P. 1
Bintuni Indonesian Screen

Bintuni Indonesian Screen

|Views: 1,146|Likes:
Published by Sartison Tambak

More info:

Published by: Sartison Tambak on Apr 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/01/2012

pdf

text

original

DEPARTEMEN KEHUTANAN

DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM PAPUA II SORONG
Jln. Jenderal Sudirman 40, SORONG, PAPUA Telp. (0951) 321986

Kerjasama BKSDA Papua II Sorong dengan The Nature Conservancy
BINTUNI, AGUSTUS 2005

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI PROPINSI IRIAN JAYA BARAT 2006-2030

Oleh: Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Sergius Kosamah, SH

Editor Prof. Dr. Frans Wanggai Dr. Ir. Jamartin Sihite Dr. Ir. Lukman Yunus Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Desain cover dan Tata Letak Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense Fotografi Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Peta Tematik Ir. Yosias Gandhi, M.Sc (Lab. GIS Fahutan Unipa Manokwari) Ir. Obed Lense, M.Sc.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI PROVINSI IRIAN JAYA BARAT 2006-2030
Dr. Jamartin Sihite, dkk. x, 266 hal; 21x30 cm Penulis Dr. Jamartin Sihite, dkk. Terbitan Pertama, Agustus 2005 Editor Prof. Dr. Frans Wanggai Dr. Jamartin Sihite Dr. Lukman Yunus Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Desain cover dan Tata Letak Dr. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense Fotografi Dr. Jamartin Sihite Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Peta Tematik Ir. Yosias Gandhi, M.Sc (Lab. GIS Fahutan Unipa Manokwari) Ir. Obed Lense, M.Sc. Penerbit: The Nature Conservancy (TNC), Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEA CMPA) (Jl. Pengembak No. 2 Sanur-Bali, Indonesia. Phone: (62-361) 287272 (hunting), Fax: (62361) 270737) Bekerjasama dengan UNIVERSITAS NEGERI PAPUA MANOKWARI Jl. G. Salju Amban Manokwari, Irian Jaya Barat PO Box 23 Manokwari Phone : (0986) 211754 Fax : (0986) 211455
Hak Cipta pada TNC (The Nature Conservancy) dan Universitas Negeri Papua ISBN: 979-97700-4-1

DEPARTEMEN KEHUTANAN
DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM PAPUA II
Alamat: Jl. Jenderal Sudirman No. 40 Po. Box 1053 Sorong-Papua Telp 0951-321926, Faks. 0951-334073, Email: ksda@sorong.wasantara.net.id

RENCANA PENGELOLAAN
CAGAR ALAM TELUK BINTUNI TAHUN 2006 – 2030

.

c.850 Ha. The Nature Conservancy (TNC) dalam hal ini Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) yang berkedudukan di Denpasar. Dalam upaya untuk mengelola Cagar Alam Teluk Bintuni yang lebih baik. Kegiatan yang dilakukan masih terbatas pada pengamanan kawasan sedangkan kegiatan yang mengarah kepada pelestarian fungsi kawasan belum dilakukan. terutama dari hasil Perikanan seperti udang. Menyikapi masalah tersebut. Tantangan ini. baik ditinjau dari segi tuntutan masyarakat pemilik hak ulayat akan haknya terhadap kawasan hutan bahkan juga kegiatan pemanfaatan sumberdaya di dalam kawasan semakin tidak terkendali. Sejak Penunjukan. menunjuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai Kawasan Cagar Alam dengan luas 124. pengelolaan kawasan CATB berada di bawah Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II Sorong .memunculkan dilema baru bagi pengelolaan kawasan konservasi di daerah. khusus bagi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Karena keunikan wilayahnya serta terdapatnya beragam jenis flora dan fauna endemik Papua.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni RINGKASAN EKSEKUTIF BKSDA Papua II Sorong Cagar Alam Teluk Bintuni adalah salah satu kawasan konservasi di Kabupaten Bintuni yang sebagian besar merupakan tipe hutan mangrove. sebagai salah satu kawasan konservasi yang strategis.Seksi Konservasi Wilayah I Manokwari. Pada era desentralisasi sektor kehutanan sejalan dengan diberlakukannya otonomi khusus bagi Propinsi Papua serta implementasi paradigma pengelolaan hutan berbasis masyarakat. akademisi. Bali membentuk suatu Tim Penyusun yang bertugas menyusun Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK) yang terdiri dari unsur pengelola kawasan (BKSDA Papua II. maka pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua. dan kepiting. pada dasarnya merupakan wujud tuntutan publik atas perlunya suatu program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang benar- Ringkasan Eksekutif RI-1 .q. Tekanan masyarakat terhadap sumberdaya hutan semakin gencar bermunculan. dan organisasi non pemerintah serta didukung oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menjawab berbagai tantangan yang muncul dari adanya kebijakan pelaksanaan otonomi daerah dan meningkatnya tuntutan masyarakat untuk dapat terlibat langsung dalam proses pembangunan bidang kehutanan. berbatasan langsung dengan pusat kota dan merupakan tempat dimana masyarakat kota Bintuni dan sekitarnya menggantungkan kehidupannya. Tim ini dibentuk untuk membantu pemerintah daerah dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II dalam merumuskan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara partisipatif yang mampu mempertahankan dan melestarikan fungsi kawasan sesuai peruntukannya. ikan. Resort KSDA Bintuni).

demokratif . diharapkan dapat mendorong penyelenggaraan pengelolaan kawasan CATB yang akomodatif . dan (5) Pemaparan Draft Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2005 di Departemen Kehutanan. Disamping itu penyusunan dokumen ini ditujukan untuk menciptakan salah satu instrumen pengelolaan yang mampu memberikan landasan bagi perencanaan dan pengembangan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Pemerintah Kabupaten Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong benar dapat dijalankan dan isinya merupakan kumpulan agenda dari aspirasi segenap pemangku kepentingan yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan. (2) Pertemuan Kampung (village meeting) dan Rapid Social Assesment (RSA) di 14 kampung/kelurahan yang berada di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Berkelanjutan dan Berdaya Guna”. Wakil masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB. dan sosialiasi kegiatan penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni kepada Bupati Teluk Bintuni. (5) Kajian ilmiah (scientific review) draft Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh “reviewer”. Dengan adanya dokumen ini. Rektor Unipa Manokwari. (4) Lokakarya Penjabaran dan Perumusan Draft Rencana Pengelolaan CATB yang dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2005. Akhir Maret 2005. serta Rapid Biological Assesment (RBA) dalam rangka pengumpulan data SOSEKBUD dan biologi kawasan. Dokumen Rencana Pengelolaan ini bertujuan untuk mengakomodir berbagai aspirasi dari stakeholder dan merumuskannya dalam rencana strategis dan rencana aksi. Kepala Bappeda Propinsi Irian Jaya Barat dan Kabupaten Teluk Bintuni. partisipatif dan bertanggung jawab. c. Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Teluk Bintuni. dinas terkait (Dinas kehutanan dan Dinas Kelautan dan Perikanan) di Teluk Bintuni.q. koordinasi. Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam. Koordinator Badan Monitoring. dapun skenario yang menjadi impian ataupun harapan para pemangku kepentingan dan Ringkasan Eksekutif RI-2 . tanggal 1 Juni 2005. dan Tokoh masyarakat di setiap kampung yang memiliki akses langsung ke kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Visi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk tahun 2006 – 2030 adalah mewujudkan “Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang Lestari. Kepala Suku. Proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan masyarakat Teluk Bintuni yang diwakili oleh wakil masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB. dan LSM Mitra Pesisir. sehingga dokumen yang dibuat dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. yang dilakukan selama periode akhir Maret s/d awal Mei 2005. Kabupaten Bintuni oleh Tim Penyusun dilakukan melalui serangkaian tahapan (1) Konsultasi. di Bintuni. Jakarta. Dinas-Dinas Terkait di Teluk Bintuni. di Bintuni. (3) Lokakarya khusus dengan seluruh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan yang di wakili oleh Kepala Kampung.

Karena Kebijakan Pemerintah Yang Akomodatif Dan Didukung Oleh Kelembagaan Pemangku Kepentingan Yang Demokratif. Pemanfaatan. Ringkasan Eksekutif RI-3 . Oleh karena itu. yaitu aspek Pemantapan Kawasan. akan dimonitor dan dievaluasi oleh unsur internal pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni maupun oleh Forum komunikasi yang bersifat independent. Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati. serta aspek Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan. Untuk menunjang terwujudnya visi pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. dalam dokumen ini juga telah disusun Rencana pembiayaan serta kemungkinankemungkinan sumber dana yang bisa di gali dalam menunjang implementasi kegiatan Rencana pengelolaan periode limatahunan dan duapuluh limatahunan. Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan. Perlindungan dan Pengamanan Kawasan. dalam dokumen ini telah dirumuskan secara detai Rencana kegiatan pengelolaan yang difokuskan pada 7 (tujuh) aspek. Selain itu. sehingga dalam aktivitas perencanaan lebih lanjut akan didapatkan beberapa strategistrategi tertentu yang tidak relevan lagi. Dalam perjalanan waktu. isu-isu pengelolaan kawasan yang baru akan muncul. Dalam implementasi kegiatan Rencana pengelolaan Kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong masyarakat kota Bintuni pada masa 25 tahun mendatang adalah “Pada Tahun 2030 Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Akan Berjalan Ideal Dan Optimal. Pendukung/Kelembagaan. prioritas kegiatan perlu dievaluasi dan dimodifikasi.

.

tidak hanya pada daerah dimana kawasan konservasi berada tetapi juga memberikan manfaat kepada lingkungan global. Resort KSDA Bintuni). Upaya pengelolaan yang bertujuan untuk penyelamatan dan pelestarian kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan wujud dari tanggungjawab kita bersama selaku umat ciptaan Tuhan terhadap anugerah yang diberikan kepada masyarakat Teluk Bintuni. transparan dan bertanggung jawab. yang terdiri dari unsur pengelola kawasan (BKSDA Papua II. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menyambut baik hasil dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 25 tahunan yang telah dirumuskan dan disusun oleh Tim secara bersama-sama dengan para pemangku kepentingan. sudah dikenal di dunia internasional dan juga tempat banyak penduduk menggantungkan hidupnya. Cagar alam ini merupakan kebanggaan masyarakat Kota Bintuni. secara khusus saya meminta Pengelola Cagar Alam untuk dapat melaksanakan dengan sungguh-sungguh dan sekaligus pula melakukan koordinasi pelaksanaan berbagai kegiatan yang ada dalam Sambutan Bupati SB-1 . diskusi intern dengan institusi terkait di daerah. Tim penyusun Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dibentuk oleh The Nature Conservancy (TNC). dimulai dari proses konsultasi publik baik pertemuan kampung. Sehubungan dengan upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas. terutama segenap masyarakat Teluk Bintuni dalam upaya impelementasinya. Oleh sebab itu. Keberadaan kawasan konservasi di suatu daerah. dan lokakarya tingkat Kabupaten merupakan bukti kepedulian kita bersama dalam upaya penyelamatan kawasan ini. South East Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali. sehingga upaya mewujudkan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara lestari. mampu memberikan manfaat yang besar. akademisi.q. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni tetap mengharapkan dukungan dari semua pihak.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong SAMBUTAN BUPATI Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan salah satu dari beberapa kawasan konservasi yang terletak di Kabupaten Teluk Bintuni. c. maka sinergitas dan kinerja para pemangku kepentingan dalam pengelolaan maupun pengembangan kawasan dapat berjalan secara efektif. berkelanjutan dan berdaya guna dapat terlaksana. Perhatian yang besar dari masyarakat dan kerja keras Tim Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni diperlihatkan dari antusiasme semua pemangku kepentingan dalam mengikuti proses penyusunan. dan didukung oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni telah selesai menyusun rencana pengelolaan dan ini merupakan suatu momentum yang baik dimana ada banyak pihak yang berjuang bersama dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni juga mengharapkan dengan adanya dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni.

termasuk kemungkinan konflik kepentingan. dalam atau selama pelaksanaan kegiatan ini saya minta dengan sangat untuk dapat dipecahkan bersama secara terbuka. lembaga pendidikan dan lembaga penelitian serta lembaga pelaksana teknis Departemen Kehutanan di Kabupaten Teluk Bintuni yang telah membantu memberikan konstribusi pemikiran dan berpartisipasi aktif dalam proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. South East Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali. Ucapan terima kasih dan penghargaan juga. Atas nama Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Tim Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan atas segala upaya dan kerja keras yang dilakukan selama ini. Masyarakat Kabupaten Teluk Bintuni secara umum juga saya minta untuk dapat mendukung sepenuhnya upaya pelaksanaan kegiatan di lapangan. untuk menambah arti dan nilai manfaat dokumen ini maka sekali lagi saya mengajak semua para pemangku kepentingan dan segenap masyarakat Teluk Bintuni untuk secara bersamasama mendukung implementasi kegiatan dalam dokumen program rencana pengelolaan ini. sehingga kita boleh menikmati hidup yang baik hingga saat ini. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan pula kepada semua pihak baik instansi teknis terkait. hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa kita panjatkan puji dan syukur. Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan suatu momentum awal yang baik bagi pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi di Tanah Papua.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dokumen rencana kegiatan dimaksud bersama dengan Kepala Dinas dan Instansi terkait. Terima kasih dan penghargaan yang sama pula saya sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas partisipasinya dalam proses penyusunan rencana pengelolaan ini. Namun demikian. Terhadap hal-hal yang mungkin muncul atau dijumpai di lapangan. dinas lainnya se-Kabupaten Teluk Bintuni. secara khusus pelestarian dan perlidungan kawasan konservasi di Kabupaten Teluk Bintuni. Agustus 2005 Sambutan Bupati SB-2 . yang telah membantu dan menfasilitasi proses penyusunan Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Bintuni selama ini. Akhirnya. partisipatif dan berpegang pada azas demokrasi. saya sampaikan kepada lembaga pendukung kegiatan The Nature Conservancy (TNC). Bintuni.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong SAMBUTAN KEPALA BALAI KSDA PAPUA II Perubahan arah kebijakan Departemen Kehutanan RI yang prioritasnya kegiatan lebih dititikberatkan pada konservasi dan rehabilitasi kawasan merupakan suatu peluang yang baikdalam upaya penyelamatan kawasan hutan di Papua. Menginggat keterbatasan sumber daya kami yang kurang proposional dengan luas wilayah konservasi yang ada dalam wilayah pemangkuhan Balai KSDA Papua II Sorong di Papua. kebijakan pengelolaan kawasan konservasi di Papua bersifat partisipatif yang Sambutan Kepala BKSDA Papua II SKBKSDA-1 . pengelolaan kawasan konservasi menjadi hal yang dilematis dan tidak konstruktif di Papua. Disamping itu. Sehingga. erutama masyarakat yang berdiam di sekitar dan dalam kawasan konservasi di Papua merupakan masalah krusial yang harus segera diselesaikan. Selain itu pula. transparan. Upaya ini merupakan salah satu bantuan yang sangat berharga bagi kami dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi di Papua. demokratik dan bertanggung gugat. Upaya proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang digagasi oleh The Nature Conservancy (TNC) merupakan suatu langkah awal yang bijak dan bukti nyata kepedulian para penggiat konservasi dan pemerhati lingkungan Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya dalam upaya mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi di Papua yang partisipatif. Selain itu pula. sehingga pengelolaan kawasan konervasi tidak dapat berjalan secara efektif. tuntutan kepentingan akan kebutuhan dasar hidup masyarakat di Papua secara khusus masyarakat yang bermukim di sekitar dan dalam kawasan konservasi menjadi suatu tantangan yang harus segera dipecahkan bersama oleh para penggiat konservasi dan pemerhati lingkungan di Tanah Papua. transparan dan demoktratik. model pengelolaan maupun instrumen kebijakan yang digunakan dalam pengelolaan kawasan konservasi selama ini di Papua kurang mengakomodir kepentingan dan aspirasi masyarakat . proses penyusunan yang melibatkan para pemangku kepentingan serta publik di Kabupaten Teluk Bintuni memberikan makna yang penting dalam membangun dan merubah paradigma kebijakan pengelolaan yang lebih akomodatiif. perlibatan masyarakat adat dan penetapan kawasan konervasi yang kurang mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat di masa lalu. apabila diperhadapkan pada era desentralisasi pengelolaan hutan di daerah. secara khusus dalam wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua II Sorong. Permasalahan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi dan kepentingan masyarakat. Namun demikian. berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat. Penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang digagasi oleh Tim penyusun rencana pengelolaan kawasan CATB serta berkoordinasi dengan Balai KSDA Papua II juga merupakan langkah yang sejalan dan sesuai dengan program dan prosedural penetapan dan pengelolaan suatu kawasan konservasi.

Ucapan terima kasih juga. Oleh sebab itu. Sorong. Selanjutnya. maka kontribusi dan dukungan para pemangku kepentingan serta publik Manokwari masih sangat diharapkan juga dalam implementasi program selanjutnya. Pada kesempatan ini pula. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada The Nature Conservancy atas segala dukungan dalam menfasilitasi proses penyusunan dokumen selama ini. sehingga proses kegiatan ini dapat diselesaikan dengan baik. disadari bahwa sumberdaya pada Balai KSDA Papua II masih sangat terbatas. berkat dan anugerah yang tak ternilai harganya. Agustus 2005 Sambutan Kepala BKSDA Papua II SKBKSDA-2 . implementasi program pengelolaan kawasan selanjutnya dapat berjalan lebih efektif dan seinergis serta meminilisasi konflik yang selama ini terjadi. yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu juga kami ucapkan banyak terimakasih.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dapat mengakomodir semua aspirasi para pemangku kepentingan dalam kawasan. Balai KSDA Papua II Sorong menyambut baik dan menyampaikan selamat dan sukses atas diselesaikannya dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ini. Dengan demikian. melainkan merupakan tanggungjawab kita bersama segenap masyarakat Papua untuk melestarikan dan mewariskan kekayaan alam yang unik dan maha kaya bagi generasi akan datang di tanah ini. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian dokumen ini. secara khusus pada wilayah Kepala Burung Pulau Papua bukan semata-mata merupakan tanggungjawab Balai KSDA Papua II selaku pemangku dan pengemban tugas pengelola kawasan. Pengelolaan dan pelestarian kawasan konservasi di Tanah Papua. kami ucapkan terima kasih kepada Tim Faslitasi Penyusunan Rencana Pengelolaan CATB atas upaya dan kerja keras yang diberikan selama ini. segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan perlindungan. Akhirnya. kami sampaikan kepada Bupati Teluk Bintuni serta Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni atas segala dukungan dan bantuan yang diberikan.

2. Penelusuran informasi-informasi yang pernah dilakukan di Cagar Alam Teluk Bintuni bekerjasama dengan beberapa stakeholder seperti Universitas Negeri Papua. yang telah membantu memberikan kekuatan. 3. sehingga proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dapat diselesaikan dengan baik. serta Rapid Biological Assesment (RBA) dalam rangka pengumpulan data SOSEKBUD dan biologi kawasan. dan sosialiasi kegiatan penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni kepada Bupati Teluk Bintuni. TNC Bali. Pertemuan Kampung (village meeting) dan Rapid Social Assesment (RSA) di 14 kampung/kelurahan yang berada di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan beberapa LSM lokal di Manokwari. Dinas-Dinas Terkait di Teluk Bintuni. Penyusunan rencana kegiatan (work-plan) untuk keperluan internal Tim Penyusun RPK Cagar Alam Teluk Bintuni. koordinasi. tanggal 1 Juni 2005. Pemerintah Daerah Teluk Bintuni termasuk beberapa Dinas terkait. Lokakarya khusus dengan seluruh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan yang di wakili oleh Kepala Kampung. maupun eksternal tim antara berupa konsultasi publik dan field survei. BKSDA Papua I dan Resort KSDA Bintuni. dan LSM Mitra Pesisir. Rangkaian tahapan proses yang dilakukan Tim Penyusun RPK CATB secara umum terdiri dari beberapa tahapan kegiatan. 5. dan Tokoh masyarakat di setiap kampung yang memiliki akses langsung ke kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. yang dilakukan selama periode akhir Maret s/d awal Mei 2005. Bulan Pebruari – April 2005. dilaksanakan di kantor TNC. baik internal tim berupa konsolidasi dan koordinasi yang dilakukan secara regular. di Bintuni. 6. CRMP Jakarta dan Mitra Pesisir Bintuni. Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali pada tgl 6-8 Maret 2005. di Bintuni. Akhir Maret 2005 . Kepala Suku. Masyarakat yang diwakili LMA Bintuni dan Lemasom.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni KATA PENGANTAR BKSDA Papua II Sorong Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang maha kuasa. kesehatan dan menyertai serta melindungi kita. Lokakarya Penjabaran dan Perumusan Draft Rencana Pengelolaan CATB bersama pemangku kepentingan terkait di Kabupaten Teluk Bintuni. Kata Pengantar KP-1 . yaitu : 1. 4. dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2005. Dokumen ini dihasilkan melalui serangkaian tahapan kegiatan diskusi baik formal dan informal yang dilakukan Tim Penyusun RPK Cagar Alam Teluk Bintuni. BP Tangguh. Konsultasi.

Namun demikian. Perlindungan serta dan Pengamanan Prasarana Kawasan. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dan para pemangku kepentingan dalam kawasan. Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Teluk Bintuni. Kepala Bappeda Propinsi Irian Jaya Barat dan Kabupaten Teluk Bintuni. dan masyarakat Teluk Bintuni yang diwakili oleh Ketua LMA Bintuni dan Lemasom. Sukristijono Sukardjo. Puslitbang Pemanfaatan. Rektor Unipa Manokwari. Implementasi kegiatan pengelolaan selanjutnya. Kajian ilmiah (scientific review) draft Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Dr. bukan lagi menjadi tugas Tim Penyusun RPK CATB. analisis permasalahan. Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan. kebijakan.q. Dokumen ini memuat kondisi umum kawasan. pembiayaan. 3. Jakarta. Bupati Teluk Bintuni yang telah memberikan perhatian serius dan mendukung kami. Pengesahan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Dirjen PHKA. melainkan tanggungjawab bersama para pemangku kepentingan dalam kawasan dan juga masyarakat Teluk Bintuni dalam mendukung dan menyukseskan pelaksanaannya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 7. Badan Perencana Daerah Kabupaten Teluk Bintuni beserta jajarannya atas bantuan dan arahan selama proses penyusunan dokumen ini. c. Pendukung/ Kegiatan (Peneliti Mangrove. DS. rencana kegiatan. Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Kelembagaan. dan monitoring dan evaluasi. Pengelolaan. difokuskan pada 7 (tujuh) aspek. sehingga koordinasi dan kerjasama dapat berjalan lancar dan sukses. yaitu aspek Pemantapan Kawasan. Kata Pengantar KP-2 Hayati. bantuan dan kerjasama yang diberikan kepada kami. sehingga semua proses kegiatan dapat berjalan dengan baik. 8. Pemaparan Draft Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2005 di Departemen Kehutanan. pengorganisasian. APU Oseanologi-LIPI). di Jakarta. aspek Sarana Pendukung . pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada: 1. 2. Dengan selesainya Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni ini. 9. pelaksanaan kegiatan bukan merupakan tanggungjawab sepihak pengelola kawasan dan pemerintah daerah. merupakan tugas pokok dan fungsi serta kewenangan Balai KSDA Papua II. Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam. Khusus untuk rencana kegiatan.c. dinas terkait (Dinas kehutanan dan Dinas Kelautan dan Perikanan) di Teluk Bintuni. Dokumen Rencana Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan arahan umum kegiatan yang diharapkan dapat di realisasikan oleh para pemangku kepentingan dalam program pengelolaan kawasan CATB sesuai dengan kewenangan serta tugas pokok dan fungsinya. Kepala Balai KSDA Papua II atas dukungan. Koordinator Badan Monitoring.

6. Jamartin Sihite. Mendama Tambe Jaga Tane Cagar Alam Teluk Bintuni Bintuni. atas bantuan teknis dan informasi yang diberikan. Teman-teman di Pusat Studi Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PS2AL) . berkelanjutan dan berdaya guna. MSc Ir. bantuan dan fasilitas. Dr. Universitas Negeri Papua Manokwari dan Universitas Trisakti Jakarta. The Nature Conservancy (TNC). khususnya masyarakat yang bermukim di kampung-kampung di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Semoga dokumen ini dapat menjadi acuan dan instrumen dasar bagi Balai KSDA Papua II Sorong dan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni sebagai upaya dalam pengembangan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali. Teman di BP Indonesia khususnya Jalal. Chandra Gustiar. SH Kata Pengantar KP-3 . Piere dan Habel atas bantuan dan dukungan yang diberikan 8. Retno Suratri. sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Teluk Bintuni dan juga mewujudkan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari. Kepada instansi teknis terkait dan dinas serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu di sini. Obed Lense. MSc Ir. atas dukungan. 9.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 4. Agustus 2005 Tim Penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni. Masyarakat Teluk Bintuni. Ir. MSi Sergius Kosamah. sehingga penyusunan dokumen dapat diselesaikan dengan baik. sehingga proses penyusunan dokumen ini dapat direalisasikan dengan baik.Bogor atas bantuan editing dan koreksian serta dukungan data-informasi yang diberikan 7. MSi Ir. 5.

.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong .

.

.. A.……………....………......... ...... Flora ……………………………..... Ekonomi dan Budaya........ ……………………………………………………………… II..... Species ...... Pemanfaatan Sumberdaya.1.......... Aksesibilitas. A. Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hidrologi ...... B....... A.... A........ B.………………………. Pendidikan.....2.... Fauna .………………………………..……………………………………………...2.……………………………………………….... A........3..... ……………………….………………………………… B...........…………………………. I-1 I-1 I-5 I-6 I-6 I-6 I-6 I-7 I-7 I-8 I-8 I-9 II-1 II-1 II-1 II-1 II-2 II-3 II-4 II-4 II-5 II-5 II-6 II-7 II-7 II-7 II-9 II-15 II-16 II-17 II-25 II-25 II-28 Daftar Isi i ..3. Tanah... Hutan Mangrove .. Mata Pencaharian…………………………………………………………........ Latar Belakang.2.. Perlindungan ... …………. A... …………………………………………………………....……………….. A1.......…………....... KEADAAN UMUM KAWASAN. D.............3. Penduduk……………………………………………………………………. B... Iklim.........1. …………………………………………………………..2.... Hutan Hujan Dataran Rendah .... Letak dan Luas. F....... ........... PENDAHULUAN ................…………....1........ Peningkatan Sistem Pengelolaan ..3.... A.………………………...... A......... C3...........2..1. ………………………………………………………....1............ Karakteristik Sosial.. E... Kondisi Fisik Kawasan... …………………………………………..... ……………………………………………………........ A................ Visi dan Misi Cagar Alam Teluk Bintuni ..2.3...……………………………………………………………………..........1...... …………………………………………………………………………… C1... C5..……….....………. ………………………………………………………………… C2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman PETA SITUASI RINGKASAN EKSEKUTIF SAMBUTAN BUPATI KABUPATEN TELUK BINTUNI SAMBUTAN KEPALA BALAI KSDA PAPUA II KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I....…………...................…………………………………………………………………..4...…………………………………………. A.... Metode Pendekatan .. Ekosistem ......3...2.2...……………………………………..…… A3.1.............2..... C.....…...………....………….... ……………….. Kondisi Biologi Kawasan ...... Risalah Kawasan .1 Sejarah Penetapan Kawasan ... A2....1..... Sasaran ..2..……………………………………………… A...1..………………..3..1....... Ruang Lingkup. Informasi Umum Kawasan .........…………..……........... C4....... Maksud dan Tujuan .…… A..... A. ....3........…………………….......... ………………………………………..………………………………………. Geologi.......2......…………………………..…..2........ Konservasi........... ………………………………………… A.…………………… A....... …. …………...

............ Adanya Perburuan Buaya.. D. Kapasitas Pengelola Kawasan........1.............4.......…………….. Sarana dan Prasarana Transportasi……………………………………….............……………………………………… B... ......3........……..3. ………………………………………………………………………..…………………...1.....…………………………… B...............2............ Penangkapan dan Pengumpulan Hasil Laut ....... Rusa dan Burung ............................ III..………………………………………….............. C....2.... ...... Tempat Berburu...... C....…………………………………………. B..... Rencana Strategis Ditjen PHKA……………………………………......... B... C.......... C..……………………………………..... … C...... Infrastruktur...………………………………… B..........6.3.. Tempat Berladang . Pemanfaatan SDA di Kawasan CATB.....1....... Pandangan Masyarakat Adat terhadap SDA (Tanah & Hutan)....3...8. D.......3..1....………………………………... C............ B.. II-30 II-30 II-31 II-33 II-34 II-34 II-34 II-35 II-37 II-38 II-40 II-44 II-45 II-46 II-48 II-50 II-54 II-55 II-55 II-55 II-56 II-56 II-57 II-57 II-58 II-59 II-60 II-60 II-61 II-61 II-62 II-62 III-1 III-1 III-2 III-2 III-4 III-5 III-5 III-5 III-15 III-20 III-23 Daftar Isi ii ..............………………………………………………...........3........ A.......3.1.4........... Penangkapan Hasil Perikanan yang tidak Ramah Lingkungan ...... C.............. Pengelolaan Daerah Aliran Sungai . Kepemilikan Lahan .... ....... .7.....……..... C............ .......…………………………………………………… B.........6.......... C....... C..... B...............2....……………………………………………………… C..1. Kebijakan Konservasi Biodiversity di Indonesia ...3......3...3............5... Peran Masyarakat (Community Involvement) ..........… B..1....……………………………………………… C2.. Pengembangan Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni............. ....... ...3.............……………………………………………………................ Adanya Perkampungan di Dalam Kawasan ......2... Dasar Hukum.........................……........ Tumpang Tindih Kawasan dengan Penggunaan Lahan Lain .. B.... C3............. D.........6. Permasalahan....6................ Pengelolaan Hutan Lestari...3..........………………………............. Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan Hutan Mangrove .......3.. ………......3....5.. Pengelolaan Cagar Alam ..... C...... Agama ...........4........ Pendidikan …………………………………….1....………………………......... IBSAP 2003...………………………………....3.......... Faktor Penghambat .. .... Pendugaan Nilai Ekonomi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.. KEBIJAKAN ................………...1. Pola Pemanfaatan SDA.. Letak Kawasan ........ C..............2.......2...........2.................. Pendidikan dan Kesehatan ...... . Sosial Ekonomi Budaya.4.....................6........ Sektor Kehutanan.... B. D..4........ C.………………………. B.......... . Kesehatan …………………………………….....6....... BAPI 1993……………………………………………………………………… B...Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman B...... Biologi………………………………………………......3.... Kearifan Tradisional Masyarakat.............. Pemanfaatan Sumberdaya Alam .....1......... C.............………………………………… B. B..3... ............. Adanya Tempat Penimbunan kayu di Dalam Kawasan ......5... B............... ……………………....... Kebijakan Umum dan Strategi Pembangunan Cagar Alam ... B....... ……………………..............6........ Fisik........6.1....... ..2...... Pemanfaatan Tumbuhan .......... B......... C1......6......3......……………………………...........

............ D..1........ E.……………………………………….........1..................... D..... ………………………........ .... ANALISIS PERMASALAHAN .... ……………………………………………... Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Demokratik.…….... Sarana dan Prasarana……………………………………………………………… C.....1..... B. IV-1 IV-1 IV-1 IV-1 IV-6 IV-6 IV-8 IV-8 IV-8 IV-17 IV-21 IV-26 IV-26 IV-26 IV-26 IV-29 IV-34 IV-34 IV-35 IV-35 IV-36 IV-36 IV-37 IV-39 IV-40 V-1 V-1 V-2 V-2 V-3 V-6 V-10 V-12 V-13 V-17 V-17 V-18 V-19 Daftar Isi iii ....................... Aspek Biologi Kawasan .............................. Pola Pemanfaatan Sumberdaya Alam . Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan……………………………..1.1... Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Demokratik .....................……………………....... B................ A..... ………………………... Permasalahan . Tinjauan Panataan Ruang Kabupaten Teluk Bintuni ... ………………………………………………………………....... C......................... Aspek Pengelolaan... Sarana Prasarana Pengelolaan ....………………........... C..…………… C......... ...2 ............. …………………… III-26 D............... Analisis Kekuatan.....……………………...... B....... V...…………………….…………........... Skenario Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni .. .......... III-28 IV....2......2.................. Kelemahan........1........ Analisis Keterkaitan antar Unsur SWOT ...... Sarana Prasarana Penelitian ........ Sarana Prasarana Pendidikan ................. Pemanfaatan.................... D......... …………………………………………… C.1 .............. B... Ekosistem .............. C...………………………….....3.1... Perumusan Strategi Pengelolaan ......……………….................. RENCANA KEGIATAN ..........………………………………………………...2......1.......... Flora dan Fauna .......................... Rendahnya partsipasi Masyarakat ........ E............ B. Aspek Kebijakan ......4.. Pendukung/Kelembagaan…………………………………….…………………………………...6............ D......... F.3............. B......5..2.......... B............1....... Alternatif Pemecahan Masalah ............... E..…….....1......... C..........1...... Permasalahan ....... B... Pemantapan Kawasan ……………………………………………………… B.............………………………………………………...........2...1....……………..... Umum……………………………............. dan Ancaman (KKPA) .....2.. Hubungan Ruang Kawasan Cagar Alam Dengan Daerah Sekitarnya....2....…………………………….... Permasalahan …………............... Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya................……………................2.......... A...... ……………………………....2....... B.. Pengembangan Wilayah …………………………………………………………… III-26 D..............3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman D.. Perlindungan dan Pengamanan Kawasan.............. Alternatif Pemecahan Masalah ............ Rencana Kegiatan Pengelolaan …………………………………………………............ Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Otoritik .. C................1....…… A........1...………………………………………………….1... A....... C... Identifikasi dan Penilaian faktor Internal dan Eksternal ........ Pengelolaan dan Kebijaksanaan ................. B......... Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati.......... D.2....................4... A. B............ A.... …………………...... Peluang........ Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Otoritik.......1......... Alternatif Pemecahan Masalah ... ……………………………………………......

..2.. Pelaksana Kegiatan........ Pengembangan Organisasi dan SDM ...................2....... PENGORGANISASIAN ........ B.....................1. A....... PEMBIAYAAN . Forum Komunikasi Independen ..................................... B....... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN VII-1 VII-1 VII-1 VII-2 VII-3 VII-3 VII-6 VII-8 VIII-1 VIII-1 VIII-1 VIII-2 VIII-2 VIII-6 VIII-7 VIII-7 VIII-7 VIII-8 VIII-8 VIII-9 IX-1 Daftar Isi iv ........ ……………………………............. A............. PENUTUP ..2.... Koordinasi dengan Instansi Lain …………………………………………… B........... VI-1 A..... Forum Komunikasi Independen ......1... ............ IX.. ………………………………………………………………………. Kelembagaan dan Koordinasi .......... Sumberdaya Pendukung ............. A... Sumber Dana. Kebijakan Pengelolaan..... A2.................. A. Komposisi Forum Komunikasi MONEV CATB............... Tanggungjawab Administrasi ……………………………………………………… C....……………………………. Mekanisme Kerja Forum Komunikasi Independen........... VI-2 VII.. …………………………………………… A.......... Penyusunan Staf ..... Lingkup Kegiatan Badan Forum Komunikasi Independen ..…………………………………………………………………… VIII......... Tugas dan Tanggungjawab ......... Koordinasi dalam Lingkup Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni. ……………………………………………………………….. ...................….....1.. VI-1 B...... …………………………………….......MONITORING DAN EVALUASI ... A...2........ Rincian Biaya……………………………………………………………………….. ……………………………...........3.2 ..... A.... A..............1....3.......2.......4.1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman VI.………………………………… A........2....... B....... ……………………………………. Pembinaan SDM..…….2......2................. Rencana Waktu Pemantauan dan Evaluasi........... A.... ..... B......... Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni ……………………………............……………………………………………………..... Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni ......………………………………………........... ...........…….. B.

............ II-11 Mata Pencaharian penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .........………………………………………… II-29 II-12 Sarana Pendidikan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2002...............................................................................................................…………………………………… II-50 II-21 Fungsi dan Manfaat Lingkungan Ekosistem Mangrove.... II-53 Daftar Isi v ....... Distrik Dan Kampung yang Memiliki Akses Terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni……………………………………………………………………… II-4 Jenis tanah yang terdapat di sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ................……....... II-6 II-16 Jenis-Jenis asosiasi mangrove pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ......................................................................... ........................... .......................................……………………………………………………………… II-33 II-16 Hasil perikanan yang dihasilkan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) beserta harganya...................... ............................ …................................................................... II-40 II-17 Pemanfaatan vegetasi palem oleh masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ......................................................................... II-30 II-13 Sarana Kesehatan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 ..............................................................…………………………………………………………….. II-31 II-14 Tenaga Kesehatan yang ada di kampung sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005... II-18 Jenis burung yang dicatat selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni............................ ............... …………………......................................... ……………………… II-20 Jenis mamalia yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) serta berdasarkan informasi masyarakat setempat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...................................................................................................... II-16 Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi ekosistem hutan dataran Rendah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni............................................ II-51 II-22 Asumsi Dasar Penilaian Jenis Manfaat Hutan Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .................................. II-52 II-23 Prediksi Nilai Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan CATB.....………………………………… II-49 II-20 Jalur pelayaran reguler dari dan ke Bintuni yang dilayani oleh PT Pelni dan pelayaran swasta lain ...................................……....... ....................……………………………………………........................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No I-1 II-1 II-2 II-3 II-4 II-5 II-6 II-7 II-8 Keterangan Halaman I-9 Stakeholder di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) ...... II-17 Jenis herpetofuana yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ..................…… II-26 II-28 II-9 II-10 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di sekitar Cagar Aalam Teluk Bintuni.......... II-22 Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni ........ Jenis-Jenis mangrove sejati pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .................................................................................................................................. II-41 II-18 Pemanfaatan komponen flora dan fauna pada ekosistem mangrove di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ........... II-43 II-19 Sarana dan jenis transportasi kampung di sekitar CATB ke Ibukota Distrik dengan saran transportasi sungai/laut .............…………………………………………………… II-32 II-15 Jumlah penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan agama................................................

................................................... IV-24 IV-10 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ..... V-5 Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam mengembangkan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati..... VI-3 Rencana alokasi biaya pengadaan sarana dan prasarana untuk jangka pendek (per tahun) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010) ....... IV-10 IV-6 Permasalahan sekaligus ancaman dan penyebabnya terhadap keberadaan ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 ........ V-12 Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek pendukung/kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ..... .... V-3 Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan......... V-9 Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek perlindungan dan pengamanan kawasan.....................................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No Keterangan Halaman IV-1 Kondisi personil pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005 ………………………………………………………………………… IV-3 IV-2 Kondisi sarana dan prasarana pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005.. ……………………………………………………….....................................................................................................................................................................................…………… V-1 Rencana kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan......................................... IV-33 IV-11 Matriks hasil analisis SWOT .....................................…………………………………………………… IV-4 IV-3 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ……………………………………………………………............................ IV-40 V-1 V-2 V-3 V-4 V-5 V-6 V-7 Prioritas rencana kegiatan pengelolaan kawasan selama dua puluh lima tahun (2006-2030) Cagar Alam Teluk Bintuni............ IV-22 IV-8 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .......................... VI-19 Daftar Isi vi ... ……………………………………………………….............. ...... VI-4 Rencana alokasi biaya pengadaan sarana dan prasarana untuk jangka panjang (per tahun) pada periode 25 tahun (2006-2030) ..........................................................… IV-14 IV-7 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove dan nipah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni...... ……………………… IV-23 IV-9 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ......................................................... .... IV-7 IV-4 Permasalahan sekaligus ancaman terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasanCagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 .............................................................................................. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ........................……… IV-9 IV-5 Tempat Penimbunan Kayu (TPK)/ Logyard yang menempati ekosistem hutan dataran rendah dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan tahun 2005 .... V-13 V-16 VI-2 VI-9 VI-16 VI-1 Rencana alokasi biaya pengelolaan jangka pendek kawasan CATB (per tahun) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010) .............................. VI-2 Rencana alokasi biaya pengelolaan kawasan CATB jangka panjang (lima-tahunan) pada periode 25 tahun pertama (2006-2030)......................................................

.................. VIII-1 Kondisi fasilitas pendukung pengelola Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa....................................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No Keterangan Halaman VII-1 Kondisi staf pengelola cagar alam dan rencana pemenuhan staf berserta rencana pelatihan .. VII-2 Rencana kebutuhan biaya pemenuhan staf dan rencana pelatihan di Cagar Alam Teluk Bintuni...............…………… VIII-8 Daftar Isi vii ... VII-9 VII-10 VIII-3 VIII-4 VIII-3 Rencana monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh unsur internal pengelola kawasan ............ ………............................................................................................................................... VIII-2 Kondisi personil pendukung pengelolaan Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa ....

...................................................... II-26 Daftar Isi viii ........................ II-11 Pengukuran dan pengambilan titik koordinat plot pengamatan vegetasi mangrove di P............................................................................... kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.................................. Kaboi di kawasan CATB.................... II-1 II-2 Peta Kerja Kegiatan Survei Kondisi dan Potensi Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 ............................ Mania............. II-12 Vegetasi Mangrove S......... I-3 Kerangka Umum Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (General Framework)......................................................................... II-17 Peta Lokasi Kegiatan Survei Keberadaan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...... Cagar Alam Teluk Bintuni .... Tipe hutan hujan dataran rendah sekunder di dekat kampung Mamuranu......................................... Simeri di kawasan CATB ............... Tirasai................................. II-15 Jenis Anggrek (Bulbophylum sp.....................…… II-24 II-19 Lokasi Pemukiman penduduk K.......…………………………........................... Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil Tata Batas Sub Biphut Manokwari Tahun 1999 ..................................... II-18 II-19 II-18 Jenis kepiting bakau (Scylla sp..…........... Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) di S................................. Tirasai......................................) yang memiliki nilai ekonomis yang dapat ditemukan di kawasan CATB ............................... Struktur Hutan Dataran Rendah Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.............................. Yensei Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ....... II-8 II-8 II-9 II-9 II-10 II-10 II-10 II-12 II-12 II-14 II-14 II-10 Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) campuran pada Zona Pasang Surut di S......................... Cagar Alam Teluk Bintuni .......... Cagar Alam Teluk Bintuni ........................................ I-2 Abrasi di Hutan Mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni....................................................…………………………………………………… I-12 Hierarki Penentuan Prioritas Kegiatan Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni......................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No I-1 I-2 I-3 I-4 I-5 II-1 II-2 II-3 II-4 II-5 II-6 II-7 II-8 II-9 Keterangan Halaman Cagar Alam Teluk Bintuni……………………………………………………………… I-1 Hutan Mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni……………………………………….......................................................................……………………………………… II-7 Tipe hutan hujan dataran rendah primer di belakang formasi hutan mangrove S..................................................... Pasamai ………………………………………….................... ………………………………………………… II-17 II-16 Jenis buaya muara (Crocodylus porosus) yang ditemukan di kawasan CATB .......................... II-13 Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Tanjung Pitaboni............................................................. I-14 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang Diusulkan WWF/IUCN/PHPA 1983.. Vegetasi mangrove Zona Rhizophora-Bruguiera di S.................................. Cagar Alam Teluk Bintuni ......... Simeri Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...................................... II-14 Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Sungai Sumberi Cagar Alam Teluk Bintuni ...................... Vegetasi mangrove Zona Avicenia-Sonneratia di P.................) yang bisa ditemukan di hutan dataran rendah dan magrove di Kawasan CATB ...........................................................

........................................................................... ............ II-60 Daftar Isi ix ...................... II-33 Peta kepemilikan lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat ................... II-42 II-42 II-44 II-45 II-45 II-47 II-48 II-35 Sarana transportasi darat jenis land cruiser (hardtop) yang melayani transportasi Manokwari-Bintuni PP ................. Mamuranu) yang terletak di dalam kawasan CTAB .................................................................. II-59 II-40 Salah satu Kondisi Pemukiman penduduk (K. II-29 Rumah tradisional masyarakat lokal yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari vegetasi nipah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .......................................................... II-38 II-23 Jenis siput bor Bactronophorus sp................................ II-49 II-37 Pembukaan lahan hutan dataran rendah untuk logyard kegiatan logging di dekat Kampung Tirasai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ........................ II-55 II-38 Pengendapan lumpur (sedimentasi) yang membentuk delta di muara S..........................…………………………………………… II-56 II-39 Masyarakat baru pulang berburu di dalam Kawasan CATB………………………..................... Bintuni/ Wasian di dalam Kawasan CTAB........................................ II-32 Lahan kebun dan bekas kebun masyarakat lokal di Kampung Mamoranu yang berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ....... II-39 II-26 Bentuk pemanfaatan jenis palem sebagai (a) busur dan anak panah........................... II-30 Dendeng rusa dan babi hutan yang diperoleh dari berburu di hutan sekitar kampung Mamoranu dalam Cagar Alam Teluk Bintuni. II-48 II-36 Sarana transportasi laut/sungai jenis longboat yang digunakan masyarakat di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni .............. II-31 Model Kandang pembesaran anakan buaya di Kampung Yensei...............………………............................................... II-21 Salah seorang anggota masyarakat nelayan di K........................................................................... II-40 II-27 Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.... II-27 II-28 II-22 Penangkapan ikan dengan menggunakan “JARING BALABUH” yang dilakukan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB ………............. Korano Jaya setelah melaut .................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No Keterangan Halaman II-20 Peta Lokasi Kampung yang berada di dalam dan sekitar Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005.. II-59 II-41 Diskusi dengan masyarakat Banjar Ausoy tentang tumpang tindih LU 2 dengan Batas kawasan CATB....................................................... (b) lantai rumah/para-para.........….................................................................... II-34 Sarana transportasi udara jenis Twin-Otter di pelabuhan udara kota Bintuni yang melayani penerbangan ke dan dari kota Bintuni ........................................................................... yang biasa dikumpulkan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB ......................................................... II-42 II-28 Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.......... II-38 II-24 Jenis kerang Polymesoda coaxan yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB ................. Distrik Idoor ............. yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB ................................................... dan (c) anyaman keranjang ……………………………………...................................................………………………………………………............... II-38 II-25 Jenis kepiting bakau Scilla sp............................

................................................................................... IV-3 IV-3 Pembukaan lahan hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove sebagai logyard di S............................................... ........................................................................................................................................................................................................ VII-2 Struktur sistem pengelolaan kawasan Cagar Alam............................................ VII-3 Struktur organisasi pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni ..... VII-1 Struktur arus informasi dari tahapan pelaksanaan pengelolaan di Cagar Alam Teluk Bintuni ........................................... IV-11 IV-4 Kebun masyarakat lokal di Kampung Mamuranu di dalam kawasan CATB ... IV-5 Salah satu logyard yang memanfaatkan sebagian ekosistem mangrove di S......................................... IV-30 VI-1 Alur pengusulan pelaksanaan kegiatan dan implementasi kegiatan............ CATB IV-17 IV-9 Jenis burung mambruk (Goura cristata) yang telah dilindungi undang-undang yang populasinya terancam. Yensei dalam rangka penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni......... IV-11 IV-12 IV-14 IV-15 IV-8 Terinvasinya hutan bekas perladangan oleh jenis pionir di K.. IV-7 Kerusakan hutan mangrove akibat erosi tepi dekat muara sungai Wasian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni........................................... III-27 IV-1 Pemukiman di Desa Anak Kasih yang dibangun Dinas Sosial Propinsi Papua dan berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ………………………… ...................... Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.............................. IV-6 Bentuk gangguan ekosistem mangrove yang diakibatkan oleh tongkang pengangkut kayu log di S.................... IV-12 Jenis satwa buaya muara (Crocodylus porosus) yang telah dilindungi undang-undang populasinya menurun akibat perburuan liar di Cagar Alam Teluk Bintuni .. VIII-1 Mekanisme kerja Forum Komunikasi Independen ................ IV-11 Jenis kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus) yang telah dilindung undang-undang yang sudah jarang dijumpai di hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni .......... VI-1 VII-2 VII-6 VII-7 VIII-9 Daftar Isi x ...................................................................................... IV-2 IV-2 Satu-satu sarana transportasi dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...................................................................................................................................... Korano Jaya dan K... Mamuranu..........................................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No Keterangan Halaman III-1 Rencana Pola Pengembangan Kota Bintuni sebagai Ibu Kota kabupaten Teluk Bintuni .................. IV-18 IV-19 IV-19 IV-19 IV-29 IV-14 Kegiatan Lokakarya Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan ................................ IV-13 Diskusi bersama masyarakat K.................................... Sumberi di kawasan CATB........................................ ........................... ..................................... IV-10 Jenis burung kasuari kerdil (casuarius benetti) yang telah dilindungi undang-undang yang populasinya terancam .................. Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .......

........ L-12 4 5 6 7 8 L-12 9 L-12 10 Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).. Famili.... . Kerapatan (N/Ha)................................ L-23 L-25 Daftar Isi xi .... Frekuensi...................46 ha) ........................ Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai)....................... Frekuensi....................................... Frekuensi..... Famili.. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Mangrove S.... .... L-2 Data suhu udara ambien (0C) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil dicatat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah...... Jenis.............. Cagar Alam Teluk Bintuni .............................. Famili. Kerapatan (N/Ha)........... Cagar Alam Teluk Bintuni .............. Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0.................... Kerapatan (N/Ha)....... Frekuensi.... L-10 Data kelembaban relatif udara ambien (%) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah.. ...... L-21 17 Rangkuman Catatan Hasil Presentasi Draf Akhir Rencana Pengelolaan Kawasan CATB di PHKA Jakarta (22 Juli 2005) ………………………………………………… 18 Peta Kerja Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2006-2030………............................................. Frekuensi............................. Famili........................................ Cagar Alam Teluk Bintuni ... Frekuensi.......................... Simeri....... Babo .............. Famili.............................. Cagar Alam Teluk Bintuni L-11 Jenis....................................................................... Frekuensi..... Famili....... Kerapatan (N/Ha).........Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR LAMPIRAN No 1 2 3 Keterangan Halaman Istilah dan Terminologi yang termuat dalam dukumen .......... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Sungai Sumberi............. L-11 Jenis........................ Kerapatan (N/Ha)... L-15 15 Programme of two-days meeting on Establishing the Bintuni Bay Nature Reserve Management Plan………………………………………………………………………...................................... L-11 Jenis........ Cagar Alam Teluk Bintuni ...... Kerapatan (N/Ha)......... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni). Famili......................... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi.. Cagar Alam Teluk Bintuni ..... 12 Jenis........46 ha) ........ dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai). dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Mangrove S.......... Famili.. L-14 14 Rangkuman Hasil Workshop Tingkat Kabupaten Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 ………………………………………....................................... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni). Cagar Alam Teluk Bintuni ...................... Frekuensi.......... Cagar Alam Teluk Bintuni ............... . L-10 Jenis.......... Simeri....... Kerapatan (N/Ha)...... L-13 11 Jenis.. Kerapatan (N/Ha)....................... Babo ....... Jenis.................................. L-20 16 A COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the traditional community members who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve during the Kabupaten Meeting in Bintuni ………………………….. L-13 L-14 13 Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi................

.

ekosistem mangrove mempunyai peran lebih menonjol. Cagar Alam Teluk Bintuni luas mangrove di dunia.50% dari total Gambar I-1. terumbu karang. Luas mangrove di Indonesia menyumbang 23. 1997).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong I. fungsi. yaitu mangrove. telah mengalami kerusakan yang melewati toleransi daya dukung lingkungan. serta pencemaran perairan pesisir yang Pendahuluan I-1 . tangkap lebih (over fishing) terhadap sumberdaya ikan yang akan mengakibatkan musnahnya berbagai jenis ikan ekonomis penting. Wilayah pesisir Indonesia. Kondisi krisis menyebabkan upaya pemenuhan kepentingan ekonomi melupakan aspek lingkungan. Sehingga dalam tahun-tahun terakhir ini. Pada banyak daerah dapat dijumpai terjadinya eksploitasi sumberdaya alam yang mengabaikan kelayakan ekologis dan keberadaan kawasan lindung.6 juta ha yang berada dalam wilayah administrasi kawasan hutan dan non-kawasan hutan (Spalding et al. Pantai Utara Jawa. Skala dampak manusia pada eksositem mangrove di Indonesia telah secara dramatis selama dekade terakhir memperlihatkan ancaman serius. yang terdiri dari tiga ekosistem utama. PENDAHULUAN A. Krisis ini berdampak tidak hanya pada sistem perekonomian tetapi juga pada sistem lingkungan (ekologi) nasional. Pada waktu yang sama. misalnya.. Selat Malaka. seperti eksploitasi berlebihan terhadap mangrove dan terumbu karang yang akan menghilangkan fungsinya sebagai perlindungan alami terhadap badai dan gelombang. tersebut Keberadaan ketiga ekoistem sangat vital bagi produktivitas perairan dan perikanan. dan padang lamun. Dari ketiga ekosistem pesisir tersebut. Latar Belakang Pengalaman ketika krisis moneter memberikan pengalaman yang sangat berharga. Kondisi ini seyogyanya menyadarkan bangsa Indonesia untuk memperbaiki pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan agar tercapai pembangunan yang berkelanjutan. dan atribut ekosistem mangrove. habitat kawasan pesisir di setiap pulau-pulau di Indonesia berada dalam tekanan yang berat sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan. yaitu kurang lebih 9. Salah satu upaya yang perlu dilaksanakan untuk kepentingan pengelolaan sumberdaya yang menyeluruh adalah melakukan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya yang tepat yang mempertimbangkan aspek ekonomi dan lingkungan berada pada posisi yang seimbang. Teluk Jakarta. biodiversitas mangrove dan konservasinya telah menjadi perhatian dunia. Hasil-hasil penelitian juga telah menngkatkan pemahaman tentang nilai.

Gambar I-2. pantai selatan dan timur Kalimantan. seperti abrasi. daerah mencari makan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan (ikan. 1998). gelombang. Pada sisi lain diketahui bahwa menurunnya produksi perikanan di Bagan Siapi-api yang sebelum perang Dunia II merupakan wilayah penghasil utama ikan di Indonesia bahkan di dunia. di atas lahan maupun di Pendahuluan I-2 . (2) habitat fauna terutama fauna laut. badai dan juga merupakan panyangga bagi kehidupan biota lainnya yang merupakan sumber penghidupan masyarakat sekitamya. Fungsi mangrove yang terpenting bagi daerah pesisir adalah menjadi penyambung darat dan laut. pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya semuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan. Selain itu fungsi ekologis hutan mangrove yang penting adalah sebagai daerah asuhan (nursery ground). salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Noor et al. Hutan Mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni Besarnya peranan hutan mangrove atau ekosistem mangrove bagi kehidupan dapat diketahui dari banyak jenis hewan. (3) lahan pertanian dan kolam garam. baik yang hidup di perairan. udang dan kerang-kerangan) baik yang hidup di perairan pantai maupun Iepas pantai. Menurut Kusmana (2002) pada tingkat ekosistem sebagai wetland secara keseluruhan hutan mangrove mempunyai peranan/fungsi sebagai (1) pembangunan lahan dan pengendapan lumpur.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong akan mengurangi produksi ikan dengan merusak tempat pemijahan dan habitat yang bernilai lainnya (Cicin-Sain dan Knecht. 1999). (5) keindahan bentang darat dan (6) pendidikan dan pelatihan. Hutan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. (4) melindungi ekosistem pantai secara global. Hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial di Indonesia seperti di perairan sebelah timur Sumatera. serta peredam gejala-gejala alam yang ditimbulkan oleh perairan.

1992). Dari Pendahuluan I-3 . Ekosistem mangrove menyediakan makanan. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan pada Tahun 1997 dari total hutan mangrove 8. Pada tingkat berikutnya hewan-hewan tersebut menjadi makanan bagi hewan yang lebih besar dan begitu seterusnya untuk menghasilkan ikan.9 juta Ha telah mengalami kerusakan dan hanya 2. lahan tambak. Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada habitat mangrove (Sasekumar et.8 juta Ha yang kondisinya masih baik. bekantan (Nasalis larvatus). al. Daun mangrove yang gugur melalui proses penguraian oleh mikroorganisme diuraikan menjadi partikel partikel detritus. Selanjutnya hewan pemakan detritus menjadi makanan larva ikan. Indonesia mempunyai areal hutan mangrove yang sangat besar. mysidceae (udang-udang kecil/rebon).7 juta Ha sebesar 5. serta beberapa jenis berang-berang (otters) (Noor 1995). karena mereka dapat berperan sebagai perusak ataupun penjaga hutan mangrove. Masyarakat di sekitar kawasan hutan mangrove juga mempunyai ketergantungan sangat besar terhadap ekosistem mangrove tersebut. tetapi menurut Spalding (1997) dalam Noor dkk (1999) luas ini sudah mengalami penyusutan sampai 40% terutama pada periode 1990-1999. 1999). terutama disebabkan oleh tekanan penduduk untuk pemukiman. Fungsi lain yang penting adalah sebagai penghasil bahan organik yang merupakan mata rantai utama dalam jaringan makanan ekosistem hutan mangrove. Produk yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi dari ekosistem mangrove adalah perikanan. tempat berlindung dan berkembang biak bagi satwa liar. Menipisnya areal mangrove di kawasan pesisir ditunjukkan oleh luasan mangrove yang mengalami kerusakan. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang dapat memperbaiki dan meningkatkan partisipasi masyarakat dan pengelolaan yang baik agar fungsi ganda dari hutan mangrove dapat berjalan dengan baik dan dapat dimanfaatkan secara optimal. udang dan hewan lainnya.152. Detritus kemudian menjadi bahan makanan bagi hewan pemakan detritus.. seperti cacing. mencapai 4. tempat Gambar I-3. Abrasi di Hutan Mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni pendaratan kapal.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong sekitar pohon mangrove. udang dan berbagai jenis bahan makanan lainnya yang berguna bagi kepentingan manusia (Sugiarto dan Willy 1995 dalam Suhaeb. serta bangunan lainnya. bahkan beberapa diantaranya termasuk kedalam jenis yang endemik atau keberadaannya telah langka seperti harimau sumatra (Pantera tigris sumatranensis). Hal ini terjadi antara lain diakibatkan oleh: kegiatan konversi mangrove menjadi peruntukkan lain. lahan pertanian.000 Ha.

000 Ha (Petocz. Analisis citra satelit TNC (2003) menunjukkan bahwa di Teluk Bintuni masih ada hutan mangrove seluas 435. Pelaksanaan tata batas kawasan pada tahun 2000 oleh Biphut Manokwari menetapkan luasan akhir dari kawasan adalah 124. 1983). Pulau Irian/Papua merupakan pulau dengan keanekaragaman hayati yang cukup besar. Kerusakan pesisir diperkirakan mempunyai besaran dampak lebih dari 80 %. Pada saat yang bersamaan. 1991). dkk.000 Ha (Zuwendra. 891/Kpts-II/1999. Industri udang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong isu pokok lingkungan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hutan mangrove sebagai ekosistem di kawasan pesisir telah mengalami kerusakan. 182/Kpts/UM/II/1982 dengan luasan Cagar Alam 300. Penelitian Ruitenbeek (1992) menunjukkan bahwa hutan mangrove di Teluk Bintuni mendukung keberadaan sejumlah industri dan secara ekonomi cukup besar. Dari 19 ecoregion ini maka di dalam 8 ecoregion yang tercatat dalam WWF Global dapat dijumpai keberadaan 200 habitat.000 Ha. dengan total luas 450.40 m). Dari sektor perikanan dihasilkan US$ 35 juta per tahun.850 Ha yang diperkuat dengan SK Menhut No. Sejalan dengan semakin menipisnya mangrove. laju abrasi-erosi di kawasan pesisir menunjukkan kecenderungan yang semakin tinggi. vegetasi pegunungan. Ini bisa dipahami karena secara geografis pulau Irian mempunyai variasi yang luas. Sampai saat ini rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni belum tersusun. dimana abrasi sudah berjarak sekitar 3-5 m dari posisi jarak lima tahun yang lalu (sekitar 30.168 Ha dan merupakan luasan mangrove terbesar yang berada pada satu kawasan di Indonesia. merusak areal kebun kelapa penduduk dan lahan pertanian lainnya. Pulau ini memiliki 5-7% kekayaan hayati (biodiversity) dunia. kayu chips US $ 1. Di Irian juga bisa dijumpai 14 ecoregion daratan dan 5 ecoregion air. Di dalam kawasan Teluk Bintuni yang merupakan ecoregion #129 terdapat kawasan mangrove yang cukup luas bahkan merupakan kawasan mangrove terbesar di dunia. Pada tahun 1991 PHKA/AWB merevisi luasan dengan mengusulkan luas Cagar Alam ini menjadi 260. penurunan luasan dan mutu habitat sebesar 68 %. Usulan ini kemudian ditindaklanjuti dengan penetapan oleh Departemen Pertanian RI dengan SK Mentan No. woodchips dan LNG serta penetapan kabupaten baru mengharuskan dibangunnya banyak infrastruktur dan baik langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan dampak pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dataran rendah sampai hutan rawa. perkembangan ekonomi di Teluk Bintuni bergerak maju. Cagar Alam di Teluk Bintuni diusulkan untuk pertama sekali oleh WWF pada permulaan tahun 1980. Kawasan saat ini dikepalai oleh Kepala Ressort dan hanya memiliki jagawana dengan fasilitas Pendahuluan I-4 . mulai dari gunung yang diselimuti es. Terjadinya proses abrasi-erosi ini diindikasikan oleh kenyataan yang menunjukkan garis pantai di beberapa tempat seperti di daerah Kalimantan Barat dan Kabupaten Rembang hampir menyentuh badan jalan.5 juta dan perikanan artisanal US $ 10 juta per tahun.

adanya sedimentasi akibat pengelolaan kawasan hulu yang kurang baik menjadi ancaman bagi keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Menjamin keberlanjutan sumberdaya alam bagi penelitian. 2. dimana dokumen ini juga digunakan sebagai acuan bagi penyusunan rencana pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni. B Maksud dan Tujuan Tujuan pengelolan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah untuk melestarikan habitat hutan mangrove. ekosistem mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni mempunyai peran ekonomi yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi kawasan Teluk Bintuni. USAID dan CRMP/Mitra Pesisir telah menyusun rencana pengelolaan untuk kawasan pesisir Teluk Bintuni. Disamping itu. ilmu pengetahuan. Perkembangan menjadi kabupaten baru menyebabkan pemerintah kabupaten membutuhkan adanya pengelolaan sumberdaya alam yang baik. Survei ini menunjukkan bahwa mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni tergolong kepada sistem yang relatif tidak kompleks – hanya terdapat 20 spesies tanaman mangrove. Diharapkan adanya rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang baik akan memudahkan pengawasan bersama antara BKSDA Papua II dengan pemerintah daerah Kabupaten Teluk Bintuni. pendidikan. Keberadaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang ada masih relatif belum efektif dan efisien. Menyusun suatu struktur pengelolaan bersama yang lebih mandiri dan kapasitas memadai. hutan nipah dan pesisir di dalam kawasan untuk : 1. 3. Khusus di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni pernah dilakukan beberapa survey dan penelitian khususnya pada kawasan ekosistem mangrove dan dapat digunakan sebagai informasi ekologis daerah Cagar Alam. Tetapi. dalam strategi pembangunan Teluk Bintuni. pemanfaatan terbatas oleh masyarakat setempat dan pengembangan pariwisata alam. Menerapkan zona pemanfaatan tradisional dengan memberikan hak penangkapan sumberdaya perikanan di dalam kawasan khusus bagi penduduk kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pendukung terbatas untuk melakukan pengawasan. 4. dibandingkan dengan hutan dataran rendah di sekitarnya yang mengandung 1200 spesies tanaman. UNDP dan BP sudah terlibat dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan pembangunan kapasitas kelembagaan di Pemerintahan. Menjamin perlindungan bagi kehidupan biota pesisir dan perairan. Pendahuluan I-5 . pengambilan kayu bakar dan bahan bangunan rumah. pelibatan dukungan di luar pemerintahan menjadi perhatian penting bagi pembangunan Teluk Bintuni. Ketergantungan masyarakat sekitar terhadap sumberdaya perikanan dari kawasan. Ketidaktersediaan rencana pengelolaan menyebabkan aktivitas pengelolaan di Cagar Alam menjadi tidak terencana bahkan hampir tidak ada. serta melindungi satwa langka.

yang melindungi semua daerah yang memiliki nilai biologi tinggi. Pendahuluan I-6 . Peraturan Cagar Alam Teluk Bintuni yang jelas. Pendidikan Mengembangkan fasilitas dan infrastruktur untuk pendidikan dan penelitian tentang konservasi sumberdaya alam di Cagar Alam Teluk Bintuni. Penerapan suatu sistem zonasi di lapangan Cagar Alam Teluk Bintuni. Melakukan intervensi pengelolaan yang efektif bila terdapat spesies atau ekosistem yang terancam.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni C Sasaran BKSDA Papua II Sorong Sararan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah tercapainya pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni melalui pola pengelolaan komprehensif yang efisien tetapi berdayaguna (efektif). Perlindungan dan pelestarian fauna dan flora kawasan pada habitat alamnya. serta menjamin berlangsungnya pemanfaatan potensi secara berlanjut (sustainable use) guna mendorong pembangunan ekonomi daerah. Penerapan sistem pengawasan yang efektif oleh staf jagawana Cagar Alam Teluk Bintuni untuk menegakkan peraturan. Perlindungan Pengukuhan hukum atas Batas kawasan baik di darat/Sungai dan laut. dapat diterapkan. Konservasi Flora dan fauna kawasan dilestarikan pada ekosistem alamnya. Kegiatan pemanenan terbatas yang tidak mengancam populasi jenis manapun di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. (iii) pendidikan. C2. C3. Pemeliharaan sebaik-baiknya rute-rute migrasi satwa di dalam kawasan. Secara umum sasaran pengelolaan meliputi aspek (i) perlindungan. Rehabilitasi atau pemulihan daerah yang mengalami degradasi lingkungan. dan menjamin perlindungan sumberdaya alam dan menghormati pemanfaatan tradisional. C1. sehingga mampu menjamin keberadaan biota langka dan endemik. (ii) konservasi. Pengembangan dan penerapan secara efektif sistem pemantauan dan evaluasi. Perlindungan dan menjaga fungsi tempat pemijahan ikan dan biota perairan. (iv) pemanfaatan sumberdaya yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan serta (v) peningkatan sistem pengelolaan.

Perlindungan tempat pemijahan ikan terutama yang ada di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Peningkatan sarana dan prasarana Cagar Alam. Peningkatan partisipasi stakeholder lokal secara positif untuk mendukung pengelolaan kawasan. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Berburu Pemanfaatan sumberdaya perikanan dan satwa buru oleh masyarakat secara tradisional. Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia khususnya yang terlibat langsung dalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Mengembangkan kearifan tradisional yang mendukung pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya perikanan dan satwa buru Penelitian Penyusunan kesepakatan tentang hak kepemilikan intelektual khususnya bagi kearifan tradisional. Pendahuluan I-7 . Peningkatan tingkat ketrampilan masyarakat setempat untuk memberikan perlindungan komunitas terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Penyusunan suatu rencana penelitian menyeluruh dan dilaksanakan bekerjasama dengan mitra mitra ilmiah terutama untuk menangani isu-isu penting bagi kawasan. C5.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Peningkatan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terhadap kelestarian kawasan. Pelaksanaan suatu rencana pemantauan dan inventarisasi biologi untuk habitat di Cagar Alam Teluk Bintuni. C4. terutama bagi habitat yang rentan dan spesies yang terancam punah. Pelatihan dalam meningkatkan ketrampilan petugas khususnya jagawana (ranger) Cagar Alam Teluk Bintuni agar mampu mengawasi dan megelola Cagar Alam Teluk Bintuni secara lebih mandiri. Peningkatan Sistem Pengelolaan Pengembangan dan penerapan sistem pengelolaan yang berkelanjutan untuk Cagar Alam Teluk Bintuni.

koordinasi. Berdasarkan beberapa isu pengelolaan seperti yang dijabarkan pada Bab selanjutnya. Meningkatkan database dan sistem informasi yang memadai. Pendahuluan I-8 . 5. Meningkatkan upaya penegakan hukum terhadap kegiatan-kegiatan yang dapat menurunkan kualitas kawasan. Ruang Lingkup BKSDA Papua II Sorong Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni terdiri dari Rencana Pengelolaan jangka Panjang (25 Tahun) dan Rencana Jangka Pendek (5 Tahun Pertama). Menciptakan keutuhan dan kualitas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . rincian kegiatan dan pentahapan kegiatan baik untuk pembanggunan sarana prasarana. Misi inilah yang akan dijabarkan lebih lanjut menjadi program dan rencana aksi dalam dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Misi merupakan gambaran deklaratif tentang tujuan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga. pengelolaan potensi kawasan. 4. Pusat kepedulian atau visi pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai Tahun 2030 adalah: TERWUJUDNYA PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI SESUAI FUNGSINYA SECARA LESTARI. 6.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni D. Meningkatkan kesadaran masyarakat di dalam dan sekitar Kawasan tentang pentingnya keberadaan Kawasan sebagai system penyanggah kehidupan. 2. Untuk itu diperlukan adanya visi dan misi. Meningkatkan kinerja dan kemampuan pengelola Kawasan. Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di di dalam dan sekitar Kawasan melalui kegiatan pemberdayaan. Visi dan Misi Cagar Alam Teluk Bintuni Konsep pengelolaan kawasan perlu mempunyai tujuan ideal. analisis masalah. dimana konsep ini akan diperjuangkan oleh pengelola. perlindungan dan pengamanan hutan. Visi atau pusat kepedulian tersebut hanya akan terwujud apabila semua stakeholder membangun komitmen bersama yang tercermin dalam kepedulian untuk bertindak melestarikan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni serta terbentuknya kesadaran publik secara luas di seluruh wilayah Kabupaten Teluk Bintuni. 3. BERKELANJUTAN DAN BERDAYA GUNA. Rencana tersebut meliputi bahasan kebijakan. E. organisasi atau kegiatan. penelitian dan pendidikan. maka misi yang diemban dalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk periode 25 tahun mendatang adalah: 1.

maka diperlukan prinsip pendekatan yang terpadu dalam menyusun Rencana Pengelolaan (Management Plan) Cagar Alam Teluk Bintuni. Hal ini dimaksudkan agar rencana pengelolaan (management plan) bisa digunakan sebagai acuan bagi Balai Konservasi Sumber Daya Alam wilayah Papua II-Sorong dan Departemen Kehutanan cq Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Kelestarian Alam serta Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni untuk mengelola kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni mempunyai banyak komponen kegiatan yang didasarkan kepada potensi kawasan dan juga permasalahan kawasan. Masyarakat di dalam Kawasan * Distrik Idoor 1. persepsi dan aspirasi tentang CATB meliputi semua pihak yang berkepentingan (Tabel I-1). Kerangka pendekatan yang akan digunakan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan disajikan dalam Gambar 1-4. Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Lemason d. Tujuannya adalah agar data dan informasi yang diperoleh mengenai kondisi. Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Bintuni c. Metode Pendekatan BKSDA Papua II Sorong Mengingat bahwa sasaran dari kajian ini adalah tersusunnya rencana pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya (tahun 2005-2024) melalui pendekatan ekosistem dan berbasis masyarakat. Kampung Mamuranu/Anak Kasih Pendahuluan I-9 . Mitra Pesisir b.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni F. khusus yang mempunyai peran terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Ikatan Pemuda Teluk Bintuni (IPTB) 8 Masyarakat A. Yayasan Forum Dialog Pembangunan Masyarakat Teluk Bintuni (YFDPMTB) e. aktivitas. Stakeholder di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) No 1 2 3 4 5 6 7 Stakeholder Departemen Kehutanan BKSDA Papua II Resort Bintuni Bappeda Teluk Bintuni Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Teluk Bintuni Dinas Perikanan dan Kelautan Teluk Bintuni Syahbandar Teluk Bintuni Dinas Pertanian dan Perkebunan Teluk Bintuni Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) a. serta tersedianya rencana kegiatan selama 5 tahun. Tabel I-1. Untuk melihat fungsi dan peran dari setiap pemangku kepentingan (stakeholder) maka dilakukan analisis stakeholder.

Kelurahan Bintuni Barat * Distrik Idoor 1. Kampung Banjar Ausoy (SP 4) 4. Yayasan Forum Dialog Pembangunan Masyarakat Teluk Bintuni. Ikatan Pemuda Teluk Bintuni) dan masyarakat dari desa-desa yang berbatasan atau berada dalam kawasan CATB. Kampung Naramasa Stakeholder BKSDA Papua II Sorong Stakeholders yang dilihat peran dan fungsinya antara lain : Departemen Kehutanan-BKSDA Papua II Sorong. Mitra Pesisir. Kampung Korano Jaya (SP 2) C. Kampung Pasamai 2. Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kab. Sedangkan Indepth Interview dilakukan untuk menggali data berdasarkan kasuskasus tertentu yang tidak bisa diungkapkan pada saat diskusi berlangsung seperti pengalaman. LMA Lemason. LSM 1 orang sedangkan untuk kelompok masyarakat 5 orang (Ketua Kampung. Di luar Kawasan * Distrik Bintuni 1. Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No 2.10 . Sub BKSDA Resort Bintuni. tokoh agama. perasaan dan motif yang berada dalam individu maupun kelompok. Total seluruh responden yaitu 87 orang. Lembaga Masyarakat Adat-LMA Bintuni. Metode FGD dilakukan untuk mendapatkan informasi yang banyak dalam waktu yang relatif singkat. Kelurahan Bintuni Timur 2. Kampung Tirasai B. Bersinggungan dengan Kawasan * Distrik Bintuni 1.RSA diterapkan untuk mendapatkan gambaran tentang persepsi dan kondisi sosial ekonomi budaya masyarakat desa sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Kampung Yensei * Distrik Kuri 1. Metode Rapid Socio-economic Assessment . Teluk Bintuni. LSM (al. RSA merupakan pendekatan dengan indepth interview dan diskusi grup terfokus (FGD) dimana peneliti hanya akan berperan menjadi fasilitator diskusi. Kampung Argo Sigemerai (SP 5) 6. Kampung Yakati 2. Wawancara pada lembaga pemerintahan dan LSM dilakukan secara purposive dimana untuk pemerintah dilakukan 2 orang. tokoh adat dan 2 orang anggota masyarakat). Pendahuluan I . Kampung Bumi Waraitama (SP 1) 3. dimana untuk Masyarakat di sekitar kawasan CATB jumlah responden totalnya 70 orang. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab. Teluk Bintuni. Kampung Tuasai 5.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Wawancara dilakukan dengan bantuan ”Kuesioner” agar pertanyaan lebih terfokus dan menghindari kemungkinan melupakan hal-hal yang harus ditanyakan. dan wawancara dengan berbagai stakeholder. informasi keberadaan satwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat lokal yang bermukim di kampongkampung di dalam dan di sekitar kawasan yang berhasil dikunjungi.11 . Pada setiap petak pengamatan di lakukan pencatatan jenis. juga dilakukan pengamatan keberadaan jenis-jenis satwa dengan metode penglihatan langsung (direct seen). Selain itu untuk memperoleh rencana pengelolaan untuk Cagar Alam Teluk Bintuni dilakukan Analisis SWOT (Strenghts. Selain itu. jumlah . dilakukan dengan metode garis berpetak (line-plot sampling method) serta metode penjelajahan (explorasi) pada beberapa lokasi yang ditetapkan berdasarkan tipe ekosistem (Soerianegara. Threats). Sedangkan untuk melihat struktur dan komposisi jenis serta potensi flora mangrove. Pengamatan yang dilakukan pada hutan dataran rendah dilakukan dengan metode penjelajahan pada beberapa tempat untuk melihata struktur dan komposisi jenis flora. Data yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai instansi terkait dan LSM – LSM yang aktif dalam pengembangan Teluk Bintuni. 1998). Pendahuluan I . tinggi. Opportunities. Selain pengamatan langsung. melihat jejak kaki (footprint/trail). Weaknesses. pada lokasi tempat pengamatan flora mangrove. Aspek biologi kawasan dikaji berdasarkan survey lapangan (field survey) dan telaah silang dengan publikasi dan laporan hasil penelitian yang telah dilakukan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya serta berbagai informasi yang diperoleh melalui penelusuran pustaka. dan diameter (untuk tingkat vegetasi tiang dan pohon). Data yang dikumpulkan dianalisis secara kualitatif untuk menggambarkan hubungan antara data yang satu dengan data lainnya. dan suara (noisy). dan data primer yang dikumpulkan selama proses penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Teluk Bintuni Review Konsep Pengelolaan Review Kebijakan Pemda Review Kebijakan Pendidikan dan Penelitian di Cagar Alam Rencana dan Strategi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Identifikasi Dinas Perikanan Kabupaten Masalah & Universitas Papua Kendala Instansi Terkait Kabupaten Inventarisasi & Masyarakat Adat Teluk Bintuni Atlas Sumberdaya Teluk Bintuni Identifikasi LOKAKARYA KABUPATEN PROSES SELEKSI RENCANA KEGIATAN TERPILIH DAN PENTAHAPAN KEGIATAN Desain dan Program Manfaat Lingkungan Rencana Pengembangan Program Usulan Skenario dan Strategi Pengelolaan Cagar Alam Usulan Kelembagaan Pendukung Usulan Pentahapan Kegiatan Pengelolaan Jangka Panjang dan Pendek Gambar 1-4. PERSIAPAN III. PENGUMPULAN DATA Sorting Daftar Prioritas Isu .Daftar Stakeholder /Responder Interview Recor Questionnaire . REVIEW PROGRAM Program-program Kabupaten Review Program-program Penngelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Review Program-program Pengelolaan Pesisir Kabupaten Teluk Bintuni Program-program BKSDA – Re Teluk Bintuni Aspek-aspek Pengelolaan Biodiversity/ Survey Item Category PERTEMUAN & KONSULTASI BKSDA Papua II . Kerangka Umum Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (General Framework) Pendahuluan I . PENGOLAHAN DATA V. ANALISIS SWOT Analysis Rencana Strategi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni List Isu II.12 . Questionnaire) Kesan/harapan Stakeholder terhadap Cagar Alam Teluk Bintuni IV.Metode Survey Tujuan (Interview.Sorong Review Program-program Konservasi Biodiversity IBSAP dan Kebijakan Konservasi SDA Hayati Isu-isu Konservasi Biodiversity per Aspect dari IBSAP Bappeda Propinsi Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Kehutanan Kab.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong I.

sosial dan budaya. e.13 . Dalam pengambilan keputusan dan kegiatan-kegiatan lainnya khususnya dalam perencanaan pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni perlu melibatkan unsur sektor perikanan dan kelautan. h. f. Perlu ditingkatkan kesadaran publik akan perlunya perlindungan dan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk Penyusunan Rencana Pendayagunaan Kawasan Teluk dan keikutsertaan mereka yang terkena pengaruh dalam proses pengelolaan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Beberapa hal yang diperhatikan dalam Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah sebagai berikut : a. yaitu: Adanya keterkaitan ekologis baik antar ekosistem mangrove dan perairan di dalam kawasan konservasi dengan areal budidaya penduduk. kapasitas sumberdaya alam dan ketergantungan masyarakat di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni. g. Untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dari sektor terkait ke kawasan konservasi dan di antara kelompok pemanfaat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu ditetapkan prosedur dan mekanisme pada tingkat administratif yang tepat. Pelibatan masyarakat sejak awal perencanaan dimaksudkan untuk menghindari konflik diantara kelompok pemanfaat kawasan konservasi terutama dengan kelompok pemanfaat dari lingkungan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . Dalam rangka menetapkan pemanfaatan sumberdaya di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni maka pengaturan akses ke sumberdaya tersebut harus memperhatikan “hak penduduk sekitar kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni dan praktek turuntemurun yang menggambarkan kearifan tradisional” dalam pengelolaan sumberdaya alam sepanjang pola atau kegiatan tersebut sesuai dengan pembangunan yang berkelanjutan d. Dalam suatu kawasan konservasi. Untuk mencapai pemanfaatan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari dan terpadu perlu diperhatikan kerentanan ekosistem kawasan konservasi. Untuk membantu pengambilan keputusan mengenai Cagar Alam Teluk Bintuni perlu dilakukan pengkajian dengan mempertimbangkan faktor ekologi. b. Pendahuluan I . ekonomi. untuk Penyusunan Rencana Pengelolaan biasanya terdapat lebih dari satu kelompok sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang dapat dikembangkan untuk kepentingan pembangunan. Untuk perencanaan Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu diperhatikan beberapak aspek utama yang menjadi acuan. c. mitra pesisir serta masyarakat adat.

Terpeliharanya kualitas air (sedimentasi tidak terlalu besar) Pendahuluan I . sosial budaya. Faktor dimensi ekologis. sosial ekonomi. walau secara khusus di Papua ada batasan aturan hak adat. Tahap I Tujuan/Fokus Penentuan Prioritas Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Tahap 2 Komponen Pembangunan Berkelanjutan Ekologi Ekonomi Sosial Budaya Regional Tahap III Indikator Pembangunan Berkelanjutan a b c d e f g h i j k l m n o p Tahap IV Strategi Pengelolaan Cagar Alam Penataan Pemeliharaan Pemanfaatan Pengawasan Pengendalian Pemulihan Penelitian Pengembangan Gambar I-5. Kelestarian beranekaragamnya spesies dilindungi dan endemik c.14 . Hierarki Penentuan Prioritas Kegiatan Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Kriteria indikator pembangunan berkelanjutan Ekologi : a. hukum dan kelembagaan menjadi faktor yang sangat berperan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (Gambar 1-5). Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. pemanfaatan suatu kawasan konservasi secara monokultur adalah sangat rentan terhadap perubahan internal maupun eksternal yang menjurus pada kegagalan usaha. Daya dukung lingkungan terhadap kegiatan pemanfaatan d. tetapi akses cukup terbuka untuk dapat dimanfaatkan oleh semua orang. i.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Baik secara ekologis dan ekonomis. Kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni pada umumnya merupakan sumberdaya terbuka (open acces resources). Kelestarian ekosistem dan fungsinya (hutan mangrove) b.

Terpeliharanya kearifan dan budaya lokal Keamanan dan ketentraman masyarakat Kesehatan masyarakat Peningkatan pengetahuan dan keterampilan Regional: m. k. j. Posisi kawasan dari sudut pandang sistem Tata Ruang Propinsi dan Kabupaten o. Status kepemilikan lahan Pendahuluan I . Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) f. Keberlanjutan usaha dan akuntabilitas Sosial Budaya: i. Posisi kawasan berdasarkan kondisi geografis p.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Ekonomi: e. l. Aksesibilitas kawasan n. Peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya pengguna kawasan mangrove h. Dampak terhadap perekonomian secara makro BKSDA Papua II Sorong g.15 .

.

1. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan diusulkan areal ini sebagai kawasan konservasi adalah: 1.300 ha termasuk mangrove kelompok Sungai hutan Aramasa. 3. KEADAAN UMUM KAWASAN A. yang meliputi areal seluas 300. tertanggal 22 Desember 1982 antara Keadaan Umum Kawasan II .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong II.).1 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) The Bintuni Bay Nature Reserve pertama kali diusulkan oleh WWF pada tahun 1980-an.1 Risalah Kawasan Informasi Umum Kawasan Sejarah Penetapan Kawasan A.000 hektar (Petocz.1 . Luasan yang diusulkan WWF pada tahun 1980-an adalah mencakup areal seluas kurang lebih 450. 182/Kpts/UM/11/1982. Dari segi luasan. 1983) (Gambar II-1.300 ha telah dialih fungsikan menjadi hutan produksi berdasarkan Forest Agreement No: FA/N/024/XII/1982.000 ha. Sungai Wagura. 2. Di kawasan in hidup kurang lebih 160 jenis jenis burung. Kemudian pada awal tahun 1982. Cagar Alam Teluk Bintuni secara definitif ditunjuk sebagai daerah Cagar Alam melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. Kawasan ini merupakan areal penting untuk menyangga kegiatan perikanan komersil dan industri udang yang ada. 1987). Pada tanggal 10 Nopember 1982. lebih dari 17 marsupial.300 ha). II-1 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang diusulkan WWF/IUCN/PHPA Tahun 1983 sebagai Kawasan Cagar Alam. A. kawasan ini mengalami beberapa kali perubahan luasan. Sungai Weperar. Hal ini karena areal seluas 57. Luasan mangrove yang ada merupakan rumpun mangrove yang paling baik di Papua (Irian Jaya saat itu). dan kurang lebih 39 jenis mamalia (Petocz. Luasan tersebut ternyata lebih kecil daripada luasan yang diusulkan sebelumnya (357. and Sungai Kaitero untuk ditetapkan Gambar. Departemen Pertanian Republik Indonesia mengusulkan areal seluas kurang lebih 357. Kawasan ini merupakan habitat penting dan pusat populasi paling padat bagi berkembang biaknya jenis buaya muara (Crocoylus porosus).

2 Keadaan Umum Kawasan . Berdasarkan beberapa alternatif di atas.2 Letak dan Luas Berdasarkan pembagian administrative pemerintahan.1. tanggal 9 januari 1980 yang ditujukan kepada MENTAN untuk mendapatkan Hak Pengusahaan Hutan Di Wilayah Propinsi Irian Jaya. Kabupaten Teluk Bintuni merupakan salah satu Kabupaten hasil II .247. termasuk daerah daerah perairan teluk seluas ± 60.20 30’ LS. PT BUMWI. yang merupakan batas persekutuan areal HPH PT Henrison Iriana dengan panjang batas yang terrealisasi sepanjang 77. Selanjutnya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Menteri Pertanian Republik Indonesia dan PT Bintuni Utama Murni Wood Industries (PT BUMWI). Pada tahun 1991.000 ha sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.846. 182/Kpts/UM/11/1982 dan usulan WWF/IUCN/PHPA tahun 1983. Pada tahun 1997. Iriana. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil Tata Batas Sub Biphut Manokwari Tahun 1999. maka adalah 124.76 meter. dan PT Yotefa Sarana Timber. Hal ini karena terjadi tumpang tindih peruntukan kawasan antara CATB dengan areal Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di sekitar kawasan teluk Bintuni seperti PT Henrison Gambar II-2.134° 02’ BT dan 20 02’ . kegiatan penataan batas pertama di Kawasan cagar alam dilakukan oleh PT BASRICO CEMERLANG. kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) berada di wilayah kerja Pemerintahan Daerah Kabupaten Teluk Bintuni.20 meter yang kemudian ditunjuk dengan SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua. suatu AWB/PHKA studi luasan untuk Cagar melakukan merevisi Alam kembali yang sudah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. tentang realisasi surat permohonan PT BUMWI NO: 07/su-1/1980.000 ha dengan koordinat 133° 131 .850 Ha (Gambar II-2). dilakukan tata batas tahap kedua yang dilaksanakan oleh Sub Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan (BIPHUT) Manokwari pada tahun 1999 yang merupakan batas luar dan batas fungsi (melingkar/temu gelang) dengan panjang terealisasi 172. AWB/PHKA mengusulkan areal seluas ± 260. Propinsi Irian Jaya Barat (IJB). luas Kawasan Cagar Teluk Bintuni A.

Irian Jaya Barat.850 Ha. A. (2) menggunakan perahu motor (longboat) menyusuri sungai Steenkol/Wasian ke batas barat kawasan dengan waktu tempuh kurang lebih 30 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemekaran di propinsi Papua yang baru disahkan pada tahun 2002. Secara geografis terletak antara 02º.02' BT. Untuk mencapai kawasan CATB dari ibukota Propinsi Irian Jaya Barat (Manokwari) dan Sorong. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua II yang berkedudukan di Sorong. dimana lebih 90% areal merupakan ekosistem hutan mangrove.45 menit.30' LS dan 133º.02'-02º. Distrik Idoor.3 . Pada tingkat Distrik. Seksi Konservasi Wilayah I Manokwari. Berdasarkan pembagian wilayah pengelolaan Hutan dan Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam. dan perairan Teluk Bintuni Bagian Timur berbatasan dengan wilayah Distrik Idoor dan HPH PT Henrison Iriana Berdasarkan SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua. Selanjutnya dari kota Bintuni kawasan CATB dapat diakses dengan dua cara.1. kawasan Cagar Alam ini berada di dalam wilayah administratif Distrik Bintuni.31' -134º. luas Kawasan Cagar Teluk Bintuni adalah124.3 Aksesibilitas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat diakses dari beberapa tempat.15 menit. dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat udara jenis Twin-Otter milik Maskapai penerbangan Merpati Nusantara ke kota Bintuni (Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni) selama kurang lebih 45 menit dan kendaraan roda empat (Toyota Hard-top) dari Manokwari dengan waktu tempuh kurang lebih 10 – 12 jam. dan Distrik Kuri. dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: Bagian utara berbatasan dengan areal HPH PT Yotefa Sarana Timber Bagian selatan berbatasan dengan sungai Naramasa dan HPH PT BUMWI Bagian Barat berbatasan dengan Sungai Wasian. Keadaan Umum Kawasan II . Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) berada di wilayah kerja Resort KSDA Bintuni dan Resort KSDA Babo. Cagar Alam Teluk Bintuni terletak di bagian timur Kawasan perairan Teluk Bintuni. yaitu (1) menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua ke batas utara kawasan dengan waktu tempuh kurang lebih 10 . Dari hasil pengamatan di lapangan kawasan CATB juga dapat diakses dari beberapa kampung berada di batas utara kawasan seperti disajikan pada Tabel II-1.

Distrik Dan Kampung yang Memiliki Akses Terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No. jalan kaki Sungai. Curah hujan bulanan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup bervariasi.2 A. Perahu dayung/motor Sungai.36 mm).32 inches (439. yaitu daerah sangat basah. roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. Perahu dayung/motor Sungai. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat.4 . Curah hujan bulanan tertinggi terjadi pada bulan Pebruari dengan curah hujan maksimum dan rata-rata masing-masing 38. yaitu daerah tropika basah yang bersuhu tinggi.17 inches (131.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-1.1 Kondisi Fisik Kawasan Iklim Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni termasuk daerah tropika dan berdasarkan klasifikasi iklim Koppen termasuk dalam tipe iklim Afa. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. 1 2 3 Kampung Kelurahan Bintuni Timur Kelurahan Bintuni Barat Kampung Pasamai Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Jarak ke CATB 2 km 3 km 2 km Sarana dan Jenis Transportasi Sungai dan Jalan Darat. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Jalan Darat.61 inches (980.69 mm) dan 17.93 mm). Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Jalan Darat. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. Sedangkan berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson kawasan ini termasuk dalam tipe iklim A. Sedangkan curah hujan bulanan terendah terjadi pada bulan September dengan curah hujan maksimum dan rata-rata berturut-turut 5. roda dua/empat jalan kaki Jalan Darat.32 mm) dan 3.34 inches (86. Perahu dayung/motor 4 Waraitama/SP 1 Kampung Korano Jaya/SP 2 Kampung Banjar Ausoy/SP 4 Kampung Tuasai Kampung Argo Sigemerai/SP 5 KampungTirasai Kampung Mamoranui Kampung Anak Kasih Kampung Yakati Kampung Yensei Kampung Naramasa Bintuni 2K m 5 Bintuni 1 Km 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idor Idor Idor Idor Kuri 1 km 1 km 2 km Dalam Kawasan CATB Dalam Kawasan CATB Dalam Kawasan CATB 15 km 10 km 5 km Sumber : Hasil Survei Tim TNC (2005) A.2. Keadaan Umum Kawasan II .

Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) merupakan kawasan rawan gempa yang selalu diikuti dengan gelombang tsunami karena berada dalam wilayah tektonis yang aktif sebagai akibat dari tubrukan dua lempengan besar. dimana suhu bulanan rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Januari Kelembaban udara di kawasan berkisar antara 40% hingga 100%. Sedangkan selama periode siklus tahunan. Suhu udara maksimum terjadi selama musim monson timur laut. Sungai Sorobaba. shale.50 dengan variasi tidak lebih dari 2 °C. Kelembaban sangat tinggi terjadi di malam hari ketika suhu udara rendah dan sedang terjadi hujan.02 °C sampai dengan 37. 1994).1 mb.2.5 mb hingga 1. Sungai Kodai. Sungai Tirasai. namun sebagian besar (hampir 60%) hasil pengukuran lebih besar dari 90%. yakni ketika terjadi curah hujan maksimum. Korol-Bomberai. Tekanan udara rata-rata sepanjang periode pengukuran adalah 1. kawasan Teluk Bintuni termasuk dalam kelompok Daerah Aliran Sungai (DAS) Muturi. Nilai suhu udara rata rata bulanan adalah 26.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya suhu udara berkisar antara 20. yaitu Sungai Wasian.5 .013 milibar (mb) dan minimumnya adalah 998. Sungai Bokor. Aramasa. dan Keadaan Umum Kawasan II .2 Geologi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB).006. Tekanan udara barometrik maksim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk adalah 1.2.3 Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hidrologi Secara umum.2%. secara fisiografis terdiri dari daerah rawa/pasang surut yang umumnya bervegetasi mangrove yang berbahan induk aluvium muda (recent alluvium) dari zaman kwarter yang menutupi sedimen masam Tersier dan Pleistosin seperti sandstone. Sungai Yakati. A. dengan rentang pengukuran relatif lebih kecil. Sungai Rarjoi.74 °C – 27. Data kecepatan angin selama tiga tahun (1997-2000) menggambarkan kecepatan angin di Teluk Bintuni dan sekitarnya pada umumnya lambat hingga sedang dengan rata-rata 8 m/detik (28. A. Sungai Yensei. Sungai Tatawori.8 km/jam).26 °C untuk basis data selama 3 tahun. dan sekitar 90% data berada di antara 1. dengan nilai rata-rata selama periode pengukuran mencapai 90.002. Sungai Sobrawara. Sungai Sumber. variasi suhu udara rata-rata bulanan berkisar antara 25.6 mb.010mb (BP Pertamina. Sungai Muturi. Sungai Kamisayo. dan konglomerat (PT BUMWI. Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mengalir beberapa sungai besar yang bermuara ke Teluk Bintuni dan merupakan Sub-Das dari DAS-DAS tersebut mulai dari sebelah barat. 2002).92 °C dengan hampir 54% data yang terukur terletak dalam kisaran antara 23 °C hingga 27 °C. dan DAS Remu.

asam.2. komprebilitas tinggi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Sungai Naramasa. Jenis Tanah Organosol. Saat musim hujan dan debit air meningkat biasanya warna air sungai berubah warna menjadi kecoklatan. Sumber: Hasil Survei Tim TNC. 2005 dan Pemda Propinsi Papua. Khusus untuk Distrik Bintuni (Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni). Sungai-sungai tersebut berfungsi sebagai daerah tampungan air beberapa anak sungai yang bermuara ke sungai-sungai tersebut dan selanjutnya mengatur pembuangan air ke Teluk Bintuni. PEMKAB Manokwari. relief rendah. CRMP.6 . porositas rendah – tinggi. debit air sungai-sungai tersebut dapat naik beberapa kali lipat dan kadang-kadang dapat menyebabkan banjir (menggenangi daerah sekitar). Jenis Tanah yang terdapat di sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. berwarna abu-abu. Di samping ketiga sungai yang selalu berair tersebut. dan sedikit asam. serta aliran sungai-sungai kecil yang melintasi atau mengalir di pinggiran perkampungan penduduk. A. gambut. draenase buruk. terdapat pula kali-kali mati yang hanya berair atau menyalurkan air (banjir) bila turun hujan lebat. Idoor. bersifat alkali. dan Kuri di peroleh dari sumursumur yang digali. Kebutuhan air masyarakat di Kampung-Kampung di luar Ibukota Distrik lebih banyak memanfaatan air dari sungai-sungai besar tersebut di atas serta beberapa sungai/kali kecil yang mengalir di dekat Kampung mereka. UNIPA. dan tebal 1. Kebutuhan masyarakat akan air minum dan MCK yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terutama di ibukota distrik Bintuni. dan beeting pasir. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi proses erosi pada daerah-daerah yang mengalirkan air tersebut ke sungai-sungai di bawahnya. lempung lanau. memiliki karakteristik tanah fluvial deltatik dengan ciri-ciri: melengkung halus. Organik Aluvium Ciri-Ciri Jenuh air. dan aluvium dengan ciri-ciri sperti disajikan pada Tabel II-2 Tabel II-2. 2003. berlumpur. Pada daerah yang berbatasan langsung dengan perairan Teluk Bintuni. Keadaan Umum Kawasan II . berwarna gelap. daya dukung rendah. permeabilitas rendah-sedang. Sungai-sungai tersebut memiliki debit yang cukup besar sehingga pada saat musim penghujan terutama di bagian hulu sungai.5 – 2 m Tekstur halus – kasar. air minum dan cuci ada yang diperoleh dari sumur bor.4 Tanah Sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ditutupi oleh vegetasi mangrove dengan jenis tanah organosol.

Hal ini dapat dijumpai di Pulau Mangrove Keadaan Umum Kawasan II . Hasil survei lapangan dengan mengunjungi beberapa lokasi ekosistem (Gambar II. tipe ekosistem ini juga dapat ditemui pada beberapa pulau mengrove baik berbentuk hamparan pegunungan rendah maupun bukit-bukit kecil.3) yang ada menunjukan bahwa secara umum kondisi vegetasi pada kedua ekosistem tersebut masih terpelihara dengan baik. Selain kedua ekosistem tersebut.1 Ekosistem Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mencakup dua tipe ekosistem utama.3. Gambar II-3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong A.1 Hutan Hujan Dataran Rendah Ekosistem ini tersebar terutama pada batas-batas Utara dan Timur kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.3.3 Kondisi Biologi Kawasan A.7 . yakni ekosistem hutan hujan dataran rendah dan ekosistem mangrove. Seluruh ekosistem tersebut adalah ekosistem alami dan sebagian vegetasinya masih terpelihara dengan baik. Suatu keunikan tersendiri bahwa di beberapa tempat di kawasan CATB. walaupun pada beberapa bagian telah mengalami degradasi dalam luasan yang kecil akibat aktivitas manusia.1. Peta Kerja Kegiatan Survei Kondisi dan Potensi Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 A. di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga bisa dijumpai ekosistem hutan rawa campuran dengan luasan yang sangat kecil.

Pada ekosistem yang tersusun oleh vegetasi primer terlihat masih alami dan memiliki karakteristik strata tajuk yang jelas. Kamai. Pada strata atas dan tengah didominasi oleh jenis-jenis tumbuhan berkayu seperti kayu besi/merbau (Intsia bijuga) dan matoa (Pometia sp. palembanica).) Medang (Litsea sp.). paku-pakuan. Tipe ekosistem hutan dataran rendah (hutan lahan kering) ini kebanyakan berada di belakang dan formasi pada hutan mangrove bagian peralihan beberapa kawasan dapat dijumpai komunitas hutan dataran belakang rendah berada hutan langsung di formasi mangrove (Gambar II-4). Sedangkan pada hutan hujan dataran rendah sekunder (bekas perladangan) didominasi oleh Gambar II-5.). resak (Vatica papuana). Profil Struktur Hutan Dataran Rendah Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Keadaan Umum Kawasan II . Ekosistem hutan hujan dataran rendah memiliki peran yang sangat penting Gambar II-4. Tipe hutan hujan dataran rendah primer di belakang formasi hutan mangrove S. Ekosistem ini umumnya tersusun atas vegetasi primer (Primary Forest) dan vegetasi sekunder (Secondary Forest). dan hopea (Hopea sp. sedangkan pada strata bawah ditumbuhi perdu dan semak yang mendukung berbagai tanaman pemanjat. pulai (Alstonia spp. Rainforest) ini membentuk lapisan tajuk BKSDA Papua II Sorong Hutan Hujan Dataran Rendah (Lowland dan sub tajuk (Gambar II-5) dengan keanekaragaman jenis yang cukup tinggi dan diperkirakan 60-90% tumbuhan yang ada di ekosistem ini merupakan spesies endemik. dan Pulau Modan.). Simeri Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai salah satu komponen pendukung kawasan. dan jenis-jenis palem (Palmae) termasuk juga berbagai jenis rotan.) serta beberapa spesies dari famili Dipterocapaceae seperti mersawa (Anisoptera sp.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Maniai.). epifit. Dalam ekosistem hutan ini tumbuh beraneka ragam jenis flora mulai dari Hutan tumbuhan tingkat rendah seperti fungi sampai dengan tumbuhan tingkat tinggi.8 .). Nusuama. Nyatoh (Palaquium sp. kayu besi/merbau (Intsia bijuga dan I. dataran rendah di kawasan CATB menyimpan berbagai spesies tumbuhan berkayu (pohon) yang bernilai ekonomis tinggi seperti matoa (Pometia spp.

burung cenderawasih (Paradisae minor). Ekosistem hutan dataran rendah. Bahkan menurut Zuwendra. raffrayanus). burung mambruk (Goura cristata). (Peroryctes (Phalanger (Cercatetus kerdil caudatus. Keadaan Umum Kawasan II .3. Gambar II-7.). dkk. yang merupakan jenis endemik kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. terutama yang berada pada batas luas kawasan Cagar Alam juga dapat dipandang sebagi daerah penyanggah (Buffer zones) yang berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap ancaman kerusakan ekosistem mangrove yang merupakan ekosistem terluas di kawasan. ekosistem hutan hujan dataran rendah merupakan habitat berbagai jenis reptil seperti buaya air tawar (Crocodylus novaguinensis). Rhizophora-Sonneratia. Echidna berparuh panjang (Zaglossus berkantung Gambar II-6. (1991) pada sungai jernih di ekosistem hutan dataran rendah dapat dijumpai jenis ikan pelangi (rainbow fish) dari genus Melanotaenia. dijumpai juga beberapa jenis yang membentuk tegakan murni. endemis Bandycoot kuskus possum marga yang tikus aneh.). Sebagian besar hutan dataran rendah sekunder adalah merupakan bekas kebun masyarakat (Gambar II-6) dan bekas areal tempat penimbunan kayu (logyard) dari HPH dan Kopermas yang beroperasi di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. kangguru pohon (Dendrolagus fursinus). Echidna berparuh pendek (Tachyglossus aculeatus). Selain membentuk zonasi seperti di atas. A. Dasyuridae. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bruijni).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong jenis-jenis pionir seperti makaranga (Macaranga mappa dan Macaranga tanarius) dan sirih hutan (Piper sp.1.9 . dan Rhizophora-Bruguiera.). walabi liar biasa (Macropus agilis). Tipe hutan hujan dataran rendah sekunder di dekat kampung Mamoranu. Maniai. Selain sebagai habitat flora. Distoechurus pennatus. yaitu zona Avicenia- Sonneratia. walabi hutan (Dorcpsis spp. orientalis). Vegetasi mangrove Zona Avicenia – Sonneratia di P.2 Hutan Mangrove Vegetasi hutan mangrove di Teluk Bintuni secara umum dapat dibedakan menjadi 3 zona berdasarkan jenis pohon pembentuk tajuk dominan. dan Pseudocheirus spp. Cagar Alam Teluk Bintuni.

Tirasai. Zona Avicenia-Sonneratia dan Rhizophora-Sonneratia adalah zona komunitas mangrove yang paling luar dan langsung berhadapan dengan perairan Teluk Bintuni. dan Rhizophora mucronata dengan tinggi pohon rata mencapai 10 m. Cagar Alam Teluk Bintuni. umumnya tumbuh lebih ke darat. Apiculata. Substrat yang ada di bawah tegakan pada zona ini sudah lebih keras dan kompak (tidak lepas) yang di dominasi oleh faksi liat. Acanthus ilicifolius. Pasang surut dan banjir sangat nyata terlihat dengan adanya perubahan permukaan air. yaitu Acanthus ebracteatus. Cagar Alam Teluk Bintuni Keadaan Umum Kawasan II . Secara umum. Xylocarpus spp. Ceriops tagal. Vegetasi nipah (Nypa fructicans) campuran pada zona pasang surut di S. Bruguiera parviflora. dan Bruguiera spp. Avicenia officinalis. R. Pada zona ini juga dijumpai jenis tumbuhan bawah. Gambar II-9. Lebih lanjut jenis-jenis yang banyak dijumpai di zona ini adalah Rhizophora mucronata. Tirasai. Pasang surut pada daerah ini sangat nyata terlihat dengan adanya perubahan permukaan air. Substrat yang ada di bawah tegakan pada zona ini adalah endapan lumpur yang masih lunak dan tanah lepas yang terendap oleh pasang surut. Jenis yang dijumpai pada daerah ini didominasi oleh jenis Avicenia alba. Vegetasi mangrove Zona RizhiphoraBruguiera di S. Yensei Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Gambar II-10. Aegiceras corniculatum dan Avicenia intermedia (api-api merah). terutama di sepanjang penggirian sungai-sungai besar dan kecil yang bermuara ke perairan Teluk Bintuni.10 . Rhizophora spp. Sedangkan Zona Rhizophora-Bruguiera merupakan wilayah hutan mangrove yang Gambar II-8. Sedangkan substrat yang ada di bawah wilayah mangrove terutama untuk zona Avicenia-Sonneratia sudah agak lebih padat. Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) di S.. Bruguiera Gymnoriza. Avicenia marina.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan pengamatan di lapangan. Merupakan pohon-pohon pembentuk tajuk utama dalam zona ini.

granatum (Wamesa: Kabau merah) (Gambar II-9). Keadaan Umum Kawasan II . Kehadiran jenis-jenis mangrove ini semakin berkurang atau tidak hadir sama sekali pada daerah yang lebih ke arah daratan di sepanjang sungai. Hutan mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat di kelompokan ke dalam beberapa kelompok.8’’S. pada zona peralihan pasang surut (intertidal zone) dan air tawar dan air asin di hutan mangrove dan zona dataran banjir pinggiran sungai dan formasi yang menutupi dataran banjir. untuk tingkat pancang dan semai dengan kerapatan berturut-turut 470 pohon/ha dan 5. Pada daerah yang paling dekat dengan zona pasang surut vegetasi ini tumbuh bersama jenis mangrove dengan kerapatan cukup tinggi.6”E. Di bagian luar (dekat pantai) yang merupakan daerah pengendapan lumpur di dominasi oleh jenis Sonneratia alba dengan kerapatan 270 pohon/ha. Kelompok hutan mangrove Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai). Bruguiera. terutama di sepanjang sungai-sungai besar yang bermuara di kawasan perairan Teluk Bintuni. tinggi (tiang dan pohon). struktur jumlah pohonnya lebih kecil di bandingkan dengan vegetasi mangrove yang tumbuh lebih ke belakang. Sungai Modan. dan melakukan pencatatan terhadap jenis.11 . 02o16’86. dan Sungai Naramasa. Kelompok hutan mangrove Sungai Wasian. 730 pohon/ha untuk tingkat tiang. Hasil penelusuran data sekunder diketahui bahwa informasi quantitatif tentang potensi mangrove di kawasan CATB relatif kurang. Pengamatan dilakukan dengan membuat transek dan sub-plotnya sepanjang 100 meter yang tegak lurus dengan dari tepi sungai/pantai ke bagian dalam pulau dengan azimut 1800. Berikut adalah beberapa informasi kuantitatif potensi mangrove di beberapa bagian CATB yang berhasil dihimpun dari hasil survei lapangan Tim TNC (2005). Pada bagian luar vegetasi mangrove yang berbatasan langsung dengan garis pantai/muara teluk.000 anakan/ha untuk fase semai. Sungai Weperar. Komunitas ini mangrove di daerah ini membentuk formasi Avicenia-Sonneratia (bagian luar) dan Rhizophora-Bruguiera (bagian tengah). dan 6. diameter batang (tiang dan pohon). dan Avicenia (Gambar II-10).000 anakan/ha. Sedangkan pada bagian dalam (bagian tengah) ditemui jenis Rhizophora apiculata yang mendominasi semua tingkatan vegetasi dengan kerapatan berturut-turut 260 pohon/ha untuk tingkat pohon. Sungai Muturi. jumlah individu tiap jenis.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Disamping itu. yaitu kelompok hutan mangrove sungai Wasian. Sonneratia. dijumpai vegetasi nipah (Nypa fructicans) yang tumbuh bercampur dengan tegakan mangrove dan umumnya terbentang di antara daerah semi saline hingga ke air tawar permanen. Pada daerah lebih ke arah daratan. yaitu dari genus Rhizophora. jenis nipah (Nypa fructicans) tumbuh bercampur dengan jenis mangrove Xylocarpus moluccensis (Wamesa: Kabau hitam) dan X. Jumlah plot pengamatan ditentukan sebanyak 4 buah yang dibuat secara kontinu dari tepi sungai/pantai. koordinat 133o52’31.

7’’S). dan Ceriops decandra. Hasil analisis vegetasi menggambarkan bahwa pada tingkat anakan/semai. Metode yang digunakan dalam pengamatan vegetasi mangrove di kawasan ini adalah penjelajahan didampingi Gambar II-11. Kelompok hutan mangrove Pulau Nusuama (Koordinat: 133o51’86. terlihat Gambar II-12. Vegetasi mangrove S. Gymnorrhiza. pengamatan menunjukan bahwa jenis-jenis yang ditemukan hampir sama dengan jenis- jenis yang ditemukan di Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni) yang didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata. B. Simeri di kawasan CATB. pancang. jenis R. Avicennia alba. dan Bruguiera spp. dan Ceriops tagal. Gymnorrhiza. Bruguiera sexangula. B. 02o18’36. mucronata menunjukan kerapatan tertinggi masing 5000 anakan/ha.0’’S). parviflora. dan pohon. B. Kelompok hutan mangrove Sungai Simeri. dan 162 pohon/ha sekaligus menjadi spesies yang dominan pada semua tingkatan vegetasi (Lampiran 4 dan 5). Pengamatan mangrove di daerah ini dilakukan dengan observasi pada beberapa bagian hutan dengan menggunakan perahu motor (longboat) serta pengamatan plot (Koordinat: 133o56’37. Jenis lain yang ditemukan di daerah ini adalah Aegiceras corniculatum. Ceriops decandra. observasi pada 02o07’07. Hutan mangrove di daerah hutan tua atau hutan seperti mangrove sekunder yang membentuk pulau- Keadaan Umum Kawasan II . Pengukuran dan mengambilan titik koordinat plot pengamatan vegetasi mangrove di P. B.12 . Jenis-jenis yang yang ditemukan di daerah ini tidak jauh berbeda dengan jenis mangrove pada kelompok hutan mangrove Pulau Nusuama. Kaboi di kawasan CATB. 363 anakan/ha. Parviflora. beberapa bagian Hasil hutan menunjukan bahwa pada daerah pinggiran sungai.5”E. Hal ini karena kondisi habitat dan letak kedua tempat tersebut relatif sama. Bruguiera sexangula.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Hasil pengamatan menunjukan bahwa pada daerah ini didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora mucronata. vegetasi mangrove di daerah ini di dominasi oleh jenis Xylocarpus spp. dalam informan suatu lokal jalur untuk yang melihat Hasil komposisi jenis mangrove yang ada.1”E.

Hal ini mengindikasikan bahwa khusus untuk kawasan mangrove tanjung Pitaboni sudah cukup stabil untuk pertumbuhan permudaan jenis-jenis non-pionir. kerapatan 500 semai/ha.42). untuk tingkat anakan ditemui 8 jenis mangrove dari 3 famili (Rhizophoraceae.58 dan 0.6” E).) (Lampiran 7).2”E. dan B.13 . Hasil tersebut menunjukan bahwa pada tingkat anakan/semai. terjadi pengurangan jenis (mortality) terhadap jenis-jenis tertentu. Myrsinaceae dan Avicenniaceae) mangrove. Bruguiera sexangula.70). yang tumbuh kerdil menyerupai bonsai raksasa. pengamatan menunjukan bahwa pada daerah ini di dominasi oleh jenis-jenis Bruguiera gymnorrhiza dan Ceriops decandra. sedangkan pada tingkat pancang Ceriops decandra tidak ditemukan (Lampiran 8). dengan karakter pohon-pohon Xylocarpus spp. sedangkan pada tingkat pohon meningkat lagi menjadi 10 jenis (Lampiran 9). jenis Rhizophora mucronata dan Xylocarpus molucensis merupakan jenis dominan dengan Nilai Penting berturut-turut untuk semai 68 dan 56.85 dan 96. dan tersebar paling merata (F=0.1’’S. Hasil analisa vegetasi dari pengamatan transek menunjukan bahwa pada tingkat semai dan pancang. mucronata menunjukan kerapatan tertinggi (11875 anakan/ha) sekaligus menjadi spesies yang dominan (INP=84. Sedangkan pada tingkat pohon didominasi oleh Rhizophora mucronata (INP=180) dan B.44) dengan persebaran yang paling merata (F=0. Untuk jenis Rhizophora jumlahnya tidak terlalu banyak ditemukan di wilayah ini sedangkan jenis Aegiceras corniculatum dan jenis Xylocarpus hanya ditemukan satu-satu di pinggir sungai. tingkat pancang 178 dan 55 (Lampiran 6). parviflora. Pada tingkatan vegetasi tiang. Gymnorrhiza.75). gymnorrhiza (INP=120. jenis Rhizophora apiculata merupakan spesies dominan (INP=140.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pulau kecil. Aegiceras corniculatum. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam dinamika populasi jenis-jenis mangrove di daerah ini. Avicennia alba. 0 Plot pengamatan mangrove dibuat tegak Hasil lurus Pulau dengan Azimut 280 dengan koordinat 133o57’08.8”S. yaitu Rhizophora mucronata. jenis yang ditemukan agak sedikit berkurang menjadi 5 jenis. 02o12’05. sedangkan untuk tingkat pancang didominasi oleh Aegiceras corniculatum (INP=64. 0 0 Pada kelompok hutan mangrove Pulau Maniai/Tanjung Pitabone (2 16’86. B. Hal yang menarik untuk disimak adalah berkurangnya jumlah jenis tertentu pada saat mencapai tingkat tiang. jenis R. Keadaan Umum Kawasan II . dan sekaligus meruapakan spesies dengan kerapatan tertinggi (150 pohon/ha dan 104.17 pohon/ha) dengan persebaran yang paling merata (F=0. Ceriops decandra. 133 52’ 31.48). Vegetasi mangrove pada tingkat tiang dan pohon. sehingga kajian mendalam perlu dilakukan untuk melihat perkembangan populasi (dinamika populasi) baik jenis maupun jumlah jenis mangrove mulai dari tingkat semai sampai mencapai tingkat pohon.75). Kelompok hutan mangrove Sungai Taberai. Kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).

R. Aegiceras corniculatum.94 dan 100.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lebih lanjut BKSDA Papua II Sorong ditemui bahwa hutan mangrove di Tanjung Pitaboni memiliki zonasi yang tidak jelas (irreguler zonation). dan belakang bisa tumbuh bercampur.50 dan 113. C. namun persebaran hampir sama dengan jenis-jenis lain.18). Hasil ini menggambarkan bahwa pada tingkat anakan/semai dan pancang didominasi oleh jenis Acrosticum speciosum dengan kerapatan tertinggi (9167 anakan/ha dan 600 anakan/ha) sekaligus menjadi spesies yang dominan (INP=62. mucronata dan D. Hal ini diduga karena kondisi substrat pada daerah tersebut hampir merata (seragam) Gambar II-13. Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Sungai Sumberi Cagar Alam Teluk Bintuni data yang diperoleh (Lampiran 11 dan 12) adalah menghilangnya jenis tertentu seperti Rizophora Apiculata dan Keadaan Umum Kawasan II . Speciosum. dan persebaran yang hampir sama dengan jenis lain untuk tingkat pancang dan pada tingkat pohon penyebarannya cukup luas dibanding jenis lainnya (Lampiran 12). Xylocarpus granatum. yaitu Acrosticum speciosum. Kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi (020 04’. Sedangkan untuk vegetasi mangrove tingkat tiang dan pohon didominasi oleh Rizophora Apiculata (INP=86. 1330 53’.012’’S. spathacea (Lampiran 11). kerapatan tertinggi masing- masing 50 pohon/ha dan 100 pohon/ha. Hal yang menarik untuk disimak dari Gambar II-14.780’’E). namun pada tingkat pancang hanya ditemukan 3 jenis. Pada kelompok hutan mangrove ini ditemukan 9 jenis untuk tingkat semai. Rizophora apiculata. Granatum. Cagar Alam Teluk Bintuni akibat selalu terendam pada saat pasang naik (high tide) sehingga jenis- jenis yang seharusnya tidak berada pada zona depan. dan D. Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Tanjung Pitaboni. yaitu Ac. tengah. X. spathacea. tagal.14 .00). dimana dalam satu transek terjadi percampuran jenis sampai pada zona belakang (Gambar II-13). Bruguiera gymnorrhiza. Ceriops decandra.

Aegiceras corniculatum. Pandanus odoratissima. Avicennia alba. Berbeda dengan hutan mangrove Tanjung Pitaboni.80 m3/ha (Lampiran 10 dan 13).4 m/ha (Lampiran 9 dan 12). Pada komunitas hutan ini terlihat adanya perbedaan yang sangat nyata antar plot. Nilai kubikasi tertinggi ditunjukan oleh jenis A.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Bruguiera gymnorrhiza saat mencapai tingkat pancang dan tiang kemudian muncul lagi pada saat mencapai tinkat pohon. Pada bagian dalam kelokan. komposisi tajuk hutan mangrove di areal ini terlihat kurang teratur dan mulai membentuk strata. Tirasai. Hal ini karena komposisi jenis dari komunitas ini mulai beragam dengan hadirnya beberapa jenis vegetasi peralihan hutan dataran rendah (lowland forest). Jenis lain yang tumbuh adalah Bruguiera parvifolia. Xylocarpus granatum. Hutan mangrove S.Tirasai didominasi oleh jenis bakau kurap (Rhizophora mucronata). Pola zonasi hutan mangrove di S. Xylocarpus moluccensis. Hal ini diduga terjadi kematian (mortality) pada proses dinamika populasi di areal ini. jenis palem yang tumbuh di pesisir sungai. Areal sepanjang S. apiculata dengan potensi berturut-turut adalah 65. Sonneratia alba. namun hal perlu dikaji lebih jauh lagi penyebab penurunan jumlah jenis tersebut.15 . Pada bagian hulu juga ditemukan jenis Nypa fruticans. Sedangkan pada bagian luar kelokan arusnya relatif kuat. semakin dalam semakin menampakkan ke arah vegetasi peralihan yang dicirikan oleh tumbuhnya jenis vegetasi peralihan ke hutan dataran rendah dan rawa air tawar seperti Xylocarpus granatum dan D. A. Tirasai banyak dijumpai jenis Bruguiera parviflora kemudian Rhizophora mucronata pada lapis kedua. arusnya lemah sehingga daya angkut airnya menurun yang mengakibatkan terjadi penimbunan lumpur (akresi) dari hulu sungai. menyebabkan abrasi pada bagian tepi dan proses sedimentasi berjalan lambat atau bahkan tidak terjadi yang berakibat jenisjenis pioner tidak bisa tumbuh. dan Bruguiera gymnorrhiza. alba dan R. Sumberi (Gambar II-14) tidak jauh berbeda dengan hutan mangrove Tanjung Pitaboni di masih terjadi percampuran jenis pada zona tengah dan belakang. Perbedaan jenis yang dominan antara bagian dalam dan bagian luar kelokan. spathacea. sedangkan di bagian dalam kelokan didominasi oleh Sonneratia alba dan Avicenia alba. Dari hasil pengamatan di lapangan didapatkan nilai rata-rata kubikasi vegetasi tingkat tiang dan pohon untuk tiap hektar luasan mangrove adalah sebesar 107. mungkin dipengaruhi oleh faktor sedimentasi atau deposit substrat lumpur.42 m3/ha dan 44.2 Species Pada sub Bab sebelumnya telah dideskripsikan mengenai ekosistem alami penyusun kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang juga merupakan habitat dari berbagai species flora Keadaan Umum Kawasan II . Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pada kelokan bagian luar S.3. Endapan lumpur lunak hasil proses sedimentasi ini sangat cocok untuk habitat jenis-jenis pionir seperti Sonneratia alba.

3. Jenis-Jenis mangrove sejati pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. mengidentifikasi jenis-jenis mangrove sejati yang mendiami ekosistem mangrove pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan pada Tabel II-3.1 Flora Tabel II-3. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa jenis-jenis mangrove pada Tabel II-3. Selain flora ekosistem hutan mangrove. Hasil survei lapangan yang dilakukan Tim TNC (2005) berhasil Sumber: Hasil survei Tim TNC. termasuk species-species (flora dan fauna) langka yang dilindungi serta species kunci. No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Spesies Avicenia alba Avicenia marina Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera sexangula Bruguiera parviflora Ceriops decandra Ceriops tagal Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Sonneratia alba Sonneratia caseolaris Xylocarpus granatum Xylocarpus moluccensis Famili Aviceniaceae Aviceniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Soneratiaceae Soneratiaceae Meliaceae Meliaceae Jenis-jenis flora yang terdapat di Kawasan Cagar Alam TB sangat berhubungan ekosistem erat dengan kawasan penyusun seperti telah di uraikan panjang lebar pada bagian sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa keragaman jenis tumbuhan Tabel II-4. didominasi oleh flora mangrove dan jenis-jenis lain yang biasa berasosiasi dengan vegetasi mangrove. Cerbera manghas Dolichandrone spathacea Heritiera littoralis Lumnitzera littorea Myristica hollrungii Nypa fruticans. BKSDA Papua II Sorong Terdapat banyak species penting yang berasosiasi dengan habitat dan Untuk itu perlu di ketahui keragaman species di kawasan karakteristik biologi lainnya. hutan hujan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga menyimpan keanekaragaman flora yang relatif tinggi. Keadaan Umum Kawasan II . 2005. Untuk ekosistem hutan mangrove.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni maupun fauna. Sumber: Hasil survei Tim TNC. 2005. No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Spesie Acrosticum sp. A.2. terutama dari jenis-jenis tumbuhan berkayu (Tabel II-5). Acanthus ilicifolius Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Famili Pteridaceae Apocynaceae Bignonaceae Sterculiaceae Combretaceae Myristicaceae Palmae Acanthaceae Plumbaginaceae Myrsinaceae mangrove di Teluk Bintuni tergolong tinggi. Jenis-jenis tersebut belum termasuk jenis-jenis dari kelompok epifit dan liana yang terlihat banyak tersebar di kawasan. diperkaya lagi dengan jenis-jenis vegetasi yang tumbuh berasosiasi dengan jenis mangrove seperti disajikan pada Tabel II-4. Jenis-Jenis asosiasi mangrove pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.16 .

Caesalpiniaceae. di lapangan dalam pada beberapa (Gambar Cagar kawasan bahwa memiliki menunjukan Bintuni Alam Teluk keanekaragaman fauna yang cukup tinggi. 7. 6. BKSDA Papua II Sorong Pada strata tajuk didominasi oleh famili antara lain Leguminosae. 11.3. 4. Canarium sp. juga ditemui di Cagar Alam Teluk Bintuni. 13. Pandanus sp. 10. 15. di ekosistem hutan dataran bisa rendah juga dijumpai jenis-jenis anggrek dari genus Bulbophyllum yang secara hukum Indonesia telah dilindungi. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi ekosistem hutan dataran Rendah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 8. 3. Eugenia sp.17 . 18. Ficus sp. tempat berlindung.2. Hal ini didukung oleh kondisi fisiografi dan ketersediaan sumber daya seperti pakan. Calamus sp. 2005. dan jenis-jenis palem (Palmae) termasuk juga pelbagai jenis rotan. epifit termasuk anggrek. Sedangkan pada strata bawah ditumbuhi perdu dan semak yang mendukung berbagai tanaman pemanjat. Arthocarpus sp. adalah jenis-jenis endemik dan beberapa genus yang telah dilindungi undang-undang Indonesia antara lain antara lain genus Nepenthes Kemungkinan (Famili besar Nepenthaceae). Famili Caesalpiniaceae Sapindaceae Guttiferae Combretaceae Burseraceae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Euphorbiaceae Gnetaceae Graminae Guttiferae Lauraceae Moraceae Moraceae Myrtaceae Palmae Pandanaceae Dipterocarpaceae. ditemui di daerah ini. mamalia.2 Hasil Fauna pengamatan lokasi II-16). Terminali sp. paku-pakuan. Moraceae. Vatica papuana Annisoptera sp. Baccaurea b t t gnemon Gnetum Gigantochola sp. air.) yang bisa ditemukan di hutan dataran rendah dan mangrove di kawasan CATB Keadaan Umum Kawasan II . 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Tabel II-5. Berdasarkan informasi dari pengelola kawasan dan masyarakat setempat. serta tempat berkembang biak yang sesuai dengan kehidupan satwa liar baik dari jenis burung. 16. 12. Hopea sp. berhasil Dari sejumlah yang sebagian besar diidentifikasi. Litsea sp. 9. 1. Callophylum sp. A. reptil dan amfibi serta jenis avertebrata. 17. Pometia spp. jenis-jenis yang Sumber: Hasil survei Tim TNC. 14. Sayangnya data dasar mengenai daftar tumbuhan/flora yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni belum tersedia. Jenis Intsia spp. Jenis anggrek (Bulbophyllum sp. 5. dan No. Gambar II-15. Garcinia sp.

Sumberi K. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Crocodylus porosus Crocodylus novaguinensis Hydrosaurus amboinensis Varanus sp. di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya bisa dijumpai beberapa jenis reptil dan amfibi seperti disajikan pada Tabel II-6 Tabel II-6. Mamuranu Mangrove dekat K. Keterangan: H = Keputusan Menteri Pertanian No. yaitu buaya air muara tawar Gambar II-17. yaitu 27 spesies reptil dan 9 spesies amfibi. Jenis herpetofuana yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Status Konservasi Dilindungi Endemik RDB2 No. dan Mamuranu H H H C - CITES1 I I II - V - Sumber: Hasil survei Tim TNC. Terdapat tiga jenis. buaya Keadaan Umum Kawasan II . ditemukannya Hal ini memberi peluang jenis-jenis herpetofauna lain selain jenis-jenis yang disajikan pada Tabel II.Tirasai H. Varanu sindicus Enhydris sp. Tirasai K.6. Hydropis sp. Hasil pengamatan langsung (direct seen) dan wawancara dengan penduduk lokal. 327KPTS/Um/5/1978 V = Vulnerable (rentan) 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Jenis-jenis herpetofauna yang disajikan pada Tabel II.Mamuranu. Jenis buaya muara (Crocodylus porosus) yang ditemukan di kawasan CATB (Crocodylus porosus). Yakati S.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Reptil dan Ampibi (Amphibians and Reptiles) BKSDA Papua II Sorong Kawasan CATB dan sekitarnya merupakan habitat penting bagi perkembangbiakan jenisjenis reptil dan amfibi.6.18 . 716/KPTS/Um/l0/1980 C = Keputusan Menteri Pertanlan No. Tirasai. K. 2005.Mamuranu Hutan Dataran rendah Tirasai Hutan Dataran rendah Anak Kasih Hutan Dataran rendah Anak Kasih. Boiga irregulatus Litoria infrafenata Buaya muara Buaya air tawar Soa-soa Biawak Biawak bakau Ular bakau Ular sanca Ular coklat pohon Katak pohon hijau S. lebih sedikit dibandingkan dengan hasil survei yang dilakukan BP Pertamina (2002) di ekosistem mangrove dan hutan dataran rendah Saengga dan Tanah Merah yang hampir sama dengan ekosistem yang ada di Cagar Alam Teluk Bintuni. Mangrove K.

air. Novaeguinensis adalah satwa endemik New Guinea dan telah tercatat dalam App. Hal ini didukung oleh kondisi fisiografi dan ketersediaan sumberdaya seperti pakan. I CITES. Peta Lokasi Kegiatan Survei Keberadaan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 Burung (Birds) Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya memiliki keanekaragaman jenis burung yang cukup tinggi. termasuk kedalam jenis satwa yang dilindungi dengan undang-undang di Indonesia (Petocz.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong (Crocodylus novaguinensis). (SK Mentan No. yang dilakukan melalui pengamatan langsung (direct seen). yaitu C.16. Keadaan Umum Kawasan II . porosus dan C.19 . suara (noisy). Selama survei yang dilakukan oleh Tim TNC (2005). dan biawak bakau (Varanus prafinuvi). dan informasi dari masyarakat lokal. yaitu jenis yang terancam punah dalam IUCN Red Data Book (IUCN. 1983). 1979). Kedua jenis satwa reptilia tersebut. dan termasuk jenis binatang yang dilindungi dengan UndangUndang di Indonesia. Gambar II. kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat kurang lebih 26 jenis burung yang tersebar di beberapa bagian kawasan CATB seperti disajikan pada Tabel II-7. 327/Kpts/um/5/1978 dan No. 176/Kpts/um/10/1978). tempat berlindung dan berkembang biak yang merupakan komponen pendukung kehidupan satwa tersebut.

S. Wasian.20 RDB2 No. Tatawori S.Simeri.Tirasai. Mamuranu Kampung Anak Kasih.C II 3 Casuarius bennetti Kasuari kerdil Cenderawasih molek (Magnificent Bird of Paradise) Anis puyuh ajax Walet sapi Kukubara perut merah A II NeT 4 Cicinnurus magnificus Cinclosoma ajax Colacalia esculenta Dacelo gaudichaud Dicrurus hottentottus Egretta ibis Egretta intermedia Egretta sacra Eopsaltria pulverulenta S. K.E - III - Kuntul Kerbau Kuntul perak (Bangau putih) Kuntul karang Robin bakau (Manggrove robin) Muara Sungai Muturi S. Muturi. Anak Kasih K. Sumberi Muara Muturi S. Naramasa. Naramasa.Tirasai. Muturi.E. Naramasa. Wasian S. Naramasa S.Tirasai.Tirasai S. K. S. Naramasa S. S. Sumberi. Tatawori - F A. Muturi. S. Jenis burung yang dicatat selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Status Konservasi Dilindungi Endemik 1 Ardea sumatrana Cangak laut S. S.E. S. - 20 Milvus migrans - G II 21 Nectarinia aspasia Burung madu hitam A.D. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - - - - - - - - - . Tatawori S.E.F A. S. Mamuranu - - 13 Falcon cenchroides Alap-alap layang - - II 14 15 16 17 18 19 Geoffroyus geoffroy Goura cristata Gygas alba Halcyon cholaris Larus novaehollandia Lorius lory Kakatua paruh merah Mambruk ubiaat (dara mahkota) Dara laut putih Cekakak sungai Dara laut putih Nuri kepala hitam Elang paria/ Alap-alap malam - F G C I II Vul. Anak Kasih S. Sumberi Kampung Anak Kasih.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-7. Naramasa.F II Keadaan Umum Kawasan II . Yakati - II 5 6 7 8 9 10 11 12 Muara Tirasai S.Simeri. K. Mamuranu - F - NeT 2 Cacatua galerita Kakatua Jambul Kunig B. Naramasa S. Mamuranu S. Mamuranu S.F - 22 23 Nectarinia jugularis Paradisaea minor Burung madu sriganti Cenderawasih kuning kecil A. Mamuranu K. S. S.Sumberi. K. S.Sumberi. S. S. S. Muturi S. S.Simeri.Sumberi.

Wasian Perairan Pulau Modan - F B - - A - Sumber: Hasil survei Tim TNC.. (1986). 2005. 1970 C = Keputusan Menteri Pertanlan No. 266 B = Kepulusan Menleri Pertanian No. Hasil rangkuman dari sejumlah referensi pendukung antara lain Petocz (1987). Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - . Behler dkk. 757/KPTS/Um/12/1979 E = Peraturan Pemerinlah NO. 2005). berhasil teramati lebih dari 140 jenis burung (BP Pertamina. Hal ini mengindikasikan bahwa keragaman jenis burung di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup tinggi dan perlu mendapat perhatian lebih serius baik dari perlindungan dan penelitian. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka. 1991 G = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1935 No. Petocz dan Raspado (1994). Besar kemungkinan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Status Konservasi Dilindungi Endemik 24 25 26 27 Philemon buceroides Probosciger aterrimus Stercorarius pomarinus Sterna albifrons Cikukua tanduk Kakatua raja Camar Dara laut kecil S. yang terdiri dari 75 spesies burung yang menetap dan 20 spesies burung migran. dan BP Pertamina (2002) diketahui bahwa dari jenis satwa burung yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (hasil survei Tim TNC. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan BP Tangguh dalam rangka penyususnan dokumen ANDAL melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni khususnya daerah Sungai Saengga dan S. melalui penelitian yang lebih seksama. 301/KPTS-Um/6/1991 June 10. 27 January 1999 F = Keputusan Menteri Pertanian No.7 of 1999. 1978 D = Keputusan Menteri Pertanlan No. Rudiyanto (1996). 513 NeT = Near Threaten (hampir terancam) V = Vulnerable (rentan) 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Jumlah tersebut (Tabel II-7) lebih sedikit dibandingkan hasil survei yang dilakukan Zuwendra dkk. Kodai Sekitar Kampung Naramasa S. (1991) yang melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni (termasuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni) sedikitnya teramati 95 jenis burung. Keterangan: A = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1931 No. 7421KPTS/Um/12/1978 December 2.7 tersebut di atas dapat bertambah. 421/KPTS-Um/8/1970 August 26. 14 jenis diantaranya adalah Keadaan Umum Kawasan II . keragaman jenis seperti yang disajikan pada Tabel II.21 RDB2 No. 2002). dimana 45 spesies diantaramya sudah di lindungi oleh undang-undang. Zuwendra dkk. (1991). Manggosa yang memiliki kemiripan ekosistem dengan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. diketahui bahwa Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat jenis-jenis satwa endemik Papua serta satwa/fauna yang telah dilindungi undang-undang.

Mamuranu. yaitu jenis mambruk ubiat/mahkota (G. Anak Kasih I I II II Keadaan Umum Kawasan II . tujuh jenis lain (P. cristata) dan dua jenis lagi dikategorikan “hampir terancam”. Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menjadi penting sebagai habitat dan perkembangbiakan jenis-jenis endemik khususnya satwa avifauna. yaitu A. sumatrana dan C. C. M. Naramasa K. dan Casuarius bennetti) masuk Appendix II. Status Konservasi Dilindungi Endemik 1 2 3 Pteropus neohibernicus Spilocuscus maculatus Phalanger orientalis Kelelawar besar Kuskus bertotol Kuskus kelabu K.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong spesies endemik. Kawasan Teluk Bintuni nampaknya merupakan daerah pencarian pakan (winter ground) dari beberapa jenis burung pengembara (migran). Tabel II-8. F. L. Selain itu menurut RDB (Red Data Book) jenis mambruk masuk dalam kategori “rentan” (vurnerable). Jenis mamalia yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) serta berdasarkan informasi masyarakat setempat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Lory. (1991) yang melaporkan bahwa di daerah CATB dan sekitar ditemukan paling sedikit 12 jenis endemik. minor. Tirasai K. satu jenis burung mambruk (Goura cristata) masuk dalam Appendix I. galerita. di antara spesies burung yang dapat dijumpai di CATB. K. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - . C. cenchroides. Mamalia (Mammals) Hasil pengamatan selama survei dengan metode pengamatan langsung (direct seen) dan jejak kaki (footprint/trail) serta informasi dari penduduk lokal.22 RDB2 No. 14 jenis telah dilindungi baik oleh hukum Indonesia maupun hukum Internasional (CITES dan IUCN) seperti disajikan pada Tabel II. K.7. dan satu jenis (Egreta ibis) masuk Appendix III. Menurut informasi dari masyarakat setempat burung-burung tersebut akan datang pada bulan April – Mei dan kemudian pergi pada bulan Desember saat musim ombak. Mamuranu. di kawasan ini bisa dijumpai 12 jenis mamalia. Anak Kasih. dua diantaranya merupakan jenis yang sudah dilindungi undang dan masuk dalam appendix II CITES (Tabel II-8). bennetti (Conservation International. Jumlah jenis endemik untuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang berhasil dicatat selama survei hampir sama dengan jumlah spesies burung endemik hasil survei Zuwendra dkk. K. magnificus. 1999). Menurut the Convention on International Trade in Endangered Species (CITES). migrans. Dalam survei dijumpai ratusan burung pelican (Pelecanus conspicillatus) dan umukia raja (Tadorna rajah) pada beberapa bagian Cagar Alam terutama pada daerah muara dengan bentangan bentik pasir.

dan jenis-jenis Chiroptera yang merupakan kelompok mamalia yang luar biasa aneka ragamnya. Tirasai Perairan Teluk Intr A B - - Intr - Sumber: Hasil survei Tim TNC. dan kelelawar mastif. serta rusa dan babi hutan. K. Tirasai K. rubah terbang. K. Tirasai K. kuskus (Phalanger orientalis) pada habitat hutan mangrove. possum kerdil (Cercatetus caudatus. Anak Kasih. Namun jumlah tersebut masih jauh lebih rendah dari hasil penelitian yang di lakukan oleh PT Geobis Woodward-Clyde Indonesia pada tahun 1998 yang melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni /Bearau dapat ditemui kurang lebih 70 spesies mamalia yang terdiri dari 36 spesies kelelawar (Chiroptera). K. dan Bandycoot (Peroryctes raffrayanus) atau tikus. 421/KPTS-Um/8/1970 August 26. Kawasan perairan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat jenis lumba-lumba. K. dan Pseudocheirus spp. kelelawar tapal kuda. sering terlihat Keadaan Umum Kawasan II . Keterangan: A = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1931 No.). Dasyuridae. Mamuranu. Mamuranu.). 17 spesies marsupial (Marsupialia). kangguru pohon (Dendrolagus fursinus). Mamuranu. seperti jenis Seusa plumbea yang bersirip putih yang menurut informasi masyarakat. K. Anak Kasih K.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Status Konservasi Dilindungi Endemik 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Cervus timorensis Dorcopsis muelleri Dendrolagus ursinus Peroryctes raffayana Sus crofa Pteropus conspilicatus Pogonomys macrourus Isodon macrourus Pristis microden Rusa Walabi hutan Kangguru pohon Bandikot Babi hutan Kelelawar Tikus hutan dataran rendah Tikus tanah Cucut gergaji K. Mamuranu.23 RDB2 No. Naramasa K. seperti kelelawar berhidung tabung. Anak Kasih K. Anak Kasih K. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 V V . 66/KPTS/Um/2/1973 V = Vulnerable (rentan) Intr Introduce = 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Hasil pengamatan terhadap jenis-jenis mamalia yang disajikan pada Tabel II. Mamuranu. Tirasai K. 2005. 266 B = Kepulusan Menleri Pertanian No. K. 15 spesies binatang pengerat (rodents).8 hampir sama dengan jenis-jenis mamalia yang ditemukan dalam survei yang dilakukan oleh Zuwendra. 1970 I = Keputusan Menteri Pertanian No. marga tikus berkantung endemis yang aneh. Anak Kasih. walabi liar biasa (Macropus agilis). K. Echidna berparuh panjang (Zaglossus bruijni). K. Erftemeijer. Anak Kasih. Distoechurus pennatus. dan Allen (1991) yang melaporkan bahwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dijumpai mamalia seperti Echidna berparuh pendek (Tachyglossus aculeatus). Anak Kasih. walabi hutan (Dorcpsis spp. kelelawar ekor berarung.

Bahkan sejenis ikan paus berukuran besar pernah terlihat di perairan Teluk Bintuni yang lebih dalam. hiu.24 . Sedangkan jenis hiu yang terdapat di perairan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah jenis hiu bodoh (Chyloscyllium punctatum dan C. Brevipinna) yang dapat mencapai panjang 3 m. Informasi dari penduduk setempat bahwa ikan cucut gergaji (Pristis microden) yang merupakan ikan terbesar dan telah dilindungi undang-undang yang sering masuk sampai ke sungai-sungai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Mengacu pada informasi tersebut di atas. peran kawasan Cagar Alam Teluk menjadi sangat penting bagi masyarakat sekitar kawasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama ikan baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dijual sebagai pendapatan pendapatan keluarga. Ikan Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kawasan yang terkena pasang surut. Jenis kepiting bakau (Scylla sp. terutama dari jenis udang.) yang memiliki nilai ekonmis yang dapat ditemukan di kawasan CATB semisulcatus sculptilis).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam satu group bermain mengikuti jalannya armada kapal penangkap udang untuk mendapatkan ikan-ikan yang lebih kecil sebagai makanannya. Jenis ikan tersebut merupakan jenia endemik dan tersebar di beberapa sungai. Informasi yang diperoleh dari penduduk bahwa di beberapa daerah muara sungai besar di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dijumpai marga Delphinidae. Jenis ikan ini sangat potensial untuk dijadikan ikan hias sehingga memberikan peluang bagi masyarakat setempat untuk mengembangkan jenis ini untuk meningkatkan pendapatan keluarga. (Penaeus Parapenaeopsis yaitu udang tiger/Tiger Prawn dan udang Gambar II-18. Hasil survei serta didukung oleh informasi dari penduduk setempat bahwa dii kawasan habitat air tawar ditemukan ditemukan jenis ikan air tawar dimana dua di antaranya merupakan ikan pelangi (rainbow fish) dari genus Melanotaenia. dan ikan merah. rawa. Avertebrata Perairan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat beberapa jenis avertebrata. Informasi dari nelayan tradisional (penduduk lokal) diketahui bahwa jenis Lutjanus johnii (ikan merah) dan Himantura uarnak (ikan pari) sering juga tertangkap saat memancing di sungai-sungai dekat hutan mangrove di kawasan CA Teluk Bintuni. banyak dijumpai ikan gergaji (saw-fishes). Keadaan Umum Kawasan II . Beberapa jenis udang yang ditemui di perairan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan danau di sekitar kawasan di mana makanan utamanya adalah nyamuk.

Mamuranu adalah desa yang berada di dalam kawasan CATB yang sudah ada sebeluk kawasan diusulkan dan ditunjuk sebagai Cagar Alam Teluk Bintuni. salps (Salpa sp. Keadaan Umum Kawasan II . kerang timba/Bailer’s shells (Nilo acthiopicus dan Syrinx aruanus). B.1 Karakteristik Sosial Ekonomi dan Budaya Penduduk Jumlah penduduk yang berada di 14 Kampung di sekitar (di luar. dimana pembuatan rumah-rumah tersebut tidak ada koordinasi terutama dengan pihak BKSDA Papua 2. Serui dan tempat tempat lain diluar Teluk Bintuni). (Gambar II-18). Bugis. yaitu penduduk asli /lokal dan pendatang. Gorgoniau corals (Gorgonaceae). Ketika hadirnya maupun pihak gereja Kopermas maka kelompok Marga Imeri berniat membuka pemukiman baru di logyard Tirasai. Henrison Iriana sebagai logyard. Biak. dari luar Papua seperti Jawa. diawali dengan adanya mobilisasi penduduk marga pemangku hak ulayat di Anak Kasih pada saat kopermas mulai beroperasi. Anak kasih merupakan kampung yang baru terbentuk pada tahun 2002. sedangkan penduduk pendatang yaitu berasal dari masyarakat transmigrasi dan atau para pedagang serta penduduk Papua pendatang (dari Sorong. juga terdapat berbagai etnis pendatang lainnya. Beberapa penduduk tersebut berasal dari penduduk Kampung Mamuranu yang pada awalnya hanya membuat pondok dan ladang disekitar daerah logyard yang dibuka oleh kopermas . Penduduk secara garis dibedakan atas dua.25 . Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan lapangan. dari 14 kampung yang ada di sekitar kawasan CATB.). Kampung Anak Kasih dan Tirasai merupakan kampung yang baru terbentuk sehingga secara definitif belum ada. dan Ambon. Banana BKSDA Papua II Sorong prawn (Penaeus marguensis dan Penaeus indicus). Pada tahun 2003 Dinas Sosial Propinsi Papua membuat rumah semi permanen dengan jumlah 54 rumah. B. Di kawasan perairan CA Teluk Bintuni juga di jumpai jenis avertebrata lain seperti jelly fish (Scyphozoa).557 Jiwa. serta jenis kepiting bakau Scylla sp. bersinggungan dan di dalam) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) sampai dengan Bulan Maret 2005 yaitu sebanyak 9.). mantis srimp (Squitta sp. udang raja/king prawn (Penaues hatisalcatus). Hal ini menjadikan kawasan perairan sekitar CA Teluk Bintuni menjadi penting sebagai habitat udang yang dapat mendukung industri udang komersial di Kabupaten Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni endeavour/Endeavour Prawn (Metapenaeus monoceros). Penduduk asli adalah penduduk yang telah lama bermukim disekitara kawasan Cagar Alam yang dikenal sebagai pemangku hak masyarakat hukum adat. Penduduk secara etnisitas selain didiami oleh etnis asli (Papua). pada tahun 1992 lokasi tersebut dibuka oleh PT. Kampung Tirasai pada awalnya hanya berupa gubuk sebagai tempat berburu. setempat . Crinoid sealilies. dan lobster (Panulirus ornatus).

71 853 1471 82 375 271 445 274 710 89 70 47 202 127 117 5133 Total 1588 2781 156 729 528 792 556 1309 147 125 83 342 219 202 9557 100 Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kelurahan/Kampung Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP 5 Tirasai Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Jumlah Persentase Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idoor Idoor Idoor Idoor Kuri Jumlah (KK) 325 606 42 254 123 191 209 242 28 20 15 60 50 35 2200 46. Lokasi Pemukiman penduduk K. Gambar. Pada tahun 1994 melalui Program Bina Desa PT Henrison Iriana. Sehingga penduduk sekarang Tirasai masyarakat banyak cukup bermukim disana sambil menantikan surat keputusan tentang penetapan status kampung tersebut . Pihak pemerintah daerah tidak mengkoordinasikan masalah tersebut dengan KSDA Papua II Resort Bintuni.29 Jumlah Penduduk (Jiwa) Perempuan Laki-laki 735 1310 74 354 257 347 282 599 58 55 36 140 92 85 4424 53. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni No.26 .19) dan jenis kelamin disajikan pada Tabel II-9. masyarakat tersebut sudah banyak kembali lagi ke Tirasai dan sementara menenempati rumah bekas karyawan Kopermas yang sementara ini ditinggalkan. Tabel II-9. II. Hasil Survei Tim TNC. 2005 Diolah Keadaan Umum Kawasan II . terlihat bahwa telah diajukan permohonan untuk pemukiman baru di lokasi Logyard Tirasai ke Pemda Distrik Bintuni pada tahun 2002.19. Pasamai Akan tetapi sehingga dengan berbagai alasan mulai awal tahun 2005. dan langsung memberi rekomendasi bahwa usulan mereka akan ditindaklanjuti. Persebaran penduduk yang bermukim di sekitar kawasan berdasarkan kampung (Gambar II. sebagian masyarakat mengikuti yang program ada di Tirasai yang tersebut berlokasi di Pasamai.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Keinginan masyarakat untuk membentuk kampung baru.

Korano Jaya. sedangkan Kampung Anak Kasih dan Tirasai merupakan perkampungan baru yang ada didalam kawasan. Sedangkan Kampung Yakati.926 Km2 (Atlas Sumberdaya Pesisir Kawasan Teluk Bintuni. Kampung Mamuranu merupakan kampung yang berada didalam kawasan dan sudah ada sebelum ditetapkannya Kawasan CATB. Yensei dan Naramasa merupakan kampung yang secara letak berada diluar kawasan akan tetapi keterkaitannya terutama dalam pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan cukup besar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kampung Waraitama. Tuasai dan Argo Sigemerai merupakan pemukiman transmigrasi yang letaknya bersinggungan dengan Kawasan CATB. maka potensi para penduduk pendatang akan semakin banyak sehingga jumlah penduduk dimasa yang akan datang diprediksikan akan semakin cepat bertambah.27 . Luas wilayah Distrik (Kecamatan) Bintuni yaitu 7. sedangkan Distrik Idoor dan Kuri tidak diperoleh data luasan wilayah (karena merupakan distrik baru). Akan tetapi seiring dengan perkembangan Kabupaten Teluk Bintuni yang merupakan Kabupaten pemekaran baru.2 jiwa/Km2). Berdasarkan Tabel 10. Peta Lokasi Kampung yang berada di dalam dan sekitar Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 Keadaan Umum Kawasan II . 2003). Banjar Ausoy. bahwa kepadatan penduduk di sekitar kawasan CATB masih rendah (1. Gambar II-20.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II.80 %) dan diikuti oleh nelayan (18.10.50 815 1459 63 351 260 401 318 605 72 55 43 125 97 80 4744 49. disusul penduduk dengan kelompok usia sekolah (7–18 tahun) sebesar 22. merupakan sehingga Gambar II-21. mayoritas bermatapencaharian sebagai petani (45. Hasil pengamatan di lapangan yang diperkuat dengan hasil penelitian Yalhimo (2003) memberi gambaran bahwa penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagian besar berusia produktif (19–50 tahun) dengan persentase 49.10.82 %). 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kelurahan/Kampung Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 TirasaI Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Jumlah Persentase Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idoor Idoor Idoor Idoor Kuri 0–6 214 243 31 84 74 101 72 211 15 26 13 35 29 15 1163 12.28 .17 7 -18 342 617 37 170 114 152 105 320 36 29 18 107 63 75 2185 22. Persebaran penduduk yang bermukim di kampung-kampung sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan kelompok umur disajikan pada Tabel II.86 19 .86 %. bersinggungan dan di dalam) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Ratio perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki terhadap perempuan adalah 1. 2005 Diolah B. Hasil Survei Tim TNC. Tabel II.16. Hal ini terjadi karena terutama Kampung (Desa) yang bersinggungan dengan kawasan CATB.34 Jumlah (Jiwa) 1588 2781 156 729 528 792 556 1309 147 125 83 342 219 202 9557 100 Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. Korano Jaya setelah melaut permukiman transmigrasi Keadaan Umum Kawasan II .63 %. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni Kelompok Umur (Thn) No. Salah seorang anggota masyarakat nelayan di K.63 > 50 217 462 25 124 80 138 61 173 24 15 9 75 30 32 1465 15.10. memperlihatkan bahwa sebaran proporsi jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan dengan proporsi jumlah penduduk perempuan.2 Mata Pencaharian Masyarakat yang berada di sekitar (diluar.

25 17 59 2 3 8 29 2 21 0 2 0 3 3 0 149 6. Tabel II-11. kawasan CATB seperti Kampung Yakati.29 Lain2 . sehingga ketergantungan mereka terhadap sumberdaya alam kawasan cukup besar. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan kawasan CATB yang baik dengan bekerjasama dengan masyarakat setempat sehingga kawasan CATB terjaga kelestariannya dan masyarakat tetap dapat melakukan kehidupannya sehari-hari. Buaya dan babi) Menokok Sagu PNS/ TNI/ POL Nelayan Swasta 28 87 3 24 14 26 4 37 0 0 0 0 0 2 225 9.35 64 77 1 11 54 9 7 12 0 0 0 0 0 0 235 10. dengan laju pertumbuhan penduduk 1-2 %/tahun.82 %) dan menokok sagu (1.28 %). dan Tirasai serta kampung yang secara lokasi berada di luar. berburu (2. Dengan persentase penduduk lebih dari 20 % yang mengandalkan sumberdaya alam kawasan CATB secara langsung.04 Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Persentase Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005.80 Tani Distrik Kampung/Kelurahan 0 0 0 0 0 0 0 0 9 7 7 19 10 15 67 2. Anak Kasih.60 Buruh Bintuni Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai 138 161 11 16 1 27 0 8 13 9 7 20 16 14 441 18. Akan tetapi untuk Kampung (Desa) yang berada di dalam kawasan CATB seperti Kampung Mamuranu. Secara lengkap kondisi penduduk berdasarkan matapencaharian dapat dilihat pada Tabel II-11. sangat mengandalkan kepada sumberdaya alam yang ada di dalam kawasan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong penduduknya banyak yang bermatapencaharian sebagai petani. Yensei dan Naramasa akan tetapi bermatapencaharian didalam kawasan CATB yaitu nelayan (18.822 61 148 25 187 96 154 196 184 6 2 1 0 9 4 1073 45.86 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 12 0 30 1. Mata Pencaharian penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Mata Pencaharian (Jiwa) Berburu (Rusa.28 17 74 0 13 14 0 0 5 0 0 0 0 0 0 123 5.82 %). diprediksikan dimasa yang akan datang tekanan terhadap kawasan CATB akan semakin besar. Ketiga jenis mata pencaharian tersebut. Hasil Survei Tim TNC. 2005 Diolah Keadaan Umum Kawasan II .

3. Hasil Survei Tim TNC. Tabel II-12. mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT). Secara umum untuk tingkat Kabupaten Teluk Bintuni. terutama jumlah guru untuk setiap sekolah masih rendah. pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap cagar alam dan pelestarian alam masih rendah (84%). Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar kawasan CATB. sedangkan tingkat SMP dan SMU masih terkonsentrasi di pusat kota Kabupaten Teluk Bintuni (kelurahan Bintuni Timur dan Bintuni Barat) serta daerah pemukiman transmigrasi (kampung Korano Jaya/SP2 dan Banjar Ausoy/SP4). Keadaan Umum Kawasan II . Sarana Pendidikan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2002 Sarana Pendidikan Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan TK Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah 1 2 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 5 SD 2 3 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 (Rusak) 13 SMP 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 4 SMU 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 PT 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 Jumlah (unit) 7 8 0 0 2 3 1 2 0 1 0 1 1 1 27 Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005.1 Pendidikan dan Kesehatan Pendidikan BKSDA Papua II Sorong Kualitas pendidikan dari penduduk yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara umum masih rendah. 2005 Diolah Tabel II-12. Hal ini disebabkan oleh minimnya informasi tentang cagar alam dan pelestarian alam yang mereka terima karena kurangnya sarana dan media informasi. menunjukan bahwa hampir semua kampung telah memiliki sarana pendidikan untuk tingkat SD. pelaksanaan pendidikan telah berlangsung pada berbagai jenjang pendidikan. Sarana pendidikan yang terdapat di sekitar kawasan CATB disajikan pada Tabel II-12. Sebagai contoh rata-rata jumlah guru untuk tingkat sekolah dasar disetiap kampung (desa) sebanyak 1-3 orang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B.3 B.30 . dengan kondisi sarana prasarana pendidikan yang kurang memadai.

Hal yang sama juga di alami para siswa lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMU. Puskemas 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Sarana Kesehatan Pustu Polindes/P’Yandu 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Jumlah (unit) 2 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Keadaan Umum Kawasan II .2 Kesehatan Sarana kesehatan yang ada di kampung-kampung di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sangat terbatas. Permasalahan lain yang cukup menonjol hampir sama dengan sekolah-sekolah yang ada di sekitar kawasan CATB. Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (PusTu) hanya ada di ibukota Kabupaten (Bintuni Barat) dan pemukiman transmigrasi (Banjar Ausoy/SP4). 2005. bahkan banyak dari mereka yang terpaksa tidak masuk sekolah (meliburkan diri) dalam waktu lama. yaitu guru sebagai tenaga pengajar yang dirasakan masih kurang terutama guru-guru bidang IPA dan bahasa Inggris baik pada tingkat SMP maupun tingkat SMU.3. Pada kampung-kampung tertentu bahkan tidak memiliki sarana kesehatan sama sekali seperti terlihat pada Tabel II-13. B. Hal ini membuat para siswa mengalami kesulitan untuk datang ke sekolah tepat waktu. juga sarana transportasi yang belum lancar/langka. Kendala utama yang dirasakan adalah jarak sekolah lanjutan dengan pemukiman mereka cukup jauh.31 . Sarana Kesehatan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Sumber: Hasil survei tim TNC. Tabel II-13. sedangkan beberapa kampung lain di wilayah ini hanya memiliki poliklinik desa (Polindes) atau posyandu.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Terkonsentrasinya sarana pendidikan lanjutan di ibukota Kabupaten dan daerah transmigrasi mengakibatkan banyak anak-anak usia sekolah lulusan sekolah dasar (SD) mengalami kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (SMP).

penyakit kulit. tergantung pasang surutnya air. Kendala yang menonjol dalam kunjungan petugas kesehatan adalah masalah transportasi. Di ibukota Kabupaten hanya terdapat seorang dokter dan beberapa mantri serta perawat/bidan yang bertugas di Puskesmas. Khusus untuk pelayanan persalinan. Hasil Survei Tim TNC. Jenis penyakit yang paling umum di derita oleh masyarakat di sekitar kawasan adalah malaria. diare. Untuk ke kampung Yakati dan Yensei misalnya harus ditempuh dengan menggunakan perahu motor (longboat) dengan waktu tempuh 4-6 jam. dan penyakit mata dimana penyakit malaria. Hal ini menyebabkan tidak terpenuhinya pelayanan pengobatan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Frambusia. dan bidan yang terdapat di kampung-kampung di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih sangat kurang. Tabel II-14. Keadaan tenaga kesehatan yang ada di daerah sekitar kawasan juga masih terbatas seperti disajikan pada Tabel II-14. Tenaga Kesehatan yang ada di kampung sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Tenaga Kesehatan Perawat/Bidan 0 12 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 16 Dokter 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Mantri 1 7 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 11 Dukun Beranak 4 3 1 0 1 0 2 0 0 1 0 3 2 1 18 Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). mantri.32 . 2005 Diolah Tabel II-14 memperlihatkan bahwa tenaga medis seperti dokter. dan ISPA merupakan penyakit yang banyak Keadaan Umum Kawasan II .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Meskipun demikian rutinitas kunjungan dari para medis tetap dilakukan ke kampungkampung yang ada. diare. masyarakat lebih banyak menggunakan jasa dukun beranak (traditional healers) yang jumlahnya cukup banyak dan hampir tersedia di setiap kampung di sekitar kawasan CATB.

Keadaan Umum Kawasan II .4 Agama Penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagian besar sudah memeluk agama seperti Kristen Protestan.55 %).09 Idoor Mamuranu/ Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Persentase Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. dan 55 kasus penyakit mata. Jumlah penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan Agama Jumlah Tempat Ibadah 1 4 0 1 1 1 3 1 0 1 1 1 1 16 Jumlah Tempat Ibadah 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Jumlah Tempat Ibadah 2 0 0 3 6 5 0 6 0 0 0 0 0 22 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Kristen Protestan 997 2395 52 203 47 70 556 77 147 208 342 219 187 5500 57. Hal ini ditunjang oleh sarana ibadah yang cukup memadai (Tabel II-15). 2005 Diolah Tabel II-15. air baku untuk minum sangat kurang dan tidak memenuhi standar baku kesehatan. serta kondisi lingkungan jalan umum yang berdebu pada musim kemarau yang membuat kualitas udara menjadi buruk akibat banyaknya debu. dan Islam. 59 kasus ISPA dibanding dengan 22 kasus penyakit kulit. Tabel II-15. Tempat ibadah umumnya juga telah ada di setiap kampung (desa). dan ISPA diduga disebabkan oleh lingkungan tempat tinggal masyarkat yang dekat denagn hutan rawa dan mangrove yang merupakan tempat berkembang biak nyamuk malaria. Katolik. B.33 . 27 kasus Frambusia. Hasil studi Yalhimo (2003) menunjukan bahwa selama tahun 2003 terdapat 246 kasus malaria dan 135 kasus diare. Menonjolnya kasus malaria.36 Islam 413 182 0 489 469 684 0 1205 0 0 0 0 7 3449 36. Hasil Survei Tim TNC. memperlihatkan bahwa jumlah penduduk yang menganut agama kristen protestan lebih besar dibandingkan jumlah penganut agama lain (57.55 Katolik 178 204 104 37 12 38 0 27 0 0 0 0 8 608 6. diare.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diderita dan menjadi penyebab utama kematian.

goa. Menurut keterangan dari Tokoh masyarakat Bintuni Bpk.6. sehingga tidak sembarang orang bisa masuk kesana. pohon-pohon tertentu. memandang tanah dan hutan sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan. dan sebagainya. Otto Manibuy.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. khususnya masyarakat adat Wamesa adalah pada kegiatan pengambilan hasil laut dari mangrove berupa kepiting (karaka). masyarakat adat harus mendapat kompensasi apabila tanah adat mereka Keadaan Umum Kawasan II . Dalam proses pengambilan karaka.5 Kearifan Tradisional Masyarakat BKSDA Papua II Sorong Masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) masih memiliki kepercayaan bahwa tempat-tempat tertentu di daerah mereka masih dianggap keramat (tempat pamali). Disamping itu masih ada tempat tertentu yang oleh masyarakat dilindungi keberadaannya karena bernilai ritual seperti mata air. Oleh sebab itu mereka berusaha memiliki tanah seluas-luasnya untuk dapat di pertahankan dalam jangka waktu lama serta untuk di wariskan dari generasi ke generasi. Apalagi bila tanah tersebut mengandung sumber daya tambang. B. Hasil wawancara dengan tokoh adat Naramasa (Bpk. Indikator yang dipakai adalah pohon sagu yang telah berbunga dan menghasilkan puting sari. pada hakekatnya sejalan dengan prinsipprinsip konservasi. Hal ini membuat masyarakat adat mulai berpikir tentang status tanah dan hutan yang saat ini di kelola oleh “pihak-pihak luar” seperti areal transmigrasi dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). Selain itu daerah yang dianggap sebagai tempat “pamali” yaitu sekitar Pulau Jawarupai yaitu Sungai Asi Inabuo. masyarakat biasanya tidak mengambil seluruh jumlah karaka dalam satu liang (lubang) dengan pertimbangan karaka yang ditinggalkan dapat berkembang biak.1 Pemanfaatan Sumberdaya Alam Pandangan Masyarakat Adat terhadap sumberdaya alam (Tanah dan Hutan) Masyarakat adat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) memandang tanah dan hutan merupakan sesuatu yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan mereka sebagian pemilik hak ulayat. Set Efredire) menyatakan bahwa Pulau Modan merupakan tempat “pamali” dimana menurut kepercayaan mereka di sana terdapat buaya putih. masyarakat adat Wamesa dalam menebang pohon sagu mencari yang tua/matang. Masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan CATB. Salah satu pengelolaan sumberdaya alam di dalam CATB berkaitan dengan kearifan tradisional masyarakat.6 B. Selain itu dalam pengambilan/pemanenan hasil pohon sagu. Pulau Modan termasuk tanah adat Suku Kuri .34 . Bila dicermati aturan-aturan mengenai pemanfaatan tanah-hutan seperti itu.

2 Pola pemanfaatan sumberdaya alam. Secara sosial budaya masyarakat memiliki ikatan erat dengan hutan. Yettu. Masyarakat Suku Wamesa yang mengklaim sebagian besar wilayah hutan yang ada didalam kawasan CATB. Sebagai contoh pada Suku Sough yang bermukim di sekitar kawasan CATB.35 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diusahakan untuk usaha tertentu. Hutan dimanfaatkan untuk memenuhi beragam kebutuhan seperti kegiatan berkebun (perladangan berpindah). norma dan hukum adat yang mengatur tentang siapa. biji-bijian. Hutan bagi masyarakat adat yang bermukim di sekitar kawasan CATB juga memiliki fungsi sosial. sehingga mereka bisa bertahan hidup dari generasi ke geneeasi sampai saat ini. marga Iba. berburu binatang liar. Tiri. dan jenis burung lain seperti nuri. kakatua dan mambruk untuk di jual. dan obat-obatan. anggota masyarakatnya juga tersebar di sekitar kawasan dan kota Bintuni. kapan. Keadaan Umum Kawasan II . mencari ikan. nilai.6. dan dimana seseorang atau kelompok orang boleh memanfaatkan tanah termasuk sistem pewarisan konflik dan cara penyelesaiannya. hutan merupakan sarana pemersatu hubungan sosial antar warga dalam satu suku maupun antar suku. Hutan juga merupakan sumber sayuran. dan jenis-jenis burung tertentu sebagai sumber protein keluarga. hal tersebut merupakan usaha agar masyarakat adat tidak hanya menjadi “penonton” tetapi juga merasakan hasil kegiatan yang dilakukan. klan. Masyarakat adat melihat hutan mempunyai fungsi ekonomi karena merupakan tempat menggantungkan kehidupan sehari-hari. Bagi masyarakat adat. menokok sagu. ataupun suku dapat di tentukan oleh seberapa luas tanah yang dimiliki orang/kelompok/klain/marga/suku tertentu. Hutan bagi masyarakat adat berfungsi sebagai tempat berburu rusa. serta sebagai tempat pengambilan bahan baku untuk pembuatan rumah. Selain itu tinggi rendahnya status sosial (social status) seseorang atau sekelompok orang dalam satu marga. Dengan adanya kondisi tersebut rasa persaudaran mereka tetap terikat kuat karena adanya rasa bersama dalam memiliki hutan adat mereka. Pemanfaatan sumber daya alam berupa tanah dan hutan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) masih mengandalkan kearifan tradisional. Sayori. Pola pemanfaatan sumber daya tanah secara tradisional biasanya mengacu pada sistem kelembagaan yang meliputi aturan. Pola ini merupakan aturan tak tertulis yang disepakati bersama oleh para pemilik tanah yang berlangsung turun temurun. B. babi hutan. dan Horna “mengklaim” sebagi kelompok dengan status sosial tinggi karena memiliki tanah yang sangat luas yang membentang mulai dari pegunungan Arfak sampai ke Pesisir Teluk Bintuni. Pemanfaatan dan pengelolaan hutan oleh masyarakat di sekitar kawasan CATB menunjukan bahwa hutan merupakan sumber utama kehidupan.

Aturan-aturan tersebut antara lain: (1) (2) Lahan yang dikelola haruslah milik marga/klan/anggota suku. masyarakat menggantungkan hidupnya pada kegiatan berkebun dimana mereka juga terikat pada aturan-aturan yang berlaku yang disepakati bersama. pemagaran. dekat kebun. Hal ini senantiasa diperhatikan karena bila kegiatan perburuan dilakukan tanpa didasarkan atas aturan batasbatas tanah ulayat klan. Namun seiring dengan perkembangan jaman. lebih berhubungan dengan prinsip-prinsip pengaturan dalam memenuhi kebutuhan subsistensi keluarga. (4) Pembukaan lahan. atau kebakaran hutan dapat dilakukan pengaturan dan penanggulangan secara bersama-sama oleh anggota atau suku yang bersangkutan.36 . Dari segi pengumpulan bahan bangunan. yang tumbuh disekitar pemukiman. saudara kandung. (3) Batas-batas lahan yang telah disepakati. tidak boleh diubah begitu saja tanpa kesepakatan bersama antar anggota klan atau suku dengan harapan bahwa dalam pengelolaannya tidak mengganggu kepentingan anggota yang lain. Pemburu yang berhasil tersebut senantiasa membagi-bagikan hasil buruannya kepada tetangganya dengan radius dua rumah juga kepada keluarga dekat seperti kakek-nenek. tunas atau buah-buahan yang tumbuh di sekitar kampung atau dekat dengan kebun-kebun penduduk. ada pemburu yang adakalanya berhasil dari pada yang lain. dan dapat juga diwarisakan kepada keturunannya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dalam bertani misalnya. Aturan juga dibuat dalam berburu binatang liar dimana pola pemanfaatan dilakukan hanya pada areal hutan yang merupakan milik klan atau suku yang bersangkutan. Dari segi pemanfaatan hasil buruan. bunga. orang tua. dimana “pihak luar” mulai masuk. para pemilik tanah mulai terperikat untuk Keadaan Umum Kawasan II . bisa berdampak terhadap terjadinya pertentangan bahkan konflik. dan penanaman sedapat mungkin dilakukan secara bersama-sama anggota klan atau suku yang lain agar bila terjadi musibah seperti banjir. membersihkan atau yang punya lahan dimana tumbuhan tersebut berada dan selanjutnya diwariskan kepada keturunannya. Pola pemanfaatan tersebut diatas. pohon dan tumbuhan yang biasanya digunakan untuk bangunan atau keperluan rumah tangga. pada pelaksanaan kegiatan berburu. dapat di klaim sebagai milik pribadi oleh mereka yang pertama kali menemukan. pembakaran. atau di kawasan pamali dapat diklaim sebagai milik pribadi oleh mereka yang pertama kali menemukan atau membersihkannya. Lahan yang dikelola dianjurkan berdekatan dengan lahan milik anggota klan atau suku lain dengan harapan memudahkan dalam pengerjaan dan pengontrolan bersama. atau para kerabat dekat di luar radius tersebut. Dalam meramu sayuran dan buah-buahan untuk konsumsi seperti daun. kekeringan. buah. penebangan pohon.

udang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong “menyerahkan” sumberdayanya untuk digunakan. Khusus untuk buaya. Pemanfaatan fauna lebih terfokus pada fauna perairan.37 . seperti pembuatan tiang-tiang rumah tradisional dan tiang pagar rumah. Keadaan Umum Kawasan II . dimana sebagian masyarakat ada yang bermatapencaharian sebagai nelayan. maka penggunaan hutan lebih banyak mengarah pada prinsip-prinsip ekonomi yang menghasilkan keuntungan materiil. Anak Kasih dan Tirasai. kepiting. Jenis fauna yang ada di dalam kawasan CATB seperti buaya. B. Hal ini berdampak pada semakin terkikisnya sistem kearifan tradisional yang mengandung nilai-nilai konservasi atas sumber daya tanah. seperti ikan. Bentuk interaksi dengan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pemanfaatan beberapa jenis flora oleh masyarakat lebih tertuju pada kayu sebagai bahan bakar dan juga bahan bangunan.6. Pola interaksi masyarakat sekitar dengan kawasan CATB yaitu dalam bentuk mata pencaharian. Ketika masuk sistem ekonomis kapitalis yang berbasis pada penggunaan uang. Yensei. Yakati. Hal ini karena ketika beroperasi sejumlah HPH. Selain itu sumberdaya alam hutan mangrove berupa lahan pada daerah peralihan telah dimanfaatkan sebagai kebun.rusa dan beberapa jenis burung banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai hewan buruan. yaitu berupa pemanfaatan jenis-jenis flora dan fauna serta lahan untuk kebun. Kegiatan pemanfaatan tersebut telah terjadi sejak jaman dahulu dan menjadi warisan bagi generasi sekarang. Mamuranu. dan lain-lain menyebabkan terjadinya perubahan struktur pemilikan dan pola peruntukan yang telah lama dianut masyarakat.3 Pemanfaatan Sumberdaya Alam di Kawasan CATB. dan kerang (bia). Areal hutan milik komunal telah dikonversi untuk berbagai kepentingan sekaligus dan masyarakat menerima kompensasi langsung. berburu dan menokok sagu. Buaya diambil kulitnya sedangkan rusa dan babi diambil dagingnya untuk dibuat dendeng. Hutan konversi untuk program transmigrasi. pemukiman. dimana masyarakat mengamabil sumberdaya alam tersebut hampir setiap hari. Apabila melihat pola tersebut maka pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan CATB cukup intensif. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara fisik dikelilingi oleh pemukiman penduduk yang secara turun temurun telah berinteraksi dalam bentuk memanfaatkan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan. rusa dan babi merupakan fauna yang sering diburu dan telah menjadi sumber mata pencaharian di beberapa kampung seperti Naramasa. Umumnya kompensasi adalah berupa uang tunai dan pembangunan rumah tinggal yang tentunya berdampak terhadap perubahan fungsi hutan untuk berbagai stakeholder.

sungai/kali/kanal kecil dalam kawasan yang terpengaruh pasang surut dan menggunakan jaring bekas trawl. Jenis Kerang Polymesoda coaxan yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB Rizophora sp. pada dalam mulut/muara kawasan kali/sungai/kanal dibentangkan sejenis jaring (bekas trawl) sampai ke dasar sungai dengan bantuan tiang-tiang kayu mangrove dari jenis Gambar II-24. Pada saat air sungai penuh/pasang naik (high tide). Keadaan Umum Kawasan II . Selain itu sebagian masyarakat sekitar kawasan juga sudah mulai mengenal dan menggunakan alat tangkap yang lebih modern yang diadopsi seperti rawai dan jaring udang (trammel net). yaitu penangkapan ikan dengan cara membentangkan (memotong) muara Gambar II-23. Teknik ini sudah berlangsung lama dan turun temurun dengan memanfaatkan salah satu karakteristik fisik kawasan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.1 Penangkapan dan Pengumpulan Hasil Laut Penangkapan ikan dan hasil perikanan lain oleh masyarakat di dalam dan sekitar BKSDA Papua II Sorong kawasan CA Teluk Bintuni umumnya masih sederhana. Jenis siput bor Bactronophorus sp.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. Peralatan tangkap yang digunakan masih bersifat tradisional seperti tombak. “PELEKALI”. yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB Gambar II-22. “PELEKALI. seser dan sero. masyarakat lokal yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan mengenal beberapa tradisional. Dalam kegiatan penangkapan ikan dan hasil laut lainnya.38 .6.3. Penangkapan ikan dengan menggunakan “JARING BALABUH” yang dilakukan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB cara/teknik yaitu teknik penangkapan penangkapan dan JARING BALABUH. Kolam-kolam yang terbentuk saat air surut (low tide) selanjutnya di beri sejenis racun yang berasal dari tumbuhan dikenal dengan “akar bore /tuba” yang dapat membuat ikan terbius “mabuk”. MANCING”.

Gambar II-25. menggunakan alat besi pengait. Daerah penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan CATB.000. keranjang. 4. sejenis molusca (marine borer) yang hidup di dalam batang kayu mangrove yang mati.000) dan dibagi dengan nelayan lain (1 perahu 2 orang). Jenis Kepiting bakau Scilla sp. Pemanfaatan berbagai jenis ikan dan udang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring ”berlabuh” dan untuk ”pele kali”. yaitu penangkapan hasil laut terutama ikan di dalam dan sekitar kawasan Cagar Teluk Bintuni oleh penduduk lokal dengan menggunakan perahu dayung/motor.000-300. yaitu teknik penangkapan ikan. akar bore (tuba) serta menggunakan perahu mesin/tanpa mesin.000/2 = Rp.70.500/liter) yang memerlukan sekitar 15 liter (± Rp.000 – 70.000/orang Rp.000 = 130.000.10 ekor.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong “JARING BALABUH”. hasil tersebut belum dipotong oleh bahan bakar (harga bensin Rp. Pengumpulan hasil laut yang dimaksud disini adalah pengambilan/pengumpulan hasil perikanan berupa kepiting (mud crabs) yang dalam istilah lokal disebut “Karaka”. pancing. Apabila bersih = Rp.000Sedangkan untuk yang menangkap kepiting (karaka) pada umumnya menggunakan perahu tanpa mesin/dayung (kole-kole) dan sekali melaut dapat menghasilkan 7. Keadaan Umum Kawasan II .650. Alat yang digunakan adalah alat pancing (nelon plus mata kail).000-100. Kodai serta sungai kecil lainnya. sekali melaut (sehari semalam) mereka dapat menghasilkan 1030 tali ikan. Jadi rata-rata sekali melaut yaitu Sedangkan untuk menangkap kepiting (karaka) Rp. kerang/siput (shellfish). dan kantong (noken). Pada umumnya para nelayan melaut tidak setiap hari. sehingga dapat menghasilkan rata-rata Rp.39 . dalam seminggu mereka melaut 2-3 penghasilan kotor kali. dan “Tambelo”. dan hasil perikanan lain secara tradisional dengan menggunakan jaring apung (lokal: jaring balabuh). Bokor. hampir meliputi seluruh kawasan terutama di Sungai Tirasai. 200. yang biasa dikumpulkan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB sekali melaut maka penghasilan sebulan rata-rata adalah Rp.000/sekali melaut. “MANCING”. Muturi. Pengumpulan hasil perikanan oleh masyarakat hanya dilakukan pada saat air surut (low tide). Hasil wawancara dengan para nelayan menunjukan bahwa. diasumsikan rata-rata pendapatan 65. Teknik pengambilan masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan “pengait” yang terbuat dari besi dengan panjang 1 m. udang.100. 50.975. Pengumpulan hasil laut biasanya dilakukan di komunitas hutan mangrove oleh penduduk lokal yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

000 10.000 Sumber : Hasil Survei Tim TNC. dan (c) anyamankeranjang Keadaan Umum Kawasan II . (a) (b) (c) Gambar II-26. kayu bakar. Bentuk pemanfaatan jenis palem sebagai (a) busur dan anak panah. 2005. Tabel II-16.000 5.000 10. Hasil wawancara dengan beberapa nelayan tradisional (pengumpul) bahwa dalam satu kali pengambilan.000 10. dan bahan bangunan.3. obat-obatan.000 10.6.000 25.000 7.000 5.000-35.000-10. (b) lantai rumah/para-para.000 10. terutama oleh masyarakat traditional yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jenis Hasil Perikanan Ikan Ekor Satu Ikan Sembilan Ikan Kepala Batu Ikan Congge Ikan Lasi Ikan Bubara Ikan Kakap Merah Ikan Sisip Udang Kepiting (Karaka) Tambelo kerang/bia/siput Satuan Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Ekor Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Kg Ekor Kantong Kantong Harga (Rupiah) 10. B. Hasil Perikanan yang dihasilkan di dalam Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) beserta harganya. tiap orang dapat mengumpul/mengambil 10-15 ekor/orang untuk “ karaka” dan 1-3 kantong/orang untuk kerang/siput.000-10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong khususnya bila pergantian pasang surut dan pasang naik terjadi pada siang hari. Hutan ini bagi masyarakat setempat merupakan sumber sumber bahan makanan.000-10.2 Pemanfaatan Tumbuhan Keberadaan ekosistem hutan dataran rendah dan ekosistem mangrove di kawasan dirasa sangat penting.40 .000 12000 10.

(beimes) Pinanga sp. bahan bangunan. Kehadiran jenis-jenis palem dalam ekosistem hutan dataran rendah membuat hutan ini menjadi berarti bagi masyarkat sekitar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Khusus untuk pemanfaatan sebagai kayu bakar. Peralatan yang digunakan untuk penebangan mangrove masih sederhana. yaitu pemanfaatan tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai Keadaan Umum Kawasan II .3 (aitaga besameh)) Licuala sp. Pengambilan kayu bakar dilakukan dengan mengumpulkan ranting/cabang pohon di hutan dataran rendah dan pohon mangrove yang mati/gugur dan pohon mangrove yang tumbang secara alami (akibat angin dan umur pohon tua). dibersihkan dan digunakan sebagai lantai rumah/parapara Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan anak panah Daun digunakan sebagai pembungkus makanan 4 5 6 7 8 Sumber: Hasil survei TNC. terutama ubi yang ditumbuk Batang langsung digunakan untuk mengikat tiang rumah Batang dibelah. dibersihkan sebagai tali busur Batang dianyam untuk pembuatan keranjang dan anyaman lain Batang dibelah sesuai ukuran. dan digunakan sebagai lantai rumah atau tempat duduk (para-para) Batang dibelah. Hal ini menjadikan hutan mangrove terutama di kawasan CATB masih terpelihara dengan baik. Masyarakat sekitar banyak memanfaatkan salah satu komponen flora ini untuk berbagai macam keperluan. yaitu menggunakan parang dan kapak.1 (aitaga moredek) Calamus sp. dibersihkan.2 (Humog) Pinanga sp. dibersihkan dan digunakan sebagai lantai rumah Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan anak panah Batang dibelah.3 (Corohuij moro) Kegunaan Bagian pucuk diambil sebagai bahan makanan Ijuk digunakan sebaga atat dan bubungan rumah Batang dikupas dan dibersihkan dan digunakan sebagai pengikat pagar dan tiang rumah dan tali busur Daun digunakan sebagai pembungkus makanan.2 (aitaga cidemeh) Calamus sp. Tabel II-17.41 . masyarakat sekitar hanya memanfaatkan ranting dan cabang yang gugur tanpa menebang pohon. obat tradisional. Hasil survei Tim TNC (2005) menunjukan bahwa masyarakat suku Sough yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni memanfaatkan beberapa jenis palem yang tumbuh di hutan dataran rendah CATB sebagai bahan makanan.1 (Amough) Pinanga sp. 2005 Pemanfaatan sumberdaya mangrove dapat dilihat dari dua tingkatan. serta senjata dan perkakas (Gambar II-27 dan Tabel II-17 ). dikikis sebagai bahan baku pembuatan busur panah Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan busur dan hulu tombak (sejata tradisional) Batang dibelah. Pemanfaatan vegetasi palem oleh masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No 1 2 3 Jenis (nama lokal) Caryota rumpiana (guta more) Calamus sp.

perkakas. tulang daun. Jenis-jenis yang dimanfaatkan hanya terbatas pada jenis mangrove dan nipah. Pemanfaatan hutan mangrove di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni hanya terbatas pada pemanfaatan hutan mangrove dalam skala traditional (traditional uses). Pemanfaatan flora hutan mangrove secara traditional pada umumnya dilakukan oleh masyarakat setempat untuk keperluan rumah tangga. Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. perkakas. pucuk. umumnya masih terbatas pada pemanfaatan tingkat komponen ekosistem (flora dan fauna) sebagai komponen primer kehidupan di hutan mangrove. buah malai dan akar. Keadaan Umum Kawasan II . yaitu anak daun. penduduk asli di sekitar kawasan Cagar Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong komponen utama kehidupan (primary biotic component). Pemanfaatan nipah oleh masyarkat suku-suku ini antara lain sebagai bahan Gambar II-29. dan Wamesa dalam kehidupan lintas generasi telah memanfaatkan tujuh bagian nipah yang dapat dimanfaatkan. obat-obatan. yaitu masyarakat suku Sough. Rumah tradisional masyarakat lokal yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari vegetasi nipah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni makanan/minuman. Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Khusus untuk masyarakat yang yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam. dan kerajinan. energi. perlengkapan perahu tradisional (Gambar II-27).42 . Gambar II-28. serta untuk keperluan tiang-tiang pagar dalam kegiatan mencari ikan (fishing) yang dalam istilah lokal disebut “ tiang belo” (Gambar II-28). tangkai daun. Gambar II-27. Pemanfaatan jenis mangrove oleh masyarakat lokal umumnya digunakan sebagai kayu bakar. dan perlengkapan perahu tradisional. bahan bangunan seperti untuk atap dan dinding rumah (Gambar II-29). bahan bangunan rumah. Khusus untuk vegetasi nipah. Kuri.

pondok. sejenis minuman tradisional/lokal tangkai daun dipotong kecil. ranting. abunya diambil dan disimpan di dalam media bambu sebagai subtitusi GARAM dapur. dibersihkan dibelah menjadi dua bagian selanjutnya dimanfaatkan sebagai pengikat pengganti paku untuk mengikat atap atau kajang Digunakan langsung sebagai tiang rumah Akar dibakar dan arangnya diletakan pada gigi yang sakit Kulit diparut digunakan sebagai obet kudis Anak daun maupun tangkai daun yang telah kering diambil sejanjutnya dibakar Digunakan langsung sebagai kayu bakar Digunakan langsung sebagai kayu bakar Rhizophora sp. dan perahu yang dapat beratahan 3 – 5 tahun masa pakai Untuk dinding. AYAKAN SAGU. selanjutnya dibentuk menjadi sebuah tabung yang berdiameter 25 – 30 cm dan tinggi 80 – 100 cm untuk WADAH TEPUNG SAGU. Pemanfaatan komponen flora pada ekosistem mangrove oleh masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. seperti disajikan pada Tabel II-18. Tujuan pemanfaatan Bahan makanan/minuman Jenis yang dimanfaatkan Nypah Fructicans Bagian yang dimanfaatkan Buah No. dipotong sesuai ukuran kemudian dirakit sebagai dinding Untuk para-para (tempat duduk).43 . tangkai daun dibersihkan selanjutnya ditancapkan sepanjang bentangan jaring sebagai penahan jaring agar tidak terbawa arus air pasang dan surut atau dipotong sesuai ukuran para – para lalu disusun sebagai tempat duduk saat memancing ikan. diasapi di atas tungku api. Batang akar Kulit anak daun dan tangkai daun Batang Batang. dan KAMBOTI (pengganti kantong) Keadaan Umum Kawasan II .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berikut adalah rangkuman pemanfaatan komponen flora pada ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Bahan baku pembuatan atap dan kajang (dinding) rumah. 3 Obat-obatan Nypah Fructicans Rhizophora sp. Malai Tangkai daun 2 Bahan Bangunan Nypah Fructicans Daun Tangkai daun Bakal tangkai daun (pucuk) Pucuk dibersihkan dari anak daun. Rhizophora sp. 4 Energi bakar) (bahan Nypah Fructicans Bruguiera sp. cabang anak daun 5 Perkakas anak – anak daun dijahit pada bahan mudah lentur dengan panjang 50 – 60 cm. Tabel II-18. setelah kering dibakar. dikuliti. 1 Cara pemanfaatan Buah mudah dibelah air dan daging dimakan dan diminum dengan rasa seperti buah kelapa muda Malai dipotong kemudian disadp untuk mengahsilkan nira (bobo). tangkai daun nipah dijemur sampai kering.

Bahan baku pembuatan atap perahu yang dapat beratahan 3 – 5 tahun masa pakai Digunakan langsung sebagai tiang rumah perahu Digunakan langsung sebagai tiang-tiang pancang (belo) untuk ditempatkan jaring trawl dalam kegiatan “pele kali” 7 Perlengkapan perahu tradisional Nypah Fructicans Daun Rhizophora sp. senter serta perahu dayung (kole-kole). ikan. Alat yang mereka gunakan berupa tombak. Buaya yang diburu harus memiliki diameter badan antara 12 sampai 20 inci.44 . masyarakat yang bermukim di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni masih tergantung pada ketersediaanya di alam. Dalam memenuhi kebutuhan akan protein. Batang Sumber: Hasil survei Tim TNC. Sobrawara. Tujuan pemanfaatan Jenis yang dimanfaatkan Bagian yang dimanfaatkan BKSDA Papua II Sorong Cara pemanfaatan sebagai pembungkus untuk memasak (bakar) bahan makanan seperti sagu.3.6. rusa (Cervus timorensis). parang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. dan daging. Kondisi ini menyebabkan dalam kehidupan lintas generasi selalu melakukan aktivitas Gambar II-30. dan kepiting. keranjang yang atasnya terbuka (idate) dan tertutup (kirore). masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar CATB. Mereka berburu buaya minimal 2 orang (satu perahu) dan berburu pada saat malam hari.3 Tempat Berburu Masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni dengan ekosistem utama adalah manggrove yang kaya berbagai jenis satwa liar seperti babi huta (Sus sp. B. Selain pemanfaatan hasil perikanan berupa ikan. Batang 8 Tiang belo Rhizophora sp. udang. 2005. serta berbagai jenis burang dan mamalia. Yensei dan Yakati. Tangkai daun Tulang dibersihkan kemudian dijadikan sendok (gata-gata) yang digunakan untuk mengkonsumsi makanan tradisional (papeda) sebagai sapu untuk membersihkan dalam dan di sekitar rumah. karena ukuran Keadaan Umum Kawasan II . terutama di Kampung Naramasa. di Tulang daun 6 Kerajinan Anak daun Anak daun dianyam membentuk kerajinan tangan seperti topi. Dendeng rusa dan babi hutan yang diperoleh dari berburu di hutan sekitar kampung Mamoranu dalam Cagar Alam Teluk Bintuni perburuan maupun penangkapan terhadap satwa liar untuk memenuhi akan protein hewani. Yakati dan Yensei juga melakukan perburuan buaya di Sungai Naramasa. Peranan kawasan CATB menjadi penting sebagai sumber protein hewani bagi penduduk sekitar.).

yaitu rusa dan babi. 15. Gambar II-31. Alat yang digunakan berupa tombak. Sekarang sekali berburu memerlukan waktu 1 – 2 minggu dan rata-rata hanya memperoleh 3 – 4 ekor. Rusa dan babi banyak terdapat di hutan dataran rendah di sekitar hutan mangrove.4 Tempat Berladang Ladang dan kebun masyarakat yang terdapat di dalam kawasan umumnya berlokasi/letaknya jauh dari pemukiman. dan Bintuni Timur. Harga kulit buaya saat ini. Distrik Idoor. jerat serta anjing. daging serta bagian lain dari tubuh buaya hampir hal setiap ini minggu datang ke kampung. B.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong badan buaya tersebut yang laku di pasaran.000/Kg. Usaha yang dikembangkan oleh masyarakat Yensei. dan Bintuni ini bisa dikembangkan di Kampung lain atau dikembangkan skala usahanya. mengindikasikan bahwa permintaan terhadap komoditas tersebut cukup tinggi.15. Pola perladangan adalah dengan sistem perladangan berpindah yang Gambar II-32 Lahan kebun dan bekas kebun masyarakat lokal di Kampung Mamoranu yang berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ditanami dengan jenis tanaman semusim. Berdasarkan hasil wawancara dengan yang berburu buaya. parang. Perburuan lain terhadap fauna yang ada di kawasan CATB. Daging rusa dan babi di jual dalam bentuk dendeng.6.45 .000/inci.3. yaitu rata-rata Rp. Dalam berburu rusa dan babi dilakukan secara sendiri maupun berkelompok. pembeli kulit. Apabila dibandingkan dengan 5 sampai 10 tahun yang lalu. Naramasa. buaya Selain diambil kulitnya daging oleh masyarakat serta Para dikonsumsi “tangkur” buaya cukup laku di pasaran. sekitar 7 – 10 ekor anak buaya dimasukan dalam kandang anakan buaya berukuran 4 m x 6 m (Gambar II-31). harga pasaran sekarang yaitu Rp. hasil masyarakat tangkapan saat ini sudah semakin sulit di dapat. Keadaan Umum Kawasan II . Naramasa. Dalam kegiatan ini. Model Kandang pembesaran anakan buaya di Kampung Yensei. dalam waktu seminggu berburu mereka dapat menghasilkan 7 sampai 10 ekor buaya. panah. Usaha dari masyarakat untuk melakukan pembesaran anakan buaya sudah mulai dilakukan di kampung Yensei. sehingga pola pemanfaatan buaya dengan cara pengambilan dari alam lambat laun bisa dikurangi. Ladang atau kebun pada umumnya diusahakan baik oleh masyarakat yang tinggal di luar maupun di dalam kawasan CATB.

6. dan Pigo. Waney. Sirimbe. maka mereka akan berpindah ke lokasi lahan yang baru dengan lama pengusahaan lahan (masa bera) 1-2 tahun. menebang pohon-pohon tingkat pancang dan tiang. S.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong ubi-ubian. Setelah tanaman dipanen. Setelah itu dilakukan penanaman sesuai jenis tanaman yang akan diusahakan. Menurut informasi dari tokoh kunci (Andarias Iba) di Kampung Tuasai bahwa tanah yang saat ini menjadi hak ulayat marga Iba merupakan pemberian dari marga Yettu sebagai balas jasa atas bantuan marga Keadaan Umum Kawasan II . S. S. Maboro. Muturi. margamarga yang memiliki hak ulayat cukup besar di kawasan adalah Susumbokop. Manibuy. sebagai berikut : Pembersihan lantai hutan. dan Kemon. S. Suku Sough yang mendiami kawasan S. Efredire. dan suku KURI dari marga Urbon. Tatitri. Maboro. Menebang pohon–pohon besar yang ada dalam lahan.46 . Marga Imery meliputi S. B. Pembakaran dilakukan setelah ranting-ranting pohon dan semak-belukar yang ada sudah Kering dan kemudian hasil pembakaran berupa abu dibiarkan agar terdekomposisi/bercampur dengan tanah yang ada. Secara tradisional.3 Kepemilikan Lahan Hasil survey lapangan Tim TNC (2005) berhasil mengidentifikasi kepemilikan lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat (Gambar II-33). Tirasay. Khusus untuk suku Wamesa. 2005).0 ha untuk tiap kepala keluarga. yaitu menebas semak belukar. sedangkan marga yang lain hanya memiliki kurang dari 15 % dari total wilayah yang menjadi hak ulayat suku Wamesa (Hasil Survey Tim. Sungai Sumberi. Banjar Ausoy. Pola pembukaan lahan atau kebun masyarakat secara umum mempunyai beberapa tahapan. dan S. dan Iba). Tiri.25 – 1. Simeri. sayuran dan jenis tanaman buah-buahan dengan rata-rata luas lahan 0. Tikamari. kemudian lahan tersebut dibiarkan beberapa waktu tertentu agar bekas ranting pohon dan semak belukar menjadi kering. Simeri lebih dikenal dengan panggilan Manikion Parirei. Yettu. Masyewi. kawasan ini berada dalam pengelolaan wilayah adat tiga suku besar yakni Suku SOUGH (marga Imeri. Wasian. dan S. Suku ini terutama dari marga Yettu dan Tiri “mengklaim” wilayah hukum adat mereka meliputi wilayah muara Sungai Wasian. S. Ranting pohon dan semak-belukar yang ada dikumpulkan pada suatu tempat dalam lahan/kebun dan atau dipinggir. Bintuni.Bintuni hingga S. Tatiri. Banjar Ausoy. Kemon. Kawab. Anak Kasih. dan suku WAMESA (marga Fimbay. S. Kindewara. dan Susumbokop). Tisai. Tirasay. Sedangkan Marga Iba memiliki wilayah hukum adat mulai dari Sungai Sigirau sampai dengan S. S.

Anak Kasih yang merupakan pemberian dari marga Imery. Hal ini terjadi karena menurut sejarah yang diceritakan oleh tokoh adat Wamesa (Bpk. P.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Iba yang telah ikut membantu menyelesaikan masalah (perang saudara) yang waktu itu dialami oleh marga Yettu. Kemon. S. adalah milik orang Yensei ( Suku Wamesa).Sobrowara. Keadaan Umum Kawasan II . Manibuy. Susumbokop. Modan. Marga Fimbay. Pulau Modan Naramasa. Hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat (Bernadus Sioho) bahwa hal yang sama juga terjadi pada marga Sioho yang memiliki hak ulayat di daerah Sungai Tikamari dan S. Sampai saat ini kepemilikan Pulau Modan masih menjadi percebatan antara suku Wamesa dengan Suku Kuri. Modan. Sedangkan suku KURI mengklaim wilayah adat mereka meliputi daerah sekitar Sungai Menurut pengakuan orang Kuri. Gambar II-33. Pulau Modan pada jaman kerajaan Tidore merupakan pusat pemerintahan daerah kekuasaan kerajaan Tidore di Irian. Set Efredire). Peta Kepemilikan Lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat Suku Wamesa khususnya marga Manibuy “mengklaim” bahwa sebelum adanya perang suku wilayah adat mereka mulai dari Sungai Simeri hingga S. Adrian Tatiri) dan Kuri (Bpk. dan S. Kedua suku tersebut mengklaim bahwa suku merekalah yang punya hanya aulat di Pulau Modan tersebut. Sirimbe.47 . dan Maboro yang berasal dari kampung Yakati “mengklaim” wilayah Gunung Taberay Pulau Nusuama. Marga Tatiri. Masyewi yang berasal dari kampung Yensei “mengklaim” wilayah hukum adat mereka meliputi Pulau Maniai. Pulau Kaboi sampai dengan Sungai Kodai.Jawarupai dan P.

dan dimasa yang akan datang Bappeda Teluk Bintuni akan mencoba memfasilitasi hal tersebut. terdiri dari sarana Transportasi Udara.S. Distrik Kuri) yang terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.7 Sarana dan Prasarana Transportasi Sarana transportasi yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni khususnya di 3 Distrik (Distrik Bintuni. Akan tetapi transportasi udara di Kabupaten Teluk Bintuni sangat tergantung dari cuaca. bahwa kesepakatan mengenai batas tanah adat harus segera dilakukan agar tidak terjadi konflik antar suku. Sarana transportasi darat jenis land cruiser (hardtop) yang melayani transportasi Manokwari-Bintuni PP Keadaan Umum Kawasan II . Tessa. Kesepakatan mengenai batas tanah adat perlu segera dilakukan agar tidak terjadi “konflik” antar ketiga suku dimasa yang akan datang. Karena sampai saat ini belum dilakukan kesepakatan antara ketiga suku besar tersebut. Sarana transportasi udara jenis TwinOtter di pelabuhan udara kota Bintuni yang melayani penerbangan ke dan dari kota Bintuni melakukan penerbangan . Transportasi Udara Di Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni terdapat sebuah lapangan terbang dengan konstruksi aspal yang bisa di darati oleh jenis Pesawat Twin-Otter (Gambar II. dengan frekuensi penerbangan sekali seminggu (Kamis) dari manokwari dan hari Minggu dari Sorong. Tansportasi Darat Untuk mencapai kampung-kampung terdekat di sekitar Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni dapat di tempuh dengan menggunakan kendaraan umum roda empat (taxi) dengan jumlah armada yang terbatas.34.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Batas-batas kepemilikan tanah adat tersebut. B.34) dan Cesna. belum merupakan batas adat yang mutlak. apabila cuaca buruk maka setiap maskapai tidak jadi Gambar II. Darat dan Sungai/Laut. Disamping itu juga tersedia sarana transportasi roda dua (ojek) yang melayani penumpang umum Gambar II-35. Penerbangan reguler ke kabupaten Teluk Bintuni dilayani oleh maskapai Merpati Nusantara.48 . Selain itu juga bisa menggunakan pesawat carteran jenis cesna milik AMA dari Manokwari. Hal tersebut diakui juga oleh Kepala Bidang Sosekbud Bappeda Teluk Bintuni Bpk.Sos. Distrik Idoor.

Tansportasi Sungai/Laut Peran sarana transportasi sungai/laut sangat penting untuk kampung-kampung di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). perahu motor Sungai & laut. Sedangkan transportasi darat yang melayani penumpang umum yang akan berpergian ke luar kota/Kabupaten Teluk Bintuni khususnya Manokwari menggunakan Hardtop (Gambar II-35) dengan waktu tempuh 12 – 16 jam.Tatawori-LautS. CRMP.Yensei-S.Anak kasih-S. perahu motor Sungai & laut.Wasian S. Sarana transportasi laut/sungai jenis longboat yang digunakan masyarakat di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni.5 jam 4 jam 4 jam 6 jam Keterangan S. Tabel II-19. Jumlah dan jenis sarana transportasi darat yang ada di Kota Bintuni disajikan pada Tabel II. Keadaan transportasi jalan kota Bintuni adalah jalan beraspal (sebagian besar sudah rusak) sepanjang 13 km yang menghubungkan lokasi-lokasi pemukiman penduduk. Akses beberapa kampung di sekitar Cagar Gambar II-36. Unipa. No 1 2 3 4 5 Kampung Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Sarana dan Jenis Transportasi Sungai & laut.Tatawori-LautS.20.Wasian Sumber: Hasil survei tim TNC. khususnya kampung-kampung yang berada di wilayah pemerintah Distrik Idoor dan Kuri. sedangkan jalan yang menghubungkan ibukota Kabupaten Teluk Bintuni dengan kampung-kampung di sekitarnya adalah jalan tanah timbunan dan jalan tanah yang dipadatkan. Sarana transportasi darat yang menghubungkan Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni dengan Kabupaten terdekat (Kabupaten Manokwari) adalah jalan timbunan (pengerasan) dan jalan beraspal 74 km 126 km (Pemda Prov. Keadaan Umum Kawasan II . 2003).49 . Papua.Wasian S.Yakati-S.Kamisayo-Laut-S.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam kota dan ke kampung di sekitar kota Bintuni. Sarana dan Jenis Transportasi Kampung di sekitar CATB ke Ibukota Distrik dengan saran Transportasi Sungai/Laut.Manibuy-LautS. perahu motor Waktu Tempuh 3 jam 2. perahu motor Sungai & laut. Sarana transportasi utama adalah perahu motor atau longboat (Gambar II-36) dan perahu dayung. Naramasa-Laut-S.Wasian S. perahu motor Sungai & laut. 2005. Pemda Manokwari. Alam Teluk Bintuni ke pusat kota Kabupaten Teluk Bintuni menggunakan sarana transportasi sungai/laut disajikan pada Tabel II-19.

agar generasi yang akan datang masih dapat memanfaatkan sumberdaya alam yang ada. Tabel II-20. pasar pengganti. * Armada Milik PEMKAB Teluk Bintuni B. Pendugaan nilai ekonomi kawasan CATB dilakukan hanya pada hutan mangrovenya.8 Pendugaan Nilai Ekonomi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Pendugaan nilai ekonomi kawasan CATB perlu dilakukan agar semua pihak mengetahui betapa besarnya manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan.Teluk Bintuni telah memiliki sebuah dermaga/pelabuhan. Sehingga semua pihak merasa perlu untuk melestarikan kawasan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Selain itu untuk transportasi laut antar kabupaten. Sedangkan. karena mayoritas kawasan merupakan hutan mangrove.50 . pendekatan biaya ganti Keadaan Umum Kawasan II . Nilai ekonomi total (total economic value = TEV) merupakan jumlah dari nilai pemanfaatan (use value = UV) dan nilai non pemanfaatan (non-use value = NUV). Dengan demikian nilai ekonomi total dapat diformulasikan sebagai berikut: TEV = UV + NUV = (DUV + IUV + OV) + ( XV + BV) Pendekatan penilaian dalam perhitungan nilai manfaat kawasan CATB (ekosistem hutan mangrove) melalui perhitungan nilai total ekonomi yaitu menggunakan pendekatan produksi dan nilai pasar (productivity and market values). nilai pemanfaatan tidak langsung (indirect use value = IUV). Jalur pelayaran yang mempunyai akses dari dan ke Teluk Bintuni melalui Sorong adalah pelayaran reguler PT PELNI dan pelayaran swasta lain seperti disajikan pada Tabel II-20. 2005. Jalur pelayaran reguler dari dan ke Bintuni yang dilayani oleh PT Pelni dan pelayaran swasta lain No 1 2 3 4 5 Nama Kapal KM Papua III KM Lady Marina KM Bintang Satya KM Raflesia* KM Semuel* Trayek Mkw-Sorong-Babo-Bintuni-Kokas-Fakfak (PP) Merauke-Agats-Timika-Tual-Kaimana-Fakfak-Bintuni-Sorong (PP) Sorong-Babo-Bintuni-Kokas-Fakfak (PP) Bintuni-Babo-Kelapa Dua-Sorong Belum dioperasikan Sumber: Hasil survei tim TNC. nilai pilihan (option value = OV). Pendekatan yang digunakan dalam melakukan penilaian manfaat kawasan CATB (ekosistem hutan mangrove) didekati dengan menggunakan konsep penilaian ekonomi total (total economic valuation) dari produk barang dan jasa yang berguna (use value) dan yang tidak berguna secara langsung (non use value) . NUV adalah jumlah dari nilai eksistensi (existensi value = XV) dan nilai warisan (bequest value = BV). UV adalah jumlah dari nilai pemanfaatan langsung (direct use value = DUV).

dan (iii) fungsi Informasi. Keadaan Umum Kawasan II . dan contingen valuation method dengan memanfaatkan data hipotetik mengenai kesediaan membayar dan menerima (willingness to pay/ WTP and willingness to accept/ WTA) dari pengguna sumberdaya ekosistem hutan mangrove. Klasifikasi manfaat dan fungsi dari ekosistem mangrove ini. penangkapan ikan dan pengumpulan produk Sumberdaya genetic Sosial Ekonomi/ Fungsi Konversi Industri dan penggunaan lahan Tambak Usahatani padi Fungsi Informasi Informasi religius dan spiritual Inspirasi artistic dan budaya Informasi pendidikan.51 . Mencermati manfaat yang dapat dihasilkan dari ekosistem mangrove. selanjutnya dapat kita lihat pada Tabel II-21. Camillle Bann (1999) mencoba membaginya kedalam 3 domain yaitu: (i) fungsi produksi yang berkelanjutan. Sementara penilaian manfaat potensial dikawasan CATB dihitung dengan pendekatan asumsi dalam penilaian ekonomi (Tabel II-22). Dalam terminologi yang sifatnya holistik.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong (replacement cost). (ii) fungsi pengatur lingkungan. sejaran dan pengembangan ilmu pengetahuan Habitat bagi penduduk asli Tempat rekreasi Memelihara biodiversity Tempat migrasi habitat Tempat pemijahan dan pembibitan Supplai unsur hara (nutrient) Regenerasi nutrien Melindungi dan memelihara terumbu karang Perhitungan nilai ekonomi dari setiap jenis manfaat ekosistem hutan mangrove untuk nilai aktual didasarkan atas asumsi-asumsi pada tingkat harga. biaya di sekitar kawasan CATB. ekosistem hutan mangrove juga memiliki “keunikan” dan berfungsi secara sosial dan ekonomi. Fungsi dan Manfaat Lingkungan Ekosistem Mangrove Fungsi Produksi Berkelanjutan Kayu bakar Arang Fungsi Pembawa dan Pangatur Pengendali erosi Penyerap dan recycle limbah manusia dan polutan lainnya Ikan Udang Tannin Nipa Obat-obatan Perburuan tradisional. Table II-21. produksi.

1996) Konversi Rp. diasumsikan potensi yang digunakan untuk chip yaitu 80% yaitu 86 m3/ha. 4. dengan luas areal nipah 480 ha Produksi 1178 Ton/thn.500/US$. Potensi tegakan mangrove marupakan potensi keseluruhan jenis dan diasumsikan semua dipakai untuk chip 2 Chip 17974000 142500 Nilai biodiversitas hutan mangrove perhektar US $ 1500 km2/thn atau sekitar US $ 15/ha/tahun (Ruitenbeek. 10000/Tali (2 Kg) = Rp 5. Burung) 8 9 Pengendali Erosi Penyerapan Carbon 95937 3441763 789976 129024 76200 127264 Produksi 1495 ton/tahun. 9. 9. Rusa. 50. konvers Rp.473 ha (rotasi 20 thn).000 m3/thn harga ekspor chip = US $ 40/m3. Sementara jenis manfaat bahan bangunan dan chip merupakan nilai potensial. Asumsi Dasar Penilaian Jenis Manfaat Hutan Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn) 1 Kayu Bakar 2188 Cagar Alam Teluk Bintuni (Hutan Mangrove) Asumsi Dasar Penilaian Manfaat (Aktual) Luas mangrove 112. Ikan besar (kakap merah) Rp.5 juta/KK/ tahun.9 juta/KK/ tahun (2200 KK). sagu sampai dengan satwa liar merupakan nilai aktual yang selama ini telah ada dan dimanfaatkan oleh masyarakat.365 ha . 1991) konversi Rp.Potensi Luas panen tegakan mangrove 22. Jenis manfaat kayu bakar. harga rata-rata Rp. 2003) dan potensi tegakan 66 m3/ha.500/US$ 10 Manfaat pilihan biodiversitas Manfaat Keberadaan Habitat No Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn) 1 Kayu Bangunan 942000 Cagar Alam Teluk Bintuni (Hutan Mangrove) Asumsi Pendugaan Nilai Potensial Luas mangrove 112. Nilai manfaat keberadaan habitat mangrove US$ 2516/ha/thn (Meilant.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-22. 9500/US$).10.000/m3. 6. yang sering digunakan sebagai bahan bangunan harga Rp. Biaya 40% dari penerimaan Potensi tegakan mangrove 107 m3/ha.5.000/Batang. harga atap daun nipah Rp. biaya sekitar 20% dari penerimaan. Biaya 45% dari penerimaan Keterangan : Produksi ikan dan udang (1178 dan 1495 ton/tahun) merupakan produksi total perairan Teluk Bintuni 2003 (Sumber : Atlas Sumberdaya Pesisir).52 .926 kg/ha di Riau (E. jumlah penduduk 2200 KK.365 ha (157Pohon(Batang)/ha) jenis Rhizopora sp. 9500 /US$ 3 Ikan 104837 11 6291000 Asumsi penilaian diatas dimasukkan unsur biaya yang merupakan biaya proses produksi seperti tenaga kerja.15.05 kg/ha/thn dengan harga rata-rata Rp.Hilmi. biaya 20% dari penerimaan Didasarkan pada pendapatan penggunaan lokal (berburu dan meramu) Rp. biaya 30 % dari penerimaan 2 Atap Daun Nipah 240000 Produksi 150 bengkawang/ha/thn. Babi.25/kg (konversi Rp. harga carbon/kg = US $ 10/ton. dibagi dengan luas areal mangrove (112. dikonversi (Rp. serta biaya produksi lainnya. Keadaan Umum Kawasan II . 2000/bengkawang. Produksi 0. dibagi dengan luas areal mangrove Penilaian berdasarkan produktivitas pertanian lokal Rp. dibagi luas areal mangrove Diproksi dari kandungan karbon hutan mangrove 19.000/ekor. 9500/US$). chipwood plant = 300.04 ekor/ha/thn dengan harga Rp.365 ha) Produksi 23. dibagi dengan luas areal mangrove (112.7.365 ha) 4 5 6 7 Udang Kepiting/Karaka Kerang/bia Satwaliar (Buaya.000.000/ekor (2 Kg) Jadi Harga rata-rata Rp 10.0625 m3/ha/th harga Rp.000/kg. dikonversi ke dalam tegakan mangrove per hektar (107 m3/ha). harga US$ 6. biaya 20% dari penerimaan Produksi 19.000/kg.

791.990.425.522.404. dan fungsi sosial ekonomi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Sebagai suatu sumberdaya.810.916 158.125.652.318.708.269.633. penilaian ekosistem mangrove didasarkan kepada manfaat dan fungsi-fungsi yang dihasilkan. kayu dari Cagar Alam Teluk Bintuni tidak bisa dimanfaatkan sebagai Keadaan Umum Kawasan II .041.000 2.892.915 Manfaat Ekonomi Kawasan Sumber : Perhitungan data lapangan Manfaat Ekonomi (Rp) Total Kawasan 16.200 17.000 11.225.294.000 306.240.926. ekologis. baik fungsi produksi.667 5.058.160 211.53 . Yang termasuk kedalam nilai ini adalah manfaat kayu jika digunakan sebagai bahan baku chip dan kayu bangunan. Tabel II-23.901 14. Keragaan nilai manfaat ekosistem mangrove kawasan CATB dapat dilihat pada Tabel II-23. Penilaian total manfaat ekonomi dari ekosistem hutan mangrove meliputi penilaian manfaat langsung.402.522.392 1.833 10.233.939 5.200 20.000 2.100 384.444 576.853.720 2.192 26.000 620.300.000.673.779. diketahui bahwa total nilai ekonomi ekosistem mangrove dapat dibedakan menjadi manfaat langsung dan tidak langsung.780.000 330.247.937 2. manfaat pilihan dan manfaat keberadaan.296 3.442.895 Berdasarkan hasil analisis data Tabel II-23.322.699.150.000. Total nilai ekonomi yang dihitung yaitu nilai aktual dan nilai potensial.508.992 2.400 23. Sebagai kawasan konservasi.479.497.000 694.935. Prediksi Nilai Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan CATB Jenis Manfaat Ekonomi per Ha Manfaat Langsung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kayu Bangunan Chip Kayu Bakar Atap Daun Nipah Ikan Udang Kepiting/Karaka Kerang/Bia Satwa Liar 150.984 39.333 6.960.126 31. manfaat tidak langsung.800 328.297 4.176.980 Manfaat Tidak Langsung 1 2 3 4 5 6 Perangkap sedimen Penyerapan Karbon Manfaat Pilihan Biodiversitas Manfaat Keberadaan Habitat Penahan abrasi Pencegah Intrusi 95. Nilai potensial diaproksimasi dengan menghitung manfaat potensial yang ada dan atau berpeluang dikembangkan jika masyarakat dapat memanfaatkan secara optimal.727.000 3.825 18. Nilai aktual adalah nilai pemanfaatan hutan mangrove saat ini.563.715 238.000 1. Manfaat langsung yang ada di kawasan juga ada yang tidak bisa dimanfaatkan dan ini dikategorikan sebagai manfaat potensial atau manfaat kesempatan.338.

rusa.72%). satwa liar serta manfaat tidak langsung seperti pengendali erosi. Jika dicermati maka terlihat dari manfaat langsung dan tidak langsung. dan sebagai penyerap carbon Rp. konservasi habitat.3% (Rp. kepiting/karaka.916 /ha/tahun. hasil perikanan dan satwa liar (meliputi ikan.937/ha/tahun. Oleh karena itu kelestarian hutan mangrove perlu dijaga terus agar nilai atau manfaat lain yang diperoleh selain nilai tegakan mangrove dapat tetap diperoleh.9% meliputi manfaat kayu bakar. 6. udang. Nilai ini diprediksi masih lebih rendah. karena belum semua manfaat hutan mangrove diperhitungkan seperti nilai manfaat obatobatan. Nilai manfaat langsung yang dimanfaatkan masyarakat dari kawasan mencapai 10. Permasalahan Hasil pengamatan dan wawancara langsung dengan masyarkat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) mengindikasikan adanya beberapa Keadaan Umum Kawasan II . Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian yang komprehensif tentang nilai manfaat ekonomi kawasan CATB. Analisis pendugaan terhadap nilai hutan mangrove Kawasan CATB merupakan gambaran awal berapa besar nilai manfaatnya secara ekonomi . atap daun nipah.980/Ha/Tahun) sedangkan manfaat tidak langsung dari jasa lingkungan mencapai 81.1% yaitu dari atap daun nipah.333/ha/tahun dan keberadaan habitat ekosistem hutan mangrove agar tetap tersedia mempunyai nilai ekonomi Rp. kerang/bia. BKSDA Papua II Sorong Kehilangan kesempatan ini akan menghasilkan manfaat langsung bagi penduduk dan manfaat jasa lingkungan yang nilainya jauh lebih besar. Keragaan nilai ekonomi manfaat langsung (aktual dan potensial) hutan mangrove menurut jenis dirinci sebagai berikut: nilai tegakan hutan mangrove sebesar 89. satwa liar dan atap daun nipah relatif cukup kecil akan tetapi nilai tersebut sangat penting karena merupakan nilai manfaat langsung yang setiap hari dirasakan oleh masyarakat didalam dan sekitar kawasan CATB untuk menunjang kehidupannya sehari-hari. Secara nilai ekonomi memang kayu mangrove untuk kayu bakar. Meskipun dari hasil pendugaan nilai manfaat ekonomi hasil perikanan. 2. 3. maka manfaat langsung hanya mencapai 18. Hal yang paling penting adalah bila hutan mangrovenya hilang maka nilai manfaat lain seperti hasil perikanan. C. perlindungan spesies langka serta hutan dataran rendah yang luasnya ±10% dari luas kawasan.727.667 /ha/tahun (20.54 . Sementara manfaat pilihan terhadap keanekaragaman hayati hutan mangrove sebesar Rp.915/Ha/Tahun).425. sebagai penyerap karbon serta nilai manfaat pilihan keanekaragaman hayati dan keberadaan habitat akan hilang.892. kayu bangunan dan chip menunjukan nilai terbesar akan tetapi nilai tersebut hanya jangka pendek (sesaat).176.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sumberdaya kayu terutama untuk kegiatan komersial. kayu bangunan dan chip. 14. 95.7% (Rp. babi dan burung) Nilai manfaat tidak langsung (aktual dan potensial) hutan mangrove sebagai fungsi pengendali erosi Rp. 158. buaya.

pada Keadaan Umum Kawasan II .92’’). C.1 Fisik Permasalahan fisik yang dimaksud di sini adalah kondisi fisik kawasan saat ini yang telah mengalami ganguan yang dapat mengancam keberadaan kawasan Cagar Alam seperti letak kawasan. Kondisi Mamuranu (Koordinat: S 20 14’8.69’’ dan E 1330 56’ 0.1.37”).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong permasalahan serius yang sedang terjadi di kawasan. C. pengelolaan DAS. Hasil pengamatan di lapangan serta informasi dari masyarakat.092S 20 03’ 0. C. Kampung Tirasai (Koordinat: S 20 03’ 2. dan tumpang tindih kawasan.1.1 Letak Kawasan Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa letak kawasan Cagar Alam TB yang sangat dekat dan pada beberapa bagian langsung berbatasan dengan pemukiman penduduk. infrastruktur.55 . Gambar II-37. Bahkan beberapa kampung yang didiami oleh penduduk asli letaknya berada dalam kawasan.31’’ dan E 1330 51’ 6.09’’).71’’ dan E 1330 58’6.2 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Secara fisik. Untuk keperluan Tempat Penimbunan Kayu (TPK) atau logyard beberapa industri perkayuan tersebut membuka beberapa bagian Cagar Alam Teluk Bintuni terutama pada ekosistem hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove. Hal ini bisa di kategorikan sebagai ancaman (threat) bagi keberadaan kawasan saat ini dan masa datang. Kampung-kampung yang letaknya dalam kawasan adalah Kampung E133 56. Kampung Anak Kasih (Koordinat: menyebabkan aksesibilitas masyarakat di sekitar ke kawasan sangat mudah dan sedikit mengalami kesulitan dalam pengawasanya sehingga tekanan terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sangat besar. di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mengalir beberapa sungai besar dan kecil yang bermuara di perairan Teluk Bintuni dan mempunyai fungsi sebagai sarana transportasi bagi masyarakat lokal. Pembukaan lahan hutan dataran rendah untuk logyard kegiatan logging di dekat Kampung Tirasai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil pengamatan di lapangan juga menunjukan bahwa letak kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga berbatasan langsung dengan hutan produksi yang merupakan areal penebangan beberapa Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seperti PT Yotefa Sarana Timber di bagian Utara. PT Bintuni Utama Murni Wood Industries (PT BUMWI) di bagian selatan dan PT Manokwari Lestari di bagian Timur.

Akibatnya substrat yang terbawa banjir di musim hujan akan menumpuk membentuk delta di muaramuara sungai di perairan Teluk Bintuni.1. C.3 Infrastruktur Hasil pengamatan di menunjukan bahwa infrastruktur pendukung dalam kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dengan luasan yang cukup besar (124. dilakukan para Kegiatan ini umumnya pemegang HPH dan Kopermas yang memiliki konsesi di sekitar CATB. Aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya permasalahan tersebut. Infrastruktur yang ada saat ini hanya berupa satu buah pondok kerja berukuran 36 m2 yang sekaligus merupakan rumah tinggal kepala resort KSDA Bintuni. Pengendapan lumpur (sedimentasi) yang membentuk delta di muara S. Gambar II-38. Bintuni/Wasian di dalam Kawasan CTAB C. ini karena sebagian besar ekosistem penyusun kawasan terutama ekosistem mangove sebagai komponen ekosistem utama masih alami dan terpelihara dengan baik. 850 ha) sangat kurang memadai. dan faktor sosial budaya. dan penurunan populasi beberapa jenis satwa tertentu disebabkan oleh aktivitas manusia.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong saat musim penghujan sungai-sungai tersebut seringkali meluap dan airnya berubah warna coklat-keruh. Permasalahan biologi yang bisa terlihat adalah permasalahan karena faktor eksternal yang terjadi karena bukan merupakan hubungan antar ekosistem atau spesies . yaitu degradasi dan perubahan struktur hutan dataran rendah. Hal ini sangat mempengaruhi kegiatan pengelolaan terutama dalam hal pengawasan dan perlindungan kawasan. Hal ini mengindikasikan besarnya tingkat erosi yang terjadi pada daerah hulu (upland) sebagai akibat “laju pengrusakan” lahan hutan yang tak terkendali.2 Biologi Hal Permasalahan internal biologi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih belum terlihat. yaitu pembukaan lahan untuk keperluan tempat penimbunan kayu oleh pengusaha HPH di sekitar kawasan. Hasil pengamatan di lapangan berhasil diidentifikasi beberapa permasalahan yang dihadapi pada ekosistem/flora/fauna yang berada di dalam kawasan.56 . degradasi sebagian kecil hutan mangrove. Keadaan Umum Kawasan II . gejala alam. Hal ini diduga karena pengusahaan hutan yang tidak memperhatikan aspek kelestarian lingkungan banyak terjadi pada ekosistem hutan hujan dataran rendah yang menyimpan potensi jenis-jenis kayu yang bernilai komersial.

adanya perkampungan logyard (tempat penimbunan kayu) di dalam kawasan. terutama pada daerah-daerah dengan sungai yang terbuka luas. terutama mata pencaharian yang wilayah kerjanya berada di dalam kawasan. Oleh karena itu banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya Masyarakat yang bermata pencaharian nelayan II . kerang). kasuari) dan fauna perairan (seperti ikan. dan pembangunan infrastruktur lain. Keadaan Umum Kawasan . di sekitar CATB menempati urutan kedua (18. kepiting. seperti pembuatan tiang-tiang rumah tradisional dan tiang pagar rumah. Terganggunya beberapa bagian ekosistem mangrove juga sebagai akibat gejala alam yang disebabkan oleh angin dan erosi pinggiran sungai. rusa dan beberapa jenis burung). maka pengaturan yang melibatkan dan diterima semua pihak harus dilakukan. Penangkapan Hasil Perikanan yang Tidak Ramah Lingkungan Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan.57 dalam mengambil hasil perikanan. penebangan liar. Akan tetapi karena hal tersebut sudah dilakukan sebelum ditunjuk adanya kawasan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemumahan. Sedangkan pemanfaatan ekosistem hanya dilakukan oleh mayarakat lokal yang bermukim di dalam kawasan untuk keperluan tempat berkebun.3. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa terdapat beberapa bagian dari ekosistem mangrove. pemukiman dan perladangan oleh penduduk lokal di dalam dan sekitar kawasan. Kondisi sosial budaya ini telah menciptakan suatu interaksi dengan kawasan dalam bentuk pemanfaatan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan maupun ekosistemnya. C. Sosial Ekonomi dan Budaya Kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar sangat berpengaruh besar terhadap kelestarian CATB. C.82 %). Beberapa permasalahan sosial ekonomi dan budaya terhadap CATB adalah menurunnya hasil tangkapan dan buruan sebagai akibat dari praktek penangkapan hasil perikanan yang tidak ramah lingkungan dan perburuan satwa liar (buaya. telah mengalami kerusakan/hilang yang diakibatkan oleh terpaan angin dan pengikisan pinggiran sungai oleh ombak pada saat musim angin.3. udang. masyarakat lokal telah lama dan secara turun temurun bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Faktor lain yang memberi andil dalam permasalahan lingkungan biologi kawasan adalah sosial budaya. babi hutan. Karena hal ini berhubungan dengan adanya pengambilan beberapa jenis flora dan fauna. Pemanfaatan fauna lebih terfokus pada perburuan satwa liar (seperti rusa. serta tumpang tindih antara batas kawasan dengan penggunaan lahan lain. dimana menurut peraturan yang ada sebenarnya hal itu dilarang. Pemanfaatan jenis-jenis flora oleh masyarakat lebih tertuju pada kayu sebagai bahan bakar dan juga bahan bangunan.1.

jaring berlabuh dan pancing. Hal ini diduga disebabkan oleh kegiatan penangkapan hasil yang tidak memeperhatikan kelestarian lingkungan yang dapat berdampak pada menurunnya populasi biota perairan. C. Berdasarkan hasil wawancara dan survei lapangan.850 hektar) serta belum adanya koordinasi dengan aparat penegak hukum lain (Kepolisian dan Koramil) membuat penegakan hukum sangat lemah. yaitu Sungai Sobrawara. Minimnya sarana dan prasarana aparat (BKSDA Papua. terutama masyarakat di Kampung Naramasa. Anak Kasih dan Tirasai. II Resort Bintuni) yang hanya ada satu orang petugas dengan luas kawasan yang sangat luas (124. Keadaan Umum Kawasan II . alat yang digunakan berupa tombak dan perahu tanpa mesin (kole-kole). dimana dahulu hanya 15 sampai 30 menit dari perkampungan. hasil tangkapan ikan sudah semakin menurun bila di bandingkan dengan beberapa tahun lalu (3-5 tahun lalu).5 sampai 1 ember”. Rusa. Yensei. Babi dan beberapa jenis burung). Hasil tangkapan yang dulu masih mendapat “ 2 sampai 3 ember” sekarang hanya dapat “0. serta penggunaan pukat harimau (trawler) oleh perusahaan udang sampai ke dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . dimana hampir setiap minggu datang para pengumpul kulit buaya yang berasal dari Babo dan Bintuni untuk selanjutnya dikumpulkan di Sorong lalu di jual ke Surabaya. Menurut informasi dari beberapa nelayan di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni. sekarang sudah memerlukan waktu 1 jam lebih bahkan sampai ke sekitar Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong menggunakan alat tangkap jaring untuk “pele kali” . indikasi penangkapan ikan dengan menggunakan racun serangga (insektisida). berhasil diidentifikasi beberapa praktek penangkapan adalah penggunaan akar bore ini dilakukan pada saat “pele kali” yang membuat ikan-ikan tersebut mabuk sehingga mudah diambil. Yakati sampai ke dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Permintaan akan kulit buaya menurut informasi dari masyarakat Naramasa masih cukup tinggi. khusus untuk buaya diburu terutama oleh masyarakat Naramasa.3.58 . Yakati. serta menggunakan akar bore (tuba). Rusa dan Beberapa Jenis Burung Masyarakat yang berada di sekitar kawasan CATB. Cara-cara penangkapan ikan yang merusak tersebut belum diberikan sangsi hukum yang tegas. Adanya Perburuan Buaya. Mamuranu. Yakati dan Yensei. Selain itu daerah tangkapan sudah semakin jauh. Masyarakat tersebut berburu sepanjang Sungai Naramasa. ada yang bermatapencaharian dalam berburu (Buaya. Berdasarkan pengamatan di lapangan serta informasi dari pengelola kawasan dan beberapa nelayan lokal.2.

Berdasarkan kondisi diatas. Menurut hasil wawancara dengan beberapa Gambar II-39.3. Mamuranu) yang terletak di dalam Kawasan CTAB dalam sehari-hari akan sangat tergantung pada sumberdaya alam yang ada di dalam CATB. Dengan keberadaan ketiga kampung tersebut. Keberadaan kampungkampung tersebut terutama Kampung Mamuranu memang sudah ada sebelum adanya penunjukan CATB. Hasil buruan waktu lalu (5-10 tahun yang lalu). maka hal ini dapat mengancam kelestarian terutama buaya. babi dan beberapa jenis burung. Hasil tangkapan rusa dan babi. biasanya di jual dalam bentuk dendeng. tapi sekarang mereka memerlukan waktu yang lebih lama (1-2 minggu) dengan hasil 1-2 ekor ataupun tidak dapat hasil buruan sama sekali. serta tingginya permintaaan atas hasil buruan tersebut menyebakan jumlah buaya. Masyarakat baru pulang berburu di dalam Kawasan CATB masyarakat yang bermatapencaharian berburu. Cara masyarakat tersebut dalam berburu dilakukan dengan dua cara yaitu berburu sendiri dan berkelompok (5-10 orang). dengan tingginya tingkat perburuan buaya. Anak Kasih dan Tirasai. maka masyarakat tersebut yang tinggal melakukan di kampung aktivitasnya Gambar II-40 Salah satu Kondisi Pemukiman penduduk (K.59 . sedangkan untuk burung menggunakan senapan angin.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Sedangkan rusa. Nusuamar dan Modan. rusa dan beberapa jenis burung. jerat. tombak. Adanya Perkampungan di dalam Kawasan Berdasarkan hasil survei lapangan menunjukan bahwa ada beberapa kampung (desa) yang berada di dalam kawasan CATB yaitu Kampung Mamuranu. Alat yang BKSDA Papua II Sorong sering digunakan untuk berburu rusa dan babi yaitu panah. C.3. Selain Keadaan Umum Kawasan II . anjing dan parang. rusa dan beberapa jenis burung dimana fauna tersebut merupakan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di CATB. dalam 1-3 hari berburu bisa mendapatkan 5-10 ekor. rusa dan beberapa jenis burung sudah semakin berkurang. seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk. diburu di dalam kawasan CATB terutama di sekitar Pulai Maniai.

lebih dari 60% responden (46 responden atau 65. HPH/IPKMA tersebut mengeluarkan kayu untuk selanjutnya di kumpulkan disuatu tempat yang disebut Keadaan Umum Kawasan II . akan semakin bertambahnya masyarakat yang tergantung terhadap sumberdaya alam dalam aktivitasnya sehari-hari. Hal ini menunjukan Gambar II-41 Diskusi dengan Masyarakat Banjar Ausoy tentang Tumpang Tindih LU 2 dengan Batas kawasan CATB bahwa proses penataan batas tahap 1 tahun 1997 (tata batas persekutuan) batas Utara dan Timur serta tahap 2 tahun 1999 batas Barat dan Selatan. Hal ini terjadi karena tidak adanya koordinasi antara pihak transmigrasi dengan BKSDA Papua 2 Resort Bintuni pada saat penetapan LU 2 tersebut serta belum dilaksanakannya proses tata batas. C. memberikan permasalahan yaitu adanya lahan usaha 2 (LU 2) Kampung Banjar Ausoy SP 4 (200 hektar) dan Waraitama SP 1 (160 hektar) masuk kedalam kawasan. belum tersosialisasi dengan baik atau kurang melibatkan masyarakat setempat.3. Kondisi diatas diperburuk dengan adanya pembuatan “perumahan sosial” oleh pihak Pemda Propinsi Papua pada tahaun 2003. sehingga semakin besar sumberdaya alam yang akan diambil yang selanjutnya menyebabkan jumlah dan jenis flora maupun fauna di dalam kawasan CATB semakin menurun. Hal tersebut akan menambah jumlah masyarakat yang akan tinggal di dalam kawasan CATB. Pemukiman transmigrasi yang ada di sebelah Utara batas kawasan CATB mulai tahun 1994. C. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di semua kampung yang ada di sekitar kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong itu dengan “dibentuknya” perkampungan baru seperti Kampung Anak Kasih dan Tirasai di dalam CATB. tanpa adanya koordinasi khususnya dengan BKSDA resort Bintuni.4.4.3. dengan dibangunnya 54 rumah semi permanen di Kampung Anak Kasih (di dalam kawasan CATB).7%) kurang mengetahui adanya batas kawasan CATB. Oleh karena itu dalam rangka rencana pengelolaanya. Adanya Tempat Penimbunan Kayu (Logyard) di dalam Kawasan Adanya hak pengusahaan hutan (HPH) mulai Tahun 1990 dan IPKMA (Izin Pemanfaatan Kayu Masyarakat Adat)/ Kopermas (Tahun 2002) yang berada di sekitar serta bagian hulu CATB memberikan dampak yang cukup besar terhadap kelestarian CATB.60 . maka diperlukan proses penataan batas ulang dimana dalam prosesnya melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan serta adanya proses sosialisasi. Tumpang tindih antara Batas Kawasan dengan Penggunaan Lahan lain.

Karena sarana angkutan selanjutnya untuk membawa kayu keluar Bintuni menggunakan transportasi sungai dan laut. Logyard 5 di Sungai Awarepi dibuat oleh IPKMA/Kopermas. Keberadaan Logyard tersebut mengakibatkan datangnya masyarakat untuk tinggal di sekitar Logyard tersebut. Dengan kondisi tersebut maka akan semakin banyak masyarakat yang akan tinggal di dalam kawasan serta akses masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya alam di dalam CATB semakin besar sehingga akan mengurangi jumlah dan jenis flora dan fauna yang ada. maka Logyard tersebut dibuat di sekitar sungai dan pada umumnya posisinya berada di dalam kawasan CATB. tidak memiliki kewenangan (Authority) untuk menyelesaikannya.61 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dengan Tempat Penimbunan Kayu (Logyard). dan di ujung timur kota. Berdasarkan dokumen RDTRK Kota Bintuni. Pola ruang Kota Bintuni yang terbentuk berupa Strip Development. Faktor Penghambat Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni akan berhasil apabila bisa mengurangi faktor penghambat yang ada. D. Yotefa Sarana Timber dan IPKMA/Kopermas. Beberapa faktor penghambat yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan CATB antara lain : D. Logyard Sumberi dibuat oleh IPKMA/Kopermas. Faktor penghambat merupakan suatu kondisi dimana lembaga pengelola dalam hal ini BKSDA Papua 2. kelurahan bintuni barat dan timur bersama-sama dengan Kampung Sibena. air bersih serta sarana hiburannya lainnya. Beberapa Logyard yang berada di dalam kawasan CATB yaitu Logyard 4 (di Sungai Muturi) PT. Satu “generator” berada di ujung barat kota. Kondisi diatas menimbulkan konsekuensi dari adanya dua “generator” aktivitas yang sama kuatnya. karena jalan darat telah dibuat dari daerah penebangan sampai ke Logyard.. yang merupakan cikal bakal Kota Bintuni. yaitu semakin mudahnya akses masyarakat untuk masuk kedalam kawasan CATB. Pengembangan Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kabupaten Teluk Bintuni sampai saat ini belum ada.1. “generator” aktivitas baru yang muncul sebagai akibat keberadaan kawasan pusat Keadaan Umum Kawasan II . Akibat lain yang ditimbulkan dengan adanya Logyard tersebut. Logyard Anak Kasih di Sungai Tikamari/Anak Kasih di buat oleh IPKMA/Kopermas. dimana bentuk kotanya memanjang dari Barat ke Timur. Dokumen yang telah ada yaitu Rencana Detil Tata Ruang (RDTRK) Kota Bintuni tahun 2004. Kota Bintuni meliputi Kampung Sibena sampai dengan Kampung Argosigemerai (SP5). Logyard SP 5 di Sungai Sigirang dibuat oleh IPKMA/Kopermas. karena di lokasi tersebut telah dibangun rumah karyawan dan perkantoran yang dilengkapi dengan sarana lain seperi listrik. serta Logyard SP 4 di Sungai Banjar Ausoy di buat oleh IPKMA/Kopermas.

fauna dan lahan untuk kebun akan semakin besar sehingga kelestarian CATB semakn menurun. tidak mungkin kawasan konservasi tersebut akan lestari.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni (dekat dengan Kampung Korano Jaya) beserta kegiatan-kegiatan ikutan yang menyertainya. khususnya Cagar Alam. Keadaan Umum Kawasan II . mulai dari Kampung Sibena sampai dengan Kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni diprediksi akan menjadi kawasan pemukiman/perkantoran/perdagangan serta aktivitas lainnya. Hal ini akan menjadi ancaman yang cukup serius terutama kawasan CATB di Bagian Barat dan Utara yang berdekatan sepanjang jalan/perkampungan. Kemungkinan besar karena pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kawasan relatif kurang bahkan tidak mengerti sama sekali. maka peluang masyarakat untuk mengambil flora. Kondisi saat ini (current situation) menunjukan bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dengan luasan yang cukup besar (± 124. Apabila melihat posisi dari kota yang memanjang sepanjang jalan. peran masyarakat sekitar sangat strategis dan prospekstif. Dikatakan strategis sebab tanpa partisipasi nyata masyarakat sekitar. dimana sebelah Selatan dari jalan dengan jarak 1 sampai 5 Km. D. Hal ini bisa terlihat dari terganggunya beberapa bagian kawasan Cagar Alam yang juga “melibatkan” masyarakat di dalam dan sekitar kawasan seperti pembukaan lahan untuk logyard milik Kopermas dan perambahan hutan untuk kegiatan perladangan (shifting cultivation). Hal ini sangat mempengaruhi atau bahkan boleh dikatakan sebagai faktor penghambat dalam mencapai tujuan pengelolaan dan tujuan pembangunan suatu kawasan konservasi. Berdasarkan kondisi diatas maka dimasa yang akan datang. Dikatakan prospektif dengan keyakinan bahwa masyarakat di dalam dan sekitar kawasan tidak akan menolak upaya pemberdayaan yang sangat terkait langsung dengan kepentingannya.850 ha) hanya di awasi oleh seorang kepala resort yang dibantu dua orang jagawana. Hal ini diperparah lagi dengan minimnya sarana pendukung seperti perahu motor (longboat) dan kemampuan managerial yang terbatas.3 Peran Masyarakat (Community involvement) Kaitannya dengan pelestarian kawasan.2 Kapasitas Pengelola Kawasan Salah satu faktor penentu dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi adalah peranan dan kapasitas pengelola baik dari jumlah (quantity) dan kemampuan (quality/skill). D. merupakan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) maka akses masyarakat kedalam kawasan CATB akan semakin mudah.62 . Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa peran masyarakat dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam ikut menjaga kelestarian kawasan masih rendah. Dengan semakin mudahnya akses masyarakat ke dalam kawasan CATB.

tentang Irigasi UU No. tentang Kehutanan UU NO.31 tahun 2004. 7. 69 tahun 1996. 9. 27 tahun 1991. 3. tentang Pariwisata UU No. tentang Tata Ruang Wilayah Nasional PP No. 15 tahun 1990. 29 Tahun 1986.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong III. 5 tahun 1994. tentang Analisa Lingkungan PP No. 23 tahun 1997. tentang Pemantauan Polusi Air PP No. tentang Perikanan UU No. UUD 1945. 41 tahun 1999. 20 tahun 1990. 14. tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup UU No.Swantara" Tingkat I 13. 15. KEBIJAKAN A. 24 tahun 1992. tentang Rawa-rawa PP No. tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya 5. tentang Delegasi Wewenang Perkenbunan. tentang Ratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati UU No. 20. tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang 19. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah PP No. tentang Sungai-sungai PP No. tentang Agraria UU No. 11 tahun 1974. 4. 11. 12. 10. 8. PP No. tentang Penataan Ruang UU No.9 tahun 1990. tentang Usaha Perikanan PP No. 2. tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam 21. Dasar Hukum Peraturan-peraturan Perundangan yang terkait dengan Pengelolaan Cagar Alam di Indonesia adalah sebagai berikut: 1.5 tahun 1960. Pasal 33 ayat 3 UU NO. 47 tahun 1997. PP No.5 tahun 1990. 35 tahun 1991. 16. 64 tahun 1967. UU NO. 17.1 . PP No. 18. 6. 68 tahun 1998. Perikanan dan Kehutanan kepada Daerah . 27/1999 tentang AMDAL Kebijakan III .

IBSAP 2003 sebagai dokumen nasional kedua dalam konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. 63 tahun 2002. Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan 24. Kondisi kenaekaragaman hayati (biodiversity) Indonesia dan proses degradasi yang terjadi dapat dilihat di dalam IBSAP. tentang Hutan Kota PP No. yang merupakan rujukan utama yang digunakan sebagai pembanding untuk identifikasi isu-isu konservasi di Indonesia. antara lain : BAPI 1993 digunakan hanya untuk memahami histori action plan nasional sebagai dokumen nasional pertama dalam konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. tentang Perlindungan Hutan BKSDA Papua II Sorong Perpu No 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang Undang No. 26/1997. BAPI (The Biodiversity Action Plan for Indonesia) 1993 meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Sebelum Keanekeragaman Hayati. 2003). 23. PP No. tentang Komisi Pengarah untuk Pengelolaan Klasifikasi Lahan Nasional 27. 32 tahun 1990. 29. kurangnya kelengkapan peraturan dan perundangan serta lemahnya penegakan hukum dalam bidang konservasi biodiversity/lingkungan juga menyebabkan proses degradasi semakin cepat. PP No. 28. menggantikan BAPI 1993. 48/1991 tentang Pengesahan Konvensi Ramsar Instruksi Mendagri No. Selain itu. 34 tahun 2002. Kebijakan ini dapat dilihat dalam BAPI (The Biodiversity Action Plan for Indonesia.1. Sumber atau penyebab degradasi ini antara lain adalah kebakaran hutan. kurangnya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dan lingkungan. Dengan adanya BAPI 1993 maka Kebijakan III . 57 tahun 1989. B. Indonesia telah menyusun BAPI. Kebijakan Konservasi Biodiversity di Indonesia Indonesia memberikan perhatian yang besar kepada konservasi keanekaragaman hayati. 41 tentang Kehutanan 26.2 . tentang Pengelolaan Kawasan Lindung Keppres No. perambahan hutan. Ada sedikit perbedaan antara BAPI dan IBSAP. penggunaan teknologi yang merusak. Keppres No. 45 tahun 2004. tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan. penebangan liar. 1993) dan IBSAP (Indonesia Biodiversity Strategi and Action Plan. 25.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 22. Keppres No. tentang Perlindungan Hutan Mangrove sebagai Jalur Hijau B.

4. pendidikan dan pelatihan. dan program penangkaran. Isu yang terkait dengan aspek sistem informasi dan teknologi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diharapkan akan ada panduan untuk menetapkan prioritas dan investasi di bidang konservasi keanekaragaman hayati terutama untuk periode Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) V dan VI (hingga 1999). Konservasi in-situ taman nasional dan kawasan lindung daratan. Di dalam BAPI tidak disebutkan pihak/lembaga yang dengan tegas bertanggungjawab menjamin implementasi serta pencapaian sasaran dan tujuan yang ditetapkan. sehingga dapat dimanfaatkan oleh para pembuat kebijakan dan masyarakat luas. Konservasi sumberdaya pesisir dan laut. Konservasi eks-situ melalui bank gen dan bank benih. Memperlambat laju kehilangan tutupan hutan primer. terdiri dari konservasi in-situ dan eks-situ biodiversity.3 . yaitu isu mengenai kapasitas SDM Isu yang terkait dengan aspek pengelolaan biodiversity. Selain itu. terumbu karang serta habitat daratan maupun lautan lainnya yang sangat penting bagi keberadaan keanekaragaman hayati. mencakup kawasan hutan. Tujuan ataupun sasaran yang ditetapkan adalah mengkonservasi sebanyak mungkin keanekaragaman hayati untuk menjadi tumpuan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Isu-isu yang ada dalam BAPI adalah : 1. 2. 2. Prioritas dari BAPI ada 4 (empat) kegiatan utama. Konservasi in-situ di luar kawasan lindung. lahan basah dan kawasan budidaya pertanian. Memperluas pemanfaatan sumberdaya hayati secara lestari dan lebih ramah lingkungan dibandingkan praktik yang telah berlangsung selama ini. serta valuasi biodiversity. 3. partisipasi masyarakat. BAPI 1993 juga tidak mempunyai dasar hukum formal dalam struktur perundangan nasional sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. 3. 2. perlindungan varietas. Tujuan utama dari BAPI 1993 adalah : 1. yaitu isu mengenai riset dan training. Isu yang terkait dengan aspek kebijakan. 3. yaitu : 1. Aspek sosial ekonomi. NGO dan kerjasama internasional juga tidak terdapat dalam dokumen BAPI 1993. Mengembangkan ketersediaan data dan informasi tentang kekayaan keanekaragaman hayati nasional. lahan basah. Kebijakan III .

Isu yang terkait dengan aspek sosial ekonomi. serta kapasitas SDM yang tidak memadai. Isu yang terkait dengan sistem informasi dan teknologi. Menyusun strategi baru yang jelas. 3. dan mencari penyebab mengapa dana dan/atau motivasi yang diperlukan belum didapatkan. termasuk kekurangan dalam pengetahuan yang ada dan sasaran serta tindakan yang realistis untuk menutup kekurangan ini. pencemaran lingkungan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. dan disertai dengan rencana aksi yang rinci. konversi habitat yang tinggi. Melakukan kajian atas kebutuhan dan aksi prioritas yang tercantum dalam BAPI 1993 untuk mengetahui apa saja yang sudah dicapai. sentralistis. kemiskinan. terdiri dari isu masalah kebijakan yang over eksploitasi. mencakup isu mengenai eksploitasi berlebih. serta penegakan hukum dan kelembagaan yang lemah. introduksi spesies dan varietas eksotik.4 . terkait dengan kerjasama internasional dan kesadaran. pembagian manfaat yang tidak adil. 4. 5. dan kekeliruan penilaian sumberdaya.2. 4. serta penggunaan teknologi yang merusak. mencakup isu mengenai tekanan penduduk. Mengidentifikasi kebutuhan dan aksi prioritas yang baru dan merevisi rencana aksi menurut perubahan yang mungkin akan terjadi pada kebijakan lingkungan hidup di masa yang akan datang. 2. Isu yang terkait dengan aspek pengelolaan biodiversity. IBSAP 2003 mempunyai tujuan : 1. degradasi sumberdaya hayati. mencakup isu mengenai riset dan sistem informasi yang tidak memadai. Kebijakan III . pemahaman dan kepedulian. Isu yang terkait dengan aspek kebijakan/kelembagaan. sektoral. 3. 2. Isu dalam aspek peran NGO dan kerjasama internasional. apa yang belum dilaksanakan. dan tidak partisipatif. Menentukan peluang dan kendala yang ada saat ini dalam konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan atas keanekaragaman hayati secara efektif. globalisasi bisnis keanekaragaman. IBSAP (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) 2003 BKSDA Papua II Sorong IBSAP 2003 merupakan penyempurnaan dari BAPI 1993 dan merupakan strategi dan rencana aksi biodiversity nasional. Isu-isu tentang biodiversity adalah sebagai berikut : 1.

C. kepada setiap orang yang memiliki. Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Dalam dan Sekitar Kawasan Hutan. Sektor Kehutanan C. Berkaitan dengan hal itu. hutan terdiri dari hutan negara dan hutan hak (pasal 5. Departemen Kehutanan sebagai struktur memerlukan penunjang antara lain teknologi yang didasarkan pada pendekatan ilmu kelautan (sebagai infrastruktur) yang implementasinya dalam bentuk tata ruang pantai. dan oleh karena itu. Dengan demikian sasaran Departemen Kehutanan dalam pengelolaan hutan mangrove adalah membangun infrastruktur fisik dan sosial baik di dalam hutan negara maupun hutan hak. Pengelolaan Hutan Lestari BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan bahwa mangrove merupakan ekosistem hutan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni C.456/Menhut-II/2004 tanggal 29 Nopember 2004 tentang 5 (lima) Kebijakan Prioritas Bidang Kehutanan dalam Program Pembangunan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2005 – 2009 diarahkan kepada : 1.5 .2. khususnya industri kehutanan. 3. kerakyatan. Adapun berdasarkan statusnya. Revitalisasi sektor kehutanan. Kebijakan III . termasuk struktur sosialnya. keadilan. maka pemerintah bertanggungjawab dalam pengelolaan yang berasaskan manfaat dan lestari. Kegiatan ini adalah meminimalisir penebangan liar dan pencurian kayu sesuai dengan kewenangan Departemen Kehutanan. 5. Selanjutnya dalam rangka melaksanakan fungsinya. wajib melaksanakan rehabilitasi hutan untuk tujuan perlindungan konservasi (Pasal 43). 4. ayat 1). dan mengembangkan ekosistem hutan baik mulai dari wilayah pegunungan hingga wilayah pantai dalam suati wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS). Pemberantasan pencurian kayu di Hutan Negara dan Perdagangan Kayu Illegal. kebersamaan. Rencana Strategis Ditjen PHKA Departemen Kehutanan menetapkan kebijakan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. Selanjutnya dalam kaitan kondisi mangrove yang rusak. keterbukaan dan keterpaduan (Pasal 2).1. melestarikan. pengelola dan atau memanfaatkan hutan kritis atau produksi. Rehabilitasi dan konservasi Sumberdaya Hutan. 2. Kegiatan ini meningkatkan konsolidasi semua aparat Departemen Kehutanan dalam rangka meningkatkan kinerja rehabilitasi dan konservasi. Pemantapan Kawasan Hutan. Departemen dan Kehutanan secara teknis fungsional menyelenggarakan fungsi pemerinthan pembangunan dengan menggunakan pendekatan ilmu kehutanan untuk melindungi.

Penyiapan rumusan kebijakan Departemen Kehutanan di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan P. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. Pelaksanaan administrasi di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. pedoman. 4. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam. Pelaksanaan kebijakan di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. maka tugas PHKA tidak hanya di dalam kawasan konservasi saja. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. Pengendalian Kebakaran Hutan. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam 4. 6. 3. Pengendalian Kebakaran Hutan. Perumusan standar. 2. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. 5. tugas dan fungsi Direktorat Jenderal PHKA adalah merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di Bidang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas. Sekretariat Direktorat Jenderal PHKA Direktorat Penyidikan dan Perlindungan Hutan Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan Direktorat Konservasi Kawasan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Balai Konservasi Sumber Daya Alam Balai Taman Nasional Kebijakan III . norma. 7. kriteria dan prosedur di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi pelaksanaan standar. Pengendalian Kebakaran Hutan. tetapi meliputi seluruh kawasan hutan yang ada di Indonesia. Ditjen PHKA menyelenggarakan fungsi: 1. Pengendalian Kebakaran Hutan. Pengendalian Kebakaran Hutan. Untuk itu dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsinya.6 . pedoman. 2.13/Menhut-II/2005 tanggal 13 Juni 2005 tentang Organisasi dan Tata Hubungan Kerja Departemen Kehutanan. Dari tugas pokok dan fungsi di atas. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. 3. kriteria dan prosedur di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. 8. norma. organisasi Direktorat Jenderal PHKA di pusat dan di daerah adalah sebagai berikut : 1. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam 5.

7 . kebutuhan lahan garapan yang sangat Kebijakan III . Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2004. semakin lama semakin berat tantangannya. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Sedangkan visi dan misi dan Ditjen PHKA adalah sebagai berikut : 1. dengan kata lain belum seluruhnya mempunyai batas di lapangan yang jelas. sinergis dan strategis sehingga mampu memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat secara optimal. Rencana Stratejik Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam merupakan penjabaran dari Renstra Departemen Kehutanan dimana dalam penyusunannya didasarkan kepada Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999. Oleh karena itu. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004. untuk dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara benar dan terarah diperlukan perencanaan yang menyeluruh. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2004. perlu dipahami oleh seluruh unsur pengelola maupun para pihak hal-hal yang berkaitan dengan kondisi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya saat ini. b. Untuk itu pemahaman secara menyeluruh posisi konservasi dalam pembangunan nasional harus dipahami dan diketahui secara menyeluruh oleh seluruh personil lingkup Ditjen PHKA. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004. Permasalahan Kawasan Sampai saat ini yang berkaitan dengan status kawasan konservasi belum secara keseluruhan sudah dikukuhkan. Keputusan Menteri Kehutanan No. Pernyataan Visi Keadaan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) sampai saat ini tidak banyak mengalami perubahan seperti lima tahun sebelumnya yaitu antara lain meliputi : a.13/Menhut-II/2005. 123/KPTS-II/2001. Perlindungan Hutan dan Penegakan Hukum Dampak krisis multi dimensi yang dialami oleh Bangsa Indonesia mengakibatkan terjadinya permasalahan sosial yang memprihatinkan. beberapa kasus yang terjadi antara lain: terjadinya kesenjangan sosial. Sehingga hal ini sering menimbulkan konflik dengan pihak lain. Perauran Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004. sehingga KSDAHE belum secara optimal dan efektif memberikan manfaat kepada masyarakat. Dalam rangka penyusunan rencana strategis di atas. norma dan kriteria yang jelas. Disamping itu pengelolaan kawasan belum seluruhnya dilaksanakan dengan standar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kegiatan Pengelolaan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. dengan demikian diperlukan adanya kegiatan-kegiatan yang bersifat strategis sehingga dapat mendukung upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Peraturan Menteri Kehutanan P.

Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di bidang KSDA masih perlu ditingkatkan. sarana dan prasarana. Hal-hal yang perlu ditingkatkan antara lain : level organisasi. Pernyataan Misi Untuk mewujudkan visi dalam lima tahun mendatang. Hal ini terjadi disebabkan pengelolaan hutan yang kurang baik serta ditunjang oleh kurangnya sumberdaya yang ada untuk penanggulangan kebakaran hutan. Didukung ”Transboundary haze pollution”. penebangan liar. Kelembagaan Pemerintah dan lembaga yang menangani atau mengelola KSDAHE sampai saat ini masih jauh dari standar. Gangguan terhadap kawasan konservasi dan kawasan hutan lainnya juga terjadi akibat kebakaran hutan (harmfull fire). penyelundupan kayu. Dengan mempertimbangkan beberapa hal di atas maka dalam lima tahun mendatang visi yang harus dicapai dan dipahami oleh jajaran Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam baik di pusat maupun di daerah adalah : “Mewujudkan Kawasan Hutan dan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang Aman dan Mantap secara Legal Formal. tetapi juga manfaat lain yang bukan dalam bentuk uang (ekonomis) juga harus diperhatikan dan ditingkatkan serta dipublikasikan tentang pentingnya manfaat KSDAHE bagi pembangunan. sehingga dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.8 . kecenderungan memperoleh hasil cepat melalui kegiatan illegal (over cutting. masih lemahnya akses masyarakat terhadap pengelolaan hutan. diperlukan bentuk nyata implementasinya dan menggambarkan yang seharusnya terlaksana. perambahan hutan dan sebagainya). c. Dari visi tersebut ditetapkan empat misi Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam sebagai berikut : Kebijakan III .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong besar (lapar lahan) sehingga menimbulkan konflik lahan. SDM. yang menjadi sorotan Kelembagaan yang Kuat dalam Pengelolaannya serta Mampu Memberikan Manfaat Optimal Kepada Masyarakat”. Pemanfaatan SDAHE Pemanfaatan flora dan fauna masih banyak menimbulkan dampak negatif seperti misalnya maraknya penyelundupan flora dan fauna. norma dan kriteria yang ada. Sampai saat ini. disamping itu juga membentuk organisasi pengelola yang baru. dimana kebakaran hutan ini sudah menimbulkan kerugian yang sangat besar dan juga secara internasional timbul internasional. d. 2. Manfaat kawasan konservasi tidak seluruhnya diukur dari PNBP.

Disamping itu pengelolaan yang seharusnya dilaksanakan pada kawasan konservasi tersebut harus jelas kriteria.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni MISI DIREKTORAT JENDERAL PHKA : Misi 1. Namun demikian tidak semua pemanfaatan jasa KSDAHE diidentikkan dengan pendapatan dalam bentuk uang. Disamping itu SDM. sehingga KSDAHE dapat didukung dan dilaksanakan dengan baik.9 . dana sarana dan prasarana yang ada perlu dioptimalkan dan ditingkatkan. Dengan demikian gangguan terhadap kawasan konservasi maupun kawasan hutan serta tumbuhan dan satwa liar harus dieliminir sedemikian rupa. Pola kemitraan perlu dikembangkan dan diwujudkan dalam pengelolaan KSDAHE. BKSDA Papua II Sorong Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. perlu adanya penyebarluasan informasi agar dapat dipahami oleh semua pihak. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya Kelembagaan dan peraturan perundang-undangan yang mendukung KSDAHE masih perlu ditingkatkan. Dengan adanya kejadian tersebut tentunya akan menyulitkan pengelolaan kawasan konservasi maupun kawasan hutan lainnya. Sampai saat ini gangguan terhadap hutan dan hasil hutan semakin meningkat. Misi 3. Agar pengelolaan KSDAHE dapat tercapai tujuannya dengan baik. Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. Pemanfaatan SDA yang potensial untuk dikembangkan meliputi wisata alam. Adapun tujuan dari masing-masing misi Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. norma dan standar pengelolaan kawasan konservasi. Sampai saat ini PNBP bidang PHKA dirasa masih sangat kecil kontribusinya di sektor kehutanan. maka dalam pengelolaan ini kemitraan sangat diperlukan.83 juta hektar. sebagai berikut: Kebijakan III . sehingga tidak menimbulkan konflik dengan pihak lainnya. hal ini terlihat dari laju kerusakan hutan setiap tahunnya mencapai 2. maka kawasan konservasi yang dikelola harus jelas batas-batasnya. Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan. Disamping itu kebakaran hutan selalu terjadi setiap tahun pada musim kemarau. sehingga tidak mencapai fungsi secara optimal. Oleh karenanya. Pemanfaatan SDA perlu dikelola dan dikembangkan secara optimal. Misi 4. jasa lingkungan dan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar. Misi 2. Pengelolaan KSDAHE tidak bisa dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian.

Terbangunnya 20 taman nasional model 2. KPA baru di 32 Propinsi 3. Memantapkan peraturan perundang-undangan bidang KSDAHE 6. Memantapkan perencanaan. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Terselesaikannya proses pengukuhan 150 KSA. Mewujudkan pemenuhan sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE 5. dengan tujuan : 1. Adapun sasaran dari masing-masing misi Direktorat Jenderal PHKA. dan TB Kebijakan III .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Misi 1 : BKSDA Papua II Sorong Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. dengan tujuan : 1. kawasan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya serta pengendalian kebakaran hutan dan penegakan hukum. dengan sasaran : 1. Meningkatkan pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan.10 . Memfasilitasi (pembinaan kawasan di luar kawasan konservasi) pengelolaan ekosistem esensial 4. Meningkatkan upaya pengawetan tumbuhan dan satwa liar Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. Mewujudkan SDM yang mampu mendukung pengelolaan KSDAHE 3. Meningkatkan peran masyarakat dan para pihak terkait dalam kemitraan pengelolaan KSDAHE dan perlindungan hutan. dengan tujuan : 1. Memantapkan institusi pengelola KSDAHE 2. KPA. evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan dibidang PHKA. Meningkatkan efektifitas pengelolaan KSA/KPA/TB/HL sesuai fungsi kawasan 2. dengan tujuan : Meningkatkan upaya perlindungan hutan. Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian. Meningkatkan pemanfaatan Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) dan jasa lingkungan serta mengembangkan Bina Cinta Alam 2. sebagai berikut : Misi 1 :Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. di Pusat dan 66 UPT 4. Mengembangkan KSA.

pemadaman. pemanfaatan air) di 15 propinsi. 4.11 . HP dan kawasan konservasi (prioritas perdagangan carbon. KPA dan TB seluas 100. Terselesaikannya site plan pada zona/blok pemanfaatan di 200 KPA dan TB 5. KPA dan TB BKSDA Papua II Sorong 4. Terlaksananya pembinaan habitat TSL di SM. Terwujudnya peningkatan kemampuan operasional pengendalian kebakaran hutan meliputi: pencegahan. Terlaksananya pengendalian peredaran TSL di 32 BKSDA. 6. penelitian dan pengembangan (kalitbang) tumbuhan dan satwa liar di 66 UPT. Terwujudnya peningkatan pengusahaan pariwisata alam di 32 propinsi 2. perburuan TSL.000 ha. 7. Meningkatnya peran serta dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka perlindungan hutan dan pengendalian kebakaran hutan di 32 propinsi. KSA di 300 lokasi 8. Terlaksananya evaluasi fungsi KSA. Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian dengan sasaran : 1. kebakaran hutan/hot spot dan pencurian TSL di 32 propinsi 2. Terlaksananya pengkajian. 6. 8. Terlaksananya pengendalian perburuan liarTSL di 66 UPT. Terlaksananya penangkaran jenis TSL di 66 UPT. KPA. perusakan habitat. Kebijakan III . Terlaksananya penegakan hukum terhadap tindak pidana kehutanan: perambahan kawasan. peredaran hasil hutan illegal termasuk TSL. Terbentuknya kader konservasi tingkat madya dan utama serta terbinanya kelompok pecinta alam. Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. Terkelolanya data informasi dan publikasi konservasi KSDAHE di pusat dan 6 UPT. TB dan HL pada 200 kawasan 7. kelompok swadaya masyarakat. Terselesaikannya penetapan daerah penyangga kawasan konservasi di 66 UPT dan pembinaan daerah penyangga KPA. Kebun Buru dan Blok Buru (KB dan BB).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 3. 3. Terlaksananya penyiapan penyelenggaraan perburuan di 5 TB. Terlaksananya pemanfaatan jasa lingkungan di HL. dan penanganan pasca kebakaran hutan di 32 propinsi 3. penebangan liar. kelompok profesi serta kader konservasi di 66 UPT. 5. dengan sasaran : 1. Terselesaikannya penataan zona/blok di 300 KSA.

KPA dan TB seluas 100. setrategi adalah : 1. 3. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan bidang PHKA 4. dengan sasaran : 1. 000 ha 5. 2. 11.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 9. TB dan HL. 5. Optimalisasi pelaksanaan evaluasi fungsi KSA. Percepatan proses pembangunan 20 TN model Percepatan penataan zona/blok di 300 KSA. Optimalisasi pengelolaan data informasi dan publikasi konservasi SDAHE Kebijakan III .KPA dan TB Percepatan penyelesaian site plan pada zona/blok pemanfaatan di 200 KPA. Meningkatnya kesadaran masyarakat dan keterlibatan para pihak dalam mendukung tercapainya KSDAHE dan perlindungan hutan. Terwujudnya institusi yang mampu menyelenggarakan pengelolaan KSDAHE dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat 2. Meningkatnya sistem perencanaan. Terlaksananya pengendalian peragaan dan pertukaran TSL di 50 lembaga konservasi. non struktural dan fungsional 3. KPA. Percepatan penyelesaian penetapan daerah penyangga kawasan konservasi di 66 UPT dan pembinaan daerah penyangga KPA. Adapun strategi dari masing-masing misi Direktorat Jenderal PHKA. Koordinasi pelaksanaan pembinaan habitat TSL di SM. sebagai berikut : a. TB 4. Terpenuhinya sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE di pusat dan daerah (66 UPT). Terlaksananya pengendalian pemeliharaan TSL untuk kesenangan di 32 BKSDA. Meningkatnya jumlah dan kompetensi SDM aparatur struktural.KSA di 300 lokasi 7. 10. Misi 1 : Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.12 . Terwujudnya peraturan perundangan yang mendukung pengelolaan KSDAHE 6. pada 200 kawasan 6. Terlaksananya peningkatan budidaya tanaman obat-obatan di 66 UPT. Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan.

perburuan TSL. Peningkatan pengusahaan pariwisata alam. Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian. KB & BB) Kebijakan III . Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum setrategi adalah : 1. Percepatan pembentukan kader konservasi tingkat madya dan utama serta terbinanya kelompok pencinta alam. Koordinasi pelaksanaan pemeliharaan habitat satwa migran dan ekosistem karst di 20 lokasi 11. 5.13 . pemanfaatan air) di 15 propinsi 3. Peningkatan kemampuan operasional pengendalian kebakaran hutan meliputi : pencegahan. Koordinasi pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana kehutanan: perambahan kawasan. pemadaman dan penanganan pasca kebakaran hutan di 32 propinsi. Peningkatan peran serta dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa serta perlindungan hutan dan pengendalian kebakaran hutan di 32 propinsi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 8. Percepatan penyelenggaraan penetapan dan pengelolaan satwa liar yang dilindungi dan tidak dilindungi (3 jenis) 12. strateginya adalah : 1. penelitian dan pengembangan (kalitbang) tumbuhan dan satwa liar di 66 UPT. BKSDA Papua II Sorong Percepatan penyelesaian identifikasi tipe-tipe ekosistem dan terpenuhinya keterwakilannya di kawasan konservasi di 32 propinsi 9. peredaran hasil hutan illegal termasuk TSL. Koordinasi pengelolaan TSL dan kawasan konservasi yang termasuk di dalam kesepakatan internasional 10. 3. perusakan habitat.HP dan Kawasan Konservasi (prioritas perdagangan carbon . c. Optimalisasi pelaksanaan pemanfaatan jasa lingkungan di HL. di 32 propinsi 2. Optimalisasi pelaksanaan penangkaran jenis TSL di 66 UPT 6. kelompok swadaya masyarakat. penebangan liar. Optimalisasi pelaksanaan pengkajian. Koordinasi pelaksanaan penyiapan penyelenggaraan per-buruan di 5 TB. Koordinasi penyelenggaraan habitatnya di 66 UPT b. Kebun Buru & Blok Buru (KB. kelompok profesi serta kader konservasi di 66 UPT 4. kebakaran hutan/hot spot dan pencurian TSL di 32 propinsi 2.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 7. Kebijakan Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Hutan. 5. Kebijakan Pemberantasan Pencurian Kayu di Hutan Negara dan Perdagangan Kayu Illegal Kebijakan ini dimaksudkan untuk membangun persepsi yang sama dari seluruh pemangku kepentingan bahwa pencurian kayu dan peredaran kayu illegal yang telah berkembang sangat memprihatinkan dan mengakibatkan penurunan fungsi kawasan konservasi. Untuk mencapai sasaran pembangunan kehutanan bidang PHKA tahun 2005-2009. 3. 10. Koordinasi pelaksanaan pengendalian pemeliharaan untuk kesenangan di 32 BKSDA c. Mewujudkan institusi yang mampu menyelenggarakan pengelolaan KSDAHE. dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara optimal. mengawetkan sumber daya alam Kebijakan III . Kebijakan ini dimaksudkan untuk melindungi dan memelihara proses ekologis esensial dan sistem penyangga kehidupan. ekonomi. strateginya adalah : 1. Koordinasi pelaksanaan pengendalian perburuan liar TSL di 66 UPT 8. Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengendalian peragaan dan pertukaran TSL di 50 pengelolaan. dan budaya. Koordinasi pelaksanaan pengendalian peredaran TSL di 32 BKSDA. masalah sosial. Meningkatkan sistem perencanaan. Mewujudkan peraturan perundangan yang mendukung pengelolaan KSDAHE. evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan bidang PHKA. kebijakan mengacu pada 5 (lima) kebijakan ptrioritas pembangunan kehutanan. b. Meningkatkan jumlah dan kompetensi SDM aparatur struktural. Optimalisasi Pelaksanaan peningkatan budidaya tanaman obat-obatan di 66 UPT. Koordinasi pelaksanaan lembaga konservasi. sebagai berikut : a. Meningkatkan kesadaran masyarakat dan keterlibatan mendukung tercapainya KSDAHE dan perlindungan hutan. 11. fragmentasi habitat. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.14 para pihak dalam . Memenuhi sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE di pusat dan daerah (66 UPT). 2. non struktural dan fungsional. 9. 4.

c. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam. e. sehingga potensi sumberdaya alam lainnya seperti hasil hutan non-kayu (flora dan fauna) dan jenis lingkungan menjadi rusak dan hilang Kebijakan III . Program tersebut adalah: a. c. PHKA mempunyai 5 program untuk menampung kegiatan-kegiatan pembangunan kehutanan bidang PHKA. sasaran dan kebijakan. Program Lingkungan Hidup. C. Kebijakan Umum dan Strategi Pembangunan Cagar Alam Pola pembangunan dan pemanfaatan hutan di masa lalu yang hanya berorientasi kepada pembalakan (timber oriented) tanpa memperhatikan dan memperhitungkan nilai-nilai lingkungan/ekologi. Dalam rangka peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi akan sangat ditentukan oleh kepastian status suatu kawasan. d. b. Penguatan usaha produktif masyarakat sekitar kawasan konservasi. memanfaatkan BKSDA Papua II Sorong sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian serta mempercepat pulihnya kawasan konservasi yang rusak sehingga kembali berfungsi normal. Program Peningkatan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Memperkuat kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat/para pemangku kepentingan dalam kegiatan konservasi dan rehabilitasi SDA. tujuan.3. Kebijakan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Dalam dan Sekitar Hutan. misi. Berdasarkan visi. Dampak yang diharapkan dari kebijakan tersebut adalah berkembangnya kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi melalui perolehan manfaat secara langsung atau tidak langsung bagi pelaku usaha maupun mitra.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni hayati dan ekosistemnya. mengacu pada program nasional sebagaimana program dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 serta Program Departemen Kehutanan.15 . Kebijakan ini dimaksudkan untuk mempercepat pemantapan penataan kawasan konservasi. Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan d. Kebijakan Pemantapan Kawasan Hutan. Program Pemantapan Keamanan Dalam Negri. telah cenderung terjadinya eksploitasi hutan secara berlebihan. program pembangunan kehutanan bidang PHKA. Program Pemantapan Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan. sosial. ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memfasilitasi serta mengakomodir kegiatan masyarakat sekitar kawasan konservasi.

serta dengan melibatkan dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan. serta Peraturan Pemerintah No. kita mengenal kawasan konservasi dan salah satunya adalah kawasan suaka alam. hendaknya program pembangunan dan pemanfaatan hutan dan kawasan konservasi dari aspek konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem di masa mendatang harus diarahkan kepada pemanfaatan yang bersifat multi fungsi. dengan memperhatikan aspek lingkungan. ekonomi. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Ketentuan hukum yang mengatur mengenai keberadaan dan pengelolaan kawasan konservasi antara lain Undang-undang No. sosial dan budaya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tanpa memberikan hasil yang optimal. yaitu : fungsi konservasi. Sumberdaya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumberdaya alam nabati (tumbuhan) dan sumberdaya alam hewani (satwa) yang bersama-sama dengan unsur non-hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. fungsi lindung dan fungsi produksi. Hutan mempunyai tiga fungsi. Pemerintah menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokok atas : o o o Hutan konservasi Hutan lindung. dan Hutan produksi Berdasarkan UU No 41 ini.16 . Berdasarkan Undang-undang No. serta menyebabkan hilangnya akses masyarakat sekitar hutan untuk dapat menikmati kekayaan alam hutan tersebut dan kesejahteraan mereka tetap tertinggal. Dalam UU ini. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan kita mengenal hutan dan klasifikasinya sebagai berikut : Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dan persekutuan alam lingkungannya. yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian alam. pengertian Kebijakan III . dan terabaikannya hak-hak masyarakat sekitar hutan. yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedang dalam ketentuan Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Undang-undang No. pengertian hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. Hal tersebut telah pula memunculkan dan tumbuhnya konglomerasi. Memperhatikan hal tersebut.

Salah satunya adalah kawasan cagar alam Kawasan Cagar Alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. Pemanfaatan kawasan konservasi dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga. melindungi dan meningkatkan fungsi kawasan konservasi. adalah sebagai berikut Fungsi tata air. baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia. Mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin keberlangsungan proses ekologis secara alami. dan atau Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa beserta ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah. Peran dan fungsi kawasan menjadi titik tolak kepentingan pemanfaatan dari segi nilai ekologis dan nilai finansial. Pemanfaatan potensi kawasan konservasi hanya akan dapat dilaksanakan secara konseptual dan terencana apabila potensi kawasan yang ada tersebut diketahui peran dan fungsinya. Mempunyai kondisi alam. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami. Adapun kriteria untuk penunjukan dan penetapan sebagai kawasan cagar alam seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam : Mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa dan tipe ekosistem: Mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya. Kawasan cagar alam juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perlindungan fungsi tata air (hidro-orologis). serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Mempunyai ciri khas potensi dan dapat merupakan contoh ekosistem yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi. Perlindungan fungsi tersebut berperan pula di dalam Beberapa fungsi dari kawasan konservasi termasuk Cagar Alam Kebijakan III .17 . Cagar alam sebagai salah satu kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang memiliki fungsi pokok perlindungan serta penyangga kehidupan. Oleh karena itu pengetahuan mengenai nilai potensi merupakan hal yang penting untuk pemberdayaan manfaat kawasan konservasi.

BKSDA Papua II Sorong Namun peran dan fungsi tersebut nampaknya pada saat ini belum sepenuhnya dinilai secara kuantitatif dari manfaat finansial serta baru dinilai secara mikro dari nilai ekologinya. dan lainlain. budidaya tanaman obat dan tanaman hias. Kawasan konservasi di daerah tropis memiliki peranan yang sekarang dikenal sebagai paru-paru dunia. yang membuat iklim mikro menjadi lebih nyaman. Dimasa mendatang dimana sumberdaya air akan menjadi terbatas maka peran kawasan konservasi. Pada kawasan cagar alam mangrove. nasional dan bahkan internasional.18 . Pemanfaatan kawasan konservasi untuk berperan sebagai penyerap gas karbondioksida maupun zat polutan serta sebagai penghasil oksigen maupun penyerapan efek panas dari gas rumah kaca belum banyak dikemukakan secara kuantitatif dari segi nilai ekologi maupun finansial. Studi-studi yang berkaitan dengan kepentingan pemanfaatan kawasan konservasi untuk hal tersebut harus mulai untuk dikembangkan. pemanfaatan keindahan dan kenyamanan. berbagai jenis tumbuhan mulai dari yang bersifat semak belukar sampai bentuk pohon memiliki kemampuan untuk menyerap gas karbondioksida untuk kemudian dirubah menjadi gas oksigen. Manfaat O2. Pemungutan hasil hutan bukan kayu pada kawasan konservasi. fungsi pengendali intrusi air asin dan pengendali banjir akan menjadi fungsi penting kawasan bagi masyarakat sekitar kawasan. khususnya bagi penyediaan dan kelangsungan sumberdaya air untuk kawasan pemukiman. Pemanfaatan jasa lingkungan pada kawasan konservasi tanpa merusak lingkungan dan mengurangi fungsi utamanya seperti pemanfaatan wisata alam. CO2 dan penyerap panas. untuk plasma nutfah tersebut dibudidayakan dan dikembangkan di luar kawasan seperti antara lain untuk kepentingan budidaya jamur. khususnya cagar alam dengan fungsi hidro-orologisnya akan memainkan peranan yang berarti. dan hal tersebut diharapkan akan menyadarkan mereka untuk selalu berupaya melestarikan dan menjaga keberadaan kawasan konservasi bagi kelangsungan sistem penyangga kehidupan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat secara regional. Menggunakan kawasan konservasi sebagai sumber plasma nutfah dengan tidak mengurangi fungsi utama kawasan. Merupakan bentuk kegiatan untuk mengambil hasil hutan bukan kayu dengan tidak merusak fungsi utama Kebijakan III . industri dan lain-lainnya. Disamping itu beberapa jenis dari tumbuhan yang terpelihara dan terlindungi secara baik di kawasan-kawasan konservasi berperan pula untuk mencegah polusi udara dan pemanasan global. sehingga nilai-nilai pemanfaatan kawasan konservasi dari segi nilai ekologis akan semakin diketahui masyarakat luas. penangkaran satwa.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni mendukung perlindungan sistem penyangga kehidupan. Sumber Plasma Nutfah. Studi yang berkaitan dengan hal-hal tersebut harus mulai untuk terus dikembangkan.

Mendapatkan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan. satwa. Kegiatan Penelitian dan Pendidikan. Melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang. maka pengelolaan dan penelitian dan pendidikan diarahkan pada kegiatan. dan lain-lain. Berdasarkan Pasal 67 ayat (1) UU No. Penyusunan skala prioritas pelaksanaan program penelitian yang disesuaikan dengan tujuan dan sasaran pengelolaan kawasan konservasi. seperti untuk mengambil madu.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kawasan konservasi. sebagai berikut : Identifikasi obyek dan jenis tumbuhan. Bentuk penelitian terapan. Untuk pendayagunaan dan hasilguna. Sesuai fungsi kawasan konservasi. mengambil getah. melindungi dan meningkatkan fungsi kawasan konservasi. Kebijakan III . Dikaitkan dengan Undang-Undang No. antara lain penelitian tentang tingkah laku satwa. Bentuk dan materi penelitian dan pendidikan perlu diarahkan dan diselaraskan dengan kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.19 . Pengembangan bentuk kerjasama dengan masyarakat. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya maka kegiatan pemanfaatan tradisional menjadi salah satu aktivitas yang harus diadopsi dalam kegiatan pengelolaan kawasan cagar alam. meningkatkan Usaha pemanfaatan dan pemungutan tersebut dimaksudkan untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga. Pemanfaatan tradisional yang diperbolehkan hanyalah pemanfaatan potensi kawasan berupa hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan spiritual masyarakat lokal/setempat/sekitar kawasan konservasi yang dilaksanakan oleh masyarakat lokal/setempat/sekitar taman nasional sendiri dengan mempergunakan peralatan tradisional dan sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi. misalnya penelitian tentang teknologi konservasi sumberdaya alam atau penelitian murni. mengambil buah. ekosistem dan sosial ekonomi budaya masyarakat. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan disebutkan bahwa masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan diakui keberadaanya berhak : Melakukan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan. dapat dilangsungkan dalam kawasan konservasi. kawasan cagar alam haruslah mengakomodasi kegiatan penelitian dan pendidikan.

keunikan dan keindahan sumber daya alam . kesejahteraan rakyat. Kebijakan III . rehabilitasi dan pembinaan habitat guna menjamin kelestarian populasi jenis dan pemanfaatannya. Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kawasan-kawasan konservasi sehingga benar-benar mencerminkan kepentingan konservasi keanekaragaman jenis flora dan fauna.20 . maka bobot peningkatan dan pengembangan aspek pemanfaatan berdasarkan azas kelestarian menjadi titik berat dengan didukung perlindungan dan pengawetan yang memadai. Meningkatkan pembinaan kawasan suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa) melalui penilaian keunikan dan keasliannya serta mengembangkan pengelolaannya melalui model pengelolaan yang memadai dan diharapkan mampu memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kesadaran konservasi masyarakat setempat. b. Pengelolaan Cagar Alam Melihat kondisi dan permasalahan yang terjadi saat ini pada kawasan konservasi maka kebijaksanaan pengelolaan kawasan konservasi mengalami perubahan paradigma. maka ditetapkan program konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di dalam pengelolaan kawasan konservasi sebagai berikut : a. guna lebih menjamin keberadaan dan keterwakilan tipe-tipe ekosistem dan gejala alam lainnya. Bila dimasa lalu titik berat pengelolaan kawasan konservasi lebih difokuskan pada aspek perlindungan dan pengawetan. dalam rangka mewujudkan seluruh aspek konservasi dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan konservasi termasuk cagar alam. Mengembangkan kawasan konservasi keanekaragaman hayati yang memenuhi persyaratan dan kriteria baik di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. kekhasan. untuk mewujudkan misi tersebut serta dipandu dengan ketetapan GBHN tahun 1999 yang menekankan kepada perwujudan pengelolalan sumber daya alam hutan secara lestari.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pengembangan sistem promosi rencana penelitian dan hasil penelitian kepada masyarakat luas. Meningkatkan pembinaan satwa liar baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi melalui peningkatan kegiatan inventarisasi.4. berkeadilan dan mandiri untuk sebesar-besarnya. C. antara lain diwujudkan dengan penunjukan kawasan konservasi dan hutan lindung. c. d. Dengan memperhatikan perkembangan keadaan yang berjalan tersebut kebijakan pembangunan kawasan konservasi termasuk cagar alam diarahkan untuk mengemban misi terwujudnya manfaat optimal konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi kesejahteraan masyarakat. dan berbagai upaya pengamanan dan perlindungan serta kegiatan preventif lainnya. Oleh karena itu. penetapan jenis-jenis flora dan fauna yang dilindungi.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong e. Memberdayakan dan mengembangkan lebih lanjut kearifan dan tradisi masyarakat setempat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan dan lestari dalam upaya pelestarian hutan dan konservasi alam. k. Meningkatkan kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam bentuk partisipasi aktif yang positif sebagai masukan bagi pemerintah dalam pelaksanaan operasional konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. l. sehingga kawasan konservasi tersebut mampu mendukung dan memberikan kontribusi yang berarti bagi pembangunan wilayah serta peningkatan kesejah-teraan dan kepedulian konservasi pada masyarakat. Melakukan dan mengembangkan pendekatan baru dalam analisis biaya dan keuntungan dengan memperhitungkan biaya-biaya lingkungan dan sosial dengan disertai kajian dampak lingkungan dan sosial. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Undang-Undang No. i. Meningkatkan pembangunan dan pengelolaan kawasan konservasi alam melalui pengembangan pengelolaan yang mantap dan memadai. Meningkatkan keterpaduan pembangunan kawasan konservasi dengan pembangunan wilayah. Pemanfaatan dan peningkatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam pengelolaan hutan dan kawasan konservasi. pemantauan dan pengawasannya secara konsisten di lapangan. m. Meningkatkan pembinaan konservasi keanekaragaman hayati di luar kawasan konservasi dan di luar kawasan hutan baik daratan dan perairan. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Mendorong dan meningkatkan partisipasi pemerintah daerah dalam pengelolaan kawasan konservasi yang telah diproyeksikan dalam ketentuan Undang-Undang No. n. Kebijakan III . j. Meningkatkan pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hutan dari kawasan hutan dan kawasan konservasi guna peningkatan nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat disekitar hutan melalui kegiatan penunjang budidaya. serta diharapkan mampu memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kesadaran konservasi masyarakat setempat. g. f. mendorong pemanfaatan secara lestari dan optimal dari fungsi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian. pendidikan konservasi dan menunjang budidaya. Membangun dan mengembangkan peranserta aktif masyarakat disekitar hutan dan kawasan konservasi dalam mengembangkan usaha ekonomi berbasis sumberdaya alam setempat dan mampu melestarikan potensi keanekaragaman hayati yang ada.21 . sehingga mampu memberikan manfaat dan hasil produk yang ramah lingkungan dan terstandarisasi. h.

Untuk pencapaian program konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di kawasan konservasi. Meningkatkan supremasi hukum dan memberikan sanksi yang tegas dan jera terhadap para pelanggar yang berkaitan dengan pelestarian alam dan lingkungan. e. maka kegiatan prioritas yang dapat dilaksanakan adalah : a. efisien. pengukuran. c. r. Meningkatkan peran aktif para ahli konservasi. Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan masyarakat melalui berbagai pelatihan dan pendidikan mengenai upaya pencegahan dan penanggulangan berbagai kerusakan lingkungan dan pelestariannya. serta hal ini penting di dalam perencanaan pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan. Peningkatan inventarisasi potensi kawasan hutan yang mencakup seluruh potensi flora. serta penegakan hukum bagi kasus penindakan pelanggaran dan perusakan kawasan. Pengembangan partisipasi dan swakarsa masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi secara adil. lestari. Pemantapan kawasan melalui kegiatan kajian potensi satuan unit pengelolaan ekosistem yang efektif dan efisien. Peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia yang mampu mendukung semua upaya pengelolaan kawasan konservasi secara efektif. d.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong o. berkelanjutan dan lestari. pemetaan dan pengukuhan status kawasan. q. jasa lingkungan dan ekosistem. lembaga masyarakat dibidang politik dan sebagainya untuk mampu mendorong terciptanya berbagai peraturan dan kelembagaan yang mendukung upaya pelestarian alam dan lingkungan. Kebijakan III . b. p. Pengembangan kegiatan penelitian dan ilmu pengetahuan. termasuk membangun sistem informasi dan data base sebagai basis untuk mendukung serta membantu penyelesaian permasalahan yang dihadapi maupun pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan dan lestari. sehingga secara bertahap pengetahuan mengenai potensi dan kegunaan setiap komponen penyusun ekosistem dan dapat diungkapkan dan diketahui. mandiri.22 . efektif dan efesien. guna memberikan kepastian pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan dan lestari. berkelanjutan dan lestari. fauna. penataan batas. Membangun dan menggali sumber pendanaan untuk konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem melalui trust fund atau debt for nature swap serta mendorong pengelola kawasan konservasi untuk mengembangkan kemampuan pendanaan secara mandiri di dalam pengelolaan kawasannya.

h. Kebijakan III . Pengembangan sistem pengawasan dan pengendalian yang diikuti dengan penerapan sanksi yang tegas pada tiap bentuk pelanggaran dan kerusakan terhadap kawasan dan potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistem agar pengelolaan dan pemanfaatannya dapat dilaksanakan secara lebih efektif dan efisien. C. efektif dan efisien. Pengembangan kelembagaan termasuk ketentuan peraturan perundangan. 3. evaluasi dan administrasi sumberdaya. j. 2. organisasi pengelolaan yang secara kondusif mampu meningkatkan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistem secara lestari. serta mencari institusi dan strategi yang dapat menanggulangi permasalahan tersebut.23 . Perencanaan terpadu dan pengembangan sumberdaya di zona pantai: Memusatkan perhatian pada masalah monitoring. Memusatkan perhatian pada permasalahan polusi laut yang timbul di daratan. Pemanfaatan sumberdaya kelautan yang berkelanjutan Menyoroti kesulitan sekitar keseimbangan antara konservasi sumberdaya alam yang tidak dapat pulih dan penggunaan sumberdaya biologi secara berkesinambungan. BKSDA Papua II Sorong Pengembangan usaha kecil menengah dan koperasi yang mampu mendorong berkembangnya iklim usaha yang kondusif dalam pemberdayaan ekonomi rakyat/masyarakat disekitar kawasan yang mampu mendukung ekonomi nasional. g. Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan Hutan Mangrove Pengelolaan kawasan hutan khususnya hutan mangrove di Indonesia terususun dalam suatu strategi Nasional yang merujuk kepada pola pengelolaan lingkungan di dalam Agenda 21 Indonesia.5. Mewujudkan perlindungan dan pengamanan sumberdaya alam hayati dan ekosistem pada kawasan konservasi melalui peranserta secara aktif dari masyarakat di sekitarnya. Mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat pantai Mempertelakan masalah-masalah kemiskinan dan kesempatan ekonomi yang terbatas yang dihadapi masyarakat pantai. Rehabilitasi dan revitalisasi habitat-habitat yang mengalami degradasi dan pragmentasi di dalam upaya mencegah kepunahan plasma nutfah dan penyelamatan kekayaan keanekaragaman hayati. i. Strategi Nasional Ekosistem Mangrove dan Agenda 21 Indonesia memuat antara lain : 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni f. Memonitor dan melindungi lingkungan pantai dan lautan.

departemen teknis yang mengemban tugas dalam pengelolaan hutan mangrove adalah Departemen Kehutanan. Adapun untuk mengarahkan pencapaian tujuan sesuai dengan jiwa otonomi daerah. landasan keilmuan yang relevan. Di dalam menyelenggarakan kewenangannya dalam pengelolaan hutan mangrove.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Di lingkup Departemen. penyusunan dan sebagai pusat informasi. di Langkat – Sumatera Utara (untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan). Maluku dan Irian Jaya). Landasan dan prinsip dasar yang dibuat harus berdasarkan peraturan yang berlaku. termasuk di dalamnya rehabilitasi hutan yang merupakan pedoman penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan bagi Pemerintah. Departemen Kehutanan membawahi Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bekerja di daerah. Sedangkan untuk meningkatkan intensitas penguasaan teknologi dan diseminasi informasi mangrove. dan konvensikonvensi internasional terkait dimana Indonesia turut meratifikasinya. Kebijakan III . Untuk kedepan sedang dikembangkan Sub Centre Informasi Mangrove di Pemalang – Jawa Tengah (untuk wilayah Pulau Jawa). (3) Penggalangan dana dari berbagai sumber. Pemerintah Daerah (Propinsi dan Kabupaten/Kota) serta masyarakat.24 . Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta keselmbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upava peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. 20/Kpts-II/2001). di Sinjai – Sulawesi Selatan (untuk wilayah Sulawesi. Secara umum. pengelolaan kawasan mangrove khususnya kawasan cagar alam haruslah sesuai dengan “prinsip pengelolaan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. yaitu Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) akan tetapi operasional penyelenggaraan rehabilitasi dilaksanakan Pemerintah Propinsi dan terutama Pemerintah Kabupaten/Kota (dinas yang membidangi kehutanan). (2) Rehabilitasi dan konservasi. (Pasal 3 UU No. Untuk mencapai tujuan ini maka secara umum kebijakan yang ada berdasar dan berpedoman kepada : Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang (Pasal 2 UU No. 5/1990). Strategi yang diterapkan Departemen Kehutanan untuk menuju kelestarian pengelolaan hutan mangrove: (1) Sosialisasi fungsi hutan mangrove. Departemen Kehutanan sedang mengembangkan Pusat Rehabilitasi Mangrove (Mangrove Centre) di Denpasar – Bali (untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara) yang selanjutnya akan difungsikan untuk kepentingan pelatihan. 5/1990). Pemerintah (pusat) telah menetapkan Pola Umum dan Standar serta Kriteria Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Keputusan Menteri Kehutanan No.

dan Dalam hal ini. penatagunaan kawasan hutan. Departemen Kehutanan telah.25 . Pemerintah menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan. dan akan melakukan kegiatan-kegiatan baik dalam bentuk kegiatan operasional teknis di lapangan maupun yang bersifat konseptual. Inventarisasi kerusakan hutan mangrove (22 Propinsi). pembentukan wilayah pengelolaan hutan. (Pasal12 UU No. dalam hal pengelolaan hutan Mangrove maka aspek perencanaan menjadi sangat penting. 41/1999). berikut : Perencanaan Kehutanan meliputi : inventarisasi hutan. Pemerintah Propinsi menetapkan wilayah-wilayah tertentu sebagai kawasan lindung dalam suatu Peraturan Daerah. 5/1990). Kebijakan III . 32/1990). Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan (Pasal 5 UU No. 2. pembuatan unit percontohan empang parit dan penanaman/rehab bakau. kegiatan operasional teknis yang dilaksanakan di lapangan oleh Balai/Sub Balai RLKT (sekarang bernama Balai Pengelolaan DAS) sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Kehutanan adalah rehabilitasi hutan mangrove di luar kawasan hutan dan di dalam kawasan hutan seluas 22.699 Ha melalui bantuan bibit. Pemerintah menyelenggarakan pengukuhan kawasan hutan untuk memberikan kepastian hukum atas kawasan hutan tersebut. Berdasarkan inventarisasi hutan. 41/1999). Secara spesifik. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. 5/1990) : o o o perlindungan sistem penyangga kehidupan. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pemerintah Kabupaten menjabarkan lebih lanjut kawasan lindung ke dalam peta yang lebih detil dengan Peraturan Daerah. Penyusunan Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove. Secara khusus. rencana atau pokok kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan hutan mangrove. perencanaan juga memuat aspek dan informasi sebagai penyusunan rencana kehutanan. pengukuhan kawasan hutan. (UU No. 3. (Pasal14 UU No. sedang. yang tersebar di 18 Propinsi. (Pasal 34 Keppres No. Operasional Teknis Sejak Tahun Anggaran 1994/1995 sampai dengan Tahun Dinas 2001.

Sesuai dengan fungsinya yang merupakan kawasan konservasi.. Akan tetapi seiring dengan rencana pembangunan yang akan dilakukan. buaya. harus ada koordinasi dengan BKSDA Papua 2 yang memiliki kantor Resort di Bintuni. Oleh karena itu setiap rencana pembangunan yang akan dilakukan oleh pemda. Salah satu modal pembangunan dari Kabupaten Teluk Bintuni yaitu sumberdaya alam (SDA) yaitu berupa SDA hutan. dalam Rustiadi et al. Penyusunan Rencana Tata Ruang Daerah Pantai Kabupaten. kesenjangan antar wilayah. pertambangan (batubara). 2003): 1. SDA alam yang ada di kabupaten Teluk Bintuni diantaranya yaitu berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). serta peningkatan kualitas hidup masyarakat adalah beberapa dari sejumlah program pembangunan yang harus dilaksanakan. serta beberapa jenis burung) terdapat di dalam kawasan CATB. serta gas bumi (LNG Tangguh). Tinjauan Penataan Ruang Kota Kabupaten Teluk Bintuni Awal dari proses penataan ruang adalah beranjak dari adanya kebutuhan untuk melakukan perubahan sebagai akibat dari perubahan pengelolaan maupun akibat perubahan-perubahan keadaan (peningkatan kesejahteraan. BKSDA Papua II Sorong D. D. pengembangan sentra-senta produksi. Kebutuhan masyarakat untuk melakukan perubahan atau upaya untuk mencegah terjadinya perubahan yang tidak diinginkan Kebijakan III . Berdasarkan kondisi diatas. CATB memiliki peranan yang cukup besar dalam menjaga kelestarian ekosistem di sekitar Teluk Bintuni.26 . 5. rusa. perkembangan sosial dan lain-lain).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. Kabupaten Teluk Bintuni yang merupakan Kabupaten Pemekaran (12 November 2002) dari Kabupaten Manokwari harus segera memecahkan beragam permasalahan yang dihadapi masyarakat. perikanan. alam dan buatan) untuk mewujudkan pembangunan di semua bidang. Jadi pada dasarnya harus ada dua kondisi yang harus dipenuhi di dalam perencanaan tata ruang (Clayton and Dent. maka Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni dituntut untuk memaksimalkan semua sumberdaya yang ada (manusia. 1993. Penyusunan basis data pengelolaan hutan mangrove. Pengembangan Wilayah Pengembangan wilayah harus dipandang sebagai upaya pemanfaatan sumberdaya wilayah agar sesuai dengan tujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. dengan demikian pengembangan wilayah adalah bagian tak terpisahkan dari tujuan pembangunan secara keseluruhan. pertanian.1. bencana alam. kawasan CATB tidak akan terlepas dari pengaruh untuk dimanfaatkan sebagai modal pembagunan. Selain itu flora serta fauna yang eksotis (mangrove. SDA hasil perikanan merupakan SDA yang banyak terdapat di dalam kawasan CATB.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2..27 . melainkan lahir dari adanya kebutuhan. sehingga terdapat kesulitan untuk mengetahui arahan pembangunan untuk tingkat Kabupaten. dan 3) keberlanjutan. Rencana Pola Perkembangan Kota Bintuni sebagai Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kabupaten Teluk Bintuni sampai saat ini belum ada. namun biasanya dapat dikelompokan atas tiga sasaran umum: 1) efisiensi. Dengan demikian penyusunan perencanaan tata ruang pada dasarnya bukan merupakan suatu keharusan tanpa sebab. Adanya political will dan kemampuan untuk mengimplementasikan perencanaan yang disusun. oleh karenanya perencanaan yang disusun harus dapat diterima oleh masyarakat. karena kawasan CATB Berdasarkan RDTRK Kota Bintuni. 2) keadilan dan akseptabilitas masyarakat. Gambar III-1. ibu kota letaknya berdekatan dengan Kota Bintuni. Dokumen yang telah ada yaitu Rencana Detil Tata Ruang (RDTRK) Kota Bintuni tahun 2004. Sasaran utama dari perencanaan tata ruang pada dasarnya adalah untuk menghasilkan penggunaan yang terbaik. Sasaran efisiensi merujuk pada manfaat ekonomi. Perencanaan tata ruang juga harus berorientasi pada keseimbangan fisik dan sosial sehingga menjamin peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan. Kebijakan III . Tata ruang harus merupakan perwujudan keadilan dan melibatkan partisipasi masyarakat. pembangunan RDTRK Kota Bintuni dapat dijadikan sebagai dasar untuk melihat arahan yang akan mempengaruhi terhadap kawasan. dimana dalam konteks kepentingan publik pemanfaatan ruang diarahkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (publik).

ditambah dengan usaha pertanian yang tidak sesuai daya dukung lahan menyebabkan laju erosi dan sedimentasi bertambah. karena daerah tersebut merupakan daerah hutan dataran rendah serta menjauh dari batas kawasan CATB. Tirasai. Selain itu untuk mengurangi tekanan terhadap penggunaan lahan. sebagai potensi pendukung keberadaan ekosistem mangrove dan sekaligus ancaman. Selain itu untuk pengembangan sektor lain seperti perikanan diharapkan dilakukan di luar kawasan CATB. Naramasa serta beberapa sungai kecil lainnya. Penambahan besar erosi dan sedimentasi menyebabkan tekanan terhadap kawasan cagar alam semakin besar. Kampung Argo Sigemerai direncanakan sebagai kawasan komersil dan bisnis baru berskala regional. Tatawori. Perencanaan pengembangan sektor pertanian/perkebunan sebaiknya dikembangkan di sebelah Utara jalan Trans Bintuni – Manokwari. Daerah hulu dari sungai-sungai tersebut merupakan kawasan hutan yang sampai saat ini masih merupakan hutan produksi.28 . Perubahan pola penggunaan lahan di hulu DAS dari hutan alam menjadi usaha hutan baik oleh masyarakat maupun HPH. maka setiap pemanfaatan/penggunaan lahan dilakukan di sebelah Utara jalan Trans Bintuni – Manokwari. agar tidak terjadinya konflik kepentingan karena kawasan tersebut merupakan kawasan konservasi. Bokor. Sedimentasi yang memasuki kawasan mempunyai peran ganda. Selain itu berdasarkan RDTRK Kota Bintuni. Hubungan Ruang Kawasan Cagar Alam dengan Daerah Sekitarnya Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) secara geografis merupakan daerah hilir dari beberapa sungai besar seperi Sungai Muturi. Tetapi bila sedimentasi bertambahnya sangat cepat maka laju perubahan semakin cepat dimana perubahan dari ekosistem mangrove menjadi hutan dataran rendah lebih cepat dari terbentuknya mangrove Kebijakan III .. Dengan adanya Hak Pengusahaan Hutan (HPH) maka kondisi hutan di bagian hulu sungai tersebut semakin rusak sehingga dapat mengakibatkan erosi dan tingkat sedimentasi di setiap sungai semakin besar. Mangrove hanya bisa berkembang jika ada suplai sedimen sebagai substrat pertumbuhan. untuk selanjutnya aliran sungai tersebut masuk ke Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kabupaten mulai dari Kampung Sibena sampai dengan Kampung Argosigemerai (SP5). D. Kodai.2. serta telah dibangunnya pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni yang berjarak 27 Km sebelah Timur dari Kota Bintuni (dekat Kampung Korano Jaya). Agar kawasan CATB dapat terjaga dengan baik maka perlu adanya daerafh buffer antara jalan dengan batas kawasan CATB. merupakan daerah yang sangat dekat dengan perkampungan dan pusat aktivitas lainnya. Berdasarkan kondisi diatas maka dapat dilihat bahwa batas Barat Laut dan Utara kawasan CATB. Melihat kondisi diatas maka kawasan CATB merupakan daerah buffer sebelum aliran sungai masuk ke Teluk Bintuni.

Dengan kondisi demikian maka bukan hal yang mustahil dimasa yang akan datang kapal-kapal tidak dapat lagi masuk ke Sungai Wasian. Hal tersebut menunjukan bahwa peranan kawasan CATB sebagai daerah buffer bagi aliran sungai yang bermuara di Teluk Bintuni cukup besar. kepiting. Melihat posisi muara sungai tersebut yang sangat dipengaruhi oleh sungai-sungai yang berasal dari kawasan CATB (terutama Sungai Muturi) dimana tingkat sedimentasinya sudah tinggi. Selain itu banyak masyarakat yang tinggal di sekitar Teluk Bintuni atau kawasan CATB yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Teluk Bintuni terkenal sebagai daerah penghasil beberapa jenis hasil perikanan seperti ikan. merupakan ”pintu gerbang” bagi masuknya kapal penumpang/barang dari Sorong ataupun daerah lain. dan bagi biota laut lainnya. kerang. udang yang merupakan sumber pencaharian masyarakat yang berdiam di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni Pada sisi lain. yang merupakan tempat mencari makan (feeding ground). Kebijakan III . kepiting (karaka) dan lain-lain. Kondisi ini menyebabkan akses di dekat dan dalam kawasan sangat intens untuk transportasi. Jika ini berkembang terus maka luas kawasan hutan mangrove semakin kecil dan keberadaan cagar alam ini menjadi terancam. pola transportasi ke dan dari Kabupaten umumnya menggunakan sungai. salah satunya yaitu PT. sehingga hal yang sangat penting untuk menjaga kelestarian kawasan CATB. udang. Oleh karena itu dalam kebijakan pengembangan wilayah. Perubahan ekosistem ini akan menyebabkan terjadinya kehilangan fungsi ekonomi kawasan sebagai spawning ground bagi ikan. Berdasarkan kondisi diatas menunjukan bahwa kawasan CATB merupakan ”rumah/gudang” dari beberapa jenis hasil perikanan. Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas menunjukan bahwa kawasan CATB perlu dijaga kelestariannya. sehingga dari perhubungan laut Kabupaten Teluk Bintuni akan terisolir. Sungai Wasian (Sungai Steenkol) yang merupakan batas alam sebelah Timur kawasan CATB. Hal ini ditunjukan dengan berdirinya perusahaan- perusahaan perikanan. diharapkan agar dapat meminimalkan akses/pemanfaatan terhadap kawasan CATB agar kelestariannya dapat terjaga. Kawasan CATB mayoritas wilayahnya (lebih dari 90%) merupakan hutan mangrove (mangi-mangi) dengan luasan seluruhnya 124. sehingga memiliki peranan yang cukup penting bagi keberlangsungan produksi perikanan di Teluk Bintuni dan sekitarnya. maka berdasarkan pengamatan lapangan sedimentasi di muara Sungai Wasian semakin mempersempit muaranya. Bintuni Mina Raya yang berlokasi di Wimro Distrik Babo. karena memiliki peranan yang cukup penting dalam menjaga fungsinya sebagai buffer bagi aliran sungai yang masuk ke Teluk Bintuni serta sebagai ”rumah/gudang” bagi berbagai jenis hasil perikanan agar Teluk Bintuni tetap menjadi daerah penghasil ikan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong baru.850 hektar.29 . udang. tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) bagi berbagai jenis ikan.

.

Beberapa permasalahan dari aspek pengelolaan yang berhasil teridentifikasi antara lain adalah : 1. Kurangnya koordinasi Pengelola Cagar Alam dengan jajaran Pemerintah Daerah Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih sepenuhnya ditangani oleh institusi yang berstatus instansi pusat dan wewenang kendali ada pada BKSDA Papua II Sorong dan bukan di wilayah atau kawasan Cagar Alam. Pengelolaan dan Kebijaksanaan Aspek pengelolaan menguraikan tentang tujuan pengelolaan. permasalahan yang merupakan kelemahan yang bersifat teknis dan atau non-teknis merupakan hal sering terjadi. Pengelolaan dan kebijaksanaan dalam analisis difokuskan kepada tujuan penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan.1. Kondisi ini secara hukum membuat kepastian kawasan menjadi sangat rawan karena ke depan. sementara status masih penunjukan. 2. maka tidak ada alasan untuk membatalkannya karena secara hukum. proses perkembangan wilayah dan tekanan terhadap cagar alam cukup besar. Status Kawasan secara yuridis formal masih lemah Status kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni sampai saat ini masih dalam status hukum penunjukan dan belum penetapan. dan input-input dalam rangka merumuskan strategi kebijaksanaan. Disamping itu. Jika pemerintah daerah membuat perda dalam tata ruang yang mengurangi atau menghilangkan cagar alam. pengelola teknis Cagar Alam Teluk Bintuni menunjukan bahwa tanggung jawab pengelolaan terkesan sepenuhnya berada di tangan KSDA Bintuni dan belum mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Permasalahan ini juga dijumpai di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. A. padahal pengelolaan dan pengawasan kawasan konservasi juga menjadi Analisis Permasalahan IV .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong IV. Sedangkan aspek kebijaksanaan menguraikan tentang perkembangan kebijakan yang ada dan digunakan sebagai dasar untuk memenuhi fungsi kawasan beserta efektifitasnya. tata ruang daerah juga belum resmi ada. evaluasi kondisi pengelolaan.1 Permasalahan A. keberadaan kawasan masih dalam tahap penunjukkan dan belum penetapan.1 Aspek Pengelolaan Dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi.1 . ANALISIS PERMASALAHAN A. Kondisi ini sangat potensial menyebabkan Informasi yang diperoleh dari kegiatan pengelolaan belum bisa maksimal dan efektif.

Ini bisa disebabkan karena adanya perbedaan struktur dan eselonisasi antara pengelola dengan dinas di dalam Pemda. Pemukiman di Desa Anak Kasih yang dibangun Dinas Sosial Propinsi Papua dan berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. luas kawasan. Mimika. beragamnya obyek yang harus dikelola. Analisis Permasalahan IV . dalam hal ini Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Papua II merupakan perpanjangan tangan institusi pusat (PHKA). Teluk Wondama. Keberadaan koordinasi yang berada di Sorong dan aksesibilitas serta komunikasi ke wilayah Teluk Bintuni juga menjadi salah satu sebab kurang optimalnya peran institusi pengelola.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong bagian tanggung jawab Pemerintah Daerah. koordinasi terlihat muncul dengan pemerintah propinsi. serta “rumitnya” mekanisme birokrasi yang harus diikuti. balai membawahi kegiatan pengelolaan kawasan di 14 Kabupaten. Khusus untuk Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni. Teluk Bintuni yang dulunya masih kecamatan dan berinduk di Propinsi Papua mempunyai kendala jarak. Fak-fak. 3. Selain dengan pemerintah yang daerah lemah di juga Kabupaten. seperti : Kabupaten Biak. Hal ini di perparah lagi dengan birokrasi yang panjang yang harus di tempuh oleh institusi pengelola di daerah dalam membuat kebijakankebijakan yang menyangkut pengelolaan kawasan karena tanggungjawab dan kendali masih ada di BKSDA Papua II yang berkedudukan di Sorong. Peran institusi pengelola belum maksimal. Manokwari. Anak Kasih oleh Dinas Sosial Propinsi Papua dan lokasi ini berada di dalam kawasan cagar alam. Numfor.2 . Seharusnya penempatan wilayah pemukiman baru didasarkan kepada peta dan tata ruang wilayah sehingga keberadaan kawasan konservasi dan batasnya bisa menjadi pertimbangan pembangunan. Serui. Teluk Bintuni. Bila dilihat dari kondisi geografis. Raja Ampat. Sorong. Akibatnya. Sorong Selatan. Waropen. institusi pengelola kawasan konservasi yang ada adalah Resort KSDA Bintuni yang membawahi dua kawasan Cagar Alam. Kondisi sebagai kabupaten baru juga menjadi salah satu penyebab masalah ini muncul. Kaimana. Dalam aktivitas kegiatannya. Peranan institusi pengelola dalam mengikuti mekanisme koordinasi dan birokrasi dengan Pemerintah Daerah (PEMDA) juga masih kurang efektif. tanggung jawab instansi ini terasa sangat berat dalam mencapai tujuan pengelolaan kawasan. koordinasi yang lemah ini juga terlihat dari ditemukannya pembangunan pemukiman masyarakat di Gambar IV-1. Institusi pengelola kawasan konservasi di daerah. dan kota Sorong. yaitu Cagar Alam Wagura Kote dan Cagar Alam Teluk Bintuni.

ada bahwa pengelola saat ini kurang Hal ini Sumber: Resort KSDA Bintuni terlihat dari kualifikasi dari pengelola yang semuanya tidak memiliki latar belakang pendidikan kehutanan. yaitu kurang lebih 124. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dari Gambar IV-2. sarana dan prasarana penunjang yang ada sangat kurang. Minimnya kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. sarana prasarana yang ada masih jauh dari memadai. tanpa ada longboat atau speedboat (Tabel IV-2). 5. 3. Kondisi personil pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005. pengelolaan kawasan. BKSDA Papua II Sorong Dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi di Kabupaten Teluk Bintuni. 2. yaitu kurang lebih 15. Upaya penambahan sarana dan petugas menjadi salah satu prioritas yang harus dilakukan agar aksesibilitas pengelola ke dalam kawasan dan Analisis Permasalahan IV .850 ha dan Cagar Alam Wagura Kote. No. Minimnya sarana dan prasarana penunjang.000 Ha.000 ha. Pengawasan dan patroli yang efektif serta upaya untuk pembinaan dan koordinasi dengan masyarakat yang ada di dalam dan sekitar kawasan sangat tidak mendukung dengan sarana yang ada. pengelolaan dilakukan oleh Kepala Ressort dan 3 orang Jagawana (Tabel IV-1). 1. Dari data personil kawasan Tabel IV-1. Bila dilihat dari tugas dan tanggung jawab yang dituntut. Hal ini tidak sebanding dengan luasan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. proses pencapaian tujuan pengelolaan kawasan akan sangat jauh dari yang diharapkan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. Dengan kekuatan pengelola seperti ini. Status/Golongan/ Masa Kerja PNS/III-a/22 tahun PNS/II-b/6 tahun PNS/II-b/6 tahun Kualifikasi Sarjana Hukum SLTA SLTA Keterangan Kepala Resort Jagawana Jagawana pengelola pada Tabel di atas tergambar kapasitas yang masih memadai. Satu-satu sarana transportasi dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. institusi pengelola saat ini ditunjang oleh sarana dan prasarana yang sangat minim. Khusus untuk Cagar Alam Teluk Bintuni. tanggung jawab pengelolaan kawasan hanya ditangani oleh tiga orang personil yang terdiri dari 1 orang Kepala Resort dan 2 orang tenaga Polisi Kehutanan.3 . Kawasan cagar alam dengan luas 125. dominan kawasan mangrove dan kawasan sungai hanya didukung prasarana pengelola yang sangat minim yaitu satu motor. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan informasi dari kepala Resort KSDA Bintuni. Dalam kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Salah satu contoh adalah laporan kegiatan tata batas kawasan. BP Tangguh. Dari informasi kegiatan yang pernah dilakukan di kawasan Cagar Alam baik di dalam Departemen Kehutanan maupun di luar kehutanan. Hal ini menjadi salah satu kelemahan sistem dokumentasi data tentang kawasan dan secara tidak langsung juga akan mempengaruhi kinerja dari pengelola kawasan 7. Pembinaan masyarakat akan meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan cagar alam. sekarang hanya menerima dana yang bersumber dari Dana Reboisasi. hampir tidak dijumpai adanya data dan laporan hasil kegiatan yang terdokumentasi di pengelola. Perubahan kebijakan keuangan untuk pengelolaan kawasan dimana sebelumnya bersumber dari dana APBN. khususnya pengawasan dan perlindungan. Tabel IV-2. 2. Informasi yang di peroleh dari pengelola kawasan menunjukkan bahwa kajian dan penelitian telah banyak dilakukan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Sarana dan Prasarana Pondok kerja ukuran 36 M2 Motor Dinas Mesin ketik Sumber: Resort KSDA Bintuni 6. Sumber dana ini hanya digunakan untuk membiayai kegiatan pengelolaan kawasan yang lebih dikategorikan sebagai dana rutin seperti pengamanan kawasan. pembinaan kader. dan Pemerintah Daerah. LSM. Kondisi sarana dan prasarana pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005 Jumlah (Unit) 1 1 2 Kondisi Sedang Buruk Rusak Keterangan Perlu perbaikan Perlu perbaikan - No. 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong melakukan pembinaan masyarakat semakin baik. Data dasar kawasan. ternyata informasi dasar kawasan masih belum memadai dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Akan tetapi prinsip ini belum terlaksana di Analisis Permasalahan IV .4 . Tidak tersedianya proporsi dana yang seimbang dengan luas kawasan. Dalam pengelolaan kawasan konservasi. 3. Kegiatan ini sudah dilakukan tahun 1999 tetapi peta hasil pengukuran dan laporan kegiatannya tidak dijumpai sebagai dokumen di resort atau lokasi cagar alam. dan dana pameran konservasi dan tidak dikhususkan untuk pembangunan kawasan. Hal ini juga diperkuat dari hasil penelusuran data sekunder. prinsip pencegahan selalu dipandang lebih baik dibandingkan dengan rehabilitasi atau perbaikan. namun hasil-hasilnya tidak terdokumentasi dengan baik sebagai arsip yang ditinggalkan pada institusi pengelola baik di BKSDA Papua II Sorong maupun di Ressort Bintuni. dari data yang telah terdokumentasi yang bersumber dari beberapa stakeholder seperti Perguruan Tinggi.

Cagar Alam Teluk Bintuni membutuhkan alokasi dana yang cukup besar dalam pengelolaannya. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa batas kawasan berupa pal-pal batas tidak ditemui lagi atau telah rusak dimakan usia. Pedoman dan petunjuk teknis bagi pengelolaan kawasan dan jenis yang merupakan perangkat lunak dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan masih belum tersedia di Pondok Kerja Resort KSDA Bintuni. Minimnya perangkat lunak yang tersedia. Ketidakjelasan batas kawasan di lapangan. Disamping itu. Ini tergambar dari alokasi dana untuk Cagar Alam Teluk Bintuni yang sangat kecil.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 9.5 . padahal dari segi luas kawasan. Hal ini menyebabkan kegiatan pemberdayaan masyarakat sulit dilakukan dan diukur keberhasilannya. Kondisi hutan mangrove yang relatif masih baik dan tekanan kerusakan yang belum besar diduga menjadi salah satu sebab kurangnya perhatian dalam pengelolaan. Hal ini dapat dijumpai pada batas barat-laut kawasan dimana dijumpai adanya tumpang tindih kawasan cagar alam dengan lahan usaha II untuk peserta Analisis Permasalahan IV . Hal lain yang menjadi permasalahan adalah pola pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat di dalam kawasan dimana mereka umumnya adalah masyarakat tradisional yang tidak terbiasa berurusan dengan kondisi yang serba formal. Menurut informasi dari Kepala Resort KSDA Bintuni. 8. Disamping itu. Ketidakjelasan batas kawasan dan kurangnya koordinasi dengan instansi terkait mengakibatkan pada beberapa bagian kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terjadi tumpang tindih dengan peruntukan lain. Aksesibilitas yang dominan lewat air membutuhkan biaya patroli yang cukup besar. pola pemetaan dan kegiatan partisipatif sangat diperlukan. Batas yang tidak jelas dapat menyebabkan terjadinya tumpang tindih penggunaan dan sangat potensial menjadi sumber konflik. Batas kawasan yang jelas akan membuat semua pemangku kepentingan memahami dan menyadari keberadaan kawasan Cagar Alam. pada tahun 1997 telah dilakukan penataan batas kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh konsultan PT BASRICO CEMERLANG dan oleh Sub BIPHUT Manokwari pada tahun 1999. ketidaktersediaan buku saku pengelolaan dan pedoman koordinasi juga menyebabkan upaya pengelolaan terbentur pada masalah legalitas kegiatan. Untuk itu sangat diperlukan adanya pedoman bagi pelaksana teknis pengelolaan Cagar Alam. khusus dalam pengawasan. penyuluhan kepada masyarakat yang berada di dalam maupun di sekitar kawasan juga sangat diperlukan agar pengelolaan kawasan bisa didukung oleh masyarakat. Dalam pelaksanaan tata batas kawasan. Padahal perangkat ini sangat diperlukan dalam pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.

Kondisi ini bisa dipahami mengingat adanya keterbatasan dari pengelola teknis kawasan untuk bisa berkunjung ke desa-desa yang menggunakan transportasi melalui air/sungai. Hal ini ditandai dengan adanya kegiatan yang berkaitan dengan pembukaan lahan untuk pembuatan tempat penimbunan kayu. Seharusnya dalam peta akhir tata batas. kawasan.1. Kegiatan yang pernah ada hanyalah penataan kawasan berupa keterlibatan pengelola dalam kegiatan penataan batas definitif bersama konsultan PT BASRICO CEMERLANG dan oleh Sub BIPHUT Manokwari pada tahun 1999. Kegiatan pengawasan secara periodik tidak pernah ada di Penyebab utama adalah tidak tersedianya sarana untuk melakukan pengawasan dari sungai dimana lebih dari 90% kawasan merupakan hutan mangrove sementara sarana transportasi pengelola adalah motor.6 . Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap kawasan. perladangan.2 Altenatif pemecahan masalah Dari beberapa permasalahan pengelolaan kawasan tersebut di atas.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong transmigrasi nasional. dan penebangan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. pemukiman. sampai pada saat disusunnya rencana pengelolaan kawasan ini relatif hampir tidak pernah ada kebijakan yang diambil oleh pengelola teknis (resort) untuk memenuhi fungsi kawasan. Apabila kondisi ini dibiarkan akan dapat menjadi faktor penghambat dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. areal transmigrasi ini sudah dikeluarkan dari areal cagar alam. penyebaran informasi dan sosialisasi kawasan. Selain itu. Dari wawancara diketahui bahwa ini bisa terjadi karena kurangnya penyuluhan. kegiatan pengawasan kawasan pernah dilakukan beberapa kali. namun itupun hanya bersifat insidentil yang bersamaan dengan penelitian atau survei yang dilakukan oleh beberapa LSM konservasi. Baik buruknya apresiasi ini sangat ditentukan Di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.2 Aspek Kebijakan Berdasarkan penjelasan dari institusi pengelola kawasan. pemahaman dan pengetahuan mereka. 10. Beberapa alternatif pemecahan masalah yang dapat diberikan sehubungan dengan kelemahan yang terjadi dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan pada Tabel IV-3. Apresiasi dan pemahaman masyarakat terhadap kawasan diukur dari bagaimana masyarakat memperlakukan kawasan Cagar Alam. Sejak itu tidak pernah ada kebijakan penataan sampai rencana ini disusun. apresiasi ini terlihat masih kecil. Analisis Permasalahan IV . A. diketahui bahwa kelemahan-kelemahan yang muncul lebih banyak di pengaruhi oleh faktor internal. A.

Dirjen PHKA BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari . Belum maksimalnya peranan institusi pengelola dan minimnya kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola Peningkatan kawasan. LSM (lokal dan internasional). Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan melalui kerjasama dengan mitra lain seperti PT. Dirjen PHKA Jakarta. Pembangunan sarana dan prasarana penunjang pengelolaan seperti pembangunan kantor resort. dan Lembaga Penelitian Analisis Permasalahan IV . sehingga beban yang harus ditanggung institusi pengelola menjadi lebih ringan. dan FISIK kawasan. dan pengadaan perahu motor. Meningkatkan kemampuan personil pengelola melalui berbagai kesempatan pendidikan dan latihan pengelolaan kawasan konservasi yang lebih profesional.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel IV-3. BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari (koordinasi) Unipa Manokwari (koordinasi) BKSDA Papua II Unipa Manokwari . BIOLOGI. Resort KSDA Bintuni. PEMDA Teluk Bintuni BP Tangguh Project.7 . pondok jaga. status pengelola Ditjen PHKA BAPLAN dan Pendukung BKSDA Papua II dan Biphut PEMDA Teluk Bintuni dan BKSDA Papua II. dan Lembaga Penelitian. LSM. LSM lokal dan NGO BKSDA Papua II Penambahan jumlah personil pengelola. Membangun kerjasama dengan stakeholder yang lain seperti LSM dan Pemerintah daerah melakukan kegiatan pengelolaan kawasan. baik di bidang SOSEK. menara pengawas. Lembaga Penelitian. Stakeholders Permasalahan Status Kawasan secara yuridis formal masih lemah (Kawasan CATB berstatus penunjukan) Alternatif pemecahan masalah Penanggung Jawab Peningkatan status kawasan secara yuridis formal dan ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah Kurangnya koordinasi dengan jajaran Pemerintah Daerah. pondok kerja. PEMDA Teluk Bintuni BKSDA Papua II Minim data dasar kawasan Inventarisasi potensi kawasan secara menyeluruh. Peningkatan mutu dan pemeliharaan sarana prasarana yang telah ada. BP Tangguh Project (koordinasi) Tidak memadainya proporsi dana dengan luas kawasan Alokasi dana untuk kegiatan pengelolaan yang cukup memada melalui mekanisme skala prioritas. LSM. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Resort KSDA Bintuni Ditjen PHKA BKSDA Papua II. dan Pemerintah Daerah. Ditjen PHKA BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari. Mempromosikan kegiatan penelitian dan kajian untuk menggambarkan kondisi kawasan. BP Tangguh Project Minimnya sarana dan prasarana Penunjang BKSDA Papua II BP Tangguh Project. Investor.

LSM. LSM. jembatan. baik secara langsung seperti konversi lahan maupun tidak langsung. BKSDA Biphut Papua Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap kawasan. Unipa Manokwari . Kedua ekosistem penyusun kawasan ini adalah ekosistem alami dan sebagian besar masih Analisis Permasalahan IV . B. yaitu ekosistem hutan mangrove sebagai penyusun utama kawasan dan hutan hujan dataran rendah. Hal ini dapat memicu semakin meningkatnya tekanan terhadap sumberdaya alam hayati dan ekosistem yang ada di daerah ini.1. Aspek Biologi Kawasan Pemekaran Kawasan Teluk Bintuni menjadi Kabupaten Teluk Bintuni membawa beberapa konsekuensi logis seperti pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi dan bertambahnya kebutuhan lahan baru untuk berbagai keperluan seperti perumahan. B. dan infrastruktur lainnya. terutama untuk kegiatankegiatan yang dapat meningkatkan keikutsertaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Rekonstruksi batas kawasan bila dirasa perlu. BKSDA Papua II Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC.1 Ekosistem Kawasan CagarAlam Teluk Bintuni tersusun oleh dua ekosistem utama. BKSDA Papua II BKSDA Papua II Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan II. Unipa Manokwari . dan Lembaga Penelitian (koordinasi) BP Tangguh Project.8 . misalnya pencemaran oleh limbah kegiatan pembangunan. dan Lembaga Penelitian (koordinasi) Penyederhanaan pedoman penegelolaan yang ada sehingga mudah dipahami masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. BKSDA Papua II BKSDA Papua II Sorong Pendukung BP Tangguh Project. jalan. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai penyangga sistem kehidupan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Stakeholders Permasalahan Minimnya perangkat lunak Alternatif pemecahan masalah Penanggung Jawab Pembuatan pedoman pengelolaan kawasan dan jenis. Meningkatnya tekanan ini dapat mengancam keberadaan dan kelangsungan ekosistem dan sumberdayanya. Pemeliharaan batas kawasan. dermaga.1 Permasalahan B. 2005. termasuk ekosistem penyusun kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ketidakjelasn batas kawasan di lapangan.

Penebangan liar (illegal logging) Keterangan Ada yang dilakukan sebelum tata batas definitif kawasan Pelaku kegiatan ini belum bisa di justifikasi dan memerlukan pengamatan yang lebih seksama. tempat penimbunan kayu (logyard). penebangan liar. Temuan di lapangan menunjukan Analisis Permasalahan IV . serta lahan usaha untuk peserta transmigrasi nasional. Permasalahan sekaligus ancaman terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Permasalahan Degradasi ekosistem Stakeholder/penyebab Pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh HPH dan Kopermas. Tabel IV-4. 2005. pada beberapa bagian ekosistem ini telah terjadi penebangan. Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa beberapa bagian ekosistem ini. baik yang berada di pulau mangrove maupun di batas Timur. Perladangan (cultivated land) Pemukiman penduduk Sumber: Survei Tim TNC. serta untuk keperluan pemukiman penduduk lokal. kecuali beberapa bagian ekosistem hutan hujan dataran rendah dan sebagian kecil hutan mangrove telah mengalami gangguan/tekanan akibat faktor manusia seperti pembukaan lahan untuk pemukiman. dan sebagai akibat gejala alam seperti erosi tepi dan angin. Terutama dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di dalam kawasan Memanfaatkan bekas logyard dan ada yang dibuka jauh sebelum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Tabel IV-4 mengindikasikan bahwa ekosistem hutan dataran rendah sedang menghadapi dua permasalahan utama. dan Barat Laut kawasan CATB sebagian telah mengalami kemunduran. perladangan. terutama pohon-pohon jenis komersil seperti merbau dan matoa. Selain itu. pembuatan kebun masyarakat.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong terpelihara dengan baik. Utara. Ekosistem Hutan Hujan Dataran Rendah Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa permasalahan dan ancaman utama terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasan CATB adalah degradasi ekosistem yang merupakan akibat dari beberapa aktivitas manusia seperti disajikan pada Tabel IV-4.9 . yaitu degradasi ekosistem dan tumpah tindih kawasan. Kemunduran yang terjadi pada ekosistem ini sebagian besar disebabkan oleh adanya intervensi manusia seperti pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh beberapa HPH dan KOPERMAS yang beroperasi di sekitar kawasan.

pembukaan lahan untuk keperluan logyard Analisis Permasalahan IV .5’’ 0 E 133 43’ 49.4’’ 0 E 133 40’ 13. Sumberi Kopermas Kopermas Kopermas S.57. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan sudah tidak digunakan tapi sekarang diupayakan untuk dijadikan Dermaga Fery (ASDP). Letak Logyard Logyard II Dibuka oleh PT.5’’ S 20 02’ 39.8” Sumber: Survei Tim TNC. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh Kopermas. Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh Kopermas.3” E1330 37’.1’’ 0 E 133 56’ 05. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan sementara non aktif.3” S 20 07’.Tirasai 0 GPS S 2 03’ 13.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong terdapat beberapa tempat penimbunan kayu (logyard) yang terdapat dalam pada ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam (Tabel IV-5).4’’ E133 55. Anak Kasih.9” E1330 40’.5” S 20 09’ 30.Henrison Iriana Lokasi S.86.10 . khususnya ekosistem hutan dataran rendah. informasi dari pengelola kawasan dan masyarakat yang bermukim di areal tersebut. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. Tabel IV-5 menunjukan bahwa di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang secara hukum merupakan daerah konservasi terdapat aktivitas pembukaan lahan untuk keperluan pembuatan logyard yang jumlahnya dapat mengancam keberadaan eksositem yang ada.36.2” S 20 06’ 04. Ausoi S. Awarepi Logyard SP IV Kopermas S.4” S 20 06’ 25. 2005. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan digunakan sebagai areal pemukiman K.56’’ E1330 34’ 47. Ausoi S 20 06’.6” S 20 03’ 04.18. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan sudah tidak digunakan Logyard III Logyard IV PT Yotefa Sarana Timber PT Yotefa Sarana Timber S. Bahkan terdapat beberapa logyard yang sudah tidak digunakan oleh pemegang HPH masih digunakan oleh KOPERMAS untuk tempat penimbunan kayu sebelum dilakukan pemuatan ke tongkang.9’’ 0 E 133 51’ 38.02. Tikamari/ Anak Kasih S. Tempat Penimbunan Kayu (TPK)/ Logyard yang menempati ekosistem hutan dataran rendah dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Tahun 2005. Muturi Logyard Anak kasih Logyard Sumberi Logyard Sp V Logyard V Kopermas S. Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh PT Yotefa Sarana Timber dan Kopermas. Tempat-tempat tersebut setelah digunakan oleh pemegang HPH dan Kopermas belum dilakukan rehabilitasi. Sigirau S.2” Keterangan Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan Masih digunakan oleh Kopermas dan HPH PT Manokwari Lestari. Tabel IV-5.

Lokasi kebun masyarakat pada ekosistem ini lebih banyak terdapat pada beberapa pulau mengrove baik berbentuk hamparan pegunungan rendah maupun bukit-bukit kecil seperti Pulau Mangrove Maniai. beberapa bagian ekosistem ini telah dibuka untuk keperluan pembuatan kebun masyarakat. dan Pulau Modan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tersebut terjadi sebelum dan sesudah kegiatan tata batas kawasan. Sumberi di kawasan CATB Kegiatan perladangan/berkebun juga merupakan faktor yang memberi andil terhadap kemunduran eksositem hutan dataran rendah. seperti yang dilakukan oleh masyarakat lokal yang yang bermukim di kampung Mamuranu dan Anak Kasih yang ada dalam kawasan CATB. Sedangkan logyard yang dibangun setelah adanya tata batas kawasan semuanya dibuka oleh Kopermas. Gambar IV-3. Namun setelah adanya tata batas kawasan. Gambar IV-4. areal tersebut tidak direhabilitasi bahkan digunakan kembali oleh sebagian Kopermas yang beroperasi di sekitar wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni. untuk keperluan pengangkutan kayu bulat/gergajian para pemegang HPH dan Kopermas “tidak memiliki” alternatif lain dan lebih banyak memilih alternatif melalui sungai-sungai yang ada dalam Cagar Alam Teluk Bintuni. Pembukaan lahan hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove sebagai logyard di S. sehingga pembuatan tempat penimbunan kayu (logyard) di tepi-tepi sungai yang ada dalam kawasan CATB tidak bisa terhindarkan. Kebun masyarakat lokal yang bermukim di Kampung Mamuranu di kawasan CATB Nusuama. Kamai. Logyard yang dibuka sebelum adanya tata batas kawasan sebagian besar dilakukan oleh pemegang HPH yang arealnya berbatasan dengan kawasan CATB. Cara Analisis Permasalahan IV .11 . Selain itu. Hasil pengamatan di lapangan. Pembukaan lahan ini dimungkinkan karena letak areal penebangan HPH/Kopermas yang langsung berbatasan dengan ekosistem hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan perladangan/membuka kebun ini lebih banyak dilakukan oleh masyarakat yang bermukim dalam dalam kawasan.

0 ha tiap kepala keluarga. d. Khusus untuk pemukiman masyarakat Kampung Mamuranu yang berada dalam kawasan CATB. Gambar IV-5. kegiatan ini dilakukan sebelum adanya tata batas kawasan atau karena “ketidakjelasan” batas kawasan di lapangan. menebang pohon-pohon tingkat pancang dan tiang. Informasi yang diperoleh dari pengelola kawasan CATB.12 . kawasan CATB telah mengalami sedikit tekanan/gangguan oleh adanya penebangan. terutama pada bagian sebelah utara yang langsung berbatasan dengan beberapa areal konsesi HPH dan Kopermas. c. Pembukaan lahan untuk keperluan pemukiman pada kawasan dan sekitar kawasan yang dijumpai ada beberapa bekas pola. keberadaanya sudah ada sejak kawasan ini belum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam. seperti juga pada kegiatan pembukaan lahan untuk logyard. Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Salah satu logyard yang memanfaatkan sebagian ekosistem mangrove di S. Pada beberapa bagian kawasan CATB. Penanaman sesuai jenis yang akan diusahakan. seperti Kampung Tirasai yang dibangun oleh PT Henrison Iriana. Lahan tersebut umumnya diusahakan selama 1 – 2 tahun (3 – 4 kali panen). Pola pembukaan lahan atau kebun masyarakat secara umum mempunyai beberapa tahapan sebagai berikut: a. kemudian dibakar. bekas tebangan berupa ranting dan semak belukar dikumpulkan pada suatu tempat dalam kebun dan atau di pinggiran kebun. b. Waktu (masa bera) yang diperlukan untuk mengusahakan kembali bekas kebun yang ditinggalkan adalah 3-5 tahun. kemudian mereka akan berpindah ke lahan yang baru. Menebang pohon-pohon besar yang ada dalam lahan. (ii) pembukaan lahan pemukiman oleh pemegang HPH dalam kawasan. ada yang di lakukan sebelum tata batas kawasan.2 – 1. yaitu menebas semak belukar. Analisis Permasalahan IV . yaitu Kampung Anak Kasih. Pembersihan lantai hutan. yaitu Kampung Tirasai dan sesudah tata batas kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong berkebun yang digunakan adalah sistem tebas bakar (slashed and burned system) dan telah berlangsung lama dan turun-temurun dari generasi ke generasi. seperti (i) memanfaatakan logyard yang ditinggalkan oleh Kopermas seperti Kampung Anak Kasih. Setelah kering. Luas lahan yang diusahakan bervariasi antara 0. (iii) serta pemukiman yang masyarakat sendiri seperti dibuka oleh Kampung Mamuranu. Pembukaan lahan untuk pemukiman. kemudian dibiarkan beberapa waktu tertentu agar bekas tebangan mengering.

Secara tidak langsung. Terinvasinya areal-areal bekas kebun masyarakat dengan jenis-jenis tumbuhan pionir seperti Macaranga (Macaranga mappa dan M. maka perlindungan. pemanfaatan oleh penduduk setempat. Ekosistem mangrove ini terlihat cukup dinamik yang diindikasikan oleh pertambahan luasan di beberapa bagian dan pengurangan luasan di bagian lain yang terjadi secara alami. dan rehabilitasi menjadi suatu hal yang mendesak di lakukan dalam rencana pengelolaan kawasan ke depan. aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas yang memanfaatkan sungai. kelembaban dan intensitas cahaya) dapat mempengaruhi pertumbuhan permudaan alam pada ekosistem ini. 1992).).). Beberapa hal yang lebih jauh dapat ditimbulkan sebagai akibat kemunduran eksositem ini antara lain: 1. 3. Perubahan struktur hutan yang bisa mengakibatkan terganggunya habitat yang merupakan tempat berkembangbiak jenis-jenis satwa. Ekosistem mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni paling luas dan paling sedikit mendapat gangguan di kawasan Asia Pasifik dan perlu mendapat perhatian (Ruitenbeek. Masuknya jenis-jenis luar (introduksi) yang bisa menjadi sumber pembawa hama dan penyakit. Hasil pengamatan lapangan mengidentifikasi bahwa permasalahan utama yang dihadapi ekosistem ini adalah degradasi lahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia (Tabel IV-6). 2. pelestarian.13 . ekosistem ini juga terancam degradasi sebagai akibat dari dari pengusahaan hutan yang dilakukan di bagian atas (upland) kawasan yang tidak memperhatikan kelestarian dan keberlanjutan. Perubahan iklim mikro (suhu. dan jenis-jenis dari famili Dipterocarpaceae. Analisis Permasalahan IV . Ekosistem Mangrove Ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan komunitas alami dan pertumbuhannya masih terlihat cukup baik. 4. serta akibat faktor alam seperti erosi tepi sungai dan angin. Penyebab utama kemunduran ekosistem ini secara langsung adalah akibat pembukaan lahan untuk pembuatan logyard dan pemukiman penduduk.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kemunduran ekosistem hutan dataran rendah yang disebabkan oleh beberpa hal tersebut di atas akan membawa beberapa konsekuensi terganggunya fungsi ekosistem tersebut sebagai salah satu penyusun kawasan CATB. Dengan melihat kondisi permasalahan dan lebih jauh yang dapat terjadi di ekosistem ini. Tanarius) yang menggantikan jenis asli seperti Matoa (Pometia spp. Merbau (Intsia spp.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel IV-6. Erosi tepi sungai. Pengusahaan hutan daerah atas (upland/ hinterland) yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Sedangkan logyard yang dibangun Gambar IV-6. Logyard yang dibuka sebelum adanya tata batas kawasan sebagian HPH besar yang dilakukan arealnya oleh pemegang berbatasan dengan kawasan CATB. Memanfaatkan bekas logyard dan ada yang dibuka jauh sebelum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 2005. Perubahan masukan dari ekosistem air tawar dan sedimentasi yang sangat besar Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. Bentuk gangguan ekosistem mangrove yang diakibatkan oleh tongkang pengangkut kayu log di S.14 . Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa sebagian kecil luasan hutan mangrove ikut dibuka dalam pembukaan lahan untuk keperluan tempat penimbunan kayu (logyard). semuanya dibuka Analisis Permasalahan IV . Untuk keperluan kayu bakar. dan tiang belo. Namun setelah adanya tata batas kawasan. Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni setelah adanya tata batas oleh kawasan Kopermas. Seperti yang terjadi pada ekosistem hutan dataran rendah. abrasi pantai. kasus yang yang sama juga terjadi pada ekosistem ini namun pada skala luasan yang lebih kecil. Keterangan Ada yang dilakukan sebelum tata batas definitif kawasan Penggunaan tongkang dalam pengangkutan kayu di sungai. Karena gejala manusia alam dan aktivitas Pemanfaatan pohon mangrove oleh penduduk lokal. Permasalahan sekaligus ancaman dan penyebabnya terhadap keberadaan ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Permasalahan Degradasi ekosistem Penyebab Pembukaan lahan (land clearing) untuk tempat penimbunan kayu (logyard) HPH dan Kopermas. Pembukaan lahan untuk keperluan logyard tersebut terjadi sebelum kegiatan dan sesudah kegiatan tata batas kawasan. terutama pada bagian pinggiran sungai. areal tersebut tidak direhabilitasi bahkan sebagian besar masih digunakan oleh HPH maupun Kopermas yang beroperasi di sekitar wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni. Aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas Pemukiman dan perumahan penduduk. tiang rumah. dan angin.

Sedangkan pada periode Desember Analisis Permasalahan IV . Tatawori. Kegiatan ini biasanya Hasil pengamatan di lapangan dan wawancara dengan penduduk lokal bahwa beberapa bagian hutan mangrove yang tumbuh di tepi-tepi sungai di kawasan ada yang tumbang atau patah yang disebabkan oleh lalu lintas Tongkang dalam mengangkut kayu dari logyard menuju ke perairan Teluk. perkakas. pemanfaatan vegetasi mangrove sudah berkembang untuk keperluan kayu bakar dan bahan bangunan. penduduk ini semakin aktivitas dapat mengancam beberapa keberadaan ekosistem pada waktu ke depan. Degradasi ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. menggunakan sarana Tug Boat dan Tongkang. Namun menurut informasi dari pengelola kawasan bahwa pada beberapa bagian kawasan. Naramasa.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pada beberapa bagian ekosistem ini juga dijumpai kerusakan/gangguan dalam skala kecil sebagai akibat dari kegiatan pengangkutan kayu oleh oleh HPH dan Kopermas yang memanfaatkan beberapa sungai di kawasan Cagar Alam. bahan bangunan rumah. sehingga masyarakat sudah mulai melakukan penebangan pohon mangrove dari jenis Bruguiera sp. Bokor. pada bulan-bulan tertentu. selain diakibatkan oleh faktor manusia. S. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pemanfaatan hutan mangrove di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni hanya terbatas pada pemanfaatan hutan mangrove dalam skala tradisional/subsistem (traditional uses) untuk keperluan rumah tangga seperti kayu bakar. juga tidak jarang diakibatkan oleh faktor alam seperti erosi tepi sungai dan angin. serta untuk keperluan tiang-tiang pagar dalam kegiatan mencari ikan (fishing) yang dalam istilah lokal disebut “tiang belo”. Seiring dengan berkembangnya Kabupaten Teluk Bintuni dimana salah satu konsekuensi yang laju Gambar IV-7. terutama pada batas sebelah barat laut di pinggiran Sungai Wasian. Kerusakan hutan mangrove akibat erosi tepi dekat muara sungai Wasian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. S. Dari data iklim yang diperoleh. Tekanan terhadap keberadaan hutan mangrove juga datang dari pemanfaatan vegetasi mangrove oleh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan. . Muturi. pertambahan cepat.15 . yaitu periode Juni – Agustus yang merupakan musim monson tenggara biasanya bertiup angin tenggara yang cukup kencang dengan kecepatan lebih dari 90 km/jam. Hal ini dimungkinkan karena hutan mangrove pada batas Barat Laut kawasan posisinya sangat dekat dengan pemukiman sehingga aksesibilitas sangat mudah. S. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kejadian ini paling banyak terjadi pada ekosistem mangrove yang tumbuh di pinggiran pada daerah dekat muara sungai-sungai besar seperti Sungai Wasian. terutama kecepatan angin. dan S.

secara kuantitatif jumlah input air tawar meningkat namun secara kualitatif berupa kandungan bahan organik menurun. Hal ini karena yang terangkut oleh runoff adalah berupa material kasar yang berasal dari lapisan tanah yang lebih dalam dan bukan merupakan bahan halus berupa humus sebagai hasil dekomposisi yang terjadi di lantai hutan di atasnya. Berdasarkan data iklim yang ada. Hilangnya sebagian luasan hutan mangrove di daerah ini diduga lebih banyak disebabkan oleh “abrasi” pantai.19 hektar telah berkurang luasnya menjadi 6. Kopermas. Kondisi ini membuat daerah kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya sangat rentan terhadap erosi/aliran permukaan bila tidak dikelola berdasarkan asas kelestarian. 1974). yaitu lebih dari 3000 mm.16 . pada saat musim hujan. Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa masukan air tawar yang masuk ke dalam eksosistem mangrove lebih banyak merupakan aliran permukaan. dan Desember curah hujan bulanannya cukup tinggi. akan berakibat pada pertumbuhan vegetasi mangrove menjadi terhambat (Lugo and Snedaker. dan pemukiman di daerah atas diduga sebagai penyebab meningkatnya aliran permukaan yang masuk ke kawasan. kecepatan angin kadang mencapai lebih dari 30 km/jam. Hal lain yang yang menjadi ancaman terhadap degradasi yang dihadapi ekosistem ini adalah dampak yang akan ditimbulkan oleh perubahan masukan (input) dari ekosistem air tawar. Material ini hanya akan tertumpuk di ekosistem ini dalam bentuk delta-delta di kelokan sungai maupun di daerah muara. Analisis Permasalahan IV . Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi ekosistem daerah atas (upland) telah mengalami gangguan. Hasil penelitian Lugo dan Clintron (1975) mengatakan bahwa hutan mangrove dengan komposisi pohon-pohon yang tinggi sangat rentan terhadap kerusakan bila berkembang pada kondisi aliran permukaan yang tinggi. dimana pada bulanbulan tertentu seperti bulan Pebruari. Pada saat masukan yang diterima lebih banyak berasal dari aliran permukaan (runoff). Nopember.81 hektar berdasarkan peta Citra Satelit Lansat tahun 2002. Secara alami masukan air tawar dari atas ekosistem mangrove sangat diperlukan sebagai salah satu sumber unsur hara (nutrient) selain air hujan untuk pertumbuhan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong . Perubahan masukan ini dapat berupa meningkatnya aliran permukaan (run-off) dan berkurangnya masukan unsur hara (nutrient) yang terjadi secara simultan. Apabila hal ini berlangsung dalam waktu lama. Dari studi yang dilakukan oleh Tim TNC (2003) diketahui bahwa luasan mangrove Pulau Karaka yang menurut peta Citra Satelit Lansat tahun 1989 adalah 15. kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitar setiap tahun mendapat rata-rata curah hujan yang tinggi. Adanya beberapa HPH. Kondisi ini menyebabkan perairan di sungai-sungai besar tersebut bergelombang yang sering menghantam pinggiran sungai yang ditumbuhi vegetasi mangrove sehingga terjadi “abrasi”.Pebruari yang merupakan musim monson barat-laut. Menurut informasi penduduk setempat. sungai-sungai yang bermuara di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sering meluap (banjir) dengan warna air berubah menjadi coklatkeruh. Tiupan angin kencang tersebut juga menyebabkan robohnya pohon-pohon mangrove di beberapa bagian kawasan.

keberadaanya di alam Permasalahan utama yang dihadapi oleh sudah masuk dalam kategori terancam punah. baik spesies tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis maupun spesies kunci (key species). Terancamnya habitat flora setempat Hal ini merupakan dampak dari degradasi ekosistem sebagai akibat kegiatan manusia seperti pembukaan lahan untuk pembuatan logyard dan kebun masyarakat. Terinvasinya hutan bekas perladangan oleh jenis pionir di K. kegiatan ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan regenerasi permudaan dari jenis-jenis asli yang pada Analisis Permasalahan IV . yaitu hutan mangrove dan hutan hujan dataran rendah. CATB. Flora di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan suatu mosaik yang terdiri dari dua tipe vegetasi utama. nasional maupun Bahkan beberapa diantara satwa yang ada. tempat berlindung.2 Flora dan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang cukup tinggi. daerah mencari makanan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan. Dari segi ekologi. mamalia. Pada habitat tersebut tumbuh berbagai spesies tumbuhan. penurunan populasi beberapa jenis satwa liar. B.17 . beberapa di antaranya merupakan spesies endemik dan jenis-jenis yang keberadaannya di alam sudah dilindungi Gambar IV-8. dan minimnya data dasar tentang flora dan fauna di kawasan. 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Implikasi negatif terhadap keberadaan ekosistem mangrove sebagai dampak dari beberapa permasalahan tersebut di atas adalah terganggunya fungsi ekologis penting dari ekosistem ini seperti peredam gelombang dan angin badai. air. Mamurana. Kondisi fisiografi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan ketersediaan sumber daya seperti pakan. Ini sangat terlihat nyata pada ekosistem hutan dataran rendah yang letaknya berbatasan langsung dengan areal hutan produksi. serta tempat berkembang biak yang sesuai dengan kehidupan fauna juga sangat mendukung kehadiran satwa liar baik dari jenis avifauna. kompoen flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah berkurangnya jenisjenis flora asli. daerah asuhan (nursery ground). undang-undang international. penghasil sejumlah besar detritus (daun dan dahan pohon mangrove yang rontok). pelindung pantai dari abrasi. penahan lumpur dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan. Dari sejumlah jenis satwa yang ada di kawasan. reptil dan amfibi serta jenis avertebrata.1. pemukiman dan kebun penduduk.

jenis-jenis cenderawasih seperti cenderawasih minor (Paradisea minor) dan cenderawasih indah (Ptiloris magnificus). terutama pada fase kecambah. Kasuari kerdil (Casuarius benetti). semai. dan Naramasa bahwa dalam kurun waktu lebih 10 tahun yang lalu. dan pancang sangat peka terhadap perubahan iklim mikro dan naungan. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pada beberapa bekas lahan yang dibuka untuk tujuan tersebut di atas. jenis-jenis burung ini masih bisa dijumpai di sekitar kampung dan masih mudah bagi mereka untuk menangkap jenis-jenis satwa ini. Berkurangnya keanekaragaman jenis satwa di kawasan juga diduga disebabkan oleh aktivitas beberapa industri kehutanan yang memanfaatkan kawasan Cagar sungai-sungai Alam di dalam sarana sebagai transportasi seperti kapal penarik (tug boat). Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa penurunan populasi dan keanekaragaman jenis satwa diduga diakibatkan oleh degradasi ekosistem dan perburuan yang berlebihan (overhunting) baik yang dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan maupun pendatang dari luar kota Bintuni. Terganggunya beberapa bagian ekosistem kawasan membawa akibat implikasi kegiatan pada manusia perubahan Hal ini Gambar IV-9. hutan sekunder yang terbentuk didominasi jenis-jenis pionir seperti makaranga (Macaranga mappa dan Macaranga tanarius ) dan sirih hutan (Piper sp.).18 . Hal ini diduga karena jenis satwa ini sangat rentan terhadap gangguan habitat yang sekaligus tempat berkembang biak jenis-jenis satwa ini. Mamuranu. Penurunan populasi satwa. dan cenderawasih minor (Paradisaea minor) misalnya. mengakibatkan menurunnya kualitas habitat yang sangat satwa berpengaruh liar yang terhadap menghuni kehidupan beberapa tipe ekosistem di kawasan. 2. Penurunan populasi dan keanekaragaman jenis satwa. Perubahan iklim mikro dan naungan dapat menekan pertumbuhan jenisjenis ini. Burung Mambruk (Goura cristata). Anak Kasih. Akan tetapi saat ini. secara khusus.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong umumnya merupakan jenis-jenis yang tahan naungan (toleran). Untuk berkembang. Tirasai. Jenis burung mambruk (Goura cristata) yang telah dilindung undang-undang yang populasinya terancam struktur dan komposisi vegetasi. Regenerasi jenis-jenis ini. menurut informasi penduduk yang bermukim di K. khususnya biota perairan diduga juga disebabkan adanya isu penggunaan racun serangga (agriculture pesticide) dalam penangkapan hasil laut. membutuhkan habitat berupa hutan dengan karakter tajuk yang Analisis Permasalahan IV . Sumberi. keberadaannya jenis-jenis satwa tersebut sangat jarang dijumpai sekitar kampung.

kelabu (Phalanger orientalis). utuh (belum BKSDA Papua II Sorong mengalami kerusakan) dengan vegetasi pepohonan besar yang tumbuh rapat dan tajuknya terdiri atas tiga strata. masyarakat lokal. yaitu oknum aparat keamanan. Jenis satwa buaya muara (Crocodylus porosus) yang telah dilindung undang-undang populasinya menurun akibat perburuan liar di Cagar Alam Teluk Bintuni. Hal yang sama juga terjadi pada beberapa satwa mamalia seperti rusa (Cervus timorensis). Selain isu degradasi ekosistem. Pada awalnya. informasi dari pengelola kawasan.19 . dan pedagang satwa (trader/middlemen). Hal ini mengakibatkan jumlah satwa yang Analisis Permasalahan IV . permintaan akan daging buruan meningkat pula. Kangguru kuskus dan pohon bertotol kuskus (Dendrolagus (Spilocuscus ursinus). Jenis burung kasuari kerdil (casuarius benetti) yang telah dilindung undangundang yang populasinya terancam reptil seperti buaya muara (Crocodylus porosus) dan biawak (Varanus sp. seperti rusa dan babi hutan. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. namun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Habitat jenis-jenis satwa tersebut telah terdesak sebagai akibat aktivitas manusia. perburuan satwa dilakukan oleh masyarakat setempat untuk keperluan sendiri (subsisten). faktor perburuan liar juga diduga memberi andil terhadap menurunnya populasi beberapa jenis satwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. serta jenis Gambar IV-10. diketahui Gambar IV-11. maculatus). bahwa ada tiga pemangku kepentingan utama yang terlibat dalam perburuan satwa liar di kawasan CA. barang oleh-oleh (souvenir) yang biasa dicari tamu-tamu yang datang ke Bintuni.). babi hutan (Sus scrofa). serta informasi dari masyarakat setempat bahwa perburuan satwa liar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup Iebat. Bahkan hasil buruan yang telah menjadi dendeng merupakan diproses Gambar IV-12. Jenis kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus) yang telah dilindung undang-undang yang sudah jarang dijumpai di hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
diburu semakin meningkat pula.

BKSDA Papua II Sorong

Metode perburuan yang dilakukan adalah dengan

menggunakan lampu senter dan tombak, pemasangan jerat (perangkap), dan kadang-kadang menggunakan senjata (melibatkan oknum petugas keamanan). Menurunnya populasi satwa yang sering diburu oleh pihak tersebut dapat dilihat dari trend hasil buruan yang diperoleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan yang semakin turun. Hasil dari pertemuan kampung (village meeting) yang dilakukan di beberapa kampung seperti K. Tirasai, Anak Kasih, Mamuranu, Yensei, Yakati dan Kampung Naramasa tergambar bahwa kecenderungan (trend) hasil buruan dan tangkapan masyarakat menurun tajam dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil buruan rusa dan babi misalnya, pada sepuluh tahun yang lalu masyarakat yang berburu hanya dengan menggunakan peralatan tradisional seperti lampu senter dan tombak dengan lokasi tempat berburu yang tidak terlalu jauh dari kampung

mereka, dapat menghasilkan sampai 10 ekor rusa atau babi hutan. Namun saat ini hanya bisa membawa pulang satu atau dua ekor dan tidak jarang pulang tanpa hasil buruan. Lokasi buruan pun semakin jauh dari kampung mereka. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada hasil tangkapan satwa perairan seperti ikan, udang, dan siput. Kondisi fisiografis serta ketersediaan pakan yang cukup membuat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat yang cocok bagi tempat berkembang biaknya buaya muara Crocodylus porosus. Hasil survei yang dilakukan oleh WWF-IUCN-PHPA pada tahun 1985 dan FAO-PHPA pada tahun 1988 ternyata populasi buaya di kawasan Teluk Bintuni menurun tajam. Penyebab utama menurunnya populasi buaya ini adalah karena perburuan terhadap buaya besar dan buaya kecil serta pengambilan telur yang kurang terkendali, yang merupakan salah satu mata pencaharian pokok penduduk setempat. Disamping isu penurunan populasi, keanekaragaman fauna di kawasan juga diduga mengalami pengurangan. Hal ini terlihat nyata pada jenis satwa burung yang banyak

menempati habitat mangrove dan hutan dataran rendah. Menurut hasil survei yang dilakukan Zuwendra dkk. (1991) sedikitnya teramati 95 jenis burung di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. Namun selama survei lapangan yang dilakukan hanya berhasil

tercatat kurang lebih 26 jenis burung. Dari jumlah tersebut, keberadaan beberapa beberapa jenis di antaranya diperoleh berdasarkan informasi dari penduduk yang bermukim di dalam kawasan. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa keanekaragaman jenis, khususnya jenis avifauna di kawasan mengalami penurunan yang signifikan selama 10 tahun terakhir. Selain menurunnya kualitas habitat akibat degradasi ekosistem, hal lain yang memberi andil menurunnya keanekaragaman jenis satwa di kawasan adalah aktivitas pengusahaan hutan yang menggunakan alat-alat mekanik yang menimbulkan kebisingan, khususnya penggunaan kapal penarik (tug boat) yang memanfaatkan beberapa sungai-sungai dalam kawasan. Kebisingan ini diduga mengakibatkan jenis-jenis satwa tertentu, terutama burung, bermigrasi ke tempat yang lebih “aman”.

Analisis Permasalahan

IV - 20

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
3. Kurangnya Data Dasar.

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan lain yang dihadapi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni, khususnya aspek flora dan fauna yang menempati ekosistem kawasan, adalah minimnya data flora dan fauna yang tersedia. Pengelola hampir tidak memiliki data dasar tentang flora dan fauna sehingga

pengelolaan tidak pernah didasarkan kepada informasi data. Kurangnya data dasar flora dan fauna kawasan Cagar Alam terutama disebabkan karena studi atau kegiatan penelitian tentang keberadaan fauna di kawasan masih sangat jarang. Padahal ketersediaan data dasar yang memadai, terutama data kuantitatif suatu kawasan konservasi merupakan salah satu faktor penting dalam proses pengelolaan kawasan. Beberapa aspek flora kawasan yang

dirasa belum memadai adalah daftar (check list) jenis-jenis, potensi, serta penyebaran flora di kawasan. Berdasarkan informasi-informasi tersebut, dapat diketahui jenis-jenis flora yang

merupakan spesies kunci dan spesies yang dilindungi yang sangat menunjang dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Kondisi minimnya data dasar selain terjadi pada komponen flora kawasan juga terjadi pada komponen fauna. Penelusuran data sekunder yang dilakukan menunjukan bahwa informasi tentang keanekaragaman, dinamika populasi, dan penyebaran fauna di kawasan masih kurang memadai dalam mendukung kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ketersedian informasi tersebut sangat penting guna menjawab dua pertanyaan umum yang sering muncul dan di hadapi para pengelola kawasan konservasi seperti juga kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni, yaitu: 1. Komunitas spesies apa yang terdapat dalam kawasan konservasi, dimana dan berapa jumlahnya? 2. Bagaimana kecenderungan (trend) atau dinamika populasi dari waktu ke waktu?

B.2

Altenatif pemecahan masalah

Permasalahan biologi kawasan yang lebih banyak di pengaruhi oleh faktor eksternal apabila dibiarkan akan menjadi faktor pemnghambat dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Oleh karena itu sesegera mungkin dicarikan alternatif pemecahan masalahnya (Tabel IV-7, Tabel IV-8, Tabel IV-9).

Analisis Permasalahan

IV - 21

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Tabel IV-7. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove dan nipah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi).

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh. Larangan pembukaan lahan.

Degradasi ekosistem

Pembukaan lahan (land clearing) untuk tempat penimbunan kayu (logyard) HPH dan Kopermas. Aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas. Pemukiman dan perumahan penduduk.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Dinas Pertania Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi) BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat Pemanfaat

Relokasi Logyard ke luar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bila memungkinkan. Penataan kawasan dalam bentuk pembagian blok ekosistem kedalam 2 blok, yaitu blok inti dan blok “pemanfaatan”. Minimalisasi kegiatan penebangan di daerah atas (upland) kawasan. Penindakan secara tegas dengan pemberlakuan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan tersebut. Monitoring dan kontrol secara kontinyu terhadap luasan logyard yang sudah ada sehingga tidak ada penambahan luasan areal logyard. Pemasangan tanda larangan menebang di kawasan.

Pemanfaatan pohon mangrove oleh penduduk lokal.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Erosi tepi sungai, abrasi pantai, dan angin.

Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

Perubahan masukan dari ekosistem air tawar. Penebangan liar (illegal logging). Perladangan (cultivated land)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Dinas Pertania Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Kelompok Masyarakat bermukim di dalam - sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan

Pembinaan dan penerangan tentang pentingnya kawasan.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Analisis Permasalahan

IV - 22

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah Mengikut sertakan masyarakat dalam perlindungan dan pengawasan kawasan. Pembinaan terhadap peladang di dalam kawasan melalui penerapan teknologi pemanfaatan lahan minimal dengan tetap memperhatikan kebutuhan. Anjuran penggunaan spesies lokal bukan introduksi.

Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Pendukung Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat pemanfaat. Dinas Pertanian Kab. Teluk Bintuni (Koordinasi). Kelompok Masyarakat pemanfaat. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC, 2005.

Tabel IV-8. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah 1. Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis asli yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh yang ada. 2. Penindakan secara tegas dengan pemberlakuan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan tersebut. 3. Monitoring dan kontrol secara kontinyu terhadap luasan logyard yang sudah ada sehingga tidak ada penambahan luasan areal logyard.

Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi).

Degradasi ekosistem

1. Pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh HPH dan Kopermas.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni .

Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni .

Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi).

Analisis Permasalahan

IV - 23

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah 4. Pemindahan logyard ke lokasi di luar kawasan.

Pendukung Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Polres Teluk Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan 1. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi). 2. Kelompok Masyarakat pemanfaat. 1. Kelompok Masyarakat pemanfaat. 1. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan

2. Penebangan liar (illegal logging)

1. Pemasangan tanda larangan menebang di kawasan. 2. Penegakan hukum.

3. Penyadaran tentang pentingnya kawasan.

4. Mengikutsertakan masyarakat dalam perlindungan dan pengawasan kawasan. 3. Perladangan (cultivated land) 1. Pembinaan terhadap peladang di dalam kawasan melalui penerapan teknologi pemanfaatan lahan minimal dengan tetap memperhatikan kebutuhan. 2. Anjuran penggunaan spesies lokal bukan introduksi.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Dinas Pertanian Kab. Teluk Bintuni (Koordinasi).

4. Pemukiman penduduk

Pembinaan dan penerangan tentang pentingnya kawasan.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC, 2005.

Tabel IV-9. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi). Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

Permasalahan Berkurangnya jenis-jenis flora asli

Penyebab Degradasi habitat

Alternatif pemecahan masalah 1. Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh. 2. Penegakan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan yang mengakibatkan kemunduruan habitat.

Analisis Permasalahan

IV - 24

Larangan perburuan satwa liar bagi masyarakat yang bukan pemilik hak ulayat dan tidak tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan. Penggunaan Racun Larangan keras menggunakan bahan kimia dalam penangkapan hasil perikanan. Pendukung Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). Pemberdayaan masyarakat misalnya penangkaran buaya dan keramba apung di sungai. 4. BKSDA Papua II c. Penyuluhan dan penerangan tentang penting keutuhan ekosistem sebagai habitat satwa dan keberadaannya di kawasan. tempat perkawinan burung. Pemetaan tempattempat penting bagi perkembangan satwa liar seperti tempat pemijahan biota perairan. Minimalisasi penggunaan peralatan mekanik dengan tingkat kebisingan yang tinggi di dalam kawasan CA. Larangan perburuan terhadap satwa yang dilindungi dan masuk dalam kategori terancam.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi). Mitra Pesisir Teluk Bintuni BKSDA Papua II c. Relokasi Logyard ke luar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bila memungkinkan.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c. 4.25 .q Resort KSDA Bintuni Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni BKSDA Papua II c.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Permasalahan Penyebab Alternatif pemecahan masalah 3.q Resort KSDA Bintuni . Penurunan Populasi satwa Perburuan liar/ berlebihan 1. Pembatasan perburuan satwa oleh masyarakat yang pemilik hak ulayat dan menetap di dalam dan sekitar kawasan hanya untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . BKSDA Papua II c. dan tempat bertelur buaya dan burung. Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Analisis Permasalahan IV . Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). 2. Pengaturan pemanfaatan sumberdaya di kawasan.q Resort KSDA Bintuni .q Resort KSDA Bintuni Perubahan Keanekaragama n jenis satwa Penggunaan alat-alat mekanik oleh HPH dan Kopermas Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. 1. (sistem “sasi”) BKSDA Papua II Sorong Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c. 3. BKSDA Papua II c..q Resort KSDA Bintuni .q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c. 2. 3.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c.

Berdasarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan CATB. Alam. BKSDA Papua II Sorong Stakeholders Penanggungjawab Universitas Negeri Papua Manokwari Pendukung BKSDA Papua II c. yaitu : (1) Partisipasi dalam aktivitas-aktivitas bersama dalam proyek pembangunan khusus. C. C. Lembaga swadaya masyarakat yang sudah melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan di sekitar kawasan CATB diantaranya yaitu LSM Mitra Pesisir. 2005. Koentjaraningrat (1980) menyatakan bahwa partisipasi masyarakat.26 . yang bila dikaitkan dengan pembangunan maka akan merupakan upaya peran serta dalam pembangunan. yaitu partisipasi masyarakat karena dorongan atau motivasi dari luar dan partisipasi karena keinginan dari diri manusia itu sendiri. dan (2) Partisipasi sebagai individu di luar aktivitas bersama. Pemanfaatan Pengembangan Pendidikan dan Penelitian. yaitu harus adanya dorongan atau motivasi dari luar dalam hal ini bisa di inisiasi oleh BKSDA Papua II cq Resort Bintuni atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kegiatan yang sedang dilakukan sekarang adalah Analisis Permasalahan IV .1 Permasalahan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan merupakan permasalahan dari aspek sosial ekonomi dan budaya dalam rangka rencana Pola pengelolaan kawasan Sumberdaya CATB. yaitu dan pengembangan partisipasi masyarakat. C. partisipasi masyarakat yang perlu dilakukan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Permasalahan Kurangnya data dasar Penyebab Minimnya studi/penelitian dan monitoring flora dan fauna di kawasan Alternatif pemecahan masalah Penelitian dan monitoring yang intensif terhadap keberadaan flora dan fauna kawasan. Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Mitra Pesisir Teluk Bintuni Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. Aspek Sosial dan Ekonomi dan Budaya Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif apabila dalam proses perencanaannya memperhatikan semua aspek termasuk aspek sosial ekonomi dan budaya.q Resort KSDA Bintuni . terutama masyarakat pedesaan dapat dibagi kedalam dua tipe.1 Rendahnya Partisipasi Masyarakat Partisipasi merupakan suatu istilah yang diartikan sebagai upaya untuk menunjukan keikutsertaan individu/kelompok dalam suatu kegiatan. Dari pendapat Kontjaraningrat tersebut terdapat dua sumber munculnya partisipasi masyarakat.1.

kepiting (karaka). dan satwa burung. dimana dahulu hanya 15 sampai 30 menit dari perkampungan. serta beberapa kegiatan ilegal seperti perburuan dan pembukaan lahan untuk perladangan dan logyard di dalam kawasan. Kemungkinan besar terjadi karena minimnya media dan sarana informasi mengenai keberadaan Cagar Alam dan pelestarian alam. sekarang hanya dapat setengah sampe 1 ember”. Pola Pemanfaatan Sumberdaya Alam Secara turun temurun. udang. Selain itu daerah tangkapan sudah semakin jauh. Sumberdaya alam yang banyak dimanfaatkan antara lain. rusa. “Dulu kita kalo mencari bisa bawa pulang 2 sampai 3 ember.babi serta berbagai jenis burung. masyarakat lokal yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni telah berinteraksi dengan kawasan dalam bentuk memanfaatkan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan. Kegiatan pemanfaatan tersebut telah terjadi sejak jaman dahulu dan menjadi warisan bagi generasi sekarang. Hasil pengamatan di lapangan serta infromasi dari pengelola kawasan bahwa partisipasi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan yang sangat diperlukan dalam rangka rencana pengelolaan kawasan CATB masih rendah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong menyusunan rencana strategis (Renstra) Pengelolaan Kawasan Pesisir Kabupaten Teluk Bintuni.2. yaitu nipah dan tanaman mangrove serta sagu (di sekitar Yensei dan Yakati). Hal ini terbukti dengan adanya tumpang tindih kawasan dengan lahan usaha II transmigrasi (Waraitama dan Banjar Ausoy) dengan luas total 360 hektar serta adanya pembangunan 54 rumah di Kampung Anak Kasih. C.27 . sekarang sudah memerlukan waktu 1 jam lebih bahkan sampai ke sekitar Teluk Bintuni. yaitu untuk fauna adalah berbagai jenis ikan.1. Penyebabnya diduga karena kurangnya kegiatan sosialisasi tentang fungsi kawasan CATB. Sedangkan flora. ungkap beberapa penduduk lokal yang biasa melakukan aktivitas penangkapan hasil laut di beberapa kampung yang dikunjungi. babi hutan. Hasil pengamatan di lapangan dan wawancara dengan masyarakat menunjukan bahwa kecenderungan (trend) produksi. Hal yang sama juga terjadi pada kegiatan perburuan satwa liar seperti rusa. LSM tersebut dapat dijadikan sebagai mitra dalam rangka mengembangkan partisipasi masyarakat. buaya. Informasi dari masyarakat menunjukan bahwa berburu satwa liar seperti disebutkan di atas sudah semakin sulit. khususnya sumber daya alam fauna baik berupa hasil tangkapan maupun buruan menurun dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan misalnya. hasil tangkapan dibandingkan dengan 3-5 tahun lalu sudah semakin menurun. Hal ini diduga karena tingkat pengetahuan serta pemahaman tentang fungsi kawasan cagar alam sebagai penyanggah sistem kehidupan masih rendah. Sepuluh tahun lalu satwa rusa banyak terlihat di Analisis Permasalahan IV .

Dampak dari penggunaan jenis racun ini terhadap populasi biota laut seperti ikan memang tidak langsung terlihat seketika. Dengan melihat trend hasil tangkapan yang semakin menurun maka dapat diprediksikan jumlah populasi fauna yang ada di dalam kawasan CATB semakin menurun. Hal tersebut yang saat ini menjadi permasalahan. dapat dilihat bahwa ketergantungan masyarakat terutama yang bermatapencaharian sebagai nelayan. namun hal ini perlu pengkajian yang lebih dalam. Sedangkan untuk masyarakat yang memanfaatkan batang mangrove. 2. sedangkan sagu untuk konsumsi sehari-hari (di Yensei dan Yakati) . terdapat beberapa perusahaan Analisis Permasalahan IV . Hasil pengamatan di lapangan. terdapat indikasi penggunaan bahan kimia pembasmi hama (insektisida) jenis Dhesis 2.28 . Penggunaan pukat harimau (trawl) oleh Kapal Penangkap udang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong sekitar perkampungan. Tetapi bila digunakan terus menerus. terutama ikan. Penggunakan akar bore (tuba) dan indikasi penggunaan racun serangga (insektisida). akan terjadi akumulasi dan dapat mengancam perkembangbiakan biota perairan. Salah satu faktor penyebab kecenderungan (trend) produksi ini adalah pola pemanfaatan yang tidak begitu memperhatikan aspek kelestarian hasil. Batang mangrove yang kecil biasanya diambil untuk kayu bakar. Kondisi lain yang menyebabkan semakin menurunnya jenis dan jumlah perikanan di dalam CATB yaitu mulai tahun 1988 sampai dengan Februari 2005. dimana kualitas air semakin menurun (tercemar) karena penggunaan obat kimia tersebut yang dapat berakibat buruk terhadap kesinambungan hasil. akan tetapi kearah pegunungan di luar kawasan CATB. serta yang terpengaruh hanya ikan. khususnya fauna yang diduga menjadi faktor penyebab produksi tangkapan dan buruan sebagai berikut: 1. Berdasarkan kondisi diatas. pengaruh dari akar bore tersebut cepat hilang (2-3 hari) di lokasi tersebut. seperti Kampung Mamuranu dan Tirasai. berhasil diidentifikasi beberapa pola pemanfaatan sumber daya alam. Menurut informasi beberapa nelayan dari beberapa kampung (desa) di sekitar CATB. daun nipah serta sagu. pada umumnya hanya untuk dikonsumsi/penggunaan sendiri dengan jumlah yang cukup sedikit. Berdasarkan informasi dari pengelola kawasan dan beberapa nelayan lokal. dimana kegiatan perburuan tidak lagi di sekitar kampung atau hutan mangrove. Penggunaan akar bore ini dilakukan pada saat “pele kali” yang membuat ikan-ikan tersebut mabuk sehingga mudah diambil. berburu dan menokok sagu terhadap sumberdaya alam baik fauna maupun flora di dalam kawasan CATB cukup tinggi. Kondisi saat ini sudah sangat jauh berbeda. apalagi bila penggunaannya hanya dalam jumlah yang sedikit. Daun nipah diambil untuk membuat atap rumah.5 dan Apoda dalam kegiatan penangkapan hasil laut. Padahal jenis bahan kimia tersebut dapat mengakibatkan ikan-ikan mati serta fauna atau flora lain pun ikut mati. sedangkan yang besar untuk tiang rumah.

maka penangkapan hasil perikanan yang tidak ramah lingkungan merupakan masalah yang sangat penting dan harus segera dicarikan penyelesaiannya agar kelestarian CATB dapat dijaga.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong penangkapan udang salah satunya.2 Alternatif Pemecahan Masalah Agar masyarakat sekitar kawasan CATB serta pihak-pihak yang berkepentingan lain ikut terlibat secara aktif berpartisipasi dalam perencanaan. Bintuni Mina Raya yang berlokasi di Wimro. yaitu Sungai Muturi. Dengan menggunakan jaring pukat harimau (trawler) dan kapal cukup besar. Seharusnya daerah penangkapan perusahaan tersebut berada di perairan Teluk Bintuni. Saat ini perusahaan tersebut menghentikan operasi penangkapan untuk sementara waktu. akan tetapi karena perusahaan tersebut hanya mengambil udang saja. pelaksanaan. maka ikan (terutama yang kecil) yang tertangkap di buang begitu saja.29 . Bokor dan Naramasa. dan bagi biota laut lainnya dapat lestari. udang. tentang pengadaan alam media serta informasi berbagai pelestarian aktivitas lainnya yang dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya. yaitu PT. dengan alasan perubahan manajemen. Berdasarkan kondisi diatas. Sebagai alternatif pemecahan masalah rendahnya partisipasi masyarakat dan adanya pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan CATB yang tidak ramah lingkungan dapat dilakukan berupa: 1. sehingga fungsinya sebagai tempat mencari makan (feeding ground). Diskusi Bersama Masyarakat K. akan tetapi kenyataannya perusahaan tersebut menangkap udang masuk sampai ke sungai-sungai di dalam Cagar Alam Teluk Bintuni. Peningkatan (melibatkan partisipasi masyarakat masyarakat dalam setiap Gambar IV-13. perusahaan tersebut menangkap semua hasil perikanan yang ada. Yensei dalam Rangka Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni kegiatan pengelolaan) serta penyuluhan yang intensif kepada masyarakat yang ada didalam dan sekitar kawasan CATB Analisis Permasalahan IV . maka sebagai langkah awal perlu dilakukan proses pembelajaran bagi semua pihak baik melalui sosialisasi. Korano Jaya dan K. C. serta pengawasan kawasan CATB. tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) bagi berbagai jenis ikan. kerang.

Sebagai langkah awal dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. Hal ini dapat dijadikan dasar sebagai awal partisipasi mereka berdasarkan kampung (desa). maka selanjutnya dilakukan adanya pertemuan antar Pokja dari masing-masing kampung untuk dibangun pemahaman bersama tentang pelestarian alam serta merumuskan rencana kerja yang akan dilakukan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2. ikut dalam proses tata batas dan menyetujui batas). Demikian juga dalam pengamanan kawasan. Proses tata batas yang dilakukan disekitar suatu kampung. pelaksana melakukan penatabatasan melibatkan masyarakat sekitar kawasan (mengetahui. terkelompokan dalam beberapa kampung. Setelah itu dilakukan pertemuan dengan aparat pemerintah untuk mensinkronkan dengan rencana pembangunan pemerintah. tersebut diantaranya Beberapa isu strategis dari hasil diskusi disetiap kampung yaitu masalah sosialisasi kawasan. Adanya pengaturan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan CATB yang ramah lingkungan Masyarakat sekitar kawasan CATB. Gambar IV-14. Setiap kampung memiliki aparat serta pada umumnya berkelompok menurut asal/sukunya masingmasing. Sebagai contoh nyata partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan CATB. akan lebih efisien dan efektif apabila pengamanan dilakukan Analisis Permasalahan IV . bersinggungan dan diluar kawasan. Setelah masing-masing kampung (desa) memiliki Pokja. Pada kegiatan tata batas. Diskusi tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga masyarakat yang ikut dalam diskusi tersebut terlibat aktif dan peneliti hanya berfungsi sebagai fasilitator. dalam penyusunan rencana pengelolaan Kawasan CATB telah dilakukan diskusi di 14 kampung yang berada didalam. pemanfaatan sumberdaya alam (flora dan fauna) serta harapan masyarakat untuk ikut terus terlibat dalam setiap kegiatan di Kawasan CATB. maka Pokja disekitar kampung tersebut yang akan ikut aktif terlibat. Pada setiap kampung dibangun pengetahuan dan pemahaman tentang cagar alam dan pelestarian alam lalu dibentuk semacam kelompok kerja (Pokja) yang anggotanya dipilih oleh mereka sendiri. yaitu dalam hal tata batas (ulang) dan pengamanan kawasan. Kegiatan Lokakarya Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan.30 .

Diskusi disetiap kampung tersebut. siput atau bia dan hasil laut lainnya 2. siapapun boleh mencari makan didalam kawasan tanpa memandang suku/marga/batas-batas wilayah adat asalkan mematuhi aturan kesepakatan yang sudah dibuat. rusa. udang. Tidak boleh menggunakan obat (bahan kimia) dalam menangkap ikan. pada pertemuan hari pertama dihasilkannya ”Kesepakatan Masyarakat” yang ditandatangani oleh perwakilan dari 14 kampung. Kegiatan yang ”Boleh” dilakukan antara lain adalah: 1. babi hutan dan burung 5.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong oleh seluruh masyarakat (Pokja) yang ada di sekitar kawasan CATB. kesepakatan tersebut antara lain : Dalam pemanfaatan sumberdaya alam di dalam Kawasan CATB. dimana sebelumnya telah terbentuk kesepakatan mengenai keharusan menjaga wilayah kampung (desa) masingmasing terutama yang masuk kedalam kawasan CATB dari usaha-usaha yang dapat merusak kelestariannya. Kami dapat berkebun dan mendapat bantuan bimbingan teknis dari dinas terkait (Untuk Masyarakat di dalam kawasan) 3.31 . karaka. Tidak boleh kapal besar atau kapal udang atau kapal pukat harimau untuk beroperasi di dalam kawasan cagar alam Butir-butir Analisis Permasalahan IV . Kami boleh menangkap ikan dengan dengan menggunakan ”akar bore” dan jaring Kegiatan yang ”Tidak Boleh” dilakukan didalam kawasan CATB antara lain: 1. Sebagai langkah awal untuk melakukan ”Pengaturan pemanfaatan sumberadaya alan didalam kawasan CATB”. bagaimana mengelola kawasan CATB secara bersama-sama. Kami dapat melakukan penangkapan hasil-hasil perikanan seperti ikan. ditindaklanjuti dengan mengadakan Lokakarya Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan CATB pada tanggal 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan. Tidak membolehkan kapal-kapal yang berlayar di sungai untuk membuang sampah atau limbah minyak atau bahan kimia ke sungai 5. Pada hari pertama lokakarya diadakan pertemuan khusus untuk masyarakat dan pada hari kedua dilakukan pertemuan dengan semua stakeholder. Tidak boleh menebang kayu di hutan tanah kering atau gunung didalam cagar alam 4. Tidak boleh menebang mangi-mangi atau bakar dari cagar alam dalam skala besar untuk keperluan usaha kayu atau tambak atau lainnya 3. Kami dapat melakukan pemanfaatan kayu mangi-mangi untuk kayu bakar sendiri (bukan untuk dijual) dan kegiatan menangkap ikan ”pele kali” 4. Kami dapat berburu hewan atau satwa liar seperti buaya. udang dll 2.

Pembentukan kelompok kerja disetiap kampung yang ada di dalam dan sekitar kawasan yang akan dilibatkan dalam pelaksanaan rencana kegiatan pengelolaan Masyarakat juga berharap pemerintah daerah turut mendukung kegiatan pengelolaan cagar alam. menebang mangrove untuk industri atau tambak serta pelarangan kapal trawl/pukat harimau masuk kedalam kawasan CATB. serta perlu ditanggapi secara bijak oleh pihak pengelolaa (BKSDA Papua II Sorong cq. dan satwa liar serta mangrove secara terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (ekonomi). khusus untuk peningkatan ekonomi masyarakat 3. Masyarakat mengharapkan masih bisa memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di dalam kawasan terutama hasil perikanan. Melakukan pembinaan dan penyuluhan serta pendampingan yang terus menerus kepada masyarakat di dalam dan sekitar cagar alam. masyarakat akan mendukung berupa : 1. Butir-butir ”Kesepakatan Masyarakat” tersebut merupakan suatu upaya untuk ”mengatur pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan CATB”. Membuat peraturan daerah mengenai cagar alam 2. Akan tetapi hal tersebut perlu didukung oleh sosialisasi dan penyuluhan yang baik dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat. Kami akan menangkap langsung pelanggaran aturan yang sudah disepakati bersama 3.32 . Untuk itu masyarakat mengharapkan pemerintah melakukan hal-hal : 1. Apabila kondisi sosial ekonomi masyarakat Analisis Permasalahan IV . Hal ini menunjukan bahwa masyarakat berkeinginan untuk tetap menjaga kelestaraian kawasan CATB. Tidak boleh ada eksplorasi bahan tambang di dalam kawasan cagar alam Teluk Bintuni Untuk mendukung pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Resort Bintuni) karena hal tersebut merupakan aspirasi/harapan dan niat dari masyarakat sekitar kawasan CATB untuk ikut aktif dalam melestarikan kawasan tetapi tanpa melupakan kebutuhan hidup masyarakat seharihari. Pemanfaatan ini tetap diimbangi dengan adanya larangan menggunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. Karena kita sadari bersama bahwa peranan masyarakat sekitar terhadap kelestarian kawasan CATb sangat besar. Kami akan melaporkan pelanggaran kesepakatan yang terjadi kepada pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni 2. Kami meminta pemerintah daerah memberikan perhatian lebih besar pada pendidikan masyarakat.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. Karena bukan hal yang tidak mungkin suatu saat nanti akan datang investor yang menawarkan sejumlah uang untuk membuka usaha (tambak dll) didalam kawasan dengan memanfaatkan ”masyarakat adat” yang mayoritas kurang mampu secara ekonomi.

2005. kerajinan dari kulit buaya.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c. BKSDA Papua II c. 2. maka diharapkan kawasan CATB dapat dijaga kelestariannya dan masyarakat sekitar bisa meningkatkan taraf kehidupannya secara sosial dan ekonomi. Analisis Permasalahan IV .abon. BKSDA Papua II c. maka masyarakat sekitar kawasan CATB diharapkan tidak akan mudah tergoda oleh para pengusaha yang hanya melihat keuntungan ekonomi saja. Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c. Berikut adalah rangkuman permasalahan dan alternatif pemecahan masalah terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan pada Tabel IV-10.q Resort KSDA Bintuni . Tabel IV-10. dan budidaya pertanian) Rekonstruksi Batas Pal Tata BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Pendukung Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan 1.33 .q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC.q Resort KSDA Bintuni. Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). Dengan alternatif pemecahan masalah yaitu berupa peningkatan peran serta masyarakat. Permasalahn dan alternatif pemecahan terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Mitra Pesisir Teluk Bintuni Permasalahan Rendahnya Pengetahuan dan pemahaman tentang Cagar Alam Rendahnya Partisipasi Masyarakat Penangkapan Hasil Perikanan yang Tidak Ramah Lingkungan (Penggunakan akar bore (tuba) dan Indikasi penggunaan racun serangga) Alternatif pemecahan masalah Penyuluhan tentang Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni Melibatkan masyarakat dalam setiap kegiatan Penyuluhan dan penerangan yang intensif kepada masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. sosialisasi serta adanya pengaturan pemanfaatan sumberdaya alam didalam kawasan CATB.q Resort KSDA Bintuni . Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). Pemberdayaan masyarakat (Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tetap menjadi perhatian. khususnya nelayan tentang bahaya dari penggunaan bahan kimia terhadap kesinambungan hasil tangkapan Penegakan hukum Penggunaan pukat harimau (Trawl) oleh Kapal Penangkap udang di dalam kawasan CATB Adanya Perkampungan di dalam Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) BKSDA Papua II c. Tumpang tindih antara Batas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dengan Penggunaan Lahan lain.

34 . Berikut adalah beberapa skenario yang didasarkan pada kondisi kawasan yang mungkin dapat diterapkan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai tahun 2030. Analisis Permasalahan IV .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni D. Beberapa ciri skenario ini antara lain: Status kawasan yang sudah jelas sebagai kawasan Cagar Alam melalui penetapan Menteri Kehutanan. Dukungan dan partisipasi aktif dari semua pemangku kepentingan membuat pengelolaan kawasan bersifat aspiratif. yang mengfokuskan pemikiran ke masa depan bukan pada masa kini atau masa lampau. Tidak ada klaim hak ulayat dari masyarakat adat terhadap keberadaan kawasan. berkelanjutan dan berdayaguna. didukung Peraturan Daerah dan keberadaan kawasan Cagar Alam terlihat jelas dalam Tata Ruang Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni.1 Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Demokratik Skenario ini merupakan kondisi ideal yang dapat diwujudkan dan merupakan skenario yang didambaan kita semua. Kebijakan yang ideal dan didukung oleh kelembagaan baik pengelola kawasan maupun pemangku kepentingan lainnya yang bersifat demokratif akan membuat terciptanya program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari. Skenario Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Perencanaan Skenario adalah sebuah alat manajemen yang strategis yang dapat merangsang berbagai pemikiran mengenai kemungkinan–kemungkinan di masa depan. Pembangunan fisik yang tidak sesuai fungsi dan peruntukan kawasan tidak dijumpai. Masyarakat sadar dan secara bersama-sama memelihara keutuhan kawasan. Skenario ini menggambarkan situasi dimana kebijakan Pemerintah Pusat (Departemen Kehutanan) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni yang dapat mengakomodir semua kepentingan stakeholder yang ada dengan tetap memperhatikan fungsi dan peruntukan kawasan. Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni telah dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah Pusat dalam hal ini BKSDA Papua II Sorong dan sudah disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan. Pemberdayaan masyarakat asli/pemilik ulayat berjalan efektif. Skenario ini dapat pula menghasilkan suatu strategi yang kokoh. Tidak ada lagi konflik kepentingan antar pemangku kepentingan dalam kawasan. D. Sasaran akhir dari skenario ini adalah penyadaran publik telah terbentuk secara mantap bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama. Pemanfaatan terbatas oleh masyarakat adat di bawah bimbingan pengelola. merangsang pemikiran dan perdebatan mendalam atas isu pokok penting.

Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Otoritik Skenario ini adalah kebijakan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni telah dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ataupun peraturan daerah tentang pengelolaan kawasan yang aspiratif. namun para pemangku kepentingan dalam kawasan (stakeholders) tidak memperhatikan atau melaksanakannya. D.2. akademisi. Kelompok pemerhati lingkungan secara bersama-sama berjuang untuk mempertahankan kawasan. mereka tetap berjuang diantara berbagai tekanan kepentingan tersebut dengan keyakinan bahwa berjuang diatas jalur kebenaran demi kepentingan bersama.3. walaupun pemanfaatan kawasan oleh pemerintah secara sepihak tetap ada.35 . Kelompok pemerhati lingkungan ini berasal dari masyarakat pemilik ulayat. Pada akhirnya. Dalam skenario ini. pemerhati lingkungan terkadang optimis.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong manfaatnya dinikmati secara bersama oleh seluruh lapisan masyarakat serta keutuhan kawasan menjadi kebanggaan kita bersama pula. cepat atau lambat pasti akan terwujudkan diatas panji demokratisasi. Sekalipun demikian. Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Demokratik Skenario ini menggambarkan kondisi dimana kebijakan pengelolaan kawasan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak mempertimbangkan aspek kelestarian dan keutuhan kawasan. antara lain : Kebijakan pembangunan sarana fisik dalam kawasan yang tidak berhubungan dengan fungsi kawasan sebagai Cagar Alam masih diijinkan. D. setiap instansi hanya mementingkan pencapaian tujuan masing-masing tanpa memperdulikan tujuan bersama seperti yang tertuang dalam Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK). Beberapa ciri yang dapat menjelaskan situasi tersebut. ada upaya bersama oleh kelompok pemerhati lingkungan untuk membentuk aliansi memperjuangkan dan mempertahankan kelestarian dan keutuhan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai kawasan ekosistem kebanggaan seluruh penduduk Kabupaten Teluk Bintuni. terkadang pesimis dalam memperjuangkan keutuhan dan kelestarian kawasan. Kelompok ini memperjuangkan terbentuknya kelembagaan pengelolaan yang demokratif dan partisipatif. Pemangku kepentingan (stakeholder) hanya melaksanakan kegiatan pengelolaan kawasan berdasarkan kebutuhan dan kepentingan masing-masing lembaga/institusinya saja. Kebijakan yang dikeluarkan hanya didasarkan pada pertimbangan ekonomi daerah dan untuk kepentingan kelompok tertentu semata dengan dalih kepentingan masyarakat secara umum. Analisis Permasalahan IV . Ijin pembangunan sarana dan prasarana untuk kepentingan kelompok tertentu. legislatif dan NGO lokal dan internasional yang masih peduli dan berjuang untuk mempertahankan keutuhan dan kelestarian kawasan. Namun demikian.

Dalam analisis potensi dan kelemahan serta kekuatan dan peluang. lahan akan semakin besar. Weakness. Peluang dan Ancaman kondisi kawasan CATB. 4. E. walaupun lokasi dan sasaran kegiatannya sama pada satu wilayah. 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Beberapa ciri yang dapat menjelaskan situasi tersebut.Kelemahan. dan Ancaman (KKPA) Pendekatan analisis SWOT (Strength. Lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan dalam Cagar Alam Teluk Bintuni. Analisis Permasalahan IV . kebijakan pemerintah yang tidak aspiratif dibarengi dengan kelembagaan pemangku kepentingan yang kaku dalam menerapkan kebijakan serta otoriter dalam menjalankan aturan tanpa mau menerima masukan dari berbagai stakeholder. dilaksanakan secara sektoral. issu-issu yang terjadi dapat diidentifikasi menjadi dasar kajian antara lain : 1. analisis keterkaitan unsur SWOT dan tahapan penentuan alternatif rencana pengelolaan.36 .4. Kurangnya kesadaran masyarakat tentangnya penting pelestarian kawaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kelemahan. Skenario ini dicirikan oleh kebijakan yang diambil hanya memberi peluang kepada pemodal mampu tertentu untuk mengelola kawasan sesuai keinginan pemodal tanpa memperhatikan fungsi penetapan kawasan. Peluang. Kebijakan Sentralistik & Kelembagaan Otokritik Skenario ini adalah situasi terburuk yang dapat terjadi. fauna. Opportunities. Threat) untuk Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan pendekatan yang didasarkan pada Kekuatan . Koordinasi instansi teknis dan instansi terkait lainnya tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan dalam rencana pengelolaan kawasan. Tahapan analisis SWOT yang dilakukan meliputi : tahapan identifikasi dan penilaian faktor internal dan eksternal. khususnya data kuantitatif biologi mengenai kawasan. Belum tersedianya informasi dasar yang memadai. 3. Pemangku kawasan mendukungnya dengan dalih bahwa telah sesuai aturan tanpa memperhatikan dampak teknis yang akan terjadi yang akhirnya akan merubah fungsi kawasan. Adanya perkampungan dan Logyard di dalam kawasan CATB sehingga pemanfaatan flora. D. Analisis Kekuatan. antara lain: BKSDA Papua II Sorong Kegiatan yang dilakukan dalam kawasan oleh beberapa instansi.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

5. Tingginya tingkat permintaan terhadap satwa dari jenis-jenis tertentu seperti buaya, rusa, cenderawasih dan mambruk serta adanya indikasi masyarakat nelayan yang mengunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. 6. Rencana pengembangan Kota Bintuni yang berada dekat dengan batas sebelah Utara kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 7. Aktivitas pemegang HPH dan Kopermas, di daerah up land yang kurang memperhatikan aspek kelestarian serta pada beberapa logyard dan dalam pengangkutan kayu melalui sungai-sungai di dalam kawasan yang menggunakan peralatan mekanis seperti buldoser, logging truck, dan tug boat dapat menimbulkan kebisingan dan pencemaran yang menyebabkan terganggunya satwa-satwa tertentu. 8. Minimnya sarana dan prasarana serta kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. 9. Kepemilikan lahan yang merupakan hak ulayat masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.

E.1 Identifikasi dan penilaian faktor internal dan eksternal Faktor internal yaitu Kekuatan (Strength) dan Kelemahan (Weakness), sedangkan faktor eksternal yaitu Peluang (Opportunity) dan Ancaman (Threat). Analisis kekuatan yang

dimaksud adalah potensi atau keunggulan yang dimiliki kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam aspek pengelolaan dan kebijaksanaan, biologi kawasan serta sosial ekonomi dan budaya yang sesuai dengan tujuan pengelolaan kawasan sebagai Cagar Alam. Kelemahan yang dimaksud, yaitu kondisi aspek pengelolaan dan kebijaksanaan, biologi kawasan serta sosial ekonomi dan budaya yang dipandang dapat menghambat program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Peluang yang dimaksud adalah kondisi

eksternal yang dapat mendatangkan keuntungan apabila dapat memanfaatkannya. Berbagai peluang yang tersedia dapat dikembangkan secara optimal berdasarkan potensi, hambatan dan rencana program pengelolaan sebagai kawasan Cagar Alam. Ancaman adalah keadaan eksternal yang apabila dibiarkan akan menjadi faktor penghambat terhadap keberhasilan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ancaman ini perlu diwaspadai dan harus diatasi karena dapat memberikan pengaruh terhadap bisa atau tidaknya faktor-faktor peluang untuk dimanfaatkan. Hasil analisis SWOT Aspek Pengelolaan dan Kebijaksanaan, Biologi Kawasan serta Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah sebagai berikut : Kekuatan (Strength) S1. SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua, termasuk Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Analisis Permasalahan

IV - 37

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
S2.

BKSDA Papua II Sorong

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya.

S3.

Ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan komunitas alami dan pertumbuhannya masih terlihat cukup baik, sehingga fungsi ekologinya sebagai tempat mencari makan (feeding ground), daerah asuhan (nursery ground), dan tempat pemijahan (spawning ground) masih bekerja dengan.

S4.

Keanekaragaman flora yang cukup tinggi mulai dari tumbuhan tingkat rendah seperti fungi sampai dengan tumbuhan tingkat tinggi, baik spesies tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis maupun spesies kunci (key species) dengan keendemikan jenis yang cukup tinggi.

S5

Beberapa jenis fauna yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan jenis endemik dan sudah dilindungi undang-undang nasional maupun internasional, bahkan beberapa jenis burung tertentu sudah masuk dalam kategori hampir terancam (near threatend).

S6.

Adanya kearifan tradisional dalam pengelolaan sumberdaya alam.

Kelemahan (Weakness) W1. Lemahnya koordinasi institusi pengelola dengan Pemerintah Daerah. W2. Minimnya sarana dan prasarana serta kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. W3. Belum tersedianya informasi dasar yang memadai, khususnya data kuantitatif biologi mengenai kawasan. W4. Masih rendahnya pemahaman masyarakat dan aparat pelestarian alam W5. Lemahnya penegakan hukum bagi pihak-pihak yang melakukan pengrusakan di dalam kawasan, terutama bagi para nelayan yang menggunakan obat kimia saat mencari ikan. Peluang (Opportunity) O1. Dukungan bantuan dari donor baik Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Nasional dan Internasional, yang peduli terhadap kelestarian ekosistem Cagar Alam Teluk Bintuni. O2. O3. UU No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus. Kawasan CATB merupakan tempat mencari kehidupan bagi sebagian masyarakat di sekitar kawasan, sehingga apabila diberi penyuluhan tentang fungsi dan manfaat dari kelestariannya maka partisipasi masyarakat akan besar. O4. Belum tersusunnya Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Teluk Bintuni, sehingga dapat mendorong dalam rencana penyusunan RUTR Kabupaten untuk menjadikan kawasan CATB sebagai “Paru-paru” Kabupaten Teluk Bintuni. Analisis Permasalahan IV - 38 tentang cagar alam dan

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
O5.

BKSDA Papua II Sorong

Adanya beberapa LSM (seperti Mitra Pesisir) yang telah melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan di sekitar pesisir Teluk Bintuni, untuk dijadikan sebagai mitra dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

O6.

Kawasan CATB yang berfungsi sebagai buffer bagi Teluk Bintuni, sehingga sangat penting untuk menjaga kelestariannya

Ancaman (Threat) T1. Kepemilikan lahan yang merupakan hak ulayat masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. T2. Tingginya tingkat permintaan terhadap satwa dari jenis-jenis tertentu seperti buaya, rusa, cenderawasih dan mambruk serta adanya indikasi masyarakat nelayan yang mengunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. T3. Aktivitas pemegang HPH dan Kopermas, di daerah up land yang kurang memperhatikan aspek kelestarian serta pada beberapa logyard dan dalam

pengangkutan kayu melalui sungai-sungai di dalam kawasan yang menggunakan peralatan mekanis seperti buldoser, logging truck, dan tug boat dapat menimbulkan kebisingan dan pencemaran yang menyebabkan terganggunya satwa-satwa tertentu. T4. Adanya perkampungan dan Logyard di dalam kawasan CATB sehingga pemanfaatan flora, fauna, lahan akan semakin besar. T5. Rencana pengembangan Kota Bintuni yang berada dekat dengan Batas sebelah Utara kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

E.2 Analisis Keterkaitan antar Unsur SWOT Dari hasil analisis diatas, disusun rencana pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Rencana pengelolaan dihasilkan dari penggunaan unsur-unsur kekuatan Aspek Pengelolaan dan Kebijaksanaan, Biologi Kawasan serta Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan CATB untuk meraih peluang yang ada (SO), penggunaan kekuatan yang ada untuk menghadapi ancaman yang datang (ST), pengurangan kelemahan dari kondisi yang ada dengan memanfaatkan peluang yang ada (WO) dan pengurangan kelemahan yang ada untuk menghadapi ancaman yang akan datang (WT).

Analisis Permasalahan

IV - 39

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Tabel IV-11. Matriks Hasil Analisis antar unsur SWOT

BKSDA Papua II Sorong

Peluang (O) Strategi 1. Inventarisasi dan pemetaan sebaran flora, fauna dan ekosistem (S3,S4,S5,O1) 1. 2.

Ancaman (T) Strategi Rekonstruksi Tata Batas (S1, T4) Pemanfaatan terbatas sumberdaya alam dari Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (S2, S3, T4) Pemantauan rutin (S3, S4, S5, T2) Monitoring dampak lingkungan (S4, S5, T3, T4, T5) Perlindungan jenis flora/fauna beserta habitatnya (S4, S5, T3) Pencegahan bahaya erosi, sedimentasi dan Rehabilitasi kawasan CATB (S3, S5, S6,T3, T4) Penyuluhan terhadap pentingnya eksistensi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai penyanggah sistem kehidupan (S4,O6,T1)

3. 4. Kekuatan (S) 5. 6.

7.

Kelemahan (W)

Strategi 1. Sistem informasi dan Database (W3, O1) 2. Sarana prasarana pengelolaan (W2, O1, O2) 3. Sarana prasarana pendidikan (W2, W4, O1, O2, O5). 4. Sarana dan prasarana penelitian (W2, W4, O1, O2, O5).

Strategi 1. Penegakan hukum (W5, T2) 2. Patroli gabungan dan koordinasi pengamanan (W1,W5, T2, T4, T5)

F.

Perumusan Strategi Pengelolaan

Dari analisis SWOT dari data kajian pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni maka isu strategis yang terkait dengan pengelolaan CATB yang berhasil diidentifikasi menjadi dasar bagi penyusunan rencana aksi. Deskripsi rencana aksi ini menjadi indikator bagi penilaian keberhasilan dan dasar bagi monitoring dan evaluasi.

STRATEGI 1. Sasaran:

REKONSTRUKSI TATA BATAS KAWASAN

Batas kawasan menjadi jelas dan diketahui semua pihak terkait Kegiatan: Pembuatan jalur rintisan di sepanjang batas kawasan pada hutan dataran rendah Penggantian pal batas yang rusak Pemasangan plat seng tanda batas

Analisis Permasalahan

IV - 40

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Indikator:

BKSDA Papua II Sorong

Tersedianya jalur rintisan sepanjang batas kawasan pada hutan dataran rendah Terpasangnya pal batas kawasan baru yang jelas Terpasangnya plat seng sebagai tanda batas kawasan pada pohon-pohon di sepanjang batas kawasan.

STRATEGI 2. Sasaran:

PENEGAKAN HUKUM

Terciptanya suatu pemahaman yang menyeluruh terhadap hal-hal yang tidak boleh dilakukan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan: Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari sda di Cagar Alam Teluk Bintuni untuk masyarakat adat Sosialisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan illegal di kawasan kepada semua stakeholder Indikator: Tersedianya aturan khusus tentang larangan dan sangsi terhadap pelanggaran yang terjadi di dalam kawasan Terciptanya pemahaman yang utuh oleh masyarakat adat terhadap pemanfaatan terbatas oleh masyarakat adat Meningkatnya pemahaman seluruh pemangku kepentingan terhadap hal-hal yang tidak diperkenankan dilakukan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

STRATEGI 3. Sasaran:

PEMANTAUAN/PATROLI RUTIN

Terjaganya keamanan kawasan dari kegiatan-kegiatan yang dapat menurunkan kualitas kawasan. Kegiatan: Patroli terjadwal oleh internal pengelola. Analisis Permasalahan IV - 41

DAN EKOSISTEM yang memadai dalam menunjang pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. FAUNA DAN EKOSISTEM KAWASAN Sasaran: Data Dasar FLORA. Sasaran: PATROLI GABUNGAN DAN KOORDINASI PENGAMANAN Terciptanya suatu pemahaman bersama antar stakeholder terhadap tanggung jawab pengamanan dan pengawasan kawasan Kegiatan: Koordinasi dengan instansi terkait dalam merencanakan pengamanan terpadu Patroli terpadu yang melibatkan beberapa instansi terkait Indikator: Terciptanya kerjasama dan koordinasi antara pengelola dan instansi terkait dalam pengamanan kawasan Menurunnya tingkat gangguan keamanan kawasan STRATEGI 5. STRATEGI 4. Meningkatnya kemampuan pengelola dalam kegiatan pengamanan kawasan Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keberadaan dan fungsi kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan. Kegiatan: Identifikasi tipe ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di Cagar Alam Teluk Bintuni Analisis Permasalahan IV .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pelatihan Jagawana/Polisi Hutan untuk meningkatkan kemampuan pengawasan Penyuluhan dan penerangan tentang pentingnya keberadaan kawasan. FAUNA.42 . Pembuatan pedoman pemantauan bagi pengelola kawasan Indikator: Meningkatnya keamanan kawasan dari kegiatan-kegiatan ilegal. INVENTARISASI DAN PEMETAAN KEBERADAAN FLORA. Tersedianya pedoman pemantauan sebagai acuan bagi pengelola dalam melakukan kegiatan pemantauan.

dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan. Sasaran: PERLINDUNGAN JENIS FLORA/FAUNA BESERTA HABITATNYA Terjaminnya keberadaan flora dan fauna dan keutuhan habitanya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Inventarisasi dan pemetaan status flora dan fauna kawasan Penelitian dinamika ekosistem dan populasi flora dan fauna kawasan BKSDA Papua II Sorong Inventarisasi. Pengamatan dan perkembangan flora/fauna di petak ukur permanen. dan pemijahan di kawasan Pembuatan petak ukur permanen Pengumpulan hasil-hasil penelitian tentang flora. atau leaflet tentang jenisjenis flora/fauna langka dan dilindungi serta larangan perburuan/pemanfaatannya. brosur. Indikator: Terjalinnya kerjasama yang baik dengan institusi terkait yang menunjang kegiatan perlindungan dan pengembangan Analisis Permasalahan IV . dan atau terancam di Cagar Alam Teluk Bintuni. bertelur.43 . fauna. Kegiatan: Kerjasama dengan institusi terkait dalam upaya perlindungan jenis flora dan fauna di kawasan. Penelitian tentang keberadaan flora/fauna langka. dan ekosistem yang pernah dilakukan di CATB Indikator: Tersedianya data tipe ekosistem dan penutupan lahan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Tersedianya informasi dan peta kondisi flora dan fauna kawasan. dilindungi. identifikasi. Pemasangan tanda larangan dan pembuatan poster. STRATEGI 6. Tersedianya informasi perubahan ekosistem dan populasi flora dan fauna kawasan Adanya prasarana untuk kepentingan penelitian dan pendidikan Terdokumentasinya hasil-hasil penelitian dan kajian tentang ekosistem dan flora fauna kawasan secara menyeluruh.

Kegiatan: Penyuluhan dan penerangan yang intensif tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyanggah kehidupan Analisis Permasalahan IV . STRATEGI 7. DAN Sasaran: Pulih dan terjaganya keutuhan ekosistem kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dilindungi. dan atau terancam punah di Cagar Alam Teluk Bintuni.44 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Meningkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang keberadaan flora/fauna langka. Meningkatnya kualitas ekosistem kawasan Tersedianya informasi yang memadai tentang laju kerusakan ekosistem kawasan dalam menunjang kegiatan pengelolaan. PENCEGAHAN BAHAYA EROSI DAN SEDIMENTASI REHABILITASI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. PENYULUHAN TERHADAP PENTINGNYA EKSISTENSI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI SEBAGAI PENYANGGAH SISTEM KEHIDUPAN Sasaran: Terciptanya Kesadaran dan Penghargaan masyarakat terhadap keberadaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan:: Pencegahan kerusakan ekosistem sebagai akibat aktivitas manusia Rehabilitasi kawasan yang telah mengalami kerusakan di Cagar Alam Teluk Bintuni. Penelitian dan kajian yang intensif tentang tingkat kerusakan ekosistem kawasan. Tersedianya informasi tentang perkembangan flora/fauna tertentu untuk kepentingan penelitian dan pengembangan. STRATEGI 8. dilindungi. dan atau terancam punah di Cagar Alam Teluk Bintuni. Tersedianya informasi yang memadai tentang keberadaan flora/fauna langka. Indikator: Menurunnya tingkat kerusakan ekosistem kawasan akibat aktivitas manusia.

serta inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat.45 . siklus hidup biota perairan. dan atau brosur tentang fungsi kawasan bagi kehidupan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan Indikator: Meningkatnya kesadaran dan penghargaan masyarakat terhadap pentingnya keberadaan kawasan CATB Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. leaflet. Indikator: Tersedianya panduan pemanfaatan bagi pengelola kawasan Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pemanfaatan sumberdaya alam yang lestari.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pembuatan poster. Kerjasama dengan instansi terkait dalam kegiatan penyuluhan dan pendampingan Penerapan sistem penangkapan hasil perikanan yang ramah lingkungan Penerapan sistem pertanian yang memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutan Pemanfaatan satwa liar tertentu di bawah bimbingan pengelola bekerjasama dengan instansi terkait. Pembuatan sistem data terhadap hasil-hasil penelitian/kajian yang berhubungan pemanfaatan terbatas. STRATEGI 9. PEMANFAATAN TRADISIONAL SDA DI TELUK BINTUNI KAWASAN CAGAR ALAM Sasaran: Meningkatnya Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB Kegiatan: Pembuatan panduan pemanfaatan sda di kawasan bagi pengelola Pembuatan poster tentang pemanfaatan sda secara lestari Penelitian tentang pola perkembangbiakan satwa. teknik perbanyakan tanaman berguna. Analisis Permasalahan IV .

serta jenis-jenis komoditi pertanian setempat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Tersedianya sistem data dari hasil-hasil kajian yang berhubungan dengan kegiatan pemanfaatan terbatas oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. siklus hidup biota perairan.46 . Terjalinnya kerjasama yang baik dengan instansi terkait yang menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Berkurang bahkan tidak ada lagi aktivitas penangkapan ikan menggunakan cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Berkurangnya tekanan terhadap keberadaan ekosistem kawasan sebagai akibat perluasan lahan pertanian Terciptanya pola pemanfaatan satwa liar yang memperhatikan keseimbangan alam. STRATEGI 10. cara perbanyakan tanaman berguna. pendidikan dan pengembangan kawasan Analisis Permasalahan IV . Tersedianya koleksi media informasi yang memadai dalam menunjang kegiatan penelitian.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tersedianya informasi menyangkut pola perkembangbiakan satwa. Sasaran: SISTEM INFORMASI DAN DATA BASE Tersedianya sistem informasi data yang memadai untuk semua aspek kegiatan pengelolaan dalam rangka menunjang perencanaan dan pengembangan kawasan Kegiatan: Koordinasi dengan instansi terkait dalam mengembangkan SIG Pengadaan perangkat keras dan lunak untuk menunjang sistem informasi dan basis data Peningkatan kemampuan pengelola dalam penguasaan teknik SIG dan data base Mengumpulkan dan memelihara koleksi media-media informasi Indikator: Terciptanya kerjasama dalam mengembangkan SIG dan basis data kawasan Tersedianya perangkat penunjang kegiatan SIG dan data base Tersedianya tenaga pengelola dengan kemampuan yang memadai di bidang SIG dan basis data.

Analisis Permasalahan IV .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni STRATEGI 11. Indikator: Tersedia dan terpeliharanya sarana prasarana pengelolaan seperti bangunan kantor dan pondok kerja pengelola yang memadai selain bangunan kantor yang sudah ada Tersedianya prasarana penerangan yang memadai untuk kepentingan pendidikan Tersedia dan terpeliharanya sarana berupa pusat komunikasi dan informasi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan: Pengadaan dan pemeliharaan sarana prasarana pengelolaan seperti kantor/pondok kerja Pembuatan brosur/leaflet/buku/ serta media lain tentang keberadaan dan fungsi Cagar Alam Teluk Bintuni. BKSDA Papua II Sorong SARANA PRASARANA PENUNJANG KEGIATAN PENGELOLAAN KAWASAN Sasaran: Tersedianya sarana prasarana yang memadai dalam rangka menunjang kegiatan pengelolaan. dan penelitian. pendidikan. Pengadaan dan pemeliharaan Pusat komunikasi dan informasi (PUSKOMIN) kawasan.47 . Tersedia dan terpeliharanya sarana penelitian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana penelitian seperti pondok peneliti.

.

Disamping aspek-aspek pengelolaan tersebut. +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ Rencana Kegiatan V-1 . Prioritas Rencana Kegiatan Pengelolaan Kawasan Selama Duapuluh Lima Tahun (2006-2030) Cagar Alam Teluk Bintuni. dan duapuluh lima-tahunan. tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong V. Tabel V-1. Perlindungan dan Pengamanan Kawasan. Pilihan strategi ini diterjemahkan menjadi rencana kegiatan yang difokuskan kepada beberapa aspek yang mengacu pada Rencana Stratejik (Renstra) Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Tahun 2005 – 2009 merupakan tindak lanjut dari Undang-undang Nomor : 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 21 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999. kelemahan dan hambatan yang ada menunjukkan adanya pilihan strategi yang harus dilakukan. Implementasi Kegaiatan Lima Thn Lima Thn Lima Thn II III IV 2011-2015 2016-2020 2021-2025 +++++ +++++ +++++ No 1. Dalam implementasi kegiatan Rencana Pengelolaan Kawasan. UMUM Rencana kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni didasarkan kepada hasil analisis dari permasalahan dan kondisi yang ada. Peraturan Pemerintah Nomor 20 tentang Rencana Kerja Pemerintah. Hasil analisis SWOT dari peluang. Pendukung/Kelembagaan. 3. Aspek Kegiatan Pemantapan Kawasan Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Lima Thn I 2006-2010 +++++ +++++ Lima Thn V 2026-2030 +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ 4. Peningkatan efektivitas Pengelolaan Kawasan. RENCANA KEGIATAN A. kekuatan. di dalam Rencana kegiatan pengelolaan kawasan ini. dan aspek Pemanfaatan. lima-tahunan. 2. Beberapa aspek pengelolaan yang menjadi fokus dalam rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah aspek Pemantapan Kawasan. secara khusus juga memuat usulan kegiatan Pembangunan Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan. Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati. aspek tersebut yang menjadi fokus dalam rencana kegiatan yang diusulkan dilakukan berdasarkan skala prioritas yang dituangkan dalam bentuk Rencana kerja tahunan. Berikut adalah skala prioritas aspek-aspek kegiatan dalam Rencana Kerja Pengelolaan Kawasan selama duapuluh lima tahun seperti disajikan pada Tabel V-1.

Proses penetapan kawasan Cagar Alam menjadi definitif juga harus ditindak lanjuti dalam peraturan daerah yang mensahkan keberadaan kawasan di dalam tata ruang propinsi maupun kabupaten. B. Kerjasama yang dimaksud disini adalah pelibatan stakeholder di luar pengelola kawasan dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan pengelolaan. khususnya dalam kegiatan rekonstruksi pal batas Kawasan. Kepastian hukum yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang memberikan kepastian hukum yang jelas atas kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang saat ini masih berstatus Penunjukan bukan Penetapan oleh Menteri Kehutanan. Untuk itu proses kepastian hukum dengan menetapkan status hukum kawasan menjadi prioritas utama. Kerjasama. Rencana Kegiatan V-2 . yaitu pemasangan kembali pal batas secara menyeluruh.1 RENCANA KEGIATAN PENGELOLAAN Pemantapan Kawasan Dalam mengelola suatu kawasan konservasi yang lebih baik dan mantap. Aspek Kegiatan Pendukung/Kelembaga an Pemanfaatan Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan. Untuk memastikan posisi awal jalur batas digunakan GPS atau mengikuti tata batas awal. status hukum dari kawasan tersebut merupakan suatu hal yang penting. Kepastian Hukum Kawasan. Rekonstruksi pal batas. Total panjang batas dengan daratan diperkirakan 125 km dari total batas 250 km. Kegiatan ini harus dilakukan secara koordinatif serta partisipatif dengan pihak-pihak lain yang berkompeten dan terkait. Rekonstruksi pal batas bukan melakukan tata batas ulang tetapi berupa pemasangan kembali pal batas yang pernah ada sesuai koordinat yang ada secara menyeluruh mulai dari titik nol. Pemerintah Kecamatan dengan masyarakat. 4. Berikut adalah beberapa Rencana kegiatan yang diusulkan dalam rangka pemantapan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Implementasi Kegaiatan Lima Thn Lima Thn Lima Thn II III IV 2011-2015 2016-2020 2021-2025 +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ BKSDA Papua II Sorong No 5. Lima Thn I 2006-2010 +++++ +++++ +++++ Lima Thn V 2026-2030 +++++ +++++ B. Pelaksanaan pemasangan kembali pal batas kawasan akan dilakukan secara bertahap. 6. Rekostruksi pal batas diperlukan untuk menetapkan kawasan dalam status hukum yang jelas. Kegiatan ini akan dilaksanakan bersama Bappeda. 2. 3. 7. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah. 1.

Tapal batas di lapangan sedapat mungkin dapat terlihat jelas dan mudah diidentifikasi misalnya batas alam dan tanda-tanda buatan manusia. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan. Pengadaan/pembuatan pal batas 2. 4. Kajian/Penelitian Potensi Fungsi Kawasan. Bupati Tentang Keberadaan Cagar Alam 2. Kegiatan Pokok Komponen kegiatan Pembuatan SK. dan papan pengumuman yang berisi aturan dan larangan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Adapun rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk menunjang kegiatan pemantapan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan pada Tabel V-2. Beberapa kegiatan pengelolaan yang diusulkan dalam menunjang aspek ini adalah sebagai berikut: 1. Pemasangan Pal batas kawasan No. keberadaan kawasan. 3. Pemeliharaan batas ini dilakukan mulai tahun 1 sampai tahun ke 5 dan selanjutnya dilakukan pemeliharaan rutin setiap 2 tahun. Pembuatan SK. Pemeliharaan batas Kawasan. Rekonstruksi pal batas 4. 1. Tabel V-2. Kegiatan ini bertujuan untuk menata kawasan ke dalam blok-blok. Arahan Penataan dan Penetapan Blok. Pemasangan Papan Petunjuk Kawasan. 2. Pembuatan Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan. Jalur dan pal batas memerlukan pemeliharaan dan pengamanan secara teratur oleh petugas. Rencana Kegiatan V-3 . Kerjasama Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas B. Kepastian Hukum Kawasan Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah 3. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang berisi tentang petunjuk teknis kegiatan pengelolaan kawasan. Melakukan penelitian yang berkaitan dengan kepentingan penataan Kawasan.2 Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan Cagar alam Teluk Bintuni sesuai fungsi kawasan. sehingga batas tersebut dapat dengan mudah diidentifikasi. Pembuatan Peraturan Daerah (PERDA) tentang Cagar Alam Teluk Bintuni. 1. 5. Papan petunjuk yang dimaksud disini adalah papan petunjuk batas kawasan. Menteri tentang Penetapan Kawasan 1. 2.

10. Data tersebut merupakan baseline data yang dibutuhkan untuk evaluasi pengembangan ekosistem Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. sehingga dirasa perlu untuk melibatkan mereka dengan pembentukan suatu kelompok kerja yang dapat membantu pengelola dalam memberikan masukan ataupun pemecahan masalah yang berkaitan dengan pemanfaatan kawasan. komunikasi. 9. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dapat membantu dan memfasilitasi penelitian tersebut dengan Rencana Kegiatan V-4 . Karena keterbatasan tenaga lapangan di Cagar Alam Teluk Bintuni. Sedangkan dampak negatifnya berupa pengaruh budaya luar terhadap pelestarian budaya kawasan. Keterlibatan masyarakat sangat penting dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Sistern Informasi Geografis (Geographical Information System) adalah alat analisis yang sangat ampuh untuk perencanaan pengembangan Kawasan Konservasi. keamanan dan stabilitas wilayah. Untuk pengembangan SIG diperlukan koordinasi dengan instansi-instansi yang lain terkait. SIG juga bermanfaat untuk produksi bahan media informasi dan komunikasi. sebanyak mungkin penelitian akan dilakukan oleh pihak lain. Hasil penelitian yang diuraikan di atas dimanfaatkan untuk pembaharuan informasi tematis kawasan. Kegiatan bertujuan untuk menyebarluaskan informasi dan meningkatkan pengetahuan/kesadaran masyarakat tentang keberadaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni serta fungsinya sebagai sistem penyangga kehidupan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. Kegiatan ini ditujukan untuk membina masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan. klasifikasi habitat dan inventarisasi. Hasil studi ini sangat berguna sebagai salah satu masukan dalam pengambilan kebijakan pengembangan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. Untuk memonitor kemungkinan yang ditimbulkan oleh adanya pengembangan wilayah maka pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. maka direncanakan ada kegiatan Monitoring Dampak Lingkungan setiap tahun sekali. Penelitian. 8. khusus yang bermukim di blok penyangga (Buffer block). Monitoring dampak lingkungan ini pelaksanaannya dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak lain seperti perguruan tinggi atau LSM. Dampak di luar kawasan dapat berupa dampak positif dalam bidang ekonomi seperti perbaikan sarana dan prasarana transportasi. serta konsumerisme berkembang di masyarakat setempat sehingga dapat menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam berlebihan. 7. Pengadaan Poster/Leaflet Kegiatan Pengelolaan Kawasan. Pelibatan Masyarakat. Sistem Informasi Geografis dan Database. Pembinaan Masyarakat. dan adanya peluang usaha baru. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dapat melakukan atau memfasilitasi penelitian mengenai klasifikasi ekosistem. terutama peneliti dari perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri.

dsb). gambar tempel. 4) peta (termasuk peta rupa bumi. slide. poster. 3. Pembuatan jalur rintisan dan jalan setapak pada batas kawasan dengan lebar 2 meter. 3. No. Kajian potensi fungsi kawasan 1. 3. 4. 2. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan disajikan pada Tabel V-3. dan jurnal. Pemeliharaan Batas Kawasan Rencana Kegiatan V-5 . 4. plat seng dan tanda cat pada pohon di jalur batas Kawasan. Tabel V-3. majalah. Database dikembangkan untuk melengkapi Sistem Informasi Pengelolaan atau Management Information System (MIS) yang sedang dikembangkan untuk kawasan konservasi di Indonesia. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan. 1. Memberikan tanda batas pada pohon di batas kawasan dengan nomor. Memperbaiki pal batas yang sudah rusak atau hilang. 5. 1. Hasil penelitian tersebut digunakan untuk melengkapi database dan SIG yang dikembangkan untuk Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong bantuan sarana dan pemberian izin untuk menciptakan kondisi yang produktif untuk para peneliti. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan penelitian dan pengembangan kawasan. pola penggunaan lahan. Identifikasi dan Pemetaan Penutupan Lahan sesuai Ekosistem. Papan Petunjuk Kawasan Pengadaan dan Pemasangan papan pengumuman dan petunjuk di sepanjang jalur rintisan dan beberapa pulau yang sering dilewati masyarakat/pelayaran. dan film. Kegiatan Pokok Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan Komponen kegiatan 1. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan. 2. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pemeliharaan kawasan. Identifikasi dan Pemetaan tipe ekosistem yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 2. peta navigasi. Untuk kepentingan tersebut Cagar Alam Teluk Bintuni akan mengumpulkan dan memelihara koleksi media-media informasi meliputi: 1) buku. 2) media informasi termasuk brosur. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan. 2. 3) koleksi foto.

Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. Sistem Informasi Geografis dan Database Pengadaan sistem informasi geografis (SIG) dan pemutahiran data hasil-hasil peneltian B. Kegiatan bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi flora dan fauna kawasan beserta habitatnya dalam mendukung upaya kegiatan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Penelitian tentang dampak lingkungan 2. 3. terutama yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati. 5. dan Ekosistem Kawasan. 6. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan upaya pengawetan tumbuhan dan satwa liar dan memfasilitasi pengelolaan ekosistem esensial. Fauna. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang berisi tentang petunjuk teknis kegiatan pengelolaan kawasan. Pembinaan masyarakat Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyanggah sistem kehidupan Pembuatan Kelompok Kerja dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan 1. Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 8. Pembinaan Habitat.3 Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati Kegiatan pengembangan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati berkaitan dengan kegiatan penelitian. Pengadaan Poster tentang kondisi fekosistem di Kawasan CATB 7. Komponen kegiatan BKSDA Papua II Sorong Penataan dan pembuatan peta arahan blok di dalam kawasan 1. Kegiatan Pokok Arahan Penataan dan Penetapan Blok Pengadaan Poster/Leaflet Kegaiatn Pengelolaan Kawasan. Kegiatan ini lebih difokuskan pada penilaian kondisi ekosistem Kawasan yang merupakan habitat flora dan fauna kawasan. Rencana Kegiatan V-6 . Pedoman ini merupakan buku saku/juknis/pedoman kegiatan pemeliharaan flora dan fauna beserta habitatnya. 2. Beberapa kegiatan pengelolaan yang diusulkan dalam menunjang aspek ini adalah sebagai berikut: 1. Penelitian/Kajian Tentang Kondisi Flora. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2. pengembangan dan kegiatan lain yang menunjang budidaya. Buku Panduan. Pelibatan Masyarakat Penelitian 10. 9.

5. kerusakan dan upaya pencegahan kerusakan dikelompokkan dalam rencana kegiatan pemulihan. Cagar Alam Teluk Bintuni mungkin harus lebih memperhatikan kemungkinan adanya hama penyakit berbahaya di daerahdaerah pertanian dalam kawasan atau sekitar batas kawasan. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi. introduksi spesies yang fungsinya sama dengan spesies lokal dan lain-lain.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. pengelola kawasan CATB harus berkoordinasi dengan instansi terkait. Gejolak populasi hama penyakit hutan biasanya bisa diatasi dengan kemampuan alam sendiri sehingga alam dapat pulih kembali. Pemulihan merupakan kegiatan yang berkaitan dengan adanya kerusakan dan perubahan dalam bentang lahan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Untuk bisa mengelola perubahan bentang lahan baik karena aktivitas manusia maupun alam. Secara umum penyadaran masyarakat dan instansi terkait tentang status biota yang dilindungi perlu ditingkatkan. Satu hal yang perlu diperhatikan kemungkinan invasi biota eksotik ke dalam kawasan. BKSDA Papua II Sorong Uraian mengenai upaya pengendalian. Melakukan penelitian Inventarisasi. Beberapa biota yang dilindungi perlu usaha perlindungan khusus. aktivitas yang dapat dilakukan adalah : Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat. Dalam ekosistem hutan alam yang strukturnya terdiri dari berbagai jenis biota. Identifikasi dan Dampak jenis-jenis eksotik yang ada di kawasan CATB. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. Secara umum kegiatan yang dapat dilakukan antara lain : Pemusnahan jenis tumbuhan eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di kawasan. hama penyakit tanaman jarang sekali mengalami ledakan yang dapat merugikan komunitas hutan. Pengendalian. Kegiatan ini antara lain adalah : Rencana Kegiatan V-7 . leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah. oleh karena itu bila ada kasus hama dan penyakit yang dianggap membahayakan kawasan. Perlindungan Jenis. Dalam hal ini. Untuk aktivitas perlindungan jenis ini. Upaya yang dilakukan seperti introduksi spesies yang memiliki potensi sebagai hama. tidak seumur dan kondisi ekosistemnya relatif stabil. Membuat brosur. maka harus segera dicarikan jalan pemecahannya baik secara preventif maupun refresif. misalnya pengendalian jenis eksotik. Pencegahan Hama dan Penyakit. Pemulihan. Kegiatan pemantauan oleh petugas terhadap hama penyakit di daerah-daerah tersebut perlu dilakukan secara periodik atau dengan memperhatikan laporan-laporan dari masyarakat tentang hama dan penyakit tanaman.

Adanya kegiatan ini sangat mempengaruhi keutuhan ekosistem kawasan yang juga akan berpengaruh terhadap flora dan fauna penting dalam kawasan. Dalam rangka menunjang kegiatan ini. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. di muara semakin banyak calon pulau. Oleh karena itu perlu diupayakan kegiatan sebagai berikut: Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. LIPI dan LSM. Untuk efisiensi dan efektivitas kegiatan rehabilitasi perlu disusun perencanaan teknis terlebih dahulu. Untuk itu diperlukan : Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi. Ausoi. namun sudah mulai ada indikasi di beberapa lokasi adanya pengaruh abrasi-erosi dan sungai semakin kecil. Sementara pengelolaan sedimen sangat terkait dengan upaya Dinas Kehutanan membangun pengelolaan hutan berkelanjutan di areal HPH dan hutan masyarakat. Rehabilitasi kawasan dengan tanaman asli. disamping adanya pembukaan wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai areal log-yard beberapa usaha kehutanan masyarakat. Logyard SP V S. Pada saat ini dalam kawasan telah ada kegiatan pemanfaatan oleh masyarakat secara tradisional berupa usaha perikanan (penangkapan). Sumberi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi. Awarapi. Pengelolaan terutama ditujukan pada daerah-daerah yang rawan abrasi-erosi yang biasanya terjadi di lokasi yang terkena gelombang besar. perlu dilakukan melalui pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan instansi-instansi terkait. Logyard SP IV S. Pemeliharaan tanaman. Terutama di bekas logyard HPH dan kopermas yaitu di Tirasai. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III. usaha perladangan/kebun rakyat. Penelitian yang dapat dilakukan berkaitan dengan upaya pemulihan antara lain adalah : Penelitian tingkat sedimentasi di beberapa sungai utama di dalam kawasan Penelitian dan kajian kerusakan ekosistem dan penyebabnya di dalam kawasan CATB Rencana Kegiatan V-8 . Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni belum memiliki informasi yang lengkap tentang lokasi yang rawan abrasi-erosi dan lokasi penumpukan sedimen. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerjasama dengan mitra kerja yang berkaitan seperti perguruan tinggi.

Universitas. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 5. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1. bertelur. Pengadaan Buku Panduan Rehabilitasi kawasan 1. 7. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian 1. Kegiatan ini bertujuan untuk memutakhirkan informasi kondisi flora dan fauna beserta habitatnya guna penunjang kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kerjasama. dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 3. Pengendalian a. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan dalam mengembangkan konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan disajikan pada Tabel V-4. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam mengembangkan konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 3. Pembuatan petak ukur permanen 4. Melakukan kerjasama dan membuat MOU kerjasama antara BKSDA Papua II Sorong cq Ressort Bintuni dengan lembaga penelitian. nasional. Dampak negatif dari kehadiran jenis-jenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 6. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan. Tabel V-4. 2. Kegiatan Pokok Buku Panduan Komponen kegiatan 1. 1. Pencegahan Hama dan Penyakit Rencana Kegiatan V-9 . Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 4. Penelitian tentang Dinamika Populasi Flora dan Fauna 3. Pengembangan Sistem Data Base. No. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan 3. Inventarisasi dan Pemetaan Status Flora dan Fauna di Kawasan 2. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 7. maupun internasional. dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik lokal. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di kawasan. Pembinaan Habitat 4.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. 1.4 Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan bertujuan untuk meningkatkan upaya perlindungan hutan serta penegakan hukum di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Perlindungan Jenis Komponen kegiatan 2. Identifikasi dan Dampak jenis-jenis eksotik yang ada di kawasan CATB. Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. Perlindungan dan pengamanan kawasan yang akan dilakukan didalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah pengamanan dalam rangka penggunaan sumberdaya alam. Penelitian dan kajian kerusakan ekosistem dan penyebabnya di dalam kawasan CATB. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2. pelanggaran batas berupa pemukiman penduduk dan perladangan berpindah. Pengembangan system data base 7. 2. Melakukan penelitian Inventarisasi. Rehabilitasi kawasan Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III Pemeliharaan tanaman. leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan instansi-instansi terkait.10 . Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 3. 5. penebangan kayu secara liar. 2. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 3. Pencegahan bahaya erosiabrasi dan sedimentasi b. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. 3. Pemulihan a. pengumpulan hasil hutan. Penelitian yang dapat dilakukan berkaitan dengan upaya pemulihan 6. Kegiatan Pokok BKSDA Papua II Sorong b. Penelitian tingkat sedimentasi di beberapa sungai utama di dalam Kawasan. 1. Membuat brosur. Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2. 1. penggembalaan ternak dan lain-lain. 1. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati. Kerjasama B. Rencana Kegiatan V . Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni c.

Sistem patroli harus sporadis agar rutinitas patroli tidak dapat dipelajari oleh pelanggar. Sesuai dengan prinsip pengelolaan yang efisien dan cost-effective. rute patroli dapat diprogramkan di GPS sebelum berangkat. Pengamanan Cagar Alam Teluk Bintuni memerlukan koordinasi yang baik tidak saja antar instansi terkait tetapi juga dengan tokoh masyarakat di sekitar kawasan. Upaya untuk membuat Rencana Kegiatan V . perlu diusulkan beberapa kegiatan penunjang. TNI dan masyarakat setempat. berdasarkan laporan masyarakat setempat. Demikian pula halnya dengan kerjasama dalam pengamanan yang bersifat sporadis. antara lain : 1. Setiap petugas harus juga mempelajari pola hidup dan kegiatan masyarakat setempat agar dapat mengidentifikasi pendatang dari luar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Upaya pengamanan umum yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan untuk mengamankan dan memonitor setiap gangguan terhadap keutuhan kawasan. Pengamanan Rutin (patroli). Dinas Perikanan. yaitu: Pembuatan Peraturan dan Larangan yang sederhana dan jelas Peraturan yang ada perlu dievaluasi untuk memastikan relevansi dan ketepatgunaannya dalam pengamanan kawasan CATB. pemantauan berbasis masyarakat atau pihak swasta yang bersifat sukarela (voluntir) di bawah arahan dan panduan dari pengelola Cagar Alam Teluk Untuk mendukung maka Bintuni. maka intensitas operasi gabungan bisa dikurangi atau bahkan ditiadakan. serta pengamanan/patroli gabungan yang melibatkan instansi terkait yang lain. Oleh karena itu koordinasi ini harus terus dilakukan dari waktu ke waktu minimal setiap akan dan setelah pelaksanaan operasi gabungan. 2. diperlukan beberapa kegiatan. mereka merupakan mata pengawasan yang sangat efisien. Patroli gabungan yang bekerjasama dengan instansi terkait perlu dilakukan minimal setahun dua kali. Jika keadaan relatif aman. Penegakan Hukum. polisi. Penegakan peraturan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni harus merupakan lintas sektoral yang melibatkan otoritas pengelola CATB. pencegahan kerusakan habitat akibat kegiatan pemanfaatan dilakukan oleh pemanfaat sendirl. Operasi sebaiknya dilaksanakan jika keadaan keamanan benar-benar membutuhkan dukungan dari unsur pengamanan lain seperti dari Polri dan TNI serta Pemda. Untuk mendukung kegiatan penegakan hukum di Kawasan CATB. Kegiatan perlindungan dan pengamanan rutin diusulkan dapat dilakukan oleh pengelola Kawasan (POLHUT).11 . Setiap petugas harus mengetahui batas kawasan dan peraturannya dan faktor yang dilindungi. Kegiatan pengamanan harus direncanakan dan apabila perlu. Petugas lapangan harus siap bertindak berdasarkan informasi yang berasal dari masyarakat karena mereka berada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni setiap hari.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

peraturan menjadi jelas, bisa dimengerti dan sesuai dengan tujuan konservasi serta pemanfaatan berkelanjutan perlu dilakukan. Sosialisasi Peraturan Aturan harus disosialisasikan dan fungsi serta peran setiap stakeholder harus jelas sehingga tidak ada interpretasi ganda. Perlu juga dibuat peraturan khusus dan disepakati semua pihak, terutama peraturan yang melarang semua kegiatan ekstraktif yang merusak kawasan CATB. Pelarangan penggunaan trawl, bahan

kimia, bom, pelarangan penebangan hutan di CATB untuk usaha kehutanan, perikanan dan perkebunan perlu dibuat dan dilaksanakan. Khusus untuk masyarakat adat perlu juga dibuatkan aturan khusus yang menyangkut pemanfaatan eksklusif di dalam kawasan tetapi dengan syarat tertentu dan mendukung pemanfaatan lestari. 3. Pembuatan Buku Panduan Perlindungan dan Pengamanan Kawasan. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-5.

Tabel V-5. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. Kegiatan Pokok Pengamanan Rutin (patroli) Komponen kegiatan 1. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2. Patroli gabungan 3. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (voluntir) 2. Penegakan Hukum 1. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sanksi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi 2. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat 3. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sanksi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder 3. Buku Panduan Pengadaan buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB

B.5

Pendukung /Kelembagaan

Kegiatan pendukung/kelembagaan ditujukan untuk memantapkan institusi pengelola kawasan serta mewujudkan Sumberdaya Manusia (SDM) yang mampu mendukung pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Rencana Kegiatan

V - 12

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

1. Peningkatan Kapasitas Pengelola. Tekanan terhadap Cagar Alam di masa depan akan lebih berat dan dibutuhkan kapasitas SDM khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang lebih baik. Untuk itu perlu ada pelatihan dan training kepada jagawana. 2. Penambahan Jumlah Personil Pengelola. Saat ini petugas di Ressort Teluk Bintuni hanya ada 2 petugas sementara per 10.000 Ha dibutuhkan 1 orang polisi hutan. Berarti dibutuhkan 10-12 orang Polisi Hutan (POLHUT) untuk Cagar Alam Teluk Bintuni. Direncanakan akan ada 10 petugas lapangan, setiap saat 5 di antaranya menjaga koordinasi dan komunikasi dengan kelompok pemanfaat di lapangan. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Pendukung /Kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-6.

Tabel V-6. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Pendukung /Kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. Kegiatan Pokok Peningkatan Kapasitas Pengelola Komponen kegiatan 1. Pelatihan jagawana voluntir 2. Pelatihan/Penyegaran Polhut 2. Personil Pengelola Penambahan jumlah personil pengelola, khususnya Polisi Hutan (POLHUT)

B.6

Pemanfaatan

Kegiatan pemanfaatan yang dimaksud disini lebih banyak difokuskan pada kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Dari survei dan pertemuan dengan masyarakat dalam pembahasan rencana pengelolaan kawasan ternyata bahwa masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan sangat menggantungkan kehidupan sehari-hari mereka pada keberadaan Cagar Alam.

Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan sudah dilakukan sejak lama dan turun temurun sebelum daerah ini ditunjuk sebagai Kawasan Konservasi. Walaupun demikian, masyarakat adat yang merupakan pemilik hak ulayat kawasan dan bermukim di dalam dan sekitar kawasan masih berkomitmen untuk menjaga keberadaan CATB dengan membangun suatu kesepakatan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam kawasan CATB yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam ini seperti yang telah di bahas pada Bab V. 1. Buku Panduan. Pedoman ini merupakan buku saku/juknis/pedoman kegiatan

pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) dan kelompok masyarakat pemanfaat.

Rencana Kegiatan

V - 13

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

2. Pemanfaatan Hasil Perikanan. Penduduk yang memiliki hak ulayat dan tinggal di dalam dan sekitar kawasan diperbolehkan memanfaatkan hasil perikanan dari dalam kawasan secara tradisional. Pengembangan dan pengawasan pemanfaatan hasil setempat

dilakukan Balai KSDA cq Ressort pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dengan pemilik hak ulayat yang tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan berdasarkan kesepakatan bersama. Kesepakatan ini juga mencakup pemanfaatan oleh masyarakat desa sekitar kawasan yang bukan pemilik hak ulayat. Sistem pengaturan pemanfaatan tradisional sumberdaya perikanan seharusnya dilakukan masyarakat pemilik hak ulayat dan tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan secara tertulis dengan bimbingan BKSDA. Untuk itu, pengelola cagar alam harus

membangun pemahaman dan pentingnya kearifan tradisional dikembangkan dan dapat diketahui pihak lain. Pengembangan usaha perikanan di dalam kawasan hanya diperkenankan kepada pemilik hak ulayat dan tinggal di dalam dan sekitar kawasan. Usulan untuk pengembangan usaha budidaya lain misalnya budidaya ikan di sungai dengan keramba harus diajukan kepada pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dan bimbingan teknis untuk pemanfaatan dilakukan bekerjasama dengan instansi terkait (Dinas Perikanan dan Kelautan) dan Mitra Pesisir. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Penyuluhan manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan Pembinaan masyarakat soal pemanfaatan perikanan di dalam kawasan yang ramah lingkungan dan tidak merusak mangrove, bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan serta LSM Mitra Pesisir, seperti : o o Pelatihan budidaya ikan dalam keramba apung di sungai Pengenalan sistem “sasi” agar ada peluang recovery dari sumberdaya yang dimanfaatkan o Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring penangkap ikan, bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Melakukan sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 3. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan. Ancaman utama dari kegiatan pertanian dan perkebunan di dalam dan sekitar kawasan adalah penggunaan pestisida, herbisida dan pupuk buatan, dan masalah lainnya menyangkut konservasi tanah. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni akan bekerja sama dengan Dinas Pertanian dalam memfasilitasi masyarakat yang ada di sekitar dan dalam kawasan kepada akses terhadap pola

Rencana Kegiatan

V - 14

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

pertanian yang lebih efisien. Dengan pengembangan pola pertanian dan perkebunan yang lebih efisien kecenderungan untuk perluasan lahan dapat dicegah, serta pendapatan petani dapat ditingkatkan. Usaha pertanian dan kebun masyarakat di dalam kawasan dimungkinkan jika peruntukannya adalah untuk konsumsi sehari-hari dan harus dipetakan untuk mencegah perluasan. Pengembangan usaha perkebunan dengan skala luas dan jenis introduksi dilarang dilakukan di dalam kawasan. Pengembangan kawasan budidaya perkebunan di sekitar kawasan harus berkoordinasi dengan BKSDA agar tidak terjadi tumpang tindih kawasan. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan masyarakat, ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan, antara lain adalah : Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan Penerapan Sistem Pertanian yang Berkelanjutan o Pengenalan sistem agroforestry khusus bagi penduduk yang ada di dalam kawasan o Pelatihan budidaya pertanian menetap secara terbatas pada pemukiman penduduk di dalam kawasan o Penyediaan bibit tanaman setempat.

Pemanfaatan terbatas satwa liar o Pengembangan dan Pembinaan upaya perbesaran buaya di desa Naramasa, Yensei, Yakati, Mamuranu o Pembinaan pengaturan waktu berburu sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan o Pelatihan dan bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari kulit buaya di Desa Naramasa, Yensei dan Yakati o Pelatihan dan bimbingan teknis untuk pembuatan dendeng manis, abon dari daging babi dan rusa, bekerjasama dengan Dinas Perindustrian Kabupaten Penyuluhan dan sosialisasi masa berburu berdasarkan hasil kajian/penelitian. 4. Penelitian. Kegiatan penelitian disini lebih difokuskan pada studi dalam rangka mendukung kegiatan pemanfaatan oleh masyarakat secara lestari dan berkelanjutan. 5. Kerjasama. Kerjasama ditujukan untuk membangun kesepahaman bersama dengan stakeholder terkait seperti Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, dan Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan, khususnya aspek pemanfaatan secara lestari dan berkelanjutan.

Rencana Kegiatan

V - 15

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
6. Pengembangan Sistem Data Base.

BKSDA Papua II Sorong

Kegiatan ini dimaksudkan untuk pemutakhiran

informasi kawasan khususnya hasil-hasil kajian yang berhubungan dengan pemanfaatan sumberdaya alam oleh penduduk yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan.

Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-7.

Tabel V-7. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. 2. Kegiatan Pokok Buku Panduan Pemanfaatan Hasil Perikanan Komponen kegiatan Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan 1. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan 2. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 3. Pelatihan pengenalan system “Sasi”. 4. Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring 3. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 1. Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2. Pengenalan sistem agroforestri. 3. Pelatihan budidaya pertanian menetap, terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 4. Pelatihan pembesaran anakan buaya 5. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 6. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa 7. Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktuwaktu beranak dan mengasuh anak 4. Penelitian 1. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan lokasi perburuan 2. Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman, khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

Rencana Kegiatan

V - 16

Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 6. Kegiatan Pokok Komponen kegiatan BKSDA Papua II Sorong 3. Kebutuhan sarana yang harus dilengkapi adalah : Pembebasan lahan Bangunan kantor Barak polisi hutan Sarana listrik Sarana air bersih Sarana Komunikasi Sarana Transportasi : : : : : : : 500 m2 1 Unit.17 . untuk 6 keluarga. baik sebagai pusat kegiatan pengelolaan maupun pusat informasi. ukuran 90 m2. Sarana prasarana pengelolaan : a. udang. Bangunan kantor Mengingat Cagar Alam Teluk Bintuni berada pada Kabupaten yang akan berkembang sangat cepat. sarana kantor sangat dibutuhkan. 1 unit. SARANA DAN PRASARANA Membuat rencana pembangunan sarana dan prasarana dengan prioritas pentahapan pembangunannya. Dalam perencanaan ini perlu dipertimbangkan guna kepentingan pengelolaannya antara lain : C. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. Pengembangan sistem data base C. Handy talky 7 unit dan menara SSB Motor 2 unit. 108 m2 1 unit Genset 3 KW Sumur bor. 1. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 2. mesin air dan tower air SSB 1 unit.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 5.1. 1 unit Speedboat 80 pk 1 unit longboat 40 pk Sarana kerja : 3 unit CPU + printer + peralatan kantor lainnya 7 unit GPS 7 unit kompas suunto Rencana Kegiatan V . Kerjasama Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan pemanfaatan. Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan.

papan larangan dan rambu-rambu peringatan. kantor dapat difungsikan sebagai pusat informasi. Papan petunjuk Sarana ini harus ada di Cagar Alam. Penempatan diatur di tempat yang strategis mudah dilihat. jalan patroli dapat digabung bersama jalur batas rintisan sehingga lebih efisien (berkaitan dengan pemeliharaan batas kawasan). Aktivitas patroli bisa dilakukan bersamaan dengan pemeliharaan batas. b. Kampung Mamuranu dan Tirasai. Papan Petunjuk ttg kawasan Papan Larangan & informasi : : 50 unit 100 unit. c. Jalan patroli BKSDA Papua II Sorong Di Cagar Alam harus ada jalan patroli. Sarana yang dibutuhkan antara lain : Pembebasan lahan Bangunan pondok kerja Generator listrik Pompa air Sarana Komunikasi Peralatan Kerja : : : : : : 3 unit. Pulau Modan. Tetapi pada batas kawasan yang berbatasan dengan hutan dataran rendah. Termasuk di dalam papan petunjuk ini adalah papan pengumuman. Di CA Teluk Bintuni. yang dapat menjangkau keseluruh kawasan sehingga memudahkan bagi petugas untuk melaksanakan tugasnya. Pusat informasi Di Cagar Alam Teluk Bintuni. ukuran setiap lokasi 100 m2 3 unit. Naramasa.5 KW 3 unit sumur bor. jalur air merupakan salah satu cara yang terpenting. Pondok kerja Bangunan ini diperuntukan bagi unit pengelola terkecil. ukuran setiap pondok 48 m2 3 unit kapasitas 2. Simeri. Letak pondok kerja ini adalah di Kampung Banjar Ausoy. dilengkapi dengan perlengkapan yang memadai untuk kegiatan yang akan ditangani di tempat tersebut. diutamakan di jalur batas rintisan yang berdekatan dengan kampung Rencana Kegiatan V . C. Pulau Bore.18 . sarana ini penting untuk : pengamatan satwa. Pondok kerja di dalam CA Teluk Bintuni direncanakan akan menjadi 4 unit di luar kantor. keindahan alam dan kebakaran.2. Handy talky 3 unit 3 unit Mesin Tik 80 cm 3 unit GPS d.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni b. Sarana prasarana pendidikan a. Lokasi pembangunan menara pengamat adalah di Awarepi. Pondok jaga dan Menara Pengawas Untuk pengamatan satwa. pompa air dan tower SSB 3 unit.

Lokasi yang diusulkan dibangun AWLR adalah Sungai Muturi. Jalan setapak permanen di dalam kawasan mangrove dibangun pada tempat yang ada menara pengamat dan petak ukur permanen saja. dan jarang terjadi bulan kering. C. Pembuatan pondok penelitian terapung Pondok peneliti untuk kebutuhan penelitian di dalam Cagar Alam Teluk Bintuni sebaiknya tidak dibangun di banyak tempat. Laboratorium alam (areal penelitian) Penempatan areal lokasi penelitian disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.19 . c. Stasiun pengamat air sungai otomatis (AWLR : automatic water level recording) Pembangunan AWLR sangat membantu pengelola CATB dalam memantau dampak dari perubahan penggunaan lahan yang ada di hulu terhadap CATB. Di Cagar Alam Teluk Bintuni. Jalan rintis penelitian Dibuat sesuai kepentingan dan sederhana. Sarana dan prasarana penelitian a. Yang dapat dilakukan adalah membangun petak ukur permanen. maka perlu dibangun stasiun klimatologi dan meteorologi. Lokasi pengamatan atau Rencana Kegiatan V . perlu juga dibangun beberapa sarana seperti : Pembangunan stasiun iklim dan cuaca Karena situasi iklim dan cuaca belum diketahui dengan pasti. Pusat informasi dan sarana penelitian Bangunan ini dapat dibuat di dalam kawasan sesuai kepentingannya. Untuk itu perlu dikembangkan dan dibangun pondok peneliti terapung yang bisa dipindah-pindah tergantung lokasi wilayah penelitian. longboat b. Data dan informasi dari stasiun ini dapat digunakan untuk kelengkapan data base dan sistem informasi geografis kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni c. yang berfungsi untuk pengamanan dan memudahkan melihat obyek wisata tertentu di Cagar Alam Teluk Bintuni. Jalan setapak BKSDA Papua II Sorong Di Cagar Alam sarana ini diperuntukan sebagai sarana patroli dan pendidikan.3. Ini akan membuat waktu penelitian tidak terbuang akibat Pondok ini bisa dipindah dengan menggunakan mobilitas yang terbatas. Disamping itu. pusat informasi dan data base dibangun bersamaan dengan kantor (satu bangunan). Curah hujan di kawasan dan sekitarnya berlangsung sepanjang tahun.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong laboratorium alam akan sangat tergantung dari penelitian tentang pemetaan flora-fauna di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni d.20 . Sarana penelitian berupa pondok peneliti yang punya mobilitas tinggi juga dibangun dengan membuat pondok yang bisa dipindah-pindah di sungai dengan ditarik boat. Rencana Kegiatan V . Ini sesuai dengan areal Cagar Alam yang didominasi areal sungai dan mangrove. Pondok atau rumah tamu peneliti Pondok peneliti permanen dibangun disamping bangunan kantor pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni.

Sumber Dana Sumber dana dalam pembangunan dan pengelolaan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa dapat menggunakan dana APBN. Pembuat Usulan Program/Kegiatan Pemberi Dana Proposal Dana Disetujui Pemerintah Indonesia Pengelola CATB Departemen Kehutanan BKSDA Papua II Sorong Swasta NGO/LSM Negara Asing Pelaksanaan . Bantuan juga dapat digalang oleh LSM atau organisasi lainnya dan pelaksanaan pembangunan juga dapat dilakukan oleh pihak ketiga yang ditunjuk pemberi . permohonan bantuan kegiatan dan penanggungjawab pelaksanaan disajikan dalam Gambar VI-1. Alur Pengusulan Pelaksanaan Kegiatan dan Implementasi Kegiatan VI .1 Pembiayaan .Implementasi Usulan Pembangunan atau Aktivitas Pengelolaan Cagar Alam Proposal Pengelolaan Proposal Penelitian Proposal Pembangunan Sarana Penanggungjawab : BKSDA Papua II Sorong Pelaksana : Pengelola Teknis Cagar Alam Teluk Bintuni Swasta LSM Gambar VI-1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VI. Penggalangan biaya pengelolaan dari swasta khususnya yang ada di daerah Kabupaten Bintuni dapat dilakukan oleh pengelola dengan sepengetahuan Kepala Balai KSDA Papua II Sorong. Misalnya. sumbangan dalam bentuk pengadaan sarana komunikasi. PEMBIAYAAN A. Semua asset yang dibangun di dalam kawasan atau mendukung Mekanisme pengusulan pelaksanaan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menjadi asset dari Cagar Alam atau pemerintah Indonesia. patroli atau bangunan kantor. Bantuan dan dukungan ini tidak harus dalam bentuk uang tetapi dapat dalam bentuk barang. Non APBN atau dana lainnya antara lain berupa bantuan dalam dan luar negeri.penggalang dana tetapi harus sepengetahuan BKSDA Papua II Sorong.

200 1.000 Km 900. Kerjasama 2 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong B. Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) 1 Pembuatan SK Defenitif 1.500 1. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan. Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 2.100. Pembuatan Papan Pengumuman dan Petunjuk Kawasan 20 20 Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Unit Unit 30.100 - d. Tabel VI-1.500 1.250 82. Kepastian Hukum kawasan b. Pembuatan Plat Seng tanda batas Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas 22. dan Tabel VI-4.650.114 3.2 .000 3. Pembuatan Pal batas 3. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah c.200 1. 3.200 1.000 30. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan.200 b. Pembuatan SK Bupati 2.114 3.500 22. Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan 20 Unit 30.250 41.000 2.000 1. Rencana alokasi biaya pengelolaan Kawasan CATB jangka pendek (tahunan) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010).500 Pembiayaan VI . Rekonstruksi Pal Batas 22.500 22.200 a. Rincian Biaya Rincian biaya untuk kegiatan pengelolaan disajikan dalam Tabel VI-1 dan Tabel VI-2 sedangkan untuk rencana biaya pengadaan sarana dan prasaran penunjang kegiatan pengelolaan disajikan pada Tabel VI-3.100 22.500 - Pemantapan Kawasan - a.000 41. Papan Petunjuk Kawasan 50 Paket 1. Pembuatan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 125 1 1 Paket Paket 1.200 1.000 1.114.500 112. Pembuatan Perda tentang Cagar Alam 1.

500 3.3 .100 3.500 i. Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 150 Paket 22. Pembuatan Poster/Leaftlet - - 3.500.000 10.000 22.500 1.000 37.000 a.500 37. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 1 Paket 10.000 37.114 3.500 Total 5 tahun (x’000) 45.375 3.900. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2.375 g.000 3.500 3.114. Penataan dan pembuatan peta Penutupan Lahan di Dalam Kawasan 1.375 - - - 3.Pembuatan Plat Seng tanda batas 1.450 - - 37.375 22.375 3. Sistem Informasi Geografis dan Database Paket 37.900 49. Pemeliharaan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 50 Km d.500 37. Pengadaan Poster tentang kondisi ekosistem di Kawasan CATB 150 Paket 22.000.500 3.000 1.500 3 1.100 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 900.900 9. Pembinaan masyarakat 5 Paket Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga Kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan Pembuatan Kelompok Kerja Penelitian tentang dampak lingkungan Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 1 Pengadaan system informasi geografis (SIG) dan pemutakhiran data hasil-hasil peneltian 1 1 Paket Paket 1 Paket 9. Identifikasi Tipe Ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di CATB 150 Paket 2.375 1 Paket 1 Paket 1. Pemeliharaan Batas Kawasan 2.450. Buku Panduan Pembiayaan VI .100.500 37.000 10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 22.900 9. Kajian potensi fungsi kawasan e. Penelitian j.000 1.375 c.000 10.500 h. Pelibatan Masyarakat dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan 10.500 - - 37.000 9.Penggantian Pal Rusak 3.500.000 - - - - 37.900 9.114 3.900 9.500.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 10.500 4.500 37. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 2 1 1 3.500 37. bertelur.500 c.000 6.000 65.500 37.000 9.500 37.500.950 65.000 37. 1 Paket 9. 2. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 1 Paket 37.500.500 Paket 37.500 5.900.4 .950 65. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan 37.900 9.500 37. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 1 Paket 1. Pencegahan Hama dan Penyakit 2 Paket 9. Dampak negatif dari kehadiran jenisjenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.500 37.500 16.000 37.000 Total 5 tahun (x’000) 10.900. Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 5 Paket 37. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.000 37.000 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 10. Inventarisasi dan Pemetaan jenis Flora dan Fauna di Kawasan 1 1 Paket 37. Paket Paket Km 37.500 2.000 d.000 9.000 37.000 37. Pengendalian 1.500.900 Pembiayaan VI .000 2.500.500 37.500.000 37.500 3.900 a.950. Penelitian ttg Dinamika Populasi Flora dan Fauna b.000 16. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di Kawasan.000.500.500.500 16.000 37.500. dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2.500 37. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan. Pembinaan Habitat 3 Paket 1.000 37. Pembuatan petak ukur permanen 4.

000 37. 1.000 37.500. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2. leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan irstansi-instansi terkait.900 Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) b. Penelitian tingkat dan laju sedimentasi di beberapa sungai yang bermuara di kawasan 1 2. 1. 1 Paket 9.000 10.500 Paket 37.000 Pembiayaan VI .500 37.000 10.000 20. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 9. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 10 Paket 16.000 2.500 f.500.500.000.500 3. Pengembangan system data base 2 Paket 10. Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2.000 2 Paket 10.500 e.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No 1.500 9. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III. Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 1 Paket 37.000 10.000 16. Peneltian 37.900 c. Rehabilitasi kawasan Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi. Membuat brosur. Penelitian dan kajian laju kerusakan ekosistem dan penyebabnya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1.5 . Perlindungan Jenis 16.000 10.000.900. Pemulihan a. Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi b.000 20.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 5.000 15.000 5.000 50.000 7. Kerjasama 1 Paket 5.500 5. Pembuatan Panduan 5.500 5.500 28. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi - 2.760 9. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder Buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB - - d.500 10. Penegakan Hukum Unit - 1. Pelatihan/Penyegaran Pembiayaan VI .000 5.000.500 10.000 5.000.500 PHKA 45.760 9. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (volunteer) 5 Paket 5 Paket 9.000 Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 5.000 5.000 10.000 7.000.760 5.000 Total 5 tahun (x’000) 25. Pelatihan jagawana volunteer 2.000 4.000 3. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan 5 Paket e.500.760 9.500.000 9.000 7.000 7. Pendukung /Kelembagaan Penambahan personil pengelola kawasan 1.000 20.760 9.500 240 Paket 120.500 Perlindungan dan Pengamanan Kawasan 5.800 47. 1.500 Voluntir a. Pengamanan Rutin (patroli) e.000 5.500 10. Patroli gabungan 3. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2. Pelatihan/Penyegaran Polhut 6 5 paket paket 7. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat Unit 3.000 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 5. Personil Pengelola b.000 5.000 a.6 .

900 20.900 20.900 20.900. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring 20.900 20.900 20.900 20.900 20. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas.900 Paket 20. Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2.900 41.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) - 6. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 7. 1 1 1 5.000 37.000 20.900 37. Pemanfaatan Hasil Perikanan 2 Paket 20. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa Paket Paket Paket 1 Paket 20.900 8.900.500 20.900.000 20. terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 1 Paket 4.500 20.7 .900 3. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 2 Paket 20. Buku Panduan - b.900.000 Paket 20.000 1.900 Pembiayaan VI . Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktu-waktu beranak dan mengasuh anak 1 Paket 20. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 1 1 1 1 Paket 20.000 20.900 20. Pelatihan pembesaran anakan buaya 6.800 20.900.000 20.900.900. Pengenalan sistem agroforestri.900 37.900.900 20.900 20.000 20.000 20.900 20. Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan 2. Pelatihan budidaya pertanian menetap. 3.900 41.000 20.000 20.900 20.900. Pelatihan pengenalan system “Sasi”.900 1.900 1 Paket 20.900. 4. Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan 2 - Pemanfaatan a.000 20.900 20.900 c.800 20.900.900.000 Paket 20.500.

500. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2 Paket 37.000 Total 5 tahun (x’000) 75.500 37. khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni - - 3.500.500 37.500. Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman. udang.000 10.000. Kerjasama 2.000 2.000 d.000 4.500 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 37.500 37.000.000 10.500 75.000 e.000.000 10. Penelitian 2 Paket 1.000 1.000 10.000 10.8 . Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan Lokasi perburuan 2. Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 1 Paket 10. Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 37.500 - f. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 10.000 Pembiayaan VI . Pengembangan sistem data base 10.000 Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan Pemanfaatan 2 Paket 2.000 2.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Tabel VI-2. Rencana alokasi biaya pengelolaan Kawasan CATB jangka panjang (lima-tahunan) pada periode 25 tahun pertama (2006-2030).
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000

Total 25 tahun (x’000)

1 Pembuatan SK Defenitif 125 1 1 Paket 3.100 3,100 Paket 1.114 1,114 Km 900 112500 Pembuatan SK Bupati Pembuatan Perda tentang Cagar Alam Pembuatan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) Pembuatan Pal batas Pembuatan Plat Seng tanda batas Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas -

Pemantapan Kawasan -

a. Kepastian Hukum kawasan

b. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah

c. Rekonstruksi Pal Batas

112,500 1,114 3,100 -

d. Kerjasama

2 1. Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 20 20 Unit Unit 2. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan. 20

Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan 30.000 30,000 Unit 1,200 1,200 1.200 1.200 -

a. Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan

3. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan. Pembuatan Papan Pengumuman dan Petunjuk Kawasan 1. Pemeliharaan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 2.Penggantian Pal Rusak 3.Pembuatan Plat Seng tanda batas 50 50 5 3

30,000 Paket Km Paket Paket 1,650 900 1,114 3.100

1,200

1.200

b. Papan Petunjuk Kawasan

82.500 45.000 1.114 3.100 45.000 1.114 -

82.500 45.000 1.114 3.100 1.114 -

82.500

247.500 135.000 1.114 3,100 5.570 9.300

c. Pemeliharaan Batas Kawasan

Pembiayaan

VI - 9

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 37.500 3.375 3.375 3.375 37.500 37.500 37.500 37.500 37.500 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 37.500 37.500 22.5

Total 25 tahun (x’000) 112.500 37.500 10.125

d. Kajian potensi fungsi kawasan 1. Identifikasi Tipe Ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di CATB 3 3 450 Paket Paket Paket 2. Penataan dan pembuatan peta Penutupan Lahan di Dalam Kawasan 1. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2. Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 450 Paket 22,5 3.375 3.375 3. Pengadaan Poster tentang kondisi ekosistem di Kawasan CATB 450 Paket 22,5 3.375 3.375 3.375

e. Pembuatan Poster/Leaftlet

-

-

10.125

3.375

-

-

10.125

f. Pembinaan masyarakat 20 Paket 9,900

Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga Kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan 49.500 Pembuatan Kelompok Kerja 1. Penelitian tentang dampak lingkungan 2. Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 1 Paket Pengadaan system informasi geografis (SIG) dan pemutakhiran data hasil-hasil peneltian 5 Paket 2 Paket 37.500 37.500 1 Paket 10.450 10.450 37.500

49.500

49.500

49.500

198.000

g. Pelibatan Masyarakat dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan

37.500 -

-

37.500 -

-

10.450 75.000 37,500

h. Penelitian

i. Sistem Informasi Geografis dan Database

37.500

37.500

37.500

37.500

37.500

37.500

187.500

3 1. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan 2. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 1. Inventarisasi dan Pemetaan jenis Flora dan Fauna di Kawasan

Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 1 Paket 10.000 10.000 10.000

a. Buku Panduan

1

Paket

10.000

10.000

-

10.000

b. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan

3

Paket

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

Pembiayaan

VI - 10

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 37.500 37.500 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 37.500

Total 25 tahun (x’000) 65.000

2. Penelitian ttg Dinamika Populasi Flora dan Fauna 2 Paket 3. Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 3 Paket 37.500 37.500 37.500 37.500 4. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.500 37.500 5. Dampak negatif dari kehadiran jenisjenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2 Paket 37.500 37.500 6. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 3 Paket 37.500 37.500 37.500

112.500

37.500

37.500

65.000

37.500

112.500

c. Pembinaan Habitat 3 Paket 37.500

1. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan, bertelur, dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 5 3 5 Km Paket Paket 3. Pembuatan petak ukur permanen 4. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian. 37.500 16.950 50.000

37.500

37.500

37.500

112.500

37.500 16.950 50.000

37.500 16.950 50.000

37.500 16.950 50.000

37.500

37.500

187.500 50850 50.000 50.000 250.000

d. Pengendalian 1. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di Kawasan. 1 2. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. 1. Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 2 Paket 9.900 9.900 9.900

a. Pencegahan Hama dan Penyakit

Paket

9.900

9.900

9.900

19.800

b. Perlindungan Jenis

3

Paket

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

5

Paket

16.500

16.500

16.500

16.500

16.500

16.500

82500

Pembiayaan

VI - 11

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 3.375 3.375 3.375 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 22.5

Total 25 tahun (x’000) 10.125

3. Membuat brosur, leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah 450 Paket

e. Pemulihan Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan irstansi-instansi terkait. 1 1 Paket 9.900 9.900 9.900 Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. Rehabilitasi kawasan 1. Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi. 3 Paket 50.000 50.000 50.000 50.000 150.000

a. Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi

b. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

2. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III. 3 Paket 50.000 1. Penelitian tingkat dan laju sedimentasi di beberapa sungai yang bermuara di kawasan 3 Paket 2. Penelitian dan kajian laju kerusakan ekosistem dan penyebabnya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 1. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2 2. Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 3. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan 2 Paket 50.000

50.000

50.000

50.000

150.000

c. Peneltian

50.000

50.000

50.000

150.000

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

f. Pengembangan system data base

10.000

10.000

10.000

20.000

Paket

10.000

10.000

10.000

20.000

5

Paket

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

25.000

e. Kerjasama

Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati

1

Paket

5.000

5.000

5.000

Pembiayaan

VI - 12

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000

Total 25 tahun (x’000)

4. 1. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2. Patroli gabungan 3. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (volunteer) 25 Paket 1.500 7.500 7.500 7.500 25 Paket 9.500 47.500 47.500 47.500 1240 Paket 120 28.800 28.800 28.800 28.800 47.500 7.500

Perlindungan dan Pengamanan Kawasan 28.800 47.500 7.500 144.000 237.500 37.500

a. Pengamanan Rutin (patroli)

e. Penegakan Hukum 5 paket 7.500 7.500 7.500

1. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi

7.500

7.500

7.500

37.500

2. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat 5 7.500 paket 7.500 3. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder 5 paket 15.000 Buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB 2 paket 7.500 15.000

7.500

7.500

7.500

7.500

37.500

15.000

15.000

15.000

15.000

75.000

d. Pembuatan Panduan

7.500

7.500

15.000

5. Penambahan personil pengelola kawasan 1. Pelatihan jagawana volunteer 2. Pelatihan/Penyegaran Polhut 15 15 3

Pendukung /Kelembagaan paket paket paket 7.500 10.000 45.000 50.000 22.500 22.500 50.000 22.500 50.000 PHKA 112.500 150.000

a. Personil Pengelola

b. Pelatihan/Penyegaran

6. Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan

Pemanfaatan 2 paket 7.500 7.500 7.500

15.000

a. Buku Panduan

b. Pemanfaatan Hasil Perikanan

1. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan

10

Paket

20.900

41.800

41.800

41.800

41.800

41.800

209.800

Pembiayaan

VI - 13

900 20.900 20.500 62.900 41.700 62. Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5.900 20.900 20.700 62. Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktu-waktu beranak dan mengasuh anak 1. terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 3 Paket 20.900 41.000 20.900 20.900 20.000 75.000 75.600 104.900 65.900 20.900 20. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring c.14 . Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 4 5 3 3 Paket Paket Paket Paket 3.500 20.900 20. Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2.900 20.900 20.500 20.000 2.000 375.900 20.900 9.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 9.900 20.800 41.500 75.900 Total 25 tahun (x’000) 39. Pengenalan sistem agroforestri.900 9.700 Pembiayaan VI .900 9.700 37.500 20.700 2.900 20. Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman. Pelatihan budidaya pertanian menetap.900 20.900 20. Pelatihan pengenalan system “Sasi”.900 20.900 4.900 20.900 20. 2 3 3 Paket Paket Paket 5. Pelatihan pembesaran anakan buaya 6.900 20.900 20.900 20. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa 3 Paket 37.900 20.000 62.900 20.900 20.900 20.900 20.900 20.900 3 Paket 20.900 20.900 62.900 20112015 20162020 20212025 20252030 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan Rp x 000 9.900 62.700 d.800 1.700 20.800 41. 4.900 20.900 62. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan Lokasi perburuan 3 Paket 20.000 75. Penelitian 10 Paket 37. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 7.900 20. khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 20.800 209. 3.900 20. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 10 Paket 20.700 62.900 37.900 62.900 20.800 41.700 8.000 75.

000 10.000 10.000 10.000 Pembiayaan VI .000 Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan Pemanfaatan 3 Paket 5.000- f.000 375.000 1. udang.000 5.000 10. Kerjasama 15.000 10.000 10. Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan.000 2.000 20.000 30.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan Rp x 000 Total 25 tahun (x’000) 3.000 5. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 10. Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 10. Pengembangan sistem data base 10.000 30.000 75.000 4.000 75.000 5.15 .000 75. Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 2 Paket 10.000 10.500 75.000 75. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 10 Paket 37.000 e.

500 150.000 1 1.000 7.500 243.51) Pembebasan Lahan Kantor Bangunan Kantor (m) Barak Polhut (untuk 6 orang atau klg) Genset Kantor (4.750.500 250 25.000 22.500 unit 10.500.000.500 2.500.000 1.000.000 25.000 15.000 10.000 10.000 75.000 17.000 4.500 7.000 8.000 5.500.500 Pengadaan Kantor/pondok (KPPN.066/33.5 KW) Komputer P IV Printer A3 (HP 1180C)+ USB Conector Peralatan kantor Faksimil Pengadaan Sambungan Telpon Radio SSB GPS Kompas Sunto Speed boat patroli 40 PK Longboat patroli 40 pk Handy talky motor roda 2 Sarana air bersih Pemeliharaan Kantor (KPPN.000 1 unit 900.000 10.000 10.000 4.000 2.820 2.000 157.500 paket 7.000 2.000 243.000 25.500 4.500.000 2.000 7.16 .51) Bangunan Kantor (m) + barak Halaman kantor komputer dan printer Peralatan kantor Radio SSB Pembiayaan VI .000 1. Rencana Alokasi Biaya Pengadaan Sarana dan Prasarana untuk Jangka Pendek (per tahun) pada Periode 5 Tahun Pertama (2006-2010) Komponen 1 2 3 4 5 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.500 2.000 10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VI-3.000.500 7.000 No Aktivitas/Kegiatan 1 Sarana Pengelolaan Kantor 500 90 162 1 2 1 3 1 1 1 7 7 1 1 7 1 1 unit 30.500 2.000 75.500 900 900 900 900 900 2.000.000 30.000 3.500 2.000 20.000.000 30.000.000 2.500.000 5.000 8.000 15.000 10.000 250 unit 1.000 1.000 7.000 2.066/33.000 unit 250.500.000 1 7.500 8.500 1.000 20.000 157.640 12.000.000 2.000 75.000 252 500 4 unit 1 35.000 7.000 20.000 20.500 unit 4.000.500 3.820 2.000 5.000 15.000 75.000 500.500 2.000 35.000.000 24.

680 15.000 3.100 45.000 tahun 9.000 1.000 unit 2.000 1.500 10.000 3 unit 1.500 22.000 10.000 5.750 2 3 4 5 7 1 2 1 1 1 1.500 1.066/33.500 5.550 9.500 5.000 20.000 7.800 500 7.000 1.000 25.500.000 2.000 6.500.000 25.000 3.000 5.000 7.000 150 2.500.000 10.000 3.000 252.000 48 3 3 3 3 3 3 3 3 35.550 9.750 1.000 3.000 25.200 48 100 3 3 3 3 3 3 3 3 5.360 22.500 15.000 unit 250.000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Handy talky Speed boat patroli (operasional) Longboat patroli (operasional) Motor roda 2 opeasional genset (liter bensin) Biaya Telpon Pondok Kerja Bangunan Pondok kerja (KPPN.000 450 8.000 7.000 1.500 45.000 3.500.000 1.500 15.000 84.000 3.000.000.200 3.000 5.000 3.000 7.51) Pondok kerja (m) Pembebasan lahan (m) Genset Pondok kerja.550.000.500 1.51) Pondok kerja (m) Operasional Genset Operasional longboat Mesin tik 60 cm Radio SSB Handy talky Longboat patroli Peralatan pondok kerja Pembiayaan VI .500 15.000 20.500.000 1.500 1.500 1.500 135.700 750 10.000 5.000 50.000 6.000 20.000.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Komponen 1 500 6.000 150 2.500 6.500 5.000 20.200 9.100 2.000 3.000 84.500.000 7.000 22.500.066/33.500 5.500 7. 1.500 3.000 15. 25 pk Peralatan pondok kerja Sarana air bersih Pemeliharaan (KPPN.000 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.200.500 7.000 5.500 1.000 84.200 1.000 2.500 45.000 7.000 2.000 9.200 1.000.500 5.17 .000 250.000 7.500 1.000 9.040 22.080 67.000 900.500 1.000 100 1.750.000 30.500 3 petak 50.000.000 3.000 1.500 5.700 750 10.500 2.000 25.500 3.000.500 12.5KW Mesin tik 60 cm Radio SSB GPS Handy talky Longboat patroli.000 75.500 5.000 15.000 2.250 31.000 50 900 250 3.000.000 60.

000 1.51) Pondok Peneliti (dlm kompleks kantor) Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung (m) Longboat untuk peneliti (40 pk) Pemelliharaan Pondok Peneliti Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung Longboat untuk peneliti (40 pk) Pembiayaan VI .000 600.200 1.000 1.680 15.680 600 1.000 96.000 48 3 1 48 1 48 1 1 48 35.000 1.066/33.680 84.000 1.720 2.680 600 1.400 2.000 15.000 1.680 600 1.000 84.000 96.000 75.680 2.750.000 unit 75.000 30.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Komponen 1 2 3 4 5 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.000.000 45.000 75.000 unit 15.000 m 1.400 5.000 600 35.040 - BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan 2 Sarana Pendidikan Brosur/leaflet/buku komik cagar alam Pusat data n informasi 3 Sarana Penelitian Pengadaan pondok penelitian(KPPN.000.200.000 30.18 .680 unit 30.000 6.000.000 15.000.200 1.

066/33.500 17.500 26.000.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VI-4.000 10.000 1 1.640 12.500 5.640 12.500 7.500 7.500 17.000.000 3.000 12.000 35.19 .000 8.000 15.000 35.500.000 75.000.000 1 7.000 25.000 75.000 157.51) 252 500 4 1 7 1 2 unit unit unit 1 Bangunan Kantor (m) + barak Halaman kantor komputer dan printer Peralatan kantor Radio SSB Handy talky Speed boat patroli Longboat patroli 35.125 30.000 250 25.000 20.500.500 1.000 40.000 500.000.000 21.000 12.000.000 15.000 unit 250.000 1 3 1 1 1 7 7 1 75.640 12.500 250 25.500.000 7.000 157.500 17.000 1.000 1.51) 10.500 5.000 - 8.000 1.000 75.000 2.500 150.175 7.625 8.640 12.000 60.000 10.000 900.000 24.500 243.000 21.500.500 1.000 250.475 30.500 5.000 20.000 5.550 37.500 Pembiayaan VI .000 20.400 7.000 Pengadaan Kantor/pondok (KPPN.640 12.500 5.500.500 4.000 80.000 22.000 Pembebasan Lahan Kantor Bangunan Kantor (m) Barak Polhut (untuk 6 orang atau klg) Genset Kantor (4.000 - 20.000 30.000 8.000 22.000 3.500.850 8.000 unit paket unit 4.000 12.500 12.000 243.000 6.000 8.000 75.000.000 15.000.000 20.500 6.000 21.500 88.280 30.000 62.500 17.450 30.000 17.500.000 94.000 24.000 8.000 No Aktivitas/Kegiatan Komponen 1 Sarana Pengelolaan Kantor 500 90 162 1 3 unit 10.500 4.000 4.000.000 12. Rencana Alokasi Biaya Pengadaan Sarana dan Prasarana untuk Jangka Panjang (per tahun) pada Periode 25 Tahun (2006-2030) Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 2006-2010 2011-2015 2016-2020 2021-2025 2026-2030 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.066/33.000.000 - 60.750.000 21.000 5.000 12.000 20.830 132.500 Pemeliharaan Kantor (KPPN.200 62.5 KW) Komputer P IV Printer A3 (HP 1180C)+ USB Conector Peralatan kantor faksimil Pengadaan Sambungan Telpon Radio SSB GPS Kompas Sunto Speed boat patroli 40 PK Longboat patroli 40 pk Handy talky motor roda 2 Sarana air bersih 2 7 4 1 unit 30.000 20.000.500 8.000 30.

000.000 3.500.066/33.51) Pondok kerja (m) Pembebasan lahan (m) Genset Pondok kerja.550.000 15.000 7.880 517.588 52.066/33.000 10.000 - - - - 84.000 25.250 252.000.000 10.500 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 3 1 1 tahun 9.500 1.200 45.000 1.100 2.000.750.000 1.000.275 241.200 45.51) 48 m Pondok Peneliti (dlm kompleks kantor) 1.000 450 8.500 563 10.200 2016-2020 6.000 252.500 310.000 1.500 225.500 28.400 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Komponen Motor roda 2 opeasional genset (liter bensin) Biaya Telpon Pondok Kerja 48 100 3 3 3 3 3 3 3 3 48 3 3 3 3 3 3 3 2.750 - Pondok kerja (m) Operasional Genset Operasional longboat Mesin tik 60 cm Radio SSB Handy talky Longboat patroli Peralatan pondok kerja 2 1 Sarana Pendidikan Brosur/leaflet/buku komik cagar alam Pusat data n informasi 2 paket 5.250 585 10.000 20.125 2.500 25.000 5.000 37.000 2006-2010 3.000 45.210.000.500.700 52.200 45.500 15.20 .000.500 132.500 281.000 518 9.500 3 35.750.000 15.000 5.000 1.000 Pembiayaan VI .000 7.125 3 petak 50.000 60.200 225.000 22.500.51) 22.200 112.000 75. 25 pk Peralatan pondok kerja Sarana air bersih Pemeliharaan (KPPN.000 7.200 112.500 15.720 2.000 25.500.500.000 250.300 2026-2030 12.000 1. 1.000 3 unit 1.530 2.000 3.500 29.000 135.000 3 Sarana Penelitian Pengadaan pondok penelitian(KPPN.925 52.000 1.250 31.000.066/33.000 10.200 112.000 110.000 84.000 900.000 50.000 75.000 1.200 45.500 15.790 13.000 Pengadaan Pondok kerja (KPPN.750 540 9.200 2021-2025 9.000 unit 2.875 7.000 25.5KW Mesin tik 60 cm Radio SSB GPS Handy talky Longboat patroli.315 2.500 15.080 67.500 3.000 25.655 47.500 15.500 25.000.813 52.500.000 22.100 2011-2015 6.500 258.200 1.200 112.500 27.200.500 2.000 60.

400 5.680 37.000 unit 75.000 15.680 1.000 37.000.000 1.000 Pondok Peneliti Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung Longboat untuk peneliti (40 pk) Pembiayaan VI .000 6.000 600.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 2006-2010 3 1 48 1 48 1 1 48 1 1 7.21 .680 600 1.000 1.000.500 unit 15.000 600 600 35.200.720 2.680 600 1.000 45.680 37.000 15.040 150.000 15.000 2.500 35.500.000.200 1.000 2011-2015 2016-2020 2021-2025 2026-2030 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.500 unit 30.000 30.000 1.400 2.000 75.680 37.000.680 1.000 96.000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Komponen Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung (m) Longboat untuk Peneliti (40 pk) Pemelliharaan 30.000 75.500 1.200 1.000 96.

.

BKSDA harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak. agar mampu mengoptimalkan pola pengelolaan yang koordinatif dan partisipatif dengan tetap berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni. Sebagai pihak pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan pendidikan. Kebutuhan pelatihan bersifat dinamis. Kelembagaan. Secara administratif BKSDA Papua II akan berkoordinasi dan bertanggung jawab kepada Departemen Kehutanan. diusulkan beberapa posisi yang bersifat fungsional penuh. untuk melancarkan kegiatan pengelolaan kawasan dan terpadu dengan pembangunan di wilayah sekitarnya. tetapi mengoptimalkan anggaran operasional dan pengelolaan inventarisasi perlengkapan di Resort Cagar Alam Teluk Bintuni. Secara struktural. Pembinaan SDM. Untuk itu. jumlah personal di Resort Cagar Alam Teluk Bintuni diusulkan bertambah sesuai dengan pos pengawasan yang diusulkan. dan Koordinasi Pengembangan Organisasi dan SDM Pelaksanaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni dilakukan BKSDA Papua II cq Resort Bintuni. pola peran partisipatif masyarakat dan pihak swasta yang ada di sekitar Teluk perlu dilibatkan. Penerapan adanya Polisi Hutan volunteer yang biayanya dibebankan kepada pihak swasta yang berniat membantu dapat dikembangkan tetapi garis komando terhadap Polisi Hutan ini ada di Kepala Resort dan pihak swasta hanya sebatas memberikan dukungan berupa fasilitas.1 . Kepala Resort Cagar Alam Teluk Bintuni harus lebih bersifat fungsional. yang terutama didasarkan pada strategi komunikasi. sesuai dengan kemajuan-kemajuan teknologi dan prinsip-prinsip umum pengelolaan. Disamping itu perlu mengoptimalkan kemampuan teknis masing-masing personalia yang ada dalam proses pengelolaan.1. dibutuhkan ukuran pengelolaan yang kecil tetapi efektif. koordinasi. Untuk itu dibutuhkan kerangka logis pengelolaan yang efisien dan dinamis. Kelembagaan Resort KSDA Teluk Bintuni yang langsung mengelola Cagar Alam Teluk Bintuni berada langsung di bawah BKSDA Papua II. Prinsip pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni bersifat terpadu dan partisipatif. Pengorganisasian VII . Oleh karena itu. baik berupa pelatihan dalam lingkup Kehutanan. Ini bertujuan untuk mengefisienkan anggaran personalia. Untuk mewujudkan pola pengelolaan yang efisien dan dinamis. untuk menunjang pengelolaan yang optimal. A. Disamping itu. maupun lingkup lainnya merupakan kebutuhan penting. program-program pengembangan sumberdaya manusia. multistakeholders. Kelautan dan Perikanan. PENGORGANISASIAN A. Lingkungan Hidup. dimana setiap pos akan diisi satu sampai 2 orang Polisi Hutan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VII.

2.2 . pemanfaatan. Penataan Pemeliharaan Pemanfaatan Pengawasan Perlindungan dan Pengembangan Pemulihan Pengendalian Gambar VII-1. pemberdayaan masyarakat dan komunikasi Melakukan kerjasama dalam pengawasan kawasan dengan membina Polisi Hutan volunteer dengan kerjasama pihak III A. Pengorganisasian VII . Di lain pihak. pengendalian dan pemulihan di kawasan cagar alam (Gambar VII-1). pelaksanaan penelitian dan pengembangan akan memperkaya informasi untuk kepentingan pemeliharaan. semua aktivitas pengelolaan saling mendukung satu sama lain. Struktur Arus Informasi dari Tahapan Pelaksanaan Pengelolaan di Cagar Alam Teluk Bintuni Struktur organisasi dan sumberdaya manusia perlu di evaluasi terus-menerus melalui suatu analisis beban kerja dan kebutuhan tenaga sehingga diharapkan lebih berdayaguna dan berhasilguna serta dapat mengantisipasi beban pekerjaan yang akan dihadapi dan direncanakan. Aktivitas pengawasan dapat memberikan informasi dan data untuk kepentingan pemeliharaan dan selanjutnya penataan. Kebijakan Pengelolaan Di dalam pengelolaan cagar alam.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Meningkatkan status pengelolaan kawasan konservasi di Teluk Bintuni menjadi seksi KSDA mengingat di wilayah ini ada 2 kawasan cagar alam (Cagar Alam Teluk Bintuni dan Wagura Kote) atau Cagar Alam Teluk Bintuni Menambah jumlah Polisi Hutan sehingga setiap wilayah pengawasan yang ada terisi dengan Polisi Hutan penanggungjawab wilayah Melakukan pelatihan Polisi Hutan dalam bidang pengamanan hutan.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dalam rangka menyesuaikan beban pekerjaan yang terus berkembang maka dari hasil analisis diperlukan penambahan tenaga pada berbagai bidang keahlian. A. Tujuannya adalah untuk memudahkan pengawasan dan koordinasi sekaligus menjadi mata rantai pengawasan di seluruh kawasan cagar alam Membantu pemerintah daerah dalam perumusan peraturan daerah khusus untuk keberadaan kawasan konservasi Cagar Alam dalam tata ruang kabupaten. Hal ini dimaksudkan agar keberadaan Cagar Alam menjadi tanggungjawab semua pihak dan keberadaan serta pemanfaatan berhasil guna bagi masyarakat sekitar. Forum ini merupakan forum multistakeholder dan menjadi forum atau wadah komunikasi yang membicarakan semua kegiatan yang akan dilakukan di Cagar Alam. Masyarakat.3. Koordinasi dengan Instansi Lain Secara umum. Koordinasi Dalam Lingkup Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Secara umum. yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan formasi dan biaya yang tersedia. kelompok masyarakat yang mencari nafkah dari dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga harus diorganisir. media massa. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). dan swasta dilakukan oleh BKSDA atau Resort dengan sepengetahuan BKSDA Papua II. Koordinasi khususnya dibutuhkan untuk menjangkau pihak-pihak di lain dalam intansi Pemerintah Kabupaten. koordinasi pengelolaan dilakukan oleh pengelola Cagar Alam (Resort BKSDA) dengan instansi terkait lain di dalam kabupaten dapat berlangsung optimal untuk membuka peluang koordinasi dan kerja sama dalam kegiatan-kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. media massa. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Membentuk forum Komunikasi dan Kelompok Masyarakat Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni. Forum ini dibentuk dengan tujuan cagar alam lestari. Koordinasi secara khusus dengan pemerintah Pemerintah Propinsi dan Pusat. kepastian hukum kawasan juga harus menjadi perhatian. Pengorganisasian VII .3 . Untuk menunjang pelaksanaan pengelolaan. Dalam pelaksanaannya. forum ini bisa menjadi perpanjangan tangan atau sumber informasi bagi Badan Monitoring Pada sisi lain. A. Pemerintah Propinsi dan Pusat.4. lembaga swadaya masyarakat (LSM). dan swasta. koordinasi pengelolaan dilakukan antara pengelola CATB dengan instansi di atasnya yaitu BKSDA Papua II Sorong. Lembaga Pendidikan dan Penelitian.

berkaitan dengan keterlibatan masyarakat luas serta usaha peningkatan kesadartahuan masyarakat tentang nilai dan manfaat Cagar Alam Teluk Bintuni. Koordinasi dalam hal ini berupa. 4) Dinas Tanaman Pangan. Lingkup Pemerintah Propinsi dan Pusat BKSDA Resort Cagar Alam Teluk Bintuni harus berkoordinasi dengan Pemerintah Propinsi Irian Jaya Barat. pelaporan. maka pengelola CATB harus berkoordinasi dengan instansi dalam lingkup Pemerintah Kabupaten. 2) Dinas Pariwisata. Bentuk koordinasi yang dilakukan dalam hal ini berupa pelaporan. Semua kegiatan koordinasi dengan masyarakat setempat dilaporkan kepada BKSDA Papua II Sorong dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. sebagai berikut: 1) Dinas Perikanan dan Kelautan. Pengorganisasian VII . Menengah. terutama dengan: 1) Aparat desa. Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni dan instansi teknis lainnya Bentuk koordinasi dalam hal ini berupa. Kegiatan-kegiatan penelitian oleh lembaga-lembaga internasional untuk tingkat operasional diatur sepenuhnya oleh Ditjen PHKA dan BKSDA Papua II Sorong. 3. pelaporan. kerjasama kegiatan dan konsultasi.4 . 2) Badan Perwakilan Kampung atau Lembaga Masyarakat Adat (LMA). 8) Dinas Perindustrian dan Perdagangan. 4. Bentuk koordinasi dalam hal ini berupa. Lembaga Pendidikan dan Penelitian Dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia. Lingkup Pemerintah Kabupaten BKSDA Papua II Sorong Agar strategi dan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat sejalan dan terpadu dengan strategi dan program pembangunan Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. 5) Dinas Perhubungan. maka koordinasi dalam kegiatan pendidikan dan penelitian sangat penting dilakukan. maka koordinasi dengan masyarakat setempat sangat penting dilakukan. 7) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. dan Umum se Kabupaten Teluk Bintuni dan 2) Perguruan Tinggi. informasi dan kerjasama kegiatan. Koordinasi tersebut meliputi: 1) Lembaga Pendidikan Dasar. kerja sama kegiatan. 6) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah. Masyarakat Setempat Guna mengoptimalkan pengelolaan kawasan yang efisien dan partisipatif. 9) Dinas Pendidikan. Koordinasi dengan masyarakat setempat. 2. 3) Dinas Kehutanan. informasi. kerjasama kegiatan dan konsultasi. serta 11) Kepolisian dan TNI.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 1. 10) Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah. dan konsultasi. 3) Tokoh-tokoh masyarakat lainnya.

Swasta Koordinasi dengan swasta juga tidak kalah penting. Lembaga Swadaya Masyarakat BKSDA Papua II Sorong LSM memiliki peran penting baik sebagai fasilitator atau pendamping masyarakat. 7. WWF. kerjasama kegiatan dan konsultasi. Media Massa Usaha untuk menumbuhkan kesadartahuan dan keterlibatan masyarakat dalarn pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sulit tercapai apabila komunikasi dan informasl hanya dilakukan oleh Kepala Resort Cagar Alam Teluk Bintuni atau BKSDA Papua II Sorong. media elektronik. Untuk itu koordinasi antara Resort Cagar Alam Teluk Bintuni dengan LSM baik di Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya.5 . Swasta bisa juga berperan dalam memfasilitasi keberadaan Polisi Hutan volunteer untuk pengawasan. Koordinasi tersebut terutama dengan: 1) LSM internasional: The Nature Conservancy (TNC). dan media alternatif. Conservation International (CI) dan lain-lain 2) LSM nasional: Yayasan Kehati. pelaporan. Media masa dalam hal ini. Semua kegiatan koordinasi dengan LSM dilaporkan kepada BKSDA Papua II Sorong dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. maupun sebagai pengumpan masukan-masukan alternatif bagi strategi dan kebijakan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Masyarakat sebagai salah satu pemangku kepentingan (stake holder) dapat berperan sebagai Polisi Hutan volunteer yang membantu proses pengawasan sekaligus juga menjadi pengguna jasa cagar alam. adalah media cetak. Dukungan media massa bagi strategi komunikasi dan informasi pengelolaan akan memperluas daya imbasnya. terutama perusahaan besar di Kabupaten Teluk Bintuni. sangat dibutuhkan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 5. dan sebagainya 3) LSM lokal: . para pemangku kepentingan di Teluk Bintuni yang dapat berperan dalam pengelolaan Cagar Alam perlu mengetahui peran apa saja yang bisa dilakukan. Walhi. tidak hanya untuk masyarakat sekitar tetapi juga mampu menjangkau tingkat nasional dan internasional. dan lain-lain Koordinasi dalam hal ini berupa. Pengorganisasian VII . Masyarakat di dalam pengelolaan cagar alam bias menjadi perpanjangan tangan dari kepala Polisi Hutan sebagai pengelola teknis di daerah pengelolaan cagar alam untuk mengumpulkan banyak informasi yang berguna bagi pengelolaan. maupun dari luar teluk. 6. Perusahaan swasta ini bisa berperan aktif bersama Resort untuk mengawasi atau pengamanan kawasan Cagar Alam. Secara umum.

masyarakat juga bias berperan sama untuk badan monitoring. B. baik oleh masyarakat maupun oleh badan monitoring.6 . tanggungjawab pelaksanaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni berada di bawah BKSDA Papua II Sorong. kepala resort bertanggungjawab sepenuhnya bagaimana melakukan implementasi pengelolaan kawasan. Badan ini akan memberikan input kepada resort dan BKSDA sebagai penanggungjawab. Dalam pelaksanaan pengelolaan. Masyarakat Dalam Kawasan CA dan di sekitar kawasan CA Teluk Bintuni Ka BKSDA Papua II Sorong Badan Monitoring Swasta Kepala Ressort Cagar Alam Teluk Bintuni Universitas Papua LMA Bappeda Kab TB Dinas Kehutanan Dinas Perikanan Polisi Hutan Forum Komunikasi Kelompok Pemanfaat Gambar VII-2. dikembangkan adanya peran badan monitoring pengelolaan kawasan yang direncanakan dalam dokumen rencana pengelolaan. Tanggungjawab dan Administrasi Secara administrasi. Kondisi ini menempatkan pelaksana teknis pengelolaan akan diawasi secara menyeluruh. Keanggotaan dari badan yang cukup beragam akan membuat sinkronisasi kegiatan dengan instansi terkait di lingkup Kabupaten Teluk Bintuni bias berjalan dengan baik (Gambar VII-2). Struktur Sistem Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Posisi bada monitoring yang berada di luar struktur internal BKSDA ataupun pelaksana teknis Cagar Alam membuat badan ini lebih independent dalam melakukan tugasnya untuk mengawasi pelaksanaan pengelolaan tetapi badan ini terikat kepada rencana pengelolaan kawasan. masyarakat juga harus berkoordinasi dengan cagar alam. Akan tetapi dalam perannya untuk pengelolaan. Pengorganisasian VII .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Disamping itu. Di dalam pelaksana teknis.

Menyusun pengawasan dan evaluasi bulanan pelaksanaan rencana pengelolaan 6. Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan 2. Struktur Organisasi Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Kawasan CATB (Cagar Alam Teluk Bintuni) dengan luasan yang cukup besar sebaiknya dikelola dengan jumlah staf yang memadai. Memberikan laporan pelaksanaan kepada Kepala BKSDA Papua II Sorong Polisi Hutan 1. melakukan tugas Polisi Hutan Pengorganisasian VII . Tugas dan Fungsi : Kepala Polisi Hutan 1. Membangun kerjasama dengan instansi swasta yang ada di Kabupaten untuk Pengelolaan CA dan melaporkan kepada Ka BKSDA 5. Bertanggungjawab terhadap koordinasi dengan instansi lain yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni 4.7 . Mamuranu.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Ka BKSDA Papua II Sorong BKSDA Papua II Sorong Badan Monitoring Universitas Papua LMA Bappeda Kab TB Dinas Kehutanan Dinas Perikanan Administrasi Kepala Polisi Hutan Cagar Alam Teluk Bintuni Ka Wilayah Naramasa Ka Wilayah Mamuranu Ka Wilayah Tirasai Polisi Hutan Polisi Hutan Polisi Hutan Gambar VII-3. Mengkoordinir Polisi Hutan yang ada di Cagar Alam Teluk Bintuni dalam melaksanakan tugas pengelolaan kawasan 3. Tirasai. Setiap kantor wilayah ini akan bertanggungjawab ke kepala resort dalam melaksanakan tugas pengelolaan kawasan. seperti Naramasa. Di setiap wilayah pembantu akan diisi juga dengan Polisi Hutan (Gambar VII-3). Untuk itu direncanakan untuk menambah staf dan struktur pengelola dengan membuat adanya kantor pembantu pada beberapa wilayah.

8 . penyuluhan dan perencanaan partisipatif.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2. atau SMA dengan masa kerja lebih dari 15 tahun bekerja sebagai Polisi Hutan di Cagar Alam Pernah mengikuti pendidikan penyidik pegawai negeri sipil (PPNS). atau SMA dengan masa kerja 5-10 Tahun sebagai Polisi Hutan Pernah mengikuti pelatihan penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat Polisi Hutan (Pohut) 1. Kulitas pengelola juga bisa dipenuhi dengan adanya pelatihan. Membantu kepala Polisi Hutan dalam mengkoordinasi kegiatan penelitian di kawasan C. Melakukan tugas adminstrasi kantor resort 2. Untuk efisien dan efektifnya pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Penyusunan Staf Kebutuhan staf untuk pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu ditingkatkan baik jumlah maupun kualitas. membantu kepala Polisi Hutan dalam pengelolaan CA BKSDA Papua II Sorong 3. baik dalam pengawasan. penjenjang teknis kehutanan (PTK). memberikan laporan dan evaluasi pekerjaan setiap bulan kepada kepala Polisi Hutan Administrasi 1. kebutuhan tenaga tidak hanya dari jumlah tetapi juga kualifikasi harus memadai. pemberdayaan masyarakat. Untuk luas CATB yang mencapai 124. pelatihan penyusunan program. Mengikuti pendidikan polisi kehutanan Staf Komputer dan Administrasi Pengorganisasian VII . Membantu kepala Polisi Hutan dalam pengarsipan dokumen penelitian dan rencana penelitian 4. penyuluhan dan pembinaan masyarakat. Bertanggungjawab terhadap dokumentasi kegiatan resort 3. Membantu kepala Polisi Hutan dalam mengelola data base kawasan 5. Kepala Polisi Hutan/Kepala Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni/Kepala Resort : Pendidikan Sarjana/D3 Kehutanan masa kerja 3-5 tahun.000 Ha dibutuhkan tambahan tenaga Polisi Hutan yang bisa berfungsi ganda. Kepala Wilayah (penanggungjawab wilayah) : Pendidikan D3 Kehutanan masa kerja 1-3 tahun.

2016.2011. Pendidikan D3 komputer/administrasi masa kerja 1-3 tahun.9 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2. maka syarat minimal harus dipenuhi dan ketrampilan akan dipenuhi lewat pelatihan (Tabel VII-1) dan rencana kebutuhan pembiayaan didasarkan kepada standard biaya 2005 (Tabel VII-2) Tabel VII-1. Kondisi Staf Pengelola Cagar Alam dan Rencana Pemenuhan Staf berserta Rencana Pelatihan Kebutuhan Staff No Aktivitas/Kegiatan Eksisting A 1 2 Staf Polisi Hutan Senior/Kepala Resort Polisi Hutan (polhut) Polhut Pelaksana Pemula Polhut Pelaksana 3 Administrasi Staf komputer dan administrasi B Pelatihan Pelatihan Pengenalan Jenis Pelathan Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Penyusunan Program Pelatihan Penyuluhan Pelatihan Pembuatan Data Base Pelatihan GIS Pelatihan Perencanaan Partisipatif 3 1 1 1 1 0 1 1 D3/ SLTA 1 0 1 6 6 6 5 D3/ SLTA D3/ SLTA 3 2 2 3 1 1 1 0 Sarjana/ D3 0 Kebutuhan Selisih Kualifikasi 2010 Pemenuhan Tenaga 2006.2021.20262015 2020 2025 2030 - 3 3 3 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Pengorganisasian VII . atau SMA dengan masa kerja 5-7 tahun di bidang komputer/administrasi Kebutuhan tenaga untuk pengelolaan Cagar Alam direncanakan akan dipenuhi sampai pada periode 2020 dan kapasitasnya juga akan diperkuat melalui kegiatan pelatihan dan kursus. Bila kebutuhan staf di daerah tidak ada yang memenuhi.

000 468.10 .000 5.651 4.000 5. 20062010 20112015 20162020 20212025 20262030 Sumber Dana APBN Pengorganisasian VII .000 4.000 8. X 000) No A 1 2 Aktivitas/Kegiatan Staf Polisi Hutan Senior/Kepala Resort Polisi Hutan (polisi Hutan) Polhut Pelaksana Pemula Polhut Pelaksana 3 Administrasi Staf komputer dan administrasi B Pelatihan dan Kursus Pelatihan Pengenalan Jenis Pelathan Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Penyusunan Program Pelatihan Penyuluhan Pelatihan Pembuatan Data Base Pelatihan GIS Pelatihan Perencanaan Partisipatif 15.400 5.000 5.000 6.400 5.400 5.400 60.800 7.400 3.000 5.000 7.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VII-2.000 4.000 4.000 12.000 APBN.000 96.500 8.000.000 4.000 6.800 5.150 4.000 4.000 15. Swasta 396.400 8. Rencana Kebutuhan Biaya Pemenuhan Staf dan Rencana Pelatihan di Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya (Rp.000 4.000 5.000 4.865 4.000 12.000 4.

PELAKSANA KEGIATAN Kegiatan pemantauan yang dilanjutkan dengan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan kawasan disarankan untuk dilakukan oleh unsur internal pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni maupun oleh Forum komunikasi yang independen. Sedangkan evaluasi berarti mengidentifikasi apa yang sudah dicapai dan mana yang belum serta apa yang harusnya dilakukan ke depan dengan melibatkan atau mengumpulkan umpan balik dari stakeholder-stakeholder kunci dan pengelola. Pengawasan tersebut bisa diwujudkan berupa kegiatan pembinaan ke lokasi secara reguler atau dengan kunjungan/inspeksi mendadak.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VIII. A.1 . terminologi ini mengetahui perbedaan antara kejadian-kejadian alami. yaitu pertama pemantauan atas rencana-rencana yang telah dibuat. kedua membandingkan kinerja dengan ukuran yang telah di buat. pemantauan. Pemantauan dan evaluasi oleh unsur internal ini bisa berupa pengawasan melekat oleh atasan langsung baik di kantor maupun di lapangan. sehingga dalam aktivitas perencanaan lebih lanjut akan didapatkan beberapa strategi-strategi tertentu yang tidak relevan lagi. dalam sistem manajemen konservasi. Hal ini akan sangat efektif dalam pemantauan dan evaluasi kegiatan pengelolaan baik yang menyangkut kemajuan Monitoring dan Evaluasi VIII . pengamatan dan penelitian. Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Pemantaun dan evaluasi yang dilakukan disini adalah merupakan kegiatan rutin dari pengelola kawasan terhadap kinerja anggota pengelola. Oleh karena itu. memutuskan apakah perlu ada perubahan rencana dan membuat perbaikan-perbaikan. Cara lain untuk pemantauan dan evaluasi kegiatan adalah dengan mengirimkan laporan periodik dan laporan khusus dari hirarki yang lebih rendah kepada pejabat di atasnya (misalnya dari petugas wilayah kepada kepala resort. dst). prioritas kegiatan perlu dievaluasi dan dimodifikasi. dimodifikasi untuk Tetapi. MONITORING DAN EVALUASI Kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan proses yang berkelanjutan. survei. serta rapat berkala yang diikuti oleh semua pegawai Ressort KSDA Teluk Bintuni. A. isu-isu pengelolaan kawasan yang baru akan muncul. Dalam perjalanan waktu.1. Demikian juga pelaksanaan rapat rutin yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional. Secara umum melakukan kegiatan monitoring berarti melakukan dua hal. sehingga pemantauan dan evaluasi kegiatan merupakan hal yang sangat penting dilakukan agar seluruh kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan.

Forum ini diharapkan selain berperan dalam mengevaluasi kinerja rencana kerja yang telah dibuat.2 . Monitoring dan Evaluasi VIII . dan VIII-2. tidak diragukan lagi institusi ini telah memiliki sumberdaya manusia yang handal dan pengalaman dalam melakukan pemantauan dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan baik kawasan konservasi maupun kegiatan kehutanan lainnya. Pemecahan masalah biasanya dapat lebih cepat ditangani dibanding hanya komunikasi surat atau laporan. A. Universitas Negeri Papua Manokwari seperti disajikan pada Tabel VIII-1. Berikut adalah kondisi peralatan dan personil pendukung yang ada di Laboratorium GIS yang bernaung di bawah Fakultas Kehutanan. Berikut adalah komposisi forum komunikasi yang akan dusulkan dengan memperhatikan aspek kemampuan pelaksana dan keterwakilan pemangku kepentingan utama dalam pengelolaan kawasan: 1. kehadiran dan peran suatu Forum Komunikasi yang independen sangat diperlukan. Forum Komunikasi Independen Selain Pemantauan dan evaluasi kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilakukan oleh pengelola kawasan. Saat ini institusi ini telah memiliki laboratorium Geographical Information System (GIS) dengan beberapa perangkat keras dan lunak yang memadai dan dipimpin oleh seorang kepala laboratorium yang telah memiliki kualifikasi yang cukup dalam memonitor dinamika suatu kawasan konservasi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kegiatan maupun permasalahan yang dihadapi. dukungan peralatan yang ada dirasa cukup memadai untuk suatu kegiatan pemantauan dan evaluasi.2. juga berfungsi sebagai kontrol dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan kawasan.2. Universitas Negeri Papua Institusi ini perlu mendapat pertimbangan sebagai pelaksana kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan pengelolaan.1 Komposisi Forum Komunikasi MONEV CATB Untuk keperluan monitoring dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan. A. komposisi forum komunikasi diharapkan memperhatikan tidak hanya kapasitas personil tetapi juga faktor keterwakilan pemangku kepentingan (stakeholders) dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Disamping itu. Dari segi kemampuan personil yang ada.

12.0 GHz. Nama Barang Komputer Hardwares Spesifikasi Pentium I. 32 M. 1 Unit 1999 Pinjaman Baik 5. Meja Digitasi Portable Meja Digitasi Gulung Ploter Ploter Scanner D-Link 10/100 Fast Ethernet Switch DES-1008D.3 . Teluk Bintuni Citra Landsat 7 ETM.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VIII-1. 256 MHz. Kondisi fasilitas pendukung pengelola Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa No. 261 Mb. 500 VA A1. 40 G Pentium II. 2. 40 G 2. 256 MHz. 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 2000 2000 2000 2003 Inventaris Pinjaman Inventaris Inventaris Baik Baik Rusa k Baik 9. 1. Sarmi 3. 11. 1. 20 G Pentium IV. Kamera Digital UPS Stabilazer Elektrik Kid 1 Unit 1 Unit 1 Unit - P2T Faperta Uncen Semi Que IV Jrs Kehutanan Semi Que IV Jrs Kehutanan Lab. 1000 W UNION 50/60 Hz. 3. Baik Baik Baik Baik 5 Unit 2004 Inventaris Baik 1 Unit 1 Unit 5 Scene 5 Scene TNC TNC Proyek Atlas SD Pesisir Unipa Semi Que IV Jrs Kehutanan Bappeda TK I Irian Jaya P2T Faperta Uncen Bappeda TK I Irian Jaya P2T Faperta Uncen TNC 2000 2003 2002 2002 Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Baik Baik Baik 1 Unit 2002 Baik 4. 16 M. Faperta Uncen Semi Que IV Jrs Kehutanan Diploma MHAP Fahutan Unipa Diploma MHAP Fahutan Unipa Tahun 2000 2002 2003 Status Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Ket. 1.1. Lisenced ArcView 3. 20 G Pentium IV. Komputer Soft wares ILWIS 3. 6. 2 G Pentium IV. 7.3 Lisenced Citra Landsat 7 ETM. Biometrika dan GIS 2000 2003 2002 2002/ 2005 Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Baik Baik Baik Baik Monitoring dan Evaluasi VIII .7 GHz. Epson Stylus pro 7500 Calcom Jumlah 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit Sumber Pengadaan P2T. 10.0 Gb. 8.26 GHz. 8 link Kodak Easy Share Pro Link Pro 2100. 600 Mb.

Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. Nugroho Master 1. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001. sebagai pemegang kendali kegiatan pengelolaan kawasan. Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001. 2.q Resort KSDA Bintuni Selain melakukan monitoring dan evaluasi internal sebagai institusi pengelola. Unipa TNC & UNIPA Selain itu. PNGTahun 2002. termasuk daerah Cagar Alam Teluk Bintuni.2. BIOTROP. khususnya yang berhubungan dengan aspek keilmuan yang dihadapi pengelola. Bogor 3. BIOTROP.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VIII. membantu mengidentifikasi dan memfasilitasi pemecahan masalah-masalah. Yoseph Rahawarin Sarjana 1. Unipa Manokwari Sponsor TNC & UNIPA TNC TNC TNC TNC & UNIPA TNC TNC TNC & UNIPA TNC 4. Julius D. Tahun 2004. Remote Sensing and GIS for Coastal Zone Management Tahun 2003. Kontribusi yang dapat diberikan oleh institusi ini dalam kegiatan monitoring dan evaluasi adalah lebih banyak difokuskan pada pemantauan dan mengevaluasi keberhasilan kegiatan. Christian Imburi Fransina Kesaulija Sarjana Sarjana Magang SIG untuk pemula di Biotrop. BKSDA Papua II c. Unipa Manokwari. Presentasi Hasil Pelatihan SIG pada CA Teluk Bintuni di Biologi Conference IV. Unipa Manokwari. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001. 2. Goroka. Bogor 2. Nama pengelola Yosias Gandhi Kualifikasi Master Pelatihan SIG 1. 2. Kondisi personil pendukung pengelolaan Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa No. Unipa Manokwari 3. Bogor Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. 5. Bogor. Dari peran dan fungsi yang akan Monitoring dan Evaluasi VIII . 2. Unipa Manokwari. Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. 4. Remote Sensing and GIS for Coastal Zone ManagementTahun 2003. BIOTROP.4 . 1. institusi ini juga diharapkan berperan dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi secara eksternal. institusi ini telah beberapa kali menjalin kerjasama dengan beberapa LSM dan Pemerintah Daerah dalam penelitian dan pengkajian di kawasan Teluk Bintuni. Unipa Manokwari. Unipa Manokwari 3.

sesuai dengan tipe kelompok pemanfaat dan tipe dampak. namun kapasitas institusi ini yang didukung oleh sumberdaya manusia yang ada tidak diragukan lagi dalam kegiatan monitoring dan evaluasi. pengelolaan yang efisien. yang di wakili oleh Lembaga Musyawara Adat (LMA) Bintuni dan Lemasom. Apalagi di dalam struktur organisasi. pengarahan dan kerjasama dengan kelompok target yang beragam. Kegiatan ini umumnya adalah koordinasi kegiatan dalam bentuk bentuk konsultasi. 4. segala bentuk permasalahan dan hambatan dalam implementasi rencana kegiatan di lapangan akan lebih banyak diketahui oleh institusi ini. dalam kegiatan monitoring sekaligus evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan dirasa penting.5 Monitoring dan Evaluasi . Selain Badan Perencana Daerah (Bappeda) Kabupaten Teluk Bintuni. dapat tercapai. perlu dipertimbangan sebagai anggota VIII . 3. Badan ini diharapkan memainkan peran lebih banyak dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Koordinasi untuk kegiatan pemantauan dan evaluasi pengelolaan meliputi Forum Koordinasi dan Wadah Partisipasi. 5. peran masyarakat adat. Badan ini telah dilengkapi dengan Sub Bagian Monitoring dan Evaluasi. terutama dalam pemantauan dan evaluasi. institusi akan banyak berperan dalam mengkomunikasikan masalah dan hambatan yang ditemui dengan stakeholder yang lain dalam di forum ini. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa dalam keberhasilan kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni harus banyak melibatkan komponen masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan. Institusi ini memang masih relatif baru seiring dengan pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni. Koordinasi juga diperlukan dengan masyarakat setempat. Dinas-Dinas yang relevan dengan kegiatan pengelolaan kawasan. Melalui koordinasi dan peran serta masyarakat. Peran yang bisa dimainkan oleh institusi ini menunjang kegiatan monitoring dan evaluasi adalah memfasilitasi pemecahan dan penyelesaian masalah-masalah yang terkait dengan pembangunan dan pengembangan yang dilakukan oleh dengan pemerintah daerah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dimainkan oleh institusi ini dalam kegiatan pengelolaan. Dinas terkait di Kabupaten seperti Dinas Kehutanan dan Dinas Perikanan dan Kelautan. Selain partisipasi langsung masyarakat dalam kegiatan rencana kelola. serta pemanfaat potensi kawasan yang lainnya. Peran masyarakat adat dalam kegiatan monitoring dan evaluasi lebih di fokuskan pada mengkaji atau memantau peristiwa-peristiwa yang diperkirakan memiliki dampak penting terhadap nilai dan fungsi kawasan. Sehingga diharapkan dalam kegiatan evaluasi kegiatan pengelolaan yang akan dilakukan oleh forum komunikasi. Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni Sebagai institusi perencana di Kabupaten Teluk Bintuni. Masyarakat adat yang diwakili oleh Lembaga Masyarakat Adat Teluk Bintuni.

Memberikan masukan kepada pengelola bila dari hasil evaluasi terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan yang telah digariskan sebelumnya.2. khususnya yang berkaitan dengan masyarakat. sehingga keberadaanya dalam struktur hukum di Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menjadi jelas. 4. Berdasarkan kondisi stakeholder yang disebutkan di atas. sebagian besar terdiri dari ekosistem mangrove dan hutan dataran rendah. namun tidak tertutup kemungkinan pada saatnya nanti koordinator badan ini dipercayakan pada stakeholder yang lain seperti Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. forum ini dapat melakukan pengecekan lapangan (site visit) untuk melihat langsung kondisi lapangan yang sebenarnya.850 ha). Membuat laporan evaluasi implementasi kegiatan rencana pengelolaan kawasan yang disampaikan kepada pengelola dan Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. Forum Komunikasi.6 . Melakukan evaluasi terhadap implementasi kegiatan sesuai dengan rencana pengelolaan yang sudah ditetapkan. serta pada bagian tertentu berbatasan dengan hutan produksi dan hutan lindung. Dinas-Dinas yang terkait langsung dan dianggap sebagai mitra kerja pengelola adalah Dinas Kehutanan (DINHUT) dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). diusulkan forum independen ini bisa di bawah koordinasi Universitas Negeri Papua (UNIPA). sehingga peranan kedua pemangku kepentingan (stakeholder) ini mutlak diperlukan baik dalam kegiatan pengelolaan maupun monitoring dan evaluasi. Dari luasan kawasan yang ada (±124. 5. A.2 Tugas dan Tanggung Jawab Tugas utama dari forum ini antara lain : 1. forum independen yang dibentuk akan selalu berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II Sorong dan kepala Resort KSDA Bintuni sebagai pemegang mandat utama pengelola kawasan serta masyarakat (Jagawana Voluntir. 3. Forum komunikasi yang diusulkan perlu di perkuat dengan Surat Keputusan Bupati. Hal ini membuat aktivitas perikanan dan kehutanan di dalam dan sekitar kawasan tidak dapat terelekan. Memonitor pelaksanaan rencana pengelolaan yang dilakukan oleh BKSDA Papua II Sorong dan Ressort Teluk Bintuni 2. Peran penting yang bisa diambil oleh kedua institusi ini adalah dalam hal memfasilitasi penyelesaian masalah pengelolaan khususnya yang berkaitan dengan masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya alam di dalam dan sekitar kawasan. dan Kelompok Pemanfaat) di dalam dan sekitar kawasan (Gambar VII-1). Monitoring dan Evaluasi VIII .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong forum komunikasi yang diusulkan. Dalam pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi. Apabila dirasa perlu. Membantu pengelola dalam memfasilitasi penyelesaian masalah pengelolaan.

badan ini juga perlu ditunjang oleh kemampuan personil yang kualified. yang bisa difasilitasi oleh pengelola kawasan yang didukung koordinasi dengan pihak-pihak LSM. 3. Fasilitas penunjang yang dimiliki oleh Lab GIS di Unipa Manokwari dirasa sudah cukup memadai. Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Khusus untuk pemantauan dan evaluasi oleh unsur internal pengelola kawasan. namun masih perlu pengadaan beberapa perangkat lunak seperti foto citra satelit (Satelite imagenery) dan perangkat pengolahan data digital.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni A. Hal ini penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang nilai dan manfaat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terletak pada senjang (gap) antara kegiatan teknis pelestarian dengan penginformasian kepada masyarakat luas. Selain itu dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi. Khusus untuk masyarakat yang diwakili oleh Lembaga Musyawarah Adat (LMA) kampung. B. Kepala Kesort sebagai agen pelaksana kegiatan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni diharuskan melakukan monitoring dan evaluasi terjadwal secara internal terhadap semua implementasi Monitoring dan Evaluasi VIII . Selain ditunjang oleh peralatan yang memadai.2. Pelatihan pengenalan sistem informasi geografis (SIG) yang bisa difasilitasi oleh pengelola Lab GIS di Unipa Manokwari dan kerjasama dengan LSM Internasional seperti The Nature Conservancy (TNC). sehingga dapat membantu pemantauan dan pengawasan potensi Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. Salah satu strategi dalam yang bisa dilakukan dalam memfasilitasi peningkatan kemampuan (capacity building) dari personil dalam forum yang diusulkan adalah melalui pelatihan-pelatihan yang terprogram. 2. Pelatihan atau kursus yang bisa diusulkan dalam menunjang kegiatan forum ini antara lain: 1. strategi-strategi pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu dimonitor dan di evaluasi untuk setiap periode waktu implementasi kegiatan tertentu oleh unsur internal pengelola kawasan maupun oleh suatu forum komunikasi independen. RENCANA WAKTU PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam implementasinya. dirasa perlu untuk didukung oleh semacam pedoman pernantauan lapangan yang bersifat populer. pelatihan atau kursus yang bisa diusulkan adalah pelatihan untuk penggunaan pedoman pernantauan lapangan. forum yang diusulkan harus dilengkapi dengan fasilitas penunjang serta peningkatan kemampuan. B. Pelatihan sistem monitoring dan evaluasi proyek yang bisa di fasilitasi oleh Unipa dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni.3 Sumberdaya pendudung BKSDA Papua II Sorong Dalam memperlancar kinerja.7 .1.

Laporan tahunan yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. 2. Masalah dan hambatan yang ditemui di lapangan.8 . Rapat evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional pengelola kawasan. 2.2. 1. 4. 1. 1. 2. Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama tiga bula terakhir yang difokuskan pada hal-hal seperti pada pemantauan bulanan. Laporan rutin yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. Rencana monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh unsur internal pengelola kawasan. Evaluasi Mengevaluasi seluruh kegiatan selama satu bulan yang dituangkan dalam bentuk laporan bulanan yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. Semesteran Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama enam bulan terakhir yang difokuskan pada halhal seperti pada pemantauan bulanan. Rapat berkala untuk mengevaluasi komprehensif terhadap seluruh implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh seluruh pengelola kawasan. 2. Laporan rutin yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. yaitu: 1. Pemantauan secara menyeluruh terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama satu tahun. Tabel VIII-3. Monitoring dan evaluasi menyeluruh terhadap semua rencana pengelolaan kawasan dan semua tujuan yang telah digariskan dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali. B. Kinerja personil pelaksana kegiatan. Rapat evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional pengelola kawasan.2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong rencana kegiatan pengelolaan kawasan (Bab V) yang dijabarkan lebih lanjut pada pada Tabel VIII-3. B.1 Forum komunikasi Independen Lingkup Kegiatan Badan Forum komunikasi Independen Kegiatan monitoring oleh forum komunikasi independen terhadap implementasi rencana pengelolaan dapat dibagi dalam tiga kategori. Triwulan 1. Monitoring dan Evaluasi VIII . Waktu Pelaksanaan Bulanan Bentuk Kegiatan Monitoring Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama sebulan penuh yang meliputi hal-hal: Target dan Realisasi kegiatan dan pembiayaan. Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan untuk semua aspek dalam rencana kelola akan dievaluasi setiap tahun. No. 3. Tahunan 2.

mengacu kepada rencana kegiatan pengelolaan (Bab V) dan pembiayaan (Bab VI). dan atau revisi program serta peninjauan kembali atau perubahan rencana pengelolaan yang ada Monitoring dan Evaluasi Lima -Tahunan IMPLEMENTASI KEGIATAN LIMA TAHUNAN Implementasi kegiatan tidak berjalan sesuai rencana kegiatan IMPLEMETASI KEGIATAN DI SETUJUI Gambar. solusi pemecahan masalah. Sebagai pedoman dalam proses monitoring dan evaluasi terhadap strategi-strategi yang diimplementasikan. forum ini akan bekerja berdasarkan skenario seperti ditampilkan pada diagram alur berikut: FORUM KOMUNIKASI PENGELOLA KAWASAN Saran. sewaktu-waktu dapat dilakukan monitoring dan evaluasi.2. Mekanisme Kerja Forum komunikasi Independen Monitoring dan Evaluasi VIII . dan atau revisi program Monitoring dan Evaluasi Tahunan IMPLEMENTASI KEGIATAN TAHUNAN Implementasi kegiatan tidak berjalan sesuai rencana kegiatan IMPLEMETASI KEGIATAN DI SETUJUI Saran. B. solusi pemecahan masalah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 3. namun hanya bersifat insidensial.2 Mekanisme Kerja Forum Komunikasi Independen Berdasarkan lingkup kerja seperti diuraikan sebelumnya.9 . VII-1. Apabila diperlukan.

10 . hambatan dan atau hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. 2. 3. Apabila dalam monitoring dan evaluasi kegiatan tahunan tidak ditemukan permasalahan. maka forum ini wajib memberikan saran. hambatan dan atau hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. maka implementasi kegiatan rencana pengelolaan diterima yang ditindaklanjuti dalam bentuk laporan tertulis. kegiatan Monitoring dan evaluasi limatahunan. maka implementasi kegiatan rencana pengelolaan diterima yang ditindak lanjuti dalam bentuk laporan tertulis. Apabila dalam monitoring dan evaluasi kegiatan lima-tahunan tidak ditemukan permasalahan. maka forum ini wajib memberikan saran. Apabila dalam kegiatan MONEV lima tahunan ditemukan permasalahan. solusi pemecahan masalah. dan atau revisi program kepada pihak pengelola. dan atau revisi program kepada pihak pengelola. Monitoring dan Evaluasi VIII . hambatan dan atau hal yang berjalan tidak sesuai rencana kegiatan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dari gambar di atas dapat dijelaskan mekanisme kerja Forum komunikasi Independen adalah sebagai berikut: 1. dilakukan peninjauan Kemudian dilanjutkan dengan kembali atau perubahan rencana pengelolaan yang ada. Apabila diperlukan. Forum ini akan melalukan monitoring dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan setiap tahun. solusi pemecahan masalah. Apabila ditemukan permasalahan. 4. hambatan dan atau hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. 5.

Dengan terbitnya Dokumen Rencana Pengelolaan ini. PENUTUP Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni bukan merupakan suatu rencana pengelolaan yang kaku yang harus digunakan untuk mengelola kawasan yang memiliki proses ekologis yang rumit. Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah suatu dokumen yang memiliki nilai akomodatif. Dokumen ini juga dapat berfungsi sebagai alat kontrol dan koordinasi berbagai instansi sehingga diperoleh sinergitas dalam pelaksanaan setiap kegiatan yang direncanakan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong IX. Dalam implementasinya. karena dokumen ini disusun berdasarkan hasil dari serangkaian proses yang melibatkan seluruh stakeholder. memiliki banyak keterbatasan sumberdaya. keterlibatan pihak lain seperti pihak swasta/investor. telah disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi dari instansi teknis terkait pada lingkup pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dan juga telah mengakomodir berbagai kepentingan stakeholder pendukung pengelolaan kawasan CATB serta tetap mempertimbangkan kelestarian fungsi kawasan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Komitmen pihak pengelola terhadap kelompok- kelompok terkait merupakan landasan penting bagi suatu pengelolaan yang dinamis. Kerangka utama dalam pengelolaan dinamis adalah peran serta dan koordinasi lintas sektoral dari semua pemangku kepentingan di Cagar Alam Teluk Bintuni. Penutup IX . baik yang bersumber dari swasta maupun dana hibah lainnya yang sah. sangat diharapkan dalam implementasi rencana kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni di lapangan. termasuk masyarakat pemilik hak ulayat. Departemen Kehutanan dalam. serta para pemerhati lingkungan lainnya. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dikelola secara optimal dan lestari sesuai fungsi peruntukannya. dokumen ini diharapkan akan dilegalisasi dengan keputusan Bupati Teluk Bintuni sehingga mempunyai kekuatan hukum tetap. hal ini Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHKA) sebagai institusi pelaksana rencana kegiatan pengelolaan yang telah disusun. Pertimbangan ini menjadi strategis karena dalam penganggaran hendaknya mengikuti skema anggaran pada instansi teknis terkait untuk program yang bersesuaian dengan tugas dan fungsi pokoknya. LSM lokal dan internasional. Sumber anggaran lain dapat diupayakan.1 . Ekosistem Cagar Alam Teluk Bintuni memiliki ekosistem pesisir pulau-pulau kecil. Untuk itu. Beberapa program yang dirumuskan. Dokumen ini akan menjadi acuan bagi pemerintah dan stakeholder di dalam melakukan kegiatan pengelolaan CATB pada periode 25 tahun ke depan. partisipasi dan transparansi yang tinggi. ekosistem mangrove dan perairan sehingga dalam pengelolaannya dibutuhkan suatu piranti yang dinamis. Pemerintah Daerah.

.

Beehler. 1997. 1998. DinHut Prov. University Florida. Camillan Bann. Survei Potensi Sumberdaya Perikanan dan Pertanian di Kawasan Teluk Bintuni. R. 1999. R..Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR PUSTAKA Asia Pacific Study Center – University of Gajah Mada. In: Proceeding International Symp. G. Gainsville.F. D. Nutrient cycling in a community of Avicenia marina in a temperature region of Australia. Hannon. 1999. Farber. 28 Desember 1998. pp 137-146. Costanza.. M. Pratt. 1999. The Economic Valuation of Mangroves: A Manual Research for Researcher. Fla. Inst. Beccariana. and YDPTB. 2001. Management of sustainable community-based natural diversity in Bintuni Bay with emphasis on Mangroves. A. 1995. Vol. S. Concept and Practices. Gajah Mada University Press.M. Berwulo.M. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB. de Groot. 2002. Limburg. 2002.. USA. Grasso. dan Lense. Maluku Utara – BPPK Papua Maluku. B. I. O. Rumbino. B.M. S. in a mangrove in southern Thailand. Island Press. Lokakarya Penentuan Prioritas Keanekaragaman Hayati Irian Jaya. B. Aquat.R. Conservation International.K. 4:43-52. KONPHALINDO. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Cicin-Sain. Food and Agric. K. Biomass and primary production of Rhizophora apiculata BL. Naeem. Perencanaan Sosial di Dunia Ke Tiga : Suatu Pengantar. and Attiwill. Clough. Boli. A. The Value of the World’s Ecosystem Services and Natural Capital. Kerjasama YPMAS-Sultra dengan LP2SN. Manokwari. CI Washington DC. 1991. Birdlife International Indonesia Programme. M. Yogyakarta. Konservasi Conyer. D. WWF. T. D. Kajian Potensi Biofisik Hutan Mangrove di Desa Guraping-Maluku Utara. Pemanfaatan Nipah (Nypa Fruticans ) Oleh Lima Suku Di Bintuni. Biology and Management of Mangroves. Christensen. dan Zimmerman. Burung-burung di Kawasan Papua (terjemahan). Integrated Coastal and Ocean Management. Asmusruf. Nature 387 (1997).. Washington DC. d’Arge. 1978. Bot. Indonesia. Yogyakarta. Bogor Bengen. B and Knecht W. PKSPL-IPB. B. Sci. 2005. 1975. 101-112. 2002. 1988.A. UGM. Bogor. Laporan Hasil Survei Lapang. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut serta Prinsip Pengelolaannya. P. P. Unipa-CRMP. Dahuri.. R. Bengen. Makalah di sampaikan pada Seminar “ Prospek Pengembangan Wisata Bahari di KTI. Dkk. Pengusulan Lahan Basah Teluk Bintuni Menjadi Cagar Alam.. BPPK Papua Maluku.1 . 4:2. 2003. D. Daftar Pustaka DP . Potensi Keanekaragaman Hayati Dalam Dimensi Kepariwisataan Bahari di Kawasan Indonesia Timur. Bogor.

C dan Onrizal. Bogor Noor. Evaluasi Kerusakan Kawasan Mangrove dan Arahan Teknik Rehabilitasinya di Pulau Jawa. 1999. A. (Eds. Keanekaragaman Hayati Kawasan Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari. H. Jurusan Teknologi Hasil Hutan IPB Bogor. Program Pascasarjana IPB.C. LIPI-MAB Indonesia.T. In: Walsh. I. Bogor.N.S. E. 2004. Goulter. Bogor. Vol. and Teas. 1995. Pemalang. C. and Allaway.. PKA/Wetlands International.) Proceedings of Int. University Florida. Lugo. Thailand : Learning from Successes and Failures. Ecology and Systematic. Ecology. Bogor. Rev. Mangrove Indonesia. M. Materi Teori dalam Pelatihan Pengelolaan Hutan Mangrove Lestari Angkatan I di Bali. and Clintron. N. Production of Organic Detritus in a South Florida Estuary. 2002. Gramedia Kusmana. O dan Kilmaskossu. 1974. Endang. Y. Odum. P. Ann. Australian J. Second International Conference on Wetlands and Development. PKA dan Wetland International Programme. Fla. 1980. 1998. 1962. The Mangrove Forest of Puerto Rico and Their Management. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan. The structure and Metabolism of Puerto Rican red Mangrove forest in May. Symp. 43: 9-19. Dakar. Food and Agric. 1998. Hilmi. Pelabuhan Bagi Keanekaragaman Hayati : Evaluasi Keberadaannya saat ini. Prosiding Seminar V Ekosistem Mangrove.) in a Middle Harbour .G. Khazali dan IN. Koentjaranigrat. Jakarta.N. 2003. Gainsville.. PT. On Biology and Management of Mangroves. C.. Sydney. Litter fall and decomposistion in a mangrove stand (Avicenia marina Folks.. 1971. pp 825-846. University of Miami. Lugo. Skripsi Sarjana Kehutanan. Lense. 1975. The Ecology of Mangrove. A.. 1999. Snedaker. R. Profil Kandungan Karbon pada Pohon Kelompok Jenis Rhizhopora. W. Participation of Local Communities in Mangrove Forest Rehabilitation in Pattani Bay.S. Marine Freshwater Resources. Bualuang. Inst. Fakultas Kehutanan IPB. G. 12-13 Agustus 1998. Suryadiputra. Y.J. Lokakarya Jaringan Kerja Pelestari Mangrove.C.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Erftemeijer.R. Heald. 2002. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. P hd Thesis. Ekologi Mangrove. Pemanfaatan Palem oleh Masyarakat Suku Sougb di Kampung Sibena II Distrik Bintuni. spp dan Bruguiera spp Dalam Tegakan Hutan Mangrove Alami di Indonesia. Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Mangrove Kayu dan Non Kayu. Jawa Tengah. S. 8-14 November 1998 Febrianto. Vol.N. Fakultas Kehutan Unipa (Tidak diterbitkan).F. 5:39-64. Bogor Daftar Pustaka DP . A. F. Suryadiputra I. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Senegal.E. Noor Y. Sci. and Snedaker.F.2 . 2. H.N.L.A dan A. Khazali M. 1979). and Wilson. F. Kusmana. Golley. P.J. Laporan Survei UNIPA dan CRMP.N..E. USA (Un pblished). 2002. S. Leftungun. Jakarta Noor..

Petocz. Sasekumar. Potret dan Rencana Umum Pengelolaan Taman Wisata Alam Gunung Meja Manokwari. 1971. Philadelphia. R.BP Indonesia. 1983.K. Daftar Pustaka DP . University Florida. I. Recommended reserves for Irian Jaya Province. M. 1994.U Leh. Pokok-Pokok Pikiran tentang Pemberdayaan hak-hak masyarakat adat dalam mengeksploitasi sumberdaya alam provinsi Papua.W and R. Fundamentals of Ecology. P3FED Unipa. 1984.G. PEMDA Provinsi Papua. 2003. 61 pp. D. Bogor: PHPA. 1992.E. Bogor. WWF/IUCN special report. 1988. Manokwari.C. In: Proceeding International Symp. CRMP Project. and George P. Indonesia. V. Fasilitas LNG. PKSPL IPB dan Ditjen Bangda Depdagri.P.G.. dan Dyah R. E. Prosiding Pelatihan ICZPM. R. Mammals of the reserves in Irian Jaya.C Chong and R.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong NRM. Pool. R. Perencanaan dan Soerianegara. dan Proyek Pesisir (USAID). Sorong dan Fak-fak Propinsi Papua). USA. Gainsville. WWW/IUCN Report. Vol. Pelabuhan. A. 1998. Inst. 1975. Production in Mangrove forests of Southern Florida and Puerto Rico. 1983. Rustiadi. prepared in cooperation with PHPA: “usulan-usulan suaka di propinsi Irian Jaya”. W.3 . Bogor. E. Food and Agric. PT BUMWI. PT. 2004. Ekologi Hutan Indonesia. Propinsi Irian Jaya (Buku II: Laporan Utama).B. Inc. 2002.J. Andal Kegiatan Terpadu (Eksplorasi Gas.. Harvester Wheatsheaf. Biology and Management of Mangroves. 1990. Proyek Pesisir (USAID) Indonesia. Petocz. Raharjo. New York. Manokwari. Geobis Woodward-Clyde Indonesia. Pearce. 89 pp.. Pertamina . Community Base Management di Wilayah Pesisir Indonesia. D’Cruz. Sci. Final Report to Atlantic Richfield Berau. Conservation and development in Irian Jaya: A strategy for rational resource utilization. Petocz. Pengembangan Wilayah. and Y de Fretes. London. Sunsun Saeful Hakim. NRM. Atlas sumberdaya pesisir Kawasan Teluk Bintuni. BP Indonesia. Manokwari. Jakarta. Raspada. UNIPA. Lugo. Economic of Natural Resources and The Environment. Y. D. PT BUMWI. Bogor. Panuju. Conservation for development programme in Indonesia. P3FED.. 2002. pp 213-237. Studi Evaluasi Lingkungan Hak Pengusahaan Hutan PT Bintuni Untama Murni Wood Industries di Kabupaten Manokwari. Jakarta. and Snedaker. A. Fakultas Kehutanan IPB. Jakarta. Statement prepared for the formal gazettment of thirty one conservation areas.G. Sidney. Fla. IPB. Environmenttan Baseline Study. 2003.. Saunders Company. S. Odum. Also published in Indonesian language. Turner. Jayapura. Bandar Udara dan Pemukiman LNG Tangguh Kabupaten Manokwari. Pemda Kab. Mangroves as a Habitat for Fish and Prawns. Indonesia. Hydrobiologia. 1996. I.

INDONESIA. Kabupaten Manokwari. 1990. Universitas Negeri Papua bekerjasama dengan Badan Prencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Manokwari. Kabupaten Manokwari. E. Palu Sulawesi Tengah. Tesis Pascasarjana. 2003. 1988. Pemberdayaan Masyarakat Lapis Bawah : Kasus Kegiatan Suatu LSM di Jawa Tengah. Sorong. Institut Pertanian Bogor. A. 1991. Tim TNC. The Nature Conservancy Papua Conservation Program. Babo dan sekitarnya. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Sub Biphut Manokwari. Kabupaten Manokwari. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Babo dan sekitarnya. Kabupaten Manokwari. UNIPA dan Bappeda Manokwari. 1993. 1994.000. 1997. Babo dan sekitarnya. Peta Pengunaan Hutan di Kabupaten Manokwari Skala 1:250. 1999. 2000. Dinhut Manokwari Suhaeb. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Sorong. 1995.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Soesilowati. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. 2001. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Tesis Pascasarjana. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Bogor. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay.S. Babo dan sekitarnya. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Babo dan sekitarnya. 2004. Institut Pertanian Bogor. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Sorong. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Babo dan sekitarnya. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Kabupaten Manokwari.4 . Rencana Pengembangan Sektor Ekonomi Potensial secara terpadu di Kawasan Teluk Bintuni. Sorong. Kabupaten Manokwari. Kajian Model-Model Mekanisme Pemberian Kompensasi Hak Masyarakat Adat atas Pengelolaan Hutan dan Penggunaan Tanah di Distrik Bintuni. Kabupaten Manokwari. Sorong. Babo dan sekitarnya. Manokwari. Tim P3FED Unipa. P3FED Unipa. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Sorong. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Analisis Kebijakan Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Teluk Kendari. Sorong. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Daftar Pustaka DP . Survei Potensi Hutan Bakau Cagar Alam Teluk Bintuni . Kabupaten Manokwari. 1992. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni.

Yayasan PERDU. 2002.. Melbourne University Press. Mangroves: A Review. 1991. P. Studi Sosial Budaya di Kecamatan Bintuni Kabupaten Manokwari. New York. 1974.H. Studi Sosial Budaya di Kecamatan Bintuni Kabupaten Manokwari. Vol.). Zuwendra. dan Allen. 978. Indonesia. Yalhimo-CRMP. Inventarisasi Sumber Daya Alam Teluk Bintuni dan Rekomendasi untuk Manajemen dan Konservasi. Raymond and W. 278 pages.S. Erftemeijer. G. 2002. Bogor. Daftar Pustaka DP .5 . (Ed). Pp 51-174. J.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Walsh. Eds. Queen.E. Womersley. In: Ecology Halophytes (R. Academic Press. PHKA/ AWBIndonesia (Forestry Institute and Asian Wetlands Bureau). PERDU-CRMP. Yayasan Lingkungan Hidup Humeibouw Manokwari. Handbook of the Flora of Papua New Guinea. G.1.J.

.

1 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran-Lampiran L.

atau angin. perairan tawar. pengetahuan lokal dan sumber daya genetis tanpa pengetahuan ataupun persetujuan pemiliknya/masyarakat setempat. bambu. Agroforestri Sistem-sistem dan teknologi tata guna lahan di mana pepohonan berumur panjang (termasuk semak. Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di Indonesia BKSDA Balai Konservasi Sumberdaya Alam Biodiversity Keaneka-ragaman hayati yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keanekaragaman bentuk kehidupan di bumi. Biopirasi (biopiracy) Eksplorasi dan pemanfaatan.) dan tanaman pangan dan atau pakan temak berumur pendek diusahakan pada petak lahan yang sama dalam suatu pengaturan ruang atau waktu. dll. Arboretum Tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan. AWB Asian Wetland Bureau. Biogeografi Penyebaran tumbuh-tumbuhan dan binatang secara geografis di muka bumi. es. bentuk interaksi antar sesama mahluk hidup dan antar mahluk hidup dengan lingkungannya. dinding tanah oleh air. kayu. Istilah dan Terminologi yang termuat dalam dukumen BKSDA Papua II Sorong Abrasi Pengikisan batuan. spesies dan genetis dan meliputi wilayah darat. Dalam praktiknya kegiatan ini dibarengi dengan munculnya isu-isu hak kepemilikan intelektual. Biro Tanah Basah Asia BAPEDALDA Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah BAPPEDA Badan Perencana Pembangunan Daerah BAPPENAS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BAPI The Biodiversity Action Plan for Indonesia.2 . Lampiran-Lampiran L. Bioprospecting (bioprospeksi) Penilaian terhadap sumber daya genetis dan sumber daya hayati. palem. pesisir dan laut. Agro-Ekosistem Sistem pertanian yang didasarkan pada hubungan timbal balik antara sekelompok manusia dan lingkungan fisiknya guna memungkinkan kelangsungan hidup kelompok manusia itu. Keanekaragaman hayati mencakup tiga hal.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 1. yakni ekosistem.

Cagar Biosfer Kawasan di dalam suatu negara yang mendapat status khusus dari negara-negara yang tergabung dalam program The Man and The Biosphere (MAB) di bawah UNESCO. Debt for Nature Swap Dana untuk konservasi alam didefinisikan sebagai pembatalan utang luar negeri dengan menukarnya dengan mobilisasi sumber daya alam dalam negeri untuk pelestarian alam. elemen atau struktur arkeologis. tetapi oleh batasan geografi. serta dampak negative akibat pemanfaatan produk rekayasa genetis. satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangusung secara alami. pahatan dan lukisan. Cagar Alam adalah kawasan Suaka Alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. Bioregion Kawasan/lingkungan fisik yang pengelolaannya tidak ditentukan oleh batasan politik dan administrasi. misalnya menjadi lahan pertanian. Cagar Warisan Dunia (World Heritage Site) Menurut World Heritage Convention yang dikeluarkan oleh UNESCO. bioregion juga mempunyai pengertian ekoregion. gua-gua hunian. karya arsitektur. Bioteknologi Penerapan teknologi berbasis ilmu biologi untuk memanfaatkan makhluk hidup bagi kebutuhan manusia. prasasti. perkebunan atau penggunaan lainnya. seni. Dengan demikian. "Cultural World Heritage" mengacu pada monumen. CITES Convention on International Trade of Endangered Species. ada dua yaitu: 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pembagian keuntungan yang adil dan merata. Ekoregion Suatu pendekatan pengelolaan kawasan konservasi yang menggunakan pembagian wilayah berdasarkan kondisi perbedaan ekosistem (lihat bioregion). Konvensi untuk Perdagangan Internasional Spesies Langka Daerah Burung Endemik Wilayah pengelompokan alami burung-burung yang kisaran hidupnya terbatas. 2.3 . dan kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang secara universal sangat bemilai tinggi dari sisi sejarah. Lampiran-Lampiran L. sebagai kawasan konservasi khusus dengan fungsi ekonomi. Deforestasi Penggundulan hutan sehingga lahan yang semula berupa hutan menjadi berubah fungsinya. yaitu pengelolaan kawasan yang didasarkan pada prioritas ekosistem dan habitat alami setempat. komunitas manusia serta sistem ekologi. habitat atau kelompok formasi geologis dan fisiografis beserta spesies flora dan fauna yang terancam. "Natural World Heritage" mengacu pada ekosistem. ekologi dan sosial. dan ilmu pengetahuan.

terdapat di dataran rendah daerah tropis dengan curah hujan 2500 mm/tahun. Hutan Primer Hutan perawan atau hutan alam yang belum dijamah manusia. komodo). di mana besidan humus terkumpul di bawah lapisan atas pasir putih. diagonalnya 0 derajat (membagi bumi menjadi 2 wilayah: utara dan selatan) Endemik. Endemisme Spesies tumbuhan atau binatang yang hanya terdapat di wilayah tertentu dan sering bersifat unik untuk daerah tersebut. kapur dll. Tanah ini sangat masam dan tidak subur. Hutan Dipterocarpaceae Hutan yang didominasi spesies pohon dari famili Dipterocarpaceae. Habitat Tempat hidup alami bagi binatang dan tumbuhan. Tanah yang terlapuk berat dan mengandung silika terbentuk pada teras-teras kuarsa. ular. Herpetofauna Kelompok binatang yang temasuk dalam amfibi (katak/kodok) dan reptilia (buaya. Hutan Sekunder Hutan alam yang sudah dimanfaatkan oleh manusia. hutan alam konservasi (nature conservation forest) dan taman berburu (hunting forest). kruing. biawak. Hutan Hujan Dataran Rendah ’selalu-hijau’ Hutan yang berisi tanaman berkayu dan tumbuhan selalu-hijau.4 . Lampiran-Lampiran L. Fenomena El Nino Peristiwa alam yang menimbulkan kemarau panjang yang hebat. Hutan Konservasi UU no.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Ekosistem Komponen biotik dan abiotik dalam suatu lingkungan yang saling berinteraksi sehingga menghasilkan aliran energi dan daur hara. Ekuator Garis imajiner yang mengelilingi bumi. atau puncakpuncak batu cadas. penyu. misalnya berbagai jenis meranti. batuan pasir. Epifit Tumbuhan yang hidup pada tumbuhan lain tetapi tidak merugikan. Eutrofikasi Pengayaan zat-zat hara yang berlebihan di dalam suatu perairan sehingga mendorong ledakan pertumbuhan tumbuhan air dan mengakibatkan kekurangan kadar oksigen di dalam perairan.41 menjelaskan bahwa yang termasuk hutan konservasi adalah hutan alam cadangan (nature preservation forest). Fragmentasi Habitat Proses yang menyebabkan kawasan hutan primer yang semula saling bersambungan terpecah menjadi petak-petak yang saling terpisah dan terpencar. Hutan Kerangas Hutan yang tumbuh di atas tanah podsolik.

hutan lindung dan hutan produksi. hutan lindung. IBSAP Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan. Konservasi In-Situ Upaya perlindungan. Lampiran-Lampiran L. IUCN International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources Karamba Kurungan dari anyaman bambu yang ditempatkan (diapungkan) di sungai sebagai tempat perkembangbiakan ikan atau udang. Kawasan Intertidal/Iitoral Kawasan yang terletak di antara daerah pasang tertinggi dan surut terendah di pantai. kawasan suaka alam yaitu cagar alam. Keanekaragaman hayati (Biodiversity) Lihat biodiversity Kegiatan yang menunjang budidaya di dalam kawasan Suaka Alam ialah kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam bentuk pengambilan. suaka margasatwa. dan taman buru. pengangkutan dan penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam kawasan alam yang bersangkutan untuk keperluan pemuliaan jenis dan penangkaran. taman wisata alam dan taman hutan raya. dan taman buru. Kawasan Konservasi Kawasan-kawasan yang digolongkan dalam kawasan pelestarian alam yaitu taman nasional. pengawetan plasma nutfah serta pemanfaatan keanekaragaman hayati berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian.5 tahun 1990. pemanfaatan dan pelestarian spesies di dalam habitat aslinya berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni IBOY BKSDA Papua II Sorong Merupakan singkatan dari International Biodiversity Observation Year (tahun observasi biodiversity internasional) yang dilaksanakan pada tahun 2001 dan 2002. Konservasi Upaya perlindungan ekosistem penyangga kehidupan. hutan pelestarian alam. Sedangkan UU No. Karnivora Mahluk hidup pemakan daging. Konservasi Eks-Situ Upaya perlindungan. pemanfaatan dan pelestarian spesies di luar habitat aslinya berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian. sebagai jendela bagi para ilmuan dan pendidik dari seluruh dunia untuk bekerjasama meningkatkan komunikasi tentang ilmu-ilmu penting berbasis biodiversity. Sedangkan hutan konservasi dibagi ke dalam hutan suaka alam.41 tahun 1999 muncul pengelompokan hutan berdasarkan fungsinya yaitu hutan konservasi. Strategi dan Rencana Aksi Biodiversity Indonesia Indeks Keragaman Spesies (Species Diversity Index) Indeks yang digunakan oleh para ilmuwan lingkungan untuk membandingkan tingkat keanekaragaman spesies berdasarkan jumlah dan kelimpahan spesies binatang dan tumbuhan di suatu tempat. Istilah konservasi tidak dijumpai dalam UU No.5 .

Kriteria Status Flora atau Fauna menurut IUCN: 1. jumlah populasi diperkirakan kurang dari 50 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 50% dalam 10 tahun.000 km2 atau yang dapat ditempati kurang dari 2000 km2. Rentan {Vulnerable): jika taksa tidak termasuk kriteria genting atau terancam tetapi mengalami resiko kepunahan yang tinggi di alam dalam waktu dekat. kriteria khusus sebagai habitat burung atau ikan yang unik. Kriteria ini meliputi keunikan tipe lahan basah. 2001). MAB Merupakan singkatan dari the Man And the Biosphere. Lampiran-Lampiran L. Program UNESCO yang dimulai tahun 1971 untuk pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi biodiversity dengan mengembangkan landasan natural dan social sciences.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Konvensi Keanekaragaman Hayati Konvensi yang ditandatangani oleh 150 negara dalam Konferensi Tingkat Tinggi PBB mengenai Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro pada tahun 1992. 2. 3. Dikenal sebagai koridor konservasi atau koridor perpindahan yang memungkinkan tumbuhan dan satwa untuk menyebar. populasi kurang dari 250 individu dewasa. jumlah populasi diperkirakan kurang dari 1000 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 10% dalam 100 tahun. Populasinya berkurang paling sedikit 50% selama 10 tahun terakhir. komunitas binatang dan tumbuhan yang ada di dalam lahan basah. Populasinya berkurang paling sedikit 20% selama 10 tahun terakhir.6 . luas wilayah diperkirakan kurang dari 20. luas wilayah diperkirakan kurang dari 100 km2. populasi diperkirakan kurang dari 2500 individu dewasa. sehingga memungkinkan aliran gen serta kolonisasi lokasi yang sesuai. Kriteria Ramsar Kriteria yang digunakan di bawah Konvensi Ramsar. Koridor Jalur-jalur lahan yang dilindungi yang menghubungkan satu kawasan konservasi dengan kawasan konservasi lainnya. untuk menilai kualitas atau nilai lahan basah berdasarkan kekayaan keanekaragaman hayati dan keunikan ekosistem sehingga layak mendapat status sebagai kawasan penting di dunia.000 individu dewasa. populasi diperkirakan kurang dari 10. Juga ditujukan untuk meningkatkan hubungan yang harmonis antara masyarakat dan lingkungan globalnya. jumlah populasi diperkirakan kurang dari 250 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 20% dalam 20 tahun. Kritis (Critically endangered) : jika taksa menghadapi resiko kepunahan yang sangat ekstrim (tinggi) di alam dalam waktu yang sangat dekat. Genting/terancam {Endangered): jika taksa tidak termasuk kriteria genting tetapi mengalami resiko kepunahan yang sangat tinggi di alam dalam waktu dekat. (lihat rincian kategori dalam Mogea dkk. Koridor dapat berfungsi membantu melestarikan satwa yang harus melakukan migrasi musiman di antara rangkaian habitat yang berbeda-beda untuk mendapatkan makanan.luas wilayah diperkirakan kurang dari 5000 km2 atau yang dapat ditempati kurang dari 500 km2. Populasinya berkurang paling sedikit 80% selama 10 tahun terakhir.

udang dan sebagainya) tidak terpusat pada unit produksi kapitalis (atau sosialis) yang besar tetapi tetap berada di tangan petani kecil. Metode PRA adalah media untuk berkomunikasi dengan cara dialog antara Perencana – Pelaksana Administratif dan partner mereka (masyarakat) untuk memecahkan masalah dan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah-masalah yang terjadi. pengolahan dan pemasaran hasil. yang dihubungkan secara melembaga melalui kontrak dengan sebuah perusahaan inti yang lebih besar yang menangani satu atau lebih kegiatan hilir dan hulu seperti penyediaan sarana produksi. Moratorium Penghentian sementara/jeda. PRA Merupakan singkatan dari Participatory Rural Appraisal. pemulihan. Pengelolaan kawasan Suaka Alam adalah upaya terpadu dalam penataan. Nokturnal Sifat binatang yang aktif bergerak dan mencari makan pada malam hari. pengawasan. Perdagangan Karbon (carbon trade) Suatu mekanisme yang sedang dikembangkan secara intemasional melalui negaranegara yang masih memiliki hutan yang cukup luas (yang berfungsi menyerap karbon dari emisi bahan bakar) mendapatkan kompensasi dari kalangan internasional berupa dana untuk membiayai kegiatan konservasi yang dikaitkan dengan emisi karbon.7 . pengendalian. unggas. Lampiran-Lampiran L. Pembangunan Berkelanjutan Pola pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa melemahkan kemampuan pembangunan untuk memenuhi kebutuban generasi mendatang. Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia setelah Brazil. Nilai Omitologis Nilai-nilai mengenai keragaman spesies. ikan. ternak. telur. pemeliharaan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Megadiversity Country Istilah yang digunakan untuk menggambarkan negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya yang tinggi. Pola Inti-Plasma Sistem pertanian yang menghubungkan pertanian dan agroindustri di mana produksi primer (tanaman tahunan atau tanaman keras. karena dapat membuat ikan yang terpapar zat ini menjadi pingsan sehingga mudah ditangkap. Plasma Nutfah Substansi sebagai sumber sifat keturunan yang terdapat di dalam setiap kelompok organisme yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sehingga tercipta suatu jenis unggul atau Kultivar baru. penyebaran dan kehidupan burung. jumlah. susu. pemanfaatan. Potassium Sianida Zat kimia yang digunakan untuk bahan racun untuk menangkap ikan. perlindungan dan pengembangan kawasan Suaka Alam.

Resin Hasil sekresi tanaman yang susunan kimianya sangat kompleks. pemeliharaan. perlindungan dan pengembangan kawasan Suaka Alam. dilakukan secara rutin atas prakarsa pemerintah. BKSDA Papua II Sorong Rawa Herbaceous Rawa yang ditumbuhi tumbuhan kecil yang tumbuh seperti rumput dan batangnya tidak berkayu. namun kemudian mampu berkembang biak secara massal dan menguasai wilayah tumbuh komunitas spesies tumbuhan lainnya. Tumbuhan Invasif Spesies tumbuhan. yang ditanam secara sengaja atau karena terbawa oleh faktor alam. transparan. Rencana Pengelolaan kawasan Suaka Alam adalah upaya terpadu dalam penataan. umumnya bukan asli di suatu habitat. berkomunikasi dengan cara dialog antara peneliti dengan masyarakat. suatu badan PBB untuk pembangunan Lampiran-Lampiran L. pengawasan. pemanfaatan. pengendalian.8 . padat. pemulihan. Silvikultur Pemeliharaan dan pembinaan hutan atau manipulasi vegetasi hutan untuk tujuan tertentu seperti untuk mengontrol pembentukan. Metode RSA adalah media untuk mengumpulkan data dan informasi. Restocking Kegiatan yang ditujukan pada peningkatan populasi jenis flora dan fauna liar di habitat alam aslinya. sering disebut sebagai pukat harimau. Revolusi Biru Proses perubahan produksi perikanan (khususnya darat. UNDP United Nations Development Program. Transmigrasi Swakarsa Transmigrasi atas usaha sendiri atau spontan. Savana Padang rumput yang diselingi oleh kelompok kecil pepohonan. dan kompak. air tawar dan payau) dari cara-cara tradisional ke arah intensifikasi untuk meningkatkan produksi. Trawl Jenis perangkat penangkapan ikan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rawa Aluvial Rawa di tanah lempung yang terendapkan oleh air mengalir. komposisi dan pertumbuhan pohon. Transmigrasi Umum Perpindahan penduduk dari satu daerah yang padat penduduknya ke daerah lain yang berpenduduk jarang. RSA Merupakan singkatan dari Rapid Social Assessment. Rekayasa Genetis Teknologi yang digunakan untuk mengubah materi genetis sel hidup melalui campur tangan manusia sebagai upaya agar sel tersebut mampu menghasilkan senyawa yang diinginkan atau mengemban fungsi-fungsi yang berbeda dengan sel-set lain yang tidak mengalami manipulasi.

Lembaga internasional untuk pelestarian sumberdaya alam Lampiran-Lampiran L. Lembaga Bantuan dari Amerika Serikat untuk Pembangunan di Negara Berkembang Valuasi Ekonomi Cara penilaian ekonomi sumber daya alam dengan menetapkan atau mengukur nilainya secara moneter.9 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni USAID BKSDA Papua II Sorong United State Aid. WWF World Wide Fund for Nature atau lebih dikenal dengan World Wildlife Fund.

36 26.42 Sept 32.6 Peb 100 89.28 23.14 22.84 37.31 1998 rata-rata 1998 minimum 27.2 52.3 100 92.26 22.91 - Des 33.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 2.4 22.1 Sept 100 85.2 SO.78 27.27 22.8 Des 100 87.56 27.15 27.5 100 90.71 1998 maksimum 36.6 Jul 100 88.59 26.75 22.42 21.9 27.89 22.4 100 93.93 20.81 27.2 54.11 33.88 27.8 100 93.11 36.83 34.19 26.82 35.2 Mar 100 86.7 22.2 100 93.3 58.6 26. Tahun 1997 maksimum 1997 rata-rata 1997 minimum 1998 maksimum 1998 rata-rata 1998 minimum 1999 maksimum 1999 rata-rata 1999 minimum 2000 maksimum 2000 rata-rata 2000 minimum Kelembaban Udara (%) Jan 100 85.02 27.6 100 93.8 100 92.4 65.22 22.79 35.4 100 89.8 Apr 100 86.61 23.87 2000 rata-rata 2000 minimum 26. Data suhu udara ambien (0C) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah.03 26.17 22.62 34.74 37.26 22.08 26.45 33.5 100 91.02 25.36 34.2 56. Tahun 1997 maksimum 1997 rata-rata 1997 minimum Suhu Udara ( C) Mei Jun Jul Agu 34.7 100 91.85 22.9 54.11 22.5 100 93.7 48.02 34.2 51 100 90.2 36.99 - Nop 34.8 Agu 100 83. Babo.3 100 93.83 22.7 53.7 62.69 21.2 51 Nop 100 86.2 34.1 59.7 53.59 25.92 27.4 34.88 26.9 61 Mei 100 86.13 26.5 39.44 22.92 22 36.9 100 93 56.07 27.45 35.4 100 91.26 28.88 23. Babo.1 57.7 100 91.73 26.8 53.5 43.2 - Sumber: BP Pertamina (2002) Lampiran-Lampiran L.88 33.85 Sumber: BP Pertamina (2002) Lampiran 3.10 .1 46.2 100 93.2 100 93.45 36.37 26.4 59.48 22.12 27.87 0 Jan - Peb - Mar Apr 35.4 61 100 91.34 20.3 55.86 23.2 32.44 21.1 50.4 100 94.21 27.13 21.43 20.96 22.94 22.17 23.19 22.6 26.05 35.25 22.71 - 36.64 27.7 100 93 60.99 25.99 34.5 Jun 100 83.76 35.51 35.14 35.7 49.26 35.9 48.4 54.7 37.05 27.9 Okt 100 85. Data kelembaban relatif udara ambien (%) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah.72 1999 maksimum 36.19 26.1 100 91.3 63.93 2000 maksimum 35.55 27.6 45.53 27.6 100 91.4 100 89 55.4 100 90.09 27.19 33.98 25.96 22.58 25.5 57.96 - Okt 33.29 22.4 21.31 23.6 60.35 1999 rata-rata 1999 minimum 27.9 55.6 57.7 50.91 23.

granatum Sumber: Hasil survei Tim TNC. Frekuensi. 2005. Jenis. Famili. Jenis. Lampiran-Lampiran L. Frekuensi. moluccensis B. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat tiang N/Ha F INP N/Ha 87 150 26 150 162 Tingkat pohon F INP 62 51 19 11 157 Jenis B. Lampiran 6. Famili. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha B. gymnorrhiza B. Jenis. Kerapatan (N/Ha). Kerapatan (N/Ha). parviflora Ceriops tagal R. mucronata Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae 2500 2500 5000 F INP 58 58 84 N/Ha 262 63 363 Tingkat pancang F INP 92 33 175 Jenis Famili Rhizophoraceae R. 2005. corniculatum B. gymnorrhiza Ae.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 4. apiculata Sumber: Hasil survei Tim TNC. 2005. sexangula Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae 7000 6000 5000 4000 F INP 68 56 44 32 N/Ha 770 30 160 10 130 20 Tingkat pancang F INP 178 55 41 9 11 7 Jenis Famili Meliaceae X. mucronata X. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai). Simeri. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha R. Lampiran 5. Frekuensi.11 . Famili. mucronata Famili Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae - Rhizophoraceae R. parviflora Ceriops tagal R. Kerapatan (N/Ha). dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Mangrove S. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai). apiculata Sumber: Hasil survei Tim TNC. gymnorrhiza B.

25 0. mucronata R.33 15.17 0.18 26. sexangula Ceriops decandra R.81 19.08 0.78 12.25 0. gymnorrhiza Ae. Frekuensi. decandra R.08 0.08 60. alba Famili Rhizophoraceae Avicenniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Sonneratiaceae N/Ha 108 25 8 25 150 - F 0. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Mangrove S. apiculata S. Jenis.08 0. corniculatum Avicennia alba A. 2005 Lampiran 9. Jenis.42 0.95 16.42 104.56 10. corniculatum Avicennia alba B. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).17 0. Simeri.50 14.08 0.28 10.08 INP 3.08 84. granatum Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae Meliaceae F INP N/Ha 160 80 40 Tingkat pohon F INP 180 102 18 - Jenis Famili Sumber: Hasil survei Tim TNC.48 5. mucronata R.17 F 0. Kerapatan (N/Ha).08 0. 2005. Famili.33 INP 64.42 8. sexangula X.08 2. corniculatum B.85 N/Ha 2. Kerapatan (N/Ha). Lampiran 8.17 0.42 0.90 12.98 59. gymnorrhiza B.50 0.70 10. marina B. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat tiang N/Ha R.98 5.53 N/Ha 500 67 133 133 67 33 500 Tingkat pancang F 0.85 37.08 0. Famili. Jenis.50 INP 24. sexangula C.17 0.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 7.50 37.08 0.12 .41 140.53 15.65 9.87 4.04 Jenis A.17 0. parviflora B.80 96.75 0. Frekuensi.58 2. apiculata Famili Myrsinaceae Avicenniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae 1458 833 625 625 1250 1250 11875 4792 Sumber: Hasil Survei Tim TNC.58 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC.42 0. mucronata X.08 0.21 54. Frekuensi.17 0.08 0.50 0. moluccensis B.75 0. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha F 0.32 9.81 6.86 43. gymnorrhiza B.08 0.92 4.08 0. parviflora B. 2005 Lampiran-Lampiran L. Kerapatan (N/Ha).41 Jenis Ae.44 42.17 4.21 58. Cagar Alam Teluk Bintuni Tingkat tiang Tingkat pohon INP 88. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).17 12. Famili.

Jenis. Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0.27 21.92 3. granatum C.8 16. Kerapatan (N/Ha).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 10.2 Potensi/ha (M3/ha) 13.78 Jenis Ac.7 Tinggi 11.83 12.4 18 14.34 28.35 52.2 1.17 4.17 Potensi/phn (M3/phn) 0.33 0.89 13.03 N/Ha 600 267 333 Tingkat pancang F 0.32 5.4 164.0 1.3 25 316 63.76 26.80 9.49 25.5 1.61 31.33 0. speciosum R.1 1.00 47. parviflora Total Rata-rata Famili Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Avicenniaceae Sonneratiaceae Rhizophoraceae Diamter 14.96 29.08 2.33 0.13 . Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha F 0. granatum C.20 0.32 29.1 0.9 16.33 0.6 1. corniculatum B. decandra R.58 2. moluccensis A.09 131.9 1.3 8 25 0.60 11.94 27.32 5.66 30.8 15 N/ha 2.5 14. 2005 Lampiran-Lampiran L. gymnorrhiza X.88 36. sexangula X.99 2.22 Jenis R.459 10. alba B.3 14. spathacea B.15 16.08 60.33 0.35 65.11 29.17 0.17 INP 100.2 1.5 1. apiculata D.8 15.7 244.48 2.46 ha) Tiang Pohon Potensi/phn (M3/phn) 0.5 37.59 28.03 9.61 23.79 30.2 0.0 0.94 1. apiculata Ae.48 2.92 4.03 12 12.59 24. mucronata X.11 1.76 26.29 1.70 32.81 Diamter 21. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Sungai Sumberi. Frekuensi.3 13.03 Tinggi 14 16.6 Potensi/ha (M3/ha) 0. mucronata D.5 14.22 52.42 1.73 12.17 12.17 0.2 108 0. alba S. spathacea Famili Pteridaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Bignoniaceae 9167 2917 2500 3750 1667 1250 417 417 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC.85 35. BKSDA Papua II Sorong Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).57 29. Famili.25 11.17 INP 62.48 1.60 10.22 Total potensi Rata2/ha (m3/ha) 14.42 104.33 0. gymnorrhiza B.3 0.20 1. tagal R.1 1.1 1.88 16.17 0. decandra C.8 N/ha 150 Lampiran 11.43 16.

51 37.4 13.71 8. Diamter Tinggi N/ha Potensi/phn (M3/phn) Potensi/ha (M3/ha) Diamter (Cm) Tinggi (M) N/ha Potensi/phn (M3/phn) Potensi/ha (M3/ha) R.91 1.9 24.5 8.83 16.50 8.17 0.8 15.17 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC. decandra R.78 1.00 30. Cagar Alam Teluk Bintuni Tingkat tiang Tingkat pohon INP 86.62 26.1 13 10. Famili.83 29. mucronata X.5 15 25 100 45.17 F 0.27 1. Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 140 m = 0.2 12 10 50 17 0.0 1.1 1.17 0.5 33 33 33 0.3 17.33 4.14 .62 12. tagal Famili Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Aviceniaceae Soneratiaceae Rhizophoraceae N/Ha 50 17 33 33 17 33 F 0. sexangula X. apiculata D.2 39.89 9.49 - Jenis R.46 0.4 0.70 1.67 8.9 13.01 8.72 50.68 12.7 30.20 0.6 35.17 0.74 0.97 20.3 38.9 15. granatum C.83 0.17 4.4 0.88 250 25 11.5 10 7.33 0.18 35.2 4.3 1.00 23. Kerapatan (N/Ha).31 2.1 39.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 12.33 12.75 2.38 47.33 0.3 0.2 0.17 20.33 0.75 2.56 44.79 12.8 1.7 33. decandra R. alba S. moluccensis A.56 12. moluccensis A. gymnorrhiza B.41 1.33 53.00 45. mucronata X.70 1. alba C.80 10.67 8.17 20.7 7 17 183.80 4.15 26.44 22.20 0.11 35. spathacea B.8 1.1 0.67 Lampiran-Lampiran L.25 3.17 0. granatum C.77 10.5 0. Tiang Pohon Total potensi/ha (M3/ha) Jenis Fam. Frekuensi.94 4.17 INP 113.50 30.83 16.33 12.4 36.5 27.33 0.88 54. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi.7 0.17 0.46 0.76 4. sexangula X.5 2.17 0.4 12.5 0.33 0.9 6.28 ha). alba S. gymnorrhiza B.76 5.3 14. alba C.83 29.33 0. Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi. 2005 Lampiran 13.17 1.6 0. BKSDA Papua II Sorong Jenis.33 4. apiculata D. spathacea B.40 7.2 0.17 4.8 10. decandra Total Rata-rata Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Avicenniaceae Sonneratiaceae Rhizophoraceae 19.88 N/Ha 100.4 22.7 11 7.09 4.83 2.49 11.

Information collected individually in every single village and need to be confirmed through a special meeting (workshop) by inviting the traditional community members (masyarakat adat) which are represented by head of tribe (Kepala Suku). and Communities represented by Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Bintuni and Lembaga Musyarawarah Adat SoughMoskona (LEMASOM). it is necessary to be discussed (presented) with the all stakeholders involved: Bupati Kab. Second day: presentation of the 1st draft of Management Plan of Bintuni Bay Nature Reserve.15 . To verify all the information collected from every single village inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve. By doing this. Teluk Bintuni. to improve the available 1st draft. Local NGO. Local institutions (Dinas terkait). Objective The objectives of the 1st-day workshop were: 1. Lampiran-Lampiran L. In addition. head of kampong (Kepala Kampung). B. First day: special workshop with communities (masyarakat adat) who live at 14 villages inside and surrounding the BBNR. Regional Planning Agency (Bappeda). implementation team could get as many as opinions and inputs in which useful during implementation of the management plan of BBNR. The workshop was divided in to two: 1. 3. To formulate a “commitment” amongst the communities who live inside and surrounding the BBNR. General The document of Bintuni Bay Nature Reserve Management plan has tried to establish based on Fully Participatory Method. Discussion amongst villagers who live inside and surrounding the BBNR about their expectation to the BBNR.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 14. 2. BKSDA Papua II Sorong Rangkuman Hasil Workshop Tingkat Kabupaten Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 A. there was an activity carried out during the establishment of 1st draft of Management Plan of Bintuni Bay Nature Reserve called Village meeting in 14 villages (kampung/kelurahan) in and surrounding BBNR. In related to this matter. 2. and one respect person (Tokoh Masyarakat) in the village. The aim of this activity was to gain more information about interaction between communities and the site as well their “expectation” to the BBNR in supporting their daily life now and future.

Th. head of kampong (Kepala Kampung). S. C. Opening the workshop formally by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni representing Bupati Kabupaten Teluk Bintuni. local institutions (dinas-dinas terkait).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong The objective of the 2nd-day workshop was presentation of the 1st draft of the management plan of Bintuni Bay Nature Reserve in order to get inputs and critics from stakeholders present in this workshop. Regional Planning Agency (Bappeda). The head of Gospel Christian Church (GKI) in Papua. 2005. British Petroleum Tangguh Project. 2005) Opening Session The meeting was opened at 9. Participant In the 1st day meeting. and one respect person (Tokoh Masyarakat) in the village. Church represented by the head of Klasis GKI Bintuni. and communities who come to the 1st day workshop. Church (Klasis GKI Bintuni).00 on Wednesday 1 June.16 . A. Local NGO (Mitra Pesisir Bintuni). There were three main issues raised during the roundtable discussion as follow: What are allowed and not allowed to be done in Bintuni Bay Nature Reserve? How the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay can participate in protecting and keeping the reserve? What kind of traditional rule should the people form outside the traditional community members (masyarakat adat) want to do something inside the BBNR? Lampiran-Lampiran L. Bintuni. BKSDA Papua II. D. Roundtable Discussion This discussion was lead by the implementation team from The Nature Conservancy (TNC). twenty-five people were present representing head of tribe (Kepala Suku). Head of traditional community organisation represented by the head of Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Bintuni and Lembaga Musyarawarah Adat Sough-Moskona (LEMASOM). University (UNIPA).. Remarks by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni. Whilst the 2nd day workshop was attended by fifty-five participants representing local government (Bupati Teluk Bintuni). The programme of the opening session included: Praying was lead by Pdt. Kondologit. Programme 1st -day meeting (1 June. and PHKA Jakarta.

feral pig. Using mangrove (mangi-mangi) for traditional needs ONLY (not for commercial purposes) like catching fish “pele kali”. Lampiran-Lampiran L. deer. 2. and another sea product. (1) ACTIVITIES ARE NOT ALLOWED IN BINTUNI BAY NATURE RESERVE: Catching fish and another sea products using chemicals. crabs.17 . Conclusion of Roundtable Discussion The discussion amongst traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve was going well. Cutting down mangrove (mangi-mangi) in big scale like logging or fish-pond. prawn. Gardening with technical assistant from Local Agriculture Institution (Dinas Pertanian).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong During this session. Every body could use resources in BBNR. Trowing waste like used engine-oil and chemicals into the rivers. Traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve committed to support the management of BBNR through several activities as follow: (1) (2) Report all activities against the rule agreed to the management of BBNR: Catch on the spot whoever break the rule agreed. Mining operation. finally a very useful COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the group. Hunting wild animals (crocodile. Catching fish using “akar bore” and net. shell-fish. Even though sometimes there was “hot” debate but dynamic amongst the participants. Cutting down logs in low land forest in BBNR. all the issues discussed were concluded as a COMMITMENT produced by the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay. Following are the main points of the commitment produced by the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay present in the 1st-day meeting: 1. BUT must follow the rule made amongst traditional community members as follow: (1) ACTIVITIES ALLOWED IN BINTUNI BAY NATURE RESERVE: Catching fish. and particular birds). Using trawl in catching fish or prawn.

During the implementation of commitment above. Traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay also asked for the local government to support the management through: (1) (2) Produce a local regulation on BBNR: Intensive community-services to increase building and economic capacity of the traditional communities who live inside and surrounding the Bintuni Bay. Presentation of the 1st draft of MP of Bintuni Bay Nature Reserve and Roundtable Discussion In this session.30 on Thursday 2 June. M. Remarks by Drs. Closing Session The meeting was formally closed at 3.00 PM by Mr. The head of Gospel Christian Church (GKI) in Papua. the implementation team of establishing the MP of Bintuni Bay Nature Reserve presented the 1st draft of Management Plan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (3) BKSDA Papua II Sorong Form a working group at every village inside and surrounding the BBNR during the implementation of management plan. L. Additional observing-tower at the mouth of Bintuni River. Bintuni. The main job of this working group is to formulate the law enforcement of the commitment agreed which is assisted by local government and sponsor (TNC and BKSDA II Papua). 2nd -day meeting (2 June. working group will be formed consist of represent of traditional people (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay. J. 2005. Konologit. Paiki. Arman Mallolongan. MM. 3. 2005) Opening Session The meeting was opened at 9. STh.18 Lampiran-Lampiran . by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni. J. Paiki. A. Workshop-Committee Report. Bupati Teluk Bintuni. (Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional IV. Secretary General of Forestry Department of RI). The programme of the opening session included: Praying was lead by Pdt. Bupati Teluk Bintuni. Opening the workshop formally by Drs. Following are several inputs and issues have been raised during the roundtable discussion: 1.

10.30 PM by Mr. Closing Session The meeting was formally closed at 3. M. 6. Scenarios in management plan. BKSDA Papua II Sorong The status of the Bintuni Bay Nature Reserve is not yet definitive as Nature Reserve. 5. There should also be a commitment of traditional communities who live in upland areas as the degradation of the forest located in upland may cause very significant impact to the BBNR. Secretary General of Forestry Department of RI).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2. 3. (Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional IV. Approaching method in establishing the management plan. MM. 4. Increase the status of Resort KSDA Bintuni to become “SEKSI”. Policy in recruiting local staff during the implementation of Management of BBNR. 8.19 . Lampiran-Lampiran L. Arman Mallolongan. Integrated management organisation (lembaga pengelola terpadu) during the first 5year implementation of MP is necessary. Socialise the management plan to the communities inside and surrounding the BBNR is important. 9. Pay more attention in increasing the economic sector of the traditional communities who live inside and surrounding the BBNR. 7.

Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Committee Implementation Team Remarks Opening the workshop 10. Thesia.00 12. C. Thesia.00 Coffee break Presentation of the 1st draft of MP of BBNR. on behalf of The head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Mr.30 11. Paiki.00 13. on behalf of The head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Opening the workshop 10. Lunch Roundtable Discussion Workshop Conclusion Coffee break Closing Session 12. Paiki. C.30 13.00 Coffee break Roundtable Discussion Lunch Workshop Conclusion Closing Session Implementation Team Committee Implementation Team Committee Thursday 2 June.30 15.30 11.30 9.30 15. C.00 14.00 15. 2005 8. J. J.30 Registration Opening Session Praying Workshop-Committee Report Ketua Klasis GKI Bintuni Mr.20 .00 Registration Opening Session Praying Remarks Ketua Klasis GKI Bintuni Mr. Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Drs. 2005 8. BKSDA Papua II Sorong Programme of two-days meeting on Establishing the Bintuni Bay Nature Reserve Management Plan Wednesday 1 June.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 15. Thesia.30 9. on behalf of The head of Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Drs.30 Implementation Team Implementation Team Committee Committee Lampiran-Lampiran L.

BABI HUTAN. KAMI DAPAT MELAKUKAN PEMANFAATAN KAYU MANGI-MANGI UNTUK KAYU BAKAR SENDIRI (BUKAN UNTUK DIJUAL) DAN KEGIATAN MENANGKAP IKAN “PELE KALI” 4. TIDAK BOLEH MENEBANG MANGI-MANGI ATAU BAKAU DARI CAGAR ALAM DALAM SKALA BESAR UNTUK KEPERLUAN USAHA KAYU ATAU TAMBAK ATAU LAINNYA 3. IBU PEJABAT DI KABUPATEN TELUK BINTUNI BAPAK DAN IBU HADIRIN SEMUA KAMI MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI SEKITAR DAN DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. KAMI DAPAT MELAKUKAN PENANGKAPAN HASIL-HASIL PERIKANAN SEPERTI IKAN. UDANG. BAPAK. KAMI BOLEH MENANGKAP IKAN DENGAN MENGGUNAKAN “AKAR BORE” DAN JARING KEGIATAN YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN DI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI ANTARA LAIN ADALAH: 1. KAMI DAPAT BERBURU HEWAN ATAU SATWA LIAR SEPERTI BUAYA. YANG TERDIRI DARI 14 KAMPUNG. 2. A COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the traditional community members who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve during the Kabupaten Meeting in Bintuni LOKAKARYA PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI TGL 1 JUNI 2005 BAPAK BUPATI YANG KAMI HORMATI.21 . DAN BURUNG 5. DARI PERTEMUAN TERSEBUT. TIDAK MEMBOLEHKAN KAPAL-KAPAL YANG BERLAYAR DI SUNGAI UNTUK MEMBUANG SAMPAH ATAU LIMBAH MINYAK ATAU BAHAN KIMIA KE SUNGAI 5. UDANG. SIPUT ATAU BIA. KAMI MEMBUAT KESEPAKATAN KELOMPOK MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. KEGIATAN YANG BOLEH DILAKUKAN DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI ANTARA LAIN ADALAH: 1. TELAH BERTEMU DAN BERBICARA BERSAMA TENTANG CAGAR ALAM. RUSA. KAMI MASYARAKAT YANG ADA DI DALAM DAN DI SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM MENYATAKAN SIKAP KAMI ANTARA LAIN: SIAPAPUN BOLEH MENCARI MAKAN DI DALAM KAWASAN TANPA MEMANDANG SUKU/MARGA/BATAS-BATAS WILAYAH ADAT ASALKAN MEMATUHI ATURAN KESEPAKATAN YANG SUDAH DIBUAT UNTUK ITU. DAN HASIL LAUT LAINNYA. TIDAK BOLEH KAPAL BESAR ATAU KAPAL UDANG ATAU PUKAT HARIMAU UNTUK BEROPERASI DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. KAMI DAPAT BERKEBUN DAN MENDAPAT BANTUAN BIMBINGAN TEKNIS DARI DINAS TERKAIT 3. Lampiran-Lampiran L. TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN “OBAT” (BAHAN KIMIA) DALAM MENANGKAP IKAN. KARAKA.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 16. DLL 2. TIDAK BOLEH MENEBANG KAYU DI HUTAN TANAH KERING ATAU GUNUNG DI DALAM CAGAR ALAM 4.

2 JUNI 2005 PERWAKILAN MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI DALAM DAN SEKITAR CAGAR ALAM TELUK BINTUNI: Lampiran-Lampiran L. KAMI MEMINTA PEMERINTAH DAERAH MEMBERIKAN PERHATIAN LEBIH BESAR PADA PENDIDIKAN MASYARAKAT DEMIKIAN KESEPAKATAN YANG KAMI BUAT DARI 14 KAMPUNG YANG ADA DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI MENDAMA TAMBE JAGA TANE CAGAR ALAM TELUK BINTUNI BINTUNI. KAMI MENGHARAPKAN PEMERINTAH MELAKUKAN HALHAL SEBAGAI BERIKUT: 1. KAMI AKAN MELAPORKAN PELANGGARAN KESEPAKATAN YANG TERJADI KE PENGELOLA CAGAR ALAM TELUK BINTUNI 2. MEMBUAT PERATURAN DAERAH MENGENAI CAGAR ALAM 2. KAMI MASYARAKAT AKAN MELAKUKAN DUKUNGAN BERUPA: 1. UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. UNTUK ITU. TIDAK BOLEH ADA EKSPLORASI BAHAN TAMBANG DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI.22 . KAMI AKAN MENANGKAP LANGSUNG PELANGGAR ATURAN YANG SUDAH DISEPAKATI BERSAMA 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA DI SETIAP KAMPUNG YANG ADA DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN YANG AKAN DILIBATKAN DALAM PELAKSANAAN RENCANA KEGIATAN PENGELOLAAN KAMI JUGA BERHARAP PEMERINTAH TURUT MENDUKUNG KEGIATAN PENGELOLAAN CAGAR ALAM. PENYULUHAN DAN PENDAMPINGAN YANG TERUS MENERUS KEPADA MASYARAKAT DI DALAM DAN SEKITAR CAGAR ALAM. KHUSUS UNTUK PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT 3. MELAKUKAN PEMBINAAN.

Konservasi Kawasan PHKA 1. do not think about the current status of the site The current document of MP of BBNR is not applicable if the status of the site is indefinite The current document of MP can be considered as a starting point in fixed the site status of BBNR Proposed not only one organization but several in Managing the BBNR Especially in Papua. but they need to be analyzed deeply Regarding the activity in Reconstruct the border of BBNR. 3 Prof.10. 2. 2. 6. 1 Name Banjar Laban Institution PHKA. F. 3. it should be based on old border How can the BBNR be synchronize with the local/traditional culture (see Government Regulation-PP 68) The scenario of Management of BBNR stated in MP need to be strengthen At the time. 7 8. Lampiran-Lampiran L. BKSDA Papua II Sorong Rangkuman Catatan Hasil Presentasi Draf Akhir Rencana Pengelolaan Kawasan CATB di PHKA Jakarta (22 Juli 2005). the communities who are living inside and surrounding the site should be fully involved The BBNR should be promoted not only in regional but also in national even international level The analysis of problems and solutions stated in MP are applicable. 5. Jakarta 1. 9. 2 Adi Susmianto PHKA. No. 2. 4. Wanggai University of Papua (UNIPA). 8. need to form an alternative organization based on local condition Add the contribution of all stakeholders in current document of MP of BBNR Proposed a zoning in MP (Arahan Zoning) Use different term for MONITORING BODY. Input/Critics/Question How about the contribution of another stakeholders outside the Bintuni Region? How the community can support the implementation of the Management Plan? Once the MP is implemented. 6. 3. Forum for example Balai is more suitable instead of Resort in Organization Move the Vision and Mission section in to the Chapter of Introduction The position and size should be based on Water Catchments Area in BBNR Page II. Manokwari Rector 1. Dr.23 . 10. 7.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 17. add data of sedimentation level? 4. keep going with the MP. 3. Jakarta Position Dir.

7. 9 Wahyu PHKA. 4.1. POLHUT instead of JAGAWANA The reconstruction of site border should be proposed by Bupati Proposed re-bordering in MP Based on Government law. and yearly plan State the main activities of 25-year plan. 5-year plan. however it needs to elaborate broadly The planning should be divided into 25year plan. 5 Drs. 8 Ms. 5-year plan. J.24 . P. 6. there should be a commitment of PEMDA in plotting the BBNR in their strategic plan or layout planning of Kabupaten Page V. yearly plan in the document 5. BKSDA Papua II Sorong In Sub Chapter of Soil. 6. Lekitoo Forestry Department of Kabupaten Teluk Bintuni Fisheries and Marine Department of Kabupaten Teluk Bintuni Head of office 1 2. 3. there may be some possibilities of changing function of the site Correction. It is necessary to form a group of people from the communities inside and surroundings BBNR All activities based on the a commitment amongst people who are living inside and surroundings BBNR should be supported by government regulation There should be a buffer zone With the current status of BBNR (Penunjukan. 2. Jakarta Kasubdit Cagar Alam 1. Karubui 2. Jakarta 1. 4 Ir.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. not (No Suggestions)). the position (GPS) of every pal should be included The management needs more supporting facilities as the current one is not proportional compare to the size of the BBNR The status of BBNR is very crucial in supporting the Management Plan Fisheries and Marine Department of Kabupaten Teluk Bintuni is planned to established a local regulation on catching area in Bintuni Bay A local rule of catching area (12 mil and 10 m isobar) is unclear In controlling activity. Unu PHKA. 7 Mr. 5. there should not be a Rehabilitation activity in Nature Reserve Management of BBNR should be based on Mangrove ecosystem as 90 % of the site is dominated by mangrove forest Good to see that the economic value of the BBNR is mentioned in the document. 3. 2. Head of office 1. Jakarta 1 2 Lampiran-Lampiran L. include the land use in every village inside and surrounding the BBNR Chapter III. Puspa PHKA. if any.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 18. S ! / G = Kantor = Pondok Kerja = Menara Pengawas = Tanda larangan = Pondok Peneliti = Pemukiman ! ! / ! / S / ! ! S Lampiran-Lampiran L. Peta Kerja Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2006-2030 ! . G / S / Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni .25 .

.

.

udang. Semoga implementasi akan membuat cagar alam terjaga dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya Drs.Apa Kata Mereka Rencana Pengelolaan menunjukkan komitmen semua pemangku kepentingan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Implementasi tetap membutuhkan dukungan dari semua pemangku kepentingan untuk mencapai lingkugnan yang lestari dan masyarakat sejahtera Ir. MT . J. Frans Wanggai – Rektor Universitas Papua Rencana Pengelolaan ini akan membantu kami bekerja lebih baik bersama pengelola cagar alam untuk kemajuan Kabupaten Teluk Bintuni Ir.Kepala Bappeda Teluk Bintuni Rencana Pengelolaan ini merupakan bukti nyata kerjasama masyarakat adat. MP – Kepala BKSDA Papua II – Sorong Cagar Alam milik kami. Kami berharap pengelolaan akan mensejahterakan kami masyarakat Abraham Wekaburi (Koordinator 7 Suku di Bintuni) Kami mau cagar alam bisa lestari. Fransisco Moga. LSM dan Pemerintah. Kita mau kita pu mangi-mangi terjaga dan kita bisa dapat hasil laut dari kekayaan Cagar Alam Otto Manibuy – Tokoh Adat Wamesa ISBN : 979-97700-4-1 . Cagar Alam ini kami masyarakat Bintuni pu barang. Semua masyarakat bisa mencari makan disana asal ikut kita pu aturan. Implementasi rencana ini harus bisa menjaga kekayaan sumberdaya alam yang merupakan anugerah Tuhan Prof. Petrus Kasihiw. Dr. Paiki – Pjbt Bupati Teluk Bintuni Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah tanggungjawab kita semua. Semoga pengelola cagar alam bisa bekerja bersama masyarakat menjaga Cagar Alam Teluk Bintuni Adrian Tatiri – Kepala Kampung Yakati Cagar Alam Teluk Bintuni kami orang pu barang. kami bisa dapat ikan. karaka dan buaya dari mangi-mangi. hidup kami tergantung disana. masyarakat dan pemerintah. Kami ingin bisa bekerja bersama untuk menjaga cagar alam ini.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->