Enter your search terms

Search

þÿ

Submit search form

Monday, October 1, 2007
Hukum Indonesia
Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa, hukum Agama dan hukum Adat. Sebagian besar sistem yang dianut, baik perdata maupun pidana, berbasis pada hukum Eropa kontinental, khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie). Hukum Agama, karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam, maka dominasi hukum atau Syari'at Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan, kekeluargaan dan warisan. Selain itu, di Indonesia juga berlaku sistem hukum Adat, yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah Nusantara. Hukum perdata Indonesia Salah satu bidang hukum yang mengatur hak dan kewajiban yang dimiliki pada subyek hukum dan hubungan antara subyek hukum. Hukum perdata disebut pula hukum privat atau hukum sipil sebagai lawan dari hukum publik. Jika hukum publik mengatur hal-hal yang berkaitan dengan negara serta kepentingan umum (misalnya politik dan pemilu (hukum tata negara), kegiatan pemerintahan sehari-hari (hukum administrasi atau tata usaha negara), kejahatan (hukum pidana), maka hukum perdata mengatur hubungan antara penduduk atau warga negara sehari-hari, seperti misalnya kedewasaan seseorang, perkawinan, perceraian, kematian, pewarisan, harta benda, kegiatan usaha dan tindakantindakan yang bersifat perdata lainnya. Ada beberapa sistem hukum yang berlaku di dunia dan perbedaan sistem hukum tersebut juga mempengaruhi bidang hukum perdata, antara lain sistem hukum Anglo-Saxon (yaitu sistem hukum yang berlaku di Kerajaan Inggris Raya dan negara-negara persemakmuran atau negara-negara yang terpengaruh oleh Inggris, misalnya Amerika Serikat), sistem hukum Eropa kontinental, sistem hukum komunis, sistem hukum Islam dan sistem-sistem hukum lainnya. Hukum perdata di Indonesia didasarkan pada hukum perdata di Belanda, khususnya hukum perdata Belanda pada masa penjajahan. Bahkan Kitab Undang-undang Hukum Perdata (dikenal KUHPer.) yang berlaku di Indonesia tidak lain adalah terjemahan yang kurang tepat dari Burgerlijk Wetboek (atau dikenal dengan BW)yang berlaku di kerajaan Belanda dan diberlakukan di Indonesia (dan wilayah jajahan Belanda) berdasarkan azas konkordansi. Untuk Indonesia yang saat itu masih bernama Hindia Belanda, BW diberlakukan mulai 1859. Hukum perdata Belanda sendiri disadur dari hukum perdata yang berlaku di Perancis dengan beberapa

penyesuaian. Kitab undang-undang hukum perdata (disingkat KUHPer) terdiri dari empat bagian, yaitu: * Buku I tentang Orang; mengatur tentang hukum perseorangan dan hukum keluarga, yaitu hukum yang mengatur status serta hak dan kewajiban yang dimiliki oleh subyek hukum. Antara lain ketentuan mengenai timbulnya hak keperdataan seseorang, kelahiran, kedewasaan, perkawinan, keluarga, perceraian dan hilangnya hak keperdataan. Khusus untuk bagian perkawinan, sebagian ketentuan-ketentuannya telah dinyatakan tidak berlaku dengan di undangkannya UU nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan. * Buku II tentang Kebendaan; mengatur tentang hukum benda, yaitu hukum yang mengatur hak dan kewajiban yang dimiliki subyek hukum yang berkaitan dengan benda, antara lain hak-hak kebendaan, waris dan penjaminan. Yang dimaksud dengan benda meliputi (i) benda berwujud yang tidak bergerak (misalnya tanah, bangunan dan kapal dengan berat tertentu); (ii) benda berwujud yang bergerak, yaitu benda berwujud lainnya selain yang dianggap sebagai benda berwujud tidak bergerak; dan (iii) benda tidak berwujud (misalnya hak tagih atau piutang). Khusus untuk bagian tanah, sebagian ketentuan-ketentuannya telah dinyatakan tidak berlaku dengan di undangkannya UU nomor 5 tahun 1960 tentang agraria. Begitu pula bagian mengenai penjaminan dengan hipotik, telah dinyatakan tidak berlaku dengan di undangkannya UU tentang hak tanggungan. * Buku III tentang Perikatan; mengatur tentang hukum perikatan (atau kadang disebut juga perjanjian (walaupun istilah ini sesunguhnya mempunyai makna yang berbeda)), yaitu hukum yang mengatur tentang hak dan kewajiban antara subyek hukum di bidang perikatan, antara lain tentang jenis-jenis perikatan (yang terdiri dari perikatan yang timbul dari (ditetapkan) undang-undang dan perikatan yang timbul dari adanya perjanjian), syarat-syarat dan tata cara pembuatan suatu perjanjian. Khusus untuk bidang perdagangan, Kitab undang-undang hukum dagang (KUHD) juga dipakai sebagai acuan. Isi KUHD berkaitan erat dengan KUHPer, khususnya Buku III. Bisa dikatakan KUHD adalah bagian khusus dari KUHPer. * Buku IV tentang Daluarsa dan Pembuktian; mengatur hak dan kewajiban subyek hukum (khususnya batas atau tenggat waktu) dalam mempergunakan hak-haknya dalam hukum perdata dan hal-hal yang berkaitan dengan pembuktian. Sistematika yang ada pada KUHP tetap dipakai sebagai acuan oleh para ahli hukum dan masih diajarkan pada fakultas-fakultas hukum di Indonesia. Hukum pidana Indonesia Berdasarkan isinya, hukum dapat dibagi menjadi 2, yaitu hukum privat dan hukum publik (C.S.T Kansil).Hukum privat adalah hukum yg mengatur hubungan orang perorang, sedangkan hukum publik adalah hukum yg mengatur hubungan antara negara dengan warga negaranya. Hukum pidana merupakan bagian dari hukum publik. Hukum pidana terbagi menjadi dua bagian, yaitu hukum pidana materiil dan hukum pidana formil. Hukum pidana materiil mengatur tentang penentuan tindak pidana, pelaku tindak pidana, dan pidana (sanksi). Di Indonesia, pengaturan hukum pidana materiil diatur dalam kitab undang-undang hukum pidana (KUHP). Hukum pidana formil mengatur tentang

Hukum acara pidana Indonesia Hukum acara pidana Indonesia adalah hukum yang mengatur tentang tata cara beracara (berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum pidana. yaitu pemeriksaan tindak pidana dilakukan secara terbuka untuk umum (pasal 64 KUHAP). struktur kelembagaan. Asas dalam hukum acara pidana Asas didalam hukum acara pidana di Indonesia adalah: * Asas perintah tertulis. . dan tidak memihak. biaya ringan. yaitu segala tindakan hukum hanya dapat dilakukan berdasarkan perintah tertulis dari pejabat yang berwenang sesuai dengan UU. Hukum tata usaha (administrasi) negara Hukum tata saha (administrasi) negara adalah hukum yang mengatur kegiatan administrasi negara. wilayah dan warga negara.kesamaanya terletak dalam hal kebijakan pemerintah . bahkan wajib memperoleh bantuan hukum guna pembelaan atas dirinya (pasal 54 KUHAP). yaitu tersangka/terdakwa tidak dibebani kewajiban pembuktian (pasal 66 KUHAP). hukum administarasi negara memiliki kemiripan dengan hukum tata negara. yaitu serangkaian proses peradilan pidana (dari penyidikan sampai dengan putusan hakim) dilakukan cepat. pembentukan lembaga-lembaga negara. pengaturan hukum pidana formil telah disahkan dengan UU nomor 8 tahun 1981 tentang hukum acara pidana (KUHAP). Di Indonesia. * Asas peradilan cepat. jujur. kecuali diatur lain oleh UU.pelaksanaan hukum pidana materiil. hubungan hukum (hak dan kewajiban) antar lembaga negara. * Asas memperoleh bantuan hukum. Hukum tata negara Hukum tata negara adalah hukum yang mengatur tentang negara. yaitu setiap orang punya kesempatan. * Asas terbuka.sedangkan dalam hal perbedaan hukum tata negara lebih mengacu kepada fungsi konstitusi/hukum dasar yang digunakan oleh suatu negara dalam hal pengaturan kebijakan pemerintah. jujur. dan adil (pasal 50 KUHAP).untuk hukum administrasi negara Hukum acara perdata Indonesia Hukum acara perdata Indonesia adalah hukum yang mengatur tentang tata cara beracara (berperkara di badan peradilan) dalam lingkup hukum perdata. Hukum acara pidana di Indonesia diatur dalam UU nomor 8 tahun 1981. yaitu antara lain dasar pendirian. sederhana. ringkas. Yaitu hukum yang mengatur tata pelaksanaan pemerintah dalam menjalankan tugasnya . * Asas pembuktian.

konsultan hukum. Dalam hukum Islam. maka di akhirat orang tersebut sudah tidak diproses lagi. maka termasuk orang yang kafir". penasihat hukum. Pengacara sesuai dengan kata-kata secara harfiah dapat diartikan sebagai orang yang beracara. karena dalam penjara tidak ada penghapusan dosa sebagai ganti hukuman di akhirat. jadi dalam hukum Islam tidak mengenal penjara. Jadi umat Islam harus menegakkan hukum syariat Islam secara keseluruhan. pengacara. baik yang tergabung dalam suatu kantor secara bersama-sama atau secara individual yang . penasihat hukum . sedangkan hukum di Indonesia berasal dari Pancasila dan UUD 1945. seperti advokat. sebutan bagi seseorang yang berprofesi memberikan bantuan hukum secara swasta .yang semula terdiri dari berbagai sebutan. berzina dihukum rajam. advokat dan lainnya. Hukum Islam berasal dari Al Quran. konsultan hukum. Sebelum berlakunya UU nomor 18 tahun 2003. karena Allah telah memerintahkan agar ummat-Nya masuk Islam secara keseluruhan (QS 2:208). karena akan bertentangan dengan hukum yang berlaku di Indonesia itu sendiri. Advokat dan pengacara Kedua istilah ini sebenarnya bermakna sama. Demikian juga dalam ayat 45.adalah advokat. istilah untuk pembela keadilan plat hitam ini sangat beragam. sedangkan di Indonesia berzina hukumannya adalah penjara. mulai dari istilah pengacara.Hukum antar tata hukum Hukum antar tata hukum adalah hukum yang mengatur hubungan antara dua golongan atau lebih yang tunduk pada ketentuan hukum yang berbeda. Hukum Islam di Indonesia Hukum Islam di Indonesia belum bisa ditegakkan secara menyeluruh. dan 47. Di dalam Al Quran surat 5:44. karena telah diproses sesuai dengan ketentuan yang ada dalam kitab-Nya. Al Qur'an. yang berarti individu. Barangsiapa yang memutuskan sesuatu tidak dengan yang Allah turunkan. walaupun ada beberapa pendapat yang menyatakan berbeda. Apabila di dunia orang yang bersalah telah dihukum sesuai syariat Islam. Hukum adat di Indonesia Artikel utama: Hukum Adat di Indonesia Hukum adat adalah seperangkat norma dan aturan adat yang berlaku di suatu wilayah. Istilah hukum Advokat Sejak berlakunya UU nomor 18 tahun 2003 tentang advokat.

akan dikirimkan ke kejaksaan untuk dipersiapkan masa persidangannya di pengadilan. Apabila telah dijatuhkan putusan. menyelidiki. Setelah lengkap. dalam sistem hukum yang berlaku di negara masing-masing. Untuk di Indonesia.menjalankan profesi sebagai penegak hukum plat hitam di pengadilan. Keterangan tersebut terhimpun dalam berita acara pemeriksaan (BAP) yang apabila dinyatakan P21 atau lengkap. Dahulu yang membedakan keduanya yaitu Advokat adalah seseorang yang memegang izin ber"acara" di Pengadilan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehakiman serta mempunyai wilayah untuk "beracara" di seluruh wilayah Republik Indonesia sedangkan Pengacara Praktek adalah seseorang yang memegang izin praktek / beracara berdasarkan Surat Keputusan Pengadilan Tinggi setempat dimana wilayah beracaranya adalah "hanya" diwilayah Pengadilan Tinggi yang mengeluarkan izin praktek tersebut. maka kejaksaan akan melakukan proses penuntutan perkara. maka pelaku (tersangka) akan diminta keterangan. tersangka akan diminta keterangannya mengenai tindak pidana yang diduga terjadi. yang akan disidang dalam pengadilan. 18 th 2003 berlaku maka yang berwenang untuk mengangkat seseorang menjadi Advokat adalah Organisasi Advokat.com/2007/10/hukumindonesia. Dalam masa penahanan. untuk dilengkapi. Pada tahap ini. pengacara.html . atau tertentu. maka status terdakwa berubah menjadi terpidana. baik pidana maupun perdata. Posted by Admin at 10:14 AM http://makalah-gratis. sejak UU nomor 18 tahun 2003 berlaku. menyidik suatu tindak pidana yang terjadi dalam ruang lingkup wilayahnya. Kejaksaan akan menjalankan fungsi pengecekan BAP dan analisa bukti-bukti serta saksi untuk diajukan ke pengadilan. Sementara advokat dapat bergerak dalam pengadilan. Setelah UU No. baik khusus maupun umum. Sejak diundangkannya UU nomor 18 tahun 2003. maka istilah-istilah tersebut distandarisasi menjadi advokat saja. dan apabila perlu akan ditahan. Kepolisian atau polisi berperan untuk menerima. maka kejaksaan akan mengembalikan berkas tersebut ke kepolisian. semua istilah mengenai konsultan hukum. penasihat hukum dan lainnya yang berada dalam ruang lingkup pemberian jasa hukum telah distandarisasi menjadi advokat. Selain tersangka.blogspot. pelaku (tersangka) telah berubah statusnya menjadi terdakwa. Jaksa dan polisi Dua institusi publik yang berperan aktif dalam menegakkan hukum publik di Indonesia adalah kejaksaan dan kepolisian. Apabila kejaksaan berpendapat bahwa bukti atau saksi kurang mendukung. Konsultan hukum Konsultan hukum atau dalam bahasa Inggris counselor at law atau legal consultant adalah orang yang berprofesi memberikan pelayanan jasa hukum dalam bentuk konsultasi. maupun bertindak sebagai konsultan dalam masalah hukum. Apabila ditemukan unsur-unsur tindak pidana. maka polisi juga memeriksa saksi-saksi dan alat bukti yang berhubungan erat dengan tindak pidana yang disangkakan.

Rumusan Masalah Melihat begitu kompleksnya perkara yang dihadapkan pada Peradilan Agama di Indonesia. Peradilan Agama merupakan Peradilan Perdata dan Peradilan Islam di Indonesia yang harus mengindahkan Peraturan Perundang-Undangan Negara dan Syari’at Islam sekaligus untuk mewujudkan hukum materiil Islam dalam batasan-batasan kekuasaannya. Dalam lingkungan Peradilan Agama di Indonesia. . memeriksa. Baik itu berupa sumber hukum materiil maupun sumber hukum formil. yaitu sumber hukum materiil dan sumber hukum formil (hukum acara). perlu diangkat mengenai sumber-sumber hukum yang dijadikan pedoman dalam setiap putusan di lingkungan Peradilan Agama. Dengan penegasan kewenangan Peradilan Agama tersebut dimaksudkan untuk memberikan dasar hukum kepada Pengadilan Agama dalam menyelesaikan perkara tertentu. sumber hukum yang dipakai atau dijadikan rujukan dalam memeriksa.BAB I PENDAHULUAN A. infaq. maka Peradilan Agama membutuhkan sumber hukum yang dijadikan pedoman (patokan) dalam memutuskan perkara yang diajukan kepadanya. B. memeriksa. Untuk melaksanakan tugas pokok Peradilan Agama yaitu menerima. Sumber hukum apa saja yang dijadikan pedoman Peradilan Agama dalam menerima. mengadili dan menyelesaikan setiap perkara serta menegakkan hukum dan keadilan. shodaqah dan ekonomi syari’ah. Peradilan Agama merupakan Badan Peradilan pelaku kekuasaan kehakiman untuk menyelenggarakan penegakan hukum dan keadilan bagi rakyat pencari keadilan suatu perkara tertentu antara orang-orang yang beragama Islam di bidang perkawinan. Sehingga dalam memutuskan untuk menyelesaikan perkara tersebut mempunyai kekuatan hukum yang kuat baik secara hukum positif dan syari’at Islam. hibah. wasiat. zakat. mengadili dan menyelesaikan perkara yang dihadapinya untuk mewujudkan penegakan hukum dan keadilan? BAB II SUMBER HUKUM PERADILAN AGAMA Sumber hukum adalah segala aturan perundang-undangan yang bersifat mengatur dan mempunyai kekuatan hukum yang dapat dijadikan rujukan/patokan dalam lingkungan peradilan baik dalam Peradilan Umum maupun Peradilan Agama dalam memutuskan suatu perkara. Peradilan Tata Usaha Negara dan Peradilan Militer. wakaf. termasuk aturan pelaksanaannya serta memperkuat landasan hukum Mahkamah Syari’ah dalam melaksanakan kewenangannya di bidang jinayah berdasarkan qanun. waris. yaitu: 1. memutuskan dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan secara garis besar terbagi menjadi dua. Latar Belakang Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan dalam Pasal 24 ayat (2) bahwa Peradilan Agama merupakan salah satu lembaga di lingkungan Peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung bersama Badan Peradilan lainnya di lingkungan Peradilan Umum.

Selain itu sumber hukum meteriil selama ini bukanlah hukum yang tertulis sebagaimana hukum positif. pemerintahan dan ekonomi pada masa kolonial Belanda. 45 Tahun 1957 tentang Pembentukan Peradilan Agama di luar Jawa dan Madura. sehingga hal ini dilegalisasi oleh Ketentuan Pasal 27 Ayat (1) UU No. 25 Tahun 1985 Tanggal 25 Maret 1985 tentang Pelaksanaan Proyek Pembentukan Kompilasi Hukum Islam. Hal ini disebabkan pengambilan rujukan kitab-kitab fiqh yang berbeda-beda. kewarisan dan perwakafan menjadi hukum yang tertulis. 03 dan 04 Tahun 1983 dan kemudian dikukuhkan dengan UU No. 01. Hukum Materiil Peradilan Agama Hukum Materiil Peradilan Agama merupakan semua kaidah-kaidah hukum yang mengatur dalam Islam yang kemudian disebut dengan fiqh. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman bahwa seorang hakim mengadili. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Begitu banyak kaidah-kaidah yang mengatur Islam secara kompleks. maka Indonesia merintis Kompilasi Hukum Islam dengan SKB Mahkamah Agung RI dan Menteri Agama No. kewarisan dan perwakafan yang tidak tertulis. sering menimbulkan perbedaan ketentuan hukum mengenai masalah yang sama antara daerah satu dengan yang lain. namun secara riil Pengadilan Agama sesuai dengan ketentuan tersebut baru berjalan setelah adanya Skb. 23 Tahun 1954 tentang Hukum Perkawinan.A. 07/KMA/1985 dan No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. hal ini disebabkan adanya pengaruh-pengaruh politik. Untuk menjembatani dua pendapat tersebut maka pada tanggal 02 Januari 1974 disahkan UU No. wawancara dengan para ulama’. MA/123/1988 tentang pembentukan Kompilasi Hukum Islam guna memperoleh landasan . Atas dasar itu dalam mewujudkan kepastian hukum baik dibidang perkawinan. 02. melakukan lokakarya dan hasil kajian. serta berserakan dalam berbagai kitab ulama karena dari segi sosiokultural banyak mengandung khilafiyah (perbedaan). Sehingga untuk menengahi banyaknya perbedaan tersebut dikeluarkan Undang-Undang No. B/1/735 Tanggal 18 Februari 1958 yang merupakan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah No. Ketentuan ini didukung oleh Peraturan Pemerintah No. Mahkamah Agung dan Menteri Agama No. Namun demikian masih banyak dari hukum perkawinan. Setelah data-data terkumpul dan diolah dan menjadi naskah kompilasi diajukan oleh Menteri Agama kepada Presiden pada tanggal 14 Maret 1988 dengan Surat No. Banyak terjadi perbedaan tentang keberadaan sumber hukum materiil Peradilan Agama yang tidak tertulis ini. yang merupakan titik tolak awal pergeseran bagian hukum Islam menjadi hukum yang tertulis. Syari’at Islam begitu mudah dijalankan dalam menata kehidupan di dunia. dengan didukung fiqh yang sangat toleran terhadap perkembangan zaman. sehingga banyak terjadinya perbedaan putusan di Peradilan Agama terhadap kasus dan masalah yang sama. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik. Undang-Undang ini kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Biro Peradilan Agama No. menelaah kitab-kitab dan studi banding dengan negara-negara lain. Ketentuan ini disahkan tanggal 17 Desember 1970. memahami dan mengikuti nilainilai yang hidup dalam masyarakat. Talak dan Rujuk sebagai patokan bersama. Dimulai dengan inilah dilakukan pengumpulan data. Menurut perjalanan sejarah peradilan agama yang berjalan pada masa lalu mengalami pasang surut. Meskipun demikian banyak yang berpendapat hukum positif adalah hukum yang harus tertulis. untuk itu sesuai Surat Biro di atas ditetapkan 13 kitab fiqh Islam yang digunakan sebagai rujukan dalam memeriksa dan memutuskan perkara di lingkungan Peradilan Agama.

1847 No. sehingga muncullah Inpres. Reglement op de Burgerlijk Rechtsvordering (R. Misalnya pembebanan biaya perkara pada pemohon/penggugat dengan alasan syiqaq. 52 dan Stbl.Bv) Hukum acara ini diperuntukkan golongan Eropa yang berperkara dihadapan Raad van Justitie dan Residentie Gerecht. Sejak masa Pemerintahan Belanda telah dibentuk Peradilan Agama di Jawa dan Madura dengan Stbl.yuridis sebagai pedoman untuk menyelesaikan perkara yang diajukan pada lingkungan Peradilan Agama di Indonesia. 1937 No. pemerintah membentuk Peradilan Agama di luar Jawa. Ketentuan ini ditetapkan dengan Stbl. 1 Tahun 1974 tentang Perwawinan jo. memutus dan menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya. Kebutuhan hukum Islam yang sangat mendesak. kewarisan dan perwakafan sebagai pedoman penyelesaian masalah-masalah hukum Islam yang terjadi dalam masyarakat. 116 dan 610. maka kedua aturan ini diberlakukan di lingkungan Peradilan Agama. Hukum Formil Peradilan Agama Kata formil berarti “bentuk” atau “cara”. Dengan diikuti SK. PP No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang di dalamnya mengatur Susunan dan Kekuasaan Peradilan Agama. Mahkamah Agung No. serta hukum acara yang berlaku di lingkungan Peradilan Agama. Adapun sumber hukum acara yang berlaku di Peradilan Agama ataupun Peradilan Umum antara lain: 1. Madura dan Kalimantan Selatan dengan PP No. 9 Tahun 1975 tentang peraturan pelaksanaannya. kemudian setelah Kemerdekaan RI. Baru berlaku sejak diterbitkannya UU No. Oleh sebab itu dalam beracara di muka pengadilan tidaklah cukup hanya mengetahui materi hukum saja tetapi lebih dari itu. Ketentuan hukum acara Peradilan Agama mulai ada sejak lahirnya UU No. 63 yang berlaku sejak tanggal 01 Mei 1848. 1 Tahun 1991 (tanggal 19 Juni 1991) tentang Penyebaran Kompilasi Hukum Islam. 152jo. (Instruksi Presiden) No. li’an dan ketentuan lainnya. di Kalimantan Selatan dengan Stbl. 154 Tahun 1991 yang intinya mengajak seluruh jajaran Departemen Agama dan Instansi Pemerintah lainnya untuk menyebarluaskan dan melaksanakan Kompilasi Hukum Islam yang berisikan hukum perkawinan. kecuali halhal yang diatur secara khusus dalam UU No. nampaknya Kompilasi Hukum Islam belum juga terbentuk sebagai undang-undang. Stbl. 1849 No. Sehingga sampai sekarang sumber hukum acara Peradilan Agama di Indonesia sama dengan Peradilan Umum yang berlaku. Hukum Acara Peradilan Umum untuk daerah Jawa-Madura adalah Herziene Inlandsch Reglement (HIR). 1882 No. maksudnya hukum yang mengutamakan pada kebenaran bentuk dan kebenaran cara. akan tetapi dalam kesemuanya itu tidak tertulis peraturan hukum acara yang harus digunakan hakim dalam memeriksa. 638 dan 639. Sehingga dalam mengadili para hakim mengambil intisari hukum acara yang ada dalam kitab-kitab fiqh meskipun dalam penerapannya berbeda dalam putusan pengadilan satu dengan pengadilan agama lainnya. sehingga dalam menjalankan beracara tidak bisa semaunya dan seenaknya. B. Keterikatan bentuk dan cara ini antara para pencari keadilan dan penegak hukum haruslah dikuatkan. . 1937 No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. 45 Tahun 1957.Bg). di luar Jawa-Madura Rechtsreglement Voor De Buitengewesten (R. harus lebih mengetahui dari bentuk dan cara yang sudah diatur dalam Undang-Undang.

1906 No. 5.Rv yang ini sudah tidak berlaku lagi.Bg) Ketentuan hukum acara ini digunakan bagi golongan Bumiputera dan Timur Asing yang menduduki wilayah di luar Jawa dan Madura yang berperkara dihadapan landraad. 16 dan Stbl.Bg ini ditetapkan berdasarkan Ordonasi tanggal 11 Mei 1927 dan berlaku berdasarkan Stbl. 348. WvK ini diberlakukan dengan Stbl. terdapat juga sumber Hukum Acara Perdata sebagai sumber penerapan acara dalam praktek peradilan.Rv yang masih relevan dengan perkembangan hukum serta untuk mengisi kekosongan hukum. terdapat juga sumber Hukum Acara Perdata khususnya buku IV tentang Pembuktian (pasal 1865 s/d 1993). c. 2. 6. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung RI yang telah diubah dengan UU No. R. 44.Dengan dihapuskannya Raad van Justitie dan Hoorgerechtshof. Undang-Undang No. Setelah beberapa kali perubahan dan penambahan ketentuan hukum acara ini diubah menjadi Herziene Inlandsch Reglement (HIR) atau disebut juga Reglement Indonesia yang diberlakukan dengan Stbl. Undang-Undang No. Seperti formulasi surat gugatan. 20 Tahun 1947 tentang Acara Perdata dalam hal banding bagi Pengadilan Tinggi di Jawa. Akan tetapi banyak hal dalam B. d. 4. maka B. Wetboek van Koophandel (WvK) WvK dalam bahasa Indonesia dikenal dengan Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. 1847 No. intervensi dan lainnya. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. . maka ketentuan dalam B. Peraturan Perundang-Undangan: a. Voor De Buitengewesten (R. 23 kaitannya dengan Hukum Acara Perdata diatur dalam Failissements Verordering (aturan kepailitan) yang diatur dalam Stbl. 5 Tahun 2004 tentang Mahkamah Agung. b. 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman yang telah diubah menjadi UU No. 3. 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum. Madura sedangkan untuk di luar daerah Jawa/Madura diatur dalam Pasal 199-205 R. yang memuat tentang Acara Perdata dan hal-hal yang berhubungan dengan asasi dalam proses berperkara di mahkamah Agung RI. Inlandsch Reglement (IR) Ketentuan hukum acara ini digunakan bagi golongan Bumiputera dan Timur Asing yang menduduki wilayah Jawa dan Madura.Rv masih banyak dipakai dalam pelaksanaan hukum acara di lingkungan Peradilan Umum. 1941 No. 1927 tanggal 01 Juli 1927 yang dikenal dengan “Reglement Daerah Seberang”.Bg. Undang-Undang No. Undang-Undang No. perubahan surat gugat. Dalam UU ini diatur tentang Susunan dan Kekuasaan Peradilan di lingkungan Peradilan Umum serta prosedur beracara di lingkungan Peradilan Umum. 35 Tahun 1999 dan diubah lagi dengan UU No. Burgerlijk Wetboek Voor Indonesia (BW) Dalam bahasa Indonesia disebut dengan Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. 1848 No.

Doktrin bukanlah hukum. hakim dapat mengadili Hukum Acara Perdata. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. maka para hakim agama dianjurkan untuk merujuk kepada kitab-kitab fiqh yang telah disebut di atas sebagai pedoman dalam mengadili dan menyelesaikan perkara yang diajukan pada lingkungan peradilan Agama. maka dapat dijadikan sumber hukum acara dalam praktek Peradilan Agama terhadap suatu perkara yang dihadapi oleh hakim. 9 Tahun 1975 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan tersebut. jadi bebas memilih antara meninggalkan yurisprudensi dan memakai dalam suatu perkara yang sejenis yang telah mendapat putusan sebelumnya. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman. B/1/1735 tanggal 18 Februari 1958 sebagai pelaksana Peraturan Pemerintah No.e. Sebelum berlakunya Undang-Undang No. 8. Undang-Undang No. Inpres No. 1 Tahun 1991 tentang Instruksi Pemasyarakatan Kompilasi Hukum Islam yang terdiri atas 3 buku. Kewenangan Mahkamah Agung dalam hal ini disebutkan dalam Undang-Undang No. terutama ilmu pengetahuan hukum yang tersebut dalam kitab-kitab fiqh. Pada pasal 54 dikemukakan bahwa hukum acara yang berlaku di lingkungan Peradilan Agama adalah sama dengan acara perdata yang berlaku di lingkungan Peradilan Umum. 9. Doktrin merupakan pendapat para sarjana hukum yang dapat dijadikan sumber hukum dalam lingkungan peradilan. 1 tahun 1974 tentang perkawinan dan PP No. SH. . Undang-Undang No. melainkan sumber hukum. doktrin banyak dipakai hakim Peradilan Agama dalam memeriksa dan mengadili suatu perkara. kewarisan dan perwakafan. 7. Hakim tidak boleh terikat pada putusan yurisprudensi tersebut. Berdasarkan Surat Edaran Biro Peradilan Agama Departemen Agama No. sebab negara Indonesia tidak menganut asas “the binding force of precedent”. Yurisprudensi Dalam kamus Fockema Andrea sebagaimana dikutip Lilik Priyadi. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. (1998: 14) dikemukakan bahwa: Yurisprudensi adalah pengumpulan yang sistematis dari Keputusan Mahkamah Agung dan keputusan pengadilan Tinggi yang diikuti oleh hakim lain dalam memberikan keputusan sosial yang sama. 45 Tahun 1957 tentang Pembentukan Pengadilan Agama di luar Jawa dan Madura dikemukakan bahwa untuk mendapatkan kesatuan hukum dalam memeriksa dan memutuskan suatu perkara. Doktrin dan Ilmu Pengetahuan Hukum Doktrin atau Ilmu Pengetahuan Hukum merupakan hukum acara juga. Surat Edaran Mahkamah Agung RI Sepanjang Surat Edaran dan Instruksi mahkamah Agung menyangkut Hukum Acara Perdata dan Hukum Perdata Materiil. bahwa Mahkamah Agung RI berhak melakukan pengawasan atas perbuatan pengadilan yang berada di bawahnya berdasarkan ketentuan Undang-Undang. g. f. kecuali ketentuan-ketentuan khusus yang telah diatur dalam Undang-Undang tersebut. yaitu hukum perkawinan.

karena masih berserakan di berbagai kitab-kitab fiqh yang disebutkan sebanyak 13 kitab pada tahun 1958. kecuali hal-hal yang diatur dalam UndangUndang No. 7 tahun 1989 sebagai Ketentuan Khusus. .Sebagaimana hukum materiil. Selain itu harus memahami bgaiamana cara mewujudkan hukum maretial Islam melalui hukum proses Islam. Undang-Undang No. . Karena sumber hukum tidak tertulis tidak mempunyai kekuatan autentik dan bersifat lemah dihadapan peradilan manapun. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. nampak kini bahwa dalam beracara di muka Peradilan Agama tidak semudah apa yang dibayangkan. Islam. Saran . Gemuruhnya Politik Hukum (Hk.. Hukum Materiil Peradilan Agama merupakan hukum yang tidak tertulis. Qawanin Syari’ah Li Sayyid Shodaqah. Al-Fiqh al-Mazahib Al-Abra’ah dan Mughni Al-Muhtaj). karena kemungkinan adanya perbedaan dalam penerapan antara satu pengadilan dengan pengadilan lain. B. Hukum Acara Peradilan Agama masih mengambil dari kitab-kitab fiqh.Hukum Acara yang berlaku di Peradilan Agama adalah Hukum Acara yang berlaku di Peradilan Umum.Sebelum Tahun 1991 M yaitu sebelum lahirnya Kompilasi Hukum Islam (KHI ). demikian pula hukum formil.Sebaiknya segera diamandemen dalam arti disesuaikan aantara Peraturan PerundangUndangan yang sudah lama dan tidak relevan lagi/tidak sesuai dengan permasalahan yang terjadi di masyarakat. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang No. Tuhfah. . maka sumber hukumnya haruslah jelas dan terperinci (tertulis). Syarqawi Alat Tahrir. Qalyubi wa Umairah/Al-Mahalli. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji. Syamsuri lil Fara’id. Djalil. Seseorang harus memahami secara benar dan baik hukum acara yang termuat dalam Undang-Undang No. Kesimpulan . Qawanin Syari’ah Li Sayyid bin Yahya. Taghrib Al-Mustaq. bahkan lebih sulit beracara di muka Peradilan Umum. (Al-Bajuri. 7 Tahun 1989 tentang peradilan Agama dan Undang-Undang No.Bg. yaitu HIR dan R. DAFTAR PUSTAKA Bahan Penyuluhan Hukum. Bughyatul Musytarsydin. Basiq. Adat) dalam Rentang Sejarah bersama pasang surut Lembaga . Hk. Fatkhul Mu’in. Peradilan Agama di Indonesia. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Sebelum lahirnya UndangUndang No. Selanjutnya orang harus memahami dan mengerti pula terhadap aturan-aturan Hukum Acara Perdata yang digunakan di muka Peradilan Umum sebagai Ketentuan Umumnya.Melihat begitu kompleks permasalahan umat mengenai perkara yang dibawah kewenangan Peradilan Agama.Dengan melihat begitu Sumber Hukum Acara Peradilan Agama. Barat dan Hk. Departemen Agama RI Tahun 2001. Fatkhul Wahhab. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam. BAB III PENUTUP A.

1988 Subekti. PT. and suppressing riots or insurrections. martabat. Sanusi. maka tidak ada hak-hak asasi lainnya. perdamaian dunia serta merugikan kesejahteraan masyarakat sehingga perlu dilakukan pemberantasan secara berencana dan berkesinambungan sehingga hak asasi orang banyak dapat . Teror juga telah menunjukan gerakannya sebagai tragedi atas hak asasi manusia. Pengecualian terhadap penghilangan hak hidup tidak mencakup pada penghilangan hak hidup seseorang oleh orang lainnya tanpa ada alas hak yang berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Bina Cipta: Bandung. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama. Kansil. Hukum Acara Perdata di Indonesia. 2006. Hak tersebut juga menandakan setiap orang memiliki hak untuk hidup dan tidak ada orang lain yang berhak untuk mengambil hak hidupnya. c. Salah satu contoh penghilangan hak hidup tanpa alas hak adalah pembunuhan melalui aksi teror. The article contains exceptions for the cases of lawful executions.. Rangkaian Sari Kuliah Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Tata Hukum Indonesia. Aksi teror jelas telah melecehkan nilai kemanusiaan. Achmad. Rasyid. 2003. Hukum Acara Perdata. 1977. Mertokusumo. 1977. Hukum Acara Peradilan Agama. Terorisme merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan peradaban serta merupakan salah satu ancaman serius terhadap kedaulatan setiap negara karena terorisme sudah merupakan kejahatan yang bersifat internasional yang menimbulkan bahaya terhadap keamanan.com/judul-skripsi-makalahtentang/sumber-hukum-peradilan-agama BAB I PENDAHULUAN A. http://one..Peradilan Agama hingga lahirnya peradilan Syari’at Islam Aceh. arresting a suspect or fugitive. 1982. dan norma agama.. Radja Grafindo Persada: Jakarta. sebagaimana yang diatur juga dalam Article 2 European Convention on Human Rights yang menyatakan : protection the right of every person to their life. ________.t. Kencana Prenada Media Group: Jakarta. Hak hidup merupakan bagian dari hak asasi yang memiliki sifat tidak dapat ditawar lagi (non derogable rights). Liberty: Yogyakarta. Roihan. Balai Pustaka: Jakarta. Undang-Undang RI No. Soedikno.s.indoskripsi. Tarsit: Bandung. and deaths as a result of "the use of force which is no more than absolutely necessary" in defending one's self or others. 3 Tahun 2006 tentang Perubahan atas UndangUndang No. Artinya. Latar Belakang Hak untuk hidup adalah hak asasi yang paling dasar bagi seluruh manusia. Dalam hal ini terdapat beberapa pengecualian seperti untuk tujuan penegakan hukum. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum di Indonesia. A. karena tanpa adanya hak untuk hidup. hak ini mutlak harus dimiliki setiap orang.

bertepatan dengan peringatan setahun tragedi di Gedung World Trade Center New York. Sebelumnya. Kebijakan Amerika Serikat yang berat sebelah seperti pemunculan jargon “Jihad adalah Terorisme” dalam memerangi terorisme telah menjadi alasan beberapa kelompok teroris untuk melakukan perlawanan. mencerdaskan kehidupan bangsa. Pada sebuah proses penyelesaian perkara pidana. serta penyanderaan dan pendudukan Perusahaan Mobil Oil oleh Gerakan Aceh Merdeka pada tahun yang sama. di mana keduanya dipergunakan di dalam persidangan untuk membuktikan tindak pidana yang didakwakan terhadap terdakwa. tercatat juga beberapa aksi teror di Indonesia antara lain kasus Bom Istiqlal pada 19 April 1999. sehingga membutuhkan penanganan yang luar biasa juga (extraordinary measures). Demikian pula dalam hal perlindungan warga negara dari tindakan terorisme. dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Hal ini berbeda jika dibandingkan proses penyelesaian perkara perdata yang merupakan proses pencarian kebenaran formil. peristiwa 11 September 2002 ini mengawali “Perang Global” terhadap terorisme yang dipimpin oleh Amerika Serikat. Aksi terorisme di Indonesia mencuat ke permukaan setelah terjadinya Bom Bali I pada 12 Oktober 2002. Kuta. salah satunya dilakukan oleh Ali Imron. Pernyataan tersebut sejalan dengan tujuan bangsa Indonesia yang termaktub dalam Undang-undang Dasar 1945 yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.dilindungi dan dijunjung tinggi. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia. Amerika Serikat. undang-undang ini merupakan undang-undang khusus (lex specialis) dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. Dengan adanya undang-undang ini diharapkan penyelesaian perkara pidana yang terkait dengan terorisme dari aspek materil maupun formil dapat segera dilakukan. Ali Gufron. Bom Malam Natal pada 24 Desember 2000 yang terjadi di dua puluh tiga gereja. proses pembuktian merupakan suatu proses pencarian kebenaran materiil atas suatu peristiwa pidana. seperti yang diatur Pasal 184 Undang-undang Nomor 8 tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP)8 adalah : . Seperti diketahui. Upaya ini diwujudkan pemerintah dengan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2002. Peristiwa ini tepatnya terjadi di Sari Club dan Peddy’s Club. Bom di Bursa Efek Jakarta pada September 2000. dan Amrozi. Diperlukannya undang-undang ini karena pemerintah menyadari tindak pidana terorisme merupakan suatu tindak pidana yang luar biasa (extraordinary crime). Sehingga. Kembali pada kasus Bom Bali I. Alat bukti yang sah untuk diajukan di depan persidangan. Bali. Proses pembuktian sendiri merupakan bagian terpenting dari keseluruhan proses pemeriksaan persidangan. Indonesia sebagai negara hukum (rechtstaat) memiliki kewajiban untuk melindungi harkat dan martabat manusia. Aksi teror melalui peledakan bom mobil di Jalan Raya Legian Kuta ini semula direncanakan dilaksanakan pada 11 September 2002. yang kemudian disetujui oleh DPR menjadi Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme.7 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 ini selain mengatur aspek materil juga mengatur aspek formil. Hukum acara pidana di dalam bidang pembuktian mengenal adanya Alat Bukti dan Barang Bukti. termasuk di dalamnya upaya menciptakan produk hukum yang sesuai. Salah satu bentuk perlindungan negara terhadap warganya dari tindakan atau aksi terorisme adalah melalui penegakan hukum.

Namun. alat bukti sebagaimana yang diatur dalam KUHAP tidak lagi dapat mengakomodir perkembangan teknologi informasi. Undang-undang Tentang Kearsipan. diperlukan kejelasan bagaimana mengajukan dan melakukan proses pembuktian terhadap alat bukti yang berupa data digital. Sebagaimana telah dijelaskan terlebih dahulu. dan Undang-undang tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang menjadi fokus penulisan ini. proses mengajukan dan proses pembuktian alat bukti yang berupa data digital perlu pembahasan tersendiri mengingat alat bukti dalam bentuk informasi elektronik ini serta berkas acara pemeriksaan telah melalui proses digitalisasi dengan proses pengetikan (typing). Tentu saja upaya penegakan hukum tidak boleh terhenti dengan ketidakadaan hukum yang mengatur penggunaan barang bukti maupun alat bukti berupa informasi elektronik di dalam penyelesaian suatu peristiwa hukum. apakah dihadirkan cukup dengan perangkat lunaknya (software) ataukah harus dengan perangkat kerasnya (hardware). surat d. Perlu diperhatikan dalam kejahatan dengan menggunakan komputer. Proses pembuktian suatu alat bukti yang berupa data digital ini juga menyangkut aspek validasi data digital yang dijadikan alat bukti tersebut. Salah satu masalah yang muncul akibat perkembangan teknologi informasi adalah lahirnya suatu bentuk kejahatan baru yang sering disebut dengan cybercrime.a. Salah satu kekhususan tersebut yang menjadi fokus dalam penulisan ini adalah terkait penggunaan alat bukti yang merupakan pembaharuan proses pembuktian konvensional dalam KUHAP. bukti yang akan mengarahkan suatu peristiwa pidana adalah berupa data elektronik. petunjuk e. keterangan saksi b. Aspek lain terkait adalah masalah menghadirkan alat bukti tersebut. baik yang berada di dalam komputer itu sendiri (hardisk/floppy disc) atau yang merupakan hasil print out. bukti digital tidak dikenal dalam Hukum Acara Pidana Umum (KUHAP). hal ini menimbulkan permasalahan baru. dan penyimpanan (storing) dengan menggunakan komputer. keterangan terdakwa Pada perkembangannya. Undang-undang Tentang Tindak Pidana Korupsi. Pengaturan mengenai alat bukti pada Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tersebut terlihat dalam Pasal 27. Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 memiliki kekhususan secara formil dibandingkan KUHAP.9 Secara garis besar cybercrime terdiri dari dua jenis. keterangan ahli c. pemeriksaan (editing). Namun. . Undang-undang Tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. untuk beberapa perbuatan hukum tertentu. yaitu sebagai berikut. dalam istilah yang digunakan oleh Barda Nawawi Arief disebut dengan tindak pidana mayantara. Perkembangan teknologi dan perkembangan hukum telah menyebabkan tergesernya bentuk media cetak menjadi bentuk media digital (paper less). atau dalam bentuk lain berupa jejak (path) dari suatu aktivitas pengguna komputer. Dengan demikian. Selain itu. hasilnya tetap saja dicetak di atas kertas (printing process). bukti digital dikenal dan pengaturannya tersebar pada beberapa peraturan perundang-undangan seperti Undang-undang Tentang Dokumen Perusahaan. Sebagai lex specialis. yaitu kejahatan yang menggunakan teknologi informasi (TI) sebagai fasilitas dan kejahatan yang menjadikan sistem dan fasilitas TI sebagai sasaran.

Dengan penafsiran secara a contrario. Dipilihnya kode sumber sebagai objek penelitian dikarenakan kode sumber adalah tampilan yang paling orisinal dari sebuah website. Planet Hollywood dan Jakarta Hilton Convention Center (JHCC) serta Senayan Golf Driving Range. dan/atau didengar. Penelitian ini bertolak dari permasalahan penggunaan bukti digital (digital evidence) sebagai alat bukti tindak pidana terorisme di Indonesia. 3) huruf. Agung Prabowo Max Fiderman alias Kalingga alias Maxhaser. olahraga. Segala tampilan yang ramah pengguna atau user friendly interface dari sebuah website dibangun dari baris kalimat pada kode sumber website tersebut. diterima. yaitu website Al-Anshar dengan alamat di http : //www.13 Akan tetapi dengan adanya Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 ini. atau gambar. Tauhid. kedua alat bukti tersebut dapat digunakan sebagai alat bukti yang sah dan mengikat serta memiliki kekuatan pembuktian sama dengan alat bukti yang diatur dalam KUHAP. Meskipun demikian.Alat bukti pemeriksaan tindak pidana terorisme meliputi : 1. . 2) peta.X yang diduga dibuat oleh Agung Setyadi. atau disimpan secara elektronik dengan alat optik atau yang serupa dengan itu.X. Sehingga apabila tampilan dari suatu website mengandung substansi yang merupakan upaya terorisme. alat bukti sebagaimana dimaksud dalam Hukum Acara Pidana. pusat perbelanjaan. hiburan. prinsip lex specialis derogat legi generalis tetap berlaku. Antara lain mengajarkan penyerangan dengan cara memanfaatkan antrean di jalan atau pintu masuk masuk atau keluar kantor. simbol. Top sebagai media informasi perjuangannya. seperti Ancol. dalam hal ini Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003. foto. tanda. atau informasi yang dapat dilihat. baik yang tertuang di atas kertas. dibaca. Selain itu. Hingga saat penelitian ini disusun. dapat diartikan hal yang tidak diatur dalam ketentuan khusus. Jihad. hotel dan tempat pameran. alat bukti lain berupa informasi yang diucapkan. dan M. dalam hal ini KUHAP. dosen salah satu perguruan tinggi di Semarang. yang dapat dikeluarkan dengan atau tanpa bantuan suatu sarana. maka harus dilihat dari kode sumber website tersebut. Objek dari penelitian ini adalah Source Code atau Kode Sumber sebuah website yang merupakan media informasi teroris. angka. suara. rancangan. Wacana. Islamiah dan Askariah. data. dikirimkan. atau perforasi yang memiliki makna atau dapat dipahami oleh orang yang mampu membaca atau memahaminya. berlakulah ketentuan umum. benda fisik apapun selain kertas. dan 3. dari website tersebut kode sumber lah yang paling mungkin dijadikan alat bukti. atau yang terekam secara elektronik. rekaman. dipakai untuk menyampaikan informasi terorisme atas pesanan Noordin M. tetapi berdasarkan doktrin (ilmu hukum) dikategorikan sebagai Barang Bukti yang berfungsi sebagai data penunjang bagi alat bukti. Kasus tersebut saat ini tengah dalam proses persidangan di Pengadilan Negeri Semarang dengan Nomor Perkara 84/PID/B/2007 PN SMG. mahasiswa salah satu universitas di kota itu. atau sejenisnya. Isi dari informasi para teroris itu seputar materi-materi Tauziah Syaikh Mukhlas. 2. termasuk tetapi tidak terbatas pada : 1) tulisan. Situs www.12 Alat bukti yang diatur dalam Pasal 27 ayat (2) dan (3) Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 tersebut berdasarkan KUHAP tidak diakui sebagai alat bukti. Sejumlah lokasi.

Bagaimana pengaturan penggunaan alat bukti berupa informasi elektronik dalam Hukum Acara Pidana di Indonesia ? 2. adapun tujuannya sebagai berikut. Dapatkah sebuah kode sumber website dijadikan alat bukti di persidangan berdasarkan Pasal 27 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme ? 3. Selain itu dari penelitian ini akan terlihat sikap aparat penegak hukum. Pokok Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya. berikut dijelaskan definisi operasional dari istilah tersebut : Kode Sumber (Source Code) adalah : The nonmachine language used by a computer programmer to create a program. D. 1. Tujuan Umum Tujuan umum penelitian ini adalah memberikan gambaran penggunaan informasi elektronik sebagai alat bukti dalam acara pembuktian pada Hukum Acara Pidana di Indonesia. 2.X. yaitu tujuan penulisan secara umum dan tujuan penulisan secara khusus. dapat diambil tiga pokok masalah. Tujuan Khusus Tujuan khusus penelitian ini adalah sebagai berikut.kasus tersebut telah mencapai tahap pembelaan (pledoi). B. a. khususnya hakim dalam mempergunakan alat bukti yang ada. Bagaimana dalam prakteknya penerapan ketentuan Hukum Acara Pidana Terhadap Informasi Elektronik (Source Code Website) di dalam Peristiwa Tindak Pidana Terorisme pada Kasus Website X ? C. Source . Mengetahui bagaimana sebuah kode sumber dijadikan alat bukti dalam tindak pidana terorisme berdasarkan Pasal 27 Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Tujuan Penelitian Tujuan penulisan ini dibagi menjadi dua. b. Penjelasan tersebut akan dikaitkan dengan peraturan perundang-undangan di Indonesia yang memungkinkan penggunaan alat bukti digital dalam persidangan. Mengetahui pengaturan penggunaan bukti digital dalam peraturan perundangundangan di Indonesia. seperti cyberterrorism. Definisi Operasional Dalam penulisan penelitian Kode Sumber (Source Code) Website Sebagai Alat Bukti di dalam Tindak Pidana Terorisme di Indonesia (Studi Kasus terhadap Website Al-X) ini akan banyak digunakan istilah dalam bidang hukum dan bidang komputer. c. khususnya undang-undang terkait hukum pidana. pembahasan penelitian ini akan menjelaskan bagaimana kode sumber dari sebuah website dapat dijadikan alat bukti. Untuk menghindari kesimpangsiuran pengertian mengenai istilah yang dipakai dalam penulisan ini. Mengetahui penerapan bukti digital di dalam praktek persidangan terkait kasus website www. khususnya Undang-undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Untuk selanjutnya. Hal ini untuk mengakomodir semakin canggihnya tindak pidana yang menggunakan teknologi informasi. yaitu : 1.

Metode Penelitian Penelitian merupakan penelitian yang berdasarkan studi kepustakaan yang bersifat yuridis-normatif.code (commonly just source or code) is any series of statements written in some humanreadable computer programming language. typically written in HTML. simbol.19 Terjemahan bebasnya adalah. Website adalah : A website (or Web site) is a collection of web pages. A web page is a document. . Tindak Pidana Terorisme adalah. Terjemahan bebasnya adalah : Bahasa non-mesin yang digunakan oleh programer untuk menyusun suatu program. Terorisme adalah : The use or threat of violance to intimidate or cause panic. surat.22 Alat bukti adalah alat bukti yang terdapat dalam Pasal 184 ayat (1) KUHAP yaitu keterangan saksi.20 Bukti Digital adalah : bukti yang di dapat dari kejahatan yang menggunakan komputer untuk mengarahkan suatu peristiwa pidana berupa data-data elektronik baik yang berada di dalam komputer itu sendiri (hard disk/floopy disk) atau yang merupakan hasil print out. dan bentuk-bentuk lainnya yang telah diolah sehingga mempunyai arti. dan keterangan terdakwa. khususnya dengan membawa dampak politik. Kode sumber adalah serangkaian pernyataan yang ditulis dalam bahasa program yang dipahami manusia. data yang digunakan adalah data sekunder yang didapatkan melalui studi dokumen. esp. isyarat.24 Hukum Pidana adalah : keseluruhan dari peraturan-peraturan yang menentukan perbuatan-perbuatan apa yang dilarang dan barangsiapa yang melanggar peraturan-peraturan itu diancam dengan suatu sanksi berupa pidana. suara. segala perbuatan yang memenuhi unsur-unsur tindak pidana sesuai dengan ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini. that is almost always accessible via HTTP. tanda-tanda.21 Informasi Elektronik adalah : Informasi elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik diantaranya meliputi teks. gambar. artinya penelitian hanya dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder yang bersifat hukum. Terjemahan bebasnya adalah. keterangan ahli. petunjuk. atau dalam bentuk lain berupa jejak (path) dari suatu aktivitas penggunaan komputer.25 E. as a means of affecting political conduct.23 Pembuktian adalah : ketentuan-ketentuan yang berisi penggarisan dan pedoman tentang tata cara yang dibenarkan undang-undang untuk membuktikan kesalahan yang didakwakan kepada terdakwa. Halaman web adalah sebuah dokumen yang biasanya ditulis dalam Hyper Text Markup Language (HTML) yang dapat diakses melalui protokol Hyper Text Transfer Protocol (HTTP) yang merupakan protokol untuk menyampaikan informasi dari sebuah pusat website untuk ditampilkan dihadapan pengguna program pembaca website.26 Oleh karena itu. penggunaan atau upaya kekerasan untuk mengintimidasi atau menyebabkan kepanikan. a protocol that transfers information from the website's server to display in the user's web browser. bunyi. Website (atau Web Site) sebuah kumpulan dari halaman web. tulisan.

metode analisis data yang digunakan adalah metode kualitatif. Dalam bab ini juga akan dijabarkan mengenai bukti digital. dan alat bukti yang digunakan dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003. serta bagaimana cara melakukan otentifikasi terhadap bukti digital. Sistematika Penulisan Penelitian hukum ini terdiri dari lima bab. bahan hukum yang digunakan dalam penelitian ini meliputi bahan hukum primer. yaitu ilmu hukum. Selanjutnya. Penahanan. bahan hukum sekunder yang merupakan bahan hukum yang paling banyak digunakan dalam penelitian ini. dan Penyitaan dalam Tindak Pidana Terorisme. Penelitian ini juga merupakan penelitian yang dilakukan secara mono-disipliner. F. Pada bab kedua dari penelitian ini akan dijabarkan mengenai pengertian tindak pidana terorsime yang meliputi pembahasan mengenai unsur tindak pidana dan subjek dalam tindak pidana. dan tersier. serta metode penelitian. Dalam sub-bab ini juga dibahas mengenai beban pembuktian. jurnal online dari Pusat Data West Law. Penggeledahan.Berkaitan dengan data yang digunakan. meliputi buku. mencakup pembahasan mengenai cyberterrorism serta terorisme berbasis teknologi informasi. Pada bab pertama akan dijabarkan mengenai latar belakang dilakukannya penelitian. dan makalah terkait. tujuan dari penelitian ini baik tujuan umum maupun tujuan khusus. Untuk memperkaya pembahasan. yaitu suatu penelitian yang mengaitkan penelitian murni dengan penelitian terapan. antara lain wikipedia dan Encarta. Tipologi penelitian yang digunakan dalam pembuatan laporan penelitian ini adalah penelitian berfokus masalah. Bab tiga penelitian ini memiliki fokus pada pembahasan teknis.27 Dalam penelitian ini dijelaskan mengenai dasar teori pembuktian dan teori alat bukti sebagai ilmu murni dari hukum acara pidana dikaitkan dengan penerapan alat bukti berupa informasi elektronik dalam proses beracaranya. kemudian membahas bagaimana penerapan perumusan unsur tindak pidana dan subjek pidana dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003. yang akan menjelaskan definisi dari bukti digital. pembahasan mengenai media penyimpanan (storage) sebuah website pada perusahaan webhosting (webhosting compay). dalam bab ini juga akan dibahas bagaimana pengaturan dan perumusan tindak pidana terorisme dibeberapa negara. dan Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. sistem pembuktian. kemudian dijelaskan pula mengenai kerangka konsepsional yang berisi definisi operasional dari istilah dalam penelitian ini. dan Upaya Paksa Penangkapan. Bahan hukum tersier yang digunakan antara lain kamus Hukum Black’s Law Dictionary dan ensiklopedia online. Bahan hukum primer yang digunakan. tiga pokok permasalahan dari penelitian. peraturan perundang-undangan seperti Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana. yang meliputi pembahasan mengenai macam bahasa pemerograman pada pembuatan website. yaitu pembahasan mengenai kode sumber. artinya laporan penelitian ini hanya didasarkan pada satu disiplin ilmu. Selanjutnya. yang meliputi pembahasan Proses Penyelidikan. antara lain di Australia dan Amerika Serikat. Penyidikan. artikel ilmiah. pembahasan terakhir pada bab tiga adalah mengenai kode sumber yang . sekunder. Pembahasan selanjutnya mengenai terorisme pada perkembangannya. Sub bab terakhir dari bab dua ini adalah pembahasan hukum acara dalam Undang-undang Nomor 15 Tahun 2003. Selanjutnya.

blogspot. Selain itu. Surat permohonan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan petitum. khususnya dari Belanda karena aspek sejarah masa lalu Indonesia yang merupakan wilayah jajahan dengan sebutan Hindia Belanda (Nederlandsch-Indie). maka perubahan tersebut harus atas persetujuan Termohon. Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Termohon (Pasal 66 ayat (2) UU No. c. Sebagian besar sistem yang dianut. Langkah-langkah yang harus dilakukan Pemohon (Suami) atau Kuasanya: 1. baik perdata maupun pidana.com/2009/08/skripsi-kode-sumberwebsite-sebagai. sebagai alat bukti. Bila Termohon meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa . Hukum Agama. Mengajukan permohonan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama Sentani (Pasal 118 HIR jo Pasal 66 UU No. Pasal 58 UU No. Bab lima merupakan bab terakhir dalam penulisan ini. Pemohon dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama Sentani tentang tata cara membuat surat permohonan (Pasal 119 HIR jo. berbasis pada hukum Eropa kontinental. Jika Termohon telah menjawab surat permohonan ternyata ada perubahan. maka dominasi hukum atau Syari'at Islam lebih banyak terutama di bidang perkawinan. Permohonan tersebut diajukan kepada Pengadilan Agama : a. b. http://gudangmakalah. yang merupakan penerusan dari aturan-aturan setempat dari masyarakat dan budaya-budaya yang ada di wilayah Nusantara. Bab lima merupakan penutup penulisan yang berisi simpulan dari keseluruhan penelitian ini. bab lima juga berisi saran yang diberikan oleh penulis terkait penyelesaian perakara pidana terorisme.dijadikan bukti digital. hukum Agama dan hukum Adat. 7 Tahun 1989). karena sebagian besar masyarakat Indonesia menganut Islam. khususnya terorisme yang melibatkan aspek Informasi Teknologi. Bab empat berisi analisis mengenai alat bukti dalam tindak pidana terorisme terhadap penggunaan kode sumber sebagai alat bukti berupa informasi elektronik dalam kasus website alX. b. kekeluargaan dan warisan. a. Pada bab ini akan dilihat bagaimana penerapan kode sumber sebagai alat bukti berupa informasi elektronik dalam tindak pidana terorisme dikuatkan oleh keterangan ahli. 7 Tahun 1989). di Indonesia juga berlaku sistem hukum Adat. Selain berisi simpulan. 2. 7 Tahun 1989). dan keterangan saksi dalam kaitan dengan alat bukti berupa informasi elektronik.html Hukum di Indonesia merupakan campuran dari sistem hukum hukum Eropa.

Apabila permohonan dikabulkan dan putusan telah memperoleh kekuatan hukum tetap. d. maka permohonan harus diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon (Pasal 66 ayat (2) UU No. Pengadilan Agama Sentani memanggil Pemohon dan Termohon untuk melaksanakan ikrar talak. 7 Tahun 1989). Proses Penyelesaian Perkara 1. Permohonan tidak diterima. Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Termohon dapat mengajukan gugatan rekonvensi (gugat balik) (Pasal 132 a HIR). Pemohon dapat mengajukan permohonan baru. bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR). umur. maka permohonan diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Pemohon (Pasal 66 ayat (3) UU No. 7 Tahun 1989). suami atau kuasanya tidak melaksanakan ikrar talak di depan sidang . 5. c. Putusan pengadilan agama atas permohonan cerai talak sebagai berikut : a. Pemohon dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani . nafkah istri dan harta bersama dapat diajukan bersama-sama dengan permohonan cerai talak atau sesudah ikrar talak diucapkan (Pasal 66 ayat (5) UU No. Apabila Termohon tidak puas dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani .izin Pemohon. jawab menjawab. Bila Termohon berkediaman di luar negeri. c. b. Pengadilan Agama Sentani menentukan hari sidang penyaksian ikrar talak. hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Bila Pemohon dan Termohon bertempat kediaman di luar negeri. 2 Tahun 2003). agama dan tempat kediaman Pemohon dan Termohon. 4. 3. nafkah anak. Tahapan persidangan : a. 7 Tahun 1989). c. 3. b. maka permohonan diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat dilangsungkannya perkawinan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 66 ayat (4) UU No. 7 Tahun 1989). jawaban. maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan membacakan surat permohonan. Permohonan soal penguasan anak. dan suami istri harus dating secara pribadi (Pasal 82 UU No. pekerjaan. maka hakim mewajibkan kepada kedua belah pihak agar lebih dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat (1) PERMA No. 7 Tahun 1989). Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR Jo Pasal 89 UU No. Permohonan tersebut memuat : a. Pemohon dan Termohon dipanggil oleh pengadilan agama untuk menghadiri persidangan. 2. Permohonan dikabulkan. Apabila tidak berhasil. c. 4. Permohonan ditolak. b. maka : a. Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita). b. maka gugurlah kekuatan hukum penetapan tersebut dan perceraian tidak dapat diajukan lagi . pembuktian dan kesimpulan. Pada pemeriksaan sidang pertama. Apabila mediasi tidak berhasil. Jika dalam tenggang waktu 6 (enam) bulan sejak ditetapkan sidang penyaksian ikrar talak. c. 7 Tahun 1989). Pemohon mendaftarkan permohonan cerai talak ke Pengadilan Agama Sentani. Nama. Posita (fakta kejadian dan fakta hukum).

124. dan suami istri harus datang secara pribadi (Pasal 82 UU No. dan 125 HIR). Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh pengadilan agama untuk menghadiri persidangan 3. c. pekerjaan. Gugatan soal penguasaan anak. nafkah istri dan harta bersama dapat diajukan bersama-sama dengan gugatan perceraian atau sesudah putusan perceraian memperoleh kekuatan las tetap (Pasal 86 ayat (1) UU No. Gugatan tersebut diajukan kepada pengadilan agama : b. maka gugatan diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat (Pasal 73 ayat (2) UU No. 7 Tahun 1989). 2.7 Tahun 1989). c. 7 Tahun 1989). Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR Jo Pasal 89 UU No. Apabila tidak berhasil. bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR). Gugatan tersebut memuat : a. 7 Tahun 1989 jo Pasal 32 ayat (2) UU No. umur. 2. Penggugat dan Tergugat atau kuasanya menghadiri persidangan berdasarkan panggilan pengadilan agama (Pasal 121. c. b. maka gugatan diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat (Pasal 73 ayat (1) UU No. Penggugat dianjurkan untuk meminta petunjuk kepada Pengadilan Agama Sentani tentang tata cara membuat surat gugatan (Pasal 118 HIR jo. Bila Penggugat dan Tergugat bertempat kediaman di luar negeri. c. Petitum (hal-hal yang dituntut berdasarkan posita). 3. maka perubahan tersebut harus atas persetujuan Tergugat. Penggugat mendaftarkan gugatan perceraian ke Pengadilan Agama Sentani. Proses Penyelesaian Perkara 1. a. 7 Tahun 1989). Jika Tergugat telah menjawab surat gugatan ternyata ada perubahan. maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan . 7 Tahun 1989). Posita (fakta kejadian dan fakta hukum). 6. maka gugatan diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 73 ayat (3) UU No. hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak. b. Surat gugatan dapat dirubah sepanjang tidak merubah posita dan petitum. 1 Tahun 1974). 7 Tahun 1989). 4. Bila Penggugat meninggalkan tempat kediaman yang telah disepakati bersama tanpa izin Tergugat. Tahapan persidangan : a. a. Langkah-langkah yang harus dilakukan Penggugat (Istri) atau kuasanya : 1. agama dan tempat kediaman Penggugat dan Tergugat. nafkah anak. 7 Tahun 1989). Nama. 5. 7 Tahun 1989). b. 2 Tahun 2003). maka hakim mewajibkan kepada kedua belah pihak agar lebih dahulu menempuh mediasi (Pasal 3 ayat (1) PERMA No. Pasal 58 UU No.berdasarkan alasan hukum yang sama (Pasal 70 ayat (6) UU No. Setelah ikrar talak diucapkan panitera berkewajiban memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah penetapan ikrar talak (Pasal 84 ayat (4) UU No. Apabila mediasi tidak berhasil. Bila Penggugat bertempat kediaman di luar negeri. 5. d. Pada pemeriksaan sidang pertama.7 Tahun 1989). Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama Sentani (Pasal 118 HIR jo Pasal 73 UU No.

Putusan pengadilan agama atas permohonan cerai gugat sebagai berikut : a. jawaban. 124. PROSES PENYELESAIAN PERKARA : 1. Bila Penggugat dan Tergugat bertempat kediaman di luar negeri. dan 125 HIR). a. Bila mengenai benda tetap. Gugatan tidak diterima. jawab menjawab. Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Tergugat dapat mengajukan gugatan rekonvensi (gugat balik) (Pasal 132 a HIR). Putusan pengadilan agama sebagai berikut : . Membayar biaya perkara (Pasal 121 ayat (4) HIR jo Pasal 89 UU No. jawab menjawab. maka gugatan diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Penggugat. bagi yang tidak mampu dapat berperkara secara cuma-cuma (prodeo) (Pasal 237 HIR). Mengajukan gugatan secara tertulis atau lisan kepada Pengadilan Agama Sentani (Pasal 118 HIR) 2. 4. pembuktian dan kesimpulan. Tahapan persidangan : 3. Bila benda tetap tersebut terletak dalam wilayah beberapa pengadilan agama. pembuktian dan kesimpulan. Gugatan tersebut diajukan kepada pengadilan agama : a. maka gugatan dapat diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat letak benda tersebut.7 Tahun 1989). c. Gugatan ditolak. Yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman Tergugat . b.maka hakim mewajibkan kedua belah pihak agar lebih dahulu menempuh mediasi (PERMA No. 2. maka pemeriksaan perkara dilanjutkan dengan membacakan surat gugatan.membacakan surat gugatan. b. c. Dalam tahap jawab menjawab (sebelum pembuktian) Tergugat dapat mengajukan gugatan rekonvensi (gugat balik) (Pasal 132 HIR). 7 Tahun 1989). Setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap maka Panitera Pengadilan Agama Sentani memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti cerai kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari setelah putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak. Penggugat dan Tergugat dipanggil oleh pengadilan agama untuk menghadiri persidangan. Bila tempat kediaman tergugat tidak diketahui. 3. Penggugat dan Tergugat atau kuasanya menghadiri sidang pemeriksaan berdasarkan panggilan pengadilan agama (Pasal 121. Apabila Tergugat tidak puas dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani. 2 Tahun 2003). Apabila mediasi tidak berhasil. maka gugatan dapat diajukan kepada salah satu pengadilan agama yang dipilih oleh Penggugat (Pasal 118 HIR). d. 4. jawaban. Langkah-langkah yang harus dilakukan Penggugat : 1. Penggugat dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani. Penggugat atau kuasanya mendaftarkan gugatan ke Pengadilan Agama Sentani. maka gugatan diajukan kepada pengadilan agama yang daerah hukumnya meliputi tempat perkawinan dilangsungkan atau kepada Pengadilan Agama Jakarta Pusat (Pasal 73 ayat (3) UU No. c. Penggugat dapat mengajukan gugatan baru. b. hakim berusaha mendamaikan kedua belah pihak. Apabila tidak berhasil. Gugatan dikabulkan. Pada pemeriksaan sidang pertama.

Gugatan ditolak. baik yang tercantum di dalam al-Qur’an maupun hadits.Bg).php? option=com_content&task=view&id=16&Itemid=30 PEMBUKTIAN TERBALIK MENURUT HUKUM ISLAM Pendahuluan Tidak ada pembuktian terbalik di dalam Islam. sedangkan sumpah itu wajib bagi orang yang mengingkarinya. kecuali jika sesuatu itu meyakinkan dan pasti. Seorang hakim tidak boleh memutuskan perkara ketika tidak ada bukti. sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: “Bukti itu wajib bagi orang yang mendakwa. Apabila pihak yang kalah dihukum untuk menyerahkan obyek sengketa. Rasulullah saw telah bersabda kepada para saksi: “Jika kalian melihatnya seperti kalian melihat matahari.net/index.” Sesuatu tidak bisa menjadi bukti.” Pembahasan Bukti ada empat macam tidak lebih: 1.196 R. maka tinggalkanlah. Dalam peradilan Islam. Apabila Tergugat tidak puas dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani. Gugatan dikabulkan. Sebab. c. kemudian tidak mau menyerahkan secara suka rela. Imam Baihaki meriwayatkan sebuah hadits dengan isnad shahih dari Nabi Saw. Kesaksian tidak sah. jika dibangun di atas dzan (keraguan). maka bersaksilah.a. Penggugat dapat mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Agama Bandung melalui Pengadilan Agama Sentani. maka pihak yang menang dapat mengajukan permohonan eksekusi kepada Pengadilan Agama Sentani. Penggugat dapat mengajukan gugatan baru. kedua belah pihak dapat meminta salinan putusan (Pasal 185 HIR. Gugatan tidak diterima. (Namun) jika tidak. http://www. Allah SWT berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu) kamu tidak akan . Seseorang tidak boleh memberikan kesaksian kecuali kesaksiannya itu didasarkan pada sesuatu yang menyakinkan. b. sistem pembuktiannya didasarkan pada prinsip kejelasan dan menghindari kesamaran. 4. Setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap. 5.pa-sentani. Pengakuan Pengakuan telah ditetapkan (sebagai bukti) berdasarkan dalil.

kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya.com/judul-skripsi-tugasmakalah/hukum-islam/pembuktian-terbalik-menurut-hukumislam . dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu. Maka dirajamlah al-Ma’iz. al-Baqarah [2]: 84). Dari Ibnu ‘Abbas ra. ia meriwayatkan sebuah hadits tentang Ma’iz. “Telah sampai berita kepadaku bahwa engkau telah berzina dengan budak perempuan keluarga si fulan.” Ma’iz menjawab. bahwa Nabi Saw bertanya kepada Ma’iz bin Malik: “Apakah benar apa yang telah disampaikan kepadaku tentang dirimu?” Ma’iz balik bertanya.” Kemudian bersaksilah empat orang saksi. “Apa yang disampaikan kepada engkau tentang diriku?” Nabi Saw menjawab. http://one. Rasulullah Saw memerintahkan agar Ma’iz dirajam.indoskripsi. “Benar. Lalu.” (Qs.menumpahkan darahmu (membunuh orang).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful