P. 1
Tesis Iskandar Dzulkarnain Compressed

Tesis Iskandar Dzulkarnain Compressed

|Views: 5,477|Likes:
Published by Hafsah Sukarti

More info:

Published by: Hafsah Sukarti on Apr 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2015

pdf

text

original

Sections

Kepemimpinan desa yang awalnya banyak dipengaruhi dan ditentukan oleh

para pendiri desa yang kemudian menjadikannya sebagai tokoh masyarakat bahkan

sebagai penyebar agama Islam yang seringkali disebut sebagai kiai. Kemudian beralih

seiring perkembangan zaman. Hal ini nampak pada kepemimpinan desa yang ada di

Gilir-gilir yang lebih mengutamakan kepemimpinan desanya dipimpin oleh seorang

blater. Persoalan keamanan desa menjadi faktor penentu keberhasilan blater menjadi

pemimpin desa. Meskipun mereka masih meminta restu dan do'a dari kiai.

Dari penuturan salah satu warga masyarakat desa Gilir-gilir, seiring

memudarnya kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin yang ditunjuk oleh kiai

ketimbang pilihan mereka sendiri terhadap blater. Namun masyarakat masih

menghargai kiai dengan kharismanya yang masih sangat tinggi dan banyak

mempengaruhi masyarakat terutama dalam bidang sosial, pendidikan, dan keagamaan.

19

Abu Bakar., 1957, Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim dan Karangan Tersiar, tnp: Jakarta,
sebagaimana yang dikutip oleh Zubaidi Habibullah Asy'ari, Loc.Cit.

Perilaku Homoseksual di PonPes

131

Hal ini terlihat dari masih banyaknya masyarakat yang menyekolahkan anak-anaknya di

pendidikan keagamaan pesantren. Meskipun anjuran kiai untuk menyekolahkan anak

mereka di pesantrennya lebih dianggap sebagai upaya para kiai untuk mempertahankan

posisinya dalam stratifikasi sosial masyarakat. Karena satu-satunya media para kiai atau

sumber nilai yang ada pada diri kiai adalah penguasaan agamanya, yang terlihat dari

besar tidaknya pesantren yang dipimpinnya. Semakin besar pesantren tersebut maka

semakin kuat dominasi dan kekuasaan serta kharisma yang ada pada diri kiai tersebut.

Hal ini terlihat dari statistik jumlah murid yang ada di sekolah-sekolah umum. Sekolah

Dasar Negeri (SDN 6 sekolah), muridnya berjumlah 600 murid, Sekolah Menengah

Pertama Negeri (SMPN 1 sekolah), muridnya berjumlah 82 murid, dan Sekolah

Menengah Atas tidak ada di desa Gilir-gilir. Bandingkan dengan sekolah-sekolah yang

berbasis keagamaan yang kebanyakan semuanya ada di lingkungan pondok pesantren,

Madrasah Ibtidaiyah (MI 5 sekolah), muridnya sebanyak 550 murid, Madrasah

Tsanawiyah (MTs 3 sekolah), muridnya sebanyak 1605 murid, dan Madrasah Aliyah

(MA 2 sekolah), muridnya sebanyak 1263 murid.20

Kekuatan politik kiai semakin nyata dengan berdirinya partai-partai yang

berbasis Islam, dan mereka adalah pemimpin partai tersebut. Masyumi, partai yang

berbasis Islam pada masa Orde Lama menjadi partai yang paling banyak mempunyai

pengaruh besar di masyarakat Gilir-gilir dan Parendu, bahkan sampai sekarang.

20

Pemerintah Kabupaten Sumenep BPS., 2005, Kecamatan Guluk-Guluk Dalam Angka 2004,
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah & BPS Sumenep: Sumenep, hlm. 15-19

Perilaku Homoseksual di PonPes

132

Sebagaimana yang dituturkan oleh tokoh-tokoh masyarakat di kedua desa tersebut.21

Jikalau partai-partai Islam sa'at ini bersatu maka umat Islam akan menang dalam setiap

pemilu.

Namun, seiring dilarangnya Masyumi, dan keluarnya NU dengan mendirikan

Partai NU, maka masyarakat Gilir-gilir beralih kepada pemimpin-pemimpin mereka

yakni kiai yang memimpin Partai NU tersebut. Pada masa Orde Baru, seiring dengan

kebijakan pemerintah yang meleburkan partai-partai Islam menjadi satu partai, yakni

Partai Persatuan Pembangunan (PPP), maka masyarakat Gilir-gilir beralih kembali

kepada partai-partai Islam yang dipimpin oleh kiai mereka. Namun dengan mulai

pudarnya orientasi politik kiai dan masyarakat NU, dan diperparah lagi dengan

langkah organisasi sosial keagamaan NU yang menyatakan kembali ke khittah 26,

maka masyarakat Gilir-gilir yang berbasis NU diperbolehkan dan dibebaskan untuk

memilih partai selain PPP, bahkan mereka dianjurkan untuk memilih partai lainnya

terutama Golkar.

Sosialisasi pasca khittah 26 tersebut, banyak para kiai yang menyatakan keluar

dari partai-partai politik. Bahkan mereka menganjurkan supaya masyarakat lebih

menekankan diri kepada gerakan-gerakan kultural sebagaimana yang diamanatkan NU.

Kondisi ini telah menjadikan warga masyarakat Gilir-gilir menjadi massa mengambang

yang lebih mengorientasikan politiknya kepada orientasi kultural. Keadaan tersebut

menyebabkan timbulnya pergeseran bahkan perubahan konsepsi perjuangan keislaman

21

Wawancara dengan Malik, tokoh masyarakat Gilir-gilir, tanggal 5 Januari 2006.

Perilaku Homoseksual di PonPes

133

masyarakat. Jika semula masyarakat Islam memperjuangkan Islam melalui partai politik

berbasis Islam kini bergeser kearah perjuangan kultural. Sebagaimana yang dijadikan

pedoman oleh NU, "NU tidak kemana-man, tetapi ada di mana-mana". Seiring dengan

kebijakan tersebut, maka pada masa Orde Baru masyarakat Gilir-gilir lebih memilih ke

partai pemerintah yakni Golkar, yang relatif lebih memungkinkan ketimbang PDI.22

Dalam era pasca kejatuhan pemerintahan Orde Baru, munculnya era Reformasi

telah memunculkan kembali aura kebangkitan partai-partai politik untuk mendirikan

kembali partai politik yang sebelumnya dilarang oleh pemerintahan Orde Baru.

Dengan dalih demokratisasi maka bermunculanlah partai-partai politik di Indonesia,

terutama partai politik yang berbasis keagamaan.23

Seiring kemunculan partai-partai

politik tersebut, di desa Gilir-gilir juga bermunculan banyak partai politik sebagai

bentuk dari bergulirnya wacana reformasi, terutama partai-partai politik yang berbasis

massa besar, seperti PKB, PDIP, PAN, Partai Golkar, PPP, dan lain sebagainya. Dari

berbagai partai politik besar tersebut hampir semuanya pemimpinnya adalah kiai,

kecuali PDIP yang dipimpin tokoh masyarakat lainnya.24

Dengan demikian terdapat

pertikaian atau sengketa antarkiai untuk memperebutkan massa pemilih dalam

22

Hal ini semakin kuat dengan otoritarianisme pemerintah untuk memenangkan Golkar,
sehingga lewat berbagai media, kiai, PNS, dan NU, maka masyarakat diwajibkan untuk memilih Golkar
ketimbang PPP yang mayoritas kepemimpinannya bukan dari NU. Meskipun pertikaian atau sengketa di
tubuh PPP merupakan ciptaan dari pemerintah. Sedangkan PDI telah diasumsikan sebagai partai umat
non-Islam terutama Kristen, sehingga sulit bagi masyarakat Gilir-gilir untuk memilihnya.

23

Pada pemilu tahun 1999, peserta pemilu mencapai 48 partai politik, yang berbasis
keagamaan mencapai 16 partai, sedangkan pada pemilu 2004 mencapai 24 partai politik, yang berbasis
keagamaan mencapai 8 partai.

24

Pemimpin partai-partai tersebut adalah: PKB (Drs. KH. A. Busyro Karim, M.Si), PPP (Drs.
KH. A. Warits Ilyas), Partai Golkar (KH. Abd. Wakir Abdullah), PAN (KH. Wasik). Sedangkan PDIP
ketuanya adalah Hunain Santoso, S.H

Perilaku Homoseksual di PonPes

134

pemilihan umum. Sehingga memunculkan berbagai konflik kepentingan antarkiai, di

antaranya larangan atau bahkan diharamkan terhadap para santri dan keluarganya

untuk memilih partai politik di luar kepemimpinannya atau di luar keinginannya. Hal

inilah yang memperparah citra kiai yang berpolitik di daerah Gilir-gilir. Sebagaimana

yang diketemukan oleh Lembaga Hukum dan Hak Azasi Manusia (Lakumham) DPC

PKB Sumenep. 25

Yakni semakin tidak percayanya masyarakat terhadap tokoh-tokoh

panutan mereka termasuk di dalamnya kiai bagi yang berpolitik praktis.

Hal ini terlihat dari hasil pemilihan umum pada tahun 2004, di desa Gilir-gilir

partai pemenangnya adalah PKB mencapai 9.345 suara, PPP 9.240 suara, PDIP 6.756

suara, Partai Golkar 6.509 suara, dan PAN mencapai 4.504 suara.26

Meskipun PKB sebagai pemenang dalam pemilu atau merupakan partai

terbesar yang mendapat dukungan dari mayoritas masyarakat sehingga dapat menguasai

mayoritas kursi di DPRD, yakni PKB (20 kursi), PPP (7 kursi), Partai Golkar (6 kursi),

PAN (4 kursi), PDIP (2 kursi), dan sisanya adalah PKS, PAR, PNU, PBR, dan PKPI

masing-masing mendapat satu kursi,27

namun semakin sadarnya masyarakat akan

pentingnya kepemimpinan yang memang mampu melaksanakan kepemimpinan telah

mulai menggeser suara PKB yang pada pemilihan umum 1999 mendapat 25 kursi di

DPRD. Kharisma Abdurrahman Wahid dan kiai lokal di antaranya ketua dewan syuro

DPC PKB Sumenep (salah satu pemimpin di pondok pesantren An-Naqiyah) telah

25

Jawa Pos, Kamis 9 Maret 2006

26

Monografi Kecamatan Guluk-guluk tahun 2005, hlm. 27

27

Kabupaten Sumenep Dalam Angka, Sumenep Regency in Figure, tahun 2004, hlm. 13-14

Perilaku Homoseksual di PonPes

135

mampu mengontol perolehan suara PKB untuk tetap menjadi mayoritas di Gilir-gilir

dan Sumenep secara keseluruhan. Meskipun demikian, dengan kembalinya salah satu

kiai kharismatik lokal lainnya untuk memimpin PPP (salah satu pemimpin di pondok

pesantren An-Naqiyah lainnya), telah menciptakan suatu persaingan yang cukup

demokratis di antara kedua partai politik tersebut.

Di samping kepemimpinan kiai dalam bidang partai politik, tradisi politik

keberagamaan mereka yang cukup kuat adalah kebiasaan beristri lebih dari satu

(poligami). Meskipun kiai di An-Naqiyah tidak berpoligami, namun ada beberapa kiai

di desa Gilir-gilir yang berperilaku poligami. Tradisi poligami ini selain menampakkan

khas masyarakatnya yang paternalistik, juga diklaim sebagai sebuah penafsiran

keagamaan, yang memperbolehkan menikah lebih dari satu, bahkan sampai empat.28

Namun tidak semua kiai melakukan praktek poligami, terutama kiai langgar, tidak ada

yang melakukan poligami. Hanya mereka kiai yang memiliki kharisma cukup kuat di

dalam masyarakat, dan memiliki kekayaan yang cukup memadai. Selain itu, kuatnya

pengaruh kiai dalam masyarakat juga nampak dari tidak akan dinikahi para janda-janda

yang telah diceraikan oleh para kiai. Kecuali oleh kiai lainnya dan secara hirarki lebih

tinggi ketimbang kiai yang menceraikannya. Hal ini memperlihatkan bahwa kiai

28

Penafsiran keagamaan terhadap kitab suci Al-Qur'an yang ada di surat An-Nisa' ayat: 14, telah
memberikan tekanan akan pentingnya bersikap adil pada pelaku poligami, yang dalam banyak
prakteknya seringkali diselewengkan. Yang terlihat pada perilaku poligami kiai hanyalah kepentingan
biologisnya dan kepentingan politiknya daripada kepentingan sosial untuk melindungi harga diri
perempuan. Kenyataan ini semakin diperkuat oleh semakin muda istrinya akan semakin muda usianya,
dan masih perawan. Padahal poligami Nabi Muhammad mengandung unsur semangat perlindungan
dan jaminan keadilan serta rasa aman. Lihat Nasaruddin Umar., 1999, Argumen Kesetaraan Jender,
Paramadina: Jakarta.

Perilaku Homoseksual di PonPes

136

dianalogikan sebagaimana mantan istri Nabi Muhammad yang tidak pernah dinikahi

oleh orang lain termasuk sahabat-sahabatnya.

a.7. Sosial, Budaya, dan Ekonomi Masyarakat Pesantren Gilir-gilir

Menurut data statistik yang dikeluarkan oleh kantor statistik Sumenep, jumlah

penduduk desa Gilir-gilir pada tahun 2004 adalah 15,372 jiwa yang melingkupi 3,789

rumah tangga, yang tersebar di tiga puluh RT dan delapan RW. Dengan luas wilayah

14,88 km², maka kepadatan penduduk di desa Gilir-gilir mencapai 1.033,06 jiwa/km².

Desa Gilir-gilir merupakan desa terpadat yang ada di kecamatan Gilir-gilir. Jumlah

penduduk di desa Gilir-gilir mengalami peningkatan kurang lebih 5,69% dari tahun

2000 ke tahun 2004. Akibat tingkat kepadatan yang begitu tinggi serta keadaan tanah

yang tidak begitu subur, maka menyebabkan kondisi ekonomi masyarakat di desa Gilir-

gilir agak memprihatinkan.

Desa Gilir-gilir mayoritas penduduknya adalah petani, baik tanaman pangan

yang mencakup sebanyak 2.014 keluarga, perkebunan yang mencakup 2.029 keluarga,

ataupun peternakan yang mencapai sekitar 254 keluarga, sedangkan industri yang ada

di desa Gilir-gilir hanya meliputi industri kecil sebanyak 21 keluarga dan industri

rumah tangga sebanyak 33 keluarga, dari segi perdagangan sebanyak 124 pedagang.

Sedangkan masyarakat di desa Gilir-gilir mayorits penduduknya adalah pra sejahtera

yakni sebanyak 971 keluarga, yang sejahtera I sebanyak 2 keluarga, sedangkan yang

sejahtera II hanya sebanyak 478 keluarga. Hal ini disebabkan oleh mayoritas penduduk

di desa Gilir-gilir yang bekerja dalam bidang usaha pertanian, peternakan, meskipun

Perilaku Homoseksual di PonPes

137

tanahnya lebih subur daripada desa Parendu. Meskipun tanahnya relatif subur namun

penggunaan tanahnya mayoritas adalah tanah kering. Pertanian di desa Gilir-gilir

didominasi oleh sawah tadah hujan, dan tanaman tembakau merupakan mata

unggulan dagang pertanian. Hal ini menunjukkan bahwa perekonomian masyarakat

desa Gilir-gilir ataupun Parendu tergolong minus (miskin), sehingga memaksa

penduduknya untuk mencari kerja atau nafkah ke luar pulau Madura, baik ke Jawa

ataupun ke luar negeri.29

Masyarakat desa Gilir-gilir tidak hanya merantau ke pulau lain

yang ada di Indonesia, namun sampai ke mancanegara di antaranya; Arab Saudi,

Malaysia, Brunei Darussalam, dan Hongkong. Arab Saudi menjadi pilihan utama

mereka karena sambil mencari nafkah mereka juga bisa menjadi atau menunaikan

ibadah haji, sesuatu yang menjadi dambaan setiap umat Islam masyarakat Gilir-gilir.

Selain itu, masyarakat desa Gilir-gilir lebih terbuka terhadap para pendatang baru

untuk membangun usahanya, terutama dalam usaha dagang.

Dengan minusnya perekonomian masyarakat desa Gilir-gilir dan Parendu,

maka sifat ulet, pekerja keras, dan tidak pernah pilih-pilih pekerjaan merupakan bagian

dari etos kerja mereka, yang mempunyai semboyan "abhenthal ombhe' asapo' angin"

(berbantalkan ombak berselimutkan angin), yang merupakan spirit kerja mereka yang

tidak hanya terbatas pada etos kerja kelautan saja tapi juga pada energisitas kehidupan

29

Secara historis masyarakat desa Gilir-gilir dan desa Parendu (baca: Madura) yang merantau
sudah berlangsung sejak penjajahan Belanda. Pada awalnya mereka datang ke wilayah Karesidenan
Besuki Jawa Timur, sekitar pertengahan abad ke XIX, yang berkaitan sangat erat dengan "ondernening
partikelir" , Suroso., 1996, "Orang Madura dan Kewiraswastaan", dalam Aswab Mahasin (edit), Ruh Islam
Dalam Budaya Bangsa: Aneka Budaya di Jawa, Yayasan Festifal Istiqlal: Jakarta, hlm. 278

Perilaku Homoseksual di PonPes

138

masyarakat. Kerja keras tersebut sudah mulai awal menjadi prinsip dasar masyarakat

desa Gilir-gilir dan Parendu untuk memenuhi kebutuhan primer dan sekundernya.

Selain itu, hemat dan halal juga termasuk dalam prinsip kerja masyarakatnya, meski

sebagian ada yang didapat dari hasil pekerjaan yang tidak halal.30

Seiring dengan hal

tersebut, maka masyarakat desa Gilir-gilir dan Parendu (baca: Madura) digambarkan

sebagai orang dengan sosok yang kasar, suka berkelahi, kaku, garang, dan menakutkan,

serta berani.31

Sehingga mereka dapat dibedakan dengan mudah dengan orang Jawa,

karena mereka kasar, tidak tahu sopan santun, terbuka, banyak bicara, dan tidak halus.

32

Di samping stereotipe negatif tersebut, terdapat pula karakteristik positif, yakni

berani, petualang, loyal, rajin, hemat, menyenangkan, antusias, dan humoris. Akan

tetapi stereotipe yang negatiflah yang lebih menonjol dialamatkan terhadap masyarakat

desa Gilir-gilir dan Parendu (Madura).33

Stereotipe tersebut tidak hanya berlaku pada

laki-laki namun juga pada perempuannya tidak terkecuali anak-anak. Perempuannya

seringkali diidentikan dengan kerampingan, dada bagus, dan excellent sexual intercourse.34

Hal ini diperkuat dengan kondisi alam, ekonomi, sosial budaya, dan politik

masyarakatnya sehingga stereotipe tersebut tumbuh dengan subur. Alamnya yang tidak

subur, kemiskinan pada mayoritas masyarakatnya, telah memunculkan atau memaksa

30

Iskandar Dzulkarnain., Op. Cit, hlm. 33

31

Sindhunata., "Malangnya Orang Madura Teganya Orang Jawa", dalam Basis, No. 09-10 thn,

ke-45, Desember, 1996, hlm. 52

32

Huub de Jonge., "Stereotypes of the Madurese", Royal Institute of Linguistics and
Anthroppology, International Workshop on Indonesian Studies, No. 6, Leiden, 7-11 October 1991,
hlm. 4-6

33

Ibid., hlm. 10

34

Ibid., hlm. 5

Perilaku Homoseksual di PonPes

139

mereka bermigrasi, sehingga menimbulkan stereotipe mereka kasar, keras, berani, kuat,

ulet, dan hemat. Sementara dengan kurangnya kadar air di wilayahnya serta kerasnya

hidup telah membuat tubuh mereka kekurangan air, sehingga perempuannya

dimitoskan lebih manis.35

Selain itu, karena kadar airnya yang lebih banyak tercampur

garam maka perempuannya distereotipekan dengan wanita yang sempurna

seksualitasnya, karena keringnya vagina mereka. Hal inilah yang menyebabkan banyak

jamu yang berhubungan dengan keharmonisan pasangan suami istri yang berasal dari

Madura. Padahal banyak yang memproduksi jamu-jamu tersebut di luar Madura dan

bahkan bahan-bahan pembuatannya dari luar Madura.

Lebih lanjut, masyarakat desa Gilir-gilir dan Parendu secara ekologi terdiri dari

tegalan, bukan sawah. Oleh karena itu ekosistem di desa Gilir-gilir dan Parendu

ditandai oleh pola pemukiman penduduk pedesaan yang terpencar-pencar dalam

kelompok-kelompok kecil yang dikelilingi oleh tegal,36

atau biasa disebut sebagai

pemukiman kampong meji (kampung meji), yaitu kelompok pemukiman penduduk desa

yang satu sama lainnya terpisah atau terisolasi .37

Keterisolasian kelompok pemukiman penduduk desa semakin nyata dengan

adanya pagar yang umumnya berupa rumpun bambu (meskipun sekarang sudah mulai

35

Ibid., hlm. 16

36

D. Zawawi Imron., 1996, " Peta Estetik Madura Masa Lalu", dalam Ibid, hlm. 293-294.
Meskipun untuk sekarang ini atau untuk beberapa tahun ke depan desa Parendu akan mengalami
kepadatan yang luar biasa, sehingga tidak ada lagi perpencaran antarrumah, namun untuk sekarang ini
masih terlihat pencaran-pencaran antarrumah di desa Parendu, walaupun mulai mengalami penyusutan.

37

Huub de Jonge, Op.Cit, hlm. 13. Kuntowijoyo., 1993, Radikalisasi Petani, Bentang:

Yogyakarta, hlm. 86

Perilaku Homoseksual di PonPes

140

banyak pagar dari semen). Antara kelompok pemukiman yang satu dengan kelompok

pemukiman yang lain biasanya dihubungkan oleh jalan desa atau jalan setapak. Pada

setiap desa, khususnya di kawasan luar kota biasanya ditemukan lima sampai sepuluh

pemukiman kampong meji yang ada di desa Gilir-gilir dan desa Parendu. Setiap

pemukiman kampong meji biasanya terdiri dari empat sampai delapan rumah yang

dibangun dalam bentuk memanjang, membujur dari barat ke timur dan menghadap ke

selatan38

Kelompok-kelompok pemukiman rumah-rumah keluarga terhimpun dalam

pola pemukiman pamengkang, pola pemukiman koren, pola pemukiman kampong meji,

dan pola pemukiman tanean lanjang. Pada pola pemukiman pamengkang dan pola

pemukiman koren jumlah rumah maupun generasi keluarganya belum banyak

jumlahnya. Sedangkan pada pola pemukiman kampong meji dan pola pemukiman

tanean lanjang jauh lebih banyak jumlah rumahnya, dan bisa mencapai lima generasi

keluarga.39

Pola pemukiman tanean lanjang atau dalam bahasa Indonesianya halaman

panjang, merupakan salah satu pola pemukiman masyarakat Madura yang masih

ditemukan di desa Gilir-gilir dan desa Parendu,40

dan merupakan bentuk pemukiman

38

Wiryoprawiro., Op. Cit, hlm. 43

39

Ibid., hlm. 15

40

Untuk pola pemukiman tanean lanjang, di desa Gilir-gilir terdapat sekitar 2 rumah keluarga,
sedangkan di desa Parendu terdapat sekitar 1 rumah keluarga

Perilaku Homoseksual di PonPes

141

yang tertua di Madura.41

Apabila dilihat dari sejarah dan susunan yang bermukim di

dalamnya, pola pemukiman tanean lanjang dibangun oleh keluarga yang mempunyai

banyak anak perempuan, dengan sistem pernikahan uxorimatrilocal,42

yang banyak

dipakai oleh masyarakat desa Gilir-gilir dan Parendu, yang artinya anak perempuan

yang menikah tetap tinggal di pekarangan orang tuanya sementara suaminya pindah ke

pekarangan istrinya. Untuk membangun pola pemukiman tanean lanjang hanya dapat

dilakukan oleh keluarga yang mampu secara ekonomi.

Rumah-rumah yang terdapat dalam pola pemukiman tanean lanjang selalu

dibangun berderet dari barat ke timur dan menghadap ke selatan, sebagaimana posisi

rumah tradisional lainnya. Rumah itu dideretkan dimulai dari keluarga tertua atau

anak perempuan termuda di sebelah timur, semuanya menghadap ke selatan.43

Dengan demikian jumlah rumah yang dibangun sesuai dengan jumlah anak

perempuannya, tidak termasuk rumah yang dihuni oleh orang tuanya. Pada umumnya

formasi pemukiman tanean lanjang terdiri dari empat sampai delapan rumah. Tapi pada

tahun 1987 pernah ditemukan di kabupaten Sumenep kelompok pemukiman tanean

lanjang yang terdiri dari 12 rumah yang dihuni oleh 11 keluarga. Setiap keluarga terdiri

dari dua sampai empat orang, sehingga jumlahnya adalah 41 orang, terdiri dari 18 laki-

41

Huub de Jonge., Op. Cit, hlm. 13

42

Uxorimatrilocal merupakan kombinasi dari uksorilokal dan matrilokal, lihat Ibid., hlm. 14

43

A Latief Wiyata., 2002, Carok: Konflik Kekerasan dan Harga Diri Orang Madura, LKiS:

Yogyakarta, hlm. 42-44

Perilaku Homoseksual di PonPes

142

laki dan 23 perempuan.44

Dengan demikian secara sosiologis komunitas pemukiman

tanean lanjang tidak hanya terdiri dari keluarga batih (nuclear family) melainkan juga

keluarga luas (extended family).45

Melihat dari formasi yang terdapat pada pola pemukiman tanean lanjang

tampak jelas bahwa dalam ideologi keluarga masyarakat desa Gilir-gilir dan Parendu

(Madura) mempunyai proteksi yang sangat khusus terhadap perempuan jika

dibandingkan dengan laki-laki. Setiap orang tua akan selalu menginginkan anak

perempuannya untuk tetap tinggal bersama mereka di lingkungannya, meskipun

mereka sudah bersuami. Perhatian dan proteksi masyarakat terhadap kaum perempuan

tidak hanya terlihat pada struktur formasi pola pemukiman tanean lanjang namun

terdapat pula pada struktur formasi seluruh pola pemukiman tradisional masyarakat

Madura. Setiap rumah yang ada di masyarakat desa Gilir-gilir dan Parendu mesti akan

memiliki sebuah langgar atau surau, dan lokasinya berada di ujung halaman bagian

barat sebagai simbolisasi Ka'bah yang merupakan kiblat umat Islam ketika sholat.

Langgar tersebut tidak hanya berfungsi atau bermakna sebagai tempat ritualitas

keagamaan belaka, namun secara kultural memiliki fungsi yang bermakna sebagai

tempat untuk menerima semua tamu laki-laki. Tujuannya adalah menempatkan semua

tamu laki-laki di langgar untuk mencegah kemungkinan terjadinya perilaku-perilaku

negatif bernuansa seksualitas akibat pertemuan antara laki-laki tersebut dengan anggota

44

Ibid..

45

Ibid., hlm. 24

Perilaku Homoseksual di PonPes

143

keluarga perempuan (terutama istri) dari pihak tuan rumah. Karena hal ini dianggap

sebagai parseko (tidak etis) apabila menerima tamu laki-laki di ruang tamu kecuali tamu

yang masih kerabat sendiri. Sedangkan segala bentuk gangguan terhadap kehormatan

kaum perempuan (terutama istri) akan selalu dimaknai sebagai pelecehan terhadap

kehormatan laki-laki, sehingga mereka rela untuk mempertahankan kehormatannya

meski harus lewat pertarungan carok yang akan menyebabkan nyawanya hilang.46

Dengan pola pemukiman seperti ini, maka pemukiman masyarakat desa akan

terpencar menjadikan sulitnya masyarakat untuk menjadi sebuah kesatuan teritorial

dan sosial. Untuk mempersatukan komunitas-komunitas masyarakat yang terpencar-

pencar tersebut, diperlukan adanya organisasi sosial keagamaan yang mampu

membangun solidaritasnya, di sinilah komunitas ini terbentuk dan dipersatukan oleh

langgar. Setiap desa yang dibentuk oleh komunitas tersebut terdapat masjid, yang

dipimpin oleh kiai langgar atau imam masjid. Lebih lanjut masjid dan kiai kemudian

menjadi simbol kesatuan dan pusat komunikasi di antara warga desa.47

Seperti

pengajian kitab, musyawarah desa dan lain sebagainya. Dalam hal ini agama

merupakan organizing principle bagi masyarakat desa Gilir-gilir dan Parendu. Selain itu,

agama juga memberikan collective sentiment yang melalui upacara-upacara ibadah dan

ritual serta simbol yang satu,48

dan keharusan agamalah yang membuat masyarakat desa

Gilir-gilir dan Parendu menjadi sebuah masyarakat yang membentuk organisasi sosial,

46

A Latief Wiyata., Op. Cit, hlm. 44-45

47

Iik Arifin Mansurnoor., Op. Cit, hlm. 195

48

Kuntowijoyo., Op. Cit, hlm. 87

Perilaku Homoseksual di PonPes

144

yang didasarkan pada agama dan otoritas kiai, yang pada akhirnya akan melahirkan

institusionalisasi pembelajaran keagamaan, seperti pondok pesantren. Berawal dari

inilah genealogis kiai dibentuk yang pada akhirnya akan berkembang menjadi

regimentasi, yaitu proses kekuasaan yang dibangun berdasarkan kekuatan penafsiran

atas teks-teks keagamaan (Al-Qur'an ataupun kitab kuning), yang akan melahirkan

otoritas keagamaan pada diri kiai. Otoritas inilah yang menciptakan pergerakan cara

berpikir dan bertindak masyarakat seperti yang diinginkan oleh pemegang otoritas

(kiai).49

Selain pola pemukiman tanean lanjang dan terbentuknya solidaritas masyarakat

desa melalui langgar dan otoritas kiai, masyarakat desa Gilir-gilir dan desa Parendu juga

mengenal pola perkawinan endogami, yakni kecenderungan menikah dengan kerabat

sendiri, terutama sepupu, yang dalam istilah Madura dikenal dengan "mapolong

tolang"(ngumpulin tulang). Tujuan perkawinan ini adalah untuk mempertahankan

ikatan tali keluarga, sedangkan untuk keluarga menengah ke atas, perkawinan model

ini sangat penting untuk mempertahankan kekayaannya agar tidak jatuh ke tangan

keluarga yang lain.

Bahkan dalam realitas kehidupan masyarakat desa Gilir-gilir dan Parendu,

biasanya menjodohkan anaknya yang masih berumur di bawah lima tahun (balita)

dengan anak dari keluarga yang lain - baik kerabat sendiri atau tidak – pada usia yang

sama. Ada pula yang menjodohkan anaknya ketika anak-anak itu masih berada dalam

49

Abdur Rozaki., Op. Cit, hlm. 48

Perilaku Homoseksual di PonPes

145

kandungan ibunya atau pada sa'at mau dilahirkan. Hal ini yang menyebabkan

banyaknya terjadi kawin paksa, meskipun angka penceraian sangat kecil. Tujuan

perjodohan pada usia muda atau kecil tersebut selain menjaga kekerabatan juga untuk

menjaga kehormatan keluarga dari perasaan aib dan malu jika pada waktunya anak

perempuan mereka belum mendapatkan jodohnya. Karena menurut mereka seorang

perempuan seharusnya sudah menikah tidak lama setelah mengalami haid pertama,

yakni sekitar umur 13-17 tahun.50

Apabila telah melewati umur tersebut masyarakat

akan mencemoohnya sebagai perempuan yang tidak laku (ta' paju lake). Sedangkan

pada laki-laki tidak ada istilah tersebut, sehingga banyak masyarakat Gilir-gilir dan

Parendu yang memperbolehkan anak perempuannya untuk diperistri lebih dari satu

(poligami), ketimbang disebut sebagai perempuan yang tidak laku. Selain itu, bentuk

patriarkhal masyarakat dalam kehidupan keluarganya juga dicerminkan oleh

superordinasi laki-laki (suami) terhadap perempuan (istri). Salah satunya adalah dalam

bentuk komunikasi keluarga, suami menggunakan basa mapas (kasar) kepada istri

sedangkan istri diharuskan menggunakan basa alus (bahasa halus) kepada suaminya

sebagai ungkapan perhormatannya.51

Sedangkan stratifikasi dalam masyarakat Gilir-gilir dan Parendu secara garis

besar dapat dijelaskan dengan meliputi tiga lapis sosial masyarakat. Pertama, oreng kene'

atau oreng dume' (orang kecil) sebagai lapis terbawah. Kedua, ponggaba (pegawai) sebagai

50

Hasil dari obrolan dari masyarakat desa Gilir-gilir Rt. 01/Rw. 02, di antaranya Muhammad
Sidiq, Abdur Rahman, dan Aisyah, tanggal 20 Desember 2005.

51

A Latief Wiyata., Op. Cit, hlm. 58

Perilaku Homoseksual di PonPes

146

lapis menengah, dan terakhir parjaji (priyayi) sebagai lapis paling atas. Jika dilihat dari

dimensi agama hanya terdiri dari dua lapis sosial, yaitu santre (santri) dan banne santre

(bukan santri).52

Dalam kenyataannya kelompok santre tidak harus selalu diidentikkan

dengan parjaji dan kelompok banne santre dengan oreng kene'. Karena kelompok santre

bisa terdiri dari parjaji dan oreng kene', begitu juga dengan banne santre. Dalam konteks

ini, kiai merupakan kelompok masyarakat lapis atas, sedangakan santre kelompok

masyarakat lapis bawah. Sedangkan bindarah (keturunan kiai atau gus dalam istilah

Jawa) sebagai kelompok masyarakat lapis menengah.

Selanjutnya, jika sistem stratifikasi sosial dikaitkan dengan jenis tingkatan

bahasa (dag-ondagga basa) yang digunakan oleh masyarakat desa Gilir-gilir dan Parendu

atau dalam bahasa Madura ada lima tingkatan; yaitu, bahasa keraton, misalnya abdi

dalem (saya), dan junan dalem (kamu), bahasa tinggi (abdina dan panjenengan), bahasa

halus (kaula dan sampeyan), bahasa menengah (bule dan dika), dan bahasa kasar atau

mapas (sengko' dan ba'na).53

Dengan tingkatan dalam linguistik, bukan hanya menunjuk

sebagai perbedaan bahasa tetapi lebih kepada kepunyaan relasi yang sangat erat dengan

status sosial seseorang dalam sistem stratifikasi sosial, baik achieved status atau ascribed

status. Kesalahan masyarakat dalam menerapkan bentuk tingkatan bahasa ketika

berkomunikasi dalam kehidupan kesehariannya bukan hanya kesalahan linguistik

tetapi juga sebagai kesalahan sosial. Bahkan kesalahan tersebut secara kultural,

52

Abdurrachman., Op. Cit, hlm. 5

53

A Latief Wiyata., Op. Cit, hlm. 48-49

Perilaku Homoseksual di PonPes

147

terutama dalam penerapan bahasa mapas yang tidak sesuai, akan dikecam karena

dinilai sebagai perilaku yang janggal (tidak mempunyai sopan santun). Sebaliknya

dengan menggunakan bahasa abasa maka orang tersebut termanifestasikan sebagai

seseorang yang mencerminkan perilaku yang mempunyai etika sopan santun. Setiap

masyarakat desa Gilir-gilir dan Parendu secara sosial kultural selalu dituntut untuk

bersikap dan berperilaku sopan (andap asor) dengan cara menggunakan basa yang halus

atau bahkan tinggi. Namun tuntutan sosial kultural tersebut tidak selalu dapat

diaktualisasikan secara konsisten dalam kehidupan keseharian terutama ketika mereka

sedang berkonflik. Sehingga mereka seringkali gagal mencapai rekonsiliasi dikarenakan

konfliknya yang selalu cenderung diselesaikan dengan cara kekerasan, seperti carok dan

menggunakan bahasa mapas.54

Sedangkan pada sistem ikatan kekerabatan masyarakat Gilir-gilir dan Parendu

terbentuk melalui keturunan dari keluarga yang berdasarkan garis keturunan ayah dan

ibu (paternal and maternal relatives). Tetapi, pada umumnya ikatan kekerabatan sesama

anggota keluarga akan lebih erat dari garis keturunan ayah sehingga cenderung lebih

mendominasi. Dalam konsep kekerabatan masyarakat Gilir-gilir dan Parendu,

hubungan persaudaraan mencakup sampai empat generasi ke atas (ascending generations)

dan ke bawah (descending generations) dari ego.55

Generasi paling atas disebut garubuk

54

Ibid., hlm. 50-51

55

Tingkatan generasi dalam kekerabatan masyarakat Gilir-gilir dan Parendu, dari atas ke bawah
tersebut, yaitu: garubuk (orang tua juju'/enju'), juju'/enju' (orang tua dari kakek/nenek), kae/agung/emba

Perilaku Homoseksual di PonPes

148

(orang tua juju'), sedangkan generasi paling bawah disebut kareppek (anak dari cicit).

Selain itu, kekerabatan yang dikarenakan ikatan pernikahan masyarakat Gilir-gilir dan

Parendu mereka menyebutnya dengan istilah taretan ereng (saudara samping). Oleh

karena itu, selain majadi' (saudara dari ayah/ibu) juga dikenal majadi' ereng (saudara dari

ayah/ibu mertua), majadi' sapopo (saudara sepupu dari ayah/ibu), dan majadi' sapopo

ereng (saudara sepupu ayah/ibu mertua). Sedangkan saudara kandung (baik adik/kakak)

dari istri atau suami disebut epar. Orang tua istri atau suami disebut mattowa, yang

terdiri dari mattowa lake' (ayah mertua), dan mattowa bine' (ibu mertua).56

Sedangkan,

dalam sistem kekerabatannya dikenal tiga kategori sanak keluarga, yaitu taretan dalem

(kerabat inti), taretan semma' (kerabat dekat), dan taretan jau (kerabat jauh). Di luar

ketiga kategori tersebut disebut sebagai oreng luwar (orang luar/bukan saudara).

Untuk menjaga keakraban antarsesama kerabat dilakukan melalui berbagai

aktivitas-aktivitas sosial, seperti saling mengunjungi baik ketika dalam suasana senang

(perhelatan acara, kelahiran, pertunangan, pernikahan, dan lain sebagainya) atau dalam

suasana duka (kematian, sakit, terkena musibah, dan lain sebagainya).

Secara gender, masyarakat desa Gilir-gilir dan desa Parendu mengakui adanya

tiga jenis kelamin dalam masyarakatnya, yakni lalake' (laki-laki), bendu (banci), dan

bebine' (perempuan). Namun berbeda dengan masyarakat yang lain pada umumnya,

masyarakat Gilir-gilir dan Parendu atau bahkan Sumenep secara keseluruhan lebih

(kakek atau nenek), eppa'/ebbu'/rama/emma' (ayah/ibu), ego, ana' (anak), kompoy (cucu), peyo' (cicit), dan
kareppek (anak dari cicit).

56

Ibid., hlm. 51-53

Perilaku Homoseksual di PonPes

149

menghargai para bendu-bendu yang ada di wilayahnya. Bahkan mereka menganggapnya

sebagai bagian dari komunitas masyarakat yang mendapatkan hak-haknya sebagai

masyarakat lainnya. Ada tiga makna yang ada di masyarakat tentang kategori bendu.

Pertama, bendu adalah mereka yang tidak kawin sampai usia sangat tua (khusus laki-

laki), karena dianggap tidak ereksi alat vitalnya. Kedua, bendu yang mencari kepuasan

ke sesama laki-laki tapi dengan tidak dibayar malah mereka yang membayar untuk

mencari kepuasan. Terakhir, adalah bendu-bendu yang mecari kepuasan ke sesama laki-

laki namun dengan dibayar atau dengan kata lain bendu-bendu ini menjual diri.

Sebagaimana yang dituturkan oleh Citra57

(bendu yang bekerja di Depan Masjid Jamik

Sumenep):

" Sengko' la mulai taon 1996 badha e Sumenep, soalla Sumenep
masyarakatte lebih baik, lebih narima ban lebur eajak akedhe'.
Bedhe moso e Sampang engko' lako ecokoco, ehina, ban elarang
alako moso pamarentah e Sampang."

"Saya sudah mulai tahun 1996 berada di Sumenep, karena
masyarakat Sumenep sangat baik, bisa nerima dan bisa diajak
guyonan. Berbeda dengan Sampang saya selalu dikerjain, dihina,
dan dilarang bekerja sama pemerintahannya.".

57

Citra adalah nama panggilan dia atau nama akrabnya, sedangkan nama aslinya adalah
Muhammad Slamet, yang lahir di Sampang dan sudah lebih dari tujuh tahun pindah ke Sumenep,
sebagaimana yang dia perlihatkan di KTPnya, Taman Bunga Sumenep, tanggal 10 Desember 2005

Perilaku Homoseksual di PonPes

150

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->