P. 1
Kode Etik Rumah Sakit

Kode Etik Rumah Sakit

5.0

|Views: 2,623|Likes:
Published by ujangketul62
Uploaded from Google Docs
Uploaded from Google Docs

More info:

Published by: ujangketul62 on Apr 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/26/2015

pdf

text

original

BUKU LAMA YANG SAYA RASA MASIH BERMANFAAT

,w
KODE ETIK RUMAH SAKIT INDO}.IESIA (KODERSI)

PERHIMPUNAN RUMAH SAKIT SELURUH INDONESH
1999

7

DAFTAR ISI
HAL

o o
o o
O

Sambutan Ketua Umum PERSI

i

Kata Pengan
Susunan Pengurus PERSI

Pusat PERSI.....-

I
.......... 2

Susunan Dewan Penyantun Susunan I\{AKERSI Pusat

o o
o

Kode Etik Rumah Sakit Indonesia
Penjelasan Kode Etik Rumah Sakit

....-....-

3
8

Indonesia

""""""'

Petunjuk dan Pelaksanaan Kode Etik Rumah Sakit Indonesia...17

KODE ETIK RTJMAH SAKIT INDONESIA
(KODERST)

MUKADIMAH
Bahwa lembaga perumahsakitan telah tumbuh dan berkembang sebagai bagian dari sejarah peradaban umat manusia, yang bersumber pada kemurnian rasa kasih sayang, kesadaran sosial dan naluri untuk saling tolong menolong di antara sesama, serta semangat keagamaan yang tinggi dalam kehidupan umat manusia.

Bahwa sejalan dengan perkembangan peradaban umat manusia, serta perkembangan tatanan sosio-budaya masyarakat, dan sejalan pula dengan kemajuan ilmu dan tekonologi khususnya dalam bidang kedokteran dan
kesehatan, rumah sakit telah berkembang menjadi suatu lembaga berupa suatu

"unit sosio ekonomi" yang majemukBahwa perumahsakitan di lndoneia, sesuai dengan perjalanan sejarahnya telah memiliki jati diri yang khas, ialah dengan mengakarnya azas perumahsakitan Indonesia kepada a"4s Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 sebagai falsafah
bangsa dan negara Republik Indonesia.

Bahwa dalam menghadapi masa depan yang penuh tantangan diperlukan upaya mempertahankan kemurnian nilai-nilai dasar perumahsakitan Indonesia.

Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa, serta didorong oleh niat suci dan keinginan luhur, demi tercapainya : 1. Masyarakat Indonesia yang sehat, adil dan makmur, merata material spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. 2. Pembangunan manusia dan masyarakat Indonesia seutuhnya, khususnya dalam bidang kesehatan.

RUMAH SAKIT DITULIS TERPISAH RUMAHSAKIT "NAMA" DITULIS BERSATU RAWAT JALAN DALAM BAHASA INGGRISNYA OUT PATIENT RAWAT INAP DALAM BAHASA INGGRISNYA IN PATIENT

Rumah Sakit di Indonesia yang bergabung dalam Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh lndonesia (PERSI), mempersembahkan Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (KODERSI), yang memuat rangkuman nilai-nilai dan norma-norma perumahsakitan guna dijadikan pedoman bagi semua pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam penyelenggaraan dan pengelolaan perumahsakitan di Indonesia.

BAB

1

Kewajiban Umum Rumah Sakit
Pasal

I

Rumah Sakit harus mentaati Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (KODERSI)

Pasal 2
Rumah Sakit harus dapat mengawasi serta bertanggung jawab terhadap semua kejadian di Rumah Sakit. Pasal 3 Rumah Sakit harus mengutamakan pelayanan yang baik dan bermutu secara berkesinambungan serta tidak mendahulukan urusan biaya. Pasal 4 Rumah Sakit harus memelihara semua catatan/arsip baik medik maupun non medik secara baik. Pasal 5 Rumah Sakit harus mengikuti perkembangan dunia perumahsakitan.

BAB II Kewajiban Rumah Sakit Terhadap MasyarakaL

Pasal 6

I ,
I

Rumah Sakit harus jujur dan terbuka, peka terhadap saran dan kritik masyarakat dan berusaha agar pelayanannya menjangkau di luar rumah sakit.

Pasal 7 Rumah Sakit harus senantiasa menyesuaikan kebijakan pelayanannya pada harapan dan kebutuhan masyarakat setempat.

BAB III Kewajiban Rumah Sakit Terhadap Pasien

Pasal 8 Rumah Sakit harus mengindahkan hak-hak asasi pasien-

Pasal 9

I I

I !

*umah Sakit harus memberikan penjelasan apa yang diderita pasien, dan tindakan apa yang hendak dilakukan. Pasal l0 persetujuan pasien (informed consent) sebelum Rumah Sakit harus meminta melakukan tindakan medik.

BAB IV
Kewajiban Rumah Sakit Terhadap Pimpinan, Staf, dan Karyawan

Pasal

I

l
I

Rumah Sakit harus menjamin agar pimpinan, staf , dan karyawannya senantiasa mematuhi etika profesi masing-masing.

Pasal I2
Rumah Sakit harus mengadakan seleksi tenaga staf dokter, perawat, dan tenaga lainnya berdasarkan nilai, norma, dan standar ketenagaan.

Pasal

I3

Rumah Sakit harus menjamin agar koordinasi serta hubungan yang baik antara seluruh tenaga di rumah sakit dapat terpelihara.

Pasal 14
Rumah Sakit harus memberi kesempatan kepada seluruh tenaga rumah sakit untuk meningkatkan dan menambah ilmu pengetahuan serta keterampilannya.

Pasal

I5

Rumah Sakit harus mengawasi agar penyelenggaraan pelayanan dilakukan berdasarkan standar profesi yang berlaku.

BAB V Hubungan Rumah Sakit Dengan Lembaga Terkait
Pasal 16
Rumah Sakit harus memelihara hubungan yang baik dengan pemilik berdasarkan nilai-nilai, dan etika yang berlaku dimasyarakat Indonesia.

Pasal 17 Rumah Sakit harus memelihara hubungan yang baik antar rumah sakit dan menghindarkan persaingan yang tidak sehat. Pasal 18
Rumah Sakit harus menggalang kerjasama yang baik dengan instansi atau badan

lain yang bergerak dibidang kesehatan.

Pasal 19
Rumah Sakit harus berusaha membantu kegiatan pendidikan tenaga kesehatan dan penelitian dalam bidang ilmu pengetahuan dan tehnologi kedokteran dan
kesehatan.

BAB VI Lain-lain
Pasal 20 Rumah Sakit dalam melakukan promosi pemasaran harus bersifat informatif, tidak komparatif, berpijak pada dasar yang nyata, tidak berlebihan, dan berdasarkan Kode Etik Rumah Sakit Indonesia.

: Tanggal : Disahkan :
Diputuskan

Pada Rapat Kerja pERSI 15 - 17 Maret 1999 di Jakarta Pada Konsres VIII PERSI di Jakarta

PENJELASAN KODE ETIK RUMAH SAKIT INDONESIA (KODERSI)

UMUM
Peristiwa sejarah menunjukkan bahwa peradaban umat manusia memunculkan kepermukaan berbagai sistem tingkah laku sosial yang menghablur dalam bentuk lembaga-lembaga kemasyarakatan. Kesadaran umum dan kecerdasan lahir batin persekutuan hidup ini pada hakikatnya telah memicu kepedulian sosial yang bersumber pada kemurnian akhlak insani yang pada gilirannya menggugah tanggung jawab bersama atas nasib sesama manusia yang ditimpa musibah. Bahkan telah menjadi buah mulut bahwa hanya di dalam peradaban yang progresif nampak mencolok keyakinan warga masyarakat perlu meningkatkan kewajiban berdasarkan amal ibadah menyelenggarakan kesejahteraan umum.
Kesejahteraan umum tercakup di dalamnya pelayanan medik, termasuk bedah pada hakikatnya muncul lebih awal dalam sejarah peradaban manusia daripada pelayanan rumah sakit dan lembagalembaga sosial lainnya yang menyediakan berbagai kemudahan pengobatan dan perawatan pasien.

Kisah pertumbuhan dan perkembangan rumah sakit dimana-mana disambut sebagai keunggulan peradaban manusia atas berbarisme pada umumnya, altruisme atas egoisme, malah perilaku watak gotong royong atas individualisme khususnya- Penyelenggaraan rumah-rumah sakit sampai dengan saat ini pada dasarnya berlangsung sebagai akibat getaran insani yang luhur yakni kasih
sayang yang sejati. Kendatipun pergaulan hidup senantiasa mengalami perubahan

yang berkesinambungan, watak dan budi pekerti manusia boleh dibilang sepanjang masa relatif tetap sama.
Perumahsakitan di Indonesia memiliki sejarah yang khas dalam kaitannya dengan sejarah bangsa Indonesia. Keterlibatan secara langsung dalam pergerakan bangsa Indonesia dalam upaya membebaskan diri dari cengkeraman penjajahan, yang

telah membuahkan momentum penting yaitu "kebangkitan nasional" yang telah dijadikan tonggak sejarah bangsa Indonesia dalam menggalang kesatuan dan

persatuan bangsa Indonesia yang bermottokan "satu Nusa, satu Bangsa dan satu Bahasa", telah mewarnai jati diri perumahsakitan Indonesia. Latar belakang kemajemukan dan keanekaragaman sosial ekonomi dan kebudayaan telah dapat dicairkan, dan digantikan oleh semangat yang dilambangkan sebagai "Bhineka Tunggal Ika"; semua ini telah mendasari seluruh peri kehidupan, termasuk perkembangan perumahsakitan di Indonesia. Selanjutnya juga keterlibatan perumahsakitan beserta para tenaga kesehatannya dalam perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia, sehingga tercapainya Indonesia Merdeka dan berdirinya "Negara Republik Indonesia, yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945"' telah pula turut mewarnai jati diri perumahsakitan Indonesia. Semua ini harus dijadikan modal dalam menghadapi mas: depan bangsa Indonesia penuh tantangan, yang diwujudkan dalam "Pembangunan Nasional" termasuk di dalamnya "Pembangunan Kesehatan Nasional" khususnya pembangunan perumahsakitan Indonesia. Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSD sebagai perhimpunan profesi bidang perumahsakitan, yang telah didirikan pada tanggal 11 April 1978 di Jakarta, merupakan mitra pemerintah yang bertujuan turut menyukseskan program pemerintah dalam pembangunan bidang kesehatan pada umumnya dan perumahsakitan pada khususnya. Salah satunya adalah dengan mempersembahkan Kode Etik Rumah Sakit Indonesia (KODERSI) yang memuat rangkuman nilai-nilai dan norma-norma perumahsakitan Indonesia untuk dijadikan pedoman dan pegangan bagi segenap insan perumahsakitan yang secara langsung maupun tidak langsung terlibat dan berkepentingan dengan penyelenggaraan dan pengelolaan rumah sakit di Indonesia.

Nilai-nilai yang terkandung dalam KODERSI ini merupakan nilai-nilai etik
yang identik dengan nilai-nilai akhlak atau moral, yang mutlak diperlukan guna

melandasi dan menunjang berlakunya nilai-nilai atau kaidah-kaidah lainnya dalam bidang perumahsakitan, seperti perundang-undangan, hukum dan
sebagainya, guna tercapainya pemberian pelayanan kesehatan oleh rumah sakit,

yang baik, bermutu dan profesional.

Pasal

I

Pengertian rumah sakit disini adalah sarana kesehatan sebagai kesatuan sosial ekonomi, bukan merupakan kompilasi dari kode etik profesi penyelen ggara pelayanan kesehatan, narnun mengandung unsur dari etika profesi masing-masirrg penyelenggara, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun oleh masyarakat.

Pasal 2
Yang dimaksud dengan tanggung jawab rumah sakit disini ialah : a. Tanggung jawab umum. b. Tanggung jawab khusus yang meliputi tanggung jawab hukum, etika dan tata tertib atau disiplin. Tanggung jawab umum rumah sakit merupakan kewajiban pimpinan rumah s aki t menj awab pertanyaan-pertanyaan mengenai permasalahan-permas al ahan peristiwa, kejadian dan keadaan di rumah sakit. Tanggung jawab khusus muncul jika ada anggapan bahwa rumah sakit telah melanggar kaidah-kaidah, baik dalam bidang hukum, etika, maupun tata tertib atau disiplin.

Pasal 3
Pelayanan yang baik dan bermutu secara berkesinambungan pada dasarnya merupakan penyelenggaraan pelayanan secara menyeluruh, yang satu dengan yang lain terkait erat sedemikian rupa, sehingga terlaksana pelayanan rumah sakit, yang :

O O O

Setiap saat siap memberikan layanan. Beranjak dari pendirian dan pandangan bahwa manusia adalah suatu kesatuan psiko-sosio-somatik. Memberi layanan kepada pasien selaku konsumen yang dewasa dan mengakui serta menghormati sepenuhnya hak-haknya.

r0

Menjamin diberikannya mutu pelayanan teknik medik yang menunjukkan kemampuan dan ketrampilan. Dan sehubungan dengan itu perlu dilakukan berbagai tindakan pengawasan dan pengamanannya. Menjamin terselenggaranya mutu pelayanan yang manusiawi dan dilakukan dengan dedikasi tinggi serta penuh kehati-hatian. Diselenggarakan sebagai sebuah lembaga sosial ekonomi untuk kepentingan seluruh rakyat yang pada hakikatnya merupakan sumber pembiayaan proses pelayanan rumah sakit dan oleh karena itu tidak diperkenankan mendahulukan dan mengutamakan hal ikhwal yang
menyangkut biaya dari layanan, khususnya dalam menghadapi kasus gawat darurat. Harus dapat dipertanggungj awabkan kepada masyarakat.

Pasal 4
Rumah Sakit wajib menjaga dan melindungi kerahasiaan catatan dan rekaman medik serta keterangan-keterangan non medik pasien lainnya. Hal ini erat

kaitannya dengan hal menengok dan hak milik data medik pasien.

Pasal 5
Cukup jelas

Pasal 6
Upaya kesehatan yang nampaknya semakin meluas saja daya jangkaunya dengan tidak hanya menitikberatkan pada upaya penyembuhan pasien, melainkan secara

berangsur-angsur berkembang kearah keterpaduan upaya kesehatan yang menyeluruh, pada hakikatnya adalah akibat dari pengertian kesehatan yang di anut. Saat ini kesehatan tidak lagi diartikan sebagai ketidakhadiran sakit yang perlu mendapatkan perhatian penanggulanganny4 melainkan mencakup juga peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit dan pemulihan kesehatan, disamping upaya penyembuhan penyakit. Upaya kesehatan dan sumber dayanya,
t1

termasuk rumah sakit harus dilakukan secara terpadu, baik oleh pemerintah maupun masyarakat. Upaya ini telah memunculkan kepermukaan apa yang disebut rumah-rumah sakit tanpa dinding (hospitals without walls)' Dengan demikian rumah sakit harus lebih membuka diri terhadap upaya-upaya sosio ekonomi masyarakat.

Pasal 7
Kebijaksanaan pelayanan rumah sakit harus senantiasa berorientasi kepada kebutuhan masyarakat setempat, dengan memperhatikan antara lain tingkat sosial ekonomi masyarakat, tingkat pendidikan, budaya masyarakat, komposisi penduduk, pola penyakit, dan sebagainya.

Pasal 8 Hak-hak asasi pasien adalah hak-hak yang sangat fundamental yang dimiliki pasien sebagai seorang mahluk Tuhan, terutama yang dimaksud dalam pasal ini menyangkut hak-hak yang berkaitan dengan pelayanan rumah sakit, yang dalam hal ini ada dua hak dasar pasien, yaitu :

1. 2.

Hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan asuhan keperawatan
keperawatan.

yang bermutu sesuai dengan standar profesi kedokteran dan standar profesi

Hak untuk menentukan nasibnya sendiri'

Dari kedua hak dasar ini dapat diturunkan hak-hak pasien lainnya sepertinya hak untuk memperoleh informasi mengenai kesehatan/penyakitny4 hak untuk memilih rumah sakit, hak untuk memilih dokter, hak untuk meminta pendapat dokter lain (sebagai second opinion), hak atas privacy dan atas kerahasiaan pribadinya, hak untuk menyetujui atau menolak tindakan atau pengobatan yang akan dilakukan oleh dokter, dan lain-lain, kecuali yang dianggap bertentangan dengan undang-undang, dengan nilai-nilai agama, moral dan dengan nilai-nilai Pancasila, seperti tindakan "eutanasia"' aborsi tanpa indikasi medik dan lain sebagainya tidak bisa dibenarkant2

Pasal 9
Cukup Jelas

Pasal

I0

Dengan kata lain pasien mempunyai hak untuk tidak diobati dan dirawat tanoa persetujuannya.

Pasal

Il

corak pelayanan rumah sakit sebagai satu kesatuan, baik dalam hubungan internal maupun eksternal, satu dan lain dalam upaya rumah sakit memproteksi kepentingan pasien khususnya dan khalayak ramai umumnya. Dalam hal ini

Tugas penting rumah sakit ialah membina iklim manajerial yang kondusif bagi pendidikan dan pelatihan kepribadian karyawan. Hal ini pada dasarnya menandai

fihak rumah sakit bertindak pemilik rumah sakit atau wakilnya. sedangkan

memenuhi kewajiban rumah sakit terhadap pimpinan rumah sakit, maka sebagai

dalam hal memenuhi kewajiban rumah sakit terhadap staf dan karyawan, maka yang bertindak sebagai fihak rumah sakit adalah pimpinan/direktur rumah sakit.

Pasal 12
Cukup jelas

Pasal
Cukup jelas

I3 I4

Pasal

Ciri-ciri rumah sakit modern adalah, selain padat karya juga semakin padat
modal, padat teknologi bahkan padat perubahan dan penyesuaian sehingga unsur

sumber daya manusia senantiasa perlu diprogram demi peningkatan mutu pelayanan rumah sakit. Pasal I5 Pimpinan rumah sakit harus tetap memantau agar penyelenggaraan pelayanan dilakukan menurut standar profesi dengan tolak ukur objektif. Dengan demikian belum cukup bahwa penyelenggara petayanan telah memberikan jasa-jasanya

l3

secara habis-habisan dengan tekad dan itikad baik, melainkan wajib melakukannya menurut standar seorang penyelenggara profesi yang melaksanakan tugasnya dengan kelayakan, sedemikain rupa seperti hal itu dilaksanakan oleh setiap penyelenggara profesi dalam situasi dan kondisi yang
serupa.

Pasal 16 Dalam menyelenggarakan kegiatan sehari-hari, rumah sakit harus berhubungan dengan khalayak (publik) internal pada satu pihak dan khalayak eksternal pada lain pihak. Adalah kewajiban pimpinan rumah sakit menjaga keselarasan hubungan dengan khalayak-khalayak ini berdasarkan nilai-nilai dan etika yang berlaku dalam masyarakat. Pada hakikatnya pemilik rumah sakit disini adalah pemilik yuridis rumah sakit dan harus berbentuk badan hukum. Guna memelihara hubungan baik yang dilandasi profesionalisme antar pemilik rumah sakit sebagai badan hukum dengan rumah sakit sebagai "unit sosio ekonomi" perlu dibentuk satu badan independen ialah Dewan Penyantun atau Dewan Pembina, yang beranggotakan tokoh-tokoh masyarakat yang memiliki berbagai latar belakang profesi, dan yang bertugas menyusun berbagai kebijaksanaan dalam hal pengelolaan rumah sakit tersebut. Berbagai peluang mengenai kemungkinan adanya pertentangan kepentingan (conflict of interest) dalam kolusi, korupsi, croinisme, dan nepotisme harus dapat dicegah sedini mungkin, dengan menciptakan pembagian kewenangan dan saling mengontrol yang proporsional diantara unsur-unsur pemilik rumah sakit, dewan penyantun/dewan pembina dan pimpinan eksekutif dari rumah sakit, liwat penerapan prinsip-prinsip manajemen yang objektif dan profesional. Berbagai persyaratan dan kriteria personalia/keanggotaan dari badan-badan yang memiliki pemilik rumah sakit, dewan penyantun/dewan pembina dan pimpinan eksekutif harus ditetapkan secara ketat, juga masa baktinya perlu dibatasi guna mencegah terjadinya ekses-ekses yang tidak dikehendaki. Pasal 17 Memelihara hubungan baik antar rumah sakit, harus senantiasa diupayakan, antara lain dengan mencegah adanya persaingan yang tidak sehat, mengadakan kerja sama dan koordinasi yang saling menguntungkan dalam hal pelayanan,
IA IT

pemanfaatan bersama peralatan dan fasilitas, maupun sumber daya manusia, pendidikan dan latihan staf dan karyawan, dan lain-lain.Semua ini bisa dilakukan

dalam wadah dan koordinasi dari PERSI sebagai organisasi profesi
perumahsakitan.

Pasal I8
Pada dasarnya pelayanan kesehatan diselenggarakan secara berjenjang dari upaya

kesehatan dasar sampai upaya rujukan yang lebih canggih, sehingga kerja sama

antar rumah sakit dengan badan-badan lain yang bergerak dalam bidang
kesehatan termasuk badan-badan usaha bidang kesehatan perlu digalang dengan

tetap berpegang pada etika./norma yang berlaku.

Pasal 19 Sudah sejak permulaan dalam sejarahnya rumah sakit selain merupakan sarana pelayanan kesehatan, juga berfungsi dan digunakan sebagai sarana atau lahan pendidikan tenaga-tenaga kesehatan dan sebagai tempat penelitian bidang kesehatan. Pendidikan dan latihan tenaga-tenaga kesehatan harus diartikan sebagai upaya kelanjutan dan kesinambungan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, dan penelitian bidang kesehatan harus diartikan sebagai upaya untuk memperbaiki dan peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Adanya kegiatan pendidikan, latihan dan penelitian di rumah sakit tidak boleh berakibat menurunnya mutu dan efisien pelayanan, sehingga merugikan fihak penderita. Porsi dan bobot kegiatan pendidikan latihan dan penelitian di rumah sakit sangat ditentukan oleh berbagai faktor diantaranya tersedianya sarana dan fasilitas , sumber daya manusia, orientasi program rumah sakit, serta adanya afiliasi dengan lembaga-lembaga pendidikan dan penelitian.
Pasal 20 Dalam pelayanan kesehatan konsep "pemasaran" (marketing) nampaknya lebih berkonotasi negatif dari pada positif, karena membangkitkan pemikiran ke arah promosi periklanan dan penjualan (sales), padahal saripati pemasaran adalah komunikasi. Dengan demikian promosi sebagai alat pemasaran rumah sakit dapat dilakukan dan lebih merupakan penyuluhan yang bersifat informatif, edukatif, preskriptif dan preparatif bagi khalayak ramai umumnya dan pasien

khususnya.
r

{

Informatif

memberikan pengetahuan mengenai hal ikhwal yang ada relevansinya dengan berbagai pelayanan dan program rumah sakit yang efektif bagi pasien/konsumen.
memperluas cakrawala khalayak ramai tentang berbagai fungsi dan program rumah sakit, penyelenggaraan kegiatan upaya kesehatan, meliputi perbekalan kesehatan di rumah sakit yang bersangkutan.

Edukatif

Preskriptif

pemberian petunj uk-petunj uk kepada khalayak ramai umunmya

dan pasien khususnya tentang peran pencari pelayanan
kesehatan dalam proses diagnosis dan terapi.

Preparatif

membantu pasien/keluarga pasien dalam proses pengambilan keputusan.

Kesemuanya ini harus diberikan secara kongkret dan berdasarkan Kode Etik Rumah Sakit Indonesia.

: Tanggal : Disahkan :
Diputuskan

Pada Rapat Kerja PERSI 15 - 17 Marct 1999

di Jakarta.

Pada Kongres

VIII

PERSI di Jakarta-

I6

PETUNJUK PELAKSANAAN (JUKLAK) KODE ETIK RUMAH SAKIT INDONESIA (KODERSI) BAB I PENDAHULUAN
Pasal

I

Untunt

PERHIMPUNAN RUMAH SAKIT SELURUH INDONESTA (PERSI) adalah merupakan organisasi perumahsakitan di Indonesia, yang ide pembentukannya mulai dicetuskan pada tanggal4 F:bruari 1973 di RS. Dr. Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, sedang pendiriannya telah diresmikan pada tanggal ll April 1978 di Jakarta. Sejak awal pendiriannya telah dirasakan perlunya PERSI sebagai organisasi perumahsakitan di Indonesia untuk memiliki Kode Etik Rumah Sakit lndonesia untuk dijadikan sebagai "Landasan Moral", dalam penyelenggaraan dan pengelolaan perumahsakitan di Indonesia. Hal ini penting mengingat, bahwa rumah sakit sebagai suatu lembaga kemanusiaan yang memiliki nilai dan martabat Iuhur, seyogyanya lebih mengutamakan nilai-nilai moral dan tidak hanya berptjak pada nilai-nilai formal semata, karena nilai formal atau nilai hukum itu sendiri baru akan bermanfaat bila dilandasi nilai moral. Bahwa dalam perjalanannya KODERSI telah mengalami berbagai perbaikan dan penyempurnaan. Sesuai dengan perkembangan dan tantangan yang dihadapinya, maka KODERSI yang baru telah diterima dan disyahkan dalam Kongres VI PERSI tahun 1993 di Jakarta.
Perubahan dan perkembangan yang cepat dalam bidang perumahsakitan di

Indonesia, telah kembali menuntut perbaikan dan penyempurnaan dari KODERSI, maka dalam Rapat Kerja PERSI tanggal 15 - 17 Maret 1999 di Jakarta telah disepakati konsep hasil perbaikan/penyempurnaan dari KODERSI untuk disyahkan dalam Kongres VIII PERSI di Jakarta.
T7

Agar supaya KoDERSI benar-benar dapat dan mudah dihayati dan diamalkan dalam penyelenggaraan dan pengelolaan perumahsakitan di Indonesia perlu disusun Petunjuk Pelaksanaan (JUKLAK).
Pasal 2 Maksud dan Tujuan

t.

Petunjuk Pelaksanaan (JUKLAK) KODERSI ini dimaksudkan untuk mempersatukan persepsi serta mempersamakan berbagai langkah dan tindakan dalam hal pemahaman dan penerapan KODERSI disemua rumah sakit di Indonesia

2.

JUKLAK KODERSI ini disusun unruk tujuan agar KoDERSI benarbenar dapat dihayati dan dipakai sebagai pedoman dan perunjuk bagi insan-insan perumahsakitan dalam penyelenggaraan dan pengelolaan rumah sakit di Indonesia

BAB II LATAR BELAKANG KODERSI, BATASAN, PENGERTIAN DAN PEMAHAMANNYA
Pasal 3

Etik Kode Etik
t.

Etik adalah norma-norma akhlak atau moral yang berlaku dalam kehidupan manusia bermasyarakat. Kode Etika adalah rangkuman norma-norma akhlak yang dikodifikasikan oleh kelompok profesi tertentu dan diberlakukan secara khusus dikalangan para anggota kelompok tersebut. Pasal 4 Kode Etik Rumah Sakit di Indonesia (KODERSI)

2.

KODERSI merupakan rangkuman norma-norma akhlak yang telah dikodifikasikan oleh PERSI sebagai organisasi perumahsakitan, yang
pengertiannya dapat dipandang dari dua sisi, ialah
:

l8

l.

Merupakan kewajiban-kewajiban moral yang harus ditaati oleh setiap rumah sakit (sebagai suatu lembaga) di Indonesia.
Merupakan rangkuman nilai-nilai moral mengenai perumahsakitan Indo_

2.

perumahsakitan dalam penyelenggaraan dan pengelolaan rumah sakit di Indonesia.

nesia guna dijadikan pegangan dan pedoman bagi insan-insan

Rumoh sakit sebagai

"unit sosio-Ekonomi" dan Nilai Dasar

Pasal 5

Rum^ah

sakit

t.

Sosio-Ekonomi, yang harus mengutamakan tugas kemanusiaan dan mendahulukan fungsi sosialnya, bukan bertujuan mencari keuntungan
semata.
2.

Rumah Sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan adalah merupakan..Unit

sebagai "unit Sosio-Ekonomi", Rumah sakit harus memiliki nilai-nilai dasar rumah sakit, sebagaimana yang diuraikan dalam mukadimah KODERSI, dan dalam menjalankan tugasnya harus senantiasa berpedoman dan berpegang teguh kepada KODERSI.

I ns on

-

Pasal 6 I ns an P e rumahs akitan

l.

Insan-insan perumahsakitan adalah mereka yang terlibat dalam kegiatan penyelenggaraan dan pengelolaan rumah sakit.
Insan-insan perumahsakitan rvajib memahami, mendalami dan menghayati serta mampu mengamalkan KODERSI secara utuh dan konsekwen.

2.

3.

Insan-insan perumahsakitan terdiri dari beberapa kelompok, ialah : a. Pendiri/Pemilik Rumah sakit, baik perorangan maupun satu badan

hukum yang menyediakan modal, mempunyai gagasan atau ide, serta menentukan misi dan falsafah rumah sakit.
19

b. Dewan Penyantun atau Dewan pembina (governing Board) rumah sakit,
yang terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat dengan latar belakang berbagai profesi, serta memiliki kepedulian mengenai kesej ahteraan masyarakat khususnya dalam bidang perumahsakitan, dan tanpa maksud mencari

keuntungan pribadi, bersedia mengabdikan diri untuk kepentingan rumah sakit. Dewan ini bertugas menyusun berbagai kebijakan sesuai dengan falsafah dan misi rumah sakit yang telah dan ditentukan pemilik rumah sakit, serta mengadakan pengawasan dan supervisi mengenai kebijakan dan pelaksanaan kebijakan dari Pemirik dan pimpinan Eksekutif Rumah Sakit. c. Pimpinan eksekutif, adalah pemimpin yang bertanggung jawab dalam hal pengelolaan dan operasional pelayanan rumah sakit, dengan dibantu oleh staf karyawan rumah sakit yang terdiri dari tenaga kesehatan dan non kesehatan. d. staf Medik dan staf Keperawatan adalah tenaga-tenaga profesi medik dan keperawatan yang bertugas dan bertanggung jawab dalam hal pelayanan medik dan keperawatan.

4.

Kejujuran, keterbukaan, idealisme dan profesionalisme adalah merupakan

sifat-sifat yang harus dimiliki dan harus mewarnai insan-insan
perumahsakitan, sesuai dengan status, kedudukan dan wawasan tanggung jawab masing-masing.

Pasal 7 Organisasi & Manajemen Rumah Sakit

1.

Manajemen Rumah Sakit merupakan ciri dari sumber kehidupan, dan sumber dinamikanya Rumah Sakit sebagai suatu organisasi. Organisasi dan manajemen rumah sakit dilandasi oleh nilai-nilai dasar rumah sakit serta berpedoman kepada KODERSI, dalam mengarur kehidupan dan dinamikanya guna mampu menampilkan kepribadian rumah sakit yang baik dan mapan.
20

2-

profesi di rumah sakit, sesuai dengan perkembangan ilmu, teknologi kesehatan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat banyak.
Pasal 8 Akreditasi Rumah Sakit

profesional. Adalah merupakan tanggung jawab pERSI untuk menegakkan dan senantiasa membina dan memelihara etika, standar dan nilai berbagai

benturan kepentingan. oleh karenanya rumah sakit memertukan pengorganisasian dan manajemen yang benar-benar mapan dan

sebagai suatu lembaga, rumah sakit merupakan suatu organisasi dengan manajemennya yang sangat multikompleks, dimana banyak mengandung kekhususan, berbagai kerawanan dan berbagai peluang untuk terlaainya

l.

Akreditasi Rumah sakit addah kegiaran penilaian oleh badan independen yang dibentuk khusus untuk tujuan ini, mengenai seberapa jauh suatu rumah sakit telah memenuhi berbagai persyaratan dan berbagai standar sebagaimana yang telah ditetapkan oleh lembaga yang berwenang.

2.

Adalah merupakan tugas dan kewajiban PERSI sebagai organisasi
perumahsakitan untuk bersama-sama dengan organisasi-organisas i profes i

kesehatan, berperan aktif dalam kegiatan akreditasi rumah sakit, dan membawa KODERSI unruk dijadikan bagian dari instrumen akreditasi rumah sakit.

21

BAB III TATALAKSANA KODERSI
Pasal 9 Inti dan Pola Pembinaan KODERSI di Rumnh Sakit

1.

Pembinaan KODERSI di rumah sakit lebih merupakan upaya-upaya preventif, persuasif, edukatif, dan korektif terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan dari norma-norma sebagaimana yang termuat dalam KODERSI.

2.

Pembinaan KODERSI diarahkan kepada dua sisi : a. Pembinaan terhadap rumah sakit sebagai suatu lembaga, lewat manajemen rumah sakit. b. Pembinaan terhadap insan-insan rumah sakit dilaksanakan secara komprehensif dan berkelanjutan.

Pasal I0 Peran Badan-Badan Etika Rumah Sakit Indonesia Dalam Pelaksanaan KODERSI di Rumah Sakit

1.

Badan-badan Etika Rumah Sakit Indonesia untuk di tingkat Pusat dan Cabang dinamakan Majelis Kehormatan Etika Rumah Sakit Indonesia (MAKERSI) dan untuk di tingkat Rumah Sakit dinamakan Komite Etika Rumah Sakit Indonesia (KERSI).

2. 3.

MAKERSI Pusat dan MAKERSI Cabang adalah merupakan perangkat
Organisasi PERSI.

Rumah Sakit sepenuhnya merupakan perangkat Organisasi Rumah Sakit, bukan dibentuk oleh PERSI melainkan dibentuk oleh Pemilik atau Pimpinan Rumah Sakit, dan sepenuhnya bertangunggung jawab

KERSI

di

22

kepada fihak yang mengangkatnya, hanya dilakukan oleh MAKERSI Cabane.

se,ca.ra

fungsional pembinaannya

Pasal II Pembinaan KODERSI di Rumah Sakit

KERSI merupakan pemeran utama dan ujung tombak dalam penerapan
KODERSI di rumah sakit, yang mempunyai peran dan tanggung jawab sebagai berikut :

l.

Pembinaan terhadap rumah sakit sebagai suatu lembaga, lewat manajemen

rumah sakit. Bila manajemen rumah sakit merupakan sumber kehidupan dan sumber dinamika rumah sakit, maka KERSI harus berfungsi sebagai "nurani-nya" yang berkewajiban untuk senantiasa memberikan tuntunan agar aktifitas dan proses manajemen rumah sakit selalu berada dalam batas-batas rambu moral sebagaimana yang telah disepakati, sehingga dapat menampilkan rumah sakit sebagai suatu lembaga "sosio-ekonomi" yang berkepribadian baik dan mapan.
2.

Pembinaan terhadap insan-insan rumah sakit secara komprehensif dan berkelanjutan, agar setiap insan rumah sakit mampu menghayati dan mengamalkan KODERSI sesuai dengan peran dan tanggung jawab masingmasing di rumah sakit.

J.

Memberi saran, nasihat dan pertimbangan kepada Pimpinan dan Pemilik Rumah Sakit agar setiap langkah kebijakan dan keputusannya tidak menyimpang dari nilai-nilai KODERSI.

4.

Dalam hal yang menyangkut atau melibatkan tenaga profesi di rumah sakit, KERSI wajib mengadakan koordinasi dan kerjasama yang baik dengan kelompok profesi di rumah sakit, tanpa mengurangi kemandirian dari profesi tersebut.

23

5.

Hubungan dengan MAKERSI Cabang, merupakan hubungan fungsional,

ialah: a. KERSI dapat meminta saran, pendapat atau nasehat dari MAKERSI
Cabang dalam hal menghadapi keraguan atau kesulitan

b. KERSI wajib memberikan laporan kepada MAKERSI Cabang mengenai pelaksanaan KODERSI di rumah sakit.

Pasal 12 Peran, Kewajiban dan Tanggung Jawab MAKERSI Cabang

MAKERSI Cabang mempunyai tugas, kewajiban dan tanggung jawab sebagai berikut :

1.

Melakukan Pembinaan dan mengkoordinasikan KERSI di rumah-rumah sakit yang berada di wilayah dari Cabang PERSI yang bersangkutan, sesuai dengan program dan kebijaksanaan yang telah ditetapkan oleh

MAKERSI Pusat.

2-

Memberikan saran, pendapat dan pertimbangan mengenai segala sesuatu yang menyangkut KODERSI kepada Pengurus PERSI Cabang yang
bersangkutan.

3.

Mengadakan koordinasi dan kerjasama dengan organisasi-organisasi profesi kesehatan lainnya, khususnya dengan badan-badan etika dari organisasi

profesi yang bersangkutan ditingkat wilayah.

4.

Dalam hal menghadapi masalah yang tidak bisa diselesaikan di tingkat Cabang, dapat meminta saran, pendapat atau nasehat dari MAKERSI
Pusat.
.A

Pasal

l3

Peran, Kewajiban dan Tanggung Jawab MAKERSI Pusat

MAKERSI Pusat mempunyai tugas, kewajiban dan tanggung jawab sebagai
berikut
:

l. 2. 3.

Menyusun dan menetapkan kebijakan dan garis-garis besar program pembinaan KODERSI secara nasional.
Memberikan saran, pendapat dan pertimbangan mengenai segala sesuatu yang menyangkut KODERSI kepada Pengurus PERSI PusatMengadakan koordinasi dan kerjasama dengan organisasi-organisasi profesi Kesehatan lainnya, khususnya dengan badan-badan etika dari organisasi

profesi yang bersangkutan di tingkat nasional.

4.

MAKERSI Pusat berkewajiban menampung dan menyelesaikan berbagai permasalahan yang diajukan oleh MAKERSI Cabang yang tidak bisa diselesaikan di tingkat Cabang.

25

BAB IV

PENUTUP
Pasal

I4

l.

Hal-hal yang belum tercantum dalam Petunjuk Palaksanaan KODERSI ini dapat diputuskan oleh MAKERSI Pusat, dengan ketentuan tidak boleh bertentangan dengan Petunjuk Pelaksanaan ini dan atau dengan berbagai ketentuan lainnya dari PERSI.
Dengan demikian diharapkan pemahaman, penghayatan dan pengamalan

2-

KODERSI di rumah sakit akan membawa hasil, sehingga pengabdian perumahsakitan di Indonesia akan terus meningkat

3.

Petunjuk Pelaksanaan KODERSI

ini mulai berlaku

sejak tanggal

diputuskan dan hanya dapat diperbaiki dan dirubah dalam Rapat Kerja atau Kongres PERSI.

: Tanggal : Disahkan :
Diputuskan

Pada Rapat Kerja PERSI. 15 - l7 Maret 1999 di Jakarta. Pada Kongres PERSMII di Jakarta.

26

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->