P. 1
a5-133-Rusli Silat Kumango Untuk Blog

a5-133-Rusli Silat Kumango Untuk Blog

|Views: 706|Likes:
Published by nasbahry_couto

More info:

Published by: nasbahry_couto on Apr 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/27/2013

pdf

text

original

Sections

Mengawali tulisan ini penulis akan

mengungkapkan terlebih dahulu asal
usul silat Kumango. Hal ini perlu guna
menjawab dan meluruskan pandangan atau pendapat
yang berkembang dalam masyarakat tentang asal usul serta
hakekat silat ini. Ada beberapa pendapat atau pandangan
yang terdapat dalam masayarakat. Antara lain bahwa
silat Kumango berasal dari silat Lintau yang dibawa ke
Batusangkar dan di Batusangkar ditambah dengan ilmu
kebatinan. Pendapat lain mengasosiasikan nama silat ini
dengan istilah barang kumango, barang dagangan yang
terdiri dari bermacam-macam barang. Mereka berpendapat
bahwa silat ini berasal dari bermacam-macam silat yang
ada di Minang Kabau yang digabungkan menjadi satu.
Benarkah demikian?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu
dijelaskan terlebih dahulu bahwa dari segi umurnya Silat
Kumango dibanding dengan silat-silat lainnya seperti Silat
Lintau dan Silat Tuo memang relatif lebih muda. Pertama

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

6

Rusli7

kali diajarkan oleh almarhum Syekh Abdurrahman
Al Khalidi sekitar tahun 1850-an. Almarhum menurut
penuturan orang tua-tua dan juga beberapa guru silat
memang pernah datang ke Lintau untuk berguru silat.
Akan tetapi keinginan beliau itu tidak terpenuhi
karena setelah beberapa hari berada di sana beliau tidak
pernah diajar oleh guru yang bersangkutan. Keberadaan
beliau di sana hanya sekedar melihat atau sebagai penonton
orang bersilat. Karenanya beliau pulang saja ke Kumango.
Dari penuturan di atas jelas tidak mungkin Silat Kumango
berasal dari Silat Lintau. Adalah hal yang musykil hanya
dengan melihat orang belajar silat selama beberapa hari
saja seseorang dapat menguasai silat. Apalagi dikatakan
bahwa dari Lintau dibawa ke Batusangkar kemudian diberi
ilmu kebatinan. Kalau demikian halnya maka namanya
haruslah Silat Batusangkar, bukan Silat Kumango. Seperti
kita ketahui di Minang Kabau pada masa lalu itu silat diberi
nama menurut daerah asalnya seperti Silat Koto Anau, Silat
Maninjau, Silat Pauh, Silat Sungai Patai dan sebagainya.
Apa lagi ditambah dengan embel-embel bahwa tiba di
Batusangkar diberi ilmu kebatinan. Apa yang dimaksud
dengan ilmu kebatinan itu tidak pula jelas. Sepanjang yang
penulis warisi dalam silat Kumango tidak pernah ada apa
yang disebut ilmu kebatinan itu. Yang ada hanyalah bahwa
Silat Kumango memiliki suatu falsafah yang berdasarkan
ajaran-ajaran agama sesuai dengan tuntunan Al Quran dan
Sunnah Rasul. Dan ini memang merupakan dasar pertama
yang harus ditanamkan kepada pesilat.
Pendapat yang mengatakan Silat Kumango meru-
pakan gabungan dari berbagai macam silat yang ada
di Minang Kabau agaknya juga tidak beralasan dan
sukar untuk diterima. Bagaimana mungkin seseorang
bisa menggabungkan beberapa aliran silat, sedangkan
mempelajari satu macam silat saja tidak pernah dapat
karena orang tidak mau mengajarkan.

Silat Kumango adalah sebuah aliran di Minang Kabau

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

6

Rusli7

dan nama itu didasarkan kepada daerah tempat lahirnya
yaitu nagari Kumango kecamatan Sungai Tarab kabupaten
Tanah Datar. Dan silat ini seperti telah disinggung di atas
diwariskan oleh Syekh Abdurrahman Al Khalidi atau
Syekh Kumango. Almarhum mewarisi silat ini sekitar
tahun 1840-an dari seseorang dengan cara yang luar biasa,
diluar jangkauan akal dan tidak mungkin dialami oleh
semua orang. Kisahnya adalah seperti berikut.
Datuk Majoindo (sebelum beliau bergelar syekh)
bertoko di Pasar Gadang Padang. Pada suatu pagi ketika
beliau membuka pintu toko tanpa diketahui dari mana
datangnya di belakang beliau sudah berdiri saja seorang
laki-laki berpakaian serba putih seperti penampilan orang
peminta-minta yang di Minang Kabau biasanya dipanggil
“PAKIAH”. Dengan penuh keheranan beliau bertanya
tentang maksud kedatangan pakiah, asal usul darimana
pakiah berasal dan apa tujuannya datang pagi–pagi betul.
Oleh pakiah dijawab bahwa kedatangannya pagi itu hendak
minta uang untuk membeli nasi karena pagi itu dia belum
makan. Kemudian karena belas kasihan beliau beri pakiah
uang dan melanjutkan pekerjaan membuka pintu toko.
Si pakiah setelah menerima uang tidak beranjak
dari tempat semula. Ketika ditanya oleh Datuk Majoindo
mengapa pakiah belum juga pergi, oleh pakiah dijawab
bahwa uang itu belum cukup, minta ditambah lagi.
Walaupun merasa kesal dalam hatinya permintaan pakiah
itu dipenuhi juga oleh Datuk Majoindo. Namun walaupun
telah ditambah uangnya pakiah itu masih belum pergi, ia
masih berdiri di tempat semula. Melihat perilaku pakiah
yang demikian itu, dengan nada marah Datuk Majoindo
bertanya lagi mengapa pakiah belum juga pergi. Kemudian
dengan nada datar pakiah menjawab bahwa uang yang
diberikan masih belum cukup juga. Jawaban pakiah
ini menambah kemarahan Datuk Majoindo. Namun
demikian beliau mengeluarkan uang dari kantong lalu
menyerahkannya kepada pakiah dan mengusirnya sambil
mengancam akan menampar pakiah kalau belum juga

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

8

Rusli9

pergi.

Ancaman Datuk Majoindo akan menampar itu
mendapat reaksi atau jawaban yang mengejutkan dari
pakiah. Saya memang menunggu tamparan dari Datuk,
ujarnya. Kemudian dilanjutkannya bahwa tamparan itu
tidak akan diterimanya saat itu tetapi berjanji tujuh hari
lagi, pada saat ia akan datang lagi ke Padang. Yang lebih
mengejutkan lagi adalah bahwa pakiah menyuruh Datuk
Majoindo dalam masa tujuh hari itu untuk pergi menemui
guru-guru atau teman-teman beliau guna menambah
ilmu dalam menghadapi pakiah nantinya. Selesai berucap
pakiahpun pergi.

Peristiwa pagi itu membuat Datuk Majoindo tidak
habis pikir, lebih-lebih lagi mengingat ucapan pakiah
yang menyuruh beliau menambah ilmu lagi. Betapa tidak,
Datuk Majoindo bukanlah orang sembarangan. Beliau telah
menuntut ilmu ke mana-mana dalam Luhak Nan Tigo ini.
Di mana saja ada guru-guru yang berilmu tinggi beliau
datangi, sehingga beliau juga memiliki ilmu yang tinggi
pula. Selama kurang lebih sepuluh tahun beliau menjadi
parewa (preman) malang melintang dalam dunia judi, tidak
seorangpun yang berani melawan atau menantang beliau.
Sekarang tiba-tiba datang seorang pakiah yang kalau dilihat
dari lahiriahnya atau penampilan secara fsik tidak ada apa-
apanya dibandingkan dengan Datuk Majoindo, menantang
untuk menguji ilmu.

Hampir semalaman Datuk Majoindo tidak tidur
memikirkan peristiwa itu. Dalam benaknya Datuk
Majoindo bertanya-tanya siapa pakiah itu sebenarnya,
dan apakah perintah pakiah untuk menemui guru-guru
atau kawan-kawan guna menambah ilmu lagi akan
dituruti atau tidak. Akhirnya sampailah Datuk Majoindo
kepada suatu kesimpulan bahwa mungkin saja pakiah itu
seorang yang berilmu tinggi, kalau tidak tentu saja tidak
mungkin dia mengeluarkan ucapan yang menantang itu.
Karenanya perintahnya perlu pula dipertimbangkan untuk
dilaksanakan.

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

8

Rusli9

Demikanlah akhirnya Datuk Majoindo mengambil
keputusan untuk mencari guru-guru atau kawan-
kawan beliau seperti perintah pakiah. Keesokan paginya
berangkatlah Datuk Majoindo dari Padang. Mula-mula
beliau menuju Batusangkar, kemudian dilanjutkan ke
Payakumbuh. Dari Payakumbuh terus ke Bukittinggi.
Setiap guru atau kawan yang beliau temui di ketiga tempat
itu tidak ada yang dapat menambah ilmu Datuk Majoindo.
Jangankan menambah malahan setiap orang yang ditemui
justru minta ilmu kepada beliau. Kembalilah Datuk
Majoindo ke Padang tanpa tambahan ilmu sama sekali.
Genap tujuh hari sebagaimana yang dijanjikan,
selesai menutup tokonya Datuk Majoindo sudah bersiap-
siap menunggu kedatangan pakiah. Sudah masuk waktu
Isya pakiah belum juga datang. Datuk Majoindo mengira
mungkin pakiah tidak jadi datang. Beliau masuk ke kamar
mengunci pintunya lalu tidur-tiduran. Sambil tidur-tiduran
beliau terus merenungkan soal pakiah apakah dia akan
datang atau tidak. Dalam merenung-renung itu beliau
tertidur.

Beberapa saat kemudian Datuk Majoindo terkejut
dibangunkan oleh seseorang yang tidak lain adalah
pakiah. Dia telah berdiri di sisi tempat tidur Datuk
Majoindo. Setelah berbincang-bincang sebentar keduanya
turun ke luar toko. Keduanya sudah siap menguji ilmu
masing-masing. Pakiah mempersilahkan Datuk Majoindo
untuk menyerang terlebih dahulu. Setiap serangan yang
dilakukan Datuk Majoindo tidak satupun yang dapat
mengenai pakiah. Serangan-serangan itu lepas begitu saja
sehingga beliau membentur dinding dan tiang toko yang
membuat badan beliau memar dan kepala beliau berdarah.
Datuk Majoindo terus mencoba lagi menyerang pakiah
dengan mengerahkan semua ilmu yang beliau miliki, akan
tetapi semuanya luput , tidak ada yang mengena sasaran.
Karena serangan-serangan yang dilakukan Datuk Majoindo
tidak mempan dan tubuh serta kepalanya mengalami
cedera, maka Datuk Majoindo mengaku kalah dan minta

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

10

Rusli11

kepada pakiah untuk dijadikan sebagai murid. Beliau ingin
berguru kepada pakiah. Selesai pertarungan hal pertama
yang dilakukan pakiah adalah mengobati luka-luka dan
cedera yang diderita Datuk Majoindo. Pengobatan itu
dimulai oleh pakiah dengan Bismillah dan diakhiri dengan
Alhamdulilah. Dengan pertolongan Allah semua luka-luka
dan cedera yang diderita Datuk Majoindo sembuh sehingga
kondisi fsik beliau kembali seperti semula. Setelah itu
Datuk Majoindo disadarkan oleh pakiah atas kejahilan dan
dosa-dosa beliau di masa lalu dan kemudian ditaubatkan.

Permintaan Datuk Majoindo untuk berguru dipenuhi
oleh pakiah, tetapi belum dilaksanakan pada saat itu. Pakiah
berjanji akan datang lagi. Rupanya janji pakiah untuk datang
lagi tidak segera terlaksana. Karena tidak sabar menunggu
lama-lama maka Datuk Majoindo berusaha mencari pakiah.
Selama tiga bulan lamanya Datuk Majoindo mencari
pakiah ke mana-mana, sampai ke Kerinci. Akhirnya pakiah
ditemukan juga, maka mulailah pakiah mengajari Datuk
Majoindo. Menjadilah sekarang hubungan pakiah dengan
Datuk Majoindo hubungan guru dengan murid.
Pelajaran yang harus diikuti dalam dua tahapan.
Tahap pertama berlangsung di daerah sekitar Minamg
Kabau dan tahap kedua di Tanah Suci, khususnya di
Madinah. Tahap pertama berlangsung selama empat puluh
hari empat puluh malam. Yang dilakukan oleh guru pada
tahap pertama ini adalah latihan fsik dan mental termasuk
pelajaran silat. Selama empat puluh hari empat puluh
malam Datuk Majoindo harus mengikuti guru melakukan
perjalanan panjang yang cukup melelahkan. Perjalanan
dilakukan siang malam, menempuh medan yang sulit,
semak belukar, mendaki dan menurun, menempuh jalan-
jalan yang tidak pernah dilalui orang tanpa istirahat, kecuali
pada waktu sholat. Datuk tidak boleh mengeluh ataupun
bertanya. Alhamdulillah perjalanan ini dapat diikuti dan
diselesaikan oleh Datuk Majoindo dengan baik.
Pada hari keempat puluh atau hari terakhir berhentilah

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

10

Rusli11

guru dan Datuk Majoindo di bawah sebuah pohon besar,
konon lokasinya menurut H. Abdul Malik bin Syekh Mudo
Abdul Qodim Balubus Payakumbuh, pohon besar itu
berlokasi di Tanah Bato Panyabungan Tapanuli Selatan.
Setelah istirahat sebentar guru menyuruh Datuk Majoindo
berdiri lalu mereka bersilat berdua. Selesai bersilat maka
berkatalah guru kepada Datuk Majoindo bahwa pelajaran
tahap pertama selesai sampai di situ dan akan dilanjutkan
dengan tahap kedua di Tanah Suci. Untuk itu Datuk
Majoindo harus datang sendiri ke Mekkah pada musim
haji, sedangkan guru menunggu di sana. Datuk Majoindo
disuruh pulang dulu ke kampung untuk mempersiapkan
diri dan minta izin orang tua. Seperti halnya dengan
peristiwa-peristiwa sebelumnya selesai berucap gurupun
pergi, dan Datuk Majoindo pulang ke Kumango.
Setelah cukup segala persiapan dan telah mendapat
izin orang tua Datuk Majoindo harus berangkat menuju
Medan karena keberangkatan ke Mekkah melalui pelabuhan
Belawan. Datuk Majoindo berangkat dengan berjalan kaki
melalui jalan-jalan pintas. Dari Kumango ke Payakumbuh
ke daerah Suliki, dari sana ke Pasaman. Di daerah Pasaman
menjelang daerah Kumpulan, Datuk Majoindo dikeroyok
oleh empat orang laki-laki. Tanpa disadari oleh Datuk
Majoindo keempat laki-laki itu terjerembab ke dalam
selokan saling berhimpitan, diantara mereka ada yang luka-
luka dan ada yang patah tulang.
Pada waktu itu datang bisikan halus ke telinga Datuk
Majoindo agar orang-orang itu dikasihani dan diobati.
Setelah mendengar bisikan itu maka diobatilah keempat
orang itu seperti yang dilakukan oleh pakiah kepada beliau
waktu di Padang, dimulai dengan Bismillah dan diakhiri
dengan Alhamdulilah. Dengan pertolongan Allah keempat
orang tersebut sembuh dari cederanya. Keempat orang itu
berterima kasih dan minta maaf kepada Datuk Majoindo.
Oleh Datuk Majoindo ditanya apa maksud orang-orang
tersebut mengeroyoknya. Oleh keempat orang itu dijawab
bahwa mereka melakukan itu semua untuk mengambil

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

12

Rusli13

barang-barang bawaan Datuk Majoindo. Setelah minta
maaf dan mengakui kesalahan orang-orang itu dinasehati
dan disuruh bertaubat.
Muncul persoalan akan dikemanakan orang-orang
tersebut. Akan dibawa tentu saja tidak mungkin dan akan
mengganggu perjalanan walaupun mereka ingin ikut
dengan Datuk Majoindo. Dalam berpikir-pikir itu teringat
oleh beliau Syekh/Ayah Kumpulan, seorang tokoh/guru
tareqat Naqsyabandiyah. Beliau tanyakan kepada orang–
orang tersebut di mana surau Ayah Kumpulan. Rupanya
orang-orang tersebut mengetahuinya. Dengan petunjuk
orang–orang tersebut beliau berjalan menuju surau Ayah
Kumpulan. Oleh Datuk Majoindo keempat orang itu
dititipkan kepada Ayah Kumpulan. Setelah itu beliau
berangkat menuju Medan.
Di Medan Datuk Majoindo tinggal di Deli Tua di
rumah seorang Imam Masjid H. Abdul Gafar, khalifah dari
Syekh Kumpulan. Keberadaan beliau di Deli Tua diketahui
oleh kepala keamanan istana. Pada suatu hari , Datuk
Majoindo diundang oleh kepala keamanan istana raja Deli
Tua ke suatu tempat. Sesampai di tempat beliau dikeroyok
oleh kepala keamanan itu bersama dua orang temannya.
Sama halnya dengan kejadian di Pasaman, tanpa disadari
oleh Datuk Majoindo orang tersebut jatuh berhimpitan. Ada
yang cedera dan ada yang luka karena terkena senjatanya
sendiri. Datang pula bisikan agar ketiganya dikasihani dan
diobati. Hal itu dilakukan pula oleh Datuk Majoindo seperti
yang di Pasaman.

Setelah diobati ketiga orang tersebut langsung kembali
ke tempatnya. Sampai di istana, karena tidak puas dengan
kekalahannya mereka membuat ftnah bahwa Datuk
Majoindo akan membuat kekacauan di istina. Berita itu
didengar oleh raja, dan memerintahkan seorang hulubalang
menjemput dan membawa Datuk Maoindo ke istana. Di
istana oleh Datuk Majoindo diceritakan semua kejadian
yang telah dialaminya kepada raja. Setelah mendengar
keterangan dari Datuk Majoindo raja menyuruh beliau

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

12

Rusli13

pulang. Keesokan harinya Datuk Majoindo dipanggil
kembali oleh raja ke istana. Di istana diberi tahukan oleh raja
bahwa semenjak hari itu beliau diangkat sebagai penasehat
keamanan istana. Bersamaan dengan pengangkatan tersebut
kepada beliau oleh raja dihadiahkan sebidang tanah dan
raja berjanji bahwa seluruh biaya naik haji Datuk Majoindo
akan ditanggung oleh raja. Jabatan itu dipegang oleh Datuk
Majoindo kurang lebih enam bulan, yaitu sampai waktu
keberangkatan beliau ke Mekkah.
Di Mekkah Datuk Majoindo hanya selama
menunaikan ibadah haji. Selesai melaksanakan ibadah
haji beliau pindah ke Madinah dan mukim di sana selam
lebih kurang sepuluh tahun. Di Madinah beliau mendalami
ilmu agama khususnya ilmu tareqat. Selesai mendalami
agama pada waktu akan pulang ke tanah air oleh guru dan
teman-teman beliau Datuk Majoindo diberi nama Syekh
Abdurrahman Al Khalidi.
Nama Abdurrahman diambil
dari nama Syekh Abdurrahman Batuhampar Payakumbuh,
guru beliau mengaji pada waktu remaja.
Dari Madinah Syekh Abdurrahman Al Khalidi tidak
langsung pulang ke Kumango, beliau singgah dulu di
Kedah Malaysia. Di Kedah beliau banyak menundukkan/
menaklukan para jawara, bahkan beliau sampai ke Patani,
Thailand mentaubatkan dan mengislamkan orang. Oleh
Sultan Kedah ditawarkan untuk tinggal disana dan
diangkat sebagai penasehat. Bersamaan dengan itu kepada
beliau disuguhkan sebidang tanah yang cukup luas sebagai
hadiah. Tawaran tersebut beliau tolak dan memilih untuk
pulang ke kampung di Kumango.
Di Kumango Syekh Abdurrahman Al Khalidi tinggal/
mendiami sebuah surau di atas tanah waqaf warga suku
Piliang Laweh. Lokasinya di seberang sebuah sungai kecil,
sehingga masyarakat atau warga Kumango menamakanya
“Surau Subarang”. Di surau inilah beliau mengajar tareqat
dan silat. Silat yang beliau ajarkan adalah silat yang beliau
warisi dari guru beliau, yaitu pakiah.

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

14

Rusli15

Gambar 1. Surau dan Makam Syekh Abdurrahman Al Khalidi

Dari uraian di atas kiranya dapat kita ambil
kesimpulan bahwa silat Kumango adalah silat yang tidak
dapat dilepaskan dari sosok Syekh Abdurrahman Al
Khalidi. Silat Kumango bukanlah silat Lintau yang diberi
ilmu batin atau silat yang merupakan gabungan dari
bermacam-macam silat.
Syekh Abdurrahman Al Khalidi mewarisi silat itu
dari seseorang laki-laki yang dikenal sebagai Pakiah.
Pertanyaannya sekarang adalah siapakah pakiah, guru
yang mengajar beliau itu? Tidak banyak keterangan
yang dapat penulis gali sehubungan dengan pertanyaan
ini. Semua khalifah, murid serta anak-anak beliau sama-
sama mengatakan bahwa beliau Syekh Kumango belajar
kepada seorang pakiah. Namun tidak semua mereka dapat
menjelaskan siapa pakiah itu yang sesungguhnya. Namun
ada juga satu dua orang diantara mereka yang mengatakan
bahwa pakiah itu adalah waliyullah.
H. Abdul Malik bin Syekh Abdul Qodim menyebut-
kan secara kongkrit nama waliyullah itu, yakni Autad.
Salah seorang anak Syekh Abdurrahman Al Khalidi, Ismail

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

14

Rusli15

Rahman Dt. Paduko Mulia dalam tulisannya mengatakan
bahwa pakiah adalah salah seorang waliyullah yang
diutus oleh guru beliau di Batu Hampar dahulu, yaitu
Syekh Abdurrahman Nan Tuo untuk menyadarkan
beliau akan kejahilan yang beliau lakukan selama kurang
lebih 15 tahun dan menasehati serta menyuruh beliau
bertaubat. Ada seorang guru silat yang mengatakan bahwa
pakiah itu adalah cindaku (sebangsa syaitan atau hantu),
na’udzubillahi min dzalik.
Tanpa mengurangi rasa hormat kita kepada para
pendahulu kita itu, kita tinggalkan pendapat-pendapat
tersebut tanpa memberikan penilaian benar atau salah,
karena mungkin ilmu kita tidak cukup untuk itu. Tidak
ada seorangpun yang tahu persis, oleh sebab itu benar atau
salah kita serahkan saja kepada Yang Maha Mengetahui
dan Yang Maha Menentukan. Dalam Al-Qur’an banyak
sekali ayat yang berbunyi :

Dan Allah senantiasa mengetahui atas segala sesuatu.”

(QS. At Taghabun 11)

“Dan Allah atas segala sesuatu adalah berkuasa.” (QS. Al

Baqarah 284)

Dalam surat An-Naml ayat 65 disebutkan pula

“Katakanlah, tidak ada seorang pun di semua langit dan di
bumi yang mengetahui yang gaib kecuali Allah”.

Di dalam surat Al-An’am ayat 59 disebutkan pula

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

16

Rusli17

“Dan di sisi Allahlah kunci-kunci yang gaib, tidak ada yang
mengetahui kecuali diri-Nya sendiri”.

Selanjutnya dalam surat Hud ayat 107 Allah berfrman

:

“Sesungguhnya Tuhan engkau berbuat sekehendak-Nya”.

Di dalam surat Al-Hajj ayat 14 dan 18 Allah berfrman

:

“Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”.

Syekh Kumango mewariskan ilmu tareqat dan ilmu
silat kepada para khalifah dan anak-anak beliau, yang
kemudian mewariskan lagi kepada muridnya. Diantara
khalifah-khalifah beliau dapat disebutkan antara lain Syekh
Baringin di Tebing Tinggi Sumatera Utara, Syekh Mudo
Abdul Qodim di Balubus Payakumbuh yang lebih dikenal
dengan sebutan Syekh Balubuih, dan H. Idris di Sungai Puar
Bukittinggi. Para khalifah beliau ini lebih menitik beratkan
kepada tareqat. Syekh Balubuih ada mengembangkan silat
melalui anak beliau H. Abdul Malik. (catatan : di daerah
sekitar Balubus silat ini sering disebut silat Balubuih atau
silat Angku Malik, akan tetapi yang bersangkutan sendiri
dalam tulisannya menyebutkan silat ayah Kumango).
Anak-anak Syekh Kumango semuanya mewarisi
baik tareqat maupun silat, akan tetapi tidak semuanya
aktif mengembangkannya. Anak-anak beliau yang aktif

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

16

Rusli17

mengembangkan silat adalah M. Saleh di Kedah, Malaysia;
M. Daya di Padang; Syamsuddin (Udin Mauji) di Kumango.
Sedangkan M. Dali Angku Gadang di Kumango lebih
menitik beratkan pada tareqat dan merupakan anak Syekh
Kumango satu-satunya yang mengajarkan tareqat sampai
akhir hayatnya. Di antara anak-anak beliau yang menonjol
perannya dalam mengembangkan silat adalah Ibrahim
Paduko yang mengajar silat di Kumango, Simpurut
Batusangkar dan juga pernah mengajar di Padang;
Syamsarif Malin Marajo yang mengajar di Simpurut,
Batusangkar, Bukittinggi, Medan, dan Malaysia; dan Ismail
Rahman di Tanjung Aro Sikabu-kabu Payakumbuh dan
juga mengajar di Medan.
Di Batusangkar dan sekitarnya pengembangan silat
dilakukan oleh anak-anak sasian (murid) dari Ibrahim
Paduko dan Syamsarif Malin Marajo. Mereka itu adalah
Maarif di Simpurut, M. Zen di Sijangek dan Zaenal Abidin
Rasyad di Kumango. Murid-murid mereka sudah berpencar
pula ke seluruh pelosok tanah air dan diantaranya ada pula
yang mengembangkan silat di tempat mereka tinggal.
Sosok yang paling menonjol diantara anak-anak Syekh
Kumango dalam pengembangan silat ini adalah Syamsarif
Malin Marajo. Almarhum dengan kemampuan ilmu dan
pengalaman mengajar yang beliau miliki, telah berhasil
memperkaya gerakan-gerakan silat sehingga lebih lengkap
dan tampil beda dengan yang dimiliki para guru/pendekar
silat Kumango lainnya.
Seperti telah disinggung di atas pada waktu muda
almarhum pernah mengajar silat di Medan dan di Malaysia
pada awal-awal than 1940 an. Pengalaman mengajar
itu telah memperluas ilmu dan itulah yang digunakan
almarhum dalam memeperkaya gerakan silat. Sayangnya
dalam pandangan sementara guru-guru silat baik silat
Kumango maupun aliran lain silat yang almarhum ajarkan
yang sekarang sudah dirobah ataupun dicampur bahkan
tidak jarang yang mencapnya bukan silat Kumango. Bahkan
ada yang menisbahkan silat ini kepada diri almarhum

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

18

Rusli19

sehingga disebutnya silat ”Malin Marajo“, sesuatu
yang tidak pernah terpikir dan tidak pernah diinginkan
almarhum sebagaimana yang penulis dengar langsung dari
almarhum. Pada hal pengayaan tersebut tidak menambah
ataupun merobah dasar gerak yang diwarisi beliau dari
ayah beliau Syekh Kumango, melainkan memperkaya
gerak–gerak dasar tersebut. Dan semuanya itu tidak
mengurangi bahkan sebaliknya justru mempertinggi mutu
teknik silat itu sendiri.
Pendapat-pendapat tersebut tidak perlu dipermasalah
kan, karena yang berpendapat demikian hanyalah orang-
orang yang melihat dari luar, hanya melihat rupa, tidak
mencimpunginya ke dalam. Kalau mereka mencimpunginya
ke dalam maka mereka akan merasakan hal yang berbeda
dengan apa yang mereka lihat sehingga pandangan mereka
akan berobah. Pepatah mengatakan bahwa “tahu di rupo
urang mancaliak tahu diraso urang mamakan.” (tahu di
rupa orang melihat, tahu dirasa orang memakan).
Keberhasilan Syamsarif Malin Marajo meraih medali
emas di arena Pekan Olahraga Nasional ke-dua (PON II)
berpasangan dengan M. Zen pada tahun 1952 membuat
nama silat Kumang lebih terangkat lagi. Sejak itu silat
Kumangao telah dikenal secara Nasional. Hal itu ditambah
lagi kegiatan-kegiatan yang dilakukan almarhum di era
sesudah PON II itu.

Setelah PON II itu, Almarhum bekerja sama dengan
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menyusun
buku pelajaran silat untuk diajarkan di sekolah-sekolah
seluruh Indonesia. Draft buku pelajaran itu sudah siap
lengkap dengan gambar-gambarnya yang semuanya
dibuat di Simpurut Batusangkar. Akan tetapi karena
adanya pergolakan-pergolakan daerah yang terjadi pada
tahun 1956, buku tersebut belum/tidak jadi diterbitkan.
Bagaimana keberadaan draft buku tersebut sekarang tidak
diketahui sama sekali.
Pada era sesudah PON II itu juga beliau bermain
dalam sebuah flm cerita nasional hasil garapan dari Usmar

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

18

Rusli19

Ismail (PERFINI) “Harimau Campa.” Almarhum berperan
sebagai guru silat (Saleh), sedangkan Harimau Campa
diperankan oleh Bambang Hermanto sebagai murid dari
Saleh. Silat yang dipakai dalam flm tersebut adalah silat
Kumango.

Sebagai informasi tambahan almarhum juga
pernah ikut aktif dalam organisasi Ikatan Pencak Silat
Indonesia (IPSI) dibawah pimpinan Mr. Asaat. Almarhum
sendiri menjabat sebagai wakil ketua untuk daerah
SuamateraTengah.

Masih pada masa setelah PON II, selain banyaknya
berdiri sasana, silat juga pernah diajarkan pada lembaga
pendidikan formal, khususnya di SMP Negeri 1
Batusangkar lembaga pendidikan tempat penulis menuntut
ilmu. Pelajaran silat ini diprakarsai oleh seorang guru
yang mempelajari silat kepada Ibrahim Paduko. Penulis
sendiri juga terlibat di dalamnya membantu guru yang
bersangkutan. Pelajaran silat di sekolah tersebut diberikan
dalam 2 bentuk kegiatan pembelajaran.
Pertama, pelajaran/latihan masal yang wajib diikti
oleh seluruh siswa laki-laki dari kelas satu sampai kelas
tiga. Dilaksanakan sekali dalam seminggu sebelum
pelajaran sekolah dimulai. Kedua, pelajaran/latihan per
kelas yang dilaksanakan sesuai dengan jam pelajaran yang
telah ditentukan. Sangat disayangkan setelah penulis tamat
belajar dari sekolah tersebut dan guru yang bersangkutan
sudah pensiun pelajaran silat tidak pernah diberikan lagi.
Penulis sendiri juga terlibat dalam pengembangan
silat ini baik dalam dunia pendidikan formal maupun
informal. Dalam dunia pendidikan formal penulis
mengajar di Perguruan Tinggi di Padang seperti di IKIP
(sekarang UNP) dan di Sekolah Tinggi Olahraga (STO)
yang sekarang FKIK UNP. Ini berlangsung dari tahun 1966
sampai dengan tahun 1975. Hanya saja waktu yang tersedia
tidak mencukupi, hanya satu kali dalam satu minggu
selama 16 minggu, termasuk kegiatan ujian, dengan alokasi
waktu hanya 90 menit. Dengan waktu yang sangat minim

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

20

Rusli21

ditambah pula dengan pesertanya kurang lebih 40 orang,
pelajaran yang diberikan tidak intensif dan hasilnya tidak
memuaskan. Pelajaran yang dapat diberikan hanya gerak-
gerak dasar dan itupun tidak pula tuntas. Tidak salah kalau
dikatakan bahwa pelajaran yang diberikan hanya sekedar
memperkenalkan gerak-gerak dasar silat Kumango.
Dalam rangka pengembangan silat ini penulis juga
mengajar silat untuk orang-orang yang berminat yang
datang ke rumah. Tapi tidak membuka sasana secara resmi
karena ketidaktersediaan waktu berhubung dengan tugas
sebagai PNS. Pesertanya terdiri dari berbagai tingkat umur
dan pendidikan, mulai dari siswa SMP, SMA, mahasiswa,
sarjana muda dan sarjana. Jumlah peserta yang sedikit dan
waktu belajar dua kali seminggu maka pelajaran dapat
lebih intensif sehingga diantara mereka ada yang telah
sampai pada tingkat penguasaan yang memadai, terutama
mereka-mereka yang telah berpredikat sarjana dan sarjana
muda.

Perkembangan silat ini sampai sekarang masih berjalan
terus. Di sekitar Batusangkar kini terdapat beberapa
sasana yang aktif mengajarkan silat, seperti di Simpurut,
Pagaruyung, Lima Kaum, Pasir Lawas dan di kota
Batusangkar sendiri. Di luar negeri silat ini berkembang
terutama di negara tetangga Malaysisa. Yang pertama kali
mengajarkan silat di negara ini adalah Syamsarif Malin
Marajo pada tahun 1940 an. Setelah beliau pulang ke tanah
air pengembangan silat diteruskan oleh Mat Hadzir (Bang
Suddin) bin Mat Zain bin Haji Ali bin Haji Ibrahim. Kini
pengembangan silat di negara ini masih berlanjut dibawah
pimpinan Mat Kirul Anwar bin Mat Hadzir dengan jumlah
anggota perguruan lebih dari 1000 orang.
Di negara-negara Eropa sekarang ini silat Kumango
sudah mulai pula dikenal oleh orang-orang di sana, antara
lain di Spanyol, Jerman dan Belanda. Khusus di negara
Belanda sejak beberapa tahun yang lalu konon kabarnya
sudah berdiri sebuah sasana silat Kumango yang dipelopori
oleh Van den Boom (Muhammad Abdul Latif). Selain

Asal -usul dan Perkembangan Silat Kumango

20

Rusli21

orang-orang Eropah yang telah disebutkan di atas, silat ini
juga telah dikenal oleh orang Jepang. Pada pertengahan
tahun 2005 seorang mahasiswa Jepang program Doktor
datang ke Sumatera Barat melakukan penelitian bahan
desertasinya. Mahasiswa bersangkutan mengambil silat
Kumango sebagai obyek penelitian.Karenanya, tidaklah
salah kiranya atau tidaklah berlebihan kalau dikatakan
bahwa silat Kumango kini tidak lagi merupakan milik
orang Sumatera Barat, khususnya masyarakat Kumango
saja, tapi telah milik masyarakat mancanegara. Dengan kata
lain silat Kumango dewasa ini sudah mulai mendunia.

Rusli23

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->