P. 1
Hama tanaman Padi

Hama tanaman Padi

|Views: 609|Likes:
Published by Andrixinata B

More info:

Published by: Andrixinata B on Apr 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/06/2013

pdf

text

original

TUGAS MATERI MATA KULIAH HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN SETAHUN HamaPenggerek Batang Padi dan Wereng

Disusun oleh Kelompok 1 1. Rafiatul Rahmah A24080002 2. Rahayu Novrina Rosa A24080006 3. Andrixinata B A34070016 4. Jessica Valindria A34070067 5. Elysa Fitri A34080001 6. Swinda Kristina S A34080003 7. Ni Nengah Putri A A34080013 8. Iis Risa Maftuhah A34080014 9. Lestari Pebriyeni A34080017

DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010

PENDAHULUAN Sebagai salah satu bahan pangan pokok, padi banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia. Dalam budi-dayanya sering dijumpai ber-bagai kendala, seperti musim, serangan hama dan penyakit, kebijakan pemerintah sampai harga jual yang rendah. Adanya serangan hama dan penyakit seperti penggerek batang, wereng coklat maupun tungro dan dain-lain masih menjadi kendala utama bagi petani. Petani seakan sudah kehilangan akal untuk mengatasi serangan-serangan ini. Kerugian yang ditimbulkan tidak sedikit dan mengancam produksi beras nasional. Akibat serangan ini, produksi bisa turun dari serangan rendah (15%) sampai serangan berat (79%). Penurunan produksi akibat serangan ini dapat dikurangi bila kita mengenali terlebih dahulu karateristik hama dan penyakitnya sehingga kita dapat mencari cara yang efektif dalam me-ngendalikannya. Dalam prakteknya di lapangan, sebagian besar petani masih belum begitu memahami karakteristik hama-hama tanaman padi. Sementara itu, dalam proses pengendalian hama tersebut setidaknya dibutuhkan pengetahuan tentang karakteristik dari hama yang akan dikendalikan. Sebab, pada umumnya karakteristik serangan hama, memiliki korelasi dengan teknik pengendalian yang akan dilakukan. Oleh sebab itu, sering sekali terjadi pengambilan keputusan yang salah dalam pengendalian hama maupun penyakit sehingga menimbulkan dampak negatif baik dalam jangka panjang atupun dalam jangka pendek. Berikut ini adalah beberapa jenis hama pada tanaman padi yang juga merupakan hama-hama utama pada pertanaman padi di indonesia khususnya. Hama-hama tersebut adalah penggerek batang, dan wereng. Kudua jenis hama ini memiliki berbagai jenis spesies dan serangan. Dampak serangan yang pernah ditimbulkan di pertanaman padi di indonesia juga sudah sangat banyak sehingga hama-hama ini sudah dikategorikan sebagai hama penting dalam pertanaman padi.

HAMA PENGGEREK BATANG PADI DAN WERENG A. Penggerek Batang Padi Penggerek batang padi merupakan hama yang sangat penting pada padi dan sering menimbulkan kerusakan dan menurunkan hasil panen secara nyata. Terdapatnya penggerek di lapang dapat dilihat dari adanya ngengat di pertanaman dan larva di dalam batang. Mekanisme kerusakan disebabkan larva merusak sistem pembuluh tanaman di dalam batang. Stadia tanaman yang rentan terhadap serangan penggerek adalah dari pembibitan sampai pembentukan malai. Gejala kerusakan yang ditimbulkannya mengakibatkan anakan mati yang disebut sundep pada tanaman stadia vegetatif dan beluk (malai hampa) pada tanaman stadia generatif. Siklus hidupnya 40-70 hari tergantung pada spesiesnya. Ambang ekonomi penggerek batang adalah 10% anakan terserang; 4 kelompok telur per rumpun (pada fase bunting). Perlu diketahui bahwa kerusakan pada stadia generatif maka tindakan pengendalian sudah terlambat atau tidak efektif lagi. Jenis ± jenis Penggerek batang padi Pengerek Batang Padi Putih(Tryporyza innotata) Tryporyza innotata dinamakan pengerek batang padi putih karena ngegatnya berwarna putih. Dahulu hama ini dikenal hama yang menghuni hamparan sawah tadah hujan. Hama ini dominan didaerah tadah hujan karena ham aini mampu berpuasa 3 sampai 6 bulan pada saat tanah sedang kering dan tidak ada tanaman padi. Namun demikian hama ini justru lebih banyak ditemukan didaerah berpengairan teknisseperti di jalur pantura (pantai utara jawa). Perubahan prilaku ini diduga merupakan akibat dari pembangunan saluran irigasi dan pengaruh pestisida yang digunakan secara terus menerus. Pengerek Batang Padi Kuning (Scirpopaga incertulas) Scirpopaga incertulas atau disebut juga Tryporyza incertulas dkenal sebagai pengerek batang padi kuning karena ngegatnya berwarna kuning kecoklatan. Ciri lain dari ngegat ini adalah titik hitam dibagian belakang sayap depannya. Pada ngegat betina titik hitam ini lebih besar dan lebih jelas disbanding dengan titik hitam yang ada pada ngegat jantan. Dahulu hama ini dikenal sebagai hama yang ada pada pengairan yang baik dimana ngegat tidak mengalami masa puasa. Namun demikian kini hama ini justru menyebar di daerah yang menanam padi dua kali setahun. Pengerek Batang Padi Merah Jambu (Sesamia inferen) Sesamia inferen disebut sedagai pengerek batang padi merah jambu karena ulatnya berwarna merah jambu. Pengerek batang ini tidaklah sepenting pengerek batang padi putih dan pengerek batang padi kuning. Populasinnya hanya sedikit dan belum pernah dilaporkan yang mengakibatkan kerusakan serius. Pengerek

batang padi merah jambu hanya menyerang bersama-sama dengan pengerek batang padi kuning atau pengerek batang apadi putih. Pengerek Batang Padi Bergaris ( Chilo supressalis) Chilo supressalis disebut pengerek batang apdi bergaris karena ulatnya memiliki dua garis memanjang. Hama ini juga tidak terlalu mengakibatkan kerusakan yang berarti pada tanaman padi. Pengerek Batang Padi Berkepala Hitam (Chilo polychrysus) Chilo polychrysus disebut pengerek batang padi berkepala hitam karena ngengatnya berkepala hitam. Dan hama ini juga tidak menimbulkan kerusakan yang berarti pada tanaman padi. Pengerek Batang Padi Mata Bertungkai (Diopsis macropthalma) Diopsis macropthalma disebut penegerek batang padi mata bertangkai karena bagian kepalanya mempunyai tonjolan berwarna merah yang bagian ujungnya membulat seperti mata yang bertangkai. Hama ini ditemukan dibenua Afrika. Gejala yang ditimbulkan Penggerek batang padi memiliki karakteristik gejala serangan yang unik dan juga sangat merugikan. Gejal tersebut berbeda berdasarkan waktu atau usia padi saat terjadi serangan hama. Gejala yang terjadi pada padi yang terserang pada fase vegetatif disebut sundep, sedangkan gejala yang terjadi pada padi fase generatif disebut sundep. Beluk Hama menyerang daun muda, masuk melalui ketiak daun teratas, kemudian menggerek sampai pada batang bagian dalam. Akibatnya, daun teratas menjadi mati perlahan dengan menunjukkan gejala kuning terang dan pertumbuhan daun terhenti (tidak menghasilkan daun baru). Daun yang menguning gampang dicabut dan pada bagian yang tergerek tampak bekas gerekan dan kotoran. Kadang dapat ditemukan larva di bagian gerekan. Sundep Hama menyerang padi pada masa generatif atau reproduktif, dengan menggerek bagian pangkal batang dibawah tangkai bulir padi. Bulir yang tergerek akan hampa dan tegak, berwarna putih pucat dan gampang dicabut. beberapa musuh alami dari hama pengerek batang padi :

pada saat pengerek batang padi masih berupa telur, pengerek batang padi ini mempunyai musuh alami sebagai berikut : Parasit Telur Telenomus Parasit telur Telenomus (Telenomus rowani;Hymenoptera;Scelionidae) merupakan parsit kecil berwarna hitam yang memparasiti telur-telur pengerek batang padi.tabuhan telenomus mencari ngegat betina pengerek batang yang telah siap bertelur dan kemudian hinggap di ujung perut ngegat dewasa, dekat dengan ovipositor (alat untuk meletakkan telur). Ketika ngegat mulai bertelur, tabuhan ini segera menitipkan telurnya dengan menyuntikkan kedalam telur-telur yang abru keluar dari ngegat-ngengat dewasa. Setelah 10-14 hari, yang keluar dari kelompok telur tersebut bukan ulat pengerek batang padi namun yang keluar tersebut adalah tabuhan telenomus baru yang siap mengamankan sawah dari serangan pengerek batang padi. Tingkat parasitasi tabuhan telenomus dilapangan adalah antara 36%90%. Parasit Trichogramma Parasit Trichogramma (Trichogramma japonicum; Hymenoptera; Trichogrammitidae) ini berwarna hitam, lebih kecil dari semut. Hama ini sering muncul dari kelompok telur pengerek batang. Parasit ini meletakkan telur dengan menyuntikkan ovipositornya diantara bulu-bulu halus yang menutup telur. Telur parasit diletakkan satu per satu pada tiap telur pengerek batang. Tingkat parsitasi dilapangan berkisar antara 40%. Jangkrik Ekor Pedang Jangkrik ekor pedang (Metioche vittaticollis atau Anaxpha longipennis; Orthroptera: Gryllidae) merupakan jangkrik pemangsa. Jangkrik ini disebut jangkrik ekor pedang karena memiliki ekor seperti pedang. Cirri lain dari jangkrik ekor pedang adalah sungutnya yang panjang sehingga dibeberapa tempat jangkrik ini juga disebut jangkrik sungut panjang.bukan hanya jangkrik dewasa, jangkrik ekor pedang muda pun merupakan pemangsa kelompok telur pengerek batang padi yang rakus. Dan masih banyak musuh-musuh lami yang lain, yang memangsa dari hama pengerek batang padi sesuai dengan fase-fase dari hama pengerek batang tersebut. Musuh-musuh alami ini dapat digunakan dalam pertanian organic yang memamnfaatkan musuk alami sebagai pengendali hama dan bukan mengunakan pestisida yang dapat membunuh segala macam mahluk hidup yang ada diekosistem tersebut. Aplikasi insektisida dilakukan bila keadaan serangan melebihi ambang ekonomi atau jika populasi ngengat meningkat pada saat tanaman fase generatif. Gunakan insektisida yang berbahan aktif karbofuran, bensultap, bisultap, karbosulfan, dimehipo, amitraz, atau fipronil.

B. Wereng Wereng sebelumnya termasuk hama sekunder dan menjadi hama penting akibat penyemprotan pestisida yang tidak tepat pada awal pertumbuhan tanaman, sehingga membunuh musuh alami. Pertanaman yang dipupuk nitrogen tinggi dengan jarak tanam rapat merupakan kondisi yang sangat disukai wereng. Stadia tanaman yang rentan terhadap serangan wereng coklat adalah dari pembibitan sampai fase matang susu. Gejala kerusakan yang ditimbulkannya adalah tanaman menguning dan cepat sekali mengering. Umumnya gejala terlihat mengumpul pada satu lokasi - melingkar disebut hopperburn. Ambang ekonomi hama ini adalah 15 ekor per rumpun. Siklus hidupnya 21-33 hari. Mekanisme kerusakan adalah menghisap cairan tanaman pada sistem vaskular (pembuluhtanaman). Gejala Serangan Pada padi yang terserang wereng coklat terlihat helaian daun padi yang paling tua berangsur-angsur berwarna kuning. Bila hal itu dibiarkan akan ditandai dengan adanya massa berupa jamur jelaga. Serangan wereng coklat dengan tingkat populasi yang tinggi akan menyebabkan warna daun dan batang tanaman menjadi kuning kemudian berubah menjadi coklat dan akhirnya seluruh tanaman menjadi kering seperti terbakar. Berkembangnya serangan wereng coklat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya (1) wereng coklat adalah serangga yang mampu berkembang biak dengan cepat dimana dalam masa reproduksinya, satu buah induk betina wereng coklat mampu menghasilkan 100600 butir telur. Dengan daya sebar yang cepat dan ganas serta kemampuan menemukan sumber makanan, membuat serangan wereng coklat ini semakin meluas. (2) penanaman varietas padi yang peka/tidak tahan terhadap wereng coklat, kemudian (3) adanya pola tanam yang tidak teratur dan (4) penggunaan pestisida yang kurang tepat sehingga tidak efektif dalam membasmi wereng coklat tersebut. Berbeda dengan serangan hama wereng coklat, serangan penyakit tungro ini disebabkan oleh virus. Penyebaran serangan penyakit ini sangat cepat karena dibantu oleh vektor (serangga penular) yaitu we-reng hijau (Nephotettix virescens dan N. nigropictus). Adapun gejala / tanda kerusakan yang ditimbulkan dari penyakit ini adalah : Gejala serangan awal di lahan biasanya khas dan menyebar secara acak. Daun padi yang terserang virus tungro mula-mula berwarna kuning oranye dimulai dari ujung-ujung, kemudian lama-kelamaan berkembang ke bagian bawah dan tampak bintik-bintik karat berwarna hitam. Bila keadaan ini dibiarkan jumlah anakan padi akan mengalami pengurangan, tanaman menjadi kerdil, malai yang terbentuk lebih pendek dari malai normal selain itu banyak malai yang tidak berisi (hampa) sehingga tidak bisa menghasilkan. Seperti halnya wereng coklat, penyebaran penyakit ini juga sangat cepat. Cepatnya perkembangan penyakit tungro disebabkan antara lain oleh : (1) cepatnya perkembangan serangga penular (wereng hijau),(2) masih dilakukannya penanaman bibit padi yang tidak diketahui asal usul dan kesehatannya, terutama dari daerah endemis

tungro, (3) adanya penanaman varietas tidak tahan tungro yang didu-kung pola tanam tidak teratur, dan (4) para petani masih enggan melakukan pemusnahan (eradikasi) pada tanaman yang terkena serangan tungro akibatnya tanam padi sehat yang lain ikut terkena penyakit ini. Penyebaran dan Siklus Hidup Pengendalian hama wereng coklat dan penyakit tungro ini akan lebih efektif bila kita mengetahui bagaimana gejala, sistem penularan dan siklus hidup serangga penyebar penyakit itu. Penularan penyakit tung-ro pada padi bersumber dari singgang (sisa tanaman padi setelah dipanen) dan rumput-rumput yang berada di sekitar tanaman padi. Virus tungro ini dibawa oleh wereng hijau dengan menghisap tanaman sakit dan me-nyebarkannya melalui jaringan tanaman padi. Penularan penyakit oleh wereng hijau ini berlangsung secara non persisten, yaitu segera terjadi dalam waktu 2 jam setelah menghisap tanaman, dan menimbulkan tanda serangan setelah 6 ± 9 hari kemudian. Selain wereng hijau dewasa, nimfa (larva) dari serangga ini pun dapat menularkan virus tungro. Virus ini tidak dapat ditularkan melalui : telur wereng hijau, biji padi, atau gesekan antara tanaman sehat dengan tanaman sakit. Berdasarkan hal itu, maka bila kita ingin mengendalikan penyakit akibat virus ini, maka yang perlu kita kendalikan adalah faktor penyebarnya yaitu wereng hijau, tanaman yang sakit dan singgangsinggang sebagai sumber penyakit. Dalam siklus hidupnya wereng coklat terbagi kedalam 3 fase yaitu telur, nimfa dan serangga dewasa. Wereng coklat betina meletakkan telur-telurnya di dalam pelepah dan tulang daun. Setelah 7-9 hari kemudian telur-telur tersebut menetas dan menjadi nimfa. Pada fase nimfa inilah serangga wereng coklat berbahaya karena pada fase ini nimfa-nimfa bersaing untuk men-dapatkan sumber makanan agar bisa tumbuh menjadi serangga dewasa. Dalam menunjang perkembangannya menjadi dewasa itulah nimfa ini kemudian merusak tanaman dengan cara memakan dan menghisap cairan yang ada dalam tanaman padi. Nimfa ini sendiri terbagi ke dalam 5 instar sesuai warnanya. Instar pertama berwarna putih dan selanjutnya berubah menjadi warna coklat. Pada umur 13-15 hari, nimfa sudah berkembang menjadi serangga dewasa. Wereng cok-lat mempunyai keistimewaan yaitu mampu membentuk biotipe baru. Pembentukan biotipe ini terjadi bila terjadi pergantian varietas padi yang tahan wereng. Penggunaan perstisida yang kurang benar akan menimbulkan biotipe baru yang menyebabkan wereng tersebut semakin kebal ter-hadap insektisida yang diberikan. Jenis ± jenis Wereng Wereng coklat Nilavarpata lugens Stall. Serangga hama ini dikenal dengan wereng coklat, termasuk ordo Homoptera, famili Delphacidae dan mempunyai daerah peenyebaran di Indonesia. Wereng coklat hidup pada bagian bawah batang padi yang mempunyai keleembaban nisbi cukup tinggi dari bagian atasnya. Telurnya menetas setelah 7-

11 hari sedangkan stadium nimfanya 10-15 hari. Wereng coklat mengisap cairan tanaman dengan menusukkan stiletnya ke bagian bawah batang padi. Tusukan itu dilakukan berulang kali sehingga tanaman padi mudah rebah. Pada populasi wereng coklat tinggi, tanaman ini akan, menyebabkan tanaman padi menjadi "terbakar" dan gejala itu disebut hopper burn. Wereng coklat merupakan vektor penyakit kerdil rumput dan penyakit kerdil hampa. Gejalanya tanaman padi mudah rebah dan bulirnya hampa dengan warna abu kehitaman. Pada populasi wereng tinggi akan menyebabkan tanaman "terbakar" atau "hopper burn". Serangan wereng biasanya dimulai dari tengah petak sawah. Tanaman inangnya tebu, Panicum, jagung, Poa annia L,Eleusine Geertner. Wereng coklat dapat menyebabkan daun berubahkuning oranye sebelum menjadi coklat dan mati.Dalam keadaan populasi wereng tinggi dan varietasyang ditanam rentan wereng coklat dapatmengakibatkan tanaman seperti terbakar atau³hopperburn´. Wereng coklat juga dapat menularkanpenyakit virus kerdil hampa dan virus kerdil rumput,dua penyakit yang sangat merusak.Ledakan WCK biasanya terjadi akibat penggunaanpestisida yang tidak tepat, penanaman varietas rentan,pemeliharaan tanaman, terutama pemupukan, yangkurang tepat, dan kondisi lingkungan yang cocok untukWCK (lembab, panas, dan pengap). Adapun langkah-langkah pengendalian yang dapat dilakukan adalah: Pencegahan Bersihkan gulma dari sawah dan areal sekitarnya., Hindari penggunaan pestisida secara tidak tepatyang dapat menyebabkan terbunuhnya musuhalami. Gunakan varietas tahan seperti Ciherang,Mekongga, dan Cigeulis. Jumlah kritis: pada kepadatan 1 wereng coklat per batang atau kurang, masih ada peluang menekanpopulasi. Amati wereng di persemaian setiap hari, atausetiap minggu setelah tanam pindah pada batangdan permukaan air. Periksa kedua sisipersemaian. Pada tanaman yang lebih tua, pegangtanaman dan rebahkan sedikit dan tepuk denganpelan dekat bagian basal untuk melihat kalau adawereng yang jatuh ke permukaan air. Gunakan perangkap cahaya waktu malam ketikaterlihat ada gejala serangan wereng. Jangantempatkan cahaya dekat persemaian atau sawah.Bila perangkap cahaya diserbu oleh beratuswereng, berarti persemaian dan sawah perlusegera diperiksa; lalu amati setiap hari dalambeberapa minggu berikutnya. Pupuk lengkap (NPK), dosis 250 kg urea, 100 kgSP36, dan 100 kg KCl/ha dapat membantu upayapencegahan. Pengendalian secara kultural dan penanaman varietas yang tahan wereng coklat sangat dianjurkan. Beberapa varietas yang dilepas oleh IRRI yang mengandung gen ketahanan terhadap wereng coklat adalah IR26, IR36, IR56, IR64 dan IR72. Varietas tahan wereng coklat yang sudah dilepas antara lain: Widas, Ketonggo, Ciherang, Cisantana, Tukad Petanu, Tukad Balian, Tukad Unda, Kalimas, Singkil, Bondoyudo, Sintanur, Cimelati, Konawe, Batang Gadis, Ciujung, Conde, dan Angke. Sewaktu-waktu varietas tahan dapat menjadi rentan akibat perubahan biotipe wereng coklat. Pengendalian secara mekanik dan fisik

Pengendalian dapat dilakukan dengan menggenangi persemaian, selama sehari, sampaihanya ujung bibit saja yang terlihat.kemudian menyapu persemaian dengan jaring untukmenghilangkan wereng (tapi tidak telurnya),terutama dari persemaian kering. Pada kepadatanwereng yang tinggi, penyapuan tidak akan dapatmenghilangkan wereng dalam jumlah banyak daribagian basal tanaman. Pengendalian hayati Bila musuh alami lebih banyak jumlahnya daripadawereng, risiko ledakan serangan kecil. Musuhalami wereng termasuk laba-laba,predator Coccinella reponda Theobold, C. arcuata F, Verania sp, Harmoni sp, Cyrtorhinus lividipennis. Parasitoidnya adalah Anagrus sp, Oligosita, Gonatocerus sp. Pipuncolus sp. Pengendalian kimiawi Gunakan insektisida di persemaian dalam kondisirata-rata lebih dari 1 ekor wereng per batang, lebih banyak wereng daripada musuh alami, danpenggenangan persemaian tidak memungkinkan. Bila terpaksa, gunakan insektisida yang berbahan aktifamitraz, buprofezin, beauveria bassiana, BPMC,fipronil, imidakloprid, karbofuran, karbosulfan,metolkarb, MIPC, propoksur, atau tiametoksam.Penggunaan insektisida harus mempertimbangkanrisiko terhadap kesehatan dan lingkungan.Penggunaan insektisida yang tidak sesuai denganprinsip tepat jenis, tepat dosis, dan tepat waktu akanmengganggu keseimbangan alami karenaterbunuhnya musuh alami wereng, menyebabkanresurjensi atau ledakan serangan hama. Bacapetunjuk yang tertera di label dengan teliti sebelumpestisida digunakan. Wereng Hijau Wereng hijau merupakan hamapenting karena dapat menyebarkan (vektor) viruspenyebab penyakit tungro. Kepadatan populasiwereng hijau biasanya rendah, sehingga jarangmenimbulkan kerusakan karena cairan tanamandihisap oleh wereng hijau. Namun karenakemampuan pemencaran (dispersal) yang tinggi,bila ada sumber inokulum sangat efektifmenyebarkan penyakit. Populasi wereng hijauhanya meningkat pada saat tanam hinggapembentukan malai. Kepadatan populasi tertinggipada saat itu mencapai 1 ekor per rumpun.Gejala kerusakan yang ditimbulkannyaadalah tanaman menjadi kerdil, anakan berkurang,daun berubah warna menjadi kuning sampaikuning oranye.Ambang kendali adalah 5 ekor wereng hijauper rumpun. Jika tungro juga ada di lapang, 2tanaman bergejala tungro per 1000 rumpunpertanda tungro telah ditularkan dan dapatmerusak tanaman. Siklus hidup 23-30 hari.Wereng hijau umumnya ditemukan di sawahirigasi dan tadah hujan, tidak lazim di pertanamanpadi gogo. Wereng hijau lebih menyukaimenghisap cairan tanaman pada daun bagianpinggir daripada di pelepah daun atau daun bagiantengah. Hama ini sangat menyukai tanaman yangdipupuk nitrogen tinggi. Cara pengendalian

y y y

Tanam varietas tahan wereng hijau seperti IR72dan IR66. Pengendalian dilakukan jika di lapang terlihatgejala tungro. Pemberian insektisida dilakukan apabila sudahmencapai ambang batas ekonomi.Insektisida (bila diperlukan) antara lain gunakanyang berbahan aktif BPMC, buprofezin, etofenproks, imidakloprid, karbofuran, MIPC, atau tiametoksam.

DAFTAR PUSTAKA Balai Penelitian Tanaman Padi. 2008. Hama Penyakit Tanaman Padi. http://balitpa.litbang.deptan.go.id (diakses 12 November 2010) Untung K, Harsono Lanya, dan Yadi Rusyadi. Penerjemah. 1995. Permasalahan Lapangan tentang Padi di Daerah Tropika. InternationalRice Research Institute, APO Box 7777, MetroManila, Filipina. Zuliyanti S, Ameilia. 2007. Hama-Hama Tanaman Padi. Medan : USU Repository

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->