BAB 1 RUANG LINGKUP SINTESIS KIMIA ORGANIK

Latar Belakang Berabad-abad para ahli mengira bahwa senyawa yang terjadi dalam jasad hidup berbeda dengan senyawa lainnya karena adanya semacam gaya gaib (Vital Force). Gagasan ini menyebabkan ahli kimia tidak mencoba membuat senyawa organik di laboratorium. Tetapi pada thun 1928, ahli kimia Jerman, Friedrich Wohler, pada saat itu berumur 28 tahun, secara kebetulan membuat urea, yakni unsur penting dalam urine, dengan memanaskan zat anorganik (mineral) yaitu amonium sianat. Ia begitu gembira dengan hasilnya, lalu menulis surat kepada gurunya, ahli kmia swedia J.J. Berzelius sebagai berikut: ³saya bisa membuat urea tanpa memerlukan sebuah ginjal atau manusia atau hewan´. Percobaan ini dan yang serupa lainnya sedikit demi sedikit melenyapkan (Vital Force) dan membuka jalan menuju dunia kimia organik sintetik moderen. Sintesis biasanya terdiri dari penggabungan kepingn kecil dan sederhana menjadi molekul besar yang kompleks. Untuk membuat sebuah molekul yang mengandung banyak atom dari molekul-molekul yang mengandung atom lebih sedikit, perlu diketahui bagaimana membuat dan memecah ikatan kimia. Walau sintesis urea dari Wohler suatu kebetulan, sintesis akan lebih efektif dan terkendali jika dilakukan dengan cara-cara yang rasional, sehingga semua atom tersusun, mereka akan berhubungan satu samalainya dengan benar dan menghasilkan produk yang dihasilkan. Ikatan kimia dibuat dan dipecah melalui reaksi-reaksi kimia. Dengan demikian kita dapat mempelajari bagaimana menyambung molekul-molekul secara spesific, suatu pengetahuan yang sangat berguna dalam sintesis. Pada saat ini sejumlah senyawa organik yang telah disintesis dalam laboratorium dan industri kimia jauh lebih banyak dari pada yang diisolasi (dipisahkan) dari alam-tetumbuhan dan hewan. Ada beberapa alasan mengapa penting sekali mensintesis molekul. Pertama, dapat mensintesis produk alam dilaboratorium dengan mudah, dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pemisahan dari alam. Contoh senyawa yang mula-mula di isolasi dari alam dan sekarang diproduksi secara sintesis untuk tujuan komersil adalah vitamin-vitamin, asam amino, zat-zat warna, kamper penghalau ngengat, penisilin antibiotika dan lain-lain. Sekalipun istilah sintetis kadang menyiratkan arti 'palsu', produkproduk alam sintesis pada kenyataanya identik dengan senyawa yang dipisahkan dari alam. Alasan lain untuk sintesis ialah menciptakan zat-zat baru yang mungkin mempunyai sifat-sifat lebih berguna dibanding dengan hasil-hasil alami. Serat sintetik seperti nyilon dan orlon, misalnya mempunyai sifat tertentu yang lebih berguna dan lebih baik dari serat alami seperti sutra, kapas dan sisal. Banyak senyawa dalam obat-obatan adalah sintetik (termasuk
1

aspirin, eter, novocain dan barbiturat). Daftar produk sintetik yang kita kenal dalam masyarakat industri antara lain adalah plastik, deterjen, insektisida dan tablat-tablet kontraseptik. Semua produk tersebut merupakan senyawa karbon atau senyawa organik. Akhirnya, kimiawan organik kadang-kadang mensintesis senyawa baru untuk menguji teori-teori kimia dan kadang tidak mempunyai tujuan khusus sama sekali. Beberapa struktur geometrik, misalnya mempunyai nilai-nilai estetis yang baik, dan merupakan tantangan untuk dapat membuatnya.

Dalam mempelajari sintesis senyawa organik,kita harus juga melibatkan prespektif yang lebih luas, yaitu industri vs sintesis laboratorium, keterbatasan waktu, pertimbangan teknisekonomis, dan perbedaan mendasar dari kriteria yang akan digunakan dalam pemilihan metode sintesis. Tiga contoh yang menunjukkan paradigma tersebut adalah sintesis senyawa siklobutadiena(1.1) asam gibberelat(1.2) dan akrilonitril(1.3). Sintesis molekul dengan reaktivitas tinggi seperti siklobutadiena memerlukan kondisi reaksi yang mungkin hanya diketahui dan dipahami oleh orang-orang tertentu ,karena reaksi tersebut harus di lakukan pada suhu -260oC. Sintesis ini melibatkan eliminasi fotokimia karbon dioksida dari perkusor lakton bisiklis dalam matriks argon padat. Pertimbangan ekonomi sungguh tidak relevan; tujuannya hanya untuk mendapatkan senyawa, sedangkan biaya dan usaha yang harus di bayar tidak dipikirkan. Asam gibberalt adalah contoh keberhasilan ahli kimia sintesis karena dibutuhkan 41 langkah untuk mensintesis total senyawa tersebut. Ini merupakan satu prestasi intelektual yang hebat dan mendemonstrasikan kekuatan dari sintesis senyawa organik. Ahli kimia sintesis secara akademik memang akan termotivasi oleh keindahan mensintesis suatu senyawa, tetapi mereka pun sangat mudah untuk kehilangan kontak dengan dunia nyata yaitu bahwa ilmu kimia harus diaplikasikan. Pertimbangan ekonomi mserupakan bagian terpenting dalam preparasi industri pada skala yang besar, dengan syarat meliputi proses yang jelas dean sederhana, biaya sintesis sedapat mungkin rendah, dan reaksi diupayakan berjalan dalam satu langkah. Namun demikian, hal ini dapat terjadi pada kondisi reaksi sangat spesifik (ekstrem) seperti metode aliran-kontinu, reaksi dengan orde detik dan suhu mencapai 500-700 0C, contohnya pada sintesis senyawa akrilonitril. Contoh di atas menunjukan variasi yang khas dari kondisi yang terlibat dalam sintesis senyawa organik. Hal-hal yang dipelajari dalam sintesis senyawa organik, untuk memberikan pwnjelasan tentang filosofi sintesis dan metodologi yang menyangkut bagaimana menyiapkan desain suatu molekul organik, di tambah metode tertentu dan kriteria umum yang diperlukan agar reaksi tersebut dapat berjalan.

2

Dalam sintesis senyawa organik, beberapa reaksi yang spesifik akan menjadi pokok bahasan dengan disertai penjelasan, perluasan, atau pensistematikan transformasi gugus fungsi. Proses membangun kerangka karbon, oksidasi dan reduksi, penggunaan reaksi organologam, serta interkonversi, aktivitas dan proteksi gugus fungsi merupan topik yang akan dibahas.

1.3.1 Reaksi sintesis Kemungkinan terbuka bagi ahli kimia sintesis adalah memanfaatkan sebesar mungkin apa yang diketahuinya secara lebih mendalam tentang ketersedian seleksi reaksi kimia. Woodward mengatakan bahwa ahli kimia organik telah menunjukan pentingnya transformasi sintesis dalam bidang sintesis senyawa organik. Syarat dalam merancang jalur sintesis yaitu:
y Telah diketahui y Dapat diprediksi dan sangat dibutuhkan.

Sintesis dalam menggunakan pereaksi organologam, baik menggunakan logam berat maupun logam transisi, telah secara mantap dibuat dalam skala pabrik. Oleh karena itu, penerapan sintesis dari kompleks precious-metal juga berkembang pesat dan memungkinkan untuk membangun transformasi senyawa organik yang berguna secara sintetik. penggunaan senyawa heterosiklik dalam sintesis senyawa organik merupakan perkembangan yang banyak memberikan sumbangan pada ilmu sintesis senyawa organik. 1.3.2 teknik sintesis Katalis tranfer fase adalah salah satu teknik sintesis, dengan dua versi, yaitu menggunakan garam amonium kuarterner dan penggunaan katalis makrosiklik, seperti eter mahkota dan poliamin makrosiklik. Reaksi tranfer fase secara klasik harus dianggap sebagai keadaan yang dinamis, yaitu sintesis interfasial. Selain katalis tranfer fase cair cair, juga termasuk didalamnya reaksi yang terjadi pada gas-cairan, bidang batas padatan-cairan atau gas-padat, reaksi pada fase koloid, dan topokimia pada multilapisan. Tonggak penting dalam bidang teknik sintesis adalah pengenalan reaksi terbantu polimer(polimer supported reaction). Pengaruh faktor fisik luar juga telah terasa dalam sintesis melalui penggunaan arus listrik untuk mendorong reaksi seperti pada elektrolisis kolbe. Namun demikian, jumlah dan variasi dari transformasi sintesis yang dipromosikan oleh arus listrik sekarang cukup banyak, sering menghasilkan reaksi kimia yang baik sehingga sering di kenal dengan istilah ³elektrosintesis´ dan bahkan sudah dilakukan dalam skala pabrik. Cahaya sebagai faktor fisik, menghasilkan hasil reaksi fotokimia yang merupakan bagian penting dalam sintesis senyawa organik.
3

Desain sintesis merupakan rasionalisasi menyeluruh dan penyederhanaan atas kejelasan reaktan dengan reaktifitas normal dan kebalikannya.katalis tranfer fase khiral khususnya memberikan enantiomerik yang sangat baik dengan garam amonium kuarterner dan eter mahkota. Yaitu fragmentasi molekul pada spektometer massa adalah proses pemutusan ikatan. adalah konsep inversi polaritas atau umpolung. yaitu desain metodelogi dengan cara analisis retrosintesis. terhindari dari rreaksi penataan ulang dan rasemisasi. yang akan menghasilkan kemungkinan sintesis yang dapat dipertimbangkan. atau dengan kata lain katalis akan mengarahkan reaksi hanya pada satu jalur reaksi. Jadi skema fragmentasi dari molekul dalam spektrum massa memungkinkan desain dari jalur sintesis untuk senyawa tersebut.3 faktor tiga dimensi dalam sintesis senyawa organik Dalam mempelajari sintesis senyawa organik adalah pertimbangan dari adanya faktor tiga dimensi. laju reaksi sampai 1012 kali lebih cepat. Pengaruh stereokimia dari reaksi sintesis klasik dan kelebihan dari pereaksi dan metode baru yang berpengaruh terhadap stereoselektivitas berkembang sangat cepat. Atom ini menentukan reaktifitas polar rantai karbon yang mengikatnya.6 Sintesis Spektra masa retro Kametani menciptakan metode yang dinamakan retro mass spectra synthesis.3. yaitu kondisi sangat lunak(mild)misalnya pH dan suhu fisiologi. Yang kedua. regiospesifik.3. Pendekatan sintesis stereoselektif lainnya adalah penggunaan katalis khiral dan bukannya pereaksi khiral.4 desain sintesis Dalam mempelajari sintesis organik adalah harus melibatkan rencana dan strategi. dan total kemospesifik. 1. Synton merupakan unit yang dapat dibentuk atau dirangkai berdasarkan reaksi sintesis yang dikenal.reaksi yang didorong oleh enzim sebagai biokatilis mempunyai kelebihan dibandingkan dengan reaksi organik murni. 1. 1. Pertama adalah konsep synton yang didefinisikan oleh Corey sebagai unit struktur dalam molekul yang terkait pada kemungkinan operasi sintesis. Prosedur penentuan inversi polaritas tersebut dihasilkan pada proses kebalikannya. 1.3. 1. maka dapat diparalelkan dengan degradasi molekular.5 Analisis Retrosintesis Dua tahap yang memberikan kemajuan strategi sintesis.Yang terakhir dan merupakan bidang yang berkembang sangat pesat yang terkait dengan bidang biokimia adalah penggunaan enzim dalam sintesis senyawa organik.3. Setiap penjelasan sintesis senyawa organik harus memasukkan aspek stereokimianya sehingga menimbulkan gejelah bahwa sintesis stereoselektif berkembang sangat cepat.7 Desain dengan bantuan komputer (computer-aided design) 4 .3. dengan pusat donor dan akseptor yang umumnya dalam posisi rantai.

Inti dari pendekatan ini adalah asumsi bahwa reaksi organik dapat diperlakukan sebagai pemutusan dan pembentukan. meliputi metode untuk mengatasi arsitektur molekular yang dihasilkan. berupa usulan yang dibuat oleh mesin. 5 . serta meletakkan pertimbangan pada pergeseran elektron.EROS (Elaboration of Reaction for Organic Synthesis) merupakan program komputer yang dapat memberikan reasoning tanpa dibatasi oleh jumlah file reaksi. Komputer dapat memunculkan transformasi sintesis dengan prinsip menyajikan reaksi yang masuk akal.

 Transformasi didefenisikan sebagai perubahan tepat dari suatu reaksi sintesis Sebagai contoh. asam pentanoat (2. dan diskoneksi ikatan karbonkarbon menghasilkan 1Pentanol (2.8) .  DISKONEKSI DENGAN PENOMORAN 6 .B B R R  Perubahan gugus fungsi merupakan tranformasi dari satu gugus fungsi menjadi gugus fungsi yang lain.7) sebagai target sintesis.

7 . yaitu: 1. Pendiskoneksian ikatan 1 pada 2. dan kedudukan atom ±atom akseptor di beri tanda dengan huruf a.25. untuk menyelesaikan masaalah ini. Pendiskoneksian ikatan 2 pada 2. ikatan-ikatan kunci akan dibentuk melalui sejumlah reaksi 2. evaluasi yang di ingikan adalah suatu molekul yang real. Ikatan-ikatan akan dibentuk oleh reaksi yang melibatkan intermediat(zat antara) ionik . Pendiskoneksian ikatan dua pada gambar di bawah akan menghasilkan fragmen 1 dan 2. ada dua asumsi yang dibuat.26 dan 2.reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya dan merupakan kebalikan dari sintetik (retrosintetik). dan reaksi yang real akan digunakan untuk menentukan ikatan yang didiskoneksi dengan benar dalam sintesis.22 akan menghasilkan 2 fragmen (hasil diskoneksi) 2. Kedudukan atom ± atom donor di beri tanda dengan huruf d.27.23 menghasilkan fragmen 2.24 dan 2. Kedua pendiskoneksianyang mungkin ini harus ermati.

Ada dua jenis produk metabolisme yaitu metabolit primer dan sekunder. Dalam tubuh makhluk hidup. Senyawa organik pada umumnya dihasilkan oleh organisme hidup.  Pengertian Ekuvalensi sintetik Merupakan fragmen molekul yang ekuvalen dengan molekul real berdasarkan atas d keidentikan reaktivitas kimianya sebagai contoh. Enzim ini tentu saja sangat spesifik. kedudukan C .Sebagai contoh. Biosintesis atau lebih dikenal dengan istilah metabolisme sehingga produk sintesisnya dikenal dengan nama metabolit. Sintesis Organik.30 atau 2. adalah ekuvalen dengan C a parsial pada reaksi griknard.29 dan 2.32. senyawa organik disintesis melalui proses biosintesis dan dikatalisis oleh biokatalis yg disebut enzim.24 dan 2.25 masing ± masing menjadi 2. Kandungan senyawa organik dalam metabolit sekunder pada makhluk hidup 8 . dan kedudukan C ekkivalen dengan karbon elektrofilik pada alkil halida A. hasil diskoneksi 2.

mirip atau berfungsi mirip di laboratorium . 9 . Memastikan bahwa reagen pereaksi hasil pemutusan (sinton) tersedia sebagai starting Material. Melakukan diskoneksi dengan metode yang berhubungan dengan reaksi-reaksi yang mungkin. 2. Proses semisintetik mencakup transformasi metabolit primer dan sekunder menjadi senyawa lain yang lebih bermanfaat. c. dari penjelasan ini. jelaslah bahwa diskoneksi pada hakekatnya adalah merupakan kebalikan langkah sintetik (retrosintesis). selanjutnya MT dipecah/dipotong/diputus dengan seri diskoneksi. Diskoneksi merupakan operasi balik suatu reaksi melalui suatu pembelahan yang Pedoman yang sangat penting untuk meripta suatu sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah sebagai berikut : 1. karena reaksoi senyawa organik tidak lain dan tidak bukan adalah transformasi gugus fungsional. b. Sintesis : a. Membuat rencana berdasarkan analisis Starting Material dan kondisi sintesis. di laboratorium tentu sangat sulit sehingga prosesnya lebih tepat bila disebut sebagai proses semisintetik (Sitorus :2008). Ikatan yang didiskoneksi adalah yang diyakini reaksi tersebut dapat dapat berlangsung berdasarkan kaedah -kaedah dan jenis-jenis reaksi yang mungkin. Ada kalanya pada waktu melakukan analisis terhadap bahan awal (Starting Material) hasil diskoneksi harus diperoleh dari suatu hasil sintetik yang dikenal dengan IGF tadi.relatif rendah. Mengenal gugus fungsional dan molekul target (MT) b. Bila tidak berhasil dalam sintesis dilakukan pengkajian ulang analisis. sehingga ahli kimia organik berusaha mensintesis senyawa yang sama. Dengan demikian hal yang mutlak harus dipahami agar sukses dalam melakukan sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah memahami reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya. Retrosintesis Merupakan teknik pemecahan masalah untuk mengubah struktur dari molekul target sintesis menjadi bahan-bahan yang lebih sederhana melalui jalur yang berakhir pada suatu material start ysng sesuai dan mudah didapatkan untuk keperluan sintesis(Smith. struktur molekul yang akan disintesis ditentukan terlebih dahulu yang dikenal sebagai molekul target (MT). padahal kebutuhan akan senyawa-senyawa organik terus meningkat. Analisis : a.1994)Dengan cara ini. B.

Rancangan 2. Telah diketahui 3.Retrosintesis Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam retrosistesis ialah sebagai berikut: 1.melalui serangkaian tahapan reaksi yang akhirnya akan menuju pada bahan awal yang sederhana atau bahan awal yang dapat diperoleh dengan mudah Pendekatan retrosintesis untuk sintesis dengan bahan awal yang sudah diketahui meliputi: 1. 10 . Menentukan kedudukan pasangan ion intermediate yang paling cocok untuk menyepurnakan sintesis ikatan karbon-karbon yang diinginkan . kesimpulan Cara penyelesaian masalah untuk transformasi dari suatu target molekul sintetik. 2. Dapat diprediksi produk yang akan terjadi. 4. Menggunakan konsep donor ±akseptor untukn mengubah hasil-hasil diskoneksi menjadi bagian-bagian nukleofilik dan elektrofilik. 3.Menentukan kedudukan kaarbon yang terkandung dalam bahan awal yang terdapat pada target. Diskoneksi ikatan yang memberikan penyederhanaan secara maksimum.

Penerapan perubahan gugus fungsi pada sintesis dapat digambarkan pada kasus sintesis berikut. TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI Dalam sentesis.4) melalui reaksi substitusi. Konversi sikloheksanon (3. Serngkaian adisi ini menggunakan lima macam tipe reaksi utama yaitu asam/basa. masalah yang mendapatkan perhatian besar adalah pembentukan kerangka karbon dengan cara reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon. Berikutnya adalah reaksi fosfor tribromida yang memberikan bromide (3.BAB III ASAM BASA DAN TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI A.3) melalui reaks adisi asil. Reaksi awal keton dengan litium aluminium hidrida (LiAlH4 ) menghasilkan alcohol (3. da adisi.1) menjadi bromohidrin (3. Basa akan mengeliminasi dan memberikan alkena (3. substitusi. Reaksi terakhir dengan asam hipobromida menghasilkan 3. reaksi kimia dalam sintesis meliputi penggabungan gugus fungsi atau penggantian gugus fungsi.5). 11 .2 yang menggambarkan reaksi adisi.2) hanya membutuhkan langka transformasi gugus fungsi. keduanya menggambarkan reaksi eliminasi dan reaksi asam/basa. eliminasi. reduksi. Namun demikian.

Tingkat ionisasi merupakan ukuran keasaman HA. dan H2O < H2S pKa : 3. CH4 < NH3 < H2O < HF Asam lemah Asam kuat CH3. asam kuat menghasilkan basa konjugat yang lemah. dan asam lemah menghasilkan basa konjugat yang kuat.A. b. Pada umumnya. Etanol merupakan asam konjugat yang merupakan asam yang cukup kuat untuk memprotonasi hasil enolat basa. meiputi stabilitas relative asam (HX) dan asam konjugat (HB+) Pembentukan enolat (CB)dari 2-butanol (A) dengan natrium etoksida (B)dalam etanol merupakan reaksi yang dapat balik. Jika basa pada keadaan tersebut sangat lemah untuk melepaskan proton asam HA.0 Terdapat dua definisi keasaman/kebasaan : asa lewis merupakan penerima pasangan electron dan asam Bronsted -lowry merupakan pemberi proton sedangkan basa lewis merupakan pemberi pasangan electron dan basa Bronstedlowry merupakan penerima proton. dan tingkat kesetimbangan sebanding dengan keasaman HA. maka HA dapat dipandang sebagai asam lemah dalam system. Pada table periodic . meskipun keelektronegatifitasnya menurun. HF < HC < HBr < HI. Kedudukan keasaman bergantung pada banyak factor. Sejumlah factor yang mempengaruhi kekuatan asam dan hargan K dijelaskan a berikut ini: a.0 -7 -9 -10 15.74 7. Keasaman naik dari atas ke bawah.> NH2->HO Sebagai konsekuensi hal tersebut. kebasaan naik dari kiri ke kanan.pada umumnya keasaman naik ke kanan. c. merupakan pernyataan umum penulisan reaksi asam/basa : HA + B: HB+ + A+ Asam (HA) bereaksi dengan basa (B:) menghasilkan asam terkonjugasi HB (CA) dan basa terkonjugasi A (CB). Hal ini memacu kondisi kesetimbangan yang mengarah pada enolat yang lebih stabil. 12 . KEASAMAN PADA MOLEKUL ORGANIK Reaksi HA dan B membentuk HB+ dan A-.

natrium dan kalium hidroksida. Kesanggupan nukleofil mengikat elektrofil akan bergantung pada kekuatan nukleofil dan sifat substrat karbonil. dan t-butoksida. Ammonia dapat deprotonasi oleh basa yang sangat kuat seperti pereaksi Grignard dan organolithium yang menghasilkan basa amida. Terdapat dua tipe pokok reaksi : y Karbonil yang tidak mengandung gugus pergi. maka induksi dapat mempengaruhi karbon beta pada elektrofilik ikatan phi. atau fosfin ). dan kemungkinan dapat terjadi pengikatan nukleofilik. misalnya aldehida dan keton y Karbonil yang mengandung gugus pergi. metoksida.Asam lewis umumnya dinyatakan dalam bentuk MXn. Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan phi. asam MXn menunjukan sifat-sift keasaman dalam reaksi kesetimbangan: MXn Asam B basa MXn-Bhasil adisi B. Bila NaC=CCH3 bereaksi dengan karbonil. dan n merupakan valensi normal dari M. amina.maka ikatan karbon-karbon dapat di bentuk. logam natrium. t-butoksida dalam t-butanol). C. X merupakan ligan (atom halogen. Adisi Asil Nukleofilik 1) Pengikatan nukleofilik Nukleofil didefinisikan sebagai spesies yang dapat memberikan sepasan electron pada karbon dan membentuk ikatan baru dengan karbon. Kekuatan basa biasanya dinyatakan oleh pKa dari asam konjugatnya. 2) Adisi Asil pada karbonil tanpa gugus pergi Adisi nukleofilik pada karbonil cenderung reversible jika spesies nukleofilik yang mengikatnya juga merupakan gugus pergi yang baik seperti reaksi adisi air atau hidroksida pada karbonil. natrium dan kalium amida. Terdapat banyak jenis basa yang digunakan dala kimia organic. sedangkan M menyatakan logam. s 13 . Deproton alcohol memberikan basa asi alkoksida. misalnya turunan asam. kalium hidrida. Karena ikatan karbon bersifat kuat dan sukar putus maka reaksi kebalikannya lebih sukar. Kebasaan Molekul Organik Kekuatan relative basa di pengaruhi oleh factor yang sama seperti asam. yang merupakan basa yang sangat umum dan sering digunakan dalam pelarut alcohol (metoksida dalam methanol. Basa yang digunakan untuk mendeprotonasi air atau alcohol adalah natrium hidrida.

8 memudahkan pembentukan ikatan baru asam benzoate.6 memberikan hasil adisi 3.asam yang dibentuk diubah menjadi anion hidroksida. yaitu anion enolat (3. maka pengaruh induksi akan membuat karbon terminal dari alkena elektronik. Jenis reaksi ini dikenal sebagai adisi konjugasi atau adisi Michael yang dipacu dengan pembentukan hasil yang distabilkan oleh resonansi.9). Jika nukleofil mengikat karbonil. yaitu keton 3.10). Bila karbonil mengikat gugus pergi seperti klor. hidrolisis akan memberikan hasil akhir adisi. Pelepasan gugus pergi klorida dari 3.dan adisi nukleofilik heteroatom bersifat reversible.6) yang mula-mula dibentuk tidak melepaskan asetilida hingga adisi ireversibel dan hidrolisis 3. alkoksida (3.8 yang diikuti dengan reaksi eliminasi.maka adisi asil awal oleh hidroksida menghasikan 3. 4) Adisi konjugasi Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan dari alkena (seperti 3. Pada kondisi basa. Sebagai hasil adalah reaksi subsitusi dimana nukleofil menggantikan klor pada karbonil. maka klor dan gugus alkoksi berfungsi sebagai gugus pergi.7. 3) Adisi asil pada karbonil dengan gugus pergi (subsitusi asil) Turunan asam karboksilat seperti asam klorida dan ester di tandai oleh karbonil yang mengikat klor atau gugus OR.Berdasarkan alasan ini. dan menjadi kedudukan yang cenderung diikat oleh nukleofil.11 14 . Pada umumnya adisi nukeofil karbon pada karbonil bersifat ireversibel.

b.2 pada karbon biasanya lebih disukai. namun bila gugus R pada 3. dan juga menyerap panas berlebih yang dilepaskan oleh reaksi. semakin tinggi tetapan dielektrik. meliputi pelarut. a. Substrat Perbedaan substituen pada substrat karbonil akan mengakibatkan perbedaan yang besar pada laju reaksi adisi asil nukleofilik dengan nukleofil. Perbedaan utama antar pelarut protik dan pelarut aprotik adalah kesanggupan pelarut protik untuk mensolvasi baik kation maupun anion. Ukuran yang baik untuk menyatakan kesanggupan pelaru untuk memisahkan ion-ion ini adalah tetapan dielektrik. Untuk reaksi alkil halide primer. protik) dan pelarut yang tidak mengandung proton (aprotik). dan sifat gugus pergi.9 terhalang. Yang sangat menentukan adalah kesanggupannya melarutkan dan memisahkan ion-ion (solvasi). yaitu pelarut yang mengandung proton (X-H. Pada setiap kelompok. biasanya proses bimolekul bersifat dominan. konsentrasi. Dalam 15 . substrat. Solvasi merupakan kunci dari sebagian besar reaksi nukleofilik dan sangat penting pada reaksi asam/basa. Bila R kecil (seperti hydrogen pada aldehida terkonjugasi). maka adisi 1. Nukleofil/basa   lebih Jika nukleofil kuat. Pelarut dibagi menjadi dua kelompok. maka pelarut semakin polar. maka pengika terhadap karbon kuat. sifat nukleofil. c. Pelarut Pelarut digunakan untuk melarutkan semua reaksi. Proses bimolekul tergantung pada sifat substrat (molekul yang mengandung pusat nukleofil). maka pengikatan pada karbon asil menjadi sukar dan adisi konjugasi berlangsung sangat kompetif. Sifat yang sangat penting dari pelarut adalah polaritasnya. sedangkan pelarut aprotik hanya mensolvasi secara kuat suatu kation. 5) Karakteristik reaksi yang melibatkan nukleofil Banyak factor yang mempengaruhi terjadinya reaksi nukleofilik. sehingga proses bimolekuler lebih memungkingkan terjadi.Meskipun pengikatan pada karbon asil bisanya berlangsung lebih cepat.

Gugus pergi yang ³baik´harus mempunyai ikatan C-X yang lemah dan terpolarisasi tinggi.harus merupakan ion yang sangat stabil.12 mengandung gugus pergi yang diganti dengan nukleofil menghasilkan produk 3. umumnya ditulis SN2. Kenaikan konsentrasi nukleofil. REAKSI SUBTITUSI 1) Subtitusi nukleofilik bimolekul Reaksi Sn2 Substat 3. seperti halnya kebutuhan energy yang naik untuk pembentukan kation. halida. d. Kelebihan basa atau nukleofil umumnya digunakan untuk memacu laju reaksi. laju reaksi dinyatakan dalam persamaan : Laju reaksi = k [nukleofil atau basa][RX] Dengan k adalah tetapan laju reaksi.13.pelarut aprotik. e. y Reaksi SN2 dapat melibatkan beberapa perubahan gugus fungsi yang berbeda dan menggunakan molekul kompleks baik substrat maupun pereaksinya. Konsentrasi spesies yang bereaksi Untuk proses bimolekul. Setelah lepas atau pergi. E). Gugus pergi Gugus pergi adalah gugus yang dipindahkan atau diganti dalam reaksi substitusi atau eliminasi. proses ini dapat dinyatakan sebagai substitusi bimolekuler yang melibatkan nukleofil. Penurunan konsentrasi pada setiap spesies akan menurunkan laju reaksi. y Reaksi mitsonobu 16 . X. proses bimolekuler terjadi karena nukleofilitasnya dipacu. atau basa akan mengakibatkan kenaikan laju reaksi.

4) 17 Subtitusi oleh halogen .kurang bermanfaat dalam sintesis.14) dengan trifenilfosfin(Ph3P) untuk membentuk 3.17 dan garam alkoksifosfonium 3.Reaksi ini merupakan cara untuk mengubah molekul yang mengandung gugus pergi yang jelek menjadi turunannyayang dapat bereaksi melalui mekanisme SN2. alkohol kemudian ditambahkan pada garam fosfonium ini.15. ion dipolar ini bereaksi dengan HX menghasilkan 3.18 y Reaksi Sn2¶ Pada umumnya alilik halida bereaksi lebih cepat dengan nukleofil dari pada alkil halida karena ikatan membantu melepaskan gugus pergi. bahkan meskipun merupakan nukleofil lemah. 3) Penataan ulang kationik Pusat kation yang kekurangan elektron seperti 3. Disini gugus pergi yang jelek diubah menjadi gugus pergi yang baik melalui suatu intermediet. 2) Subtitusi nukleofilik unimolekul Pada umumnya reaksi subsitusi unimolekul.16.S N1 (atau reaksi ionisasi). dan reaksi selanjutnya menghasilkan diimida 3.32 dapat mempunyai muatan total yang disebabkan oleh pelapasan kerapatan elaktron dari atom yang berdekatan. Proses ini melibatkan reaksi dietilazodikarboksilat (3.namun demikian sering merupakan reasi yang sangat spesifik mempengaruhi perubahan gugus fungsi. paralel terhadap ikatan.

69 sebagai campuran isomer E-Z. Hal ini tampak dari kenyataan bahwa H dapat dilepaskan oleh basa baik dari arah ³atas´ atau ³bawah´ terhadap halida.X) yang disebabkan oleh penggantian proton oleh basa untuk membentuk ikatan yang baru. REAKSI ELIMINASI 1) Eliminasi bimolekul 1.68) terpolarisasi lebih besar dari pada halida netral.67 dalam media berair menghasilkan pasangan ion yang terpisahkan oleh pelarut (3. tetapi mengikuti mekanisme reaksi SN2 dengan bromida menggantikan H2O . Ikatan baru terbentuk selama eliminasi dan menghasilkan alkena. Pada umumnya reaksi antara alkohol primer.68). dan reaksi tersebut dikenal sebagai reaksi E2 (eliminasi bimolekul). 2) Eliminasi unimolekul 1. Muatan negatif terjadi pada karbon (basa memberikan 2 elektron ke hidrogen) dan terbentuknya kecapatan elektron ini memungkinkan terjadinya kelepasan gugus fungsi. dan perpindahan pasangan elektron kearah pusat elektofilik akan menghasilkan ikatan dari produk alkena.Reaksi alkohol tersier dengan HBr atau HCl menghasilkan halida melalui intermediet kation. 3.2 Pemanasan bromida 3. sakunder. Suatu basa yang tepat akan melepaskan H . karena langka yang paling lambat pada proses ini adalah lepasnya gugus pergi yang akan membentuk karbokation. Reaksi 1-butanol dengan HBr menghasilkan halida primer. dan tersier dengan HBr dan HCl merupakan cara yang baik untuk pembuatan alkil halida.69. Reaksi merupakan unimolekul. Eliminasi ditandai dengan pelepasan atom atau gugus (gugus pergi. karena hidrogen berdekatan dengan muatan positif. dan reaksi ini disebut E1 (eliminasi unimolekul) 3) 18 Eliminasi syn . F). yang akan mengalami penataan ulang menuju ion yang lebih stabil.(H pada 3. Hidrogen.2 ¡ Reaksi perubahan gugus fungsi berdasarkan proses asam/basa adalah eliminasi.68 menghasilkan menghasilkan 3. Rotasi ikatan pada 3.

maka pelepasan hidrogen syn dapat merupakan proses yang efisien.89.3. Biasanya reaksi awal melibatkan pembentukan intermediet karbokation. Ikatan menjadi putus dan ikatan baru C-H terbentuk.3 (dekarboksilasi) Reaksi eliminasi syn menunjukan bahwa hidrogen yang bersifat basa dapat dilepaskan oleh atom yang bersifat basa yang terdapat pada molekul yang sam. mengakibatkan lepasnya gugus pergi dan pembentukan ikatan . 4) Reaksi-reaksi yang berkaitan dengan Eliminasi 1. y Eliminasi 1. meskipun proses ini akan membutuhkan suhu reaksi yang tinggi untuk terjadinya populasi yang efisien pada konfigurasi eklips. Hasil keseluruhan reaksi kationik ini adalah adisi H dab Br pada ikatan ¢ 1) 19 . 396. maka hidrogen hanya dapat dilepaskan bila hidrogen mempunyai kedudukan eklips terhadap atom yang bersifat basa dalam konfigurasi syn.87. Pusat kationik kemudian bereaksi dengan nukleofil (Brdari HBr) menghasilkan bromosikloheksana.3.86 yang direaksikan dengan hidroksida mula mula membentuk 3. Senyawa 3. dan disebut karbokation. y Eliminasi hoffmann Eliminasi hoffman yaitu contoh klasik dari proses eliminasi syn. dan hidrolisis memberikan produk asam keton.3 Terdapat sejumlah tipe reaksi yang berkaitan dengan proses eliminasi 1.Jika basa merupakan bagian dari substrat.88. REAKSI ADISI Adisi yang melibatkan intermediet ion bebas Tipe reaksi ini biasanya melibatkan ikatan alkena yang bersifat basa yang memberikan pasangan elektron ke asam (H ). Karbon yang pada awalnya berikatan rangkap yang tertinggal akan kekurangan elektron. namun kemudian terjadi perubahan cincin menghasilkan enolat 3. G). Reaksi tersebut dikenal sebagai eliminasi 1. transfer proton menghasilkan 3. Contoh poses ini adalah reaksi sikloheksana dengan asam yang membentuk karbokation sekunder. Eliminasi seprti ini dikenal sebagai eliminasi syn. Dasar ini juga dapat diterapkan pada sistem yang mempunyai hidrogen yang bersifat asam dan gugus pergi dipisahkan oleh 3 atom. Jika tetheerd base juga merupakan gugus pergi.

Pereaksi yang simetris seperti bron atau klor umumnya tidak terpolarisasi. maka dipol akan terjadi (C=C X X. Adisi yang melibatkan ion-ion logam yang distabilkan Seperti yang telah dijelaskan didepan. alkena mempunyai sifat kurang lebih sebagai basa Bronsed-Lowry. nitrat dll. £ £ 3) 20 . Sebelum mekanisme reaksi ini diketahui. sulfat. namun bila didekatkan dengan ikatan . maka elektron tersebut dapat diberikan kepusat kation sehingga membentuk intermediet jembatan simetris (lingkar anggota-tiga). Sebagai contoh. Alkena kemudian dapat memberikan elektron ke X . melepaskan X-. Karena guguus X mengandung pasangan elektron bebas. Stabilisasi terjadi bila heteroatom terikat pada karbon elektrofilik. intermediet kation yang berasal dari proses adisi cenderung mengalami penataan ulag menuju ion yang stabil.101. sehingga tidak dapat dibentuk. telah diamati bahwa reaksi alkena dan asam selalu menghasilkan produk yang lebih tersubstitusi yang kemudian dikenal sebagai adisi Markovnikov.102) dihasilkan oleh reaksi asam dengan keton (3. HNO3. H2SO4. maka air atau sianida akan menjadi kation (masing-masing menghasilkan alkohol dan nitril).) 2) Adisi yang melibatkan intermediet jembatan yang simetris Pada reaksi dengan HX. Proses ini berada di bawah kontrol termodinamika dan cenderung menghasilkan ion yang lebih stabil dan hasil akhir yang lebih stabil. Alkena dapat juga berfungsi sebagai basa Lewis pada reaksi dengan elektrofilik halogen. Pusat kationik yang dihasilkan oleh reaksi ini berdekatan dengan ikatan C -X yang baru terbentuk. Jika terdapat air (berasal dari penggunaan pelarut berair) atau jika menggunakan pereaksi yang lebih nukleofilik seperti KCN yang ditambahkan ke dalam reaksi. kation oksigen yang mengalami stabilisasi (3. Asam kuat HX (seperti HCl.Alkena merupakan basa yang relatif lemah dan hanya akan bereaksi dengan asam kuat. Alkil sulfat dan nitrat sering tidak stabil. Tipe reaksi ini kadang-kadang dinyatakan sebagai transfer muatan kompleks. HBr. dsb) akan bereaksi dengan alkena menghasilkan alkil halida.).

118). Reaksi ini menghasilkan intermediet Wheland. ikatan klor-klor diperlemah yang kemudian dapat diikat oleh benzena.116) mengalami stabilisasi resonansi. Kondisi dengan suhu tinggi ini mempunyai enargi aktivasi tinggi untuk pengikatan awal pada cicin aromatik. meskipun dilakukan pada kondisi suhu yang cukup tinggi. dan transfer klor yag lain ke AlCl3. bila diniriklorobenzena (3.4-dinitrofenol. Meskipun benzena dapat membentuk kompleks yang mentrasfer muatan lemah dengan klor (3. namun pengikatan nukleofil cicncin aromatik yang kaya elektron lebih sukar. Contohnya. jika asam Lewis kuat seperti AlCl3 ditambahkan.4dinitroklorobenzena menjadi 2.H). Ini merupakan cara komersial untuk memproduksi turunan-turunan fenol. Lepasnya proton bersamaan dengan pembentukan kembali senyawa aromatik berlangsung sangat cepat (membentuk 3. Reaksi harus terjadi oleh pengikatan hidroksida nukleofil pada 21 2) . dalam kompleks ini.125). SUBTITUSI AROMATIK Tipe proses ini ditunjukan pada reaksi benzena dengan spesies elektrofilik (X-). transfer satu klor ke benzen. maka terjadi reaksi substitusi yang melibatkan transformasi 2. Bila benzena direaksikan dengan spesies elektrofilik seperti HCl. namun lebih umum disebut intermediet Wheland.152) ditambah dengan natrium hidroksida dalam media berair. 1) Subtitusi nukleofilik aromatik Cincin aromatik memiliki sifat seperti basa Lewis dalam reaksi dengan asam Lewis. Jika campuran tersebut dipanaska sekitar 100oC. Kation intermediet (3. maka akan dibentuk kompleks trasfer muatan seperti 3.117 Subtitusi elektrofilik aromatik Ikatan-ikatan pada benzena merupakan pemberi elektron yang tidak efisien (benzena merupakan basa Lewis yang lemah). tidak akan terjadi reaksi. yang kemudian melepaskan proton menghasilkan klorobenzena. ternyata tidak terjadi reaksi. Kation ini (3.126. yang digambarkan sebagai kation yang terdelokasikan.116) kadag-kadang dinyatakan sebagai ion benzenonium. Namun demikian. Asam Lewis yang kuat akan memberikan reaksi yang cepat antara halogen dengan benzena. namun klor tidak dapat ditransfer kebenzena. 3. Pengikatan cincin aromatik akan membentuk ikatan C-X dan pusat sp3.

153. Turunan benzuna (benzyne) Halogen membuat hidrogen pada kedudukan orto mempunyai sifat lebih asam.162 mempunyai substituen baru amino yang berdekatan dengan karbon yang mengikat gugus pergi bromida. namun orbital yang terisi ini mempunyai kedudukan ortogonal terhadap bidang kabut aromatik. hasil ini merupakan pengikatan terhadap kedua karbon ikatan rangkap.159a digambarkan kembali seperti 3. 3.158 direakskan dengan natriu amida. Basa akan melepaskan hidrogen-orto dan menghasilkan karbanion. Bila 3.162. ini sering disebut sebagai substitusi Cine. Produk substitusi 3.161 dan 3. 3) 22 .159a. 3.159b. (lihat 3.karbon ipso. dan spesies yang reaktif ini (3. ini merupakan intermediet yang tidak stabil. Pelepasan gugus pergi yang berdekatan ini membentuk ikatan baru pada intermediet benzuna. yang menghasilkan ntermediet karbanion yang distabilkan oleh resonansi.160a.160a menghasilkan campuran 3. dan nukleofilik amida akan bereaksi dengan 3. bromida kemudian akan dilepaskan dan dihasilkan intermediet benzuna 3. karena muatan terletak pada karbon yang berdekatan dengan halogen. Eliminasi halida membentuk ikatan baru yang tegak lurus pada kabut cincin benzena.160a) disebut benzuna (benzyne).159). maka deprotonasi akan menghasilkan 3. terlihat bahwa karbanion dalam posisi ortogonal terhadap kabut aromatik dan pararel terhadap ikatan C-Br. sehingga menjadi gugus pergi yang baik. bila 3. ikatan ini merupakan sasaran terhadap pengikatan nukleofilik.160b.

ion diazonium merupakan salah satu gugus pergi yang paling baik dan merupakan sasaran untuk digantikan oleh berbagai nukleofil untuk menghasilkan produk substitusi 3. 3.167.166).Reaksi subtitusi terhadap garam-garam aril diazonium Bila amina aromatik primer seperti anilin direaksikan dengan asam nitrit (HONO) ± yang umumnya dihasilkan dengan mereaksikan natrium nitrit dan HCl atau asam sulfat ± maka dihasilkan senyawa aril diazonium. 23 .164 4) Terdapat sejumlah spesies nukleofilik yang dapat bereaksi dengan garam-garam aril diazonium.164 dalam asam berair menghasilkan fenol. yang kemudian dipanaskan dalam asam sulfat berair menghasilkan 3-nitrofenol. 3.163. Contoh reaksi ini adalah konversi 3-nitroanilin (3.165) menjadi garam diazonium (3. dalam hal ini benzenadiazonium klorida. Pemanasan 3.

reaksi Cr (VI) dapat ditulis: Cr6 3e ¤ Cr 3 Cr2O72. namun dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam.Cr2O72-. Terdapat sejumlah pereaksi kromium (VI). Eliminasi hydrogen seperti pada serangkaian Dehidrogenasi Etana. Untuk definisi yang lebih umum. Pada konsentrasi tinggi (air 24 ¤ ¤ ¤ (2NH2SO4) 7 H2 O 4H2O .7H ¤ 6e 2Cr3 ¤ 3e Cr3 Oksidasi terhadap alkohol akan disertai dengan reeaksi Kromium Cr (VI) menjadi Cr(III). Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton. Alkohol primer mula-mula dioksidasi menjadi aldehida. 2. H2Cr2 O7.14H HCrO4.Produk yang dihasilkan bergantung pada struktur alkohol dan pereaksi yang digunakan.  ALKOHOL MENJADI KARBONIL (CH-OH C=O) alkohol dioksidasi menjadi turunan karbonil dengan berbagai zat pengoksidasi. Dalam asam sulfat. kromium trioksida berada dalam kesetimbangan dengan sejumlah Kromium (VI) lainnya. Sebagai Contoh adalah pada serangkaian Transformasi oksidatif terhadap Metana: CH4 CH3OH CH2 OH HCO2 H CO2 Oksidasi dapat juga didefinisikan sebagai reaksi suatu unsur dengan Oksigen. namun yang paling umum adalah kromium trioksida yang berwujud Polimer yang umum ditulis sebagai [CrO3]n . seperti yang dinyatakan pada pernyataan kedua. meliputi HOCrO3H. H2CrO4. Karena oksidasi alkohol harus dilakukan dalam keadaan yang dilakukan dalam keadaan terlarut. maka sebagian besar reaksi oksidasi dilakukan pada media berair. oksidasi melibatkan lepasnya satu electron atau lebih dari atom-atom gugus. Oksidasi dengan Kromium (VI) Kromium (VI) merupakan z t pengoksidasi yang kuat. dalam media berair. HCrO4-. dan HCrO7-.BAB IV REAKSI OKSIDASI  Pengertian Reaksi Redoks Sheldon dan Kochi menyatakan bahwa oksidasi pada kimia organik dapat berupa: 1. Penggantian atom hydrogen yang terikat pada karbon dengan unsur lain yang lebih elektronegatifseperti Oksigen. yang sebagian besar diterapkan pada kimia AnOrganik.

2 yang berasal dari reaksi HCrO4-. Jika asam yang berbeda (HA) ditambahkan pada campuran. dan asam sulfat (HA pada persamaan diatas). Penguraian ester kromat meliputi pelepasan proton yang terikat pada karbon yang mengikat oksigen. Cr(V) 4 biasanya adalah HCrO4-.4.sedikit). maka asam tersebut akan mempengaruhi kedudukan kesetimbangan keseluruhan. Kwart dan Francis mengusulkan reaksi intermolekul untuk melepaskan proton. Hal ini sesuai dengan: HCrO4. Fakta eksperimental menyatakan bahwa oksidasi dimulai dengan pembentukan ester kromat. maka yang dominan adalah polimer kromium trioksida dan asam kromat. 25 . dan Cr(IV) biasanya adalah HCrO3-. seperti yang dijelaskan pada 4.dan CrO3. konsentrasi Cr (VI) tidak bergantung pada asam. dan Cr (V) terlibat dalam keseluruhan proses Oksidasi. Semula westheimer menyatakan bahwa air berperan sebagai basa untuk melepaskan hidrogen ini. Spesies Cr(VI) biasanya adalah HCrO. Jika asam sulfat digunakan sebagai asam dalam media berair yang mengandung kromium trioksida dan isopropanol. Cr(IV). Cr(VI) mengalami reduksi menjadi Cr(IV). maka kemungkinan ester kromat yang terbentuk adalah 4. Paling tidak ada dua mekanisme yang diusulkan untuk langkah ini.+ 2H+ + A. namun akhirnya usul ini tidak dapat diterima.Cro3A + H2O Wiberg memberikan skema oksidasi alkohol sekunder menjadi keton sebagai berikut: R2CHOH + R2CHOH + R2COH + Cr(VI) Cr (IV) Cr(VI) Cr(V) + R2C O R2COH R2C O R2C O 2Cr(VI) 3R2C O + + Cr(IV) Cr(III) + + + Cr(V) Cr(III) 2 Cr (III) + R2CHOH + 3 R2CHOH Mekanisme ini menunjukan bahwa spesies Cr (VI). Westheimer mengusulkan pengikatan intermolekul oleh air. K esimpulan dari berbagai percobaan adalah bahwa posisi kesetimbangan bergantung pada asam. Dalam larutan encer. dan pada reaksi.

natrium bikromat dalam asetat. natrium bikromat dalam aseton berair yang dikatalis oleh asam asam mineral.7 Oksidasi kromium (VI) yang termodifikasi Banyak variasi kondisi reaksi yang ditujukan untuk mengoksidasi alkohol. maka pelarutan umumnya dibutuhkan. seperti halnya kompleks Cr2O3 piridin dan t-butil kromat. yang tidak hanya akan melarutkan pereaksi kromium saja.Rocek mengabaikan kedua mekanisme reaksi tersebut dan mengusulkan Intermediet seperti pada 4. keduanya dapat dioksidasi. Karena sebagian besar senyawa organic tidak larut dalam air.6. Alkohol primer dan alkohol sekunder. tetapi juga Substat alkohol. dimana oksigen dari ester kromat melepaskan kedua hidrogen dari karbon dan dari Oksigen. Pelarut yang tahan terhadap oksidasi seperti asan asetat atau aseton. Aldehid dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. Sejumlah pereaksi kromium (VI) dapat digunakan. masing-masing menjadi aldehid atau keton. meliputi pengubahan asam yang ditambahkan pada media. termasuk kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair yang dikatalis oleh asam mineral. 26 . umumnya digunakan untuk mengkonversi alkohol menjadi karbonil. Rocek akhirnya mengusulkan pembentukan kompleks koordinasi seperti pada 4.

amina teroksidasi menjadi hidroksi amina. 27 .pada kompleks seperti 4.a. kemudian pelepasan hydrogen. Isopropanol memberikan hasil yang baik dalam aseton berair. Bila dapat mengisolasi aldehida yang dihasilkan.9 adalah iso-propil (iPr). Bila R pada 4. tetapi bila R diganti dengan t-Butil.10. Kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair Beberapa alkohol dapat larut dalam air sehingga tidak diperlukan pelarut untuk mengoksidasinya dengan kromium. dan hal ini dapat menurunkan produk karbonil yang dihasilkan. sulfida teroksidasi menjadi sulfokdsida. Fenil alkil karbinol dapat dipecah secara oksidasi dengan kromium trioksida dalam asam berair. Oksidasi terhadap alkohol primer mula-mula menghasilkan aldehida. Paling tidak terdapat dua mekanisme yang dapat menerangkan konversi aldehida menjadi asam. sulfida. maka diperoleh hasil produk 60%. meskipun asetton larut dalam air yang menyebabkan isolasi produk menjadi sukar. Oksidasi menjadi asam juga dapat terjadi mula-mula dengan pembentukan hidrat. namun aldehida dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. pelepasan hydrogen. maka akan mengurangi terbentuknya asam. dan fenol teroksidasi menjadi kuinon.. Sebagai contoh. Dua pendekatan mekanisme tersebut meliputi pembentukan ester kromat seperti 4. Adanya gugus ± gugus yang dapat dioksidasi pada substrat organik seperti alkena. maka produk yang dihasilkan hanya 6%.12. fenolat dan amina sering menghasilkan produk samping pada oksidasi terhadap alkoholalkohol yang larut dalam air.hidroksi-amina. Hal ii disebabkan kesempatan terbentuknya kation tersier yang lebih besar.

pelarut organik lain dapat digunakan bersama-sama dengan kromium trioksida berair. Reaksi ini berguna. dimana alkohol yang tidak bereaksi dikonversi menjadi Hemiasetal. khususnya untuk molekul yang mengandung gugus-gugus Alkenil atau Alkunil 28 . Bila aseton digunakan dalam larutan encer asam sulfat. Contohnya. dan senyawa ini dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi ester.14 menjadi keton 4. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan tambahan pelarut seperti asam asetat berair b. oksidasi 4.Kesetimbangan antara aldehida yang mula-mula dibentuk dengan alkohol primer dapat menghasilkan reaksi samping. Kromium trioksida dalam aseton Ioksida Selain asam asetat. Sejumlah persoalan terjadi bila digunakan pelarut air. Pembentukan ester seringkali disertai oksida terhadap aldehida primer yang memiliki berat molekul kecil. n-butanol menjadi n-butirrat. ternyata hasil oksidasi terhadap alkunil karbinol meningkat. Pereaksi kromiumtrioksida-aseton-asam sulfat sering dikenal sebagai Jones.15 dengan produk besar 77%. Sebagai contoh.

Oksidasi yang khususnya mebutuhkan perbandingan 5:1 hingga 6:1 atau kompleks alkohol dan reaksi berlangsung pada suhu kamar.dan tetrahidropiranil eter teroksidasi jauh lebih lambat dari pada alkohol dan jarang terjadi reaksi samping. Pereaksi ini sangat tepat untuk mengkonfersi alkohol primer menjadi aldehida dalam diklorometan. Pereaksi yang kemungkinan mempunyai struktur trigonal bipiramidal terbukti berguna untuk mengoksidasi alkohol primer dan sekunder. Piridinium kloro Kromat (PCC) Usaha untuk meningkatkan oksidasi terhadap alkohol primer dan untuk lebih mempermudah isolasi produk yang dihasilkan mendorong pengembangan pereaksi kromium (VI). Modifikasi oksidasi jarret dilakukan oleh Collins dan penggunaannya terhadap oksidasi alkohol dikenal dengan Oksidasi Collins. namun karena kondisi reaksi dalam keadaan sangat asam. Masalah yang dihadapi adalah kesulitan mengisolasi produk yang dihasilkan dari larutan piridin.oksidasi 1-Heptanol dengan PCC dalam diklorometana meghasilkan 78% Heptanal. Kromium Trioksida-piridin Oksida dengan campuran kromium trioksida dan piridi sebagai pelarut dikenal dengan sebutan oksidasi jarret. ester. tersier. meskipun terdapat ikatan rangkap dua dan tioster. dan penggunaan aseton yang berlebihan akan melindungi produk keton dari oksidasi lebih lanjut. selanjutnya pada campuran ini direaksikan dengan alkohol.Oksidasi terhadap alkohol biasanya berlangsung lebih cepat dalam aseton dari pada dalamasam asetat. keton dan amida. maka produk finalnya adalah asam karboksilat. Keuntungan reaksi oksidasi jarret alkena. Tujuannya adalah mengatasi masalah produk yag rendah pada oksidasi alkohol primer menjadi aldehida dan memudahkan isolasi produk karbonil. Pereaksi Sisler-Jarret dibuat dengan mereaksikan kromium trioksida dengan piridin. Pelarut piridin kemudian dihilangkan dan setelah itu ditambahkan dengan dikloroometana. Piridinium kloro kromat (PCC). akan dikatrakterisasi pereaksi. bila penambahan piridin pada larutan kromium trioksida dalam HCl berair dilanjutkan dengan kristalisasi Kristal. tetapi protonasi aldehida karbonil yang diikuti dengan pengikatan alkena akan menghasilkan kation tersier. tetapi kurang efisien bila diterapkan pada alilik alkohol. Contohnya. Jarret mengoksidasi alkohol. Corey mendapatkan. alkohol. Reaksi siklisasi ini diikuti dengan eliminasi yang akan 29 . d. Sintesis mayuron yang dilakukan oleh Smith melibatkan oksidasi jones cocok terhadap molekul-molekul kompleks yang mengandung berbagai gugus fungsi seperti Alkena.sulfide. Oksidasi jarret telah digunakan oleh yamada untuk mengoksidasi menjadi keton pada sintesis Patchouli alkohol. c. suatu steroid dengan hasil 89%. Reaksi Sitronelol dengan PCC dalam Diklorometana mula-mula akan menghasilkan oksidasi aldehida. Sejumlah alkohol primer telah dioksidasi menjadi aldehida dengan menggunakan prosedur ini.ketal.

Mekanisme reaksinya kemungkinan meliputi pelepasan Nukleofilik Halida oleh DMSO yang membentuk garam Alkoksisulfoksonium. Oksidasi yang terjadi dalam keadaan netral ini ditunjukan pada reaksi dengan PDC yang menghasilkan produk Aldehida sebanyak 92%. namun senyawa tersebut bersifat kurang reaktif bila dibandingkan dengan -haloketon. Alkil iodida primer dan sekuder atau tosilat dapat dikonfersi menjadi aldehida atau keton. perbedaan yang cukup signifikan antara oksidasi terhadap alkohol Alifatik dengan oksidasi terhadap alkohol Alilik. menghasilkan produk asam sebanyak 83%. yaitu piridinium dikromat (PDC).menghasilkan alkena. Bila pelarut diganti dari diklorometan menjadi dimetilfosmamida (DMF). e. Cairan alkohol sekunder dioksidasi lebih lanjut membentuk (-) pulegon. Kornblum menyatakan bila  -haloketon direaksikan dengan DMSO pada suhu yag agak tinggi. maka digunakan pereaksi yang lebih netral.  Dimetilsulfoksida (DMSO)-Disikloheksil karbodimida (DCC) Dimetilsulfoksida dapat berfungsi sebagai pelarut maupun sebagai reaktan untuk berbagai substrat alkohol. Reaksi 1 bromooktana dengan DMSO dan NaHCO3 pada suhu 1000C selama 5 menit akan menghasilkan oktanol 74%. Sikloheksanol bila dioksidasi akan berlangsung sepuluh kali lebih cepat dari pada dengan PDC dalam diklorometana pada 250C. Oksigen Nukleofilik dapat bereaksi dengan pusat elektrofilik membentuk garam sulfoksonium. Oksidasi terhadap Sitronelol dengan PDC dalam DMF pada 250C. akan mengasilkan Glioksal yang sesuai ( -ketoaldehida). Pridinium dikromat (PDC) Untuk mengeliminasi sifat asam dari PCC. yang dapat dikonversi menjadi keton atau aldehida pada keadaan netral. 30 . akan menghasilkan 86% Sikloheksanon. Sikloheksanol bila dioksidasi dengan PDC dalam DMF pada 00C.

Pada reaksi ini. Campuran DMSO dan disikloheksil karbodiimida (DCC). yang bersifat gugus pergi yang jelek. yangsekarang mengandung gugus pergi urea yang diikuti proses pengikatan belerang dan alkohol. Tipe reaksi ini dikenal sebagai oksidasi moffat. dan sinamil alkohol dioksidasi menjadi sinamil aldehida dengan hasil 90%. DMSO bereaksi dengan DCC membentuk intermediet sulfoksonium. Disikloheksil urea dilepaskan. dengan adanya katalis asam. produk karbonil dan dimetil sulfida dapat diperoleh. merupakan pereaksi oksidasi yang efisien untuk alkohol. Pelepasan atom hidrogen kelihatannya analog dengan mek anisme eliminasi Oksidasi Moffatt memiliki beberapa kendala. Sebagai contoh adalah konversi tertosteran menjadi androst -4-ena-3. Seperti halnya dengan DCC. Deprotonasi garam sulfoksonium merupakan proses intramolekul dan terjadi dengan basa yang kekuatannya menyerupai ion asetat.1 Dimetil Sulfoksida ± Anhidrida Asetat Albright dan Goldman mengembangkan pereaksi oksidasi yang sejenis. benzilik dan alilik alkohol dikonversi menjadi aldehida melalui proses merefluksnya dalam DMSO. Dalam hal ini. DMSO dan anhidrida asetat digunakan untuk membentuk kompleks aktif sulfoksonium. menghasilkan garam sulfoksonium. yang kemudian bereaksi dngan Alkohol. Udara merupakan oksidator dan DMSO berfungsi sebagai pelarut. udara merupakan pereaksi. yaitu bila alkohol bereaksi dengan DMSO. dan lepasnya proton bukan disebabkan oleh basa melalui reaksi intermolekul. Salah satu masalah yang timbul adalah pembentukan urea yang sangat sukar dipisahkan. dan menghasilkan produk karbonil dan dimetil sulfida (yang berfungsi sebagai gugus pergi) Tipe oksida yang sejenis telah dilakukan. Berdasarkan mekanisme tersebut. Proses ini menghasilkan senyawa yang mengandung belerang yang distabilkan oleh orbital d dari belerang. DMSO mula-mula bereaksi dengan anhidrida asetat membentuk garam sulfoksonium. 31 . 4.3. Mekanisme oksidasi ini dikemukakan oleh moffatt dan merupakan reaksi pembentukan dan pemisahan disikloheksil urea yang sangat tidak larut.17-dion. oksigen dari DMSO harus menggantikan gugus hidroksil. Hasil interpretasi dari mekanisme ini menyatakan bahwa pusat karbonium pada senyawa belerang melepaskan -hidrogen secara intramolekul. Untuk mengoksidasi alkohol ³dengan DMSO´.-proton kemungkinan diperantarai oleh DMSO. dengan gelembung udara melalui media. Cara yang sering dilakukan untuk memisahkan disikloheksil urea adalah dengan mereaksikannya dengan asam oksalat.

dan adanya aseton dalam jumlah berlebih akan mendorong reaksi kearah produk oksidasi. transfer hindrogen antara dua karbon alkoksil menghasilkan4. maka aseton yang digunakan berperan sebagai pelarut dan aluminium triisopropoksida yang digunakan merupakan pereaksi. kompleks ini kemudian mentransfer Hadari karbon alkoksida 4.49). streroid dan alkohol-alkohol sederhana. menjadi ³karbon keton´ seperti 4.48. maka produk aldehida dapat di pisahkan dengan cara distilasi.bila titik didih aldehida 50 lebih tinggi dari pada produk yang di harapkan. Hidrogen Hadapat di transfer antara 4. pertama kali ditunjukan oleh Verley dan Ponndorf pada reaksi keton dengan Aluminium Alkoksida.49 yang berada dalam keadaan kesetimbangan. hanya menghasilkan 35% geranal (4.48 dan 4. Oppenauer menerapkan reaksi ini pada oksida Alkohol Steroidal tak jenuh dengan menggunakan aluminium triisopropoksida (Al(OiPr)3 ) dan Aseton.sedangkan oksidasi terhadap geraniol 4. Reaksi ini telah diterapakan pada sejumlah oksidasi. Keton awal (RCOR1 ) berperan sebagai penerima hidrogen.49. Perluh diperhatikan bahwa reaksi ini adlah kebalikan dri reduksi meerwein-ponndorf. Reaksi reversibel Alumina Alkoksida. Aseton (sering dengan benzena sebagai pendukung pelarut) sebagian besar digunakan sebagai penangkap hidrogen. yang menginisiasi oksidasi alkohol yang terikat dengan alkoksida pada 4. namun masalah ini dapat diatasi dengan mengubah struktur logam alkoholat atau penerima hidroksida. aluminium pada kompleks alkoksida(4. kompleks 4. Pada tahun 1937.48 dan 4. yang bereaksi pada oksigen karbonil membenuk kompleks yang kekurangan elektron . triisopoksida atau tri-n-propoksida. Sebagai 32 .meskipun demikian oksida terhadap benzil alkohol menghasilkan benzaldehida sekitar 60 .50. maka kesetimbangan bergeser ke arah 4. melalui keadaan transisi enam-pusat.51 dan pembentukan keton baru (R2COR3 ). Dua reaksi samping yang umum terjadi adalah migrasi atau pergeseran ikatan rangkap non-terkonjugasi menjadi terkonjugasi. Reaksi berlangsung melalui kompleks aluminium koordinasi(4. Upaya lainnya yang sering dilakukan yaitu dengan penggantian pelarut aluminium-t-butoksida.50 berada dalam keadaan kesetimbangan dengan alkoksida baru dan keton baru Jika keton asal (RCOR1) ditambahkan secara berlebih.Verley.kuinon digunakan sebagai penagkap hidrogen. dalam proses reversibel. Aseton berfungsi sebagai penerima Hidrogen.52a. Alkohol di konversi menjadi sustu kompleks dan -hidrogen Akohol dapat dilepaskan seperti asam. Pada umunya. jika tujuannya adalh mengoksidasi alkohol. 4. Cara Alternatif dan klasik untuk mengoksidasi Alkohol difokuskan pada reaksi yang dapat dibalik antara keton dan logam alkoksida.50.Oksidasi Oppenauer Dalam reaksi yang melibatkan kromium (IV) dan pereaksi DMSO. yang kemudian dengan oksidasi Oppenauer. pada reaksi oksidasi geraniol ini.oksida oppenauer terhadap alkohol primer menghasilkan aldehid dalam juml. meskipunsikloheksana dalam larutan toluena atau silena juga sering digunakan.48) berfungsi sebagai asam lewis . Oksidasi Oppenauer tehadap alkohol jenuh sering mengalami hambatan.49 dan 4. Seperti halnya 4.dan kondensasi produk aldehida dengan penangkap hidrogen karbonil(kondensasi aldol yang dikatalisasi oleh asam). Reaksi ini sangat efektif bila logamnya adalah aluminium.ah yang rendah.52b).49. Reaksi ini menghasilkan pembentukan aluminium alkoksida baru dan keton baru.50.

karena pereaksi tersebut dapat mengoksidasi alkohol primer dan alkohol sekunder. Oksidasi ini terjadi melalui kondensasi produk oksidasi aldehida. Mangan dioksida merupakan pereaksi yang penting dalam sistem senyawa organik. Penggunaan aluminium telah dikurangi kaena terjadinya reaksi samping. menjadi aldehida dan keton. Reaksi ini menghasilkan aldehida yang sangat baik dari alkohol primer. Mekanisme Goldman ditunjukan pada reaksi benzil alkohol dan melibatkan 33 ¥ .52a) menjadi -iron (4. dan dapat menoksidasi alkohol menjadi keton atau aldehida. Goldman dan Hembert mengusulkan intermediet radikal pada oksidasi yang menggunakan mangan dioksida.53) menjadi retinena dengan hasil 80% Pereaksi ini dapat dibuat dengan beberapa cara. namun kekuatan pengoksidasinya sangat dipengaruhi oleh cara pembuatannya.52b) menggunakan aseton berlebih sebagai penangkap hidrogen. Salah satu cara yang umum meliputi pengendapan MnO2 yang berasal dari pemanasan MnSO4 dan KMnO4 pada PH tertentu. Mangan dioksida biasanya merupakan produk akhir dari oksidasi yang sangat kuat . dan Martin ketika mereka mengendapkan mangan dioksida dan menggunakannya untuk mengkonversi vitamin A. oksidasi terhadap 3-metil geraniol(4.Goodwin. Oksidasi Dengan Mangan Dioksidan Mangan oksidasi(MnO2 ) umumya berbentuk Mn(IV) dan cenderung tidak larut dalam sebagian besar pelarut organik. yang menghasilkan ikatan MnO(Mn2 ). secara berturutturut. Reaksi berlangsung melalui intermediat radikal. Ishii menggunakan pereaksi siklopentadiental zirkonium (Cp2 ZrH2 ). Penggunaan antara alkohol dengan penerima hidrogen yaitu 1:1. Reaksi ini di temukan oleh Ball. dalam media netral. yang ternyata merupakan katalisator yang efektif pada oksidasi oppenuer.(4.contoh.

(KO3S)2NO). pereaksi ini dibuat oleh Fremy sebagai garam dinatrium. mangan dioksida yang dibuat dalam keadaan baru diaktivasi. Senyawa turunan fenol bila dioksidasi menghasilkan Kuinon yang merupakan komponen penting yang terdapat secara luas dialam konfersi hidrokarbon aromatik menjadi fenol juga memungkinkan dengan cara oksidasi. Mekanisme sederhana untuk oksidasi telah diusulkan oleh Tenber. Transfer elektron kedua menghasilkan produk karbonil yang diserap pada Mn(OH)2 sehingga terjadi desorpsi pada produk dengan melepaskan air. dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alilik sekunder. Kuinon Sturktur Kuinon terdapat dalam berbagai bahan dialam. Proses oksidasi dapat juga menggunakan sianida seperti pada konversi aldehidaterkonjgasi menjadi ester terlonjugasi.62). melipuuti oksidasi senyawa asal non-kuinoid. Kuinoid yang paling umum adalah 1. untuk menyempurnakan oksidasi.2 (Orto) Kuinon (4. serta waktu reaksi lama.adsorpsi pada mangan dioksida.bereaksi dengan aldehida terkonjugasi. cara Siklisasi dan cara Kondensasi Salah satu pereaksi yang paling umum digunakan untuk mengoksidasi turunan Fenol menjadi Kuinoid adalah Garam Fremy (Kalium Nitroso disulfonat. ini merupakan sintesis utama terhadap penggunaan mangan dioksida. Oksidasi membutuhkan media netral. Kadang-kadang pereaksi bereaksi dalam keadaan yang istimewa dan terurai secara spontan. Mangan dioksida mengoksidasi alilik dan benzil alkohol lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh. turunan aromatik yang mengandung ggus hidroksi (turunan fenol) juga dapat dioksidasi. Reaksi berlangsung cepat dan dapat ditandai dengan hilangnya warna ungu dari radikal. namun rashing membuat garam kalium yang lebih efektif dan menjadikannya pereaksi yang tetap menjadi pilihan. nam keadaan un ini terjadi karena adanya sejumlah katalis ion nitrit Pereaksi dalam larutan asam sangat tidak stabil dan pada larutan yang berair pada pH>10 juga mengalami penguraian. kemudian berreaksi dengan MnO2 yang menghasilkan sianoketon. ada banyak cara pembuatan Kuinoid. Corey menunjukan bahwa HCN/CN. reksi selanjutnya dengan pelarut alkohol (metanol) menghasilkan metil ester  Pembuatan Fenol Dan Dan Kuinon Selain oksidasi terhadap senyawa-senyawa hidroksi alifatik. pelarut yang tepat. relatif para Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto-kuinon yang rendah.61) dan 1. Koordinasi ini diikuti transfer elektron yang menghasilkan radikal dalam proses yang disertai dengan reduksi Mn(IV) menadi Mn(III).4 (para) Kuinon (4. Faktor penghalang pada reaksi kadang-kadangf dapat memberikan hasil orto-Kuinon yang rendah. relatif terhadap para34 . Pelarut yang umum digunakan adalah Alokohol yang berair dan asetat berair dan reaksi biasanya berlangsung dalam larutan bufer fosfat atau ufer asetat.

Fenol Pembuatan Fenol yang umum adalah dengan menghidrolisis garam-garam Diazonium. Cara lainnya telah dihasilkan oleh Undenfriend. yaitu dengan menggunakan sistem oksigenion fero-asam askorbat dengan adanya EDTA (Pereaksi Undenfriend).83) melalui proses.77 V Reaksi peroksida sebagian besar meliputi pemutusan homolitik ikatan O-O. meliputi penggabungan suatu oksigen (Epoksida). tiramin) dapat dikonversi menjadi campuran hidroksitiramin 21% () dan dihidroksi tiramin (DOPA. Ekpoksidasi menggunakan peroksida Cara yang paling umum untuk mengkonversi alkena menjadi epoksida adalah menggunakan peroksida. yang menghasilkan radikan bebas.Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto dari para dapat diikat. Gugus fungsi lain yang dapat menjadi sasaran terhadap oksidasi meliputi ikatan pada alkena. Reaksi dikembangkan dengan model untuk hidrolisasi biiogenik tiramin Versi yang lebih maju dari pereaksi ini yaitu menggunakan oksidasi anodik dengan adanya pereaksi Udenfriend. Hydrogen peroksida dan turunan monosubstitusinya dapat 35 . Terdapat sejumlah cara oksidasi yang berbeda yang dapat diterapkan pada alkena. seperti pada konversi dikloroheksana menjadi 4. penggabungan 2 oksigen (hidroksilasi) dan oksidasi pemutusan ikatan (umumnya menjadi turunan karbonil). akan menghasilkan alkoksida (4. senyawa tersebut bila kemudian direaksikan dengan basa seperti natrium hidroksida.81. dan dengan cara ini. Peroksida marupak sumber ³elektrofilik oksigen´ dan bereaksi dengan nukleofilik ikatan dari alkena.).  Konversi alkena menjadi Epoksida Oksidasi gugus C-OH menjadi gugus karbonil C=O telah dibahas. Orientasi anti ini melepaskan halida yang akan menghasilkan sikloheksana oksida (4. Pereaksi ini memberikan hasil yang baik untuk turunan orto dan para -fenol dari fenilasetamid. Hydrogen peroksida (H2 02 ) merupakan zat pengoksidasi yang kuat dengan petensial reduksi 1.2H ¦ 2H2O 1.82) yang merupakan anti terhadap boron yang berdekatan. meskipun orto kuinon akan dibentuk bila kedudukan para dilindungi atau diblok. Epoksidasi dari halohidrin Reaksi alkena dengan asam hipohalida (Cl2 H2 O  HOCl atau Br2 H2O  HOBr) menghasilkan trans atau anti halodrin sebagai hasil pokok. Biasanya produk utamanya adalah para-kuinoid.77 V seperti yang di tunjukan pada reaksi berikut: H2 O2 2e.

O + R. dan peroksida asam (4.90. Pemutusan secara heterolik mentrasfer oksigen ke basa lewis (alkena). dan menghasilkan 4.91 dengan t-butilhidroperoksida (TBHP) dan molybdenum heksa karbonil menyebapkan oksidasi selektif pada alkena trisubstitusi yang akan menghasilkan 4.87).88). Pengaruh gugus tetangga mungkin terjadi bila ada gugus pengkoordinasi seperti pada alilik alcohol. dan pelepasan proton menghasilkan hasil samping (air dari hidrogen peroksida.94.bereaksi dengan alkena. Beberapa contoh reaksi epoksidasi Reaksi 4. epoksidasi sikloheksenol dengan TBHP dan logam bersifat 36 . yang menghasilkan oksigen yang bermuatan positif. seperti 4.92.alcohol dari alkil hiroperoksida.89) basa lewis (Alkena) berkoordinasi dengan elektrofilik oksigen dari peroksida. alkil hidroperoksida (4.93) yang mengalami epoksidasi selektif pada alkena yang tidk terkonjungsi.OH H O O R Gugus ±OH perasam bersifat elektrofilik dan pengikat pada ikatan rangkap alkena menghasilkan adisi syn dari oksigen epoksida . Terdapat tiga kelompok utama peroksida yang digunakan untuk epoksidasi:hidrogen peroksida (4. dan asam karboksilat dari peroksi asam). Alkena yang kekurangan electron bersifat kurang reaktif. Sebagai contoh. Hal ini ditujukan pada epoksidasi geranial (4.

96) sebagai produk utama. 4.100.peroksi bensoat.trifluoroh.4.105) Contoh epoksidasi alkena adalah konfersi siklupentena manjadi siklopentena oksida (4.sangat selektif untuk epoksi alcohol. dengan gugus hidroksi syn terdapat pada epoksi 4.104 dibuat dengan mereaksikan asam karboksilat dengan hidrogen peroksida. sejumlah peroksi asm dapat diperoleh dalam perdangangan. 4.103). Tidak diragukan bahwa reaksi ini berlangsung melalui intermediet seperti 4. meliputo peroksi format.101. Hidrogen peroksida dalam basa dapat mengkonferesi nitril manjadi epoksi amida.yaitu kearah pembentukan 4. pada umumnya. di mana enolat anion menggeser gugus hidroksi yang kemudian menghasilkan epoksida.104.95. jika reaksi berlangsung tanpa pengaru gugus tetangga. adisi konjungsi ). epoksi alcohol 4.98) dengan hasil 72 .kenyataannya.97) dikonfersi menjadi epoksida yang sesuai (4. hidrogen peroksida bereaksi dengan basa menghasilkan hidroperoksida anion (HOO-) dan mengadisi keton takjenuh aldehida dan ester. seperti pada reaksi akrilonitril yang menghasilkan 4. yaitu epoksinitril (4.peroksi asetat dan meta-kloroperoksibensoat (mCPBA. yang dikenal sebagai reaksi prilezheav (prileshajew). Peroksi asam seperti 4.102 dengan t-butil hidroksida dalam larutan basa menghasilkan produk yang baik.Peroksida bereaksi pada media basa menghasilkan produksi anion yang bereaksi dengan turunan karbonil terkonjungsi pada C terminal adisi-1.4. yang mula-mula melalui pembentukan 4.6. reaksi yang sejenis.95 bersifat dominan.99.106) dengan mCPBA dalam karbon petraklorida 37 . Isoforon (4.4 peroksi asam organic Mungkin cara yang paling umum untuk epoksidasi alkena sederhana kemungkinan adalah dengan peroksi asam. asam-asam kuat seperti asam format dan asam trifluoroasetat berguna karena dapat menggeser kesetimbangan kearah kanan. Sebagi contoh. maka pengru penghalang akan menghasilkan anti-hidroksiepoksida (4.

Contohnya. yaitu alkena dan elektrofilik peroksi oksigen. Penambahan garam asam (RCO2. Ikatan rangkap dua. mCPBA marupakan peroksida yang bagus untuk sebagian besar alkena. Jika molekul mengandung dua alkena.4 ± siklopheksanadiena.Alkena yang lebih banyak tersubstitusi merupakan alkena yang kaya electron dan bereaksi lebih cepat dengan peroksi asam dari pada alkena yang kurang tersubstitusi. laju relative epoksi naik berdasarkan karakter nuleofilik alkena (CH2 = CH2 mempunyai luju relative 1.okan membentuk koordinasi yang kemudian terjadi pelepasan asam karboksilat dan pembentukan epoksida. tri dan tetra tersubstitusi segera terepoksidasi dengan asm peroksi alkanoat maupun dengan asam peroksi bensoat.maka hasil sampingnya adalah asam organic kua. Selain itu.R2C ± CHR :6500. Pembukaan Cincin Epoksida a. atau dengan buffer hidrogen fosfat dinatrium.Kemungkinan reaksi yang berlangsung melalui mekanisme penggabungan. RCH = CH2 : 24.RCH = CHR :500. Memberikan epoksida tetrasubstitusi dengan mCPBA reaksi ini ditunjukan oleh ptattier dan teisseir pada y -bisabolena. karna dibutukan pengunaan peroksi asam yang kuat seperti asam trifluoroh peroksi asetat meskipun mCPBA juga efektif. Pada umumnya. maka alkena yang lebih tersubstitusi akan lebih cepat terepoksidasi. Pembukaan cincin epoksida dengan asam Pembukaan cincin epoksida dapat dilakukan dengan pereaksi asam atau basa. Epoksi ester seperti dapat dibentuk dari ester terkojugasi seperti etil 2 ± bensoat dengan menggunakan mCPBA atau asam trifluoroh asetat. Pembukaan cincin epoksida dengan suatu asam H-Nu dapat dinyatakan sebagai berikut: § 38 .N ) pada media reaksi biasanya akan menyangga reaksi dan mencegah terjadinya reaksi samping. Adanya larutan penyangga (buffer) menjadi penting padaepoksidasi dengan peroksi asam. dapat digunkan kalium atau natrium atau kalium hidrogen fosfat. dimana diena dikonversi secara selektif menjadi epoksida. Natrium dan kalium asetat digunakan sebagai penyangga. Epoksidasi terhadap alkena monosubstitusi biasanya kurang reaktif. asam ini cukup kuat untuk mengkatalisis penataan ulang atau reaksi lain terhadap produk epoksida. 1. namun asm peroksi bensoat lebih efektif. Sebagai contoh. Jika asam triflouorohperoksi asetat (CF3CO3 H) digunakan sebagai zat pengoksidasi.2 ± dimetil ± 1. asam trifluoroh asetat (CH3CO2 H). dan R2C = CR2 >> 6500).R 2C = CH2 :500. Sebagai hasil samping adalah asam karboksilat. reaksi dengan asam peroksi bensoat mengunakan natrium bensoat dan natrium trifluoroh asetat digunakan dengan asam trifluorohperoksi asetat.

Br atau I yang menghasilkan halohidrin. yaitu protonasi terhadap oksigen dan pengikatan nukleofil pada ion oksonium. dan reaksi dapat dipandang sebagai reaksi adisi yang dilanjutkan dengan protonnasi. Reaksi ion alkoksida dengan H2 O 39 . dimana X dapat berupa Cl.Oksiran juga dapat bereaksi dengan asam halide HX. Langkah pertama adalah pengikatan basa neuklofil pada cincin epoksida dan langkah kedua adalah protonasi terhadap ion alkosida yang dihasilkan dari langkah pertama. Reaksi pembentukan epoksida eengan basa terjadi melalui dua tahap reaksi. Langkah 1. Pengikatan ±OH pada cincin epoksida Langkah 2.Pembukaan cincin epoksida dapat terjadi melalui dua langkah reaksi. Oksiran yang direaksikan dengan asam dalam pelarut air akan menghasilkan etilen glikol yang umumnya disebut glikol. Pembukaan cincin epoksida dengan basa Pembukaan cincin pada epoksida juga dapat dilakukan juga dengan basa.

pengikatan nukleofilik pada karbon epoksida bergantung pada kondisi asam dan basa.Reaksi pembentukan cincin epoksida dengan basa sering diguakan dalam pembuatan polimer. Misalnya. Kondensasi asam m Kondisi basa Nukleofil akan terikat pada karbon yang mengikat jumlah alkil yang paling banyak sesuai dengan aturan Pada umumnya pembukaan cincin epoksida pada kondisi basa terjadi dengan pengikatan nukleofil pada atom karbon yang tidak tersubtitusi. 40 . karena keadaan transisi akan melalui struktur yang kurang terhalangi. Orientasi adisi terhadap epoksida pada kondisi asam vs basa Pada epoksida yang tidak simetris. polietilen glikol dimanfaatkan sebagai foam rubber dan fase diam pada kromatografi gas (disebut carbowax).

LiAlH4 4H2 O 4H2 O LiOH Al(OH)2 H2 Litium aluminium hidrida memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut eter dan mempunyai kecenderungan membentuk bubur bila jumlah pereaksi yang di gunakan relatif besar. tetapi beraksia dengan hebat pada keadaan lembab / mengandung uap air. anhidrida asam. IV ke II.BAB V REAKSI REDUKSI A. lakton . atau II ke I). imida. Bubur LiAlH 4 dapat mereduksi semua gugus fungsi organik terpolarisasi. seperti pada transformasi RCH=NH menjadi RCH2NH2. ester. Litium hidrosida. Pereaksi LiAlH4 dengan adanya asam/basa dapat bereksi dengan hydrogen yang bgersifat asam. karbamat. meliputi aldehida. Pereaksi ini stabil pada suhu kamar. PENGERTIAN REDUKSI Proses reduksi didefenisikan sebagai konversi suatu atom dari tingkatan oksidasi yang lebih tinggi ketingkat oksidasi yag lebih ranadah (III ke II. dan reduksi terhadap propanil menjadi butanamina. B. Proses reduksi oleh LiAlH4 dimulai dengan metransfer hidrida nukleofilik (relatif terpolarisasi .1 Reduksi dengan Litium Aluminium Hidrida (LiAlH4) LiAlH4 dibuat dengan mereaksikan LiH dan AlCl3 . yang Litium hidrida merupakan salah satu pereduksi yang dikenal untuk substrat organic yang mengandung gugus pergi dapat terpolarisasi. alcohol atau amina dan menghasilkan gas hydrogen dengan merusak sifat aktif hidrida. seperti reduksi 2butanon menjadi 2-butanol. ¨ 41 . dan gas hydrogen. keton.pada Al) ke karbonil elektrofilik (relatif terpolarisai pada oksigen). amida. B. Pengertian lainnya pada reduksi senyawa organic adalah adisi hydrogen terhadap molekul. dan laktam. asam karbosilat.2 Reduksi terhadap senyawa KarbonilL Litium Aluminium Hidrida cepat mereduksi sebagian besar senyawa karbonil. dan aluminium hidrosida. Reduksi dengan Hidrida Kompleks Logam B. klorida asam.

Reaksi keseluruhan meliputi protonasi asam aloksida dan reaksi pada aluminium terjadi pada media masa.54 menjadi alcohol 5. 3 Reduksi terhadap gugus fungsi hetereton kecuali karbonil Epoksida segera dapat dibentuk dari alkena atau dari keton dan aldehida. produk utama reduksi diastereomer timbul akibat transfer hidrida ke permukaan yang berpenghalang kecil.55 dengan hasil 95%.56 menjadi campuran 5. Pada umumnya. LiAlH4 mentransfer hidrida kekarbon epoksida yang kurang terhalang. Reduksi aldehida berlangsung lebih cepat daripada terhadap keton. kecuali bila terdapat pengaruh adanya koordanasi atau khelat khusus. 42 . B. Contohnya adalah reduksi 5. Dalam bnayak hal. Salah satu sifat penting pada reduksi karbonil dengan LiAlH4 adalah reaksi yang bersifat diastereoselektif. Namun demikian kadang ± kadang Epoksida memberikan produk dimana transfer Hidrida berlangsung kearah karbon yang lebih tersubtitusi.58 dalam sintesis driman-8-ol. titrasi atau penambahan dengan air sudah cukup untuk melepaskan alcohol. tetapi kadang ± kadang menggunakan aluminium klorida jenuh dan asam klorida encer.57 dan 5. karena pada aldehida factor penghalangnya kecil selama ter jadi transfer hidrida ke karbon karbonil. seperti yang di tunjukkan pada 5.

C. imin. Senyawa nitril umumnya dibentuk berdasarkan reaksi subtitusi SN2 sianida dengan alkil halida atau sulfonat ester atau berdasarkan reaksi dehidrasi terhadap amida. keton. Reduksi dengan Borohidrida C. terutama pada sintesis alkaloid adalah mereduksi enamin. dan klorida asam saja.1 Natrium Borohidrida (NaBH4) NaBH4 merupakan pereaksi yang sangat selektif. dan garam iminium. Salah satu penggunaan NaBH4 yang penting. merupakan zat pereduksi yang lebih kuat daripada NaBH4. C. NaBH4 43 . Selektivitas ini disebabakan oleh menurunnya kekuatan pereduksi realatif terhadap LiAlH4. tetapi juga mereduksi epoksida ester dan lakton. LiBH4 tidak hanya mereduksi Aldehida.2 Logam borohidrida (Li. Zn. Ce) LiBH4 yang dibuat dengan mereaksikan natrium borohidrida dan litium bromida. LiBr LiBH4 NaBr. mereduksi aldehida. dan klorida asam dengan adanya gugus fungsi yang lain yang dapat direduksi.Nitril digunakan secara umum sebagai senyawa awal (prekursor) untuk transformasi banyak gugus fungsi dan reaksi pembentukan ikatan karbon. keton.

4 Penggunaan zat pereduksi Hidrida dikatakan paling baik adalah pereaksi yang memberikan hasil paling tinggi dengan reaksi samping paling sedikit. 44 .metal-1. seperti pada reduksi 1. Diboran kurang efektif ungtuk mereduksi ester dan boran (BH3. keton.C. Boran mereduksi ester sangat lambat dan keton atau aldehida direduksi secara selektif dengan adanya ester.1 Boran 6 LiH 8BF 3 O(C2H5)2 B2 H6 6 LiBF 4 4 BF3O(C2 H5)2 2 B2 H6 3 NaBF4 3 NaBH4 Boran dan turunannya tetap merupakan pereaksi pilihan untuk reaksi. asam. Diboran (B2 H6) merupakan zat pereduksi penting untuk aldehida. amida tersier dan nitril. Super hidrida mengikat pusat ± pusat elektrofilik pada sisi yang factor penghalangnya renadah.3 Super Hidrida Super hidrida lebih kuat daripada LiBH4 dan kemungkinan merupakan nukleofil hidrida yang pernah ada. c. D. lakton. 2epoksisikloheksana menjadi metal 1-metilsikloheksanol dngan hasil 99%. monomer takstabil yang membentuk diboran) bereaksi dengan alkena dalam pelarut eter membentuk basa Hidroborasi. Boran aluminium dan turunnya d. Perbedaan utama dalam reaktivitas antara boran dan pereaksi hidrida logam adalah bahwa Borann merupakan asam Lewis yang bagus dan mengkoorddinasi atom ± atom yang memiliki kerapatan elektron yang sangat tinggi. Diboran biasanya dihasilkan dari pereaksi BF3 O(C2H5 ) dengan LiH atau dari reaksi NaBH4 dan BF3.

Penggunaan boran yang paling luas adalah reduksi yang selektif terhadap asam karboksilat. Pereaksi ini sangat larut dalam sebagian besar pelarut organik.. termasuk benzene dan toluene. Boran digunakan untuk mengkonversi asam -amino menjadi alcohol amino seperti pada reaksi fenilalanin menjadi fenilalkohol dengan hasil 77%. Sifat yang mudah terbakar dan sukarnya menangani boran memungkinkan pengembangan sejumlah kompleks basa lewis yang mudah digunakan. Dibal) yang dibuat dengan merefluks triisobutil aluminium dalam heptana. aluminium hidrida (AlH3): 3LiAlH4 AlCl3 4 AlH3 3 LiCl Aluminium hidrida yang dibuat dengan cara ini tidak selalu murni.S(CH3 )2). Senyawa yang diperoleh berupa cairan piroforik 45 . Campuran hidrida yang paling umum adalah Cl2 AlH dan Cl2 AlH2.mempunyai analog sebagai elektrofil. d.3 Diisobutil aluminium Hidrida pembuatan alkil ³alana´ yang analog seperti alkilboran. meskipun dengan adanya halide. 2 Aluminium Hidrida Boran (BH3 ) merupakan asam lewis seperti halnya borohidrida (BH4-). nitril dan keton. Salah satu yang lebih sering digunakan adalah kompleks boran dimetil sulfide (H3 B. tergantung pada proporsi LiAlH4 dan AlCl3. Turunan alkil yang paling banyak digunakan adalah diisobutil aluminium hidrida ([(CH3)2CH2 ]2 AlH4. Hal yang sejenis AlH4 . d. ester. karena campuran kloroaluminium hidrida dapat terbentuk.

yang diikuti dengan oksidasi. Jika 5.2 Khiral aditif pada system asiklis Aspek utama reduksi hidrida adalah stereokimia reduksi seperti yang ditunjukan pada Tabel 5. maka akan dihasilkan enatimer R.118 dan enantiomer (5. akan menghasilkan alcohol 5. Jika pendekatan pereaksi dari satu muka. Karbonil merupakan pusat prokiral karena adisi hidrida dari kedua muka karbonil (a atau b) menghasilkan pusat stereogenik. yang direduksi menjadi 2-pentanol.119). Reaksi alkena 5. 46 .117 bereaksi dengan pereaksi Grignard. sedangkan jika pendekataan dari muka yang berlawanan.2.BBN (9-boran ±siklo [3.117 dan alkena 5. tetapi bila molekul tersebut bereaksi dengan suatu pereaksi.1 Pusat ± puast prokhiral Ada molekul ± molekul yang tidak memiliki pusat khiral. seperti fenil magnesium bromide. hal ini di kaitkan dengan muka atau permukaan molekul yang akan didekati oleh pereaksi selama reaksi berlangsung.121 (dan enantiomernya 5. Contoh sederhana adalah 2 ± pentanon. maka pusat khiral akan terjadi pada produk yang dihasilkan. apakah pereaksi tersebut akan menghasilkan enantiomer Ratau S. maka produk alcohol adalah rasemik. maka diperoleh alcohol 5. maka akan diperoleh enantiomer S. Di sini di cermati adalah pereaksi yang digunakan.120 dengan boran seperti 9. Karena kedua muka mempunyai kesempatan yang sama untuk pengikatan.120 tidak mengandung pusat khiral.31]-nonana).E. Stereoselektivitas pada reduksi Hidrida E. Kenyataan bahwa keton 5.122) E.

Heterogen = katalis tidak larut dalam media reaksi 2. Reaksi dengan zat pereduksi dapat mempengaruhi konformasi sehingga memberikan sifat diastereoselektivitas. Terdapat dua tipe utama katalis 1. Hidrogenasi Katalik Reduksi gugus fungsi dengan gas hydrogen merupakan salah satu reaksi yang penting dalam kimiia organic. Reaksi membutuhkan sejumlah katalis logam transisi agar reaksi dapat terjadi. Senyawa 5.134 mengandung pusat stereogenik. dan hasil yang diperoleh adalah campuran 1 : 1 diastereomer syn dan anti (5. Hidrogenasi etana menjadi etana pertama kali dilakukan oleh van Wide pada tahun 1875. F. Penggunaan hidrogenansi katalik secara luas dilakukan setelah tahun 1897.137 dan pendekatan melalui muka yag lebih terhalang (³muka metal´. tetapi pusat tersebut terlalu jauh dari pusat prokhiral yang mempunyai pengaruh atas reduksi pada prokhiral. maka reduksi menghasilkan diastereomer. muka re)akan memberikan 5. 47 . yaitu ketika Sabatier mengembangkan reaksi antara hydrogen dan senyawa organic yang kemudian menjadi model reaksi universal (Nobel prize.homogen = katalius larut dalam media reaksi Hirogenasi heterogen mempunyai dua bentuk: 1. maka hasil yang akan diperoleh sangat cenderung pada 5.135b).137. Pada 5. yangb merupakan rasemik. dan pengaruh khiralitas akan berpengaruh pada pendekatan pereaksi yang akan menyerang.136.3 Selektivitas pada reduksi turunan karbonil yang mengandung karbon khiral Jika pusat prokhiral terdapat pada molekul yang mengadun g satu atau lebih pusat khiral. pada system asiklis seperti contoh tersebut tidak mungkin memiliki konformasi tunggal. Pereaksi akan mendekati dari muka yang mengikat halangan yang palin kecil.136 tetap seperti konformasi yang terlihat.134 dan 5. Reduksi terhadap senyawa ini tidak lebih seperti pada reduksi keton yang tidak memiliki pusat khiral.E.138 Jika konfirmasi 5.1 Aktivitas dan Reativitas Katalik Metode ini berkaitan dengan adisi gas hydrogen pada molekul organic. Tidak didukung= reaksi terutama dalam larut.135a dan 5. Namun demikian.136 mempunyai pusat stereogenik yang berdkatan dengan karbonil. Namun kenyataannya. 1912) F.136. pendekatan melalui sisi sebelah atas ³muka hydrogen´(muka si) akan menghasilkan n5. seperti pada reaksi 5. Didukung = proses dalam bentuk bubur dan bekerja dalam keadaan gel tetap 2. keton 5. dan reaksi berlangsung dengan penyerapan hydrogen dan substrat dipermukaan logam.

Rh > Ir > Rn > Pt > Pd > Ni > Fe > Co > Os Pada urutan tersebut. Katalis ± katalis tersebut digunakan untuk mereduksi banyak gugus fungsi . Variabel pertama dalam hidrogenasi katalik adalah katalis.Gugus fungsi yang direduksi. Hudliky mengemukakan urutan reakstivitas relative terhadap propena untuk katalis logam transisi golongan VIII.173).175) Mekanisme yang pasti dari katalis heretogen belum diketahui karena proses tersebut mmerupakan fenomena yang terjadi di permukaan. nikel. F.2 Reduksi Alkena dan alkuna Reaksi dengan alkena berlangsung diatas permukaan katalis heterogen logam. yang didasarkan pada pekerjaan yang dilakukan oleh Mann dan Lien. Gas hydrogen dipecah menjadi atom ± atom hydrogen yang terikat pada nikel (dinyatakn 5. tingkat reduksi dan distribusi produk. Tipe atom step (B) biasanya mempunyai tujuh tetangga dan dapat digambarkan dengan struktur 5. Katalis heterogen merupakan suatu perwujudan permukaan dan karena itu dikenal terdapat beberapa perbedaan tipe partikel ± partikel logam di permukaan. step dan kink pada permukaan katalis heterogen. melalui pemutusan molekul hydrogen dan penyusunan atom ± atom hydrogen.171. dan rutheum.170. bergantungf pada sifat dan jumlah katalis maupun tipe prosedur hidrogenasi yang digunakan.172. Pada proses terlihat 48 . rodium merupakan katalis yang paling aktif. Pengertian tersebut mengacu pada tipe ± tipe ataom yang berbeda. Tipe atom terrace (A) kekhasannya mempunyai delapan atau Sembilan tetangga dan ditunjukan secara geometri seprti 5. yang diikuti dengan berlansungnya reaksi dengan transfer hydrogen ke karbon (5. palladium. Maier menggambarkan adanya tipe ± tipe atom terrace. tipe atom kink (C) mempunyai enam tetangga dan dinyatak seperti 5. garam ± garam logam transisi sering digunakan daripada logamnya sendiri. iridium.174). Alkena juga terikat pada permukaan logam (5. akhirnya. rodium. tidak ada katalis tunggal yang memberikan hasil yang lebih bagus untuk semua gugus fungsi. yang di tandai dengan jumlah atom tetangga yang terdekat. Katalis yang sebagian besar digunakan adavlah platian. Dalam beberapa hal.

Contohnya 5. Cincin siklopropana tidak dapat direduksi dengam katalis Lindlar. Urutan relatif untuk reduksi naftalena menjadi tetralin adalah Pd > Pt > Rh > Ir > Ru Rodium mula.memutus ikatan H ± H yang menghasilkan spesies logam ±H (H*). seperti pada reduksi 5.187. maka hidrogenasi katalik dapat dipersulit oleh reaski samping.185 pemecahan secara reduktif cincin siklopropana berlangsung lebih cepat daripada reduksi keton.4 Reduksi aromatic dan Hidrokarbon Heteroaromatik Contoh yang paling sederhana adalah reduksi benzene menjadi sikloheksana yang membutuhkan kondisi suhu dan tekanan tinggi. G. dengan perbandingan 10 : 82. Redukski fenol mula ± mula menghasilkan enol.185 direduksi dengan katalis adams menghasilkan campuran 5.200.202 yang akan menghasilkan reduksi sempurna pada semua ikatanmenjadi 5. tetapi senyawa ini tereduksi lebih lanjut menjadi dekalin (5. dan 5.200 merupakan konstituen kecil dari campuran produk akhir.205 dengan adanya hydrogen berlebih. Reduksi Logam Terlarut 49 . F.201). kecuali jika menggunakan katalis rodium. Rylander memberikan urutan berbagai katalis untuk mereduksi benzene. disebut katallis adams). Bila cincin aromatic tersubtitusi.3 Hidrogenasi senhyawa ± senyawa karbonil Bahwa pada reduksi 5. tetapi dapat direduksi dengan katalis heterogen seperti platina oksida (PtO2. F. Platinum mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada karbon atau kalsium karbonat. dimana hydrogen diserap pada situs aktif dipermukaan katalis. tetapi senyawa ini dikonversi menjadi sikloheksanon atau turunan sikloheksanadion.mula mereduksi naftalena menjadi 5.186 dan 5. tetapi tidak dapat mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada barium sulfat atau alumina Al2 O3. yaitu sbb: Rh > Ru >> Pt > Pd >> Ni > Co Rodium dan ruthenium digunakan jika menghindari hidrogenolisis.

ikatan pada 2-butuna menangkap electron yang dihasilkan dari eletrolisis membentuk anion radikal seperti 5. menghasilkan anion radikal (disbut ketil). intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepakan proton dari pelarut yang bersifat basa. sedangkan reaksi yang terakhir berupa reduksi.220) dengan hasil 68%. elektron ditransfer kekarbonil. yaitu bentuk radikal karbon dan bentuk karbanion (5.2.214).1 Reduksi Elektrofilik Reaksi reduksi dari logam ± logam alkali melibatkan transfer elktron tunggal dan dapat dilakukan pada sel elektrolitik. reaksi ini sering disebut sebagai prosedur Ing ± Maske 50 .215 Paling tidak ada dua tipe produk reaksi yang dihasilkan oelh ketil yang berasal dari aseton. H. Salah satunya adalah reduksi dengan hidrazin Dalam keadaan basa. Proses ini di kenal dengan reduksi Wolf ± Kishner. Hidrazin juga digunakan untuk mengkonversi alkil ptalimida menjadi alkilm amina dengan mengantikan satuan O = C. Reduksi Nonlogam Terdapat sejumlah cafra untuk mereduksi gugus fungsi organic yang menggunakan pereaksi nonlogam.G.asetilpiridin (5. Penggabungan radikal aseton seperti yang dinyatakan diatas ditunjukan pada konversi 2. Ketil dapat mengaloami penggabungan radikal . dan menghasilkan produk yang tereduksi.NR ± C = O dengan satuan O = C ± NHNH ± C = O.diol (5. intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepaskan proton dari pelrut yang bersifat asam. Contohnya elektrolisis aseton.218) menjadi 1. Pada keadaan yang serupa. Terdapat dua bentuk kanonikal ketil inn. Hidrazin hidrokarbon (N2 H5 HCl) sangat efektif untuk mereduksi khususnya keton yang mempunyai penghalang.

Reaksi pada molekul asiklis dapat menghasilkan diastereomer dan pengertian ³penontrolan stereokimia´.1 Selektivitas Markonikov/ anti markonikov Reaksi khas yang menggambarkan adisi markonikov adalah reaksi HBr dengan 2-metil 2-butena yang menghasilkan 2-bromo 2-metil butana.1. Usaha ± usaha untuk mengontrol stereokimia yang penting meliputi: 1.1 Kontrol Stereo pada Sistem Asiklis.BAB VI KONTROL STEREO DAN PEMBENTUKAN CINCIN 6. Radikal brom dibentuk berdasarkan pemecahan hormolitik dari peroksida yang ditambahkan. yang menghasilkan alkohol pimer.) 5. reaksi adisi kation dan radikal menghasilkan intermediet reaktif. Reaksi dengan HBr menghasilkan bromida primer dan menghasilkan radikal brom yang lain pada langkah propagasi rantai. kemudian diikuti reaksi dengan HBr.) 3. Radikal yang terbentuk distabilkan oleh efek elektronik tiga gugus alkil daripada alternatif radikal primer.) 4.) 2. Ini merupakan reaksi berlawanan regioselektivitas keseluruhan terhadap adisi selektif pada reaksi kationik. yang biasanya digunakan untuk suatu usaha menghasilkan satu diastereomer sebagai produk utama dari reaksi. Reaksi radikal ini berlangsung dengan baik hanya untuk adisi HBr dan tidak untuk HCl atau HI. Reaksi ini menghasilkan radikal karbon yang diperoleh mula-mula dari adisi radikal brom pada alkena. 6. Jika diinginkan adisi anti-Markonikov.maka hidrogen ditransfer pada radikal tersebut. Pada umumnya. dan produk adisi ditentukan oleh stabilisasi relatif dari intermediet.) Selektivitas markonikov atau anti markonikov Retensi atau inversi konfigurasi Selektivitas cis-trans Selektivitas syn-anti Pengaruh khelasi heteroatom. Jika reaksi menghasilkan karbokation. Reaksi adisi tipe radikal akan berlangsung dengan bentuk anti±Markonikov. Pengotrolan adisi Markonikov vs anti-Markonikov dapat diprediksi dengan pengontrolan jalur mekanistik adisi. Reaksi adisi lain yang berlangsung dengan orientasi anti-Markonikov adalah adisi HBr pada alkena dengan adanya peroksida. 51 . Karena brom pertama tama megadisi alkena yang menghasilkan radikal tersier yang lebih stabil. maka orientasi Markonikov pasti dihasilkan. Reaksi adisi anti markonikov yang khas adalah adisi boran pada alkena. setelah oksidasi terhadap intermediet alkil boran. maka pengubahan pada mekanisme reaksi harus terjadi.

Contoh sederhana proses ini adalah konver i (S)-2s pentanol menjadi tosilat yang sesuai. 6. Ini merupakan metode efektif untuk menginversi pusat stereo dengan pengikatan gugus fungsi yang ber eda.Reaksi HBr dengan 2-metil-2-butena yang menghasilkan 2-bromo-2-metilbutana. dengan hasil retensi konfigurasi secara sempurna. antibiotik karbapenam. Reaksi asam amino dengan Natium Nitrit (Na2NO2) dan Kalium Bromida (KBr) menghasilkan asam -bromo.maka tipe S 2 menjadi mungkin N dengan inversi pusat stereogenik tersebut. yang dapat diganti dengan nukleofilik seperti azida dan ada hasil.1. dengan kontrol sempurna pusat stereogenik.2. Jika alkohol dikonversi menjadi turunan dengan ikatan C ± O lemah serta adanya kecenderungan yang besar untuk terjadinya penggantian . dengan retensi konfigurasi secara sempurna. Metode lain untuk mengkonversi atau mengontrol stereokimia ditunjukkan pada konversi D-manitol menjadi (R)-ephiklorohidrin atau (S)-ephiklorohidrin. Reaksi ini diamati pertama kali oleh Walden. Kontrol stereokimia diperoleh dengan memanipulasi perbedaan -perbedaan pada reaktivitas. Retensi vs Inversi Konfigurasi Contoh sederhana untuk menginversi pusat stereokimia adalah mengkonversi gugus fungsi menjadi gugus fungsi lainnya. Reaksi ini diambil dari sintesis tienamisin. Gugus amino dapat diubah menjadi gugus fungsi yang lain. b Metode lain selain reaksi Mitsonobu juga dapat dipeoleh untuk menghasilkan stereokimia. yang dilakukan oleh Salzmann. Konversi yang menarik adalah transformasi NH2 Br. 52 . Proses ini biasanya melibatkan alkohol atau substrat amina.

Contoh pengontrolan konfigurasi pusat khiral adalah konversi alkohol sekunder khiral menjadi klorida sekunder yang sesuai dengan tionil klorida 6. pengertian utama terhadap perbedaan dua mekanisme reaksi tersebut memungkinkan pengontrolan geometri cis-trans produk akhir. Selektivitas syn-anti Reaksi enolat yang dibicarakan sebelumnya merupakan contoh yang baik tentag kemampuan untuk mempengaruhi atau mengontrol distereoselektivitas. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena. tetapisatu yang perdominan. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena. Sekali lagi.4.Metode untuk menghasilkan diol secara stereoselektif dimulai dengan epoksida. Selektivitas cis-trans Kontrol pada geometri cis-trans telah ditunjukkan pada reduksi alkuna engan hidrogenasi katalitik atau dengan logam alkali.3. Produk-produk akhir dari serangkaian reaksi ini adalah syn diastereomer dan anti diastereomer. 6.1. yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida (atau dangan nukleofil oksigen lain).2diol. Rekasi lain di mana syn dan anti diastereomerdapat dibentuk. Keadaan yang berlawanan. Pada contoh ini. dengan mengubah basa atau kondisi reaksi lain. syn diol dibentuk melalui pelepasan nukleofil hidroksida dari sisi belakang ke karbon yang kurang terhalang.1. 53 . reaksi alkun dengan logam alkali akan menghasilkan trans-alkena. yaitu pada contoh konversi alkena menjadi 1.

hal ini disebabkan oleh koordinasi yang lemah dengan heteroatom.2 Kontrol Stereo pada Sistem Siklis Cara untuk mengontrol regiokimia Markonikov dan anti-Markonikov. 6.seperti pada reaksi 1 fenilsikloheksena oksida dengan hidroksida. Adisi pada ikatan tersubtitusi menghasilkan 54 .terutama terhadap molekul siklis. Metode untuk menghasilkan diol secara streoselektif dimulai dengan epoksida yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida 6. pada dasarnya sama seperti pada sistem asiklis. dan retensi atau inversi konfigurasi.1. Sukar untuk memisahkan pengaruh regiokimia (cara adisi) dan pengaruh retensi dibandingkan inversi dan isomerisasi cis-trans pada molekul-molekul siklis.pengikatan alkohol alilik pada logam adalah penting untuk pelepasan oksigen elektrofilik dan juga untuk pengontrolan orientasi alkena relatif terhadap agen epoksidsi.mungkin mengontrol pembukaan cincin epoksida.5. Kecenderungan terjadinya khelat heteroatom tegantug pada pereaksi yang digunakan. Keadaan ini dapat ditunjukkan pada reaksi alkohol alilik khiral dengan asam peroksi. Salah satu faktor utama untuk mengontrol diastereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga. Khelasi Heteroatom Salah satu faktor utama untuk mengontrol distereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga (pengaruh gugus tetangga).Hasil yang diperoleh adalah syn-diol. Epoksidasi asimetris Sharples memanfaatkan selektivitas yang timbul dari koordinasi dengan alkohol alilik oleh penambahan agen khiral untuk mengontrol selektivitas. Zink borohidrida mengadakan koordinasi yang sangat kuat dengan heteroatom. Dalam beberapa hal. tetapi litium aluminium hidrida menunjukan selektivitas yang kurang. Koordinasi dengan oksigen dan pelepasa oksigen elektrofilik dari sisi tersebut menghasilkan alkohol epoksi.

2. Reaksi Hbr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markovnikov yang menghasilkan tersier bromida. dan membentuk alkena yang lebih banyak tersubtitusi.metilsiklopentana. 6. Penambahan pada halida dengan kalium-t-butoksida dalam t-butanol menghasilkan antieliminasi.isomer-isomer geometri. Sebagai contoh. Pengertian syn dan anti tidak mempunyai arti pada sistem siklis. 1-bromo-1-metilsiklopentana. Efek yang sama terjadi pada halida siklis seperti cis-2-1. Namun demikian.1. Selektivitas Markonikov / anti-Markonikov Masalah-masalah yang berkaitan dengan adisi secara regioselektif pada molekul-molekul siklis pada dasarnya sama seperti pada molekul-molekul asiklis. Adisi boran dan oksidasi menghasilkan campuran alkohol dengan perbandingan 86 : 14. dimana yang lebih menguntungkan adalah produk yang kuran tersubtitusi. 6. hidroborasi metilsiklopentena menghasilkan produk utama anti Markonikov karena untuk adisi dibutuhkan keadaan transisi empat pusat.2. 1-bromo-1metilsiklopentena. Regiokontrol pada eliminasi diperoleh dengan pengikatan basa pada molekul (basa internal untuk eliminasi syn) atau dengan pengikatan basa pada molekul seperti pada reaksi biomolekul (basa eksernal untuk eliminasi anti). dan pada sebagian besar sistem siklis akan mengontrol konfigurasi absolut pusat khiral yang dikaitkan dengan isomer-isomer cis-trans dan/atau dengan pembentukan diastereomer. 55 . reaksi HBr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markonikov yang menghasilkan tersierbromida.2. Aturan Bredt Reaksi lain di mana regioselektivitas bersifat penting adalah pembentukan ikatan rangkap pada reaksi eliminasi. yang bila direaksikan dengan basa menghasilkan metilsiklopentana. Hal ini disebabkan sifat termodinamika reaksi dan persyaratan elektronik bahwa kedudukan gugus pergi anti terhadap hidrogen yang dilepaskan.

diikuti pelepasan hidrogen. Untuk syn dan anti eliminasi keduanya.pada kedudukan yang kurang tersubtitusi. yang secara energetik lebih menguntungkan. disebabkan pembentukan geometri planar karbon sp2.yang mempunyai kedudukan syn terhadap gugus pergi. Adanya penghalang pada keadaan syn ini mengakibatkan pendekatan dan pelepasan hidrogen. 56 . Syn-eliminasi melibatkan basa yag terikat secara intramolekul. dan sistem bisiklis kecil tidak dapat mengakomodasi kenaikan yang besar dalam tegangan ini. hidrogen.dan gugus pergi adalah sudah ditentukan oleh regiokimia halida. Pernyataan yang dikemukakan oleh Bredt adalah ³dalam sistem keluarga kamfen dan a pinena serta senyawa ± senyawa yang sekerabat. karbon ± karbon kepal jembatan (a dan b) tidak dapat dilibatkan pada ikatan rangkap dua karbon ± karbon.Perbedaan utama di sini adalah ketidakmampuan cincin berotasi di sekitar ikatan karbonkarbon. Pembentukan produk alkena memerlukan penahanan kedudukan ³kepala jembatan (bridgehead)´ menjadi konformasiplanar. Energi keadaan transisi yang dibutuhkan untuk mengeliminasi ± menjadi karbon kepala jembatan dalam sistem kecil ± sangat tinggi. Pengamatan menunjukkan bahwa ikatan rangkap dua karbon ± karbon tidak dapat dibentuk pada atom ± atom kepala jembatan dalam cincin ± cincin bisiklis kecil dan keadaan seperti ini pada awalnya disebut aturan Bredt. tetapi produk yang dihasilkan adalah alkena yang lebih banyak tersubtitusi.

2.jika azida di gunakan sebagai nukleofil .maka penggantian bromida berdasarkan SN2 melauli peningkatan pada sisi belakang akan sulit terjadi.selama reaksi dengan LiAlH4 yang menghasilkan trans-alkohol) 57 . Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Corey.contoh: Perbedaan utama antara system siklis dan system ansiklis adalah ketidakmampuan sistem siklis mengalami rotasi disekitar ikatan karbon-karbon yang menghasilkan perbedaan konfigurasi.88 : 6.karena sudut pendekatan nukleofil terhalangi.pengontrolan geometric cis-trans merupakan persoalan diastereoseletivitas.Contoh : Reduksi 4-t-butilsilkoheksanon menunjukan kemantapan yang ditandai pelapisa hibrida melalui jalur a (perbandingan a : b = 91 : 9).89).4 ±t-butil-1-bromosikloheksana. 6.kemampuan kekonformasian pada keadaan transisi. Menghasilkan azida.dan stabilitas produk akhir.konformasi cicin.9 : <1 yaitu 6.dengan inversi konvigurasi penuh Melalui jalur reaksi SN2.Reaksi asida (NaN3) dengan cis .2.4 Isomer-isomer cis-trans (diastereoselektivitas) Pada system siklis .6.merupakan hal yang penting untuk mengkontrol dan memprediksi stereokimia.3 Retensi vs invarsi (kontrol diastereo) Reaksi molekuler siklis yang melibatkan pembentukan pusat-pusat khiral mirip seperti yang terjadi pada system asiklik.bentuk ekuatorial adalah bentuk yang dominan (dengan perbandingannya adalah <99.

100 berlangsung melalui koordinasi asam peroksi dengan alcohol. Mengubah pusat sterio pada produk akhir.Para ahli kimia yang melakukan sintesis tidak selalu dipaksa untuk menerima stereokimia tersebut.Epoksidasi senyawa 6.memungkinkan kita untuk dapat mengubah populasi diastereomer.paling tidak ada dua pilihan : 1. Mengubah jalur sintesis untuk menghasilkan intermediet yang menguntukan yang dapat menghasilkan steriokimia yang diinginkan. Ini merupakan pengaruh untuk reaksi asiklis.3 Pengaruh Khelasi dan Gugus Tetangga Pengaruh gugus sederhana yang di pengaruhi pelepasan ³oksigen´ ke ikatan rangkap dua alcohol telah dikemikakan oleh Henberst dan Sharless. 6.dan 2.pelepasan berbedah dengan epoksidasi alitik asetat yang terutma menghasilkan pelepasan oksigen elektofilik dari muka yang kurang berpenghalang. 58 . Terdapat banyak cara yang ada untuk emeriksa stereokimia relative pada pusat khiral yang tidak sesuai dengan sasaran yang diinginkan.Dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan seperti itu pada stabilitas produk .

merupakan retomer kunci.tidak hanya pengaruh ± pengaruh a dan b hidroksil.4 Stereo Kontrol Asiklis melalui precursor siklis 59 .108. Pengaruh gugus tetangga dapat menjadi jelas dan dapat digunakan untuk mengarahkan steroekimia dari suatu reaksi.107 dan 6.dadi pasangan gugus amino yang harus di perhatikan .pengaruh khelasi tersebut pada kenyataannya dapat merupakan pengarahan steriokimia atau regiokimia dan penghambat atau penghentian reaksi yang diharapkan.menghasilkan 99% (E)-alkena.Contoh lain : Reaksi oksetana dengan diametil alumenium Nmitel-analin yang merupakan reaksi eleminasi.alkoksi. tetapi juga pengaruh-pengaruh yang lebih kuat dari pasangan electron bebas yang berdekatan dengan electron nitrogen.oksigen dan belerang.Pengaruh gugus seperti ini disebabkan oleh pengaruh khelasi subtituen heteroatom dengan pereakai. Alumenium mengadakan koordinasi dengan oksigen oksetana kurang terlarang pada 6. 6. pada muka b yang Pada perencanaan reaksi.

homolitik.118.Pendekatan ini didasarkan pada persyaratan -persyaratan steriokimia dan sudut pendekatan yang memungkinkan untuk membawa ersama-sama dua pusat rebktif bila dihubungkan dengan atom-atom (tether).Penambahan dengan tosilhidrasin dalam asam asetat akan menyebabkan terjadinya pemecahan cicin Eschenmoser dan menghasilkan . Penambahan dan pengaturan gugus fungsi adalah konversi sikloheksanoan menjadi epoksiteron.mempelajari nukleofil.Cincin kemudian dibuka untuk memperperoleh system asiklis .Hidrogenasi Lindlar memberikan feromon seks utama dari Doglas fir Fussockmoth.5 Reaksi Pementukan Cicin Pengenalan dari aturan Baldwin untuk penutpan cicin. 6.dan regioimia dan strereokimia subtituen telah ditetapkan (ditemukan).jika atom yang diikat dinyatakan tet dan cicin yang akan dihasilkan adalah 6.Baldwin mengklasifikasikan penutupan cicin menjadi dua kategori : EXO (aliran electron dari reaksi adalah eksternal terhadap cicin yang akan dibentuk) dan ENDO (aliran elektro didalam cicin yang akan dibntuk).sering dengan control regiokimia dan steriokimia. Contoh penerapan masalah dilakukan dengan cara disintesis senyawa organic secara efektif.dan proses penutupan cicin kationik.dan mendapatkan pola reaktifitas yang dapat relativ diprediksi.Peningkatan atom pada sp2 disebut TRIG (membentuk cicin) dan peningkatan hibridisasi pada atom sp disebut DIG( pembentukan cicin). 60 .Sistem siklis dapat digunakan untuk memprediksikan gugus fungsi.

yang haya didasarkan pada substrat.atom sp3 adalah tetrahedral ( dengan sudut ikatan sekitar 109°) 61 .Pengggantian pada karbon sp3 pada umumnya melaui peningkatan dari bagian belakang dan gugus yang akan datang (X) harus mendekati karbon yang mengandung Y [ada sudut yang dekat dengan 180°.maka yang paling perluh dibicarakan adalah pertamatama adalah persyaratan sudut peningkatan untuk membawa dua ujung raktif molekul bersama-sama.Bila kita bicarakan aturan Baldwin.disini sudut ikat sekitar 120°.tetapi selama reaksi.Elliot dan Graham-Richard menyatakan suatu metode untuk memprediksikan sudut pendekatan yang cocok.

konversi sitronelal oleh pengaruh katalisator asam H isopulegol 62 © menjadi .Menggunakan analog yang sama seprti pada koversi sp2 -sp3 atom harus mendekati ikatan rangkap tiga pada sudut sekitar 120°.Dalam hal in konversi atop sp menjadi atom sp 2 menghasilkan sudut ikat 120° yang merupakan karekteristik alkena.Sudut ikat pada ikatan rangkap tiga adalah 180°. Contoh siklis endo.karena molekul adalah linear.

Mengalami

penggantian

exo

Y,tetapi

me

nghasilkan

Konver

Terdapat dua cara untuk meggambarkan pembentukan cicin.Enolat secara kinatik akan membentuk cicin melalui pengganti Exo Y menghasilkan 6.129 Enolat secara termodinamikal akan menghasilkan konversi,di sebut enol endo-exo-tet dan konversi.

bguvvyfiyfiyf Enolat pada umumnya mengalami reaksi 5-endo-tring pada oksigen sedangkan reaksi 6endo-tring disukai pada karbon.untuk membentuk cicin lingkar dari lima dari pasangan electron bebas oksigen harus pada kedudukan yang tepat untuk menggantikan kedudukan brom pada 6.136( produk adalah tetrahidrofuran).

63

Keadaan transisi untuk penggantian in di gambarkan pada 6.140.Agar menghasilkan cicin lingkar-enam,maka orbital-orbital karbon enolat pada 6.138 harus pada sudut ang tepat untuk penggantian.

64

BAB VII GUGUS PELINDUNG

7.1 Pengertian Gugus Pelindung Banyak target senyawa sintetik yang mengandung lebih dari satuu gugus fungsi, dan gugus tersebut dapat mengadakan interaksi dengan pereaksi yang digunakan selama proses sintesis. Jika gugus keton dan aldehida terdapat di dalam molekul yang sama, kedua gugus tersebut dapat bereaksi dengan pereaksi tertentu pada saat yang sama. Adanya alcohol dan amina dalam molekul yang sama juga akan menimbulkan masalah karena kedua gugus fungsi tersebut cepat beraksi dengan asam, basa, dan nukleofil. Cara untuk menanggulangi fungsi tersebut adalah dengan melindungi atau mengeblok sementara satu gugus yang reaktif dengan mentransformasikannya menjadi gugus fungsi baru yang idak akan mengganggu menjadi gugus baru yang berbeda, yang tidak akan bersaing dengan reaksi yang diharapkan. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasi gugus fungsi baru (gugus pelindung) kembali menjadi gugus fungsi semula pada tahap akhir sintesis. Proses ini di kenal sebagai perlindungan dn proteksi. 7.2 Gugus Pelindung Umum Untuk Alkohol, Karbonil dan Amina 7.2.1 Proteksi Alkohol Gugus pertama dalam pengembangan gugus pelindung untuk gugus fungsi adalah mengidentifikasi bagian molekul mana yang dapat mengganggu. Dalam hal alcohol, bagian molekul yang hampir selalu dapat mengganggu adalah keasaman hydrogen gugus O-H. jika gugus OH tersebut mengganggu rencana sintesis, maka OH harus dikonversi menjadi gugs fungsi lain (O-X), tetapi reaksi ini harus dapat berlangsung dan menghasilkan produk yang tinggi pada kondisi normal. Alcohol memilki dua reaksi utama yang cocok terhadap criteria tersebut, yaitu konversi alcohol menjadi eter, biasanya berlangsung dengan hasil yang tinggi dan memberikan produk yang relative inert. Karena sifat inert inilah, maka kondisi yang dibutuhkan untuk memecah eter harus kuat. Cara lain adalah mengkonversi alcohol menjadi asetal asilik atau ketal. Juga sangat mungkin mengubah alcohol menjadi ester pada kondisi normal, dan dengan mudah mengembalikannya menjadi alcohol dengan cara menghidrolisis ester. 7.2.2 Gugus Pelindung Eter dan Asetal Gugus pelindung paling sederhana untuk alkohol adalah metil eter (-OCH3). Reaksi alcohol dengan basa (umumnya natrium hidrida (NaH) dalam THF atau DMF) menghasilkan alkoksida. Cara berikutnya adalah mereaksikan alcohol dengan trimetiloksonium tetrafluoro borat. Metil eter stabil terhadap basa kuat, nukeofil, organologam, hidrogenasi, zat pengoksidasi, dan zat pereduksi hidrida. Metil eter stabil pada PH 1-14. Metil eter dapat
65

biasanya dengan katalis poladium. dengan adanya katalis asam (asam sulfat atau BF3). karbonion dan organologam . Cara lain dari hidrogenolisis adalah dengan melarutkan logam natrium atau kalium dalam amonia.yang dibuat dengan mereaksikan alkoksida dai alcohol dengan benzil bromida atau klorida. hidrida.dipecah oleh HI pekat. Contohnya adalah sintesis monensin yang dilakukan kishi. dn stabil terhadap nukleofilik. oksidasi. Benzil eter stabil terhadap sejumlah pereaksi. Alkohol dapat dikonversi menjadi t-butil eter (O-C(CH3)3 ) dengan mereaksikan alcohol dengan 2-metil-2-propena (isobutilena).O-Bz). Dua cara yang umum untuk melepaskan gugus benzil meliputi pemutusan ikatan O-CH2Ph dengan hidrogenolisis. Gugus pelindung eter lainnya adalah benzil eter (-OCH2Ph.organologam. dan metilasi yang keudian dilanjutkan dengan deproteksi (hydrogen/paladium) akan menghasilkan 7. dan beberapa zat pengoksidasi.25. 66 .24 dikonversi menjadi benzil eter (7.t-butil sensitive terhadap asam kuat. karena gugus OH primer juga dapat bereaksi dengan KH/CH3 I. hidrogenasi katalitik. tetapi stabil pada Ph 1-14. dimana mula-mula alcohol 7. hidrida. Gugus alilik OH akan mengganggu proses pembentukan gugus OCH3 dalam 7. Sebagai gugus pelindung .25) dengan mereaksikan dengan kalium hidrida (KH) dan benzil bromida. sedangkan trimetilsilil iodida dapatmemecah pelindung alcohol dalam kloroform dan pada suhu yang relatif tinggi. Cara paling umum pemutusan ikatan C-O benzilik adalah dengan hidrogenasi katalitik. oksidasi dan reduksi.26. meliputi pH 1-14. nukleofil. hidroborasi.

Salah satu gugus pelindung asetal yang paling umum adalah 2-metoksi etoksimetil eter (-O-CH2 OCH2CH2 OCH3. Sebagai contoh. Variasa gugus MEM adalah 2-(trimetilsilil) etoksi metil eter (-O-CH2 OCH2CH2 Si(CH3)3. Asetal pertama adalah metoksi metil eter (O-CH2 OCH3.31 diubah menjadi 7.Gugus pelindung eter alternative yang telah di kembangkan oleh Green adalah ³metil eter tersubtitusi´ yang tidak lain adalah asetal (RO-CHR1 -O-R2). Gugus MEM di ikat oleh alcohol setelah alcohol di konversi menjadi alkoksida (umumnya dengan NaH dalam THF atau DMF).27 perlu di proteksi dan di konversi menjadi turunan OMOM. gugus hidroksi metil pada 7.28) dan OH yang lain sebagai benzil eter (7.32 dengan reaksi wittig.29).7.SEM).29)selanjutnya di ikuti pelepasan gugus O-MOM.33. O-EE).28. O-MOM). Tipe lain dari gugus pelindung asetal adalah etil eterr tersubtitusi. di bentuk dengan mereaksikan alcohol dengan basa (seperti NaH dalam THF) dan ClCH2 OCH3 (klorometil metil eter). Anggota yang paling umum adalah 1-etoksil-etil eter (O-CH(OCH2CH3 )CH3. Gugus MEM juga dapat melindungi alcohol tersier. Gugus MEM juga stabil pada pereaksi-pereaksi seperti terhahdap O-MOM dan O-MTM. Gugus MEM sensitive terhadap asam Lewis dan dapat di pecah dengan asam kuat berair (PH<1). Pelepasan gugus EE dengan asam asetat berair menhasilkan 7. shibasaki menggunakan gugus EE untuk melindungi.27 sebagai turunan MOM (pada 7. 67 . sementara gugus hidroksil pada 7. Sebagai contoh.MEM). reaksi selanjutnya menghasilkan alcohol primer baru yang kemudian diproteksi sebagai O-benzil eter (pada 7. proteksi OH pada 7.

maka akan dibentuk 1.7. hidrida.2-diol seperti 2. Gugus tersebut juga stabil terhadap nukleofil.35 yang dibentuk dari aseton. 68 . Bila 1. Ca umum pembentukan asetonida adalah reaksi iol dengan 2-metoksil-1-propena dengan adanya asam seperti anhydrous HBr. Gugus pelindung ini biasanya dipecah dengan HC berair.3-diol akan menghaslkan cicin lingkar-6 asetonida. sering disebut asetonida (isopropilidena ketal). 1. ketal seperti 7. hidrognasi katalitik. dengan adanya katalis asam.3 Proteksi Diol 1.3-butanadiol (7. dan zat pengoksida.organologam.34) bereaksi dengan keton seperti aseton.35). atau reaksi diol dengan aseton dengan adanya katalis asam. tetapi tidak terhadap asam.2-diol termasuk alcohol. Gugus ini stabil terhadap basa (Ph 4-12). tetapi kedudukan hidroksil berkaitan sehingga dapat dpproteksi sebagai ketal siklis. dengan aam asetat atau dengan asam p-toluennasulfonat dalam methanol.2.3-dioksana. yaitu merupakan turunan 1.3-dioksolan (7.

38.41.39).42 proses ini dilakukan oleh Bauman dan Hoffmann dalam sintesis -santalol. seperti proteksi pada 1. reaksi iol dengan aldehida atau keton lain akan menghasilkan ketal atau asetal. Variasi reaksi ini antara lain meggunakan pereaksi diol yang menghasilkan ditioketal atau ditioasetat.38 direaksikan dengan asam berair akan diperoleh kembali diol (7. dengan menggunakan pereaksi alcohol atau diol. Dua turunan yang umum adalah benzaldehida (membentuk benzilidena asetal) dan sikloheksanon (membentuk sikloheksilidena ketal). bila 7. Sebagai contoh sintesis dengan menggunakan asetal untuk memproteksi aldehida adalah pada senyawa 7.37 dengan mereaksikannya dengan aseton dan kuprisulfat (CuSO4).hal ini dilakukan karena ugus karbonil yang merupakan bagian dari gugus fungsi dapat mengganggu salama reaksi berlangsung. 69 .36 yang dikonversi menjadi 7. Dioksolana selanjutnya memungkinkan untuk mengkonversi ester menjadi gugus alkilidena 7. Cara umum memproteksi gugus karbonil adalah dengan mengkonverinya menjadi ketal atau aseta. Reaksi utama dari karbonil adalah adisi nukleofilik asil.Asetonida berguna dalam sintesis.suatu cara telah dikembangkan untuk memproteksi keton dan aldhida.2. 7. aldehida diperoleh kembali dengan menambahkan asam ptoluenasulfonat berair menjadi 7.2-diol pada senyawa 7. dan reaksi berikutnya dengan mereaksikan dengan basa membentuk senyawa alkena 7.4 proteksi aldehida dan keton Seperti halnya dengan alcohol.40 sebagai dimetilasetal.

3-propanadiol. diproteksi terhadap karbonil menghasilkan kamforenon.2dimetil-1.3-propanadiol untuk memproteksi keton 7.46 (yang membentuk 7.Dalam kenyataannya banyak jenis alcohol yang dapat digunakan untuk menghasilkan asetal atau ketal.49.7.meyer memproteksi senyawa keton 7. Cara yang paling umum untuk memecah turunan dioksana atau dioksolana adalah dengan mereaksikannya dengan asam berair. menggunakan 2.43 sebagai ketal (7.47 dengan butyl litium dan juga konversi yang menghasilkan produk alcohol menjadi klorida 7.47).( )-aspidosapermina. proses ini dilanjutkan oleh reaksi olefin 7.3-dioksolana dibentuk dengan mereaksikan karbonil dengan 1. meliputih HCl dalam THF dan asam asetat berair. yang di ikuti reduksi terhadap laktam menjadi amina.2-diol dan 1. Sebagai contoh. Variasi dapat dilakukan dalam memproteksi ketal dengan memasukkan subtituen alkil pada senyawa diol.44).48. Deroteksi menghasilakan 7. seperti yang dilakukan oleh Money. dan 1.2-etanadiol. Turunan 1.45.3-diol yang membentuk ketal siklis atau asetal siklis. tetapi methanol merupakan alcohol yang paling umum digunakan. 70 .3-sdioksana dibuat dengan mereaksikannya dengan 1. Proteksi aldehida dan keton juga dapat dilakukan denga menggunakan 1.

N-astil merupakan ggus pelindung amida yang sudah di kenal bak dan N-asilamina dikenal merupakan turunan asetamida (N-COCH3.3. Ikatan N-C dapat diputus secaa hidrogenolisis katalitik atau pelarutan logam. dan asam Lewis. Cara penentuan lain adalah dengan mereaksikannya dengan natriium dalam amonia cair. Amina direaksikan dengan benzil klorida atau benzil bomida.3 Proteksi Amina 7.7. Gugus ini stabil terhadap asam dan basa (Ph 1-12) dan terhadap nukleofil. biasanya dengan adanya basa seperti kalium karbonat (K2 CO3) atau hidroksida.N-Ac).3. NBz).hidrida. organologam. 7.1 Gugus Pelindung N-Alkil Gugus alkil lain yang digunakan untuk melindungi nitrogen adalah benzil (N-CH2Ph.2 Gugus pelindung N-As Amida merupakan gugus pelindung yang paling umum digunakan untuk memproteksi amina. Reaksi antara anhidrida asetat atau 71 .

7. Gugus ini sensitive terhadap asan kuat. Gugus BOC biasanya dilepaskan dengan mereaksikannya dengan HCl berair atau dengan asam trifluoroasetat. Contoh sederhana di tunjukkan pada proteksi asam amino 7. Trifluoroasetil umumnya di ikat brtdasarkan reaksi antara amina dengan anhidrida trifluoroastat (CCF3CO)2O) dengan adanya trietilamina atau piridin. akan menghasilkan asetamida. Jenis gugus lain yang memproteksi amina adalah trifluoroasetamida (N-COCF3. dengan adanya basa sperti piridin atau trietilamina.asetil klorida dengan amina.55). Banyak gugus pelindung yang dikembangkan untuk memproteksi asam amino pada sintesis peptida.3.N-TFA). pengganti tosilat dengan nukleofil belerang (manghasilkan 7.56). dilanjutkan dengan 72 .54 sebagai turunan BOC (7.3 Gugus Pelindung N-karbamat Gugus pelindung lain untuk nitrogen adalah karbamat (N-CO-OR).

Gugus ini sensitive terhadap hidrolisis dengan hidrogenasi katalitik (pada karbon merupakan katalis yang umum di gunakan). Karbamat lain yang popular adalahbenzil karbamat (N-CO2CH2Ph. 73 . N-CBz benziloksi karbonil).terhadap nukleofil. terhadap asam Lewis dan terhadap sebagian besar hidrida (gugus tersebut bereaksi dengan LiAlH4 ). dan gugus hidroksil diganti dengan gugus tiol. Gugus diikat oleh reaksi antara amina dengan benzil kloroformat (PhCH2 O2CCl) dengan adanya basa (karbonat berair atau trietilamina). terhadap organologam (tetapi gugus tersebut bereaksi dengan pereaksi organolitium dan pereaksi Grignard). Gugus sangat stabil terhadap asam dan basa (ph 1-12).Doprteksi dengan asam trifluoroasetat (suhu kamar 30 menit)yang akan menghasilkan amina 7.57.

keton. 74 . KESIMPULAN Gugus pelindung berfungsi memproteksi atau memblokade satu gugus yang reaktis dengan mentransformasikan menjadi gugus fungsi baru yang tida mengganggu terhadap transformasi yang diinginkan. tioasetal atau tioketal. asetal. atau turunan hidrazon. atau ester.diproteksi dengan hydrogen menghasilkan 7.Fenilalanina (7. gugus fungsi asam di perpanjang dengan satu karbon melalui penataan ulang Wolff. Pasangan electron pada amina dapat diproteksi dengan cara mengkonversi menjadi garam amonium.61. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasikan gugus pelindung tersebut menjadi gugus fungsi semula padatahap akhir sintesis. Gugus-gugus fungsi penting sebagian besar menyebabkan masalah reaktivitas adalah alcohol.59). Keasaman hydrogen alcohol dapat diproteksi dengan mengubahnya menjadi eter.dan amina.60.58) dikonversi menjadi turunan CBz (direaksikan dengan benzil kloroformat)dan kemudian direaksikan dengan diazometana menghasilkan diazoketon yang di proteksi CBz (7. menghasilkan 7. Keton dan aldehida biasya diproteksi dengan cara mengkonversinya menjadi asetal atau ketal. Asam karboksilat biasanya diproteksi sebagai ester.

PEN ERTIAN STRTEGIS SINTESIS Corey mencatat Beberapa contoh sintesis untuk menggambarkan sejarah sintesis.4) sebagai target yang semula ia mengira bahwa senyawa yang kompleks tersebut tiak di ketahui apakah (8.BAB VIII STRATEGI SINTESIS 1. Wordward dan Doering mensintesis kuinina (8.6).1) dalam rangka untuk memastikan struktur sebenarnya dari bahan alam ini. dan aseton. Robinson pada tahun 1917 mensintesis tropinom (8. Sintesis ekuilen(8. ia menghipotesiskan bahwa hidrolisi yang diperkirakan terhadap substrat (tropin) dapat diubah menjadi suksin aldehida.metilamina.3) yang dilakukan oleh Bachman pada tahun 1990 merupakan sinesis multilangkah pertama terhadap precursor stroid menjadi estron.2 menjadi bagian -bagian yanga lebih sederhana. Pada tahun 1904.5) atau strinina (8.2). 75  . Selama berthun-tahun terjadi peningkatan data tentang ciri ciri struktur dan sterokimia dari senyawa yang semakin kompleks.Perkin mensintesis terpinol (8. Analisis ini ternyata dapat dilakukan dengan cara mendiskoneksi 8.

Kesempatan belajar memberikan andil yanga besar terhadap langkah-langkah selanjutnya dalam pekerjaan sintesis. Pemilihan atau penentuan percobaan dan analisis. ada strategi lain yang dapat ditera pkan pada perencanaan sintesis. sehingga membuatnya menjadi suatu proses yang dapat di mengerti. Bentuk atau model percobaan 4. Molekul target dpt memiliki siat kimia dan biologi yang unik. Pendekatan ini disebut Retrosintesis. Sintesis molekul organic biasanya dimulai dengan dua pertanayan : (1) Mengapa molekul ini dipilih sebagai target??dan (2) darimana kita harus memulai?? Jawaba terhadap (1) sering terletak pada n kebutuhan dan ketertarikan dari ahli kimia pensintesis.yang meliputi: 1. Selama mengamatan tahapan tersebut. Corey melibatkan LHASA (logic Heuristics Applied To Synthetic Anlysis) dengan tujuan membantu ahli kimia dalam perencanaan sintesis dan untuk mensintesis molekul-molekul yang kompleks. dan retrosintsis ini dapat mempelajari sintesis suatu molekul sampai pada bahan awal yang relative sederhana yang kemudian skarang dikenal sebagai Pendekatan diskoneksi (atau syntom). penemuan.1 Alasan atau dasar pemikiran untuk sintesis total Pada dasarnya pemilihan target merupakan titik awal untuk sintesis. Pemilahan reaksi kimiayang spesifik untuk tranformasi satu intermedit sintesis ke langkah berikutnya 2. penciptaan. atau teori-teori baru yang sangat penting dapat dihasilkan. 2. Pemilihan Pereaksi-pereaksi yang spesifik 3. Akan tetapi. PEMILIHAN TARGET 2.Corey memformulasikan termilogi untuk pendekatan sintesis ini.Sekarang pendekatan diskoneksi di gunakan oleh sebagian besar ahli kimia bila mereka menghadapi masalah sintesis. 76 .

melihat kembali pemilihan target merupakan pemeriksaan pekerjaan yang sudah pernah dilakukan dan tidak memberikan nilai lebih. Cirri-ciri strukturnya yang berbeda memberika masalah-masalah sintetik yang unik. ditunjukan oleh persoons mempunyai struktur 8. Mitomisin C (8.10 dan diberi nama periplanona B. Persoons mengisolasi 200 µg 77 . maka serangkaian reaksi langkah demi langkah yang digunakan untuk membentuk setiap molekul dilaporkan. Tantangan struktur dan topologi. Bila sintesis seperti tersebut dipublukasikan. pengertian dasar sifat-sifat alami ikatan dan molekul 5. Banyak informasi yang diperoleh dari pengujian kriteria tersebut yang mungkin berguna untuk pendiskoneksian target. Asam gibberelat (8.9) merupakan hasil alam alkaloid yang memiliki sifatsifat antitumor. Aktivitas biologis yang penting 3. Kadang-kadang. Pendekatan diskoneksi dalam jumlah bentuk akan di gunakan dalam menjawab pertanyaan (b). periplanita Americana. meskipun studi yang dekat dengan sintesis tersebut akan memberikan nilai yang besar untuk memahami strategi perencanaan. Bagi ahli kimia.Uraian diatas memberikan jawaban yang dapat di terima terhadap pertanyaan (a).7) merupakan hormone pertumbuhan tanaman dengan kerangka karbon yang kompleks. Studi analog 4. meskipun tidak selalu dalam ringkasan diuraikan mengapa target dipilih.bkriteria tersebut mungkin berharga bagi ahli kimia yang baru pertama kali melakukan sintesis. 2. Demikian juga ringkasan alasan alasan yang melatarbelakangi sintesis perlu dipublikasikan. Verifikasi atau pengubahan struktur 2. Senyawa 6-deoksieritronolida B (8. Criteria yang tertulis dibawah sering disebut sebagai karakteristik target sintesis yang penting.2 verifikasi atau pengubahan struktur Feromon seks kecoa amerika. Pengembangan reaksi dan pereaksi baru.perlu ditambahkan molekul-molekul yang ditunjukan pada pendekatan merupakan contoh-contoh yang dapat mewakili organic yang jenisnya sangat banyak yang telah disintesis sebagai target. yaitu: 1. Senyawa ini adalah bagian dari eritromisin yang merupakan antibiotik makrolida.8) merupakan aglikon lakton makrosiklik.

000 kecoa betina yang kemudian dilanjutkan dengan determinasi struktur. masalah seperti ini dapat diselesaikan dengan membuat semua kemungkinan diastereomer sekaligus.10 dengan jalur multi langkah. Still mensintesis 8. Empat stereoisomer disintesis. Berbeda dengan still yang fokus pada jalur sintesis.3 Aktifitas Biologis Alasan nyata sintesis total adalah pentingnya senyawa target pada kedokteran. dan karakteristik spektra dan sifat fisik dari setiap stereoisomer diuji terhadap cuplikan periplanona B alami untuk menemukan isomer yang benar. tetapi stereokimia 8. yang akan menghasilkan hanya sedikit produk diastereomer. asam lemak terhidroksilasi. Perlu diketahui bahwa adanya isomer E dan Z untuk olefin pada setiap diastereomer akan menambah jumlah produk yang harus dipisahkan. Bandingkan cara ini dengan pendekatan diastereoselektif yang digunakan oleh Still. dengan aktivitas biologis yang bermacam-macam dan manjur.11 digunakan untuk membuat semua diastereomer periplanona. Prostaglandin merupakan kelompok hasil bahan alam yang tidak jenuh. Sintesis total semua diastereomer yang dapat diterima dan membandingkannya dengan cuplikan asli. 2. Jika molekulmenunjukan adanya aktifitas biologis yang signifikan.pertanian. 78 .12.senyawa tersebut dari 75.10 belum terelusidasi. maka diupayakan menambah senyawa tersebut untuk keperluan pengujian atau struktur. tetapi dengan empat pusat simetri sehingga terdapat 24 isomer (16 stereoisomer atau 8 pasang enantiomer) yang selanjutnya harus dipisahkan.atau usaha-usaha komersial lain atau kemanusian. dan dalam hal ini target intermediet kunci 8. 8. dari semua produk dengan stereokonrrol yang dapat diterima (masuk akal). Ini merupakan pendekatan umum. Semua prostaglandin (PG) diturunkan dari senyawa induk yang disebut asam prostanoat. bidang Molekul yang penting dan diminati biasanya di isolasi dari sumber alam yang bsedikit. dengan tanpa mengontrol stereokimia. masih merupakan metode yang penting untuk menentukan struktur akhir.

Studi lebih lanjut menunjukan bahwa modifikasi struktur terhadap kerangka dasar dapat menghasilkan molekul dengan karakteristikyang berbeda dan molekul baru yang menjadi target sintesis.13) menjadi senyawa Nsikloheksil laktam (8.4 Studi analog Target yang di minati atau yang mempunyai sifat aktif secara komersial sering memberikan akibat samping yang menggunakan atau tidak stabil pada penyimpangan dan penanganannya. 1.1-dioksida(8. Senyawa tersebut bersifat diuretic dan juga di gunakan untuk mengobati hipertensi.13). 79 . Kelompok E (PGE) mempunyai gugus karbonil pada c9. Modifikasi sintesis terhadap struktur yang diketahui dapat dipakai sebagai model dan mendorong untuk merancang target sintetik. PGD.4-benotiadiain-7-sulfonamida6-kloro-1.Turunan-turunan tersebut adalah PGA.2. Modifikasi struktur menantarkan sintesis kloreksolan (8. (2) ikatan rangkap dua kedua anrara C5 dan C6 (PG2). 2. prostaglandin alami dibagi menjadi tiga kelompok: (1) satu ikatan rangkap dua antara C13 dan C14 (PGl). Terdapat juga gugus karbonil pada Cll dan C15 pada prostaglandin alami. Studi menunjukan bahwa penggantian (modifikasi) yang signifikan dalam profil farmakologis dapat dilakukan dengan penggantian pada cincin heterosiklik. Klorotaizid adalah molekul dengan struktur kimia 2H. PGC. dan kelompok F (pGF) mempunyai gugus karbonil pada C10. bukan pada cincin yang mengandung gugus sulfonamida. pGE. dst. Sejumlah prostaglandin menunjukan gejala tersebut. PGB. konversi cincin heterosiklik pada (8.14). (3) ikatan rangkap dua ketiga antara CI7 dan Ct8 (pG3).14) aka menghasilkan peningkatan kerja hipotensif dan kerja diuretik.

Asam vlafon-8-asetat (8.17) pada dasarnya adalah bentuk bola.15) terhadap calon-38 tumor pada tikus dan memiliki kemanjuran dosis yang lebih. Denny dan Buguley menunjukan bahwa asam 9-okso-9H-xentena-4-asetat (8. 80 . Ditunjukan bahwa substituen lipofilik kecil pada kedudukan 5 (lihat 8. menyadari keterbatasan tanang ilmu kimia yang di ketahui dalam pembentukan ikatan atau sifat-sifat dasar untuk molekul organic. Sintesis sering mengajak kita menengok ke belakang.16 dan 8.16a) adalah seaktif (8.Alasan umum lain untuk pembuatan analog target adalah untuk mempelajari profil aktivitas struktur molekul dengan aktivitas biologi yang diketahui.16c) menaikkan potensi dosis.15) mempunyai potensi yang besar sebagai agen anti tumor. dan topologi ( bentuk.16 menunjukkan bahwa banyak turunan yang terkait memiliki aktivitas antitumor yang meningkat.17 pertama kali di sintesis oleh paquette.ciri-ciri structural ) (8.5 Studi topologi Kadang-kadang suatu molekul bersifat sebagai target yang sangat menarik sehingga memberikan tantangan untuk dikaji dari segi struktur dan sifat-sifat kimianya. 2. Ini merupakan kasus tipikal di mana senyawa yang diketahui dimodifikasi strukturnya berdasarkan pada sifat-sifat aktivitas struktur dari senyawa yang terkait. Dorongan untuk sintesis ini adalah penelitian untuk mendapatkan obat yang manjur (mujarab). Dodekahedran 8. Studi secara sistematik turunan sintetik 8.

2.18) yang menghasilkan ion vinil nitronium( 8. Pengembangan metodelogi baru atau modifikasi reaksi-reaksi yang ada harus di lakukan untuk memperoleh tranformasi yang di inginkan dalam menyempurnakan sintesis.17. Kadang-kadang daya cipta dan ilmu kimia baru muncul dari penyelesaian target sintetik seperti 8. Pada sintesis yang baru ini. 81 .17 mempunyai topologi sferikal super-polisiklopentanoid.6 Reaksi baru dan pereaksi baru Pengembangan tranformasi kunci tidak mungkin seluruhnya dilakukan melalui reaksireaksi kimia seperti yang telah diketahui. Dan biasanya penemuan baru dalam sintesis tersebut dapat diterapkan pada usaha sintetik senyawa iain. Pereaksi yang di kembangkan untuk tranformasi ini adalah -kloronitron (8.17 Senyawa 8.19) bila direaksi dengan ion perak. Contohnya adalah Sintesis vitamin B seperi yang dilaporkan oleh Woodward dan Eschenmoser.8. langkah kunci membutukan hidrolisis amida pada inermedit yang memiliki enam gugus eter. pekerjaan yang baru tersebut sering menunjukan bahwa pereaksi-pereaksi yang terlibat dapat di gunakan untuk berbagi tujuan lain. Sekali di kembangkan.

nitron (8.22 sebanyak 90%. 82 . Sebagai pasangan adisi diubah dari alkena ke alkuna lain.20) digunakan sebagai pasangan diena pada reaksi Diels Alder.23) ditransformasikan menjadi beberapa molekulsintetik yangberguna. dan hasil adisi siklo (8. Produk -produk akhir meliputi furan dan turunan alkuna. adisi siklo terhadap metilsikloheksena dan 8.21 dengan hasil 59% dan selanjutnya proses hidrolisis menghasilkan 8. Pada yang khas menunjukan.20 menghasilkan produk adisi 8.

Namun demikian. Proses ini merupakan pohon sintetik untuk reaksi kimia yang harus ditindaklanjuti pada transformasi yang telah direncanakan untuk dilakukan. Pengertian dasar stereokimia. Koneksi ikatan dengan satu atau lebih pusat asimetri Bilangan-bilangan prioritas tersebut berguna untuk moekul-molekul yang sederhana. Jika satu dari ikatan-ikatan tersebutdidiskoneksi. Biasanya terdapat ikatan-ikatan tertentu dalam molekul yang memiliki diskoneksi pada pengarahan retrosintetik yang akan memberikan penyederhanaan struktur secara signifikan. Pengertian tersebut dikenal dengan ikatan-ikatan strategis. Proses penyederhanaan struktur molekul diskoneksi menghasilkan serangkaian fragmen (penggalan) molekul yang bertindak sebagai intermediet kunci.1 Pendekatan synthon Bagaimana kita menganalisis target agar dapat menentukan bahan awal yang terbaik? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut penting untuk sintesis total.3. Retrosintesis 3. penyederhanaan struktur. skema ini merupakan titik permulaan yang berguna. (To) didiskoneksi menjadi sekumpulan struktur yang dibatasi secara logika yang dapat dikonversikan menjadi pekerjaan sintetik tunggal (langkah reaksi) dan menjadi target sintetik. Intuisi yang baik tentang perkembangan ilmu kimia Informasi ini kemudian digunakan untuk diskoneksi ikatan-ikatan pada target. interaksi gugus fungsi. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 3. Bilangan-bilangan prioritas tidak dapat mengantisipasi masalah struktur kompleks. pohon sintetik akan menghasilkan sejumlah bahan awal yang berasal dari satu atau lebih cabang-pertama. sepanjang alas an jalur reaksi kimia dapat diterima. Subpohon lebih lanjut menyatakan diskoneksi dari salah satu cabang pohon sintetik. dan stereokimia yang terdapat pada struktur kompleks. Setelah beberapa retroreaksi. yang kemudian dapat digunakan untuk membentuk molekul. Penyumbang utama pada bilangan prioritas ini adalah 1. Analisis yang mendalam terhadap struktur target 2. Pendekatan yang dimulai dengan analisis target akhir dan bekerja kearah belakang (bahan awal) dikenal dengan proses retrosintesis. 83 . didapat dengan cara kimia yang sederhana. Pengetahuan dasar reaksi-reaksi kimia 3. Penyederhanaan berikut (diskoneksi) akhirnya menghasilkan molekul yang dikenal yang tersia di pasaran. maka reaksi (serangkaian reaksi) harus tersedia. dan akan digunakan untuk mengenalkan konsep-konsep yang diingankan. dan jawabannya membutuhkan: 1. Pohon sintetik serupa yang dinyatakan oleh Hendrick. Gugus atom yang terikat pada ikatan 2. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 4. atau telah dibuat oleh orang lain. ikatan dan reaktivitas 4. dan masing-masing merupakan target sintetik. yang akan membentuk ikatan tersebut pada sintesis.

menghasilkan 8. maka analisis ikatan kedua memberikan prioritas diskoneksi untuk ikatan-ikatan k.31 paling tidak menghasilkan dua diskoneksi .27 menjadi 8.2.3. 84 . seperti yang ditunjukan pada gambar 8. atau j yang memiliki prioritas tertinggi.24. jika pohon sintetik dipangkas dan terfokus pada 8. diskoneksi ikatan g menghasikan 8.32 dan diskoneksi ikatan c menghasilkan dua fragmen yang dapat identik: 4-bromo asetaldehida (8.26.25 dan konversi menjadi fragmen-fragmen sintetik yang realistic menghasilkan paling tidak dua kemungkinan. dan a. 4-bromobutan-1-ol. Diskoneksi ikatan h menghasikan 8. dan m.28.27 atau -kloroketon 8.29. transformasi gugus funsi 8.34). dan mengkonversi 8.33 menghasilkan bahan awal yang diketahui.30 dan 2-bromobutana (molekul real yang dihasilkan dari diskoneksi). I. I.29. Pertama. protocol prioritas ikatan menghasilkan ikatan -ikatan h.Untuk molekul seperti 8. epoksida 8. pohon retrosintetik dapat dikaitkan dengan gambar 8.33) dan organokuprat yang diturunkan dari 3-bromo siklopentena (8. Dari analisi tersebut menghasilkan beberapa kesimpulan penting. Analisis ikatan baru 8.26 menjadi 8. diskoneksi ikatan k memberikan diskoneksi yang paling sederhana. beberapa pilihan ini dapat dikembangkan dengan menentukan cabang pohon mana yang akan diikuti. transformasi gugus fungsi diperlukan untuk menkonversi 8.

Hal penting yang peru diperhatikan adalah bahwa analisis retrosintetik hanya memberikan transformasi kunci dan bukan setiap langkah. Struktur target baru yang diperoleh dengan diskoneksi pertama dapat menghasilkan sekumpulan ikatan strategis yang berbeda.1 Penegasan berbagai pendekatan strategi Diketahui bahwa diskoneksi hanya didasarkan pada kemampuan pembentukan kembali ikatan (diskoneksi dengan penomoran) tidak selalu dapat diterapkan pada target-target 85 . maka protocol diskoneksi ini harus dikerjakan lagi. Proses ini dilanjutkan hingga bahan -bahan awal yang dapat dikenal dapat diperoeh.Strategi sintetik 4.29). 4. setelah pemiihan ikatan yang akan didiskoneksi dan penentuan fragmen real (seperti 8.24. pereaksi-pereaksi untuk setiap transformasi gugus fungsi reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon harus tersedia.Untuk menyempurnakan sintesis. Juga penting disadari bahwa protocol doskoneksi dengan penomoran hanya diterapkan pada 8.

kompeks. Corey mendeskripsikan pendekatan yang luwes terhadap masalah-masalah tersebut yang digabung dalam program computer LHASA. Tujuan program ini adalah membantu menganaisis target sintetik yang kompeks. Program ini mendeskripsikan pendekatanpendekatan secara umum untuk membangun pohon sintetik dan juga mendeskripsikan ogika yang digunakan untuk membangun pohon sintetik tersebut. Modifikasi-modifikasi tersebut meliputi: 1. Interkonversi, melepaskan atau memasukan gugus-gugus fungsi 2. Perpanjangan atau penambahan rantai karbon 3. Pembentukan cincin (lingkar atomik) 4. Penataan ulang rantai atau anggota ingkar 5. Pemutusan rantai atau cincin Setiap fragmen struktur kimia yang dihasilkan oleh pohon sintetik harus memiliki sifatsifat kimia yang dapat diprediksi dan memungkinkan kombinasi pemilihan terhadap hanya satu dari banyak cara yang mungkin. Corey mendeskripsikan tiga metodologi untuk sintesis, yaitu asosiatif langsung, asosiatif intermediet, dan logika terpusat. Pendekatan asosiatif langsung melakukan diskoneksi target (seperti 8.34) pada ikatan yang menghasilkan struktur yang mudah dikenal oleh ahli kimia. Contoh, senyawa 8.34 memberikan fragmen-fragnen yang mudah dikenal yang didasarkan pada reaksi-reaksi yang sudah diketahui dengan baik. Reaksi retroDiels-Alder memberikan 8.36 dan 8.37. hidrolisis ester dan amida menghasilkan 8.38, 8.39, dan 8.35 pendekatan ini terbatas pada masalah-masalah sintesis sederhana.

Pendekatan asosiatif intermediet mengenal subunit atom pada target yang sesuai dengan bahan awal yang tersedia atau diketahui. Pendekatan logika terpusat menghasikan sekumpulan struktur yang terbatas yang dapat dikonversi dalam langkah tunggal menjadi target

86

4.2 LHASA LHASA menganalisis molekul dengan mengembangkan skema retrosintetik, dan menyediakan reaksi kimia yang tepat untuk mengerjakan sintesis tersebut. LHASA merupakan program interaktif yang mem perlihatkan target, yang dimanfaatkan oleh ahli kimia untuk memilih strategi sintetik.

5. PENDEKATAN STRATEGI IKATAN Bila sejumlah stategi yang tersedia diterapkan pada tugas pemutusan spesifik maka yang pertama dilakukan adalah terhadap ikatan (ikatan -ikatan) pada target. Corey membuat sejumlah aturan yang mengikat bersama-sama antara strategi dan tujuan analisis retrosintetik menjadi analisis strategi ikatan. Aturan-aturan rersebut memberikan wawasan ke dalam diskoneksi pertama terhadap molekul target yang akan ditentukan jika struktur cocok dengan penyelesaian sederhana. Sebelum strategi ikatan ditentukan, penyederhanaan kemungkinan dapat dilakukan jika molekul memiliki simetri, apakah secara struktural mempunyai kesamaan dengan motekul lain yang telah disi tesis sebelumnya, atau mempunyai satuan n satuan dalam struktur yang dapat diulang. Perlu dipahami bahwa aturan -aturan tersebut hanya merupakan garis besar. Analisis dimulai dengan suatu pemeriksaan untuk menentukan jika ada metode yang dapat menyederhanakan molekul. Penyederhanaan akan memperpendek sintesis dan analisis retrosintetik diperkirakan akan mengikuri jalur tersebut. salah satu contoh penerapan aturan pendekatan,straregi ikatan adalah sebagai berikut. Apakah ada simetri atau hampir simetri pada dua bagian molekul Jika ada, maka sintesis kemungkinan dapat disederhanakan dan kemudian menggabungkanbersama dua atau lebih bagian yang identik. Contoh yang baik adalah molekul C-toksiferin I (8.40) yang memiliki simetri hemisferis. Pada 8.40 bagian atas hemisfer identik dengan hemisfer bagian bawah. Telah diketahui jika 8.40 direaksikan derigan asam sulfat menghasilkan hernisfer tunggal yang menghasilkan kembali dimer bila direaksikan dengan natrium asetat panas. Sintesis satu hemisfer dan kernudian menggabungkan dua bagian yang identik tersebut sangat menyederhanakan sintesis secara keseluruhan.

87

6. STRATEGI SINTESIS TERSELEKSI Seperti yang telah dibahas pada subbab di atas, diskoneksi ikatan tunggal dapat menghasilkan sejurnlah skema sintesis berbeda. Sifat interaktif pendekatan memaksimalkan jalur sintesis, karena banyak jalan pintas sintesis berbeda yang mungkin dijalankan. Hal mi dirunjukkan pada sejumlah sintesis vernolefin, 8.41, suatu emanolida yang ridak umum yang diisolasi dan sejumlah tanaman, meliputi veronia hymenolipsis A. Rich (keluarga Compositea) dan dilaporkan mernpunyai sifat-silat antitumor. Sifat-sifat biologis awal yang menjanjikan mendorong untuk melakukan sintesis total. Ada empat ahli kimia yang melakukan analisis retrosintetik terhadap senyawa vernolepin. Dua analisis retrosintetik di antaranya dilakukan oleh Danishefsky dan Grieco yang masingmasing ditunjukkan pada Gasnbar 8.4 dan 8.5.

Analisis 8.41 melalui aturan Corey menyatakan bahwa 1, 5,7,9, 11, 12, 13, dan 15 sebagai ikatan-ikatan strategis. Ikatan-ikatan 16, 17, dan 18 dapat juga dianggap strategis. Ikatan-ikatan 3 dan 13 merupakan hubungan ester yang labil dan strategis melalui pertukaran antar gugus fungsi. Pada Gambar 8.4, Denishefsky menggunakan ikatan -ikatan 1, 3, 5, 8, 10, 13, 17, 18, dan 15 untuk diskoneksi. Pada awal anaitsis hanya ikatan -ikatan 8, 10, dan 19 tidak strategis, sehingga ikatan-ikatan 8 dan 10 didiskoneksi terakhir pada retrosintesis, dan ikatan 19 didiskoneksi dengan transformasi gugus fiangsi. Diskoneksi pertama melepaskan gugus labil lakton -metilena yang menghasilkan 8.42. Diskoneksi berikutnya adalah penukaran gugus fungsi yang memberikan ekuivalen lakton asiklis (8.43) yang kemudian diikuti diskoneksi menjadi 8.44. Epolcsida berfu ngsi sebagai synthon untuk koneksi cincin lakton C. Gugus vinil didiskoneksi menjadi aldehida, dan didiskoneksi menjadi 8.45 yang terikat kembali dengan vinil dan gugus hidroksil pada cincin B, diikuti diskoneksi cincin A. 8.46 sikloheksena berperan sebaga ekuivalen sintetik untuk cincin lakton A. Diskoneksi i menjadi 8.47 menunjukkan bagaimana gugus fungsi meinbentuk cincin B, dan diskoneksi menjadi 8.48 menunjukkan bahwa cincin B merupakan unit bangunan dasar, yang dapar dibentuk melalui reaksi Diels-Alder dari butadiena dan metil propiolat.

88

Cincin C menggunakan gugus dimetit-2-butenil 89 . Diskoneksi berikurnya diserta dengan pelepasan ikatan 19 pada 8.42. tetapi ikatan ikatan 3 dan 13 kemudian didiskoneksi menghasilkan 8. seperti langkah yang dilakukan oleh Danishefsky. 18.5). ikatan -ikatan yan digunakan adalah 1.41. dan 19. 3.Pada analisis retrosintetik yang dikerjakan oleh Grieco (Gambar 8.51 menghasilkan ekuivalen vinil yang berbeda dari yang digunakan Danishefsky. Grieco menggunakan ikatan 15.51 dan 8. Perlu diperhatikan sikloheksena tidak hanya berfungsi sebagai ekuivalen vinil. Diskoneksi berikutnya menghasilkan 8.51 kenyataannya adalah ekuivalen dengan ikatanikatan 1 dan 2 pada 8. Gugus metoksi pada 8. 5. Diskoneksi pertama adalah menjadi 8. 17.52. 13. tetapi juga sebagai bagian untuk cincin A.50.

1985. Berikut dicontohkan sintesis total dan metil ester dari Vineomisinon B2 sebagai antibiotik antrasiklin (Danishefsky. tetapi benbeda secara signifikan pada diskoneksi.55 dan 8. Skema keseluruhan ini mirip dengan Danishefsky pada tahapan awal..Am.¶diskoneksi tahap terakhir.Sebagai kerangka karbon yang ekuivalen pada 8.54 menunjukkan bahwa cincin A dan B dibentuk dari 8. 90 . 285). 107.Soc. J.51.56. diskoneksi 8.

DAFTAR PUSTAKA y http://www. y Stuart Waren. Hardjono dkk. y Sastrohamidjojo. Kimia Organik Fisik.goggle.2009. Organic Synthesis [Download] Senyawa y (Adapted by: Organic Synthesis :The disconnection Approach. Marhan Sitorus) 91 .Jakarta : Erlangga. Sintesis Organic. Stuart Warren.com/sintesis-organic/html.

TAKASIHAENG ANGGI TUMILANTOW SEPTANI POLII YARDI HARUN BAB IV DIMANUEL ZET BORON ELVANDER ST. J KUMOKONG FRIMA RINDENGAN MEIVIRA TAMPONGANGOI 92 .NAMA KELOMPOK BAB 1 JULIANUS HONTONG DEYSI RIA TANGIAN RUSPIN ARUNG SAMPE APRIANA MARA BAB II ISAK IWAMONY MERLINA LUMOWA FENI BUBALA NURLELI HASYIM BAB III VIVI C E.

BAB V LEKUNURU KALENSANG JOUN ALLEIN TINDAGE HENDRA PAAT ASTRIA WOWORUNTU BAB VI RANDY LENGKEY RIA TUMAKAKA RADIA KAMALUDIN ANGELINA MANUS BAB VII NANSI MOMONGAN JELTYANI GUMOLUNG EPIL MUNTIA CHRISTEL KORENGKENG BAB VIII IYEN IRALA LINA TASIM RESA GERUNGAN MAYO GANSARENG 93 .

94 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful