ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA

PERUBAHAN PADA LANSIA - PROSES PENUAAN Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Walaupun proses penuaan benar adanya dan merupakan sesuatu yang normal, tetapi pada kenyataannya proses ini menjadi beban bagi orang lain dibadingkan dengan proses lain yang terjadi. Perawat yang akan merawat lansia harus mengerti sesuatu tentang aspek penuaan yang normal dan tidak normal. ASPEK BIOLOGIS PADA PENUAAN Proses penuaan biologis yang dialami lansia relatif tidak akan menimbulkan perubahan buruk saat diperlukan penurunan tingkat ketergantungan fisik yang tinggi. Berikut ini teori biologis tentang penuaan : A. Teori seluler à Sel diprogram hanya untuk membelah pada waktu yang terbatas. B. Teori sistesis à Akibat penuaan, protein tubuh terutama kolagen dan elastin menjadi kurang fleksibel dan kurang elastis. C. Teori keracunan oksigen à Kemampuan lansia untuk melawan efek racun oksigen akan berkurang. D. Teori sistem imun à Kopetensi yang menurun dapat mengakibatkan terjadinya peningkatan infeksi, penyakit autoimun, dan kanker.

PENUAAN PADA SISTEM TUBUH (FISIOLOGIS) Penuaan dapat dibedakan antara penuaan yang normal (fisiologis) dan penuaan karena kondisi penyakit (patologis). Berikut ini merupakan efek fisiologis dari penuaan : A. Sistem muskuloskeletal à Atrofi otot, dekalsifikasi tulang, dan perubahan postural. B. Perubahan kardiopulmonal à Pembuluh darah kehilangan elastisitas, peningkatan nadi dan peningkatan tekanan darah. à Pendistribusian tulang kalsium menyebabkan dekalsifikasi tulang iga dan kalsifikasi kartilago kosta : Perubahan ini dan perubahan postural menyebabkan penurunan efislensi paru. C. Sistem perkemihan à Kehilangan irama diurnal pada produksi urine dan penurunan filtrasi ginjal D. Sistem pencernaan à Tidak ada perubahan yang signifikan E. Sistem saraf à Kemunduran pendengaran dan penglihatan F. Sistem endokrin à Kemunduran fungsi gonad

ASPEK-ASPEK PSIKOLOGIS PADA PENUAAN Aspek psikologis pada lansia tidak dapat langsung tampak. Pengertian yang salah tentang lansia adalah bahwa mereka mempunyai kemampuan memory dan kecerdasan mental yang kurang. Berikut aspek psikologis pada penuaan : A. Kepribadian, intelegensi dan sikap Tes intelegensi dengan jelas memperlihatkan adanya penurunan kecerdasan pada lansia. Lansia seringkali mempertahankan sikap yang kuat, sehingga sikapnya lebih stabil dan sedikit sulit untuk diubah.

B. Teori aktivitas dan pelepasan - Teori pelepasan : Lansia secara berangsur-angsur mengurangi aktivitasnya dan bersama menarik diri dari masyarakat. - Teori aktivitas : Sebagai orang yang telah berumur, mereka meninggalkan bentuk aktivitas yang pasti, dan mengkompensasi dengan melakukan banyak aktivitas yang baru. KEPERAWATAN GERONTIK PENGERTIAN GERONTOLOGI DAN GERIATRI NURSING A. Gerontologi adalah cabang ilmu yang mempelajari proses menua dan masalah yang mungkin terjadi pada lanjut usia. - Geriatri nursing adalah spesialis keperawatan lanjut usia yang dapat menjalankan perannya pada tiap peranan pelayanan dengan menggunakan pengetahuan, keahlian, dan keterampilan merawat untuk meningkatkan fungsi optimal lanjut usia secara komprehensif. Karena itu, perawatan lansia yang menderita penyakit dan dirawat di RS merupakan bagian dari gerontic nursing. PENDEKATAN PERAWATAN LANJUT USIA A. Pendekatan fisik à Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia ada 2 bagian yaitu : - Klien lanjut usia yang masih aktif, yang masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain. - Klien lanjut usia yang pasif atau tidak dapat bangun yang mengalami kelumpuhan atau sakit. B. Pendekatan psikis à Perawatan mempunyai peranan yang panjang untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia, perawat dapat berperan sebagai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang asing, sebagai penampung rahasia pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. C. Pendekatan sosial à Mengadakan diskusi, tukar pikiran, dan bercerita merupakan upaya perawatan dalam pendekatan sosial. Memberi kesempatan berkumpul bersama dengan sesama klien lanjut usia untuk menciptakan sosialisasi mereka. D. Pendekatan spiritual à Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan tuhan atau agama yang dianutnya, terutama jika klien dalam keadaan sakit atau mendekati kematian. TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA A. Agar lanjut usia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri. B. Mempertahankan kesehatan serta kemampuan lansia melalui perawatan dengan pencegahan. - Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup / semangat hidup lansia. - Menolong dan merawat klien yang menderita sakit. - Merangsang petugas kesehatan agar dapat mengenal dan menegakkan diagnosa secara dini. - Mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu pertolongan pada lansia. FOKUS ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA 1) Peningkatan kesehatan (health promotion) 2) Pencegahan penyakit (preventif) 3) Mengoptimalkan fungsi mental. 4) Mengatasi gangguan kesehatan yang umum. TAHAP-TAHAP ASUHAN KEPERAWATAN LANSIA A. Pengkajian : - Proses pengumpulan data untuk mengidentifikasi masalah keperawatan meliputi aspek : a) Fisik : - Wawancara - Pemeriksaan fisik : Head to tea, sistem tubuh. b) Psikologis c) Sosial ekonomi d) Spiritual

Pengkajian dasar meliputi : Temperatur, nadi, pernafasan, tekanan darah, berat badan, tingkat orientasi, memori, pola tidur, penyesuaian psikososial. Sistem tubuh meliputi : Sistem persyarafan, kardiovaskuler, gastrointestinal, genitovrinarius, sistem kulit, sistem musculoskeletal. Perencanaan à Untuk menentukan apa yang dapat dilakukan perawat terhadap pasien dan pemilihan intervensi keperawatan yang tepat. Pelaksanaan à Tahap dimana perawat melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan intervensi / perencanaan yang telah ditentukan. Evaluasi à Penilaian terhadap tindakan keperawatan yang diberikan / dilakukan dan mengetahui apakah tujuan asuhan keperawatan dapat tercapai sesuai yang telah ditetapkan.

terutama pada malam hari / nokturia ) · Polipagia ( sering merasa cepat lapar ) · Penurunan berat badan yang cepat . Edisi 17 hal.Obesitas . golongan Hispanik serta penduduk asli Amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya Diabetes Milietus tipe II dibandingkan dengan golongn Sfro Amerika ) FAKTOR PREDISPOSISI · Obesitas · Mempunyai keluarga dengan riwayat DM · Gaya hidup ( nutrisi berlebihan ) TANDA DAN GEJALA Gejala klasik ( khas ) pada klien dengan diabetes adalah : · Polidipsi rasa haus yang berlebihan · Poliuria ( sering kencing . hal 76 ) · Suatu kelompok gangguan sistemik kronik yang nyata memperlihatkan gangguan metabolisme karbohidrat . · Penyakit sistemik yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara supali dan kebutuhan insulin. sehingga didapati hiperglikemik dan glukosuria ( Kapita Selekta.Faktor lingkungan DMTTI ditandai dengan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin .Usia ( resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65 tahun ) .Faktor Imunologi . Latihan dan olahraga 3. pendidikan kesehatan ETIOLOGI DMTI ditandai oleh penghancuran sel ± sel beta pancreas. Klasifikasi DM : · Type I yaitu : DMTI ( Diabetes Mielitus Tergantung Insulin ) · Type II yaitu DMTTI ( Diabetes Milietus Tidak Tergantung Insulin ) · Secondary Diabetes yaitu diabetes akibat kondisi lain ( Syndrom kerusakan pancreas ) · Gestasional Diabetes Milietus Komplikasi komplikasi terjadi karena tidak terkontrolnya gula darah dan mempengaruhi pembuluh darah kecil pada semua organ dan jaringan contoh pada mata. hal 114 ) · Gangguan metabolik yang ditandai dengan intoleransi glukosa.Kelompok etnik ( di Amerika Serikat . . Diet 2.Faktor genetic ( Kecenderunagn genetic ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA atau Human Leucocyte Antigen ) . 137 ) · Suatu penyakit akibat kekurangan hormone insulin sehingga glukosa tidak dapat diolah oleh tubuh sehingga mangakibatkan glukosa dalam darah meningkat. Pemantauan gula darah 5.Riwayat keluarga . Obat dan terapi 4. ginjal atau mempengaruhi pembuluh darah besar dan saraf Penatalaksanaan Diabetes Militus Pada prinsipnya terdapat 5 koponen dalam penanganan Diabetes Militus : 1.ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENYAKIT DIABETES MILIETUS keadaan yang ditandai dengan hiperglikemia akibat defisiensi ataua penurunan efektifitas kerja insulin ( Kamus Keperawatan . factor lain adalah : . lalu dikeluarkan dalam kemih yang berasa manis ( Kamus Kedokteran .

Self Monitoring of Blood Glucose) · Terapi ( jika diperlukan ).Memberikan semua unsure makanan esensial (misalnya vitamin.Mencegah fluktasi kadar glukosa darah ‡Memberikan semua unsur makanan esensial ( vitamin. pelibatan penyuntuikkan insulin kedalam jadwal harian.Menurunkan kadar lemak darah . pengetahuan tentang kerja insulin. . PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK Diagnosa diabetes milietus dipastikan bila : · Kadar glukosa darah sewaktu 200 mg/dl atau lebih ditambah ditambah gejala khas diabetes milietus. · Glukosa darah puasa 140 mg / dl atau lebih pada 2 kali pemeriksaan p-ada saat yang berbeda. · Bila ada keraguan perlu dilakukan test toleransi terhadap glukosa atau yang popular disebut GGT. Dengan melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri (SMBG . Mengajarkan kepada keluarga atau klien mengenai cara menyuntikkan Insulin mulai dari peralatan. persiapan dan pemberian suntikan insulin. · Pemantauan. Terapi pemberian preparat insulin · Pendidikan Kesehatan dan Penyuluhan. jika kadar ini meningkat · Latihan. mineral) . mineral ) ‡Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesui ‡ memenuhi kebutuhan energi ‡50-60% karbohidrat ‡12-20% protein ‡20-30% lemak ‡Mencegah fluktuasi peningkatan kadar gula daraharah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis. dengan glukosa darah puasa. PENATALAKSANAAN MEDIS Ada lima komponen dalam penatalaksanaan diabetes : · Diet Prinsip penatalaksanaan diet : . .Memenuhi kebutuhan energi .Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai .· Kadang ± kadang klien mengeluh badan terasa lemah · Rasa kesemutan pada jari tangan dan kaki · Gatal ± gatal · Penglihatan kabur · Gairah seks menurun · Luka sukar sembuh Terkadang ada pasien yang sama sekali tidak merasakan adanya keluhan . mereka mengetahui adanya diabetes milietus hanya karena pada saat check up ditemukan kadar glukjosa darahnya tinggi. 1 jam dan 2 jam setelah minum 75 gr glukosa. Latihan dengan cara melawan tahanan ( resistance training ) dapat meningkatkan lean body mass dan dengan demikian menambah laju metabolisme istirahat ( resting metabolic rate ).

Pencemaran pelayanan kesehatan 5. Kematian mendadak karena penyakit jantung dan stroke 3. yaitu : 1. Kewajiban Pemerintahterhadap orang cacat dan jompo 6. merumuskan diagnosa keperawatan (Nursing diagnosis). Pada makalah ini akan dibahas secara singkat asuhan keperawatan pada pasien lanjut usia di tatanan klinik (clinical area). ditujukan pada individu. Pensiunan dan masalah-masalahnya 2. keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemampuan dan atau kemauan dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri. Sedangkan asuhan yang diberikan berupa bantuian-bantuan kepada pasien karena adanya kelemahan fisik dan mental. baik dalam kondisi sehat dan sakit yang mencakup seluruh kehidupan manusia. melaksanakan tindakan keperawatan (Implementation) dan melakukan evaluasi (Evaluation). Dalam hal ini asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien bersifat komprehensif. Meningkatnya jumlah lanjut usia 4. Dibawah ini ada beberapa alasan timbulnya perhatian kepada lanjut usia. dimanan pendekatan yang digunakan adalah proses keperawatan yang meliputi pengkajian (assessment). Mahalnya obat-obatan . Konfrensi Internasional di WINA tahun 1983 9. merencanakan tindakan keperawatan (intervention). perkembangan ilmu 7. Program PBB 8. keluarga dan masyarakat.ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANJUT USIA (LANSIA) BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Dalam Lokakarya Nasional Keperawatan di Jakarta (1983) telah disepakati bahwa keperawatan adalah ³suatu bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual yang didasarkan pada pencapaian kebutuhan dasar manusia´. Kurangnya jumlah tempat tidur di rumah sakit 10.

kejadian-kejadian yang dialami klien lanjut usia semasa hidupnya. Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian yaitu: 1. Pendekatan Perawatan Lanjut Usia 1. kuku.BAB II PEMBAHASAN A. perubahan fisik pada organ tubuh. Untuk lanjut usia yang masih aktif. . antara lain: 1. yang diberikan oleh perawat. Untuk asuhan keperawatan yang masih dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau petugas sosial yang bukan tenaga keperawatan. Pendekatan fisik Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif. Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan. Adanya kecenderungan lansia imobilisasi sehingga potensi terjadinya dekubitus. Berkurangnya jaringan lemak subkutan 2. Khususnya bagi yang lumpuh. Panti Werda maupun Puskesmas. Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lansia menurut Depkes. diperlukan latihan sebelumnya atau bimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan melakukan asuhan keperawatan di rumah atau panti. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif pada dasarnya sama seperti pada lanjut usia aktif. 2. mata serta telinga: kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan : makanan yang sesuai. dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau petugas. Lanjut usia mempunyai potensi besar untuk menjadi dekubitus karena perubahan kulit berkaitan dengan bertambahnya usia. perlu dicegah agar tidak terjadi dekubitus (lecet). seperti di rumah / lingkungan keluarga. dan penyakit yang yang dapat dicegah atau ditekan progresifitasnya. Klien lanjut usia yang masih aktif. rambut. perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu maupun kelompok. disesuaikan pada kelompok lanjut usia. bimbingan pengawasan. misalnya porsi kecil bergizi. yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu melakukan sendiri. antara lain: 1. asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal hygiene: kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu: kebersihan diri termasuk kepala. Menurunnya efisiensi kolateral capital pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan rapuh 4. Untuk lanjut usia yang mengalami pasif. Berkurangnya jaringan kolagen dan elastisitas 3. dimaksudkan untuk memberikan bantuan. apakah lanjut usia aktif atau pasif. dan kesegaran jasmani. badan. B. yang tergantung pada orang lain. tingkat kesehatan yang masih bias di capai dan dikembangkan. kebutuhan. bervariai dan mudah dicerna.

Perawat perlu mengadakan pemeriksaan kesehatan. melakukan eliminasi. Disamping itu kemunduran kondisi fisik akibat proses penuaan. Perawat perlu memberikan penjelasan dan penyuluhan kesehatan. intoksikasi dan kejang-kejang. yaitu sabar. Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan. beristirahat. makan. jangan melakukan gerak badan yang berlebihan. kebersihan tempat tidur serta posisi tidurnya. kuku dan mulut atau gigi perlu mendapat perhatian perawatan karena semua itu akan mempengaruhi kesehatan klien lanjut usia. apakah mereka bisa melaksanakan ibadah dsb. tidak jarang pada klien lanjut usia dihadapkan pada dokter dalam keadaan gawat yang memerlukan tindakan darurat dan intensif. Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun. apakah obat sudah dimminum. yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit. kebersihan kulit dan badan. misalnya: batuk. Pendekatan psikis Disini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia. jika ada keluhan insomnia. simpatik dan service. kebersihan rambut dan kuku. makanan yang serasi dan suasana yang menyenangkan dapat menambah selera makan. . membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas kemampuan dan hobi yang dimilikinya. bila ada penyakit tertentu perawat harus mengatur makanan mereka sesuai dengan diet yang dianjurkan. Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas. kebersihan badan. menu bervariasi dan bergizi. perawat dapat berperan sebagai supporter . Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien usia lanjut ini terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan keberhasilan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya. harus dicari penyebabnya. mengingat sumber infeksi dapat timbul bila keberhasilan kurang mendapat perhatian. tempat tidur. cara memakan obat. tidur. makan. dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar. minum. mengingat sumber infeksi bisa saja timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian. sambil bertanya apa keluhan yang dirasakan. termasuk perawat yang memberikan perawatan. Sentuhan (misalnya genggaman tangan) terkadang sangat berarti buat mereka. Perawat harus mendekatkan diri dengan klien lanjut usia membimbing dengan sabar dan ramah. tidak gaduh. 2. tubuh waktu berjalan. Waktu makan yang teratur. memakai dan menukar pakaian. menjaga sikap tubuh waktu berjalan. Untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menghidangkan makanan agak lunak atau memakai gigi palsu. Adapun komponen pendekatan fisik yang lebuh mendasar adalah memperhatikan atau membantu para klien lanjut usia untuk bernafas dengan lancar. dan cara pindahdari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya. misalnya gangguan serebrovaskuler mendadak. Kurangnya kemampuan mengunyah sering dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan. Seorang perawat harus mampu memotifasi para klien lanjut usia agar mau dan menerima makanan yang disajikan. merubah posisi tiduran. untuk itu kekurangan O2 yang mendadak harus disegah dengan posisi bersandar pada beberapa bantal. tidur. Untuk klien lanjut usia yang masih aktif dapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut dan gigi. untuk itu perlu pengamatan secermat mungkin. menjaga sikap. pilek. Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan. interpreter terhadap segala sesuatu yang asing. kebersihan tubuh.Toleransi terhadap kakurangan O2 sangat menurun pada klien lanjut usia. duduk. mempertahankan suhu badan melindungi kulit dan kecelakaan. dsb.2. Oleh karena itu. trauma. Perawat harus selalu memegang prinsip ´ Tripple´. Untuk itu perawat harus selalu menciptakan suasana yang aman . Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih sayang dari lingkungan. sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. hal makanan.. hal ini harus dilakukan kepada klien lanjut usia yang diduga menderita penyakit tertentu atau secara berkala bila memperlihatkan kelainan. Hal ini penting meskipun tidak selalu keluhan-keluhan yang dikemukakan atau gejala yang ditemukan memerlukan perawatan. kemudian mengkomunikasikan dengan mereka tentang cara pemecahannya. kebersihan rambut. bagaimana tentang tidur.

Pendekatan sosial Mengadakan diskusi. bila perlu diusahakan agar di masa lanjut usia ini mereka puas dan bahagia. nonton film. perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang. ketakutan atau kekhawatiran. Tidak jarang terjadi pertengkaran dan perkelahian diantara lanjut usia. biaya hidup. jangan menertawakan atau memarahi klien lanjut usia bila lupa melakukan kesalahan . Sedangkan rasa bersalah selalu menghantui pikiran lanjut usia. Perawat harus sabar mendengarkan cerita dari masa lampau yang membosankan. Dalam menghadapi kematian setiap klien lanjut usia akan memberikan reaksi yang berbeda. Sehubungan dengan pendekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang menghadapi kematian. Pendekatan spiritual Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnua dalam kedaan sakit atau mendeteksikematian. seperti menurunnya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi. Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesama klien usia berarti menciptakan sosialisasi mereka. seperti ketidak pastian akan pengalaman selanjutnya. stress memikirkan penyakitnya. berkurangnya kegairahan atau keinginan. dan pergeseran libido. Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun terhadap petugas yang secara langsung berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lanjut usia di Panti Werda. dan kelainan yang dideritanya. Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala. Dengan demikian pendekatan perawat pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap fisik saja. masih ada orang lain yang mengurus mereka. rendah diri. Pada waktu inilah kelahiran seorang iman sangat perlu untuk melapangkan dada klien lanjut usia. dan rasa kecemasan. rasa keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan fisik. Rasa semacam ini didasari oleh berbagai macam factor. perawat bila melakukannya secara perlahan ±lahan dan bertahap. atau hiburan lain. Adapun kegelisahan yang timbul diakibatkan oleh persoalan keluarga perawat harus dapat meyakinkan lanjut usia bahwa kalaupun kelurga tadi di tinggalkan . perawat harus dapat mendukung mental mereka kearah pemuasan pribadi sehinga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban. melainkan perawat lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama mereka. Harus diingat kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. hal ini dapat diatasi dengan berbagai cara yaitu mengadakan hak dan kewajiban bersama. dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan social. misal jalan pagi. Tidak sedikit klien tidak tidur terasa.Perawat harus membangkitkan semangat dan kreasi klien lanjut usia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa . Tony styobuhi mengemukakn bahwa maut sering kali menggugah rasa takut. adanya rasa sakit dan kegelisahan kumpul lagi bengan keluatga dan lingkungan sekitarnya. 3. tergantung dari kepribadian dan cara dalam mengahadapi hidup ini. DR. Umumnya pada waktu kematian akan datang agama atau kepercayaan seseorang merupakan factor yang penting sekali. Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan. tukar pikiran. Jadi pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk sosial yang membutuhkan orang lain Penyakit memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para lanjut usia untuk mengadakan konunikasi dan melakukan rekreasi. C. Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan semakin lanjutnya usia. 4. peningkatan kewaspadaan . Tujuan Asuhan Keperawatan Lanjut Usia Agar lanjut usia dapat melaukan kegiatan sehari ±hari secara mandiri dengan: . keluarga yang dirumah sehingga menimbulkan kekecewaan.

Berikan pujian atas peningkatan berat badan dan tingkah laku yang mendukung peningkatan berat badan. E. 8. Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini.1. mengabsorbsi makanan karena factor biologi. Diskusikan dengan tim dan pasien untuk membuat target berat badann. Fokus Keperawatan Lanjut Usia Keperawatan lanjut usia berfokus pada : 1. Aspek fisik atau biologis a. 3. 2. Diskusikan dengan ahli gizi untuk menentukan asupan kalori setiap hari supaya mencapai dan atau mempertahankan berat badan sesuai target. Mencari upaya semaksimal mungkin. agar para klien lanjut usia yang menderita suatu penyakit. 2. NOC I : Status nutrisi Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien diharapkan mampu: 1. Asupan nutrisi tidak bermasalah Asupan makanan dan cairan tidak bermasalah Energy tdak bermasalah Berat badan ideal NIC I : Manajemen ketidakteraturan makan (eating disorder management) 1. Kolaborasi dengan anggota tim kesehatan untuk memuat perencanaan perawatan jika sesuai. 4. Kembangkan hubungan suportif dengna pasien 6. 3. 4. memasukan. 4. Peningkatan kesehatan (helth promotion) Pencegahan penyakit (preventif) Mengoptimalkan fungsi mental Mengatasi gangguan kesehatan yang umum. Dx. Gunakan teknik modifikasi tingkah laku untuk meningkatkan berat badan dan untuk menimimalkan berat badan. jika berat badan pasien tdak sesuia dengan usia dan bentuk tubuh. Diagnosa Keperawatan 1. 2. Dorong pasien untuk memonitor diri sendiri terhadap asupan makanan dan kenaikan atau pemeliharaan berat badan 7.d tidak mampu dalam memasukkan. 2. Ajarkan dan kuatkan konsep nutrisi yang baik pada pasien 5. Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut dengan jalan perawatan dan pencegahan. mencerna. b. 4. 3. menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau gangguan baik kronis maupun akut. terbangun lebih awal atau terlambat bangun dan penurunan kemampuan fungsi yng ditandai dengan penuaan perubahan pola tidur dan cemas . bila mereka menjumpai kelainan tertentu 5. Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia (life support) 3. Dx : Ketidakseimbangan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh b. masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal). D. Gangguan pola tidur berhubungan dengan insomnia dalam waktu lama.

NOC mampu : 1 2 3 4 5 : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3×24 jam diharapkan pasien Kontinensia Urin Merespon dengan cepat keinginan buang air kecil (BAK). TUJUAN NOC : Fungsi Seksual . Dx. Instruksikan pasien untuk mengonsumsi air minum sebanyak 1500 cc/hari. Dx. Mampu mencapai toilet dan mengeluarkan urin secara tepat waktu. Dx. Modifikasi baju dan lingkungan untuk memudahkan klien ke toilet. Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan struktur tubuh/fungsi yang ditandai dengan perubahan dalam mencapai kepuasan seksual. Inkontinensia urin fungsional berhubungan dengan keterbatasan neuromuskular yang ditandai dengan waktu yang diperlukan ke toilet melebihi waktu untuk menahan pengosongan bladder dan tidak mampu mengontrol pengosongan. d.NOC : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2×24 jam pasien diharapkan dapat memperbaiki pola tidurnya dengan criteria : 1 2 3 4 5 Mengatur jumlah jam tidurnya Tidur secara rutin Miningkatkan pola tidur Meningkatkan kualitas tidur Tidak ada gangguan tidur NIC : Peningkatan Tidur 1 2 3 4 Tetapkan pola kegiatan dan tidur pasien Monitor pola tidur pasien dan jumlah jam tidurnya Jelaskan pentingnya tidur selama sakit dan stress fisik Bantu pasien untuk menghilangkan situasi stress sebelum jam tidurnya c. NIC : Perawatan Inkontinensia Urin 1 2 3 4 Monitor eliminasi urin Bantu klien mengembangkan sensasi keinginan BAK. Mampu memprediksi pengeluaran urin. Gangguan proses berpikir berhubungan dengan kemunduran atau kerusakan memori sekunder NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2×24 jam pasien diharapkan dapat meningkatkan daya ingat dengan criteria : 1 2 3 Mengingat dengan segera informasi yang tepat Mengingat inormasi yang baru saja disampaikan Mengingat informasi yang sudah lalu NIC : Latihan Daya Ingat 1 2 3 Diskusi dengan pasien dan keluarga beberapa masalah ingatan Rangsang ingatan dengan mengulang pemikiran pasien kemarin dengan cepat Mengenangkan tentang pengalaman di masalalu dengan pasien e. Mengosongkan bladde dengan lengkap.

Kelemahan mobilitas fisik b. Dx.d kerusakan musculoskeletal dan neuromuscular Yang ditandai dengan : 1 2 3 4 Perubahan gaya berjalan Gerak lambat Gerak menyebabkan tremor Usaha yang kuat untuk perubahan gerak NOC : Level Mobilitas ( Mobility Level ) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat : 1 2 3 4 Memposisikan penampilan tubuh Ambulasi : berjalan Menggerakan otot Menyambung gerakan/mengkolaborasikan gerakan NIC : Latihan dengan Terapi Gerakan ( Exercise Therapy Ambulation ) 1 Kosultasi kepada pemberi terapi fisik mengenai rencana gerakan yang sesuai dengan kebutuhan 2 Dorong untuk bergerak secara bebas namun masih dalam batas yang aman 3 Gunakan alat bantu untuk bergerak. Kelelahan b. f. Risiko kerusakan integritas kulit .d kondisi fisik kurang Yang ditandai dengan: 1 2 3 Peningkatan kebutuhan istirahat Lelah Penampilan menurun NOC Activity Tolerance Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat: 1 2 3 4 Memonitor usaha bernapas dalam respon aktivitas Melaporkan aktivitas harian Memonitor ECG dalam batas normal Memonitor warna kulit NIC Energy Management 1 2 3 4 Monitor intake nutrisi untuk memastikan sumber energi yang adekuat Tentukan keterbatasan fisik pasien Tentukan penyebab kelelahan Bantu pasien untuk jadwal istirahat h. Dx. Dx. jika tidak kuat untuk berdiri (mudah goyah/tidak kokoh) g. 2 Diskusikan beberapa pilihan agar dicapai kenyamanan.1 2 Mengekspresikan kenyamanan Mengekspresikan kepercayaan diri NIC : Konseling Seksual 1 Bantu pasien untuk mengekspresikan perubahan fungsi tubuh termasuk organ seksual seiring dengan bertambahnya usia.

3. 8. Aspek psikososial 1. 3 Menyediakan gambar untuk mengenal ingatannya kembali 4 Monitor perilaku pasien selama terapi 1. jika pakaian terlihat terlalu ketat i. dukungan social tidak adekuat yang dibentuk dari karakteristik atau hubungan. 6. dan tahun dengan benar NIC : Pelatihan Memori ( Memory Training ) 1 Stimulasi memory dengan mengulangi pembicaraan secara jelas di akhir pertemuan dengan pasien. Mengidentifikasi pola koping efektif Mengedentifikasi pola koping yang tidak efektif Melaporkan penurunan stress Memverbalkan control perasaan Memodifikasi gaya hidup yang dibutuhkan Beradaptasi dengan perubahan perkembangan Menggunakan dukungan social yang tersedia Melaporkan peningkatan kenyamanan psikologis NIC I : coping enhancement . bulan. 2 Mengenang pengalaman masa lalu dengan pasien. 4. Coping tidak efektif b. Dx. Kerusakan Memori b. 2. Dx.NOC : Kontrol Risiko ( risk control ) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat : 1 2 3 4 Kontrol perubahan status kesehatan Gunakan support system pribadi untuk mengontrol risiko Mengenal perubahan status kesehatan Monitor factor risiko yang berasal dari lingkungan NIC : penjagaan terhadap kulit ( skin surveillance ) 1 2 3 4 5 Monitor area kulit yang terlihat kemerahan dan adanya kerusakan Monitor kulit yang sering mendapat tekanan dan gesekan Monitor warna kulit Monitor suhu kulit Periksa pakaian.d gangguan neurologis Yang ditandai dengan : 1 2 3 4 Tidak mampu mengingat informasi factual Tidak mampu mengingat kejadian yang baru saja terjadi atau masa lampau Lupa dalam melaporkan atau menunjukkan pengalaman Tidak mampu belajar atau menyimpan keterampilan atau informasi baru NOC : Orientasi Kognitif Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat : 1 2 3 4 Mengenal diri sendiri Mengenal orang atau hal penting Mengenal tempatnya sekarang Mengenal hari. 5.d percaya diri tidak adekuat dalam kemampuan koping. 7. NOC I : koping (coping) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien secara konsisten diharapkan mampu: 1.

4. 5. Kuatkan rasa percaya diri terhadap kemampuan pasien mengndalikan situasi Menguatkan tenaga pribadi dalam mengenal dirinya Bantu pasien untuk memeriksa kembali persepsi negative tentang dirinya Dx. 3. Berpatisipasi dalam aktifitas bersama Berpatisipasi dala tradisi keluarga Menerima kujungan dari teman dan anggota keluarga besar Memberikan dukungan satu sama lain Mengekspresikan perasaan dan masalah kepada yang lain. penggunaan tenaga yang berlebihan) 2. Dx. Isolasi social b. 3. 5. Pasien dan keluarga mengidentifikasi dan mengungkapkan perasaan dan reaksinya terhadap penyakit dan perubahan hidup yang diperlukan 3. status kesehatan.d perubahan dalam status peran. Mencari konseling profesional. Menentukan sumber fisik. Ekspresi yang mendalam dalam perubahan hidup 2. NOC : Setelah dilakukan tindakan intervensi keperawatan selama 2×24 jam pasien diharapkan akan bisa memperbaiki konsep diri dengan criteria : 1. pola interaksi . lingkungan. 2. Mengidentifkasi deficit perawatan diri pasien 4. 7. 5. Kenalkan pasien kepada seseorang yang mempunyai latar belakang pengalaman yang sama. 2. 6. perubahan citra tubuh dan fungsi seksual. perubahan status mental.1. Dx. fungsi peran. untuk menghadapi perubahan akibat pnyakitnya 4. Cemas b. Mudah tersinggung 3. NOC I : Lingkungan keluarga : internal ( family environment: interna) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien secara konsisten diharapkan mampu: 1. Gangguan harga diri berhubungan dengan ketergantungan. Mengidentifikasikan kemampuan anggota keluarga untuk terlibat dalam perawatan pasien. Gangguan tidur . perubahan peran.d perubhaan penampilan fisik. 3. status ekonomi Yang ditandai dengan: 1. 8. psikososial dan pendidikan pemberi pelayanan kesehatan yang utama. Melaporkan kepuasan dengan metode ekspresi seksual NIC : Peningkatan harga diri 1. 6. 2. 2. 4. jika perlu. Mengidentifikasi pola koping terdahulu yang efektif dan pada saat ini tidak mungkin lagi digunakan akibat penyakit dan penanganan (pemakaian alkohol dan obat-obatan. Mendorong anggota keluarga untuk tidak ketergantungan Berpatisipasi dalam rekreasi dan acara aktifitas komunitas Memecahkan masalah NIC I : Keterlibatan keluarga (Family involvement) 1. Menentukan tinggat ketergantungan pasien terhadap keluarganya yang sesuai dengan umur atau penyakitnya. Dorong aktifitas social dan komunitas Dorong pasien untuk mengembangkan hubungan Dorong berhubungan dengan seseorang yang memiliki tujuan dan ketertarikan yang sama Dukung pasein untuk menguunakan mekanisme pertahanan yang sesuai. peubahan keadaan sejahtera. 4. 3.

2. 4. Merasa puas dengan penampilan tubuhnya 2.d peubahan hidup. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan dan ketergantungan fisik (ketidakseimbangan mobilitas) serta psikologis yang disebabkan penyakit atau terapi NOC : Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2x24jam pasien diharapkan meningkatkan citra tubuhnya dengan criteria : 1. 3. Bantu pasien untuk mendiskusikan perubahan karena penyakit atau pembedahan 2. mengasingkan diri. Bantu pasien untuk menidentifikasi situasi percepatan cemas Dampingi pasien untuk mempromosikan kenyamanan dan mengurangi ketakutan Identifikasi ketika perubahan level cemas Instuksikan pasien dalam teknik relaksasi Dx. kesendirian atau pengasingan social. 3. Bantu pekembangan harapan yang realistis Identifikasi alami dukungan spiritual bagi keluarga Berikan kepercayaan dalam hubungan dengan keluarga Dengarkan untuk berhubungan dengan keluarga. Mendemontrasikan fleksibelitas peran Mengatur masalah Menggunakan strategi penguranagn stress Menghadapi masalah NIC Family Support 1. NOC I : pengaharapan (hope) Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3X24 jam pasien secara luas diharapkan mampu: 1. 4. 3.NOC Anxiety Control 1. cemas. Mengekspresikan orientasi masa depan yang positif Mengekspresikan arti kehidupan Mengekspresikan rasa optimis Mengekspresikan perasaan untuk mengontrol diri sendiri Mengekspresikan kepercayaan . Resiko Kesendirian NOC Family Coping Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat: 1. Aspek spiritual Dx : Distress spiritual b. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 2X24 jam diharapkan pasien dapat: Memonitor intensitas cemas Melaporkan tidur yang adekuat Mengontrol respon cemas Merencanakan strategi koping dalamsituasi stress NIC Anxiety Reduction 1. 5. Merasa puas dengan fungsi anggota badannya 3. 3. 2. 5. 5. 2. 3. Memutuskan apakah perubahan fisik yang baru saja diterima dapat masuk dalam citra tubuh pasien 3. 4. 2. Memudahkan hubungan dengan individu lain yang mempunyai penyakit yang sama 4. 2. 4. 4. perasan dan pertanyaan Dx. kurang sosiokultural. Mendiskripsikan bagian tubuh tambahan NIC : Peningkatan Citra Tubuh 1. kematian atau sekarat diri atau orang lain. 5.

cz. 1996. Missouri : Mosby. Philadelphia : NANDA International. 1999 ) Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan / atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg. 2. Inc.2001) Menurut WHO ( 1978 ). Louise.askeb. hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg. ASUHAN KEPERAWATAN PADA LANJUT USIA DENGAN HIPERTENSI PENGERTIAN Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. 2009. St. tekanan darah sama dengan atau diatas 160 / 95 mmHg dinyatakan sebagai hipertensi. McCloskey. Mengembangkan mekanisme paran koping pasien DAFTAR PUSTAKA Anonim. Missouri : Mosby. (Smeltzer. Inc. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg. NANDA. 4. 2000. Joanne C.cc/ diakses tanggal 10 maret 2010.6. KLASIFIKASI Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : ( Darmojo. St. Marion dkk. 5. Nursing Diagnoses: Definition and Classification 2005-2006. Nursing Outcomes Classification (NOC). 3. Pengkaji pasian atau keluarga untuk mengidentifikasi area pengharapan dalam hidup Melibatkan pasien secara aktif dalam perawatan diri Mengajarkan keluarga tentang aspek positif pengharapan Memberikan kesempatan pasien atau keluarga terlibat dalam support group. Pada populasi lansia. Louise. Jhonson. . Mengekspresikan rasa percaya pada diri sendiri dan orang lain NIC I : penanaman harapan (hope instillation) 1. http://askep. Nursing Intervention Classification (NIC).

prednison. data-data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan terjadinya hipertensi. Kehilangan elastisitas pembuluh darah Hal ini terjadi karenakurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya. Faktor tersebut adalah sebagai berikut : Faktor keturunan Dari data statistik terbukti bahwa seseorang akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika orang tuanya adalah penderita hipertensi Ciri perseorangan Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya hipertensi adalah: Umur ( jika umur bertambah maka TD meningkat ) Jenis kelamin ( laki-laki lebih tinggi dari perempuan ) Ras ( ras kulit hitam lebih banyak dari kulit putih ) Kebiasaan hidup Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya hipertensi adalah : Konsumsi garam yang tinggi ( melebihi dari 30 gr ) Kegemukan atau makan berlebihan Stress Merokok Minum alcohol Minum obat-obatan ( ephedrine.Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu : Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain ETIOLOGI Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan ± perubahan pada : Elastisitas dinding aorta menurun Katub jantung menebal dan menjadi kaku Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. epineprin ) Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah : Ginjal Glomerulonefritis Pielonefritis Nekrosis tubular akut Tumor Vascular Aterosklerosis Hiperplasia Trombosis Aneurisma Emboli kolestrol Vaskulitis Kelainan endokrin DM Hipertiroidisme Hipotiroidisme Saraf Stroke Ensepalitis SGB Obat ± obatan Kontrasepsi oral Kortikosteroid .

neuron preganglion melepaskan asetilkolin. kelelahan.PATOFISIOLOGI / PATHWAY Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor. Gejala yang lazim Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Epistaksis. pusing Lemas. yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian diubah menjadi angiotensin II. yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah. PEMERIKSAAN PENUNJANG Hemoglobin / hematokrit Untuk mengkaji hubungan dari sel ± sel terhadap volume cairan ( viskositas ) dan dapat mengindikasikan factor ± factor resiko seperti hiperkoagulabilitas. suatu vasokonstriktor kuat. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal Glukosa Hiperglikemi ( diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi ) Kalium serum Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama ( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik. Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. kelenjar adrenal juga terangsang. Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya ³hipertensi palsu´ disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff sphygmomanometer (Darmojo. dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. yang menyebabkan vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi epinefrin. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi. TANDA DAN GEJALA Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi : Tidak ada gejala Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah. pada medulla diotak. Menurut Rokhaeni ( 2001 ). hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh darah. aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis. meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis. Sesak nafas. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya. Kesadaran menurun. mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis. 2001). 1999). Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. anemia. selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur. Mual Muntah. Individu dengan hipertensi sangat sensitiv terhadap norepinefrin. Gelisah. manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala. menyebabkan pelepasan rennin. Pada titik ini. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal. yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya. Kalsium serum Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi . yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah. yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen.

jogging. batu ginjal / ureter Foto dada Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub. Tehnik relaksasi Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau . bersepeda. pola regangan. gangguan konduksi.Kolesterol dan trigliserid serum Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler ) Pemeriksaan tiroid Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan hipertensi Kadar aldosteron urin/serum Untuk mengkaji aldosteronisme primer ( penyebab ) Urinalisa Darah. perbesaran jantung CT scan Untuk mengkaji tumor serebral. Lamanya latihan berkisar antara 20 ± 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu Edukasi Psikologis Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi : Tehnik Biofeedback Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal. protein. berenang dan lainlain Intensitas olah raga yang baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal yang disebut zona latihan. peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi PENATALAKSANAAN Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg. ensefalopati EKG Dapat menunjukkan pembesaran jantung. Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain. glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya diabetes. Terapi tanpa obat ini meliputi : Diet Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah : Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh Penurunan berat badan Penurunan asupan etanol Menghentikan merokok Latihan Fisik Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat prinsip yaitu : Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari. Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi : Terapi tanpa Obat Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. juga untuk gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan. Asam urat Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi Steroid urin Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme IVP Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim ginjal.

namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan mortilitas Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya. atau penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita. Pengobatan hipertensi umumnya perlu dilakukan seumur hidup penderita. beta blocker. antagonis kalsium.kecemasan. ACE inhibitor Step 2 Alternatif yang bisa diberikan : Dosis obat pertama dinaikkan Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama Ditambah obat ke ±2 jenis lain. clonidin. penderita diberitahu hasil pengukuran tekanan darahnya Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai tekanan darahnya Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh. dengan cara melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan ) Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Ca antagonis. USA. tekanan darah hanya dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih dahulu Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup penderita Ikutsertakan keluarga penderita dalam proses terapi Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x sehari atau 2 x sehari Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi. beta blocker. Alpa blocker. dokter ) dengan cara pemberian pendidikan kesehatan. Ca antagonis. EVALUATION AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE. reserphin. efek samping dan masalahmasalah yang mungkin terjadi Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas maksimal Usahakan biaya terapi seminimal mungkin . dapat berupa diuretika . Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi ( JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION. Terapi dengan Obat Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. 1988 ) menyimpulkan bahwa obat diuretika. vasodilator Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh Obat ke-2 diganti Ditambah obat ke-3 jenis lain Step 4 : Alternatif pemberian obatnya Ditambah obat ke-3 dan ke-4 Re-evaluasi dan konsultasi Follow Up untuk mempertahankan terapi Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan ( perawat. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas kesehatan adalah sebagai berikut : Setiap kali penderita periksa. Pengobatannya meliputi : Step 1 Obat pilihan pertama : diuretika. penyekat beta.

euphoria. bila tidak datang pada waktu yang ditentukan. Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman dan pelaksanaan pengobatan hipertensi. penyakit jantung koroner / katup. sakit kepala Episode kebas Kelemahan pada satu sisi tubuh Gangguan penglihatan ( penglihatan kabur. riwayat penyakit ginjal ) Makanan / Cairan Gejala : Makanan yang disukai yang dapat mencakup makanan tinggi garam. pekerjaan ) Tanda : Letupan suasana hati Gelisah Penyempitan kontinue perhatian Tangisan yang meledak otot muka tegang ( khususnya sekitar mata ) Peningkatan pola bicara Eliminasi Gejala : Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi. faktor stress multiple ( hubungsn.Untuk penderita yang kurang patuh. berbagai disritmia Bunyi jantung : murmur Distensi vena jugularis Ekstermitas Perubahan warna kulit. PENGKAJIAN Aktivitas / istirahat Gejala : Kelemahan Letih Napas pendek Gaya hidup monoton Tanda : Frekuensi jantung meningkat Perubahan irama jantung Takipnea Sirkulasi Gejala : Riwayat hipertensi. usahakan kunjungan lebih sering Hubungi segera penderita. diplopia ) . obstruksi. ansietas. keuangan. penyakit serebrovaskuler Tanda : Kenaikan TD Nadi : denyutan jelas Frekuensi / irama : takikardia. lemak dan kolesterol Mual Muntah Riwayat penggunaan diuretic Tanda : BB normal atau obesitas Edema Kongesti vena Peningkatan JVP glikosuria Neurosensori Gejala : Keluhan pusing / pening. pengisian kapiler mungkin lambat Integritas Ego Gejala : Riwayat perubahan kepribadian. suhu dingin( vasokontriksi perifer ). depresi. aterosklerosis. marah.

aktivitas pengalihan Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol tekanan darah Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi Kolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai indikasi . penyakit serebrovaskuler. ginjal Faktor resiko etnik. aterosklerosis. Pertahankan pembatasan aktivitas seperti istirahat ditempat tidur/kursi Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan Lakukan tindakan yang nyaman spt pijatan punggung dan leher. Kriteria hasil : Berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan TD Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat diterima Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil Intervensi : Pantau TD. afek. nyaman. ukur pada kedua tangan. DM . penyakit jantung. penggunaan pil KB atau hormon lain Penggunaan obat / alcohol DIAGNOSA KEPERAWATAN Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload. proses pikir atau memori ( ingatan ) Respon motorik : penurunan kekuatan genggaman Perubahan retinal optic Nyeri/ketidaknyamanan Gejala : nyeri hilang timbul pada tungkai sakit kepala oksipital berat nyeri abdomen Pernapasan Gejala : Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas Takipnea Ortopnea Dispnea nocturnal proksimal Batuk dengan atau tanpa sputum Riwayat merokok Tanda : Distress respirasi/ penggunaan otot aksesoris pernapasan Bunyi napas tambahan ( krekles. batasi jumlah pengunjung. kelembaban. kualitas denyutan sentral dan perifer Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas Amati warna kulit. pola nafas. meninggikan kepala tempat tidur. cara jalan Tanda : Episode parestesia unilateral transien Pembelajaran / Penyuluhan Gejala : Factor resiko keluarga . iskemia miokard. kurangi aktivitas. panduan imajinasi. suhu dan masa pengisian kapiler Catat edema umum Berikan lingkungan tenang. hipertensi. isi bicara.Episode epistaksis Tanda : Perubahan orientasi. mengi ) Sianosis Keamanan Gejala : Gangguan koordinasi. Anjurkan tehnik relaksasi. gunakan manset dan tehnik yang tepat Catat keberadaan. vasokonstriksi. hipertropi ventricular Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam.

minoksidil. nitropess ) Bloker ganglion misalnya guanetidin ( ismelin ). metildopa ( aldomet ). Haluaran urin 30 ml/ menit Tanda-tanda vital stabil Intervensi : Pertahankan tirah baring Tinggikan kepala tempat tidur Kaji tekanan darah saat masuk pada kedua lengan. valium ) Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral. membungkuk Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi : analgesik. posisi nyaman. nitroprusid ( nipride. captoten ) Nyeri ( sakit kepala ) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral Tujuan : Nyeri atau sakit kepala hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mengungkapkan tidak adanya sakit kepala Pasien tampak nyaman TTV dalam batas normal Intervensi : Pertahankan tirah baring. hidrodiuril ). lingkungan yang tenang. hidralasin ( apresolin ). Bumetanic ( Burmex ) Diuretik hemat kalium misalnay spironolakton ( aldactone ). jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah Tujuan : Tidak terjadi perubahan perfusi jaringan : serebral. pusing. sedikit penerangan Minimalkan gangguan lingkungan dan rangsangan Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan Hindari merokok atau menggunkan penggunaan nikotin Beri tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala seperti kompres dingin pada dahi. antiansietas (lorazepam. tidak ada keluhan sakit kepala.Diuretik Tiazid misalnya klorotiazid ( Diuril ). metildopa ( aldomet ) Vasodilator kerja langsung misalnya hidralazin ( apresolin ). hidroklorotiazid ( esidrix. Atenolol ( tenormin ). ginjal. duduk dengan pemantau tekanan arteri jika tersedia Ambulasi sesuai kemampuan. nilai-nilai laboratorium dalam batas normal. diazepam. asam etakrinic ( Edecrin ). tidur. bimbingan imajinasi dan distraksi Hilangkan / minimalkan vasokonstriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala misalnya mengejan saat BAB. triamterene ( Dyrenium ). klonidin ( catapres ) Vasodilator misalnya minoksidil ( loniten ). quanetidin ( Ismelin ). trimetapan ( arfonad ). guanabenz ( wytension ). batuk panjang. bendroflumentiazid ( Naturetin ) Diuretic Loop misalnya Furosemid ( Lasix ). reserpine ( Serpasil ). tetazosin ( hytrin ) Bloker nuron adrenergik misalnya guanadrel ( hyloree ). amilioride ( midamor ) Inhibitor simpatis misalnya propanolol ( inderal ). metoprolol ( lopressor ). ACE inhibitor ( captopril. nadolol ( Corgard ). loniten Vasodilator oral yang bekerja secara langsung misalnya diazoksid ( hyperstat ). tehnik relaksasi. reserpin ( Serpasil ) Inhibitor adrenergik yang bekerja secara sentral misalnya klonidin ( catapres ). jantung setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Pasien mendemonstrasikan perfusi jaringan yang membaik seperti ditunjukkan dengan : TD dalam batas yang dapat diterima. hindari kelelahan Amati adanya hipotensi mendadak . pijat punggung dan leher. ativan. ginjal. verapamil ) Anti adrenergik misalnya minipres. bloker saluran kalsium ( nivedipin.

pusing Observasi TTV tiap 4 jam Berikan jarak waktu pengobatan dan prosedur untuk memungkinkan waktu istirahat yang tidak terganggu. BUN. kreatinin sesuai program Intoleransi aktifitas berhubungan penurunan cardiac output Tujuan : Tidak terjadi intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Meningkatkan energi untuk melakukan aktifitas sehari ± hari Menunjukkan penurunan gejala ± gejala intoleransi aktifitas Intervensi : Berikan dorongan untuk aktifitas / perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi. Tujuan : Perawatan diri klien terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kemampuan Dapat mendemonstrasikan tehnik untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Intervensi : Kaji kemampuan klien untuk melakukan kebutuhan perawatan diri Beri pasien waktu untuk mengerjakan tugas Bantu pasien untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri Berikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang dilakukan klien / atas keberhasilannya Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang diderita klien Tujuan: Kecemasan hilang atau berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 Jam . Berikan bantuan sesuai kebutuhan Instruksikan pasien tentang penghematan energy Kaji respon pasien terhadap aktifitas Monitor adanya diaforesis.Ukur masukan dan pengeluaran Pertahankan cairan dan obat-obatan sesuai program Pantau elektrolit. berikan waktu istirahat sepanjang siang atau sore Gangguan pola tidur berhubungan adanya nyeri kepala Tujuan : Tidak terjadi gangguan pola tidur setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam Kriteria hasil : Mampu menciptakan pola tidur yang adekuat 6 ± 8 jam per hari Tampak dapat istirahat dengan cukup TTV dalam batas normal Intervensi : Ciptakan suasana lingkungan yang tenang dan nyaman Beri kesempatan klien untuk istirahat / tidur Evaluasi tingkat stress Monitor keluhan nyeri kepala Lengkapi jadwal tidur secara teratur Berikan makanan kecil sore hari dan / susu hangat Lakukan masase punggung Putarkan musik yang lembut Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik.

peningkatan keletihan. penurunan toleransi sakit kepala. pembatasan seperti kopi yang mengandung kafein. tujuan dan efek samping atau efek toksik Jelaskan perlunya menghindari pemakaian obat bebas tanpa pemeriksaan dokter Diskusikan gejala kambuhan atau kemajuan penyulit untuk dilaporkan dokter : sakit kepala. waktu pemberian. pusing. ketidakmampuan untuk menyelesaikan masalah Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas atau tujuan hidup Kaji tingkat kecemasan klien baik secara verbal maupun non verbal Observasi TTV tiap 4 jam Dengarkan dan beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaanya Berikan support mental pada klien Anjurkan pada keluarga untuk memberikan dukungan pada klien Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit Tujuan : Klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi setelah dilakukan tindakan ekperawatan selama 1 x 24 jam Kriteria hasil: Pasien mengungkapkan pengetahuan akan hipertensi Melaporkan pemakaian obat-obatan sesuai program Intervensi : Jelaskan sifat penyakit dan tujuan dari pengobatan dan prosedur Jelaskan pentingnya lingkungan yang tenang. pingsan. dosis. Diskusikan pentingnya mempertahankan berat badan stabil Diskusikan pentingnya menghindari kelelahan dan mengangkat berat Diskusikan perlunya diet rendah kalori.Kriteria hasil : Klien mengatakan sudah tidak cemas lagi / cemas berkurang Ekspresi wajah rilek TTV dalam batas normal Intervensi : Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku misalnya kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian. konseling dan penyuluhan pada keluarga klien . peka rangsang. mual dan muntah. tidak penuh dengan stress Diskusikan tentang obat-obatan : nama. kerusakan konsentrasi. teh serta alcohol Jelaskan perlunya menghindari konstipasi dan penahanan Berikan support mental. jumlah yang diperbolehkan. keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan Catat laporan gangguan tidur. rendah natrium sesuai program Jelaskan penetingnya mempertahankan pemasukan cairan yang tepat.

27 tahun 1995 tentang Organisasi dan Tata Kerja Departemen Sosial Propinsi Delapan jalur pemerataan dan pelayanan kesehatan Hari Lanjut Usia Nasional yang di canangkan oleh Bapak Presiden tanggal 29 Mei 1996 di Semarang Undang Undang Kesejahteraan No. tentang pokok-pokok pemerintah di daerah UU No. anjuran kongres International WINA tahun 1983 GBHN 1983/Pelita IV Keputusan Menteri Sosial RI No 44 tahun 1974. merencanakan tindakan keperawatan (intervention). tentang pokok-pokok Kesehatan Bab I Pasal 1 ayat 1 UU No 4 tahun 1965. melaksanakan tindakan keperawatan (Implementation) dan melakukan evaluasi (Evaluation) LANDASAN HUKUM PENANGANAN LANJUT USIA Filsafat Negara/P4 UUD 1945. tentang Kesejahteraan Lanjut Usia Tahun Lanjut Usia Internasional tahun 1999 Sasaran WHO tahun 2000 BEBERAPA ALASAN TIMBULNYA PERHATIAN KEPEDA LANJUT USIA Meliputi: . dimanan pendekatan yang digunakan adalah proses keperawatan (Yura and Walsh. Pada makalah ini akan dibahas secara singkat asuhan keperawatan pada pasien lanjut usia di tatanan kliniK (clinical area). 13 tahun 1998. Sedangkan asuhan yang diberikan berupa bantuian-bantuan kepada pasien karena adanya kelemahan fisik dan mental.23 tahun 1992 tentang kesehatan Ketetapan MPR Keputusan Menteri Sosial RI No. Dalam hal ini asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien bersifat komprehensif. pasal 27 ayat 2 dan pasal 34 UU No.44 tahun 1974 Program PBB tentang lansia.11 tahun 1992 tentang dana pension UU No. ditujukan pada individu.1983) yang meliputi pengkajian (assessment).9 tahun 1960. tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera. Keputusan Presiden RI No.6 tahun 1974. tentang organisasi dan tata kerja Departemen Sosial Propinsi UU No 10 tahun 1992. UU No. keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemampuan dan atau kemauan dalam melaksanakan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri. tentang pemberian Bantuan penghidupan orang tua No. keluarga dan masyarakat. baik dalam kondisi sehat dan sakit yang mencakup seluruh kehidupan manusia.5 tahun 1`974. merumuskan diagnosa keperawatan (Nursing diagnosis). tentang ketentuan-ketentuan pokok Kesejahteraan Sosial.KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK PENDAHULUAN Dalam lokakarya Nasional Keperawatan di Jakarta (1983) telah disepakati bahwa keperawatan adalah " suatu bentuk pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan berbentuk pelayanan bio-psiko-sosial-kultural dan spiritual yang didasarkan pada pencapaian kebutuhan dasar manusia".

yakni: Kurang bersihnya tempat tidur Alat-alat yang kusut dan kotor Kurangnya perawatan/perhatian yang baik dari perawat Dekubitus dapat dibagi dalam 4 derajat. badan. bervariai dan mudah dicerna. Hal yang perlu diperhatikan dalam memberikan asuhan keperawatan pada lanjut usia pasif pada dasarnya sama seperti pada lanjut usia aktif. yang diberikanoleh perawat. rambut. Khususnya bagi yang lumpuh. misalnya porsi kecil bergizi. kuku. Panti Wreda maupun Puskesmas. Disamping itu. Adapun pengertian dekubitus adalah kerusakan/kematian kulit sampai jaringan di bawah kulit bahkan menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada suatu area terus menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat. dan kesegaran jasmani. bimbingan pengawasan. disesuaikan pada kelompok lanjut usia. Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan. asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal hygiene: kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu: kebersihan diri termasuk kepala. yakni: Status gizi (bias underweight atau overweight) Anemia Adanya hipoalbuminemia Adanya penyakit-penyakit neurologik Adanya penyakit-penyakit pembuluh darah Adanya dehidrasi Factor ekstrinsik. namun bila telah terlanjur terjadi akan memerlukan perawatan khusus. yang tergantung pada orang lain. diperlukan latihan sebelumnya atau bimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan melakukan asuhan keperawatan di rumah atau panti (Depkes. antara lain: berkurangnya jaringan lemak subkutan berkurangnya jaringan kolagen dan elastisitas Menurunnya efisiensi kolateral capital pada kulit sehingga kulit menjadi lebih tipis dan rapuh Adanya kecenderungan lansia imobilisasi sehingga potensi terjadinya dekubitus. Untuk asuhan keperawatan yang masih dapat dilakukan oleh anggota keluarga atau petugas social yang bukan tenaga keperawatan. dengan bantuan penuh oleh anggota keluarga atau petugas. factor intrinsic (tubuh sendiri) juga berperan untuk terjadinya dekubitus. antara lain: Untuk lanjut usia yang masih aktif. perlu dicegah agar tidak terjadi dekubitus (lecet) Dekubitus merupakan keadaan yang dapat di cegah . seperti di rumah / lingkungan keluarga. 1993 1b).Pensiunan dan masalah-masalahnya Kematian mendadak karena penyakit jantung dan stroke Meningkatnya jumlah lanjut usia Pencemaran pelayanan kesehatan Kewajiban Pemerintahterhadap orang cacat dan jompo perkembangan ilmu: Program PBB Konfrensi Internasional di WINA tahun 1983 Kurangnya jumlah tempat tidur di rumah sakit Mahalnya obat-obatan Tahun Lanjut Uaia Internasional 1 Oktober 1999 KEGIATAN ASUHAN KEPERAWATAN DASAR BAGI LANSIA Kegiatan ini menurut Depkes (1993 1b). perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu maupun kelompok. Daerah yang tertekan nampak kemerah-merahan/eritema atau lecet saja . yakni: Derajat I: Reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis. dimaksudkan untuk memberikan bantuan. mata serta telinga: kebersihan lingkungan seperti tempat tidur dan ruangan : makanan yang sesuai. Lanjut usia mempunyai potensi besar untuk menjadi dekubitus karena perubahan kulit berkaitan dengan bertambahnya usia. apakah lanjut usia aktif atau pasif. Untuk lanjut usia yang mengalami pasif.

menggaung . mungkin juga untuk merangsang granulasi. Perawatan rehabilitasi dasar juga dapat diberikan. Derajat IV: Ulkus meluas sampai menembus otot sehingga di dasar ulkus terlihat tulang yang bias terinfeksi dan berakibat osteomelitus. misalnya: latihan menggerakkan sendi. diberi lotion. Disamping itu kemunduran kondisi fisik akibat proses ketuaan. perubahan fisik pada organ tubuh. Balut jangan terlalu tebal dan sebaliknya transparan sehingga permeable untuk masuknya udara / oksigen dan penguapan. sebab akan menghalangi pertumbuhan jaringan/epitelisasi. Beberapa usaha mempercepat antara lain dengan memberikan oksigenasi pada luka. tingkat kesehatan yang masih bias di capai dan dikembangkan. Jika luka kotor dapat di kunci dengan larutan NaCl fisiologis. Dekubitus derajat II Disini sudah terjadi ulkus yang dangkal: perawatan luka harus memperlihatkan syarat-syarat aseptic dan antiseptic. Di sini tampak ulkus dangkal dengan tepi yang jelas dan ada perubahan pigmen kulit Derajat III: Untuk menjadi lebih dalam meliputi jaringan lemak subkutan dan cekung . Dekubitus derajat I Kulit yang kemerahan dibersuhkan hati-hati dengan air hangat dan sabun. Dapat diberikan salep topical. Daerah bersangkutan di gosok-gosok dengan sedan dihembus dengan udara hangat bergantian untuk merangsang sirkulasi. dan sampai pada transplantasi kulit setempay. Untuuk klien lanjut usia yang masih aktifdapat diberikan bimbingan mengenai kebersihan mulut .Derajat II: Reaksi lebih dalam sampai mencapai dermis bahkan sampai ke subkutan. yang keadaan fisiknya masih mampu bergerak tanpa bantuan orang lain sehingga untuk kebutuhannya sehari-hari masih mampu melakukan sendiri. mengingat sumber infeksi dapat timbul bila keberhasilan kurang mendapat prhatian. Perawat harus mengetahui dasar perawatan klien usia lanjut ini terutama tentang hal-hal yang berhubungan dengan keberhasilan perorangan untuk mempertahankan kesehatannya. 1993Ib) PENDEKATAN PERAWATAN LANJUT USIA Pendekatan fisik Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif. atau cekung pada bungkus otot dan sering sudah ada infeksi: usahakan luka selalu bersih dan eksudat diusahakan dapat mengalir keluar. dan kalau perlu diberikan antibiotic sistemik. terlentang dan miring kiri). Pergantian balut dan salep ini jangan terlalu sering karena dapat merusak pertumbuhan jaringan yang diharapkan. Kelembaban luka dijaga tetap basah kalau perlu dikompres karena akan mempermudah regenerasi sel-sel kulit. Bila sudah terjadi dekubitus . Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan . dan penyakit yang yang dapat di cegah atau di tekan progresifitasnya. Klien lanjut usia yang pasif atau yang tidak dapat bangun. 1991: My Kyta). berbatasan dengan fascia dari otot-otot: sudah dimulai didapat infeksi dengan jaringan nekrotik yang berbau. kejadian-kejadian yang dialami klien lanjut usia semasa hidupnya. penyembuhan luka secara alami dapat diharapkan. dan otot-otot (Depkes. kemudian di masase 2-3 kali/hari. Dekubitus derajat II Ulkus yang sudah dalam. tindakan dengan ultrason untuk membuka sumbatan-sumbatan pembuluh darah. yang keadaan fisiknya mengalami kelumpuhan atau sakit. Oleh karena itu. Setelah jaringan necrotic dibuang dan luka bersih. segera tentukan stadium atau derajatnya. perawatan pernafasar. walaupun ulkus telah sembuh harus diperhatikan kemungkinan timbul kambuh di daerah tersebut. Mortalitas dekubitus derajat IV ini dapat 40 %. kebutuhan. dan dilakukan posisi tidur secara selang seling (miring kanan. dan beikan tindakan medik dan keperawatannyasesuai apa yang dihadapi (Vander Cammen). dapat mempengaruhi ketahanan tubuh terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar. Dekubitus derajat IV Ulkus meluas sampai pada dasar tulang dan sering pula disertai jarinagan nekretik maka semua langkah-langkah diatas tetap dikerjakan dan jaringan nekrotik yang ada harus dibersihkan dan jika perlu dibuang. Perawatan fisik secara umum bagi klien lanjut usia dapat dibagi atas dua bagian yaitu: Klien lanjut usia yang masih aktif.

Perawat hendaknya memiliki kesabaran dan ketelitian dalam memberikan kesempatan dan waktu yang cukup banyak untuk menerima berbagai bentuk keluhan agar para lanjut usia merasa puas. Oleh karena itu . harus dicari penyebabnya. yaitu sabar. tempat tidur. pilek. tidak gaduh. kebersihan rambut. sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab. makan. perawat dapat berperan sebagai supporter . misalnya gangguan serebrovaskuler mendadak. termasuk perawat yang memberikan perawata. kebersihan tubuh. misalnya: batuk. hal makanan. menjaga sikap tubuh waktu berjalan . tidur. menjaga sikap. Kebersihan perorangan sangat penting dalam usaha mencegah timbulnya peradangan. memakai dan menukar pakaian. makanan yang serasi dan suasana yang menyenangkan dapat menambah selera makan. melindungi kulit dan keclakaan Toleransi terhadap kakurangan O2 sangat menurun pada klien lanjut usia. sambil bertanya apa keluhan yang dirasakan. Perawat harus selalu memegang prinsip " Tripple". Seorang perawat harus mampu memotifasi para klien lanjut usi agar mau dan menerima makanan yang disajikan. dan kelainan yang dideritanya. rasa keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan fisik. Perawat harus membangkitkan semangat dan kreasi klien lanjut usia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa . tubuh waktu berjalan. Perawat perlu mengadakan pemeriksaan kesehatan . Sentuhan (misalnya gangguan tangan) terkadang sangat berarti buat mereka.dan gigi. Pendekatan psikis Disini perawat mempunyai peranan penting untuk mengadakan pendekatan edukatif pada klien lanjut usia. Perawat harus mendekatkan diri dengan klien lanjut usia membimbing dengan sabar dan ramah.Kurangnya kemampuan mengunyah sering dapat menyebabkan hilangnya nafsu makan.. mempertahankan suhu badab. Waktu makan yang teratur. simpatik dan service. untuk itu perlu pengamatan secermat mungkin . bagaimana tentang tidur. kebersihan kulit dan badan. cara memakan obat. makanminum. Hal ini penting meskipun tidak selalu keluhan-keluhan yang dikemukakan atau gejala yang ditemukan memerlukan perawatan. kebersihan rambut dan kuku . melakukan eliminasi. menu bervariasi dan bergizi. rendah diri. peninngkatan . bila ada penyakit tertentu perawat harus mengatur makanan mereka sesuai dengan diet yang dianjurkan. duduk. kemudian mengkomunikasikan dengan mereka tentang cara pemecahannya. untuk itu kekurangan O2 yang mendadak harus disegah dengan posisi bersandar pada beberapa bantal. merubah posisi tiduran . seperti menurunyya daya ingat untuk peristiwa yang baru terjadi. Perubahan-perubahan ini meliputi gejala-gejala. beristirahat. mengingat sumber infeksi bisa saja timbul bila kebersihan kurang mendapat perhatian. kebersihan tempat tidur serta posisi tidurnya. dan cara pindahdari tempat tidur ke kursi atau sebaliknya. intoksikasi dan kejang-kejanh. Untuk mengatasi masalah ini adalah dengan menghidangkan makanan agak lunak atau memakai gigi palsu. berkurangnya kegairahan atau keinginan. apakah obat sudah dimminum. tidak jarang pada klien lanju usia dihadapka pada dokter dalam keadaan gawat yang memerlukan tindakan darurat dan intensif. jika ada keluhan insomnia . Hal itu perlu dilakukan karena perubahan psikologi terjadi karena bersama dengan semakin lanjutnya usia. trauma. tidur. jangan melakukan gerak badanyang berlebihan. apakah mereka bisa melasanakan ibadah dsb. hal ini harus dilakukan kepada klien lanjut usia yang diduga menderita penyakit tertentu atau secara berkala bila memperlihatkan kelainan. kebersihan badan . interpreter terhadap segal sesuatu yang asing. Untuk itu perawat harus selalu menciptakan suasana yang aman . kuku dan mulut atau gigi perlu mendapatperhatian perawatan karena semua itu akan mempengaruhi kesehatan klien lanjut usia. membiarkan mereka melakukan kegiatan dalam batas kemampuan dan hobi yang dimilikinya. Adapun komponen pendekatan fisik yang lebuh mendasar adalah memperhatikan ayau membantu para klien lanjut usia untuk bernafas dengan lancer. Pada dsarnya klien lanjut usia membutuhkan rsa aman dan cinta kasih saying dari lingkungan. . Perawat perlu memberikan penjelasan dan penyuluhan kesehatan.

Tidak jarang terjadi pertengkarav dan pperlahian diantara lanju usia . seperti ketidak pastian akan pengalaman selanjutnya. dan rasa kecemasan . tergantung dari kepribadian dan cara dalam mengahadapi hidup ini. Umumnya pada waktu kematian akan dating agama atau kepercayaan sesorang merupakan factor yang penting sekali. Dengan demikian pendekatan perawat pada klien lanjut usia bukan hanya terhadap fisik saja. Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup klien lanjut usia (life support) menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau gangguan tmaupun akut) Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan diagnosa yang tepat dan dini. nonton film. DR. masih ada orang lain yang mengurus mereka. perawat harus dapat mendukung mental mereka kea rah pemuasan pribadi sehinga seluruh pengalaman yang dilaluinya tidak menambah beban. Tidak sedikit klien tidak tidur terasa . Dalam menghadapi kematian setiap klien lanjut usia akan memberikan reaksi yang berbeda. hal ini dapat diatasi dengan berbagai cara yaitu mengadakan hak dan kewajiban bersama. jangan mentertawakan atau memarahi klien lanjuusia bila lupa melakukan kesalahan . Rasa semacam ini didasari oleh berbagai macam factor.dan bercerita merupakan salah satu upaya perawat dalam pendekatan social. melainkan perawat lebih dituntut menemukan pribadi klien lanjut usia melalui agama mereka. misa jalan pagi. keluarga yang dirumah sehingga menimbilkan kekecewaan . Dengan demikian perawat tetap mempunyai hubungan komunikasi baik sesama mereka maupun ter hadap pepetugas yang secara langsunga berkaitan dengan pelayanan kesejahteraan social bagi lanjut usia di Panti Wreda. Pendekatan spiritual Perawat harus bisa memberikan ketenagan dan kepuaran batinn dalam hubungannya dengan Tuhan atau agama yang dianutnua dalam kedaan sakit atau mendeteksikematian. Harus diingat kemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. TUJUAN ASUHAN KEPERAWATAN LANJUT USIA Agar lanjut usia dapat melaukan kegiatan sehari ±hari secara mandiri dengan: Mempertahankan kesehatan serta kemampuan dari mereka yang usianya telah lanjut dengan jalan perawatan dan pencegahan. Sedangkan rasa bersalah selalu menghantui pikiran lanjut usia. dan pergeseran libido. Tony styobuhi mengemukakn bahwa maut sering kali menggugah rasa takut. perubahan pola tidur dengan suatu kecenderungan untuk tiduran diwaktu siang. bila perlu diusahakan agar di masa lanjut usia ini mereka puas dan bahagia. bila mereka menjumpai kelainan tertentu . perawat bila melakukannya secara perlahan ±lahan dan bertahap. Jadi pendekatan social ini merupakan suatu pegangan bagi perawat bahwa orang yang dihadapinya adalah makhluk social yang membutuhkan orang lain Penyakit memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada para lanjut usia untuk mengadakan konunikasi dan melakukan rekreasi. biaya hidup. Adapun kegelisahan yang timbul diakigatkan oleh persoalan keluargaperawat harus dapat meyakinkan lanjut usia bahwa kalaupun kelurga tadi di tinggalkan . Bila perawat ingin merubah tingkah laku dan pandangan mereka terhadap kesehatan . Pendekatan social Mengadakan diskusi . Perawat harus sabar mendengarkan cerita dari masa lampau yang membosankan. atau hiburan lain. ketakutan atau ke khawatiran. tukar pikiran.kewaspadaan . adanya rasa sakit dan kegelisahan kumpul lagi bengan keluatga dan lingkungan sekitarnya. Pada waktu inilah kelahiran seorang iman sangat perlu untuk melapngkan dada klien lanjut usia. Sehubungan dengan pedekatan spiritual bagi klien lanjut usia yang menghadapi kematian . Memberi kesempatan untuk berkumpul bersama dengan sesame klien usia berarti menciptakan sosialisasi kereka. stress memikirkan penyakitnya.

prosespikir. PENGKAJIAN Tujuan: Menentukan kemampuan klien untuk memlihara diri sendiri Melengkapi dasar-dasar rencana perawatan individu Membantu menghindarkan bentuk dan penandaan klien Memberi waktu kepada klien untuk menjawab. masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa perlu suatu pertolongan (memelihara kemandirian secara maksimal) FOKUS KEPERAWATAN LANJUT USIA Peningkatan kesehatan (helth promotion) Pencegahan penyakit (preventif) Mengoptimalkan fungsi mental Mengatasi gangguan kesehatan yang umum. minum. palpasi . Sosial ekonomi Dari man sumber keuangan lanjut usia Apa saja kesibukan lanju usia dalam menisci waktu luang Dengan siapa dia tinggal Kegiatan organisasi apa yang diikutu lanjut usia Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap lingkungannya Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain diluar rumah Siap saj yang mengunjungi Seberapa besar ketergantungannya Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginannya dengan fasilitas yang ada. BZAB/BAK Kebiasaan gerak badan / olah raga/senam lanjut usia Perubahan fungsi tubuh yang sanga bermaknang dirasakan Kebiasaan lanju usia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan dalam minum obat. perkusi. yaitu: Head to tea Sistem tubuh Psikologis Apakah mengenal masalah-masalah utamanya Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan Apakah dirinya merasa dibutuhkan atau tidak Apakah optimis dalm memandang suatu kehidupan Bagaimana mengatasi stress yang dialami Apakah mudah dalam menyesuaikan diri Apakah lanjut usia sering mengalami kegagalan Apakah harapan pada ssaat ini akan dating Perlu dikaji juga mengenai fungsi kognitif: daya ingat. Spiritual Apakah secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya Apakah secara teratur mengikuti atu terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan. agar para klien lanjut usia yang menderita suatu penyakit . dan kemampuan dalam penyelesaian masalah. dan auskultasi untuk mengetahui perubahan fungsi tubuh Pendekatan yang digunakan untuk pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik Pemeriksaan dilakukan dengan cara inspeksi. misalnya pengajian dan penyantunan anak yatim atau fakir miskin . dan pendengaran Kebiasaan makan. Meliputi aspek: Fisik Wawancara: Pandangan lanjut usia tentang kesehatannya Kegiatan yang mampu dilakukan lanjut usia Kebiasaan lanjut usia merawat diri sendiri Kekuatan fisik lanjut usia: otot.Mencari upaya semaksimal mungkin.sendi. orientasi. istirahat/tidur. penglihatan. alam perasaan.

pedal Respirasi Kecepatan. tidak direka . robekan Turgor Perubahan pigmen Adanya jaringan parut Keadaan kuku Keadaan rambut Adanga ganttuan umu . inkontinensia Frekuensi. berdiri Hipotensi akibat posisi tubuh BB hilang pada tahun-tahun terahir Tingkat orientasi Memory (ingatan) Pola tidur Penyesuaian psikososial Sistem persyarafan Kesimetrisan raut wajah Tingkat kesadaran adanya perubahan dari otak Mata: kejelasan melihat. irama. mual muntah auskultasi bising usus palpasi apakah perut kembung dan perlebatran kolon apakah ada kondstipakl Siatem gastrointertinal warna dan bau urine Distensi kandeng kemih. Sistem kulit Kulit temperature. irama. dan kedalaman Tidak terturnya pernafasan Tekanan darah Saat baring.Bagaimana cara lanjut usia menyelesaikan masalh apakah dengan berdoa Apakah lanjut usia terlihat sabar dan tawakal Pengkajian dasar Temperatur Mungkin serendah 95 F (hipotermi) kurang lebih 35 C Lebih teliti dperiksa di sublingual Pulse (denyt nadi) kecepatan. duduk. radial. atau desakan Pemasukancairan dan pengeluarkan cairan Disuria Seksualitas. dan mulut mengunyah dan menelan keadaah gigi. mual. dan volume Aplika. luka terbakar. tingkat kelembaban Keutuhan luka. rahang. dilatasi Ketajaman penglihatan penurunan karena menua Gangguan sensori (sensory deprivarion) Ketajaman mendengaran Adanya sakit dan nyeri Sistem kardiovaskuler status gizi pemasukan diet anoreksia. tekanan. adanya katarak Pupil: kesamaan.

penglihatan b/d hambatan penerimaan dan pengiriman rangsangan Kurangnya perawatan diri b/d penurunan minat dalam merawat diri Potensial cedera fisik b/d penurunan fungsi tubuh Gangguan pola tidur b/d kecemasan atau nyeri Perubahan pola eliminasi b/d kecemasan atau nyeri Perubahan pola eliminasi b/d penyempitan jalan nafas atau adanya secret pada jalan nafas Gangguan mobilitas fisik b/d kekuatan sendi Psikososial Isolasi social b/d perasaan curiga Menarik diri dari lingkungan b/d perasaan tidak mampu Depresi b/d isolasi social Harga diri rendah b/d perasaan ditolak Coping tidak adequate b/d ketidakmampuan mengemukakan perasaan secara tepat Cemas b/d sumber keuangan yang terbatas Spiritual Reaksi berkabung atau berduka cita b/d ditinggal pasangan Penolakan terhadap proses penuaan b/d ketidakstabilan menghadapi kematian Marah terhadap tuhan b/d kegagalan yang dialami Perasaan tidak tenang b/d ketidakmampuan melakukan ibadah secara tepat RENCANA KEPERAWATAN Meliputi : Melibatkan klien dan keluarganya dalam perencanaan Bekerjasama dengan profesi kesehatan yang lainnya Tentukan prioritas : Klien mugkin puas dengan situasio demikian Bangkitkan perubahan tetapi jangan memaksakan Keamanan atau rasa aman adalah utama yang merupakan kebutuhan Cegah timbulnya masalah-masalah Sediakan klien cukup waktu untuk mendapat input atau pemasukan Tulis semua rencana jadwal Perencanaan .Sistem musculoskeletal Kontraktur atrofi otot mengecilkan tendo ketidakadekuatannya gerakan sendi tingkat mobilisasi ambulasi dengan atau tanpa bantuan/peralatan keterbatasan gerak kekuatan otot kemampuan melangkah atau berjalan gerakan sendi paralysis kifosis Psikososial Menunjukkan tanda-tanda meningkatnya ketergantungan Fokus pada diri bertambah Memperlihatkan semakin sempitnya perhatian Membutuhkan bukti nyata akan rasa kasih saying yang berlebihan. DIAGNOSA KEPERAWATAN Fisik/Biologis Gangguan nutrisi :kurang/lebih dari kebutuhan tubuh b/d pemasukan yang tidak adequate Gangguan persepsi sensorik : Pendengaran.

Lingkungan Tempatkan klien di ruangan khusus dekat kantor sehingga mudah diobservasi bila lansia tersebut di rawat . 6-8 gelas perhari Rencana makanan untuk lansia Berikan makanan porsi kecil tapi sering Banyak minum dan kurangi makanan yang terlalu asin Berikan makanan yang mengandung serat Batasi pemberian makanan yang tinggi kalori Membatasi minum kopi dan teh Meningkatkan keamanan dan Keselamatan lansia Penyebab kecelakaan pada lansia : Fleksibilitas kaki yang kurang Fungsi penginderaan dan pendengaran menurun Pencahayaan yang kurang Lantai licin dan tidak rata Tangga tidak ada pengaman Kursi atau tempat tidur yang mudah bergerak Tindakan Mencegah Kecelakaan : Klien/Lansia : Biarkan lansia menggunakan alat Bantu untuk meningkatkan keselamatan Latih lansia untuk pindah dari tempat tidur ke kursi Biasakan menggunakan pengaman tempat tidur. 15%20% dari total kalori yang dibutuhkan. jika tidur Bila mengalami masalah fisik. Protein. tidak dianjurkan karena menyebabkan hambatan pencernaan dan terjadi penyakit. missal gemuk atau kurus atau disertai penyakit demam. 60 % jumlah karbohidrat yang dibutuhkan Lemak.700 kalori Dapat dimodifikasi tergantung keadaan lansia.Tujuan tindakan keperawatan lansia diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar. misalnya rematik.100 kalori Perempuan = 1. latih klien untuk menggunakan alat Bantu untuk berjalan Bantu ke kamar mandi terutama untuk lansia yang menmggunakan obat penenang /diuretic Menggunakan kacamata bila berjalan atau melakukan sesuatu Usahakan ada yang menemani. Karbohidrat. antara lain : Pemenuhan kebutuhan nutrisi Peningkatan keamanan dan keselamatan Pemeliharaan kebersihan diri Pemeliharaan keseimbangan istirahat/tidur Meningkatnya hubungan interpersonal melalui komunikasi Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi Penyebab gangguan nutrisi pada lansia : Penurunan alat penciuman dan pengecap Mengunyah kurang sempurna Gigi yang tidak lengkap Rasa penuh pada perut dan susah BAB Melemah otot lambung dan usus Masalah gizi yang timbul pada lansia : Gizi berlebihan Gizi kurang Kekurangan vitamin Kelebihan vitamin Kebutuhan Nutrisi pada lansia : Kalori pada lansia : Laki ± laki = 2. untuk mengganti sel-sel yang rusak. 20-25% dari total kalori yang dibuhkan Vitamin dan mineralsama dengan kebutuhannya pada usia muda Air. jika berpergian.

Letakkan bel di bawah bantal dan ajarkan cara penggunaannya Gunakan tempat yang tidak terlalu tinggi .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful