P. 1
Tesis Iskandar Dzulkarnain Compressed

Tesis Iskandar Dzulkarnain Compressed

|Views: 5,470|Likes:
Published by Hafsah Sukarti

More info:

Published by: Hafsah Sukarti on Apr 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2015

pdf

text

original

Dalam Kehidupan kesehariannya para santri memperlihatkan tentang

kebebasan perilaku mereka, kebersamaan sesama santri dan juga keterbukaan di dalam

interkasi sesama santri. Hal ini terlihat dari segala bentuk kegiatan atau peraturan yang

ada di pondok pesantren An-Naqiyah yang tidak tersusun secara resmi atau disusun

secara resmi. Kecuali kehidupan ritualitas ibadah para santri, yang diwajibkan untuk

dilaksanakan setiap harinya. Seperti melakukan sholat wajib lima waktu sesuai dengan

waktunya dan harus berjama'ah.

Selain itu, Setiap santri di pondok pesantren An-Naqiyah mempunyai pola

kebiasaan untuk menggunakan milik santri lainnya sesuai dengan keinginannya. Setiap

santri menganggap barang atau benda adalah milik bersama dan penggunaannyapun

Perilaku Homoseksual di PonPes

116

keroyokan,10

bahkan hak milik pakaian, ataupun celana dalam mereka. Bila barang itu

dibutuhkan oleh seorang santri maka langsung dipakai dengan atau tidak peduli siapa

pemilik barang tersebut. Kebiasaan tersebut bukan hanya untuk pakaian, sandal,

handuk, sarung, celana dalam, dan lain sebagainya namun berlaku juga pada makanan.

Jika seorang santri masuk ke dalam kamar orang lain dan melihat makanan maka

santri tersebut akan memakannya tanpa mengetahui siapa pemilik makanan tersebut.

Bahkan ketika seorang santri baru dikirim oleh orang tuanya maka berbondong-

bondong mereka memakannya sampai habis, dan kalau tidak diberi maka makanan

tersebut akan dicuri atau diberi minyak tanah oleh santri lainnya.11

Budaya kebersamaan, kebebasan, dan saling memberi telah menjalar jauh

sebelum santri itu masuk ke pondok pesantren. Karena budaya tersebut telah mereka

ketahui dari orang tua mereka, kakak mereka atau keluarga mereka yang telah mondok

sebelumnya. Hal ini diakui oleh kiai Subhan bahwa kebebasan yang telah dilakukan

para santri akan menuntun mereka untuk mempunyai sikap kebersamaan dan

tanggung jawab akan perilaku mereka.12

Dalam kesehariannya setiap santri diberi kebebasan untuk melakukan

aktivitasnya. Seperti, setiap pagi sebagian santri sekolah namun banyak di antara

mereka yang dengan seenaknya tidak sekolah dan mengobrol di depan kamar mereka

10

Sebagaimana yang diperlihatkan juga oleh tulisan Zubaidi Habibullah Asy'ari., 1996,
Moralitas Pendidikan Pesantren, LKPSM: Yogyakarta, hlm. 55-64

11

Wawancara dengan Fathur, santri baru di An-Naqiyah tanggal 26 Januari 2006.

12

Wawancara kiai Subhan, salah satu pengasuh pondok pesantren An-Naqiyah tanggal 24

Januari 2006

Perilaku Homoseksual di PonPes

117

atau di masjid. Hal ini berbeda jika ada santri yang tidak berjama'ah maka mereka akan

diberi sanksi atau dilaporkan kepada kiai. Atau jika santri tersebut tidak mengikuti

pengajian kitab kuning setiap habis sholat Ashar dan sebelum jam sekolah pagi, maka

mereka akan dipanggil oleh kiai dan diberi peringatan. Hukuman seperti inilah yang

ada di pondok pesantren An-Naqiyah, namun hukuman tersebut menurut mereka

lebih memberatkan ketimbang hukuman yang berbentuk fisik. Karena mereka sangat

takut dan sungkan ketika bertemu kiai bahkan untuk lewat di depannyapun mereka

tidak berani. Seperti ketika kiai lewat di depan mereka maka dengan segera mereka

akan menundukkan badan dan kepala atau menghindar bila dikira masih

memungkinkan.

Setiap santri yang ada di pondok pesantren An-Naqiyah diberi kebebasan

untuk memilih kamar yang mereka sukai, bahkan untuk seterusnya sampai santri

tersebut lulus. Sehingga setiap kamar biasanya ditempati oleh 30-40 santri. Hal ini

menyebabkan mereka malas untuk berada di kamar dan tidur di dalamnya. Seringkali

para santri tidur di depan kamar mereka atau bahkan tidur di masjid dengan hanya

beralaskan sarung mereka. Dalam kesehariannya para santri lebih banyak

menggunakan sarung dengan kopyah hitamnya kecuali pada pagi hari bagi santri yang

sekolah. Selain itu, para santri banyak yang tidak memakai celana dalam ketika

bersarung dalam kegiatan kesehariannya. Karena seringnya hilang celana dalam mereka

dan juga karena malas mencuci. Sehingga sering muncul guyonan di antara para santri

tentang besar kecilnya alat kelamin mereka. Hal ini juga dikarenakan kebiasaan mereka

Perilaku Homoseksual di PonPes

118

mandi bersama dengan telanjang bulat. Hal ini memungkinkan karena kamar mandi

yang ada di pondok pesantren An-Naqiyah tidak sebanding dengan jumlah santri

mereka (sebanyak 20 buah). Kebiasaan keseharian ini terus-menerus diwariskan oleh

kakak kelas senior kepada yuniornya untuk berperilaku seperti yang mereka lakukan.

Sehingga sangat sulit untuk melacak mulai kapan tradisi tersebut muncul.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->