BAB 1 RUANG LINGKUP SINTESIS KIMIA ORGANIK

Latar Belakang Berabad-abad para ahli mengira bahwa senyawa yang terjadi dalam jasad hidup berbeda dengan senyawa lainnya karena adanya semacam gaya gaib (Vital Force). Gagasan ini menyebabkan ahli kimia tidak mencoba membuat senyawa organik di laboratorium. Tetapi pada thun 1928, ahli kimia Jerman, Friedrich Wohler, pada saat itu berumur 28 tahun, secara kebetulan membuat urea, yakni unsur penting dalam urine, dengan memanaskan zat anorganik (mineral) yaitu amonium sianat. Ia begitu gembira dengan hasilnya, lalu menulis surat kepada gurunya, ahli kmia swedia J.J. Berzelius sebagai berikut: ³saya bisa membuat urea tanpa memerlukan sebuah ginjal atau manusia atau hewan´. Percobaan ini dan yang serupa lainnya sedikit demi sedikit melenyapkan (Vital Force) dan membuka jalan menuju dunia kimia organik sintetik moderen. Sintesis biasanya terdiri dari penggabungan kepingn kecil dan sederhana menjadi molekul besar yang kompleks. Untuk membuat sebuah molekul yang mengandung banyak atom dari molekul-molekul yang mengandung atom lebih sedikit, perlu diketahui bagaimana membuat dan memecah ikatan kimia. Walau sintesis urea dari Wohler suatu kebetulan, sintesis akan lebih efektif dan terkendali jika dilakukan dengan cara-cara yang rasional, sehingga semua atom tersusun, mereka akan berhubungan satu samalainya dengan benar dan menghasilkan produk yang dihasilkan. Ikatan kimia dibuat dan dipecah melalui reaksi-reaksi kimia. Dengan demikian kita dapat mempelajari bagaimana menyambung molekul-molekul secara spesific, suatu pengetahuan yang sangat berguna dalam sintesis. Pada saat ini sejumlah senyawa organik yang telah disintesis dalam laboratorium dan industri kimia jauh lebih banyak dari pada yang diisolasi (dipisahkan) dari alam-tetumbuhan dan hewan. Ada beberapa alasan mengapa penting sekali mensintesis molekul. Pertama, dapat mensintesis produk alam dilaboratorium dengan mudah, dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pemisahan dari alam. Contoh senyawa yang mula-mula di isolasi dari alam dan sekarang diproduksi secara sintesis untuk tujuan komersil adalah vitamin-vitamin, asam amino, zat-zat warna, kamper penghalau ngengat, penisilin antibiotika dan lain-lain. Sekalipun istilah sintetis kadang menyiratkan arti 'palsu', produkproduk alam sintesis pada kenyataanya identik dengan senyawa yang dipisahkan dari alam. Alasan lain untuk sintesis ialah menciptakan zat-zat baru yang mungkin mempunyai sifat-sifat lebih berguna dibanding dengan hasil-hasil alami. Serat sintetik seperti nyilon dan orlon, misalnya mempunyai sifat tertentu yang lebih berguna dan lebih baik dari serat alami seperti sutra, kapas dan sisal. Banyak senyawa dalam obat-obatan adalah sintetik (termasuk
1

aspirin, eter, novocain dan barbiturat). Daftar produk sintetik yang kita kenal dalam masyarakat industri antara lain adalah plastik, deterjen, insektisida dan tablat-tablet kontraseptik. Semua produk tersebut merupakan senyawa karbon atau senyawa organik. Akhirnya, kimiawan organik kadang-kadang mensintesis senyawa baru untuk menguji teori-teori kimia dan kadang tidak mempunyai tujuan khusus sama sekali. Beberapa struktur geometrik, misalnya mempunyai nilai-nilai estetis yang baik, dan merupakan tantangan untuk dapat membuatnya.

Dalam mempelajari sintesis senyawa organik,kita harus juga melibatkan prespektif yang lebih luas, yaitu industri vs sintesis laboratorium, keterbatasan waktu, pertimbangan teknisekonomis, dan perbedaan mendasar dari kriteria yang akan digunakan dalam pemilihan metode sintesis. Tiga contoh yang menunjukkan paradigma tersebut adalah sintesis senyawa siklobutadiena(1.1) asam gibberelat(1.2) dan akrilonitril(1.3). Sintesis molekul dengan reaktivitas tinggi seperti siklobutadiena memerlukan kondisi reaksi yang mungkin hanya diketahui dan dipahami oleh orang-orang tertentu ,karena reaksi tersebut harus di lakukan pada suhu -260oC. Sintesis ini melibatkan eliminasi fotokimia karbon dioksida dari perkusor lakton bisiklis dalam matriks argon padat. Pertimbangan ekonomi sungguh tidak relevan; tujuannya hanya untuk mendapatkan senyawa, sedangkan biaya dan usaha yang harus di bayar tidak dipikirkan. Asam gibberalt adalah contoh keberhasilan ahli kimia sintesis karena dibutuhkan 41 langkah untuk mensintesis total senyawa tersebut. Ini merupakan satu prestasi intelektual yang hebat dan mendemonstrasikan kekuatan dari sintesis senyawa organik. Ahli kimia sintesis secara akademik memang akan termotivasi oleh keindahan mensintesis suatu senyawa, tetapi mereka pun sangat mudah untuk kehilangan kontak dengan dunia nyata yaitu bahwa ilmu kimia harus diaplikasikan. Pertimbangan ekonomi mserupakan bagian terpenting dalam preparasi industri pada skala yang besar, dengan syarat meliputi proses yang jelas dean sederhana, biaya sintesis sedapat mungkin rendah, dan reaksi diupayakan berjalan dalam satu langkah. Namun demikian, hal ini dapat terjadi pada kondisi reaksi sangat spesifik (ekstrem) seperti metode aliran-kontinu, reaksi dengan orde detik dan suhu mencapai 500-700 0C, contohnya pada sintesis senyawa akrilonitril. Contoh di atas menunjukan variasi yang khas dari kondisi yang terlibat dalam sintesis senyawa organik. Hal-hal yang dipelajari dalam sintesis senyawa organik, untuk memberikan pwnjelasan tentang filosofi sintesis dan metodologi yang menyangkut bagaimana menyiapkan desain suatu molekul organik, di tambah metode tertentu dan kriteria umum yang diperlukan agar reaksi tersebut dapat berjalan.

2

Dalam sintesis senyawa organik, beberapa reaksi yang spesifik akan menjadi pokok bahasan dengan disertai penjelasan, perluasan, atau pensistematikan transformasi gugus fungsi. Proses membangun kerangka karbon, oksidasi dan reduksi, penggunaan reaksi organologam, serta interkonversi, aktivitas dan proteksi gugus fungsi merupan topik yang akan dibahas.

1.3.1 Reaksi sintesis Kemungkinan terbuka bagi ahli kimia sintesis adalah memanfaatkan sebesar mungkin apa yang diketahuinya secara lebih mendalam tentang ketersedian seleksi reaksi kimia. Woodward mengatakan bahwa ahli kimia organik telah menunjukan pentingnya transformasi sintesis dalam bidang sintesis senyawa organik. Syarat dalam merancang jalur sintesis yaitu:
y Telah diketahui y Dapat diprediksi dan sangat dibutuhkan.

Sintesis dalam menggunakan pereaksi organologam, baik menggunakan logam berat maupun logam transisi, telah secara mantap dibuat dalam skala pabrik. Oleh karena itu, penerapan sintesis dari kompleks precious-metal juga berkembang pesat dan memungkinkan untuk membangun transformasi senyawa organik yang berguna secara sintetik. penggunaan senyawa heterosiklik dalam sintesis senyawa organik merupakan perkembangan yang banyak memberikan sumbangan pada ilmu sintesis senyawa organik. 1.3.2 teknik sintesis Katalis tranfer fase adalah salah satu teknik sintesis, dengan dua versi, yaitu menggunakan garam amonium kuarterner dan penggunaan katalis makrosiklik, seperti eter mahkota dan poliamin makrosiklik. Reaksi tranfer fase secara klasik harus dianggap sebagai keadaan yang dinamis, yaitu sintesis interfasial. Selain katalis tranfer fase cair cair, juga termasuk didalamnya reaksi yang terjadi pada gas-cairan, bidang batas padatan-cairan atau gas-padat, reaksi pada fase koloid, dan topokimia pada multilapisan. Tonggak penting dalam bidang teknik sintesis adalah pengenalan reaksi terbantu polimer(polimer supported reaction). Pengaruh faktor fisik luar juga telah terasa dalam sintesis melalui penggunaan arus listrik untuk mendorong reaksi seperti pada elektrolisis kolbe. Namun demikian, jumlah dan variasi dari transformasi sintesis yang dipromosikan oleh arus listrik sekarang cukup banyak, sering menghasilkan reaksi kimia yang baik sehingga sering di kenal dengan istilah ³elektrosintesis´ dan bahkan sudah dilakukan dalam skala pabrik. Cahaya sebagai faktor fisik, menghasilkan hasil reaksi fotokimia yang merupakan bagian penting dalam sintesis senyawa organik.
3

3. yaitu kondisi sangat lunak(mild)misalnya pH dan suhu fisiologi. dengan pusat donor dan akseptor yang umumnya dalam posisi rantai. Jadi skema fragmentasi dari molekul dalam spektrum massa memungkinkan desain dari jalur sintesis untuk senyawa tersebut.7 Desain dengan bantuan komputer (computer-aided design) 4 . 1. Pengaruh stereokimia dari reaksi sintesis klasik dan kelebihan dari pereaksi dan metode baru yang berpengaruh terhadap stereoselektivitas berkembang sangat cepat. yang akan menghasilkan kemungkinan sintesis yang dapat dipertimbangkan. Prosedur penentuan inversi polaritas tersebut dihasilkan pada proses kebalikannya. atau dengan kata lain katalis akan mengarahkan reaksi hanya pada satu jalur reaksi. maka dapat diparalelkan dengan degradasi molekular. regiospesifik. terhindari dari rreaksi penataan ulang dan rasemisasi. Yaitu fragmentasi molekul pada spektometer massa adalah proses pemutusan ikatan.5 Analisis Retrosintesis Dua tahap yang memberikan kemajuan strategi sintesis. Desain sintesis merupakan rasionalisasi menyeluruh dan penyederhanaan atas kejelasan reaktan dengan reaktifitas normal dan kebalikannya. Yang kedua.3. adalah konsep inversi polaritas atau umpolung. laju reaksi sampai 1012 kali lebih cepat.6 Sintesis Spektra masa retro Kametani menciptakan metode yang dinamakan retro mass spectra synthesis. Atom ini menentukan reaktifitas polar rantai karbon yang mengikatnya. 1. 1.Yang terakhir dan merupakan bidang yang berkembang sangat pesat yang terkait dengan bidang biokimia adalah penggunaan enzim dalam sintesis senyawa organik. yaitu desain metodelogi dengan cara analisis retrosintesis. 1.3.3 faktor tiga dimensi dalam sintesis senyawa organik Dalam mempelajari sintesis senyawa organik adalah pertimbangan dari adanya faktor tiga dimensi. Setiap penjelasan sintesis senyawa organik harus memasukkan aspek stereokimianya sehingga menimbulkan gejelah bahwa sintesis stereoselektif berkembang sangat cepat. Synton merupakan unit yang dapat dibentuk atau dirangkai berdasarkan reaksi sintesis yang dikenal. Pertama adalah konsep synton yang didefinisikan oleh Corey sebagai unit struktur dalam molekul yang terkait pada kemungkinan operasi sintesis. Pendekatan sintesis stereoselektif lainnya adalah penggunaan katalis khiral dan bukannya pereaksi khiral.4 desain sintesis Dalam mempelajari sintesis organik adalah harus melibatkan rencana dan strategi. 1.3.katalis tranfer fase khiral khususnya memberikan enantiomerik yang sangat baik dengan garam amonium kuarterner dan eter mahkota.reaksi yang didorong oleh enzim sebagai biokatilis mempunyai kelebihan dibandingkan dengan reaksi organik murni.3. dan total kemospesifik.

EROS (Elaboration of Reaction for Organic Synthesis) merupakan program komputer yang dapat memberikan reasoning tanpa dibatasi oleh jumlah file reaksi. serta meletakkan pertimbangan pada pergeseran elektron. 5 . berupa usulan yang dibuat oleh mesin. Komputer dapat memunculkan transformasi sintesis dengan prinsip menyajikan reaksi yang masuk akal. Inti dari pendekatan ini adalah asumsi bahwa reaksi organik dapat diperlakukan sebagai pemutusan dan pembentukan. meliputi metode untuk mengatasi arsitektur molekular yang dihasilkan.

 DISKONEKSI DENGAN PENOMORAN 6 . dan diskoneksi ikatan karbonkarbon menghasilkan 1Pentanol (2.8) . asam pentanoat (2.B B R R  Perubahan gugus fungsi merupakan tranformasi dari satu gugus fungsi menjadi gugus fungsi yang lain.  Transformasi didefenisikan sebagai perubahan tepat dari suatu reaksi sintesis Sebagai contoh.7) sebagai target sintesis.

27.23 menghasilkan fragmen 2.reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya dan merupakan kebalikan dari sintetik (retrosintetik). dan reaksi yang real akan digunakan untuk menentukan ikatan yang didiskoneksi dengan benar dalam sintesis. Kedua pendiskoneksianyang mungkin ini harus ermati. evaluasi yang di ingikan adalah suatu molekul yang real. untuk menyelesaikan masaalah ini. Kedudukan atom ± atom donor di beri tanda dengan huruf d. Pendiskoneksian ikatan 2 pada 2. 7 .24 dan 2. Pendiskoneksian ikatan 1 pada 2.22 akan menghasilkan 2 fragmen (hasil diskoneksi) 2. ada dua asumsi yang dibuat.25.26 dan 2. Ikatan-ikatan akan dibentuk oleh reaksi yang melibatkan intermediat(zat antara) ionik . ikatan-ikatan kunci akan dibentuk melalui sejumlah reaksi 2. dan kedudukan atom ±atom akseptor di beri tanda dengan huruf a. Pendiskoneksian ikatan dua pada gambar di bawah akan menghasilkan fragmen 1 dan 2. yaitu: 1.

Enzim ini tentu saja sangat spesifik. Ada dua jenis produk metabolisme yaitu metabolit primer dan sekunder. adalah ekuvalen dengan C a parsial pada reaksi griknard. kedudukan C . Senyawa organik pada umumnya dihasilkan oleh organisme hidup.25 masing ± masing menjadi 2. Biosintesis atau lebih dikenal dengan istilah metabolisme sehingga produk sintesisnya dikenal dengan nama metabolit. Sintesis Organik. dan kedudukan C ekkivalen dengan karbon elektrofilik pada alkil halida A. Kandungan senyawa organik dalam metabolit sekunder pada makhluk hidup 8 .Sebagai contoh.32.  Pengertian Ekuvalensi sintetik Merupakan fragmen molekul yang ekuvalen dengan molekul real berdasarkan atas d keidentikan reaktivitas kimianya sebagai contoh.24 dan 2. hasil diskoneksi 2. senyawa organik disintesis melalui proses biosintesis dan dikatalisis oleh biokatalis yg disebut enzim.29 dan 2. Dalam tubuh makhluk hidup.30 atau 2.

B. Sintesis : a. selanjutnya MT dipecah/dipotong/diputus dengan seri diskoneksi. Mengenal gugus fungsional dan molekul target (MT) b. 9 . karena reaksoi senyawa organik tidak lain dan tidak bukan adalah transformasi gugus fungsional. struktur molekul yang akan disintesis ditentukan terlebih dahulu yang dikenal sebagai molekul target (MT). 2. Bila tidak berhasil dalam sintesis dilakukan pengkajian ulang analisis. Diskoneksi merupakan operasi balik suatu reaksi melalui suatu pembelahan yang Pedoman yang sangat penting untuk meripta suatu sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah sebagai berikut : 1. Retrosintesis Merupakan teknik pemecahan masalah untuk mengubah struktur dari molekul target sintesis menjadi bahan-bahan yang lebih sederhana melalui jalur yang berakhir pada suatu material start ysng sesuai dan mudah didapatkan untuk keperluan sintesis(Smith. padahal kebutuhan akan senyawa-senyawa organik terus meningkat. Ikatan yang didiskoneksi adalah yang diyakini reaksi tersebut dapat dapat berlangsung berdasarkan kaedah -kaedah dan jenis-jenis reaksi yang mungkin. mirip atau berfungsi mirip di laboratorium . Membuat rencana berdasarkan analisis Starting Material dan kondisi sintesis. Memastikan bahwa reagen pereaksi hasil pemutusan (sinton) tersedia sebagai starting Material. Dengan demikian hal yang mutlak harus dipahami agar sukses dalam melakukan sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah memahami reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya. dari penjelasan ini. c. Melakukan diskoneksi dengan metode yang berhubungan dengan reaksi-reaksi yang mungkin.relatif rendah.1994)Dengan cara ini. jelaslah bahwa diskoneksi pada hakekatnya adalah merupakan kebalikan langkah sintetik (retrosintesis). sehingga ahli kimia organik berusaha mensintesis senyawa yang sama. Analisis : a. b. Ada kalanya pada waktu melakukan analisis terhadap bahan awal (Starting Material) hasil diskoneksi harus diperoleh dari suatu hasil sintetik yang dikenal dengan IGF tadi. Proses semisintetik mencakup transformasi metabolit primer dan sekunder menjadi senyawa lain yang lebih bermanfaat. di laboratorium tentu sangat sulit sehingga prosesnya lebih tepat bila disebut sebagai proses semisintetik (Sitorus :2008).

3. Rancangan 2. 4. Dapat diprediksi produk yang akan terjadi. Menentukan kedudukan pasangan ion intermediate yang paling cocok untuk menyepurnakan sintesis ikatan karbon-karbon yang diinginkan . Telah diketahui 3. Diskoneksi ikatan yang memberikan penyederhanaan secara maksimum.Retrosintesis Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam retrosistesis ialah sebagai berikut: 1. kesimpulan Cara penyelesaian masalah untuk transformasi dari suatu target molekul sintetik. Menggunakan konsep donor ±akseptor untukn mengubah hasil-hasil diskoneksi menjadi bagian-bagian nukleofilik dan elektrofilik. 2. 10 .Menentukan kedudukan kaarbon yang terkandung dalam bahan awal yang terdapat pada target.melalui serangkaian tahapan reaksi yang akhirnya akan menuju pada bahan awal yang sederhana atau bahan awal yang dapat diperoleh dengan mudah Pendekatan retrosintesis untuk sintesis dengan bahan awal yang sudah diketahui meliputi: 1.

5).4) melalui reaksi substitusi.3) melalui reaks adisi asil. reaksi kimia dalam sintesis meliputi penggabungan gugus fungsi atau penggantian gugus fungsi.2 yang menggambarkan reaksi adisi. keduanya menggambarkan reaksi eliminasi dan reaksi asam/basa. Namun demikian.2) hanya membutuhkan langka transformasi gugus fungsi. Reaksi terakhir dengan asam hipobromida menghasilkan 3. Basa akan mengeliminasi dan memberikan alkena (3. TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI Dalam sentesis. Konversi sikloheksanon (3. substitusi. eliminasi. Reaksi awal keton dengan litium aluminium hidrida (LiAlH4 ) menghasilkan alcohol (3. Berikutnya adalah reaksi fosfor tribromida yang memberikan bromide (3.BAB III ASAM BASA DAN TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI A. reduksi. masalah yang mendapatkan perhatian besar adalah pembentukan kerangka karbon dengan cara reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon. Serngkaian adisi ini menggunakan lima macam tipe reaksi utama yaitu asam/basa. 11 .1) menjadi bromohidrin (3. da adisi. Penerapan perubahan gugus fungsi pada sintesis dapat digambarkan pada kasus sintesis berikut.

b. meiputi stabilitas relative asam (HX) dan asam konjugat (HB+) Pembentukan enolat (CB)dari 2-butanol (A) dengan natrium etoksida (B)dalam etanol merupakan reaksi yang dapat balik. Pada umumnya. KEASAMAN PADA MOLEKUL ORGANIK Reaksi HA dan B membentuk HB+ dan A-.74 7. kebasaan naik dari kiri ke kanan. Pada table periodic . Sejumlah factor yang mempengaruhi kekuatan asam dan hargan K dijelaskan a berikut ini: a. Kedudukan keasaman bergantung pada banyak factor.A. HF < HC < HBr < HI. Keasaman naik dari atas ke bawah.0 Terdapat dua definisi keasaman/kebasaan : asa lewis merupakan penerima pasangan electron dan asam Bronsted -lowry merupakan pemberi proton sedangkan basa lewis merupakan pemberi pasangan electron dan basa Bronstedlowry merupakan penerima proton. 12 . merupakan pernyataan umum penulisan reaksi asam/basa : HA + B: HB+ + A+ Asam (HA) bereaksi dengan basa (B:) menghasilkan asam terkonjugasi HB (CA) dan basa terkonjugasi A (CB).> NH2->HO Sebagai konsekuensi hal tersebut. asam kuat menghasilkan basa konjugat yang lemah. dan H2O < H2S pKa : 3. c. CH4 < NH3 < H2O < HF Asam lemah Asam kuat CH3.pada umumnya keasaman naik ke kanan. maka HA dapat dipandang sebagai asam lemah dalam system.0 -7 -9 -10 15. dan asam lemah menghasilkan basa konjugat yang kuat. dan tingkat kesetimbangan sebanding dengan keasaman HA. meskipun keelektronegatifitasnya menurun. Hal ini memacu kondisi kesetimbangan yang mengarah pada enolat yang lebih stabil. Jika basa pada keadaan tersebut sangat lemah untuk melepaskan proton asam HA. Tingkat ionisasi merupakan ukuran keasaman HA. Etanol merupakan asam konjugat yang merupakan asam yang cukup kuat untuk memprotonasi hasil enolat basa.

amina. misalnya aldehida dan keton y Karbonil yang mengandung gugus pergi. natrium dan kalium amida. Adisi Asil Nukleofilik 1) Pengikatan nukleofilik Nukleofil didefinisikan sebagai spesies yang dapat memberikan sepasan electron pada karbon dan membentuk ikatan baru dengan karbon. Basa yang digunakan untuk mendeprotonasi air atau alcohol adalah natrium hidrida. s 13 . misalnya turunan asam. Karena ikatan karbon bersifat kuat dan sukar putus maka reaksi kebalikannya lebih sukar. Ammonia dapat deprotonasi oleh basa yang sangat kuat seperti pereaksi Grignard dan organolithium yang menghasilkan basa amida. dan n merupakan valensi normal dari M. 2) Adisi Asil pada karbonil tanpa gugus pergi Adisi nukleofilik pada karbonil cenderung reversible jika spesies nukleofilik yang mengikatnya juga merupakan gugus pergi yang baik seperti reaksi adisi air atau hidroksida pada karbonil. kalium hidrida. yang merupakan basa yang sangat umum dan sering digunakan dalam pelarut alcohol (metoksida dalam methanol. natrium dan kalium hidroksida. Deproton alcohol memberikan basa asi alkoksida.Asam lewis umumnya dinyatakan dalam bentuk MXn. Kekuatan basa biasanya dinyatakan oleh pKa dari asam konjugatnya. Terdapat dua tipe pokok reaksi : y Karbonil yang tidak mengandung gugus pergi. maka induksi dapat mempengaruhi karbon beta pada elektrofilik ikatan phi. dan t-butoksida. sedangkan M menyatakan logam. Kebasaan Molekul Organik Kekuatan relative basa di pengaruhi oleh factor yang sama seperti asam. asam MXn menunjukan sifat-sift keasaman dalam reaksi kesetimbangan: MXn Asam B basa MXn-Bhasil adisi B. Terdapat banyak jenis basa yang digunakan dala kimia organic. Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan phi. X merupakan ligan (atom halogen. Kesanggupan nukleofil mengikat elektrofil akan bergantung pada kekuatan nukleofil dan sifat substrat karbonil. logam natrium. C. Bila NaC=CCH3 bereaksi dengan karbonil. atau fosfin ). dan kemungkinan dapat terjadi pengikatan nukleofilik. t-butoksida dalam t-butanol). metoksida.maka ikatan karbon-karbon dapat di bentuk.

8 yang diikuti dengan reaksi eliminasi.10). yaitu anion enolat (3.9). maka klor dan gugus alkoksi berfungsi sebagai gugus pergi.asam yang dibentuk diubah menjadi anion hidroksida.11 14 .6 memberikan hasil adisi 3. 3) Adisi asil pada karbonil dengan gugus pergi (subsitusi asil) Turunan asam karboksilat seperti asam klorida dan ester di tandai oleh karbonil yang mengikat klor atau gugus OR. dan menjadi kedudukan yang cenderung diikat oleh nukleofil. Pelepasan gugus pergi klorida dari 3. hidrolisis akan memberikan hasil akhir adisi.dan adisi nukleofilik heteroatom bersifat reversible. yaitu keton 3.7.Berdasarkan alasan ini.6) yang mula-mula dibentuk tidak melepaskan asetilida hingga adisi ireversibel dan hidrolisis 3. 4) Adisi konjugasi Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan dari alkena (seperti 3. alkoksida (3. maka pengaruh induksi akan membuat karbon terminal dari alkena elektronik. Jenis reaksi ini dikenal sebagai adisi konjugasi atau adisi Michael yang dipacu dengan pembentukan hasil yang distabilkan oleh resonansi. Pada umumnya adisi nukeofil karbon pada karbonil bersifat ireversibel. Jika nukleofil mengikat karbonil.8 memudahkan pembentukan ikatan baru asam benzoate. Sebagai hasil adalah reaksi subsitusi dimana nukleofil menggantikan klor pada karbonil. Bila karbonil mengikat gugus pergi seperti klor. Pada kondisi basa.maka adisi asil awal oleh hidroksida menghasikan 3.

dan juga menyerap panas berlebih yang dilepaskan oleh reaksi. b. biasanya proses bimolekul bersifat dominan. Perbedaan utama antar pelarut protik dan pelarut aprotik adalah kesanggupan pelarut protik untuk mensolvasi baik kation maupun anion. 5) Karakteristik reaksi yang melibatkan nukleofil Banyak factor yang mempengaruhi terjadinya reaksi nukleofilik.2 pada karbon biasanya lebih disukai.9 terhalang. Solvasi merupakan kunci dari sebagian besar reaksi nukleofilik dan sangat penting pada reaksi asam/basa. Substrat Perbedaan substituen pada substrat karbonil akan mengakibatkan perbedaan yang besar pada laju reaksi adisi asil nukleofilik dengan nukleofil. Nukleofil/basa   lebih Jika nukleofil kuat. Yang sangat menentukan adalah kesanggupannya melarutkan dan memisahkan ion-ion (solvasi). Pelarut dibagi menjadi dua kelompok. yaitu pelarut yang mengandung proton (X-H. Proses bimolekul tergantung pada sifat substrat (molekul yang mengandung pusat nukleofil).Meskipun pengikatan pada karbon asil bisanya berlangsung lebih cepat. Pada setiap kelompok. Bila R kecil (seperti hydrogen pada aldehida terkonjugasi). maka pengikatan pada karbon asil menjadi sukar dan adisi konjugasi berlangsung sangat kompetif. meliputi pelarut. namun bila gugus R pada 3. c. Sifat yang sangat penting dari pelarut adalah polaritasnya. sedangkan pelarut aprotik hanya mensolvasi secara kuat suatu kation. substrat. Ukuran yang baik untuk menyatakan kesanggupan pelaru untuk memisahkan ion-ion ini adalah tetapan dielektrik. maka pengika terhadap karbon kuat. protik) dan pelarut yang tidak mengandung proton (aprotik). sehingga proses bimolekuler lebih memungkingkan terjadi. dan sifat gugus pergi. sifat nukleofil. a. Pelarut Pelarut digunakan untuk melarutkan semua reaksi. konsentrasi. Untuk reaksi alkil halide primer. semakin tinggi tetapan dielektrik. Dalam 15 . maka pelarut semakin polar. maka adisi 1.

y Reaksi SN2 dapat melibatkan beberapa perubahan gugus fungsi yang berbeda dan menggunakan molekul kompleks baik substrat maupun pereaksinya. E). laju reaksi dinyatakan dalam persamaan : Laju reaksi = k [nukleofil atau basa][RX] Dengan k adalah tetapan laju reaksi. Kenaikan konsentrasi nukleofil. Setelah lepas atau pergi. REAKSI SUBTITUSI 1) Subtitusi nukleofilik bimolekul Reaksi Sn2 Substat 3. halida.pelarut aprotik. e. Kelebihan basa atau nukleofil umumnya digunakan untuk memacu laju reaksi.harus merupakan ion yang sangat stabil. atau basa akan mengakibatkan kenaikan laju reaksi. proses ini dapat dinyatakan sebagai substitusi bimolekuler yang melibatkan nukleofil. Penurunan konsentrasi pada setiap spesies akan menurunkan laju reaksi. seperti halnya kebutuhan energy yang naik untuk pembentukan kation. Konsentrasi spesies yang bereaksi Untuk proses bimolekul.Gugus pergi yang ³baik´harus mempunyai ikatan C-X yang lemah dan terpolarisasi tinggi.13. umumnya ditulis SN2. proses bimolekuler terjadi karena nukleofilitasnya dipacu.12 mengandung gugus pergi yang diganti dengan nukleofil menghasilkan produk 3. Gugus pergi Gugus pergi adalah gugus yang dipindahkan atau diganti dalam reaksi substitusi atau eliminasi. d. X. y Reaksi mitsonobu 16 .

Reaksi ini merupakan cara untuk mengubah molekul yang mengandung gugus pergi yang jelek menjadi turunannyayang dapat bereaksi melalui mekanisme SN2. 4) 17 Subtitusi oleh halogen .15.18 y Reaksi Sn2¶ Pada umumnya alilik halida bereaksi lebih cepat dengan nukleofil dari pada alkil halida karena ikatan membantu melepaskan gugus pergi. bahkan meskipun merupakan nukleofil lemah. 3) Penataan ulang kationik Pusat kation yang kekurangan elektron seperti 3.S N1 (atau reaksi ionisasi).14) dengan trifenilfosfin(Ph3P) untuk membentuk 3.17 dan garam alkoksifosfonium 3.32 dapat mempunyai muatan total yang disebabkan oleh pelapasan kerapatan elaktron dari atom yang berdekatan.kurang bermanfaat dalam sintesis. paralel terhadap ikatan. ion dipolar ini bereaksi dengan HX menghasilkan 3. alkohol kemudian ditambahkan pada garam fosfonium ini.16. Disini gugus pergi yang jelek diubah menjadi gugus pergi yang baik melalui suatu intermediet.namun demikian sering merupakan reasi yang sangat spesifik mempengaruhi perubahan gugus fungsi. dan reaksi selanjutnya menghasilkan diimida 3. 2) Subtitusi nukleofilik unimolekul Pada umumnya reaksi subsitusi unimolekul. Proses ini melibatkan reaksi dietilazodikarboksilat (3.

F).Reaksi alkohol tersier dengan HBr atau HCl menghasilkan halida melalui intermediet kation.69 sebagai campuran isomer E-Z. Eliminasi ditandai dengan pelepasan atom atau gugus (gugus pergi. 2) Eliminasi unimolekul 1.X) yang disebabkan oleh penggantian proton oleh basa untuk membentuk ikatan yang baru. Hal ini tampak dari kenyataan bahwa H dapat dilepaskan oleh basa baik dari arah ³atas´ atau ³bawah´ terhadap halida.2 ¡ Reaksi perubahan gugus fungsi berdasarkan proses asam/basa adalah eliminasi. dan reaksi tersebut dikenal sebagai reaksi E2 (eliminasi bimolekul).68 menghasilkan menghasilkan 3. dan reaksi ini disebut E1 (eliminasi unimolekul) 3) 18 Eliminasi syn . Muatan negatif terjadi pada karbon (basa memberikan 2 elektron ke hidrogen) dan terbentuknya kecapatan elektron ini memungkinkan terjadinya kelepasan gugus fungsi. 3. REAKSI ELIMINASI 1) Eliminasi bimolekul 1.67 dalam media berair menghasilkan pasangan ion yang terpisahkan oleh pelarut (3. karena hidrogen berdekatan dengan muatan positif. Ikatan baru terbentuk selama eliminasi dan menghasilkan alkena.2 Pemanasan bromida 3. dan perpindahan pasangan elektron kearah pusat elektofilik akan menghasilkan ikatan dari produk alkena. Rotasi ikatan pada 3. Hidrogen. Reaksi 1-butanol dengan HBr menghasilkan halida primer. yang akan mengalami penataan ulang menuju ion yang lebih stabil.(H pada 3. tetapi mengikuti mekanisme reaksi SN2 dengan bromida menggantikan H2O . sakunder. karena langka yang paling lambat pada proses ini adalah lepasnya gugus pergi yang akan membentuk karbokation. dan tersier dengan HBr dan HCl merupakan cara yang baik untuk pembuatan alkil halida. Suatu basa yang tepat akan melepaskan H . Reaksi merupakan unimolekul.68) terpolarisasi lebih besar dari pada halida netral.69. Pada umumnya reaksi antara alkohol primer.68).

transfer proton menghasilkan 3. namun kemudian terjadi perubahan cincin menghasilkan enolat 3. dan hidrolisis memberikan produk asam keton. Pusat kationik kemudian bereaksi dengan nukleofil (Brdari HBr) menghasilkan bromosikloheksana. Dasar ini juga dapat diterapkan pada sistem yang mempunyai hidrogen yang bersifat asam dan gugus pergi dipisahkan oleh 3 atom.3.89. Contoh poses ini adalah reaksi sikloheksana dengan asam yang membentuk karbokation sekunder. Jika tetheerd base juga merupakan gugus pergi.86 yang direaksikan dengan hidroksida mula mula membentuk 3.3. 396. Ikatan menjadi putus dan ikatan baru C-H terbentuk. Karbon yang pada awalnya berikatan rangkap yang tertinggal akan kekurangan elektron. REAKSI ADISI Adisi yang melibatkan intermediet ion bebas Tipe reaksi ini biasanya melibatkan ikatan alkena yang bersifat basa yang memberikan pasangan elektron ke asam (H ). maka hidrogen hanya dapat dilepaskan bila hidrogen mempunyai kedudukan eklips terhadap atom yang bersifat basa dalam konfigurasi syn. Biasanya reaksi awal melibatkan pembentukan intermediet karbokation. mengakibatkan lepasnya gugus pergi dan pembentukan ikatan . G).3 (dekarboksilasi) Reaksi eliminasi syn menunjukan bahwa hidrogen yang bersifat basa dapat dilepaskan oleh atom yang bersifat basa yang terdapat pada molekul yang sam. Hasil keseluruhan reaksi kationik ini adalah adisi H dab Br pada ikatan ¢ 1) 19 . 4) Reaksi-reaksi yang berkaitan dengan Eliminasi 1. Reaksi tersebut dikenal sebagai eliminasi 1. y Eliminasi 1.Jika basa merupakan bagian dari substrat. meskipun proses ini akan membutuhkan suhu reaksi yang tinggi untuk terjadinya populasi yang efisien pada konfigurasi eklips.88. dan disebut karbokation. Senyawa 3. Eliminasi seprti ini dikenal sebagai eliminasi syn.3 Terdapat sejumlah tipe reaksi yang berkaitan dengan proses eliminasi 1.87. maka pelepasan hidrogen syn dapat merupakan proses yang efisien. y Eliminasi hoffmann Eliminasi hoffman yaitu contoh klasik dari proses eliminasi syn.

Jika terdapat air (berasal dari penggunaan pelarut berair) atau jika menggunakan pereaksi yang lebih nukleofilik seperti KCN yang ditambahkan ke dalam reaksi. Pusat kationik yang dihasilkan oleh reaksi ini berdekatan dengan ikatan C -X yang baru terbentuk. Asam kuat HX (seperti HCl. Sebelum mekanisme reaksi ini diketahui. Proses ini berada di bawah kontrol termodinamika dan cenderung menghasilkan ion yang lebih stabil dan hasil akhir yang lebih stabil. Stabilisasi terjadi bila heteroatom terikat pada karbon elektrofilik. alkena mempunyai sifat kurang lebih sebagai basa Bronsed-Lowry. H2SO4. kation oksigen yang mengalami stabilisasi (3. namun bila didekatkan dengan ikatan . telah diamati bahwa reaksi alkena dan asam selalu menghasilkan produk yang lebih tersubstitusi yang kemudian dikenal sebagai adisi Markovnikov. melepaskan X-. Sebagai contoh. Pereaksi yang simetris seperti bron atau klor umumnya tidak terpolarisasi. maka elektron tersebut dapat diberikan kepusat kation sehingga membentuk intermediet jembatan simetris (lingkar anggota-tiga). sulfat. £ £ 3) 20 . Alkena kemudian dapat memberikan elektron ke X . HNO3.Alkena merupakan basa yang relatif lemah dan hanya akan bereaksi dengan asam kuat. Alkil sulfat dan nitrat sering tidak stabil. maka air atau sianida akan menjadi kation (masing-masing menghasilkan alkohol dan nitril). Tipe reaksi ini kadang-kadang dinyatakan sebagai transfer muatan kompleks. intermediet kation yang berasal dari proses adisi cenderung mengalami penataan ulag menuju ion yang stabil.).101. Karena guguus X mengandung pasangan elektron bebas. nitrat dll.102) dihasilkan oleh reaksi asam dengan keton (3. maka dipol akan terjadi (C=C X X. dsb) akan bereaksi dengan alkena menghasilkan alkil halida. HBr. sehingga tidak dapat dibentuk. Alkena dapat juga berfungsi sebagai basa Lewis pada reaksi dengan elektrofilik halogen.) 2) Adisi yang melibatkan intermediet jembatan yang simetris Pada reaksi dengan HX. Adisi yang melibatkan ion-ion logam yang distabilkan Seperti yang telah dijelaskan didepan.

Kondisi dengan suhu tinggi ini mempunyai enargi aktivasi tinggi untuk pengikatan awal pada cicin aromatik.126.118). jika asam Lewis kuat seperti AlCl3 ditambahkan. maka terjadi reaksi substitusi yang melibatkan transformasi 2. Namun demikian. transfer satu klor ke benzen. Contohnya.116) mengalami stabilisasi resonansi.4dinitroklorobenzena menjadi 2. dalam kompleks ini. Lepasnya proton bersamaan dengan pembentukan kembali senyawa aromatik berlangsung sangat cepat (membentuk 3. Jika campuran tersebut dipanaska sekitar 100oC. Ini merupakan cara komersial untuk memproduksi turunan-turunan fenol.H). SUBTITUSI AROMATIK Tipe proses ini ditunjukan pada reaksi benzena dengan spesies elektrofilik (X-).116) kadag-kadang dinyatakan sebagai ion benzenonium. ikatan klor-klor diperlemah yang kemudian dapat diikat oleh benzena.152) ditambah dengan natrium hidroksida dalam media berair. 1) Subtitusi nukleofilik aromatik Cincin aromatik memiliki sifat seperti basa Lewis dalam reaksi dengan asam Lewis. Kation intermediet (3.125). Kation ini (3. namun lebih umum disebut intermediet Wheland. bila diniriklorobenzena (3. Bila benzena direaksikan dengan spesies elektrofilik seperti HCl. Reaksi harus terjadi oleh pengikatan hidroksida nukleofil pada 21 2) . dan transfer klor yag lain ke AlCl3. yang digambarkan sebagai kation yang terdelokasikan. maka akan dibentuk kompleks trasfer muatan seperti 3. tidak akan terjadi reaksi. meskipun dilakukan pada kondisi suhu yang cukup tinggi.117 Subtitusi elektrofilik aromatik Ikatan-ikatan pada benzena merupakan pemberi elektron yang tidak efisien (benzena merupakan basa Lewis yang lemah). Reaksi ini menghasilkan intermediet Wheland. Pengikatan cincin aromatik akan membentuk ikatan C-X dan pusat sp3. Meskipun benzena dapat membentuk kompleks yang mentrasfer muatan lemah dengan klor (3. namun klor tidak dapat ditransfer kebenzena. yang kemudian melepaskan proton menghasilkan klorobenzena. namun pengikatan nukleofil cicncin aromatik yang kaya elektron lebih sukar. 3. Asam Lewis yang kuat akan memberikan reaksi yang cepat antara halogen dengan benzena. ternyata tidak terjadi reaksi.4-dinitrofenol.

hasil ini merupakan pengikatan terhadap kedua karbon ikatan rangkap. Basa akan melepaskan hidrogen-orto dan menghasilkan karbanion. Produk substitusi 3. ini sering disebut sebagai substitusi Cine. maka deprotonasi akan menghasilkan 3. Turunan benzuna (benzyne) Halogen membuat hidrogen pada kedudukan orto mempunyai sifat lebih asam. 3.159a.162 mempunyai substituen baru amino yang berdekatan dengan karbon yang mengikat gugus pergi bromida. Bila 3.160b.161 dan 3.159b.160a) disebut benzuna (benzyne). namun orbital yang terisi ini mempunyai kedudukan ortogonal terhadap bidang kabut aromatik. terlihat bahwa karbanion dalam posisi ortogonal terhadap kabut aromatik dan pararel terhadap ikatan C-Br. sehingga menjadi gugus pergi yang baik. ikatan ini merupakan sasaran terhadap pengikatan nukleofilik.153.160a menghasilkan campuran 3. 3.karbon ipso. bromida kemudian akan dilepaskan dan dihasilkan intermediet benzuna 3.159). ini merupakan intermediet yang tidak stabil.158 direakskan dengan natriu amida. dan nukleofilik amida akan bereaksi dengan 3.162.159a digambarkan kembali seperti 3. Pelepasan gugus pergi yang berdekatan ini membentuk ikatan baru pada intermediet benzuna. karena muatan terletak pada karbon yang berdekatan dengan halogen. dan spesies yang reaktif ini (3. Eliminasi halida membentuk ikatan baru yang tegak lurus pada kabut cincin benzena.160a. (lihat 3. 3) 22 . bila 3. yang menghasilkan ntermediet karbanion yang distabilkan oleh resonansi.

164 4) Terdapat sejumlah spesies nukleofilik yang dapat bereaksi dengan garam-garam aril diazonium.164 dalam asam berair menghasilkan fenol.167.Reaksi subtitusi terhadap garam-garam aril diazonium Bila amina aromatik primer seperti anilin direaksikan dengan asam nitrit (HONO) ± yang umumnya dihasilkan dengan mereaksikan natrium nitrit dan HCl atau asam sulfat ± maka dihasilkan senyawa aril diazonium. 3.165) menjadi garam diazonium (3. ion diazonium merupakan salah satu gugus pergi yang paling baik dan merupakan sasaran untuk digantikan oleh berbagai nukleofil untuk menghasilkan produk substitusi 3.166).163. 23 . 3. Pemanasan 3. yang kemudian dipanaskan dalam asam sulfat berair menghasilkan 3-nitrofenol. Contoh reaksi ini adalah konversi 3-nitroanilin (3. dalam hal ini benzenadiazonium klorida.

dan HCrO7-. dalam media berair. Pada konsentrasi tinggi (air 24 ¤ ¤ ¤ (2NH2SO4) 7 H2 O 4H2O . Alkohol primer mula-mula dioksidasi menjadi aldehida. Dalam asam sulfat. namun yang paling umum adalah kromium trioksida yang berwujud Polimer yang umum ditulis sebagai [CrO3]n . HCrO4-. seperti yang dinyatakan pada pernyataan kedua. 2. H2Cr2 O7. meliputi HOCrO3H. maka sebagian besar reaksi oksidasi dilakukan pada media berair. Untuk definisi yang lebih umum.BAB IV REAKSI OKSIDASI  Pengertian Reaksi Redoks Sheldon dan Kochi menyatakan bahwa oksidasi pada kimia organik dapat berupa: 1.14H HCrO4. oksidasi melibatkan lepasnya satu electron atau lebih dari atom-atom gugus. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton. reaksi Cr (VI) dapat ditulis: Cr6 3e ¤ Cr 3 Cr2O72. Sebagai Contoh adalah pada serangkaian Transformasi oksidatif terhadap Metana: CH4 CH3OH CH2 OH HCO2 H CO2 Oksidasi dapat juga didefinisikan sebagai reaksi suatu unsur dengan Oksigen.Cr2O72-. kromium trioksida berada dalam kesetimbangan dengan sejumlah Kromium (VI) lainnya. Oksidasi dengan Kromium (VI) Kromium (VI) merupakan z t pengoksidasi yang kuat. yang sebagian besar diterapkan pada kimia AnOrganik. Penggantian atom hydrogen yang terikat pada karbon dengan unsur lain yang lebih elektronegatifseperti Oksigen. Terdapat sejumlah pereaksi kromium (VI). H2CrO4.  ALKOHOL MENJADI KARBONIL (CH-OH C=O) alkohol dioksidasi menjadi turunan karbonil dengan berbagai zat pengoksidasi. Eliminasi hydrogen seperti pada serangkaian Dehidrogenasi Etana.7H ¤ 6e 2Cr3 ¤ 3e Cr3 Oksidasi terhadap alkohol akan disertai dengan reeaksi Kromium Cr (VI) menjadi Cr(III). Karena oksidasi alkohol harus dilakukan dalam keadaan yang dilakukan dalam keadaan terlarut. namun dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam.Produk yang dihasilkan bergantung pada struktur alkohol dan pereaksi yang digunakan.

Hal ini sesuai dengan: HCrO4. 25 .sedikit). dan Cr (V) terlibat dalam keseluruhan proses Oksidasi. Cr(IV). namun akhirnya usul ini tidak dapat diterima. Cr(V) 4 biasanya adalah HCrO4-.Cro3A + H2O Wiberg memberikan skema oksidasi alkohol sekunder menjadi keton sebagai berikut: R2CHOH + R2CHOH + R2COH + Cr(VI) Cr (IV) Cr(VI) Cr(V) + R2C O R2COH R2C O R2C O 2Cr(VI) 3R2C O + + Cr(IV) Cr(III) + + + Cr(V) Cr(III) 2 Cr (III) + R2CHOH + 3 R2CHOH Mekanisme ini menunjukan bahwa spesies Cr (VI). Westheimer mengusulkan pengikatan intermolekul oleh air.2 yang berasal dari reaksi HCrO4-.dan CrO3. Cr(VI) mengalami reduksi menjadi Cr(IV). Dalam larutan encer. Jika asam yang berbeda (HA) ditambahkan pada campuran. maka kemungkinan ester kromat yang terbentuk adalah 4. seperti yang dijelaskan pada 4. dan asam sulfat (HA pada persamaan diatas). Jika asam sulfat digunakan sebagai asam dalam media berair yang mengandung kromium trioksida dan isopropanol. maka yang dominan adalah polimer kromium trioksida dan asam kromat. Semula westheimer menyatakan bahwa air berperan sebagai basa untuk melepaskan hidrogen ini. Fakta eksperimental menyatakan bahwa oksidasi dimulai dengan pembentukan ester kromat. Penguraian ester kromat meliputi pelepasan proton yang terikat pada karbon yang mengikat oksigen. K esimpulan dari berbagai percobaan adalah bahwa posisi kesetimbangan bergantung pada asam.4. Paling tidak ada dua mekanisme yang diusulkan untuk langkah ini. konsentrasi Cr (VI) tidak bergantung pada asam. maka asam tersebut akan mempengaruhi kedudukan kesetimbangan keseluruhan.+ 2H+ + A. Kwart dan Francis mengusulkan reaksi intermolekul untuk melepaskan proton. Spesies Cr(VI) biasanya adalah HCrO. dan Cr(IV) biasanya adalah HCrO3-. dan pada reaksi.

Rocek akhirnya mengusulkan pembentukan kompleks koordinasi seperti pada 4. 26 . Alkohol primer dan alkohol sekunder. dimana oksigen dari ester kromat melepaskan kedua hidrogen dari karbon dan dari Oksigen.6. seperti halnya kompleks Cr2O3 piridin dan t-butil kromat. yang tidak hanya akan melarutkan pereaksi kromium saja.7 Oksidasi kromium (VI) yang termodifikasi Banyak variasi kondisi reaksi yang ditujukan untuk mengoksidasi alkohol. tetapi juga Substat alkohol. umumnya digunakan untuk mengkonversi alkohol menjadi karbonil. meliputi pengubahan asam yang ditambahkan pada media. Aldehid dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi asam karboksilat.Rocek mengabaikan kedua mekanisme reaksi tersebut dan mengusulkan Intermediet seperti pada 4. natrium bikromat dalam asetat. Karena sebagian besar senyawa organic tidak larut dalam air. termasuk kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair yang dikatalis oleh asam mineral. natrium bikromat dalam aseton berair yang dikatalis oleh asam asam mineral. keduanya dapat dioksidasi. Sejumlah pereaksi kromium (VI) dapat digunakan. Pelarut yang tahan terhadap oksidasi seperti asan asetat atau aseton. masing-masing menjadi aldehid atau keton. maka pelarutan umumnya dibutuhkan.

27 . Oksidasi menjadi asam juga dapat terjadi mula-mula dengan pembentukan hidrat. Paling tidak terdapat dua mekanisme yang dapat menerangkan konversi aldehida menjadi asam. sulfida teroksidasi menjadi sulfokdsida. dan fenol teroksidasi menjadi kuinon.a. Oksidasi terhadap alkohol primer mula-mula menghasilkan aldehida. kemudian pelepasan hydrogen. namun aldehida dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. tetapi bila R diganti dengan t-Butil.. dan hal ini dapat menurunkan produk karbonil yang dihasilkan. Fenil alkil karbinol dapat dipecah secara oksidasi dengan kromium trioksida dalam asam berair. Bila R pada 4. sulfida. Dua pendekatan mekanisme tersebut meliputi pembentukan ester kromat seperti 4. Isopropanol memberikan hasil yang baik dalam aseton berair.10. Adanya gugus ± gugus yang dapat dioksidasi pada substrat organik seperti alkena. Bila dapat mengisolasi aldehida yang dihasilkan. meskipun asetton larut dalam air yang menyebabkan isolasi produk menjadi sukar. pelepasan hydrogen. Kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair Beberapa alkohol dapat larut dalam air sehingga tidak diperlukan pelarut untuk mengoksidasinya dengan kromium.9 adalah iso-propil (iPr).12. Hal ii disebabkan kesempatan terbentuknya kation tersier yang lebih besar. maka akan mengurangi terbentuknya asam. amina teroksidasi menjadi hidroksi amina.hidroksi-amina. fenolat dan amina sering menghasilkan produk samping pada oksidasi terhadap alkoholalkohol yang larut dalam air. maka produk yang dihasilkan hanya 6%.pada kompleks seperti 4. maka diperoleh hasil produk 60%. Sebagai contoh.

Pembentukan ester seringkali disertai oksida terhadap aldehida primer yang memiliki berat molekul kecil. Sejumlah persoalan terjadi bila digunakan pelarut air. dan senyawa ini dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi ester. n-butanol menjadi n-butirrat. pelarut organik lain dapat digunakan bersama-sama dengan kromium trioksida berair. dimana alkohol yang tidak bereaksi dikonversi menjadi Hemiasetal. khususnya untuk molekul yang mengandung gugus-gugus Alkenil atau Alkunil 28 . Pereaksi kromiumtrioksida-aseton-asam sulfat sering dikenal sebagai Jones. oksidasi 4. Contohnya. Reaksi ini berguna. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan tambahan pelarut seperti asam asetat berair b. Bila aseton digunakan dalam larutan encer asam sulfat.15 dengan produk besar 77%. ternyata hasil oksidasi terhadap alkunil karbinol meningkat.Kesetimbangan antara aldehida yang mula-mula dibentuk dengan alkohol primer dapat menghasilkan reaksi samping. Sebagai contoh. Kromium trioksida dalam aseton Ioksida Selain asam asetat.14 menjadi keton 4.

akan dikatrakterisasi pereaksi. dan penggunaan aseton yang berlebihan akan melindungi produk keton dari oksidasi lebih lanjut. maka produk finalnya adalah asam karboksilat. Piridinium kloro Kromat (PCC) Usaha untuk meningkatkan oksidasi terhadap alkohol primer dan untuk lebih mempermudah isolasi produk yang dihasilkan mendorong pengembangan pereaksi kromium (VI). Modifikasi oksidasi jarret dilakukan oleh Collins dan penggunaannya terhadap oksidasi alkohol dikenal dengan Oksidasi Collins. Tujuannya adalah mengatasi masalah produk yag rendah pada oksidasi alkohol primer menjadi aldehida dan memudahkan isolasi produk karbonil. Pereaksi ini sangat tepat untuk mengkonfersi alkohol primer menjadi aldehida dalam diklorometan. Pereaksi Sisler-Jarret dibuat dengan mereaksikan kromium trioksida dengan piridin.oksidasi 1-Heptanol dengan PCC dalam diklorometana meghasilkan 78% Heptanal. Keuntungan reaksi oksidasi jarret alkena. keton dan amida. Kromium Trioksida-piridin Oksida dengan campuran kromium trioksida dan piridi sebagai pelarut dikenal dengan sebutan oksidasi jarret. Jarret mengoksidasi alkohol. d. tetapi kurang efisien bila diterapkan pada alilik alkohol. ester. Masalah yang dihadapi adalah kesulitan mengisolasi produk yang dihasilkan dari larutan piridin. bila penambahan piridin pada larutan kromium trioksida dalam HCl berair dilanjutkan dengan kristalisasi Kristal. Reaksi siklisasi ini diikuti dengan eliminasi yang akan 29 . Piridinium kloro kromat (PCC).Oksidasi terhadap alkohol biasanya berlangsung lebih cepat dalam aseton dari pada dalamasam asetat. Contohnya. Reaksi Sitronelol dengan PCC dalam Diklorometana mula-mula akan menghasilkan oksidasi aldehida. meskipun terdapat ikatan rangkap dua dan tioster. alkohol. suatu steroid dengan hasil 89%.sulfide. c. selanjutnya pada campuran ini direaksikan dengan alkohol. Oksidasi yang khususnya mebutuhkan perbandingan 5:1 hingga 6:1 atau kompleks alkohol dan reaksi berlangsung pada suhu kamar. Oksidasi jarret telah digunakan oleh yamada untuk mengoksidasi menjadi keton pada sintesis Patchouli alkohol.ketal. Pelarut piridin kemudian dihilangkan dan setelah itu ditambahkan dengan dikloroometana. namun karena kondisi reaksi dalam keadaan sangat asam. Sejumlah alkohol primer telah dioksidasi menjadi aldehida dengan menggunakan prosedur ini. tetapi protonasi aldehida karbonil yang diikuti dengan pengikatan alkena akan menghasilkan kation tersier. tersier.dan tetrahidropiranil eter teroksidasi jauh lebih lambat dari pada alkohol dan jarang terjadi reaksi samping. Pereaksi yang kemungkinan mempunyai struktur trigonal bipiramidal terbukti berguna untuk mengoksidasi alkohol primer dan sekunder. Sintesis mayuron yang dilakukan oleh Smith melibatkan oksidasi jones cocok terhadap molekul-molekul kompleks yang mengandung berbagai gugus fungsi seperti Alkena. Corey mendapatkan.

Alkil iodida primer dan sekuder atau tosilat dapat dikonfersi menjadi aldehida atau keton. Sikloheksanol bila dioksidasi dengan PDC dalam DMF pada 00C. Kornblum menyatakan bila  -haloketon direaksikan dengan DMSO pada suhu yag agak tinggi. Oksidasi yang terjadi dalam keadaan netral ini ditunjukan pada reaksi dengan PDC yang menghasilkan produk Aldehida sebanyak 92%.  Dimetilsulfoksida (DMSO)-Disikloheksil karbodimida (DCC) Dimetilsulfoksida dapat berfungsi sebagai pelarut maupun sebagai reaktan untuk berbagai substrat alkohol. akan menghasilkan 86% Sikloheksanon. maka digunakan pereaksi yang lebih netral. namun senyawa tersebut bersifat kurang reaktif bila dibandingkan dengan -haloketon.menghasilkan alkena. Oksigen Nukleofilik dapat bereaksi dengan pusat elektrofilik membentuk garam sulfoksonium. yaitu piridinium dikromat (PDC). Cairan alkohol sekunder dioksidasi lebih lanjut membentuk (-) pulegon. Oksidasi terhadap Sitronelol dengan PDC dalam DMF pada 250C. Reaksi 1 bromooktana dengan DMSO dan NaHCO3 pada suhu 1000C selama 5 menit akan menghasilkan oktanol 74%. menghasilkan produk asam sebanyak 83%. e. Mekanisme reaksinya kemungkinan meliputi pelepasan Nukleofilik Halida oleh DMSO yang membentuk garam Alkoksisulfoksonium. Sikloheksanol bila dioksidasi akan berlangsung sepuluh kali lebih cepat dari pada dengan PDC dalam diklorometana pada 250C. 30 . Bila pelarut diganti dari diklorometan menjadi dimetilfosmamida (DMF). Pridinium dikromat (PDC) Untuk mengeliminasi sifat asam dari PCC. yang dapat dikonversi menjadi keton atau aldehida pada keadaan netral. perbedaan yang cukup signifikan antara oksidasi terhadap alkohol Alifatik dengan oksidasi terhadap alkohol Alilik. akan mengasilkan Glioksal yang sesuai ( -ketoaldehida).

Untuk mengoksidasi alkohol ³dengan DMSO´. yang bersifat gugus pergi yang jelek. Disikloheksil urea dilepaskan. udara merupakan pereaksi. Udara merupakan oksidator dan DMSO berfungsi sebagai pelarut. Dalam hal ini. yang kemudian bereaksi dngan Alkohol. Seperti halnya dengan DCC. oksigen dari DMSO harus menggantikan gugus hidroksil. dengan adanya katalis asam. DMSO mula-mula bereaksi dengan anhidrida asetat membentuk garam sulfoksonium. yangsekarang mengandung gugus pergi urea yang diikuti proses pengikatan belerang dan alkohol. Sebagai contoh adalah konversi tertosteran menjadi androst -4-ena-3. menghasilkan garam sulfoksonium. dan sinamil alkohol dioksidasi menjadi sinamil aldehida dengan hasil 90%.17-dion. Cara yang sering dilakukan untuk memisahkan disikloheksil urea adalah dengan mereaksikannya dengan asam oksalat. Deprotonasi garam sulfoksonium merupakan proses intramolekul dan terjadi dengan basa yang kekuatannya menyerupai ion asetat. Hasil interpretasi dari mekanisme ini menyatakan bahwa pusat karbonium pada senyawa belerang melepaskan -hidrogen secara intramolekul. Salah satu masalah yang timbul adalah pembentukan urea yang sangat sukar dipisahkan. dengan gelembung udara melalui media.1 Dimetil Sulfoksida ± Anhidrida Asetat Albright dan Goldman mengembangkan pereaksi oksidasi yang sejenis. Mekanisme oksidasi ini dikemukakan oleh moffatt dan merupakan reaksi pembentukan dan pemisahan disikloheksil urea yang sangat tidak larut. Pada reaksi ini. Pelepasan atom hidrogen kelihatannya analog dengan mek anisme eliminasi Oksidasi Moffatt memiliki beberapa kendala. 31 . yaitu bila alkohol bereaksi dengan DMSO. DMSO bereaksi dengan DCC membentuk intermediet sulfoksonium. Berdasarkan mekanisme tersebut. benzilik dan alilik alkohol dikonversi menjadi aldehida melalui proses merefluksnya dalam DMSO. Tipe reaksi ini dikenal sebagai oksidasi moffat. dan lepasnya proton bukan disebabkan oleh basa melalui reaksi intermolekul. merupakan pereaksi oksidasi yang efisien untuk alkohol. produk karbonil dan dimetil sulfida dapat diperoleh. 4. Proses ini menghasilkan senyawa yang mengandung belerang yang distabilkan oleh orbital d dari belerang.3. dan menghasilkan produk karbonil dan dimetil sulfida (yang berfungsi sebagai gugus pergi) Tipe oksida yang sejenis telah dilakukan. DMSO dan anhidrida asetat digunakan untuk membentuk kompleks aktif sulfoksonium. Campuran DMSO dan disikloheksil karbodiimida (DCC).-proton kemungkinan diperantarai oleh DMSO.

meskipun demikian oksida terhadap benzil alkohol menghasilkan benzaldehida sekitar 60 .49. yang bereaksi pada oksigen karbonil membenuk kompleks yang kekurangan elektron . Keton awal (RCOR1 ) berperan sebagai penerima hidrogen. Reaksi reversibel Alumina Alkoksida. Alkohol di konversi menjadi sustu kompleks dan -hidrogen Akohol dapat dilepaskan seperti asam. Dua reaksi samping yang umum terjadi adalah migrasi atau pergeseran ikatan rangkap non-terkonjugasi menjadi terkonjugasi.52a. maka kesetimbangan bergeser ke arah 4.sedangkan oksidasi terhadap geraniol 4. yang kemudian dengan oksidasi Oppenauer.ah yang rendah. dalam proses reversibel.52b). triisopoksida atau tri-n-propoksida.Verley. Reaksi ini telah diterapakan pada sejumlah oksidasi. dan adanya aseton dalam jumlah berlebih akan mendorong reaksi kearah produk oksidasi. pertama kali ditunjukan oleh Verley dan Ponndorf pada reaksi keton dengan Aluminium Alkoksida. pada reaksi oksidasi geraniol ini. yang menginisiasi oksidasi alkohol yang terikat dengan alkoksida pada 4.bila titik didih aldehida 50 lebih tinggi dari pada produk yang di harapkan. transfer hindrogen antara dua karbon alkoksil menghasilkan4. melalui keadaan transisi enam-pusat. Aseton (sering dengan benzena sebagai pendukung pelarut) sebagian besar digunakan sebagai penangkap hidrogen. 4. Pada tahun 1937. hanya menghasilkan 35% geranal (4. kompleks 4.50. Sebagai 32 .48 dan 4.50. maka produk aldehida dapat di pisahkan dengan cara distilasi.Oksidasi Oppenauer Dalam reaksi yang melibatkan kromium (IV) dan pereaksi DMSO. namun masalah ini dapat diatasi dengan mengubah struktur logam alkoholat atau penerima hidroksida. Cara Alternatif dan klasik untuk mengoksidasi Alkohol difokuskan pada reaksi yang dapat dibalik antara keton dan logam alkoksida.50. Oppenauer menerapkan reaksi ini pada oksida Alkohol Steroidal tak jenuh dengan menggunakan aluminium triisopropoksida (Al(OiPr)3 ) dan Aseton.49. meskipunsikloheksana dalam larutan toluena atau silena juga sering digunakan. Hidrogen Hadapat di transfer antara 4.dan kondensasi produk aldehida dengan penangkap hidrogen karbonil(kondensasi aldol yang dikatalisasi oleh asam).51 dan pembentukan keton baru (R2COR3 ). streroid dan alkohol-alkohol sederhana.48. maka aseton yang digunakan berperan sebagai pelarut dan aluminium triisopropoksida yang digunakan merupakan pereaksi. aluminium pada kompleks alkoksida(4.49 dan 4.49 yang berada dalam keadaan kesetimbangan. menjadi ³karbon keton´ seperti 4. jika tujuannya adalh mengoksidasi alkohol. Reaksi ini menghasilkan pembentukan aluminium alkoksida baru dan keton baru. Pada umunya. Seperti halnya 4. Reaksi berlangsung melalui kompleks aluminium koordinasi(4.49).50 berada dalam keadaan kesetimbangan dengan alkoksida baru dan keton baru Jika keton asal (RCOR1) ditambahkan secara berlebih. Aseton berfungsi sebagai penerima Hidrogen.48 dan 4.oksida oppenauer terhadap alkohol primer menghasilkan aldehid dalam juml. Oksidasi Oppenauer tehadap alkohol jenuh sering mengalami hambatan.kuinon digunakan sebagai penagkap hidrogen. Upaya lainnya yang sering dilakukan yaitu dengan penggantian pelarut aluminium-t-butoksida. kompleks ini kemudian mentransfer Hadari karbon alkoksida 4.48) berfungsi sebagai asam lewis . Reaksi ini sangat efektif bila logamnya adalah aluminium. Perluh diperhatikan bahwa reaksi ini adlah kebalikan dri reduksi meerwein-ponndorf.

Reaksi ini menghasilkan aldehida yang sangat baik dari alkohol primer.Goodwin. Ishii menggunakan pereaksi siklopentadiental zirkonium (Cp2 ZrH2 ). Goldman dan Hembert mengusulkan intermediet radikal pada oksidasi yang menggunakan mangan dioksida. Mekanisme Goldman ditunjukan pada reaksi benzil alkohol dan melibatkan 33 ¥ . dan Martin ketika mereka mengendapkan mangan dioksida dan menggunakannya untuk mengkonversi vitamin A. Mangan dioksida merupakan pereaksi yang penting dalam sistem senyawa organik. oksidasi terhadap 3-metil geraniol(4. dalam media netral. yang menghasilkan ikatan MnO(Mn2 ).contoh. Penggunaan antara alkohol dengan penerima hidrogen yaitu 1:1.52b) menggunakan aseton berlebih sebagai penangkap hidrogen.53) menjadi retinena dengan hasil 80% Pereaksi ini dapat dibuat dengan beberapa cara. Mangan dioksida biasanya merupakan produk akhir dari oksidasi yang sangat kuat . Oksidasi Dengan Mangan Dioksidan Mangan oksidasi(MnO2 ) umumya berbentuk Mn(IV) dan cenderung tidak larut dalam sebagian besar pelarut organik. menjadi aldehida dan keton. namun kekuatan pengoksidasinya sangat dipengaruhi oleh cara pembuatannya. secara berturutturut. dan dapat menoksidasi alkohol menjadi keton atau aldehida. Reaksi berlangsung melalui intermediat radikal. karena pereaksi tersebut dapat mengoksidasi alkohol primer dan alkohol sekunder. Oksidasi ini terjadi melalui kondensasi produk oksidasi aldehida.(4. yang ternyata merupakan katalisator yang efektif pada oksidasi oppenuer.52a) menjadi -iron (4. Reaksi ini di temukan oleh Ball. Salah satu cara yang umum meliputi pengendapan MnO2 yang berasal dari pemanasan MnSO4 dan KMnO4 pada PH tertentu. Penggunaan aluminium telah dikurangi kaena terjadinya reaksi samping.

serta waktu reaksi lama. Senyawa turunan fenol bila dioksidasi menghasilkan Kuinon yang merupakan komponen penting yang terdapat secara luas dialam konfersi hidrokarbon aromatik menjadi fenol juga memungkinkan dengan cara oksidasi. pereaksi ini dibuat oleh Fremy sebagai garam dinatrium.bereaksi dengan aldehida terkonjugasi. Reaksi berlangsung cepat dan dapat ditandai dengan hilangnya warna ungu dari radikal. (KO3S)2NO). mangan dioksida yang dibuat dalam keadaan baru diaktivasi. turunan aromatik yang mengandung ggus hidroksi (turunan fenol) juga dapat dioksidasi. kemudian berreaksi dengan MnO2 yang menghasilkan sianoketon. Proses oksidasi dapat juga menggunakan sianida seperti pada konversi aldehidaterkonjgasi menjadi ester terlonjugasi.adsorpsi pada mangan dioksida. ini merupakan sintesis utama terhadap penggunaan mangan dioksida. relatif terhadap para34 . dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alilik sekunder. Pelarut yang umum digunakan adalah Alokohol yang berair dan asetat berair dan reaksi biasanya berlangsung dalam larutan bufer fosfat atau ufer asetat. Mangan dioksida mengoksidasi alilik dan benzil alkohol lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh. Kadang-kadang pereaksi bereaksi dalam keadaan yang istimewa dan terurai secara spontan. Corey menunjukan bahwa HCN/CN. cara Siklisasi dan cara Kondensasi Salah satu pereaksi yang paling umum digunakan untuk mengoksidasi turunan Fenol menjadi Kuinoid adalah Garam Fremy (Kalium Nitroso disulfonat. nam keadaan un ini terjadi karena adanya sejumlah katalis ion nitrit Pereaksi dalam larutan asam sangat tidak stabil dan pada larutan yang berair pada pH>10 juga mengalami penguraian.61) dan 1. namun rashing membuat garam kalium yang lebih efektif dan menjadikannya pereaksi yang tetap menjadi pilihan. Kuinon Sturktur Kuinon terdapat dalam berbagai bahan dialam. Mekanisme sederhana untuk oksidasi telah diusulkan oleh Tenber. Oksidasi membutuhkan media netral.4 (para) Kuinon (4. untuk menyempurnakan oksidasi. Faktor penghalang pada reaksi kadang-kadangf dapat memberikan hasil orto-Kuinon yang rendah. Koordinasi ini diikuti transfer elektron yang menghasilkan radikal dalam proses yang disertai dengan reduksi Mn(IV) menadi Mn(III).2 (Orto) Kuinon (4. Transfer elektron kedua menghasilkan produk karbonil yang diserap pada Mn(OH)2 sehingga terjadi desorpsi pada produk dengan melepaskan air. relatif para Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto-kuinon yang rendah. pelarut yang tepat. ada banyak cara pembuatan Kuinoid. reksi selanjutnya dengan pelarut alkohol (metanol) menghasilkan metil ester  Pembuatan Fenol Dan Dan Kuinon Selain oksidasi terhadap senyawa-senyawa hidroksi alifatik. melipuuti oksidasi senyawa asal non-kuinoid. Kuinoid yang paling umum adalah 1.62).

82) yang merupakan anti terhadap boron yang berdekatan. Terdapat sejumlah cara oksidasi yang berbeda yang dapat diterapkan pada alkena.77 V seperti yang di tunjukan pada reaksi berikut: H2 O2 2e. dan dengan cara ini. Ekpoksidasi menggunakan peroksida Cara yang paling umum untuk mengkonversi alkena menjadi epoksida adalah menggunakan peroksida. Gugus fungsi lain yang dapat menjadi sasaran terhadap oksidasi meliputi ikatan pada alkena.2H ¦ 2H2O 1. yaitu dengan menggunakan sistem oksigenion fero-asam askorbat dengan adanya EDTA (Pereaksi Undenfriend).).  Konversi alkena menjadi Epoksida Oksidasi gugus C-OH menjadi gugus karbonil C=O telah dibahas.Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto dari para dapat diikat.83) melalui proses. Fenol Pembuatan Fenol yang umum adalah dengan menghidrolisis garam-garam Diazonium. senyawa tersebut bila kemudian direaksikan dengan basa seperti natrium hidroksida. Epoksidasi dari halohidrin Reaksi alkena dengan asam hipohalida (Cl2 H2 O  HOCl atau Br2 H2O  HOBr) menghasilkan trans atau anti halodrin sebagai hasil pokok. tiramin) dapat dikonversi menjadi campuran hidroksitiramin 21% () dan dihidroksi tiramin (DOPA.81.77 V Reaksi peroksida sebagian besar meliputi pemutusan homolitik ikatan O-O. meskipun orto kuinon akan dibentuk bila kedudukan para dilindungi atau diblok. seperti pada konversi dikloroheksana menjadi 4. Orientasi anti ini melepaskan halida yang akan menghasilkan sikloheksana oksida (4. yang menghasilkan radikan bebas. Peroksida marupak sumber ³elektrofilik oksigen´ dan bereaksi dengan nukleofilik ikatan dari alkena. penggabungan 2 oksigen (hidroksilasi) dan oksidasi pemutusan ikatan (umumnya menjadi turunan karbonil). Biasanya produk utamanya adalah para-kuinoid. Reaksi dikembangkan dengan model untuk hidrolisasi biiogenik tiramin Versi yang lebih maju dari pereaksi ini yaitu menggunakan oksidasi anodik dengan adanya pereaksi Udenfriend. Hydrogen peroksida (H2 02 ) merupakan zat pengoksidasi yang kuat dengan petensial reduksi 1. akan menghasilkan alkoksida (4. Hydrogen peroksida dan turunan monosubstitusinya dapat 35 . Cara lainnya telah dihasilkan oleh Undenfriend. Pereaksi ini memberikan hasil yang baik untuk turunan orto dan para -fenol dari fenilasetamid. meliputi penggabungan suatu oksigen (Epoksida).

92.88). dan asam karboksilat dari peroksi asam).91 dengan t-butilhidroperoksida (TBHP) dan molybdenum heksa karbonil menyebapkan oksidasi selektif pada alkena trisubstitusi yang akan menghasilkan 4. seperti 4. dan menghasilkan 4.alcohol dari alkil hiroperoksida. Terdapat tiga kelompok utama peroksida yang digunakan untuk epoksidasi:hidrogen peroksida (4. yang menghasilkan oksigen yang bermuatan positif. Alkena yang kekurangan electron bersifat kurang reaktif. Sebagai contoh. Hal ini ditujukan pada epoksidasi geranial (4. dan peroksida asam (4.90.94.87).bereaksi dengan alkena. O + R.OH H O O R Gugus ±OH perasam bersifat elektrofilik dan pengikat pada ikatan rangkap alkena menghasilkan adisi syn dari oksigen epoksida . alkil hidroperoksida (4. Pemutusan secara heterolik mentrasfer oksigen ke basa lewis (alkena). epoksidasi sikloheksenol dengan TBHP dan logam bersifat 36 . dan pelepasan proton menghasilkan hasil samping (air dari hidrogen peroksida. Pengaruh gugus tetangga mungkin terjadi bila ada gugus pengkoordinasi seperti pada alilik alcohol.89) basa lewis (Alkena) berkoordinasi dengan elektrofilik oksigen dari peroksida.93) yang mengalami epoksidasi selektif pada alkena yang tidk terkonjungsi. Beberapa contoh reaksi epoksidasi Reaksi 4.

yaitu kearah pembentukan 4.102 dengan t-butil hidroksida dalam larutan basa menghasilkan produk yang baik. reaksi yang sejenis.101.106) dengan mCPBA dalam karbon petraklorida 37 .sangat selektif untuk epoksi alcohol. di mana enolat anion menggeser gugus hidroksi yang kemudian menghasilkan epoksida.Peroksida bereaksi pada media basa menghasilkan produksi anion yang bereaksi dengan turunan karbonil terkonjungsi pada C terminal adisi-1. asam-asam kuat seperti asam format dan asam trifluoroasetat berguna karena dapat menggeser kesetimbangan kearah kanan. Hidrogen peroksida dalam basa dapat mengkonferesi nitril manjadi epoksi amida.6.97) dikonfersi menjadi epoksida yang sesuai (4.peroksi bensoat. 4.98) dengan hasil 72 . dengan gugus hidroksi syn terdapat pada epoksi 4.4.4 peroksi asam organic Mungkin cara yang paling umum untuk epoksidasi alkena sederhana kemungkinan adalah dengan peroksi asam.trifluoroh.100.104 dibuat dengan mereaksikan asam karboksilat dengan hidrogen peroksida. 4.103). seperti pada reaksi akrilonitril yang menghasilkan 4. pada umumnya. Sebagi contoh. adisi konjungsi ). yaitu epoksinitril (4. Tidak diragukan bahwa reaksi ini berlangsung melalui intermediet seperti 4. yang mula-mula melalui pembentukan 4.4. epoksi alcohol 4.95.99. sejumlah peroksi asm dapat diperoleh dalam perdangangan. hidrogen peroksida bereaksi dengan basa menghasilkan hidroperoksida anion (HOO-) dan mengadisi keton takjenuh aldehida dan ester. maka pengru penghalang akan menghasilkan anti-hidroksiepoksida (4. meliputo peroksi format.96) sebagai produk utama. Peroksi asam seperti 4.105) Contoh epoksidasi alkena adalah konfersi siklupentena manjadi siklopentena oksida (4.104.95 bersifat dominan.kenyataannya. jika reaksi berlangsung tanpa pengaru gugus tetangga. Isoforon (4. yang dikenal sebagai reaksi prilezheav (prileshajew).peroksi asetat dan meta-kloroperoksibensoat (mCPBA.

Adanya larutan penyangga (buffer) menjadi penting padaepoksidasi dengan peroksi asam. RCH = CH2 : 24.2 ± dimetil ± 1. Selain itu. tri dan tetra tersubstitusi segera terepoksidasi dengan asm peroksi alkanoat maupun dengan asam peroksi bensoat. Jika molekul mengandung dua alkena.4 ± siklopheksanadiena. Natrium dan kalium asetat digunakan sebagai penyangga.maka hasil sampingnya adalah asam organic kua. karna dibutukan pengunaan peroksi asam yang kuat seperti asam trifluoroh peroksi asetat meskipun mCPBA juga efektif.R 2C = CH2 :500. Pada umumnya. Penambahan garam asam (RCO2.Kemungkinan reaksi yang berlangsung melalui mekanisme penggabungan. dapat digunkan kalium atau natrium atau kalium hidrogen fosfat. Ikatan rangkap dua.N ) pada media reaksi biasanya akan menyangga reaksi dan mencegah terjadinya reaksi samping. Epoksi ester seperti dapat dibentuk dari ester terkojugasi seperti etil 2 ± bensoat dengan menggunakan mCPBA atau asam trifluoroh asetat.RCH = CHR :500. Sebagai hasil samping adalah asam karboksilat. asam ini cukup kuat untuk mengkatalisis penataan ulang atau reaksi lain terhadap produk epoksida. asam trifluoroh asetat (CH3CO2 H).R2C ± CHR :6500. dimana diena dikonversi secara selektif menjadi epoksida. reaksi dengan asam peroksi bensoat mengunakan natrium bensoat dan natrium trifluoroh asetat digunakan dengan asam trifluorohperoksi asetat. Jika asam triflouorohperoksi asetat (CF3CO3 H) digunakan sebagai zat pengoksidasi. Pembukaan cincin epoksida dengan suatu asam H-Nu dapat dinyatakan sebagai berikut: § 38 . dan R2C = CR2 >> 6500).Alkena yang lebih banyak tersubstitusi merupakan alkena yang kaya electron dan bereaksi lebih cepat dengan peroksi asam dari pada alkena yang kurang tersubstitusi. Memberikan epoksida tetrasubstitusi dengan mCPBA reaksi ini ditunjukan oleh ptattier dan teisseir pada y -bisabolena. mCPBA marupakan peroksida yang bagus untuk sebagian besar alkena. maka alkena yang lebih tersubstitusi akan lebih cepat terepoksidasi. Sebagai contoh. atau dengan buffer hidrogen fosfat dinatrium. yaitu alkena dan elektrofilik peroksi oksigen. Epoksidasi terhadap alkena monosubstitusi biasanya kurang reaktif. Pembukaan cincin epoksida dengan asam Pembukaan cincin epoksida dapat dilakukan dengan pereaksi asam atau basa. 1. laju relative epoksi naik berdasarkan karakter nuleofilik alkena (CH2 = CH2 mempunyai luju relative 1. Pembukaan Cincin Epoksida a. Contohnya.okan membentuk koordinasi yang kemudian terjadi pelepasan asam karboksilat dan pembentukan epoksida. namun asm peroksi bensoat lebih efektif.

Langkah 1.Pembukaan cincin epoksida dapat terjadi melalui dua langkah reaksi. Pengikatan ±OH pada cincin epoksida Langkah 2. Br atau I yang menghasilkan halohidrin.Oksiran juga dapat bereaksi dengan asam halide HX. Reaksi ion alkoksida dengan H2 O 39 . Langkah pertama adalah pengikatan basa neuklofil pada cincin epoksida dan langkah kedua adalah protonasi terhadap ion alkosida yang dihasilkan dari langkah pertama. Oksiran yang direaksikan dengan asam dalam pelarut air akan menghasilkan etilen glikol yang umumnya disebut glikol. dan reaksi dapat dipandang sebagai reaksi adisi yang dilanjutkan dengan protonnasi. Reaksi pembentukan epoksida eengan basa terjadi melalui dua tahap reaksi. dimana X dapat berupa Cl. Pembukaan cincin epoksida dengan basa Pembukaan cincin pada epoksida juga dapat dilakukan juga dengan basa. yaitu protonasi terhadap oksigen dan pengikatan nukleofil pada ion oksonium.

polietilen glikol dimanfaatkan sebagai foam rubber dan fase diam pada kromatografi gas (disebut carbowax). Orientasi adisi terhadap epoksida pada kondisi asam vs basa Pada epoksida yang tidak simetris.Reaksi pembentukan cincin epoksida dengan basa sering diguakan dalam pembuatan polimer. 40 . Misalnya. karena keadaan transisi akan melalui struktur yang kurang terhalangi. pengikatan nukleofilik pada karbon epoksida bergantung pada kondisi asam dan basa. Kondensasi asam m Kondisi basa Nukleofil akan terikat pada karbon yang mengikat jumlah alkil yang paling banyak sesuai dengan aturan Pada umumnya pembukaan cincin epoksida pada kondisi basa terjadi dengan pengikatan nukleofil pada atom karbon yang tidak tersubtitusi.

dan aluminium hidrosida. Bubur LiAlH 4 dapat mereduksi semua gugus fungsi organik terpolarisasi. atau II ke I). IV ke II. asam karbosilat. ¨ 41 . lakton . amida. Litium hidrosida. keton. imida. yang Litium hidrida merupakan salah satu pereduksi yang dikenal untuk substrat organic yang mengandung gugus pergi dapat terpolarisasi. Pereaksi LiAlH4 dengan adanya asam/basa dapat bereksi dengan hydrogen yang bgersifat asam. anhidrida asam.1 Reduksi dengan Litium Aluminium Hidrida (LiAlH4) LiAlH4 dibuat dengan mereaksikan LiH dan AlCl3 . dan gas hydrogen. B.pada Al) ke karbonil elektrofilik (relatif terpolarisai pada oksigen). klorida asam. karbamat. alcohol atau amina dan menghasilkan gas hydrogen dengan merusak sifat aktif hidrida. Pengertian lainnya pada reduksi senyawa organic adalah adisi hydrogen terhadap molekul. dan laktam. Pereaksi ini stabil pada suhu kamar. seperti reduksi 2butanon menjadi 2-butanol. tetapi beraksia dengan hebat pada keadaan lembab / mengandung uap air. meliputi aldehida. Proses reduksi oleh LiAlH4 dimulai dengan metransfer hidrida nukleofilik (relatif terpolarisasi . dan reduksi terhadap propanil menjadi butanamina.2 Reduksi terhadap senyawa KarbonilL Litium Aluminium Hidrida cepat mereduksi sebagian besar senyawa karbonil. seperti pada transformasi RCH=NH menjadi RCH2NH2. Reduksi dengan Hidrida Kompleks Logam B.BAB V REAKSI REDUKSI A. LiAlH4 4H2 O 4H2 O LiOH Al(OH)2 H2 Litium aluminium hidrida memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut eter dan mempunyai kecenderungan membentuk bubur bila jumlah pereaksi yang di gunakan relatif besar. B. PENGERTIAN REDUKSI Proses reduksi didefenisikan sebagai konversi suatu atom dari tingkatan oksidasi yang lebih tinggi ketingkat oksidasi yag lebih ranadah (III ke II. ester.

58 dalam sintesis driman-8-ol. Reduksi aldehida berlangsung lebih cepat daripada terhadap keton. titrasi atau penambahan dengan air sudah cukup untuk melepaskan alcohol. Namun demikian kadang ± kadang Epoksida memberikan produk dimana transfer Hidrida berlangsung kearah karbon yang lebih tersubtitusi. kecuali bila terdapat pengaruh adanya koordanasi atau khelat khusus. LiAlH4 mentransfer hidrida kekarbon epoksida yang kurang terhalang.55 dengan hasil 95%. tetapi kadang ± kadang menggunakan aluminium klorida jenuh dan asam klorida encer. Salah satu sifat penting pada reduksi karbonil dengan LiAlH4 adalah reaksi yang bersifat diastereoselektif.54 menjadi alcohol 5. B. produk utama reduksi diastereomer timbul akibat transfer hidrida ke permukaan yang berpenghalang kecil. seperti yang di tunjukkan pada 5.56 menjadi campuran 5. 42 .Reaksi keseluruhan meliputi protonasi asam aloksida dan reaksi pada aluminium terjadi pada media masa. Pada umumnya. Dalam bnayak hal.57 dan 5. Contohnya adalah reduksi 5. 3 Reduksi terhadap gugus fungsi hetereton kecuali karbonil Epoksida segera dapat dibentuk dari alkena atau dari keton dan aldehida. karena pada aldehida factor penghalangnya kecil selama ter jadi transfer hidrida ke karbon karbonil.

1 Natrium Borohidrida (NaBH4) NaBH4 merupakan pereaksi yang sangat selektif. keton. imin. Selektivitas ini disebabakan oleh menurunnya kekuatan pereduksi realatif terhadap LiAlH4. Reduksi dengan Borohidrida C. Senyawa nitril umumnya dibentuk berdasarkan reaksi subtitusi SN2 sianida dengan alkil halida atau sulfonat ester atau berdasarkan reaksi dehidrasi terhadap amida. dan klorida asam saja. terutama pada sintesis alkaloid adalah mereduksi enamin. keton.2 Logam borohidrida (Li. Salah satu penggunaan NaBH4 yang penting.Nitril digunakan secara umum sebagai senyawa awal (prekursor) untuk transformasi banyak gugus fungsi dan reaksi pembentukan ikatan karbon. mereduksi aldehida. C. Ce) LiBH4 yang dibuat dengan mereaksikan natrium borohidrida dan litium bromida. dan klorida asam dengan adanya gugus fungsi yang lain yang dapat direduksi. NaBH4 43 . C. LiBr LiBH4 NaBr. merupakan zat pereduksi yang lebih kuat daripada NaBH4. dan garam iminium. tetapi juga mereduksi epoksida ester dan lakton. Zn. LiBH4 tidak hanya mereduksi Aldehida.

3 Super Hidrida Super hidrida lebih kuat daripada LiBH4 dan kemungkinan merupakan nukleofil hidrida yang pernah ada. c. 2epoksisikloheksana menjadi metal 1-metilsikloheksanol dngan hasil 99%. Perbedaan utama dalam reaktivitas antara boran dan pereaksi hidrida logam adalah bahwa Borann merupakan asam Lewis yang bagus dan mengkoorddinasi atom ± atom yang memiliki kerapatan elektron yang sangat tinggi.metal-1.C. 4 Penggunaan zat pereduksi Hidrida dikatakan paling baik adalah pereaksi yang memberikan hasil paling tinggi dengan reaksi samping paling sedikit. Super hidrida mengikat pusat ± pusat elektrofilik pada sisi yang factor penghalangnya renadah. monomer takstabil yang membentuk diboran) bereaksi dengan alkena dalam pelarut eter membentuk basa Hidroborasi. seperti pada reduksi 1. asam. amida tersier dan nitril. D.1 Boran 6 LiH 8BF 3 O(C2H5)2 B2 H6 6 LiBF 4 4 BF3O(C2 H5)2 2 B2 H6 3 NaBF4 3 NaBH4 Boran dan turunannya tetap merupakan pereaksi pilihan untuk reaksi. lakton. Diboran biasanya dihasilkan dari pereaksi BF3 O(C2H5 ) dengan LiH atau dari reaksi NaBH4 dan BF3. Boran aluminium dan turunnya d. 44 . Diboran kurang efektif ungtuk mereduksi ester dan boran (BH3. keton. Diboran (B2 H6) merupakan zat pereduksi penting untuk aldehida. Boran mereduksi ester sangat lambat dan keton atau aldehida direduksi secara selektif dengan adanya ester.

3 Diisobutil aluminium Hidrida pembuatan alkil ³alana´ yang analog seperti alkilboran. meskipun dengan adanya halide. nitril dan keton. d. Boran digunakan untuk mengkonversi asam -amino menjadi alcohol amino seperti pada reaksi fenilalanin menjadi fenilalkohol dengan hasil 77%. d.. 2 Aluminium Hidrida Boran (BH3 ) merupakan asam lewis seperti halnya borohidrida (BH4-). termasuk benzene dan toluene. ester.Penggunaan boran yang paling luas adalah reduksi yang selektif terhadap asam karboksilat.mempunyai analog sebagai elektrofil. tergantung pada proporsi LiAlH4 dan AlCl3. Sifat yang mudah terbakar dan sukarnya menangani boran memungkinkan pengembangan sejumlah kompleks basa lewis yang mudah digunakan. Salah satu yang lebih sering digunakan adalah kompleks boran dimetil sulfide (H3 B. Senyawa yang diperoleh berupa cairan piroforik 45 . Campuran hidrida yang paling umum adalah Cl2 AlH dan Cl2 AlH2. Pereaksi ini sangat larut dalam sebagian besar pelarut organik. karena campuran kloroaluminium hidrida dapat terbentuk. aluminium hidrida (AlH3): 3LiAlH4 AlCl3 4 AlH3 3 LiCl Aluminium hidrida yang dibuat dengan cara ini tidak selalu murni.S(CH3 )2). Dibal) yang dibuat dengan merefluks triisobutil aluminium dalam heptana. Turunan alkil yang paling banyak digunakan adalah diisobutil aluminium hidrida ([(CH3)2CH2 ]2 AlH4. Hal yang sejenis AlH4 .

maka pusat khiral akan terjadi pada produk yang dihasilkan. 46 . Stereoselektivitas pada reduksi Hidrida E. Di sini di cermati adalah pereaksi yang digunakan.121 (dan enantiomernya 5. sedangkan jika pendekataan dari muka yang berlawanan. maka akan diperoleh enantiomer S. maka akan dihasilkan enatimer R. Jika pendekatan pereaksi dari satu muka. akan menghasilkan alcohol 5.BBN (9-boran ±siklo [3.120 dengan boran seperti 9. Karena kedua muka mempunyai kesempatan yang sama untuk pengikatan.117 dan alkena 5.E.2.118 dan enantiomer (5. Karbonil merupakan pusat prokiral karena adisi hidrida dari kedua muka karbonil (a atau b) menghasilkan pusat stereogenik. tetapi bila molekul tersebut bereaksi dengan suatu pereaksi. yang direduksi menjadi 2-pentanol. maka produk alcohol adalah rasemik. apakah pereaksi tersebut akan menghasilkan enantiomer Ratau S. Jika 5. Kenyataan bahwa keton 5.31]-nonana). yang diikuti dengan oksidasi. Reaksi alkena 5.1 Pusat ± puast prokhiral Ada molekul ± molekul yang tidak memiliki pusat khiral.119).122) E.120 tidak mengandung pusat khiral.2 Khiral aditif pada system asiklis Aspek utama reduksi hidrida adalah stereokimia reduksi seperti yang ditunjukan pada Tabel 5. seperti fenil magnesium bromide. Contoh sederhana adalah 2 ± pentanon. maka diperoleh alcohol 5. hal ini di kaitkan dengan muka atau permukaan molekul yang akan didekati oleh pereaksi selama reaksi berlangsung.117 bereaksi dengan pereaksi Grignard.

dan hasil yang diperoleh adalah campuran 1 : 1 diastereomer syn dan anti (5. pada system asiklis seperti contoh tersebut tidak mungkin memiliki konformasi tunggal.Heterogen = katalis tidak larut dalam media reaksi 2.homogen = katalius larut dalam media reaksi Hirogenasi heterogen mempunyai dua bentuk: 1. dan pengaruh khiralitas akan berpengaruh pada pendekatan pereaksi yang akan menyerang.135a dan 5. maka hasil yang akan diperoleh sangat cenderung pada 5.134 dan 5.136. Namun demikian. Senyawa 5.137. muka re)akan memberikan 5. Reaksi dengan zat pereduksi dapat mempengaruhi konformasi sehingga memberikan sifat diastereoselektivitas.134 mengandung pusat stereogenik. Pereaksi akan mendekati dari muka yang mengikat halangan yang palin kecil.136 tetap seperti konformasi yang terlihat.E.135b). Namun kenyataannya. pendekatan melalui sisi sebelah atas ³muka hydrogen´(muka si) akan menghasilkan n5.136 mempunyai pusat stereogenik yang berdkatan dengan karbonil.138 Jika konfirmasi 5. Reduksi terhadap senyawa ini tidak lebih seperti pada reduksi keton yang tidak memiliki pusat khiral.137 dan pendekatan melalui muka yag lebih terhalang (³muka metal´. maka reduksi menghasilkan diastereomer. tetapi pusat tersebut terlalu jauh dari pusat prokhiral yang mempunyai pengaruh atas reduksi pada prokhiral. Reaksi membutuhkan sejumlah katalis logam transisi agar reaksi dapat terjadi.3 Selektivitas pada reduksi turunan karbonil yang mengandung karbon khiral Jika pusat prokhiral terdapat pada molekul yang mengadun g satu atau lebih pusat khiral. yangb merupakan rasemik.1 Aktivitas dan Reativitas Katalik Metode ini berkaitan dengan adisi gas hydrogen pada molekul organic. F. dan reaksi berlangsung dengan penyerapan hydrogen dan substrat dipermukaan logam. Didukung = proses dalam bentuk bubur dan bekerja dalam keadaan gel tetap 2. Tidak didukung= reaksi terutama dalam larut. Pada 5. 1912) F. seperti pada reaksi 5. Penggunaan hidrogenansi katalik secara luas dilakukan setelah tahun 1897. keton 5. yaitu ketika Sabatier mengembangkan reaksi antara hydrogen dan senyawa organic yang kemudian menjadi model reaksi universal (Nobel prize. Hidrogenasi etana menjadi etana pertama kali dilakukan oleh van Wide pada tahun 1875. Hidrogenasi Katalik Reduksi gugus fungsi dengan gas hydrogen merupakan salah satu reaksi yang penting dalam kimiia organic.136. 47 . Terdapat dua tipe utama katalis 1.

Gas hydrogen dipecah menjadi atom ± atom hydrogen yang terikat pada nikel (dinyatakn 5. akhirnya. Katalis yang sebagian besar digunakan adavlah platian.Gugus fungsi yang direduksi. Tipe atom terrace (A) kekhasannya mempunyai delapan atau Sembilan tetangga dan ditunjukan secara geometri seprti 5. nikel. Dalam beberapa hal. yang di tandai dengan jumlah atom tetangga yang terdekat. step dan kink pada permukaan katalis heterogen. Pengertian tersebut mengacu pada tipe ± tipe ataom yang berbeda. dan rutheum. melalui pemutusan molekul hydrogen dan penyusunan atom ± atom hydrogen.174). iridium. Alkena juga terikat pada permukaan logam (5.171. tingkat reduksi dan distribusi produk. tidak ada katalis tunggal yang memberikan hasil yang lebih bagus untuk semua gugus fungsi. palladium. yang diikuti dengan berlansungnya reaksi dengan transfer hydrogen ke karbon (5. Hudliky mengemukakan urutan reakstivitas relative terhadap propena untuk katalis logam transisi golongan VIII.175) Mekanisme yang pasti dari katalis heretogen belum diketahui karena proses tersebut mmerupakan fenomena yang terjadi di permukaan. Pada proses terlihat 48 . Variabel pertama dalam hidrogenasi katalik adalah katalis. rodium. bergantungf pada sifat dan jumlah katalis maupun tipe prosedur hidrogenasi yang digunakan.173). tipe atom kink (C) mempunyai enam tetangga dan dinyatak seperti 5.172. Katalis heterogen merupakan suatu perwujudan permukaan dan karena itu dikenal terdapat beberapa perbedaan tipe partikel ± partikel logam di permukaan. F. rodium merupakan katalis yang paling aktif. Maier menggambarkan adanya tipe ± tipe atom terrace. Rh > Ir > Rn > Pt > Pd > Ni > Fe > Co > Os Pada urutan tersebut.170. Katalis ± katalis tersebut digunakan untuk mereduksi banyak gugus fungsi . yang didasarkan pada pekerjaan yang dilakukan oleh Mann dan Lien.2 Reduksi Alkena dan alkuna Reaksi dengan alkena berlangsung diatas permukaan katalis heterogen logam. garam ± garam logam transisi sering digunakan daripada logamnya sendiri. Tipe atom step (B) biasanya mempunyai tujuh tetangga dan dapat digambarkan dengan struktur 5.

tetapi senyawa ini dikonversi menjadi sikloheksanon atau turunan sikloheksanadion. kecuali jika menggunakan katalis rodium.185 direduksi dengan katalis adams menghasilkan campuran 5. Platinum mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada karbon atau kalsium karbonat. seperti pada reduksi 5. dengan perbandingan 10 : 82. Urutan relatif untuk reduksi naftalena menjadi tetralin adalah Pd > Pt > Rh > Ir > Ru Rodium mula.4 Reduksi aromatic dan Hidrokarbon Heteroaromatik Contoh yang paling sederhana adalah reduksi benzene menjadi sikloheksana yang membutuhkan kondisi suhu dan tekanan tinggi. disebut katallis adams).205 dengan adanya hydrogen berlebih. tetapi dapat direduksi dengan katalis heterogen seperti platina oksida (PtO2.mula mereduksi naftalena menjadi 5.186 dan 5. tetapi tidak dapat mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada barium sulfat atau alumina Al2 O3.187. Reduksi Logam Terlarut 49 . G.202 yang akan menghasilkan reduksi sempurna pada semua ikatanmenjadi 5. maka hidrogenasi katalik dapat dipersulit oleh reaski samping. Cincin siklopropana tidak dapat direduksi dengam katalis Lindlar.200. Bila cincin aromatic tersubtitusi. Contohnya 5. F. dan 5. Rylander memberikan urutan berbagai katalis untuk mereduksi benzene. yaitu sbb: Rh > Ru >> Pt > Pd >> Ni > Co Rodium dan ruthenium digunakan jika menghindari hidrogenolisis. dimana hydrogen diserap pada situs aktif dipermukaan katalis.3 Hidrogenasi senhyawa ± senyawa karbonil Bahwa pada reduksi 5.memutus ikatan H ± H yang menghasilkan spesies logam ±H (H*).201).200 merupakan konstituen kecil dari campuran produk akhir. F. Redukski fenol mula ± mula menghasilkan enol. tetapi senyawa ini tereduksi lebih lanjut menjadi dekalin (5.185 pemecahan secara reduktif cincin siklopropana berlangsung lebih cepat daripada reduksi keton.

215 Paling tidak ada dua tipe produk reaksi yang dihasilkan oelh ketil yang berasal dari aseton. intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepaskan proton dari pelrut yang bersifat asam.214). Hidrazin juga digunakan untuk mengkonversi alkil ptalimida menjadi alkilm amina dengan mengantikan satuan O = C. Proses ini di kenal dengan reduksi Wolf ± Kishner. reaksi ini sering disebut sebagai prosedur Ing ± Maske 50 . ikatan pada 2-butuna menangkap electron yang dihasilkan dari eletrolisis membentuk anion radikal seperti 5.1 Reduksi Elektrofilik Reaksi reduksi dari logam ± logam alkali melibatkan transfer elktron tunggal dan dapat dilakukan pada sel elektrolitik. H.diol (5. Reduksi Nonlogam Terdapat sejumlah cafra untuk mereduksi gugus fungsi organic yang menggunakan pereaksi nonlogam. Terdapat dua bentuk kanonikal ketil inn. elektron ditransfer kekarbonil.2. dan menghasilkan produk yang tereduksi. intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepakan proton dari pelarut yang bersifat basa. menghasilkan anion radikal (disbut ketil). yaitu bentuk radikal karbon dan bentuk karbanion (5. Hidrazin hidrokarbon (N2 H5 HCl) sangat efektif untuk mereduksi khususnya keton yang mempunyai penghalang. sedangkan reaksi yang terakhir berupa reduksi.NR ± C = O dengan satuan O = C ± NHNH ± C = O.220) dengan hasil 68%. Contohnya elektrolisis aseton. Pada keadaan yang serupa. Salah satunya adalah reduksi dengan hidrazin Dalam keadaan basa.G.asetilpiridin (5. Ketil dapat mengaloami penggabungan radikal . Penggabungan radikal aseton seperti yang dinyatakan diatas ditunjukan pada konversi 2.218) menjadi 1.

Jika reaksi menghasilkan karbokation. Jika diinginkan adisi anti-Markonikov. Reaksi adisi anti markonikov yang khas adalah adisi boran pada alkena. Reaksi dengan HBr menghasilkan bromida primer dan menghasilkan radikal brom yang lain pada langkah propagasi rantai. kemudian diikuti reaksi dengan HBr. Pada umumnya.1. Reaksi pada molekul asiklis dapat menghasilkan diastereomer dan pengertian ³penontrolan stereokimia´. Reaksi adisi lain yang berlangsung dengan orientasi anti-Markonikov adalah adisi HBr pada alkena dengan adanya peroksida. Pengotrolan adisi Markonikov vs anti-Markonikov dapat diprediksi dengan pengontrolan jalur mekanistik adisi. Reaksi radikal ini berlangsung dengan baik hanya untuk adisi HBr dan tidak untuk HCl atau HI. yang menghasilkan alkohol pimer. Ini merupakan reaksi berlawanan regioselektivitas keseluruhan terhadap adisi selektif pada reaksi kationik.maka hidrogen ditransfer pada radikal tersebut. Radikal brom dibentuk berdasarkan pemecahan hormolitik dari peroksida yang ditambahkan. 51 . 6. maka pengubahan pada mekanisme reaksi harus terjadi.1 Kontrol Stereo pada Sistem Asiklis. Karena brom pertama tama megadisi alkena yang menghasilkan radikal tersier yang lebih stabil.) Selektivitas markonikov atau anti markonikov Retensi atau inversi konfigurasi Selektivitas cis-trans Selektivitas syn-anti Pengaruh khelasi heteroatom.) 2. Reaksi adisi tipe radikal akan berlangsung dengan bentuk anti±Markonikov. dan produk adisi ditentukan oleh stabilisasi relatif dari intermediet. Reaksi ini menghasilkan radikal karbon yang diperoleh mula-mula dari adisi radikal brom pada alkena. maka orientasi Markonikov pasti dihasilkan. yang biasanya digunakan untuk suatu usaha menghasilkan satu diastereomer sebagai produk utama dari reaksi.) 5. reaksi adisi kation dan radikal menghasilkan intermediet reaktif. Usaha ± usaha untuk mengontrol stereokimia yang penting meliputi: 1. Radikal yang terbentuk distabilkan oleh efek elektronik tiga gugus alkil daripada alternatif radikal primer.) 3. setelah oksidasi terhadap intermediet alkil boran.1 Selektivitas Markonikov/ anti markonikov Reaksi khas yang menggambarkan adisi markonikov adalah reaksi HBr dengan 2-metil 2-butena yang menghasilkan 2-bromo 2-metil butana.) 4.BAB VI KONTROL STEREO DAN PEMBENTUKAN CINCIN 6.

Gugus amino dapat diubah menjadi gugus fungsi yang lain. Reaksi ini diamati pertama kali oleh Walden. Ini merupakan metode efektif untuk menginversi pusat stereo dengan pengikatan gugus fungsi yang ber eda. Jika alkohol dikonversi menjadi turunan dengan ikatan C ± O lemah serta adanya kecenderungan yang besar untuk terjadinya penggantian . Proses ini biasanya melibatkan alkohol atau substrat amina. yang dilakukan oleh Salzmann. Contoh sederhana proses ini adalah konver i (S)-2s pentanol menjadi tosilat yang sesuai. Kontrol stereokimia diperoleh dengan memanipulasi perbedaan -perbedaan pada reaktivitas. yang dapat diganti dengan nukleofilik seperti azida dan ada hasil. b Metode lain selain reaksi Mitsonobu juga dapat dipeoleh untuk menghasilkan stereokimia. dengan kontrol sempurna pusat stereogenik.2. 6.1. Retensi vs Inversi Konfigurasi Contoh sederhana untuk menginversi pusat stereokimia adalah mengkonversi gugus fungsi menjadi gugus fungsi lainnya. Konversi yang menarik adalah transformasi NH2 Br. dengan hasil retensi konfigurasi secara sempurna. Metode lain untuk mengkonversi atau mengontrol stereokimia ditunjukkan pada konversi D-manitol menjadi (R)-ephiklorohidrin atau (S)-ephiklorohidrin. dengan retensi konfigurasi secara sempurna.maka tipe S 2 menjadi mungkin N dengan inversi pusat stereogenik tersebut.Reaksi HBr dengan 2-metil-2-butena yang menghasilkan 2-bromo-2-metilbutana. antibiotik karbapenam. Reaksi ini diambil dari sintesis tienamisin. 52 . Reaksi asam amino dengan Natium Nitrit (Na2NO2) dan Kalium Bromida (KBr) menghasilkan asam -bromo.

53 .3. Keadaan yang berlawanan. reaksi alkun dengan logam alkali akan menghasilkan trans-alkena. Produk-produk akhir dari serangkaian reaksi ini adalah syn diastereomer dan anti diastereomer. dengan mengubah basa atau kondisi reaksi lain. yaitu pada contoh konversi alkena menjadi 1. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena. Selektivitas syn-anti Reaksi enolat yang dibicarakan sebelumnya merupakan contoh yang baik tentag kemampuan untuk mempengaruhi atau mengontrol distereoselektivitas. pengertian utama terhadap perbedaan dua mekanisme reaksi tersebut memungkinkan pengontrolan geometri cis-trans produk akhir. tetapisatu yang perdominan. yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida (atau dangan nukleofil oksigen lain).1.4. Pada contoh ini.Contoh pengontrolan konfigurasi pusat khiral adalah konversi alkohol sekunder khiral menjadi klorida sekunder yang sesuai dengan tionil klorida 6. Selektivitas cis-trans Kontrol pada geometri cis-trans telah ditunjukkan pada reduksi alkuna engan hidrogenasi katalitik atau dengan logam alkali.Metode untuk menghasilkan diol secara stereoselektif dimulai dengan epoksida. Rekasi lain di mana syn dan anti diastereomerdapat dibentuk. 6. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena.2diol. Sekali lagi.1. syn diol dibentuk melalui pelepasan nukleofil hidroksida dari sisi belakang ke karbon yang kurang terhalang.

2 Kontrol Stereo pada Sistem Siklis Cara untuk mengontrol regiokimia Markonikov dan anti-Markonikov. Keadaan ini dapat ditunjukkan pada reaksi alkohol alilik khiral dengan asam peroksi. tetapi litium aluminium hidrida menunjukan selektivitas yang kurang. Adisi pada ikatan tersubtitusi menghasilkan 54 . pada dasarnya sama seperti pada sistem asiklis.mungkin mengontrol pembukaan cincin epoksida. Epoksidasi asimetris Sharples memanfaatkan selektivitas yang timbul dari koordinasi dengan alkohol alilik oleh penambahan agen khiral untuk mengontrol selektivitas.5.terutama terhadap molekul siklis.seperti pada reaksi 1 fenilsikloheksena oksida dengan hidroksida. Metode untuk menghasilkan diol secara streoselektif dimulai dengan epoksida yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida 6. Dalam beberapa hal. dan retensi atau inversi konfigurasi. Salah satu faktor utama untuk mengontrol diastereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga. Kecenderungan terjadinya khelat heteroatom tegantug pada pereaksi yang digunakan.1. Zink borohidrida mengadakan koordinasi yang sangat kuat dengan heteroatom.Hasil yang diperoleh adalah syn-diol. 6.pengikatan alkohol alilik pada logam adalah penting untuk pelepasan oksigen elektrofilik dan juga untuk pengontrolan orientasi alkena relatif terhadap agen epoksidsi. Sukar untuk memisahkan pengaruh regiokimia (cara adisi) dan pengaruh retensi dibandingkan inversi dan isomerisasi cis-trans pada molekul-molekul siklis. Khelasi Heteroatom Salah satu faktor utama untuk mengontrol distereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga (pengaruh gugus tetangga).hal ini disebabkan oleh koordinasi yang lemah dengan heteroatom. Koordinasi dengan oksigen dan pelepasa oksigen elektrofilik dari sisi tersebut menghasilkan alkohol epoksi.

metilsiklopentana. Aturan Bredt Reaksi lain di mana regioselektivitas bersifat penting adalah pembentukan ikatan rangkap pada reaksi eliminasi. yang bila direaksikan dengan basa menghasilkan metilsiklopentana. dimana yang lebih menguntungkan adalah produk yang kuran tersubtitusi. Pengertian syn dan anti tidak mempunyai arti pada sistem siklis.2. reaksi HBr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markonikov yang menghasilkan tersierbromida. dan membentuk alkena yang lebih banyak tersubtitusi. Namun demikian. Selektivitas Markonikov / anti-Markonikov Masalah-masalah yang berkaitan dengan adisi secara regioselektif pada molekul-molekul siklis pada dasarnya sama seperti pada molekul-molekul asiklis. Sebagai contoh. Reaksi Hbr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markovnikov yang menghasilkan tersier bromida. 1-bromo-1-metilsiklopentana. Hal ini disebabkan sifat termodinamika reaksi dan persyaratan elektronik bahwa kedudukan gugus pergi anti terhadap hidrogen yang dilepaskan. 1-bromo-1metilsiklopentena. 6. Penambahan pada halida dengan kalium-t-butoksida dalam t-butanol menghasilkan antieliminasi.isomer-isomer geometri. Adisi boran dan oksidasi menghasilkan campuran alkohol dengan perbandingan 86 : 14. dan pada sebagian besar sistem siklis akan mengontrol konfigurasi absolut pusat khiral yang dikaitkan dengan isomer-isomer cis-trans dan/atau dengan pembentukan diastereomer. Efek yang sama terjadi pada halida siklis seperti cis-2-1.1. Regiokontrol pada eliminasi diperoleh dengan pengikatan basa pada molekul (basa internal untuk eliminasi syn) atau dengan pengikatan basa pada molekul seperti pada reaksi biomolekul (basa eksernal untuk eliminasi anti). hidroborasi metilsiklopentena menghasilkan produk utama anti Markonikov karena untuk adisi dibutuhkan keadaan transisi empat pusat. 55 . 6.2.2.

tetapi produk yang dihasilkan adalah alkena yang lebih banyak tersubtitusi. karbon ± karbon kepal jembatan (a dan b) tidak dapat dilibatkan pada ikatan rangkap dua karbon ± karbon.dan gugus pergi adalah sudah ditentukan oleh regiokimia halida. hidrogen.Perbedaan utama di sini adalah ketidakmampuan cincin berotasi di sekitar ikatan karbonkarbon. Pernyataan yang dikemukakan oleh Bredt adalah ³dalam sistem keluarga kamfen dan a pinena serta senyawa ± senyawa yang sekerabat. Pembentukan produk alkena memerlukan penahanan kedudukan ³kepala jembatan (bridgehead)´ menjadi konformasiplanar. disebabkan pembentukan geometri planar karbon sp2.pada kedudukan yang kurang tersubtitusi. Adanya penghalang pada keadaan syn ini mengakibatkan pendekatan dan pelepasan hidrogen. diikuti pelepasan hidrogen. Energi keadaan transisi yang dibutuhkan untuk mengeliminasi ± menjadi karbon kepala jembatan dalam sistem kecil ± sangat tinggi. dan sistem bisiklis kecil tidak dapat mengakomodasi kenaikan yang besar dalam tegangan ini. Untuk syn dan anti eliminasi keduanya.yang mempunyai kedudukan syn terhadap gugus pergi. Syn-eliminasi melibatkan basa yag terikat secara intramolekul. yang secara energetik lebih menguntungkan. Pengamatan menunjukkan bahwa ikatan rangkap dua karbon ± karbon tidak dapat dibentuk pada atom ± atom kepala jembatan dalam cincin ± cincin bisiklis kecil dan keadaan seperti ini pada awalnya disebut aturan Bredt. 56 .

6.dengan inversi konvigurasi penuh Melalui jalur reaksi SN2.2.6. Menghasilkan azida.88 : 6.selama reaksi dengan LiAlH4 yang menghasilkan trans-alkohol) 57 .9 : <1 yaitu 6.merupakan hal yang penting untuk mengkontrol dan memprediksi stereokimia.contoh: Perbedaan utama antara system siklis dan system ansiklis adalah ketidakmampuan sistem siklis mengalami rotasi disekitar ikatan karbon-karbon yang menghasilkan perbedaan konfigurasi.dan stabilitas produk akhir.karena sudut pendekatan nukleofil terhalangi.3 Retensi vs invarsi (kontrol diastereo) Reaksi molekuler siklis yang melibatkan pembentukan pusat-pusat khiral mirip seperti yang terjadi pada system asiklik.konformasi cicin.kemampuan kekonformasian pada keadaan transisi.maka penggantian bromida berdasarkan SN2 melauli peningkatan pada sisi belakang akan sulit terjadi.pengontrolan geometric cis-trans merupakan persoalan diastereoseletivitas.Reaksi asida (NaN3) dengan cis .Contoh : Reduksi 4-t-butilsilkoheksanon menunjukan kemantapan yang ditandai pelapisa hibrida melalui jalur a (perbandingan a : b = 91 : 9). Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Corey.2.jika azida di gunakan sebagai nukleofil .89).bentuk ekuatorial adalah bentuk yang dominan (dengan perbandingannya adalah <99.4 ±t-butil-1-bromosikloheksana.4 Isomer-isomer cis-trans (diastereoselektivitas) Pada system siklis .

Ini merupakan pengaruh untuk reaksi asiklis.Para ahli kimia yang melakukan sintesis tidak selalu dipaksa untuk menerima stereokimia tersebut.dan 2.3 Pengaruh Khelasi dan Gugus Tetangga Pengaruh gugus sederhana yang di pengaruhi pelepasan ³oksigen´ ke ikatan rangkap dua alcohol telah dikemikakan oleh Henberst dan Sharless.pelepasan berbedah dengan epoksidasi alitik asetat yang terutma menghasilkan pelepasan oksigen elektofilik dari muka yang kurang berpenghalang.paling tidak ada dua pilihan : 1. Mengubah pusat sterio pada produk akhir.memungkinkan kita untuk dapat mengubah populasi diastereomer.Dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan seperti itu pada stabilitas produk .100 berlangsung melalui koordinasi asam peroksi dengan alcohol.Epoksidasi senyawa 6. Mengubah jalur sintesis untuk menghasilkan intermediet yang menguntukan yang dapat menghasilkan steriokimia yang diinginkan. 6. Terdapat banyak cara yang ada untuk emeriksa stereokimia relative pada pusat khiral yang tidak sesuai dengan sasaran yang diinginkan. 58 .

6. Alumenium mengadakan koordinasi dengan oksigen oksetana kurang terlarang pada 6.oksigen dan belerang.Pengaruh gugus seperti ini disebabkan oleh pengaruh khelasi subtituen heteroatom dengan pereakai.107 dan 6.pengaruh khelasi tersebut pada kenyataannya dapat merupakan pengarahan steriokimia atau regiokimia dan penghambat atau penghentian reaksi yang diharapkan.4 Stereo Kontrol Asiklis melalui precursor siklis 59 . Pengaruh gugus tetangga dapat menjadi jelas dan dapat digunakan untuk mengarahkan steroekimia dari suatu reaksi. pada muka b yang Pada perencanaan reaksi.alkoksi.menghasilkan 99% (E)-alkena.Contoh lain : Reaksi oksetana dengan diametil alumenium Nmitel-analin yang merupakan reaksi eleminasi. tetapi juga pengaruh-pengaruh yang lebih kuat dari pasangan electron bebas yang berdekatan dengan electron nitrogen.tidak hanya pengaruh ± pengaruh a dan b hidroksil.dadi pasangan gugus amino yang harus di perhatikan .108.merupakan retomer kunci.

dan regioimia dan strereokimia subtituen telah ditetapkan (ditemukan).Baldwin mengklasifikasikan penutupan cicin menjadi dua kategori : EXO (aliran electron dari reaksi adalah eksternal terhadap cicin yang akan dibentuk) dan ENDO (aliran elektro didalam cicin yang akan dibntuk).dan mendapatkan pola reaktifitas yang dapat relativ diprediksi.Hidrogenasi Lindlar memberikan feromon seks utama dari Doglas fir Fussockmoth.dan proses penutupan cicin kationik. 6.5 Reaksi Pementukan Cicin Pengenalan dari aturan Baldwin untuk penutpan cicin.Peningkatan atom pada sp2 disebut TRIG (membentuk cicin) dan peningkatan hibridisasi pada atom sp disebut DIG( pembentukan cicin).Cincin kemudian dibuka untuk memperperoleh system asiklis . 60 .mempelajari nukleofil. Penambahan dan pengaturan gugus fungsi adalah konversi sikloheksanoan menjadi epoksiteron.sering dengan control regiokimia dan steriokimia.Sistem siklis dapat digunakan untuk memprediksikan gugus fungsi.Pendekatan ini didasarkan pada persyaratan -persyaratan steriokimia dan sudut pendekatan yang memungkinkan untuk membawa ersama-sama dua pusat rebktif bila dihubungkan dengan atom-atom (tether). Contoh penerapan masalah dilakukan dengan cara disintesis senyawa organic secara efektif.homolitik.118.jika atom yang diikat dinyatakan tet dan cicin yang akan dihasilkan adalah 6.Penambahan dengan tosilhidrasin dalam asam asetat akan menyebabkan terjadinya pemecahan cicin Eschenmoser dan menghasilkan .

disini sudut ikat sekitar 120°.maka yang paling perluh dibicarakan adalah pertamatama adalah persyaratan sudut peningkatan untuk membawa dua ujung raktif molekul bersama-sama.yang haya didasarkan pada substrat.Bila kita bicarakan aturan Baldwin.tetapi selama reaksi.atom sp3 adalah tetrahedral ( dengan sudut ikatan sekitar 109°) 61 .Elliot dan Graham-Richard menyatakan suatu metode untuk memprediksikan sudut pendekatan yang cocok.Pengggantian pada karbon sp3 pada umumnya melaui peningkatan dari bagian belakang dan gugus yang akan datang (X) harus mendekati karbon yang mengandung Y [ada sudut yang dekat dengan 180°.

Menggunakan analog yang sama seprti pada koversi sp2 -sp3 atom harus mendekati ikatan rangkap tiga pada sudut sekitar 120°. Contoh siklis endo.konversi sitronelal oleh pengaruh katalisator asam H isopulegol 62 © menjadi .karena molekul adalah linear.Sudut ikat pada ikatan rangkap tiga adalah 180°.Dalam hal in konversi atop sp menjadi atom sp 2 menghasilkan sudut ikat 120° yang merupakan karekteristik alkena.

Mengalami

penggantian

exo

Y,tetapi

me

nghasilkan

Konver

Terdapat dua cara untuk meggambarkan pembentukan cicin.Enolat secara kinatik akan membentuk cicin melalui pengganti Exo Y menghasilkan 6.129 Enolat secara termodinamikal akan menghasilkan konversi,di sebut enol endo-exo-tet dan konversi.

bguvvyfiyfiyf Enolat pada umumnya mengalami reaksi 5-endo-tring pada oksigen sedangkan reaksi 6endo-tring disukai pada karbon.untuk membentuk cicin lingkar dari lima dari pasangan electron bebas oksigen harus pada kedudukan yang tepat untuk menggantikan kedudukan brom pada 6.136( produk adalah tetrahidrofuran).

63

Keadaan transisi untuk penggantian in di gambarkan pada 6.140.Agar menghasilkan cicin lingkar-enam,maka orbital-orbital karbon enolat pada 6.138 harus pada sudut ang tepat untuk penggantian.

64

BAB VII GUGUS PELINDUNG

7.1 Pengertian Gugus Pelindung Banyak target senyawa sintetik yang mengandung lebih dari satuu gugus fungsi, dan gugus tersebut dapat mengadakan interaksi dengan pereaksi yang digunakan selama proses sintesis. Jika gugus keton dan aldehida terdapat di dalam molekul yang sama, kedua gugus tersebut dapat bereaksi dengan pereaksi tertentu pada saat yang sama. Adanya alcohol dan amina dalam molekul yang sama juga akan menimbulkan masalah karena kedua gugus fungsi tersebut cepat beraksi dengan asam, basa, dan nukleofil. Cara untuk menanggulangi fungsi tersebut adalah dengan melindungi atau mengeblok sementara satu gugus yang reaktif dengan mentransformasikannya menjadi gugus fungsi baru yang idak akan mengganggu menjadi gugus baru yang berbeda, yang tidak akan bersaing dengan reaksi yang diharapkan. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasi gugus fungsi baru (gugus pelindung) kembali menjadi gugus fungsi semula pada tahap akhir sintesis. Proses ini di kenal sebagai perlindungan dn proteksi. 7.2 Gugus Pelindung Umum Untuk Alkohol, Karbonil dan Amina 7.2.1 Proteksi Alkohol Gugus pertama dalam pengembangan gugus pelindung untuk gugus fungsi adalah mengidentifikasi bagian molekul mana yang dapat mengganggu. Dalam hal alcohol, bagian molekul yang hampir selalu dapat mengganggu adalah keasaman hydrogen gugus O-H. jika gugus OH tersebut mengganggu rencana sintesis, maka OH harus dikonversi menjadi gugs fungsi lain (O-X), tetapi reaksi ini harus dapat berlangsung dan menghasilkan produk yang tinggi pada kondisi normal. Alcohol memilki dua reaksi utama yang cocok terhadap criteria tersebut, yaitu konversi alcohol menjadi eter, biasanya berlangsung dengan hasil yang tinggi dan memberikan produk yang relative inert. Karena sifat inert inilah, maka kondisi yang dibutuhkan untuk memecah eter harus kuat. Cara lain adalah mengkonversi alcohol menjadi asetal asilik atau ketal. Juga sangat mungkin mengubah alcohol menjadi ester pada kondisi normal, dan dengan mudah mengembalikannya menjadi alcohol dengan cara menghidrolisis ester. 7.2.2 Gugus Pelindung Eter dan Asetal Gugus pelindung paling sederhana untuk alkohol adalah metil eter (-OCH3). Reaksi alcohol dengan basa (umumnya natrium hidrida (NaH) dalam THF atau DMF) menghasilkan alkoksida. Cara berikutnya adalah mereaksikan alcohol dengan trimetiloksonium tetrafluoro borat. Metil eter stabil terhadap basa kuat, nukeofil, organologam, hidrogenasi, zat pengoksidasi, dan zat pereduksi hidrida. Metil eter stabil pada PH 1-14. Metil eter dapat
65

dengan adanya katalis asam (asam sulfat atau BF3). tetapi stabil pada Ph 1-14. Alkohol dapat dikonversi menjadi t-butil eter (O-C(CH3)3 ) dengan mereaksikan alcohol dengan 2-metil-2-propena (isobutilena).dipecah oleh HI pekat. hidrida. Dua cara yang umum untuk melepaskan gugus benzil meliputi pemutusan ikatan O-CH2Ph dengan hidrogenolisis. dan metilasi yang keudian dilanjutkan dengan deproteksi (hydrogen/paladium) akan menghasilkan 7. hidroborasi. hidrida. dan beberapa zat pengoksidasi.25) dengan mereaksikan dengan kalium hidrida (KH) dan benzil bromida. nukleofil. Sebagai gugus pelindung . dn stabil terhadap nukleofilik. Cara paling umum pemutusan ikatan C-O benzilik adalah dengan hidrogenasi katalitik. oksidasi dan reduksi.26. biasanya dengan katalis poladium. Cara lain dari hidrogenolisis adalah dengan melarutkan logam natrium atau kalium dalam amonia. oksidasi.25. Contohnya adalah sintesis monensin yang dilakukan kishi.24 dikonversi menjadi benzil eter (7.O-Bz). sedangkan trimetilsilil iodida dapatmemecah pelindung alcohol dalam kloroform dan pada suhu yang relatif tinggi. 66 .yang dibuat dengan mereaksikan alkoksida dai alcohol dengan benzil bromida atau klorida. karena gugus OH primer juga dapat bereaksi dengan KH/CH3 I. hidrogenasi katalitik. dimana mula-mula alcohol 7.organologam. Benzil eter stabil terhadap sejumlah pereaksi. meliputi pH 1-14. Gugus alilik OH akan mengganggu proses pembentukan gugus OCH3 dalam 7. Gugus pelindung eter lainnya adalah benzil eter (-OCH2Ph. karbonion dan organologam .t-butil sensitive terhadap asam kuat.

33. reaksi selanjutnya menghasilkan alcohol primer baru yang kemudian diproteksi sebagai O-benzil eter (pada 7. Gugus MEM sensitive terhadap asam Lewis dan dapat di pecah dengan asam kuat berair (PH<1). proteksi OH pada 7.28. Tipe lain dari gugus pelindung asetal adalah etil eterr tersubtitusi. Gugus MEM juga stabil pada pereaksi-pereaksi seperti terhahdap O-MOM dan O-MTM. Sebagai contoh. Pelepasan gugus EE dengan asam asetat berair menhasilkan 7.32 dengan reaksi wittig. Gugus MEM di ikat oleh alcohol setelah alcohol di konversi menjadi alkoksida (umumnya dengan NaH dalam THF atau DMF).31 diubah menjadi 7. sementara gugus hidroksil pada 7. Salah satu gugus pelindung asetal yang paling umum adalah 2-metoksi etoksimetil eter (-O-CH2 OCH2CH2 OCH3.29)selanjutnya di ikuti pelepasan gugus O-MOM.7. O-EE).29). di bentuk dengan mereaksikan alcohol dengan basa (seperti NaH dalam THF) dan ClCH2 OCH3 (klorometil metil eter). gugus hidroksi metil pada 7. Anggota yang paling umum adalah 1-etoksil-etil eter (O-CH(OCH2CH3 )CH3. O-MOM). Variasa gugus MEM adalah 2-(trimetilsilil) etoksi metil eter (-O-CH2 OCH2CH2 Si(CH3)3. 67 .Gugus pelindung eter alternative yang telah di kembangkan oleh Green adalah ³metil eter tersubtitusi´ yang tidak lain adalah asetal (RO-CHR1 -O-R2).MEM).27 perlu di proteksi dan di konversi menjadi turunan OMOM. Asetal pertama adalah metoksi metil eter (O-CH2 OCH3. Sebagai contoh. Gugus MEM juga dapat melindungi alcohol tersier.27 sebagai turunan MOM (pada 7.28) dan OH yang lain sebagai benzil eter (7.SEM). shibasaki menggunakan gugus EE untuk melindungi.

atau reaksi diol dengan aseton dengan adanya katalis asam. hidrida. Gugus pelindung ini biasanya dipecah dengan HC berair.3-diol akan menghaslkan cicin lingkar-6 asetonida.35). tetapi tidak terhadap asam. ketal seperti 7. sering disebut asetonida (isopropilidena ketal). dengan aam asetat atau dengan asam p-toluennasulfonat dalam methanol. 1. Ca umum pembentukan asetonida adalah reaksi iol dengan 2-metoksil-1-propena dengan adanya asam seperti anhydrous HBr.2-diol termasuk alcohol. dan zat pengoksida. maka akan dibentuk 1.7. yaitu merupakan turunan 1. hidrognasi katalitik.organologam.3 Proteksi Diol 1. dengan adanya katalis asam. Gugus tersebut juga stabil terhadap nukleofil. tetapi kedudukan hidroksil berkaitan sehingga dapat dpproteksi sebagai ketal siklis.35 yang dibentuk dari aseton.34) bereaksi dengan keton seperti aseton. 68 . Gugus ini stabil terhadap basa (Ph 4-12).3-dioksolan (7.2-diol seperti 2.3-butanadiol (7. Bila 1.2.3-dioksana.

2-diol pada senyawa 7. reaksi iol dengan aldehida atau keton lain akan menghasilkan ketal atau asetal. Reaksi utama dari karbonil adalah adisi nukleofilik asil.4 proteksi aldehida dan keton Seperti halnya dengan alcohol. 69 .39).hal ini dilakukan karena ugus karbonil yang merupakan bagian dari gugus fungsi dapat mengganggu salama reaksi berlangsung. Cara umum memproteksi gugus karbonil adalah dengan mengkonverinya menjadi ketal atau aseta. Variasi reaksi ini antara lain meggunakan pereaksi diol yang menghasilkan ditioketal atau ditioasetat.38 direaksikan dengan asam berair akan diperoleh kembali diol (7.suatu cara telah dikembangkan untuk memproteksi keton dan aldhida. bila 7.38.Asetonida berguna dalam sintesis.2. dengan menggunakan pereaksi alcohol atau diol. 7.36 yang dikonversi menjadi 7. dan reaksi berikutnya dengan mereaksikan dengan basa membentuk senyawa alkena 7.42 proses ini dilakukan oleh Bauman dan Hoffmann dalam sintesis -santalol.37 dengan mereaksikannya dengan aseton dan kuprisulfat (CuSO4).41. aldehida diperoleh kembali dengan menambahkan asam ptoluenasulfonat berair menjadi 7. seperti proteksi pada 1.40 sebagai dimetilasetal. Sebagai contoh sintesis dengan menggunakan asetal untuk memproteksi aldehida adalah pada senyawa 7. Dua turunan yang umum adalah benzaldehida (membentuk benzilidena asetal) dan sikloheksanon (membentuk sikloheksilidena ketal). Dioksolana selanjutnya memungkinkan untuk mengkonversi ester menjadi gugus alkilidena 7.

yang di ikuti reduksi terhadap laktam menjadi amina.49.48.46 (yang membentuk 7. Cara yang paling umum untuk memecah turunan dioksana atau dioksolana adalah dengan mereaksikannya dengan asam berair.3-sdioksana dibuat dengan mereaksikannya dengan 1.45.3-propanadiol. menggunakan 2.47 dengan butyl litium dan juga konversi yang menghasilkan produk alcohol menjadi klorida 7.3-propanadiol untuk memproteksi keton 7.7. tetapi methanol merupakan alcohol yang paling umum digunakan.meyer memproteksi senyawa keton 7. Proteksi aldehida dan keton juga dapat dilakukan denga menggunakan 1. Turunan 1.Dalam kenyataannya banyak jenis alcohol yang dapat digunakan untuk menghasilkan asetal atau ketal. Variasi dapat dilakukan dalam memproteksi ketal dengan memasukkan subtituen alkil pada senyawa diol. Deroteksi menghasilakan 7.44).3-dioksolana dibentuk dengan mereaksikan karbonil dengan 1.2dimetil-1. 70 . diproteksi terhadap karbonil menghasilkan kamforenon.43 sebagai ketal (7. seperti yang dilakukan oleh Money. meliputih HCl dalam THF dan asam asetat berair.3-diol yang membentuk ketal siklis atau asetal siklis.47). dan 1. proses ini dilanjutkan oleh reaksi olefin 7.2-diol dan 1.( )-aspidosapermina.2-etanadiol. Sebagai contoh.

3 Proteksi Amina 7. 7.7.1 Gugus Pelindung N-Alkil Gugus alkil lain yang digunakan untuk melindungi nitrogen adalah benzil (N-CH2Ph. Gugus ini stabil terhadap asam dan basa (Ph 1-12) dan terhadap nukleofil. Amina direaksikan dengan benzil klorida atau benzil bomida. organologam. Reaksi antara anhidrida asetat atau 71 . dan asam Lewis.3. Cara penentuan lain adalah dengan mereaksikannya dengan natriium dalam amonia cair. N-astil merupakan ggus pelindung amida yang sudah di kenal bak dan N-asilamina dikenal merupakan turunan asetamida (N-COCH3.N-Ac).hidrida. Ikatan N-C dapat diputus secaa hidrogenolisis katalitik atau pelarutan logam.2 Gugus pelindung N-As Amida merupakan gugus pelindung yang paling umum digunakan untuk memproteksi amina.3. NBz). biasanya dengan adanya basa seperti kalium karbonat (K2 CO3) atau hidroksida.

Gugus BOC biasanya dilepaskan dengan mereaksikannya dengan HCl berair atau dengan asam trifluoroasetat. akan menghasilkan asetamida. dengan adanya basa sperti piridin atau trietilamina. Contoh sederhana di tunjukkan pada proteksi asam amino 7. Gugus ini sensitive terhadap asan kuat.56). pengganti tosilat dengan nukleofil belerang (manghasilkan 7.55). Banyak gugus pelindung yang dikembangkan untuk memproteksi asam amino pada sintesis peptida.54 sebagai turunan BOC (7.asetil klorida dengan amina.N-TFA). dilanjutkan dengan 72 . Trifluoroasetil umumnya di ikat brtdasarkan reaksi antara amina dengan anhidrida trifluoroastat (CCF3CO)2O) dengan adanya trietilamina atau piridin.3. Jenis gugus lain yang memproteksi amina adalah trifluoroasetamida (N-COCF3. 7.3 Gugus Pelindung N-karbamat Gugus pelindung lain untuk nitrogen adalah karbamat (N-CO-OR).

terhadap asam Lewis dan terhadap sebagian besar hidrida (gugus tersebut bereaksi dengan LiAlH4 ). Gugus diikat oleh reaksi antara amina dengan benzil kloroformat (PhCH2 O2CCl) dengan adanya basa (karbonat berair atau trietilamina). Gugus sangat stabil terhadap asam dan basa (ph 1-12).57. 73 . N-CBz benziloksi karbonil). dan gugus hidroksil diganti dengan gugus tiol. Gugus ini sensitive terhadap hidrolisis dengan hidrogenasi katalitik (pada karbon merupakan katalis yang umum di gunakan).terhadap nukleofil.Doprteksi dengan asam trifluoroasetat (suhu kamar 30 menit)yang akan menghasilkan amina 7. Karbamat lain yang popular adalahbenzil karbamat (N-CO2CH2Ph. terhadap organologam (tetapi gugus tersebut bereaksi dengan pereaksi organolitium dan pereaksi Grignard).

Keasaman hydrogen alcohol dapat diproteksi dengan mengubahnya menjadi eter.dan amina. Gugus-gugus fungsi penting sebagian besar menyebabkan masalah reaktivitas adalah alcohol.61. menghasilkan 7. Keton dan aldehida biasya diproteksi dengan cara mengkonversinya menjadi asetal atau ketal. Asam karboksilat biasanya diproteksi sebagai ester.Fenilalanina (7.58) dikonversi menjadi turunan CBz (direaksikan dengan benzil kloroformat)dan kemudian direaksikan dengan diazometana menghasilkan diazoketon yang di proteksi CBz (7. keton.diproteksi dengan hydrogen menghasilkan 7. atau turunan hidrazon. asetal.60. atau ester. 74 . KESIMPULAN Gugus pelindung berfungsi memproteksi atau memblokade satu gugus yang reaktis dengan mentransformasikan menjadi gugus fungsi baru yang tida mengganggu terhadap transformasi yang diinginkan. tioasetal atau tioketal. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasikan gugus pelindung tersebut menjadi gugus fungsi semula padatahap akhir sintesis. gugus fungsi asam di perpanjang dengan satu karbon melalui penataan ulang Wolff.59). Pasangan electron pada amina dapat diproteksi dengan cara mengkonversi menjadi garam amonium.

BAB VIII STRATEGI SINTESIS 1. Selama berthun-tahun terjadi peningkatan data tentang ciri ciri struktur dan sterokimia dari senyawa yang semakin kompleks.2 menjadi bagian -bagian yanga lebih sederhana.2). Sintesis ekuilen(8.1) dalam rangka untuk memastikan struktur sebenarnya dari bahan alam ini. Analisis ini ternyata dapat dilakukan dengan cara mendiskoneksi 8.5) atau strinina (8. Robinson pada tahun 1917 mensintesis tropinom (8.Perkin mensintesis terpinol (8. ia menghipotesiskan bahwa hidrolisi yang diperkirakan terhadap substrat (tropin) dapat diubah menjadi suksin aldehida.3) yang dilakukan oleh Bachman pada tahun 1990 merupakan sinesis multilangkah pertama terhadap precursor stroid menjadi estron. dan aseton. 75  .6). Pada tahun 1904. Wordward dan Doering mensintesis kuinina (8. PEN ERTIAN STRTEGIS SINTESIS Corey mencatat Beberapa contoh sintesis untuk menggambarkan sejarah sintesis.4) sebagai target yang semula ia mengira bahwa senyawa yang kompleks tersebut tiak di ketahui apakah (8.metilamina.

Pendekatan ini disebut Retrosintesis. atau teori-teori baru yang sangat penting dapat dihasilkan.yang meliputi: 1. Pemilihan atau penentuan percobaan dan analisis. Kesempatan belajar memberikan andil yanga besar terhadap langkah-langkah selanjutnya dalam pekerjaan sintesis. penciptaan. Sintesis molekul organic biasanya dimulai dengan dua pertanayan : (1) Mengapa molekul ini dipilih sebagai target??dan (2) darimana kita harus memulai?? Jawaba terhadap (1) sering terletak pada n kebutuhan dan ketertarikan dari ahli kimia pensintesis. 2. Akan tetapi.Corey memformulasikan termilogi untuk pendekatan sintesis ini. 76 . ada strategi lain yang dapat ditera pkan pada perencanaan sintesis. Selama mengamatan tahapan tersebut. Pemilahan reaksi kimiayang spesifik untuk tranformasi satu intermedit sintesis ke langkah berikutnya 2. dan retrosintsis ini dapat mempelajari sintesis suatu molekul sampai pada bahan awal yang relative sederhana yang kemudian skarang dikenal sebagai Pendekatan diskoneksi (atau syntom). sehingga membuatnya menjadi suatu proses yang dapat di mengerti.1 Alasan atau dasar pemikiran untuk sintesis total Pada dasarnya pemilihan target merupakan titik awal untuk sintesis. Pemilihan Pereaksi-pereaksi yang spesifik 3. Molekul target dpt memiliki siat kimia dan biologi yang unik. PEMILIHAN TARGET 2.Sekarang pendekatan diskoneksi di gunakan oleh sebagian besar ahli kimia bila mereka menghadapi masalah sintesis. penemuan. Bentuk atau model percobaan 4. Corey melibatkan LHASA (logic Heuristics Applied To Synthetic Anlysis) dengan tujuan membantu ahli kimia dalam perencanaan sintesis dan untuk mensintesis molekul-molekul yang kompleks.

7) merupakan hormone pertumbuhan tanaman dengan kerangka karbon yang kompleks. Pengembangan reaksi dan pereaksi baru. 2. Bagi ahli kimia. Persoons mengisolasi 200 µg 77 . Kadang-kadang. Banyak informasi yang diperoleh dari pengujian kriteria tersebut yang mungkin berguna untuk pendiskoneksian target. Verifikasi atau pengubahan struktur 2. yaitu: 1. melihat kembali pemilihan target merupakan pemeriksaan pekerjaan yang sudah pernah dilakukan dan tidak memberikan nilai lebih. Bila sintesis seperti tersebut dipublukasikan. Senyawa 6-deoksieritronolida B (8. Mitomisin C (8. Senyawa ini adalah bagian dari eritromisin yang merupakan antibiotik makrolida. periplanita Americana. Tantangan struktur dan topologi.8) merupakan aglikon lakton makrosiklik.Uraian diatas memberikan jawaban yang dapat di terima terhadap pertanyaan (a). maka serangkaian reaksi langkah demi langkah yang digunakan untuk membentuk setiap molekul dilaporkan.10 dan diberi nama periplanona B. Cirri-ciri strukturnya yang berbeda memberika masalah-masalah sintetik yang unik. Asam gibberelat (8.9) merupakan hasil alam alkaloid yang memiliki sifatsifat antitumor. ditunjukan oleh persoons mempunyai struktur 8.bkriteria tersebut mungkin berharga bagi ahli kimia yang baru pertama kali melakukan sintesis. Studi analog 4. meskipun tidak selalu dalam ringkasan diuraikan mengapa target dipilih. Demikian juga ringkasan alasan alasan yang melatarbelakangi sintesis perlu dipublikasikan. pengertian dasar sifat-sifat alami ikatan dan molekul 5. Criteria yang tertulis dibawah sering disebut sebagai karakteristik target sintesis yang penting.2 verifikasi atau pengubahan struktur Feromon seks kecoa amerika. Pendekatan diskoneksi dalam jumlah bentuk akan di gunakan dalam menjawab pertanyaan (b). Aktivitas biologis yang penting 3. meskipun studi yang dekat dengan sintesis tersebut akan memberikan nilai yang besar untuk memahami strategi perencanaan.perlu ditambahkan molekul-molekul yang ditunjukan pada pendekatan merupakan contoh-contoh yang dapat mewakili organic yang jenisnya sangat banyak yang telah disintesis sebagai target.

masalah seperti ini dapat diselesaikan dengan membuat semua kemungkinan diastereomer sekaligus. Ini merupakan pendekatan umum. bidang Molekul yang penting dan diminati biasanya di isolasi dari sumber alam yang bsedikit. 78 . dari semua produk dengan stereokonrrol yang dapat diterima (masuk akal). Perlu diketahui bahwa adanya isomer E dan Z untuk olefin pada setiap diastereomer akan menambah jumlah produk yang harus dipisahkan. masih merupakan metode yang penting untuk menentukan struktur akhir. Berbeda dengan still yang fokus pada jalur sintesis. 8.pertanian.senyawa tersebut dari 75.10 dengan jalur multi langkah. Sintesis total semua diastereomer yang dapat diterima dan membandingkannya dengan cuplikan asli. Semua prostaglandin (PG) diturunkan dari senyawa induk yang disebut asam prostanoat. dengan tanpa mengontrol stereokimia. dan dalam hal ini target intermediet kunci 8.11 digunakan untuk membuat semua diastereomer periplanona. Bandingkan cara ini dengan pendekatan diastereoselektif yang digunakan oleh Still.3 Aktifitas Biologis Alasan nyata sintesis total adalah pentingnya senyawa target pada kedokteran. dengan aktivitas biologis yang bermacam-macam dan manjur. Jika molekulmenunjukan adanya aktifitas biologis yang signifikan. maka diupayakan menambah senyawa tersebut untuk keperluan pengujian atau struktur. tetapi dengan empat pusat simetri sehingga terdapat 24 isomer (16 stereoisomer atau 8 pasang enantiomer) yang selanjutnya harus dipisahkan. asam lemak terhidroksilasi.12. 2. Still mensintesis 8. dan karakteristik spektra dan sifat fisik dari setiap stereoisomer diuji terhadap cuplikan periplanona B alami untuk menemukan isomer yang benar.000 kecoa betina yang kemudian dilanjutkan dengan determinasi struktur. Prostaglandin merupakan kelompok hasil bahan alam yang tidak jenuh. Empat stereoisomer disintesis. yang akan menghasilkan hanya sedikit produk diastereomer.10 belum terelusidasi. tetapi stereokimia 8.atau usaha-usaha komersial lain atau kemanusian.

Turunan-turunan tersebut adalah PGA.13). 1. Terdapat juga gugus karbonil pada Cll dan C15 pada prostaglandin alami. Sejumlah prostaglandin menunjukan gejala tersebut. dan kelompok F (pGF) mempunyai gugus karbonil pada C10. prostaglandin alami dibagi menjadi tiga kelompok: (1) satu ikatan rangkap dua antara C13 dan C14 (PGl).14). Modifikasi sintesis terhadap struktur yang diketahui dapat dipakai sebagai model dan mendorong untuk merancang target sintetik. Studi lebih lanjut menunjukan bahwa modifikasi struktur terhadap kerangka dasar dapat menghasilkan molekul dengan karakteristikyang berbeda dan molekul baru yang menjadi target sintesis. Modifikasi struktur menantarkan sintesis kloreksolan (8. PGB. Kelompok E (PGE) mempunyai gugus karbonil pada c9. bukan pada cincin yang mengandung gugus sulfonamida. 79 . dst. Klorotaizid adalah molekul dengan struktur kimia 2H. PGC.13) menjadi senyawa Nsikloheksil laktam (8.4-benotiadiain-7-sulfonamida6-kloro-1.2. pGE. (2) ikatan rangkap dua kedua anrara C5 dan C6 (PG2).1-dioksida(8. 2.14) aka menghasilkan peningkatan kerja hipotensif dan kerja diuretik. konversi cincin heterosiklik pada (8. (3) ikatan rangkap dua ketiga antara CI7 dan Ct8 (pG3).4 Studi analog Target yang di minati atau yang mempunyai sifat aktif secara komersial sering memberikan akibat samping yang menggunakan atau tidak stabil pada penyimpangan dan penanganannya. Senyawa tersebut bersifat diuretic dan juga di gunakan untuk mengobati hipertensi. Studi menunjukan bahwa penggantian (modifikasi) yang signifikan dalam profil farmakologis dapat dilakukan dengan penggantian pada cincin heterosiklik. PGD.

16a) adalah seaktif (8. Studi secara sistematik turunan sintetik 8. dan topologi ( bentuk.ciri-ciri structural ) (8. Dorongan untuk sintesis ini adalah penelitian untuk mendapatkan obat yang manjur (mujarab).15) terhadap calon-38 tumor pada tikus dan memiliki kemanjuran dosis yang lebih. 2. Denny dan Buguley menunjukan bahwa asam 9-okso-9H-xentena-4-asetat (8. Sintesis sering mengajak kita menengok ke belakang.16 menunjukkan bahwa banyak turunan yang terkait memiliki aktivitas antitumor yang meningkat. Ini merupakan kasus tipikal di mana senyawa yang diketahui dimodifikasi strukturnya berdasarkan pada sifat-sifat aktivitas struktur dari senyawa yang terkait.16c) menaikkan potensi dosis. Dodekahedran 8. Asam vlafon-8-asetat (8. Ditunjukan bahwa substituen lipofilik kecil pada kedudukan 5 (lihat 8. 80 .15) mempunyai potensi yang besar sebagai agen anti tumor.16 dan 8.17 pertama kali di sintesis oleh paquette.Alasan umum lain untuk pembuatan analog target adalah untuk mempelajari profil aktivitas struktur molekul dengan aktivitas biologi yang diketahui. menyadari keterbatasan tanang ilmu kimia yang di ketahui dalam pembentukan ikatan atau sifat-sifat dasar untuk molekul organic.5 Studi topologi Kadang-kadang suatu molekul bersifat sebagai target yang sangat menarik sehingga memberikan tantangan untuk dikaji dari segi struktur dan sifat-sifat kimianya.17) pada dasarnya adalah bentuk bola.

17. 2. Pereaksi yang di kembangkan untuk tranformasi ini adalah -kloronitron (8. Kadang-kadang daya cipta dan ilmu kimia baru muncul dari penyelesaian target sintetik seperti 8. Pada sintesis yang baru ini.17 Senyawa 8. Contohnya adalah Sintesis vitamin B seperi yang dilaporkan oleh Woodward dan Eschenmoser.19) bila direaksi dengan ion perak. Sekali di kembangkan.6 Reaksi baru dan pereaksi baru Pengembangan tranformasi kunci tidak mungkin seluruhnya dilakukan melalui reaksireaksi kimia seperti yang telah diketahui. 81 . Dan biasanya penemuan baru dalam sintesis tersebut dapat diterapkan pada usaha sintetik senyawa iain. pekerjaan yang baru tersebut sering menunjukan bahwa pereaksi-pereaksi yang terlibat dapat di gunakan untuk berbagi tujuan lain.8. Pengembangan metodelogi baru atau modifikasi reaksi-reaksi yang ada harus di lakukan untuk memperoleh tranformasi yang di inginkan dalam menyempurnakan sintesis. langkah kunci membutukan hidrolisis amida pada inermedit yang memiliki enam gugus eter.17 mempunyai topologi sferikal super-polisiklopentanoid.18) yang menghasilkan ion vinil nitronium( 8.

adisi siklo terhadap metilsikloheksena dan 8.21 dengan hasil 59% dan selanjutnya proses hidrolisis menghasilkan 8. dan hasil adisi siklo (8.nitron (8. 82 .23) ditransformasikan menjadi beberapa molekulsintetik yangberguna.20 menghasilkan produk adisi 8. Pada yang khas menunjukan. Produk -produk akhir meliputi furan dan turunan alkuna.20) digunakan sebagai pasangan diena pada reaksi Diels Alder. Sebagai pasangan adisi diubah dari alkena ke alkuna lain.22 sebanyak 90%.

Penyederhanaan berikut (diskoneksi) akhirnya menghasilkan molekul yang dikenal yang tersia di pasaran.1 Pendekatan synthon Bagaimana kita menganalisis target agar dapat menentukan bahan awal yang terbaik? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut penting untuk sintesis total. Subpohon lebih lanjut menyatakan diskoneksi dari salah satu cabang pohon sintetik. dan akan digunakan untuk mengenalkan konsep-konsep yang diingankan. Penyumbang utama pada bilangan prioritas ini adalah 1. Pengertian tersebut dikenal dengan ikatan-ikatan strategis. yang akan membentuk ikatan tersebut pada sintesis. Proses ini merupakan pohon sintetik untuk reaksi kimia yang harus ditindaklanjuti pada transformasi yang telah direncanakan untuk dilakukan. Koneksi ikatan dengan satu atau lebih pusat asimetri Bilangan-bilangan prioritas tersebut berguna untuk moekul-molekul yang sederhana. dan stereokimia yang terdapat pada struktur kompleks. Pengertian dasar stereokimia. Namun demikian. Analisis yang mendalam terhadap struktur target 2. Gugus atom yang terikat pada ikatan 2. atau telah dibuat oleh orang lain. Pengetahuan dasar reaksi-reaksi kimia 3. Biasanya terdapat ikatan-ikatan tertentu dalam molekul yang memiliki diskoneksi pada pengarahan retrosintetik yang akan memberikan penyederhanaan struktur secara signifikan. dan jawabannya membutuhkan: 1. (To) didiskoneksi menjadi sekumpulan struktur yang dibatasi secara logika yang dapat dikonversikan menjadi pekerjaan sintetik tunggal (langkah reaksi) dan menjadi target sintetik. sepanjang alas an jalur reaksi kimia dapat diterima. Pohon sintetik serupa yang dinyatakan oleh Hendrick. penyederhanaan struktur. interaksi gugus fungsi. 83 . didapat dengan cara kimia yang sederhana. Setelah beberapa retroreaksi.3. maka reaksi (serangkaian reaksi) harus tersedia. Jika satu dari ikatan-ikatan tersebutdidiskoneksi. dan masing-masing merupakan target sintetik. Retrosintesis 3. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 4. ikatan dan reaktivitas 4. skema ini merupakan titik permulaan yang berguna. yang kemudian dapat digunakan untuk membentuk molekul. Bilangan-bilangan prioritas tidak dapat mengantisipasi masalah struktur kompleks. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 3. Intuisi yang baik tentang perkembangan ilmu kimia Informasi ini kemudian digunakan untuk diskoneksi ikatan-ikatan pada target. Pendekatan yang dimulai dengan analisis target akhir dan bekerja kearah belakang (bahan awal) dikenal dengan proses retrosintesis. pohon sintetik akan menghasilkan sejumlah bahan awal yang berasal dari satu atau lebih cabang-pertama. Proses penyederhanaan struktur molekul diskoneksi menghasilkan serangkaian fragmen (penggalan) molekul yang bertindak sebagai intermediet kunci.

Untuk molekul seperti 8.30 dan 2-bromobutana (molekul real yang dihasilkan dari diskoneksi). 4-bromobutan-1-ol. Analisis ikatan baru 8. dan m. I.28. Pertama. transformasi gugus funsi 8.3.26. pohon retrosintetik dapat dikaitkan dengan gambar 8.27 atau -kloroketon 8. dan mengkonversi 8. I. protocol prioritas ikatan menghasilkan ikatan -ikatan h.31 paling tidak menghasilkan dua diskoneksi . diskoneksi ikatan g menghasikan 8. diskoneksi ikatan k memberikan diskoneksi yang paling sederhana.34). maka analisis ikatan kedua memberikan prioritas diskoneksi untuk ikatan-ikatan k. seperti yang ditunjukan pada gambar 8. menghasilkan 8.29. atau j yang memiliki prioritas tertinggi. epoksida 8.26 menjadi 8. jika pohon sintetik dipangkas dan terfokus pada 8.2.33) dan organokuprat yang diturunkan dari 3-bromo siklopentena (8.25 dan konversi menjadi fragmen-fragmen sintetik yang realistic menghasilkan paling tidak dua kemungkinan.29. dan a.27 menjadi 8.33 menghasilkan bahan awal yang diketahui. Dari analisi tersebut menghasilkan beberapa kesimpulan penting. Diskoneksi ikatan h menghasikan 8.24.32 dan diskoneksi ikatan c menghasilkan dua fragmen yang dapat identik: 4-bromo asetaldehida (8. 84 . transformasi gugus fungsi diperlukan untuk menkonversi 8. beberapa pilihan ini dapat dikembangkan dengan menentukan cabang pohon mana yang akan diikuti.

maka protocol diskoneksi ini harus dikerjakan lagi. Hal penting yang peru diperhatikan adalah bahwa analisis retrosintetik hanya memberikan transformasi kunci dan bukan setiap langkah. Juga penting disadari bahwa protocol doskoneksi dengan penomoran hanya diterapkan pada 8.29). 4. setelah pemiihan ikatan yang akan didiskoneksi dan penentuan fragmen real (seperti 8. Proses ini dilanjutkan hingga bahan -bahan awal yang dapat dikenal dapat diperoeh.Strategi sintetik 4. Struktur target baru yang diperoleh dengan diskoneksi pertama dapat menghasilkan sekumpulan ikatan strategis yang berbeda.24.1 Penegasan berbagai pendekatan strategi Diketahui bahwa diskoneksi hanya didasarkan pada kemampuan pembentukan kembali ikatan (diskoneksi dengan penomoran) tidak selalu dapat diterapkan pada target-target 85 .Untuk menyempurnakan sintesis. pereaksi-pereaksi untuk setiap transformasi gugus fungsi reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon harus tersedia.

kompeks. Corey mendeskripsikan pendekatan yang luwes terhadap masalah-masalah tersebut yang digabung dalam program computer LHASA. Tujuan program ini adalah membantu menganaisis target sintetik yang kompeks. Program ini mendeskripsikan pendekatanpendekatan secara umum untuk membangun pohon sintetik dan juga mendeskripsikan ogika yang digunakan untuk membangun pohon sintetik tersebut. Modifikasi-modifikasi tersebut meliputi: 1. Interkonversi, melepaskan atau memasukan gugus-gugus fungsi 2. Perpanjangan atau penambahan rantai karbon 3. Pembentukan cincin (lingkar atomik) 4. Penataan ulang rantai atau anggota ingkar 5. Pemutusan rantai atau cincin Setiap fragmen struktur kimia yang dihasilkan oleh pohon sintetik harus memiliki sifatsifat kimia yang dapat diprediksi dan memungkinkan kombinasi pemilihan terhadap hanya satu dari banyak cara yang mungkin. Corey mendeskripsikan tiga metodologi untuk sintesis, yaitu asosiatif langsung, asosiatif intermediet, dan logika terpusat. Pendekatan asosiatif langsung melakukan diskoneksi target (seperti 8.34) pada ikatan yang menghasilkan struktur yang mudah dikenal oleh ahli kimia. Contoh, senyawa 8.34 memberikan fragmen-fragnen yang mudah dikenal yang didasarkan pada reaksi-reaksi yang sudah diketahui dengan baik. Reaksi retroDiels-Alder memberikan 8.36 dan 8.37. hidrolisis ester dan amida menghasilkan 8.38, 8.39, dan 8.35 pendekatan ini terbatas pada masalah-masalah sintesis sederhana.

Pendekatan asosiatif intermediet mengenal subunit atom pada target yang sesuai dengan bahan awal yang tersedia atau diketahui. Pendekatan logika terpusat menghasikan sekumpulan struktur yang terbatas yang dapat dikonversi dalam langkah tunggal menjadi target

86

4.2 LHASA LHASA menganalisis molekul dengan mengembangkan skema retrosintetik, dan menyediakan reaksi kimia yang tepat untuk mengerjakan sintesis tersebut. LHASA merupakan program interaktif yang mem perlihatkan target, yang dimanfaatkan oleh ahli kimia untuk memilih strategi sintetik.

5. PENDEKATAN STRATEGI IKATAN Bila sejumlah stategi yang tersedia diterapkan pada tugas pemutusan spesifik maka yang pertama dilakukan adalah terhadap ikatan (ikatan -ikatan) pada target. Corey membuat sejumlah aturan yang mengikat bersama-sama antara strategi dan tujuan analisis retrosintetik menjadi analisis strategi ikatan. Aturan-aturan rersebut memberikan wawasan ke dalam diskoneksi pertama terhadap molekul target yang akan ditentukan jika struktur cocok dengan penyelesaian sederhana. Sebelum strategi ikatan ditentukan, penyederhanaan kemungkinan dapat dilakukan jika molekul memiliki simetri, apakah secara struktural mempunyai kesamaan dengan motekul lain yang telah disi tesis sebelumnya, atau mempunyai satuan n satuan dalam struktur yang dapat diulang. Perlu dipahami bahwa aturan -aturan tersebut hanya merupakan garis besar. Analisis dimulai dengan suatu pemeriksaan untuk menentukan jika ada metode yang dapat menyederhanakan molekul. Penyederhanaan akan memperpendek sintesis dan analisis retrosintetik diperkirakan akan mengikuri jalur tersebut. salah satu contoh penerapan aturan pendekatan,straregi ikatan adalah sebagai berikut. Apakah ada simetri atau hampir simetri pada dua bagian molekul Jika ada, maka sintesis kemungkinan dapat disederhanakan dan kemudian menggabungkanbersama dua atau lebih bagian yang identik. Contoh yang baik adalah molekul C-toksiferin I (8.40) yang memiliki simetri hemisferis. Pada 8.40 bagian atas hemisfer identik dengan hemisfer bagian bawah. Telah diketahui jika 8.40 direaksikan derigan asam sulfat menghasilkan hernisfer tunggal yang menghasilkan kembali dimer bila direaksikan dengan natrium asetat panas. Sintesis satu hemisfer dan kernudian menggabungkan dua bagian yang identik tersebut sangat menyederhanakan sintesis secara keseluruhan.

87

6. STRATEGI SINTESIS TERSELEKSI Seperti yang telah dibahas pada subbab di atas, diskoneksi ikatan tunggal dapat menghasilkan sejurnlah skema sintesis berbeda. Sifat interaktif pendekatan memaksimalkan jalur sintesis, karena banyak jalan pintas sintesis berbeda yang mungkin dijalankan. Hal mi dirunjukkan pada sejumlah sintesis vernolefin, 8.41, suatu emanolida yang ridak umum yang diisolasi dan sejumlah tanaman, meliputi veronia hymenolipsis A. Rich (keluarga Compositea) dan dilaporkan mernpunyai sifat-silat antitumor. Sifat-sifat biologis awal yang menjanjikan mendorong untuk melakukan sintesis total. Ada empat ahli kimia yang melakukan analisis retrosintetik terhadap senyawa vernolepin. Dua analisis retrosintetik di antaranya dilakukan oleh Danishefsky dan Grieco yang masingmasing ditunjukkan pada Gasnbar 8.4 dan 8.5.

Analisis 8.41 melalui aturan Corey menyatakan bahwa 1, 5,7,9, 11, 12, 13, dan 15 sebagai ikatan-ikatan strategis. Ikatan-ikatan 16, 17, dan 18 dapat juga dianggap strategis. Ikatan-ikatan 3 dan 13 merupakan hubungan ester yang labil dan strategis melalui pertukaran antar gugus fungsi. Pada Gambar 8.4, Denishefsky menggunakan ikatan -ikatan 1, 3, 5, 8, 10, 13, 17, 18, dan 15 untuk diskoneksi. Pada awal anaitsis hanya ikatan -ikatan 8, 10, dan 19 tidak strategis, sehingga ikatan-ikatan 8 dan 10 didiskoneksi terakhir pada retrosintesis, dan ikatan 19 didiskoneksi dengan transformasi gugus fiangsi. Diskoneksi pertama melepaskan gugus labil lakton -metilena yang menghasilkan 8.42. Diskoneksi berikutnya adalah penukaran gugus fungsi yang memberikan ekuivalen lakton asiklis (8.43) yang kemudian diikuti diskoneksi menjadi 8.44. Epolcsida berfu ngsi sebagai synthon untuk koneksi cincin lakton C. Gugus vinil didiskoneksi menjadi aldehida, dan didiskoneksi menjadi 8.45 yang terikat kembali dengan vinil dan gugus hidroksil pada cincin B, diikuti diskoneksi cincin A. 8.46 sikloheksena berperan sebaga ekuivalen sintetik untuk cincin lakton A. Diskoneksi i menjadi 8.47 menunjukkan bagaimana gugus fungsi meinbentuk cincin B, dan diskoneksi menjadi 8.48 menunjukkan bahwa cincin B merupakan unit bangunan dasar, yang dapar dibentuk melalui reaksi Diels-Alder dari butadiena dan metil propiolat.

88

Perlu diperhatikan sikloheksena tidak hanya berfungsi sebagai ekuivalen vinil.41. dan 19.51 dan 8. Cincin C menggunakan gugus dimetit-2-butenil 89 . seperti langkah yang dilakukan oleh Danishefsky. 13.51 kenyataannya adalah ekuivalen dengan ikatanikatan 1 dan 2 pada 8. ikatan -ikatan yan digunakan adalah 1.Pada analisis retrosintetik yang dikerjakan oleh Grieco (Gambar 8. Gugus metoksi pada 8. tetapi ikatan ikatan 3 dan 13 kemudian didiskoneksi menghasilkan 8.42. 3. Diskoneksi pertama adalah menjadi 8. 17. 5.52.50. Diskoneksi berikurnya diserta dengan pelepasan ikatan 19 pada 8. Diskoneksi berikutnya menghasilkan 8. tetapi juga sebagai bagian untuk cincin A.51 menghasilkan ekuivalen vinil yang berbeda dari yang digunakan Danishefsky.5). 18. Grieco menggunakan ikatan 15.

Berikut dicontohkan sintesis total dan metil ester dari Vineomisinon B2 sebagai antibiotik antrasiklin (Danishefsky.Am.55 dan 8. J. 107. 90 . Skema keseluruhan ini mirip dengan Danishefsky pada tahapan awal. 1985. 285).56.51. diskoneksi 8..¶diskoneksi tahap terakhir.54 menunjukkan bahwa cincin A dan B dibentuk dari 8.Soc.Sebagai kerangka karbon yang ekuivalen pada 8. tetapi benbeda secara signifikan pada diskoneksi.

Organic Synthesis [Download] Senyawa y (Adapted by: Organic Synthesis :The disconnection Approach.goggle.Jakarta : Erlangga. Stuart Warren. Marhan Sitorus) 91 .2009.DAFTAR PUSTAKA y http://www. Hardjono dkk. y Sastrohamidjojo.com/sintesis-organic/html. y Stuart Waren. Sintesis Organic. Kimia Organik Fisik.

J KUMOKONG FRIMA RINDENGAN MEIVIRA TAMPONGANGOI 92 .NAMA KELOMPOK BAB 1 JULIANUS HONTONG DEYSI RIA TANGIAN RUSPIN ARUNG SAMPE APRIANA MARA BAB II ISAK IWAMONY MERLINA LUMOWA FENI BUBALA NURLELI HASYIM BAB III VIVI C E. TAKASIHAENG ANGGI TUMILANTOW SEPTANI POLII YARDI HARUN BAB IV DIMANUEL ZET BORON ELVANDER ST.

BAB V LEKUNURU KALENSANG JOUN ALLEIN TINDAGE HENDRA PAAT ASTRIA WOWORUNTU BAB VI RANDY LENGKEY RIA TUMAKAKA RADIA KAMALUDIN ANGELINA MANUS BAB VII NANSI MOMONGAN JELTYANI GUMOLUNG EPIL MUNTIA CHRISTEL KORENGKENG BAB VIII IYEN IRALA LINA TASIM RESA GERUNGAN MAYO GANSARENG 93 .

94 .