P. 1
Analisis lagu

Analisis lagu

|Views: 2,313|Likes:
Published by Rd Januar Radhiya

More info:

Published by: Rd Januar Radhiya on Apr 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2014

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah Puisi sebagai salah satu karya sastra, menyimpan makna tersembunyi dengan meminjam kata-kata atau ungkapan lain untuk menyampaikan makna atau pesan yang sebenarnya. Hal ini terkadang membuat puisi tidak langsung dapat dipahami dengan sekedar membaca secara sepintas saja, tapi juga dibutuhkan penghayatan untuk akhirnya dapat dimengerti, serta menikmati makna sebenarnya yang terkandung di dalamnya. Emerson berkata ´puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata yang sesedikit mungkinµ (Tarigan, 1967:28). Kata puisi itu sendiri berasal dari bahasa Yunani poiesis yang berarti penciptaan. Namun arti ini lama kelamaan dipersempit ruang lingkupnya menjadi ´ Hasil seni sastra, yang kata-katanya disusun menurut syarat-syarat tertentu dengan menggunakan irama, sajak, dan kata-kata kiasanµ (Ensiklopedia Indonesia N-Z ; tanpa tahun :1147) Padanan kata puisi dalam bahasa Inggris adalah poetry yang erat hubungannya dengan dengan kata ²poet dan kata ²poem. Kata ²poet sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti membuat, mencipta. Dalam bahasa Yunani kata ²poet juga berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi. (Coulter; 1930 : 284-285) Jika kita perhatikan, pada umumnya penyair mengatakan lebih banyak dari apa yang dikandung oleh kata-kata yang tersurat dalam puisi mereka. Dengan kata lain : Dengan sedikit kata-kata penyair ingin melukiskan atau mengatakan sesuatu seluas dan sejelas mungkin.

1

Lirik merupakan sebuah puisi yang diberi melodi yang hasilnya berupa lagu. Namun proses penciptaan sebuah puisi dan lirik lagu masing-masing melalui proses yang berbeda karena sebuah puisi mungkin dianggap telah selesai dalam pembuatannya apabila penulisnya merasakan ia telah sempurna, tetapi berlainan dengan jalur yang harus dilalui oleh sebuah lirik lagu yang perlu memenuhi kehendak komposer dan penyanyinya sebelum dianggap lengkap oleh penulisnya. Dalam penulisan sebuah lirik diperlukan ilham atau inspirasi yang muncul tidak tergantung dengan tempat ataupun waktu. Menurut Khir Rahman, seorang penulis lirik lagu yang berasal dari Malaysia, ada dua proses dalam memperoleh ilham atau inspirasi menulis lirik, bisa datang dari rasa lagu sendiri atau dari melodi yang diberikan oleh komposer untuk dimasukkan liriknya. Kedua proses inspirasi ini datang dari diri penciptanya yang kemudian dimelodikan. Tidak semua puisi boleh dilagukan karena sebuah puisi mempunyai jiwanya yang tersendiri. Begitu juga dengan lirik, belum tentu lirik boleh menjadi puisi karena sebuah lirik yang diciptakan harus diserasikan dengan melodi dan keinginan penyanyinya. Sebuah lirik haruslah mengikuti jalan cerita yang ingin disampaikan. Lirik lagu pun terkadang harus sesuai dengan tuntutan dari industri musik yang selaras dengan perkembangan jaman. (www.blogdrive.com/liriklagu/), oleh karena itu lirik yang baik mesti sesuai dengan melodinya walaupun diksi yang dipilih oleh penulisnya adalah sesuatu yang lumrah diucapkan sehari-hari. Oleh karena itu yang menjadi tujuan dari penulisan analisis lirik lagu san gatsu kokonoka berdasarkan pendekatan struktural dan semiotik ini adalah mengetahui menangkap makna dan memberi makna kepada lirik lagu tersebut.

2

BAB II ISI

II.1 Tinjauan Pustaka II.1.1 Pengertian Puisi Secara etimologis, kata puisi dalam bahasa Yunani berasal dari poesis yang artinya berati penciptaan. Dalam bahasa Inggris, padanan kata puisi ini adalah poetry yang erat dengan ²poet dan -poem. Mengenai kata poet, Coulter (dalam Tarigan, 1986:4) menjelaskan bahwa kata poet berasal dari Yunani yang berarti membuat atau mencipta. Dalam bahasa Yunani sendiri, kata poet berarti orang yang mencipta melalui imajinasinya, orang yang hampir-hampir menyerupai dewa atau yang amat suka kepada dewa-dewa. Dia adalah orang yang berpenglihatan tajam, orang suci, yang sekaligus merupakan filsuf, negarawan, guru, orang yang dapat menebak kebenaran yang tersembunyi. Dalam buku Shi No Hon dipaparkan tentang puisi sebagai berikut; puisi adalah tujuan dari pengharapan, saat mengungkapkan keinginan apa yang ada di hati, saat memaparkan kata-kata, itulah yang dinamakan dengan puisi. Pada saat pertama kali memaparkan perasaan yang bergejolak dalam bentuk kata-kata akan menjadi keluhan, dengan kata lain ketidakpuasan lama-kelamaan akan menjadi hal yang tersisa. Dari definisi ini penulis menyimpulkan bahwa hal yang tersisa disini adalah puisi, sebagai perwujudan dari apa yang ingin diutarakan, melalui media kata-kata yang tersusun penuh estetika (Fukawayousaemon, 5-2-1982). Disebutkan juga bahwa; Puisi disebut sebagai sesuatu yang mewakili semangat suatu bangsa. Selain itu, puisi disebut juga sebagai suatu yang bernapas dan hidup seiring dengan jaman. Puisi dalam bahasa Inggris adalah poetry, karena sering sekali disamakan dengan kebudayaan maka pada hakikatnya kedua dalil pernyataan memiliki esensi kebudayaan, yang saling berkaitan dan mengandung permasalahan yang penting. Dapat disimpulkan dari definisi ini bahwa pada hakikatnya puisi dan kebudayaan mengandung

3

esensi yang sama, dan saling berkaitan dimana puisi sebagai bagian dari kebudayaan dan kebudayaan sebagai hal yang mendasari terciptanya puisi. II.1.2. Unsur-Unsur Pembentuk Puisi Ada beberapa pendapat tentang unsur-unsur pembentuk puisi. Salah satunya adalah pendapat I.A. Richard. Dia membedakan dua hal penting yang membangun sebuah puisi yaitu hakikat puisi (the nature of poetry), dan metode puisi (the method of poetry). Hakikat puisi terdiri dari empat hal pokok, yaitu 1. Sense (tema, arti) Sense atau tema adalah pokok persoalan (subyek matter) yang dikemukakan oleh pengarang melalui puisinya. Pokok persoalan dikemukakan oleh pengarang baik secara langsung maupun secara tidak langsung (pembaca harus menebak atau mencari-cari, menafsirkan). 2. Feling (rasa) Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok persoalan yang dikemukakan dalam puisinya. Setiap penyair mempunyai pandangan yang berbeda dalam menghadapi suatu persoalan. 3. Tone (nada) Yang dimaksud tone adalah sikap penyair terhadap pembaca atau penikmat karyanya pada umumnya. Terhadap pembaca, penyair bisa bersikap rendah hati, angkuh, persuatif, sugestif. 4. Intention (tujuan) Intention adalah tujuan penyair dalam menciptakan puisi tersebut. Walaupun kadangkadang tujuan tersebut tidak disadari, semua orang pasti mempunyai tujuan dalam karyanya. Tujuan atau amanat ini bergantung pada pekerjaan, cita-cita, pandangan hidup, dan keyakinan yang dianut penyair

II. 1. 3.

Analisis Struktural dan Semiotik

4

Karya sastra itu merupakan struktur makna dan struktur yang bermakna. Hal ini mengingatkan bahwa karya sastra itu merupakan sistem tanda yang mempunyai makna yang menggunakan medium bahasa. Untuk menganalisis sistem struktur sistem tanda ini perlu adanya kritik struktural untuk memahami tanda-tanda yang terjalin dalam sistem (struktur) tersebut. Ilmu pengetahuan tentang adanya ini disebut semiotik(Preminger dkk, 1974: 980; Abrams, 1981: 170) oleh karena itu, analisis semiotik tidak dapat dipisahkan oleh analisis struktural. Menurut Teeuw(1983,61) analisis struktural merupakan prioritas pertama sebelum yang lain-lain, tanpa kebulatan makna intrinsik yang hanya dapat digali dari karya itu sendiri, tidak akan tertangkap. Makna unsur-unsur karya sastra hanya dapat dipahami dan dinilai ssepenuhnya atas dasar pemahaman tempat dan fungsi unsur itu dalam keselurhan karya sastra (Djoko, 2007: 141) Puisi adalah struktur yang merupakan susunan kesatuan yang utuh. Antara bagian-bagiannya saling berhubungan. Jadi untuk memahami suatu puisi haruslah diperhatikan jalinan atau pertautan unsur-unsurnya sebagai bagian dari keseluruhan. Studi sastra semiotik adalah usaha untuk menganalisis sastra sebagai suatu sistem tandatanda dan menetukan konvensi-konvensi apa yang memungkinkan karya sastra mempunyai arti (Djoko, 2007:142). Dikemukanan Preminger lebih lanjut (1974:981) bahwa puisi adalah sistem semiotik tingkat kedua yang menggunakan sistem semiotik tingkat pertama yang berupa bahasa tertentu. Sistem tanda tingkat pertama itu diorganisasikan sesuai dengan konvensi-konvensi tambahan yang memberi arti-arti dan efek-efek yang lain dari yang dimiliki prosa biasa. Tugas semiotik puisi adalah membuat eksplisit asumsi-asumsi implisit yang menguasai produksi arti dalam puisi. II. 1. 4. Lagu Pop Jepang Pop adalah kependekan dari populer yang berarti terkenal. Di Jepang lagu pop dikenal dengan istilah J-Pop. Kata J-Pop diambil dari sebuah acara stasiun radio J-Wave yang mengindikasikan musik yang berbeda dan musik yang berasal dan untuk rakyat. J-

5

Pop merupakan pop musik dalam konteks perasaan murni, musik yang berasal dari rakyat, untuk rakyat, dan bagi masyarakat, yang biasa dinyanyikan oleh orang Jepang. Kata J-Pop digunakan untuk membedakan musik modern dengan musik klasik Jepang enka (musik tradisional Jepang dengan jenis musik ballad) (www.encyclopedia.Jpop.com) J-Pop merupakan bagian dari budaya populer Jepang yang meliputi anime, drama Jepang, iklan, film, acara radio, acara televisi, dan video games. Bahkan beberapa program berita di televisi pun ikut menayangkan lagu J-Pop di akhir acaranya. Lagu J-Pop juga sering diputar secara keras-keras di toko-toko. Dengan segala keunikan yang terdapat di dalamnya membuat musik J-Pop banyak dipakai sebagai sountrack anime, dorama, film, atau iklan televisi di Jepang. Dengan mengisi soundtrack sebuah drama atau film maka musik J-Pop lebih mudah dikenal. Pemakaian lagu J-Pop dalam penayangan drama dan anime disesuaikan dengan masa tayang drama dan anime tersebut sehingga dapat terjadi empat atau lebih lagu digunakan dalam satu tahun karena dalam satu acara biasanya memiliki lagu pembuka dan penutup.

6

II. 1. 5. Remioromen Remioromen dibentuk pada tahun 2000. Ketiga personilnya berasal dari Prefektur Yamanashi. Nama Remioromen sebenarnya tidak memiliki arti khusus melainkan dari gabungan kata kesukaan mereka yang ditentukan lewat permainan janken (gunting, batu, kertas). Masing-masing personil boleh memasukkan kata kesukaan mereka setiap kali memenangkan janken. Fujimaki senang dengan grup band Radiohead yang dalam bahasa Jepang disebut "rediohedo", sehingga ia memasukkan kata "re"; Jinguji memasukkan "mi" dan "o". Mi adalah nama pacarnya dan O adalah huruf depan namanya; Maeda senang dengan trem, sehingga memasukkan kata romen (dari bahasa Jepang, romendensha yang berarti "trem"). Setelah singel mereka yang berjudul "Sangatsu Kokonoka" dirilis, mereka kembali ke Yamanashi untuk melaksanakan konser di sekolah lama mereka. Pada tahun 2005, Remioromen merilis singel mereka yang berjudul "Konayuki". Pada tahun itu juga, Konayuki digunakan sebagai insert song untuk serial TV Ichi Rittoru no Namida (1 Liter of Tears). Lagu "Sangatsu Kokonoka" pun dijadikan sebagai lagu paduan suara dalam film itu. Remioromen dikenal di Indonesia berkat lagu "Konayuki" dan "Sangatsu Kokonoka".

II.2. Metode Puisi Berdasarkan pendapat Richards, Siswanto dan Roekhan (1991:55-65) menjelaskan metode puisi sebagai berikut. II.2.1 Struktur Fisik Puisi Adapun struktur fisik puisi dijelaskan sebagai berikut. (1) Perwajahan puisi (tipografi), yaitu bentuk puisi seperti halaman yang tidak dipenuhi kata-kata, tepi kanan-kiri, pengaturan barisnya, hingga baris puisi yang tidak selalu dimulai dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda titik. Hal-hal tersebut sangat

7

menentukan pemaknaan terhadap puisi. Pada lirik lagu ini perwajahan puisinya berbentuk konvensional. (2) Diksi, yaitu pemilihan kata-kata yang dilakukan oleh penyair dalam puisinya. Karena puisi adalah bentuk karya sastra yang sedikit kata-kata dapat mengungkapkan banyak hal, maka kata-katanya harus dipilih secermat mungkin. Pemilihan kata-kata dalam puisi erat kaitannya dengan makna, keselarasan bunyi, dan urutan kata. Geoffrey (dalam Waluyo, 19987:68-69) menjelaskan bahwa bahasa puisi mengalami 9 (sembilan) aspek penyimpangan, yaitu penyimpangan leksikal, penyimpangan semantis, penyimpangan fonologis, penyimpangan sintaksis, penggunaan dialek, penggunaan register (ragam bahasa tertentu oleh kelompok/profesi tertentu), penyimpangan historis (penggunaan kata-kata kuno), dan penyimpangan grafologis (penggunaan kapital hingga titik) Misalkan pada bait ke-1 dan bait ke-3 dimana bunyi bunyi syair baris kedua berbunyi sama dengan baris ke 2 bait ke-3 « «

«futohi no nagasa o kanjimasu «Tiba-tiba aku merasakan panjangnya hari-hari Bait ke-1 baris ke 2 « «.sukoshizutsu asa o atatamemasu « Perlahan-lahan mengahangatkan pagi Bait ke-3 baris ke 2 Keduanya menggunakan bentuk -masu. (3) Imaji, yaitu kata atau susunan kata-kata yang dapat mengungkapkan pengalaman indrawi, seperti penglihatan, pendengaran, dan perasaan. Imaji dapat dibagi menjadi tiga, yaitu imaji suara (auditif), imaji penglihatan (visual), dan imaji raba atau sentuh (imaji taktil). Imaji dapat mengakibatkan pembaca seakan-akan melihat, medengar, dan

8

merasakan seperti apa yang dialami penyair. Seperti imaji taktil yang muncul pada baris berikut ini :

Afuredasu hikari no tsubu ga Sukoshizutsu asa o atatamemasu Butiran-butiran cahaya yang meluap Perlahan-lahan mengahangatkan pagi (4) Kata kongkret, yaitu kata yang dapat ditangkap dengan indera yang memungkinkan munculnya imaji. Kata-kata ini berhubungan dengan kiasan atau lambang. Misal kata kongkret ´salju: melambangkan kebekuan cinta, kehampaan hidup, dll., sedangkan kata kongkret ´rawa-rawaµ dapat melambangkan tempat kotor, tempat hidup, bumi, kehidupan, dll. Pada lirik lagu ini ada juga kata sakura yang merupakan lambang

awal sesuatu yang baru dan semangat baru bagi orang Jepang. (5) Bahasa figuratif, yaitu bahasa berkias yang dapat menghidupkan/meningkatkan efek dan menimbulkan konotasi tertentu (Soedjito, 1986:128). Bahasa figuratif menyebabkan puisi menjadi prismatis, artinya memancarkan banyak makna atau kaya akan makna (Waluyo, 1987:83). Bahasa figuratif disebut juga majas. Adapaun macam-amcam majas antara lain metafora, simile, personifikasi, litotes, ironi, sinekdoke, eufemisme, repetisi, anafora, pleonasme, antitesis, alusio, klimaks, antiklimaks, satire, pars pro toto, totem pro parte, hingga paradoks. Misal :

Hitomo o tojireba anataga

9

Mabuta no ura ni iru koto de Jika kututup mataku Kamu berada dibelakang kelopak mataku

«

«ten o aogeba soresae chiisakute
Begitu aku melihat langit, bahkan itu pun bukan apa-apa (simile)

Sangatsu no kazeni omoi o nosete Sakura no tsubomi wa haru eto tsuzukimasu.
Bersama perasaan aku di angin bulan maret Kuncup-kuncup bunga sakura yang terus bermekaran pada musim semi

Ð Aoisora wa rinto sunde Hitsuji kumo wa shizuka ni yureru
Langit biru itu dingin dan bersih Awan berbentuk domba mengambang dengan tenang (Personifikasi)

10

(6) Versifikasi, yaitu menyangkut rima, ritme, dan metrum. Rima adalah persamaan bunyi pada puisi, baik di awal, tengah, dan akhir baris puisi. Rima mencakup (1) onomatope (tiruan terhadap bunyi, misal /ng/ yang memberikan efek magis pada puisi Sutadji C.B.), (2) bentuk intern pola bunyi (aliterasi, asonansi, persamaan akhir, persamaan awal, sajak berselang, sajak berparuh, sajak penuh, repetisi bunyi [kata], dan sebagainya [Waluyo, 187:92]), dan (3) pengulangan kata/ungkapan. Ritma merupakan tinggi rendah, panjang pendek, keras lemahnya bunyi. Ritma sangat menonjol dalam pembacaan puisi.

II.2.1 Struktur Batin Puisi Adapun struktur batin puisi akan dijelaskan sebagai berikut. (1) Tema/makna (sense); media puisi adalah bahasa. Tataran bahasa adalah hubungan tanda dengan makna, maka puisi harus bermakna, baik makna tiap kata, baris, bait, maupun makna keseluruhan. (2) Rasa (feeling), yaitu sikap penyair terhadap pokok permasalahan yang terdapat dalam puisinya. Pengungkapan tema dan rasa erat kaitannya dengan latar belakang sosial dan psikologi penyair, misalnya latar belakang pendidikan, agama, jenis kelamin, kelas sosial, kedudukan dalam masyarakat, usia, pengalaman sosiologis dan psikologis, dan pengetahuan. Kedalaman pengungkapan tema dan ketepatan dalam menyikapi suatu masalah tidak bergantung pada kemampuan penyairmemilih kata-kata, rima, gaya bahasa, dan bentuk puisi saja, tetapi lebih banyak bergantung pada wawasan, pengetahuan, pengalaman, dan kepribadian yang terbentuk oleh latar belakang sosiologis dan psikologisnya. (3) Nada (tone), yaitu sikap penyair terhadap pembacanya. Nada juga berhubungan dengan tema dan rasa. Penyair dapat menyampaikan tema dengan nada menggurui, mendikte, bekerja sama dengan pembaca untuk memecahkan masalah, menyerahkan masalah begitu saja kepada pembaca, dengan nada sombong, menganggap bodoh dan rendah pembaca, dll.

11

(4) Amanat/tujuan/maksud (itention); sadar maupun tidak, ada tujuan yang mendorong penyair menciptakan puisi. Tujuan tersebut bisa dicari sebelum penyair menciptakan puisi, maupun dapat ditemui dalam puisinya. II. 3 Analisis Lirik Lagu Sangatsu Kokonoka
Romaji Lyric Nagareru kisetsu no mannaka de Futo hi no nagasa wo kanjimasu Sewashiku sugiru hibi no naka ni Watashi to anata de yume wo egaku Sangatsu no kaze ni omoi wo nosete Sakura no tsubomi wa haru e to tsuzukimasu Afuredasu hikari no tsubu ga Sukoshi zutsu asa wo atatamemasu Ookina akubi wo shita ato ni Sukoshi tereteru anata no yoko de Arata na sekai no iriguchi ni tachi Kizuita koto wa hitori ja naitte koto Hitomi wo tojireba anata ga Mabuta no ura ni iru koto de Dore hodo tsuyoku nareta deshou Anata ni totte watashi mo sou de aritai Sunabokori hakobu tsumujikaze Sentakumono ni karamarimasu ga Hirumae no sora no shiroi tsuki wa Nandaka kirei de mitoremashita

12

Umaku wa ikanu koto mo aru keredo Ten wo aogeba sore sae chiisakute Aoi sora wa rin to sunde

Ð

Hitsujigumo wa shizuka ni yureru Hanasaku wo matsu yorokobi wo Wakachiaeru no de areba sore wa shiawase Kono saki mo tonari de sotto hohoende

Terjemahan Sangatsu kokonoka Remiomeron Ditengah-tengah musim yang berlaju Tiba-tiba aku merasakan panjangnya hari-hari Didalam hari-hari yang sangat sibuk Aku dan kamu mengambar mimpi Bersama perasaan aku di angin bulan maret Kuncup-kuncup bunga sakura yang terus bermekaran pada musim semi Butiran-butiran cahaya yang meluap Perlahan-lahan menghangatkan pagi Disampingmu, aku merasa malu Setelah menguap Berdiri di ambang pintu dunia yang baru Yang kusadari bahwa aku tidak sendirian Jika kututup mataku Kamu berada dibelakang kelopak mataku Bagaimanapun aku bisa bertambah kuat Bagimu aku ingin seperti itu

13

Debu-debu yang terbawa angin Menyangkut di cucian Bulan butih yang ada dilangit pagi Demikian indahnya aku terpaku Terkadang ada hal yang tidak sesuai dengan yang kita rencanakan Begitu aku melihat langit, bahkan itu pun bukan apa-apa Langit biru itu dingin dan bersih Awan berbentuk domba mengambang dengan tenang Jika aku bisa berbagi kesenangan bersamamu Menunggu mekarnya bunga sakura, aku pasti bahagia Mulai saat ini aku ingin kamu berada di samping ku dan tersenyum Jika kututup mataku Kamu berada dibelakang kelopak mataku Bagaimanapun aku menjadi kuat Bagimu aku tidak seperti itu Lirik lagu ini mengutarakan tentang perpisahan. Sangatsukokonoka pada awalnya ini dibuat sebagai hadiah pernikahan(pada tanggal 9 bulan maret). Namun menjadi lagu perpisahan karena bertepatan dengan kelulusan sekolah (tanggal 9 bulan 3). Lirik ini mengemukakan perasaan teman yang ditinggalkan. Sedangkan dahulu pada saat masih bersama ditengah kesibukan masih bisa menceritakan mimpi-mimpi, menceritakan citacita bersama. Sering melakukan kegiatan bersama sahabat bersama, hingga pada saatnya berpisah, semuanya hanyalah kenangan. Dalam lirik lagu ini ada koherensi atau pertautan yang erat antara unsur-unsurnya, satuan-satuan yang bermaknanya. Ada kesatuan imaji. Sesuai dengan suasana persahaban ada Imaji persahabatan: Sewashiku sugiru hibi no naka ni Watashi to anata de yume wo egaku (Didalam hari-hari yang sangat sibuk Aku dan kamu mengambar mimpi), Kizuita koto wa hitori ja naitte koto (Yang kusadari bahwa aku tidak sendirian), Wakachiaeru no de areba sore wa shiawase (Jika aku 14

bisa berbagi kesenangan bersamamu). Imaji romantik

Ookina

akubi

wo

shita

ato

ni

Sukoshi tereteru anata no yoko de(Disampingmu, aku merasa malu Setelah menguap),
Hitomi wo tojireba anata ga Mabuta no ura ni iru koto de (Jika kututup mataku kamu berada dibelakang kelopak mataku), Dore hodo tsuyoku nareta deshou Anata ni totte watashi mo sou de aritai (Bagaimanapun aku bisa bertambah kuat Bagimu aku ingin seperti itu). Latarnya pagi hari pada bulan maret Afuredasu hikari no tsubu ga

Sukoshi zutsu asa wo atatamemasu (Butiran-butiran cahaya yang meluap Perlahan-lahan menghangatkan pagi), selain itu ada juga Sangatsu no kaze ni omoi wo nosete sakura no tsubomi wa haru e to tsuzukimasu
(Bersama perasaan aku di angin bulan maret Kuncup-kuncup bunga sakura yang terus

bermekaran pada musim semi) ga(Menyangkut di cucian) butih yang ada dilangit pagi).

Sentakumono ni karamarimasu

Hirumae no sora no shiroi tsuki(Bulan

Pemilihan kata-kata dan bunyi katanya saling memperkuat makna. Kesamaan bunyi ²masu pada bait ke-1 dan bait ke-2 memberikan makna menyenangkan, tehadap kenangan yang telah di lalui oleh pengarang dan temannya. Pada bait pertama mengacu pada keadaan dimana pengarang pernah mengabiskan waktu bersama temannya. Masih di bait ke-1 baris ke-2 dan ke-3 merupakan kegiatan yang dirasakan dan dilakukan pengarang terslihat pada penggunaan partikel . Kemudian pada bait ke-2 kebersamaan

15

itu sudah terlewati dan sekarang bersamaan dengan bermekaran bunga sakura di bulan maret, namun pengarang mengingat semua kejadian sewaktu bersama-sama. Perasaan hangat dari perteman, terlihat dari bait ke-3, yang dikiaskan kepada pancaran cahaya pagi yang mengangatkan juga pada bait ke-3 baris ke-4, pengarang merasa malu ketika berada di samping temannya dan menguap. Bait ke-4 perasaan sadar bahwa pengarang tidak hidup sendiri di dunia ini. Bait berukutnya masih mempunyai hubungan makna yang menggambarkan bahwa pertemanan itu bisa membuat seseorang berubah dan menjadi lebih kuat menghadapi cobaan hidup, walaupun teman kita jauh kita masih bisa mengingatnya. Pada bait ke-5, pada saat bulan belum mengilang dari pandangan di pagi hari pemandangan menang indah. Pada bait ini menggambarkan keadaan pagi hari saat berpisah. Bait ke-6 pengarang menyadari bahwa setiap hal yang direncanakan tidak semuanya bisa berjalan lancar. Pada saat itu terjadi pengarang berusaha mengalihkan perhatian dan mengambil hikmah dari perpisahan ini. Pada bait berikutnya yaitu bait ke7 menceritakan kebahagian. Kebahagian pada saat salng mengerti dan berjalan bersama sahabat. Amanat yang terkandung pada lirik lagu ini adalah setiap pertemuan pasti akan berujung pada perpisahan, setiap waktu yang telah dilalui bersama merupakan hal yang patut kita syukuri. Mencoba menghargai hal yang kita punya sekarang merupakan hal terbijak yang bisa kita lakukan dan bisa membawa kita pada kebahagiaan. Selama mempunyai teman kita tidak perlu merasakan kesepian dan kesendirian.

16

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN

III. 1. Kesimpulan Lirik lagu merupakan sebuah syair puisi yang diberi nada. Setiap puisi mempunyai makna yang dalam yang tak bisa dilihat dari luarnya saja. Semiotik tingat dua pada puisi menyebabkan kita menganalisis makna yang sebenarnya pada puisi. Pada lirik lagu Jepang biasanya pada tema apapun pasti memberikan gambaran yang puitis melalui struktur dan latarnya. Begitu juga dengan keadaan lingkungan Alam akan selalu masuk pada bagian-bagian lirik lagu. Karena bagi orang Jepang Alam bersatu dengan Alam merupakan cara hidup mereka. Bunga sakura yang bermekaran menjadi pencitraan keindahan negara Jepang pada saat musim semi tiba, banyak puisi dan haiku yang tercipta karena keadaan tersebut. Cara pandang orang Jepang terhadap kehidupan yang singkat, terlihat dari filosofi mereka pada mekar dan gugurnya bunga sakura. III. 2. Saran Pengembangan Analisa pada lirik-lirik lagu Jepang sangat bermanfaat untuk mengetahui apa yang tersirat dari setiap lirik lagu tersebut. Dengan mengetahui itu bisa digunakan sebagai bahan ajar kebudayaan Jepang. Selain itu memanalisis sebuah puisi mengkayakan hati kita tentang makna kehidupan dan kejadian dari sudut pandang kita dan pengarang

17

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin(2002) Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung. PT Sinar Baru Algesindo Nababan, Erika F(2006) Analisis Ragam Bahasa Jepang yang Terefleksikan dalam Lagu Pop Jepang(Skripsi). Bandung. UPI Pradopo, Rahmat Djoko (2007) Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogjakarta : PT. Pustaka Pelajar Sutyatin, Annie (2006) Analisis Penggunaan Majas dalam Puisi Bahasa Jepang(Skripsi).Bandung.UPI www.Sastra-Indonesia.com www.wikipedia.com (www.encyclopedia.J-pop.com) (www.blogdrive.com/liriklagu/)

18

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->