P. 1
Manajemen Aktif Kala 3

Manajemen Aktif Kala 3

|Views: 1,680|Likes:
Published by Hariz Espada

More info:

Published by: Hariz Espada on Apr 26, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/23/2013

pdf

text

original

Manajemen Aktif Kala 3 Sabtu, 31 Juli 2010 11:56:17 - oleh : ifat Semua persalinan beresiko saat sebagian besar kehamilan

dan kelahiran bukan menjadi peristiwa besar, sekitar 15 % ibu hamil berpotensi mengalami komplikasi yang mengancam jiwa yang memerlukan perawatan terampil dan beberapa ibu hamil memerlukan intervensi obstetrik utama agar dapat diselamatkan. Salah satu penyebab utama masih tinginya angka kematian ibu di Indonesia yaitu sekitar 307/100.000 kelahiran hidup adalah karena perdarahan, baik itu pada masa kehamilan, persalinan maupun pada masa nifas. Perdarahan postpartum merupakan penyebab sekitar 30 % dari keseluruhan kematian akibat perdarahan Sebenarnya perdarahan post partum dapat diturunkan dengan penanganan yang optimal dari tenaga kesehatan. Tetapi dalam menurunkan angka kejadian perdarahan postpartum akibat perdarahan tidak hanya mengurangi risiko kematian ibu, tetapi juga menghindarkannya dari risiko kesakitan yang berhubungan dengan perdarahan postpartum seperti reaksi tranfusi, tindakan operatif, dan infeksi. Jadi yang menjadi titik utama adalah ketrampilan dari petugas dalam menangani kejadian perdarahan post partum Pemantauan melekat pada ibu pasca persalinan serta mempersiapkan diri akan adanya kejadian post postpartum merupakan tindakan yang sangat penting. Meskipun beberapa faktor diindikasi dapat meningkatkan resiko perdarahan persalinan, dua pertiga dari semua kasus perdarahan pasca persalinan terjadi pada ibu tanpa faktor resiko yang diketahui sebelumnya dan tidak mungkin memperkirakan ibu mana yang mengalami perdarahan pasca persalinan. Karena alasan tersebut maka manajemen aktif kala tiga merupakan hal yang sangat penting dalam upaya menurunkan kesakitan dan kematian ibu yang disebabkan perdarahan pasca persalinan, oleh karena itu WHO merekomendasikan agar semua tenaga kesehatan yang menolong persalinan baik dokter maupun bidan dapat melaksanakan manajemen aktif kala III. 1. Pengertian Kala III Kala III persalinan adalah periode waktu yang dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dengan lahirnya plasenta dan selaput ketuban. Manajemen Aktif Kala III Penatalaksanaan aktif pada kala III (pengeluaran aktif plasenta) membantu menghindarkan terjadinya perdarahan pasca persalinan. 2. Tujuan Manajemen Aktif Kala III Mempersingkat kala III. Mempercepat lahirnya plasenta . Mengurangi jumlah kehilangan darah. Mengurangi kejadian retensio plasenta.

Mekanisme Pelepasan Plasenta Plasenta adalah massa yang bulat dan datar. Hal tersebut mungkin terjadi karena ada serat otot oblik di bagian atas segmen uterus. Umumnya memiliki panjang sekitar 56 cm. Pemisahan plasenta ditimbulkan dari kontraksi dan retraksi miometrium sehingga mempertebal dinding uterus dan mengurangi ukuran area plasenta. Pada plasenta bagian maternal inilah terjadi pertukaran darah janin dan maternal. Area plasenta menjadi lebih kecil. Pada metode ini kemungkinan terjadinya bagian selaput ketuban yang tertinggal lebih besar karena selaput ketuban tersebut tidak terkelupas semua selengkap metode Schultze. sehingga plasenta mulai memisahkan diri dari dinding uterus karena plasenta tidak elastis seperti uterus dan tidak dapat berkontraksi atau beretraksi. yang memanjang sampai ujung bagian luar kantong yang berisi janin dan cairan amnion. Metode ini adalah metode yang berkaitan dengan . Permukaan fetal plasenta halus. b. Tali pusat ini mengandung tiga pembuluh darah: dua arteri yang berisi darah kotor janin menuju plasenta dan satu vena yang mengandung oksigen menuju janin.3. Metode Matthews Duncan Plasenta turun melalui bagian samping dan masuk ke vulva dengan pembatas lateral terlebih dahulu seperti kancing yang memasuki lubang baju. Berat bekuan darah ini menambah tekanan pada plasenta dan selanjutnya membantu pemisahan. berwarna putih dan mengkilap serta di permukaannya dapat dilihat cabang vena dan arteri umbilikalis. Metode Schultze Metode yang lebih umum terjadi. Permukaan maternal plasenta tidak terlihat dan bekuan darah berada dalam kantung yang terbalik. Kontraksi uterus yang selanjutnya akan melepaskan keseluruhan plasenta dari uterus dan mendorongnya keluar vagina disertai dengan pengeluaran selaput ketuban dan bekuan darah retroplasenta. Tali pusat membentang dari umbilikus janin sampai ke permukaan fetal plasenta. Pertukaran ini berlangsung tanpa terjadi percampuran antara darah maternal dan darah janin. Permukaan maternal plasenta berwarna antara kebiruan dan kemerahan serta tersusun dari lobus lobus. Pada area pemisahan bekuan darah retroplasenta terbentuk. plasenta terlepas dari satu titik dan merosot ke vagina melalui lubang dalam kantung amnion. kontraksi dan retraksi otot uterus yang menimbulkan pemisahan plasenta juga menekan pembuluh darah dengan kuat dan mengontrol perdarahan. Ada 2 metode untuk mengeluarkan plasenta : 1. permukaan fetal plasenta muncul pada vulva dengan selaput ketuban yang mengikuti dibelakang seperti payung terbalik saat terkelupas dari dinding uterus. bagian plasenta tidak berada dalam kantung. Dua selaput ketuban yang melapisi permukaan fetal adalah korion dan amnion.

jika hal tersebut ada. c. memegang tali pusat dari jarak dekat untuk mencegah avulsi pada tali pusat. dengan perlahan tapi kokoh melakukan massage uterus dengan cara menggosok uterus pada abdomen dengan gerakan melingkar (sirkuler) untuk menjaga agar uterus tetap keras dan berkontraksi dengan baik serta untuk mendorong setiap gumpalan darah agar keluar. Penegangan tali pusat terkendali Tempatkan klem pada ujung tali pusat ± 5 cm dari vulva. Saat terjadi kontraksi yang kuat plasenta dilahirkan dengan penegangan tali pusat terkendali kemudian tangan pada dinding abdomen menekan korpus uteri kebawah dan atas (dorso kranial) korpus . Lahirkan plasenta dengan peregangan yang lembut dan keluarkan plasenta dengan gerakan kebawah dan keatas mengikuti jalan lahir. Proses pelepasan berlangsung lebih lama dan darah yang hilang sangat banyak (karena hanya ada sedikit serat oblik di bagian bawah segmen) 4.plasenta letak rendah didalam uterus. Berikan oksitocin 10 iu secara IM pada 1/3 bawah paha kanan bagian luar. tidak boleh ada ketidakteraturan pada bagian pinggir-pinggirnya. Semburan darah tiba-tiba. Sementara tangan kiri melakukan masage uterus. Tali pusat memanjang. berarti menandakan ada sebagian fragmen plasenta yang tertinggal). Pemijatan fundus uteri Segera setelah plasenta dan selaput dilahirkan. periksalah plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa kotiledon dan membran sudah lengkap (seluruh lobus dibagian maternal harus ada dan bersatu/utuh. b. 5. Ketika plasenta muncul dan keluar dari dalam vulva. (LitA Mayasari) . kedua tangan dapat memegang plasenta searah jarum jam untuk mengeluarkan selaput ketuban. Pemberian suntikan oksitocin Oksitosin 10 iu secara IM dapat diberikan dalam 2 menit setelah bayi lahir dan dapat diulangi setelah 15 menit jika plasenta belum lahir. Manajemen Aktif Kala III a. Tanda-tanda Pelepasan Plasenta Bentuk uterus berubah menjadi globular dan perubahan tinggi fundus.

KALA TIGA PERSALINAN A. maka seolah ± olah plasenta terangkat dari dasarnya oleh hematoma tersebut sehingga daerah pelepasan meluas. bagian yang paling penting dalam pelepasan plasenta adalah retraksi dan kontraksi otot ± otot rahim.´ Kala tiga persalinan dimulai saat proses kelahiran bayi selesai dan berakhir dengan lahirnya plasenta. Pelepasan secara Duncan terutama terjadi plasenta letak rendah. sedangkan hematoma sekarang terdapat dalam kantong yang terputar balik. . tempat perlekatan plasenta juga ikut mengecil maka plasenta akan berlipat-lipat bahkan ada bagian ± bagian yang terlepas dari dinding rahim atau tempat insersinya. Kala tiga persalinan berlangsung rata ± rata antara 5 ± 10 menit. y Di tempat ± tempat yang lepas terjadi perdarahan ialah antara plasenta dan desidua basalis dan karena hematoma ini membesar. akan tetapi apabila lebih dari 30 menit resiko perdarahan meningkat. Plasenta dengan hematoma di atasnya sekarang jatuh ke bawah atau menarik lepas selaput janin. Tanda ±tanda lepasnya plasenta mencakup beberapa hal : y Perubahan bentuk dan tinggi fundus y Tali pusat memanjang y Semburan darah mendadak dan singkat Macam pelepasan plasenta yaitu : y Secara Schultze Pelepasan dimulai pada bagian tengah dari plasenta dan di sini terdapat hematoma retro plasentair yang selanjutnya mengangkat plasenta dari dasarnya. Bagian plasenta yang nampak dalam vulva ialah permukaan futal. jadi perdarahan sudah ada sejak sebagian dari plasenta terlepas dan terus berlangsung sampai seluruh plasenta lepas. y Secara Duncan Pada pelepasan secara Duncan. pelepasan dimulai dari pinggir plasenta. Proses ini dikenal sebagai kala persalinan plasenta. Pelepasan secara schultze paling sering dijumpai. Darah mengalir keluar antara selaput janin dan dinding rahim. DEFINISI KALA TIGA PERSALINAN Adalah ³ kala uri atau waktu pelepasan plasenta dari insersinya sampai lahirnya plasenta dan selaput plasenta. Plasenta lahir dengan pinggirnya terlebih dahulu. Kisaran normal kala tiga sampai 30 menit. Karena pengecilan rahim. Jadi secara singkat. B. karena tidak dapat mengikuti pengecilan dari dasarnya. Tingkat pelepasan plasenta Sebab sebab terlepasnya plasenta : y Waktu bayi dilahirkan rahim sangat mengecil. PEMBAGIAN TINGKAT KALA URI Kala uri dapat dibagi dalam 2 tingkat : 1.

tunggu hingga uterus berkontraksi kembali (sekitar 2 atau 3 menit berselang) untuk mengulangi kembali PTT. Beritahu pada ibu bahwa ia akan disuntik e. Tetapi jika langkah kelima diatas tidak berjalan sebagaimana mestinya dan placenta tidak turun setelah 30 -40 detik dimulainya penegangan tali pusat dan tidak ada tandatanda yang menunjukkkan lepasnya placenta. e. Periksa uterus untuk memastikan tidaka ada bayi yang lain d. Mengurangi jumlah kehilangan darah 3. Keuntungan ± keuntungan manajemen aktif kala tiga : 1. plasenta terdorong ke dalam segmen bawah rahim atau ke dalam bagian atas dari vagina. Mengurangi kejadian retensio plasenta Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama : 1. Dari tempat ini plasenta didorong keluar oleh tenaga mengejan. 2. lakukan tekanan dorso cranial hingga tali pusat makin menjulur dan korpus uteri bergerak ke atas yang menandakan placenta telah lepas dan dapat dilahirkan. MANAJEMEN AKTIF KALA TIGA Tujuan manajemen aktif kala tiga adalah untuk menghasilkan kontraksi uterus yang lebih efektif sehingga dapat mempersingkat waktu.2. Pemberian suntikan oksitosin dalam 1 menit setelah kelahiran bayi a. Segera suntikan oksitosin 10 unit IM pada 1/3 bagian atas paha luar. f. mencegah perdarahan dan mengurangi kehilangan darah kala tiga persalinan jika dibandingkan dengan penatalaksanaan fisiologis. Persalinan kala tiga yang lebih singkat 2. d. Saat mulai berkontraksi (uterus bulat atau tali pusat menjulur) tegangkan tali pusat kearah bawah. jangan teruskan penegangan tali pusat: . Bila placenta belum lepas. Letakkan tangan yang lain pada abdomen ibu (beralaskan kain) tepat diatas simpisis pubis. maka karena kontraksi dan retraksi otot rahim. Serahkan bayi yang telah terbungkus kain pada ibu untuk diberi ASI b. Melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT) a. C. Berdiri disamping ibu b. Letakkan kain bersih diatas perut ibu c. Tingkat pengeluaran plasenta Setelah plasenta lepas. Pindahkan klem tali pusat sekitar 5 ± 20 cm dari vulva c.

ulangi masase. dengan hati-hati periksa vagina dan servik secara seksama. Periksa kembali uterus setelah 1 ± 2 menit untuk memastikan uterus berkontraksi. y Periksa placenta sisi maternal untuk memastikan semua bagian lengkap dan utuh. Jika uterus masih belum berkontraksi baik. Dengan lembut gerakkan tangan dengan arah memutar pada fundus uteri supaya uterus berkontraksi. j. lahirkan placenta dengan mengangkat tali pusat ke atas dan menopang placenta dengan tangan lainnya untuk meletakkan dalam wadah penampung. Tetap tegangkan tali pusat dengan arah sejajar lantai (mengikuti poros jalan lahir). Gunakan jari-jari tangan atau klem DDT atau forcep untuk mengeluarkan selaput . Saat placenta terlihat pada introitus vagina. Jika perlu. ulangi penegangan tali pusat terkendali dan tekanan dorso cranial pada korpus uteri secara serentak. Lakukan penarikan dengan lembut dan perlahan ± lahan untuk melahirkan selaput ketuban.bagian placenta yang robek atau terpisah untuk memastikan tidak ada bagian yang hilang. bahwa ibu mungkin merasa agak tidak nyaman karena tindakan yang diberikan. e. Jelaskan tindakan kepada ibu. Periksa placenta dan selaputnya untuk memastikan keduannya lengkap dan utuh. y Pasangkan bagian.ketuban yang teraba 3. Jika selaput ketuban robek dan tertinggal dijalan lahir saat melahirkan placenta. Ikuti langkahlangkah tersebut pada setiap kontraksi hingga terasa placenta terlepas dari dinding uterus. maka pegang placenta dengan kedua tangan dan secara lembut putar placenta dalam satu arah hingga selaput ketuban terpilin menjadi satu. Jika uterus tidak berkontraksi dalam 15 detik lakukan penatalaksanaan atonia uteri. y Pada saat kontraksi berikutnya terjadi. .y Pegang klem dan tali pusat dengan lembut dan tunggu sampai kontraksi berikutnya. d. g. anjurkan ibu untuk meneran agar placenta terdorong keluar melalui introitus vagina. i. h. Letakkan telapak tangan pada fundus uteri b. oleh karena itu anjurkan ibu untuk menarik nafas dalam dan perlahan secara rileks c. pindahkan klem lebih dekat ke perineum pada saat tali pusat memanjang. Massase fundus uteri a.karena selaput ketubn mudah robek. y Periksa placenta sisi futal untuk memastikan tidak adanya kemungkinan lobus tambahan (suksenturiata) y Evaluasi selaput untuk memastikan kelengkapannya. Setelah placenta terlepas.

Periksa kontraksi uterus tiap 15 menit dalam 1 jam PP dan tiap 30 menit dalam 2 jam PP. NG PROPESIONAL Rabu. otot uterus berkontraksi mengikuti berkurangnya ukuran rongga uterus secara tiba2 setelah lahirnya bayi y y Penyusutan   berkurangnya ukuran tempat implantasi plasenta Tanda2 lepasnya plasenta mencakup beberapa atau semua hal2 dibawah ini:  Perubahan bentuk dan tinggi fundus  Tali pusat memanjang  Semburan darah tiba2 PENATALAKSANAAN KALA TIGA PERSALINAN y Atonia uteri terjadi   uterus tdk berkontraksi atau tdk berkontraksi secaraterkoordinasi p ujung pembuluh darah di tempat implantasi plasenta tdk dpt dihentikan sehingga perdarahan menjadi tdk terkendali y Beberapa faktor menyebabkan uterus membesar lebih dari normal selama kehamilan:  Jumlah air ketuban yg berlebihan (pohidramnion) .f. 11 Februari 2009 kala tiga persalinan BATASAN y Kala tiga persalinan dimulai setelah lahirnya bayi dan berakhir dgn lahirnya plasenta dan selaput ketuban y Kala empat persalinan dimulai setelah lahirnya plasenta dan berakhir dua jam setelah itu FISIOLOGI KALA TIGA PERSALINAN y Pada kala tiga persalinan.

 Kehamilan Gemeli/kembar  janin besar (makrosomia)  Kala satu dan dua persalinan yg memanjang  Persalinan cepat  Persalinan yg diinduksi / dipercepat dgn oksitosin (augmentasi)  Infeksi intrapartum  Multiparitas tinggi/grande multipara  Magnesium sulfat yg digunakan utk mengendalikan kejang pd PE/E MANAJEMEN AKTIF KALA TIGA y y Manajemen aktif kala tiga   menghasilkan kontraksi uterus yg lebih efektif Keuntungan2 manajemen aktif kala tiga:  Kala tiga persalinan yg lebih singkat  Mengurangi jlh kehilangan darah  Mengurangi kejadian retensio plasenta y Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama  Pemberian suntikan oksitosin  Melakukan penegangan tali pusat terkendali  Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri (masase) MANAJEMEN AKTIF KALA TIGA y y Manajemen aktif kala tiga   menghasilkan kontraksi uterus yg lebih efektif Keuntungan2 manajemen aktif kala tiga:  Kala tiga persalinan yg lebih singkat  Mengurangi jlh kehilangan darah .

gunakan tangan lain utk meraba kontraksi uterus dan menahan uterus pd saat melakukan peregangan pd tali pusat. segera suntikan oksitosin 10 unit IM pd 1/3 bawah paha kanan bagian luar Penegangan Tali Pusat Terkendali y Berdiri disamping ibu y Pindahkan klem kedua yg telah dijepit sewaktu kala dua persalinan pd tali pusat sekitar 5-10 cm dari vulva y Letakkan tangan yg lain pd abdomen ibu (alas dgn kain) tepat dibawah tulang pubis. . Mengurangi kejadian retensio plasenta y Manajemen aktif kala tiga terdiri dari tiga langkah utama  Pemberian suntikan oksitosin  Melakukan penegangan tali pusat terkendali  Rangsangan taktil (pemijatan) fundus uteri (masase) Pemberian Suntikan Oksitosin y y Segera berikan bayi yg telah terbungkus kain kepada ibu utk diberi ASI Letakkan kain bersih diatas perut ibu y Periksa uterus utk memastikan tdk ada bayi yg lain y Memberitahukan pd ibu ia akan disuntik y Selambat-lambatnya dlm wkt dua menit setelah bayi lahir. tangan pd dinding abdomen menekan korpus uteri ke bawah dan atas (dorso-kranial) korpus.

jangan teruskan penegangan tali pusat y Setelah plasenta terlepas. dgn hati2 periksa vagina dan serviks dgn seksama Rangsangan Taktil (Pemijatan) Fundus Uteri y Segera setelah kelahiran plasenta  Letakkan telapak tangan pada fundus uteri  Jelaskan tindakan ini kpd ibu dan mungkin merasa tdk nyaman  Dengan lembut gerakkan tangan secara memutar pd fundus uteri  uterus berkontraksi (gambar 52) jika tdk berkontraksi dlm wkt 15 dtk. anjurkan ibu utk meneran  plasenta akan terdorong ke introitus vagina.y tegangkan kembali tali pusat ke arah bawah bersamaan dgn itu. teruskan kelahiran plasenta dgn menggunakan kedua tangan. jika blm ulangi rangsangan taktil fundus uteri  periksa kontraksi uterus setiap 15 mnt selama satu jam pertama pascapersalinan dan setiap 30 mnt selama satu jam kedua pascapersalinan . Tetap tegang kearah bawah mengikuti arah jalan lahir y Pada saat plasenta terlihat pd introitus vagina. lakukan penekanan korpus uteri ke arah bawah dan kranial hingga plasenta terlepas dari tempat implantasinya y Jika plasenta tdk turun setelah 30-40 detik dimulainya peregangan tali pusat dan tdk ada tanda2 yg menunjukkan lepasnya plasenta. Selaput ketuban mudah robek: pegang plasenta dgn kedua tangan rata dgn lembut putar plasenta hingga selaput terpilin y Lakukan penarikan secara lembut dan perlahan-lahan utk melahirkan selaput ketuban y Jika terjadi selaput robekan pd selaput ketuban saat melahirkan plasenta. lakukan penatalaksanaan atonia uteri  Periksa plasenta dan selaputnya utk memastikan keduanya lengkap dan utuh  Periksa uterus setelah satu hingga dua mnt memastikan uterus berkontraksi dgn baik.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->