Pembuatan SK Defenitif 125 1 1 Paket 3.100 3,100 Paket 1.114 1,114 Km 900 112500 Pembuatan SK Bupati Pembuatan Perda tentang Cagar Alam Pembuatan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) Pembuatan Pal batas Pembuatan Plat Seng tanda batas Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas -

Pemantapan Kawasan -

a. Kepastian Hukum kawasan

b. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah

c. Rekonstruksi Pal Batas

112,500 1,114 3,100 -

d. Kerjasama

2 1. Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 20 20 Unit Unit 2. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan. 20

Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan 30.000 30,000 Unit 1,200 1,200 1.200 1.200 -

a. Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan

3. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan. Pembuatan Papan Pengumuman dan Petunjuk Kawasan 1. Pemeliharaan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 2.Penggantian Pal Rusak 3.Pembuatan Plat Seng tanda batas 50 50 5 3

30,000 Paket Km Paket Paket 1,650 900 1,114 3.100

1,200

1.200

b. Papan Petunjuk Kawasan

82.500 45.000 1.114 3.100 45.000 1.114 -

82.500 45.000 1.114 3.100 1.114 -

82.500

247.500 135.000 1.114 3,100 5.570 9.300

c. Pemeliharaan Batas Kawasan

Pembiayaan

VI - 9

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 37.500 3.375 3.375 3.375 37.500 37.500 37.500 37.500 37.500 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 37.500 37.500 22.5

Total 25 tahun (x’000) 112.500 37.500 10.125

d. Kajian potensi fungsi kawasan 1. Identifikasi Tipe Ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di CATB 3 3 450 Paket Paket Paket 2. Penataan dan pembuatan peta Penutupan Lahan di Dalam Kawasan 1. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2. Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 450 Paket 22,5 3.375 3.375 3. Pengadaan Poster tentang kondisi ekosistem di Kawasan CATB 450 Paket 22,5 3.375 3.375 3.375

e. Pembuatan Poster/Leaftlet

-

-

10.125

3.375

-

-

10.125

f. Pembinaan masyarakat 20 Paket 9,900

Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga Kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan 49.500 Pembuatan Kelompok Kerja 1. Penelitian tentang dampak lingkungan 2. Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 1 Paket Pengadaan system informasi geografis (SIG) dan pemutakhiran data hasil-hasil peneltian 5 Paket 2 Paket 37.500 37.500 1 Paket 10.450 10.450 37.500

49.500

49.500

49.500

198.000

g. Pelibatan Masyarakat dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan

37.500 -

-

37.500 -

-

10.450 75.000 37,500

h. Penelitian

i. Sistem Informasi Geografis dan Database

37.500

37.500

37.500

37.500

37.500

37.500

187.500

3 1. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan 2. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 1. Inventarisasi dan Pemetaan jenis Flora dan Fauna di Kawasan

Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 1 Paket 10.000 10.000 10.000

a. Buku Panduan

1

Paket

10.000

10.000

-

10.000

b. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan

3

Paket

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

Pembiayaan

VI - 10

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 37.500 37.500 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 37.500

Total 25 tahun (x’000) 65.000

2. Penelitian ttg Dinamika Populasi Flora dan Fauna 2 Paket 3. Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 3 Paket 37.500 37.500 37.500 37.500 4. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.500 37.500 5. Dampak negatif dari kehadiran jenisjenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2 Paket 37.500 37.500 6. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 3 Paket 37.500 37.500 37.500

112.500

37.500

37.500

65.000

37.500

112.500

c. Pembinaan Habitat 3 Paket 37.500

1. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan, bertelur, dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 5 3 5 Km Paket Paket 3. Pembuatan petak ukur permanen 4. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian. 37.500 16.950 50.000

37.500

37.500

37.500

112.500

37.500 16.950 50.000

37.500 16.950 50.000

37.500 16.950 50.000

37.500

37.500

187.500 50850 50.000 50.000 250.000

d. Pengendalian 1. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di Kawasan. 1 2. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. 1. Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 2 Paket 9.900 9.900 9.900

a. Pencegahan Hama dan Penyakit

Paket

9.900

9.900

9.900

19.800

b. Perlindungan Jenis

3

Paket

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

5

Paket

16.500

16.500

16.500

16.500

16.500

16.500

82500

Pembiayaan

VI - 11

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 3.375 3.375 3.375 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 22.5

Total 25 tahun (x’000) 10.125

3. Membuat brosur, leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah 450 Paket

e. Pemulihan Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan irstansi-instansi terkait. 1 1 Paket 9.900 9.900 9.900 Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. Rehabilitasi kawasan 1. Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi. 3 Paket 50.000 50.000 50.000 50.000 150.000

a. Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi

b. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

2. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III. 3 Paket 50.000 1. Penelitian tingkat dan laju sedimentasi di beberapa sungai yang bermuara di kawasan 3 Paket 2. Penelitian dan kajian laju kerusakan ekosistem dan penyebabnya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 1. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2 2. Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 3. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan 2 Paket 50.000

50.000

50.000

50.000

150.000

c. Peneltian

50.000

50.000

50.000

150.000

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

f. Pengembangan system data base

10.000

10.000

10.000

20.000

Paket

10.000

10.000

10.000

20.000

5

Paket

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

25.000

e. Kerjasama

Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati

1

Paket

5.000

5.000

5.000

Pembiayaan

VI - 12

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000

Total 25 tahun (x’000)

4. 1. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2. Patroli gabungan 3. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (volunteer) 25 Paket 1.500 7.500 7.500 7.500 25 Paket 9.500 47.500 47.500 47.500 1240 Paket 120 28.800 28.800 28.800 28.800 47.500 7.500

Perlindungan dan Pengamanan Kawasan 28.800 47.500 7.500 144.000 237.500 37.500

a. Pengamanan Rutin (patroli)

e. Penegakan Hukum 5 paket 7.500 7.500 7.500

1. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi

7.500

7.500

7.500

37.500

2. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat 5 7.500 paket 7.500 3. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder 5 paket 15.000 Buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB 2 paket 7.500 15.000

7.500

7.500

7.500

7.500

37.500

15.000

15.000

15.000

15.000

75.000

d. Pembuatan Panduan

7.500

7.500

15.000

5. Penambahan personil pengelola kawasan 1. Pelatihan jagawana volunteer 2. Pelatihan/Penyegaran Polhut 15 15 3

Pendukung /Kelembagaan paket paket paket 7.500 10.000 45.000 50.000 22.500 22.500 50.000 22.500 50.000 PHKA 112.500 150.000

a. Personil Pengelola

b. Pelatihan/Penyegaran

6. Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan

Pemanfaatan 2 paket 7.500 7.500 7.500

15.000

a. Buku Panduan

b. Pemanfaatan Hasil Perikanan

1. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan

10

Paket

20.900

41.800

41.800

41.800

41.800

41.800

209.800

Pembiayaan

VI - 13

800 41.900 20.700 Pembiayaan VI .500 20.800 1.500 20.900 20.900 20112015 20162020 20212025 20252030 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan Rp x 000 9. Pelatihan pembesaran anakan buaya 6.600 104.900 62. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 10 Paket 20.900 20.800 41.900 9.900 20. khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 20.800 41.700 37.900 20. Pelatihan budidaya pertanian menetap.900 4.900 62. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa 3 Paket 37.000 2.900 20. Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2. Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman.000 62.900 41.900 20. terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 3 Paket 20. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas.14 .000 375. 4.900 20.900 20.900 20.700 2.900 20.900 20. Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktu-waktu beranak dan mengasuh anak 1.700 62. Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5.900 20.900 20. Pelatihan pengenalan system “Sasi”.500 20.900 62.700 d.900 9.900 62.900 20. 2 3 3 Paket Paket Paket 5.900 41.900 65.900 20.000 75.900 20.900 20.000 75.900 20. Penelitian 10 Paket 37. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 7.900 20.000 20.900 20.900 20.900 9.900 37.900 3 Paket 20.900 20.900 20.500 62.900 20.900 20.900 20. Pengenalan sistem agroforestri.500 75.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 9. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan Lokasi perburuan 3 Paket 20.700 62. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 4 5 3 3 Paket Paket Paket Paket 3.900 Total 25 tahun (x’000) 39.000 75.700 8.700 62. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring c.900 20.900 20. 3.900 20.900 20.900 20.800 209.000 75.900 20.700 20.

Pengembangan sistem data base 10.000 20.000 10.000 75. Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 10.000 4.000 e. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 10.000 75.15 .000 Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan Pemanfaatan 3 Paket 5.000 1.000 10.500 75.000 2.000 Pembiayaan VI .000 10.000 10. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 10 Paket 37.000 5.000 30.000 5. Kerjasama 15.000 10.000 10.000 375.000 75. udang.000- f.000 30.000 5. Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 2 Paket 10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan Rp x 000 Total 25 tahun (x’000) 3.000 75. Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan.000 10.

000 1.000 25.000.000 17.000 7.500 unit 4.500 paket 7.000 10.000 5.000.500 2.500 243.640 12.000. Rencana Alokasi Biaya Pengadaan Sarana dan Prasarana untuk Jangka Pendek (per tahun) pada Periode 5 Tahun Pertama (2006-2010) Komponen 1 2 3 4 5 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.500 2.500 Pengadaan Kantor/pondok (KPPN.000 7.000 4.000 15.066/33.000.000 unit 250.000 7.500 2.500 3.000 75.000 2.000 2.000 10.000 20.500.000 252 500 4 unit 1 35.000 75.820 2.500 unit 10.500 2.000 20.000 30.500 4.000.000.000 250 unit 1.000 2.000 1 7.000 20.000 30.000 2.000 1.000 157.000 20.500.000 1 1.500.16 .000 35.000 1.000 2.500.000 8.000 2.51) Pembebasan Lahan Kantor Bangunan Kantor (m) Barak Polhut (untuk 6 orang atau klg) Genset Kantor (4.500 900 900 900 900 900 2.500 7.000 5.500 250 25.000 243.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VI-3.51) Bangunan Kantor (m) + barak Halaman kantor komputer dan printer Peralatan kantor Radio SSB Pembiayaan VI .500.000 1 unit 900.000 75.000 10.000 10.000 No Aktivitas/Kegiatan 1 Sarana Pengelolaan Kantor 500 90 162 1 2 1 3 1 1 1 7 7 1 1 7 1 1 unit 30.000 15.000 7.000 22.500.066/33.000 4.000.500 1.000 15.000 75.000 10.750.000 24.820 2.000 10.000 25.000 5.500 2.000 3.000 8.000 500.500 7.5 KW) Komputer P IV Printer A3 (HP 1180C)+ USB Conector Peralatan kantor Faksimil Pengadaan Sambungan Telpon Radio SSB GPS Kompas Sunto Speed boat patroli 40 PK Longboat patroli 40 pk Handy talky motor roda 2 Sarana air bersih Pemeliharaan Kantor (KPPN.000 157.500 150.000.000.500 8.

500 7.500 15.500 5.550 9.750 2 3 4 5 7 1 2 1 1 1 1.000 unit 250.680 15.000 5.000 2.000 22.500.500.000 3 unit 1.100 45.500 3.000 1.000 1.100 2.200 48 100 3 3 3 3 3 3 3 3 5.51) Pondok kerja (m) Operasional Genset Operasional longboat Mesin tik 60 cm Radio SSB Handy talky Longboat patroli Peralatan pondok kerja Pembiayaan VI .500 5.000 7.000 5.800 500 7.500 15.000 3.000 3.000 15.000 5.500 5.000 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.500 3.000 150 2.000 1.000 10.000 7.000 3.500 45.066/33.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Komponen 1 500 6.000 1.000 2.000 3.750 1.500 3 petak 50.000 150 2.500 5.080 67.500.500 7.000 6.200 9.000 100 1.500 1.000 25.000 7.500 1.500 10.500.000 3.500 15.000 25.000 50.000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Handy talky Speed boat patroli (operasional) Longboat patroli (operasional) Motor roda 2 opeasional genset (liter bensin) Biaya Telpon Pondok Kerja Bangunan Pondok kerja (KPPN.700 750 10.000 3.000 5.000 10. 25 pk Peralatan pondok kerja Sarana air bersih Pemeliharaan (KPPN.000 20.000 48 3 3 3 3 3 3 3 3 35.200.17 .500 22.550 9.500 1.000 50 900 250 3.500.000 3.000 unit 2.000 30.000 450 8.500 12.000 1.200 3.550.000 3.000 252.500 45.000.000 60.500 2.200 1.500.000 7.000.200 1.500 5.000 900.000 250.000 20.000 2.000.000 7.250 31.000 15.500 1.000 25.000 84.000 75.000 3.5KW Mesin tik 60 cm Radio SSB GPS Handy talky Longboat patroli.000 9.000 5.750.000.000 7.000 20.700 750 10.000 1.360 22.000 1.000 84.000.000 2.000.000.000 9.000 20.500 6.500 1.500 5.000 84.000.500 5.500 135.500 1.000 25.000 7. 1.066/33.000 tahun 9.040 22.500 1.51) Pondok kerja (m) Pembebasan lahan (m) Genset Pondok kerja.000 6.500.

000 84.000 15.000 75.000 unit 15.680 600 1.000 15.000 30.000 96.000 1.000 600.000.18 .51) Pondok Peneliti (dlm kompleks kantor) Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung (m) Longboat untuk peneliti (40 pk) Pemelliharaan Pondok Peneliti Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung Longboat untuk peneliti (40 pk) Pembiayaan VI .000 48 3 1 48 1 48 1 1 48 35.000 1.200 1.000.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Komponen 1 2 3 4 5 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.000 m 1.680 2.680 unit 30.200 1.200.000 96.000 1.680 15.680 600 1.066/33.000.000 45.680 600 1.000 30.400 5.000.000 unit 75.000 75.720 2.000 600 35.400 2.750.000 6.000 1.040 - BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan 2 Sarana Pendidikan Brosur/leaflet/buku komik cagar alam Pusat data n informasi 3 Sarana Penelitian Pengadaan pondok penelitian(KPPN.000 1.680 84.

51) 252 500 4 1 7 1 2 unit unit unit 1 Bangunan Kantor (m) + barak Halaman kantor komputer dan printer Peralatan kantor Radio SSB Handy talky Speed boat patroli Longboat patroli 35.640 12.000 3.000 40.400 7.175 7.000 unit 250.5 KW) Komputer P IV Printer A3 (HP 1180C)+ USB Conector Peralatan kantor faksimil Pengadaan Sambungan Telpon Radio SSB GPS Kompas Sunto Speed boat patroli 40 PK Longboat patroli 40 pk Handy talky motor roda 2 Sarana air bersih 2 7 4 1 unit 30.500 6.000 20.500 5.000 62.500 7.830 132.125 30.000 75.500 150.000 24.500.000 - 8.500 5.000 12.000.000 21.000 24.000 8.500.550 37.000 1.000 75.500.000.000 8.000 20.200 62.000 250.000 3.000 Pembebasan Lahan Kantor Bangunan Kantor (m) Barak Polhut (untuk 6 orang atau klg) Genset Kantor (4.500 1.000 250 25.000 12.000 35.000.500 26.500 17.000 8.500.000 5.500 243.500 5.475 30.000.500 17.000.500 1.000 500.000 20.000 20.000 80.500 88.000 5.000 75.000 10.640 12.000 Pengadaan Kantor/pondok (KPPN.000 4.000.000 60.000 157.450 30.000 7.066/33.000 75.000 1.500 4.280 30.000 25.500 250 25.500 5.000 15.500.640 12.500.000 12.000 30.000 21.066/33.000 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VI-4.000 1 1.000.000 1 3 1 1 1 7 7 1 75.000 21.000 6.000 8.000 20.500 Pemeliharaan Kantor (KPPN.000 unit paket unit 4.000 1.000 35.000 - 20.000 94.000 30.51) 10.000.000 12.000 21.500 4.000 - 60.000 20.000 157.000 22.500.640 12.000 1 7.625 8.500 7.000 15.500 17.500 Pembiayaan VI .000 10.500 17. Rencana Alokasi Biaya Pengadaan Sarana dan Prasarana untuk Jangka Panjang (per tahun) pada Periode 25 Tahun (2006-2030) Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 2006-2010 2011-2015 2016-2020 2021-2025 2026-2030 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.500 8.19 .850 8.000 900.000.000 22.000 243.000 No Aktivitas/Kegiatan Komponen 1 Sarana Pengelolaan Kantor 500 90 162 1 3 unit 10.000 12.000 15.750.640 12.500 12.000.000 17.

066/33.200 2021-2025 9.875 7.500 1.200.000 15.500 3.000.300 2026-2030 12.400 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.000 Pembiayaan VI .000 110.250 585 10.000 5.500 225.200 225.000 - - - - 84.500.200 112.000 50.500 310.500 15.200 2016-2020 6.000 22.000 1.200 45.500 258.000 135.500 3 35.000 25.000 450 8.000 518 9.500.500.000 Pengadaan Pondok kerja (KPPN.066/33.750 - Pondok kerja (m) Operasional Genset Operasional longboat Mesin tik 60 cm Radio SSB Handy talky Longboat patroli Peralatan pondok kerja 2 1 Sarana Pendidikan Brosur/leaflet/buku komik cagar alam Pusat data n informasi 2 paket 5.500 132.5KW Mesin tik 60 cm Radio SSB GPS Handy talky Longboat patroli.315 2.500 281.000 1.000 15.000 1.000.51) Pondok kerja (m) Pembebasan lahan (m) Genset Pondok kerja.000 3.000 7.000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Komponen Motor roda 2 opeasional genset (liter bensin) Biaya Telpon Pondok Kerja 48 100 3 3 3 3 3 3 3 3 48 3 3 3 3 3 3 3 2.700 52.000 22.500.066/33.925 52.125 2.000 60.080 67.000 2006-2010 3.200 45.500 15.813 52.000 25.880 517.720 2.500 28.250 31.200 112.500 563 10.000 84.500 3.530 2.200 45. 25 pk Peralatan pondok kerja Sarana air bersih Pemeliharaan (KPPN.250 252.000 10.000 1.000 1.200 112.000 25.750 540 9.500 2.000 1.51) 48 m Pondok Peneliti (dlm kompleks kantor) 1.51) 22.500 29.000 10.000 3.200 112.275 241.500 15.000 45.500 15.20 .200 1.100 2011-2015 6.000 250.200 45.000 3 Sarana Penelitian Pengadaan pondok penelitian(KPPN.500 27.790 13.500 25.000 3 unit 1.210.000 60.500.000.550.000 20.655 47.000 7.100 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 3 1 1 tahun 9.500 25.000.000 unit 2.000.000 7.000 25.000 10.000 75.000 1.000 5.000.000 37. 1.000 252.750.125 3 petak 50.000 75.588 52.000 900.000.750.000.500.500 15.

000 75.400 5.21 .720 2.000 15.000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Komponen Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung (m) Longboat untuk Peneliti (40 pk) Pemelliharaan 30.040 150.500 unit 15.000 6.000 37.000 600.680 37.000 96.000 1.680 1.000 1.000 96.680 600 1.000.000 45.000 15.400 2.000 2.000 2011-2015 2016-2020 2021-2025 2026-2030 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.000.000 15.680 37.000 Pondok Peneliti Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung Longboat untuk peneliti (40 pk) Pembiayaan VI .500.000 75.000 unit 75.000 600 600 35.200 1.500 unit 30.000.200 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 2006-2010 3 1 48 1 48 1 1 48 1 1 7.000.200.680 37.680 1.680 600 1.500 1.500 35.000 30.000 1.

.

dan Koordinasi Pengembangan Organisasi dan SDM Pelaksanaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni dilakukan BKSDA Papua II cq Resort Bintuni. Secara struktural. program-program pengembangan sumberdaya manusia.1. maupun lingkup lainnya merupakan kebutuhan penting. Penerapan adanya Polisi Hutan volunteer yang biayanya dibebankan kepada pihak swasta yang berniat membantu dapat dikembangkan tetapi garis komando terhadap Polisi Hutan ini ada di Kepala Resort dan pihak swasta hanya sebatas memberikan dukungan berupa fasilitas.1 . pola peran partisipatif masyarakat dan pihak swasta yang ada di sekitar Teluk perlu dilibatkan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VII. sesuai dengan kemajuan-kemajuan teknologi dan prinsip-prinsip umum pengelolaan. baik berupa pelatihan dalam lingkup Kehutanan. Disamping itu. Prinsip pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni bersifat terpadu dan partisipatif. Pengorganisasian VII . PENGORGANISASIAN A. untuk melancarkan kegiatan pengelolaan kawasan dan terpadu dengan pembangunan di wilayah sekitarnya. dan pendidikan. Kelembagaan. Kepala Resort Cagar Alam Teluk Bintuni harus lebih bersifat fungsional. Secara administratif BKSDA Papua II akan berkoordinasi dan bertanggung jawab kepada Departemen Kehutanan. Untuk mewujudkan pola pengelolaan yang efisien dan dinamis. multistakeholders. Untuk itu. agar mampu mengoptimalkan pola pengelolaan yang koordinatif dan partisipatif dengan tetap berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni. jumlah personal di Resort Cagar Alam Teluk Bintuni diusulkan bertambah sesuai dengan pos pengawasan yang diusulkan. Untuk itu dibutuhkan kerangka logis pengelolaan yang efisien dan dinamis. diusulkan beberapa posisi yang bersifat fungsional penuh. koordinasi. Disamping itu perlu mengoptimalkan kemampuan teknis masing-masing personalia yang ada dalam proses pengelolaan. Ini bertujuan untuk mengefisienkan anggaran personalia. dibutuhkan ukuran pengelolaan yang kecil tetapi efektif. Sebagai pihak pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kebutuhan pelatihan bersifat dinamis. Kelautan dan Perikanan. untuk menunjang pengelolaan yang optimal. Pembinaan SDM. yang terutama didasarkan pada strategi komunikasi. dimana setiap pos akan diisi satu sampai 2 orang Polisi Hutan. A. BKSDA harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Kelembagaan Resort KSDA Teluk Bintuni yang langsung mengelola Cagar Alam Teluk Bintuni berada langsung di bawah BKSDA Papua II. Oleh karena itu. Lingkungan Hidup. tetapi mengoptimalkan anggaran operasional dan pengelolaan inventarisasi perlengkapan di Resort Cagar Alam Teluk Bintuni.

pelaksanaan penelitian dan pengembangan akan memperkaya informasi untuk kepentingan pemeliharaan.2 . Struktur Arus Informasi dari Tahapan Pelaksanaan Pengelolaan di Cagar Alam Teluk Bintuni Struktur organisasi dan sumberdaya manusia perlu di evaluasi terus-menerus melalui suatu analisis beban kerja dan kebutuhan tenaga sehingga diharapkan lebih berdayaguna dan berhasilguna serta dapat mengantisipasi beban pekerjaan yang akan dihadapi dan direncanakan. Di lain pihak. Kebijakan Pengelolaan Di dalam pengelolaan cagar alam. pemanfaatan. Pengorganisasian VII . pemberdayaan masyarakat dan komunikasi Melakukan kerjasama dalam pengawasan kawasan dengan membina Polisi Hutan volunteer dengan kerjasama pihak III A.2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Meningkatkan status pengelolaan kawasan konservasi di Teluk Bintuni menjadi seksi KSDA mengingat di wilayah ini ada 2 kawasan cagar alam (Cagar Alam Teluk Bintuni dan Wagura Kote) atau Cagar Alam Teluk Bintuni Menambah jumlah Polisi Hutan sehingga setiap wilayah pengawasan yang ada terisi dengan Polisi Hutan penanggungjawab wilayah Melakukan pelatihan Polisi Hutan dalam bidang pengamanan hutan. Penataan Pemeliharaan Pemanfaatan Pengawasan Perlindungan dan Pengembangan Pemulihan Pengendalian Gambar VII-1. semua aktivitas pengelolaan saling mendukung satu sama lain. Aktivitas pengawasan dapat memberikan informasi dan data untuk kepentingan pemeliharaan dan selanjutnya penataan. pengendalian dan pemulihan di kawasan cagar alam (Gambar VII-1).

kelompok masyarakat yang mencari nafkah dari dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga harus diorganisir. Masyarakat. yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan formasi dan biaya yang tersedia. media massa. Koordinasi secara khusus dengan pemerintah Pemerintah Propinsi dan Pusat. Pengorganisasian VII . koordinasi pengelolaan dilakukan oleh pengelola Cagar Alam (Resort BKSDA) dengan instansi terkait lain di dalam kabupaten dapat berlangsung optimal untuk membuka peluang koordinasi dan kerja sama dalam kegiatan-kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan swasta. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). lembaga swadaya masyarakat (LSM).3. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Membentuk forum Komunikasi dan Kelompok Masyarakat Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni. Lembaga Pendidikan dan Penelitian. media massa. A. koordinasi pengelolaan dilakukan antara pengelola CATB dengan instansi di atasnya yaitu BKSDA Papua II Sorong. kepastian hukum kawasan juga harus menjadi perhatian. Untuk menunjang pelaksanaan pengelolaan. Forum ini dibentuk dengan tujuan cagar alam lestari. Pemerintah Propinsi dan Pusat. Koordinasi Dalam Lingkup Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Secara umum. Tujuannya adalah untuk memudahkan pengawasan dan koordinasi sekaligus menjadi mata rantai pengawasan di seluruh kawasan cagar alam Membantu pemerintah daerah dalam perumusan peraturan daerah khusus untuk keberadaan kawasan konservasi Cagar Alam dalam tata ruang kabupaten.4.3 . dan swasta dilakukan oleh BKSDA atau Resort dengan sepengetahuan BKSDA Papua II. Dalam pelaksanaannya. Forum ini merupakan forum multistakeholder dan menjadi forum atau wadah komunikasi yang membicarakan semua kegiatan yang akan dilakukan di Cagar Alam. forum ini bisa menjadi perpanjangan tangan atau sumber informasi bagi Badan Monitoring Pada sisi lain. Hal ini dimaksudkan agar keberadaan Cagar Alam menjadi tanggungjawab semua pihak dan keberadaan serta pemanfaatan berhasil guna bagi masyarakat sekitar. Koordinasi khususnya dibutuhkan untuk menjangkau pihak-pihak di lain dalam intansi Pemerintah Kabupaten. A.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dalam rangka menyesuaikan beban pekerjaan yang terus berkembang maka dari hasil analisis diperlukan penambahan tenaga pada berbagai bidang keahlian. Koordinasi dengan Instansi Lain Secara umum.

Pengorganisasian VII . 8) Dinas Perindustrian dan Perdagangan. 2) Dinas Pariwisata. 4. pelaporan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 1.4 . Lingkup Pemerintah Propinsi dan Pusat BKSDA Resort Cagar Alam Teluk Bintuni harus berkoordinasi dengan Pemerintah Propinsi Irian Jaya Barat. kerjasama kegiatan dan konsultasi. Lembaga Pendidikan dan Penelitian Dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia. Koordinasi dengan masyarakat setempat. berkaitan dengan keterlibatan masyarakat luas serta usaha peningkatan kesadartahuan masyarakat tentang nilai dan manfaat Cagar Alam Teluk Bintuni. Koordinasi dalam hal ini berupa. informasi dan kerjasama kegiatan. sebagai berikut: 1) Dinas Perikanan dan Kelautan. Kegiatan-kegiatan penelitian oleh lembaga-lembaga internasional untuk tingkat operasional diatur sepenuhnya oleh Ditjen PHKA dan BKSDA Papua II Sorong. 3) Tokoh-tokoh masyarakat lainnya. Menengah. Koordinasi tersebut meliputi: 1) Lembaga Pendidikan Dasar. pelaporan. Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni dan instansi teknis lainnya Bentuk koordinasi dalam hal ini berupa. 5) Dinas Perhubungan. Bentuk koordinasi yang dilakukan dalam hal ini berupa pelaporan. kerjasama kegiatan dan konsultasi. terutama dengan: 1) Aparat desa. kerja sama kegiatan. Semua kegiatan koordinasi dengan masyarakat setempat dilaporkan kepada BKSDA Papua II Sorong dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. Lingkup Pemerintah Kabupaten BKSDA Papua II Sorong Agar strategi dan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat sejalan dan terpadu dengan strategi dan program pembangunan Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. Masyarakat Setempat Guna mengoptimalkan pengelolaan kawasan yang efisien dan partisipatif. 2. maka koordinasi dengan masyarakat setempat sangat penting dilakukan. 4) Dinas Tanaman Pangan. dan Umum se Kabupaten Teluk Bintuni dan 2) Perguruan Tinggi. dan konsultasi. Bentuk koordinasi dalam hal ini berupa. 3) Dinas Kehutanan. informasi. 2) Badan Perwakilan Kampung atau Lembaga Masyarakat Adat (LMA). 3. 9) Dinas Pendidikan. serta 11) Kepolisian dan TNI. 7) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. 10) Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah. maka koordinasi dalam kegiatan pendidikan dan penelitian sangat penting dilakukan. 6) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. maka pengelola CATB harus berkoordinasi dengan instansi dalam lingkup Pemerintah Kabupaten.

Conservation International (CI) dan lain-lain 2) LSM nasional: Yayasan Kehati.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 5. WWF. maupun dari luar teluk. Pengorganisasian VII . dan lain-lain Koordinasi dalam hal ini berupa. Koordinasi tersebut terutama dengan: 1) LSM internasional: The Nature Conservancy (TNC). Media Massa Usaha untuk menumbuhkan kesadartahuan dan keterlibatan masyarakat dalarn pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sulit tercapai apabila komunikasi dan informasl hanya dilakukan oleh Kepala Resort Cagar Alam Teluk Bintuni atau BKSDA Papua II Sorong. Lembaga Swadaya Masyarakat BKSDA Papua II Sorong LSM memiliki peran penting baik sebagai fasilitator atau pendamping masyarakat. pelaporan. adalah media cetak. Dukungan media massa bagi strategi komunikasi dan informasi pengelolaan akan memperluas daya imbasnya.5 . Untuk itu koordinasi antara Resort Cagar Alam Teluk Bintuni dengan LSM baik di Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya. kerjasama kegiatan dan konsultasi. para pemangku kepentingan di Teluk Bintuni yang dapat berperan dalam pengelolaan Cagar Alam perlu mengetahui peran apa saja yang bisa dilakukan. tidak hanya untuk masyarakat sekitar tetapi juga mampu menjangkau tingkat nasional dan internasional. Walhi. Semua kegiatan koordinasi dengan LSM dilaporkan kepada BKSDA Papua II Sorong dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. media elektronik. Secara umum. terutama perusahaan besar di Kabupaten Teluk Bintuni. Masyarakat di dalam pengelolaan cagar alam bias menjadi perpanjangan tangan dari kepala Polisi Hutan sebagai pengelola teknis di daerah pengelolaan cagar alam untuk mengumpulkan banyak informasi yang berguna bagi pengelolaan. dan media alternatif. Masyarakat sebagai salah satu pemangku kepentingan (stake holder) dapat berperan sebagai Polisi Hutan volunteer yang membantu proses pengawasan sekaligus juga menjadi pengguna jasa cagar alam. 6. 7. sangat dibutuhkan. maupun sebagai pengumpan masukan-masukan alternatif bagi strategi dan kebijakan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Swasta Koordinasi dengan swasta juga tidak kalah penting. Swasta bisa juga berperan dalam memfasilitasi keberadaan Polisi Hutan volunteer untuk pengawasan. Perusahaan swasta ini bisa berperan aktif bersama Resort untuk mengawasi atau pengamanan kawasan Cagar Alam. dan sebagainya 3) LSM lokal: . Media masa dalam hal ini.

kepala resort bertanggungjawab sepenuhnya bagaimana melakukan implementasi pengelolaan kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Disamping itu. B. Tanggungjawab dan Administrasi Secara administrasi. Akan tetapi dalam perannya untuk pengelolaan. Masyarakat Dalam Kawasan CA dan di sekitar kawasan CA Teluk Bintuni Ka BKSDA Papua II Sorong Badan Monitoring Swasta Kepala Ressort Cagar Alam Teluk Bintuni Universitas Papua LMA Bappeda Kab TB Dinas Kehutanan Dinas Perikanan Polisi Hutan Forum Komunikasi Kelompok Pemanfaat Gambar VII-2. Dalam pelaksanaan pengelolaan. masyarakat juga harus berkoordinasi dengan cagar alam. baik oleh masyarakat maupun oleh badan monitoring. dikembangkan adanya peran badan monitoring pengelolaan kawasan yang direncanakan dalam dokumen rencana pengelolaan. Kondisi ini menempatkan pelaksana teknis pengelolaan akan diawasi secara menyeluruh. tanggungjawab pelaksanaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni berada di bawah BKSDA Papua II Sorong. Di dalam pelaksana teknis. Badan ini akan memberikan input kepada resort dan BKSDA sebagai penanggungjawab. Pengorganisasian VII . Struktur Sistem Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Posisi bada monitoring yang berada di luar struktur internal BKSDA ataupun pelaksana teknis Cagar Alam membuat badan ini lebih independent dalam melakukan tugasnya untuk mengawasi pelaksanaan pengelolaan tetapi badan ini terikat kepada rencana pengelolaan kawasan. masyarakat juga bias berperan sama untuk badan monitoring. Keanggotaan dari badan yang cukup beragam akan membuat sinkronisasi kegiatan dengan instansi terkait di lingkup Kabupaten Teluk Bintuni bias berjalan dengan baik (Gambar VII-2).6 .

