Pragmatisme: Sebuah Tinjauan Sejarah Intelektual Amerika

Mohammad Najib Abdullah Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

1. Pendahuluan Tulisan yang berjudul “Pragmatisme: Sebuah tinjauan Sejarah Intelektual Amerika" akan membahas apa sebenarnya pragmatisme itu, dan ia sebagai filsafat Amerika Serikat. Dalam tulisan ini juga membahas sejarah timbulnya pracmatisme di Amerika Serikat sekaligus di kaitkan dengan tokoh-tokoh yang mempelopori filsafat pragmatisme ini. Akhir-akhir ini, kalau kita mengamati secara tajam perkembangan negara kita ini, kita akan kerap mendengar kata-kata seperti "pragmatis", "berguna", laksanakan yang bermanfaat bagi masyrakat saja, ada gunanya atau tidak sarana itu. Ungkapan-ungkapan itu belakangan ini semakin santer disuarakan. Secara fenomenologis hal itu berarti ada suatu sumbernya. Di belakang sumber itu pasti ada aliran cara berfikir tertentu yang berpengaruh. Apakah sumber itu? Inilah yang akan kita pertanyakan untuk kita ketahui. Dengan demikian, kita akan memasuki sumber itu untuk mengerti latar belakang aliran atau cara berfikir apa yang mempengaruhi ungkapan-uangkapan di atas. 2. Arti Pragmatisme Pada garis besarnya, filsafat Amerika Serikat senasib dengan kebudayaan Amerika pada umumnya. Seperti kita ketahui bahwa kebudayaan Amerika Serikat mempunyai ciri khas yaitu tidak mempunyai tradisi yang panjang. Karena itu, ia belum pernah mempunyai wajah sendiri. Kebudayaannya bersandar pada "self made man". Apabila kita lihat, pandang secara cermat, ciri yang penting adalah perkembangan material dan tekniknya. Perkembangan ini sangat mempengaruhi alam pemikiran bangsa tersebut. Pengaruh itu jelas dalam pragmatisme. Istilah pragmatisme berasal dari kata Yunani "pragma" yang berarti perbuatan atau tindakan. "Isme" di sini sama artinya dengan isme-isme yang lainnya yaitu berarti aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian pragmatisme berarti: ajaran yang menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Kreteria kebenarannya adalah "faedah" atau "manfaat". Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori adalah benar if it works ( apabila teori dapat diaplikasikan). Pada awal perkembangannya, pragmatisme lebih merupakan suatu usaha-usaha untuk menyatukan ilmu pengetahuan dan filsafat agar filsafat dapat menjadi ilmiah dan berguna

e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara

1

bagi kehidupan praktis manusia. metode tersebut diterapkan dalam setiap bidang kehidupan manusia. Keduanya merupakan suatu paket tunggal dari metode bertindak yang pragmatis. Karena pragmatisme adalah suatu filsafat tentang tindakan manusia. Bagi kaum pragmatis. dan model praktis Amerika. yaitu dengan mencari konsekwensi praktis dari setiap konsep atau gagasan dan pendirian yang dianut masing-masing pihak. Namun filsafat inl akhirnya menjadi lebih terkenal sebagai suatu metode dalam mengambil keputusan melakukan tindakan tertentu atau yang menyangkut kebijaksanaan tertentu. Dan filsafat ini yang berkembang di Amerika pada abad ke-19 sekaligus menjadi filsafat khas Amerika dengan tokoh-tokohnya seperti Charles Sander Peirce. untuk mengambil tindakan tertentu. Untuk merealisasikan ide atau keyakinan itu. Dan karena metode yang dipakai sangat populer untuk di pakai dalam mengambil keputusan melakukan tindakan tertentu. dan John Dewey menjadi sebuah aliran pemikiran yang sangat mempengaruhi segala bidang kehidupan Amerika. Pragmatisme e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 2 . Dalam perkembangannya lebih lanjut. tindakan tersebut tidak dapat diambil lepas dari tujuan tertentu. Lebih dari itu. pragmatisme akhirnya berkembang menjadi suatu metoda untuk memecahkan berbagai perdebatan filosofis-metafisik yang tiada henti-hentinya. William James. sebagaimana diketahui oleh Peirce. yang hampir mewarnai seluruh perkembangan dan perjalanan filsafat sejak zaman Yunani kuno (Guy W. Dan tujuan itu tidak lain adalah hasil yang akan diperoleh dari tindakan itu sendiri. manusia mengambil keputusan yang berisi: akan dilakukan tindakan tertentu sebagai realisasi ide atau keyakinan tadi. Sehubungan dengan usaha tersebut. Dan yang kedua. Pragmatisme dalam hal ini tidak lain adalah suatu metode untuk menentukan konsekwensi praktis dari suatu ide atau tindakan. Apa yang dikatakan oleh Peirce tersebut merupakan prinsip pragmatis dalam arti yang sebenarnya. filsafat inipun segera menjadi populer. ada dua hal penting. ia dikenal sebagaimana suatu model pengambilan keputusan. karena menyangkut pengalaman manusia sendiri. Stroh: 1968). Itu berarti bahwa pragmatisme bukan merupakan suatu sistem filosofis yang siap pakai yang sekaligus memberikan jawaban terakhir atas masalah-masa1ah filosofis. ide atau keyakinan yang mendasari keputusan yang harus diambil untuk melakukan tindakan tertentu. model bertindak. atau konsekwensi praktis dari adanya tindakan itu. tujuan dari tindakan itu sendiri. maka setiap bidang kehidupan manusia menjadi bidang penerapan dari filsafat yang satu ini. Dalam usahanya untuk memcahkan masalah-masalah metafisik yang selalu menjadi pergunjingan berbagai filosofi tulah pragmatisme menemukan suatu metoda yang spesifik. Dalam hal ini. Pertama. Karena itulah pragmatisme diartikan sebagal suatu filsafat tentang tindakan. Keduanya tidak dapat dipisahkan. Pertama-tama manusia memiliki ide atau keyakinan itu yang ingin direalisasikan. karena filsafat ini merupakan filsafat yang khas Amerika.

dan Aristoteles telah menggunakannya secara metodis John Locke (1632 . 1979: xix). George Berkeley (1685 1753). sebagaimana dimiliki oleh seorang dokter yang memberi resep untuk menyembuhkan penyakit tertentu. Socrates sebenarnya ahli dalam hal ini. Tetapi Kant baru melihat bahwa keyakinan-keyakinan pragmatis atau berguna seperti itu dapat di terapkan misalnya dalam penggunaan obat atau semacamnya.S. filosoffilosof Unitarian menjadi tenggelam. Dan karena filsafat Unitarian sendiri hampir mati. bunuh diri dan semacamnya. menyusun prinsip-prinsip pragmatisme baik secara bersama maupun secara individual dalam menghadapi evolusi Darwin (Kucklick. e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 3 . Peirce dari Immanuel Kant. Filsafat Unitarian. la belum menyadari bahwa keyakinan seperti itu juga cocok untuk filsafat. Mereka khawatir bahwa interpretasi ini dapat berakhir dengan sikap yang pasif. Karen Peirce sangat tertarik untuk membuat filsafat dapat diuji secara ilmiah atau eksperiemntal. Dari segi historis. abad ke-19 di tandai dengan skeptisisme yang di tiupkan oleh teori evolusi Darwin. ia mengambil alih istilah pragmatisme untuk merancang suatu filsafat yang mau berpeling kepada konsekwensi praktis atau hasil eksperimental sebagai ujian bagi arti dan validitas idenya. Kant sendiri memberi nama "keyakinan-keyakinan hipotesa tertentu yang mencakup penggunaan suatu sarana yang merupakan suatu kemungkinan real untuk mencapai tujuan tertentu”. suatu kelompok pemikir dari Harvard menemukan suatu jalan untuk menghadapi krisis teologi ini tanpa mengorbankan ajaran agama yang essensial. bukan memberikan jawaban final atas masa1ah-masalah itu.hanya berusaha menentukan konsekwensi praktis dari masa1ah-masalah itu. 3. mereka tidak dapat mengintegrasikan hipotesis evolusi ke dalam keyakinan mereka (Bukhart. Kelompok ini melihat bahwa suatu interpretasi yang mekanistis tentang teori Darwin dapat menghancurkan agama dan dapat mengarah ke aliran ateisme yang fatalistis. dan Dayid Hume (1711 . metodenya bukanlah sesuatu yang sama sekali baru. Lebih lagi karena keyakinan bahwa pemikiran mengenai proses seleksi dan evolusi alamiah berakhir dengan atheisme dan bahwa manusia hanya bisa membenarkan eksistensinya dengan agama. Nilai religius dan spiritual menjadi. Karena itu mereka menganjurkan agar evolusi Darwin dipahami secara lain. 1966: 342).1704). Istilah pragamatisme sebenarnya diambil oleh C. Manusia memiliki keyakinan-keyakinan yang berguna tetapi hanya bersifat kemungkinan belaka. Tuhan yang bergantung pada argumen-argumen tentang teologi kodrati dan perwahyuan. lemah dalam membela diri terhadap evolusi onisme.1776) mempunyai sumbangan yang sangat berarti dalam pemikiran pragmatis ini (Copleston. dipertanyakan. apatis. Karena kaum ilmuan menerima teori evolusi Darwin. suatu aliran pemikiran yang hanya menerima ke Esaan. Latar Belakang Munculnya Pragmatisme Kendati pragmatisme merupakan filsafat Amerika. Pada saat yang sama. 1978: xiii). kelompok ini yang dikenal dengan "Perkumpulan Metafisika".

Pemikiran filosofis yang baru ini diberi nama Pragmatisme. Filsafat tradisional tidak menambah sesuatu yang baru.S. misalnya dalam penerapan teknologi. Secara pasti. Menurut Copleston dalam A History of Philosophy (Vol. serta tokoh-tokohnya yang berpengaruh. dan alam semesta. Dengan sistemnya yang tertutup tentang kebenaran yang absolut. e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 4 . Ini berarti bahwa kita di bawa untuk melihat siapa pencetus dan tokoh-tokoh lainnya. Part IV). Metafisika dan logika tradisional hanya mengajukan teori-teori yang tertutup dan murni tentang arti. 4. Untuk maksud benar-benar dibutuhkan revisi dalam logika dan metafisika yang merupakan dasar filsafat. 1966. Hal ini bisa dimenegerti karena James sebagai lektor dan penulis lebih cepat terkenal dari pada Peirce sebagai filosof selama hidupnya. pemula aliran pragmatisme di Amerika Serikat dalam C. Atau barangkali lebih tepat kalau dikatakan bahwa pragmatisme mengkristalisasikan keyakinan-keyakinan dan sikap-sikap yang telah menentukan perkembangan Amerika sebagaimana menggejala dalam berbagai aspek kehidupannya. sangat lemah dalam metode yang akan memberi arti kepada ide-ide filosofis dalam rangka eksperimental serta metode yang akan menyusun dan memperluas ide-ide dan kesimpulan-kesimpulan sampai mencakup fakta-fakta baru. menurut Peirce. kebenaran. Pragmatisme lalu dikenal pada permulaannya sebagai usaha Peirce untuk merintis suatu metode bagi pemikiran filosofis sebagaimana yang dikehendaki di atas. kebijaksanaan-kebijaksanaan politik pemerintah. kita tidak lepas dari siapa pencetus Pragmatisme di Amerika Serikat. karena dialah yang mempopulerkannya.Filsafat tradisional. Pendeknya. Pragmatisme merupakan bagian sentral dari usaha membuat filsafat tradisional menjadi ilmiah. pragmatisme lebih populer dan selalu dikaitkan dengan nama William James. Peirce (1839-1914). Tetapi untuk merevisi seluruh pemikiran filosofis tradisional bukan suatu hal yang mudah. VIII. filsafat tradisional lebih menutup jalan untuk diadakan penyelidikan dan bukannya membawa kemajuan bagi filsafat dan ilmu pengetahuan Dalam rangka itulah Peirce mencoba merintis suatu pemikiran filosofis baru yang agak lain dari pemikiran filosofis tradisional. London. dan sebagainya. dan meninggalkan jejaknya pada setiap kehidupan Amerika. Dengan demikian. progmatisme muncul sebagai usaha refleksi analitis dan filosofis mengenai kehidupan Amerika sendiri yang dibuat oleh orang Amerika di Amerika sebagai suatu bentuk pengalaman mendasar. Pencetus dan Tokoh-tokoh Pragmatisme Berbicara tentang suatu aliran tertentu. Oleh karena itu ada suatu alasan yang kuat untuk meyakini bahwa pragmatisme mewakili suatu pandangan asli Amerika tentang hidup dan dunia.

Dalam matematika murni. Artinya. Kebenaran kompleks ini dibagi dalam dua hal yaitu kebenaran etis disatu pihak dan kebenaran logis dilain pihak. kanker merenggut kehidupan Peirce (Sutrisno. 5. Proposisi matematika murni samasekali juga tidak mengatakan sesuatu tentang hal-hal yang faktual ada atau fakta aktual karena matematika murni tidak pernah menghiraukan apakah ada hal real atau fakta yang cocok dengan pernyataan itu atau tidak. Sedangkan kebenaran logis adalah selarasnya suatu pernyataan dengan realitas yang didefinisikan. dan menyempurnakan karya-karya yang terbengkalai. ia berkenalan dan kemudian bersahabat erat dengan William James. Pada tahun 1879-1884 ia menjadi rektor pada universitas John Hopkins. ada beberapa proposisi yang tidak dapat dikatakan salah. Ia belajar logika secara sungguh-sungguh pada tahun 1870-1871. 1977: 92). Kedua. Jameslah yang mengolah. complex truth yang berarti kebenaran dari pernyataan-pernyataan. Kebenaran etis adalah seluruhnya pernyataan dengan siapa yang diimani oleh sipembicara. Menurut Peirce kebenaran itu ada bermacam-macam. Sutrisno lebih lanjut menyatakan bahwa pragmatisme Peirce yang kemudian hari ia namakan pragmatisme lebih merupakan suatu teori mengenai arti (Theory of Meaning) daripada teori tentang kebenaran (Theory of Truth). Pada tahun 1914. Pada tahun ini juga. bertentangan dengan pengalaman realitas. mengerjakan. la sendiri membedakan kemajemukan kebenaran itu sebagai berikut : Pertama. suatu proposisi itu benar bila pengalaman membuktikan kebenarannya. semua kasus dan proposisi serba kuat. transcendental truth yang diartikan sebagai letak kebenaran suatu hal itu bermukim pada kedudukan benda itu sebagai benda itu sendiri. secara umum orang memakai istilah pragmatisme sebagai ajaran yang mengatakan bahwa suatu teori itu benar sejauh sesuatu mampu dihasilkan oleh teori tersebut. Patokan kebenaran proporsi atau pernyataan itu dilandaskan pada pengalaman. Singkatnya letak kebenaran suatu hal adalah pada "things as things ". Menurut Peirce. Pada tahun 1905. yaitu proposisi dari matematika murni. Peirce mengubah teori pragmatisme. Karena itulah Peirce mengatakan bahwa proposisi matematika murni tidak e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 5 . Kekhasan Pragmatisme Peirce Seperti kita lihat dalam uraian sebelumnya.Tahun akademis 1864-1865 dan tahun 1869-1879 digunakan Peirce untuk menekuni sejarah ilmu pengetahuan modern. Proposisi itu keliru apabila bertentangan dengan realitas yang diucapkannya. untuk menemukan kasus yang lemah. Misalnya sesuatu itu dikatakan berarti atau benar bila berguna bagi masyarakat. Di sini kreteria kebenaran matematika murni letaknya dalam hal "Ketidakmungkinannya lagi ".

tetapi anggaplah diri anda belum tahu arti keras itu yang bagaimana. begitu seterusnya. Kedua adalah ide tindakan yang meliputi aspek subyek pelaku dan obyek sasaran. ide persepsi ini ia sebut sebagai ide "kepertmaan". lepas dari yang lain. konsekwensi-konsekwensi praktis tadi memberi arti penuh mengenai benda-benda tadi. kekhasan pragmatisme Peirce merupakan suatu metode untuk memastikan arti ide-ide di atas. Dalam mulut Peirce. Kelihatan lagi tekanan teori arti Peirce pada pragmatisismenya. Ketiga. e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 6 . Contohnya ide kebiruan. Dilain pihak. yaitu ide tentang kaitan salah satu bentuk pasti dari obyek yang diamati oleh penilik. Secara praktis. Ide itulah yang mau diditerminasikan atau artinya melalui pragmatisme. teori pragmatisme Peirce lebih mencanangkan teori tentang arti daripada teori tentang kebenaran. bahwa suatu benda itu keras. Pandangan Peirce tentang kebenaran dalam uraian di atas. Peirce menamai ide ini ide ketigaan. dapatlah kini dirumuskan bahwa benda itu keras. baginya pragmatisme adalah metode untuk menditerminasi makna dari ide-ide. dari sudut epistemologi. inilah kekhasan pragmatisme Peirce. Pragmatisme adalah suatu teori untuk dapat memastikan makna dari suatu ide intelektual. Setelah itu. Masalah penentuan hal "benar" memang bisa dilihat dari bermacam-macam segi yaitu disatu pihak benar bisa diartikan sebagai "the universe of all truth (universe of all universes). Dengan perkataan lain. Karena itu. lebih merupakan pandangan seorang idealis daripada pandangan seorang pragmatis. Penekanan segi teori arti dalam pragmatisme Peirce dapat kita lihat dalam rumusan lengkapnya mengenai pragmatisme. Dari pengumpulan akibat-akibat praktis tadi. Karena perumusan tadi masih terlalu abstrak.dapat diklasifikasi secara pasti benarnya. Istilah Peirce untuk ide ini adalah ide keduaan. Coba bayangkan bila seseorang mengatakan kepada anda. kebenaran didefinisikan sebagai kesesuaian antara pernyataan dengan penyelidikan empiris. Caranya adalah orang harus mempertimbangkan konsekwensi-konsekwensi praktis dari teori tersebut. Inilah yang menentukan arti ide tersebut. orang itu akan menjelaskan kepada bahwa suatu benda itu keras bila konsekwensi-konsekwensi praktisnya adalah bila benda itu disentuh tidak akan memberikan rasa lembut pada tangan anda bila orang duduk di atasnya tidak akan tenggelam di dalamnya. bisa kita mengerti kalau di tempat lain Peirce menegaskan bahwa teori arti pragmatisme itu menolak nominalisme dan menerima realisme. Ada bermacam-macam ide yaitu pertama ide persepsi (sense datum). Menurut Peirce. pragmatisme adalah suatu metode untuk membuat sesuatu ide menjadi jelas atau terang dan menjadi berarti. ia memberi contoh. ide kemerahan. Ide lni dipandang dalam dirinya sendiri tanpa berhubungan dengan yang lain. Persepsi adalah ide yang dipandang berdiri sendiri. Karena itulah.

Seperti kita ketahui. Kebanyakan orang terutama kaum filosof abad lalu memperlakukan tidak demikian. Keradikalannya. Pahamnya mengenai monisme adalah keanekaragaman hal yang membentuk suatu kesatuan yang dapat dimengerti. e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 7 . Berkat analisisnya mengenai arti. ia menegaskan bahwa kesatuan dari kemacamragaman hal-hal yang memberi pengertian itu sendiri merupakan hipotesis. Usaha sebaliknya yaitu mau memastikan suatu kebenaran yang total dan final adalah asing bagi filosof empiris. Dalam buku Some Problems of Philosophy (1911). James menulis sikap filsafatnya sebagai empirisme radikal. 6. Dia masih harus diversifikasi benar-tidaknya berdasarkan pengalaman dan bukan begitu saja di terima sebagai dogma. Dialah yang mempublikasikan ajaran pragmatisme. Menurut James. Seorang filosof rasionalis sebagaimana dilihat James adalah orang yang bekerja dan menyelidiki sesuatu secara deduktip. mendeduksi fakta dari prinsip. The Meaning Of Truth (1909). Ia lebih senang menerangkan prinsip-prinsip sebagai proses induksi dari fakta. ia membantu kita untuk mengerti kejelasan suatu konsep. para rasionalis adalah orang-orang prinsip. James lebih tandas mengemukakan pendirian empirisme radikalnya. ia melawankan empirisme dengan rasionalisme.Inilah kekhasan Peirce dalam pragmatismenya. Segi radikalnya terletak dalam perlakuannya terhadap ajaran monisme. Di situ. Dalam tokoh ini. pragmatisme mencapai keradikalannya. Dengan empirisnya James memaksudkan sebagai pandangan yang "contented to regard its most assured conclusions concerning matters of future experience ". dari yang menyeluruh menuju kebagian-bagian. Pendapat ini terdapat dalam bukunya. Ia membantu kita untuk menganalisis konsep-konsep dengan mengujinya melalui konsekwensi-konsekwensi praktis sehingga menjadi kongkrit. Dengan sikap filsafat empirisme radikal. William James Pada tokoh ini. dari situ menuju kemenyeluruh. justeru karena ajaran monisme sendiri ia perlakukan sebagai hipotesis. Pendapatnya ini diperketat dengan pendapatnya tentang arti kebenaran. Sebaliknya filosof empirisme mulai dari yang khusus (partikuler). Sedangkan kaum empiris adalah orang-orang fakta. Rasionalis berusaha mendeduksi yang umum menuju yang khusus. Sutrisno juga menjelaskan bahwa James adalah tokoh pragmatisme yang lebih terkenal daripada Peirce. monisme adalah teori yang mengatakan bahwa dunia ini merupakan suatu entitas saja yang unik. Dalam kata pengantar buku The Will to Believe (1903).

Maka bila seseorang dalam menghadapi situasi problematis dan terdorong untuk berpikir dan mengatasi soal di dalamnya. ia menulis: "ajaran Peirce tetap tinggal tertutup sampai saat saya membukanya kepada umum dalam tahun 1898 It. Pokoknya Dewey menolak untuk merumuskan realitas berdasar pada pangkalan perbedaan antara subyek yang memandang obyek. Suatu metode untuk memastikan atau menyelesaikan pertentangan antara teori A dan B. Memang sudah menjadi rahasia umum diantara para ilmuwan dan filosof bahwa James berhutang budi banyak pada Peirce. Karena itu. manusia mula-mula bertindak menurut kebiasaan-kebiasaan yang telah ada. Istilah "naturalisme" ia terangkan sebagai pertama-tama bagi Dewey akal budi bukanlah satu-satunya pemerosesan istimewa dari realitas obyektip secara metafisis. Dewey menyebut situasi tempat manusia hidup sebagai situasi problematis. Inilah penegasan James mengenai kebenaran. perumusan kesimpulan ini sifatnya sudah kompleks. bagi James. Malahan hal ini terang-terangan ia ungkapkan "nilai prinsip Peirce yang adalah prinsip pragmatisme”. terwujud adanya perubahan dalam lingkungan. Ketiga kebenaran itu merupakan kesimpulan yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. Dilain pihak siap untuk diuji denga diskusi. Selama itu pulalah proses tanggapan berlangsung terus. Cara manusia bertindak dalam situasi problematis ini tidak hanya fisik belaka tetapi juga kultural. Dari cara James menguji teori di atas berdasarkan konsekwensi praktisnya. Artinya segala hal yang ada sangkut-pautnya dengan pengalaman. yaitu semua hal yang disatu pihak bisa ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman. Dalam buku Pragmatism (1907). 7. akal budi adalah perwujudan proses tanggap antara rangsangan dengan tanggapan panca indera pada tingkat biologis. Menurut Dewey. Dengan demikian pragmatisme James adalah metode untuk mencapai kejelasan pengertian kita tentang suatu obyek dengan cara menimbang dan menguji akibat-akibat praktis yang dikandung obyek tersebut. kita melihat garis penekanan yang sama dengan metode pragmatisme Peirce. 98). ia mulai berhenti dan tidak mau hanya asal beraksi saja terhadap lingkungan. Kekhususan filsafatnya terutama berdasarkan pada prinsip "naturalisme empiris atau empirisme naturalis". James menerapkannya dalam bidang agama. pragmatisme hanyalah merupakan suatu metode.Di sana ia mengartikan kebenaran pertama-tama kebenaran itu merupakan suatu postulat. Dewey juga termasuk tokoh empirisme yang di sangkutkan pula dengan pragmatisme. pertimbangan moral ia buat sebagai rencana untuk e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 8 . Dewey lebih mau memandang proses intelektual manusia sebagaimana berkembang dari alam. hal ini nyata kelihatan dalam buku the Will to Believe maupun Varieties of Religious experience (1902) (hal. Mulailah ia mempertanyakan lingkungan alam itu. Rangsangan tersebut aslinya dari alam. Kedua arti kebenaran itu merupakan suatu pernyataan fakta. Berkat proses ini. Setelah refleksinya bekerja. John Dewey (1859-1952) Pada tokoh ini Sutrisno menjelaskan bahwa berlainan dengan gaya empirisme James.

sebagai berikut : e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 9 . Dewey tidak membedakan antara subyek dengan obyek. Dewey mempunyai gagasan tentang sifat naturalistis sebagai “perkembangan terus-menerus hubungan organisme dengan lingkungannya". yaitu bahwa suatu hipotesis itu benar bila bisa diterapkan dan dilaksanakan menurut tujuan kita. Bahwa kebenaran ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lebih dari pada kemurnian opini manusia. antara tindak dengan benda material. Dengan hati-hati dan teliti. 168). Horton dan Edwards di dalam sebuah buku yang berjudul Background of American Literary Thought (1974) menjelaskan bahwa Peirce memformulasikan tiga prinsip-prinsip lain yang menjadi dasar bagi pragmatisme antara lain sebagai berikut : 1. Kegunaan di sini harus di tafsir dalam konteks Dewey yaitu proses transformasi situasi problematis seperti telah diterangkan di atas (sutrisno. Seperti apa yang telah dijelaskan di atas. Dalam memberi patokan tentang kebenaran. Pengalaman sendiri boleh dikatakan sebagai transaksi proses “doing dan undergoing". Dari dasar di atas. tentang gagasan atau ajaran Peirce terhadap pragmatisme. Dewey mencantumkan ukuran yang sama dengan Peirce. 1977: 99). Walaupun penggunaan istilah "universal" memperlihatkan bahwa Peirce masih memikirkan sehubungan dengan "Pre-existing truths" dimana semua opini manusia harus dipertegas pada akhirnya. walaupun akal budi sudah mengarah ke tindakan.memungkinkan tindakannya. konsepnya atas kebenaran berangkat secara induktip oleh kumpulan akal (pikiran) memberikan William James dengan titik awal bagi versinya sendiri atas pragmatisme (hal. suatu hubungan aktif antara organisme dengan lingkungannya. tindakannya benar-benar mewujud. ia menekankan bahwa sesuatu itu benar bila berguna. Dari pandangan tersebut bisalah kita menggolongkan Dewey sebagai seorang empiris karena ia bertitik tolak dari pengalaman dan kembali kepengalaman. 2. Bahwa apa yang kita namakan "universal" adalah opini-opini yang pada akhirnya setuju dan menerima keyakinan dari: “Community of knowers" 3. Baru setelah orang bertindak dalam situasi problematisnya. Meskipun demikian didalam pengalaman kedua hal tadi tercakup dalam ketotalan yang mampat. William James mengajukan prinsip-prinsip dasar terhadap pragmatisme. Bahwa filsafat dan matematika harus di buat lebih praktis dengan membuktikan bahwa problem-problem dan kesimpulan-kesimpulan yang terdapat dalam filsafat dan matematika merupakan hal yang nyata bagi masyarakat (komunitas). Si subyek bergumul dengan situasi problematika yang real empiris dan memecahkannya sedapat mungkin sehingga menghasilkan perubahan-perubahan . tindakan itu sendiri belum muncul. Di samping itu pula.

Yang pokok adalah manusia berbuat dan bukan berfikir. Filsafat pragmatisme penting di terapkan di Indonesia apalagi kita sedang hangat-hangatnya melaksanakan pembangunan nasional jangka panjang 25 tahun yang kedua. e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 10 . 2. 4. Yang penting buat kita berbuat bukan berteori. James berpendapat bahwa "manusia tidak diminta untuk menjelaskan semuanya sesegera mungkin". anggapan hidup. Bahwa dunia tidak hanya terlihat menjadi spontan.1. Demikianlah pragmatisme berpendapat bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi hidup manusia serta yang berguna dalam praktek. tetapi sesuatu yang terjadi pada ide-ide dalam proses yang dipakai dalam situasi kehidupan nyata. Untuk menilai bermanfaat atau tidaknya ilmu pengetahuan. yang dapat memenuhi tuntutan hidup manusia. 8. Dalam segalanya itu. pelaksanaan atau praktek hiduplah yang penting bukan pendapat atau teori rang hipotesis atau sepihak. sepanjang keyakinannya tidak berlawanan dengan pengalaman praktisnya maupun penguasaan ilmu pengetahuannya. Kecukupan yang digunakan ke dalam situasi tertentu adalah kebenaran. Pikiran atau teori merupakan alat yang hanya berguna untuk memungkinkan timbulnya pengalaman yang semakin ikut mengembangkan hidup manusia dalam praktek pelaksanaannya. Bahwa kebenaran tidaklah melekat dalam ide-ide. Bahwa manusia betas untuk meyakini apa yang menjadi keinginannya untuk percaya akan dunia. 3. kita harus bekerja sesuai dengan situasi yang telah ditentukan dan tidak boleh melebihinya. tetapi semata-mata terletak dalam kekuasaannya mengarahkan kita kepada kebenaran-kebenaran yang lain tentang duinia dimana kita tinggal di dalamnya (Horton dan Edwards. Bahwa nilai akhir kebenaran tidak merupakan satu titik ketententuan yang absolut. KESIMPULAN Bagi pragmatisme. 1974: 172 ). berhenti dan tak dapat diprediksi tetapi dunia benar adanya. Dengan perkataan lain. filsafat itu adalah alat untuk menolong manusia dalam hidup seharihari dan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan mewujudkan dunia teknik (praktis). Semua pengalaman adalah hal yang nyata. memecahkan problem-problem melalui penggunaan intelegensia praktisnya. James telah berhasil membuat satu pandangan filosofis terhadap dunia yang pada hakekatnya sejajar dengan opini publik yang berasal dari orang-orang awam dan bahkan memberi ruang baginya dalam alam jagad raya ini sebagai agen yang bebas dan bertanggung jawab. malahan filsafat sendiripun perlu diperhatikan segala hasil den kesimpulan atau akibat yang terjadi atas dasar hipotesis-hipotesis itu. dengan pengertian bahwa kita bekerja dalam situasi itu sendiri.

Edwards 1974. Princenton: Duven Nostrand Company. New York: The World Publishing Company. and Herbert W. Mudji 1977. The Rice of American Philosophy. Rd W. 5 and 6 MacMillan Publishing Co. Frederick 1979.. Inc. A History Philosophy. Inc.London: Harvard University Press. William 1968. New York: Yale University Press. Background of American Literary Thought. F. Frederick 1966.DAFTAR PUSTAKA Bukhard. Sutrisno. Jakarta: PT Gramedia. The Encyclopedia of Philosophy Vol. Pragmatisme. James. Eruce 1979. American Philosophy. London: Burns and Dates Ltd. W. Inc. Copleston.X.. Kucklick. Pragmatism. The Works of William James: Some Pro blems of Philosophy. Guy 1968. Stroh. London: Prentice Hall International. ______________1967. e-USU Repository ©2004 Universitas Sumatera Utara 11 . Horton. and The Free Press..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful