LEARNING TASK ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN SISTEM PENCERNAAN KLIEN DENGAN PERITONITIS

OLEH : SGD VII
NI PT INDRA SUWARI DEWI NI MADE JUNIARI NI MADE SINTHA PRATIWI NI MADE YUNITA SARI IB PUTU SURYA WEDATAMA NI LUH KUSMA DEWI I GEDE BAYU WIRANTIKA AYU PRAMISWARI MADE DENY WIDIADA NI WAYAN MIRA RIANTY NI PT DIAN SEPTIANA ANDRIANI (0902105013) (0902105014) (0902105027) (0902105028) (0902105046) (0902105053) (0902105063) (0902105067) (0902105080) (0902105083) (0902105086)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2011

KONSEP DASAR PENYAKIT PERITONITIS

1. ENGERTIAN Peritonitis adalah inflamasi peritoneum- lapisan membrane serosa rongga abdomen dan meliputi visera merupakan penyulit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis/kumpulan tanda dan gejala, diantaranya nyeri tekan dan nyeri lepas pada palpasi, defans muscular, dan tanda-tanda umum inflamasi. Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infek pada selaput si rongga perut (peritoneum)lapisan membran serosa rongga abdomen dan dinding perut sebelah dalam.

2. ETIOLOGI Penyebab utama peritonitis ialah spontaneous bacterial peritonitis (SBP) akibat penyakit hati yang kronik. SBP (Spontaneous Bacterial Peritonitis) terjadi bukan karena infeksi intraabdomen, namun biasanya terjadi pada pasien dengan asites akibat penyakit hati kronik. Akibat asites akan terjadi kontaminasi hingga ke rongga peritoneal sehingga menjadi translokasi bakteri menuju dinding perut atau pembuluh limfe mesenterium, kadang-kadang terjadi pula penyebaran hematogen jika telah terjadi bakteremia. Peritonitis juga biasanya disebabkan oleh : 1. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung, usus, kandung empedu atau usus buntu. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. Jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus, tidak akan terjadi peritonitis, dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati. 2. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual 3. Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman (termasuk yang menyebabkan gonore dan infeksi chlamidia) 4. Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan bisa berkumpul di perut (asites) dan mengalami infeksi 5. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Cedera pada kandung empedu, ureter, kandung kemih atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri

yakni 50-74%. Iritasi tanpa infeksi. Sumber internal Peritonitis disebabkan oleh penyakit Gastrointestinal yang menyebar dalam rongga peritoneum. Sindrom dari peritonitis bakterial spontan umumnya terjadi pada peritonitis akut pada pasien dengan dasar sirosis. Sirosis mempengaruhi 3. Perdarahan variseal akut dan peritonitis bakterial spontan merupakan beberapa komplikasi dari sirosis yang mengancam jiwa. Lebih dari 95% pasien peritonitis didahului dengan asite. Misalnya peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi. Penyebab lainnya menurut KMB : a. 3.ke dalam perut. EPIDEMIOLOGI Meskipun jarang ditemui bentuk infeksi peritoneal tanpa komplikasi. Sekitar 50% pasien dengan sirosis yang menimbulkan ascites meninggal dalam 2 tahun setelah diagnosis. 6. serta adanya inflamasi dari bakteri. Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut. 7. Penyebab eksternal. Kondisi yang berkaitan yang menyebabkan abnormalitas yang signifikan mencakup ascites dan enselofati hepatik.6 dari 1000 orang dewasa di Amerika Serikat dan bertanggungjawab terhadap 26000 kematian per tahun. trauma akibat luka tusukan dan luka tembak. adanya appendiksitis dan ulkus perforasi rongga abdomen b. dan lebih dari stengah pasien mengalami gejala klinis yang sangat mirip asites. Bisa disebabkan karena cedera fisik dari luar. insiden terjadi peritonitis tersier yang membutuhkan IVU akibat infeksi abdomen berat tergolong tinggi di USA. . Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. penyakit organ reproduksi internal wanita.

gangguan sirkulasi. syok. dan oliguri.4. mengakibatkan dehidrasi. Selain jumlah bakteri transien yang terlalu banyak di dalam rongga abdomen. Masuknya bakteri dalam jumlah besar ini bisa berasal dari berbagai sumber. Cairan dan elektrolit hilang ke dalam lumen usus. Pembentukan abses pada peritonitis pada prinsipnya merupakan mekanisme tubuh yang melibatkan substansi pembentuk abses dan kuman-kuman itu sendiri untuk menciptakan kondisi abdomen yang steril. Bila bahan-bahan infeksi tersebar luas pada pemukaan peritoneum atau bila infeksi menyebar. Produksi eksudat fibrin merupakan mekanisme terpenting dari sistem pertahanan tubuh. dengan cara ini akan terikat bakteri dalam jumlah yang sangat banyak di antara matriks fibrin. yang menempel menjadi satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi. akibat kandidosis tersebut. Pada keadaan jumlah kuman yang sangat banyak. coli. terutama E. PATOFISIOLOGI Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. misalnya pada peritonitis akibat koinfeksi Bacteroides fragilis dan bakteri gram negatif. Peritonitis menyebabkan penurunan aktivitas fibrinolitik intraabdomen (meningkatkan aktivitas inhibitor aktivator plasminogen) dan sekuestrasi fibrin dengan adanya pembentukan jejaring pengikat. dapat timbul peritonitis umum. tubuh sudah tidak mampu mengeliminasi kuman dan berusaha mengendalikan penyebaran kuman dengan membentuk kompartemen-kompartemen yang kita kenal sebagai abses. usus kemudian menjadi atoni dan meregang. . 52%. Isolasi peritoneum pada pasien peritonitis menunjukkan jumlah Candida albicans yang relatif tinggi. Keadaan makin buruk jika infeksinya dibarengi dengan pertumbuhan bakteri lain atau jamur. peritonitis terjadi juga memang karena virulensi kuman yang tinggi hingga mengganggu proses fagositosis dan pembunuhan bakteri dengan neutrofil. aktivitas peristaltik berkurang sampai timbul ileus paralitik. Yang paling sering ialah kontaminasi bakteri transien akibat penyakit viseral atau intervensi bedah yang merusak keadaan abdomen. Saat ini peritonitis juga diteliti lebih lanjut karena melibatkan mediasi respon imun tubuh hingga mengaktifkan systemic inflammatory response syndrome (SIRS) dan multiple organ failure (MOF). sehingga dengan menggunakan skor APACHE II (acute physiology and cronic health evaluation) diperoleh mortalitas tinggi.

Berbeda dengan SBP. Peritonitis Bentuk lain dari peritonitis: y y y y Aseptik/steril peritonitis Granulomatous peritonitis Hiperlipidemik peritonitis Talkum peritonitis . c. peritonitis sekunder lebih banyak disebabkan bakteri gram positif yang berasal dari saluran cerna bagian atas. KLASIFIKASI Bila ditinjau dari penyebabnya. bentuk peritonitis yang paling sering terjadi. gagal ginjal kronik. Peritonitis bakterial primer dibagi menjadi dua. Peritonitis tersier dapat terjadi karena infeksi peritoneal berulang setelah mendapatkan terapi SBP atau peritonitis sekunder yang adekuat. b. Peritonitis tersier timbul lebih sering ada pasien dengan kondisi komorbid sebelumnya dan pada pasien yang imunokompromais. sering bukan berasal dari kelainan organ. Spektrum patogen infeksius tergantung penyebab asalnya. Faktor resiko yang berperan pada peritonitis ini adalah adanya malnutrisi. disebabkan oleh perforasi atau nekrosis (infeksi transmural) organ-organ dalam dengan inokulasi bakteri rongga peritoneal. Pasien dengan peritonitis tersier biasanya timbul abses atau flegmon. infeksi peritonitis terbagi menjadi : a. Secara umum. yaitu: y y Spesifik : misalnya Tuberculosis Non spesifik: misalnya pneumonia non tuberculosis an Tonsilitis. Penyebab tersier (infeksi rekuren atau persisten sesudah terapi awal yang adekuat). lupus eritematosus sistemik. Kelompok resiko tinggi adalah pasien dengan sindrom nefrotik. keganasan intraabdomen. Penyebab sekunder (berkaitan dengan proses patologis pada organ visceral) Peritonitis sekunder. Cairan menumpuk di perut. dan sirosis hepatis dengan asites. Penyebab primer (peritonitis spontan) Peritonitis primer biasanya disebabkan oleh penyakit hati.5. imunosupresi dan splenektomi. menciptakan lingkungan yang utama untuk pertumbuhan bakteri. dengan atau tanpa fistula. infeksi pada abdomen dikelompokkan menjadi peritonitis infektif (umum) dan abses abdomen (lokal).

Pada keadaan peritonitis akibat penyakit tertentu. nyeri abdomennya berlangsung luas di berbagai lokasi. Pada penderita wanita diperlukan pemeriksaan vagina bimanual untuk membedakan nyeri akibat pelvic inflammatory disease. Takikardi muncul akibat mediator inflamasi dan hipovelemia vaskular karena anoreksia dan vomit. atau bisa juga memang tegang karena iritasi peritoneum. Anoreksia dan nausea sering muncul dan dapat mendahului perkembangan nyeri abdomen. palpasi. namun pemeriksaan ini jarang dilakukan pada keadaan peritonitis yang akut. Pada pemeriksan fisik. misalnya perforasi lambung. pucat. atau kadang samar juga dengan nye akibat abses ri yang terlokalisasi dengan baik. MANIFESTASI KLINIS Diagnosis peritonitis biasanya ditegakkan secara klinis dengan adanya nyeri abdomen (akut abdomen) dengan nyeri yang tumpul dan tidak terlalu jelas lokasinya (peritoneum viseral) kemudian lama kelamaan menjadi jelas lokasinya (peritoneum parietal). Vomit dapat muncul akibat proses ptologis organ visceral (seperti obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal. Pada banyak pasien (baik pada peritonitis dan nyeri abdomen difus yang berat) . dehidrasi. biasanya karena mekanisme antisipasi penderita secara tidak sadar untuk menghindari palpasi yang menyakitkan. hingga menjadi hipotensi. Nyeri ini kadang samar dengan nyeri akibat apendisitis yang biasanya di bagian kanan perut. takikardi. pasien akan menjadi hipotensi. tapi pasien dengan sepsis berat dapat ditemukan dalam keadaan hipotermia. atau iskemia usus. regiditas. Dengan dehidrasi yang progresif. Nyeri abdomen yang hebat biasanya memiliki punctum maximum di tempat tertentu sebagai sumber infeksi.6. Dinding perut akan terasa tegang. Demam dengan temperatur melebihi 38°C dapat ditemukan. atau pasien yang sepsis bisa menjadi hipotermia. yang menunjukan penurunan output urin dan dengan peritonitis berat. yakni demam tinggi. pada dasarnyasemua saat pasien menunjukan pasien adanya tenderness pada (pada pemeriksaan dengan suspect peritonitis sebaiknya pasien sebaiknya berbaring dengan posisi lutut lebih tinggi agar pasien dapat lebih relaksasi pada dinding abdomennya). Pada pemeriksaan abdomen. pasien dengan peritonitis sering tampak tidak sehat dan pada keadaan berbahaya. kulit dingin. pankreatitis akut yang berat. Tanda-tanda peritonitis relatif sama dengan infeksi berat lainnya. duodenum. demam serta hilangnya sepertiga ruang peritoneal.

pada pasien dengan perubahan status mental (seperti cedera kepala. Dengan infeksi peritoneal dalam yang terlokalisasi. Tapi t emuannya kerap sulit untuk diinterpretasikan sebagai peritonitis berat. Pemeriksaan fisik a. Pada pasien wanita.titik tenderness maksimal atau ataureferred rebound tenderness terletak pada tempat proses patologis. HIV). agen analgesik). ensepalopati toksik. Abdomen terkadang distensi. 7. proses ekstraperitoneal (seperti pyelonephritis. dengan suara usus hipoaktif hingga tidak terdengar. Kebanyakan pasien dengan TP menunjukan hanya gejala vagal dan mungkin afebril. pengguna steroid. Inspeksi : y Adanya acites . dan proses dinding abdomen (seperti infeksi. Massa peradangan lunak yang terletak pada anterion kanan mungkin mengindikasikan appendisitis dan anterio fullness dan fluktuasi dapat mengindikasikan sebuah abses cul de sac. Peningkatan tonus otot dinding abdomen dapat secara volunter akibat respon atau antisipasi pada pemeriksaan abdomen atau secara involunter karena iritasi peritoneal. abses tuba ovarii). Pada banyak pasien menunjukan adanya peningkatan rigiditas dinding abdomen. Prosesus thoracic dengan iritasi diafragma (seperti empiema). demam dengan atau tanpa peningkatan hitung WBC mungkin satusatunya tanda yang ditemukan.. Pada saat mengevaluasi pasien dengan dugaan infeksi peritoneal. hematoma recti) dapat terlihat seperti tanda-tanda maupun gejala peritonitis. Pasien dengan peritonitis berat sering menghindari banyak gerak dan memfleksikan pinggulnya untuk mengurangi tekanan dinding abdomen. salfingooovoritis. pemeriksaan bimanual dan vaginal dapat mengarahkan pada differential diagnosis penyakit inflamasi pelvis (seperti endometritis. cystitis. shock sepsis. Sering kali hasil dan temuan pemeriksaan klinis sama sekali tidak reliable pada pasien dengan immunosupresi yang berarti (seperti pasien diabetes berat. Pemeriksaan rektal kerap mengakibatkan nyeri abdomen. status post-transplantasi. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. retensi urin akut). melakukan pemeriksaan fisik yang lengkap adalah hal yang sangat penting. pada pasien paraplegi dan apda pasien usia lanjut.

Auskultasi Bising usus menurun sampai hilang 2.identifikasi bakteri yang menyebabkan infeksi CT scan . Pemeriksaan diagnostik y y y y Tes darah .mengidentifikasi fluida di perut. usus halus dan usus besar berdilatasi. Biopsi peritoneum per kutan atau secara laparoskopi memperlihatkan granuloma tuberkuloma yang khas. atau organ yang terinfeksi Pemeriksaan laboratorium Pada pemeriksaan laboratorium ditemukan adanya lekositosis. y Pemeriksaan X-Ray Ileus merupakan penemuan yang tidak khas pada peritonitis. basil tuberkel diidentifikasi dengan kultur.untuk melihat apakah ada bakteri yang ada dalam darah Anda Sampel cairan dari perut . Pada peritonitis tuberculosa cairan peritoneal mengandung banyak protein (lebih dari 3 gram/100 ml) dan banyak limfosit. hematokrit yang meningkat dan asidosis metabolik. yaitu : . Pada peritonitis dilakukan foto polos abdomen 3 posisi. Palpasi y Akral dingin y CRT > 3 detik y Takikardi c.y Klien tampak pucat y Klien tampak lemah y Klien tampak meringis kesakitan y Membran mukosa kering y Klien tampak sesak y Klien tampak kurus b. Perkusi y Pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma d. y Gambaran Radiologis Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan penunjang untuk pertimbangan dalam memperkirakan pasien dengan abdomen akut. dan merupakan dasar diagnosa sebelum hasil pembiakan didapat. Udara bebas dapat terlihat pada kasus-kasus perforasi.

air fluid level. Jadi gambaran radiologis pada ileus obstruktif yaitu adanya distensi usus partial. dengan sinar horizontal. 3. ada tidaknya penjalaran. proyeksi AP. untuk melihat distribusi usus. dengan sinar horizontal proyeksi AP.1. Distensi usus general. Dari air fluid level dapat diduga gangguan pasase usus. Posisi LLD. Sedangkan pada ileus paralitik didapatkan gambaran radiologis yaitu: 1. Tiduran telentang ( supine ). sinar dari arah vertikal dengan proyeksi anteroposterior ( AP ). sedang jika panjang ± panjang kemungkinan gangguan di kolon. 2. Posisi tidur. preperitonial fat. 2. Bila air fluid level pendek berarti ada ileus letak tinggi. Sebelum terjadi peritonitis. Posisi setengah duduk atau berdiri. Gambaran yang diperoleh yaitu pelebaran usus di proksimal daerah obstruksi. Gambaran yang diperoleh adalah adanya udara bebas infra diafragma dan air fluid level. 3. dan herring bone appearance. Herring bone appearance Bedanya dengan ileus obstruktif : pelebaran usus menyeluruh sehingga air fluid level ada yang pendek ±pendek (usus halus) dan panjang ± panjang (kolon) karena . gambaran seperti duri ikan (Herring bone appearance). dimana pelebaran usus menyeluruh sehingga kadang ± kadang susah membedakan anatara intestinum tenue yang melebar atau intestinum crassum. 2. Perlu disiapkan ukuran kaset dan film ukuran 35 x 43 cm. jika penyebabnya adanya gangguan pasase usus (ileus) obstruktif maka pada foto polos abdomen 3 posisi didapatkan gambaran radiologis antara lain: 1. Tiduran miring ke kiri (left lateral decubitus = LLD). Duduk atau setengah duduk atau berdiri kalau memungkinkan. Gambaran radiologis diperoleh adanya air fluid level dan step ladder appearance. untuk melihat air fluid level dan kemungkinan perforasi usus. Sebaiknya pemotretan dibuat dengan memakai kaset film yang dapat mencakup seluruh abdomen beserta dindingnya. penebalan dnding usus. Air fluid level 3.

Jadi gambaran radiologis pada peritonitis yaitu adanya kekaburan pada cavum abdomen. Komplikasi lanjut Adhesi Obstruksi intestinal rekuren . Posisi tiduran. yaitu : (chushieri) a. KOMPLIKASI 1. Ileus obstruktif bila berlangsung lama dapat menjadi ileus paralitik. Pada dugaan perforasi apakah karena ulkus peptikum. tanda utama radiologi adalah : 1. preperitonial fat dan psoas line menghilang. didapatkan free air intra peritonial pada daerah perut yang paling tinggi. Gambaran akan lebih jelas pada pemeriksaan USG (ultrasonografi). dimana komplikasi tersebut dapat dibagi menjadi komplikasi dini dan lanjut.diameter lumen kolon lebih lebar daripada usus halus.2 Pada kasus peritonitis karena perdarahan. Gambaran radiologis peritonitis karena perforasi dapat dilihat pada pemeriksaan foto polos abdomen 3 posisi. Letaknya antara hati dengan dinding abdomen atau antara pelvis dengan dinding abdomen. psoas line menghilang. didapatkan preperitonial fat menghilang. Posisi duduk atau berdiri. Posisi LLD. dan adanya udara bebas subdiafragma atau intra peritoneal. dan kekaburan pada cavum abdomen. pecahnya usus buntu atau karena sebab lain. 3. Komplikasi dapat terjadi pada peritonitis bakterial akut sekunder. 8. Komplikasi dini Septikemia dan syok septic Syok hipovolemik Sepsis intra abdomen rekuren yang tidak dapat dikontrol dengan kegagalan multi system Abses residual intraperitoneal Portal Pyemia (misal abses hepar) b. didapatkan free air subdiafragma berbentuk bulan sabit (semilunair shadow). gambarannya tidak jelas pada foto polos abdomen. 2.

Perawatan inilah yang sering menimbulkan komplikasi.2. penggantian cairan dan elektrolit yang hilang yang dilakukan secara intravena. koloid dan elektrolit adalah fokus utama dari penatalaksanaan medis. Hipovolemi terjadi karena sejumlah besar cairan dan elektrolit bergerak dari lumen usus ke dalam rongga peritoneal dan menurunkan caran ke dalam ruang vaskuler. dekompresi saluran cerna dengan penghisapan nasogastrik atau intestinal. atau peritonitis berulang jika pembersihan kuman tidak adekuat. 2. Namun secara medis. tetapi kadang -kadang intubasi jalan napas dan bantuan ventilasi diperlukan. Secara bedah dapat terjadi trauma di peritoneum. fistula enterokutan. 9. Gastroenteritis 4. Kolesistisis 10. Analgesik diberikan untuk mengatasi nyeri. PENATALAKSANAAN Prinsip umum pengobatan adalah pemberian antibiotik yang sesuai. Cairan dalam rongga abdomen dapat menyebabkan tekanan yang membatasi ekspansi paru dan menyebabkan distress pernapasan. hingga kegagalan reanimasi dari status narkose penderita pascaoperasi. Pankreatitis 3. . Terapi oksigen dengan kanula nasal atau masker akan meningkatkan oksigenasi secara adekuat. pembuangan fokus septik atau penyebab radang lainnya. kematian di meja operasi. penderita yang mengalami pembedahan laparotomi eksplorasi membutuhkan narkose dan perawatan intensif yang lebih lama. Antiemetik dapat diberikan sebagai terapi untuk mual dan muntah. sepsis. Komplikasi pasca operasi paling umum adalah eviserasi luka dan pembentukan abses. bisa berupa pneumonia akibat pemasangan ventilator. Apendiksitis: gejala awal apendiksitis adalah adanya nyeri pada area epigastrium yang bisa menjadi diagnose banding apabila peritonisis terjadi pada area epigastrium. Beberapa liter larutan isotonik diberikan. DIAGNOSIS BANDING 1. Intubasi usus dan pengisapan membantu dalam menghilangkan distensi abdomen dan meningkatkan fungsi usus. bila mungkin dengan mengalirkan nanah keluar dan tindakan ± tindakan menghilangkan nyeri Penggantian cairan.

termasuk buah-buahan (seperti blueberry. Gunakan minyak sehat dalam makanan. Hindari kafein dan stimulan lainnya. penting untuk mengikuti kebiasaan gizi yang baik:  Makan makanan yang tinggi dalam B-vitamin dan kalsium. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita. Cairan dan elektrolit bisa diberikan melalui infuse. Selalu mengkoordinasi dngan tim medis lainya seperti dokter. 5 . ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. ahli gizi dan yang lainnya dalam pemberian diet ataupun suplemen. E. seperti minyak zaitun atau minyak sayur. ceri. biji-bijian (jika tidak alergi). dan sayuran laut. Makan daging merah dan daging tanpa lemak sedikit lebih. seperti almond. dan selenium. jika ada alergi). mengandung antioksidan vitamin A.Bedah dan Lain Prosedur Orang dengan peritonitis sering memerlukan pembedahan untuk menghilangkan jaringan yang terinfeksi dan memperbaiki organ yang rusak. dan tembakau. dan terutama gula. vitamin B-kompleks. seperti roti putih. Namun. air dingin ikan. Ketika sembuh dari penyakit yang serius. terutama bila disertai appendisitis. dan tomat) dan sayuran (seperti squash dan paprika). atau kacang-kacangan untuk protein. kalsium. tahu (kedelai. pasta. Hindari makanan olahan. dan mineral seperti magnesium. sayuran hijau gelap (seperti bayam dan kale). alkohol. rencana perawatan yang komprehensif untuk memulihkan dari peritonitis dapat mencakup berbagai terapi komplementer dan alternatif. Tanyakan kepada dokter Anda tentang mengambil multivitamin sehari-hari. C. Pembedahan yang dapat dilakukan adalah eksplorasi darurat. Jangan mencoba untuk mengobati peritonitis dengan herbal atau suplemen.  Suplemen probiotik (Lactobacillus acidophilus berisi antara spesies lain).        Makan antioksidan makanan. kacang. seng.10 billion CFUs (koloni membentuk unit) per hari. pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. Diberikan antibiotik yang tepat. untuk kesehatan pencernaan dan . Nutrisi dan Suplemen Diet Peritonitis adalah darurat medis dan harus ditangani oleh seorang dokter medis. bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. Minuman 6-8 gelas air disaring sehari-hari.

y Cakar's Cat (Uncaria tomentosa) ekstrak standar. Anda harus bekerja sama dengan penyedia layanan kesehatan Anda untuk mendapatkan masalah Anda didiagnosis sebelum melakukan perawatan apapun. untuk antioksidan. 250-500 mg setiap hari. Anda harus membuat teh dengan 1 sdt. y Milk thistle (Silybum marianum) ekstrak biji standar. serbuk. untuk mengurangi peradangan. 80-160 mg dua sampai tiga kali sehari. Tanyakan kepada dokter Anda sebelum mengambil apapun dari tumbuhtumbuhan yang tercantum di bawah. untuk efek antibakteri dan antijamur. prospek orang-orang dengan peritonitis sekunder cenderung menjadi buruk. 11. Sebagai contoh. Herbal Tumbuhan pada umumnya cara yang aman untuk memperkuat dan nada sistem tubuh. dan 10 . ramuan per cangkir air panas. herb per cup of hot water. orang dengan sistem kekebalan rendah. karena probiotik dapat membantu mengembalikan keseimbangan "baik" bakteri di usus.10 menit untuk daun atau bunga. Cat kuku juga memiliki efek antibakteri dan antijamur.20 menit untuk akar. Minum 2-4 cangkir per hari. y Daun Zaitun (Olea europaea) ekstrak standar. Anda juga dapat mempersiapkan teh dari daun herbal ini. y Teh hijau (Camellia sinensis) ekstrak standar. Anda juga dapat mempersiapkan teh dari daun herbal ini. glycerites (ekstrak gliserin). dan mereka yang memiliki gejala selama lebih dari 48 jam sebelum pengobatan. terutama di kalangan orang tua. Probiotik dapat sangat membantu ketika minum antibiotik. Prospek jangka panjang bagi orang dengan peritonitis primer karena penyakit hati juga cenderung . Tumbuh-tumbuhan dapat digunakan sebagai terapi mendukung ketika Anda sembuh dari peritonitis. Anda dapat menggunakan tincture sendiri atau dalam kombinasi seperti yang tercantum. teh). Curam ditutupi 5 . 250-500 mg one atau tiga kali sehari. PROGNOSIS Prognosis untuk peritonitis tergantung pada jenis kondisi. tetapi jangan menggunakan herbal untuk mengobati peritonitis sendirian. dan efek kesehatan jantung. Anda dapat menggunakan tumbuhan sebagai ekstrak kering (kapsul.kekebalan tubuh. untuk kesehatan hati. Seperti dengan terapi apapun. Gunakan produk bebas kafein. atau tincture (ekstrak alkohol). anti-inflamasi. Kecuali dinyatakan sebaliknya. 20 mg tiga kali sehari.

y Pengembalian Fungsi fisik.menjadi buruk. Namun. Pre operasi Pasien yang akan di operasi akan merasa cemas mengenai operasinya. Post operasi HE yang diberikan pada saat post op adalah : y Meningkatkan intake makanan tinggi protein dan vitamin c. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kecemasan pasien. Hal ini dapat membantu proses penyembuhan luka insisi operasi. frekuensi nafas. y Mempertahankan konsep diri. HEALTH EDUCATION (HE) HE yang diberikan pada pasien dengan peritonitis dapat dibagi menjadi 2 yaitu : a. Perawat dapat juga memberikan HE kepada keluarga untuk memberikan klien support misalnya keluarga dapat mengajak klien berdiskusi . persiapan psikologis. telapak tangan yang basah. 12.  Mempersiapkan fisik klien dengan puasa dan istirahat yang cukup b. Adapun HE yang harus diberikan sebelum operasi adalah :  Menjelaskan tentang prosedur operasi yang dijalankan termasuk jadwal operasi dan penandatangan persetujuan operasi. Pengembalian fungsi fisik dilakukan segera setelah operasi dengan latihan napas dan batuk efektf. pemeriksaan penunjang. Persiapan pasien sebelum tindakan operasi antara lain : persiapan fisik. latihan mobilisasi dini. dan gelisah. Gejala fisik terdiri dari peningkatan denyut nadi. y Pencegahan infeksi. administrasi dan persetujuan pasien. Pasien dengan luka post op pada perutnya terutama remaja cenderung akan malu sehingga mengalami gangguan citra tubuh karena adanya perubahan sehubungan dengan pembedahan. Gejala cemas sebelum operasi dari pasien tidak berbeda dengan yang diderita oleh pasien lain yang tidak operasi. Perawat dapat memberikan support psikologis. prognosis untuk peritonitis primer pada anak-anak secara umum sangat baik setelah perawatan dengan antibiotik. Misalnya dengan memberitahukan agar tidak sembarangan membuka atau mengganti perban secara mandiri karena dapat meningkatkan resiko infeksi.

.tentang perubahan-perubahan yang terjadi dan bagaimana perasaan pasien setelah operasi. Ini akan meningkatkan harga diri klien.

Aktivitas istirahat Gejala : Kelemahan Tanda : Kesulitan ambulasi b. b. edema jaringan c. tingkat kesadaran kualitatif atau GCS dan respon verbal klien. Sirkulasi Tanda : Takikardi. d. warna gelap.  Pulse rate  Respiratory rate  Suhu c. Penurunan/tak ada bising usus (ileus). bunyi keras hilang timbul. PENGKAJIAN Pada pengkajian dilakukan wawancara dan pemeriksaan fisik untuk memperoleh informasi dan data yang nantinya akan digunakan sebagai dasar untuk membuat rencana asuhan keperawatan klien. . Keadaan Umum Meliputi kondisi seperti tingkat ketegangan/kelelahan. Riwayat penyakit sebelumnya Ditanyakan apakah sebelumnya klien pernah menderita apendiksitis yang menjadi factor predisposisi peritonitis. Pola Fungsi Keperawatan a. kaji tekanan nadi. penurunan haluaran urin. Diare (kadang-kadang) Tanda : Cegukan. berkeringat. dan kondisi patologis. bising usus kasar (obstruksi). Eliminasi Gejala : Ketidakmampuan defekasi dan flatus. distensi abdomen.KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PERITONITIS 1. a. abdomen diam. nyeri tekan. kekakuan abdomen. Tanda-tanda Vital Meliputi pemeriksaan:  Tekanan darah: sebaiknya diperiksa dalam posisi yang berbeda. pucat hipotensi (Tanda syok).

muntah. perilaku distraksi. Data Objektif: y y y y y y Klien tampak meringis Takikardia Terdapat nyeri tekan dan kaku abdomen Takipnea Klien tampak gelisah Terjadi distensi abdominal e. Nyeri atau ketidaknyamanan Gejala : Nyeri abdomen tiba-tiba berat. menyebar ke bahu. Pernapasan Tanda : Pernapasan dangkal. f. Pemeriksaan fisik a. e. gelisah. Otot tegang (abdomen). takipnea. lutut fleksi. Tanda : Muntah proyektil. Keamanan Merasa cemas dan tampak gelisah. haus. umum atau lokal. membran mukosa kering. mual. fokus pada diri sendiri. hilang suara pekak di atas hati (udara bebas dalam abdomen). d. g. terus menerus oleh gerakan. lidah bengkak. Inspeksi : y y Adanya acites Klien tampak pucat . Makanan dan cairan Gejala : Anoreksia. turgor kulit buruk. Data Subjektif: y y y y y Klien mengeluh nyeri pada perut Klien mengeluh lemah Klien mengeluh mual dan muntah Klien mengeluh sesak napas Klien merasa cemas dengan kondisinya. kaku nyeri tekan. Tanda : Distensi.Hiperresonan/timpani (ileus).

WBC meningkat (> 7000/mm3 ). batuk. DIAGNOSA KEPERAWATAN PRE OP 1. nyeri bertambah berat ketika klien bergerak (seperti berjalan. atau mengejan) klien tampak meringis kesakitan. Pemeriksaan Diagnostik y y y y y y Tes darah Sampel cairan dari perut CT scan Pemeriksaan laboratorium Pemeriksaan X-Ray Gambaran Radiologis 2. takikardi (>100 x/menit). Auskultasi Bising usus menurun sampai hilang. f. 2. Perkusi Pekak hati bisa menghilang akibat udara bebas di bawah diafragma. klien tampak gelisah dan tidak nyaman (posisi melindungi bagian nyeri). . Palpasi y y y Akral dingin CRT > 3 detik Takikardi c. d. pasien mengatakan mengalami nyeri yang menyebar pada seluruh abdomen.y y y y y Klien tampak lemah Klien tampak meringis kesakitan Membran mukosa kering Klien tampak sesak Klien tampak kurus b. RR klien meningkat. kulit pasien teraba hangat. takikardia. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis yang menginflamasi peritoneum ditandai dengan klien mengeluh nyeri.5oC). Hipertermia berhubungan dengan proses inflamasi pada peritoneum ditandai dengan suhu tubuh klien meningkat dari atas rentang normal (>37.

mual muntah. 9. 5. Kekurangan volume cairan intravaskuler dan intraseluler berhubungan dengan kehilngan cairan secara aktif akibat peningkatan permebealitas kapiler dan membrane sehingga mengalami kebocoran ditandai dengan pasien mengatakan jarang untuk kencing dan pengeluaran kencing menurun atau sedikit. takikardia. bising usus klien . klien mengatakan defekasi menurun. 10.3. mual. klien mengatakan tidak bisa tidur karena nyeri. 8. Penurunan curah jantung berhubungan dengan perubahan sekuncup jantung akibat suplai darah balik kejantung menurun ditandai dengan pasien mengalami dispnea. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara kebutuhan dan suplai oksigen didalam tubuh akibat penurunan lapang pernapasan ditandai dengan pasien terlihat lemah. perubahan EKG pada pasien. 11. Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubunagn dengan ketidakmampuan untuk absorpsi nutrisi ditandai dengan peristaltik usus menurun. tekanan darah klien turun (. klien tampak kurus. klien mengalami penurunan berat badan > 20 % dari berat badan ideal. 6. tekanan darah menurun (< 120/80mmHg) dan dipsnea. Disfungsi motilitas Gastrointestinal berhubungan dengan malnutrisi ditandai dengan perubahan bising usus (hipoaktif) . RR klien meningkat (>20 x/menit) dan pasien terlihat takipnea. Resiko ketidakseimbangan elektrolit berhubungan dengan kompensasi oleh ginjal akibat penurunan volume cairan tubuh sehingga terjadi dehidrasi. nyeri abdomen. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi akibat dari penekanan pada rongga thorak oleh diafragma sehingga lapang pernapasan menurun ditandai dengan klien mengeluh sesak. distensi abdomen. mmembran mukosa klien terlihat kering. 120/80 mmHg). Konstipasi berhubungan dengan penundaan /mengabaikan dorongan defekasi akibat nyeri yang meningkat saat mengejan ditandai dengan defekasi kurang dari 3x seminggu. 12. Gangguan pola tidur berhubungan dengan adanya nyeri pada abdomen ditandai dengan konjungtiva klien terlihat pucat. muntah lama dan sulit. 4. PK Infeksi 7.

klien menunjukkan prilaku berlebihan POST OP 1. pasien tampak gelisah. peningkatan tekanan darah 3. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan hipotensi ditandai dengan penurunan volume urine. wajah tegang. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive 2. batuk. Resiko disfungsi motilitas gastrointestinal berhubungan dengan pembedahan abdomen. oliguria 17. 2. DIAGNOSA KEPERAWATAN (berdasarkan prioritas) PRE OP 1. berkurangnya keinginan untuk berkemih 15. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (trauma/luka incisi post op) ditandai dengan klien mengatakan nyeri pada perut. RR klien meningkat (>20 x/menit) dan pasien terlihat takipnea.13. atau mengejan) klien tampak meringis kesakitan. nyeri bertambah berat ketika klien bergerak (seperti berjalan. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi akibat dari penekanan pada rongga thorak oleh diafragma sehingga lapang pernapasan menurun ditandai dengan klien mengeluh sesak. 3. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan ditandai dengan pasien mengatakan cemas dengan keadaannya . Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi ditandai dengan klien mengatakan tidak mengetahui tentang penyakitnya . Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis yang menginflamasi peritoneum ditandai dengan klien mengeluh nyeri. pasien mengatakan mengalami nyeri yang menyebar pada seluruh abdomen. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan penumpukan cairan di peritoneum ditandai dengan asites. Resiko ketidakefektifan perfusi gastrointestinal berhubungan dengan penyakit gastrointestinal (peritonitis) 16. nyeri abdomen 18. wajah tampak meringis. Nausea (mual) berhubungan dengan peningkatan tekanan intra abdominal ditandai dengan pasien mengeluh mengalami keengganan terhadap makanan. Resiko perdarahan berhubungan dengan efek samping terkait terapi pembedahan 4. mual 14. .

irama dan kedalaman pernapasan normal (16-20 x/menit). Resiko perdarahan berhubungan dengan efek samping terkait terapi pembedahan. mengi dan gesekan pleural. Observasi RR. Pengubahan posisi dan ambulansi meningkatkan pengisian udara segmen paru berbeda sehingga memperbaiki difusi gas. Intervensi: Mandiri a. Rasional : Duduk tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan pernafasan. 2. Pola napas tidak efektif berhubungan dengan hiperventilasi akibat dari penekanan pada rongga thorak oleh diafragma sehingga lapang pernapasan menurun ditandai dengan klien mengeluh sesak. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (trauma/luka incisi post op) ditandai dengan klien mengatakan nyeri pada perut. PK Infeksi. POST OP 1. 3. seperti krekels. Frekuensi. 3. RR klien meningkat (>20 x/menit) dan pasien terlihat takipnea. b. wajah tampak meringis. suhu. Dipsnea dan terjadi peningkatan kerja nafas. Rasional : Kecepatan biasanya meningkat. Berikan posisi flower/semi flower.klien tampak gelisah dan tidak nyaman (posisi melindungi bagian nyeri). RR klien meningkat. Ekspansi dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada pleuritik. INTERVENSI PRE OP: 1. Auskultasi bunyi napas dan catat adanya bunyi napas adventisius. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan salama («x24 jam) diharapkan pasien dapat mempertahankan pola pernapasan yang efektif dengan kriteria hasil : a. . c. peningkatan tekanan darah. b. takikardia. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive. 4. Pasien tidak sesak lagi. Pernafasan dangkal. dan suara nafas pasien.

b.Rasional :Bunyi napas menurun/ tak ada bila jalan napas obstruksi sekunder terhadap pendarahan. Rasional : Untuk mencegah kondisi lebih buruk pada gagal nafas. klien tampak gelisah dan tid ak nyaman (posisi melindungi bagian nyeri). Wajah klien tidak tampak meringis d. Nyeri klien berkurang b. Rasional :Memudahkan upaya pernafasan dalam dan meningkatkan drainase secret dari segmen paru ke dalam bronkus. Ronchi dan mengi menyertai obstruksi jalan napas/ kegagalan pernapasan. TTV klien dlm batas normal (TD: 110-120/80-90 mmHg. nyeri bertambah berat ketika klien bergerak (seperti berjalan. Kolaborasi a. atau mengejan) klien tampak meringis kesakitan. Berikan obat-obat jika ada indikasi seperti bronchodilator. RR klien meningkat. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis yang menginflamasi peritoneum ditandai dengan klien mengeluh nyeri. Klien dapat beristirahat dengan nyaman e. c. 2. Obsevasi pola batuk dan karakter secret. d. Lakukan fisioterapi dada kerjakan sesuai jadwal. takikardia. RR: 16-20x/mnt) Intervensi: Mandiri . Berikan oksigen yang dilembabkan sesuai indikasi Rasional : Memaksimalkan bernafas dan menurunkan kerja nafas. batuk. Sputum berdarah dapat diakibatkan oleh kerusakan jaringan. bekuan atau kolaps jalan napas kecil (atelektasis). Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan salama («x24 jam) diharapkan nyeri pasien hilang/terkontrol dengan criteria hasil: a. dimana dapat lebih mempercepat pembuangan dengan batuk/penghisapan. Klien tidak tampak gelisah c. pasien mengatakan mengalami nyeri yang menyebar pada seluruh abdomen. Rasional : Kongesti alveolar mengakibatkan batuk kering/iritasi.

nadi.a.R. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai dengan indikasi. d. Rasional: menghilangkan reflek spasme / kontraksi usus halus dan membantu dalam manajemen nyeri. 3... b. Rasional: Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda-tanda perkembangan komplikasi. e. Kaji dan catat kondisi keluhan nyeri klien ( dengan pola P. Rasional: respon autoimun meliputi: tekanan darah.x24 jam) diharapkan perawat dapat meminimalkan komplikasi infeksi (sepsis) yang terjadi dengan criteria hasil: y Tanda-tanda sepsis tidak ada Intervensi Mandiri a. frekuensi. Pantau keadaan luka. catat lokasi. Rasional: membantu evaluasi derajat ketidaknyamanan dan ketidakefektifan / dapat mengatakan adanya / terjadinya komplikasi. Rasional: Dengan memberikan posisi tersebut dapat mengurangi ketegangan abdomen sehingga nyeri berkurang. Kaji nyeri. Ciptakan lingkungan yang tenang dan membatasi pengunjung.Q. dan waktu. Kolaborasi a. lakukan perawatan luka secara teratur Rasional : luka dalam keadaan bersih dapat meminilkan kompliksi . Monitor tanda-tanda vital. karakteristik dan intensitas ( skala 0 -10 ). Ajari tentang cara pencegahan penularan infeksi Rasional : dengan mengetahui cara pencegahan diharapkan dapat meminimalkan komplikasi infeksi c. Rasional: Suasana yang tenang dapat mengurangi stimulus nyeri.T).S. yaitu dengan memperhatikan lokasi. PK Infeksi Tujuan Setelah diberikan asuhan keperawatan selama (. intensitas. Pantau tanda dan gejala infeksi Rasional : mengetahui perkembangan dari infeksi dan membantu untuk intervensi selanjutnya b. respirasi rate dan suhu yang menjadi tanda keluhan nyeri. c. Berikan posisi yang nyaman ( Trendelburg ).

RR: 16-20x/mnt) Intervensi: Mandiri 1.Q. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi Rasional: mencegah infeksi lanjut b. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera fisik (trauma/luka incisi post op) ditandai dengan klien mengatakan nyeri pada perut. Monitor pemberian antibiotic dan kaji efek sampingnya. e. dan waktu. Kolaborasi pemberian antiinflamasi sesuai indikasi Rasional: mencegah inflamasi lebih lanjut POST OP: 1. Rasional : dengan memberikan penkes. Lakukan teknik steril. Kaji dan catat kondisi keluhan nyeri klien ( dengan pola P. wajah tampak meringis. Rasional : dengan melakukan teknik steril dapat mencegah terjadinya infeksi silang. intensitas. f.R. Rasional: Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda-tanda perkembangan komplikasi. Rasional : dengan memonitor pemberian antibiotok dapat mencegah komplikasi lebih lanjut.S. pasien maupun keluarga mendapat pengetahuan dasar bagaimana cara memproteksi diri. Kolaborasi a. yaitu dengan memperhatikan lokasi. . Lakukan penkes tentang pencegahan dan penularan. peningkatan tekanan darah. frekuensi.T). Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan salama («x24 jam) diharapkan nyeri pasien hilang/terkontrol dengan criteria hasil: a) Nyeri klien berkurang b) Klien tidak tampak gelisah c) Wajah klien tidak tampak meringis d) Klien dapat beristirahat dengan nyaman e) TTV klien dlm batas normal (TD: 110-120/80-90 mmHg.d.

Rasional: Memastikan klien menerima obat pereda rasa nyeri 2.2. Pastikan pasien menerima analgesic. dolor) Menunjukkan pengendalian resiko. konsisten menunjukkan) y y Memantau faktor resiko lingkungan dan perilaku seseorang Menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan Intervensi: Mandiri 1. Tujuan: Setelah diberikan askep selama («x24 jam) tidak terjadi infeksi dengan kriteria hasil: y y y Keadaan temperatur normal Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (kalor. Cuci tangan sebelum dan sesudah seluruh kontak perawatan diakukan. Pantau suhu dengan teliti dan tanda-tanda infeksi lainnya Rasional: mendeteksi kemungkinan infeksi 2. jarang. Rasional: Memudahkan dalam melakukan intervensi. Rasional: meminimalkan pajanan pada organisme infektif . Instrusikan pasien/orang terdekat untuk mencuci tangan sesuai indikasi. sering. membantu menurunkan tegangan otot dan meningkatkan proses penyembuhan Kolaborasi: 1. Rasional: Suasana yang tenang dapat mengurangi stimulus nyeri. Kontrol dan kurangi kebisingan Rasional: Suasana yang tenang dapat mengurangi stimulus nyeri. kadang-kadang. Kaji pengetahuan pasien tentang nyeri dan kepercayaan tentang nyeri. Rasional: memfokuskan perhatian pasien.tumor. Instruksikan pasien untuk melakukan tehnik relaksasi. 3. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasive. karena kultur atau budaya klien dapat mempengaruhi persepsi tentang nyeri. 4. Ciptakan lingkungan yang tenang dan membatasi pengunjung. Kaji riwayat adanya alergi obat Rasional: Mengetahui apakah ada alergi terhadap obat analgesik. 5. 2.lubor. dibuktikan dengan indikator (antara 1-5: tidak pernah.

2. Pasien tidak sesak lagi. 2. Kaji TTV pasien secara berkala. 4. Intervensi: 1.3. Tempatkan pasien dalam ruangan khusus Rasional: meminimalkan terpaparnya pasien dari sumber infeksi Kolaborasi: y Kolaborasi dalam pemberian antibiotic Rasional: mencegah terjadinya infeksi 3. Pola napas kembali efektif dengan kriteria hasil : y y Frekuensi. hipotensi. Monitor tanda-tanda perdarahan. Resiko perdarahan berhubungan dengan efek samping terkait terapi pembedahan. Gunakan teknik aseptik yang cermat untuk semua prosedur invasive Rasional: untuk mencegah kontaminasi silang/menurunkan resiko infeksi 4. Rasional : tanda-tanda perdarahan dapat berupa takikardi. Tujuan: Setelah diberikan asuhan keperawatan selama (« x 24 jam) diharapkan tidak terjadi perdarahan berlebih dengan criteria hasil : y Tidak ada tanda-tanda perdarahan. y TTV dalam batas normal. sesak. Monitor hasil lab (hemoglobin dan hematokrit) Rasional : untuk menentukan intervensi pemberian tranfusi darah. hipertermia. Nyeri pasien hilang/terkontrol dengan criteria hasil: y Nyeri klien berkurang . Menginstruksikan pasien untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin K. irama dan kedalaman pernapasan normal (16-20 x/menit). 3. EVALUASI PRE OP: 1. 5. Rasional : vitamin K berfungsi dalam proses pembekuan darah. Rasional : TTV menjadi acuan banyaknya darah yang hilang.

y y y y Klien tidak tampak gelisah Wajah klien tidak tampak meringis Klien dapat beristirahat dengan nyaman TTV klien dlm batas normal (TD: 110-120/80-90 mmHg.dan fungsiolesa y Tanda-tanda sepsis tidak ada POST OP: 1.dolor. kadang-kadang. Nyeri pasien hilang/terkontrol dengan kriteria hasil: y y y y y Nyeri klien berkurang Klien tidak tampak gelisah Wajah klien tidak tampak meringis Klien dapat beristirahat dengan nyaman TTV klien dlm batas normal (TD: 110-120/80-90 mmHg.lubor. jarang. Perdarahan tidak terjadi dengan criteria hasil : y y Tidak ada tanda-tanda perdarahan. dibuktikan dengan indikator (antara 1-5: tidak pernah. Komplikasi infeksi dapat diminilalisikan dengan kriteria hasil: y Tidak ada atau berkurangnya tanda-tanda infeksi dubor. Infeksi tidak terjadi dengan kriteria hasil: y y y Keadaan temperatur normal Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (kalor. dolor) Menunjukkan pengendalian resiko. konsisten menunjukkan) y y Memantau faktor resiko lingkungan dan perilaku seseorang Menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan 3. TTV dalam batas normal. RR: 16-20x/mnt) 2.tumor. . sering. RR: 16-20x/mnt) seperti kalor 3.tumor.

Bare G. Hall and Guyton. EGC : Jakarta. Smeltzer C. Jakarata : EGC Wilkinson. EGC : Jakarta. EGC: Jakarta. Keperawatan Medikal Bedah. Fisiologi Kedokteran. (1999). Jakarta. vol. Herdman. Brendo. 2010. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Noer Sjaifullah H. (1997). Ilmu Penyakit Dalam. (2002). J. Suzanne. jilid II. . 3. Buku Saku Diagnosis Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC.M.DAFTAR PUSTAKA Heather. 2007. FKUI. M.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful