Cina Sebagai Kelompok Minoritas

Cina sebagai kelompok minoritas (Prasangka,Diskriminasi dan Etnosenstrisme ) 1. Prasangka : Sikap yang negatif terhadap sesuatu.

Diskriminasi : Pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dsb); Etnosentrisme : Sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. Prasangka Diskriminasi Bersumber pada suatu sikap Menunjuk pada suatu sikap Orang yang berprasangka dapat berprilaku negatif. Contoh : Cina sebagai kelompok minoritas, sering menjadi sasaran rasial, walaupun secara yuridis telah menjadi warga negara Indonesia dan dalam UUD 1945 Bab X Pasal 27 dinyatakan bahwa semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan. Akibat : Apabila muncul suatu sikap berprasangka dan diskriminatif terhadap kelompok sosial la atau in, terhadap suku bangsa, kelompok etnis tertentu, bisa jadi akan menimbulkan pertentangan pertentangan yang lebih luas. Suatu contoh : Beberapa peristiwa yang semula menyangkut berapa orang saja bisa menjadi luas dan melibatkan sejumlah orang Contoh Kedua Kerusuhan Mei 1998 2. Praktik Diskriminasi kepada etnis Cina praktik diskriminasi etnik telah lama dijalankan, utamanya di masa Orde Baru (Orba)Representasi paling nyata adanya prasangka terhadap minoritas, khususnya et China terjadi pada Mei 1998. nik 3. Pernikahan beda etnik Mengenai pernikahan berbeda etnik (contoh :lakilaki Jawa dan perempuan Cina) sebagian besar mengaku tidak mendapat dukungan dari keluarga, malah sebaliknya mendapat kecaman dari keluarga. Hal itu menggambarkan bahwa masih ada keengganan untuk pernikahan 2 etnik sebagai cermin masih adanya prasangka antara 2 etnik yang bersangkutan. 4. Kebangkitan Budaya Minoritas Tahun Baru Imlek alias Tahun Baru Cina dijadikan sebagai bagian dari hari libur Republik Indonesia . Era KH Abdurrachman Wahid merupakan penyegaran dan cahaya baru khususnya bagi etnis Tionghoa yang ada di Indonesia , setelah lebih dari 30 tahun tidak diperbolehkan menunjukkan jatidirinya sebagai suatu suku bangsa. Masih segar dalam ingatan, sebelum tahun 1998, apa saja yang berbau Cina dianggap tidak nasionalis, tidak patriotik, dan dalam banyak hal dikait-kaitkan dengan komunisme di RRC. 5. Kebangkitan Budaya Minoritas Tapi dengan terbukanya klep ketertutupan ini pasca 1998 , perlahan kebudayaan Cina mulai kembali menunjukkan jatidirinya ditengah masyarakat Indonesia. Bahkan pada awal tahun 2000an salah satu televisi swasta terkemuka ditanah air mulai menayangkan berita berbahasa Mandarin setiap hari dengan durasi setengah jam dan berlangsung hingga kini. Aneka macam budaya Cinapun mulai kembali ditekuni seperti makin maraknya grup Barongsai yang anggotanya bukan hanya dari etnis Tionghoa, melainkan juga dari kalangan pribumi tanpa memandang asal

segala bentuk upaya untuk mengungkit-ungkit perbedaan yang ada hanya akan menimb ulkan ketidaksenangan demi ketidaksenangan. persoalan-persoalan yang syarat ditandai dengan simbol. ras. yang monoritas tidak selamanya minoritas. cara kita dalam memahamai mayoritas dan minorotas mesti diubah. ancaman konflik senantiasa membayang. Sedangkan mayoritas senantiasa berpikir bahwa mereka selalu harus menjadi nomor satu. Dalam realitas yang penuh perbedaan. Sebab-sebab timbulnya prasangka dan diskriminasi : -Berlatar belakang sejarah -Dilatarbelakangi oleh perkembangan sosio kultural dan . Mereka yang mayoritas. Sebab itu.Perluasan kesempatan belajar . dan agama. h Kungfu dan kursus bahasa Mandarin. minoritas dalam posisi lemah. mereka yang mayoritas ternyata juga tidak bisa tampil. Sedangkan mayortitas. Apalagi jika kita meyakini bahwa realitas hidup sangat beragam dan syarat akan sekian banyak perbedaan. Posisi itu makin minor apabila minoritas senan tiasa berpikir bahwa mereka selalu menjadi nomor dua. Kita tidak bisa melihat segala sesuatu dari satu sisi yang menunjukkan kita berada dalam posisi mayoritas. budaya. . sulit mendudukkan kesetaraan.usul dan agamanya (pendek kata kesenian Barongsai sudah menjadi milik bersama). tidak selamanya akan menjadi mayoritas.Perluasan kesempatan belajar . Mereka yang minoritas. dikambing hitamkan dan bahkan dikuasai oleh mayoritas.Sikap terbuka dan sikap lapang . kepercayaan dan agama 7. Karena itu. Namun. diperlakukan tidak adil. terdiskriminasikan. Dunia selalu berputar sesuai mekanisme roda. adanya mayoritas dan minoritas sudah menunjukkan perbedaan. Pada sisi tertentu. Konon pula mengenai etnis. tidak perlu terus-menerus berupaya apa saja agar tetap dalam posisi mayoritas. Begitu juga sebaliknya. Perbedaan-perbedaan itu mengerucut sebagai mayoritas dan minoritas.html DARI MAYORITAS KE MINORITAS Dimana-mana di dunia ini dan dalam hal apa saja. pasti terjadi perbedaan. Dalam perbedaan itu. sekelompok masyarakat tampil sebagai mayoritas. tidak seharusnya menyemangati diri untuk senantiasa ingin menunjukkan eksistensi dengan cara apa saja. 6. Artinya. Wus u. pada sisi lain. karena merasa selalu berada di bawah bayang -bayang mayoritas.blogspot. kelompok.com/2010/11/cina-sebagai-kelompok-minoritas. Dan selalu. terlalu memikirkan soal minoritas dan mayoritas hanya akan menimbulkan persoalan krusial.Perbaikan kondisi social ekonomi .situasional -Bersumber dari faktor kepribadian -Barlatar belakang dari perbedaan keyakinan. UPAYA UNTUK MENGURANGI PRASANGKA DAN DISKRIMINASI : -Perbaikan kondisi sosial ekonomi . Sebab.Sikap terbuka dan sikap lapangan http://partytaufiq. Ada baiknya kita juga melihat sisi lain dimana kita menjadi minoritas.

Sejak lama Provinsi Lampung merupakan daerah penyebaran masyarakat berkebudayaan Lampung. namun mereka sebagai pendatang secara ekonomi sedikit lebih baik dari kelompok Kristen. Masyarakat Pepadun seolah lebih banyak secara kuantitas dibanding masyarakat Peminggir. Tapi. dan agama rentan dan paling mudah menjadi pemicu munculnya prasangka. tetapi hampir 80 % menguasai perekonomian Indonesia. Sebab. masyarakat yang menjadi mayoritas di Lampung adalah masyarakat Lampung. tetapi mereka menjadi mayoritas jika berkaitan dengan realitas dunia bisnis dan usaha. Masyarakat ini sendiri terdiri dari dua subbudaya. Sebut saja masyarakat Tionghoa di Lampung. Bali. Tulisan berikut menjadikan masyarakat di provinsi ini sebagai contoh dalam melihat persoalan mayoritas dan minoritas. sebagian besar pelaksana kegiatan sehari-ahri pemerintah daerah bukanlah mayoritas masyarakat Lampung. karena orang yang berprasangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang melancarkan komunikasi. isu-isu etnik. Begitu juga halnya dengan kelompok masyarakat lain yang secara komposisi demografi merupakan minoritas. ras. Kondisi awal memang masyarakat Lampung merupakan mayoritas di provinsi ini. Meskipun masyarakat Lampung mayoritas menjadi elite pejabat pemerintah. sedangkan komunitas non-Kristen merupakan kelompok minoritas. Dilihat dari jumlah pegawai negeri sipil di provinsi ini. dimana etnis Cina merupakan kelompok minoritas.*** Seperti masyarakat dunia. namun dalam bidang-bidang tertentu justru menjadi minoritas. masyarakat yang kini menjadi mayoritas di provinsi ini adalah masyarakat Jawa. Di Jayapura komunitas Kristen merupakan kelompok mayoritas. mayoritas merupakan masyarakat Jawa. Meskipun jumlah mereka sangat minim dan merupakan minoritas. dan lain sebagainya. Pada tataran yang lebih luas. kelompok minoritas namun dalam hal tertentu menjadi mayoritas di tengah-tengah kelompok mayoritas itu sendiri. Sebaliknya. dalam hal tertentu justru tidak dominan. . sebagian besar elite pejabat pemerintah mayoritas merupakan masyarakat Lampung. Tentu saja tidak sulit bila masyarakat menjadikan perbedaan sebagai suatu kekuatan baru dalam menjaga harmoni. Artinya. Batak. sehingga Pemadun seolah mayoritas dengan Peminggir sebagai minoritas. Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. baik Pepadun maupun Peminggir hidup dalam perbedaan mayoritas dan minoritas itu. namun pada sisi lain dalam realitas kehidupan di provinsi ini masyarakat Jawa tetap menjadi minoritas. Dalam kehidupan sosial budaya. Pepadun dan Peminggir. Para kepala daerah di kabupaten sebagian besar merupakan masyarakat Lampung. mereka yang menjadi mayoritas di satu sisi. Komposisi ini hampir sama dengan komposisi penduduk Lampung secara budaya. katakanlah dalam hal ekonomi. masyarakat di Provinsi Lampung juga memiliki banyak perbedaan. Sedangkan kelompok minoritas adalah masyarakat di luar penganut kebudayaan Lampung seperti Jawa. data pada Bappeda Lampung menunjukkan. namun para pejabat ini menjadi minoritas dalam urusan-urusan yang berkaitan dengan dinamika pemerintahan daerah. Meskipun secara kuantitas masyarakat Jawa merupakan mayoritas. Sumatra Selatan. Prasangka adalah salah satu rintangan atau hambatan berat bagi kegiatan komunikasi. Di lingkungan pemerintahan daerah. Dalam masyarakat plural seperti di Lampung. *** Mayoritas dan minoritas bukan suatu persoalan bila masyarakat dapat membangun kebersamaan. Banten.

html Masyarakat Majemuk. Karena dalam masyarakat multikultural itulah. Sebaliknya. (Effendi. komunikasi antarabudaya jarang kita temukan di Lampung. Bali. orang tidak akan dapat berfikir obyektif. yang ju stru akan berdampak positif terhadap makin eratnya komunikasi antarabudaya. tidak akan pernah berubah menjadi orang Lampung. dibutuhkan wadah yang menggabungkan semua budaya yang ada di Lampung. Uraian berikutnya adalah mengenai dengan penjelasan mengenai apa itu golongan minoritas dalam kaitan atau pertentangannya dengan golongan dominan. Bentuk interaksi yang paling efektif adalah melakuka komunikasi yang terus menerus diantara setiap kelompok. masyarakat Jawa yang masuk dalam komunitas budaya dimana isinya bukan hanya orang Jawa. baik itu pertukaran infomasi. 1981). ada yang didiskriminasi secara sosial dan budaya dalam bentuk kebijakan pemerintah nasional dan pemerintah setempat seperti yang terjadi di Indonesia dewasa ini. karena setiap budaya berbeda. Tulisan ini akan dimulai dengan penjelasan mengenai apa itu masyarakat Indonesia majemuk. dan segala apa yang dilihatnya selalu akan dinilainya secara negatif. Karena itu. hak-hak untuk berbeda diakui dan dihargai. Artinya. Masyarakat Multiultural. Dalam tulisan singkat ini akan ditunjukkan bahwa perjuangan ha k-hak minoritas hanya mungkin berhasil jika masyarakat majemuk Indonesia kita perjuangkan untuk dirubah menjadi masyarakat multikultural. *** http://budiphatees. masyarakat seperti ini bisa diharapkan ikut berperan dalam meningkatkan kualitas pembangunan daerah. persatuan dan kesatuan. Proses tersebut dapat berlangsung dengan adanya pertukaran sosial dalam rangka meningkatkan relasi diantara pihak satu dengan yang lainnya. interaksi sosial akan mengalami proses dinamis. Bila sikap toleransi yang muncul tidak dilandasi nilai-nilai yang lahir atas kesadaran yang tulus. Kesatuan dalam banyak budaya tidak akan pernah menggabungkan budaya menjadi satu budaya. seperti yang terjadi di negara Afrika Selatan sebelum direformasi atau pada jaman penjaajhan Belanda dan penjaajhan Jepang di Indonesia. sekali prasangka itu sudah mencekam. baik melakukan kegiatan bersama atau melalui dialog lintas budaya. Dalam situasi seperti ini.com/2010/09/dari-mayoritas-ke-minoritas. sangat mungkin akan terjadi asimilasi budaya melalui proses pernikahan antarpasangan berbeda latar belakang budaya. Sayang. Dan. dan lain sebagainya. Setiap kelompok budaya seolah menjadi eksklusif antara satu dengan lainnya. Ada yang didiskriminasi secara legal dan formal. Batak. mereka yang tergolong sebagai minoritas selalu didiskriminasi. penyatuan persepsi dan kesamaan bertindak. Padahal. kerjasama. Sangat mungkin. sehingga terjadi satu kesatuan diantara perbedaan yang ada. dan Minoritas: Memperjuangakan Hak-hak Minoritas Parsudi Suparlan Universitas Indonesia Masyarakat Majemuk Dalam masyarakat majemuk manapun. dan disusul dengan . tanpa menggunakan pikiran dan pandangan kita terhadap fakta yang nyata. yang seringkali salah diidentifikasi oleh para ahli dan orang awam sebagai masyarakat multikultural.Dalam prasangka. Masing-masing membentuk wadah yang hanya diisi satu kelompok masyarakat saja.blogspot. emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan atas dasar syakwasangka. dapat menjadi bom waktu dikemudian hari. Sunda. bagi masyarakat yang plural toleransi dan hidup rukun sangatlah diperlukan untuk meningkatkan rasa persaudaraan. Makanya. Untuk itulah dibutuhkan interaksi sosial antar kelompok yang berbeda.

disusul oleh orang Cina. dipimpin oleh Soekarno-Hatta. yang biasanya dilakukan secara paksa (by force) menjadi sebuah bangsa dalam wadah negara. Dalam masyarakat Hindia Belanda. seluruh wilayah jajahan Jepang di Indonesia dieksploitasi secara habis habisan baik yang berupa sumber daya alam fisik maupun sumber daya manusianya (ingat Romusha).penjelasan mengenai multikulturalisme. Ciri-ciri yang menyolok dan kritikal dari masyarakat majemuk adalah hubungan antara sistem nasional atau pemerintah nasional dengan masyrakat suku bangsa. yang merupakan kelompok minoritas dalam perspektif penjajahan Jepang. dan kemuian yang terbawah adalah mereka yang tergolong pribumi. yang posisi ini di hindia Belanda dipegang oleh golongan Cina. Permesta di Sulawesi Utara. Atau dipercayakan kepada para bangsawan dan priyayi un kelompok-kelompok tuk suku bangsa yang digolongkan sebagai terbelakang atau primitif. budaya. Pada tahun-tahun penguasaan dan pemantapan kekuasaan pemerintah nasional barulah muncul sejumlah pemberontakan kesukubangsaan -keyakinan keagamaan terhadap pemerintah nasional atau pemerintah pusat. Arab. Sedangkan para sultan dan raja atau para bangsawan yang disukung oleh para birokrat (priyayi) digunakan untuk kepentingan pemerintahan dan penguasaan. RMS. Sebelum Perang Dunia kedua. yang disemangati oleh Sumpah Pemuda tahun 1928. PRRI di Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam struktur yang berlaku nasional ini terdapat struktur-struktur hubungan kekuatan dominan-minoritas yang bervariasi sesuai konteks-konteks hubungan dan kepentingan yang berlaku. Afrika Selatan. Tulisan akan diakhiri dengan saran mengenai bagaimana memperjuangkan hak-hak minoritas di Indonesia. Dalam masa pendudukan Jepang di Indonesia. Hubungan antara pemerintah nasional dengan masyarakat suku bangsa dalam masyarakat jajahan selalu diperantarai oleh golongan perantara. Dengan kerakusannya yang luar biasa. Mereka yang tergolong pribumi digolongkan lagi menjadi yang tergolong telah menganl peradaban dan meraka yang belum mengenal peradaban atau yang masih primitif. Dalam perspektif hubngan kekuatan. dan politik yang dikukuhkan sebagai hukum ataupun sebagai konvensi sosial yang membedak mereka yang an tergolong sebagai dominan yang menjadi lawan dari yang minoritas. yaitu orang Belanda dan orang kulit putih. Dalam masyarakat majemuk dengan demikian ada perbedaan-perbedaan sosial. masyarakat-masyarakat negara jajahan adalah contoh dari masyarakat majemuk. pemerintah penajajahan Jepang yang merupakan pemerintahan militer telah memposisikan diri sebagai kekuatan memaksa yang maha besar dalam segala bidang kehidupan masyarakat suku bangsa yang dijajahnya. yaitu mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia. Masyarakat Majemuk Indonesia Masyarakat majemuk terbentuk dari dipersatukannya masyarakat -masyarakat suku bangsa oleh sistem nasional. emmerdekakan diri pada tanggal 17 agustus tahun 1945. Dalam struktur hubungan kekuatan yang berlaku secara nasional. DI/TII di Sulawesi Selatan. dan Timur asing lainnya. Malaysia. Sedangkan setelah Perang Dunia kedua contoh -contoh dari masyarakat majemuk antara lain. dan berbagai pemberontakan dan upaya memisahkan diri dari Republik Indonesia akhirakhir ini - . seperti yang dilakukakn oleh DI/TII di jawa Barat. dan Suriname. Indonesia. dan hubungan di antara masyarakat suku bangsa yang dipersatukan oleh sistem nasional. dalalm penjajahan hindia Belanda terdapat golongan yang paling dominan yang berada pada lapisan teratas. dan Timur Asing lainnya untuk kepentingan pasar. Arab. sebetulnya merupakan terbentuknya sebuah bangsa dalam sebuah negara yaitu Indonesia tanpa ada unsur paksaan. pemerintah nasional atau penjajah mempunyai kekutan iliter dan polisi yang dibarengi dengan kekuatan hukum untuk memaksakan kepentingan -kepentingannya. Warga masyarakat Hindia Belanda yang kemudian menjadi warga penjajahan Jepang menyadari pentingnya memerdekakan diri dari penjajahan Jepang yang amat menyengsarakan mereka. sistem nasional atau pemerintahan nasional adalah yang dominan dan masyarakat-masyarakat suku bangsa adalah minoritas.

Karena besar populasinya belum tentu besar kekuatannya. Lalu apakah itu dinamakan minoritas dan dominan? Hubungan Dominan-Minoritas Kelompok minoritas adalah orang-orang yang karena ciri-ciri fisik tubuh atau asal-usul keturunannya atau kebudayaannya dipisahkan dari orang-orang lainnya dan diperlakukan secara tidak sederajad atau tidak adil dalam masyarakat dimana mereka itu hidup. Dalam era diberlakukannya otonomi daerah. dan sosial budaya. Konsep diskriminasi sebenarnya hanya digunakan untuk mengacu pada tindakan -tindakan perlakuakn yang berbeda dan merugikan terhadap mereka yang berbeda secara askriptif oleh golongan yang dominan. Mereka diperlakukan sebagai orang luar dari masyarakat dimana mereka hidup. Perspektif ini tidak akan dapat memahami mengapa golongan minoritas didiskriminasi. dan keterbatasan dalam kemajuan pekerjaan dan profesi. yang disebabkan oleh adanya pertentangan antara sistem nasional dengan masyarakat suku bangsa dan konflik di antara masyarakat-masyarakat suku bangsa dan keyakinan keagamaan yang berbeda di Indonesia. (2) sebuah perasaan yang secara intrinsik ada dalam keyakinan mereka bahwa golongan minoritas yang rendah derajadnya itu adalah berbeda dari mereka dantergolong sebagai orang asing. Begitu juga dengan kerusuhan berdarah antar suku bangsa yang terjadi di kabupaten Sambas. di Riau. Yang termasuk golongan sos askriptif adalah suku bangsa (termasuk ial . Keberadaan kelompok minoritas selalu dalam kaitan dan pertentangannya dengan kelompok dominan. Mereka juga menduduki posisi yang tidak menguntungkan dalam kehidupan sosial masyarakatnya. ekonomi. dominan-minoritas dilihat sebagai hubungan kekuatan. Ketentuan otonomi daerah ini menghasilkan golongan dominan dan golongan minoritas yang bertingkat-tingkat sesuai dengan kesukubangsaan yang bersangkutan. kemarahan. Sulawesi Tengah. keberadaan dan kehidupan minoritas yang dilihat dalam pertentangannya dengan dominan. dan kekerasan. Dalam perspektif ini. dan Maluku yang harus diredam secara paksa. Ini berlaku pada tingkat provinsi maupun pad tingkat kabupaten dan a wilayah administrasinya. karena mereka dibatasi dalam sejumlah kesempatan-kesempatan sosial. siapa yang sepenuhnya berhak atas sumber daya alam. Bila kita melihat minoritas dalam kaitan atau pertentangannya dengan mayoritas maka yang akan dihasilkan adalah hubungan mereka yang populasinya besar (mayoritas) dan yang populasinya kecil (minoritas). fisik. Kalimantan Tengah. yang harus diredam secara militer. dan di Papua. baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat-tingkat lokal. Prasangka ini berkembang berdasarkan pada adanya (1) perasaan superi ritas pada o mereka yang tergolong dominan. Dalam pembahasan tersebut di atas. Mereka yang tergolong minoritas mempunyai gengsi yang rendah dan seringkali menjadi sasaran olok-olok. dan politik. Karena itu mereka merasakan adanya tindakan diskriminasi secara kolektif.sebagaimana yang terjadi di Aceh. Kesemuanya ini menunjukkan adanya pemantapan pemersatuan negara Indonesia secara paksa. Kekuatan yang terwujud dalam struktur-struktur hubungan kekuatan. adalah sebuah pendekatan untuk melihat minoritas dengan segala keterbatasannya dan dengan diskriminasi dan perlakukan yang tidak adil dari mereka yang tergolong dominan. yang dikuasai dan didominasi administrasi dan politiknya oleh putra daerah atau mereka yang secara suku bangsa adalah suku bangsa yang asli setempat. kebencian. Mereka ini mengembangkan seperangkat prasangka terhadap golongan minoritas yang ada dalam masyarakatnya. (3) adanya klaim pada golongan dominan bahwa sebagai akses sumber daya yang ada adalah merupakan hak mereka. dan disertai adanya ketakutan bahwa mereka yang tergolong minoritas dan rendah derajadnya itu akan mengambil sumberdaya -sumberdaya tersebut. juga diberlakukan oleh pemerintahan lokal. Posisi mereka yang rendah termanifestasi dalam bentuk akses yang terbatas terhadap kesempatan -kesempatan pendidikan. yaitu mereka yang menikmati status sosial tinggi dan sejumlah keistimewaan yang banyak.

Berbagai tindakan diskriminasi terhadap mereka yang tergolong minoritas. mau tidak mau harus bergandengan tangan dengan upaya penyebaran dan pemantapan ideologi demokrasi dan kebangsaan atau kewa rganegaraan dalam porsi yang seimbang. dan juga S1 Universitas. Perjuangan kekuatan yang akan memberikan kekuatan kepada kelompok-kelompok minoritas sehingga hak-hak hidup untuk berbeda dapat dipertahankan dan tidak tidak didiskriminasi karena digolongkan sebagai sederajad dari mereka yang semula menganggap mereka sebagai dominan. karena golongan dominan mempunyai kekuatan berlebih dan dapat memaksakan kehendak mereka baik secara kasar dengan kekuatan militer dan atau polisi atau dengan menggunakan ketentuan hukum dan berbagai cara lalin yang secara sosial dan budaya masuk akal bagi kepentingan mereka yang dominan. Melalui kesempatan ini saya juga ingin mengusulkan bahwa ideologi multikulturalisme seharusnya juga disebarluaskan dan dimantapkan melalui program-program yang diselenggarakan oleh LSM yang yang sejenis.d. Logika yang masuk akal tersebut ada dalam multikulturalisme dan dalam demokrasi. gender atau golongan jenis kelamin. baik secara individual maupun secara kelompok. Upaya yang telah dan sedang dilakukan terhadap lima kelompok minoritas di Indonesia oleh LSM. Menurut pendapat saya. Tercakup dalam pengertian kebudayaan adalah para pendukung kebudayaan. Sehingga upaya penyebarluasan dan pemantapan serta penerapan ideologi multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Mengapa perjuangan anti-diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas dilakukan melalui perjuangan menuju masyarakat multikultural? Karena perjuangan anti-diskriminasi dan perjuangan hak-hak hidup dalam kesederajatan dari minoritas adalah perjuangan politik. dan umur. dan terutma ditujukan terhadap golongan sosial askriptif yaitu sukubangsa (dan ras). Berbagai kritik atau penentangan terhadap dua pola yang umum dilakukan oleh golongan dominan terhadap minoritas biasanya tidak mempan. dan keyakinan beragama). Program penyebarluasan dan pemantapan ideologi multikulturalisme ini pernah saya usulkan untuk dilakukan melalui pendidikakn dari SD s. dan berbagai upaya untuk menstimuli peningkatan kerja produktif dan profesi. Sekolah Menengah Atas. kebudayaan sukubangsa. Ideologi multikulturalisme ini secara bergandengan tangan saling mendukung dengan proses -proses demokratisasi. yang pada dasarnya adalah kesederajatan pelaku secara individual (HAM) dalam berhadapan dengan kekuasaan dan komuniti atau masyarakat setempa t. sebagai warga sukubangsa dankebudayaannya. untuk meningkatkan derajad mereka. dan perjuangan politik adalah perjuangan kekuatan.golongan ras. dan tergolong sebag umur tertentu yang ai tidak akan berlaku sewenang-wenang terhadap orang atau kelompok yang tergolong lain dari dirinya sendiri dan akan mampu untuk secara logika menolak diskriminasi dan perlakuakn sewenang wenang oleh kelompok atau masyarakat yang dominan. akan mempunyai kesadaran tanggung jawab sebagai orang warga negara Indonesia. Multikulturalisme dan Kesederajatan Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang menekankan pengakuan dan penghargaan pa da kesederajatan perbedaan kebudayaan. Sehingga mereka itu tidak . gender. cara yang terbaik adalah dengan merubah masyarakat majemuk (plural society) menjadi masyarakat multikultural (multicultural society). Perjuangan politik seperti ini menuntut adanya landasan logika yang masuk akal di samping kekuatan nyata yang harus digunakan dalam penerapannya. Sehingga setiap orang Indoensia nantinya. mungkin dapat dilakukan melalui program -program pendidikan yang mencakup ideologi multikulturalisme dan demokrasi serta kebangsaan. atau pemaksaan untuk merubah cara hidup dan kebudayaan mereka yang tergolong minoritas (atau asimilasi) adalah pola-pola kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat majemuk. dengan cara mengadopsi ideologi multikulturalisme sebagai pedoman hidup dan sebagai keyakinan bangsa Indonesia untuk diaplikasikan dalam kehidupan bangsa Indonesia. tergolong sebagai gender tertentu. dan umur.

berbahaya. . mitos-mitos itu juga masih hidup subur dan tertanam dalam-dalam di lubuk kesadaran kalangan warga Indonesia keturunan Tionghoa sendiri. Kalaupun pernah terjadi konflik antarmereka sepanjang proses adaptasi sosial itu. Pertanyaannya. Itu pun. Pendulum sejarah memang akhirnya berbelok arah. atau merupakan satu kejadian luar biasa bagi warga lokal yang menerima kehadiran tamu-tamu asing itu. begitu keyakinan Lev. http://www. mereka cenderung berperilaku eksklusif. Belanda. Yang pasti. telah berlangsung lama dan itu terjadi jauh sebelum VOC datang. bisa jadi. awal bulan ini. itu adalah hal biasa. lagi lagi kata orang. hingga mitos-mitos itu bisa begitu hidup dan tertanam lekat di benak kita sampai sekarang? Atas pertanyaan sepenting ini.org/publications/essays/articles/masyarakat_majemuk.html Orang Indonesia-Tionghoa: Manusia dan Kebudayaannya Sumber : Kompas BEGITU lahir-begitu banyak orang sering mengatakannya-orang Indonesia keturunan Tionghoa sudah langsung pintar berdagang dan pandai pula mencari duit. Prof Daniel S Lev PhD (guru besar emeritus Ilmu Politik Universitas Washington) lalu menarik akar dalam sejarah kita sebagai bangsa.lagi berada dalam keterbelakangan dan ketergantungan pada kelompok -kelompok dominan dalam masyarakat setempat dimana kelompok minoritas itu hidup. lalu adakah sesuatu yang salah dalam perjalanan sejarah kita sebagai bangsa.interseksi. demikian seterusnya. selalu terjadi proses adaptasi damai antara kelompok pendatang dari daratan Cina ini dengan warga setempat. Terjadi pemisahan sosial-politik antara warga Indonesia keturunan Tionghoa dengan masyarakat setempat. persoalan tersebut ia paparkan dengan cara yang cukup menarik. kata Lev. Dan. Sebaliknya (masih kesan orang). tidak pernah dianggap aneh. *** GELOMBANG migrasi orang-orang Tionghoa secara individual dari daratan Cina ke berbagai pelosok wilayah di seluruh Indonesia. atau kemudian dijadikan kambing hitam dan dihantam terus menerus seperti yang belakangan terjadi. mereka juga sering tidak menunjukkan kegairahan besar untuk mau bergaul dengan orang lain di luar kelompoknya. Ini terjadi. Mitos-mitos tentang karakter-karakter tipikal orang Indonesia keturunan Tionghoa inilah yang hingga kini masih tertanam kuat di benak kita. yang sebenarnya tidak banyak berbeda dibandingi sistem politik sama yang dijalankan oleh Pemerintah kolonial bangsa-bangsa lain di masing-masing daerah koloninya di seluruh dunia. dikucilkan oleh masyarakat lokal. Bahkan. hanya mau bergaul secara intens dalam kelompoknya sendiri. terutama sejak Pemerintah Belanda mulai menerapkan sistem politik minoritas. Bahkan menurut sinolog dan antropolog Prof Leonard Blusse dari Universitas Leiden. umumnya kedatangan orang-orang Tionghoa dari daratan Cina ini pernah tidak ditolak. Lev ingin menunjukkan betapa sistem politik minoritas di masa lalu telah menempatkan warga Indonesia keturunan Tionghoa itu sebagai warga minoritas di tengah kelompok masyarakat mayoritas Indonesia yang terdiri dari berbagai kelompok etnis lainnya. Dalam seminar internasional tentang Orang Indonesia-Tionghoa: Manusia dan Kebudayaannya di Lembaga Ilmu P engetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta.

Menurut pengamatan Lev. bagi banyak orang telah menanamkan kesan kuat betapa insiden sosial ini tampaknya disengaja untuk bisa menjadikan warga Tionghoa sebagai korbannya. Lebih menyedihkan lagi. dirangkullah para pejabat lokal seperti para sultan di Jawa dan Raja di luar Jawa. Selain untuk menciptakan struktur sosial-ekonomi yang aman dan efisien. peristiwa ini merupakan contoh nyata perihal telah berkembangnya rasa sentimen masyarakat umum terhadap eksistensi warga minoritas ini. Sistem politik minoritas ini belakangan telah menimbulkan implikasi sosial-politik serius berkaitan dengan citra negatif tentang masyarakat Tionghoa di Indonesia. tandasnya. tekanan politik dan sosial oleh penguasa Orde Baru terhadap kelompok minoritas ini semakin intensif. perlindungan. dijadikan kambing hitam. tendensi masyarakat umum yang dengan mudahnya menohok kelompok minoritas Tionghoa ini sebagai pangkal dan sumber segala masalah. . Itu termasuk komentar-komentar bernada peyoratif berupa mitos-mitos yang salah perihal karakter khas masyarakat keturunan Tionghoa. politik minoritas yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda itu dimaksudkan untuk menepis peluang terbentuknya kelas menengah di antara masyarakat pribumi . Aksi yang disertai pembakaran rumah-rumah milik warga Tionghoa. Selain partisipasi dalam politik praktis diingkari dan bahkan sama sekali diasingkan dari jajaran birokrasi pemerintahan. kata Lev. Demi tujuan itu. *** KESALAHAN sejarah di masa pemerintahan kolonial Belanda ternyata berlanjut kembali di era pemerintahan Orde Baru. Sejak itu. rasanya logis mengatakan bahwa sejak dulu kelompok minoritas ini telah terbiasa untuk selalu disudutkan. ketergantungan mereka diintensifkan pada ling-karan kekuasaan-terutama menyangkut soal jaminan keamanan. *** KERUSUHAN Mei tahun 1998 silam. kata Lev. dan menjadi sasaran kemarahan massa. Di tahun 1740. guna mengisi kevakuman tiadanya kelompok pedagang-posisi kelas menengah yang tidak diminati orang-orang Belanda-lalu sengaja diciptakanlah (dengan banyak paksaan) semacam persetujuan dan kontrak dengan kelompok minoritas Tionghoa. Pada saat bersamaan. VOC bahkan pernah mengerahkan orang-orang Belanda dan Jawa untuk melakukan tindakan pembunuhan massal (massacre) terhadap kelompok minoritas ini.oleh pemerintah kolonial Belanda dalam sebuah aliansi politik. Mereka ini adalah kaum pedagang pribumi ya dianggap sangat potensial ng bisa mengancam kekuasaan Belanda di Indonesia.000 jiwa. Sementara. secara massif dari Jakarta hingga Semarang. ungkap Lev. peristiwa ini semakin meningkatkan suatu proses terjadinya kelompok minoritas seperti dalam bentuknya sekarang. kaum minoritas ini juga begitu rentan mendapat cap-cap jelek. Yang paling tragis tentu saja. terutama di banyak tempat di Pulau Jawa. Peristiwa untuk menyudutkan kelompok minoritas ini bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Yang terburuk tentu saja menjadikan mereka sebagai sumber segala masalah atau kambing hitam. Lebih jauh. dan proteksi ekonomi-pada saat yang sama mereka tanpa henti menjadi sapi perah ekonomi bagi kepentingan kekuasaan dan birokrat. dengan tujuan-tujuan khusus. Karena sejak awal mereka sudah sering dianggap sebagai sumber segala masalah alias bisa dengan mudah pula bisa dijadikan kambing hitam bila terjadi sesuatu. Ini tak mengherankan. Ribuan orang Tionghoa tewas dalam serangan ini yang besar kemungkinan juga karena disulut oleh rasa sentimen ekonomi. kata Lev.Politik minoritas ini diterapkan. Dalam peristiwa itu korban tewas tercatat tak kurang 10. mulai riil berlaku sistem politik minoritas terhadap warga Indonesia keturunan Tionghoa yang anehnya hal itu tak berlaku bagi warga keturunan Arab atau kelompok etnik lainnya.

lagi-lagi kelompok minoritas inilah yang akhirnya dipersalahkan oleh masyarakat. dan seterusnya. Ada perubahan signifikan atas semula yang disebut Republik Rakyat Tionghoa (RRT) harus diubah menjadi Republk i Rakyat Cina (RRC). ungkap Lev. di balik semua itu. kita mau dengan jujur mengatakan bahwa sesungguhnya para aparat dan pegawai birokrasi itulah yang sejatinya lebih mata duitan. juga tidak mau bergaul dengan kelompok masyarakat lain. *** . lalu muncul berbagai mitos yang salah tentang kelompok minoritas ini. karena kebijakan politik asimilasi lalu juga mengharuskan sebutan Tionghoa harus diubah menjadi Cina . maka kekuasaan bisa dengan mudah dimanfaatkan bagi kepentingan kekuasaan seperti dengan adanya kewajiban setoran . tak terlalu mengherankan kalau di kemudian hari-terutama karena proteksi dan hak-hak monopoli perdagangan-warga minoritas Indonesia keturunan Tionghoa ini lalu menjadi sungguh-sungguh terampil mengelola bisnis perdagangan. Cap-cap jelek itu makin menjadi-jadi di era Orde Baru. Padahal. mereka sama-sama ingin menjadikan warga Tionghoa ini sebagai warga minoritas yang hidup di atas menara gading. ungkap Lev.Tak heran bila di tahun 1970-an muncul istilah cukong untuk menyebut orang -orang Indonesia keturunan Tionghoa kaya raya yang sering bertindak sebagai kasir bagi kepentingan aparat dan birokrat. Dengan kata lain. Ujung-ujungnya. Dengan tergantungnya warga minoritas ini kepada penguasa dalam masalah jaminan keamanan dan proteksi (dagang). Oleh karena itu. kelompok minoritas Indonesia keturunan Tionghoa initelah resmi diizinkan bisa mencari nafkah secara bebas di dunia bisnis dan bahkan malah boleh menjadi kaya juga . Ini bisa berlanjut terus. memang telah menjadi terbiasa dengan main sogok. paling tidak begitu cap yang seakan-akan menuduh kelompok minoritas ini sebagai biang keladi tradisi budaya korupsi. Persyaratan itu hingga sekarang masih ada. Taruhlah itu anggapan umum di kalangan warga mayoritas pribumi . Dari situasi inilah lalu muncul istilah cukong seperti dimaksudkan di atas. Bila akhirnya lalu muncul budaya suap. yang (harus) disalahkan adalah (kelompok) minoritas dan ini terjadi di setiap wilayah koloni di mana-mana. Sedari awal. yakni anggapan bahwa o rangorang Tionghoa ini sejak dari sono-nya sudah pandai berdagang dan cari duit. dalam kontrak dan persetujuan imp lisit yang dipaksakan pemerintah kolonial Belanda terhadap kelompok minoritas ini selalu tersembunyi satu persyaratan yang kurang lebih berbunyi begini: Kalau ada apa-apa yang terjadi. katanya. Begitu kelompok minoritas ini semakin tertekan dan terisolasi. misalnya. Saat bersamaan mereka juga dijadikan kelompok pebisnis profesional yang sewaktu-waktu harus bisa dimanfaatkan bagi kepentingan penguasa. sehingga mau tak mau lalu memeras kelompok minoritas ini yang tengah terjepit kepentingannya. Dari sinilah. Itu membawa konsekuensi serius. para pedagang Tionghoa itu bisa diperas terus -menerus. yang di sini tanpa keraguan sedikit pun sangat bernuansa penghinaan atau merendahkan. maka dengan mudah pula rezim Orde Baru lalu bisa menghidupkan kembali sejumlah persyaratan kontrak dulu antara kelompok minoritas ini dengan pemerintah kolonial Belanda. hanya apabila warga Tionghoa ini tetap hidup dalam kerangka isolasi sosial dan jangan sampai terjun masuk ke dalam politik praktis dengan menjadi politisi atau anggota parlemen. sebuah kebijakan politik yang rupanya berlanjut terus dan makin massif di era pemerintahan Orde Baru. serta tidak berbakat di bidang lainnya. Hal ini memang sejak dulu telah mendapat restu dari pemerintah kolonial Belanda. Amat jarang. mitos-mitos yang salah tentang orang-orang Tionghoa itu semakin terkukuhkan lagi. Mereka. main uang di bawah meja. Praktik politik minoritas ini nyata-nyata bertujuan agar jangan sampai tercipta kelas menengah pribumi yang potensial mengancam kekuasaan Orde Baru. Rupanya ada kesamaan cara pikir penguasa kolonial Belanda dengan penguasa Orde Baru.

tambah Mely Tan selaku ketua panitia pengarah. terlalu memikirkan soal minoritas dan mayoritas hanya akan menimbulkan persoalan krusial. mereka yang mayoritas ternyata juga tidak bisa tampil mayoritas di segala bidang. semua mitos tentang masyarakat Tionghoa di atas itu adalah tidak benar. Hal itu perlu dilakukan. Menurut dia. kelompok. katakanlah itu dari keturunan etnis mana dia berasal. Posisi itu makin minor apabila minoritas senantiasa berpikir bahwa mereka selalu menjadi nomor dua. Jelas. Ancaman konflik senantiasa membayang. jauh lebih baik mau mengembangkan sikap positif. budaya. Perbedaan-perbedaan itu mengerucut sebagai mayoritas dan minoritas. Sedangkan mayortitas. Apalagi jika kita meyakini bahwa realitas hidup sangat beragam dan syarat akan sekian banyak perbedaan. karena kalangan muda ini sekarang lebih suka me nyebut dirinya orang Indonesia tanpa disertai embel-embel apa pun. Pada sisi tertentu. Jadi tidak perlu ada pretensi politik apa pun di sini. *** Dunia selalu berputar sesuai mekanisme roda. Sebaiknya kita harus berani membedah peran penting yang pernah dilakukan sejumlah tokoh orang Tionghoa-seperti Kapten John Lee-dalam sejarah pergerakan nasional menurut proporsinya. seruan seminar ini juga mengartikulasikan harapan besar agar jangan ada lagi mitos-mitos dan persepsi salah tentang warga Indonesia keturunan Tionghoa ini. Itu penting. Adanya mayoritas dan minoritas sudah menunjukkan perbedaan. sekelompok masyarakat tampil sebagai mayoritas. . Mereka yang mayoritas. Alih-alih selalu berkutat pada persoalan ingin menjadikan kelompok minoritas ini sebagai sasaran tembak . yang monoritas tidak selamanya minoritas. Pada sisi lain. tandasnya. Dan selalu. diperlakukan tidak adil.identitas keindonesiaan kita sebagai bangsa. selalu terjadi perbedaan.com/group/budaya_tionghua/message/1705 Mayor-Minor Diposkan oleh Tabloid Mingguan Faktual di 18:12 Label: Budaya Dimana-mana di dunia ini dan dalam hal apa saja. Konon pula mengenai etnis. tidak selamanya menjadi mayoritas. segala bentuk upaya untuk mengungkit-ungkit perbedaan yang ada hanya akan menimbulkan ketidaksenangan demi ketidaksenangan. Sedangkan mayoritas senantiasa berpikir bahwa mereka selalu harus menjadi nomor satu. tidak seharusnya menyemangati diri untuk senantiasa ingin menunjukkan eksistensi dengan cara apa saja. dikambing hitamkan dan bahkan dikuasai oleh mayoritas. ungkap Mely di akhir seminar. sulit mendudukkan kesetaraan. karena merasa selalu berada di bawah bayang-bayang mayoritas. karena kini justru tengah berlangsung hal-hal positif yang mendukung proses terciptanyakatakanlah. Masyarakat perlu mendukung proses itu agar proses pembentukan kesadaran baru menyangkut identitas diri baru mereka semakin nyata. tidak perlu terus-menerus berupaya apa saja agar tetap dalam posisi mayoritas.yahoo. (Mathias Hariyadi) http://groups. minoritas dalam posisi lemah. Proses itu semakin mengkristal di kalangan anak-anak muda. Mereka yang minoritas. Dalam realitas yang penuh perbedaan. Dalam perbedaan itu. dan agama. hal itu haruslah hanya merupakan tambahan saja. Karena itu. di mana proses konvergensi (pemusatan pandangan menuju satu arah yang sama) antarkawula mu da-baik dari kelompok pribumi maupun nonpribumi-semakin kencang. terdiskriminasikan.RANGKUMAN hasil diskusi kelompok dalam seminar ini secara tegas menyimpulkan. ras. kalaupun orang lalu menuntut harus ada identitas tambahan yang sifatnya lebih bisa menerangkan halnya. Begitu juga sebaliknya.

Ada baiknya kita juga melihat sisi lain dimana kita menjadi minoritas. dan lain sebagainya. Pepadun dan Peminggir. dan agama rentan dan paling mudah menjadi pemicu munculnya prasangka. masyarakat yang menjadi mayoritas di Lampung adalah masyarakat Lampung. sehingga Pepadun seolah mayoritas dengan Peminggir sebagai minoritas. baik Pepadun maupun Peminggir hidup dalam perbedaan mayoritas dan minoritasitu. Meskipun jumlah mereka sangat minim dan merupakan minoritas. isu-isu etnik. dalam hal tertentu justru tidak dominan. Di lingkungan pemerintahan daerah. sebagian besar elite pejabat pemerintah mayoritas merupakan masyarakat Lampung. namun dalam bidang-bidang tertentu justru menjadi minoritas. Dalam masyarakat plural seperti di Lampung. masyarakat yang kini menjadi mayoritas di provinsi ini adalah masyarakat Jawa. Kita tidak bisa melihat segala sesuatu dari satu sisi yang menunjukkan kita berada dalam posisi mayoritas. kelompok minoritas namun dalam hal tertentu menjadi mayoritas di tengahtengah kelompok mayoritas itu sendiri. masyarakat di Provinsi Lampung juga memiliki banyak perbedaan. dimana etnis Cina merupakan kelompok minoritas. Masyarakat Pepadun seolah lebih banyak secara kuantitas dibanding masyarakat Peminggir. mayoritas merupakan masyarakat Jawa. tetapi hampir 80 % menguasai perekonomian Indonesia. ras. Kondisi awal memang masyarakat Lampung merupakan mayoritas di provinsi ini. Para kepala daerah di kabupaten sebagian besar merupakan masyarakat Lampung. Masyarakat ini sendiri terdiri dari dua subbudaya. Sebaliknya. Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. namun para pejabat ini menjadi minoritas dalam urusan-urusan yang berkaitan dengan dinamika pemerintahan daerah. Sejak lama Provinsi Lampung merupakan daerah penyebaran masyarakat berkebudayaan Lampung. data pada Bappeda Lampung menunjukkan. Prasangka adalah salah satu rintangan atau hambatan berat bagi kegiatan komunikasi. Dilihat dari jumlah pegawai negeri sipil di provinsi ini. Seperti masyarakat dunia. Batak. Begitu juga halnya dengan kelompok masyarakat lain yang secara komposisi demografi merupakan minoritas. sedangkan komunitas non-Kristen merupakan kelompok minoritas. Bali. katakanlah dalam hal ekonomi. namun pada sisi lain dalam realitas kehidupan di provinsi ini masyarakat Jawa tetap menjadi minoritas. Banten. Sebagian besar pelaksana kegiatan sehari-ahri pemerintah daerah bukanlah mayoritas masyarakat Lampung. Tapi. cara kita dalam memahamai mayoritas dan minorotas mesti diubah. namun mereka sebagai pendatang secara ekonomi sedikit lebih baik dari kelompok Kristen. Meskipun masyarakat Lampung mayoritas menjadi elite pejabat pemerintah. *** Mayoritas dan minoritas bukan suatu persoalan bila masyarakat dapat membangun kebersamaan. Di Jayapura komunitas Kristen merupakan kelompok mayoritas. Tentu saja tidak sulit bila masyarakat menjadikan perbedaan sebagai suatu kekuatan baru dalam menjaga harmoni. Komposisi ini hampir sama dengan komposisi penduduk Lampung secara budaya. . Sebut saja masyarakat Tionghoa di Lampung.Sebab itu. Meskipun secara kuantitas masyarakat Jawa merupakan mayoritas. Pada tataran yang lebih luas. Dalam kehidupan sosial budaya. Mereka yang menjadi mayoritas di satu sisi. Sedangkan kelompok minoritas adalah masyarakat di luar penganut kebudayaan Lampung seperti Jawa. karena orang yang berprasangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang melancarkan komunikasi. tetapi mereka menjadi mayoritas jika berkaitan dengan realitas dunia bisnis dan usaha. Sumatra Selatan.

orang tidak akan dapat berfikir obyektif. Kehidupan masyarakat urban yang inovatif. Tampaknya Clara Ng sang penulis tidak bisa lepas dari ideologi resmi masyarakat kosmopolitan kelas atas. sampai pada pembantaian. emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan atas dasar syakwasangka. *** keberagaman individu menggantikan keragaman masyarakat: sebuah kritik terhadap dimsum terakhir Dimsum Terakhir (2006). Konflik-konflik tersebut diberi kerangka yang konflik yang sedikit luas: keinginan Ayah mereka yang sekarat untuk melihat putri-putrinya menikah sesuatu hal yang hampir mustahil melihat konflik pribadi yang dimiliki putri-putrinya. baik melakukan kegiatan bersama atau melalui dialog lintas budaya. Dalam novel ini pembaca dibawa ke dunia pribadi empat wanita kembar anak dari Nung. Interaksi paling efektif adalah melakuka komunikasi yang terus menerus diantara setiap kelompok. Hal ini memerlukan perhatian lebih banyak dari sekedar masalah khas individu urban seperti kebebasan untuk berhubungan intim atau mempunyai pacar sejenis: jenis-jenis masalah yang mendapat perhatian lebih dalam novel ini. Bila sikap toleransi yang muncul tidak dilandasi nilai-nilai yang lahir atas kesadaran yang tulus. Siska dengan kehidupannya sebagai wanita karir kosmopolitan dengan kehidupan yang sangat bebas. dan Indah yang bisa dikatakan tidak mempunyai masalah yang berarti sampai dia mengetahui dirinya hamil akibat hubungan yang dilakukan dengan pastur yang insaf tak lama setelah berhubungan intim. ketenangan. Cerita berakhir dengan solusi khas ideologi humanis liberal barat. Untuk itulah dibutuhkan interaksi sosial antar kelompok yang berbeda. Makanya. tanpa menggunakan pikiran dan pandangan kita terhadap fakta yang nyata. Selama berpuluh-puluh tahun etnis Tiong Hoa Indonesia telah mengalami hal-hal yang buruk dari pen-stereotip-an. sigap. Ide humanis liberal akan keunikan individu yang berasal dari kehidupan masyarakat kapitalis perkotaan tiap harinya telah menggerogoti tradisi karena nilai-nilai feodalistis tersebut seringkali tidak sesuai dengan ritme kehidupan kota. Karena itu.Dalam prasangka. dikriminasi dalam ruang publik dan hukum. kompetitif dan menganut sitem to invent or die sangat kontras dengan kehidupan tradisional yang identik dengan kepatuhan. dikedepankannya isu-isu pribadi dan meletakkan isu sosial yang lebih luas pada latar. (Effendi. materialistis. bagi masyarakat yang plural toleransi dan hidup rukun sangatlah diperlukan untuk meningkatkan rasa persaudaraan. . kebersamaan dan keadaan yang statis. Novera dengan ketidakpercayaan dirinya dan keinginannya untuk menjadi biarawati. individualistis. humanisme liberal yang membuat . namun juga seharusnya meletakkannya sebagai isu utama. 1981). seorang mantan pedagang berketurunan Tiong Hoa. Mulai dengan Rosi dengan kecenderungan seksual kepada sesama jenis yang membuat dia lebih suka dipanggil Roni. Sang Ayah mengerti akan keunikan putri-putrinya dan wafat dengan tenang didampingi sang dokter yang juga sahabatnya sementara anak-anaknya dirumah melanjutkan tradisi yang selama ini ia dan mend iang istrinya bangun: kebersamaan pada hari imlek yang disimbolkan dengan makan dimsum bersama. dan segala apa yang dilihatnya selalu akan dinilainya secara negatif. sebuah novel yang sarat akan tokoh-tokoh keturunan Tiong Hoa dengan latar Indonesia yang multi ras sebenarnya mempunyai potensi sebagai karya yang tidak hanya berbicara banyak tentang problematika etnisitas. Setiap tokoh mempunyai masalah atau konflik masingmasing. pada dunia nyata dua hal tersebut adalah hal yang kontrad iktif. Pendamaian antara tradisi dan ideologi humanis liberal sekilas tampak nikmat untuk dipercayai. persatuan dan kesatuan. Namun. dapat menjadi bom waktu dikemudian hari. sekali prasangka itu sudah mencekam.

Tokoh Nung bersikeras memanggil anaknya dengan nama Indonesia walau mendapat kritikan dari kerabatnya. Dan bagi penulis yang mungkin sudah mapan ini berarti untuk bersimpati dengan keadaan diluar dirinya. novel ini juga menyentuh masalah keberagaman dan identitas etnis Tiong Hoa di Indonesia walau isu tersebut hanya ditemukan secara berserakan sebagai flashback (kilas balik) dan hanya berfungsi sebagai sub-tema. Gindho Rizano adalah mahasiswa program pascasarjana jurusan kesusastraan di UI. dan bagaimana Nung mau tak mau harus tetap menyuruh salah satu putrinya yang sedang sakit untuk tetap sekolah pada Hari Imlek mengingat kebijakan sekolah yang diskriminatif terhadap kaum minoritas. Novel adalah produk zaman. ia juga melihatkan bagaimana imlek memperat tali kekeluargaan tersebut. tidak bisa disangkal. Hal ini dapat ditemukan dalam sub-tema mengenai tradisi masyarakat Tiong Hoa. dan posisi penulis dalam masyarakat. Sekarang dia adalah penulis ternama yang duduk meringkuk di depan laptop. hal yang menegasi mitos stereotip dan monolitis yang ada dalam masyarakat kita tentang masyarakat Tiong Hoa. Masyarakat kita tetap saja masyarakat monokultural dimana satu agama dan satu ras diletakkan sebagai centre dari yang lain. sangat disayangkan topik-topik ini harus tenggelam dalam masalah-masalah individu tiap tokoh utama. Clara Ng melihatkan bagaimana pentingnya arti keluarga dalam keluarga Tiong Hoa yang disimbolkan dengan bulatnya bulan purnama.Namun. Dimsum Terakhir menghadirkan kultur Tiong Hoa yang kaya dan tidak bisa diredusir ke dalam stereotip pada kesadaran pembaca Indonesia yang selama ini hanya sering disuguhi wacana satu dimensi milik media yang acapkali dengan semena-mena memberikan stereotip pada kelompok marginal dan minoritas. Ada juga masalah mengenai identitas yang patut menjadi perhatian. Ada pula masalah diskriminasi dan kebijakan pemerintah yang tak sensitif tentang masalah ras yang digambarkan pada momen-momen paling menyentuh dalam karya seperti bagaimana Siska membela adiknya yang diejek dengan kata amoy . . Pada saat-saat terbaiknya. Ideologi humanis liberal yang meletakkan individu sebagai pusat semesta di mana kesuksesan dan kebebasan individu adalah hal yang utama seperti yang dilihatkan dengan sempurna oleh seperti tokoh Siska sang wanita karir sukses sangat bertentangan dengan proyek sampingan untuk menyuarakan kaum yang tertindas atau proyek lainnya untuk melihatkan kuatnya ikatan keluarga. Ini perlu perhatian yang lebih seksama karena diskriminasi bukan milik masa lalu saja. keadaan ekonomi tertentu. Akan tetapi. g Clara Ng juga dengan efektif melihatkan keberagaman identitas dalam etnis Tiong Hoa. Nung tahu benar keadaan yang beragam memerlukan identitas yan hibrid. Novel ini juga melihatkan diskriminasi yang dialami etnis Tiong Hoa di Indonesia satu hal yang sering publik lupakan. Alih -alih identitas yang statis. Sangat dimengerti jika Clara Ng hanya meletakkan kebanyakan isu-isu multikultural pada bagian flashback sebagai serpihan masa lalu karena mungkin saja isu tersebut adalah sekedar nostalgia baginya. tenggelam dalam dunia pribadi kaum kosmopolitan kelas atas yang relatif lepas (baca: melepaskan diri) dari interaksi antar kelompok sosial yang memang sebenarnya masih penuh ketimpangan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful