P. 1
Tesis Iskandar Dzulkarnain Compressed

Tesis Iskandar Dzulkarnain Compressed

|Views: 5,463|Likes:
Published by Hafsah Sukarti

More info:

Published by: Hafsah Sukarti on Apr 25, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2015

pdf

text

original

Seks dapat dikategorikan sebagai sesuatu yang bersifat biologis atau terberi oleh

alam. Hal ini semakin diperkuat dengan pengenalan kita akan seks yang berkarakter

jantan yang menunjuk kepada sosok laki-laki, dan seks yang berkarakter betina

menunjuk kepada perempuan. Meskipun seks diketegorikan sebagai sesuatu yang

bersifat natural namun pada akhirnya seks akan masuk dalam kategori konstruksi sosial

yang dapat memberikan pembedaan antara yang normal dengan yang abnormal. Dari

sinilah maka muncul kategori seks yang disebut hermafrodit yang berposisi di antara

betina dan jantan. Atau kita seringkali menyebutnya dengan sebutan waria (wanita-

pria) yang dalam bahasa Maduranya bendu, karena memiliki karakteristik dan bahkan

perilaku yang dapat menjangkau sifat laki-laki maupun perempuan.1

Dengan demikian, standar normalitas seksual bersifat sosial, karena yang

dianggap normal dan abnormal adalah yang berada dalam rangkaian oposisi duaan,

yakni jantan-betina atau laki-laki-perempuan atau penulis menyebutnya dengan sebutan

ideologisasi heteroseksual. Oleh karena itu, kategori bagi para kaum homoseksual,

meskipun secara karakter maupun perilaku sangat berbeda dengan kaum waria

termasuk ke dalam kategori perilaku seksual yang abnormal. Hal ini semakin diperkuat

dengan kuatnya birokrasi negara dalam mengintervensi persoalan seksual, seperti

1

Triyono Lukmantoro., "Moral, Seksualitas, dan Intervensi Negara", dalam Kompas, Senin, 11

April 2005, hlm. 42

Perilaku Homoseksual di Ponpes

211

ketika birokrasi negara dan swasta yang selalu mengidentifikasi setiap individu dengan

dua pilihan jenis kelamin; laki-laki atau perempuan, termasuk juga di sini instansi

pendidikan yang di dalamnya ada pondok pesantren.2

Secara sosiologis seksualitas adalah ekspresi personal dan interpersonal yang

secara sosial mengonstruksi kualitas, hasrat, peranan, dan identitas yang dijalankan

bersamaan dengan perilaku dan aktivitas seksual.3

Dengan demikian, maka seksualitas

memiliki watak personal maupun sosial yang dapat memberikan kemungkinan bagi

setiap lembaga termasuk pondok pesantren untuk melakukan intervensi. Yang pada

hal ini menimbulkan ambivalensi terhadap nilai yang terjadi ketika seksualitas yang

bersifat individual harus juga dimaknai secara sosial. Selain itu, seksualitas tidak akan

hadir dalam sebuah perbincangan jika tidak didahului oleh sebuah wacana (discourse)

yang mengatur. Hal ini menunjukkan bahwa seksualitas dibentuk oleh discourse.

Discourse sendirilah yang secara wajar dimengerti sebagai sebuah perbincangan atau

sebuah pernyataan yang dimulai dengan berbagai ideologi dan kepentingan yang

ternyata berisi tentang praktik regulasi yang memberikan evaluasi terhadap benar atau

tidaknya pernyataan-pernyataan tersebut oleh kekuasaan.4

Berkenaan dengan hal tersebut maka dalam bab ini penulis ingin

mendeskripsikan tentang dua wacana homoseksual atau lebih dikenal dengan istilah

2

Ibid..

3

David Jary and Julia Jary., 1991, Collins Dictionary of Sociology, Manchester: Harper Collins

Publishers, hlm. 565

4

Triyono Lukmantoro., Loc. Cit.

Perilaku Homoseksual di Ponpes

212

alaq dalaq yang berkembang di pondok pesantren tradisional An-Naqiyah dan pondok

pesantren modern Al-Amanah, serta perilaku alaq dalaq santri di dalam kebebasan yang

ada di pondok pesantren An-Naqiyah dan perilaku homoseksual di dalam keketatan

dan kedisiplinan sebuah kemodernan pondok pesantren Al-Amanah.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->