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Ka BKSDA Papua II Sorong BKSDA Papua II Sorong Badan Monitoring Universitas Papua LMA Bappeda Kab TB Dinas Kehutanan Dinas Perikanan Administrasi Kepala Polisi Hutan Cagar Alam Teluk Bintuni Ka Wilayah Naramasa Ka Wilayah Mamuranu Ka Wilayah Tirasai Polisi Hutan Polisi Hutan Polisi Hutan Gambar VII-3. Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan 2. Mengkoordinir Polisi Hutan yang ada di Cagar Alam Teluk Bintuni dalam melaksanakan tugas pengelolaan kawasan 3. Tugas dan Fungsi : Kepala Polisi Hutan 1. Mamuranu. Membangun kerjasama dengan instansi swasta yang ada di Kabupaten untuk Pengelolaan CA dan melaporkan kepada Ka BKSDA 5. seperti Naramasa. Tirasai. Bertanggungjawab terhadap koordinasi dengan instansi lain yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni 4. Struktur Organisasi Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Kawasan CATB (Cagar Alam Teluk Bintuni) dengan luasan yang cukup besar sebaiknya dikelola dengan jumlah staf yang memadai. Di setiap wilayah pembantu akan diisi juga dengan Polisi Hutan (Gambar VII-3). melakukan tugas Polisi Hutan Pengorganisasian VII . Memberikan laporan pelaksanaan kepada Kepala BKSDA Papua II Sorong Polisi Hutan 1. Untuk itu direncanakan untuk menambah staf dan struktur pengelola dengan membuat adanya kantor pembantu pada beberapa wilayah.7 . Menyusun pengawasan dan evaluasi bulanan pelaksanaan rencana pengelolaan 6. Setiap kantor wilayah ini akan bertanggungjawab ke kepala resort dalam melaksanakan tugas pengelolaan kawasan.

8 . Membantu kepala Polisi Hutan dalam mengelola data base kawasan 5. memberikan laporan dan evaluasi pekerjaan setiap bulan kepada kepala Polisi Hutan Administrasi 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2. pemberdayaan masyarakat. membantu kepala Polisi Hutan dalam pengelolaan CA BKSDA Papua II Sorong 3. Penyusunan Staf Kebutuhan staf untuk pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu ditingkatkan baik jumlah maupun kualitas.000 Ha dibutuhkan tambahan tenaga Polisi Hutan yang bisa berfungsi ganda. atau SMA dengan masa kerja 5-10 Tahun sebagai Polisi Hutan Pernah mengikuti pelatihan penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat Polisi Hutan (Pohut) 1. Membantu kepala Polisi Hutan dalam pengarsipan dokumen penelitian dan rencana penelitian 4. Untuk luas CATB yang mencapai 124. Melakukan tugas adminstrasi kantor resort 2. penjenjang teknis kehutanan (PTK). pelatihan penyusunan program. Kulitas pengelola juga bisa dipenuhi dengan adanya pelatihan. penyuluhan dan pembinaan masyarakat. Bertanggungjawab terhadap dokumentasi kegiatan resort 3. Mengikuti pendidikan polisi kehutanan Staf Komputer dan Administrasi Pengorganisasian VII . Kepala Polisi Hutan/Kepala Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni/Kepala Resort : Pendidikan Sarjana/D3 Kehutanan masa kerja 3-5 tahun. Untuk efisien dan efektifnya pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Membantu kepala Polisi Hutan dalam mengkoordinasi kegiatan penelitian di kawasan C. baik dalam pengawasan. Kepala Wilayah (penanggungjawab wilayah) : Pendidikan D3 Kehutanan masa kerja 1-3 tahun. kebutuhan tenaga tidak hanya dari jumlah tetapi juga kualifikasi harus memadai. penyuluhan dan perencanaan partisipatif. atau SMA dengan masa kerja lebih dari 15 tahun bekerja sebagai Polisi Hutan di Cagar Alam Pernah mengikuti pendidikan penyidik pegawai negeri sipil (PPNS).

9 .20262015 2020 2025 2030 - 3 3 3 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Pengorganisasian VII . Kondisi Staf Pengelola Cagar Alam dan Rencana Pemenuhan Staf berserta Rencana Pelatihan Kebutuhan Staff No Aktivitas/Kegiatan Eksisting A 1 2 Staf Polisi Hutan Senior/Kepala Resort Polisi Hutan (polhut) Polhut Pelaksana Pemula Polhut Pelaksana 3 Administrasi Staf komputer dan administrasi B Pelatihan Pelatihan Pengenalan Jenis Pelathan Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Penyusunan Program Pelatihan Penyuluhan Pelatihan Pembuatan Data Base Pelatihan GIS Pelatihan Perencanaan Partisipatif 3 1 1 1 1 0 1 1 D3/ SLTA 1 0 1 6 6 6 5 D3/ SLTA D3/ SLTA 3 2 2 3 1 1 1 0 Sarjana/ D3 0 Kebutuhan Selisih Kualifikasi 2010 Pemenuhan Tenaga 2006.2016.2021. atau SMA dengan masa kerja 5-7 tahun di bidang komputer/administrasi Kebutuhan tenaga untuk pengelolaan Cagar Alam direncanakan akan dipenuhi sampai pada periode 2020 dan kapasitasnya juga akan diperkuat melalui kegiatan pelatihan dan kursus.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2.2011. Pendidikan D3 komputer/administrasi masa kerja 1-3 tahun. maka syarat minimal harus dipenuhi dan ketrampilan akan dipenuhi lewat pelatihan (Tabel VII-1) dan rencana kebutuhan pembiayaan didasarkan kepada standard biaya 2005 (Tabel VII-2) Tabel VII-1. Bila kebutuhan staf di daerah tidak ada yang memenuhi.

400 8.000 4.400 5.000 APBN.000 5.000 5.400 60. Swasta 396.10 .000 468.150 4.500 8.651 4.800 7.000 4.000 6.000 4.000 12.000 8.000 4.400 5.000 5.000 4.000 5.000 5.000 15. Rencana Kebutuhan Biaya Pemenuhan Staf dan Rencana Pelatihan di Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya (Rp.865 4.400 5.000 6.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VII-2.000 4.800 5.000 7.000 4.000. 20062010 20112015 20162020 20212025 20262030 Sumber Dana APBN Pengorganisasian VII . X 000) No A 1 2 Aktivitas/Kegiatan Staf Polisi Hutan Senior/Kepala Resort Polisi Hutan (polisi Hutan) Polhut Pelaksana Pemula Polhut Pelaksana 3 Administrasi Staf komputer dan administrasi B Pelatihan dan Kursus Pelatihan Pengenalan Jenis Pelathan Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Penyusunan Program Pelatihan Penyuluhan Pelatihan Pembuatan Data Base Pelatihan GIS Pelatihan Perencanaan Partisipatif 15.400 3.000 12.000 96.000 4.

A. sehingga dalam aktivitas perencanaan lebih lanjut akan didapatkan beberapa strategi-strategi tertentu yang tidak relevan lagi. dimodifikasi untuk Tetapi. A. serta rapat berkala yang diikuti oleh semua pegawai Ressort KSDA Teluk Bintuni. Pengawasan tersebut bisa diwujudkan berupa kegiatan pembinaan ke lokasi secara reguler atau dengan kunjungan/inspeksi mendadak.1. Hal ini akan sangat efektif dalam pemantauan dan evaluasi kegiatan pengelolaan baik yang menyangkut kemajuan Monitoring dan Evaluasi VIII . terminologi ini mengetahui perbedaan antara kejadian-kejadian alami. pemantauan. yaitu pertama pemantauan atas rencana-rencana yang telah dibuat. Pemantauan dan evaluasi oleh unsur internal ini bisa berupa pengawasan melekat oleh atasan langsung baik di kantor maupun di lapangan. Secara umum melakukan kegiatan monitoring berarti melakukan dua hal. sehingga pemantauan dan evaluasi kegiatan merupakan hal yang sangat penting dilakukan agar seluruh kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan. Demikian juga pelaksanaan rapat rutin yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional. memutuskan apakah perlu ada perubahan rencana dan membuat perbaikan-perbaikan. Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Pemantaun dan evaluasi yang dilakukan disini adalah merupakan kegiatan rutin dari pengelola kawasan terhadap kinerja anggota pengelola.1 . prioritas kegiatan perlu dievaluasi dan dimodifikasi. kedua membandingkan kinerja dengan ukuran yang telah di buat. Cara lain untuk pemantauan dan evaluasi kegiatan adalah dengan mengirimkan laporan periodik dan laporan khusus dari hirarki yang lebih rendah kepada pejabat di atasnya (misalnya dari petugas wilayah kepada kepala resort. Dalam perjalanan waktu. dst). pengamatan dan penelitian. dalam sistem manajemen konservasi. Oleh karena itu. MONITORING DAN EVALUASI Kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan proses yang berkelanjutan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VIII. PELAKSANA KEGIATAN Kegiatan pemantauan yang dilanjutkan dengan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan kawasan disarankan untuk dilakukan oleh unsur internal pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni maupun oleh Forum komunikasi yang independen. Sedangkan evaluasi berarti mengidentifikasi apa yang sudah dicapai dan mana yang belum serta apa yang harusnya dilakukan ke depan dengan melibatkan atau mengumpulkan umpan balik dari stakeholder-stakeholder kunci dan pengelola. isu-isu pengelolaan kawasan yang baru akan muncul. survei.

Monitoring dan Evaluasi VIII .2. kehadiran dan peran suatu Forum Komunikasi yang independen sangat diperlukan. dan VIII-2.2 . Berikut adalah komposisi forum komunikasi yang akan dusulkan dengan memperhatikan aspek kemampuan pelaksana dan keterwakilan pemangku kepentingan utama dalam pengelolaan kawasan: 1. Forum Komunikasi Independen Selain Pemantauan dan evaluasi kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilakukan oleh pengelola kawasan. Saat ini institusi ini telah memiliki laboratorium Geographical Information System (GIS) dengan beberapa perangkat keras dan lunak yang memadai dan dipimpin oleh seorang kepala laboratorium yang telah memiliki kualifikasi yang cukup dalam memonitor dinamika suatu kawasan konservasi. A. Disamping itu. Forum ini diharapkan selain berperan dalam mengevaluasi kinerja rencana kerja yang telah dibuat. tidak diragukan lagi institusi ini telah memiliki sumberdaya manusia yang handal dan pengalaman dalam melakukan pemantauan dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan baik kawasan konservasi maupun kegiatan kehutanan lainnya.1 Komposisi Forum Komunikasi MONEV CATB Untuk keperluan monitoring dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan.2. Berikut adalah kondisi peralatan dan personil pendukung yang ada di Laboratorium GIS yang bernaung di bawah Fakultas Kehutanan. dukungan peralatan yang ada dirasa cukup memadai untuk suatu kegiatan pemantauan dan evaluasi. Dari segi kemampuan personil yang ada. Pemecahan masalah biasanya dapat lebih cepat ditangani dibanding hanya komunikasi surat atau laporan. Universitas Negeri Papua Institusi ini perlu mendapat pertimbangan sebagai pelaksana kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan pengelolaan. A. Universitas Negeri Papua Manokwari seperti disajikan pada Tabel VIII-1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kegiatan maupun permasalahan yang dihadapi. komposisi forum komunikasi diharapkan memperhatikan tidak hanya kapasitas personil tetapi juga faktor keterwakilan pemangku kepentingan (stakeholders) dalam kegiatan pengelolaan kawasan. juga berfungsi sebagai kontrol dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan kawasan.

1. 600 Mb. 6. 256 MHz. 8. 20 G Pentium IV. 1000 W UNION 50/60 Hz. Nama Barang Komputer Hardwares Spesifikasi Pentium I. 256 MHz. 1. Faperta Uncen Semi Que IV Jrs Kehutanan Diploma MHAP Fahutan Unipa Diploma MHAP Fahutan Unipa Tahun 2000 2002 2003 Status Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Ket. 40 G 2. Lisenced ArcView 3. 10. 2 G Pentium IV. 2.7 GHz. 11. Komputer Soft wares ILWIS 3.3 . Biometrika dan GIS 2000 2003 2002 2002/ 2005 Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Baik Baik Baik Baik Monitoring dan Evaluasi VIII . Kondisi fasilitas pendukung pengelola Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa No. 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 2000 2000 2000 2003 Inventaris Pinjaman Inventaris Inventaris Baik Baik Rusa k Baik 9. 261 Mb. 40 G Pentium II. 20 G Pentium IV. 1. 7. Epson Stylus pro 7500 Calcom Jumlah 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit Sumber Pengadaan P2T. 500 VA A1. Sarmi 3. Baik Baik Baik Baik 5 Unit 2004 Inventaris Baik 1 Unit 1 Unit 5 Scene 5 Scene TNC TNC Proyek Atlas SD Pesisir Unipa Semi Que IV Jrs Kehutanan Bappeda TK I Irian Jaya P2T Faperta Uncen Bappeda TK I Irian Jaya P2T Faperta Uncen TNC 2000 2003 2002 2002 Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Baik Baik Baik 1 Unit 2002 Baik 4. Teluk Bintuni Citra Landsat 7 ETM.3 Lisenced Citra Landsat 7 ETM. 3. 8 link Kodak Easy Share Pro Link Pro 2100. 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VIII-1. 16 M. Meja Digitasi Portable Meja Digitasi Gulung Ploter Ploter Scanner D-Link 10/100 Fast Ethernet Switch DES-1008D.0 Gb. 1 Unit 1999 Pinjaman Baik 5.0 GHz.26 GHz. 32 M. Kamera Digital UPS Stabilazer Elektrik Kid 1 Unit 1 Unit 1 Unit - P2T Faperta Uncen Semi Que IV Jrs Kehutanan Semi Que IV Jrs Kehutanan Lab. 12.

Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VIII. BKSDA Papua II c. khususnya yang berhubungan dengan aspek keilmuan yang dihadapi pengelola. Unipa Manokwari. Unipa Manokwari Sponsor TNC & UNIPA TNC TNC TNC TNC & UNIPA TNC TNC TNC & UNIPA TNC 4. 2. Goroka. Unipa TNC & UNIPA Selain itu. Bogor 2.4 . Julius D. Unipa Manokwari. Kontribusi yang dapat diberikan oleh institusi ini dalam kegiatan monitoring dan evaluasi adalah lebih banyak difokuskan pada pemantauan dan mengevaluasi keberhasilan kegiatan. Remote Sensing and GIS for Coastal Zone Management Tahun 2003. Dari peran dan fungsi yang akan Monitoring dan Evaluasi VIII . institusi ini juga diharapkan berperan dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi secara eksternal.2. Bogor. Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. 2. membantu mengidentifikasi dan memfasilitasi pemecahan masalah-masalah. 4. BIOTROP. Nama pengelola Yosias Gandhi Kualifikasi Master Pelatihan SIG 1. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001. Bogor 3. Bogor Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. Unipa Manokwari 3. Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. sebagai pemegang kendali kegiatan pengelolaan kawasan. 2. Unipa Manokwari 3. Christian Imburi Fransina Kesaulija Sarjana Sarjana Magang SIG untuk pemula di Biotrop. Unipa Manokwari. 1. termasuk daerah Cagar Alam Teluk Bintuni. Yoseph Rahawarin Sarjana 1. 2. Nugroho Master 1.q Resort KSDA Bintuni Selain melakukan monitoring dan evaluasi internal sebagai institusi pengelola. Kondisi personil pendukung pengelolaan Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa No. Unipa Manokwari. Tahun 2004. Remote Sensing and GIS for Coastal Zone ManagementTahun 2003. BIOTROP. 5. PNGTahun 2002. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001. Presentasi Hasil Pelatihan SIG pada CA Teluk Bintuni di Biologi Conference IV. BIOTROP. institusi ini telah beberapa kali menjalin kerjasama dengan beberapa LSM dan Pemerintah Daerah dalam penelitian dan pengkajian di kawasan Teluk Bintuni.

Selain partisipasi langsung masyarakat dalam kegiatan rencana kelola. Dinas terkait di Kabupaten seperti Dinas Kehutanan dan Dinas Perikanan dan Kelautan. dalam kegiatan monitoring sekaligus evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan dirasa penting. pengelolaan yang efisien. segala bentuk permasalahan dan hambatan dalam implementasi rencana kegiatan di lapangan akan lebih banyak diketahui oleh institusi ini. Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni Sebagai institusi perencana di Kabupaten Teluk Bintuni. Badan ini diharapkan memainkan peran lebih banyak dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. namun kapasitas institusi ini yang didukung oleh sumberdaya manusia yang ada tidak diragukan lagi dalam kegiatan monitoring dan evaluasi. 4. yang di wakili oleh Lembaga Musyawara Adat (LMA) Bintuni dan Lemasom. Dinas-Dinas yang relevan dengan kegiatan pengelolaan kawasan. Koordinasi untuk kegiatan pemantauan dan evaluasi pengelolaan meliputi Forum Koordinasi dan Wadah Partisipasi. Masyarakat adat yang diwakili oleh Lembaga Masyarakat Adat Teluk Bintuni. Badan ini telah dilengkapi dengan Sub Bagian Monitoring dan Evaluasi. Selain Badan Perencana Daerah (Bappeda) Kabupaten Teluk Bintuni. sesuai dengan tipe kelompok pemanfaat dan tipe dampak. Koordinasi juga diperlukan dengan masyarakat setempat. pengarahan dan kerjasama dengan kelompok target yang beragam. 3. dapat tercapai.5 Monitoring dan Evaluasi . 5. serta pemanfaat potensi kawasan yang lainnya. Peran masyarakat adat dalam kegiatan monitoring dan evaluasi lebih di fokuskan pada mengkaji atau memantau peristiwa-peristiwa yang diperkirakan memiliki dampak penting terhadap nilai dan fungsi kawasan. perlu dipertimbangan sebagai anggota VIII . peran masyarakat adat. Peran yang bisa dimainkan oleh institusi ini menunjang kegiatan monitoring dan evaluasi adalah memfasilitasi pemecahan dan penyelesaian masalah-masalah yang terkait dengan pembangunan dan pengembangan yang dilakukan oleh dengan pemerintah daerah. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa dalam keberhasilan kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni harus banyak melibatkan komponen masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan. Institusi ini memang masih relatif baru seiring dengan pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni. institusi akan banyak berperan dalam mengkomunikasikan masalah dan hambatan yang ditemui dengan stakeholder yang lain dalam di forum ini. Melalui koordinasi dan peran serta masyarakat. Kegiatan ini umumnya adalah koordinasi kegiatan dalam bentuk bentuk konsultasi. Apalagi di dalam struktur organisasi. terutama dalam pemantauan dan evaluasi. Sehingga diharapkan dalam kegiatan evaluasi kegiatan pengelolaan yang akan dilakukan oleh forum komunikasi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dimainkan oleh institusi ini dalam kegiatan pengelolaan.

Melakukan evaluasi terhadap implementasi kegiatan sesuai dengan rencana pengelolaan yang sudah ditetapkan. diusulkan forum independen ini bisa di bawah koordinasi Universitas Negeri Papua (UNIPA). serta pada bagian tertentu berbatasan dengan hutan produksi dan hutan lindung. Apabila dirasa perlu. namun tidak tertutup kemungkinan pada saatnya nanti koordinator badan ini dipercayakan pada stakeholder yang lain seperti Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. Forum komunikasi yang diusulkan perlu di perkuat dengan Surat Keputusan Bupati. Dari luasan kawasan yang ada (±124. 5. Forum Komunikasi.2 Tugas dan Tanggung Jawab Tugas utama dari forum ini antara lain : 1.2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong forum komunikasi yang diusulkan. Membuat laporan evaluasi implementasi kegiatan rencana pengelolaan kawasan yang disampaikan kepada pengelola dan Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. sehingga keberadaanya dalam struktur hukum di Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menjadi jelas. 4. forum independen yang dibentuk akan selalu berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II Sorong dan kepala Resort KSDA Bintuni sebagai pemegang mandat utama pengelola kawasan serta masyarakat (Jagawana Voluntir. sebagian besar terdiri dari ekosistem mangrove dan hutan dataran rendah. A.6 . forum ini dapat melakukan pengecekan lapangan (site visit) untuk melihat langsung kondisi lapangan yang sebenarnya. dan Kelompok Pemanfaat) di dalam dan sekitar kawasan (Gambar VII-1). Dalam pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi. 3. Berdasarkan kondisi stakeholder yang disebutkan di atas. khususnya yang berkaitan dengan masyarakat. Memberikan masukan kepada pengelola bila dari hasil evaluasi terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan yang telah digariskan sebelumnya. Membantu pengelola dalam memfasilitasi penyelesaian masalah pengelolaan. Hal ini membuat aktivitas perikanan dan kehutanan di dalam dan sekitar kawasan tidak dapat terelekan.850 ha). Monitoring dan Evaluasi VIII . Peran penting yang bisa diambil oleh kedua institusi ini adalah dalam hal memfasilitasi penyelesaian masalah pengelolaan khususnya yang berkaitan dengan masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya alam di dalam dan sekitar kawasan. sehingga peranan kedua pemangku kepentingan (stakeholder) ini mutlak diperlukan baik dalam kegiatan pengelolaan maupun monitoring dan evaluasi. Memonitor pelaksanaan rencana pengelolaan yang dilakukan oleh BKSDA Papua II Sorong dan Ressort Teluk Bintuni 2. Dinas-Dinas yang terkait langsung dan dianggap sebagai mitra kerja pengelola adalah Dinas Kehutanan (DINHUT) dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP).

2. 2. Kepala Kesort sebagai agen pelaksana kegiatan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni diharuskan melakukan monitoring dan evaluasi terjadwal secara internal terhadap semua implementasi Monitoring dan Evaluasi VIII .1. forum yang diusulkan harus dilengkapi dengan fasilitas penunjang serta peningkatan kemampuan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni A. Pelatihan atau kursus yang bisa diusulkan dalam menunjang kegiatan forum ini antara lain: 1. sehingga dapat membantu pemantauan dan pengawasan potensi Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. Pelatihan sistem monitoring dan evaluasi proyek yang bisa di fasilitasi oleh Unipa dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. dirasa perlu untuk didukung oleh semacam pedoman pernantauan lapangan yang bersifat populer. yang bisa difasilitasi oleh pengelola kawasan yang didukung koordinasi dengan pihak-pihak LSM. RENCANA WAKTU PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam implementasinya. Selain itu dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi. Salah satu strategi dalam yang bisa dilakukan dalam memfasilitasi peningkatan kemampuan (capacity building) dari personil dalam forum yang diusulkan adalah melalui pelatihan-pelatihan yang terprogram. B. Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Khusus untuk pemantauan dan evaluasi oleh unsur internal pengelola kawasan. badan ini juga perlu ditunjang oleh kemampuan personil yang kualified. namun masih perlu pengadaan beberapa perangkat lunak seperti foto citra satelit (Satelite imagenery) dan perangkat pengolahan data digital. Fasilitas penunjang yang dimiliki oleh Lab GIS di Unipa Manokwari dirasa sudah cukup memadai. Pelatihan pengenalan sistem informasi geografis (SIG) yang bisa difasilitasi oleh pengelola Lab GIS di Unipa Manokwari dan kerjasama dengan LSM Internasional seperti The Nature Conservancy (TNC).7 .3 Sumberdaya pendudung BKSDA Papua II Sorong Dalam memperlancar kinerja. Selain ditunjang oleh peralatan yang memadai. Hal ini penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang nilai dan manfaat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terletak pada senjang (gap) antara kegiatan teknis pelestarian dengan penginformasian kepada masyarakat luas. 3. B. pelatihan atau kursus yang bisa diusulkan adalah pelatihan untuk penggunaan pedoman pernantauan lapangan. Khusus untuk masyarakat yang diwakili oleh Lembaga Musyawarah Adat (LMA) kampung. strategi-strategi pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu dimonitor dan di evaluasi untuk setiap periode waktu implementasi kegiatan tertentu oleh unsur internal pengelola kawasan maupun oleh suatu forum komunikasi independen.

Laporan rutin yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. 1. Laporan rutin yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. Pemantauan secara menyeluruh terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama satu tahun. Kinerja personil pelaksana kegiatan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong rencana kegiatan pengelolaan kawasan (Bab V) yang dijabarkan lebih lanjut pada pada Tabel VIII-3. 2. Triwulan 1. Waktu Pelaksanaan Bulanan Bentuk Kegiatan Monitoring Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama sebulan penuh yang meliputi hal-hal: Target dan Realisasi kegiatan dan pembiayaan. Monitoring dan Evaluasi VIII .1 Forum komunikasi Independen Lingkup Kegiatan Badan Forum komunikasi Independen Kegiatan monitoring oleh forum komunikasi independen terhadap implementasi rencana pengelolaan dapat dibagi dalam tiga kategori. Semesteran Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama enam bulan terakhir yang difokuskan pada halhal seperti pada pemantauan bulanan. 2. 4. Rapat berkala untuk mengevaluasi komprehensif terhadap seluruh implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh seluruh pengelola kawasan. 2. Tahunan 2. Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan untuk semua aspek dalam rencana kelola akan dievaluasi setiap tahun. Rencana monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh unsur internal pengelola kawasan. Rapat evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional pengelola kawasan.8 . B. Laporan tahunan yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. Monitoring dan evaluasi menyeluruh terhadap semua rencana pengelolaan kawasan dan semua tujuan yang telah digariskan dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali.2. 1. 2.2. Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama tiga bula terakhir yang difokuskan pada hal-hal seperti pada pemantauan bulanan. 1. Evaluasi Mengevaluasi seluruh kegiatan selama satu bulan yang dituangkan dalam bentuk laporan bulanan yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. Rapat evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional pengelola kawasan. yaitu: 1. Tabel VIII-3. Masalah dan hambatan yang ditemui di lapangan. 3. B. No.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 3. dan atau revisi program Monitoring dan Evaluasi Tahunan IMPLEMENTASI KEGIATAN TAHUNAN Implementasi kegiatan tidak berjalan sesuai rencana kegiatan IMPLEMETASI KEGIATAN DI SETUJUI Saran.2.9 . forum ini akan bekerja berdasarkan skenario seperti ditampilkan pada diagram alur berikut: FORUM KOMUNIKASI PENGELOLA KAWASAN Saran. dan atau revisi program serta peninjauan kembali atau perubahan rencana pengelolaan yang ada Monitoring dan Evaluasi Lima -Tahunan IMPLEMENTASI KEGIATAN LIMA TAHUNAN Implementasi kegiatan tidak berjalan sesuai rencana kegiatan IMPLEMETASI KEGIATAN DI SETUJUI Gambar. solusi pemecahan masalah. B. Mekanisme Kerja Forum komunikasi Independen Monitoring dan Evaluasi VIII . Apabila diperlukan. namun hanya bersifat insidensial. VII-1. solusi pemecahan masalah. mengacu kepada rencana kegiatan pengelolaan (Bab V) dan pembiayaan (Bab VI). Sebagai pedoman dalam proses monitoring dan evaluasi terhadap strategi-strategi yang diimplementasikan.2 Mekanisme Kerja Forum Komunikasi Independen Berdasarkan lingkup kerja seperti diuraikan sebelumnya. sewaktu-waktu dapat dilakukan monitoring dan evaluasi.

solusi pemecahan masalah.10 . Forum ini akan melalukan monitoring dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan setiap tahun. Apabila diperlukan. hambatan dan atau hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. hambatan dan atau hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. kegiatan Monitoring dan evaluasi limatahunan. solusi pemecahan masalah. dilakukan peninjauan Kemudian dilanjutkan dengan kembali atau perubahan rencana pengelolaan yang ada. Monitoring dan Evaluasi VIII . Apabila ditemukan permasalahan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dari gambar di atas dapat dijelaskan mekanisme kerja Forum komunikasi Independen adalah sebagai berikut: 1. maka forum ini wajib memberikan saran. 2. maka implementasi kegiatan rencana pengelolaan diterima yang ditindak lanjuti dalam bentuk laporan tertulis. Apabila dalam monitoring dan evaluasi kegiatan tahunan tidak ditemukan permasalahan. 5. Apabila dalam monitoring dan evaluasi kegiatan lima-tahunan tidak ditemukan permasalahan. Apabila dalam kegiatan MONEV lima tahunan ditemukan permasalahan. maka forum ini wajib memberikan saran. 4. maka implementasi kegiatan rencana pengelolaan diterima yang ditindaklanjuti dalam bentuk laporan tertulis. hambatan dan atau hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. 3. dan atau revisi program kepada pihak pengelola. dan atau revisi program kepada pihak pengelola. hambatan dan atau hal yang berjalan tidak sesuai rencana kegiatan.

Penutup IX . serta para pemerhati lingkungan lainnya. Dalam implementasinya. baik yang bersumber dari swasta maupun dana hibah lainnya yang sah. Beberapa program yang dirumuskan. Sumber anggaran lain dapat diupayakan. Dokumen ini juga dapat berfungsi sebagai alat kontrol dan koordinasi berbagai instansi sehingga diperoleh sinergitas dalam pelaksanaan setiap kegiatan yang direncanakan. Komitmen pihak pengelola terhadap kelompok- kelompok terkait merupakan landasan penting bagi suatu pengelolaan yang dinamis. Ekosistem Cagar Alam Teluk Bintuni memiliki ekosistem pesisir pulau-pulau kecil. karena dokumen ini disusun berdasarkan hasil dari serangkaian proses yang melibatkan seluruh stakeholder. Kerangka utama dalam pengelolaan dinamis adalah peran serta dan koordinasi lintas sektoral dari semua pemangku kepentingan di Cagar Alam Teluk Bintuni. Pertimbangan ini menjadi strategis karena dalam penganggaran hendaknya mengikuti skema anggaran pada instansi teknis terkait untuk program yang bersesuaian dengan tugas dan fungsi pokoknya. keterlibatan pihak lain seperti pihak swasta/investor. PENUTUP Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni bukan merupakan suatu rencana pengelolaan yang kaku yang harus digunakan untuk mengelola kawasan yang memiliki proses ekologis yang rumit. Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah suatu dokumen yang memiliki nilai akomodatif.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong IX. dokumen ini diharapkan akan dilegalisasi dengan keputusan Bupati Teluk Bintuni sehingga mempunyai kekuatan hukum tetap. telah disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi dari instansi teknis terkait pada lingkup pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dan juga telah mengakomodir berbagai kepentingan stakeholder pendukung pengelolaan kawasan CATB serta tetap mempertimbangkan kelestarian fungsi kawasan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pemerintah Daerah. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dikelola secara optimal dan lestari sesuai fungsi peruntukannya. Dengan terbitnya Dokumen Rencana Pengelolaan ini. Untuk itu. ekosistem mangrove dan perairan sehingga dalam pengelolaannya dibutuhkan suatu piranti yang dinamis. partisipasi dan transparansi yang tinggi. sangat diharapkan dalam implementasi rencana kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni di lapangan. termasuk masyarakat pemilik hak ulayat. LSM lokal dan internasional. Dokumen ini akan menjadi acuan bagi pemerintah dan stakeholder di dalam melakukan kegiatan pengelolaan CATB pada periode 25 tahun ke depan. Departemen Kehutanan dalam. hal ini Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHKA) sebagai institusi pelaksana rencana kegiatan pengelolaan yang telah disusun. memiliki banyak keterbatasan sumberdaya.1 .

.

2002. 28 Desember 1998. Beccariana.. Unipa-CRMP.K. B. UGM. Farber. Concept and Practices. and YDPTB. 1975. PKSPL-IPB. 1988. Potensi Keanekaragaman Hayati Dalam Dimensi Kepariwisataan Bahari di Kawasan Indonesia Timur. Island Press. Nutrient cycling in a community of Avicenia marina in a temperature region of Australia. 4:2. Bogor. 1999. d’Arge. T.A. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut serta Prinsip Pengelolaannya. O. A. Nature 387 (1997).. Manokwari. University Florida. Survei Potensi Sumberdaya Perikanan dan Pertanian di Kawasan Teluk Bintuni. Kerjasama YPMAS-Sultra dengan LP2SN.R.. Bot. B and Knecht W. Bengen. Grasso. Burung-burung di Kawasan Papua (terjemahan). dan Lense. G. Gajah Mada University Press. 1999. M. KONPHALINDO. Conservation International. Boli. B.. Clough.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR PUSTAKA Asia Pacific Study Center – University of Gajah Mada. K. Dkk. Christensen. 1999. I. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. 1995. Naeem. Yogyakarta. Management of sustainable community-based natural diversity in Bintuni Bay with emphasis on Mangroves. Biology and Management of Mangroves. Integrated Coastal and Ocean Management.. Gainsville. Washington DC. Birdlife International Indonesia Programme. 2002. Fla.M. Camillan Bann. Konservasi Conyer. Makalah di sampaikan pada Seminar “ Prospek Pengembangan Wisata Bahari di KTI. and Attiwill. Sci. de Groot. In: Proceeding International Symp. B. M. 2003. Laporan Hasil Survei Lapang. Cicin-Sain. P.M. Asmusruf. R. 1991. 2002. WWF. B. Aquat. Kajian Potensi Biofisik Hutan Mangrove di Desa Guraping-Maluku Utara. 2005. Rumbino. D. Perencanaan Sosial di Dunia Ke Tiga : Suatu Pengantar. D. Daftar Pustaka DP . Yogyakarta. Indonesia.1 . Costanza. 1978.. 4:43-52. R. D. Maluku Utara – BPPK Papua Maluku. Pratt.F. Pemanfaatan Nipah (Nypa Fruticans ) Oleh Lima Suku Di Bintuni. The Value of the World’s Ecosystem Services and Natural Capital. pp 137-146. Lokakarya Penentuan Prioritas Keanekaragaman Hayati Irian Jaya. R. Dahuri. Bogor Bengen. The Economic Valuation of Mangroves: A Manual Research for Researcher. BPPK Papua Maluku. CI Washington DC. 1997. S. Bogor. Biomass and primary production of Rhizophora apiculata BL. Vol. dan Zimmerman. Limburg. Pengusulan Lahan Basah Teluk Bintuni Menjadi Cagar Alam. 1998. DinHut Prov. 2001. Beehler. Berwulo. Inst. A. P. Hannon. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB. 101-112. USA.M. S. Food and Agric. in a mangrove in southern Thailand. D.

N. 1974.F. spp dan Bruguiera spp Dalam Tegakan Hutan Mangrove Alami di Indonesia. F. 1962. P. Keanekaragaman Hayati Kawasan Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari. Symp. On Biology and Management of Mangroves. C. Mangrove Indonesia.. Second International Conference on Wetlands and Development. Jakarta. 2. Evaluasi Kerusakan Kawasan Mangrove dan Arahan Teknik Rehabilitasinya di Pulau Jawa. Heald. Goulter. and Snedaker. Lugo. Suryadiputra. Australian J. 1998. Suryadiputra I.) in a Middle Harbour . Skripsi Sarjana Kehutanan. Rev. Dakar.G. Bogor Daftar Pustaka DP . M. PKA/Wetlands International. 2002. 1975..Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Erftemeijer. Fakultas Kehutanan IPB.L. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. Noor Y. In: Walsh. Odum. Jurusan Teknologi Hasil Hutan IPB Bogor. Sydney. N. Program Pascasarjana IPB. A.S. Ekologi Mangrove. Sci. H.S. 5:39-64.F. LIPI-MAB Indonesia. and Teas. Koentjaranigrat. Pemanfaatan Palem oleh Masyarakat Suku Sougb di Kampung Sibena II Distrik Bintuni.E. Khazali dan IN. PKA dan Wetland International Programme. The Ecology of Mangrove. Pemalang. Vol. The Mangrove Forest of Puerto Rico and Their Management.N.T. P hd Thesis. W. S. Lense.. 1999. Production of Organic Detritus in a South Florida Estuary. Vol. Food and Agric. Laporan Survei UNIPA dan CRMP. Pelabuhan Bagi Keanekaragaman Hayati : Evaluasi Keberadaannya saat ini. pp 825-846. Lokakarya Jaringan Kerja Pelestari Mangrove.C. University Florida. Materi Teori dalam Pelatihan Pengelolaan Hutan Mangrove Lestari Angkatan I di Bali. 1979). Fla. Inst. Y. C dan Onrizal. Khazali M.R. H. 1999. 1995.. (Eds. 8-14 November 1998 Febrianto. A. Bogor Noor. 1998. Ann.A dan A. 2002. Bogor. 12-13 Agustus 1998. P. E. Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Mangrove Kayu dan Non Kayu. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. 43: 9-19. Jakarta Noor. 2002. G.) Proceedings of Int.. O dan Kilmaskossu. Hilmi. Prosiding Seminar V Ekosistem Mangrove. Fakultas Kehutan Unipa (Tidak diterbitkan). Jawa Tengah. Ecology.N. R. Senegal. F.J. and Allaway. University of Miami.C. Kusmana. S. Leftungun. 1980. Bogor. A.J. PT. Gainsville. C. Snedaker. Bualuang. Lugo. The structure and Metabolism of Puerto Rican red Mangrove forest in May. Participation of Local Communities in Mangrove Forest Rehabilitation in Pattani Bay. Bogor.N.2 . Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Ecology and Systematic.N.. 2003. Litter fall and decomposistion in a mangrove stand (Avicenia marina Folks. USA (Un pblished). and Wilson. Golley. Endang. and Clintron. Gramedia Kusmana. Profil Kandungan Karbon pada Pohon Kelompok Jenis Rhizhopora. Y.. Marine Freshwater Resources. 1971. 2004. I.E. Thailand : Learning from Successes and Failures.

Atlas sumberdaya pesisir Kawasan Teluk Bintuni. Jayapura. 1996. Pool. 1984.. Philadelphia. 2003. 2004. Manokwari. I. Lugo. Petocz. Conservation for development programme in Indonesia. Economic of Natural Resources and The Environment. Mammals of the reserves in Irian Jaya. Recommended reserves for Irian Jaya Province. W. dan Proyek Pesisir (USAID). A. A.J. I. PT BUMWI.P. Y. E. Bogor. IPB. Indonesia.. Pengembangan Wilayah. Manokwari. Jakarta. 89 pp. Sidney. Sunsun Saeful Hakim..U Leh.. and Y de Fretes. P3FED Unipa. New York. Sci. Bogor: PHPA. Fasilitas LNG. Potret dan Rencana Umum Pengelolaan Taman Wisata Alam Gunung Meja Manokwari. pp 213-237. CRMP Project. Inc. Biology and Management of Mangroves. Raharjo. Pelabuhan. Studi Evaluasi Lingkungan Hak Pengusahaan Hutan PT Bintuni Untama Murni Wood Industries di Kabupaten Manokwari. 1990. In: Proceeding International Symp. Prosiding Pelatihan ICZPM. V. D.3 . 1998. Harvester Wheatsheaf. S.BP Indonesia.. R. Also published in Indonesian language. and Snedaker.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong NRM. prepared in cooperation with PHPA: “usulan-usulan suaka di propinsi Irian Jaya”. Propinsi Irian Jaya (Buku II: Laporan Utama). Petocz. Conservation and development in Irian Jaya: A strategy for rational resource utilization. 1983. 2002. PKSPL IPB dan Ditjen Bangda Depdagri. Sorong dan Fak-fak Propinsi Papua). Rustiadi. Pertamina . Gainsville. London. 61 pp. Jakarta. 2003. R. Pemda Kab. Indonesia.G. Final Report to Atlantic Richfield Berau. Sasekumar.B. Daftar Pustaka DP . R. Proyek Pesisir (USAID) Indonesia. E. WWW/IUCN Report. Perencanaan dan Soerianegara. 1988. Pearce. UNIPA.C. 2002. WWF/IUCN special report. Production in Mangrove forests of Southern Florida and Puerto Rico. PT. Mangroves as a Habitat for Fish and Prawns. Bogor.K. Petocz. PEMDA Provinsi Papua. Odum. D’Cruz. Andal Kegiatan Terpadu (Eksplorasi Gas. D. Bogor.E. PT BUMWI. Turner. BP Indonesia. Food and Agric. dan Dyah R.G. Environmenttan Baseline Study. Jakarta. Inst. 1994. NRM.G.C Chong and R.W and R. 1971. Statement prepared for the formal gazettment of thirty one conservation areas. Vol. Fundamentals of Ecology. Geobis Woodward-Clyde Indonesia. Raspada. Pokok-Pokok Pikiran tentang Pemberdayaan hak-hak masyarakat adat dalam mengeksploitasi sumberdaya alam provinsi Papua. Ekologi Hutan Indonesia. M. and George P. Manokwari. Community Base Management di Wilayah Pesisir Indonesia. Hydrobiologia. USA. 1975. University Florida. Saunders Company. Bandar Udara dan Pemukiman LNG Tangguh Kabupaten Manokwari. Fla. P3FED. 1983. Fakultas Kehutanan IPB. 1992. Panuju.

S. A. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Sorong. Tim TNC. Tesis Pascasarjana. Babo dan sekitarnya. UNIPA dan Bappeda Manokwari. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. The Nature Conservancy Papua Conservation Program. 1988. Tim P3FED Unipa. Kabupaten Manokwari. 1999. Kabupaten Manokwari. Analisis Kebijakan Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Teluk Kendari. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Kabupaten Manokwari. 1991. Babo dan sekitarnya. Dinhut Manokwari Suhaeb.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Soesilowati. Sorong. Sub Biphut Manokwari. Sorong. Daftar Pustaka DP . 1994. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. 1997. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Universitas Negeri Papua bekerjasama dengan Badan Prencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Manokwari. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. 2000. Sorong. Pemberdayaan Masyarakat Lapis Bawah : Kasus Kegiatan Suatu LSM di Jawa Tengah. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni.4 . Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Tesis Pascasarjana. Manokwari. 2004. Bogor. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Palu Sulawesi Tengah. 1993.000. Kabupaten Manokwari. 2003. Sorong. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Kabupaten Manokwari. 2001. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Sorong. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Kabupaten Manokwari. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Institut Pertanian Bogor. Babo dan sekitarnya. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Babo dan sekitarnya. Peta Pengunaan Hutan di Kabupaten Manokwari Skala 1:250. 1992. Sorong. 1995. E. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Babo dan sekitarnya. 1990. Kabupaten Manokwari. Kabupaten Manokwari. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. P3FED Unipa. Kajian Model-Model Mekanisme Pemberian Kompensasi Hak Masyarakat Adat atas Pengelolaan Hutan dan Penggunaan Tanah di Distrik Bintuni. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Babo dan sekitarnya. Institut Pertanian Bogor. Babo dan sekitarnya. Rencana Pengembangan Sektor Ekonomi Potensial secara terpadu di Kawasan Teluk Bintuni. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Survei Potensi Hutan Bakau Cagar Alam Teluk Bintuni . INDONESIA.

J. Academic Press. 278 pages. G. Indonesia. New York. 1991.E. 2002. 2002. Pp 51-174. Yalhimo-CRMP. Studi Sosial Budaya di Kecamatan Bintuni Kabupaten Manokwari. G. Vol.S.. P. Yayasan Lingkungan Hidup Humeibouw Manokwari. Womersley. Inventarisasi Sumber Daya Alam Teluk Bintuni dan Rekomendasi untuk Manajemen dan Konservasi. Mangroves: A Review. Raymond and W. PERDU-CRMP. Erftemeijer.1. Zuwendra. Queen.H. Yayasan PERDU.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Walsh. Bogor. J. 978.5 . (Ed). Daftar Pustaka DP . Eds.). Melbourne University Press. dan Allen. 1974. Studi Sosial Budaya di Kecamatan Bintuni Kabupaten Manokwari. Handbook of the Flora of Papua New Guinea. PHKA/ AWBIndonesia (Forestry Institute and Asian Wetlands Bureau). In: Ecology Halophytes (R.

.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran-Lampiran L.1 .

kayu. Arboretum Tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan. palem. dll. bambu. bentuk interaksi antar sesama mahluk hidup dan antar mahluk hidup dengan lingkungannya. Bioprospecting (bioprospeksi) Penilaian terhadap sumber daya genetis dan sumber daya hayati. Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di Indonesia BKSDA Balai Konservasi Sumberdaya Alam Biodiversity Keaneka-ragaman hayati yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keanekaragaman bentuk kehidupan di bumi. spesies dan genetis dan meliputi wilayah darat. Dalam praktiknya kegiatan ini dibarengi dengan munculnya isu-isu hak kepemilikan intelektual. dinding tanah oleh air.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 1.) dan tanaman pangan dan atau pakan temak berumur pendek diusahakan pada petak lahan yang sama dalam suatu pengaturan ruang atau waktu. es. Istilah dan Terminologi yang termuat dalam dukumen BKSDA Papua II Sorong Abrasi Pengikisan batuan. Biogeografi Penyebaran tumbuh-tumbuhan dan binatang secara geografis di muka bumi. Agroforestri Sistem-sistem dan teknologi tata guna lahan di mana pepohonan berumur panjang (termasuk semak. Lampiran-Lampiran L. AWB Asian Wetland Bureau. atau angin. Agro-Ekosistem Sistem pertanian yang didasarkan pada hubungan timbal balik antara sekelompok manusia dan lingkungan fisiknya guna memungkinkan kelangsungan hidup kelompok manusia itu. perairan tawar. pengetahuan lokal dan sumber daya genetis tanpa pengetahuan ataupun persetujuan pemiliknya/masyarakat setempat. Biro Tanah Basah Asia BAPEDALDA Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah BAPPEDA Badan Perencana Pembangunan Daerah BAPPENAS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BAPI The Biodiversity Action Plan for Indonesia. pesisir dan laut. yakni ekosistem. Keanekaragaman hayati mencakup tiga hal.2 . Biopirasi (biopiracy) Eksplorasi dan pemanfaatan.

dan kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang secara universal sangat bemilai tinggi dari sisi sejarah. "Cultural World Heritage" mengacu pada monumen. elemen atau struktur arkeologis. Cagar Alam adalah kawasan Suaka Alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. Konvensi untuk Perdagangan Internasional Spesies Langka Daerah Burung Endemik Wilayah pengelompokan alami burung-burung yang kisaran hidupnya terbatas. 2. CITES Convention on International Trade of Endangered Species. sebagai kawasan konservasi khusus dengan fungsi ekonomi. yaitu pengelolaan kawasan yang didasarkan pada prioritas ekosistem dan habitat alami setempat. Cagar Biosfer Kawasan di dalam suatu negara yang mendapat status khusus dari negara-negara yang tergabung dalam program The Man and The Biosphere (MAB) di bawah UNESCO. gua-gua hunian.3 . komunitas manusia serta sistem ekologi. Bioregion Kawasan/lingkungan fisik yang pengelolaannya tidak ditentukan oleh batasan politik dan administrasi. Deforestasi Penggundulan hutan sehingga lahan yang semula berupa hutan menjadi berubah fungsinya. perkebunan atau penggunaan lainnya. Cagar Warisan Dunia (World Heritage Site) Menurut World Heritage Convention yang dikeluarkan oleh UNESCO. Dengan demikian. bioregion juga mempunyai pengertian ekoregion. habitat atau kelompok formasi geologis dan fisiografis beserta spesies flora dan fauna yang terancam. serta dampak negative akibat pemanfaatan produk rekayasa genetis. dan ilmu pengetahuan. ekologi dan sosial. Ekoregion Suatu pendekatan pengelolaan kawasan konservasi yang menggunakan pembagian wilayah berdasarkan kondisi perbedaan ekosistem (lihat bioregion). Lampiran-Lampiran L. pahatan dan lukisan. tetapi oleh batasan geografi. Bioteknologi Penerapan teknologi berbasis ilmu biologi untuk memanfaatkan makhluk hidup bagi kebutuhan manusia. ada dua yaitu: 1. prasasti. satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangusung secara alami. Debt for Nature Swap Dana untuk konservasi alam didefinisikan sebagai pembatalan utang luar negeri dengan menukarnya dengan mobilisasi sumber daya alam dalam negeri untuk pelestarian alam. karya arsitektur. "Natural World Heritage" mengacu pada ekosistem. seni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pembagian keuntungan yang adil dan merata. misalnya menjadi lahan pertanian.

Hutan Dipterocarpaceae Hutan yang didominasi spesies pohon dari famili Dipterocarpaceae. Tanah ini sangat masam dan tidak subur. kapur dll. Hutan Primer Hutan perawan atau hutan alam yang belum dijamah manusia. Hutan Konservasi UU no. diagonalnya 0 derajat (membagi bumi menjadi 2 wilayah: utara dan selatan) Endemik. komodo). terdapat di dataran rendah daerah tropis dengan curah hujan 2500 mm/tahun. Epifit Tumbuhan yang hidup pada tumbuhan lain tetapi tidak merugikan. Hutan Kerangas Hutan yang tumbuh di atas tanah podsolik. Habitat Tempat hidup alami bagi binatang dan tumbuhan. Ekuator Garis imajiner yang mengelilingi bumi. Endemisme Spesies tumbuhan atau binatang yang hanya terdapat di wilayah tertentu dan sering bersifat unik untuk daerah tersebut. Tanah yang terlapuk berat dan mengandung silika terbentuk pada teras-teras kuarsa. hutan alam konservasi (nature conservation forest) dan taman berburu (hunting forest).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Ekosistem Komponen biotik dan abiotik dalam suatu lingkungan yang saling berinteraksi sehingga menghasilkan aliran energi dan daur hara.41 menjelaskan bahwa yang termasuk hutan konservasi adalah hutan alam cadangan (nature preservation forest). Herpetofauna Kelompok binatang yang temasuk dalam amfibi (katak/kodok) dan reptilia (buaya. ular. penyu. Eutrofikasi Pengayaan zat-zat hara yang berlebihan di dalam suatu perairan sehingga mendorong ledakan pertumbuhan tumbuhan air dan mengakibatkan kekurangan kadar oksigen di dalam perairan. Fenomena El Nino Peristiwa alam yang menimbulkan kemarau panjang yang hebat. atau puncakpuncak batu cadas. Hutan Sekunder Hutan alam yang sudah dimanfaatkan oleh manusia. Lampiran-Lampiran L. batuan pasir.4 . biawak. kruing. misalnya berbagai jenis meranti. di mana besidan humus terkumpul di bawah lapisan atas pasir putih. Hutan Hujan Dataran Rendah ’selalu-hijau’ Hutan yang berisi tanaman berkayu dan tumbuhan selalu-hijau. Fragmentasi Habitat Proses yang menyebabkan kawasan hutan primer yang semula saling bersambungan terpecah menjadi petak-petak yang saling terpisah dan terpencar.

Karnivora Mahluk hidup pemakan daging. Konservasi In-Situ Upaya perlindungan. hutan lindung. suaka margasatwa.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni IBOY BKSDA Papua II Sorong Merupakan singkatan dari International Biodiversity Observation Year (tahun observasi biodiversity internasional) yang dilaksanakan pada tahun 2001 dan 2002. Strategi dan Rencana Aksi Biodiversity Indonesia Indeks Keragaman Spesies (Species Diversity Index) Indeks yang digunakan oleh para ilmuwan lingkungan untuk membandingkan tingkat keanekaragaman spesies berdasarkan jumlah dan kelimpahan spesies binatang dan tumbuhan di suatu tempat. sebagai jendela bagi para ilmuan dan pendidik dari seluruh dunia untuk bekerjasama meningkatkan komunikasi tentang ilmu-ilmu penting berbasis biodiversity. Keanekaragaman hayati (Biodiversity) Lihat biodiversity Kegiatan yang menunjang budidaya di dalam kawasan Suaka Alam ialah kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam bentuk pengambilan.5 tahun 1990. taman wisata alam dan taman hutan raya. IUCN International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources Karamba Kurungan dari anyaman bambu yang ditempatkan (diapungkan) di sungai sebagai tempat perkembangbiakan ikan atau udang. dan taman buru. kawasan suaka alam yaitu cagar alam. IBSAP Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan. Lampiran-Lampiran L. Kawasan Konservasi Kawasan-kawasan yang digolongkan dalam kawasan pelestarian alam yaitu taman nasional. hutan pelestarian alam. pemanfaatan dan pelestarian spesies di dalam habitat aslinya berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian. Istilah konservasi tidak dijumpai dalam UU No. pemanfaatan dan pelestarian spesies di luar habitat aslinya berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian. dan taman buru. pengawetan plasma nutfah serta pemanfaatan keanekaragaman hayati berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian.5 .41 tahun 1999 muncul pengelompokan hutan berdasarkan fungsinya yaitu hutan konservasi. hutan lindung dan hutan produksi. pengangkutan dan penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam kawasan alam yang bersangkutan untuk keperluan pemuliaan jenis dan penangkaran. Sedangkan UU No. Kawasan Intertidal/Iitoral Kawasan yang terletak di antara daerah pasang tertinggi dan surut terendah di pantai. Sedangkan hutan konservasi dibagi ke dalam hutan suaka alam. Konservasi Upaya perlindungan ekosistem penyangga kehidupan. Konservasi Eks-Situ Upaya perlindungan.

Populasinya berkurang paling sedikit 80% selama 10 tahun terakhir.luas wilayah diperkirakan kurang dari 5000 km2 atau yang dapat ditempati kurang dari 500 km2. 2.000 km2 atau yang dapat ditempati kurang dari 2000 km2. Lampiran-Lampiran L. 2001). komunitas binatang dan tumbuhan yang ada di dalam lahan basah. Dikenal sebagai koridor konservasi atau koridor perpindahan yang memungkinkan tumbuhan dan satwa untuk menyebar. jumlah populasi diperkirakan kurang dari 250 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 20% dalam 20 tahun. Kriteria ini meliputi keunikan tipe lahan basah. Populasinya berkurang paling sedikit 20% selama 10 tahun terakhir. MAB Merupakan singkatan dari the Man And the Biosphere. Koridor dapat berfungsi membantu melestarikan satwa yang harus melakukan migrasi musiman di antara rangkaian habitat yang berbeda-beda untuk mendapatkan makanan. kriteria khusus sebagai habitat burung atau ikan yang unik. Rentan {Vulnerable): jika taksa tidak termasuk kriteria genting atau terancam tetapi mengalami resiko kepunahan yang tinggi di alam dalam waktu dekat. Kriteria Status Flora atau Fauna menurut IUCN: 1. Program UNESCO yang dimulai tahun 1971 untuk pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi biodiversity dengan mengembangkan landasan natural dan social sciences. Kritis (Critically endangered) : jika taksa menghadapi resiko kepunahan yang sangat ekstrim (tinggi) di alam dalam waktu yang sangat dekat. jumlah populasi diperkirakan kurang dari 50 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 50% dalam 10 tahun. Genting/terancam {Endangered): jika taksa tidak termasuk kriteria genting tetapi mengalami resiko kepunahan yang sangat tinggi di alam dalam waktu dekat. Kriteria Ramsar Kriteria yang digunakan di bawah Konvensi Ramsar. Juga ditujukan untuk meningkatkan hubungan yang harmonis antara masyarakat dan lingkungan globalnya. Koridor Jalur-jalur lahan yang dilindungi yang menghubungkan satu kawasan konservasi dengan kawasan konservasi lainnya. (lihat rincian kategori dalam Mogea dkk. populasi diperkirakan kurang dari 2500 individu dewasa. sehingga memungkinkan aliran gen serta kolonisasi lokasi yang sesuai. populasi diperkirakan kurang dari 10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Konvensi Keanekaragaman Hayati Konvensi yang ditandatangani oleh 150 negara dalam Konferensi Tingkat Tinggi PBB mengenai Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro pada tahun 1992. untuk menilai kualitas atau nilai lahan basah berdasarkan kekayaan keanekaragaman hayati dan keunikan ekosistem sehingga layak mendapat status sebagai kawasan penting di dunia. Populasinya berkurang paling sedikit 50% selama 10 tahun terakhir. populasi kurang dari 250 individu dewasa. jumlah populasi diperkirakan kurang dari 1000 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 10% dalam 100 tahun. 3.000 individu dewasa.6 . luas wilayah diperkirakan kurang dari 100 km2. luas wilayah diperkirakan kurang dari 20.

pemanfaatan. Pembangunan Berkelanjutan Pola pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa melemahkan kemampuan pembangunan untuk memenuhi kebutuban generasi mendatang. Pola Inti-Plasma Sistem pertanian yang menghubungkan pertanian dan agroindustri di mana produksi primer (tanaman tahunan atau tanaman keras. pemulihan. Potassium Sianida Zat kimia yang digunakan untuk bahan racun untuk menangkap ikan. pengendalian. jumlah. pengawasan. ikan. Moratorium Penghentian sementara/jeda. Pengelolaan kawasan Suaka Alam adalah upaya terpadu dalam penataan. Lampiran-Lampiran L. unggas. karena dapat membuat ikan yang terpapar zat ini menjadi pingsan sehingga mudah ditangkap. penyebaran dan kehidupan burung. pengolahan dan pemasaran hasil. udang dan sebagainya) tidak terpusat pada unit produksi kapitalis (atau sosialis) yang besar tetapi tetap berada di tangan petani kecil. telur. Metode PRA adalah media untuk berkomunikasi dengan cara dialog antara Perencana – Pelaksana Administratif dan partner mereka (masyarakat) untuk memecahkan masalah dan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah-masalah yang terjadi. Perdagangan Karbon (carbon trade) Suatu mekanisme yang sedang dikembangkan secara intemasional melalui negaranegara yang masih memiliki hutan yang cukup luas (yang berfungsi menyerap karbon dari emisi bahan bakar) mendapatkan kompensasi dari kalangan internasional berupa dana untuk membiayai kegiatan konservasi yang dikaitkan dengan emisi karbon. ternak. Nokturnal Sifat binatang yang aktif bergerak dan mencari makan pada malam hari. perlindungan dan pengembangan kawasan Suaka Alam. Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia setelah Brazil.7 . yang dihubungkan secara melembaga melalui kontrak dengan sebuah perusahaan inti yang lebih besar yang menangani satu atau lebih kegiatan hilir dan hulu seperti penyediaan sarana produksi. PRA Merupakan singkatan dari Participatory Rural Appraisal. Nilai Omitologis Nilai-nilai mengenai keragaman spesies.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Megadiversity Country Istilah yang digunakan untuk menggambarkan negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya yang tinggi. pemeliharaan. susu. Plasma Nutfah Substansi sebagai sumber sifat keturunan yang terdapat di dalam setiap kelompok organisme yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sehingga tercipta suatu jenis unggul atau Kultivar baru.

8 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rawa Aluvial Rawa di tanah lempung yang terendapkan oleh air mengalir. Silvikultur Pemeliharaan dan pembinaan hutan atau manipulasi vegetasi hutan untuk tujuan tertentu seperti untuk mengontrol pembentukan. Resin Hasil sekresi tanaman yang susunan kimianya sangat kompleks. Metode RSA adalah media untuk mengumpulkan data dan informasi. padat. pengawasan. UNDP United Nations Development Program. namun kemudian mampu berkembang biak secara massal dan menguasai wilayah tumbuh komunitas spesies tumbuhan lainnya. Rencana Pengelolaan kawasan Suaka Alam adalah upaya terpadu dalam penataan. Transmigrasi Umum Perpindahan penduduk dari satu daerah yang padat penduduknya ke daerah lain yang berpenduduk jarang. Trawl Jenis perangkat penangkapan ikan. berkomunikasi dengan cara dialog antara peneliti dengan masyarakat. RSA Merupakan singkatan dari Rapid Social Assessment. air tawar dan payau) dari cara-cara tradisional ke arah intensifikasi untuk meningkatkan produksi. sering disebut sebagai pukat harimau. perlindungan dan pengembangan kawasan Suaka Alam. BKSDA Papua II Sorong Rawa Herbaceous Rawa yang ditumbuhi tumbuhan kecil yang tumbuh seperti rumput dan batangnya tidak berkayu. pemeliharaan. Tumbuhan Invasif Spesies tumbuhan. yang ditanam secara sengaja atau karena terbawa oleh faktor alam. komposisi dan pertumbuhan pohon. dilakukan secara rutin atas prakarsa pemerintah. Revolusi Biru Proses perubahan produksi perikanan (khususnya darat. pemanfaatan. Transmigrasi Swakarsa Transmigrasi atas usaha sendiri atau spontan. umumnya bukan asli di suatu habitat. pengendalian. transparan. suatu badan PBB untuk pembangunan Lampiran-Lampiran L. pemulihan. Restocking Kegiatan yang ditujukan pada peningkatan populasi jenis flora dan fauna liar di habitat alam aslinya. Savana Padang rumput yang diselingi oleh kelompok kecil pepohonan. dan kompak. Rekayasa Genetis Teknologi yang digunakan untuk mengubah materi genetis sel hidup melalui campur tangan manusia sebagai upaya agar sel tersebut mampu menghasilkan senyawa yang diinginkan atau mengemban fungsi-fungsi yang berbeda dengan sel-set lain yang tidak mengalami manipulasi.

9 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni USAID BKSDA Papua II Sorong United State Aid. Lembaga internasional untuk pelestarian sumberdaya alam Lampiran-Lampiran L. WWF World Wide Fund for Nature atau lebih dikenal dengan World Wildlife Fund. Lembaga Bantuan dari Amerika Serikat untuk Pembangunan di Negara Berkembang Valuasi Ekonomi Cara penilaian ekonomi sumber daya alam dengan menetapkan atau mengukur nilainya secara moneter.

42 Sept 32.2 36.6 26.87 2000 rata-rata 2000 minimum 26.44 21.9 48.84 37.21 27.58 25.2 100 93.35 1999 rata-rata 1999 minimum 27.37 26.82 35.1 59.22 22.81 27.6 100 91.2 SO.88 27.8 Des 100 87.7 62.19 26.1 50.8 100 93.98 25.5 43.4 100 93.85 22.17 23.53 27.94 22.91 - Des 33.8 53.3 100 92.14 35.45 35.85 Sumber: BP Pertamina (2002) Lampiran 3. Data suhu udara ambien (0C) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah.61 23.31 1998 rata-rata 1998 minimum 27.1 46.26 22.4 34.4 21.08 26.56 27.12 27.75 22.8 Agu 100 83.34 20.11 33.7 53.7 49.27 22.2 32.26 22.2 54.9 100 93 56.3 100 93.4 22.72 1999 maksimum 36.76 35.09 27.73 26.93 20.7 53.92 27.55 27.29 22.45 36.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 2.6 57.28 23.5 100 91.64 27.2 100 93.7 37.42 21.4 100 89.14 22.6 100 93.69 21.79 35.2 - Sumber: BP Pertamina (2002) Lampiran-Lampiran L.96 22.9 55.2 52.2 34.83 22.7 48.88 33.45 33.6 Jul 100 88. Babo.4 54.3 58.6 26.25 22.2 Mar 100 86.02 27.71 1998 maksimum 36.7 100 93 60.4 100 90.15 27.6 45.71 - 36.7 22.26 28.51 35.96 22.10 .3 63.7 100 91.4 65.4 59.31 23.1 Sept 100 85.43 20. Data kelembaban relatif udara ambien (%) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah.89 22.93 2000 maksimum 35.99 34.87 0 Jan - Peb - Mar Apr 35.19 22.11 22.2 56.4 100 89 55.2 100 93.26 35.6 60.9 54.83 34.91 23.92 22 36.5 57.2 51 100 90.62 34.8 100 92.19 26.05 27.9 27.74 37.02 25.8 Apr 100 86.1 100 91.02 34.59 25.07 27.5 100 93.88 26.17 22.9 61 Mei 100 86.4 100 94. Babo.48 22.05 35.4 100 91.2 51 Nop 100 86.19 33.1 57.36 34. Tahun 1997 maksimum 1997 rata-rata 1997 minimum Suhu Udara ( C) Mei Jun Jul Agu 34.88 23.13 26.96 - Okt 33.7 100 91.36 26.4 61 100 91.99 25.5 100 90.6 Peb 100 89.5 39.44 22.11 36.9 Okt 100 85.7 50.86 23.13 21. Tahun 1997 maksimum 1997 rata-rata 1997 minimum 1998 maksimum 1998 rata-rata 1998 minimum 1999 maksimum 1999 rata-rata 1999 minimum 2000 maksimum 2000 rata-rata 2000 minimum Kelembaban Udara (%) Jan 100 85.78 27.03 26.5 Jun 100 83.3 55.59 26.99 - Nop 34.

2005. apiculata Sumber: Hasil survei Tim TNC. corniculatum B. Lampiran 6. gymnorrhiza B.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 4. apiculata Sumber: Hasil survei Tim TNC. gymnorrhiza B. sexangula Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae 7000 6000 5000 4000 F INP 68 56 44 32 N/Ha 770 30 160 10 130 20 Tingkat pancang F INP 178 55 41 9 11 7 Jenis Famili Meliaceae X. 2005. Lampiran-Lampiran L. Simeri. granatum Sumber: Hasil survei Tim TNC. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat tiang N/Ha F INP N/Ha 87 150 26 150 162 Tingkat pohon F INP 62 51 19 11 157 Jenis B. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Mangrove S. Jenis. mucronata Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae 2500 2500 5000 F INP 58 58 84 N/Ha 262 63 363 Tingkat pancang F INP 92 33 175 Jenis Famili Rhizophoraceae R. Jenis. moluccensis B. mucronata Famili Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae - Rhizophoraceae R. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha R. 2005. Kerapatan (N/Ha). Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha B. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai). Famili. Famili. Kerapatan (N/Ha).11 . mucronata X. Lampiran 5. parviflora Ceriops tagal R. Frekuensi. Kerapatan (N/Ha). Famili. parviflora Ceriops tagal R. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai). Frekuensi. gymnorrhiza Ae. Jenis. Frekuensi.

42 8.58 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC. mucronata R. decandra R. sexangula C.44 42. mucronata X. gymnorrhiza B.33 15.21 58. Simeri.90 12.08 0.56 10.12 . Kerapatan (N/Ha).08 0. apiculata Famili Myrsinaceae Avicenniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae 1458 833 625 625 1250 1250 11875 4792 Sumber: Hasil Survei Tim TNC.08 INP 3. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha F 0.08 84.65 9.87 4.33 INP 64.04 Jenis A. sexangula X. Jenis. Frekuensi.08 0.98 5.98 59. 2005.50 14.28 10.17 F 0.08 0.21 54. parviflora B.85 N/Ha 2.17 0. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni). parviflora B.41 140. Lampiran 8.92 4.08 0.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 7. apiculata S.17 0. Jenis. Frekuensi.25 0. Cagar Alam Teluk Bintuni Tingkat tiang Tingkat pohon INP 88.95 16.81 6.08 60.75 0.25 0. sexangula Ceriops decandra R.42 104. Frekuensi.08 0.41 Jenis Ae. Famili.53 15. mucronata R.78 12.50 INP 24.08 2. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Mangrove S.17 0.80 96.50 37.17 0.18 26. Jenis.42 0. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat tiang N/Ha R. 2005 Lampiran 9. Kerapatan (N/Ha).86 43.58 2. corniculatum Avicennia alba A.17 0.08 0.42 0. Famili. alba Famili Rhizophoraceae Avicenniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Sonneratiaceae N/Ha 108 25 8 25 150 - F 0.17 4.42 0.08 0. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni). Famili.81 19.50 0.48 5. gymnorrhiza B.08 0.17 0.53 N/Ha 500 67 133 133 67 33 500 Tingkat pancang F 0.85 37. Kerapatan (N/Ha). gymnorrhiza Ae.08 0.32 9. moluccensis B. marina B.17 12. granatum Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae Meliaceae F INP N/Ha 160 80 40 Tingkat pohon F INP 180 102 18 - Jenis Famili Sumber: Hasil survei Tim TNC. corniculatum B. corniculatum Avicennia alba B. 2005 Lampiran-Lampiran L.75 0.08 0.70 10.50 0.

granatum C.58 2. moluccensis A.60 10.6 1.76 26. spathacea Famili Pteridaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Bignoniaceae 9167 2917 2500 3750 1667 1250 417 417 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC. mucronata X. gymnorrhiza B.29 1.48 2.61 31.17 Potensi/phn (M3/phn) 0. tagal R.94 1.2 0.46 ha) Tiang Pohon Potensi/phn (M3/phn) 0.3 13.1 0. Frekuensi.34 28. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha F 0.4 164.32 29.25 11.3 8 25 0.5 37.20 1.09 131.15 16.33 0. mucronata D. corniculatum B.20 0.9 1.80 9.3 0.5 14.35 65. apiculata D.32 5. Famili. gymnorrhiza X.13 .2 108 0.17 0.60 11. decandra C.99 2.03 12 12.88 36.2 Potensi/ha (M3/ha) 13.33 0.1 1. speciosum R. parviflora Total Rata-rata Famili Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Avicenniaceae Sonneratiaceae Rhizophoraceae Diamter 14.59 28.17 4.66 30.92 3.8 15.42 104.459 10. apiculata Ae.22 52.3 25 316 63. Jenis.17 INP 100.33 0.5 14.17 0.32 5.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 10.7 Tinggi 11.03 9.76 26.17 0.17 INP 62.7 244. spathacea B.9 16.96 29. alba B.2 1. Kerapatan (N/Ha). alba S.48 2.08 60.00 47.8 N/ha 150 Lampiran 11.27 21. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Sungai Sumberi.49 25.22 Total potensi Rata2/ha (m3/ha) 14.78 Jenis Ac.11 1.81 Diamter 21.08 2.22 Jenis R.92 4.03 N/Ha 600 267 333 Tingkat pancang F 0.33 0.85 35.79 30.11 29.8 16. Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0.33 0.88 16.83 12.73 12.48 1.17 12.89 13.6 Potensi/ha (M3/ha) 0.42 1.0 1.5 1. BKSDA Papua II Sorong Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni). sexangula X.8 15 N/ha 2.70 32.33 0.59 24.2 1.4 18 14.57 29.94 27.61 23.3 14.03 Tinggi 14 16.5 1. decandra R.1 1.35 52.1 1.43 16. 2005 Lampiran-Lampiran L. granatum C.0 0.

2 0. 2005 Lampiran 13. mucronata X. apiculata D.5 2.94 4.76 5.50 8.3 14. spathacea B.8 1. decandra Total Rata-rata Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Avicenniaceae Sonneratiaceae Rhizophoraceae 19.8 15. apiculata D. Famili.62 26.9 6.33 12.5 15 25 100 45.5 33 33 33 0. alba S.20 0. moluccensis A.17 0.4 0.15 26.17 0.88 N/Ha 100. Tiang Pohon Total potensi/ha (M3/ha) Jenis Fam.91 1. Cagar Alam Teluk Bintuni Tingkat tiang Tingkat pohon INP 86.2 4.77 10.51 37.18 35.3 38.9 15.17 0.88 250 25 11.28 ha). Diamter Tinggi N/ha Potensi/phn (M3/phn) Potensi/ha (M3/ha) Diamter (Cm) Tinggi (M) N/ha Potensi/phn (M3/phn) Potensi/ha (M3/ha) R.56 12.5 10 7.17 INP 113.1 1.56 44.5 0.79 12. spathacea B. alba C.75 2. mucronata X.50 30.83 16.33 53. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi.7 30.17 0. Kerapatan (N/Ha).4 22. decandra R.89 9.7 0. sexangula X.7 33.75 2.17 4. decandra R. moluccensis A. tagal Famili Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Aviceniaceae Soneratiaceae Rhizophoraceae N/Ha 50 17 33 33 17 33 F 0.74 0. alba C.25 3.49 11. granatum C.4 0.9 13.83 29.83 16.9 24.33 4.33 12.67 Lampiran-Lampiran L.38 47.33 0.3 17. Frekuensi. gymnorrhiza B.7 11 7.88 54. gymnorrhiza B.83 2.68 12.44 22.33 4.70 1.4 13.0 1.33 0.67 8.09 4.4 12.33 0.49 - Jenis R.6 35.00 30.2 0.5 8.27 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 12.83 29.46 0.11 35.33 0.17 0.72 50.17 0.40 7.78 1. alba S.7 7 17 183.31 2.1 0.2 39.33 0.76 4.17 20.3 0.1 13 10. granatum C.8 10.3 1.20 0.14 .33 0. Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi.67 8.17 1.00 23.5 27.5 0.1 39.17 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC.6 0.17 4.17 20.83 0.62 12.80 10.01 8.8 1. Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 140 m = 0.46 0.97 20.4 36.41 1.17 F 0.00 45. BKSDA Papua II Sorong Jenis.71 8.2 12 10 50 17 0. sexangula X.80 4.70 1.

The workshop was divided in to two: 1. 2. B. In addition. Objective The objectives of the 1st-day workshop were: 1. Local NGO. BKSDA Papua II Sorong Rangkuman Hasil Workshop Tingkat Kabupaten Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 A. and Communities represented by Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Bintuni and Lembaga Musyarawarah Adat SoughMoskona (LEMASOM). and one respect person (Tokoh Masyarakat) in the village. Discussion amongst villagers who live inside and surrounding the BBNR about their expectation to the BBNR. 2. there was an activity carried out during the establishment of 1st draft of Management Plan of Bintuni Bay Nature Reserve called Village meeting in 14 villages (kampung/kelurahan) in and surrounding BBNR.15 . In related to this matter. General The document of Bintuni Bay Nature Reserve Management plan has tried to establish based on Fully Participatory Method. To formulate a “commitment” amongst the communities who live inside and surrounding the BBNR.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 14. By doing this. Regional Planning Agency (Bappeda). it is necessary to be discussed (presented) with the all stakeholders involved: Bupati Kab. Information collected individually in every single village and need to be confirmed through a special meeting (workshop) by inviting the traditional community members (masyarakat adat) which are represented by head of tribe (Kepala Suku). Local institutions (Dinas terkait). Lampiran-Lampiran L. Second day: presentation of the 1st draft of Management Plan of Bintuni Bay Nature Reserve. head of kampong (Kepala Kampung). to improve the available 1st draft. The aim of this activity was to gain more information about interaction between communities and the site as well their “expectation” to the BBNR in supporting their daily life now and future. 3. To verify all the information collected from every single village inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve. Teluk Bintuni. First day: special workshop with communities (masyarakat adat) who live at 14 villages inside and surrounding the BBNR. implementation team could get as many as opinions and inputs in which useful during implementation of the management plan of BBNR.

and one respect person (Tokoh Masyarakat) in the village.Th. The programme of the opening session included: Praying was lead by Pdt. Regional Planning Agency (Bappeda). Local NGO (Mitra Pesisir Bintuni). 2005. There were three main issues raised during the roundtable discussion as follow: What are allowed and not allowed to be done in Bintuni Bay Nature Reserve? How the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay can participate in protecting and keeping the reserve? What kind of traditional rule should the people form outside the traditional community members (masyarakat adat) want to do something inside the BBNR? Lampiran-Lampiran L. The head of Gospel Christian Church (GKI) in Papua. A. twenty-five people were present representing head of tribe (Kepala Suku). Whilst the 2nd day workshop was attended by fifty-five participants representing local government (Bupati Teluk Bintuni). Head of traditional community organisation represented by the head of Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Bintuni and Lembaga Musyarawarah Adat Sough-Moskona (LEMASOM). and PHKA Jakarta. and communities who come to the 1st day workshop. head of kampong (Kepala Kampung). Programme 1st -day meeting (1 June.. Church (Klasis GKI Bintuni). Church represented by the head of Klasis GKI Bintuni.00 on Wednesday 1 June.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong The objective of the 2nd-day workshop was presentation of the 1st draft of the management plan of Bintuni Bay Nature Reserve in order to get inputs and critics from stakeholders present in this workshop. Opening the workshop formally by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni representing Bupati Kabupaten Teluk Bintuni.16 . BKSDA Papua II. Remarks by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni. S. Bintuni. Kondologit. University (UNIPA). D. local institutions (dinas-dinas terkait). Roundtable Discussion This discussion was lead by the implementation team from The Nature Conservancy (TNC). British Petroleum Tangguh Project. Participant In the 1st day meeting. 2005) Opening Session The meeting was opened at 9. C.

finally a very useful COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the group. Following are the main points of the commitment produced by the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay present in the 1st-day meeting: 1. Gardening with technical assistant from Local Agriculture Institution (Dinas Pertanian). Using trawl in catching fish or prawn. Using mangrove (mangi-mangi) for traditional needs ONLY (not for commercial purposes) like catching fish “pele kali”. feral pig. prawn. Traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve committed to support the management of BBNR through several activities as follow: (1) (2) Report all activities against the rule agreed to the management of BBNR: Catch on the spot whoever break the rule agreed. Cutting down mangrove (mangi-mangi) in big scale like logging or fish-pond. Hunting wild animals (crocodile. and particular birds). Catching fish using “akar bore” and net. Every body could use resources in BBNR.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong During this session. Conclusion of Roundtable Discussion The discussion amongst traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve was going well. (1) ACTIVITIES ARE NOT ALLOWED IN BINTUNI BAY NATURE RESERVE: Catching fish and another sea products using chemicals. and another sea product. all the issues discussed were concluded as a COMMITMENT produced by the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay. Mining operation. Even though sometimes there was “hot” debate but dynamic amongst the participants.17 . crabs. Cutting down logs in low land forest in BBNR. Trowing waste like used engine-oil and chemicals into the rivers. BUT must follow the rule made amongst traditional community members as follow: (1) ACTIVITIES ALLOWED IN BINTUNI BAY NATURE RESERVE: Catching fish. deer. 2. shell-fish. Lampiran-Lampiran L.

Following are several inputs and issues have been raised during the roundtable discussion: 1. Workshop-Committee Report. The main job of this working group is to formulate the law enforcement of the commitment agreed which is assisted by local government and sponsor (TNC and BKSDA II Papua). the implementation team of establishing the MP of Bintuni Bay Nature Reserve presented the 1st draft of Management Plan. Paiki. 3. Additional observing-tower at the mouth of Bintuni River. Bintuni. Bupati Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (3) BKSDA Papua II Sorong Form a working group at every village inside and surrounding the BBNR during the implementation of management plan. STh. MM. Remarks by Drs. J. 2005.30 on Thursday 2 June.00 PM by Mr. Konologit. Closing Session The meeting was formally closed at 3. Bupati Teluk Bintuni. 2nd -day meeting (2 June. (Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional IV. L. Presentation of the 1st draft of MP of Bintuni Bay Nature Reserve and Roundtable Discussion In this session. Traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay also asked for the local government to support the management through: (1) (2) Produce a local regulation on BBNR: Intensive community-services to increase building and economic capacity of the traditional communities who live inside and surrounding the Bintuni Bay.18 Lampiran-Lampiran . Arman Mallolongan. working group will be formed consist of represent of traditional people (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay. by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni. The head of Gospel Christian Church (GKI) in Papua. A. During the implementation of commitment above. The programme of the opening session included: Praying was lead by Pdt. Secretary General of Forestry Department of RI). M. J. Paiki. Opening the workshop formally by Drs. 2005) Opening Session The meeting was opened at 9.

MM. Arman Mallolongan.19 . Pay more attention in increasing the economic sector of the traditional communities who live inside and surrounding the BBNR. Secretary General of Forestry Department of RI). Increase the status of Resort KSDA Bintuni to become “SEKSI”. 3.30 PM by Mr. Closing Session The meeting was formally closed at 3. 4. (Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional IV. There should also be a commitment of traditional communities who live in upland areas as the degradation of the forest located in upland may cause very significant impact to the BBNR. Lampiran-Lampiran L. 5. M. Policy in recruiting local staff during the implementation of Management of BBNR. BKSDA Papua II Sorong The status of the Bintuni Bay Nature Reserve is not yet definitive as Nature Reserve.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2. Socialise the management plan to the communities inside and surrounding the BBNR is important. 9. 6. 10. Approaching method in establishing the management plan. Integrated management organisation (lembaga pengelola terpadu) during the first 5year implementation of MP is necessary. Scenarios in management plan. 7. 8.

on behalf of The head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Mr. 2005 8.30 Implementation Team Implementation Team Committee Committee Lampiran-Lampiran L.30 11.00 Coffee break Roundtable Discussion Lunch Workshop Conclusion Closing Session Implementation Team Committee Implementation Team Committee Thursday 2 June. BKSDA Papua II Sorong Programme of two-days meeting on Establishing the Bintuni Bay Nature Reserve Management Plan Wednesday 1 June. J. Lunch Roundtable Discussion Workshop Conclusion Coffee break Closing Session 12. Thesia. Thesia. Paiki. J.30 11. Thesia.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 15.20 . on behalf of The head of Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Drs. C.00 12. Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Drs.00 13.30 Registration Opening Session Praying Workshop-Committee Report Ketua Klasis GKI Bintuni Mr.30 13.00 Registration Opening Session Praying Remarks Ketua Klasis GKI Bintuni Mr.00 14.30 9. C.00 Coffee break Presentation of the 1st draft of MP of BBNR. C.30 15. Paiki.30 15.00 15.30 9. 2005 8. Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Committee Implementation Team Remarks Opening the workshop 10. on behalf of The head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Opening the workshop 10.

KAMI BOLEH MENANGKAP IKAN DENGAN MENGGUNAKAN “AKAR BORE” DAN JARING KEGIATAN YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN DI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI ANTARA LAIN ADALAH: 1. BABI HUTAN. TIDAK BOLEH MENEBANG MANGI-MANGI ATAU BAKAU DARI CAGAR ALAM DALAM SKALA BESAR UNTUK KEPERLUAN USAHA KAYU ATAU TAMBAK ATAU LAINNYA 3. KAMI DAPAT MELAKUKAN PEMANFAATAN KAYU MANGI-MANGI UNTUK KAYU BAKAR SENDIRI (BUKAN UNTUK DIJUAL) DAN KEGIATAN MENANGKAP IKAN “PELE KALI” 4. A COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the traditional community members who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve during the Kabupaten Meeting in Bintuni LOKAKARYA PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI TGL 1 JUNI 2005 BAPAK BUPATI YANG KAMI HORMATI. KAMI DAPAT MELAKUKAN PENANGKAPAN HASIL-HASIL PERIKANAN SEPERTI IKAN. RUSA. KAMI MASYARAKAT YANG ADA DI DALAM DAN DI SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM MENYATAKAN SIKAP KAMI ANTARA LAIN: SIAPAPUN BOLEH MENCARI MAKAN DI DALAM KAWASAN TANPA MEMANDANG SUKU/MARGA/BATAS-BATAS WILAYAH ADAT ASALKAN MEMATUHI ATURAN KESEPAKATAN YANG SUDAH DIBUAT UNTUK ITU. KAMI DAPAT BERBURU HEWAN ATAU SATWA LIAR SEPERTI BUAYA. KEGIATAN YANG BOLEH DILAKUKAN DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI ANTARA LAIN ADALAH: 1. DLL 2. KAMI MEMBUAT KESEPAKATAN KELOMPOK MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. DAN BURUNG 5. UDANG. BAPAK. TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN “OBAT” (BAHAN KIMIA) DALAM MENANGKAP IKAN.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 16. TELAH BERTEMU DAN BERBICARA BERSAMA TENTANG CAGAR ALAM. TIDAK MEMBOLEHKAN KAPAL-KAPAL YANG BERLAYAR DI SUNGAI UNTUK MEMBUANG SAMPAH ATAU LIMBAH MINYAK ATAU BAHAN KIMIA KE SUNGAI 5. DARI PERTEMUAN TERSEBUT. KARAKA. Lampiran-Lampiran L. SIPUT ATAU BIA.21 . TIDAK BOLEH KAPAL BESAR ATAU KAPAL UDANG ATAU PUKAT HARIMAU UNTUK BEROPERASI DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. 2. KAMI DAPAT BERKEBUN DAN MENDAPAT BANTUAN BIMBINGAN TEKNIS DARI DINAS TERKAIT 3. IBU PEJABAT DI KABUPATEN TELUK BINTUNI BAPAK DAN IBU HADIRIN SEMUA KAMI MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI SEKITAR DAN DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. YANG TERDIRI DARI 14 KAMPUNG. TIDAK BOLEH MENEBANG KAYU DI HUTAN TANAH KERING ATAU GUNUNG DI DALAM CAGAR ALAM 4. UDANG. DAN HASIL LAUT LAINNYA.

KAMI MENGHARAPKAN PEMERINTAH MELAKUKAN HALHAL SEBAGAI BERIKUT: 1. UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA DI SETIAP KAMPUNG YANG ADA DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN YANG AKAN DILIBATKAN DALAM PELAKSANAAN RENCANA KEGIATAN PENGELOLAAN KAMI JUGA BERHARAP PEMERINTAH TURUT MENDUKUNG KEGIATAN PENGELOLAAN CAGAR ALAM. UNTUK ITU. PENYULUHAN DAN PENDAMPINGAN YANG TERUS MENERUS KEPADA MASYARAKAT DI DALAM DAN SEKITAR CAGAR ALAM. KAMI MEMINTA PEMERINTAH DAERAH MEMBERIKAN PERHATIAN LEBIH BESAR PADA PENDIDIKAN MASYARAKAT DEMIKIAN KESEPAKATAN YANG KAMI BUAT DARI 14 KAMPUNG YANG ADA DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI MENDAMA TAMBE JAGA TANE CAGAR ALAM TELUK BINTUNI BINTUNI. KAMI AKAN MENANGKAP LANGSUNG PELANGGAR ATURAN YANG SUDAH DISEPAKATI BERSAMA 3.22 . 2 JUNI 2005 PERWAKILAN MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI DALAM DAN SEKITAR CAGAR ALAM TELUK BINTUNI: Lampiran-Lampiran L. MEMBUAT PERATURAN DAERAH MENGENAI CAGAR ALAM 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. KAMI MASYARAKAT AKAN MELAKUKAN DUKUNGAN BERUPA: 1. TIDAK BOLEH ADA EKSPLORASI BAHAN TAMBANG DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. KAMI AKAN MELAPORKAN PELANGGARAN KESEPAKATAN YANG TERJADI KE PENGELOLA CAGAR ALAM TELUK BINTUNI 2. KHUSUS UNTUK PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT 3. MELAKUKAN PEMBINAAN.

9. BKSDA Papua II Sorong Rangkuman Catatan Hasil Presentasi Draf Akhir Rencana Pengelolaan Kawasan CATB di PHKA Jakarta (22 Juli 2005). No. Jakarta 1. F. Manokwari Rector 1. 2. 6. 8. it should be based on old border How can the BBNR be synchronize with the local/traditional culture (see Government Regulation-PP 68) The scenario of Management of BBNR stated in MP need to be strengthen At the time. Wanggai University of Papua (UNIPA). 4. 7. 2. 3. Forum for example Balai is more suitable instead of Resort in Organization Move the Vision and Mission section in to the Chapter of Introduction The position and size should be based on Water Catchments Area in BBNR Page II. 2 Adi Susmianto PHKA. but they need to be analyzed deeply Regarding the activity in Reconstruct the border of BBNR. 3 Prof. 1 Name Banjar Laban Institution PHKA. 3. Jakarta Position Dir.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 17.23 . 5. 10. keep going with the MP. 7 8. 2. 6. Input/Critics/Question How about the contribution of another stakeholders outside the Bintuni Region? How the community can support the implementation of the Management Plan? Once the MP is implemented. Konservasi Kawasan PHKA 1. add data of sedimentation level? 4. 3. Lampiran-Lampiran L. need to form an alternative organization based on local condition Add the contribution of all stakeholders in current document of MP of BBNR Proposed a zoning in MP (Arahan Zoning) Use different term for MONITORING BODY.10. the communities who are living inside and surrounding the site should be fully involved The BBNR should be promoted not only in regional but also in national even international level The analysis of problems and solutions stated in MP are applicable. do not think about the current status of the site The current document of MP of BBNR is not applicable if the status of the site is indefinite The current document of MP can be considered as a starting point in fixed the site status of BBNR Proposed not only one organization but several in Managing the BBNR Especially in Papua. Dr.

Jakarta Kasubdit Cagar Alam 1. Puspa PHKA. Lekitoo Forestry Department of Kabupaten Teluk Bintuni Fisheries and Marine Department of Kabupaten Teluk Bintuni Head of office 1 2. Head of office 1. 6. 3. 9 Wahyu PHKA. Karubui 2. 5 Drs. however it needs to elaborate broadly The planning should be divided into 25year plan. there should be a commitment of PEMDA in plotting the BBNR in their strategic plan or layout planning of Kabupaten Page V. Jakarta 1. It is necessary to form a group of people from the communities inside and surroundings BBNR All activities based on the a commitment amongst people who are living inside and surroundings BBNR should be supported by government regulation There should be a buffer zone With the current status of BBNR (Penunjukan. 2. 3. and yearly plan State the main activities of 25-year plan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. 6.24 . there should not be a Rehabilitation activity in Nature Reserve Management of BBNR should be based on Mangrove ecosystem as 90 % of the site is dominated by mangrove forest Good to see that the economic value of the BBNR is mentioned in the document. Unu PHKA.1. BKSDA Papua II Sorong In Sub Chapter of Soil. there may be some possibilities of changing function of the site Correction. not (No Suggestions)). 8 Ms. J. POLHUT instead of JAGAWANA The reconstruction of site border should be proposed by Bupati Proposed re-bordering in MP Based on Government law. 5. include the land use in every village inside and surrounding the BBNR Chapter III. 2. yearly plan in the document 5. P. 7 Mr. 4 Ir. the position (GPS) of every pal should be included The management needs more supporting facilities as the current one is not proportional compare to the size of the BBNR The status of BBNR is very crucial in supporting the Management Plan Fisheries and Marine Department of Kabupaten Teluk Bintuni is planned to established a local regulation on catching area in Bintuni Bay A local rule of catching area (12 mil and 10 m isobar) is unclear In controlling activity. 4. if any. Jakarta 1 2 Lampiran-Lampiran L. 5-year plan. 7. 5-year plan.

G / S / Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni .25 . S ! / G = Kantor = Pondok Kerja = Menara Pengawas = Tanda larangan = Pondok Peneliti = Pemukiman ! ! / ! / S / ! ! S Lampiran-Lampiran L.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 18. Peta Kerja Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2006-2030 ! .

.

.

Implementasi tetap membutuhkan dukungan dari semua pemangku kepentingan untuk mencapai lingkugnan yang lestari dan masyarakat sejahtera Ir. Semua masyarakat bisa mencari makan disana asal ikut kita pu aturan. kami bisa dapat ikan.Kepala Bappeda Teluk Bintuni Rencana Pengelolaan ini merupakan bukti nyata kerjasama masyarakat adat. LSM dan Pemerintah. Semoga implementasi akan membuat cagar alam terjaga dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya Drs. masyarakat dan pemerintah. Kami berharap pengelolaan akan mensejahterakan kami masyarakat Abraham Wekaburi (Koordinator 7 Suku di Bintuni) Kami mau cagar alam bisa lestari. MT . Fransisco Moga. Semoga pengelola cagar alam bisa bekerja bersama masyarakat menjaga Cagar Alam Teluk Bintuni Adrian Tatiri – Kepala Kampung Yakati Cagar Alam Teluk Bintuni kami orang pu barang. Implementasi rencana ini harus bisa menjaga kekayaan sumberdaya alam yang merupakan anugerah Tuhan Prof.Apa Kata Mereka Rencana Pengelolaan menunjukkan komitmen semua pemangku kepentingan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Frans Wanggai – Rektor Universitas Papua Rencana Pengelolaan ini akan membantu kami bekerja lebih baik bersama pengelola cagar alam untuk kemajuan Kabupaten Teluk Bintuni Ir. Petrus Kasihiw. Paiki – Pjbt Bupati Teluk Bintuni Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah tanggungjawab kita semua. Cagar Alam ini kami masyarakat Bintuni pu barang. MP – Kepala BKSDA Papua II – Sorong Cagar Alam milik kami. hidup kami tergantung disana. Dr. udang. J. Kami ingin bisa bekerja bersama untuk menjaga cagar alam ini. Kita mau kita pu mangi-mangi terjaga dan kita bisa dapat hasil laut dari kekayaan Cagar Alam Otto Manibuy – Tokoh Adat Wamesa ISBN : 979-97700-4-1 . karaka dan buaya dari mangi-mangi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful