Kasus Tuan R 28 tahun datang ke RS dengan keluhan kakinya terasa nyeri, sulit digerakkan dan mulai tidak bisa

tidak terasa geraknya, sering buang air besar dan buang air kecil tanpa sadar. Tuan R adalah buruh serabutan. Lima HSMRS tuan R terjatuh dari pohon akasia dengan posisi duduk. Klien didiagnosis : Fraktur kompresi vertebra Th 12-L4, paraplegia dan inkotinensia urin dan alvi. Pertanyaan: 1. Apa perbedaan medula spinalis dan vertebra? 2. Uraikan definisi trauma medula spinalis! 3. Uraikan patofisiologi trauma medula spinalis! 4. Bagaimana penanganan awal Cedera medulla spinalis? 5. Bagaimana manifestasi klinis cidera medulla spinalis: Cervical Torakal Lumbal Sacral

6. Bagaimana penanganan lanjut trauma medulla spinalis? 7. Uraikan latiahan fisik yang diperlukan pada pasien dengan trauma medulla spinalis! 8. Uraikan komplikasi trauma medulla spinalis! 9. Uraikan trends dan issues terkait trauma medulla spinalis! 10. Apa yang dimaksud, paraparase, tetraparasequaddriplegia dan paraplegi? 11. Apa discharge planning yang perlu diberikan pada pasien klien dengan trauma medulla spinalis? 12. Bagaimana pencegahan trauma medulla spinalis? 13. Masalah keperawatan apa yang dapat muncul pada klien dengan trauma medulla spinalis? 14. Bagaimana tujuan dan criteria hasil serta intervensi apa yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah tersebut?

Vertrebra tumbuh sekitar 25 cm lebih panjang dari medulla spinalis. Trauma medulla spinalis adalah kehilangan sensasi fungsi motorik volunter total dan tidak komplet : campuran kehilangan sensasi dan fungsi motorik volunter (Marilynn E. Trauma medulla spinalis Trauma yang terjadi pada jaringan medula spinalis yang dapat menyebabkan fraktur atau pergeseran satu atau lebih tulang vertebra atau kerusakan jaringan medula spinalis lainnya termasuk akar-akar saraf yang berada sepanjang medula spinalis sehingga mengakibatkan defisit neurologi.Jawab: 1. 2. Perbedaan medulla spinalis dan vertrebra dari segi fungsinya Vertrebra : menopang tubuh manusia dalam posisi tegak. Trauma medulla spinalis dapat terjadi bersamaan dengan trauma pada tulang belakang( fraktur tulang belakang) ligamentum lunitudinalis posterior dan duramater bisa robek. yang secara mekanik sebenarnya melawan pengaruh gravitasi agar tubuh secara seimbang tetap tegak Medulla spinalis : sebagai pusat saraf (mengintegrasikan sinyal sensoris yang dating dan mengaktifkan respon motorik secara langsung tanpa campur tangan otak serta sebagai pusat perantara antara saraf tepid an otak Perbedaan medulla spinalis dan vertrebra dari segi pertumbuhan vertrebra melebihi kecepatan pertumbuhan medulla spinalis.1999. Perbedaan panjang ini menyebabkan konus medularis ( bagian paling kaudal dari medulla spinalis yang berbentuk krucut dari terutama terdiri atas segmen-segmen sacral medulla spinalis) dan cauda equine( kumpulan radiks nervus lumbaris bagian kaudal dan radiks nervus sakralis yang mengapung dalam CSF) Trauma medulla spinalis : trauma yang terjadi pada jaringan medulla spinalis yang dapat menyebabkan fraktur atau pergeseran satu atau lebih tulang vertebra atau kerusakan jaringan medulla spinalis lainnya termasuk akar-akar saraf yang berada sepanjang medulla spinalis sehingga mengakibatkan deficit neurologi.338). Doenges. .

karena anoksemia dapat menimbulkan atau memperburuk deficit neurologic medulla spinalis. oksigenasi dan . Material diskus akan masuk dalam badanvertebra dan menyebabkan vertebra menjadi pecah. suatu trauma vertical yang secara langsung mengenai vertebra yang akan menyebabkan kompresi aksial. khususnya metilprednisolon. Pada kondisi ini terjadi Burst fracture. Intubasi endotrakea diberikan bila perlu. Tindakan Pernapasan.Px diresusitasi bila perlu. Fraktur kompresi dan fraktur dislokasi biasanya stabil. sehingga kerusakan korda sering ditemukan dengan adanya manifestasi defisit neurologis. diberikan dalam kombinasi.3. yang dapat menimbulkan tekanan pada cedera servikal. Yang masih dalam penyelidikan adalah pengobatan dengan steroid dosis tinggi. Nalokson. kanalis spinalis pada segmen torakal relative sempit . Farmakoterapi. Kompresi vertical (aksial) . Tetapi. CEDERA MEDULLA SPINALIS Penatalaksanaan Cedera Medulla Spinalis (Fase Akut) Tujuan : untuk mencegah cedera medulla spinalis lanjut dan mengobservasi gejala penurunan neurologic. Oksigen diberikan untuk mempertahankan PO2 arteri tinggi. mannitol (diberikan untuk menurunkan edema) dan dekstran (diberikan untuk mencegah tekanan darah turun cepat dan untuk memperbaiki aliran darah kapiler). 4. Nukleus pulposus akan memecahkan permukaan serta badan vertebra secara vertical. telah ditemukan untuk memperbaiki prognosis dan menurunkan kecacatan bila diberikan dalam 8 jam cedera. Patofisiologi Cedera vertebra torako-lumbal bisa disebabkan oleh trauma langsung pada torakal atau bersifat patologis seperti pada kondisi osteoporosis yang akan mengalami fraktur kompresi akibat keruntuhan tulang belakang. perawatan ekstrem dilakukan untuk menghindari fleksi atau ekstensi leher. kerusakan pada badan tulang belakang dan medulla spinalis secara klinis akan lebih parah dimana apabila ligament posterior sobek maka akan terjadi fraktur spinal tidak stabil. Pemberian kortikosteroid dosis tinggi. dan stabilitas kardiovaskuler dipertahankan.

Penatalaksanaan cedera medulla spinalis memerlukan imobilisasi dan reduksi dislokasi (memperbaiki posisi normal) dan stabilisasi kolum vertebra. Manifestasi klinis cedera medulla spinalis torakal T1 T1-T8 T9-T12 L1-L2 L3 L4 L5 : gangguang fungsi tangan : gangguan fungsi pengendalian otot abdominal. 5. atau dengan menggunakan alat halo.Traksi dan Reduksi Skelet. : gangguan gerakan kaki : gangguan fleksi lutut c. Fraktur Servikal dikurangi dan spinal servikal disejajarkan dengan beberapa bentuk traksi skelet seperti tong skelet atau calipers. pengaturan suhu. Manifestasi klinis cedera medulla spinalis cervical C1-C3 C4 C5 C6 – C7 tangan. gangguan stabilitas tubuh. Manifestasi klinis cedera medulla spinalis lumbal : gangguan fungsi diafragma (untuk pernapasan) : gangguan fungsi biceps dan lengan atas : gangguan fungsi gerakan bahu. Manifestasi medulla spinalis: a. C8 : gangguan fungsi jari Gangguan motoriknya yaitu kerusakan setinggi medula spinalis servical menyebabkan kelumpuhan tetraparese b. Manifestasi klinis cedera medulla spinalis sacral S1 S2-S3 S2-S4 : gangguan gerakan kaki : gangguan gangguan aktivitas kandung kemih dan usus : gangguan ereksi penis . tangan dan pergelangan tangan : gangguan fungsi tangan secara komplit. gerakan siku dan pergelangan Gangguan motorik yaitu kerusakan medula spinalis thorakal sampai dengan lumbal memberikan gejala paraparese d. : kehilangan parsial fungsi otot abdominal dan batang tubuh : gangguan ejakulasi dan gerakan pinggul : gangguan ekstensi lutut.

Gangguang motorik kerusakan medula spinalis sacral menyebabkan gangguan miksi & defekasi tanpa para parese Cedera pada segmen lumbal dan sakral dapat mengganggu pengendalian tungkai. Misalnya seperti berdiri. perut. cedera vertebra dapat berakibat lain seperti spastisitas atau atrofi otot. . • Membalikkan pasien (logroll) setiap 2 jam indikasi pada pasien yang mengalami hipotensi akibat adanya lesi di atas ketinggian midtorakanl yang mengalami kehilangan kontrol aktivitas vasokontriktor simpatis. Harus ada ruang antara ujung matras dan papan kaki untuk memungkinkan suspensi bebas tumit. Biasanya pasien dengan cedera medulla spinalis melakukan latihan ROM pasif. untuk mencegah perubahan osteoporosis yang terjadi pada tulang panjang. dan leher pasien paralisis secara pasif karena pasien mengalami paralegia. Penanganan lanjut dari cedera medulla spinalis adalah : • • • Pemeriksaan diagnostik seperti : CT-scan. 6. tulang belakang. Latihan fisik untuk pasien dengan cedera medula spinalis • Memperbaiki mobilitas seperti kaki diposisikan terhadap papan kaki yang diberi bantalan untuk mencegah foot drop. makin sedikit kemungkinan terjadi atrofi. 7. semacam membuat kerajinan-kerajinan yang bertujuan untuk meningkatkan gerak. tangan. sistem saluran kemih dan anus.bahu. • Meningkatkan aktivitas pada pasien yang mengalami paralisis karena pemutusan komplet medulla. Makin cepat otot menjadi kuat. foto thorax Mempertahankan traksi fraktur Terapi okupasi. dada. Blok kayu pada kedua ujung matras mencegah matras mendorong papan kaki. • Adanya program latihan otot-otot lengan. Selain itu gangguan fungsi sensoris dan motoris.

Sesuai arah cedera. • Cedera medulla spinalis yang berat sebenarnya memegaruhi semua system tubuh sampai beberapa derajat. medulla spnalis dapat mengalami cedera dan menimbulkan gejala dengan sindrom-sindrom berikut ini : 1. Tekanan ini dapat berasal dari depan. Tekanan akibat tulang yang patah atau ketidakstabilan susunan tulang belakang ini bisa hanya menimbulkan cedera (kontusio) sampai kompresi menetap medulla spinalis. dan hipertensi). bradikardia. Selain komplikasi pernapasan ( gagal napas. berkeringat banyak. Anterior cord syndrome. dan atrofi otot terjadi. infeksi ginjal dan saluran kemih. yang terletak antara C3 dan C5 dan mengontrol gerakan diafragma. Para/ tetraplegia . kerusakan kulit dan perkembangan decubitus. piloereksi. pnemunia) dan hiperfleksia autonomic (dikateristikkan oleh sakit kepala berdenyut. Trends dan issues terapi dekompresi medulla spinalis Tulang belakang yang sangat kuat berfungsi melindungi medulla spinalis dari trauma langsung. Komplikasi Trauma Medulla Spinalis : • Apabila kerusakan dan pembekakan di sekitar medulla spinalis terletak di spina servikal (ke bawah sampai sekitar CS 5). • Trombosis Vena Profunda adalah komplikasi umum dari imobilitas dan umumnya pada pasien cedera-medulla spinalis. dengan gejala : a. 9. kongesti nasal.8. komplikasi lain yang terjadi meliputi decubitus dan infeksi (infeksi urinarius. • Hiperrefleksia otonom ditandai dengan tekanan darah yang tinggi disertai bradikardia (frekuensi jantung rendah). Biasanya. dan local pada tempat lain). serta berkeringat dan kemerahan pada kulit wajah dan torso bagian atas. pernapasan.namun pada trauma hebat. samping atau belakang . dan kekuatan benturan tidak mampu ditahan maka tulang justru menekan medulla spinalis. pernapasan dapat berhenti karena kompresi saraf frenikus. • Syok Spinal merupakan depresi tiba-tiba aktivitas reflex pada medulla spinalis (areflexia) di bawah tingkat cidera. Komplikasi Lain.

dengan gejala : a. Quadriplegia adalah kelumpuhan yang diakibatkan oleh lesi yang melibatkan salah satu segmen servikal medulla spinalis dengan disfungsi kedua lengan. Operasi bisa dilakukan dari arah anterior maupun posterior. . Dissociated sensory loss : gangguan rasa nyeri dan raba namun sensasi kinestesi tetap ada. Gangguan motorik pada sisi lesi b.b. Posterior cord syndrome. 4. dan berkemih. Pada saat yang bersamaan harus pula dilakukan tindakan stabilisasi karena biasanya tindakan dekompresi akan mengganggu stabilitas. jarang ada gangguan motorik. defekasi dan berkemih. Yang paling penting diperhatikanadalah masalah waktu : medulla spinalis harus secepatnya dibebaskan dari tekanan. 3. Central cord syndrome. Paraplegia adalah kelumpuhan yang diakibatkan oleh lesi yang mengenai lumbal torakal atau bagian sacral medulla spinalis dengan disfungsi ekstrimitas bawah. Semua ahli bedah setuju bahwa pasien yang memperlihatkan defisit progresif dalam fugsi neurologik dan penderita fraktur terbuka memerlukan dekompresi bedah. dengan gejala : nyeri dan parestesi. Kelemahan anggota gerak atas lebih berat dari anggota gerak bawah. Brown-Sequard syndrome : gangguan medulla spinalis satu sisi. dengan gejala : a. Gangguan sensorik bervariasi di bawah level lesi. Gangguan sensasi nyeri dan temperatur pada kontralat lesi. maka makin banyak strategi pengobatan yang ditemukan. b. Gejala mielopati. c. Terdapat beberapa area penelitian baru yang menjanjikan. Tindakan terapi pada kondisi kompresi ini juga disesuaikan dengan arah trauma. semakin pahamnya para ahli mengenai peristiwa molecular yang mendasari. kedua kaki. Paraparese adalah kelemahan tonus otot pada ekstrimitas bawah Tetraparese adalah kelemahan tonus otot melibatkan salah satu segmen servikal medulla spinalis dengan disfungsi kedua lengan dan kedua kaki. Namun. 10. 2. defekasi.

Perawat memberikan dukungan terhadap pasien dan keluarga. Tujuan dimulai dari tahap hanya mempertahankan hidup akibat cedera sampai strategi yang penting untuk koping terhadap perubahan yang diakibatkan oleh cedera. e. terapi fisik. dan lain – lain. terapi pernapasan. 12 Pencegahan trauma medulla spinalis a. Tujuan pokok proses rehabilitasi adalah kemandirian. d. Perawatan terhadap pasien cedera medulla spinalis harus mencakup seluruh anggota dari disiplin perawatan keperawatan . ini mencakup perawatan. Menggunakan sabuk keselamatan dan pelindung bahu. Dalam banyak kasus. terhadap kehidupan sehari – hari. c. pengobatan. Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah. Perawat sering menjadi kunci dalam perawatan.11. yang membantu mereka untuk menerima tanggung jawab terhadap keterampilan penting menguntungkan. Selain perawatan fisik perawatan mental juga penting dalam proses rehabilitasi pasien trauma medula spinalis. sebagai koordinator pada tim manajemen dan lembaga keperawatan di rumah. 13 Terlampir . Program pendidikan langsung untuk mencegah berkendara sambil mabuk. pasien akan membutuhkan rehabilitasi dalam waktu yang lama. rehabilitasi. pelayanan sosial. Menurunkan kecepatan berkendara b. Menggunakan alat-alat pelindung dan teknik latihan. Menggunakan helm untuk pengendara motor dan sepeda.

dengan kriteria hasil : klien melaporkan nyeri berkurang. batasi pengunjung dan istirahatkan klien. Istirahatkan klien Rasional : istirahat secara fisiologis akan menurunkan kebutuhan oksigen yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan metabolism basal. Intervensi : 1. 1 Nyeri akut berhubungan dengan spasme otot paravertebralis. Rasional : lingkungaan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu kondisi O2 ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada di dalam ruangan. klien gelisah . d. dan tampak meringis Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan selama … x 24 jam nyeri berkurang atau terkontrol. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri nonfarmakologi dan noninvasif.14 Dx. Pertahankan untuk berat badan ideal Rasional : Pengendalian berat badan pada klien dengan proporsi berat badan lebih gemuk akan meningkatkan tekanan pada titik lumbal sehingga akan meningkatkan respon nyeri. . Rasional : meningkatkan asupan oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia spinal. dank lien tampak tidak gelisah. Pasang korset lumbosacral. Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri Rasional : distraksi atau pengalihan perhatian dapat menurunkan stimulus interna. 3. Lakukan management : a. e. Management lingkunagn : lingkungan tenang. c. b. iritasi serabut saraf ditandai dengan klien melaporkan nyeri skala 4. skala nyeri berkurang (1-3) dari skala 0-5 . Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam pada saat nyeri muncul. 2. Rasional : Pendekataan dengan menggunakan tindakan relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri.

. 5. Rasional : meningkatkan sirkulasi. Buat rencana aktivitas untuk klien sehiungga klien dapat beristirahan tanpa terganggu. memberikan kesempatan untuk berperan serta untuk melakukan upaya yang maksimal. . Kolaborasi: pemberian analgesik. 3. Rasional: analgesic memblik lintasan nyeri sehingga nyeri akan berkurang. Bantu atau lakukan latihan ROM pada semua ekstremitas dan sendi. Pertahankan sendi pada 90˚ terhadap papan kaki. Kaji secara teratur fungsi motorik dangan menginstruksikan klien untuk melakukan gerakan pada ekstremitas Rasional : Mengevaluasi keadaan secara khusus untuk membantu dalam mengantisipasi dan merencanakan tindakan intervensi yang akan diberikan. Rasional : Mencegah kelelahan. kolaborasi dengan ahli terapi fisik dari tm rehabilitasi. 2. f. Rasional : Mencegah footdrop dan rotasi eksternal pada paha. 4.. meningkatkan mobilisasi sendi dan mencegah kontraktu dan atrofi otot. mempertahankan tonus otot dan mobilisasi sendi.Rasional: penahan lumbal yang lembut dapat memberi keringanan pada lumbal karena titik beratnya ditarik ke dekat tulang belakang. Intervensi : 1. pakailah gerakan yang lembut. Dx 2 : Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan paraplegia ditandai oleh klien tidak mampu melakukan mobilisasi ekstremitas bawah Tujuan : setelah diberikan tindakan keperawatan selama . x 24 jam hambatan mobilitas klien berkurang dengan kriteria hasil • • Klien dapat melakukan mobilisasi ekstremitas bawah secara bertahap Klien dapat mengenal cara melakukan mobilisasi da secarakooperatif mau melaksanakan teknik mobilisasi secara bertahap. Anjurkan klien untuk berperan serta dalam aktivtas sesuai dengan kemampuan dan sesuai dengan toleransi klien.

Intervensi: 1. Lakukan mobilisasi miring kiri-kanan tiap 2 jam. Lakukan perawatan luka dekubitus: a. Jaga kebersihan dan ganti sprei apabila kotor atau basah. . Rasional: mencegah penekanan setempat yang berlanjut pada nekrosis jaringan lunak. jaringan mati) akan meningkatkan pertumbuhan dari kerusakan jaringan. Rasional: perawatan luka lembab akan membantu prose epitelisasi jaringan. 2. Rasional: mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari tujuan yang diharapkan.. mobilisasi dan kemandirian pasien. Dx 3: Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan penekanan setempat jaringan sekunder dari kelumpuhan gerak ekstremitas bawah. b. Rasional: mencegah stimulus kerusakan pada area bokong yang berisiko terjadi dekubitus. c. 4.Rasional : Membantu dalam merencanakan dan melaksanakan latihan secara individual dan mengidentifikasi atau mengembangkan alat-alat bantu untuk mempertahankan fungsi.. Lakukan nekrotomi. 3. Bersihkan luka dengan cairan normal saline. x 24 jam resiko kerusakan integritas kulit tidak terjadi dengan criteria hasil: • • • • klien terlihat mampu melakukan pencegahan dekubitus lika pada dekubitus membaik: dasar luka kemerahan jaringan nekrotik hilang terdapat penurunan luas luka dekubitus. Monitor resiko adanya dekubitus tiap hari. Tujuan: setelah diberikan tindakan keperawatan selama . Rasional: pembersihan debris (sisa fagositosis. paraplegia. Rasional: nekrotomi dilakukan untuk menghilangkan jaringan mati yang menghambat pertumbuhan jaringan. Kompres luka dengan kasa lembap normal saline.

dispnea. Intervensi: 1.. kelumpuhan otot diafragma.. atau perubahan tandatandavital. Klien mengetahui cara yang diberikan. Rasional: latihan kandung kemih atau bladder retraining dilakukan dengan tujuan untuk mengembalikan pola normal peekemiha dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran air kemih. Tujuan: setelah diberikan tindakan keperawatan selama . Rasional: mengidentifikasi kemajuan atau penyimpangan dari tujuan yang diharapkan.. kerusakan eliminasi urine dan fekal tidak terjadi dengan criteria hasil: • • Klien terlihat mampu melakukan pemenuhan eliminasi urine secara bertahap.. Monitoring kondisi pengeluaran kateterisasi. 2.Dx 4: kerusakan eliminasi urine dan fekal yang berhubungan dengan gangguan fungsi miksi sekunder dari kompresi medulla spinalis. Rasional: kateterisasi akan mengeluarkan urine dari kandung kemih dan meredakan inkontinensia urine. pola napas klien kembali efektif dengan criteria hasil: • • • • RR dalam batas normal(16-20) Tidak ada tanda-tanda sianosis Analisa gas darah dalam batas normal Pemeriksaan kapasitas paru normal Intervensi: 1. Tujuan: setelah diberikan tindakan keperawatan selama . . Rasional: monitor awal untuk mendeteksi adanya infeksi saluran kemih. Lakuakan pemasangan kateter. x 24 jam. Observasi fungsi pernapasan. Ajarkan bladder retraining. 3. x 24 jam. 4. Kaji tingkat pengetahuan dan kemampuan klien dalam melakukan eliminasi urine. Dx 5: pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelemahan otot-otot pernapasan. catat frekuensi pernapasan.

Rasional: kelainan penuh pada perut disebabkan karena kelumpuhan diafragma. 5. yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakuatan atau ansietas. Pertahankan jalan napas. dan kekuatan pernapasan. Pantau analisa gas darah (AGD) Rasional: untuk mengetahui adanya kelainan fungsi pertukaran gas sebagai contoh hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat. Letakkan kantung resusitasi di samping tempat tidur dan manual ventilasi untuk sewaktuwaktu dapat digunakan. 2. volume tidal. bantu klien untuk kontrol diri dengan menggunakan pernapasn lebih lambat dan dalam. posisi kepala tanpa gerak. Rasional: klien dengan cidera servikal akan membutuhkan bantuan untuk mencegah aspirasi atau mempertahankan jalan napas. Rasional: menggambarkan adanya kegagalan pernapasan yang memerlukan tindakan segera. 3. Pertahankan prilaku tenang. Rasional: metode dipilih sesuai dengan keadaan isufisiensi pernapasan. karena otot pernapasan mengalami kelumpuhan. Rasional: bantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia. 9. Rasional: kantung resusitasi atau manual ventilasi sangat berguna untuk mempertahankan fungsi pernapasan jika terjadi gangguan pada alat ventilator secara mendadak. . Kaji distensi perut dan spasme otot. 7. Berikan oksigen dengan cara yang tepat. 6. Trauma pada C1-C2 menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan secara parsial. Observasi warna kulit. Rasional: menentukan fungsi otot-otot pernapasan. Lakuakan pengukuran kapasitas vital. 4. 8.Rasional: distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapt terjadi sebagai akibat stress fisoalogi dapat menunjukkan terjadinya spinal syok. Pengkajian terus menerus untuk mendeteksi adanya kegagalan pernapasan.

Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta. 2000. EGC. 2002. Keperawatan Medikal-Bedah. Edisi 3. Jakarta. EGC Tuti Pahria. EGC.Daftar Pustaka Brunner & suddarth. Jakarta. 2000 . Doengoes. Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ganguan Sistem Persyarafan. dkk. 1993 Marilynn E.

SISTEM NEUROLOGI TRAUMA MEDULLA SPINALIS OLEH : SGD 7 I GEDE SUKMA ARICIPTA I DW GD SUAPRIYANTARA I GEDE BAYU WIRANTIKA AYU PRAMESWARI NYM. PT. KADEK NOVI PUSPITAWATI NI KOMANG SURYANINGSIH NI MADE DWI KUSUMAYANTI NI PUTU DIAN SEPTIANA ANDRIANI (0902105061) (0902105062) (0902105063) (0902105066) (0902105073) (0902105077) (0902105078) (0902105079) (0902105082) (0902105086) . AYU TYAS MEIVI RAKA P. MIPPY NURYA WARDANI GST.

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2010 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful