P. 1
Pengaruh Motivasi, Kesejahteraan Hidup, Dan Lingkungan Kerja Perusahaan Terhadap Kinerja Karyawan

Pengaruh Motivasi, Kesejahteraan Hidup, Dan Lingkungan Kerja Perusahaan Terhadap Kinerja Karyawan

|Views: 6,699|Likes:
Published by Dikta
Iswandriyanto, Proposal Skripsi Manajemen SDM
Iswandriyanto, Proposal Skripsi Manajemen SDM

More info:

Published by: Dikta on Apr 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/21/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Dalam sebuah perusahaan, potensi Sumber Daya Manusia pada hakekatnya merupakan salah satu modal dan memegang suatu peran yangg paling penting dalam mencapai tujuan perusahaan. Oleh karena itu perusahaan perlu mengelola Sumber Daya Manusia sebaik mungkin. Sebab kunci sukses suatu perusahaan bukan hanya pada keunggulan teknologi dan tersedianya dana saja. Tapi faktor manusia merupakan faktor yang terpenting pula. Melalui perencanaan Sumber Daya Manusia yang matang, produktivitas kerja dari tenaga kerja yang sudah ada dapat ditingkatkan. Hal ini dapat diwujudkan melalui adanya penyesuaian. Seperti pemberian motivasi dari seorang pimpinan, Kesejahterahan hidup dan lingkungan kerja yang baik. Sehingga setiap karyawan dapat menghasilkan sesuatu yang berkaitan langsung dengan kepentingan organisasi. Setiap perusahaan selalu menginginkan produktivitas dari setiap karyawannya meningkat. Untuk mencapai hal tersebut, perusahaan harus memberikan motivasi yang baik kepada seluruh karyawannya agar dapat mencapai prestasi kerja dan meningkatkan produktivitas. Motivasi dapat diartikan sebagai kekuatan (energi) seseorang yang dapat menimbulkan tingkat persistensi dan entusiasmenya dalam melaksanakan suatu kegiatan, baik yang bersumber dari dalam diri individu itu sendiri (motivasi intrinsik) maupun dari luar individu (motivasi ekstrinsik).

Seberapa kuat motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan terhadap kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya.. Kajian tentang motivasi telah sejak lama memiliki daya tarik tersendiri bagi kalangan pendidik, manajer, dan peneliti, terutama dikaitkan dengan kepentingan upaya pencapaian kinerja (prestasi) seseorang

1

Teori motivasi yang dikembangkan oleh Abraham H. Maslow pada intinya berkisar pada pendapat bahwa manusia mempunyai lima tingkat atau hierarki kebutuhan, yaitu : kebutuhan fisiologikal (physiological needs), seperti : rasa lapar, haus, dan istirahat, kebutuhan rasa aman (safety needs), tidak dalam arti fisik semata, akan tetapi juga mental, psikologikal dan intelektual, kebutuhan akan kasih sayang (love needs), kebutuhan akan harga diri (esteem needs), yang pada umumnya tercermin dalam berbagai simbol-simbol status; dan aktualisasi diri (self actualization), dalam arti tersedianya kesempatan bagi seseorang untuk mengembangkan potensi yang terdapat dalam dirinya sehingga berubah menjadi kemampuan nyata.

Motivasi berperan penting dalam membangun mental dan memacu semangat para karyawan nya. Seorang pimpinan yang dapat denagn baik memberikan sebuah motivasi yang baik pasti membuat pimpinan tersebut disegani dan ada perasaan khusus didalam diri seorang karyawan agar terus bekerja lebih baik lagi dari yang dicapai sekarang dan akan terus meningkatkan kinerja dan kualitas kerja nya

Menurut teori motivasi Herzberg, Teori yang dikembangkannya dikenal dengan ³ Model Dua Faktor´ dari motivasi, yaitu faktor motivasional dan faktor hygiene atau ³pemeliharaan´. Menurut teori ini yang dimaksud faktor motivasional adalah hal-hal yang mendorong berprestasi yang sifatnya intrinsik, yang berarti bersumber dalam diri seseorang, sedangkan yang dimaksud dengan faktor hygiene atau pemeliharaan adalah faktor-faktor yang sifatnya ekstrinsik yang berarti bersumber dari luar diri yang turut menentukan perilaku seseorang dalam kehidupan seseorang.

Faktor yang tergolong sebagai faktor motivasional antara lain adalah pekerjaan seseorang, keberhasilan yang diraih, kesempatan bertumbuh, kemajuan dalam karier dan pengakuan orang lain. Sedangkan faktor-faktor hygiene atau pemeliharaan mencakup antara lain status seseorang dalam organisasi, hubungan seorang individu dengan atasannya, hubungan seseorang dengan rekan-rekan sekerjanya, teknik penyeliaan yang diterapkan oleh para penyelia, kebijakan organisasi, sistem administrasi dalam organisasi, kondisi kerja dan sistem imbalan yang berlaku. 2

Motivasi bukan saja berasal dari dalam diri sendiri, namun juga berasal dari faktor luar. disinilah seharusnya seorang pimpinan dituntut untuk memainkan dan menjalankan peran nya dengan baik. Seorang pimpinan yang bijak pasti akan tau apa yang seharusnya dilakukan setelah apa yang dikerjakan karyawan nya berjalan dengan baik dan sukses, pimpinan dapat memberikan sebuah apresiasi, penghargaan, ataupun pujian, karena itu termasuk salah satu bentuk dari motivasi dari seorang pimpinan. Apabila karyawan termotivasi dengan seperti itu, maka bisa jadi itu adalah awal dari kesuksesan berikutnya dan akan terus meningkatkan kinerja dan kualitas kerja nya agar bias memberikan yang terbaik bagi perusahaan dan menjadi kesan tersendiri di mata pimpinan nya.

Selain Motivasi, Faktor yang ikut menentukan kinerja karyawan adalah tentang kesejahterahan hidup karyawan dan lingkungan kerja yang baik. Dalam hubungannya dengan peningkatan kesejahteraan hidup parakaryawan, suatu Perusahaan harus secara efektif memberikan kompensasi sesuai dengan beban kerja yang diterima pegawai. Kompensasi merupakan salah satu faktor baik secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi tinggi rendahnya kinerja karyawan. Karena itu semestinya pemberian kompensasi kepada pegawai perlu mendapat perhatian khusus dari pimpinan agar motivasi para karyawan dapat dipertahankan dan kinerja para karyawan diharapkan akan terus meningkat. Salah satu fenomena yang muncul dewasa ini adalah adanya kebijakan pemberian kompensasi yang cenderung masih belum sepenuhnya sesuai dengan harapan karyawan sedangkan kompensasi itu sendiri adalah merupakan salah satu faktor untuk mendorong karyawan agar memiliki kinerja yang tinggi. Pimpinan yang baik seharusnya dapat merespon dengan baik masalah tentang kesejahterahan karyawan nya. Karena kesejahterahan masih merupakan sebuah motif seorang karyawan agar terus bekerja secara maksimal untuk kemajuan perusahaan.

Gareth Jones (1993) menyatakan bahwa kompensasi itu terbagi menjadi dua, terdapat kompensasi langsung maupun kompensasi tidak langsung. Kompensasi langsung terdiri dari gaji, uang transport, tunjangan hari raya, uang lembur, dan tunjangan langsung lainnya. Sedangkan kompensasi tidak langsung terdiri dari promosi jabatan, asuransi, tunjangan jabatan, dan mutasi.

3

Kompensasi merupakan salah satu organ terpenting dalam kesejahterahan karyawan dan juga merupakan fungsi yang penting dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM). Robbin (1997) menyatakan bahwa program kompensasi yang efektif harus memenuhi kriteria seperti : Sederhana, aturan-aturan dalam sistem kompensasi harus ringkas, jelas dan mudah difahami, Spesifik (Para pegawai perlu mengetahui secara tepat tentang apa yang harus mereka kerjakan), Terjangkau (setiap pegawai harus mempunyai peluang yang wajar untuk memperoleh kompensasi), Terukur (sasaran-sasaran yang terukur adalah dasar untuk membangun rencanarencana atau program kompensasi. Program kompensasi akan menjadi tidak ada manfaatnya bila hasil prestasi kerja spesifik tidak dapat dikaitkan dengan rupiah yang dikeluarkan).

Dengan demikian dapat dilihat dengan jelas bahwa seorang pimpinan juga harus memperhatikan betapa pentingnya factor kesejahterahan hidup karyawan nya yang berkaitan dengan kinerja nya dilapangan. Kesejahterahan hidup karyawan dapat di lihat dari sisi kompensasi yang berupa gaji, bonus, tunjangan, dan kompensasi yang bisa disesuaikan dengan kontribusi yang karyawan berikan pada perusahaan. Karena seperti yang sudah dijelaskan diatas, bahwa faktor SDM yang baik merupakan salah satu kunci sukses dari sebuah perusahaan, apabila karyawan merasa mendapat semua kesejahterahan yang dibutuhkan nya di perusahaan tempatnya bekerja maka karyawan tersebut akan setia untuk mengabdi sepanjang karirnya untuk bekerja di perusahaan tersebut dan bekerja secara maksimal untuk memberikan sesuatu yang terbaik bagi perusahaan. serta memperkecil kemungkinan karyawan yang memiliki kontribusi besar dan kemampuan yang sangat baik untuk pindah kerja atau bahkan membelot ke perusahaan kompetitor yang berpotensi membahayakan perusahaan. sehingga, sebisa mungkin pimpinan serta pihak manajemen perusahaan harusnya dapat merespon dan mengatur tentang kebijakan untuk memperhatikan kesejahterahan hidup karyawan nya.

Dalam kaitan nya dengan kinerja karyawan, faktor lingkungan kerja yang baik juga menentukan baiknya kinerja karyawan bagi perusahaan. Lingkungan kerja yang kondusif memberikan rasa aman dan memungkinkan para pegawai untuk dapat berkerja optimal. Lingkungan kerja dapat mempengaruhi emosi pegawai. Jika pegawai menyenangi lingkungan kerja dimana dia bekerja, maka pegawai tersebut akan betah di tempat kerjanya untuk melakukan 4

aktivitas sehingga waktu kerja dipergunakan secara efektif dan optimis prestasi kerja pegawai juga tinggi. Lingkungan kerja tersebut mencakup hubungan kerja yang terbentuk antara sesama pegawai dan hubungan kerja antar bawahan dan atasan serta lingkungan fisik tempat pegawai bekerja. manfaat lingkungan kerja adalah menciptakan gairah kerja, sehingga produktivitas dan prestasi kerja meningkat.

Sementara itu, manfaat yang diperoleh karena bekerja dengan orang-orang yang termotivasi adalah pekerjaan dapat diselesaikan dengan tepat. Yang artinya pekerjaan diselesaikan sesuai standar yang benar dan dalam skala waktu yang ditentukan. Prestasi kerjanya akan dipantau oleh individu yang bersangkutan, dan tidak akan menimbulkan terlalu banyak pengawasan serta semangat juangnya akan tinggi. oleh sebab itu, lingkungan kerja juga dinilai berpengaruh terhadap kinerja dan kualitas kerja yang di hasilkan oleh karyawan. karena lingkungan kerja yang baik dan kondusif tentu nya akan membuat karyawan merasa nyaman sehingga mampu bekerja dengan maksimal untuk kesuksesan dan kemajuan perusahaan.

Sehubungan dengan tiga pembahasan diatas mengenai motivasi, kesejahteraan hidup dan lingkungan kerja, disini bisa di lihat siapa yang seharusnya dapat memainkan dan menjalankan ketiga pembahasan tersebut dengan baik. Pimpinan merupakan kunci utama dalam manajemen yang memegang peran strategis dan penting dalm kelangsungan hidup perusahaan. karena pimpinan merupakan pencetus tujuan, pengambil keputusan, merencanakan, menggerakan, dan mengorganisasikan seluruh sumber daya yang dimiliki oleh perusahaan dalam rangka mencapai tujuan yang di inginkan. Oleh sebab itu, seorang pemimpin dituntut untuk selalu bisa memotivasi karyawan nya, memperhatikan kesejahterahan hidup karyawan nya, dan menciptakan suasana lingkungan kerja yang mampu meningkatkan kinerja dan kualitas kerja karyawan nya. Atasan yang penuh perhatian dalam memotivasi karyawan nya, memperhatikan kesejahteraan hidup karyawan dan menjaga kekondusifan lingkungan kerja didalam perusahaan yang dipimpin nya akan membuat karyawan merasakan semangat kerja yang lebih tinggi dan dapat diharapkan untuk mampu bekerja secara maksimal untuk memberikan yang terbaik bagi perusahaan.

5

Dalam penelitian kali ini, peneliti akan meneliti seberapa besar pengaru motivasi, kesejahterahan hidup dan lingkungan kerja yang baik terhadap kinerja karyawan. penelitian ini juga menggunakan asumsi bahwa tingkat kinerja karyawan juga menunjukan besar kecilnya tingkat produktivitas yang dapat dicapai oleh sebuah perusahaan.

1.2. PERUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka dapat ditarik beberapa rumusan permasalahan sebagai berikut :

1. Apakah terdapat pengaruh positif dari motivasi seorang pimpinan terhadap kinerja kerja karyawan nya?

2. Apakah terdapat pengaruh positif dari kesejahterahan hidup terhadap kinerja kerja karyawan nya?

3. Apakah terdapat pengaruh positif dari lingkungan kerja terhadap kinerja kerja karyawan nya?

6

1.3. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh variabel motivasi, kesejahterahan hidup dan lingkungan kerja dapat mempengaruhi variabel kinerja karyawan.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan manfaat bagi semua pihak, terutama bagi :

1. Peneliti

Merupakan salah satu sarana untuk mengaplikasikan dan mengembangkan ilmu yang selama ini diperoleh dalam bidang Manajemen SDM.

2. Perusahaan dan Obyek yang diteliti

Sebagai referensi dan penyedia informasi untuk bahan pertimbangan serta untuk memberikan masukan dalam menentukan arah kebijakan dalam keputusan manajemen SDM nya.

3. Lingkungan akademis

Dapat dijadikan referensi bacaan dan bahan rujukan untuk menambah wawasan dalam melakukan penelitian selanjutnya dibidang manajemen SDM.

7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. LANDASAN TEORI

1. Motivasi
Motivasi berasal dari kata latin ³movere´ yang berarti ³dorongan atau daya penggerak´. Motivasi ini diberikan kepada manusia, khususnya kepada para bawahan atau pengikut. Adapun kerja adalah sejumlah aktivitas fisik dan mental untuk mengerjakan sesuatu pekerjaan. Terkait dengan hal tersebut, maka yang dimaksud dengan motivasi adalah mempersoalkan bagaimana caranya mendorong gairah kerja bawahan, agar mereka mau bekerja keras dengan memberikan semua kemampuan dan ketrampilannya untuk mewujudkan tujuan organisasi.

Motivasi adalah suatu dorongan kebutuhan dan keinginan individu yang diarahkan pada tujuan untuk memperoleh kepuasan dari apa yang dibutuhkannya. Dalam memotivasi karyawan, pimpinan harus mengetahui motif apa yang di inginkan oleh karyawan nya sehingga karyawan mau bekerja ikhlas demi tercapainya tujuan perusahaan. karyawan tidak hanya berbeda dalam kemampuan melakukan sesuatu tetapi juga dalam motivasi mereka melakukan hal itu. Motif berarti suatu keadaan di dalam diri seseorang (inner state) yang mendorong, mengaktifkan, menggerakkan, mengarahkan dan menyalurkan perilaku ke arah tujuan. Peranan karyawan dalam mencapai tujuan tersebut sangat penting dalam pencapaian tujuan perusahaan. Untuk menggerakkan manusia agar sesuai dengan yang dikehendaki perusahaan, maka haruslah dipahami motivasi manusia bekerja pada suatu organisasi, karena motivasi inilah yang menentukan perilakuorang-orang untuk bekerja atau dengan kata lain perilaku merupakan cerminan yang paling sederhana dari motivasi. Dalam pengertian lain, Motivasi juga berarti proses yang menjelaskan intensitas, arah, dan ketekunan seorang individu untuk mencapai tujuannya. Tiga elemen utama dalam definisi ini adalah intensitas, arah, dan ketekunan. dalam hubungan antara motivasi dan intensitas, intensitas 8

terkait dengan dengan seberapa giat seseorang berusaha, tetapi intensitas tinggi tidak menghasilkan prestasi kerja yang memuaskan kecuali upaya tersebut dikaitkan dengan arah yang menguntungkan organisasi. Teori Tentang Motivasi 1. Teori kebutuhan Teori kebutuhan dikembangkan oleh David McClelland dan teman-teman nya. teori kebutuhan berfokus pada tiga kebutuhan yang didefinisikan sebagai berikut :
1.

kebutuhan pencapaian: dorongan untuk melebihi, mencapai standar-standar, berusaha keras untuk berhasil.

2.

kebutuhan kekuatan: kebutuhan untuk membuat individu lain berperilaku sedemikian rupa sehingga mereka tidak akan berperilaku sebaliknya.

3.

kebutuhan hubungan: keinginan untuk menjalin suatu hubungan antarpersonal yang ramah dan akrab.

2. Teori evaluasi kognitif Teori evaluasi kognitif adalah teori yang menyatakan bahwa pemberian penghargaanpenghargaan ekstrinsik untuk perilaku yang sebelumnya memuaskan secara intrinsik cenderung mengurangi tingkat motivasi secara keseluruhan.Teori evaluasi kognitif telah diteliti secara eksensif dan ada banyak studi yang mendukung.

3. Teori penentuan tujuan Teori Penentuan Tujuan adalah teori yang mengemukakan bahwa niat untuk mencapai tujuan merupakan sumber motivasi kerja yang utama. Artinya, tujuan memberitahu seorang karyawan apa yang harus dilakukan dan berapa banyak usaha yang harus dikeluarkan

9

4. Teori Penguatan Teori Penguatan adalah teori di mana perilaku merupakan sebuah fungsi dari konsekuensi-konsekuensinya jadi teori tersebut mengabaikan keadaan batin individu dan hanya terpusat pada apa yang terjadi pada seseorang ketika ia melakukan tindakan.

5. Teori Keadilan Teori Keadilan adalah teori bahwa individu membandingkan masukan-masukan dan hasil pekerjaan mereka dengan masukan-masukan dan hasil pekerjaan orang lain, dan kemudian merespons untuk menghilangkan ketidakadilan.

6. Teori harapan Teori Harapan adalah kekuatan dari suatu kecenderungan untuk bertindak dalam cara tertentu bergantung pada kekuatan dari suatu harapan bahwa tindakan tersebut akan diikuti dengan hasil yang ada dan pada daya tarik dari hasil itu terhadap individu tersebut.

2. Kesejahteraan Hidup Karyawan

Pengertian Kesejahteraan Karyawan

Setiap karyawan yang bekerja didalam sebuah perusahaan pasti selalu menginginkan kesejahteraan hidup, karena karyawan bekerja untuk dapat mencari nafkah sehari hari dan mendapatkan kesejahteraan hidup yang diinginkan nya. sebab dengan sejahtera hidupnya maka karyawan akan menjadi tenang dan tentram serta dapat terpenuhi kebutuhan hudupnya.

Kesejahteraan adalah suatu kondisi aman, sentosa dan makmur terhindar dari berbagai ancaman dan kesulitan yang dirasakan seorang karyawan yang telah melakukan suatu pekerjaan di suatu tempat atau perusahaan. 10

2.1. Cara mengklasifikasi kesejahteraan karyawan

Program kesejahteraan karyawan telah menjadi bagian integral dari kebanyakan paket kompensasi. Program asuransi jiwa dan kesehatan dan cuti yang dibayar adalah sedikit dari banyak tipe kesejahteraan karyawan yang biasa ditemui dalam organisasi pemerintah maupun swasta. Ini dapat terlihat dari atau dalam Undang-undang ketenagakerjaan yang telah ditetapkan oleh pemerintah serta ketentuan tentang upah minimum regional yang setiap kali sesuai dengan kondisi. Dengan memberikan sederetan kesejahteraan untuk karyawan akan membantu organisasi untuk menarik karyawan yang berkualitas tinggi, disamping sebagai usaha untuk mempertinggi moral, dan kepuasan kerja karyawan. Dengan demikian terjaminnya kesejahteraan karyawan itu sangat menguntungkan bagi karyawan itu sendiri maupun perusahaan tersebut. Menurut Moekijat (1989), ada beberapa cara untuk mengklasifikasikan kesejahteraan karyawan yaitu: a. Pelayanan karyawan b. Pembayaran untuk waktu tidak bekerja c. Keamanan pegawai atau karyawan

2.2. Usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan karyawan atau program kesejahteraan ekonomi karyawan.

Usaha-usaha untuk memenuhi kebutuhan karyawan atau pegawai merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan atau pegawai adalah sebagai berikut :

1. Pemberian gaji atau upah yang adil

Dalam pemberian gaji disesuaikan dengan tugas yang telah dikerjakan dengan hasil dan waktu tertentu yang telah ditetapkan dan distandarisasi didalam ketetapan yang telah ditetapkan oleh sebuah perusahaan. Sedangkan untuk tercapainya keadilan , maka ada beberapa faktor penting yang perlu diperhatikan oleh pihak manajemen perusahaan dalam penetapan tingkat 11

upah karyawan adalah pendidikan, pengalaman, tanggungan keluarga, kemampuan perusahaan, dan kondisi pekerja.

2. Asuransi dan keselamatan kerja

Dalam lingkungan kerja dimanapun pasti menginginkan keselamatan, keamanan dan kesehatan kerja. Karena bagaimanapun juga manusia menginginkan ketiga hal itu dan sanggup mengorbankan apa saja asal dapat sehat, aman dan selamat. Sedangkan program asuransi ini bisa berbentuk Asuransi Jiwa, Asuransi Kesehatan dan Asuransi Kecelakaan. Disini perusahaan bisa melakukan kerja sama dengan Perusahaan Asuransi untuk menanggung asuransi karyawannya. Lingkungan kerja yang aman dan sehat sangat diperlukan oleh semua orang karena ditempat kerja yang demikian seseorang dapat bekerja dengan tenang sehingga dapat memperoleh seperti yang diharapkan oleh perusahaan atau organisasi tersebut.

3. Melalui promosi atau kenaikan jenjang

Pihak perusahaan atau suatu organisasi biasanya menyenangi dasar promosi adalah kecakapan kerja, karena kecakapan kerja atau kinerja yang baik adalah merupakan dasar kemajuan. Sedangkan pihak karyawan menghendaki unsure seniorisasi lebih ditekankan dalam promosi, karena dengan makin lama masa kerja, maka makin berpengalaman seseorang, sehingga kecakapan kerja mereka makin baik. Tetapi pada umumnya didalam menentukan dasar untuk promosi sering digunakan keduanya yaitu dasar kecakapan kerja dan senioritas jadi apabila ada karyawan atau pegawai yang mempunyai kecakapan yang sama, maka karyawan atau pegawai yang lebih seniorlah yang akan dipromosikan. Oleh karena itu dia akan mendapatkan hak-hak yang lebih baik daripada yang diperoleh sebelum promosi baik material maupun non material. Hak-hak yang bersifat material misalnya kenaikan pendapatan, perbaikan fasilitas sedangkan hak yang bersifat non material misalnya status sosial, dan rasa bangga.

12

4. Program Rekreasi

Dengan adanya kesempatan rekreasi itu diharapkan para pegawai atau karyawan selalu bergairah atau mempunyai semangat dalam bekerja. Salah satu program rekreasi adalah mengadakan tour ke tempat tempat wisata bersama keluarga.

5. Pemberian Fasilitas

Yang dimaksud dengan fasilitas adalah segala sesuatu yang digunakan, dipakai, ditempati dan dinikmati oleh pegawai baik dalam hubungan langsung dengan pekerjaan seperti termasuk didalamnya semua alat kerja di perusahaan dan secara tidak langsung untuk kelancaran pekerjaan seperti gedung, alat komunikasi, ruangan kerja yang memadai dan lain sebagainya.

2.3. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan karyawan.

Faktor kesejahteraan karyawan yang mempengaruhi hubungan antara karyawan dengan karyawan meliputi :

1. Gaji dan upah yang baik Gaji bisa dipakai untuk kebutuhan psikologis dan sosial, namun yang lebih utama lagi gaji dapat dipakai sebagai sarana untuk pemenuhan kebutuhan hidup sehari hari.

2. Rekan kerja yang kompak. Keinginan ini merupakan cermin dari kebutuhan sosial. Seorang karyawan mungkin berkeberatan untuk dipromosikan, hanya karena tidak menginginkan kehilangan rekan kerja yang kompak.

13

3. Kondisi kerja yang aman, nyaman dan menarik. Kondisi kerja yang aman berasal dari kebutuhan akan rasa aman disamping itu juga tempat kerja yang nyaman dan menarik.

Faktor kesejahteraan karyawan yang mempengaruhi hubungan antara karyawan dengan pimpinan :

1. Pimpinan yang adil dan bijaksana, Pimpinan yang baik menjamin bahwa pekerjaan akan tetap bisa dipertahankan, demikian juga pimpinan yang tidak berat sebelah akan menjadi ketenangan kerja. 2. Melengkapi para karyawan dengan sumber dana yang diperlukan untuk menjalankan tugasnya. 3. Mengkomunikasikan kepada karyawan tentang apa yang diharapkan dari mereka. 4. Memberikan penghargaan untuk mendorong kinerja.

Dari uraian tentang teori kesejahteraan karyawan di atas, maka dalam penelitian ini kesejahteraan karyawan yang dimaksud adalah:

1. Keamanan Meliputi rasa aman terhadap suasana kerja, pemberian jaminan asuransi dan pelayanan usaha kesehatan.

2. Kesenangan Meliputi pemberian waktu rekreasi bersama, pemberian cuti dan sebagainya.

3. Kemakmuran Meliputi pemberian gaji yang sesuai, pemberian tunjangan kepada karyawan, atau kantin bagi karyawan, pemberian seragam kerja kepada karyawan.

14

3. Lingkungan Kerja
Lingkungan kerja dalam suatu perusahaan sangat penting untuk diperhatikan manajemen. Meskipun lingkungan kerja tidak melaksnakan proses produksi dalam suatu perusahaan, namun lingkungan kerja mempunyai pengaruh langsung terhadap para karyawan yang melaksanakan proses produksi tersebut. Lingkungan kerja yang memusatkan bagi karyawannya dapat meningkatkan kinerja. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak memadai akan dapat menurunkan kinerja. Sebaliknya lingkungan kerja yang tidak memadai akan dapat menurunkan kinerja dan akhirnya menurunkan motivasi kerja karyawan.

Suatu kondisi lingkungan kerja dikatakan baik atau sesuai apabila manusia dapat melaksnakan kegiatan secara optimal, sehat, aman dan nyaman. Kesesuaian lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka waktu yang lama. Lebih jauh lagi lingkungan-lingkungan kerja yang kurang baik dapat menuntut tenaga kerja dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rencangan sistem kerja yang efisien.

Menurut Alex S. Nitisemito (2000) mendefinisikan Lingkungan kerja adalah segala sesuatu yang ada disekitar para pekerja yang dapat mempengaruhi dirinya dalam menjalankan tugas-tugas yang diembankan. teori tersebut tak berbeda jauh dengan Sedarmayati (2001) yang mendefinisikan Lingkungan kerja adalah keseluruhan alat perkakas dan bahan yang dihadapi, lingkungan sekitarnya di mana seseorang bekerja, metode kerjanya, serta pengaturan kerjanya baik sebagai perseorangan maupun sebagai kelompok.

lingkungan kerja merupakan segala sesuatu yang ada di sekitar karyawan pada saat bekerja, baik yang berbentuk fisik ataupun non fisik, langsung atau tidak langsung, yang dapat mempengaruhi dirinya dan pekerjaanya saat bekerja.

15

3.1. Jenis Lingkungan Kerja

A.

Lingkungan kerja Fisik

Lingkungan kerja fisik adalah semua keadaan berbentuk fisik yang terdapat di sekitar tempat kerja yang dapat mempengaruhi karyawan baik secara langsung maupun scara tidak langsung. Lingkungan kerja fisik dapat dibagi dalam dua kategori, yakni :

1. Lingkungan yang langsung berhubungan dengan karyawan (seperti pusat kerja, kursi, meja dan sebagainya) 2. Lingkungan perantara atau lingkungan umum dapat juga disebut lingkungan kerja yang mempengaruhi kondisi manusia, misalnya :temperatur, kelembaban, sirkulasi udara, pencahayaan, kebisingan, getaran mekanis, bau tidak sedap, warna, dan lain-lain.

Untuk dapat memperkecil pengaruh lingkungan fisik terhadap karyawan, maka langkah pertama adalah harus mempelajari manusia, baik mengenai fisik dan tingkah lakunya maupun mengenai fisiknya, kemudian digunakan sebagai dasar memikirkan lingkungan fisik yang sesuai.

B.

Lingkungan Kerja Non Fisik

Menurut Sadarmayanti (2001), Lingkungan kerja non fisik adalah semua keadaan yang terjadi yang berkaitan dengan hubungan kerja, baik hubungan dengan atasan maupun hubungan sesama rekan kerja, ataupun hubungan dengan bawahan. Lingkungan non fisik ini juga merupakan kelompok lingkungan kerja yang tidak bisa diabaikan. Perusahaan hendaknya dapat mencerminkan kondisi yang mendukung kerja sama antara tingkat atasan, bawahan maupun yang memiliki status jabatan yang sama di perusahaan. Kondisi yang hendaknya diciptakan adalah suasana kekeluargaan, komunikasi yang baik, dan pengendalian diri.

Suryadi Perwiro Sentoso (2001) yang mengutip pernyataan Prof. Myon Woo Lee sang pencetus teori W dalam Ilmu Manajemen Sumber Daya Manusia, bahwa pihak manajemen 16

perusahaan hendaknya membangun suatu iklim dan suasana kerja yang bisa membangkitkan rasa kekeluargaan untuk mencapai tujuan bersama. Pihak manajemen perusahaan juga hendaknya mampu mendorong inisiatif dan kreativitas. Kondisi seperti inilah yang selanjutnya menciptakan antusiasme untuk bersatu dalam organisasi perusahaan untuk mencapai tujuan.

3.2. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Lingkungan Kerja

Manusia akan mampu melaksanakan kegiatannya dengan baik, sehingga dicapai suatu hasil yang optimal, apabila diantaranya ditunjang oleh suatu kondisi lingkungan yang sesuai. Suatu kondisi lingkungan dikatakan baik atau sesuai apabila manusia dapat melaksanakan kegiatannya secara optimal, sehat, aman, dan nyaman. Ketidaksesuaian lingkungan kerja dapat dilihat akibatnya dalam jangka waktu yang lama. Lebih jauh lagi, Keadaan lingkungan yang kurang baik dapat menuntut tenaga dan waktu yang lebih banyak dan tidak mendukung diperolehnya rancangan sistem kerja yang efisien. Banyak faktor yang mempengaruhi terbentuknya suatu kondisi lingkungan kerja.

Berikut ini beberapa faktor yang diuraikan Sedarmayanti (2001:21) yang dapat mempengaruhi terbentuknya suatu kondisi lingkungan kerja dikaitkan dengan kemampuan karyawan, diantaranya adalah :

1.

Penerangan Cahaya di Tempat Kerja

Cahaya atau penerangan sangat besar manfaatnya bagi karyawan guna mendapat keselamatan dan kelancaran kerja. Oleh sebab itu perlu diperhatikan adanya penerangan (cahaya) yang terang tetapi tidak menyilaukan. Cahaya yang kurang jelas, sehingga pekerjaan akan lambat, banyak mengalami kesalahan, dan pada skhirnya menyebabkan kurang efisien dalam melaksanakan pekerjaan, sehingga tujuan organisasi sulit dicapai.

Pada dasarnya, cahaya dapat dibedakan menjadi empat yaitu :

17

a. Cahaya langsung b. Cahaya setengah langsung c. Cahaya tidak langsung d. Cahaya setengah tidak langsung

2.

Temperatur di Tempat Kerja

Dalam keadaan normal, tiap anggota tubuh manusia mempunyai temperatur berbeda. Tubuh manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keadaan normal, dengan suatu sistem tubuh yang sempurna sehingga dapat menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di luar tubuh. Tetapi kemampuan untuk menyesuaikan diri tersebut ada batasnya, yaitu bahwa tubuh manusia masih dapat menyesuaikan dirinya dengan temperatur luar jika perubahan temperatur luar tubuh tidak lebih dari 20% untuk kondisi panas dan 35% untuk kondisi dingin, dari keadaan normal tubuh.

Menurut hasil penelitian, untuk berbagai tingkat temperatur akan memberi pengaruh yang berbeda. Keadaan tersebut tidak mutlak berlaku bagi setiap karyawan karena kemampuan beradaptasi tiap karyawan berbeda, tergantung di daerah bagaimana karyawan dapat hidup.

3.

Kelembaban di Tempat Kerja

Kelembaban adalah banyaknya air yang terkandung dalam udara, biasa dinyatakan dalam persentase. Kelembaban ini berhubungan atau dipengaruhi oleh temperatur udara, dan secara bersama-sama antara temperatur, kelembaban, kecepatan udara bergerak dan radiasi panas dari udara tersebut akan mempengaruhi keadaan tubuh manusia pada saat menerima atau melepaskan panas dari tubuhnya. Suatu keadaan dengan temperatur udara sangat panas dan kelembaban tinggi, akan menimbulkan pengurangan panas dari tubuh secara besar-besaran, karena sistem penguapan. Pengaruh lain adalah makin cepatnya denyut jantung karena makin aktifnya peredaran darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen, dan tubuh manusia selalu berusaha untuk mencapai keseimbangan antar panas tubuh dengan suhu disekitarnya. 18

4.

Sirkulasi Udara di Tempat Kerja

Oksigen merupakan gas yang dibutuhkan oleh mahluk hidup untuk menjaga kelangsungan hidup, yaitu untuk proses metaboliasme. Udara di sekitar dikatakan kotor apabila kadar oksigen, dalam udara tersebut telah berkurang dan telah bercampur dengan gas atau bau-bauan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh. Sumber utama adanya udara segar adalah adanya tanaman di sekitar tempat kerja. Tanaman merupakan penghasil oksigen yang dibutuhkan olah manusia. Dengan sukupnya oksigen di sekitar tempat kerja, ditambah dengan pengaruh secara psikologis akibat adanya tanaman di sekitar tempat kerja, keduanya akan memberikan kesejukan dan kesegaran pada jasmani. Rasa sejuk dan segar selama bekerja akan membantu mempercepat pemulihan tubuh akibat lelah setelah bekerja.

5.

Kebisingan di Tempat Kerja

Salah satu polusi yang cukup menyibukkan para pakar untuk mengatasinya adalah kebisingan, yaitu bunyi yang tidak dikehendaki oleh telinga. Tidak dikehendaki, karena terutama dalam jangka panjang bunyi tersebut dapat mengganggu ketenangan bekerja, merusak pendengaran, dan menimbulkan kesalahan komunikasi, bahkan menurut penelitian, kebisingan yang serius bisa menyebabkan kematian. Karena pekerjaan membutuhkan konsentrasi, maka suara bising hendaknya dihindarkan agar pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan dengan efisien sehingga produktivitas kerja meningkat.

Ada tiga aspek yang menentukan kualitas suatu bunyi, yang bisa menentuikan tingkat gangguan terhadap manusia, yaitu : 1. Lamanya kebisingan 2. Intensitas kebisingan 3. Frekwensi kebisingan

Semakin lama telinga mendengar kebisingan, akan semakin buruk akibatnya, diantaranya pendengaran dapat makin berkurang. 19

6.

Getaran Mekanis di Tempat Kerja

Getaran mekanis artinya getaran yang ditimbulkan oleh alat mekanis, yang sebagian dari getaran ini sampai ke tubuh karyawan dan dapat menimbulkan akibat yang tidak diinginkan. Getaran mekanis pada umumnya sangat menggangu tubuh karena ketidak teraturannya, baik tidak teratur dalam intensitas maupun frekuensinya. Gangguan terbesar terhadap suatu alat dalam tubuh terdapat apabila frekuensi alam ini beresonansi dengan frekuensi dari getaran mekanis. Secara umum getaran mekanis dapat mengganggu tubuh dalam hal : a. Kosentrasi bekerja b. Datangnya kelelahan c. Timbulnya beberapa penyakit, diantaranya karena gangguan terhadap mata, syaraf, peredaran darah, otot, tulang, dan lain,lain. 7. Bau bauan di Tempat Kerja

Adanya bau bauan di sekitar tempat kerja dapat dianggap sebagai pencemaran, karena dapat menganggu konsentrasi bekerja, dan bau bauan yang terjadi terus menerus dapat mempengaruhi kepekaan penciuman. Pemakaian ³air condition´ yang tepat merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk menghilangkan bau-bauan yang menganggu di sekitar tempat kerja.

8.

Tata Warna di Tempat Kerja

Menata warna di tempat kerja perlu dipelajari dan direncanakan dengan sebaik-baiknya. Pada kenyataannya tata warna tidak dapat dipisahkan dengan penataan dekorasi. Hal ini dapat dimaklumi karena warna mempunyai pengaruh besar terhadap perasaan. Sifat dan pengaruh warna kadang-kadang menimbulkan rasa senang, sedih, dan lain-lain, karena dalam sifat warna dapat merangsang perasaan manusia.

20

9.

Dekorasi di Tempat Kerja

Dekorasi ada hubungannya dengan tata warna yang baik, karena itu dekorasi tidak hanya berkaitan dengan hasil ruang kerja saja tetapi berkaitan juga dengan cara mengatur tata letak, tata warna, perlengkapan, dan lainnya untuk bekerja.

10.

Musik di Tempat Kerja

Menurut para pakar, musik yang nadanya lembut sesuai dengan suasana, waktu dan tempat dapat membangkitkan dan merangsang karyawan untuk bekerja. Oleh karena itu lagu-lagu perlu dipilih dengan selektif untuk dikumandangkan di tempat kerja. Tidak sesuainya musik yang diperdengarkan di tempat kerja akan mengganggu konsentrasi kerja.

11.

Keamanan di Tempat Kerja

Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dalam keadaan aman maka perlu diperhatikan adanya keberadaannya. Salah satu upaya untuk menjaga keamanan di tempat kerja, dapat memanfaatkan tenaga Satuan Petugas Keamanan (SATPAM).

3.3. Indikator-indikator Lingkungan Kerja

Yang menjadi indikator-indikator lingkungan kerja menurut Sedarmayanti (2001:46) adalah sebagai berikut : 1. Penerangan 2. Suhu udara 3. Suara bising 4. Penggunaan warna 5. Ruang gerak yang diperlukan 6. Keamanan kerja 7. hubungan karyawan 21

2.2. PENELITIAN TERDAHULU

Nyi RD Susatya Pranaya, 2008. Peneliti ini menjelaskan tentang 3 gaya kepemimpinan yang terdiri dari gaya kepemimpinan partisipatif, suportif, dan instrumental terhadap kepuasan kerja karyawan di PT. X. Pimpinan yang penuh perhatian dan menjalin kedekatan secara personal dengan karyawan nya akan membuat karyawan merasakan kepuasan kerja yang lebih tinggi. Hal ini bisa dilihat dari Variabel Kepemimpinan yang mampu menjelaskan 64,8% kepuasan kerja yang dicapai oleh karyawan nya.

Deden Ibnu Agil, 2007. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui pelaksanaan program kompensasi pada PT. X dan mengetahui prestasi kerja karyawan dengan adanya pemberian kompensasi pada PT. X. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan keseluruhan anggota populasi, yaitu sebanyak 50 orang karyawan. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Lalu dilakukan uji validitas dan reliabilitas untuk menguji persyaratan data. Pembobotan kuesioner menggunakan skala likert. Teknik analisis data menggunakan Uji Rata-rata (Mean), Statistik deskriptif, Uji Korelasi, dan Uji t.

Ahmad Syahrul, 2008. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: lingkungan organisasi pada PT X, Jakarta; tingkat kepuasan kerja pegawai pada PT X, Jakarta, pengaruh Lingkungan Organisasi terhadap Kepuasan Kerja pegawai PT X, Jakarta. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik Probability Sampling, berjumlah 50 orang. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Lalu dilakukan uji validitas dan reliabilitas untuk menguji persyaratan data. Pembobotan kuesioner menggunakan skala likert. Teknik analisis data menggunakan Uji regresi, Uji t dan Uji KP. Dari hasil penelitian, lingkungan kerja pada PT. X telah memiliki tingkat kualitas lingkungan kerja yang baik. Hal ini ditunjukkan oleh perolehan nilai rata-rata sebesar 196.25 yang termasuk ke dalam kategori baik. kepuasan kerja karyawan memiliki tingkat kualitas kepuasan yang tinggi.

22

Kohadi Yusuf, 2006. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor kepuasan kerja dalam meningkatkan kepuasan kerja pegawai Pertamedika Medical Centre Area III PT Pertamina Bina Medika, Jakarta. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik metode Sampling Sensus atau Sampling Jenuh, adalah teknik pengambilan sampel bila semua anggota digunakan sebagai sampel. Jumlah populasi adalah 50 pegawai tetap, dan jumlah sampel pun 50 sampel. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner. Lalu dilakukan uji validitas dan reliabilitas untuk menguji persyaratan data. Pembobotan kuesioner menggunakan skala likert. Teknik analisis data menggunakan Uji Korelasi, Uji KP, Uji Regresi, dan Uji t.

2.3. KERANGKA PEMIKIRAN

Variabel Penelitian ini terdiri dari 2 jenis Variabel, Yaitu : 1. Variabel Independen yang merupakan 3 jenis variabel penelitian utama yang merupakan kebijakan seorang pimpinan mengenai Motivasi, Kesejahterahan Hidup Karyawan, dan Lingkungan Kerja yang Baik.

2. Variabel Dependen yang merupakan kinerja kerja yang ditunjukan oleh karyawan untuk perusahaan.

Dibawah ini merupakan model dari kerangka pemikiran dari penelitian.

23

2.4. Hipotesis H 0 : Tidak terdapat Pengaruh Positif antara motivasi dari seorang pimpinan dengan kinerja karyawan. H 1 : Terdapat Pengaruh Positif antara motivasi dari seorang pimpinan dengan kinerja karyawan.

H 0 : Tidak terdapat Pengaruh Positif antara kesejahteraan hidup karyawan dengan kinerja karyawan. H 2 : Terdapat Pengaruh Positif antara kesejahteraan hidup karyawan dengan kinerja karyawan.

H 0 : Tidak terdapat Pengaruh Positif antara lingkungan kerja yang baik dengan kinerja karyawan. H 3 : Terdapat Pengaruh Positif antara lingkungan kerja yang baik dengan kinerja karyawan.

24

BAB III METODOLOGI

3.1. RUANG LINGKUP PENELITIAN

Ruang lingkup penelitian ini dilakukan pada PT. Alirsar Eka Selaras, perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur, konstruksi, dan enginering. Perusahaan ini sering melakukan pekerjaan untuk proyek di pabrik pabrik besar seperti PT. Astra Honda Motor, PT. Mitsubishi Motors, PT. YKK, dan proyek konstruksi rancang bangun lain nya.

3.2. METODE PENENTUAN SAMPEL Menggunakan non-Probability Sampling, tehnik pengambilan sampel yang tidak menggunakan proses Random. Artinya, anggota Populasi dipilih dengan alasan tertentu. Dengan rincian, memilih 50 orang yang merupakan jumlah total karyawan yang mengisi kuisioner yang di sebarkan peneliti di PT. Alirsar Eka Selaras.

3.3. METODE PENGUMPULAN DATA

Untuk data yang diperlukan untuk penelitian ini, maka penulis mengumpulkan data dengan melakukan :

1. Penelitian kepustakaan, untuk memperoleh data sekunder seperti teori teori yang menunjang pembahasan, buku-buku maupun bacaan yang berhubungan dengan penulisan skripsi dan hasil seminar. Kemudian data tersebut dipergunakan sebagai dasar untuk mendukung dan melengkapi pembahasan datam penyusunan skripsi ini.

2. Penelitian lapangan, Penelitian ini dilakukan dengan cara mendatangi sasaran yang akan dijadikan objek penelitian, dalam hal ini adalah PT. Alirsar Eka Selaras. setelah data

25

terkumpul maka dilakukan pengolahan dan dijadikan bahan informasi dalam pembahasan penyusunan skripsi ini. Adapun data yang dikumpulkan yaitu dengan cara : 1. Pengamatan (observation) Cara langsung melihat dan mengamati kegiatan-kegiatan, catatan-catatan perusahaan untuk memperoleh data yang diperlukan. 2. Wawancara (interview) Dengan cara mengadakan tanya jawab secara langsung dengan pimpinan dan karyawan yang bersangkutan langsung dengan perusahaan. 3. Daftar pertanyaan (questionary) Dengan cara membuat daftar pertanyaan yang berhubungan dengan masalah yang akan dianalisa dan ditujukan kepada pihak pihak yang bersangkutan.

3.4. METODE ANALISIS DATA

1. Uji Asumsi Klasik

Uji ini dilakukan untuk mengetahui apakah model regresi memenuhi kriteria best, linear, unbiased dan efficient estimator (BLUE) sehingga layak dipakai untuk memprediksi pengaruh variable independent terhadap variable dependen yang meliputi :

26

1. Uji Normalitas

Uji normalitas adalah uji yang dilakukan untuk mengecek apakah data penelitian kita berasal dari populasi yang sebarannya normal. Uji ini perlu dilakukan karena semua perhitungan statistik parametrik memiliki asumsi normalitas sebaran. Formula/rumus yang digunakan untuk melakukan suatu uji (t-test misalnya) dibuat dengan mengasumsikan bahwa data yang akan dianalisis berasal dari populasi yang sebarannya normal.

2. Uji Multikolinearitas

Multikolinearitas adalah kondisi terdapatnya hubungan linier atau korelasi yang tinggi antara masing-masing variabel independen dalam model regresi. Multikolinearitas biasanya terjadi ketika sebagian besar variabel yang digunakan saling terkait dalam suatu model regresi. Oleh karena itu masalah multikolinearitas tidak terjadi pada regresi linier sederhana yang hanya melibatkan satu variabel independen. Indikasi terdapat masalah multikolinearitas dapat kita lihat dari kasus-kasus sebagai berikut: 1. Nilai R2 yang tinggi (signifikan), namun nilai standar error dan tingkat signifikansi masingmasing variabel sangat rendah. 2. Perubahan kecil sekalipun pada data akan menyebabkan perubahan signifikan pada variabel yang diamati. 3. Nilai koefisien variabel tidak sesuai dengan hipotesis, misalnya variabel yang seharusnya memiliki pengaruh positif (nilai koefisien positif), ditunjukkan dengan nilai negatif.

3. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Pengujian heterokedastisitas dalam penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Glejser yaitu meregresikan variabel variabel independent dengan nilai ansolute residual (kesalahan) dari 27

persamaan regresi awal. Jika variabel-variable independent yang diujikan dalam penelitian mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai absolute residual, maka dapat disimpulkan telah terjadi heterokedastisitas. Apabila nilai sig lebih besar dari 0,05 (Sig > 0,05) maka model regresi terbebas dari masalah heterokedastisitas, namun sebaliknya apabila nilai Sig kurang dari 0,05 (Sig < 0,05) maka model regresi mengandung heterokedastisitas.

2. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis yang digunakan adalah metode persamaan regresi berganda, untuk mengetahui pengaruh variable independent terhadap variable dependen. Pengujian dalam analisis regresi berganda antara lain :

1. Uji koefisien determinasi

Uji koefisien determinasi ini bertujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan variable independent dalam menjelaskan variasi variable dependen (nilai perusahaan). Pada uji ini, nilai koefisien mendekati 1 (satu) berarti variable independent memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variable independen.

2. Uji signifikansi simultan (uji f)

Uji signifikansi simultan bertujuan untuk menguji apak semua variable endependen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variable dependen. Dalam uji ini, jika nilai signifikansi > 0,05, maka Ha ditolak. Sebaliknnya jika signifikansi < 0,05 maka Ha diterima.

28

3. Uji parameter individual (uji statistic t)

Uji parameter individual bertujuan unutk menguji seberapa jauh pengeruh suatu variable independent secara individual, yaitu fundamental keuangan dan kebijakan dividend lam menerangkan variasi variable dependen.

3.5. OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN

1. Variabel Dependen Yaitu variable yang menjadi perhatian utama dalam sebuah pengamatan dan tidak dipengaruhi variable lain.

2. Variabel Independen Yaitu variable yang dapat mempengaruhi perubahan dalam variable dependen dan mempunyai hubungan positif maupun negative bagi variable dependen nantinya.

29

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->