P. 1
Proposal Penelitian Terbaru

Proposal Penelitian Terbaru

|Views: 316|Likes:
Published by Faizal

More info:

Published by: Faizal on Apr 24, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/28/2013

pdf

text

original

PENGARUH PENGAWASAN ABSENSNI TERHADAP KEDISIPLINAN PEGAWAI PADA KANTOR BADAN PELAKSANA PENYULUHAN DAN KETAHAN PANGAN KABUPATEN

MAROS

Diajukan untuk Memenuhi Syarat mengikuti Seminar Proposal pada Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen Yayasan Perguruan Islam Maros (STIM YAPIM)

PROPOSAL PENELITIAN

M. FAIZAL. NS 07 20 102 086

SE

KO

LA

ST I

H T IN G

M - YA P I M
N G I IL M U M A

AJE

ME

N

SEKOLAH TINGGI ILMU MANAJEMEN YAYASAN PERGURUAN ISLAM MAROS (STIM ± YAPIM ) 2011

PENGARUH PENGAWASAN ABSENSNI TERHADAP KEDISIPLINAN PEGAWAI PADA KANTOR BADAN PELAKSANA PENYULUHAN DAN KETAHAN PANGAN KABUPATEN MAROS

PROPOSAL PENELITIAN

M. FAIZAL. NS 07 20 102 086

SEKOLAH TINGGI ILMU MANAJEMEN YAYASAN PERGURUAN ISLAM MAROS (STIM ± YAPIM ) 2011

iii

DAFTAR ISI

Halaman Judul Halaman Persetujuan Daftar Isi A. Identitas Mahasiswa B. Judul C. Latar Belakang D. Rumusan Masalah E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian 2. Manfaat Penelitian F. Tinjauan Pustaka, Kerangka Pikir dan Hipotesis 1. Tinjauan Pustaka a. Pengertian Pengawasan b. Maksud dan Tujuan Pengawasan c. Tipe Pengawasan d. Teknik Pengawasan e. Proses Pengawasan f. Pengertian Kedisiplinan g. Macam ± Macam Kedisiplinan

i ii iii 1 1 1 4 4 4 4 5 5 5 9 11 12 15 18 19

1

iv

2. Kerangka Pikir 3. Hipotesis G. Metode Penelitian 1. Lokasi dan Waktu Penelitian 2. Metode Pengumpulan Data 3. Jenis dan Sumber Data 4. Populasi dan Sampel 5. Metode Analisis 6. Sistematika Penulisan Jadwal Penelitian Daftar Pustaka Quisener

21 21 22 22 22 23 24 25 26 27 28 30

1

1

PROPOSAL PENELITIAN A. Identitas Mahasiswa : Nama Nim Jurusan Program Studi Konsentrasi Alamat : M. FAIZAL. NS : 07. 20102.086 : Manajemen : Manajemen : Manajemen Sumber Daya Manusia : Jl. Ibrahim No. 15 Kecamatan Turikale Kabupaten Maros B. Judul :

³PENGARUH PENGAWASAN ABSENSI TERHADAP KEDISIPLINAN PEGAWAI PADA KANTOR BADAN PELAKSANA PENYULUHAN DAN KETAHANAN PANGAN KABUPATEN MAROS.´ C. Latar Belakang Instansi pemerintahan adalah tempat dimana para pegawai melakukan aktifitas sehari-hari sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya sebagai aparatur pemerintahan demi menciptakan lingkungan kerja yang efektif dan tepat guna. Setiap instansi pemerintahan memiliki keinginan untuk

melakukan kemajuan di dalam struktur organisasinya, baik itu dari segi kemudahan maupun tingkat pencapaian hasil. Hal ini menuntut Instansi pemerintahan mencari alternatif-alternatif jitu untuk mendukung apa yang 1

2

dicita-citakan, seperti dibutuhkannya pengawasan terhadap kedisiplinan para pegawai yang terdapat di dalam instansi. Pengawasan kedisiplinan terhadap pegawai dalam suatu instansi dapat dilakukan dengan cara langsung ataupun dengan tidak, secara langsung dapat dilakukan dengan melihat keadaan sehari hari dari pegawai sedangkan dengan cara tidak langsung dapat dilakukan dengan melihat dari daftar kehadiran (absensi) dari para pegawai tersebut. Terwujudnya tujuan yang dikehendaki oleh organisasi sebenarnya tidak lain merupakan tujuan dari pengawasan. Sebab setiap kegiatan pada dasarnya selalu mempunyai tujuan tertentu. Oleh karena itu pengawasan mutlak diperlukan dalam usaha pencapaian suatu tujuan. Beberapa tujuan dilaksanakannya pengawasan terhadap pegawai/karyawan adalah : 1. Mengetahui jalannya pekerjaan, apakah lancar atau tidak 2. Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan mengadakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahankesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan yang baru. 3. Mengetahui apakah penggunaan budget yang telah ditetapkan dalam rencana terarah kepada sasarannya dan sesuai dengan yang telah direncanakan. 4. Mengetahui pelaksanaan kerja sesuai dengan program (fase tingkat pelaksanaan) seperti yang telah ditentukan dalam planning atau tidak.

1

3

5. Mengetahui hasil pekerjaan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan dalam planning, yaitu standard Untuk mendapatkan suatu hasil pekerjaan yang baik dan bermutu tinggi maka diperlukan pengawasan yang baik. Pengawasan adalah kegiatan manajer/pimpinan yang mengusahakan agar pekerjaan-pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan dan atau hasil yang dikehendaki . Pada setiap instansi pemerintah maupun swasta memerlukan pengawasan dari pihak manajer. Pengawasan ini dilakukan oleh manajer sebagai suatu usaha membandingkan apakah yang dilakukan sesuai dengan rencana yang ditetapkan. Hal ini berarti juga pengawasan merupakan tindakan atau kegiatan manajer yang mengusahakan agar pekerjaan terlaksana sesuai dengan rencana yang ditetapkan atau hasil kerja yang dikehendaki. Pengawasan merupakan hal yang sangat penting dalam setiap pekerjaan baik dalam instansi pemerintah maupun swasta. Sebab dengan adanya pengawasan yang baik maka sesuatu pekerjaan akan dapat berjalan lancar dan dapat menghasilkan suatu hasil kerja yang optimal. Semakin lancar kerja dan disertai pengawasan yang baik maka pekerjaan itu akan berhasil dengan baik. Dengan pengawasan yang baik akan mendorong pegawai lebih giat dalam bekerja dan menghasilkan kerja yang baik pula terlebih apabila menyelesaikan pekerjaannya dengan semangat yang baik. Pengaruh pengawasan terhadap kedisiplinan pegawai menjadi sangat penting untuk dibahas. Hal ini dimaksud untuk melihat apakah dengan 1

4

diadakannya pengawasan maka dapat berpengaruh terhadap kedisiplinan pegawai pada instansi ini. Pada instansi pemerintah ini perlu ditingkatkan pengawasan yang efektif sehingga disiplin atau etos kerja pegawai dapat ditingkatkan untuk memacu produktivitas kerja pegawai yang tinggi. Apabila ada pengawasan yang efektif dari manajer maka semangat kerja akan timbul dan para pegawai akan bekerja dengan rajin dengan disiplin yang tinggi dan bertanggung jawab sehingga produktivitas kerja dapat meningkat dengan sendirinya. D. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam proposal penelitian ini sebagai berikut ³Apakah pengawasan absensi berpengaruh terhadap kedisiplinan pegawai pada kantor Badan Peyuluh Pertanian Kabupaten Maros ´?. E. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengawasan absensi terhadap kedisiplinan pegawai pada kantor Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros. 2. Manfaat penelitian Adapun manfaat penelitan ini adalah :

1

5

a. Diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak Badan Penyuluh Pertanian dalam pengawasan kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil khususnya dalam pengawasan absensi. b. Menambah dan memperperluas wawasan ilmu pengetahuan khususnya mengenai pengawasan untuk mencapai kedisiplinan. c. Dapat menjadi salah satu literatur untuk argumen di bidang yang sama bagi peneliti selanjutnya, media pustaka dan pembanding bagi yang berkepentingan. F. Tinjauan Pustaka, Kerangka Pikir dan Hipotesis 1. Tinjauan pustaka a. Pengertian Pengawasan Istilah pengawasan dalam bahasa Inggris disebut controlling, yang oleh Dale (dalam Winardi, 2000) dikatakan bahwa: ³« the modern concept of control « provides a historical record of what has happened « and provides date the enable the « executive « to take corrective steps «´. Hal ini berarti bahwa pengawasan tidak hanya melihat sesuatu dengan seksama dan melaporkan hasil kegiatan mengawasi, tetapi juga mengandung arti memperbaiki dan

meluruskannya sehingga mencapai tujuan yang sesuai dengan apa yang direncanakan. More (dalam Winardi, 2000) menyatakan bahwa: ³« there¶s many a slip between giving works, assignments to men and carrying them out. Get reports of what is being done, compare it with 1

6

what ought to be done, and do something about it if the two aren¶t the same´. Dengan demikian pengawasan pada hakekatnya merupakan tindakan membandingkan antara hasil dalam kenyataan (dassein) dengan hasil yang diinginkan (das sollen). Hal ini disebabkan karena antara kedua hal tersebut sering terjadi penyimpangan-penyimpangan, maka tugas pengawasan adalah melakukan koreksi atas

penyimpangan-penyimpangan tersebut. Pengawasan merupakan fungsi manajerial yang keempat setelah perencanaan, pengorganisasian, dan pengarahan. Sebagai salah satu fungsi manajemen, mekanisme pengawasan di dalam suatu organisasi memang mutlak diperlukan. Pelaksanaan suatu rencana atau program tanpa diiringi dengan suatu sistem pengawasan yang baik dan berkesinambungan, jelas akan mengakibatkan lambatnya atau bahkan tidak tercapainya sasaran dan tujuan yang telah ditentukan. Pengertian tentang pengawasan sangat beragam dan banyak sekali pendapat para ahli yang mengemukakannya, namun demikian pada prinsipnya kesemua pendapat yang dikemukan oleh para ahli adalah sama, yaitu merupakan tindakan membandingkan antara hasil dalam kenyataan (dassein) dengan hasil yang diinginkan (das sollen), yang dilakukan dalam rangka melakukan koreksi atas penyimpangan1

7

penyimpangan yang terjadi dalam kegiatan manajemen. Berikut beberapa pengertian tentang pengawasan dari para ahli: Mockler (dalam Certo dan Certo, 2006) menyebutkan

pengawasan sebagai : Controlling is a systematic effort by business management to compare performance to predetermined standard, plans, or objectives to determine whether performance is in line with theses standards and presumably to take any remedial action required to see that human and other corporate resources are being used in the most effective and efficient way possible in achieving corporate objectives. Konsep pengawasan dari Mockler di atas, menekankan pada tiga hal, yaitu (1) harus adanya rencana, standard atau tujuan sebagai tolak ukur yang ingin dicapai, (2) adanya proses pelaksanaan kerja untuk mencapai tujuan yang diinginkan, (3) adanya usaha

membandingkan mengenai apa yang telah dicapai dengan standard, rencana, atau tujuan yang telah ditetapkan, dan (4) melakukan tindakan perbaikan yang diperlukan. Dengan demikian konsep pengawasan dari Mockler ini terlihat bahwa ada kegiatan yang perlu direncanakan dengan tolak ukur berupa kriteria, norma-norma dan standar, kemudian dibandingkan, mana yang membutuhkan koreksi ataupun perbaikan-perbaikan.

1

8

Hal senada juga diungkapkan oleh Admosudirdjo (dalam Febriani, 2001) yang mengatakan bahwa: Pada pokoknya controlling atau pengawasan adalah keseluruhan daripada kegiatan yang membandingkan atau mengukur apa yang sedang atau sudah dilaksanakan dengan kriteria, norma ± norma, standar atau rencana ± rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Sujamto (dikutip Silalahi, 2002) lebih tegas mengatakan: Pengendalian adalah segala usaha atau kegiatan untuk menjamin dan mengarahkan agar pekerjaan yang sedang dilaksanakan dapat berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan dan atau hasil yang dikehendaki serta sesuai pula dengan segala ketentuan dan kebijakan yang berlaku. Pengawasan adalah suatu proses kegiatan yang dilakukan untuk memantau, mengukur dan bila perlu melakukan perbaikan atas pelaksanaan pekerjaan sehingga apa yang telah direncanakan dapat dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Bertitik tolak dari pengertian para ahli tentang pengawasan sebagai mana diungkapkan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan pengawasan adalah sebagai suatu proses kegiatan pimpinan yang sistematis untuk membandingkan (memastikan dan menjamin) bahwa tujuan dan sasaran serta tugastugas organisasi yang akan dan telah terlaksana dengan baik sesuai 1

9

dengan standard, rencana, kebijakan, instruksi, dan ketentuanketentuan yang telah ditetapkan dan yang berlaku, serta untuk mengambil tindakan perbaikan yang diperlukan, guna pemanfaatan manusia dan sumber daya lain yang paling efektif dan efisien dalam mencapai tujuan perusahaan b. Maksud dan Tujuan Pengawasan Terwujudnya tujuan yang dikehendaki oleh organisasi

sebenarnya tidak lain merupakan tujuan dari pengawasan. Sebab setiap kegiatan pada dasarnya selalu mempunyai tujuan tertentu. Oleh karena itu pengawasan mutlak diperlukan dalam usaha pencapaian suatu tujuan. Menurut Situmorang dan Juhir maksud pengawasan adalah untuk : 1) Mengetahui jalannya pekerjaan, apakah lancar atau tidak 2) Memperbaiki kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh pegawai dan mengadakan pencegahan agar tidak terulang kembali kesalahankesalahan yang sama atau timbulnya kesalahan yang baru. 3) Mengetahui apakah penggunaan budget yang telah ditetapkan dalam rencana terarah kepada sasarannya dan sesuai dengan yang telah direncanakan. 4) Mengetahui pelaksanaan kerja sesuai dengan program (fase tingkat pelaksanaan) seperti yang telah ditentukan dalam planning atau tidak. 1

10

5) Mengetahui hasil pekerjaan dibandingkan dengan yang telah ditetapkan dalam planning, yaitu standard. Rachman (dalam Situmorang dan Juhir :2004) juga mengemukakan tentang maksud pengawasan, yaitu: 1) Untuk mengetahui apakah segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan 2) Untuk mengetahui apakah segala sesuatu telah berjalan sesuai dengan instruksi serta prinsip-prinsip yang telah ditetapkan 3) Untuk mengetahui apakah kelemahan-kelemahan serta kesulitankesulitan dan kegagalan-kegagalannya, sehingga dapat diadakan perubahan-perubahan untuk memperbaiki serta. mencegah

pengulangan kegiatan-kegiatan yang salah. 4) Untuk mengetahui apakah segala sesuatu berjalan efisien dan apakah dapat diadakan perbaikan-perbaikan lebih lanjut, sehingga mendapat efisiensi yang lebih benar. Dari kedua pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa maksud pengawasan adalah untuk mengetahui pelaksanaan kerja, hasil kerja, dan segala sesuatunya apakah sesuai dengan yang direncanakan atau tidak, serta mengukur tingkat kesalahan yang terjadi sehingga mampu diperbaiki ke arah yang lebih baik. Sementara berkaitan dengan tujuan pengawasan, Maman Ukas (2004) mengemukakan: 1

11

1) Mensuplai pegawai dengan informasi yang tepat, teliti dan lengkap tentang apa yang akan dilaksanakan. 2) Memberi kesempatan pada pegawai dalam meramalkan rintanganrintangan yang akan mengganggu produktivitas kerja secara teliti dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menghapuskan atau mengurangi gangguan-gangguan yang terjadi. 3) Setelah kedua hal di atas telah dilaksanakan, kemudian para pegawai dapat membawa kepada langkah terakhir dalam

mencapai produktivitas kerja yang maksimum dan pencapaian yang memuaskan dari pada hasil?hasil yang diharapkan. c. Tipe Pengawasan Donelly, et al (dalam Zuhad : 2001) mengelompokkan pengawasan menjadi tiga tipe dasar, yaitu preliminary control, concurrent control dan feedback control. Ketiga hal tersebut

digambarkan sebagai berikut : Pengawasan pendahuluan (preliminary control). Memusatkan perhatian pada masalah mencegah timbulnya deviasi-deviasi pada kualitas serta kuantitas sumber-sumber daya yang digunakan pada organisasi-organisasi. Sumber- sumber daya ini harus memenuhi syarat-syarat pekerjaan yang ditetapkan oleh struktur organisasi yang bersangkutan. Para pegawai atau karyawan perlu memiliki

kemampuan, baik kemampuan fisik ataupun kemampuan intelektual 1

12

untuk melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepada mereka. Bahan-bahan yang akan digunakan harus memenuhi kualitas tertentu dan mereka harus tersedia pada waktu dan tempat yang tepat. Di samping itu, modal harus pula tersedia agar dapat dicapai suplai peralatan serta mesin-mesin yang diperlukan. Akhirnya sumbersumber daya finansial harus pula tersedia dalam jumlah dan waktu yang tepat. Pengawasan pada saat pekerjaan berlangsung (concurrent control). Memonitor pekerjaan yang berlangsung guna memastikan bahwa sasaran-sasaran telah dicapai. Alat prinsip dengan apa pengawasan dapat dilaksanakan adalah aktivitas para manajer yang memberikan pengarahan atau yang melaksanakan supervisi. Pengawasan feedback (feedback control). Memusatkan

perhatian pada hasil-hasil akhir. Tindakan korektif ditujukan ke arah proses pembelian sumber daya atau operasi-operasi aktual. Tipe pengawasan ini mencapai namanya dari fakta bahwa hasil-hasil historikal mempengaruhi tindakan-tindakan masa mendatang. d. Teknik Pengawasan Disarikan dari pendapat Koontz, et. al. (dalam Hutauruk:2003) tentang teknik pengawasan, terdapat dua cara untuk memastikan pegawai merubah tindakan/sikapnya yang telah mereka lakukan dalam bekerja, yaitu dengan dilakukannya pengawasan langsung 1

13

(direct control) dan pengawasan tidak langsung (indirect control). Pengawasan langsung diartikan sebagai teknik pengawasan yang dirancang bangun untuk mengidentifikasi dan memperbaiki

penyimpangan rencana. Dengan demikian pada pengawasan langsung ini, pimpinan organisasi mengadakan pengawasan secara langsung terhadap kegiatan yang sedang dijalankan, yaitu dengan cara mengamati, meneliti, memeriksa dan mengecek sendiri semua kegiatan yang sedang dijalankan tadi. Tujuannya adalah agar penyimpanganpenyimpangan terhadap rencana yang terjadi dapat diidentifikasi dan diperbaiki. Menurut Koontz, et. al, pengawasan langsung sangat mungkin dilakukan apabila tingkat kualitas para pimpinan dan bawahannya rendah. Sementara pengawasan tidak langsung diartikan sebagai teknik pengawasan yang dilakukan dengan menguji dan meneliti laporanlaporan pelaksanaan kerja. Tujuan dari pengawasan tidak langsung ini adalah untuk melihat dan mengantisipasi serta dapat mengambil tindakan yang tepat untuk menghindarkan atau memperbaiki

penyimpangan. Menurut Koontz, et. al, pengawasan tidak langsung sangat mungkin dilakukan apabila tingkat kualitas para pimpinan dan bawahannya tinggi.

1

14

Dari pendapat Koontz, et. al di atas, Situmorang dan Juhir mengklasifikasikan teknik pengawasan berdasarkan berbagai hal, yaitu : 1) Pengawasan langsung dan pengawasan tidak langsung (a) Pengawasan langsung, adalah pengawasan yang dilakukan secara pribadi oleh pimpinan atau pengawas dengan

mengamati, meneliti, memeriksa, mengecek sendiri secara ³on the spot´ di tempat pekerjaan, dan menerima laporan?laporan secara langsung pula dari pelaksana. Hal ini dilakukan dengan inspeksi. (b) Pengawasan tidak langsung, diadakan dengan mempelajari laporan-laporan yang diterima dari pelaksana baik lisan maupun tertulis, mempelajari pendapat-pendapat masyarakat dan

sebagainya tanpa pengawasan ³on the spot´. 2) Pengawasan preventif dan represif (a) Pengawasan preventif, dilakukan melalui pre audit sebelum pekerjaan dimulai. Misalnya dengan mengadakan pengawasan terhadap persiapan-persiapan, rencana kerja, rencana

anggaran, rencana penggunaan tenaga dan sumber-sumber lain. (b) Pengawasan represif, dilakukan melalui post audit, dengan pemeriksaan terhadap pelaksanaan di tempat (inspeksi), 1

15

meminta laporan pelaksanaan dan sebagainya, dalam hal ini kebanyakan dilakukan oleh atasan langsung dari pegawai yang bersangkutan. 3) Pengawasan intern dan pengawasan ekstern (a) Pengawasan intern, adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat dalam organisasi itu sendiri. Pada dasarnya

pengawasan harus dilakukan oleh pucuk pimpinan sendiri. Setiap pimpinan unit dalam organisasi pada dasarnya berkewajiban pengawasan membantu secara pucuk pimpinan sesuai mengadakan bidang

fungsional

dengan

tugasnya masing-masing. (b) Pengawasan ekstern, adalah pengawasan yang dilakukan oleh aparat dari luar organisasi sendiri, seperti halnya pengawasan dibidang keuangan oleh Badan Pemeriksa Keuangan

sepanjang meliputi seluruh Aparatur Negara dan Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara terhadap

departemen dan instansi pemerintah lain. e. Proses Pengawasan Fungsi pengawasan yang dilakukan oleh pimpinan organisasi terhadap setiap pegawai yang berada dalam organisasi adalah merupakan wujud dari pelaksanaan fungsi administrasi dari pimpinan organisasi terhadap para bawahan. Oleh karena itu, sebagai suatu 1

16

fungsi

maka

proses

pelaksanaan

pengawasan

oleh

pimpinan

dilakukan melalui beberapa tahap, seperti yang diungkapkan Tanri Abeng (dikutip Harahap, 2000) bahwa: Manajemen kontrol adalah pekerjaan yang harus dilakukan oleh seorang pimpinan untuk meneliti dan mengatur pekerjaan yang sedang berlangsung maupun yang telah selesai. Fungsi ini dapat dilakukan melalui kegiatankegiatan measuring antara lain: establishing evaluating

performance

standard,

performance,

performance, and correcting performance. Berdasarkan pendapat yang diungkapkan oleh Tanri Abeng di atas, dapat diungkapkan bahwa pengawasan yang dilakukan harus melalui tahapan-tahapan sebagai bentuk dari suatu proses kegiatan pengawasan. Bersamaan dengan pendapat tersebut, terdapat banyak pendapat yang mengungkapkan beberapa hal penting yang perlu diperhatikan diungkapkan dalam dalam pelaksanaan bentuk pengawasan. umum Hal tersebut proses

langkah

mengenai

pengawasan, seperti yang diungkapkan oleh Terry (dalam Winardi : 2000) bahwa: Pengawasan terdiri daripada suatu proses yang dibentuk oleh tiga macam langkah-langkah yang bersifat universal yakni: (1) mengukur hasil pekerjaan, (2) membandingkan hasil pekerjaan dengan standard dan memastikan 1 perbedaan (apabila ada

17

perbedaan),

dan

(3)

mengoreksi

penyimpangan

yang

tidak

dikehendaki melalui tindakan perbaikan. Sementara Koontz, et. al (dalam Hutauruk : 2003)

menyebutkan: Proses dasar pengendalian, di manapun penerapannya atau apa saja yang diawasi, meliputi tiga langkah: (1) menetapkan standar, (2) mengukur prestasi kerja atau standar ini, dan (3) memperbaiki dan mengoreksi penyimpangan yang tak dikehendaki dari standar dan perencanaan´. Maman Ukas (2004) menyebutkan tiga unsur pokok atau tahapan-tahapan yang selalu terdapat dalam proses pengawasan, yaitu: 1) Ukuran-ukuran yang menyajikan bentuk-bentuk yang diminta. Standar ukuran ini bisa nyata, mungkin juga tidak nyata, umum ataupun khusus, tetapi selama seorang masih menganggap bahwa hasilnya adalah seperti yang diharapkan. 2) Perbandingan antara hasil yang nyata dengan ukuran tadi. Evaluasi ini harus dilaporkan kepada khalayak ramai yang dapat berbuat sesuatu akan hal ini. 3) Kegiatan mengadakan koreksi. Pengukuran-pengukuran laporan dalam suatu pengawasan tidak akan berarti tanpa adanya koreksi, jikalau dalam hal ini diketahui bahwa aktivitas umum tidak mengarah ke hasil-hasil yang diinginkan maka akan dilakukan 1

18

kegiatan berupa koreksi langsung maupun secara tidaklangsung dari atasan langsung pegawai yang bersangkutan. f. Pengertian Kedisiplinan Disiplin merupakan sikap mental yang tecermin dalam

perbuatan tingkah laku perorangan, kelompok atau masyarakat berupa kepatuhan atau ketaatan terhadap peraturan, ketentuan, etika, norma dan kaidah yang berlaku. Disiplin kerja adalah sikap kejiwaan seseorang atau kelompok yang senantiasa berkehendak untuk mengikuti atau mematuhi segala peraturan yang telah ditentukan. Kedisiplinan dapat dilakukan dengan latihan antara lain dengan bekerja menghargai waktu dan biaya akan memberikan pengaruh yang positif terhadap produktivitas kerja pegawai. Dari pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa disiplin mengacu pada pola tingkah laku dengan ciri-ciri sebagai berikut: 1) Adanya hasrat yang kuat untuk melaksanakan sepenuhnya apa yang sudah menjadi norma, etik, dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat. 2) Adanya prilaku yang dikendalikan. 3) Adanya ketaatan (obedience) Dari ciri-ciri pola tingkah laku pribadi disiplin, jelaslah bahwa disiplin membutuhkan pengorbanan, baik itu perasaan, waktu, kenikmatan dan lain-lain. Disiplin bukanlah tujuan, melainkan sarana 1

19

yang ikut memainkan peranan dalam pencapaian tujuan. Manusia sukses adalah manusia yang mampu mengatur, mengendalikan diri yang menyangkut pengaturan cara hidup dan mengatur cara kerja. Maka erat hubungannya antara manusia sukses dengan pribadi disiplin. Mengingat eratnya hubungan disiplin dengan produktivitas kerja maka disiplin mempunyai peran sentral dalam membentuk pola kerja dan etos kerja produktif. Disiplin berasal dari bahasa latin Discere yang berarti belajar. Dari kata ini timbul kata Disciplina yang berarti pengajaran atau pelatihan. Dan sekarang kata disiplin mengalami perkembangan makna dalam beberapa pengertian. Pertama, disiplin diartikan sebagai kepatuhan terhadap peratuaran atau tunduk pada pengawasan, dan pengendalian. Kedua disiplin sebagai latihan yang bertujuan

mengembangkan diri agar dapat berperilaku tertib. Dari pengertian diatas dapat disimpulkan. Kedisiplinan pegawai adalah sikap penuh kerelaan dalam mematuhi semua aturan dan norma yang ada dalam menjalankan tugasnya sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap pekerjaannya g. Jenis- Jenis Kedisiplinan Pada dasarnya disiplin muncul dari kebiasaan hidup dan kehidupan belajar dan mengajar yang teratur serta mencintai dan menghargai pekerjaannya. Disiplin merupakan proses pendidikan dan 1

20

pelatihan yang memadai, untuk itu guru memerlukan pemahaman tentang landasan Ilmu kependidikan akan keguruan sebab saat ini banyak terjadi erosi sopan santun dan erosi disiplin. Jenis-jenis disiplin sebagai berikut : 1) Disiplin dalam Menggunakan Waktu. Maksudnya bisa menggunakan dan membagi waktu dengan baik. Karena waktu amat berharga dan salah satu kunci kesuksesan adalah dengan bisa menggunakan waktu dengan baik 2) Disiplin Diri Pribadi Apabila dianalisi maka disiplin menganung beberapa unsur yaitu adanya sesuatu yang harus ditaati atau ditinggalkan dan adanya proses sikap seseorang terhadap hal tersebut. Disiplin diri merupakan kunci bagi kedisiplinan pada lingkungan yang lebih luas lagi. Contoh disiplin diri pribadi yaitu tidak pernah meninggalkan Ibadan lepada Tuhan Yang Maha Kuasa 3) Disiplin Sosial Pada hakekatnya disiplin sosial adalah Disiplin dari dalam kaitannya dengan masyarakat atau dalam hubunganya dengan. Contoh prilaku disiplin social hádala melaksanakan siskaling verja bakti. Senantiasa menjaga nama baik masyarakat dan sebagaiannya.

1

21

4) Disiplin Nasional Berdasarkan hasil perumusan lembaga pertahanan nasional, yang diuraikan dalam disiplin nasional untuk mendukung

pembangunan nasional. Disiplin nasional diartikan sebagai status mental bangsa yang tercemin dalam perbuatan berupa keputusan dan ketaatan. Baik secara sadar maupun melalui pembinaan terhadap norma-norma kehidupan yang berlaku. 2. Kerangka Pikir Kerangka pikir dibuat untuk mengetahui gambaran tentang pengaruh pengawasan absensi terhadap kedisiplinan pegawai pada kantor Badan Penyuluhan Pertanian. Lebih lanjut dapat digambarkan pada skema sebagai berikut :
Pimpinan Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan

Pengawasan Absensi Pegawai

Kedisiplinan Pegawai Negeri Sipil

Gambar 1 : Skema Kerangka pikir 3. Hipotesis Sehubungan dengan masalah yang telah dikemukakan, maka hipotesisnya adalah: ³Diduga bahwa Pengawasan Absensi Berpengaruh 1

22

Terhadap

Kedisiplinan

Pegawai

Pada

Kantor

Badan

Pelaksana

Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros.´ G. Metode Penelitian 1. Lokasi dan Waktu Penelitian Untuk lebih menfokuskan kegiatan penelitian dalam memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian nantinya, maka penulis memilih lokasi dan objek yaitu pada Kantor Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros di Jl. Dr. Ratulangi No. 57 Kabupaten Maros. Sedangkan waktu yang dipergunakan dalam penelitian diperkirakan kurang lebih 3 (dua) bulan yaitu bulan April sampai dengan Juni 2011. 2. Metode Pengumpulan Data Untuk mendapatkan informasi mengenai data yang relevan dengan asumsi penulisan proposal ini dengan lebih baik, maka penulis menggunakan dua metode pengumpulan data yaitu : a. Penelitian lapangan (field research), yaitu dengan melakukan penelitian langsung ke objek penelitian dengan tujuan

menggambarkan semua fakta yang terjadi pada objek penelitian, agar permasalahan dapat diselesaikan. Pada penelitian lapangan ini penulis menggunakan tiga teknik penelitian yaitu : 1) Teknik observasi, yaitu dilakukan dengan mengadakan

pengamatan langsung pada objek penelitian. 1

23

2)

Teknik interview, yaitu dilakukan dengan wawancara langsung dengan sumber teknik yaitu pimpinan dan karyawan

perusahaan. 3) Teknik Quisener, yaitu dengan memberikan pertanyaan kepada responden dalam bentuk angket. b. Penelitian pustaka (library research), yaitu dengan mempelajari beberapa literature yang ada hubungannya dengan penulisan proposal ini untuk melengkapi data yang diperoleh di lapangan serta untuk mendapatkan suatu kerangka teori yang akan dipakai sebagai bahan acuan. 3. Jenis dan Sumber Data Adapun jenis dan sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Jenis Data : 1) Data kualitatif, yaitu data yang diperoleh dari hasil wawancara berupa gambaran umum Instansi dan kebijakan-kebijakan instansi yang memerlukan pengolahan. 2) Data kuantitaf, yaitu data yang berupa angka-angka yang diperoleh dari dokumen-dokumen perusahaan yang berkaitan serta hasil analisis data

1

24

b. Sumber Data Sumber data atau informasi yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah : 1) Data primer, yaitu data yang dikumpulkan melalui pengamatan dan wawancara langsung dengan pimpinan atau Pegawai Kantor Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas. 2) Data sekunder, yaitu data yang diperoleh dari dokumen instansi serta informasi-informasi yang tertulis lainnya yang berasal dari pihak yang erat kaitannya dengan pembahasan ini. 4. Populasi dan Sampel a. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pegawai yang berada pada kantor Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros yang berjumlah 90 orang. b. Sampel Penetapan responden penelitian menggunakan metode sensus atau full sample sesuai pendapat Arikunto (2002) menyatakan bahwa apabila terdapat populasi penelitian < 100 orang, maka penerikan sampel untuk responden dilakukan secara keseluruhan. Jadi jumlah responden dalam penelitian ini yaitu 90 orang.

1

25

5. Metode Analisis a. Analisis kualitatif Analisis kualitatif adalah metode analisis yang menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi menggunakan metode-metode tertentu yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian data sehingga membentuk informasi yang berguna. b. Analisis kuantitatif Analisis kuantitatif dalam penelitian ini dilakukan menggunakan alat analisis, yaitu analisis regresi sederhana yang dihitung dengan menggunakan perangkat lunak (software) atau SPSS.v15.0 berupa paket program komputer. Analisis regresi sederhana digunakan untuk mengetahui apakah variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen. Analisis regresi sederhana dapat dihitung dengan menggunakan rumus: Y = a + bx Dimana : Y = Kedisiplinan a = nilai konstan b = koefisien regresi x = absensi 1

26

c. Uji t Untuk menguji hipotesis dilakukan uji t. Uji t dilakukan untuk mengetahui variabel yang paling dominan mempengaruhi variabel t terikat. Jika p < Artinya: Terdapat pengaruh yang signifikan dari Pengawasan Absensi terhadap Kedisiplinan pegawai pada Kantor Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros. d. Koefisien Determinasi Untuk mengetahui hubungan suatu variabel terhadap variabel lain dapat menggunakan analisis yaitu koefisien determinasi. Dengan koefisien determinasi ini kita bisa mengetahui seberapa besar hubungan dari variabel dalam pengertian yang lebih jelas. Koefisien determinasi akan menjelaskan seberapa besar perubahan atau variasi suatu variabel bisa dijelaskan oleh perubahan atau variasi pada variabel yang lain. Untuk memperoleh nilai koefisien determinasi, kita bisa menghitung variasi dari variabel dependen yang bisa dijelaskan oleh variasi variabel independen menurut Santoso (2005:125). (0,05) maka Ho ditolak dan H1 diterima.

1

27

e. Uji Validitas Untuk melakukan uji validitas, metode yang kita lakukan adalah dengan mengukur korelasi antara butir-butir pertanyaan dengan skor pertanyaan secara keseluruhan menurut Santoso ( 2005:248) dengan menggunakan perangkat lunak (software) atau SPSSv15.0 berupa paket program komputer. f. Uji Reliabilitas Penelitian relibel bila terdapat kesamaan data pada waktu yang berbeda. Test-retest adalah instrumen beberapa kali penelitian yang reliabilitasnya diuji dengan mencobakan instrumennya sama,

respondennya sama, tetapi waktunya berbeda. Reliabilitas diukur dari koefisien korelasi antara percobaan pertama dengan kedua. Bila koefisien korelasi positif dan signifikan maka instrumen tersebut sudah dinyatakan relibel. Hasil penelitian disebut relibel apabila nilai cronbach alpha > 0,6 menurut Santoso, (2005:251).

1

28

6. Sistematika Penulisan Adapun sistematika penulisan skripsi yang penulis rencanakan adalah sebagai berikut : a) BAB I Pendahuluan, terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian. b) BAB II Tinjauan Pustaka, terdiri dari Pengertian Pengawasan, Maksud dan Tujuan Pengawasan, Tipe Pengawasan, Teknik Pengawasan, Proses Pengawasan, Pengertian Kedsiplinan, Macam-macam

Kedisiplinan, c) BAB III Metodologi Penelitian, terdiri dari Lokasi dan Waktu Penelitian, Metode Pengumpulan Data, Jenis-Jenis dan Sumber Data, Metode Analisis. d) BAB IV Gambaran Umum Perusahaan, terdiri dari Sejarah Berdirinya Badan Penyuluhan Pertanian Kabupaten Maros, Struktur Organisasi, Pembagian Tugas dan Tanggung Jawab e) BAB V Hasil Penelitian dan Pembahasan, terdiri dari Bentuk Pengawasan Absensi pada Kantor Badan Penyuluhan Pertanian Kabupaten Maros, Pengaruh Pengawasan Absensi, Bentuk Sanksi terhadap pelanggaran Kedisiplinan. f) BAB VI Kesimpulan dan Saran, terdiri dari Kesimpulan dan Saran. 1

29

JADWALPENELITIAN
Waktu Pelaksanaan May-11 Jun-11 Jul-11 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3

No

jenis kegiartan

Mar-11 Apr-11 1 2 3 4 1 2 3 4

Aug-11 4 1 2 3 4

1 Proposal a.pengajuan judul b.penyusunan proposal c.seminar proposal d.perbaikan proposal 2 pelaksanaan a.pengumpulan data b.Anlisis data 3 penyelesaian a.seminar/ujian skripsi b.perbaikan hasil ujian c.Pemasukan skripsi

RENCANA BIAYA PENELITIAN 1. Biaya persiapan««««««««««««««««« Rp. 300.000 250.000 700.000

2. Biaya pengumpulan data««««««««..««««. Rp. 3. Biaya pengolahan dan analisis data«««««««. . 4. Biaya penyusunan skripsi«««««««««««« Rp.

Rp. 1.000.000 300.000 500.000

5. Biaya seminar hasil««««««««««««««« RP. 6. Biaya perbaikan dan penggandaan«««««««.. Jumlah Rp.

Rp. 3.050.000

1

30

DAFTAR PUSTAKA Certo, Samuel C. & S. Travis Certo. 2006. Modern Management, Pearson Prentice Hall. Febriani. 2001. Sistem Manajemen Kinerja: Performance Management System, Panduan Praktis untuk Merancang dan Meraih Kinerja Prima. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Harahap, Sofyan Syafri. 2000. Sistem Pengawasan Manajemen. Jakarta: Pustaka Quantum. Hutauruk. 2003. Evaluasi Kinerja Perusahaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Jones, Pam. 2002. Buku Pintar Manajemen Kinerja. Terjemahan Anthony R. Indra. Jakarta : Metalexia Publishing & PT Qreator Tata Qarakter. Maman Ukas. 2004. Manajemen: Konsep, Prinsip dan Aplikasi. Bandung : Penerbit Agnini. Rivai, Veithzal. 2005. Performance Appraisal. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada S.P. Hasibuan, M. 2001. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bumi Aksara. Situmorang & Juhir. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia. Bandung Pustaka Setia. Sedarmayanti. 2001. Sumber Daya Manusia dan Produktivitas Kerja. Bandung: Mandar Maju. Silalahi, Ulbert. 2002. Studi Tentang Ilmu Administrasi: Konsep, Teori dan Dimensi. Bandung: Sinar Baru Algesindo. 1

31

Winardi, 2000, Manajer dan Manajemen. Bandung: Citra Aditya Bakti. Zuhad, 2001, Manajemen Kualitas Produk dan Jasa. Yogyakarta: Penerbit Ekonesia

1

32

KUESIONER PENELITIAN DENGAN JUDUL PENGARUH PENGAWASAN ABSENSI TERHADAP KEDISIPLINAN PEGAWAI PADA KANTOR BADAN PELAKSANA PENYULUHAN DAN KETAHANAN PANGAN KAB. MAROS

A. IDENTITAS RESPONDEN Mohon Bapak/Ibu memberi tanda (x) pada jawaban berikut ini : 1. Jenis Kelamin : a. Laki-laki b. Perempuan 2. Usia Saudara/I : a. < 21 tahun b. 21-30 tahun c. 31-40 tahun d. > 40 tahun 3. Pendidikan : a. SLTA atau Sederajat b. Sarjana Muda (D3) c. Sarjana (S1) d. Magister (S2) 4. Masa kerja anda sebagai Pegawai adalah : a. < 1 tahun b. 2-7 tahun

1

33

c. 8-14 tahun d. > 15 tahun B. KUESIONER Pertimbangkan setiap item, Kemudian Bapak/Ibu diminta untuk menilai keadaan yang sebenarnya sampai dengan pada saat ini dengan menggunakan skala empat angka yaitu : alternatif pilihan 1 sampai dengan 4 jawaban pertanyaan dengan ketentuan sebagai berikut : Nilai 4 : Untuk jawaban sangat Berpengaruh artinya responden sangat setuju dengan pertanyaan karena sangat sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh responden. = SS Nilai 3 : Untuk jawaban Berpengaruh artinya pertanyaan dianggap sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh responden. = S Nilai 2 : Untuk jawaban tidak berpengaruh artinya responden tidak setuju dengan pertanyaan karena tidak sesuai dengan apa yang dirasakan. = TS Nilai 1 : Untuk jawaban sangat tidak berpengaruh artinya

pertanyaan sangat tidak sesuai dengan keadaan yang dirasakan oleh responden. = STS 1. Apakah sistem pengawasan di Kantor anda bekerja berpengaruh terhadap kedisiplinan saudara ? a. Sangat Berpengaruh b. Berpengaruh c. Tidak Berpengaruh d. Sangat Tidak Berpengaruh

1

34

2. Apakah kehadiran saudara tepat waktu di Kantor berpengaruh pada kedisiplinan saudara? a. Sangat Berpengaruh b. Berpengaruh c. Tidak Berpengaruh d. Sangat Tidak Berpengaruh 3. Jika anda meninggalkan kantor tidak sesuai dengan jadwal, apakah berpengaruh terhadap kedisiplinan saudara? a. Sangat Berpengaruh b. Berpengaruh c. Tidak Berpengaruh d. Sangat Tidak Berpengaruh 4. Apakah proses pengisian Absensi kedisiplinan Saudara? a. Sangat Berpengaruh b. Berpengaruh c. Tidak Berpengaruh d. Sangat Tidak Berpengaruh 5. Apakah proses pengawasan Absensi yang dilakukan pimpinan anda Berpengaruh pada kedisiplinan Saudara? a. Sangat Berpengaruh b. Berpengaruh 1 saudara Berpengaruh terhadap

35

c. Tidak Berpengaruh d. Sangat Tidak Berpengaruh 6. Apakah proses pengawasan Absensi di Kantor anda berpengaruh

terhadap kedisiplinan saudara? a. Sangat Berpengaruh b. Berpengaruh c. Tidak Berpengaruh d. Sangat Tidak Berpengaruh 7. Apakah pemberian sanksi terhadap pelanggaran absensi berpengaruh terhadap kedisiplinan saudara? a. Sangat berpengaruh b. Berpengaruh c. Tidak Berpengaruh

d. Sangat Tidak Berpengaruh

1

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->