BAB 1 RUANG LINGKUP SINTESIS KIMIA ORGANIK

Latar Belakang Berabad-abad para ahli mengira bahwa senyawa yang terjadi dalam jasad hidup berbeda dengan senyawa lainnya karena adanya semacam gaya gaib (Vital Force). Gagasan ini menyebabkan ahli kimia tidak mencoba membuat senyawa organik di laboratorium. Tetapi pada thun 1928, ahli kimia Jerman, Friedrich Wohler, pada saat itu berumur 28 tahun, secara kebetulan membuat urea, yakni unsur penting dalam urine, dengan memanaskan zat anorganik (mineral) yaitu amonium sianat. Ia begitu gembira dengan hasilnya, lalu menulis surat kepada gurunya, ahli kmia swedia J.J. Berzelius sebagai berikut: ³saya bisa membuat urea tanpa memerlukan sebuah ginjal atau manusia atau hewan´. Percobaan ini dan yang serupa lainnya sedikit demi sedikit melenyapkan (Vital Force) dan membuka jalan menuju dunia kimia organik sintetik moderen. Sintesis biasanya terdiri dari penggabungan kepingn kecil dan sederhana menjadi molekul besar yang kompleks. Untuk membuat sebuah molekul yang mengandung banyak atom dari molekul-molekul yang mengandung atom lebih sedikit, perlu diketahui bagaimana membuat dan memecah ikatan kimia. Walau sintesis urea dari Wohler suatu kebetulan, sintesis akan lebih efektif dan terkendali jika dilakukan dengan cara-cara yang rasional, sehingga semua atom tersusun, mereka akan berhubungan satu samalainya dengan benar dan menghasilkan produk yang dihasilkan. Ikatan kimia dibuat dan dipecah melalui reaksi-reaksi kimia. Dengan demikian kita dapat mempelajari bagaimana menyambung molekul-molekul secara spesific, suatu pengetahuan yang sangat berguna dalam sintesis. Pada saat ini sejumlah senyawa organik yang telah disintesis dalam laboratorium dan industri kimia jauh lebih banyak dari pada yang diisolasi (dipisahkan) dari alam-tetumbuhan dan hewan. Ada beberapa alasan mengapa penting sekali mensintesis molekul. Pertama, dapat mensintesis produk alam dilaboratorium dengan mudah, dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pemisahan dari alam. Contoh senyawa yang mula-mula di isolasi dari alam dan sekarang diproduksi secara sintesis untuk tujuan komersil adalah vitamin-vitamin, asam amino, zat-zat warna, kamper penghalau ngengat, penisilin antibiotika dan lain-lain. Sekalipun istilah sintetis kadang menyiratkan arti 'palsu', produkproduk alam sintesis pada kenyataanya identik dengan senyawa yang dipisahkan dari alam. Alasan lain untuk sintesis ialah menciptakan zat-zat baru yang mungkin mempunyai sifat-sifat lebih berguna dibanding dengan hasil-hasil alami. Serat sintetik seperti nyilon dan orlon, misalnya mempunyai sifat tertentu yang lebih berguna dan lebih baik dari serat alami seperti sutra, kapas dan sisal. Banyak senyawa dalam obat-obatan adalah sintetik (termasuk
1

aspirin, eter, novocain dan barbiturat). Daftar produk sintetik yang kita kenal dalam masyarakat industri antara lain adalah plastik, deterjen, insektisida dan tablat-tablet kontraseptik. Semua produk tersebut merupakan senyawa karbon atau senyawa organik. Akhirnya, kimiawan organik kadang-kadang mensintesis senyawa baru untuk menguji teori-teori kimia dan kadang tidak mempunyai tujuan khusus sama sekali. Beberapa struktur geometrik, misalnya mempunyai nilai-nilai estetis yang baik, dan merupakan tantangan untuk dapat membuatnya.

Dalam mempelajari sintesis senyawa organik,kita harus juga melibatkan prespektif yang lebih luas, yaitu industri vs sintesis laboratorium, keterbatasan waktu, pertimbangan teknisekonomis, dan perbedaan mendasar dari kriteria yang akan digunakan dalam pemilihan metode sintesis. Tiga contoh yang menunjukkan paradigma tersebut adalah sintesis senyawa siklobutadiena(1.1) asam gibberelat(1.2) dan akrilonitril(1.3). Sintesis molekul dengan reaktivitas tinggi seperti siklobutadiena memerlukan kondisi reaksi yang mungkin hanya diketahui dan dipahami oleh orang-orang tertentu ,karena reaksi tersebut harus di lakukan pada suhu -260oC. Sintesis ini melibatkan eliminasi fotokimia karbon dioksida dari perkusor lakton bisiklis dalam matriks argon padat. Pertimbangan ekonomi sungguh tidak relevan; tujuannya hanya untuk mendapatkan senyawa, sedangkan biaya dan usaha yang harus di bayar tidak dipikirkan. Asam gibberalt adalah contoh keberhasilan ahli kimia sintesis karena dibutuhkan 41 langkah untuk mensintesis total senyawa tersebut. Ini merupakan satu prestasi intelektual yang hebat dan mendemonstrasikan kekuatan dari sintesis senyawa organik. Ahli kimia sintesis secara akademik memang akan termotivasi oleh keindahan mensintesis suatu senyawa, tetapi mereka pun sangat mudah untuk kehilangan kontak dengan dunia nyata yaitu bahwa ilmu kimia harus diaplikasikan. Pertimbangan ekonomi mserupakan bagian terpenting dalam preparasi industri pada skala yang besar, dengan syarat meliputi proses yang jelas dean sederhana, biaya sintesis sedapat mungkin rendah, dan reaksi diupayakan berjalan dalam satu langkah. Namun demikian, hal ini dapat terjadi pada kondisi reaksi sangat spesifik (ekstrem) seperti metode aliran-kontinu, reaksi dengan orde detik dan suhu mencapai 500-700 0C, contohnya pada sintesis senyawa akrilonitril. Contoh di atas menunjukan variasi yang khas dari kondisi yang terlibat dalam sintesis senyawa organik. Hal-hal yang dipelajari dalam sintesis senyawa organik, untuk memberikan pwnjelasan tentang filosofi sintesis dan metodologi yang menyangkut bagaimana menyiapkan desain suatu molekul organik, di tambah metode tertentu dan kriteria umum yang diperlukan agar reaksi tersebut dapat berjalan.

2

Dalam sintesis senyawa organik, beberapa reaksi yang spesifik akan menjadi pokok bahasan dengan disertai penjelasan, perluasan, atau pensistematikan transformasi gugus fungsi. Proses membangun kerangka karbon, oksidasi dan reduksi, penggunaan reaksi organologam, serta interkonversi, aktivitas dan proteksi gugus fungsi merupan topik yang akan dibahas.

1.3.1 Reaksi sintesis Kemungkinan terbuka bagi ahli kimia sintesis adalah memanfaatkan sebesar mungkin apa yang diketahuinya secara lebih mendalam tentang ketersedian seleksi reaksi kimia. Woodward mengatakan bahwa ahli kimia organik telah menunjukan pentingnya transformasi sintesis dalam bidang sintesis senyawa organik. Syarat dalam merancang jalur sintesis yaitu:
y Telah diketahui y Dapat diprediksi dan sangat dibutuhkan.

Sintesis dalam menggunakan pereaksi organologam, baik menggunakan logam berat maupun logam transisi, telah secara mantap dibuat dalam skala pabrik. Oleh karena itu, penerapan sintesis dari kompleks precious-metal juga berkembang pesat dan memungkinkan untuk membangun transformasi senyawa organik yang berguna secara sintetik. penggunaan senyawa heterosiklik dalam sintesis senyawa organik merupakan perkembangan yang banyak memberikan sumbangan pada ilmu sintesis senyawa organik. 1.3.2 teknik sintesis Katalis tranfer fase adalah salah satu teknik sintesis, dengan dua versi, yaitu menggunakan garam amonium kuarterner dan penggunaan katalis makrosiklik, seperti eter mahkota dan poliamin makrosiklik. Reaksi tranfer fase secara klasik harus dianggap sebagai keadaan yang dinamis, yaitu sintesis interfasial. Selain katalis tranfer fase cair cair, juga termasuk didalamnya reaksi yang terjadi pada gas-cairan, bidang batas padatan-cairan atau gas-padat, reaksi pada fase koloid, dan topokimia pada multilapisan. Tonggak penting dalam bidang teknik sintesis adalah pengenalan reaksi terbantu polimer(polimer supported reaction). Pengaruh faktor fisik luar juga telah terasa dalam sintesis melalui penggunaan arus listrik untuk mendorong reaksi seperti pada elektrolisis kolbe. Namun demikian, jumlah dan variasi dari transformasi sintesis yang dipromosikan oleh arus listrik sekarang cukup banyak, sering menghasilkan reaksi kimia yang baik sehingga sering di kenal dengan istilah ³elektrosintesis´ dan bahkan sudah dilakukan dalam skala pabrik. Cahaya sebagai faktor fisik, menghasilkan hasil reaksi fotokimia yang merupakan bagian penting dalam sintesis senyawa organik.
3

Synton merupakan unit yang dapat dibentuk atau dirangkai berdasarkan reaksi sintesis yang dikenal.4 desain sintesis Dalam mempelajari sintesis organik adalah harus melibatkan rencana dan strategi. adalah konsep inversi polaritas atau umpolung. Setiap penjelasan sintesis senyawa organik harus memasukkan aspek stereokimianya sehingga menimbulkan gejelah bahwa sintesis stereoselektif berkembang sangat cepat. 1.5 Analisis Retrosintesis Dua tahap yang memberikan kemajuan strategi sintesis.reaksi yang didorong oleh enzim sebagai biokatilis mempunyai kelebihan dibandingkan dengan reaksi organik murni.3. yang akan menghasilkan kemungkinan sintesis yang dapat dipertimbangkan. Jadi skema fragmentasi dari molekul dalam spektrum massa memungkinkan desain dari jalur sintesis untuk senyawa tersebut.3 faktor tiga dimensi dalam sintesis senyawa organik Dalam mempelajari sintesis senyawa organik adalah pertimbangan dari adanya faktor tiga dimensi. Atom ini menentukan reaktifitas polar rantai karbon yang mengikatnya.7 Desain dengan bantuan komputer (computer-aided design) 4 . 1. 1. Desain sintesis merupakan rasionalisasi menyeluruh dan penyederhanaan atas kejelasan reaktan dengan reaktifitas normal dan kebalikannya. Pertama adalah konsep synton yang didefinisikan oleh Corey sebagai unit struktur dalam molekul yang terkait pada kemungkinan operasi sintesis. Prosedur penentuan inversi polaritas tersebut dihasilkan pada proses kebalikannya.3. maka dapat diparalelkan dengan degradasi molekular. Yaitu fragmentasi molekul pada spektometer massa adalah proses pemutusan ikatan.3.6 Sintesis Spektra masa retro Kametani menciptakan metode yang dinamakan retro mass spectra synthesis.Yang terakhir dan merupakan bidang yang berkembang sangat pesat yang terkait dengan bidang biokimia adalah penggunaan enzim dalam sintesis senyawa organik. 1. Yang kedua. dan total kemospesifik. atau dengan kata lain katalis akan mengarahkan reaksi hanya pada satu jalur reaksi. Pendekatan sintesis stereoselektif lainnya adalah penggunaan katalis khiral dan bukannya pereaksi khiral. Pengaruh stereokimia dari reaksi sintesis klasik dan kelebihan dari pereaksi dan metode baru yang berpengaruh terhadap stereoselektivitas berkembang sangat cepat.katalis tranfer fase khiral khususnya memberikan enantiomerik yang sangat baik dengan garam amonium kuarterner dan eter mahkota.3. laju reaksi sampai 1012 kali lebih cepat. regiospesifik. dengan pusat donor dan akseptor yang umumnya dalam posisi rantai. yaitu kondisi sangat lunak(mild)misalnya pH dan suhu fisiologi.3. 1. terhindari dari rreaksi penataan ulang dan rasemisasi. yaitu desain metodelogi dengan cara analisis retrosintesis.

berupa usulan yang dibuat oleh mesin. meliputi metode untuk mengatasi arsitektur molekular yang dihasilkan.EROS (Elaboration of Reaction for Organic Synthesis) merupakan program komputer yang dapat memberikan reasoning tanpa dibatasi oleh jumlah file reaksi. Inti dari pendekatan ini adalah asumsi bahwa reaksi organik dapat diperlakukan sebagai pemutusan dan pembentukan. Komputer dapat memunculkan transformasi sintesis dengan prinsip menyajikan reaksi yang masuk akal. serta meletakkan pertimbangan pada pergeseran elektron. 5 .

8) .7) sebagai target sintesis. asam pentanoat (2.B B R R  Perubahan gugus fungsi merupakan tranformasi dari satu gugus fungsi menjadi gugus fungsi yang lain.  Transformasi didefenisikan sebagai perubahan tepat dari suatu reaksi sintesis Sebagai contoh.  DISKONEKSI DENGAN PENOMORAN 6 . dan diskoneksi ikatan karbonkarbon menghasilkan 1Pentanol (2.

ada dua asumsi yang dibuat. Ikatan-ikatan akan dibentuk oleh reaksi yang melibatkan intermediat(zat antara) ionik . Kedudukan atom ± atom donor di beri tanda dengan huruf d. Pendiskoneksian ikatan 2 pada 2.22 akan menghasilkan 2 fragmen (hasil diskoneksi) 2. untuk menyelesaikan masaalah ini. Pendiskoneksian ikatan dua pada gambar di bawah akan menghasilkan fragmen 1 dan 2. dan reaksi yang real akan digunakan untuk menentukan ikatan yang didiskoneksi dengan benar dalam sintesis.reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya dan merupakan kebalikan dari sintetik (retrosintetik). Kedua pendiskoneksianyang mungkin ini harus ermati.26 dan 2.25.23 menghasilkan fragmen 2. Pendiskoneksian ikatan 1 pada 2.27. evaluasi yang di ingikan adalah suatu molekul yang real. 7 . yaitu: 1. ikatan-ikatan kunci akan dibentuk melalui sejumlah reaksi 2.24 dan 2. dan kedudukan atom ±atom akseptor di beri tanda dengan huruf a.

30 atau 2. hasil diskoneksi 2.25 masing ± masing menjadi 2. dan kedudukan C ekkivalen dengan karbon elektrofilik pada alkil halida A.  Pengertian Ekuvalensi sintetik Merupakan fragmen molekul yang ekuvalen dengan molekul real berdasarkan atas d keidentikan reaktivitas kimianya sebagai contoh. Senyawa organik pada umumnya dihasilkan oleh organisme hidup.29 dan 2.32. Dalam tubuh makhluk hidup.24 dan 2. Sintesis Organik.Sebagai contoh. Kandungan senyawa organik dalam metabolit sekunder pada makhluk hidup 8 . Enzim ini tentu saja sangat spesifik. kedudukan C . senyawa organik disintesis melalui proses biosintesis dan dikatalisis oleh biokatalis yg disebut enzim. adalah ekuvalen dengan C a parsial pada reaksi griknard. Biosintesis atau lebih dikenal dengan istilah metabolisme sehingga produk sintesisnya dikenal dengan nama metabolit. Ada dua jenis produk metabolisme yaitu metabolit primer dan sekunder.

Memastikan bahwa reagen pereaksi hasil pemutusan (sinton) tersedia sebagai starting Material. Ikatan yang didiskoneksi adalah yang diyakini reaksi tersebut dapat dapat berlangsung berdasarkan kaedah -kaedah dan jenis-jenis reaksi yang mungkin. struktur molekul yang akan disintesis ditentukan terlebih dahulu yang dikenal sebagai molekul target (MT).relatif rendah. Analisis : a. b. c. Bila tidak berhasil dalam sintesis dilakukan pengkajian ulang analisis. Proses semisintetik mencakup transformasi metabolit primer dan sekunder menjadi senyawa lain yang lebih bermanfaat. Membuat rencana berdasarkan analisis Starting Material dan kondisi sintesis. Sintesis : a. Diskoneksi merupakan operasi balik suatu reaksi melalui suatu pembelahan yang Pedoman yang sangat penting untuk meripta suatu sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah sebagai berikut : 1.1994)Dengan cara ini. B. mirip atau berfungsi mirip di laboratorium . Ada kalanya pada waktu melakukan analisis terhadap bahan awal (Starting Material) hasil diskoneksi harus diperoleh dari suatu hasil sintetik yang dikenal dengan IGF tadi. selanjutnya MT dipecah/dipotong/diputus dengan seri diskoneksi. dari penjelasan ini. di laboratorium tentu sangat sulit sehingga prosesnya lebih tepat bila disebut sebagai proses semisintetik (Sitorus :2008). jelaslah bahwa diskoneksi pada hakekatnya adalah merupakan kebalikan langkah sintetik (retrosintesis). sehingga ahli kimia organik berusaha mensintesis senyawa yang sama. Melakukan diskoneksi dengan metode yang berhubungan dengan reaksi-reaksi yang mungkin. Retrosintesis Merupakan teknik pemecahan masalah untuk mengubah struktur dari molekul target sintesis menjadi bahan-bahan yang lebih sederhana melalui jalur yang berakhir pada suatu material start ysng sesuai dan mudah didapatkan untuk keperluan sintesis(Smith. 2. karena reaksoi senyawa organik tidak lain dan tidak bukan adalah transformasi gugus fungsional. padahal kebutuhan akan senyawa-senyawa organik terus meningkat. 9 . Mengenal gugus fungsional dan molekul target (MT) b. Dengan demikian hal yang mutlak harus dipahami agar sukses dalam melakukan sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah memahami reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya.

4.Menentukan kedudukan kaarbon yang terkandung dalam bahan awal yang terdapat pada target. Telah diketahui 3. 2. Rancangan 2. Diskoneksi ikatan yang memberikan penyederhanaan secara maksimum. kesimpulan Cara penyelesaian masalah untuk transformasi dari suatu target molekul sintetik. Menggunakan konsep donor ±akseptor untukn mengubah hasil-hasil diskoneksi menjadi bagian-bagian nukleofilik dan elektrofilik. Dapat diprediksi produk yang akan terjadi.melalui serangkaian tahapan reaksi yang akhirnya akan menuju pada bahan awal yang sederhana atau bahan awal yang dapat diperoleh dengan mudah Pendekatan retrosintesis untuk sintesis dengan bahan awal yang sudah diketahui meliputi: 1. 3. 10 . Menentukan kedudukan pasangan ion intermediate yang paling cocok untuk menyepurnakan sintesis ikatan karbon-karbon yang diinginkan .Retrosintesis Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam retrosistesis ialah sebagai berikut: 1.

reduksi. substitusi.BAB III ASAM BASA DAN TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI A.1) menjadi bromohidrin (3.4) melalui reaksi substitusi.3) melalui reaks adisi asil. Berikutnya adalah reaksi fosfor tribromida yang memberikan bromide (3. da adisi.2 yang menggambarkan reaksi adisi. 11 . Serngkaian adisi ini menggunakan lima macam tipe reaksi utama yaitu asam/basa. Basa akan mengeliminasi dan memberikan alkena (3. TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI Dalam sentesis. Penerapan perubahan gugus fungsi pada sintesis dapat digambarkan pada kasus sintesis berikut.2) hanya membutuhkan langka transformasi gugus fungsi. Reaksi terakhir dengan asam hipobromida menghasilkan 3. Reaksi awal keton dengan litium aluminium hidrida (LiAlH4 ) menghasilkan alcohol (3. keduanya menggambarkan reaksi eliminasi dan reaksi asam/basa. Konversi sikloheksanon (3.5). reaksi kimia dalam sintesis meliputi penggabungan gugus fungsi atau penggantian gugus fungsi. masalah yang mendapatkan perhatian besar adalah pembentukan kerangka karbon dengan cara reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon. eliminasi. Namun demikian.

Tingkat ionisasi merupakan ukuran keasaman HA. maka HA dapat dipandang sebagai asam lemah dalam system. Pada umumnya. dan asam lemah menghasilkan basa konjugat yang kuat. 12 . Hal ini memacu kondisi kesetimbangan yang mengarah pada enolat yang lebih stabil.0 -7 -9 -10 15.> NH2->HO Sebagai konsekuensi hal tersebut. asam kuat menghasilkan basa konjugat yang lemah. Etanol merupakan asam konjugat yang merupakan asam yang cukup kuat untuk memprotonasi hasil enolat basa. KEASAMAN PADA MOLEKUL ORGANIK Reaksi HA dan B membentuk HB+ dan A-. dan H2O < H2S pKa : 3. meskipun keelektronegatifitasnya menurun. HF < HC < HBr < HI.A.74 7.pada umumnya keasaman naik ke kanan. CH4 < NH3 < H2O < HF Asam lemah Asam kuat CH3. kebasaan naik dari kiri ke kanan. Keasaman naik dari atas ke bawah. Pada table periodic . b.0 Terdapat dua definisi keasaman/kebasaan : asa lewis merupakan penerima pasangan electron dan asam Bronsted -lowry merupakan pemberi proton sedangkan basa lewis merupakan pemberi pasangan electron dan basa Bronstedlowry merupakan penerima proton. c. meiputi stabilitas relative asam (HX) dan asam konjugat (HB+) Pembentukan enolat (CB)dari 2-butanol (A) dengan natrium etoksida (B)dalam etanol merupakan reaksi yang dapat balik. Kedudukan keasaman bergantung pada banyak factor. Jika basa pada keadaan tersebut sangat lemah untuk melepaskan proton asam HA. merupakan pernyataan umum penulisan reaksi asam/basa : HA + B: HB+ + A+ Asam (HA) bereaksi dengan basa (B:) menghasilkan asam terkonjugasi HB (CA) dan basa terkonjugasi A (CB). dan tingkat kesetimbangan sebanding dengan keasaman HA. Sejumlah factor yang mempengaruhi kekuatan asam dan hargan K dijelaskan a berikut ini: a.

Deproton alcohol memberikan basa asi alkoksida. metoksida. Kesanggupan nukleofil mengikat elektrofil akan bergantung pada kekuatan nukleofil dan sifat substrat karbonil. 2) Adisi Asil pada karbonil tanpa gugus pergi Adisi nukleofilik pada karbonil cenderung reversible jika spesies nukleofilik yang mengikatnya juga merupakan gugus pergi yang baik seperti reaksi adisi air atau hidroksida pada karbonil. Kebasaan Molekul Organik Kekuatan relative basa di pengaruhi oleh factor yang sama seperti asam. amina. Ammonia dapat deprotonasi oleh basa yang sangat kuat seperti pereaksi Grignard dan organolithium yang menghasilkan basa amida. yang merupakan basa yang sangat umum dan sering digunakan dalam pelarut alcohol (metoksida dalam methanol. C. Adisi Asil Nukleofilik 1) Pengikatan nukleofilik Nukleofil didefinisikan sebagai spesies yang dapat memberikan sepasan electron pada karbon dan membentuk ikatan baru dengan karbon. Terdapat banyak jenis basa yang digunakan dala kimia organic. logam natrium. dan kemungkinan dapat terjadi pengikatan nukleofilik.Asam lewis umumnya dinyatakan dalam bentuk MXn. Terdapat dua tipe pokok reaksi : y Karbonil yang tidak mengandung gugus pergi. Karena ikatan karbon bersifat kuat dan sukar putus maka reaksi kebalikannya lebih sukar. kalium hidrida. natrium dan kalium hidroksida. t-butoksida dalam t-butanol). misalnya aldehida dan keton y Karbonil yang mengandung gugus pergi. asam MXn menunjukan sifat-sift keasaman dalam reaksi kesetimbangan: MXn Asam B basa MXn-Bhasil adisi B. misalnya turunan asam. X merupakan ligan (atom halogen. s 13 . Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan phi. Bila NaC=CCH3 bereaksi dengan karbonil. Kekuatan basa biasanya dinyatakan oleh pKa dari asam konjugatnya. natrium dan kalium amida. Basa yang digunakan untuk mendeprotonasi air atau alcohol adalah natrium hidrida. dan n merupakan valensi normal dari M. sedangkan M menyatakan logam. maka induksi dapat mempengaruhi karbon beta pada elektrofilik ikatan phi.maka ikatan karbon-karbon dapat di bentuk. atau fosfin ). dan t-butoksida.

4) Adisi konjugasi Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan dari alkena (seperti 3. Pada kondisi basa. Pada umumnya adisi nukeofil karbon pada karbonil bersifat ireversibel.9). Jenis reaksi ini dikenal sebagai adisi konjugasi atau adisi Michael yang dipacu dengan pembentukan hasil yang distabilkan oleh resonansi. hidrolisis akan memberikan hasil akhir adisi. Bila karbonil mengikat gugus pergi seperti klor. Pelepasan gugus pergi klorida dari 3. yaitu anion enolat (3.dan adisi nukleofilik heteroatom bersifat reversible. maka pengaruh induksi akan membuat karbon terminal dari alkena elektronik. 3) Adisi asil pada karbonil dengan gugus pergi (subsitusi asil) Turunan asam karboksilat seperti asam klorida dan ester di tandai oleh karbonil yang mengikat klor atau gugus OR.asam yang dibentuk diubah menjadi anion hidroksida. alkoksida (3. Sebagai hasil adalah reaksi subsitusi dimana nukleofil menggantikan klor pada karbonil.8 memudahkan pembentukan ikatan baru asam benzoate. Jika nukleofil mengikat karbonil. maka klor dan gugus alkoksi berfungsi sebagai gugus pergi.11 14 . dan menjadi kedudukan yang cenderung diikat oleh nukleofil.7.Berdasarkan alasan ini.6 memberikan hasil adisi 3.6) yang mula-mula dibentuk tidak melepaskan asetilida hingga adisi ireversibel dan hidrolisis 3.8 yang diikuti dengan reaksi eliminasi. yaitu keton 3.10).maka adisi asil awal oleh hidroksida menghasikan 3.

substrat. yaitu pelarut yang mengandung proton (X-H. dan juga menyerap panas berlebih yang dilepaskan oleh reaksi.2 pada karbon biasanya lebih disukai. 5) Karakteristik reaksi yang melibatkan nukleofil Banyak factor yang mempengaruhi terjadinya reaksi nukleofilik. konsentrasi. Sifat yang sangat penting dari pelarut adalah polaritasnya. Untuk reaksi alkil halide primer. maka adisi 1. Pelarut dibagi menjadi dua kelompok. meliputi pelarut. b. dan sifat gugus pergi. Substrat Perbedaan substituen pada substrat karbonil akan mengakibatkan perbedaan yang besar pada laju reaksi adisi asil nukleofilik dengan nukleofil. sedangkan pelarut aprotik hanya mensolvasi secara kuat suatu kation. maka pengika terhadap karbon kuat. sehingga proses bimolekuler lebih memungkingkan terjadi. Proses bimolekul tergantung pada sifat substrat (molekul yang mengandung pusat nukleofil). namun bila gugus R pada 3. sifat nukleofil. Nukleofil/basa   lebih Jika nukleofil kuat. protik) dan pelarut yang tidak mengandung proton (aprotik). maka pelarut semakin polar. Bila R kecil (seperti hydrogen pada aldehida terkonjugasi). maka pengikatan pada karbon asil menjadi sukar dan adisi konjugasi berlangsung sangat kompetif. semakin tinggi tetapan dielektrik. Yang sangat menentukan adalah kesanggupannya melarutkan dan memisahkan ion-ion (solvasi). Perbedaan utama antar pelarut protik dan pelarut aprotik adalah kesanggupan pelarut protik untuk mensolvasi baik kation maupun anion. c.Meskipun pengikatan pada karbon asil bisanya berlangsung lebih cepat. Pelarut Pelarut digunakan untuk melarutkan semua reaksi. a. Solvasi merupakan kunci dari sebagian besar reaksi nukleofilik dan sangat penting pada reaksi asam/basa. Dalam 15 . Ukuran yang baik untuk menyatakan kesanggupan pelaru untuk memisahkan ion-ion ini adalah tetapan dielektrik. Pada setiap kelompok.9 terhalang. biasanya proses bimolekul bersifat dominan.

Kelebihan basa atau nukleofil umumnya digunakan untuk memacu laju reaksi. laju reaksi dinyatakan dalam persamaan : Laju reaksi = k [nukleofil atau basa][RX] Dengan k adalah tetapan laju reaksi. Konsentrasi spesies yang bereaksi Untuk proses bimolekul. umumnya ditulis SN2. Gugus pergi Gugus pergi adalah gugus yang dipindahkan atau diganti dalam reaksi substitusi atau eliminasi. halida.13. d. E). y Reaksi SN2 dapat melibatkan beberapa perubahan gugus fungsi yang berbeda dan menggunakan molekul kompleks baik substrat maupun pereaksinya.harus merupakan ion yang sangat stabil. proses bimolekuler terjadi karena nukleofilitasnya dipacu. X. e. REAKSI SUBTITUSI 1) Subtitusi nukleofilik bimolekul Reaksi Sn2 Substat 3. Penurunan konsentrasi pada setiap spesies akan menurunkan laju reaksi. seperti halnya kebutuhan energy yang naik untuk pembentukan kation. y Reaksi mitsonobu 16 . Setelah lepas atau pergi. proses ini dapat dinyatakan sebagai substitusi bimolekuler yang melibatkan nukleofil. atau basa akan mengakibatkan kenaikan laju reaksi. Kenaikan konsentrasi nukleofil.pelarut aprotik.12 mengandung gugus pergi yang diganti dengan nukleofil menghasilkan produk 3.Gugus pergi yang ³baik´harus mempunyai ikatan C-X yang lemah dan terpolarisasi tinggi.

4) 17 Subtitusi oleh halogen . Proses ini melibatkan reaksi dietilazodikarboksilat (3.32 dapat mempunyai muatan total yang disebabkan oleh pelapasan kerapatan elaktron dari atom yang berdekatan. ion dipolar ini bereaksi dengan HX menghasilkan 3.17 dan garam alkoksifosfonium 3.Reaksi ini merupakan cara untuk mengubah molekul yang mengandung gugus pergi yang jelek menjadi turunannyayang dapat bereaksi melalui mekanisme SN2.16.S N1 (atau reaksi ionisasi). paralel terhadap ikatan.namun demikian sering merupakan reasi yang sangat spesifik mempengaruhi perubahan gugus fungsi. 2) Subtitusi nukleofilik unimolekul Pada umumnya reaksi subsitusi unimolekul.15. Disini gugus pergi yang jelek diubah menjadi gugus pergi yang baik melalui suatu intermediet.14) dengan trifenilfosfin(Ph3P) untuk membentuk 3. 3) Penataan ulang kationik Pusat kation yang kekurangan elektron seperti 3. bahkan meskipun merupakan nukleofil lemah. alkohol kemudian ditambahkan pada garam fosfonium ini.kurang bermanfaat dalam sintesis.18 y Reaksi Sn2¶ Pada umumnya alilik halida bereaksi lebih cepat dengan nukleofil dari pada alkil halida karena ikatan membantu melepaskan gugus pergi. dan reaksi selanjutnya menghasilkan diimida 3.

sakunder. dan perpindahan pasangan elektron kearah pusat elektofilik akan menghasilkan ikatan dari produk alkena. karena langka yang paling lambat pada proses ini adalah lepasnya gugus pergi yang akan membentuk karbokation. REAKSI ELIMINASI 1) Eliminasi bimolekul 1.X) yang disebabkan oleh penggantian proton oleh basa untuk membentuk ikatan yang baru. Suatu basa yang tepat akan melepaskan H . 2) Eliminasi unimolekul 1. Eliminasi ditandai dengan pelepasan atom atau gugus (gugus pergi.68) terpolarisasi lebih besar dari pada halida netral. Muatan negatif terjadi pada karbon (basa memberikan 2 elektron ke hidrogen) dan terbentuknya kecapatan elektron ini memungkinkan terjadinya kelepasan gugus fungsi.69. Reaksi 1-butanol dengan HBr menghasilkan halida primer. Pada umumnya reaksi antara alkohol primer.2 ¡ Reaksi perubahan gugus fungsi berdasarkan proses asam/basa adalah eliminasi.68). Rotasi ikatan pada 3. dan tersier dengan HBr dan HCl merupakan cara yang baik untuk pembuatan alkil halida.67 dalam media berair menghasilkan pasangan ion yang terpisahkan oleh pelarut (3. tetapi mengikuti mekanisme reaksi SN2 dengan bromida menggantikan H2O .69 sebagai campuran isomer E-Z.Reaksi alkohol tersier dengan HBr atau HCl menghasilkan halida melalui intermediet kation. Ikatan baru terbentuk selama eliminasi dan menghasilkan alkena. yang akan mengalami penataan ulang menuju ion yang lebih stabil.2 Pemanasan bromida 3.(H pada 3. Hidrogen. 3. karena hidrogen berdekatan dengan muatan positif. dan reaksi ini disebut E1 (eliminasi unimolekul) 3) 18 Eliminasi syn . Hal ini tampak dari kenyataan bahwa H dapat dilepaskan oleh basa baik dari arah ³atas´ atau ³bawah´ terhadap halida. dan reaksi tersebut dikenal sebagai reaksi E2 (eliminasi bimolekul).68 menghasilkan menghasilkan 3. Reaksi merupakan unimolekul. F).

3 Terdapat sejumlah tipe reaksi yang berkaitan dengan proses eliminasi 1. dan hidrolisis memberikan produk asam keton.89.86 yang direaksikan dengan hidroksida mula mula membentuk 3.87. Biasanya reaksi awal melibatkan pembentukan intermediet karbokation. y Eliminasi 1. Karbon yang pada awalnya berikatan rangkap yang tertinggal akan kekurangan elektron. Dasar ini juga dapat diterapkan pada sistem yang mempunyai hidrogen yang bersifat asam dan gugus pergi dipisahkan oleh 3 atom. mengakibatkan lepasnya gugus pergi dan pembentukan ikatan . Ikatan menjadi putus dan ikatan baru C-H terbentuk. Pusat kationik kemudian bereaksi dengan nukleofil (Brdari HBr) menghasilkan bromosikloheksana. namun kemudian terjadi perubahan cincin menghasilkan enolat 3. 4) Reaksi-reaksi yang berkaitan dengan Eliminasi 1. dan disebut karbokation.Jika basa merupakan bagian dari substrat. Hasil keseluruhan reaksi kationik ini adalah adisi H dab Br pada ikatan ¢ 1) 19 . Eliminasi seprti ini dikenal sebagai eliminasi syn.3. Senyawa 3. transfer proton menghasilkan 3. maka hidrogen hanya dapat dilepaskan bila hidrogen mempunyai kedudukan eklips terhadap atom yang bersifat basa dalam konfigurasi syn.3 (dekarboksilasi) Reaksi eliminasi syn menunjukan bahwa hidrogen yang bersifat basa dapat dilepaskan oleh atom yang bersifat basa yang terdapat pada molekul yang sam. y Eliminasi hoffmann Eliminasi hoffman yaitu contoh klasik dari proses eliminasi syn. Jika tetheerd base juga merupakan gugus pergi. Reaksi tersebut dikenal sebagai eliminasi 1. 396. G). maka pelepasan hidrogen syn dapat merupakan proses yang efisien.88.3. Contoh poses ini adalah reaksi sikloheksana dengan asam yang membentuk karbokation sekunder. REAKSI ADISI Adisi yang melibatkan intermediet ion bebas Tipe reaksi ini biasanya melibatkan ikatan alkena yang bersifat basa yang memberikan pasangan elektron ke asam (H ). meskipun proses ini akan membutuhkan suhu reaksi yang tinggi untuk terjadinya populasi yang efisien pada konfigurasi eklips.

Alkena kemudian dapat memberikan elektron ke X . H2SO4. intermediet kation yang berasal dari proses adisi cenderung mengalami penataan ulag menuju ion yang stabil. Sebagai contoh. Jika terdapat air (berasal dari penggunaan pelarut berair) atau jika menggunakan pereaksi yang lebih nukleofilik seperti KCN yang ditambahkan ke dalam reaksi. sehingga tidak dapat dibentuk. dsb) akan bereaksi dengan alkena menghasilkan alkil halida. £ £ 3) 20 . sulfat.Alkena merupakan basa yang relatif lemah dan hanya akan bereaksi dengan asam kuat.102) dihasilkan oleh reaksi asam dengan keton (3. Stabilisasi terjadi bila heteroatom terikat pada karbon elektrofilik. maka air atau sianida akan menjadi kation (masing-masing menghasilkan alkohol dan nitril). maka elektron tersebut dapat diberikan kepusat kation sehingga membentuk intermediet jembatan simetris (lingkar anggota-tiga). alkena mempunyai sifat kurang lebih sebagai basa Bronsed-Lowry. Alkena dapat juga berfungsi sebagai basa Lewis pada reaksi dengan elektrofilik halogen. Alkil sulfat dan nitrat sering tidak stabil. Asam kuat HX (seperti HCl. Pereaksi yang simetris seperti bron atau klor umumnya tidak terpolarisasi. maka dipol akan terjadi (C=C X X. melepaskan X-. namun bila didekatkan dengan ikatan .101. Proses ini berada di bawah kontrol termodinamika dan cenderung menghasilkan ion yang lebih stabil dan hasil akhir yang lebih stabil. kation oksigen yang mengalami stabilisasi (3. HBr.) 2) Adisi yang melibatkan intermediet jembatan yang simetris Pada reaksi dengan HX. Sebelum mekanisme reaksi ini diketahui. HNO3. Karena guguus X mengandung pasangan elektron bebas. nitrat dll. Pusat kationik yang dihasilkan oleh reaksi ini berdekatan dengan ikatan C -X yang baru terbentuk. Adisi yang melibatkan ion-ion logam yang distabilkan Seperti yang telah dijelaskan didepan. telah diamati bahwa reaksi alkena dan asam selalu menghasilkan produk yang lebih tersubstitusi yang kemudian dikenal sebagai adisi Markovnikov. Tipe reaksi ini kadang-kadang dinyatakan sebagai transfer muatan kompleks.).

Kation ini (3. ternyata tidak terjadi reaksi. Kation intermediet (3. SUBTITUSI AROMATIK Tipe proses ini ditunjukan pada reaksi benzena dengan spesies elektrofilik (X-).125). namun pengikatan nukleofil cicncin aromatik yang kaya elektron lebih sukar. Bila benzena direaksikan dengan spesies elektrofilik seperti HCl. jika asam Lewis kuat seperti AlCl3 ditambahkan. maka akan dibentuk kompleks trasfer muatan seperti 3. Asam Lewis yang kuat akan memberikan reaksi yang cepat antara halogen dengan benzena. maka terjadi reaksi substitusi yang melibatkan transformasi 2.116) mengalami stabilisasi resonansi. 3. 1) Subtitusi nukleofilik aromatik Cincin aromatik memiliki sifat seperti basa Lewis dalam reaksi dengan asam Lewis. Ini merupakan cara komersial untuk memproduksi turunan-turunan fenol.117 Subtitusi elektrofilik aromatik Ikatan-ikatan pada benzena merupakan pemberi elektron yang tidak efisien (benzena merupakan basa Lewis yang lemah). Jika campuran tersebut dipanaska sekitar 100oC. Contohnya. ikatan klor-klor diperlemah yang kemudian dapat diikat oleh benzena. Kondisi dengan suhu tinggi ini mempunyai enargi aktivasi tinggi untuk pengikatan awal pada cicin aromatik. tidak akan terjadi reaksi. namun klor tidak dapat ditransfer kebenzena.116) kadag-kadang dinyatakan sebagai ion benzenonium. Reaksi ini menghasilkan intermediet Wheland. Pengikatan cincin aromatik akan membentuk ikatan C-X dan pusat sp3. dalam kompleks ini. meskipun dilakukan pada kondisi suhu yang cukup tinggi.126. dan transfer klor yag lain ke AlCl3.H). transfer satu klor ke benzen. Lepasnya proton bersamaan dengan pembentukan kembali senyawa aromatik berlangsung sangat cepat (membentuk 3.152) ditambah dengan natrium hidroksida dalam media berair.4dinitroklorobenzena menjadi 2.118). Namun demikian.4-dinitrofenol. namun lebih umum disebut intermediet Wheland. Reaksi harus terjadi oleh pengikatan hidroksida nukleofil pada 21 2) . bila diniriklorobenzena (3. yang digambarkan sebagai kation yang terdelokasikan. Meskipun benzena dapat membentuk kompleks yang mentrasfer muatan lemah dengan klor (3. yang kemudian melepaskan proton menghasilkan klorobenzena.

Eliminasi halida membentuk ikatan baru yang tegak lurus pada kabut cincin benzena. sehingga menjadi gugus pergi yang baik. dan spesies yang reaktif ini (3.karbon ipso. 3.159b.153.160a. Produk substitusi 3. 3) 22 .159a digambarkan kembali seperti 3.161 dan 3. maka deprotonasi akan menghasilkan 3.158 direakskan dengan natriu amida. Basa akan melepaskan hidrogen-orto dan menghasilkan karbanion. 3. Turunan benzuna (benzyne) Halogen membuat hidrogen pada kedudukan orto mempunyai sifat lebih asam. dan nukleofilik amida akan bereaksi dengan 3. hasil ini merupakan pengikatan terhadap kedua karbon ikatan rangkap.160a) disebut benzuna (benzyne). bila 3. Pelepasan gugus pergi yang berdekatan ini membentuk ikatan baru pada intermediet benzuna.162.159). yang menghasilkan ntermediet karbanion yang distabilkan oleh resonansi. ikatan ini merupakan sasaran terhadap pengikatan nukleofilik. karena muatan terletak pada karbon yang berdekatan dengan halogen.160a menghasilkan campuran 3. ini merupakan intermediet yang tidak stabil.162 mempunyai substituen baru amino yang berdekatan dengan karbon yang mengikat gugus pergi bromida. (lihat 3.159a. ini sering disebut sebagai substitusi Cine. bromida kemudian akan dilepaskan dan dihasilkan intermediet benzuna 3. terlihat bahwa karbanion dalam posisi ortogonal terhadap kabut aromatik dan pararel terhadap ikatan C-Br. Bila 3.160b. namun orbital yang terisi ini mempunyai kedudukan ortogonal terhadap bidang kabut aromatik.

Pemanasan 3.166). ion diazonium merupakan salah satu gugus pergi yang paling baik dan merupakan sasaran untuk digantikan oleh berbagai nukleofil untuk menghasilkan produk substitusi 3. 3.167.164 4) Terdapat sejumlah spesies nukleofilik yang dapat bereaksi dengan garam-garam aril diazonium.165) menjadi garam diazonium (3. 3. Contoh reaksi ini adalah konversi 3-nitroanilin (3.Reaksi subtitusi terhadap garam-garam aril diazonium Bila amina aromatik primer seperti anilin direaksikan dengan asam nitrit (HONO) ± yang umumnya dihasilkan dengan mereaksikan natrium nitrit dan HCl atau asam sulfat ± maka dihasilkan senyawa aril diazonium. yang kemudian dipanaskan dalam asam sulfat berair menghasilkan 3-nitrofenol.164 dalam asam berair menghasilkan fenol. 23 .163. dalam hal ini benzenadiazonium klorida.

H2CrO4. Penggantian atom hydrogen yang terikat pada karbon dengan unsur lain yang lebih elektronegatifseperti Oksigen. seperti yang dinyatakan pada pernyataan kedua. Eliminasi hydrogen seperti pada serangkaian Dehidrogenasi Etana. Alkohol primer mula-mula dioksidasi menjadi aldehida. H2Cr2 O7. Oksidasi dengan Kromium (VI) Kromium (VI) merupakan z t pengoksidasi yang kuat. Pada konsentrasi tinggi (air 24 ¤ ¤ ¤ (2NH2SO4) 7 H2 O 4H2O . namun dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam. Terdapat sejumlah pereaksi kromium (VI). HCrO4-.Produk yang dihasilkan bergantung pada struktur alkohol dan pereaksi yang digunakan. meliputi HOCrO3H. kromium trioksida berada dalam kesetimbangan dengan sejumlah Kromium (VI) lainnya. dalam media berair.BAB IV REAKSI OKSIDASI  Pengertian Reaksi Redoks Sheldon dan Kochi menyatakan bahwa oksidasi pada kimia organik dapat berupa: 1. 2.14H HCrO4.7H ¤ 6e 2Cr3 ¤ 3e Cr3 Oksidasi terhadap alkohol akan disertai dengan reeaksi Kromium Cr (VI) menjadi Cr(III).Cr2O72-. yang sebagian besar diterapkan pada kimia AnOrganik. Untuk definisi yang lebih umum. oksidasi melibatkan lepasnya satu electron atau lebih dari atom-atom gugus. maka sebagian besar reaksi oksidasi dilakukan pada media berair. dan HCrO7-. reaksi Cr (VI) dapat ditulis: Cr6 3e ¤ Cr 3 Cr2O72. Sebagai Contoh adalah pada serangkaian Transformasi oksidatif terhadap Metana: CH4 CH3OH CH2 OH HCO2 H CO2 Oksidasi dapat juga didefinisikan sebagai reaksi suatu unsur dengan Oksigen.  ALKOHOL MENJADI KARBONIL (CH-OH C=O) alkohol dioksidasi menjadi turunan karbonil dengan berbagai zat pengoksidasi. Karena oksidasi alkohol harus dilakukan dalam keadaan yang dilakukan dalam keadaan terlarut. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton. Dalam asam sulfat. namun yang paling umum adalah kromium trioksida yang berwujud Polimer yang umum ditulis sebagai [CrO3]n .

dan asam sulfat (HA pada persamaan diatas). seperti yang dijelaskan pada 4. namun akhirnya usul ini tidak dapat diterima. Jika asam yang berbeda (HA) ditambahkan pada campuran.+ 2H+ + A. Penguraian ester kromat meliputi pelepasan proton yang terikat pada karbon yang mengikat oksigen. dan Cr(IV) biasanya adalah HCrO3-. K esimpulan dari berbagai percobaan adalah bahwa posisi kesetimbangan bergantung pada asam. Spesies Cr(VI) biasanya adalah HCrO. Cr(IV). maka kemungkinan ester kromat yang terbentuk adalah 4. Jika asam sulfat digunakan sebagai asam dalam media berair yang mengandung kromium trioksida dan isopropanol. Hal ini sesuai dengan: HCrO4. konsentrasi Cr (VI) tidak bergantung pada asam. Cr(V) 4 biasanya adalah HCrO4-. maka yang dominan adalah polimer kromium trioksida dan asam kromat.4. Dalam larutan encer. 25 . dan pada reaksi. Westheimer mengusulkan pengikatan intermolekul oleh air.dan CrO3. Kwart dan Francis mengusulkan reaksi intermolekul untuk melepaskan proton.2 yang berasal dari reaksi HCrO4-. Cr(VI) mengalami reduksi menjadi Cr(IV). Paling tidak ada dua mekanisme yang diusulkan untuk langkah ini.Cro3A + H2O Wiberg memberikan skema oksidasi alkohol sekunder menjadi keton sebagai berikut: R2CHOH + R2CHOH + R2COH + Cr(VI) Cr (IV) Cr(VI) Cr(V) + R2C O R2COH R2C O R2C O 2Cr(VI) 3R2C O + + Cr(IV) Cr(III) + + + Cr(V) Cr(III) 2 Cr (III) + R2CHOH + 3 R2CHOH Mekanisme ini menunjukan bahwa spesies Cr (VI). Fakta eksperimental menyatakan bahwa oksidasi dimulai dengan pembentukan ester kromat. Semula westheimer menyatakan bahwa air berperan sebagai basa untuk melepaskan hidrogen ini.sedikit). dan Cr (V) terlibat dalam keseluruhan proses Oksidasi. maka asam tersebut akan mempengaruhi kedudukan kesetimbangan keseluruhan.

keduanya dapat dioksidasi.7 Oksidasi kromium (VI) yang termodifikasi Banyak variasi kondisi reaksi yang ditujukan untuk mengoksidasi alkohol. meliputi pengubahan asam yang ditambahkan pada media. Alkohol primer dan alkohol sekunder. Rocek akhirnya mengusulkan pembentukan kompleks koordinasi seperti pada 4. natrium bikromat dalam aseton berair yang dikatalis oleh asam asam mineral. Pelarut yang tahan terhadap oksidasi seperti asan asetat atau aseton. yang tidak hanya akan melarutkan pereaksi kromium saja. dimana oksigen dari ester kromat melepaskan kedua hidrogen dari karbon dan dari Oksigen. tetapi juga Substat alkohol. 26 .Rocek mengabaikan kedua mekanisme reaksi tersebut dan mengusulkan Intermediet seperti pada 4. seperti halnya kompleks Cr2O3 piridin dan t-butil kromat. maka pelarutan umumnya dibutuhkan. termasuk kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair yang dikatalis oleh asam mineral. umumnya digunakan untuk mengkonversi alkohol menjadi karbonil. masing-masing menjadi aldehid atau keton. Aldehid dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. Karena sebagian besar senyawa organic tidak larut dalam air. natrium bikromat dalam asetat.6. Sejumlah pereaksi kromium (VI) dapat digunakan.

dan fenol teroksidasi menjadi kuinon. maka produk yang dihasilkan hanya 6%. Isopropanol memberikan hasil yang baik dalam aseton berair. sulfida teroksidasi menjadi sulfokdsida. amina teroksidasi menjadi hidroksi amina. sulfida. namun aldehida dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. Bila dapat mengisolasi aldehida yang dihasilkan. dan hal ini dapat menurunkan produk karbonil yang dihasilkan.12. Adanya gugus ± gugus yang dapat dioksidasi pada substrat organik seperti alkena. Dua pendekatan mekanisme tersebut meliputi pembentukan ester kromat seperti 4.pada kompleks seperti 4. Kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair Beberapa alkohol dapat larut dalam air sehingga tidak diperlukan pelarut untuk mengoksidasinya dengan kromium.hidroksi-amina.9 adalah iso-propil (iPr). maka diperoleh hasil produk 60%. Sebagai contoh. Bila R pada 4. kemudian pelepasan hydrogen. maka akan mengurangi terbentuknya asam. Oksidasi menjadi asam juga dapat terjadi mula-mula dengan pembentukan hidrat. tetapi bila R diganti dengan t-Butil. Paling tidak terdapat dua mekanisme yang dapat menerangkan konversi aldehida menjadi asam. Hal ii disebabkan kesempatan terbentuknya kation tersier yang lebih besar. 27 .a.10.. fenolat dan amina sering menghasilkan produk samping pada oksidasi terhadap alkoholalkohol yang larut dalam air. Oksidasi terhadap alkohol primer mula-mula menghasilkan aldehida. pelepasan hydrogen. Fenil alkil karbinol dapat dipecah secara oksidasi dengan kromium trioksida dalam asam berair. meskipun asetton larut dalam air yang menyebabkan isolasi produk menjadi sukar.

Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan tambahan pelarut seperti asam asetat berair b. Reaksi ini berguna.Kesetimbangan antara aldehida yang mula-mula dibentuk dengan alkohol primer dapat menghasilkan reaksi samping. dan senyawa ini dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi ester.14 menjadi keton 4. Sebagai contoh. Pembentukan ester seringkali disertai oksida terhadap aldehida primer yang memiliki berat molekul kecil. pelarut organik lain dapat digunakan bersama-sama dengan kromium trioksida berair.15 dengan produk besar 77%. n-butanol menjadi n-butirrat. oksidasi 4. ternyata hasil oksidasi terhadap alkunil karbinol meningkat. Bila aseton digunakan dalam larutan encer asam sulfat. Contohnya. Pereaksi kromiumtrioksida-aseton-asam sulfat sering dikenal sebagai Jones. Kromium trioksida dalam aseton Ioksida Selain asam asetat. Sejumlah persoalan terjadi bila digunakan pelarut air. dimana alkohol yang tidak bereaksi dikonversi menjadi Hemiasetal. khususnya untuk molekul yang mengandung gugus-gugus Alkenil atau Alkunil 28 .

Modifikasi oksidasi jarret dilakukan oleh Collins dan penggunaannya terhadap oksidasi alkohol dikenal dengan Oksidasi Collins. Reaksi Sitronelol dengan PCC dalam Diklorometana mula-mula akan menghasilkan oksidasi aldehida. meskipun terdapat ikatan rangkap dua dan tioster. Tujuannya adalah mengatasi masalah produk yag rendah pada oksidasi alkohol primer menjadi aldehida dan memudahkan isolasi produk karbonil. Pereaksi Sisler-Jarret dibuat dengan mereaksikan kromium trioksida dengan piridin. ester. Pereaksi yang kemungkinan mempunyai struktur trigonal bipiramidal terbukti berguna untuk mengoksidasi alkohol primer dan sekunder. Oksidasi yang khususnya mebutuhkan perbandingan 5:1 hingga 6:1 atau kompleks alkohol dan reaksi berlangsung pada suhu kamar. Corey mendapatkan.Oksidasi terhadap alkohol biasanya berlangsung lebih cepat dalam aseton dari pada dalamasam asetat. maka produk finalnya adalah asam karboksilat. Pelarut piridin kemudian dihilangkan dan setelah itu ditambahkan dengan dikloroometana. keton dan amida. Oksidasi jarret telah digunakan oleh yamada untuk mengoksidasi menjadi keton pada sintesis Patchouli alkohol.dan tetrahidropiranil eter teroksidasi jauh lebih lambat dari pada alkohol dan jarang terjadi reaksi samping. Contohnya. Pereaksi ini sangat tepat untuk mengkonfersi alkohol primer menjadi aldehida dalam diklorometan. tetapi protonasi aldehida karbonil yang diikuti dengan pengikatan alkena akan menghasilkan kation tersier. Jarret mengoksidasi alkohol. suatu steroid dengan hasil 89%. namun karena kondisi reaksi dalam keadaan sangat asam. d. tetapi kurang efisien bila diterapkan pada alilik alkohol. akan dikatrakterisasi pereaksi.sulfide. Sejumlah alkohol primer telah dioksidasi menjadi aldehida dengan menggunakan prosedur ini. c. dan penggunaan aseton yang berlebihan akan melindungi produk keton dari oksidasi lebih lanjut. bila penambahan piridin pada larutan kromium trioksida dalam HCl berair dilanjutkan dengan kristalisasi Kristal.ketal. tersier. Piridinium kloro Kromat (PCC) Usaha untuk meningkatkan oksidasi terhadap alkohol primer dan untuk lebih mempermudah isolasi produk yang dihasilkan mendorong pengembangan pereaksi kromium (VI). Sintesis mayuron yang dilakukan oleh Smith melibatkan oksidasi jones cocok terhadap molekul-molekul kompleks yang mengandung berbagai gugus fungsi seperti Alkena. Masalah yang dihadapi adalah kesulitan mengisolasi produk yang dihasilkan dari larutan piridin. selanjutnya pada campuran ini direaksikan dengan alkohol.oksidasi 1-Heptanol dengan PCC dalam diklorometana meghasilkan 78% Heptanal. alkohol. Piridinium kloro kromat (PCC). Kromium Trioksida-piridin Oksida dengan campuran kromium trioksida dan piridi sebagai pelarut dikenal dengan sebutan oksidasi jarret. Keuntungan reaksi oksidasi jarret alkena. Reaksi siklisasi ini diikuti dengan eliminasi yang akan 29 .

menghasilkan alkena. Alkil iodida primer dan sekuder atau tosilat dapat dikonfersi menjadi aldehida atau keton. Mekanisme reaksinya kemungkinan meliputi pelepasan Nukleofilik Halida oleh DMSO yang membentuk garam Alkoksisulfoksonium. Bila pelarut diganti dari diklorometan menjadi dimetilfosmamida (DMF). Kornblum menyatakan bila  -haloketon direaksikan dengan DMSO pada suhu yag agak tinggi. Oksidasi terhadap Sitronelol dengan PDC dalam DMF pada 250C. Oksigen Nukleofilik dapat bereaksi dengan pusat elektrofilik membentuk garam sulfoksonium.  Dimetilsulfoksida (DMSO)-Disikloheksil karbodimida (DCC) Dimetilsulfoksida dapat berfungsi sebagai pelarut maupun sebagai reaktan untuk berbagai substrat alkohol. Pridinium dikromat (PDC) Untuk mengeliminasi sifat asam dari PCC. Reaksi 1 bromooktana dengan DMSO dan NaHCO3 pada suhu 1000C selama 5 menit akan menghasilkan oktanol 74%. 30 . perbedaan yang cukup signifikan antara oksidasi terhadap alkohol Alifatik dengan oksidasi terhadap alkohol Alilik. akan mengasilkan Glioksal yang sesuai ( -ketoaldehida). maka digunakan pereaksi yang lebih netral. Oksidasi yang terjadi dalam keadaan netral ini ditunjukan pada reaksi dengan PDC yang menghasilkan produk Aldehida sebanyak 92%. namun senyawa tersebut bersifat kurang reaktif bila dibandingkan dengan -haloketon. e. Cairan alkohol sekunder dioksidasi lebih lanjut membentuk (-) pulegon. menghasilkan produk asam sebanyak 83%. akan menghasilkan 86% Sikloheksanon. Sikloheksanol bila dioksidasi dengan PDC dalam DMF pada 00C. yang dapat dikonversi menjadi keton atau aldehida pada keadaan netral. Sikloheksanol bila dioksidasi akan berlangsung sepuluh kali lebih cepat dari pada dengan PDC dalam diklorometana pada 250C. yaitu piridinium dikromat (PDC).

yangsekarang mengandung gugus pergi urea yang diikuti proses pengikatan belerang dan alkohol. Cara yang sering dilakukan untuk memisahkan disikloheksil urea adalah dengan mereaksikannya dengan asam oksalat. yang bersifat gugus pergi yang jelek. Proses ini menghasilkan senyawa yang mengandung belerang yang distabilkan oleh orbital d dari belerang. yaitu bila alkohol bereaksi dengan DMSO. Salah satu masalah yang timbul adalah pembentukan urea yang sangat sukar dipisahkan.17-dion. Campuran DMSO dan disikloheksil karbodiimida (DCC). Pada reaksi ini. menghasilkan garam sulfoksonium.1 Dimetil Sulfoksida ± Anhidrida Asetat Albright dan Goldman mengembangkan pereaksi oksidasi yang sejenis. Deprotonasi garam sulfoksonium merupakan proses intramolekul dan terjadi dengan basa yang kekuatannya menyerupai ion asetat. Tipe reaksi ini dikenal sebagai oksidasi moffat. Udara merupakan oksidator dan DMSO berfungsi sebagai pelarut. Sebagai contoh adalah konversi tertosteran menjadi androst -4-ena-3. Mekanisme oksidasi ini dikemukakan oleh moffatt dan merupakan reaksi pembentukan dan pemisahan disikloheksil urea yang sangat tidak larut. merupakan pereaksi oksidasi yang efisien untuk alkohol. DMSO dan anhidrida asetat digunakan untuk membentuk kompleks aktif sulfoksonium. oksigen dari DMSO harus menggantikan gugus hidroksil. produk karbonil dan dimetil sulfida dapat diperoleh. dan menghasilkan produk karbonil dan dimetil sulfida (yang berfungsi sebagai gugus pergi) Tipe oksida yang sejenis telah dilakukan. dan lepasnya proton bukan disebabkan oleh basa melalui reaksi intermolekul. Berdasarkan mekanisme tersebut. Seperti halnya dengan DCC. benzilik dan alilik alkohol dikonversi menjadi aldehida melalui proses merefluksnya dalam DMSO.-proton kemungkinan diperantarai oleh DMSO. udara merupakan pereaksi. 31 . yang kemudian bereaksi dngan Alkohol. dengan adanya katalis asam. Pelepasan atom hidrogen kelihatannya analog dengan mek anisme eliminasi Oksidasi Moffatt memiliki beberapa kendala. 4. Untuk mengoksidasi alkohol ³dengan DMSO´.3. dan sinamil alkohol dioksidasi menjadi sinamil aldehida dengan hasil 90%. Disikloheksil urea dilepaskan. Hasil interpretasi dari mekanisme ini menyatakan bahwa pusat karbonium pada senyawa belerang melepaskan -hidrogen secara intramolekul. DMSO mula-mula bereaksi dengan anhidrida asetat membentuk garam sulfoksonium. dengan gelembung udara melalui media. Dalam hal ini. DMSO bereaksi dengan DCC membentuk intermediet sulfoksonium.

52a. Cara Alternatif dan klasik untuk mengoksidasi Alkohol difokuskan pada reaksi yang dapat dibalik antara keton dan logam alkoksida.50.meskipun demikian oksida terhadap benzil alkohol menghasilkan benzaldehida sekitar 60 . namun masalah ini dapat diatasi dengan mengubah struktur logam alkoholat atau penerima hidroksida. Reaksi ini menghasilkan pembentukan aluminium alkoksida baru dan keton baru. pada reaksi oksidasi geraniol ini. Reaksi ini sangat efektif bila logamnya adalah aluminium.50. menjadi ³karbon keton´ seperti 4. yang bereaksi pada oksigen karbonil membenuk kompleks yang kekurangan elektron . yang menginisiasi oksidasi alkohol yang terikat dengan alkoksida pada 4. dan adanya aseton dalam jumlah berlebih akan mendorong reaksi kearah produk oksidasi. meskipunsikloheksana dalam larutan toluena atau silena juga sering digunakan.51 dan pembentukan keton baru (R2COR3 ). Pada umunya. aluminium pada kompleks alkoksida(4. 4. Seperti halnya 4. hanya menghasilkan 35% geranal (4. Upaya lainnya yang sering dilakukan yaitu dengan penggantian pelarut aluminium-t-butoksida.50. Dua reaksi samping yang umum terjadi adalah migrasi atau pergeseran ikatan rangkap non-terkonjugasi menjadi terkonjugasi. Oksidasi Oppenauer tehadap alkohol jenuh sering mengalami hambatan. Reaksi ini telah diterapakan pada sejumlah oksidasi.Oksidasi Oppenauer Dalam reaksi yang melibatkan kromium (IV) dan pereaksi DMSO.ah yang rendah. dalam proses reversibel.oksida oppenauer terhadap alkohol primer menghasilkan aldehid dalam juml. Alkohol di konversi menjadi sustu kompleks dan -hidrogen Akohol dapat dilepaskan seperti asam.bila titik didih aldehida 50 lebih tinggi dari pada produk yang di harapkan. maka aseton yang digunakan berperan sebagai pelarut dan aluminium triisopropoksida yang digunakan merupakan pereaksi.sedangkan oksidasi terhadap geraniol 4.49. Reaksi reversibel Alumina Alkoksida.48 dan 4. transfer hindrogen antara dua karbon alkoksil menghasilkan4. Keton awal (RCOR1 ) berperan sebagai penerima hidrogen.dan kondensasi produk aldehida dengan penangkap hidrogen karbonil(kondensasi aldol yang dikatalisasi oleh asam). Hidrogen Hadapat di transfer antara 4. Reaksi berlangsung melalui kompleks aluminium koordinasi(4. triisopoksida atau tri-n-propoksida. pertama kali ditunjukan oleh Verley dan Ponndorf pada reaksi keton dengan Aluminium Alkoksida.48 dan 4. melalui keadaan transisi enam-pusat. Sebagai 32 .48. jika tujuannya adalh mengoksidasi alkohol.49.kuinon digunakan sebagai penagkap hidrogen. Aseton (sering dengan benzena sebagai pendukung pelarut) sebagian besar digunakan sebagai penangkap hidrogen.52b).50 berada dalam keadaan kesetimbangan dengan alkoksida baru dan keton baru Jika keton asal (RCOR1) ditambahkan secara berlebih. maka kesetimbangan bergeser ke arah 4.Verley. kompleks ini kemudian mentransfer Hadari karbon alkoksida 4. streroid dan alkohol-alkohol sederhana. Perluh diperhatikan bahwa reaksi ini adlah kebalikan dri reduksi meerwein-ponndorf. maka produk aldehida dapat di pisahkan dengan cara distilasi.49 dan 4. yang kemudian dengan oksidasi Oppenauer.48) berfungsi sebagai asam lewis .49 yang berada dalam keadaan kesetimbangan. Pada tahun 1937. Oppenauer menerapkan reaksi ini pada oksida Alkohol Steroidal tak jenuh dengan menggunakan aluminium triisopropoksida (Al(OiPr)3 ) dan Aseton.49). Aseton berfungsi sebagai penerima Hidrogen. kompleks 4.

Penggunaan aluminium telah dikurangi kaena terjadinya reaksi samping. Reaksi ini menghasilkan aldehida yang sangat baik dari alkohol primer.52b) menggunakan aseton berlebih sebagai penangkap hidrogen. Mangan dioksida biasanya merupakan produk akhir dari oksidasi yang sangat kuat . Ishii menggunakan pereaksi siklopentadiental zirkonium (Cp2 ZrH2 ).Goodwin. Mekanisme Goldman ditunjukan pada reaksi benzil alkohol dan melibatkan 33 ¥ . oksidasi terhadap 3-metil geraniol(4. Reaksi ini di temukan oleh Ball. secara berturutturut.contoh. yang menghasilkan ikatan MnO(Mn2 ). menjadi aldehida dan keton. dan dapat menoksidasi alkohol menjadi keton atau aldehida. Oksidasi ini terjadi melalui kondensasi produk oksidasi aldehida. namun kekuatan pengoksidasinya sangat dipengaruhi oleh cara pembuatannya.(4. karena pereaksi tersebut dapat mengoksidasi alkohol primer dan alkohol sekunder. Oksidasi Dengan Mangan Dioksidan Mangan oksidasi(MnO2 ) umumya berbentuk Mn(IV) dan cenderung tidak larut dalam sebagian besar pelarut organik. dalam media netral. Penggunaan antara alkohol dengan penerima hidrogen yaitu 1:1. Goldman dan Hembert mengusulkan intermediet radikal pada oksidasi yang menggunakan mangan dioksida. yang ternyata merupakan katalisator yang efektif pada oksidasi oppenuer. Reaksi berlangsung melalui intermediat radikal.52a) menjadi -iron (4.53) menjadi retinena dengan hasil 80% Pereaksi ini dapat dibuat dengan beberapa cara. Salah satu cara yang umum meliputi pengendapan MnO2 yang berasal dari pemanasan MnSO4 dan KMnO4 pada PH tertentu. Mangan dioksida merupakan pereaksi yang penting dalam sistem senyawa organik. dan Martin ketika mereka mengendapkan mangan dioksida dan menggunakannya untuk mengkonversi vitamin A.

Transfer elektron kedua menghasilkan produk karbonil yang diserap pada Mn(OH)2 sehingga terjadi desorpsi pada produk dengan melepaskan air. nam keadaan un ini terjadi karena adanya sejumlah katalis ion nitrit Pereaksi dalam larutan asam sangat tidak stabil dan pada larutan yang berair pada pH>10 juga mengalami penguraian. untuk menyempurnakan oksidasi. (KO3S)2NO). Proses oksidasi dapat juga menggunakan sianida seperti pada konversi aldehidaterkonjgasi menjadi ester terlonjugasi. Faktor penghalang pada reaksi kadang-kadangf dapat memberikan hasil orto-Kuinon yang rendah. namun rashing membuat garam kalium yang lebih efektif dan menjadikannya pereaksi yang tetap menjadi pilihan. pereaksi ini dibuat oleh Fremy sebagai garam dinatrium. dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alilik sekunder. melipuuti oksidasi senyawa asal non-kuinoid. Kuinoid yang paling umum adalah 1. Kuinon Sturktur Kuinon terdapat dalam berbagai bahan dialam. Koordinasi ini diikuti transfer elektron yang menghasilkan radikal dalam proses yang disertai dengan reduksi Mn(IV) menadi Mn(III).4 (para) Kuinon (4.adsorpsi pada mangan dioksida. Oksidasi membutuhkan media netral.61) dan 1. reksi selanjutnya dengan pelarut alkohol (metanol) menghasilkan metil ester  Pembuatan Fenol Dan Dan Kuinon Selain oksidasi terhadap senyawa-senyawa hidroksi alifatik. Mangan dioksida mengoksidasi alilik dan benzil alkohol lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh.2 (Orto) Kuinon (4. Mekanisme sederhana untuk oksidasi telah diusulkan oleh Tenber. relatif terhadap para34 . relatif para Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto-kuinon yang rendah. ada banyak cara pembuatan Kuinoid.62). Senyawa turunan fenol bila dioksidasi menghasilkan Kuinon yang merupakan komponen penting yang terdapat secara luas dialam konfersi hidrokarbon aromatik menjadi fenol juga memungkinkan dengan cara oksidasi. cara Siklisasi dan cara Kondensasi Salah satu pereaksi yang paling umum digunakan untuk mengoksidasi turunan Fenol menjadi Kuinoid adalah Garam Fremy (Kalium Nitroso disulfonat. Kadang-kadang pereaksi bereaksi dalam keadaan yang istimewa dan terurai secara spontan. pelarut yang tepat. turunan aromatik yang mengandung ggus hidroksi (turunan fenol) juga dapat dioksidasi. ini merupakan sintesis utama terhadap penggunaan mangan dioksida. Pelarut yang umum digunakan adalah Alokohol yang berair dan asetat berair dan reaksi biasanya berlangsung dalam larutan bufer fosfat atau ufer asetat. kemudian berreaksi dengan MnO2 yang menghasilkan sianoketon. Corey menunjukan bahwa HCN/CN. mangan dioksida yang dibuat dalam keadaan baru diaktivasi. serta waktu reaksi lama. Reaksi berlangsung cepat dan dapat ditandai dengan hilangnya warna ungu dari radikal.bereaksi dengan aldehida terkonjugasi.

Cara lainnya telah dihasilkan oleh Undenfriend.83) melalui proses. Pereaksi ini memberikan hasil yang baik untuk turunan orto dan para -fenol dari fenilasetamid.77 V Reaksi peroksida sebagian besar meliputi pemutusan homolitik ikatan O-O. Fenol Pembuatan Fenol yang umum adalah dengan menghidrolisis garam-garam Diazonium. seperti pada konversi dikloroheksana menjadi 4. Biasanya produk utamanya adalah para-kuinoid. meliputi penggabungan suatu oksigen (Epoksida). Epoksidasi dari halohidrin Reaksi alkena dengan asam hipohalida (Cl2 H2 O  HOCl atau Br2 H2O  HOBr) menghasilkan trans atau anti halodrin sebagai hasil pokok. senyawa tersebut bila kemudian direaksikan dengan basa seperti natrium hidroksida. Hydrogen peroksida dan turunan monosubstitusinya dapat 35 . yang menghasilkan radikan bebas. Gugus fungsi lain yang dapat menjadi sasaran terhadap oksidasi meliputi ikatan pada alkena.). Reaksi dikembangkan dengan model untuk hidrolisasi biiogenik tiramin Versi yang lebih maju dari pereaksi ini yaitu menggunakan oksidasi anodik dengan adanya pereaksi Udenfriend.81. meskipun orto kuinon akan dibentuk bila kedudukan para dilindungi atau diblok. yaitu dengan menggunakan sistem oksigenion fero-asam askorbat dengan adanya EDTA (Pereaksi Undenfriend). Orientasi anti ini melepaskan halida yang akan menghasilkan sikloheksana oksida (4.77 V seperti yang di tunjukan pada reaksi berikut: H2 O2 2e. Terdapat sejumlah cara oksidasi yang berbeda yang dapat diterapkan pada alkena. Ekpoksidasi menggunakan peroksida Cara yang paling umum untuk mengkonversi alkena menjadi epoksida adalah menggunakan peroksida.Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto dari para dapat diikat. tiramin) dapat dikonversi menjadi campuran hidroksitiramin 21% () dan dihidroksi tiramin (DOPA. Peroksida marupak sumber ³elektrofilik oksigen´ dan bereaksi dengan nukleofilik ikatan dari alkena. dan dengan cara ini.82) yang merupakan anti terhadap boron yang berdekatan. penggabungan 2 oksigen (hidroksilasi) dan oksidasi pemutusan ikatan (umumnya menjadi turunan karbonil). akan menghasilkan alkoksida (4.2H ¦ 2H2O 1.  Konversi alkena menjadi Epoksida Oksidasi gugus C-OH menjadi gugus karbonil C=O telah dibahas. Hydrogen peroksida (H2 02 ) merupakan zat pengoksidasi yang kuat dengan petensial reduksi 1.

alcohol dari alkil hiroperoksida.93) yang mengalami epoksidasi selektif pada alkena yang tidk terkonjungsi.92. seperti 4.88).87). epoksidasi sikloheksenol dengan TBHP dan logam bersifat 36 .91 dengan t-butilhidroperoksida (TBHP) dan molybdenum heksa karbonil menyebapkan oksidasi selektif pada alkena trisubstitusi yang akan menghasilkan 4. yang menghasilkan oksigen yang bermuatan positif. dan pelepasan proton menghasilkan hasil samping (air dari hidrogen peroksida. O + R. Beberapa contoh reaksi epoksidasi Reaksi 4. Sebagai contoh. Pemutusan secara heterolik mentrasfer oksigen ke basa lewis (alkena).OH H O O R Gugus ±OH perasam bersifat elektrofilik dan pengikat pada ikatan rangkap alkena menghasilkan adisi syn dari oksigen epoksida .94. Hal ini ditujukan pada epoksidasi geranial (4.89) basa lewis (Alkena) berkoordinasi dengan elektrofilik oksigen dari peroksida.bereaksi dengan alkena. Pengaruh gugus tetangga mungkin terjadi bila ada gugus pengkoordinasi seperti pada alilik alcohol. Terdapat tiga kelompok utama peroksida yang digunakan untuk epoksidasi:hidrogen peroksida (4. Alkena yang kekurangan electron bersifat kurang reaktif.90. alkil hidroperoksida (4. dan asam karboksilat dari peroksi asam). dan menghasilkan 4. dan peroksida asam (4.

95. epoksi alcohol 4.104. 4.4 peroksi asam organic Mungkin cara yang paling umum untuk epoksidasi alkena sederhana kemungkinan adalah dengan peroksi asam.6.4.102 dengan t-butil hidroksida dalam larutan basa menghasilkan produk yang baik. meliputo peroksi format. yang dikenal sebagai reaksi prilezheav (prileshajew). maka pengru penghalang akan menghasilkan anti-hidroksiepoksida (4. di mana enolat anion menggeser gugus hidroksi yang kemudian menghasilkan epoksida. Tidak diragukan bahwa reaksi ini berlangsung melalui intermediet seperti 4. reaksi yang sejenis. seperti pada reaksi akrilonitril yang menghasilkan 4.trifluoroh.101.98) dengan hasil 72 . pada umumnya. 4. Peroksi asam seperti 4.97) dikonfersi menjadi epoksida yang sesuai (4.Peroksida bereaksi pada media basa menghasilkan produksi anion yang bereaksi dengan turunan karbonil terkonjungsi pada C terminal adisi-1. sejumlah peroksi asm dapat diperoleh dalam perdangangan. Hidrogen peroksida dalam basa dapat mengkonferesi nitril manjadi epoksi amida.95 bersifat dominan.peroksi asetat dan meta-kloroperoksibensoat (mCPBA.103).100. Sebagi contoh. yaitu epoksinitril (4. adisi konjungsi ).sangat selektif untuk epoksi alcohol. jika reaksi berlangsung tanpa pengaru gugus tetangga.96) sebagai produk utama. hidrogen peroksida bereaksi dengan basa menghasilkan hidroperoksida anion (HOO-) dan mengadisi keton takjenuh aldehida dan ester. Isoforon (4.yaitu kearah pembentukan 4. asam-asam kuat seperti asam format dan asam trifluoroasetat berguna karena dapat menggeser kesetimbangan kearah kanan.peroksi bensoat.106) dengan mCPBA dalam karbon petraklorida 37 .4.104 dibuat dengan mereaksikan asam karboksilat dengan hidrogen peroksida.kenyataannya. dengan gugus hidroksi syn terdapat pada epoksi 4. yang mula-mula melalui pembentukan 4.99.105) Contoh epoksidasi alkena adalah konfersi siklupentena manjadi siklopentena oksida (4.

Pembukaan cincin epoksida dengan asam Pembukaan cincin epoksida dapat dilakukan dengan pereaksi asam atau basa. reaksi dengan asam peroksi bensoat mengunakan natrium bensoat dan natrium trifluoroh asetat digunakan dengan asam trifluorohperoksi asetat.R 2C = CH2 :500. 1. Jika asam triflouorohperoksi asetat (CF3CO3 H) digunakan sebagai zat pengoksidasi. asam ini cukup kuat untuk mengkatalisis penataan ulang atau reaksi lain terhadap produk epoksida. karna dibutukan pengunaan peroksi asam yang kuat seperti asam trifluoroh peroksi asetat meskipun mCPBA juga efektif. namun asm peroksi bensoat lebih efektif. tri dan tetra tersubstitusi segera terepoksidasi dengan asm peroksi alkanoat maupun dengan asam peroksi bensoat. Contohnya.RCH = CHR :500. Penambahan garam asam (RCO2.R2C ± CHR :6500. Jika molekul mengandung dua alkena. RCH = CH2 : 24. maka alkena yang lebih tersubstitusi akan lebih cepat terepoksidasi.okan membentuk koordinasi yang kemudian terjadi pelepasan asam karboksilat dan pembentukan epoksida. atau dengan buffer hidrogen fosfat dinatrium.N ) pada media reaksi biasanya akan menyangga reaksi dan mencegah terjadinya reaksi samping.Alkena yang lebih banyak tersubstitusi merupakan alkena yang kaya electron dan bereaksi lebih cepat dengan peroksi asam dari pada alkena yang kurang tersubstitusi. Memberikan epoksida tetrasubstitusi dengan mCPBA reaksi ini ditunjukan oleh ptattier dan teisseir pada y -bisabolena. asam trifluoroh asetat (CH3CO2 H).4 ± siklopheksanadiena. Pada umumnya. mCPBA marupakan peroksida yang bagus untuk sebagian besar alkena. dimana diena dikonversi secara selektif menjadi epoksida.2 ± dimetil ± 1. yaitu alkena dan elektrofilik peroksi oksigen. dan R2C = CR2 >> 6500).maka hasil sampingnya adalah asam organic kua. Sebagai hasil samping adalah asam karboksilat. Natrium dan kalium asetat digunakan sebagai penyangga. Epoksi ester seperti dapat dibentuk dari ester terkojugasi seperti etil 2 ± bensoat dengan menggunakan mCPBA atau asam trifluoroh asetat. Sebagai contoh. laju relative epoksi naik berdasarkan karakter nuleofilik alkena (CH2 = CH2 mempunyai luju relative 1. Adanya larutan penyangga (buffer) menjadi penting padaepoksidasi dengan peroksi asam.Kemungkinan reaksi yang berlangsung melalui mekanisme penggabungan. Selain itu. Pembukaan Cincin Epoksida a. Ikatan rangkap dua. Epoksidasi terhadap alkena monosubstitusi biasanya kurang reaktif. Pembukaan cincin epoksida dengan suatu asam H-Nu dapat dinyatakan sebagai berikut: § 38 . dapat digunkan kalium atau natrium atau kalium hidrogen fosfat.

Langkah pertama adalah pengikatan basa neuklofil pada cincin epoksida dan langkah kedua adalah protonasi terhadap ion alkosida yang dihasilkan dari langkah pertama.Oksiran juga dapat bereaksi dengan asam halide HX.Pembukaan cincin epoksida dapat terjadi melalui dua langkah reaksi. Pembukaan cincin epoksida dengan basa Pembukaan cincin pada epoksida juga dapat dilakukan juga dengan basa. Reaksi pembentukan epoksida eengan basa terjadi melalui dua tahap reaksi. Langkah 1. dimana X dapat berupa Cl. dan reaksi dapat dipandang sebagai reaksi adisi yang dilanjutkan dengan protonnasi. Br atau I yang menghasilkan halohidrin. Oksiran yang direaksikan dengan asam dalam pelarut air akan menghasilkan etilen glikol yang umumnya disebut glikol. Pengikatan ±OH pada cincin epoksida Langkah 2. yaitu protonasi terhadap oksigen dan pengikatan nukleofil pada ion oksonium. Reaksi ion alkoksida dengan H2 O 39 .

karena keadaan transisi akan melalui struktur yang kurang terhalangi. pengikatan nukleofilik pada karbon epoksida bergantung pada kondisi asam dan basa. Kondensasi asam m Kondisi basa Nukleofil akan terikat pada karbon yang mengikat jumlah alkil yang paling banyak sesuai dengan aturan Pada umumnya pembukaan cincin epoksida pada kondisi basa terjadi dengan pengikatan nukleofil pada atom karbon yang tidak tersubtitusi. 40 . polietilen glikol dimanfaatkan sebagai foam rubber dan fase diam pada kromatografi gas (disebut carbowax). Orientasi adisi terhadap epoksida pada kondisi asam vs basa Pada epoksida yang tidak simetris. Misalnya.Reaksi pembentukan cincin epoksida dengan basa sering diguakan dalam pembuatan polimer.

Bubur LiAlH 4 dapat mereduksi semua gugus fungsi organik terpolarisasi. keton. Litium hidrosida. dan gas hydrogen. PENGERTIAN REDUKSI Proses reduksi didefenisikan sebagai konversi suatu atom dari tingkatan oksidasi yang lebih tinggi ketingkat oksidasi yag lebih ranadah (III ke II. IV ke II. ester. dan reduksi terhadap propanil menjadi butanamina. Reduksi dengan Hidrida Kompleks Logam B. imida. Pereaksi ini stabil pada suhu kamar. tetapi beraksia dengan hebat pada keadaan lembab / mengandung uap air. dan aluminium hidrosida.2 Reduksi terhadap senyawa KarbonilL Litium Aluminium Hidrida cepat mereduksi sebagian besar senyawa karbonil. amida. lakton .BAB V REAKSI REDUKSI A. dan laktam. ¨ 41 . karbamat. klorida asam. Pereaksi LiAlH4 dengan adanya asam/basa dapat bereksi dengan hydrogen yang bgersifat asam. B. seperti reduksi 2butanon menjadi 2-butanol. yang Litium hidrida merupakan salah satu pereduksi yang dikenal untuk substrat organic yang mengandung gugus pergi dapat terpolarisasi.pada Al) ke karbonil elektrofilik (relatif terpolarisai pada oksigen).1 Reduksi dengan Litium Aluminium Hidrida (LiAlH4) LiAlH4 dibuat dengan mereaksikan LiH dan AlCl3 . seperti pada transformasi RCH=NH menjadi RCH2NH2. asam karbosilat. meliputi aldehida. atau II ke I). LiAlH4 4H2 O 4H2 O LiOH Al(OH)2 H2 Litium aluminium hidrida memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut eter dan mempunyai kecenderungan membentuk bubur bila jumlah pereaksi yang di gunakan relatif besar. Proses reduksi oleh LiAlH4 dimulai dengan metransfer hidrida nukleofilik (relatif terpolarisasi . alcohol atau amina dan menghasilkan gas hydrogen dengan merusak sifat aktif hidrida. Pengertian lainnya pada reduksi senyawa organic adalah adisi hydrogen terhadap molekul. anhidrida asam. B.

58 dalam sintesis driman-8-ol.54 menjadi alcohol 5. tetapi kadang ± kadang menggunakan aluminium klorida jenuh dan asam klorida encer.57 dan 5.Reaksi keseluruhan meliputi protonasi asam aloksida dan reaksi pada aluminium terjadi pada media masa. Namun demikian kadang ± kadang Epoksida memberikan produk dimana transfer Hidrida berlangsung kearah karbon yang lebih tersubtitusi. LiAlH4 mentransfer hidrida kekarbon epoksida yang kurang terhalang. karena pada aldehida factor penghalangnya kecil selama ter jadi transfer hidrida ke karbon karbonil. Dalam bnayak hal. Contohnya adalah reduksi 5.56 menjadi campuran 5. produk utama reduksi diastereomer timbul akibat transfer hidrida ke permukaan yang berpenghalang kecil.55 dengan hasil 95%. Pada umumnya. kecuali bila terdapat pengaruh adanya koordanasi atau khelat khusus. seperti yang di tunjukkan pada 5. Reduksi aldehida berlangsung lebih cepat daripada terhadap keton. 3 Reduksi terhadap gugus fungsi hetereton kecuali karbonil Epoksida segera dapat dibentuk dari alkena atau dari keton dan aldehida. titrasi atau penambahan dengan air sudah cukup untuk melepaskan alcohol. B. 42 . Salah satu sifat penting pada reduksi karbonil dengan LiAlH4 adalah reaksi yang bersifat diastereoselektif.

mereduksi aldehida. Ce) LiBH4 yang dibuat dengan mereaksikan natrium borohidrida dan litium bromida. Zn. LiBr LiBH4 NaBr. Senyawa nitril umumnya dibentuk berdasarkan reaksi subtitusi SN2 sianida dengan alkil halida atau sulfonat ester atau berdasarkan reaksi dehidrasi terhadap amida. imin. tetapi juga mereduksi epoksida ester dan lakton. C. keton. LiBH4 tidak hanya mereduksi Aldehida.1 Natrium Borohidrida (NaBH4) NaBH4 merupakan pereaksi yang sangat selektif. NaBH4 43 . Reduksi dengan Borohidrida C. dan klorida asam dengan adanya gugus fungsi yang lain yang dapat direduksi.Nitril digunakan secara umum sebagai senyawa awal (prekursor) untuk transformasi banyak gugus fungsi dan reaksi pembentukan ikatan karbon. Salah satu penggunaan NaBH4 yang penting. merupakan zat pereduksi yang lebih kuat daripada NaBH4.2 Logam borohidrida (Li. dan klorida asam saja. Selektivitas ini disebabakan oleh menurunnya kekuatan pereduksi realatif terhadap LiAlH4. keton. terutama pada sintesis alkaloid adalah mereduksi enamin. dan garam iminium. C.

asam. Boran aluminium dan turunnya d.1 Boran 6 LiH 8BF 3 O(C2H5)2 B2 H6 6 LiBF 4 4 BF3O(C2 H5)2 2 B2 H6 3 NaBF4 3 NaBH4 Boran dan turunannya tetap merupakan pereaksi pilihan untuk reaksi. lakton.C. Super hidrida mengikat pusat ± pusat elektrofilik pada sisi yang factor penghalangnya renadah.3 Super Hidrida Super hidrida lebih kuat daripada LiBH4 dan kemungkinan merupakan nukleofil hidrida yang pernah ada. Boran mereduksi ester sangat lambat dan keton atau aldehida direduksi secara selektif dengan adanya ester. c. Perbedaan utama dalam reaktivitas antara boran dan pereaksi hidrida logam adalah bahwa Borann merupakan asam Lewis yang bagus dan mengkoorddinasi atom ± atom yang memiliki kerapatan elektron yang sangat tinggi. seperti pada reduksi 1. Diboran biasanya dihasilkan dari pereaksi BF3 O(C2H5 ) dengan LiH atau dari reaksi NaBH4 dan BF3. 44 . keton. D. Diboran kurang efektif ungtuk mereduksi ester dan boran (BH3. monomer takstabil yang membentuk diboran) bereaksi dengan alkena dalam pelarut eter membentuk basa Hidroborasi. 4 Penggunaan zat pereduksi Hidrida dikatakan paling baik adalah pereaksi yang memberikan hasil paling tinggi dengan reaksi samping paling sedikit. amida tersier dan nitril.metal-1. 2epoksisikloheksana menjadi metal 1-metilsikloheksanol dngan hasil 99%. Diboran (B2 H6) merupakan zat pereduksi penting untuk aldehida.

Boran digunakan untuk mengkonversi asam -amino menjadi alcohol amino seperti pada reaksi fenilalanin menjadi fenilalkohol dengan hasil 77%. Sifat yang mudah terbakar dan sukarnya menangani boran memungkinkan pengembangan sejumlah kompleks basa lewis yang mudah digunakan. d. ester. Turunan alkil yang paling banyak digunakan adalah diisobutil aluminium hidrida ([(CH3)2CH2 ]2 AlH4. Salah satu yang lebih sering digunakan adalah kompleks boran dimetil sulfide (H3 B. Dibal) yang dibuat dengan merefluks triisobutil aluminium dalam heptana.Penggunaan boran yang paling luas adalah reduksi yang selektif terhadap asam karboksilat. Campuran hidrida yang paling umum adalah Cl2 AlH dan Cl2 AlH2. Pereaksi ini sangat larut dalam sebagian besar pelarut organik. 2 Aluminium Hidrida Boran (BH3 ) merupakan asam lewis seperti halnya borohidrida (BH4-). Senyawa yang diperoleh berupa cairan piroforik 45 . termasuk benzene dan toluene. nitril dan keton. aluminium hidrida (AlH3): 3LiAlH4 AlCl3 4 AlH3 3 LiCl Aluminium hidrida yang dibuat dengan cara ini tidak selalu murni. tergantung pada proporsi LiAlH4 dan AlCl3.S(CH3 )2).mempunyai analog sebagai elektrofil. meskipun dengan adanya halide..3 Diisobutil aluminium Hidrida pembuatan alkil ³alana´ yang analog seperti alkilboran. d. karena campuran kloroaluminium hidrida dapat terbentuk. Hal yang sejenis AlH4 .

Jika 5. hal ini di kaitkan dengan muka atau permukaan molekul yang akan didekati oleh pereaksi selama reaksi berlangsung. Karena kedua muka mempunyai kesempatan yang sama untuk pengikatan. maka akan diperoleh enantiomer S. maka akan dihasilkan enatimer R. maka pusat khiral akan terjadi pada produk yang dihasilkan.121 (dan enantiomernya 5. yang direduksi menjadi 2-pentanol. Kenyataan bahwa keton 5. seperti fenil magnesium bromide. maka diperoleh alcohol 5. yang diikuti dengan oksidasi. sedangkan jika pendekataan dari muka yang berlawanan.120 dengan boran seperti 9. Reaksi alkena 5.BBN (9-boran ±siklo [3.119).120 tidak mengandung pusat khiral. Contoh sederhana adalah 2 ± pentanon. akan menghasilkan alcohol 5.122) E. tetapi bila molekul tersebut bereaksi dengan suatu pereaksi. Jika pendekatan pereaksi dari satu muka. 46 .118 dan enantiomer (5.2 Khiral aditif pada system asiklis Aspek utama reduksi hidrida adalah stereokimia reduksi seperti yang ditunjukan pada Tabel 5. Stereoselektivitas pada reduksi Hidrida E. apakah pereaksi tersebut akan menghasilkan enantiomer Ratau S.2. maka produk alcohol adalah rasemik.E.117 bereaksi dengan pereaksi Grignard. Di sini di cermati adalah pereaksi yang digunakan.117 dan alkena 5. Karbonil merupakan pusat prokiral karena adisi hidrida dari kedua muka karbonil (a atau b) menghasilkan pusat stereogenik.1 Pusat ± puast prokhiral Ada molekul ± molekul yang tidak memiliki pusat khiral.31]-nonana).

137.135b). Reaksi membutuhkan sejumlah katalis logam transisi agar reaksi dapat terjadi. Tidak didukung= reaksi terutama dalam larut. seperti pada reaksi 5. Senyawa 5.3 Selektivitas pada reduksi turunan karbonil yang mengandung karbon khiral Jika pusat prokhiral terdapat pada molekul yang mengadun g satu atau lebih pusat khiral. pada system asiklis seperti contoh tersebut tidak mungkin memiliki konformasi tunggal.136. yaitu ketika Sabatier mengembangkan reaksi antara hydrogen dan senyawa organic yang kemudian menjadi model reaksi universal (Nobel prize.Heterogen = katalis tidak larut dalam media reaksi 2.134 mengandung pusat stereogenik.136 mempunyai pusat stereogenik yang berdkatan dengan karbonil.136. 1912) F. Reaksi dengan zat pereduksi dapat mempengaruhi konformasi sehingga memberikan sifat diastereoselektivitas. dan reaksi berlangsung dengan penyerapan hydrogen dan substrat dipermukaan logam.homogen = katalius larut dalam media reaksi Hirogenasi heterogen mempunyai dua bentuk: 1.134 dan 5.138 Jika konfirmasi 5.E.135a dan 5. yangb merupakan rasemik. Pada 5.137 dan pendekatan melalui muka yag lebih terhalang (³muka metal´. Reduksi terhadap senyawa ini tidak lebih seperti pada reduksi keton yang tidak memiliki pusat khiral. Hidrogenasi Katalik Reduksi gugus fungsi dengan gas hydrogen merupakan salah satu reaksi yang penting dalam kimiia organic.1 Aktivitas dan Reativitas Katalik Metode ini berkaitan dengan adisi gas hydrogen pada molekul organic. dan pengaruh khiralitas akan berpengaruh pada pendekatan pereaksi yang akan menyerang. 47 . dan hasil yang diperoleh adalah campuran 1 : 1 diastereomer syn dan anti (5. pendekatan melalui sisi sebelah atas ³muka hydrogen´(muka si) akan menghasilkan n5. Terdapat dua tipe utama katalis 1.136 tetap seperti konformasi yang terlihat. Pereaksi akan mendekati dari muka yang mengikat halangan yang palin kecil. tetapi pusat tersebut terlalu jauh dari pusat prokhiral yang mempunyai pengaruh atas reduksi pada prokhiral. maka reduksi menghasilkan diastereomer. F. keton 5. Didukung = proses dalam bentuk bubur dan bekerja dalam keadaan gel tetap 2. Namun kenyataannya. Hidrogenasi etana menjadi etana pertama kali dilakukan oleh van Wide pada tahun 1875. muka re)akan memberikan 5. maka hasil yang akan diperoleh sangat cenderung pada 5. Namun demikian. Penggunaan hidrogenansi katalik secara luas dilakukan setelah tahun 1897.

Tipe atom terrace (A) kekhasannya mempunyai delapan atau Sembilan tetangga dan ditunjukan secara geometri seprti 5. Hudliky mengemukakan urutan reakstivitas relative terhadap propena untuk katalis logam transisi golongan VIII. Pengertian tersebut mengacu pada tipe ± tipe ataom yang berbeda. yang di tandai dengan jumlah atom tetangga yang terdekat. dan rutheum. Alkena juga terikat pada permukaan logam (5. nikel.174). step dan kink pada permukaan katalis heterogen. yang diikuti dengan berlansungnya reaksi dengan transfer hydrogen ke karbon (5. Dalam beberapa hal. tingkat reduksi dan distribusi produk. rodium.2 Reduksi Alkena dan alkuna Reaksi dengan alkena berlangsung diatas permukaan katalis heterogen logam. Pada proses terlihat 48 . Tipe atom step (B) biasanya mempunyai tujuh tetangga dan dapat digambarkan dengan struktur 5.170.172. tipe atom kink (C) mempunyai enam tetangga dan dinyatak seperti 5. Rh > Ir > Rn > Pt > Pd > Ni > Fe > Co > Os Pada urutan tersebut. Maier menggambarkan adanya tipe ± tipe atom terrace. iridium. Variabel pertama dalam hidrogenasi katalik adalah katalis. bergantungf pada sifat dan jumlah katalis maupun tipe prosedur hidrogenasi yang digunakan. palladium. rodium merupakan katalis yang paling aktif. akhirnya. Katalis ± katalis tersebut digunakan untuk mereduksi banyak gugus fungsi .171. melalui pemutusan molekul hydrogen dan penyusunan atom ± atom hydrogen. Katalis yang sebagian besar digunakan adavlah platian.173). garam ± garam logam transisi sering digunakan daripada logamnya sendiri. yang didasarkan pada pekerjaan yang dilakukan oleh Mann dan Lien.Gugus fungsi yang direduksi.175) Mekanisme yang pasti dari katalis heretogen belum diketahui karena proses tersebut mmerupakan fenomena yang terjadi di permukaan. tidak ada katalis tunggal yang memberikan hasil yang lebih bagus untuk semua gugus fungsi. Katalis heterogen merupakan suatu perwujudan permukaan dan karena itu dikenal terdapat beberapa perbedaan tipe partikel ± partikel logam di permukaan. Gas hydrogen dipecah menjadi atom ± atom hydrogen yang terikat pada nikel (dinyatakn 5. F.

Redukski fenol mula ± mula menghasilkan enol. tetapi dapat direduksi dengan katalis heterogen seperti platina oksida (PtO2.4 Reduksi aromatic dan Hidrokarbon Heteroaromatik Contoh yang paling sederhana adalah reduksi benzene menjadi sikloheksana yang membutuhkan kondisi suhu dan tekanan tinggi. Urutan relatif untuk reduksi naftalena menjadi tetralin adalah Pd > Pt > Rh > Ir > Ru Rodium mula.memutus ikatan H ± H yang menghasilkan spesies logam ±H (H*). tetapi tidak dapat mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada barium sulfat atau alumina Al2 O3. kecuali jika menggunakan katalis rodium.187. Rylander memberikan urutan berbagai katalis untuk mereduksi benzene. seperti pada reduksi 5. maka hidrogenasi katalik dapat dipersulit oleh reaski samping. tetapi senyawa ini tereduksi lebih lanjut menjadi dekalin (5. Contohnya 5.202 yang akan menghasilkan reduksi sempurna pada semua ikatanmenjadi 5. Cincin siklopropana tidak dapat direduksi dengam katalis Lindlar.185 pemecahan secara reduktif cincin siklopropana berlangsung lebih cepat daripada reduksi keton.3 Hidrogenasi senhyawa ± senyawa karbonil Bahwa pada reduksi 5. Platinum mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada karbon atau kalsium karbonat. dengan perbandingan 10 : 82.186 dan 5.205 dengan adanya hydrogen berlebih. tetapi senyawa ini dikonversi menjadi sikloheksanon atau turunan sikloheksanadion. yaitu sbb: Rh > Ru >> Pt > Pd >> Ni > Co Rodium dan ruthenium digunakan jika menghindari hidrogenolisis. dan 5.200. Bila cincin aromatic tersubtitusi. F. F. Reduksi Logam Terlarut 49 .201).200 merupakan konstituen kecil dari campuran produk akhir.185 direduksi dengan katalis adams menghasilkan campuran 5. disebut katallis adams).mula mereduksi naftalena menjadi 5. G. dimana hydrogen diserap pada situs aktif dipermukaan katalis.

H. Penggabungan radikal aseton seperti yang dinyatakan diatas ditunjukan pada konversi 2. Ketil dapat mengaloami penggabungan radikal .NR ± C = O dengan satuan O = C ± NHNH ± C = O. Proses ini di kenal dengan reduksi Wolf ± Kishner.215 Paling tidak ada dua tipe produk reaksi yang dihasilkan oelh ketil yang berasal dari aseton. sedangkan reaksi yang terakhir berupa reduksi. Hidrazin hidrokarbon (N2 H5 HCl) sangat efektif untuk mereduksi khususnya keton yang mempunyai penghalang. Hidrazin juga digunakan untuk mengkonversi alkil ptalimida menjadi alkilm amina dengan mengantikan satuan O = C. menghasilkan anion radikal (disbut ketil). yaitu bentuk radikal karbon dan bentuk karbanion (5.220) dengan hasil 68%. Salah satunya adalah reduksi dengan hidrazin Dalam keadaan basa.diol (5. intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepakan proton dari pelarut yang bersifat basa. Pada keadaan yang serupa. ikatan pada 2-butuna menangkap electron yang dihasilkan dari eletrolisis membentuk anion radikal seperti 5. intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepaskan proton dari pelrut yang bersifat asam.1 Reduksi Elektrofilik Reaksi reduksi dari logam ± logam alkali melibatkan transfer elktron tunggal dan dapat dilakukan pada sel elektrolitik. reaksi ini sering disebut sebagai prosedur Ing ± Maske 50 . elektron ditransfer kekarbonil.218) menjadi 1.214).2. Reduksi Nonlogam Terdapat sejumlah cafra untuk mereduksi gugus fungsi organic yang menggunakan pereaksi nonlogam.asetilpiridin (5. Contohnya elektrolisis aseton. dan menghasilkan produk yang tereduksi. Terdapat dua bentuk kanonikal ketil inn.G.

Ini merupakan reaksi berlawanan regioselektivitas keseluruhan terhadap adisi selektif pada reaksi kationik.) 5. reaksi adisi kation dan radikal menghasilkan intermediet reaktif. dan produk adisi ditentukan oleh stabilisasi relatif dari intermediet.1.BAB VI KONTROL STEREO DAN PEMBENTUKAN CINCIN 6. Reaksi radikal ini berlangsung dengan baik hanya untuk adisi HBr dan tidak untuk HCl atau HI. Reaksi adisi lain yang berlangsung dengan orientasi anti-Markonikov adalah adisi HBr pada alkena dengan adanya peroksida.1 Selektivitas Markonikov/ anti markonikov Reaksi khas yang menggambarkan adisi markonikov adalah reaksi HBr dengan 2-metil 2-butena yang menghasilkan 2-bromo 2-metil butana. yang biasanya digunakan untuk suatu usaha menghasilkan satu diastereomer sebagai produk utama dari reaksi. Reaksi ini menghasilkan radikal karbon yang diperoleh mula-mula dari adisi radikal brom pada alkena.1 Kontrol Stereo pada Sistem Asiklis. maka pengubahan pada mekanisme reaksi harus terjadi. Reaksi adisi tipe radikal akan berlangsung dengan bentuk anti±Markonikov. kemudian diikuti reaksi dengan HBr. Jika reaksi menghasilkan karbokation. yang menghasilkan alkohol pimer.) 2. Radikal brom dibentuk berdasarkan pemecahan hormolitik dari peroksida yang ditambahkan. Reaksi pada molekul asiklis dapat menghasilkan diastereomer dan pengertian ³penontrolan stereokimia´. setelah oksidasi terhadap intermediet alkil boran.) Selektivitas markonikov atau anti markonikov Retensi atau inversi konfigurasi Selektivitas cis-trans Selektivitas syn-anti Pengaruh khelasi heteroatom.) 3. Karena brom pertama tama megadisi alkena yang menghasilkan radikal tersier yang lebih stabil. Usaha ± usaha untuk mengontrol stereokimia yang penting meliputi: 1. Radikal yang terbentuk distabilkan oleh efek elektronik tiga gugus alkil daripada alternatif radikal primer.maka hidrogen ditransfer pada radikal tersebut. Pengotrolan adisi Markonikov vs anti-Markonikov dapat diprediksi dengan pengontrolan jalur mekanistik adisi. 6. Jika diinginkan adisi anti-Markonikov.) 4. maka orientasi Markonikov pasti dihasilkan. Pada umumnya. Reaksi adisi anti markonikov yang khas adalah adisi boran pada alkena. Reaksi dengan HBr menghasilkan bromida primer dan menghasilkan radikal brom yang lain pada langkah propagasi rantai. 51 .

yang dapat diganti dengan nukleofilik seperti azida dan ada hasil. b Metode lain selain reaksi Mitsonobu juga dapat dipeoleh untuk menghasilkan stereokimia. dengan retensi konfigurasi secara sempurna. dengan kontrol sempurna pusat stereogenik. antibiotik karbapenam.maka tipe S 2 menjadi mungkin N dengan inversi pusat stereogenik tersebut. Gugus amino dapat diubah menjadi gugus fungsi yang lain.1. yang dilakukan oleh Salzmann.2. 52 . 6. Metode lain untuk mengkonversi atau mengontrol stereokimia ditunjukkan pada konversi D-manitol menjadi (R)-ephiklorohidrin atau (S)-ephiklorohidrin. Retensi vs Inversi Konfigurasi Contoh sederhana untuk menginversi pusat stereokimia adalah mengkonversi gugus fungsi menjadi gugus fungsi lainnya. Contoh sederhana proses ini adalah konver i (S)-2s pentanol menjadi tosilat yang sesuai.Reaksi HBr dengan 2-metil-2-butena yang menghasilkan 2-bromo-2-metilbutana. Jika alkohol dikonversi menjadi turunan dengan ikatan C ± O lemah serta adanya kecenderungan yang besar untuk terjadinya penggantian . Reaksi ini diambil dari sintesis tienamisin. Reaksi ini diamati pertama kali oleh Walden. Ini merupakan metode efektif untuk menginversi pusat stereo dengan pengikatan gugus fungsi yang ber eda. Proses ini biasanya melibatkan alkohol atau substrat amina. Reaksi asam amino dengan Natium Nitrit (Na2NO2) dan Kalium Bromida (KBr) menghasilkan asam -bromo. Kontrol stereokimia diperoleh dengan memanipulasi perbedaan -perbedaan pada reaktivitas. dengan hasil retensi konfigurasi secara sempurna. Konversi yang menarik adalah transformasi NH2 Br.

dengan mengubah basa atau kondisi reaksi lain.4. Rekasi lain di mana syn dan anti diastereomerdapat dibentuk. pengertian utama terhadap perbedaan dua mekanisme reaksi tersebut memungkinkan pengontrolan geometri cis-trans produk akhir. Produk-produk akhir dari serangkaian reaksi ini adalah syn diastereomer dan anti diastereomer. Pada contoh ini. Keadaan yang berlawanan. yaitu pada contoh konversi alkena menjadi 1.Contoh pengontrolan konfigurasi pusat khiral adalah konversi alkohol sekunder khiral menjadi klorida sekunder yang sesuai dengan tionil klorida 6.2diol. Selektivitas syn-anti Reaksi enolat yang dibicarakan sebelumnya merupakan contoh yang baik tentag kemampuan untuk mempengaruhi atau mengontrol distereoselektivitas.3.1. 53 . Sekali lagi. reaksi alkun dengan logam alkali akan menghasilkan trans-alkena. yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida (atau dangan nukleofil oksigen lain). Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena.Metode untuk menghasilkan diol secara stereoselektif dimulai dengan epoksida. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena. Selektivitas cis-trans Kontrol pada geometri cis-trans telah ditunjukkan pada reduksi alkuna engan hidrogenasi katalitik atau dengan logam alkali. 6. tetapisatu yang perdominan. syn diol dibentuk melalui pelepasan nukleofil hidroksida dari sisi belakang ke karbon yang kurang terhalang.1.

Keadaan ini dapat ditunjukkan pada reaksi alkohol alilik khiral dengan asam peroksi.terutama terhadap molekul siklis. Dalam beberapa hal.Hasil yang diperoleh adalah syn-diol. Kecenderungan terjadinya khelat heteroatom tegantug pada pereaksi yang digunakan. Koordinasi dengan oksigen dan pelepasa oksigen elektrofilik dari sisi tersebut menghasilkan alkohol epoksi.pengikatan alkohol alilik pada logam adalah penting untuk pelepasan oksigen elektrofilik dan juga untuk pengontrolan orientasi alkena relatif terhadap agen epoksidsi.5. Khelasi Heteroatom Salah satu faktor utama untuk mengontrol distereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga (pengaruh gugus tetangga). Salah satu faktor utama untuk mengontrol diastereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga. tetapi litium aluminium hidrida menunjukan selektivitas yang kurang. Adisi pada ikatan tersubtitusi menghasilkan 54 .hal ini disebabkan oleh koordinasi yang lemah dengan heteroatom.1.mungkin mengontrol pembukaan cincin epoksida. Sukar untuk memisahkan pengaruh regiokimia (cara adisi) dan pengaruh retensi dibandingkan inversi dan isomerisasi cis-trans pada molekul-molekul siklis. Epoksidasi asimetris Sharples memanfaatkan selektivitas yang timbul dari koordinasi dengan alkohol alilik oleh penambahan agen khiral untuk mengontrol selektivitas. dan retensi atau inversi konfigurasi. Zink borohidrida mengadakan koordinasi yang sangat kuat dengan heteroatom.2 Kontrol Stereo pada Sistem Siklis Cara untuk mengontrol regiokimia Markonikov dan anti-Markonikov.seperti pada reaksi 1 fenilsikloheksena oksida dengan hidroksida. 6. pada dasarnya sama seperti pada sistem asiklis. Metode untuk menghasilkan diol secara streoselektif dimulai dengan epoksida yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida 6.

Hal ini disebabkan sifat termodinamika reaksi dan persyaratan elektronik bahwa kedudukan gugus pergi anti terhadap hidrogen yang dilepaskan. dimana yang lebih menguntungkan adalah produk yang kuran tersubtitusi. Penambahan pada halida dengan kalium-t-butoksida dalam t-butanol menghasilkan antieliminasi. Namun demikian. Sebagai contoh. 1-bromo-1-metilsiklopentana. 6. Efek yang sama terjadi pada halida siklis seperti cis-2-1. reaksi HBr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markonikov yang menghasilkan tersierbromida. dan membentuk alkena yang lebih banyak tersubtitusi.2. hidroborasi metilsiklopentena menghasilkan produk utama anti Markonikov karena untuk adisi dibutuhkan keadaan transisi empat pusat. 6. Aturan Bredt Reaksi lain di mana regioselektivitas bersifat penting adalah pembentukan ikatan rangkap pada reaksi eliminasi. Regiokontrol pada eliminasi diperoleh dengan pengikatan basa pada molekul (basa internal untuk eliminasi syn) atau dengan pengikatan basa pada molekul seperti pada reaksi biomolekul (basa eksernal untuk eliminasi anti). Reaksi Hbr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markovnikov yang menghasilkan tersier bromida.metilsiklopentana. 1-bromo-1metilsiklopentena. 55 . Adisi boran dan oksidasi menghasilkan campuran alkohol dengan perbandingan 86 : 14. Pengertian syn dan anti tidak mempunyai arti pada sistem siklis. yang bila direaksikan dengan basa menghasilkan metilsiklopentana.isomer-isomer geometri.2.1. Selektivitas Markonikov / anti-Markonikov Masalah-masalah yang berkaitan dengan adisi secara regioselektif pada molekul-molekul siklis pada dasarnya sama seperti pada molekul-molekul asiklis.2. dan pada sebagian besar sistem siklis akan mengontrol konfigurasi absolut pusat khiral yang dikaitkan dengan isomer-isomer cis-trans dan/atau dengan pembentukan diastereomer.

pada kedudukan yang kurang tersubtitusi. Pernyataan yang dikemukakan oleh Bredt adalah ³dalam sistem keluarga kamfen dan a pinena serta senyawa ± senyawa yang sekerabat. Energi keadaan transisi yang dibutuhkan untuk mengeliminasi ± menjadi karbon kepala jembatan dalam sistem kecil ± sangat tinggi. diikuti pelepasan hidrogen.dan gugus pergi adalah sudah ditentukan oleh regiokimia halida. Untuk syn dan anti eliminasi keduanya. disebabkan pembentukan geometri planar karbon sp2. tetapi produk yang dihasilkan adalah alkena yang lebih banyak tersubtitusi. dan sistem bisiklis kecil tidak dapat mengakomodasi kenaikan yang besar dalam tegangan ini.yang mempunyai kedudukan syn terhadap gugus pergi. Adanya penghalang pada keadaan syn ini mengakibatkan pendekatan dan pelepasan hidrogen. Pembentukan produk alkena memerlukan penahanan kedudukan ³kepala jembatan (bridgehead)´ menjadi konformasiplanar. Pengamatan menunjukkan bahwa ikatan rangkap dua karbon ± karbon tidak dapat dibentuk pada atom ± atom kepala jembatan dalam cincin ± cincin bisiklis kecil dan keadaan seperti ini pada awalnya disebut aturan Bredt.Perbedaan utama di sini adalah ketidakmampuan cincin berotasi di sekitar ikatan karbonkarbon. hidrogen. 56 . Syn-eliminasi melibatkan basa yag terikat secara intramolekul. yang secara energetik lebih menguntungkan. karbon ± karbon kepal jembatan (a dan b) tidak dapat dilibatkan pada ikatan rangkap dua karbon ± karbon.

4 ±t-butil-1-bromosikloheksana.dan stabilitas produk akhir. 6.Contoh : Reduksi 4-t-butilsilkoheksanon menunjukan kemantapan yang ditandai pelapisa hibrida melalui jalur a (perbandingan a : b = 91 : 9).6.maka penggantian bromida berdasarkan SN2 melauli peningkatan pada sisi belakang akan sulit terjadi.contoh: Perbedaan utama antara system siklis dan system ansiklis adalah ketidakmampuan sistem siklis mengalami rotasi disekitar ikatan karbon-karbon yang menghasilkan perbedaan konfigurasi.konformasi cicin. Menghasilkan azida.3 Retensi vs invarsi (kontrol diastereo) Reaksi molekuler siklis yang melibatkan pembentukan pusat-pusat khiral mirip seperti yang terjadi pada system asiklik.selama reaksi dengan LiAlH4 yang menghasilkan trans-alkohol) 57 .Reaksi asida (NaN3) dengan cis .bentuk ekuatorial adalah bentuk yang dominan (dengan perbandingannya adalah <99.2.karena sudut pendekatan nukleofil terhalangi.merupakan hal yang penting untuk mengkontrol dan memprediksi stereokimia.kemampuan kekonformasian pada keadaan transisi.2.jika azida di gunakan sebagai nukleofil .pengontrolan geometric cis-trans merupakan persoalan diastereoseletivitas.9 : <1 yaitu 6.89).88 : 6. Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Corey.4 Isomer-isomer cis-trans (diastereoselektivitas) Pada system siklis .dengan inversi konvigurasi penuh Melalui jalur reaksi SN2.

dan 2.100 berlangsung melalui koordinasi asam peroksi dengan alcohol. 6. Mengubah jalur sintesis untuk menghasilkan intermediet yang menguntukan yang dapat menghasilkan steriokimia yang diinginkan. 58 .memungkinkan kita untuk dapat mengubah populasi diastereomer.pelepasan berbedah dengan epoksidasi alitik asetat yang terutma menghasilkan pelepasan oksigen elektofilik dari muka yang kurang berpenghalang. Mengubah pusat sterio pada produk akhir.Para ahli kimia yang melakukan sintesis tidak selalu dipaksa untuk menerima stereokimia tersebut.3 Pengaruh Khelasi dan Gugus Tetangga Pengaruh gugus sederhana yang di pengaruhi pelepasan ³oksigen´ ke ikatan rangkap dua alcohol telah dikemikakan oleh Henberst dan Sharless.Epoksidasi senyawa 6. Terdapat banyak cara yang ada untuk emeriksa stereokimia relative pada pusat khiral yang tidak sesuai dengan sasaran yang diinginkan.Dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan seperti itu pada stabilitas produk .paling tidak ada dua pilihan : 1. Ini merupakan pengaruh untuk reaksi asiklis.

6. tetapi juga pengaruh-pengaruh yang lebih kuat dari pasangan electron bebas yang berdekatan dengan electron nitrogen.alkoksi.108.107 dan 6.tidak hanya pengaruh ± pengaruh a dan b hidroksil.menghasilkan 99% (E)-alkena. pada muka b yang Pada perencanaan reaksi.Contoh lain : Reaksi oksetana dengan diametil alumenium Nmitel-analin yang merupakan reaksi eleminasi.pengaruh khelasi tersebut pada kenyataannya dapat merupakan pengarahan steriokimia atau regiokimia dan penghambat atau penghentian reaksi yang diharapkan.dadi pasangan gugus amino yang harus di perhatikan .merupakan retomer kunci. Alumenium mengadakan koordinasi dengan oksigen oksetana kurang terlarang pada 6.Pengaruh gugus seperti ini disebabkan oleh pengaruh khelasi subtituen heteroatom dengan pereakai.oksigen dan belerang.4 Stereo Kontrol Asiklis melalui precursor siklis 59 . Pengaruh gugus tetangga dapat menjadi jelas dan dapat digunakan untuk mengarahkan steroekimia dari suatu reaksi.

dan regioimia dan strereokimia subtituen telah ditetapkan (ditemukan).jika atom yang diikat dinyatakan tet dan cicin yang akan dihasilkan adalah 6.Hidrogenasi Lindlar memberikan feromon seks utama dari Doglas fir Fussockmoth. 6.homolitik. Penambahan dan pengaturan gugus fungsi adalah konversi sikloheksanoan menjadi epoksiteron.sering dengan control regiokimia dan steriokimia.Baldwin mengklasifikasikan penutupan cicin menjadi dua kategori : EXO (aliran electron dari reaksi adalah eksternal terhadap cicin yang akan dibentuk) dan ENDO (aliran elektro didalam cicin yang akan dibntuk).Peningkatan atom pada sp2 disebut TRIG (membentuk cicin) dan peningkatan hibridisasi pada atom sp disebut DIG( pembentukan cicin).dan mendapatkan pola reaktifitas yang dapat relativ diprediksi. 60 .Pendekatan ini didasarkan pada persyaratan -persyaratan steriokimia dan sudut pendekatan yang memungkinkan untuk membawa ersama-sama dua pusat rebktif bila dihubungkan dengan atom-atom (tether). Contoh penerapan masalah dilakukan dengan cara disintesis senyawa organic secara efektif.dan proses penutupan cicin kationik.118.Cincin kemudian dibuka untuk memperperoleh system asiklis .mempelajari nukleofil.Penambahan dengan tosilhidrasin dalam asam asetat akan menyebabkan terjadinya pemecahan cicin Eschenmoser dan menghasilkan .Sistem siklis dapat digunakan untuk memprediksikan gugus fungsi.5 Reaksi Pementukan Cicin Pengenalan dari aturan Baldwin untuk penutpan cicin.

yang haya didasarkan pada substrat.Elliot dan Graham-Richard menyatakan suatu metode untuk memprediksikan sudut pendekatan yang cocok.maka yang paling perluh dibicarakan adalah pertamatama adalah persyaratan sudut peningkatan untuk membawa dua ujung raktif molekul bersama-sama.disini sudut ikat sekitar 120°.Pengggantian pada karbon sp3 pada umumnya melaui peningkatan dari bagian belakang dan gugus yang akan datang (X) harus mendekati karbon yang mengandung Y [ada sudut yang dekat dengan 180°.Bila kita bicarakan aturan Baldwin.tetapi selama reaksi.atom sp3 adalah tetrahedral ( dengan sudut ikatan sekitar 109°) 61 .

karena molekul adalah linear.konversi sitronelal oleh pengaruh katalisator asam H isopulegol 62 © menjadi .Sudut ikat pada ikatan rangkap tiga adalah 180°.Dalam hal in konversi atop sp menjadi atom sp 2 menghasilkan sudut ikat 120° yang merupakan karekteristik alkena.Menggunakan analog yang sama seprti pada koversi sp2 -sp3 atom harus mendekati ikatan rangkap tiga pada sudut sekitar 120°. Contoh siklis endo.

Mengalami

penggantian

exo

Y,tetapi

me

nghasilkan

Konver

Terdapat dua cara untuk meggambarkan pembentukan cicin.Enolat secara kinatik akan membentuk cicin melalui pengganti Exo Y menghasilkan 6.129 Enolat secara termodinamikal akan menghasilkan konversi,di sebut enol endo-exo-tet dan konversi.

bguvvyfiyfiyf Enolat pada umumnya mengalami reaksi 5-endo-tring pada oksigen sedangkan reaksi 6endo-tring disukai pada karbon.untuk membentuk cicin lingkar dari lima dari pasangan electron bebas oksigen harus pada kedudukan yang tepat untuk menggantikan kedudukan brom pada 6.136( produk adalah tetrahidrofuran).

63

Keadaan transisi untuk penggantian in di gambarkan pada 6.140.Agar menghasilkan cicin lingkar-enam,maka orbital-orbital karbon enolat pada 6.138 harus pada sudut ang tepat untuk penggantian.

64

BAB VII GUGUS PELINDUNG

7.1 Pengertian Gugus Pelindung Banyak target senyawa sintetik yang mengandung lebih dari satuu gugus fungsi, dan gugus tersebut dapat mengadakan interaksi dengan pereaksi yang digunakan selama proses sintesis. Jika gugus keton dan aldehida terdapat di dalam molekul yang sama, kedua gugus tersebut dapat bereaksi dengan pereaksi tertentu pada saat yang sama. Adanya alcohol dan amina dalam molekul yang sama juga akan menimbulkan masalah karena kedua gugus fungsi tersebut cepat beraksi dengan asam, basa, dan nukleofil. Cara untuk menanggulangi fungsi tersebut adalah dengan melindungi atau mengeblok sementara satu gugus yang reaktif dengan mentransformasikannya menjadi gugus fungsi baru yang idak akan mengganggu menjadi gugus baru yang berbeda, yang tidak akan bersaing dengan reaksi yang diharapkan. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasi gugus fungsi baru (gugus pelindung) kembali menjadi gugus fungsi semula pada tahap akhir sintesis. Proses ini di kenal sebagai perlindungan dn proteksi. 7.2 Gugus Pelindung Umum Untuk Alkohol, Karbonil dan Amina 7.2.1 Proteksi Alkohol Gugus pertama dalam pengembangan gugus pelindung untuk gugus fungsi adalah mengidentifikasi bagian molekul mana yang dapat mengganggu. Dalam hal alcohol, bagian molekul yang hampir selalu dapat mengganggu adalah keasaman hydrogen gugus O-H. jika gugus OH tersebut mengganggu rencana sintesis, maka OH harus dikonversi menjadi gugs fungsi lain (O-X), tetapi reaksi ini harus dapat berlangsung dan menghasilkan produk yang tinggi pada kondisi normal. Alcohol memilki dua reaksi utama yang cocok terhadap criteria tersebut, yaitu konversi alcohol menjadi eter, biasanya berlangsung dengan hasil yang tinggi dan memberikan produk yang relative inert. Karena sifat inert inilah, maka kondisi yang dibutuhkan untuk memecah eter harus kuat. Cara lain adalah mengkonversi alcohol menjadi asetal asilik atau ketal. Juga sangat mungkin mengubah alcohol menjadi ester pada kondisi normal, dan dengan mudah mengembalikannya menjadi alcohol dengan cara menghidrolisis ester. 7.2.2 Gugus Pelindung Eter dan Asetal Gugus pelindung paling sederhana untuk alkohol adalah metil eter (-OCH3). Reaksi alcohol dengan basa (umumnya natrium hidrida (NaH) dalam THF atau DMF) menghasilkan alkoksida. Cara berikutnya adalah mereaksikan alcohol dengan trimetiloksonium tetrafluoro borat. Metil eter stabil terhadap basa kuat, nukeofil, organologam, hidrogenasi, zat pengoksidasi, dan zat pereduksi hidrida. Metil eter stabil pada PH 1-14. Metil eter dapat
65

hidrida. dan metilasi yang keudian dilanjutkan dengan deproteksi (hydrogen/paladium) akan menghasilkan 7.25. sedangkan trimetilsilil iodida dapatmemecah pelindung alcohol dalam kloroform dan pada suhu yang relatif tinggi.25) dengan mereaksikan dengan kalium hidrida (KH) dan benzil bromida. karbonion dan organologam . hidroborasi. dan beberapa zat pengoksidasi. Cara lain dari hidrogenolisis adalah dengan melarutkan logam natrium atau kalium dalam amonia. nukleofil. Benzil eter stabil terhadap sejumlah pereaksi. Gugus alilik OH akan mengganggu proses pembentukan gugus OCH3 dalam 7. oksidasi. Gugus pelindung eter lainnya adalah benzil eter (-OCH2Ph.dipecah oleh HI pekat. 66 . Contohnya adalah sintesis monensin yang dilakukan kishi. biasanya dengan katalis poladium. oksidasi dan reduksi. dn stabil terhadap nukleofilik. karena gugus OH primer juga dapat bereaksi dengan KH/CH3 I. dimana mula-mula alcohol 7.O-Bz).26. Cara paling umum pemutusan ikatan C-O benzilik adalah dengan hidrogenasi katalitik. hidrida.t-butil sensitive terhadap asam kuat.yang dibuat dengan mereaksikan alkoksida dai alcohol dengan benzil bromida atau klorida. hidrogenasi katalitik.organologam. Sebagai gugus pelindung . dengan adanya katalis asam (asam sulfat atau BF3).24 dikonversi menjadi benzil eter (7. Alkohol dapat dikonversi menjadi t-butil eter (O-C(CH3)3 ) dengan mereaksikan alcohol dengan 2-metil-2-propena (isobutilena). meliputi pH 1-14. Dua cara yang umum untuk melepaskan gugus benzil meliputi pemutusan ikatan O-CH2Ph dengan hidrogenolisis. tetapi stabil pada Ph 1-14.

MEM).28.7.28) dan OH yang lain sebagai benzil eter (7. Asetal pertama adalah metoksi metil eter (O-CH2 OCH3. Gugus MEM di ikat oleh alcohol setelah alcohol di konversi menjadi alkoksida (umumnya dengan NaH dalam THF atau DMF).29)selanjutnya di ikuti pelepasan gugus O-MOM. di bentuk dengan mereaksikan alcohol dengan basa (seperti NaH dalam THF) dan ClCH2 OCH3 (klorometil metil eter). Anggota yang paling umum adalah 1-etoksil-etil eter (O-CH(OCH2CH3 )CH3. Tipe lain dari gugus pelindung asetal adalah etil eterr tersubtitusi.27 perlu di proteksi dan di konversi menjadi turunan OMOM. proteksi OH pada 7. Sebagai contoh.Gugus pelindung eter alternative yang telah di kembangkan oleh Green adalah ³metil eter tersubtitusi´ yang tidak lain adalah asetal (RO-CHR1 -O-R2). shibasaki menggunakan gugus EE untuk melindungi.33. gugus hidroksi metil pada 7.31 diubah menjadi 7.29). 67 .32 dengan reaksi wittig. Salah satu gugus pelindung asetal yang paling umum adalah 2-metoksi etoksimetil eter (-O-CH2 OCH2CH2 OCH3. O-MOM). Sebagai contoh. reaksi selanjutnya menghasilkan alcohol primer baru yang kemudian diproteksi sebagai O-benzil eter (pada 7. sementara gugus hidroksil pada 7. Gugus MEM juga dapat melindungi alcohol tersier. Variasa gugus MEM adalah 2-(trimetilsilil) etoksi metil eter (-O-CH2 OCH2CH2 Si(CH3)3. Gugus MEM juga stabil pada pereaksi-pereaksi seperti terhahdap O-MOM dan O-MTM. Pelepasan gugus EE dengan asam asetat berair menhasilkan 7.SEM). Gugus MEM sensitive terhadap asam Lewis dan dapat di pecah dengan asam kuat berair (PH<1). O-EE).27 sebagai turunan MOM (pada 7.

3-butanadiol (7. Ca umum pembentukan asetonida adalah reaksi iol dengan 2-metoksil-1-propena dengan adanya asam seperti anhydrous HBr. Gugus ini stabil terhadap basa (Ph 4-12). dan zat pengoksida.34) bereaksi dengan keton seperti aseton. Gugus pelindung ini biasanya dipecah dengan HC berair.7.2-diol termasuk alcohol. sering disebut asetonida (isopropilidena ketal). hidrognasi katalitik. atau reaksi diol dengan aseton dengan adanya katalis asam. Bila 1.35 yang dibentuk dari aseton. Gugus tersebut juga stabil terhadap nukleofil.2-diol seperti 2.3-diol akan menghaslkan cicin lingkar-6 asetonida.3-dioksana. yaitu merupakan turunan 1.3-dioksolan (7.35). tetapi kedudukan hidroksil berkaitan sehingga dapat dpproteksi sebagai ketal siklis. 1.3 Proteksi Diol 1. maka akan dibentuk 1. tetapi tidak terhadap asam. ketal seperti 7.organologam.2. 68 . hidrida. dengan aam asetat atau dengan asam p-toluennasulfonat dalam methanol. dengan adanya katalis asam.

Variasi reaksi ini antara lain meggunakan pereaksi diol yang menghasilkan ditioketal atau ditioasetat. bila 7.hal ini dilakukan karena ugus karbonil yang merupakan bagian dari gugus fungsi dapat mengganggu salama reaksi berlangsung.40 sebagai dimetilasetal. seperti proteksi pada 1.4 proteksi aldehida dan keton Seperti halnya dengan alcohol. Dua turunan yang umum adalah benzaldehida (membentuk benzilidena asetal) dan sikloheksanon (membentuk sikloheksilidena ketal). Dioksolana selanjutnya memungkinkan untuk mengkonversi ester menjadi gugus alkilidena 7.36 yang dikonversi menjadi 7. 69 . Reaksi utama dari karbonil adalah adisi nukleofilik asil. reaksi iol dengan aldehida atau keton lain akan menghasilkan ketal atau asetal. Cara umum memproteksi gugus karbonil adalah dengan mengkonverinya menjadi ketal atau aseta.Asetonida berguna dalam sintesis.2.41.38.38 direaksikan dengan asam berair akan diperoleh kembali diol (7. aldehida diperoleh kembali dengan menambahkan asam ptoluenasulfonat berair menjadi 7. Sebagai contoh sintesis dengan menggunakan asetal untuk memproteksi aldehida adalah pada senyawa 7.2-diol pada senyawa 7.37 dengan mereaksikannya dengan aseton dan kuprisulfat (CuSO4). dengan menggunakan pereaksi alcohol atau diol.42 proses ini dilakukan oleh Bauman dan Hoffmann dalam sintesis -santalol. 7.suatu cara telah dikembangkan untuk memproteksi keton dan aldhida.39). dan reaksi berikutnya dengan mereaksikan dengan basa membentuk senyawa alkena 7.

47 dengan butyl litium dan juga konversi yang menghasilkan produk alcohol menjadi klorida 7.7.3-diol yang membentuk ketal siklis atau asetal siklis.3-dioksolana dibentuk dengan mereaksikan karbonil dengan 1. Cara yang paling umum untuk memecah turunan dioksana atau dioksolana adalah dengan mereaksikannya dengan asam berair. tetapi methanol merupakan alcohol yang paling umum digunakan.47).2dimetil-1. Turunan 1.( )-aspidosapermina. seperti yang dilakukan oleh Money.3-propanadiol. yang di ikuti reduksi terhadap laktam menjadi amina. menggunakan 2. Variasi dapat dilakukan dalam memproteksi ketal dengan memasukkan subtituen alkil pada senyawa diol. diproteksi terhadap karbonil menghasilkan kamforenon. dan 1. Deroteksi menghasilakan 7.44).45.meyer memproteksi senyawa keton 7.3-sdioksana dibuat dengan mereaksikannya dengan 1. Proteksi aldehida dan keton juga dapat dilakukan denga menggunakan 1. Sebagai contoh.43 sebagai ketal (7.2-etanadiol.49.48. proses ini dilanjutkan oleh reaksi olefin 7.2-diol dan 1.3-propanadiol untuk memproteksi keton 7. meliputih HCl dalam THF dan asam asetat berair. 70 .Dalam kenyataannya banyak jenis alcohol yang dapat digunakan untuk menghasilkan asetal atau ketal.46 (yang membentuk 7.

Cara penentuan lain adalah dengan mereaksikannya dengan natriium dalam amonia cair. Ikatan N-C dapat diputus secaa hidrogenolisis katalitik atau pelarutan logam.3.hidrida.7.N-Ac).3. 7. Reaksi antara anhidrida asetat atau 71 . Gugus ini stabil terhadap asam dan basa (Ph 1-12) dan terhadap nukleofil. Amina direaksikan dengan benzil klorida atau benzil bomida. organologam. dan asam Lewis. NBz).3 Proteksi Amina 7.2 Gugus pelindung N-As Amida merupakan gugus pelindung yang paling umum digunakan untuk memproteksi amina.1 Gugus Pelindung N-Alkil Gugus alkil lain yang digunakan untuk melindungi nitrogen adalah benzil (N-CH2Ph. biasanya dengan adanya basa seperti kalium karbonat (K2 CO3) atau hidroksida. N-astil merupakan ggus pelindung amida yang sudah di kenal bak dan N-asilamina dikenal merupakan turunan asetamida (N-COCH3.

3. Banyak gugus pelindung yang dikembangkan untuk memproteksi asam amino pada sintesis peptida. 7. dilanjutkan dengan 72 . Jenis gugus lain yang memproteksi amina adalah trifluoroasetamida (N-COCF3. Gugus BOC biasanya dilepaskan dengan mereaksikannya dengan HCl berair atau dengan asam trifluoroasetat. pengganti tosilat dengan nukleofil belerang (manghasilkan 7. Contoh sederhana di tunjukkan pada proteksi asam amino 7. Trifluoroasetil umumnya di ikat brtdasarkan reaksi antara amina dengan anhidrida trifluoroastat (CCF3CO)2O) dengan adanya trietilamina atau piridin. akan menghasilkan asetamida.asetil klorida dengan amina. Gugus ini sensitive terhadap asan kuat. dengan adanya basa sperti piridin atau trietilamina.56).54 sebagai turunan BOC (7.55).N-TFA).3 Gugus Pelindung N-karbamat Gugus pelindung lain untuk nitrogen adalah karbamat (N-CO-OR).

Gugus sangat stabil terhadap asam dan basa (ph 1-12). Gugus ini sensitive terhadap hidrolisis dengan hidrogenasi katalitik (pada karbon merupakan katalis yang umum di gunakan). Karbamat lain yang popular adalahbenzil karbamat (N-CO2CH2Ph. 73 .terhadap nukleofil. dan gugus hidroksil diganti dengan gugus tiol. Gugus diikat oleh reaksi antara amina dengan benzil kloroformat (PhCH2 O2CCl) dengan adanya basa (karbonat berair atau trietilamina).Doprteksi dengan asam trifluoroasetat (suhu kamar 30 menit)yang akan menghasilkan amina 7. terhadap asam Lewis dan terhadap sebagian besar hidrida (gugus tersebut bereaksi dengan LiAlH4 ). terhadap organologam (tetapi gugus tersebut bereaksi dengan pereaksi organolitium dan pereaksi Grignard).57. N-CBz benziloksi karbonil).

58) dikonversi menjadi turunan CBz (direaksikan dengan benzil kloroformat)dan kemudian direaksikan dengan diazometana menghasilkan diazoketon yang di proteksi CBz (7. Pasangan electron pada amina dapat diproteksi dengan cara mengkonversi menjadi garam amonium. menghasilkan 7. 74 . Keasaman hydrogen alcohol dapat diproteksi dengan mengubahnya menjadi eter. gugus fungsi asam di perpanjang dengan satu karbon melalui penataan ulang Wolff. Keton dan aldehida biasya diproteksi dengan cara mengkonversinya menjadi asetal atau ketal.Fenilalanina (7. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasikan gugus pelindung tersebut menjadi gugus fungsi semula padatahap akhir sintesis. atau turunan hidrazon. KESIMPULAN Gugus pelindung berfungsi memproteksi atau memblokade satu gugus yang reaktis dengan mentransformasikan menjadi gugus fungsi baru yang tida mengganggu terhadap transformasi yang diinginkan.59). tioasetal atau tioketal. Gugus-gugus fungsi penting sebagian besar menyebabkan masalah reaktivitas adalah alcohol. atau ester.diproteksi dengan hydrogen menghasilkan 7.61. Asam karboksilat biasanya diproteksi sebagai ester.dan amina. asetal.60. keton.

BAB VIII STRATEGI SINTESIS 1.3) yang dilakukan oleh Bachman pada tahun 1990 merupakan sinesis multilangkah pertama terhadap precursor stroid menjadi estron.6). 75  .4) sebagai target yang semula ia mengira bahwa senyawa yang kompleks tersebut tiak di ketahui apakah (8. Wordward dan Doering mensintesis kuinina (8.2 menjadi bagian -bagian yanga lebih sederhana.2).5) atau strinina (8. dan aseton. ia menghipotesiskan bahwa hidrolisi yang diperkirakan terhadap substrat (tropin) dapat diubah menjadi suksin aldehida. Sintesis ekuilen(8.1) dalam rangka untuk memastikan struktur sebenarnya dari bahan alam ini. Robinson pada tahun 1917 mensintesis tropinom (8. Analisis ini ternyata dapat dilakukan dengan cara mendiskoneksi 8. Pada tahun 1904. Selama berthun-tahun terjadi peningkatan data tentang ciri ciri struktur dan sterokimia dari senyawa yang semakin kompleks. PEN ERTIAN STRTEGIS SINTESIS Corey mencatat Beberapa contoh sintesis untuk menggambarkan sejarah sintesis.metilamina.Perkin mensintesis terpinol (8.

2. Corey melibatkan LHASA (logic Heuristics Applied To Synthetic Anlysis) dengan tujuan membantu ahli kimia dalam perencanaan sintesis dan untuk mensintesis molekul-molekul yang kompleks.Sekarang pendekatan diskoneksi di gunakan oleh sebagian besar ahli kimia bila mereka menghadapi masalah sintesis. penemuan. ada strategi lain yang dapat ditera pkan pada perencanaan sintesis. Kesempatan belajar memberikan andil yanga besar terhadap langkah-langkah selanjutnya dalam pekerjaan sintesis. 76 . PEMILIHAN TARGET 2. Pendekatan ini disebut Retrosintesis.1 Alasan atau dasar pemikiran untuk sintesis total Pada dasarnya pemilihan target merupakan titik awal untuk sintesis. dan retrosintsis ini dapat mempelajari sintesis suatu molekul sampai pada bahan awal yang relative sederhana yang kemudian skarang dikenal sebagai Pendekatan diskoneksi (atau syntom). Bentuk atau model percobaan 4. Pemilihan atau penentuan percobaan dan analisis. Molekul target dpt memiliki siat kimia dan biologi yang unik. sehingga membuatnya menjadi suatu proses yang dapat di mengerti. penciptaan. Akan tetapi.yang meliputi: 1. Pemilahan reaksi kimiayang spesifik untuk tranformasi satu intermedit sintesis ke langkah berikutnya 2.Corey memformulasikan termilogi untuk pendekatan sintesis ini. atau teori-teori baru yang sangat penting dapat dihasilkan. Pemilihan Pereaksi-pereaksi yang spesifik 3. Sintesis molekul organic biasanya dimulai dengan dua pertanayan : (1) Mengapa molekul ini dipilih sebagai target??dan (2) darimana kita harus memulai?? Jawaba terhadap (1) sering terletak pada n kebutuhan dan ketertarikan dari ahli kimia pensintesis. Selama mengamatan tahapan tersebut.

Demikian juga ringkasan alasan alasan yang melatarbelakangi sintesis perlu dipublikasikan.10 dan diberi nama periplanona B.Uraian diatas memberikan jawaban yang dapat di terima terhadap pertanyaan (a). meskipun studi yang dekat dengan sintesis tersebut akan memberikan nilai yang besar untuk memahami strategi perencanaan.2 verifikasi atau pengubahan struktur Feromon seks kecoa amerika. Banyak informasi yang diperoleh dari pengujian kriteria tersebut yang mungkin berguna untuk pendiskoneksian target. Kadang-kadang. maka serangkaian reaksi langkah demi langkah yang digunakan untuk membentuk setiap molekul dilaporkan. pengertian dasar sifat-sifat alami ikatan dan molekul 5. Asam gibberelat (8. periplanita Americana. 2.8) merupakan aglikon lakton makrosiklik. Senyawa 6-deoksieritronolida B (8. melihat kembali pemilihan target merupakan pemeriksaan pekerjaan yang sudah pernah dilakukan dan tidak memberikan nilai lebih. meskipun tidak selalu dalam ringkasan diuraikan mengapa target dipilih. Bagi ahli kimia. Pengembangan reaksi dan pereaksi baru. Aktivitas biologis yang penting 3. Criteria yang tertulis dibawah sering disebut sebagai karakteristik target sintesis yang penting. Pendekatan diskoneksi dalam jumlah bentuk akan di gunakan dalam menjawab pertanyaan (b). Tantangan struktur dan topologi. Bila sintesis seperti tersebut dipublukasikan.9) merupakan hasil alam alkaloid yang memiliki sifatsifat antitumor.7) merupakan hormone pertumbuhan tanaman dengan kerangka karbon yang kompleks. Studi analog 4. ditunjukan oleh persoons mempunyai struktur 8. Senyawa ini adalah bagian dari eritromisin yang merupakan antibiotik makrolida. Verifikasi atau pengubahan struktur 2.perlu ditambahkan molekul-molekul yang ditunjukan pada pendekatan merupakan contoh-contoh yang dapat mewakili organic yang jenisnya sangat banyak yang telah disintesis sebagai target. Persoons mengisolasi 200 µg 77 . Mitomisin C (8. yaitu: 1. Cirri-ciri strukturnya yang berbeda memberika masalah-masalah sintetik yang unik.bkriteria tersebut mungkin berharga bagi ahli kimia yang baru pertama kali melakukan sintesis.

3 Aktifitas Biologis Alasan nyata sintesis total adalah pentingnya senyawa target pada kedokteran. dari semua produk dengan stereokonrrol yang dapat diterima (masuk akal). tetapi stereokimia 8. 78 . asam lemak terhidroksilasi.11 digunakan untuk membuat semua diastereomer periplanona. Perlu diketahui bahwa adanya isomer E dan Z untuk olefin pada setiap diastereomer akan menambah jumlah produk yang harus dipisahkan.12. Jika molekulmenunjukan adanya aktifitas biologis yang signifikan. Bandingkan cara ini dengan pendekatan diastereoselektif yang digunakan oleh Still. dengan aktivitas biologis yang bermacam-macam dan manjur. 8. 2. Berbeda dengan still yang fokus pada jalur sintesis. Prostaglandin merupakan kelompok hasil bahan alam yang tidak jenuh. Semua prostaglandin (PG) diturunkan dari senyawa induk yang disebut asam prostanoat. masih merupakan metode yang penting untuk menentukan struktur akhir. maka diupayakan menambah senyawa tersebut untuk keperluan pengujian atau struktur. masalah seperti ini dapat diselesaikan dengan membuat semua kemungkinan diastereomer sekaligus. Still mensintesis 8.pertanian. dengan tanpa mengontrol stereokimia. bidang Molekul yang penting dan diminati biasanya di isolasi dari sumber alam yang bsedikit. yang akan menghasilkan hanya sedikit produk diastereomer. Empat stereoisomer disintesis.10 belum terelusidasi.10 dengan jalur multi langkah. dan dalam hal ini target intermediet kunci 8. dan karakteristik spektra dan sifat fisik dari setiap stereoisomer diuji terhadap cuplikan periplanona B alami untuk menemukan isomer yang benar. Ini merupakan pendekatan umum.senyawa tersebut dari 75.000 kecoa betina yang kemudian dilanjutkan dengan determinasi struktur. Sintesis total semua diastereomer yang dapat diterima dan membandingkannya dengan cuplikan asli.atau usaha-usaha komersial lain atau kemanusian. tetapi dengan empat pusat simetri sehingga terdapat 24 isomer (16 stereoisomer atau 8 pasang enantiomer) yang selanjutnya harus dipisahkan.

Studi lebih lanjut menunjukan bahwa modifikasi struktur terhadap kerangka dasar dapat menghasilkan molekul dengan karakteristikyang berbeda dan molekul baru yang menjadi target sintesis. pGE.13) menjadi senyawa Nsikloheksil laktam (8. Modifikasi struktur menantarkan sintesis kloreksolan (8.13). Klorotaizid adalah molekul dengan struktur kimia 2H. PGD. 79 . 2. Sejumlah prostaglandin menunjukan gejala tersebut. dan kelompok F (pGF) mempunyai gugus karbonil pada C10. Kelompok E (PGE) mempunyai gugus karbonil pada c9.4 Studi analog Target yang di minati atau yang mempunyai sifat aktif secara komersial sering memberikan akibat samping yang menggunakan atau tidak stabil pada penyimpangan dan penanganannya. 1.1-dioksida(8.14) aka menghasilkan peningkatan kerja hipotensif dan kerja diuretik.2.14). Modifikasi sintesis terhadap struktur yang diketahui dapat dipakai sebagai model dan mendorong untuk merancang target sintetik.4-benotiadiain-7-sulfonamida6-kloro-1. bukan pada cincin yang mengandung gugus sulfonamida. (2) ikatan rangkap dua kedua anrara C5 dan C6 (PG2). (3) ikatan rangkap dua ketiga antara CI7 dan Ct8 (pG3). PGB.Turunan-turunan tersebut adalah PGA. konversi cincin heterosiklik pada (8. PGC. Studi menunjukan bahwa penggantian (modifikasi) yang signifikan dalam profil farmakologis dapat dilakukan dengan penggantian pada cincin heterosiklik. Terdapat juga gugus karbonil pada Cll dan C15 pada prostaglandin alami. Senyawa tersebut bersifat diuretic dan juga di gunakan untuk mengobati hipertensi. dst. prostaglandin alami dibagi menjadi tiga kelompok: (1) satu ikatan rangkap dua antara C13 dan C14 (PGl).

ciri-ciri structural ) (8.15) terhadap calon-38 tumor pada tikus dan memiliki kemanjuran dosis yang lebih.16 menunjukkan bahwa banyak turunan yang terkait memiliki aktivitas antitumor yang meningkat.Alasan umum lain untuk pembuatan analog target adalah untuk mempelajari profil aktivitas struktur molekul dengan aktivitas biologi yang diketahui.16a) adalah seaktif (8. 80 . dan topologi ( bentuk.16c) menaikkan potensi dosis. Sintesis sering mengajak kita menengok ke belakang. Denny dan Buguley menunjukan bahwa asam 9-okso-9H-xentena-4-asetat (8.16 dan 8. Dodekahedran 8. 2. menyadari keterbatasan tanang ilmu kimia yang di ketahui dalam pembentukan ikatan atau sifat-sifat dasar untuk molekul organic. Ditunjukan bahwa substituen lipofilik kecil pada kedudukan 5 (lihat 8.15) mempunyai potensi yang besar sebagai agen anti tumor. Ini merupakan kasus tipikal di mana senyawa yang diketahui dimodifikasi strukturnya berdasarkan pada sifat-sifat aktivitas struktur dari senyawa yang terkait.17) pada dasarnya adalah bentuk bola.5 Studi topologi Kadang-kadang suatu molekul bersifat sebagai target yang sangat menarik sehingga memberikan tantangan untuk dikaji dari segi struktur dan sifat-sifat kimianya. Studi secara sistematik turunan sintetik 8.17 pertama kali di sintesis oleh paquette. Dorongan untuk sintesis ini adalah penelitian untuk mendapatkan obat yang manjur (mujarab). Asam vlafon-8-asetat (8.

19) bila direaksi dengan ion perak. 2. Pengembangan metodelogi baru atau modifikasi reaksi-reaksi yang ada harus di lakukan untuk memperoleh tranformasi yang di inginkan dalam menyempurnakan sintesis. Dan biasanya penemuan baru dalam sintesis tersebut dapat diterapkan pada usaha sintetik senyawa iain. 81 .8.18) yang menghasilkan ion vinil nitronium( 8.17 mempunyai topologi sferikal super-polisiklopentanoid. Kadang-kadang daya cipta dan ilmu kimia baru muncul dari penyelesaian target sintetik seperti 8. Pada sintesis yang baru ini.17 Senyawa 8.6 Reaksi baru dan pereaksi baru Pengembangan tranformasi kunci tidak mungkin seluruhnya dilakukan melalui reaksireaksi kimia seperti yang telah diketahui. langkah kunci membutukan hidrolisis amida pada inermedit yang memiliki enam gugus eter. Sekali di kembangkan. Pereaksi yang di kembangkan untuk tranformasi ini adalah -kloronitron (8.17. pekerjaan yang baru tersebut sering menunjukan bahwa pereaksi-pereaksi yang terlibat dapat di gunakan untuk berbagi tujuan lain. Contohnya adalah Sintesis vitamin B seperi yang dilaporkan oleh Woodward dan Eschenmoser.

dan hasil adisi siklo (8. Pada yang khas menunjukan. Sebagai pasangan adisi diubah dari alkena ke alkuna lain.20) digunakan sebagai pasangan diena pada reaksi Diels Alder.21 dengan hasil 59% dan selanjutnya proses hidrolisis menghasilkan 8.23) ditransformasikan menjadi beberapa molekulsintetik yangberguna.20 menghasilkan produk adisi 8.nitron (8. adisi siklo terhadap metilsikloheksena dan 8.22 sebanyak 90%. Produk -produk akhir meliputi furan dan turunan alkuna. 82 .

Jika satu dari ikatan-ikatan tersebutdidiskoneksi.3. dan jawabannya membutuhkan: 1. Analisis yang mendalam terhadap struktur target 2. (To) didiskoneksi menjadi sekumpulan struktur yang dibatasi secara logika yang dapat dikonversikan menjadi pekerjaan sintetik tunggal (langkah reaksi) dan menjadi target sintetik. Proses ini merupakan pohon sintetik untuk reaksi kimia yang harus ditindaklanjuti pada transformasi yang telah direncanakan untuk dilakukan. interaksi gugus fungsi. Subpohon lebih lanjut menyatakan diskoneksi dari salah satu cabang pohon sintetik. Retrosintesis 3. yang akan membentuk ikatan tersebut pada sintesis. didapat dengan cara kimia yang sederhana. penyederhanaan struktur. Pohon sintetik serupa yang dinyatakan oleh Hendrick. Pengertian tersebut dikenal dengan ikatan-ikatan strategis. 83 . pohon sintetik akan menghasilkan sejumlah bahan awal yang berasal dari satu atau lebih cabang-pertama. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 4. dan akan digunakan untuk mengenalkan konsep-konsep yang diingankan. Biasanya terdapat ikatan-ikatan tertentu dalam molekul yang memiliki diskoneksi pada pengarahan retrosintetik yang akan memberikan penyederhanaan struktur secara signifikan. Gugus atom yang terikat pada ikatan 2. sepanjang alas an jalur reaksi kimia dapat diterima. Penyederhanaan berikut (diskoneksi) akhirnya menghasilkan molekul yang dikenal yang tersia di pasaran. dan stereokimia yang terdapat pada struktur kompleks. Proses penyederhanaan struktur molekul diskoneksi menghasilkan serangkaian fragmen (penggalan) molekul yang bertindak sebagai intermediet kunci. yang kemudian dapat digunakan untuk membentuk molekul. Bilangan-bilangan prioritas tidak dapat mengantisipasi masalah struktur kompleks.1 Pendekatan synthon Bagaimana kita menganalisis target agar dapat menentukan bahan awal yang terbaik? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut penting untuk sintesis total. ikatan dan reaktivitas 4. Namun demikian. Penyumbang utama pada bilangan prioritas ini adalah 1. Pengetahuan dasar reaksi-reaksi kimia 3. dan masing-masing merupakan target sintetik. Koneksi ikatan dengan satu atau lebih pusat asimetri Bilangan-bilangan prioritas tersebut berguna untuk moekul-molekul yang sederhana. Setelah beberapa retroreaksi. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 3. skema ini merupakan titik permulaan yang berguna. Pendekatan yang dimulai dengan analisis target akhir dan bekerja kearah belakang (bahan awal) dikenal dengan proses retrosintesis. atau telah dibuat oleh orang lain. Intuisi yang baik tentang perkembangan ilmu kimia Informasi ini kemudian digunakan untuk diskoneksi ikatan-ikatan pada target. Pengertian dasar stereokimia. maka reaksi (serangkaian reaksi) harus tersedia.

seperti yang ditunjukan pada gambar 8. dan a.33 menghasilkan bahan awal yang diketahui.3. Analisis ikatan baru 8.25 dan konversi menjadi fragmen-fragmen sintetik yang realistic menghasilkan paling tidak dua kemungkinan. 4-bromobutan-1-ol. dan mengkonversi 8. transformasi gugus fungsi diperlukan untuk menkonversi 8.31 paling tidak menghasilkan dua diskoneksi . I. diskoneksi ikatan k memberikan diskoneksi yang paling sederhana.26 menjadi 8.2. protocol prioritas ikatan menghasilkan ikatan -ikatan h. I. epoksida 8.26.32 dan diskoneksi ikatan c menghasilkan dua fragmen yang dapat identik: 4-bromo asetaldehida (8. Dari analisi tersebut menghasilkan beberapa kesimpulan penting. Pertama. Diskoneksi ikatan h menghasikan 8. maka analisis ikatan kedua memberikan prioritas diskoneksi untuk ikatan-ikatan k.29. beberapa pilihan ini dapat dikembangkan dengan menentukan cabang pohon mana yang akan diikuti. pohon retrosintetik dapat dikaitkan dengan gambar 8. atau j yang memiliki prioritas tertinggi.34).30 dan 2-bromobutana (molekul real yang dihasilkan dari diskoneksi).28.33) dan organokuprat yang diturunkan dari 3-bromo siklopentena (8. jika pohon sintetik dipangkas dan terfokus pada 8. 84 .27 menjadi 8.27 atau -kloroketon 8.24. diskoneksi ikatan g menghasikan 8.Untuk molekul seperti 8.29. menghasilkan 8. dan m. transformasi gugus funsi 8.

24.1 Penegasan berbagai pendekatan strategi Diketahui bahwa diskoneksi hanya didasarkan pada kemampuan pembentukan kembali ikatan (diskoneksi dengan penomoran) tidak selalu dapat diterapkan pada target-target 85 .29). pereaksi-pereaksi untuk setiap transformasi gugus fungsi reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon harus tersedia.Untuk menyempurnakan sintesis.Strategi sintetik 4. setelah pemiihan ikatan yang akan didiskoneksi dan penentuan fragmen real (seperti 8. Struktur target baru yang diperoleh dengan diskoneksi pertama dapat menghasilkan sekumpulan ikatan strategis yang berbeda. maka protocol diskoneksi ini harus dikerjakan lagi. 4. Juga penting disadari bahwa protocol doskoneksi dengan penomoran hanya diterapkan pada 8. Hal penting yang peru diperhatikan adalah bahwa analisis retrosintetik hanya memberikan transformasi kunci dan bukan setiap langkah. Proses ini dilanjutkan hingga bahan -bahan awal yang dapat dikenal dapat diperoeh.

kompeks. Corey mendeskripsikan pendekatan yang luwes terhadap masalah-masalah tersebut yang digabung dalam program computer LHASA. Tujuan program ini adalah membantu menganaisis target sintetik yang kompeks. Program ini mendeskripsikan pendekatanpendekatan secara umum untuk membangun pohon sintetik dan juga mendeskripsikan ogika yang digunakan untuk membangun pohon sintetik tersebut. Modifikasi-modifikasi tersebut meliputi: 1. Interkonversi, melepaskan atau memasukan gugus-gugus fungsi 2. Perpanjangan atau penambahan rantai karbon 3. Pembentukan cincin (lingkar atomik) 4. Penataan ulang rantai atau anggota ingkar 5. Pemutusan rantai atau cincin Setiap fragmen struktur kimia yang dihasilkan oleh pohon sintetik harus memiliki sifatsifat kimia yang dapat diprediksi dan memungkinkan kombinasi pemilihan terhadap hanya satu dari banyak cara yang mungkin. Corey mendeskripsikan tiga metodologi untuk sintesis, yaitu asosiatif langsung, asosiatif intermediet, dan logika terpusat. Pendekatan asosiatif langsung melakukan diskoneksi target (seperti 8.34) pada ikatan yang menghasilkan struktur yang mudah dikenal oleh ahli kimia. Contoh, senyawa 8.34 memberikan fragmen-fragnen yang mudah dikenal yang didasarkan pada reaksi-reaksi yang sudah diketahui dengan baik. Reaksi retroDiels-Alder memberikan 8.36 dan 8.37. hidrolisis ester dan amida menghasilkan 8.38, 8.39, dan 8.35 pendekatan ini terbatas pada masalah-masalah sintesis sederhana.

Pendekatan asosiatif intermediet mengenal subunit atom pada target yang sesuai dengan bahan awal yang tersedia atau diketahui. Pendekatan logika terpusat menghasikan sekumpulan struktur yang terbatas yang dapat dikonversi dalam langkah tunggal menjadi target

86

4.2 LHASA LHASA menganalisis molekul dengan mengembangkan skema retrosintetik, dan menyediakan reaksi kimia yang tepat untuk mengerjakan sintesis tersebut. LHASA merupakan program interaktif yang mem perlihatkan target, yang dimanfaatkan oleh ahli kimia untuk memilih strategi sintetik.

5. PENDEKATAN STRATEGI IKATAN Bila sejumlah stategi yang tersedia diterapkan pada tugas pemutusan spesifik maka yang pertama dilakukan adalah terhadap ikatan (ikatan -ikatan) pada target. Corey membuat sejumlah aturan yang mengikat bersama-sama antara strategi dan tujuan analisis retrosintetik menjadi analisis strategi ikatan. Aturan-aturan rersebut memberikan wawasan ke dalam diskoneksi pertama terhadap molekul target yang akan ditentukan jika struktur cocok dengan penyelesaian sederhana. Sebelum strategi ikatan ditentukan, penyederhanaan kemungkinan dapat dilakukan jika molekul memiliki simetri, apakah secara struktural mempunyai kesamaan dengan motekul lain yang telah disi tesis sebelumnya, atau mempunyai satuan n satuan dalam struktur yang dapat diulang. Perlu dipahami bahwa aturan -aturan tersebut hanya merupakan garis besar. Analisis dimulai dengan suatu pemeriksaan untuk menentukan jika ada metode yang dapat menyederhanakan molekul. Penyederhanaan akan memperpendek sintesis dan analisis retrosintetik diperkirakan akan mengikuri jalur tersebut. salah satu contoh penerapan aturan pendekatan,straregi ikatan adalah sebagai berikut. Apakah ada simetri atau hampir simetri pada dua bagian molekul Jika ada, maka sintesis kemungkinan dapat disederhanakan dan kemudian menggabungkanbersama dua atau lebih bagian yang identik. Contoh yang baik adalah molekul C-toksiferin I (8.40) yang memiliki simetri hemisferis. Pada 8.40 bagian atas hemisfer identik dengan hemisfer bagian bawah. Telah diketahui jika 8.40 direaksikan derigan asam sulfat menghasilkan hernisfer tunggal yang menghasilkan kembali dimer bila direaksikan dengan natrium asetat panas. Sintesis satu hemisfer dan kernudian menggabungkan dua bagian yang identik tersebut sangat menyederhanakan sintesis secara keseluruhan.

87

6. STRATEGI SINTESIS TERSELEKSI Seperti yang telah dibahas pada subbab di atas, diskoneksi ikatan tunggal dapat menghasilkan sejurnlah skema sintesis berbeda. Sifat interaktif pendekatan memaksimalkan jalur sintesis, karena banyak jalan pintas sintesis berbeda yang mungkin dijalankan. Hal mi dirunjukkan pada sejumlah sintesis vernolefin, 8.41, suatu emanolida yang ridak umum yang diisolasi dan sejumlah tanaman, meliputi veronia hymenolipsis A. Rich (keluarga Compositea) dan dilaporkan mernpunyai sifat-silat antitumor. Sifat-sifat biologis awal yang menjanjikan mendorong untuk melakukan sintesis total. Ada empat ahli kimia yang melakukan analisis retrosintetik terhadap senyawa vernolepin. Dua analisis retrosintetik di antaranya dilakukan oleh Danishefsky dan Grieco yang masingmasing ditunjukkan pada Gasnbar 8.4 dan 8.5.

Analisis 8.41 melalui aturan Corey menyatakan bahwa 1, 5,7,9, 11, 12, 13, dan 15 sebagai ikatan-ikatan strategis. Ikatan-ikatan 16, 17, dan 18 dapat juga dianggap strategis. Ikatan-ikatan 3 dan 13 merupakan hubungan ester yang labil dan strategis melalui pertukaran antar gugus fungsi. Pada Gambar 8.4, Denishefsky menggunakan ikatan -ikatan 1, 3, 5, 8, 10, 13, 17, 18, dan 15 untuk diskoneksi. Pada awal anaitsis hanya ikatan -ikatan 8, 10, dan 19 tidak strategis, sehingga ikatan-ikatan 8 dan 10 didiskoneksi terakhir pada retrosintesis, dan ikatan 19 didiskoneksi dengan transformasi gugus fiangsi. Diskoneksi pertama melepaskan gugus labil lakton -metilena yang menghasilkan 8.42. Diskoneksi berikutnya adalah penukaran gugus fungsi yang memberikan ekuivalen lakton asiklis (8.43) yang kemudian diikuti diskoneksi menjadi 8.44. Epolcsida berfu ngsi sebagai synthon untuk koneksi cincin lakton C. Gugus vinil didiskoneksi menjadi aldehida, dan didiskoneksi menjadi 8.45 yang terikat kembali dengan vinil dan gugus hidroksil pada cincin B, diikuti diskoneksi cincin A. 8.46 sikloheksena berperan sebaga ekuivalen sintetik untuk cincin lakton A. Diskoneksi i menjadi 8.47 menunjukkan bagaimana gugus fungsi meinbentuk cincin B, dan diskoneksi menjadi 8.48 menunjukkan bahwa cincin B merupakan unit bangunan dasar, yang dapar dibentuk melalui reaksi Diels-Alder dari butadiena dan metil propiolat.

88

seperti langkah yang dilakukan oleh Danishefsky. Cincin C menggunakan gugus dimetit-2-butenil 89 .5). tetapi ikatan ikatan 3 dan 13 kemudian didiskoneksi menghasilkan 8.51 menghasilkan ekuivalen vinil yang berbeda dari yang digunakan Danishefsky. 13. tetapi juga sebagai bagian untuk cincin A.Pada analisis retrosintetik yang dikerjakan oleh Grieco (Gambar 8. Gugus metoksi pada 8. Diskoneksi berikurnya diserta dengan pelepasan ikatan 19 pada 8.41. 3. ikatan -ikatan yan digunakan adalah 1.42. Perlu diperhatikan sikloheksena tidak hanya berfungsi sebagai ekuivalen vinil. Diskoneksi pertama adalah menjadi 8.51 dan 8. 17. Grieco menggunakan ikatan 15.52. dan 19.51 kenyataannya adalah ekuivalen dengan ikatanikatan 1 dan 2 pada 8. Diskoneksi berikutnya menghasilkan 8. 18. 5.50.

tetapi benbeda secara signifikan pada diskoneksi.¶diskoneksi tahap terakhir. Skema keseluruhan ini mirip dengan Danishefsky pada tahapan awal.Am.Soc.55 dan 8.54 menunjukkan bahwa cincin A dan B dibentuk dari 8. 90 .56..51. 285). 1985. diskoneksi 8. J.Sebagai kerangka karbon yang ekuivalen pada 8. 107. Berikut dicontohkan sintesis total dan metil ester dari Vineomisinon B2 sebagai antibiotik antrasiklin (Danishefsky.

Organic Synthesis [Download] Senyawa y (Adapted by: Organic Synthesis :The disconnection Approach.2009. y Sastrohamidjojo. Stuart Warren. Hardjono dkk. Sintesis Organic.goggle.Jakarta : Erlangga. Marhan Sitorus) 91 . y Stuart Waren. Kimia Organik Fisik.DAFTAR PUSTAKA y http://www.com/sintesis-organic/html.

NAMA KELOMPOK BAB 1 JULIANUS HONTONG DEYSI RIA TANGIAN RUSPIN ARUNG SAMPE APRIANA MARA BAB II ISAK IWAMONY MERLINA LUMOWA FENI BUBALA NURLELI HASYIM BAB III VIVI C E. J KUMOKONG FRIMA RINDENGAN MEIVIRA TAMPONGANGOI 92 . TAKASIHAENG ANGGI TUMILANTOW SEPTANI POLII YARDI HARUN BAB IV DIMANUEL ZET BORON ELVANDER ST.

BAB V LEKUNURU KALENSANG JOUN ALLEIN TINDAGE HENDRA PAAT ASTRIA WOWORUNTU BAB VI RANDY LENGKEY RIA TUMAKAKA RADIA KAMALUDIN ANGELINA MANUS BAB VII NANSI MOMONGAN JELTYANI GUMOLUNG EPIL MUNTIA CHRISTEL KORENGKENG BAB VIII IYEN IRALA LINA TASIM RESA GERUNGAN MAYO GANSARENG 93 .

94 .