DEPARTEMEN KEHUTANAN

DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM
BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM PAPUA II SORONG
Jln. Jenderal Sudirman 40, SORONG, PAPUA Telp. (0951) 321986

Kerjasama BKSDA Papua II Sorong dengan The Nature Conservancy
BINTUNI, AGUSTUS 2005

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI PROPINSI IRIAN JAYA BARAT 2006-2030

Oleh: Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Sergius Kosamah, SH

Editor Prof. Dr. Frans Wanggai Dr. Ir. Jamartin Sihite Dr. Ir. Lukman Yunus Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Desain cover dan Tata Letak Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense Fotografi Dr. Ir. Jamartin Sihite Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Peta Tematik Ir. Yosias Gandhi, M.Sc (Lab. GIS Fahutan Unipa Manokwari) Ir. Obed Lense, M.Sc.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI PROVINSI IRIAN JAYA BARAT 2006-2030
Dr. Jamartin Sihite, dkk. x, 266 hal; 21x30 cm Penulis Dr. Jamartin Sihite, dkk. Terbitan Pertama, Agustus 2005 Editor Prof. Dr. Frans Wanggai Dr. Jamartin Sihite Dr. Lukman Yunus Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Retno Suratri, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Desain cover dan Tata Letak Dr. Jamartin Sihite Ir. Obed N. Lense Fotografi Dr. Jamartin Sihite Ir. Obed Lense, M.Sc. Ir. Chandra Gustiar, M.Si. Peta Tematik Ir. Yosias Gandhi, M.Sc (Lab. GIS Fahutan Unipa Manokwari) Ir. Obed Lense, M.Sc. Penerbit: The Nature Conservancy (TNC), Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEA CMPA) (Jl. Pengembak No. 2 Sanur-Bali, Indonesia. Phone: (62-361) 287272 (hunting), Fax: (62361) 270737) Bekerjasama dengan UNIVERSITAS NEGERI PAPUA MANOKWARI Jl. G. Salju Amban Manokwari, Irian Jaya Barat PO Box 23 Manokwari Phone : (0986) 211754 Fax : (0986) 211455
Hak Cipta pada TNC (The Nature Conservancy) dan Universitas Negeri Papua ISBN: 979-97700-4-1

DEPARTEMEN KEHUTANAN
DIREKTORAT JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

BALAI KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM PAPUA II
Alamat: Jl. Jenderal Sudirman No. 40 Po. Box 1053 Sorong-Papua Telp 0951-321926, Faks. 0951-334073, Email: ksda@sorong.wasantara.net.id

RENCANA PENGELOLAAN
CAGAR ALAM TELUK BINTUNI TAHUN 2006 – 2030

.

Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni ini dimaksudkan sebagai upaya untuk menjawab berbagai tantangan yang muncul dari adanya kebijakan pelaksanaan otonomi daerah dan meningkatnya tuntutan masyarakat untuk dapat terlibat langsung dalam proses pembangunan bidang kehutanan. Tim ini dibentuk untuk membantu pemerintah daerah dan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II dalam merumuskan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara partisipatif yang mampu mempertahankan dan melestarikan fungsi kawasan sesuai peruntukannya. ikan. pada dasarnya merupakan wujud tuntutan publik atas perlunya suatu program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang benar- Ringkasan Eksekutif RI-1 . Bali membentuk suatu Tim Penyusun yang bertugas menyusun Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK) yang terdiri dari unsur pengelola kawasan (BKSDA Papua II. Tantangan ini. pengelolaan kawasan CATB berada di bawah Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II Sorong . Resort KSDA Bintuni). Pada era desentralisasi sektor kehutanan sejalan dengan diberlakukannya otonomi khusus bagi Propinsi Papua serta implementasi paradigma pengelolaan hutan berbasis masyarakat. terutama dari hasil Perikanan seperti udang. dan organisasi non pemerintah serta didukung oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. dan kepiting. The Nature Conservancy (TNC) dalam hal ini Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) yang berkedudukan di Denpasar. Kegiatan yang dilakukan masih terbatas pada pengamanan kawasan sedangkan kegiatan yang mengarah kepada pelestarian fungsi kawasan belum dilakukan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni RINGKASAN EKSEKUTIF BKSDA Papua II Sorong Cagar Alam Teluk Bintuni adalah salah satu kawasan konservasi di Kabupaten Bintuni yang sebagian besar merupakan tipe hutan mangrove. sebagai salah satu kawasan konservasi yang strategis. Menyikapi masalah tersebut. Sejak Penunjukan. berbatasan langsung dengan pusat kota dan merupakan tempat dimana masyarakat kota Bintuni dan sekitarnya menggantungkan kehidupannya. c.q.850 Ha.Seksi Konservasi Wilayah I Manokwari. baik ditinjau dari segi tuntutan masyarakat pemilik hak ulayat akan haknya terhadap kawasan hutan bahkan juga kegiatan pemanfaatan sumberdaya di dalam kawasan semakin tidak terkendali. khusus bagi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). akademisi. Dalam upaya untuk mengelola Cagar Alam Teluk Bintuni yang lebih baik. maka pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua. Karena keunikan wilayahnya serta terdapatnya beragam jenis flora dan fauna endemik Papua.memunculkan dilema baru bagi pengelolaan kawasan konservasi di daerah. Tekanan masyarakat terhadap sumberdaya hutan semakin gencar bermunculan. menunjuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai Kawasan Cagar Alam dengan luas 124.

dan LSM Mitra Pesisir. di Bintuni. c. dinas terkait (Dinas kehutanan dan Dinas Kelautan dan Perikanan) di Teluk Bintuni. (5) Kajian ilmiah (scientific review) draft Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh “reviewer”. Proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni.q. Rektor Unipa Manokwari. (4) Lokakarya Penjabaran dan Perumusan Draft Rencana Pengelolaan CATB yang dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2005. Dengan adanya dokumen ini. Visi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk tahun 2006 – 2030 adalah mewujudkan “Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang Lestari. partisipatif dan bertanggung jawab. diharapkan dapat mendorong penyelenggaraan pengelolaan kawasan CATB yang akomodatif . Dinas-Dinas Terkait di Teluk Bintuni. dapun skenario yang menjadi impian ataupun harapan para pemangku kepentingan dan Ringkasan Eksekutif RI-2 . serta Rapid Biological Assesment (RBA) dalam rangka pengumpulan data SOSEKBUD dan biologi kawasan. (3) Lokakarya khusus dengan seluruh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan yang di wakili oleh Kepala Kampung. (2) Pertemuan Kampung (village meeting) dan Rapid Social Assesment (RSA) di 14 kampung/kelurahan yang berada di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Dokumen Rencana Pengelolaan ini bertujuan untuk mengakomodir berbagai aspirasi dari stakeholder dan merumuskannya dalam rencana strategis dan rencana aksi. Kabupaten Bintuni oleh Tim Penyusun dilakukan melalui serangkaian tahapan (1) Konsultasi. dan (5) Pemaparan Draft Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2005 di Departemen Kehutanan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong benar dapat dijalankan dan isinya merupakan kumpulan agenda dari aspirasi segenap pemangku kepentingan yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan.Berkelanjutan dan Berdaya Guna”. Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Teluk Bintuni. di Bintuni. Kepala Suku. Wakil masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB. Jakarta. Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam. Kepala Bappeda Propinsi Irian Jaya Barat dan Kabupaten Teluk Bintuni. dan sosialiasi kegiatan penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni kepada Bupati Teluk Bintuni. sehingga dokumen yang dibuat dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah. Akhir Maret 2005. dan masyarakat Teluk Bintuni yang diwakili oleh wakil masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB. tanggal 1 Juni 2005. demokratif . koordinasi. Disamping itu penyusunan dokumen ini ditujukan untuk menciptakan salah satu instrumen pengelolaan yang mampu memberikan landasan bagi perencanaan dan pengembangan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Pemerintah Kabupaten Bintuni. yang dilakukan selama periode akhir Maret s/d awal Mei 2005. dan Tokoh masyarakat di setiap kampung yang memiliki akses langsung ke kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Koordinator Badan Monitoring.

dalam dokumen ini telah dirumuskan secara detai Rencana kegiatan pengelolaan yang difokuskan pada 7 (tujuh) aspek.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong masyarakat kota Bintuni pada masa 25 tahun mendatang adalah “Pada Tahun 2030 Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Akan Berjalan Ideal Dan Optimal. sehingga dalam aktivitas perencanaan lebih lanjut akan didapatkan beberapa strategistrategi tertentu yang tidak relevan lagi. prioritas kegiatan perlu dievaluasi dan dimodifikasi. Pemanfaatan. Oleh karena itu. Pendukung/Kelembagaan. Ringkasan Eksekutif RI-3 . yaitu aspek Pemantapan Kawasan. akan dimonitor dan dievaluasi oleh unsur internal pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni maupun oleh Forum komunikasi yang bersifat independent. Untuk menunjang terwujudnya visi pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Perlindungan dan Pengamanan Kawasan. serta aspek Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan. Dalam perjalanan waktu. Dalam implementasi kegiatan Rencana pengelolaan Kawasan. Karena Kebijakan Pemerintah Yang Akomodatif Dan Didukung Oleh Kelembagaan Pemangku Kepentingan Yang Demokratif. Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan. isu-isu pengelolaan kawasan yang baru akan muncul. Selain itu. Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati. dalam dokumen ini juga telah disusun Rencana pembiayaan serta kemungkinankemungkinan sumber dana yang bisa di gali dalam menunjang implementasi kegiatan Rencana pengelolaan periode limatahunan dan duapuluh limatahunan.

.

Perhatian yang besar dari masyarakat dan kerja keras Tim Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni diperlihatkan dari antusiasme semua pemangku kepentingan dalam mengikuti proses penyusunan. akademisi. Oleh sebab itu. diskusi intern dengan institusi terkait di daerah. Tim penyusun Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dibentuk oleh The Nature Conservancy (TNC). sudah dikenal di dunia internasional dan juga tempat banyak penduduk menggantungkan hidupnya. berkelanjutan dan berdaya guna dapat terlaksana. Resort KSDA Bintuni).q. c. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menyambut baik hasil dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 25 tahunan yang telah dirumuskan dan disusun oleh Tim secara bersama-sama dengan para pemangku kepentingan. tidak hanya pada daerah dimana kawasan konservasi berada tetapi juga memberikan manfaat kepada lingkungan global. Upaya pengelolaan yang bertujuan untuk penyelamatan dan pelestarian kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan wujud dari tanggungjawab kita bersama selaku umat ciptaan Tuhan terhadap anugerah yang diberikan kepada masyarakat Teluk Bintuni. secara khusus saya meminta Pengelola Cagar Alam untuk dapat melaksanakan dengan sungguh-sungguh dan sekaligus pula melakukan koordinasi pelaksanaan berbagai kegiatan yang ada dalam Sambutan Bupati SB-1 . mampu memberikan manfaat yang besar. terutama segenap masyarakat Teluk Bintuni dalam upaya impelementasinya. Keberadaan kawasan konservasi di suatu daerah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong SAMBUTAN BUPATI Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan salah satu dari beberapa kawasan konservasi yang terletak di Kabupaten Teluk Bintuni. yang terdiri dari unsur pengelola kawasan (BKSDA Papua II. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni tetap mengharapkan dukungan dari semua pihak. Sehubungan dengan upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas. South East Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali. maka sinergitas dan kinerja para pemangku kepentingan dalam pengelolaan maupun pengembangan kawasan dapat berjalan secara efektif. sehingga upaya mewujudkan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara lestari. dan didukung oleh unsur Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni telah selesai menyusun rencana pengelolaan dan ini merupakan suatu momentum yang baik dimana ada banyak pihak yang berjuang bersama dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan lokakarya tingkat Kabupaten merupakan bukti kepedulian kita bersama dalam upaya penyelamatan kawasan ini. Cagar alam ini merupakan kebanggaan masyarakat Kota Bintuni. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni juga mengharapkan dengan adanya dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. dimulai dari proses konsultasi publik baik pertemuan kampung. transparan dan bertanggung jawab.

Masyarakat Kabupaten Teluk Bintuni secara umum juga saya minta untuk dapat mendukung sepenuhnya upaya pelaksanaan kegiatan di lapangan. Namun demikian. secara khusus pelestarian dan perlidungan kawasan konservasi di Kabupaten Teluk Bintuni. saya sampaikan kepada lembaga pendukung kegiatan The Nature Conservancy (TNC). Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan suatu momentum awal yang baik bagi pengembangan dan pengelolaan kawasan konservasi di Tanah Papua. Terhadap hal-hal yang mungkin muncul atau dijumpai di lapangan. South East Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dokumen rencana kegiatan dimaksud bersama dengan Kepala Dinas dan Instansi terkait. Ucapan terima kasih dan penghargaan juga. dinas lainnya se-Kabupaten Teluk Bintuni. hanya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa kita panjatkan puji dan syukur. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan pula kepada semua pihak baik instansi teknis terkait. lembaga pendidikan dan lembaga penelitian serta lembaga pelaksana teknis Departemen Kehutanan di Kabupaten Teluk Bintuni yang telah membantu memberikan konstribusi pemikiran dan berpartisipasi aktif dalam proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Bintuni. termasuk kemungkinan konflik kepentingan. Akhirnya. partisipatif dan berpegang pada azas demokrasi. Terima kasih dan penghargaan yang sama pula saya sampaikan kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu per satu atas partisipasinya dalam proses penyusunan rencana pengelolaan ini. untuk menambah arti dan nilai manfaat dokumen ini maka sekali lagi saya mengajak semua para pemangku kepentingan dan segenap masyarakat Teluk Bintuni untuk secara bersamasama mendukung implementasi kegiatan dalam dokumen program rencana pengelolaan ini. dalam atau selama pelaksanaan kegiatan ini saya minta dengan sangat untuk dapat dipecahkan bersama secara terbuka. sehingga kita boleh menikmati hidup yang baik hingga saat ini. Atas nama Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Tim Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan atas segala upaya dan kerja keras yang dilakukan selama ini. Agustus 2005 Sambutan Bupati SB-2 . yang telah membantu dan menfasilitasi proses penyusunan Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Kabupaten Teluk Bintuni selama ini.

model pengelolaan maupun instrumen kebijakan yang digunakan dalam pengelolaan kawasan konservasi selama ini di Papua kurang mengakomodir kepentingan dan aspirasi masyarakat . Sehingga. Namun demikian. proses penyusunan yang melibatkan para pemangku kepentingan serta publik di Kabupaten Teluk Bintuni memberikan makna yang penting dalam membangun dan merubah paradigma kebijakan pengelolaan yang lebih akomodatiif. Selain itu pula. Selain itu pula. Menginggat keterbatasan sumber daya kami yang kurang proposional dengan luas wilayah konservasi yang ada dalam wilayah pemangkuhan Balai KSDA Papua II Sorong di Papua. Upaya ini merupakan salah satu bantuan yang sangat berharga bagi kami dalam upaya pengelolaan kawasan konservasi di Papua. demokratik dan bertanggung gugat.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong SAMBUTAN KEPALA BALAI KSDA PAPUA II Perubahan arah kebijakan Departemen Kehutanan RI yang prioritasnya kegiatan lebih dititikberatkan pada konservasi dan rehabilitasi kawasan merupakan suatu peluang yang baikdalam upaya penyelamatan kawasan hutan di Papua. transparan dan demoktratik. kebijakan pengelolaan kawasan konservasi di Papua bersifat partisipatif yang Sambutan Kepala BKSDA Papua II SKBKSDA-1 . Disamping itu. pengelolaan kawasan konservasi menjadi hal yang dilematis dan tidak konstruktif di Papua. apabila diperhadapkan pada era desentralisasi pengelolaan hutan di daerah. tuntutan kepentingan akan kebutuhan dasar hidup masyarakat di Papua secara khusus masyarakat yang bermukim di sekitar dan dalam kawasan konservasi menjadi suatu tantangan yang harus segera dipecahkan bersama oleh para penggiat konservasi dan pemerhati lingkungan di Tanah Papua. sehingga pengelolaan kawasan konervasi tidak dapat berjalan secara efektif. perlibatan masyarakat adat dan penetapan kawasan konervasi yang kurang mengakomodir berbagai kepentingan masyarakat di masa lalu. Permasalahan kebijakan pengelolaan kawasan konservasi dan kepentingan masyarakat. Upaya proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang digagasi oleh The Nature Conservancy (TNC) merupakan suatu langkah awal yang bijak dan bukti nyata kepedulian para penggiat konservasi dan pemerhati lingkungan Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya dalam upaya mewujudkan pengelolaan kawasan konservasi di Papua yang partisipatif. berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat. transparan. secara khusus dalam wilayah kerja Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua II Sorong. erutama masyarakat yang berdiam di sekitar dan dalam kawasan konservasi di Papua merupakan masalah krusial yang harus segera diselesaikan. Penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang digagasi oleh Tim penyusun rencana pengelolaan kawasan CATB serta berkoordinasi dengan Balai KSDA Papua II juga merupakan langkah yang sejalan dan sesuai dengan program dan prosedural penetapan dan pengelolaan suatu kawasan konservasi.

Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada The Nature Conservancy atas segala dukungan dalam menfasilitasi proses penyusunan dokumen selama ini. yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu juga kami ucapkan banyak terimakasih. Ucapan terima kasih juga. Selanjutnya. Oleh sebab itu. melainkan merupakan tanggungjawab kita bersama segenap masyarakat Papua untuk melestarikan dan mewariskan kekayaan alam yang unik dan maha kaya bagi generasi akan datang di tanah ini. Balai KSDA Papua II Sorong menyambut baik dan menyampaikan selamat dan sukses atas diselesaikannya dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ini. disadari bahwa sumberdaya pada Balai KSDA Papua II masih sangat terbatas. Agustus 2005 Sambutan Kepala BKSDA Papua II SKBKSDA-2 . berkat dan anugerah yang tak ternilai harganya. maka kontribusi dan dukungan para pemangku kepentingan serta publik Manokwari masih sangat diharapkan juga dalam implementasi program selanjutnya. secara khusus pada wilayah Kepala Burung Pulau Papua bukan semata-mata merupakan tanggungjawab Balai KSDA Papua II selaku pemangku dan pengemban tugas pengelola kawasan. Dengan demikian. kami ucapkan terima kasih kepada Tim Faslitasi Penyusunan Rencana Pengelolaan CATB atas upaya dan kerja keras yang diberikan selama ini. sehingga proses kegiatan ini dapat diselesaikan dengan baik. Pengelolaan dan pelestarian kawasan konservasi di Tanah Papua.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dapat mengakomodir semua aspirasi para pemangku kepentingan dalam kawasan. Pada kesempatan ini pula. Sorong. Kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian dokumen ini. kami sampaikan kepada Bupati Teluk Bintuni serta Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni atas segala dukungan dan bantuan yang diberikan. implementasi program pengelolaan kawasan selanjutnya dapat berjalan lebih efektif dan seinergis serta meminilisasi konflik yang selama ini terjadi. Akhirnya. segala puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan perlindungan.

Dinas-Dinas Terkait di Teluk Bintuni. Konsultasi. BP Tangguh. tanggal 1 Juni 2005. Lokakarya Penjabaran dan Perumusan Draft Rencana Pengelolaan CATB bersama pemangku kepentingan terkait di Kabupaten Teluk Bintuni. 3. BKSDA Papua I dan Resort KSDA Bintuni. Dokumen ini dihasilkan melalui serangkaian tahapan kegiatan diskusi baik formal dan informal yang dilakukan Tim Penyusun RPK Cagar Alam Teluk Bintuni. dilaksanakan pada tanggal 2 Juni 2005. Penelusuran informasi-informasi yang pernah dilakukan di Cagar Alam Teluk Bintuni bekerjasama dengan beberapa stakeholder seperti Universitas Negeri Papua. TNC Bali. yang telah membantu memberikan kekuatan. Pemerintah Daerah Teluk Bintuni termasuk beberapa Dinas terkait. Pertemuan Kampung (village meeting) dan Rapid Social Assesment (RSA) di 14 kampung/kelurahan yang berada di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali pada tgl 6-8 Maret 2005. Kata Pengantar KP-1 . Penyusunan rencana kegiatan (work-plan) untuk keperluan internal Tim Penyusun RPK Cagar Alam Teluk Bintuni. dan LSM Mitra Pesisir. dan sosialiasi kegiatan penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni kepada Bupati Teluk Bintuni. Bulan Pebruari – April 2005. dan beberapa LSM lokal di Manokwari. 4. koordinasi. baik internal tim berupa konsolidasi dan koordinasi yang dilakukan secara regular. 2. dan Tokoh masyarakat di setiap kampung yang memiliki akses langsung ke kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 5. dilaksanakan di kantor TNC. serta Rapid Biological Assesment (RBA) dalam rangka pengumpulan data SOSEKBUD dan biologi kawasan. sehingga proses penyusunan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dapat diselesaikan dengan baik. di Bintuni. Lokakarya khusus dengan seluruh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan yang di wakili oleh Kepala Kampung. di Bintuni. yaitu : 1. Masyarakat yang diwakili LMA Bintuni dan Lemasom. maupun eksternal tim antara berupa konsultasi publik dan field survei. Akhir Maret 2005 . kesehatan dan menyertai serta melindungi kita.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni KATA PENGANTAR BKSDA Papua II Sorong Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan yang maha kuasa. Kepala Suku. yang dilakukan selama periode akhir Maret s/d awal Mei 2005. Rangkaian tahapan proses yang dilakukan Tim Penyusun RPK CATB secara umum terdiri dari beberapa tahapan kegiatan. CRMP Jakarta dan Mitra Pesisir Bintuni. 6.

Namun demikian.q. merupakan tugas pokok dan fungsi serta kewenangan Balai KSDA Papua II. Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Kelembagaan. Kata Pengantar KP-2 Hayati. Bupati Teluk Bintuni yang telah memberikan perhatian serius dan mendukung kami. Kepala Bappeda Propinsi Irian Jaya Barat dan Kabupaten Teluk Bintuni. Kegiatan ini dihadiri oleh Bupati Teluk Bintuni. Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan. yaitu aspek Pemantapan Kawasan. analisis permasalahan. pembiayaan. c. 2. 3. dinas terkait (Dinas kehutanan dan Dinas Kelautan dan Perikanan) di Teluk Bintuni. Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dan para pemangku kepentingan dalam kawasan. DS. sehingga semua proses kegiatan dapat berjalan dengan baik. Pelestarian Hutan dan Konservasi Alam. Koordinator Badan Monitoring. aspek Sarana Pendukung . rencana kegiatan. pelaksanaan kegiatan bukan merupakan tanggungjawab sepihak pengelola kawasan dan pemerintah daerah. Pemaparan Draft Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilaksanakan pada tanggal 22 Juli 2005 di Departemen Kehutanan. sehingga koordinasi dan kerjasama dapat berjalan lancar dan sukses. Rektor Unipa Manokwari. Pendukung/ Kegiatan (Peneliti Mangrove. Implementasi kegiatan pengelolaan selanjutnya. APU Oseanologi-LIPI). Khusus untuk rencana kegiatan. bukan lagi menjadi tugas Tim Penyusun RPK CATB. 8. dan monitoring dan evaluasi. pengorganisasian. dan masyarakat Teluk Bintuni yang diwakili oleh Ketua LMA Bintuni dan Lemasom. kebijakan. bantuan dan kerjasama yang diberikan kepada kami.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 7. Badan Perencana Daerah Kabupaten Teluk Bintuni beserta jajarannya atas bantuan dan arahan selama proses penyusunan dokumen ini. Puslitbang Pemanfaatan. pada kesempatan ini kami menyampaikan terima kasih kepada: 1. melainkan tanggungjawab bersama para pemangku kepentingan dalam kawasan dan juga masyarakat Teluk Bintuni dalam mendukung dan menyukseskan pelaksanaannya. Dengan selesainya Dokumen Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni ini. Pengesahan dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Dirjen PHKA. Dokumen ini memuat kondisi umum kawasan. Perlindungan serta dan Pengamanan Prasarana Kawasan. Kepala Balai KSDA Papua II atas dukungan. difokuskan pada 7 (tujuh) aspek. Jakarta.c. di Jakarta. Pengelolaan. Sukristijono Sukardjo. 9. Kajian ilmiah (scientific review) draft Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh Dr. Dokumen Rencana Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan arahan umum kegiatan yang diharapkan dapat di realisasikan oleh para pemangku kepentingan dalam program pengelolaan kawasan CATB sesuai dengan kewenangan serta tugas pokok dan fungsinya.

Ir. khususnya masyarakat yang bermukim di kampung-kampung di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Universitas Negeri Papua Manokwari dan Universitas Trisakti Jakarta. Jamartin Sihite. MSi Ir. sehingga memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat Teluk Bintuni dan juga mewujudkan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari.Bogor atas bantuan editing dan koreksian serta dukungan data-informasi yang diberikan 7. Chandra Gustiar. Masyarakat Teluk Bintuni. MSi Sergius Kosamah. atas bantuan teknis dan informasi yang diberikan. Southeast Asia Center for Marine Protected Areas (SEACMPA) Bali. Teman di BP Indonesia khususnya Jalal. MSc Ir. Dr. 5. 6. Mendama Tambe Jaga Tane Cagar Alam Teluk Bintuni Bintuni. Semoga dokumen ini dapat menjadi acuan dan instrumen dasar bagi Balai KSDA Papua II Sorong dan Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni sebagai upaya dalam pengembangan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. berkelanjutan dan berdaya guna. Agustus 2005 Tim Penyusunan RPK Cagar Alam Teluk Bintuni. MSc Ir. sehingga penyusunan dokumen dapat diselesaikan dengan baik. Retno Suratri. The Nature Conservancy (TNC). 9. SH Kata Pengantar KP-3 . Piere dan Habel atas bantuan dan dukungan yang diberikan 8. Teman-teman di Pusat Studi Sumberdaya Alam dan Lingkungan (PS2AL) . sehingga proses penyusunan dokumen ini dapat direalisasikan dengan baik.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 4. Kepada instansi teknis terkait dan dinas serta semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu di sini. atas dukungan. bantuan dan fasilitas. Obed Lense.

.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong .

.

………………………………………………………………….2.1........…………………… A.3..………………………….........………..3............... ………………………..... …………………………………………………………....... Ekosistem . B..………………………………… B.... B. A. A2....... Species .……..... KEADAAN UMUM KAWASAN.…………………………………………. ………………………………………………………....... Pendidikan.2. A.…………………………. Ekonomi dan Budaya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman PETA SITUASI RINGKASAN EKSEKUTIF SAMBUTAN BUPATI KABUPATEN TELUK BINTUNI SAMBUTAN KEPALA BALAI KSDA PAPUA II KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN I........………..... Visi dan Misi Cagar Alam Teluk Bintuni ....……………….... …………………………………………………….………. A........ Letak dan Luas......... Geologi........…… A3.2...1.... Perlindungan ..…. F.....………….. ……………………………………………………………… II.......2.... C5.... Latar Belakang.....2....... Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hidrologi ...1.... B........2...... Kondisi Fisik Kawasan....... Penduduk……………………………………………………………………...2... C.3....4....1. A............... ………….………………………………………………...1...….……………………………….........………………………………………...…………….. Hutan Hujan Dataran Rendah ..1. E..... Konservasi. A.. A....…… A....... ………………………………………………………………… C2............... Informasi Umum Kawasan .3........... Ruang Lingkup........………………………........... A... A..……………………………………………………………………........3............ Risalah Kawasan ...... Pemanfaatan Sumberdaya...... I-1 I-1 I-5 I-6 I-6 I-6 I-6 I-7 I-7 I-8 I-8 I-9 II-1 II-1 II-1 II-1 II-2 II-3 II-4 II-4 II-5 II-5 II-6 II-7 II-7 II-7 II-9 II-15 II-16 II-17 II-25 II-25 II-28 Daftar Isi i .... . …………....……………………. Sasaran ........ C3......2...... …............1.. …………………………………………………………...........………..... Maksud dan Tujuan ....3. Aksesibilitas..……………………………………………… A........ Iklim......... Fauna .......2. A1... Hutan Mangrove ..... Mata Pencaharian…………………………………………………………..………………………. ………………... A.3...…………………………………………….. ........1 Sejarah Penetapan Kawasan ........ PENDAHULUAN ........ ………………………………………....…………..... Peningkatan Sistem Pengelolaan ...……………………………………....... Karakteristik Sosial...2...... A.. ... A......... …………………………………………...1..………………......………….......2.... C4. …………………………………………………………………………… C1. Kondisi Biologi Kawasan ....1......3..... Flora …………………………….... D.... Tanah.........…………..2........ Metode Pendekatan .........………….1. ………………………………………… A..

..8..6............1..………...........3....... C....... C.7..…….................. ....……………………………..... .... B..... C1... Dasar Hukum....... C.………………………………......................3...3....... C... III............5.... B.......... C.....4..... Rencana Strategis Ditjen PHKA……………………………………..4........ C. Faktor Penghambat ......3.…………………………… B. D...... IBSAP 2003... D.............………………………………………….. Kesehatan ……………………………………... D.. Adanya Perkampungan di Dalam Kawasan .....................2..........3.........1.... Infrastruktur..4...6.. Kebijakan Umum dan Strategi Pembangunan Cagar Alam ....… B........3............... B............. A.......3... B.3...............………………………..........2..... C.............. C3.......4. Pendugaan Nilai Ekonomi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni........ B............. C..........……………....................1.6... Pola Pemanfaatan SDA........ Agama ...................……..2............... ………………………………………………………………………...3..5... B..1.…………………...............3................1........ Pengelolaan Cagar Alam .. … C.....…………………………………………..……………………………………… B..... Tempat Berburu...... BAPI 1993……………………………………………………………………… B....... Tumpang Tindih Kawasan dengan Penggunaan Lahan Lain ......6............. Pengelolaan Hutan Lestari................................ Pengembangan Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni....3.. .......... C.6.……………………………………………….3.5.... ………....1...... ...................6.. C..………………………………..6. C...... Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan Hutan Mangrove ......... …………………….....4. .....1..... Kebijakan Konservasi Biodiversity di Indonesia .. Rusa dan Burung ... Biologi………………………………………………. KEBIJAKAN .... B............. Kearifan Tradisional Masyarakat.………………………………… B.........1...6...3.......... Penangkapan dan Pengumpulan Hasil Laut ...... Pandangan Masyarakat Adat terhadap SDA (Tanah & Hutan).....2.... Fisik.......3....... …………………….........……………………………………..…………………………………………………… B.……………………………………………………… C.......……………………………………………… C2.. Sektor Kehutanan............Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman B......3...............………………………...... Pengelolaan Daerah Aliran Sungai ...2................. Peran Masyarakat (Community Involvement) ...3...6............. B....... B.............. Kepemilikan Lahan .................... II-30 II-30 II-31 II-33 II-34 II-34 II-34 II-35 II-37 II-38 II-40 II-44 II-45 II-46 II-48 II-50 II-54 II-55 II-55 II-55 II-56 II-56 II-57 II-57 II-58 II-59 II-60 II-60 II-61 II-61 II-62 II-62 III-1 III-1 III-2 III-2 III-4 III-5 III-5 III-5 III-15 III-20 III-23 Daftar Isi ii ........ Penangkapan Hasil Perikanan yang tidak Ramah Lingkungan ... ... Sarana dan Prasarana Transportasi………………………………………. B.. Pemanfaatan Tumbuhan ..... D. Pendidikan ……………………………………....................... Pendidikan dan Kesehatan ........………………………....... Letak Kawasan ... C............1.. Pemanfaatan SDA di Kawasan CATB.....1.... Pemanfaatan Sumberdaya Alam . Adanya Tempat Penimbunan kayu di Dalam Kawasan ....... B......………………………………… B. Adanya Perburuan Buaya.......... Kapasitas Pengelola Kawasan........1.........…………………………………………………….……. C.3. ... Tempat Berladang .....2.....2...... ....... ....................3.... .. Permasalahan.. ....................................... Sosial Ekonomi Budaya....... .....2.

..4... Rendahnya partsipasi Masyarakat ............ Perumusan Strategi Pengelolaan ...... ……………………….................2............ ………………………...............................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman D......... V.....……………........……………………..... Alternatif Pemecahan Masalah .......1 .............. …………………………………………….....…………………………….. dan Ancaman (KKPA) .1............... A. Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Otoritik.......................... C. Kelemahan......... E..………………....………………………………………………........................ B. B...... Aspek Kebijakan ..1.. ........1............ Pengembangan Wilayah …………………………………………………………… III-26 D...........1.......2..... Alternatif Pemecahan Masalah ......... Permasalahan ..... B............................ ... IV-1 IV-1 IV-1 IV-1 IV-6 IV-6 IV-8 IV-8 IV-8 IV-17 IV-21 IV-26 IV-26 IV-26 IV-26 IV-29 IV-34 IV-34 IV-35 IV-35 IV-36 IV-36 IV-37 IV-39 IV-40 V-1 V-1 V-2 V-2 V-3 V-6 V-10 V-12 V-13 V-17 V-17 V-18 V-19 Daftar Isi iii ...2.…….........2........…………………………..... D....1............ B.... Skenario Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni ........ Pemantapan Kawasan ……………………………………………………… B.. Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan…………………………….......... D..... C... …………………..1.... Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Otoritik ........ C.........1....................1... C...........6................................ Peluang............3..........4.. D............. F............ A...... Aspek Biologi Kawasan . Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Demokratik .. Aspek Pengelolaan.…………..2......1......... Sarana Prasarana Pendidikan ..2.................. ………………………………………………………………...... Pola Pemanfaatan Sumberdaya Alam ...... Analisis Keterkaitan antar Unsur SWOT ....... Sarana Prasarana Penelitian .. B......... C.…………………………………..…………………………………………………......1.............. B... A.............. ANALISIS PERMASALAHAN ....... …………………………………………… C...……………………..... E........... E.... D...... III-28 IV..........3........... Sarana dan Prasarana……………………………………………………………… C............... Permasalahan …………............ Tinjauan Panataan Ruang Kabupaten Teluk Bintuni ......1...………………..... Rencana Kegiatan Pengelolaan …………………………………………………..........………………………………………..2....... ……………………………………………...... Sarana Prasarana Pengelolaan .. Permasalahan ............ A... B....……………. ……………………………................... …………………… III-26 D....... ....... B............................ B..…………… C. B..... C...2...... Pemanfaatan. A........3................... Analisis Kekuatan..... Ekosistem ...……............ Pengelolaan dan Kebijaksanaan ... Hubungan Ruang Kawasan Cagar Alam Dengan Daerah Sekitarnya.....1...................... Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Demokratik......1.. RENCANA KEGIATAN ..... Pendukung/Kelembagaan…………………………………….......1... Alternatif Pemecahan Masalah ..…… A.. Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya.......5................. Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati............... Flora dan Fauna .... Identifikasi dan Penilaian faktor Internal dan Eksternal .....................1.. D.... B.....2 .. Umum……………………………..............………………………………………………...........1....... Perlindungan dan Pengamanan Kawasan.........2..…………………….......2.

.MONITORING DAN EVALUASI .....3... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN VII-1 VII-1 VII-1 VII-2 VII-3 VII-3 VII-6 VII-8 VIII-1 VIII-1 VIII-1 VIII-2 VIII-2 VIII-6 VIII-7 VIII-7 VIII-7 VIII-8 VIII-8 VIII-9 IX-1 Daftar Isi iv .... Koordinasi dalam Lingkup Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni.......... VI-1 A. Sumber Dana.2..... A........ A....... IX.....2 .......... VI-1 B.................2........ B. ………………………………………………………………. B...........4.................. ……………………………………... B..... ……………………………………....1... PENUTUP .. Forum Komunikasi Independen ...... . PENGORGANISASIAN .... A...…….....1.... Pelaksana Kegiatan. A..................1..... Tugas dan Tanggungjawab ................ ………………………………………………………………………..1.2......... Kebijakan Pengelolaan............... Sumberdaya Pendukung .2...1............. B...... Rincian Biaya……………………………………………………………………….Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR ISI Halaman VI..... Lingkup Kegiatan Badan Forum Komunikasi Independen ...2.……………………………………………………........ Koordinasi dengan Instansi Lain …………………………………………… B.......…………………………………………………………………… VIII...... …………………………………………… A.......... A.......................... Penyusunan Staf ....... B............................... Forum Komunikasi Independen ........…………………………….............. ........ Tanggungjawab Administrasi ……………………………………………………… C... Mekanisme Kerja Forum Komunikasi Independen..........................……. Komposisi Forum Komunikasi MONEV CATB...2... Pengembangan Organisasi dan SDM . ... Rencana Waktu Pemantauan dan Evaluasi.... A... Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni ........3... A.………………………………………...………………………………… A....... PEMBIAYAAN .. .................2.............. Pembinaan SDM.. ……………………………............. ……………………………................. A2.....…............ Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni ……………………………......... A...2.. Kelembagaan dan Koordinasi ........... VI-2 VII..

.................... II-16 Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi ekosistem hutan dataran Rendah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni................................................ ......................... Distrik Dan Kampung yang Memiliki Akses Terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni……………………………………………………………………… II-4 Jenis tanah yang terdapat di sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ........... II-18 Jenis burung yang dicatat selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni..........................……...………………………………… II-49 II-20 Jalur pelayaran reguler dari dan ke Bintuni yang dilayani oleh PT Pelni dan pelayaran swasta lain . II-41 II-18 Pemanfaatan komponen flora dan fauna pada ekosistem mangrove di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No I-1 II-1 II-2 II-3 II-4 II-5 II-6 II-7 II-8 Keterangan Halaman I-9 Stakeholder di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) ........................................... II-11 Mata Pencaharian penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ........................……………………………………………………………… II-33 II-16 Hasil perikanan yang dihasilkan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) beserta harganya................................. II-43 II-19 Sarana dan jenis transportasi kampung di sekitar CATB ke Ibukota Distrik dengan saran transportasi sungai/laut .............................. II-22 Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni ................. II-30 II-13 Sarana Kesehatan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 ............................................. II-17 Jenis herpetofuana yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...................…………………………………… II-50 II-21 Fungsi dan Manfaat Lingkungan Ekosistem Mangrove............. …....... ……………………… II-20 Jenis mamalia yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) serta berdasarkan informasi masyarakat setempat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...................................…………………………………………………… II-32 II-15 Jumlah penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan agama.....................................................................................................................................................................................……. .......... II-52 II-23 Prediksi Nilai Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan CATB..............................................…… II-26 II-28 II-9 II-10 Jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur di sekitar Cagar Aalam Teluk Bintuni..................................................................................................... Jenis-Jenis mangrove sejati pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .......................………………………………………… II-29 II-12 Sarana Pendidikan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2002... II-40 II-17 Pemanfaatan vegetasi palem oleh masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ...................................................... .......................................... ...... …………………......... ....................……………………………………………………………..................................... II-53 Daftar Isi v ......................................................................................……………………………………………. II-6 II-16 Jenis-Jenis asosiasi mangrove pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .......................................................... II-51 II-22 Asumsi Dasar Penilaian Jenis Manfaat Hutan Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ......................... II-31 II-14 Tenaga Kesehatan yang ada di kampung sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005.......................................................

............................................................................... ................................................ IV-33 IV-11 Matriks hasil analisis SWOT ................................................................................................................... IV-22 IV-8 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ..................................................…………………………………………………… IV-4 IV-3 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ……………………………………………………………............................... ………………………………………………………........... IV-24 IV-10 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .............. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .................... IV-40 V-1 V-2 V-3 V-4 V-5 V-6 V-7 Prioritas rencana kegiatan pengelolaan kawasan selama dua puluh lima tahun (2006-2030) Cagar Alam Teluk Bintuni.............................. ………………………………………………………..................... VI-3 Rencana alokasi biaya pengadaan sarana dan prasarana untuk jangka pendek (per tahun) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010) ....Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No Keterangan Halaman IV-1 Kondisi personil pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005 ………………………………………………………………………… IV-3 IV-2 Kondisi sarana dan prasarana pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005........................ V-5 Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam mengembangkan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati...................... ......................... ...........................................…………… V-1 Rencana kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan........ VI-4 Rencana alokasi biaya pengadaan sarana dan prasarana untuk jangka panjang (per tahun) pada periode 25 tahun (2006-2030) ........... VI-19 Daftar Isi vi ......................................... ……………………… IV-23 IV-9 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ........................ V-9 Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek perlindungan dan pengamanan kawasan................................................ IV-7 IV-4 Permasalahan sekaligus ancaman terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasanCagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 ........... V-12 Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek pendukung/kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .............… IV-14 IV-7 Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove dan nipah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni........................................................ VI-2 Rencana alokasi biaya pengelolaan kawasan CATB jangka panjang (lima-tahunan) pada periode 25 tahun pertama (2006-2030).............................. V-3 Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan.............……… IV-9 IV-5 Tempat Penimbunan Kayu (TPK)/ Logyard yang menempati ekosistem hutan dataran rendah dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan tahun 2005 ...... V-13 V-16 VI-2 VI-9 VI-16 VI-1 Rencana alokasi biaya pengelolaan jangka pendek kawasan CATB (per tahun) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010) ....... IV-10 IV-6 Permasalahan sekaligus ancaman dan penyebabnya terhadap keberadaan ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 .......

................ VII-9 VII-10 VIII-3 VIII-4 VIII-3 Rencana monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh unsur internal pengelola kawasan .................................. VIII-2 Kondisi personil pendukung pengelolaan Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa ... VIII-1 Kondisi fasilitas pendukung pengelola Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa...........................................…………… VIII-8 Daftar Isi vii ..................................................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR TABEL No Keterangan Halaman VII-1 Kondisi staf pengelola cagar alam dan rencana pemenuhan staf berserta rencana pelatihan .................. ……….. VII-2 Rencana kebutuhan biaya pemenuhan staf dan rencana pelatihan di Cagar Alam Teluk Bintuni...................................................

.................. Cagar Alam Teluk Bintuni .................................................................................................) yang bisa ditemukan di hutan dataran rendah dan magrove di Kawasan CATB .................................... Cagar Alam Teluk Bintuni .......... II-13 Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Tanjung Pitaboni...................................…........... kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni...............................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No I-1 I-2 I-3 I-4 I-5 II-1 II-2 II-3 II-4 II-5 II-6 II-7 II-8 II-9 Keterangan Halaman Cagar Alam Teluk Bintuni……………………………………………………………… I-1 Hutan Mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni……………………………………….......................................... Kaboi di kawasan CATB.... Tirasai....... Vegetasi mangrove Zona Avicenia-Sonneratia di P... Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) di S.................. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil Tata Batas Sub Biphut Manokwari Tahun 1999 ..................... Tipe hutan hujan dataran rendah sekunder di dekat kampung Mamuranu.................………………………….......................... II-12 Vegetasi Mangrove S... II-8 II-8 II-9 II-9 II-10 II-10 II-10 II-12 II-12 II-14 II-14 II-10 Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) campuran pada Zona Pasang Surut di S......) yang memiliki nilai ekonomis yang dapat ditemukan di kawasan CATB ............. I-3 Kerangka Umum Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (General Framework).......................... II-15 Jenis Anggrek (Bulbophylum sp........................................................ Struktur Hutan Dataran Rendah Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni................................................... I-2 Abrasi di Hutan Mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni......... Simeri Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . ………………………………………………… II-17 II-16 Jenis buaya muara (Crocodylus porosus) yang ditemukan di kawasan CATB ....... Cagar Alam Teluk Bintuni ........ Cagar Alam Teluk Bintuni ..................................... II-1 II-2 Peta Kerja Kegiatan Survei Kondisi dan Potensi Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 ............................................................................ II-11 Pengukuran dan pengambilan titik koordinat plot pengamatan vegetasi mangrove di P................. Simeri di kawasan CATB .................................................... I-14 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang Diusulkan WWF/IUCN/PHPA 1983............................................. Vegetasi mangrove Zona Rhizophora-Bruguiera di S............ Yensei Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .......................................……………………………………… II-7 Tipe hutan hujan dataran rendah primer di belakang formasi hutan mangrove S.....................................…………………………………………………… I-12 Hierarki Penentuan Prioritas Kegiatan Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni.................... II-14 Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Sungai Sumberi Cagar Alam Teluk Bintuni .......................... Mania............................ Pasamai …………………………………………........................................................................................................................... II-18 II-19 II-18 Jenis kepiting bakau (Scylla sp.................................................................. Tirasai............. II-17 Peta Lokasi Kegiatan Survei Keberadaan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ....... II-26 Daftar Isi viii .......…… II-24 II-19 Lokasi Pemukiman penduduk K.............................................................................

.................................................................... yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB .............................. II-38 II-24 Jenis kerang Polymesoda coaxan yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB ........ II-38 II-25 Jenis kepiting bakau Scilla sp....... II-49 II-37 Pembukaan lahan hutan dataran rendah untuk logyard kegiatan logging di dekat Kampung Tirasai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ......................................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No Keterangan Halaman II-20 Peta Lokasi Kampung yang berada di dalam dan sekitar Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005...........…………………………………………… II-56 II-39 Masyarakat baru pulang berburu di dalam Kawasan CATB………………………....................... II-34 Sarana transportasi udara jenis Twin-Otter di pelabuhan udara kota Bintuni yang melayani penerbangan ke dan dari kota Bintuni ............................ II-40 II-27 Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni... . II-31 Model Kandang pembesaran anakan buaya di Kampung Yensei...................................... II-55 II-38 Pengendapan lumpur (sedimentasi) yang membentuk delta di muara S............................................. Distrik Idoor ........................................................................................ II-60 Daftar Isi ix .......................................................................................... II-39 II-26 Bentuk pemanfaatan jenis palem sebagai (a) busur dan anak panah....................... II-21 Salah seorang anggota masyarakat nelayan di K..................................... dan (c) anyaman keranjang …………………………………….................................................. II-59 II-40 Salah satu Kondisi Pemukiman penduduk (K............………………………………………………..... II-27 II-28 II-22 Penangkapan ikan dengan menggunakan “JARING BALABUH” yang dilakukan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB ………....................... II-29 Rumah tradisional masyarakat lokal yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari vegetasi nipah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ............... Korano Jaya setelah melaut . (b) lantai rumah/para-para............................................ II-42 II-42 II-44 II-45 II-45 II-47 II-48 II-35 Sarana transportasi darat jenis land cruiser (hardtop) yang melayani transportasi Manokwari-Bintuni PP ........................ Bintuni/ Wasian di dalam Kawasan CTAB...... Mamuranu) yang terletak di dalam kawasan CTAB .............................. II-42 II-28 Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.............. yang biasa dikumpulkan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB .. II-30 Dendeng rusa dan babi hutan yang diperoleh dari berburu di hutan sekitar kampung Mamoranu dalam Cagar Alam Teluk Bintuni......................................................................................... II-48 II-36 Sarana transportasi laut/sungai jenis longboat yang digunakan masyarakat di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni ........ II-33 Peta kepemilikan lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat ...... II-59 II-41 Diskusi dengan masyarakat Banjar Ausoy tentang tumpang tindih LU 2 dengan Batas kawasan CATB...... II-32 Lahan kebun dan bekas kebun masyarakat lokal di Kampung Mamoranu yang berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ..............…......................................................................................................................................………………......................................... II-38 II-23 Jenis siput bor Bactronophorus sp......................

. Yensei dalam rangka penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni............................... VII-1 Struktur arus informasi dari tahapan pelaksanaan pengelolaan di Cagar Alam Teluk Bintuni ..................... IV-10 Jenis burung kasuari kerdil (casuarius benetti) yang telah dilindungi undang-undang yang populasinya terancam ..................................... IV-11 IV-12 IV-14 IV-15 IV-8 Terinvasinya hutan bekas perladangan oleh jenis pionir di K........................................................ CATB IV-17 IV-9 Jenis burung mambruk (Goura cristata) yang telah dilindungi undang-undang yang populasinya terancam.......... IV-11 IV-4 Kebun masyarakat lokal di Kampung Mamuranu di dalam kawasan CATB ................................................................................................................................................................ IV-2 IV-2 Satu-satu sarana transportasi dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ................................. Mamuranu............ IV-3 IV-3 Pembukaan lahan hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove sebagai logyard di S........................ .............................................................................................................................. VII-2 Struktur sistem pengelolaan kawasan Cagar Alam.............. ..................................... Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni............... IV-7 Kerusakan hutan mangrove akibat erosi tepi dekat muara sungai Wasian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni......................... III-27 IV-1 Pemukiman di Desa Anak Kasih yang dibangun Dinas Sosial Propinsi Papua dan berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ………………………… . .................................................. IV-11 Jenis kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus) yang telah dilindung undang-undang yang sudah jarang dijumpai di hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni ................................................... VI-1 VII-2 VII-6 VII-7 VIII-9 Daftar Isi x ........ IV-12 Jenis satwa buaya muara (Crocodylus porosus) yang telah dilindungi undang-undang populasinya menurun akibat perburuan liar di Cagar Alam Teluk Bintuni ................. Korano Jaya dan K... VII-3 Struktur organisasi pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni ............................. VIII-1 Mekanisme kerja Forum Komunikasi Independen .......... Sumberi di kawasan CATB........ IV-30 VI-1 Alur pengusulan pelaksanaan kegiatan dan implementasi kegiatan........................Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR GAMBAR No Keterangan Halaman III-1 Rencana Pola Pengembangan Kota Bintuni sebagai Ibu Kota kabupaten Teluk Bintuni ............................................................................................................................ IV-13 Diskusi bersama masyarakat K............................. IV-5 Salah satu logyard yang memanfaatkan sebagian ekosistem mangrove di S............................................................................. Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni .. IV-6 Bentuk gangguan ekosistem mangrove yang diakibatkan oleh tongkang pengangkut kayu log di S............. IV-18 IV-19 IV-19 IV-19 IV-29 IV-14 Kegiatan Lokakarya Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan .................................................................

... L-21 17 Rangkuman Catatan Hasil Presentasi Draf Akhir Rencana Pengelolaan Kawasan CATB di PHKA Jakarta (22 Juli 2005) ………………………………………………… 18 Peta Kerja Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2006-2030………......... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi........... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Mangrove S.................................... ........................... Kerapatan (N/Ha).................... L-13 L-14 13 Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi...... Frekuensi........ L-11 Jenis....... Cagar Alam Teluk Bintuni L-11 Jenis............................. Kerapatan (N/Ha).............. Famili.......... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai)....... Jenis.......... Frekuensi......................... Kerapatan (N/Ha).. Frekuensi............ Kerapatan (N/Ha).................... L-23 L-25 Daftar Isi xi .. L-13 11 Jenis.................................................. L-10 Jenis......... Kerapatan (N/Ha). Cagar Alam Teluk Bintuni ................. L-12 4 5 6 7 8 L-12 9 L-12 10 Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni)............. Frekuensi............... Cagar Alam Teluk Bintuni ...... Famili......... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Mangrove S...................... Famili.. Cagar Alam Teluk Bintuni .............Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR LAMPIRAN No 1 2 3 Keterangan Halaman Istilah dan Terminologi yang termuat dalam dukumen ..................... L-15 15 Programme of two-days meeting on Establishing the Bintuni Bay Nature Reserve Management Plan………………………………………………………………………. . dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni)..... Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0.... Babo ................ Famili.. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai)........ Simeri...........................46 ha) ................. Frekuensi............ Cagar Alam Teluk Bintuni ........... Famili..... 12 Jenis........ Simeri......46 ha) ........................... Famili....................... Famili............ Frekuensi.................................................. L-2 Data suhu udara ambien (0C) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil dicatat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah................. Cagar Alam Teluk Bintuni ........................ Kerapatan (N/Ha)........ Frekuensi................. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni)........ Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0.... ................. Famili...... Jenis.................................. L-10 Data kelembaban relatif udara ambien (%) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah..................... dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Sungai Sumberi.. Babo ...... L-20 16 A COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the traditional community members who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve during the Kabupaten Meeting in Bintuni …………………………............ L-11 Jenis......... Frekuensi.............. Cagar Alam Teluk Bintuni .... Cagar Alam Teluk Bintuni .............. ........ Kerapatan (N/Ha)........... Kerapatan (N/Ha)......... L-14 14 Rangkuman Hasil Workshop Tingkat Kabupaten Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 ……………………………………….........................

.

Pantai Utara Jawa. Hasil-hasil penelitian juga telah menngkatkan pemahaman tentang nilai. Teluk Jakarta. yaitu kurang lebih 9. Cagar Alam Teluk Bintuni luas mangrove di dunia. Selat Malaka.50% dari total Gambar I-1. Kondisi ini seyogyanya menyadarkan bangsa Indonesia untuk memperbaiki pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan agar tercapai pembangunan yang berkelanjutan. 1997). Latar Belakang Pengalaman ketika krisis moneter memberikan pengalaman yang sangat berharga. telah mengalami kerusakan yang melewati toleransi daya dukung lingkungan. misalnya. dan padang lamun. Luas mangrove di Indonesia menyumbang 23. PENDAHULUAN A. Salah satu upaya yang perlu dilaksanakan untuk kepentingan pengelolaan sumberdaya yang menyeluruh adalah melakukan optimalisasi pemanfaatan sumberdaya yang tepat yang mempertimbangkan aspek ekonomi dan lingkungan berada pada posisi yang seimbang. terumbu karang. Wilayah pesisir Indonesia. dan atribut ekosistem mangrove. seperti eksploitasi berlebihan terhadap mangrove dan terumbu karang yang akan menghilangkan fungsinya sebagai perlindungan alami terhadap badai dan gelombang. ekosistem mangrove mempunyai peran lebih menonjol. yang terdiri dari tiga ekosistem utama. biodiversitas mangrove dan konservasinya telah menjadi perhatian dunia. yaitu mangrove. Pada waktu yang sama. fungsi. habitat kawasan pesisir di setiap pulau-pulau di Indonesia berada dalam tekanan yang berat sebagai akibat pertumbuhan penduduk dan pembangunan. Skala dampak manusia pada eksositem mangrove di Indonesia telah secara dramatis selama dekade terakhir memperlihatkan ancaman serius. Krisis ini berdampak tidak hanya pada sistem perekonomian tetapi juga pada sistem lingkungan (ekologi) nasional. Dari ketiga ekosistem pesisir tersebut. Pada banyak daerah dapat dijumpai terjadinya eksploitasi sumberdaya alam yang mengabaikan kelayakan ekologis dan keberadaan kawasan lindung. tersebut Keberadaan ketiga ekoistem sangat vital bagi produktivitas perairan dan perikanan. Sehingga dalam tahun-tahun terakhir ini. serta pencemaran perairan pesisir yang Pendahuluan I-1 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong I. tangkap lebih (over fishing) terhadap sumberdaya ikan yang akan mengakibatkan musnahnya berbagai jenis ikan ekonomis penting.6 juta ha yang berada dalam wilayah administrasi kawasan hutan dan non-kawasan hutan (Spalding et al. Kondisi krisis menyebabkan upaya pemenuhan kepentingan ekonomi melupakan aspek lingkungan..

di atas lahan maupun di Pendahuluan I-2 . (5) keindahan bentang darat dan (6) pendidikan dan pelatihan. 1998). 1999). pantai selatan dan timur Kalimantan. badai dan juga merupakan panyangga bagi kehidupan biota lainnya yang merupakan sumber penghidupan masyarakat sekitamya. gelombang. Hutan mangrove berkaitan erat dengan tingkat produksi perikanan. Menurut Kusmana (2002) pada tingkat ekosistem sebagai wetland secara keseluruhan hutan mangrove mempunyai peranan/fungsi sebagai (1) pembangunan lahan dan pengendapan lumpur. daerah mencari makan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan (ikan. baik yang hidup di perairan. seperti abrasi. pantai Cilacap dan pantai selatan Irian Jaya semuanya masih berbatasan dengan hutan mangrove yang cukup luas dan bahkan masih perawan. Gambar I-2. udang dan kerang-kerangan) baik yang hidup di perairan pantai maupun Iepas pantai. salah satunya disebabkan oleh rusaknya mangrove di daerah sekitarnya (Noor et al. serta peredam gejala-gejala alam yang ditimbulkan oleh perairan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong akan mengurangi produksi ikan dengan merusak tempat pemijahan dan habitat yang bernilai lainnya (Cicin-Sain dan Knecht. Pada sisi lain diketahui bahwa menurunnya produksi perikanan di Bagan Siapi-api yang sebelum perang Dunia II merupakan wilayah penghasil utama ikan di Indonesia bahkan di dunia. (2) habitat fauna terutama fauna laut. Fungsi mangrove yang terpenting bagi daerah pesisir adalah menjadi penyambung darat dan laut. (3) lahan pertanian dan kolam garam. Hal ini dapat dilihat bahwa daerah-daerah perikanan potensial di Indonesia seperti di perairan sebelah timur Sumatera. Selain itu fungsi ekologis hutan mangrove yang penting adalah sebagai daerah asuhan (nursery ground). (4) melindungi ekosistem pantai secara global. Hutan Mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni Besarnya peranan hutan mangrove atau ekosistem mangrove bagi kehidupan dapat diketahui dari banyak jenis hewan.

terutama disebabkan oleh tekanan penduduk untuk pemukiman. Abrasi di Hutan Mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni pendaratan kapal. udang dan hewan lainnya. mencapai 4. Banyak jenis ikan yang bernilai ekonomi tinggi menghabiskan sebagian siklus hidupnya pada habitat mangrove (Sasekumar et.000 Ha. tetapi menurut Spalding (1997) dalam Noor dkk (1999) luas ini sudah mengalami penyusutan sampai 40% terutama pada periode 1990-1999. serta bangunan lainnya. Fungsi lain yang penting adalah sebagai penghasil bahan organik yang merupakan mata rantai utama dalam jaringan makanan ekosistem hutan mangrove.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong sekitar pohon mangrove. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang dapat memperbaiki dan meningkatkan partisipasi masyarakat dan pengelolaan yang baik agar fungsi ganda dari hutan mangrove dapat berjalan dengan baik dan dapat dimanfaatkan secara optimal. lahan pertanian. Detritus kemudian menjadi bahan makanan bagi hewan pemakan detritus. Selanjutnya hewan pemakan detritus menjadi makanan larva ikan. seperti cacing. Indonesia mempunyai areal hutan mangrove yang sangat besar. Ekosistem mangrove menyediakan makanan.. Dari Pendahuluan I-3 . mysidceae (udang-udang kecil/rebon). tempat berlindung dan berkembang biak bagi satwa liar. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan pada Tahun 1997 dari total hutan mangrove 8. 1999). Pada tingkat berikutnya hewan-hewan tersebut menjadi makanan bagi hewan yang lebih besar dan begitu seterusnya untuk menghasilkan ikan. Produk yang paling memiliki nilai ekonomis tinggi dari ekosistem mangrove adalah perikanan. karena mereka dapat berperan sebagai perusak ataupun penjaga hutan mangrove. lahan tambak. bekantan (Nasalis larvatus). serta beberapa jenis berang-berang (otters) (Noor 1995). Masyarakat di sekitar kawasan hutan mangrove juga mempunyai ketergantungan sangat besar terhadap ekosistem mangrove tersebut. bahkan beberapa diantaranya termasuk kedalam jenis yang endemik atau keberadaannya telah langka seperti harimau sumatra (Pantera tigris sumatranensis). Daun mangrove yang gugur melalui proses penguraian oleh mikroorganisme diuraikan menjadi partikel partikel detritus.7 juta Ha sebesar 5. Hal ini terjadi antara lain diakibatkan oleh: kegiatan konversi mangrove menjadi peruntukkan lain. 1992).9 juta Ha telah mengalami kerusakan dan hanya 2. Menipisnya areal mangrove di kawasan pesisir ditunjukkan oleh luasan mangrove yang mengalami kerusakan. tempat Gambar I-3.8 juta Ha yang kondisinya masih baik. al. udang dan berbagai jenis bahan makanan lainnya yang berguna bagi kepentingan manusia (Sugiarto dan Willy 1995 dalam Suhaeb.152.

5 juta dan perikanan artisanal US $ 10 juta per tahun. vegetasi pegunungan. mulai dari gunung yang diselimuti es. woodchips dan LNG serta penetapan kabupaten baru mengharuskan dibangunnya banyak infrastruktur dan baik langsung maupun tidak langsung akan menyebabkan dampak pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pelaksanaan tata batas kawasan pada tahun 2000 oleh Biphut Manokwari menetapkan luasan akhir dari kawasan adalah 124. Analisis citra satelit TNC (2003) menunjukkan bahwa di Teluk Bintuni masih ada hutan mangrove seluas 435. dataran rendah sampai hutan rawa. Terjadinya proses abrasi-erosi ini diindikasikan oleh kenyataan yang menunjukkan garis pantai di beberapa tempat seperti di daerah Kalimantan Barat dan Kabupaten Rembang hampir menyentuh badan jalan.000 Ha (Zuwendra.40 m). 1991). penurunan luasan dan mutu habitat sebesar 68 %. kayu chips US $ 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong isu pokok lingkungan tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa hutan mangrove sebagai ekosistem di kawasan pesisir telah mengalami kerusakan. perkembangan ekonomi di Teluk Bintuni bergerak maju. laju abrasi-erosi di kawasan pesisir menunjukkan kecenderungan yang semakin tinggi. Pada tahun 1991 PHKA/AWB merevisi luasan dengan mengusulkan luas Cagar Alam ini menjadi 260. 1983). Kerusakan pesisir diperkirakan mempunyai besaran dampak lebih dari 80 %. Pada saat yang bersamaan. Di Irian juga bisa dijumpai 14 ecoregion daratan dan 5 ecoregion air. dimana abrasi sudah berjarak sekitar 3-5 m dari posisi jarak lima tahun yang lalu (sekitar 30. Penelitian Ruitenbeek (1992) menunjukkan bahwa hutan mangrove di Teluk Bintuni mendukung keberadaan sejumlah industri dan secara ekonomi cukup besar. 891/Kpts-II/1999. 182/Kpts/UM/II/1982 dengan luasan Cagar Alam 300.850 Ha yang diperkuat dengan SK Menhut No. Dari 19 ecoregion ini maka di dalam 8 ecoregion yang tercatat dalam WWF Global dapat dijumpai keberadaan 200 habitat.000 Ha. Pulau Irian/Papua merupakan pulau dengan keanekaragaman hayati yang cukup besar. Di dalam kawasan Teluk Bintuni yang merupakan ecoregion #129 terdapat kawasan mangrove yang cukup luas bahkan merupakan kawasan mangrove terbesar di dunia. Sampai saat ini rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni belum tersusun. Cagar Alam di Teluk Bintuni diusulkan untuk pertama sekali oleh WWF pada permulaan tahun 1980. Ini bisa dipahami karena secara geografis pulau Irian mempunyai variasi yang luas. Industri udang.000 Ha (Petocz. Sejalan dengan semakin menipisnya mangrove. Usulan ini kemudian ditindaklanjuti dengan penetapan oleh Departemen Pertanian RI dengan SK Mentan No. Kawasan saat ini dikepalai oleh Kepala Ressort dan hanya memiliki jagawana dengan fasilitas Pendahuluan I-4 .168 Ha dan merupakan luasan mangrove terbesar yang berada pada satu kawasan di Indonesia. Pulau ini memiliki 5-7% kekayaan hayati (biodiversity) dunia. dkk. merusak areal kebun kelapa penduduk dan lahan pertanian lainnya. Dari sektor perikanan dihasilkan US$ 35 juta per tahun. dengan total luas 450.

hutan nipah dan pesisir di dalam kawasan untuk : 1. dalam strategi pembangunan Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pendukung terbatas untuk melakukan pengawasan. B Maksud dan Tujuan Tujuan pengelolan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah untuk melestarikan habitat hutan mangrove. dimana dokumen ini juga digunakan sebagai acuan bagi penyusunan rencana pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni. UNDP dan BP sudah terlibat dalam pemanfaatan sumberdaya alam dan pembangunan kapasitas kelembagaan di Pemerintahan. adanya sedimentasi akibat pengelolaan kawasan hulu yang kurang baik menjadi ancaman bagi keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni. pelibatan dukungan di luar pemerintahan menjadi perhatian penting bagi pembangunan Teluk Bintuni. 4. dibandingkan dengan hutan dataran rendah di sekitarnya yang mengandung 1200 spesies tanaman. Menyusun suatu struktur pengelolaan bersama yang lebih mandiri dan kapasitas memadai. Tetapi. Diharapkan adanya rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang baik akan memudahkan pengawasan bersama antara BKSDA Papua II dengan pemerintah daerah Kabupaten Teluk Bintuni. ilmu pengetahuan. Menerapkan zona pemanfaatan tradisional dengan memberikan hak penangkapan sumberdaya perikanan di dalam kawasan khusus bagi penduduk kawasan. Disamping itu. Menjamin keberlanjutan sumberdaya alam bagi penelitian. 2. Survei ini menunjukkan bahwa mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni tergolong kepada sistem yang relatif tidak kompleks – hanya terdapat 20 spesies tanaman mangrove. Khusus di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni pernah dilakukan beberapa survey dan penelitian khususnya pada kawasan ekosistem mangrove dan dapat digunakan sebagai informasi ekologis daerah Cagar Alam. ekosistem mangrove Cagar Alam Teluk Bintuni mempunyai peran ekonomi yang sangat besar bagi pertumbuhan ekonomi kawasan Teluk Bintuni. pendidikan. serta melindungi satwa langka. Keberadaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang ada masih relatif belum efektif dan efisien. USAID dan CRMP/Mitra Pesisir telah menyusun rencana pengelolaan untuk kawasan pesisir Teluk Bintuni. Ketidaktersediaan rencana pengelolaan menyebabkan aktivitas pengelolaan di Cagar Alam menjadi tidak terencana bahkan hampir tidak ada. Pendahuluan I-5 . Menjamin perlindungan bagi kehidupan biota pesisir dan perairan. Ketergantungan masyarakat sekitar terhadap sumberdaya perikanan dari kawasan. 3. pemanfaatan terbatas oleh masyarakat setempat dan pengembangan pariwisata alam. pengambilan kayu bakar dan bahan bangunan rumah. Perkembangan menjadi kabupaten baru menyebabkan pemerintah kabupaten membutuhkan adanya pengelolaan sumberdaya alam yang baik.

Konservasi Flora dan fauna kawasan dilestarikan pada ekosistem alamnya. Perlindungan Pengukuhan hukum atas Batas kawasan baik di darat/Sungai dan laut. yang melindungi semua daerah yang memiliki nilai biologi tinggi. (iv) pemanfaatan sumberdaya yang berwawasan lingkungan dan berkelanjutan serta (v) peningkatan sistem pengelolaan. (iii) pendidikan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni C Sasaran BKSDA Papua II Sorong Sararan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah tercapainya pelestarian dan perlindungan keanekaragaman hayati di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni melalui pola pengelolaan komprehensif yang efisien tetapi berdayaguna (efektif). Penerapan sistem pengawasan yang efektif oleh staf jagawana Cagar Alam Teluk Bintuni untuk menegakkan peraturan. Rehabilitasi atau pemulihan daerah yang mengalami degradasi lingkungan. C1. Penerapan suatu sistem zonasi di lapangan Cagar Alam Teluk Bintuni. serta menjamin berlangsungnya pemanfaatan potensi secara berlanjut (sustainable use) guna mendorong pembangunan ekonomi daerah. Pendidikan Mengembangkan fasilitas dan infrastruktur untuk pendidikan dan penelitian tentang konservasi sumberdaya alam di Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan pemanenan terbatas yang tidak mengancam populasi jenis manapun di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. C2. Melakukan intervensi pengelolaan yang efektif bila terdapat spesies atau ekosistem yang terancam. sehingga mampu menjamin keberadaan biota langka dan endemik. Secara umum sasaran pengelolaan meliputi aspek (i) perlindungan. dan menjamin perlindungan sumberdaya alam dan menghormati pemanfaatan tradisional. C3. Perlindungan dan pelestarian fauna dan flora kawasan pada habitat alamnya. Pengembangan dan penerapan secara efektif sistem pemantauan dan evaluasi. (ii) konservasi. Pendahuluan I-6 . Pemeliharaan sebaik-baiknya rute-rute migrasi satwa di dalam kawasan. Perlindungan dan menjaga fungsi tempat pemijahan ikan dan biota perairan. dapat diterapkan. Peraturan Cagar Alam Teluk Bintuni yang jelas.

Pelatihan dalam meningkatkan ketrampilan petugas khususnya jagawana (ranger) Cagar Alam Teluk Bintuni agar mampu mengawasi dan megelola Cagar Alam Teluk Bintuni secara lebih mandiri. Peningkatan tingkat ketrampilan masyarakat setempat untuk memberikan perlindungan komunitas terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Penyusunan suatu rencana penelitian menyeluruh dan dilaksanakan bekerjasama dengan mitra mitra ilmiah terutama untuk menangani isu-isu penting bagi kawasan. C4. C5. Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan dan Berburu Pemanfaatan sumberdaya perikanan dan satwa buru oleh masyarakat secara tradisional. Peningkatan kapasitas sumberdaya manusia khususnya yang terlibat langsung dalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Peningkatan Sistem Pengelolaan Pengembangan dan penerapan sistem pengelolaan yang berkelanjutan untuk Cagar Alam Teluk Bintuni. Pendahuluan I-7 . terutama bagi habitat yang rentan dan spesies yang terancam punah. Peningkatan sarana dan prasarana Cagar Alam. Perlindungan tempat pemijahan ikan terutama yang ada di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Peningkatan kesadaran dan tanggung jawab masyarakat sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terhadap kelestarian kawasan. Mengembangkan kearifan tradisional yang mendukung pemanfaatan berkelanjutan sumberdaya perikanan dan satwa buru Penelitian Penyusunan kesepakatan tentang hak kepemilikan intelektual khususnya bagi kearifan tradisional. Peningkatan partisipasi stakeholder lokal secara positif untuk mendukung pengelolaan kawasan. Pelaksanaan suatu rencana pemantauan dan inventarisasi biologi untuk habitat di Cagar Alam Teluk Bintuni.

dimana konsep ini akan diperjuangkan oleh pengelola. Untuk itu diperlukan adanya visi dan misi. 4. Visi atau pusat kepedulian tersebut hanya akan terwujud apabila semua stakeholder membangun komitmen bersama yang tercermin dalam kepedulian untuk bertindak melestarikan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni serta terbentuknya kesadaran publik secara luas di seluruh wilayah Kabupaten Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni D. Misi inilah yang akan dijabarkan lebih lanjut menjadi program dan rencana aksi dalam dokumen Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 3. Meningkatkan upaya penegakan hukum terhadap kegiatan-kegiatan yang dapat menurunkan kualitas kawasan. Meningkatkan database dan sistem informasi yang memadai. Menciptakan keutuhan dan kualitas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . organisasi atau kegiatan. perlindungan dan pengamanan hutan. E. Meningkatkan kesadaran masyarakat di dalam dan sekitar Kawasan tentang pentingnya keberadaan Kawasan sebagai system penyanggah kehidupan. Rencana tersebut meliputi bahasan kebijakan. analisis masalah. maka misi yang diemban dalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk periode 25 tahun mendatang adalah: 1. Pendahuluan I-8 . Misi merupakan gambaran deklaratif tentang tujuan yang ingin dicapai oleh suatu lembaga. 2. BERKELANJUTAN DAN BERDAYA GUNA. Meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat di di dalam dan sekitar Kawasan melalui kegiatan pemberdayaan. koordinasi. Berdasarkan beberapa isu pengelolaan seperti yang dijabarkan pada Bab selanjutnya. Meningkatkan kinerja dan kemampuan pengelola Kawasan. 5. Pusat kepedulian atau visi pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai Tahun 2030 adalah: TERWUJUDNYA PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI SESUAI FUNGSINYA SECARA LESTARI. pengelolaan potensi kawasan. Ruang Lingkup BKSDA Papua II Sorong Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni terdiri dari Rencana Pengelolaan jangka Panjang (25 Tahun) dan Rencana Jangka Pendek (5 Tahun Pertama). 6. Visi dan Misi Cagar Alam Teluk Bintuni Konsep pengelolaan kawasan perlu mempunyai tujuan ideal. penelitian dan pendidikan. rincian kegiatan dan pentahapan kegiatan baik untuk pembanggunan sarana prasarana.

Mitra Pesisir b. Hal ini dimaksudkan agar rencana pengelolaan (management plan) bisa digunakan sebagai acuan bagi Balai Konservasi Sumber Daya Alam wilayah Papua II-Sorong dan Departemen Kehutanan cq Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Kelestarian Alam serta Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni untuk mengelola kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni. Ikatan Pemuda Teluk Bintuni (IPTB) 8 Masyarakat A. serta tersedianya rencana kegiatan selama 5 tahun. maka diperlukan prinsip pendekatan yang terpadu dalam menyusun Rencana Pengelolaan (Management Plan) Cagar Alam Teluk Bintuni. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni mempunyai banyak komponen kegiatan yang didasarkan kepada potensi kawasan dan juga permasalahan kawasan. khusus yang mempunyai peran terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Untuk melihat fungsi dan peran dari setiap pemangku kepentingan (stakeholder) maka dilakukan analisis stakeholder. Tabel I-1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni F. persepsi dan aspirasi tentang CATB meliputi semua pihak yang berkepentingan (Tabel I-1). Kampung Mamuranu/Anak Kasih Pendahuluan I-9 . aktivitas. Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Bintuni c. Kerangka pendekatan yang akan digunakan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan disajikan dalam Gambar 1-4. Yayasan Forum Dialog Pembangunan Masyarakat Teluk Bintuni (YFDPMTB) e. Stakeholder di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) No 1 2 3 4 5 6 7 Stakeholder Departemen Kehutanan BKSDA Papua II Resort Bintuni Bappeda Teluk Bintuni Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Teluk Bintuni Dinas Perikanan dan Kelautan Teluk Bintuni Syahbandar Teluk Bintuni Dinas Pertanian dan Perkebunan Teluk Bintuni Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) a. Masyarakat di dalam Kawasan * Distrik Idoor 1. Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Lemason d. Metode Pendekatan BKSDA Papua II Sorong Mengingat bahwa sasaran dari kajian ini adalah tersusunnya rencana pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya (tahun 2005-2024) melalui pendekatan ekosistem dan berbasis masyarakat. Tujuannya adalah agar data dan informasi yang diperoleh mengenai kondisi.

Di luar Kawasan * Distrik Bintuni 1. Kampung Korano Jaya (SP 2) C. Kampung Banjar Ausoy (SP 4) 4. Teluk Bintuni. Total seluruh responden yaitu 87 orang. tokoh agama. Kampung Argo Sigemerai (SP 5) 6. Wawancara pada lembaga pemerintahan dan LSM dilakukan secara purposive dimana untuk pemerintah dilakukan 2 orang. dimana untuk Masyarakat di sekitar kawasan CATB jumlah responden totalnya 70 orang. Yayasan Forum Dialog Pembangunan Masyarakat Teluk Bintuni. Dinas Pertanian dan Perkebunan Kab. Kampung Pasamai 2. LSM (al. Pendahuluan I .10 . Teluk Bintuni. Metode FGD dilakukan untuk mendapatkan informasi yang banyak dalam waktu yang relatif singkat. LSM 1 orang sedangkan untuk kelompok masyarakat 5 orang (Ketua Kampung. Sub BKSDA Resort Bintuni. Bersinggungan dengan Kawasan * Distrik Bintuni 1. Mitra Pesisir. Sedangkan Indepth Interview dilakukan untuk menggali data berdasarkan kasuskasus tertentu yang tidak bisa diungkapkan pada saat diskusi berlangsung seperti pengalaman. Teluk Bintuni. perasaan dan motif yang berada dalam individu maupun kelompok. Kelurahan Bintuni Timur 2. Metode Rapid Socio-economic Assessment .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No 2. LMA Lemason. Ikatan Pemuda Teluk Bintuni) dan masyarakat dari desa-desa yang berbatasan atau berada dalam kawasan CATB. tokoh adat dan 2 orang anggota masyarakat). RSA merupakan pendekatan dengan indepth interview dan diskusi grup terfokus (FGD) dimana peneliti hanya akan berperan menjadi fasilitator diskusi. Kampung Yakati 2. Kampung Bumi Waraitama (SP 1) 3. Dinas Perikanan dan Kelautan Kab. Kampung Yensei * Distrik Kuri 1. Kampung Tirasai B. Kampung Naramasa Stakeholder BKSDA Papua II Sorong Stakeholders yang dilihat peran dan fungsinya antara lain : Departemen Kehutanan-BKSDA Papua II Sorong. Kampung Tuasai 5.RSA diterapkan untuk mendapatkan gambaran tentang persepsi dan kondisi sosial ekonomi budaya masyarakat desa sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kelurahan Bintuni Barat * Distrik Idoor 1. Lembaga Masyarakat Adat-LMA Bintuni. Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Kab.

dan data primer yang dikumpulkan selama proses penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Opportunities. informasi keberadaan satwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga diperoleh berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat lokal yang bermukim di kampongkampung di dalam dan di sekitar kawasan yang berhasil dikunjungi. tinggi. 1998). Sedangkan untuk melihat struktur dan komposisi jenis serta potensi flora mangrove. Pada setiap petak pengamatan di lakukan pencatatan jenis. Aspek biologi kawasan dikaji berdasarkan survey lapangan (field survey) dan telaah silang dengan publikasi dan laporan hasil penelitian yang telah dilakukan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya serta berbagai informasi yang diperoleh melalui penelusuran pustaka. dan suara (noisy). dan wawancara dengan berbagai stakeholder. jumlah . Pengamatan yang dilakukan pada hutan dataran rendah dilakukan dengan metode penjelajahan pada beberapa tempat untuk melihata struktur dan komposisi jenis flora.11 . melihat jejak kaki (footprint/trail). Data yang dikumpulkan dianalisis secara kualitatif untuk menggambarkan hubungan antara data yang satu dengan data lainnya. Selain itu untuk memperoleh rencana pengelolaan untuk Cagar Alam Teluk Bintuni dilakukan Analisis SWOT (Strenghts. Selain pengamatan langsung. juga dilakukan pengamatan keberadaan jenis-jenis satwa dengan metode penglihatan langsung (direct seen). Weaknesses. Pendahuluan I . Selain itu. Threats). Data yang digunakan adalah data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai instansi terkait dan LSM – LSM yang aktif dalam pengembangan Teluk Bintuni. pada lokasi tempat pengamatan flora mangrove. dan diameter (untuk tingkat vegetasi tiang dan pohon).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Wawancara dilakukan dengan bantuan ”Kuesioner” agar pertanyaan lebih terfokus dan menghindari kemungkinan melupakan hal-hal yang harus ditanyakan. dilakukan dengan metode garis berpetak (line-plot sampling method) serta metode penjelajahan (explorasi) pada beberapa lokasi yang ditetapkan berdasarkan tipe ekosistem (Soerianegara.

Questionnaire) Kesan/harapan Stakeholder terhadap Cagar Alam Teluk Bintuni IV. REVIEW PROGRAM Program-program Kabupaten Review Program-program Penngelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Review Program-program Pengelolaan Pesisir Kabupaten Teluk Bintuni Program-program BKSDA – Re Teluk Bintuni Aspek-aspek Pengelolaan Biodiversity/ Survey Item Category PERTEMUAN & KONSULTASI BKSDA Papua II . PENGOLAHAN DATA V. PENGUMPULAN DATA Sorting Daftar Prioritas Isu . PERSIAPAN III. Teluk Bintuni Review Konsep Pengelolaan Review Kebijakan Pemda Review Kebijakan Pendidikan dan Penelitian di Cagar Alam Rencana dan Strategi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Identifikasi Dinas Perikanan Kabupaten Masalah & Universitas Papua Kendala Instansi Terkait Kabupaten Inventarisasi & Masyarakat Adat Teluk Bintuni Atlas Sumberdaya Teluk Bintuni Identifikasi LOKAKARYA KABUPATEN PROSES SELEKSI RENCANA KEGIATAN TERPILIH DAN PENTAHAPAN KEGIATAN Desain dan Program Manfaat Lingkungan Rencana Pengembangan Program Usulan Skenario dan Strategi Pengelolaan Cagar Alam Usulan Kelembagaan Pendukung Usulan Pentahapan Kegiatan Pengelolaan Jangka Panjang dan Pendek Gambar 1-4.12 . Kerangka Umum Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (General Framework) Pendahuluan I . ANALISIS SWOT Analysis Rencana Strategi Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni List Isu II.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong I.Daftar Stakeholder /Responder Interview Recor Questionnaire .Metode Survey Tujuan (Interview.Sorong Review Program-program Konservasi Biodiversity IBSAP dan Kebijakan Konservasi SDA Hayati Isu-isu Konservasi Biodiversity per Aspect dari IBSAP Bappeda Propinsi Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Dinas Kehutanan Kab.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Beberapa hal yang diperhatikan dalam Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah sebagai berikut : a. Pendahuluan I . Pelibatan masyarakat sejak awal perencanaan dimaksudkan untuk menghindari konflik diantara kelompok pemanfaat kawasan konservasi terutama dengan kelompok pemanfaat dari lingkungan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . f. b. Untuk membantu pengambilan keputusan mengenai Cagar Alam Teluk Bintuni perlu dilakukan pengkajian dengan mempertimbangkan faktor ekologi. ekonomi. Dalam pengambilan keputusan dan kegiatan-kegiatan lainnya khususnya dalam perencanaan pengelolaan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni perlu melibatkan unsur sektor perikanan dan kelautan. Untuk mencapai pemanfaatan kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari dan terpadu perlu diperhatikan kerentanan ekosistem kawasan konservasi. Untuk menyelesaikan konflik yang mungkin timbul dari sektor terkait ke kawasan konservasi dan di antara kelompok pemanfaat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu ditetapkan prosedur dan mekanisme pada tingkat administratif yang tepat.13 . g. Dalam rangka menetapkan pemanfaatan sumberdaya di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni maka pengaturan akses ke sumberdaya tersebut harus memperhatikan “hak penduduk sekitar kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni dan praktek turuntemurun yang menggambarkan kearifan tradisional” dalam pengelolaan sumberdaya alam sepanjang pola atau kegiatan tersebut sesuai dengan pembangunan yang berkelanjutan d. e. c. untuk Penyusunan Rencana Pengelolaan biasanya terdapat lebih dari satu kelompok sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan yang dapat dikembangkan untuk kepentingan pembangunan. mitra pesisir serta masyarakat adat. sosial dan budaya. Perlu ditingkatkan kesadaran publik akan perlunya perlindungan dan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni untuk Penyusunan Rencana Pendayagunaan Kawasan Teluk dan keikutsertaan mereka yang terkena pengaruh dalam proses pengelolaan. kapasitas sumberdaya alam dan ketergantungan masyarakat di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni. h. Dalam suatu kawasan konservasi. yaitu: Adanya keterkaitan ekologis baik antar ekosistem mangrove dan perairan di dalam kawasan konservasi dengan areal budidaya penduduk. Untuk perencanaan Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu diperhatikan beberapak aspek utama yang menjadi acuan.

hukum dan kelembagaan menjadi faktor yang sangat berperan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (Gambar 1-5). Kelestarian beranekaragamnya spesies dilindungi dan endemik c.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Baik secara ekologis dan ekonomis.14 . Kelestarian ekosistem dan fungsinya (hutan mangrove) b. walau secara khusus di Papua ada batasan aturan hak adat. tetapi akses cukup terbuka untuk dapat dimanfaatkan oleh semua orang. pemanfaatan suatu kawasan konservasi secara monokultur adalah sangat rentan terhadap perubahan internal maupun eksternal yang menjurus pada kegagalan usaha. sosial ekonomi. Faktor dimensi ekologis. Kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni pada umumnya merupakan sumberdaya terbuka (open acces resources). sosial budaya. Prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Tahap I Tujuan/Fokus Penentuan Prioritas Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Tahap 2 Komponen Pembangunan Berkelanjutan Ekologi Ekonomi Sosial Budaya Regional Tahap III Indikator Pembangunan Berkelanjutan a b c d e f g h i j k l m n o p Tahap IV Strategi Pengelolaan Cagar Alam Penataan Pemeliharaan Pemanfaatan Pengawasan Pengendalian Pemulihan Penelitian Pengembangan Gambar I-5. Daya dukung lingkungan terhadap kegiatan pemanfaatan d. Terpeliharanya kualitas air (sedimentasi tidak terlalu besar) Pendahuluan I . i. Hierarki Penentuan Prioritas Kegiatan Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Kriteria indikator pembangunan berkelanjutan Ekologi : a.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Ekonomi: e. l. Aksesibilitas kawasan n. Terpeliharanya kearifan dan budaya lokal Keamanan dan ketentraman masyarakat Kesehatan masyarakat Peningkatan pengetahuan dan keterampilan Regional: m.15 . Dampak terhadap perekonomian secara makro BKSDA Papua II Sorong g. Keberlanjutan usaha dan akuntabilitas Sosial Budaya: i. Posisi kawasan berdasarkan kondisi geografis p. Peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya pengguna kawasan mangrove h. j. Peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) f. Status kepemilikan lahan Pendahuluan I . k. Posisi kawasan dari sudut pandang sistem Tata Ruang Propinsi dan Kabupaten o.

.

2. Kawasan ini merupakan habitat penting dan pusat populasi paling padat bagi berkembang biaknya jenis buaya muara (Crocoylus porosus).300 ha). 1987).1 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) The Bintuni Bay Nature Reserve pertama kali diusulkan oleh WWF pada tahun 1980-an.300 ha telah dialih fungsikan menjadi hutan produksi berdasarkan Forest Agreement No: FA/N/024/XII/1982. Luasan tersebut ternyata lebih kecil daripada luasan yang diusulkan sebelumnya (357. KEADAAN UMUM KAWASAN A. Pada tanggal 10 Nopember 1982. Sungai Weperar.000 hektar (Petocz. dan kurang lebih 39 jenis mamalia (Petocz. Dari segi luasan. kawasan ini mengalami beberapa kali perubahan luasan.1 . Hal ini karena areal seluas 57. 182/Kpts/UM/11/1982. Luasan mangrove yang ada merupakan rumpun mangrove yang paling baik di Papua (Irian Jaya saat itu).1. Kemudian pada awal tahun 1982. Sungai Wagura. tertanggal 22 Desember 1982 antara Keadaan Umum Kawasan II .). Cagar Alam Teluk Bintuni secara definitif ditunjuk sebagai daerah Cagar Alam melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. and Sungai Kaitero untuk ditetapkan Gambar. Beberapa hal yang menjadi pertimbangan diusulkan areal ini sebagai kawasan konservasi adalah: 1. II-1 Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang diusulkan WWF/IUCN/PHPA Tahun 1983 sebagai Kawasan Cagar Alam. A.1 Risalah Kawasan Informasi Umum Kawasan Sejarah Penetapan Kawasan A. 3. yang meliputi areal seluas 300.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong II.000 ha. lebih dari 17 marsupial.300 ha termasuk mangrove kelompok Sungai hutan Aramasa. Kawasan ini merupakan areal penting untuk menyangga kegiatan perikanan komersil dan industri udang yang ada. Di kawasan in hidup kurang lebih 160 jenis jenis burung. Departemen Pertanian Republik Indonesia mengusulkan areal seluas kurang lebih 357. 1983) (Gambar II-1. Luasan yang diusulkan WWF pada tahun 1980-an adalah mencakup areal seluas kurang lebih 450.

dan PT Yotefa Sarana Timber.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Menteri Pertanian Republik Indonesia dan PT Bintuni Utama Murni Wood Industries (PT BUMWI). Selanjutnya. PT BUMWI. maka adalah 124.247. AWB/PHKA mengusulkan areal seluas ± 260. Pada tahun 1997. Kabupaten Teluk Bintuni merupakan salah satu Kabupaten hasil II . dilakukan tata batas tahap kedua yang dilaksanakan oleh Sub Balai Inventarisasi dan Perpetaan Hutan (BIPHUT) Manokwari pada tahun 1999 yang merupakan batas luar dan batas fungsi (melingkar/temu gelang) dengan panjang terealisasi 172.000 ha dengan koordinat 133° 131 . 182/Kpts/UM/11/1982 dan usulan WWF/IUCN/PHPA tahun 1983.850 Ha (Gambar II-2).20 30’ LS. Pada tahun 1991.2 Keadaan Umum Kawasan . tentang realisasi surat permohonan PT BUMWI NO: 07/su-1/1980.846.20 meter yang kemudian ditunjuk dengan SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua. kegiatan penataan batas pertama di Kawasan cagar alam dilakukan oleh PT BASRICO CEMERLANG. Hal ini karena terjadi tumpang tindih peruntukan kawasan antara CATB dengan areal Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di sekitar kawasan teluk Bintuni seperti PT Henrison Gambar II-2.2 Letak dan Luas Berdasarkan pembagian administrative pemerintahan.76 meter.000 ha sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. termasuk daerah daerah perairan teluk seluas ± 60. Berdasarkan beberapa alternatif di atas. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil Tata Batas Sub Biphut Manokwari Tahun 1999. Propinsi Irian Jaya Barat (IJB).1. kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) berada di wilayah kerja Pemerintahan Daerah Kabupaten Teluk Bintuni.134° 02’ BT dan 20 02’ . tanggal 9 januari 1980 yang ditujukan kepada MENTAN untuk mendapatkan Hak Pengusahaan Hutan Di Wilayah Propinsi Irian Jaya. yang merupakan batas persekutuan areal HPH PT Henrison Iriana dengan panjang batas yang terrealisasi sepanjang 77. suatu AWB/PHKA studi luasan untuk Cagar melakukan merevisi Alam kembali yang sudah ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian No. luas Kawasan Cagar Teluk Bintuni A. Iriana.

Untuk mencapai kawasan CATB dari ibukota Propinsi Irian Jaya Barat (Manokwari) dan Sorong. Irian Jaya Barat.02'-02º. kawasan Cagar Alam ini berada di dalam wilayah administratif Distrik Bintuni. Cagar Alam Teluk Bintuni terletak di bagian timur Kawasan perairan Teluk Bintuni. Distrik Idoor.3 Aksesibilitas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat diakses dari beberapa tempat. Berdasarkan pembagian wilayah pengelolaan Hutan dan Kawasan Konservasi Sumber Daya Alam. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua II yang berkedudukan di Sorong. dan perairan Teluk Bintuni Bagian Timur berbatasan dengan wilayah Distrik Idoor dan HPH PT Henrison Iriana Berdasarkan SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua.31' -134º. Keadaan Umum Kawasan II .850 Ha.45 menit. dimana lebih 90% areal merupakan ekosistem hutan mangrove.3 . Dari hasil pengamatan di lapangan kawasan CATB juga dapat diakses dari beberapa kampung berada di batas utara kawasan seperti disajikan pada Tabel II-1.1. Seksi Konservasi Wilayah I Manokwari.30' LS dan 133º.02' BT. Selanjutnya dari kota Bintuni kawasan CATB dapat diakses dengan dua cara. dengan batas-batas wilayah sebagai berikut: Bagian utara berbatasan dengan areal HPH PT Yotefa Sarana Timber Bagian selatan berbatasan dengan sungai Naramasa dan HPH PT BUMWI Bagian Barat berbatasan dengan Sungai Wasian. Pada tingkat Distrik. luas Kawasan Cagar Teluk Bintuni adalah124. Secara geografis terletak antara 02º.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemekaran di propinsi Papua yang baru disahkan pada tahun 2002. yaitu (1) menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua ke batas utara kawasan dengan waktu tempuh kurang lebih 10 . (2) menggunakan perahu motor (longboat) menyusuri sungai Steenkol/Wasian ke batas barat kawasan dengan waktu tempuh kurang lebih 30 .15 menit. dan Distrik Kuri. Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) berada di wilayah kerja Resort KSDA Bintuni dan Resort KSDA Babo. dapat ditempuh dengan menggunakan pesawat udara jenis Twin-Otter milik Maskapai penerbangan Merpati Nusantara ke kota Bintuni (Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni) selama kurang lebih 45 menit dan kendaraan roda empat (Toyota Hard-top) dari Manokwari dengan waktu tempuh kurang lebih 10 – 12 jam. A.

Perahu dayung/motor Sungai. Distrik Dan Kampung yang Memiliki Akses Terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No.1 Kondisi Fisik Kawasan Iklim Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni termasuk daerah tropika dan berdasarkan klasifikasi iklim Koppen termasuk dalam tipe iklim Afa.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-1. Curah hujan bulanan tertinggi terjadi pada bulan Pebruari dengan curah hujan maksimum dan rata-rata masing-masing 38. Perahu dayung/motor Sungai. Curah hujan bulanan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup bervariasi. Sedangkan berdasarkan klasifikasi Schmidt dan Ferguson kawasan ini termasuk dalam tipe iklim A. roda dua/empat jalan kaki Jalan Darat. Sedangkan curah hujan bulanan terendah terjadi pada bulan September dengan curah hujan maksimum dan rata-rata berturut-turut 5. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. yaitu daerah tropika basah yang bersuhu tinggi.32 mm) dan 3.93 mm).69 mm) dan 17. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Jalan Darat. Keadaan Umum Kawasan II .61 inches (980. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Jalan Darat. jalan kaki Sungai.36 mm).2. roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat.34 inches (86.32 inches (439. 1 2 3 Kampung Kelurahan Bintuni Timur Kelurahan Bintuni Barat Kampung Pasamai Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Jarak ke CATB 2 km 3 km 2 km Sarana dan Jenis Transportasi Sungai dan Jalan Darat. Perahu dayung/motor 4 Waraitama/SP 1 Kampung Korano Jaya/SP 2 Kampung Banjar Ausoy/SP 4 Kampung Tuasai Kampung Argo Sigemerai/SP 5 KampungTirasai Kampung Mamoranui Kampung Anak Kasih Kampung Yakati Kampung Yensei Kampung Naramasa Bintuni 2K m 5 Bintuni 1 Km 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idor Idor Idor Idor Kuri 1 km 1 km 2 km Dalam Kawasan CATB Dalam Kawasan CATB Dalam Kawasan CATB 15 km 10 km 5 km Sumber : Hasil Survei Tim TNC (2005) A.4 .17 inches (131.2 A. Perahu dayung/motor dan roda dua/empat Sungai dan Jalan Darat. yaitu daerah sangat basah.

5 mb hingga 1. Data kecepatan angin selama tiga tahun (1997-2000) menggambarkan kecepatan angin di Teluk Bintuni dan sekitarnya pada umumnya lambat hingga sedang dengan rata-rata 8 m/detik (28. Sungai Kamisayo. Sungai Yensei. dan konglomerat (PT BUMWI.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya suhu udara berkisar antara 20. Sungai Tatawori. Sungai Sumber.002. Kelembaban sangat tinggi terjadi di malam hari ketika suhu udara rendah dan sedang terjadi hujan.013 milibar (mb) dan minimumnya adalah 998. shale. Sedangkan selama periode siklus tahunan. Sungai Sorobaba. Suhu udara maksimum terjadi selama musim monson timur laut.1 mb.2 Geologi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). dimana suhu bulanan rata-rata tertinggi terjadi pada bulan Januari Kelembaban udara di kawasan berkisar antara 40% hingga 100%. Sungai Yakati. dengan rentang pengukuran relatif lebih kecil. Sungai Rarjoi. Sungai Sobrawara. kawasan Teluk Bintuni termasuk dalam kelompok Daerah Aliran Sungai (DAS) Muturi. Sungai Tirasai. Sungai Kodai.50 dengan variasi tidak lebih dari 2 °C. dan sekitar 90% data berada di antara 1. yaitu Sungai Wasian.26 °C untuk basis data selama 3 tahun. 2002).010mb (BP Pertamina. Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mengalir beberapa sungai besar yang bermuara ke Teluk Bintuni dan merupakan Sub-Das dari DAS-DAS tersebut mulai dari sebelah barat. Tekanan udara rata-rata sepanjang periode pengukuran adalah 1.8 km/jam). yakni ketika terjadi curah hujan maksimum. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) merupakan kawasan rawan gempa yang selalu diikuti dengan gelombang tsunami karena berada dalam wilayah tektonis yang aktif sebagai akibat dari tubrukan dua lempengan besar.2. dan Keadaan Umum Kawasan II . Tekanan udara barometrik maksim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk adalah 1.006.5 .2%. Sungai Bokor.2. 1994). Korol-Bomberai.74 °C – 27.92 °C dengan hampir 54% data yang terukur terletak dalam kisaran antara 23 °C hingga 27 °C.02 °C sampai dengan 37.3 Daerah Aliran Sungai (DAS) dan Hidrologi Secara umum. secara fisiografis terdiri dari daerah rawa/pasang surut yang umumnya bervegetasi mangrove yang berbahan induk aluvium muda (recent alluvium) dari zaman kwarter yang menutupi sedimen masam Tersier dan Pleistosin seperti sandstone. variasi suhu udara rata-rata bulanan berkisar antara 25. dengan nilai rata-rata selama periode pengukuran mencapai 90. A. namun sebagian besar (hampir 60%) hasil pengukuran lebih besar dari 90%.6 mb. Aramasa. dan DAS Remu. Sungai Muturi. A. Nilai suhu udara rata rata bulanan adalah 26.

Keadaan Umum Kawasan II . komprebilitas tinggi. daya dukung rendah. 2005 dan Pemda Propinsi Papua. air minum dan cuci ada yang diperoleh dari sumur bor. berwarna abu-abu. lempung lanau. draenase buruk.2.5 – 2 m Tekstur halus – kasar. permeabilitas rendah-sedang. dan tebal 1. UNIPA. Pada daerah yang berbatasan langsung dengan perairan Teluk Bintuni. porositas rendah – tinggi. Organik Aluvium Ciri-Ciri Jenuh air. dan aluvium dengan ciri-ciri sperti disajikan pada Tabel II-2 Tabel II-2. dan Kuri di peroleh dari sumursumur yang digali. Sumber: Hasil Survei Tim TNC. 2003. bersifat alkali.4 Tanah Sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ditutupi oleh vegetasi mangrove dengan jenis tanah organosol. PEMKAB Manokwari. terdapat pula kali-kali mati yang hanya berair atau menyalurkan air (banjir) bila turun hujan lebat. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi proses erosi pada daerah-daerah yang mengalirkan air tersebut ke sungai-sungai di bawahnya. gambut. A. memiliki karakteristik tanah fluvial deltatik dengan ciri-ciri: melengkung halus. Sungai-sungai tersebut berfungsi sebagai daerah tampungan air beberapa anak sungai yang bermuara ke sungai-sungai tersebut dan selanjutnya mengatur pembuangan air ke Teluk Bintuni. CRMP. Di samping ketiga sungai yang selalu berair tersebut. dan beeting pasir. berlumpur.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Sungai Naramasa. berwarna gelap. Idoor. Kebutuhan masyarakat akan air minum dan MCK yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terutama di ibukota distrik Bintuni. relief rendah. Jenis Tanah yang terdapat di sebagian besar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.6 . dan sedikit asam. serta aliran sungai-sungai kecil yang melintasi atau mengalir di pinggiran perkampungan penduduk. Jenis Tanah Organosol. Saat musim hujan dan debit air meningkat biasanya warna air sungai berubah warna menjadi kecoklatan. Kebutuhan air masyarakat di Kampung-Kampung di luar Ibukota Distrik lebih banyak memanfaatan air dari sungai-sungai besar tersebut di atas serta beberapa sungai/kali kecil yang mengalir di dekat Kampung mereka. Khusus untuk Distrik Bintuni (Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni). debit air sungai-sungai tersebut dapat naik beberapa kali lipat dan kadang-kadang dapat menyebabkan banjir (menggenangi daerah sekitar). asam. Sungai-sungai tersebut memiliki debit yang cukup besar sehingga pada saat musim penghujan terutama di bagian hulu sungai.

3 Kondisi Biologi Kawasan A.7 . Hal ini dapat dijumpai di Pulau Mangrove Keadaan Umum Kawasan II . Selain kedua ekosistem tersebut.3.1 Ekosistem Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mencakup dua tipe ekosistem utama.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong A. yakni ekosistem hutan hujan dataran rendah dan ekosistem mangrove. tipe ekosistem ini juga dapat ditemui pada beberapa pulau mengrove baik berbentuk hamparan pegunungan rendah maupun bukit-bukit kecil.1 Hutan Hujan Dataran Rendah Ekosistem ini tersebar terutama pada batas-batas Utara dan Timur kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Suatu keunikan tersendiri bahwa di beberapa tempat di kawasan CATB. walaupun pada beberapa bagian telah mengalami degradasi dalam luasan yang kecil akibat aktivitas manusia.3.3) yang ada menunjukan bahwa secara umum kondisi vegetasi pada kedua ekosistem tersebut masih terpelihara dengan baik. Peta Kerja Kegiatan Survei Kondisi dan Potensi Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 A.1. Seluruh ekosistem tersebut adalah ekosistem alami dan sebagian vegetasinya masih terpelihara dengan baik. Gambar II-3. di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga bisa dijumpai ekosistem hutan rawa campuran dengan luasan yang sangat kecil. Hasil survei lapangan dengan mengunjungi beberapa lokasi ekosistem (Gambar II.

Tipe hutan hujan dataran rendah primer di belakang formasi hutan mangrove S. Ekosistem ini umumnya tersusun atas vegetasi primer (Primary Forest) dan vegetasi sekunder (Secondary Forest). Pada ekosistem yang tersusun oleh vegetasi primer terlihat masih alami dan memiliki karakteristik strata tajuk yang jelas. Kamai. palembanica). dan jenis-jenis palem (Palmae) termasuk juga berbagai jenis rotan. dan hopea (Hopea sp.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Maniai. pulai (Alstonia spp. dan Pulau Modan. Profil Struktur Hutan Dataran Rendah Di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Keadaan Umum Kawasan II .) serta beberapa spesies dari famili Dipterocapaceae seperti mersawa (Anisoptera sp.). Sedangkan pada hutan hujan dataran rendah sekunder (bekas perladangan) didominasi oleh Gambar II-5.). Pada strata atas dan tengah didominasi oleh jenis-jenis tumbuhan berkayu seperti kayu besi/merbau (Intsia bijuga) dan matoa (Pometia sp.) Medang (Litsea sp.8 . Nyatoh (Palaquium sp. resak (Vatica papuana). kayu besi/merbau (Intsia bijuga dan I. epifit. Rainforest) ini membentuk lapisan tajuk BKSDA Papua II Sorong Hutan Hujan Dataran Rendah (Lowland dan sub tajuk (Gambar II-5) dengan keanekaragaman jenis yang cukup tinggi dan diperkirakan 60-90% tumbuhan yang ada di ekosistem ini merupakan spesies endemik. Nusuama. dataran rendah di kawasan CATB menyimpan berbagai spesies tumbuhan berkayu (pohon) yang bernilai ekonomis tinggi seperti matoa (Pometia spp.). Simeri Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai salah satu komponen pendukung kawasan. Ekosistem hutan hujan dataran rendah memiliki peran yang sangat penting Gambar II-4.).). paku-pakuan. sedangkan pada strata bawah ditumbuhi perdu dan semak yang mendukung berbagai tanaman pemanjat. Dalam ekosistem hutan ini tumbuh beraneka ragam jenis flora mulai dari Hutan tumbuhan tingkat rendah seperti fungi sampai dengan tumbuhan tingkat tinggi. Tipe ekosistem hutan dataran rendah (hutan lahan kering) ini kebanyakan berada di belakang dan formasi pada hutan mangrove bagian peralihan beberapa kawasan dapat dijumpai komunitas hutan dataran belakang rendah berada hutan langsung di formasi mangrove (Gambar II-4).

(1991) pada sungai jernih di ekosistem hutan dataran rendah dapat dijumpai jenis ikan pelangi (rainbow fish) dari genus Melanotaenia. Distoechurus pennatus. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bruijni). Echidna berparuh pendek (Tachyglossus aculeatus). yang merupakan jenis endemik kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong jenis-jenis pionir seperti makaranga (Macaranga mappa dan Macaranga tanarius) dan sirih hutan (Piper sp.). walabi hutan (Dorcpsis spp. burung cenderawasih (Paradisae minor). Keadaan Umum Kawasan II . ekosistem hutan hujan dataran rendah merupakan habitat berbagai jenis reptil seperti buaya air tawar (Crocodylus novaguinensis). Sebagian besar hutan dataran rendah sekunder adalah merupakan bekas kebun masyarakat (Gambar II-6) dan bekas areal tempat penimbunan kayu (logyard) dari HPH dan Kopermas yang beroperasi di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. burung mambruk (Goura cristata). Selain sebagai habitat flora. terutama yang berada pada batas luas kawasan Cagar Alam juga dapat dipandang sebagi daerah penyanggah (Buffer zones) yang berfungsi sebagai benteng pertahanan terhadap ancaman kerusakan ekosistem mangrove yang merupakan ekosistem terluas di kawasan. Ekosistem hutan dataran rendah.1. kangguru pohon (Dendrolagus fursinus).9 . (Peroryctes (Phalanger (Cercatetus kerdil caudatus.2 Hutan Mangrove Vegetasi hutan mangrove di Teluk Bintuni secara umum dapat dibedakan menjadi 3 zona berdasarkan jenis pohon pembentuk tajuk dominan. dkk. dan Pseudocheirus spp. dijumpai juga beberapa jenis yang membentuk tegakan murni. Dasyuridae. Rhizophora-Sonneratia. Maniai. orientalis). Echidna berparuh panjang (Zaglossus berkantung Gambar II-6. A. Gambar II-7.3. Cagar Alam Teluk Bintuni. Selain membentuk zonasi seperti di atas. dan Rhizophora-Bruguiera. Tipe hutan hujan dataran rendah sekunder di dekat kampung Mamoranu.). Vegetasi mangrove Zona Avicenia – Sonneratia di P. Bahkan menurut Zuwendra. yaitu zona Avicenia- Sonneratia. endemis Bandycoot kuskus possum marga yang tikus aneh. walabi liar biasa (Macropus agilis). raffrayanus).).

Pada zona ini juga dijumpai jenis tumbuhan bawah. Cagar Alam Teluk Bintuni Keadaan Umum Kawasan II . Ceriops tagal. Avicenia marina. dan Bruguiera spp. Sedangkan Zona Rhizophora-Bruguiera merupakan wilayah hutan mangrove yang Gambar II-8. Tipe vegetasi nipah (Nypa fructicans) di S. Jenis yang dijumpai pada daerah ini didominasi oleh jenis Avicenia alba. terutama di sepanjang penggirian sungai-sungai besar dan kecil yang bermuara ke perairan Teluk Bintuni. Vegetasi nipah (Nypa fructicans) campuran pada zona pasang surut di S. Acanthus ilicifolius. dan Rhizophora mucronata dengan tinggi pohon rata mencapai 10 m. Secara umum.10 . Bruguiera parviflora. Xylocarpus spp. Yensei Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Gambar II-10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan pengamatan di lapangan.. Sedangkan substrat yang ada di bawah wilayah mangrove terutama untuk zona Avicenia-Sonneratia sudah agak lebih padat. Tirasai. Gambar II-9. Bruguiera Gymnoriza. yaitu Acanthus ebracteatus. Rhizophora spp. R. Substrat yang ada di bawah tegakan pada zona ini adalah endapan lumpur yang masih lunak dan tanah lepas yang terendap oleh pasang surut. Pasang surut dan banjir sangat nyata terlihat dengan adanya perubahan permukaan air. Cagar Alam Teluk Bintuni. Vegetasi mangrove Zona RizhiphoraBruguiera di S. umumnya tumbuh lebih ke darat. Tirasai. Pasang surut pada daerah ini sangat nyata terlihat dengan adanya perubahan permukaan air. Substrat yang ada di bawah tegakan pada zona ini sudah lebih keras dan kompak (tidak lepas) yang di dominasi oleh faksi liat. Lebih lanjut jenis-jenis yang banyak dijumpai di zona ini adalah Rhizophora mucronata. Apiculata. Merupakan pohon-pohon pembentuk tajuk utama dalam zona ini. Avicenia officinalis. Zona Avicenia-Sonneratia dan Rhizophora-Sonneratia adalah zona komunitas mangrove yang paling luar dan langsung berhadapan dengan perairan Teluk Bintuni. Aegiceras corniculatum dan Avicenia intermedia (api-api merah).

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Disamping itu. 02o16’86. yaitu kelompok hutan mangrove sungai Wasian. koordinat 133o52’31. granatum (Wamesa: Kabau merah) (Gambar II-9). Bruguiera. Sungai Muturi.11 . Berikut adalah beberapa informasi kuantitatif potensi mangrove di beberapa bagian CATB yang berhasil dihimpun dari hasil survei lapangan Tim TNC (2005).000 anakan/ha untuk fase semai. Sungai Weperar. Pada bagian luar vegetasi mangrove yang berbatasan langsung dengan garis pantai/muara teluk. 730 pohon/ha untuk tingkat tiang. dan Avicenia (Gambar II-10). Hasil penelusuran data sekunder diketahui bahwa informasi quantitatif tentang potensi mangrove di kawasan CATB relatif kurang. Sedangkan pada bagian dalam (bagian tengah) ditemui jenis Rhizophora apiculata yang mendominasi semua tingkatan vegetasi dengan kerapatan berturut-turut 260 pohon/ha untuk tingkat pohon. dan 6. Kehadiran jenis-jenis mangrove ini semakin berkurang atau tidak hadir sama sekali pada daerah yang lebih ke arah daratan di sepanjang sungai. dijumpai vegetasi nipah (Nypa fructicans) yang tumbuh bercampur dengan tegakan mangrove dan umumnya terbentang di antara daerah semi saline hingga ke air tawar permanen. Kelompok hutan mangrove Sungai Wasian. diameter batang (tiang dan pohon). Keadaan Umum Kawasan II . Sonneratia. dan melakukan pencatatan terhadap jenis.8’’S. Hutan mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat di kelompokan ke dalam beberapa kelompok. jumlah individu tiap jenis. Komunitas ini mangrove di daerah ini membentuk formasi Avicenia-Sonneratia (bagian luar) dan Rhizophora-Bruguiera (bagian tengah). yaitu dari genus Rhizophora. pada zona peralihan pasang surut (intertidal zone) dan air tawar dan air asin di hutan mangrove dan zona dataran banjir pinggiran sungai dan formasi yang menutupi dataran banjir. Sungai Modan. tinggi (tiang dan pohon). jenis nipah (Nypa fructicans) tumbuh bercampur dengan jenis mangrove Xylocarpus moluccensis (Wamesa: Kabau hitam) dan X. terutama di sepanjang sungai-sungai besar yang bermuara di kawasan perairan Teluk Bintuni. Pada daerah yang paling dekat dengan zona pasang surut vegetasi ini tumbuh bersama jenis mangrove dengan kerapatan cukup tinggi. untuk tingkat pancang dan semai dengan kerapatan berturut-turut 470 pohon/ha dan 5. Di bagian luar (dekat pantai) yang merupakan daerah pengendapan lumpur di dominasi oleh jenis Sonneratia alba dengan kerapatan 270 pohon/ha. Pengamatan dilakukan dengan membuat transek dan sub-plotnya sepanjang 100 meter yang tegak lurus dengan dari tepi sungai/pantai ke bagian dalam pulau dengan azimut 1800. dan Sungai Naramasa.6”E. struktur jumlah pohonnya lebih kecil di bandingkan dengan vegetasi mangrove yang tumbuh lebih ke belakang. Pada daerah lebih ke arah daratan. Jumlah plot pengamatan ditentukan sebanyak 4 buah yang dibuat secara kontinu dari tepi sungai/pantai.000 anakan/ha. Kelompok hutan mangrove Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai).

Bruguiera sexangula. 02o18’36. jenis R. dan Bruguiera spp. Hasil analisis vegetasi menggambarkan bahwa pada tingkat anakan/semai. dalam informan suatu lokal jalur untuk yang melihat Hasil komposisi jenis mangrove yang ada. Gymnorrhiza. Bruguiera sexangula. Hutan mangrove di daerah hutan tua atau hutan seperti mangrove sekunder yang membentuk pulau- Keadaan Umum Kawasan II . observasi pada 02o07’07. Gymnorrhiza. Kelompok hutan mangrove Pulau Nusuama (Koordinat: 133o51’86.7’’S).5”E.0’’S). Parviflora. beberapa bagian Hasil hutan menunjukan bahwa pada daerah pinggiran sungai. Ceriops decandra.12 . B. B. pengamatan menunjukan bahwa jenis-jenis yang ditemukan hampir sama dengan jenis- jenis yang ditemukan di Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni) yang didominasi oleh jenis Rhizophora mucronata. B. B. pancang. Hal ini karena kondisi habitat dan letak kedua tempat tersebut relatif sama. Pengukuran dan mengambilan titik koordinat plot pengamatan vegetasi mangrove di P. Kaboi di kawasan CATB. parviflora. vegetasi mangrove di daerah ini di dominasi oleh jenis Xylocarpus spp. Metode yang digunakan dalam pengamatan vegetasi mangrove di kawasan ini adalah penjelajahan didampingi Gambar II-11. 363 anakan/ha.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Hasil pengamatan menunjukan bahwa pada daerah ini didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora mucronata. terlihat Gambar II-12. Jenis-jenis yang yang ditemukan di daerah ini tidak jauh berbeda dengan jenis mangrove pada kelompok hutan mangrove Pulau Nusuama. dan pohon.1”E. Kelompok hutan mangrove Sungai Simeri. dan Ceriops decandra. mucronata menunjukan kerapatan tertinggi masing 5000 anakan/ha. dan Ceriops tagal. Simeri di kawasan CATB. dan 162 pohon/ha sekaligus menjadi spesies yang dominan pada semua tingkatan vegetasi (Lampiran 4 dan 5). Vegetasi mangrove S. Pengamatan mangrove di daerah ini dilakukan dengan observasi pada beberapa bagian hutan dengan menggunakan perahu motor (longboat) serta pengamatan plot (Koordinat: 133o56’37. Avicennia alba. Jenis lain yang ditemukan di daerah ini adalah Aegiceras corniculatum.

02o12’05. jenis Rhizophora mucronata dan Xylocarpus molucensis merupakan jenis dominan dengan Nilai Penting berturut-turut untuk semai 68 dan 56. dengan karakter pohon-pohon Xylocarpus spp. Vegetasi mangrove pada tingkat tiang dan pohon. Kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni). yaitu Rhizophora mucronata. parviflora. yang tumbuh kerdil menyerupai bonsai raksasa.8”S.42). kerapatan 500 semai/ha. tingkat pancang 178 dan 55 (Lampiran 6).48). sedangkan untuk tingkat pancang didominasi oleh Aegiceras corniculatum (INP=64. Keadaan Umum Kawasan II . untuk tingkat anakan ditemui 8 jenis mangrove dari 3 famili (Rhizophoraceae. 0 Plot pengamatan mangrove dibuat tegak Hasil lurus Pulau dengan Azimut 280 dengan koordinat 133o57’08. B.2”E. dan B. Hal ini mengindikasikan bahwa khusus untuk kawasan mangrove tanjung Pitaboni sudah cukup stabil untuk pertumbuhan permudaan jenis-jenis non-pionir.1’’S.44) dengan persebaran yang paling merata (F=0.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pulau kecil.58 dan 0. Hal ini mengindikasikan bahwa dalam dinamika populasi jenis-jenis mangrove di daerah ini. Pada tingkatan vegetasi tiang. Hal yang menarik untuk disimak adalah berkurangnya jumlah jenis tertentu pada saat mencapai tingkat tiang. Hasil tersebut menunjukan bahwa pada tingkat anakan/semai.17 pohon/ha) dengan persebaran yang paling merata (F=0.) (Lampiran 7). Untuk jenis Rhizophora jumlahnya tidak terlalu banyak ditemukan di wilayah ini sedangkan jenis Aegiceras corniculatum dan jenis Xylocarpus hanya ditemukan satu-satu di pinggir sungai. Aegiceras corniculatum. sedangkan pada tingkat pohon meningkat lagi menjadi 10 jenis (Lampiran 9). Gymnorrhiza. Bruguiera sexangula. pengamatan menunjukan bahwa pada daerah ini di dominasi oleh jenis-jenis Bruguiera gymnorrhiza dan Ceriops decandra. dan sekaligus meruapakan spesies dengan kerapatan tertinggi (150 pohon/ha dan 104.85 dan 96. jenis yang ditemukan agak sedikit berkurang menjadi 5 jenis. Ceriops decandra. Kelompok hutan mangrove Sungai Taberai.75). sedangkan pada tingkat pancang Ceriops decandra tidak ditemukan (Lampiran 8). 133 52’ 31.75).6” E). gymnorrhiza (INP=120. sehingga kajian mendalam perlu dilakukan untuk melihat perkembangan populasi (dinamika populasi) baik jenis maupun jumlah jenis mangrove mulai dari tingkat semai sampai mencapai tingkat pohon.70). terjadi pengurangan jenis (mortality) terhadap jenis-jenis tertentu. Avicennia alba. 0 0 Pada kelompok hutan mangrove Pulau Maniai/Tanjung Pitabone (2 16’86.13 . Myrsinaceae dan Avicenniaceae) mangrove. jenis R. Hasil analisa vegetasi dari pengamatan transek menunjukan bahwa pada tingkat semai dan pancang. dan tersebar paling merata (F=0. mucronata menunjukan kerapatan tertinggi (11875 anakan/ha) sekaligus menjadi spesies yang dominan (INP=84. Sedangkan pada tingkat pohon didominasi oleh Rhizophora mucronata (INP=180) dan B. jenis Rhizophora apiculata merupakan spesies dominan (INP=140.

dan belakang bisa tumbuh bercampur.14 . R. Hal yang menarik untuk disimak dari Gambar II-14. Speciosum. dan persebaran yang hampir sama dengan jenis lain untuk tingkat pancang dan pada tingkat pohon penyebarannya cukup luas dibanding jenis lainnya (Lampiran 12). Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Sungai Sumberi Cagar Alam Teluk Bintuni data yang diperoleh (Lampiran 11 dan 12) adalah menghilangnya jenis tertentu seperti Rizophora Apiculata dan Keadaan Umum Kawasan II . Cagar Alam Teluk Bintuni akibat selalu terendam pada saat pasang naik (high tide) sehingga jenis- jenis yang seharusnya tidak berada pada zona depan. Xylocarpus granatum. Kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi (020 04’. Ceriops decandra.94 dan 100. kerapatan tertinggi masing- masing 50 pohon/ha dan 100 pohon/ha. Aegiceras corniculatum. Sedangkan untuk vegetasi mangrove tingkat tiang dan pohon didominasi oleh Rizophora Apiculata (INP=86. Hal ini diduga karena kondisi substrat pada daerah tersebut hampir merata (seragam) Gambar II-13. Rizophora apiculata.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lebih lanjut BKSDA Papua II Sorong ditemui bahwa hutan mangrove di Tanjung Pitaboni memiliki zonasi yang tidak jelas (irreguler zonation).012’’S.00). tagal. spathacea (Lampiran 11). namun persebaran hampir sama dengan jenis-jenis lain. Granatum. namun pada tingkat pancang hanya ditemukan 3 jenis. X.50 dan 113. spathacea. dimana dalam satu transek terjadi percampuran jenis sampai pada zona belakang (Gambar II-13).18). dan D. yaitu Ac. Hasil ini menggambarkan bahwa pada tingkat anakan/semai dan pancang didominasi oleh jenis Acrosticum speciosum dengan kerapatan tertinggi (9167 anakan/ha dan 600 anakan/ha) sekaligus menjadi spesies yang dominan (INP=62. Pola zonasi vegetasi hutan mangrove di Tanjung Pitaboni. C. tengah. mucronata dan D.780’’E). yaitu Acrosticum speciosum. 1330 53’. Bruguiera gymnorrhiza. Pada kelompok hutan mangrove ini ditemukan 9 jenis untuk tingkat semai.

apiculata dengan potensi berturut-turut adalah 65. mungkin dipengaruhi oleh faktor sedimentasi atau deposit substrat lumpur. Xylocarpus granatum. Sumberi (Gambar II-14) tidak jauh berbeda dengan hutan mangrove Tanjung Pitaboni di masih terjadi percampuran jenis pada zona tengah dan belakang.42 m3/ha dan 44. A. Berbeda dengan hutan mangrove Tanjung Pitaboni. namun hal perlu dikaji lebih jauh lagi penyebab penurunan jumlah jenis tersebut. Pandanus odoratissima. Tirasai banyak dijumpai jenis Bruguiera parviflora kemudian Rhizophora mucronata pada lapis kedua.15 . Xylocarpus moluccensis. Avicennia alba. jenis palem yang tumbuh di pesisir sungai. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pada kelokan bagian luar S.4 m/ha (Lampiran 9 dan 12). Hutan mangrove S. semakin dalam semakin menampakkan ke arah vegetasi peralihan yang dicirikan oleh tumbuhnya jenis vegetasi peralihan ke hutan dataran rendah dan rawa air tawar seperti Xylocarpus granatum dan D. Sedangkan pada bagian luar kelokan arusnya relatif kuat. alba dan R. Dari hasil pengamatan di lapangan didapatkan nilai rata-rata kubikasi vegetasi tingkat tiang dan pohon untuk tiap hektar luasan mangrove adalah sebesar 107. Sonneratia alba.3. komposisi tajuk hutan mangrove di areal ini terlihat kurang teratur dan mulai membentuk strata. Perbedaan jenis yang dominan antara bagian dalam dan bagian luar kelokan. Pada komunitas hutan ini terlihat adanya perbedaan yang sangat nyata antar plot. Pada bagian dalam kelokan. Pada bagian hulu juga ditemukan jenis Nypa fruticans. Hal ini karena komposisi jenis dari komunitas ini mulai beragam dengan hadirnya beberapa jenis vegetasi peralihan hutan dataran rendah (lowland forest). Areal sepanjang S.80 m3/ha (Lampiran 10 dan 13). Hal ini diduga terjadi kematian (mortality) pada proses dinamika populasi di areal ini. Pola zonasi hutan mangrove di S.Tirasai didominasi oleh jenis bakau kurap (Rhizophora mucronata). Endapan lumpur lunak hasil proses sedimentasi ini sangat cocok untuk habitat jenis-jenis pionir seperti Sonneratia alba.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Bruguiera gymnorrhiza saat mencapai tingkat pancang dan tiang kemudian muncul lagi pada saat mencapai tinkat pohon.2 Species Pada sub Bab sebelumnya telah dideskripsikan mengenai ekosistem alami penyusun kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang juga merupakan habitat dari berbagai species flora Keadaan Umum Kawasan II . sedangkan di bagian dalam kelokan didominasi oleh Sonneratia alba dan Avicenia alba. arusnya lemah sehingga daya angkut airnya menurun yang mengakibatkan terjadi penimbunan lumpur (akresi) dari hulu sungai. spathacea. Nilai kubikasi tertinggi ditunjukan oleh jenis A. Tirasai. dan Bruguiera gymnorrhiza. Aegiceras corniculatum. menyebabkan abrasi pada bagian tepi dan proses sedimentasi berjalan lambat atau bahkan tidak terjadi yang berakibat jenisjenis pioner tidak bisa tumbuh. Jenis lain yang tumbuh adalah Bruguiera parvifolia.

termasuk species-species (flora dan fauna) langka yang dilindungi serta species kunci.16 . Jenis-Jenis mangrove sejati pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. mengidentifikasi jenis-jenis mangrove sejati yang mendiami ekosistem mangrove pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan pada Tabel II-3. No.3. Hal ini mengindikasikan bahwa keragaman jenis tumbuhan Tabel II-4. BKSDA Papua II Sorong Terdapat banyak species penting yang berasosiasi dengan habitat dan Untuk itu perlu di ketahui keragaman species di kawasan karakteristik biologi lainnya. diperkaya lagi dengan jenis-jenis vegetasi yang tumbuh berasosiasi dengan jenis mangrove seperti disajikan pada Tabel II-4.2. Jenis-jenis tersebut belum termasuk jenis-jenis dari kelompok epifit dan liana yang terlihat banyak tersebar di kawasan. Cerbera manghas Dolichandrone spathacea Heritiera littoralis Lumnitzera littorea Myristica hollrungii Nypa fruticans. 2005. Keadaan Umum Kawasan II . No. Untuk ekosistem hutan mangrove. hutan hujan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga menyimpan keanekaragaman flora yang relatif tinggi. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 Spesies Avicenia alba Avicenia marina Bruguiera gymnorrhiza Bruguiera sexangula Bruguiera parviflora Ceriops decandra Ceriops tagal Rhizophora apiculata Rhizophora mucronata Sonneratia alba Sonneratia caseolaris Xylocarpus granatum Xylocarpus moluccensis Famili Aviceniaceae Aviceniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Soneratiaceae Soneratiaceae Meliaceae Meliaceae Jenis-jenis flora yang terdapat di Kawasan Cagar Alam TB sangat berhubungan ekosistem erat dengan kawasan penyusun seperti telah di uraikan panjang lebar pada bagian sebelumnya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni maupun fauna. A. Selain flora ekosistem hutan mangrove.1 Flora Tabel II-3. Hasil survei lapangan yang dilakukan Tim TNC (2005) berhasil Sumber: Hasil survei Tim TNC. 2005. Jenis-Jenis asosiasi mangrove pada ekosistem mangrove kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Acanthus ilicifolius Aegialitis annulata Aegiceras corniculatum Famili Pteridaceae Apocynaceae Bignonaceae Sterculiaceae Combretaceae Myristicaceae Palmae Acanthaceae Plumbaginaceae Myrsinaceae mangrove di Teluk Bintuni tergolong tinggi. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Spesie Acrosticum sp. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa jenis-jenis mangrove pada Tabel II-3. terutama dari jenis-jenis tumbuhan berkayu (Tabel II-5). didominasi oleh flora mangrove dan jenis-jenis lain yang biasa berasosiasi dengan vegetasi mangrove. Sumber: Hasil survei Tim TNC.

A. tempat berlindung. 18. ditemui di daerah ini. Berdasarkan informasi dari pengelola kawasan dan masyarakat setempat. dan jenis-jenis palem (Palmae) termasuk juga pelbagai jenis rotan.2 Hasil Fauna pengamatan lokasi II-16). Garcinia sp. di ekosistem hutan dataran bisa rendah juga dijumpai jenis-jenis anggrek dari genus Bulbophyllum yang secara hukum Indonesia telah dilindungi. Litsea sp. Vatica papuana Annisoptera sp. Caesalpiniaceae. BKSDA Papua II Sorong Pada strata tajuk didominasi oleh famili antara lain Leguminosae. Pandanus sp. 13. mamalia. 9. 17. 12. 5.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Tabel II-5. di lapangan dalam pada beberapa (Gambar Cagar kawasan bahwa memiliki menunjukan Bintuni Alam Teluk keanekaragaman fauna yang cukup tinggi. jenis-jenis yang Sumber: Hasil survei Tim TNC. juga ditemui di Cagar Alam Teluk Bintuni. 2005. berhasil Dari sejumlah yang sebagian besar diidentifikasi. Baccaurea b t t gnemon Gnetum Gigantochola sp. Calamus sp. Jenis-jenis tumbuhan yang mendominasi ekosistem hutan dataran Rendah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 2. Jenis anggrek (Bulbophyllum sp. 7.17 . 16. 6.3. 11. Sayangnya data dasar mengenai daftar tumbuhan/flora yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni belum tersedia. 15. serta tempat berkembang biak yang sesuai dengan kehidupan satwa liar baik dari jenis burung. Ficus sp. Canarium sp. Famili Caesalpiniaceae Sapindaceae Guttiferae Combretaceae Burseraceae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Dipterocarpaceae Euphorbiaceae Gnetaceae Graminae Guttiferae Lauraceae Moraceae Moraceae Myrtaceae Palmae Pandanaceae Dipterocarpaceae. 10. Eugenia sp. 4. Moraceae. 14. Gambar II-15. dan No. 1.) yang bisa ditemukan di hutan dataran rendah dan mangrove di kawasan CATB Keadaan Umum Kawasan II . epifit termasuk anggrek. adalah jenis-jenis endemik dan beberapa genus yang telah dilindungi undang-undang Indonesia antara lain antara lain genus Nepenthes Kemungkinan (Famili besar Nepenthaceae). 8. paku-pakuan. Hopea sp. reptil dan amfibi serta jenis avertebrata. Arthocarpus sp. Hal ini didukung oleh kondisi fisiografi dan ketersediaan sumber daya seperti pakan. Callophylum sp.2. air. Pometia spp. Terminali sp. Sedangkan pada strata bawah ditumbuhi perdu dan semak yang mendukung berbagai tanaman pemanjat. 3. Jenis Intsia spp.

Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Crocodylus porosus Crocodylus novaguinensis Hydrosaurus amboinensis Varanus sp. yaitu buaya air muara tawar Gambar II-17. Boiga irregulatus Litoria infrafenata Buaya muara Buaya air tawar Soa-soa Biawak Biawak bakau Ular bakau Ular sanca Ular coklat pohon Katak pohon hijau S. Mangrove K.18 . Tirasai. K. Hasil pengamatan langsung (direct seen) dan wawancara dengan penduduk lokal. buaya Keadaan Umum Kawasan II . di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya bisa dijumpai beberapa jenis reptil dan amfibi seperti disajikan pada Tabel II-6 Tabel II-6.6.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Reptil dan Ampibi (Amphibians and Reptiles) BKSDA Papua II Sorong Kawasan CATB dan sekitarnya merupakan habitat penting bagi perkembangbiakan jenisjenis reptil dan amfibi. Keterangan: H = Keputusan Menteri Pertanian No. Mamuranu Mangrove dekat K. Tirasai K. dan Mamuranu H H H C - CITES1 I I II - V - Sumber: Hasil survei Tim TNC.6. ditemukannya Hal ini memberi peluang jenis-jenis herpetofauna lain selain jenis-jenis yang disajikan pada Tabel II.Mamuranu Hutan Dataran rendah Tirasai Hutan Dataran rendah Anak Kasih Hutan Dataran rendah Anak Kasih. 716/KPTS/Um/l0/1980 C = Keputusan Menteri Pertanlan No. lebih sedikit dibandingkan dengan hasil survei yang dilakukan BP Pertamina (2002) di ekosistem mangrove dan hutan dataran rendah Saengga dan Tanah Merah yang hampir sama dengan ekosistem yang ada di Cagar Alam Teluk Bintuni. yaitu 27 spesies reptil dan 9 spesies amfibi. 2005. Varanu sindicus Enhydris sp.Mamuranu. 327KPTS/Um/5/1978 V = Vulnerable (rentan) 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Jenis-jenis herpetofauna yang disajikan pada Tabel II. Jenis herpetofuana yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Status Konservasi Dilindungi Endemik RDB2 No. Sumberi K.Tirasai H. Hydropis sp. Jenis buaya muara (Crocodylus porosus) yang ditemukan di kawasan CATB (Crocodylus porosus). Terdapat tiga jenis. Yakati S.

Gambar II. yaitu jenis yang terancam punah dalam IUCN Red Data Book (IUCN.19 . dan biawak bakau (Varanus prafinuvi). 1979). Selama survei yang dilakukan oleh Tim TNC (2005). Peta Lokasi Kegiatan Survei Keberadaan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 Burung (Birds) Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya memiliki keanekaragaman jenis burung yang cukup tinggi. 176/Kpts/um/10/1978). termasuk kedalam jenis satwa yang dilindungi dengan undang-undang di Indonesia (Petocz. (SK Mentan No. Keadaan Umum Kawasan II . 327/Kpts/um/5/1978 dan No.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong (Crocodylus novaguinensis). Hal ini didukung oleh kondisi fisiografi dan ketersediaan sumberdaya seperti pakan. Kedua jenis satwa reptilia tersebut.16. 1983). kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat kurang lebih 26 jenis burung yang tersebar di beberapa bagian kawasan CATB seperti disajikan pada Tabel II-7. dan termasuk jenis binatang yang dilindungi dengan UndangUndang di Indonesia. tempat berlindung dan berkembang biak yang merupakan komponen pendukung kehidupan satwa tersebut. suara (noisy). I CITES. dan informasi dari masyarakat lokal. yaitu C. air. porosus dan C. Novaeguinensis adalah satwa endemik New Guinea dan telah tercatat dalam App. yang dilakukan melalui pengamatan langsung (direct seen).

Muturi. Tatawori - F A. S. S. Mamuranu - F - NeT 2 Cacatua galerita Kakatua Jambul Kunig B. Sumberi Kampung Anak Kasih. Mamuranu Kampung Anak Kasih. Yakati - II 5 6 7 8 9 10 11 12 Muara Tirasai S.E.Sumberi.Tirasai.F II Keadaan Umum Kawasan II . Sumberi.Sumberi. Mamuranu - - 13 Falcon cenchroides Alap-alap layang - - II 14 15 16 17 18 19 Geoffroyus geoffroy Goura cristata Gygas alba Halcyon cholaris Larus novaehollandia Lorius lory Kakatua paruh merah Mambruk ubiaat (dara mahkota) Dara laut putih Cekakak sungai Dara laut putih Nuri kepala hitam Elang paria/ Alap-alap malam - F G C I II Vul. K. Naramasa. Muturi.20 RDB2 No. Naramasa S. Anak Kasih S. Naramasa. S. K. - 20 Milvus migrans - G II 21 Nectarinia aspasia Burung madu hitam A.E. S. Naramasa. Mamuranu S.Simeri. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - - - - - - - - - .Simeri. Naramasa S. Mamuranu K.C II 3 Casuarius bennetti Kasuari kerdil Cenderawasih molek (Magnificent Bird of Paradise) Anis puyuh ajax Walet sapi Kukubara perut merah A II NeT 4 Cicinnurus magnificus Cinclosoma ajax Colacalia esculenta Dacelo gaudichaud Dicrurus hottentottus Egretta ibis Egretta intermedia Egretta sacra Eopsaltria pulverulenta S.F A. Tatawori S.D. S.Sumberi. S. S. Tatawori S.Tirasai.F - 22 23 Nectarinia jugularis Paradisaea minor Burung madu sriganti Cenderawasih kuning kecil A. Jenis burung yang dicatat selama survei lapangan (Field Survey) di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Status Konservasi Dilindungi Endemik 1 Ardea sumatrana Cangak laut S. K. Mamuranu S. K. S.Simeri.E - III - Kuntul Kerbau Kuntul perak (Bangau putih) Kuntul karang Robin bakau (Manggrove robin) Muara Sungai Muturi S.Tirasai S. S. Naramasa S.E. Wasian S. Muturi S. Muturi. Wasian. S. S. S. Sumberi Muara Muturi S.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-7. Anak Kasih K. S. Naramasa. S.Tirasai.

Keterangan: A = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1931 No. Besar kemungkinan. Berdasarkan hasil penelusuran pustaka. 301/KPTS-Um/6/1991 June 10. 1970 C = Keputusan Menteri Pertanlan No.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Status Konservasi Dilindungi Endemik 24 25 26 27 Philemon buceroides Probosciger aterrimus Stercorarius pomarinus Sterna albifrons Cikukua tanduk Kakatua raja Camar Dara laut kecil S. Hasil rangkuman dari sejumlah referensi pendukung antara lain Petocz (1987).. Manggosa yang memiliki kemiripan ekosistem dengan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Petocz dan Raspado (1994). Rudiyanto (1996). 1978 D = Keputusan Menteri Pertanlan No. 14 jenis diantaranya adalah Keadaan Umum Kawasan II . 7421KPTS/Um/12/1978 December 2. Hal ini mengindikasikan bahwa keragaman jenis burung di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup tinggi dan perlu mendapat perhatian lebih serius baik dari perlindungan dan penelitian. Wasian Perairan Pulau Modan - F B - - A - Sumber: Hasil survei Tim TNC. diketahui bahwa Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat jenis-jenis satwa endemik Papua serta satwa/fauna yang telah dilindungi undang-undang. dan BP Pertamina (2002) diketahui bahwa dari jenis satwa burung yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (hasil survei Tim TNC. dimana 45 spesies diantaramya sudah di lindungi oleh undang-undang. keragaman jenis seperti yang disajikan pada Tabel II.21 RDB2 No. melalui penelitian yang lebih seksama. yang terdiri dari 75 spesies burung yang menetap dan 20 spesies burung migran. 421/KPTS-Um/8/1970 August 26. 1991 G = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1935 No. 757/KPTS/Um/12/1979 E = Peraturan Pemerinlah NO. Zuwendra dkk. (1991) yang melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni (termasuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni) sedikitnya teramati 95 jenis burung. 27 January 1999 F = Keputusan Menteri Pertanian No. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan BP Tangguh dalam rangka penyususnan dokumen ANDAL melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni khususnya daerah Sungai Saengga dan S. (1991). 513 NeT = Near Threaten (hampir terancam) V = Vulnerable (rentan) 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Jumlah tersebut (Tabel II-7) lebih sedikit dibandingkan hasil survei yang dilakukan Zuwendra dkk. Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - . Behler dkk. 266 B = Kepulusan Menleri Pertanian No.7 tersebut di atas dapat bertambah.7 of 1999. 2005). 2005. 2002). berhasil teramati lebih dari 140 jenis burung (BP Pertamina. (1986). Kodai Sekitar Kampung Naramasa S.

C. Anak Kasih I I II II Keadaan Umum Kawasan II . dan satu jenis (Egreta ibis) masuk Appendix III. Menurut informasi dari masyarakat setempat burung-burung tersebut akan datang pada bulan April – Mei dan kemudian pergi pada bulan Desember saat musim ombak. Lory. sumatrana dan C. Selain itu menurut RDB (Red Data Book) jenis mambruk masuk dalam kategori “rentan” (vurnerable). cenchroides. satu jenis burung mambruk (Goura cristata) masuk dalam Appendix I. minor. Kawasan Teluk Bintuni nampaknya merupakan daerah pencarian pakan (winter ground) dari beberapa jenis burung pengembara (migran). 1999). Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 - . K.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong spesies endemik. tujuh jenis lain (P. (1991) yang melaporkan bahwa di daerah CATB dan sekitar ditemukan paling sedikit 12 jenis endemik. magnificus. K. Menurut the Convention on International Trade in Endangered Species (CITES). migrans. di antara spesies burung yang dapat dijumpai di CATB. di kawasan ini bisa dijumpai 12 jenis mamalia. F. C. L. Hal ini mengindikasikan bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menjadi penting sebagai habitat dan perkembangbiakan jenis-jenis endemik khususnya satwa avifauna. Mamalia (Mammals) Hasil pengamatan selama survei dengan metode pengamatan langsung (direct seen) dan jejak kaki (footprint/trail) serta informasi dari penduduk lokal. Mamuranu. Jumlah jenis endemik untuk kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang berhasil dicatat selama survei hampir sama dengan jumlah spesies burung endemik hasil survei Zuwendra dkk. Tirasai K. Status Konservasi Dilindungi Endemik 1 2 3 Pteropus neohibernicus Spilocuscus maculatus Phalanger orientalis Kelelawar besar Kuskus bertotol Kuskus kelabu K. M. cristata) dan dua jenis lagi dikategorikan “hampir terancam”. Naramasa K. Tabel II-8. dan Casuarius bennetti) masuk Appendix II. Jenis mamalia yang dijumpai selama survei lapangan (Field Survey) serta berdasarkan informasi masyarakat setempat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Anak Kasih. K. dua diantaranya merupakan jenis yang sudah dilindungi undang dan masuk dalam appendix II CITES (Tabel II-8).22 RDB2 No.7. yaitu jenis mambruk ubiat/mahkota (G. Dalam survei dijumpai ratusan burung pelican (Pelecanus conspicillatus) dan umukia raja (Tadorna rajah) pada beberapa bagian Cagar Alam terutama pada daerah muara dengan bentangan bentik pasir. yaitu A. galerita. bennetti (Conservation International. Mamuranu. 14 jenis telah dilindungi baik oleh hukum Indonesia maupun hukum Internasional (CITES dan IUCN) seperti disajikan pada Tabel II.

Nama ilmiah Nama Indonesia Lokasi CITES1 V V .). Kawasan perairan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat jenis lumba-lumba. Erftemeijer. Tirasai K. Anak Kasih K. dan Allen (1991) yang melaporkan bahwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dijumpai mamalia seperti Echidna berparuh pendek (Tachyglossus aculeatus). dan Bandycoot (Peroryctes raffrayanus) atau tikus. dan Pseudocheirus spp. K. dan jenis-jenis Chiroptera yang merupakan kelompok mamalia yang luar biasa aneka ragamnya. kelelawar ekor berarung.). Mamuranu. 66/KPTS/Um/2/1973 V = Vulnerable (rentan) Intr Introduce = 1 Convention on International Trade in Endangered Species 2 IUCN Red Book List of Threatened Species Hasil pengamatan terhadap jenis-jenis mamalia yang disajikan pada Tabel II. kangguru pohon (Dendrolagus fursinus). Naramasa K. seperti jenis Seusa plumbea yang bersirip putih yang menurut informasi masyarakat. K. K.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Status Konservasi Dilindungi Endemik 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Cervus timorensis Dorcopsis muelleri Dendrolagus ursinus Peroryctes raffayana Sus crofa Pteropus conspilicatus Pogonomys macrourus Isodon macrourus Pristis microden Rusa Walabi hutan Kangguru pohon Bandikot Babi hutan Kelelawar Tikus hutan dataran rendah Tikus tanah Cucut gergaji K. kuskus (Phalanger orientalis) pada habitat hutan mangrove. serta rusa dan babi hutan. Mamuranu. K. 2005. Anak Kasih K. Tirasai K. sering terlihat Keadaan Umum Kawasan II . possum kerdil (Cercatetus caudatus. Namun jumlah tersebut masih jauh lebih rendah dari hasil penelitian yang di lakukan oleh PT Geobis Woodward-Clyde Indonesia pada tahun 1998 yang melaporkan bahwa di kawasan Teluk Bintuni /Bearau dapat ditemui kurang lebih 70 spesies mamalia yang terdiri dari 36 spesies kelelawar (Chiroptera). Keterangan: A = Peraturan Konservasi Kehidupan Liar (Wildlife Conservation Regulation) 1931 No. K. Anak Kasih K.23 RDB2 No.8 hampir sama dengan jenis-jenis mamalia yang ditemukan dalam survei yang dilakukan oleh Zuwendra. kelelawar tapal kuda. Tirasai K. Anak Kasih. Anak Kasih. dan kelelawar mastif. K. K. 15 spesies binatang pengerat (rodents). 266 B = Kepulusan Menleri Pertanian No. seperti kelelawar berhidung tabung. Tirasai Perairan Teluk Intr A B - - Intr - Sumber: Hasil survei Tim TNC. K. 17 spesies marsupial (Marsupialia). marga tikus berkantung endemis yang aneh. walabi liar biasa (Macropus agilis). 421/KPTS-Um/8/1970 August 26. walabi hutan (Dorcpsis spp. Anak Kasih. 1970 I = Keputusan Menteri Pertanian No. rubah terbang. Mamuranu. Dasyuridae. Echidna berparuh panjang (Zaglossus bruijni). Distoechurus pennatus. Mamuranu. Anak Kasih. Mamuranu.

Ikan Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kawasan yang terkena pasang surut. Bahkan sejenis ikan paus berukuran besar pernah terlihat di perairan Teluk Bintuni yang lebih dalam. Beberapa jenis udang yang ditemui di perairan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Jenis ikan tersebut merupakan jenia endemik dan tersebar di beberapa sungai. Informasi yang diperoleh dari penduduk bahwa di beberapa daerah muara sungai besar di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dijumpai marga Delphinidae. peran kawasan Cagar Alam Teluk menjadi sangat penting bagi masyarakat sekitar kawasan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama ikan baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk dijual sebagai pendapatan pendapatan keluarga. dan ikan merah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam satu group bermain mengikuti jalannya armada kapal penangkap udang untuk mendapatkan ikan-ikan yang lebih kecil sebagai makanannya. (Penaeus Parapenaeopsis yaitu udang tiger/Tiger Prawn dan udang Gambar II-18.24 . rawa. Jenis ikan ini sangat potensial untuk dijadikan ikan hias sehingga memberikan peluang bagi masyarakat setempat untuk mengembangkan jenis ini untuk meningkatkan pendapatan keluarga. dan danau di sekitar kawasan di mana makanan utamanya adalah nyamuk. Avertebrata Perairan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat beberapa jenis avertebrata. banyak dijumpai ikan gergaji (saw-fishes). Hasil survei serta didukung oleh informasi dari penduduk setempat bahwa dii kawasan habitat air tawar ditemukan ditemukan jenis ikan air tawar dimana dua di antaranya merupakan ikan pelangi (rainbow fish) dari genus Melanotaenia. Mengacu pada informasi tersebut di atas. Jenis kepiting bakau (Scylla sp. hiu. Keadaan Umum Kawasan II . Brevipinna) yang dapat mencapai panjang 3 m.) yang memiliki nilai ekonmis yang dapat ditemukan di kawasan CATB semisulcatus sculptilis). Sedangkan jenis hiu yang terdapat di perairan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah jenis hiu bodoh (Chyloscyllium punctatum dan C. terutama dari jenis udang. Informasi dari penduduk setempat bahwa ikan cucut gergaji (Pristis microden) yang merupakan ikan terbesar dan telah dilindungi undang-undang yang sering masuk sampai ke sungai-sungai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Informasi dari nelayan tradisional (penduduk lokal) diketahui bahwa jenis Lutjanus johnii (ikan merah) dan Himantura uarnak (ikan pari) sering juga tertangkap saat memancing di sungai-sungai dekat hutan mangrove di kawasan CA Teluk Bintuni.

Kampung Anak Kasih dan Tirasai merupakan kampung yang baru terbentuk sehingga secara definitif belum ada.). pada tahun 1992 lokasi tersebut dibuka oleh PT. dan lobster (Panulirus ornatus). juga terdapat berbagai etnis pendatang lainnya. salps (Salpa sp. dari 14 kampung yang ada di sekitar kawasan CATB. Penduduk secara garis dibedakan atas dua. Penduduk asli adalah penduduk yang telah lama bermukim disekitara kawasan Cagar Alam yang dikenal sebagai pemangku hak masyarakat hukum adat. sedangkan penduduk pendatang yaitu berasal dari masyarakat transmigrasi dan atau para pedagang serta penduduk Papua pendatang (dari Sorong. Mamuranu adalah desa yang berada di dalam kawasan CATB yang sudah ada sebeluk kawasan diusulkan dan ditunjuk sebagai Cagar Alam Teluk Bintuni. B. Henrison Iriana sebagai logyard. mantis srimp (Squitta sp. dimana pembuatan rumah-rumah tersebut tidak ada koordinasi terutama dengan pihak BKSDA Papua 2. Di kawasan perairan CA Teluk Bintuni juga di jumpai jenis avertebrata lain seperti jelly fish (Scyphozoa). bersinggungan dan di dalam) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) sampai dengan Bulan Maret 2005 yaitu sebanyak 9. B. serta jenis kepiting bakau Scylla sp. Ketika hadirnya maupun pihak gereja Kopermas maka kelompok Marga Imeri berniat membuka pemukiman baru di logyard Tirasai. Crinoid sealilies. diawali dengan adanya mobilisasi penduduk marga pemangku hak ulayat di Anak Kasih pada saat kopermas mulai beroperasi. udang raja/king prawn (Penaues hatisalcatus). kerang timba/Bailer’s shells (Nilo acthiopicus dan Syrinx aruanus). Gorgoniau corals (Gorgonaceae).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni endeavour/Endeavour Prawn (Metapenaeus monoceros). Anak kasih merupakan kampung yang baru terbentuk pada tahun 2002. Kampung Tirasai pada awalnya hanya berupa gubuk sebagai tempat berburu. Hal ini menjadikan kawasan perairan sekitar CA Teluk Bintuni menjadi penting sebagai habitat udang yang dapat mendukung industri udang komersial di Kabupaten Teluk Bintuni. Penduduk secara etnisitas selain didiami oleh etnis asli (Papua). Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan lapangan. dan Ambon. dari luar Papua seperti Jawa. (Gambar II-18). yaitu penduduk asli /lokal dan pendatang. Beberapa penduduk tersebut berasal dari penduduk Kampung Mamuranu yang pada awalnya hanya membuat pondok dan ladang disekitar daerah logyard yang dibuka oleh kopermas .25 . Biak.).557 Jiwa. Bugis. Serui dan tempat tempat lain diluar Teluk Bintuni). Banana BKSDA Papua II Sorong prawn (Penaeus marguensis dan Penaeus indicus). Keadaan Umum Kawasan II . setempat . Pada tahun 2003 Dinas Sosial Propinsi Papua membuat rumah semi permanen dengan jumlah 54 rumah.1 Karakteristik Sosial Ekonomi dan Budaya Penduduk Jumlah penduduk yang berada di 14 Kampung di sekitar (di luar.

2005 Diolah Keadaan Umum Kawasan II .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Keinginan masyarakat untuk membentuk kampung baru.19) dan jenis kelamin disajikan pada Tabel II-9. Hasil Survei Tim TNC. Gambar. Persebaran penduduk yang bermukim di sekitar kawasan berdasarkan kampung (Gambar II. terlihat bahwa telah diajukan permohonan untuk pemukiman baru di lokasi Logyard Tirasai ke Pemda Distrik Bintuni pada tahun 2002. Pasamai Akan tetapi sehingga dengan berbagai alasan mulai awal tahun 2005. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin di Sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kelurahan/Kampung Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP 5 Tirasai Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Jumlah Persentase Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idoor Idoor Idoor Idoor Kuri Jumlah (KK) 325 606 42 254 123 191 209 242 28 20 15 60 50 35 2200 46. Sehingga penduduk sekarang Tirasai masyarakat banyak cukup bermukim disana sambil menantikan surat keputusan tentang penetapan status kampung tersebut .71 853 1471 82 375 271 445 274 710 89 70 47 202 127 117 5133 Total 1588 2781 156 729 528 792 556 1309 147 125 83 342 219 202 9557 100 Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. dan langsung memberi rekomendasi bahwa usulan mereka akan ditindaklanjuti.29 Jumlah Penduduk (Jiwa) Perempuan Laki-laki 735 1310 74 354 257 347 282 599 58 55 36 140 92 85 4424 53. Pada tahun 1994 melalui Program Bina Desa PT Henrison Iriana. Lokasi Pemukiman penduduk K. Pihak pemerintah daerah tidak mengkoordinasikan masalah tersebut dengan KSDA Papua II Resort Bintuni. Tabel II-9. sebagian masyarakat mengikuti yang program ada di Tirasai yang tersebut berlokasi di Pasamai.19. II.26 . masyarakat tersebut sudah banyak kembali lagi ke Tirasai dan sementara menenempati rumah bekas karyawan Kopermas yang sementara ini ditinggalkan.

27 . Luas wilayah Distrik (Kecamatan) Bintuni yaitu 7.926 Km2 (Atlas Sumberdaya Pesisir Kawasan Teluk Bintuni. Kampung Mamuranu merupakan kampung yang berada didalam kawasan dan sudah ada sebelum ditetapkannya Kawasan CATB. Gambar II-20. Tuasai dan Argo Sigemerai merupakan pemukiman transmigrasi yang letaknya bersinggungan dengan Kawasan CATB. sedangkan Kampung Anak Kasih dan Tirasai merupakan perkampungan baru yang ada didalam kawasan. 2003). bahwa kepadatan penduduk di sekitar kawasan CATB masih rendah (1. Akan tetapi seiring dengan perkembangan Kabupaten Teluk Bintuni yang merupakan Kabupaten pemekaran baru. Banjar Ausoy. maka potensi para penduduk pendatang akan semakin banyak sehingga jumlah penduduk dimasa yang akan datang diprediksikan akan semakin cepat bertambah. Sedangkan Kampung Yakati. Berdasarkan Tabel 10.2 jiwa/Km2). sedangkan Distrik Idoor dan Kuri tidak diperoleh data luasan wilayah (karena merupakan distrik baru).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kampung Waraitama. Yensei dan Naramasa merupakan kampung yang secara letak berada diluar kawasan akan tetapi keterkaitannya terutama dalam pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan cukup besar. Peta Lokasi Kampung yang berada di dalam dan sekitar Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 Keadaan Umum Kawasan II . Korano Jaya.

17 7 -18 342 617 37 170 114 152 105 320 36 29 18 107 63 75 2185 22. Hal ini terjadi karena terutama Kampung (Desa) yang bersinggungan dengan kawasan CATB. Tabel II. merupakan sehingga Gambar II-21. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kelurahan/Kampung Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 TirasaI Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Jumlah Persentase Distrik Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Bintuni Idoor Idoor Idoor Idoor Kuri 0–6 214 243 31 84 74 101 72 211 15 26 13 35 29 15 1163 12.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II. Hasil Survei Tim TNC.10. Ratio perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki terhadap perempuan adalah 1.10.86 %.16. Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur di Sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni Kelompok Umur (Thn) No. disusul penduduk dengan kelompok usia sekolah (7–18 tahun) sebesar 22.82 %).34 Jumlah (Jiwa) 1588 2781 156 729 528 792 556 1309 147 125 83 342 219 202 9557 100 Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005.63 %.28 . bersinggungan dan di dalam) Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB).80 %) dan diikuti oleh nelayan (18. Korano Jaya setelah melaut permukiman transmigrasi Keadaan Umum Kawasan II .86 19 .63 > 50 217 462 25 124 80 138 61 173 24 15 9 75 30 32 1465 15.10. Persebaran penduduk yang bermukim di kampung-kampung sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan kelompok umur disajikan pada Tabel II. mayoritas bermatapencaharian sebagai petani (45. Salah seorang anggota masyarakat nelayan di K.2 Mata Pencaharian Masyarakat yang berada di sekitar (diluar. Hasil pengamatan di lapangan yang diperkuat dengan hasil penelitian Yalhimo (2003) memberi gambaran bahwa penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagian besar berusia produktif (19–50 tahun) dengan persentase 49.50 815 1459 63 351 260 401 318 605 72 55 43 125 97 80 4744 49. 2005 Diolah B. memperlihatkan bahwa sebaran proporsi jumlah penduduk laki-laki lebih besar dibandingkan dengan proporsi jumlah penduduk perempuan.

Tabel II-11.82 %).29 Lain2 . Oleh karena itu diperlukan pengelolaan kawasan CATB yang baik dengan bekerjasama dengan masyarakat setempat sehingga kawasan CATB terjaga kelestariannya dan masyarakat tetap dapat melakukan kehidupannya sehari-hari. sehingga ketergantungan mereka terhadap sumberdaya alam kawasan cukup besar. Secara lengkap kondisi penduduk berdasarkan matapencaharian dapat dilihat pada Tabel II-11. kawasan CATB seperti Kampung Yakati. 2005 Diolah Keadaan Umum Kawasan II .80 Tani Distrik Kampung/Kelurahan 0 0 0 0 0 0 0 0 9 7 7 19 10 15 67 2. Yensei dan Naramasa akan tetapi bermatapencaharian didalam kawasan CATB yaitu nelayan (18.28 %). dengan laju pertumbuhan penduduk 1-2 %/tahun.86 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 18 12 0 30 1.28 17 74 0 13 14 0 0 5 0 0 0 0 0 0 123 5.04 Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Persentase Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005.82 %) dan menokok sagu (1.60 Buruh Bintuni Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai 138 161 11 16 1 27 0 8 13 9 7 20 16 14 441 18. sangat mengandalkan kepada sumberdaya alam yang ada di dalam kawasan CATB. Anak Kasih. dan Tirasai serta kampung yang secara lokasi berada di luar. Buaya dan babi) Menokok Sagu PNS/ TNI/ POL Nelayan Swasta 28 87 3 24 14 26 4 37 0 0 0 0 0 2 225 9.822 61 148 25 187 96 154 196 184 6 2 1 0 9 4 1073 45.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong penduduknya banyak yang bermatapencaharian sebagai petani. diprediksikan dimasa yang akan datang tekanan terhadap kawasan CATB akan semakin besar. Dengan persentase penduduk lebih dari 20 % yang mengandalkan sumberdaya alam kawasan CATB secara langsung.25 17 59 2 3 8 29 2 21 0 2 0 3 3 0 149 6. Mata Pencaharian penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Mata Pencaharian (Jiwa) Berburu (Rusa.35 64 77 1 11 54 9 7 12 0 0 0 0 0 0 235 10. Ketiga jenis mata pencaharian tersebut. Hasil Survei Tim TNC. berburu (2. Akan tetapi untuk Kampung (Desa) yang berada di dalam kawasan CATB seperti Kampung Mamuranu.

mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan Perguruan Tinggi (PT).3. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat sekitar kawasan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. Secara umum untuk tingkat Kabupaten Teluk Bintuni. Sarana Pendidikan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2002 Sarana Pendidikan Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan TK Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah 1 2 0 0 0 1 0 1 0 0 0 0 0 0 5 SD 2 3 0 0 1 1 1 1 0 1 0 1 1 1 (Rusak) 13 SMP 1 1 0 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 4 SMU 2 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 PT 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 Jumlah (unit) 7 8 0 0 2 3 1 2 0 1 0 1 1 1 27 Sumber : Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. 2005 Diolah Tabel II-12. menunjukan bahwa hampir semua kampung telah memiliki sarana pendidikan untuk tingkat SD.1 Pendidikan dan Kesehatan Pendidikan BKSDA Papua II Sorong Kualitas pendidikan dari penduduk yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara umum masih rendah. Sarana pendidikan yang terdapat di sekitar kawasan CATB disajikan pada Tabel II-12. Hasil Survei Tim TNC. pelaksanaan pendidikan telah berlangsung pada berbagai jenjang pendidikan. Keadaan Umum Kawasan II . Tabel II-12. pengetahuan dan pemahaman mereka terhadap cagar alam dan pelestarian alam masih rendah (84%).30 . Sebagai contoh rata-rata jumlah guru untuk tingkat sekolah dasar disetiap kampung (desa) sebanyak 1-3 orang. terutama jumlah guru untuk setiap sekolah masih rendah. dengan kondisi sarana prasarana pendidikan yang kurang memadai. sedangkan tingkat SMP dan SMU masih terkonsentrasi di pusat kota Kabupaten Teluk Bintuni (kelurahan Bintuni Timur dan Bintuni Barat) serta daerah pemukiman transmigrasi (kampung Korano Jaya/SP2 dan Banjar Ausoy/SP4).3 B. Hal ini disebabkan oleh minimnya informasi tentang cagar alam dan pelestarian alam yang mereka terima karena kurangnya sarana dan media informasi.

juga sarana transportasi yang belum lancar/langka. Kendala utama yang dirasakan adalah jarak sekolah lanjutan dengan pemukiman mereka cukup jauh. Sarana Kesehatan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Sumber: Hasil survei tim TNC. Puskesmas dan Puskesmas Pembantu (PusTu) hanya ada di ibukota Kabupaten (Bintuni Barat) dan pemukiman transmigrasi (Banjar Ausoy/SP4). yaitu guru sebagai tenaga pengajar yang dirasakan masih kurang terutama guru-guru bidang IPA dan bahasa Inggris baik pada tingkat SMP maupun tingkat SMU. Puskemas 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Sarana Kesehatan Pustu Polindes/P’Yandu 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 1 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Jumlah (unit) 2 2 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 5 Keadaan Umum Kawasan II . Hal yang sama juga di alami para siswa lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk melanjutkan sekolah ke tingkat SMU. Hal ini membuat para siswa mengalami kesulitan untuk datang ke sekolah tepat waktu.2 Kesehatan Sarana kesehatan yang ada di kampung-kampung di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sangat terbatas. Pada kampung-kampung tertentu bahkan tidak memiliki sarana kesehatan sama sekali seperti terlihat pada Tabel II-13.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Terkonsentrasinya sarana pendidikan lanjutan di ibukota Kabupaten dan daerah transmigrasi mengakibatkan banyak anak-anak usia sekolah lulusan sekolah dasar (SD) mengalami kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi (SMP). Permasalahan lain yang cukup menonjol hampir sama dengan sekolah-sekolah yang ada di sekitar kawasan CATB.31 .3. Tabel II-13. sedangkan beberapa kampung lain di wilayah ini hanya memiliki poliklinik desa (Polindes) atau posyandu. 2005. B. bahkan banyak dari mereka yang terpaksa tidak masuk sekolah (meliburkan diri) dalam waktu lama.

masyarakat lebih banyak menggunakan jasa dukun beranak (traditional healers) yang jumlahnya cukup banyak dan hampir tersedia di setiap kampung di sekitar kawasan CATB. tergantung pasang surutnya air. 2005 Diolah Tabel II-14 memperlihatkan bahwa tenaga medis seperti dokter. Tenaga Kesehatan yang ada di kampung sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Idoor Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Tenaga Kesehatan Perawat/Bidan 0 12 0 0 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 16 Dokter 0 1 0 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Mantri 1 7 0 0 1 2 0 0 0 0 0 0 0 0 11 Dukun Beranak 4 3 1 0 1 0 2 0 0 1 0 3 2 1 18 Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. Hasil Survei Tim TNC. diare. Khusus untuk pelayanan persalinan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Meskipun demikian rutinitas kunjungan dari para medis tetap dilakukan ke kampungkampung yang ada. Di ibukota Kabupaten hanya terdapat seorang dokter dan beberapa mantri serta perawat/bidan yang bertugas di Puskesmas. mantri. diare. penyakit kulit. Jenis penyakit yang paling umum di derita oleh masyarakat di sekitar kawasan adalah malaria. Tabel II-14. Untuk ke kampung Yakati dan Yensei misalnya harus ditempuh dengan menggunakan perahu motor (longboat) dengan waktu tempuh 4-6 jam. Keadaan tenaga kesehatan yang ada di daerah sekitar kawasan juga masih terbatas seperti disajikan pada Tabel II-14. infeksi saluran pernapasan atas (ISPA). Frambusia. dan penyakit mata dimana penyakit malaria. Hal ini menyebabkan tidak terpenuhinya pelayanan pengobatan oleh tenaga kesehatan yang dibutuhkan masyarakat. Kendala yang menonjol dalam kunjungan petugas kesehatan adalah masalah transportasi. dan bidan yang terdapat di kampung-kampung di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih sangat kurang.32 . dan ISPA merupakan penyakit yang banyak Keadaan Umum Kawasan II .

Hasil studi Yalhimo (2003) menunjukan bahwa selama tahun 2003 terdapat 246 kasus malaria dan 135 kasus diare.55 Katolik 178 204 104 37 12 38 0 27 0 0 0 0 8 608 6. dan 55 kasus penyakit mata.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diderita dan menjadi penyebab utama kematian.09 Idoor Mamuranu/ Anak Kasih Yakati Yensei Kuri Naramasa Jumlah Persentase Sumber: Monografi Kampung (Desa) Bulan Maret 2005. serta kondisi lingkungan jalan umum yang berdebu pada musim kemarau yang membuat kualitas udara menjadi buruk akibat banyaknya debu. memperlihatkan bahwa jumlah penduduk yang menganut agama kristen protestan lebih besar dibandingkan jumlah penganut agama lain (57. dan ISPA diduga disebabkan oleh lingkungan tempat tinggal masyarkat yang dekat denagn hutan rawa dan mangrove yang merupakan tempat berkembang biak nyamuk malaria. Hal ini ditunjang oleh sarana ibadah yang cukup memadai (Tabel II-15). Tempat ibadah umumnya juga telah ada di setiap kampung (desa). Jumlah penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni berdasarkan Agama Jumlah Tempat Ibadah 1 4 0 1 1 1 3 1 0 1 1 1 1 16 Jumlah Tempat Ibadah 0 1 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2 Jumlah Tempat Ibadah 2 0 0 3 6 5 0 6 0 0 0 0 0 22 Distrik Bintuni Kampung/Kelurahan Bintuni Timur Bintuni Barat Pasamai Waraitama/SP 1 Korano Jaya/SP 2 Banjar Ausoy/SP 4 Tuasai/Beimes/Ingruji Argo Sigemerai/SP5 Tirasai Kristen Protestan 997 2395 52 203 47 70 556 77 147 208 342 219 187 5500 57. Menonjolnya kasus malaria. 59 kasus ISPA dibanding dengan 22 kasus penyakit kulit. air baku untuk minum sangat kurang dan tidak memenuhi standar baku kesehatan. diare. Keadaan Umum Kawasan II . Tabel II-15.36 Islam 413 182 0 489 469 684 0 1205 0 0 0 0 7 3449 36. Hasil Survei Tim TNC. dan Islam. B. 27 kasus Frambusia.4 Agama Penduduk yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagian besar sudah memeluk agama seperti Kristen Protestan.33 . Katolik.55 %). 2005 Diolah Tabel II-15.

Menurut keterangan dari Tokoh masyarakat Bintuni Bpk. dan sebagainya.5 Kearifan Tradisional Masyarakat BKSDA Papua II Sorong Masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) masih memiliki kepercayaan bahwa tempat-tempat tertentu di daerah mereka masih dianggap keramat (tempat pamali).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. Set Efredire) menyatakan bahwa Pulau Modan merupakan tempat “pamali” dimana menurut kepercayaan mereka di sana terdapat buaya putih. Hasil wawancara dengan tokoh adat Naramasa (Bpk. Masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan CATB. B.6 B. masyarakat biasanya tidak mengambil seluruh jumlah karaka dalam satu liang (lubang) dengan pertimbangan karaka yang ditinggalkan dapat berkembang biak. masyarakat adat Wamesa dalam menebang pohon sagu mencari yang tua/matang. memandang tanah dan hutan sebagai suatu kesatuan yang tak terpisahkan. Dalam proses pengambilan karaka. Salah satu pengelolaan sumberdaya alam di dalam CATB berkaitan dengan kearifan tradisional masyarakat. Bila dicermati aturan-aturan mengenai pemanfaatan tanah-hutan seperti itu. Disamping itu masih ada tempat tertentu yang oleh masyarakat dilindungi keberadaannya karena bernilai ritual seperti mata air.6. khususnya masyarakat adat Wamesa adalah pada kegiatan pengambilan hasil laut dari mangrove berupa kepiting (karaka). Selain itu dalam pengambilan/pemanenan hasil pohon sagu. Hal ini membuat masyarakat adat mulai berpikir tentang status tanah dan hutan yang saat ini di kelola oleh “pihak-pihak luar” seperti areal transmigrasi dan Hak Pengusahaan Hutan (HPH). pohon-pohon tertentu. goa. Selain itu daerah yang dianggap sebagai tempat “pamali” yaitu sekitar Pulau Jawarupai yaitu Sungai Asi Inabuo.34 . pada hakekatnya sejalan dengan prinsipprinsip konservasi. Apalagi bila tanah tersebut mengandung sumber daya tambang. Oleh sebab itu mereka berusaha memiliki tanah seluas-luasnya untuk dapat di pertahankan dalam jangka waktu lama serta untuk di wariskan dari generasi ke generasi.1 Pemanfaatan Sumberdaya Alam Pandangan Masyarakat Adat terhadap sumberdaya alam (Tanah dan Hutan) Masyarakat adat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) memandang tanah dan hutan merupakan sesuatu yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan mereka sebagian pemilik hak ulayat. Otto Manibuy. sehingga tidak sembarang orang bisa masuk kesana. masyarakat adat harus mendapat kompensasi apabila tanah adat mereka Keadaan Umum Kawasan II . Indikator yang dipakai adalah pohon sagu yang telah berbunga dan menghasilkan puting sari. Pulau Modan termasuk tanah adat Suku Kuri .

serta sebagai tempat pengambilan bahan baku untuk pembuatan rumah. dan jenis burung lain seperti nuri. Hutan juga merupakan sumber sayuran. ataupun suku dapat di tentukan oleh seberapa luas tanah yang dimiliki orang/kelompok/klain/marga/suku tertentu. Hutan bagi masyarakat adat yang bermukim di sekitar kawasan CATB juga memiliki fungsi sosial. nilai. anggota masyarakatnya juga tersebar di sekitar kawasan dan kota Bintuni. Yettu. klan. hutan merupakan sarana pemersatu hubungan sosial antar warga dalam satu suku maupun antar suku.6. Secara sosial budaya masyarakat memiliki ikatan erat dengan hutan. marga Iba. Selain itu tinggi rendahnya status sosial (social status) seseorang atau sekelompok orang dalam satu marga. Pemanfaatan dan pengelolaan hutan oleh masyarakat di sekitar kawasan CATB menunjukan bahwa hutan merupakan sumber utama kehidupan. Sayori. kapan. Dengan adanya kondisi tersebut rasa persaudaran mereka tetap terikat kuat karena adanya rasa bersama dalam memiliki hutan adat mereka.35 . dan dimana seseorang atau kelompok orang boleh memanfaatkan tanah termasuk sistem pewarisan konflik dan cara penyelesaiannya. berburu binatang liar. dan Horna “mengklaim” sebagi kelompok dengan status sosial tinggi karena memiliki tanah yang sangat luas yang membentang mulai dari pegunungan Arfak sampai ke Pesisir Teluk Bintuni. Hutan bagi masyarakat adat berfungsi sebagai tempat berburu rusa. Pemanfaatan sumber daya alam berupa tanah dan hutan oleh masyarakat yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) masih mengandalkan kearifan tradisional. babi hutan. Bagi masyarakat adat.2 Pola pemanfaatan sumberdaya alam. Masyarakat Suku Wamesa yang mengklaim sebagian besar wilayah hutan yang ada didalam kawasan CATB. B. dan jenis-jenis burung tertentu sebagai sumber protein keluarga. Sebagai contoh pada Suku Sough yang bermukim di sekitar kawasan CATB. norma dan hukum adat yang mengatur tentang siapa. sehingga mereka bisa bertahan hidup dari generasi ke geneeasi sampai saat ini. menokok sagu. dan obat-obatan. Pola ini merupakan aturan tak tertulis yang disepakati bersama oleh para pemilik tanah yang berlangsung turun temurun. Tiri. mencari ikan. Hutan dimanfaatkan untuk memenuhi beragam kebutuhan seperti kegiatan berkebun (perladangan berpindah). Pola pemanfaatan sumber daya tanah secara tradisional biasanya mengacu pada sistem kelembagaan yang meliputi aturan. kakatua dan mambruk untuk di jual. Keadaan Umum Kawasan II . Masyarakat adat melihat hutan mempunyai fungsi ekonomi karena merupakan tempat menggantungkan kehidupan sehari-hari.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diusahakan untuk usaha tertentu. biji-bijian. hal tersebut merupakan usaha agar masyarakat adat tidak hanya menjadi “penonton” tetapi juga merasakan hasil kegiatan yang dilakukan.

penebangan pohon. tidak boleh diubah begitu saja tanpa kesepakatan bersama antar anggota klan atau suku dengan harapan bahwa dalam pengelolaannya tidak mengganggu kepentingan anggota yang lain. Dari segi pemanfaatan hasil buruan. tunas atau buah-buahan yang tumbuh di sekitar kampung atau dekat dengan kebun-kebun penduduk. lebih berhubungan dengan prinsip-prinsip pengaturan dalam memenuhi kebutuhan subsistensi keluarga. Lahan yang dikelola dianjurkan berdekatan dengan lahan milik anggota klan atau suku lain dengan harapan memudahkan dalam pengerjaan dan pengontrolan bersama. (3) Batas-batas lahan yang telah disepakati. dekat kebun. orang tua. Aturan-aturan tersebut antara lain: (1) (2) Lahan yang dikelola haruslah milik marga/klan/anggota suku. pada pelaksanaan kegiatan berburu.36 . atau kebakaran hutan dapat dilakukan pengaturan dan penanggulangan secara bersama-sama oleh anggota atau suku yang bersangkutan. dan penanaman sedapat mungkin dilakukan secara bersama-sama anggota klan atau suku yang lain agar bila terjadi musibah seperti banjir. Dari segi pengumpulan bahan bangunan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dalam bertani misalnya. para pemilik tanah mulai terperikat untuk Keadaan Umum Kawasan II . (4) Pembukaan lahan. yang tumbuh disekitar pemukiman. Namun seiring dengan perkembangan jaman. kekeringan. atau di kawasan pamali dapat diklaim sebagai milik pribadi oleh mereka yang pertama kali menemukan atau membersihkannya. ada pemburu yang adakalanya berhasil dari pada yang lain. atau para kerabat dekat di luar radius tersebut. dan dapat juga diwarisakan kepada keturunannya. bisa berdampak terhadap terjadinya pertentangan bahkan konflik. Aturan juga dibuat dalam berburu binatang liar dimana pola pemanfaatan dilakukan hanya pada areal hutan yang merupakan milik klan atau suku yang bersangkutan. masyarakat menggantungkan hidupnya pada kegiatan berkebun dimana mereka juga terikat pada aturan-aturan yang berlaku yang disepakati bersama. pohon dan tumbuhan yang biasanya digunakan untuk bangunan atau keperluan rumah tangga. pembakaran. Dalam meramu sayuran dan buah-buahan untuk konsumsi seperti daun. bunga. Pola pemanfaatan tersebut diatas. membersihkan atau yang punya lahan dimana tumbuhan tersebut berada dan selanjutnya diwariskan kepada keturunannya. pemagaran. Pemburu yang berhasil tersebut senantiasa membagi-bagikan hasil buruannya kepada tetangganya dengan radius dua rumah juga kepada keluarga dekat seperti kakek-nenek. buah. Hal ini senantiasa diperhatikan karena bila kegiatan perburuan dilakukan tanpa didasarkan atas aturan batasbatas tanah ulayat klan. saudara kandung. dimana “pihak luar” mulai masuk. dapat di klaim sebagai milik pribadi oleh mereka yang pertama kali menemukan.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong “menyerahkan” sumberdayanya untuk digunakan. yaitu berupa pemanfaatan jenis-jenis flora dan fauna serta lahan untuk kebun. seperti ikan. Khusus untuk buaya. Umumnya kompensasi adalah berupa uang tunai dan pembangunan rumah tinggal yang tentunya berdampak terhadap perubahan fungsi hutan untuk berbagai stakeholder. Apabila melihat pola tersebut maka pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan CATB cukup intensif. Pemanfaatan beberapa jenis flora oleh masyarakat lebih tertuju pada kayu sebagai bahan bakar dan juga bahan bangunan. maka penggunaan hutan lebih banyak mengarah pada prinsip-prinsip ekonomi yang menghasilkan keuntungan materiil.6. Pola interaksi masyarakat sekitar dengan kawasan CATB yaitu dalam bentuk mata pencaharian. dimana masyarakat mengamabil sumberdaya alam tersebut hampir setiap hari. Mamuranu. Pemanfaatan fauna lebih terfokus pada fauna perairan. Buaya diambil kulitnya sedangkan rusa dan babi diambil dagingnya untuk dibuat dendeng. udang. Bentuk interaksi dengan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan lain-lain menyebabkan terjadinya perubahan struktur pemilikan dan pola peruntukan yang telah lama dianut masyarakat. rusa dan babi merupakan fauna yang sering diburu dan telah menjadi sumber mata pencaharian di beberapa kampung seperti Naramasa. Yakati. dimana sebagian masyarakat ada yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Selain itu sumberdaya alam hutan mangrove berupa lahan pada daerah peralihan telah dimanfaatkan sebagai kebun. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni secara fisik dikelilingi oleh pemukiman penduduk yang secara turun temurun telah berinteraksi dalam bentuk memanfaatkan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan. Hal ini berdampak pada semakin terkikisnya sistem kearifan tradisional yang mengandung nilai-nilai konservasi atas sumber daya tanah.37 . Hutan konversi untuk program transmigrasi. dan kerang (bia). Hal ini karena ketika beroperasi sejumlah HPH. B. Yensei. pemukiman. berburu dan menokok sagu.rusa dan beberapa jenis burung banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai hewan buruan. Ketika masuk sistem ekonomis kapitalis yang berbasis pada penggunaan uang. Kegiatan pemanfaatan tersebut telah terjadi sejak jaman dahulu dan menjadi warisan bagi generasi sekarang. seperti pembuatan tiang-tiang rumah tradisional dan tiang pagar rumah. Keadaan Umum Kawasan II . Anak Kasih dan Tirasai.3 Pemanfaatan Sumberdaya Alam di Kawasan CATB. kepiting. Areal hutan milik komunal telah dikonversi untuk berbagai kepentingan sekaligus dan masyarakat menerima kompensasi langsung. Jenis fauna yang ada di dalam kawasan CATB seperti buaya.

Kolam-kolam yang terbentuk saat air surut (low tide) selanjutnya di beri sejenis racun yang berasal dari tumbuhan dikenal dengan “akar bore /tuba” yang dapat membuat ikan terbius “mabuk”. Teknik ini sudah berlangsung lama dan turun temurun dengan memanfaatkan salah satu karakteristik fisik kawasan yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Dalam kegiatan penangkapan ikan dan hasil laut lainnya. seser dan sero.1 Penangkapan dan Pengumpulan Hasil Laut Penangkapan ikan dan hasil perikanan lain oleh masyarakat di dalam dan sekitar BKSDA Papua II Sorong kawasan CA Teluk Bintuni umumnya masih sederhana.3. Peralatan tangkap yang digunakan masih bersifat tradisional seperti tombak. Keadaan Umum Kawasan II . Penangkapan ikan dengan menggunakan “JARING BALABUH” yang dilakukan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB cara/teknik yaitu teknik penangkapan penangkapan dan JARING BALABUH. Jenis Kerang Polymesoda coaxan yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB Rizophora sp. “PELEKALI. Selain itu sebagian masyarakat sekitar kawasan juga sudah mulai mengenal dan menggunakan alat tangkap yang lebih modern yang diadopsi seperti rawai dan jaring udang (trammel net). “PELEKALI”. yaitu penangkapan ikan dengan cara membentangkan (memotong) muara Gambar II-23. sungai/kali/kanal kecil dalam kawasan yang terpengaruh pasang surut dan menggunakan jaring bekas trawl.38 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. pada dalam mulut/muara kawasan kali/sungai/kanal dibentangkan sejenis jaring (bekas trawl) sampai ke dasar sungai dengan bantuan tiang-tiang kayu mangrove dari jenis Gambar II-24. MANCING”. masyarakat lokal yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan mengenal beberapa tradisional. yang dikumpulkan masyarakat lokal di sekitar kawasan CATB Gambar II-22. Pada saat air sungai penuh/pasang naik (high tide). Jenis siput bor Bactronophorus sp.6.

dan hasil perikanan lain secara tradisional dengan menggunakan jaring apung (lokal: jaring balabuh).000) dan dibagi dengan nelayan lain (1 perahu 2 orang).975. kerang/siput (shellfish). hampir meliputi seluruh kawasan terutama di Sungai Tirasai. dalam seminggu mereka melaut 2-3 penghasilan kotor kali. dan kantong (noken). udang. sekali melaut (sehari semalam) mereka dapat menghasilkan 1030 tali ikan. Gambar II-25. Jenis Kepiting bakau Scilla sp. keranjang.000-300.000-100.000 = 130. Kodai serta sungai kecil lainnya. Keadaan Umum Kawasan II . menggunakan alat besi pengait. dan “Tambelo”. 50. Pada umumnya para nelayan melaut tidak setiap hari. akar bore (tuba) serta menggunakan perahu mesin/tanpa mesin. Pengumpulan hasil laut yang dimaksud disini adalah pengambilan/pengumpulan hasil perikanan berupa kepiting (mud crabs) yang dalam istilah lokal disebut “Karaka”.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong “JARING BALABUH”.39 .000/sekali melaut. 4.100. yaitu teknik penangkapan ikan.000/2 = Rp. pancing. 200. Hasil wawancara dengan para nelayan menunjukan bahwa.000. hasil tersebut belum dipotong oleh bahan bakar (harga bensin Rp.000Sedangkan untuk yang menangkap kepiting (karaka) pada umumnya menggunakan perahu tanpa mesin/dayung (kole-kole) dan sekali melaut dapat menghasilkan 7. Teknik pengambilan masih dilakukan secara tradisional dengan menggunakan “pengait” yang terbuat dari besi dengan panjang 1 m. Alat yang digunakan adalah alat pancing (nelon plus mata kail). sejenis molusca (marine borer) yang hidup di dalam batang kayu mangrove yang mati.500/liter) yang memerlukan sekitar 15 liter (± Rp.650. Pengumpulan hasil laut biasanya dilakukan di komunitas hutan mangrove oleh penduduk lokal yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.000/orang Rp.000 – 70. Pemanfaatan berbagai jenis ikan dan udang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap jaring ”berlabuh” dan untuk ”pele kali”.10 ekor. Apabila bersih = Rp. Bokor. yang biasa dikumpulkan masyarakat lokal di dalam dan sekitar kawasan CATB sekali melaut maka penghasilan sebulan rata-rata adalah Rp.70. diasumsikan rata-rata pendapatan 65. Daerah penangkapan ikan yang dilakukan oleh masyarakat sekitar kawasan CATB. Pengumpulan hasil perikanan oleh masyarakat hanya dilakukan pada saat air surut (low tide). Jadi rata-rata sekali melaut yaitu Sedangkan untuk menangkap kepiting (karaka) Rp. “MANCING”. Muturi. yaitu penangkapan hasil laut terutama ikan di dalam dan sekitar kawasan Cagar Teluk Bintuni oleh penduduk lokal dengan menggunakan perahu dayung/motor. sehingga dapat menghasilkan rata-rata Rp.000.

000 5.3. Hasil Perikanan yang dihasilkan di dalam Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) beserta harganya.000 12000 10. (a) (b) (c) Gambar II-26. (b) lantai rumah/para-para.000 5.000 10.000-10.000-35.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong khususnya bila pergantian pasang surut dan pasang naik terjadi pada siang hari.40 .000-10.000 Sumber : Hasil Survei Tim TNC. obat-obatan.000 10.000 10. kayu bakar. dan (c) anyamankeranjang Keadaan Umum Kawasan II . terutama oleh masyarakat traditional yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Jenis Hasil Perikanan Ikan Ekor Satu Ikan Sembilan Ikan Kepala Batu Ikan Congge Ikan Lasi Ikan Bubara Ikan Kakap Merah Ikan Sisip Udang Kepiting (Karaka) Tambelo kerang/bia/siput Satuan Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Ekor Tali (3-5 ekor/ ±1 Kg) Kg Ekor Kantong Kantong Harga (Rupiah) 10.000 10.000 10. dan bahan bangunan. Bentuk pemanfaatan jenis palem sebagai (a) busur dan anak panah.000 7.6. B.000-10. 2005. Tabel II-16. Hasil wawancara dengan beberapa nelayan tradisional (pengumpul) bahwa dalam satu kali pengambilan.2 Pemanfaatan Tumbuhan Keberadaan ekosistem hutan dataran rendah dan ekosistem mangrove di kawasan dirasa sangat penting.000 25. Hutan ini bagi masyarakat setempat merupakan sumber sumber bahan makanan. tiap orang dapat mengumpul/mengambil 10-15 ekor/orang untuk “ karaka” dan 1-3 kantong/orang untuk kerang/siput.

obat tradisional.3 (Corohuij moro) Kegunaan Bagian pucuk diambil sebagai bahan makanan Ijuk digunakan sebaga atat dan bubungan rumah Batang dikupas dan dibersihkan dan digunakan sebagai pengikat pagar dan tiang rumah dan tali busur Daun digunakan sebagai pembungkus makanan. terutama ubi yang ditumbuk Batang langsung digunakan untuk mengikat tiang rumah Batang dibelah. masyarakat sekitar hanya memanfaatkan ranting dan cabang yang gugur tanpa menebang pohon.1 (Amough) Pinanga sp.41 . serta senjata dan perkakas (Gambar II-27 dan Tabel II-17 ). yaitu menggunakan parang dan kapak. dikikis sebagai bahan baku pembuatan busur panah Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan busur dan hulu tombak (sejata tradisional) Batang dibelah. Tabel II-17. Pengambilan kayu bakar dilakukan dengan mengumpulkan ranting/cabang pohon di hutan dataran rendah dan pohon mangrove yang mati/gugur dan pohon mangrove yang tumbang secara alami (akibat angin dan umur pohon tua). dibersihkan sebagai tali busur Batang dianyam untuk pembuatan keranjang dan anyaman lain Batang dibelah sesuai ukuran. dibersihkan dan digunakan sebagai lantai rumah Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan anak panah Batang dibelah. Kehadiran jenis-jenis palem dalam ekosistem hutan dataran rendah membuat hutan ini menjadi berarti bagi masyarkat sekitar. Hal ini menjadikan hutan mangrove terutama di kawasan CATB masih terpelihara dengan baik. Pemanfaatan vegetasi palem oleh masyarakat di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No 1 2 3 Jenis (nama lokal) Caryota rumpiana (guta more) Calamus sp.1 (aitaga moredek) Calamus sp. Masyarakat sekitar banyak memanfaatkan salah satu komponen flora ini untuk berbagai macam keperluan.2 (aitaga cidemeh) Calamus sp. (beimes) Pinanga sp. bahan bangunan. dan digunakan sebagai lantai rumah atau tempat duduk (para-para) Batang dibelah. yaitu pemanfaatan tingkat ekosistem mangrove secara keseluruhan dan tingkat komponen ekosistem sebagai Keadaan Umum Kawasan II . 2005 Pemanfaatan sumberdaya mangrove dapat dilihat dari dua tingkatan. dibersihkan. dibersihkan dan digunakan sebagai lantai rumah/parapara Batang dibelah dan dikikis untuk pembuatan anak panah Daun digunakan sebagai pembungkus makanan 4 5 6 7 8 Sumber: Hasil survei TNC.3 (aitaga besameh)) Licuala sp.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Khusus untuk pemanfaatan sebagai kayu bakar. Hasil survei Tim TNC (2005) menunjukan bahwa masyarakat suku Sough yang bermukim di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni memanfaatkan beberapa jenis palem yang tumbuh di hutan dataran rendah CATB sebagai bahan makanan.2 (Humog) Pinanga sp. Peralatan yang digunakan untuk penebangan mangrove masih sederhana.

Pemanfaatan flora hutan mangrove secara traditional pada umumnya dilakukan oleh masyarakat setempat untuk keperluan rumah tangga. energi. Pemanfaatan hutan mangrove di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni hanya terbatas pada pemanfaatan hutan mangrove dalam skala traditional (traditional uses). tulang daun.42 . Khusus untuk masyarakat yang yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam. Rumah tradisional masyarakat lokal yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari vegetasi nipah di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni makanan/minuman. perkakas. dan kerajinan. perlengkapan perahu tradisional (Gambar II-27). tangkai daun. Pemanfaatan jenis mangrove oleh masyarakat lokal umumnya digunakan sebagai kayu bakar. serta untuk keperluan tiang-tiang pagar dalam kegiatan mencari ikan (fishing) yang dalam istilah lokal disebut “ tiang belo” (Gambar II-28). Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Keadaan Umum Kawasan II . yaitu anak daun. pucuk. obat-obatan. Gambar II-27.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong komponen utama kehidupan (primary biotic component). Kuri. Khusus untuk vegetasi nipah. Gambar II-28. dan perlengkapan perahu tradisional. dan Wamesa dalam kehidupan lintas generasi telah memanfaatkan tujuh bagian nipah yang dapat dimanfaatkan. Pemanfaatan nipah oleh masyarkat suku-suku ini antara lain sebagai bahan Gambar II-29. Jenis-jenis yang dimanfaatkan hanya terbatas pada jenis mangrove dan nipah. bahan bangunan rumah. penduduk asli di sekitar kawasan Cagar Teluk Bintuni. umumnya masih terbatas pada pemanfaatan tingkat komponen ekosistem (flora dan fauna) sebagai komponen primer kehidupan di hutan mangrove. buah malai dan akar. Pemanfaatan pohon mangrove sebagai tiang (belo) untuk menangkap ikan di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. yaitu masyarakat suku Sough. bahan bangunan seperti untuk atap dan dinding rumah (Gambar II-29). perkakas.

43 . seperti disajikan pada Tabel II-18. setelah kering dibakar. Tujuan pemanfaatan Bahan makanan/minuman Jenis yang dimanfaatkan Nypah Fructicans Bagian yang dimanfaatkan Buah No. dan KAMBOTI (pengganti kantong) Keadaan Umum Kawasan II . Pemanfaatan komponen flora pada ekosistem mangrove oleh masyarakat di dalam dan di sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. selanjutnya dibentuk menjadi sebuah tabung yang berdiameter 25 – 30 cm dan tinggi 80 – 100 cm untuk WADAH TEPUNG SAGU. 4 Energi bakar) (bahan Nypah Fructicans Bruguiera sp. Bahan baku pembuatan atap dan kajang (dinding) rumah. dipotong sesuai ukuran kemudian dirakit sebagai dinding Untuk para-para (tempat duduk). Batang akar Kulit anak daun dan tangkai daun Batang Batang. 3 Obat-obatan Nypah Fructicans Rhizophora sp. abunya diambil dan disimpan di dalam media bambu sebagai subtitusi GARAM dapur. Malai Tangkai daun 2 Bahan Bangunan Nypah Fructicans Daun Tangkai daun Bakal tangkai daun (pucuk) Pucuk dibersihkan dari anak daun. pondok.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berikut adalah rangkuman pemanfaatan komponen flora pada ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. diasapi di atas tungku api. AYAKAN SAGU. 1 Cara pemanfaatan Buah mudah dibelah air dan daging dimakan dan diminum dengan rasa seperti buah kelapa muda Malai dipotong kemudian disadp untuk mengahsilkan nira (bobo). cabang anak daun 5 Perkakas anak – anak daun dijahit pada bahan mudah lentur dengan panjang 50 – 60 cm. dan perahu yang dapat beratahan 3 – 5 tahun masa pakai Untuk dinding. ranting. dikuliti. tangkai daun nipah dijemur sampai kering. sejenis minuman tradisional/lokal tangkai daun dipotong kecil. Tabel II-18. tangkai daun dibersihkan selanjutnya ditancapkan sepanjang bentangan jaring sebagai penahan jaring agar tidak terbawa arus air pasang dan surut atau dipotong sesuai ukuran para – para lalu disusun sebagai tempat duduk saat memancing ikan. Rhizophora sp. dibersihkan dibelah menjadi dua bagian selanjutnya dimanfaatkan sebagai pengikat pengganti paku untuk mengikat atap atau kajang Digunakan langsung sebagai tiang rumah Akar dibakar dan arangnya diletakan pada gigi yang sakit Kulit diparut digunakan sebagai obet kudis Anak daun maupun tangkai daun yang telah kering diambil sejanjutnya dibakar Digunakan langsung sebagai kayu bakar Digunakan langsung sebagai kayu bakar Rhizophora sp.

Dalam memenuhi kebutuhan akan protein.3. Batang Sumber: Hasil survei Tim TNC. karena ukuran Keadaan Umum Kawasan II . Kondisi ini menyebabkan dalam kehidupan lintas generasi selalu melakukan aktivitas Gambar II-30. Sobrawara. dan kepiting. Peranan kawasan CATB menjadi penting sebagai sumber protein hewani bagi penduduk sekitar. rusa (Cervus timorensis). terutama di Kampung Naramasa. Yensei dan Yakati. Yakati dan Yensei juga melakukan perburuan buaya di Sungai Naramasa. senter serta perahu dayung (kole-kole). di Tulang daun 6 Kerajinan Anak daun Anak daun dianyam membentuk kerajinan tangan seperti topi. Buaya yang diburu harus memiliki diameter badan antara 12 sampai 20 inci. B. dan daging. Bahan baku pembuatan atap perahu yang dapat beratahan 3 – 5 tahun masa pakai Digunakan langsung sebagai tiang rumah perahu Digunakan langsung sebagai tiang-tiang pancang (belo) untuk ditempatkan jaring trawl dalam kegiatan “pele kali” 7 Perlengkapan perahu tradisional Nypah Fructicans Daun Rhizophora sp. parang. masyarakat yang bermukim di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni masih tergantung pada ketersediaanya di alam. serta berbagai jenis burang dan mamalia. Selain pemanfaatan hasil perikanan berupa ikan.44 . udang.3 Tempat Berburu Masyarakat yang bertempat tinggal di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni dengan ekosistem utama adalah manggrove yang kaya berbagai jenis satwa liar seperti babi huta (Sus sp. Dendeng rusa dan babi hutan yang diperoleh dari berburu di hutan sekitar kampung Mamoranu dalam Cagar Alam Teluk Bintuni perburuan maupun penangkapan terhadap satwa liar untuk memenuhi akan protein hewani.). ikan. masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar CATB. keranjang yang atasnya terbuka (idate) dan tertutup (kirore). Mereka berburu buaya minimal 2 orang (satu perahu) dan berburu pada saat malam hari. Tujuan pemanfaatan Jenis yang dimanfaatkan Bagian yang dimanfaatkan BKSDA Papua II Sorong Cara pemanfaatan sebagai pembungkus untuk memasak (bakar) bahan makanan seperti sagu. Tangkai daun Tulang dibersihkan kemudian dijadikan sendok (gata-gata) yang digunakan untuk mengkonsumsi makanan tradisional (papeda) sebagai sapu untuk membersihkan dalam dan di sekitar rumah.6. 2005. Alat yang mereka gunakan berupa tombak.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. Batang 8 Tiang belo Rhizophora sp.

daging serta bagian lain dari tubuh buaya hampir hal setiap ini minggu datang ke kampung. pembeli kulit. Usaha yang dikembangkan oleh masyarakat Yensei. Naramasa. mengindikasikan bahwa permintaan terhadap komoditas tersebut cukup tinggi.15. Apabila dibandingkan dengan 5 sampai 10 tahun yang lalu. Keadaan Umum Kawasan II . Gambar II-31. dan Bintuni ini bisa dikembangkan di Kampung lain atau dikembangkan skala usahanya. sehingga pola pemanfaatan buaya dengan cara pengambilan dari alam lambat laun bisa dikurangi. yaitu rusa dan babi. Berdasarkan hasil wawancara dengan yang berburu buaya.000/inci. Model Kandang pembesaran anakan buaya di Kampung Yensei. hasil masyarakat tangkapan saat ini sudah semakin sulit di dapat. dan Bintuni Timur.000/Kg. yaitu rata-rata Rp.45 . sekitar 7 – 10 ekor anak buaya dimasukan dalam kandang anakan buaya berukuran 4 m x 6 m (Gambar II-31). Rusa dan babi banyak terdapat di hutan dataran rendah di sekitar hutan mangrove. Distrik Idoor. buaya Selain diambil kulitnya daging oleh masyarakat serta Para dikonsumsi “tangkur” buaya cukup laku di pasaran. Dalam kegiatan ini.3. Usaha dari masyarakat untuk melakukan pembesaran anakan buaya sudah mulai dilakukan di kampung Yensei. Perburuan lain terhadap fauna yang ada di kawasan CATB. Alat yang digunakan berupa tombak. Dalam berburu rusa dan babi dilakukan secara sendiri maupun berkelompok. B. jerat serta anjing. Naramasa. harga pasaran sekarang yaitu Rp.4 Tempat Berladang Ladang dan kebun masyarakat yang terdapat di dalam kawasan umumnya berlokasi/letaknya jauh dari pemukiman. Harga kulit buaya saat ini. Pola perladangan adalah dengan sistem perladangan berpindah yang Gambar II-32 Lahan kebun dan bekas kebun masyarakat lokal di Kampung Mamoranu yang berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni ditanami dengan jenis tanaman semusim.6. dalam waktu seminggu berburu mereka dapat menghasilkan 7 sampai 10 ekor buaya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong badan buaya tersebut yang laku di pasaran. Sekarang sekali berburu memerlukan waktu 1 – 2 minggu dan rata-rata hanya memperoleh 3 – 4 ekor. 15. Daging rusa dan babi di jual dalam bentuk dendeng. Ladang atau kebun pada umumnya diusahakan baik oleh masyarakat yang tinggal di luar maupun di dalam kawasan CATB. panah. parang.

Ranting pohon dan semak-belukar yang ada dikumpulkan pada suatu tempat dalam lahan/kebun dan atau dipinggir. Tisai. Masyewi. kemudian lahan tersebut dibiarkan beberapa waktu tertentu agar bekas ranting pohon dan semak belukar menjadi kering. S. Marga Imery meliputi S. Tatitri. Tatiri. sebagai berikut : Pembersihan lantai hutan. yaitu menebas semak belukar. Kemon. maka mereka akan berpindah ke lokasi lahan yang baru dengan lama pengusahaan lahan (masa bera) 1-2 tahun. dan Kemon. Simeri. S. Yettu. 2005). S. margamarga yang memiliki hak ulayat cukup besar di kawasan adalah Susumbokop. Sedangkan Marga Iba memiliki wilayah hukum adat mulai dari Sungai Sigirau sampai dengan S. Kawab. Waney. dan suku KURI dari marga Urbon. S. Sirimbe. Muturi. sedangkan marga yang lain hanya memiliki kurang dari 15 % dari total wilayah yang menjadi hak ulayat suku Wamesa (Hasil Survey Tim. S. Sungai Sumberi. Kindewara. dan S. S. Tirasay.Bintuni hingga S. Suku ini terutama dari marga Yettu dan Tiri “mengklaim” wilayah hukum adat mereka meliputi wilayah muara Sungai Wasian. dan Iba). Wasian. Tikamari. Pembakaran dilakukan setelah ranting-ranting pohon dan semak-belukar yang ada sudah Kering dan kemudian hasil pembakaran berupa abu dibiarkan agar terdekomposisi/bercampur dengan tanah yang ada. dan Susumbokop). Manibuy.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong ubi-ubian. Maboro. Banjar Ausoy.6. Tirasay. Menebang pohon–pohon besar yang ada dalam lahan.3 Kepemilikan Lahan Hasil survey lapangan Tim TNC (2005) berhasil mengidentifikasi kepemilikan lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat (Gambar II-33).0 ha untuk tiap kepala keluarga. Efredire. Tiri. kawasan ini berada dalam pengelolaan wilayah adat tiga suku besar yakni Suku SOUGH (marga Imeri. Khusus untuk suku Wamesa. sayuran dan jenis tanaman buah-buahan dengan rata-rata luas lahan 0.25 – 1. dan Pigo. B. Suku Sough yang mendiami kawasan S. dan S.46 . Menurut informasi dari tokoh kunci (Andarias Iba) di Kampung Tuasai bahwa tanah yang saat ini menjadi hak ulayat marga Iba merupakan pemberian dari marga Yettu sebagai balas jasa atas bantuan marga Keadaan Umum Kawasan II . Secara tradisional. S. Setelah itu dilakukan penanaman sesuai jenis tanaman yang akan diusahakan. Bintuni. dan suku WAMESA (marga Fimbay. menebang pohon-pohon tingkat pancang dan tiang. Maboro. Anak Kasih. Pola pembukaan lahan atau kebun masyarakat secara umum mempunyai beberapa tahapan. Simeri lebih dikenal dengan panggilan Manikion Parirei. Banjar Ausoy. Setelah tanaman dipanen.

Modan. Keadaan Umum Kawasan II . Susumbokop. Set Efredire). Manibuy. Gambar II-33.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Iba yang telah ikut membantu menyelesaikan masalah (perang saudara) yang waktu itu dialami oleh marga Yettu. Sedangkan suku KURI mengklaim wilayah adat mereka meliputi daerah sekitar Sungai Menurut pengakuan orang Kuri. Adrian Tatiri) dan Kuri (Bpk. Pulau Modan pada jaman kerajaan Tidore merupakan pusat pemerintahan daerah kekuasaan kerajaan Tidore di Irian. Hal ini terjadi karena menurut sejarah yang diceritakan oleh tokoh adat Wamesa (Bpk. Pulau Modan Naramasa. Kemon. Anak Kasih yang merupakan pemberian dari marga Imery. Hasil wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat (Bernadus Sioho) bahwa hal yang sama juga terjadi pada marga Sioho yang memiliki hak ulayat di daerah Sungai Tikamari dan S. Sampai saat ini kepemilikan Pulau Modan masih menjadi percebatan antara suku Wamesa dengan Suku Kuri. Pulau Kaboi sampai dengan Sungai Kodai. Marga Fimbay. Sirimbe. adalah milik orang Yensei ( Suku Wamesa). Masyewi yang berasal dari kampung Yensei “mengklaim” wilayah hukum adat mereka meliputi Pulau Maniai.47 . Peta Kepemilikan Lahan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menurut wilayah hukum adat Suku Wamesa khususnya marga Manibuy “mengklaim” bahwa sebelum adanya perang suku wilayah adat mereka mulai dari Sungai Simeri hingga S. P. dan S. Kedua suku tersebut mengklaim bahwa suku merekalah yang punya hanya aulat di Pulau Modan tersebut.Jawarupai dan P. Marga Tatiri.Sobrowara. Modan. dan Maboro yang berasal dari kampung Yakati “mengklaim” wilayah Gunung Taberay Pulau Nusuama. S.

Disamping itu juga tersedia sarana transportasi roda dua (ojek) yang melayani penumpang umum Gambar II-35. Darat dan Sungai/Laut. apabila cuaca buruk maka setiap maskapai tidak jadi Gambar II. Kesepakatan mengenai batas tanah adat perlu segera dilakukan agar tidak terjadi “konflik” antar ketiga suku dimasa yang akan datang. terdiri dari sarana Transportasi Udara. Distrik Idoor. Penerbangan reguler ke kabupaten Teluk Bintuni dilayani oleh maskapai Merpati Nusantara.Sos.7 Sarana dan Prasarana Transportasi Sarana transportasi yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni khususnya di 3 Distrik (Distrik Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Batas-batas kepemilikan tanah adat tersebut. Selain itu juga bisa menggunakan pesawat carteran jenis cesna milik AMA dari Manokwari. Akan tetapi transportasi udara di Kabupaten Teluk Bintuni sangat tergantung dari cuaca. Karena sampai saat ini belum dilakukan kesepakatan antara ketiga suku besar tersebut. Tansportasi Darat Untuk mencapai kampung-kampung terdekat di sekitar Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni dapat di tempuh dengan menggunakan kendaraan umum roda empat (taxi) dengan jumlah armada yang terbatas. Distrik Kuri) yang terdekat dengan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. belum merupakan batas adat yang mutlak. dengan frekuensi penerbangan sekali seminggu (Kamis) dari manokwari dan hari Minggu dari Sorong. Tessa. Hal tersebut diakui juga oleh Kepala Bidang Sosekbud Bappeda Teluk Bintuni Bpk.S. dan dimasa yang akan datang Bappeda Teluk Bintuni akan mencoba memfasilitasi hal tersebut. Sarana transportasi udara jenis TwinOtter di pelabuhan udara kota Bintuni yang melayani penerbangan ke dan dari kota Bintuni melakukan penerbangan .34. Transportasi Udara Di Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni terdapat sebuah lapangan terbang dengan konstruksi aspal yang bisa di darati oleh jenis Pesawat Twin-Otter (Gambar II. B.34) dan Cesna. bahwa kesepakatan mengenai batas tanah adat harus segera dilakukan agar tidak terjadi konflik antar suku.48 . Sarana transportasi darat jenis land cruiser (hardtop) yang melayani transportasi Manokwari-Bintuni PP Keadaan Umum Kawasan II .

Jumlah dan jenis sarana transportasi darat yang ada di Kota Bintuni disajikan pada Tabel II.Yensei-S. perahu motor Sungai & laut.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam kota dan ke kampung di sekitar kota Bintuni. 2003). Pemda Manokwari. 2005. CRMP.Manibuy-LautS.Anak kasih-S. Sarana transportasi utama adalah perahu motor atau longboat (Gambar II-36) dan perahu dayung. perahu motor Waktu Tempuh 3 jam 2. Sarana transportasi darat yang menghubungkan Ibu Kota Kabupaten Teluk Bintuni dengan Kabupaten terdekat (Kabupaten Manokwari) adalah jalan timbunan (pengerasan) dan jalan beraspal 74 km 126 km (Pemda Prov. No 1 2 3 4 5 Kampung Mamuranu Anak Kasih Yakati Yensei Naramasa Sarana dan Jenis Transportasi Sungai & laut. perahu motor Sungai & laut. Alam Teluk Bintuni ke pusat kota Kabupaten Teluk Bintuni menggunakan sarana transportasi sungai/laut disajikan pada Tabel II-19. Papua.49 .Wasian S. Sarana dan Jenis Transportasi Kampung di sekitar CATB ke Ibukota Distrik dengan saran Transportasi Sungai/Laut. Sarana transportasi laut/sungai jenis longboat yang digunakan masyarakat di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni. perahu motor Sungai & laut. perahu motor Sungai & laut. Tabel II-19. Tansportasi Sungai/Laut Peran sarana transportasi sungai/laut sangat penting untuk kampung-kampung di sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB).20. Naramasa-Laut-S. Unipa. Akses beberapa kampung di sekitar Cagar Gambar II-36.Wasian Sumber: Hasil survei tim TNC. Keadaan Umum Kawasan II . sedangkan jalan yang menghubungkan ibukota Kabupaten Teluk Bintuni dengan kampung-kampung di sekitarnya adalah jalan tanah timbunan dan jalan tanah yang dipadatkan. Sedangkan transportasi darat yang melayani penumpang umum yang akan berpergian ke luar kota/Kabupaten Teluk Bintuni khususnya Manokwari menggunakan Hardtop (Gambar II-35) dengan waktu tempuh 12 – 16 jam.Wasian S.Kamisayo-Laut-S. Keadaan transportasi jalan kota Bintuni adalah jalan beraspal (sebagian besar sudah rusak) sepanjang 13 km yang menghubungkan lokasi-lokasi pemukiman penduduk.Wasian S.Tatawori-LautS. khususnya kampung-kampung yang berada di wilayah pemerintah Distrik Idoor dan Kuri.Yakati-S.Tatawori-LautS.5 jam 4 jam 4 jam 6 jam Keterangan S.

* Armada Milik PEMKAB Teluk Bintuni B. Tabel II-20.50 . pendekatan biaya ganti Keadaan Umum Kawasan II . Sehingga semua pihak merasa perlu untuk melestarikan kawasan CATB. Jalur pelayaran yang mempunyai akses dari dan ke Teluk Bintuni melalui Sorong adalah pelayaran reguler PT PELNI dan pelayaran swasta lain seperti disajikan pada Tabel II-20.8 Pendugaan Nilai Ekonomi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Pendugaan nilai ekonomi kawasan CATB perlu dilakukan agar semua pihak mengetahui betapa besarnya manfaat ekonomi yang dapat dihasilkan. NUV adalah jumlah dari nilai eksistensi (existensi value = XV) dan nilai warisan (bequest value = BV). karena mayoritas kawasan merupakan hutan mangrove. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan penilaian manfaat kawasan CATB (ekosistem hutan mangrove) didekati dengan menggunakan konsep penilaian ekonomi total (total economic valuation) dari produk barang dan jasa yang berguna (use value) dan yang tidak berguna secara langsung (non use value) . UV adalah jumlah dari nilai pemanfaatan langsung (direct use value = DUV). nilai pemanfaatan tidak langsung (indirect use value = IUV). Dengan demikian nilai ekonomi total dapat diformulasikan sebagai berikut: TEV = UV + NUV = (DUV + IUV + OV) + ( XV + BV) Pendekatan penilaian dalam perhitungan nilai manfaat kawasan CATB (ekosistem hutan mangrove) melalui perhitungan nilai total ekonomi yaitu menggunakan pendekatan produksi dan nilai pasar (productivity and market values). 2005. Pendugaan nilai ekonomi kawasan CATB dilakukan hanya pada hutan mangrovenya. Sedangkan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Selain itu untuk transportasi laut antar kabupaten. pasar pengganti. Nilai ekonomi total (total economic value = TEV) merupakan jumlah dari nilai pemanfaatan (use value = UV) dan nilai non pemanfaatan (non-use value = NUV). nilai pilihan (option value = OV).Teluk Bintuni telah memiliki sebuah dermaga/pelabuhan. Jalur pelayaran reguler dari dan ke Bintuni yang dilayani oleh PT Pelni dan pelayaran swasta lain No 1 2 3 4 5 Nama Kapal KM Papua III KM Lady Marina KM Bintang Satya KM Raflesia* KM Semuel* Trayek Mkw-Sorong-Babo-Bintuni-Kokas-Fakfak (PP) Merauke-Agats-Timika-Tual-Kaimana-Fakfak-Bintuni-Sorong (PP) Sorong-Babo-Bintuni-Kokas-Fakfak (PP) Bintuni-Babo-Kelapa Dua-Sorong Belum dioperasikan Sumber: Hasil survei tim TNC. agar generasi yang akan datang masih dapat memanfaatkan sumberdaya alam yang ada.

selanjutnya dapat kita lihat pada Tabel II-21. sejaran dan pengembangan ilmu pengetahuan Habitat bagi penduduk asli Tempat rekreasi Memelihara biodiversity Tempat migrasi habitat Tempat pemijahan dan pembibitan Supplai unsur hara (nutrient) Regenerasi nutrien Melindungi dan memelihara terumbu karang Perhitungan nilai ekonomi dari setiap jenis manfaat ekosistem hutan mangrove untuk nilai aktual didasarkan atas asumsi-asumsi pada tingkat harga. dan contingen valuation method dengan memanfaatkan data hipotetik mengenai kesediaan membayar dan menerima (willingness to pay/ WTP and willingness to accept/ WTA) dari pengguna sumberdaya ekosistem hutan mangrove. Keadaan Umum Kawasan II . Dalam terminologi yang sifatnya holistik. ekosistem hutan mangrove juga memiliki “keunikan” dan berfungsi secara sosial dan ekonomi.51 . biaya di sekitar kawasan CATB. penangkapan ikan dan pengumpulan produk Sumberdaya genetic Sosial Ekonomi/ Fungsi Konversi Industri dan penggunaan lahan Tambak Usahatani padi Fungsi Informasi Informasi religius dan spiritual Inspirasi artistic dan budaya Informasi pendidikan. Table II-21. Sementara penilaian manfaat potensial dikawasan CATB dihitung dengan pendekatan asumsi dalam penilaian ekonomi (Tabel II-22). Camillle Bann (1999) mencoba membaginya kedalam 3 domain yaitu: (i) fungsi produksi yang berkelanjutan. Mencermati manfaat yang dapat dihasilkan dari ekosistem mangrove. Fungsi dan Manfaat Lingkungan Ekosistem Mangrove Fungsi Produksi Berkelanjutan Kayu bakar Arang Fungsi Pembawa dan Pangatur Pengendali erosi Penyerap dan recycle limbah manusia dan polutan lainnya Ikan Udang Tannin Nipa Obat-obatan Perburuan tradisional. Klasifikasi manfaat dan fungsi dari ekosistem mangrove ini. dan (iii) fungsi Informasi. produksi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong (replacement cost). (ii) fungsi pengatur lingkungan.

6. 4. Ikan besar (kakap merah) Rp. diasumsikan potensi yang digunakan untuk chip yaitu 80% yaitu 86 m3/ha.500/US$. Potensi tegakan mangrove marupakan potensi keseluruhan jenis dan diasumsikan semua dipakai untuk chip 2 Chip 17974000 142500 Nilai biodiversitas hutan mangrove perhektar US $ 1500 km2/thn atau sekitar US $ 15/ha/tahun (Ruitenbeek.000/ekor (2 Kg) Jadi Harga rata-rata Rp 10.000/kg.9 juta/KK/ tahun (2200 KK).473 ha (rotasi 20 thn). 10000/Tali (2 Kg) = Rp 5. chipwood plant = 300.5 juta/KK/ tahun. harga atap daun nipah Rp. Asumsi Dasar Penilaian Jenis Manfaat Hutan Mangrove Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni No Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn) 1 Kayu Bakar 2188 Cagar Alam Teluk Bintuni (Hutan Mangrove) Asumsi Dasar Penilaian Manfaat (Aktual) Luas mangrove 112. dibagi dengan luas areal mangrove (112. dengan luas areal nipah 480 ha Produksi 1178 Ton/thn.365 ha) 4 5 6 7 Udang Kepiting/Karaka Kerang/bia Satwaliar (Buaya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel II-22. Nilai manfaat keberadaan habitat mangrove US$ 2516/ha/thn (Meilant. 2003) dan potensi tegakan 66 m3/ha.000/ekor.000/kg. sagu sampai dengan satwa liar merupakan nilai aktual yang selama ini telah ada dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Biaya 45% dari penerimaan Keterangan : Produksi ikan dan udang (1178 dan 1495 ton/tahun) merupakan produksi total perairan Teluk Bintuni 2003 (Sumber : Atlas Sumberdaya Pesisir). 9. dibagi luas areal mangrove Diproksi dari kandungan karbon hutan mangrove 19. Jenis manfaat kayu bakar. 9500/US$). Burung) 8 9 Pengendali Erosi Penyerapan Carbon 95937 3441763 789976 129024 76200 127264 Produksi 1495 ton/tahun. biaya sekitar 20% dari penerimaan.500/US$ 10 Manfaat pilihan biodiversitas Manfaat Keberadaan Habitat No Jenis Manfaat Nilai Manfaat (Rp/ha/thn) 1 Kayu Bangunan 942000 Cagar Alam Teluk Bintuni (Hutan Mangrove) Asumsi Pendugaan Nilai Potensial Luas mangrove 112.05 kg/ha/thn dengan harga rata-rata Rp.000 m3/thn harga ekspor chip = US $ 40/m3. biaya 30 % dari penerimaan 2 Atap Daun Nipah 240000 Produksi 150 bengkawang/ha/thn. biaya 20% dari penerimaan Produksi 19. Babi. 1996) Konversi Rp.Hilmi. dibagi dengan luas areal mangrove Penilaian berdasarkan produktivitas pertanian lokal Rp.000/m3. dibagi dengan luas areal mangrove (112. Biaya 40% dari penerimaan Potensi tegakan mangrove 107 m3/ha.15.365 ha (157Pohon(Batang)/ha) jenis Rhizopora sp. konvers Rp. dikonversi ke dalam tegakan mangrove per hektar (107 m3/ha). Sementara jenis manfaat bahan bangunan dan chip merupakan nilai potensial.000. serta biaya produksi lainnya.5. 1991) konversi Rp. 9500 /US$ 3 Ikan 104837 11 6291000 Asumsi penilaian diatas dimasukkan unsur biaya yang merupakan biaya proses produksi seperti tenaga kerja. 9. Produksi 0. dikonversi (Rp.000/Batang.0625 m3/ha/th harga Rp.25/kg (konversi Rp. 50.Potensi Luas panen tegakan mangrove 22. biaya 20% dari penerimaan Didasarkan pada pendapatan penggunaan lokal (berburu dan meramu) Rp. harga rata-rata Rp.926 kg/ha di Riau (E. 9500/US$). Keadaan Umum Kawasan II . 2000/bengkawang. yang sering digunakan sebagai bahan bangunan harga Rp.365 ha . Rusa. harga carbon/kg = US $ 10/ton. jumlah penduduk 2200 KK.10. harga US$ 6.52 .04 ekor/ha/thn dengan harga Rp.7.365 ha) Produksi 23.

708.000 620.990.508.800 328.200 17. manfaat pilihan dan manfaat keberadaan. Manfaat langsung yang ada di kawasan juga ada yang tidak bisa dimanfaatkan dan ini dikategorikan sebagai manfaat potensial atau manfaat kesempatan. diketahui bahwa total nilai ekonomi ekosistem mangrove dapat dibedakan menjadi manfaat langsung dan tidak langsung.667 5.825 18.444 576.779.318.939 5.402. baik fungsi produksi.810.699.895 Berdasarkan hasil analisis data Tabel II-23.442.041.000. penilaian ekosistem mangrove didasarkan kepada manfaat dan fungsi-fungsi yang dihasilkan.960.791.916 158.853. ekologis.233.240. Nilai aktual adalah nilai pemanfaatan hutan mangrove saat ini. Prediksi Nilai Ekosistem Hutan Mangrove Kawasan CATB Jenis Manfaat Ekonomi per Ha Manfaat Langsung 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Kayu Bangunan Chip Kayu Bakar Atap Daun Nipah Ikan Udang Kepiting/Karaka Kerang/Bia Satwa Liar 150.425.200 20.296 3.980 Manfaat Tidak Langsung 1 2 3 4 5 6 Perangkap sedimen Penyerapan Karbon Manfaat Pilihan Biodiversitas Manfaat Keberadaan Habitat Penahan abrasi Pencegah Intrusi 95.100 384.892. manfaat tidak langsung.000 306.000 2.269.715 238.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Sebagai suatu sumberdaya.563.125.727.333 6.937 2. Keragaan nilai manfaat ekosistem mangrove kawasan CATB dapat dilihat pada Tabel II-23.992 2.780.53 .392 1.652.192 26. Sebagai kawasan konservasi. Penilaian total manfaat ekonomi dari ekosistem hutan mangrove meliputi penilaian manfaat langsung.160 211.300.404.058.984 39.322.935. Total nilai ekonomi yang dihitung yaitu nilai aktual dan nilai potensial.479.150.926.000 330.000. Nilai potensial diaproksimasi dengan menghitung manfaat potensial yang ada dan atau berpeluang dikembangkan jika masyarakat dapat memanfaatkan secara optimal.000 2.000 694. dan fungsi sosial ekonomi.522.915 Manfaat Ekonomi Kawasan Sumber : Perhitungan data lapangan Manfaat Ekonomi (Rp) Total Kawasan 16.522.400 23.247.720 2.901 14.633.000 3.833 10.126 31.176. Tabel II-23.225.294.297 4.673.497. Yang termasuk kedalam nilai ini adalah manfaat kayu jika digunakan sebagai bahan baku chip dan kayu bangunan.000 1.000 11.338. kayu dari Cagar Alam Teluk Bintuni tidak bisa dimanfaatkan sebagai Keadaan Umum Kawasan II .

54 . 95. satwa liar dan atap daun nipah relatif cukup kecil akan tetapi nilai tersebut sangat penting karena merupakan nilai manfaat langsung yang setiap hari dirasakan oleh masyarakat didalam dan sekitar kawasan CATB untuk menunjang kehidupannya sehari-hari. Nilai ini diprediksi masih lebih rendah.176. Sementara manfaat pilihan terhadap keanekaragaman hayati hutan mangrove sebesar Rp.980/Ha/Tahun) sedangkan manfaat tidak langsung dari jasa lingkungan mencapai 81.667 /ha/tahun (20.3% (Rp. Nilai manfaat langsung yang dimanfaatkan masyarakat dari kawasan mencapai 10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sumberdaya kayu terutama untuk kegiatan komersial.915/Ha/Tahun). karena belum semua manfaat hutan mangrove diperhitungkan seperti nilai manfaat obatobatan. perlindungan spesies langka serta hutan dataran rendah yang luasnya ±10% dari luas kawasan. C. konservasi habitat.425. buaya. Analisis pendugaan terhadap nilai hutan mangrove Kawasan CATB merupakan gambaran awal berapa besar nilai manfaatnya secara ekonomi .1% yaitu dari atap daun nipah. dan sebagai penyerap carbon Rp. babi dan burung) Nilai manfaat tidak langsung (aktual dan potensial) hutan mangrove sebagai fungsi pengendali erosi Rp. hasil perikanan dan satwa liar (meliputi ikan. Jika dicermati maka terlihat dari manfaat langsung dan tidak langsung. 158. 3.937/ha/tahun. BKSDA Papua II Sorong Kehilangan kesempatan ini akan menghasilkan manfaat langsung bagi penduduk dan manfaat jasa lingkungan yang nilainya jauh lebih besar. Keragaan nilai ekonomi manfaat langsung (aktual dan potensial) hutan mangrove menurut jenis dirinci sebagai berikut: nilai tegakan hutan mangrove sebesar 89. kayu bangunan dan chip. kerang/bia. kayu bangunan dan chip menunjukan nilai terbesar akan tetapi nilai tersebut hanya jangka pendek (sesaat). 6. maka manfaat langsung hanya mencapai 18. Oleh karena itu diperlukan suatu penelitian yang komprehensif tentang nilai manfaat ekonomi kawasan CATB. Meskipun dari hasil pendugaan nilai manfaat ekonomi hasil perikanan. Hal yang paling penting adalah bila hutan mangrovenya hilang maka nilai manfaat lain seperti hasil perikanan. satwa liar serta manfaat tidak langsung seperti pengendali erosi.892.727. atap daun nipah. rusa.916 /ha/tahun. udang. 2. 14. Secara nilai ekonomi memang kayu mangrove untuk kayu bakar. kepiting/karaka.72%).333/ha/tahun dan keberadaan habitat ekosistem hutan mangrove agar tetap tersedia mempunyai nilai ekonomi Rp.7% (Rp.9% meliputi manfaat kayu bakar. Permasalahan Hasil pengamatan dan wawancara langsung dengan masyarkat di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) mengindikasikan adanya beberapa Keadaan Umum Kawasan II . sebagai penyerap karbon serta nilai manfaat pilihan keanekaragaman hayati dan keberadaan habitat akan hilang. Oleh karena itu kelestarian hutan mangrove perlu dijaga terus agar nilai atau manfaat lain yang diperoleh selain nilai tegakan mangrove dapat tetap diperoleh.

1 Letak Kawasan Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa letak kawasan Cagar Alam TB yang sangat dekat dan pada beberapa bagian langsung berbatasan dengan pemukiman penduduk. Hasil pengamatan di lapangan serta informasi dari masyarakat. PT Bintuni Utama Murni Wood Industries (PT BUMWI) di bagian selatan dan PT Manokwari Lestari di bagian Timur. pada Keadaan Umum Kawasan II .1 Fisik Permasalahan fisik yang dimaksud di sini adalah kondisi fisik kawasan saat ini yang telah mengalami ganguan yang dapat mengancam keberadaan kawasan Cagar Alam seperti letak kawasan. Kampung Anak Kasih (Koordinat: menyebabkan aksesibilitas masyarakat di sekitar ke kawasan sangat mudah dan sedikit mengalami kesulitan dalam pengawasanya sehingga tekanan terhadap kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sangat besar.55 .71’’ dan E 1330 58’6. dan tumpang tindih kawasan.69’’ dan E 1330 56’ 0.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong permasalahan serius yang sedang terjadi di kawasan.092S 20 03’ 0.2 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Secara fisik. Kampung-kampung yang letaknya dalam kawasan adalah Kampung E133 56. pengelolaan DAS. Gambar II-37. infrastruktur.09’’). C. Untuk keperluan Tempat Penimbunan Kayu (TPK) atau logyard beberapa industri perkayuan tersebut membuka beberapa bagian Cagar Alam Teluk Bintuni terutama pada ekosistem hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove.37”).1. di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni mengalir beberapa sungai besar dan kecil yang bermuara di perairan Teluk Bintuni dan mempunyai fungsi sebagai sarana transportasi bagi masyarakat lokal. Kampung Tirasai (Koordinat: S 20 03’ 2.1. Hal ini bisa di kategorikan sebagai ancaman (threat) bagi keberadaan kawasan saat ini dan masa datang. Pembukaan lahan hutan dataran rendah untuk logyard kegiatan logging di dekat Kampung Tirasai dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Hasil pengamatan di lapangan juga menunjukan bahwa letak kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga berbatasan langsung dengan hutan produksi yang merupakan areal penebangan beberapa Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seperti PT Yotefa Sarana Timber di bagian Utara.92’’). Bahkan beberapa kampung yang didiami oleh penduduk asli letaknya berada dalam kawasan.31’’ dan E 1330 51’ 6. Kondisi Mamuranu (Koordinat: S 20 14’8. C. C.

gejala alam. Akibatnya substrat yang terbawa banjir di musim hujan akan menumpuk membentuk delta di muaramuara sungai di perairan Teluk Bintuni.1. Keadaan Umum Kawasan II . Gambar II-38. ini karena sebagian besar ekosistem penyusun kawasan terutama ekosistem mangove sebagai komponen ekosistem utama masih alami dan terpelihara dengan baik. dan penurunan populasi beberapa jenis satwa tertentu disebabkan oleh aktivitas manusia. Infrastruktur yang ada saat ini hanya berupa satu buah pondok kerja berukuran 36 m2 yang sekaligus merupakan rumah tinggal kepala resort KSDA Bintuni. Hal ini mengindikasikan besarnya tingkat erosi yang terjadi pada daerah hulu (upland) sebagai akibat “laju pengrusakan” lahan hutan yang tak terkendali. degradasi sebagian kecil hutan mangrove.56 . Aktivitas manusia yang menyebabkan terjadinya permasalahan tersebut. Permasalahan biologi yang bisa terlihat adalah permasalahan karena faktor eksternal yang terjadi karena bukan merupakan hubungan antar ekosistem atau spesies . yaitu degradasi dan perubahan struktur hutan dataran rendah. C. dan faktor sosial budaya. Hal ini diduga karena pengusahaan hutan yang tidak memperhatikan aspek kelestarian lingkungan banyak terjadi pada ekosistem hutan hujan dataran rendah yang menyimpan potensi jenis-jenis kayu yang bernilai komersial.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong saat musim penghujan sungai-sungai tersebut seringkali meluap dan airnya berubah warna coklat-keruh. Hal ini sangat mempengaruhi kegiatan pengelolaan terutama dalam hal pengawasan dan perlindungan kawasan. Hasil pengamatan di lapangan berhasil diidentifikasi beberapa permasalahan yang dihadapi pada ekosistem/flora/fauna yang berada di dalam kawasan. Bintuni/Wasian di dalam Kawasan CTAB C. dilakukan para Kegiatan ini umumnya pemegang HPH dan Kopermas yang memiliki konsesi di sekitar CATB. yaitu pembukaan lahan untuk keperluan tempat penimbunan kayu oleh pengusaha HPH di sekitar kawasan. 850 ha) sangat kurang memadai. Pengendapan lumpur (sedimentasi) yang membentuk delta di muara S.2 Biologi Hal Permasalahan internal biologi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih belum terlihat.3 Infrastruktur Hasil pengamatan di menunjukan bahwa infrastruktur pendukung dalam kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dengan luasan yang cukup besar (124.

Keadaan Umum Kawasan .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemumahan. rusa dan beberapa jenis burung). seperti pembuatan tiang-tiang rumah tradisional dan tiang pagar rumah. serta tumpang tindih antara batas kawasan dengan penggunaan lahan lain. Terganggunya beberapa bagian ekosistem mangrove juga sebagai akibat gejala alam yang disebabkan oleh angin dan erosi pinggiran sungai.82 %). dimana menurut peraturan yang ada sebenarnya hal itu dilarang. kerang). dan pembangunan infrastruktur lain. maka pengaturan yang melibatkan dan diterima semua pihak harus dilakukan. Beberapa permasalahan sosial ekonomi dan budaya terhadap CATB adalah menurunnya hasil tangkapan dan buruan sebagai akibat dari praktek penangkapan hasil perikanan yang tidak ramah lingkungan dan perburuan satwa liar (buaya. di sekitar CATB menempati urutan kedua (18. udang.57 dalam mengambil hasil perikanan. Sedangkan pemanfaatan ekosistem hanya dilakukan oleh mayarakat lokal yang bermukim di dalam kawasan untuk keperluan tempat berkebun. Pemanfaatan jenis-jenis flora oleh masyarakat lebih tertuju pada kayu sebagai bahan bakar dan juga bahan bangunan. adanya perkampungan logyard (tempat penimbunan kayu) di dalam kawasan. terutama mata pencaharian yang wilayah kerjanya berada di dalam kawasan. Akan tetapi karena hal tersebut sudah dilakukan sebelum ditunjuk adanya kawasan CATB. penebangan liar. C.3.1. Sosial Ekonomi dan Budaya Kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar sangat berpengaruh besar terhadap kelestarian CATB. Pemanfaatan fauna lebih terfokus pada perburuan satwa liar (seperti rusa. Kondisi sosial budaya ini telah menciptakan suatu interaksi dengan kawasan dalam bentuk pemanfaatan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan maupun ekosistemnya. Oleh karena itu banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya Masyarakat yang bermata pencaharian nelayan II . terutama pada daerah-daerah dengan sungai yang terbuka luas. Karena hal ini berhubungan dengan adanya pengambilan beberapa jenis flora dan fauna. kasuari) dan fauna perairan (seperti ikan. babi hutan. telah mengalami kerusakan/hilang yang diakibatkan oleh terpaan angin dan pengikisan pinggiran sungai oleh ombak pada saat musim angin. Penangkapan Hasil Perikanan yang Tidak Ramah Lingkungan Masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Faktor lain yang memberi andil dalam permasalahan lingkungan biologi kawasan adalah sosial budaya. pemukiman dan perladangan oleh penduduk lokal di dalam dan sekitar kawasan.3. kepiting. C. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa terdapat beberapa bagian dari ekosistem mangrove. masyarakat lokal telah lama dan secara turun temurun bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Mamuranu. Cara-cara penangkapan ikan yang merusak tersebut belum diberikan sangsi hukum yang tegas. II Resort Bintuni) yang hanya ada satu orang petugas dengan luas kawasan yang sangat luas (124.58 . dimana hampir setiap minggu datang para pengumpul kulit buaya yang berasal dari Babo dan Bintuni untuk selanjutnya dikumpulkan di Sorong lalu di jual ke Surabaya. Anak Kasih dan Tirasai. Babi dan beberapa jenis burung). serta menggunakan akar bore (tuba). Yakati. hasil tangkapan ikan sudah semakin menurun bila di bandingkan dengan beberapa tahun lalu (3-5 tahun lalu). Berdasarkan pengamatan di lapangan serta informasi dari pengelola kawasan dan beberapa nelayan lokal.2. alat yang digunakan berupa tombak dan perahu tanpa mesin (kole-kole). ada yang bermatapencaharian dalam berburu (Buaya. Adanya Perburuan Buaya. yaitu Sungai Sobrawara. Permintaan akan kulit buaya menurut informasi dari masyarakat Naramasa masih cukup tinggi. Hal ini diduga disebabkan oleh kegiatan penangkapan hasil yang tidak memeperhatikan kelestarian lingkungan yang dapat berdampak pada menurunnya populasi biota perairan. Menurut informasi dari beberapa nelayan di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni. khusus untuk buaya diburu terutama oleh masyarakat Naramasa. sekarang sudah memerlukan waktu 1 jam lebih bahkan sampai ke sekitar Teluk Bintuni. indikasi penangkapan ikan dengan menggunakan racun serangga (insektisida).850 hektar) serta belum adanya koordinasi dengan aparat penegak hukum lain (Kepolisian dan Koramil) membuat penegakan hukum sangat lemah. berhasil diidentifikasi beberapa praktek penangkapan adalah penggunaan akar bore ini dilakukan pada saat “pele kali” yang membuat ikan-ikan tersebut mabuk sehingga mudah diambil. terutama masyarakat di Kampung Naramasa. Berdasarkan hasil wawancara dan survei lapangan. Yakati dan Yensei. Yensei. jaring berlabuh dan pancing. Yakati sampai ke dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Masyarakat tersebut berburu sepanjang Sungai Naramasa.3. Selain itu daerah tangkapan sudah semakin jauh. Minimnya sarana dan prasarana aparat (BKSDA Papua.5 sampai 1 ember”. Keadaan Umum Kawasan II . Hasil tangkapan yang dulu masih mendapat “ 2 sampai 3 ember” sekarang hanya dapat “0.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong menggunakan alat tangkap jaring untuk “pele kali” . dimana dahulu hanya 15 sampai 30 menit dari perkampungan. Rusa. serta penggunaan pukat harimau (trawler) oleh perusahaan udang sampai ke dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni . C. Rusa dan Beberapa Jenis Burung Masyarakat yang berada di sekitar kawasan CATB.

3. C. Adanya Perkampungan di dalam Kawasan Berdasarkan hasil survei lapangan menunjukan bahwa ada beberapa kampung (desa) yang berada di dalam kawasan CATB yaitu Kampung Mamuranu. maka hal ini dapat mengancam kelestarian terutama buaya. dengan tingginya tingkat perburuan buaya. jerat. Hasil tangkapan rusa dan babi. Alat yang BKSDA Papua II Sorong sering digunakan untuk berburu rusa dan babi yaitu panah. Keberadaan kampungkampung tersebut terutama Kampung Mamuranu memang sudah ada sebelum adanya penunjukan CATB.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Sedangkan rusa.59 . Masyarakat baru pulang berburu di dalam Kawasan CATB masyarakat yang bermatapencaharian berburu. Nusuamar dan Modan. diburu di dalam kawasan CATB terutama di sekitar Pulai Maniai. Anak Kasih dan Tirasai. tombak.3. Menurut hasil wawancara dengan beberapa Gambar II-39. seiring dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk. Selain Keadaan Umum Kawasan II . Mamuranu) yang terletak di dalam Kawasan CTAB dalam sehari-hari akan sangat tergantung pada sumberdaya alam yang ada di dalam CATB. rusa dan beberapa jenis burung sudah semakin berkurang. dalam 1-3 hari berburu bisa mendapatkan 5-10 ekor. tapi sekarang mereka memerlukan waktu yang lebih lama (1-2 minggu) dengan hasil 1-2 ekor ataupun tidak dapat hasil buruan sama sekali. sedangkan untuk burung menggunakan senapan angin. rusa dan beberapa jenis burung dimana fauna tersebut merupakan kekayaan keanekaragaman hayati yang ada di CATB. biasanya di jual dalam bentuk dendeng. babi dan beberapa jenis burung. serta tingginya permintaaan atas hasil buruan tersebut menyebakan jumlah buaya. anjing dan parang. rusa dan beberapa jenis burung. Cara masyarakat tersebut dalam berburu dilakukan dengan dua cara yaitu berburu sendiri dan berkelompok (5-10 orang). Dengan keberadaan ketiga kampung tersebut. Hasil buruan waktu lalu (5-10 tahun yang lalu). maka masyarakat tersebut yang tinggal melakukan di kampung aktivitasnya Gambar II-40 Salah satu Kondisi Pemukiman penduduk (K. Berdasarkan kondisi diatas.

sehingga semakin besar sumberdaya alam yang akan diambil yang selanjutnya menyebabkan jumlah dan jenis flora maupun fauna di dalam kawasan CATB semakin menurun.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong itu dengan “dibentuknya” perkampungan baru seperti Kampung Anak Kasih dan Tirasai di dalam CATB. Adanya Tempat Penimbunan Kayu (Logyard) di dalam Kawasan Adanya hak pengusahaan hutan (HPH) mulai Tahun 1990 dan IPKMA (Izin Pemanfaatan Kayu Masyarakat Adat)/ Kopermas (Tahun 2002) yang berada di sekitar serta bagian hulu CATB memberikan dampak yang cukup besar terhadap kelestarian CATB.60 . belum tersosialisasi dengan baik atau kurang melibatkan masyarakat setempat. lebih dari 60% responden (46 responden atau 65. maka diperlukan proses penataan batas ulang dimana dalam prosesnya melibatkan seluruh pihak yang berkepentingan serta adanya proses sosialisasi. memberikan permasalahan yaitu adanya lahan usaha 2 (LU 2) Kampung Banjar Ausoy SP 4 (200 hektar) dan Waraitama SP 1 (160 hektar) masuk kedalam kawasan. Hal ini terjadi karena tidak adanya koordinasi antara pihak transmigrasi dengan BKSDA Papua 2 Resort Bintuni pada saat penetapan LU 2 tersebut serta belum dilaksanakannya proses tata batas. Tumpang tindih antara Batas Kawasan dengan Penggunaan Lahan lain. C.3. akan semakin bertambahnya masyarakat yang tergantung terhadap sumberdaya alam dalam aktivitasnya sehari-hari. dengan dibangunnya 54 rumah semi permanen di Kampung Anak Kasih (di dalam kawasan CATB). Kondisi diatas diperburuk dengan adanya pembuatan “perumahan sosial” oleh pihak Pemda Propinsi Papua pada tahaun 2003.4.7%) kurang mengetahui adanya batas kawasan CATB. Hal tersebut akan menambah jumlah masyarakat yang akan tinggal di dalam kawasan CATB. C. tanpa adanya koordinasi khususnya dengan BKSDA resort Bintuni. Pemukiman transmigrasi yang ada di sebelah Utara batas kawasan CATB mulai tahun 1994. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat di semua kampung yang ada di sekitar kawasan. Hal ini menunjukan Gambar II-41 Diskusi dengan Masyarakat Banjar Ausoy tentang Tumpang Tindih LU 2 dengan Batas kawasan CATB bahwa proses penataan batas tahap 1 tahun 1997 (tata batas persekutuan) batas Utara dan Timur serta tahap 2 tahun 1999 batas Barat dan Selatan.3. HPH/IPKMA tersebut mengeluarkan kayu untuk selanjutnya di kumpulkan disuatu tempat yang disebut Keadaan Umum Kawasan II . Oleh karena itu dalam rangka rencana pengelolaanya.4.

Yotefa Sarana Timber dan IPKMA/Kopermas. Karena sarana angkutan selanjutnya untuk membawa kayu keluar Bintuni menggunakan transportasi sungai dan laut. Kota Bintuni meliputi Kampung Sibena sampai dengan Kampung Argosigemerai (SP5). Pola ruang Kota Bintuni yang terbentuk berupa Strip Development. Akibat lain yang ditimbulkan dengan adanya Logyard tersebut.61 . dan di ujung timur kota. Logyard Sumberi dibuat oleh IPKMA/Kopermas. Dokumen yang telah ada yaitu Rencana Detil Tata Ruang (RDTRK) Kota Bintuni tahun 2004. Dengan kondisi tersebut maka akan semakin banyak masyarakat yang akan tinggal di dalam kawasan serta akses masyarakat untuk memanfaatkan sumberdaya alam di dalam CATB semakin besar sehingga akan mengurangi jumlah dan jenis flora dan fauna yang ada.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dengan Tempat Penimbunan Kayu (Logyard). Logyard Anak Kasih di Sungai Tikamari/Anak Kasih di buat oleh IPKMA/Kopermas. Logyard SP 5 di Sungai Sigirang dibuat oleh IPKMA/Kopermas. karena jalan darat telah dibuat dari daerah penebangan sampai ke Logyard. Logyard 5 di Sungai Awarepi dibuat oleh IPKMA/Kopermas.. maka Logyard tersebut dibuat di sekitar sungai dan pada umumnya posisinya berada di dalam kawasan CATB. Faktor penghambat merupakan suatu kondisi dimana lembaga pengelola dalam hal ini BKSDA Papua 2. Beberapa faktor penghambat yang dihadapi dalam pengelolaan kawasan CATB antara lain : D. serta Logyard SP 4 di Sungai Banjar Ausoy di buat oleh IPKMA/Kopermas. tidak memiliki kewenangan (Authority) untuk menyelesaikannya. Berdasarkan dokumen RDTRK Kota Bintuni. dimana bentuk kotanya memanjang dari Barat ke Timur. Pengembangan Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kabupaten Teluk Bintuni sampai saat ini belum ada. Faktor Penghambat Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni akan berhasil apabila bisa mengurangi faktor penghambat yang ada. air bersih serta sarana hiburannya lainnya. yang merupakan cikal bakal Kota Bintuni. kelurahan bintuni barat dan timur bersama-sama dengan Kampung Sibena. “generator” aktivitas baru yang muncul sebagai akibat keberadaan kawasan pusat Keadaan Umum Kawasan II . Keberadaan Logyard tersebut mengakibatkan datangnya masyarakat untuk tinggal di sekitar Logyard tersebut. Kondisi diatas menimbulkan konsekuensi dari adanya dua “generator” aktivitas yang sama kuatnya. Beberapa Logyard yang berada di dalam kawasan CATB yaitu Logyard 4 (di Sungai Muturi) PT. Satu “generator” berada di ujung barat kota.1. D. yaitu semakin mudahnya akses masyarakat untuk masuk kedalam kawasan CATB. karena di lokasi tersebut telah dibangun rumah karyawan dan perkantoran yang dilengkapi dengan sarana lain seperi listrik.

D. Hal ini diperparah lagi dengan minimnya sarana pendukung seperti perahu motor (longboat) dan kemampuan managerial yang terbatas.3 Peran Masyarakat (Community involvement) Kaitannya dengan pelestarian kawasan. Kemungkinan besar karena pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kawasan relatif kurang bahkan tidak mengerti sama sekali. khususnya Cagar Alam. Apabila melihat posisi dari kota yang memanjang sepanjang jalan. Hal ini sangat mempengaruhi atau bahkan boleh dikatakan sebagai faktor penghambat dalam mencapai tujuan pengelolaan dan tujuan pembangunan suatu kawasan konservasi. D.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni (dekat dengan Kampung Korano Jaya) beserta kegiatan-kegiatan ikutan yang menyertainya. Kondisi saat ini (current situation) menunjukan bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dengan luasan yang cukup besar (± 124. merupakan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) maka akses masyarakat kedalam kawasan CATB akan semakin mudah. Dengan semakin mudahnya akses masyarakat ke dalam kawasan CATB.62 . Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa peran masyarakat dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam ikut menjaga kelestarian kawasan masih rendah. Dikatakan prospektif dengan keyakinan bahwa masyarakat di dalam dan sekitar kawasan tidak akan menolak upaya pemberdayaan yang sangat terkait langsung dengan kepentingannya. Hal ini akan menjadi ancaman yang cukup serius terutama kawasan CATB di Bagian Barat dan Utara yang berdekatan sepanjang jalan/perkampungan. fauna dan lahan untuk kebun akan semakin besar sehingga kelestarian CATB semakn menurun. dimana sebelah Selatan dari jalan dengan jarak 1 sampai 5 Km.850 ha) hanya di awasi oleh seorang kepala resort yang dibantu dua orang jagawana. Dikatakan strategis sebab tanpa partisipasi nyata masyarakat sekitar. tidak mungkin kawasan konservasi tersebut akan lestari. maka peluang masyarakat untuk mengambil flora. mulai dari Kampung Sibena sampai dengan Kawasan pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni diprediksi akan menjadi kawasan pemukiman/perkantoran/perdagangan serta aktivitas lainnya. Hal ini bisa terlihat dari terganggunya beberapa bagian kawasan Cagar Alam yang juga “melibatkan” masyarakat di dalam dan sekitar kawasan seperti pembukaan lahan untuk logyard milik Kopermas dan perambahan hutan untuk kegiatan perladangan (shifting cultivation). peran masyarakat sekitar sangat strategis dan prospekstif. Keadaan Umum Kawasan II .2 Kapasitas Pengelola Kawasan Salah satu faktor penentu dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi adalah peranan dan kapasitas pengelola baik dari jumlah (quantity) dan kemampuan (quality/skill). Berdasarkan kondisi diatas maka dimasa yang akan datang.

11. 4. PP No. 6. UUD 1945. tentang Kehutanan UU NO. 69 tahun 1996. 3. 10. tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya 5. 14. 29 Tahun 1986. 15. 20 tahun 1990. Pasal 33 ayat 3 UU NO. 27 tahun 1991. 16. 27/1999 tentang AMDAL Kebijakan III . PP No. 68 tahun 1998. tentang Irigasi UU No.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong III. tentang Analisa Lingkungan PP No. tentang Tata Ruang Wilayah Nasional PP No. PP No. 7.Swantara" Tingkat I 13. tentang Ratifikasi Konvensi Keanekaragaman Hayati UU No. 8. Perikanan dan Kehutanan kepada Daerah . 35 tahun 1991.31 tahun 2004. 32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah PP No. 20. 12. 24 tahun 1992. 2. 18. 47 tahun 1997. UU NO. tentang Usaha Perikanan PP No.9 tahun 1990. tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup UU No.5 tahun 1960. tentang Pemantauan Polusi Air PP No. tentang Pariwisata UU No. tentang Penataan Ruang UU No. 5 tahun 1994. tentang Agraria UU No. KEBIJAKAN A. 17. tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam 21. tentang Sungai-sungai PP No. 11 tahun 1974. 23 tahun 1997.5 tahun 1990. 9. 41 tahun 1999. tentang Rawa-rawa PP No.1 . Dasar Hukum Peraturan-peraturan Perundangan yang terkait dengan Pengelolaan Cagar Alam di Indonesia adalah sebagai berikut: 1. 15 tahun 1990. tentang Delegasi Wewenang Perkenbunan. 64 tahun 1967. tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban Serta Bentuk dan Tata Cara Peran Serta Masyarakat Dalam Penataan Ruang 19. tentang Perikanan UU No.

23. 48/1991 tentang Pengesahan Konvensi Ramsar Instruksi Mendagri No. tentang Perlindungan Hutan BKSDA Papua II Sorong Perpu No 1 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang Undang No. tentang Pengelolaan Kawasan Lindung Keppres No. PP No. Kondisi kenaekaragaman hayati (biodiversity) Indonesia dan proses degradasi yang terjadi dapat dilihat di dalam IBSAP. PP No. 25. penebangan liar. kurangnya kelengkapan peraturan dan perundangan serta lemahnya penegakan hukum dalam bidang konservasi biodiversity/lingkungan juga menyebabkan proses degradasi semakin cepat. 1993) dan IBSAP (Indonesia Biodiversity Strategi and Action Plan. antara lain : BAPI 1993 digunakan hanya untuk memahami histori action plan nasional sebagai dokumen nasional pertama dalam konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Dengan adanya BAPI 1993 maka Kebijakan III . Kebijakan ini dapat dilihat dalam BAPI (The Biodiversity Action Plan for Indonesia. perambahan hutan. 32 tahun 1990. Selain itu. kurangnya pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dan lingkungan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 22. IBSAP 2003 sebagai dokumen nasional kedua dalam konservasi keanekaragaman hayati di Indonesia. Sumber atau penyebab degradasi ini antara lain adalah kebakaran hutan. 63 tahun 2002. tentang Perlindungan Hutan Mangrove sebagai Jalur Hijau B. menggantikan BAPI 1993. Keppres No. BAPI (The Biodiversity Action Plan for Indonesia) 1993 meratifikasi Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengenai Sebelum Keanekeragaman Hayati. yang merupakan rujukan utama yang digunakan sebagai pembanding untuk identifikasi isu-isu konservasi di Indonesia.2 . 34 tahun 2002. tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan. tentang Komisi Pengarah untuk Pengelolaan Klasifikasi Lahan Nasional 27. Kebijakan Konservasi Biodiversity di Indonesia Indonesia memberikan perhatian yang besar kepada konservasi keanekaragaman hayati. B. Keppres No. 41 tentang Kehutanan 26. Indonesia telah menyusun BAPI.1. penggunaan teknologi yang merusak. 29. 26/1997. 45 tahun 2004. 28. 2003). Pemanfaatan Hutan dan Penggunaan Kawasan 24. tentang Hutan Kota PP No. Ada sedikit perbedaan antara BAPI dan IBSAP. 57 tahun 1989.

Memperlambat laju kehilangan tutupan hutan primer.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong diharapkan akan ada panduan untuk menetapkan prioritas dan investasi di bidang konservasi keanekaragaman hayati terutama untuk periode Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) V dan VI (hingga 1999). partisipasi masyarakat. Kebijakan III . 4. Aspek sosial ekonomi. Konservasi eks-situ melalui bank gen dan bank benih. 3. yaitu isu mengenai kapasitas SDM Isu yang terkait dengan aspek pengelolaan biodiversity. Mengembangkan ketersediaan data dan informasi tentang kekayaan keanekaragaman hayati nasional. serta valuasi biodiversity. perlindungan varietas. terumbu karang serta habitat daratan maupun lautan lainnya yang sangat penting bagi keberadaan keanekaragaman hayati. 3. BAPI 1993 juga tidak mempunyai dasar hukum formal dalam struktur perundangan nasional sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum yang mengikat. Isu-isu yang ada dalam BAPI adalah : 1. lahan basah. Konservasi sumberdaya pesisir dan laut. pendidikan dan pelatihan. Isu yang terkait dengan aspek kebijakan. Di dalam BAPI tidak disebutkan pihak/lembaga yang dengan tegas bertanggungjawab menjamin implementasi serta pencapaian sasaran dan tujuan yang ditetapkan.3 . Konservasi in-situ taman nasional dan kawasan lindung daratan. Konservasi in-situ di luar kawasan lindung. yaitu : 1. dan program penangkaran. Tujuan utama dari BAPI 1993 adalah : 1. lahan basah dan kawasan budidaya pertanian. NGO dan kerjasama internasional juga tidak terdapat dalam dokumen BAPI 1993. terdiri dari konservasi in-situ dan eks-situ biodiversity. mencakup kawasan hutan. Memperluas pemanfaatan sumberdaya hayati secara lestari dan lebih ramah lingkungan dibandingkan praktik yang telah berlangsung selama ini. Isu yang terkait dengan aspek sistem informasi dan teknologi. Prioritas dari BAPI ada 4 (empat) kegiatan utama. yaitu isu mengenai riset dan training. 2. sehingga dapat dimanfaatkan oleh para pembuat kebijakan dan masyarakat luas. 2. 3. 2. Selain itu. Tujuan ataupun sasaran yang ditetapkan adalah mengkonservasi sebanyak mungkin keanekaragaman hayati untuk menjadi tumpuan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

IBSAP 2003 mempunyai tujuan : 1. terkait dengan kerjasama internasional dan kesadaran. 3. 3. mencakup isu mengenai tekanan penduduk. Isu dalam aspek peran NGO dan kerjasama internasional. 2. sektoral. 5. Menyusun strategi baru yang jelas. Kebijakan III . serta kapasitas SDM yang tidak memadai.2. Isu yang terkait dengan aspek kebijakan/kelembagaan. Isu yang terkait dengan sistem informasi dan teknologi. pencemaran lingkungan. degradasi sumberdaya hayati. Mengidentifikasi kebutuhan dan aksi prioritas yang baru dan merevisi rencana aksi menurut perubahan yang mungkin akan terjadi pada kebijakan lingkungan hidup di masa yang akan datang. pemahaman dan kepedulian. IBSAP (Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan) 2003 BKSDA Papua II Sorong IBSAP 2003 merupakan penyempurnaan dari BAPI 1993 dan merupakan strategi dan rencana aksi biodiversity nasional. 2. globalisasi bisnis keanekaragaman. apa yang belum dilaksanakan. Isu-isu tentang biodiversity adalah sebagai berikut : 1. Isu yang terkait dengan aspek pengelolaan biodiversity. termasuk kekurangan dalam pengetahuan yang ada dan sasaran serta tindakan yang realistis untuk menutup kekurangan ini. mencakup isu mengenai riset dan sistem informasi yang tidak memadai. sentralistis. mencakup isu mengenai eksploitasi berlebih. dan disertai dengan rencana aksi yang rinci. introduksi spesies dan varietas eksotik. Isu yang terkait dengan aspek sosial ekonomi. serta penggunaan teknologi yang merusak.4 . pembagian manfaat yang tidak adil. konversi habitat yang tinggi. 4. dan kekeliruan penilaian sumberdaya. Melakukan kajian atas kebutuhan dan aksi prioritas yang tercantum dalam BAPI 1993 untuk mengetahui apa saja yang sudah dicapai. 4. dan mencari penyebab mengapa dana dan/atau motivasi yang diperlukan belum didapatkan. Menentukan peluang dan kendala yang ada saat ini dalam konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan atas keanekaragaman hayati secara efektif.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni B. terdiri dari isu masalah kebijakan yang over eksploitasi. kemiskinan. dan tidak partisipatif. serta penegakan hukum dan kelembagaan yang lemah.

Adapun berdasarkan statusnya. dan mengembangkan ekosistem hutan baik mulai dari wilayah pegunungan hingga wilayah pantai dalam suati wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS). ayat 1). Berkaitan dengan hal itu. wajib melaksanakan rehabilitasi hutan untuk tujuan perlindungan konservasi (Pasal 43). Selanjutnya dalam kaitan kondisi mangrove yang rusak. khususnya industri kehutanan. Pemberantasan pencurian kayu di Hutan Negara dan Perdagangan Kayu Illegal. hutan terdiri dari hutan negara dan hutan hak (pasal 5. 2. Departemen dan Kehutanan secara teknis fungsional menyelenggarakan fungsi pemerinthan pembangunan dengan menggunakan pendekatan ilmu kehutanan untuk melindungi. Selanjutnya dalam rangka melaksanakan fungsinya. melestarikan. dan oleh karena itu.5 . Rencana Strategis Ditjen PHKA Departemen Kehutanan menetapkan kebijakan melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK. Rehabilitasi dan konservasi Sumberdaya Hutan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni C. 3.456/Menhut-II/2004 tanggal 29 Nopember 2004 tentang 5 (lima) Kebijakan Prioritas Bidang Kehutanan dalam Program Pembangunan Nasional Kabinet Indonesia Bersatu tahun 2005 – 2009 diarahkan kepada : 1. C. 4.2. Revitalisasi sektor kehutanan. Pengelolaan Hutan Lestari BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan bahwa mangrove merupakan ekosistem hutan. Kegiatan ini meningkatkan konsolidasi semua aparat Departemen Kehutanan dalam rangka meningkatkan kinerja rehabilitasi dan konservasi. keadilan. Dengan demikian sasaran Departemen Kehutanan dalam pengelolaan hutan mangrove adalah membangun infrastruktur fisik dan sosial baik di dalam hutan negara maupun hutan hak. Departemen Kehutanan sebagai struktur memerlukan penunjang antara lain teknologi yang didasarkan pada pendekatan ilmu kelautan (sebagai infrastruktur) yang implementasinya dalam bentuk tata ruang pantai. pengelola dan atau memanfaatkan hutan kritis atau produksi. keterbukaan dan keterpaduan (Pasal 2). kebersamaan. Kebijakan III . Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Dalam dan Sekitar Kawasan Hutan. Kegiatan ini adalah meminimalisir penebangan liar dan pencurian kayu sesuai dengan kewenangan Departemen Kehutanan. maka pemerintah bertanggungjawab dalam pengelolaan yang berasaskan manfaat dan lestari. termasuk struktur sosialnya. Pemantapan Kawasan Hutan. kepada setiap orang yang memiliki. 5. kerakyatan. Sektor Kehutanan C.1.

Ditjen PHKA menyelenggarakan fungsi: 1. Dari tugas pokok dan fungsi di atas. Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi pelaksanaan standar. Pengendalian Kebakaran Hutan. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. 2. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam 5. Penyiapan rumusan kebijakan Departemen Kehutanan di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. 7. pedoman.13/Menhut-II/2005 tanggal 13 Juni 2005 tentang Organisasi dan Tata Hubungan Kerja Departemen Kehutanan. 4. Sekretariat Direktorat Jenderal PHKA Direktorat Penyidikan dan Perlindungan Hutan Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan Direktorat Konservasi Kawasan Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam Balai Konservasi Sumber Daya Alam Balai Taman Nasional Kebijakan III . 2. Pengendalian Kebakaran Hutan. kriteria dan prosedur di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. Pengendalian Kebakaran Hutan. Perumusan standar. 3. 6. pedoman. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam. organisasi Direktorat Jenderal PHKA di pusat dan di daerah adalah sebagai berikut : 1. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. norma. Untuk itu dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsinya. Pengendalian Kebakaran Hutan. tetapi meliputi seluruh kawasan hutan yang ada di Indonesia. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam. Pelaksanaan administrasi di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. kriteria dan prosedur di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan P. 5. tugas dan fungsi Direktorat Jenderal PHKA adalah merumuskan dan melaksanakan kebijakan dan standarisasi teknis di Bidang Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. Pengendalian Kebakaran Hutan. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati. Pelaksanaan kebijakan di bidang Penyidikan dan Perlindungan Hutan. maka tugas PHKA tidak hanya di dalam kawasan konservasi saja. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud di atas.6 . 3. norma. 8. serta Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam 4. Konservasi Kawasan dan Keanekaragaman Hayati.

Peraturan Menteri Kehutanan P. dengan demikian diperlukan adanya kegiatan-kegiatan yang bersifat strategis sehingga dapat mendukung upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.7 .13/Menhut-II/2005. Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2004. sehingga KSDAHE belum secara optimal dan efektif memberikan manfaat kepada masyarakat. untuk dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara benar dan terarah diperlukan perencanaan yang menyeluruh. Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2004. Oleh karena itu. sinergis dan strategis sehingga mampu memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat secara optimal. perlu dipahami oleh seluruh unsur pengelola maupun para pihak hal-hal yang berkaitan dengan kondisi konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya saat ini. Sedangkan visi dan misi dan Ditjen PHKA adalah sebagai berikut : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2004. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004. Keputusan Menteri Kehutanan No. Untuk itu pemahaman secara menyeluruh posisi konservasi dalam pembangunan nasional harus dipahami dan diketahui secara menyeluruh oleh seluruh personil lingkup Ditjen PHKA. b. Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2004. dengan kata lain belum seluruhnya mempunyai batas di lapangan yang jelas. 123/KPTS-II/2001. semakin lama semakin berat tantangannya. Disamping itu pengelolaan kawasan belum seluruhnya dilaksanakan dengan standar. kebutuhan lahan garapan yang sangat Kebijakan III .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kegiatan Pengelolaan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Rencana Stratejik Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam merupakan penjabaran dari Renstra Departemen Kehutanan dimana dalam penyusunannya didasarkan kepada Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999. Perauran Pemerintah Nomor 44 Tahun 2004. Perlindungan Hutan dan Penegakan Hukum Dampak krisis multi dimensi yang dialami oleh Bangsa Indonesia mengakibatkan terjadinya permasalahan sosial yang memprihatinkan. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 2004. Sehingga hal ini sering menimbulkan konflik dengan pihak lain. Dalam rangka penyusunan rencana strategis di atas. beberapa kasus yang terjadi antara lain: terjadinya kesenjangan sosial. Pernyataan Visi Keadaan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya (KSDAHE) sampai saat ini tidak banyak mengalami perubahan seperti lima tahun sebelumnya yaitu antara lain meliputi : a. norma dan kriteria yang jelas. Permasalahan Kawasan Sampai saat ini yang berkaitan dengan status kawasan konservasi belum secara keseluruhan sudah dikukuhkan.

Manfaat kawasan konservasi tidak seluruhnya diukur dari PNBP. norma dan kriteria yang ada. yang menjadi sorotan Kelembagaan yang Kuat dalam Pengelolaannya serta Mampu Memberikan Manfaat Optimal Kepada Masyarakat”. Gangguan terhadap kawasan konservasi dan kawasan hutan lainnya juga terjadi akibat kebakaran hutan (harmfull fire). Dari visi tersebut ditetapkan empat misi Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam sebagai berikut : Kebijakan III . Didukung ”Transboundary haze pollution”. d. Hal ini terjadi disebabkan pengelolaan hutan yang kurang baik serta ditunjang oleh kurangnya sumberdaya yang ada untuk penanggulangan kebakaran hutan. Sampai saat ini. masih lemahnya akses masyarakat terhadap pengelolaan hutan. kecenderungan memperoleh hasil cepat melalui kegiatan illegal (over cutting. perambahan hutan dan sebagainya). disamping itu juga membentuk organisasi pengelola yang baru. sehingga dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Pemanfaatan SDAHE Pemanfaatan flora dan fauna masih banyak menimbulkan dampak negatif seperti misalnya maraknya penyelundupan flora dan fauna. diperlukan bentuk nyata implementasinya dan menggambarkan yang seharusnya terlaksana. Kelembagaan Pemerintah dan lembaga yang menangani atau mengelola KSDAHE sampai saat ini masih jauh dari standar. c. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) di bidang KSDA masih perlu ditingkatkan. dimana kebakaran hutan ini sudah menimbulkan kerugian yang sangat besar dan juga secara internasional timbul internasional. 2. SDM. penebangan liar. sarana dan prasarana. penyelundupan kayu.8 . Dengan mempertimbangkan beberapa hal di atas maka dalam lima tahun mendatang visi yang harus dicapai dan dipahami oleh jajaran Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam baik di pusat maupun di daerah adalah : “Mewujudkan Kawasan Hutan dan Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya yang Aman dan Mantap secara Legal Formal. tetapi juga manfaat lain yang bukan dalam bentuk uang (ekonomis) juga harus diperhatikan dan ditingkatkan serta dipublikasikan tentang pentingnya manfaat KSDAHE bagi pembangunan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong besar (lapar lahan) sehingga menimbulkan konflik lahan. Hal-hal yang perlu ditingkatkan antara lain : level organisasi. Pernyataan Misi Untuk mewujudkan visi dalam lima tahun mendatang.

Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan. dana sarana dan prasarana yang ada perlu dioptimalkan dan ditingkatkan.9 . Pemanfaatan SDA perlu dikelola dan dikembangkan secara optimal. Misi 4.83 juta hektar. Sampai saat ini PNBP bidang PHKA dirasa masih sangat kecil kontribusinya di sektor kehutanan. Disamping itu SDM. hal ini terlihat dari laju kerusakan hutan setiap tahunnya mencapai 2. Disamping itu kebakaran hutan selalu terjadi setiap tahun pada musim kemarau. Dengan adanya kejadian tersebut tentunya akan menyulitkan pengelolaan kawasan konservasi maupun kawasan hutan lainnya. maka kawasan konservasi yang dikelola harus jelas batas-batasnya. sehingga KSDAHE dapat didukung dan dilaksanakan dengan baik. Pengelolaan KSDAHE tidak bisa dilaksanakan sendiri oleh pemerintah. jasa lingkungan dan pemanfaatan tumbuhan dan satwa liar. sehingga tidak menimbulkan konflik dengan pihak lainnya. maka dalam pengelolaan ini kemitraan sangat diperlukan. Namun demikian tidak semua pemanfaatan jasa KSDAHE diidentikkan dengan pendapatan dalam bentuk uang. Sampai saat ini gangguan terhadap hutan dan hasil hutan semakin meningkat. Pola kemitraan perlu dikembangkan dan diwujudkan dalam pengelolaan KSDAHE. norma dan standar pengelolaan kawasan konservasi. Agar pengelolaan KSDAHE dapat tercapai tujuannya dengan baik. Pemanfaatan SDA yang potensial untuk dikembangkan meliputi wisata alam. perlu adanya penyebarluasan informasi agar dapat dipahami oleh semua pihak. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya Kelembagaan dan peraturan perundang-undangan yang mendukung KSDAHE masih perlu ditingkatkan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni MISI DIREKTORAT JENDERAL PHKA : Misi 1. Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. sehingga tidak mencapai fungsi secara optimal. Misi 3. Dengan demikian gangguan terhadap kawasan konservasi maupun kawasan hutan serta tumbuhan dan satwa liar harus dieliminir sedemikian rupa. Disamping itu pengelolaan yang seharusnya dilaksanakan pada kawasan konservasi tersebut harus jelas kriteria. Misi 2. Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian. BKSDA Papua II Sorong Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Oleh karenanya. Adapun tujuan dari masing-masing misi Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. sebagai berikut: Kebijakan III .

Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian. Meningkatkan pemanfaatan Obyek dan Daya Tarik Wisata Alam (ODTWA) dan jasa lingkungan serta mengembangkan Bina Cinta Alam 2. Meningkatkan upaya pengawetan tumbuhan dan satwa liar Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. dengan tujuan : Meningkatkan upaya perlindungan hutan. Memfasilitasi (pembinaan kawasan di luar kawasan konservasi) pengelolaan ekosistem esensial 4. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. dengan tujuan : 1. dengan tujuan : 1. KPA baru di 32 Propinsi 3. Meningkatkan peran masyarakat dan para pihak terkait dalam kemitraan pengelolaan KSDAHE dan perlindungan hutan. Terbangunnya 20 taman nasional model 2. dengan tujuan : 1. Adapun sasaran dari masing-masing misi Direktorat Jenderal PHKA. Memantapkan peraturan perundang-undangan bidang KSDAHE 6.10 . Meningkatkan pemanfaatan Tumbuhan dan Satwa Liar (TSL) Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan. dengan sasaran : 1. di Pusat dan 66 UPT 4.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Misi 1 : BKSDA Papua II Sorong Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. dan TB Kebijakan III . sebagai berikut : Misi 1 :Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Mewujudkan pemenuhan sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE 5. Mewujudkan SDM yang mampu mendukung pengelolaan KSDAHE 3. kawasan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya serta pengendalian kebakaran hutan dan penegakan hukum. Memantapkan perencanaan. evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan dibidang PHKA. Terselesaikannya proses pengukuhan 150 KSA. KPA. Memantapkan institusi pengelola KSDAHE 2. Meningkatkan efektifitas pengelolaan KSA/KPA/TB/HL sesuai fungsi kawasan 2. Mengembangkan KSA.

Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum. 7. KPA. Terlaksananya penegakan hukum terhadap tindak pidana kehutanan: perambahan kawasan. Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian dengan sasaran : 1. peredaran hasil hutan illegal termasuk TSL. Terwujudnya peningkatan pengusahaan pariwisata alam di 32 propinsi 2. dan penanganan pasca kebakaran hutan di 32 propinsi 3. Meningkatnya peran serta dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka perlindungan hutan dan pengendalian kebakaran hutan di 32 propinsi. Terlaksananya pemanfaatan jasa lingkungan di HL. Terwujudnya peningkatan kemampuan operasional pengendalian kebakaran hutan meliputi: pencegahan. pemanfaatan air) di 15 propinsi. Terlaksananya pembinaan habitat TSL di SM.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 3. Terlaksananya penangkaran jenis TSL di 66 UPT. Terlaksananya pengkajian. Kebun Buru dan Blok Buru (KB dan BB). kelompok swadaya masyarakat. 3. KSA di 300 lokasi 8.11 . penelitian dan pengembangan (kalitbang) tumbuhan dan satwa liar di 66 UPT. 4. Terlaksananya pengendalian perburuan liarTSL di 66 UPT. penebangan liar. 6. Terselesaikannya site plan pada zona/blok pemanfaatan di 200 KPA dan TB 5. perusakan habitat. Terkelolanya data informasi dan publikasi konservasi KSDAHE di pusat dan 6 UPT. kelompok profesi serta kader konservasi di 66 UPT. Terlaksananya evaluasi fungsi KSA. KPA dan TB BKSDA Papua II Sorong 4. 8. 6. 5. TB dan HL pada 200 kawasan 7. Terbentuknya kader konservasi tingkat madya dan utama serta terbinanya kelompok pecinta alam. Terselesaikannya penataan zona/blok di 300 KSA. kebakaran hutan/hot spot dan pencurian TSL di 32 propinsi 2. Kebijakan III . dengan sasaran : 1. Terlaksananya penyiapan penyelenggaraan perburuan di 5 TB. KPA dan TB seluas 100. Terlaksananya pengendalian peredaran TSL di 32 BKSDA. HP dan kawasan konservasi (prioritas perdagangan carbon. perburuan TSL.000 ha. pemadaman. Terselesaikannya penetapan daerah penyangga kawasan konservasi di 66 UPT dan pembinaan daerah penyangga KPA.

Adapun strategi dari masing-masing misi Direktorat Jenderal PHKA. Percepatan penyelesaian penetapan daerah penyangga kawasan konservasi di 66 UPT dan pembinaan daerah penyangga KPA. Misi 1 : Memantapkan pengelolaan konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. 5. Meningkatnya jumlah dan kompetensi SDM aparatur struktural. 000 ha 5. Terlaksananya peningkatan budidaya tanaman obat-obatan di 66 UPT.12 . TB dan HL.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 9. KPA. Optimalisasi pengelolaan data informasi dan publikasi konservasi SDAHE Kebijakan III . TB 4. setrategi adalah : 1. Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengelolaan. evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan bidang PHKA 4. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.KPA dan TB Percepatan penyelesaian site plan pada zona/blok pemanfaatan di 200 KPA. Terpenuhinya sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE di pusat dan daerah (66 UPT). Terlaksananya pengendalian pemeliharaan TSL untuk kesenangan di 32 BKSDA.KSA di 300 lokasi 7. 10. Terwujudnya institusi yang mampu menyelenggarakan pengelolaan KSDAHE dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat 2. Optimalisasi pelaksanaan evaluasi fungsi KSA. 3. non struktural dan fungsional 3. dengan sasaran : 1. Meningkatnya kesadaran masyarakat dan keterlibatan para pihak dalam mendukung tercapainya KSDAHE dan perlindungan hutan. 11. Meningkatnya sistem perencanaan. Koordinasi pelaksanaan pembinaan habitat TSL di SM. Percepatan proses pembangunan 20 TN model Percepatan penataan zona/blok di 300 KSA. sebagai berikut : a. Terwujudnya peraturan perundangan yang mendukung pengelolaan KSDAHE 6. 2. Terlaksananya pengendalian peragaan dan pertukaran TSL di 50 lembaga konservasi. KPA dan TB seluas 100. pada 200 kawasan 6.

Misi 2 : Memantapkan perlindungan hutan dan penegakan hukum setrategi adalah : 1. Percepatan penyelenggaraan penetapan dan pengelolaan satwa liar yang dilindungi dan tidak dilindungi (3 jenis) 12. Optimalisasi pelaksanaan pengkajian. Koordinasi pelaksanaan penegakan hukum terhadap pelaku tindak pidana kehutanan: perambahan kawasan. Misi 3 : Mengembangkan secara optimal pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian. Peningkatan pengusahaan pariwisata alam. kelompok profesi serta kader konservasi di 66 UPT 4. c. Optimalisasi pelaksanaan penangkaran jenis TSL di 66 UPT 6. penebangan liar. pemadaman dan penanganan pasca kebakaran hutan di 32 propinsi. 3. Koordinasi penyelenggaraan habitatnya di 66 UPT b. 5. KB & BB) Kebijakan III . penelitian dan pengembangan (kalitbang) tumbuhan dan satwa liar di 66 UPT. Optimalisasi pelaksanaan pemanfaatan jasa lingkungan di HL. Koordinasi pelaksanaan pemeliharaan habitat satwa migran dan ekosistem karst di 20 lokasi 11. strateginya adalah : 1. perusakan habitat. kebakaran hutan/hot spot dan pencurian TSL di 32 propinsi 2.13 . pemanfaatan air) di 15 propinsi 3. perburuan TSL. peredaran hasil hutan illegal termasuk TSL. Peningkatan peran serta dan pemberdayaan masyarakat dalam rangka pengelolaan jenis tumbuhan dan satwa serta perlindungan hutan dan pengendalian kebakaran hutan di 32 propinsi. Kebun Buru & Blok Buru (KB. Koordinasi pengelolaan TSL dan kawasan konservasi yang termasuk di dalam kesepakatan internasional 10. kelompok swadaya masyarakat. di 32 propinsi 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 8. Koordinasi pelaksanaan penyiapan penyelenggaraan per-buruan di 5 TB.HP dan Kawasan Konservasi (prioritas perdagangan carbon . Peningkatan kemampuan operasional pengendalian kebakaran hutan meliputi : pencegahan. Percepatan pembentukan kader konservasi tingkat madya dan utama serta terbinanya kelompok pencinta alam. BKSDA Papua II Sorong Percepatan penyelesaian identifikasi tipe-tipe ekosistem dan terpenuhinya keterwakilannya di kawasan konservasi di 32 propinsi 9.

3. 10. perlindungan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Meningkatkan sistem perencanaan. mengawetkan sumber daya alam Kebijakan III . evaluasi dan pengendalian pembangunan kehutanan bidang PHKA. Kebijakan ini dimaksudkan untuk melindungi dan memelihara proses ekologis esensial dan sistem penyangga kehidupan. Mewujudkan peraturan perundangan yang mendukung pengelolaan KSDAHE. Meningkatkan jumlah dan kompetensi SDM aparatur struktural. kebijakan mengacu pada 5 (lima) kebijakan ptrioritas pembangunan kehutanan. Kebijakan Pemberantasan Pencurian Kayu di Hutan Negara dan Perdagangan Kayu Illegal Kebijakan ini dimaksudkan untuk membangun persepsi yang sama dari seluruh pemangku kepentingan bahwa pencurian kayu dan peredaran kayu illegal yang telah berkembang sangat memprihatinkan dan mengakibatkan penurunan fungsi kawasan konservasi. Mewujudkan institusi yang mampu menyelenggarakan pengelolaan KSDAHE. b. non struktural dan fungsional. Untuk mencapai sasaran pembangunan kehutanan bidang PHKA tahun 2005-2009. Optimalisasi Pelaksanaan peningkatan budidaya tanaman obat-obatan di 66 UPT. dan budaya. Kebijakan Rehabilitasi dan Konservasi Sumber Daya Hutan. Koordinasi pelaksanaan pengendalian peredaran TSL di 32 BKSDA. Koordinasi pelaksanaan pengendalian pemeliharaan untuk kesenangan di 32 BKSDA c. sebagai berikut : a. 5. dan mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara optimal. Koordinasi pelaksanaan pengendalian perburuan liar TSL di 66 UPT 8. 4. 9.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 7. strateginya adalah : 1. 2. Memenuhi sarana dan prasarana pengelolaan KSDAHE di pusat dan daerah (66 UPT). Meningkatkan kesadaran masyarakat dan keterlibatan mendukung tercapainya KSDAHE dan perlindungan hutan. Koordinasi pelaksanaan lembaga konservasi. masalah sosial. fragmentasi habitat. 11. Misi 4 : Mengembangkan kelembagaan dan kemitraan dalam rangka pengendalian peragaan dan pertukaran TSL di 50 pengelolaan.14 para pihak dalam . ekonomi.

mengacu pada program nasional sebagaimana program dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 serta Program Departemen Kehutanan. program pembangunan kehutanan bidang PHKA. Dampak yang diharapkan dari kebijakan tersebut adalah berkembangnya kondisi sosial dan ekonomi masyarakat sekitar kawasan konservasi melalui perolehan manfaat secara langsung atau tidak langsung bagi pelaku usaha maupun mitra. Memperkuat kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat/para pemangku kepentingan dalam kegiatan konservasi dan rehabilitasi SDA. ekonomi dan budaya masyarakat setempat. Pengembangan Kapasitas Pengelolaan Sumber Daya Alam dan d.3. sasaran dan kebijakan. misi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni hayati dan ekosistemnya. c. PHKA mempunyai 5 program untuk menampung kegiatan-kegiatan pembangunan kehutanan bidang PHKA. sosial. Program tersebut adalah: a. Kebijakan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat di Dalam dan Sekitar Hutan. tujuan. Program Peningkatan Akses Informasi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. d. Program Pemantapan Keamanan Dalam Negri. Program Lingkungan Hidup. telah cenderung terjadinya eksploitasi hutan secara berlebihan. Program Pemantapan Pemanfaatan Potensi Sumber Daya Hutan. Program Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam. C. b. Kebijakan Pemantapan Kawasan Hutan. Kebijakan ini dimaksudkan untuk memfasilitasi serta mengakomodir kegiatan masyarakat sekitar kawasan konservasi. Dalam rangka peningkatan efektifitas pengelolaan kawasan konservasi akan sangat ditentukan oleh kepastian status suatu kawasan. Penguatan usaha produktif masyarakat sekitar kawasan konservasi. e. c. sehingga potensi sumberdaya alam lainnya seperti hasil hutan non-kayu (flora dan fauna) dan jenis lingkungan menjadi rusak dan hilang Kebijakan III . memanfaatkan BKSDA Papua II Sorong sumber daya alam hayati dan ekosistemnya berdasarkan prinsip kelestarian serta mempercepat pulihnya kawasan konservasi yang rusak sehingga kembali berfungsi normal. Berdasarkan visi. Kebijakan ini dimaksudkan untuk mempercepat pemantapan penataan kawasan konservasi.15 . Kebijakan Umum dan Strategi Pembangunan Cagar Alam Pola pembangunan dan pemanfaatan hutan di masa lalu yang hanya berorientasi kepada pembalakan (timber oriented) tanpa memperhatikan dan memperhitungkan nilai-nilai lingkungan/ekologi.

dan Hutan produksi Berdasarkan UU No 41 ini. Sumberdaya alam hayati adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumberdaya alam nabati (tumbuhan) dan sumberdaya alam hewani (satwa) yang bersama-sama dengan unsur non-hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. ekonomi. Memperhatikan hal tersebut. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap. Pemerintah menetapkan hutan berdasarkan fungsi pokok atas : o o o Hutan konservasi Hutan lindung. serta menyebabkan hilangnya akses masyarakat sekitar hutan untuk dapat menikmati kekayaan alam hutan tersebut dan kesejahteraan mereka tetap tertinggal. dan terabaikannya hak-hak masyarakat sekitar hutan. Ketentuan hukum yang mengatur mengenai keberadaan dan pengelolaan kawasan konservasi antara lain Undang-undang No. yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan kita mengenal hutan dan klasifikasinya sebagai berikut : Hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi pepohonan dan persekutuan alam lingkungannya. sosial dan budaya. hendaknya program pembangunan dan pemanfaatan hutan dan kawasan konservasi dari aspek konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistem di masa mendatang harus diarahkan kepada pemanfaatan yang bersifat multi fungsi. Sedang dalam ketentuan Undang-undang No. Dalam UU ini. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian alam. Berdasarkan Undang-undang No. kita mengenal kawasan konservasi dan salah satunya adalah kawasan suaka alam. Hal tersebut telah pula memunculkan dan tumbuhnya konglomerasi. dengan memperhatikan aspek lingkungan. yaitu : fungsi konservasi. fungsi lindung dan fungsi produksi.16 . pengertian hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas tertentu. yang satu dengan yang lainnya tidak dapat dipisahkan. serta dengan melibatkan dan mengutamakan kesejahteraan masyarakat di sekitar hutan. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tanpa memberikan hasil yang optimal. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Undang-undang No. Hutan mempunyai tiga fungsi. pengertian Kebijakan III . serta Peraturan Pemerintah No.

melindungi dan meningkatkan fungsi kawasan konservasi. serta pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. Adapun kriteria untuk penunjukan dan penetapan sebagai kawasan cagar alam seperti yang diatur dalam Peraturan Pemerintah No. dan atau Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa beserta ekosistemnya yang langka atau yang keberadaannya terancam punah. Peran dan fungsi kawasan menjadi titik tolak kepentingan pemanfaatan dari segi nilai ekologis dan nilai finansial. Pemanfaatan kawasan konservasi dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga. Mempunyai kondisi alam. 68 Tahun 1998 tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam : Mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa dan tipe ekosistem: Mewakili formasi biota tertentu dan atau unit-unit penyusunnya. Pemanfaatan potensi kawasan konservasi hanya akan dapat dilaksanakan secara konseptual dan terencana apabila potensi kawasan yang ada tersebut diketahui peran dan fungsinya. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa. Salah satunya adalah kawasan cagar alam Kawasan Cagar Alam adalah kawasan suaka alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. Mempunyai ciri khas potensi dan dapat merupakan contoh ekosistem yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi.17 . satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kawasan suaka alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu. Perlindungan fungsi tersebut berperan pula di dalam Beberapa fungsi dari kawasan konservasi termasuk Cagar Alam Kebijakan III . Oleh karena itu pengetahuan mengenai nilai potensi merupakan hal yang penting untuk pemberdayaan manfaat kawasan konservasi. baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia. baik di daratan maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan. adalah sebagai berikut Fungsi tata air. Mempunyai luas yang cukup dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin keberlangsungan proses ekologis secara alami. Kawasan cagar alam juga memiliki peranan yang sangat penting untuk perlindungan fungsi tata air (hidro-orologis). Cagar alam sebagai salah satu kawasan hutan pelestarian alam adalah hutan dengan ciri khas tertentu yang memiliki fungsi pokok perlindungan serta penyangga kehidupan.

khususnya cagar alam dengan fungsi hidro-orologisnya akan memainkan peranan yang berarti. Pemanfaatan kawasan konservasi untuk berperan sebagai penyerap gas karbondioksida maupun zat polutan serta sebagai penghasil oksigen maupun penyerapan efek panas dari gas rumah kaca belum banyak dikemukakan secara kuantitatif dari segi nilai ekologi maupun finansial. Disamping itu beberapa jenis dari tumbuhan yang terpelihara dan terlindungi secara baik di kawasan-kawasan konservasi berperan pula untuk mencegah polusi udara dan pemanasan global. Studi yang berkaitan dengan hal-hal tersebut harus mulai untuk terus dikembangkan. Merupakan bentuk kegiatan untuk mengambil hasil hutan bukan kayu dengan tidak merusak fungsi utama Kebijakan III . BKSDA Papua II Sorong Namun peran dan fungsi tersebut nampaknya pada saat ini belum sepenuhnya dinilai secara kuantitatif dari manfaat finansial serta baru dinilai secara mikro dari nilai ekologinya. Sumber Plasma Nutfah. nasional dan bahkan internasional. Menggunakan kawasan konservasi sebagai sumber plasma nutfah dengan tidak mengurangi fungsi utama kawasan. penangkaran satwa. industri dan lain-lainnya. berbagai jenis tumbuhan mulai dari yang bersifat semak belukar sampai bentuk pohon memiliki kemampuan untuk menyerap gas karbondioksida untuk kemudian dirubah menjadi gas oksigen. dan lainlain. Pemungutan hasil hutan bukan kayu pada kawasan konservasi. untuk plasma nutfah tersebut dibudidayakan dan dikembangkan di luar kawasan seperti antara lain untuk kepentingan budidaya jamur. Pada kawasan cagar alam mangrove. Pemanfaatan jasa lingkungan pada kawasan konservasi tanpa merusak lingkungan dan mengurangi fungsi utamanya seperti pemanfaatan wisata alam.18 . Dimasa mendatang dimana sumberdaya air akan menjadi terbatas maka peran kawasan konservasi. sehingga nilai-nilai pemanfaatan kawasan konservasi dari segi nilai ekologis akan semakin diketahui masyarakat luas. dan hal tersebut diharapkan akan menyadarkan mereka untuk selalu berupaya melestarikan dan menjaga keberadaan kawasan konservasi bagi kelangsungan sistem penyangga kehidupan dan peningkatan kualitas kehidupan masyarakat secara regional. yang membuat iklim mikro menjadi lebih nyaman. khususnya bagi penyediaan dan kelangsungan sumberdaya air untuk kawasan pemukiman. Manfaat O2. Studi-studi yang berkaitan dengan kepentingan pemanfaatan kawasan konservasi untuk hal tersebut harus mulai untuk dikembangkan. budidaya tanaman obat dan tanaman hias. CO2 dan penyerap panas.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni mendukung perlindungan sistem penyangga kehidupan. Kawasan konservasi di daerah tropis memiliki peranan yang sekarang dikenal sebagai paru-paru dunia. pemanfaatan keindahan dan kenyamanan. fungsi pengendali intrusi air asin dan pengendali banjir akan menjadi fungsi penting kawasan bagi masyarakat sekitar kawasan.

antara lain penelitian tentang tingkah laku satwa. dapat dilangsungkan dalam kawasan konservasi. misalnya penelitian tentang teknologi konservasi sumberdaya alam atau penelitian murni. Penyusunan skala prioritas pelaksanaan program penelitian yang disesuaikan dengan tujuan dan sasaran pengelolaan kawasan konservasi. Kegiatan Penelitian dan Pendidikan. Berdasarkan Pasal 67 ayat (1) UU No. seperti untuk mengambil madu. Melakukan kegiatan pengelolaan hutan berdasarkan hukum adat yang berlaku dan tidak bertentangan dengan Undang-Undang. mengambil getah. Bentuk dan materi penelitian dan pendidikan perlu diarahkan dan diselaraskan dengan kebutuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan disebutkan bahwa masyarakat hukum adat sepanjang menurut kenyataannya masih ada dan diakui keberadaanya berhak : Melakukan pemungutan hasil hutan untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat adat yang bersangkutan. sebagai berikut : Identifikasi obyek dan jenis tumbuhan. dan lain-lain.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kawasan konservasi. Sesuai fungsi kawasan konservasi. Dikaitkan dengan Undang-Undang No. mengambil buah. Mendapatkan pemberdayaan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan.19 . Untuk pendayagunaan dan hasilguna. Bentuk penelitian terapan. Pengembangan bentuk kerjasama dengan masyarakat. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan ekosistemnya maka kegiatan pemanfaatan tradisional menjadi salah satu aktivitas yang harus diadopsi dalam kegiatan pengelolaan kawasan cagar alam. meningkatkan Usaha pemanfaatan dan pemungutan tersebut dimaksudkan untuk kesejahteraan masyarakat sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga. kawasan cagar alam haruslah mengakomodasi kegiatan penelitian dan pendidikan. melindungi dan meningkatkan fungsi kawasan konservasi. maka pengelolaan dan penelitian dan pendidikan diarahkan pada kegiatan. ekosistem dan sosial ekonomi budaya masyarakat. satwa. Kebijakan III . Pemanfaatan tradisional yang diperbolehkan hanyalah pemanfaatan potensi kawasan berupa hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan spiritual masyarakat lokal/setempat/sekitar kawasan konservasi yang dilaksanakan oleh masyarakat lokal/setempat/sekitar taman nasional sendiri dengan mempergunakan peralatan tradisional dan sesuai dengan prinsip-prinsip konservasi.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pengembangan sistem promosi rencana penelitian dan hasil penelitian kepada masyarakat luas. Oleh karena itu. maka ditetapkan program konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di dalam pengelolaan kawasan konservasi sebagai berikut : a.20 . dan berbagai upaya pengamanan dan perlindungan serta kegiatan preventif lainnya. Kebijakan III . Melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap kawasan-kawasan konservasi sehingga benar-benar mencerminkan kepentingan konservasi keanekaragaman jenis flora dan fauna. b. antara lain diwujudkan dengan penunjukan kawasan konservasi dan hutan lindung. penetapan jenis-jenis flora dan fauna yang dilindungi.4. c. dalam rangka mewujudkan seluruh aspek konservasi dalam pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan konservasi termasuk cagar alam. kesejahteraan rakyat. Mengembangkan kawasan konservasi keanekaragaman hayati yang memenuhi persyaratan dan kriteria baik di dalam kawasan hutan maupun di luar kawasan hutan. C. d. Meningkatkan pembinaan satwa liar baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi melalui peningkatan kegiatan inventarisasi. keunikan dan keindahan sumber daya alam . Pengelolaan Cagar Alam Melihat kondisi dan permasalahan yang terjadi saat ini pada kawasan konservasi maka kebijaksanaan pengelolaan kawasan konservasi mengalami perubahan paradigma. Dengan memperhatikan perkembangan keadaan yang berjalan tersebut kebijakan pembangunan kawasan konservasi termasuk cagar alam diarahkan untuk mengemban misi terwujudnya manfaat optimal konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya bagi kesejahteraan masyarakat. berkeadilan dan mandiri untuk sebesar-besarnya. maka bobot peningkatan dan pengembangan aspek pemanfaatan berdasarkan azas kelestarian menjadi titik berat dengan didukung perlindungan dan pengawetan yang memadai. guna lebih menjamin keberadaan dan keterwakilan tipe-tipe ekosistem dan gejala alam lainnya. rehabilitasi dan pembinaan habitat guna menjamin kelestarian populasi jenis dan pemanfaatannya. Meningkatkan pembinaan kawasan suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa) melalui penilaian keunikan dan keasliannya serta mengembangkan pengelolaannya melalui model pengelolaan yang memadai dan diharapkan mampu memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kesadaran konservasi masyarakat setempat. kekhasan. Bila dimasa lalu titik berat pengelolaan kawasan konservasi lebih difokuskan pada aspek perlindungan dan pengawetan. untuk mewujudkan misi tersebut serta dipandu dengan ketetapan GBHN tahun 1999 yang menekankan kepada perwujudan pengelolalan sumber daya alam hutan secara lestari.

mendorong pemanfaatan secara lestari dan optimal dari fungsi pengembangan ilmu pengetahuan dan penelitian. Melakukan dan mengembangkan pendekatan baru dalam analisis biaya dan keuntungan dengan memperhitungkan biaya-biaya lingkungan dan sosial dengan disertai kajian dampak lingkungan dan sosial. pemantauan dan pengawasannya secara konsisten di lapangan. m. 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Undang-Undang No. serta diharapkan mampu memberikan manfaat bagi peningkatan kesejahteraan dan kesadaran konservasi masyarakat setempat. sehingga kawasan konservasi tersebut mampu mendukung dan memberikan kontribusi yang berarti bagi pembangunan wilayah serta peningkatan kesejah-teraan dan kepedulian konservasi pada masyarakat. Meningkatkan pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hutan dari kawasan hutan dan kawasan konservasi guna peningkatan nilai ekonomi dan kesejahteraan masyarakat disekitar hutan melalui kegiatan penunjang budidaya. Mendorong dan meningkatkan partisipasi pemerintah daerah dalam pengelolaan kawasan konservasi yang telah diproyeksikan dalam ketentuan Undang-Undang No. h. Membangun dan mengembangkan peranserta aktif masyarakat disekitar hutan dan kawasan konservasi dalam mengembangkan usaha ekonomi berbasis sumberdaya alam setempat dan mampu melestarikan potensi keanekaragaman hayati yang ada. Meningkatkan pembangunan dan pengelolaan kawasan konservasi alam melalui pengembangan pengelolaan yang mantap dan memadai. n. sehingga mampu memberikan manfaat dan hasil produk yang ramah lingkungan dan terstandarisasi. Kebijakan III . Meningkatkan kerjasama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam bentuk partisipasi aktif yang positif sebagai masukan bagi pemerintah dalam pelaksanaan operasional konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pemanfaatan dan peningkatan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dalam pengelolaan hutan dan kawasan konservasi. k. Memberdayakan dan mengembangkan lebih lanjut kearifan dan tradisi masyarakat setempat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan dan lestari dalam upaya pelestarian hutan dan konservasi alam. g.21 . j. i. Meningkatkan pembinaan konservasi keanekaragaman hayati di luar kawasan konservasi dan di luar kawasan hutan baik daratan dan perairan. f. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Meningkatkan keterpaduan pembangunan kawasan konservasi dengan pembangunan wilayah. pendidikan konservasi dan menunjang budidaya.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong e. l.

Meningkatkan peran aktif para ahli konservasi.22 . Peningkatan kualitas dan kuantitas sumberdaya manusia yang mampu mendukung semua upaya pengelolaan kawasan konservasi secara efektif. lestari. berkelanjutan dan lestari. termasuk membangun sistem informasi dan data base sebagai basis untuk mendukung serta membantu penyelesaian permasalahan yang dihadapi maupun pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan dan lestari. efisien. fauna. c. Meningkatkan supremasi hukum dan memberikan sanksi yang tegas dan jera terhadap para pelanggar yang berkaitan dengan pelestarian alam dan lingkungan. berkelanjutan dan lestari. Pengembangan partisipasi dan swakarsa masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi secara adil. jasa lingkungan dan ekosistem. guna memberikan kepastian pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan dan lestari. Pemantapan kawasan melalui kegiatan kajian potensi satuan unit pengelolaan ekosistem yang efektif dan efisien. q. r. penataan batas. p. sehingga secara bertahap pengetahuan mengenai potensi dan kegunaan setiap komponen penyusun ekosistem dan dapat diungkapkan dan diketahui. Membangun dan menggali sumber pendanaan untuk konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem melalui trust fund atau debt for nature swap serta mendorong pengelola kawasan konservasi untuk mengembangkan kemampuan pendanaan secara mandiri di dalam pengelolaan kawasannya. e. pemetaan dan pengukuhan status kawasan. lembaga masyarakat dibidang politik dan sebagainya untuk mampu mendorong terciptanya berbagai peraturan dan kelembagaan yang mendukung upaya pelestarian alam dan lingkungan. maka kegiatan prioritas yang dapat dilaksanakan adalah : a. d. Untuk pencapaian program konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya di kawasan konservasi. pengukuran. serta hal ini penting di dalam perencanaan pengelolaan dan pemanfaatan secara berkelanjutan. mandiri. b.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong o. Peningkatan inventarisasi potensi kawasan hutan yang mencakup seluruh potensi flora. Pengembangan kegiatan penelitian dan ilmu pengetahuan. Kebijakan III . Meningkatkan kemampuan dan pengetahuan masyarakat melalui berbagai pelatihan dan pendidikan mengenai upaya pencegahan dan penanggulangan berbagai kerusakan lingkungan dan pelestariannya. serta penegakan hukum bagi kasus penindakan pelanggaran dan perusakan kawasan. efektif dan efesien.

i. BKSDA Papua II Sorong Pengembangan usaha kecil menengah dan koperasi yang mampu mendorong berkembangnya iklim usaha yang kondusif dalam pemberdayaan ekonomi rakyat/masyarakat disekitar kawasan yang mampu mendukung ekonomi nasional. Rehabilitasi dan revitalisasi habitat-habitat yang mengalami degradasi dan pragmentasi di dalam upaya mencegah kepunahan plasma nutfah dan penyelamatan kekayaan keanekaragaman hayati. h. Perencanaan terpadu dan pengembangan sumberdaya di zona pantai: Memusatkan perhatian pada masalah monitoring. efektif dan efisien. Strategi Nasional Ekosistem Mangrove dan Agenda 21 Indonesia memuat antara lain : 1. Memusatkan perhatian pada permasalahan polusi laut yang timbul di daratan. Pengembangan kelembagaan termasuk ketentuan peraturan perundangan. Pemanfaatan sumberdaya kelautan yang berkelanjutan Menyoroti kesulitan sekitar keseimbangan antara konservasi sumberdaya alam yang tidak dapat pulih dan penggunaan sumberdaya biologi secara berkesinambungan. Mensejahterakan dan memberdayakan masyarakat pantai Mempertelakan masalah-masalah kemiskinan dan kesempatan ekonomi yang terbatas yang dihadapi masyarakat pantai.5. 3. Mewujudkan perlindungan dan pengamanan sumberdaya alam hayati dan ekosistem pada kawasan konservasi melalui peranserta secara aktif dari masyarakat di sekitarnya. 2. j. Pengembangan sistem pengawasan dan pengendalian yang diikuti dengan penerapan sanksi yang tegas pada tiap bentuk pelanggaran dan kerusakan terhadap kawasan dan potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistem agar pengelolaan dan pemanfaatannya dapat dilaksanakan secara lebih efektif dan efisien.23 . Kebijakan III . organisasi pengelolaan yang secara kondusif mampu meningkatkan pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistem secara lestari. serta mencari institusi dan strategi yang dapat menanggulangi permasalahan tersebut. Memonitor dan melindungi lingkungan pantai dan lautan. C. g.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni f. evaluasi dan administrasi sumberdaya. Pengembangan Kelembagaan Pengelolaan Hutan Mangrove Pengelolaan kawasan hutan khususnya hutan mangrove di Indonesia terususun dalam suatu strategi Nasional yang merujuk kepada pola pengelolaan lingkungan di dalam Agenda 21 Indonesia.

departemen teknis yang mengemban tugas dalam pengelolaan hutan mangrove adalah Departemen Kehutanan. (2) Rehabilitasi dan konservasi. (Pasal 3 UU No. Secara umum.24 . Untuk kedepan sedang dikembangkan Sub Centre Informasi Mangrove di Pemalang – Jawa Tengah (untuk wilayah Pulau Jawa). Maluku dan Irian Jaya). Adapun untuk mengarahkan pencapaian tujuan sesuai dengan jiwa otonomi daerah. Sedangkan untuk meningkatkan intensitas penguasaan teknologi dan diseminasi informasi mangrove. Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya bertujuan mengusahakan terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta keselmbangan ekosistemnya sehingga dapat lebih mendukung upava peningkatan kesejahteraan masyarakat dan mutu kehidupan manusia. Untuk mencapai tujuan ini maka secara umum kebijakan yang ada berdasar dan berpedoman kepada : Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian kemampuan dan pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang (Pasal 2 UU No. dan konvensikonvensi internasional terkait dimana Indonesia turut meratifikasinya. landasan keilmuan yang relevan. Departemen Kehutanan membawahi Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang bekerja di daerah. 5/1990). di Sinjai – Sulawesi Selatan (untuk wilayah Sulawesi. Pemerintah (pusat) telah menetapkan Pola Umum dan Standar serta Kriteria Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Keputusan Menteri Kehutanan No. penyusunan dan sebagai pusat informasi. Kebijakan III . 20/Kpts-II/2001). Departemen Kehutanan sedang mengembangkan Pusat Rehabilitasi Mangrove (Mangrove Centre) di Denpasar – Bali (untuk wilayah Bali dan Nusa Tenggara) yang selanjutnya akan difungsikan untuk kepentingan pelatihan. Strategi yang diterapkan Departemen Kehutanan untuk menuju kelestarian pengelolaan hutan mangrove: (1) Sosialisasi fungsi hutan mangrove. yaitu Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) akan tetapi operasional penyelenggaraan rehabilitasi dilaksanakan Pemerintah Propinsi dan terutama Pemerintah Kabupaten/Kota (dinas yang membidangi kehutanan). Pemerintah Daerah (Propinsi dan Kabupaten/Kota) serta masyarakat. termasuk di dalamnya rehabilitasi hutan yang merupakan pedoman penyelenggaraan rehabilitasi hutan dan lahan bagi Pemerintah. Landasan dan prinsip dasar yang dibuat harus berdasarkan peraturan yang berlaku.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Di lingkup Departemen. pengelolaan kawasan mangrove khususnya kawasan cagar alam haruslah sesuai dengan “prinsip pengelolaan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. di Langkat – Sumatera Utara (untuk wilayah Sumatera dan Kalimantan). (3) Penggalangan dana dari berbagai sumber. 5/1990). Di dalam menyelenggarakan kewenangannya dalam pengelolaan hutan mangrove.

3. dalam hal pengelolaan hutan Mangrove maka aspek perencanaan menjadi sangat penting. Pemanfaatan secara lestari sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. (UU No. Penyusunan Strategi Nasional Pengelolaan Mangrove. perencanaan juga memuat aspek dan informasi sebagai penyusunan rencana kehutanan. Kebijakan III . (Pasal12 UU No. Secara spesifik. pengukuhan kawasan hutan. (Pasal 34 Keppres No. pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya. kegiatan operasional teknis yang dilaksanakan di lapangan oleh Balai/Sub Balai RLKT (sekarang bernama Balai Pengelolaan DAS) sebagai Unit Pelaksana Teknis Departemen Kehutanan adalah rehabilitasi hutan mangrove di luar kawasan hutan dan di dalam kawasan hutan seluas 22. Inventarisasi kerusakan hutan mangrove (22 Propinsi). 32/1990). rencana atau pokok kegiatan yang dilakukan dalam pengelolaan hutan mangrove. Pemerintah Propinsi menetapkan wilayah-wilayah tertentu sebagai kawasan lindung dalam suatu Peraturan Daerah. berikut : Perencanaan Kehutanan meliputi : inventarisasi hutan. 41/1999). Pemerintah Kabupaten menjabarkan lebih lanjut kawasan lindung ke dalam peta yang lebih detil dengan Peraturan Daerah. Departemen Kehutanan telah. Pemerintah menyelenggarakan pengukuhan kawasan hutan untuk memberikan kepastian hukum atas kawasan hutan tersebut.25 . dan akan melakukan kegiatan-kegiatan baik dalam bentuk kegiatan operasional teknis di lapangan maupun yang bersifat konseptual. 2. Pemerintah menetapkan wilayah tertentu sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan.699 Ha melalui bantuan bibit. sedang. yang tersebar di 18 Propinsi. 5/1990) : o o o perlindungan sistem penyangga kehidupan. (Pasal14 UU No. pembentukan wilayah pengelolaan hutan. Operasional Teknis Sejak Tahun Anggaran 1994/1995 sampai dengan Tahun Dinas 2001. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya dilakukan melalui kegiatan (Pasal 5 UU No. Secara khusus. Berdasarkan inventarisasi hutan. pembuatan unit percontohan empang parit dan penanaman/rehab bakau. dan Dalam hal ini. 5/1990). penatagunaan kawasan hutan. 41/1999).

serta beberapa jenis burung) terdapat di dalam kawasan CATB. Penyusunan Rencana Tata Ruang Daerah Pantai Kabupaten.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. Sesuai dengan fungsinya yang merupakan kawasan konservasi. perikanan. 2003): 1. kawasan CATB tidak akan terlepas dari pengaruh untuk dimanfaatkan sebagai modal pembagunan.. maka Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni dituntut untuk memaksimalkan semua sumberdaya yang ada (manusia. Akan tetapi seiring dengan rencana pembangunan yang akan dilakukan. Kabupaten Teluk Bintuni yang merupakan Kabupaten Pemekaran (12 November 2002) dari Kabupaten Manokwari harus segera memecahkan beragam permasalahan yang dihadapi masyarakat. Jadi pada dasarnya harus ada dua kondisi yang harus dipenuhi di dalam perencanaan tata ruang (Clayton and Dent. BKSDA Papua II Sorong D. Selain itu flora serta fauna yang eksotis (mangrove. perkembangan sosial dan lain-lain). pertambangan (batubara). dengan demikian pengembangan wilayah adalah bagian tak terpisahkan dari tujuan pembangunan secara keseluruhan. Kebutuhan masyarakat untuk melakukan perubahan atau upaya untuk mencegah terjadinya perubahan yang tidak diinginkan Kebijakan III . pengembangan sentra-senta produksi. D.1. pertanian. dalam Rustiadi et al.26 . CATB memiliki peranan yang cukup besar dalam menjaga kelestarian ekosistem di sekitar Teluk Bintuni. rusa. Tinjauan Penataan Ruang Kota Kabupaten Teluk Bintuni Awal dari proses penataan ruang adalah beranjak dari adanya kebutuhan untuk melakukan perubahan sebagai akibat dari perubahan pengelolaan maupun akibat perubahan-perubahan keadaan (peningkatan kesejahteraan. 1993. serta peningkatan kualitas hidup masyarakat adalah beberapa dari sejumlah program pembangunan yang harus dilaksanakan. Salah satu modal pembangunan dari Kabupaten Teluk Bintuni yaitu sumberdaya alam (SDA) yaitu berupa SDA hutan. SDA hasil perikanan merupakan SDA yang banyak terdapat di dalam kawasan CATB. harus ada koordinasi dengan BKSDA Papua 2 yang memiliki kantor Resort di Bintuni. Oleh karena itu setiap rencana pembangunan yang akan dilakukan oleh pemda. SDA alam yang ada di kabupaten Teluk Bintuni diantaranya yaitu berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). bencana alam. serta gas bumi (LNG Tangguh). Pengembangan Wilayah Pengembangan wilayah harus dipandang sebagai upaya pemanfaatan sumberdaya wilayah agar sesuai dengan tujuan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Penyusunan basis data pengelolaan hutan mangrove. alam dan buatan) untuk mewujudkan pembangunan di semua bidang. Berdasarkan kondisi diatas. buaya. 5. kesenjangan antar wilayah.

. pembangunan RDTRK Kota Bintuni dapat dijadikan sebagai dasar untuk melihat arahan yang akan mempengaruhi terhadap kawasan. Gambar III-1.27 . Tata ruang harus merupakan perwujudan keadilan dan melibatkan partisipasi masyarakat. Rencana Pola Perkembangan Kota Bintuni sebagai Ibukota Kabupaten Teluk Bintuni Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) Kabupaten Teluk Bintuni sampai saat ini belum ada. oleh karenanya perencanaan yang disusun harus dapat diterima oleh masyarakat. karena kawasan CATB Berdasarkan RDTRK Kota Bintuni. 2) keadilan dan akseptabilitas masyarakat. Kebijakan III . Perencanaan tata ruang juga harus berorientasi pada keseimbangan fisik dan sosial sehingga menjamin peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan. namun biasanya dapat dikelompokan atas tiga sasaran umum: 1) efisiensi. melainkan lahir dari adanya kebutuhan. dan 3) keberlanjutan. dimana dalam konteks kepentingan publik pemanfaatan ruang diarahkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (publik). Dokumen yang telah ada yaitu Rencana Detil Tata Ruang (RDTRK) Kota Bintuni tahun 2004. Dengan demikian penyusunan perencanaan tata ruang pada dasarnya bukan merupakan suatu keharusan tanpa sebab. Sasaran utama dari perencanaan tata ruang pada dasarnya adalah untuk menghasilkan penggunaan yang terbaik. Sasaran efisiensi merujuk pada manfaat ekonomi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2. sehingga terdapat kesulitan untuk mengetahui arahan pembangunan untuk tingkat Kabupaten. Adanya political will dan kemampuan untuk mengimplementasikan perencanaan yang disusun. ibu kota letaknya berdekatan dengan Kota Bintuni.

maka setiap pemanfaatan/penggunaan lahan dilakukan di sebelah Utara jalan Trans Bintuni – Manokwari.2. Selain itu untuk mengurangi tekanan terhadap penggunaan lahan. Mangrove hanya bisa berkembang jika ada suplai sedimen sebagai substrat pertumbuhan.28 . Tatawori. serta telah dibangunnya pusat pemerintahan Kabupaten Teluk Bintuni yang berjarak 27 Km sebelah Timur dari Kota Bintuni (dekat Kampung Korano Jaya). Kodai. Perencanaan pengembangan sektor pertanian/perkebunan sebaiknya dikembangkan di sebelah Utara jalan Trans Bintuni – Manokwari.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kabupaten mulai dari Kampung Sibena sampai dengan Kampung Argosigemerai (SP5). Penambahan besar erosi dan sedimentasi menyebabkan tekanan terhadap kawasan cagar alam semakin besar. Sedimentasi yang memasuki kawasan mempunyai peran ganda. agar tidak terjadinya konflik kepentingan karena kawasan tersebut merupakan kawasan konservasi. Tetapi bila sedimentasi bertambahnya sangat cepat maka laju perubahan semakin cepat dimana perubahan dari ekosistem mangrove menjadi hutan dataran rendah lebih cepat dari terbentuknya mangrove Kebijakan III . merupakan daerah yang sangat dekat dengan perkampungan dan pusat aktivitas lainnya. Agar kawasan CATB dapat terjaga dengan baik maka perlu adanya daerafh buffer antara jalan dengan batas kawasan CATB. Dengan adanya Hak Pengusahaan Hutan (HPH) maka kondisi hutan di bagian hulu sungai tersebut semakin rusak sehingga dapat mengakibatkan erosi dan tingkat sedimentasi di setiap sungai semakin besar. D. Perubahan pola penggunaan lahan di hulu DAS dari hutan alam menjadi usaha hutan baik oleh masyarakat maupun HPH. Daerah hulu dari sungai-sungai tersebut merupakan kawasan hutan yang sampai saat ini masih merupakan hutan produksi. Kampung Argo Sigemerai direncanakan sebagai kawasan komersil dan bisnis baru berskala regional. Melihat kondisi diatas maka kawasan CATB merupakan daerah buffer sebelum aliran sungai masuk ke Teluk Bintuni. Berdasarkan kondisi diatas maka dapat dilihat bahwa batas Barat Laut dan Utara kawasan CATB. Hubungan Ruang Kawasan Cagar Alam dengan Daerah Sekitarnya Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) secara geografis merupakan daerah hilir dari beberapa sungai besar seperi Sungai Muturi. Bokor. Naramasa serta beberapa sungai kecil lainnya. Selain itu untuk pengembangan sektor lain seperti perikanan diharapkan dilakukan di luar kawasan CATB. untuk selanjutnya aliran sungai tersebut masuk ke Teluk Bintuni. ditambah dengan usaha pertanian yang tidak sesuai daya dukung lahan menyebabkan laju erosi dan sedimentasi bertambah.. Selain itu berdasarkan RDTRK Kota Bintuni. Tirasai. sebagai potensi pendukung keberadaan ekosistem mangrove dan sekaligus ancaman. karena daerah tersebut merupakan daerah hutan dataran rendah serta menjauh dari batas kawasan CATB.

udang. karena memiliki peranan yang cukup penting dalam menjaga fungsinya sebagai buffer bagi aliran sungai yang masuk ke Teluk Bintuni serta sebagai ”rumah/gudang” bagi berbagai jenis hasil perikanan agar Teluk Bintuni tetap menjadi daerah penghasil ikan. Jika ini berkembang terus maka luas kawasan hutan mangrove semakin kecil dan keberadaan cagar alam ini menjadi terancam. maka berdasarkan pengamatan lapangan sedimentasi di muara Sungai Wasian semakin mempersempit muaranya. kepiting. Berdasarkan kondisi diatas menunjukan bahwa kawasan CATB merupakan ”rumah/gudang” dari beberapa jenis hasil perikanan. Kebijakan III . Kawasan CATB mayoritas wilayahnya (lebih dari 90%) merupakan hutan mangrove (mangi-mangi) dengan luasan seluruhnya 124.850 hektar. diharapkan agar dapat meminimalkan akses/pemanfaatan terhadap kawasan CATB agar kelestariannya dapat terjaga. kepiting (karaka) dan lain-lain. Dengan kondisi demikian maka bukan hal yang mustahil dimasa yang akan datang kapal-kapal tidak dapat lagi masuk ke Sungai Wasian. Berdasarkan penjelasan-penjelasan diatas menunjukan bahwa kawasan CATB perlu dijaga kelestariannya. merupakan ”pintu gerbang” bagi masuknya kapal penumpang/barang dari Sorong ataupun daerah lain. salah satunya yaitu PT. Hal tersebut menunjukan bahwa peranan kawasan CATB sebagai daerah buffer bagi aliran sungai yang bermuara di Teluk Bintuni cukup besar. Selain itu banyak masyarakat yang tinggal di sekitar Teluk Bintuni atau kawasan CATB yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Sungai Wasian (Sungai Steenkol) yang merupakan batas alam sebelah Timur kawasan CATB.29 . Bintuni Mina Raya yang berlokasi di Wimro Distrik Babo. Teluk Bintuni terkenal sebagai daerah penghasil beberapa jenis hasil perikanan seperti ikan. pola transportasi ke dan dari Kabupaten umumnya menggunakan sungai. Perubahan ekosistem ini akan menyebabkan terjadinya kehilangan fungsi ekonomi kawasan sebagai spawning ground bagi ikan. Oleh karena itu dalam kebijakan pengembangan wilayah. sehingga hal yang sangat penting untuk menjaga kelestarian kawasan CATB. Kondisi ini menyebabkan akses di dekat dan dalam kawasan sangat intens untuk transportasi. sehingga memiliki peranan yang cukup penting bagi keberlangsungan produksi perikanan di Teluk Bintuni dan sekitarnya. sehingga dari perhubungan laut Kabupaten Teluk Bintuni akan terisolir. udang. Melihat posisi muara sungai tersebut yang sangat dipengaruhi oleh sungai-sungai yang berasal dari kawasan CATB (terutama Sungai Muturi) dimana tingkat sedimentasinya sudah tinggi. tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) bagi berbagai jenis ikan. kerang. udang yang merupakan sumber pencaharian masyarakat yang berdiam di dalam dan sekitar Cagar Alam Teluk Bintuni Pada sisi lain. dan bagi biota laut lainnya. yang merupakan tempat mencari makan (feeding ground). Hal ini ditunjukan dengan berdirinya perusahaan- perusahaan perikanan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong baru.

.

Jika pemerintah daerah membuat perda dalam tata ruang yang mengurangi atau menghilangkan cagar alam. permasalahan yang merupakan kelemahan yang bersifat teknis dan atau non-teknis merupakan hal sering terjadi. 2.1 . Permasalahan ini juga dijumpai di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.1 Permasalahan A. Pengelolaan dan Kebijaksanaan Aspek pengelolaan menguraikan tentang tujuan pengelolaan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong IV. Sedangkan aspek kebijaksanaan menguraikan tentang perkembangan kebijakan yang ada dan digunakan sebagai dasar untuk memenuhi fungsi kawasan beserta efektifitasnya. Kondisi ini sangat potensial menyebabkan Informasi yang diperoleh dari kegiatan pengelolaan belum bisa maksimal dan efektif. ANALISIS PERMASALAHAN A. pengelola teknis Cagar Alam Teluk Bintuni menunjukan bahwa tanggung jawab pengelolaan terkesan sepenuhnya berada di tangan KSDA Bintuni dan belum mendapat dukungan dari pemerintah daerah. sementara status masih penunjukan. Kondisi ini secara hukum membuat kepastian kawasan menjadi sangat rawan karena ke depan. Status Kawasan secara yuridis formal masih lemah Status kawasan konservasi Cagar Alam Teluk Bintuni sampai saat ini masih dalam status hukum penunjukan dan belum penetapan. keberadaan kawasan masih dalam tahap penunjukkan dan belum penetapan. Kurangnya koordinasi Pengelola Cagar Alam dengan jajaran Pemerintah Daerah Pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni masih sepenuhnya ditangani oleh institusi yang berstatus instansi pusat dan wewenang kendali ada pada BKSDA Papua II Sorong dan bukan di wilayah atau kawasan Cagar Alam. Pengelolaan dan kebijaksanaan dalam analisis difokuskan kepada tujuan penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan. Disamping itu.1. dan input-input dalam rangka merumuskan strategi kebijaksanaan. evaluasi kondisi pengelolaan. A. padahal pengelolaan dan pengawasan kawasan konservasi juga menjadi Analisis Permasalahan IV .1 Aspek Pengelolaan Dalam pengelolaan suatu kawasan konservasi. maka tidak ada alasan untuk membatalkannya karena secara hukum. tata ruang daerah juga belum resmi ada. Beberapa permasalahan dari aspek pengelolaan yang berhasil teridentifikasi antara lain adalah : 1. proses perkembangan wilayah dan tekanan terhadap cagar alam cukup besar.

Raja Ampat. Numfor. balai membawahi kegiatan pengelolaan kawasan di 14 Kabupaten. luas kawasan. Dalam aktivitas kegiatannya. Pemukiman di Desa Anak Kasih yang dibangun Dinas Sosial Propinsi Papua dan berada dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Hal ini di perparah lagi dengan birokrasi yang panjang yang harus di tempuh oleh institusi pengelola di daerah dalam membuat kebijakankebijakan yang menyangkut pengelolaan kawasan karena tanggungjawab dan kendali masih ada di BKSDA Papua II yang berkedudukan di Sorong. Seharusnya penempatan wilayah pemukiman baru didasarkan kepada peta dan tata ruang wilayah sehingga keberadaan kawasan konservasi dan batasnya bisa menjadi pertimbangan pembangunan. Mimika. Sorong Selatan. beragamnya obyek yang harus dikelola. serta “rumitnya” mekanisme birokrasi yang harus diikuti. Analisis Permasalahan IV . Selain dengan pemerintah yang daerah lemah di juga Kabupaten. Teluk Wondama. dalam hal ini Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Papua II merupakan perpanjangan tangan institusi pusat (PHKA). institusi pengelola kawasan konservasi yang ada adalah Resort KSDA Bintuni yang membawahi dua kawasan Cagar Alam. Waropen. Kaimana. Teluk Bintuni yang dulunya masih kecamatan dan berinduk di Propinsi Papua mempunyai kendala jarak. Ini bisa disebabkan karena adanya perbedaan struktur dan eselonisasi antara pengelola dengan dinas di dalam Pemda. Sorong.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong bagian tanggung jawab Pemerintah Daerah. Anak Kasih oleh Dinas Sosial Propinsi Papua dan lokasi ini berada di dalam kawasan cagar alam. koordinasi yang lemah ini juga terlihat dari ditemukannya pembangunan pemukiman masyarakat di Gambar IV-1. Serui. Manokwari. Kondisi sebagai kabupaten baru juga menjadi salah satu penyebab masalah ini muncul. Akibatnya. dan kota Sorong. Peran institusi pengelola belum maksimal. 3. tanggung jawab instansi ini terasa sangat berat dalam mencapai tujuan pengelolaan kawasan. koordinasi terlihat muncul dengan pemerintah propinsi. Institusi pengelola kawasan konservasi di daerah. Keberadaan koordinasi yang berada di Sorong dan aksesibilitas serta komunikasi ke wilayah Teluk Bintuni juga menjadi salah satu sebab kurang optimalnya peran institusi pengelola.2 . Bila dilihat dari kondisi geografis. seperti : Kabupaten Biak. Peranan institusi pengelola dalam mengikuti mekanisme koordinasi dan birokrasi dengan Pemerintah Daerah (PEMDA) juga masih kurang efektif. Fak-fak. Khusus untuk Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni. yaitu Cagar Alam Wagura Kote dan Cagar Alam Teluk Bintuni. Teluk Bintuni.

No. proses pencapaian tujuan pengelolaan kawasan akan sangat jauh dari yang diharapkan. Hal ini tidak sebanding dengan luasan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 1. sarana prasarana yang ada masih jauh dari memadai. BKSDA Papua II Sorong Dalam kegiatan pengelolaan kawasan konservasi di Kabupaten Teluk Bintuni. Dengan kekuatan pengelola seperti ini. institusi pengelola saat ini ditunjang oleh sarana dan prasarana yang sangat minim. Satu-satu sarana transportasi dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Hal ini sangat berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dari Gambar IV-2. pengelolaan kawasan. 3. Minimnya kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. 5. dominan kawasan mangrove dan kawasan sungai hanya didukung prasarana pengelola yang sangat minim yaitu satu motor. Kawasan cagar alam dengan luas 125. Minimnya sarana dan prasarana penunjang.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4.3 . tanpa ada longboat atau speedboat (Tabel IV-2). Kondisi personil pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005. yaitu kurang lebih 15. yaitu kurang lebih 124. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan dan informasi dari kepala Resort KSDA Bintuni. Dari data personil kawasan Tabel IV-1. 2.850 ha dan Cagar Alam Wagura Kote. tanggung jawab pengelolaan kawasan hanya ditangani oleh tiga orang personil yang terdiri dari 1 orang Kepala Resort dan 2 orang tenaga Polisi Kehutanan.000 ha. sarana dan prasarana penunjang yang ada sangat kurang.000 Ha. Status/Golongan/ Masa Kerja PNS/III-a/22 tahun PNS/II-b/6 tahun PNS/II-b/6 tahun Kualifikasi Sarjana Hukum SLTA SLTA Keterangan Kepala Resort Jagawana Jagawana pengelola pada Tabel di atas tergambar kapasitas yang masih memadai. Dalam kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. ada bahwa pengelola saat ini kurang Hal ini Sumber: Resort KSDA Bintuni terlihat dari kualifikasi dari pengelola yang semuanya tidak memiliki latar belakang pendidikan kehutanan. Upaya penambahan sarana dan petugas menjadi salah satu prioritas yang harus dilakukan agar aksesibilitas pengelola ke dalam kawasan dan Analisis Permasalahan IV . pengelolaan dilakukan oleh Kepala Ressort dan 3 orang Jagawana (Tabel IV-1). Bila dilihat dari tugas dan tanggung jawab yang dituntut. Pengawasan dan patroli yang efektif serta upaya untuk pembinaan dan koordinasi dengan masyarakat yang ada di dalam dan sekitar kawasan sangat tidak mendukung dengan sarana yang ada. Khusus untuk Cagar Alam Teluk Bintuni.

Informasi yang di peroleh dari pengelola kawasan menunjukkan bahwa kajian dan penelitian telah banyak dilakukan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Salah satu contoh adalah laporan kegiatan tata batas kawasan. hampir tidak dijumpai adanya data dan laporan hasil kegiatan yang terdokumentasi di pengelola. Tidak tersedianya proporsi dana yang seimbang dengan luas kawasan. Perubahan kebijakan keuangan untuk pengelolaan kawasan dimana sebelumnya bersumber dari dana APBN. ternyata informasi dasar kawasan masih belum memadai dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Sarana dan Prasarana Pondok kerja ukuran 36 M2 Motor Dinas Mesin ketik Sumber: Resort KSDA Bintuni 6. sekarang hanya menerima dana yang bersumber dari Dana Reboisasi. khususnya pengawasan dan perlindungan. 3. Dari informasi kegiatan yang pernah dilakukan di kawasan Cagar Alam baik di dalam Departemen Kehutanan maupun di luar kehutanan. 2. Pembinaan masyarakat akan meningkatkan peran aktif masyarakat dalam pengelolaan cagar alam. Akan tetapi prinsip ini belum terlaksana di Analisis Permasalahan IV . Data dasar kawasan. 1. Kegiatan ini sudah dilakukan tahun 1999 tetapi peta hasil pengukuran dan laporan kegiatannya tidak dijumpai sebagai dokumen di resort atau lokasi cagar alam. dari data yang telah terdokumentasi yang bersumber dari beberapa stakeholder seperti Perguruan Tinggi. dan dana pameran konservasi dan tidak dikhususkan untuk pembangunan kawasan. dan Pemerintah Daerah. LSM. pembinaan kader. Kondisi sarana dan prasarana pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Juli tahun 2005 Jumlah (Unit) 1 1 2 Kondisi Sedang Buruk Rusak Keterangan Perlu perbaikan Perlu perbaikan - No.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong melakukan pembinaan masyarakat semakin baik.4 . prinsip pencegahan selalu dipandang lebih baik dibandingkan dengan rehabilitasi atau perbaikan. Hal ini menjadi salah satu kelemahan sistem dokumentasi data tentang kawasan dan secara tidak langsung juga akan mempengaruhi kinerja dari pengelola kawasan 7. BP Tangguh. Dalam pengelolaan kawasan konservasi. Hal ini juga diperkuat dari hasil penelusuran data sekunder. Sumber dana ini hanya digunakan untuk membiayai kegiatan pengelolaan kawasan yang lebih dikategorikan sebagai dana rutin seperti pengamanan kawasan. Tabel IV-2. namun hasil-hasilnya tidak terdokumentasi dengan baik sebagai arsip yang ditinggalkan pada institusi pengelola baik di BKSDA Papua II Sorong maupun di Ressort Bintuni.

Padahal perangkat ini sangat diperlukan dalam pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Ini tergambar dari alokasi dana untuk Cagar Alam Teluk Bintuni yang sangat kecil. 9. Minimnya perangkat lunak yang tersedia. Kondisi hutan mangrove yang relatif masih baik dan tekanan kerusakan yang belum besar diduga menjadi salah satu sebab kurangnya perhatian dalam pengelolaan. Untuk itu sangat diperlukan adanya pedoman bagi pelaksana teknis pengelolaan Cagar Alam. Hal ini dapat dijumpai pada batas barat-laut kawasan dimana dijumpai adanya tumpang tindih kawasan cagar alam dengan lahan usaha II untuk peserta Analisis Permasalahan IV .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Batas yang tidak jelas dapat menyebabkan terjadinya tumpang tindih penggunaan dan sangat potensial menjadi sumber konflik. khusus dalam pengawasan. penyuluhan kepada masyarakat yang berada di dalam maupun di sekitar kawasan juga sangat diperlukan agar pengelolaan kawasan bisa didukung oleh masyarakat. Disamping itu. padahal dari segi luas kawasan. Dalam pelaksanaan tata batas kawasan. Menurut informasi dari Kepala Resort KSDA Bintuni. Ketidakjelasan batas kawasan dan kurangnya koordinasi dengan instansi terkait mengakibatkan pada beberapa bagian kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terjadi tumpang tindih dengan peruntukan lain. Cagar Alam Teluk Bintuni membutuhkan alokasi dana yang cukup besar dalam pengelolaannya. Aksesibilitas yang dominan lewat air membutuhkan biaya patroli yang cukup besar. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa batas kawasan berupa pal-pal batas tidak ditemui lagi atau telah rusak dimakan usia. pola pemetaan dan kegiatan partisipatif sangat diperlukan. pada tahun 1997 telah dilakukan penataan batas kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh konsultan PT BASRICO CEMERLANG dan oleh Sub BIPHUT Manokwari pada tahun 1999. Pedoman dan petunjuk teknis bagi pengelolaan kawasan dan jenis yang merupakan perangkat lunak dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan masih belum tersedia di Pondok Kerja Resort KSDA Bintuni.5 . 8. Hal ini menyebabkan kegiatan pemberdayaan masyarakat sulit dilakukan dan diukur keberhasilannya. Batas kawasan yang jelas akan membuat semua pemangku kepentingan memahami dan menyadari keberadaan kawasan Cagar Alam. Disamping itu. Ketidakjelasan batas kawasan di lapangan. Hal lain yang menjadi permasalahan adalah pola pengelolaan dan pemberdayaan masyarakat di dalam kawasan dimana mereka umumnya adalah masyarakat tradisional yang tidak terbiasa berurusan dengan kondisi yang serba formal. ketidaktersediaan buku saku pengelolaan dan pedoman koordinasi juga menyebabkan upaya pengelolaan terbentur pada masalah legalitas kegiatan.

A. Baik buruknya apresiasi ini sangat ditentukan Di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap kawasan. Analisis Permasalahan IV . 10.1. sampai pada saat disusunnya rencana pengelolaan kawasan ini relatif hampir tidak pernah ada kebijakan yang diambil oleh pengelola teknis (resort) untuk memenuhi fungsi kawasan. apresiasi ini terlihat masih kecil.2 Aspek Kebijakan Berdasarkan penjelasan dari institusi pengelola kawasan. Kegiatan pengawasan secara periodik tidak pernah ada di Penyebab utama adalah tidak tersedianya sarana untuk melakukan pengawasan dari sungai dimana lebih dari 90% kawasan merupakan hutan mangrove sementara sarana transportasi pengelola adalah motor. Selain itu.2 Altenatif pemecahan masalah Dari beberapa permasalahan pengelolaan kawasan tersebut di atas. Apabila kondisi ini dibiarkan akan dapat menjadi faktor penghambat dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan penebangan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. pemukiman. Seharusnya dalam peta akhir tata batas. kawasan. penyebaran informasi dan sosialisasi kawasan. Hal ini ditandai dengan adanya kegiatan yang berkaitan dengan pembukaan lahan untuk pembuatan tempat penimbunan kayu. Kegiatan yang pernah ada hanyalah penataan kawasan berupa keterlibatan pengelola dalam kegiatan penataan batas definitif bersama konsultan PT BASRICO CEMERLANG dan oleh Sub BIPHUT Manokwari pada tahun 1999. Dari wawancara diketahui bahwa ini bisa terjadi karena kurangnya penyuluhan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong transmigrasi nasional. Kondisi ini bisa dipahami mengingat adanya keterbatasan dari pengelola teknis kawasan untuk bisa berkunjung ke desa-desa yang menggunakan transportasi melalui air/sungai. Apresiasi dan pemahaman masyarakat terhadap kawasan diukur dari bagaimana masyarakat memperlakukan kawasan Cagar Alam. Sejak itu tidak pernah ada kebijakan penataan sampai rencana ini disusun. namun itupun hanya bersifat insidentil yang bersamaan dengan penelitian atau survei yang dilakukan oleh beberapa LSM konservasi. kegiatan pengawasan kawasan pernah dilakukan beberapa kali. perladangan. pemahaman dan pengetahuan mereka.6 . areal transmigrasi ini sudah dikeluarkan dari areal cagar alam. Beberapa alternatif pemecahan masalah yang dapat diberikan sehubungan dengan kelemahan yang terjadi dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan pada Tabel IV-3. diketahui bahwa kelemahan-kelemahan yang muncul lebih banyak di pengaruhi oleh faktor internal. A.

dan FISIK kawasan. sehingga beban yang harus ditanggung institusi pengelola menjadi lebih ringan. BP Tangguh Project Minimnya sarana dan prasarana Penunjang BKSDA Papua II BP Tangguh Project. BP Tangguh Project (koordinasi) Tidak memadainya proporsi dana dengan luas kawasan Alokasi dana untuk kegiatan pengelolaan yang cukup memada melalui mekanisme skala prioritas. pondok kerja.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel IV-3. Dirjen PHKA Jakarta. Investor. BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari (koordinasi) Unipa Manokwari (koordinasi) BKSDA Papua II Unipa Manokwari . Mempromosikan kegiatan penelitian dan kajian untuk menggambarkan kondisi kawasan. LSM. Meningkatkan kemampuan personil pengelola melalui berbagai kesempatan pendidikan dan latihan pengelolaan kawasan konservasi yang lebih profesional. Resort KSDA Bintuni Ditjen PHKA BKSDA Papua II. BIOLOGI. dan Lembaga Penelitian. menara pengawas. Ditjen PHKA BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari. Membangun kerjasama dengan stakeholder yang lain seperti LSM dan Pemerintah daerah melakukan kegiatan pengelolaan kawasan.7 . dan Pemerintah Daerah. Dirjen PHKA BKSDA Papua II BKSDA Papua II Unipa Manokwari . Stakeholders Permasalahan Status Kawasan secara yuridis formal masih lemah (Kawasan CATB berstatus penunjukan) Alternatif pemecahan masalah Penanggung Jawab Peningkatan status kawasan secara yuridis formal dan ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Alam Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah Kurangnya koordinasi dengan jajaran Pemerintah Daerah. baik di bidang SOSEK. LSM lokal dan NGO BKSDA Papua II Penambahan jumlah personil pengelola. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap aspek pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. status pengelola Ditjen PHKA BAPLAN dan Pendukung BKSDA Papua II dan Biphut PEMDA Teluk Bintuni dan BKSDA Papua II. Peningkatan mutu dan pemeliharaan sarana prasarana yang telah ada. dan pengadaan perahu motor. Lembaga Penelitian. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan melalui kerjasama dengan mitra lain seperti PT. dan Lembaga Penelitian Analisis Permasalahan IV . Pembangunan sarana dan prasarana penunjang pengelolaan seperti pembangunan kantor resort. LSM (lokal dan internasional). PEMDA Teluk Bintuni BP Tangguh Project. PEMDA Teluk Bintuni BKSDA Papua II Minim data dasar kawasan Inventarisasi potensi kawasan secara menyeluruh. pondok jaga. LSM. Resort KSDA Bintuni. Belum maksimalnya peranan institusi pengelola dan minimnya kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola Peningkatan kawasan.

1 Ekosistem Kawasan CagarAlam Teluk Bintuni tersusun oleh dua ekosistem utama. dan Lembaga Penelitian (koordinasi) BP Tangguh Project. BKSDA Papua II BKSDA Papua II Sorong Pendukung BP Tangguh Project. yaitu ekosistem hutan mangrove sebagai penyusun utama kawasan dan hutan hujan dataran rendah. dan Lembaga Penelitian (koordinasi) Penyederhanaan pedoman penegelolaan yang ada sehingga mudah dipahami masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. termasuk ekosistem penyusun kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. jembatan. Unipa Manokwari . BKSDA Papua II BKSDA Papua II Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan II. LSM. baik secara langsung seperti konversi lahan maupun tidak langsung. misalnya pencemaran oleh limbah kegiatan pembangunan. Aspek Biologi Kawasan Pemekaran Kawasan Teluk Bintuni menjadi Kabupaten Teluk Bintuni membawa beberapa konsekuensi logis seperti pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi dan bertambahnya kebutuhan lahan baru untuk berbagai keperluan seperti perumahan. 2005. Unipa Manokwari . jalan. B. Ketidakjelasn batas kawasan di lapangan.8 . Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Rekonstruksi batas kawasan bila dirasa perlu. BKSDA Biphut Papua Kurangnya apresiasi masyarakat terhadap kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Stakeholders Permasalahan Minimnya perangkat lunak Alternatif pemecahan masalah Penanggung Jawab Pembuatan pedoman pengelolaan kawasan dan jenis.1. dermaga. BKSDA Papua II Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. dan infrastruktur lainnya. LSM. Kedua ekosistem penyusun kawasan ini adalah ekosistem alami dan sebagian besar masih Analisis Permasalahan IV . terutama untuk kegiatankegiatan yang dapat meningkatkan keikutsertaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Hal ini dapat memicu semakin meningkatnya tekanan terhadap sumberdaya alam hayati dan ekosistem yang ada di daerah ini. Meningkatnya tekanan ini dapat mengancam keberadaan dan kelangsungan ekosistem dan sumberdayanya. B. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai penyangga sistem kehidupan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Pemeliharaan batas kawasan.1 Permasalahan B.

baik yang berada di pulau mangrove maupun di batas Timur. Ekosistem Hutan Hujan Dataran Rendah Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa permasalahan dan ancaman utama terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasan CATB adalah degradasi ekosistem yang merupakan akibat dari beberapa aktivitas manusia seperti disajikan pada Tabel IV-4. Penebangan liar (illegal logging) Keterangan Ada yang dilakukan sebelum tata batas definitif kawasan Pelaku kegiatan ini belum bisa di justifikasi dan memerlukan pengamatan yang lebih seksama. Perladangan (cultivated land) Pemukiman penduduk Sumber: Survei Tim TNC. Selain itu. Tabel IV-4. serta untuk keperluan pemukiman penduduk lokal. perladangan. Kemunduran yang terjadi pada ekosistem ini sebagian besar disebabkan oleh adanya intervensi manusia seperti pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh beberapa HPH dan KOPERMAS yang beroperasi di sekitar kawasan.9 . terutama pohon-pohon jenis komersil seperti merbau dan matoa. Utara. yaitu degradasi ekosistem dan tumpah tindih kawasan. penebangan liar. serta lahan usaha untuk peserta transmigrasi nasional. pembuatan kebun masyarakat. Tabel IV-4 mengindikasikan bahwa ekosistem hutan dataran rendah sedang menghadapi dua permasalahan utama. pada beberapa bagian ekosistem ini telah terjadi penebangan. Temuan di lapangan menunjukan Analisis Permasalahan IV . Terutama dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di dalam kawasan Memanfaatkan bekas logyard dan ada yang dibuka jauh sebelum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong terpelihara dengan baik. dan sebagai akibat gejala alam seperti erosi tepi dan angin. dan Barat Laut kawasan CATB sebagian telah mengalami kemunduran. Permasalahan sekaligus ancaman terhadap keberadaan ekosistem hutan hujan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Permasalahan Degradasi ekosistem Stakeholder/penyebab Pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh HPH dan Kopermas. Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa beberapa bagian ekosistem ini. tempat penimbunan kayu (logyard). 2005. kecuali beberapa bagian ekosistem hutan hujan dataran rendah dan sebagian kecil hutan mangrove telah mengalami gangguan/tekanan akibat faktor manusia seperti pembukaan lahan untuk pemukiman.

5” S 20 09’ 30.4’’ 0 E 133 40’ 13.86. Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh Kopermas.4” S 20 06’ 25.6” S 20 03’ 04.9’’ 0 E 133 51’ 38.8” Sumber: Survei Tim TNC.5’’ S 20 02’ 39.Tirasai 0 GPS S 2 03’ 13. Bahkan terdapat beberapa logyard yang sudah tidak digunakan oleh pemegang HPH masih digunakan oleh KOPERMAS untuk tempat penimbunan kayu sebelum dilakukan pemuatan ke tongkang. informasi dari pengelola kawasan dan masyarakat yang bermukim di areal tersebut.2” S 20 06’ 04. pembukaan lahan untuk keperluan logyard Analisis Permasalahan IV .18. Awarepi Logyard SP IV Kopermas S.1’’ 0 E 133 56’ 05. khususnya ekosistem hutan dataran rendah.3” E1330 37’.2” Keterangan Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan Masih digunakan oleh Kopermas dan HPH PT Manokwari Lestari. Tikamari/ Anak Kasih S. Tabel IV-5.5’’ 0 E 133 43’ 49.4’’ E133 55.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong terdapat beberapa tempat penimbunan kayu (logyard) yang terdapat dalam pada ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam (Tabel IV-5). Tempat-tempat tersebut setelah digunakan oleh pemegang HPH dan Kopermas belum dilakukan rehabilitasi. Letak Logyard Logyard II Dibuka oleh PT.57. Sigirau S. Ausoi S 20 06’. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan sudah tidak digunakan Logyard III Logyard IV PT Yotefa Sarana Timber PT Yotefa Sarana Timber S. Tempat Penimbunan Kayu (TPK)/ Logyard yang menempati ekosistem hutan dataran rendah dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai dengan Tahun 2005. Tabel IV-5 menunjukan bahwa di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang secara hukum merupakan daerah konservasi terdapat aktivitas pembukaan lahan untuk keperluan pembuatan logyard yang jumlahnya dapat mengancam keberadaan eksositem yang ada. Sumberi Kopermas Kopermas Kopermas S.3” S 20 07’. Dibuat sebelum adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh PT Yotefa Sarana Timber dan Kopermas. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan sementara non aktif.36.02.10 . Ausoi S. Muturi Logyard Anak kasih Logyard Sumberi Logyard Sp V Logyard V Kopermas S.9” E1330 40’. Anak Kasih. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan digunakan sebagai areal pemukiman K. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan sudah tidak digunakan tapi sekarang diupayakan untuk dijadikan Dermaga Fery (ASDP). 2005.Henrison Iriana Lokasi S. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan.56’’ E1330 34’ 47. Dibuat sesudah adanya tata batas kawasan dan masih digunakan oleh Kopermas.

Pembukaan lahan hutan dataran rendah dan sebagian hutan mangrove sebagai logyard di S. untuk keperluan pengangkutan kayu bulat/gergajian para pemegang HPH dan Kopermas “tidak memiliki” alternatif lain dan lebih banyak memilih alternatif melalui sungai-sungai yang ada dalam Cagar Alam Teluk Bintuni. Gambar IV-3. areal tersebut tidak direhabilitasi bahkan digunakan kembali oleh sebagian Kopermas yang beroperasi di sekitar wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni. Selain itu. Lokasi kebun masyarakat pada ekosistem ini lebih banyak terdapat pada beberapa pulau mengrove baik berbentuk hamparan pegunungan rendah maupun bukit-bukit kecil seperti Pulau Mangrove Maniai. Hasil pengamatan di lapangan. Logyard yang dibuka sebelum adanya tata batas kawasan sebagian besar dilakukan oleh pemegang HPH yang arealnya berbatasan dengan kawasan CATB. Kebun masyarakat lokal yang bermukim di Kampung Mamuranu di kawasan CATB Nusuama. Namun setelah adanya tata batas kawasan. Kegiatan perladangan/membuka kebun ini lebih banyak dilakukan oleh masyarakat yang bermukim dalam dalam kawasan. seperti yang dilakukan oleh masyarakat lokal yang yang bermukim di kampung Mamuranu dan Anak Kasih yang ada dalam kawasan CATB. Sumberi di kawasan CATB Kegiatan perladangan/berkebun juga merupakan faktor yang memberi andil terhadap kemunduran eksositem hutan dataran rendah. Cara Analisis Permasalahan IV . Gambar IV-4. beberapa bagian ekosistem ini telah dibuka untuk keperluan pembuatan kebun masyarakat. Pembukaan lahan ini dimungkinkan karena letak areal penebangan HPH/Kopermas yang langsung berbatasan dengan ekosistem hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni. dan Pulau Modan.11 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tersebut terjadi sebelum dan sesudah kegiatan tata batas kawasan. Sedangkan logyard yang dibangun setelah adanya tata batas kawasan semuanya dibuka oleh Kopermas. Kamai. sehingga pembuatan tempat penimbunan kayu (logyard) di tepi-tepi sungai yang ada dalam kawasan CATB tidak bisa terhindarkan.

2 – 1. menebang pohon-pohon tingkat pancang dan tiang. Pembukaan lahan untuk pemukiman. Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Lahan tersebut umumnya diusahakan selama 1 – 2 tahun (3 – 4 kali panen). c. kegiatan ini dilakukan sebelum adanya tata batas kawasan atau karena “ketidakjelasan” batas kawasan di lapangan. Khusus untuk pemukiman masyarakat Kampung Mamuranu yang berada dalam kawasan CATB. Pola pembukaan lahan atau kebun masyarakat secara umum mempunyai beberapa tahapan sebagai berikut: a. Waktu (masa bera) yang diperlukan untuk mengusahakan kembali bekas kebun yang ditinggalkan adalah 3-5 tahun.0 ha tiap kepala keluarga. Menebang pohon-pohon besar yang ada dalam lahan. Pembersihan lantai hutan. Pembukaan lahan untuk keperluan pemukiman pada kawasan dan sekitar kawasan yang dijumpai ada beberapa bekas pola.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong berkebun yang digunakan adalah sistem tebas bakar (slashed and burned system) dan telah berlangsung lama dan turun-temurun dari generasi ke generasi. Luas lahan yang diusahakan bervariasi antara 0. kawasan CATB telah mengalami sedikit tekanan/gangguan oleh adanya penebangan. terutama pada bagian sebelah utara yang langsung berbatasan dengan beberapa areal konsesi HPH dan Kopermas. kemudian dibiarkan beberapa waktu tertentu agar bekas tebangan mengering. Pada beberapa bagian kawasan CATB. yaitu menebas semak belukar. Gambar IV-5. yaitu Kampung Tirasai dan sesudah tata batas kawasan. d. kemudian mereka akan berpindah ke lahan yang baru. seperti (i) memanfaatakan logyard yang ditinggalkan oleh Kopermas seperti Kampung Anak Kasih. Penanaman sesuai jenis yang akan diusahakan. b. Setelah kering.12 . seperti juga pada kegiatan pembukaan lahan untuk logyard. keberadaanya sudah ada sejak kawasan ini belum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam. ada yang di lakukan sebelum tata batas kawasan. Salah satu logyard yang memanfaatkan sebagian ekosistem mangrove di S. (ii) pembukaan lahan pemukiman oleh pemegang HPH dalam kawasan. (iii) serta pemukiman yang masyarakat sendiri seperti dibuka oleh Kampung Mamuranu. Informasi yang diperoleh dari pengelola kawasan CATB. bekas tebangan berupa ranting dan semak belukar dikumpulkan pada suatu tempat dalam kebun dan atau di pinggiran kebun. kemudian dibakar. Analisis Permasalahan IV . yaitu Kampung Anak Kasih. seperti Kampung Tirasai yang dibangun oleh PT Henrison Iriana.

Beberapa hal yang lebih jauh dapat ditimbulkan sebagai akibat kemunduran eksositem ini antara lain: 1. dan jenis-jenis dari famili Dipterocarpaceae. Tanarius) yang menggantikan jenis asli seperti Matoa (Pometia spp. Dengan melihat kondisi permasalahan dan lebih jauh yang dapat terjadi di ekosistem ini. Hasil pengamatan lapangan mengidentifikasi bahwa permasalahan utama yang dihadapi ekosistem ini adalah degradasi lahan yang disebabkan oleh aktivitas manusia (Tabel IV-6). Secara tidak langsung. pemanfaatan oleh penduduk setempat. 1992). 2. Masuknya jenis-jenis luar (introduksi) yang bisa menjadi sumber pembawa hama dan penyakit. Penyebab utama kemunduran ekosistem ini secara langsung adalah akibat pembukaan lahan untuk pembuatan logyard dan pemukiman penduduk. Merbau (Intsia spp. Perubahan struktur hutan yang bisa mengakibatkan terganggunya habitat yang merupakan tempat berkembangbiak jenis-jenis satwa.). 4. Ekosistem Mangrove Ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan komunitas alami dan pertumbuhannya masih terlihat cukup baik. pelestarian. dan rehabilitasi menjadi suatu hal yang mendesak di lakukan dalam rencana pengelolaan kawasan ke depan.). Terinvasinya areal-areal bekas kebun masyarakat dengan jenis-jenis tumbuhan pionir seperti Macaranga (Macaranga mappa dan M. Ekosistem mangrove ini terlihat cukup dinamik yang diindikasikan oleh pertambahan luasan di beberapa bagian dan pengurangan luasan di bagian lain yang terjadi secara alami. maka perlindungan. Analisis Permasalahan IV .13 . aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas yang memanfaatkan sungai. 3. ekosistem ini juga terancam degradasi sebagai akibat dari dari pengusahaan hutan yang dilakukan di bagian atas (upland) kawasan yang tidak memperhatikan kelestarian dan keberlanjutan. serta akibat faktor alam seperti erosi tepi sungai dan angin. kelembaban dan intensitas cahaya) dapat mempengaruhi pertumbuhan permudaan alam pada ekosistem ini. Ekosistem mangrove di Cagar Alam Teluk Bintuni paling luas dan paling sedikit mendapat gangguan di kawasan Asia Pasifik dan perlu mendapat perhatian (Ruitenbeek.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Kemunduran ekosistem hutan dataran rendah yang disebabkan oleh beberpa hal tersebut di atas akan membawa beberapa konsekuensi terganggunya fungsi ekosistem tersebut sebagai salah satu penyusun kawasan CATB. Perubahan iklim mikro (suhu.

2005. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa sebagian kecil luasan hutan mangrove ikut dibuka dalam pembukaan lahan untuk keperluan tempat penimbunan kayu (logyard). Erosi tepi sungai. Untuk keperluan kayu bakar. Karena gejala manusia alam dan aktivitas Pemanfaatan pohon mangrove oleh penduduk lokal. semuanya dibuka Analisis Permasalahan IV . dan tiang belo. Memanfaatkan bekas logyard dan ada yang dibuka jauh sebelum ditunjuk sebagai kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. areal tersebut tidak direhabilitasi bahkan sebagian besar masih digunakan oleh HPH maupun Kopermas yang beroperasi di sekitar wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni.14 . Namun setelah adanya tata batas kawasan. tiang rumah. Logyard yang dibuka sebelum adanya tata batas kawasan sebagian HPH besar yang dilakukan arealnya oleh pemegang berbatasan dengan kawasan CATB. Seperti yang terjadi pada ekosistem hutan dataran rendah. Permasalahan sekaligus ancaman dan penyebabnya terhadap keberadaan ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni tahun 2005 Permasalahan Degradasi ekosistem Penyebab Pembukaan lahan (land clearing) untuk tempat penimbunan kayu (logyard) HPH dan Kopermas.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel IV-6. Bentuk gangguan ekosistem mangrove yang diakibatkan oleh tongkang pengangkut kayu log di S. dan angin. terutama pada bagian pinggiran sungai. Pembukaan lahan untuk keperluan logyard tersebut terjadi sebelum kegiatan dan sesudah kegiatan tata batas kawasan. kasus yang yang sama juga terjadi pada ekosistem ini namun pada skala luasan yang lebih kecil. Pengusahaan hutan daerah atas (upland/ hinterland) yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Sedangkan logyard yang dibangun Gambar IV-6. Aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas Pemukiman dan perumahan penduduk. Perubahan masukan dari ekosistem air tawar dan sedimentasi yang sangat besar Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. abrasi pantai. Keterangan Ada yang dilakukan sebelum tata batas definitif kawasan Penggunaan tongkang dalam pengangkutan kayu di sungai. Tirasai di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni setelah adanya tata batas oleh kawasan Kopermas.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa kejadian ini paling banyak terjadi pada ekosistem mangrove yang tumbuh di pinggiran pada daerah dekat muara sungai-sungai besar seperti Sungai Wasian. . perkakas. Namun menurut informasi dari pengelola kawasan bahwa pada beberapa bagian kawasan. menggunakan sarana Tug Boat dan Tongkang. selain diakibatkan oleh faktor manusia. Sedangkan pada periode Desember Analisis Permasalahan IV . Tatawori.15 . serta untuk keperluan tiang-tiang pagar dalam kegiatan mencari ikan (fishing) yang dalam istilah lokal disebut “tiang belo”. penduduk ini semakin aktivitas dapat mengancam beberapa keberadaan ekosistem pada waktu ke depan. yaitu periode Juni – Agustus yang merupakan musim monson tenggara biasanya bertiup angin tenggara yang cukup kencang dengan kecepatan lebih dari 90 km/jam. sehingga masyarakat sudah mulai melakukan penebangan pohon mangrove dari jenis Bruguiera sp. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pemanfaatan hutan mangrove di Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni hanya terbatas pada pemanfaatan hutan mangrove dalam skala tradisional/subsistem (traditional uses) untuk keperluan rumah tangga seperti kayu bakar. Muturi. pada bulan-bulan tertentu. S. juga tidak jarang diakibatkan oleh faktor alam seperti erosi tepi sungai dan angin. S. Dari data iklim yang diperoleh. dan S. Degradasi ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. terutama pada batas sebelah barat laut di pinggiran Sungai Wasian. terutama kecepatan angin. Bokor. S. Naramasa. bahan bangunan rumah. Kegiatan ini biasanya Hasil pengamatan di lapangan dan wawancara dengan penduduk lokal bahwa beberapa bagian hutan mangrove yang tumbuh di tepi-tepi sungai di kawasan ada yang tumbang atau patah yang disebabkan oleh lalu lintas Tongkang dalam mengangkut kayu dari logyard menuju ke perairan Teluk. Tekanan terhadap keberadaan hutan mangrove juga datang dari pemanfaatan vegetasi mangrove oleh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan. Seiring dengan berkembangnya Kabupaten Teluk Bintuni dimana salah satu konsekuensi yang laju Gambar IV-7. Hal ini dimungkinkan karena hutan mangrove pada batas Barat Laut kawasan posisinya sangat dekat dengan pemukiman sehingga aksesibilitas sangat mudah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pada beberapa bagian ekosistem ini juga dijumpai kerusakan/gangguan dalam skala kecil sebagai akibat dari kegiatan pengangkutan kayu oleh oleh HPH dan Kopermas yang memanfaatkan beberapa sungai di kawasan Cagar Alam. pertambahan cepat. Kerusakan hutan mangrove akibat erosi tepi dekat muara sungai Wasian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. pemanfaatan vegetasi mangrove sudah berkembang untuk keperluan kayu bakar dan bahan bangunan.

Berdasarkan data iklim yang ada. akan berakibat pada pertumbuhan vegetasi mangrove menjadi terhambat (Lugo and Snedaker. pada saat musim hujan. Pada saat masukan yang diterima lebih banyak berasal dari aliran permukaan (runoff). Hal ini karena yang terangkut oleh runoff adalah berupa material kasar yang berasal dari lapisan tanah yang lebih dalam dan bukan merupakan bahan halus berupa humus sebagai hasil dekomposisi yang terjadi di lantai hutan di atasnya. yaitu lebih dari 3000 mm. Hilangnya sebagian luasan hutan mangrove di daerah ini diduga lebih banyak disebabkan oleh “abrasi” pantai. kecepatan angin kadang mencapai lebih dari 30 km/jam. Perubahan masukan ini dapat berupa meningkatnya aliran permukaan (run-off) dan berkurangnya masukan unsur hara (nutrient) yang terjadi secara simultan. Hal lain yang yang menjadi ancaman terhadap degradasi yang dihadapi ekosistem ini adalah dampak yang akan ditimbulkan oleh perubahan masukan (input) dari ekosistem air tawar.81 hektar berdasarkan peta Citra Satelit Lansat tahun 2002.19 hektar telah berkurang luasnya menjadi 6.Pebruari yang merupakan musim monson barat-laut. Hasil penelitian Lugo dan Clintron (1975) mengatakan bahwa hutan mangrove dengan komposisi pohon-pohon yang tinggi sangat rentan terhadap kerusakan bila berkembang pada kondisi aliran permukaan yang tinggi. kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitar setiap tahun mendapat rata-rata curah hujan yang tinggi. Kopermas. secara kuantitatif jumlah input air tawar meningkat namun secara kualitatif berupa kandungan bahan organik menurun. Secara alami masukan air tawar dari atas ekosistem mangrove sangat diperlukan sebagai salah satu sumber unsur hara (nutrient) selain air hujan untuk pertumbuhan. Material ini hanya akan tertumpuk di ekosistem ini dalam bentuk delta-delta di kelokan sungai maupun di daerah muara. Adanya beberapa HPH. dan Desember curah hujan bulanannya cukup tinggi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong . Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi ekosistem daerah atas (upland) telah mengalami gangguan. sungai-sungai yang bermuara di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sering meluap (banjir) dengan warna air berubah menjadi coklatkeruh. Apabila hal ini berlangsung dalam waktu lama. Nopember. Dari studi yang dilakukan oleh Tim TNC (2003) diketahui bahwa luasan mangrove Pulau Karaka yang menurut peta Citra Satelit Lansat tahun 1989 adalah 15. Tiupan angin kencang tersebut juga menyebabkan robohnya pohon-pohon mangrove di beberapa bagian kawasan. Kondisi ini menyebabkan perairan di sungai-sungai besar tersebut bergelombang yang sering menghantam pinggiran sungai yang ditumbuhi vegetasi mangrove sehingga terjadi “abrasi”. dimana pada bulanbulan tertentu seperti bulan Pebruari.16 . 1974). Hasil pengamatan di lapangan mengindikasikan bahwa masukan air tawar yang masuk ke dalam eksosistem mangrove lebih banyak merupakan aliran permukaan. Menurut informasi penduduk setempat. dan pemukiman di daerah atas diduga sebagai penyebab meningkatnya aliran permukaan yang masuk ke kawasan. Kondisi ini membuat daerah kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya sangat rentan terhadap erosi/aliran permukaan bila tidak dikelola berdasarkan asas kelestarian. Analisis Permasalahan IV .

reptil dan amfibi serta jenis avertebrata. CATB. beberapa di antaranya merupakan spesies endemik dan jenis-jenis yang keberadaannya di alam sudah dilindungi Gambar IV-8. penurunan populasi beberapa jenis satwa liar. pemukiman dan kebun penduduk. Dari segi ekologi. B. penahan lumpur dan perangkap sedimen yang diangkut oleh aliran air permukaan. daerah mencari makanan (feeding ground) dan daerah pemijahan (spawning ground) bermacam biota perairan. tempat berlindung. pelindung pantai dari abrasi. 1. Pada habitat tersebut tumbuh berbagai spesies tumbuhan. penghasil sejumlah besar detritus (daun dan dahan pohon mangrove yang rontok).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Implikasi negatif terhadap keberadaan ekosistem mangrove sebagai dampak dari beberapa permasalahan tersebut di atas adalah terganggunya fungsi ekologis penting dari ekosistem ini seperti peredam gelombang dan angin badai. undang-undang international. serta tempat berkembang biak yang sesuai dengan kehidupan fauna juga sangat mendukung kehadiran satwa liar baik dari jenis avifauna. daerah asuhan (nursery ground). baik spesies tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis maupun spesies kunci (key species). yaitu hutan mangrove dan hutan hujan dataran rendah. dan minimnya data dasar tentang flora dan fauna di kawasan. Mamurana.2 Flora dan Fauna Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni memiliki keanekaragaman flora dan fauna yang cukup tinggi.1. Dari sejumlah jenis satwa yang ada di kawasan. nasional maupun Bahkan beberapa diantara satwa yang ada. Ini sangat terlihat nyata pada ekosistem hutan dataran rendah yang letaknya berbatasan langsung dengan areal hutan produksi. mamalia. Kondisi fisiografi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan ketersediaan sumber daya seperti pakan.17 . Flora di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan suatu mosaik yang terdiri dari dua tipe vegetasi utama. Terancamnya habitat flora setempat Hal ini merupakan dampak dari degradasi ekosistem sebagai akibat kegiatan manusia seperti pembukaan lahan untuk pembuatan logyard dan kebun masyarakat. keberadaanya di alam Permasalahan utama yang dihadapi oleh sudah masuk dalam kategori terancam punah. kegiatan ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan regenerasi permudaan dari jenis-jenis asli yang pada Analisis Permasalahan IV . Terinvasinya hutan bekas perladangan oleh jenis pionir di K. air. kompoen flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah berkurangnya jenisjenis flora asli.

Berkurangnya keanekaragaman jenis satwa di kawasan juga diduga disebabkan oleh aktivitas beberapa industri kehutanan yang memanfaatkan kawasan Cagar sungai-sungai Alam di dalam sarana sebagai transportasi seperti kapal penarik (tug boat). Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa pada beberapa bekas lahan yang dibuka untuk tujuan tersebut di atas. Perubahan iklim mikro dan naungan dapat menekan pertumbuhan jenisjenis ini. Anak Kasih. Burung Mambruk (Goura cristata). semai. Akan tetapi saat ini. keberadaannya jenis-jenis satwa tersebut sangat jarang dijumpai sekitar kampung. Terganggunya beberapa bagian ekosistem kawasan membawa akibat implikasi kegiatan pada manusia perubahan Hal ini Gambar IV-9. Mamuranu. hutan sekunder yang terbentuk didominasi jenis-jenis pionir seperti makaranga (Macaranga mappa dan Macaranga tanarius ) dan sirih hutan (Piper sp. Hal ini diduga karena jenis satwa ini sangat rentan terhadap gangguan habitat yang sekaligus tempat berkembang biak jenis-jenis satwa ini. Penurunan populasi satwa. dan cenderawasih minor (Paradisaea minor) misalnya. jenis-jenis cenderawasih seperti cenderawasih minor (Paradisea minor) dan cenderawasih indah (Ptiloris magnificus). 2.18 . Untuk berkembang. menurut informasi penduduk yang bermukim di K. dan pancang sangat peka terhadap perubahan iklim mikro dan naungan. Jenis burung mambruk (Goura cristata) yang telah dilindung undang-undang yang populasinya terancam struktur dan komposisi vegetasi. jenis-jenis burung ini masih bisa dijumpai di sekitar kampung dan masih mudah bagi mereka untuk menangkap jenis-jenis satwa ini. terutama pada fase kecambah. Kasuari kerdil (Casuarius benetti). khususnya biota perairan diduga juga disebabkan adanya isu penggunaan racun serangga (agriculture pesticide) dalam penangkapan hasil laut. Regenerasi jenis-jenis ini. membutuhkan habitat berupa hutan dengan karakter tajuk yang Analisis Permasalahan IV .). Penurunan populasi dan keanekaragaman jenis satwa. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa penurunan populasi dan keanekaragaman jenis satwa diduga diakibatkan oleh degradasi ekosistem dan perburuan yang berlebihan (overhunting) baik yang dilakukan oleh masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan maupun pendatang dari luar kota Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong umumnya merupakan jenis-jenis yang tahan naungan (toleran). mengakibatkan menurunnya kualitas habitat yang sangat satwa berpengaruh liar yang terhadap menghuni kehidupan beberapa tipe ekosistem di kawasan. Tirasai. secara khusus. dan Naramasa bahwa dalam kurun waktu lebih 10 tahun yang lalu. Sumberi.

seperti rusa dan babi hutan. Jenis burung kasuari kerdil (casuarius benetti) yang telah dilindung undangundang yang populasinya terancam reptil seperti buaya muara (Crocodylus porosus) dan biawak (Varanus sp. Jenis kuskus bertotol (Spilocuscus maculatus) yang telah dilindung undang-undang yang sudah jarang dijumpai di hutan dataran rendah Cagar Alam Teluk Bintuni. dan pedagang satwa (trader/middlemen). diketahui Gambar IV-11. kelabu (Phalanger orientalis). utuh (belum BKSDA Papua II Sorong mengalami kerusakan) dengan vegetasi pepohonan besar yang tumbuh rapat dan tajuknya terdiri atas tiga strata. Pada awalnya. namun seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Jenis satwa buaya muara (Crocodylus porosus) yang telah dilindung undang-undang populasinya menurun akibat perburuan liar di Cagar Alam Teluk Bintuni. babi hutan (Sus scrofa).19 . maculatus). yaitu oknum aparat keamanan. serta informasi dari masyarakat setempat bahwa perburuan satwa liar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni cukup Iebat. Hal yang sama juga terjadi pada beberapa satwa mamalia seperti rusa (Cervus timorensis). serta jenis Gambar IV-10. informasi dari pengelola kawasan. Habitat jenis-jenis satwa tersebut telah terdesak sebagai akibat aktivitas manusia. Hal ini mengakibatkan jumlah satwa yang Analisis Permasalahan IV . permintaan akan daging buruan meningkat pula.). Bahkan hasil buruan yang telah menjadi dendeng merupakan diproses Gambar IV-12. bahwa ada tiga pemangku kepentingan utama yang terlibat dalam perburuan satwa liar di kawasan CA. barang oleh-oleh (souvenir) yang biasa dicari tamu-tamu yang datang ke Bintuni. Kangguru kuskus dan pohon bertotol kuskus (Dendrolagus (Spilocuscus ursinus). Selain isu degradasi ekosistem. perburuan satwa dilakukan oleh masyarakat setempat untuk keperluan sendiri (subsisten). masyarakat lokal. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. faktor perburuan liar juga diduga memberi andil terhadap menurunnya populasi beberapa jenis satwa di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
diburu semakin meningkat pula.

BKSDA Papua II Sorong

Metode perburuan yang dilakukan adalah dengan

menggunakan lampu senter dan tombak, pemasangan jerat (perangkap), dan kadang-kadang menggunakan senjata (melibatkan oknum petugas keamanan). Menurunnya populasi satwa yang sering diburu oleh pihak tersebut dapat dilihat dari trend hasil buruan yang diperoleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan yang semakin turun. Hasil dari pertemuan kampung (village meeting) yang dilakukan di beberapa kampung seperti K. Tirasai, Anak Kasih, Mamuranu, Yensei, Yakati dan Kampung Naramasa tergambar bahwa kecenderungan (trend) hasil buruan dan tangkapan masyarakat menurun tajam dalam sepuluh tahun terakhir. Hasil buruan rusa dan babi misalnya, pada sepuluh tahun yang lalu masyarakat yang berburu hanya dengan menggunakan peralatan tradisional seperti lampu senter dan tombak dengan lokasi tempat berburu yang tidak terlalu jauh dari kampung

mereka, dapat menghasilkan sampai 10 ekor rusa atau babi hutan. Namun saat ini hanya bisa membawa pulang satu atau dua ekor dan tidak jarang pulang tanpa hasil buruan. Lokasi buruan pun semakin jauh dari kampung mereka. Kecenderungan yang sama juga terjadi pada hasil tangkapan satwa perairan seperti ikan, udang, dan siput. Kondisi fisiografis serta ketersediaan pakan yang cukup membuat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan habitat yang cocok bagi tempat berkembang biaknya buaya muara Crocodylus porosus. Hasil survei yang dilakukan oleh WWF-IUCN-PHPA pada tahun 1985 dan FAO-PHPA pada tahun 1988 ternyata populasi buaya di kawasan Teluk Bintuni menurun tajam. Penyebab utama menurunnya populasi buaya ini adalah karena perburuan terhadap buaya besar dan buaya kecil serta pengambilan telur yang kurang terkendali, yang merupakan salah satu mata pencaharian pokok penduduk setempat. Disamping isu penurunan populasi, keanekaragaman fauna di kawasan juga diduga mengalami pengurangan. Hal ini terlihat nyata pada jenis satwa burung yang banyak

menempati habitat mangrove dan hutan dataran rendah. Menurut hasil survei yang dilakukan Zuwendra dkk. (1991) sedikitnya teramati 95 jenis burung di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. Namun selama survei lapangan yang dilakukan hanya berhasil

tercatat kurang lebih 26 jenis burung. Dari jumlah tersebut, keberadaan beberapa beberapa jenis di antaranya diperoleh berdasarkan informasi dari penduduk yang bermukim di dalam kawasan. Kenyataan ini mengindikasikan bahwa keanekaragaman jenis, khususnya jenis avifauna di kawasan mengalami penurunan yang signifikan selama 10 tahun terakhir. Selain menurunnya kualitas habitat akibat degradasi ekosistem, hal lain yang memberi andil menurunnya keanekaragaman jenis satwa di kawasan adalah aktivitas pengusahaan hutan yang menggunakan alat-alat mekanik yang menimbulkan kebisingan, khususnya penggunaan kapal penarik (tug boat) yang memanfaatkan beberapa sungai-sungai dalam kawasan. Kebisingan ini diduga mengakibatkan jenis-jenis satwa tertentu, terutama burung, bermigrasi ke tempat yang lebih “aman”.

Analisis Permasalahan

IV - 20

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
3. Kurangnya Data Dasar.

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan lain yang dihadapi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni, khususnya aspek flora dan fauna yang menempati ekosistem kawasan, adalah minimnya data flora dan fauna yang tersedia. Pengelola hampir tidak memiliki data dasar tentang flora dan fauna sehingga

pengelolaan tidak pernah didasarkan kepada informasi data. Kurangnya data dasar flora dan fauna kawasan Cagar Alam terutama disebabkan karena studi atau kegiatan penelitian tentang keberadaan fauna di kawasan masih sangat jarang. Padahal ketersediaan data dasar yang memadai, terutama data kuantitatif suatu kawasan konservasi merupakan salah satu faktor penting dalam proses pengelolaan kawasan. Beberapa aspek flora kawasan yang

dirasa belum memadai adalah daftar (check list) jenis-jenis, potensi, serta penyebaran flora di kawasan. Berdasarkan informasi-informasi tersebut, dapat diketahui jenis-jenis flora yang

merupakan spesies kunci dan spesies yang dilindungi yang sangat menunjang dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Kondisi minimnya data dasar selain terjadi pada komponen flora kawasan juga terjadi pada komponen fauna. Penelusuran data sekunder yang dilakukan menunjukan bahwa informasi tentang keanekaragaman, dinamika populasi, dan penyebaran fauna di kawasan masih kurang memadai dalam mendukung kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ketersedian informasi tersebut sangat penting guna menjawab dua pertanyaan umum yang sering muncul dan di hadapi para pengelola kawasan konservasi seperti juga kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni, yaitu: 1. Komunitas spesies apa yang terdapat dalam kawasan konservasi, dimana dan berapa jumlahnya? 2. Bagaimana kecenderungan (trend) atau dinamika populasi dari waktu ke waktu?

B.2

Altenatif pemecahan masalah

Permasalahan biologi kawasan yang lebih banyak di pengaruhi oleh faktor eksternal apabila dibiarkan akan menjadi faktor pemnghambat dalam rangka mencapai tujuan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Oleh karena itu sesegera mungkin dicarikan alternatif pemecahan masalahnya (Tabel IV-7, Tabel IV-8, Tabel IV-9).

Analisis Permasalahan

IV - 21

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Tabel IV-7. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan mangrove dan nipah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi).

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh. Larangan pembukaan lahan.

Degradasi ekosistem

Pembukaan lahan (land clearing) untuk tempat penimbunan kayu (logyard) HPH dan Kopermas. Aktivitas pengangkutan kayu oleh HPH dan Kopermas. Pemukiman dan perumahan penduduk.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Dinas Pertania Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi) BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat Pemanfaat

Relokasi Logyard ke luar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bila memungkinkan. Penataan kawasan dalam bentuk pembagian blok ekosistem kedalam 2 blok, yaitu blok inti dan blok “pemanfaatan”. Minimalisasi kegiatan penebangan di daerah atas (upland) kawasan. Penindakan secara tegas dengan pemberlakuan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan tersebut. Monitoring dan kontrol secara kontinyu terhadap luasan logyard yang sudah ada sehingga tidak ada penambahan luasan areal logyard. Pemasangan tanda larangan menebang di kawasan.

Pemanfaatan pohon mangrove oleh penduduk lokal.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Erosi tepi sungai, abrasi pantai, dan angin.

Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

Perubahan masukan dari ekosistem air tawar. Penebangan liar (illegal logging). Perladangan (cultivated land)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Dinas Pertania Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Kelompok Masyarakat bermukim di dalam - sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan

Pembinaan dan penerangan tentang pentingnya kawasan.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Analisis Permasalahan

IV - 22

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah Mengikut sertakan masyarakat dalam perlindungan dan pengawasan kawasan. Pembinaan terhadap peladang di dalam kawasan melalui penerapan teknologi pemanfaatan lahan minimal dengan tetap memperhatikan kebutuhan. Anjuran penggunaan spesies lokal bukan introduksi.

Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Pendukung Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat pemanfaat. Dinas Pertanian Kab. Teluk Bintuni (Koordinasi). Kelompok Masyarakat pemanfaat. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC, 2005.

Tabel IV-8. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap keberadaan ekosistem hutan dataran rendah di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah 1. Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis asli yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh yang ada. 2. Penindakan secara tegas dengan pemberlakuan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan tersebut. 3. Monitoring dan kontrol secara kontinyu terhadap luasan logyard yang sudah ada sehingga tidak ada penambahan luasan areal logyard.

Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi).

Degradasi ekosistem

1. Pembukaan lahan untuk tempat penimbunan kayu (logyard) oleh HPH dan Kopermas.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni .

Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni .

Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi).

Analisis Permasalahan

IV - 23

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Permasalahan

Penyebab

Alternatif pemecahan masalah 4. Pemindahan logyard ke lokasi di luar kawasan.

Pendukung Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Polres Teluk Bintuni (Koordinasi) Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan 1. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi). 2. Kelompok Masyarakat pemanfaat. 1. Kelompok Masyarakat pemanfaat. 1. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan

2. Penebangan liar (illegal logging)

1. Pemasangan tanda larangan menebang di kawasan. 2. Penegakan hukum.

3. Penyadaran tentang pentingnya kawasan.

4. Mengikutsertakan masyarakat dalam perlindungan dan pengawasan kawasan. 3. Perladangan (cultivated land) 1. Pembinaan terhadap peladang di dalam kawasan melalui penerapan teknologi pemanfaatan lahan minimal dengan tetap memperhatikan kebutuhan. 2. Anjuran penggunaan spesies lokal bukan introduksi.

Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni

Dinas Pertanian Kab. Teluk Bintuni (Koordinasi).

4. Pemukiman penduduk

Pembinaan dan penerangan tentang pentingnya kawasan.

BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni

Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC, 2005.

Tabel IV-9. Permasalahan dan alternatif pemecahan terhadap flora dan fauna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
Stakeholders Penanggungjawab Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . Pendukung BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi). Polres Teluk Bintuni (Koordinasi)

Permasalahan Berkurangnya jenis-jenis flora asli

Penyebab Degradasi habitat

Alternatif pemecahan masalah 1. Rehabilitasi ekosistem dengan jenis-jenis yang sesuai dengan kualitas tempat tumbuh. 2. Penegakan hukum yang berlaku untuk menghentikan kegiatan yang mengakibatkan kemunduruan habitat.

Analisis Permasalahan

IV - 24

3.q Resort KSDA Bintuni . Pengaturan pemanfaatan sumberdaya di kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Permasalahan Penyebab Alternatif pemecahan masalah 3. 2. 4.q Resort KSDA Bintuni . 4. Penyuluhan dan penerangan tentang penting keutuhan ekosistem sebagai habitat satwa dan keberadaannya di kawasan. Pemberdayaan masyarakat misalnya penangkaran buaya dan keramba apung di sungai. Pembatasan perburuan satwa oleh masyarakat yang pemilik hak ulayat dan menetap di dalam dan sekitar kawasan hanya untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. BKSDA Papua II c. Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Analisis Permasalahan IV . Larangan perburuan terhadap satwa yang dilindungi dan masuk dalam kategori terancam.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c. Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c. (sistem “sasi”) BKSDA Papua II Sorong Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c. tempat perkawinan burung.q Resort KSDA Bintuni (Koordinasi). Larangan perburuan satwa liar bagi masyarakat yang bukan pemilik hak ulayat dan tidak tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . 2..q Resort KSDA Bintuni Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni BKSDA Papua II c.25 . Minimalisasi penggunaan peralatan mekanik dengan tingkat kebisingan yang tinggi di dalam kawasan CA.q Resort KSDA Bintuni Perubahan Keanekaragama n jenis satwa Penggunaan alat-alat mekanik oleh HPH dan Kopermas Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni. Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). BKSDA Papua II c. dan tempat bertelur buaya dan burung.q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan BKSDA Papua II c. BKSDA Papua II c. Pendukung Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). Relokasi Logyard ke luar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni bila memungkinkan. 3. Penggunaan Racun Larangan keras menggunakan bahan kimia dalam penangkapan hasil perikanan. Penurunan Populasi satwa Perburuan liar/ berlebihan 1. Pemetaan tempattempat penting bagi perkembangan satwa liar seperti tempat pemijahan biota perairan. Mitra Pesisir Teluk Bintuni BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni . 1.

q Resort KSDA Bintuni . terutama masyarakat pedesaan dapat dibagi kedalam dua tipe.1 Rendahnya Partisipasi Masyarakat Partisipasi merupakan suatu istilah yang diartikan sebagai upaya untuk menunjukan keikutsertaan individu/kelompok dalam suatu kegiatan. Dari pendapat Kontjaraningrat tersebut terdapat dua sumber munculnya partisipasi masyarakat.1. Alam. C. yaitu : (1) Partisipasi dalam aktivitas-aktivitas bersama dalam proyek pembangunan khusus. BKSDA Papua II Sorong Stakeholders Penanggungjawab Universitas Negeri Papua Manokwari Pendukung BKSDA Papua II c.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Permasalahan Kurangnya data dasar Penyebab Minimnya studi/penelitian dan monitoring flora dan fauna di kawasan Alternatif pemecahan masalah Penelitian dan monitoring yang intensif terhadap keberadaan flora dan fauna kawasan. Koentjaraningrat (1980) menyatakan bahwa partisipasi masyarakat. Aspek Sosial dan Ekonomi dan Budaya Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif apabila dalam proses perencanaannya memperhatikan semua aspek termasuk aspek sosial ekonomi dan budaya. Pemanfaatan Pengembangan Pendidikan dan Penelitian. yaitu harus adanya dorongan atau motivasi dari luar dalam hal ini bisa di inisiasi oleh BKSDA Papua II cq Resort Bintuni atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). C. Berdasarkan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar kawasan CATB. Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Mitra Pesisir Teluk Bintuni Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC. yaitu partisipasi masyarakat karena dorongan atau motivasi dari luar dan partisipasi karena keinginan dari diri manusia itu sendiri. Lembaga swadaya masyarakat yang sudah melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan di sekitar kawasan CATB diantaranya yaitu LSM Mitra Pesisir. yaitu dan pengembangan partisipasi masyarakat. dan (2) Partisipasi sebagai individu di luar aktivitas bersama. C.26 . 2005. Kegiatan yang sedang dilakukan sekarang adalah Analisis Permasalahan IV . partisipasi masyarakat yang perlu dilakukan.1 Permasalahan Beberapa hal yang perlu diperhatikan dan merupakan permasalahan dari aspek sosial ekonomi dan budaya dalam rangka rencana Pola pengelolaan kawasan Sumberdaya CATB. yang bila dikaitkan dengan pembangunan maka akan merupakan upaya peran serta dalam pembangunan.

ungkap beberapa penduduk lokal yang biasa melakukan aktivitas penangkapan hasil laut di beberapa kampung yang dikunjungi. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat yang bermata pencaharian sebagai nelayan misalnya. dan satwa burung. rusa. sekarang hanya dapat setengah sampe 1 ember”. yaitu untuk fauna adalah berbagai jenis ikan. Sumberdaya alam yang banyak dimanfaatkan antara lain. dimana dahulu hanya 15 sampai 30 menit dari perkampungan. serta beberapa kegiatan ilegal seperti perburuan dan pembukaan lahan untuk perladangan dan logyard di dalam kawasan. Hal ini terbukti dengan adanya tumpang tindih kawasan dengan lahan usaha II transmigrasi (Waraitama dan Banjar Ausoy) dengan luas total 360 hektar serta adanya pembangunan 54 rumah di Kampung Anak Kasih. hasil tangkapan dibandingkan dengan 3-5 tahun lalu sudah semakin menurun. babi hutan. yaitu nipah dan tanaman mangrove serta sagu (di sekitar Yensei dan Yakati). kepiting (karaka).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong menyusunan rencana strategis (Renstra) Pengelolaan Kawasan Pesisir Kabupaten Teluk Bintuni. LSM tersebut dapat dijadikan sebagai mitra dalam rangka mengembangkan partisipasi masyarakat. Sepuluh tahun lalu satwa rusa banyak terlihat di Analisis Permasalahan IV . Informasi dari masyarakat menunjukan bahwa berburu satwa liar seperti disebutkan di atas sudah semakin sulit. khususnya sumber daya alam fauna baik berupa hasil tangkapan maupun buruan menurun dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya. Hasil pengamatan di lapangan serta infromasi dari pengelola kawasan bahwa partisipasi masyarakat di dalam dan sekitar kawasan yang sangat diperlukan dalam rangka rencana pengelolaan kawasan CATB masih rendah. udang. Hasil pengamatan di lapangan dan wawancara dengan masyarakat menunjukan bahwa kecenderungan (trend) produksi. “Dulu kita kalo mencari bisa bawa pulang 2 sampai 3 ember. Hal ini diduga karena tingkat pengetahuan serta pemahaman tentang fungsi kawasan cagar alam sebagai penyanggah sistem kehidupan masih rendah. Hal yang sama juga terjadi pada kegiatan perburuan satwa liar seperti rusa. masyarakat lokal yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni telah berinteraksi dengan kawasan dalam bentuk memanfaatkan sumberdaya alam baik flora maupun fauna yang ada dalam kawasan. Pola Pemanfaatan Sumberdaya Alam Secara turun temurun. C.2. Sedangkan flora. sekarang sudah memerlukan waktu 1 jam lebih bahkan sampai ke sekitar Teluk Bintuni. buaya.babi serta berbagai jenis burung. Selain itu daerah tangkapan sudah semakin jauh. Kegiatan pemanfaatan tersebut telah terjadi sejak jaman dahulu dan menjadi warisan bagi generasi sekarang. Penyebabnya diduga karena kurangnya kegiatan sosialisasi tentang fungsi kawasan CATB.27 . Kemungkinan besar terjadi karena minimnya media dan sarana informasi mengenai keberadaan Cagar Alam dan pelestarian alam.1.

Hasil pengamatan di lapangan. dapat dilihat bahwa ketergantungan masyarakat terutama yang bermatapencaharian sebagai nelayan.5 dan Apoda dalam kegiatan penangkapan hasil laut. daun nipah serta sagu. terdapat indikasi penggunaan bahan kimia pembasmi hama (insektisida) jenis Dhesis 2. Penggunakan akar bore (tuba) dan indikasi penggunaan racun serangga (insektisida). Dampak dari penggunaan jenis racun ini terhadap populasi biota laut seperti ikan memang tidak langsung terlihat seketika.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong sekitar perkampungan. Salah satu faktor penyebab kecenderungan (trend) produksi ini adalah pola pemanfaatan yang tidak begitu memperhatikan aspek kelestarian hasil. sedangkan yang besar untuk tiang rumah. Menurut informasi beberapa nelayan dari beberapa kampung (desa) di sekitar CATB. seperti Kampung Mamuranu dan Tirasai.28 . dimana kualitas air semakin menurun (tercemar) karena penggunaan obat kimia tersebut yang dapat berakibat buruk terhadap kesinambungan hasil. terutama ikan. serta yang terpengaruh hanya ikan. akan tetapi kearah pegunungan di luar kawasan CATB. namun hal ini perlu pengkajian yang lebih dalam. Tetapi bila digunakan terus menerus. pengaruh dari akar bore tersebut cepat hilang (2-3 hari) di lokasi tersebut. akan terjadi akumulasi dan dapat mengancam perkembangbiakan biota perairan. khususnya fauna yang diduga menjadi faktor penyebab produksi tangkapan dan buruan sebagai berikut: 1. Padahal jenis bahan kimia tersebut dapat mengakibatkan ikan-ikan mati serta fauna atau flora lain pun ikut mati. Dengan melihat trend hasil tangkapan yang semakin menurun maka dapat diprediksikan jumlah populasi fauna yang ada di dalam kawasan CATB semakin menurun. terdapat beberapa perusahaan Analisis Permasalahan IV . berburu dan menokok sagu terhadap sumberdaya alam baik fauna maupun flora di dalam kawasan CATB cukup tinggi. pada umumnya hanya untuk dikonsumsi/penggunaan sendiri dengan jumlah yang cukup sedikit. Berdasarkan informasi dari pengelola kawasan dan beberapa nelayan lokal. berhasil diidentifikasi beberapa pola pemanfaatan sumber daya alam. Berdasarkan kondisi diatas. apalagi bila penggunaannya hanya dalam jumlah yang sedikit. Batang mangrove yang kecil biasanya diambil untuk kayu bakar. Hal tersebut yang saat ini menjadi permasalahan. dimana kegiatan perburuan tidak lagi di sekitar kampung atau hutan mangrove. Daun nipah diambil untuk membuat atap rumah. Penggunaan pukat harimau (trawl) oleh Kapal Penangkap udang. Kondisi lain yang menyebabkan semakin menurunnya jenis dan jumlah perikanan di dalam CATB yaitu mulai tahun 1988 sampai dengan Februari 2005. Kondisi saat ini sudah sangat jauh berbeda. 2. sedangkan sagu untuk konsumsi sehari-hari (di Yensei dan Yakati) . Penggunaan akar bore ini dilakukan pada saat “pele kali” yang membuat ikan-ikan tersebut mabuk sehingga mudah diambil. Sedangkan untuk masyarakat yang memanfaatkan batang mangrove.

maka penangkapan hasil perikanan yang tidak ramah lingkungan merupakan masalah yang sangat penting dan harus segera dicarikan penyelesaiannya agar kelestarian CATB dapat dijaga. perusahaan tersebut menangkap semua hasil perikanan yang ada. Seharusnya daerah penangkapan perusahaan tersebut berada di perairan Teluk Bintuni. kerang. Yensei dalam Rangka Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni kegiatan pengelolaan) serta penyuluhan yang intensif kepada masyarakat yang ada didalam dan sekitar kawasan CATB Analisis Permasalahan IV .29 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong penangkapan udang salah satunya. C. akan tetapi karena perusahaan tersebut hanya mengambil udang saja. dengan alasan perubahan manajemen. Dengan menggunakan jaring pukat harimau (trawler) dan kapal cukup besar. sehingga fungsinya sebagai tempat mencari makan (feeding ground). maka ikan (terutama yang kecil) yang tertangkap di buang begitu saja. Bokor dan Naramasa. Sebagai alternatif pemecahan masalah rendahnya partisipasi masyarakat dan adanya pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan CATB yang tidak ramah lingkungan dapat dilakukan berupa: 1. akan tetapi kenyataannya perusahaan tersebut menangkap udang masuk sampai ke sungai-sungai di dalam Cagar Alam Teluk Bintuni. maka sebagai langkah awal perlu dilakukan proses pembelajaran bagi semua pihak baik melalui sosialisasi. Peningkatan (melibatkan partisipasi masyarakat masyarakat dalam setiap Gambar IV-13. Korano Jaya dan K.2 Alternatif Pemecahan Masalah Agar masyarakat sekitar kawasan CATB serta pihak-pihak yang berkepentingan lain ikut terlibat secara aktif berpartisipasi dalam perencanaan. Saat ini perusahaan tersebut menghentikan operasi penangkapan untuk sementara waktu. yaitu Sungai Muturi. Bintuni Mina Raya yang berlokasi di Wimro. tentang pengadaan alam media serta informasi berbagai pelestarian aktivitas lainnya yang dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahamannya. udang. Diskusi Bersama Masyarakat K. dan bagi biota laut lainnya dapat lestari. pelaksanaan. Berdasarkan kondisi diatas. tempat memijah (spawning ground) dan tempat berkembang biak (nursery ground) bagi berbagai jenis ikan. serta pengawasan kawasan CATB. yaitu PT.

Pada setiap kampung dibangun pengetahuan dan pemahaman tentang cagar alam dan pelestarian alam lalu dibentuk semacam kelompok kerja (Pokja) yang anggotanya dipilih oleh mereka sendiri. Sebagai langkah awal dalam meningkatkan partisipasi masyarakat. maka selanjutnya dilakukan adanya pertemuan antar Pokja dari masing-masing kampung untuk dibangun pemahaman bersama tentang pelestarian alam serta merumuskan rencana kerja yang akan dilakukan. bersinggungan dan diluar kawasan. Setelah itu dilakukan pertemuan dengan aparat pemerintah untuk mensinkronkan dengan rencana pembangunan pemerintah.30 . maka Pokja disekitar kampung tersebut yang akan ikut aktif terlibat. tersebut diantaranya Beberapa isu strategis dari hasil diskusi disetiap kampung yaitu masalah sosialisasi kawasan. ikut dalam proses tata batas dan menyetujui batas). Diskusi tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga masyarakat yang ikut dalam diskusi tersebut terlibat aktif dan peneliti hanya berfungsi sebagai fasilitator. Adanya pengaturan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan CATB yang ramah lingkungan Masyarakat sekitar kawasan CATB. dalam penyusunan rencana pengelolaan Kawasan CATB telah dilakukan diskusi di 14 kampung yang berada didalam. pemanfaatan sumberdaya alam (flora dan fauna) serta harapan masyarakat untuk ikut terus terlibat dalam setiap kegiatan di Kawasan CATB. Hal ini dapat dijadikan dasar sebagai awal partisipasi mereka berdasarkan kampung (desa). Pada kegiatan tata batas. akan lebih efisien dan efektif apabila pengamanan dilakukan Analisis Permasalahan IV . Gambar IV-14. Demikian juga dalam pengamanan kawasan. terkelompokan dalam beberapa kampung. Sebagai contoh nyata partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan CATB. Proses tata batas yang dilakukan disekitar suatu kampung. Setelah masing-masing kampung (desa) memiliki Pokja. Kegiatan Lokakarya Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan. pelaksana melakukan penatabatasan melibatkan masyarakat sekitar kawasan (mengetahui.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2. Setiap kampung memiliki aparat serta pada umumnya berkelompok menurut asal/sukunya masingmasing. yaitu dalam hal tata batas (ulang) dan pengamanan kawasan.

Tidak boleh menggunakan obat (bahan kimia) dalam menangkap ikan. Kami boleh menangkap ikan dengan dengan menggunakan ”akar bore” dan jaring Kegiatan yang ”Tidak Boleh” dilakukan didalam kawasan CATB antara lain: 1. Kami dapat melakukan pemanfaatan kayu mangi-mangi untuk kayu bakar sendiri (bukan untuk dijual) dan kegiatan menangkap ikan ”pele kali” 4. Kami dapat berburu hewan atau satwa liar seperti buaya. rusa. Pada hari pertama lokakarya diadakan pertemuan khusus untuk masyarakat dan pada hari kedua dilakukan pertemuan dengan semua stakeholder. udang dll 2. Sebagai langkah awal untuk melakukan ”Pengaturan pemanfaatan sumberadaya alan didalam kawasan CATB”. Kami dapat melakukan penangkapan hasil-hasil perikanan seperti ikan. kesepakatan tersebut antara lain : Dalam pemanfaatan sumberdaya alam di dalam Kawasan CATB. bagaimana mengelola kawasan CATB secara bersama-sama. Kami dapat berkebun dan mendapat bantuan bimbingan teknis dari dinas terkait (Untuk Masyarakat di dalam kawasan) 3. Tidak boleh menebang kayu di hutan tanah kering atau gunung didalam cagar alam 4. Tidak boleh kapal besar atau kapal udang atau kapal pukat harimau untuk beroperasi di dalam kawasan cagar alam Butir-butir Analisis Permasalahan IV . Kegiatan yang ”Boleh” dilakukan antara lain adalah: 1.31 . siput atau bia dan hasil laut lainnya 2. karaka. dimana sebelumnya telah terbentuk kesepakatan mengenai keharusan menjaga wilayah kampung (desa) masingmasing terutama yang masuk kedalam kawasan CATB dari usaha-usaha yang dapat merusak kelestariannya. siapapun boleh mencari makan didalam kawasan tanpa memandang suku/marga/batas-batas wilayah adat asalkan mematuhi aturan kesepakatan yang sudah dibuat. udang. babi hutan dan burung 5. ditindaklanjuti dengan mengadakan Lokakarya Penyusunan Rencana Pengelolaan Kawasan CATB pada tanggal 1 dan 2 Juni 2005 untuk menyamakan persepsi semua stakeholder terhadap kawasan. Diskusi disetiap kampung tersebut. Tidak membolehkan kapal-kapal yang berlayar di sungai untuk membuang sampah atau limbah minyak atau bahan kimia ke sungai 5. pada pertemuan hari pertama dihasilkannya ”Kesepakatan Masyarakat” yang ditandatangani oleh perwakilan dari 14 kampung. Tidak boleh menebang mangi-mangi atau bakar dari cagar alam dalam skala besar untuk keperluan usaha kayu atau tambak atau lainnya 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong oleh seluruh masyarakat (Pokja) yang ada di sekitar kawasan CATB.

Kami akan menangkap langsung pelanggaran aturan yang sudah disepakati bersama 3. dan satwa liar serta mangrove secara terbatas untuk memenuhi kebutuhan hidupnya (ekonomi). Membuat peraturan daerah mengenai cagar alam 2. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat berkeinginan untuk tetap menjaga kelestaraian kawasan CATB. Pembentukan kelompok kerja disetiap kampung yang ada di dalam dan sekitar kawasan yang akan dilibatkan dalam pelaksanaan rencana kegiatan pengelolaan Masyarakat juga berharap pemerintah daerah turut mendukung kegiatan pengelolaan cagar alam. Melakukan pembinaan dan penyuluhan serta pendampingan yang terus menerus kepada masyarakat di dalam dan sekitar cagar alam. Resort Bintuni) karena hal tersebut merupakan aspirasi/harapan dan niat dari masyarakat sekitar kawasan CATB untuk ikut aktif dalam melestarikan kawasan tetapi tanpa melupakan kebutuhan hidup masyarakat seharihari. Masyarakat mengharapkan masih bisa memanfaatkan sumberdaya alam yang ada di dalam kawasan terutama hasil perikanan. Karena kita sadari bersama bahwa peranan masyarakat sekitar terhadap kelestarian kawasan CATb sangat besar. khusus untuk peningkatan ekonomi masyarakat 3. Tidak boleh ada eksplorasi bahan tambang di dalam kawasan cagar alam Teluk Bintuni Untuk mendukung pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. serta perlu ditanggapi secara bijak oleh pihak pengelolaa (BKSDA Papua II Sorong cq. Untuk itu masyarakat mengharapkan pemerintah melakukan hal-hal : 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. Akan tetapi hal tersebut perlu didukung oleh sosialisasi dan penyuluhan yang baik dengan tetap memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat.32 . menebang mangrove untuk industri atau tambak serta pelarangan kapal trawl/pukat harimau masuk kedalam kawasan CATB. Kami akan melaporkan pelanggaran kesepakatan yang terjadi kepada pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni 2. Pemanfaatan ini tetap diimbangi dengan adanya larangan menggunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. Kami meminta pemerintah daerah memberikan perhatian lebih besar pada pendidikan masyarakat. Butir-butir ”Kesepakatan Masyarakat” tersebut merupakan suatu upaya untuk ”mengatur pemanfaatan sumberdaya alam di dalam kawasan CATB”. Karena bukan hal yang tidak mungkin suatu saat nanti akan datang investor yang menawarkan sejumlah uang untuk membuka usaha (tambak dll) didalam kawasan dengan memanfaatkan ”masyarakat adat” yang mayoritas kurang mampu secara ekonomi. Apabila kondisi sosial ekonomi masyarakat Analisis Permasalahan IV . masyarakat akan mendukung berupa : 1.

q Resort KSDA Bintuni . maka diharapkan kawasan CATB dapat dijaga kelestariannya dan masyarakat sekitar bisa meningkatkan taraf kehidupannya secara sosial dan ekonomi. 2. Analisis Permasalahan IV . Tabel IV-10. BKSDA Papua II c.abon.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong tetap menjadi perhatian. Tumpang tindih antara Batas Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) dengan Penggunaan Lahan lain. sosialisasi serta adanya pengaturan pemanfaatan sumberdaya alam didalam kawasan CATB. Pemberdayaan masyarakat (Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis. Mitra Pesisir Teluk Bintuni Permasalahan Rendahnya Pengetahuan dan pemahaman tentang Cagar Alam Rendahnya Partisipasi Masyarakat Penangkapan Hasil Perikanan yang Tidak Ramah Lingkungan (Penggunakan akar bore (tuba) dan Indikasi penggunaan racun serangga) Alternatif pemecahan masalah Penyuluhan tentang Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni Melibatkan masyarakat dalam setiap kegiatan Penyuluhan dan penerangan yang intensif kepada masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.q Resort KSDA Bintuni .q Resort KSDA Bintuni Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Sumber: Analisis Data Survei Tim TNC.33 . Permasalahn dan alternatif pemecahan terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan budidaya pertanian) Rekonstruksi Batas Pal Tata BKSDA Papua II c.q Resort KSDA Bintuni.q Resort KSDA Bintuni Dinas Kelautan dan Perikanan Teluk Bintuni Pendukung Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan Kelompok Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan 1. kerajinan dari kulit buaya. Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi). Stakeholders Penanggungjawab BKSDA Papua II c. Dengan alternatif pemecahan masalah yaitu berupa peningkatan peran serta masyarakat. BKSDA Papua II c. 2005. Berikut adalah rangkuman permasalahan dan alternatif pemecahan masalah terhadap aspek Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan pada Tabel IV-10. maka masyarakat sekitar kawasan CATB diharapkan tidak akan mudah tergoda oleh para pengusaha yang hanya melihat keuntungan ekonomi saja.q Resort KSDA Bintuni BKSDA Papua II c. khususnya nelayan tentang bahaya dari penggunaan bahan kimia terhadap kesinambungan hasil tangkapan Penegakan hukum Penggunaan pukat harimau (Trawl) oleh Kapal Penangkap udang di dalam kawasan CATB Adanya Perkampungan di dalam Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB) BKSDA Papua II c. Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni (Koordinasi).

Beberapa ciri skenario ini antara lain: Status kawasan yang sudah jelas sebagai kawasan Cagar Alam melalui penetapan Menteri Kehutanan. Tidak ada lagi konflik kepentingan antar pemangku kepentingan dalam kawasan. D. Masyarakat sadar dan secara bersama-sama memelihara keutuhan kawasan. Dukungan dan partisipasi aktif dari semua pemangku kepentingan membuat pengelolaan kawasan bersifat aspiratif. Skenario Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Perencanaan Skenario adalah sebuah alat manajemen yang strategis yang dapat merangsang berbagai pemikiran mengenai kemungkinan–kemungkinan di masa depan. berkelanjutan dan berdayaguna. merangsang pemikiran dan perdebatan mendalam atas isu pokok penting.1 Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Demokratik Skenario ini merupakan kondisi ideal yang dapat diwujudkan dan merupakan skenario yang didambaan kita semua. Analisis Permasalahan IV .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni D. Kebijakan yang ideal dan didukung oleh kelembagaan baik pengelola kawasan maupun pemangku kepentingan lainnya yang bersifat demokratif akan membuat terciptanya program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang lestari. Skenario ini dapat pula menghasilkan suatu strategi yang kokoh. Pemberdayaan masyarakat asli/pemilik ulayat berjalan efektif. Pemanfaatan terbatas oleh masyarakat adat di bawah bimbingan pengelola. Berikut adalah beberapa skenario yang didasarkan pada kondisi kawasan yang mungkin dapat diterapkan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sampai tahun 2030. didukung Peraturan Daerah dan keberadaan kawasan Cagar Alam terlihat jelas dalam Tata Ruang Wilayah Kabupaten Teluk Bintuni. Skenario ini menggambarkan situasi dimana kebijakan Pemerintah Pusat (Departemen Kehutanan) dan Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni yang dapat mengakomodir semua kepentingan stakeholder yang ada dengan tetap memperhatikan fungsi dan peruntukan kawasan. Sasaran akhir dari skenario ini adalah penyadaran publik telah terbentuk secara mantap bahwa kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama.34 . Pembangunan fisik yang tidak sesuai fungsi dan peruntukan kawasan tidak dijumpai. Tidak ada klaim hak ulayat dari masyarakat adat terhadap keberadaan kawasan. yang mengfokuskan pemikiran ke masa depan bukan pada masa kini atau masa lampau. Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni telah dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah Pusat dalam hal ini BKSDA Papua II Sorong dan sudah disosialisasikan kepada semua pemangku kepentingan.

ada upaya bersama oleh kelompok pemerhati lingkungan untuk membentuk aliansi memperjuangkan dan mempertahankan kelestarian dan keutuhan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai kawasan ekosistem kebanggaan seluruh penduduk Kabupaten Teluk Bintuni. akademisi.3. Dalam skenario ini. Sekalipun demikian.35 . Analisis Permasalahan IV . Kelompok ini memperjuangkan terbentuknya kelembagaan pengelolaan yang demokratif dan partisipatif. Pemangku kepentingan (stakeholder) hanya melaksanakan kegiatan pengelolaan kawasan berdasarkan kebutuhan dan kepentingan masing-masing lembaga/institusinya saja. terkadang pesimis dalam memperjuangkan keutuhan dan kelestarian kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong manfaatnya dinikmati secara bersama oleh seluruh lapisan masyarakat serta keutuhan kawasan menjadi kebanggaan kita bersama pula. Kebijakan Akomodatif dan Kelembagaan Otoritik Skenario ini adalah kebijakan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni telah dikeluarkan atau diterbitkan oleh pemerintah dalam bentuk Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ataupun peraturan daerah tentang pengelolaan kawasan yang aspiratif. mereka tetap berjuang diantara berbagai tekanan kepentingan tersebut dengan keyakinan bahwa berjuang diatas jalur kebenaran demi kepentingan bersama. antara lain : Kebijakan pembangunan sarana fisik dalam kawasan yang tidak berhubungan dengan fungsi kawasan sebagai Cagar Alam masih diijinkan. Kelompok pemerhati lingkungan secara bersama-sama berjuang untuk mempertahankan kawasan. Kelompok pemerhati lingkungan ini berasal dari masyarakat pemilik ulayat. Namun demikian. setiap instansi hanya mementingkan pencapaian tujuan masing-masing tanpa memperdulikan tujuan bersama seperti yang tertuang dalam Rencana Pengelolaan Kawasan (RPK). walaupun pemanfaatan kawasan oleh pemerintah secara sepihak tetap ada.2. legislatif dan NGO lokal dan internasional yang masih peduli dan berjuang untuk mempertahankan keutuhan dan kelestarian kawasan. Kebijakan yang dikeluarkan hanya didasarkan pada pertimbangan ekonomi daerah dan untuk kepentingan kelompok tertentu semata dengan dalih kepentingan masyarakat secara umum. cepat atau lambat pasti akan terwujudkan diatas panji demokratisasi. namun para pemangku kepentingan dalam kawasan (stakeholders) tidak memperhatikan atau melaksanakannya. pemerhati lingkungan terkadang optimis. Ijin pembangunan sarana dan prasarana untuk kepentingan kelompok tertentu. Pada akhirnya. D. Beberapa ciri yang dapat menjelaskan situasi tersebut. Kebijakan Sentralistik dan Kelembagaan Demokratik Skenario ini menggambarkan kondisi dimana kebijakan pengelolaan kawasan yang dikeluarkan oleh pemerintah tidak mempertimbangkan aspek kelestarian dan keutuhan kawasan. D.

analisis keterkaitan unsur SWOT dan tahapan penentuan alternatif rencana pengelolaan. antara lain: BKSDA Papua II Sorong Kegiatan yang dilakukan dalam kawasan oleh beberapa instansi.4. kebijakan pemerintah yang tidak aspiratif dibarengi dengan kelembagaan pemangku kepentingan yang kaku dalam menerapkan kebijakan serta otoriter dalam menjalankan aturan tanpa mau menerima masukan dari berbagai stakeholder.Kelemahan. lahan akan semakin besar. Lemahnya penegakan hukum terhadap pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan dalam Cagar Alam Teluk Bintuni. Threat) untuk Rencana Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan pendekatan yang didasarkan pada Kekuatan . Analisis Kekuatan. Kelemahan. Skenario ini dicirikan oleh kebijakan yang diambil hanya memberi peluang kepada pemodal mampu tertentu untuk mengelola kawasan sesuai keinginan pemodal tanpa memperhatikan fungsi penetapan kawasan. Kurangnya kesadaran masyarakat tentangnya penting pelestarian kawaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Weakness. 4.36 . Tahapan analisis SWOT yang dilakukan meliputi : tahapan identifikasi dan penilaian faktor internal dan eksternal. Dalam analisis potensi dan kelemahan serta kekuatan dan peluang. Kebijakan Sentralistik & Kelembagaan Otokritik Skenario ini adalah situasi terburuk yang dapat terjadi. E. Analisis Permasalahan IV . fauna. Opportunities. issu-issu yang terjadi dapat diidentifikasi menjadi dasar kajian antara lain : 1. khususnya data kuantitatif biologi mengenai kawasan. Peluang. 2. dilaksanakan secara sektoral. Belum tersedianya informasi dasar yang memadai. Pemangku kawasan mendukungnya dengan dalih bahwa telah sesuai aturan tanpa memperhatikan dampak teknis yang akan terjadi yang akhirnya akan merubah fungsi kawasan. Peluang dan Ancaman kondisi kawasan CATB. Koordinasi instansi teknis dan instansi terkait lainnya tidak berjalan sesuai dengan yang direncanakan dalam rencana pengelolaan kawasan. D. walaupun lokasi dan sasaran kegiatannya sama pada satu wilayah. 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Beberapa ciri yang dapat menjelaskan situasi tersebut. Adanya perkampungan dan Logyard di dalam kawasan CATB sehingga pemanfaatan flora. dan Ancaman (KKPA) Pendekatan analisis SWOT (Strength.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

5. Tingginya tingkat permintaan terhadap satwa dari jenis-jenis tertentu seperti buaya, rusa, cenderawasih dan mambruk serta adanya indikasi masyarakat nelayan yang mengunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. 6. Rencana pengembangan Kota Bintuni yang berada dekat dengan batas sebelah Utara kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 7. Aktivitas pemegang HPH dan Kopermas, di daerah up land yang kurang memperhatikan aspek kelestarian serta pada beberapa logyard dan dalam pengangkutan kayu melalui sungai-sungai di dalam kawasan yang menggunakan peralatan mekanis seperti buldoser, logging truck, dan tug boat dapat menimbulkan kebisingan dan pencemaran yang menyebabkan terganggunya satwa-satwa tertentu. 8. Minimnya sarana dan prasarana serta kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. 9. Kepemilikan lahan yang merupakan hak ulayat masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.

E.1 Identifikasi dan penilaian faktor internal dan eksternal Faktor internal yaitu Kekuatan (Strength) dan Kelemahan (Weakness), sedangkan faktor eksternal yaitu Peluang (Opportunity) dan Ancaman (Threat). Analisis kekuatan yang

dimaksud adalah potensi atau keunggulan yang dimiliki kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam aspek pengelolaan dan kebijaksanaan, biologi kawasan serta sosial ekonomi dan budaya yang sesuai dengan tujuan pengelolaan kawasan sebagai Cagar Alam. Kelemahan yang dimaksud, yaitu kondisi aspek pengelolaan dan kebijaksanaan, biologi kawasan serta sosial ekonomi dan budaya yang dipandang dapat menghambat program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Peluang yang dimaksud adalah kondisi

eksternal yang dapat mendatangkan keuntungan apabila dapat memanfaatkannya. Berbagai peluang yang tersedia dapat dikembangkan secara optimal berdasarkan potensi, hambatan dan rencana program pengelolaan sebagai kawasan Cagar Alam. Ancaman adalah keadaan eksternal yang apabila dibiarkan akan menjadi faktor penghambat terhadap keberhasilan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Ancaman ini perlu diwaspadai dan harus diatasi karena dapat memberikan pengaruh terhadap bisa atau tidaknya faktor-faktor peluang untuk dimanfaatkan. Hasil analisis SWOT Aspek Pengelolaan dan Kebijaksanaan, Biologi Kawasan serta Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah sebagai berikut : Kekuatan (Strength) S1. SK MENHUT NO: 891/KPTS-II/1999 tentang penunjukan Kawasan Hutan Propinsi dan perairan Papua, termasuk Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Analisis Permasalahan

IV - 37

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
S2.

BKSDA Papua II Sorong

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Konservasi sumber daya alam dan ekosistemnya.

S3.

Ekosistem mangrove di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan komunitas alami dan pertumbuhannya masih terlihat cukup baik, sehingga fungsi ekologinya sebagai tempat mencari makan (feeding ground), daerah asuhan (nursery ground), dan tempat pemijahan (spawning ground) masih bekerja dengan.

S4.

Keanekaragaman flora yang cukup tinggi mulai dari tumbuhan tingkat rendah seperti fungi sampai dengan tumbuhan tingkat tinggi, baik spesies tumbuhan yang memiliki nilai ekonomis maupun spesies kunci (key species) dengan keendemikan jenis yang cukup tinggi.

S5

Beberapa jenis fauna yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan jenis endemik dan sudah dilindungi undang-undang nasional maupun internasional, bahkan beberapa jenis burung tertentu sudah masuk dalam kategori hampir terancam (near threatend).

S6.

Adanya kearifan tradisional dalam pengelolaan sumberdaya alam.

Kelemahan (Weakness) W1. Lemahnya koordinasi institusi pengelola dengan Pemerintah Daerah. W2. Minimnya sarana dan prasarana serta kapasitas dan jumlah sumberdaya pengelola. W3. Belum tersedianya informasi dasar yang memadai, khususnya data kuantitatif biologi mengenai kawasan. W4. Masih rendahnya pemahaman masyarakat dan aparat pelestarian alam W5. Lemahnya penegakan hukum bagi pihak-pihak yang melakukan pengrusakan di dalam kawasan, terutama bagi para nelayan yang menggunakan obat kimia saat mencari ikan. Peluang (Opportunity) O1. Dukungan bantuan dari donor baik Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Nasional dan Internasional, yang peduli terhadap kelestarian ekosistem Cagar Alam Teluk Bintuni. O2. O3. UU No. 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus. Kawasan CATB merupakan tempat mencari kehidupan bagi sebagian masyarakat di sekitar kawasan, sehingga apabila diberi penyuluhan tentang fungsi dan manfaat dari kelestariannya maka partisipasi masyarakat akan besar. O4. Belum tersusunnya Rencana Umum Tata Ruang Kabupaten Teluk Bintuni, sehingga dapat mendorong dalam rencana penyusunan RUTR Kabupaten untuk menjadikan kawasan CATB sebagai “Paru-paru” Kabupaten Teluk Bintuni. Analisis Permasalahan IV - 38 tentang cagar alam dan

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
O5.

BKSDA Papua II Sorong

Adanya beberapa LSM (seperti Mitra Pesisir) yang telah melakukan kegiatan pengelolaan lingkungan di sekitar pesisir Teluk Bintuni, untuk dijadikan sebagai mitra dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

O6.

Kawasan CATB yang berfungsi sebagai buffer bagi Teluk Bintuni, sehingga sangat penting untuk menjaga kelestariannya

Ancaman (Threat) T1. Kepemilikan lahan yang merupakan hak ulayat masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. T2. Tingginya tingkat permintaan terhadap satwa dari jenis-jenis tertentu seperti buaya, rusa, cenderawasih dan mambruk serta adanya indikasi masyarakat nelayan yang mengunakan bahan kimia dalam menangkap ikan. T3. Aktivitas pemegang HPH dan Kopermas, di daerah up land yang kurang memperhatikan aspek kelestarian serta pada beberapa logyard dan dalam

pengangkutan kayu melalui sungai-sungai di dalam kawasan yang menggunakan peralatan mekanis seperti buldoser, logging truck, dan tug boat dapat menimbulkan kebisingan dan pencemaran yang menyebabkan terganggunya satwa-satwa tertentu. T4. Adanya perkampungan dan Logyard di dalam kawasan CATB sehingga pemanfaatan flora, fauna, lahan akan semakin besar. T5. Rencana pengembangan Kota Bintuni yang berada dekat dengan Batas sebelah Utara kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

E.2 Analisis Keterkaitan antar Unsur SWOT Dari hasil analisis diatas, disusun rencana pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (CATB). Rencana pengelolaan dihasilkan dari penggunaan unsur-unsur kekuatan Aspek Pengelolaan dan Kebijaksanaan, Biologi Kawasan serta Sosial Ekonomi dan Budaya kawasan CATB untuk meraih peluang yang ada (SO), penggunaan kekuatan yang ada untuk menghadapi ancaman yang datang (ST), pengurangan kelemahan dari kondisi yang ada dengan memanfaatkan peluang yang ada (WO) dan pengurangan kelemahan yang ada untuk menghadapi ancaman yang akan datang (WT).

Analisis Permasalahan

IV - 39

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Tabel IV-11. Matriks Hasil Analisis antar unsur SWOT

BKSDA Papua II Sorong

Peluang (O) Strategi 1. Inventarisasi dan pemetaan sebaran flora, fauna dan ekosistem (S3,S4,S5,O1) 1. 2.

Ancaman (T) Strategi Rekonstruksi Tata Batas (S1, T4) Pemanfaatan terbatas sumberdaya alam dari Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni (S2, S3, T4) Pemantauan rutin (S3, S4, S5, T2) Monitoring dampak lingkungan (S4, S5, T3, T4, T5) Perlindungan jenis flora/fauna beserta habitatnya (S4, S5, T3) Pencegahan bahaya erosi, sedimentasi dan Rehabilitasi kawasan CATB (S3, S5, S6,T3, T4) Penyuluhan terhadap pentingnya eksistensi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai penyanggah sistem kehidupan (S4,O6,T1)

3. 4. Kekuatan (S) 5. 6.

7.

Kelemahan (W)

Strategi 1. Sistem informasi dan Database (W3, O1) 2. Sarana prasarana pengelolaan (W2, O1, O2) 3. Sarana prasarana pendidikan (W2, W4, O1, O2, O5). 4. Sarana dan prasarana penelitian (W2, W4, O1, O2, O5).

Strategi 1. Penegakan hukum (W5, T2) 2. Patroli gabungan dan koordinasi pengamanan (W1,W5, T2, T4, T5)

F.

Perumusan Strategi Pengelolaan

Dari analisis SWOT dari data kajian pada kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni maka isu strategis yang terkait dengan pengelolaan CATB yang berhasil diidentifikasi menjadi dasar bagi penyusunan rencana aksi. Deskripsi rencana aksi ini menjadi indikator bagi penilaian keberhasilan dan dasar bagi monitoring dan evaluasi.

STRATEGI 1. Sasaran:

REKONSTRUKSI TATA BATAS KAWASAN

Batas kawasan menjadi jelas dan diketahui semua pihak terkait Kegiatan: Pembuatan jalur rintisan di sepanjang batas kawasan pada hutan dataran rendah Penggantian pal batas yang rusak Pemasangan plat seng tanda batas

Analisis Permasalahan

IV - 40

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Indikator:

BKSDA Papua II Sorong

Tersedianya jalur rintisan sepanjang batas kawasan pada hutan dataran rendah Terpasangnya pal batas kawasan baru yang jelas Terpasangnya plat seng sebagai tanda batas kawasan pada pohon-pohon di sepanjang batas kawasan.

STRATEGI 2. Sasaran:

PENEGAKAN HUKUM

Terciptanya suatu pemahaman yang menyeluruh terhadap hal-hal yang tidak boleh dilakukan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Kegiatan: Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari sda di Cagar Alam Teluk Bintuni untuk masyarakat adat Sosialisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan illegal di kawasan kepada semua stakeholder Indikator: Tersedianya aturan khusus tentang larangan dan sangsi terhadap pelanggaran yang terjadi di dalam kawasan Terciptanya pemahaman yang utuh oleh masyarakat adat terhadap pemanfaatan terbatas oleh masyarakat adat Meningkatnya pemahaman seluruh pemangku kepentingan terhadap hal-hal yang tidak diperkenankan dilakukan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

STRATEGI 3. Sasaran:

PEMANTAUAN/PATROLI RUTIN

Terjaganya keamanan kawasan dari kegiatan-kegiatan yang dapat menurunkan kualitas kawasan. Kegiatan: Patroli terjadwal oleh internal pengelola. Analisis Permasalahan IV - 41

FAUNA DAN EKOSISTEM KAWASAN Sasaran: Data Dasar FLORA.42 . Sasaran: PATROLI GABUNGAN DAN KOORDINASI PENGAMANAN Terciptanya suatu pemahaman bersama antar stakeholder terhadap tanggung jawab pengamanan dan pengawasan kawasan Kegiatan: Koordinasi dengan instansi terkait dalam merencanakan pengamanan terpadu Patroli terpadu yang melibatkan beberapa instansi terkait Indikator: Terciptanya kerjasama dan koordinasi antara pengelola dan instansi terkait dalam pengamanan kawasan Menurunnya tingkat gangguan keamanan kawasan STRATEGI 5. STRATEGI 4. Tersedianya pedoman pemantauan sebagai acuan bagi pengelola dalam melakukan kegiatan pemantauan. FAUNA. Pembuatan pedoman pemantauan bagi pengelola kawasan Indikator: Meningkatnya keamanan kawasan dari kegiatan-kegiatan ilegal. Kegiatan: Identifikasi tipe ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di Cagar Alam Teluk Bintuni Analisis Permasalahan IV . INVENTARISASI DAN PEMETAAN KEBERADAAN FLORA.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pelatihan Jagawana/Polisi Hutan untuk meningkatkan kemampuan pengawasan Penyuluhan dan penerangan tentang pentingnya keberadaan kawasan. Meningkatnya kemampuan pengelola dalam kegiatan pengamanan kawasan Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap keberadaan dan fungsi kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan. DAN EKOSISTEM yang memadai dalam menunjang pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Sasaran: PERLINDUNGAN JENIS FLORA/FAUNA BESERTA HABITATNYA Terjaminnya keberadaan flora dan fauna dan keutuhan habitanya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Penelitian tentang keberadaan flora/fauna langka. identifikasi. atau leaflet tentang jenisjenis flora/fauna langka dan dilindungi serta larangan perburuan/pemanfaatannya. bertelur. STRATEGI 6. dan pemijahan di kawasan Pembuatan petak ukur permanen Pengumpulan hasil-hasil penelitian tentang flora. dilindungi. dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan. fauna. dan atau terancam di Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Inventarisasi dan pemetaan status flora dan fauna kawasan Penelitian dinamika ekosistem dan populasi flora dan fauna kawasan BKSDA Papua II Sorong Inventarisasi.43 . Kegiatan: Kerjasama dengan institusi terkait dalam upaya perlindungan jenis flora dan fauna di kawasan. Pengamatan dan perkembangan flora/fauna di petak ukur permanen. dan ekosistem yang pernah dilakukan di CATB Indikator: Tersedianya data tipe ekosistem dan penutupan lahan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni Tersedianya informasi dan peta kondisi flora dan fauna kawasan. Pemasangan tanda larangan dan pembuatan poster. Tersedianya informasi perubahan ekosistem dan populasi flora dan fauna kawasan Adanya prasarana untuk kepentingan penelitian dan pendidikan Terdokumentasinya hasil-hasil penelitian dan kajian tentang ekosistem dan flora fauna kawasan secara menyeluruh. Indikator: Terjalinnya kerjasama yang baik dengan institusi terkait yang menunjang kegiatan perlindungan dan pengembangan Analisis Permasalahan IV . brosur.

dilindungi. Tersedianya informasi yang memadai tentang keberadaan flora/fauna langka. dan atau terancam punah di Cagar Alam Teluk Bintuni. STRATEGI 7. Kegiatan: Penyuluhan dan penerangan yang intensif tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyanggah kehidupan Analisis Permasalahan IV . Indikator: Menurunnya tingkat kerusakan ekosistem kawasan akibat aktivitas manusia. Kegiatan:: Pencegahan kerusakan ekosistem sebagai akibat aktivitas manusia Rehabilitasi kawasan yang telah mengalami kerusakan di Cagar Alam Teluk Bintuni. STRATEGI 8. Tersedianya informasi tentang perkembangan flora/fauna tertentu untuk kepentingan penelitian dan pengembangan.44 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Meningkat pemahaman dan pengetahuan masyarakat tentang keberadaan flora/fauna langka. dilindungi. PENCEGAHAN BAHAYA EROSI DAN SEDIMENTASI REHABILITASI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. Meningkatnya kualitas ekosistem kawasan Tersedianya informasi yang memadai tentang laju kerusakan ekosistem kawasan dalam menunjang kegiatan pengelolaan. DAN Sasaran: Pulih dan terjaganya keutuhan ekosistem kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dan atau terancam punah di Cagar Alam Teluk Bintuni. PENYULUHAN TERHADAP PENTINGNYA EKSISTENSI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI SEBAGAI PENYANGGAH SISTEM KEHIDUPAN Sasaran: Terciptanya Kesadaran dan Penghargaan masyarakat terhadap keberadaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Penelitian dan kajian yang intensif tentang tingkat kerusakan ekosistem kawasan.

Indikator: Tersedianya panduan pemanfaatan bagi pengelola kawasan Meningkatnya pemahaman masyarakat tentang pemanfaatan sumberdaya alam yang lestari.45 . teknik perbanyakan tanaman berguna. Analisis Permasalahan IV . STRATEGI 9. dan atau brosur tentang fungsi kawasan bagi kehidupan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan Indikator: Meningkatnya kesadaran dan penghargaan masyarakat terhadap pentingnya keberadaan kawasan CATB Meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. leaflet. serta inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat. PEMANFAATAN TRADISIONAL SDA DI TELUK BINTUNI KAWASAN CAGAR ALAM Sasaran: Meningkatnya Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan CATB Kegiatan: Pembuatan panduan pemanfaatan sda di kawasan bagi pengelola Pembuatan poster tentang pemanfaatan sda secara lestari Penelitian tentang pola perkembangbiakan satwa. Pembuatan sistem data terhadap hasil-hasil penelitian/kajian yang berhubungan pemanfaatan terbatas.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pembuatan poster. siklus hidup biota perairan. Kerjasama dengan instansi terkait dalam kegiatan penyuluhan dan pendampingan Penerapan sistem penangkapan hasil perikanan yang ramah lingkungan Penerapan sistem pertanian yang memperhatikan aspek kelestarian dan keberlanjutan Pemanfaatan satwa liar tertentu di bawah bimbingan pengelola bekerjasama dengan instansi terkait.

serta jenis-jenis komoditi pertanian setempat yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat setempat.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tersedianya informasi menyangkut pola perkembangbiakan satwa. pendidikan dan pengembangan kawasan Analisis Permasalahan IV . STRATEGI 10. Berkurangnya tekanan terhadap keberadaan ekosistem kawasan sebagai akibat perluasan lahan pertanian Terciptanya pola pemanfaatan satwa liar yang memperhatikan keseimbangan alam. Terjalinnya kerjasama yang baik dengan instansi terkait yang menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Berkurang bahkan tidak ada lagi aktivitas penangkapan ikan menggunakan cara-cara yang tidak ramah lingkungan. Tersedianya koleksi media informasi yang memadai dalam menunjang kegiatan penelitian. Tersedianya sistem data dari hasil-hasil kajian yang berhubungan dengan kegiatan pemanfaatan terbatas oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan.46 . cara perbanyakan tanaman berguna. siklus hidup biota perairan. Sasaran: SISTEM INFORMASI DAN DATA BASE Tersedianya sistem informasi data yang memadai untuk semua aspek kegiatan pengelolaan dalam rangka menunjang perencanaan dan pengembangan kawasan Kegiatan: Koordinasi dengan instansi terkait dalam mengembangkan SIG Pengadaan perangkat keras dan lunak untuk menunjang sistem informasi dan basis data Peningkatan kemampuan pengelola dalam penguasaan teknik SIG dan data base Mengumpulkan dan memelihara koleksi media-media informasi Indikator: Terciptanya kerjasama dalam mengembangkan SIG dan basis data kawasan Tersedianya perangkat penunjang kegiatan SIG dan data base Tersedianya tenaga pengelola dengan kemampuan yang memadai di bidang SIG dan basis data.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni STRATEGI 11. BKSDA Papua II Sorong SARANA PRASARANA PENUNJANG KEGIATAN PENGELOLAAN KAWASAN Sasaran: Tersedianya sarana prasarana yang memadai dalam rangka menunjang kegiatan pengelolaan. Indikator: Tersedia dan terpeliharanya sarana prasarana pengelolaan seperti bangunan kantor dan pondok kerja pengelola yang memadai selain bangunan kantor yang sudah ada Tersedianya prasarana penerangan yang memadai untuk kepentingan pendidikan Tersedia dan terpeliharanya sarana berupa pusat komunikasi dan informasi kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Tersedia dan terpeliharanya sarana penelitian di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana penelitian seperti pondok peneliti. Pengadaan dan pemeliharaan Pusat komunikasi dan informasi (PUSKOMIN) kawasan. pendidikan.47 . dan penelitian. Analisis Permasalahan IV . Kegiatan: Pengadaan dan pemeliharaan sarana prasarana pengelolaan seperti kantor/pondok kerja Pembuatan brosur/leaflet/buku/ serta media lain tentang keberadaan dan fungsi Cagar Alam Teluk Bintuni.

.

Peraturan Pemerintah Nomor 20 tentang Rencana Kerja Pemerintah. +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ Rencana Kegiatan V-1 . Implementasi Kegaiatan Lima Thn Lima Thn Lima Thn II III IV 2011-2015 2016-2020 2021-2025 +++++ +++++ +++++ No 1. tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Perlindungan dan Pengamanan Kawasan. 3. Pilihan strategi ini diterjemahkan menjadi rencana kegiatan yang difokuskan kepada beberapa aspek yang mengacu pada Rencana Stratejik (Renstra) Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Tahun 2005 – 2009 merupakan tindak lanjut dari Undang-undang Nomor : 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Nasional. lima-tahunan. Aspek Kegiatan Pemantapan Kawasan Peningkatan efektifitas Pengelolaan Kawasan Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Lima Thn I 2006-2010 +++++ +++++ Lima Thn V 2026-2030 +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ 4. Pendukung/Kelembagaan. 2. kekuatan. dan aspek Pemanfaatan. Peraturan Pemerintah Nomor 21 tentang Rencana Kerja dan Anggaran Kementerian Negara/Lembaga dan Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999. kelemahan dan hambatan yang ada menunjukkan adanya pilihan strategi yang harus dilakukan. Tabel V-1. UMUM Rencana kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni didasarkan kepada hasil analisis dari permasalahan dan kondisi yang ada. Disamping aspek-aspek pengelolaan tersebut. dan duapuluh lima-tahunan. Prioritas Rencana Kegiatan Pengelolaan Kawasan Selama Duapuluh Lima Tahun (2006-2030) Cagar Alam Teluk Bintuni. Peningkatan efektivitas Pengelolaan Kawasan. Beberapa aspek pengelolaan yang menjadi fokus dalam rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah aspek Pemantapan Kawasan. Berikut adalah skala prioritas aspek-aspek kegiatan dalam Rencana Kerja Pengelolaan Kawasan selama duapuluh lima tahun seperti disajikan pada Tabel V-1. aspek tersebut yang menjadi fokus dalam rencana kegiatan yang diusulkan dilakukan berdasarkan skala prioritas yang dituangkan dalam bentuk Rencana kerja tahunan. di dalam Rencana kegiatan pengelolaan kawasan ini. Dalam implementasi kegiatan Rencana Pengelolaan Kawasan. RENCANA KEGIATAN A. Hasil analisis SWOT dari peluang. Pengembangan Konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong V. secara khusus juga memuat usulan kegiatan Pembangunan Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan.

yaitu pemasangan kembali pal batas secara menyeluruh. Kepastian Hukum Kawasan. 7. Pemerintah Kecamatan dengan masyarakat. B. 1. Kepastian hukum yang dimaksud di sini adalah kegiatan yang memberikan kepastian hukum yang jelas atas kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni yang saat ini masih berstatus Penunjukan bukan Penetapan oleh Menteri Kehutanan.1 RENCANA KEGIATAN PENGELOLAAN Pemantapan Kawasan Dalam mengelola suatu kawasan konservasi yang lebih baik dan mantap. Berikut adalah beberapa Rencana kegiatan yang diusulkan dalam rangka pemantapan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Implementasi Kegaiatan Lima Thn Lima Thn Lima Thn II III IV 2011-2015 2016-2020 2021-2025 +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ +++++ BKSDA Papua II Sorong No 5. Rekonstruksi pal batas bukan melakukan tata batas ulang tetapi berupa pemasangan kembali pal batas yang pernah ada sesuai koordinat yang ada secara menyeluruh mulai dari titik nol. Rekostruksi pal batas diperlukan untuk menetapkan kawasan dalam status hukum yang jelas. 6. Untuk itu proses kepastian hukum dengan menetapkan status hukum kawasan menjadi prioritas utama. Kegiatan ini akan dilaksanakan bersama Bappeda. Rekonstruksi pal batas. Total panjang batas dengan daratan diperkirakan 125 km dari total batas 250 km. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah. Lima Thn I 2006-2010 +++++ +++++ +++++ Lima Thn V 2026-2030 +++++ +++++ B. Kegiatan ini harus dilakukan secara koordinatif serta partisipatif dengan pihak-pihak lain yang berkompeten dan terkait. khususnya dalam kegiatan rekonstruksi pal batas Kawasan. 3. Rencana Kegiatan V-2 . Kerjasama. Pelaksanaan pemasangan kembali pal batas kawasan akan dilakukan secara bertahap. Untuk memastikan posisi awal jalur batas digunakan GPS atau mengikuti tata batas awal. status hukum dari kawasan tersebut merupakan suatu hal yang penting. Kerjasama yang dimaksud disini adalah pelibatan stakeholder di luar pengelola kawasan dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi kegiatan pengelolaan. Aspek Kegiatan Pendukung/Kelembaga an Pemanfaatan Sarana Prasarana Pendukung Kegiatan Pengelolaan. Proses penetapan kawasan Cagar Alam menjadi definitif juga harus ditindak lanjuti dalam peraturan daerah yang mensahkan keberadaan kawasan di dalam tata ruang propinsi maupun kabupaten. 2. 4.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Adapun rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk menunjang kegiatan pemantapan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan pada Tabel V-2. Kerjasama Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas B. sehingga batas tersebut dapat dengan mudah diidentifikasi. Beberapa kegiatan pengelolaan yang diusulkan dalam menunjang aspek ini adalah sebagai berikut: 1. keberadaan kawasan. Kegiatan ini bertujuan untuk menata kawasan ke dalam blok-blok. Menteri tentang Penetapan Kawasan 1. Rekonstruksi pal batas 4. Bupati Tentang Keberadaan Cagar Alam 2. dan papan pengumuman yang berisi aturan dan larangan. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan. Pemasangan Pal batas kawasan No. 2. Pemeliharaan batas Kawasan. 2.2 Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan efektifitas pengelolaan kawasan Cagar alam Teluk Bintuni sesuai fungsi kawasan. 4. Pengadaan/pembuatan pal batas 2. Rencana Kegiatan V-3 . Kepastian Hukum Kawasan Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah 3. Pembuatan Peraturan Daerah (PERDA) tentang Cagar Alam Teluk Bintuni. Pembuatan Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan. Pembuatan SK. Arahan Penataan dan Penetapan Blok. 3. Jalur dan pal batas memerlukan pemeliharaan dan pengamanan secara teratur oleh petugas. 5. Tapal batas di lapangan sedapat mungkin dapat terlihat jelas dan mudah diidentifikasi misalnya batas alam dan tanda-tanda buatan manusia. Papan petunjuk yang dimaksud disini adalah papan petunjuk batas kawasan. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang berisi tentang petunjuk teknis kegiatan pengelolaan kawasan. Tabel V-2. Pemasangan Papan Petunjuk Kawasan. 1. Pemeliharaan batas ini dilakukan mulai tahun 1 sampai tahun ke 5 dan selanjutnya dilakukan pemeliharaan rutin setiap 2 tahun. 1. Kegiatan Pokok Komponen kegiatan Pembuatan SK. Melakukan penelitian yang berkaitan dengan kepentingan penataan Kawasan. Kajian/Penelitian Potensi Fungsi Kawasan.

Hasil studi ini sangat berguna sebagai salah satu masukan dalam pengambilan kebijakan pengembangan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. komunikasi. Keterlibatan masyarakat sangat penting dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Penelitian. Hasil penelitian yang diuraikan di atas dimanfaatkan untuk pembaharuan informasi tematis kawasan. serta konsumerisme berkembang di masyarakat setempat sehingga dapat menyebabkan eksploitasi sumberdaya alam berlebihan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. keamanan dan stabilitas wilayah. Monitoring dampak lingkungan ini pelaksanaannya dapat dilakukan melalui kerjasama dengan pihak lain seperti perguruan tinggi atau LSM. Sedangkan dampak negatifnya berupa pengaruh budaya luar terhadap pelestarian budaya kawasan. SIG juga bermanfaat untuk produksi bahan media informasi dan komunikasi. 7. Dampak di luar kawasan dapat berupa dampak positif dalam bidang ekonomi seperti perbaikan sarana dan prasarana transportasi. Pembinaan Masyarakat. sebanyak mungkin penelitian akan dilakukan oleh pihak lain. Kegiatan bertujuan untuk menyebarluaskan informasi dan meningkatkan pengetahuan/kesadaran masyarakat tentang keberadaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni serta fungsinya sebagai sistem penyangga kehidupan. Untuk memonitor kemungkinan yang ditimbulkan oleh adanya pengembangan wilayah maka pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Karena keterbatasan tenaga lapangan di Cagar Alam Teluk Bintuni. klasifikasi habitat dan inventarisasi. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dapat melakukan atau memfasilitasi penelitian mengenai klasifikasi ekosistem. maka direncanakan ada kegiatan Monitoring Dampak Lingkungan setiap tahun sekali. terutama peneliti dari perguruan tinggi baik dalam maupun luar negeri. 9. 10. 8. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dapat membantu dan memfasilitasi penelitian tersebut dengan Rencana Kegiatan V-4 . khusus yang bermukim di blok penyangga (Buffer block). Sistern Informasi Geografis (Geographical Information System) adalah alat analisis yang sangat ampuh untuk perencanaan pengembangan Kawasan Konservasi. Pengadaan Poster/Leaflet Kegiatan Pengelolaan Kawasan. Untuk pengembangan SIG diperlukan koordinasi dengan instansi-instansi yang lain terkait. Pelibatan Masyarakat. Data tersebut merupakan baseline data yang dibutuhkan untuk evaluasi pengembangan ekosistem Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Sistem Informasi Geografis dan Database. sehingga dirasa perlu untuk melibatkan mereka dengan pembentukan suatu kelompok kerja yang dapat membantu pengelola dalam memberikan masukan ataupun pemecahan masalah yang berkaitan dengan pemanfaatan kawasan. dan adanya peluang usaha baru. Kegiatan ini ditujukan untuk membina masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar Kawasan.

Memperbaiki pal batas yang sudah rusak atau hilang. 2) media informasi termasuk brosur. dan jurnal. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan. No. pola penggunaan lahan. poster. 2. peta navigasi. plat seng dan tanda cat pada pohon di jalur batas Kawasan. Pembuatan jalur rintisan dan jalan setapak pada batas kawasan dengan lebar 2 meter. Kajian potensi fungsi kawasan 1. Identifikasi dan Pemetaan tipe ekosistem yang ada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. 4. slide. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan penelitian dan pengembangan kawasan. majalah. 3) koleksi foto. gambar tempel. 4) peta (termasuk peta rupa bumi. 3. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan dalam meningkatkan Efektivitas Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan disajikan pada Tabel V-3. Untuk kepentingan tersebut Cagar Alam Teluk Bintuni akan mengumpulkan dan memelihara koleksi media-media informasi meliputi: 1) buku. 3. 1. Identifikasi dan Pemetaan Penutupan Lahan sesuai Ekosistem. Kegiatan Pokok Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan Komponen kegiatan 1. Pemeliharaan Batas Kawasan Rencana Kegiatan V-5 . 2. Memberikan tanda batas pada pohon di batas kawasan dengan nomor. 1. dan film. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pemeliharaan kawasan. 2. Tabel V-3. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan. 4. Hasil penelitian tersebut digunakan untuk melengkapi database dan SIG yang dikembangkan untuk Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. dsb). Database dikembangkan untuk melengkapi Sistem Informasi Pengelolaan atau Management Information System (MIS) yang sedang dikembangkan untuk kawasan konservasi di Indonesia.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong bantuan sarana dan pemberian izin untuk menciptakan kondisi yang produktif untuk para peneliti. Papan Petunjuk Kawasan Pengadaan dan Pemasangan papan pengumuman dan petunjuk di sepanjang jalur rintisan dan beberapa pulau yang sering dilewati masyarakat/pelayaran. 5. Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 2. 3.

Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 8.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. Fauna. Kegiatan Pokok Arahan Penataan dan Penetapan Blok Pengadaan Poster/Leaflet Kegaiatn Pengelolaan Kawasan. dan Ekosistem Kawasan. 3. Kegiatan bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi flora dan fauna kawasan beserta habitatnya dalam mendukung upaya kegiatan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Rencana Kegiatan V-6 . Sistem Informasi Geografis dan Database Pengadaan sistem informasi geografis (SIG) dan pemutahiran data hasil-hasil peneltian B. Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 3. Beberapa kegiatan pengelolaan yang diusulkan dalam menunjang aspek ini adalah sebagai berikut: 1. 6. Pembinaan masyarakat Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyanggah sistem kehidupan Pembuatan Kelompok Kerja dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan 1. Pengadaan Poster tentang kondisi fekosistem di Kawasan CATB 7. 2. 5. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2. Pembinaan Habitat. pengembangan dan kegiatan lain yang menunjang budidaya. Pelibatan Masyarakat Penelitian 10. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan upaya pengawetan tumbuhan dan satwa liar dan memfasilitasi pengelolaan ekosistem esensial. Pedoman ini merupakan buku saku/juknis/pedoman kegiatan pemeliharaan flora dan fauna beserta habitatnya. Penelitian/Kajian Tentang Kondisi Flora. Penelitian tentang dampak lingkungan 2. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang berisi tentang petunjuk teknis kegiatan pengelolaan kawasan.3 Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati Kegiatan pengembangan konservasi jenis dan keanekaragaman hayati berkaitan dengan kegiatan penelitian. terutama yang berkaitan dengan keanekaragaman hayati. Kegiatan ini lebih difokuskan pada penilaian kondisi ekosistem Kawasan yang merupakan habitat flora dan fauna kawasan. Buku Panduan. Komponen kegiatan BKSDA Papua II Sorong Penataan dan pembuatan peta arahan blok di dalam kawasan 1. 9.

kerusakan dan upaya pencegahan kerusakan dikelompokkan dalam rencana kegiatan pemulihan. Pencegahan Hama dan Penyakit. leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah. Pengendalian. Beberapa biota yang dilindungi perlu usaha perlindungan khusus. aktivitas yang dapat dilakukan adalah : Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat. Secara umum kegiatan yang dapat dilakukan antara lain : Pemusnahan jenis tumbuhan eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di kawasan. BKSDA Papua II Sorong Uraian mengenai upaya pengendalian. Secara umum penyadaran masyarakat dan instansi terkait tentang status biota yang dilindungi perlu ditingkatkan. Dalam hal ini. introduksi spesies yang fungsinya sama dengan spesies lokal dan lain-lain. oleh karena itu bila ada kasus hama dan penyakit yang dianggap membahayakan kawasan. maka harus segera dicarikan jalan pemecahannya baik secara preventif maupun refresif. Melakukan penelitian Inventarisasi. Identifikasi dan Dampak jenis-jenis eksotik yang ada di kawasan CATB. pengelola kawasan CATB harus berkoordinasi dengan instansi terkait. Pemulihan merupakan kegiatan yang berkaitan dengan adanya kerusakan dan perubahan dalam bentang lahan di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Perlindungan Jenis. Membuat brosur. Kegiatan ini antara lain adalah : Rencana Kegiatan V-7 . Gejolak populasi hama penyakit hutan biasanya bisa diatasi dengan kemampuan alam sendiri sehingga alam dapat pulih kembali. Upaya yang dilakukan seperti introduksi spesies yang memiliki potensi sebagai hama. 5. Kegiatan pemantauan oleh petugas terhadap hama penyakit di daerah-daerah tersebut perlu dilakukan secara periodik atau dengan memperhatikan laporan-laporan dari masyarakat tentang hama dan penyakit tanaman. Pemulihan. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi. Dalam ekosistem hutan alam yang strukturnya terdiri dari berbagai jenis biota. Untuk bisa mengelola perubahan bentang lahan baik karena aktivitas manusia maupun alam. hama penyakit tanaman jarang sekali mengalami ledakan yang dapat merugikan komunitas hutan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. Satu hal yang perlu diperhatikan kemungkinan invasi biota eksotik ke dalam kawasan. Untuk aktivitas perlindungan jenis ini. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. misalnya pengendalian jenis eksotik. tidak seumur dan kondisi ekosistemnya relatif stabil. Cagar Alam Teluk Bintuni mungkin harus lebih memperhatikan kemungkinan adanya hama penyakit berbahaya di daerahdaerah pertanian dalam kawasan atau sekitar batas kawasan.

Penelitian yang dapat dilakukan berkaitan dengan upaya pemulihan antara lain adalah : Penelitian tingkat sedimentasi di beberapa sungai utama di dalam kawasan Penelitian dan kajian kerusakan ekosistem dan penyebabnya di dalam kawasan CATB Rencana Kegiatan V-8 . Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni belum memiliki informasi yang lengkap tentang lokasi yang rawan abrasi-erosi dan lokasi penumpukan sedimen. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Pemeliharaan tanaman. Pengelolaan terutama ditujukan pada daerah-daerah yang rawan abrasi-erosi yang biasanya terjadi di lokasi yang terkena gelombang besar. Untuk itu diperlukan : Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi. Untuk efisiensi dan efektivitas kegiatan rehabilitasi perlu disusun perencanaan teknis terlebih dahulu. perlu dilakukan melalui pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan instansi-instansi terkait. namun sudah mulai ada indikasi di beberapa lokasi adanya pengaruh abrasi-erosi dan sungai semakin kecil. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III. Terutama di bekas logyard HPH dan kopermas yaitu di Tirasai. Rehabilitasi kawasan dengan tanaman asli. Logyard SP V S. Dalam rangka menunjang kegiatan ini. Pada saat ini dalam kawasan telah ada kegiatan pemanfaatan oleh masyarakat secara tradisional berupa usaha perikanan (penangkapan).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi. LIPI dan LSM. Sumberi. Ausoi. usaha perladangan/kebun rakyat. di muara semakin banyak calon pulau. Sementara pengelolaan sedimen sangat terkait dengan upaya Dinas Kehutanan membangun pengelolaan hutan berkelanjutan di areal HPH dan hutan masyarakat. Awarapi. Oleh karena itu perlu diupayakan kegiatan sebagai berikut: Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. Adanya kegiatan ini sangat mempengaruhi keutuhan ekosistem kawasan yang juga akan berpengaruh terhadap flora dan fauna penting dalam kawasan. Kegiatan ini dilaksanakan melalui kerjasama dengan mitra kerja yang berkaitan seperti perguruan tinggi. Logyard SP IV S. disamping adanya pembukaan wilayah Cagar Alam Teluk Bintuni sebagai areal log-yard beberapa usaha kehutanan masyarakat.

Pengembangan Sistem Data Base. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di kawasan. Rencana kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dalam mengembangkan konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan dalam mengembangkan konservasi jenis dan Keanekaragaman Hayati Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni seperti disajikan disajikan pada Tabel V-4. Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 4. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1. Kegiatan Pokok Buku Panduan Komponen kegiatan 1. Pengendalian a. 7. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 3. Tabel V-4. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 5. dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2. Pembinaan Habitat 4. maupun internasional. Inventarisasi dan Pemetaan Status Flora dan Fauna di Kawasan 2. Dampak negatif dari kehadiran jenis-jenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 6. Kerjasama. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 7. nasional. Pengadaan Buku Panduan Rehabilitasi kawasan 1. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian 1. Universitas. Pembuatan petak ukur permanen 4.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. No. dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) baik lokal. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan 2. Penelitian tentang Dinamika Populasi Flora dan Fauna 3. Pencegahan Hama dan Penyakit Rencana Kegiatan V-9 . Kegiatan ini bertujuan untuk memutakhirkan informasi kondisi flora dan fauna beserta habitatnya guna penunjang kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 3. 1. Melakukan kerjasama dan membuat MOU kerjasama antara BKSDA Papua II Sorong cq Ressort Bintuni dengan lembaga penelitian. bertelur. 2. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan 3.

10 . pelanggaran batas berupa pemukiman penduduk dan perladangan berpindah. 1. penebangan kayu secara liar. Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2. Kerjasama B. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 3. Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 3. 2. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. Identifikasi dan Dampak jenis-jenis eksotik yang ada di kawasan CATB. Perlindungan dan pengamanan kawasan yang akan dilakukan didalam pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah pengamanan dalam rangka penggunaan sumberdaya alam. penggembalaan ternak dan lain-lain. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni c. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2. Pengembangan system data base 7.4 Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan bertujuan untuk meningkatkan upaya perlindungan hutan serta penegakan hukum di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. Membuat brosur. Penelitian tingkat sedimentasi di beberapa sungai utama di dalam Kawasan. Rehabilitasi kawasan Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III Pemeliharaan tanaman. 5. pengumpulan hasil hutan. 2. Kegiatan Pokok BKSDA Papua II Sorong b. Penelitian dan kajian kerusakan ekosistem dan penyebabnya di dalam kawasan CATB. leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan instansi-instansi terkait. Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. Pencegahan bahaya erosiabrasi dan sedimentasi b. Pemulihan a. Rencana Kegiatan V . 1. Perlindungan Jenis Komponen kegiatan 2. Melakukan penelitian Inventarisasi. 3. 1. 1. Penelitian yang dapat dilakukan berkaitan dengan upaya pemulihan 6. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik.

TNI dan masyarakat setempat. yaitu: Pembuatan Peraturan dan Larangan yang sederhana dan jelas Peraturan yang ada perlu dievaluasi untuk memastikan relevansi dan ketepatgunaannya dalam pengamanan kawasan CATB. Sesuai dengan prinsip pengelolaan yang efisien dan cost-effective. Kegiatan perlindungan dan pengamanan rutin diusulkan dapat dilakukan oleh pengelola Kawasan (POLHUT). rute patroli dapat diprogramkan di GPS sebelum berangkat. berdasarkan laporan masyarakat setempat. Setiap petugas harus juga mempelajari pola hidup dan kegiatan masyarakat setempat agar dapat mengidentifikasi pendatang dari luar. Demikian pula halnya dengan kerjasama dalam pengamanan yang bersifat sporadis. pemantauan berbasis masyarakat atau pihak swasta yang bersifat sukarela (voluntir) di bawah arahan dan panduan dari pengelola Cagar Alam Teluk Untuk mendukung maka Bintuni. antara lain : 1. serta pengamanan/patroli gabungan yang melibatkan instansi terkait yang lain. polisi. Upaya untuk membuat Rencana Kegiatan V . Oleh karena itu koordinasi ini harus terus dilakukan dari waktu ke waktu minimal setiap akan dan setelah pelaksanaan operasi gabungan. Penegakan peraturan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni harus merupakan lintas sektoral yang melibatkan otoritas pengelola CATB. Dinas Perikanan. Untuk mendukung kegiatan penegakan hukum di Kawasan CATB. Penegakan Hukum. 2.11 . Kegiatan pengamanan harus direncanakan dan apabila perlu. Petugas lapangan harus siap bertindak berdasarkan informasi yang berasal dari masyarakat karena mereka berada di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni setiap hari. Patroli gabungan yang bekerjasama dengan instansi terkait perlu dilakukan minimal setahun dua kali. Operasi sebaiknya dilaksanakan jika keadaan keamanan benar-benar membutuhkan dukungan dari unsur pengamanan lain seperti dari Polri dan TNI serta Pemda. Setiap petugas harus mengetahui batas kawasan dan peraturannya dan faktor yang dilindungi. mereka merupakan mata pengawasan yang sangat efisien. pencegahan kerusakan habitat akibat kegiatan pemanfaatan dilakukan oleh pemanfaat sendirl. Pengamanan Cagar Alam Teluk Bintuni memerlukan koordinasi yang baik tidak saja antar instansi terkait tetapi juga dengan tokoh masyarakat di sekitar kawasan. maka intensitas operasi gabungan bisa dikurangi atau bahkan ditiadakan. Sistem patroli harus sporadis agar rutinitas patroli tidak dapat dipelajari oleh pelanggar. Pengamanan Rutin (patroli). Jika keadaan relatif aman.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Upaya pengamanan umum yang dimaksud adalah kegiatan-kegiatan untuk mengamankan dan memonitor setiap gangguan terhadap keutuhan kawasan. perlu diusulkan beberapa kegiatan penunjang. diperlukan beberapa kegiatan.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

peraturan menjadi jelas, bisa dimengerti dan sesuai dengan tujuan konservasi serta pemanfaatan berkelanjutan perlu dilakukan. Sosialisasi Peraturan Aturan harus disosialisasikan dan fungsi serta peran setiap stakeholder harus jelas sehingga tidak ada interpretasi ganda. Perlu juga dibuat peraturan khusus dan disepakati semua pihak, terutama peraturan yang melarang semua kegiatan ekstraktif yang merusak kawasan CATB. Pelarangan penggunaan trawl, bahan

kimia, bom, pelarangan penebangan hutan di CATB untuk usaha kehutanan, perikanan dan perkebunan perlu dibuat dan dilaksanakan. Khusus untuk masyarakat adat perlu juga dibuatkan aturan khusus yang menyangkut pemanfaatan eksklusif di dalam kawasan tetapi dengan syarat tertentu dan mendukung pemanfaatan lestari. 3. Pembuatan Buku Panduan Perlindungan dan Pengamanan Kawasan. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-5.

Tabel V-5. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Perlindungan dan Pengamanan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. Kegiatan Pokok Pengamanan Rutin (patroli) Komponen kegiatan 1. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2. Patroli gabungan 3. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (voluntir) 2. Penegakan Hukum 1. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sanksi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi 2. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat 3. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sanksi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder 3. Buku Panduan Pengadaan buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB

B.5

Pendukung /Kelembagaan

Kegiatan pendukung/kelembagaan ditujukan untuk memantapkan institusi pengelola kawasan serta mewujudkan Sumberdaya Manusia (SDM) yang mampu mendukung pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

Rencana Kegiatan

V - 12

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

1. Peningkatan Kapasitas Pengelola. Tekanan terhadap Cagar Alam di masa depan akan lebih berat dan dibutuhkan kapasitas SDM khususnya Polisi Hutan (POLHUT) yang lebih baik. Untuk itu perlu ada pelatihan dan training kepada jagawana. 2. Penambahan Jumlah Personil Pengelola. Saat ini petugas di Ressort Teluk Bintuni hanya ada 2 petugas sementara per 10.000 Ha dibutuhkan 1 orang polisi hutan. Berarti dibutuhkan 10-12 orang Polisi Hutan (POLHUT) untuk Cagar Alam Teluk Bintuni. Direncanakan akan ada 10 petugas lapangan, setiap saat 5 di antaranya menjaga koordinasi dan komunikasi dengan kelompok pemanfaat di lapangan. Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Pendukung /Kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-6.

Tabel V-6. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Pendukung /Kelembagaan dalam pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. Kegiatan Pokok Peningkatan Kapasitas Pengelola Komponen kegiatan 1. Pelatihan jagawana voluntir 2. Pelatihan/Penyegaran Polhut 2. Personil Pengelola Penambahan jumlah personil pengelola, khususnya Polisi Hutan (POLHUT)

B.6

Pemanfaatan

Kegiatan pemanfaatan yang dimaksud disini lebih banyak difokuskan pada kegiatan pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan oleh masyarakat di dalam dan sekitar kawasan. Dari survei dan pertemuan dengan masyarakat dalam pembahasan rencana pengelolaan kawasan ternyata bahwa masyarakat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan sangat menggantungkan kehidupan sehari-hari mereka pada keberadaan Cagar Alam.

Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan sudah dilakukan sejak lama dan turun temurun sebelum daerah ini ditunjuk sebagai Kawasan Konservasi. Walaupun demikian, masyarakat adat yang merupakan pemilik hak ulayat kawasan dan bermukim di dalam dan sekitar kawasan masih berkomitmen untuk menjaga keberadaan CATB dengan membangun suatu kesepakatan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan di dalam kawasan CATB yang berkaitan dengan pemanfaatan sumberdaya alam ini seperti yang telah di bahas pada Bab V. 1. Buku Panduan. Pedoman ini merupakan buku saku/juknis/pedoman kegiatan

pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan. Pedoman ini nantinya akan diperuntukan kepada pengelola kawasan khususnya Polisi Hutan (POLHUT) dan kelompok masyarakat pemanfaat.

Rencana Kegiatan

V - 13

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

2. Pemanfaatan Hasil Perikanan. Penduduk yang memiliki hak ulayat dan tinggal di dalam dan sekitar kawasan diperbolehkan memanfaatkan hasil perikanan dari dalam kawasan secara tradisional. Pengembangan dan pengawasan pemanfaatan hasil setempat

dilakukan Balai KSDA cq Ressort pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dengan pemilik hak ulayat yang tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan berdasarkan kesepakatan bersama. Kesepakatan ini juga mencakup pemanfaatan oleh masyarakat desa sekitar kawasan yang bukan pemilik hak ulayat. Sistem pengaturan pemanfaatan tradisional sumberdaya perikanan seharusnya dilakukan masyarakat pemilik hak ulayat dan tinggal dan menetap di dalam dan sekitar kawasan secara tertulis dengan bimbingan BKSDA. Untuk itu, pengelola cagar alam harus

membangun pemahaman dan pentingnya kearifan tradisional dikembangkan dan dapat diketahui pihak lain. Pengembangan usaha perikanan di dalam kawasan hanya diperkenankan kepada pemilik hak ulayat dan tinggal di dalam dan sekitar kawasan. Usulan untuk pengembangan usaha budidaya lain misalnya budidaya ikan di sungai dengan keramba harus diajukan kepada pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni dan bimbingan teknis untuk pemanfaatan dilakukan bekerjasama dengan instansi terkait (Dinas Perikanan dan Kelautan) dan Mitra Pesisir. Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Penyuluhan manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan Pembinaan masyarakat soal pemanfaatan perikanan di dalam kawasan yang ramah lingkungan dan tidak merusak mangrove, bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan serta LSM Mitra Pesisir, seperti : o o Pelatihan budidaya ikan dalam keramba apung di sungai Pengenalan sistem “sasi” agar ada peluang recovery dari sumberdaya yang dimanfaatkan o Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring penangkap ikan, bekerjasama dengan Dinas Perikanan dan Kelautan Melakukan sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 3. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan. Ancaman utama dari kegiatan pertanian dan perkebunan di dalam dan sekitar kawasan adalah penggunaan pestisida, herbisida dan pupuk buatan, dan masalah lainnya menyangkut konservasi tanah. Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni akan bekerja sama dengan Dinas Pertanian dalam memfasilitasi masyarakat yang ada di sekitar dan dalam kawasan kepada akses terhadap pola

Rencana Kegiatan

V - 14

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

pertanian yang lebih efisien. Dengan pengembangan pola pertanian dan perkebunan yang lebih efisien kecenderungan untuk perluasan lahan dapat dicegah, serta pendapatan petani dapat ditingkatkan. Usaha pertanian dan kebun masyarakat di dalam kawasan dimungkinkan jika peruntukannya adalah untuk konsumsi sehari-hari dan harus dipetakan untuk mencegah perluasan. Pengembangan usaha perkebunan dengan skala luas dan jenis introduksi dilarang dilakukan di dalam kawasan. Pengembangan kawasan budidaya perkebunan di sekitar kawasan harus berkoordinasi dengan BKSDA agar tidak terjadi tumpang tindih kawasan. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan masyarakat, ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan, antara lain adalah : Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan Penerapan Sistem Pertanian yang Berkelanjutan o Pengenalan sistem agroforestry khusus bagi penduduk yang ada di dalam kawasan o Pelatihan budidaya pertanian menetap secara terbatas pada pemukiman penduduk di dalam kawasan o Penyediaan bibit tanaman setempat.

Pemanfaatan terbatas satwa liar o Pengembangan dan Pembinaan upaya perbesaran buaya di desa Naramasa, Yensei, Yakati, Mamuranu o Pembinaan pengaturan waktu berburu sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan o Pelatihan dan bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari kulit buaya di Desa Naramasa, Yensei dan Yakati o Pelatihan dan bimbingan teknis untuk pembuatan dendeng manis, abon dari daging babi dan rusa, bekerjasama dengan Dinas Perindustrian Kabupaten Penyuluhan dan sosialisasi masa berburu berdasarkan hasil kajian/penelitian. 4. Penelitian. Kegiatan penelitian disini lebih difokuskan pada studi dalam rangka mendukung kegiatan pemanfaatan oleh masyarakat secara lestari dan berkelanjutan. 5. Kerjasama. Kerjasama ditujukan untuk membangun kesepahaman bersama dengan stakeholder terkait seperti Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, dan Dinas Kehutanan Kabupaten Teluk Bintuni dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan, khususnya aspek pemanfaatan secara lestari dan berkelanjutan.

Rencana Kegiatan

V - 15

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
6. Pengembangan Sistem Data Base.

BKSDA Papua II Sorong

Kegiatan ini dimaksudkan untuk pemutakhiran

informasi kawasan khususnya hasil-hasil kajian yang berhubungan dengan pemanfaatan sumberdaya alam oleh penduduk yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan.

Rangkuman rencana kegiatan yang diusulkan untuk aspek Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni disajikan disajikan pada Tabel V-7.

Tabel V-7. Rencana kegiatan pengelolaan untuk aspek Pemanfaatan sumberdaya alam di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.
No. 1. 2. Kegiatan Pokok Buku Panduan Pemanfaatan Hasil Perikanan Komponen kegiatan Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan 1. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan 2. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 3. Pelatihan pengenalan system “Sasi”. 4. Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring 3. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 1. Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2. Pengenalan sistem agroforestri. 3. Pelatihan budidaya pertanian menetap, terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 4. Pelatihan pembesaran anakan buaya 5. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 6. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa 7. Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktuwaktu beranak dan mengasuh anak 4. Penelitian 1. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan lokasi perburuan 2. Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman, khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

Rencana Kegiatan

V - 16

Sarana prasarana pengelolaan : a. Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 5. 1. Bangunan kantor Mengingat Cagar Alam Teluk Bintuni berada pada Kabupaten yang akan berkembang sangat cepat. untuk 6 keluarga. sarana kantor sangat dibutuhkan. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 2.1. baik sebagai pusat kegiatan pengelolaan maupun pusat informasi. Dalam perencanaan ini perlu dipertimbangkan guna kepentingan pengelolaannya antara lain : C. Pengembangan sistem data base C. Kebutuhan sarana yang harus dilengkapi adalah : Pembebasan lahan Bangunan kantor Barak polisi hutan Sarana listrik Sarana air bersih Sarana Komunikasi Sarana Transportasi : : : : : : : 500 m2 1 Unit. SARANA DAN PRASARANA Membuat rencana pembangunan sarana dan prasarana dengan prioritas pentahapan pembangunannya. Kegiatan Pokok Komponen kegiatan BKSDA Papua II Sorong 3. Kerjasama Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan pemanfaatan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni No. mesin air dan tower air SSB 1 unit. Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan. Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 6. ukuran 90 m2.17 . 108 m2 1 unit Genset 3 KW Sumur bor. 1 unit Speedboat 80 pk 1 unit longboat 40 pk Sarana kerja : 3 unit CPU + printer + peralatan kantor lainnya 7 unit GPS 7 unit kompas suunto Rencana Kegiatan V . udang. Handy talky 7 unit dan menara SSB Motor 2 unit. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. 1 unit.

Pulau Bore. pompa air dan tower SSB 3 unit. sarana ini penting untuk : pengamatan satwa. yang dapat menjangkau keseluruh kawasan sehingga memudahkan bagi petugas untuk melaksanakan tugasnya. Pondok jaga dan Menara Pengawas Untuk pengamatan satwa. Handy talky 3 unit 3 unit Mesin Tik 80 cm 3 unit GPS d. Simeri.18 . Penempatan diatur di tempat yang strategis mudah dilihat. Lokasi pembangunan menara pengamat adalah di Awarepi. ukuran setiap pondok 48 m2 3 unit kapasitas 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni b.5 KW 3 unit sumur bor. kantor dapat difungsikan sebagai pusat informasi. Papan Petunjuk ttg kawasan Papan Larangan & informasi : : 50 unit 100 unit. papan larangan dan rambu-rambu peringatan. Papan petunjuk Sarana ini harus ada di Cagar Alam. Tetapi pada batas kawasan yang berbatasan dengan hutan dataran rendah. Pusat informasi Di Cagar Alam Teluk Bintuni. diutamakan di jalur batas rintisan yang berdekatan dengan kampung Rencana Kegiatan V . jalur air merupakan salah satu cara yang terpenting. dilengkapi dengan perlengkapan yang memadai untuk kegiatan yang akan ditangani di tempat tersebut. Termasuk di dalam papan petunjuk ini adalah papan pengumuman. Jalan patroli BKSDA Papua II Sorong Di Cagar Alam harus ada jalan patroli. ukuran setiap lokasi 100 m2 3 unit. Naramasa.2. Sarana prasarana pendidikan a. c. Letak pondok kerja ini adalah di Kampung Banjar Ausoy. C. b. keindahan alam dan kebakaran. jalan patroli dapat digabung bersama jalur batas rintisan sehingga lebih efisien (berkaitan dengan pemeliharaan batas kawasan). Sarana yang dibutuhkan antara lain : Pembebasan lahan Bangunan pondok kerja Generator listrik Pompa air Sarana Komunikasi Peralatan Kerja : : : : : : 3 unit. Pondok kerja Bangunan ini diperuntukan bagi unit pengelola terkecil. Di CA Teluk Bintuni. Pondok kerja di dalam CA Teluk Bintuni direncanakan akan menjadi 4 unit di luar kantor. Aktivitas patroli bisa dilakukan bersamaan dengan pemeliharaan batas. Pulau Modan. Kampung Mamuranu dan Tirasai.

Yang dapat dilakukan adalah membangun petak ukur permanen. Sarana dan prasarana penelitian a. Data dan informasi dari stasiun ini dapat digunakan untuk kelengkapan data base dan sistem informasi geografis kawasan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni c. perlu juga dibangun beberapa sarana seperti : Pembangunan stasiun iklim dan cuaca Karena situasi iklim dan cuaca belum diketahui dengan pasti. C. Lokasi pengamatan atau Rencana Kegiatan V . Disamping itu. c. yang berfungsi untuk pengamanan dan memudahkan melihat obyek wisata tertentu di Cagar Alam Teluk Bintuni. Stasiun pengamat air sungai otomatis (AWLR : automatic water level recording) Pembangunan AWLR sangat membantu pengelola CATB dalam memantau dampak dari perubahan penggunaan lahan yang ada di hulu terhadap CATB. Laboratorium alam (areal penelitian) Penempatan areal lokasi penelitian disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku. pusat informasi dan data base dibangun bersamaan dengan kantor (satu bangunan). Curah hujan di kawasan dan sekitarnya berlangsung sepanjang tahun. Ini akan membuat waktu penelitian tidak terbuang akibat Pondok ini bisa dipindah dengan menggunakan mobilitas yang terbatas. longboat b. Untuk itu perlu dikembangkan dan dibangun pondok peneliti terapung yang bisa dipindah-pindah tergantung lokasi wilayah penelitian. Di Cagar Alam Teluk Bintuni. Jalan setapak BKSDA Papua II Sorong Di Cagar Alam sarana ini diperuntukan sebagai sarana patroli dan pendidikan. Jalan setapak permanen di dalam kawasan mangrove dibangun pada tempat yang ada menara pengamat dan petak ukur permanen saja. dan jarang terjadi bulan kering. Pembuatan pondok penelitian terapung Pondok peneliti untuk kebutuhan penelitian di dalam Cagar Alam Teluk Bintuni sebaiknya tidak dibangun di banyak tempat. Pusat informasi dan sarana penelitian Bangunan ini dapat dibuat di dalam kawasan sesuai kepentingannya.19 . maka perlu dibangun stasiun klimatologi dan meteorologi. Lokasi yang diusulkan dibangun AWLR adalah Sungai Muturi.3. Jalan rintis penelitian Dibuat sesuai kepentingan dan sederhana.

Sarana penelitian berupa pondok peneliti yang punya mobilitas tinggi juga dibangun dengan membuat pondok yang bisa dipindah-pindah di sungai dengan ditarik boat.20 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong laboratorium alam akan sangat tergantung dari penelitian tentang pemetaan flora-fauna di dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni d. Pondok atau rumah tamu peneliti Pondok peneliti permanen dibangun disamping bangunan kantor pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni. Rencana Kegiatan V . Ini sesuai dengan areal Cagar Alam yang didominasi areal sungai dan mangrove.

Penggalangan biaya pengelolaan dari swasta khususnya yang ada di daerah Kabupaten Bintuni dapat dilakukan oleh pengelola dengan sepengetahuan Kepala Balai KSDA Papua II Sorong.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VI. Semua asset yang dibangun di dalam kawasan atau mendukung Mekanisme pengusulan pelaksanaan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni menjadi asset dari Cagar Alam atau pemerintah Indonesia.penggalang dana tetapi harus sepengetahuan BKSDA Papua II Sorong. permohonan bantuan kegiatan dan penanggungjawab pelaksanaan disajikan dalam Gambar VI-1. Bantuan dan dukungan ini tidak harus dalam bentuk uang tetapi dapat dalam bentuk barang. Bantuan juga dapat digalang oleh LSM atau organisasi lainnya dan pelaksanaan pembangunan juga dapat dilakukan oleh pihak ketiga yang ditunjuk pemberi . Misalnya. Non APBN atau dana lainnya antara lain berupa bantuan dalam dan luar negeri. PEMBIAYAAN A.Implementasi Usulan Pembangunan atau Aktivitas Pengelolaan Cagar Alam Proposal Pengelolaan Proposal Penelitian Proposal Pembangunan Sarana Penanggungjawab : BKSDA Papua II Sorong Pelaksana : Pengelola Teknis Cagar Alam Teluk Bintuni Swasta LSM Gambar VI-1. sumbangan dalam bentuk pengadaan sarana komunikasi. patroli atau bangunan kantor. Alur Pengusulan Pelaksanaan Kegiatan dan Implementasi Kegiatan VI . Sumber Dana Sumber dana dalam pembangunan dan pengelolaan Cagar Alam dan Suaka Margasatwa dapat menggunakan dana APBN. Pembuat Usulan Program/Kegiatan Pemberi Dana Proposal Dana Disetujui Pemerintah Indonesia Pengelola CATB Departemen Kehutanan BKSDA Papua II Sorong Swasta NGO/LSM Negara Asing Pelaksanaan .1 Pembiayaan .

Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan 20 Unit 30.200 a.500 1. dan Tabel VI-4.100 22.500 1. Pembuatan Plat Seng tanda batas Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas 22. 3.000 Km 900. Pembuatan SK Bupati 2. Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 2.200 1.250 82. Tabel VI-1.500 - Pemantapan Kawasan - a.100.000 1.000 2. Pembuatan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 125 1 1 Paket Paket 1. Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) 1 Pembuatan SK Defenitif 1.000 30.200 1. Pembuatan Pal batas 3.114.650. Papan Petunjuk Kawasan 50 Paket 1.000 3. Rincian Biaya Rincian biaya untuk kegiatan pengelolaan disajikan dalam Tabel VI-1 dan Tabel VI-2 sedangkan untuk rencana biaya pengadaan sarana dan prasaran penunjang kegiatan pengelolaan disajikan pada Tabel VI-3.000 1. Pembuatan Perda tentang Cagar Alam 1.200 1. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah c.200 1.500 Pembiayaan VI . Pembuatan Papan Pengumuman dan Petunjuk Kawasan 20 20 Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan Unit Unit 30.2 .250 41.000 41. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan.114 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong B. Kepastian Hukum kawasan b.100 - d.500 22. Kerjasama 2 1. Rekonstruksi Pal Batas 22. Rencana alokasi biaya pengelolaan Kawasan CATB jangka pendek (tahunan) pada periode 5 tahun pertama (2006-2010).500 112.200 b.500 22.114 3.

Pembinaan masyarakat 5 Paket Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga Kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan Pembuatan Kelompok Kerja Penelitian tentang dampak lingkungan Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 1 Pengadaan system informasi geografis (SIG) dan pemutakhiran data hasil-hasil peneltian 1 1 Paket Paket 1 Paket 9.000 a.900 49.114 3.500 37.3 .000 - - - - 37.100 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 900. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 1 Paket 10. Buku Panduan Pembiayaan VI .375 1 Paket 1 Paket 1.375 - - - 3.100.375 c.900.000 3.Penggantian Pal Rusak 3.450 - - 37.900 9.000 22.500 3 1.500 3.000 10.900 9.Pembuatan Plat Seng tanda batas 1.000 1.375 g.500 3.500 h. Sistem Informasi Geografis dan Database Paket 37.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 22.500 3. Penelitian j.500 - - 37.375 3.500 Total 5 tahun (x’000) 45.500 i.500 1. Identifikasi Tipe Ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di CATB 150 Paket 2. Pembuatan Poster/Leaftlet - - 3.900 9. Penataan dan pembuatan peta Penutupan Lahan di Dalam Kawasan 1.000 10. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2.114.000 37.450.000.500. Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 150 Paket 22. Pengadaan Poster tentang kondisi ekosistem di Kawasan CATB 150 Paket 22.500.500 37.000 1.000 9.500 37.114 3.100 3. Pemeliharaan Batas Kawasan 2.375 22.500. Kajian potensi fungsi kawasan e.900 9. Pelibatan Masyarakat dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan 10.375 3.000 10. Pemeliharaan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 50 Km d.000 37.

000 37.500. Paket Paket Km 37.500 4.500 37. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 1 Paket 37.000 65.500.500 c.500 2.000 6.500 Paket 37.500 16.500 37. Dampak negatif dari kehadiran jenisjenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.000 37. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik.500 16.500 37.000 37.900.000 2.500. Pencegahan Hama dan Penyakit 2 Paket 9.500 5. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan 37. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan. dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2. Pembinaan Habitat 3 Paket 1. 2. Pembuatan petak ukur permanen 4.500. Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 5 Paket 37.900 a. Penelitian ttg Dinamika Populasi Flora dan Fauna b.500.500.000 9.000 9.000 37.900. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 2 1 1 3. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.950.000 37.500 37.000 37.500 37.000 37.000 d. 1 Paket 9.500 37. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 1 Paket 1.000 37.950 65. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di Kawasan.500 3.500 37.500.4 .900 9.900 Pembiayaan VI . Pengendalian 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 10.500 37.950 65. bertelur.000 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 10.000 16. Inventarisasi dan Pemetaan jenis Flora dan Fauna di Kawasan 1 1 Paket 37.500.000 Total 5 tahun (x’000) 10.000.

000 10. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 9.5 . Membuat brosur. Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2. 1.000 2 Paket 10.000. Rehabilitasi kawasan Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi.500 37. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 10 Paket 16.000 Pembiayaan VI . leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan irstansi-instansi terkait.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No 1.900 Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) b. Pengembangan system data base 2 Paket 10.000 2.900.500 Paket 37. Pemulihan a. 1.900 c.000 37. Penelitian dan kajian laju kerusakan ekosistem dan penyebabnya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1.000 16.500. Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. Peneltian 37.000 37.500. Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 1 Paket 37.000. Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi b.000 10.000 20. 1 Paket 9.000 20. Penelitian tingkat dan laju sedimentasi di beberapa sungai yang bermuara di kawasan 1 2.500 f.500 3.500 e. Perlindungan Jenis 16.500.500 9.000 10. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2.000 10.

000 5.000 a.500 28. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder Buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB - - d.500. Pembuatan Panduan 5.500 240 Paket 120.6 .000 7.000 7.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 5.760 9.500 Perlindungan dan Pengamanan Kawasan 5.000 9. Personil Pengelola b.500 10. Pendukung /Kelembagaan Penambahan personil pengelola kawasan 1. Patroli gabungan 3.800 47.500 PHKA 45.000 20.000.760 9.000 5.000 4.500 10.500 Voluntir a. Pelatihan/Penyegaran Polhut 6 5 paket paket 7.500.000 5.000 7.000 Total 5 tahun (x’000) 25.500 5.000 5.000 15.760 5. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2.000 7. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (volunteer) 5 Paket 5 Paket 9. 1.500 10.760 9.000 10.760 9. Penegakan Hukum Unit - 1. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat Unit 3.000 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 5. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi - 2.000 3.000 Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 5. Kerjasama 1 Paket 5.000 50. Pengamanan Rutin (patroli) e.500 5.000. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan 5 Paket e. Pelatihan/Penyegaran Pembiayaan VI . Pelatihan jagawana volunteer 2.000 5.000.000 5.

900.7 .000 Paket 20.900 20.900 20.000 20. Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktu-waktu beranak dan mengasuh anak 1 Paket 20.900 8.900.900. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 1 1 1 1 Paket 20.900. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan 2.900 41.000 20.900 20.800 20.900 Paket 20. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas. Pelatihan pengenalan system “Sasi”.900 20.900 Pembiayaan VI .900. 4.900 37.900.000 20.000 20.500. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa Paket Paket Paket 1 Paket 20. Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan 2 - Pemanfaatan a.900 20.900 41. Pelatihan budidaya pertanian menetap.900 20.000 20. Pelatihan pembesaran anakan buaya 6.900 1 Paket 20.000 20. Pengenalan sistem agroforestri.900.900 1.000 20.900. Pemanfaatan Hasil Perikanan 2 Paket 20.900 20.900 20.900 3.500 20.900 37.900 20.900 20.500 20. Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5. 3.900 20.900.000 1.800 20. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 2 Paket 20.900 20. terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 1 Paket 4.900 c. 1 1 1 5.000 Paket 20. Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2.900 20.900.000 37. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 7.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) Total 5 tahun (x’000) - 6. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring 20.000 20. Buku Panduan - b.000 20.900.900.

Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman.000 1.000 2.000.000 Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan Pemanfaatan 2 Paket 2.000 10.8 .500 - f. Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan. Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 1 Paket 10. udang.000 4. Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 10.500.500 75.500 2007 2008 2009 2010 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan (Rp) 37. Kerjasama 2. Pengembangan sistem data base 10.500 37.000 d.000 10.000 10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 2006 37.000 2.500 37.000 10.000 e. Penelitian 2 Paket 1. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan Lokasi perburuan 2. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2 Paket 37.000.500.000 Total 5 tahun (x’000) 75.000 10.500.500 37. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 10. khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni - - 3.000 Pembiayaan VI .000.

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni

BKSDA Papua II Sorong

Tabel VI-2. Rencana alokasi biaya pengelolaan Kawasan CATB jangka panjang (lima-tahunan) pada periode 25 tahun pertama (2006-2030).
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000

Total 25 tahun (x’000)

1 Pembuatan SK Defenitif 125 1 1 Paket 3.100 3,100 Paket 1.114 1,114 Km 900 112500 Pembuatan SK Bupati Pembuatan Perda tentang Cagar Alam Pembuatan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) Pembuatan Pal batas Pembuatan Plat Seng tanda batas Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk kegiatan Rekonstruksi Pal Batas -

Pemantapan Kawasan -

a. Kepastian Hukum kawasan

b. Pengakuan Keberadaan Cagar Alam Teluk Bintuni secara legal formal oleh Pemerintah Daerah

c. Rekonstruksi Pal Batas

112,500 1,114 3,100 -

d. Kerjasama

2 1. Pengadaan buku saku/panduan pemeliharaan batas kawasan 20 20 Unit Unit 2. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan pengelolaan potensi kawasan. 20

Peningkatan Efektifitas Pengelolaan Kawasan 30.000 30,000 Unit 1,200 1,200 1.200 1.200 -

a. Buku Saku/Juknis/Pedoman Kegiatan Pengelolaan Kawasan

3. Pengadaan buku saku/panduan/juknis kegiatan perlindungan dan pengamanan kawasan. Pembuatan Papan Pengumuman dan Petunjuk Kawasan 1. Pemeliharaan Jalur Rintisan dan jalan setapak (km) 2.Penggantian Pal Rusak 3.Pembuatan Plat Seng tanda batas 50 50 5 3

30,000 Paket Km Paket Paket 1,650 900 1,114 3.100

1,200

1.200

b. Papan Petunjuk Kawasan

82.500 45.000 1.114 3.100 45.000 1.114 -

82.500 45.000 1.114 3.100 1.114 -

82.500

247.500 135.000 1.114 3,100 5.570 9.300

c. Pemeliharaan Batas Kawasan

Pembiayaan

VI - 9

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 37.500 3.375 3.375 3.375 37.500 37.500 37.500 37.500 37.500 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 37.500 37.500 22.5

Total 25 tahun (x’000) 112.500 37.500 10.125

d. Kajian potensi fungsi kawasan 1. Identifikasi Tipe Ekosistem dan pemetaan penutupan lahan di CATB 3 3 450 Paket Paket Paket 2. Penataan dan pembuatan peta Penutupan Lahan di Dalam Kawasan 1. Pengadaan Poster Pemanfaatan Lestari 2. Pengadaan Poster Jenis-Jenis Flora/Fauna langka dan di lindungi di Kawasan CATB 450 Paket 22,5 3.375 3.375 3. Pengadaan Poster tentang kondisi ekosistem di Kawasan CATB 450 Paket 22,5 3.375 3.375 3.375

e. Pembuatan Poster/Leaftlet

-

-

10.125

3.375

-

-

10.125

f. Pembinaan masyarakat 20 Paket 9,900

Pembinaan masyarakat yang bermukim di blok penyangga Kawasan tentang pentingnya keberadaan kawasan sebagai penyangga sistem kehidupan 49.500 Pembuatan Kelompok Kerja 1. Penelitian tentang dampak lingkungan 2. Kajian tentang dampak dari rencana pembangunan wilayah 1 Paket Pengadaan system informasi geografis (SIG) dan pemutakhiran data hasil-hasil peneltian 5 Paket 2 Paket 37.500 37.500 1 Paket 10.450 10.450 37.500

49.500

49.500

49.500

198.000

g. Pelibatan Masyarakat dalam Kegiatan Pengelolaan Kawasan

37.500 -

-

37.500 -

-

10.450 75.000 37,500

h. Penelitian

i. Sistem Informasi Geografis dan Database

37.500

37.500

37.500

37.500

37.500

37.500

187.500

3 1. Pengadaan Buku Panduan Pemeliharaan flora/fauna dan ekosistem kawasan 2. Pengadaan Buku Panduan Pengendalian flora/fauna dan ekosistem kawasan 1. Inventarisasi dan Pemetaan jenis Flora dan Fauna di Kawasan

Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati 1 Paket 10.000 10.000 10.000

a. Buku Panduan

1

Paket

10.000

10.000

-

10.000

b. Penelitian/Kajian tentang keadaan flora dan fauna kawasan

3

Paket

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

Pembiayaan

VI - 10

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 37.500 37.500 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 37.500

Total 25 tahun (x’000) 65.000

2. Penelitian ttg Dinamika Populasi Flora dan Fauna 2 Paket 3. Inventarisasi dan identifiksasi Jenis Tumbuhan Berguna dan Langka di Kawasan 3 Paket 37.500 37.500 37.500 37.500 4. Inventarisasi dan identifikasi jenis-jenis flora dan fauna eksostik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 1 Paket 37.500 37.500 5. Dampak negatif dari kehadiran jenisjenis eksotik di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 2 Paket 37.500 37.500 6. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas 3 Paket 37.500 37.500 37.500

112.500

37.500

37.500

65.000

37.500

112.500

c. Pembinaan Habitat 3 Paket 37.500

1. Inventarisasi dan pemetaan tempat khusus bagi perkembangbiakan, bertelur, dan pemijahan (spawning ground) di kawasan 2. Penelitian tentang dinamika ekosistem di Cagar Alam Teluk Bintuni 5 3 5 Km Paket Paket 3. Pembuatan petak ukur permanen 4. Pembuatan jalur/jalan setapak untuk keperluan pendidikan dan penelitian. 37.500 16.950 50.000

37.500

37.500

37.500

112.500

37.500 16.950 50.000

37.500 16.950 50.000

37.500 16.950 50.000

37.500

37.500

187.500 50850 50.000 50.000 250.000

d. Pengendalian 1. Pemusnahan jenis tumbuhan atau eksotik yang berpotensi ekspansif yang ada di Kawasan. 1 2. Penyuluhan dan sosialiasi larangan introduksi spesies eksotik. 1. Melakukan penelitian detail tentang masa bunting satwa buruan untuk menentukan saat berburu masyarakat 2. Membuat papan larangan perburuan satwa dilindungi 2 Paket 9.900 9.900 9.900

a. Pencegahan Hama dan Penyakit

Paket

9.900

9.900

9.900

19.800

b. Perlindungan Jenis

3

Paket

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

5

Paket

16.500

16.500

16.500

16.500

16.500

16.500

82500

Pembiayaan

VI - 11

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 3.375 3.375 3.375 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000 22.5

Total 25 tahun (x’000) 10.125

3. Membuat brosur, leaflet dan poster imbauan atau larangan berburu satwa dilindungi dan hampir punah 450 Paket

e. Pemulihan Pembentukan Forum Koordinasi yang mengikutsertakan irstansi-instansi terkait. 1 1 Paket 9.900 9.900 9.900 Penyusunan rencana teknik rehabilitasi kawasan yang rusak. Rehabilitasi kawasan 1. Pengadaan benih atau bibit tanaman lokal yang sesuai dengan ekosistem kawasan yang akan direhabilitasi. 3 Paket 50.000 50.000 50.000 50.000 150.000

a. Pencegahan bahaya erosi-abrasi dan sedimentasi

b. Rehabilitasi Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni

2. Penanaman atau rehabillitasi dengan menggunakan kerjasama dengan masyarakat dan dukungan pihak III. 3 Paket 50.000 1. Penelitian tingkat dan laju sedimentasi di beberapa sungai yang bermuara di kawasan 3 Paket 2. Penelitian dan kajian laju kerusakan ekosistem dan penyebabnya di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 1. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) di Cagar Alam Teluk Bintuni 2 2. Data sosial ekonomi dan budaya masyarakat di dalam dan sekitar kawasan 3. Pengumpulan hasil-hasil penelitian dan pengembangan yang pernah dilakukan di kawasan 2 Paket 50.000

50.000

50.000

50.000

150.000

c. Peneltian

50.000

50.000

50.000

150.000

37.500

37.500

37.500

37.500

112.500

f. Pengembangan system data base

10.000

10.000

10.000

20.000

Paket

10.000

10.000

10.000

20.000

5

Paket

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

25.000

e. Kerjasama

Pembuatan MOU dalam menunjang kegiatan Pengembangan Konservasi Jenis dan Keanekaragaman Hayati

1

Paket

5.000

5.000

5.000

Pembiayaan

VI - 12

Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni
Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030

BKSDA Papua II Sorong

No

Kegiatan

Komponen

Volume

Satuan

Harga Satuan Rp x 000

Total 25 tahun (x’000)

4. 1. Patroli rutin oleh pengelola kawasan 2. Patroli gabungan 3. Patroli rutin berbasis masyarakat dan pihak swasta (volunteer) 25 Paket 1.500 7.500 7.500 7.500 25 Paket 9.500 47.500 47.500 47.500 1240 Paket 120 28.800 28.800 28.800 28.800 47.500 7.500

Perlindungan dan Pengamanan Kawasan 28.800 47.500 7.500 144.000 237.500 37.500

a. Pengamanan Rutin (patroli)

e. Penegakan Hukum 5 paket 7.500 7.500 7.500

1. Pembuatan peraturan khusus tentang larangan dan sangsi bagi perburuan dan pemanfaatan flora dan fauna yang dilindungi

7.500

7.500

7.500

37.500

2. Pembuatan aturan sederhana yang menyangkut pemanfaatan eksklusif bersyarat dan lestari di dalam kawasan untuk masyarakat adat 5 7.500 paket 7.500 3. Sosisalisasi aturan tentang larangan dan sangsi terhadap kegiatan ilegal di kawasan kepada semua stakeholder 5 paket 15.000 Buku Panduan Perlindungan dan pengamanan Kawasan CATB 2 paket 7.500 15.000

7.500

7.500

7.500

7.500

37.500

15.000

15.000

15.000

15.000

75.000

d. Pembuatan Panduan

7.500

7.500

15.000

5. Penambahan personil pengelola kawasan 1. Pelatihan jagawana volunteer 2. Pelatihan/Penyegaran Polhut 15 15 3

Pendukung /Kelembagaan paket paket paket 7.500 10.000 45.000 50.000 22.500 22.500 50.000 22.500 50.000 PHKA 112.500 150.000

a. Personil Pengelola

b. Pelatihan/Penyegaran

6. Pengadaan Buku Panduan Pemanfaatan

Pemanfaatan 2 paket 7.500 7.500 7.500

15.000

a. Buku Panduan

b. Pemanfaatan Hasil Perikanan

1. Penyuluhan bersama Dinas Kelautan dan Perikanan tentang manfaat perlindungan kawasan mangrove bagi produksi perikanan

10

Paket

20.900

41.800

41.800

41.800

41.800

41.800

209.800

Pembiayaan

VI - 13

Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan kerajinan dari bahan baku kulit buaya 7.000 75.800 41.900 9.500 20.900 4.900 20.900 20. 3.900 20.900 20.900 20.500 62. Pengenalan sistem agroforestri.900 62.900 9.700 d.000 75.000 75.900 20.000 20. Pelatihan/bimbingan teknis pembuatan dendeng manis dan abon dari daging rusa 3 Paket 37.900 20.900 62.900 20. Pengenalan cara perburuan satwa liar seperti rusa dan babi hutan dengan memperhatikan waktu-waktu beranak dan mengasuh anak 1.900 20.000 2.800 41.700 62.900 20. Pelatihan pembesaran anakan buaya 6.900 20.900 20.900 20.700 37. Pelatihan pembuatan dan perbaikan jaring c. Sosialisasi larangan penggunaan bahan kimia di dalam kawasan Cagar Alam 4 5 3 3 Paket Paket Paket Paket 3.900 62.900 20.900 20.900 Total 25 tahun (x’000) 39.900 20. Pelatihan budidaya pertanian menetap. Pelatihan pengenalan system “Sasi”. Pelatihan dan pendampingan pembuatan keramba apung di sungai 5.900 20.900 20.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 9.900 20.000 75.900 20.500 75.700 2.800 41. Penelitian dan kajian teknik perbanyakan tanaman.900 20. terutama di kampung yang berada di dalam kawasan CATB 3 Paket 20. khususnya tanaman berguna di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 20.900 20112015 20162020 20212025 20252030 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan Rp x 000 9.500 20.900 20.900 20.700 20.900 20.900 20.900 20. 2 3 3 Paket Paket Paket 5.14 .900 20. Penelitian dan kajian pola perkembangbiakan satwa dan Lokasi perburuan 3 Paket 20. 4.700 Pembiayaan VI . Penyuluhan bersama Dinas Pertanian Penyuluhan tentang pentingnya sistem Pertanian dengan memperhatikan kelestarian lingkungan 2.900 20.900 41.900 20.900 9.900 20.600 104.900 65. Pemanfaatan Hasil Pertanian dan Perburuan 10 Paket 20.500 20.000 375.900 3 Paket 20.800 209. Pengembangan jenis-jenis lokal dalam kegiatan pertanian secara luas.900 20.900 20.800 1.700 62.000 62. Penelitian 10 Paket 37.900 41.700 8.900 37.700 62.900 62.900 20.

000 5. dan kepiting (karaka) di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni 10 Paket 37.000 10.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya pada Periode Tahun ke (x`000) 20062010 20112015 20162020 20212025 20252030 BKSDA Papua II Sorong No Kegiatan Komponen Volume Satuan Harga Satuan Rp x 000 Total 25 tahun (x’000) 3.000 30.000 4.000 1.000 75.000 Pembiayaan VI .000 30.000 75.000 5. Kerjasama 15.000- f.000 10.000 10.000 75.000 Pembuatan MOU dengan stakeholder terkait untuk menunjang kegiatan Pemanfaatan 3 Paket 5.000 10.15 .000 10. udang. Penelitian dan kajian tentang pola siklus hidup biota laut tertentu seperti ikan.000 5. Musim perkembang biakan flora dan fauna di Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 10.500 75. Pengembangan sistem data base 10.000 375.000 10.000 2.000 20.000 75.000 e.000 10. Inventarisasi jenis-jenis komoditi pertanian setempat 2 Paket 10. Potensi sumberdaya hayati (flora/fauna) berguna di Cagar Alam Teluk Bintuni 3 Paket 10.

000 15.51) Bangunan Kantor (m) + barak Halaman kantor komputer dan printer Peralatan kantor Radio SSB Pembiayaan VI .000 10.000 7.000.500 paket 7.000 3.000 1 7.000 20.066/33.000 7.000 7.000 20.000 4.500.000.500 2.500.820 2.000 24.000 2.000.500 3.000 7.000 2.500 unit 4.500 7.500 243.000 25.000 2.000 243.000 1.000 25.500 Pengadaan Kantor/pondok (KPPN.000 252 500 4 unit 1 35.000 30.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VI-3.000 4.000 250 unit 1.000 No Aktivitas/Kegiatan 1 Sarana Pengelolaan Kantor 500 90 162 1 2 1 3 1 1 1 7 7 1 1 7 1 1 unit 30.500 1.500.000 2.000.500 2.000 157.500 4.500 7. Rencana Alokasi Biaya Pengadaan Sarana dan Prasarana untuk Jangka Pendek (per tahun) pada Periode 5 Tahun Pertama (2006-2010) Komponen 1 2 3 4 5 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.000 5.500.000 8.500 150.000 10.820 2.500.000 10.000 1.000 5.000 1 unit 900.500 250 25.16 .000 75.000 10.500 unit 10.000 75.000 35.000 75.000 5.500.000.500 2.51) Pembebasan Lahan Kantor Bangunan Kantor (m) Barak Polhut (untuk 6 orang atau klg) Genset Kantor (4.000 20.000 17.500 2.000 22.000.750.000 1 1.000 unit 250.000 1.000 10.000 8.000 15.5 KW) Komputer P IV Printer A3 (HP 1180C)+ USB Conector Peralatan kantor Faksimil Pengadaan Sambungan Telpon Radio SSB GPS Kompas Sunto Speed boat patroli 40 PK Longboat patroli 40 pk Handy talky motor roda 2 Sarana air bersih Pemeliharaan Kantor (KPPN.500 8.640 12.000.000.000.000 2.066/33.000 15.500 2.500 900 900 900 900 900 2.000 157.000 30.000 10.000 20.000 500.000 2.000 75.

000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Handy talky Speed boat patroli (operasional) Longboat patroli (operasional) Motor roda 2 opeasional genset (liter bensin) Biaya Telpon Pondok Kerja Bangunan Pondok kerja (KPPN.000 7.500 1.500.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Komponen 1 500 6.000 3.000 30.000 15.000 1.51) Pondok kerja (m) Operasional Genset Operasional longboat Mesin tik 60 cm Radio SSB Handy talky Longboat patroli Peralatan pondok kerja Pembiayaan VI .500 1.500.200 3.000 150 2.000 5.500 5.500 12.500.000 50 900 250 3.000 7.800 500 7.000 2.000 1.550 9.500 1.500 45.000.000 3.500 7.700 750 10.000.500 135.500 3.000 22.066/33.500 5.000 2.000 5.000 6.000 1.000 7.000 7.500 15.000 20.000 150 2.000 tahun 9.500 22.000 48 3 3 3 3 3 3 3 3 35.000 2.500 5.5KW Mesin tik 60 cm Radio SSB GPS Handy talky Longboat patroli.000.000 3.200 48 100 3 3 3 3 3 3 3 3 5.500 5.000.500 45.000 250. 1.000 900.000 100 1.500 15.500 1.500 1.000 3.500.200 1.500 7.000 25.100 2.000 10.680 15.550.750.000 20.000 3.500 3.500 10.500.000 84.500 5.000 7.500 1.000 1.000 5.066/33.000.000 3.200 1.000 9.100 45.750 1.000 84.000 3.750 2 3 4 5 7 1 2 1 1 1 1.000 15.500 1.000 1.000 7.000 3.000 60.000 7.000 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.000.000 1.000 unit 250.200.500.000 10.000 6.250 31.000 3 unit 1. 25 pk Peralatan pondok kerja Sarana air bersih Pemeliharaan (KPPN.360 22.000.000 5.500 5.000 20.000 50.000 25.000 25.000 1.000 5.200 9.000 3.000 450 8.500 2.500.000 25.500 6.000 20.700 750 10.51) Pondok kerja (m) Pembebasan lahan (m) Genset Pondok kerja.040 22.000 2.080 67.000 unit 2.500 5.17 .500 3 petak 50.000 75.550 9.500 15.000 9.000.000 84.000 252.

680 unit 30.000 45.18 .000.000 600 35.000 30.000 unit 75.000 75.200 1.000.000 1.000 96.000 600.000 unit 15.680 600 1.000 84.200.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Komponen 1 2 3 4 5 Volume Satuan Harga Satuan Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Total 5 tahun x 000.000 15.000 30.000 15.680 600 1.000 6.040 - BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan 2 Sarana Pendidikan Brosur/leaflet/buku komik cagar alam Pusat data n informasi 3 Sarana Penelitian Pengadaan pondok penelitian(KPPN.680 84.000 1.680 15.200 1.680 600 1.400 5.400 2.680 2.000 96.750.000 48 3 1 48 1 48 1 1 48 35.000 1.000.720 2.000 1.000 m 1.000 1.000.000 75.066/33.51) Pondok Peneliti (dlm kompleks kantor) Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung (m) Longboat untuk peneliti (40 pk) Pemelliharaan Pondok Peneliti Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung Longboat untuk peneliti (40 pk) Pembiayaan VI .

000 5.000 1 3 1 1 1 7 7 1 75.000 60.500 6.500 7.500 Pembiayaan VI .000 20.500 4.000 24.066/33.000 20.625 8.000 6.000 75.066/33.000 75.000 15.000 21.000 243.000 No Aktivitas/Kegiatan Komponen 1 Sarana Pengelolaan Kantor 500 90 162 1 3 unit 10.000 12.000 21.000.000 3.000.000 12.500 1.000 24.640 12.19 .000 900.000 20.000 1 1.500.830 132.000 10.000 17.000 80.400 7.000 1 7.500.000 4.000.51) 10.500.500 26.550 37.500 17.750.000 7.000 1.51) 252 500 4 1 7 1 2 unit unit unit 1 Bangunan Kantor (m) + barak Halaman kantor komputer dan printer Peralatan kantor Radio SSB Handy talky Speed boat patroli Longboat patroli 35.000 62.500 17.000 3.500.640 12.500.000 30.000 1.000 8.000 22.000 8.000 75.500 4.000 250 25.500 5.200 62.000 94.000 - 20.280 30.500.500 8.000 75.000 35.640 12.000 21.000.000 15.000 20.500 7.000 unit paket unit 4.000 35.000 - 8.000 22.000 15.000 157.000.175 7. Rencana Alokasi Biaya Pengadaan Sarana dan Prasarana untuk Jangka Panjang (per tahun) pada Periode 25 Tahun (2006-2030) Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 2006-2010 2011-2015 2016-2020 2021-2025 2026-2030 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.000 8.000 1.500 5.000 12.500 250 25.640 12.000 21.000.500 17.000 157.450 30.125 30.500 150.000 unit 250.000 12.000 5.000 20.000 20.000 30.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VI-4.000 Pembebasan Lahan Kantor Bangunan Kantor (m) Barak Polhut (untuk 6 orang atau klg) Genset Kantor (4.475 30.000 500.000 25.500 17.500 88.500 243.000.640 12.500 5.000.500.000.500 1.000 12.5 KW) Komputer P IV Printer A3 (HP 1180C)+ USB Conector Peralatan kantor faksimil Pengadaan Sambungan Telpon Radio SSB GPS Kompas Sunto Speed boat patroli 40 PK Longboat patroli 40 pk Handy talky motor roda 2 Sarana air bersih 2 7 4 1 unit 30.500 Pemeliharaan Kantor (KPPN.000 40.000 - 60.000 10.000 Pengadaan Kantor/pondok (KPPN.500 12.000 250.500 5.000 8.000 2.000.850 8.

500.200.200 2021-2025 9.500 15.315 2.925 52.000 7.880 517.000.000 10.550.813 52.500 3.500 1.000 3.000 25.500 25.000 250.500.750.000 135.000 1.000 75.250 585 10.000.000 45.000 unit 2.500 563 10.000 60.000 1.275 241.790 13.500 258.080 67.500 29.000.500 3.066/33.5KW Mesin tik 60 cm Radio SSB GPS Handy talky Longboat patroli.200 112.700 52.500 15.000 10.200 45.500 225.250 31.200 2016-2020 6.500 132.000 - - - - 84.000 10.000 Pengadaan Pondok kerja (KPPN.500 15. 25 pk Peralatan pondok kerja Sarana air bersih Pemeliharaan (KPPN.530 2.210.000 5.500 27.000 5.500 15.000 15.000 7.750.000 84.000 7.000 22.000 110.000 22.588 52.250 252.000 450 8.000.000 20.000 37.000.500 2.000 900.500.500 25.000 3.000 60.200 112.125 2.200 112.200 45.51) Pondok kerja (m) Pembebasan lahan (m) Genset Pondok kerja.000 252.000 1.000 3 Sarana Penelitian Pengadaan pondok penelitian(KPPN.000 Pembiayaan VI .20 .200 45.200 225.500 15.500 281.000 25.000 25.125 3 petak 50.500.000.000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Komponen Motor roda 2 opeasional genset (liter bensin) Biaya Telpon Pondok Kerja 48 100 3 3 3 3 3 3 3 3 48 3 3 3 3 3 3 3 2.100 2.000 25.200 112.000 50.000 3 unit 1.000 2006-2010 3.000 518 9.500.500 310.500 28.500.066/33.000 15.000 1.750 540 9.51) 22.000 1.000 75.875 7.000 1.300 2026-2030 12.066/33.200 1.200 45.000.655 47.000 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 3 1 1 tahun 9.51) 48 m Pondok Peneliti (dlm kompleks kantor) 1.100 2011-2015 6.750 - Pondok kerja (m) Operasional Genset Operasional longboat Mesin tik 60 cm Radio SSB Handy talky Longboat patroli Peralatan pondok kerja 2 1 Sarana Pendidikan Brosur/leaflet/buku komik cagar alam Pusat data n informasi 2 paket 5.000.720 2. 1.500 3 35.400 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.

000 15.000.000 37.720 2.21 .200.500 unit 30.000 Pondok Peneliti Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung Longboat untuk peneliti (40 pk) Pembiayaan VI .000.680 600 1.000.000 6.000 75.000 1.000 15.680 37.200 1.400 5.000 2011-2015 2016-2020 2021-2025 2026-2030 Satuan Harga Satuan Total 25 tahun x 000.680 37.000 30.040 150.200 1.500.000 600 600 35.500 unit 15.000 1.000.400 2.000 15.000 45.680 600 1.000 600.500 35.500 1.680 1.680 37.000 2.000 unit 75.000 96.000 1.000 75.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Total Biaya Periode Tahun ke ( x '000) Volume 2006-2010 3 1 48 1 48 1 1 48 1 1 7.000 96.680 1.000 BKSDA Papua II Sorong No Aktivitas/Kegiatan Komponen Stasiun Pengamat Cuaca Stasiun Pengamat Air Sungai Pondok Peneliti terapung (m) Longboat untuk Peneliti (40 pk) Pemelliharaan 30.

.

sesuai dengan kemajuan-kemajuan teknologi dan prinsip-prinsip umum pengelolaan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VII. Secara struktural. dibutuhkan ukuran pengelolaan yang kecil tetapi efektif. baik berupa pelatihan dalam lingkup Kehutanan. Kelembagaan. Ini bertujuan untuk mengefisienkan anggaran personalia. pola peran partisipatif masyarakat dan pihak swasta yang ada di sekitar Teluk perlu dilibatkan. Penerapan adanya Polisi Hutan volunteer yang biayanya dibebankan kepada pihak swasta yang berniat membantu dapat dikembangkan tetapi garis komando terhadap Polisi Hutan ini ada di Kepala Resort dan pihak swasta hanya sebatas memberikan dukungan berupa fasilitas. program-program pengembangan sumberdaya manusia. tetapi mengoptimalkan anggaran operasional dan pengelolaan inventarisasi perlengkapan di Resort Cagar Alam Teluk Bintuni.1 . koordinasi. Pembinaan SDM. Disamping itu. Untuk itu. jumlah personal di Resort Cagar Alam Teluk Bintuni diusulkan bertambah sesuai dengan pos pengawasan yang diusulkan.1. Untuk itu dibutuhkan kerangka logis pengelolaan yang efisien dan dinamis. yang terutama didasarkan pada strategi komunikasi. untuk menunjang pengelolaan yang optimal. Kelautan dan Perikanan. Kelembagaan Resort KSDA Teluk Bintuni yang langsung mengelola Cagar Alam Teluk Bintuni berada langsung di bawah BKSDA Papua II. Pengorganisasian VII . Disamping itu perlu mengoptimalkan kemampuan teknis masing-masing personalia yang ada dalam proses pengelolaan. Prinsip pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni bersifat terpadu dan partisipatif. dan pendidikan. Secara administratif BKSDA Papua II akan berkoordinasi dan bertanggung jawab kepada Departemen Kehutanan. Lingkungan Hidup. multistakeholders. dimana setiap pos akan diisi satu sampai 2 orang Polisi Hutan. agar mampu mengoptimalkan pola pengelolaan yang koordinatif dan partisipatif dengan tetap berkoordinasi dengan pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni. A. BKSDA harus memiliki kemampuan dalam berkomunikasi dan berkoordinasi dengan berbagai pihak. Kebutuhan pelatihan bersifat dinamis. untuk melancarkan kegiatan pengelolaan kawasan dan terpadu dengan pembangunan di wilayah sekitarnya. Kepala Resort Cagar Alam Teluk Bintuni harus lebih bersifat fungsional. maupun lingkup lainnya merupakan kebutuhan penting. dan Koordinasi Pengembangan Organisasi dan SDM Pelaksanaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni dilakukan BKSDA Papua II cq Resort Bintuni. Oleh karena itu. PENGORGANISASIAN A. Untuk mewujudkan pola pengelolaan yang efisien dan dinamis. diusulkan beberapa posisi yang bersifat fungsional penuh. Sebagai pihak pengelola kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni.

2 . Penataan Pemeliharaan Pemanfaatan Pengawasan Perlindungan dan Pengembangan Pemulihan Pengendalian Gambar VII-1. Di lain pihak. pengendalian dan pemulihan di kawasan cagar alam (Gambar VII-1). Aktivitas pengawasan dapat memberikan informasi dan data untuk kepentingan pemeliharaan dan selanjutnya penataan.2. Kebijakan Pengelolaan Di dalam pengelolaan cagar alam. pelaksanaan penelitian dan pengembangan akan memperkaya informasi untuk kepentingan pemeliharaan. semua aktivitas pengelolaan saling mendukung satu sama lain. pemberdayaan masyarakat dan komunikasi Melakukan kerjasama dalam pengawasan kawasan dengan membina Polisi Hutan volunteer dengan kerjasama pihak III A. Struktur Arus Informasi dari Tahapan Pelaksanaan Pengelolaan di Cagar Alam Teluk Bintuni Struktur organisasi dan sumberdaya manusia perlu di evaluasi terus-menerus melalui suatu analisis beban kerja dan kebutuhan tenaga sehingga diharapkan lebih berdayaguna dan berhasilguna serta dapat mengantisipasi beban pekerjaan yang akan dihadapi dan direncanakan. pemanfaatan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Meningkatkan status pengelolaan kawasan konservasi di Teluk Bintuni menjadi seksi KSDA mengingat di wilayah ini ada 2 kawasan cagar alam (Cagar Alam Teluk Bintuni dan Wagura Kote) atau Cagar Alam Teluk Bintuni Menambah jumlah Polisi Hutan sehingga setiap wilayah pengawasan yang ada terisi dengan Polisi Hutan penanggungjawab wilayah Melakukan pelatihan Polisi Hutan dalam bidang pengamanan hutan. Pengorganisasian VII .

Tujuannya adalah untuk memudahkan pengawasan dan koordinasi sekaligus menjadi mata rantai pengawasan di seluruh kawasan cagar alam Membantu pemerintah daerah dalam perumusan peraturan daerah khusus untuk keberadaan kawasan konservasi Cagar Alam dalam tata ruang kabupaten. media massa. Pengorganisasian VII . Forum ini dibentuk dengan tujuan cagar alam lestari. Koordinasi dengan Instansi Lain Secara umum. dan swasta. yang pelaksanaannya dilakukan secara bertahap disesuaikan dengan formasi dan biaya yang tersedia. dan swasta dilakukan oleh BKSDA atau Resort dengan sepengetahuan BKSDA Papua II. koordinasi pengelolaan dilakukan oleh pengelola Cagar Alam (Resort BKSDA) dengan instansi terkait lain di dalam kabupaten dapat berlangsung optimal untuk membuka peluang koordinasi dan kerja sama dalam kegiatan-kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. Untuk menunjang pelaksanaan pengelolaan. Lembaga Pendidikan dan Penelitian.4. Kegiatan yang dapat dilakukan adalah : Membentuk forum Komunikasi dan Kelompok Masyarakat Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). media massa. Pemerintah Propinsi dan Pusat. Forum ini merupakan forum multistakeholder dan menjadi forum atau wadah komunikasi yang membicarakan semua kegiatan yang akan dilakukan di Cagar Alam.3 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dalam rangka menyesuaikan beban pekerjaan yang terus berkembang maka dari hasil analisis diperlukan penambahan tenaga pada berbagai bidang keahlian. lembaga swadaya masyarakat (LSM). Dalam pelaksanaannya.3. Masyarakat. A. Koordinasi secara khusus dengan pemerintah Pemerintah Propinsi dan Pusat. kelompok masyarakat yang mencari nafkah dari dalam kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni juga harus diorganisir. Koordinasi khususnya dibutuhkan untuk menjangkau pihak-pihak di lain dalam intansi Pemerintah Kabupaten. koordinasi pengelolaan dilakukan antara pengelola CATB dengan instansi di atasnya yaitu BKSDA Papua II Sorong. Koordinasi Dalam Lingkup Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Secara umum. forum ini bisa menjadi perpanjangan tangan atau sumber informasi bagi Badan Monitoring Pada sisi lain. Hal ini dimaksudkan agar keberadaan Cagar Alam menjadi tanggungjawab semua pihak dan keberadaan serta pemanfaatan berhasil guna bagi masyarakat sekitar. A. kepastian hukum kawasan juga harus menjadi perhatian.

serta 11) Kepolisian dan TNI. 2. 4) Dinas Tanaman Pangan. Lembaga Pendidikan dan Penelitian Dalam rangka pengembangan sumberdaya manusia. 3. Pengorganisasian VII . maka pengelola CATB harus berkoordinasi dengan instansi dalam lingkup Pemerintah Kabupaten. Masyarakat Setempat Guna mengoptimalkan pengelolaan kawasan yang efisien dan partisipatif. terutama dengan: 1) Aparat desa. 8) Dinas Perindustrian dan Perdagangan. 4. Kegiatan-kegiatan penelitian oleh lembaga-lembaga internasional untuk tingkat operasional diatur sepenuhnya oleh Ditjen PHKA dan BKSDA Papua II Sorong. Menengah. Bentuk koordinasi dalam hal ini berupa. 3) Dinas Kehutanan. maka koordinasi dengan masyarakat setempat sangat penting dilakukan. kerjasama kegiatan dan konsultasi.4 . Koordinasi dalam hal ini berupa. Semua kegiatan koordinasi dengan masyarakat setempat dilaporkan kepada BKSDA Papua II Sorong dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. berkaitan dengan keterlibatan masyarakat luas serta usaha peningkatan kesadartahuan masyarakat tentang nilai dan manfaat Cagar Alam Teluk Bintuni. Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni dan instansi teknis lainnya Bentuk koordinasi dalam hal ini berupa. 7) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah. kerjasama kegiatan dan konsultasi. kerja sama kegiatan. Koordinasi dengan masyarakat setempat. maka koordinasi dalam kegiatan pendidikan dan penelitian sangat penting dilakukan. 3) Tokoh-tokoh masyarakat lainnya. 5) Dinas Perhubungan. dan konsultasi. dan Umum se Kabupaten Teluk Bintuni dan 2) Perguruan Tinggi. Koordinasi tersebut meliputi: 1) Lembaga Pendidikan Dasar. 2) Dinas Pariwisata. 10) Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah. Lingkup Pemerintah Propinsi dan Pusat BKSDA Resort Cagar Alam Teluk Bintuni harus berkoordinasi dengan Pemerintah Propinsi Irian Jaya Barat. 2) Badan Perwakilan Kampung atau Lembaga Masyarakat Adat (LMA). informasi dan kerjasama kegiatan. Bentuk koordinasi yang dilakukan dalam hal ini berupa pelaporan. 9) Dinas Pendidikan. Lingkup Pemerintah Kabupaten BKSDA Papua II Sorong Agar strategi dan program pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat sejalan dan terpadu dengan strategi dan program pembangunan Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. pelaporan. pelaporan. informasi. 6) Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 1. sebagai berikut: 1) Dinas Perikanan dan Kelautan.

Semua kegiatan koordinasi dengan LSM dilaporkan kepada BKSDA Papua II Sorong dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. 7. Secara umum. maupun dari luar teluk. dan sebagainya 3) LSM lokal: . Pengorganisasian VII .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 5. media elektronik. Masyarakat sebagai salah satu pemangku kepentingan (stake holder) dapat berperan sebagai Polisi Hutan volunteer yang membantu proses pengawasan sekaligus juga menjadi pengguna jasa cagar alam. Media Massa Usaha untuk menumbuhkan kesadartahuan dan keterlibatan masyarakat dalarn pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni sulit tercapai apabila komunikasi dan informasl hanya dilakukan oleh Kepala Resort Cagar Alam Teluk Bintuni atau BKSDA Papua II Sorong. dan media alternatif. WWF. sangat dibutuhkan. tidak hanya untuk masyarakat sekitar tetapi juga mampu menjangkau tingkat nasional dan internasional. pelaporan. Swasta bisa juga berperan dalam memfasilitasi keberadaan Polisi Hutan volunteer untuk pengawasan. Lembaga Swadaya Masyarakat BKSDA Papua II Sorong LSM memiliki peran penting baik sebagai fasilitator atau pendamping masyarakat. Media masa dalam hal ini. para pemangku kepentingan di Teluk Bintuni yang dapat berperan dalam pengelolaan Cagar Alam perlu mengetahui peran apa saja yang bisa dilakukan. Perusahaan swasta ini bisa berperan aktif bersama Resort untuk mengawasi atau pengamanan kawasan Cagar Alam. Koordinasi tersebut terutama dengan: 1) LSM internasional: The Nature Conservancy (TNC). maupun sebagai pengumpan masukan-masukan alternatif bagi strategi dan kebijakan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni. terutama perusahaan besar di Kabupaten Teluk Bintuni. 6. Untuk itu koordinasi antara Resort Cagar Alam Teluk Bintuni dengan LSM baik di Kabupaten Teluk Bintuni dan sekitarnya.5 . kerjasama kegiatan dan konsultasi. Swasta Koordinasi dengan swasta juga tidak kalah penting. Dukungan media massa bagi strategi komunikasi dan informasi pengelolaan akan memperluas daya imbasnya. Masyarakat di dalam pengelolaan cagar alam bias menjadi perpanjangan tangan dari kepala Polisi Hutan sebagai pengelola teknis di daerah pengelolaan cagar alam untuk mengumpulkan banyak informasi yang berguna bagi pengelolaan. Walhi. dan lain-lain Koordinasi dalam hal ini berupa. Conservation International (CI) dan lain-lain 2) LSM nasional: Yayasan Kehati. adalah media cetak.

Kondisi ini menempatkan pelaksana teknis pengelolaan akan diawasi secara menyeluruh.6 . masyarakat juga harus berkoordinasi dengan cagar alam.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Disamping itu. Dalam pelaksanaan pengelolaan. tanggungjawab pelaksanaan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni berada di bawah BKSDA Papua II Sorong. Di dalam pelaksana teknis. kepala resort bertanggungjawab sepenuhnya bagaimana melakukan implementasi pengelolaan kawasan. masyarakat juga bias berperan sama untuk badan monitoring. Keanggotaan dari badan yang cukup beragam akan membuat sinkronisasi kegiatan dengan instansi terkait di lingkup Kabupaten Teluk Bintuni bias berjalan dengan baik (Gambar VII-2). Struktur Sistem Pengelolaan Kawasan Cagar Alam Posisi bada monitoring yang berada di luar struktur internal BKSDA ataupun pelaksana teknis Cagar Alam membuat badan ini lebih independent dalam melakukan tugasnya untuk mengawasi pelaksanaan pengelolaan tetapi badan ini terikat kepada rencana pengelolaan kawasan. Badan ini akan memberikan input kepada resort dan BKSDA sebagai penanggungjawab. Tanggungjawab dan Administrasi Secara administrasi. Akan tetapi dalam perannya untuk pengelolaan. Masyarakat Dalam Kawasan CA dan di sekitar kawasan CA Teluk Bintuni Ka BKSDA Papua II Sorong Badan Monitoring Swasta Kepala Ressort Cagar Alam Teluk Bintuni Universitas Papua LMA Bappeda Kab TB Dinas Kehutanan Dinas Perikanan Polisi Hutan Forum Komunikasi Kelompok Pemanfaat Gambar VII-2. dikembangkan adanya peran badan monitoring pengelolaan kawasan yang direncanakan dalam dokumen rencana pengelolaan. B. baik oleh masyarakat maupun oleh badan monitoring. Pengorganisasian VII .

Memberikan laporan pelaksanaan kepada Kepala BKSDA Papua II Sorong Polisi Hutan 1. Struktur Organisasi Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Kawasan CATB (Cagar Alam Teluk Bintuni) dengan luasan yang cukup besar sebaiknya dikelola dengan jumlah staf yang memadai. Untuk itu direncanakan untuk menambah staf dan struktur pengelola dengan membuat adanya kantor pembantu pada beberapa wilayah. Setiap kantor wilayah ini akan bertanggungjawab ke kepala resort dalam melaksanakan tugas pengelolaan kawasan. Menyusun pengawasan dan evaluasi bulanan pelaksanaan rencana pengelolaan 6. Mengkoordinir Polisi Hutan yang ada di Cagar Alam Teluk Bintuni dalam melaksanakan tugas pengelolaan kawasan 3. Bertanggungjawab terhadap pelaksanaan rencana pengelolaan 2. seperti Naramasa. Tugas dan Fungsi : Kepala Polisi Hutan 1. Mamuranu. Membangun kerjasama dengan instansi swasta yang ada di Kabupaten untuk Pengelolaan CA dan melaporkan kepada Ka BKSDA 5. Tirasai. Bertanggungjawab terhadap koordinasi dengan instansi lain yang ada di Kabupaten Teluk Bintuni 4. Di setiap wilayah pembantu akan diisi juga dengan Polisi Hutan (Gambar VII-3).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Ka BKSDA Papua II Sorong BKSDA Papua II Sorong Badan Monitoring Universitas Papua LMA Bappeda Kab TB Dinas Kehutanan Dinas Perikanan Administrasi Kepala Polisi Hutan Cagar Alam Teluk Bintuni Ka Wilayah Naramasa Ka Wilayah Mamuranu Ka Wilayah Tirasai Polisi Hutan Polisi Hutan Polisi Hutan Gambar VII-3.7 . melakukan tugas Polisi Hutan Pengorganisasian VII .

Membantu kepala Polisi Hutan dalam mengelola data base kawasan 5. Untuk luas CATB yang mencapai 124. Untuk efisien dan efektifnya pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2. Mengikuti pendidikan polisi kehutanan Staf Komputer dan Administrasi Pengorganisasian VII . penyuluhan dan pembinaan masyarakat. Kepala Wilayah (penanggungjawab wilayah) : Pendidikan D3 Kehutanan masa kerja 1-3 tahun. pemberdayaan masyarakat.8 . atau SMA dengan masa kerja 5-10 Tahun sebagai Polisi Hutan Pernah mengikuti pelatihan penyuluhan dan pemberdayaan masyarakat Polisi Hutan (Pohut) 1. Melakukan tugas adminstrasi kantor resort 2. Kulitas pengelola juga bisa dipenuhi dengan adanya pelatihan. atau SMA dengan masa kerja lebih dari 15 tahun bekerja sebagai Polisi Hutan di Cagar Alam Pernah mengikuti pendidikan penyidik pegawai negeri sipil (PPNS). membantu kepala Polisi Hutan dalam pengelolaan CA BKSDA Papua II Sorong 3. Penyusunan Staf Kebutuhan staf untuk pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu ditingkatkan baik jumlah maupun kualitas. penjenjang teknis kehutanan (PTK). pelatihan penyusunan program.000 Ha dibutuhkan tambahan tenaga Polisi Hutan yang bisa berfungsi ganda. Membantu kepala Polisi Hutan dalam mengkoordinasi kegiatan penelitian di kawasan C. Bertanggungjawab terhadap dokumentasi kegiatan resort 3. baik dalam pengawasan. Kepala Polisi Hutan/Kepala Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni/Kepala Resort : Pendidikan Sarjana/D3 Kehutanan masa kerja 3-5 tahun. penyuluhan dan perencanaan partisipatif. kebutuhan tenaga tidak hanya dari jumlah tetapi juga kualifikasi harus memadai. Membantu kepala Polisi Hutan dalam pengarsipan dokumen penelitian dan rencana penelitian 4. memberikan laporan dan evaluasi pekerjaan setiap bulan kepada kepala Polisi Hutan Administrasi 1.

Pendidikan D3 komputer/administrasi masa kerja 1-3 tahun.2011.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 2.20262015 2020 2025 2030 - 3 3 3 2 1 1 2 1 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Pengorganisasian VII . maka syarat minimal harus dipenuhi dan ketrampilan akan dipenuhi lewat pelatihan (Tabel VII-1) dan rencana kebutuhan pembiayaan didasarkan kepada standard biaya 2005 (Tabel VII-2) Tabel VII-1. Kondisi Staf Pengelola Cagar Alam dan Rencana Pemenuhan Staf berserta Rencana Pelatihan Kebutuhan Staff No Aktivitas/Kegiatan Eksisting A 1 2 Staf Polisi Hutan Senior/Kepala Resort Polisi Hutan (polhut) Polhut Pelaksana Pemula Polhut Pelaksana 3 Administrasi Staf komputer dan administrasi B Pelatihan Pelatihan Pengenalan Jenis Pelathan Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Penyusunan Program Pelatihan Penyuluhan Pelatihan Pembuatan Data Base Pelatihan GIS Pelatihan Perencanaan Partisipatif 3 1 1 1 1 0 1 1 D3/ SLTA 1 0 1 6 6 6 5 D3/ SLTA D3/ SLTA 3 2 2 3 1 1 1 0 Sarjana/ D3 0 Kebutuhan Selisih Kualifikasi 2010 Pemenuhan Tenaga 2006.2021. Bila kebutuhan staf di daerah tidak ada yang memenuhi.9 .2016. atau SMA dengan masa kerja 5-7 tahun di bidang komputer/administrasi Kebutuhan tenaga untuk pengelolaan Cagar Alam direncanakan akan dipenuhi sampai pada periode 2020 dan kapasitasnya juga akan diperkuat melalui kegiatan pelatihan dan kursus.

X 000) No A 1 2 Aktivitas/Kegiatan Staf Polisi Hutan Senior/Kepala Resort Polisi Hutan (polisi Hutan) Polhut Pelaksana Pemula Polhut Pelaksana 3 Administrasi Staf komputer dan administrasi B Pelatihan dan Kursus Pelatihan Pengenalan Jenis Pelathan Pemberdayaan Masyarakat Pelatihan Penyusunan Program Pelatihan Penyuluhan Pelatihan Pembuatan Data Base Pelatihan GIS Pelatihan Perencanaan Partisipatif 15.400 3.400 5.000 4.000 4.000 15.400 5.000 4.000 4.800 5.000 4.000 5.000 6.400 60.400 8.000 4.000 7.150 4.000 5.000 4.000 5.000 12.10 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VII-2.000 5.000 6.000 8.000 APBN.000.800 7.000 468.500 8.000 4.000 5. Swasta 396.000 12.000 96.651 4. 20062010 20112015 20162020 20212025 20262030 Sumber Dana APBN Pengorganisasian VII . Rencana Kebutuhan Biaya Pemenuhan Staf dan Rencana Pelatihan di Cagar Alam Teluk Bintuni Rencana Biaya (Rp.865 4.400 5.

pengamatan dan penelitian. yaitu pertama pemantauan atas rencana-rencana yang telah dibuat. serta rapat berkala yang diikuti oleh semua pegawai Ressort KSDA Teluk Bintuni. A. Dalam perjalanan waktu. Pemantauan dan evaluasi oleh unsur internal ini bisa berupa pengawasan melekat oleh atasan langsung baik di kantor maupun di lapangan. terminologi ini mengetahui perbedaan antara kejadian-kejadian alami. memutuskan apakah perlu ada perubahan rencana dan membuat perbaikan-perbaikan. isu-isu pengelolaan kawasan yang baru akan muncul. Demikian juga pelaksanaan rapat rutin yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional. Secara umum melakukan kegiatan monitoring berarti melakukan dua hal. A.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong VIII.1 . sehingga pemantauan dan evaluasi kegiatan merupakan hal yang sangat penting dilakukan agar seluruh kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang ditetapkan. MONITORING DAN EVALUASI Kegiatan pengelolaan Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni merupakan proses yang berkelanjutan. Sedangkan evaluasi berarti mengidentifikasi apa yang sudah dicapai dan mana yang belum serta apa yang harusnya dilakukan ke depan dengan melibatkan atau mengumpulkan umpan balik dari stakeholder-stakeholder kunci dan pengelola. survei. Pengawasan tersebut bisa diwujudkan berupa kegiatan pembinaan ke lokasi secara reguler atau dengan kunjungan/inspeksi mendadak. Cara lain untuk pemantauan dan evaluasi kegiatan adalah dengan mengirimkan laporan periodik dan laporan khusus dari hirarki yang lebih rendah kepada pejabat di atasnya (misalnya dari petugas wilayah kepada kepala resort. prioritas kegiatan perlu dievaluasi dan dimodifikasi. dst). pemantauan. sehingga dalam aktivitas perencanaan lebih lanjut akan didapatkan beberapa strategi-strategi tertentu yang tidak relevan lagi. dalam sistem manajemen konservasi. dimodifikasi untuk Tetapi.1. Oleh karena itu. Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Pemantaun dan evaluasi yang dilakukan disini adalah merupakan kegiatan rutin dari pengelola kawasan terhadap kinerja anggota pengelola. PELAKSANA KEGIATAN Kegiatan pemantauan yang dilanjutkan dengan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan kawasan disarankan untuk dilakukan oleh unsur internal pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni maupun oleh Forum komunikasi yang independen. kedua membandingkan kinerja dengan ukuran yang telah di buat. Hal ini akan sangat efektif dalam pemantauan dan evaluasi kegiatan pengelolaan baik yang menyangkut kemajuan Monitoring dan Evaluasi VIII .

komposisi forum komunikasi diharapkan memperhatikan tidak hanya kapasitas personil tetapi juga faktor keterwakilan pemangku kepentingan (stakeholders) dalam kegiatan pengelolaan kawasan. Forum ini diharapkan selain berperan dalam mengevaluasi kinerja rencana kerja yang telah dibuat. Monitoring dan Evaluasi VIII . Saat ini institusi ini telah memiliki laboratorium Geographical Information System (GIS) dengan beberapa perangkat keras dan lunak yang memadai dan dipimpin oleh seorang kepala laboratorium yang telah memiliki kualifikasi yang cukup dalam memonitor dinamika suatu kawasan konservasi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong kegiatan maupun permasalahan yang dihadapi. dan VIII-2. A.2 . tidak diragukan lagi institusi ini telah memiliki sumberdaya manusia yang handal dan pengalaman dalam melakukan pemantauan dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan baik kawasan konservasi maupun kegiatan kehutanan lainnya. Dari segi kemampuan personil yang ada. dukungan peralatan yang ada dirasa cukup memadai untuk suatu kegiatan pemantauan dan evaluasi.2. Forum Komunikasi Independen Selain Pemantauan dan evaluasi kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni yang dilakukan oleh pengelola kawasan.1 Komposisi Forum Komunikasi MONEV CATB Untuk keperluan monitoring dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan. juga berfungsi sebagai kontrol dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan kawasan. Universitas Negeri Papua Institusi ini perlu mendapat pertimbangan sebagai pelaksana kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan pengelolaan. Berikut adalah kondisi peralatan dan personil pendukung yang ada di Laboratorium GIS yang bernaung di bawah Fakultas Kehutanan. Pemecahan masalah biasanya dapat lebih cepat ditangani dibanding hanya komunikasi surat atau laporan.2. Universitas Negeri Papua Manokwari seperti disajikan pada Tabel VIII-1. kehadiran dan peran suatu Forum Komunikasi yang independen sangat diperlukan. A. Disamping itu. Berikut adalah komposisi forum komunikasi yang akan dusulkan dengan memperhatikan aspek kemampuan pelaksana dan keterwakilan pemangku kepentingan utama dalam pengelolaan kawasan: 1.

7. Kamera Digital UPS Stabilazer Elektrik Kid 1 Unit 1 Unit 1 Unit - P2T Faperta Uncen Semi Que IV Jrs Kehutanan Semi Que IV Jrs Kehutanan Lab. 256 MHz. 1. 20 G Pentium IV. 11. Faperta Uncen Semi Que IV Jrs Kehutanan Diploma MHAP Fahutan Unipa Diploma MHAP Fahutan Unipa Tahun 2000 2002 2003 Status Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Ket.7 GHz.26 GHz. 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit 2000 2000 2000 2003 Inventaris Pinjaman Inventaris Inventaris Baik Baik Rusa k Baik 9. 40 G Pentium II. 8 link Kodak Easy Share Pro Link Pro 2100. 3. Nama Barang Komputer Hardwares Spesifikasi Pentium I. 16 M. 1 Unit 1999 Pinjaman Baik 5. Lisenced ArcView 3. Epson Stylus pro 7500 Calcom Jumlah 1 Unit 1 Unit 1 Unit 1 Unit Sumber Pengadaan P2T.0 Gb.1. 600 Mb. 2 G Pentium IV. Baik Baik Baik Baik 5 Unit 2004 Inventaris Baik 1 Unit 1 Unit 5 Scene 5 Scene TNC TNC Proyek Atlas SD Pesisir Unipa Semi Que IV Jrs Kehutanan Bappeda TK I Irian Jaya P2T Faperta Uncen Bappeda TK I Irian Jaya P2T Faperta Uncen TNC 2000 2003 2002 2002 Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Baik Baik Baik 1 Unit 2002 Baik 4. Meja Digitasi Portable Meja Digitasi Gulung Ploter Ploter Scanner D-Link 10/100 Fast Ethernet Switch DES-1008D. 40 G 2. 1. 10. 2. 20 G Pentium IV. 12. Sarmi 3. Komputer Soft wares ILWIS 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VIII-1. 261 Mb. 500 VA A1.0 GHz.3 Lisenced Citra Landsat 7 ETM.3 . 1. 32 M. Teluk Bintuni Citra Landsat 7 ETM. Kondisi fasilitas pendukung pengelola Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa No. Biometrika dan GIS 2000 2003 2002 2002/ 2005 Inventaris Inventaris Inventaris Inventaris Baik Baik Baik Baik Monitoring dan Evaluasi VIII . 6. 256 MHz. 8. 1000 W UNION 50/60 Hz.

BIOTROP. Unipa Manokwari. Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. BIOTROP. Kontribusi yang dapat diberikan oleh institusi ini dalam kegiatan monitoring dan evaluasi adalah lebih banyak difokuskan pada pemantauan dan mengevaluasi keberhasilan kegiatan. Bogor Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. Christian Imburi Fransina Kesaulija Sarjana Sarjana Magang SIG untuk pemula di Biotrop.2. Dari peran dan fungsi yang akan Monitoring dan Evaluasi VIII . membantu mengidentifikasi dan memfasilitasi pemecahan masalah-masalah. Kondisi personil pendukung pengelolaan Lab GIS Fakultas Kehutanan Unipa No. Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. Tahun 2004. Remote Sensing and GIS for Coastal Zone Management Tahun 2003. Unipa Manokwari. Unipa Manokwari 3. Nugroho Master 1. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001.q Resort KSDA Bintuni Selain melakukan monitoring dan evaluasi internal sebagai institusi pengelola. Unipa Manokwari 3. khususnya yang berhubungan dengan aspek keilmuan yang dihadapi pengelola. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001. Julius D. Pelatihan Pengenalan SIG untuk pengelolaan Kawasan CA Tahun 2001. PNGTahun 2002. BIOTROP. 4. BKSDA Papua II c. Remote Sensing and GIS for Coastal Zone ManagementTahun 2003. termasuk daerah Cagar Alam Teluk Bintuni. Unipa Manokwari. Bogor. 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Tabel VIII. 1. Unipa Manokwari Sponsor TNC & UNIPA TNC TNC TNC TNC & UNIPA TNC TNC TNC & UNIPA TNC 4. Unipa Manokwari. 2. Nama pengelola Yosias Gandhi Kualifikasi Master Pelatihan SIG 1. Pelatihan Identifikasi Vegetasi Mangrove di Teluk Bintuni Tahun 2001. institusi ini telah beberapa kali menjalin kerjasama dengan beberapa LSM dan Pemerintah Daerah dalam penelitian dan pengkajian di kawasan Teluk Bintuni. Unipa TNC & UNIPA Selain itu. 5. institusi ini juga diharapkan berperan dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi secara eksternal.4 . Presentasi Hasil Pelatihan SIG pada CA Teluk Bintuni di Biologi Conference IV. Yoseph Rahawarin Sarjana 1. Bogor 2. Goroka. sebagai pemegang kendali kegiatan pengelolaan kawasan. 2. 2. Bogor 3.

Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni Sebagai institusi perencana di Kabupaten Teluk Bintuni. 3.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong dimainkan oleh institusi ini dalam kegiatan pengelolaan. segala bentuk permasalahan dan hambatan dalam implementasi rencana kegiatan di lapangan akan lebih banyak diketahui oleh institusi ini. pengarahan dan kerjasama dengan kelompok target yang beragam. perlu dipertimbangan sebagai anggota VIII . institusi akan banyak berperan dalam mengkomunikasikan masalah dan hambatan yang ditemui dengan stakeholder yang lain dalam di forum ini. Apalagi di dalam struktur organisasi. Kegiatan ini umumnya adalah koordinasi kegiatan dalam bentuk bentuk konsultasi. Peran yang bisa dimainkan oleh institusi ini menunjang kegiatan monitoring dan evaluasi adalah memfasilitasi pemecahan dan penyelesaian masalah-masalah yang terkait dengan pembangunan dan pengembangan yang dilakukan oleh dengan pemerintah daerah. Peran masyarakat adat dalam kegiatan monitoring dan evaluasi lebih di fokuskan pada mengkaji atau memantau peristiwa-peristiwa yang diperkirakan memiliki dampak penting terhadap nilai dan fungsi kawasan. sesuai dengan tipe kelompok pemanfaat dan tipe dampak. Selain Badan Perencana Daerah (Bappeda) Kabupaten Teluk Bintuni. yang di wakili oleh Lembaga Musyawara Adat (LMA) Bintuni dan Lemasom. Institusi ini memang masih relatif baru seiring dengan pemekaran Kabupaten Teluk Bintuni. Dinas-Dinas yang relevan dengan kegiatan pengelolaan kawasan. Sehingga diharapkan dalam kegiatan evaluasi kegiatan pengelolaan yang akan dilakukan oleh forum komunikasi. Selain partisipasi langsung masyarakat dalam kegiatan rencana kelola. namun kapasitas institusi ini yang didukung oleh sumberdaya manusia yang ada tidak diragukan lagi dalam kegiatan monitoring dan evaluasi.5 Monitoring dan Evaluasi . dalam kegiatan monitoring sekaligus evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan dirasa penting. Badan ini diharapkan memainkan peran lebih banyak dalam menunjang kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni. peran masyarakat adat. Koordinasi untuk kegiatan pemantauan dan evaluasi pengelolaan meliputi Forum Koordinasi dan Wadah Partisipasi. Masyarakat adat yang diwakili oleh Lembaga Masyarakat Adat Teluk Bintuni. Melalui koordinasi dan peran serta masyarakat. dapat tercapai. Badan ini telah dilengkapi dengan Sub Bagian Monitoring dan Evaluasi. 4. serta pemanfaat potensi kawasan yang lainnya. 5. Hasil pengamatan di lapangan menunjukan bahwa dalam keberhasilan kegiatan pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni harus banyak melibatkan komponen masyarakat adat yang bermukim di dalam dan sekitar kawasan. pengelolaan yang efisien. Dinas terkait di Kabupaten seperti Dinas Kehutanan dan Dinas Perikanan dan Kelautan. Koordinasi juga diperlukan dengan masyarakat setempat. terutama dalam pemantauan dan evaluasi.

Peran penting yang bisa diambil oleh kedua institusi ini adalah dalam hal memfasilitasi penyelesaian masalah pengelolaan khususnya yang berkaitan dengan masyarakat yang memanfaatkan sumberdaya alam di dalam dan sekitar kawasan. 4. A. sehingga keberadaanya dalam struktur hukum di Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menjadi jelas. Membantu pengelola dalam memfasilitasi penyelesaian masalah pengelolaan. Dari luasan kawasan yang ada (±124. Membuat laporan evaluasi implementasi kegiatan rencana pengelolaan kawasan yang disampaikan kepada pengelola dan Pemerintah Daerah Kabupaten Teluk Bintuni. sehingga peranan kedua pemangku kepentingan (stakeholder) ini mutlak diperlukan baik dalam kegiatan pengelolaan maupun monitoring dan evaluasi. dan Kelompok Pemanfaat) di dalam dan sekitar kawasan (Gambar VII-1). serta pada bagian tertentu berbatasan dengan hutan produksi dan hutan lindung. Hal ini membuat aktivitas perikanan dan kehutanan di dalam dan sekitar kawasan tidak dapat terelekan. 5.850 ha).6 . forum independen yang dibentuk akan selalu berkoordinasi dengan Balai Konservasi Sumberdaya Alam Papua II Sorong dan kepala Resort KSDA Bintuni sebagai pemegang mandat utama pengelola kawasan serta masyarakat (Jagawana Voluntir. Monitoring dan Evaluasi VIII .2 Tugas dan Tanggung Jawab Tugas utama dari forum ini antara lain : 1. Berdasarkan kondisi stakeholder yang disebutkan di atas. Memberikan masukan kepada pengelola bila dari hasil evaluasi terdapat hal-hal yang tidak sesuai dengan rencana pengelolaan yang telah digariskan sebelumnya. namun tidak tertutup kemungkinan pada saatnya nanti koordinator badan ini dipercayakan pada stakeholder yang lain seperti Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong forum komunikasi yang diusulkan. Dinas-Dinas yang terkait langsung dan dianggap sebagai mitra kerja pengelola adalah Dinas Kehutanan (DINHUT) dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP). Forum komunikasi yang diusulkan perlu di perkuat dengan Surat Keputusan Bupati. Dalam pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi.2. sebagian besar terdiri dari ekosistem mangrove dan hutan dataran rendah. Forum Komunikasi. khususnya yang berkaitan dengan masyarakat. Melakukan evaluasi terhadap implementasi kegiatan sesuai dengan rencana pengelolaan yang sudah ditetapkan. 3. diusulkan forum independen ini bisa di bawah koordinasi Universitas Negeri Papua (UNIPA). Apabila dirasa perlu. forum ini dapat melakukan pengecekan lapangan (site visit) untuk melihat langsung kondisi lapangan yang sebenarnya. Memonitor pelaksanaan rencana pengelolaan yang dilakukan oleh BKSDA Papua II Sorong dan Ressort Teluk Bintuni 2.

Hal ini penting dalam meningkatkan pemahaman masyarakat tentang nilai dan manfaat kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni terletak pada senjang (gap) antara kegiatan teknis pelestarian dengan penginformasian kepada masyarakat luas. forum yang diusulkan harus dilengkapi dengan fasilitas penunjang serta peningkatan kemampuan. badan ini juga perlu ditunjang oleh kemampuan personil yang kualified.1. Pelatihan atau kursus yang bisa diusulkan dalam menunjang kegiatan forum ini antara lain: 1.7 . Pelatihan sistem monitoring dan evaluasi proyek yang bisa di fasilitasi oleh Unipa dan Bappeda Kabupaten Teluk Bintuni. B. Selain itu dalam kegiatan pemantauan dan evaluasi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni A. Salah satu strategi dalam yang bisa dilakukan dalam memfasilitasi peningkatan kemampuan (capacity building) dari personil dalam forum yang diusulkan adalah melalui pelatihan-pelatihan yang terprogram. Khusus untuk masyarakat yang diwakili oleh Lembaga Musyawarah Adat (LMA) kampung. Selain ditunjang oleh peralatan yang memadai. dirasa perlu untuk didukung oleh semacam pedoman pernantauan lapangan yang bersifat populer.2. RENCANA WAKTU PEMANTAUAN DAN EVALUASI Dalam implementasinya. sehingga dapat membantu pemantauan dan pengawasan potensi Cagar Alam Teluk Bintuni dan sekitarnya. Fasilitas penunjang yang dimiliki oleh Lab GIS di Unipa Manokwari dirasa sudah cukup memadai. strategi-strategi pengelolaan kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni perlu dimonitor dan di evaluasi untuk setiap periode waktu implementasi kegiatan tertentu oleh unsur internal pengelola kawasan maupun oleh suatu forum komunikasi independen.3 Sumberdaya pendudung BKSDA Papua II Sorong Dalam memperlancar kinerja. pelatihan atau kursus yang bisa diusulkan adalah pelatihan untuk penggunaan pedoman pernantauan lapangan. 2. Kepala Kesort sebagai agen pelaksana kegiatan di kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni diharuskan melakukan monitoring dan evaluasi terjadwal secara internal terhadap semua implementasi Monitoring dan Evaluasi VIII . Internal Pengelola Cagar Alam Teluk Bintuni Khusus untuk pemantauan dan evaluasi oleh unsur internal pengelola kawasan. yang bisa difasilitasi oleh pengelola kawasan yang didukung koordinasi dengan pihak-pihak LSM. Pelatihan pengenalan sistem informasi geografis (SIG) yang bisa difasilitasi oleh pengelola Lab GIS di Unipa Manokwari dan kerjasama dengan LSM Internasional seperti The Nature Conservancy (TNC). 3. namun masih perlu pengadaan beberapa perangkat lunak seperti foto citra satelit (Satelite imagenery) dan perangkat pengolahan data digital. B.

Pemantauan secara menyeluruh terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama satu tahun. Kinerja personil pelaksana kegiatan. Rapat berkala untuk mengevaluasi komprehensif terhadap seluruh implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh seluruh pengelola kawasan. yaitu: 1. Laporan rutin yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. Waktu Pelaksanaan Bulanan Bentuk Kegiatan Monitoring Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama sebulan penuh yang meliputi hal-hal: Target dan Realisasi kegiatan dan pembiayaan. 1. 3.2. No. Triwulan 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong rencana kegiatan pengelolaan kawasan (Bab V) yang dijabarkan lebih lanjut pada pada Tabel VIII-3. 2. Masalah dan hambatan yang ditemui di lapangan. Monitoring dan Evaluasi VIII . 2.8 . Rapat evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional pengelola kawasan.2. 1. Evaluasi Mengevaluasi seluruh kegiatan selama satu bulan yang dituangkan dalam bentuk laporan bulanan yang disampaikan kepada BKSDA Papua II.1 Forum komunikasi Independen Lingkup Kegiatan Badan Forum komunikasi Independen Kegiatan monitoring oleh forum komunikasi independen terhadap implementasi rencana pengelolaan dapat dibagi dalam tiga kategori. 1. 2. Kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan untuk semua aspek dalam rencana kelola akan dievaluasi setiap tahun. Semesteran Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama enam bulan terakhir yang difokuskan pada halhal seperti pada pemantauan bulanan. Laporan tahunan yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. Monitoring dan evaluasi menyeluruh terhadap semua rencana pengelolaan kawasan dan semua tujuan yang telah digariskan dilakukan setiap 5 (lima) tahun sekali. 2. 4. B. Rapat evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan yang diikuti oleh semua unsur pimpinan struktural dan fungsional pengelola kawasan. Tabel VIII-3. B. Rencana monitoring dan evaluasi terhadap kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni oleh unsur internal pengelola kawasan. Melakukan pemantauan terhadap semua kegiatan pengelolaan yang dilakukan selama tiga bula terakhir yang difokuskan pada hal-hal seperti pada pemantauan bulanan. Laporan rutin yang disampaikan kepada BKSDA Papua II. Tahunan 2.

namun hanya bersifat insidensial. sewaktu-waktu dapat dilakukan monitoring dan evaluasi. B. dan atau revisi program Monitoring dan Evaluasi Tahunan IMPLEMENTASI KEGIATAN TAHUNAN Implementasi kegiatan tidak berjalan sesuai rencana kegiatan IMPLEMETASI KEGIATAN DI SETUJUI Saran. forum ini akan bekerja berdasarkan skenario seperti ditampilkan pada diagram alur berikut: FORUM KOMUNIKASI PENGELOLA KAWASAN Saran. Sebagai pedoman dalam proses monitoring dan evaluasi terhadap strategi-strategi yang diimplementasikan. solusi pemecahan masalah. mengacu kepada rencana kegiatan pengelolaan (Bab V) dan pembiayaan (Bab VI). VII-1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 3. Apabila diperlukan. dan atau revisi program serta peninjauan kembali atau perubahan rencana pengelolaan yang ada Monitoring dan Evaluasi Lima -Tahunan IMPLEMENTASI KEGIATAN LIMA TAHUNAN Implementasi kegiatan tidak berjalan sesuai rencana kegiatan IMPLEMETASI KEGIATAN DI SETUJUI Gambar.2. Mekanisme Kerja Forum komunikasi Independen Monitoring dan Evaluasi VIII .9 .2 Mekanisme Kerja Forum Komunikasi Independen Berdasarkan lingkup kerja seperti diuraikan sebelumnya. solusi pemecahan masalah.

hambatan dan atau hal yang berjalan tidak sesuai rencana kegiatan.10 . hambatan dan atau hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. 4. solusi pemecahan masalah.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Dari gambar di atas dapat dijelaskan mekanisme kerja Forum komunikasi Independen adalah sebagai berikut: 1. Monitoring dan Evaluasi VIII . hambatan dan atau hal-hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. dan atau revisi program kepada pihak pengelola. Apabila diperlukan. 5. Apabila ditemukan permasalahan. Apabila dalam monitoring dan evaluasi kegiatan lima-tahunan tidak ditemukan permasalahan. maka implementasi kegiatan rencana pengelolaan diterima yang ditindak lanjuti dalam bentuk laporan tertulis. Apabila dalam kegiatan MONEV lima tahunan ditemukan permasalahan. maka implementasi kegiatan rencana pengelolaan diterima yang ditindaklanjuti dalam bentuk laporan tertulis. hambatan dan atau hal yang tidak berjalan sesuai rencana kegiatan. 2. dilakukan peninjauan Kemudian dilanjutkan dengan kembali atau perubahan rencana pengelolaan yang ada. Forum ini akan melalukan monitoring dan evaluasi implementasi kegiatan pengelolaan setiap tahun. kegiatan Monitoring dan evaluasi limatahunan. Apabila dalam monitoring dan evaluasi kegiatan tahunan tidak ditemukan permasalahan. solusi pemecahan masalah. maka forum ini wajib memberikan saran. maka forum ini wajib memberikan saran. dan atau revisi program kepada pihak pengelola. 3.

Pertimbangan ini menjadi strategis karena dalam penganggaran hendaknya mengikuti skema anggaran pada instansi teknis terkait untuk program yang bersesuaian dengan tugas dan fungsi pokoknya. Sumber anggaran lain dapat diupayakan. dokumen ini diharapkan akan dilegalisasi dengan keputusan Bupati Teluk Bintuni sehingga mempunyai kekuatan hukum tetap. termasuk masyarakat pemilik hak ulayat. Komitmen pihak pengelola terhadap kelompok- kelompok terkait merupakan landasan penting bagi suatu pengelolaan yang dinamis. partisipasi dan transparansi yang tinggi. Departemen Kehutanan dalam. memiliki banyak keterbatasan sumberdaya. Beberapa program yang dirumuskan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong IX. serta para pemerhati lingkungan lainnya. ekosistem mangrove dan perairan sehingga dalam pengelolaannya dibutuhkan suatu piranti yang dinamis. Penutup IX . baik yang bersumber dari swasta maupun dana hibah lainnya yang sah. hal ini Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHKA) sebagai institusi pelaksana rencana kegiatan pengelolaan yang telah disusun. Dalam implementasinya. Ekosistem Cagar Alam Teluk Bintuni memiliki ekosistem pesisir pulau-pulau kecil. Kerangka utama dalam pengelolaan dinamis adalah peran serta dan koordinasi lintas sektoral dari semua pemangku kepentingan di Cagar Alam Teluk Bintuni. karena dokumen ini disusun berdasarkan hasil dari serangkaian proses yang melibatkan seluruh stakeholder.1 . Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah suatu dokumen yang memiliki nilai akomodatif. Untuk itu. Dengan terbitnya Dokumen Rencana Pengelolaan ini. Dokumen ini juga dapat berfungsi sebagai alat kontrol dan koordinasi berbagai instansi sehingga diperoleh sinergitas dalam pelaksanaan setiap kegiatan yang direncanakan. telah disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsi dari instansi teknis terkait pada lingkup pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni dan juga telah mengakomodir berbagai kepentingan stakeholder pendukung pengelolaan kawasan CATB serta tetap mempertimbangkan kelestarian fungsi kawasan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Dokumen ini akan menjadi acuan bagi pemerintah dan stakeholder di dalam melakukan kegiatan pengelolaan CATB pada periode 25 tahun ke depan. sangat diharapkan dalam implementasi rencana kegiatan pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni di lapangan. keterlibatan pihak lain seperti pihak swasta/investor. PENUTUP Rencana pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni bukan merupakan suatu rencana pengelolaan yang kaku yang harus digunakan untuk mengelola kawasan yang memiliki proses ekologis yang rumit. LSM lokal dan internasional. Kawasan Cagar Alam Teluk Bintuni dapat dikelola secara optimal dan lestari sesuai fungsi peruntukannya. Pemerintah Daerah.

.

O. M. B and Knecht W. and YDPTB. Asmusruf. Island Press. R. 4:2. Limburg.M. G. Concept and Practices. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB. Manokwari. dan Lense. Management of sustainable community-based natural diversity in Bintuni Bay with emphasis on Mangroves. Camillan Bann. 1999. Pengusulan Lahan Basah Teluk Bintuni Menjadi Cagar Alam. The Value of the World’s Ecosystem Services and Natural Capital.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong DAFTAR PUSTAKA Asia Pacific Study Center – University of Gajah Mada. Nutrient cycling in a community of Avicenia marina in a temperature region of Australia. B. A. Beccariana.. A.R. 1978.F. Pratt. Inst. P. R. 2002. Bogor Bengen. Christensen. 1998. Lokakarya Penentuan Prioritas Keanekaragaman Hayati Irian Jaya. D. Burung-burung di Kawasan Papua (terjemahan). Clough. Gainsville. Kajian Potensi Biofisik Hutan Mangrove di Desa Guraping-Maluku Utara. Conservation International. Washington DC.M. Dahuri. 1995. Rumbino.K. UGM.A. 1991. Hannon. 1999. Beehler.. 1999. Potensi Keanekaragaman Hayati Dalam Dimensi Kepariwisataan Bahari di Kawasan Indonesia Timur. Bot. Bengen. and Attiwill. T. Integrated Coastal and Ocean Management. Nature 387 (1997). Fla. K. Yogyakarta. Biology and Management of Mangroves. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya Alam Pesisir dan Laut serta Prinsip Pengelolaannya. Gajah Mada University Press. Survei Potensi Sumberdaya Perikanan dan Pertanian di Kawasan Teluk Bintuni. Biomass and primary production of Rhizophora apiculata BL. USA. 2003. Cicin-Sain.. pp 137-146. Costanza. 4:43-52. D. Unipa-CRMP. Bogor. 2002. Boli. University Florida. CI Washington DC. Pengenalan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.1 . de Groot. Indonesia. d’Arge. Daftar Pustaka DP . Kerjasama YPMAS-Sultra dengan LP2SN. PKSPL-IPB. B. Food and Agric. 28 Desember 1998.M. D. Yogyakarta. Sci. The Economic Valuation of Mangroves: A Manual Research for Researcher. Birdlife International Indonesia Programme. M. BPPK Papua Maluku. Konservasi Conyer. 2002.. Perencanaan Sosial di Dunia Ke Tiga : Suatu Pengantar. Grasso. D. dan Zimmerman. WWF. Aquat. In: Proceeding International Symp. Maluku Utara – BPPK Papua Maluku. 1975. Farber. Dkk. 1997. Laporan Hasil Survei Lapang. B. Berwulo.. Vol.. 2001. Naeem. 1988. B. Bogor. Pemanfaatan Nipah (Nypa Fruticans ) Oleh Lima Suku Di Bintuni. S. DinHut Prov. in a mangrove in southern Thailand. P. 101-112. Makalah di sampaikan pada Seminar “ Prospek Pengembangan Wisata Bahari di KTI. R. 2005. KONPHALINDO. S. I.

R. Fla. Ecology and Systematic. The Mangrove Forest of Puerto Rico and Their Management. pp 825-846. PT. 2. Inst. 2004. E.N.. Lokakarya Jaringan Kerja Pelestari Mangrove. 12-13 Agustus 1998.) in a Middle Harbour . 1998. and Wilson. Ekologi Mangrove. Marine Freshwater Resources. 1971. Suryadiputra. USA (Un pblished).. O dan Kilmaskossu. Kusmana. The Ecology of Mangrove.T.. Sydney.F. Senegal. Suryadiputra I. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. Second International Conference on Wetlands and Development.E.N. University Florida. Litter fall and decomposistion in a mangrove stand (Avicenia marina Folks. 1999. C dan Onrizal. Thailand : Learning from Successes and Failures.A dan A. A. Bogor. Pemanfaatan Palem oleh Masyarakat Suku Sougb di Kampung Sibena II Distrik Bintuni. Mangrove Indonesia.J. I. 1975. Goulter. Heald. S. Lugo. Golley. Kebudayaan Mentalitet dan Pembangunan.N. On Biology and Management of Mangroves. Bualuang. Participation of Local Communities in Mangrove Forest Rehabilitation in Pattani Bay.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Erftemeijer. PKA dan Wetland International Programme. Ann. PKA/Wetlands International. Prosiding Seminar V Ekosistem Mangrove. Profil Kandungan Karbon pada Pohon Kelompok Jenis Rhizhopora. Y. M. Laporan Survei UNIPA dan CRMP. Leftungun. and Allaway. LIPI-MAB Indonesia. Vol. P. Jakarta. N.N. 43: 9-19. 8-14 November 1998 Febrianto. S. Bogor. 5:39-64. F.. The structure and Metabolism of Puerto Rican red Mangrove forest in May. Materi Teori dalam Pelatihan Pengelolaan Hutan Mangrove Lestari Angkatan I di Bali. Khazali M. Lense. 2002. Fakultas Kehutanan IPB. University of Miami. Production of Organic Detritus in a South Florida Estuary. Jawa Tengah. Snedaker.. Bogor. F. Program Pascasarjana IPB. A. Panduan Pengenalan Mangrove di Indonesia. A. Food and Agric. Sci. W. P hd Thesis. Vol. Bogor Daftar Pustaka DP . Khazali dan IN.N. 1974. H.S. Ecology. Gramedia Kusmana. Symp. Skripsi Sarjana Kehutanan. 1979).. Dakar. and Clintron. Rev.) Proceedings of Int. Y.J. Gainsville. Pemanfaatan Sumberdaya Hutan Mangrove Kayu dan Non Kayu. Endang.C. 1980.E. Bogor Noor. 1999. Koentjaranigrat. and Teas. Odum. 1962. 2003. spp dan Bruguiera spp Dalam Tegakan Hutan Mangrove Alami di Indonesia. G.F. Noor Y. 1995. Evaluasi Kerusakan Kawasan Mangrove dan Arahan Teknik Rehabilitasinya di Pulau Jawa. C. 1998. Pemalang. R. Lugo.L. Pelabuhan Bagi Keanekaragaman Hayati : Evaluasi Keberadaannya saat ini.G. C. Fakultas Kehutan Unipa (Tidak diterbitkan).. Keanekaragaman Hayati Kawasan Teluk Bintuni Kabupaten Manokwari. 2002. Hilmi. P.2 . Jurusan Teknologi Hasil Hutan IPB Bogor. 2002. In: Walsh. Jakarta Noor. H.C. (Eds. Australian J. and Snedaker.S.

Saunders Company. Fakultas Kehutanan IPB. P3FED. E. Final Report to Atlantic Richfield Berau.G. S. Sunsun Saeful Hakim. Odum. R. Food and Agric. A. Proyek Pesisir (USAID) Indonesia. Economic of Natural Resources and The Environment. Production in Mangrove forests of Southern Florida and Puerto Rico. Bogor.C Chong and R. D. PT BUMWI. Raspada. 1971. Sci. and Y de Fretes. Petocz.. Gainsville.3 . Fasilitas LNG. Biology and Management of Mangroves. and George P. Pertamina . Perencanaan dan Soerianegara. Ekologi Hutan Indonesia. Vol..G. Potret dan Rencana Umum Pengelolaan Taman Wisata Alam Gunung Meja Manokwari. 1983. Philadelphia. New York. Daftar Pustaka DP . Petocz. WWF/IUCN special report. 1998. Bogor. Pengembangan Wilayah. Mangroves as a Habitat for Fish and Prawns. Conservation for development programme in Indonesia. Raharjo. Bogor. Y.P. Turner. UNIPA. and Snedaker.. Recommended reserves for Irian Jaya Province.B. 1983. Pool. Bogor: PHPA. 61 pp. IPB. PKSPL IPB dan Ditjen Bangda Depdagri.G. 1996. Indonesia. Jayapura. Conservation and development in Irian Jaya: A strategy for rational resource utilization. D’Cruz.C. 2002. 2003. 89 pp. Geobis Woodward-Clyde Indonesia. Hydrobiologia. University Florida. P3FED Unipa. Inc. Community Base Management di Wilayah Pesisir Indonesia. Manokwari. Andal Kegiatan Terpadu (Eksplorasi Gas. 2002. A. Atlas sumberdaya pesisir Kawasan Teluk Bintuni. Manokwari. Sorong dan Fak-fak Propinsi Papua). pp 213-237. Environmenttan Baseline Study. D. 1990. Pemda Kab. PT.K. In: Proceeding International Symp. Jakarta.W and R. Manokwari.U Leh. 1992. NRM. Mammals of the reserves in Irian Jaya. Rustiadi. 2003. Sidney. BP Indonesia.BP Indonesia. Sasekumar. Jakarta. PEMDA Provinsi Papua. Panuju. Indonesia. Pokok-Pokok Pikiran tentang Pemberdayaan hak-hak masyarakat adat dalam mengeksploitasi sumberdaya alam provinsi Papua. PT BUMWI.E. dan Dyah R. I. E. Studi Evaluasi Lingkungan Hak Pengusahaan Hutan PT Bintuni Untama Murni Wood Industries di Kabupaten Manokwari. Lugo. London. I. Fla. 1994. M.J. Fundamentals of Ecology. WWW/IUCN Report. 2004. V.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong NRM. Bandar Udara dan Pemukiman LNG Tangguh Kabupaten Manokwari. Pelabuhan. 1988. Jakarta. Also published in Indonesian language. R. Statement prepared for the formal gazettment of thirty one conservation areas. dan Proyek Pesisir (USAID). USA. CRMP Project. prepared in cooperation with PHPA: “usulan-usulan suaka di propinsi Irian Jaya”. Petocz. Harvester Wheatsheaf. Prosiding Pelatihan ICZPM. 1984. Inst. R. W. Pearce... Propinsi Irian Jaya (Buku II: Laporan Utama). 1975.

Babo dan sekitarnya. INDONESIA. Babo dan sekitarnya. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Sub Balai KSDA Irian Jaya I.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Soesilowati. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Institut Pertanian Bogor. Sorong. Dinhut Manokwari Suhaeb. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. E. Babo dan sekitarnya. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. 1992. 2000. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Babo dan sekitarnya. Sorong.S. Babo dan sekitarnya. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Institut Pertanian Bogor. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. 2003. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. Kabupaten Manokwari. 1999. Sorong. Sorong. Kajian Model-Model Mekanisme Pemberian Kompensasi Hak Masyarakat Adat atas Pengelolaan Hutan dan Penggunaan Tanah di Distrik Bintuni. 1997.000. A. UNIPA dan Bappeda Manokwari. 1993. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Sorong. Bogor. Kabupaten Manokwari. Daftar Pustaka DP . Tim P3FED Unipa. 1990. Universitas Negeri Papua bekerjasama dengan Badan Prencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Manokwari. Kabupaten Manokwari. Manokwari. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Tim TNC. Pemberdayaan Masyarakat Lapis Bawah : Kasus Kegiatan Suatu LSM di Jawa Tengah. Kabupaten Manokwari. P3FED Unipa. Babo dan sekitarnya. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. 1994. 2004. Survei Potensi Hutan Bakau Cagar Alam Teluk Bintuni . Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. 2001. Kabupaten Manokwari. Kabupaten Manokwari. Sorong. Tesis Pascasarjana. Peta Pengunaan Hutan di Kabupaten Manokwari Skala 1:250. Kabupaten Manokwari. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. 1995. Laporan Survei-Monitoring Populasi Buaya dan Penyuluhan di Daerah Kecamatn Bintuni. The Nature Conservancy Papua Conservation Program. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. 1988. Babo dan sekitarnya. Sub Biphut Manokwari. Rencana Pengembangan Sektor Ekonomi Potensial secara terpadu di Kawasan Teluk Bintuni.4 . Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Tesis Pascasarjana. Analisis Kebijakan Pengelolaan Ekosistem Mangrove di Teluk Kendari. Kabupaten Manokwari. Proyek Pengembangan Penangkaran Satwa Buaya di Irian Jay. Sorong. 1991. Sub Balai KSDA Irian Jaya I. Palu Sulawesi Tengah.

(Ed). P.E.S. Erftemeijer. dan Allen. Yalhimo-CRMP.5 . G. Eds. Raymond and W. 278 pages. Studi Sosial Budaya di Kecamatan Bintuni Kabupaten Manokwari.1. G. Melbourne University Press. Studi Sosial Budaya di Kecamatan Bintuni Kabupaten Manokwari. Academic Press. PHKA/ AWBIndonesia (Forestry Institute and Asian Wetlands Bureau). 978. Inventarisasi Sumber Daya Alam Teluk Bintuni dan Rekomendasi untuk Manajemen dan Konservasi. Yayasan PERDU. New York. In: Ecology Halophytes (R. 1991. Bogor. Yayasan Lingkungan Hidup Humeibouw Manokwari. J. Vol. Pp 51-174.H. Queen. 2002. 2002.J. Zuwendra. 1974. Daftar Pustaka DP . Indonesia. Mangroves: A Review.. Womersley.).Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Walsh. PERDU-CRMP. Handbook of the Flora of Papua New Guinea.

.

1 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong LAMPIRAN-LAMPIRAN Lampiran-Lampiran L.

Agroforestri Sistem-sistem dan teknologi tata guna lahan di mana pepohonan berumur panjang (termasuk semak. Agro-Ekosistem Sistem pertanian yang didasarkan pada hubungan timbal balik antara sekelompok manusia dan lingkungan fisiknya guna memungkinkan kelangsungan hidup kelompok manusia itu.) dan tanaman pangan dan atau pakan temak berumur pendek diusahakan pada petak lahan yang sama dalam suatu pengaturan ruang atau waktu. Biogeografi Penyebaran tumbuh-tumbuhan dan binatang secara geografis di muka bumi. pesisir dan laut. bentuk interaksi antar sesama mahluk hidup dan antar mahluk hidup dengan lingkungannya. Biopirasi (biopiracy) Eksplorasi dan pemanfaatan. Dalam praktiknya kegiatan ini dibarengi dengan munculnya isu-isu hak kepemilikan intelektual. Istilah dan Terminologi yang termuat dalam dukumen BKSDA Papua II Sorong Abrasi Pengikisan batuan. Keanekaragaman hayati mencakup tiga hal. AWB Asian Wetland Bureau.2 . Bioprospecting (bioprospeksi) Penilaian terhadap sumber daya genetis dan sumber daya hayati. Arboretum Tempat berbagai pohon ditanam dan dikembangbiakkan untuk tujuan penelitian atau pendidikan. es. kayu. palem. perairan tawar. dinding tanah oleh air. Biro Tanah Basah Asia BAPEDALDA Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah BAPPEDA Badan Perencana Pembangunan Daerah BAPPENAS Badan Perencanaan Pembangunan Nasional BAPI The Biodiversity Action Plan for Indonesia. yakni ekosistem. dll. atau angin. Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati di Indonesia BKSDA Balai Konservasi Sumberdaya Alam Biodiversity Keaneka-ragaman hayati yaitu sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan keanekaragaman bentuk kehidupan di bumi. Lampiran-Lampiran L. pengetahuan lokal dan sumber daya genetis tanpa pengetahuan ataupun persetujuan pemiliknya/masyarakat setempat.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 1. bambu. spesies dan genetis dan meliputi wilayah darat.

Dengan demikian. ada dua yaitu: 1. seni. Konvensi untuk Perdagangan Internasional Spesies Langka Daerah Burung Endemik Wilayah pengelompokan alami burung-burung yang kisaran hidupnya terbatas. gua-gua hunian. CITES Convention on International Trade of Endangered Species. "Natural World Heritage" mengacu pada ekosistem. komunitas manusia serta sistem ekologi. karya arsitektur. tetapi oleh batasan geografi. misalnya menjadi lahan pertanian. bioregion juga mempunyai pengertian ekoregion. Cagar Warisan Dunia (World Heritage Site) Menurut World Heritage Convention yang dikeluarkan oleh UNESCO. 2. serta dampak negative akibat pemanfaatan produk rekayasa genetis. sebagai kawasan konservasi khusus dengan fungsi ekonomi. yaitu pengelolaan kawasan yang didasarkan pada prioritas ekosistem dan habitat alami setempat. dan ilmu pengetahuan. Debt for Nature Swap Dana untuk konservasi alam didefinisikan sebagai pembatalan utang luar negeri dengan menukarnya dengan mobilisasi sumber daya alam dalam negeri untuk pelestarian alam. habitat atau kelompok formasi geologis dan fisiografis beserta spesies flora dan fauna yang terancam.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong pembagian keuntungan yang adil dan merata. prasasti. Bioteknologi Penerapan teknologi berbasis ilmu biologi untuk memanfaatkan makhluk hidup bagi kebutuhan manusia. Cagar Alam adalah kawasan Suaka Alam yang karena keadaan alamnya mempunyai kekhasan tumbuhan. "Cultural World Heritage" mengacu pada monumen. ekologi dan sosial. Cagar Biosfer Kawasan di dalam suatu negara yang mendapat status khusus dari negara-negara yang tergabung dalam program The Man and The Biosphere (MAB) di bawah UNESCO. Bioregion Kawasan/lingkungan fisik yang pengelolaannya tidak ditentukan oleh batasan politik dan administrasi. Lampiran-Lampiran L. satwa dan ekosistemnya atau ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangusung secara alami. perkebunan atau penggunaan lainnya. Ekoregion Suatu pendekatan pengelolaan kawasan konservasi yang menggunakan pembagian wilayah berdasarkan kondisi perbedaan ekosistem (lihat bioregion). pahatan dan lukisan. Deforestasi Penggundulan hutan sehingga lahan yang semula berupa hutan menjadi berubah fungsinya.3 . dan kombinasi dari unsur-unsur tersebut yang secara universal sangat bemilai tinggi dari sisi sejarah. elemen atau struktur arkeologis.

kruing. Lampiran-Lampiran L. Endemisme Spesies tumbuhan atau binatang yang hanya terdapat di wilayah tertentu dan sering bersifat unik untuk daerah tersebut. Fenomena El Nino Peristiwa alam yang menimbulkan kemarau panjang yang hebat. Hutan Hujan Dataran Rendah ’selalu-hijau’ Hutan yang berisi tanaman berkayu dan tumbuhan selalu-hijau. di mana besidan humus terkumpul di bawah lapisan atas pasir putih. biawak. atau puncakpuncak batu cadas. Hutan Sekunder Hutan alam yang sudah dimanfaatkan oleh manusia. kapur dll. Hutan Konservasi UU no. ular. misalnya berbagai jenis meranti. komodo). Epifit Tumbuhan yang hidup pada tumbuhan lain tetapi tidak merugikan. Hutan Primer Hutan perawan atau hutan alam yang belum dijamah manusia. Tanah yang terlapuk berat dan mengandung silika terbentuk pada teras-teras kuarsa. Tanah ini sangat masam dan tidak subur. hutan alam konservasi (nature conservation forest) dan taman berburu (hunting forest). Ekuator Garis imajiner yang mengelilingi bumi. Eutrofikasi Pengayaan zat-zat hara yang berlebihan di dalam suatu perairan sehingga mendorong ledakan pertumbuhan tumbuhan air dan mengakibatkan kekurangan kadar oksigen di dalam perairan. Hutan Kerangas Hutan yang tumbuh di atas tanah podsolik. penyu. Herpetofauna Kelompok binatang yang temasuk dalam amfibi (katak/kodok) dan reptilia (buaya. Fragmentasi Habitat Proses yang menyebabkan kawasan hutan primer yang semula saling bersambungan terpecah menjadi petak-petak yang saling terpisah dan terpencar. diagonalnya 0 derajat (membagi bumi menjadi 2 wilayah: utara dan selatan) Endemik. Habitat Tempat hidup alami bagi binatang dan tumbuhan.41 menjelaskan bahwa yang termasuk hutan konservasi adalah hutan alam cadangan (nature preservation forest). terdapat di dataran rendah daerah tropis dengan curah hujan 2500 mm/tahun.4 . Hutan Dipterocarpaceae Hutan yang didominasi spesies pohon dari famili Dipterocarpaceae. batuan pasir.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Ekosistem Komponen biotik dan abiotik dalam suatu lingkungan yang saling berinteraksi sehingga menghasilkan aliran energi dan daur hara.

IBSAP Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan. hutan lindung dan hutan produksi. suaka margasatwa. hutan lindung. Strategi dan Rencana Aksi Biodiversity Indonesia Indeks Keragaman Spesies (Species Diversity Index) Indeks yang digunakan oleh para ilmuwan lingkungan untuk membandingkan tingkat keanekaragaman spesies berdasarkan jumlah dan kelimpahan spesies binatang dan tumbuhan di suatu tempat. IUCN International Union for the Conservation of Nature and Natural Resources Karamba Kurungan dari anyaman bambu yang ditempatkan (diapungkan) di sungai sebagai tempat perkembangbiakan ikan atau udang. pemanfaatan dan pelestarian spesies di dalam habitat aslinya berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian. pemanfaatan dan pelestarian spesies di luar habitat aslinya berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian. hutan pelestarian alam. Keanekaragaman hayati (Biodiversity) Lihat biodiversity Kegiatan yang menunjang budidaya di dalam kawasan Suaka Alam ialah kegiatan yang dapat dilaksanakan dalam bentuk pengambilan. Karnivora Mahluk hidup pemakan daging. Konservasi In-Situ Upaya perlindungan. Konservasi Eks-Situ Upaya perlindungan.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni IBOY BKSDA Papua II Sorong Merupakan singkatan dari International Biodiversity Observation Year (tahun observasi biodiversity internasional) yang dilaksanakan pada tahun 2001 dan 2002. dan taman buru. Konservasi Upaya perlindungan ekosistem penyangga kehidupan. Sedangkan hutan konservasi dibagi ke dalam hutan suaka alam.5 . taman wisata alam dan taman hutan raya. Sedangkan UU No.41 tahun 1999 muncul pengelompokan hutan berdasarkan fungsinya yaitu hutan konservasi.5 tahun 1990. Lampiran-Lampiran L. Kawasan Intertidal/Iitoral Kawasan yang terletak di antara daerah pasang tertinggi dan surut terendah di pantai. Istilah konservasi tidak dijumpai dalam UU No. pengawetan plasma nutfah serta pemanfaatan keanekaragaman hayati berdasarkan prinsip-prinsip kelestarian. kawasan suaka alam yaitu cagar alam. pengangkutan dan penggunaan plasma nutfah yang terdapat dalam kawasan alam yang bersangkutan untuk keperluan pemuliaan jenis dan penangkaran. sebagai jendela bagi para ilmuan dan pendidik dari seluruh dunia untuk bekerjasama meningkatkan komunikasi tentang ilmu-ilmu penting berbasis biodiversity. dan taman buru. Kawasan Konservasi Kawasan-kawasan yang digolongkan dalam kawasan pelestarian alam yaitu taman nasional.

Populasinya berkurang paling sedikit 80% selama 10 tahun terakhir. 2. luas wilayah diperkirakan kurang dari 20. jumlah populasi diperkirakan kurang dari 50 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 50% dalam 10 tahun. populasi diperkirakan kurang dari 2500 individu dewasa.000 individu dewasa. (lihat rincian kategori dalam Mogea dkk. jumlah populasi diperkirakan kurang dari 250 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 20% dalam 20 tahun. Rentan {Vulnerable): jika taksa tidak termasuk kriteria genting atau terancam tetapi mengalami resiko kepunahan yang tinggi di alam dalam waktu dekat. komunitas binatang dan tumbuhan yang ada di dalam lahan basah. Koridor dapat berfungsi membantu melestarikan satwa yang harus melakukan migrasi musiman di antara rangkaian habitat yang berbeda-beda untuk mendapatkan makanan. Koridor Jalur-jalur lahan yang dilindungi yang menghubungkan satu kawasan konservasi dengan kawasan konservasi lainnya. MAB Merupakan singkatan dari the Man And the Biosphere. Lampiran-Lampiran L. luas wilayah diperkirakan kurang dari 100 km2. Kriteria Status Flora atau Fauna menurut IUCN: 1. sehingga memungkinkan aliran gen serta kolonisasi lokasi yang sesuai. jumlah populasi diperkirakan kurang dari 1000 individu dewasa dan kemungkinan punah di alam paling sedikit 10% dalam 100 tahun. Kritis (Critically endangered) : jika taksa menghadapi resiko kepunahan yang sangat ekstrim (tinggi) di alam dalam waktu yang sangat dekat.luas wilayah diperkirakan kurang dari 5000 km2 atau yang dapat ditempati kurang dari 500 km2. Populasinya berkurang paling sedikit 20% selama 10 tahun terakhir. untuk menilai kualitas atau nilai lahan basah berdasarkan kekayaan keanekaragaman hayati dan keunikan ekosistem sehingga layak mendapat status sebagai kawasan penting di dunia. populasi diperkirakan kurang dari 10. 2001).000 km2 atau yang dapat ditempati kurang dari 2000 km2. Kriteria Ramsar Kriteria yang digunakan di bawah Konvensi Ramsar.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Konvensi Keanekaragaman Hayati Konvensi yang ditandatangani oleh 150 negara dalam Konferensi Tingkat Tinggi PBB mengenai Lingkungan dan Pembangunan di Rio de Janeiro pada tahun 1992. populasi kurang dari 250 individu dewasa. Kriteria ini meliputi keunikan tipe lahan basah. Program UNESCO yang dimulai tahun 1971 untuk pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi biodiversity dengan mengembangkan landasan natural dan social sciences. kriteria khusus sebagai habitat burung atau ikan yang unik. 3. Genting/terancam {Endangered): jika taksa tidak termasuk kriteria genting tetapi mengalami resiko kepunahan yang sangat tinggi di alam dalam waktu dekat.6 . Dikenal sebagai koridor konservasi atau koridor perpindahan yang memungkinkan tumbuhan dan satwa untuk menyebar. Populasinya berkurang paling sedikit 50% selama 10 tahun terakhir. Juga ditujukan untuk meningkatkan hubungan yang harmonis antara masyarakat dan lingkungan globalnya.

pengendalian.7 . unggas. Lampiran-Lampiran L. Pengelolaan kawasan Suaka Alam adalah upaya terpadu dalam penataan. pemanfaatan. yang dihubungkan secara melembaga melalui kontrak dengan sebuah perusahaan inti yang lebih besar yang menangani satu atau lebih kegiatan hilir dan hulu seperti penyediaan sarana produksi. pengolahan dan pemasaran hasil. Potassium Sianida Zat kimia yang digunakan untuk bahan racun untuk menangkap ikan. ternak. udang dan sebagainya) tidak terpusat pada unit produksi kapitalis (atau sosialis) yang besar tetapi tetap berada di tangan petani kecil. Metode PRA adalah media untuk berkomunikasi dengan cara dialog antara Perencana – Pelaksana Administratif dan partner mereka (masyarakat) untuk memecahkan masalah dan untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah-masalah yang terjadi. ikan. Perdagangan Karbon (carbon trade) Suatu mekanisme yang sedang dikembangkan secara intemasional melalui negaranegara yang masih memiliki hutan yang cukup luas (yang berfungsi menyerap karbon dari emisi bahan bakar) mendapatkan kompensasi dari kalangan internasional berupa dana untuk membiayai kegiatan konservasi yang dikaitkan dengan emisi karbon. PRA Merupakan singkatan dari Participatory Rural Appraisal. Plasma Nutfah Substansi sebagai sumber sifat keturunan yang terdapat di dalam setiap kelompok organisme yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan sehingga tercipta suatu jenis unggul atau Kultivar baru. pengawasan. karena dapat membuat ikan yang terpapar zat ini menjadi pingsan sehingga mudah ditangkap. Pembangunan Berkelanjutan Pola pembangunan yang mampu memenuhi kebutuhan generasi saat ini tanpa melemahkan kemampuan pembangunan untuk memenuhi kebutuban generasi mendatang. Moratorium Penghentian sementara/jeda. pemulihan. perlindungan dan pengembangan kawasan Suaka Alam. penyebaran dan kehidupan burung. jumlah. Indonesia menduduki peringkat kedua di dunia setelah Brazil. pemeliharaan. susu. Nilai Omitologis Nilai-nilai mengenai keragaman spesies. Pola Inti-Plasma Sistem pertanian yang menghubungkan pertanian dan agroindustri di mana produksi primer (tanaman tahunan atau tanaman keras.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Megadiversity Country Istilah yang digunakan untuk menggambarkan negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya yang tinggi. telur. Nokturnal Sifat binatang yang aktif bergerak dan mencari makan pada malam hari.

Restocking Kegiatan yang ditujukan pada peningkatan populasi jenis flora dan fauna liar di habitat alam aslinya. pengendalian. padat. UNDP United Nations Development Program. sering disebut sebagai pukat harimau. pemanfaatan. Transmigrasi Swakarsa Transmigrasi atas usaha sendiri atau spontan. namun kemudian mampu berkembang biak secara massal dan menguasai wilayah tumbuh komunitas spesies tumbuhan lainnya. yang ditanam secara sengaja atau karena terbawa oleh faktor alam. suatu badan PBB untuk pembangunan Lampiran-Lampiran L. komposisi dan pertumbuhan pohon. Rekayasa Genetis Teknologi yang digunakan untuk mengubah materi genetis sel hidup melalui campur tangan manusia sebagai upaya agar sel tersebut mampu menghasilkan senyawa yang diinginkan atau mengemban fungsi-fungsi yang berbeda dengan sel-set lain yang tidak mengalami manipulasi. Tumbuhan Invasif Spesies tumbuhan. dilakukan secara rutin atas prakarsa pemerintah. umumnya bukan asli di suatu habitat. pemulihan. Rencana Pengelolaan kawasan Suaka Alam adalah upaya terpadu dalam penataan. air tawar dan payau) dari cara-cara tradisional ke arah intensifikasi untuk meningkatkan produksi. dan kompak. pengawasan. BKSDA Papua II Sorong Rawa Herbaceous Rawa yang ditumbuhi tumbuhan kecil yang tumbuh seperti rumput dan batangnya tidak berkayu. pemeliharaan. RSA Merupakan singkatan dari Rapid Social Assessment.8 . perlindungan dan pengembangan kawasan Suaka Alam. transparan. Savana Padang rumput yang diselingi oleh kelompok kecil pepohonan. berkomunikasi dengan cara dialog antara peneliti dengan masyarakat. Transmigrasi Umum Perpindahan penduduk dari satu daerah yang padat penduduknya ke daerah lain yang berpenduduk jarang. Resin Hasil sekresi tanaman yang susunan kimianya sangat kompleks. Revolusi Biru Proses perubahan produksi perikanan (khususnya darat. Trawl Jenis perangkat penangkapan ikan. Metode RSA adalah media untuk mengumpulkan data dan informasi.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Rawa Aluvial Rawa di tanah lempung yang terendapkan oleh air mengalir. Silvikultur Pemeliharaan dan pembinaan hutan atau manipulasi vegetasi hutan untuk tujuan tertentu seperti untuk mengontrol pembentukan.

WWF World Wide Fund for Nature atau lebih dikenal dengan World Wildlife Fund. Lembaga internasional untuk pelestarian sumberdaya alam Lampiran-Lampiran L.9 . Lembaga Bantuan dari Amerika Serikat untuk Pembangunan di Negara Berkembang Valuasi Ekonomi Cara penilaian ekonomi sumber daya alam dengan menetapkan atau mengukur nilainya secara moneter.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni USAID BKSDA Papua II Sorong United State Aid.

5 100 91.26 28.75 22.5 43.2 100 93.64 27.11 22.59 26.4 65.26 35.71 - 36.87 2000 rata-rata 2000 minimum 26. Tahun 1997 maksimum 1997 rata-rata 1997 minimum 1998 maksimum 1998 rata-rata 1998 minimum 1999 maksimum 1999 rata-rata 1999 minimum 2000 maksimum 2000 rata-rata 2000 minimum Kelembaban Udara (%) Jan 100 85.7 53.55 27.86 23.29 22.6 Peb 100 89.3 100 92.88 23.7 50.45 35.21 27.4 61 100 91.35 1999 rata-rata 1999 minimum 27.81 27.7 49.62 34.99 25.87 0 Jan - Peb - Mar Apr 35.92 27.1 59.8 100 93.2 32.2 51 100 90.98 25. Data suhu udara ambien (0C) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah.7 100 91.2 54.2 36.4 100 94.3 58.4 100 89 55.44 21.6 26.4 22.15 27.2 - Sumber: BP Pertamina (2002) Lampiran-Lampiran L.91 - Des 33.8 Apr 100 86.94 22.44 22.5 57.6 Jul 100 88.11 33.99 - Nop 34.6 26.96 - Okt 33.69 21.2 34.8 53.4 100 89.83 34.72 1999 maksimum 36.26 22. Babo.02 25.4 100 91.4 100 93.36 26.6 100 93.53 27.45 33.5 100 93.2 Mar 100 86.42 21.17 23.11 36.4 34.6 45.1 46.5 100 90.85 Sumber: BP Pertamina (2002) Lampiran 3.9 54.78 27.19 33.9 Okt 100 85.02 27.02 34. Tahun 1997 maksimum 1997 rata-rata 1997 minimum Suhu Udara ( C) Mei Jun Jul Agu 34.2 100 93.26 22.08 26.93 20.2 56.13 26.45 36.4 59.37 26.2 52.1 100 91.4 54.58 25.6 60.56 27.09 27.2 100 93.88 33.5 Jun 100 83.79 35.7 100 93 60.12 27.7 48.7 100 91.91 23.1 57.03 26.9 48.84 37.93 2000 maksimum 35.42 Sept 32.17 22.71 1998 maksimum 36.14 22.34 20.13 21.31 23. Babo.74 37.25 22.83 22.88 27.1 50.8 100 92.19 26.10 .3 55.05 35.9 100 93 56.27 22. Data kelembaban relatif udara ambien (%) selama tiga tahun (1997 – 2000) berhasil di catat oleh PT Calmarine pada stasiun pengamat cuaca Tanah Merah.43 20.2 51 Nop 100 86.9 61 Mei 100 86.7 53.4 100 90.88 26.9 27.99 34.96 22.7 22.7 37.61 23.76 35.3 63.8 Agu 100 83.4 21.1 Sept 100 85.8 Des 100 87.05 27.85 22.07 27.51 35.89 22.22 22.2 SO.7 62.9 55.82 35.19 26.14 35.5 39.36 34.28 23.19 22.6 100 91.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 2.3 100 93.6 57.48 22.59 25.92 22 36.73 26.31 1998 rata-rata 1998 minimum 27.96 22.

Frekuensi. Jenis. granatum Sumber: Hasil survei Tim TNC. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Mangrove S. Frekuensi. Lampiran-Lampiran L. gymnorrhiza B. Jenis. Kerapatan (N/Ha). parviflora Ceriops tagal R. mucronata X. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai). Kerapatan (N/Ha). moluccensis B.11 . Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat tiang N/Ha F INP N/Ha 87 150 26 150 162 Tingkat pohon F INP 62 51 19 11 157 Jenis B. Famili. corniculatum B. Lampiran 6.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 4. Famili. apiculata Sumber: Hasil survei Tim TNC. Frekuensi. sexangula Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae 7000 6000 5000 4000 F INP 68 56 44 32 N/Ha 770 30 160 10 130 20 Tingkat pancang F INP 178 55 41 9 11 7 Jenis Famili Meliaceae X. Simeri. Lampiran 5. mucronata Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae 2500 2500 5000 F INP 58 58 84 N/Ha 262 63 363 Tingkat pancang F INP 92 33 175 Jenis Famili Rhizophoraceae R. 2005. Kerapatan (N/Ha). mucronata Famili Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae - Rhizophoraceae R. parviflora Ceriops tagal R. Jenis. apiculata Sumber: Hasil survei Tim TNC. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha B. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha R. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Kaboi (Depan Muara Tirasai). Famili. 2005. gymnorrhiza Ae. gymnorrhiza B. 2005.

apiculata S. Jenis.87 4.48 5.08 0. 2005 Lampiran 9. Frekuensi.56 10.08 84. gymnorrhiza B.08 INP 3.08 0. mucronata R.50 0.41 Jenis Ae. Kerapatan (N/Ha). corniculatum Avicennia alba A. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat tiang dan pohon di Plot Mangrove S. sexangula X. Frekuensi. mucronata X.17 0. sexangula C. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni). parviflora B. marina B.90 12.08 0. Kerapatan (N/Ha).42 0.85 37.75 0. Cagar Alam Teluk Bintuni Tingkat tiang Tingkat pohon INP 88.50 INP 24.08 0. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat tiang N/Ha R.50 37. parviflora B. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha F 0.44 42.17 12.18 26. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di Plot Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).50 14. granatum Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae Meliaceae F INP N/Ha 160 80 40 Tingkat pohon F INP 180 102 18 - Jenis Famili Sumber: Hasil survei Tim TNC.08 60.08 0.86 43.65 9. decandra R.42 0. sexangula Ceriops decandra R.17 4. Famili.85 N/Ha 2.80 96.08 0.08 0.98 59. gymnorrhiza B. Frekuensi.08 0. Famili. 2005 Lampiran-Lampiran L.08 2. alba Famili Rhizophoraceae Avicenniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Sonneratiaceae N/Ha 108 25 8 25 150 - F 0.78 12.21 58.42 0.21 54. Famili.28 10.17 0.17 0. Kerapatan (N/Ha).08 0.92 4.58 2.08 0.53 N/Ha 500 67 133 133 67 33 500 Tingkat pancang F 0.70 10.81 6. corniculatum B.04 Jenis A. Lampiran 8.33 15. corniculatum Avicennia alba B.53 15.17 0. Jenis. gymnorrhiza Ae.25 0.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 7.58 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC.42 104. 2005.81 19. Jenis.33 INP 64. moluccensis B.25 0.98 5.17 0.42 8.12 .32 9. mucronata R. Simeri.95 16.08 0.41 140. apiculata Famili Myrsinaceae Avicenniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae 1458 833 625 625 1250 1250 11875 4792 Sumber: Hasil Survei Tim TNC.75 0.17 0.17 F 0.50 0.

1 1.35 65.8 15.27 21. decandra C. tagal R. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat semai dan pancang di Plot Sungai Sumberi.17 0.33 0.58 2.8 16.32 29.5 37.20 0.33 0. Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 230 m = 0. granatum C. spathacea B. Famili.0 1.11 29.3 0.33 0. mucronata X.57 29.61 31.3 8 25 0.46 ha) Tiang Pohon Potensi/phn (M3/phn) 0. sexangula X. BKSDA Papua II Sorong Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Pulau Maniai (Tanjung Pitaboni).08 2.25 11.59 24.66 30.99 2. Cagar Alam Teluk Bintuni Tngkat semai N/Ha F 0.00 47.42 1.2 Potensi/ha (M3/ha) 13.5 1.59 28.78 Jenis Ac.2 0. spathacea Famili Pteridaceae Rhizophoraceae Myrsinaceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Bignoniaceae 9167 2917 2500 3750 1667 1250 417 417 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC.60 11.48 2. gymnorrhiza B. apiculata D.33 0.80 9.70 32.5 14. decandra R.34 28.15 16.17 INP 100.92 4.88 36. gymnorrhiza X.76 26.96 29.03 Tinggi 14 16. mucronata D.17 0.3 13. Frekuensi.13 .17 INP 62.17 4.459 10.2 1.85 35. moluccensis A.1 0.79 30.3 25 316 63.88 16.92 3. 2005 Lampiran-Lampiran L.6 Potensi/ha (M3/ha) 0.4 164.09 131.94 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 10.2 108 0.11 1.83 12.1 1.33 0.60 10.29 1.22 Total potensi Rata2/ha (m3/ha) 14.03 N/Ha 600 267 333 Tingkat pancang F 0.9 16.17 12.32 5.73 12.32 5. speciosum R.4 18 14. Kerapatan (N/Ha). granatum C.2 1.03 9.3 14.8 N/ha 150 Lampiran 11.5 14.42 104.89 13.1 1.6 1. corniculatum B.81 Diamter 21.20 1. alba B.17 Potensi/phn (M3/phn) 0.48 1.33 0.61 23.5 1. parviflora Total Rata-rata Famili Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Avicenniaceae Sonneratiaceae Rhizophoraceae Diamter 14.9 1.17 0.43 16.35 52. alba S.22 Jenis R. apiculata Ae.8 15 N/ha 2. Jenis.7 244.76 26.08 60.94 27.0 0.7 Tinggi 11.03 12 12.22 52.48 2.49 25.

74 0.79 12.4 36.50 30.83 16.5 8.91 1.00 30. spathacea B.5 15 25 100 45. dan Indeks Nilai Penting Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi.27 1. alba C.38 47.00 45.78 1.17 0.1 13 10.17 F 0.83 2.56 12.83 29.17 20.62 26.17 0.83 0.41 1.51 37.31 2.9 15.80 4.88 54. BKSDA Papua II Sorong Jenis.20 0.3 0. tagal Famili Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Aviceniaceae Soneratiaceae Rhizophoraceae N/Ha 50 17 33 33 17 33 F 0. spathacea B. apiculata D.5 0.33 53.17 1.33 0.44 22.14 .33 0.77 10.17 - Sumber: Hasil Survei Tim TNC.94 4.80 10. Famili.2 0.09 4. alba S. Cagar Alam Teluk Bintuni (20 m x 140 m = 0.9 24.5 10 7.28 ha).17 4. granatum C.9 13.17 INP 113.1 0.88 250 25 11.20 0.3 38.6 0.17 0.3 17.1 39. gymnorrhiza B.40 7. gymnorrhiza B. alba S.97 20.75 2.70 1. apiculata D. decandra R.11 35.2 12 10 50 17 0. decandra Total Rata-rata Rhizophoraceae Bignoniaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Rhizophoraceae Rhizophoraceae Meliaceae Avicenniaceae Sonneratiaceae Rhizophoraceae 19. Frekuensi.76 4.2 39. 2005 Lampiran 13.71 8.49 - Jenis R.00 23.17 4.3 1. Kerapatan (N/Ha).68 12.33 12.17 20.7 30.01 8.56 44.67 8.89 9.7 33.46 0.8 1.15 26. mucronata X.1 1.18 35.70 1.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 12. moluccensis A.17 0.2 0. Cagar Alam Teluk Bintuni Tingkat tiang Tingkat pohon INP 86.33 4.76 5.62 12.4 12.4 22.3 14.88 N/Ha 100.4 0. mucronata X.4 0. granatum C.4 13.33 12.33 0.33 4.67 8.33 0.33 0.7 0.2 4. Tiang Pohon Total potensi/ha (M3/ha) Jenis Fam.17 0.46 0.5 33 33 33 0.75 2.0 1.50 8. sexangula X.5 0.7 7 17 183.9 6. alba C. moluccensis A.83 16.17 0. Hasil perhitungan Nilai kubikasi kayu manrove (m3/ha) Vegetasi Tingkat Tiang dan Pohon di kelompok hutan mangrove Sungai Sumberi.6 35.8 10. decandra R. sexangula X.83 29.72 50.8 1.8 15.33 0. Diamter Tinggi N/ha Potensi/phn (M3/phn) Potensi/ha (M3/ha) Diamter (Cm) Tinggi (M) N/ha Potensi/phn (M3/phn) Potensi/ha (M3/ha) R.49 11.67 Lampiran-Lampiran L.5 27.25 3.7 11 7.5 2.

Local institutions (Dinas terkait). head of kampong (Kepala Kampung). First day: special workshop with communities (masyarakat adat) who live at 14 villages inside and surrounding the BBNR. General The document of Bintuni Bay Nature Reserve Management plan has tried to establish based on Fully Participatory Method. 2. In related to this matter. implementation team could get as many as opinions and inputs in which useful during implementation of the management plan of BBNR. Local NGO. and one respect person (Tokoh Masyarakat) in the village. and Communities represented by Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Bintuni and Lembaga Musyarawarah Adat SoughMoskona (LEMASOM). there was an activity carried out during the establishment of 1st draft of Management Plan of Bintuni Bay Nature Reserve called Village meeting in 14 villages (kampung/kelurahan) in and surrounding BBNR. it is necessary to be discussed (presented) with the all stakeholders involved: Bupati Kab. To verify all the information collected from every single village inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 14. BKSDA Papua II Sorong Rangkuman Hasil Workshop Tingkat Kabupaten Penyusunan Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2005 A. Objective The objectives of the 1st-day workshop were: 1. Regional Planning Agency (Bappeda). Second day: presentation of the 1st draft of Management Plan of Bintuni Bay Nature Reserve.15 . By doing this. Teluk Bintuni. In addition. to improve the available 1st draft. Information collected individually in every single village and need to be confirmed through a special meeting (workshop) by inviting the traditional community members (masyarakat adat) which are represented by head of tribe (Kepala Suku). 3. The workshop was divided in to two: 1. B. The aim of this activity was to gain more information about interaction between communities and the site as well their “expectation” to the BBNR in supporting their daily life now and future. Discussion amongst villagers who live inside and surrounding the BBNR about their expectation to the BBNR. 2. Lampiran-Lampiran L. To formulate a “commitment” amongst the communities who live inside and surrounding the BBNR.

16 . Roundtable Discussion This discussion was lead by the implementation team from The Nature Conservancy (TNC). Church (Klasis GKI Bintuni). local institutions (dinas-dinas terkait). 2005) Opening Session The meeting was opened at 9. The programme of the opening session included: Praying was lead by Pdt. A. D. Whilst the 2nd day workshop was attended by fifty-five participants representing local government (Bupati Teluk Bintuni). Head of traditional community organisation represented by the head of Lembaga Musyawarah Adat (LMA) Bintuni and Lembaga Musyarawarah Adat Sough-Moskona (LEMASOM). head of kampong (Kepala Kampung). Local NGO (Mitra Pesisir Bintuni). British Petroleum Tangguh Project. Programme 1st -day meeting (1 June. Regional Planning Agency (Bappeda). Participant In the 1st day meeting. There were three main issues raised during the roundtable discussion as follow: What are allowed and not allowed to be done in Bintuni Bay Nature Reserve? How the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay can participate in protecting and keeping the reserve? What kind of traditional rule should the people form outside the traditional community members (masyarakat adat) want to do something inside the BBNR? Lampiran-Lampiran L.. Kondologit. Remarks by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni. Bintuni.00 on Wednesday 1 June. C. University (UNIPA). S.Th. and PHKA Jakarta. Church represented by the head of Klasis GKI Bintuni. and communities who come to the 1st day workshop. and one respect person (Tokoh Masyarakat) in the village. The head of Gospel Christian Church (GKI) in Papua.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong The objective of the 2nd-day workshop was presentation of the 1st draft of the management plan of Bintuni Bay Nature Reserve in order to get inputs and critics from stakeholders present in this workshop. twenty-five people were present representing head of tribe (Kepala Suku). BKSDA Papua II. 2005. Opening the workshop formally by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni representing Bupati Kabupaten Teluk Bintuni.

shell-fish. (1) ACTIVITIES ARE NOT ALLOWED IN BINTUNI BAY NATURE RESERVE: Catching fish and another sea products using chemicals.17 . Following are the main points of the commitment produced by the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay present in the 1st-day meeting: 1. Trowing waste like used engine-oil and chemicals into the rivers.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong During this session. crabs. Lampiran-Lampiran L. 2. and particular birds). Gardening with technical assistant from Local Agriculture Institution (Dinas Pertanian). all the issues discussed were concluded as a COMMITMENT produced by the traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay. Traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve committed to support the management of BBNR through several activities as follow: (1) (2) Report all activities against the rule agreed to the management of BBNR: Catch on the spot whoever break the rule agreed. deer. BUT must follow the rule made amongst traditional community members as follow: (1) ACTIVITIES ALLOWED IN BINTUNI BAY NATURE RESERVE: Catching fish. Catching fish using “akar bore” and net. Every body could use resources in BBNR. Using trawl in catching fish or prawn. Hunting wild animals (crocodile. Cutting down mangrove (mangi-mangi) in big scale like logging or fish-pond. Conclusion of Roundtable Discussion The discussion amongst traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve was going well. Mining operation. Using mangrove (mangi-mangi) for traditional needs ONLY (not for commercial purposes) like catching fish “pele kali”. finally a very useful COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the group. feral pig. Cutting down logs in low land forest in BBNR. prawn. Even though sometimes there was “hot” debate but dynamic amongst the participants. and another sea product.

Following are several inputs and issues have been raised during the roundtable discussion: 1. J. 2nd -day meeting (2 June. Bintuni. 3. J.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni (3) BKSDA Papua II Sorong Form a working group at every village inside and surrounding the BBNR during the implementation of management plan. L. (Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional IV. Workshop-Committee Report. Traditional community members (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay also asked for the local government to support the management through: (1) (2) Produce a local regulation on BBNR: Intensive community-services to increase building and economic capacity of the traditional communities who live inside and surrounding the Bintuni Bay.30 on Thursday 2 June. working group will be formed consist of represent of traditional people (masyarakat adat) who live inside and surrounding the Bintuni Bay. A. MM. by the Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni. Paiki. Remarks by Drs. The head of Gospel Christian Church (GKI) in Papua. During the implementation of commitment above. Bupati Teluk Bintuni. Bupati Teluk Bintuni. Presentation of the 1st draft of MP of Bintuni Bay Nature Reserve and Roundtable Discussion In this session. Secretary General of Forestry Department of RI). Paiki. 2005. the implementation team of establishing the MP of Bintuni Bay Nature Reserve presented the 1st draft of Management Plan. 2005) Opening Session The meeting was opened at 9. The programme of the opening session included: Praying was lead by Pdt. Konologit.18 Lampiran-Lampiran . M.00 PM by Mr. STh. Closing Session The meeting was formally closed at 3. Arman Mallolongan. Opening the workshop formally by Drs. Additional observing-tower at the mouth of Bintuni River. The main job of this working group is to formulate the law enforcement of the commitment agreed which is assisted by local government and sponsor (TNC and BKSDA II Papua).

Policy in recruiting local staff during the implementation of Management of BBNR. 7. Secretary General of Forestry Department of RI). Pay more attention in increasing the economic sector of the traditional communities who live inside and surrounding the BBNR. Lampiran-Lampiran L.19 . Increase the status of Resort KSDA Bintuni to become “SEKSI”. 8. 10. 4.30 PM by Mr.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2. 6. There should also be a commitment of traditional communities who live in upland areas as the degradation of the forest located in upland may cause very significant impact to the BBNR. 9. MM. 5. 3. Socialise the management plan to the communities inside and surrounding the BBNR is important. Closing Session The meeting was formally closed at 3. Integrated management organisation (lembaga pengelola terpadu) during the first 5year implementation of MP is necessary. M. Scenarios in management plan. BKSDA Papua II Sorong The status of the Bintuni Bay Nature Reserve is not yet definitive as Nature Reserve. Approaching method in establishing the management plan. (Kepala Pusat Pengendalian Pembangunan Kehutanan Regional IV. Arman Mallolongan.

Thesia.00 12. Thesia.30 Implementation Team Implementation Team Committee Committee Lampiran-Lampiran L. Paiki.30 9.00 Registration Opening Session Praying Remarks Ketua Klasis GKI Bintuni Mr.30 9.30 11.30 Registration Opening Session Praying Workshop-Committee Report Ketua Klasis GKI Bintuni Mr. on behalf of The head of Head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Drs.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 15. C. BKSDA Papua II Sorong Programme of two-days meeting on Establishing the Bintuni Bay Nature Reserve Management Plan Wednesday 1 June. Thesia. C. on behalf of The head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Opening the workshop 10. 2005 8.30 13.00 Coffee break Roundtable Discussion Lunch Workshop Conclusion Closing Session Implementation Team Committee Implementation Team Committee Thursday 2 June.00 15.00 13. J. Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Drs. Lunch Roundtable Discussion Workshop Conclusion Coffee break Closing Session 12.00 Coffee break Presentation of the 1st draft of MP of BBNR. C. J.30 15.20 .30 11.00 14.30 15. Paiki. on behalf of The head of Regional Planning Agency (Bappeda) Kabupaten Bintuni Mr. Bupati Kabupaten Teluk Bintuni Committee Implementation Team Remarks Opening the workshop 10. 2005 8.

SIPUT ATAU BIA.21 . TIDAK MEMBOLEHKAN KAPAL-KAPAL YANG BERLAYAR DI SUNGAI UNTUK MEMBUANG SAMPAH ATAU LIMBAH MINYAK ATAU BAHAN KIMIA KE SUNGAI 5. TELAH BERTEMU DAN BERBICARA BERSAMA TENTANG CAGAR ALAM. TIDAK BOLEH KAPAL BESAR ATAU KAPAL UDANG ATAU PUKAT HARIMAU UNTUK BEROPERASI DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. DARI PERTEMUAN TERSEBUT. UDANG. RUSA. KARAKA. KEGIATAN YANG BOLEH DILAKUKAN DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI ANTARA LAIN ADALAH: 1. BAPAK. A COMMITMENT related to the management of BBNR was produced by the traditional community members who live inside and surrounding the Bintuni Bay Nature Reserve during the Kabupaten Meeting in Bintuni LOKAKARYA PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI TGL 1 JUNI 2005 BAPAK BUPATI YANG KAMI HORMATI. DLL 2. KAMI DAPAT BERKEBUN DAN MENDAPAT BANTUAN BIMBINGAN TEKNIS DARI DINAS TERKAIT 3. DAN BURUNG 5. IBU PEJABAT DI KABUPATEN TELUK BINTUNI BAPAK DAN IBU HADIRIN SEMUA KAMI MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI SEKITAR DAN DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. BABI HUTAN. KAMI DAPAT MELAKUKAN PEMANFAATAN KAYU MANGI-MANGI UNTUK KAYU BAKAR SENDIRI (BUKAN UNTUK DIJUAL) DAN KEGIATAN MENANGKAP IKAN “PELE KALI” 4. KAMI DAPAT BERBURU HEWAN ATAU SATWA LIAR SEPERTI BUAYA. KAMI DAPAT MELAKUKAN PENANGKAPAN HASIL-HASIL PERIKANAN SEPERTI IKAN. KAMI MASYARAKAT YANG ADA DI DALAM DAN DI SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM MENYATAKAN SIKAP KAMI ANTARA LAIN: SIAPAPUN BOLEH MENCARI MAKAN DI DALAM KAWASAN TANPA MEMANDANG SUKU/MARGA/BATAS-BATAS WILAYAH ADAT ASALKAN MEMATUHI ATURAN KESEPAKATAN YANG SUDAH DIBUAT UNTUK ITU.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 16. KAMI MEMBUAT KESEPAKATAN KELOMPOK MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. TIDAK BOLEH MENEBANG KAYU DI HUTAN TANAH KERING ATAU GUNUNG DI DALAM CAGAR ALAM 4. UDANG. TIDAK BOLEH MENEBANG MANGI-MANGI ATAU BAKAU DARI CAGAR ALAM DALAM SKALA BESAR UNTUK KEPERLUAN USAHA KAYU ATAU TAMBAK ATAU LAINNYA 3. TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN “OBAT” (BAHAN KIMIA) DALAM MENANGKAP IKAN. KAMI BOLEH MENANGKAP IKAN DENGAN MENGGUNAKAN “AKAR BORE” DAN JARING KEGIATAN YANG TIDAK BOLEH DILAKUKAN DI KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI ANTARA LAIN ADALAH: 1. YANG TERDIRI DARI 14 KAMPUNG. 2. Lampiran-Lampiran L. DAN HASIL LAUT LAINNYA.

KAMI MASYARAKAT AKAN MELAKUKAN DUKUNGAN BERUPA: 1. UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. KHUSUS UNTUK PENINGKATAN EKONOMI MASYARAKAT 3. MELAKUKAN PEMBINAAN. UNTUK ITU. PENYULUHAN DAN PENDAMPINGAN YANG TERUS MENERUS KEPADA MASYARAKAT DI DALAM DAN SEKITAR CAGAR ALAM. KAMI AKAN MELAPORKAN PELANGGARAN KESEPAKATAN YANG TERJADI KE PENGELOLA CAGAR ALAM TELUK BINTUNI 2. KAMI MEMINTA PEMERINTAH DAERAH MEMBERIKAN PERHATIAN LEBIH BESAR PADA PENDIDIKAN MASYARAKAT DEMIKIAN KESEPAKATAN YANG KAMI BUAT DARI 14 KAMPUNG YANG ADA DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI MENDAMA TAMBE JAGA TANE CAGAR ALAM TELUK BINTUNI BINTUNI.22 .Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong 6. KAMI MENGHARAPKAN PEMERINTAH MELAKUKAN HALHAL SEBAGAI BERIKUT: 1. TIDAK BOLEH ADA EKSPLORASI BAHAN TAMBANG DI DALAM KAWASAN CAGAR ALAM TELUK BINTUNI. KAMI AKAN MENANGKAP LANGSUNG PELANGGAR ATURAN YANG SUDAH DISEPAKATI BERSAMA 3. PEMBENTUKAN KELOMPOK KERJA DI SETIAP KAMPUNG YANG ADA DI DALAM DAN SEKITAR KAWASAN YANG AKAN DILIBATKAN DALAM PELAKSANAAN RENCANA KEGIATAN PENGELOLAAN KAMI JUGA BERHARAP PEMERINTAH TURUT MENDUKUNG KEGIATAN PENGELOLAAN CAGAR ALAM. 2 JUNI 2005 PERWAKILAN MASYARAKAT YANG BERMUKIM DI DALAM DAN SEKITAR CAGAR ALAM TELUK BINTUNI: Lampiran-Lampiran L. MEMBUAT PERATURAN DAERAH MENGENAI CAGAR ALAM 2.

2. but they need to be analyzed deeply Regarding the activity in Reconstruct the border of BBNR. 4. 7. No. Manokwari Rector 1. F. 3. need to form an alternative organization based on local condition Add the contribution of all stakeholders in current document of MP of BBNR Proposed a zoning in MP (Arahan Zoning) Use different term for MONITORING BODY. 7 8. 6. BKSDA Papua II Sorong Rangkuman Catatan Hasil Presentasi Draf Akhir Rencana Pengelolaan Kawasan CATB di PHKA Jakarta (22 Juli 2005). 10. 5. 3. Dr. do not think about the current status of the site The current document of MP of BBNR is not applicable if the status of the site is indefinite The current document of MP can be considered as a starting point in fixed the site status of BBNR Proposed not only one organization but several in Managing the BBNR Especially in Papua. 3 Prof. the communities who are living inside and surrounding the site should be fully involved The BBNR should be promoted not only in regional but also in national even international level The analysis of problems and solutions stated in MP are applicable. 2. Jakarta Position Dir. 8. 9. add data of sedimentation level? 4. Lampiran-Lampiran L. Forum for example Balai is more suitable instead of Resort in Organization Move the Vision and Mission section in to the Chapter of Introduction The position and size should be based on Water Catchments Area in BBNR Page II. Input/Critics/Question How about the contribution of another stakeholders outside the Bintuni Region? How the community can support the implementation of the Management Plan? Once the MP is implemented. Jakarta 1. 2 Adi Susmianto PHKA. 1 Name Banjar Laban Institution PHKA. 3.10. it should be based on old border How can the BBNR be synchronize with the local/traditional culture (see Government Regulation-PP 68) The scenario of Management of BBNR stated in MP need to be strengthen At the time. Wanggai University of Papua (UNIPA).23 . 6. Konservasi Kawasan PHKA 1. 2.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni Lampiran 17. keep going with the MP.

include the land use in every village inside and surrounding the BBNR Chapter III.1. 3. Jakarta Kasubdit Cagar Alam 1. Jakarta 1. P. the position (GPS) of every pal should be included The management needs more supporting facilities as the current one is not proportional compare to the size of the BBNR The status of BBNR is very crucial in supporting the Management Plan Fisheries and Marine Department of Kabupaten Teluk Bintuni is planned to established a local regulation on catching area in Bintuni Bay A local rule of catching area (12 mil and 10 m isobar) is unclear In controlling activity. there should be a commitment of PEMDA in plotting the BBNR in their strategic plan or layout planning of Kabupaten Page V. 7 Mr. J. 5-year plan. Karubui 2. 9 Wahyu PHKA. there should not be a Rehabilitation activity in Nature Reserve Management of BBNR should be based on Mangrove ecosystem as 90 % of the site is dominated by mangrove forest Good to see that the economic value of the BBNR is mentioned in the document. however it needs to elaborate broadly The planning should be divided into 25year plan. 6. POLHUT instead of JAGAWANA The reconstruction of site border should be proposed by Bupati Proposed re-bordering in MP Based on Government law. 3.24 . 4 Ir. 5. Puspa PHKA. Lekitoo Forestry Department of Kabupaten Teluk Bintuni Fisheries and Marine Department of Kabupaten Teluk Bintuni Head of office 1 2. Unu PHKA.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 4. if any. 7. yearly plan in the document 5. and yearly plan State the main activities of 25-year plan. Jakarta 1 2 Lampiran-Lampiran L. there may be some possibilities of changing function of the site Correction. 4. not (No Suggestions)). 6. BKSDA Papua II Sorong In Sub Chapter of Soil. 8 Ms. 5-year plan. 2. 5 Drs. It is necessary to form a group of people from the communities inside and surroundings BBNR All activities based on the a commitment amongst people who are living inside and surroundings BBNR should be supported by government regulation There should be a buffer zone With the current status of BBNR (Penunjukan. Head of office 1. 2.

Peta Kerja Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni 2006-2030 ! . G / S / Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni .25 . S ! / G = Kantor = Pondok Kerja = Menara Pengawas = Tanda larangan = Pondok Peneliti = Pemukiman ! ! / ! / S / ! ! S Lampiran-Lampiran L.Rencana Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni BKSDA Papua II Sorong Lampiran 18.

.

.

Petrus Kasihiw. hidup kami tergantung disana. Paiki – Pjbt Bupati Teluk Bintuni Pengelolaan Cagar Alam Teluk Bintuni adalah tanggungjawab kita semua. MP – Kepala BKSDA Papua II – Sorong Cagar Alam milik kami.Kepala Bappeda Teluk Bintuni Rencana Pengelolaan ini merupakan bukti nyata kerjasama masyarakat adat. MT . J. Fransisco Moga.Apa Kata Mereka Rencana Pengelolaan menunjukkan komitmen semua pemangku kepentingan untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup. Implementasi rencana ini harus bisa menjaga kekayaan sumberdaya alam yang merupakan anugerah Tuhan Prof. karaka dan buaya dari mangi-mangi. Semoga pengelola cagar alam bisa bekerja bersama masyarakat menjaga Cagar Alam Teluk Bintuni Adrian Tatiri – Kepala Kampung Yakati Cagar Alam Teluk Bintuni kami orang pu barang. Implementasi tetap membutuhkan dukungan dari semua pemangku kepentingan untuk mencapai lingkugnan yang lestari dan masyarakat sejahtera Ir. Dr. Semua masyarakat bisa mencari makan disana asal ikut kita pu aturan. kami bisa dapat ikan. Cagar Alam ini kami masyarakat Bintuni pu barang. Semoga implementasi akan membuat cagar alam terjaga dan masyarakat bisa merasakan manfaatnya Drs. Frans Wanggai – Rektor Universitas Papua Rencana Pengelolaan ini akan membantu kami bekerja lebih baik bersama pengelola cagar alam untuk kemajuan Kabupaten Teluk Bintuni Ir. Kita mau kita pu mangi-mangi terjaga dan kita bisa dapat hasil laut dari kekayaan Cagar Alam Otto Manibuy – Tokoh Adat Wamesa ISBN : 979-97700-4-1 . Kami ingin bisa bekerja bersama untuk menjaga cagar alam ini. udang. Kami berharap pengelolaan akan mensejahterakan kami masyarakat Abraham Wekaburi (Koordinator 7 Suku di Bintuni) Kami mau cagar alam bisa lestari. masyarakat dan pemerintah. LSM dan Pemerintah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful