P. 1
Dilalah

Dilalah

|Views: 1,224|Likes:
Published by Rahayu Azhari

More info:

Published by: Rahayu Azhari on Apr 27, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/07/2013

pdf

text

original

Dilalah atau Makna Mengetahui makna sebuah kata adalah hal yang penting dalam agama yang memiliki

kitab suci. Meskipun mungkin menurut saya juga penting dalam memahami hukum konstitusi yang tertulis. Tapi sayang yang saya tulis dibawah ini adalah kajian klasik dari Islam tentang makna sebuah teks, yang tentu duhubungkan dengan bahasa arab yang merupakan bahasa teks suci dalam islam. Pembahasan seperti ini masuk dalam subyek Ushul Fikih dalam literatur Islam. Dibawah ini adalah usaha untuk menulis dan memahami lebih dalam selanjutnya, semoga, apa yang telah saya dapat dari bacaan saya. Ilmu Ushul fikih mempunyai banyak aliran sebagaimana aliran fikih itu sendiri, meskipun perbedaannya tidak selebar dan seluas Fikih. Dibawah ini akan disebutkan pandangan Hanafiyah dan Syafi’iyah dalam makna atau dilalah: Dilalah menurut mazhab Hanafiyah ada 4: 1. Ibaroh nash: makna eksplisit, maksud asli, makan elementer. 2. Isyaroh nash: implisit, taabi’, sekunder yang didapat melalui isyarat/tanda. 3. Dilalah nash: meaning, didapat dari ‘illat’/spirit teks. Ini mungkin bisa dimasukkan dalam qiyas dalam Syafi’iyah. 4. Iqtidlo’ nash: Makan yang tidak ada dalam teks. Ini didapat untuk menyempurnakan makna asli teks. Menurut Syafi’iyah dilalah ada 2: 1. Dilalah manthuq: makan tertulis/ eksplisit. 2. Dilalah mafhum: makna yang dinyatakan secara tidak langsung oleh teks. Dilalah mafhum ada 2: muwafaqoh dan mukholafah. Disini saya juga inngin sedikit menyebutkan bahwa Maqoosid as-syari’ah yang sering duganakan oleh kalangan Liberal Islam untuk mendasarkan dan mengembalikan semua hukum Islam diatasnya adalah dimulai pertama oleh Turmuzi (abad 3 H) dalam Ash-Sholat wa Maqoosiduha à Maturidi (333 H) –> Abu Bakar Qaffal (365 H)à Baqillany (403 H) à Ghazali (505 H) à dan puncaknya pada Asy-Syathibi (Spanyol 790 H/ 1380 M). Tetapi Liberal Islam menggunakan konsep ulama klasik ini dengan cara berbeda dengan yang ditetapkan dalam buku-buku Ushul Fikih mereka itu diantaranya dalam: 1. Ulama klasik memberikan Maqosid asy-syari’ah itu urutan gradasi dalam 5 Maqosid itu. Urutannya adalah: Allah/agama, akal, hidup, keturunan, dan kehormatan. Liberal menafikan urutan bergradasi ini atau bahkan menghilangkan agama/Allah dalam tujuan hukum. Karena Allah dianggap tidak membutuhkan sesuatu dan hukum syariat hanya untuk manfaat manusia. 2. Pengertian klasik atas Maqosid adalah bahwa hukum ditetapkan oleh Allah untuk menjaga 5 hal diatas dalam hal selamat atau dalam bebas dari kejelekan. Tetapi Liberal mengambil pengertian bahwa seseorang itu bebas untuk melakukan sesuatu dalam 5 hal itu. Kalau tidak salah ini adalah perbedaan dengan istilah Inggris, antara Freedom from dan freedom to. Liberal mengambil yang terakhir. 3. Liberal menggunakan 5 hal tadi sebagai dasar pokok dibuatnya sebuah hukum Islam. Jadi apabila ada sebuah hukum yang dianggap tidak bisa lagi memenuhi tujuan/maqosid 5 tadi, maka hukum itu dihapus dan diganti dengan yang bisa memenuhi. http://sulthony.wordpress.com/2010/08/26/meaning-atau-dilalah/ EORI LAFAZ TERHADAP MAKNA: Perbandingan Antara Metode Hanafiyah dan Mutakallimin

Maksudnya adalah makna yang tergambar dari lafaz tersebut. B.A.) berpendapat bahwa ‘ibarah an-nass adalah ungkapan yang dapat dipahami langsung. Berdasarkan pendekatan defenitif tersebut. Dalam Kitab Kasyf al-Asrar dinyatakan bahwa ungkapan tersebut diperoleh melalui rangkaian ungkapan ‘ibarah. . nass. Makna isyarah ayat tersebut adalah bahwa masa kehamilan minimal adalah 6 bulan. Kebolehan mempunyai istri lebih dari satu orang. dan memiliki makna eksplisit. dan tentang kewajiban membatasi untuk menikahi seorang wanita. Metode Hanafiyah dan Metode Mutakallimin yang masing-masing memiliki rumusan tersendiri. 1. isyarah an-nass. Sementara yang inplisit disebut isyarah an-nass. melalui lafaz (turq dilalah al-alfaz). baik internal maupun eksternal. Yang pertama disebut dilalah an-nass. yang dapat dipahami melalui proses pengamatan tanpa menambah atau mengurangi lafaz. al-Qur’an dan Hadis. Adapun lafaz yang tidak dapat dipahami secara tekstual. atau mufassar. Dengan demikian. Lafaz Menurut Metode Hanafiyah Pakar Usul Hanafiyah sepakat bahwa lafaz ada yang dapat dipahami langsung secara tekstual dan ada yang tidak. diketahui sebelum menggunakan pengamatan atau pemikiran. Untuk lebih lanjut. ada yang mengandung mana eksplisit dan ada yang inplisit. Wahbah az-Zuhaili menyatakan. 490 H. tanpa menambah atau mengurangi teks nass. eksplisit tersebut umum disebut ‘ibarah an-nass. Tulisan ini akan membahas konsep lafaz yang dirumuskan oleh kedua metode tersebut. adalah perbedaan metode ulama Usul dalam memahami makna nass. Menurut Abu Zahrah. Menurut al-Khinn. ada kalanya dapat dipahami melalui kaedah bahasa dan ada yang melalui pendekatan syara’ atau logika. Abu Zahrah menyatakan bahwa isyarah an-nass merupakan kesimpulan (natijah) dari sebuah ungkapan yang dipahami dari ‘ibarah. serta bukan mengandung makna langsung atau sebaliknya. ‘ibarah an-nass tidak hanya dapat dipahami melalui lafaz zahir semata. Dan tersebut bukan makna yang segera diperoleh dari makna lafaz secara tekstual. dilalah an-nass. dapat dipahami tanpa melalui proses pengamatan (qabl at-ta’ammul). Ada dua metode (manhaj) yang berkembang tentang lafaz tersebut . lafaz muhkam. Pendahuluan Perbedaan penemuan hukum (istinbat al-ahkam) terjadi akibat beberapa faktor. di antaranya: terdiri dari lafaz zahir. guna pemahaman lebih mendalam dan persamaan persepsi. dan kedua disebut iqtida’ annass. dirasa perlu mendeskripsikan substansi masing-masing tersebut. melainkan mengandung makna yang dapat diperoleh dengan segera melalui ungkapan lafaz. 2. terkesan wajar dan dianggap lumrah.merupakan pembagian lafaz dalam memahami makna nass menurut Hanafiyah. Dengan mengacu pada batasan terminologis sebelumnya. Isyarah an-Nass Isyarah an-nass adalah ungkapan yang mengandung makna inplisit. muhkam. Titik temu keduanya akan dideskripsikan dengan menggunakan pendekatan komparatif. jika ada kekhawatiran tidak dapat berlaku adil bila mempunyai istri lebih dari seorang. namun bukan sebagai tujuan. baik langsung atau tidak. lafaz bukan merupakan maksud secara langsung dan tidak langsung. dan zahir nass telah mendeskripsikannya. suatu ungkapan mengandung isyarah apabila mengandung unsur-unsur sebagai berikut: merupakan ungkapan yang memiliki makna inplisit. suatu ungkapan disebut ‘ibarah an-nass. melainkan juga dapat dipahami melalui lafaz nass. Misalnya Firman Allah SWT tentang kebolehan berumah tangga. ‘ibarah an-nass yang diperoleh berdasarkan ungkapan tersebut adalah: Kebolehan berumah tangga. suatu nass mengandung ‘ibarah apabila memenuhi beberapa unsur. maknanya terlepas dari lafaz ‘ibarah. Yang dapat dipahami langsung. Klasifikasi tersebut . tulisan ini tidak berpretensi untuk memberikan penilaian terhadap keabsahan kedua metode tersebut. dan iqtida’ an-nass . Dengan ungkapan yang berbeda.‘ibarah an-nass. dipahami melalui proses pengamatan. Firman Allah mengenai masa kehamilan minimal 6 bulan dapat dijadikan contoh. namun terlepas dari lafaz ‘ibarah tersebut. perbedaan persepsi dalam penemuan hukum. bila ungkapan tersebut mengandung makna langsung (asalah) atau makna tidak langsung (tab’an). Namun. serta bukan merupakan bentuk zahir. Salah satu faktor penyebab perbedaan tersebut. merupakan rangkaian 'ibarah. ‘Ibarah an-Nass As-Sarakhsi (w. seperti telah diungkapkan.yaitu. juga bukan nass.juga dikenal sebagai dua aliran besar dalam Usul al-Fiqh . maupun lafaz mufassar. secara internal.

mantuq merupakan lafaz yang diketahui dari objek penuturan (fi mahl an-natq). Misalnya: Firman Allah SWT tentang riba. dilalah an-nass ungkapan tersebut adalah larangan untuk memukul.3. bahwa dilalah an-nass merupakan lafaz yang digunakan untuk penetapan hukum dan diketahui oleh setiap orang yang bisa berbahasa Arab karena adanya indikasi tanpa terlebih dahulu melalui ijtihad. namun ia menegaskan bahwa mantuq tidak terbatas pada hukum an-sich. lafaz tersebut disebut mafhum muwafaqah karena yang tidak disebutkan sama hukumnya dengan yang disebutkan. Jumhur Mutakallimin sepakat bahwa. Kandungan mantuq ayat tersebut adalah larangan ta’fif dengan alasan bahwa . Mantuq gair sarih dapat diklasifikasikan menjadi tiga pembagian: Dilalah iqtida’. tanpa ijtihad dan istinbat. memarahi orang tua. jika sifat tersebut bukan sifat sebagai illat hukum yang terkait dengan perintah potong tangan. Namun ada kesepakatan di antara mereka. Dengan demikian. Mantuq gair sarih ayat tersebut adalah bahwa anak dinisabkan kepada ayah dan ibunya dan nafkah anak adalah tanggung jawab ayahnya. Al-Khinn menjelaskan. Selanjutnya Mutakallimin sependapat bahwa mantuq terdiri dari mantuq sarih dan gair sarih. hukum yang disebutkan lafaz dan sebagai keadaan yang sebenarnya (hal min ahwalihi). dan lafaz dapat dipahami dengan bantuan syari’ah dan logika. yang beriringan dengan ketetapan. Melalui pendekatan al-ima’ dapat diketahui bahwa perintah potong tangan terkait dengan sifat pencurian. yang mengabstraksikan bahwa maksud si pembicara tergantung pada makna di luar lafaz. mafhum dapat dibedakan pada dua pembagian: Mafhum Muwafaqah. Dilalah isyarah. Lafaz Menurut Metode Mutakallimin Secara umum. Jumhur Mutakallimin juga sepakat bahwa mafhum muwafaqah dapat dibedakan menjadi: Fahw al-Khitab. Berikut dipaparkan: Mantuq Menurut as-Syaukani (w. unsur-unsur iqtida’ an-nass adalah: makna yang diinginkan berada pada lafaz yang ditaqdirkan. Seperti Firman Allah tentang nisbah anak. Iqtida’ an-Nass Batasan iqtida’ an-nass menurut Abu Zahrah adalah lafaz yang tidak bisa dipahami kecuali dengan mentaqdirkannya. AlKhinn sependapat dengan batasan tersebut. tersebut diperoleh tanpa memerlukan ijtihad. 4. memaki. yang bukan merupakan maksud pembicaraan. Dilalah an-Nass Dalam Kitab Kasyf al-Asrar dinyatakan bahwa dilalah an-nass merupakan penetapan yang diperoleh melalui makna ungkapan nass secara lugawiyah. bukan ibu. dan jika tidak beriringan karena suatu illat. Disebut mafhum muwafaqah bila lafaz mantuq suatu ungkapan sesuai dengan yang tidak disebutkan. serta adanya implikasi dari makna lafaz untuk memahami hal yang tidak disebutkan lafaz. Dan tersebut bukan makna yang segera diperoleh dari makna lafaz secara tekstual. mantuq sarih nass tersebut adalah kehalalan jual beli dan keharaman riba. maka niscaya tidak akan ada kebersamaan makna. suatu disebut iqtida’ an-nass bila kebenaran atau kesahihan sebuah makna secara syara’ atau ‘aqliyyah yang tergantung pada makna di luar lafaz. pakar Usul Mutakallimin membagi lafaz kepada mantuq dan mafhum. isyarah yang muncul berdasarkan kedua ayat tersebut adalah bahwa masa kehamilan minimal adalah 6 bulan. Maksudnya bahwa ketetapan tersebut merupakan ketetapan terhadap makna yang tidak disebutkan. artinya. Adapun unsur-unsur lafaz dilalah an-nass dapat dirumuskan sebagai berikut: makna yang diperoleh merupakan jiwa nass. Mafhum Mafhum adalah lafaz yang bukan merupakan objek penuturan. 1255 H. dan makna tersebut dapat dipahami oleh orang yang mempunyai pengetahuan bahasa Arab. misalnya Firman Allah SWT tentang hukuman bagi pencuri. Misalnya Firman Allah SWT tentang larangan ta'fif. Misalnya Firman Allah SWT tentang masa kehamilan. jika mafhum tersebut lebih utama (lebih tinggi tingkatannya). penetapan makna bukan melalui proses ijtihad atau istinbat. niscaya akan jauh pada makna yang dikandungnya. Ditegaskan oleh al-Khinn. dll.). Adapun mantuq gair sarih adalah yang mengandung kemestian (iltizam). Dilalah al-Ima’. C. Contohnya. Firman Allah SWT tentang larangan ta'fif: Kandungan ibarah an-nass ayat tersebut adalah larangan ta’fif dengan alasan bahwa perbuatan tersebut menyakiti orang tua (al-iza’). pada mulanya sebagian pakar Usul Hanafiyah berbeda pendapat mengenai batasan pengertian dilalah an-nass. Mantuq sarih adalah lafaz dari segi kesesuaian (mutabaqah) dan cakupan (tadammum). bukan kesesuaian dan cakupan.

Analisa Perbandingan Ketika mendeskripsikan uraian sebelumnya. bahkan menganggapnya sebagai istidlal yang fasid. golongan Hanafiyah menggunakan ‘ibarah an-nass. Sebagian besar perbedaan terma-terma yang digunakan mengandung esensi yang sama antara Metode Hanafiyah dan Mutakallimin. Demikian juga halnya dengan terma dilalah an-nass bagi kalangan Hanafiyah dikenal dengan terma mafhum wuwafaqah menurut Mutakallimin. Sedangkan isyarah an-nass lebih cenderung memandang pemahaman yang inplisit. Mafhum Mukhalafah. seperti terma ibarah an-nass menurut Hanafiyah dikenal dengan terma mantuq sarih menurut Mutakallimin. Makna mantuq ayat tersebut adalah keharaman memakan harta anak yatim dengan zalim. Dari sudut pandang terma-terma yang digunakan. kemudian isyarah an-nass. kemudian dilalah an-nass. sementara Hanafiyah tidak menjabarkan dilalah an-nass. isyarah dan iqtida’ merupakan pembagian inti lafaz. Hambali dan ar-Razi’ mendudukkannya sebagai Qiyas. dilalah al-ima’ dan dilalah isyarah). ulama Hanafiyah sepakat bahwa lafaz yang paling tinggi tingkatannya adalah ‘ibarah nass. hipotesa yang muncul adalah adanya kesan pemahaman yang hampir sama. jika mafhum tersebut memiliki tingkatan yang sama (musawi).perbuatan tersebut menyakiti orang tua (al-iza’). kalangan mutakallimin seperti Syafi’i. memaki. adalah dalam memahami Firman Allah SWT tentang pembunuhan sengaja. Mafhum ini juga disebut dalil al-khitab. dan iqtida’ annass. Sementara mafhum mukhalafah yang dikandung ayat tersebut adalah keharaman untuk menikahi hamba perempuan bagi orang yang dapat memenuhi nafkah bila menikahi wanita mukmin yang merdeka. Makna inplisit ayat tersebut adalah bahwa pembunuhan yang dilakukan dengan sengaja tidak terkena hukuman dunia. Makna berdasarkan pendekatan dilalah an-nass menunjukkan bahwa kalau pembunuhan karena tersalah dikenakan kifarat. Kalangan Hanafiyah sepakat untuk tidak menjadikan dilalah an-nass sebagai Qiyas karena penetapan hukum diperoleh dari pemahaman terhadap makna nass. Mutakallimin membagi mafhum mukhalafah kepada fahw al-khitab dan lahn al-khitab. Bedanya. isyarah an-nass. Dari segi maksud dan tujuan. fahw al-khitab yang diperoleh adalah larangan memukul. Selain itu. Selanjutnya mengenai tingkatan masing-masing lafaz. Dengan demikian. Salah satu contoh perbedaan penemuan hukum. Hanafiyah beralasani bahwa isyarah an-nass diperoleh dari rangkaian ‘ibarah an-nass. Berdasarkan pendekatan defenisi. yaitu penelusuruan terhadap lafaz dalam konteks upaya pemahaman terhadap makna nass. pemahamannya lebih mendekati makna yang dikandung oleh ‘ibarah an-nass. Meskipun keduanya beranjak dari konsep dasar yang sama. Menurut ada pula beberapa ulama Mutakallimin. dilalah an-nass. gair sarih (dilalah iqtida’. terutama dari golongan Asy’ariyah dan Mu’tazilah. lafaz pada ungkapan yang tidak disebutkan memiliki konsekuensi yang berbeda dari lafaz yang mantuq. diketahui pula bahwa ada di antara terma-terma berbeda dari kedua golongan tersebut memiliki substansi yang sama. dapat dipahami bahwa Hanafiyah tidak mengenal mafhum mukhalafah. kedua tersebut merupakan bagian dari mantuq gair sarih. bukan melalui qiyas. Dari deskripsi sebelumnya. Artinya. Perbedaan juga lumrah terjadi dalam tatanan pengembangan rumusan masingmasing metode. sementara bagi Mutakallimin. memarahi orang tua. isyarah dan iqtida’ yang dimaksud oleh Hanafiyah sama dengan apa yang dimaksud Mutakallimin. Alasan yang dipergunakan adalah bahwa dilalah an-nass dapat dipahami secara langsung dari pendekatan bahasa. tentu juga kifarat tersebut diberlakukan pada pembunuhan dengan sengaja. lafaz lahn al-khitab-nya adalah bahwa membakar atau menyia-nyiakan harta anak yatim juga haram. Lahn al-khitab. Misalnya Firman Allah SWT tentang keharaman memakan harta anak yatim. Bagi golongan Hanafiyah. Misalnya Firman Allah SWT tentang keharaman menikahi hamba perempuan. lafaz kedua terma tersebut juga memiliki substansi yang sama. akibat pertentangan pemahaman antara Syafi’i dan Hanafi dalam konteks isyarah an-nass dan dilalah an-nass. Penyamaan tersebut karena memakan dan membakar harta anak yatim bersifat memusnahkan atau menghabisi harta tersebut. dilalah an-nass lebih didahulukan daripada isyarah an-nass. . dan mafhum mukhalafah. D. yang menyatakan bahwa mafhum mukhalafah bukan merupakan Qiyas melainkan makna yang segera dapat diperoleh dari keadaan yang sebenarnya. Sementara golongan Usul Mutakallimin menggunakan terma seperti mantuq sarih. Kedua golongan tersebut sepakat dalam menggunakan terma isyarah dan iqtida’. mantuq ayat tersebut adalah sesuai dengan pemahaman langsung. Menurut Syafi’iy. Kemudian dihubungkan dengan ayat lain. Dalam konteks dilalah an-nass atau mafhum muwafaqah. dan iqtida’ an-nass. isyarah an-nass berada dalam cakupan lafaz yang mantuq. sedangkan ‘ibarah an-nass berada dalam cakupan lafaz yang mafhum. mafhum muwafaqah. antara metode Hanafiyah dan Mutakallimin dalam memahami esensi dan substansi lafaz. Pada dasarnya golongan Mutakallimin sepakat dengan tingkatan tersebut kecuali tentang keberadaan isyarah dan dilalah an-nass. dll.

dan sebagainya. kami minta kritik dan sarannya atas makalah yang kami buat ini. Sedangkan yang tersirat misal : ‫ان الذين يأكل اموال اليتا مىظلما‬ “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatimi dengan cara dholim (aniayah)” Dari nash di atas makna tersuratnya adalah memakan harta anak yatim dan bertuk tersiratnya adalah menghacurkan anak yatim. baik yang memiliki satu atau banyak makna. dan sebagainya. Ibarah Nash Yaitu pemahaman dari lafazh baik yang tersurat atau tersirat. 2. Dan menurut jumhur ulama itu dibagi 5 sama dengan Hanafi tapi ditambah satu yaitu dilalah mafhum mukhalafah. Jadi ayat di atas merupakan salah satu dari berbagai macam kedholiman ialah memakan harta anak yatim. BAB II DILALAH Dilalah adalah suatu lafazh bila ditinjau dari cara menunjukkan suatu makna. Contohnya adalah ayat yang menetapkan kadar pembagian waris. Adapun ditinjau dari segi dilalah-nya. Nash yang Zhanni dilalah-nya Yaitu nash yang menunjukkan suatu makna yang dapat di-takwil atau nash yang mempunyai makna lebih dari satu. dan dalam memahaminya tidak memerlukan ijtihad. hukuman had zina sebanyak seratus kali dera. dan tidak tergantung pada hal-hal lain mempunyai makna yang lain. Contoh : ‫واجتنبوا قول الزور‬ “Dan jauhilah kamu semua dari pembicaraan bohong” Maksud ayat ‫ قول الزور‬dapat kita pahami bahwa saksi palsu termasuk jenis jarimah (Pelangaran hukum). isyarat nash.Konsekuensi logisnya. Nash yang qath’i dilalah-nya Yaitu nash yang tegas dan jelas maknanya. orang yang melakukan pembunuhan dengan cara sengaja dikenakan sanksi kifarat. . ‫و ا مر هم شو ر ى بينهم‬ “Dan atas perkara-perkara mereka musyawarahlah diantara mereka” Ayat ini mengisaratkan hukum Islam berdasarkan permusyawaratan kaum muslimin. orang yang melakukan pembunuhan dengan cara sengaja tidak dikenakan kifarat. Menurut Hanafiyah dilalah dibagi 4 macam yaitu ibarat nash. Dan untuk lebih jelasnya pembahasan hal di atas maka kami akan mencoba menyampaikan dalam pembahasan Dilalah. Akan tetapi Kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. menurut Hanafiyah. dan tidak tergantung pada hal-hal lain di luar nash itu sendiri. tidak bisa di-takwil. mereka lebih mendahulukan isyarah an-nass dari pada ‘ibarah an-nass. semua kaum muslimin sepakat bahwa Al-Quran merupakan sumber hukum syara’.com/2009/09/mafhum-mantuq. Sedang menurut Syafi’iyah terbagi dalam mantuq dan mafhum. seperti dilalah isyarat-nya. hal itu hanya merupakan penjelasan dan penafsiran terhadap Al-Quran yang didengar dari Nabi SAW atau hasil ijtihad mereka. (Abdul Wahab Khalaf. pengharaman riba. Bentuk-bentuk dilalah menurut hanafiyah dan jumhur ulama antara lain : 1. dan iqtida’ nash. itu adalah termasuk lafazh yang tersurat. Sementara menurut Syafi’iyah.html Petunjuk (Dilalah) Al Quran. ayat-ayat Al-Quran itu dapat dibagi dalam dua bagian : 1. yang tidak ada pada qira’ah mutawatir. maknanya jelas dan tegas dan menunjukkan arti dan maksud tertentu. tidak mempunyai makna yang lain. Alasannya. Mereka pun sepakat bahwa semua ayat Al-Quran dari segi wurud (kedatangan) dan tsubut (penetapannya) adalah qath’i hal ini karena semua ayatnya sampai kepada kita dengan jalan mutawatir. 1972:35) 2. iqtidha-nya. Isyarat Nash Yaitu pemahaman yang diambil dari isyarah nash (bersumber dari isensial makna) yang dipahami dari ungkapan yang ada. baik karena lafazhnya musytarak (homonim) ataupun karena susunan kata-katanya dapat dipahami dengan berbagai cara. Dan kalaupun ada sebagian sahabat yang mencantumkan beberapa kata pada mushaf-nya. Ayat-ayat yang mencantumkan hal-hal tersebut. dilalah nash.blogspot. http://muhithul-ulum. pengharaman daging babi. maka apabila nanti ada kekurangan.

Mafhum ghayah Yaitu lafazh yang menunjukkan hukum sampai kepada ghayah (batas). yang hukumnya bertentangan dengan hukum yang lahir dari mantuq-nya. baik dalil manthuq maupun mafhum muwafaqah. 5. Mafhum ‘adad Yaitu mempertalikan hukum kepada bilangan (‘adad) yang tertentu. Misalnya yaitu tentang melakukan zina. Manthuq itu bukan dimaksudkan untuk menguatkan sesuatu keadaan. dan iqtida nash. Manthuq itu bukan suatu hal yang biasanya terjadi.disebut mafhum muwafaqah karena hukum yang tidak tertulis sesuai dengan hukum yang tertulis. Dilalah Mantuq Ialah petunjuk lafazh pada hukum yang disebut oleh lafazh itu sendiri. Dilalah Iqtida’ Yaitu lafazh atas satu perintah yang tidak bisa dipahamkan lain kecuali apa yang ditunjukkan. Mantuq dibagi menjadi 2 : a. 5. seperti mengharamkan arak karena memabukkan.3. Sedangkan menurut Syafi’iyah terbagi dalam 2 antara lain : 1. Mafhum mukhalafah disebut juga dalil khitab yaitu hukum yang disebutkan berbeda dengan hukum yang tidak disebut. Sedangkan syarat-syarat mafhum mukhalafah ialah : 1. 3. 4. ‫فمن عفى له من اخيه شيء فاتباع بالمعروف وأداء اليه باحسان‬ “Maka barangsiapa memaafkan sesuatu kesalahan seseorang dari saudaranya . Dilalah mafhum al-mukhalafah Yaitu petunjuk lafzh yang menunjukkan bahwa hukum yang lahir dari lafazh itu berlaku bagi masalah yang tidak disebutkan dalam lafazh itu. Dilalah mantuq seperti ini mancangkup tiga dilalah yang dipakai dalam istilah Hanafiyah. Mafhum shifat Yaitu mempertalikan hukum sesuatu kepada salah satu sifat-sifatnya. Macam-macam Mafhum Mukhalafah : 1. 2. juga susunan lafazh : . isyarat. Mafhum muwafaqoh dalam istilah hanafiyah disebut juga dilalah nash yaitu suatu petunjuk kalimat yang menunjukkkan bahwa hukum yang tertulis pada kalimat itu berlaku pada masalah yang tidak tertulis. 3. maka ikutilah dengan kebajikan dan tunaikanlah kepadanya dengan kebaikan” Perbuatan ikhsan merupakan konsekuansi logis dari jelasnya pemberian maaf oleh seseorang terhadap orang yang meminta maaf. menurut mafhumnya “ yang tidak digembalakan” artinya yang diberi makan di kandang tidak terkena zakat. karena tidak adanya batasan (kayd) yang berpengaruh dalam hukum. 4. Dilalah Nash Dilalah Nash disebut juga dilalatul Aulah/qizas jali. Mafhum mukhalafah tidak berlawanan dengan dalil yang lebih kuat. 4. Mafhum hashr Yaitu mengkhususkan hukum dengan apa yang disebutkan dalam perkataan yang dinyatakan. Mafhum ‘illat Yaitu mempertalikan hukum dengan ‘illat. Seperti nama-nama orang. 2. Manthuqnya tidak disebutkan karena ada tujuan memperingatkan ni’mat. dan hukum yang tertulis ini sesuai dengan masalah yang tidak tertulis karena persamaan dalam maknanya. tanpa memerlukan pembahasan yang mendalam ataupun ijtihad. Mantuq nash Yaitu lafazh atau susunan yang jelas dan tidak mungkin dita’wilkan lagi. Hal ini dapat diketahui dengan pengertian bahasa. Karena hukumnya diambil dari jenis khitab-nya atau karena khitabnya sndiri menunjukkan atas hukum itu. yaitu ibarat. Misalnya firman Allah tentang kifaraat membunuh : ‫فتحرررقبة مؤمنة‬ “Maka dengan memerdekakan hamba yang mu’min” maka kalau hamba sahaya yang tidak mukmin diangap tidak cukup. Misal : ‫ول تقل لهما اف ول تنهرهما‬ “Dan janganlah kamu berkata kepada ibu-bapakmu degan ucapan ‘hush’” Bahwa nash diatas menunjukkan tentang haramnya berkata “hush” kepada kedua orang tua apalagi memukul. Misal dalam hadits disebutkan : ‫فى ساءمة الغنم وكاة‬ “Dalam kambing-kambing yang digembalakan itu ada zakatnya” dari hadits di atas.

alasannya antara lain : 1.‫“ = فصيام ثلثة ايام‬puasa tiga hari” b. 2. Seandainya mafhum mukhalafahnya itu dapat dijadikan hujah syara maka sustu nash yang telah menyebutkan suatu sifat tidak perlu lagi disebut nash yang menerangkan hukum kebalikan hukum dari sifat tersebut. Sikap Rosulullah yang tidak menyalahkan Umar Ibnu Khthab dalam memahami mafhum mukhlafah dari ayat 101 An-Nisa.com/2010/01/dilalah-dalam-ushul-fiqih. sebagaimana dikemukakan oleh ulama Zaidiyyah. Dan mengenai mafhum mukhalafah itu ulama Hanafiyah tidak memandang sebagai salah satu metode penafsiran nash-nash syara atau menetapkan hukum. Mantuq dhahir Yaitu suatu lafazh atau susunan yang menunjukkan suatu makna. (sudah kami terangkan di atas) http://hierry-makalah. Harus sesuai dengan syarat. yang pertama dimaksudkan untuk masalah tertulis. Dilalah mafhum dibagi menjadi 2 macam : a. b. melaikan untuk targib dan terhib. sedangkan yang teakhir dimaksudkan untuk masalah yang sama tingkat hukumnya dengan masalah lain yang tidak tertulis. Namun Raosulullah menjelaskan bahwa qasar shalat dalam perjalanan diperbolehkan sekalipun dalam keadaan aman. Akan tetapi menurut jumhu ushulliyyin mafhum mukhalafah dapa dijadikan sebagai hujjah syara’. perbedaan ini disepakati oleh Asy-Syaukani. 3.html . 3. Dilalah mafhum Ialah petunjuk lafazh pada hukum yang tidak disebutkan oleh lafadh itu sendiri. Berdasarkan logika. Banyak nash syara yang apabila diambil mafhum mukhalafahnya akan rusak pengertiannya 2. Mafhum muwafawah dikenal pula dengan nama fahwa al-khitab dan lahn al-khitab. yang hukumnya lebih utama dan lebih sesuai dari hukum bagi masalah tertulis.akan tetapi Ibnu As-Subki membedakan pengertian keduannya. yaitu petunjuk kalimat yang menunjukkan bahwa hukum yang tertulis pada kalimat itu berlaku pada masalah yang tidak tertulis. setiap syarat atau sifat tidak mungkin iantumkan tanpa tujuan dan sebab. Mafhum al-mukhalafah Penjelasan mafhum ini sudah kami sampaikan dibahasa awal jadi tidak kami ulas kembali. dan hukum yang tertulis ini sesuai dengan masalah yang tidak tertulis karena ada persamaan dalam maknannya. Mafhum muwafaqah Mafhum muwafaqah dalam istilah ulama Hanafiyah disebut juga dilalah nash. Misal : ‫ = ويبقى وجه ربك‬diartikan “waj-hu” dengan makna “dzat” 2.alasan mereka adalah : 1. melainkan datang dari pemahaman. tetapi makni ini bukannya yang dimaksud. Sifat-sifat yang terdapat pada nash syara dalam banyak hal bukan untuk pembatasan hukum.blogspot. Dilalah mafhum disebut dalam istilah Hanafiyah disebut dilalah nash.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->