P. 1
Modul 7 PTI II - ian Kualitas

Modul 7 PTI II - ian Kualitas

|Views: 793|Likes:
Published by Prajna Paramitha

More info:

Published by: Prajna Paramitha on Apr 21, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2012

pdf

text

original

TI 3205 Perancangan Teknik Industri II

Program Studi Teknik Industri Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung 2011

Modul VII: Pengendalian Kualitas

2011

MODUL VII PENGENDALIAN KUALITAS
A. TUJUAN
Setelah menyelesaikan praktikum ini, mahasiswa diharapkan mampu: 1. Memahami konsep pengendalian kualitas. 2. Memilih peta kendali yang sesuai dengan karakteristik masalah yang dihadapi. 3. Menyusun dan mengimplementasikan peta kendali yang telah dipilih. 4. Menentukan kapabilitas proses melalui perhitungan Cp dan Cpk. 5. Menyusun dan menganalisis OC Curve dan ARL peta kendali.

B. PENGANTAR PRAKTIKUM
B.1. Definisi Kualitas Juran (dalam Kolarik 1999, hal.5) mendefinisikan kualitas sebagai kesesuaian untuk penggunaan (fitness for use). Ini berarti bahwa suatu produk atau jasa hendaklah sesuai dengan apa yang diperlukan atau diharapkan oleh pengguna. Selain itu, Juran (2000) juga mengemukakan kualitas sebagai kesesuaian terhadap syarat spesifikasi desain (conformance to specification). Tokoh lain yang mengembangkan manajemen kualitas adalah Edward Deming. Menurut Deming, kualitas adalah keseragaman produk yang dapat diprediksi. Penekanannya pada penggunaan control chart sebagai inti dari filosofi kualitas yang dikembangkannya. Menurutnya, kualitas produk tercermin dari kualitas proses (Mitra, A. 1999, hal.72). Definisi Juran (kualitas sebagai kesesuaian dengan spesifikasi) sejalan dengan definisi Deming bahwa kualitas merupakan keseragaman produk. Kesesuaian dengan spesifikasi mengandung arti bahwa setiap produk harus dibuat seakurat mungkin (sesuai dengan spesifikasi) sehingga hasilnya seragam. Kedua definisi kualitas Juran memiliki konteks yang berbeda. Fitness for use mengacu pada kesesuaian terhadap kebutuhan pelanggan. Dalam Trilogi Juran, kualitas ini dirancang pada tahapan planning (lihat bagian B.3). Adapun conformance to specification mengacu pada kesesuaian produk yang dihasilkan terhadap spesifikasi yang telah ditentukan sebelumnya (dihasilkan dari tahapan planning). Dalam Trilogi Juran, kesesuaian terhadap spesifikasi ini dicapai pada tahapan control (lihat bagian B.3) B.2. Dimensi Kualitas David A Garvin (1987, dalam Montgomery D.C. 2001, hal.2) mengemukakan delapan dimensi kualitas produk yaitu: • Performance: karakteristik kinerja utama produk. • Feature: aspek sekunder dari kinerja atau kinerja tambahan dari suatu produk • Reliability: kemungkinan produk berfungsi dengan baik dalam suatu jangka waktu tertentu • Conformance: kesesuaian dengan keinginan/kebutuhan konsumen • Durability: daya tahan produk/masa hidup produk baik secara ekonomis maupun teknis • Serviceability: kecepatan, kesopanan, kompetensi, mudah diperbaiki
2

Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri

pencapaian kualitas harus diawali dengan membuat visi organisasi dan disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai. Pada tahap ini kualitas ditentukan berdasarkan kesesuaian antara spesifikasi yang dihasilkan dengan kebutuhan konsumen (fitness for use). Diagram Trilogi Kualitas Juran (Sumber: Juran. dan komunikasi. • Responsiveness: keinginan untuk membantu pelanggan dan memberikan layanan dengan cepat.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 • • Aesthetics: keindahan produk. Proses manajerial ini dikenal sebagai Trilogi Kualitas dan ditunjukkan pada Gambar 1: Gambar 1. Quality Planning (Perencanaan Kualitas) Perencanaan kualitas adalah proses pengembangan produk (barang dan jasa) yang dilakukan secara terstruktur untuk menjamin tercapainya pemenuhan kebutuhan konsumen. Langkah-langkah perencanaan kualitas adalah sebagai berikut: • Merencanakan proyek. Untuk mencapai tujuan dan kualitas yang diinginkan. Tahap ini termasuk dalam pengendalian kualitas secara off-line (off-line quality control). B.7) 1. • Identifikasi pelanggan. S. • Assurance: pengetahuan. Thomas 2001. • Tangibles: bentuk fasilitas fisik. Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 3 . kebaikan.7): • Reliability: kemampuan untuk melakukan pelayanan yang akurat. • Pengembangan karakterisrtik produk sesuai dengan keinginan konsumen. • Emphaty: perhatian dan peduli terhadap pelanggan. personal. Trilogi Kualitas Menurut Juran (2000). bersifat subjektif Perceived quality: kualitas dalam pandangan pelanggan/konsumen Dimensi kualitas pelayanan menurut Parasuraman (dalam Foster. perlengkapan.3. suara atau bau dari produk. hal. 2000 hal 2. • Menentukan kebutuhan pelanggan. Joseph M. dalam desain. rasa. dibutuhkan suatu proses manajerial yang terdiri dari serangkaian aktivitas yang harus dilakukan. dan keamampuan yang dapat memberikan kepercayaan dan keyakinan.

Pada tahap ini terdapat pemborosanpemborosan yang dapat dieliminasi melalui quality improvement. On-Line Quality Control Yaitu pengendalian kualitas yang dilakukan pada lantai produksi. proses akan kembali ke tahap pertama.5) 3. Untuk mempertahankan stabilitas. sehingga mengurangi ketidakpuasan pelanggan dan meminimasi biaya produk cacat (cost oriented). Dalam hal ini. Langkah pengendalian kualitas (Sumber: Juran. Secara garis besar. membandingkannya dengan tujuan atau target. 4 Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri . Pengendalian Kualitas Terdapat 2 jenis Pengendalian Kualitas. Quality Control (Pengendalian Kualitas) Pengendalian kualitas adalah proses manajerial yang dilakukan untuk menjamin adanya stabilitas proses. pengendalian ini diklasifikasikan menjadi tiga seperti pada tabel 1. yaitu: 1. 2000 hal 4. Joseph M. Gambar 2. kualitas ditentukan berdasarkan kesesuaian antara hasil dengan spesifikasi yang telah ditetapkan pada tahap planning (conformance to specification). sehingga meningkatkan kepuasan pelanggan (income oriented). yaitu quality planning.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 • • Pengembangan proses yang dapat menghasilkan karakteristik produk. B. kemudian mengambil tindakan terhadap perbedaan yang terjadi (Gambar 2). proses pengendalian kualitas yang dilakukan adalah evaluasi performansi secara aktual. yaitu: • Peningkatan fitur produk.4. Apabila solusi yang dihasilkan melalui tahap ini berkaitan dengan lantai produksi. Pengembangan sistem pengendalian dan pengubahan rencana menjadi aktivitas operasi. 2. dan • Penurunan cacat. Quality Improvement (Perbaikan Kualitas) Perbaikan kualitas didefinisikan sebagai aktivitas yang dilakukan secara terorganisasi untuk menghasilkan perubahan kualitas yang lebih baik dan bermanfaat. Peningkatan kualitas ini dapat dilakukan melalui dua pendekatan. maka perbaikan yang dilakukan tergolong on-line quality control. Pada tahap ini. Namun apabila menyangkut desain spesifikasi produk. yaitu aktivitas terakhir dalam trilogi Juran. maka perbaikan ini termasuk dalam off-line quality control. .

yang termasuk dalam tahap Quality Planning dalam Trilogi Kualitas Juran. Tujuan dari pengendalian kualitas adalah terciptanya perbaikan kualitas yang berkesinambungan (continuous improvement). • Merencanakan tindakan perbaikan. PLAN • Mengidentifikasi masalah. Siklus PDCA (Sumber: Tague.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 Tabel 1. 2005 hal 391) 1. 3. Contohnya adalah desain produk. dan mencapai kualitas suatu produk atau jasa. Off-Line Quality Control Yaitu pengendalian kualitas yang tidak dilakukan di lantai produksi. Nancy R. Pengendalian kualitas merupakan sebuah siklus yang berkesinambungan yaitu siklus PDCA (Plan-DoCheck-Action) yang digambarkan dalam Gambar 3 berikut: DO PLAN CHECK ACTION Gambar 3. mempertahankan. Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 5 . DO • Mengimplementasikan rencana perbaikan pada tahap Plan. • Menganalisis penyebab. 2. Pengendalian kualitas adalah serangkaian aktivitas yang dilakukan untuk memperbaiki. Klasifikasi Pengendalian Kualitas secara On-Line Jenis Pengertian Forward Control Mengantisipasi masalah • Inspeksi bahan mentah dan komponen • Inspeksi mesin • Hanya mempekerjakan orang berkompeten Input Concurrent Control Menyelesaikan masalah saat terjadi • Memonitor proses • Memonitor pekerja • Total Quality Management • Self-adjustment pekerja On Going Process Feedback Control Menyelesaikan masalah setelah terjadi • Inspeksi kualitas produk akhir • Analisa sales per pekerja • Survei pelanggan Contoh Fokus Output 2. CHECK • Menganalisis hasil perbaikan.

The Seven Tools No. Histogram 3. Perangkat Pengendalian Kualitas Perangkat yang digunakan dalam proses pengendalian kualitas secara on-line (jenis Feedback Control) dikenal dengan The Seven Tools. yaitu (Tabel 2): Tabel 2. Histogram: alat penyaji data agar mudah dipahami dan diolah lebih lanjut.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 • Menentukan pencapaian hasil. Gambar Gambar 4. 4. Diagram Pareto: alat untuk mengetahui dan menganalisis tingkat urgensi setiap ketidaksesuaian. Lembar Pengecekan 2. Tools Lembar Pengecekan (Check Sheet): alat pengumpulan data karakteristik kualitas yang akan dikendalikan. Gambar 6. B. • Jika tidak memuaskan maka ulangi siklus dengan rencana baru. 1. Diagram Pareto Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 6 . Gambar 5.5. lalu sosialisasikan perubahan. ACTION • Jika hasil perbaikan memuaskan. maka lakukan perubahan pada SOP (Standard Operating Procedure).

Variasi proses tidak mungkin dihindari meskipun proses produksi dilaksanakan pada kondisi dan spesifikasi yang sama. Diagram Sebar (Scatter Diagram): alat untuk mengetahui tingkat sebaran cacat /ketidaksesuaian. Diagram Sebar 6. Diagram Alir (Flow Chart): alat untuk mengetahui aliran proses. Diagram Sebab Akibat 5. Peta Kendali B. Gambar 8. Diagram Alir 7. Variasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terlibat dalam proses produksi. Gambar 10. 4.6. Gambar 9. Peta Kendali Peta kendali adalah alat yang digunakan untuk memonitor proses sehingga variasi proses dapat dikendalikan secara statistika. seperti: Peralatan atau mesin yang digunakan Set up mesin kurang tepat Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 7 . Tools Diagram Sebab Akibat (Cause and Effect Diagram): alat untuk mengetahui penyebab ketidaksesuaian terhadap spesifikasi yang telah ditentukan. The Seven Tools (lanjutan) No. Peta Kendali (Control Chart): alat untuk memonitor proses sehingga variansi proses dapat dikendalikan secara statistik.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 Tabel 2. Gambar Gambar 7.

Manfaat utama peta kendali adalah untuk: Menjaga kestabilan proses Memprediksi perilaku proses Melakukan penyesuaian atau perbaikan proses Perencanaan produksi Sebagai alat preventif pengendalian kualitas.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 Kondisi dan keahlian operator Kualitas material yang bervariasi. Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 8 .

u. MR) to . either residuals or original data or Use moving centerline EWMA or Use a model-free model approach Use feedback control aith an adjustment chart or Another EPC procedure or EPC/SPC Gambar 11. x. Klasifikasi peta kendali variabe Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 9 . time between events Fit ARIMA. Cusum.S Cusum EWMA x (individuals ) MR Cusum EWMA p np Cusum EWMA using p c u Cusum EWMA using c. apply ARIMA standard control charts (EWMA EWMA.R x .Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 Gambar 11 berikut menunjukkan jenis dan klasifikasi peta kendali: Guide to Univariate Process Monitoring and Control Is process data autocorrelated ? NO YES Variables or attributes ? Variables Attributes NO Is there an adjustment variable ? YES Sample size n>1 n= 1 Data type Fraction Defects (counts) Shift size Large Small Shift size Large Small Shift size Large Small Shift size Large Small x .

Peta kendali ini terdiri dari dua peta kendali. Macam-macam peta kendali variabel adalah inyatakan endali adalah: 1. Peta ini sesuai digunakan untuk ukuran sampel yang kec (≤10). Langkah 3 Kumpulkan data (xi) dan kelompokkan dalam sub grup dengan ukuran n. Peta -R Definisi Peta -R adalah peta kendali yang menunjukkan harga rata rata ( rata-rata (mean) dan simpangan (range) suatu proses. dilakukan inspeksi dengan pengukuran menggunakan digital caliper. yaitu Peta yang menunjukkan harga rata rata-rata proses dan Peta R yang menunjukkan simpangan atau variabilitas prose Keduanya saling proses. peta ini kurang sensitif terhadap perubahan proses. sehingga dalam pembuatannya tidak dapat dipisahkan.1. Langkah 4 Untuk setiap sub grup hitung ap hitung: • Nilai rata-rata sub grup ( dengan rumus sebagai berikut: rata ⋯ (1) di mana: Xi n • : nilai data ke-i : ukuran sampel Nilai range ( ) dengan rumus sebagai berikut: (2) di mana: Xi : nilai data ke-i Langkah 5 • Hitung rata-rata dari rata rata-rata subgrup ( sebagai berikut: ⋯ (3) di mana: k : rata rata-rata subgrup ke-i : jumlah sub grup Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 10 . digunakan. Apabila ) kecil ukuran sampel besar. Langkah 2 Tentukan metoda dan perangkat sistem inspeksi yang akan digunakan Pada praktikum ini. PROSEDUR PEMBUATAN PETA KENDALI C. melengkapi. Langkah Pembuatan Peta -R eta Langkah 1 Tentukan karakteristik kualitas yang akan dikendalikan dikendalikan. Peta Kendali Variabel Peta kendali variabel digunakan jika karakteristik kualitas yang akan dikendalikan diperoleh melalui pengukuran dan dinyatakan dalam skala kontinu.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 C.

buang data. D3. Kemudian ulangi langkah 5 dan 6. Dibandingkan dengan peta -R. 761). dan batas kendali (jika diperlukan). Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 11 . hitung: = = + (5) (6) (7) di mana: = − : rata-rata dari rata-rata subgrup : garis sentral (Central Line) : batas kendali atas (Upper Control Limit) : batas kendali bawah (Lower Control Limit) : faktor untuk konstruksi peta kendali • Untuk peta R. Langkah 7 Plot data rata-rata dan range pada peta kendali yang sesuai. hitung: = = = (8) (9) (10) di mana: .Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 • Hitung rata-rata rentang sebagai berikut: ⋯ (4) di mana: Ri k : nilai rentang subgrup ke-i : jumlah sub grup Langkah 6 Hitung garis-garis kendali sebagai berikut • Untuk peta . Langkah 8 Menentukan revisi 2. dan D4 dapat dilihat pada tabel Appendix VI (Montgomery hal. : rata-rata rentang : garis sentral (Central Line) : batas kendali atas (Upper Control Limit) : batas kendali bawah (Lower Control Limit) : faktor untuk konstruksi peta kendali Indeks A2. Peta -s Definisi Peta -s merupakan peta kendali variabel yang digunakan dalam mengendalikan rata-rata proses (ukuran keakuratan) dan standar deviasi (ukuran kepresisian). Pada tahap konstruksi peta jika terdapat data-data yang keluar dari kontrol dan diketahui penyebabnya.

Contoh : • Pemeriksaan visual terhadap lengkap atau tidak lengkapnya komponen pada suatu produk.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 peta -s lebih sensitif dalam mendeteksi perubahan proses untuk ukuran sampel yang besar (>10). serta dalam penentuan batas-batas kendali. Langkah Pembuatan Peta -s Langkah pembuatan Peta -s sama dengan langkah pembuatan Peta -R. Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 12 . : garis sentral (Central Line) : batas kendali atas (Upper Control Limit) : batas kendali bawah (Lower Control Limit) : faktor untuk konstruksi peta kendali Indeks A3. Peta Kendali Atribut Peta kendali atribut digunakan jika karakteristik kualitas yang akan dikendalikan tidak diperoleh melalui pengukuran. 761). C. dan B4 dapat dilihat pada tabel Appendix VI (Montgomery hal. B3. yaitu: • Rata-rata standar deviasi subgrup sampel ( ̅) dan rata-rata dari rataan subgrup ( ) dihitung dengan: ̅= di mana: k si i ∑ ∑ (11) (12) = : jumlah sub grup : standar deviasi subgrup ke-i : rata-rata subgrup ke-i = • Batas untuk peta : di mana: = = − + ̅ ̅ (13) (14) (15) : garis sentral (Central Line) : batas kendali atas (Upper Control Limit) : batas kendali bawah (Lower Control Limit) : faktor untuk konstruksi peta kendali • Batas untuk peta s: = ̅ = = ̅ (16) (17) (18) ̅ di mana: . Perbedaaanya terletak pada nilai R yang digantikan dengan nilai s.2. • Pemeriksaan apakah suatu komponen berfungsi atau tidak berfungsi. Nilai atribut diperoleh melalui pemeriksaan karakteristik produk yang hasilnya dinyatakan dengan sesuai atau tidak sesuai. berdasarkan ukuran atau standar tertentu.

Peta p Penggunaan Tipe data diskrit Menggambarkan fraksi cacat Ukuran sampel yang bervariasi Tipa data diskrit Menggambarkan jumlah item cacat Ukuran sampel sama Menggambarkan jumlah cacat per unit Menggambarkan jumlah cacat pada satu unit sampel tertentu 2. Hitung rata-rata fraksi cacat ( ̅ ) dari seluruh item yang diperiksa dengan rumus: k p= ∑ i =1 k Di ni (21) ∑ i =1 di mana: Di k ni : jumlah produk cacat subgrup ke-i : jumlah subgrup : ukuran sampel subgrup ke-i 13 Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri . Peta u 4. Jenis dan penggunaan peta kendali atribut diberikan pada Tabel 3.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 Terdapat beberapa jenis peta kendali atribut. Untuk setiap subgrup. jumlah _ item _ yang _ cacat jumlah _ item _ dalam _ sampel Langkah-langkah Pembuatan Peta p 1. Peta np 3. hitung fraksi cacat ( ) dengan rumus: = (20) di mana: Di ni : jumlah produk cacat subgrup ke-i : ukuran sampel subgrup ke-i 3. Peta c 1. sehingga besaran p selalu menunjukkan proporsi item yang cacat dari sekumpulan sampel. Ulangi pemeriksaan untuk sampel lain yang diambil dari lot produksi atau waktu produksi yang lain. Jenis peta kendali atribut Jenis Peta 1. Tabel 3. Peta p Definisi • p menunjukkan perbandingan jumlah item cacat atau tidak memenuhi spesifikasi dari sejumlah sampel. Lakukan pemeriksaan terhadap n buah item produk dan catat jumlah item yang cacat (np). yaitu: p= • (19) Peta p ditujukan untuk pengendalian proses di mana ukuran sampel bervariasi. 2.

Buat peta p dengan batas-batas kendali sebagai berikut: = ̅ = ̅+3 = ̅−3 Di mana : : garis sentral (Central Line) : batas kendali atas (Upper Control Limit) : batas kendali bawah (Lower Control Limit) ̅ : rata-rata fraksi cacat si : standar deviasi fraksi cacat subgrup ke-i 6.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 4. Peta np Langkah-langkah Pembuatan Peta np 1. Catat jumlah cacat setiap lot yang diperiksa. Interpretasikan peta kendali yang terbentuk dan lakukan analisis. Hitung rata-rata jumlah cacat ( ̅ ) dengan rumus: k p= di mana: Di k n ∑ i =1 Di (26) kn : jumlah produk cacat subgrup ke-i : jumlah subgrup : ukuran sampel (jumlah produk tiap subgrup) k 3. 2. Hitung garis sentral dari peta np: np = di mana: k pi n n ∑ pi i =1 k (27) : jumlah subgrup : fraksi cacat subgroup ke-i : ukuran sampel (jumlah produk tiap subgrup) 4. Hitung standar deviasi fraksi cacat ( ) dengan rumus: si = p (1 − p ) ni (22) di mana: ̅ ni : rata-rata fraksi cacat : ukuran subgrup ke-i (23) (24) (25) 5. Plot fraksi cacat p untuk setiap pemeriksaan (sampel) pada peta kendali yang dibuat pada langkah 5. 7. Hitung standar deviasi jumlah cacat ( ) dengan rumus: s = n p(1 − p) Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 14 (28) .

Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 5. dan (25) tetapi ̅ diganti seperti pada (28). 6. Dengan demikian. Interpretasikan peta dan lakukan analisis. Nilai β (probabilitas tidak mendeteksi pergeseran proses pada sampel pertama) dihitung melalui persamaan berikut. dimana : ̅ ̅ : garis sentral : rata-rata fraksi cacat ̅ dan rumus D. Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 15 . Plot titik-titik np pada peta yang terbentuk. Batas-batas peta kendali mengikuti rumus (23). (24). 7. penghitungan nilai β dilakukan dengan menghitung luas daerah yang diarsir pada Gambar 12 berikut. h. 305). OPERATING CHARACTERISTIC (OC) CURVE UNTUK PETA KENDALI VARIABEL OC Curve merupakan grafik yang menggambarkan probabilitas penerimaan hasil sampling yang seharusnya di tolak atau cacat (kesalahan tipe II atau β-error). OC Curve juga menggambarkan ukuran sensitivitas peta kendali dalam mendeteksi pergeseran proses (Montgomery. 2001. = = + ≤ ̅≤ /√ + | − − = = + −( ) ) − − −( /√ − ( /√ = + − √ − − √ /√ − ( /√ /√ + ) + ) (29) dimana: L k n LCL UCL µ µ0 σ Ф (x) : konstanta batas penerimaan sampling (tergantung tingkat toleransi sampling) : konstanta pergeseran proses : jumlah sampel (jumlah produk tiap subgrup) : Lower Control Limit : Upper Control Limit : rataan yang sebenarnya (sesudah terjadi pergeseran rataan proses) : rataan proses sebelum pergeseran : standar deviasi proses : luas daerah z ≤ x dibawah kurva normal Secara grafik.

Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar pergeseran proses (k). Pergeseran proses tersebut terdeteksi melalui ditemukannya produk cacat pada sampel yang diambil. Misalnya. Jumlah sampel rata-rata yang diambil pada saat pergeseran proses sebesar kσ terdeteksi disebut Average Run Length (ARL). peta kendali tidak selalu dapat mendeteksi pergeseran tersebut dalam sekali pengambilan sampel. namun pergeseran tersebut baru terdeteksi pada pengambilan sampel ke-n. OC Curve untuk peta dengan batas 3σ (Sumber: Handout TI 3221 Pengendalian dan Penjaminan Mutu) Ketika terjadi pergeseran proses. Gambar 13. Kesalahan tipe II (β-error) pada sampling Penghitungan nilai β untuk beberapa nilai k yang berbeda akan membentuk sebuah OC Curve seperti yang ditunjukkan pada Gambar 13. maka peta kendali akan semakin mudah mendeteksi pergeseran tersebut sehingga peluang menerima hasil sampling yang seharusnya ditolak (β) akan semakin kecil. nilai ARL = 5 menunjukkan bahwa pergeseran proses diprediksi akan terdeteksi oleh peta kendali pada pengambilan sampel ke-5. Di samping itu. apabila jumlah sampel (n) semakin besar. Probabilitas peta kendali mendeteksi pergeseran proses adalah 1 – β.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 Gambar 12. ARL dihitung melalui rumus berikut. maka peta kendali akan semakin sensitif dalam mendeteksi pergeseran proses. = (30) Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 16 .

jika data berurutan meningkat disebut run up dan jika data berurutan menurun disebut run down. maka terjadi abnormalitas proses. Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 17 . Pengelompokan data tersebut dapat juga meningkat atau menurun. run of 7 run of 4 X bar run of 5 Gambar 14. Runs. Sebaliknya proses dikatakan terkendali jika semua titik/data berada di antara batas-batas kendali. Proses dikatakan berada di luar kendali jika ada titik yang berada di luar batas kendali (atas atau bawah) khususnya proses dimana kondisi tersebut terjadi. E. Trends. 2. 3. yaitu sekumpulan titik yang berada di atas atau bawah garis sentral. Pengelompokan data dalam pola tertentu disebut sebagai abnormalitas. Bentuk-bentuk pengelompokkan yang dimaksud adalah sebagai berikut : a. nilai ARL = 5 menunjukkan bahwa pergeseran proses diprediksi akan terdeteksi oleh peta kendali pada pengambilan sampel ke-5. ABNORMALITAS PETA KENDALI VARIABEL Interpretasi terhadap peta kendali secara umum (baik untuk peta kendali atribut maupun variabel) dapat dijelaskan sebagai berikut: 1. atau pengelompokkan data di antara batas-batas kendali tidak mengasumsikan suatu pola tertentu. Evaluasi yang dilakukan adalah sebagai berikut(lihat Gambar 15): • Jika terjadi 7 titik berurutan naik atau turun maka telah terjadi abnormalitas pada proses. Pergeseran proses tersebut terdeteksi melalui ditemukannya produk cacat pada sampel yang diambil. Evaluasi yang dilakukan adalah sebagai berikut (lihat Gambar 14): • Titik berturutan membentuk runs dapat mengindikasikan terjadinya abnormalitas dalam proses. Abnormalitas Runs b. yaitu terjadinya peningkatan atau penurunan secara kontinu pada sekelompok titik.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 dimana: β : probabilitas tidak mendeteksi pergeseran proses pada sampel pertama (resiko-β) yang dihitung dengan rumus (29) Sebagai contoh. • Jika 10 dari 11 titik atau 12 dari 14 titik berada pada salah satu sisi. Jika data yang berada di luar batas kendali tersebut disebabkan oleh faktor yang tidak alamiah maka data tersebut harus dibuang dan dilakukan perhitungan kembali terhadap parameter peta kendali yang baru.

Pengulangan secara periodik. yaitu pola dimana titik-titik/data cenderung berada dekat garis sentral atau garis kendali (UCL dan LCL). yaitu kecenderung data berada di sekitar garis sentral sehingga data tidak menunjukan variabilitas secara natural. • Jika titik-titik berada di antara kedua garis tersebut maka telah terjadi abnormalitas pada proses. Evaluasi abnormalitas jenis ini tidak semudah 2 kasus sebelumnya karena diperlukan perhatian yang seksama untuk mengikuti pergerakan seluruh titik yang ada (lihat Gambar 16). Evaluasi yang dilakukan adalah sebagai berikut (lihat Gambar 17): • Buat garis kendali tambahan yang terletak di tengah-tengah antara gaaris sentral dan UCL/LCL. X bar Gambar 16. Abnormalitas siklis d. Hugging of the control line. Abnormalitas Trends c. Evaluasi dilakukan sebagai berikut: 1) Hugging pada garis sentral. yaitu terjadinya pola perubahan yang berulang pada titik-titik dengan interval yang sama. Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 18 .Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 X bar Gambar 15.

UCL 1/3 2/3 X bar 2/3 CL 1/3 LCL Gambar 18. atau 3 dari 7. Hugging pada garis kendali Secara umum. 2. Lakukan penyesuaian proses sesuai dengan temuan pada langkah 2. yang terjadi apabila terdapat data yang cenderung turun atau naik di sekitar (baik di luar maupun di dalam) batas kendali dan hanya sedikit titik/data disekitar garis sentral. Hentikan proses. Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 19 . • Jika 2 dari 3. Hugging pada garis sentral 2) Hugging pada garis kendali (CL). Periksa proses dan cari penyebab ketidaknormalan tersebut. 3. jika dijumpai titik-titik yang menunjukkan abnormalitas proses (proses dalam keadaan tidak terkendali) langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah: 1. Evaluasi dilakukan sebagai berikut: • Buat garis kendali tambahan yang terletak di 2/3 jarak antara gaaris sentral dan UCL/LCL.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 UCL 1/2 1/2 X bar 1/2 CL 1/2 LCL Gambar 17. atau 4 dari 10 titik berada di daerah 1/3 luar (outer third zone) telah terjadi abnormalitas pada proses.

(31) Indeks Cp dan Cpk hanya dapat digunakan apabila kedua asumsi berikut terpenuhi: • Dimensi karakteristik kualitas berdistribusi normal • Proses berada dalam kondisi in-statistical control Jika proses center maka Cp = Cpk dan jika proses tidak center maka Cp > Cpk. Hal ini dapat disebabkan kurangnya data yang digunakan dalam proses konstruksi peta kendali atau peta kendali yang digunakan tidak tepat. dapat dilihat kemampuan proses dalam menghasilkan output yang memenuhi spesifikasi dan memutuskan tindakan-tindakan penyesuaian yang akan dilakukan berkaitan dengan kapabilitas proses yang ada saat ini. Terdapat dua kemungkinan apabila terjadi Cp > Cpk. Sesuaikan/geser garis sentral. Ubah spesifikasi. Peta kendali yang telah dibuat tidak dapat mendeteksi pergeseran yang terlalu kecil.33 dan proses dinyatakan buruk jika Cp< 1. Beberapa tindakan yang mungkin dilakukan jika proses menghasilkan output yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang ditentukan di antaranya adalah: 1. 2. dll. KAPABILITAS PROSES Dalam pengendalian proses secara statistika masalah utama yang paling mendasar adalah menjaga kondisi proses yang terkendali dari waktu ke waktu dengan mengeliminasi penyebab timbulnya variasi. Kurangi variabilitas.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 F. Berdasarkan analisis kapabilitas proses. Suatu proses dikatakan memiliki kapabilitas yang baik jika setiap output dapat memenuhi spesifikasi yang diharapkan. Untuk proses yang tidak center dikembangkan indeks lain yaitu Cpk dengan rumus : di mana: = : rata-rata sampel : Upper Specification Level : Lower Specification Level : standar deviasi sampel . sehingga proses yang out of control masih dinyatakan sebagai proses yang in control. Indikator yang menunjukkan tingkat kapabilitas proses disebut dengan Indeks Kapabilitas Proses (Cp) yang dinyatakan dengan rumus: di mana: : Upper Specification Level : Lower Specification Level : standar deviasi sampel = (30) Kriteria umum yang digunakan adalah proses diterima jika Cp ≥ 1. yaitu: 1. Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 20 . Cp hanya dapat digunakan untuk proses yang diasumsikan center. 3.

M. Introduction to Statistical Quality Control. Sehingga.3. dan σ. harus ditentukan terlebih dahulu Cp dan Cpk desain. Juran's Quality Handbook. Handout TI 3221 Pengendalian Kualitas. 2005. Singapore: McGraw-Hill. Posisi kurva distribusi proses terhadap rentang spesifikasi G.2-2. 1999. Thomas. jika terdapat ketidaksesuaian antara Cp dan Cpk operasional dengan Cp dan Cpk desain. Hal 391. Hal 2. Referensi Pendukung: Foster. 5. New York: John Wiley & Sons.3. Sedangkan rentang spesifikasi diidentifikasi melalui nilai LSL dan USL. Juran. D. Lucia.3. parameterparameter pemesinannnya. 2001. 4th edition. Terjadi pergeseran rata-rata proses sebesar Cp dan Cpk yang dihitung di atas merupakan Cp dan Cpk operasional. Mitra. 1999. Inc. Referensi Utama: Montgomery. Proses yang akurat seharusnya memiliki posisi kurva yang simetris terhadap rentang spesifikasi (centered). Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 21 . 2nd edition. Praktikan perlu memahami konsep dasar ini. Singapore: McGraw-Hill. William J. UCL. Cp dan Cpk menggambarkan posisi kurva distribusi proses terhadap rentang spesifikasi yang diinginkan (lihat Gambar 19). Program Studi Teknik Industri ITB. Hal 5. maka perlu dilakukan analisis lebih lanjut. 2nd edition.5. 2001. Milwaukee: ASQ Quality Press. Kolarik. Diawati. & A. 2000. S. A. berapa toleransinya. Sebelumnya. Cp dan Cpk ini terkait dengan desain dari proses (proses dikerjakan di mesin mana. 5th edition.Blanton Godfrey. C. 3. 4.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 2. REFERENSI 1. yang ditentukan sebelum proses produksi berjalan. New Jersey: Prentice Hall. Cp dan Cpk operasional harus dibandingkan dengan Cp dan Cpk desain.2-3.2-4. Hal 7. Managing Quality: an integrative approach. CREATING QUALITY: Process Design for Results. 2006. Tague. Fundamentals of Quality Control and Improvement. dsb). 2. Sedangkan kepresisian proses ditunjukkan melalui sebaran distribusi hasil pengukuran proses (σ). Pada dasarnya. Joseph. Nancy R. New Jersey: Prentice Hall. The Quality Toolbox. Gambar 19. Proses yang baik harus akurat dan presisi. Distribusi proses dapat diidentifikasi melalui nilai LCL.

Bagan Alir Praktikum Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 22 . Laptop. Spesimen pengukuran. 2. I. Perangkat lunak Microsoft Excel. 4. PROSEDUR PRAKTIKUM Gambar 20. 5. 3. Kabel connector.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 H. 6. Digital Caliper. Modul praktikum. ALAT DAN BAHAN Bahan dan peralatan yang dibutuhkan dalam praktikum ini adalah: 1.

2. 3.7.2. Cpk.5. Analisis penyebab abnormalitas dan revisi pada peta kendali variabel diameter Analisis penyebab abnormalitas dan revisi pada peta kendali variabel panjang Analisis perbedaan Cp dan Cpk Analisis hasil perhitungan Cp dan Cpk Analisis persentase produk cacat dan penyebab Analisis OC Curve peta kendali 23 Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri . 2.3 Flowchart pengolahan data Bab 2.1.1. Pendahuluan 1. Pengolahan Data 2. Data Awal 2. 9. 2.8. 2. 3.7.5. 2. 6. 7. Perhitungan Cp. Peta kendali variabel diameter konstruksi Peta kendali variabel diameter implementasi Peta kendali variabel panjang konstruksi Peta kendali variabel panjang implementasi Perhitungan Cp dan Cpk Perhitungan persentase produk cacat OC Curve peta kendali Bab 3. 3.2. Cover Lembar Pengesahan Lembar Asistensi Daftar Isi Bab 1. Analisis pemilihan jenis peta kendali 3. 3. 3. 2. lakukan analisis apakah data dapat dihapus. 8. Hitung batas kendali (BKA dan BKB) setiap peta kendali. Jika ada abnormalitas pada data. 2. Cek abnormalitas dan lakukan analisis apakah data dapat dihapus.6. Buat peta kendali implementasi dengan batas kendali yang telah diperoleh. Revisi peta kendali jika diperlukan. Buatlah OC Curve untuk setiap peta kendali.3. Analisis 3.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 Langkah-langkah pengolahan data: 1. J.3. 3.6. 4. dan persentase produk cacat.1 Latar belakang 1. 5. TATA TULIS LAPORAN Laporan dibuat dengan susunan sebagai berikut. Buat peta kendali yang diperlukan dengan batas kendali yang telah dihitung sebelumnya.2 Tujuan 1.4.4. Menentukan peta kendali yang akan digunakan untuk setiap proses yang akan dikendalikan.

00 WIB di LPOSI. kanan. Analisis manfaat pengendalian kualitas bagi perusahaan Bab 4.2.10. a. Footer: Kiri Kanan f. 3. Jenis font b.2 : kiri 2. Kesimpulan 4.9. Spasi c.5 cm. Saran Daftar Pustaka Lampiran Adapun format laporan mengikuti ketentuan sebagai berikut. Margin d.1.8. Analisis penggunaan siklus PDCA pada praktikum Analisis pemilihan tahap On-Line dan Off-Line 3. Kesimpulan dan Saran 4.Modul VII: Pengendalian Kualitas 2011 3. Keterlambatan akan dikenakan pengurangan nilai 1 poin per menit. bawah 2 cm Ukuran kertas A4 Laporan dikumpulkan dalam bentuk softcopy paling lambat hari Jumat. 22 April 2011 pukul 12. Header: Kiri Kanan e. atas. : Nomor kelompok dan NIM anggota kelompok : Nomor halaman : Laporan PTI II Modul 7 – Pengendalian Kualitas : Nama dan NIM asisten : Calibri 11 : 1. Laboratorium Perencanaan & Optimasi Sistem Industri 24 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->