P. 1
Periode Kritis Dan Penguasaan Sarana Tumbuh

Periode Kritis Dan Penguasaan Sarana Tumbuh

|Views: 5,287|Likes:
Published by Andrixinata B

More info:

Published by: Andrixinata B on Apr 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/12/2013

pdf

text

original

Contoh perhitungan PST pada P6, diketahui :

P6 perlakuan jarak tanam 50 cm × 10 cm dengan 3 benih per lubang tanam

(populasi tanaman 600.000 tanaman/ha)

Biomassa = 0,262375 kg

1/Y

= 1,64 (diketahui dari regresi linear)

Ymax = 1

= 1

= 0,61

1/Y

1,64

PST =

hasil

× 100%

Y max

=

0,262375

× 100%

0,61

=

43,01%

y = 2.266x + 1.640

0.00

2.00

4.00

6.00

8.00

10.00

12.00

14.00

16.00

18.00

p6

p5

p4

p3

p2

p1

Grafik Regresi Linier Antara Hasil dan

Densitas

Series1

y = 2,266x + 1,64

44

Pembahasan

Peubah-peubah yang diamati pada percobaan ini adalah tinggi tanaman,

jumlah daun trifoliet, jumlah cabang dan bobot brangkasan. Pengamatan

dilakukan selama dua minggu sekali dengan membandingkan nilai-nilai peubah

diatas terhadap perlakuan yang diberikan pada tanaman yang dianggap memiliki

kesamaan. Pengamatan ini ditujukan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh

persaingan gulma dengan tanaman dalam penguasaan sarana tumbuh.

Besaran pengaruh jarak tanam kedelai dan jumlah benih kedelai terhadap

tinggi tanaman minggu ke-2, 4, 6, 8, dan 10 MST memperlihatkan perubahan

pertumbuhan rata-rata yang tidak begitu berbeda seperti terlihat pada Grafik 1.

Perbedaan baru mulai terlihat pada minggu ke-4 sampai akhir panen, dimana

perbedaan tersebut memiliki besaran yang tidak begitu besar. Seperti yang terlihat

pada garafik 1, perlakuan 4 (P4), perlakuan 5 (P5) dan perlakuan 6 (P6)

menunjukkan tinggi tanaman yang relatif diatas tinggi tanaman perlakuan lainnya.

Hal diatas menunjukkan tinngi tanaman (P4) jarak tanam 50 cm x 10 cm dengan 2

benih per lubang tanam (populasi 400 000 tanaman/ha), (P5) jarak tanam 50 cm x

4 cm dengan 1 benih per lubang tanam (populasi 500 000 tanaman/ha) dan (P6)

jarak tanam 50 cm x 10 cm dengan 3 benih per lubang tanam (populasi 100 000

tanaman/ha) lebih dominan atau lebih tinggi dari tanaman perlakuan lainnya.

Data diatas menunjukkan pada jarak tanam tersebut tanaman setidaknya

lebih dapat bersaing dengan dominasi gulma. Sehingga pertumbuhan tanaman

lebih besar dibanding tanaman dengan perlakuan yang lain. Oleh karena itu, P3,

P4, dan P5 merupakan jarak tanam dan jumlah bibit yang cukup ideal untuk

penanaman kedelai.

Sementara itu, jumlah daun trifoliat pada tanaman kedelai menunjukkan

pertumbuhan per dua minggu yang juga relatif sama pada semua perlakuan.

Dalam hal ini hanya terdapat perbedaan yang juga relatif kecil seperti terlihat pada

Grafik 2. Secara umum tanaman P5 jarak tanam 50 cm x 4 cm dengan 1 benih per

lubang tanam (populasi 500 000 tanaman/ha), dan P6 jarak tanam 50 cm x 10 cm

45

dengan 3 benih per lubang tanam (populasi 100 000 tanaman/ha) menunjukkan

pertumbuhan jumlah daun trifoliet yang relatif lebih tinggi dibanding tanaman

pada perlakuan lain.

Data pada Grafik 2, menunjukkan bahwa pertumbuhan daun trifoliet pada

P5 dan P6 lebih besar. Pertumbuhan jumlah daun berkaitan dengan kemampuan

tanaman dalam bersaing memperebutkan hara dan air untuk pertumbuhan daun.

Oleh sebab itu tanaman pada perlakuan 5 (P5) pada jarak tanam 50x4 dan 1 bibit

per lubang tanam dan P6 jarak tanam 50 cm x 10 cm dengan 3 benih per lubang

tanam lebih mampu berkompetisi dalam perebutan hara dengan gulma.

Peubah lainnya yang diamati adalah jumlah cabang pada tanaman kedelai.

Seperti yang terlihat dalam Grafik 3, tanaman P6, P2 dan P4 menunjukkan jumlah

cabang akhir yang lebih besar diantara tanaman perlakuan lainnya. Pertumbuhan

cabang ini juga berkaitan dengan kemapuan tanaman dalam bersaing untuk

meperebutkan hara. Namun, pertumbuhan cabang ini cenderung lebih beragam

perbedaannya.

Perbedaan pertumbuhan cabang tanaman pada berbagai perlakuan

menunjukkan adanya pengaruh yang cukup besar antara jumlah populasi dan

kemampuan untuk bersaing. Akan tetapi, populasi dengan jumlah kecil tidak

justru membuat tanaman mampu bersaing dengan baik dengan gulma.

Pada data Grafik 3, pertumbuhan cabang pada populasi kecil dan jarak

tanam tidak begitu berpengaruh terlihat dari populasi P6 yang besar justru mampu

menghasilkan cabang yang lebih banyak dibandikan dengan tanaman dengan

perlakuan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan (Kompetisi) intra

spesies kedelai tidak cukup besar sehingga populasi yang lebih besar justru lebih

kuat besaing dalam memperebutkan hara karena mampu bersaing dalam dominasi

ruang.

Peubah yang paling penting dalam pengamatan ini adalah bobot

brangkasan atau biomassa tanaman yang diberi perlakuan. Pada grafik 4 terlihat

bobot brangkasan akhir pada P6 dan P3 cenderung lebih besar dibanding bobot

46

brangkasan pada perlakuan lainnya. Dalam hal ini, P6 jarak tanam 50 cm x 10 cm

dengan 3 benih per lubang tanam dan P3 jarak tanam 50 cm x 20 cm dengan 3

benih per lubang tanam dominan dalam bersaing. Bila dilihat lebih jauh, kedua

perlakuan diatas mempunyai kesamaan yaitu 3 benih per lubang tanam.

Jumlah benih per lubang tanam terlihat tidak begitu mempengaruhi

biomassa akhir tanaman. Hal ini menunjukkan bahwa persaingan interspesies

kedelai pada jumlsh 3 tanaman per lubang tanam cukup kecil. Oleh sebab itu,

dengan populasi yang sebesar ini, justru membuat tanaman kedelai lebih

berpeluang mendominasi ruang hidup sehingga pertumbuhan tanaman kedelai

lebih baik.

Dari tabel penguasaan sarana tumbuh menunjukkan bahwa semakin

banyak populasi tanaman per hektar maka nilai PST semakin besar. Dapat dilihat

bahwa pada perlakuan P6 dengan populasi 600.000 tanaman per hektar dengan

jarak tanam 50 cm x 10 cm dan 3 benih perlubang, mempunyai persentase

kemampuan sarana tumbuh yang paling besar yaitu 43,01 %. Hal ini

menunjukkan bahwa tanaman kacang kedelai hanya mampu menguasai sarana

tumbuh sebesar 43,01 %, sedangkan gulma mampu menguasai sarana tumbuh

sebesar 66,99 %. Dari tabel PST juga dapat dilihat bahwa semakin sedikit jumlah

tanaman perhektar maka nilai PST semakin kecil.

Secara umum, penguasaan sarana tumbuh pada berbagai perlakuan jarak

tanaman dan populasi kedelai tidak begitu berpengaruh terhadap hasil akhir.

Penurunan hasil akhir ini, terutama disebabkan oleh reduksi jumlah polong.

Moenandir, Widaryanto dan Poedjantoro (1988) melaporkan bahwa gulma yang

tumbuh pada pertanaman kedelai mempengaruhi besarnya bobot kering polong

yang dihasilkan. Hal ini erat hubungannya dengan luas daun tanaman yang

terbentuk sebagai organ fotosintesis. Akibat persaingan dengan gulma, maka

pembentukan luas daun menjadi terhambat sehingga proses fotosintesis sebagai

penghasil bahan kering juga mengalami hambatan. Sardjono et al. (1990) Tyas

(2010), melaporkan bahwa adanya persaingan dengan gulma pada tanaman

kedelai menyebabkan terlambatnya pembungaan. Kallman et al. (1974) dalam

47

Basir (1988) dalam Tyas (2010) mengemukakan bahwa pembungaan yang

terlambat dapat mengakibatkan jumlah polong dan biji sedikit dibandingkan sifat-

sifat yang dimiliki varietas tersebut. Fakto-faktor inilah yang menyebabkan

penguasaan sarana tumbuh oleh gulma sangat besar (diatas 50 %).

Seperti yang diamati pada hasil akhir kedelai pada berbagai perlakuan.

Secara umum perlakuan dengan jumlah bibit per lubang tanam yang lebih banyak

serta jarak tanam yang lebih sempit atau dalam kata lain, jumlah populasi per

hektar lebih besar justru memilki daya saing dan tingkat produktifitas yang lebih

tinggi dari perlakuan lainnya. Dalam hal ini, menurut Mimbar (1994) kompetisi

gulma hanya sedikit atau tidak berpengaruh terhadap ukuran biji atau jumlah biji

per polong. Namun meski demikian, produksi tanaman kedelai bukan berarti tidak

menurun, sebab dalam pengamatan ini apabila dibandingkan jumlah produksi

akhir dengan tanaman yang lebih terawat, jumlah produksi jauh menurun. Oleh

sebab itu, kompetisi gulma terhadap kedelai lebih berkaitan dengan pertumbuhan

vegetatif dan produktifitas secara umum.

Penurunan produksi ini dipengaruhi oleh kemampuan kedelai dalam

bersaing yang relatif kecil dibandingkan dengan gulma yang tumbuh. Seperti pada

tabel ANVEG PST, jenis gulma yang mendominasi umumnya memiliki ukuran

seperti pada tabel Boreria alata dan Digitaria adcendens merupakan gulma paling

dominan pada semua lahan percobaan. Dua gulma ini memiliki perawakan yang

besar, bahkan bisa hampir lebih besar dari kedelai. Kemudian kedua gulma ini

juga memiliki daya saing yang besar dan kecepatan pertumbuhan yang cepat.

Oleh sebab itu, tanaman kedelai umumnya kurang mampu bersaing dengan gulma

ini yang menyebabkan penguasaan sarana tumbuh lebih didominasi oleh gulma.

Sifat dominasi gulma yang tinggi dan tingkat pertumbuhan yang cepat

menyebabkan penurunan hasil bagi tanaman. Dominasi ini berkaitan dengan

perebutan hara, dan unsur-unsur pertumbuhan lainnya. Akibat dominasi ini,

tanaman menjadi sulit dalam mendapatkan kebutuhan hara dan unsur lainnya

untuk pertumbuhan tanaman. Selain itu, gulma tertentu mampu mengeluarkan zat

48

allelopati yang berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan gulma. Zat allelopati

juga bahkan mampu mematikan tanaman budidaya.

Nilai koefisien keragaman pada tabel 9, menunjukkan angka yang

melebihi ambang kevalidan dengan nilai CV • 30. Hal ini menunjukkan bahwa

data yang didapatkan tidak valid. Apabila mengabaikan nilai KK, dan melihat

nilai Pr>F, maka didapatkan hasil bahwa perlakuan bergulma dan bebas gulma

tidak memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan bobot biji ubinan. Nilai

CV yang diperoleh yaitu sebesar 45.33802. Untuk nilai Pr>F diperoleh 0.0191.

Angka ini menunjukkan perlakuan bergulma dan bebas gulma berpengaruh nyata,

dimana nilai Pr>F diantara 0,01 sampai 0,05.

Berdasarkan data yang diperoleh P6, P1, P3, dan P2 memiliki pengaruh

berbeda nyata terhadap hasil bobot brangkasan, sedangkan P5 dan P4 miliki

pengaruh yang tidak berbeda nyata.

49

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Tanaman pada perlakuan 3, 5 dan 6 memiliki daya saing terhadap gulma

paling besar diantara perlakuan lainnya. Tanaman akan lebih kuat dalam bersaing

dengan gulma pada tingkat populasi yang lebih tinggi. Gulma mampu

mendominasi lahan dengan cepat. Boreria alata dan Digitaria adcendens

merupakan gulma paling dominan pada semua lahan percobaan. Selain dominasi

sarana tumbuh, gulma mengeluarkan zat allelopati yang menekan pertumbuhan

tanaman.

Saran

Sebaiknya dalam setiap praktek budidaya tanaman, hendaknya ada

pengendalian gulma. Hal ini berkaitan dengan bahaya gulma itu sendiri dalam hal

persaingan dengan tanaman. Kemudian pengendalian gulma itu sendiri sebaiknya

dilakukan dengan perhitungan yang tepat agar tetap aman, hemat, efektif serta

efisien.

50

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->