(http://www.budpar.go.id/filedata/4636_1364UUTentangKepariwisataannet1.pdf) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10.TAHUN 2009......

TENTANG KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa keadaan alam, flora, dan fauna, sebagai karunia Tuhan Yang Maha Esa, serta peninggalan purbakala, budaya peninggalan bangsa sejarah, Indonesia seni, dan

yang dimiliki sumber

merupakan

daya dan modal pembangunan kepariwisataan untuk peningkatan rakyat kemakmuran dan kesejahteraan

sebagaimana terkandung dalam Pancasila dan Pembukaan Republik Undang-Undang Dasar Negara

Indonesia Tahun 1945; b. bahwa kebebasan melakukan perjalanan dan memanfaatkan berwisata waktu luang dalam wujud

merupakan bagian dari hak asasi manusia; c. bahwa kepariwisataan merupakan bagian integral dari pembangunan secara nasional yang dilakukan

sistematis, terencana, terpadu, berkelanjutan, dan bertanggung jawab dengan tetap memberikan perlindungan terhadap nilai-nilai agama, budaya yang hidup dalam masyarakat, kelestarian dan mutu lingkungan hidup, serta kepentingan nasional; d. bahwa diperlukan pembangunan kepariwisataan kesempatan mampu

untuk mendorong berusaha dan memperoleh menghadapi

pemerataan manfaat

serta

tantangan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global; e. bahwa . . .- 2 e. bahwa Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan tidak sesuai lagi dengan tuntutan dan perkembangan kepariwisataan sehingga perlu diganti; f. bahwa sebagaimana berdasarkan pertimbangan

dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf d, dan huruf e perlu membentuk Undang-Undang tentang Kepariwisataan; Mengingat : Pasal 20 dan Pasal 21 UndangUndang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN INDONESIA dan PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA RAKYAT REPUBLIK

Wisatawan adalah orang yang melakukan wisata.. 2. . . Pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata . BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-Undang dengan: 1.3 2. 3.MEMUTUSKAN: Menetapkan : UNDANG-UNDANG KEPARIWISATAAN. mempelajari daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu sementara. tempat tertentu atau untuk tujuan pengembangan keunikan pribadi. Wisatawan . Wisata dilakukan adalah ini yang dimaksud yang TENTANG kegiatan perjalanan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi rekreasi.

dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan . 5. keindahan. pengusaha. Kepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan multidimensi pariwisata dan bersifat serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan interaksi setiap orang dan negara serta antara wisatawan dan masyarakat setempat. Pemerintah. dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam. Daya Tarik Wisata adalah segala sesuatu yang memiliki keunikan.dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan Pemerintah. Pemerintah Daerah. dan Pemerintah Daerah. sesama wisatawan. 4. budaya. oleh masyarakat. dan pengusaha.

Industri . . 8. Industri Pariwisata adalah kumpulan usaha .. aksesibilitas. Daerah tujuan pariwisata yang selanjutnya disebut Destinasi Pariwisata adalah kawasan geografis yang berada dalam administratif satu atau lebih wilayah yang di dalamnya terdapat daya tarik wisata. 7. .kunjungan wisatawan. fasilitas umum. fasilitas pariwisata. melakukan kegiatan usaha 9. Usaha Pariwisata menyediakan barang dan/atau kebutuhan adalah bagi usaha yang jasa pemenuhan wisatawan dan penyelenggaraan pariwisata. 6. serta masyarakat yang saling terkait dan melengkapi terwujudnya kepariwisataan. Pengusaha Pariwisata adalah orang atau sekelompok orang yang pariwisata.4 9.

daya dukung lingkungan hidup. adalah seperangkat keterampilan. Kompetensi pengetahuan. seperti pertumbuhan ekonomi. . 10. dan dikuasai oleh pekerja pariwisata untuk mengembangkan profesionalitas kerja. dihayati. serta pertahanan dan keamanan. pemberdayaan sumber daya alam.pariwisata yang saling terkait dalam rangka menghasilkan pemenuhan barang dan/atau jasa bagi kebutuhan wisatawan dalam penyelenggaraan pariwisata. dan perilaku yang harus dimiliki. sosial dan budaya. Kawasan Strategis Pariwisata adalah kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek. 11.

Bupati atau Walikota. Menteri adalah menteri yang tugas dan tanggung jawabnya di bidang kepariwisataan. . . adalah Presiden memegang kekuasaan Indonesia Pusat. pelayanan. dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara pemerintahan daerah. dan pengelolaan kepariwisataan. Pemerintah Daerah adalah Gubernur. BAB II . Pemerintah Pemerintah. 14. selanjutnya Indonesia negara disebut yang Republik pemerintahan Republik sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.12.5 - . 13.. 15. Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat kepada usaha dan pekerja pariwisata untuk mendukung peningkatan mutu produk pariwisata.

g. b. dan k. dan intelektual setiap wisatawan dengan rekreasi diselenggarakan berdasarkan . Pasal 3 Kepariwisataan berfungsi memenuhi kebutuhan jasmani. kemandirian. kesetaraan. rohani. FUNGSI.BAB II ASAS. e. manfaat. berkelanjutan. kelestarian. demokratis. adil dan merata. f. j. partisipatif. keseimbangan. c. DAN TUJUAN Pasal 2 Kepariwisataan asas: a. d. h. kekeluargaan. kesatuan. i.

h. g. melestarikan alam. i. dan j. . BAB III PRINSIP PENYELENGGARAAN KEPARIWISATAAN Pasal 5 . b. f. meningkatkan kesejahteraan rakyat. . Pasal 4 Kepariwisataan bertujuan untuk: a. menghapus . memupuk rasa cinta tanah air.dan perjalanan serta meningkatkan pendapatan negara untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. mengangkat citra bangsa.. lingkungan. d. e. memajukan kebudayaan. meningkatkan pertumbuhan ekonomi.6 c. c. dan sumber daya. mempererat persahabatan antarbangsa. mengatasi pengangguran. memperkukuh jati diri dan kesatuan bangsa. menghapus kemiskinan.

dan kearifan lokal. hubungan antara manusia dan sesama manusia. e.Kepariwisataan diselenggarakan dengan prinsip: a. keterpaduan antarsektor. menjunjung keragaman tinggi hak asasi manusia. menjamin antardaerah.. f. dan proporsionalitas. . memberdayakan masyarakat setempat. d. memberi manfaat untuk kesejahteraan rakyat. kesetaraan. menjunjung tinggi norma agama dan nilai budaya sebagai pengejawantahan dari konsep hidup dalam keseimbangan hubungan antara manusia dan Tuhan Yang Maha Esa. . b. keadilan. c. memelihara kelestarian alam dan lingkungan hidup. budaya. .7 d. memelihara . dan hubungan antara manusia dan lingkungan.

sistemik dalam kerangka otonomi serta keterpaduan antarpemangku kepentingan. pelaksanaan rencana dengan memperhatikan keunikan. g. dan h.antara pusat dan daerah yang merupakan satu kesatuan daerah. memperkukuh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. mematuhi kode etik kepariwisataan dunia dan kesepakatan pariwisata. dan kekhasan budaya dan alam. BAB IV PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN Pasal 6 Pembangunan berdasarkan kepariwisataan dilakukan internasional dalam bidang asas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 yang diwujudkan melalui pembangunan kepariwisataan keanekaragaman. serta .

kebutuhan manusia untuk berwisata. c. pembangunan . destinasi pariwisata. b.. pemasaran. (2) Pembangunan kepariwisataan sebagaimana dimaksud integral pada ayat (1) merupakan jangka bagian panjang dari rencana nasional.8 c. Pasal 7 Pembangunan kepariwisataan meliputi: a. . Pasal 8 (1) Pembangunan kepariwisataan dilakukan berdasarkan rencana induk pembangunan kepariwisataan yang terdiri atas rencana induk pembangunan kepariwisataan nasional. pemasaran . . kelembagaan kepariwisataan. rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi. dan d. dan rencana induk pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota. industri pariwisata.

dan melibatkan sebagaimana ayat (3) dimaksud pada dilakukan dengan pemangku kepentingan. . . (3) Rencana induk pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) diatur dengan Peraturan Daerah kabupaten/kota.9 (5) Rencana induk pembangunan kepariwisataan . (4) Penyusunan rencana induk pembangunan kepariwisataan ayat (1). (5) Rencana .. (2) Rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) diatur dengan Peraturan Daerah provinsi. ayat (2).Pasal 9 (1) Rencana induk pembangunan kepariwisataan nasional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

kelembagaan kepariwisataan. . dan kabupaten/kota. destinasi pariwisata.sebagaimana dimaksud pada ayat (4) meliputi perencanaan pembangunan industri pariwisata. provinsi. dan asing di bidang kepariwisataan sesuai dengan rencana induk pembangunan kepariwisataan nasional. Pasal 10 Pemerintah dan Pemerintah Daerah mendorong penanaman modal penanaman modal dalam negeri dan pemasaran. Pasal 11 Pemerintah bersama lembaga yang terkait dengan kepariwisataan dan pengembangan mendukung menyelenggarakan kepariwisataan penelitian untuk pembangunan kepariwisataan.

. d. perlindungan terhadap lokasi tertentu yang mempunyai fungsi peran strategis dalam menjaga dan daya dukung lingkungan hidup. kesiapan dan dukungan masyarakat. lokasi strategis yang mempunyai peran dalam usaha pelestarian dan pemanfaatan aset budaya.10 a. e.. b. dan g. f. lokasi strategis persatuan yang berperan menjaga bangsa dan keutuhan wilayah. kekhususan dari wilayah. c. potensi pasar. . sumber . . sumber daya pariwisata alam dan budaya yang potensial menjadi daya tarik pariwisata.BAB V KAWASAN STRATEGIS Pasal 12 (1) Penetapan dilakukan kawasan strategis pariwisata dengan memperhatikan aspek: a.

kawasan strategis strategis pariwisata provinsi. . (2) Kawasan . (3) Kawasan memperhatikan strategis pariwisata harus serta peningkatan aspek budaya.. dan agama masyarakat setempat. keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia kesejahteraan masyarakat.11 (2) Kawasan strategis pariwisata sebagaimana dimaksud . dan kawasan pariwisata kabupaten/kota. sosial. Pasal 13 (1) Kawasan strategis pariwisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) dan ayat (2) terdiri atas kawasan strategis pariwisata nasional.(2) Kawasan strategis pariwisata dikembangkan untuk berpartisipasi dalam terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa. .

b. kawasan strategis pariwisata provinsi ditetapkan provinsi.pada ayat (1) merupakan bagian integral dari rencana tata ruang wilayah nasional. oleh Pemerintah Daerah dan kawasan strategis pariwisata kabupaten/kota ditetapkan oleh kabupaten/kota. antara lain: a. dan rencana tata ruang wilayah kabupaten/kota. Pemerintah khusus Daerah ditetapkan pariwisata . rencana tata ruang wilayah provinsi. (3) Kawasan ditetapkan strategis pariwisata nasional oleh Pemerintah. kawasan pariwisata. (4) Kawasan dengan undang-undang. BAB VI USAHA PARIWISATA Pasal 14 (1) Usaha pariwisata meliputi. daya tarik wisata.

. l. j. i.12 i. jasa pramuwisata. jasa transportasi wisata. spa. d. dan m. perjalanan konferensi. jasa makanan dan minuman. wisata tirta. jasa perjalanan wisata. (2) Usaha pariwisata dimaksud pada selain sebagaimana ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri. Pasal 15 (1) Untuk pariwisata dapat menyelenggarakan usaha . . jasa . penyediaan akomodasi. h. f. g. penyelenggaraan rekreasi. penyelenggaraan insentif. jasa konsultan pariwisata. k. dan pameran. .c. jasa informasi pariwisata. e. kegiatan hiburan dan pertemuan.

menengah. Pasal 17 Pemerintah dan Pemerintah Daerah wajib mengembangkan dan melindungi usaha mikro. kecil. pariwisata wajib mendaftarkan usahanya terlebih dahulu kepada Daerah. Pemerintah atau Pemerintah (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pendaftaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Menteri.sebagaimana pengusaha dimaksud dalam Pasal 14. Pasal 16 Pemerintah menunda atau Pemerintah kembali Daerah dapat usaha atau meninjau pariwisata pendaftaran apabila tidak sesuai dengan ketentuan tata cara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15. dan koperasi dalam bidang usaha pariwisata .

membuat pariwisata untuk usaha koperasi. dan koperasi dengan usaha skala besar. kecil. . DAN LARANGAN Bagian Kesatu Hak Pasal 18 Pemerintah dan/atau mengatur dan Pemerintah Daerah kebijakan mikro. . KEWAJIBAN. Pasal 19 (1) Setiap orang berhak: . BAB VII HAK.dengan cara: a. pencadangan menengah.13 a. mengelola urusan kepariwisataan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. menengah. memfasilitasi kemitraan usaha mikro. usaha dan kecil.. dan b. membuat .

(2) Setiap . c. b. . berperan dalam proses pembangunan kepariwisataan. dan/atau d. melakukan usaha pariwisata. pelayanan standar. kesempatan memenuhi b. konsinyasi. menjadi pekerja/buruh pariwisata.a. informasi yang akurat mengenai daya tarik wisata. kepariwisataan sesuai dengan .. pengelolaan. Pasal 20 Setiap wisatawan berhak memperoleh: a. . b. menjadi pekerja/buruh.14 (2) Setiap orang dan/atau masyarakat di dalam dan di sekitar destinasi prioritas: pariwisata mempunyai hak a. dan/atau c. memperoleh kebutuhan wisata.

c. mendapatkan kesempatan yang sama dalam berusaha di bidang kepariwisataan. membentuk .c. dan f. mendapatkan berusaha.15 b. perlindungan hukum dan keamanan. Pasal 22 Setiap pengusaha pariwisata berhak: a. dan lanjut usia berhak mendapatkan fasilitas khusus sesuai dengan kebutuhannya. e. pelayanan kesehatan. dan perlindungan hukum dalam asuransi untuk kegiatan . perlindungan pariwisata yang berisiko tinggi.. . . membentuk dan menjadi anggota asosiasi kepariwisataan. perlindungan hak pribadi. anak-anak. d. Pasal 21 Wisatawan yang memiliki keterbatasan fisik. b.

mendapatkan ketentuan fasilitas sesuai dengan peraturan perundang-undangan. c. dan d. b. dan aset nasional yang menjadi daya tarik wisata dan aset potensial yang belum tergali. mengawasi dan mengendalikan kegiatan .d. menyediakan informasi kepariwisataan. dan memberikan kepastian hukum. Bagian Kedua Kewajiban Pasal 23 (1) Pemerintah berkewajiban: dan Pemerintah Daerah a. melestarikan mengembangkan. serta keamanan dan keselamatan kepada wisatawan. perlindungan hukum. memelihara. menciptakan iklim yang kondusif untuk perkembangan usaha pariwisata yang meliputi terbukanya kesempatan yang sama dalam berusaha. memfasilitasi.

kepariwisataan dalam rangka mencegah dan menanggulangi berbagai dampak negatif bagi masyarakat luas. (2) Ketentuan .16 (2) Ketentuan lebih lanjut mengenai pengawasan dan pengendalian dimaksud kepariwisataan sebagaimana pada ayat (1) huruf d diatur dengan Peraturan Presiden. . Pasal 25 Setiap wisatawan berkewajiban: . membantu terciptanya suasana aman. menjaga dan melestarikan daya tarik wisata. dan b. berperilaku santun. dan menjaga kelestarian lingkungan destinasi pariwisata. Pasal 24 Setiap orang berkewajiban: a. .. tertib. bersih.

b. budaya. turut serta menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan. menjaga dan menghormati norma agama. . c. adat istiadat. b. dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat. memberikan bertanggung jawab. Pasal 26 . informasi yang akurat dan mencegah dan segala kegiatan bentuk yang kesusilaan .. menjaga dan menghormati norma agama. budaya. memelihara dan melestarikan lingkungan. dan d.a. turut serta perbuatan yang melanggar melanggar hukum. adat istiadat.17 Pasal 26 Setiap pengusaha pariwisata berkewajiban: a. dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat. .

kecil. dan menguntungkan. h. dan memberikan kesempatan kepada tenaga kerja lokal. produk dalam negeri. d. mengembangkan kemitraan dengan usaha mikro. meningkatkan melalui kompetensi tenaga kerja pelatihan dan pendidikan. e. g.c. mengutamakan masyarakat penggunaan produk setempat. keamanan. dan koperasi setempat yang saling memerlukan. memberikan perlindungan pelayanan yang tidak kenyamanan. berperan aktif dalam upaya pengembangan prasarana dan masyarakat. program pemberdayaan . keramahan. memperkuat. memberikan usaha perlindungan asuransi pada pariwisata dengan kegiatan yang berisiko tinggi. dan keselamatan wisatawan. memberikan diskriminatif. i. f.

turut serta mencegah segala bentuk perbuatan yang melanggar melanggar kesusilaan dan kegiatan yang hukum di lingkungan tempat usahanya. .. memelihara lingkungan yang sehat. memelihara kelestarian lingkungan alam dan budaya. dan n. m. bersih.18 n.j. menerapkan . menerapkan kompetensi standar usaha dan standar kepariwisataan secara sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bagian Ketiga Larangan Pasal 27 . dan asri. k. l. menjaga citra negara dan bangsa Indonesia melalui kegiatan usaha bertanggung jawab. .

keindahan. menghilangkan mengubah spesies tertentu. daya tarik menghancurkan. (2) Merusak fisik daya tarik wisata sebagaimana dimaksud pada perbuatan ayat (1) adalah melakukan bentuk. mengubah warna. wisata sehingga berkurang atau hilangnya keunikan. memindahkan. atau memusnahkan berakibat mengambil. mencemarkan lingkungan. dan nilai autentik suatu daya tarik wisata yang telah ditetapkan oleh Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah. BAB VIII KEWENANGAN PEMERINTAH DAN PEMERINTAH DAERAH Pasal 28 .(1) Setiap orang dilarang merusak sebagian atau seluruh fisik daya tarik wisata.

melestarikan aset mengembangkan. menetapkan daya tarik wisata nasional. h. f. mengoordinasikan kepariwisataan lintas sektor dan lintas provinsi. norma. pedoman. mengembangkan kebijakan pengembangan sumber daya manusia di bidang kepariwisataan. pembangunan kriteria. mengoordinasikan . dan nasional yang menjadi daya tarik wisata dan aset . c. dan sistem pengawasan dalam penyelenggaraan kepariwisataan. menyelenggarakan kerja sama internasional di bidang kepariwisataan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.. g. b. . standar. menetapkan prosedur. e.19 b. menetapkan destinasi pariwisata nasional . menyusun dan menetapkan rencana induk pembangunan kepariwisataan nasional. d. .Pemerintah berwenang: a. memelihara.

Pasal 29 . mengawasi. k. dengan keamanan dan dan memfasilitasi promosi .potensial yang belum tergali. dan n. i. mengalokasikan anggaran kepariwisataan. m. memantau. memberikan informasi dan/atau peringatan dini yang berhubungan keselamatan wisatawan. memberikan kemudahan yang mendukung kunjungan wisatawan. j. meningkatkan pemberdayaan masyarakat dan potensi wisata yang dimiliki masyarakat.20 Pasal 29 Pemerintah provinsi berwenang: a. melakukan pariwisata nasional. dan mengevaluasi penyelenggaraan kepariwisataan. . l. menyusun dan menetapkan rencana induk pembangunan kepariwisataan provinsi.. .

b. penyelenggaraan c. d. mengalokasikan anggaran kepariwisataan. b. memfasilitasi promosi destinasi pariwisata dan produk pariwisata yang berada di wilayahnya. d. mengoordinasikan kepariwisataan di wilayahnya. pencatatan. dan h. memelihara aset provinsi yang menjadi daya tarik wisata provinsi. destinasi pariwisata c. g. melaksanakan pendaftaran. menyusun dan menetapkan rencana induk pembangunan kepariwisataan kabupaten/kota. menetapkan kabupaten/kota. dan pendataan pendaftaran usaha pariwisata. menetapkan daya tarik wisata provinsi. f. dan . e. pencatatan. menetapkan daya tarik wisata kabupaten/kota. menetapkan destinasi pariwisata provinsi. Pasal 30 Pemerintah kabupaten/kota berwenang: a. melaksanakan pendaftaran.

memfasilitasi dan melakukan promosi destinasi pariwisata dan produk pariwisata yang berada di wilayahnya. g. lembaga bimbingan masyarakat . organisasi pariwisata.21 f. menyelenggarakan sadar wisata. dan k. f. i. memfasilitasi . .. memfasilitasi pengembangan daya tarik wisata baru. . memelihara dan melestarikan daya tarik wisata yang berada di wilayahnya. Pasal 31 (1) Setiap perseorangan. h. j.pendataan pendaftaran usaha pariwisata. e. menyelenggarakan pelatihan dan penelitian kepariwisataan dalam lingkup kabupaten/kota. mengatur penyelenggaraan dan pengelolaan kepariwisataan di wilayahnya. mengalokasikan anggaran kepariwisataan.

dan ayat (3) diatur dengan . (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pemberian penghargaan.pemerintah. serta badan usaha yang berprestasi luar biasa atau berjasa besar dalam partisipasinya meningkatkan pembangunan. (3) Penghargaan dapat berbentuk pemberian piagam. dan pengabdian di bidang kepariwisataan yang dapat dibuktikan dengan fakta yang konkret diberi penghargaan. dan pemberian penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). uang. (2) Penghargaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh Pemerintah atau lembaga lain yang tepercaya. pelaksanaan bentuk penghargaan. atau bentuk penghargaan lain yang bermanfaat. ayat (2). kepeloporan.

Peraturan Presiden. Pasal 32 .. (2) Dalam menyediakan dan menyebarluaskan informasi. BAB IX KOORDINASI Pasal 33 .22 Pasal 32 (1) Pemerintah menjamin ketersediaan kepada dan dan Pemerintah Daerah informasi penyebarluasan masyarakat untuk kepentingan pengembangan kepariwisataan. . (3) Pemerintah Daerah dapat mengembangkan dan mengelola sesuai sistem informasi kepariwisataan dengan kemampuan dan kondisi daerah. Pemerintah mengembangkan sistem informasi kepariwisataan nasional. .

c. bidang keamanan dan ketertiban. bidang pelayanan kepabeanan. laut. dan udara. dan kesehatan lingkungan. dan karantina. keimigrasian. Pasal 34 . bidang transportasi darat. bidang prasarana umum yang mencakupi jalan. d.23 d. telekomunikasi.. b. program. . dan kegiatan kepariwisataan.(1) Dalam penyelenggaraan rangka meningkatkan kepariwisataan Pemerintah melakukan koordinasi strategis lintas sektor pada tataran kebijakan. . air bersih. dan e. listrik. bidang promosi pariwisata dan kerja sama luar negeri. bidang . (2) Koordinasi sebagaimana strategis lintas sektor dimaksud pada ayat (1) meliputi: a.

BAB X BADAN PROMOSI PARIWISATA INDONESIA Bagian Kesatu Badan Promosi Pariwisata Indonesia Pasal 36 (1) Pemerintah Badan memfasilitasi pembentukan Promosi Pariwisata Indonesia yang berkedudukan di ibu kota negara. mekanisme. dan hubungan koordinasi strategis lintas sektor sebagaimana dimaksud Pasal 34 dalam Pasal 33 dan diatur dengan Peraturan Presiden. . Pasal 35 Ketentuan lebih lanjut mengenai tata kerja.Koordinasi strategis lintas sektor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 33 ayat (1) dipimpin oleh Presiden atau Wakil Presiden.

.. Pasal 37 Struktur organisasi Badan Promosi Pariwisata Indonesia terdiri atas 2 (dua) unsur. . Pasal 38 (1) Unsur penentu kebijakan Badan Promosi Pariwisata Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 berjumlah 9 (sembilan) orang anggota terdiri atas: .24 (2) Badan sebagaimana Promosi Pariwisata Indonesia dimaksud pada ayat (1) merupakan lembaga swasta dan bersifat mandiri. (3) Pembentukan Indonesia Badan Promosi Pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Presiden.(2) Badan . yaitu unsur penentu kebijakan dan unsur pelaksana.

(3) Unsur penentu kebijakan Badan Promosi Pariwisata Indonesia seorang dipimpin oleh seorang ketua dan wakil ketua yang dibantu oleh seorang sekretaris yang dipilih dari dan oleh anggota. wakil asosiasi penerbangan 1 (satu) orang. . (2) Keanggotaan unsur penentu kebijakan Badan Promosi Menteri Pariwisata Indonesia diusulkan oleh kepada Presiden untuk masa tugas paling lama 4 (empat) tahun. . b. serta tata cara pengangkatan dan pemberhentian unsur penentu kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2). (4) Ketentuan ..a. . dan d. wakil asosiasi kepariwisataan 4 (empat) orang. c. persyaratan. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Menteri. wakil asosiasi profesi 2 (dua) orang. pakar/akademisi 2 (dua) orang.25 (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata kerja.

Pasal 39 Unsur penentu kebijakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 membentuk unsur pelaksana untuk menjalankan tugas operasional Badan Promosi Pariwisata Indonesia. . Pasal 40 (1) Unsur pelaksana Badan Promosi Pariwisata Indonesia eksekutif dipimpin oleh seorang direktur dengan dibantu oleh beberapa direktur sesuai dengan kebutuhan. (3) Masa kerja unsur pelaksana Badan Promosi Pariwisata Indonesia paling lama 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa kerja berikutnya. (2) Unsur pelaksana Badan Promosi Pariwisata Indonesia wajib menyusun tata kerja dan rencana kerja.

c. meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara dan pembelanjaan. . dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Badan Promosi Pariwisata Indonesia. persyaratan. . menggalang pendanaan dari sumber selain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sesuai dengan ketentuan peraturan Promosi Pariwisata Indonesia . d. Pasal 41 .. meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan penerimaan devisa. b.(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata kerja. serta tata cara pengangkatan dan pemberhentian unsur pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). ayat (2).26 Pasal 41 (1) Badan mempunyai tugas: a. meningkatkan citra kepariwisataan Indonesia.

pemangku kepentingan. (2) Badan mempunyai fungsi sebagai: a. sumber . melakukan riset dalam rangka pengembangan usaha dan bisnis pariwisata.. sumber lainnya yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Bantuan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran . .27 b.perundang-undangan. Pasal 42 (1) Sumber Pariwisata pembiayaan Badan Promosi kerja Pemerintah dan Pemerintah Promosi Pariwisata Indonesia Indonesia berasal dari: a. dan e. dan b. . koordinator promosi pariwisata yang dilakukan dunia usaha di pusat dan daerah. mitra Daerah. dan b.

Pendapatan dan Belanja Daerah bersifat hibah sesuai dengan ketentuan undangan. (2) Badan sebagaimana Promosi Pariwisata Daerah dan diumumkan kepada . peraturan perundang- (3) Pengelolaan dana yang bersumber dari nonAnggaran Pendapatan dan Belanja Negara Anggaran dan non- Pendapatan dan Belanja Daerah wajib diaudit oleh akuntan publik masyarakat. Bagian Kedua Badan Promosi Pariwisata Daerah Pasal 43 (1) Pemerintah Daerah dapat memfasilitasi pembentukan Badan Promosi Pariwisata Daerah yang berkedudukan di ibu kota provinsi dan kabupaten/kota.

28 Pasal 44 Struktur organisasi Badan Promosi Pariwisata Daerah terdiri atas 2 (dua) unsur. (4) Pembentukan Daerah Badan Promosi Pariwisata sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota. Pasal 45 (1) Unsur penentu kebijakan Badan Promosi Pariwisata Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44 . . . (3) Badan Promosi Pariwisata Daerah dalam melaksanakan kegiatannya wajib berkoordinasi dengan Badan Promosi Pariwisata Indonesia. yaitu unsur penentu kebijakan dan unsur pelaksana.dimaksud pada ayat (1) merupakan lembaga swasta dan bersifat mandiri.. Pasal 44 .

wakil asosiasi kepariwisataan 4 (empat) orang.berjumlah 9 (sembilan) orang anggota terdiri atas: a. c. pakar/akademisi 2 (dua) orang. wakil asosiasi penerbangan 1 (satu) orang. dan . dan d. (3) Unsur penentu kebijakan Badan Promosi Pariwisata Daerah dipimpin seorang oleh seorang ketua dan wakil ketua yang dibantu oleh seorang sekretaris yang dipilih dari dan oleh anggota. persyaratan. (2) Keanggotaan unsur penentu kebijakan Badan Promosi Pariwisata Daerah ditetapkan dengan Keputusan Gubernur/Bupati/Walikota untuk masa tugas paling lama 4 (empat) tahun. b. serta tata cara pengangkatan dan pemberhentian unsur penentu kebijakan sebagaimana dimaksud pada ayat (1). wakil asosiasi profesi 2 (dua) orang. ayat (2). (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata kerja.

. Pasal 47 (1) Unsur pelaksana Badan Promosi Pariwisata Daerah dipimpin oleh seorang direktur eksekutif dengan dibantu oleh beberapa direktur sesuai dengan kebutuhan. (2) Unsur pelaksana Badan Promosi Pariwisata Daerah wajib menyusun tata kerja dan rencana kerja..ayat (3) diatur Gubernur/Bupati/ Walikota. .29 Pasal 46 dengan Peraturan Unsur penentu kebijakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 45 membentuk unsur pelaksana untuk menjalankan tugas operasional Badan Promosi Pariwisata Daerah. Pasal 46 . (3) Masa kerja unsur pelaksana Badan Promosi Pariwisata Daerah paling lama 3 (tiga) tahun dan .

(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata kerja. menggalang pendanaan dari sumber selain Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sesuai Badan Promosi Pariwisata . Pasal 48 (1) Badan Promosi Pariwisata Daerah mempunyai tugas: a.30 b. meningkatkan citra kepariwisataan Indonesia. . serta tata cara pengangkatan dan pemberhentian unsur pelaksana sebagaimana dimaksud pada ayat (1). .. c. persyaratan. meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara dan penerimaan devisa. dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Daerah. meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara dan pembelanjaan.dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa kerja berikutnya. d. meningkatkan . ayat (2). b.

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan e. melakukan riset dalam rangka pengembangan usaha dan bisnis pariwisata. (2) Badan Promosi Pariwisata Daerah mempunyai fungsi sebagai: a. koordinator promosi pariwisata yang dilakukan dunia usaha di pusat dan daerah; dan b. mitra Daerah. Pasal 49 (1) Sumber Pariwisata pembiayaan Badan Promosi kerja Pemerintah dan Pemerintah

Daerah berasal dari: a. pemangku kepentingan; dan b. sumber lainnya yang sah dan tidak mengikat sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Bantuan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara dan Anggaran

Pendapatan dan Belanja Daerah bersifat hibah sesuai dengan ketentuan undangan. (3) Pengelolaan . . .- 31 (3) Pengelolaan dana yang bersumber dari nonAnggaran Pendapatan dan Belanja Negara Anggaran dan nonperaturan perundang-

Pendapatan dan Belanja Daerah wajib diaudit oleh akuntan publik masyarakat. BAB XI GABUNGAN INDUSTRI PARIWISATA INDONESIA Pasal 50 (1) Untuk usaha mendukung pengembangan dunia dan diumumkan kepada

pariwisata yang kompetitif, dibentuk satu wadah yang dinamakan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia. (2) Keanggotaan Gabungan Industri Pariwisata

Indonesia terdiri atas: a. pengusaha pariwisata; b. asosiasi usaha pariwisata; c. asosiasi profesi; dan d. asosiasi lain yang terkait langsung dengan pariwisata. (3) Gabungan Industri Pariwisata Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berfungsi sebagai mitra kerja Pemerintah dan Pemerintah Daerah serta wadah komunikasi dan konsultasi para anggotanya dalam penyelenggaraan dan pembangunan kepariwisataan. (4) Gabungan bersifat mandiri bersifat nirlaba. (5) Gabungan . . .- 32 (5) Gabungan melakukan Industri Pariwisata Indonesia dan Industri dalam Pariwisata Indonesia

melakukan

kegiatannya

kegiatan, antara lain:

meningkatkan hubungan dan kerja sama antara pengusaha pariwisata Indonesia dan pengusaha pariwisata luar negeri untuk kepentingan pembangunan kepariwisataan. mencegah persaingan usaha yang tidak sehat di bidang pariwisata. kebijakan Pemerintah di susunan kepengurusan. menetapkan dan menegakkan Kode Etik Gabungan Industri Pariwisata Indonesia. Pasal 51 Ketentuan lebih keanggotaan. dan kegiatan Gabungan . c. b. menyalurkan aspirasi serta memelihara kerukunan dan kepentingan anggota dalam rangka keikutsertaannya dalam pembangunan bidang kepariwisataan. d.a. dan e. menyelenggarakan pusat informasi usaha dan menyebarluaskan bidang kepariwisataan. lanjut mengenai bentuk.

Bagian Kedua peraturan Standardisasi dan Sertifikasi Pasal 53 .Industri Pariwisata dimaksud Indonesia sebagaimana dalam Pasal 50 diatur dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga.33 BAB XII PELATIHAN SUMBER STANDARDISASI. SERTIFIKASI. . DAN TENAGA KERJA Bagian Kesatu Pelatihan Sumber Daya Manusia Pasal 52 Pemerintah dan menyelenggarakan pelatihan sesuai sumber Pemerintah daya manusia Daerah pariwisata perundang- dengan ketentuan undangan. .. BAB XII . DAYA MANUSIA.

(3) Sertifikasi pada ayat (2) usaha sebagaimana dimaksud peraturan perundang- dilakukan oleh lembaga mandiri yang berwenang . Pasal 54 (1) Produk. (2) Standar . ..(1) Tenaga memiliki kerja di bidang kepariwisataan standar kompetensi. (2) Standar kompetensi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sertifikasi kompetensi.34 (2) Standar usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui sertifikasi usaha. (3) Sertifikasi lembaga kompetensi dilakukan oleh sertifikasi profesi yang telah mendapat lisensi sesuai dengan ketentuan undangan. dan pengelolaan usaha pariwisata memiliki standar usaha. pelayanan. .

Pasal 55 Ketentuan lebih kompetensi lanjut mengenai sertifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 53 dan sertifikasi usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54 diatur dalam Peraturan Pemerintah.sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bagian Ketiga Tenaga Kerja Ahli Warga Negara Asing Pasal 56 (1) Pengusaha pariwisata dapat mempekerjakan tenaga kerja ahli warga negara asing sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (2) Tenaga kerja ahli sebagaimana dimaksud mendapat pada ayat warga negara asing (1) terlebih dahulu rekomendasi dari organisasi asosiasi pekerja .

. dan akuntabilitas publik. pengusaha. Pasal 59 Pemerintah Daerah mengalokasikan sebagian dari pendapatan yang penyelenggaraan diperoleh dari pariwisata untuk kepentingan pelestarian alam dan . Pasal 58 Pengelolaan berdasarkan dana kepariwisataan dilakukan Pemerintah Daerah. transparansi. dan masyarakat.profesional kepariwisataan. BAB XIII . prinsip keadilan. . . efisiensi.35 BAB XIII PENDANAAN Pasal 57 Pendanaan pariwisata menjadi tanggung jawab bersama antara Pemerintah.

BAB XIV SANKSI ADMINISTRATIF Pasal 62 (1) Setiap ketentuan wisatawan yang tidak mematuhi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 dikenai sanksi berupa teguran lisan disertai dengan pemberitahuan dipenuhi. Pasal 60 Pendanaan oleh pengusaha dan/atau masyarakat dalam pembangunan pariwisata di pulau kecil diberikan insentif yang diatur dengan Peraturan Presiden. . Pasal 61 .budaya. . mengenai hal yang harus ..36 Pasal 61 Pemerintah dan Pemerintah Daerah memberikan peluang pendanaan bagi usaha mikro dan kecil di bidang kepariwisataan.

. wisatawan yang bersangkutan dapat diusir dari lokasi perbuatan dilakukan. pembatasan kegiatan usaha. b.. Pasal 63 (1) Setiap pengusaha pariwisata yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 15 dan/atau Pasal 26 dikenai sanksi administratif. (2) Sanksi administratif sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa: a.(2) Apabila wisatawan sebagaimana telah diberi teguran dimaksud pada ayat (1) dan tidak diindahkannya.37 (3) Teguran tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dikenakan kepada pengusaha paling banyak . teguran tertulis. (3) Teguran . . dan c. pembekuan sementara kegiatan usaha.

000.3 (tiga) kali.000. (5) Sanksi pembekuan sementara kegiatan usaha dikenakan memenuhi kepada pengusaha yang tidak ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4).00 (sepuluh miliar . BAB XV KETENTUAN PIDANA Pasal 64 (1) Setiap orang yang dengan sengaja dan melawan hukum merusak sebagaimana dimaksud pidana dalam fisik Pasal daya 27 tarik wisata dengan dipidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan denda paling banyak Rp10.000. (4) Sanksi pembatasan kegiatan usaha dikenakan kepada pengusaha yang tidak mematuhi teguran sebagaimana dimaksud pada ayat (3).

000.38 BAB XVI KETENTUAN PERALIHAN Pasal 65 Badan Promosi sebagaimana Pariwisata Indonesia dimaksud dalam Pasal 36 ayat (1) harus telah dibentuk paling lambat 2 (dua) tahun setelah UndangUndang ini diundangkan..000. . . BAB XVI . merusak fisik. (2) Setiap orang yang karena kelalaiannya dan melawan hukum. . atau mengurangi nilai daya tarik wisata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau denda paling banyak Rp5.rupiah).000.00 (lima miliar rupiah).

Pasal 66 (1) Pembentukan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 untuk pertama Pemerintah. . BAB XVII KETENTUAN PENUTUP Pasal 67 Peraturan pelaksanaan Undang-Undang ini harus telah ditetapkan dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun sejak Undang-Undang ini diundangkan. kalinya difasilitasi oleh (2) Gabungan Industri Pariwisata Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus telah dibentuk dalam waktu paling lambat 2 (dua) tahun setelah Undang-Undang ini diundangkan. Pasal 68 .39 Pasal 68 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku. . Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1990 tentang ..

Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3427) dicabut dan dinyatakan tidak berlaku. dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam UndangUndang .Kepariwisataan (Lembaran Negara Indonesia Republik Tahun 1990 Nomor 78. Indonesia Tahun 3427). Pasal 69 Pada saat Undang-Undang ini mulai berlaku semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan Nomor 9 pelaksanaan dari Undang-Undang Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tambahan Lembaran Negara 1990 Nomor Tahun Republik 1990 Nomor 78.

H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Diundangkan di Jakarta pada tanggal 16 Januari 2009 MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA.ini. ttd. . Pasal 70 Undang-Undang ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.40 Agar setiap memerintahkan orang mengetahuinya. DR.. dalam Lembaran Negara . Disahkan di Jakarta pada tanggal 16 Januari 2009 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. pengundangan Undang-Undang ini dengan penempatannya Republik Indonesia. ttd. . Agar .

Wisnu Setiawan .ANDI MATTALATTA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2009 NOMOR 11 Salinan sesuai dengan aslinya SEKRETARIAT NEGARA RI Kepala Biro Peraturan Perundang-undangan Bidang Politik dan Kesejahteraan Rakyat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful