BAB 1 RUANG LINGKUP SINTESIS KIMIA ORGANIK

Latar Belakang Berabad-abad para ahli mengira bahwa senyawa yang terjadi dalam jasad hidup berbeda dengan senyawa lainnya karena adanya semacam gaya gaib (Vital Force). Gagasan ini menyebabkan ahli kimia tidak mencoba membuat senyawa organik di laboratorium. Tetapi pada thun 1928, ahli kimia Jerman, Friedrich Wohler, pada saat itu berumur 28 tahun, secara kebetulan membuat urea, yakni unsur penting dalam urine, dengan memanaskan zat anorganik (mineral) yaitu amonium sianat. Ia begitu gembira dengan hasilnya, lalu menulis surat kepada gurunya, ahli kmia swedia J.J. Berzelius sebagai berikut: ³saya bisa membuat urea tanpa memerlukan sebuah ginjal atau manusia atau hewan´. Percobaan ini dan yang serupa lainnya sedikit demi sedikit melenyapkan (Vital Force) dan membuka jalan menuju dunia kimia organik sintetik moderen. Sintesis biasanya terdiri dari penggabungan kepingn kecil dan sederhana menjadi molekul besar yang kompleks. Untuk membuat sebuah molekul yang mengandung banyak atom dari molekul-molekul yang mengandung atom lebih sedikit, perlu diketahui bagaimana membuat dan memecah ikatan kimia. Walau sintesis urea dari Wohler suatu kebetulan, sintesis akan lebih efektif dan terkendali jika dilakukan dengan cara-cara yang rasional, sehingga semua atom tersusun, mereka akan berhubungan satu samalainya dengan benar dan menghasilkan produk yang dihasilkan. Ikatan kimia dibuat dan dipecah melalui reaksi-reaksi kimia. Dengan demikian kita dapat mempelajari bagaimana menyambung molekul-molekul secara spesific, suatu pengetahuan yang sangat berguna dalam sintesis. Pada saat ini sejumlah senyawa organik yang telah disintesis dalam laboratorium dan industri kimia jauh lebih banyak dari pada yang diisolasi (dipisahkan) dari alam-tetumbuhan dan hewan. Ada beberapa alasan mengapa penting sekali mensintesis molekul. Pertama, dapat mensintesis produk alam dilaboratorium dengan mudah, dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pemisahan dari alam. Contoh senyawa yang mula-mula di isolasi dari alam dan sekarang diproduksi secara sintesis untuk tujuan komersil adalah vitamin-vitamin, asam amino, zat-zat warna, kamper penghalau ngengat, penisilin antibiotika dan lain-lain. Sekalipun istilah sintetis kadang menyiratkan arti 'palsu', produkproduk alam sintesis pada kenyataanya identik dengan senyawa yang dipisahkan dari alam. Alasan lain untuk sintesis ialah menciptakan zat-zat baru yang mungkin mempunyai sifat-sifat lebih berguna dibanding dengan hasil-hasil alami. Serat sintetik seperti nyilon dan orlon, misalnya mempunyai sifat tertentu yang lebih berguna dan lebih baik dari serat alami seperti sutra, kapas dan sisal. Banyak senyawa dalam obat-obatan adalah sintetik (termasuk
1

aspirin, eter, novocain dan barbiturat). Daftar produk sintetik yang kita kenal dalam masyarakat industri antara lain adalah plastik, deterjen, insektisida dan tablat-tablet kontraseptik. Semua produk tersebut merupakan senyawa karbon atau senyawa organik. Akhirnya, kimiawan organik kadang-kadang mensintesis senyawa baru untuk menguji teori-teori kimia dan kadang tidak mempunyai tujuan khusus sama sekali. Beberapa struktur geometrik, misalnya mempunyai nilai-nilai estetis yang baik, dan merupakan tantangan untuk dapat membuatnya.

Dalam mempelajari sintesis senyawa organik,kita harus juga melibatkan prespektif yang lebih luas, yaitu industri vs sintesis laboratorium, keterbatasan waktu, pertimbangan teknisekonomis, dan perbedaan mendasar dari kriteria yang akan digunakan dalam pemilihan metode sintesis. Tiga contoh yang menunjukkan paradigma tersebut adalah sintesis senyawa siklobutadiena(1.1) asam gibberelat(1.2) dan akrilonitril(1.3). Sintesis molekul dengan reaktivitas tinggi seperti siklobutadiena memerlukan kondisi reaksi yang mungkin hanya diketahui dan dipahami oleh orang-orang tertentu ,karena reaksi tersebut harus di lakukan pada suhu -260oC. Sintesis ini melibatkan eliminasi fotokimia karbon dioksida dari perkusor lakton bisiklis dalam matriks argon padat. Pertimbangan ekonomi sungguh tidak relevan; tujuannya hanya untuk mendapatkan senyawa, sedangkan biaya dan usaha yang harus di bayar tidak dipikirkan. Asam gibberalt adalah contoh keberhasilan ahli kimia sintesis karena dibutuhkan 41 langkah untuk mensintesis total senyawa tersebut. Ini merupakan satu prestasi intelektual yang hebat dan mendemonstrasikan kekuatan dari sintesis senyawa organik. Ahli kimia sintesis secara akademik memang akan termotivasi oleh keindahan mensintesis suatu senyawa, tetapi mereka pun sangat mudah untuk kehilangan kontak dengan dunia nyata yaitu bahwa ilmu kimia harus diaplikasikan. Pertimbangan ekonomi mserupakan bagian terpenting dalam preparasi industri pada skala yang besar, dengan syarat meliputi proses yang jelas dean sederhana, biaya sintesis sedapat mungkin rendah, dan reaksi diupayakan berjalan dalam satu langkah. Namun demikian, hal ini dapat terjadi pada kondisi reaksi sangat spesifik (ekstrem) seperti metode aliran-kontinu, reaksi dengan orde detik dan suhu mencapai 500-700 0C, contohnya pada sintesis senyawa akrilonitril. Contoh di atas menunjukan variasi yang khas dari kondisi yang terlibat dalam sintesis senyawa organik. Hal-hal yang dipelajari dalam sintesis senyawa organik, untuk memberikan pwnjelasan tentang filosofi sintesis dan metodologi yang menyangkut bagaimana menyiapkan desain suatu molekul organik, di tambah metode tertentu dan kriteria umum yang diperlukan agar reaksi tersebut dapat berjalan.

2

Dalam sintesis senyawa organik, beberapa reaksi yang spesifik akan menjadi pokok bahasan dengan disertai penjelasan, perluasan, atau pensistematikan transformasi gugus fungsi. Proses membangun kerangka karbon, oksidasi dan reduksi, penggunaan reaksi organologam, serta interkonversi, aktivitas dan proteksi gugus fungsi merupan topik yang akan dibahas.

1.3.1 Reaksi sintesis Kemungkinan terbuka bagi ahli kimia sintesis adalah memanfaatkan sebesar mungkin apa yang diketahuinya secara lebih mendalam tentang ketersedian seleksi reaksi kimia. Woodward mengatakan bahwa ahli kimia organik telah menunjukan pentingnya transformasi sintesis dalam bidang sintesis senyawa organik. Syarat dalam merancang jalur sintesis yaitu:
y Telah diketahui y Dapat diprediksi dan sangat dibutuhkan.

Sintesis dalam menggunakan pereaksi organologam, baik menggunakan logam berat maupun logam transisi, telah secara mantap dibuat dalam skala pabrik. Oleh karena itu, penerapan sintesis dari kompleks precious-metal juga berkembang pesat dan memungkinkan untuk membangun transformasi senyawa organik yang berguna secara sintetik. penggunaan senyawa heterosiklik dalam sintesis senyawa organik merupakan perkembangan yang banyak memberikan sumbangan pada ilmu sintesis senyawa organik. 1.3.2 teknik sintesis Katalis tranfer fase adalah salah satu teknik sintesis, dengan dua versi, yaitu menggunakan garam amonium kuarterner dan penggunaan katalis makrosiklik, seperti eter mahkota dan poliamin makrosiklik. Reaksi tranfer fase secara klasik harus dianggap sebagai keadaan yang dinamis, yaitu sintesis interfasial. Selain katalis tranfer fase cair cair, juga termasuk didalamnya reaksi yang terjadi pada gas-cairan, bidang batas padatan-cairan atau gas-padat, reaksi pada fase koloid, dan topokimia pada multilapisan. Tonggak penting dalam bidang teknik sintesis adalah pengenalan reaksi terbantu polimer(polimer supported reaction). Pengaruh faktor fisik luar juga telah terasa dalam sintesis melalui penggunaan arus listrik untuk mendorong reaksi seperti pada elektrolisis kolbe. Namun demikian, jumlah dan variasi dari transformasi sintesis yang dipromosikan oleh arus listrik sekarang cukup banyak, sering menghasilkan reaksi kimia yang baik sehingga sering di kenal dengan istilah ³elektrosintesis´ dan bahkan sudah dilakukan dalam skala pabrik. Cahaya sebagai faktor fisik, menghasilkan hasil reaksi fotokimia yang merupakan bagian penting dalam sintesis senyawa organik.
3

1. Desain sintesis merupakan rasionalisasi menyeluruh dan penyederhanaan atas kejelasan reaktan dengan reaktifitas normal dan kebalikannya. Prosedur penentuan inversi polaritas tersebut dihasilkan pada proses kebalikannya.reaksi yang didorong oleh enzim sebagai biokatilis mempunyai kelebihan dibandingkan dengan reaksi organik murni.5 Analisis Retrosintesis Dua tahap yang memberikan kemajuan strategi sintesis. 1. terhindari dari rreaksi penataan ulang dan rasemisasi. maka dapat diparalelkan dengan degradasi molekular.3. yaitu desain metodelogi dengan cara analisis retrosintesis. regiospesifik. Atom ini menentukan reaktifitas polar rantai karbon yang mengikatnya.3. atau dengan kata lain katalis akan mengarahkan reaksi hanya pada satu jalur reaksi. adalah konsep inversi polaritas atau umpolung.3 faktor tiga dimensi dalam sintesis senyawa organik Dalam mempelajari sintesis senyawa organik adalah pertimbangan dari adanya faktor tiga dimensi. dan total kemospesifik.3. Pengaruh stereokimia dari reaksi sintesis klasik dan kelebihan dari pereaksi dan metode baru yang berpengaruh terhadap stereoselektivitas berkembang sangat cepat. 1. Yang kedua. Yaitu fragmentasi molekul pada spektometer massa adalah proses pemutusan ikatan.6 Sintesis Spektra masa retro Kametani menciptakan metode yang dinamakan retro mass spectra synthesis. 1. yaitu kondisi sangat lunak(mild)misalnya pH dan suhu fisiologi.7 Desain dengan bantuan komputer (computer-aided design) 4 . 1.3.Yang terakhir dan merupakan bidang yang berkembang sangat pesat yang terkait dengan bidang biokimia adalah penggunaan enzim dalam sintesis senyawa organik. laju reaksi sampai 1012 kali lebih cepat. Setiap penjelasan sintesis senyawa organik harus memasukkan aspek stereokimianya sehingga menimbulkan gejelah bahwa sintesis stereoselektif berkembang sangat cepat. yang akan menghasilkan kemungkinan sintesis yang dapat dipertimbangkan. Synton merupakan unit yang dapat dibentuk atau dirangkai berdasarkan reaksi sintesis yang dikenal.4 desain sintesis Dalam mempelajari sintesis organik adalah harus melibatkan rencana dan strategi.3. Pertama adalah konsep synton yang didefinisikan oleh Corey sebagai unit struktur dalam molekul yang terkait pada kemungkinan operasi sintesis. dengan pusat donor dan akseptor yang umumnya dalam posisi rantai.katalis tranfer fase khiral khususnya memberikan enantiomerik yang sangat baik dengan garam amonium kuarterner dan eter mahkota. Pendekatan sintesis stereoselektif lainnya adalah penggunaan katalis khiral dan bukannya pereaksi khiral. Jadi skema fragmentasi dari molekul dalam spektrum massa memungkinkan desain dari jalur sintesis untuk senyawa tersebut.

Inti dari pendekatan ini adalah asumsi bahwa reaksi organik dapat diperlakukan sebagai pemutusan dan pembentukan. Komputer dapat memunculkan transformasi sintesis dengan prinsip menyajikan reaksi yang masuk akal.EROS (Elaboration of Reaction for Organic Synthesis) merupakan program komputer yang dapat memberikan reasoning tanpa dibatasi oleh jumlah file reaksi. meliputi metode untuk mengatasi arsitektur molekular yang dihasilkan. berupa usulan yang dibuat oleh mesin. 5 . serta meletakkan pertimbangan pada pergeseran elektron.

dan diskoneksi ikatan karbonkarbon menghasilkan 1Pentanol (2.B B R R  Perubahan gugus fungsi merupakan tranformasi dari satu gugus fungsi menjadi gugus fungsi yang lain.8) .  DISKONEKSI DENGAN PENOMORAN 6 . asam pentanoat (2.7) sebagai target sintesis.  Transformasi didefenisikan sebagai perubahan tepat dari suatu reaksi sintesis Sebagai contoh.

7 .25. ikatan-ikatan kunci akan dibentuk melalui sejumlah reaksi 2. ada dua asumsi yang dibuat. Pendiskoneksian ikatan 1 pada 2.27. evaluasi yang di ingikan adalah suatu molekul yang real. Pendiskoneksian ikatan 2 pada 2.23 menghasilkan fragmen 2. Kedudukan atom ± atom donor di beri tanda dengan huruf d. yaitu: 1. Kedua pendiskoneksianyang mungkin ini harus ermati. dan kedudukan atom ±atom akseptor di beri tanda dengan huruf a. Ikatan-ikatan akan dibentuk oleh reaksi yang melibatkan intermediat(zat antara) ionik . Pendiskoneksian ikatan dua pada gambar di bawah akan menghasilkan fragmen 1 dan 2. untuk menyelesaikan masaalah ini. dan reaksi yang real akan digunakan untuk menentukan ikatan yang didiskoneksi dengan benar dalam sintesis.reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya dan merupakan kebalikan dari sintetik (retrosintetik).22 akan menghasilkan 2 fragmen (hasil diskoneksi) 2.24 dan 2.26 dan 2.

kedudukan C . Senyawa organik pada umumnya dihasilkan oleh organisme hidup. Biosintesis atau lebih dikenal dengan istilah metabolisme sehingga produk sintesisnya dikenal dengan nama metabolit. senyawa organik disintesis melalui proses biosintesis dan dikatalisis oleh biokatalis yg disebut enzim.25 masing ± masing menjadi 2. Enzim ini tentu saja sangat spesifik. adalah ekuvalen dengan C a parsial pada reaksi griknard. hasil diskoneksi 2. Ada dua jenis produk metabolisme yaitu metabolit primer dan sekunder.Sebagai contoh. Dalam tubuh makhluk hidup.24 dan 2. dan kedudukan C ekkivalen dengan karbon elektrofilik pada alkil halida A.32.  Pengertian Ekuvalensi sintetik Merupakan fragmen molekul yang ekuvalen dengan molekul real berdasarkan atas d keidentikan reaktivitas kimianya sebagai contoh. Kandungan senyawa organik dalam metabolit sekunder pada makhluk hidup 8 .29 dan 2. Sintesis Organik.30 atau 2.

c. Melakukan diskoneksi dengan metode yang berhubungan dengan reaksi-reaksi yang mungkin. dari penjelasan ini.relatif rendah. Sintesis : a. Memastikan bahwa reagen pereaksi hasil pemutusan (sinton) tersedia sebagai starting Material.1994)Dengan cara ini. Dengan demikian hal yang mutlak harus dipahami agar sukses dalam melakukan sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah memahami reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya. struktur molekul yang akan disintesis ditentukan terlebih dahulu yang dikenal sebagai molekul target (MT). Proses semisintetik mencakup transformasi metabolit primer dan sekunder menjadi senyawa lain yang lebih bermanfaat. Analisis : a. sehingga ahli kimia organik berusaha mensintesis senyawa yang sama. 9 . 2. karena reaksoi senyawa organik tidak lain dan tidak bukan adalah transformasi gugus fungsional. Ikatan yang didiskoneksi adalah yang diyakini reaksi tersebut dapat dapat berlangsung berdasarkan kaedah -kaedah dan jenis-jenis reaksi yang mungkin. Diskoneksi merupakan operasi balik suatu reaksi melalui suatu pembelahan yang Pedoman yang sangat penting untuk meripta suatu sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah sebagai berikut : 1. Ada kalanya pada waktu melakukan analisis terhadap bahan awal (Starting Material) hasil diskoneksi harus diperoleh dari suatu hasil sintetik yang dikenal dengan IGF tadi. di laboratorium tentu sangat sulit sehingga prosesnya lebih tepat bila disebut sebagai proses semisintetik (Sitorus :2008). Membuat rencana berdasarkan analisis Starting Material dan kondisi sintesis. b. selanjutnya MT dipecah/dipotong/diputus dengan seri diskoneksi. mirip atau berfungsi mirip di laboratorium . Bila tidak berhasil dalam sintesis dilakukan pengkajian ulang analisis. Mengenal gugus fungsional dan molekul target (MT) b. jelaslah bahwa diskoneksi pada hakekatnya adalah merupakan kebalikan langkah sintetik (retrosintesis). Retrosintesis Merupakan teknik pemecahan masalah untuk mengubah struktur dari molekul target sintesis menjadi bahan-bahan yang lebih sederhana melalui jalur yang berakhir pada suatu material start ysng sesuai dan mudah didapatkan untuk keperluan sintesis(Smith. padahal kebutuhan akan senyawa-senyawa organik terus meningkat. B.

Dapat diprediksi produk yang akan terjadi.Retrosintesis Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam retrosistesis ialah sebagai berikut: 1. 10 . Diskoneksi ikatan yang memberikan penyederhanaan secara maksimum. Menentukan kedudukan pasangan ion intermediate yang paling cocok untuk menyepurnakan sintesis ikatan karbon-karbon yang diinginkan . Menggunakan konsep donor ±akseptor untukn mengubah hasil-hasil diskoneksi menjadi bagian-bagian nukleofilik dan elektrofilik. Rancangan 2.Menentukan kedudukan kaarbon yang terkandung dalam bahan awal yang terdapat pada target. 3.melalui serangkaian tahapan reaksi yang akhirnya akan menuju pada bahan awal yang sederhana atau bahan awal yang dapat diperoleh dengan mudah Pendekatan retrosintesis untuk sintesis dengan bahan awal yang sudah diketahui meliputi: 1. 4. 2. kesimpulan Cara penyelesaian masalah untuk transformasi dari suatu target molekul sintetik. Telah diketahui 3.

2) hanya membutuhkan langka transformasi gugus fungsi.1) menjadi bromohidrin (3. TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI Dalam sentesis. Berikutnya adalah reaksi fosfor tribromida yang memberikan bromide (3. masalah yang mendapatkan perhatian besar adalah pembentukan kerangka karbon dengan cara reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon. da adisi. reduksi.2 yang menggambarkan reaksi adisi. 11 . Penerapan perubahan gugus fungsi pada sintesis dapat digambarkan pada kasus sintesis berikut.BAB III ASAM BASA DAN TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI A. Serngkaian adisi ini menggunakan lima macam tipe reaksi utama yaitu asam/basa. Reaksi terakhir dengan asam hipobromida menghasilkan 3. eliminasi. substitusi. Reaksi awal keton dengan litium aluminium hidrida (LiAlH4 ) menghasilkan alcohol (3. keduanya menggambarkan reaksi eliminasi dan reaksi asam/basa.4) melalui reaksi substitusi. Namun demikian. reaksi kimia dalam sintesis meliputi penggabungan gugus fungsi atau penggantian gugus fungsi. Konversi sikloheksanon (3. Basa akan mengeliminasi dan memberikan alkena (3.3) melalui reaks adisi asil.5).

Etanol merupakan asam konjugat yang merupakan asam yang cukup kuat untuk memprotonasi hasil enolat basa. meskipun keelektronegatifitasnya menurun. dan H2O < H2S pKa : 3. merupakan pernyataan umum penulisan reaksi asam/basa : HA + B: HB+ + A+ Asam (HA) bereaksi dengan basa (B:) menghasilkan asam terkonjugasi HB (CA) dan basa terkonjugasi A (CB). 12 . meiputi stabilitas relative asam (HX) dan asam konjugat (HB+) Pembentukan enolat (CB)dari 2-butanol (A) dengan natrium etoksida (B)dalam etanol merupakan reaksi yang dapat balik. Pada table periodic . Sejumlah factor yang mempengaruhi kekuatan asam dan hargan K dijelaskan a berikut ini: a. kebasaan naik dari kiri ke kanan. Jika basa pada keadaan tersebut sangat lemah untuk melepaskan proton asam HA. Pada umumnya. maka HA dapat dipandang sebagai asam lemah dalam system. CH4 < NH3 < H2O < HF Asam lemah Asam kuat CH3.0 Terdapat dua definisi keasaman/kebasaan : asa lewis merupakan penerima pasangan electron dan asam Bronsted -lowry merupakan pemberi proton sedangkan basa lewis merupakan pemberi pasangan electron dan basa Bronstedlowry merupakan penerima proton. Keasaman naik dari atas ke bawah.> NH2->HO Sebagai konsekuensi hal tersebut. b. KEASAMAN PADA MOLEKUL ORGANIK Reaksi HA dan B membentuk HB+ dan A-. Kedudukan keasaman bergantung pada banyak factor. c.0 -7 -9 -10 15.pada umumnya keasaman naik ke kanan. Tingkat ionisasi merupakan ukuran keasaman HA. HF < HC < HBr < HI. dan tingkat kesetimbangan sebanding dengan keasaman HA. dan asam lemah menghasilkan basa konjugat yang kuat.74 7.A. Hal ini memacu kondisi kesetimbangan yang mengarah pada enolat yang lebih stabil. asam kuat menghasilkan basa konjugat yang lemah.

atau fosfin ). Kekuatan basa biasanya dinyatakan oleh pKa dari asam konjugatnya. X merupakan ligan (atom halogen. Kesanggupan nukleofil mengikat elektrofil akan bergantung pada kekuatan nukleofil dan sifat substrat karbonil. logam natrium. misalnya turunan asam. Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan phi. misalnya aldehida dan keton y Karbonil yang mengandung gugus pergi. sedangkan M menyatakan logam. maka induksi dapat mempengaruhi karbon beta pada elektrofilik ikatan phi. natrium dan kalium hidroksida. amina. 2) Adisi Asil pada karbonil tanpa gugus pergi Adisi nukleofilik pada karbonil cenderung reversible jika spesies nukleofilik yang mengikatnya juga merupakan gugus pergi yang baik seperti reaksi adisi air atau hidroksida pada karbonil. Adisi Asil Nukleofilik 1) Pengikatan nukleofilik Nukleofil didefinisikan sebagai spesies yang dapat memberikan sepasan electron pada karbon dan membentuk ikatan baru dengan karbon. t-butoksida dalam t-butanol). Bila NaC=CCH3 bereaksi dengan karbonil. Deproton alcohol memberikan basa asi alkoksida.maka ikatan karbon-karbon dapat di bentuk. Kebasaan Molekul Organik Kekuatan relative basa di pengaruhi oleh factor yang sama seperti asam. kalium hidrida. dan kemungkinan dapat terjadi pengikatan nukleofilik. yang merupakan basa yang sangat umum dan sering digunakan dalam pelarut alcohol (metoksida dalam methanol. Basa yang digunakan untuk mendeprotonasi air atau alcohol adalah natrium hidrida. s 13 . asam MXn menunjukan sifat-sift keasaman dalam reaksi kesetimbangan: MXn Asam B basa MXn-Bhasil adisi B. Terdapat banyak jenis basa yang digunakan dala kimia organic. natrium dan kalium amida.Asam lewis umumnya dinyatakan dalam bentuk MXn. dan t-butoksida. C. Terdapat dua tipe pokok reaksi : y Karbonil yang tidak mengandung gugus pergi. dan n merupakan valensi normal dari M. Ammonia dapat deprotonasi oleh basa yang sangat kuat seperti pereaksi Grignard dan organolithium yang menghasilkan basa amida. metoksida. Karena ikatan karbon bersifat kuat dan sukar putus maka reaksi kebalikannya lebih sukar.

maka adisi asil awal oleh hidroksida menghasikan 3.8 yang diikuti dengan reaksi eliminasi. yaitu keton 3. Pelepasan gugus pergi klorida dari 3. Sebagai hasil adalah reaksi subsitusi dimana nukleofil menggantikan klor pada karbonil. maka pengaruh induksi akan membuat karbon terminal dari alkena elektronik.asam yang dibentuk diubah menjadi anion hidroksida. alkoksida (3. maka klor dan gugus alkoksi berfungsi sebagai gugus pergi. 3) Adisi asil pada karbonil dengan gugus pergi (subsitusi asil) Turunan asam karboksilat seperti asam klorida dan ester di tandai oleh karbonil yang mengikat klor atau gugus OR.Berdasarkan alasan ini.8 memudahkan pembentukan ikatan baru asam benzoate.dan adisi nukleofilik heteroatom bersifat reversible.9).7. dan menjadi kedudukan yang cenderung diikat oleh nukleofil.11 14 . Jenis reaksi ini dikenal sebagai adisi konjugasi atau adisi Michael yang dipacu dengan pembentukan hasil yang distabilkan oleh resonansi. Pada umumnya adisi nukeofil karbon pada karbonil bersifat ireversibel.6) yang mula-mula dibentuk tidak melepaskan asetilida hingga adisi ireversibel dan hidrolisis 3.10).6 memberikan hasil adisi 3. hidrolisis akan memberikan hasil akhir adisi. 4) Adisi konjugasi Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan dari alkena (seperti 3. Bila karbonil mengikat gugus pergi seperti klor. yaitu anion enolat (3. Pada kondisi basa. Jika nukleofil mengikat karbonil.

Bila R kecil (seperti hydrogen pada aldehida terkonjugasi). Pelarut dibagi menjadi dua kelompok. Proses bimolekul tergantung pada sifat substrat (molekul yang mengandung pusat nukleofil). biasanya proses bimolekul bersifat dominan. 5) Karakteristik reaksi yang melibatkan nukleofil Banyak factor yang mempengaruhi terjadinya reaksi nukleofilik. dan sifat gugus pergi. semakin tinggi tetapan dielektrik. Substrat Perbedaan substituen pada substrat karbonil akan mengakibatkan perbedaan yang besar pada laju reaksi adisi asil nukleofilik dengan nukleofil. Pada setiap kelompok. sedangkan pelarut aprotik hanya mensolvasi secara kuat suatu kation. konsentrasi. Untuk reaksi alkil halide primer. c. dan juga menyerap panas berlebih yang dilepaskan oleh reaksi. meliputi pelarut. Nukleofil/basa   lebih Jika nukleofil kuat. Dalam 15 .9 terhalang. Sifat yang sangat penting dari pelarut adalah polaritasnya. b. a. maka pelarut semakin polar. namun bila gugus R pada 3. Solvasi merupakan kunci dari sebagian besar reaksi nukleofilik dan sangat penting pada reaksi asam/basa. Pelarut Pelarut digunakan untuk melarutkan semua reaksi. maka pengika terhadap karbon kuat. Perbedaan utama antar pelarut protik dan pelarut aprotik adalah kesanggupan pelarut protik untuk mensolvasi baik kation maupun anion. sehingga proses bimolekuler lebih memungkingkan terjadi. maka adisi 1. protik) dan pelarut yang tidak mengandung proton (aprotik).2 pada karbon biasanya lebih disukai. Yang sangat menentukan adalah kesanggupannya melarutkan dan memisahkan ion-ion (solvasi). substrat. Ukuran yang baik untuk menyatakan kesanggupan pelaru untuk memisahkan ion-ion ini adalah tetapan dielektrik.Meskipun pengikatan pada karbon asil bisanya berlangsung lebih cepat. yaitu pelarut yang mengandung proton (X-H. maka pengikatan pada karbon asil menjadi sukar dan adisi konjugasi berlangsung sangat kompetif. sifat nukleofil.

e. halida. seperti halnya kebutuhan energy yang naik untuk pembentukan kation. proses bimolekuler terjadi karena nukleofilitasnya dipacu. X. umumnya ditulis SN2. y Reaksi SN2 dapat melibatkan beberapa perubahan gugus fungsi yang berbeda dan menggunakan molekul kompleks baik substrat maupun pereaksinya.13. laju reaksi dinyatakan dalam persamaan : Laju reaksi = k [nukleofil atau basa][RX] Dengan k adalah tetapan laju reaksi.pelarut aprotik. Konsentrasi spesies yang bereaksi Untuk proses bimolekul.12 mengandung gugus pergi yang diganti dengan nukleofil menghasilkan produk 3. Penurunan konsentrasi pada setiap spesies akan menurunkan laju reaksi. atau basa akan mengakibatkan kenaikan laju reaksi. Kenaikan konsentrasi nukleofil. Setelah lepas atau pergi. proses ini dapat dinyatakan sebagai substitusi bimolekuler yang melibatkan nukleofil. y Reaksi mitsonobu 16 . REAKSI SUBTITUSI 1) Subtitusi nukleofilik bimolekul Reaksi Sn2 Substat 3.harus merupakan ion yang sangat stabil. Gugus pergi Gugus pergi adalah gugus yang dipindahkan atau diganti dalam reaksi substitusi atau eliminasi. d. E). Kelebihan basa atau nukleofil umumnya digunakan untuk memacu laju reaksi.Gugus pergi yang ³baik´harus mempunyai ikatan C-X yang lemah dan terpolarisasi tinggi.

namun demikian sering merupakan reasi yang sangat spesifik mempengaruhi perubahan gugus fungsi. ion dipolar ini bereaksi dengan HX menghasilkan 3. alkohol kemudian ditambahkan pada garam fosfonium ini.14) dengan trifenilfosfin(Ph3P) untuk membentuk 3. bahkan meskipun merupakan nukleofil lemah. Disini gugus pergi yang jelek diubah menjadi gugus pergi yang baik melalui suatu intermediet.18 y Reaksi Sn2¶ Pada umumnya alilik halida bereaksi lebih cepat dengan nukleofil dari pada alkil halida karena ikatan membantu melepaskan gugus pergi.15.17 dan garam alkoksifosfonium 3.Reaksi ini merupakan cara untuk mengubah molekul yang mengandung gugus pergi yang jelek menjadi turunannyayang dapat bereaksi melalui mekanisme SN2. 3) Penataan ulang kationik Pusat kation yang kekurangan elektron seperti 3. Proses ini melibatkan reaksi dietilazodikarboksilat (3. dan reaksi selanjutnya menghasilkan diimida 3. paralel terhadap ikatan.16.kurang bermanfaat dalam sintesis. 4) 17 Subtitusi oleh halogen . 2) Subtitusi nukleofilik unimolekul Pada umumnya reaksi subsitusi unimolekul.32 dapat mempunyai muatan total yang disebabkan oleh pelapasan kerapatan elaktron dari atom yang berdekatan.S N1 (atau reaksi ionisasi).

dan reaksi ini disebut E1 (eliminasi unimolekul) 3) 18 Eliminasi syn . Suatu basa yang tepat akan melepaskan H . Hal ini tampak dari kenyataan bahwa H dapat dilepaskan oleh basa baik dari arah ³atas´ atau ³bawah´ terhadap halida. Reaksi 1-butanol dengan HBr menghasilkan halida primer. yang akan mengalami penataan ulang menuju ion yang lebih stabil.68) terpolarisasi lebih besar dari pada halida netral.2 Pemanasan bromida 3.(H pada 3. karena hidrogen berdekatan dengan muatan positif. 3.Reaksi alkohol tersier dengan HBr atau HCl menghasilkan halida melalui intermediet kation. tetapi mengikuti mekanisme reaksi SN2 dengan bromida menggantikan H2O .68 menghasilkan menghasilkan 3. Muatan negatif terjadi pada karbon (basa memberikan 2 elektron ke hidrogen) dan terbentuknya kecapatan elektron ini memungkinkan terjadinya kelepasan gugus fungsi. dan reaksi tersebut dikenal sebagai reaksi E2 (eliminasi bimolekul). Hidrogen. karena langka yang paling lambat pada proses ini adalah lepasnya gugus pergi yang akan membentuk karbokation. sakunder.67 dalam media berair menghasilkan pasangan ion yang terpisahkan oleh pelarut (3. dan perpindahan pasangan elektron kearah pusat elektofilik akan menghasilkan ikatan dari produk alkena.68). Rotasi ikatan pada 3. Reaksi merupakan unimolekul. dan tersier dengan HBr dan HCl merupakan cara yang baik untuk pembuatan alkil halida. Pada umumnya reaksi antara alkohol primer. Ikatan baru terbentuk selama eliminasi dan menghasilkan alkena.69. Eliminasi ditandai dengan pelepasan atom atau gugus (gugus pergi.X) yang disebabkan oleh penggantian proton oleh basa untuk membentuk ikatan yang baru. REAKSI ELIMINASI 1) Eliminasi bimolekul 1. 2) Eliminasi unimolekul 1.69 sebagai campuran isomer E-Z.2 ¡ Reaksi perubahan gugus fungsi berdasarkan proses asam/basa adalah eliminasi. F).

396. Eliminasi seprti ini dikenal sebagai eliminasi syn. Hasil keseluruhan reaksi kationik ini adalah adisi H dab Br pada ikatan ¢ 1) 19 .3 Terdapat sejumlah tipe reaksi yang berkaitan dengan proses eliminasi 1. Senyawa 3. mengakibatkan lepasnya gugus pergi dan pembentukan ikatan . REAKSI ADISI Adisi yang melibatkan intermediet ion bebas Tipe reaksi ini biasanya melibatkan ikatan alkena yang bersifat basa yang memberikan pasangan elektron ke asam (H ). G). meskipun proses ini akan membutuhkan suhu reaksi yang tinggi untuk terjadinya populasi yang efisien pada konfigurasi eklips. maka hidrogen hanya dapat dilepaskan bila hidrogen mempunyai kedudukan eklips terhadap atom yang bersifat basa dalam konfigurasi syn.89.87. Reaksi tersebut dikenal sebagai eliminasi 1.3 (dekarboksilasi) Reaksi eliminasi syn menunjukan bahwa hidrogen yang bersifat basa dapat dilepaskan oleh atom yang bersifat basa yang terdapat pada molekul yang sam. namun kemudian terjadi perubahan cincin menghasilkan enolat 3. transfer proton menghasilkan 3. Contoh poses ini adalah reaksi sikloheksana dengan asam yang membentuk karbokation sekunder. dan hidrolisis memberikan produk asam keton. Ikatan menjadi putus dan ikatan baru C-H terbentuk. Karbon yang pada awalnya berikatan rangkap yang tertinggal akan kekurangan elektron. 4) Reaksi-reaksi yang berkaitan dengan Eliminasi 1. dan disebut karbokation. maka pelepasan hidrogen syn dapat merupakan proses yang efisien.Jika basa merupakan bagian dari substrat.88. y Eliminasi hoffmann Eliminasi hoffman yaitu contoh klasik dari proses eliminasi syn. Biasanya reaksi awal melibatkan pembentukan intermediet karbokation. Jika tetheerd base juga merupakan gugus pergi.3.86 yang direaksikan dengan hidroksida mula mula membentuk 3. Dasar ini juga dapat diterapkan pada sistem yang mempunyai hidrogen yang bersifat asam dan gugus pergi dipisahkan oleh 3 atom. y Eliminasi 1.3. Pusat kationik kemudian bereaksi dengan nukleofil (Brdari HBr) menghasilkan bromosikloheksana.

Pereaksi yang simetris seperti bron atau klor umumnya tidak terpolarisasi. HBr. Asam kuat HX (seperti HCl. £ £ 3) 20 . melepaskan X-. Tipe reaksi ini kadang-kadang dinyatakan sebagai transfer muatan kompleks. sulfat. sehingga tidak dapat dibentuk. maka dipol akan terjadi (C=C X X. Sebagai contoh.101. Stabilisasi terjadi bila heteroatom terikat pada karbon elektrofilik. namun bila didekatkan dengan ikatan .Alkena merupakan basa yang relatif lemah dan hanya akan bereaksi dengan asam kuat. Proses ini berada di bawah kontrol termodinamika dan cenderung menghasilkan ion yang lebih stabil dan hasil akhir yang lebih stabil. Karena guguus X mengandung pasangan elektron bebas. dsb) akan bereaksi dengan alkena menghasilkan alkil halida.). telah diamati bahwa reaksi alkena dan asam selalu menghasilkan produk yang lebih tersubstitusi yang kemudian dikenal sebagai adisi Markovnikov. maka elektron tersebut dapat diberikan kepusat kation sehingga membentuk intermediet jembatan simetris (lingkar anggota-tiga). alkena mempunyai sifat kurang lebih sebagai basa Bronsed-Lowry. H2SO4. intermediet kation yang berasal dari proses adisi cenderung mengalami penataan ulag menuju ion yang stabil. kation oksigen yang mengalami stabilisasi (3. Alkena kemudian dapat memberikan elektron ke X . Pusat kationik yang dihasilkan oleh reaksi ini berdekatan dengan ikatan C -X yang baru terbentuk. Alkena dapat juga berfungsi sebagai basa Lewis pada reaksi dengan elektrofilik halogen. Jika terdapat air (berasal dari penggunaan pelarut berair) atau jika menggunakan pereaksi yang lebih nukleofilik seperti KCN yang ditambahkan ke dalam reaksi.) 2) Adisi yang melibatkan intermediet jembatan yang simetris Pada reaksi dengan HX.102) dihasilkan oleh reaksi asam dengan keton (3. HNO3. nitrat dll. maka air atau sianida akan menjadi kation (masing-masing menghasilkan alkohol dan nitril). Sebelum mekanisme reaksi ini diketahui. Alkil sulfat dan nitrat sering tidak stabil. Adisi yang melibatkan ion-ion logam yang distabilkan Seperti yang telah dijelaskan didepan.

namun klor tidak dapat ditransfer kebenzena. transfer satu klor ke benzen. ikatan klor-klor diperlemah yang kemudian dapat diikat oleh benzena. Asam Lewis yang kuat akan memberikan reaksi yang cepat antara halogen dengan benzena. yang digambarkan sebagai kation yang terdelokasikan.126. 3.116) kadag-kadang dinyatakan sebagai ion benzenonium. 1) Subtitusi nukleofilik aromatik Cincin aromatik memiliki sifat seperti basa Lewis dalam reaksi dengan asam Lewis. jika asam Lewis kuat seperti AlCl3 ditambahkan. namun pengikatan nukleofil cicncin aromatik yang kaya elektron lebih sukar. bila diniriklorobenzena (3. maka akan dibentuk kompleks trasfer muatan seperti 3. ternyata tidak terjadi reaksi. Kation ini (3.H). meskipun dilakukan pada kondisi suhu yang cukup tinggi. Bila benzena direaksikan dengan spesies elektrofilik seperti HCl.4-dinitrofenol. Ini merupakan cara komersial untuk memproduksi turunan-turunan fenol.116) mengalami stabilisasi resonansi. yang kemudian melepaskan proton menghasilkan klorobenzena. Reaksi ini menghasilkan intermediet Wheland.117 Subtitusi elektrofilik aromatik Ikatan-ikatan pada benzena merupakan pemberi elektron yang tidak efisien (benzena merupakan basa Lewis yang lemah). Meskipun benzena dapat membentuk kompleks yang mentrasfer muatan lemah dengan klor (3.118). Contohnya. Pengikatan cincin aromatik akan membentuk ikatan C-X dan pusat sp3. namun lebih umum disebut intermediet Wheland. dan transfer klor yag lain ke AlCl3. maka terjadi reaksi substitusi yang melibatkan transformasi 2. Kation intermediet (3.125).152) ditambah dengan natrium hidroksida dalam media berair. Lepasnya proton bersamaan dengan pembentukan kembali senyawa aromatik berlangsung sangat cepat (membentuk 3. SUBTITUSI AROMATIK Tipe proses ini ditunjukan pada reaksi benzena dengan spesies elektrofilik (X-). Reaksi harus terjadi oleh pengikatan hidroksida nukleofil pada 21 2) . Jika campuran tersebut dipanaska sekitar 100oC.4dinitroklorobenzena menjadi 2. tidak akan terjadi reaksi. Kondisi dengan suhu tinggi ini mempunyai enargi aktivasi tinggi untuk pengikatan awal pada cicin aromatik. dalam kompleks ini. Namun demikian.

159a.160b. 3.153. (lihat 3.161 dan 3.162. maka deprotonasi akan menghasilkan 3. bromida kemudian akan dilepaskan dan dihasilkan intermediet benzuna 3.162 mempunyai substituen baru amino yang berdekatan dengan karbon yang mengikat gugus pergi bromida.160a menghasilkan campuran 3. sehingga menjadi gugus pergi yang baik. yang menghasilkan ntermediet karbanion yang distabilkan oleh resonansi.160a) disebut benzuna (benzyne). Pelepasan gugus pergi yang berdekatan ini membentuk ikatan baru pada intermediet benzuna. ikatan ini merupakan sasaran terhadap pengikatan nukleofilik.karbon ipso.159b. Eliminasi halida membentuk ikatan baru yang tegak lurus pada kabut cincin benzena. karena muatan terletak pada karbon yang berdekatan dengan halogen. ini sering disebut sebagai substitusi Cine.158 direakskan dengan natriu amida.159a digambarkan kembali seperti 3. namun orbital yang terisi ini mempunyai kedudukan ortogonal terhadap bidang kabut aromatik. 3. dan nukleofilik amida akan bereaksi dengan 3. bila 3. hasil ini merupakan pengikatan terhadap kedua karbon ikatan rangkap. Produk substitusi 3.160a. Bila 3. terlihat bahwa karbanion dalam posisi ortogonal terhadap kabut aromatik dan pararel terhadap ikatan C-Br. ini merupakan intermediet yang tidak stabil. Turunan benzuna (benzyne) Halogen membuat hidrogen pada kedudukan orto mempunyai sifat lebih asam.159). Basa akan melepaskan hidrogen-orto dan menghasilkan karbanion. 3) 22 . dan spesies yang reaktif ini (3.

165) menjadi garam diazonium (3. ion diazonium merupakan salah satu gugus pergi yang paling baik dan merupakan sasaran untuk digantikan oleh berbagai nukleofil untuk menghasilkan produk substitusi 3. Contoh reaksi ini adalah konversi 3-nitroanilin (3. 3.Reaksi subtitusi terhadap garam-garam aril diazonium Bila amina aromatik primer seperti anilin direaksikan dengan asam nitrit (HONO) ± yang umumnya dihasilkan dengan mereaksikan natrium nitrit dan HCl atau asam sulfat ± maka dihasilkan senyawa aril diazonium. Pemanasan 3.166). 23 .164 4) Terdapat sejumlah spesies nukleofilik yang dapat bereaksi dengan garam-garam aril diazonium. yang kemudian dipanaskan dalam asam sulfat berair menghasilkan 3-nitrofenol.164 dalam asam berair menghasilkan fenol. 3.167. dalam hal ini benzenadiazonium klorida.163.

dan HCrO7-. meliputi HOCrO3H. namun yang paling umum adalah kromium trioksida yang berwujud Polimer yang umum ditulis sebagai [CrO3]n . Eliminasi hydrogen seperti pada serangkaian Dehidrogenasi Etana. seperti yang dinyatakan pada pernyataan kedua. oksidasi melibatkan lepasnya satu electron atau lebih dari atom-atom gugus. kromium trioksida berada dalam kesetimbangan dengan sejumlah Kromium (VI) lainnya. Karena oksidasi alkohol harus dilakukan dalam keadaan yang dilakukan dalam keadaan terlarut. 2. maka sebagian besar reaksi oksidasi dilakukan pada media berair. H2CrO4.Produk yang dihasilkan bergantung pada struktur alkohol dan pereaksi yang digunakan. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton.  ALKOHOL MENJADI KARBONIL (CH-OH C=O) alkohol dioksidasi menjadi turunan karbonil dengan berbagai zat pengoksidasi. Alkohol primer mula-mula dioksidasi menjadi aldehida. Penggantian atom hydrogen yang terikat pada karbon dengan unsur lain yang lebih elektronegatifseperti Oksigen. H2Cr2 O7.14H HCrO4. Pada konsentrasi tinggi (air 24 ¤ ¤ ¤ (2NH2SO4) 7 H2 O 4H2O . yang sebagian besar diterapkan pada kimia AnOrganik. reaksi Cr (VI) dapat ditulis: Cr6 3e ¤ Cr 3 Cr2O72. Dalam asam sulfat.Cr2O72-. namun dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam.7H ¤ 6e 2Cr3 ¤ 3e Cr3 Oksidasi terhadap alkohol akan disertai dengan reeaksi Kromium Cr (VI) menjadi Cr(III). Sebagai Contoh adalah pada serangkaian Transformasi oksidatif terhadap Metana: CH4 CH3OH CH2 OH HCO2 H CO2 Oksidasi dapat juga didefinisikan sebagai reaksi suatu unsur dengan Oksigen. Untuk definisi yang lebih umum. Terdapat sejumlah pereaksi kromium (VI). HCrO4-. dalam media berair. Oksidasi dengan Kromium (VI) Kromium (VI) merupakan z t pengoksidasi yang kuat.BAB IV REAKSI OKSIDASI  Pengertian Reaksi Redoks Sheldon dan Kochi menyatakan bahwa oksidasi pada kimia organik dapat berupa: 1.

+ 2H+ + A. konsentrasi Cr (VI) tidak bergantung pada asam. dan Cr (V) terlibat dalam keseluruhan proses Oksidasi. 25 . Paling tidak ada dua mekanisme yang diusulkan untuk langkah ini. Westheimer mengusulkan pengikatan intermolekul oleh air. Semula westheimer menyatakan bahwa air berperan sebagai basa untuk melepaskan hidrogen ini. K esimpulan dari berbagai percobaan adalah bahwa posisi kesetimbangan bergantung pada asam. Kwart dan Francis mengusulkan reaksi intermolekul untuk melepaskan proton. Hal ini sesuai dengan: HCrO4. Cr(VI) mengalami reduksi menjadi Cr(IV). Spesies Cr(VI) biasanya adalah HCrO. dan Cr(IV) biasanya adalah HCrO3-. Cr(IV). dan pada reaksi. seperti yang dijelaskan pada 4. dan asam sulfat (HA pada persamaan diatas). maka kemungkinan ester kromat yang terbentuk adalah 4.4. namun akhirnya usul ini tidak dapat diterima. maka yang dominan adalah polimer kromium trioksida dan asam kromat. Penguraian ester kromat meliputi pelepasan proton yang terikat pada karbon yang mengikat oksigen. maka asam tersebut akan mempengaruhi kedudukan kesetimbangan keseluruhan.sedikit).Cro3A + H2O Wiberg memberikan skema oksidasi alkohol sekunder menjadi keton sebagai berikut: R2CHOH + R2CHOH + R2COH + Cr(VI) Cr (IV) Cr(VI) Cr(V) + R2C O R2COH R2C O R2C O 2Cr(VI) 3R2C O + + Cr(IV) Cr(III) + + + Cr(V) Cr(III) 2 Cr (III) + R2CHOH + 3 R2CHOH Mekanisme ini menunjukan bahwa spesies Cr (VI). Fakta eksperimental menyatakan bahwa oksidasi dimulai dengan pembentukan ester kromat. Jika asam sulfat digunakan sebagai asam dalam media berair yang mengandung kromium trioksida dan isopropanol. Cr(V) 4 biasanya adalah HCrO4-. Dalam larutan encer.2 yang berasal dari reaksi HCrO4-.dan CrO3. Jika asam yang berbeda (HA) ditambahkan pada campuran.

Rocek akhirnya mengusulkan pembentukan kompleks koordinasi seperti pada 4.Rocek mengabaikan kedua mekanisme reaksi tersebut dan mengusulkan Intermediet seperti pada 4. maka pelarutan umumnya dibutuhkan. natrium bikromat dalam asetat. tetapi juga Substat alkohol. 26 .7 Oksidasi kromium (VI) yang termodifikasi Banyak variasi kondisi reaksi yang ditujukan untuk mengoksidasi alkohol. dimana oksigen dari ester kromat melepaskan kedua hidrogen dari karbon dan dari Oksigen. Pelarut yang tahan terhadap oksidasi seperti asan asetat atau aseton. yang tidak hanya akan melarutkan pereaksi kromium saja. termasuk kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair yang dikatalis oleh asam mineral. Alkohol primer dan alkohol sekunder. umumnya digunakan untuk mengkonversi alkohol menjadi karbonil. keduanya dapat dioksidasi. Karena sebagian besar senyawa organic tidak larut dalam air. natrium bikromat dalam aseton berair yang dikatalis oleh asam asam mineral. masing-masing menjadi aldehid atau keton. Aldehid dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. meliputi pengubahan asam yang ditambahkan pada media. Sejumlah pereaksi kromium (VI) dapat digunakan.6. seperti halnya kompleks Cr2O3 piridin dan t-butil kromat.

Bila dapat mengisolasi aldehida yang dihasilkan. Hal ii disebabkan kesempatan terbentuknya kation tersier yang lebih besar.pada kompleks seperti 4.. sulfida. Paling tidak terdapat dua mekanisme yang dapat menerangkan konversi aldehida menjadi asam. Oksidasi menjadi asam juga dapat terjadi mula-mula dengan pembentukan hidrat.12. namun aldehida dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. dan fenol teroksidasi menjadi kuinon. amina teroksidasi menjadi hidroksi amina. Bila R pada 4. tetapi bila R diganti dengan t-Butil. Sebagai contoh. pelepasan hydrogen. meskipun asetton larut dalam air yang menyebabkan isolasi produk menjadi sukar. kemudian pelepasan hydrogen. fenolat dan amina sering menghasilkan produk samping pada oksidasi terhadap alkoholalkohol yang larut dalam air. Oksidasi terhadap alkohol primer mula-mula menghasilkan aldehida. 27 .10.a.9 adalah iso-propil (iPr). sulfida teroksidasi menjadi sulfokdsida. Adanya gugus ± gugus yang dapat dioksidasi pada substrat organik seperti alkena. Dua pendekatan mekanisme tersebut meliputi pembentukan ester kromat seperti 4. dan hal ini dapat menurunkan produk karbonil yang dihasilkan. maka diperoleh hasil produk 60%. Isopropanol memberikan hasil yang baik dalam aseton berair. maka akan mengurangi terbentuknya asam.hidroksi-amina. maka produk yang dihasilkan hanya 6%. Kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair Beberapa alkohol dapat larut dalam air sehingga tidak diperlukan pelarut untuk mengoksidasinya dengan kromium. Fenil alkil karbinol dapat dipecah secara oksidasi dengan kromium trioksida dalam asam berair.

Pereaksi kromiumtrioksida-aseton-asam sulfat sering dikenal sebagai Jones. Kromium trioksida dalam aseton Ioksida Selain asam asetat. pelarut organik lain dapat digunakan bersama-sama dengan kromium trioksida berair. dan senyawa ini dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi ester. Bila aseton digunakan dalam larutan encer asam sulfat. khususnya untuk molekul yang mengandung gugus-gugus Alkenil atau Alkunil 28 . Sejumlah persoalan terjadi bila digunakan pelarut air.15 dengan produk besar 77%.14 menjadi keton 4. Pembentukan ester seringkali disertai oksida terhadap aldehida primer yang memiliki berat molekul kecil. Reaksi ini berguna. Sebagai contoh. dimana alkohol yang tidak bereaksi dikonversi menjadi Hemiasetal. Contohnya. ternyata hasil oksidasi terhadap alkunil karbinol meningkat. oksidasi 4.Kesetimbangan antara aldehida yang mula-mula dibentuk dengan alkohol primer dapat menghasilkan reaksi samping. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan tambahan pelarut seperti asam asetat berair b. n-butanol menjadi n-butirrat.

keton dan amida. maka produk finalnya adalah asam karboksilat. bila penambahan piridin pada larutan kromium trioksida dalam HCl berair dilanjutkan dengan kristalisasi Kristal. Sejumlah alkohol primer telah dioksidasi menjadi aldehida dengan menggunakan prosedur ini.ketal. Pelarut piridin kemudian dihilangkan dan setelah itu ditambahkan dengan dikloroometana. tetapi protonasi aldehida karbonil yang diikuti dengan pengikatan alkena akan menghasilkan kation tersier. suatu steroid dengan hasil 89%. Modifikasi oksidasi jarret dilakukan oleh Collins dan penggunaannya terhadap oksidasi alkohol dikenal dengan Oksidasi Collins. akan dikatrakterisasi pereaksi. Kromium Trioksida-piridin Oksida dengan campuran kromium trioksida dan piridi sebagai pelarut dikenal dengan sebutan oksidasi jarret. Piridinium kloro kromat (PCC). Keuntungan reaksi oksidasi jarret alkena.dan tetrahidropiranil eter teroksidasi jauh lebih lambat dari pada alkohol dan jarang terjadi reaksi samping. Sintesis mayuron yang dilakukan oleh Smith melibatkan oksidasi jones cocok terhadap molekul-molekul kompleks yang mengandung berbagai gugus fungsi seperti Alkena. Reaksi siklisasi ini diikuti dengan eliminasi yang akan 29 . Jarret mengoksidasi alkohol. alkohol. Pereaksi ini sangat tepat untuk mengkonfersi alkohol primer menjadi aldehida dalam diklorometan.oksidasi 1-Heptanol dengan PCC dalam diklorometana meghasilkan 78% Heptanal. Reaksi Sitronelol dengan PCC dalam Diklorometana mula-mula akan menghasilkan oksidasi aldehida. Piridinium kloro Kromat (PCC) Usaha untuk meningkatkan oksidasi terhadap alkohol primer dan untuk lebih mempermudah isolasi produk yang dihasilkan mendorong pengembangan pereaksi kromium (VI). Masalah yang dihadapi adalah kesulitan mengisolasi produk yang dihasilkan dari larutan piridin.sulfide. Pereaksi Sisler-Jarret dibuat dengan mereaksikan kromium trioksida dengan piridin. Tujuannya adalah mengatasi masalah produk yag rendah pada oksidasi alkohol primer menjadi aldehida dan memudahkan isolasi produk karbonil. namun karena kondisi reaksi dalam keadaan sangat asam. c. Pereaksi yang kemungkinan mempunyai struktur trigonal bipiramidal terbukti berguna untuk mengoksidasi alkohol primer dan sekunder. Corey mendapatkan. selanjutnya pada campuran ini direaksikan dengan alkohol. Oksidasi yang khususnya mebutuhkan perbandingan 5:1 hingga 6:1 atau kompleks alkohol dan reaksi berlangsung pada suhu kamar. meskipun terdapat ikatan rangkap dua dan tioster. tetapi kurang efisien bila diterapkan pada alilik alkohol. Oksidasi jarret telah digunakan oleh yamada untuk mengoksidasi menjadi keton pada sintesis Patchouli alkohol. dan penggunaan aseton yang berlebihan akan melindungi produk keton dari oksidasi lebih lanjut.Oksidasi terhadap alkohol biasanya berlangsung lebih cepat dalam aseton dari pada dalamasam asetat. d. Contohnya. ester. tersier.

Oksigen Nukleofilik dapat bereaksi dengan pusat elektrofilik membentuk garam sulfoksonium. maka digunakan pereaksi yang lebih netral. menghasilkan produk asam sebanyak 83%. Alkil iodida primer dan sekuder atau tosilat dapat dikonfersi menjadi aldehida atau keton.  Dimetilsulfoksida (DMSO)-Disikloheksil karbodimida (DCC) Dimetilsulfoksida dapat berfungsi sebagai pelarut maupun sebagai reaktan untuk berbagai substrat alkohol. Pridinium dikromat (PDC) Untuk mengeliminasi sifat asam dari PCC. yaitu piridinium dikromat (PDC). 30 . e. Sikloheksanol bila dioksidasi dengan PDC dalam DMF pada 00C. akan menghasilkan 86% Sikloheksanon.menghasilkan alkena. Mekanisme reaksinya kemungkinan meliputi pelepasan Nukleofilik Halida oleh DMSO yang membentuk garam Alkoksisulfoksonium. Kornblum menyatakan bila  -haloketon direaksikan dengan DMSO pada suhu yag agak tinggi. akan mengasilkan Glioksal yang sesuai ( -ketoaldehida). Reaksi 1 bromooktana dengan DMSO dan NaHCO3 pada suhu 1000C selama 5 menit akan menghasilkan oktanol 74%. Cairan alkohol sekunder dioksidasi lebih lanjut membentuk (-) pulegon. Bila pelarut diganti dari diklorometan menjadi dimetilfosmamida (DMF). perbedaan yang cukup signifikan antara oksidasi terhadap alkohol Alifatik dengan oksidasi terhadap alkohol Alilik. Sikloheksanol bila dioksidasi akan berlangsung sepuluh kali lebih cepat dari pada dengan PDC dalam diklorometana pada 250C. Oksidasi terhadap Sitronelol dengan PDC dalam DMF pada 250C. namun senyawa tersebut bersifat kurang reaktif bila dibandingkan dengan -haloketon. yang dapat dikonversi menjadi keton atau aldehida pada keadaan netral. Oksidasi yang terjadi dalam keadaan netral ini ditunjukan pada reaksi dengan PDC yang menghasilkan produk Aldehida sebanyak 92%.

4. Deprotonasi garam sulfoksonium merupakan proses intramolekul dan terjadi dengan basa yang kekuatannya menyerupai ion asetat. Dalam hal ini. Mekanisme oksidasi ini dikemukakan oleh moffatt dan merupakan reaksi pembentukan dan pemisahan disikloheksil urea yang sangat tidak larut. merupakan pereaksi oksidasi yang efisien untuk alkohol. DMSO mula-mula bereaksi dengan anhidrida asetat membentuk garam sulfoksonium.17-dion. dengan adanya katalis asam.1 Dimetil Sulfoksida ± Anhidrida Asetat Albright dan Goldman mengembangkan pereaksi oksidasi yang sejenis. yang bersifat gugus pergi yang jelek. Seperti halnya dengan DCC. Campuran DMSO dan disikloheksil karbodiimida (DCC). oksigen dari DMSO harus menggantikan gugus hidroksil. Udara merupakan oksidator dan DMSO berfungsi sebagai pelarut. Hasil interpretasi dari mekanisme ini menyatakan bahwa pusat karbonium pada senyawa belerang melepaskan -hidrogen secara intramolekul. Salah satu masalah yang timbul adalah pembentukan urea yang sangat sukar dipisahkan. 31 . dan lepasnya proton bukan disebabkan oleh basa melalui reaksi intermolekul. yang kemudian bereaksi dngan Alkohol. Pelepasan atom hidrogen kelihatannya analog dengan mek anisme eliminasi Oksidasi Moffatt memiliki beberapa kendala. Disikloheksil urea dilepaskan. Cara yang sering dilakukan untuk memisahkan disikloheksil urea adalah dengan mereaksikannya dengan asam oksalat. DMSO bereaksi dengan DCC membentuk intermediet sulfoksonium. Proses ini menghasilkan senyawa yang mengandung belerang yang distabilkan oleh orbital d dari belerang. produk karbonil dan dimetil sulfida dapat diperoleh. dan menghasilkan produk karbonil dan dimetil sulfida (yang berfungsi sebagai gugus pergi) Tipe oksida yang sejenis telah dilakukan. Pada reaksi ini. udara merupakan pereaksi. yangsekarang mengandung gugus pergi urea yang diikuti proses pengikatan belerang dan alkohol. benzilik dan alilik alkohol dikonversi menjadi aldehida melalui proses merefluksnya dalam DMSO. DMSO dan anhidrida asetat digunakan untuk membentuk kompleks aktif sulfoksonium.-proton kemungkinan diperantarai oleh DMSO. Sebagai contoh adalah konversi tertosteran menjadi androst -4-ena-3. yaitu bila alkohol bereaksi dengan DMSO. Berdasarkan mekanisme tersebut. menghasilkan garam sulfoksonium. Tipe reaksi ini dikenal sebagai oksidasi moffat. Untuk mengoksidasi alkohol ³dengan DMSO´.3. dengan gelembung udara melalui media. dan sinamil alkohol dioksidasi menjadi sinamil aldehida dengan hasil 90%.

maka aseton yang digunakan berperan sebagai pelarut dan aluminium triisopropoksida yang digunakan merupakan pereaksi. pada reaksi oksidasi geraniol ini. kompleks 4.49. Keton awal (RCOR1 ) berperan sebagai penerima hidrogen. namun masalah ini dapat diatasi dengan mengubah struktur logam alkoholat atau penerima hidroksida. Reaksi ini telah diterapakan pada sejumlah oksidasi.48) berfungsi sebagai asam lewis . 4. maka kesetimbangan bergeser ke arah 4. kompleks ini kemudian mentransfer Hadari karbon alkoksida 4.48 dan 4. meskipunsikloheksana dalam larutan toluena atau silena juga sering digunakan. Oksidasi Oppenauer tehadap alkohol jenuh sering mengalami hambatan. yang menginisiasi oksidasi alkohol yang terikat dengan alkoksida pada 4. aluminium pada kompleks alkoksida(4. Reaksi ini menghasilkan pembentukan aluminium alkoksida baru dan keton baru. yang bereaksi pada oksigen karbonil membenuk kompleks yang kekurangan elektron .49. Aseton (sering dengan benzena sebagai pendukung pelarut) sebagian besar digunakan sebagai penangkap hidrogen.52b). hanya menghasilkan 35% geranal (4.51 dan pembentukan keton baru (R2COR3 ). melalui keadaan transisi enam-pusat.Oksidasi Oppenauer Dalam reaksi yang melibatkan kromium (IV) dan pereaksi DMSO. Pada tahun 1937. Aseton berfungsi sebagai penerima Hidrogen.ah yang rendah. triisopoksida atau tri-n-propoksida. yang kemudian dengan oksidasi Oppenauer.48. Sebagai 32 .Verley. Oppenauer menerapkan reaksi ini pada oksida Alkohol Steroidal tak jenuh dengan menggunakan aluminium triisopropoksida (Al(OiPr)3 ) dan Aseton.kuinon digunakan sebagai penagkap hidrogen. Perluh diperhatikan bahwa reaksi ini adlah kebalikan dri reduksi meerwein-ponndorf.50 berada dalam keadaan kesetimbangan dengan alkoksida baru dan keton baru Jika keton asal (RCOR1) ditambahkan secara berlebih.bila titik didih aldehida 50 lebih tinggi dari pada produk yang di harapkan. Reaksi berlangsung melalui kompleks aluminium koordinasi(4.sedangkan oksidasi terhadap geraniol 4. pertama kali ditunjukan oleh Verley dan Ponndorf pada reaksi keton dengan Aluminium Alkoksida.52a.49).dan kondensasi produk aldehida dengan penangkap hidrogen karbonil(kondensasi aldol yang dikatalisasi oleh asam). Seperti halnya 4. menjadi ³karbon keton´ seperti 4. maka produk aldehida dapat di pisahkan dengan cara distilasi. Hidrogen Hadapat di transfer antara 4.50. Upaya lainnya yang sering dilakukan yaitu dengan penggantian pelarut aluminium-t-butoksida.meskipun demikian oksida terhadap benzil alkohol menghasilkan benzaldehida sekitar 60 . transfer hindrogen antara dua karbon alkoksil menghasilkan4.48 dan 4. Alkohol di konversi menjadi sustu kompleks dan -hidrogen Akohol dapat dilepaskan seperti asam. Dua reaksi samping yang umum terjadi adalah migrasi atau pergeseran ikatan rangkap non-terkonjugasi menjadi terkonjugasi.50.49 dan 4. streroid dan alkohol-alkohol sederhana. Reaksi ini sangat efektif bila logamnya adalah aluminium. Pada umunya.50.oksida oppenauer terhadap alkohol primer menghasilkan aldehid dalam juml. Cara Alternatif dan klasik untuk mengoksidasi Alkohol difokuskan pada reaksi yang dapat dibalik antara keton dan logam alkoksida. Reaksi reversibel Alumina Alkoksida. dan adanya aseton dalam jumlah berlebih akan mendorong reaksi kearah produk oksidasi.49 yang berada dalam keadaan kesetimbangan. jika tujuannya adalh mengoksidasi alkohol. dalam proses reversibel.

Salah satu cara yang umum meliputi pengendapan MnO2 yang berasal dari pemanasan MnSO4 dan KMnO4 pada PH tertentu. Reaksi ini menghasilkan aldehida yang sangat baik dari alkohol primer. Mekanisme Goldman ditunjukan pada reaksi benzil alkohol dan melibatkan 33 ¥ . Penggunaan antara alkohol dengan penerima hidrogen yaitu 1:1. karena pereaksi tersebut dapat mengoksidasi alkohol primer dan alkohol sekunder. Penggunaan aluminium telah dikurangi kaena terjadinya reaksi samping.53) menjadi retinena dengan hasil 80% Pereaksi ini dapat dibuat dengan beberapa cara. yang ternyata merupakan katalisator yang efektif pada oksidasi oppenuer. Mangan dioksida biasanya merupakan produk akhir dari oksidasi yang sangat kuat . yang menghasilkan ikatan MnO(Mn2 ). dan Martin ketika mereka mengendapkan mangan dioksida dan menggunakannya untuk mengkonversi vitamin A. oksidasi terhadap 3-metil geraniol(4.52b) menggunakan aseton berlebih sebagai penangkap hidrogen.Goodwin. Reaksi berlangsung melalui intermediat radikal. secara berturutturut. Mangan dioksida merupakan pereaksi yang penting dalam sistem senyawa organik.52a) menjadi -iron (4. Oksidasi ini terjadi melalui kondensasi produk oksidasi aldehida. namun kekuatan pengoksidasinya sangat dipengaruhi oleh cara pembuatannya.contoh. Goldman dan Hembert mengusulkan intermediet radikal pada oksidasi yang menggunakan mangan dioksida. menjadi aldehida dan keton. dan dapat menoksidasi alkohol menjadi keton atau aldehida. Reaksi ini di temukan oleh Ball. Oksidasi Dengan Mangan Dioksidan Mangan oksidasi(MnO2 ) umumya berbentuk Mn(IV) dan cenderung tidak larut dalam sebagian besar pelarut organik. dalam media netral. Ishii menggunakan pereaksi siklopentadiental zirkonium (Cp2 ZrH2 ).(4.

serta waktu reaksi lama. ada banyak cara pembuatan Kuinoid. Oksidasi membutuhkan media netral. relatif para Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto-kuinon yang rendah. relatif terhadap para34 . Pelarut yang umum digunakan adalah Alokohol yang berair dan asetat berair dan reaksi biasanya berlangsung dalam larutan bufer fosfat atau ufer asetat. Kuinon Sturktur Kuinon terdapat dalam berbagai bahan dialam.bereaksi dengan aldehida terkonjugasi.2 (Orto) Kuinon (4. dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alilik sekunder.61) dan 1. Koordinasi ini diikuti transfer elektron yang menghasilkan radikal dalam proses yang disertai dengan reduksi Mn(IV) menadi Mn(III). pereaksi ini dibuat oleh Fremy sebagai garam dinatrium. melipuuti oksidasi senyawa asal non-kuinoid. Corey menunjukan bahwa HCN/CN. turunan aromatik yang mengandung ggus hidroksi (turunan fenol) juga dapat dioksidasi. mangan dioksida yang dibuat dalam keadaan baru diaktivasi. cara Siklisasi dan cara Kondensasi Salah satu pereaksi yang paling umum digunakan untuk mengoksidasi turunan Fenol menjadi Kuinoid adalah Garam Fremy (Kalium Nitroso disulfonat. untuk menyempurnakan oksidasi.62). reksi selanjutnya dengan pelarut alkohol (metanol) menghasilkan metil ester  Pembuatan Fenol Dan Dan Kuinon Selain oksidasi terhadap senyawa-senyawa hidroksi alifatik. namun rashing membuat garam kalium yang lebih efektif dan menjadikannya pereaksi yang tetap menjadi pilihan. kemudian berreaksi dengan MnO2 yang menghasilkan sianoketon. Reaksi berlangsung cepat dan dapat ditandai dengan hilangnya warna ungu dari radikal. Senyawa turunan fenol bila dioksidasi menghasilkan Kuinon yang merupakan komponen penting yang terdapat secara luas dialam konfersi hidrokarbon aromatik menjadi fenol juga memungkinkan dengan cara oksidasi. Faktor penghalang pada reaksi kadang-kadangf dapat memberikan hasil orto-Kuinon yang rendah. Proses oksidasi dapat juga menggunakan sianida seperti pada konversi aldehidaterkonjgasi menjadi ester terlonjugasi. Kadang-kadang pereaksi bereaksi dalam keadaan yang istimewa dan terurai secara spontan.4 (para) Kuinon (4. Kuinoid yang paling umum adalah 1. (KO3S)2NO). ini merupakan sintesis utama terhadap penggunaan mangan dioksida. nam keadaan un ini terjadi karena adanya sejumlah katalis ion nitrit Pereaksi dalam larutan asam sangat tidak stabil dan pada larutan yang berair pada pH>10 juga mengalami penguraian. Mekanisme sederhana untuk oksidasi telah diusulkan oleh Tenber. Transfer elektron kedua menghasilkan produk karbonil yang diserap pada Mn(OH)2 sehingga terjadi desorpsi pada produk dengan melepaskan air. pelarut yang tepat.adsorpsi pada mangan dioksida. Mangan dioksida mengoksidasi alilik dan benzil alkohol lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh.

Reaksi dikembangkan dengan model untuk hidrolisasi biiogenik tiramin Versi yang lebih maju dari pereaksi ini yaitu menggunakan oksidasi anodik dengan adanya pereaksi Udenfriend.82) yang merupakan anti terhadap boron yang berdekatan. Biasanya produk utamanya adalah para-kuinoid. akan menghasilkan alkoksida (4.83) melalui proses. yaitu dengan menggunakan sistem oksigenion fero-asam askorbat dengan adanya EDTA (Pereaksi Undenfriend). Epoksidasi dari halohidrin Reaksi alkena dengan asam hipohalida (Cl2 H2 O  HOCl atau Br2 H2O  HOBr) menghasilkan trans atau anti halodrin sebagai hasil pokok.77 V seperti yang di tunjukan pada reaksi berikut: H2 O2 2e. seperti pada konversi dikloroheksana menjadi 4. Orientasi anti ini melepaskan halida yang akan menghasilkan sikloheksana oksida (4. penggabungan 2 oksigen (hidroksilasi) dan oksidasi pemutusan ikatan (umumnya menjadi turunan karbonil). Hydrogen peroksida dan turunan monosubstitusinya dapat 35 . dan dengan cara ini. yang menghasilkan radikan bebas. Terdapat sejumlah cara oksidasi yang berbeda yang dapat diterapkan pada alkena.). Fenol Pembuatan Fenol yang umum adalah dengan menghidrolisis garam-garam Diazonium.77 V Reaksi peroksida sebagian besar meliputi pemutusan homolitik ikatan O-O. Cara lainnya telah dihasilkan oleh Undenfriend. meskipun orto kuinon akan dibentuk bila kedudukan para dilindungi atau diblok.  Konversi alkena menjadi Epoksida Oksidasi gugus C-OH menjadi gugus karbonil C=O telah dibahas.Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto dari para dapat diikat. Hydrogen peroksida (H2 02 ) merupakan zat pengoksidasi yang kuat dengan petensial reduksi 1. Pereaksi ini memberikan hasil yang baik untuk turunan orto dan para -fenol dari fenilasetamid. Ekpoksidasi menggunakan peroksida Cara yang paling umum untuk mengkonversi alkena menjadi epoksida adalah menggunakan peroksida.81. Peroksida marupak sumber ³elektrofilik oksigen´ dan bereaksi dengan nukleofilik ikatan dari alkena. senyawa tersebut bila kemudian direaksikan dengan basa seperti natrium hidroksida. Gugus fungsi lain yang dapat menjadi sasaran terhadap oksidasi meliputi ikatan pada alkena. tiramin) dapat dikonversi menjadi campuran hidroksitiramin 21% () dan dihidroksi tiramin (DOPA. meliputi penggabungan suatu oksigen (Epoksida).2H ¦ 2H2O 1.

88).92. epoksidasi sikloheksenol dengan TBHP dan logam bersifat 36 . Alkena yang kekurangan electron bersifat kurang reaktif.90.89) basa lewis (Alkena) berkoordinasi dengan elektrofilik oksigen dari peroksida. Hal ini ditujukan pada epoksidasi geranial (4.alcohol dari alkil hiroperoksida.94. Pemutusan secara heterolik mentrasfer oksigen ke basa lewis (alkena). Pengaruh gugus tetangga mungkin terjadi bila ada gugus pengkoordinasi seperti pada alilik alcohol. dan peroksida asam (4. yang menghasilkan oksigen yang bermuatan positif.87).bereaksi dengan alkena. Sebagai contoh. dan menghasilkan 4.91 dengan t-butilhidroperoksida (TBHP) dan molybdenum heksa karbonil menyebapkan oksidasi selektif pada alkena trisubstitusi yang akan menghasilkan 4. dan pelepasan proton menghasilkan hasil samping (air dari hidrogen peroksida. Beberapa contoh reaksi epoksidasi Reaksi 4. seperti 4. O + R. dan asam karboksilat dari peroksi asam).93) yang mengalami epoksidasi selektif pada alkena yang tidk terkonjungsi.OH H O O R Gugus ±OH perasam bersifat elektrofilik dan pengikat pada ikatan rangkap alkena menghasilkan adisi syn dari oksigen epoksida . Terdapat tiga kelompok utama peroksida yang digunakan untuk epoksidasi:hidrogen peroksida (4. alkil hidroperoksida (4.

104.101.Peroksida bereaksi pada media basa menghasilkan produksi anion yang bereaksi dengan turunan karbonil terkonjungsi pada C terminal adisi-1.sangat selektif untuk epoksi alcohol. adisi konjungsi ).98) dengan hasil 72 .yaitu kearah pembentukan 4.peroksi asetat dan meta-kloroperoksibensoat (mCPBA.99. 4. 4. Peroksi asam seperti 4. sejumlah peroksi asm dapat diperoleh dalam perdangangan. maka pengru penghalang akan menghasilkan anti-hidroksiepoksida (4.97) dikonfersi menjadi epoksida yang sesuai (4. yang dikenal sebagai reaksi prilezheav (prileshajew).104 dibuat dengan mereaksikan asam karboksilat dengan hidrogen peroksida. dengan gugus hidroksi syn terdapat pada epoksi 4. Hidrogen peroksida dalam basa dapat mengkonferesi nitril manjadi epoksi amida. epoksi alcohol 4.102 dengan t-butil hidroksida dalam larutan basa menghasilkan produk yang baik. hidrogen peroksida bereaksi dengan basa menghasilkan hidroperoksida anion (HOO-) dan mengadisi keton takjenuh aldehida dan ester.4.106) dengan mCPBA dalam karbon petraklorida 37 . Isoforon (4. seperti pada reaksi akrilonitril yang menghasilkan 4.4.100. Sebagi contoh.105) Contoh epoksidasi alkena adalah konfersi siklupentena manjadi siklopentena oksida (4. pada umumnya. di mana enolat anion menggeser gugus hidroksi yang kemudian menghasilkan epoksida.95. reaksi yang sejenis.95 bersifat dominan.4 peroksi asam organic Mungkin cara yang paling umum untuk epoksidasi alkena sederhana kemungkinan adalah dengan peroksi asam.trifluoroh. Tidak diragukan bahwa reaksi ini berlangsung melalui intermediet seperti 4. yang mula-mula melalui pembentukan 4.103). asam-asam kuat seperti asam format dan asam trifluoroasetat berguna karena dapat menggeser kesetimbangan kearah kanan. yaitu epoksinitril (4.kenyataannya.96) sebagai produk utama. jika reaksi berlangsung tanpa pengaru gugus tetangga.peroksi bensoat. meliputo peroksi format.6.

1. Pembukaan cincin epoksida dengan asam Pembukaan cincin epoksida dapat dilakukan dengan pereaksi asam atau basa. tri dan tetra tersubstitusi segera terepoksidasi dengan asm peroksi alkanoat maupun dengan asam peroksi bensoat.Alkena yang lebih banyak tersubstitusi merupakan alkena yang kaya electron dan bereaksi lebih cepat dengan peroksi asam dari pada alkena yang kurang tersubstitusi. yaitu alkena dan elektrofilik peroksi oksigen.2 ± dimetil ± 1. atau dengan buffer hidrogen fosfat dinatrium. Ikatan rangkap dua. dimana diena dikonversi secara selektif menjadi epoksida. reaksi dengan asam peroksi bensoat mengunakan natrium bensoat dan natrium trifluoroh asetat digunakan dengan asam trifluorohperoksi asetat. mCPBA marupakan peroksida yang bagus untuk sebagian besar alkena. karna dibutukan pengunaan peroksi asam yang kuat seperti asam trifluoroh peroksi asetat meskipun mCPBA juga efektif. Sebagai contoh. Pada umumnya.maka hasil sampingnya adalah asam organic kua. Pembukaan Cincin Epoksida a. namun asm peroksi bensoat lebih efektif. Jika asam triflouorohperoksi asetat (CF3CO3 H) digunakan sebagai zat pengoksidasi.4 ± siklopheksanadiena. Natrium dan kalium asetat digunakan sebagai penyangga.RCH = CHR :500. Pembukaan cincin epoksida dengan suatu asam H-Nu dapat dinyatakan sebagai berikut: § 38 .R2C ± CHR :6500. dapat digunkan kalium atau natrium atau kalium hidrogen fosfat. dan R2C = CR2 >> 6500).N ) pada media reaksi biasanya akan menyangga reaksi dan mencegah terjadinya reaksi samping. Memberikan epoksida tetrasubstitusi dengan mCPBA reaksi ini ditunjukan oleh ptattier dan teisseir pada y -bisabolena.R 2C = CH2 :500. Contohnya. maka alkena yang lebih tersubstitusi akan lebih cepat terepoksidasi. Epoksi ester seperti dapat dibentuk dari ester terkojugasi seperti etil 2 ± bensoat dengan menggunakan mCPBA atau asam trifluoroh asetat. asam trifluoroh asetat (CH3CO2 H). Sebagai hasil samping adalah asam karboksilat. Epoksidasi terhadap alkena monosubstitusi biasanya kurang reaktif. Selain itu. asam ini cukup kuat untuk mengkatalisis penataan ulang atau reaksi lain terhadap produk epoksida. Adanya larutan penyangga (buffer) menjadi penting padaepoksidasi dengan peroksi asam. RCH = CH2 : 24. laju relative epoksi naik berdasarkan karakter nuleofilik alkena (CH2 = CH2 mempunyai luju relative 1.Kemungkinan reaksi yang berlangsung melalui mekanisme penggabungan. Penambahan garam asam (RCO2. Jika molekul mengandung dua alkena.okan membentuk koordinasi yang kemudian terjadi pelepasan asam karboksilat dan pembentukan epoksida.

Br atau I yang menghasilkan halohidrin. Oksiran yang direaksikan dengan asam dalam pelarut air akan menghasilkan etilen glikol yang umumnya disebut glikol. Reaksi ion alkoksida dengan H2 O 39 . Pengikatan ±OH pada cincin epoksida Langkah 2. Pembukaan cincin epoksida dengan basa Pembukaan cincin pada epoksida juga dapat dilakukan juga dengan basa. Reaksi pembentukan epoksida eengan basa terjadi melalui dua tahap reaksi. yaitu protonasi terhadap oksigen dan pengikatan nukleofil pada ion oksonium. Langkah 1.Oksiran juga dapat bereaksi dengan asam halide HX. dan reaksi dapat dipandang sebagai reaksi adisi yang dilanjutkan dengan protonnasi.Pembukaan cincin epoksida dapat terjadi melalui dua langkah reaksi. Langkah pertama adalah pengikatan basa neuklofil pada cincin epoksida dan langkah kedua adalah protonasi terhadap ion alkosida yang dihasilkan dari langkah pertama. dimana X dapat berupa Cl.

Kondensasi asam m Kondisi basa Nukleofil akan terikat pada karbon yang mengikat jumlah alkil yang paling banyak sesuai dengan aturan Pada umumnya pembukaan cincin epoksida pada kondisi basa terjadi dengan pengikatan nukleofil pada atom karbon yang tidak tersubtitusi. pengikatan nukleofilik pada karbon epoksida bergantung pada kondisi asam dan basa. karena keadaan transisi akan melalui struktur yang kurang terhalangi. Misalnya. Orientasi adisi terhadap epoksida pada kondisi asam vs basa Pada epoksida yang tidak simetris.Reaksi pembentukan cincin epoksida dengan basa sering diguakan dalam pembuatan polimer. 40 . polietilen glikol dimanfaatkan sebagai foam rubber dan fase diam pada kromatografi gas (disebut carbowax).

ester. Pengertian lainnya pada reduksi senyawa organic adalah adisi hydrogen terhadap molekul. dan laktam.2 Reduksi terhadap senyawa KarbonilL Litium Aluminium Hidrida cepat mereduksi sebagian besar senyawa karbonil. seperti pada transformasi RCH=NH menjadi RCH2NH2. dan gas hydrogen. LiAlH4 4H2 O 4H2 O LiOH Al(OH)2 H2 Litium aluminium hidrida memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut eter dan mempunyai kecenderungan membentuk bubur bila jumlah pereaksi yang di gunakan relatif besar. seperti reduksi 2butanon menjadi 2-butanol. lakton . PENGERTIAN REDUKSI Proses reduksi didefenisikan sebagai konversi suatu atom dari tingkatan oksidasi yang lebih tinggi ketingkat oksidasi yag lebih ranadah (III ke II. tetapi beraksia dengan hebat pada keadaan lembab / mengandung uap air. atau II ke I). IV ke II. B. Bubur LiAlH 4 dapat mereduksi semua gugus fungsi organik terpolarisasi. klorida asam. Litium hidrosida.pada Al) ke karbonil elektrofilik (relatif terpolarisai pada oksigen). dan reduksi terhadap propanil menjadi butanamina. alcohol atau amina dan menghasilkan gas hydrogen dengan merusak sifat aktif hidrida. imida. B. Pereaksi ini stabil pada suhu kamar.BAB V REAKSI REDUKSI A. dan aluminium hidrosida. karbamat. amida. keton. Proses reduksi oleh LiAlH4 dimulai dengan metransfer hidrida nukleofilik (relatif terpolarisasi . asam karbosilat.1 Reduksi dengan Litium Aluminium Hidrida (LiAlH4) LiAlH4 dibuat dengan mereaksikan LiH dan AlCl3 . anhidrida asam. Pereaksi LiAlH4 dengan adanya asam/basa dapat bereksi dengan hydrogen yang bgersifat asam. yang Litium hidrida merupakan salah satu pereduksi yang dikenal untuk substrat organic yang mengandung gugus pergi dapat terpolarisasi. meliputi aldehida. ¨ 41 . Reduksi dengan Hidrida Kompleks Logam B.

Dalam bnayak hal. Namun demikian kadang ± kadang Epoksida memberikan produk dimana transfer Hidrida berlangsung kearah karbon yang lebih tersubtitusi. tetapi kadang ± kadang menggunakan aluminium klorida jenuh dan asam klorida encer.54 menjadi alcohol 5. Reduksi aldehida berlangsung lebih cepat daripada terhadap keton.56 menjadi campuran 5.57 dan 5.Reaksi keseluruhan meliputi protonasi asam aloksida dan reaksi pada aluminium terjadi pada media masa. produk utama reduksi diastereomer timbul akibat transfer hidrida ke permukaan yang berpenghalang kecil.55 dengan hasil 95%. B. 42 . Pada umumnya. kecuali bila terdapat pengaruh adanya koordanasi atau khelat khusus. 3 Reduksi terhadap gugus fungsi hetereton kecuali karbonil Epoksida segera dapat dibentuk dari alkena atau dari keton dan aldehida. LiAlH4 mentransfer hidrida kekarbon epoksida yang kurang terhalang. karena pada aldehida factor penghalangnya kecil selama ter jadi transfer hidrida ke karbon karbonil. titrasi atau penambahan dengan air sudah cukup untuk melepaskan alcohol. Contohnya adalah reduksi 5. seperti yang di tunjukkan pada 5. Salah satu sifat penting pada reduksi karbonil dengan LiAlH4 adalah reaksi yang bersifat diastereoselektif.58 dalam sintesis driman-8-ol.

merupakan zat pereduksi yang lebih kuat daripada NaBH4. LiBH4 tidak hanya mereduksi Aldehida.Nitril digunakan secara umum sebagai senyawa awal (prekursor) untuk transformasi banyak gugus fungsi dan reaksi pembentukan ikatan karbon. keton. mereduksi aldehida.2 Logam borohidrida (Li. terutama pada sintesis alkaloid adalah mereduksi enamin. Senyawa nitril umumnya dibentuk berdasarkan reaksi subtitusi SN2 sianida dengan alkil halida atau sulfonat ester atau berdasarkan reaksi dehidrasi terhadap amida. keton. Ce) LiBH4 yang dibuat dengan mereaksikan natrium borohidrida dan litium bromida.1 Natrium Borohidrida (NaBH4) NaBH4 merupakan pereaksi yang sangat selektif. Zn. NaBH4 43 . Reduksi dengan Borohidrida C. C. LiBr LiBH4 NaBr. dan garam iminium. tetapi juga mereduksi epoksida ester dan lakton. dan klorida asam saja. Selektivitas ini disebabakan oleh menurunnya kekuatan pereduksi realatif terhadap LiAlH4. Salah satu penggunaan NaBH4 yang penting. imin. dan klorida asam dengan adanya gugus fungsi yang lain yang dapat direduksi. C.

metal-1. 2epoksisikloheksana menjadi metal 1-metilsikloheksanol dngan hasil 99%. lakton.C.3 Super Hidrida Super hidrida lebih kuat daripada LiBH4 dan kemungkinan merupakan nukleofil hidrida yang pernah ada.1 Boran 6 LiH 8BF 3 O(C2H5)2 B2 H6 6 LiBF 4 4 BF3O(C2 H5)2 2 B2 H6 3 NaBF4 3 NaBH4 Boran dan turunannya tetap merupakan pereaksi pilihan untuk reaksi. Diboran biasanya dihasilkan dari pereaksi BF3 O(C2H5 ) dengan LiH atau dari reaksi NaBH4 dan BF3. Boran mereduksi ester sangat lambat dan keton atau aldehida direduksi secara selektif dengan adanya ester. 4 Penggunaan zat pereduksi Hidrida dikatakan paling baik adalah pereaksi yang memberikan hasil paling tinggi dengan reaksi samping paling sedikit. monomer takstabil yang membentuk diboran) bereaksi dengan alkena dalam pelarut eter membentuk basa Hidroborasi. keton. D. Perbedaan utama dalam reaktivitas antara boran dan pereaksi hidrida logam adalah bahwa Borann merupakan asam Lewis yang bagus dan mengkoorddinasi atom ± atom yang memiliki kerapatan elektron yang sangat tinggi. Boran aluminium dan turunnya d. 44 . c. seperti pada reduksi 1. asam. amida tersier dan nitril. Diboran kurang efektif ungtuk mereduksi ester dan boran (BH3. Diboran (B2 H6) merupakan zat pereduksi penting untuk aldehida. Super hidrida mengikat pusat ± pusat elektrofilik pada sisi yang factor penghalangnya renadah.

3 Diisobutil aluminium Hidrida pembuatan alkil ³alana´ yang analog seperti alkilboran. karena campuran kloroaluminium hidrida dapat terbentuk. tergantung pada proporsi LiAlH4 dan AlCl3. Sifat yang mudah terbakar dan sukarnya menangani boran memungkinkan pengembangan sejumlah kompleks basa lewis yang mudah digunakan.S(CH3 )2). d. meskipun dengan adanya halide. 2 Aluminium Hidrida Boran (BH3 ) merupakan asam lewis seperti halnya borohidrida (BH4-). Pereaksi ini sangat larut dalam sebagian besar pelarut organik. Senyawa yang diperoleh berupa cairan piroforik 45 . nitril dan keton. Campuran hidrida yang paling umum adalah Cl2 AlH dan Cl2 AlH2. d. Turunan alkil yang paling banyak digunakan adalah diisobutil aluminium hidrida ([(CH3)2CH2 ]2 AlH4. aluminium hidrida (AlH3): 3LiAlH4 AlCl3 4 AlH3 3 LiCl Aluminium hidrida yang dibuat dengan cara ini tidak selalu murni.. Salah satu yang lebih sering digunakan adalah kompleks boran dimetil sulfide (H3 B. termasuk benzene dan toluene.mempunyai analog sebagai elektrofil.Penggunaan boran yang paling luas adalah reduksi yang selektif terhadap asam karboksilat. Boran digunakan untuk mengkonversi asam -amino menjadi alcohol amino seperti pada reaksi fenilalanin menjadi fenilalkohol dengan hasil 77%. ester. Hal yang sejenis AlH4 . Dibal) yang dibuat dengan merefluks triisobutil aluminium dalam heptana.

akan menghasilkan alcohol 5.BBN (9-boran ±siklo [3.2. Reaksi alkena 5.2 Khiral aditif pada system asiklis Aspek utama reduksi hidrida adalah stereokimia reduksi seperti yang ditunjukan pada Tabel 5.121 (dan enantiomernya 5. sedangkan jika pendekataan dari muka yang berlawanan.120 tidak mengandung pusat khiral.117 dan alkena 5. tetapi bila molekul tersebut bereaksi dengan suatu pereaksi. maka akan dihasilkan enatimer R. apakah pereaksi tersebut akan menghasilkan enantiomer Ratau S. maka akan diperoleh enantiomer S. Kenyataan bahwa keton 5.118 dan enantiomer (5.122) E.31]-nonana). seperti fenil magnesium bromide. Karbonil merupakan pusat prokiral karena adisi hidrida dari kedua muka karbonil (a atau b) menghasilkan pusat stereogenik. maka produk alcohol adalah rasemik. Jika pendekatan pereaksi dari satu muka. Jika 5. yang direduksi menjadi 2-pentanol.117 bereaksi dengan pereaksi Grignard. 46 . Karena kedua muka mempunyai kesempatan yang sama untuk pengikatan.120 dengan boran seperti 9.119). Contoh sederhana adalah 2 ± pentanon.1 Pusat ± puast prokhiral Ada molekul ± molekul yang tidak memiliki pusat khiral. maka diperoleh alcohol 5. Di sini di cermati adalah pereaksi yang digunakan. hal ini di kaitkan dengan muka atau permukaan molekul yang akan didekati oleh pereaksi selama reaksi berlangsung. yang diikuti dengan oksidasi. maka pusat khiral akan terjadi pada produk yang dihasilkan.E. Stereoselektivitas pada reduksi Hidrida E.

Senyawa 5. dan pengaruh khiralitas akan berpengaruh pada pendekatan pereaksi yang akan menyerang.3 Selektivitas pada reduksi turunan karbonil yang mengandung karbon khiral Jika pusat prokhiral terdapat pada molekul yang mengadun g satu atau lebih pusat khiral.134 dan 5. Penggunaan hidrogenansi katalik secara luas dilakukan setelah tahun 1897. Namun kenyataannya.135b). maka hasil yang akan diperoleh sangat cenderung pada 5. dan reaksi berlangsung dengan penyerapan hydrogen dan substrat dipermukaan logam. 1912) F.136. Reduksi terhadap senyawa ini tidak lebih seperti pada reduksi keton yang tidak memiliki pusat khiral.1 Aktivitas dan Reativitas Katalik Metode ini berkaitan dengan adisi gas hydrogen pada molekul organic. Reaksi membutuhkan sejumlah katalis logam transisi agar reaksi dapat terjadi.136 mempunyai pusat stereogenik yang berdkatan dengan karbonil. Tidak didukung= reaksi terutama dalam larut. Hidrogenasi Katalik Reduksi gugus fungsi dengan gas hydrogen merupakan salah satu reaksi yang penting dalam kimiia organic. maka reduksi menghasilkan diastereomer. yangb merupakan rasemik.Heterogen = katalis tidak larut dalam media reaksi 2. keton 5. Reaksi dengan zat pereduksi dapat mempengaruhi konformasi sehingga memberikan sifat diastereoselektivitas. F.134 mengandung pusat stereogenik. pada system asiklis seperti contoh tersebut tidak mungkin memiliki konformasi tunggal. Terdapat dua tipe utama katalis 1. 47 .136 tetap seperti konformasi yang terlihat.135a dan 5.homogen = katalius larut dalam media reaksi Hirogenasi heterogen mempunyai dua bentuk: 1. seperti pada reaksi 5. muka re)akan memberikan 5. dan hasil yang diperoleh adalah campuran 1 : 1 diastereomer syn dan anti (5. Namun demikian.136. Didukung = proses dalam bentuk bubur dan bekerja dalam keadaan gel tetap 2. Pereaksi akan mendekati dari muka yang mengikat halangan yang palin kecil. Pada 5. yaitu ketika Sabatier mengembangkan reaksi antara hydrogen dan senyawa organic yang kemudian menjadi model reaksi universal (Nobel prize.137. tetapi pusat tersebut terlalu jauh dari pusat prokhiral yang mempunyai pengaruh atas reduksi pada prokhiral.E. pendekatan melalui sisi sebelah atas ³muka hydrogen´(muka si) akan menghasilkan n5.138 Jika konfirmasi 5. Hidrogenasi etana menjadi etana pertama kali dilakukan oleh van Wide pada tahun 1875.137 dan pendekatan melalui muka yag lebih terhalang (³muka metal´.

melalui pemutusan molekul hydrogen dan penyusunan atom ± atom hydrogen. Pengertian tersebut mengacu pada tipe ± tipe ataom yang berbeda. bergantungf pada sifat dan jumlah katalis maupun tipe prosedur hidrogenasi yang digunakan. yang di tandai dengan jumlah atom tetangga yang terdekat. Dalam beberapa hal.175) Mekanisme yang pasti dari katalis heretogen belum diketahui karena proses tersebut mmerupakan fenomena yang terjadi di permukaan.Gugus fungsi yang direduksi. tipe atom kink (C) mempunyai enam tetangga dan dinyatak seperti 5. Hudliky mengemukakan urutan reakstivitas relative terhadap propena untuk katalis logam transisi golongan VIII. F. rodium merupakan katalis yang paling aktif. iridium.173). nikel. Katalis ± katalis tersebut digunakan untuk mereduksi banyak gugus fungsi .172. yang didasarkan pada pekerjaan yang dilakukan oleh Mann dan Lien. Gas hydrogen dipecah menjadi atom ± atom hydrogen yang terikat pada nikel (dinyatakn 5. palladium.170. Katalis heterogen merupakan suatu perwujudan permukaan dan karena itu dikenal terdapat beberapa perbedaan tipe partikel ± partikel logam di permukaan. Variabel pertama dalam hidrogenasi katalik adalah katalis. Tipe atom terrace (A) kekhasannya mempunyai delapan atau Sembilan tetangga dan ditunjukan secara geometri seprti 5. Tipe atom step (B) biasanya mempunyai tujuh tetangga dan dapat digambarkan dengan struktur 5. step dan kink pada permukaan katalis heterogen. rodium. yang diikuti dengan berlansungnya reaksi dengan transfer hydrogen ke karbon (5. dan rutheum. garam ± garam logam transisi sering digunakan daripada logamnya sendiri.2 Reduksi Alkena dan alkuna Reaksi dengan alkena berlangsung diatas permukaan katalis heterogen logam.174).171. Katalis yang sebagian besar digunakan adavlah platian. Pada proses terlihat 48 . tidak ada katalis tunggal yang memberikan hasil yang lebih bagus untuk semua gugus fungsi. akhirnya. Maier menggambarkan adanya tipe ± tipe atom terrace. Alkena juga terikat pada permukaan logam (5. Rh > Ir > Rn > Pt > Pd > Ni > Fe > Co > Os Pada urutan tersebut. tingkat reduksi dan distribusi produk.

Rylander memberikan urutan berbagai katalis untuk mereduksi benzene. F. Redukski fenol mula ± mula menghasilkan enol.205 dengan adanya hydrogen berlebih.200.3 Hidrogenasi senhyawa ± senyawa karbonil Bahwa pada reduksi 5.200 merupakan konstituen kecil dari campuran produk akhir. tetapi senyawa ini dikonversi menjadi sikloheksanon atau turunan sikloheksanadion. kecuali jika menggunakan katalis rodium. yaitu sbb: Rh > Ru >> Pt > Pd >> Ni > Co Rodium dan ruthenium digunakan jika menghindari hidrogenolisis. tetapi senyawa ini tereduksi lebih lanjut menjadi dekalin (5.187. Platinum mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada karbon atau kalsium karbonat.4 Reduksi aromatic dan Hidrokarbon Heteroaromatik Contoh yang paling sederhana adalah reduksi benzene menjadi sikloheksana yang membutuhkan kondisi suhu dan tekanan tinggi.202 yang akan menghasilkan reduksi sempurna pada semua ikatanmenjadi 5.mula mereduksi naftalena menjadi 5. Bila cincin aromatic tersubtitusi. disebut katallis adams).201). Reduksi Logam Terlarut 49 . seperti pada reduksi 5. tetapi dapat direduksi dengan katalis heterogen seperti platina oksida (PtO2. Contohnya 5. Urutan relatif untuk reduksi naftalena menjadi tetralin adalah Pd > Pt > Rh > Ir > Ru Rodium mula.185 direduksi dengan katalis adams menghasilkan campuran 5. dimana hydrogen diserap pada situs aktif dipermukaan katalis. dan 5. maka hidrogenasi katalik dapat dipersulit oleh reaski samping.185 pemecahan secara reduktif cincin siklopropana berlangsung lebih cepat daripada reduksi keton.186 dan 5. G.memutus ikatan H ± H yang menghasilkan spesies logam ±H (H*). dengan perbandingan 10 : 82. Cincin siklopropana tidak dapat direduksi dengam katalis Lindlar. tetapi tidak dapat mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada barium sulfat atau alumina Al2 O3. F.

intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepaskan proton dari pelrut yang bersifat asam. Pada keadaan yang serupa. Penggabungan radikal aseton seperti yang dinyatakan diatas ditunjukan pada konversi 2. Contohnya elektrolisis aseton.1 Reduksi Elektrofilik Reaksi reduksi dari logam ± logam alkali melibatkan transfer elktron tunggal dan dapat dilakukan pada sel elektrolitik. Salah satunya adalah reduksi dengan hidrazin Dalam keadaan basa.G. Hidrazin juga digunakan untuk mengkonversi alkil ptalimida menjadi alkilm amina dengan mengantikan satuan O = C. elektron ditransfer kekarbonil.NR ± C = O dengan satuan O = C ± NHNH ± C = O.diol (5. Ketil dapat mengaloami penggabungan radikal . Terdapat dua bentuk kanonikal ketil inn. ikatan pada 2-butuna menangkap electron yang dihasilkan dari eletrolisis membentuk anion radikal seperti 5. Hidrazin hidrokarbon (N2 H5 HCl) sangat efektif untuk mereduksi khususnya keton yang mempunyai penghalang. intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepakan proton dari pelarut yang bersifat basa. Proses ini di kenal dengan reduksi Wolf ± Kishner. dan menghasilkan produk yang tereduksi. reaksi ini sering disebut sebagai prosedur Ing ± Maske 50 .215 Paling tidak ada dua tipe produk reaksi yang dihasilkan oelh ketil yang berasal dari aseton. menghasilkan anion radikal (disbut ketil).220) dengan hasil 68%. sedangkan reaksi yang terakhir berupa reduksi.asetilpiridin (5.214). Reduksi Nonlogam Terdapat sejumlah cafra untuk mereduksi gugus fungsi organic yang menggunakan pereaksi nonlogam.2. yaitu bentuk radikal karbon dan bentuk karbanion (5.218) menjadi 1. H.

kemudian diikuti reaksi dengan HBr. 6. Reaksi adisi anti markonikov yang khas adalah adisi boran pada alkena. Radikal yang terbentuk distabilkan oleh efek elektronik tiga gugus alkil daripada alternatif radikal primer. dan produk adisi ditentukan oleh stabilisasi relatif dari intermediet. Jika diinginkan adisi anti-Markonikov. Pada umumnya. 51 .) Selektivitas markonikov atau anti markonikov Retensi atau inversi konfigurasi Selektivitas cis-trans Selektivitas syn-anti Pengaruh khelasi heteroatom.) 3.BAB VI KONTROL STEREO DAN PEMBENTUKAN CINCIN 6.1 Selektivitas Markonikov/ anti markonikov Reaksi khas yang menggambarkan adisi markonikov adalah reaksi HBr dengan 2-metil 2-butena yang menghasilkan 2-bromo 2-metil butana. Pengotrolan adisi Markonikov vs anti-Markonikov dapat diprediksi dengan pengontrolan jalur mekanistik adisi. maka pengubahan pada mekanisme reaksi harus terjadi. Reaksi ini menghasilkan radikal karbon yang diperoleh mula-mula dari adisi radikal brom pada alkena. Reaksi adisi lain yang berlangsung dengan orientasi anti-Markonikov adalah adisi HBr pada alkena dengan adanya peroksida. Reaksi dengan HBr menghasilkan bromida primer dan menghasilkan radikal brom yang lain pada langkah propagasi rantai. Ini merupakan reaksi berlawanan regioselektivitas keseluruhan terhadap adisi selektif pada reaksi kationik. Jika reaksi menghasilkan karbokation.) 5. setelah oksidasi terhadap intermediet alkil boran.) 4.1 Kontrol Stereo pada Sistem Asiklis. Karena brom pertama tama megadisi alkena yang menghasilkan radikal tersier yang lebih stabil. Reaksi pada molekul asiklis dapat menghasilkan diastereomer dan pengertian ³penontrolan stereokimia´. maka orientasi Markonikov pasti dihasilkan.maka hidrogen ditransfer pada radikal tersebut. Usaha ± usaha untuk mengontrol stereokimia yang penting meliputi: 1. yang biasanya digunakan untuk suatu usaha menghasilkan satu diastereomer sebagai produk utama dari reaksi. Reaksi adisi tipe radikal akan berlangsung dengan bentuk anti±Markonikov. Reaksi radikal ini berlangsung dengan baik hanya untuk adisi HBr dan tidak untuk HCl atau HI.) 2. Radikal brom dibentuk berdasarkan pemecahan hormolitik dari peroksida yang ditambahkan. yang menghasilkan alkohol pimer.1. reaksi adisi kation dan radikal menghasilkan intermediet reaktif.

dengan kontrol sempurna pusat stereogenik. dengan hasil retensi konfigurasi secara sempurna.Reaksi HBr dengan 2-metil-2-butena yang menghasilkan 2-bromo-2-metilbutana. Reaksi asam amino dengan Natium Nitrit (Na2NO2) dan Kalium Bromida (KBr) menghasilkan asam -bromo. Ini merupakan metode efektif untuk menginversi pusat stereo dengan pengikatan gugus fungsi yang ber eda. Jika alkohol dikonversi menjadi turunan dengan ikatan C ± O lemah serta adanya kecenderungan yang besar untuk terjadinya penggantian . dengan retensi konfigurasi secara sempurna. Gugus amino dapat diubah menjadi gugus fungsi yang lain. Kontrol stereokimia diperoleh dengan memanipulasi perbedaan -perbedaan pada reaktivitas. Retensi vs Inversi Konfigurasi Contoh sederhana untuk menginversi pusat stereokimia adalah mengkonversi gugus fungsi menjadi gugus fungsi lainnya. Metode lain untuk mengkonversi atau mengontrol stereokimia ditunjukkan pada konversi D-manitol menjadi (R)-ephiklorohidrin atau (S)-ephiklorohidrin. Proses ini biasanya melibatkan alkohol atau substrat amina. b Metode lain selain reaksi Mitsonobu juga dapat dipeoleh untuk menghasilkan stereokimia.2. antibiotik karbapenam. Konversi yang menarik adalah transformasi NH2 Br. Reaksi ini diamati pertama kali oleh Walden.1. yang dapat diganti dengan nukleofilik seperti azida dan ada hasil. 52 . Reaksi ini diambil dari sintesis tienamisin. yang dilakukan oleh Salzmann. Contoh sederhana proses ini adalah konver i (S)-2s pentanol menjadi tosilat yang sesuai.maka tipe S 2 menjadi mungkin N dengan inversi pusat stereogenik tersebut. 6.

53 . Rekasi lain di mana syn dan anti diastereomerdapat dibentuk. Keadaan yang berlawanan. tetapisatu yang perdominan. 6.Metode untuk menghasilkan diol secara stereoselektif dimulai dengan epoksida.1. syn diol dibentuk melalui pelepasan nukleofil hidroksida dari sisi belakang ke karbon yang kurang terhalang. dengan mengubah basa atau kondisi reaksi lain. Selektivitas syn-anti Reaksi enolat yang dibicarakan sebelumnya merupakan contoh yang baik tentag kemampuan untuk mempengaruhi atau mengontrol distereoselektivitas. yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida (atau dangan nukleofil oksigen lain).3. Selektivitas cis-trans Kontrol pada geometri cis-trans telah ditunjukkan pada reduksi alkuna engan hidrogenasi katalitik atau dengan logam alkali. Sekali lagi.2diol. reaksi alkun dengan logam alkali akan menghasilkan trans-alkena. Pada contoh ini.1. yaitu pada contoh konversi alkena menjadi 1. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena.Contoh pengontrolan konfigurasi pusat khiral adalah konversi alkohol sekunder khiral menjadi klorida sekunder yang sesuai dengan tionil klorida 6. Produk-produk akhir dari serangkaian reaksi ini adalah syn diastereomer dan anti diastereomer. pengertian utama terhadap perbedaan dua mekanisme reaksi tersebut memungkinkan pengontrolan geometri cis-trans produk akhir.4. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena.

1. Keadaan ini dapat ditunjukkan pada reaksi alkohol alilik khiral dengan asam peroksi. Adisi pada ikatan tersubtitusi menghasilkan 54 .pengikatan alkohol alilik pada logam adalah penting untuk pelepasan oksigen elektrofilik dan juga untuk pengontrolan orientasi alkena relatif terhadap agen epoksidsi. tetapi litium aluminium hidrida menunjukan selektivitas yang kurang. dan retensi atau inversi konfigurasi. Salah satu faktor utama untuk mengontrol diastereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga. Sukar untuk memisahkan pengaruh regiokimia (cara adisi) dan pengaruh retensi dibandingkan inversi dan isomerisasi cis-trans pada molekul-molekul siklis.terutama terhadap molekul siklis.2 Kontrol Stereo pada Sistem Siklis Cara untuk mengontrol regiokimia Markonikov dan anti-Markonikov.seperti pada reaksi 1 fenilsikloheksena oksida dengan hidroksida.5. Epoksidasi asimetris Sharples memanfaatkan selektivitas yang timbul dari koordinasi dengan alkohol alilik oleh penambahan agen khiral untuk mengontrol selektivitas. Kecenderungan terjadinya khelat heteroatom tegantug pada pereaksi yang digunakan. Khelasi Heteroatom Salah satu faktor utama untuk mengontrol distereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga (pengaruh gugus tetangga). Koordinasi dengan oksigen dan pelepasa oksigen elektrofilik dari sisi tersebut menghasilkan alkohol epoksi. pada dasarnya sama seperti pada sistem asiklis.mungkin mengontrol pembukaan cincin epoksida.Hasil yang diperoleh adalah syn-diol.hal ini disebabkan oleh koordinasi yang lemah dengan heteroatom. Zink borohidrida mengadakan koordinasi yang sangat kuat dengan heteroatom. 6. Dalam beberapa hal. Metode untuk menghasilkan diol secara streoselektif dimulai dengan epoksida yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida 6.

Adisi boran dan oksidasi menghasilkan campuran alkohol dengan perbandingan 86 : 14.metilsiklopentana. hidroborasi metilsiklopentena menghasilkan produk utama anti Markonikov karena untuk adisi dibutuhkan keadaan transisi empat pusat. 6.1. Reaksi Hbr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markovnikov yang menghasilkan tersier bromida.isomer-isomer geometri.2. Aturan Bredt Reaksi lain di mana regioselektivitas bersifat penting adalah pembentukan ikatan rangkap pada reaksi eliminasi. Penambahan pada halida dengan kalium-t-butoksida dalam t-butanol menghasilkan antieliminasi. Efek yang sama terjadi pada halida siklis seperti cis-2-1.2. Pengertian syn dan anti tidak mempunyai arti pada sistem siklis. 55 . Sebagai contoh. Regiokontrol pada eliminasi diperoleh dengan pengikatan basa pada molekul (basa internal untuk eliminasi syn) atau dengan pengikatan basa pada molekul seperti pada reaksi biomolekul (basa eksernal untuk eliminasi anti). 1-bromo-1metilsiklopentena. Namun demikian. Hal ini disebabkan sifat termodinamika reaksi dan persyaratan elektronik bahwa kedudukan gugus pergi anti terhadap hidrogen yang dilepaskan. reaksi HBr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markonikov yang menghasilkan tersierbromida. 6. Selektivitas Markonikov / anti-Markonikov Masalah-masalah yang berkaitan dengan adisi secara regioselektif pada molekul-molekul siklis pada dasarnya sama seperti pada molekul-molekul asiklis. 1-bromo-1-metilsiklopentana. yang bila direaksikan dengan basa menghasilkan metilsiklopentana. dan pada sebagian besar sistem siklis akan mengontrol konfigurasi absolut pusat khiral yang dikaitkan dengan isomer-isomer cis-trans dan/atau dengan pembentukan diastereomer.2. dimana yang lebih menguntungkan adalah produk yang kuran tersubtitusi. dan membentuk alkena yang lebih banyak tersubtitusi.

hidrogen. yang secara energetik lebih menguntungkan. tetapi produk yang dihasilkan adalah alkena yang lebih banyak tersubtitusi.Perbedaan utama di sini adalah ketidakmampuan cincin berotasi di sekitar ikatan karbonkarbon. dan sistem bisiklis kecil tidak dapat mengakomodasi kenaikan yang besar dalam tegangan ini. karbon ± karbon kepal jembatan (a dan b) tidak dapat dilibatkan pada ikatan rangkap dua karbon ± karbon. Syn-eliminasi melibatkan basa yag terikat secara intramolekul. Pernyataan yang dikemukakan oleh Bredt adalah ³dalam sistem keluarga kamfen dan a pinena serta senyawa ± senyawa yang sekerabat. Pembentukan produk alkena memerlukan penahanan kedudukan ³kepala jembatan (bridgehead)´ menjadi konformasiplanar. Pengamatan menunjukkan bahwa ikatan rangkap dua karbon ± karbon tidak dapat dibentuk pada atom ± atom kepala jembatan dalam cincin ± cincin bisiklis kecil dan keadaan seperti ini pada awalnya disebut aturan Bredt.dan gugus pergi adalah sudah ditentukan oleh regiokimia halida. Adanya penghalang pada keadaan syn ini mengakibatkan pendekatan dan pelepasan hidrogen. disebabkan pembentukan geometri planar karbon sp2. Energi keadaan transisi yang dibutuhkan untuk mengeliminasi ± menjadi karbon kepala jembatan dalam sistem kecil ± sangat tinggi. 56 . Untuk syn dan anti eliminasi keduanya.yang mempunyai kedudukan syn terhadap gugus pergi. diikuti pelepasan hidrogen.pada kedudukan yang kurang tersubtitusi.

4 ±t-butil-1-bromosikloheksana.88 : 6.konformasi cicin.jika azida di gunakan sebagai nukleofil .4 Isomer-isomer cis-trans (diastereoselektivitas) Pada system siklis .89).contoh: Perbedaan utama antara system siklis dan system ansiklis adalah ketidakmampuan sistem siklis mengalami rotasi disekitar ikatan karbon-karbon yang menghasilkan perbedaan konfigurasi. 6.Contoh : Reduksi 4-t-butilsilkoheksanon menunjukan kemantapan yang ditandai pelapisa hibrida melalui jalur a (perbandingan a : b = 91 : 9).6.pengontrolan geometric cis-trans merupakan persoalan diastereoseletivitas.dan stabilitas produk akhir.3 Retensi vs invarsi (kontrol diastereo) Reaksi molekuler siklis yang melibatkan pembentukan pusat-pusat khiral mirip seperti yang terjadi pada system asiklik.kemampuan kekonformasian pada keadaan transisi.maka penggantian bromida berdasarkan SN2 melauli peningkatan pada sisi belakang akan sulit terjadi.2. Menghasilkan azida.dengan inversi konvigurasi penuh Melalui jalur reaksi SN2.merupakan hal yang penting untuk mengkontrol dan memprediksi stereokimia.karena sudut pendekatan nukleofil terhalangi.selama reaksi dengan LiAlH4 yang menghasilkan trans-alkohol) 57 .9 : <1 yaitu 6.2.Reaksi asida (NaN3) dengan cis .bentuk ekuatorial adalah bentuk yang dominan (dengan perbandingannya adalah <99. Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Corey.

Epoksidasi senyawa 6. Terdapat banyak cara yang ada untuk emeriksa stereokimia relative pada pusat khiral yang tidak sesuai dengan sasaran yang diinginkan.Dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan seperti itu pada stabilitas produk .dan 2.memungkinkan kita untuk dapat mengubah populasi diastereomer. Mengubah jalur sintesis untuk menghasilkan intermediet yang menguntukan yang dapat menghasilkan steriokimia yang diinginkan. Ini merupakan pengaruh untuk reaksi asiklis. 6. 58 .pelepasan berbedah dengan epoksidasi alitik asetat yang terutma menghasilkan pelepasan oksigen elektofilik dari muka yang kurang berpenghalang.3 Pengaruh Khelasi dan Gugus Tetangga Pengaruh gugus sederhana yang di pengaruhi pelepasan ³oksigen´ ke ikatan rangkap dua alcohol telah dikemikakan oleh Henberst dan Sharless. Mengubah pusat sterio pada produk akhir.Para ahli kimia yang melakukan sintesis tidak selalu dipaksa untuk menerima stereokimia tersebut.paling tidak ada dua pilihan : 1.100 berlangsung melalui koordinasi asam peroksi dengan alcohol.

menghasilkan 99% (E)-alkena.4 Stereo Kontrol Asiklis melalui precursor siklis 59 . Alumenium mengadakan koordinasi dengan oksigen oksetana kurang terlarang pada 6.tidak hanya pengaruh ± pengaruh a dan b hidroksil.merupakan retomer kunci.oksigen dan belerang. pada muka b yang Pada perencanaan reaksi. tetapi juga pengaruh-pengaruh yang lebih kuat dari pasangan electron bebas yang berdekatan dengan electron nitrogen.alkoksi.Pengaruh gugus seperti ini disebabkan oleh pengaruh khelasi subtituen heteroatom dengan pereakai.Contoh lain : Reaksi oksetana dengan diametil alumenium Nmitel-analin yang merupakan reaksi eleminasi.107 dan 6.dadi pasangan gugus amino yang harus di perhatikan . 6.pengaruh khelasi tersebut pada kenyataannya dapat merupakan pengarahan steriokimia atau regiokimia dan penghambat atau penghentian reaksi yang diharapkan.108. Pengaruh gugus tetangga dapat menjadi jelas dan dapat digunakan untuk mengarahkan steroekimia dari suatu reaksi.

5 Reaksi Pementukan Cicin Pengenalan dari aturan Baldwin untuk penutpan cicin.Penambahan dengan tosilhidrasin dalam asam asetat akan menyebabkan terjadinya pemecahan cicin Eschenmoser dan menghasilkan .dan mendapatkan pola reaktifitas yang dapat relativ diprediksi. Penambahan dan pengaturan gugus fungsi adalah konversi sikloheksanoan menjadi epoksiteron.jika atom yang diikat dinyatakan tet dan cicin yang akan dihasilkan adalah 6.sering dengan control regiokimia dan steriokimia. 6.homolitik.Baldwin mengklasifikasikan penutupan cicin menjadi dua kategori : EXO (aliran electron dari reaksi adalah eksternal terhadap cicin yang akan dibentuk) dan ENDO (aliran elektro didalam cicin yang akan dibntuk).Peningkatan atom pada sp2 disebut TRIG (membentuk cicin) dan peningkatan hibridisasi pada atom sp disebut DIG( pembentukan cicin).dan proses penutupan cicin kationik.Pendekatan ini didasarkan pada persyaratan -persyaratan steriokimia dan sudut pendekatan yang memungkinkan untuk membawa ersama-sama dua pusat rebktif bila dihubungkan dengan atom-atom (tether).Cincin kemudian dibuka untuk memperperoleh system asiklis .Hidrogenasi Lindlar memberikan feromon seks utama dari Doglas fir Fussockmoth.118.mempelajari nukleofil.Sistem siklis dapat digunakan untuk memprediksikan gugus fungsi. Contoh penerapan masalah dilakukan dengan cara disintesis senyawa organic secara efektif. 60 .dan regioimia dan strereokimia subtituen telah ditetapkan (ditemukan).

Pengggantian pada karbon sp3 pada umumnya melaui peningkatan dari bagian belakang dan gugus yang akan datang (X) harus mendekati karbon yang mengandung Y [ada sudut yang dekat dengan 180°.atom sp3 adalah tetrahedral ( dengan sudut ikatan sekitar 109°) 61 .tetapi selama reaksi.maka yang paling perluh dibicarakan adalah pertamatama adalah persyaratan sudut peningkatan untuk membawa dua ujung raktif molekul bersama-sama.Elliot dan Graham-Richard menyatakan suatu metode untuk memprediksikan sudut pendekatan yang cocok.Bila kita bicarakan aturan Baldwin.yang haya didasarkan pada substrat.disini sudut ikat sekitar 120°.

Contoh siklis endo.Sudut ikat pada ikatan rangkap tiga adalah 180°.Menggunakan analog yang sama seprti pada koversi sp2 -sp3 atom harus mendekati ikatan rangkap tiga pada sudut sekitar 120°.konversi sitronelal oleh pengaruh katalisator asam H isopulegol 62 © menjadi .Dalam hal in konversi atop sp menjadi atom sp 2 menghasilkan sudut ikat 120° yang merupakan karekteristik alkena.karena molekul adalah linear.

Mengalami

penggantian

exo

Y,tetapi

me

nghasilkan

Konver

Terdapat dua cara untuk meggambarkan pembentukan cicin.Enolat secara kinatik akan membentuk cicin melalui pengganti Exo Y menghasilkan 6.129 Enolat secara termodinamikal akan menghasilkan konversi,di sebut enol endo-exo-tet dan konversi.

bguvvyfiyfiyf Enolat pada umumnya mengalami reaksi 5-endo-tring pada oksigen sedangkan reaksi 6endo-tring disukai pada karbon.untuk membentuk cicin lingkar dari lima dari pasangan electron bebas oksigen harus pada kedudukan yang tepat untuk menggantikan kedudukan brom pada 6.136( produk adalah tetrahidrofuran).

63

Keadaan transisi untuk penggantian in di gambarkan pada 6.140.Agar menghasilkan cicin lingkar-enam,maka orbital-orbital karbon enolat pada 6.138 harus pada sudut ang tepat untuk penggantian.

64

BAB VII GUGUS PELINDUNG

7.1 Pengertian Gugus Pelindung Banyak target senyawa sintetik yang mengandung lebih dari satuu gugus fungsi, dan gugus tersebut dapat mengadakan interaksi dengan pereaksi yang digunakan selama proses sintesis. Jika gugus keton dan aldehida terdapat di dalam molekul yang sama, kedua gugus tersebut dapat bereaksi dengan pereaksi tertentu pada saat yang sama. Adanya alcohol dan amina dalam molekul yang sama juga akan menimbulkan masalah karena kedua gugus fungsi tersebut cepat beraksi dengan asam, basa, dan nukleofil. Cara untuk menanggulangi fungsi tersebut adalah dengan melindungi atau mengeblok sementara satu gugus yang reaktif dengan mentransformasikannya menjadi gugus fungsi baru yang idak akan mengganggu menjadi gugus baru yang berbeda, yang tidak akan bersaing dengan reaksi yang diharapkan. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasi gugus fungsi baru (gugus pelindung) kembali menjadi gugus fungsi semula pada tahap akhir sintesis. Proses ini di kenal sebagai perlindungan dn proteksi. 7.2 Gugus Pelindung Umum Untuk Alkohol, Karbonil dan Amina 7.2.1 Proteksi Alkohol Gugus pertama dalam pengembangan gugus pelindung untuk gugus fungsi adalah mengidentifikasi bagian molekul mana yang dapat mengganggu. Dalam hal alcohol, bagian molekul yang hampir selalu dapat mengganggu adalah keasaman hydrogen gugus O-H. jika gugus OH tersebut mengganggu rencana sintesis, maka OH harus dikonversi menjadi gugs fungsi lain (O-X), tetapi reaksi ini harus dapat berlangsung dan menghasilkan produk yang tinggi pada kondisi normal. Alcohol memilki dua reaksi utama yang cocok terhadap criteria tersebut, yaitu konversi alcohol menjadi eter, biasanya berlangsung dengan hasil yang tinggi dan memberikan produk yang relative inert. Karena sifat inert inilah, maka kondisi yang dibutuhkan untuk memecah eter harus kuat. Cara lain adalah mengkonversi alcohol menjadi asetal asilik atau ketal. Juga sangat mungkin mengubah alcohol menjadi ester pada kondisi normal, dan dengan mudah mengembalikannya menjadi alcohol dengan cara menghidrolisis ester. 7.2.2 Gugus Pelindung Eter dan Asetal Gugus pelindung paling sederhana untuk alkohol adalah metil eter (-OCH3). Reaksi alcohol dengan basa (umumnya natrium hidrida (NaH) dalam THF atau DMF) menghasilkan alkoksida. Cara berikutnya adalah mereaksikan alcohol dengan trimetiloksonium tetrafluoro borat. Metil eter stabil terhadap basa kuat, nukeofil, organologam, hidrogenasi, zat pengoksidasi, dan zat pereduksi hidrida. Metil eter stabil pada PH 1-14. Metil eter dapat
65

oksidasi. Cara lain dari hidrogenolisis adalah dengan melarutkan logam natrium atau kalium dalam amonia. sedangkan trimetilsilil iodida dapatmemecah pelindung alcohol dalam kloroform dan pada suhu yang relatif tinggi. dengan adanya katalis asam (asam sulfat atau BF3). Cara paling umum pemutusan ikatan C-O benzilik adalah dengan hidrogenasi katalitik.25.dipecah oleh HI pekat.yang dibuat dengan mereaksikan alkoksida dai alcohol dengan benzil bromida atau klorida. karbonion dan organologam . dan beberapa zat pengoksidasi. meliputi pH 1-14. Benzil eter stabil terhadap sejumlah pereaksi.t-butil sensitive terhadap asam kuat.25) dengan mereaksikan dengan kalium hidrida (KH) dan benzil bromida.24 dikonversi menjadi benzil eter (7. nukleofil. hidrogenasi katalitik. Gugus pelindung eter lainnya adalah benzil eter (-OCH2Ph. Dua cara yang umum untuk melepaskan gugus benzil meliputi pemutusan ikatan O-CH2Ph dengan hidrogenolisis. Sebagai gugus pelindung . karena gugus OH primer juga dapat bereaksi dengan KH/CH3 I. Gugus alilik OH akan mengganggu proses pembentukan gugus OCH3 dalam 7. Contohnya adalah sintesis monensin yang dilakukan kishi. hidrida. 66 . dimana mula-mula alcohol 7. oksidasi dan reduksi. hidroborasi. tetapi stabil pada Ph 1-14. Alkohol dapat dikonversi menjadi t-butil eter (O-C(CH3)3 ) dengan mereaksikan alcohol dengan 2-metil-2-propena (isobutilena). hidrida. dn stabil terhadap nukleofilik.26. biasanya dengan katalis poladium. dan metilasi yang keudian dilanjutkan dengan deproteksi (hydrogen/paladium) akan menghasilkan 7.O-Bz).organologam.

SEM). Salah satu gugus pelindung asetal yang paling umum adalah 2-metoksi etoksimetil eter (-O-CH2 OCH2CH2 OCH3.27 perlu di proteksi dan di konversi menjadi turunan OMOM. Sebagai contoh. O-MOM). shibasaki menggunakan gugus EE untuk melindungi. Anggota yang paling umum adalah 1-etoksil-etil eter (O-CH(OCH2CH3 )CH3.29)selanjutnya di ikuti pelepasan gugus O-MOM. Gugus MEM sensitive terhadap asam Lewis dan dapat di pecah dengan asam kuat berair (PH<1). reaksi selanjutnya menghasilkan alcohol primer baru yang kemudian diproteksi sebagai O-benzil eter (pada 7. gugus hidroksi metil pada 7.7.27 sebagai turunan MOM (pada 7. di bentuk dengan mereaksikan alcohol dengan basa (seperti NaH dalam THF) dan ClCH2 OCH3 (klorometil metil eter).33. Sebagai contoh.29).28) dan OH yang lain sebagai benzil eter (7. O-EE). Asetal pertama adalah metoksi metil eter (O-CH2 OCH3.MEM). Gugus MEM di ikat oleh alcohol setelah alcohol di konversi menjadi alkoksida (umumnya dengan NaH dalam THF atau DMF). Gugus MEM juga stabil pada pereaksi-pereaksi seperti terhahdap O-MOM dan O-MTM. Tipe lain dari gugus pelindung asetal adalah etil eterr tersubtitusi.Gugus pelindung eter alternative yang telah di kembangkan oleh Green adalah ³metil eter tersubtitusi´ yang tidak lain adalah asetal (RO-CHR1 -O-R2). Pelepasan gugus EE dengan asam asetat berair menhasilkan 7.31 diubah menjadi 7. 67 . Gugus MEM juga dapat melindungi alcohol tersier. proteksi OH pada 7.28. sementara gugus hidroksil pada 7.32 dengan reaksi wittig. Variasa gugus MEM adalah 2-(trimetilsilil) etoksi metil eter (-O-CH2 OCH2CH2 Si(CH3)3.

ketal seperti 7. hidrida. dengan adanya katalis asam.3 Proteksi Diol 1.3-diol akan menghaslkan cicin lingkar-6 asetonida.2-diol termasuk alcohol.2. Ca umum pembentukan asetonida adalah reaksi iol dengan 2-metoksil-1-propena dengan adanya asam seperti anhydrous HBr.organologam. tetapi tidak terhadap asam.3-dioksolan (7.3-butanadiol (7.35 yang dibentuk dari aseton. hidrognasi katalitik. 1. maka akan dibentuk 1. dan zat pengoksida.3-dioksana. sering disebut asetonida (isopropilidena ketal).34) bereaksi dengan keton seperti aseton. Gugus tersebut juga stabil terhadap nukleofil.35). atau reaksi diol dengan aseton dengan adanya katalis asam. Gugus ini stabil terhadap basa (Ph 4-12). tetapi kedudukan hidroksil berkaitan sehingga dapat dpproteksi sebagai ketal siklis. Gugus pelindung ini biasanya dipecah dengan HC berair. Bila 1. dengan aam asetat atau dengan asam p-toluennasulfonat dalam methanol.2-diol seperti 2. 68 .7. yaitu merupakan turunan 1.

7.2.38.suatu cara telah dikembangkan untuk memproteksi keton dan aldhida.42 proses ini dilakukan oleh Bauman dan Hoffmann dalam sintesis -santalol.36 yang dikonversi menjadi 7.39).38 direaksikan dengan asam berair akan diperoleh kembali diol (7. Reaksi utama dari karbonil adalah adisi nukleofilik asil. dengan menggunakan pereaksi alcohol atau diol. Cara umum memproteksi gugus karbonil adalah dengan mengkonverinya menjadi ketal atau aseta. Dioksolana selanjutnya memungkinkan untuk mengkonversi ester menjadi gugus alkilidena 7.2-diol pada senyawa 7.41. Variasi reaksi ini antara lain meggunakan pereaksi diol yang menghasilkan ditioketal atau ditioasetat. 69 . seperti proteksi pada 1. Sebagai contoh sintesis dengan menggunakan asetal untuk memproteksi aldehida adalah pada senyawa 7. dan reaksi berikutnya dengan mereaksikan dengan basa membentuk senyawa alkena 7.4 proteksi aldehida dan keton Seperti halnya dengan alcohol. aldehida diperoleh kembali dengan menambahkan asam ptoluenasulfonat berair menjadi 7. Dua turunan yang umum adalah benzaldehida (membentuk benzilidena asetal) dan sikloheksanon (membentuk sikloheksilidena ketal). bila 7.40 sebagai dimetilasetal.37 dengan mereaksikannya dengan aseton dan kuprisulfat (CuSO4). reaksi iol dengan aldehida atau keton lain akan menghasilkan ketal atau asetal.hal ini dilakukan karena ugus karbonil yang merupakan bagian dari gugus fungsi dapat mengganggu salama reaksi berlangsung.Asetonida berguna dalam sintesis.

yang di ikuti reduksi terhadap laktam menjadi amina. Proteksi aldehida dan keton juga dapat dilakukan denga menggunakan 1. menggunakan 2.46 (yang membentuk 7.43 sebagai ketal (7.48. Cara yang paling umum untuk memecah turunan dioksana atau dioksolana adalah dengan mereaksikannya dengan asam berair. tetapi methanol merupakan alcohol yang paling umum digunakan. diproteksi terhadap karbonil menghasilkan kamforenon. seperti yang dilakukan oleh Money.3-sdioksana dibuat dengan mereaksikannya dengan 1.3-dioksolana dibentuk dengan mereaksikan karbonil dengan 1.47 dengan butyl litium dan juga konversi yang menghasilkan produk alcohol menjadi klorida 7.3-propanadiol untuk memproteksi keton 7. Deroteksi menghasilakan 7.49.45. proses ini dilanjutkan oleh reaksi olefin 7.( )-aspidosapermina.47).44). Sebagai contoh.3-propanadiol.2-diol dan 1.2dimetil-1. meliputih HCl dalam THF dan asam asetat berair.meyer memproteksi senyawa keton 7. Turunan 1.3-diol yang membentuk ketal siklis atau asetal siklis. 70 .7.Dalam kenyataannya banyak jenis alcohol yang dapat digunakan untuk menghasilkan asetal atau ketal.2-etanadiol. Variasi dapat dilakukan dalam memproteksi ketal dengan memasukkan subtituen alkil pada senyawa diol. dan 1.

biasanya dengan adanya basa seperti kalium karbonat (K2 CO3) atau hidroksida.7. Amina direaksikan dengan benzil klorida atau benzil bomida.3. Reaksi antara anhidrida asetat atau 71 .3 Proteksi Amina 7. Gugus ini stabil terhadap asam dan basa (Ph 1-12) dan terhadap nukleofil. 7.3.2 Gugus pelindung N-As Amida merupakan gugus pelindung yang paling umum digunakan untuk memproteksi amina. organologam. N-astil merupakan ggus pelindung amida yang sudah di kenal bak dan N-asilamina dikenal merupakan turunan asetamida (N-COCH3.hidrida.1 Gugus Pelindung N-Alkil Gugus alkil lain yang digunakan untuk melindungi nitrogen adalah benzil (N-CH2Ph.N-Ac). Cara penentuan lain adalah dengan mereaksikannya dengan natriium dalam amonia cair. dan asam Lewis. NBz). Ikatan N-C dapat diputus secaa hidrogenolisis katalitik atau pelarutan logam.

N-TFA). Trifluoroasetil umumnya di ikat brtdasarkan reaksi antara amina dengan anhidrida trifluoroastat (CCF3CO)2O) dengan adanya trietilamina atau piridin. Banyak gugus pelindung yang dikembangkan untuk memproteksi asam amino pada sintesis peptida. dengan adanya basa sperti piridin atau trietilamina. Gugus BOC biasanya dilepaskan dengan mereaksikannya dengan HCl berair atau dengan asam trifluoroasetat. Jenis gugus lain yang memproteksi amina adalah trifluoroasetamida (N-COCF3.asetil klorida dengan amina. 7. Gugus ini sensitive terhadap asan kuat.55).54 sebagai turunan BOC (7. pengganti tosilat dengan nukleofil belerang (manghasilkan 7. dilanjutkan dengan 72 . Contoh sederhana di tunjukkan pada proteksi asam amino 7.3 Gugus Pelindung N-karbamat Gugus pelindung lain untuk nitrogen adalah karbamat (N-CO-OR).56).3. akan menghasilkan asetamida.

57. dan gugus hidroksil diganti dengan gugus tiol. Gugus diikat oleh reaksi antara amina dengan benzil kloroformat (PhCH2 O2CCl) dengan adanya basa (karbonat berair atau trietilamina). 73 . terhadap asam Lewis dan terhadap sebagian besar hidrida (gugus tersebut bereaksi dengan LiAlH4 ). Karbamat lain yang popular adalahbenzil karbamat (N-CO2CH2Ph.Doprteksi dengan asam trifluoroasetat (suhu kamar 30 menit)yang akan menghasilkan amina 7. Gugus ini sensitive terhadap hidrolisis dengan hidrogenasi katalitik (pada karbon merupakan katalis yang umum di gunakan).terhadap nukleofil. Gugus sangat stabil terhadap asam dan basa (ph 1-12). terhadap organologam (tetapi gugus tersebut bereaksi dengan pereaksi organolitium dan pereaksi Grignard). N-CBz benziloksi karbonil).

gugus fungsi asam di perpanjang dengan satu karbon melalui penataan ulang Wolff. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasikan gugus pelindung tersebut menjadi gugus fungsi semula padatahap akhir sintesis. Gugus-gugus fungsi penting sebagian besar menyebabkan masalah reaktivitas adalah alcohol. tioasetal atau tioketal. atau ester. Keton dan aldehida biasya diproteksi dengan cara mengkonversinya menjadi asetal atau ketal.Fenilalanina (7. Asam karboksilat biasanya diproteksi sebagai ester. 74 .59).58) dikonversi menjadi turunan CBz (direaksikan dengan benzil kloroformat)dan kemudian direaksikan dengan diazometana menghasilkan diazoketon yang di proteksi CBz (7. KESIMPULAN Gugus pelindung berfungsi memproteksi atau memblokade satu gugus yang reaktis dengan mentransformasikan menjadi gugus fungsi baru yang tida mengganggu terhadap transformasi yang diinginkan. menghasilkan 7.61. atau turunan hidrazon.60.diproteksi dengan hydrogen menghasilkan 7. Pasangan electron pada amina dapat diproteksi dengan cara mengkonversi menjadi garam amonium.dan amina. asetal. Keasaman hydrogen alcohol dapat diproteksi dengan mengubahnya menjadi eter. keton.

PEN ERTIAN STRTEGIS SINTESIS Corey mencatat Beberapa contoh sintesis untuk menggambarkan sejarah sintesis.2 menjadi bagian -bagian yanga lebih sederhana. Robinson pada tahun 1917 mensintesis tropinom (8. Selama berthun-tahun terjadi peningkatan data tentang ciri ciri struktur dan sterokimia dari senyawa yang semakin kompleks. ia menghipotesiskan bahwa hidrolisi yang diperkirakan terhadap substrat (tropin) dapat diubah menjadi suksin aldehida.Perkin mensintesis terpinol (8.6). Wordward dan Doering mensintesis kuinina (8.4) sebagai target yang semula ia mengira bahwa senyawa yang kompleks tersebut tiak di ketahui apakah (8. 75  .3) yang dilakukan oleh Bachman pada tahun 1990 merupakan sinesis multilangkah pertama terhadap precursor stroid menjadi estron.2).5) atau strinina (8. Sintesis ekuilen(8.metilamina. dan aseton.1) dalam rangka untuk memastikan struktur sebenarnya dari bahan alam ini.BAB VIII STRATEGI SINTESIS 1. Analisis ini ternyata dapat dilakukan dengan cara mendiskoneksi 8. Pada tahun 1904.

atau teori-teori baru yang sangat penting dapat dihasilkan. Akan tetapi. Corey melibatkan LHASA (logic Heuristics Applied To Synthetic Anlysis) dengan tujuan membantu ahli kimia dalam perencanaan sintesis dan untuk mensintesis molekul-molekul yang kompleks.Corey memformulasikan termilogi untuk pendekatan sintesis ini.1 Alasan atau dasar pemikiran untuk sintesis total Pada dasarnya pemilihan target merupakan titik awal untuk sintesis.yang meliputi: 1. penemuan. Pendekatan ini disebut Retrosintesis. ada strategi lain yang dapat ditera pkan pada perencanaan sintesis. Pemilahan reaksi kimiayang spesifik untuk tranformasi satu intermedit sintesis ke langkah berikutnya 2. Pemilihan atau penentuan percobaan dan analisis. Pemilihan Pereaksi-pereaksi yang spesifik 3. penciptaan. dan retrosintsis ini dapat mempelajari sintesis suatu molekul sampai pada bahan awal yang relative sederhana yang kemudian skarang dikenal sebagai Pendekatan diskoneksi (atau syntom). Bentuk atau model percobaan 4. Selama mengamatan tahapan tersebut. PEMILIHAN TARGET 2. 2. Sintesis molekul organic biasanya dimulai dengan dua pertanayan : (1) Mengapa molekul ini dipilih sebagai target??dan (2) darimana kita harus memulai?? Jawaba terhadap (1) sering terletak pada n kebutuhan dan ketertarikan dari ahli kimia pensintesis. sehingga membuatnya menjadi suatu proses yang dapat di mengerti.Sekarang pendekatan diskoneksi di gunakan oleh sebagian besar ahli kimia bila mereka menghadapi masalah sintesis. Kesempatan belajar memberikan andil yanga besar terhadap langkah-langkah selanjutnya dalam pekerjaan sintesis. Molekul target dpt memiliki siat kimia dan biologi yang unik. 76 .

Pengembangan reaksi dan pereaksi baru. pengertian dasar sifat-sifat alami ikatan dan molekul 5. Tantangan struktur dan topologi. Criteria yang tertulis dibawah sering disebut sebagai karakteristik target sintesis yang penting.perlu ditambahkan molekul-molekul yang ditunjukan pada pendekatan merupakan contoh-contoh yang dapat mewakili organic yang jenisnya sangat banyak yang telah disintesis sebagai target. melihat kembali pemilihan target merupakan pemeriksaan pekerjaan yang sudah pernah dilakukan dan tidak memberikan nilai lebih. Banyak informasi yang diperoleh dari pengujian kriteria tersebut yang mungkin berguna untuk pendiskoneksian target.7) merupakan hormone pertumbuhan tanaman dengan kerangka karbon yang kompleks. Bagi ahli kimia. Demikian juga ringkasan alasan alasan yang melatarbelakangi sintesis perlu dipublikasikan.Uraian diatas memberikan jawaban yang dapat di terima terhadap pertanyaan (a). Studi analog 4.bkriteria tersebut mungkin berharga bagi ahli kimia yang baru pertama kali melakukan sintesis. Senyawa 6-deoksieritronolida B (8.2 verifikasi atau pengubahan struktur Feromon seks kecoa amerika.10 dan diberi nama periplanona B. meskipun studi yang dekat dengan sintesis tersebut akan memberikan nilai yang besar untuk memahami strategi perencanaan. Bila sintesis seperti tersebut dipublukasikan. yaitu: 1. Pendekatan diskoneksi dalam jumlah bentuk akan di gunakan dalam menjawab pertanyaan (b). meskipun tidak selalu dalam ringkasan diuraikan mengapa target dipilih. Kadang-kadang. Asam gibberelat (8. periplanita Americana. maka serangkaian reaksi langkah demi langkah yang digunakan untuk membentuk setiap molekul dilaporkan. Mitomisin C (8. ditunjukan oleh persoons mempunyai struktur 8.9) merupakan hasil alam alkaloid yang memiliki sifatsifat antitumor. Senyawa ini adalah bagian dari eritromisin yang merupakan antibiotik makrolida. 2. Verifikasi atau pengubahan struktur 2. Aktivitas biologis yang penting 3.8) merupakan aglikon lakton makrosiklik. Persoons mengisolasi 200 µg 77 . Cirri-ciri strukturnya yang berbeda memberika masalah-masalah sintetik yang unik.

Bandingkan cara ini dengan pendekatan diastereoselektif yang digunakan oleh Still. tetapi dengan empat pusat simetri sehingga terdapat 24 isomer (16 stereoisomer atau 8 pasang enantiomer) yang selanjutnya harus dipisahkan.000 kecoa betina yang kemudian dilanjutkan dengan determinasi struktur. yang akan menghasilkan hanya sedikit produk diastereomer. Perlu diketahui bahwa adanya isomer E dan Z untuk olefin pada setiap diastereomer akan menambah jumlah produk yang harus dipisahkan.10 dengan jalur multi langkah. Prostaglandin merupakan kelompok hasil bahan alam yang tidak jenuh.atau usaha-usaha komersial lain atau kemanusian.senyawa tersebut dari 75. Jika molekulmenunjukan adanya aktifitas biologis yang signifikan. Ini merupakan pendekatan umum. maka diupayakan menambah senyawa tersebut untuk keperluan pengujian atau struktur.10 belum terelusidasi.12. dan dalam hal ini target intermediet kunci 8. dengan tanpa mengontrol stereokimia. Still mensintesis 8. 78 . Semua prostaglandin (PG) diturunkan dari senyawa induk yang disebut asam prostanoat. dengan aktivitas biologis yang bermacam-macam dan manjur.pertanian. Sintesis total semua diastereomer yang dapat diterima dan membandingkannya dengan cuplikan asli. tetapi stereokimia 8. bidang Molekul yang penting dan diminati biasanya di isolasi dari sumber alam yang bsedikit. Empat stereoisomer disintesis. masih merupakan metode yang penting untuk menentukan struktur akhir. 8.3 Aktifitas Biologis Alasan nyata sintesis total adalah pentingnya senyawa target pada kedokteran. dan karakteristik spektra dan sifat fisik dari setiap stereoisomer diuji terhadap cuplikan periplanona B alami untuk menemukan isomer yang benar. masalah seperti ini dapat diselesaikan dengan membuat semua kemungkinan diastereomer sekaligus. asam lemak terhidroksilasi.11 digunakan untuk membuat semua diastereomer periplanona. dari semua produk dengan stereokonrrol yang dapat diterima (masuk akal). Berbeda dengan still yang fokus pada jalur sintesis. 2.

PGB. (3) ikatan rangkap dua ketiga antara CI7 dan Ct8 (pG3).4-benotiadiain-7-sulfonamida6-kloro-1. Modifikasi struktur menantarkan sintesis kloreksolan (8. 1. dst. Studi lebih lanjut menunjukan bahwa modifikasi struktur terhadap kerangka dasar dapat menghasilkan molekul dengan karakteristikyang berbeda dan molekul baru yang menjadi target sintesis. Terdapat juga gugus karbonil pada Cll dan C15 pada prostaglandin alami. Kelompok E (PGE) mempunyai gugus karbonil pada c9. Sejumlah prostaglandin menunjukan gejala tersebut. pGE. dan kelompok F (pGF) mempunyai gugus karbonil pada C10. bukan pada cincin yang mengandung gugus sulfonamida. 2. prostaglandin alami dibagi menjadi tiga kelompok: (1) satu ikatan rangkap dua antara C13 dan C14 (PGl). PGC. Klorotaizid adalah molekul dengan struktur kimia 2H. 79 . PGD. konversi cincin heterosiklik pada (8.Turunan-turunan tersebut adalah PGA. Modifikasi sintesis terhadap struktur yang diketahui dapat dipakai sebagai model dan mendorong untuk merancang target sintetik. Studi menunjukan bahwa penggantian (modifikasi) yang signifikan dalam profil farmakologis dapat dilakukan dengan penggantian pada cincin heterosiklik.14).13) menjadi senyawa Nsikloheksil laktam (8.2.13). Senyawa tersebut bersifat diuretic dan juga di gunakan untuk mengobati hipertensi.14) aka menghasilkan peningkatan kerja hipotensif dan kerja diuretik. (2) ikatan rangkap dua kedua anrara C5 dan C6 (PG2).4 Studi analog Target yang di minati atau yang mempunyai sifat aktif secara komersial sering memberikan akibat samping yang menggunakan atau tidak stabil pada penyimpangan dan penanganannya.1-dioksida(8.

80 .17 pertama kali di sintesis oleh paquette.16 menunjukkan bahwa banyak turunan yang terkait memiliki aktivitas antitumor yang meningkat.17) pada dasarnya adalah bentuk bola.ciri-ciri structural ) (8. menyadari keterbatasan tanang ilmu kimia yang di ketahui dalam pembentukan ikatan atau sifat-sifat dasar untuk molekul organic.16c) menaikkan potensi dosis. dan topologi ( bentuk.16a) adalah seaktif (8.5 Studi topologi Kadang-kadang suatu molekul bersifat sebagai target yang sangat menarik sehingga memberikan tantangan untuk dikaji dari segi struktur dan sifat-sifat kimianya. Sintesis sering mengajak kita menengok ke belakang.16 dan 8.15) mempunyai potensi yang besar sebagai agen anti tumor. Ditunjukan bahwa substituen lipofilik kecil pada kedudukan 5 (lihat 8. Studi secara sistematik turunan sintetik 8. 2.Alasan umum lain untuk pembuatan analog target adalah untuk mempelajari profil aktivitas struktur molekul dengan aktivitas biologi yang diketahui. Dorongan untuk sintesis ini adalah penelitian untuk mendapatkan obat yang manjur (mujarab). Asam vlafon-8-asetat (8.15) terhadap calon-38 tumor pada tikus dan memiliki kemanjuran dosis yang lebih. Ini merupakan kasus tipikal di mana senyawa yang diketahui dimodifikasi strukturnya berdasarkan pada sifat-sifat aktivitas struktur dari senyawa yang terkait. Denny dan Buguley menunjukan bahwa asam 9-okso-9H-xentena-4-asetat (8. Dodekahedran 8.

17 Senyawa 8.6 Reaksi baru dan pereaksi baru Pengembangan tranformasi kunci tidak mungkin seluruhnya dilakukan melalui reaksireaksi kimia seperti yang telah diketahui.19) bila direaksi dengan ion perak. Kadang-kadang daya cipta dan ilmu kimia baru muncul dari penyelesaian target sintetik seperti 8. Pada sintesis yang baru ini. 2. langkah kunci membutukan hidrolisis amida pada inermedit yang memiliki enam gugus eter. Contohnya adalah Sintesis vitamin B seperi yang dilaporkan oleh Woodward dan Eschenmoser. pekerjaan yang baru tersebut sering menunjukan bahwa pereaksi-pereaksi yang terlibat dapat di gunakan untuk berbagi tujuan lain. 81 . Pereaksi yang di kembangkan untuk tranformasi ini adalah -kloronitron (8. Dan biasanya penemuan baru dalam sintesis tersebut dapat diterapkan pada usaha sintetik senyawa iain. Pengembangan metodelogi baru atau modifikasi reaksi-reaksi yang ada harus di lakukan untuk memperoleh tranformasi yang di inginkan dalam menyempurnakan sintesis. Sekali di kembangkan.8.17.18) yang menghasilkan ion vinil nitronium( 8.17 mempunyai topologi sferikal super-polisiklopentanoid.

82 . dan hasil adisi siklo (8.20) digunakan sebagai pasangan diena pada reaksi Diels Alder.22 sebanyak 90%. Produk -produk akhir meliputi furan dan turunan alkuna.nitron (8. Sebagai pasangan adisi diubah dari alkena ke alkuna lain.20 menghasilkan produk adisi 8.21 dengan hasil 59% dan selanjutnya proses hidrolisis menghasilkan 8. Pada yang khas menunjukan. adisi siklo terhadap metilsikloheksena dan 8.23) ditransformasikan menjadi beberapa molekulsintetik yangberguna.

Namun demikian. Analisis yang mendalam terhadap struktur target 2. Penyumbang utama pada bilangan prioritas ini adalah 1. Pohon sintetik serupa yang dinyatakan oleh Hendrick. skema ini merupakan titik permulaan yang berguna. Retrosintesis 3. Intuisi yang baik tentang perkembangan ilmu kimia Informasi ini kemudian digunakan untuk diskoneksi ikatan-ikatan pada target. Pendekatan yang dimulai dengan analisis target akhir dan bekerja kearah belakang (bahan awal) dikenal dengan proses retrosintesis. Koneksi ikatan dengan satu atau lebih pusat asimetri Bilangan-bilangan prioritas tersebut berguna untuk moekul-molekul yang sederhana. yang akan membentuk ikatan tersebut pada sintesis. Bilangan-bilangan prioritas tidak dapat mengantisipasi masalah struktur kompleks. Gugus atom yang terikat pada ikatan 2. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 4. dan masing-masing merupakan target sintetik. Jika satu dari ikatan-ikatan tersebutdidiskoneksi. Penyederhanaan berikut (diskoneksi) akhirnya menghasilkan molekul yang dikenal yang tersia di pasaran. Pengetahuan dasar reaksi-reaksi kimia 3. Proses ini merupakan pohon sintetik untuk reaksi kimia yang harus ditindaklanjuti pada transformasi yang telah direncanakan untuk dilakukan. dan jawabannya membutuhkan: 1. dan stereokimia yang terdapat pada struktur kompleks. sepanjang alas an jalur reaksi kimia dapat diterima. didapat dengan cara kimia yang sederhana. pohon sintetik akan menghasilkan sejumlah bahan awal yang berasal dari satu atau lebih cabang-pertama. dan akan digunakan untuk mengenalkan konsep-konsep yang diingankan. Proses penyederhanaan struktur molekul diskoneksi menghasilkan serangkaian fragmen (penggalan) molekul yang bertindak sebagai intermediet kunci. Pengertian dasar stereokimia. Setelah beberapa retroreaksi. yang kemudian dapat digunakan untuk membentuk molekul. atau telah dibuat oleh orang lain. maka reaksi (serangkaian reaksi) harus tersedia.3. ikatan dan reaktivitas 4.1 Pendekatan synthon Bagaimana kita menganalisis target agar dapat menentukan bahan awal yang terbaik? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut penting untuk sintesis total. (To) didiskoneksi menjadi sekumpulan struktur yang dibatasi secara logika yang dapat dikonversikan menjadi pekerjaan sintetik tunggal (langkah reaksi) dan menjadi target sintetik. penyederhanaan struktur. Biasanya terdapat ikatan-ikatan tertentu dalam molekul yang memiliki diskoneksi pada pengarahan retrosintetik yang akan memberikan penyederhanaan struktur secara signifikan. Pengertian tersebut dikenal dengan ikatan-ikatan strategis. 83 . Subpohon lebih lanjut menyatakan diskoneksi dari salah satu cabang pohon sintetik. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 3. interaksi gugus fungsi.

diskoneksi ikatan k memberikan diskoneksi yang paling sederhana.31 paling tidak menghasilkan dua diskoneksi . maka analisis ikatan kedua memberikan prioritas diskoneksi untuk ikatan-ikatan k.27 menjadi 8. diskoneksi ikatan g menghasikan 8.28.Untuk molekul seperti 8. dan a.32 dan diskoneksi ikatan c menghasilkan dua fragmen yang dapat identik: 4-bromo asetaldehida (8. I. menghasilkan 8.34). Analisis ikatan baru 8.26.24. protocol prioritas ikatan menghasilkan ikatan -ikatan h. 4-bromobutan-1-ol. Diskoneksi ikatan h menghasikan 8.33) dan organokuprat yang diturunkan dari 3-bromo siklopentena (8.3.25 dan konversi menjadi fragmen-fragmen sintetik yang realistic menghasilkan paling tidak dua kemungkinan. 84 . transformasi gugus fungsi diperlukan untuk menkonversi 8. I.2. beberapa pilihan ini dapat dikembangkan dengan menentukan cabang pohon mana yang akan diikuti.30 dan 2-bromobutana (molekul real yang dihasilkan dari diskoneksi). dan m. Pertama. Dari analisi tersebut menghasilkan beberapa kesimpulan penting. pohon retrosintetik dapat dikaitkan dengan gambar 8. epoksida 8.33 menghasilkan bahan awal yang diketahui.26 menjadi 8. jika pohon sintetik dipangkas dan terfokus pada 8.27 atau -kloroketon 8. seperti yang ditunjukan pada gambar 8.29.29. atau j yang memiliki prioritas tertinggi. dan mengkonversi 8. transformasi gugus funsi 8.

29). setelah pemiihan ikatan yang akan didiskoneksi dan penentuan fragmen real (seperti 8.24. 4. Struktur target baru yang diperoleh dengan diskoneksi pertama dapat menghasilkan sekumpulan ikatan strategis yang berbeda. Juga penting disadari bahwa protocol doskoneksi dengan penomoran hanya diterapkan pada 8.Untuk menyempurnakan sintesis. pereaksi-pereaksi untuk setiap transformasi gugus fungsi reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon harus tersedia.1 Penegasan berbagai pendekatan strategi Diketahui bahwa diskoneksi hanya didasarkan pada kemampuan pembentukan kembali ikatan (diskoneksi dengan penomoran) tidak selalu dapat diterapkan pada target-target 85 . Proses ini dilanjutkan hingga bahan -bahan awal yang dapat dikenal dapat diperoeh. Hal penting yang peru diperhatikan adalah bahwa analisis retrosintetik hanya memberikan transformasi kunci dan bukan setiap langkah.Strategi sintetik 4. maka protocol diskoneksi ini harus dikerjakan lagi.

kompeks. Corey mendeskripsikan pendekatan yang luwes terhadap masalah-masalah tersebut yang digabung dalam program computer LHASA. Tujuan program ini adalah membantu menganaisis target sintetik yang kompeks. Program ini mendeskripsikan pendekatanpendekatan secara umum untuk membangun pohon sintetik dan juga mendeskripsikan ogika yang digunakan untuk membangun pohon sintetik tersebut. Modifikasi-modifikasi tersebut meliputi: 1. Interkonversi, melepaskan atau memasukan gugus-gugus fungsi 2. Perpanjangan atau penambahan rantai karbon 3. Pembentukan cincin (lingkar atomik) 4. Penataan ulang rantai atau anggota ingkar 5. Pemutusan rantai atau cincin Setiap fragmen struktur kimia yang dihasilkan oleh pohon sintetik harus memiliki sifatsifat kimia yang dapat diprediksi dan memungkinkan kombinasi pemilihan terhadap hanya satu dari banyak cara yang mungkin. Corey mendeskripsikan tiga metodologi untuk sintesis, yaitu asosiatif langsung, asosiatif intermediet, dan logika terpusat. Pendekatan asosiatif langsung melakukan diskoneksi target (seperti 8.34) pada ikatan yang menghasilkan struktur yang mudah dikenal oleh ahli kimia. Contoh, senyawa 8.34 memberikan fragmen-fragnen yang mudah dikenal yang didasarkan pada reaksi-reaksi yang sudah diketahui dengan baik. Reaksi retroDiels-Alder memberikan 8.36 dan 8.37. hidrolisis ester dan amida menghasilkan 8.38, 8.39, dan 8.35 pendekatan ini terbatas pada masalah-masalah sintesis sederhana.

Pendekatan asosiatif intermediet mengenal subunit atom pada target yang sesuai dengan bahan awal yang tersedia atau diketahui. Pendekatan logika terpusat menghasikan sekumpulan struktur yang terbatas yang dapat dikonversi dalam langkah tunggal menjadi target

86

4.2 LHASA LHASA menganalisis molekul dengan mengembangkan skema retrosintetik, dan menyediakan reaksi kimia yang tepat untuk mengerjakan sintesis tersebut. LHASA merupakan program interaktif yang mem perlihatkan target, yang dimanfaatkan oleh ahli kimia untuk memilih strategi sintetik.

5. PENDEKATAN STRATEGI IKATAN Bila sejumlah stategi yang tersedia diterapkan pada tugas pemutusan spesifik maka yang pertama dilakukan adalah terhadap ikatan (ikatan -ikatan) pada target. Corey membuat sejumlah aturan yang mengikat bersama-sama antara strategi dan tujuan analisis retrosintetik menjadi analisis strategi ikatan. Aturan-aturan rersebut memberikan wawasan ke dalam diskoneksi pertama terhadap molekul target yang akan ditentukan jika struktur cocok dengan penyelesaian sederhana. Sebelum strategi ikatan ditentukan, penyederhanaan kemungkinan dapat dilakukan jika molekul memiliki simetri, apakah secara struktural mempunyai kesamaan dengan motekul lain yang telah disi tesis sebelumnya, atau mempunyai satuan n satuan dalam struktur yang dapat diulang. Perlu dipahami bahwa aturan -aturan tersebut hanya merupakan garis besar. Analisis dimulai dengan suatu pemeriksaan untuk menentukan jika ada metode yang dapat menyederhanakan molekul. Penyederhanaan akan memperpendek sintesis dan analisis retrosintetik diperkirakan akan mengikuri jalur tersebut. salah satu contoh penerapan aturan pendekatan,straregi ikatan adalah sebagai berikut. Apakah ada simetri atau hampir simetri pada dua bagian molekul Jika ada, maka sintesis kemungkinan dapat disederhanakan dan kemudian menggabungkanbersama dua atau lebih bagian yang identik. Contoh yang baik adalah molekul C-toksiferin I (8.40) yang memiliki simetri hemisferis. Pada 8.40 bagian atas hemisfer identik dengan hemisfer bagian bawah. Telah diketahui jika 8.40 direaksikan derigan asam sulfat menghasilkan hernisfer tunggal yang menghasilkan kembali dimer bila direaksikan dengan natrium asetat panas. Sintesis satu hemisfer dan kernudian menggabungkan dua bagian yang identik tersebut sangat menyederhanakan sintesis secara keseluruhan.

87

6. STRATEGI SINTESIS TERSELEKSI Seperti yang telah dibahas pada subbab di atas, diskoneksi ikatan tunggal dapat menghasilkan sejurnlah skema sintesis berbeda. Sifat interaktif pendekatan memaksimalkan jalur sintesis, karena banyak jalan pintas sintesis berbeda yang mungkin dijalankan. Hal mi dirunjukkan pada sejumlah sintesis vernolefin, 8.41, suatu emanolida yang ridak umum yang diisolasi dan sejumlah tanaman, meliputi veronia hymenolipsis A. Rich (keluarga Compositea) dan dilaporkan mernpunyai sifat-silat antitumor. Sifat-sifat biologis awal yang menjanjikan mendorong untuk melakukan sintesis total. Ada empat ahli kimia yang melakukan analisis retrosintetik terhadap senyawa vernolepin. Dua analisis retrosintetik di antaranya dilakukan oleh Danishefsky dan Grieco yang masingmasing ditunjukkan pada Gasnbar 8.4 dan 8.5.

Analisis 8.41 melalui aturan Corey menyatakan bahwa 1, 5,7,9, 11, 12, 13, dan 15 sebagai ikatan-ikatan strategis. Ikatan-ikatan 16, 17, dan 18 dapat juga dianggap strategis. Ikatan-ikatan 3 dan 13 merupakan hubungan ester yang labil dan strategis melalui pertukaran antar gugus fungsi. Pada Gambar 8.4, Denishefsky menggunakan ikatan -ikatan 1, 3, 5, 8, 10, 13, 17, 18, dan 15 untuk diskoneksi. Pada awal anaitsis hanya ikatan -ikatan 8, 10, dan 19 tidak strategis, sehingga ikatan-ikatan 8 dan 10 didiskoneksi terakhir pada retrosintesis, dan ikatan 19 didiskoneksi dengan transformasi gugus fiangsi. Diskoneksi pertama melepaskan gugus labil lakton -metilena yang menghasilkan 8.42. Diskoneksi berikutnya adalah penukaran gugus fungsi yang memberikan ekuivalen lakton asiklis (8.43) yang kemudian diikuti diskoneksi menjadi 8.44. Epolcsida berfu ngsi sebagai synthon untuk koneksi cincin lakton C. Gugus vinil didiskoneksi menjadi aldehida, dan didiskoneksi menjadi 8.45 yang terikat kembali dengan vinil dan gugus hidroksil pada cincin B, diikuti diskoneksi cincin A. 8.46 sikloheksena berperan sebaga ekuivalen sintetik untuk cincin lakton A. Diskoneksi i menjadi 8.47 menunjukkan bagaimana gugus fungsi meinbentuk cincin B, dan diskoneksi menjadi 8.48 menunjukkan bahwa cincin B merupakan unit bangunan dasar, yang dapar dibentuk melalui reaksi Diels-Alder dari butadiena dan metil propiolat.

88

dan 19. 13. Grieco menggunakan ikatan 15.42. seperti langkah yang dilakukan oleh Danishefsky.41.51 menghasilkan ekuivalen vinil yang berbeda dari yang digunakan Danishefsky. 5.51 kenyataannya adalah ekuivalen dengan ikatanikatan 1 dan 2 pada 8. tetapi ikatan ikatan 3 dan 13 kemudian didiskoneksi menghasilkan 8. ikatan -ikatan yan digunakan adalah 1. Diskoneksi berikutnya menghasilkan 8. 17. Diskoneksi pertama adalah menjadi 8.52.51 dan 8.50. tetapi juga sebagai bagian untuk cincin A. Cincin C menggunakan gugus dimetit-2-butenil 89 . 18.Pada analisis retrosintetik yang dikerjakan oleh Grieco (Gambar 8. 3.5). Gugus metoksi pada 8. Perlu diperhatikan sikloheksena tidak hanya berfungsi sebagai ekuivalen vinil. Diskoneksi berikurnya diserta dengan pelepasan ikatan 19 pada 8.

285).Am.Sebagai kerangka karbon yang ekuivalen pada 8. 90 ..¶diskoneksi tahap terakhir. Skema keseluruhan ini mirip dengan Danishefsky pada tahapan awal. 1985.Soc.55 dan 8. diskoneksi 8. J.54 menunjukkan bahwa cincin A dan B dibentuk dari 8. tetapi benbeda secara signifikan pada diskoneksi.56.51. Berikut dicontohkan sintesis total dan metil ester dari Vineomisinon B2 sebagai antibiotik antrasiklin (Danishefsky. 107.

Marhan Sitorus) 91 . Hardjono dkk. Kimia Organik Fisik. Stuart Warren. y Sastrohamidjojo.com/sintesis-organic/html. y Stuart Waren.goggle.DAFTAR PUSTAKA y http://www.2009.Jakarta : Erlangga. Sintesis Organic. Organic Synthesis [Download] Senyawa y (Adapted by: Organic Synthesis :The disconnection Approach.

TAKASIHAENG ANGGI TUMILANTOW SEPTANI POLII YARDI HARUN BAB IV DIMANUEL ZET BORON ELVANDER ST.NAMA KELOMPOK BAB 1 JULIANUS HONTONG DEYSI RIA TANGIAN RUSPIN ARUNG SAMPE APRIANA MARA BAB II ISAK IWAMONY MERLINA LUMOWA FENI BUBALA NURLELI HASYIM BAB III VIVI C E. J KUMOKONG FRIMA RINDENGAN MEIVIRA TAMPONGANGOI 92 .

BAB V LEKUNURU KALENSANG JOUN ALLEIN TINDAGE HENDRA PAAT ASTRIA WOWORUNTU BAB VI RANDY LENGKEY RIA TUMAKAKA RADIA KAMALUDIN ANGELINA MANUS BAB VII NANSI MOMONGAN JELTYANI GUMOLUNG EPIL MUNTIA CHRISTEL KORENGKENG BAB VIII IYEN IRALA LINA TASIM RESA GERUNGAN MAYO GANSARENG 93 .

94 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful