A. KAJIAN TENTANG INSEKTISIDA a.

Pengertian Insektisida Kata insektisida secara harfiah berarti pembunuh serangga, yang berasal dari kata “insekta” = serangga dan kata latin “cida”= pembunuh. Insektisida secara umum adalah senyawa kimia yang digunakan untuk membunuh serangga pengganggu (hama serangga). Insektisida merupakan salah satu jenis dari pestisida (pembunuh hama) sedangkan kelompok pestisida lainnya antara lain rodentisida (racun binatang pengerat), akarisida (racun tungau dan caplak), fungisida (racun cendawan), herbisida (racun gulma / tumbuhan pengganggu), dan lain-lain. b. Klasifikasi Insektisida Menurut cara kerja atau distribusinya didalam tanaman dibedakan menjadi tiga macam sebagai berikut: 1. Insektisida Sistemik Insektisida sistemik diserap oleh bagian-bagian tanaman melalui stomata, meristem akar, lentisel batang dan celahcelah alami. Selanjutnya insektisida akan melewati sel-sel menuju ke jaringan pengangkut baik xylem maupun floem. Insektisida akan meninggalkan residunya pada sel-sel yang telah dilewatinya. Melalui pembuluh angkut inilah insektisida ditranslokasikan ke bagian-bagian tanaman lainnya baik kearah atas (akropetal) atau ke bawah (basipetal), termasuk ke tunas yang baru tumbuh. Serangga akan mati apabila memakan bagian tanaman yang mengandung residu insektisida. 2. Insektisida Non-sistemik Insektisida non sistemik tidak dapat diserap oleh jaringan tanaman, tetapi hanya menempel pada bagian luar tanaman. Lamanya residu insektisida yang menempel pada permukaan tanaman tergantung jenis bahan aktif (berhubungan dengan presistensinya), teknologi bahan dan aplikasi. Serangga akan mati apabila memakan bagian tanaman yang permukaannya terkena insektisida. Residu insektisida pada permukaan tanaman akan mudah tercuci oleh hujan dan siraman, oleh karena itu dalam aplikasinya harus memperhatikan cuaca dan jadwal penyiraman.

3. Insektisida Sistemik Lokal Insektisida ini hanya mampu diserap oleh jaringan daun, akan tetapi tidak dapat ditranslokasikan ke bagian tanaman lainnya (efek translaminar). Insektisida yang jatuh ke permukaan atas daun akan menembus epidermis atas kemudian masuk ke jaringan parenkim pada mesofil (daging daun) dan menyebar ke seluruh mefosil daun (daging daun) hingga mampu masuk kedalam sel pada lapisan epidermis daun bagian bawah (permukaan daun bagian bawah). Menurut cara masuknya insektisida kedalam tubuh serangga dibedakan menjadi 3 kelompok sebagai berikut: 1. Racun Lambung (racun perut) Racun lambung atau perut adalah insektisida yang membunuh serangga sasaran dengan cara masuk ke pencernaan melalui makanan yang mereka makan. Insektisida akan masuk ke organ pencernaan serangga dan diserap oleh dinding usus kemudian ditranslokasikan ke tempat sasaran yang mematikan sesuai dengan jenis bahan aktif insektisida. Misalkan menuju ke pusat syaraf serangga, menuju ke organorgan respirasi, meracuni sel-sel lambung dan sebagainya. Oleh karena itu, serangga harus memakan tanaman yang sudah disemprot insektisida yang mengandung residu dalam jumlah yang cukup untuk membunuh. 2. Racun Kontak Racun kontak adalah insektisida yang masuk kedalam tubuh serangga melalui kulit, celah/lubang alami pada tubuh (trachea) atau langsung mengenai mulut si serangga. Serangga akan mati apabila bersinggungan langsung (kontak) dengan insektisida tersebut. Kebanyakan racun kontak juga berperan sebagai racun perut. 3. Racun Pernafasan Racun pernafasan adalah insektisida yang masuk melalui trachea serangga dalam bentuk partikel mikro yang melayang di udara. Serangga akan mati bila menghirup partikel mikro insektisida dalam jumlah yang cukup. Kebanyakan racun pernafasan berupa gas, asap, maupun uap dari insektisida cair.

Insektisida organik alami merupakan insektisida yang terbuat dari tanaman (insektisida botanik) dan bahan alami lainnya. Insektisida lama yang digunakan sebelum tahun 1945 umumnya merupakan insektisida anorganik sedangkan insektisida modern setelah DDT ditemukan umumnya merupakan insektisida organik. PM Churchill pernah menyebut DDT sebagai “Serbuk Ajaib”. Insektisida OC merupakan racun kontak dan racun perut. maka mereka akan mati keracunan. kejang-kejang dan akhirnya terjadi kerusakan syaraf dan otot serta kematian. kemudian berhasil dikembangkan banyak jenis insektisida yang mirip dengan DDT dan kemudian dikelompokkan dalam golongan Hidrokarbon Klor. INSEKTISIDA KIMIA a. Insektisida organik masih dapat dibagi menjadi insektisida organik alami dan insektisida organik sintetik. Jenis Insektisida Kimia Insektisida dapat kita bagi menurut sifat dasar senyawa kimianya yaitu dalam insektisida anorganik yang tidak mengandung unsur karbon dan insektisida organik yang mengandung unsur karbon. penggunaan insektisida kontak murni akan kurang efektif. Sedangkan insektisida sintetik merupakan hasil kimia pabrik dengan melalui proses sintesis kimiawi. Untuk mengendalikan hama yang berada didalam jaringan tanaman (misalnya hama penggerek batang. Secara umum dapat dikatakan bahwa keracunan serangga oleh insektisida tersebut ditandai dengan terjadinya gangguan pada sistem syaraf pusat yang mengakibatkan terjadinya hiperaktivitas. kutu gajah dll). DDT dalam sejarah kemanusiaan menjadi insektisida yang paling kontroversial karena di satu pihak merupakan insektisida sintetik pertama yang diproduksi besar-besaran dan jasanya sangat besar bagi kemanusiaan. Cara kerja (Mode of Action) OC belum diketahui secara lengkap. Akibatnya hama yang memakan jaringan didalam tanaman akan mati keracunan. gemetaran. Untuk mengendalikan hama-hama yang mobilitasnya tinggi (belalang. Pengendalian paling tepat yaitu dengan menggunakan insektisida yang memiliki sifat kontak maupun sistemik dengan efek residual yang agak lama. B. Dengan demikian apabila hama tersebut kembali untuk memakan daun. Namun. Di sisi lain karena dampaknya yang membahayakan kepada lingkungan hidup. antara lain: 1. efektif untuk mengendalikan larva. penggorok daun) penanganannya dilakukan dengan insektisida sistemik atau sistemik lokal. Hidrogen dan Karbon. Sifat Insektisida Terhadap Spesifikasi Cara Kerjanya 1. karena saat penyemprotan berlangsung. sehingga residu insektisida akan ditranslokasikan ke jaringan di dalam tanaman. Kadang-kadang ada juga yang mengandung Oksigen dan Sulfur. Insektisida modern pada umumnya merupakan insektisida organik sintetik. selang beberapa hari setelah penyemprotan. Rachel Carson pada tahun 1962 menyebut DDT sebagai “Minuman Kematian”. nimfa dan imago dan kadang-kadang untuk pupa dan telur. Pembagian insektisida organik sintetik menurut susunan kimia bahan aktif (senyawa yang memiliki sifat racun) terdiri dari 4 kelompok besar. 2. Organoklorin (OC) Organoklorin atau sering disebut Hidrokarbon Klor merupakan kelompok insektisida sintetik yang pertama dan paling tua dan dimulai dengan ditemukannya DDT oleh Paul Mueller (Swiss) pada tahun 1940-an. hama tersebut dapat kembali lagi. Masalah yang paling merugikan bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat adalah sifat persistensinya yang sangat lama di lingkungan . banyak hama tersebut yang terbang atau tidak berada di tempat penyemprotan. Insektisida golongan OC pada umumnya memiliki toksisitas ‘sedang” untuk mamalia. Setelah DDT. Hama yang berada didalam tanaman tidak sesuai bila dikendalikan dengan aplikasi penyemprotan insektisida kontak. Pembagian menurut sifat kimia yang lebih tepat adalah menurut komposisi atau susunan senyawa kimianya.c. karena hama didalam jaringan tanaman tidak akan bersentuhan (kontak) langsung dengan insektisida. Semua insektisida dalam kelompok ini mengandung Klorin.

Mitamidofos. OP memiliki berbagai bentuk alkohol yang melekat pada atom-atom P dan berbagai bentuk ester asam fosforik. CN. sedangkan residu Endrin setelah 14 tahun masih dijumpai 40%. Ketiga. OP merupakan insektisida yang sangat beracun bagi serangga dan bersifat baik sebagai racun kontak. racun perut maupun fumigan. karbon. Enzim Asetilkolin yang dibentuk oleh sistem syaraf pusat berfungsi untuk mengantarkan pesan atau impuls dari sel syaraf ke sel otot melalui sinapse. Malathion. NO2 atau S. Dieldrin. Saat ini telah tercatat sekitar 200 ribu senyawa OP yang pernah dicoba dan diuji untuk mengendalikan serangga. Dengan enzim tersebut asetilkolin dipecah menjadi asam asetat dan kolin. 2. Masalah lain yang timbul adalah berkembangnya sifat resistensi serangga hama sasaran seperti nyamuk dan lalat terhadap DDT. Insektisida OP menghambat bekerjanya enzim asetilkolinesterase yang berakibat terjadi penumpukan asetilkolin dan terjadilah kekacauan pada sistem penghantaran inpuls ke sel-sel otot. Dimetoat. Asefat. sulfur dan Nitrogen. atau HCH. Derivat Alifatik meliputi insektisida-insektisida antara lain TEPP. Kelompok Organoklorin masih dapat dibagi menjadi 3 subkelompok yaitu. namun sayangnya penggunaan DDT untuk sektor kesehatan masih dianjurkan secara terbatas sampai akhir tahun 1991. BHC. Adanya asetilcolinesterase menyebabkan sinapse menjadi kosong lagi sehingga pengantaran impuls berikutnya dapat dilakukan. Kebanyakan insektisida OP adalah penghambat bekerjanya enzim asetilkolinesterase. Klordan. Oleh karena bahayanya insektisida golongan Organoklorin sejak tahun 1973 dilarang penggunaannya untuk hama pertanian di Indonesia kecuali Endosulfan dan Dieldrin yang diijinkan secara terbatas untuk pengendalian rayap. Daya racun OP mampu menurunkan populasi serangga dh cepat. Misalnya DDT di daerah Subtropis dalam kurun waktu 17 tahun residunya masih 39% di dalam tanah. Setelah impuls diantarkan ke sel-sel otot proses penghantaran impuls tersebut dihentikan oleh karena bekerjanya enzim lain yaitu enzim asetilkolinestarase. Derivat Fenil terlihat dari adanya cincin-cincin fenil dimana salah satu H ditempati oleh “moiety” P sedangkan lainnya (satu atau lebih) diganti oleh CH3. Heptaklor dan Endosulfan. dan Heterosiklik. Ester-ester ini mempunyai kombinasi oksigen. adalah terpene Klor seperti Toksafena. Endrin. Derivat Alifatik strukturnya ditandai oleh senyawa dengan rantai karbon yang lurus dan tidak berbentuk cincin. Fenil. Cl. Berbeda dengan OC. Keadaan ini menyebabkan pesan-pesan berikutnya tidak dapat diteruskan. Sampai saat ini OP masih merupakan kelompok insektisida yang paling banyak digunakan di seluruh dunia. persistensinya di lingkungan sedang sehingga OP secara bertahap dapat menggantikan insektisida OC. pertama DDT dan senyawa dekatnya seperti Metoksiklor. Dikrotofos. Organophosphat (OP) Insektisida OP dengan unsur P sebagai inti yang aktif saat ini merupakan kelompok insektisida yang terbesar dan sangat bervariasi jenis dan sifatnya. Stabilitas derivat ini lebih besar daripada derivat Alifatik sehingga residunya dapat lebih lama di lingkungan. Kita ketahui bahwa dalam sistem syaraf serangga antara sel syaraf atau neuron dengan sel-sel lain termasuk sel otot terdapat “celah” yang disebut Sinapse. OP yang dikembangkan dari kombinasi ini dapat dibagi menjadi 3 kelompok derivat yaitu : Alifatik.baik di tanah maupun di dalam jaringan tanaman dan dalam tubuh hewan. kedua adalah Siklodien yang terdiri dari Aldrin. dan lain-lain. Dikofol. Persistensi OC di lingkungan menimbulkan dampak negatif seperti perbesaran hayati dan masalah keracunan kronik yang membahayakan kesehatan masyarakat. . senyawa OP di lingkungan kurang stabil sehingga lebih cepat terdegredasi dalam senyawa-senyawa yang tidak beracun. otot kejang dan akhirnya terjadi kelumpuhan (paralisis) dan kematian.

Temephos. kebanyakan mengandung satu atau lebih gas halogen yaitu Cl. Semua insektisida Karbamat mempunyai bangunan dasar asam karbamat. Beberapa fumigan juga digunakan untuk perlakuan tanah. Generasi keempat adalah cypermethrin. Insektisida tersebut cepat terurai dan hilang daya racunnya dari tubuh binatang sehingga tidak terakumulasi dalam jaringan lemak atau susu seperti OC. Senyawa-senyawa kelompok ini paling stabil dan lama bertahan di lingkungan. Metiokarb. Br dan F. Cara karbamat mematikan serangga sama dengan golongan OP yaitu melalui penghambatan aktivitas enzim kolinesterase pada sistem syaraf. Carbamat Karbamat merupakan insektisida yang berspektrum lebar dan telah banyak digunakan secara luas untuk pengendalian hama. Sasaran perkembangan SP kecuali sifat-sifat yang disebutkan diatas juga mencari dosis aplikasi yang sekecil mungkin dengan kemampuan mematikan serangga hama setinggi mungkin sehingga diperoleh efisiensi ekonomis yang tinggi. Juga bangunan rantai dari kelompok ini mempunyai 3. 4. Fonofos. Fention. Meskipun daya mematikan SP sangat tinggi dan sangat sedikit menghadapi permasalahan lingkungan. Biasanya. Sampai saat ini sudah dikenal 4 generasi SP. N atau S.Insektisida OP yang termasuk derivat fenil adalah Metil Parathion. dan lain-lain. Fumigan Fumigan sangat mudah menguap. Sebagai insektisida botani piretrum memiliki keunggulan yaitu daya knockdown yang tinggi tetapi sayangnya di lingkungan bahan alami ini tidak bertahan lama karena mudah terurai oleh sinar ultraviolet. Perbedaannya bahwa pada karbamat penghambatan enzim kolinesterase-nya bersifat bolak-balik (resersible) sedangkan pada OP tidak bolak balik. 3. 5.Generasi kedua adalah Resmethrin. Kecuali itu penggunaan di lapangan kurang praktis dan mahal karena piretrum harus dahulu diekstrasi dari bunga chrisantenum. Dari rangkaian penelitian kimiawi dengan melakukan sintesis terhadap susunan kimia piretrum dapat diperoleh bahan kimiawi yang memiliki sifat insektisidal mirip dengan piretrum dan bahan tersebut mempunyai kemampuan untuk bertahan lebih lama di lingkungan serta dapat diproduksi di pabrik. Kelompok SP merupakan tiruan dari bahan aktif insektisida botani Piretrum yaitu Sinerin I yang berasal dari bunga Chrysanthenum cinerariaefolium. metidation dan lain-lain. Banyak yang sangat beracun bagi serangga hama sehingga dapat membunuh serangga di ruang tertutup. Tingkat toksisitas rendah bagi manusia. dan lain-lain. Keunggulan SP karena memiliki pengaruh “knock down” atau mematikan serangga dengan cepat. . dan rayap. Jenis insektisida kimia yang mirip piretrum diberi nama pirethrin yang kemudian menjadi modal dasar bagi pengembangan insektisida golongan SP lainnya. Insektisida SP seringkali dikelompokkan menurut generasi perkembangannya di laboratorium. Golongan ini relatif baru jika dibandingkan 2 kelompok insektisida sebelumnya (OC dan OP). Propoxur. fluvalinat dan Deltamethrin dan lain-lain. digunakan secara luas sejak tahun 1970-an dan saat ini perkembangannya sangat cepat. Beberapa karbamat memiliki toksisitas rendah bagi mamalia tetapi ada yang sangat beracun. Metomil. namun insektisida ini menghadapi masalah utama yaitu percepatan perkembangan strain hama baru yang tahan terhadap insektisida SP. Fention.5 atau 6 atom. Oleh karena itu fumigan banyak digunakan untuk mengendalikan hama simpanan/gudang. Salah satu anggota generasi pertama adalah Allethrin. Generasi ketiga adalah Fenvalerate dan Permethrin. Derivat Heterosiklik seperti fenil mereka memiliki bangunan rantai tetapi perbedaannya satu atau beberapa atom C ditempati oleh O. Contoh insektisida golongan karbamat adalah Aldikarb. hama rumah kaca. generasi yang lanjut merupakan perbaikan sifat SP generasi sebelumnya. Yang termasuk derivat ini antara lain Klorpirifos. Piretroid Sintetik (SP) Piretroid merupakan kelompok insektisida organik sintetik konvensional yang paling baru. Paration.

Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen Terbunuhnya musuh alami Musuh-musuh alami seperti tikus yang mampu membunuh serangga justru mati karena insektisida buatan. Zatnya lebih cepat bereaksi pada tanaman yang diberi pestisida Kemasan lebih praktis Bersifat tahan lama untuk disimpan Daya racunnya tinggi (langsung mematikan bagi serangga) 2. B. Pb Arsenat. 4. masalah ketahanan hama terhadap insektisida dan efisikasinya lebih rendah bila dibandingkan insektisida organik sintetik. Hal itu berakibat pada berkurangnya tingkat kesuburan tanah. Pencemaran itu menurut Kompas 10 Mei 1993 berasal dari tambak udang yang menggunakan Brestan untuk membunuh siput dan hama yang memakan benur. Minyak Minyak tanah sejak abad ke 18 telah digunakan untuk mengendalikan serangga yang merugikan manusia antara lain untuk nyamuk dan hama buah-buahan. Kelebihan Mudah didapatkan di berbagai tempat Insektisida dapat dibeli dimana saja bahkan pemerintahpun memberi subsidi biaya penggunaan pestisida. 4. ftotoksisitas tinggi. 3. antara lain : CH3Br. Naftalena. 8. dan lain-lain. b.75 g setara dengan ¾ liter atau ½ kaleng racun nyamuk yang jika diminum dapat menimbulkan kematian. 1. Contoh : kematian 13 orang di Aceh Utara akibat mengkonsumsi tiram (Ostrea culcullata) yang tercemar pestisida. Kelemahan insektisida anorganik adalah toksisitas tinggi untuk mamalia termasuk manusia. Minyak tanah yang telah disuling efektif untuk pengendalian tungau. Insektisida Lain Masih banyak kelompok insektisida lain di luar yang telah disebutkan sebelumnya seperti Formamidin. lingkungan perairan yang tercemar menyebabkan satwa yang hidup di dalam dan sekitarnya turut tercemar bahkan insektisida yang dikonsumsi oleh ikan membuat manusia yang memakan ikan-ikan tersebut terserang penyakit atau kematian. Kelebihan dan Kelemahan Insektisida Kimia 3. 6. Tak jauh berbeda. 5. Tiosianat. Termasuk dalam Anorganik adalah Kalium Arsenat. 7. Pencemaran lingkungan (air dan tanah ) oleh residu bahan kimia Residu yang tertinggal menyebabkan turunnya populasi hewan tanah.5-12. Organotin dan lain-lain. 1. 2. Umumnya insektisida tersebut adalah racun perut. Kriolid dan Belerang. Oleh karena itu sebelum digunakan minyak tanah harus disuling lebih dahulu dengan tehnik tertentu. Kekurangan Hama menjadi kebal (resisten) Peledakan hama baru (resurjensi) Penggunaan insektisida yang berlebihan justru mengakibatkan hama kebal terhadap insektisida sehingga terjadi resurjensi. . A. Tidak ramah lingkungan Harganya mahal Membahayakan kesehatan manusia Jika manusia mengkonsumsi makanan yang mengandung residu pestisida dengan kadar 100 g setiap hari maka dalam setahun manusia mengkonsumsi bahan aktif pestisida sekitar 5. Contoh: Widjanarka dari kelompok relawan anti penyalahgunaan pestisida menuturkan bahwa kubis di daerah Cipanas mengandung pestisida sejenis paration 6.Beberapa contoh fumigan Kloropikrin. Masalah utama yang dihadapi dalam penggunaan minyak tanah adalah fitotoksisitasnya yang tinggi. 5. 7. aphid dan kutu-kutu tanaman. Termasuk dalam kelompok ini adalah insektisida Anorganik yang sudah lama tidak digunakan lagi setelah adanya insektisida organik sintetik. Hal itu membuat eksistensi serangga meningkat sedangkan jumlah musuh alami menurun. residu di lingkungan persisten. 6.

Kejadian tersebut umumnya disebabkan kurangnya perhatian atas keselamatan kerja dan kurangnya kesadaran bahwa insektisida adalah racun. terutama insektisida sintesis adalah biosida yang tidak saja bersifat racun terhadap jasad pengganggu sasaran. sehingga dalam melakukan penyimpanan dan penggunaannya tidak memperhatikan segi-segi keselamatan. insektisida banyak memberi manfaat dan keuntungan. setelah berbulan atau bertahun. kurang menyadari daya racun insektisida. sehingga cairan semprot mengenai tubuhnya. dengan alasan dosis yang rendah tidak mampu lagi mengendalikan hama dan penyakit tanaman. terselubung bahaya yang mengerikan. kejang-kejang. insektisida dapat meracuni manusia atau hewan ternak melalui mulut. dan saat menyemprot sering tidak menggunakan pelindung. bukan berarti penggunaan insektisida tidak menimbulkan dampak buruk. Sering tanpa disadari bahan kimia beracun tersebut masuk ke dalam tubuh seseorang tanpa menimbulkan rasa sakit yang mendadak dan mengakibatkan keracunan kronis. Dosis dan konsentrasi yang dipakai kadang-kadang ditingkatkan hingga melampaui batas yang disarankan. mata berair. Apabila penggunaan insektisida tanpa diimbangi dengan perlindungan dan perawatan kesehatan. misalnya tanpa kaos tangan dari plastik. Mereka dapat mengalami pusing-pusing ketika sedang menyemprot maupun sesudahnya. c. Kadang-kadang para petani atau pekerja perkebunan. terutama dialami oleh orang yang langsung melaksanakan penyemprotan. atau dibuang di sembarang tempat. atau sesudah melakukan penyemprotan. mulas. Manfaat yang lain. tetapi juga saat mempersiapkan. Diantaranya. Keracunan kronis akibat insektisida saat ini paling ditakuti. pingsan. 20-29 ppm serta kubis dan sawi di daerah Sukabumi juga mengandung pestisida jenis paration 20-29 ppm. antara lain: 1. mudah dan praktis cara penggunaannya. Bahkan kadang-kadang wadah tempat insektisida digunakan sebagai tempat minum.9. Namun. Kecerobohan yang lain. Kerugian berupa timbulnya dampak buruk penggunaan insektisida. terlebih akibat penggunaan insektisida yang tidak bijaksana. Kecelakaan akibat insektisida pada manusia sering terjadi. ternak dan organisma berguna lainnya. cepat menurunkan populasi jasad penganggu tanaman dengan periode pengendalian yang lebih panjang. . Insektisida sering ditempatkan sembarangan. secara lambat laun akan mempengaruhi kesehatannya. ketahuan setelah selang waktu yang lama. secara ekonomi penggunaan insektisida relatif menguntungkan. sedangkan sida berasal dari kata “caedo” yang berarti membunuh. Matinya organisme yang berguna Insektisida dapat membunuh hewan-hewan tanah yang bermanfaat dalam proses menyuburkan tanah. Pada umumnya insektisida. Tak bisa dipungkiri. Pengaruh Negatif Insektisida Terhadap Kesehatan Manusia Insektisida secara harfiah berarti pembunuh hama. tanpa baju lengan panjang. Akhir-akhir ini disadari bahwa pemakaian insektisida. kulit. Insektisida meracuni manusia tidak hanya pada saat insektisida itu digunakan. bahaya insektisida semakin nyata dirasakan masyarakat. berasal dari kata pest dan sida. Akibat Pemakaian Insektisida Kimia Yang Berlebihan Memang kita akui. Secara tidak sengaja. dan tidak mengenakan masker penutup mulut dan hidung. penggunaan dosis aplikasi sering tidak sesuai anjuran. Juga cara penyemprotannya sering tidak memperhatikan arah angin. dan pernafasan. Dibalik manfaatnya yang besar bagi peningkatan produksi pertanian. dan tidak sedikit kasus berakhir dengan kematian. Seseorang yang menderita keracunan kronis. dapat dikelompokkan atas 3 bagian. kulit terasa gatal-gatal dan menjadi luka. Tetapi juga dapat bersifat racun terhadap manusia dan jasad bukan target termasuk tanaman. mudah diproduksi secara besar-besaran serta mudah diangkut dan disimpan. Pest meliputi hama penyakit secara luas. orang yang sering berhubungan dengan insektisida. atau muntah-muntah. khususnya insektisida sintetis ibarat pisau bermata dua.

Menurut World Health Organization (WHO). masalah residu insektisida pada produk pertanian dijadikan pertimbangan untuk diterima atau ditolak negara importir. Belakangan ini. Selain keracunan langsung. tomat. makin berbahaya bagi konsumen. kemandulan dan penyakit liver. dampak negatif insektisida bisa mempengaruhi kesehatan orang awam yang bukan petani.000 orang per tahun. Apabila jenis insektisida mempunyai residu terlalu tinggi pada tanaman. sedangkan yang berbentuk cairan sangat berbahaya bagi kulit. terutama terdapat pada tanaman sayur-sayuran seperti kubis. pemerintah Indonesia melalui Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Pertanian sebenarnya telah membuat keputusan tentang penetapan ambang batas maksimum residu insektisida pada hasil pertanian. Kemungkinan ini bisa terjadi akibat sisa racun (residu) insektisida yang ada didalam tanaman atau bagian tanaman yang dikonsumsi manusia sebagai bahan makanan. membuat . atau orang yang sama sekali tidak berhubungan dengan insektisida. anggur dan lain- lainnya. Tetapi kurun waktu belakangan ini. Dewasa ini. maka akan membahayakan manusia atau ternak yang mengkonsumsi tanaman tersebut. dan teratogenic (kelahiran anak cacad dari ibu yang keracunan).000 orang dirawat akibat keracunan. tanpa sadar telah kemasukan racun insektisida melalui hidangan makanan yang dikonsumsi setiap hari. bawang.karena efek racun dapat bersifat carsinogenic (pembentukan jaringan kanker pada tubuh). petsai. bisa sepuluh sampai lima belas kali dalam semusim. Diramalkan.. paling tidak 20. Belakangan ini produk pertanian Indonesia sering ditolak di luar negeri karena residu insektisida yang berlebihan. ekspor cabai Indonesia ke Singapura tidak dapat diterima dan akhirnya dimusnahkan karena residu insektisida yang melebihi ambang batas. cabai. residu insektisida di dalam makanan dan lingkungan semakin menakutkan manusia. karena dapat masuk ke dalam jaringan tubuh melalui ruang pori kulit. masih dilakukan aplikasi insektisida. belum banyak pengusaha pertanian atau petani yang perduli. bahan kimia Metil Isosianat telah bocor dari pabrik Union Carbide yang memproduksi insektisida sintesis (Sevin). jika masih mengandalkan insektisida sintesis sebagai alat pengendali hama. Insektisida dalam bentuk gas merupakan insektisida yang paling berbahaya bagi pernafasan. terdapat kelainan genetik yang berpotensi menyebabkan bayi tersebut cacat tubuh sekaligus cacat mental.000 orang dan mengakibatkan lebih dari 50. Makin tinggi residu.000 orang per tahun mengalami dampak yang sangat fatal. pemberlakuan ekolabelling dan ISO 14000 dalam era perdagangan bebas. Media massa pernah memberitakan. Kejadian ini merupakan musibah terburuk dalam sejarah produksi insektisida sintesis. Konsumen yang mengkonsumsi produk tersebut. mati akibat keracunan insektisida. pada tahun 80an masih diterima pasar luar negeri. Dan baru menyadari setelah ekspor produk pertanian kita ditolak oleh negara importir. mutagenic (kerusakan genetik untuk generasi yang akan datang). seiring dengan perkembangan kesadaran peningkatan kesehatan. Tragedi itu menewaskan lebih dari 2. akibat residu insektisida yang tinggi. sayur mayur dari Sumatera Utara ditolak konsumen luar negeri. Bahkan beberapa hari menjelang panenpun. Namun pada kenyatannya. Publikasi ilmiah pernah melaporkan dalam jaringan tubuh bayi yang dilahirkan seorang Ibu yang secara rutin mengkonsumsi sayuran yang disemprot insektisida. Tragedi Bhopal di India pada bulan Desember 1984 merupakan peringatan keras untuk produksi insektisida sintesis. Demikian juga pruduksi sayur mayur dari Sumatera Utara. Saat itu. Masalah residu ini. dengan alasan kandungan residu insektisida yang tidak dapat ditoleransi karena melampaui ambang batas. cacat tubuh. Pada tahun 1996.000-10. seperti mengalami penyakit kanker. Sebab jenis-jenis tersebut umumnya disemprot secara rutin dengan frekuensi penyemprotan yang tinggi. Negara maju umumnya tidak mentolerir adanya residu insektisida pada bahan makanan yang masuk ke negaranya. Diperkirakan 5.

Sebab hamparan yang disemprot sangat luas. sebagian besar insektisida yang disemprotkan akan terbawa oleh hembusan angin ke tempat lain yang bukan target aplikasi. Mekanisme seperti yang dikemukakan. dan mencemari tanah. Pencemaran insektisida yang diaplikasikan di sawah beririgasi sebahagian besar menyebar di dalam air pengairan. Pencemaran insektisida di udara tidak terhindarkan pada setiap aplikasi insektisida. 2. residunya dapat bertahan hingga puluhan tahun. Aplikasi insektisida dari udara jauh memperbesar resiko pencemaran. yang menghebohkan sejak tahun lalu. Meskipun konsentrasi residu mengecil. seperti sayuran dan buah-buahan. Dengan demikian insektisida tadi ikut termakan. Residu insektisida sintesis sangat sulit terurai secara alami. Oleh karena insektisida itu persisten. Karena sifat persistensi yang dimiliki insektisida. Dampak Negatif Insektisida Terhadap Kualitas Lingkungan Masalah yang banyak diprihatinkan dalam pelaksanaan program pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah masalah pencemaran yang diakibatkan penggunaan insektisida di bidang pertanian. diduga terjadi pada kasus pencemaran Teluk Buyat di Sulawesi. air dan biota bukan sasaran. . dengan adanya hembusan angin. Demikian pula konsentrasi insektisida di dalam tubuh ikan besar yang memakan ikan kecil tersebut. Rantai konsumen yang terakhir yaitu manusia yang mengkonsumsi ikan besar. maupun di sektor kesehatan. Oleh karena sifatnya yang beracun serta relatif persisten di lingkungan. ada di air minum. Mikroplankton-mikroplankton tersebut kelak akan dimakan zooplankton. Diduga logam-logam berat limbah sebuah industri PMA telah terakumulasi di perairan Teluk Buyat. pemukiman. Sebagian besar insektisida yang jatuh ke tanah yang dituju akan terbawa oleh aliran air irigasi. termasuk bahan pencemar yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan manusia. Dan yang paling berbahaya racun insektisida kemungkinan terdapat di dalam makanan yang kita konsumsi sehari-hari. Memang di dalam air terjadi pengenceran. Sekaligus mempengaruhi secara negatif biota perairan. konsentarsi insektisida di dalam tubuh ikan-ikan tersebut lebih meningkat lagi. Dari beberapa hasil monitoring residu yang dilaksanakan. Pencemaran insektisida terjadi karena adanya residu yang tertinggal di lingkungan fisik dan biotis disekitar kita. Pencemaran dapat terjadi karena insektisida menyebar melalui angin. Bahkan untuk beberapa jenis insektisida. termasuk ikanikan yang dikonsumsi masyarakat setempat. melalui aliran air dan terbawa melalui tubuh organisme yang dikenainya. menyebabkan konsentrasi di dalam tubuh zooplankton meningkat lagi hingga puluhan mungkin ratusan kali dibanding dengan yang ada di dalam air. diketahui bahwa saat ini residu insektisida hampir ditemukan di setiap tempat lingkungan sekitar kita. tetapi masih tetap mengandung resiko mencemarkan lingkungan. Sudah pasti. maupun di udara. partikel insektisida tersebut akan diserap oleh mikroplankton-mikroplankton. maka residu yang ditinggalkan pada lingkungan menjadi masalah. Kondisi ini secara tidak langsung dapat menyebabkan pengaruh negatif terhadap organisma bukan sasaran. akan menerima konsentrasi tertinggi dari insektisida tersebut. maka konsentrasinya di dalam tubuh mikroplankton akan meningkat sampai puluhan kali dibanding dengan insektisida yang mengambang di dalam air. Di dalam air. terjadi melalaui rantai makanan. yang bergerak dari aras tropi yang terendah menuju aras tropi yang tinggi. Sehingga akan menyebabkan kualitas lingkungan hidup manusia semakin menurun. Residu insektisida telah diketemukan di dalam tanah. Insektisida sebagai bahan beracun. air sungai.produk pertanian Indonesia tidak mampu bersaing dan tersisih serta terpuruk di pasar global. kehutanan. sebahagian ada yang terurai dan sebahagian lagi tetap persisten. air sumur. dan terus ke sungai dan akhirnya ke laut. Model pencemaran seperti yang dikemukakan. Bila zooplanktonzooplankton tersebut dimakan oleh ikan-ikan kecil.

dan belum dilarang penggunaaanya untuk kepentingan pertanian. Akan tetapi dalam kenyataannya. dan malahan sebaliknya bisa meningkatkan perkembangan populasi jasad pengganggu tanaman. Burung berukuran tubuh kecil ini diketahui sebagai predator ulat penggerek batang padi (Tryporiza sp). Telah banyak terjadi degradasi lingkungan berupa kerusakan ekosistem. khususnya hama Belalang (famili Locustidae) dan hama serangga Anjing Tanah (famili Gryllotalpidae). dan bangsa burung.Kasus pencemaran lingkungan akibat penggunaan insektisida dampaknya tidak segera dapat dilihat. Penyebabnya. Hal ini sering terjadi. dapat mengakibatkan kematian dan menciptakan hilangnya spesies tertentu yang bukan jasad sasaran. musuh alami hama. yang tercemar melalui rantai makanan. terutama penggunaan insektisida sistemik. Berikut ini diuraikan tiga dampak buruk penggunaan insektisida. Tetapi seiring dengan pesatnya pemakaian insektisida. yang dijadikan burung Tullik sebagai makanan utamanya. Bangsa burung Tullik sangat aktif mencari ulat-ulat yang menggerek batang padi. Insektisida Meningkatkan Perkembangan Populasi Jasad Penganggu Tanaman Tujuan penggunaan insektisida adalah untuk mengurangi populasi hama. invertebrata. tetapi sekaligus mematikan spesies burung pengendali alami tersebut. Di daerah Simalungun. spesies burung Tullik. saat ini sulit diketemukan dan mungkin saja sedang menuju kepunahan. 3. Ada beberapa penjelasan ilmiah yang dapat dikemukakan mengapa insektisida menjadi tidak efektif. Sehingga sering kali diabaikan dan terkadang dianggap sebagai akibat sampingan yang tak dapat dihindari. salah satu adalah akibat pengaruh buruk insektisida terhadap lingkungan. Satu lagi. Belakangan ini. disamping pemakan biji-bijian. sehingga tujuan penyelamatan kerusakan tidak tercapai. Bahkan belakangan ini. Untuk mencegah gangguan serangga Gryllotalpidae yang menyerang kecambah padi yang baru tumbuh. spesies tersebut sulit diketemukan. Bahkan pemerintah melarang peredaran jenis insektisida tertentu yang berpotensi menimbulkan dampak buruk. penggunaan insektisida memang sudah diatur dan dikendalikan. khususnya yang mempengaruhi peningkatan perkembangan populasi hama. Akibat pencemaran lingkungan terhadap organisma biosfer. . mengalami mati massal dan menggeletak diatas permukaan tanah. Bangkai serangga ini tentu saja menjadi makanan yang empuk bagi burung-burung Anduhur bolon. diketahui paling tidak dua jenis spesies burung yang dikenal sebagai pengendali alami hama serangga. Jenis insektisida ini hingga tahun 60-an masih diperjual-belikan secara bebas. populasi burung tersebut menurun drastis. sehingga dalam kondisi normal perkembangan serangga hama penggerek batang padi dapat terkontrol secara alamiah berkat jasa burung tersebut. karena kurang pengetahuan dan perhitungan tentang dampak penggunaan insektisida. Sedangkan kehilangan satu spesies dari muka bumi dapat menimbulkan akibat negatif jangka panjang yang tidak dapat diperbaharui. Akibat efek racun insektisida. sebaliknya malahan sering meningkatkan populasi jasad pengganggu tanaman. seperti yang dikemukakan diatas. pada saat bertanam petani biasanya mencampur benih padi dengan insektisida organoklor seperti Endrin dan Diendrin yang terkenal sangat ampuh mematikan hama serangga. akibat penggunaan insektisida yang tidak bijaksana. biasanya 2-3 hari setelah bertanam serangga-serangga Gryllotalpidae yang bermaksud memakan kecambah dari dalam tanah. Hilangnya spesies burung ini. akibat efek racun yang terkontaminasi dalam tubuh ulat padi. Salah satu contohnya adalah hilangnya populasi spesies predator hama. Spesies burung Anduhur bolon. juga dikenal sebagai predator serangga. Tetapi sebahagian sudah terlanjur. Seringkali yang langsung terbunuh oleh penggunaan insektisida adalah spesies serangga yang menguntungkan seperti lebah.

beberapa jenis-jenis hama yang diketahui resisten terhadap insektisida antara lain hama Kubis Plutella xylostella. sebagai racun yang berspektrum luas. Dengan semakin tahannya hama terhadap insektisida. hama penggerek umbi Kentang Phthorimaea operculella. maka fenomena resistensi adalah permanent. dikenakan pada suatu tekanan lingkungan. akan menghasilkan populasi yang juga tahan secara genetis. merupakan fenomena dan konsekuensi ekologis yang umum dan logis. ada satu atau beberapa individu yang mampu bertahan hidup. dan Ulat Grayak Spodoptera litura. Apabila suatu populasi hama yang terdiri dari banyak individu. Saat ini. waktu dan besarnya ketahanan tersebut bervariasi. Tidak terbunuhnya individu yang bertahan tersebut. Mekanisme timbulnya resistensi hama dapat dijelaskan sebagai berikut. mungkin disebabkan terhindar dari efek racun insektisida. Demikian juga hama hama-hama tanaman padi seperti wereng coklat (Nilaparvata lugens). hama walang sangit (Nephotettix inticeps) dan ulat penggerek batang (Chilo suppressalis) dilaporkan mengalami peningkatan ketahanan terhadap insektisida. maka sebagian besar individu populasi tersebut akan mati terbunuh. Dari penelaahan sifat-sifat hama. petani terdorong untuk semakin sering melakukan penyemprotan dan sekaligus melipat gandakan tinggkat dosis. Resurgensi sangat mengurangi efektivitas dan efesiensi pengendalian dengan insektisida. Keturunan individu tahan ini. . spesies hama mampu membentuk strain baru yang lebih tahan terhadap insektisida tertentu yang digunakan petani. jenis insektisida yang diberikan. mungkin disebabkan kemampuan memproduksi enzim detoksifikasi yang mampu menetralkan daya racun insektisida. maka melalui proses seleksi alami. b. Ketahanan secara genetik ini. Di Indonesia. Karena hama terus menerus mendapat tekanan oleh insektisida. sering kali mati kelaparan karena populasi mangsa untuk sementara waktu terlalu sedikit. Resurjensi hama terjadi karena insektisida. Bila sesuatu jenis serangga telah menunjukkan sifat ketahanan dalam waktu yang cukup lama.a. Munculnya resistensi adalah sebagai reaksi evolusi menghadapi suatu tekanan (strees). juga membunuh musuh alami. Oleh karena itu. telah didata lebih dari 500 spesies serangga hama telah resisten terhadap berbagai jenis kelompok insektisida. hama Kubis Crocidolomia pavonana. Sehingga muncul populasi hama yang benarbenar resisten. Hanya saja. intensitas pemberian insektisida dan faktor-faktor lingkungan lainnya. dan tidak dapat kembali lagi. tetapi juga saat ini telah banyak kasus timbulnya ketahanan pada pathogen/penyakit tanaman terhadap fungisida. serangga tersebut tidak akan pernah berubah kembali lagi menjadi serangga yang peka terhadap insektisida. populasi hama menurun dengan cepat dan secara tiba-tiba justru meningkat lebih tinggi dari jenjang polulasi sebelumnya. Oleh karena sifat resistensi dikendalikan oleh faktor genetis. dipengaruhi oleh jenis hama. Penggunaan insektisida yang berlebihan ini dapat menstimulasi peningkatan populasi hama. Munculnya Ketahanan (Resistensi) Hama Terhadap Insektisida Timbulnya ketahanan hama terhadap pemberian insektisida yang terus menerus. Tetapi dari sekian banyak individu. Pada tahun 1947. dua tahun setelah penggunaan insektisida DDT. ketahanan gulma terhadap herbisida dan ketahanan nematode terhadap nematisida. pada generasi berikutnya anggota populasi akan terdiri dari lebih banyak individu yang tahan terhadap insektisida. Ketahanan terhadap insektisida tidak hanya berkembang pada serangga atau binatang arthropoda lainnya. Resurgensi Hama Peristiwa resurgensi hama terjadi apabila setelah diperlakukan aplikasi insektisida. hampir setiap individu memiliki potensi untuk menjadi tahan terhadap insektisida. Musuh alami yang terhindar dan bertahan terhadap penyemprotan insektisida. misalnya penyemprotan bahan kimia beracun. diketahui muncul strain serangga yang resisten terhadap DDT. atau sebahagian karena sifat genetik yang dimilikinya.

Carpophilus hemipterus. Tylenchus filiformis.. Sogatella furcifera. Tribolium sp. sampai tingkat yang merusak.. Jenis Insektisida Alami 1. dilaporkan pernah terjadi ledakan hama ganjur di hamparan persawahan Jalur Pantura Jawa Barat.. Ophiomya reticulipennis. Empoasca sp. serangga hama akan berada pada kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Akibatnya populasi hama meningkat tajam segera setelah penyemprotan. dengan menyemprotkan Dimecron pada tanaman padi muda. ternyata dari penelitian lima tahun terakhir dibuktikan bahwa ada jenis-jenis insektisida tertentu yang memacu peningkatan telur serangga hama . Agrotis ipsilon.sehingga tidak tersedia makanan dalam jumlah cukup. sp. Insektisida tersebut tidak hanya membunuh hama utama yang menjadi sasaran.. mungkin disebabkan penggunaan insektisida golongan khlor secara intensif untuk mengendalikan hama sundep dan weluk. Rhizoctonia solani. Phytophthora sp. Corcyra cephalonnomia. Heliothis armigera. Locusta migratoria. Fusarium oxyporum. Resurgensi hama. dan nimbin. Peristiwa terjadinya ledakan populasi hama sekunder di Indonesia. akibat penggunaan insektisida yang berspektrum luas. Dasynus sp. karena parasitoidnya terbunuh. Lepinotarsa decemlineata. bakterisida. INSEKTISIDA ALAMI a. kecoa. diketahui terdapat beberapa hama utama dan banyak hama-hama kedua atau hama sekunder. salannin.. Hasil ini telah dibuktikan International Rice Research Institute terhadap hama Wereng Coklat (Nilaparvata lugens). tetapi kemudian terjadi peningkatan populasi pada spesies yang sebelumnya bukan hama utama. ulat jengkal (Hyposidra talaca). Meloidogyne sp. setelah daerah tersebut disemprot intensif insektisida Dimecron dari udara untuk memberantas hama utama penggerek padi kuning Scirpophaga incertulas. Crysptolestes pussillus. acarisida. yang dalam keadaan normal secara alamiah efektif mengendalikan populasi hama sekunder. palnoccocus citri. Umumnya tujuan penggunaan insektisida adalah untuk mengendalikan hama utama yang paling merusak. Aphis gossypii. Munculnya hama wereng coklat Nilaparvata lugens setelah tahun 1973 mengganti kedudukan hama penggerek batang padi sebagai hama utama di Indonesia. Senyawa aktif yang dikandung terutama terdapat pada bijinya yaitu azadirachtin. Callosobruchus chinensis. Tungau jingga (Erevipalpis phoenicis). Alternaria tenuis. hama ganjur dapat berkembang dengan baik. Kondisi demikian terkadang menyebabkan musuh alami beremigrasi untuk mempertahankan hidup. Tanaman ini dapat digunakan sebagai insektisida. Sclerotium rolfsii. Penelitian dirumah kaca membuktikan. Pestalotia. Mimba (Azadirachta indica) Tanaman ini telah lama dikenal dan mulai banyak digunakan sebagai pestisida nabati menggantikan pestisida kimia.. pratylenchus sp.. Sitophilus sp. fungisida. tetapi juga membunuh serangga berguna.. Peristiwa ledakan hama sekunder terjadi. Helycotylenchus sp. Nephotettix virescens. meliantriol. Musca domestica. C. Disisi lain. Sumber makanan tersedia dalam jumlah cukup dan pengendali alami sebagai pembatas pertumbuhan populasi menjadi tidak berfungsi. Spodoptera litura. selain disebabkan karena terbunuhnya musuh alami. apabila setelah perlakuan insektisida menghasilkan penurunan populasi hama utama. . c. Earias insulana. Tanaman ini dapat mengendalikan OPT seperti : Helopeltis sp. Nilaparvata lugens. Ledakan ini seringkali disebabkan oleh terbunuhnya musuh alami. Dysdercus cingulatus.. tungro pada padi. Crocidolomia binotalis. Epilachna varivestis. nematisida dan virisida.. Ledakan Populasi Hama Sekunder Dalam ekosistem pertanian.

Sifat piretrin sebagai insektisida kontak. Helycotylenchus sp. Ophiomya reticulipennis. Doleschallia polibete. Plutella xylostella. Tapi. Tribolium sp. kecoa Crysptolestes pussillus. 2.. tetapi bila serangga tidak bisa menetralkan tahap pertama maka jaringan syaraf akan terganggu dan akhirnya mati..Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan: 1. Biji nimba dikupas / daun dimba ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 20 – 25 gram/l. Sifat piretrum jaman sekarang ditiru untuk formulasi insektisida jenis aerosol.. Rhizoctonia solani. Namun. Hasil penumbukan direndam dalam air dengan konsentrasi 20 gram/l selama 24 jam. 2. Tylenchus filiformis. bila permukaan di tempat gelap. 5. Carpophilus hemipterus. Agrotis ipsilon. Negara penghasil piretrin di dunia adalah Kenya. Pratylenchus sp. Crocidolomia binotalis. Serangga biasanya lumpuh (knock down) tetapi dapat normal kembali bila tahap pertama bisa di atasi. Aplikasi dilakukan dengan cara disemprotkan atau disiramkan. Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan: 1. Pertama kali ditemukan pada abad 19 di jaman perang Napoleon untuk mengendalikan kutu manusia. 4. Hyalopterus pruni. Dysdercus cingulatus. zat ini akan bertahan maksimal 2 minggu. Fusarium sp. Piretrum (Chysanthemum cinerariaefolium VIS) Bahan ini berasal dari ekstrak bunga Chrysanthemum cinerariraefolium. Drosophilla spp. 3. aceton atau minyak tanah sebagai pelarut. Helopeltis sp. lalu sebarkan/letakkan didekat sarang atau dijalur hama tersebut mencari makan. 3. Spodoptera litura. Aphis gossypii. 4. Endapkan selama 24 jam kemudian disaring agar didapat larutan yang siap diaplikasikan. Mahkota bunga dikeringkan lalu ditumbuk. Sclerotium rolfsii. Aplikasi dapat dilakukan dalam bentuk tepung yang dicampur dengan bahan pembawa seperti kapur dan bedak atau menggunakan alkohol. Planococcus citri. Sitophilus sp. Aplikasi dilakukan dengan cara penyemprotan. Cara kerja piretrin adalah dengan dua tahap yaitu dengan meracuni serangga kemudian mengganggu syaraf (blockade) serangga. Locusta migratoria. Musca domestica. maka peneliti mensintetiskan piretrin dengan senyawa mirip piretrin yang sekarang dikenal dengan piretriod (oid = mirip dan pire = piretrin). Tapi dikarenakan jumlah ekstrak bunga dari bahan alami ini terbatas. Nephotettix virescens. Corcyra cephalonica.. ulat jengkal. Di sini.. Di Indonesia sebelum maraknya piretroid digunakan piretrin dari ekstrak Pyrethrum marc. serangga tidak akan mati. Earias insulana. 2. Aplikasi dari tanaman ini dapat digunakan untuk mengendalikan Aphis fabae. Produsen sangat menyukai menggunakan piretrin dikarenakan harganya murah dan biaya produksinya pun rendah. sehingga pemakiaan bahan ini persentasinya kecil sampai sekarang.. Sedangkan untuk pengendalian hama gudang dilakukan dengan cara membakar daun atau batang hingga didapatkan abu. Epilachna varivestis. . Cricula trifenestrata. zat piretrin ini jumlahnya terbatas. Callosobruchus chinensis. Macrosephum rosea. Hasil endapan kemudian disaring agar didapatkan larutan yang siap diaplikasikan. tetapi nyaris tidak meninggalkan bekas (non-residual) bila permukaan yang diolesi terpapar oleh cahaya. Empoasca fabae. Piretrum mempunyai 6 bahan aktif yang secara kolektif dikenal dengan piretrin. Jadi. Thrips Choristoneuro pinus. Nilaparvata lugens. Tasmania dan Australia. Meloidogyne sp. yang termasuk insektisida golongan piretroid saat ini adalah pensintetisan dari piretrin.

Stegobium panicum. Cara kerja zat aktif dari tanaman ini adalah dengan menghambat perkembangan bakteri dan jamur. Sejak jaman kolonial tanaman ini banyak ditanam hampir di seluruh wilayah Indonesia terutama di Maluku dan Sulawesi.. Bakung (Crinum asiaticum L. Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan: 1. Radopholus similis. enzim katalase. Dacus sp.) Tanaman sirih dengan banyak nama daerah merupakan tanaman yang telah lama dikenal sebagai bahan baku obat tradisional. Streptococcus viridans dan Staphylococcus aureus.. Aplikasi dilakukan dengan cara penyiraman larutan semprot ke sekitar tanaman yang sakit atau dengan mengoleskan larutan pada bagian yang terserang (sakit). Tanaman ini walaupun belum secara efektif dapat mengendalikan Phytophthora sp. 4. 2.) Tanaman ini telah lama digunakan sebagai bahan obat tardisional depresan sistem syarat pusat.B. hemantimin. Rigidoporus sp. Senyawa aktif yang dikandung oleh tanaman ini dapat menghambat/menekan pertumbuhan/perkembangan cendawan penyebab penyakit. Fusarium oxyporum. Tanaman ini dapat digunakan sebagai pestisida nabati karena dapat digunakan sebagai insektisida.. hama. Setelah itu disaring agar didapatkan larutan yang siap diaplikasikan. Tanaman ini dapat digunakan sebagai pengganti pestisida yang berfungsi sebagai bakterisida. nematoda dan bakteri. dan virisida. Phytophthora sp. Tanaman ini bermanfaat untuk menekan /menghambat pertumbuhan Fusarium oxyporum. Cengkeh (Syzygium aromaticum L. Pseudomonas solanacearum. Sirih (Piper betle L. kosmetik. gula. 3. bakterisida. Meloidogyne incognita. 2. krinin dan krianamin. dan nematisida. dan C. OPT yang dapat dikendalikan antara lain: Fusarium sp. dapat digunakan sebagai bahan pestisida alternatif karena dapat digunakan/bersifat sebagai fungisida dan bakterisida. amilum/pati. . baik sebagai bumbu dapur maupun bahan baku industri (rokok. Menumbuk daun dan atau umbi lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l selama 24 jam.. 3. Senyawa yang dikandung oleh tanaman ini antara lain profenil fenol (fenil propana).) Tanaman cengkeh telah lama dikenal masyarakat. obat) dengan nilai komersial yang tinggi. Sclerotium sp. Larutan hasil perendaman ini disaring agar didapat larutan yang siap diaplikasikan. 5. vitamin A. Daun sirih ditumbuk lalu direndam dalam air dengan konsentrasi 25 – 50 gram/l selama 24 jam. enzim diastase tanin.. fungisida. Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan: 1.3.. Aplikasi dilakukan dengan cara penyemprotan. serta kavarol. Senyawa dari tanaman ini mengandung alkaloid yang terdiri dari likorin.

dan pupa. jika menggunakan serasah daun cengkeh dosis yang digunakan 100 gram/pohon. Limonene/ d-limonene Limonene/d-limonene adalah nama latin dari ekstrak kulit jeruk. dalam tanah maupun pada aliran air alami. bunga atau tangkai bunga ditumbuk hingga menjadi tepung. 13. 9. Sebagai insektisida. yaitu menggangu sistem syaraf namun tidak mengambat enzim. dapat juga diekstrak (laboratorium). Di Indonesia rotenon dikenal sebagai racun ikan pada tambak udang. pinjal dan caplak. 2. seperti aphid dan ulat. Rotenon Bahan ini dibuat dari akar dua genus tanaman kacangkacangan (Legume). dari Amerika Selatan. rotenon ini merupakan racun kontak dan perut yang akan membuat serangga berhenti makan dan akhirnya mati. fungisida. 6. Nikotin sangat efektif pada serangga-serangga berkulit lunak. yaitu menolak kehadiran serangga. 2. seperti membunuh tungau. Dapat menyebabkan gangguan dalam proses metamorfosa dan gangguan makan (anti feedant) bagi serangga. 7. Tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian. 7. larva. 5. b. Rotenon spesifik hanya membunuh ikan liar pada kolam-kolam atau tambak udang. Mengacaukan sistem hormone di dalam tubuh serangga. 9. pemikat kehadiran serangga yang dapat dipakai pada perangkap serangga. Merusak perkembangan telur. Yakni berupa Derris elliptica dari Asia Tenggara dan Lonchocarpus sp. Kelebihan dan Kekurangan Insektisida Alami A. Cara kerja dari nikotin adalah dengan membuat serangga menjadi kejang tetapi hanya terjadi di syaraf-syaraf pusatnya saja. Sebarkan tepung/minyak tersebut pada tanaman atau sekitar perakaran yang terserang dengan dosis 50 gram/pohon. Repelan. Pada tanaman dengan serangan ringan dapat dilakukan penyayatan pada akar kemudian diolesi dengan tepung/ minyak cengkeh. Azadirachtin . 3. 10. Zat ini efektif digunakan sebagai insektisida. Menghambat reproduksi serangga betina. Atraktan. 8. Merupakan pengendalian hama yang ramah lingkungan. dan bakterisida. Daun. Cara kerja dari Limonene/d-limonene ini mirip dengan piretrin. Cara kerja dari Azadirachtin adalah mengganggu pergantian kulit dengan menghambat metabolisme atau biosintesis ekdison. Cara kerja dari rotenon ini adalah menghambat enzim pernafasan dan metabolisme serangga. Nikotin Nikotin adalah ekstrak yang berasal dari tembakau. Kelebihan 1. Insektisida ini paling efektif untuk mengendalikan hama hewan peliharaan.Bahan ini merupakan ekstrak dari biji tanaman mimna/neem (Azadirachta Indica). Racun syaraf bagi hama. Misal: dengan bau yang menyengat. 8. Tidak mengeluarkan biaya yang besar. 12. mencegah serangga memakan tanaman yang telah disemprot. Tidak menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman Cara pemanfaatan tanaman ini sebagai pestisida nabati dapat dilakukan dengan: 1. 4. 3. 6. Zat ini bahkan dibuat bubuknya (Tobacco dust) yang digunakan untuk repelen anjing dan kelinci. Antifidan. 11. Mengendalikan pertumbuhan jamur/bakteri.

Mengurangi resistensi hama 16.14. Ketersediaan bahan baku yang musiman 12. Biaya lebih murah. mengurangi ketergantungan petani terhadap agrokimia. Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan baku 3. 15. Dapat mempengaruhi keseimbangan ekosistem 10. 21. Tidak tahan disimpan 5. B. Bahan nabati alami terkandung dalam kadar yang rendah sehingga untuk mencapai efektivitas yang memadai diperlukan jumlah bahan tumbuhan yang banyak dan diperlukan standar pengolahan untuk tiap tanaman dan standar aplikasi pengguanaan bagi pengendalian OPT. . 20. Harus disemprotkan secara berulang-ulang 8. Kurang praktis 4. Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering 2. Kekurangan 1. Mengurangi resiko terjadinya letusan hama kedua. Mengurangi bahaya bagi manusia dan ternak. Tidak mencemari alam. 19. 17. Daya tahan singkat (mudah terdegradasi) sehingga memerlukan frekuensi penggunaan yang lebih banyak daripada pestisida sintetik 11. Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga) 6. Kelebihan musuh alami dapat menimbulkan kerusakan lingkungan yang baru 9. Cara kerjanya (efek mortalitasnya) lambat 7. Insektisida alami merupakan bahan yang mudah terurai di alam sehingga tidak dikhawatirkan akan menimbulkan bahaya residu yang besar. 18. Mengurangi kematian musuh alami hama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful