P. 1
budaya _organisasi

budaya _organisasi

|Views: 260|Likes:

More info:

Published by: Almasier Hanifier Hanifi on Apr 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/03/2014

pdf

text

original

Diarsipkan di bawah: Ekonomi Makro, Merger, Taktik Manajemen — by adit @ 10:14 pm

Merger dan akuisisi perusahaan perbankan kembali marak terjadi di Indonesia pada akhirakhir ini. Sukses merger dari bank papan atas seperti Bank Mandiri, Bank Danamon dan Bank Permata telah merangsang bank-bank pada papan menengah seperti Bank Haga dan Bank Hagakita untuk bergabung dengan pihak bank asing Rabobank. Dan terakhir ini kita melihat adanya minat dari bank-bank kecil menengah (Bank Harta, Bank Mitraniaga, Bank Harmoni) untuk melakukan strategi serupa, sebagaimana diuraikan pada artikel Fahmi Achmad pada Bisnis Indonesia 14 Nopember 2006.

Strategi merger dan akuisisi merupakan salah satu bentuk strategi populer, yang awalnya naik daun pada era tahun 1970an. Proses ini didorong oleh 3 faktor utama: (a)semakin menyatunya sistem perekonomian regional dan perekonomian dunia, (b) adanya ekspansi perusahaan2 MNC ke berbagai negara, dan (c) berbagai terobosan teknologi informasi dan telekomunikasi setelah tahun 1980 yang memudahkan proses alih informasi dan kapital. Pada kasus industri perbankan, krisis perekonomian yang terjadi di wilayah ekonomi Asia Timur dan Asia Tenggara pada tahun 1997 telah membawa dampak terjadinya kemelut di industri perbankan di dalam negeri. Cukup banyak lembaga perbankan yang menghadapi permasalahan dan bahkan kemudian kolaps akibat krisis tersebut. Upaya penyelamatan dari bank-bank yang masih bertahan kemudian tertolong dengan dijalankannya kebijakan “restrukturisasi finansial”dan strategi “merger dan akuisisi”. Proses merger dan akuisisi di industri perbankan memang memiliki baik dampak yang positip maupun dampak yang negatip, tergantung dari perspektif kita memandangnya. Keberhasilan upaya merger dan akuisisi memerlukan keuletan dan jalan yang cukup berliku bagi berbagai pihak yang ingin sukses menerapkan kebijakan ini. Dampak Langsung dan Tidak Langsung. Strategi merger dan akuisisi yang terjadi di industri perbankan dapat memberikan dampak langsung pada perusahaan yang melakukan proses merger. Secara mikroekonomi, penerapan strategi ini ternyata disamping dapat memberikan pengaruh yang positip; dapat juga memberikan rekaman hitam dalam bentuk kekecewaan, konflik dan bahkan kegagalan dari proses itu sendiri. Pada tingkat makro ekonomi, sementara ini strategi merger dan akuisisi belum memberikan dampak positif yang besar. Pengaruh Mikroekonomi Begitu dua atau lebih organisasi perbankan melakukan strategi merger maka akan terjadi perubahan tingkah laku dari perusahaan gabungan tersebut. Dampak positip yang sering dilaporkan adalah: (1) Dimungkinkannya pertukaran cadangan cash flow secara internal antar perusahaan yang melakukan merger, sehingga bank hasil merger dapat memanage risiko likuiditas dengan lebih fleksibel. (2) Diperolehnya peningkatan modal perusahaan (biasanya CAR akan meningkat tetapi tidak terlalu cukup tinggi) dan adanya keunggulan dalam memanage biaya akibat bertambahnya skala usaha.Efisiensi perusahaan dapat dilakukan lebih lanjut, khususnya dalam efisiensi biaya provisi kredit. (3) Dicapainya keunggulan market power dalam persaingan, yang kemudian dapat memperbesar margin bunga pinjaman. Tetapi proses merger itu sendiri dapat juga memberikan pengaruh negatif berikut ini: (1) Karena proses merger biasanya dilakukan atas dorongan untuk cepat terselesaikannya kemelut keuangan di salah satu bank peserta, maka harga penjualan sahamnya cenderung akan dinilai dibawah harga pasar yang wajar. (2) Proses merger biasanya diikuti dengan peningkatan ketidakpastian pada pihak Direksi, manajer dan karyawan.

(3) Proses merger perbankan nasional di Indonesia biasanya diikuti dengan pengurangan jumlah pegawai dan staf kurang profesional di perusahaan perbankan hasil merger. (4) Terjadinya benturan kepentingan, kondisi saling curiga dan bahkan konflik diantara para anggota komisaris dan direksi. Hal ini terjadi jika bank hasil merger tersebut dikuasai oleh lebih satu pemegang saham pengendali. Sebagian anggota komisaris dan direksi yang ada cenderung untuk berlomba mewakili kepentingan masing-masing pemilik dari bank hasil merger dengan menunjukkan prestasi kelompoknya masing-masing. (5) Kegiatan merger dalam dua tahun pertama cenderung diikuti dengan strategi efisiensi; sehingga hal ini akan mengurangi semangat dan kreativitas dari sebagian pihak Direksi dan staf profesional. Jika hal ini berlanjut cukup lama maka biasanya akan diikuti dengan proses exodus para manager menengah yang profesional dan inovatif. (6) Benturan budaya perusahaan tidak dapat dielakkan; sehingga tentunya perusahaan hasil merger akan mengalami penurunan dalam jangka pendek. Pengaruh Makro Di beberapa negara berkembang lainnya di dunia, strategi merger biasa digunakan untuk memperkuat dan memperluas kepemilikan Pemerintah pada industri perbankan. Alasannya pelaksanaan strategi ini agar pemerintah dapat menjalankan program pembangunan dengan dukungan lembaga perbankan yang dikendalikan Strategi ini ternyata tidak sepenuhnya berhasil, karena yang terjadi adalah mismanajemen dalam pengelolaan organisasi bank merger yang semakin besar, dengan laporan banyaknya kejadian kasus , penunjukan rekanan teman sendiri, inefisiensi penggunaan anggaran promosi dan anggaran pengembangan, serta diketemukannya berbagai kasus korupsi. Kasus di salah satu bank hasil merger di tanah air, membuktikan sebagian dari dugaan ini. Kurangnya pengawasan dari pihak Dewan Komisaris, yang melimpahkan kewenangan yang lebih besar pada pihak Direksi untuk memutuskan kelayakan kredit usaha pada jumlah yang besar, telah membawa akibat meningkatnya angka NPL bank tersebut. Dampak negatif terjadi karena tidak transparannya perusahaan merger milik pemerintah yang tidak diawasi sepenuhnya oleh publik. Pada perspektif yang lain,strategi merger dan akuisisi dipandang sebagai alat untuk memperkuat struktur kapital perbankan secara makro — di lokasi operasi peserta bank merger. Tujuan ini dilaksanakan agar tercapai proses penguatan landasan keuangan perbankan nasional menuju konvergensi. Dalam kaitan ini Bank Indonesia beberapa tahun terakhir telah merubah kebijakan publiknya untuk mengundang partisipasi asing dalam proses merger bank-bank nasional di Indonesia – sehingga diharapkan akan tercapai arsitektur pengaturan kapitalisasi perbankan secara bentuk “kerucut piramida”. Kebijakan ini tentunya perlu dilakukan secara hati-hati, dan bahkan jika perlu dikaji ulang, mengingat bukti-bukti empiris yang belum mendukung sepenuhnya dugaan tersebut. Internasionalisasi kepemilikan asing dalam arsitektur perbankan nasional memiliki potensi yang akan memberikan dampak negatip pada perekonomian nasional, mengingat beberapa potensi ancaman berikut ini: (1) Kemungkinan timbulnya kesenjangan antara proses akumulasi dana pihak ketiga dan proses penyalurannya untuk kepentingan perekonomian lokal dan nasional. (2) Kurangnya partisipasi bank asing dalam pendanaan kegiatan usaha berskala besar di tanah air, seperti pendanaan program pembangunan infrastuktur, mengingat perhitungan managemen resiko yang sangat ketat yang mereka jalankan. (3) Pada saat kondisi politik di dalam negeri menghadapi skenario kemelut dan krisis, maka cadangan bank-bank asing di Indonesia akan terjadi. (4) Bank asing akan memindahkan sementara waktu dana yang terhimpun di dalam negeri ke anak-anak perusahaan holding yang lokasinya terdekat, seperti di Singapura dan Hongkong. (5) Tingkat multiplier penyerapan tenaga kerja di bank milik asing akan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan angka-angka multiplier pada perusahaan perbankan milik swasta domestik dan perusahaan BUMN.

Lebih baik lagi jika pada masing-masing bank memiliki kemiripan fokus bisnis (5) Proses implementasi pasca merger perlu dilakukan dengan melakukan proses harmonisasi produk dan layanan baru. Perbedaan budaya bukanlah harga mati. tetapi yang penting adalah kesiapan terhadap kemungkinan benturan budaya. Uji Tuntas Budaya akan membantu masing-masing pihak untuk melihat berbagai persoalan berkaitan pengelolaan sumber daya manusia dan potensi benturan-benturan yang mungkin terjadi pada saat merger dan akuisisi. Mereka membutuhkan suatu penilaian yang realistik tentang benturan budaya dan mulai mengambil langkah-langkah untuk mengurangi dampak benturan budaya. Meskipun perangkat formal telah dikembangkan. Suatu organisasi "baru" hasil merger atau akuisisi dapat diperoleh bukan dengan menjumlahkan bagian-bagian dari identitas budaya dan nilai. Proses stabilisasi setelah merger akan memakan waktu cukup lama sekitar 2-3 tahun. serta tidak bersifat otoriter. (2) Bank peserta perlu memiliki kemiripan budaya dan falsafah perusahaan yang tidak jauh bertolak belakang. (4) Bank peserta memiliki visi dan misi yang dapat dijalankan oleh bank yang telah digabung. Manfaat yang paling mendasar dari Uji Tuntas Budaya adalah mempersiapkan eksekutif agar dapat menjalin kerjasama dalam organisasi. maka seharusnya Pemerintah meninjau kembali aturan tentang kepemilikan asing dalam industri perbankan nasional. tetapi merupakan hasil paduan yang mempertimbangkan norma-norma budaya terbaik bagi perusahaan ‘baru'. Setidaknya memberi peringatan eksekutif untuk memberi perhatian pada budaya organisasi dan membuka kesempatan untuk melakukan tindakan yang diperlukan menghadapi benturan budaya dalam merger atau akuisisi. (copyright@aditiawan chandra) UJI TUNTAS BUDAYA Salah satu pendekatan agar budaya menjadi faktor yang dipertimbangkan dalam proses merger dan akuisisi adalah menempatkan Uji Tuntas Budaya (cultural due diligence) sebagai salah satu perangkat uji kelayakan dalam proses merger dan akusisi. Pemimpin tidak dapat begitu saja melakukan ‘cloning' budaya dalam organisasi. tanpa cepat-sepat melakukan proses divestasi lanjutan. Uji Tuntas Budaya mempunyai berbagai tantangan. bijak dan arif. Mereka juga dapat memberikan sumber daya yang tepat untuk mengurangi konsekuensi dari benturan budaya. dan biarkanlah proses tersebut dilakukan dengan baik dan sempurna. karena hal itu memang tidak mungkin. Kerahasiaan serta keterbatasan akses terhadap manajemen senior ke atas akan mempengaruhi pengumpulan data budaya. Tujuan Uji Tuntas Budaya adalah untuk menggali kesesuaian sebagai langkah menuju organisasi yang terintegrasi. pemantapan dedikasi karyawan dan pembentukan platform dan sistem prosedur yang seragam dan efisien. Kunci Sukses Strategi merger dan akuisisi dapat berjalan sukses apabila memenuhi persyaratan berikut: (1) Dilakukan dengan memanfaatkan keunggulan dan menutupi kekurangan yang dimiliki oleh bank peserta biasanya menyebabkan kegagalan proses merger dan akuisisi. Kebijakan membatasi porsi kepemilikan asing dalam perbankan nasional di tanah air merupakan strategi kebijakan tambahan untuk terlaksananya proses merger secara aman di Indonesia. (3) Bank peserta memiliki pimpinan perusahaan yang berdedikasi dan mampu menyelesaikan konflik-konflik secara cepat. Suatu Uji Tuntas Budaya yang obyektif mungkin tidak akan menghilangkan benturan budaya sama sekali. Jadi usaha Uji Tuntas Budaya lebih mengarah kepada bagaimana meningkatkan kesadaran serta menimbulkan inisiatif pembahasan tentang dinamika budaya. serta kemudian membangun budaya yang diharapkan setelah kesepakatan . Eksekutif perusahan pasca merger dan akuisisi akan melewati saat-saat terjadi benturan budaya. dan bersedia menghargai suatu budaya sebelum perusahaan bergabung.Atas dasar kondisi tersebut dan kemungkinan rapuhnya peta politik di dalam negeri pada tahun-tahun mendatang.

masalah karyawan yang strategis dan taktis harus selesai dianalisa sebelum mengumumkan perjanjian maupun memulai proses due diligence. sosialisasi kepada serikat pekerja dari tiap perusahaan. Pada saat integrasi awal berlangsung. Hisckman dan Silva (1985) mengatakan bahwa budaya kerja dipengaruhi oleh pendiri dan para pemimpin perusahaan. manajemen eksekutif tidak memperkirakan bahwa pemegang saham dan para stakeholder mempunyai ikatan sentimental terhadap sejarah perusahaan. tapi juga mengenai pemutusan hubungan kerja (masal) yang mungkin terjadi. pada saat ini potensi-potensi persoalan budaya dapat ditengarai lebih dini.terjadi. Pre. Post-Deal Ini adalah fase saat HR dan fungsi-fungsi lainnya menyerahkan tujuan dari merger itu sendiri. pembauran budaya korporat. mengelola.15. menemukan artikel tentang merger dan akuisisi yang menarik. 2. Pada kasus merger HP dan Compaq. serta masalah-masalah manusia lainnya. Artikel tersebut terdapat dalam majalah Human Capital no. Doing the Deal Fase ini memiliki tempo. demi mengarah pada tujuan bisnis terpadu dari perusahaan hasil merger ini. dan menyesuaikan rencana kompensasi. yang membuat tembok penolakan atas inisiatif merger tersebut. Juni 2005). Jika di masa lalu benturan budaya dikelola setelah benturan itu terjadi. tekanan dan permintaan waktu yang luar biasa besar. Budaya kerja sering menjadi faktor penentu keberhasilan merger dan akuisisi. Pada fase integrasi berikutnya. Salah satu Direktur adalah keturunan dari pendiri HP. sangat penting untuk mencapai tujuan integrasi jangka panjang. karena budaya kerja terbentuk bertahun-tahun dari masing-masing perusahaan. Isu karyawan dalam proses merger & akuisisi Dari bongkar-bongkar majalah lama (maksudnya mau dirapihkan dan yang nggak terpakai mau di buang). sekaligus mempersiapkan tindakan untuk mengantisipasi benturan budaya dan sejak dini meminimalisir dampak yang muncul. Sebuah rencana komprehensif dan terencana dengan baik sangat penting untuk menjaga fokus pada pembentukan nilai dan penyelesaian tugas. langkah-langkah diambil untuk membentuk dan mengikat organisasi baru. dan dapat menjadi faktor penghambat dalam merger akibat adanya resistensi terhadap perubahan. Masalah karyawan bukan hanya mengenai biaya dan kebijakan. yang sebagian isinya saya kutip di bawah ini ditambah dengan pendapat beberapa penulis lain: 1. Sukses dari suatu integrasi dibentuk disini. mengintegrasikan sales force. program HR dan infrastruktur dibentuk. Perencanaan sangat penting.Deal Pada fase ini. Sebuah proses yang komprehensif dan terencana dengan baik. dikomunikasikan dan diimplementasikan .

44-45. 4) Komunikasi secara efektif dan sering Seorang peneliti CFO dari Amerika pernah mengatakan bahwa 90% dari keputusan CFO adalah keputusan dalam hal SDM. dan tidak percaya. yang terdiri dari: 1) Pemimpin-pemimpin senior.menuju bentuk akhir yang diinginkan dalam suatu organisasi yang baru. bukan pada keseluruhan institusi. Strategy and Change in the New Age. manusia pada institusi mengalami tekanan-tekanan. cemas. Manusia-manusia organisasi atau para karyawan justru akan meningkatkan ikatan emosional pada kelompoknya masing-masing . Majalah Human Capital no. Rhenald. dibandingkan dengan target tujuan. • • • Isu karyawan sebagai kunci dari strategi bisnis Penerimaan dari semua pimpinan Isu karyawan bukan masalah SDM saja Manajemen biasanya lebih sering berfokus pada aspek legal dan finansial. menyatakan bahwa pada masa transisi. terutama apabila dua perusahaan atau lebih melebur menjadi satu sambil membawa keunikan mereka masing-masing. 2007 . Padahal isu karyawan ini sama rumitnya. yang dilakukan pada lebih 440 eksekutif SDM diseluruh dunia tahun 2001. menunjukkan bahwa gegar budaya merupakan prioritas peringkat ketiga (56%). PT Ikrar Mandiriabadi: Jakarta. Setelah terjadi merger atau akuisisi. Merger & Akuisisi . Hisckman. Konklusi formal dari proses integrasi merupakan penilaian atas pencapaian. antara lain dengan : • • • Mengerti budaya yang ada dengan cepat Mengartikulasikan dan membangun budaya baru untuk mendukung bisnis baru Membentuk tim integrasi. komunikasi harus dilakukan sesering dan seefektif mungkin. Dengan kata lain. K (2007). Cetakan ke sembilan. semakin panjang proses integrasi. Craig R. Jakarta. 3) Manajemen proyek. Rhenald. 2) Profesional di bidang SDM. Akibat yang menonjol adalah nilai-nilai perlawanan dan ikatan yang kuat pada subkultur. Kasali.siliconvalley. dengan membuat perencanaan lebih terarah.com). rasa takut. Isu karyawan=isu bisnis. and Silva. Survey yang dilakukan oleh Society for Human resource Management Foundation. Kesuksesan integrasi pasca merger Manajemen harus mengenali bahwa katalis suatu perubahan adalah. Komunikasi harus dibangun dan difokuskan pada hal tersebut. Sumber dari Mercer Library (http://www.15 hal. 1985 2. 3. “Change” PT Gramedia Pustaka Utama.” New York: Nal Books. semakin besar kerusakannya. Perusahaan dapat belajar dari survey di atas. “Creating Excellence Managing Corporate Culture. yang akhirnya dapat merenggangkan ikatan (cohesiveness) suatu institusi. Semakin cepat integrasi diselesaikan. Dan investasi yang benar dalam hal SDM akan berdampak besar pada hal-hal di bawah ini: • • • • Integrasi akuisisi yang baik 71% Kepuasan pelanggan 92% Profit 82% Inovasi & Pengembangan produk 72% Dari tulisan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa faktor manusia sama pentingnya dengan isu bisnis lainnya. Sumber data: 1. Juni 2005 3. setelah kegagalan mempertahankan kinerja keuangan (63%) dan penurunan produktivitas (62%). semakin besar nilai hasilnya. Michael A. sensitif dan membutuhkan banyak waktu.

www. Perubahan ini jelas sesuatu yang besar bagi Bank Universal.portalhr. Stephen Z. Hati-hati. Hubungan istimewa dengan konsumen dan mitra bisnis Astra menjadikan fokus itu lebih menguntungkan bagi Bank Universal.com • • Direktori Gudang Data HR Majalah Human Capital » Edisi Sebelumnya » Strategi HR • • • • Cetak Artikel Kirim ke Teman Lihat Komentar (1) Beri Komentar Bagai Menggulung Benang No. Setelah merger dengan Bank Maranu milik pengusaha Andi Sose. Budaya korporat yang diperlukan tentu berbeda. Kepemimpinan senior perlu diramu . tak pelak ia banyak terinspirasi oleh Citibank. Stephen harus membangun fondasi yang kokoh bagi keberhasilan Bank Universal jangka panjang. khususnya konsumen dan perusahaan menengah. 03 Tahun 2004 Aktivitas merger dan akuisisi (M&A) akan terus terjadi dalam dunia bisnis. masalah budaya bisa menjadi kendala mulusnya proses M&A ataupun pencapaian tujuan dari M&A itu sendiri. pertumbuhan. dan profitabilitas. Sebagai orang yang lama di Citibank. Fokus usaha Bank Universal yang tadinya lebih pada corporate banking diubah menjadi retail banking. Hasil riset bersama dengan Boston Consulting Group menunjukkan bahwa kedua segmen pasar itu paling menarik bagi bank dalam 5-10 tahun ke depan berdasarkan ukuran. lokal maupun global. Satyahadi mempunyai setumpuk tugas. Saat pertama kali dipercaya memimpin Bank Universal oleh Grup Astra tahun 1990.• • • • • Beranda Tentang Kami Kontak Kami Surat Pembaca Iklan portalHR .

Sayangnya. panelis dialog. industri yang dianggap sebagai jantung perekonomian. akuisisi. Darah Citibank dan Bank Universal yang mengalir di tubuh para bankir itu membuat mereka sulit untuk diabaikan. BPR. dan trustworthiness. Mahdi Syahbudin (kini Direktur Bank Permata). Seperti dikatakan Stephen dan banyak pakar.ulang. Dimulai dari kelompok kecil pimpinan. Saat krisis ekonomi melanda. Jerry Ng (Direktur Bank Danamon). dan menjadi komisaris di anak perusahaan Astra itu. seorang Filipina yang jago dalam bidang manajemen SDM. Bank ini beruntung tidak harus dilikuidiasi seperti banyak bank lainnya. Beberapa eksekutif Bank Universal. . misalnya. Manusia-manusia itu dibentuk dalam sebuah budaya korporat yang kuat. Selain jago ritel. dan pengembangan kurikulum pelatihan tahun 1996. terutama pasca krisis ekonomi 1997." jawabnya tentang alasan pemilih konsep Franklin Covey itu. yang umumnya masih berusia muda dan cemerlang. Bank Universal sudah pasti dilikuidasi karena timbunan kredit bermasalah. Kesulitan bisnis dan kebijakan untuk memperkuat fondasi perbankan oleh BI mendorong terjadinya kegiatan merger di perbankan. budaya korporat juga menjadi alat yang efektif untuk menyaring orang-orang yang cocok dan tidak cocok dengan sebuah perusahaan. "Membangun budaya korporat merupakan tugas yang kami rasakan paling berat. tim pimpinan Bank Universal ini menggali. krisis ekonomi keburu melanda Indonesia. Stephen menyebut. "Bayangkan kalau kami tidak mengembangkan bisnis ritel. periode 1991 hingga 1997 adalah periode membangun dasar-dasar budaya korporat Bank Universal. Bank Mandiri merupakan bank bentukan baru hasil merger 4 bank pemerintah (Bank Exim. atau sebab-sebab lainnya. dan masih banyak lagi namanama lainnya. Bersama-sama dengan Terry David. program pelatihan terus meluas ke seluruh jajaran perusahaan. Dalam mewujudkan visi sebagai bank ritel terbaik di Indonesia. buah kerja mereka di Bank Universal selama ini tidak sepenuhnya sia-sia. menjadi surviving bank setelah merger dengan 7 bank lainnya. Krisbiyanto dan Ekoputro Adijayanto (GM Bank Permata). itulah yang membuat nama besar sebuah organisasi akan selalu dikenang�. Dana (Direktur Bank Permata). Penyusunan budaya korporat dilakukan dengan mengembangkan pelatihan Seven Habits karya Franklin Covey. Bank Danamon. dengan sistem nilai dan keyakinan yang seragam. termasuk menyelaraskan karyawan. Stephen menyesal tidak bisa menyelamatkan Bank Universal karena harus dimerger dengan 3 bank lainnya membentuk Bank Permata.meski nama perusahaan bisa saja hilang karena merger. proses. seluruh banker Universal dipandu oleh sistem nilai empathy. Gelombang merger paling dominan terjadi di industri perbankan. empowerment. Banyak alumni Universal Bankers (begitu mereka menyebut bankir Bank Universal) yang tetap mencuat karena kompetensi dan budaya kerja yang unggul. "Seven Habits dipilih karena sangat cocok untuk membangun keahlian fundamental sumberdaya manusia. menyusun. teamwork. Sebutlah Mahdi Syahbudin dan Ongky W. Stephen mengundang beberapa eksekutif eks Citibank untuk bergabung. porsi bisnis ritel dan korporat sudah berimbang. Nilai investasi sebesar Rp 100 miliar ditanamkan sejak 1994 untuk membangun infrastruktur bagi pencapaian visi itu. Tapi. Keunggulan manusia pula yang menjadikan perusahaan-perusahaan besar selalu tumbuh. satu hal yang harus disyukuri. Budaya itu kemudian tercemin pada sikap dan perilaku setiap anggota organisasi itu. dan mensosialisasikan budaya korporat Bank Universal yang baru. mentor. entrepreneurship. dan Audi Wiranata (kini Direktur Astra Buana/Garda Oto). Sebanyak 213 bankir Universal menjadi instruktur. karena tertolong oleh berkembangnya bisnis ritel yang cukup baik sesuai focus strategi mereka." ujar Stephen kepada Human Capital. dikirim ke universitas terkemuka di dunia macam Stanford dan Harvard Business School untuk mempermantap perubahan di Bank Universal.818 karyawan Bank Universal telah mengikuti training di dalam kelas. mereka juga memiliki budaya yang relatif sama karena sama-sama jebolan Citibank. Keunggulan manusianya. Persoalan budaya korporat ini menjadi isu menarik di Indonesia karena derasnya gelombang merger dan akuisisi. dan teknologi dengan strategi bisnis. termasuk Jerry Ng (kini Direktur bank Danamon). yang juga menghantam Bank Universal. N." ujar pria yang kini mengembangkan bisnis pembiayaan konsumen. Sebanyak 8.

ia harus berpengalaman. "Konsultan bisa membantu mengeksplorasi nilainilai dan keyakinan itu selaras dengan strategi perusahaan. merger Bank Mandiri sudah berlangsung sejak 2000.BDN. Budaya korporat mana yang mau dipakai oleh perusahaan hasil merger macam Bank Permata tergantung kesepakatan manajemen baru. Sebaiknya upaya menggali nilai-nilai itu dilakukan sendiri oleh manajemen perusahaan. lanjut Marina. Konsultan juga bisa berperan dalam mengatasi benturan-benturan antar pimpinan baru dalam membentuk budaya korporat baru.C. dibutuhkan tim khusus untuk pembentukan budaya korporat. Porras mengingatkan. bukan dengan mengambil dari pihak luar. red). mencakup beberapa generasi kepemimpinan. di mana CEO-nya terlibat penuh. meskipun dalam praktiknya juga bisa dibantu oleh konsultan. Jangankan bicara pembentukan budaya korporat. Kalaupun melibatkan orang luar (semacam konsultan. Padahal. Pembentukan budaya korporat juga harus menggali nilai-nilai dan keyakinan yang ada dalam organisasi perusahaan. Menarik memperhatikan pengembangan budaya korporat di Bank Permata. Praktik merger diproyeksikan akan terus berlangsung dalam periode konsolidasi perbankan nasional sesuai dengan Arsitektur Perbankan Indonesia yang disusun oleh McKinsey untuk BI. tenaga. adalah sosialisasi atau internalisasi budaya itu kepada seluruh jajaran perusahaan. Itu sebuah kesalahan besar. Bagaimanapun. seperti Agus Martowadoyo (Citibank). perusahaan-perusahaan yang merger telah memiliki budaya korporat masingmasing. dan kurang berorientasi pada pasar serta nasabah. begitu banyak masalah yang harus dihadapi manajemen. pilihan-pilihan itu bisa saja diambil." ujar AB Susanto. nilai-nilai. "Jangan pernah Anda mengambil ideologi dan nilai-nilai dari perusahaan hebat sekalipun untuk menjadi dasar penyusunan budaya korporat perusahaan Anda. permasalahan yang dihadapi perusahaan hasil merger juga tidak sedikit. beruntung sejumlah direksi bank ini muncul dari bank dengan budaya korporat yang kuat. Kini Bank Pikko dan 2 bank lainnya sedang bersiap pula untuk merger. dan Marina Tusin di tempat terpisah. Kelemahan perusahaan di Indonesia adalah tidak adanya konsistensi dalam membangun budaya korporat oleh setiap CEO dari waktu ke waktu. konsolidasi operasional pada Bank Mandiri hingga kini masih terus berlangsung. Prosesnya memakan waktu lama. Apakah budaya korporat bank peserta merger terbesar atau budaya korporat bank yang dianggap paling kuat atau kombinasi yang terbaik dari bank-bank yang ada. Inilah tahapan paling menyita waktu. dan mengutamakan kepentingan perusahaan. Para pakar manajemen dan budaya korporat menegaskan bahwa pembentukan budaya korporat membutuhkan waktu dan konsistensi dalam eksekusinya. Collins dan Jegry I. seperti terlalu birokratis. Nugroho Supangat. setelah budaya korporat berhasil diformulasikan. Dan. Kalaupun disepakati mengambil yang terbaik dari perusahaan-perusahaan sebelumnya. dan strategi usaha tetap bisa dibentuk meskipun secara pelan-pelan. menurut Nugroho Supangat. Kendati demikian. seperti soal cessie yang belum beres dan kini ditambah lagi oleh rencana divestasi Bank Permata dan wacana merger yang dilansir oleh manajemen Bank BNI. Dana (Citibank dan Bank Universal)." ungkap pakar manajemen perubahan James C. dan Bapindo). . Sehingga visi. harus ada kesepakatan tentang keunggulan dari masing-masing nilai dan keyakinan itu. Kita pun wajib ragu bagaimana nasib budaya korporat Bank Mandiri bila kelak E.W Neloe diganti atau budaya korporat Bank Permata jika Agus Martowardoyo diganti. bisa 10-20 tahun. Tahapan berikutnya. Tantangan persaingan dan globalisasi bisnis mengharuskan Bank Mandiri untuk meninggalkan budaya korporat lama yang menjadi khas bank pemerintah. Bank Permata terbentuk setelah merger Bank Universal dengan Bank Bali dan 2 bank lainnya. Biasanya di perusahaan hasil merger. dan komitmen dalam pembentukan budaya korporat. netral. Pembentukan budaya korporat pada sebuah entitas usaha hasil merger jelas bukan pekerjaan mudah. pikiran. Benturan mungkin saja terjadi karena masing-masing pimpinan memiliki ego dan kebanggaan masing-masing. Belum lagi. Kesibukan manajemen dalam konsolidasi operasional dan internal sedikit banyak mengurangi perhatian terhadap pembentukan budaya korporat Bank Permata. BBD. lamban. Mahdi Syahbudin dan Ongki W.

Merger. harus digulung lagi. sehingga tidak banyak mengutak-atik budaya korporat yang sudah ada.. termasuk dalam hal budaya korporat.pemilik baru Telkomsel�. Upaya itu . Tentu dengan catatan bila budaya korporat yang ada sudah sesuai dengan kebutuhan strategi perusahaan. Indosat. Bank Danamon. Temasek�. masuknya pemilik asing ini bisa menjadi momentum untuk meningkatkan daya saing SDM dan perusahaan-perusahaan kita.sangat concerned dengan upaya menggenjot pemasaran sehingga nilai-nilai yang berkembang adalah fokus pada pendapatan dan profitabilitas. Yang pasti. Pendahuluan Memperkuat industri perbankan adalah upaya berkesimbungan yang harus dilakukan. Maka. Telkomsel. pemilik asing akan mengintroduksikan nilai-nilai baru untuk menyempurnakan budaya yang sudah ada." Karena prosesnya membutuhkan waktu lama. Akuisisi dan Konsolidasi Perbankan Juli 9. Sebagai contoh. "Kalau benangnya belum selesai digulung dan lepas.. Akuisisi dan Konsolidasi Perbankan Relevansinya dengan Kebijakan Single Presence Policy Oleh: Zulkarnain Sitompul A. • • • • • • • • Blog About Me Buku Paper Artikel Tugas Kuliah Agenda Isu Sentral þÿsearch in blog. 2008 at 2:08 am | In Uncategorized | Merger.Keraguan semacam ini tidak akan pernah muncul pada perusahaan asing dan perusahaanperusahaan Indonesia yang diakuisisi oleh pemilik asing. maka budaya korporat akan mempengaruhi investasi dan eksistensi perusahaan di masa depan. dan sebagainya.atau Singtel�. Seperti dikatakan Marina Tusin. Mudah-mudahan fokus ini tidak mengorbankan pelanggan atau mengorbankan kepentingan jangka panjang perusahaan." tukas Nugroho Supangat. Begitulah seterusnya. pembentukan budaya korporat ibarat menggulung benang. seperti yang terjadi pada bii. saatnya "menggulung benang" secara benar. Seandainya belum. "Mereka hanya membeli perusahaan kita.yang menjadi pemilik baru pada bii dan Bank Danamon .

modal memungkinkan bank melakukan investasi untuk keperluan memperlacar arus jasa. melepas kepemilikannya sehingga hanya menjadi PSP pada satu bank. hanya boleh menjadi pemegang saham pengendali (PSP) pada satu bank. Philipina Rp1. India dua dan Korea Selatan tujuh. modal melindungi kreditur yang tidak dijamin bila terjadi insolvensi dan kemungkinan terjadinya likuidasi. Kedua pilihan yang ideal dari tiga opsi yang ditentukan dan ketiga. Bank Mandiri sebagai bank terbesar dari sisi aset hanya menduduki peringkat ke 251 dunia. menggabungkan (merger) bank yang dimiliki. Ketiga masalah tersebut merupakan issu yang dibahas dalam tulisan ini. Dengan kewajiban untuk meningkatkan modal tersebut diharapkan akan terjadi merger dan akuisisi sehingga struktur kepemilikan bank menjadi lebih sehat. Salah satu program dalam API adalah konsolidasi perbankan. Setidaknya ada empat alasan mengapa regulator berupaya meningkatkan. Pengecualian juga berlaku bagi PSP yang mengendalikan dua bank yang masing-masing melakukan kegiatan usaha dengan prinsip berbeda yakni secara konvensional dan berdasarkan prinsip syariah. Itulah sebabnya kecukupan modal tetap merupakan fokus utama regulator dalam menciptakan bank yang sehat dan aman.32 milyar dan Singapura Rp34. Rata-rata modal inti bank umum di Indonesia adalah Rp.[5] Untuk meningkatkan permodalan bank. Pertama penentuan pihak yang menjadi PSP bank. Bilamana motivasi . Kepemilikan Bank Indonesia memberikan persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank. Ketiga.347. modal dapat menyerap kerugian yang timbul tidak terduga. membentuk/mendirikan bank holding company (BHC) dan mengalihkan kepemilikan bank kepada BHC[7]. memaksakan dan menekankan pentingnya kecukupan modal bagi bank. Untuk itu kepada mereka diberikan tiga pilihan agar kepemilikannya pada bank sejalan dengan ketentuan SPP. Pinjaman kepada orang dalam merupakan faktor penyebab utama terjadinya bank bermasalah di banyak negara.503. Ketentuan tentang SPP dimaksud tentunya berimplikasi pada pihak-pihak yang sudah menjadi Pemegang Saham Pengendali di dua atau lebih bank.976.961. perorangan atau korporasi. setiap pihak.1.[8] Pentingnya persetujuan BI dilatarbelakangi pengalaman bahwa pemilik. Keempat. Kedua. Pertama.80 milyar pada Desember 2007 dan minimal Rp100 milyar pada Desember 2010. Secara bersama-sama pemilik dan pengurus harus menciptakan kerangka pengawasan internal dalam menjalankan operasional bank dan memastikan bahwa kegiatan usaha bank sejalan dengan praktik perbankan yang sehat dan aman.[2] Modal bank-bank di Indonesia tergolong rendah jika dibandingkan dengan modal bank di negara tetangga padahal bank dikenal sebagai usaha padat modal dan berisiko tinggi. modal melindungi dana lembaga penjamin simpanan dan dana pembayar pajak. Menurut penulis paling tidak ada tiga masalah yang timbul dalam implementasi SPP.. Dengan permodalan yang kuat bank dapat mengemban risiko yang tinggi.dilakukan mengacu pada cetak biru industri perbankan yang dikenal dengan Arsitektur Perbankan Indonesia (API).[9] Struktur kepemilikan bank dapat menjadi insentif bagi pemilik untuk melakukan kegiatan yang tidak sehat dan tidak aman. Bank Indonesia menetapkan ketentuan agar bank umum meningkatkan modal inti menjadi minimal Rp.919. Sejalan dengan kebijakan peningkatan modal BI juga mengeluarkan ketentuan yang dikenal dengan kebijakan Kepemilikan Tunggal Pada Perbankan Nasional atau populer dengan single presence policy (SPP). Dalam rangka konsolidasi dilakukan penataan kembali struktur kepemilikan bank yang dimaksudkan untuk menciptakan struktur perbankan yang sehat sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat serta mendorong pembangunan ekonomi yang berkesinambungan. Ketiga. Thailand Rp8.[6] Tujuannya adalah untuk mendorong konsolidasi perbankan dan mendukung efektivitas pengawasan bank. khusus untuk bank milik pemerintah opsi apa yang sebaiknya dipilih. Ketentuan SPP dikecualikan bagi kantor cabang bank asing dan bank campuran. Pertama.[1] Peningkatan modal bank merupakan salah satu upaya untuk memperkuat sistem perbankan. Dengan konsolidasi diharapkan terjadi peningkatan skala ekonomi sehingga dapat meningkatkan efektivitas pengawasan bank. Kepemilikan dan Kepengurusan Bank a.4 milyar[3] sedangkan di Malaysia Rp5. Kedua. Hal ini terkait dengan ketentuan tentang ultimate shareholder dalam menetapkan pemilik bank. Bank dapat disalahgunakan menjadi sumber dana bagi pemilik. Konsolidasi perbankan merupakan salah satu prasyarat untuk mewujudkan struktur perbankan Indonesia yang sehat dan kuat. B.88 milyar.62 milyar. Thailand satu. Dari 131 bank di Indonesia hanya sembilan bank yang tercatat masuk dalam peringkat 1000 dunia.36 milyar. [4] Tidak satupun bank di Indonesia termasuk dalam 200 besar tingkat dunia bandingkan dengan Singapura yang memiliki tiga. direksi dan pejabat eksekutif bank merupakan penanggung jawab utama menjaga bank tetap sehat dan kuat. Ketentuan ini menetapkan.

Tetapi bagian dari modal tidak dapat diterjemahkan dengan memiliki sebagian dari harta perusahaan.[13] Kewajiban untuk mengungkapkan kepemilikan dilandasi beberapa alasan. Sengketa tentang kepemilikan telah mewarnai cerita dalam kitab suci. Hak milik pribadi dipandang penting karena menjamin warga negara dapat melindungi kemerdekaan dirinya dari kekuasaan. Kepemilikan telah menjadi persoalan sejak awal sejarah umat manusia. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apa yang dimaknai dengan memiliki sebagian dari sesuatu. Ketiga.[10] Soal penting tentang kepemilikan adalah menjawab pertanyaan siapa sebenarnya pemilik bank. Sebagian ahli hukum perusahaan menyatakan bahwa sistem hukum Indonesia yang mewarisi tradisi hukum kontinental tidak mengenal adanya dualisme kepemilikan. Berdasarkan ketentuan tersebut kewajiban tersebut muncul bilamana suatu pihak memiliki hak suara pada suatu perusahaan sebesar 5%. Tantangan terhadap penerapan governance adalah memastikan bahwa penyelesaian perselisihan diantara organ perusahaan adalah suatu proses terbuka dan adil (fair). Pendapat Adam Smith ini masih digunakan sebagai pondasi kebijakan . he is…led by an invisible hand to promote an end which in not his intention”. Ada beberapa kemungkinan tentang hubungan hukum antara legal owner dan beneficial owner yaitu nominee atau terjadi hubungan pengurusan. Kepemilikan tidak hanya suatu alat untuk mengukur kekayaan.memiliki bank adalah untuk merampoknya maka internal governance semata tidak akan dapat mencegah hal tersebut. Pihak yang menerima manfaat tersebut dapat berbeda dengan legal owner. Terbatasnya tanggung jawab pemegang saham terbatas mengandung arti membatasi tanggung jawabnya atas kesalahan perusahaan. Tantangan ini utamanya dijawab oleh hukum dengan menerapkan standar prosedur yang tinggi dan pengaturan tentang standar fiducia. Perusahaan terbuka memiliki pengurus dengan agenda yang dapat berbeda dengan pemilik. Pertanyaan timbul karena dalam hal kepemilikan terdapat dualisme pengertian yaitu legal owner (pemilik yang tercatat menurut hukum) dan beneficial owner ((pihak yang menikmati manfaat ekonomis dari benda yang dimiliki oleh legal owner). Hampir di semua negara maju terdapat ketentuan yang mewajibkan untuk mengungkapkan kepentingan substantif suatu pihak terhadap perusahaan terbuka. Adam Smith meyakini bahwa proteksi terhadap individu dalam menikmati hak milik merupakan salah satu dari sedikit aktivitas sah suatu pemerintahan sipil. Berdasarkan konsep ini pemilik adalah pihak yang menerima manfaat atas kepemilikan tersebut (beneficial owner). Konsep utama pandangan Barat tentang kepemilikan adalah si pemilik memiliki insentif mengelola miliknya tersebut dengan cara yang tidak merugikan masyarakat secara keseluruhan. Pada akhir abad ke delapan belas pandangan tentang hak milik (properti) melibatkan suatu hubungan langsung antara pemilik dengan yang dimilikinya. Oleh karena itu. Adam Smith mengatakan “even if a businessman “intend only his own gain. Kepemilikan adalah suatu unsur dari kepuasaan pribadi. Masalah lain yang timbul dalam penentuan ultimate shareholder terjadi pada perusahaan dengan struktur kepemilikan yang kompleks dan melibatkan perusahaan khusus (special purpose vehicle) atau pada kepemilikan yang melibatkan investment bank. John Lock berpendapat bahwa properti hanya sah sepanjang properti tersebut memberikan kepuasan pribadi. Kedua. dalam rangka akuisisi keterbukaan informasi atas kepemilikan dimaksudkan untuk menjamin agar peralihan pengendalian perusahaan berlangsung secara terbuka dan efisien.[11] Adanya dualisme kepemilikan adalah akibat dianutnya konsep trust yang berasal dari tradisi common law. identitas pemegang saham pengendali atau calon pemegang saham pengendali suatu perusahaan merupakan informasi investasi yang penting. [12] Dalam menetapkan pemilik bank. Kewajiban untuk mengungkapkan juga berlaku untuk perusahaan terbuka. Manusia berkaitan dengan secara khusus terhadap sesuatu yang dimilikinya. untuk mencegah terjadinya insider trading dan manipulasi pasar.[14] Penentuan bentuk hubungan hukum antara legal owner dengan beneficial owner terkadang sulit dilakukan.[15] Konsep kepemilikan perusahaan ini sering menimbulkan pertanyaan tentang apakah badan hukum (legal personality) dapat dimiliki dalam segala bentuk dan cara yang efektif. Pada tahun 1972 Australia misalnya telah memberlakukan kewajiban agar suatu pihak yang memiliki secara substantif saham suatu perusahaan publik untuk mengungkapkan kepemilikannya kepada perusahaan dan kepada bursa dimana saham tersebut diperdagangkan. perwakilan atau keagenan. Bank Indonesia menerapkan konsep ultimate owner. Masing-masing bentuk hubungan hukum tersebut membawa konsekwensi hak dan tanggung jawab yang berbeda. Akan selalu ada biaya keagenan dalam setiap struktur perusahaan dimana seseorang selain manajemen memiliki modal. Pertama. Diketahuinya bentuk hubungan hukum perlu untuk menetapkan tanggung jawab masing-masing pihak. kecuali bila perusahaan tersebut bubar dan masih tersisa harta untuk dibagi diantara sesama pemegang saham. pihak yang menerima manfaat dari kepemilikan bank wajib diungkapkan. Pemegang saham (stockholder) misalnya dianggap “memiliki” perusahaan tempat mereka berinvestasi. Legal owner berfungsi sebagai pihak yang melakukan pemeliharaan atau pengurusan suatu harta kekayaan.

Kepengurusan Pertanyaannya adalah bentuk pengurusan bagaimana yang ideal bagi bank. Keberadaan perusahaan bersamaan dengan diakuinya hak milik pribadi. Wiraswastawan generasi awal umumnya memiliki dan mengurus sendiri perusahaannya. Namun demikian. Melalui kepemilikan perusahaan. Independensi perusahaan yang diberikan oleh pemerintah menjadikan pemerintah lebih diterima oleh masyarakat. didisain untuk mengatasi kekuasaan negara yang tanpa batas. Pada sisi lain hanya kesetaraan yang dapat diterima sebagai basis bagi suatu negara yang beradab. Namun perusahaan pada akhirnya adalah sekutu pemerintah. Kekayaan negara tidak lagi dengan mudah digunakan untuk pet proyek penguasa. beberapa prinsip dasar pengurusan perusahaan seperti prinsip fiducia masih tetap relevan dengan masalah self-dealing oleh pengurus terlepas dari perkembangan dan perubahan yang telah terjadi pada perusahaan. Bentuk awal perusahaan lebih mirip kotapraja dibandingkan dengan usaha bisnis yaitu berupa kota dan universitas yang ditemukan pada abad pertengahan. Dengan demikian terjadi peralihan kewenangan pengurusan perusahaan dari pemegang saham kepada pengurus perusahaan. Seseorang tidak butuh pengetahuan tentang bagaimana membuat kursi agar dapat bekerja di perusahaan kursi tetapi cukup mengetahui bagaimana memasang bantalan kursi ke tempatnya.[16] b. Unsur inilah yang membedakan perseroan dengan firma (partnership). Struktur perusahaan merupakan hal penting dalam mentransformasikan perdagangan menjadi suatu tatanan yang teratur. Kehadiran sektor swasta tidak hanya mengancam pusat kekuasaan tetapi juga merupakan ancaman bagi kemapanan para penguasa. individu dapat memiliki kekayaan yang dengan sendirinya merupakan sumber kekuasaan mandiri. Hak kepemilikan seperti ini yang dapat membatasi campur tangan penguasa merupakan dasar dari perusahaan modern. Telah sejak lama diskusi mengenai perusahaan dimulai dari pendapat bahwa pengurus perusahaan memiliki kekuasaan dan dapat menggunakannya untuk mengeksploitasi investor. Namun demikian perusahaan adalah suatu subset unik dari kategori kepemilikan yang diciptakan untuk suatu alasan unik dan memiliki karakter unik pula. Membolehkan kepemilikan sebagian melalui penawaran umum membuka akses pada modal untuk membiayai industri modern. Kondisi ini merupakan ancaman serius bagi pemerintah. William Blackstone salah seorang ahli hukum terkemuka Inggris. Para pengurus perusahaan . Profil rata-rata perusahaan lima puluh tahun yang silam misalnya jauh berbeda dengan profil perusahaan saat ini. Sejalan dengan pertumbuhan perusahaan maka jumlah pemegang sahampun turut bertambah. konsumen atau keduanya. Kepemilikan secara umum dan kepemilikan saham khususnya dibutuhkan untuk mengorganisasikan bakat. tidak terdapat konsentrasi kepemilikan saham yang konsekwensinya kewenangan pengurusahan dilakukan oleh pihak lain. uang dan energi yang penting bagi kemajuan teknologi dan industri. karena jumlah pemegang saham tersebar luas di masyarakat maka pengurus perusahaan mampu memiliki fungsi kontrol terhadap perusahaan. Bila negara dibentuk dan dikendalikan sebagaimana layaknya perusahaan. Seseorang juga tidak perlu mengatahui bagaimana membuat kursi untuk berinvestasi pada perusahaan kursi. Perseroan dengan demikian berhak memiliki harta kekayaan sesuai dengan aturan yang ditetapkan pemerintah. bukankah ini yang diimpikan oleh para filosof dan ahli politik sebagai negara ideal? Dalam jangka pendek struktur perseoran yang independen dapat merupakan ancaman bagi kekuasaan pemerintah. Kewenangan perusahaan. Perusahaan diciptakan sebagai cara menyelesaikan sebagian tantangan yang muncul akibat dari kepemilikan pribadi.banyak pemerintahan. Pada perusahaan publik. Pada satu sisi manusia harus diberi kebebasan untuk mengekspresikan dirinya dan pada saat yang sama menimbulkan perbedaan dan ketidak setaraan. Unsur utama suatu perseroan adalah keberadaannya yang independen dari keanggotaan tertentu dan seluruh kekayaan dan utang adalah milik perusahaan tersebut. Konsekwensi diakuinya hak milik individual membuat pemerintah berkewajiban menjaga agar hak tersebut dapat dinikmati pemiliknya dengan baik. Namun demikian. meski terbatas dipandang dari sudut jangka waktu. cakupan dan tujuan. dalam salah satu keputusannya menetapkan bahwa King Charles I tidak dapat secara sepihak membatalkan piagam kota London. Jawaban atas pertanyaan ini penting karena sejarah perkembangan perusahaan memperlihatkan bahwa perusahaan telah banyak berubah dalam beberapa dekade terakhir. Terdapat pertentangan alamiah antara kebebasan dan kesetaraan. Dengan kata lain. manajemen puncak sering kali hanya memiliki jumlah saham yang sedikit. awalnya dimaksudkan untuk memeriksa terjadinya kesalahan dalam pembukuan yang kemudian berkembang menjadi teknik untuk memisahkan kegiatan bisnis dengan kegiatan pribadi. Masingmasing pemegang saham tersebut memiliki jumlah saham yang kecil. yang diperlukan adalah membeli saham perusahaan kursi tersebut. Keduanya berdasarkan pada prinsip yang sama yaitu spesialisasi. Dikembangkannya sistem double entry dalam pembukuaan pada akhir abad pertengahan. Dengan demikian perseroan menjadi entitas terpisah yang usianya dapat lebih lama dari umur pemilik ataupun pengurusnya. Profil perusahaan tradisional adalah kecil dan dikelola oleh pemiliknya sendiri.

banyaknya jumlah perusahaan yang tercatat di bursa efek. Kedua. Kedua. Hasil yang berbeda akan terjadi apabila suatu negara mengatur sikap oportunistik para insider sehingga pemegang saham minoritas merasa aman. Songapore. Studi emperis menunjukan bahwa pertama. Dengan kondisi tersebut maka investor akan bersedia membeli dengan harga penuh saham yang dijual sehingga menurunkan biaya modal bagi perusahaan yang memilih menjual saham di pasar modal. pengelolaan perusahaan dilakukan oleh insider/control-oriented. [18] Riset yang dilakukan oleh Claessens. Terminologi arm’s length tepat untuk konteks AS karena pemegang saham menjaga jarak dan membiarkan pengurus bebas melakukan pengelolaan perusahaan. Informasi tentang kualitas pengelolaan perusahaan juga mudah dirahasiakan. struktur institusi yang kuat juga dapat menciptakan sistem penyebaran kepemilikan perusahaan sebagaiman yang terjadi di Inggris. the Philipines. Taiwan dan Thailand) menunjukan:[19] a. tingkat proteksi yang diberikan oleh sistem hukum suatu negara kepada outside investor berdampak signifikan terhadap regim pengelolaan perusahaan di negara tersebut. Akan tetapi para ahli sependapat bahwa “Berle-Means Corporation” merupakan paradigma dominan dalam sistem ekonomi pasar. lebih bernilainya pasar modal. Sistem ini terjadi karena tersebarnya kepemilikan perusahaan. Pemisahaan antara kepemilikan dan pengelolaan merupakan sistem yang menguntungkan karena pengurus dapat dipekerjakan semata-mata berdasar atas kompetensi yang mereka miliki. Japan. Hal ini misalnya terjadi di Inggris. Keengganan investor tersebut pada akhirnya membuat pemilik memutuskan untuk tidak menjual sahamnya kepada publik. Malaysia . penyebaran kepemilikan saham perusahaan di Ingris bukan disebabkan kuatnya perlindungan yang diberikan hukum kepada pemegang saham minoritas. d. c. Analisis Adolf Berle dan Gardiner Means ini telah menimbulkan perdebatan panjang.[20] Di negara yang lemah memberikan perlindungan hukum terhadap investor menyebabkan investor potensial enggan membeli saham perusahaan. Lebih dua pertiga perusahaan di kontrol oleh pemegang saham tunggal Pemisahaan antara pengusus dan pemilik sangat jarang Top manajemen dari 60% perusahaan terkait dengan keluarga Kontrol keluarga yang ekstensif pada lebih dari separoh perusahaan Kecenderungan perekonomian akhir-akhir ini memperlihatkan bahwa versi kapitalisme model AS lebih dominan dan “Berle-Means Corporation” menghasilkan efisiensi sebagaimana yang diajarkan oleh teori dan juga kenyataannya perusahaan-perusahaan dengan orientasi insider/control mulai melakukan divestasi dan menghilangkan struktur kepemilikan silang yang rumit dan secara perlahan bergerak kearah kepemilikan yang tersebar. Kepemilikan saham yang besar apalagi kepemilikan saham mayoritas adalah suatu hal yang tidak lazim di AS. Gejala pemisahaan antara kepemilikan dan kepengurusan ini telah diindentifikasi oleh Adolf Berle dan Gardiner Means di awal tahun 1930an yang kemudian dikenal dengan “Berle-Means Corporation”. lebih terpecahnya kepemilikan saham. Hal ini dapat terjadi karena pengurus tidak diharapkan dapat memberikan kontribusi keuangan kepada perusahaan yang mempekerjakan mereka atau memiliki ikatan keluarga atau hubungan pribadi dengan pemegang saham pengendali. pengurus perusahaan dapat membentuk opini untuk kepentingan mereka dan sekaligus mencuri dan melakukan salah pengelolaan. Dipersenjatai dengan pengetahuan pribadi dan kemampuan menciptakan investor dalam kegelapan. Berbeda dengan Amerika Serikat. Kondisi ini pada gilirannya meningkatkan penawaran umum saham dan sekaligus membangun pasar modal yang kuat dan menciptakan sistem kepemilikan perusahaan tersebar.[21] Terjadinya penyebaran kepemilikan juga dapat disebabkan oleh kuatnya lembaga peradilan. Pendekatan ini berhasil karena dalam situasi normal investor lebih tertarik pada kinerja umum portfolio saham yang mereka miliki dibandingkan perkembangan yang melibatkan satu perusahaan tertentu. Perusahaan-perusahaan yang sahamnya dijual di bursa umumnya dimiliki oleh pemegang saham pengendali dan atau kreditur dominan yang mempengaruhi manajemen. Berdasarkan sistem ini pasar modal misalnya hanya memainkan peran kedua dalam perekonomian.mengetahui dengan tepat kondisi perusahaan dan dapat menyembunyikan kondisi perusahaan tersebut dari investor. Dengan perkataan lain konsentrasi kepemilikan adalah konsekuensi lemahnya perlindungan hukum bagi pemegang saham minoritas.[17] Di Amerika Serikat (AS) sistem pengelolaan perusahaan dilakukan secara outsider/arm’s-length yaitu pengelolaan yang dilakukan oleh orang luar (outsider) perusahaan. Djankov and Lang tentang siapa yang mengontrol perusahaan di Asia Timur (Hong Kong. South Korea. di Jepang dan Eropa kontinental. Berbeda dengan AS. lebih rendah manfaat kontrol pribadi terhadap perusahaan dan keempat. Ketiga. Hal ini terjadi di Amerika Serikat. . b. Proteksi hukum yang kuat bagi pemegang saham minoritas berkaitan erat dengan pertama. Indonesia. Perusahaan-perusahaan besar di AS hampir seluruhnya adalah perusahaan terbuka dan hanya segelintir perusahaan yang sahamnya masih berada di tangan pengendali perusahaan.

Sangat jarang terdapat bank yang telah go public. C. hukum perusahaan Inggris tidak mengatur insider dealing. meskipun Inggris tidak mengenal rejim hukum yang memberikan perlindungan bagi pemegang saham minoritas akan tetapi kuatnya peranan yang diberikan oleh kedua lembaga ini membuat banyaknya investor yang menanamkan dananya dengan membeli saham perusahaan. Hukum perusahaan yang berlaku atau prinsip common law yang secara tegas melindungi pemegang saham minoritas tidak dikenal. Hak gugat derivatif misalnya bukan suatu yang lazim dan pengadilan enggan memberi pemegang saham minorits legal standing untuk menggugat atas nama perusahaan. Jumlah ini meningkat menjadi 3500 perusahaan pada tahun 1951. [22] Berkembangnya pasar modal Inggris banyak dipengaruhi oleh pertama. Ketatnya pengawasan yang dilakukan oleh financial intermediaries adalah untuk menjaga reputasi lembaga keuangan tersebut. Perusahaan-perusahaan yang ingin go publik harus melalui pemeriksaan yang ketat oleh financial intermediaries. Undang-undang ini mengatur tentang perjanjian yang dilarang dan kegiatan yang dilarang. London Stock Exchange juga memerankan peranan penting dalam mengembangkan pasar modal. financial intermediaries. London Stock Exchange menetapkan aturan yang ketat bagi perusahaan yang ingin mencatatkan sahamnya. Pendekatan pe se illegal menitikberatkan pandangan pada perilaku pengusaha tanpa terlalu mempertimbangkan kepentingan ekonomi dan social secara luas. Sampai pertengahan pertama abad 20. Pilihan ini cukup rumit. perusahaanperusahaan terbuka (public companies) Inggris masih dimiliki dan dikelola secara dominan oleh keluarga. Pada tahun-tahun sebelum tahun 1914.[25] Dengan merger masalah kecilnya permodalan bank secara bertahap dapat diatasi. struktur kepemilikan.[27] Undang Undang No. Kedua. [28] Tujuan keberadaan undang-undang tersebut adalah untuk efisiensi ekonomi. pegawai atau konsumen.[29] Pilihan merger akan menciptakan suatu bank besar yang dapat berfungsi sebagai bank internasional dalam pengertian Arsitektur Perbankan Indonesia. menghindari konsentrasi pasar oleh beberapa pelaku usaha. Pilihan mana yang ditetapkan tentunya harus berdasarkan keputusan bisnis.[24] Pemisahaan ini dapat menimbulkan benturan kepentingan antara pengurus dan pemilik. Bermacamnya variasi mekanisme penyelesaian yang diterapkan secara spesifik oleh suatu negara menunjukankan bervariasinya kultur hukum dan politik. Pemisahan antara kepemilikan dan kepengurusan baru benar-benar terjadi pada tahun 1950an. Tidak jarang tiga atau empat bank besar berusaha berdampingan dengan bank kecil dan bank perkreditan rakyat yang banyak diantaranya dimiliki oleh keluarga. mulai dari penyesuaian system. Berbagai mekanisme telah dikembangkan untuk mengatasi benturan kepentingan ini.[23] Tersebarnya kepemilikan perusahaan pada gilirannya memisahkan antara kepengurusan dan kepemilikan perusahaan. Secara tersirat Bank Indonesia menghendaki agar opsi merger yang dilpilih oleh PSP. penyelarasan budaya kerja dan yang paling sulit adalah menghindari agar tidak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK). Kecilnya modal bank menimbulkan masalah skala ekonomi (economic of scale). Hal ini sejalan dengan kondisi perbankan Indonesia yang terfrakmentasi dalam kaitannya dengan jumlah dan ukuran. keuntungan dan daya saing serta penggunaan teknologi modern.5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat penting disimak agar tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.[26] Namun demikian masalah hukum penting yang perlu dicermati bila opsi merger yang dipilih adalah masalah monopoli dan pengusaan pasar. Dengan demikian. namun demikian Inggris tidak termasuk negara yang memberikan perlindungan bagi investor. besar kemungkinan menurunkan persaingan secara substantif dan oleh karenanya harus dicegah kecuali dapat dibuktikan bahwa merger tersebut tidak menimbulkan anti persaingan. mau tidak mau merger mengakibatkan PHK yang pada gilirannya akan membawa masalah-masalah sosial dan politik. Untuk itu dapat digunakan dua acuan yaitu pendekatan per se illegal dan rule of reason. pengurangan regulasi. opsi merger adalah opsi terbaik. impartiality and dicisiveness. Rendahnya permodalan bank di Indonesia telah menimbulkan masalah karena perbankan merupakan industri padat modal dengan risiko usaha tinggi. Sedangkan pendekatan rule of reason mempertimbangkan prinsip efisiensi dengan turut mempertimbangkan akibat negatif dan positif dari suatu tindakan terhadap proses persaingan.Hal ini terlihat pada tahun 1907 hampir 600 perusahaan tercatat pada London Stock Exchange. Meskipun hakim-hakim Inggris terkenal reputasinya sebagai incorruptibility. benturan antara sesama pemegang saham dan ketiga benturan antara pemegang saham secara keseluruhan dengan bukan pemegang saham seperti kreditur. Merger yang menyebabkan suatu perusahaan menguasai pasar dan meningkatkan konsentrasi pasar. Artinya opsi yang sejalan dengan strategi pengembangan perusahaan. kesetaraan dalam kesempatan masuk pasar. Penerapan Ketentuan Single Presence Policy Terdapat tiga opsi bagi PSP yang memiliki lebih dari dua bank. Sebagai lembaga swasta. Dengan kondisi demikian maka merger merupakan solusi terbaik sebagai alat meningkatkan struktur dan efisiensi industri perbankan. Dari kaca mata konsolidasi perbankan. Karena. Pilihan merger merupakan pilihan yang didorong agar dilakukan oleh .

Tambahan birokrasi berupa perusahaan holding tentu akan menimbulkan biaya. Singkatnya. D. Pembentukan holding adalah . Pilihan manapun yang akan diambil. Pilihan terbaik kedua adalah melepaskan kepemilikan. Kepemilikan asing pada bank domestik maksimum 99% dari modal bank. Dengan ketentuan seperti memaksa bank merger tentunya dapat menjurus pada tindakan sewenang-wenang karena bertentangan dengan prinsip hak milik.10 Tahun 1998. Perusahaan holding dapat berupa hasil pendirian badan hukum baru atau menunjuk salah satu bank sebagai holding. Salah satu langkah tersebut adalah memaksa bank untuk merger. mendirikan perusahaan anak atau mengakuisisi bank yang telah berdiri baik secara langsung atau melalui pasar modal. maka cara melepaskan kepemilikan yang ideal adalah melalui pasar modal. satu hal yang penting adalah pilihan itu harus mempertimbangkan tujuan ditetapkannya kebijakan SPP yaitu untuk menciptakan bank dan system perbankan yang sehat sehingga industri perbankan tidak menjadi beban keuangan pemerintah seperti yang terjadi pada krisis keuangan tahun 1997. Kerumitan yang lain adalah memperpanjang mekanisme pengambilan keputusan. Paksaan ini sulit diterapkan pada bank yang tidak mengalami kesulitan keuangan.[30] Keengganan pemilik melakukan merger menimbulkan pertanyaan tentang kewenangan dimiliki regulator. Pilihan untuk Bank Milik Pemerintah Salah satu PSP yang harus menyesuaikan diri dengan ketentuan SPP adalah pemerintah sebagai PSP di empat Bank BUMN. Kehadiran asing dalam industri perbankan di Indonesia dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu pembukaan kantor cabang. BHC dimaksudkan untuk menghindari pembatasan pendirian cabang antar negara bagian (interstate branching) yang waktu itu diterapkan di AS dan juga untuk kepentingan pajak. BHC wajib bertindak sebagai penentu arah strategis bagi bankbank yang menjadi anak perusahaannya dan sekaligus mengkonsolidasikan laporan keuangan bank-bank tersebut. apakah Bank Indonesia sebagai regulator berwenang memaksa pemilik bank untuk melakukan merger. meski tidak begitu diinginkan alasannya pemilik bank-bank kecil enggan melepaskan kepemilikannya tanpa mendapatkan insentif khusus. Menggabungkan seluruh bank milik pemerintah menjadi satu bank tentunya akan mengakibatkan terjadinya konsentrasi pasar. Dari tiga opsi yang disedikan menurut penulis opsi melepaskan kepemilikan merupakan opsi terbaik. Konsep BHC pertama dikenalkan di AS dengan pada saat dikeluarkanya The Bank Holding Company Act pada tahun 1956. Bank yang sedang mengalami kesulitan keuangan tentunya merugikan masyarakat sehingga dapat dipaksa mengambil langkah-langkah tertentu untuk melindungi dana masyarakat yang disimpan di bank. Penerapan prinsip keterbukaan pada industri perbankan akan meningkatkan peran masyarakat dalam melakukan pengawasan terhadap industri perbankan (market dicipline).3 Tahun 2004 menetapkan Bank Indonesia memberikan persetujuan atas kepemilikan dan kepengurusan bank. Upaya maksimal yang dapat dilakukan oleh regulator adalah menciptakan iklim yang dapat mendorong terjadinya merger secara sukarela.23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU No. Klausula tersebut sejalan dengan prinsip kebebasan individu untuk memiliki hak milik pribadi. Pasal 26 huruf c UU No. Ketentuan BI menetapkan bahwa perusahaan holding tidak boleh melakukan kegiatan usaha selain menjadi pemegang saham bank. Melepaskan kepemilikan kepada pihak asing merupakan opsi yang layak dipertimbangkan. Opsi ketiga menurut penulis adalah pilihan paling buruk yang sedapat mungkin dihindari. Kewenangan yang diberikan oleh Pasal 37 dibatasi untuk bank yang mengalami kesulitan keuangan. Hak milik pribadi hanya dapat diambil negara bilamana berbenturan dengan kepentingan umum.industri perbankan. Baik BHC maupun FHC berada di bawah pengawasan bank sentral AS yaitu Federal Reserve. Menurut Undang-undang ini BHC adalah setiap perusahaan yang memiliki saham minimal 25% pada suatu bank. Upaya paksa yang dimiliki oleh Bank Indonesia ditetapkan dalam Pasal 37 UU No. Pilihan ini pada dasarnya diajukan untuk mereduksi timbulnya kompleksitas permasalahan hukum terkait kepemilikan bank bila opsi pertama dan opsi kedua sulit ditegakan. Pilihan merger disamping mahal juga akan menimbulkan masalah hukum terkait dengan larangan praktik monopoli dan persaingan tidak sehat. Banyak studi menunjukan bahwa kehadiran asing dalam industri perbankan domestik meningkatkan efisiensi. Sejalan dengan pemikiran bahwa tersebarnya kepemilikan akan membawa governance yang lebih baik. Konsep BHC kemudian diperluas menjadi Financial Hoding Company melalui Gramm Leach Bliley Act yang ditandatangi Presiden Clinton pada November 1999. Mendirikan perusahaan holding tidak saja menimbulkan kerumitan hukum karena UU No 40 tentang PT mewajibkan setiap perusahaan memiliki kegiatan usaha. tidak saja akan terjadi penyebaran kepemilikan tetapi juga akan membawa diterapkannya prinsip keterbukaan yang berlaku di pasar modal. Melalui go public. Pilihan ini mestinya tidak diambil. bila tujuan yang dicapai adalah membangun bank dan sistem perbankan yang sehat.

Dipandang dari kaca mata ekonomi pemilik yang tidak memiliki kewenangan dalam mengurus perusahaan dan hanya menjadi observer pasif konsisten dengan kepentingan terbaik pemegang saham. Keuntungan lain dari go public adalah mencegah terjadinya tarik ulur dalam melakukan reformasi. Baik melalui pencatatan di bursa domestik maupun di bursa negara lain. Dalam perspektif corporate governance. alokasi dan dinamisasi efisiensi pada sistem perbankan yang didominasi oleh bank milik pemerintah. . Sesuai ketentuan. meski tidak diseluruh negara berkembang. Survey yang dilakukan oleh bank sentral China menunjukan bahwa kredit macet yang terjadi pada bank BUMN Cina disebabkan oleh intervensi pemerintah. tanpa direcoki oleh “kepentingan” jangka pendek pemilik. Masalah ini muncul karena perusahaan milik pemerintah sering kali kelebihan karyawan. Melepaskan kepemilikan pemerintah pada bank BUMN tentunya menimbulkan pro-kontra. Bila opsi ini yang ditempuh maka cara yang efektif adalah melalui pasar modal.. PSP bertanggung jawab penuh kalau bank mengalami kesulitan keuangan. diberlakukannya ketentuan SPP merupakan momentum bagi pemerintah untuk mengkaji ulang untung rugi memiliki bank baik dalam kerangka kesehatan sistem perbankan maupun kesehatan bank secara individu. Sementara itu sebagai perusahaan milik negara. listing akan menimbulkan kewajiban transparansi dan memperkuat monitoring oleh masyarakat. Secara konsep privatisasi dapat terjadi atas dasar kemauan politik (paksaan) maupun secara sukarela. bank BUMN memiliki kinerja yang kurang cemerlang.[34] Privatisasi harus dalam bentuk menjual dan menyebarkan kepemilikan kepada masyarakat sehingga akan terjadi pemisahan antara kepemilikan dan kepengurusan yang dalam literatur korporasi dikenal dengan Berle-Means Corporation.[33] Pilihan optimal adalah melepas kepemilikan pemerintah pada bank BUMN. Tujuan akhir dari listing adalah menerapkan keseluruhan sistem pasar berupa insentif dan disinsentif pada bank BUMN. Di negara berkembang hal disebabkan besarnya dominasi perusahaan milik pemerintah dalam kegiatan perekonomian sehingga pengalihan kepemilikan dari pemerintah kepada swasta merupakan masalah serius sehingga sering sarat dengan kepentingan politik. Risiko bila pemerintah tetap mempertahankan diri menjadi PSP adalah bertanggungjawab secara finansial apabila bank mengalami kesulitan keuangan. Sementara itu. Artinya listing akan menciptakan pengawasan publik dalam arti sebenarnya. [36] Untuk mencapai hasil optimal tentu saja sebelum melakukan listing. Pengelolaan oleh outsider ini akan meningkatkan kinerja bank sehingga pajak yang diterima pemerintah meningkat. Tiga puluh persen kredit macet terjadi karena intervensi pemerintah pusat atau pemerintah daerah. Akan tetapi pemisahaan tersebut tidak sejalan dengan kebutuhan psikologis pemilik yaitu kebutuhan turut berpartisipasi dan terlibat aktif mengawasi perusahaan. Namun demikian harus diingat bahwa listing di bursa hanya langkah awal dalam mereformasi bank BUMN. Di banyak negara terbukti bahwa kepemilikan swasta merupakan pilihan terbaik. dililit kredit macet melebihi jumlah yang dapat ditolerir. dibutuhkan prosedur khusus yang tidak efisien untuk dilaksanakan. Kenyataan yang sama juga terjadi pada privatisasi di negara berkembang. Hanya saja pemisahaan antara pemilik dengan pengurus akan menghilangkan dominasi pemilik atas perusahaan. Di sektor perbankan kepemilikan pemerintah menunjukan kaitan yang erat dengan lambannya perkembangan sektor keuangan serta pertumbuhan produktivitas yang rendah. Di banyak negara terlebih lagi di negara berkembang issu kepemilikan pemerintah versus kepemilikan swasta atas perusahaan memang merupakan perdebatan hangat.[31] Banyak studi menunjukan bahwa terjadi penurunan produktivitas. Melepaskan kepemilian pemerintah bukan hanya sebatas privatisasi dalam pengertian mengubah kepemilikan pemerintah menjadi kepemilikan swasta. Sebagai milik pemerintah.[35] Oleh karena itu melepaskan kepemilikan pemerintah pada bank BUMN membutuhkan adanya kemauan politik. [32] Kehadiran bank BUMN dalam sistem perbankan juga membawa masalah yaitu timpangnya medan permainan. Pengalaman menunjukan. Bukti empiris menunjukan bahwa perusahaan swasta seringkali beroperasi lebih efisien dibandingkan perusahaan negara. Terpecahnya kepemilikan akan menjadikan pengurusan dilakukan oleh outsider. Dengan melakukan privatisasi pastilah sebagian dari karyawan tersebut akan mengalami pemutusan hubungan kerja dan memicu munculnya gejolak sosial. misalnya dengan melakukan buy back. terlepas dari kesulitan keuangan tersebut diakibatkan kesalahan PSP. Kondisi ini dapat dilihat dari ratio antara asset dan karyawan. bank BUMN mendapat keuntungan tertentu.pilihan paling mudah tetapi sekaligus pilihan buruk karena pada dasarnya kementerian negara BUMN berfungsi sebagai holding. Seperti misalnya untuk menyelesaikan kredit macet. kinerja bank harus diperbaiki dan neraca bank dibersihkan dari obligasi rekap. Kepemilikan tersebar memiliki keunggulan tersendiri. Studi yang dilakukan setelah privatisasi menunjukan terjadinya peningkatan dalam portfolio pinjaman dan peningkatan efisiensi. Bank BUMN juga terkendala atauran main yang berlaku khusus untuk perusahaan milik negara. Pilihan ini merupakan yang terbaik untuk kepentingan pemerintah maupun bagi sistem perbankan. Issu yang tidak kalah pentingnya dalam melakukan privatisasi adalah munculnya masalah pemutusan hubungan kerja.

Kesepakatan ini menjadi dasar berdirinya perusahaan. Ukuran efisiensi beragam. Hukum perusahaan menciptakan serangkaian ketentuan mengikuti keinginan investor yang umumnya ditetapkan dalam konrak. Biaya transaksi dapat diturunkan dengan desain organisasi suatu perusahaan. Dengan kondisi demikian tidaklah mengherankan apabila kinerja bank-bank milik pemerintah daerah tersebut menjadi buruk. dalam memahami perusahaan melibatkan pandangan yang melihat perusahaan sebagai fenomena sosial. Teori konsesi merupakan teori “jalan tengah. Menerapkan ekonomi pasar terhadap hukum perusahaan melibatkan pandangan yang melihat perusahaan . Menjadi direksi atau komisaris dan jabatan tinggi lainnya di bank. Individu lebih memiliki legitimasi melakukan kegiatan komersial dalam bentuk badan usaha dibandingkan dengan negara. Kondisi ini terjadi karena pemerintah daerah yakin bahwa bank sentral akan menjamin bahwa bank-bank milik pemerintah daerah tersebut tetap solven.Untuk mendorong terjadinya privatisasi secara sukarela dibutuhkan adanya serangkaian regulasi yang dapat meningkatkan biaya politik miliki perusahaan. Menurut Pareto efisiensi mensyaratkan bahwa seseorang diuntungkan dan tidak ada orang lain yang dirugikan. Model. Keuntungan politik menonjol yang dinikmati oleh pemerintah daerah adalah mereka dapat membiayai operasinya dengan biaya murah. Legal contractualism mengajarkan bahwa dua pihak atau lebih sepakat membuat kontrak untuk melakukan kegiatan usaha. Oleh sebab itu. Hal ini hanya dapat dilakukan dengan mempelajari landasan historis dan teoritis serta pembentukan perusahaan sebagai suatu konsep dari berfungsinya suatu perusahaan sebagai suatu entitas dinamis. Dalam kaitannya dengan SPP. Perilaku seperti ini menimbulkan masalah bagi pihak yang menerapkan regulasi meski secara minimal. Economic contractualism mengajarkan bahwa perusahaan secara tradisional merupakan perkumpulan sukarela antara para pemegang saham dan bukan ciptaan negara. Alokasi efisiensi tidak akan terjadi kecuali seluruh biaya yang timbul dalam transaksi dapat diserap. pilihan manapun yang akan diambil. teori komuniter dan teori konsesi. Kondisi ini berakhir pada tahun 1991 dengan diberlakukannya convertibility law yang antara lain melarang bank sentral bertindak sebagai lender of last resort dalam hal terjadinya kebangkrutan bank. Dengan demikian bila suatu perusahaan melakukan polusi sebuah sungai yang mengakibatkan kerusakan bagi pengguna sungai tersebut tetapi tidak dikenakan denda maka barang yang diproduksi oleh perusahaan tersebut menjadi dibawah harga. Teori ini dilandaskan pada rasionalitas. Teori kontrak dan teori komuniter mewakili dua kutub ektrim berbeda karena merefleksikan perusahaan sebagai produk laissez-faire dan perusahaan sebagai alat pemerintah. Pelaku yang rasional adalah pelaku yang membuat pilihan rasional dengan menggunakan informasi lengkap dan sempurna yang dimilikinya. pengalaman Argentina melakukan privatisasi dapat dijadikan pelajaran. Teori tentang keberadaan perusahaan diperlukan untuk memahami model pengurusan perusahaan yang tepat. Terdapat tiga teori yang berkaitan dengan hal ini yaitu teori kontraktual. sulit untuk mendiskusikan apakah suatu perusahaan telah bertindak tidak bertanggung jawab ketika perusahaan tersebut menutup pabrik miliknya dan memberhentikan karyawan tanpa mempertimbangkan pandangan tentang peranan perusahaan dalam masyarakat. satu hal yang penting adalah pilihan itu harus bertujuan untuk menciptakan bank dan system perbankan yang sehat sehingga tidak menjadi beban keuangan pemerintah. Pelaku rasional memanfaatkan informasi lengkap akan menghasilkan alokasi maksimal efisiensi dengan membuat pilihan yang mengeksploitasi kompetisi di pasar.”[37] Teori kontrak dapat dipahami dari dua pendekatan yaitu legal contractualism dan economic contractualism. Teori tersebut juga berpengaruh pada tingkat intervensi pemerintah yang dipandang perlu dalam menjalankan perusahaan.model perusahaan yang diadopsi oleh berbagai jurisdiksi dipengaruhi oleh teori tentang letak suatu perusahaan di masyarakat. E. Untuk itu. efisiensi dan informasi. Kondisi ini yang pada gilirannya membuat para pemilik bank lebih mempertimbangkan untuk melakukan privatisasi. Penutup Perusahaan adalah produk dan bagian dari suatu masyarakat. Kepercayaan ini menyebabkan munculnya masalah dalam penerapan corporate governance pada bankbank tersebut karena rendahnya insentif bagi pemerintah daerah untuk mengawasi kinerja bank dan membiarkan politisi lokal menggunakan bank untuk kepentingan politik mereka dengan biaya murah. Teori kontrak mendudukan perusahaan dalam ranah hukum perdata dan menyatakan bahwa legitimasi kewenangan perusahaan berasal dari aktivitas kewirausahaan para anggota dan meminimalkan kewenangan negara dalam bentuk pengaturan. Larangan itu mengurangi keuntungan memiliki bank dan sekaligus meningkatkan risiko menjadi pemilik bank yang memiliki kinerja buruk. Disamping itu. Pada awal tahun 1990an masing-masing provinsi di Argentina memiliki bank sendiri. Sebagai contoh. pemerintah daerah juga menggunakan bank untuk mencari dukungan politik dengan imbalan pemberian kredit murah dan penyediaan lowongan jabatan.

Robert dan Nell Minow. Terjadinya cross-ownership yang pada gilirannya menimbulkan benturan kepentingan dan membuka kemungkinan terjadinya penyalahgunaan bank untuk mendukung kepentingan usaha pribadi pemegang saham maupun pengurus.bukan sebagai institusi yang bebas tetapi merupakan suatu jaringan dari tawar menawar diantara pihakpihak yang terlibat yang seluruhnya bertindak rasional berdasarkan informasi lengkap. New York: Thomson Corporation. April 2008 oo ooo Daftar Pustaka Goeltom. Third Edition. Pengawasan internal akan berjalan efektif apabila bank dimiliki oleh banyak pemegang saham. Oleh karena itu penerapan kebijakan SPP dalam kerangka konsolidasi perbankan perlu dilakukan untuk merestrukturisasi kepemilikan bank. Gunawan. Carl-Johan . Benton E. Jalan keluar yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan adalah dengan mengefektifkan pengawasan internal. Situasi ini mengakibatkan fungsi pengawasan internal sebagai first line of defenses menjadi kurang efektif menyebabkan pengawasan bank tergantung sepenuhnya kepada pengawas eksternal. et. (Jakarta: Rajawali Pers. 2008) Chaikin. Ajaran ini menimbulkan dua konsekwensi. (International Monetary Fund. Bukan atas dasar besarnya saham yang dimiliki. Tidak adanya pemegang saham mayoritas akan menciptakan pengurus bank dilakukan oleh para profesional berdasarkan kompetensi yang mereka miliki. Kegunaan hukum perusahaan adalah untuk mencegah biaya tinggi dalam tawar menawar yang dilakukan individu dengan individu lainnya. Model perusahaan berdasarkan teori ini banyak diterapkan di bekas negara komunis dan fasis Italia. Tersebarnya kepemilikan juga akan menciptakan terjadinya pengawasan diantara para pemilik. Pendekatan economic contractulism merupakan pendekatan ekstrim dari teori kontrak yang banyak mendapat kritik. Bahkan untuk pengawasan bisnis sehari-hari (day to day business). Miranda S. Negara menggunakan perusahaan untuk mencapai tujuannya. The New Basel Capital Accord. 2004 Lindgren. Standar untuk mengukur manfaat suatu perusahaan tidak didasarkan pada kemampuan memakmurkan individu tetapi kemampuan membantu masyarakat meningkatkan arti kehidupan bermasyarakat dengan jalan menghormati martabat seseorang dan mendorong kesejahteraan bersama. Corporate Governance. perusahaan tidak memiliki indentitas komersial yang kuat karena merupakan alat politik dengan tujuan beragam.G. Bank Soundness and Macroeconomic Policy. Teori communitaire melihat status perusahaan tidak saja sebagai konsesi dari negara tetapi juga sebagai instrumen ciptaan negara yang dapat dimanfaatkan. Hukum perusahaan dengan demikian dapat menurunkan biaya transaksi. . Efektifitas pengawasan terkait erat dengan pola dan struktur kepemilikan bank. Australian Journal of Corporate Law (2006) A. 1996) Widjaya. The Banking System in Emerging Economies: How Much Progress Has Been Made. Pertama. David A. Konsentrasi kepemilikan bank misalnya memungkinkan timbulnya campur tangan pemilik secara berlebihan dalam kepengurusan bank. Pancoran. Walaupun tujuan yang beragam akan memberikan tanggung jawab sosial besar tetapi pada gilirannya dapat melepaskan fokus komersialnya. Pola dan struktur kepemilikan bank merupakan suatu yang sangat kritis dalam mencapai praktik perbankan yang sehat. (Bank for Internasional Settlement: Agustus 2006) Gup. Transplantasi Trust dalam KUH Perdata dan Undang Undang Pasar Modal. Indonesia’s Banking Industry: Progress to Date. Konsep kewajiban fiducia sebagai salah satu metode mengawasi pengambilan keputusan perusahaan di tolak oleh pendekatan economic contractualism sebagai campur tangan negara yang tidak dikehendaki.al. “Penetrating Foreign Nominees: A Failure of Strategic Regulation?. (Malden: Blackwell Publishing. Konsentrasi kepemilikan bank baik bank milik pemerintah (state-owned bank) maupun bank milik swasta telah menimbulkan permasalahan tersendiri dalam pengawasan.

Goeltom. 2004) McConvill. Carl-Johan Lindgren. Tri.109 . (Bank for Internasional Settlement: Agustus 2006) Walter. Mergers and Acquisitions in Banking and Finance What Works. Pasal 26 huruf c UU No. Nugraha. (Cambridge: Harvard University Press. Ingo. The New Basel Capital Accord. Frank H. Company Lawyer Foot notes [1]. Terry dan Gordon Walker. Journal of Legal Studies. Asosiasi & Persaingan Usaha Tidak Sehat. International Company and Commercial Law Review (2007) Dine. Ibid. hal. PSP adalah badan hukum dan atau perorangan dan atau kelompok usaha yang: a) memiliki saham suatu bank sebesar 25% atau lebih dari jumlah saham yang dikeluarkan bank dan mempunyai hak suara. Vol. (Cambridge: Cambridge University Press. Janet. and Why. hal. “Privatisation. (International Monetary Fund.al. BHC adalah Perusahaan Induk di Bidang Perbankan berbentuk badan hukum yang dibentuk dan atau dimiliki oleh pemegang saham pengendali untuk menkonsolidasikan dan mengendalikan secara langsung seluruh aktivitas bankbank yang merupakan anak usahanya [8]. The Economic Structure of Corporate Law. 2006) Milhaljek. The Bankers. “The Separation of Ownership and Control Under a Happines-Based Theory of the Corporation”. et. Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak Sehat Perse Illegal atau Rule of Reason (Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia. “Indonesia’s Banking Industry: Progress to Date”. Zhou. (Bank for Internasional Settlement: Agustus 2006). hal. The Banking System in Emerging Economies: How Much Progress Has Been Made. (Medan: Pustaka Bangsa Press. 374 U. XXX (June 2001) Reid. Modal inti terdiri dari modal disetor dan cadangan tambahan modal [4].23 Tahun 1999 tentang Bank Indonesia sebagaimana telah diubah dengan UU No. “Determinant of Corporate Ownership: The Question of Legal Origin: Part I”. (New York: Thomson Corporation. “Does Law Matter? The Separation of Ownership and Control in The United Kingdom”. 2004). Bank Soundness and Macroeconomic Policy. What Fails. Privatisation State Enterprises in the 20th Century a Step Forwards or Backwards. 2004) United States v. (New York: Oxford University Press. Xiaochuan. “Some Issues concerning the Reform of the State-Owned Commercial Banks”. Ningrum Natasya. Philadelphia National Bank.187 [3]. 363 (1963) Anggraini.M.S. The Banking System in Emerging Economies: How Much Progress Has Been Made. 321. hal. at the Spring Membership Conference.105 [10]. Direktorat Penelitian dan Pengembangan Perbankan [5]. atau dapar dibuktikan telah mengendalikan bank baik langsung maupun tidak langsung meskipun saham yang dimiliki kurang dari 25% [7]. dan Daniel R. 2002 Pekmezovic. Gup. Speech by Zhou Xiochuan. A. Benton E. James. The Governance of Corporate Groups. Brian R. Bank Indonesia. Miranda S. Alma. Shanghai. Consolidation and Increased Role of Foreign Banks”. 2003) 2003) Sirait. (Fakultas Hukum UI. Fischel. Governor of the People’s Bank of China.244 [2]. edisi July 2007 [6]. “Upgrading Corporate Governance in East Asia: Part 2. 16 April 2004 Nugraha.3 Tahun 2004 [9]. 1996). Dubravko. Journal of International Banking Law. 1996) Cheffins.2004) Easterbrook.

G. [22]Ibid.cit. Easterbrook dan Daniel R. Gunawan Widjaya. 470 [23]Ibid. luasnya lingkup kajian tentang hal ini tentunya lebih tepat bila dilakukan dalam penelitian [16]. hal. (Malden: Blackwell Publishing.65 Sehat Perse Illegal atau Rule of Reason (Jakarta: Program Pascasarjana Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 2004). Op. hal. hal. URI Lacak Balik . Ningrum Natasya Sirait. Transplantasi Trust dalam KUH Perdata dan Undang Undang Pasar Modal.[11]. “The Separation of Ownership and Control Under a Happines-Based Theory of the Corporation”. Meski pemerintah telah hal. “Does Law Matter? The Separation of Ownership and Control in The United Kingdom”. Shanghai.M.49 [31]. “Penetrating Foreign Nominees: A Failure of Strategic Regulation?. The Governance of Corporate Groups.97 [25]. hal.2 [20] Brian R. [33]. Op. dan Nell Minow. hal. 321. (Cambridge: Cambridge University Press. Ibid [15]. Dubravko Mihaljek. 1996). hal. James McConvill. 2008). Dubravko Mihaljek. Journal of Legal Studies. Asosiasi & Persaingan Usaha Tidak Sehat. 2004). Journal of International Banking Law. 2003). 16 April 2004 mengeluarkan Peraturan Pemerintah No. The Banking System in Emerging Economies: How Much Progress Has Been Made. “Some Issues concerning the Reform of the State-Owned Commercial Banks”. The Economic Structure of Corporate Law. hal. Op. Fischel. 2002. 2003). Mengingat tersendiri. (Bank for Internasional Settlement: Agustus 2006). Zhou Xiaochuan. hal 9 [30]. Dubravko Mihaljek. “Privatisation. (New York: Oxford University Press. hal. Australian Journal of Corporate Law (2006) [14]. 3 2 Tanggapan » RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.cit.cit [37] Janet Dine. (Cambridge: Harvard University Press. hal. hal. hal. hal. Safri Nugraha. 374 U. A.9 [27]. Vol. “Upgrading Corporate Governance in East Asia: Part 2. Cheffins. Tri Anggraini. Ibid. “Determinant of Corporate Ownership: The Question of Legal Origin: Part I”. hal. Consolidation and Increased Role of Foreign Banks”. Zhou Xiaochuan. at the Spring Membership Conference. Corporate Governance. Op. 474 [24] Alma Pekmezovic.cit. XXX (June 2001).1 [18] Brian R. hal 16 [13]. (Medan: Pustaka Bangsa Press. [17] Frank H. 2006). Philadelphia National Bank. 363 (1963) [28].33 Tahun 2006 tentang Tata Cara Penghapusan Piutang Negara/Daerah dan Mahkamah Agung menerbitkan fatwa yang pada intinya menyatakan bahwa piutang BUMN bukan piutang negara. International Company and Commercial Law Review (2007). Cheffins. 15 [32]. hal. Speech by Zhou Xiochuan. Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Tidak [29]. (Fakultas Hukum UI. 2004). Third Edition. United States v. [34]. 102 Robert A. 459. hal. 4 [12]. Mergers and Acquisitions in Banking and Finance What Works. Ingo Walter. hal. and Why. 462 [21] Ibid.47 [26]. bank BUMN masih enggan menerapkannya karena khawatir terhadap konsekwensi hukum yang ditimbulkan. What Fails. 462 [19] Terry Reid dan Gordon Walker. Governor of the People’s Bank of China.42 [35]. (Jakarta: Rajawali Pers. Privatisation State Enterprises in the 20th Century a Step Forwards or Backwards. David A Chaikin.S. Company Lawyer 2005 [36].

Di manakah tanggung jawab moral dan tanggungjawab professional Badan Pengawas Pasar Modal ? silahkan tanya kepada ketuanya. menyampaikan terima kasih jika berkenan mengunjungi blog kami] Komentar oleh Jaringan LSM untuk Indonesia — Juli 9. Mengapa BapepamLK tutup mata dan tutup telinga melihat realita ini ? [Yohan Putera Soemarna. Komentar oleh Capital Market Care — Juli 11. Kami sangat prihatin pasar modal dijadikan permainan oleh segelintir orang untuk mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. mengapa ? Pertama mereka memobilisasi investor dari pinggir jalan yang didandani bak investor betulan (dikasih dasi dan jas. lawan Adaro yang masih bersengketa dengan Beckkett akan mengajukan gugatan kepada Bapepam pada 17 Juli 2008.1. Komunitas bursa saham kita telah dinodai oleh emiten penumpang gelap yang menghalalkan berbagai cara : termasuk memobilisasi “investor” abal-abal yang berasal dari jalanan. Fuad Rahmani. 2008 # . didandani dengan dasi dan jas biar mirip investor betulan dalam antre pemesanan formulir saham PT Adaro Energy Tbk. 2008 # 2. IPO Adaro menjadi preseden buruk baru bursa saham. Kedua. sementara Listing Perdana 16 Juli 2008.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->