P. 1
Akal Dan Wahyu Dalam Islam

Akal Dan Wahyu Dalam Islam

|Views: 582|Likes:
Published by Ayulicha Dewanatari

More info:

Published by: Ayulicha Dewanatari on Apr 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

AKAL DAN WAHYU DALAM ISLAM I.

AKAL

Kata akal yang menjadi kata Indonesia, berasal dari kata Arab Al `aqli yang terbentuk dalam kata benda. Berlainan dengan kata Al wahyi ,tidak terdapat dalam Al qur`an. Dalam pemahaman Prof. Izuttsu, kata µaql dijaman jahiliyah dipakai dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern disebut dengan kecakapan memecahkan masalah (Problem Solving Capacity). Orang berakal menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah, setiap kali Ia dihadapkan pada suatu problema dan selanjutnya dapat melepaskan diri dari bahaya yang Ia hadapi.¶Aqala juga mengandung arti, memahami dan berfikir. Tetapi timbul pertanyaan apakah pengertian, pemikiran Akal dan pemahaman terbagi dilakukan menjadi melalui akal dua yang berpusat bagian dikepala. :

A. Akal praktis (µAamilah) yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indera pengingat yang ada pada jiwa binatang.seperti contoh : insting seekor kucing ketika dipukul oleh seseorang , maka pada suatu ketika saat dia beertemu dengan orang yang memukulnya, maka dia akan lari namun dia tidak tahu sampai kapanpun mengenai mengapa dia dipukul. B. Akal teoritis (µAalimah) yang menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah ada dalam materi seperti Tuhan, roh dan Malaikat.

Akal praktis memutuskan perhatian kepada alam materi, menangkap kekhususan. Akal teorotis sebaliknya bersifat metafisis, mencurahkan perhatian kepada dunia materi dan menangkap keumuman Akal teoritis mempunysi (kulliat empat derajat antara universals). lain :

a. Akal Materil (Al-µaqli al-hayulani), yang merupakan potensi belaka, yaitu akal yang kesanggupannya untuk menangkap arti-arti murni, arti-arti yang tak pernah ada dalam alam materi.akal ini belum keluar, jadi harus dicari dan diciptakan.

b. Akal bakat (al-aqli bil malakah), yaitu akal yang kesanggupannya berfikir secara murni abstrak telah mulai kelihatan. Ia telah dapat menangkap pengertian dan kaidah umum. Akal ini sudah tercipta tinggal manusianya yang mengembangkan.

yaitu suara. dan juga daya yang membuat seseorang yang dapat memperbedakan antara dirinya dan benda-benda satu dari yang lain. Dan yang ketiga. tulisan dan kitab. tetapi adalah daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Dalam kata wahyu dengan demikian terkandung arti penyampaian sabda Tuhan kepada orang pilihannya agar diteruskan kepada umat manusia untuk dijadikan pegangan hidup. Akal dalam pengetian Islam. Disamping itu ia juga berarti bisikan. komunikasi dengan Tuhan dapat dilakukan melalui daya rasa manusia yang berpusat dihati sanubari. Akal aktuil (al-aqlli bil al-fi¶li) yaitu akal yang telah dan lebih mudah dan lebih banyak dapat menangkap pengertian dan kaidah dimaksud. Sebagaimana telah dijelaskan diatas dalam konsep wahyu terkandung pengertian adanya komunikasi antara Tuhan yang bersifat immateri dan manusia yang besrsifat materi. sufi . II. d. dari belakang tabir sebagaimana yang pernah dialami oleh Nabi Musa. Menurut ajaran tasawuf. Ada tiga cara penyampaian wahyu. Akal perolehan (Al-µaqli al-mustafad). bukanlah otak. isyarat.c. Akal dalam pengertian inilah yang dikontraskan dalam Islam dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri Manusia yaitu Tuhan. Menurut Abu Huzail. Maka kaum teolog Islam mengartikan akal sebagai daya untuk memperoleh pengetahuan. yang pertama. akal adalah daya untuk memperoleh pengetahuan. melalui jantung hati seseorang dalam bentuk ilham. Al wahyu selanjutnya berarti pemberitahuan secara tersembunyi dan dengan cepat. melalui utusan yang dikirim dalam bentuk malaikat. yang dapt dikeluarkan setiap kali dikehendaki.sabda Tuhan itu mengandung ajaran. akal juga mempunyai daya untuk membedakan antara baik dan buruk. Daya yang digambarkan dalam Al qur¶an. memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Akal ini adalah milik para Nabi dan rasul Allah. Disamping memperoleh pengetahuan. akal mempunyai daya untuk mengabstrakkan benda-benda yang ditangkap panca indera. Akal dalam derajat keempat inilah akal yang tertinggi dan terkuat dayanya. yaitu akal yang didalamnya arti-arti abstrak tersebut selamanya sedia untuk dikeluarkan dengan mudah sekali. Akal aktuil ini merupakan gudang bagi arti-arti abstrak itu. Dengan memusatkan perhatian pada hal-hal yang bersifat murni. Tetapi kata itu lebih dikenal dalam arti apa yang disampaikan Tuhan kepada Nabi-nabi. Wahyu Wahyu berasal dari kata Arab Al wahyu. Kedua. api dan kecepatan. petunjuk dan pedoman yang diperlukan umat manusia dalam perjalanan hidupnya baik didunia ini maupun diakhirat kelak.

III. dengan banyak beribadah. Ini berarti bahwa . karna wahyu adalah khusus bagi Nabi-nabi dan Rasulrasul. Dalam pada itu komunikasi seorang sufi dengan Tuhan tidak sampai mengambil bentuk wahyu. sedangkan tiga hal lainnya yakni kewajiban berterima kasih kepada Tuhan. yakni mengetahui Tuhan dan mengetahui yang baik dan yang buruk. dan dapat pula berdialog dengan Tuhan. serta tentang kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk. membaca Al qur¶an dan mengingat Tuhan. aliran maturidiyah Samarkand yang juga penganut pemikiran kalam rasional. yakni kewajiban berterima kasih pada Tuhan serta kewajiban melaksanakan yang baik serta meninggalkan yang buruk. baik dan buruk. kalbu seorang sufi akan menjadi semakin bersih dan jernih sehingga Ia dapat menerima cahaya yang dipancarkan oleh Tuhan. hanya diketahui dengan wahyu. tentang apa yang baik dan apa yang buruk. tentang kewajiban berterima kasih pada Tuhan. akal mempunyai kemampuan mengetahui ketiga hal lainnya.surat al-ghasyiyah ayat 17 dan surat ala¶raf ayat 185. sebagai penganut pemikiran kalam tradisional. dimana seorang sufi dapat melihat Tuhan dengan kalbunya. mengatakan bahwa kecuali kewajiban menjalankan yang baik dan menghindari yang buruk. Sebaliknya aliran asy¶ariyah. Sementara itu. serta kewajiban melaksanakan yang baik dan menghindari yang jahat. Dalam Tasawuf dikenal tingkatan ma¶rifah.mempertajam daya rasa atau kalbunya dengan menjauhi hidup kematerian dan memusatkan perhatian dan usaha pada pensucian jiwa. Ayat-ayat al-Qur¶an yang dijadikan dalil oleh mu¶tazilah dan Maturidiyah Samarkand untuk menopang pendapat mereka adalah surat fushilat ayat 53. sedangkan dua hal lainnya. diketahui manusia berdasarkan wahyu. akal atau wahyu ± sebagai sumber pengetahuan manusia tentang Tuhan. Pergulatan antara akal dan wahyu Masalah akal dan wahyu dalan pemikiran kalam dibicarakan dalam konteks ± manakah diantara keduanya. Aliran mu¶tazilah sebagai penganut pemikiran kalam rasional berpendapat bahwa akal mempunyai kemampuan mengetahui keempat hal tersebut diatas. Tiga ayat tersebut mengisyaratkan bahwa Allah telah mewajibkan perenungan dan pemikiran terhadap ciptaanNya agar diketahui bahwa dia Maha pencipta.sementara aliran Maturidiyah Bukhara yang juga digolongkan kedalam pemikir kalam tradisional berpendapat bahwa dua dari keempat hal tersebut diatas. melakukan shalat dan berpuasa . dapat diketahui melalui akal. berpendapat bahwa akal hanya mampu mengetahui Tuhan.

Karena manusia dengan kemampuan akalnya dapat mengetahui bahwa kekufuran itu haram. Namun tidak selamanya . Kewajiban-kewajiban baru ada setelah diberitahukan oleh Allah. Ayat-ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah baru memberikan ganjaran atas perbuatan manusia yang baik dan yang buruk setelah Nabi dan Rasul di utus. ayat 164 surat an-nisa¶ dan ayat 8-9 surat al-mulk. tidak dengan akalnya semata-mata. Aliran kalam tradisional mengambil beberapa ayat al-Qur¶an sebagai dalil dalam rangka memperkuat pendapat mereka. munculnya persoalan-persoalan aqidah dalam Islaman men seperti pelaku dosa besar apakah dia mukmin hanyalah berasal dari persoalan ´rebutan kursi´ . Aliran-aliran teologi yang muncul dalam menyikapi ini secara garis besar dapat dibagi kepada dua mazhab yaitu mazhab rasional (ra¶yu) yang diwakili oleh mu¶tazilah dimana kemudian filosof tergabung didalamnya dan mazhab non rasional (wahyu). ayat 134 surat thaha.ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa wajib beriman kepada Allah sebelum turunnya wahyu. persoalan wahyu dan akal. bukan bidang teologi atau keagamaan. Kesimpulannya. yang diwakili oleh teolog-teolog Islam konservatif dan fundamentalis yang sampai hari ini pengaruhnya ada pada ortodoksi Islam tertua yaitu Asy¶ariah (Sunni/Ahlus Sunnah wal Jama¶ah). karena kekufuran itu sesuatu yang dibenci oleh Allah. Sementara itu. merupakan persoalan yang mendapatkan porsi pembahasan lumayan besar dalam lingkup teologi (ilmu kalam) dalam Islam. Keimanan dan kekufuran tidak dapat diketahui kecuali dengan pengabaran seseorang yang diutus oleh Allah. iman dan kufur adalah diskursus yang telah membawa pengaruh terhadap hasil karya besar dan spektakuler dalam kegemilangan peradaban Islam di ranah ilmu pengetahuan. Ayat-ayat tersebut adalah ayat 15 surat al-isra¶. Tetapi persoalan politik ini segera meningkat menjadi persoalan tidak pernah berhenti. Sejak saat itulah persoalan-persoalan teologi berkembang dari hanya persoalan-persoalan pelaku dosa besar. segala sesuatu yang berkaitan dengan agama hanya bisa diketahui oleh manusia dengan perantaraan Nabi dan Rasul. Oleh sebab itu. demikian pula kewajiban tidaklah tergambar kecuali sesudah diutusnya rasul. Demikian juga persoalan wahyu dan akal. Dalam sejarah Islam. dengan kemampuan akalnya manusia mampu mengetahui bahwa beriman pada Allah itu adalah wajib. Persoalan wahyu dan akal muncul sebagai bentuk merespon realitas yang terjadi diluar mereka apakah harus melihat dan memahaminya lewat akal atau lewat wahyu. Sedikit agak aneh memang. persoalan pertama yang muncul dalam Islam sebagai agama adalah bidang politik. jadi sangat-sangat subjektif. menjadi bermacam-macam diskursus teologi yang melahirkan banyak sekali aliran-aliran yang tetap berpengaruh hingga sekarang. Oleh sebab itu.

artinya wahyu adalah yang utama. tidak boleh ada peran akal dalam tauhid. Persoalan selanjutnya. mereka tidaklah memberikan kebebasan sepenuhnya kepada akal seperti yang dilakukan oleh Mu¶tazilah. diluar golongan ini adalah golongan kufur (kafir) sehingga tidak ada keselamatan bagi orang-orang kufur. filsuf dan tokoh-tokoh tasawuf yang punya talenta luar biasa mengupas seluruh rahasia-rahasia semesta. bergulat dengan kemiskinan. definisi ini semakin mendoktrinasi umat Islam ketika di monopoli oleh lembaga formal agama seperti MUI. akal hanyalah pelayan wahyu. persoalan wahyu dan akal. terbelakang. Apakah persoalan tauhid sesautu yang sudah final dan hanya milik satu golongan tertentu tanpa bisa dinterpretasikan lagi dan didekati dengan persfektif lain diluar ilmu tauhid ?. Dalam ortodoksi Islam. tidak boleh ada kebebasan berfikir dalam tauhid. akal harus tunduk pada wahyu. tidak bisa ditawar-tawar lagi. bahwa diluar Ahlussunnah Wal Jama¶ah semuanya sesat dan kufur. iman dan kufur telah dikuasai oleh ortodoksi Islam. sehingga fatwa-fatwa yang lahir adalah : ´ inilah tauhid yang murni dan sebenarnya. di luar golongan mereka sudah di anggap ingkar Allah dan ingkar Nabi. karena tidak lagi mengesakan Tuhan dengan zat maupun sifatnya. Apakah ortodoksi pemahaman tauhid seperti diatas (teologi asy¶ary) berpengaruh terhadap eksistensi dan etos kerja umat Islam saat ini yang mundur. apalagi direlatifkan. dengan vonis kafir dan sesat kepada teolog. Persoalan yang dihadapi saat ini adalah. iman dan Kufur adalah seperti definisi di atas dan ini sudah Fixed Price ( harga mati ). apakah benar tidak ada lagi tawar menawar dalam persoalan iman dan kufur. Dalam konteks kekinian. Dalam pandangan Asy¶ariah akal adalah pelayan terhadap wahyu.diskursus ini penuh dengan kegemilangan. demikian juga dengan persoalan wahyu dan akal. yang harus dipegang umat Islam saat ini jika ingin selamat. Apakah benar tauhid adalah aqidah atau malah tauhid ini bukan . Demikian juga persoalan Iman dan kufur juga tidak terlepas dari cengkeraman ortodoksi Islam yang mengajarkan kepada umat Islam hari ini bahwa keselamatan hanya dimiliki oleh orangorang beriman dan hanya ada pada golongan Asy¶ariah (Sunni) yang hari ini menjelma menjadi Ahlus Sunnah wal Jamaah. apakah ini sesuatu yang tidak bisa di interpretasikan lagi. apakah benar sesuai dengan ortodoksi umat Islam hari ini bahwa akal harus tunduk kepada wahyu. Dalam wahyu dan akal. diskursus wahyu dan akal. iman dan kufur sudah jelas. ada juga masa-masa suram dimana dengan diskursus ini pula telah mematikan kebebasan berfikir.

apakah mutlak seperti itu. apa yang akan terjadi ?. yang semua ini merupakan sebuah syarat kemajuan dalam komunitas global. hanya ada satu jalan keselamatan. pola kerja dan pola pikir umat Islam bersumber dari ketauhidan mereka. wahyu harus diatas segala-galanya. seperti itu juga turunan tingkah. Tauhid teks ± wahyu diatas segalanya. fundamentalis. sehingga kita dapat melihat di Indonesia khususnya dan belahan dunia Islam lain pada umumnya. dari pemaparan tauhid tekstual dan tauhid kontektual yang penulis paparkan diatas. tauhid yang diyakini oleh umat Islam adalah tauhidnya Sunni. Bisa juga terjadi dikarenakan Islam yang di agungkan dan dipraktekkan adalah Islam Syari¶at yang diyakini paripurna. yang semuanya serba relatif. Jika tidak. tanpa peran akal dan tidak ada keselamatan diluar komunitas sendiri ± dalam perfektif Syari¶at melahirkan umat yang rigid (kaku). bahwa umat yang dihasilkan dari tauhid seperti ini adalah umat yang eksklusif. maka akan terus tertinggal karena tidak bisa mengejar. dan masing-masing berdiri . pola kerja dan pola pemikiran sesuai dengan konteks zaman. Artinya tanpa mau mengerti bahwa teks tauhid yang dinggap final dalam ortodoksi Islam berasal dari konfigurasi pemikiran dan penalaran subjektif manusia. Pertanyaan selanjutnya yang perlu diajukan adalah. tentu perlu kita kait dan sinergiskan dengan model dunia dan kehidupan saat ini yang semakin lama semakin maju. jika sedang hujan. Artinya. yang mengajarkan seperti disebutkan diatas. menyamai apalagi bersaing. yang dengan Islam seperti ini sebenarnya telah membawa Islam kepada puncak kejayaan dalam sejarah peradaban dan ilmu pengetahuan. Fenomena diatas terjadi dikarenakan tauhid tersebut dipahami dengan menggunakan persfektif yang memandang Islam sebagai teks (tekstual). tidak ada kebebasan dalam berfikir. Misalnya. bebas berfikir. bukan dengan perfektif kontekstual. humanis. dan suka melakukan takfir. Pola tingkah. Hari ini. kita malah menjajakan es . konservatif. hanya ada satu kebenaran. kerja dan pemikiran mereka. mutlak dan absolut. Sedangkan Tauhid yang dipahami dalam konteks peradaban ± akal di atas wahyu dan keselamatan itu relatif ± akan menghasilkan umat yang toleran.aqidah dan apakah perlu kita mengaktualisasikan kembali pemahaman tauhid sesuai dengan konteks kekinian dan dengan pendekatan dan persfektif lain ? Menyimak pertanyaan-pertanyanan diatas. bukan Islam peradaban.umat yang rajin melakukan kerusakan dan tindakan bar-bar. keadaan yang semakin modern ini perlu diikuti oleh pola tingkah. Seperti apa definisi tauhid yang mereka yakini. modern dan canggih saja.

untuk interpretasi dan reaktualisasi tauhid dalam konteks kekinian dengan pola adanya kebebasan berfikir diatas. Dalam Islam.sendiri. akal merupakan pemberian Tuhan yang paling berharga. Tujuan mendialogkan ini adalah pertama agar kita terlepas dari pengaruh ortodoksi Islam. Inilah yang tidak dipunyai ortodoksi Islam. Tanpa akal. karena persoalan teologi. ushul fiqh termasuk dalam ranah pemikiran ke Islaman. tidak di lihat dari aspek pemikiran yang sebenarnya merupakan nyawa atas keberlangsungan sebuah agama. Jawabannya bisa saja bisa dan bisa saja tidak. tanpa bisa didialogkan lagi. dan tujuan mendialogkan ini adalah untuk melakukan telaah kritis. Dengan kata lain. politik dalam Islam. apakah wahyu yang harus tunduk kepada akal. tasawuf. semuanya relatif. lebih berharga dari kitab suci itu sendiri. Dalam sejarahnya. yang mengharamkan kebebasan berfikir. apakah harus melihat dan memahaminya lewat akal atau wahyu. tanpa ada vonis sesat dan takfir. kitab suci tidak akan bisa dipahami. . atau malah sebaliknya. kaum muslim terbelah dalam menyikapi perubahan sosial yang terjadi disekitar mereka. Syarat utama dari persfektif pemkiran ke Islaman adalah adanya kebebasan berfikir. Menurut Lutfi Assyauakanie. Kalaupun tidak ada disana. Bagi mereka jika akal dan wahyu berbenturan. karena mereka meyakini bahwa segala sesautu didunia ini sudah termaktub dalam alQuran. persoalan kebebasan berfikir dalam Islam berakar dari permusuhan dan kecurigaan berlebihan terhadap peran akal. Dalam sejarah Islam sebagai khazanah dan peradaban. Sejak awal. filsafat. iman dan kufur. hubungan agama dan pemikiran adalah sejarah ketegangan. maka wahyu haruslah diinterpretasikan. Tidak bisakah lagi mendialogkan antara wahyu dan akal. Mari kita dialogkan ini secara kritis. atau malah kita tidak perlu kepada wahyu. semua objek dalam Islam akan mudah di pahami jika menggunakan pendekatan pemikiran. Sementara itu bagi filosof dan pemikir muslim. iman dan kufur. Agama dilihat hanya dari satu aspek (Syari¶at). Tidak bisa jika persfektif yang digunakan adalah persfektif Islam paripurna (Islam Syari¶at) dan bisa jika perfektif yang digunakan adalah persfektif Islam peradaban atau Islam pemikiran lebih jelasnya kita sebut dengan persfektif pemikiran ke Islaman. mereka meyakini bahwa al-Quran memberikan sinyalemensinyalemen untuk itu. bagaimanakah sebenarnya. cukup dengan akal dan apakah tauhid itu aqidah ataukah hanya sebuah pemikiran. wahyu dan akal. Maka nantinya akan kita dapatkan jawaban. wahyu harus didahulukan diatas akal dalam menilai apa saja. Ortodoksi Islam umumnya berpegang teguh kepada wahyu.

. wahyu bahkan bertindak sebagai sumber pengetahuan Pengetahuan manusia yang diperoleh melalui wahyu memiliki status yang spesifik. Sebagaimana kata µAbd. Dalam filsafat ilmu terdapat dua aliran yang sering dianggap sebagai cara yang dikotomik dalam memperoleh pengetahuan: rasionalisme di satu sisi. Bahkan beberapa sains dalam Islam berkembang pesat akibat langsung dari ketertundukan sains di atas agama. Kemajuan sains dan ilmu pengetahuan dalam Islam relatif ´sejalan´ dengan ideologi ortodoksi. Kedua aliran ini. karena seorang penerima pengetahuan melalui wahyu adalah orang yang memiliki otoritas keagamaan tinggi yang sering diistilahkan dengan Nabi. tidak diakui sebagai sumber pengetahuan. akal tak dapat mengetahui bahwa upah untuk suatu perbuatan baik lebih besar dari upah yang ditentukan untuk suatu perbuatan baik yang lain. wahyulah yang menjelaskan perincian hukuman dan upah yang akan diperoleh oleh manusia diakhirat kelak. FUNGSI WAHYU Wahyu bagi kaum Mu¶tazilah mempunyai fungsi memberi penjelasan tentang perincian hukuman dan upah yang akan diterima manusia diakhirat. Artinya ada dimensi-dimensi filsafat dalam wahyu yang bisa di kaji dalam ranah pemikiran. Sementara manusia biasa menerima keberadaan wahyu sebagai rukun iman yang harus dipercayai secara taken for granted. Pandangan ± pandangan filsuf dan teolog kerap berbenturan dengan keyakinan ortodoksi Islam. Hal ini berbeda dengan pemikiran spekulatif yang dikembangkan dalam disiplin filsafat dan teologi. dan sumber utamanya adalah kecurigaan di gunakannya unsur-unsur asing di luar konteks Arab dan Islam. hal ini dikarenakan tidak pernah terjadi sebuah revolusi sains seperti yang terjadi di Eropa. dan empirisisme di sisi yang lain. Semua ini hanya dapat diketahui hanya dengan perantaraan wahyu. Wahyu sebagai sebuah realitas di luar realitas itu. Demikian pula akal tidak dapat mengetahui bahwa hukuman untuk suatu perbuatan buruk lebih besar dari hukuman untuk suatu perbuatan buruk yang lain. para filosof berusaha untuk mendudukkan wahyu sebagai realitas keilmuan yang bisa dikaji secara teoretis.pertentangan antara Islam dan ilmu pengetahuan relatife kecil. secara ekstrim tidak mengakui realitas lain di luar akal dan pengalaman atau fakta. Dalam tradisi filsafat Islam. sementara yang kedua lebih mengakui pengalaman sebagai sumber otentik pengetahuan. dengan sendirinya. Demikian pula pendapat Al Jubba¶i. Jabbar. dengan demikian. Aliran pertama lebih menekankan pada dominasi akal dalam memperoleh pengetahuan.

Wahyu bagi kaum Mu¶tazilah juga mempunyai fungsi informasi dan konfirmasi. 1986. Jakarta: UI Press. dan dengan demikian menyempurnakan pengetahuan yang telah diperoleh oleh akal. DAFTAR PUSTAKA ‡ Nasution. 0 komentar: . Harun. Harun Nasution. Jakarta 1986. 1986. akal dan wahyu dalam iaslam. Aliran-aliran Sejarah Analisa Perbandingan. ‡ Yusuf. Jakarta: UI Press. UI-Press. 2004. Teologi Islam: Aliran-aliran Sejarah Perbandingan. cet. Harun. Jakarta: Permadani. Yunan. Teologi Islam. Ke-II. ‡ Nasution. Ke-5. Harun Nasution. M. cet. memperkuat apa-apa yang telah diketahui oleh akal dan menerangkan apa-apa yang belum diketahui oleh akal. ‡ [i] . Corak Pemikiran kalam Tafsir Al azhar.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->