P. 1
Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif Ani

Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif Ani

|Views: 2,590|Likes:
Published by Hardi Tia

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: Hardi Tia on Apr 22, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/18/2013

pdf

text

original

KORELASI ANTARA PEMAHAMAN DIRI DAN RASA PERCAYA DIRI PADA REMAJA YANG TINGGAL DI PANTI ASUHAN DI KOTA

MALANG ³
1. LATAR BELAKANG Perjalanan hidup seorang anak tidak selamanya berjalan dengan mulus. Beberapa anak dihadapkan pada pilihan yang sulit bahwa individu harus berpisah dari keluarga karena suatu alasan, menjadi yatim, piatu atau yatim-piatu bahkan mungkin menjadi anak terlantar. Kondisi ini menyebabkan adanya ketidak lengkapan di dalam suatu keluarga. Ketidak lengkapan ini pada kenyataanya secara fisik tidak mungkin lagi dapat digantikan tetapi secara psikologis dapat dilakukan dengan diciptakannya situasi kekeluargaan dan hadirnya tokoh-tokoh yang dapat berfungsi sebagai pengganti orang tua . Menurut Hurlock (1997:213) masa remaja dikatakan sebagai masa transisi karena belum mempunyai pegangan, sementara kepribadianya masih menglami suatu perkembangan, remaja masih belum mampu untuk menguasai fungsi-fungsi fisiknya. Remaja masih labil dan mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya. Remaja sebagai bagian dari generasi penerus yang menjadi tonggak sebagai individu yang bermakna pada hari kemudian diharapkan juga memiliki pemahaman tentang diri yang benar, hal tersebut sangat diperlukan bagi setiap orang dalam menjalani kehidupannya, sehingga di peroleh suatu gambaran yang jelas tentang dirinya dan supaya sremaja bias menjalankan apa yang sudah didapatkannya. Pemahaman akan diri seseorang sangatlah mutlak untuk diketahui. Oleh karena itu semua orang harus mengerti tentang dirinya. Baik secara internal maupun secara eksternal. Ketika seseorang mengetahui kondisi dan gambaran tentang dirinya maka dia akan dapat menjalani hidupnya dengan nyaman dan juga memiliki rasa percaya diri yang kuat karena sudah memiliki pandangan diri yang jelas. Dalam melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan, semua orang memiliki kemampuan dan keinginan yang berbeda. Salah satu faktor yang membuat seseorang dapat melakukan apa yang dia ingin lakukan adalah ketika dia memiliki kepercayaan diri yang cukup untuk melakukannya. Ketika seseorang kurang memeiliki rasa percaya diri maka kemungkinan orang tersebut tidak akan dapat bergaul dengan sesama temannya, melakukan apa yang diinginkannya dan pergi sesuai keinginannya. Remaja yang tinggal di panti asuhan mempunyai rasa rendah diri atau minder terhadap keadaan dirinya, tidak seperti teman-teman dalam kondisi keluarga normal. Hal ini berpengaruh terhadap pergaulan dengan lingkungan. Sementara itu masyarakat atau teman-teman dalam lingkungan sosial sering memberikan label negatif pada anak-anak panti asuhan tanpa melihat lebih jauh, mengapa atau bagaimana berbagai hal negatif ini akan terjadi. Adanya penyimpangan antara harapan dan kenyataan itulah, maka peneliti merasa perlu untuk meneliti hal tersebut. Berdasarkan dari uraian di atas, maka rumusan masalah yang peneliti ajukan adalah apakah ada hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri pada remaja yang tinggal di panti

asuhan. Oleh karena itu maka penelitian ini berjudul ³Hubungan Antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri Pada Remaja Yang Tinggal Di Panti Asuhan´. 1. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian diatas, maka yang menjadi rumusan masalah penelitian adalah sebagai berikut: 1. Mengetahui hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan? 2. Mengetahui pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan? 3. Mengetahui tingkat pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan? 1. MANFAAT PENELITIAN Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan manfaat dan kegunaan sebagai berikut: 1. Manfaat teoritis : Dapat menambah wawasan pengetahuan mengenai pemahaman diri dan rasa percaya diri yang ada pada masa remja . 2. Manfaat praktis : Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan pendidik, guru,dan orang ± orang yang berhubungan dengan panti asuhan dan anak anak asuhnya. 1. HIPOTESIS PENELITIAN Hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari hipotesis dua arah yaitu Hipotesis alternative dan hipotesis Nol. Hipotesis benar jika Hipotesis alternative (Ha) terbukti kebenarannya. Ha : adanya hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan Ho : Tidak ada hubungan antara pemahaman diri dengan rasa percaya diri remaja yang tinggal di panti asuhan

BAB II KAJIAN PUSTAKA 1. Pemahaman Diri (Self-Understanding) 1. Pengertian Menurut Santrock (2003:333) Pemahaman diri (self ± Understanding) adalah gambaran kognitif remaja mengenai dirinya, dasar, dan isi dari konsep diri remaja. Pemahaman diri menjadi lebih introspektif tetapi tidak bersifat menyeluruh dalam diri remaja, namun lebih merupakan konstruksi kognisi sosialnya. Pada masa remaja persinggungan antara pengalaman sosial, budaya dan norma yang berlaku mempengaruhi pada kognisi sosial remaja.

2. Dimensi ± Dimensi Pemahaman Diri Menurut Santrock (2003:333) Perkembangan dari pemahaman diri masa remaja sangatlah kompleks dan melibatkan sejumlah aspek dalam diri seorang remaja. Beberapa aspek yang ada dalam dimensi ±dimensi pemahaman diri ramaja antara lain : 1. abstrak dan idealistik Pada masa remaja, konstruk berfikir para remaja bersifat abstrak dan idealistik dimana konsep tentang diri seorang remaja itu belum jelas dimana konsep tentang dirinya bersifat lebih baik atau lebih buruk dari keadaan sebenarnya. Tidak semua remaja menggambarkan diri mereka dengan cara yang idealis, namun, sebagian besar remaja membedakan diri mereka yang sebenarnya dengan diri yang diidamkannya. 2. Terdiferensiasi Pemahaman diri seorang remaja bisa semakin terdeferensiasi. Remaja lebih mungkin dari pada anak kecil untuk menggambarkan dirinya sesuai dengan konteks atau situaasi yang semakin terdeferensiasi. Remaja lebih mungkin dari pada anak ± anak untuk memahami bahwa dirinya memiliki diri ± diri yang berbeda-beda, tergantung dari peran atau konteks tertentu. 3. Kontradiksi Dalam Diri Setelah kebutuah untuk mendiferensiasikan diri kedalam banyak peran dalam konteks yang berbeda-beda ada dalam diri remaja, muncullah kontradiksi antara diri ± diri yang terdeferensiasi ini.

4.

Fluktuasi Diri

Adanya sifat kontradiktif dalam diri pada masa remaja membuat munculnya fluktuasi diri remaja dalam berbagai situasi dan waktu tidaklah tidak mengejutkan. Ciri remaja di mana seorang remaja memiliki ciri ketidakstabilan hingga tiba suatu saat dimana seorang remaja berhasil membentuk teori mengenai dirinya yang leboh utuh, dan biasanya tidak terjadi hingga masa akhir remajanya atau bahkan diawal masa dewasa. 1. diri yang nyata dan ideal, diri yang benar dan yang palsu Muncul kemampuan remaja untuk mengkonstruksikan diri mereka yang ideal disamping diri yang sebenarnya, menjadi suatu yang membingungkan bagi remaja. Kemampuan untuk menyadari adanya perbedaan antara diri yang nyata dengan diri yang ideal menunjukkan adanya peningkatan kemampuan kognitif. Namun menurut Rogers (Santrock, 2003:334), yakin bahwa adanya perbedaan yang terlalu jauh antara diri yang ideal dengan diri yang sebenarnya menunjukkan tanda ketidak mampuan untuk menyesuaikan diri. 1. perbandingan sosial para ahli perkembangan meyakini bahwa remaja, dibandingkan dengan anak-anak, lebih sering menggunakan perbandingan social (social Comparison) untuk mengevakluasi diri mereka sendiri (ruble dalam Santrock, 2003 : 335). Namun kesediaan remaja untuk mengakui bahwa mereka melakukan perbandingan social untuk melakukan evaluasi kepada diri mereka cenderung menurun dimasa remaja karena perbandingan social tidaklah diinginkan. Berpegangan pada informasi perbandingan social pada masa remaja membuat mereka kebingungan karena banyaknya kelompok referensi. 1. kesadaran diri remaja lebih sadar akan dirinya (self-conscious) dibandingkan dengan anak-anak dan lebih memikirkan tentang pemahaman dirinya. Remaja lebih introspektif, yang mana hal ini merupakan bagian dari kesadaran diri mereka dan bagian dari eksplorasi diri. Namun, introspeksi tidak hanya terjadi pada remaja dalam keadaan isolasi social. Remaja kadang kadang meminta dukungan dan penjelasan dari teman-temannya, mendapatkan opini dari teman-temannya mengenai definisi diri yang baru muncul. 1. perlindungan diri mekanisme untuk mempertahankan diri sendiri (self-deffens) merupakan bagian dari pemahaman diri remaja. Walaupun remaja sering menunjukkan adanya kebingungan dan konflik yang muncul akibat adanya usaha ± isaha introspektif untuk memahami dirinya, remaja juga memiliki mekanisme untuk melindungi dan mengembangkan dirinya. Dalam men\lindungi diri, remaja cenderung akan menolak akan adanya karakteristik negative dalam diri mereka. Kecenderungan remaja untuk melindungi dirinya sendiri sesuai

dengan deskripsi trdahulu merupakan d\kecenderungan remaja untuk menggambarkan diri mereka dengan cara yang idealistic. 1. ketidaksadaran pemahaman diri remaja melibatkan adanya pengenalan bahwa komponen yang tidak disadari (unconscious) termasuk dalam dirinya, dama halnya dengan komponen yang disadari (conscious). Pengenalan semacam itu biasanya tidak muncul sampai pada masa remaja akhir. Maksudnya yang lebih tua biasanya lebih yakin akan adanya aspek ± aspek tertentu dari pengalaman mental diri mereka yang berada diluar kesadaran atau control mereka dibandingkan dengan remaja yang lebih mudah. 1. integrasi diri pemahaman diri remaja, terutama dimasa remaja akhir, menjadi lebih terintegrasi dimana bagian yang berbeda-beda diri yang secara sistematik menjadi suatu kesatuan. Remaja yang lebih tua mampu mendeteksi adanya ketidak konsistenan dalam deskripsi diri mereka dimasa sebelumnya ketika remaja berusaha untuk mengkonstruksikan teori mengenai diri secara umum, atau suatu pemikiran yang terintegrasi dari identitas. 1. Percaya Diri (Self-Esteem) 1. Pengertian Orang yang dikatakan memiliki kepercayaan diri ialah orang yang merasa puas dengan dirinya (Gael Lindenfield dalam Kamil, 1998: 3). Adapun gambaran merasa puas terhadap dirinya adalah orang yang merasa mengetahui dan mengakui terhadap ketrampilan dan kemampuan yang dimilikinya, serta mampu menunjukkan keberhasilan yang dicapai dalam kehidupan bersosial. Untuk mencari atau menggali definisi yang akurat tentang percaya diri, maka harus menganalisis tentang unsur-unsurnya yang khas. Hal ini dilakukan dengan mendaftarkan sifatsifat dan ketrampilan-ketrampilan hasil pengamatan terhadap orang yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi. Menurut Angelis (2000: 10) kepercayaan diri merupakan suatu keyakinan dalam jiwa manusia bahwa tantangan hidup apapun harus dihadapi dengan berbuat sesuatu. Kepercayaan diri itu lahir dari kesadaran bahwa jika memutuskan untuk melakukan sesuatu, sesuatu itu pula yang harus dilakukan. Kepercayaan diri itu akan datang dari kesadaran seorang individu bahwa individu tersebut memiliki tekad untuk melakukan apapun, sampai tujuan yang ia inginkan tercapai. Menurut Hakim (2005: 6), rasa percaya diri yaitu suatu keyakinan seseorang terhadap segala aspek kelebihan yang dimilikinya dan keyakinan tersebut membuatnya merasa mampu untuk bisa mencapai berbagai tujuan di dalam hidupnya. Jadi, dapat dikatakan bahwa seseorang yang memiliki kepercayaan diri akan optimis di dalam melakukan semua aktivitasnya, dan mempunyai tujuan yang realistik, artinya individu tersebut akan membuat tujuan hidup yang mampu untuk dilakukan, sehingga apa yang direncanakan akan dilakukan dengan keyakinan akan berhasil atau akan mencapai tujuan yang telah ditetapkannya.

Siswa yang memiliki kepercayaan diri akan mampu mengetahui kelebihan yang dimilikinya, karena siswa tersebut menyadari bahwa segala kelebihan yang dimiliki, kalau tidak dikembangkan, maka tidak akan ada artinya, akan tetapi kalau kelebihan yang dimilikinya mampu dikembangkan dengan optimal maka akan mendatangkan kepuasan sehingga akan menumbuhkan kepercayaan diri. Individu yang percaya diri akan memandang kelemahan sebagai hal yang wajar dimiliki oleh setiap individu, karena individu yang percaya diri akan mengubah kelemahan yang dimiliki menjadi motivasi untuk mengembangkan kelebihannya dan tidak akan membiarkan kelemahannya tersebut menjadi penghambat dalam mengaktualisasikan kelebihan yang dimilikinya. Sebagai contoh, siswa yang selalu menjadi juara kelas mampu menguasai materi pelajaran yang diajarkan di sekolah, sehingga ia merasa yakin dan tidak takut jika disuruh gurunya untuk mengerjakan soal di depan kelas. Bahkan, di dalam setiap mata pelajaran, jika guru bertanya atau meminta seseorang untuk mengerjakan soal di depan kelas, siswa yang menjadi juara kelas dapat mengajukan diri tanpa diperintah. Sedangkan Luxori (2004: 4), menyatakan bahwa, percaya diri adalah hasil dari percampuran antara pikiran dan perasaan yang melahirkan perasaan rela terhadap diri sendiri. Dengan memiliki kepercayaan diri, seseorang akan selalu merasa baik, rela dengan kondisi dirinya, akan berpikir bahwa dirinya adalah manusia yang berkualitas dalam berbagai bidang kehidupan, pekerjaan, kekeluargaan, dan kemasyarakatan, sehingga dengan sendirinya seseorang yang percaya diri akan selalu merasakan bahwa dirinya adalah sosok yang berguna dan memiliki kemampuan untuk bersosialisasi dan bekerja sama dengan masyarakat lainnya dalam berbagai bidang. Rasa percaya diri yang dimiliki seseorang akan mendorongnya untuk menyelesaikan setiap aktivitas dengan baik. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa kepercayaan diri adalah kesadaran individu akan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, meyakini adanya rasa percaya dalam dirinya, merasa puas terhadap dirinya baik yang bersifat batiniah maupun jasmaniah, dapat bertindak sesuai dengan kapasitasnya serta mampu mengendalikannya. 1. 1. Ciri-ciri Orang Yang Percaya Diri Menurut Hakim (2005: 5-6) ciri-ciri orang yang percaya diri antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Selalu bersikap tenang di dalam mengerjakan segala sesuatu; Mempunyai potensi dan kemampuan yang memadai; Mampu menetralisasi ketegangan yang muncul di dalam berbagai situasi; Mampu menyesuaikan diri dan berkomunikasi di berbagai situasi; Memiliki kondisi mental dan fisik yang cukup menunjang penampilannya; Memiliki kecerdasan yang cukup; Memiliki tingkat pendidikan formal yang cukup;

8. Memiliki keahlian atau keterampilan lain yang menunjang kehidupannya, misalnya ketrampilan berbahasa asing; 9. Memiliki kemampuan bersosialisasi; 10. Memiliki latar belakang pendidikan keluarga yang baik; 11. Memiliki pengalaman hidup yang menempa mentalnya menjadi kuat dan tahan di dalam menghadapi berbagai cobaan hidup; 12. Selalu bereaksi positif di dalam menghadapi berbagai masalah, misalnya dengan tetap tegar, sabar, dan tabah dalam menghadapi persoalan hidup. 1. 1. Ciri-ciri Orang Yang Tidak Percaya Diri Menurut Hakim (2005: 8-9) ciri-ciri orang yang tidak percaya diri antara lain : Mudah cemas dalam menghadapi persoalan dengan tingkat kesulitan tertentu; Memiliki kelemahan atau kekurangan dari segi mental, fisik, sosial, atau ekonomi; Sulit menetralisasi timbulnya ketegangan di dalam suatu situasi; Gugup dan kadang-kadang bicara gagap; Memiliki latar belakang pendidikan keluarga kurang baik; Memiliki perkembangan yang kurang baik sejak masa kecil; Kurang memiliki kelebihan pada bidang tertentu dan tidak tahu bagaimana cara mengembangkan diri untuk memiliki kelebihan tertentu; 8. Sering menyendiri dari kelompok yang dianggapnya lebih dari dirinya; 9. Mudah putus asa; 10. Cenderung tergantung pada orang lain dalam mengatasi masalah; 11. Pernah mengalami trauma; 12. Sering bereaksi negatif dalam menghadapi masalah, misalnya dengan menghindari tanggung jawab atau mengisolasi diri, yang menyebabkan rasa tidak percaya dirinya semakin buruk 1. 1. Mengembangkan Kepercayaan Diri Lindenfield (19: 14) menjelaskan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengembangkan percaya diri diantaranya adalah sebagai berikut : 1. Cinta Individu perlu terus merasa dicintai tanpa syarat. Untuk perkembangan harga diri yang sehat dan langgeng, seseorang harus merasa bahwa dirinya dihargai karena keadaannya yang sesungguhnya, bukan yang seharusnya atau seperti yang diinginkan orang lain. Setiap orang hendaknya dicintai tanpa syarat, namun yang terpenting, individu itu sendiri harus dapat mencinti diri tanpa syarat. Dengan merasa tenteram, percaya diri dan mencintai diri sendiri bila semua keinginan terpenuhi, ini berarti seseorang telah menyayangi diri sendiri secara bersyarat. Agar seseorang dapat 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

menyayangi diri dengan tulus, hendaknya individu dapat menyayangi dirinya sendiri karena telah melakukan sesuatu, bukan karena telah berhasil mencapai sesuatu. Dalam kegiatan kelompok seperti bimbingan kelompok, bentuk cinta pada diri sendiri dapat ditunjukkan dengan menerima diri apa adanya, tidak menyayangi diri secara bersyarat, memiliki rasa percaya diri dan selalu merasa tenteram. Sedangkan bentuk cinta yang diberikan oleh orang lain dalam kelompok yaitu mau mendengarkan pendapat anggota kelompok, mau memberikan saran dan kritik yang membangun, saling memberi dan menerima bantuan, berempati dengan tulus, anggota kelompok saling memberi motivasi, serta suka rela memecahkan masalah bersama-sama. 1. Rasa aman Bila individu merasa aman, mereka secara tidak langsung akan mencoba mengembangkan kemampuan mereka dengan menjawab tantangan serta berani mengambil resiko yang menarik. Di dalam kegiatan bimbingan kelompok, rasa aman ditunjukkan anggota kelompok dengan saling menjaga rahasia, masing-masing anggota mau terbuka, jujur, dan percaya pada diri sendiri maupun orang lain, serta saling menghargai. 1. Model peran Mengajar lewat contoh adalah cara paling efektif agar anak mengembangkan sikap dan ketrampilan sosial yang diperlukan untuk percaya diri. Dalam hal ini peran orang lain sangat dibutuhkan untuk dijadikan contoh bagi individu untuk dapat mengembangkan rasa percaya diri. Di dalam kegiatan koneling kelompok, anggota kelompok dapat menjadikan diri sendiri maupun orang lain sebagai model. Dengan menjadikan orang lain sebagai model, individu dapat menjadikan model itu sebagi contoh/ teladan dan dapat menirunya untuk menumbuhkan rasa percaya diri. 1. Hubungan Untuk mengembangkan rasa percaya diri individu terhadap segala hal, individu jelas perlu mengalami dan bereksperimen dengan beraneka hubungan dari yang dekat dan akrab dirumah, teman sebaya maupun yang lebih asing. Adler (dalam Supratiknya, 1993: 241) menyatakan bahwa manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial. Manusia selalu menghubungkan dirinya dengan orang lain, ikut dalam kegiatan kegiatan kerja sama sosial, menempatkan kesejahteraan sosial di atas kepentingan diri sendiri dan mengembangkan gaya hidup yang mengutamakan orientasi sosial. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa, dalam menjalani hidup, setiap orang selalu membutuhkan orang lain dan hendaknya dapat bekerja sama dengan orang lain, sehingga dapat saling membantu dan memiliki hubungan yang baik dengan banyak orang, sehingga akan semakin meningkatkan kepercayaan diri seseorang.

Lindenfield (2004: 15) juga menyatakan bahwa untuk dapat mengembangkan rasa percaya diri, seseorang perlu menjalin hubungan baik dengan siapapun baik orang-orang yang sudah dikenal maupun mampu menjalin hubungan baik dengan orang-orang baru, karena dengan berhubungan dengan orang lain akan menumbuhkan rasa percaya diri. Hubungan dalam kegiatan kelompok menurut Hakim (2005:132), anggota kelompok akan mendapatkan banyak manfaat antara lain sosialisasi atau pergaulan dengan teman-teman sebaya; mendapatkan tambahan ketrampilan tertentu, seperti kepemimpinan dan cara berhubungan dengan orang lain. Di dalam kelompok seseorang dapat menjalin kerja sama, melakukan penyesuaian dan pendekatan kepada orang lain. Jika seseorang dapat melakukan hubungan dengan baik maka perlahan-lahan seseorang akan memiliki kepercayaan diri. 1. Kesehatan Untuk bisa menggunakan sebaik- baiknya kekuatan dan bakat kita, kita butuhkan energi. Jika mereka dalam keadaan sehat, dalam masyarakat bisa dipastikan biasanya mendapatkan lebih banyak perhatian, dorongan moral, dan bahkan kesempatan. Menurut Hakim (2005: 162), dengan adanya kondisi kesehatan yang lebih prima pada diri seseorang, akan timbul keyakinan dan rasa percaya diri bahwa dalam diri individu memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan banyak hal sesuai dengan keperluan hidupnya, termasuk mengikuti kegiatan kelompok. 1. Sumber daya Sumber daya memberikan dorongan yang kuat karena dengan perkembangan kemampuan anak memungkinkan mereka memakai kekuatan tersebut untuk menutupi kelemahan yang mereka miliki. 1. Dukungan Individu membutuhkan dorongan dan pembinaan bagaimana menggunakan sumber daya yang mereka miliki. Dukungan jua merupakan factor utama dalam membantu individu sembuh dari pukulan terhadap rasa percaya diri yang disebabkan oleh trauma, luka dan kekecewaan. Menurut Angelis (2003: 3), rasa percaya diri akan lahir dari kesadaran dirinya sendiri untuk selalu melakukan sesuatu. Jadi kepercayaan diri itu tidak dapat muncul dengan tiba-tiba danmemerlukan proses untuk mendapatkan rasa percaya diri. Penghargaan yang positif atas tindakan yang dilakukan individu akan cenderung meningkatkan kepercayaan diri, begitu juga sebaliknya, apabila penghargaan yang diberikan berupa kritikan yang tidak membangun akan membuat seseorang menjadi rendah diri. Untuk membentuk kepercayaan diri, perananan orang lain di dalam memahami, member dukungan, dan memberikan saran yang dapat digunakan untuk memperbaiki diri sangat dibutuhkan. Dalam kegiatan kelompok, dukungan dapat ditunjukkan dengan mau mendengarkan pendapat orang lain, dapat saling memotivasi, dan tidak saling menyalahkan. Dengan motivasi dan

dukungan, seseorang dapat berkembang menjadi lebih kuat untuk berbuat lebih baik lagi dan penuh percaya diri. 1. Upah dan hadiah Upah dan hadiah ini merupakan suatu proses untuk mengembangkan percaya diri agar menyenangkan dari suatu usaha yang telah dilakukan. Hadiah tidak harus berwujud barang. Dalam kegiatan kelompok, hadiah dapat ditunjukan dengan member penghargaan dalam bentuk pujian yang disertai dengan saran-saran yang edukatif, serta anggota kelompok mengusahakan agar seseorang berbuat baik karena kesadarannya bukan karena ingin memperoleh penghargaan. 1. DEFINISI OPERASIONAL Pemahaman diri (self ± Understanding) adalah gambaran kognitif remaja mengenai dirinya, dasar, dan isi dari konsep diri remaja dan lebih merupakan konstruksi kognisi sosialnya. kepercayaan diri adalah kesadaran individu akan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya, meyakini adanya rasa percaya dalam dirinya, merasa puas terhadap dirinya baik yang bersifat batiniah maupun jasmaniah, dapat 1. METODE PENELITIAN 1. 1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian dalam penelitian ini adalah beberapa panti asuhan yang berada di Kecamatan Lowokwaru kota Malang yang akan dipilih secara acak yang mewakili dari kota Malang. 1. 1. Rancangan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah di atas, penelitian ini diklasifikasikan dala penelitian kuantitatif deskriptif korelatif dimana penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan, meringkas berbagai kondisi, berbagai situasi atau berbagai variable yang timbul dimasyarakat yang menjadi objek penelitian itu berdasarkan apa yang terjadi dan mencari hubungan antar variable yang diteliti. (Bungin,2006:36) 1. 1. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi adalah keseluruhan obyek penelitian baik terdiri dari benda yang nyata, abstrak, peristiwa ataupun gejala yang merupakan sumber data dan memiliki karakter tertentu dan sama (Sukandarrumidi, 2004: 47). Sedangkan menurut Arikunto, populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian

(Arikunto, 2002: 108). Jadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak asuh yang tinggal di kecamatan lowokwaru yang berjumlah 1192 orang (dinsos kota malang, 2004). Sampel adalah bagian dari populasi yang memiliki sifat-sifat yang sama dari obyek yang merupakan sumber data (Sukandarrumidi, 2004: 50).sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002: 221). Metode penentuan sampel dari populasi yang ada menggunakan rujukan rumus Slovin (Dalam Umar, 2003;146) sebagai berikut n=N 1+Ne2 n = Ukuran Sampel N = Ukuran Populasi e = Prosen Kelonggaran Prosen kelonggaran atau kesalahan di tentukan sebesar 10%. Jumlah jadi jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 93 orang. 1. 1. Teknik Pengumpulan Data 1. 1. Observasi Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrument. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi Dari penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat, tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat. Misalnya kita memperhatikan reaksi penonton televisi, bukan hanya mencatat bagaimana reaksi itu, dan berapa kali muncul, tetapi juga menilai reaksi tersebut sangat, kurang, atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki 1. 1. Dokumentasi Metode dokumentasi dilakukan dengan cara mencari data tentang hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, agenda dan sebagainya Lexi J. Moleong (2004) mendefinisikan dokumen sebagai setiap bahan tertulis ataupun film, yang tidak dipersiapkan karena adanya permintaan aseorang penyidik.

Penggunaan metode dokumen dalam penelitian ini karena alasan sebagai berikut (Guba dan Lincoln, 1981) dalam bukunya Lexy J. Moleong (2004) 1) Merupakan sumber yang stabil, kaya, dan mendorong. 2) Berguna sebagai bukti untuk suatu pengujian. 3) Berguna dan sesuai dengan penelitian kualitatif karena sifatnya yang alamiah, sesuai dengan konteks, lahir dan berada dalam konteks. 4) Tidak reaktif sehingga tidak sukar ditemukan dengan teknik kajian isi. 5) Dokumentasi harus dicari dan ditemukan. 6) Hasil pengkajian isi akan membuka kesempatan untuk lebih memperluas tubuh pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki. 1. 1. Wawancara Adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. (Moleong, 2000 : 135). 1. 1. Angket Metode angket adalah salah satu metode penelitian dengan menggunakan daftar pertanyaan yang berisi aspek yang hendak diukur, yang harus dijawab atau dikerjakan oleh subyek penelitian, berdasarkan atas jawaban atau isian itu peneliti mengambil kesimpulan mengenai subyek yang diteliti (Suryabrata, 1990). Penggunaan metode angket, menurut Hadi (1993) didasari oleh beberapa anggapan, yaitu: 1. Subyek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri. 2. Apa yang dinyatakan subyek kepada peneliti adalah benar-benar dapat dipercaya 3. Interpretasi subyek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya adalah sama demngan yang dimakksud peneliti. Angket memiliki bermacam-,macambentuk yakni: 1. Angket langsung atau tidak langsung 2. Angket terbuka atau angket tertutup

Bentuk angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah bersifat langsung dan tertutup. Artinya angket yang merupakan daftar pertyanyan diberikan langsung kepada mahasiswa sebagai subyek penelitian, dan dakam mengisi angket, mehasiswa diharuskan memilih karena jawaban telah disediakan. 1. 1. Teknik Analisis Data Menurut Patton, analisa data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar. (Bungin, 2006:33). Karena penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, maka metode analisisi data yang digunakan adalah alat analisis yang bersifat kuantitatif yaitu model statistik. Hasil analisis nantinya akan disajikan dalam bentuk angka-angka yang kemudian dijelaskan dan diiterpretasikan dalam suatu uraian. Teknik analisa data merupakan langkah yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah dalam penelitian. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kesimpulan dari hasil penelitian. Adapun teknis analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasi, dimana Penelitian korelasi bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, berapa eratnya hubungan serta berarti atau tidaknya hubungan itu. Adapun analisa data dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tabel dan menggunakan teknik deskriftip prosentase sebagai berikut : P = F/N x 100 P = Persentase F = Frekuensi N = Number of Cases (banyaknya individu) Dalam penelitian ini juga menggunakan korelasi product moment, adapun rumus yang digunakan adalah korelasi product moment, secara operasional analisa data tersebut dilakukan melalui tahap : 1. Mencari angka korelasi dengan rumus : Dengan ketentuan sebagai berikut : X : Adalah motivasi siswa terhadap bidang studi Ilmu Pengetahuan Alam Y : Adalah data prestasi belajar siswa (nilai raport semesterII) Rxy : Adalah angka indeks korelasi ³r´ product moment ™Xy : Jumlah hasil perkalian antara X dan Y

™X : Jumlah seluruh skor X ™Y : Jumlah seluruh skor Y N : Number of Cases 1. Memberikan Interpretasi terhadap angka indeks korelasi ³r´ product moment. 1. Interpretasi kasar atau sederhana, yaitu dengan mencocokkan perhitungan dengan angka indeks korelasi ³r´ product moment. Interpretasi menggunakan tabel nilai ³r´ product moment (rt), dengan terlebih dahulu mencari derajat besarnya (db) atau degress of freedom (df) yang rumusnya adalah : df = N-nr df : Degrees of Freedom N : Number of Cases Nr : Banyaknya variabel (Motivasi Siswa dan Prestasi belajar) Kemudian dengan melihat Tabel nilai Koefisisen Korelasi ³r´ Product Moment dari Pearson untuk Berbagai (df).

Tizar Rahmawan

mencerminkan keadaan populasinya secara cermat. Kerepresentatifan sampel merupakan kriteria terpenting dalam pemilihan sampel dalam kaitannya dengan maksud menggeneralisasikan hasil-hasil penelitian sampel terhadap populasinya. Jika keadaan sampel semakin berbeda dengan kakarteristik populasinya, maka semakin besar kemungkinan kekeliruan dalam generalisasinya. Jadi, hal-hal yang dibahas dalam bagian Populasi dan Sampel adalah (a) identifikasi dan batasan-batasan tentang populasi atau subjek penelitian, (b) prosedur dan teknik pengambilan sampel, serta (c) besarnya sampel. c. Instrumen penelitian Pada bagian ini dikemukakan instrumen yang digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti. Sesudah itu barulah dipaparkan prosedur pengembangan instrumen pengumpulan data atau pemilihan alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian. Dengan cara ini akan terlihat apakah instrumen yang digunakan sesuai dengan variabel yang diukur, paling tidak ditinjau dari segi isinya. Sebuah instrumen yang baik juag harus memenuhi persyaratan reliabilitas. Dalam tesis, terutama disertasi, harus ada bagian yang menjelaskan proses validasi instrumen. Apabila instrumen yang digunakan tidak dibuat sendiri oleh peneliti, tetap ada kewajiban untuk melaporkan tingkat validitas dan reliabilitas instrumen yang digunakan. Hal lain yang perlu diungkapkan dalam instrumen penelitian adalah cara pemberian skor atau kode terhadap masing-masing butir pertanyaan/pernyataan. Untuk alat dan bahan harus disebutkan secara cermat spesifikasi teknis dari alat yang digunakan dan karakteristik bahan yang dipakai. Dalam ilmu eksakta istilah instrumen penelitian kadangkala dipandang kurang tepat karena belum mencakup keseluruhan hal yang digunakan dalam penelitian. Oleh karena itu, subbab instrumen penelitian dapat diganti dengan Alat dan Bahan. d. Pengumpulan Data Bagian ini menguraikan (a) langkah-langkah yang ditempuh dab teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data, (b) kualifikasi dan jumlah petugas yang terlibat dalam proses pengumpulan data, serta (c) jadwal waktu pelaksanaan pengumpulan data. Jika peneliti menggunakan orang lain sebagai pelaksana pengumpulan data, perlu dijelaskan cara pemilihan serta upaya mempersiapkan mereka untuk menjalankan tugas. Proses mendapatkan ijin penelitian, menemui pejabat yang berwenang, dan hal lain yang sejenis tidak perlu dilaporkan, walaupun tidak dapat dilewatkan dalam proses pelaksanaan penelitian. e. Analisis Data

Pada bagian ini diuraikan jenis analisis statistik yang digunakan. Dilihat dari metodenya, ada dua jenis statistik yang dapat dipilih, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Dalam statistik inferensial terdapat statistik parametrikdan statistik nonparametrik. Pemilihan jenis analisis data sangat ditentukan oleh jenis data yang dikumpulkan dengan tetap berorientasi pada tujuan yang hendak dicapai atau hipotesis yang hendak diuji. Oleh karena itu, yang pokok untuk diperhatikan dalam analisis data adalah ketepatan teknik analisisnya, bukan kecanggihannya. Beberapa teknik analisis statistik parametrik memang lebih canggih dan karenanya mampu memberikan informasi yang lebih akurat jika dibandingkan dengan teknik analisis sejenis dalam statistik

nonparametrik. Penerapan statistik parametrik secara tepat harus memenuhi beberapa persyaratan (asumsi), sedangkan penerapan statistik nonparametrik tidak menuntut persyaratan tertentu. Di samping penjelasan tentang jenis atau teknik analisis data yang digunakan, perlu juga dijelaskan alasan pemilihannya. Apabila teknik analisis data yang dipilih sudah cukup dikenal, maka pembahasannya tidak perlu dilakukan secara panjang lebar. Sebaliknya, jika teknik analisis data yang digunakan tidak sering digunakan (kurang populer), maka uraian tentang analisis ini perlu diberikan secara lebih rinci. Apabila dalam analisis ini digunakan komputer perlu disebutkan programnya, misalnya SPSS for Windows. 10. Landasan Teori Dalam kegiatan ilmiah, dugaan atau jawaban sementara terhadap suatu masalah haruslah menggunakan pengetahuan ilmiah (ilmu) sebagai dasar argumentasi dalam mengkaji persoalan. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh jawaban yang dapat diandalkan. Sebelum mengajukan hipotesis peneliti wajib mengkaji teori-teori dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan masalah yang diteliti yang dipaparkan dalam Landasan Teori atau Kajian Pustaka. Untuk dapat memberikan deskripsi teoritis terhadapvar ia be l yang diteliti, maka diperlukan adanya kajian teori yang mendalam. Selanjutnya, argumentasi atas hipotesis yang diajukan menuntut peneliti untuk mengintegrasikan teori yang dipilih sebagai landasan penelitian dengan hasil kajian mengenai temuan penelitian yang relevan. Pembahasan terhadap hasil penelitian tidak dilakukan secara terpisah dalam satu subbab tersendiri. Bahan-bahan kajian pustaka dapat diangkat dari berbagai sumber seperti jurnal penelitian, disertasi, tesis, skripsi, laporan penelitian, buku teks, makalah, laporan seminar dan diskusi ilmiah, terbitan-terbitan resmi pemerintah dan lembaga-lembaga lain. Akan lebih baik jika kajian teoretis dan telaah terhadap temuan-temuan penelitian didasarkan pada sumber kepustakaan primer, yaitu bahan pustaka yang isinya bersumber pada temuan penelitian. Sumber kepustakaan sekunder dapat dipergunakan sebagai

penunjang. Pemilihan bahan pustaka yang akan dikaji didasarkan pada dua kriteria, yakni (1) prinsip kemutakhiran (kecuali untuk penelitian historis) dan (2) prinsip relevansi. Prinsip kemutakhiran penting karena ilmu berkembang dengan cepat. Sebuah teori yang efektif pada suatu periode mungkin sudah ditinggalkan pada periode berikutnya. Dengan prinsip kemutakhiran, peneliti dapat berargumentasi berdasar teori-teori yang pada waktu itu dipandang paling representatif. Hal serupa berlaku juga terhadap telaah laporanlaporan penelitian. Prinsip relevansi diperlukan untuk menghasilkan kajian pustaka yang erat kaitannya dengan masalah yang diteliti. 11. Daftar Rujukan Bahan pustaka yang dimasukkan dalam daftar rujukan harus sudah disebutkan dalam teks. Artinya, bahan pustaka yang hanya digunakan sebagai bahan bacaan tetapi tidak dirujuk dalam teks tidak dimasukkan dalam daftar rujukan. Sebaliknya, semua bahan pustaka yang disebutkan dalam skripsi, tesis, dan disertasi harus dicantumkan dalam daftar rujukan. Tatacara penulisan daftar rujukan. Unsur yang ditulis secara berurutan meliputi: 1. nama penulis ditulis dengan urutan: nama akhir, nama awal, nama tengah, tanpa gelar akademik, 2. tahun penerbitan 3. judul, termasuk subjudul 4. kota tempat

PENDIDIKAN ORANG DEWASA
Makalah PENDIDIKAN ORANG DEWASA (POD)/PENDIDIKAN KRITIS dibuat oleh : M.Abdurrahman Mulia | 210303060026

Latar Masalah :

Pendidikan anak bangsa tidak terjadi di ruang hampa, tetapi dalam realita perubahan sosial yang amat dahsyat. Pendidikan di sekolah merupakan salah satu subsistem dari seluruh sistem pendidikan yang terdiri dari sentra keluarga, masyarakat, media, dan sekolah. Konsep keluarga inti dengan satu bapak yang bekerja mencari nafkah, satu ibu yang mengayomi dengan penuh kasih sayang di rumah, dan anak-anak yang bahagia dan mendapat cukup perhatian, sudah sulit dipertahankan dalam era pascamodern. Keluarga dan sekolah Keluarga pascamodern diwarnai keadaan kedua orangtua sama-sama mencari nafkah, angka perceraian meroket, keluarga dengan hanya satu orangtua dan keluarga yang mempekerjakan anak-anak mereka. Globalisasi telah membawa berbagai kemajuan sekaligus penyakit sosial. Kemiskinan struktural yang menimpa kaum marginal telah merampok masa kanak-kanak dari sebagian anak dan memaksa mereka menjadi pekerja untuk menghidupi keluarganya. Dulu orangtua dianggap sosok yang bijaksana dan cukup tahu mengenai cara-cara mengasuh dan mendidik anak. Sejalan dengan peran ibu dalam keluarga, anak dianggap polos dan membutuhkan pengarahan serta perlindungan orangtua. Sebaliknya dalam pandangan pascamodern, anak-anak dianggap kompeten: siap dan mampu menghadapi kegetiran hidup. Pandangan baru ini muncul bukan karena anak sudah kompeten, tetapi karena orangtua dan masyarakat pascamodern membutuhkan anak yang kompeten: anak yang mampu menerima kenyataan perceraian orangtua, yang tidak terguncang melihat kesadisan pembunuhan baik di televisi maupun dalam kehidupan nyata, yang mampu mencari nafkah di jalan untuk disetorkan kepada orangtua atau kepala kelompok mereka, serta yang mampu menghadapi berbagai kekacauan dalam masyarakat. Sementara itu, lingkungan masyarakat dianggap bukan tempat bagi generasi muda untuk belajar bagaimana bertingkah laku karena banyak kenyataan yang merupakan hal yang harus diubah. Banyak kebobrokan dalam masyarakat menjadi kontraproduktif dalam proses pendidikan anak. Belum adanya kesadaran tentang pentingnya lingkungan yang sehat, rendahnya kepatuhan kepada hukum yang berlaku, anarkisme, serta praktik negosiasi antara penguasa dan

penegak hukum dengan pelanggar hukum menunjukkan betapa masyarakat belum menjadi tempat pendidikan yang sehat bagi anak. Hal ini diperparah rekaman berbagai kerusakan di masyarakat baik berupa fakta, opini atas fakta, simbolisasi, anekdot maupun distorsinya dalam media yang telah menjadi bahan pembelajaran tak resmi bagi anak. Tumpuan harapan Dalam konteks sosial ini, sekolah dijadikan tumpuan harapan untuk mendidik generasi muda. Sekolah menanggung beban kurang seimbang dalam proses pendidikan anak-anak muda. Sebagian beban ini adalah tanggung jawab keluarga dan masyarakat. Sekolah menerima lemparan tanggung jawab ini dengan berbagai alasan, mulai dari alasan moral dan sosial, penugasan dari yang berkuasa (negara), sampai alasan finansial (uang SPP dan lain-lain dari orangtua untuk membayar pelaksanaan tanggung jawab ini). Padahal, dalam kenyataannya, sekolah (formal) tidak lagi mampu menanggung beban sosial ini. Kekurangsadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan merupakan fenomena pedang bermata dua. Seperti pada APBN dan APBD, anggaran rumah tangga untuk pendidikan (formal) dalam kebanyakan keluarga di Indonesia masih rendah. Fenomena ini bisa jadi merupakan bentuk ketidakpercayaan masyarakat terhadap signifikansi proses pendidikan dalam sistem sekolah formal guna mengubah kualitas hidup. Proses di sekolah dianggap ritual formalitas yang berkisar dari menjemukan hingga menyiksa anak, namun perlu dilakukan agar mendapat pengakuan resmi pemerintah berupa ijazah agar bisa masuk jenjang berikutnya. Sekolah hanya dianggap sebagai lembaga pemberi ijazah. Di tingkat perguruan tinggi, terungkapnya kasus pembelian gelar dan ijazah sebagai jalan pintas yang melibatkan beberapa pejabat dan anggota dewan merupakan pucuk gunung es dari ketidakpercayaan terhadap proses pemelajaran dalam sistem formal. Bagi keluarga miskin, harga yang harus mereka bayar untuk membeli ijazah ini terlalu mahal sehingga putus sekolah merupakan konsekuensi logis. Sedangkan bagi keluarga mampu secara finansial, biaya minimal untuk mengikuti formalitas perolehan ijazah direlakan asal tidak terlalu menggerogoti anggaran rumah tangga. Rendahnya kepedulian

Di beberapa sekolah swasta yang tidak menetapkan uang sumbangan masuk yang sama bagi tiap siswa, proses tawar-menawar²seperti di pasar tradisional²antara orangtua/wali dengan panitia penerimaan siswa baru, merupakan ritual rutin yang mengawali proses pendidikan anak di sekolah. Ketidakrelaan orangtua membayar biaya pendidikan sebesar yang seharusnya mereka tanggung, menunjukkan rendahnya kepedulian mereka terhadap pentingnya pendidikan bagi anaknya sendiri. Biaya lebih besar dianggarkan untuk pendidikan nonformal (les pelajaran, musik, seni, sanggar, dan sebagainya). Ketika sekolah-sekolah formal (negeri dan swasta) terjebak dalam hegemoni negara dan tidak berdaya untuk mengakhiri gejala dehumanisasi dalam pendidikan dan saat lembaga-lembaga pelatihan nonformal (kursus dan lembaga bimbingan belajar) ikut terjebak industrialisasi dan komodifikasi ilmu pengetahuan dan keterampilan, beberapa lembaga swadaya masyarakat memprakarsai sekolah-sekolah alternatif yang diharapkan bisa menembus kebekuan dan status quo dalam sistem pendidikan nasional. Sejarah panjang intervensi negara dalam sistem pendidikan warganya ikut mengikis kepedulian dan kemampuan masyarakat. Kasus anak SD bunuh diri karena tidak bisa bayar SPP hanya menyengat sebagian warga sampai dengan rasa belas kasihan belaka, namun tidak cukup serius untuk membangkitkan kesadaran dan gerakan dari masyarakat secara signifikan guna memperbaiki dirinya sendiri dan meningkatkan kualitas hidupnya.
Pendidikan Yang Tidak Memerdekakan

´Terobosan paling menggairahkan pada abad ke-21 terjadi bukan karena teknologi, tetapi perkembangan konsep mengenai apa artinya menjadi manusia.´ Orang boleh tidak percaya, tetapi begitulah keyakinan John Naisbitt dan Patricia Aburdene, penulis seri buku Megatrends 2000 yang begitu populer pada tahun-tahun menjelang pergantian abad lalu. Akan tetapi, Naisbitt dan Aburdene bukanlah pendahulu. Mereka sekadar membaca fenomena. Sebab, dalam bahasa yang berbeda, Sokrates (470-399 SM) bahkan sudah mengingatkan hal serupa lebih dari 20 abad lampau. Sementara di Tanah Air, N Driyarkara ²tokoh filsafat pendidikan dan kajian-kajian humaniora²pun sudah sejak lama melihat betapa pentingnya menempatkan manusia dan kemanusiaan dalam gerak maju suatu

peradaban. Begitu pula dengan YB Mangunwijaya, arsitek-sastrawan-pendidik, yang getol memberi ruang kebebasan kreatif bagi anak-anak agar memiliki kemandirian sebagai manusia lewat Sekolah Mangunan-nya. Kalau kemudian ahli filsafat M Sastrapratedja sampai mengutip kembali pandangan Naisbitt ini dalam salah satu esainya, ´Apa dan Siapakah Manusia?´, sesungguhnya itu lebih dimaksudkan sebagai penegasan kembali bahwa kesadaran akan keberadaan manusia dan kemanusiaanlah yang menjadi titik sentral kehidupan di muka Bumi ini. Manusia, kata Sastrapratedja, sepanjang sejarahnya berusaha menjawab pertanyaan yang diajukan kepada dirinya sendiri: apakah dan siapakah manusia itu? Pada titik ini kita pun lalu bersentuhan dengan apa yang dinamakan kebudayaan, suatu sarana bagi manusia untuk mewujudkan dirinya sebagai manusia. Pertanyaan dan pernyataan filosofis ini bisa terus berlanjut, tetapi pada akhirnya ia akan memasuki ranah pendidikan. ´(Itu) lantaran dinamika ilmu dan teknologi akan semakin menentukan corak kebudayaan manusia. Pendidikan adalah bagian tak terpisahkan dari aktivitas membudaya itu. Pendidikan adalah usaha manusia untuk menyerap kebudayaannya,´ kata Sastrapratedja, guru besar STF Driyarkara Jakarta yang juga pernah memimpin lembaga tersebut (1984-1988), serta menjadi Rektor Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang (1989-1993), dan Rektor Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (1993-2001). Dalam perspektif kajian humaniora, pada hakikatnya pendidikan haruslah bisa mengembangkan potensi peserta didik dalam berbagai dimensi kemanusiaannya. Oleh karena itu, insan pendidikan lalu mengenal taksonomi Bloom, yang secara gamblang menyatakan bahwa pendidikan haruslah mengemban tiga aspek sekaligus: kognitif (pengetahuan), afektif (sikap), dan psikomotor (keterampilan). Lewat ketiga aspek ini, seluruh potensi peserta didik diberi kesempatan tumbuh dan berkembang. Guru sebagai pendidik (bukan pengajar) pun dituntut agar mengembangkan model pembelajaran yang memungkinkan ketiga aspek itu berkecambah secara simultan-seimbang, tanpa mendewakan salah satunya. Menjadi aneh bila pendidikan hanya mengejar salah satunya, taruhlah lebih menomorsatukan kemampuan akademis semata, yang berorientasi pada hasil belajar. Pengetahuan intelektual memang perlu, tetapi bukan yang terpenting dalam kehidupan anak sebagai manusia. Bakat-bakat seni, olahraga, religiositas, serta moral dan sikap sosial, misalnya, juga tak kalah pentingnya. Kreativitas dan sikap selalu ingin tahu pada akhirnya menuntut (meminjam istilah YB Mangunwijaya) model pendidikan yang eksploratif.

Pengembangan kepribadian, itulah kata kuncinya! Suatu prinsip pendidikan (lagi-lagi mengutip pandangan Mangunwijaya) yang berupaya mengembangkan bakat dan potensi anak secara total-integral. ´Semua itu demi pembentukan kepribadian yang selengkap mungkin tetapi seimbang,´ begitu Mangunwijaya (alm) pernah berucap. Pertanyaannya kemudian, sudahkah sistem pendidikan kita memberi iklim dan ruang kepada para pembelajar agar benar-benar bisa mengembangkan potensi dirinya dari berbagai dimensi kemanusiaannya? Sudahkah dimensi filsafat pendidikan menjadi bagian tak terpisahkan dalam sistem persekolahan di negeri ini? Bandul kian menjauh Ketika dunia pemikiran pedagogis dan didaktik meyakini pengembangan kreativitas manusia (baca: peserta didik) yang mensyaratkan pendidikan sebagai suatu proses menjadi sarana utama untuk memanusiakan manusia, berbagai kebijakan pendidikan di Tanah Air akhir-akhir ini justru cenderung kian menjauh dari arus besar itu. Semangat untuk menempatkan pendidikan sebagai suatu tujuan dengan mengutamakan produk akhir kini kian kental menyungkupi dunia pendidikan di Tanah Air. Pendidikan diperlakukan tak ubahnya komoditas ekonomi, seperti dunia industri: yang penting produk akhirnya, sementara bagaimana produk itu dibuat seolah bukan lagi urusan pemerintah. Masih segar di ingatan ketika Wakil Presiden Jusuf Kalla menanggapi suara para praktisi dan ahli pendidikan yang mengkritik kebijakannya mengenai ujian nasional (UN) sebagai penentu kelulusan. Melalui media ini, yang diundang khusus ke Istana Wapres di Jalan Merdeka Selatan, Jakarta , Jusuf Kalla mengilustrasikan dunia pendidikan tak ubahnya seperti produk pakaian jadi. Sebagai konsumen, ia tidak peduli bagaimana proses pembuatan pakaian itu, karena yang penting adalah setelah jadi baju tersebut bagus atau jelek. Paralel dengan perumpamaan tersebut, dalam kaitan dengan kebijakan UN sebagai penentu kelulusan, terkesan kuat betapa pemerintah ingin segera memanen hasil yang bagus. Kuat pula kecenderungan, pemerintah menafikan kenyataan bahwa hasil itu tidak berkorelasi dengan kerja keras seperti yang diinginkan. Fenomena besar yang terjadi justru lebih banyak

diperoleh dengan cara-cara yang jauh dari prinsip-prinsip dasar pendidikan yang baik. Pendidikan sebagai suatu proses diabaikan, pengembangan kepribadian ditinggalkan, yang terjadi adalah bagaimana agar peserta didik bisa lolos dari hadangan UN. Lembaga bimbingan belajar (baca: bimbingan tes) pun menjamur, bahkan pada banyak sekolah sudah masuk ruang kelas. Pada tahun terakhir menjelang pelaksanaan UN, apa yang disebut belajar lebih banyak berbentuk latihan mengerjakan soal-soal yang diprediksi akan muncul dalam UN. Lebih menyedihkan lagi, mata pelajaran lain yang tidak diujikan secara nasional tidak lagi dianggap penting. Ketika ujian berlangsung, kasak-kusuk terekam di mana-mana. Guru memberi kunci jawaban kini sudah jadi berita basi di media massa . Kecurangan menjadi hal yang biasa, bahkan cenderung ditutup-tutupi oleh kalangan birokrat pendidikan.

Beberapa renungan Itulah sebagian wajah pendidikan kita hari ini. Setelah wacana mengenai pendidikan ´siap pakai´ meredup bersama tenggelamnya kebijakan pendidikan link and match, munculnya semangat untuk mengembalikan kelas sebagai tempat belajar yang menyenangkan bagi peserta didik sempat membesarkan hati. Akan tetapi, gagasan cemerlang yang disuarakan kembali oleh mantan Menteri Pendidikan Nasional A Malik Fadjar itu hanya sempat bergulir dalam bentuk wacana. Kebijakan UN sebagai penentu kelulusan telah merampas semua harapan itu. ´Bagaimana mungkin kelas bisa menjadi tempat belajar yang menyenangkan kalau anak dan guru selalu dibayangi oleh soal-soal UN yang akan mereka hadapi? Yang terjadi, anak-anak berpikir tentang ujian dan apa yang akan diujikan. Guru pun berpikir serupa tentang apa yang akan ia ajarkan supaya cocok dengan apa yang mau diujikan di UN. Alhasil, pendidikan yang benar-benar pendidikan, yang memungkinkan anak-anak bisa mengeksplorasi berbagai potensi dalam dirinya, justru ditinggalkan,´ kata Soedijarto, tokoh pendidikan yang juga adalah Ketua Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI). Jika demikian halnya, wajar bila muncul semacam gugatan: untuk apa pendidikan (baca: persekolahan) diselenggarakan? Untuk

mengejar nilai UN atau memerdekakan anak menuju pendewasaan dan kemandirian mereka? Boleh jadi para birokrat pendidikan menganggap ini pertanyaan sederhana. Namun, cobalah pahami dan renungkan sejenak: apakah capaian-capaian dari nilai UN yang diraih oleh peserta didik dari sekolah-sekolah yang menempati peringkat atas pada UN 2006²konon semua peserta UN pada satu SMA di Bali mampu mencetak nilai sempurna (baca: 10!) untuk mata uji Matematika²menjadi jaminan keberhasilan hidup mereka pada masa depan? Apakah capaian ´prestasi mengagumkan´ yang diperoleh satu SMP swasta di sebuah kota kecil di Jawa Timur pada UN 2006 lalu benar-benar hasil kerja keras mereka dalam belajar selama tiga tahun terakhir? Benarkah 92 persen mereka yang lulus dari hadangan UN 2006 adalah potret sesungguhnya kemajuan pendidikan di Indonesia ? Amanat para pendiri bangsa ini, sebagaimana tertuang dalam Pembukaan UUD 1945, memang secara eksplisit menginginkan pendidikan dilaksanakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi, pengertian ´mencerdaskan kehidupan bangsa´ itu sendiri sesungguhnya masih abstrak. Ia membutuhkan perangkat-perangkat pendukung untuk pengimplementasiannya, yang dalam kenyataannya tidaklah sesederhana seperti mengukur ´anak cerdas´ lewat soal-soal UN. Jika mengikuti kecenderungan pendidikan kita akhir-akhir ini yang bertumpu pada hasil (terlihat pada UN) dan bukan pada proses pembelajaran, maka benar sinyalemen seorang praktisi pendidikan dalam sebuah diskusi di harian Kompas, awal November lalu. Bahwa, pola pendidikan yang kita anut saat ini lebih menekankan pada capaian akademis, yang hasilnya antara lain adalah untuk memenangi lomba-lomba hingga tingkat olimpiade sains. Indikasi itu sangat jelas terlihat dari keterangan-keterangan yang disampaikan para birokrat pendidikan setiap kali bangsa ini tampil di berbagai lomba olimpiade tersebut. Akan tetapi, pola pendidikan yang dianut sesungguhnya lebih bersifat pendrilan (Soedijarto menyebutnya dengan istilah ´pembelajaran dengan model penyekapan´) sehingga apa yang dinamakan kreativitas terabaikan. Semangat untuk selalu bertanya dan mencari jawaban atas berbagai persoalan riil kehidupan ditenggelamkan oleh tuntutan untuk menyiasati soal-soal pilihan ganda yang akan muncul dalam UN. Kemampuan menyelidik dan meneliti yang harus dikembangkan sebagai komponen dasar agar menjadi anak yang inovatif kini disapu oleh kesibukan guru-murid lewat pembelajaran dengan model ´penyekapan´ tadi. Hanya karena negeri ini terpuruk,

tertinggal dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain, lalu untuk menyejajarkan langkah ditempuhlah cara-cara yang instan. Pertanyaannya, semua ini untuk apa dan siapa? Untuk membekali anak sehingga mampu mandiri, yang pada akhirnya bisa mengangkat harkat dan martabat bangsa dalam pergaulan di dunia internasional, ataukah sesungguhnya demi ambisi-ambisi kekuasaan semata? Jangan-jangan benar sinyalemen YB Mangunwijaya (alm). Bahwa, katanya, ´Dunia pendidikan²historis empiris²selalu menjadi instrumen para penguasa untuk mengonsolidasi dan melegitimasi kemapanan mereka. Juga demi reproduksi sikap dan mental yang melestarikan dan memperkuat status quo kekuasaan mereka.´ Jika itu benar, ini pula yang menjadi kerisauan Francis Bacon beberapa abad lampau: knowledge is power!
Pentingnya Paradigma Baru Dalam Pendidikan

Proses pembelajaran yang dialami siswa tidak hanya untuk mengembangkan kemampuan, tetapi ada hal yang lebih penting lagi, yakni mengembangkan kesadaran baru dan membangun keyakinan serta sikap. Meski dalam UUD 1945 disebutkan bahwa salah satu tugas negara (pemerintah) adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam praktiknya hal itu masih jauh dari kenyataan. Buktinya, sampai hari ini pun tidak semua orang bisa mengakses pendidikan dengan leluasa. Padahal, dalam pasal 31 UUD 1945 disebutkan bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran. Kemiskinan, salah satunya, menjadi salah satu faktor penyebab sebagian besar masyarakat kita putus sekolah atau bahkan tidak pernah tersentuh sama sekali oleh pendidikan. Seperti, pemerintah kurang tanggap dan peduli dalam mengentaskan kemiskinan dan kebodohan tersebut. Tidak heran, jika dikatakan bahwa visi pendidikan nasional masih belum berpihak pada kelompok marginal. Sebagai contoh, mahalnya biaya pendidikan menunjukkan ketidakberpihakan pemerintah terhadap rakyat kecil. Yang dapat melanjutkan sekolah sampai perguruan tinggi, umumnya adalah orang-orang kaya. Akibat eksklusivitas pendidikan tersebut, masyarakat miskin pun menjadi sulit untuk mengubah kehidupannya. Mereka pun akhirnya sering diidentikkan dengan kebodohan. Parahnya, sifat fatalistik yang begitu kuat melekat pada masyarakat kita menyebabkan kemiskinan dianggap sebagai nasib atau takdir yang harus diterima. Masyarakat miskin dengan tabah menjalani nasibnya, tanpa ada perlawanan terhadap sistem yang telah membuat mereka miskin. Seharusnya kondisi ini tidak terjadi, jika masyarakat kita sadar bahwa kemiskinan itu bisa dicegah melalui proses pendidikan yang dibangun dari komunitasnya sendiri.

Pendidikan seharusnya menjadi alat perlawanan bagi kaum tertindas untuk melawan kemiskinan dan kesewenang-wenangan dari penguasa yang tidak berpihak pada rakyat jelata. Menurut aktivis pendidikan Boy Fidro, pendidikan adalah alat untuk membangun kesadaran yang kritis, sehingga dia menjadi individu yang begitu peka terhadap lingkungannya. Jika masyarakat kita sudah mencapai kesadaran maka mereka tidak akan lagi memposisikan kemiskinan sebagai sesuatu yang harus diterima apa adanya. Mereka akan mempertanyakan mengapa kemiskinan tersebut terjadi pada mereka. Jika sikap kritis ini sudah muncul, maka kelompok miskin akan bangkit dari penindasan yang mereka alami selama ini. "Mereka tidak lagi menjadi masyarakat bisu, yang hanya nrimo," ujar nya. Salah satu usaha yang dapat kita lakukan daripada permasalahan-permasalahan diatas adalah dengan pendidikan kritis yang diperkenalkan oleh Paulo Freire.
Pendidikan Orang Dewasa Pendidikan orang dewasa (POD) seringkali dikonotasikan sebagai pendidikan di luar sekolah. Secara konseptual, POD bisa digunakan baik untuk pendidikan di sekolah maupun di luar sekolah.

Menurut Freire, pendidikan adalah alat yang vital untuk membebaskan atau sebaliknya membelenggu pikiran manusia. PENDIDIKAN KRITIS DAN PAULO FREIRE Paulo Freire adalah seorang aktivis dari Brazil yang pada awalnya bekerja dalam program pemerintah (penyuluhan dan pemberantasan buta huruf). Dalam konteks politik di Brazil saat itu, pendidikan masyarakat sangat erat terkait dengan hak-hak politik terutama untuk memiliki hak pilih dalam Pemilu dan hak menyampaikan pendapat/pikiran. Karena itu, pekerjaan Freire menjadi politis, dan sepakterjangnya mulai dianggap sebagai kegiatan subversif sehingga dia dipenjarakan dan dibuang oleh Pemerintahnya yang bersifat diktatorial.

Pandangan-pandangan Freire yang dianggap berbahaya semuanya berkenaan dengan kritik dan upayanya untuk menjadikan pendidikan sebagai media penyadaran masyarakat akan hak-hak

politiknya melalui apa yang disebut sebagai µpendidikan kritis¶. Freire mengecam sistem pendidikan µgaya bank¶ yang menjadikan manusia sebagai wadah kosong yang perlu diisi penuh-penuh tanpa terjadinya proses refleksi kritis. Menurut Freire, pendidikan berguna untuk 2 hal utama: 1) mengembangkan kesadaran kritis; 2) lalu setelah hal yang pertama itu dimiliki oleh masyarakat, bisa menjadikan mereka mampu melakukan tindakan untuk membebaskan diri dari penindasan. Ada 2 buku utama yang ditulis oleh Freire yang sangat populer, yaitu: Pendidikan Kaum Tertindas (Paedagogy of The Oppressed) dan Aksi Budaya untuk Pembebasan (Cultural Action for Freedom) yang keduanya ditulis tahun 1970-an.

Pemikiran Freire sangat berpengaruh di kalangan teoritisi pembangunan dan aktivis LSM di seluruh dunia karena didorong oleh kesamaan konteks ketertindasan masyarakat yang terjadi di berbagai belahan dunia, baik karena ketidakberdayaan, kebisuan, kemiskinan, pembodohan, serta terlalu berlebihannya kekuasaan pihak Pemerintah.

Konsep Pendidikan Orang Dewasa (POD)
Orang dewasa lebih banyak belajar dari pengalaman. Seringkali orang bilang: ³Pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga´. Tapi, apa artinya pengalaman kalau kita tidak menarik pelajaran (lesson learned) dari pengalaman tersebut? Paulo Freire menyebut kegiatan belajar sebagai proses AKSI-REFLEKSI-AKSI atau disebut juga sebagai proses DIALEKTIKA. Refleksi artinya merenungi, menganalisis, atau memaknai suatu peristiwa atau keadaan atau pengalaman, sehingga timbul kesadaran. Kesadaran itu mendorong suatu tindakan atau aksi. Proses dialektika terjadi karena perenungan itu menjadi pelajaran dan mendasari aksi berikutnya terutama untuk mengatasi dan mencari jalan keluar dari masalah yang terjadi. Karena itulah, konsep belajar Paulo Freire juga disebut sebagai PENDIDIKAN HADAP MASALAH. Konsep Pendidikan Orang Dewasa (POD) berkembang dari pemikiran Paulo Freire. POD adalah kegiatan belajar yang terorganisir, dan memiliki tujuan yang jelas. Karena orang dewasa belajar bukan hanya untuk belajar, melainkan belajar untuk bisa digunakan dalam kehidupan mereka, maka POD lebih menekankan pada upaya peningkatan keterampilan (K) baru yang dapat mendorong perubahan perilaku peserta belajar. Pencapaian tujuan POD diukur dengan perubahan perilaku tersebut: artinya, seseorang dianggap meningkat kemampuannya bila hasil belajarnya bisa diterapkan dalam pekerjaan atau kehidupannya.

Daur Belajar Orang Dewasa Proses AKSI-REFLEKSI-AKSI atau DIALEKTIKA yang dijabarkan oleh Paulo Freire adalah sebuah daur pembelajaran Pengamatan & Pemikiran - Kesimpulan (Konseptualisasi) ± Penerapan/Praktek ± Pengalaman Nyata ± Pengamatan, dstrsny(berputar). Prinsip-prinsip POD Orang dewasa bukanlah ´gelas kosong´ yang dengan mudah dapat dituangkan sesuatu ke dalamnya. Orang dewasa adalah orang-orang yang kaya pengalaman, punya pendirian dan sikap nilai tertentu. Prinsip-prinsip belajar dengan orang dewasa, yaitu: y Prinsip pertama; tidak menggurui atau mengajari orang dewasa, tetapi ajaklah mereka BELAJAR bersama, karena:  Orang dewasa menganggap dirinya mampu BELAJAR sendiri.  Orang dewasa mampu mengatur dirinya sendiri (mandiri) dan tidak suka diajari apalagi diperintah kecuali jika mereka diberi kesempatan untuk bertanya mengapa? Dan mengambil keputusan sendiri.  Sikap yang terkesan mengguruinya akan cenderung ditolaknya, atau dihindarinya. y Prinsip Kedua; jangan menyalahkan atau merendahkan pendapat masyarakat (Orang Dewasa), karena:  Harga diri sangat penting bagi orang dewasa. Dia menuntut untuk dihargai, terutama menyangkut diri dan kehidupannya.  Orang dewasa memilki kesadaran akan dirinya dalam menanggapi penilaian orang lain. y Prinsip Ketiga; Kembangkan proses belajar dari pengalaman masyarakat atau hubungkan antara teori dengan kehidupan sehari-hari masyarakat karena:  Orang dewasa lebih senang mengobrol dan diskusi pengalaman untuk membicarakan hal-hal yang berkaitan dengan diri mereka dan lingkungan 

Orang dewasa senang menceritakan pengalamannya dan senang mendengarkan pengalaman orang lain. y Prinsip Keempat; Berikan informasi yang memang dibutuhkan masyarakat, karena:  Setiap orang dewasa mengontrol proses belajarnya, karena ia selalu punya tujuan pribadi untuk belajar.  Orang dewasa tidak suka belajar sesuatau yang tidak bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari (tidak suka TEORI yang tidak diaplikasikan)  Orang dewasa cenderung ingin segera menerapkan pengetahuan dan keterampilan baru. y Prinsip Kelima; pertimbangan keterbatasan kemampuan belajar masyarakat (Orang Dewasa), karena kemampuan untuk menyerap informasi juga semakin kurang berdasar usia dan perubahan fisik.

Konsep Participatory Learning and Action (PLA)
Belajar bersama masyarakat adalah belajar untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kualitas hidupnya. Orang dewasa tidak butuh belajar teori yang tidak relevan dengan kehidupannya. Orang dewasa belajar politik bukan hanya sekedar untuk bahan diskusi, tetapi juga digunakan untuk memahami sepakterjang penguasa dan agar bisa menggunakan hak-hak politiknya. Petani, belajar teori wanatani, supaya bisa dikembangkan di kebunnya. Itu sebabnya berkembang istilah seperti pembelajaran aksi (participatory learning and action): karena orang dewasa belajar agar bisa bertindak. Dalam konsep PLA, 3 agenda harus menjadi satu kesatuan, yaitu: pengkajian - pembelajaran masyarakat ± dan aksi.

Berbagai Istilah yang Digunakan
Pemikiran Paulo Freire berakar dari aliran pemikiran di kalangan pendukung teori sosial kritis yang mewacanakan µgerakan emansipasi manusia¶. Tetapi, pemikiran Paulo Freire sendiri kemudian menjadi lebih terkemuka dan memberi inspirasi kepada banyak kalangan yang

bekerja dalam berbagai kegiatan pendidikan. Bermacam-macam istilah atau sebutan digunakan untuk menamakan kegiatan pendidikan dengan filosofi Freire a.l.:

y Pendidikan non-formal

y

y Pendidikan transformatif

y Pendidikan luar sekolah

y Pendidikan penyadaran

y Pendidikan orang dewasa

y Pendidikan kritis

y Pendidikan alternatif

y Pendidikan pembebasan (liberatif)

y dll

Peluang Penerapan POD Dalam Pendidikan

Indonesia
Pendidikan orang dewasa (POD) atau adult education sebenarnya lebih tepat diartikan sebagai pendidikan yang mendewasakan daripada sebagai pendidikan untuk orang dewasa menurut kriteria

usia. Prinsip dan proses pendidikan kritis atau pendidikan yang mendewasakan ini seharusnya bisa juga diterapkan di sekolah, agar anak-anak sejak dini berlatih mengembangkan kemampuan analisanya disesuaikan dengan tingkatan usia

Yang menggembirakan, sejumlah lembaga swadaya masyarakat memprakarsai sekolah-sekolah alternatif guna menampung anak-anak miskin yang tidak bisa diakomodasi sekolah-sekolah formal. Ada sanggar anak, sekolah anak rakyat, komunitas pinggir kali, dan sebagainya. Di kalangan kelas menengah, muncul gerakan homeschooling sebagai bentuk ketidakpercayaan kepada sekolah formal. Meski masih bersifat sporadis dan belum cukup banyak dibanding kompleksitas berbagai persoalan di masyarakat, upaya-upaya alternatif ini merupakan bagian dinamika proses negosiasi dimensi formal dan nonformal pendidikan. Seperti kata Habermas, ´before a society can effectively intervene in its own course, it must first develop a subsystem that specializes in producing collectively binding decisions.´ Berbagai kegiatan pendidikan alternatif sedang melakukan suatu perjalanan panjang yang diharapkan akan bisa mengajak masyarakat untuk memberdayakan dan mengatur diri demi kebaikan di masa datang. Be Critical!!
REFERENSI : 1. Kompas rubric opini, Rabu/14 Sept 2005 ; Pendidikan Alternatif dan Perubahan Sosial : Anita Lie 2. Kompas rubric humaniora, Kamis/5 Juli 2007 ; Pendidikan Belum Memerdekakan 3. Kompas rubruk dikbud, Rabu/23 april 2003 ; Pendidikan Belum Berpihak Pada Kaum Marjinal 4. Kompas Laporan Akhir Tahun, Rabu/13 Des 2006 ; Pendidikan Mau Ke Mana? : Kenedy Nurhan

5. Hands Out Workshop Menjadi Fasilitator oleh Yayasan KalYanamandira

udul : Meningkatkan Kemampuan Guru SMA Menggunakan Media Pembelajaran Matematika Melalui Pelatihan Model ´Kelasmen´ Pada Sekolah Binaan Di Kabupaten Dompu Tahun 2009 I. Pendahuluan A. Latar Belakang

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh suatu asumsi bahwa peningkatan mutu pembelajaran di sekolah dapat dicapai melalui peningkatan mutu sumber daya manusia (guru dan tenaga kependidikan lainnya), walaupun diakui bahwa komponen-komponen lain turut memberikan kontribusi dalam peningkatan mutu pembelajaran. Peningkatan sumber daya menusia telah banyak dilakukan pemerintah, terutama peningkatan kompetensi guru. Usaha ini berupa peningkatan kompetensi melalui pendidikan dan pelatihan, workshop atau bentuk lainnya. Disamping itu, peningkatan profesionalisme guru juga dilakukan melalui kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) bagi guru Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan guru Sekolah Menengah Atas (SMA), atau pola-pola lain seperti seminar, lokakarya atau workshop. Namun demikian prestasi belajar siswa masih memprihatinkan dan sampai saat ini kenyataannya bahwa prestasi belajar yang dicapai secara nasional belum semuanya sesuai dengan standar minimal yang ditetapkan pemerintah. Hal yang sama juga terjadi terhadap guru matematika di sekolah binaan Penulis di kabupaten Dompu. Pelatihan terhadap guru-guru di sekolah binaan tersebut telah banyak diikutkan dalam kegiatan diklat baik yang dilaksanakan oleh Pengawas Binaan itu sendiri, LPMP, Bimtek KTSPSSN oleh Direktorat Pembinaan SMA yang difasilitasi oleh Fasilitator Pusata maupun daerah, PPPPTK, atau oleh Dinas Pendidikan Kota Dompu, namun hasil belajar siswa mereka masih dibawah standar yang diharapkan. Pengamatan yang dilakukan peneliti selama menjadi fasilitator dalam kegiatan workshop atau diklat , bahwa pada struktur program dalam panduana pelatihan yang disusun pada setiap kegiatan diklat atau workshop, masih didominasi oleh kegiatan menyusun administrasi pembelajaran, dan hanya sedikit kegiatan yang membimbing guru dalam penguasaan materi serta penggunaan media pembelajaran. Disamping itu, pada umumnya para guru yang telah mengikuti diklat atau workshop jarang mensosialisasikan hasil-hasil diklatnya kepada rekan-rekan mereka di sekolah. Hal ini terjadi karena kepala sekolah mereka jarang memberi kesempatan untuk mensosialisasikan hasil diklat kepada rekan-rekannya di sekolah.

Berdasarkan hal tersebut, Nawawi (1993) menyatakan bahwa ´ program kelas tidak akan berarti bilamana tidak terwujudkan menjadi kegiatan. Untuk itu peranan guru sangat menentukan karena kedudukannya sebagai pemimpin pendidikan di antara peserta didik dalam suatu kelas´. Guru bertanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana yang dapat mendorong peserta didik untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan di dalam kelas. Untuk menunjang tugas tersebut maka guru perlu ditunjang dengan kemampuan profesional yang memadai. Guru yang profesional adalah guru yang menguasai kurikulum, menguasai materi pelajaran, menguasai metode-metode pembelajaran, menguasai penggunaan media pembelajaran, menguasai teknik penilaian pembelajaran, dan komitmen terhadap tugas. Dengan demikian diharapkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru, dapat dicapai tanpa pemborosan waktu, tenaga, material, finansial, dan bahkan pemikiran sehingga pada gilirannya tujuan sekolah dapat dicapai secara efektif dan efisien. Beeby (1987) menyatakan bahwa pelajaran-pelajaran yang diberikan guru amat kurang sekali variasinya, dan dengan sedikit kekecualian, pola yang sama telah menjadi standar di ulang-ulang sepanjang jam pelajaran sekolah. Kadang-kadang guru mulai mengajar dengan hanya mendiktekan saja pelajarannya dan jika masih ada waktu baru memberikan penjelasan sekedarnya tanpa variasi dengan penggunaan media yang sesuai maupun sumber-sumber belajar yang memadai. Apabila kebiasaan seperti itu tetap dipraktekan oleh para guru di kelas selama proses pembelajaran, maka dapat dipastikan bahwa peningkatan mutu pendidikan akan sulit dicapai. Pada umumnya kegiatan guru hanya mentrasfer pengetahuan atau pengalamannya dengan sedikit memberi kesempatan siswa untuk berdiskusi dan diakhiri dengan pemberian tugas atau latihan tanpa menggunakan media dan sumber belajar yang memadai. Hasil pengamatan atau dialog peneliti dengan beberapa guru di sekolah binaan di kota Dompu, bahwa kebanyakan mereka kurang menguasai penggunaan media dan sumber belajar yang ada sehingga pembelajaran yang mereka laksanakan masih didominasi dengan cara mentrasfer dari pada menciptakan pembelajaran yang memberi kesempatan siswa untuk mengkonstruksi pengetahuannya. Bettencourt,1989 dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (2006) menyatakan ³Konsep keilmuan tidak dapat ditransfer oleh guru kepada siswa melainkan siswa itu sendiri yang mengkonstruksinya dari data yang diperoleh melalui pancaindranya´. Oleh karena itu diperlukan adanya perubahan paradigma dalam melaksanakan pembelajaran yang semula guru berpikir bagaimana mengajar menjadi berpikir bagaimana siswa belajar. Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti berkeinginan membantu guru meningkatkan kemampuan mereka menggunakan media Pembelajaran Matematika Melalui Pelatihan model ´Kelasmen´. B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang ada, maka yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah

1. Bagaimana meningkatkan kemampuan guru sekolah dasar dalam menggunakan media pembelajaran matematika melalui pelatihan model ´Kelasmen´? 2. Bagaimana kemampuan guru sekolah dasar dalam menggunakan media pembelajaran setelah mengikuti Pelatihan model ´Kelasmen´? C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan model pelatihan yang dapat meningkatkan kemampuan guru menggunakan media pembelajaran dan ketrampilan menggunakan media pembelajaran. D. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai alternatif untuk meningkatkan kemampuan guru menggunakan media pembelajaran. II. Tinjauan Pustaka A. Konsep Pembelajaran Dalam Diklat Proses pembelajaran dalam arti luas merupakan jantung dari pendidikan, untuk membangun watak dan karakter dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pembelajaran atau instruction merupakan konsep pedagogik yang secara teknis diartikan sebagai upaya sistimatik dan sistemik untuk menciptakan lingkungan belajar yang potensial, menghasilkan proses belajar yang bermuara pada berkembangnya potensi individu sebagai peserta didik. Dalam UndangUndang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) Nomor 20 tahun 2003 disebutkan bahwa ³ Pembelajaran diartikan sebagai ³ « proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar´. Sedangkan belajar menurut Gredler (1986:1) ³ adalah proses yang dilakukan manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, sklls and attitudes. Para pakar psikologi melihat prilaku belajar sebagai proses psikologi individu dalam interaksinya dengan lingkungan secara alami, sedangkan pakar pendidikan melihat perilaku belajar sebagi proses psikologi-pedagogis yang ditandai dengan adanya interaksi individu dengan lingkungan belajar yang sengaja diciptakan. Jadi belajar dan pembelajaran memiliki keterkaitan substansi dan fungsional. Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) merupakan wahana pembelajaran orang dewasa atau andragogik yang berbasis bekal ajar awal, bersifat peningkatan kinerja profesional bagi pendidik dan tenaga kependidikan. Oleh karena itu strategi pembelajaran dalam diklat seyogyanya menerapkan paradigma meta-learning and meta-teaching yang berarti widyaiswara berempati pada posisi bagaimana peserta diklat belajar dan membelajarkan untuk tujuan profesional development (pengembangan profesional). Dengan demikian proses pembelajaran dalam diklat harus mampu memfasilitasi interaksi kesejawatan yang memungkinkan terjadinya saling berbagi ide dan pengalaman guna meningkatkan kinerja profesional.

B. Prinsip Pembelajaran Dalam Diklat Diklat merupakan pendidikan bagi orang dewasa yang mengembangkan interaksi antara penatar dengan peserta diklat dengan menerapkan prinsip-prinsip andragogy/pendidikan orang dewasa. Pusdiklat Depdiknas (2003) menguraikan aplikasi prinsip pembelajaran orang dewasa antara lain sebagai berikut : a. Orang dewasa perlu mengetahui mengapa mereka harus mempelajari sesuatu dan harus siap belajar. Alasannya adalah pada awal pembelajaran sebagai pegantar harus ada kaitan isi materi diklat dengan pekerjaan mereka. Bagian ini merupakan bagian penting untuk meletakkan dasar yang kuat dari kseluruhan pembelajaran. b. Peserta diklat cenderung berfokus pada kegiatan pembelajaran yang berkaitan dengan kehidupan, tugas, dan pemecahan masalah. Prinsip ini memberitahukan bahwa orang dewasa ingin memperoleh pengetahuan yang praktis dan menerapkan hal-hal yang dipelajari dalam pekerjaan mereka atau dalam kehidupan pribadi. c. Peserta diklat dapat belajar dengan baik, ketika berpraktek dan bekerja atas dasar pengetahuan dan keterampilan serta sikap baru. Disamping itu, proses belajar untuk orang dewasa dapat menganut model yang dikembangkan oleh Kolb, DA (1984) yaitu membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Menurut model ini proses belajar berlangsung melalui empat fase atau tahapan yang melipuiti :
y y y y

Individu memperoleh pengalaman langsung dan konkret Dikembangkan observasi dan dipikirkan atau merefleksikannya Akan terbentuk generalisasi dan abstraksi Implikasi yang diambil dari konsep tersebut dijadikan pengalaman baru.

Agar terjadi hasil pembelajaran yang efektif oleh peserta diklat, mereka harus mempunyai empat macam kemampuan sebagai berikut :
No 1 Kemampuan Concrete experience (CE) Uraian Peserta diklat melibatkan diri sepenuhnya dalam pengalaman baru Pengutamaan Feeling (perasaan)

2

Reflection Observation (RO) Peserta diklat mengobservasi dan Watching (mengamati) merefeksi atau memikirkan pengalaman dari berbagai segi Abstract conceptualization Peserta diklat menciptakan (AC) konsep-konsep yang mengintegrasikan Thinking (berpikir)

3

pengamatannya menjadi teori yang sehat 4 Active eksperimentation (AE) Peserta Diklat menggunakan teori Doing (berbuat) itu untuk memecahkan masalahmasalah dan mengambil keputusan

C. Pelatihan Model ³ Kelasmen´ Model Pelatihan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah pelatihan model ´Kelasmen´ yang dilandasi teori belajar konstruktivis yang memberi kesempatan peserta mengkomunikasikan pengetahuan dan pengalamannya setelah menggunakan media pembelajaran. Model pelatihan tersebut berdasarkan pada proses belajar untuk orang dewasa yang dikembangkan oleh Kolb, DA (1984) yaitu membangun pengetahuan melalui transformasi pengalaman. Untuk mengungkapkan tingkat keterlibatan dan pemahaman peserta pada penelitian ini digunakan kerangka kerja ´Kelasmen´ yaitu model pelatihan yang dimulai dari KegiatanPenjelasan- Implementasi yang diadopsi dari teori belajar Action Process Object Scema (APOS) dari Dubinsky (2000) Kegiatan (tindakan) adalah manipulasi fisik atau mental yang dapat diulang yang mentransformasikan obyek dengan suatu cara. Bila keseluruhan kegiatan menempati seluruhnya dalam pikiran individu atau hanya diimajinasikan/dibayangkan (saat terjadi) tanpa individu memerlukan semua langkah-langkah khusus, maka kegiatan itu telah diinteriorisasikan menjadi suatu penjelasan. Kejadian-kejadian kognitif yang dapat menginteriorisasikan suatu kegiatan menuju suatu penjelasan dikatakan bahwa perkembangan pengetahuan peserta berada pada tahap intra. Bila penjelasan-penjelasan itu sendiri ditransformasikan oleh suatu tindakan maka dikatakan bahwa penjelasan telah dienkapsulasikan menjadi kemampuan mengimplementasikan. Bila hal ini terjadi yaitu peserta mampu mengenkapsulasi suatu penjelasan menuju kemampuan mengimplementasikan, maka perkembangan keterampilan peserta dikatakan berada pada tahap inter. Disamping mengungkapkan tingkat pemahaman peserta, kerangka kerja ´Kelasmen´ juga dapat dipakai untuk mengungkapkan tingkat keterlibatan peserta dalam proses belajar. Keterlibatan peserta tersebut dapat diamati dari tindakan (kegiatan) yang dilakukan peserta dengan menggunakan berbagai media (alat) dalam menyelesaikan masalah, mengkomunikasikan (penjelasan) pengetahuan kepada peserta lain, mengimplementasikan berbagai media dalam pembelajaran suatu konsep yang dihadapi dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. D. Langkah-Langkah Pelatihan

1. Fase-fase Pelatihan Ciri utama pelatihan model ´Kelasmen´ adalah pelatihan yang dimulai dari melakukan kegiatan manipulasi, mengkomunikasikan hasil kegiatan sehingga tercipta kerjasama diantara sesama peserta, dan kemampuan mengimplementasikan dengam konsep-konsep baru dalam pembelajaran. Ada enam fase utama dalam pelatihan model ´Kelasmen´. Keenam fase itu disajikan seperti pada tabel berikut :
Fase Indikator Aktifitas fasilitator Aktifitas Peserta

1

Fasilitator menjelaskan tujuan pelatihan, menjelaskan sarana/bahan Orientasi peserta kepada yang dibutuhkan, memotivasi peserta Memperhatikan penjelasan masalah fasilitator dan tanya jawab untuk terlibat dalam pemecahan tentang tugas-tugas yang akan masalah dengan melakukan suatu dilakukan kegiatan atau tindakan Membantu peserta mendefinisikan Membentuk kelompok dan mengorganisasikan tugas belajar heterogen berdasarkan yang berhubungan dengan masalah kemampuan, keterampilan dan pemahaman mereka tentang media pembelajaran Fasilitator mendorong peserta untuk Mendiskusikan masalah yang melakukan sesuatu dengan diberikan fasilitator tentang menggunakan material manipulatif, pengertian, jenis, fungsi dan gambar-gambar atau sumber-sumber penggunaan media dalam lain untuk memecahkan masalah kegiatan pembelajaran Fasilitator membantu peserta menjelaskan atau mengkomunikasikan hasil karya kepada peserta lain Mendemonstrasikan penggunaan media pembelajaran sesuai topik bahasan yang dipilih
y

2

Mengorganisasikan peserta untuk belajar

3

Membimbing peserta melakukan sesuatu baik secara individu maupun kelompok

4

Menjelaskan atau mengkomunikasikan hasil karya berdasarkan yang telah dilakukan

5

Mengembangkan masalah dalam bentukbentuk lain

Fasilitator mendorong dan membimbing peserta mengembangkan masalah dengan cara-cara lain

y

Menjelaskan cara pembuatan, penggunaan dan keterkaitan media dengan konsep yang diajarkan Mengembangkan media pembelajaran sesuai sumber-sumber yang ada

6

Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Fasilitator membantu peserta untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan

Merangkum dan mendokumentasikan pengalaman atau hasil yang mereka peroleh

2. Pelaksanaan Pelatihan Fase 1 : Orientasi peserta kepada masalah Agar kegiatan peserta berorientasi kepada masalah, maka perencanaan pelatihan yang dirancang dan dimulai dari kegiatan penetapan tujuan yang jelas, kemudian merancang situasi masalah yang akan diselesaikan peserta, dan mengorganisasikan sumber daya serta rencana logistik yang digunakan. a. Penetapan tujuan Dalam pelaksanaannya, pelatihan model ´Kelasmen´ diarahkan untuk mencapai tujuan yang sifatnya membantu peserta mengembangkan ketrampilan berpikir dan pemecahan masalah, dan menjadi peserta yang mandiri b. Merancang situasi Pelatihan model ´Kelasmen´ dirancang untuk memberi keleluasaan kepada peserta memilih masalah untuk diselidiki dan dicoba, karena cara ini dapat meningkatkan motivasi peserta. Masalah yang dirancang sebaiknya authentik, mengandung teka-teki, memungkinkan kerjasama, c. Organisasi sumber daya dan rencana logistik Dalam pelatihan model ³Kelasmen´ peserta belajar dengan berbagai sarana, material, atau peralatan. Pelaksanaannya dapat dilakukan di kelas, di laboratorium, di perpustakaan atau di luar kelas bahkan di luar tempat pelatihan. Oleh karena itu pengorganisasian sumber daya dan logistik menjadi tugas fasilitator yang utama dalam merancang pelatihan model ³Kelasmen´ Fase 2 : Mengorganisasikan peserta untuk belajar Pelatihan model ´Kelasmen´ dibutuhkan pengembangan ketrampilan kerjasama dalam melakukan sesuatu untuk memecahkan masalah. Untuk itu perlu bantuan fasilitator dalam merencanakan dan mengorganisasikan tugas-tugas peserta, sehingga diperlukan kelompok belajar kooperatif. Pengorganisasian peserta dalam kelompok ini memperhatikan kemampuan/keterampilan akademik peserta, sosial, ekonomi, budaya bahkan agama. Fase 3 : Membimbing peserta melakukan sesuatu baik secara individu maupun kelompok Pada fase ini fasilitator membantu peserta mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, dilatih dengan berbagai pertanyaan untuk membantu peserta memikirkan suatu tindakan untuk

memecahkan masalah. Disamping itu fasilitator mendorong peserta untuk melakukan sesuatu dengan menggunakan material manipulatif, gambar-gambar atau simbol-simbol untuk memecahkan masalah Fase 4 : Menjelaskan atau mengkomunikasikan hasil karya Fasilitator mendorong terjadinya pertukaran informasi atau ide secara bebas dalam melatih peserta mengkomunikasikan konsep yang dimiliki sehingga terciptanya kemampuan peserta menjelaskan konsep menggunakan media/sumber pada peserta lain. Fase 5 : Mengembangkan masalah dalam bentuk-bentuk lain Fasilitator mendorong dan membimbing peserta mengembangkan masalah dengan cara menyajikan dalam bentuk lain. Fase 6 : Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah Tugas fasilitator pada fase akhir ini adalah membantu peserta menganalisis dan mengevaluasi proses berpikir mereka sendiri, dan ketrampilan penyelidikan yang mereka gunakan. ENAKTIF Peserta menggunakan material untuk memecahkan masalah IKONIK Peserta menggunakan gambar untuk memecahkan masalah 3. Alur Pelatihan.

III. Prosedur Penelitian A. Setting Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Lima sekolah binaan yaitu SMAN 1 Dompu, SMA Negeri 1 Kempo, SMA 2 Kempo, SMA 1 Woja dan SMA Kosgoro Dompu dengan sasaran 15 orang guru Matematika yang mengajar di kelas X , XI dan XII . Waktu penelitian selama tiga bulan mulai pertengahan Januari 2009 sampai pertengahan Maret 2009. Pelatihan ini dilaksanakan di dua wilayah kecamatan binaan pada siklus ke-1 pusat kegiatan di SMA Kosgoro Dompu, dan siklus ke-2 di pusaaatkan di SMAN 1 Kempo. B. Tahap-Tahap Penelitian. Tahap-tahap yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah (1) tahap pendahuluan/refleksi awal, (2) tahap perencanaan, (3) tahap pelaksanaan tindakan, (4) tahap observasi dan (5) tahap refleksi. Uraian masing-masing tahap tersebut adalah sebagai berikut: (1). Tahap Pendahuluan/Refleksi Awal Pada tahap refleksi awal kegiatan yang dilakukan peneliti adalah dialog dengan kepala sekolah dan guru matematika tentang kemampuan mereka menggunakan media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. (2)Tahap Perencanaan

Pada tahap perencanaan, kegiatan yang dilakukan adalah menyusun struktur program pelatihan, menyiapkan bahan-bahan pelatihan, menyiapkan alat/media pembelajaran yang dibutuhkan dalam pelatihan, menyusun instrumen pengamatan peserta dan fasilitator, menyusun jadwal kegiatan pelatihan. Penelitian ini direncanakan terlaksana sebanyak dua siklus, yaitu siklus kesatu melaksanakan tindakan pelatihan dengan menggunakan metode pembelajaran deduktif. Siklus kedua melaksanakan tindakan pelatihan dengan menggunakan metode pembelajaran induktif (3). Tahap Pelaksanaan Tindakan Pelaksanaan tindakan yang dimaksudkan adalah melaksanakan pelatihan sesuai rencana dengan skenario sebagai berikut Siklus 1. : Menerapkan pelatihan model ³Kelasmen´ dengan menggunakan metode deduktif yaitu peserta diberikan pemahaman penggunaan media pembelajaran secara teoritis (enactive, iconic) kemudian peserta mendiskusikan dan menggunakannya dalam pembelajaran dikelompok masing-masing Siklus 2.: Menerapkan Pelatihan model ³Kelasmen´ dengan menggunakan metode induktif yaitu peserta diminta menggunakan media pembelajaran dan menjelaskan cara menggunakannya pada peserta lain. (4). Observasi Kegiatan observasi adalah mengamati aktivitas peserta diklat dengan menggunakan lembar observasi yang telah disiapkan dan dilakukan oleh teman sejawat (5). Refleksi Pada kegiatan refleksi, peneliti melakukan diskusi dengan pengamat untuk menjaring hal-hal yang terjadi sebelum dan selama tindakan berlangsung berdasarkan hasil pengamatan, catatan lapangan, dan hasil wawancara dengan subyek penelitian agar dapat diambil kesimpulan dalam merencanakan tindakan selanjutnya. C. Data dan Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah guru matematika di SMA binaan tersebut yang mengajar di kelas X ,XI dan XII . Sedangkan data penelitian adalah data kualitatif yang diperoleh dari : 1. Pengamatan Partisipatif.

Pengamatan partisipatif dilakukan oleh orang yang terlibat secara aktif dalam proses pelaksanaan tindakan dengan menggunakan lembar pengamatan. Hasil pengamatan digunakan untuk menilai keaktifan peserta dalam mengikuti diklat dan kontribusinya dalam membantu teman sejawat menyelesaikan masalah

2.

Keterampilan mendesain media pembelajaran

Untuk menilai kemampuan peserta mendesain media sederhana menggunakan lingkungan sekitar sesuai mata diklat 3. Keterampilan menggunakan media pembelajaran.

Untuk menilai keterampilan peserta diklat dalam mengimplementasikan media pembelajaran 4. Wawancara.

Wawancara dimaksudkan untuk menggali kesulitan peserta dalam mendesain dan mnggunakan media pembelajaran

D. Analisis Data
Moleong (1999 :190) menyatakan bahwa proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, foto dan sebagainya. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif yaitu analisis berdasarkan penalaran logika. Analisis tersebut digunakan atas pertimbangan bahwa, jenis data yang diperoleh berbentuk kalimat-kalimat dan aktivitas-aktivitas peserta diklat Jadwal Kegiatan Penelitian Kegiatan penelitian direncanakan terjadwal seperti berikut :
Pelaksanaan

Kegiatan

Maret 09 1 2 3 4

April 09 1 2 3 4

Mei 09 1 2 3 4

Juni 09 1 2 3 4

1. Persiapan

a. b.

Penyusunan proposal Pengiriman proposal

c. Penyusunan instrumen penelitian dan daftar wawancara d. Penyusunan skenario

pelatihan dan penyiapan bahanbahan lain yang diperlukan
2. Pelaksanaan

a.

Seminar proposal

b. Revisi proposal, instrumen penelitian dan daftar wawancara c. Pengambilan data di lapangan

d. Analisis data dan verifikasi data e. f. Seminar hasil Penyusunan draft laporan

3. Pelaporan

a.

Penyusunan laporan akhir

b. Pengiriman laporan Rencana Anggaran
Harga Satuan Jumlah Biaya

N0
1

Kegiatan/Sub Kegiatan/Jenis
Belanja jasa lainnya a. Penyusunan proposal dan laporan

Volume

1 keg.

2 1 2 2

b. Penyusunan materi/modul/bahan ajar 1 keg. c. Penyusunan instrumen penelitian 1 keg.

d. Penyusunan lembar kegiatan peserta 2 keg. Jumlah 2 Belanja Barang operasional lainnya a. Pengadaan media/alat peraga 2 keg.

2 2

b. Penggandaan bahan materi penunjang 2 keg.

Jumlah 3 Transportasi lainnya a. Transport, konsumsi peserta b. Transport, konsumsi pengamat c. Transport, konsumsi peneliti Jumlah total 2 keg. 2 keg. 2 keg. 12 2 2

Daftar Pustaka 1. Beeby, C.E. 1987. Pendidikan di Indonesia. Terjemahan BP3Kdan YIIS, Jakarta.

2. Depdiknas. 2003. Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003. Jakarta. 3. Depdiknas. 2007. Pedoman Pengembangan Strategi Pembelajaran Pendidikan Dan Penataran Pendidikan Formal Jakarta. 4. 5. Gredler, Bell Margaret E.1986. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers. Kolb,DA. 1984. Experiential Learning. Engelwood Clitfs New Jersey Prentice Hall

6. Nawawi, Hadari. 1993. Organisasi Sekolah dan Pengelolaan Kelas. Jakarta : Gunung Agung. 7. Pusdiklat. 2003. Prinsip-prinsip Manajemen Penataran. Sawangan: Pusdiklat Pegawai Depdiknas
8. Zazkis, R & Campbell, S. 1996. Divisibility and Multiplicative Structure of Natural Numbers. Preservice Teachers Understanding. Journal For Research in Mathematics Education. 27(5): 540-563.

hmmm Kita besok mo presentasi rekkkk, muga sukses... amiennn ANDRAGOGI

TUGAS KELOMPOK

Oleh : Kelompok 1

UNIVERSITAS NEGERI MALANG TEKNOLOGI PENDIDIKAN OKTOBER 2009

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesadaran bahwa belajar adalah proses menjadi dirinya sendiri (process of becoming person) bukan proses untuk dibentuk (process of beings haped) menurut kehendak orang lain, membawa kesadaran yang lain bahwa kegiatan belajar harus melibatkan individu atau client dalam proses pemikiran: apa yang mereka inginkan, apa yang dilakukan, menentukan dan merencanakan serta melakukan tindakan apa saja yang perlu untuk memenuhi keinginan tersebut. Inti dari pendidikan adalah menolong orang belajar bagaimana memikirkan diri mereka sendiri, mengatur urusan kehidupan mereka sendiri untuk berkembang dan matang, dengan mempertimbangkan bahwa mereka juga sebagai makhluk sosial. Di tahun 70 an dikenal sebuah proyek yang disebut dengan PPSP (Proyek Perintis Sekolah Pembangunan). Pada waktu itu, siswa dibebaskan menentukan seberapa cepat dia bisa menyelesaikan masa studinya. Siswa diberi Lembaran Kegiatan Siswa (LKS) yang berisikan tentang teori-teori materi yang dipelajari, dan kalau siswa beranggapan sudah menguasai, maka diberi lembar latihan dari LKS tadi dan kalau sudah merasa siap, maka siswa bisa mengambil sendiri Lembar Test Formatif. Fungsi Guru pada waktu itu adalah menjelaskan apabila bertanya dan menilai hasil test formatif tersebut. Di PPSP ini, murid kelas 1 SMP (waktu itu disebut kelas 6), itu bisa saja menempuh pelajaran kelas 2 SMP (kelas 7) maupun menempuh kelas 8 (3 SMP), sehingga pada waktu itu, cukup banyak yang mampu menempuh level SMP hanya dalam waktu 2 tahun. PPSP mencanangkan program SD hanya 5 tahun, SMP bisa ditempuh 2 tahun dan SMA juga bisa ditempuh 2 tahun juga, tergantung kepada kemampuan dari siswa. Kegiatan belajar yang melibatkan individu atau client dalam proses menentukan apa yang

mereka inginkan, apa yang akan dilakukan, adalah beberapa prinsip dari teori belajar Andragogi. Teori belajar Andragogi sering juga disebut dengan teori belajar orang dewasa. Makalah ini akan membahas tentang Teori Belajar Andragogi tersebut dan membahas kelemahan serta keunggulannya. 1.2. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian andragogi? 2. Apakah fungsi andragogi? 3. Apa bentuk Perkembangan Teori Andragogi dalam masyarakat? 1.3. Tujuan 1. Mengetahui pengertian andragogi 2. Mengatahui fungsi andragogi 3. Mengetahui Perkembangan Teori Andragogi dalam masyarakat

BAB II BAHASAN 2.1. Andragogi Andragogi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani, yakni Andra berarti orang dewasa dan agogos berarti memimpin. Perdefinisi andragogi kemudian dirumuskan sebagau "Suatu seni dan ilmu untuk membantu orang dewasa belajar". Kata andragogi pertama kali digunakan oleh Alexander Kapp pada tahun 1883 untuk menjelaskan dan merumuskan konsep-konsep dasar teori pendidikan Plato. Meskipun demikian, Kapp tetap membedakan antara pengertian "Socialpedagogy" yang menyiratkan arti pendidikan orang dewasa, dengan andragogi. Dalam rumusan Kapp, "Social-pedagogy" lebih merupakan proses pendidikan pemulihan (remedial) bagi orang dewasa yang cacat. Adapun andragogi, justru lebih merupakan proses pendidikan bagi seluruh orang dewasa, cacat atau tidak cacat secara berkelanjutan. Apa itu pendidikan orang dewasa dan bagaimana dia berbeda dalam teori dan praktek dari persiapan pendidikan anak-anak dan pemuda. Pendidikan orang dewasa didefinisikan, digambarkan serta dipertimbangkan dalam hubungannya dengan profesi pelayanan manusia yang lain. A. Pendidikan dan Sekolah Sejauh ini pendidikan berperan dalam meyiapkan beberapa fungsi stereotip tertentu, situasi

stabil, untuk keeksistensian, untuk perdagangan atau pekerjaan tertentu. Secara garis besar penddidikan dipandang sebagai usaha secara langsung, sistematis, dan mendukung untuk mentransfer, membangkitkan, atau mendapatkan pengetahuan, maka tingkah laku, nilai-nilai, keterampilan, dan hasil yang lainnya dari usaha tersebut,* karenanya jelaslah bahwa pendidikan orang dewasa dan anak-anak seperti yang terdapat sekarang ini dan di masa serta tempat manapun serta melalui banyak aktivitas. Pembelajaran Sepanjang Hayat Penasehat pendidikan sepanjang masa berpendapat bahwa pendidikan adalah sebuah proses yang berlangsung dari satu bentuk ke bentuk yang lain sepanjang hayat, dan itulah tujuan dan bentuk yang harus diadaptasi sesuai dengan kebutuhan tiap individu pada tahapan yang berbeda dalam perkembangan mereka. Pendidikan dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dalam kehidupan dan semua lembaga masyarakat dengan potensi pendidikan dianggap sebagai sumber pembelajaran. 1. konsep dari pembelajaran sepanjang masa berkontradiksi dengan konsep kebijakan konvensional yang kaku dan membingungkan 2. Implikasi besar selanjutnya adalah bahwa masyarakat harus membuat pencegahan yang cukup untuk mencukupi kebutuhan pendidikan bagi orang dewasa yang telah meninggalkan sekolah formal 3. adalah sistem pendidikan formal harus ditata ulang sehingga bisa cukup fleksibel untuk mengakomodasi pilihan-pilihan individu dan menyiapkan pemuda untuk melanjutkan pendidikannya sebagai pelajar yang termotivasi secara mandiri dan kompeten B. Konteks Sosial Pendidikan Sepanjang Masa Teknologi yang berbasis sain dan teknologi pasca-industri yang dimiliki oleh ekonomi modern telah mengarah kepada produktivitas yang meningkat tajam, pendapatan yang bisa dibuang, waktu luang, dan pencapaian pendidikan. Telah diperkirakan bahwa dalam beberapa bidang, seperti teknik dan obat-obatan, ³separuh kehidupan´ dari pendidikan diperoleh di sekolah professional kurang lebih 5 tahun.5 Karenanya, dalam beberapa tahun, separuh dari apa yang dipelajari dokter atau teknisi di ruang kelas menjadi rintangan. Pengetahuan bukan saja terus berkembang besar, tetapi struktur pengetahuan, teknologi, dan pekerjaan menjadi lebih kompleks dan rumit. Tekanan ekonomi dan sosial pada masyarakat paascaindustri juga telah mempengaruhi komposisi sosio-demografis dari negara-negara yang paling terindustrialisasi, dengan berbagai cara yang hampir pasti akan mendorong ekspansi yang terus menerus pada kesempatan belajar sepanjang masa. Perubahan status wanita dalam masyarakat industri yang maju juga memiliki dampak yang penting bagi masa depan pendidikan orang dewasa. Perubahan struktural jangka panjang dalam pasar tenaga kerja mendasari perubahan-perubahan yang terjadi dalam dunia kerja. Penurunan jenis pekerjaan di sektor agraris, bagi pekerja tidak terlatih dan bagi pekerja kasar pada umumnya berpengaruh sangat besar, dengan permintaan

lebih pada pekerjaan kantoran serta sektor pelayanan dan profesional/teknis. Kesimpulannya, tekanan ekonomi, sosio-kultural, dan demografis, dan bukan sekedar harapan dari pendidik yang tercerahkan sedang membantu perwujudan pendidikan sepanjang masa ini. C. Sifat Pendidikan Orang Dewasa Segala jenis pendidikan tentunya melibatkan proses belajar. konsep pendidikan yang dijelaskan sebelumnya yakni usaha secara langsung, sistematis, dan kokoh untuk mengirimkan, memunculkan, atau mendapatkan pengetahuan. Pembelajaran dapat terjadi secara tidak langsung atau insidental, tidak terorganisir, dan dalam waktu yang sangat singkat. Pendidikan orang dewasa itu sendiri terjadi di pembelajaran mandiri, di mana pelajar bertanggungjawab sepenuhnya terhadap desain dan pelaksanaan kegiatan belajar mereka, dan pendidikan terarah lainnnya, dimana guru, pemimpin, tim produksi media, atau agen pendidikan yang lain bertanggungjawab sepenuhnya terhadap manajemen pembelajaran. Sifat belajar bagi orang dewasa adalah bersifat subjektif dan unik, maka terlepas dari benar atau salahnya, segala pendapat, perasaan, pikiran, gagasan, teori, sistem nilainya perlu dihargai. Tidak menghargai (meremehkan dan menyampingkan) harga diri mereka, hanya akan mematikan gairah belajar orang dewasa. Namun demikian, pembelajaran orang dewasa perlu pula mendapatkan kepercayaan dari pembimbingnya, dan pada akhirnya mereka harus mempunyai kepercayaan pada dirinya sendiri. Tanpa kepercayaan diri tersebut, maka suasana belajar yang kondusif tak akan pernah terwujud. Sebagaimana dikatakan Grattan, seseorang harus menyadari perbedaan antara pendidikan dari orang dewasa dan pendidikan orang dewasa karena yang pertama lebih mencakup banyak hal. Orang dewasa memiliki sistem nilai yang berbeda, mempunyai pendapat dan pendirian yang berbeda. Dengan terciptanya suasana yang baik, mereka akan dapat mengemukakan isi hati dan isi pikirannya tanpa rasa takut dan cemas, walaupun mereka saling berbeda pendapat. Orang dewasa mestinya memiliki perasaan bahwa dalam suasana/ situasi belajar yang bagaimanapun, mereka boleh berbeda pendapat dan boleh berbuat salah tanpa dirinya terancam oleh sesuatu sanksi (dipermalukan, pemecatan, cemoohan, dll). Keterbukaan seorang pembimbing sangat membantu bagi kemajuan orang dewasa dalam mengembangkan potensi pribadinya di dalam kelas, atau di tempat pelatihan. Sifat keterbukaan untuk mengungkapkan diri, dan terbuka untuk mendengarkan gagasan, akan berdampak baik bagi kesehatan psikologis, dan psikis mereka. Di samping itu, harus dihindari segala bentuk akibat yang membuat orang dewasa mendapat ejekan, hinaan, atau dipermalukan. Jalan terbaik hanyalah diciptakannya suasana keterbukaan dalam segala hal, sehingga berbagai alternatif kebebasan mengemukakan ide/gagasan dapat diciptakan.\ Dalam hal lainnya, tidak dapat dinafikkan bahwa orang dewasa belajar secara khas dan unik. Faktor tingkat kecerdasan, kepercayaan diri, dan perasaan yang terkendali harus diakui sebagai hak pribadi yang khas sehingga keputusan yang diambil tidak harus selalu sama dengan pribadi orang lain. Kebersamaan dalam kelompok tidak selalu harus sama dalam pribadi, sebab akan sangat membosankan kalau saja suasana yang seakan hanya mengakui satu kebenaran tanpa adanya kritik yang memperlihatkan perbedaan tersebut. Oleh sebab itu, latar belakang

pendidikan, latar belakang kebudayaan, dan pengalaman masa lampau masing-masing individu dapat memberi warna yang berbeda pada setiap keputusan yang diambil. Bagi orang dewasa, terciptanya suasana belajar yang kondusif merupakan suatu fasilitas yang mendorong mereka mau mencoba perilaku baru, berani tampil beda, dapat berlaku dengan sikap baru dan mau mencoba pengetahuan baru yang mereka peroleh. Walaupun sesuatu yang baru mengandung resiko terjadinya kesalahan, namun kesalahan, dan kekeliruan itu sendiri merupakan bagian yang wajar dari belajar. Pada akhirnya, orang dewasa ingin tahu apa arti dirinya dalam kelompok belajar itu. Bagi orang dewasa ada kecenderungan ingin mengetahui kekuatan dan kelemahan dirinya. Dengan demikian, diperlukan adanya evaluasi bersama oleh seluruh anggota kelompok dirasakannya berharga untuk bahan renungan, di mana renungan itu dapat mengevaluasi dirinya dari orang lain yang persepsinya bisa saja memiliki perbedaan. D. Menyikap Definisi * Pendidikan orang dewasa tidak berkaitan dengan hal mempersiapkan orang dalam menjalani kehidupannya tetapi lebih membantu orang dewasa agar mereka sukses dalam menjalani kehidupannya, meningkatkan kompetensi mereka atau transisi negosiasi dalam peran sosial mereka (pekerja, orang tua, pensiunan, dan lain-lain), membantu mereka mendapatkan pemuasan yang lebih baik dalam kehidupan pribadi mereka dan membantu mereka dalam memecahkan masalah pribadi dan masyarakat mereka. Kesimpulan devinisi ³Pendidikan orang dewasa adalah sebuah proses yang peranan sosial utamanya adalah membentuk karakteristik status orang dewasa yang menjalankan aktivitas pembelajaran utuh dan sistematis yang bertujuan memberikan perubahan dalam hal ilmu pengetahuan, tingkah laku, nilai atau kemampuan«.´

E. Tujuan dan Isu ³Istilah pendidikan orang dewasa bermakna seluruh proses edukasi yang terorganisir, apapun isinya, level, metode, apakah formal atau sebaliknya, apakah proses tersebut panjang atau menggantikan pendidikan awal di sekolah, perguruan tinggi, universitas serta dalam kewirausahaan, di mana di dalamnya, orang-orang dianggap sebagai orang dewasa oleh masyarakat dan mereka mengembangkan kemampuan mereka, mendapatkan pengetahuan mereka, meningkatkan kualifikasi teknis dan professional mereka atau mengubah diri mereka mengikuti sebuah arahan baru dan membawa perubahan dalam sikap dan tingkah laku mereka dalam perspektif dua arah pada perkembangan personal dan partisipasi dalam perkembanagaan kultural, ekonomi, sosial independen dan seimbang.´ Definisi ini menyatakan bahwasanya pendidikan orang dewasa sebaiknya dilihat sebagai sebuah komponen integral pada sebuah skema global untuk ³pendidikan dan pembelajaran seumur hidup.´ UNESCO memandang perkembangan sosial dan individual (yaitu komunitas dan nasional)

sebagai tujuan utama yang sama untuk pendidikan orang dewasa, sementara yang lain tidak setuju dan kadang-kadang menolak validitas perkembangan sosial sebagai sebuah tujuan pendidikan. Pendidikan dibedakan dari indoktrinasi, sebuah perbedaan yang mungkin lebih mudah dibuat dalam pendidikan orang dewasa daripada dalam pendidikan swasta. F. Cakupan Bidang Bahwasanya program edukasional ekstensif dalam sektor korporasi yang di-desain untuk membantu para pelanggan dalam menggunakan produk-produk atau pelayanan yang mereka ambil, merupakan sebuah aktivitas yang sama dengan program di rumah sakit dan organisasi perawatan kesehatan yaitu pendidikan terhadap pasien. Kesatuan buruh, juga memberikan ruang yang luas dalam program edukasional bagi anggota mereka dan para pekerja.

2.2. Fungsi Dasar Fungsi dasar pendidikan orang dewasa adalah instruksi, konseling, perkembangan program dan administrasi. Proses pengembangan program melibatkan penilaian pada kebutuhan pelajar, membuat dan mengeksekusi keputusan yang diperlukan dalam aktivitas belajar untuk memposisikan dan mengevaluasi hasil. Keunikan dan keterpusatan fungsi pengembangan program dalam pendidikan orang dewasa berasal dari perbedaan tujuan dan kebutuhan pendidik orang dewasa. Sebuah upaya dilakukan untuk mempertemukan bermacam-macam perubahan individu dan kebutuhan kelompok walaupun berupa program jangka pendek. Hal ini mengikuti pernyataan bahwa pendidikan orang dewasa lebih distandarisasi seperti dalam program remidi atau kesempatan kedua yang mensejajarkan kurikulum pendidikan remaja, dan fungsi pengembangan program tidaklah begitu penting. A. Guru Guru untuk orang dewasa, sebagaimana guru anak-anak dan remaja, juga serius dalam mentransfer dan membangkitkan pengetahuan, sikap, nilai-nilai, serta kemampuan dengan cara yang sistematis. Tentu saja terdapat perbedaan antara mengajarkan orang dewasa dengan remaja, dan tingkat perbedaan ini pada praktiknya bervariasi. Fase ³mentransfer dan membangkitkan´ memperhatikan esensi perbedaan penting ini. Terkadang, karena tradisi dan pendidikan atau karena tingginya struktur sifat mata pelajaran yang akademis dan mengarah pada kejuruan, penekanan pada seting yang lebih formal yang serupa sekolah cenderung pada transfer pengetahuan oleh guru. Konsep pengajaran semacam ini telah lama ditekankan pada kepustakaan profesional karena ia memperhatikan beberapa karakteristik khusus orang dewasa selaku pelajar. Pada kenyataannya, kepustakaan orang dewasa sering tidak menyebut kata guru, tapi pemimpin, mentor, dan fasilitator. Sedang dalam konsep pengajaran ini, kata guru digunakan karena familiar dan, dalam pengertian yang lebih luas, menunjukkan ke semua orang siapa yang secara langsung memfasilitasi pembelajaran. Kondisi, tujuan, dan aktivitas guru orang dewasa yang sangat beragam ditujukan untuk menghindari segala hal kecuali deskripsi yang paling umum. Kebanyakan guru orang dewasa

adalah sukarelawan yang mengajar di banyak komunitas, seperti dalam asosiasi program pendidikan sukarela. B. . Konselor Fungsi konseling yang langsung mempertinggi penyediaan informasi tentang kesempatan pendidikan dan karir, bantuan dalam membut pilihan pendidikan dan pekerjaan, serta bantuan dalam menyelesaikan masalah-masalah yang mengganggu proses belajar. Jumlah konselor orang dewasa yang ditunjuk sangatlah sedikit, sehingga kebanyakan bagian dari konseling yang ada dilakukan oleh guru, pengembang program, dan administrator. Sebuah studi tentang program pendidikan dasar orang dewasa di kota besar melaporkan bahwa kebutuhan akan konseling sangatlah besar dan suplai konselor sangat sedikit, sehingga para guru yang memikulnya tak peduli apakah mereka siap atau tidak. Rasio konselor ke pelajar dalam agen pendidikan sekolah umum orang dewasa yang komprehensif adalah 1 berbanding 5000. Pada lingkup pendidikan yang lebih tinggi, khususnya komunitas perguruan tinggi, rasio ini umumnya lebih kecil, tapi sumberdaya konselor jarang mencukupi kebutuhan. Sebagai bagian dari peraturan, konselor biasanya ada untuk pelajar dewasa dalam pendidikan dasar, penyelesaian sekolah menengah, dan program perguruan tinggi, namun jarang terdapat di lingkup pendidikan yang kurang formal. Ujian dan penyerahan kepada agen pelayanan sosial dan kesehatan cenderung menjadi fungsi konseling yang menonjol di ABE dan program penyelesaian sekolah menengah, sedangkan konseling pekerjaan (biasanya dalam kelompok), bimbingan akademik, dan pengembangan kemampuan studi lebih condong ke karakteristik lingkup pendidikan yang lebih tinggi. Pemberian konseling pada pelajar dewasa, sebagaimana pengajaran mereka, sebagian besar masih dilakukan oleh orang-orang yang meluangkan paruh waktunya untuk mereka. Namun, sepertinya jumlah konselor yang bekerja full-time akan terus bertambah. C. . Pengembang Program / Administrator Mayoritas pendidik orang dewasa yang bekerja full-time dipekerjakan di peran administrati atau semi-administratif yang meliputi pengembangan program dan fungsi manajemen. Pendidik paruh waktu tentu juga memiliki peran yang sama. Faktor lain yang menguatkan bercampurnya peran pengembangan program dan peran administratif dalam pendidikan orang dewasa. Kekurangan staf pengajar yang full-time pada kebanyakan pendidikan orang dewasa menyebabkan administrator perlu memikul fungsi tertentu yang normalnya dikerjakan oleh anggota staf pengajar. Pada banyak kasus, agen pendidikan orang dewasa adalah suatu sub-unit dari organisasi yang lebih besar di mana tujuan utamanya bukanlah pendidikan orang dewasa atau bahkan bukan pendidikan. Kesempatan suksesnya program dan terus-menerus bertambahnya pelajar baru bahkan guru seringkali didasarkan pada koneksi dan hubungan dengan berbagai kelompok dan organisasi dalam komunitas yang lebih luas. Menurut Beder, koneksi dan hubungan bisa jadi sangat krusial dalam menjamin sumberdaya yag diperlukan seperti pelajar, guru, dukungan politis, dan terkadang bahkan fasilitas, serta layanan seperti perawatan anak dan penempatan kerja. Bahkan, unit pendidikan yang mandiri dan kepelatihan pada kemiliteran dan industri pun seringkali

menemukan bahwa membangun hubungan dengan pihak luar, terutama pihak perguruan tinggi dan universitas, sangatlah berguna. D. Studi Kesarjana Meskipun ada perkembangan pesat dalam jumlah program kesarjana dan jumlah kesarjana dengan persiapan formal dalam pendidikan orang dewasa, tapi mayoritas program berbasis universitas ukurannya paling sederhana, setidaknya jika diukur dengan istilah anggota fakultas yang full-time. Tujuan pendidikan, kurikulum-kurikulum, dan orientasi bidang pendidikan orang dewasa di masing-masing program kesarjana berbeda-beda. Beberapa program baru, khususnya yang didirikan dengan bantuan pemerintah pusat di Selatan pada akhir tahun 1960-an, sangat berorientasi pada pelatihan personil pendidikan dasar orang dewasa. Karena kelangkaan posisi full-time bagi pendidik orang dewasalah maka studi kesarjana pada kebanyakan universitas menyanggupi untuk menyiapkan pengembangan program dan peran administrasi dalam spektrum lingkup yang luas. Fleksibilitas juga didapatkan lewat pembelajaran mandiri (yang diarahkan sendiri) yang berbeda dengan menggunakan sarana seperti studi independen, lapangan kerja, dan kursus internship (keahlian). Konsekuensinya, sarjana datang dari background yang berbeda-beda dan biasanya telah memiliki pengalaman profesional dalam pendidikan orang dewasa atau bidang terkait sebelum melewati studi kesarjana. Universitas adalah sebuah institusi yang tidak hanya menyiapkan tenaga pendidik perguruan tinggi. Volume terbesar dari pelatihan pemimpin pendidikan dewasa yang teroganisir terjadi dalam institusi pendukung program, seperti industri dan perusahaan komersial, sekolah umum, departemen pemerintahan yang berperan penting, dan asosiasi sukarelawan. E. Riset (Penelitian) Penciptaan kumpulan ilmu pengetahuan dalam pendidikan perguruan tinggi melalui pencarian yang sistematis dan teratur telah tertinggal jauh dari perkembangan program pelatihan sarjana. Pendidik perguruan tinggi telah sangat bergantung pada teori umum dan penemuan penelitian dalam pendidikan dan ilmu alamiah sosial yang sangat penting bagi semua pendidik. Bagaimanapun juga, kumpulan ilmu pengetahuan umum yang teruji belum terpenuhi. Sementara melalui evaluasi/ analisa menyeluruh dari sseluruh sumbangan para ilmuwan untuk pemahaman kita dari pembelajaran orang dewasa dan pendidikan adalah tidak mungkin disini, kita harus mengingat secara ringkas perkembangan-perkembangan yang berarti. Tidak ada keraguan bahwa ilmuwan sosial akan terus membuat kontribusi penting untuk pemahaman kita tentang pendidikan tinggi dan bahwa peneliti pendidikan tinggi akan melanjutkan untuk menggunakan topic-topik dan penemuan penelitian dari sosialogi, psikologi, ekonomi, dan disiplin ilmu yang lain. Meski yang paling mendasar dan secara luas mempunyai asumsi tentang pembelajar dewasa dan kondisi-kondisi yang mendukung pembelajaran dewasa telah berdampak sangat kecil kepada penelitian ilmiah yang menyeluruh dan teliti. Hal ini belum didemonstrasikan secara jelas, sebagai contoh, bahwa peserta yang aktif oleh orang dewasa dalam merencanakan atau

menerapakan aktifitas belajar mereka mempunyai dampak yang penting pada hasil pendidikan. Kebanyakan riset pada pendidikan tinggi terjadi dalam universitas, dan dalam jumlah terbesar berasal dari mahasiswa program doctor dalam bentuk disertasi. F. Organisasi Profesional Banyak organisasi dimana pendidik orang dewasa dan institusi pendidikan orang dewasanya mempunyai banyak tujuan dan dan kondisi yang memberi karakter pendidikan tinggi saat ini. Organisasi-organisasi ini memenuhi beberapa fungsi penting untuk kelanjutan perkembangan bidang dan praktisinya. Mungkin fungsi paling penting dari organisasi pendidikan orang dewasa adalah perkembangannya professional. G. Identitas Profesional Sifat pendidikan orang dewasa adalah sebuah usaha yang tidak bisa didominasi oleh lembaga manapun dan tidak pernah bisa dikurangi untuk satu tujuan atau fungsi selain memperluas komitmen utnuk manusia dan perkembangan sosial. Dalam beberapa hal, pendidikan orang dewasa sama dengan sub bidang yang lain dalam pendidikan professional yang lebih luas, seperti pendidikan atau bimbingn khusus, tetapi di lain hal sangat berbeda, karena ini tidak terikat pada sekolah-sekolah atau kondisi yang mirip sekilah dan tujuan-tujuannya. 2.3. Perkembangan Teori Andragogi Dalam Masyarakat Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul "The Adult Learner, A Neglected Species" yang diterbitkan pada tahun 1970 mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan. Sebelum muncul Andragogi, yang digunakan dalam kegiatan belajat adalah Pedagogy. Konsep ini menempatkan murid/siswa sebagai obyek di dalam pendidikan, mereka mesti menerima pendidikan yang sudah di setup oleh sistem pendidikan, di setup oleh gurunya/pengajarnya. Apa yang dipelajari, materi yang akan diterima, metode panyampaiannya, dan lain-lain, semua tergantung kepada pengajar dan tergantung kepada sistem. Murid sebagai obyek dari pendidikan. Kelemahannya Pedagogi adalah manusia (dalam hal ini adalah siswa) yang memiliki keunikan, yang memiliki talenta, memiliki minat, memiliki kelebihan, menjadi tidak berkembang, menjadi tidak bisa mengeksplorasi dirinya sendiri, tidak mampu menyampaikan kebenarannya sendiri, sebab yang memiliki kebenaran adalah masa lalu, adalah sesuatu yang sudah mapan dan sudah ada sampai sekarang. Perbedaan bukanlah menjadi hal yang biasa, melainkan jika ada yang berbeda itu akan dianggap sebagai sebuah perlawanan dan pemberontakan. Pedagogy memiliki kelebihan, yakni di dalam menjaga rantai keilmuan yang sudah diawali oleh orang-orang terdahulu, maka rantai emas dan benang merah keilmuan bisa dilanjutkan oleh generasi mendatang. Generasi mendatang tidak perlu mulai dari nol lagi, melainkan tinggal melanjutkan apa yang sudah ditemukan, apa yang sudah dirintis, apa yang sudah dimulai oleh generasi mendatang. Dalam Andragogy inilah, kita kenal istilah-istilah Enjoy Learning, Workshop, Pelatihan Outbond,dll, dan dari konsep Pendidikan Andragogy inilah kemudian muncul konsep-konsep Liberalisme pendidikan, Liberasionisme pendidikan dan Anarkisme pendidikan. Liberalisme

pendidikan bertujuan jangka panjang untuk melestarikan dan memperbaiki tatanan sosial yang ada dengan cara mengajar setiap siswa sebagaimana cara menghadapi persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari secara efektif. Liberasionisme pendidikan adalah sebuah sudut pandang yang menganggap bahwa kita harus segera melakukan perombakan berlingkup besar terhadap tatanan politik (dan pendidikan) yang ada sekarang, sebagai cara untuk memajukan kebebasankebebasan individu dan mempromosikan perujudan potensi-potensi diri semaksimal mungkin. Bagi pendidik liberasionis, sekolah bersifat obyektif namun tidak sentral dan sekolah bukan hanya mengajarkan pada siswa bagaimana berpikir yang efektif secara rasional dan ilmiah, melainkan juga mengajak siswa untuk memahami kebijaksanaan tertinggi yang ada di dalam pemecahan-pemecahan masalah secara intelek yang paling meyakinkan. Dengan kata lain, liberasionisme pendidikan dilandasi oleh sebuah sistem kebenaran yang terbuka. Secara moral, sekolah berkewajiban mengenalkan dan mempromosikan program-program sosial konstruktif dan bukan hanya melatih pikiran siswa. Sekolahpun harus memajukan pola tindakan yang paling meyakinkan yang didukung oleh sebuah analisis obyektif berdasarkan fakta-fakta yang ada. Hal ini sejalan dengan pendapat Aristoteles tentang prinsip pendidikan yaitu sebagai wahana pengkajian fakta-fakta, mencari µyang obyektif¶, melalui pengamatan atas kenyataan. Anarkisme pendidikan pada umumnya menerima sistem penyelidikan eksperimental yang terbuka (pembuktian pengetahuan melalui penalaran ilmiah). Tetapi berbeda dengan liberal dan liberasionis, anarkisme pendidikan beranggapan bahwa harus meminimalkan dan atau menghapuskan pembatasan-pembatasan kelembagaan terhadap perilaku personal, bahwa musti dilakukan untuk membuat masyarakat yang bebas lembaga. Menurut anarkisme pendidikan, pendekatan terbaik terhadap pendidikan adalah pendekatan yang mengupayakan untuk mempercepat perombakan humanistik berskala besar yang mendesak ke dalam masyarakat, dengan cara menghapuskan sistem persekolahan sekalian.

BAB III PENUTUP 3.1. Saran Dalam andragogi, peranan guru, pengajar atau pembimbing yang sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar, maka dalam proses belajar harus memperhatikan elemenelemen: 1. Menciptakan iklim dan suasana yang mendukung proses belajar mandiri 2. Menciptakan mekanisme dan prosedur untuk perencanaan bersama dan partisipatif. 3. Diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar yang spesifik Merumuskan tujuan-tujuan program yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar 4. Merencanakan pola pengalaman belajar 5. Melakukan dan menggunakan pengalaman belajar ini dengan metoda dan teknik yang

memadai. 6. Mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhan-kebutuhan belajar. Ini adalah model proses. Karena ini merupakan pendidikan untuk orang dewasa maka guru, pengajar atau pembimbing lebih berperan sebagai fasilitator untuk mengembangkan kreatifitas dalam pemecahan masalah secara nyata. Semua aktifitas didalam kegiatan belajar haruslah dibicarakan bersana warga belajar, karena sifat dari orang dewasa (matang) mempunyai sifat mapu mengarahkan diri sendiri dan setiap orang mempunyai cara yang berbeda dalam melakukannya, jadi apa yang dilakukan dalam kegiatan belajar haruslah merupakan kesepakatan bersama. 3.2. Kesimpulan Teori Belajar Adragogi dapat diterapkan apabila diyakini bahwa peserta didik (siswa-mahasiswapeserta) adalah pribadi-pribadi yang matang, dapat mengarahkan diri mereka sendiri, mengerti diri sendiri, dapat mengambil keputusan untuk sesuatu yang menyangkut dirinya. Andragogi tidak akan mungkin berkembang apabila meninggalkan ideal dasar orang dewasa sebagai pribadi yang mengarahkan diri sendiri. Yang menjadi tolok ukur sebuah kedewasaan bukanlah umur, namun sikap dan perilaku, sebab tidak jarang orang yang sudah berumur, namun belum dewasa. Memang, menjadi tua adalah suatu keharusan dan menjadi dewasa adalah sebuah pilihan yang tidak setiap individu memilihnya seiring dengan semakin lanjut usianya.

c

PERAN ORANG TUA DALAM MENANAMKAN POLA PIKIR POSITIF BAGI ANAK DI KELUARGA
11:28 zains gazl syakaky No comments

Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Berbagi ke Twitter Berbagi ke Facebook Berbagi ke Google Buzz PERAN ORANG TUA DALAM MENANAMKAN POLA PIKIR POSITIF BAGI ANAK DI KELUARGA MAKALAH Diajukan sebagai tugas akhir Mata Kuliah IPI Dosen : Mulyawan S Nugraha,MPd Disusun Oleh : ALI IMRON

NPM : 2008.1007 SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) SUKABUMI 2010 M /1431 H

KATA PENGANTAR Puji ditentukan kepada Allah SWT.yang telah menciptakan makhluk berpsang-pasangan dan menganugrakan pikiran dan kasih sayang sehingga kita semua bisa saling mencintai dan kasihmengasihi.salawat dan salam semoga dilimpahkan kepada pemdawa sariat yakni, Nabi muhammad SAW. Yang kita harapkan sapaatnya di hari ahir nanti. Penulis bertujuan menyusun Makalah untuk memenuhi tugas IPI.Yang dibimbing oleh bapak Mulyawan S. Nugraha Mpd.selain itu untuk menambah pengetahuan saya di pelajan IpI. Penyusun menyadari masih banyak kesalah dan kekurang tepatan dalam Makalah ini,oleh kara itu saya mohon kritik yang membawa kepada maslahat agar bisa saya jadikan sebagai motivasi.amin. Sukabumi, 1 januari 2011

BAB I 1. Latar belakang Masalah Anak merupakan anugrah dari Allah yang pantas kita syukuri dan amanah yang harus kita jaga dan lindungi, juga merupakan hal yang sangat berharga di mata siapapun, khususnya orangtua. Anak adalah perekat hubungan di dalam keluarga, sehingga dapat dikatakan anak memiliki nilai yang tak terhingga.Banyak fenomena membuktikan orangtua rela berkorban demi keberhasilan anaknya. Tidak jarang ditemukan orangtua yang menghabiskan waktu, sibuk bekerja semata-mata hanya untuk kepentingan anak. Ditinjau dari sisi psikologi, kebutuhan anak bukan hanya sebatas kebutuhan materi semata, anak juga membutuhkan kasih sayang dan perhatian dari orang terdekatnya, khususnya orangtua.Realitanya, banyak anak yang kurang mendapatkan kebutuhan afeksi (kasih sayang), disebabkan orangtua sibuk mencari uang demi untuk memperbaiki perekonomian keluarga.perbedaan persepsi inilah yang terkadang membuat dilema dalam hubungan antara orangtua dan anak menjadi semakin lemah. Perhatian dan kasih sayang merupakan kebutuhan mendasar bagi anak. Lingkungan rumah disamping berfungsi sebagai tempat berlindung, juga berfungsi sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan hidup seseorang, seperti kebutuhan bergaul, kebutuhan rasa aman, kebutuhan mengaktualisasika diri, dan sebagai wahana untuk mengasuh anak hingga dewasa. Dengan kata lain, lingkungan keluarga memiliki andil besar dalam perkembangan psikologi anak.

Kedekatan hubungan antara orangtua dengan anak tentu saja akan berpengaruh secara emosional. Anak akan merasa dibutuhkan dan berharga dalam keluarga, apabila orangtua memberikan perhatiannya kepada anak.

Anak akan mengganggap bahwa keluarga merupakan bagian dari dirinya yang sangat dibutuhkan dalam segala hal. Sebaliknya, hubungan yang kurang harmonis antara orangtua dan anakakan berdampak buruk terhadap perkembangan anak.Tidak jarang anak terjerumus ke hal-hal negatif dengan alasan orangtua kurang memberikan perhatian kpada anak. Dari fenomena ini, kita dapat melihat bahwa peran orangtua sangat dibutuhkan dalam perkembangan psikologi anak. Perhatian dan kedekatan orangtua sangat mempengaruhi keberhasilan anak dalam mencapai apa yang diinginkan. Orangtua merupakan pemberi motivasi terbesar bagi anak, sehingga diharapkan orangtua dapat memberikan perhatian dan kasih sayang sepenuhnya kepada anak.Kedekatan antara orangtua dan anak memiliki makna dan peran yang sangat penting dalam setiap aspek kehidupan keluarga.Oleh karena itu, kualitas dan kuantitas pertemuan antar anggota keluarga perlu ditingkatkan dengan tujuan untuk membangun keutuhan hubungan orangtua dan anak dan membangun pola pikir anak. 1.2. Rumusan Masalaah Mengkajin latar belakang pokok bahasan adalah : 13. Tujuan Menjelaskan peranan orantua dan pengaruhnya terhap pola pikir anak

BAB II

2.1. Peran Orang tua dan Anak dalam Keluarga a. Orang Tua Keluarga merupakan masyarakat kecil tempat anak melihat cahaya kehidupan pertama, sehingga apapun yang dicurahkan dalam sebuah keluarga akan meninggalkan kesan yang mendalam terhadap watak, pikiran serta sikap dan perilaku anak. Sebab tujuan dalam membina kehidupan keluarga adalah agar dapat melahirkan generasi baru sebagai penerus perjuangan hidup orang tua.Untuk itulah orang tua mempunyai tanggung jawab dan kewajiban dalam pendidikan anak-anaknya.Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT.dalam surat At-Tahrim (ayat : 6)

)

Setiap orang tua pasti menginginkan keberhasilan dalam pendidikan anak-anaknya. Keberhasilan tersebut tentunya tidak akan dapat terwujud tanpa adanya usaha dan peran dari orang tua itu sendiri pelu disadari orang tua adalah kunci suksesnya keluarga baik sukses dalam keharmonisan juga terhadap pola pikir anak sendiri,sebab semua anak terahir dalam suci (firah) dimana anak tergantung kendali orang tua. Anak akan tumbuh dengan sipat dan sikap yang ditanamkan oleh orang tua terhadap buah hati. Bila sipat dan sikap yang ditanamkan baik maka anak akan tumbuh berkembang baik dan sebaliknya. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW. Yang mana Hadis tersebut mengandung pengertian bahwa orang tua mempunyai peranan yang sangat penting terhadap pembentukan kepribadian anak serta memberikan pengaruh yang sangat besar dalam keberhasilan pendidikannya. Salah satu dari peranan orang tua terhadap keberhasilan pendidikan anaknya adalah dengan memberikan perhatian, terutama perhatian pada kegiatan belajar mereka di rumah. Perhatian orang tua memiliki pengaruh psikologis yang besar terhadap kegiatan belajar anak. Dengan adanya perhatian dari orang tua, anak akan lebih giat dan lebih bersemangat dalam belajar karena ia tahu bahwa bukan dirinya sendiri saja yang berkeinginan untuk maju, akan tetapi orang tuanya pun demikian. Sebab baik buruknya prestasi yang dicapai anak akan memberikan pengaruh kepadanya dalam perkembangan pendidikan selanjutnya. Totalitas sikap orang tua dalam memperhatikan segala aktivitas anak selama menjalani rutinitasnya sebagai pelajar sangat diperlukan agar si anak mudah dalam mentransfer ilmu selama menjalani proses belajar, di samping itu juga agar ia dapat mencapai prestasi belajar yang maksimal. Perhatian orang tua dapat berupa pemberian bimbingan dan nasihat, pengawasan terhadap belajar, pemberian motivasi dan penghargaan, serta pemenuhan fasilitas belajar. Pemberian bimbingan dan nasihat menjadikan anak memilikiidealisme, pemberian pengawasan terhadap belajarnya adalah untuk melatih anak memiliki kedisiplinan, pemberian motivasi dan penghargaan agar anak terdorong untuk belajar dan berprestasi, sedangkan pemenuhan fasilitas yang dibutuhkan dalam belajar adalah agar anak semakin teguh pendiriannya pada suatu idealisme yang ingin dicapai dengan memanfaatkan fasilitas yang ada, jadi dapat disimpulkan bahwa orang tua paling berpengaruh dan penting dalam menapai anak yang soleh. b. Anak di Keluarga Anak dalam keluarga adalah sorotan serius bagi orang tua agar terbentuk sikap yang posif bagi anak,perlu disadari bahwa anak dalam

dari sepasang suami - istri. Namun suami dan istri adalah satu tim yang harus kompak dalam menerapkan pola pengasuhan bagi anak, sehingga memiliki arah yang jelas dalam memberikan didikan kepada Anak. Untuk itu setiap orang tua perlu dukeluarga sebagai peniru dan penciplak sikap dan kebisaan orang tua kususnya dan keluarga umumnaya. Sebagai mana lazimnaya ciplakan tergantung yang diciplak dan hasil tidak jauh beda dengan yang diciplak. 2.2. upaya Membangun sikap dan pola pikir posif pada anak

Setiap orangtua pasti memiliki harapan yang sama: berhasil mendidik anak dengan baik, agar mereka menjadi orang yang berhasil, menjadi kebanggaan keluarga dan berguna bagi masyarakat. Namun, kenyataannya memang usaha untuk mencapai keinginan dan harapan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.Salah satu hal penting yang diperlukan untuk berhasil mendidik Anak adalah kesepakatan kedua orangtua.Kadangkala kita menemui orangtua yang tidak sepaham atau tidak sejalan dalam mendidik anak-anak mereka. Sebab bagaimanapun, suami dan istri merupakan dua pribadi yang berbeda, sehingga berbeda pula pola pikir dan cara-cara yang dianggap baik dalam mendidik anak. Untuk itu perlu dibuat kesepakatan antara kedua orangtua, agar tidak terjadi perbedaan perbedaan dalam memberi aturan ataupun keputusan tertentu kepada anak. Tentu saja suami-istiri tidak dapat menghindari perbedaan sifat atau karakter duk bersama, berdiskusi, dan mencapai kata sepakat untuk mendidik anak mereka. Meskipun sudah terjadi kesepakatan, namun perbedaan pendapat antara suami dan istri terkadang masih muncul juga. Perbedaan pendapat sebetulnya boleh-boleh saja asalkan tidak mendasar dan tidak dilakukan di depan anak Hal yanag perlu diterapkan orang tua (suami-istiri) a. Satu Suara di Depan Anak Di depan anak kedua orangtua harus sepakat alias satu suara, apakah itu boleh atau tidak boleh, Ya atau tidak. Kesepakat tersebut perlu supaya anak tidak menjadi bingung dengan aturan yang sudah ditetapkan. Selain itu, untuk mencegah agar anak tidak menjadi mangkak dan mengambil keuntungan karena mengetahui kedua orangtuanya sering memiliki pandangan berbeda dan tidak kompak dalam mengasuh anak. Mereka bisa memanfaatkan celah di mana dia dapat menemukan pembelaan dan perlakuan yang senantiasa menyenangkannya. Misalnya, ketika sang anak dimarahi ayahnya karena tidak tidur siang, sang ibu malah membelanya. Perbedaan sikap atau pendapat kedua orangtua yang dilihat anak ini bisa membuat anak merasa "menang" atas ayahnya karena memiliki pembela yaitu ibunya. Dengan demikian, dia akan dengan mudah berlindung di belakang pembelanya. Akibatnya, pola pengasuhan tidak berjalan dengan baik karena adanya dualisme ini. Untuk senantiasa memiliki satu suara di depan anak, perlu selalu menjalin komunikasi yang baik dan hangat satu sama lain. Orangtua harus sesering mungkin mendiskusikan masalah-masalah yang terjadi seputar anak-anak mereka dan mencapai solusi kesepakatan. Bila ternyata salah satu pihak sudah mengambil keputusan bagi anak, maka sebaiknya pasangannya menghargai keputusan itu. b. Komunikasikan atas Tindakan Yang Akan Dilakukan Terkadang orang tua memberikan sanksi atau menjatuhi hukuman kepada anak karena tindakan mereka yang tidak sesuai dengan aturan yang sudah ditetapkan. Adakalanya pasangan tidak mengetahui hukuman yang sedang di terapkan. untuk itu perlu dikomunikasikan segera kepada pasangan ditempat yang tersembunyi, jangan sampai terjadi ketidak sepakatan di depan anak. Contohnya seorang Ibu menghukum anaknya, tidak boleh main game, karena malas mengerjakan PR. Namun sang Ayah yang

baru pulang dari kantor memberikan ijin, karena tidak tahu bahwa anaknya sedang mendapat hukuman dari sang Ibu. Agar tidak terjadi konflik antar orangtua dan masalah cepat teratasi, maka perlu segera dikomunikasikan kepada pasangan , hukuman apa yang sedang Anda berlakukan. Beritahu pasangan bentuk hukuman dan alasan Anda menjatuhkan hukuman itu. Dengan demikian, sebelum pulang ke rumah, suami sudah tahu anak sedang mendapat sanksi dari Anda. Bila ternyata komunikasi tidak sempat dilakukan, ketika Anda tahu suami mengizinkan anak main game, segera komunikasikan hal itu di tempat yang tersembunyi dari Anak. Setelah itu suami bisa segera meminta anak untuk berhenti main game. Sehingga, pada akhirnya Anda dan suami bisa tetap kompak di depan anak, dan anak tak punya celah untuk memanfaatkan situasi. c. Menerapkan Disiplin Menanamkan disiplin kepada Anak sejak dini sangat diperlukan. kebiasaan hidup teratur perlu diterapkan kepada anak. Dimulai dari bangun tidur, mandi, makan, belajar, bermain, semuanya harus teratur. Kadangkala anak melanggar aturan yang sudah ditetapkan, namun orang tua tidak boleh menyerah, harus tetap sabar karena proses pembiasaan ini harus dilakukan terus-menerus. Jika pendidikan masih belum berhasil, perlu diulang lagi, sampai akhirnya Anak dapat menjalankan hidupnya secara disiplin dan mandiri. Untuk mencapainya, orangtua harus menanamkan disiplin yang konsisten dan kontinyu kepada anak. d. Kasih Sayang Sebagai Landasan Didikan yangdiberikan kepada Anak haruslah dilandasi kasih sayang yang besar. Pastikan bahwa didikan yang diberikan bertujuan untuk kebaikan Anak. Orang tua harus bersikap tegas dan bahkan bisa keras jika diperlukan. Namun harus diseimbangkan dengan memberikan perhatian dan kasih sayang, pujian dan motivasi yang membuat mereka percaya dan etap merasa nyaman dengan Anda. Perlu tarik-ulur agar tidak membuat Anak menjadi frustasi, tidak percaya diri atau malah menjadi pemberontak (bandel). Selain menegur atau memarahi jika melakukan kesalahan, Orangtua pun perlu memuji semua keberhasilan dan kemajuan anak dalam perubahan perilaku tertentu, prestasinya di sekolah, serta saat dia memenangkan suatu lomba yang diikutinya. Sebisa mungkin, hindari hukuman fisik. Hukuman fisik dapat dilakukan sebagai tindakan terakhir dalam mendidik anak, setelah teguran lisan gagal diberlakukan. Misalnya Anak ketahuan memukul temannya di sekolah, sudah dinasehati tetapi tidak berubah, maka hukuman fisik bisa diberlakukan. Tindakan fisik diperlukan terutama jika perilaku mereka berpotensi merusak perkembangan mereka di masa depan. e. Komunikasi Dua Arah Komunikasi memegang peranan yang penting dalam hubungan orang tua dan Anak. Perlu ada waktu bagi orang tua untuk mendengarkan cerita anak-anak mereka. Biarkan antara anak dan orangtua ada keterbukaan. orangtua haruslah menjadi pendengar yang baik bagi anak-anak mereka. orangtua juga

dapat menyampaikan pesan-pesan atau nilai-nilai positive yang akan menjadi landasan yang baik bagi hidup mereka. Tunjukkan bahwa Anda menaruh perhatian terhadap kondisi mereka. f. Menjadi Teladan Hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam keberhasilan mendidik Anak adalah : orangtua haruslah menjadi teladan bagi anak-anaknya. Dalam bertingkah laku, bersikap, berbicara.Karena seorang anak adalah pencontoh yang ulung. Sejak kecil mereka akan merekam kejadian apa yang mereka lihat dan dengarkan. Cara hidup atau sikap Anda sehari-hari akan sangat mempengaruhi gaya hidup mereka. Jika Anda mengajarkan Anak Anda disiplin, maka Anda juga harus menjadi contoh disiplin yang baik, jika Anda ingin mereka sopan dan ramah, maka Anda jangan pernah mengucapkan kata-kata kasar atau kotor yang akan ditiru oleh anak. B. Bentuk perhatian oarang tua terhadap belajar anak Perhatian orang tua, terutama dalam hal pendidikan anak sangatlah diperlukan. Terlebih lagi yang harus difokuskan adalah perhatian orang tua terhadap aktivitas belajar yang dilakukan anak sehari-hari dalam kapasitasnya sebagai pelajar dan penuntut ilmu, yang akan diproyeksikan kelak sebagai pemimpin masa depan. Bentuk perhatian orang tua terhadap belajar anak dapat berupa pemberian bimbingan dan nasihat, pengawasan terhadap belajar anak, pemberian motivasi dan penghargaan serta pemenuhan kebutuhan belajar anak. a. Pemberian bimbingan dan nasihat 1. Pemberian bimbingan belajar Bimbingan adalah bantuan yang diberikan orang tua kepada anaknya untuk memecahkan masalahmasalah yang dihadapinya. Memberikan bimbingan kepada anak merupakan kewajiban orang tua. Hal ini tersirat dalam Al Qur,an dalam surah An Nisaa ayat 9 Allah firman

Bimbingan belajar terhadap anak berarti pemberian bantuan kepada anak dalam membuat pilihan-pilihan secara bijaksana dan dalam penyesuaian diri terhadap tuntutan-tuntutan hidup, agar anak lebih terarah dalam belajarnya dan bertanggung jawab dalam menilai kemampuannya sendiri dan menggunakan pengetahuan mereka secara efektif bagi dirinya, serta memiliki potensi yang berkembang secara optimal meliputi semua aspek pribadinya sebagai individu yang potensial. 2. Memberikan nasihat

Bentuk lain dari perhatian orang tua adalah memberikan nasihat kepada anak. Menasihati anak berarti memberi saran-saran untuk memecahkan suatu masalah, berdasarkan pengetahuan, pengalaman dan pikiran sehat. Nasihat dan petuah memiliki pengaruh yang cukup besar dalam membuka mata anak-anak terhadap kesadaran akan hakikat sesuatu serta mendorong mereka untuk melakukan sesuatu perbuatan yang baik. Betapa pentingnya nasihat orang tua kepada anaknya, sehingga Al Qur¶an memberikan contoh, seperti yang terdapat dalam surah Luqman ayat 13 Allah berfirman: b. Pengawasan terhadap belajar Orang tua perlu mengawasi pendidikan anak-anaknya, sebab tanpa adanya pengawasan yang kontinu dari orang tua besar kemungkinan pendidikan anak tidak akan berjalan lancar. Pengawasan orang tua tersebut dalam arti mengontrol atau mengawasi semua kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh anak baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengawasan yang diberikan orang tua dimaksudkan sebagai penguat disiplin supaya pendidikan anak tidak terbengkelai, karena terbengkelainya pendidikan seorang anak bukan saja akan merugikan dirinya sendiri, tetapi juga lingkungan hidupnya. Pengawasan orang tua terhadap anaknya biasanya lebih diutamakan dalam masalah belajar. Dengan cara ini orang tua akan mengetahui kesulitan apa yang dialami anak, kemunduran atau kemajuan belajar anak, apa saja yang dibutuhkan anak sehubungan dengan aktifitas belajarnya, dan lain-lain. Dengan demikian orang tua dapat membenahisegala sesuatunya hingga akhirnya anak dapat meraih hasil belajar yang maksimal. Pengawasan orang tua bukanlah berarti pengekangan terhadap kebebasan anak untuk berkreasi tetapi lebih ditekankan pada pengawasan kewajiban anak yang bebas dan bertanggung jawab. Ketika anak sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penyimpangan, maka orang tua yang bertindak sebagai pengawas harus segera mengingatkan anak akan tanggung jawab yang dipikulnya terutama pada akibat-akibat yang mungkin timbul sebagai efek dari kelalaiannya. Kelalaiannya di sini contohnya adalah ketika anak malas belajar, maka tugas orang tua untuk mengingatkan anak akan kewajiban belajarnya dan memberi pengertian kepada anak akan akibat jika tidak belajar. Dengan demikian anak akan terpacu untuk belajar sehingga prestasi belajarnya akan meningkat. c. Pemberian motivasi dan penghargaan Sebagai pendidik yang utama dan pertama bagi anak, orang tua hendaknya mampu memberikan motivasi dan dorongan. Sebab tugas memotivasi belajar bukan hanya tanggungjawab guru semata, tetapi orang tua juga berkewajiban memotivasi anak untuk lebih giat belajar. Jika anak tersebut memiliki prestasi yang bagus hendaknya orang tua menasihati kepada anaknya untuk meningkatkan aktivitas belajarnya. Dan untuk mendorong semangat belajar anak hendaknya orang tua mampu memberikan semacam hadiah untuk menambah minat belajar bagi anak itu sendiri. Namun jika prestasi belajar anak itu jelek atau kurang maka tanggung jawab orang tua tersebut adalah memberikan motivasi atau dorongan kepada anak untuk lebih giat dalam belajar. Dorongan orang tua kepada anaknya yang berprestasi jelek atau kurang itu sangat diperlukan karena dimungkinkan kurangnya dorongan dari orang tua akan bertambah jelek pula prestasinya dan bahkan akan menimbulkan keputusasaan. Tindakan ini perlu dilakukan oleh orang tua baik kepada anak yang berprestasi baik ataupun kurang baik dari berbagaijenis aktivitas, seperti mengarahkan cara belajar, mengatur waktu belajar dan sebagainya, selama pengarahan dari orang tua itu tidak memberatkananak.

d. Pemenuhan kebutuhan belaja Pemenuhan Kebutuhan belajar adalah segala alat dan sarana yang diperlukan untuk menunjang kegiatan belajar anak. kebutuhan tersebut bisa berupa ruang belajar anak, seragam sekolah, buku-buku, alat-alat belajar, dan lain-lain. Pemenuhan kebutuhan belajar ini sangat penting bagi anak, karena akan dapat mempermudah baginya untuk belajar dengan baik. Dalam hal ini Bimo Walgito menyatakan bahwa ³semakin lengkap alat-alat pelajarannya, akan semakin dapat orang belajar dengan sebaik-baiknya, sebaliknya kalau alat-alatnya tidak lengkap, maka hal ini merupakan gangguan di dalam proses belajar, sehingga hasilnya akan mengalami gangguan. Tersedianya fasilitas dan kebutuhan belajar yang memadai akan berdampak positif dalam aktivitas belajar anak. Anak-anak yang tidak terpenuhi kebutuhan belajarnya sering kali tidak memiliki semangat belajar.Lain halnya jika segala kebutuhan belajarnya tercukupi, maka anak tersebut lebih bersemangat dan termotivasi dalam belajar. BAB III KESIMPULAN 3.1. simpulan Dari uraian yang telah disajikan dapat disimpul : ‡ Sikap anak tergantung lingkungan keluarga yang mengurus. ‡ Suami dan istri harus seiya dan sekata dalam mendidik anak. ‡ Orang tua harus mendidik dengan kasih sayang dan tidak terlalu memaksakan terhap anak ‡ Orang tua harus memahami karakter anak dan kemampuannya. ‡ Orang tua selayaknya bijak dan memberi sanksi yang layak dan sipatnya mendidik. 3.2. keritik Bagi orangtua dewasa ini harus lebih waspada dan menjaga anak dengan serius agar tidak terbawa arus sikap yang buruk juga sebagai oang tua Islam melupakan dan melalaikan pendidikan Islam. 3.3. saran Mengingat orangtua adalah peranan yang paling berpengaruh dalam mengasuh anak juga dalam Makalah ini orangtua sorotan paling utama.jelas masih banyak hal yang perlu diperhatikan yang belum tercantumkan baik ditijau dari agama juga norma-norma masyrakat yang berlaku maka dari itu pembaca harap memaklumi dan memandang tulisaan ini dengan bijaksana dan lembut tanpa egois atas ketidak sempurnaan dan ketidak tepatan isi Makalah ini. Demikianlah isi makalah ini mudah-mudahan bermanfaat bagi saya pribadi dan yang membacanya. Wallhua¶alam. 3.4. Harapan mudah-mudahan kita semua mendapat anak soleh, amin REFERENSI 1. Imam Al-Ghazali,Ihya Ulumiddin, Terjemah: Moh. Zuhri Dipl. dkk.2003. Semarang: CV. As Syifa 2. M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Bandung: Remadja Karya, 1987 3. W J S Poerwa Darminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1987

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->