P. 1
Tesis Iskandar Dzulkarnain Compressed

Tesis Iskandar Dzulkarnain Compressed

|Views: 5,460|Likes:
Published by Hafsah Sukarti

More info:

Published by: Hafsah Sukarti on Apr 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2015

pdf

text

original

Kepemimpinan di pondok pesantren Al-Amanah berbeda dengan

kepemimpinan yang ada di pondok pesantren An-Naqiyah yang sentralistik kepada kiai

ponggawa limanya. Di dalam komunitas pondok pesantren Al-Amanah dikenal pola

pembagian tugas dalam mengerjakan kebijaksanaan Majelis Kiai. Majelis Kiai adalah

pemimpin yang mempunyai otoritas terhadap segala kebijaksanaan yang akan atau

sedang dijalankan di Al-Amanah. Namun tetap melalui musyawarah antaranggota yang

termasuk ke dalam Majelis Kiai, dan pelaksana hariannya, meliputi Direktur, Wakil

Direktur, Kepala Marhalah Tsanawiyah, Kepala Marhalah Aliyah, dan Majelis

Pertimbangan Organtri (MPO).

Meskipun secara struktural kepemimpinan yang pertama adalah Majelis Kiai,86

namun pada lapisan keduanya adalah Direktur Al-Amanah, serta pengurus harian yang

terdiri dari ustadz-ustadz serta para santri-santri senior yang termasuk kepengurusan

organisasi santri (Organtri). Kelompok-kelompok inilah yang masuk ke dalam kategori

kelompok elite di dalam pondok pesantren yang mempunyai pengaruh kuat.

Meskipun demikian, Majelis Kiai secara struktural hanyalah pemegang otoritas

untuk menentukan kebijaksanaan dan tidak ikut mengurusi kebijaksanaan tersebut

dalam kesehariannya. Sehingga banyak para santri yang lebih mengetahui Direktur Al-

Amanah ketimbang pemimpinnya, terutama para santri baru. Hal inilah yang

86

Majlis Kiai adalah para pemimpin pondok pesantren yang ada di wilayah kekuasaan Al-

Amanah.

Perilaku Homoseksual di PonPes

195

menyebabkan agak terputusnya hubungan atau jaringan antara kiai dengan para

santrinya. Berbeda dengan di An-Naqiyah yang mana para kiainya turun langsung

untuk mengajar para santrinya. Sedangkan di Al-Amanah kiai hanya menentukan

kebijaksanaan dan mengajar hanya untuk kelas 5 – 6 (sederajat dengan 2-3 MA).

Kepemimpinan seperti ini pada akhirnya menyebabkan pola jaringan yang

sedikit terputus antara santri dengan kiainya apalagi dengan masyarakatnya. Pola

hubungan yang terjalin hanyalah dua pola jaringan. Pertama, jaringan geneologis

antara pondok pesantren yang termasuk keluarganya atau pondok pesantren

naungannya. Kedua, jaringan intelektual, jaringan yang terbentuk dengan pengutusan

pengabdian para santri senior kepada pondok pesantren yang ada di bawah binaan Al-

Amanah atau alumni dari Al-Amanah yang mendirikan pondok pesantren. Hal inilah

yang menciptakan pola kepemimpinan di Al-Amanah sifatnya lebih bersifat semu dan

kepasrahan bukan kepemimpinan yang bersifat arogan dan eksklusif. Meskipun ada

sebagian santri yang menganggapnya itu sebagai bentuk lain dari arogansi dan

eksklusifisme para kiai pondok pesantren Modern. Selain itu, para orang tua wali

santri tidak diwajibkan untuk mendatangi kiai ketika menjenguk anak-anak mereka ke

pondok pesantren, hal ini berbeda dengan pondok pesantren An-Naqiyah yang bisa

dikatakan sebagai kewajiban bagi para orang tua untuk suwon kepada kiai ketika

menjenguk anak-anak mereka bahkan sebelum bertemu anak mereka.

Perilaku Homoseksual di PonPes

196

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->