Prinsip Dasar Produk Perbankan Syariah

Walau Indonesia sebagai sebuah Negara dengan pemeluk agama Islam terbesar, produk keuangan berprinsip syariah baru dikenal beberapa tahun yang lalu dan masih sangat terbatas. Dimulai dari sektor perbankan, dengan berdirinya Bank Muamalat pada November 1991. Prinsip syariah tidak hanya terbatas pada konteks perbankan, melainkan juga meliputi berbagai kegiatan ekonomi dan investasi, termasuk di pasar modal dan asuransi. Anda tentu pernah mendengar istilah bank syariah, atau, lebih luas lagi ekonomi berbasis syariah. Bahkan boleh jadi, banyak di antara Anda yang sudah menggunakan jasa lembaga keuangan syariah. Sebagian dari Anda ada yang menganggap bank syariah hanya untuk komunitas muslim. Apakah benar demikian, bank syariah hanya diperuntukan bagi kaum muslim saja? Maaf, Anda salah besar bila beranggapan seperti itu. Bank Syariah sebenarnya berlaku untuk semua orang atau Universal. Syariah itu sendiri hanyalah sebuah prinsip atau sistem yang sesuai dengan aturan atau ajaran Islam. Siapa saja dapat memanfaatkan jasa keuangan bank syariah. Ketika krisis moneter melanda Indonesia, medio 1997, sistem syariah telah memberikan manfaat bagi banyak kalangan. Tentunya Anda ingat, pada saat itu, suku bunga pinjaman melambung tinggi hingga puluhan persen. Akibatnya, banyak dari kalangan usaha yang tidak mampu membayar. Tapi, fenomena ini tidak berlaku bagi pelaku usaha yang menggunakan dana dari bank syariah. Para pengusaha tersebut tidak perlu membayar bunga sampai puluhan persen, mereka cukup berbagi hasil dengan bank syariah. Penentuan persentasi bagi hasil dilakukan di awal pengambilan pinjaman. Prinsip-prinsip Dasar Prinsip titipan atau simpanan—Al-wadi’ah Al-wadi’ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak yang lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan dikembalikan kapan saja si penitip menghendakinya. Aplikasinya dalam produk perbankan, di mana bank sebagai penerima simpanan dapat memanfaatkan prinsip ini yang dalam bank konvensional dikenal dengan produk giro. Sebagai konsekuensi, semua keuntungan yang dihasilkan dari dana titipan tersebut menjadi milik bank (demikian pula sebaliknya). Sebagai imbalan, si penyimpan mendapat jaminan keamanan terhadap hartanya, dan juga fasilitas-fasilitas giro lain. Dalam dunia perbankan yang semakin kompetitif, insentif atau bonus dapat diberikan dan hal ini menjadi kebijakan dari bank bersangkutan. Hal ini dilakukan dalam upaya merangsang semangat masyarakat dalam menabung dan sekaligus sebagai indikator kesehatan bank.

sedangkan pihak lain menjadi pengelola. bila seorang pedagang membutuhkan modal untuk berdagang maka dapat mengajukan permohonan untuk pembiayaan bagi hasil seperti al-mudharabah.5 juta/bulan. bank syariah dan Anda secara bersama-sama memberikan kontribusi modal yang kemudian digunakan untuk menjalankan usaha. Keuntungan usaha secara mudharabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Dalam hal bank konvensional. Al-Musyarakah Dalam sistem ini terjadi kerja sama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu. al-mudharabah. al-mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak. angka tersebut kira-kira setara dengan 11-12 persen. Caranya dengan menghitung terlebih dahulu perkiraan pendapatan yang akan diperoleh oleh nasabah dari proyek tersebut. Secara konkret. pemilik dana tidak mendapatkan bunga seperti halnya di bank konvensional. diterapkan untuk: pembiayaan modal kerja. misalnya 60 persen untuk nasabah dan 40 persen untuk bank. Porsi bank syariah akan diberlakukan sebagai penyertaan dengan pembagian keuntungan yang disepakati bersama. Dalam praktiknya. nisbah untuk tabungan berkisar 55 –56 persen dari hasil investasi yang dilakukan oleh bank. biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan. al-mudharabah diterapkan pada: tabungan dan deposito.2 juta. Dari pendapatan tersebut harus disisihkan terlebih dahulu untuk tabungan pengembalian modal.di mana pihak pertama menyediakan seluruh (100 persen) modal. Inti dari pola ini adalah. Pola transaksi mudharabah. maka pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Keuntungan ataupun risiko usaha tersebut akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. sedangkan apabila rugi. Dalam bank konvensional. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalian si pengelola. dari modal Rp. Dalam sistem ini. selebihnya dibagi antara bank dengan nasabah dengan kesepakatan di muka. terkandung apa yang biasa disebut di bank konvensional sebagai sarana pembiayaan. Sedangkan dalam sisi pembiayaan. ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian di pengelola. sebut saja Rp. Sedangkan pada sisi pembiayaan. melainkan nisbah bagian keuntungan. tetapi betul-betul merupakan kebijakan bank. . pembiayaan seperti ini mirip dengan kredit modal kerja. Anda bisa menggunakan produk al-musyarakah ini. Prinsip bagi hasil (Profit-sharing) Al-Mudharabah Secara teknis. Misalkan. bila Anda memiliki usaha dan ingin mendapatkan tambahan modal. Para pihak yang bekerja sama memberikan kontribusi modal. Dengan menempatkan dana dalam prinsip al-mudharabah.30 juta diperoleh pendapatan Rp. Pada sisi penghimpunan dana.Pemberian bonus tidak dilarang dengan catatan tidak disyaratkan sebelumnya dan jumlahnya tidak ditetapkan dalam nominal atau persentasi secara advance.

Bank konvensional menggunakan konsep biaya (cost concept) untuk menghitung keuntungan. . Perbedaan Bank Syariah Sepintas bila dilihat secara teknis. Namun bentuknya bukan kredit. Tentunya masih banyak lagi prinsip-prinsip perbankan syariah. karena bank syariah menalanginya dulu. Akan tetapi bila diamati lebih dalam. baik di bank syariah maupun bank konvensional diharuskan mengikuti aturan teknis perbankan secara umum. tabungan maupun deposito. Perbedaan kedua terdapat pada imbalan yang diberikan. yang kami uraikan di atas merupakan prinsip-prinsip dasar yang umum dikenal di perbankan syariah. Dalam hal ini. baik giro.Prinsip Al-Murabahah Dalam skim ini. Pada bank konvensional. Dengan demikian. tentu saja produk seperti ini juga tersedia. maka pada saat menjual kepada Anda. tabungan maupun deposito. suku bunga yang berlaku mungkin saja berubah. berdasarkan perjanjian titipan. Misalkan Anda membutuhkan kredit untuk pembelian mobil. yang diistilahkan dengan Murabahah. Perbedaan antara keduanya disebut spread yang menandakan apakah perusahaan tersebut untung atau rugi. karena dalam produk giro. Bila spread-nya positif. sebagai bentuk keuntungan buat bank syariah. Hal ini karena. bank syariah akan membeli mobil yang Anda inginkan terlebih dahulu. Di sektor perbankan. Dalam sistem bank syariah. harganya sedikit lebih mahal. Oleh karena itu bank harus “menjual” kepada nasabah lain (peminjam) dengan biaya bunga yang lebih tinggi. transaksi pembukaan rekening. Karena bentuk keuntungan bank syariah sudah disepakati di depan. semua transaksi harus berdasarkan akad yang dibenarkan oleh syariah. menabung di bank syariah dengan yang belaku di bank konvensional hampir tidak ada perbedaan. Dalam bank konvensional Anda akan dikenakan bunga dan Anda diharuskan membayar cicilan bulanan selama waktu tertentu. bunga yang dijanjikan di muka kepada nasabah penabung merupakan ongkos atau biaya yang harus dibayar oleh bank. terjadi jual beli suatu barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang nilainya disepakati kedua belah pihak. Sebaliknya juga benar. Perbedaan pertama terletak pada akadnya. misalnya wadi’ah. terdapat beberapa perbedaan mendasar di antara keduanya. maka nilai cicilan yang harus Anda bayarkan relatif lebih tetap. Tapi. Pada bank syariah. namun prinsip titipan ini tidak sesuai dengan aturan syariah. melainkan menggunakan prinsip jual-beli. Artinya. semua transaksi itu harus mengikuti kaidah dan aturan yang berlaku pada akad-akad muamalah syariah. di mana beban bunga yang dibebankan kepada peminjam lebih tinggi dari bunga yang diberikan kepada penabung. menjanjikan imbalan dengan tingkat bunga tetap terhadap uang yang disetor. maka dapat dikatakan bahwa bank mendapatkan keuntungan. Penjual dalam hal ini harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahan. kemudian menjualnya lagi kepada Anda.

Perbedaan ketiga adalah sasaran kredit/ pembiayaan. pornografi dan bisnis lain yang tidak sesuai dengan syariah. berdasarkan perjanjian pembagian keuntungan di muka. Para penabung di bank konvensional tidak sadar uang yang ditabung dipinjamkan untuk berbagai bisnis.Sedangkan bank syariah menggunakan pendekatan profit sharing. Keuntungan yang didapat dari pembiayaan tersebut dibagi dua. perjudian. minuman yang diharamkan. penyaluran dan simpanan dari masyarakat dibatasi oleh prinsip dasar. yaitu prinsip syariah Artinya bahwa pemberian pinjaman tidak boleh ke bisnis yang haram seperti. untuk bank dan untuk nasabah. . Sedangkan di bank syariah. tanpa memandang halal-haram bisnis tersebut. artinya dana yang diterima bank disalurkan kepada pembiayaan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful