P. 1
INDUSTRI KERAMIK KASONGAN

INDUSTRI KERAMIK KASONGAN

|Views: 832|Likes:
Published by Faizal

More info:

Published by: Faizal on Apr 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/23/2013

pdf

text

original

INDUSTRI KERAMIK

Keramik Gerabah dari Bantul Kembali Diekspor

Sabtu, 23 September 2006

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Mungkin kata-kata mutiara ini tak cukup kuat untuk menahan kesedihan para korban bencana gempa bumi di Yogyakarta, 27 Mei 2006 lalu. Gempa yang memluluhlantakkan hampir sebagian besar kabupaten/kota di Yogyakarta di pagi hari itu hingga kini mungkin memang masih terasa. Kita ingat bagaimana musibah gempa berkekuatan 5,8 SR dan berdurasi hampir satu menit itu menyedot perhatian nasional dan internasional. Bencana yang mengakibatkan lumpuhnya kegiatan perekonomian dan aktivitas masyarakat selama beberapa waktu itu bahkan diplot sebagai salah satu bencana terbesar. Bagaimana tidak, ribuan nyawa melayang dan ribuan bangunan runtuh. Namun, yang terjadi biarlah berlalu. Kini, secara perlahan tapi pasti, masyarakat Yogyakarta kembali merajut puing-puing kehidupannya. Mereka tidak mau berlamalama larut dalam kesedihan dan berkomitmen untuk membangun kembali Yogyakarta sesuai dengan kemampuan dan bidangnya masing. Sekadar diketahui, sektor pariwisata Yogyakarta saat ini kembali menggeliat. Meski tertimpa bencana, secara "ajaib" Yogyakarta kembali pulih dan sudah bisa dikatakan kondusif sebagai daerah tujuan wisata. Ini fakta. Daerah-daerah tujuan wisata di Yogyakarta kini nyaris tak tampak lagi sebagai daerah yang pernah tertimpa bencana. Di Malioboro, Keraton Kesultanan Yogyakarta, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Pantai Parangtritis serta sentra-sentra UKM yang menawarkan produk khas Yogyakarta yang menjadi bagian dari paket wisata itu kini sudah tak terlihat lagi sebagai tempat yang pernah tertimpa gempa bumi. Salah satunya adalah sentra usaha kecil dan menengah (UKM) yang memproduksi keramik gerabah, di daerah Tirto/Kasongan, Bangunjiwo-Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Sentra UKM yang selama ini memproduksi beraneka ragam dan jenis keramik gerabah ini kembali menggeliat. Pelaku usaha keramik gerabah di daerah yang bisa dinilai sebagai tujuan wisata wajib dikunjungi di Yogyakarta ini mulai kembali berproduksi. Gempa bumi memang meyesakkan, namun tak perlu diratapi, karena hidup terus berjalan. Mungkin ini yang berada di benak para pelaku dan pengrajin usaha keramik gerabah di daerah yang terkenal disebut Kasongan itu. Seperti diketahui, Kabupaten Bantul merupakan salah satu daerah di Yogyakarta yang paling parah terkena dampa bencana gempa bumi. Ribuan nyawa melayang dan banyak bangunan yang runtuh. Tak terkecuali sentra UKM keramik gerabah di Kasongan, Bangunjiwo-Kasihan, di Bantul. Namun trauma musibah besar itu tampaknya tak menjadikan masyarakat, khususnya pelaku dan penggrajin usaha keramik, duduk berdiam diri sambil berpangku tangan. Ini berhasil dibuktikan oleh salah satu pengusaha keramik gerabah asli Kasongan, Timbul Raharjo. Meski tempat produksi dan toko berbagai jenis keramik gerabahnya hancur akibat gempa, secara perlahan tapi pasti Timbul bersama karyawan dan pengrajinnya kembali berproduksi. Bahkan Timbul secara intensif terus mempertahankan komunikasi dengan para pembeli produknya (buyers), baik di dalam maupun luar negeri.

Timbul menjadi salah satu pelopor kembali menggeliatnya sentra UKM keramik gerabah di kasongan. Bahkan 10 hari pasca-gempa, dia sudah mengekspor satu peti kemas ukuran 40 kaki (maksimal) ke Eropa. "Memang banyak bangunan (1 tempat produksi dan 4 toko) serta produk keramik saya hancur akibat gempa. Namun saya kumpulkan produk-produk yang masih bagus dan memperbaiki produk-produk yang rusaknya tidak terlalu parah ditambah sedikit produksi baru untuk diekspor. Ini dalam rangka memenuhi pesanan sebelum terjadinya gempa," kata Timbul. Ayah dua orang anak ini mengaku, para buyers di dalam dan luar negeri sangat mengerti kondisi usahanya akibat gempa bumi tersebut dan memberikan dispensasi atau keringanan. Sehingga, secara perlahan usahanya kini bisa kembali bangkit dan para karyawan serta pengrajinnya juga dapat kembali bekerja. Menurut Timbul, penjualan keramik gerabahnya sudah bisa dikatakan kembali normal, di mana sebanyak hampir 30 peti kemas dalam dua bulan terakhir bisa diekspor. Keramik gerabahnya sebagian besar dikirim ke Italia, Belanda, Spanyol, Jerman, Australia, dan Amerika Serikat. "Keramik gerabah Yogyakarta masih diminati buyers luar negeri, karena memliki nilai seni yang sulit di produk sejenis dari negara lain. Selain itu, desain juga menjadi salah satu nilai tambah," kata lulusan Sarjana S-2 yang juga staf pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta ini. Pengusaha yang belum genap berusia 37 tahun ini mengatakan, pihaknya terus berusaha menjadikan sentra UKM keramik gerabah Kasongan, Bantul, kembali normal secara menyeluruh seperti sebelum gempa bumi. Selain produknya masih diminati di pasar lokal dan internasional, sentra UKM keramik gerabah ini juga harus tetap dipertahankan, karena juga merupakan salah satu tujuan wisata yang khas di Yogyakarta. Dan hal ini pun sudah dikomunikasikan dengan Pemprov DI Yogyakarta dan pemerintah pusat. Bahkan Departemen Perdagangan bekerja sama dengan Pemprov DI Yogyakarta serta instansi terkait lainnya juga siap memberikan bantuan untuk pemulihan secara terintegrasi dan komprehensif. (*/Andrian Novery)

abu, 16 Sep 2009 12:14:43 KASONGAN merupakan salah satu Desa Wisata yang berada di Desa Bangunjiwo, Kec Kasihan, Kabupaten Bantul. Lokasinya sekitar 4 kilometer arah utara pusat Kota Bantul. Selain menjadi desa wisata, Kasongan sejak bertahun-tahun telah dikenal dengan kerajinan tangan gerabah. Kerajinan Gerabah merupakan aneka bentuk kerajinan yang terbuat dari tanah liat atau lempung (bahasa Jawa). Selain berbelanja dan wisata di Kasongan, pengunjung juga bisa melihat proses pembuatan aneka kerajinan tangan gerabah. Kerajinan tangan gerabah dibuat dalam berbagai bentuk produk, seperti alat rumah tangga, hiasan rumah, suvenir, vas, guci, benda-benda antik dan sebagainya. Kasongan merupakan kawasan sentra produksi kerajinan gerabah. Sebagian besar penduduk Kasongan bermata pencaharian sebagai perajin gerabah. Namun, saat ini omzet permintaan pasar ke luar negeri cenderung turun sekitar 10-15 persen. Menurut Mbak Tris, Manajer Produksi dan Timboel Keramik, turunnya omset penjualan antara lain karena adanya krisis ekonomi global yang hingga saat ini dihadapi berbagai negara, terutama AS. Selama ini 80 persen produk Kasongan diekspor ke berbagai negara di Eropa dan Australia. Namun, sekarang ini

kondisinya memang menurun. Sebab masyarakat luar negeri lebih memilih usaha yang lebih menguntungkan ketimbang produk kerajinan. Misalnya, mereka memilih produk yang dianggap lebih produktif, seperti menanam kentang yang hasilnya menggembirakan. "Kalau untuk pasar lokal masih stabil, sebab memang mereka (pemborong) membeli produk gerabah Kasongan untuk kemudian dijual kembali. Memang tidak seramai tahun lalu. Pasar lokal umumnya ke Jakarta dan Bali, sedangkan untuk ekspornya kebanyakan ke Belgia, Belanda dan Jerman serta Australia," katanya. Menurut Mbak Tris, kendala yang dirasa paling susah adalah mencari pembeli. "Secara teknis untuk mengatasi itu, kami upayakan sambil jalan," kata Mbak Tris. Hal yang sama juga dirasakan di sebagian studio yang memproduksi gerabah Kasongan. Menurut salah seorang anggota keluarga "Subur Ceramic", dalam setahun terakhir permintaan pasar lokal maupun ekspor tetap berjalan tapi menurun sekitar 25 persen. Sebagian besar mereka memesan produksi guci dan jambangan. Para perajin di Kasongan berharap, omset penjualan pada masa libur lebaran ini maupun pada tahun-tahun mendatang lebih bagus dan meningkat.

Deskripsi Kasongan adalah tempat industri Gerabah terkenal di Yogyakarta, serta segala jenis baik patung, peralatan makan, asessories, dan berbagai macam jenis lainnya terbuat dari tanah liat.Desa Wisata Gerabah "Kasongan" terletak di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, sekitar 4 kilometer ke arah utara Kota Bantul. Desa wisata ini memproduksi peralatan rumah tangga seperti piring, mangkuk, guci, dan lain sebagainya yang terbuat dari tanah liat. Pengunjung tidak hanya dapat berbelanja, tetapi juga dapat menikmati secara langsung proses pembuatan gerabah sambil bertanya jawab dengan pengrajin. Kerajinan Kasongan umumnya adalah Guci dengan berbagai motif (burung merak, naga, bunga mawar, batik, kaligrafi, dll), pot berbagai ukuran dari kecil hingga setinggi orang dewasa, souvenir, hiasan dinding, lukisan, pigura, perabot lain seperti meja, kursi, dipan, dll. Tetapi sekarang variasi kerajinan kasongan sudah banyak seperti : bunga tiruan dari daun pisang serta biji-bijian, perabot dari bambu, patung dari batu atau kayu, miniatur sepeda atau miniatur becak, topeng batik, gorden, tas, dll. Kerajinan Kasongan ini banyak yang berkualitas bagus dan berkualitas eksport, sehingga banyak dikirim ke Amerika dan Eropa. Desa Kasongan yang terkenal dengan kerajinan kasongan ini sangat ramai jika musim liburan

KASONGAN-Sentra Industri Gerabah

Gerbang masuk daerah Kasongan (foto: ©2007 arie saksono)

Kasongan adalah nama sebuah desa yang terletak di daerah dataran rendah bertanah gamping di Pedukuhan Kajen, Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, sekitar 8 km ke arah barat daya dari pusat Kota Yogyakarta atau sekitar 15-20 menit berkendara dari pusat kota Yogyakarta. Desa Kasongan merupakan sentra industri kerajinan gerabah. Gerabah adalah perkakas yang terbuat dari tanah liat atau tanah lempung. Kawasan ini merupakan wilayah pemukiman para pembuat barangbarang kerajinan berupa perabotan dapur dan juga beraneka macam barang-barang sejenisnya yang sebagian besar menggunakan tanah liat sebagai bahan baku. Dahulu, pembuatan gerabah di desa ini terbatas untuk peralatan keperluan rumah tangga, seperti kendi (wadah air minum), kendil (wadah untuk memasak), gentong (wadah air), anglo (kompor ± tempat pembakaran dengan bahan bakar arang untuk memasak), dan sejenisnya. Sejalan dengan perkembangan jaman, sekarang ini pembuatan gerabah tidak hanya terbatas pada perabotan rumah tangga saja, namun juga barang-barang lain sejenis yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran. Asal usul daerah Kasongan menjadi sentra industri gerabah Pada masa penjajahan Belanda, salah satu daerah di sebelah selatan kota Yogyakarta pernah terjadi peristiwa yang mengejutkan warga setempat, yaitu seekor kuda milik Reserse Belanda ditemukan mati di atas lahan sawah milik seorang warga. Hal tersebut membuat warga ketakutan setengah mati. Karena takut akan hukuman, warga akhirnya melepaskan hak tanahnya dan tidak mengakui tanahnya lagi. Hal ini diikuti oleh warga lainnya. Tanah yang telah dilepas inipun kemudian diakui oleh penduduk desa lain. Warga yang takut akhirnya berdiam diri di sekitar rumah mereka. Karena tidak memiliki lahan persawahan lagi, maka untuk mengisi hari, mereka memanfaatkan apa saja yang ada di sekitar. Mereka memanfaatkan tanah yang ada, kemudian mengempal-ngempalnya yang ternyata tidak pecah bila disatukan, lalu mulai membentuknya menjadi berbagai fungsi yang cenderung untuk jadi barang keperluan dapur atau mainan anak-anak. Berawal dari keseharian nenek moyang mereka itulah yang akhirnya kebiasaan itu diturunkan hingga generasi sekarang yang memilih menjadi perajin keramik untuk perabot dapur dan mainan hingga kini.

Kesibukan sehari-hari warga Kasongan (foto: ©2007 arie saksono)

Proses pembakaran tradisional dengan bahan bakar sabut kelapa (foto: ©2007 arie saksono)

Proses Pembuatan Pada dasarnya proses pembuatan gerabah dibagi dalam dua bagian besar, yakni dengan cara cetak untuk pembuatan dalam jumlah banyak (masal) atau langsung dengan tangan. Untuk proses pembuatan dengan menggunakan tangan pada keramik yang berbentuk silinder (jambangan, pot, guci), dilakukan dengan menambahkan sedikit demi sedikit tanah liat diatas tempat yang bisa diputar. Salah satu tangan pengrajin akan berada disisi dalam sementara yang lainnya berada diluar. Dengan memutar alas tersebut, otomatis tanah yang ada diatas akan membentuk silinder dengan besaran diameter dan ketebalan yang diatur melalui proses penekanan dan penarikan tanah yang ada pada kedua telapak tangan pengrajin. Pembuatan gerabah atau keramik, mulai dari proses penggilingan, pembentukan bahan dengan menggunakan perbot, hingga penjemuran produk biasanya memakan waktu 2-4 hari. Produk yang telah dijemur itu kemudian dibakar, sebelum akhirnya proses finishing dengan menggunakan cat tembok atau cat genteng. Sebuah galeri di Kasongan biasanya merupakan usaha keluarga yang diwariskan secara turun temurun, mereka bekerja secara kolektif. Sekarang pembuatan keramik melibatkan tetangga sekitar tempat tinggal pemilik galeri, namun pihak keluarga tetap bertanggung jawab untuk pemilihan bahan dan pengawasan produksi. Keramik Desain Modern Pada awalnya keramik ini tidak memiliki corak desain sama sekali. Namun legenda matinya seekor kuda telah menginspirasi para pengrajin untuk memunculkan motif kuda pada banyak produk, terutama kudakuda pengangkut gerabah atau gendeng lengkap dengan keranjang yang diletakkan di atas kuda, selain dari motif katak, ayam jago dan gajah. Perkembangan zaman dengan masuknya pengaruh modern dan budaya luar melalui berbagai media telah membawa perubahan di Kasongan. Setelah kawasan Kasongan pertama kali diperkenalkan oleh Sapto Hudoyo sekitar 1971-1972 dengan sentuhan seni dan komersil serta dalam skala besar dikomersilkan oleh Sahid Keramik sekitar tahun 1980-an, kini wisatawan dapat menjumpai berbagai aneka motif pada keramik. Bahkan wisatawan dapat memesan jenis motif menurut keinginan seperti burung merak, naga, bunga mawar dan banyak lainnya.

Kerajinan gerabah yang dijual di desa Kasongan bervariasi, mulai dari barang-barang unik ukuran kecil untuk souvenir (biasanya untuk souvenir pengantin), hiasan, pot untuk tanaman, interior (lampu hias, patung, furniture, etc), meja kursi, dan masih banyak lagi jenisnya. Bahkan dalam perkembangannya, produk desa wisata ini juga bervariasi meliputi bunga tiruan dari daun pisang, perabotan dari bambu, topeng-topengan dan masih banyak yang lainnya. Hasil produksi gerabah Kasongan di masa sekarang sudah mencakup banyak jenis. Tidak lagi terbatas pada perabotan dapur saja (kendil, kuali, pengaron, dandang, dan lainnya) serta mainan anak-anak (alat bunyi-bunyian, katak, celengan). Di kawasan Kasongan akan terlihat galeri-galeri keramik di sepanjang jalan yang menjual berbagai barang hiasan dan souvenir. Bentuk dan fungsinya pun sudah beraneka ragam, mulai dari asbak rokok kecil atau pot dan vas bunga yang berukuran besar, mencapai bahu orang dewasa. Barang hias pun tidak hanya yang memiliki fungsi, tetapi juga barang-barang hiasan dekorasi serta souvenir perkawinan.

Pengepakan kerajinan buatan warga Kasongan siap ekspor (foto: ©2007 arie saksono)

Salah satu produk yang cukup terkenal adalah sepasang patung pengantin dalam posisi duduk berdampingan. Patung ini dikenal dengan nama Loro Blonyo. Patung ini diadopsi dari sepasang patung pengantin milik Kraton Yogyakarta. Dalam bahasa Jawa, Loro berarti dua atau sepasang, sementara Blonyo berarti dirias melalui prosesi pemandian dan didandani. Namun demikian makna sebenarnya akan Loro Blonyo masih menjadi pertanyaan para pekerja di Kasongan. Kepercayaan patung Loro Blonyo akan membawa keberuntungan dan membuat kehidupan rumah tangga langgeng bila diletakkan di dalam rumah membawa pengaruh positif terhadap penjualan sepasang patung keramik ini.

(foto: ©2007 arie saksono)

Wisatawan manca negara yang menyukai model patung Loro Blonyo, memesan khusus dengan berbagai bentuk seperti penari, pemain gitar, peragawati dan lain sebagainya. Pakaiannya pun tidak lagi memakai adat Jawa, selain mengadopsi pakaian khas beberapa negara, yang paling banyak memakai motif Bali dan Thailand, bahkan patung prajurit teracota dapat dijumpai di sini. Beberapa galeri keramik sekarang telah menjual sepasang patung unik ini yang terus diproduksi dengan beberapa bentuk dan model yang berbeda-beda. Wisata Desa Kasongan Di masa sekarang pengunjung dapat menjumpai berbagai produk kerajinan tangan selain gerabah. Pendatang yang membuka galeri di Kasongan turut mempengaruhi berkembangnya jenis usaha kerajinan di sini. Produk yang dijual masih termasuk kerajinan lokal seperti kerajinan kayu kelapa, kerajinan tumbuhan yang dikeringkan atau kerajinan kerang. Usaha kerajinan Kasongan berkembang mengikuti

arus dan peluang yang ada. Namun demikian kerajinan gerabah tetap menjadi tonggak utama mata pencaharian warga setempat. Kerajinan keramik dengan berbagai bentuk dan motif yang modern bahkan artistik, dan berbagai kerajinan lainnya sebagai tambahan adalah daya tarik Kasongan hingga saat ini. Kasongan kini telah menjadi tempat wisata yang menarik dengan barang indah hasil keahlian penduduk setempat mengolah tanah liat.

DESA WISATA GERABAH KASONGAN
Alamat : Desa bangunjiwo, Kasihan, Bantul Deskripsi : Kasongan sejak lama dikenal sebagai desa penghasil kerajinan gerabah. Desa Wisata ini terletak di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, sekitar 6 km Selatan Kota jogja atau Yogyakarta atau lebih dikenal dengan nama kasongan. Gerabah itu sendiri merupakan perkakas yang terbuat dari tanah liat/lempung sebagai orang mengenalnya sebagai keramik. Hampir seluruh warga Kasongan mempunyai aktivitas rutin membuat aneka kerajinan dan souvenir gerabah yang unik yang sebagian besar menggunakan tanah liat sebagai bahan bakunya ini. Pada awalnya masyarakat kasongan ini membuat gerabah hanya terbatas untuk peralatan keperluan rumah tangga, seperti kendi (wadah air minum), gentong (wadah air), anglo (sejenis kompor dengan bahan bakar arang, untuk memasak), kendil (untuk memasak), dan lain-lain. Sekarang, seiring dengan perkembangan jaman, Kerajinan gerabah yang dijual di desa wisata ini bervariasi, mulai dari pernak-pernik kecil untuk souvenir (biasanya untuk souvenir pengantin), hiasan, pot untuk tanaman, penunjang interior (lampu hias, patung, furniture, etc), meja kursi, dan masih banyak lagi jenisnya. Bahkan dalam perkembangannya, produk desa wisata ini juga bervariasi meliputi bunga tiruan dari daun pisang, perabotan dari bambu, topeng-topengan dan masih banyak yang lainnya.

Kasongan mulanya merupakan tanah pesawahan milik penduduk desa di selatan Yogyakarta. Pada Masa Penjajahan Belanda di Indonesia, di daerah pesawahan milik salah satu warga tersebut ditemukan seekor kuda yang mati. Kuda tersebut diperkirakan milik Reserse Belanda. Karena saat itu Masa Penjajahan Belanda, maka warga yang memiliki tanah tersebut takut dan segera melepaskan hak tanahnya yang kemudian tidak diakuinya lagi. Ketakutan serupa juga terjadi pada penduduk lain yang memiliki sawah di sekitarnya yang akhirnya juga melepaskan hak tanahnya. Karena banyaknya tanah yang bebas, maka penduduk desa lain segera mengakui tanah tersebut. Penduduk yang tidak memiliki tanah tersebut kemudian beralih profesi menjadi

Sejarah
seorang pengrajin keramik yang mulanya hanya mengempal-ngempal tanah yang tidak pecah bila disatukan. Sebenarnya tanah tersebut hanya digunakan untuk mainan anak-anak dan perabot dapur saja. Namun, karena ketekunan dan tradisi yang turun temurun, Kasongan akhirnya menjadi Desa Wisata yang cukup terkenal.

Sejak tahun 1971-1972, Desa Wisata Kasongan mengalami kemajuan cukup pesat. Sapto Hudoyo (seorang seniman besar Yogyakarta) membantu mengembangkan Desa Wisata Kasongan dengan membina masyarakatnya yang sebagian besar pengrajin untuk memberikan berbagai sentuhan seni dan komersil bagi desain kerajinan gerabah sehingga gerabah yang dihasilkan tidak menimbulkan kesan yang membosankan dan monoton, namun dapat memberikan nilai seni dan nilai ekonomi yang tinggi. Keramik Kasongan dikomersilkan dalam skala besar oleh Sahid Keramik sekitar tahun 1980an. BAB II LANDASAN TEORI 1. Pengertian Pelayanan Salah satu fungsi-fungsi dari birokrasi pemerintahan adalah memberikan pelayanan bagi masyarakat. Dengan demikkian pelayanan dapat di definisikan sebuah kegiatan yang dilakukukan untuk memenui keinginan dan kebutuhan fihak lain. dalam ensiklopedi administrasi (1997) dijelaskan bahwa:´ pelayanan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh perorangan untuk mengamalkan atau mengabdikan diri. menurut keputusan mentri pemberdaya gunaan aparatur pemerintah No 63 tahun 2004 tentang pedoman penyelenggaraan pelayanan publik dan rancangan undang ±undang tentang pelayana publik mendefinisikan pelayana publik sebagai ³ kegiatan atau rangkaian kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar sesuai denga hak-hak sipil sebagai warga negara dan penduduk atas suatu barang, jasa dan pelayanan administrasi yang di sediakan oleh penyelenggara pelayanan publik,´ yaknilembaga pemerintah.³sementara H. A.S.Moenir (2000) mendefinisikan pelayanan ³ sebagai suatu proses pemenuhan kebutuhan melalui aktifitas orang lain ´ lebih lanjut dikatakan pelayanan umum adalah ³ kegiatan yang dilakukan olih seseorang atau kelompok orang denan landasan faktor material, melalui sistem prosedur, dan metode tertentu dalam rangka usaha memenui kepentingan orang lain sesuai dengan haknya´.

Zulian zanit (2005) mengemukakkan beberapa karakteristik yang dapat menjelaskan tentang jasa pelayanan, karakteristik tersebut diantaranya: 1. tidak dapat diraba( intangibility) 2. tidak dapat disimpan ( inability to inventary) 3. produksidan konsumsi secara bersama 4. memasukinya lebih mudah 5. sangat dipengarui oleh faaktor dari luar kegiatan pelayanan umum diarahkan pada terselenggaranya pelayanan untuk memenui kepentingan umum ? kepentingan perseorangan melalui cara cara yang tepat dan memuaskan fihak yang dilayani, supaya pelayanan umum berhasil baik unsur pelaku sangat menentukan. Pelaku dapat berbentuk badan atau organisasi yang bertanggung jawab atas terselenggaranya pelayanan dan manusia sebagai pegawai. ( Ananta budhi bahtiar. Skripsi 2009:13)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->