Cina sebagai kelompok minoritas (Prasangka,Diskriminasi dan Etnosenstrisme ) 1. Prasangka : Sikap yang negatif terhadap sesuatu.

Diskriminasi : Pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dsb); Etnosentrisme : Sikap atau pandangan yang berpangkal pada masyarakat dan kebudayaan sendiri, biasanya disertai dengan sikap dan pandangan yang meremehkan masyarakat dan kebudayaan lain. Prasangka Diskriminasi Bersumber pada suatu sikap Menunjuk pada suatu sikap Orang yang berprasangka dapat berprilaku negatif. Contoh : Cina sebagai kelompok minoritas, sering menjadi sasaran rasial, walaupun secara yuridis telah menjadi warga negara Indonesia dan dalam UUD 1945 Bab X Pasal 27 dinyatakan bahwa semua warga negara mempunyai kedudukan yang sama dalam hukum dan pemerintahan. Akibat : Apabila muncul suatu sikap berprasangka dan diskriminatif terhadap kelompok sosial la atau in, terhadap suku bangsa, kelompok etnis tertentu, bisa jadi akan menimbulkan pertentangan pertentangan yang lebih luas. Suatu contoh : Beberapa peristiwa yang semula menyangkut berapa orang saja bisa menjadi luas dan melibatkan sejumlah orang Contoh Kedua Kerusuhan Mei 1998 2. Praktik Diskriminasi kepada etnis Cina praktik diskriminasi etnik telah lama dijalankan, utamanya di masa Orde Baru (Orba)Representasi paling nyata adanya prasangka terhadap minoritas, khususnya et China terjadi pada Mei 1998. nik 3. Pernikahan beda etnik Mengenai pernikahan berbeda etnik (contoh :lakilaki Jawa dan perempuan Cina) sebagian besar mengaku tidak mendapat dukungan dari keluarga, malah sebaliknya mendapat kecaman dari keluarga. Hal itu menggambarkan bahwa masih ada keengganan untuk pernikahan 2 etnik sebagai cermin masih adanya prasangka antara 2 etnik yang bersangkutan. 4. Kebangkitan Budaya Minoritas Tahun Baru Imlek alias Tahun Baru Cina dijadikan sebagai bagian dari hari libur Republik Indonesia . Era KH Abdurrachman Wahid merupakan penyegaran dan cahaya baru khususnya bagi etnis Tionghoa yang ada di Indonesia , setelah lebih dari 30 tahun tidak diperbolehkan menunjukkan jatidirinya sebagai suatu suku bangsa. Masih segar dalam ingatan, sebelum tahun 1998, apa saja yang berbau Cina dianggap tidak nasionalis, tidak patriotik, dan dalam banyak hal dikait-kaitkan dengan komunisme di RRC. 5. Kebangkitan Budaya Minoritas Tapi dengan terbukanya klep ketertutupan ini pasca 1998 , perlahan kebudayaan Cina mulai kembali menunjukkan jatidirinya ditengah masyarakat Indonesia. Bahkan pada awal tahun 2000an salah satu televisi swasta terkemuka ditanah air mulai menayangkan berita berbahasa Mandarin setiap hari dengan durasi setengah jam dan berlangsung hingga kini. Aneka macam budaya Cinapun mulai kembali ditekuni seperti makin maraknya grup Barongsai yang anggotanya bukan hanya dari etnis Tionghoa, melainkan juga dari kalangan pribumi tanpa memandang asal

Artinya. 6. Begitu juga sebaliknya.situasional -Bersumber dari faktor kepribadian -Barlatar belakang dari perbedaan keyakinan. Perbedaan-perbedaan itu mengerucut sebagai mayoritas dan minoritas. Posisi itu makin minor apabila minoritas senan tiasa berpikir bahwa mereka selalu menjadi nomor dua.usul dan agamanya (pendek kata kesenian Barongsai sudah menjadi milik bersama).Perluasan kesempatan belajar . tidak perlu terus-menerus berupaya apa saja agar tetap dalam posisi mayoritas. ras. Kita tidak bisa melihat segala sesuatu dari satu sisi yang menunjukkan kita berada dalam posisi mayoritas. dan agama. Sebab-sebab timbulnya prasangka dan diskriminasi : -Berlatar belakang sejarah -Dilatarbelakangi oleh perkembangan sosio kultural dan . kelompok. Mereka yang minoritas. Sedangkan mayortitas. diperlakukan tidak adil. Konon pula mengenai etnis. tidak seharusnya menyemangati diri untuk senantiasa ingin menunjukkan eksistensi dengan cara apa saja. cara kita dalam memahamai mayoritas dan minorotas mesti diubah. h Kungfu dan kursus bahasa Mandarin. Apalagi jika kita meyakini bahwa realitas hidup sangat beragam dan syarat akan sekian banyak perbedaan. dikambing hitamkan dan bahkan dikuasai oleh mayoritas. UPAYA UNTUK MENGURANGI PRASANGKA DAN DISKRIMINASI : -Perbaikan kondisi sosial ekonomi . Dalam realitas yang penuh perbedaan.html DARI MAYORITAS KE MINORITAS Dimana-mana di dunia ini dan dalam hal apa saja. budaya. persoalan-persoalan yang syarat ditandai dengan simbol. terdiskriminasikan.Sikap terbuka dan sikap lapang . pada sisi lain. sekelompok masyarakat tampil sebagai mayoritas. tidak selamanya akan menjadi mayoritas. Wus u. Pada sisi tertentu. terlalu memikirkan soal minoritas dan mayoritas hanya akan menimbulkan persoalan krusial. Mereka yang mayoritas. pasti terjadi perbedaan. Dan selalu.Perbaikan kondisi social ekonomi .blogspot. Sedangkan mayoritas senantiasa berpikir bahwa mereka selalu harus menjadi nomor satu. segala bentuk upaya untuk mengungkit-ungkit perbedaan yang ada hanya akan menimb ulkan ketidaksenangan demi ketidaksenangan.com/2010/11/cina-sebagai-kelompok-minoritas. minoritas dalam posisi lemah. . Ada baiknya kita juga melihat sisi lain dimana kita menjadi minoritas. Dalam perbedaan itu. mereka yang mayoritas ternyata juga tidak bisa tampil. kepercayaan dan agama 7. Namun. Sebab.Perluasan kesempatan belajar . Sebab itu. Karena itu. yang monoritas tidak selamanya minoritas. ancaman konflik senantiasa membayang. sulit mendudukkan kesetaraan. karena merasa selalu berada di bawah bayang -bayang mayoritas.Sikap terbuka dan sikap lapangan http://partytaufiq. Dunia selalu berputar sesuai mekanisme roda. adanya mayoritas dan minoritas sudah menunjukkan perbedaan.

Tulisan berikut menjadikan masyarakat di provinsi ini sebagai contoh dalam melihat persoalan mayoritas dan minoritas. tetapi hampir 80 % menguasai perekonomian Indonesia. mereka yang menjadi mayoritas di satu sisi. Artinya. kelompok minoritas namun dalam hal tertentu menjadi mayoritas di tengah-tengah kelompok mayoritas itu sendiri. karena orang yang berprasangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang melancarkan komunikasi. Di lingkungan pemerintahan daerah. sehingga Pemadun seolah mayoritas dengan Peminggir sebagai minoritas. Bali. Meskipun masyarakat Lampung mayoritas menjadi elite pejabat pemerintah. sebagian besar pelaksana kegiatan sehari-ahri pemerintah daerah bukanlah mayoritas masyarakat Lampung. ras. isu-isu etnik. namun mereka sebagai pendatang secara ekonomi sedikit lebih baik dari kelompok Kristen. namun para pejabat ini menjadi minoritas dalam urusan-urusan yang berkaitan dengan dinamika pemerintahan daerah. . Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. masyarakat di Provinsi Lampung juga memiliki banyak perbedaan. Di Jayapura komunitas Kristen merupakan kelompok mayoritas. Tentu saja tidak sulit bila masyarakat menjadikan perbedaan sebagai suatu kekuatan baru dalam menjaga harmoni. Sumatra Selatan. Sebab. masyarakat yang menjadi mayoritas di Lampung adalah masyarakat Lampung. Pepadun dan Peminggir. sedangkan komunitas non-Kristen merupakan kelompok minoritas. Sejak lama Provinsi Lampung merupakan daerah penyebaran masyarakat berkebudayaan Lampung. baik Pepadun maupun Peminggir hidup dalam perbedaan mayoritas dan minoritas itu. Meskipun secara kuantitas masyarakat Jawa merupakan mayoritas. data pada Bappeda Lampung menunjukkan. Begitu juga halnya dengan kelompok masyarakat lain yang secara komposisi demografi merupakan minoritas. namun dalam bidang-bidang tertentu justru menjadi minoritas. katakanlah dalam hal ekonomi. Dalam kehidupan sosial budaya. Masyarakat Pepadun seolah lebih banyak secara kuantitas dibanding masyarakat Peminggir. Masyarakat ini sendiri terdiri dari dua subbudaya. Sedangkan kelompok minoritas adalah masyarakat di luar penganut kebudayaan Lampung seperti Jawa. mayoritas merupakan masyarakat Jawa. dan agama rentan dan paling mudah menjadi pemicu munculnya prasangka. masyarakat yang kini menjadi mayoritas di provinsi ini adalah masyarakat Jawa. namun pada sisi lain dalam realitas kehidupan di provinsi ini masyarakat Jawa tetap menjadi minoritas. Dilihat dari jumlah pegawai negeri sipil di provinsi ini. Batak. Prasangka adalah salah satu rintangan atau hambatan berat bagi kegiatan komunikasi. Kondisi awal memang masyarakat Lampung merupakan mayoritas di provinsi ini. dalam hal tertentu justru tidak dominan. Banten. Tapi. Pada tataran yang lebih luas. Sebut saja masyarakat Tionghoa di Lampung. sebagian besar elite pejabat pemerintah mayoritas merupakan masyarakat Lampung. Sebaliknya. Para kepala daerah di kabupaten sebagian besar merupakan masyarakat Lampung. dimana etnis Cina merupakan kelompok minoritas. *** Mayoritas dan minoritas bukan suatu persoalan bila masyarakat dapat membangun kebersamaan.*** Seperti masyarakat dunia. dan lain sebagainya. tetapi mereka menjadi mayoritas jika berkaitan dengan realitas dunia bisnis dan usaha. Dalam masyarakat plural seperti di Lampung. Meskipun jumlah mereka sangat minim dan merupakan minoritas. Komposisi ini hampir sama dengan komposisi penduduk Lampung secara budaya.

Dalam situasi seperti ini. Bila sikap toleransi yang muncul tidak dilandasi nilai-nilai yang lahir atas kesadaran yang tulus. sangat mungkin akan terjadi asimilasi budaya melalui proses pernikahan antarpasangan berbeda latar belakang budaya. Ada yang didiskriminasi secara legal dan formal. yang seringkali salah diidentifikasi oleh para ahli dan orang awam sebagai masyarakat multikultural. masyarakat Jawa yang masuk dalam komunitas budaya dimana isinya bukan hanya orang Jawa. Uraian berikutnya adalah mengenai dengan penjelasan mengenai apa itu golongan minoritas dalam kaitan atau pertentangannya dengan golongan dominan. sekali prasangka itu sudah mencekam. baik itu pertukaran infomasi. masyarakat seperti ini bisa diharapkan ikut berperan dalam meningkatkan kualitas pembangunan daerah. ada yang didiskriminasi secara sosial dan budaya dalam bentuk kebijakan pemerintah nasional dan pemerintah setempat seperti yang terjadi di Indonesia dewasa ini. Sangat mungkin. Kesatuan dalam banyak budaya tidak akan pernah menggabungkan budaya menjadi satu budaya. tidak akan pernah berubah menjadi orang Lampung. seperti yang terjadi di negara Afrika Selatan sebelum direformasi atau pada jaman penjaajhan Belanda dan penjaajhan Jepang di Indonesia. Untuk itulah dibutuhkan interaksi sosial antar kelompok yang berbeda.html Masyarakat Majemuk. Karena itu. Setiap kelompok budaya seolah menjadi eksklusif antara satu dengan lainnya. kerjasama. yang ju stru akan berdampak positif terhadap makin eratnya komunikasi antarabudaya. karena setiap budaya berbeda. penyatuan persepsi dan kesamaan bertindak.Dalam prasangka. Bali. *** http://budiphatees. Masyarakat Multiultural. orang tidak akan dapat berfikir obyektif. Sebaliknya. komunikasi antarabudaya jarang kita temukan di Lampung. Proses tersebut dapat berlangsung dengan adanya pertukaran sosial dalam rangka meningkatkan relasi diantara pihak satu dengan yang lainnya. Bentuk interaksi yang paling efektif adalah melakuka komunikasi yang terus menerus diantara setiap kelompok. dan segala apa yang dilihatnya selalu akan dinilainya secara negatif. tanpa menggunakan pikiran dan pandangan kita terhadap fakta yang nyata. sehingga terjadi satu kesatuan diantara perbedaan yang ada. Masing-masing membentuk wadah yang hanya diisi satu kelompok masyarakat saja. Dalam tulisan singkat ini akan ditunjukkan bahwa perjuangan ha k-hak minoritas hanya mungkin berhasil jika masyarakat majemuk Indonesia kita perjuangkan untuk dirubah menjadi masyarakat multikultural. dibutuhkan wadah yang menggabungkan semua budaya yang ada di Lampung. dan Minoritas: Memperjuangakan Hak-hak Minoritas Parsudi Suparlan Universitas Indonesia Masyarakat Majemuk Dalam masyarakat majemuk manapun.com/2010/09/dari-mayoritas-ke-minoritas.blogspot. emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan atas dasar syakwasangka. hak-hak untuk berbeda diakui dan dihargai. Sunda. Artinya. mereka yang tergolong sebagai minoritas selalu didiskriminasi. dan disusul dengan . Padahal. Makanya. Karena dalam masyarakat multikultural itulah. interaksi sosial akan mengalami proses dinamis. (Effendi. Tulisan ini akan dimulai dengan penjelasan mengenai apa itu masyarakat Indonesia majemuk. dan lain sebagainya. Sayang. Dan. Batak. bagi masyarakat yang plural toleransi dan hidup rukun sangatlah diperlukan untuk meningkatkan rasa persaudaraan. dapat menjadi bom waktu dikemudian hari. persatuan dan kesatuan. 1981). baik melakukan kegiatan bersama atau melalui dialog lintas budaya.

Sedangkan para sultan dan raja atau para bangsawan yang disukung oleh para birokrat (priyayi) digunakan untuk kepentingan pemerintahan dan penguasaan. dan berbagai pemberontakan dan upaya memisahkan diri dari Republik Indonesia akhirakhir ini - . pemerintah penajajahan Jepang yang merupakan pemerintahan militer telah memposisikan diri sebagai kekuatan memaksa yang maha besar dalam segala bidang kehidupan masyarakat suku bangsa yang dijajahnya. Dengan kerakusannya yang luar biasa. yang disemangati oleh Sumpah Pemuda tahun 1928. yaitu orang Belanda dan orang kulit putih. Dalam masa pendudukan Jepang di Indonesia. Arab. Malaysia. Pada tahun-tahun penguasaan dan pemantapan kekuasaan pemerintah nasional barulah muncul sejumlah pemberontakan kesukubangsaan -keyakinan keagamaan terhadap pemerintah nasional atau pemerintah pusat. Tulisan akan diakhiri dengan saran mengenai bagaimana memperjuangkan hak-hak minoritas di Indonesia. Dalam perspektif hubngan kekuatan. Arab. DI/TII di Sulawesi Selatan. Afrika Selatan. Permesta di Sulawesi Utara. Dalam struktur yang berlaku nasional ini terdapat struktur-struktur hubungan kekuatan dominan-minoritas yang bervariasi sesuai konteks-konteks hubungan dan kepentingan yang berlaku. yang merupakan kelompok minoritas dalam perspektif penjajahan Jepang. Sedangkan setelah Perang Dunia kedua contoh -contoh dari masyarakat majemuk antara lain. Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Masyarakat Majemuk Indonesia Masyarakat majemuk terbentuk dari dipersatukannya masyarakat -masyarakat suku bangsa oleh sistem nasional. dan Suriname. dan Timur asing lainnya. PRRI di Sumatera Barat dan Sumatera Selatan. RMS. yaitu mengeksploitasi sumber daya alam dan manusia. Dalam struktur hubungan kekuatan yang berlaku secara nasional. dan politik yang dikukuhkan sebagai hukum ataupun sebagai konvensi sosial yang membedak mereka yang an tergolong sebagai dominan yang menjadi lawan dari yang minoritas. yang posisi ini di hindia Belanda dipegang oleh golongan Cina. Indonesia. Mereka yang tergolong pribumi digolongkan lagi menjadi yang tergolong telah menganl peradaban dan meraka yang belum mengenal peradaban atau yang masih primitif. Dalam masyarakat majemuk dengan demikian ada perbedaan-perbedaan sosial. Atau dipercayakan kepada para bangsawan dan priyayi un kelompok-kelompok tuk suku bangsa yang digolongkan sebagai terbelakang atau primitif. seperti yang dilakukakn oleh DI/TII di jawa Barat. dan hubungan di antara masyarakat suku bangsa yang dipersatukan oleh sistem nasional. seluruh wilayah jajahan Jepang di Indonesia dieksploitasi secara habis habisan baik yang berupa sumber daya alam fisik maupun sumber daya manusianya (ingat Romusha). budaya. disusul oleh orang Cina. yang biasanya dilakukan secara paksa (by force) menjadi sebuah bangsa dalam wadah negara. Dalam masyarakat Hindia Belanda.penjelasan mengenai multikulturalisme. Ciri-ciri yang menyolok dan kritikal dari masyarakat majemuk adalah hubungan antara sistem nasional atau pemerintah nasional dengan masyrakat suku bangsa. pemerintah nasional atau penjajah mempunyai kekutan iliter dan polisi yang dibarengi dengan kekuatan hukum untuk memaksakan kepentingan -kepentingannya. dan Timur Asing lainnya untuk kepentingan pasar. dan kemuian yang terbawah adalah mereka yang tergolong pribumi. masyarakat-masyarakat negara jajahan adalah contoh dari masyarakat majemuk. sistem nasional atau pemerintahan nasional adalah yang dominan dan masyarakat-masyarakat suku bangsa adalah minoritas. Hubungan antara pemerintah nasional dengan masyarakat suku bangsa dalam masyarakat jajahan selalu diperantarai oleh golongan perantara. Sebelum Perang Dunia kedua. dalalm penjajahan hindia Belanda terdapat golongan yang paling dominan yang berada pada lapisan teratas. Warga masyarakat Hindia Belanda yang kemudian menjadi warga penjajahan Jepang menyadari pentingnya memerdekakan diri dari penjajahan Jepang yang amat menyengsarakan mereka. dipimpin oleh Soekarno-Hatta. emmerdekakan diri pada tanggal 17 agustus tahun 1945. sebetulnya merupakan terbentuknya sebuah bangsa dalam sebuah negara yaitu Indonesia tanpa ada unsur paksaan.

juga diberlakukan oleh pemerintahan lokal. Yang termasuk golongan sos askriptif adalah suku bangsa (termasuk ial . Perspektif ini tidak akan dapat memahami mengapa golongan minoritas didiskriminasi. kemarahan. Ini berlaku pada tingkat provinsi maupun pad tingkat kabupaten dan a wilayah administrasinya. Konsep diskriminasi sebenarnya hanya digunakan untuk mengacu pada tindakan -tindakan perlakuakn yang berbeda dan merugikan terhadap mereka yang berbeda secara askriptif oleh golongan yang dominan. Prasangka ini berkembang berdasarkan pada adanya (1) perasaan superi ritas pada o mereka yang tergolong dominan. dan politik. yang harus diredam secara militer. adalah sebuah pendekatan untuk melihat minoritas dengan segala keterbatasannya dan dengan diskriminasi dan perlakukan yang tidak adil dari mereka yang tergolong dominan. Dalam pembahasan tersebut di atas. (2) sebuah perasaan yang secara intrinsik ada dalam keyakinan mereka bahwa golongan minoritas yang rendah derajadnya itu adalah berbeda dari mereka dantergolong sebagai orang asing. Karena itu mereka merasakan adanya tindakan diskriminasi secara kolektif. dan di Papua. Kesemuanya ini menunjukkan adanya pemantapan pemersatuan negara Indonesia secara paksa. yaitu mereka yang menikmati status sosial tinggi dan sejumlah keistimewaan yang banyak. dan keterbatasan dalam kemajuan pekerjaan dan profesi.sebagaimana yang terjadi di Aceh. dominan-minoritas dilihat sebagai hubungan kekuatan. Mereka yang tergolong minoritas mempunyai gengsi yang rendah dan seringkali menjadi sasaran olok-olok. di Riau. Bila kita melihat minoritas dalam kaitan atau pertentangannya dengan mayoritas maka yang akan dihasilkan adalah hubungan mereka yang populasinya besar (mayoritas) dan yang populasinya kecil (minoritas). Mereka juga menduduki posisi yang tidak menguntungkan dalam kehidupan sosial masyarakatnya. Kalimantan Tengah. Posisi mereka yang rendah termanifestasi dalam bentuk akses yang terbatas terhadap kesempatan -kesempatan pendidikan. (3) adanya klaim pada golongan dominan bahwa sebagai akses sumber daya yang ada adalah merupakan hak mereka. karena mereka dibatasi dalam sejumlah kesempatan-kesempatan sosial. Mereka ini mengembangkan seperangkat prasangka terhadap golongan minoritas yang ada dalam masyarakatnya. fisik. siapa yang sepenuhnya berhak atas sumber daya alam. Karena besar populasinya belum tentu besar kekuatannya. Lalu apakah itu dinamakan minoritas dan dominan? Hubungan Dominan-Minoritas Kelompok minoritas adalah orang-orang yang karena ciri-ciri fisik tubuh atau asal-usul keturunannya atau kebudayaannya dipisahkan dari orang-orang lainnya dan diperlakukan secara tidak sederajad atau tidak adil dalam masyarakat dimana mereka itu hidup. kebencian. ekonomi. dan disertai adanya ketakutan bahwa mereka yang tergolong minoritas dan rendah derajadnya itu akan mengambil sumberdaya -sumberdaya tersebut. dan sosial budaya. Kekuatan yang terwujud dalam struktur-struktur hubungan kekuatan. baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat-tingkat lokal. Mereka diperlakukan sebagai orang luar dari masyarakat dimana mereka hidup. keberadaan dan kehidupan minoritas yang dilihat dalam pertentangannya dengan dominan. dan kekerasan. Keberadaan kelompok minoritas selalu dalam kaitan dan pertentangannya dengan kelompok dominan. Dalam era diberlakukannya otonomi daerah. dan Maluku yang harus diredam secara paksa. Sulawesi Tengah. Ketentuan otonomi daerah ini menghasilkan golongan dominan dan golongan minoritas yang bertingkat-tingkat sesuai dengan kesukubangsaan yang bersangkutan. yang disebabkan oleh adanya pertentangan antara sistem nasional dengan masyarakat suku bangsa dan konflik di antara masyarakat-masyarakat suku bangsa dan keyakinan keagamaan yang berbeda di Indonesia. Dalam perspektif ini. yang dikuasai dan didominasi administrasi dan politiknya oleh putra daerah atau mereka yang secara suku bangsa adalah suku bangsa yang asli setempat. Begitu juga dengan kerusuhan berdarah antar suku bangsa yang terjadi di kabupaten Sambas.

dan umur. Upaya yang telah dan sedang dilakukan terhadap lima kelompok minoritas di Indonesia oleh LSM. Logika yang masuk akal tersebut ada dalam multikulturalisme dan dalam demokrasi. dan berbagai upaya untuk menstimuli peningkatan kerja produktif dan profesi. Ideologi multikulturalisme ini secara bergandengan tangan saling mendukung dengan proses -proses demokratisasi. Mengapa perjuangan anti-diskriminasi terhadap kelompok-kelompok minoritas dilakukan melalui perjuangan menuju masyarakat multikultural? Karena perjuangan anti-diskriminasi dan perjuangan hak-hak hidup dalam kesederajatan dari minoritas adalah perjuangan politik. Berbagai kritik atau penentangan terhadap dua pola yang umum dilakukan oleh golongan dominan terhadap minoritas biasanya tidak mempan. Berbagai tindakan diskriminasi terhadap mereka yang tergolong minoritas. Sehingga mereka itu tidak . dengan cara mengadopsi ideologi multikulturalisme sebagai pedoman hidup dan sebagai keyakinan bangsa Indonesia untuk diaplikasikan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Melalui kesempatan ini saya juga ingin mengusulkan bahwa ideologi multikulturalisme seharusnya juga disebarluaskan dan dimantapkan melalui program-program yang diselenggarakan oleh LSM yang yang sejenis. atau pemaksaan untuk merubah cara hidup dan kebudayaan mereka yang tergolong minoritas (atau asimilasi) adalah pola-pola kehidupan yang umum berlaku dalam masyarakat majemuk. karena golongan dominan mempunyai kekuatan berlebih dan dapat memaksakan kehendak mereka baik secara kasar dengan kekuatan militer dan atau polisi atau dengan menggunakan ketentuan hukum dan berbagai cara lalin yang secara sosial dan budaya masuk akal bagi kepentingan mereka yang dominan. Sekolah Menengah Atas. mungkin dapat dilakukan melalui program -program pendidikan yang mencakup ideologi multikulturalisme dan demokrasi serta kebangsaan. dan perjuangan politik adalah perjuangan kekuatan. gender. untuk meningkatkan derajad mereka.d. gender atau golongan jenis kelamin. dan umur. yang pada dasarnya adalah kesederajatan pelaku secara individual (HAM) dalam berhadapan dengan kekuasaan dan komuniti atau masyarakat setempa t. baik secara individual maupun secara kelompok. cara yang terbaik adalah dengan merubah masyarakat majemuk (plural society) menjadi masyarakat multikultural (multicultural society). Perjuangan kekuatan yang akan memberikan kekuatan kepada kelompok-kelompok minoritas sehingga hak-hak hidup untuk berbeda dapat dipertahankan dan tidak tidak didiskriminasi karena digolongkan sebagai sederajad dari mereka yang semula menganggap mereka sebagai dominan.golongan ras. Menurut pendapat saya. Sehingga setiap orang Indoensia nantinya. sebagai warga sukubangsa dankebudayaannya. Tercakup dalam pengertian kebudayaan adalah para pendukung kebudayaan. Program penyebarluasan dan pemantapan ideologi multikulturalisme ini pernah saya usulkan untuk dilakukan melalui pendidikakn dari SD s. dan keyakinan beragama). akan mempunyai kesadaran tanggung jawab sebagai orang warga negara Indonesia. dan juga S1 Universitas. kebudayaan sukubangsa. Multikulturalisme dan Kesederajatan Multikulturalisme adalah sebuah ideologi yang menekankan pengakuan dan penghargaan pa da kesederajatan perbedaan kebudayaan. mau tidak mau harus bergandengan tangan dengan upaya penyebaran dan pemantapan ideologi demokrasi dan kebangsaan atau kewa rganegaraan dalam porsi yang seimbang. Perjuangan politik seperti ini menuntut adanya landasan logika yang masuk akal di samping kekuatan nyata yang harus digunakan dalam penerapannya. dan tergolong sebag umur tertentu yang ai tidak akan berlaku sewenang-wenang terhadap orang atau kelompok yang tergolong lain dari dirinya sendiri dan akan mampu untuk secara logika menolak diskriminasi dan perlakuakn sewenang wenang oleh kelompok atau masyarakat yang dominan. dan terutma ditujukan terhadap golongan sosial askriptif yaitu sukubangsa (dan ras). Sehingga upaya penyebarluasan dan pemantapan serta penerapan ideologi multikulturalisme dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. tergolong sebagai gender tertentu.

Terjadi pemisahan sosial-politik antara warga Indonesia keturunan Tionghoa dengan masyarakat setempat.org/publications/essays/articles/masyarakat_majemuk.html Orang Indonesia-Tionghoa: Manusia dan Kebudayaannya Sumber : Kompas BEGITU lahir-begitu banyak orang sering mengatakannya-orang Indonesia keturunan Tionghoa sudah langsung pintar berdagang dan pandai pula mencari duit. Ini terjadi. Pertanyaannya. Yang pasti. Pendulum sejarah memang akhirnya berbelok arah. atau merupakan satu kejadian luar biasa bagi warga lokal yang menerima kehadiran tamu-tamu asing itu. Belanda. Kalaupun pernah terjadi konflik antarmereka sepanjang proses adaptasi sosial itu.lagi berada dalam keterbelakangan dan ketergantungan pada kelompok -kelompok dominan dalam masyarakat setempat dimana kelompok minoritas itu hidup. berbahaya. kata Lev. Dan. awal bulan ini. Prof Daniel S Lev PhD (guru besar emeritus Ilmu Politik Universitas Washington) lalu menarik akar dalam sejarah kita sebagai bangsa. dikucilkan oleh masyarakat lokal. Bahkan menurut sinolog dan antropolog Prof Leonard Blusse dari Universitas Leiden. yang sebenarnya tidak banyak berbeda dibandingi sistem politik sama yang dijalankan oleh Pemerintah kolonial bangsa-bangsa lain di masing-masing daerah koloninya di seluruh dunia. bisa jadi. *** GELOMBANG migrasi orang-orang Tionghoa secara individual dari daratan Cina ke berbagai pelosok wilayah di seluruh Indonesia. selalu terjadi proses adaptasi damai antara kelompok pendatang dari daratan Cina ini dengan warga setempat. persoalan tersebut ia paparkan dengan cara yang cukup menarik. itu adalah hal biasa. mereka juga sering tidak menunjukkan kegairahan besar untuk mau bergaul dengan orang lain di luar kelompoknya. lagi lagi kata orang. demikian seterusnya. http://www. begitu keyakinan Lev. lalu adakah sesuatu yang salah dalam perjalanan sejarah kita sebagai bangsa. mereka cenderung berperilaku eksklusif. mitos-mitos itu juga masih hidup subur dan tertanam dalam-dalam di lubuk kesadaran kalangan warga Indonesia keturunan Tionghoa sendiri. tidak pernah dianggap aneh. Dalam seminar internasional tentang Orang Indonesia-Tionghoa: Manusia dan Kebudayaannya di Lembaga Ilmu P engetahuan Indonesia (LIPI) Jakarta. umumnya kedatangan orang-orang Tionghoa dari daratan Cina ini pernah tidak ditolak.interseksi. hingga mitos-mitos itu bisa begitu hidup dan tertanam lekat di benak kita sampai sekarang? Atas pertanyaan sepenting ini. terutama sejak Pemerintah Belanda mulai menerapkan sistem politik minoritas. Lev ingin menunjukkan betapa sistem politik minoritas di masa lalu telah menempatkan warga Indonesia keturunan Tionghoa itu sebagai warga minoritas di tengah kelompok masyarakat mayoritas Indonesia yang terdiri dari berbagai kelompok etnis lainnya. . Sebaliknya (masih kesan orang). Bahkan. telah berlangsung lama dan itu terjadi jauh sebelum VOC datang. atau kemudian dijadikan kambing hitam dan dihantam terus menerus seperti yang belakangan terjadi. Mitos-mitos tentang karakter-karakter tipikal orang Indonesia keturunan Tionghoa inilah yang hingga kini masih tertanam kuat di benak kita. Itu pun. hanya mau bergaul secara intens dalam kelompoknya sendiri.

Itu termasuk komentar-komentar bernada peyoratif berupa mitos-mitos yang salah perihal karakter khas masyarakat keturunan Tionghoa. mulai riil berlaku sistem politik minoritas terhadap warga Indonesia keturunan Tionghoa yang anehnya hal itu tak berlaku bagi warga keturunan Arab atau kelompok etnik lainnya. Menurut pengamatan Lev. Di tahun 1740. dijadikan kambing hitam. dan proteksi ekonomi-pada saat yang sama mereka tanpa henti menjadi sapi perah ekonomi bagi kepentingan kekuasaan dan birokrat. secara massif dari Jakarta hingga Semarang. Sistem politik minoritas ini belakangan telah menimbulkan implikasi sosial-politik serius berkaitan dengan citra negatif tentang masyarakat Tionghoa di Indonesia. dan menjadi sasaran kemarahan massa. Yang terburuk tentu saja menjadikan mereka sebagai sumber segala masalah atau kambing hitam. politik minoritas yang diterapkan pemerintah kolonial Belanda itu dimaksudkan untuk menepis peluang terbentuknya kelas menengah di antara masyarakat pribumi . kaum minoritas ini juga begitu rentan mendapat cap-cap jelek. bagi banyak orang telah menanamkan kesan kuat betapa insiden sosial ini tampaknya disengaja untuk bisa menjadikan warga Tionghoa sebagai korbannya. Lebih menyedihkan lagi. Selain untuk menciptakan struktur sosial-ekonomi yang aman dan efisien. Karena sejak awal mereka sudah sering dianggap sebagai sumber segala masalah alias bisa dengan mudah pula bisa dijadikan kambing hitam bila terjadi sesuatu. Dalam peristiwa itu korban tewas tercatat tak kurang 10. kata Lev. perlindungan. kata Lev. . *** KESALAHAN sejarah di masa pemerintahan kolonial Belanda ternyata berlanjut kembali di era pemerintahan Orde Baru. Aksi yang disertai pembakaran rumah-rumah milik warga Tionghoa. guna mengisi kevakuman tiadanya kelompok pedagang-posisi kelas menengah yang tidak diminati orang-orang Belanda-lalu sengaja diciptakanlah (dengan banyak paksaan) semacam persetujuan dan kontrak dengan kelompok minoritas Tionghoa. Ribuan orang Tionghoa tewas dalam serangan ini yang besar kemungkinan juga karena disulut oleh rasa sentimen ekonomi. Lebih jauh.Politik minoritas ini diterapkan. Peristiwa untuk menyudutkan kelompok minoritas ini bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Mereka ini adalah kaum pedagang pribumi ya dianggap sangat potensial ng bisa mengancam kekuasaan Belanda di Indonesia. tendensi masyarakat umum yang dengan mudahnya menohok kelompok minoritas Tionghoa ini sebagai pangkal dan sumber segala masalah. Yang paling tragis tentu saja. VOC bahkan pernah mengerahkan orang-orang Belanda dan Jawa untuk melakukan tindakan pembunuhan massal (massacre) terhadap kelompok minoritas ini.oleh pemerintah kolonial Belanda dalam sebuah aliansi politik. kata Lev. Ini tak mengherankan. Sementara. dirangkullah para pejabat lokal seperti para sultan di Jawa dan Raja di luar Jawa. dengan tujuan-tujuan khusus. rasanya logis mengatakan bahwa sejak dulu kelompok minoritas ini telah terbiasa untuk selalu disudutkan.000 jiwa. Demi tujuan itu. ungkap Lev. tandasnya. ketergantungan mereka diintensifkan pada ling-karan kekuasaan-terutama menyangkut soal jaminan keamanan. peristiwa ini semakin meningkatkan suatu proses terjadinya kelompok minoritas seperti dalam bentuknya sekarang. peristiwa ini merupakan contoh nyata perihal telah berkembangnya rasa sentimen masyarakat umum terhadap eksistensi warga minoritas ini. Sejak itu. *** KERUSUHAN Mei tahun 1998 silam. tekanan politik dan sosial oleh penguasa Orde Baru terhadap kelompok minoritas ini semakin intensif. Pada saat bersamaan. Selain partisipasi dalam politik praktis diingkari dan bahkan sama sekali diasingkan dari jajaran birokrasi pemerintahan. terutama di banyak tempat di Pulau Jawa.

mereka sama-sama ingin menjadikan warga Tionghoa ini sebagai warga minoritas yang hidup di atas menara gading. Cap-cap jelek itu makin menjadi-jadi di era Orde Baru. Ini bisa berlanjut terus. lagi-lagi kelompok minoritas inilah yang akhirnya dipersalahkan oleh masyarakat. Amat jarang. Dengan kata lain. Begitu kelompok minoritas ini semakin tertekan dan terisolasi. Taruhlah itu anggapan umum di kalangan warga mayoritas pribumi . *** . Padahal. maka kekuasaan bisa dengan mudah dimanfaatkan bagi kepentingan kekuasaan seperti dengan adanya kewajiban setoran . Dari situasi inilah lalu muncul istilah cukong seperti dimaksudkan di atas. Dari sinilah. lalu muncul berbagai mitos yang salah tentang kelompok minoritas ini. Hal ini memang sejak dulu telah mendapat restu dari pemerintah kolonial Belanda. kelompok minoritas Indonesia keturunan Tionghoa initelah resmi diizinkan bisa mencari nafkah secara bebas di dunia bisnis dan bahkan malah boleh menjadi kaya juga . Persyaratan itu hingga sekarang masih ada. kita mau dengan jujur mengatakan bahwa sesungguhnya para aparat dan pegawai birokrasi itulah yang sejatinya lebih mata duitan. para pedagang Tionghoa itu bisa diperas terus -menerus. Mereka. memang telah menjadi terbiasa dengan main sogok. katanya. karena kebijakan politik asimilasi lalu juga mengharuskan sebutan Tionghoa harus diubah menjadi Cina . paling tidak begitu cap yang seakan-akan menuduh kelompok minoritas ini sebagai biang keladi tradisi budaya korupsi. misalnya. tak terlalu mengherankan kalau di kemudian hari-terutama karena proteksi dan hak-hak monopoli perdagangan-warga minoritas Indonesia keturunan Tionghoa ini lalu menjadi sungguh-sungguh terampil mengelola bisnis perdagangan. juga tidak mau bergaul dengan kelompok masyarakat lain. ungkap Lev. Sedari awal. Dengan tergantungnya warga minoritas ini kepada penguasa dalam masalah jaminan keamanan dan proteksi (dagang). sebuah kebijakan politik yang rupanya berlanjut terus dan makin massif di era pemerintahan Orde Baru. yang di sini tanpa keraguan sedikit pun sangat bernuansa penghinaan atau merendahkan. yakni anggapan bahwa o rangorang Tionghoa ini sejak dari sono-nya sudah pandai berdagang dan cari duit. main uang di bawah meja. dan seterusnya. Bila akhirnya lalu muncul budaya suap. Itu membawa konsekuensi serius. Ujung-ujungnya. dalam kontrak dan persetujuan imp lisit yang dipaksakan pemerintah kolonial Belanda terhadap kelompok minoritas ini selalu tersembunyi satu persyaratan yang kurang lebih berbunyi begini: Kalau ada apa-apa yang terjadi. hanya apabila warga Tionghoa ini tetap hidup dalam kerangka isolasi sosial dan jangan sampai terjun masuk ke dalam politik praktis dengan menjadi politisi atau anggota parlemen. Saat bersamaan mereka juga dijadikan kelompok pebisnis profesional yang sewaktu-waktu harus bisa dimanfaatkan bagi kepentingan penguasa. mitos-mitos yang salah tentang orang-orang Tionghoa itu semakin terkukuhkan lagi. Praktik politik minoritas ini nyata-nyata bertujuan agar jangan sampai tercipta kelas menengah pribumi yang potensial mengancam kekuasaan Orde Baru. sehingga mau tak mau lalu memeras kelompok minoritas ini yang tengah terjepit kepentingannya. Ada perubahan signifikan atas semula yang disebut Republik Rakyat Tionghoa (RRT) harus diubah menjadi Republk i Rakyat Cina (RRC). Oleh karena itu. serta tidak berbakat di bidang lainnya. maka dengan mudah pula rezim Orde Baru lalu bisa menghidupkan kembali sejumlah persyaratan kontrak dulu antara kelompok minoritas ini dengan pemerintah kolonial Belanda. di balik semua itu. Rupanya ada kesamaan cara pikir penguasa kolonial Belanda dengan penguasa Orde Baru. yang (harus) disalahkan adalah (kelompok) minoritas dan ini terjadi di setiap wilayah koloni di mana-mana. ungkap Lev.Tak heran bila di tahun 1970-an muncul istilah cukong untuk menyebut orang -orang Indonesia keturunan Tionghoa kaya raya yang sering bertindak sebagai kasir bagi kepentingan aparat dan birokrat.

karena merasa selalu berada di bawah bayang-bayang mayoritas. Masyarakat perlu mendukung proses itu agar proses pembentukan kesadaran baru menyangkut identitas diri baru mereka semakin nyata. yang monoritas tidak selamanya minoritas. budaya. Begitu juga sebaliknya. Dan selalu. Ancaman konflik senantiasa membayang. Mereka yang minoritas. Dalam perbedaan itu.identitas keindonesiaan kita sebagai bangsa. Itu penting. Menurut dia. kalaupun orang lalu menuntut harus ada identitas tambahan yang sifatnya lebih bisa menerangkan halnya. Konon pula mengenai etnis. Hal itu perlu dilakukan. tambah Mely Tan selaku ketua panitia pengarah. Alih-alih selalu berkutat pada persoalan ingin menjadikan kelompok minoritas ini sebagai sasaran tembak . Pada sisi lain. karena kini justru tengah berlangsung hal-hal positif yang mendukung proses terciptanyakatakanlah. Sedangkan mayoritas senantiasa berpikir bahwa mereka selalu harus menjadi nomor satu. *** Dunia selalu berputar sesuai mekanisme roda. dan agama. tidak seharusnya menyemangati diri untuk senantiasa ingin menunjukkan eksistensi dengan cara apa saja. kelompok. Perbedaan-perbedaan itu mengerucut sebagai mayoritas dan minoritas. Proses itu semakin mengkristal di kalangan anak-anak muda. Jadi tidak perlu ada pretensi politik apa pun di sini. Adanya mayoritas dan minoritas sudah menunjukkan perbedaan. Mereka yang mayoritas.RANGKUMAN hasil diskusi kelompok dalam seminar ini secara tegas menyimpulkan. tidak perlu terus-menerus berupaya apa saja agar tetap dalam posisi mayoritas. ras. diperlakukan tidak adil. mereka yang mayoritas ternyata juga tidak bisa tampil mayoritas di segala bidang. katakanlah itu dari keturunan etnis mana dia berasal. Jelas. Sebaiknya kita harus berani membedah peran penting yang pernah dilakukan sejumlah tokoh orang Tionghoa-seperti Kapten John Lee-dalam sejarah pergerakan nasional menurut proporsinya. Dalam realitas yang penuh perbedaan. karena kalangan muda ini sekarang lebih suka me nyebut dirinya orang Indonesia tanpa disertai embel-embel apa pun. selalu terjadi perbedaan.com/group/budaya_tionghua/message/1705 Mayor-Minor Diposkan oleh Tabloid Mingguan Faktual di 18:12 Label: Budaya Dimana-mana di dunia ini dan dalam hal apa saja. Sedangkan mayortitas. tandasnya. sekelompok masyarakat tampil sebagai mayoritas. terlalu memikirkan soal minoritas dan mayoritas hanya akan menimbulkan persoalan krusial. sulit mendudukkan kesetaraan. . Posisi itu makin minor apabila minoritas senantiasa berpikir bahwa mereka selalu menjadi nomor dua. segala bentuk upaya untuk mengungkit-ungkit perbedaan yang ada hanya akan menimbulkan ketidaksenangan demi ketidaksenangan. Karena itu. (Mathias Hariyadi) http://groups. Apalagi jika kita meyakini bahwa realitas hidup sangat beragam dan syarat akan sekian banyak perbedaan. seruan seminar ini juga mengartikulasikan harapan besar agar jangan ada lagi mitos-mitos dan persepsi salah tentang warga Indonesia keturunan Tionghoa ini.yahoo. tidak selamanya menjadi mayoritas. semua mitos tentang masyarakat Tionghoa di atas itu adalah tidak benar. terdiskriminasikan. ungkap Mely di akhir seminar. Pada sisi tertentu. dikambing hitamkan dan bahkan dikuasai oleh mayoritas. minoritas dalam posisi lemah. di mana proses konvergensi (pemusatan pandangan menuju satu arah yang sama) antarkawula mu da-baik dari kelompok pribumi maupun nonpribumi-semakin kencang. jauh lebih baik mau mengembangkan sikap positif. hal itu haruslah hanya merupakan tambahan saja.

Masyarakat ini sendiri terdiri dari dua subbudaya. namun pada sisi lain dalam realitas kehidupan di provinsi ini masyarakat Jawa tetap menjadi minoritas. cara kita dalam memahamai mayoritas dan minorotas mesti diubah. masyarakat yang kini menjadi mayoritas di provinsi ini adalah masyarakat Jawa. baik Pepadun maupun Peminggir hidup dalam perbedaan mayoritas dan minoritasitu. Batak. isu-isu etnik. katakanlah dalam hal ekonomi. namun dalam bidang-bidang tertentu justru menjadi minoritas. Meskipun masyarakat Lampung mayoritas menjadi elite pejabat pemerintah. tetapi mereka menjadi mayoritas jika berkaitan dengan realitas dunia bisnis dan usaha. Komposisi ini hampir sama dengan komposisi penduduk Lampung secara budaya. Begitu juga halnya dengan kelompok masyarakat lain yang secara komposisi demografi merupakan minoritas. Sejak lama Provinsi Lampung merupakan daerah penyebaran masyarakat berkebudayaan Lampung. . masyarakat yang menjadi mayoritas di Lampung adalah masyarakat Lampung. namun para pejabat ini menjadi minoritas dalam urusan-urusan yang berkaitan dengan dinamika pemerintahan daerah. Dalam masyarakat plural seperti di Lampung. Kita tidak bisa melihat segala sesuatu dari satu sisi yang menunjukkan kita berada dalam posisi mayoritas. dimana etnis Cina merupakan kelompok minoritas. Tapi.Sebab itu. Sebaliknya. Para kepala daerah di kabupaten sebagian besar merupakan masyarakat Lampung. Indonesia yang mayoritas penduduknya muslim. kelompok minoritas namun dalam hal tertentu menjadi mayoritas di tengahtengah kelompok mayoritas itu sendiri. masyarakat di Provinsi Lampung juga memiliki banyak perbedaan. Tentu saja tidak sulit bila masyarakat menjadikan perbedaan sebagai suatu kekuatan baru dalam menjaga harmoni. Meskipun secara kuantitas masyarakat Jawa merupakan mayoritas. Di Jayapura komunitas Kristen merupakan kelompok mayoritas. Sebut saja masyarakat Tionghoa di Lampung. Di lingkungan pemerintahan daerah. karena orang yang berprasangka belum apa-apa sudah bersikap curiga dan menentang komunikator yang melancarkan komunikasi. Prasangka adalah salah satu rintangan atau hambatan berat bagi kegiatan komunikasi. sebagian besar elite pejabat pemerintah mayoritas merupakan masyarakat Lampung. *** Mayoritas dan minoritas bukan suatu persoalan bila masyarakat dapat membangun kebersamaan. dalam hal tertentu justru tidak dominan. mayoritas merupakan masyarakat Jawa. Sedangkan kelompok minoritas adalah masyarakat di luar penganut kebudayaan Lampung seperti Jawa. Masyarakat Pepadun seolah lebih banyak secara kuantitas dibanding masyarakat Peminggir. Bali. sedangkan komunitas non-Kristen merupakan kelompok minoritas. Dilihat dari jumlah pegawai negeri sipil di provinsi ini. dan lain sebagainya. data pada Bappeda Lampung menunjukkan. Dalam kehidupan sosial budaya. ras. Pada tataran yang lebih luas. tetapi hampir 80 % menguasai perekonomian Indonesia. Pepadun dan Peminggir. Ada baiknya kita juga melihat sisi lain dimana kita menjadi minoritas. Sebagian besar pelaksana kegiatan sehari-ahri pemerintah daerah bukanlah mayoritas masyarakat Lampung. dan agama rentan dan paling mudah menjadi pemicu munculnya prasangka. namun mereka sebagai pendatang secara ekonomi sedikit lebih baik dari kelompok Kristen. Banten. Meskipun jumlah mereka sangat minim dan merupakan minoritas. sehingga Pepadun seolah mayoritas dengan Peminggir sebagai minoritas. Sumatra Selatan. Kondisi awal memang masyarakat Lampung merupakan mayoritas di provinsi ini. Mereka yang menjadi mayoritas di satu sisi. Seperti masyarakat dunia.

emosi memaksa kita untuk menarik kesimpulan atas dasar syakwasangka. humanisme liberal yang membuat . Konflik-konflik tersebut diberi kerangka yang konflik yang sedikit luas: keinginan Ayah mereka yang sekarat untuk melihat putri-putrinya menikah sesuatu hal yang hampir mustahil melihat konflik pribadi yang dimiliki putri-putrinya. sebuah novel yang sarat akan tokoh-tokoh keturunan Tiong Hoa dengan latar Indonesia yang multi ras sebenarnya mempunyai potensi sebagai karya yang tidak hanya berbicara banyak tentang problematika etnisitas.Dalam prasangka. Makanya. kompetitif dan menganut sitem to invent or die sangat kontras dengan kehidupan tradisional yang identik dengan kepatuhan. persatuan dan kesatuan. (Effendi. Tampaknya Clara Ng sang penulis tidak bisa lepas dari ideologi resmi masyarakat kosmopolitan kelas atas. dikriminasi dalam ruang publik dan hukum. Setiap tokoh mempunyai masalah atau konflik masingmasing. namun juga seharusnya meletakkannya sebagai isu utama. tanpa menggunakan pikiran dan pandangan kita terhadap fakta yang nyata. Hal ini memerlukan perhatian lebih banyak dari sekedar masalah khas individu urban seperti kebebasan untuk berhubungan intim atau mempunyai pacar sejenis: jenis-jenis masalah yang mendapat perhatian lebih dalam novel ini. dikedepankannya isu-isu pribadi dan meletakkan isu sosial yang lebih luas pada latar. dan Indah yang bisa dikatakan tidak mempunyai masalah yang berarti sampai dia mengetahui dirinya hamil akibat hubungan yang dilakukan dengan pastur yang insaf tak lama setelah berhubungan intim. Novera dengan ketidakpercayaan dirinya dan keinginannya untuk menjadi biarawati. materialistis. Bila sikap toleransi yang muncul tidak dilandasi nilai-nilai yang lahir atas kesadaran yang tulus. Interaksi paling efektif adalah melakuka komunikasi yang terus menerus diantara setiap kelompok. Ide humanis liberal akan keunikan individu yang berasal dari kehidupan masyarakat kapitalis perkotaan tiap harinya telah menggerogoti tradisi karena nilai-nilai feodalistis tersebut seringkali tidak sesuai dengan ritme kehidupan kota. *** keberagaman individu menggantikan keragaman masyarakat: sebuah kritik terhadap dimsum terakhir Dimsum Terakhir (2006). individualistis. bagi masyarakat yang plural toleransi dan hidup rukun sangatlah diperlukan untuk meningkatkan rasa persaudaraan. Namun. kebersamaan dan keadaan yang statis. Karena itu. Siska dengan kehidupannya sebagai wanita karir kosmopolitan dengan kehidupan yang sangat bebas. sigap. orang tidak akan dapat berfikir obyektif. Kehidupan masyarakat urban yang inovatif. baik melakukan kegiatan bersama atau melalui dialog lintas budaya. Dalam novel ini pembaca dibawa ke dunia pribadi empat wanita kembar anak dari Nung. Pendamaian antara tradisi dan ideologi humanis liberal sekilas tampak nikmat untuk dipercayai. 1981). dapat menjadi bom waktu dikemudian hari. Mulai dengan Rosi dengan kecenderungan seksual kepada sesama jenis yang membuat dia lebih suka dipanggil Roni. pada dunia nyata dua hal tersebut adalah hal yang kontrad iktif. Sang Ayah mengerti akan keunikan putri-putrinya dan wafat dengan tenang didampingi sang dokter yang juga sahabatnya sementara anak-anaknya dirumah melanjutkan tradisi yang selama ini ia dan mend iang istrinya bangun: kebersamaan pada hari imlek yang disimbolkan dengan makan dimsum bersama. sekali prasangka itu sudah mencekam. Untuk itulah dibutuhkan interaksi sosial antar kelompok yang berbeda. ketenangan. dan segala apa yang dilihatnya selalu akan dinilainya secara negatif. . Cerita berakhir dengan solusi khas ideologi humanis liberal barat. Selama berpuluh-puluh tahun etnis Tiong Hoa Indonesia telah mengalami hal-hal yang buruk dari pen-stereotip-an. seorang mantan pedagang berketurunan Tiong Hoa. sampai pada pembantaian.

Masyarakat kita tetap saja masyarakat monokultural dimana satu agama dan satu ras diletakkan sebagai centre dari yang lain. Novel adalah produk zaman. Ini perlu perhatian yang lebih seksama karena diskriminasi bukan milik masa lalu saja. tenggelam dalam dunia pribadi kaum kosmopolitan kelas atas yang relatif lepas (baca: melepaskan diri) dari interaksi antar kelompok sosial yang memang sebenarnya masih penuh ketimpangan. novel ini juga menyentuh masalah keberagaman dan identitas etnis Tiong Hoa di Indonesia walau isu tersebut hanya ditemukan secara berserakan sebagai flashback (kilas balik) dan hanya berfungsi sebagai sub-tema. hal yang menegasi mitos stereotip dan monolitis yang ada dalam masyarakat kita tentang masyarakat Tiong Hoa. Gindho Rizano adalah mahasiswa program pascasarjana jurusan kesusastraan di UI. Dimsum Terakhir menghadirkan kultur Tiong Hoa yang kaya dan tidak bisa diredusir ke dalam stereotip pada kesadaran pembaca Indonesia yang selama ini hanya sering disuguhi wacana satu dimensi milik media yang acapkali dengan semena-mena memberikan stereotip pada kelompok marginal dan minoritas. Alih -alih identitas yang statis. Clara Ng melihatkan bagaimana pentingnya arti keluarga dalam keluarga Tiong Hoa yang disimbolkan dengan bulatnya bulan purnama. Ada pula masalah diskriminasi dan kebijakan pemerintah yang tak sensitif tentang masalah ras yang digambarkan pada momen-momen paling menyentuh dalam karya seperti bagaimana Siska membela adiknya yang diejek dengan kata amoy . Hal ini dapat ditemukan dalam sub-tema mengenai tradisi masyarakat Tiong Hoa. ia juga melihatkan bagaimana imlek memperat tali kekeluargaan tersebut. keadaan ekonomi tertentu. Sangat dimengerti jika Clara Ng hanya meletakkan kebanyakan isu-isu multikultural pada bagian flashback sebagai serpihan masa lalu karena mungkin saja isu tersebut adalah sekedar nostalgia baginya. Dan bagi penulis yang mungkin sudah mapan ini berarti untuk bersimpati dengan keadaan diluar dirinya. tidak bisa disangkal. dan posisi penulis dalam masyarakat. . Ada juga masalah mengenai identitas yang patut menjadi perhatian. sangat disayangkan topik-topik ini harus tenggelam dalam masalah-masalah individu tiap tokoh utama. Akan tetapi. dan bagaimana Nung mau tak mau harus tetap menyuruh salah satu putrinya yang sedang sakit untuk tetap sekolah pada Hari Imlek mengingat kebijakan sekolah yang diskriminatif terhadap kaum minoritas. Sekarang dia adalah penulis ternama yang duduk meringkuk di depan laptop. Tokoh Nung bersikeras memanggil anaknya dengan nama Indonesia walau mendapat kritikan dari kerabatnya.Namun. Pada saat-saat terbaiknya. Nung tahu benar keadaan yang beragam memerlukan identitas yan hibrid. Ideologi humanis liberal yang meletakkan individu sebagai pusat semesta di mana kesuksesan dan kebebasan individu adalah hal yang utama seperti yang dilihatkan dengan sempurna oleh seperti tokoh Siska sang wanita karir sukses sangat bertentangan dengan proyek sampingan untuk menyuarakan kaum yang tertindas atau proyek lainnya untuk melihatkan kuatnya ikatan keluarga. g Clara Ng juga dengan efektif melihatkan keberagaman identitas dalam etnis Tiong Hoa. Novel ini juga melihatkan diskriminasi yang dialami etnis Tiong Hoa di Indonesia satu hal yang sering publik lupakan.