BAB 1 RUANG LINGKUP SINTESIS KIMIA ORGANIK

Latar Belakang Berabad-abad para ahli mengira bahwa senyawa yang terjadi dalam jasad hidup berbeda dengan senyawa lainnya karena adanya semacam gaya gaib (Vital Force). Gagasan ini menyebabkan ahli kimia tidak mencoba membuat senyawa organik di laboratorium. Tetapi pada thun 1928, ahli kimia Jerman, Friedrich Wohler, pada saat itu berumur 28 tahun, secara kebetulan membuat urea, yakni unsur penting dalam urine, dengan memanaskan zat anorganik (mineral) yaitu amonium sianat. Ia begitu gembira dengan hasilnya, lalu menulis surat kepada gurunya, ahli kmia swedia J.J. Berzelius sebagai berikut: ³saya bisa membuat urea tanpa memerlukan sebuah ginjal atau manusia atau hewan´. Percobaan ini dan yang serupa lainnya sedikit demi sedikit melenyapkan (Vital Force) dan membuka jalan menuju dunia kimia organik sintetik moderen. Sintesis biasanya terdiri dari penggabungan kepingn kecil dan sederhana menjadi molekul besar yang kompleks. Untuk membuat sebuah molekul yang mengandung banyak atom dari molekul-molekul yang mengandung atom lebih sedikit, perlu diketahui bagaimana membuat dan memecah ikatan kimia. Walau sintesis urea dari Wohler suatu kebetulan, sintesis akan lebih efektif dan terkendali jika dilakukan dengan cara-cara yang rasional, sehingga semua atom tersusun, mereka akan berhubungan satu samalainya dengan benar dan menghasilkan produk yang dihasilkan. Ikatan kimia dibuat dan dipecah melalui reaksi-reaksi kimia. Dengan demikian kita dapat mempelajari bagaimana menyambung molekul-molekul secara spesific, suatu pengetahuan yang sangat berguna dalam sintesis. Pada saat ini sejumlah senyawa organik yang telah disintesis dalam laboratorium dan industri kimia jauh lebih banyak dari pada yang diisolasi (dipisahkan) dari alam-tetumbuhan dan hewan. Ada beberapa alasan mengapa penting sekali mensintesis molekul. Pertama, dapat mensintesis produk alam dilaboratorium dengan mudah, dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pemisahan dari alam. Contoh senyawa yang mula-mula di isolasi dari alam dan sekarang diproduksi secara sintesis untuk tujuan komersil adalah vitamin-vitamin, asam amino, zat-zat warna, kamper penghalau ngengat, penisilin antibiotika dan lain-lain. Sekalipun istilah sintetis kadang menyiratkan arti 'palsu', produkproduk alam sintesis pada kenyataanya identik dengan senyawa yang dipisahkan dari alam. Alasan lain untuk sintesis ialah menciptakan zat-zat baru yang mungkin mempunyai sifat-sifat lebih berguna dibanding dengan hasil-hasil alami. Serat sintetik seperti nyilon dan orlon, misalnya mempunyai sifat tertentu yang lebih berguna dan lebih baik dari serat alami seperti sutra, kapas dan sisal. Banyak senyawa dalam obat-obatan adalah sintetik (termasuk
1

aspirin, eter, novocain dan barbiturat). Daftar produk sintetik yang kita kenal dalam masyarakat industri antara lain adalah plastik, deterjen, insektisida dan tablat-tablet kontraseptik. Semua produk tersebut merupakan senyawa karbon atau senyawa organik. Akhirnya, kimiawan organik kadang-kadang mensintesis senyawa baru untuk menguji teori-teori kimia dan kadang tidak mempunyai tujuan khusus sama sekali. Beberapa struktur geometrik, misalnya mempunyai nilai-nilai estetis yang baik, dan merupakan tantangan untuk dapat membuatnya.

Dalam mempelajari sintesis senyawa organik,kita harus juga melibatkan prespektif yang lebih luas, yaitu industri vs sintesis laboratorium, keterbatasan waktu, pertimbangan teknisekonomis, dan perbedaan mendasar dari kriteria yang akan digunakan dalam pemilihan metode sintesis. Tiga contoh yang menunjukkan paradigma tersebut adalah sintesis senyawa siklobutadiena(1.1) asam gibberelat(1.2) dan akrilonitril(1.3). Sintesis molekul dengan reaktivitas tinggi seperti siklobutadiena memerlukan kondisi reaksi yang mungkin hanya diketahui dan dipahami oleh orang-orang tertentu ,karena reaksi tersebut harus di lakukan pada suhu -260oC. Sintesis ini melibatkan eliminasi fotokimia karbon dioksida dari perkusor lakton bisiklis dalam matriks argon padat. Pertimbangan ekonomi sungguh tidak relevan; tujuannya hanya untuk mendapatkan senyawa, sedangkan biaya dan usaha yang harus di bayar tidak dipikirkan. Asam gibberalt adalah contoh keberhasilan ahli kimia sintesis karena dibutuhkan 41 langkah untuk mensintesis total senyawa tersebut. Ini merupakan satu prestasi intelektual yang hebat dan mendemonstrasikan kekuatan dari sintesis senyawa organik. Ahli kimia sintesis secara akademik memang akan termotivasi oleh keindahan mensintesis suatu senyawa, tetapi mereka pun sangat mudah untuk kehilangan kontak dengan dunia nyata yaitu bahwa ilmu kimia harus diaplikasikan. Pertimbangan ekonomi mserupakan bagian terpenting dalam preparasi industri pada skala yang besar, dengan syarat meliputi proses yang jelas dean sederhana, biaya sintesis sedapat mungkin rendah, dan reaksi diupayakan berjalan dalam satu langkah. Namun demikian, hal ini dapat terjadi pada kondisi reaksi sangat spesifik (ekstrem) seperti metode aliran-kontinu, reaksi dengan orde detik dan suhu mencapai 500-700 0C, contohnya pada sintesis senyawa akrilonitril. Contoh di atas menunjukan variasi yang khas dari kondisi yang terlibat dalam sintesis senyawa organik. Hal-hal yang dipelajari dalam sintesis senyawa organik, untuk memberikan pwnjelasan tentang filosofi sintesis dan metodologi yang menyangkut bagaimana menyiapkan desain suatu molekul organik, di tambah metode tertentu dan kriteria umum yang diperlukan agar reaksi tersebut dapat berjalan.

2

Dalam sintesis senyawa organik, beberapa reaksi yang spesifik akan menjadi pokok bahasan dengan disertai penjelasan, perluasan, atau pensistematikan transformasi gugus fungsi. Proses membangun kerangka karbon, oksidasi dan reduksi, penggunaan reaksi organologam, serta interkonversi, aktivitas dan proteksi gugus fungsi merupan topik yang akan dibahas.

1.3.1 Reaksi sintesis Kemungkinan terbuka bagi ahli kimia sintesis adalah memanfaatkan sebesar mungkin apa yang diketahuinya secara lebih mendalam tentang ketersedian seleksi reaksi kimia. Woodward mengatakan bahwa ahli kimia organik telah menunjukan pentingnya transformasi sintesis dalam bidang sintesis senyawa organik. Syarat dalam merancang jalur sintesis yaitu:
y Telah diketahui y Dapat diprediksi dan sangat dibutuhkan.

Sintesis dalam menggunakan pereaksi organologam, baik menggunakan logam berat maupun logam transisi, telah secara mantap dibuat dalam skala pabrik. Oleh karena itu, penerapan sintesis dari kompleks precious-metal juga berkembang pesat dan memungkinkan untuk membangun transformasi senyawa organik yang berguna secara sintetik. penggunaan senyawa heterosiklik dalam sintesis senyawa organik merupakan perkembangan yang banyak memberikan sumbangan pada ilmu sintesis senyawa organik. 1.3.2 teknik sintesis Katalis tranfer fase adalah salah satu teknik sintesis, dengan dua versi, yaitu menggunakan garam amonium kuarterner dan penggunaan katalis makrosiklik, seperti eter mahkota dan poliamin makrosiklik. Reaksi tranfer fase secara klasik harus dianggap sebagai keadaan yang dinamis, yaitu sintesis interfasial. Selain katalis tranfer fase cair cair, juga termasuk didalamnya reaksi yang terjadi pada gas-cairan, bidang batas padatan-cairan atau gas-padat, reaksi pada fase koloid, dan topokimia pada multilapisan. Tonggak penting dalam bidang teknik sintesis adalah pengenalan reaksi terbantu polimer(polimer supported reaction). Pengaruh faktor fisik luar juga telah terasa dalam sintesis melalui penggunaan arus listrik untuk mendorong reaksi seperti pada elektrolisis kolbe. Namun demikian, jumlah dan variasi dari transformasi sintesis yang dipromosikan oleh arus listrik sekarang cukup banyak, sering menghasilkan reaksi kimia yang baik sehingga sering di kenal dengan istilah ³elektrosintesis´ dan bahkan sudah dilakukan dalam skala pabrik. Cahaya sebagai faktor fisik, menghasilkan hasil reaksi fotokimia yang merupakan bagian penting dalam sintesis senyawa organik.
3

Atom ini menentukan reaktifitas polar rantai karbon yang mengikatnya.3 faktor tiga dimensi dalam sintesis senyawa organik Dalam mempelajari sintesis senyawa organik adalah pertimbangan dari adanya faktor tiga dimensi.Yang terakhir dan merupakan bidang yang berkembang sangat pesat yang terkait dengan bidang biokimia adalah penggunaan enzim dalam sintesis senyawa organik.3. dan total kemospesifik. Pendekatan sintesis stereoselektif lainnya adalah penggunaan katalis khiral dan bukannya pereaksi khiral. 1.katalis tranfer fase khiral khususnya memberikan enantiomerik yang sangat baik dengan garam amonium kuarterner dan eter mahkota. Yaitu fragmentasi molekul pada spektometer massa adalah proses pemutusan ikatan. Setiap penjelasan sintesis senyawa organik harus memasukkan aspek stereokimianya sehingga menimbulkan gejelah bahwa sintesis stereoselektif berkembang sangat cepat. 1.reaksi yang didorong oleh enzim sebagai biokatilis mempunyai kelebihan dibandingkan dengan reaksi organik murni.3. 1. Jadi skema fragmentasi dari molekul dalam spektrum massa memungkinkan desain dari jalur sintesis untuk senyawa tersebut. 1.5 Analisis Retrosintesis Dua tahap yang memberikan kemajuan strategi sintesis. 1. terhindari dari rreaksi penataan ulang dan rasemisasi.3.3. yaitu desain metodelogi dengan cara analisis retrosintesis. Pertama adalah konsep synton yang didefinisikan oleh Corey sebagai unit struktur dalam molekul yang terkait pada kemungkinan operasi sintesis. laju reaksi sampai 1012 kali lebih cepat. Yang kedua. yaitu kondisi sangat lunak(mild)misalnya pH dan suhu fisiologi. dengan pusat donor dan akseptor yang umumnya dalam posisi rantai. adalah konsep inversi polaritas atau umpolung.7 Desain dengan bantuan komputer (computer-aided design) 4 . Desain sintesis merupakan rasionalisasi menyeluruh dan penyederhanaan atas kejelasan reaktan dengan reaktifitas normal dan kebalikannya. maka dapat diparalelkan dengan degradasi molekular. regiospesifik. yang akan menghasilkan kemungkinan sintesis yang dapat dipertimbangkan.6 Sintesis Spektra masa retro Kametani menciptakan metode yang dinamakan retro mass spectra synthesis. Synton merupakan unit yang dapat dibentuk atau dirangkai berdasarkan reaksi sintesis yang dikenal.3. Prosedur penentuan inversi polaritas tersebut dihasilkan pada proses kebalikannya. atau dengan kata lain katalis akan mengarahkan reaksi hanya pada satu jalur reaksi. Pengaruh stereokimia dari reaksi sintesis klasik dan kelebihan dari pereaksi dan metode baru yang berpengaruh terhadap stereoselektivitas berkembang sangat cepat.4 desain sintesis Dalam mempelajari sintesis organik adalah harus melibatkan rencana dan strategi.

Inti dari pendekatan ini adalah asumsi bahwa reaksi organik dapat diperlakukan sebagai pemutusan dan pembentukan. berupa usulan yang dibuat oleh mesin.EROS (Elaboration of Reaction for Organic Synthesis) merupakan program komputer yang dapat memberikan reasoning tanpa dibatasi oleh jumlah file reaksi. 5 . serta meletakkan pertimbangan pada pergeseran elektron. meliputi metode untuk mengatasi arsitektur molekular yang dihasilkan. Komputer dapat memunculkan transformasi sintesis dengan prinsip menyajikan reaksi yang masuk akal.

 DISKONEKSI DENGAN PENOMORAN 6 . asam pentanoat (2.  Transformasi didefenisikan sebagai perubahan tepat dari suatu reaksi sintesis Sebagai contoh.8) . dan diskoneksi ikatan karbonkarbon menghasilkan 1Pentanol (2.B B R R  Perubahan gugus fungsi merupakan tranformasi dari satu gugus fungsi menjadi gugus fungsi yang lain.7) sebagai target sintesis.

Ikatan-ikatan akan dibentuk oleh reaksi yang melibatkan intermediat(zat antara) ionik . dan reaksi yang real akan digunakan untuk menentukan ikatan yang didiskoneksi dengan benar dalam sintesis. ikatan-ikatan kunci akan dibentuk melalui sejumlah reaksi 2. Kedua pendiskoneksianyang mungkin ini harus ermati.reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya dan merupakan kebalikan dari sintetik (retrosintetik). yaitu: 1.27.22 akan menghasilkan 2 fragmen (hasil diskoneksi) 2. Pendiskoneksian ikatan 1 pada 2. ada dua asumsi yang dibuat. untuk menyelesaikan masaalah ini.26 dan 2. Kedudukan atom ± atom donor di beri tanda dengan huruf d.24 dan 2. evaluasi yang di ingikan adalah suatu molekul yang real.25.23 menghasilkan fragmen 2. Pendiskoneksian ikatan dua pada gambar di bawah akan menghasilkan fragmen 1 dan 2. dan kedudukan atom ±atom akseptor di beri tanda dengan huruf a. 7 . Pendiskoneksian ikatan 2 pada 2.

dan kedudukan C ekkivalen dengan karbon elektrofilik pada alkil halida A.  Pengertian Ekuvalensi sintetik Merupakan fragmen molekul yang ekuvalen dengan molekul real berdasarkan atas d keidentikan reaktivitas kimianya sebagai contoh. Senyawa organik pada umumnya dihasilkan oleh organisme hidup. Enzim ini tentu saja sangat spesifik. Sintesis Organik.29 dan 2. Ada dua jenis produk metabolisme yaitu metabolit primer dan sekunder. hasil diskoneksi 2. kedudukan C .30 atau 2. Kandungan senyawa organik dalam metabolit sekunder pada makhluk hidup 8 .24 dan 2. Biosintesis atau lebih dikenal dengan istilah metabolisme sehingga produk sintesisnya dikenal dengan nama metabolit.25 masing ± masing menjadi 2.Sebagai contoh.32. senyawa organik disintesis melalui proses biosintesis dan dikatalisis oleh biokatalis yg disebut enzim. Dalam tubuh makhluk hidup. adalah ekuvalen dengan C a parsial pada reaksi griknard.

Mengenal gugus fungsional dan molekul target (MT) b. Proses semisintetik mencakup transformasi metabolit primer dan sekunder menjadi senyawa lain yang lebih bermanfaat. jelaslah bahwa diskoneksi pada hakekatnya adalah merupakan kebalikan langkah sintetik (retrosintesis). Bila tidak berhasil dalam sintesis dilakukan pengkajian ulang analisis. struktur molekul yang akan disintesis ditentukan terlebih dahulu yang dikenal sebagai molekul target (MT). Membuat rencana berdasarkan analisis Starting Material dan kondisi sintesis. Ikatan yang didiskoneksi adalah yang diyakini reaksi tersebut dapat dapat berlangsung berdasarkan kaedah -kaedah dan jenis-jenis reaksi yang mungkin. b. dari penjelasan ini. Analisis : a. di laboratorium tentu sangat sulit sehingga prosesnya lebih tepat bila disebut sebagai proses semisintetik (Sitorus :2008). 2. sehingga ahli kimia organik berusaha mensintesis senyawa yang sama. Retrosintesis Merupakan teknik pemecahan masalah untuk mengubah struktur dari molekul target sintesis menjadi bahan-bahan yang lebih sederhana melalui jalur yang berakhir pada suatu material start ysng sesuai dan mudah didapatkan untuk keperluan sintesis(Smith. Dengan demikian hal yang mutlak harus dipahami agar sukses dalam melakukan sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah memahami reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya. padahal kebutuhan akan senyawa-senyawa organik terus meningkat. mirip atau berfungsi mirip di laboratorium .1994)Dengan cara ini. Memastikan bahwa reagen pereaksi hasil pemutusan (sinton) tersedia sebagai starting Material. Sintesis : a. 9 . karena reaksoi senyawa organik tidak lain dan tidak bukan adalah transformasi gugus fungsional. Melakukan diskoneksi dengan metode yang berhubungan dengan reaksi-reaksi yang mungkin.relatif rendah. B. Diskoneksi merupakan operasi balik suatu reaksi melalui suatu pembelahan yang Pedoman yang sangat penting untuk meripta suatu sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah sebagai berikut : 1. Ada kalanya pada waktu melakukan analisis terhadap bahan awal (Starting Material) hasil diskoneksi harus diperoleh dari suatu hasil sintetik yang dikenal dengan IGF tadi. c. selanjutnya MT dipecah/dipotong/diputus dengan seri diskoneksi.

Retrosintesis Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam retrosistesis ialah sebagai berikut: 1. Telah diketahui 3.Menentukan kedudukan kaarbon yang terkandung dalam bahan awal yang terdapat pada target. Diskoneksi ikatan yang memberikan penyederhanaan secara maksimum. kesimpulan Cara penyelesaian masalah untuk transformasi dari suatu target molekul sintetik. 10 . Menentukan kedudukan pasangan ion intermediate yang paling cocok untuk menyepurnakan sintesis ikatan karbon-karbon yang diinginkan . 4. 2. 3. Rancangan 2. Menggunakan konsep donor ±akseptor untukn mengubah hasil-hasil diskoneksi menjadi bagian-bagian nukleofilik dan elektrofilik.melalui serangkaian tahapan reaksi yang akhirnya akan menuju pada bahan awal yang sederhana atau bahan awal yang dapat diperoleh dengan mudah Pendekatan retrosintesis untuk sintesis dengan bahan awal yang sudah diketahui meliputi: 1. Dapat diprediksi produk yang akan terjadi.

BAB III ASAM BASA DAN TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI A. Penerapan perubahan gugus fungsi pada sintesis dapat digambarkan pada kasus sintesis berikut. eliminasi. substitusi. Serngkaian adisi ini menggunakan lima macam tipe reaksi utama yaitu asam/basa. 11 .1) menjadi bromohidrin (3. Namun demikian.2) hanya membutuhkan langka transformasi gugus fungsi. keduanya menggambarkan reaksi eliminasi dan reaksi asam/basa. masalah yang mendapatkan perhatian besar adalah pembentukan kerangka karbon dengan cara reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon. TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI Dalam sentesis.4) melalui reaksi substitusi. reduksi.2 yang menggambarkan reaksi adisi. Konversi sikloheksanon (3. Reaksi terakhir dengan asam hipobromida menghasilkan 3. reaksi kimia dalam sintesis meliputi penggabungan gugus fungsi atau penggantian gugus fungsi. Berikutnya adalah reaksi fosfor tribromida yang memberikan bromide (3.5). da adisi.3) melalui reaks adisi asil. Reaksi awal keton dengan litium aluminium hidrida (LiAlH4 ) menghasilkan alcohol (3. Basa akan mengeliminasi dan memberikan alkena (3.

Pada table periodic . 12 . merupakan pernyataan umum penulisan reaksi asam/basa : HA + B: HB+ + A+ Asam (HA) bereaksi dengan basa (B:) menghasilkan asam terkonjugasi HB (CA) dan basa terkonjugasi A (CB). Jika basa pada keadaan tersebut sangat lemah untuk melepaskan proton asam HA.0 Terdapat dua definisi keasaman/kebasaan : asa lewis merupakan penerima pasangan electron dan asam Bronsted -lowry merupakan pemberi proton sedangkan basa lewis merupakan pemberi pasangan electron dan basa Bronstedlowry merupakan penerima proton.A. CH4 < NH3 < H2O < HF Asam lemah Asam kuat CH3.pada umumnya keasaman naik ke kanan. KEASAMAN PADA MOLEKUL ORGANIK Reaksi HA dan B membentuk HB+ dan A-. dan H2O < H2S pKa : 3. Etanol merupakan asam konjugat yang merupakan asam yang cukup kuat untuk memprotonasi hasil enolat basa. HF < HC < HBr < HI. meiputi stabilitas relative asam (HX) dan asam konjugat (HB+) Pembentukan enolat (CB)dari 2-butanol (A) dengan natrium etoksida (B)dalam etanol merupakan reaksi yang dapat balik. asam kuat menghasilkan basa konjugat yang lemah. maka HA dapat dipandang sebagai asam lemah dalam system. meskipun keelektronegatifitasnya menurun. dan tingkat kesetimbangan sebanding dengan keasaman HA. dan asam lemah menghasilkan basa konjugat yang kuat. Hal ini memacu kondisi kesetimbangan yang mengarah pada enolat yang lebih stabil. Kedudukan keasaman bergantung pada banyak factor. kebasaan naik dari kiri ke kanan. Tingkat ionisasi merupakan ukuran keasaman HA.0 -7 -9 -10 15. b. Pada umumnya.74 7. c.> NH2->HO Sebagai konsekuensi hal tersebut. Keasaman naik dari atas ke bawah. Sejumlah factor yang mempengaruhi kekuatan asam dan hargan K dijelaskan a berikut ini: a.

logam natrium. dan n merupakan valensi normal dari M. maka induksi dapat mempengaruhi karbon beta pada elektrofilik ikatan phi. Terdapat banyak jenis basa yang digunakan dala kimia organic. Terdapat dua tipe pokok reaksi : y Karbonil yang tidak mengandung gugus pergi. Ammonia dapat deprotonasi oleh basa yang sangat kuat seperti pereaksi Grignard dan organolithium yang menghasilkan basa amida.Asam lewis umumnya dinyatakan dalam bentuk MXn. Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan phi. Kekuatan basa biasanya dinyatakan oleh pKa dari asam konjugatnya. asam MXn menunjukan sifat-sift keasaman dalam reaksi kesetimbangan: MXn Asam B basa MXn-Bhasil adisi B. Adisi Asil Nukleofilik 1) Pengikatan nukleofilik Nukleofil didefinisikan sebagai spesies yang dapat memberikan sepasan electron pada karbon dan membentuk ikatan baru dengan karbon. Karena ikatan karbon bersifat kuat dan sukar putus maka reaksi kebalikannya lebih sukar. natrium dan kalium amida. metoksida. X merupakan ligan (atom halogen. C. kalium hidrida. misalnya aldehida dan keton y Karbonil yang mengandung gugus pergi. s 13 . t-butoksida dalam t-butanol). misalnya turunan asam. Basa yang digunakan untuk mendeprotonasi air atau alcohol adalah natrium hidrida. yang merupakan basa yang sangat umum dan sering digunakan dalam pelarut alcohol (metoksida dalam methanol. natrium dan kalium hidroksida. 2) Adisi Asil pada karbonil tanpa gugus pergi Adisi nukleofilik pada karbonil cenderung reversible jika spesies nukleofilik yang mengikatnya juga merupakan gugus pergi yang baik seperti reaksi adisi air atau hidroksida pada karbonil. sedangkan M menyatakan logam. dan kemungkinan dapat terjadi pengikatan nukleofilik. atau fosfin ). amina.maka ikatan karbon-karbon dapat di bentuk. Bila NaC=CCH3 bereaksi dengan karbonil. Kebasaan Molekul Organik Kekuatan relative basa di pengaruhi oleh factor yang sama seperti asam. dan t-butoksida. Deproton alcohol memberikan basa asi alkoksida. Kesanggupan nukleofil mengikat elektrofil akan bergantung pada kekuatan nukleofil dan sifat substrat karbonil.

11 14 .10).6 memberikan hasil adisi 3. Pada kondisi basa. yaitu anion enolat (3.asam yang dibentuk diubah menjadi anion hidroksida. Jenis reaksi ini dikenal sebagai adisi konjugasi atau adisi Michael yang dipacu dengan pembentukan hasil yang distabilkan oleh resonansi. Bila karbonil mengikat gugus pergi seperti klor. maka pengaruh induksi akan membuat karbon terminal dari alkena elektronik. maka klor dan gugus alkoksi berfungsi sebagai gugus pergi.maka adisi asil awal oleh hidroksida menghasikan 3. hidrolisis akan memberikan hasil akhir adisi. yaitu keton 3. Sebagai hasil adalah reaksi subsitusi dimana nukleofil menggantikan klor pada karbonil.8 memudahkan pembentukan ikatan baru asam benzoate. 4) Adisi konjugasi Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan dari alkena (seperti 3.Berdasarkan alasan ini.9).dan adisi nukleofilik heteroatom bersifat reversible.6) yang mula-mula dibentuk tidak melepaskan asetilida hingga adisi ireversibel dan hidrolisis 3. Pada umumnya adisi nukeofil karbon pada karbonil bersifat ireversibel. dan menjadi kedudukan yang cenderung diikat oleh nukleofil. alkoksida (3.8 yang diikuti dengan reaksi eliminasi. Jika nukleofil mengikat karbonil.7. 3) Adisi asil pada karbonil dengan gugus pergi (subsitusi asil) Turunan asam karboksilat seperti asam klorida dan ester di tandai oleh karbonil yang mengikat klor atau gugus OR. Pelepasan gugus pergi klorida dari 3.

Pelarut dibagi menjadi dua kelompok. dan juga menyerap panas berlebih yang dilepaskan oleh reaksi. Proses bimolekul tergantung pada sifat substrat (molekul yang mengandung pusat nukleofil). Ukuran yang baik untuk menyatakan kesanggupan pelaru untuk memisahkan ion-ion ini adalah tetapan dielektrik. maka pengika terhadap karbon kuat. Yang sangat menentukan adalah kesanggupannya melarutkan dan memisahkan ion-ion (solvasi). Dalam 15 . maka pengikatan pada karbon asil menjadi sukar dan adisi konjugasi berlangsung sangat kompetif. Nukleofil/basa   lebih Jika nukleofil kuat.9 terhalang. Pada setiap kelompok. sehingga proses bimolekuler lebih memungkingkan terjadi. yaitu pelarut yang mengandung proton (X-H. Pelarut Pelarut digunakan untuk melarutkan semua reaksi. Perbedaan utama antar pelarut protik dan pelarut aprotik adalah kesanggupan pelarut protik untuk mensolvasi baik kation maupun anion. 5) Karakteristik reaksi yang melibatkan nukleofil Banyak factor yang mempengaruhi terjadinya reaksi nukleofilik.Meskipun pengikatan pada karbon asil bisanya berlangsung lebih cepat. protik) dan pelarut yang tidak mengandung proton (aprotik). substrat. a. biasanya proses bimolekul bersifat dominan. c. Bila R kecil (seperti hydrogen pada aldehida terkonjugasi). Untuk reaksi alkil halide primer. Substrat Perbedaan substituen pada substrat karbonil akan mengakibatkan perbedaan yang besar pada laju reaksi adisi asil nukleofilik dengan nukleofil. konsentrasi. dan sifat gugus pergi. meliputi pelarut. Solvasi merupakan kunci dari sebagian besar reaksi nukleofilik dan sangat penting pada reaksi asam/basa. maka pelarut semakin polar. sifat nukleofil. namun bila gugus R pada 3. maka adisi 1. b. Sifat yang sangat penting dari pelarut adalah polaritasnya. sedangkan pelarut aprotik hanya mensolvasi secara kuat suatu kation.2 pada karbon biasanya lebih disukai. semakin tinggi tetapan dielektrik.

pelarut aprotik. Kelebihan basa atau nukleofil umumnya digunakan untuk memacu laju reaksi. seperti halnya kebutuhan energy yang naik untuk pembentukan kation. Gugus pergi Gugus pergi adalah gugus yang dipindahkan atau diganti dalam reaksi substitusi atau eliminasi. proses bimolekuler terjadi karena nukleofilitasnya dipacu. y Reaksi mitsonobu 16 . umumnya ditulis SN2. halida. Kenaikan konsentrasi nukleofil.Gugus pergi yang ³baik´harus mempunyai ikatan C-X yang lemah dan terpolarisasi tinggi. X. Setelah lepas atau pergi. Konsentrasi spesies yang bereaksi Untuk proses bimolekul.12 mengandung gugus pergi yang diganti dengan nukleofil menghasilkan produk 3. d. atau basa akan mengakibatkan kenaikan laju reaksi. laju reaksi dinyatakan dalam persamaan : Laju reaksi = k [nukleofil atau basa][RX] Dengan k adalah tetapan laju reaksi. E). y Reaksi SN2 dapat melibatkan beberapa perubahan gugus fungsi yang berbeda dan menggunakan molekul kompleks baik substrat maupun pereaksinya. proses ini dapat dinyatakan sebagai substitusi bimolekuler yang melibatkan nukleofil. e. Penurunan konsentrasi pada setiap spesies akan menurunkan laju reaksi.harus merupakan ion yang sangat stabil.13. REAKSI SUBTITUSI 1) Subtitusi nukleofilik bimolekul Reaksi Sn2 Substat 3.

16. dan reaksi selanjutnya menghasilkan diimida 3.18 y Reaksi Sn2¶ Pada umumnya alilik halida bereaksi lebih cepat dengan nukleofil dari pada alkil halida karena ikatan membantu melepaskan gugus pergi. alkohol kemudian ditambahkan pada garam fosfonium ini.S N1 (atau reaksi ionisasi). ion dipolar ini bereaksi dengan HX menghasilkan 3. 2) Subtitusi nukleofilik unimolekul Pada umumnya reaksi subsitusi unimolekul.kurang bermanfaat dalam sintesis.17 dan garam alkoksifosfonium 3. 3) Penataan ulang kationik Pusat kation yang kekurangan elektron seperti 3. Proses ini melibatkan reaksi dietilazodikarboksilat (3. paralel terhadap ikatan. Disini gugus pergi yang jelek diubah menjadi gugus pergi yang baik melalui suatu intermediet.32 dapat mempunyai muatan total yang disebabkan oleh pelapasan kerapatan elaktron dari atom yang berdekatan.15. bahkan meskipun merupakan nukleofil lemah.namun demikian sering merupakan reasi yang sangat spesifik mempengaruhi perubahan gugus fungsi.Reaksi ini merupakan cara untuk mengubah molekul yang mengandung gugus pergi yang jelek menjadi turunannyayang dapat bereaksi melalui mekanisme SN2. 4) 17 Subtitusi oleh halogen .14) dengan trifenilfosfin(Ph3P) untuk membentuk 3.

2 Pemanasan bromida 3.2 ¡ Reaksi perubahan gugus fungsi berdasarkan proses asam/basa adalah eliminasi. 3. F).68) terpolarisasi lebih besar dari pada halida netral.68). sakunder. dan perpindahan pasangan elektron kearah pusat elektofilik akan menghasilkan ikatan dari produk alkena. Reaksi merupakan unimolekul. Reaksi 1-butanol dengan HBr menghasilkan halida primer. yang akan mengalami penataan ulang menuju ion yang lebih stabil. dan tersier dengan HBr dan HCl merupakan cara yang baik untuk pembuatan alkil halida. dan reaksi ini disebut E1 (eliminasi unimolekul) 3) 18 Eliminasi syn . Hidrogen.69 sebagai campuran isomer E-Z. Ikatan baru terbentuk selama eliminasi dan menghasilkan alkena. Muatan negatif terjadi pada karbon (basa memberikan 2 elektron ke hidrogen) dan terbentuknya kecapatan elektron ini memungkinkan terjadinya kelepasan gugus fungsi.(H pada 3. Rotasi ikatan pada 3.Reaksi alkohol tersier dengan HBr atau HCl menghasilkan halida melalui intermediet kation.68 menghasilkan menghasilkan 3. REAKSI ELIMINASI 1) Eliminasi bimolekul 1. Hal ini tampak dari kenyataan bahwa H dapat dilepaskan oleh basa baik dari arah ³atas´ atau ³bawah´ terhadap halida.67 dalam media berair menghasilkan pasangan ion yang terpisahkan oleh pelarut (3. karena langka yang paling lambat pada proses ini adalah lepasnya gugus pergi yang akan membentuk karbokation. 2) Eliminasi unimolekul 1. tetapi mengikuti mekanisme reaksi SN2 dengan bromida menggantikan H2O .X) yang disebabkan oleh penggantian proton oleh basa untuk membentuk ikatan yang baru.69. dan reaksi tersebut dikenal sebagai reaksi E2 (eliminasi bimolekul). karena hidrogen berdekatan dengan muatan positif. Suatu basa yang tepat akan melepaskan H . Pada umumnya reaksi antara alkohol primer. Eliminasi ditandai dengan pelepasan atom atau gugus (gugus pergi.

Karbon yang pada awalnya berikatan rangkap yang tertinggal akan kekurangan elektron. 4) Reaksi-reaksi yang berkaitan dengan Eliminasi 1. maka pelepasan hidrogen syn dapat merupakan proses yang efisien. Reaksi tersebut dikenal sebagai eliminasi 1. y Eliminasi 1. meskipun proses ini akan membutuhkan suhu reaksi yang tinggi untuk terjadinya populasi yang efisien pada konfigurasi eklips. maka hidrogen hanya dapat dilepaskan bila hidrogen mempunyai kedudukan eklips terhadap atom yang bersifat basa dalam konfigurasi syn. namun kemudian terjadi perubahan cincin menghasilkan enolat 3. transfer proton menghasilkan 3. Biasanya reaksi awal melibatkan pembentukan intermediet karbokation. G). Senyawa 3.87.3 (dekarboksilasi) Reaksi eliminasi syn menunjukan bahwa hidrogen yang bersifat basa dapat dilepaskan oleh atom yang bersifat basa yang terdapat pada molekul yang sam. Eliminasi seprti ini dikenal sebagai eliminasi syn.3.Jika basa merupakan bagian dari substrat.86 yang direaksikan dengan hidroksida mula mula membentuk 3. dan disebut karbokation.3.89. Hasil keseluruhan reaksi kationik ini adalah adisi H dab Br pada ikatan ¢ 1) 19 . y Eliminasi hoffmann Eliminasi hoffman yaitu contoh klasik dari proses eliminasi syn. 396.3 Terdapat sejumlah tipe reaksi yang berkaitan dengan proses eliminasi 1.88. REAKSI ADISI Adisi yang melibatkan intermediet ion bebas Tipe reaksi ini biasanya melibatkan ikatan alkena yang bersifat basa yang memberikan pasangan elektron ke asam (H ). Jika tetheerd base juga merupakan gugus pergi. Ikatan menjadi putus dan ikatan baru C-H terbentuk. Pusat kationik kemudian bereaksi dengan nukleofil (Brdari HBr) menghasilkan bromosikloheksana. mengakibatkan lepasnya gugus pergi dan pembentukan ikatan . dan hidrolisis memberikan produk asam keton. Contoh poses ini adalah reaksi sikloheksana dengan asam yang membentuk karbokation sekunder. Dasar ini juga dapat diterapkan pada sistem yang mempunyai hidrogen yang bersifat asam dan gugus pergi dipisahkan oleh 3 atom.

Pereaksi yang simetris seperti bron atau klor umumnya tidak terpolarisasi. H2SO4. melepaskan X-. Pusat kationik yang dihasilkan oleh reaksi ini berdekatan dengan ikatan C -X yang baru terbentuk. maka elektron tersebut dapat diberikan kepusat kation sehingga membentuk intermediet jembatan simetris (lingkar anggota-tiga). nitrat dll. Asam kuat HX (seperti HCl. HBr. sulfat. Sebelum mekanisme reaksi ini diketahui. Jika terdapat air (berasal dari penggunaan pelarut berair) atau jika menggunakan pereaksi yang lebih nukleofilik seperti KCN yang ditambahkan ke dalam reaksi. Sebagai contoh. intermediet kation yang berasal dari proses adisi cenderung mengalami penataan ulag menuju ion yang stabil. Stabilisasi terjadi bila heteroatom terikat pada karbon elektrofilik.102) dihasilkan oleh reaksi asam dengan keton (3. telah diamati bahwa reaksi alkena dan asam selalu menghasilkan produk yang lebih tersubstitusi yang kemudian dikenal sebagai adisi Markovnikov. namun bila didekatkan dengan ikatan . maka dipol akan terjadi (C=C X X. Karena guguus X mengandung pasangan elektron bebas. Alkena kemudian dapat memberikan elektron ke X .Alkena merupakan basa yang relatif lemah dan hanya akan bereaksi dengan asam kuat.) 2) Adisi yang melibatkan intermediet jembatan yang simetris Pada reaksi dengan HX. Proses ini berada di bawah kontrol termodinamika dan cenderung menghasilkan ion yang lebih stabil dan hasil akhir yang lebih stabil. maka air atau sianida akan menjadi kation (masing-masing menghasilkan alkohol dan nitril). alkena mempunyai sifat kurang lebih sebagai basa Bronsed-Lowry. sehingga tidak dapat dibentuk. kation oksigen yang mengalami stabilisasi (3.). dsb) akan bereaksi dengan alkena menghasilkan alkil halida. Tipe reaksi ini kadang-kadang dinyatakan sebagai transfer muatan kompleks.101. Alkil sulfat dan nitrat sering tidak stabil. Alkena dapat juga berfungsi sebagai basa Lewis pada reaksi dengan elektrofilik halogen. Adisi yang melibatkan ion-ion logam yang distabilkan Seperti yang telah dijelaskan didepan. £ £ 3) 20 . HNO3.

Pengikatan cincin aromatik akan membentuk ikatan C-X dan pusat sp3.4dinitroklorobenzena menjadi 2.H). namun lebih umum disebut intermediet Wheland. Kation ini (3. dalam kompleks ini. jika asam Lewis kuat seperti AlCl3 ditambahkan. bila diniriklorobenzena (3. transfer satu klor ke benzen.118). Reaksi harus terjadi oleh pengikatan hidroksida nukleofil pada 21 2) . namun pengikatan nukleofil cicncin aromatik yang kaya elektron lebih sukar. dan transfer klor yag lain ke AlCl3. namun klor tidak dapat ditransfer kebenzena. Kondisi dengan suhu tinggi ini mempunyai enargi aktivasi tinggi untuk pengikatan awal pada cicin aromatik. meskipun dilakukan pada kondisi suhu yang cukup tinggi. Jika campuran tersebut dipanaska sekitar 100oC. Kation intermediet (3. Bila benzena direaksikan dengan spesies elektrofilik seperti HCl. maka akan dibentuk kompleks trasfer muatan seperti 3.126. 1) Subtitusi nukleofilik aromatik Cincin aromatik memiliki sifat seperti basa Lewis dalam reaksi dengan asam Lewis. Contohnya. yang kemudian melepaskan proton menghasilkan klorobenzena. Namun demikian. ikatan klor-klor diperlemah yang kemudian dapat diikat oleh benzena. yang digambarkan sebagai kation yang terdelokasikan.116) mengalami stabilisasi resonansi.125). Lepasnya proton bersamaan dengan pembentukan kembali senyawa aromatik berlangsung sangat cepat (membentuk 3.4-dinitrofenol. 3.117 Subtitusi elektrofilik aromatik Ikatan-ikatan pada benzena merupakan pemberi elektron yang tidak efisien (benzena merupakan basa Lewis yang lemah). ternyata tidak terjadi reaksi. Ini merupakan cara komersial untuk memproduksi turunan-turunan fenol. maka terjadi reaksi substitusi yang melibatkan transformasi 2. Asam Lewis yang kuat akan memberikan reaksi yang cepat antara halogen dengan benzena.116) kadag-kadang dinyatakan sebagai ion benzenonium.152) ditambah dengan natrium hidroksida dalam media berair. tidak akan terjadi reaksi. Meskipun benzena dapat membentuk kompleks yang mentrasfer muatan lemah dengan klor (3. SUBTITUSI AROMATIK Tipe proses ini ditunjukan pada reaksi benzena dengan spesies elektrofilik (X-). Reaksi ini menghasilkan intermediet Wheland.

162.karbon ipso. (lihat 3. ini merupakan intermediet yang tidak stabil. bromida kemudian akan dilepaskan dan dihasilkan intermediet benzuna 3. terlihat bahwa karbanion dalam posisi ortogonal terhadap kabut aromatik dan pararel terhadap ikatan C-Br. Turunan benzuna (benzyne) Halogen membuat hidrogen pada kedudukan orto mempunyai sifat lebih asam. 3) 22 .160b.161 dan 3. ini sering disebut sebagai substitusi Cine.153. Pelepasan gugus pergi yang berdekatan ini membentuk ikatan baru pada intermediet benzuna. Produk substitusi 3.159). Bila 3. maka deprotonasi akan menghasilkan 3. ikatan ini merupakan sasaran terhadap pengikatan nukleofilik.158 direakskan dengan natriu amida. Eliminasi halida membentuk ikatan baru yang tegak lurus pada kabut cincin benzena. karena muatan terletak pada karbon yang berdekatan dengan halogen. yang menghasilkan ntermediet karbanion yang distabilkan oleh resonansi.160a.160a menghasilkan campuran 3.159b. dan spesies yang reaktif ini (3.160a) disebut benzuna (benzyne). sehingga menjadi gugus pergi yang baik.159a digambarkan kembali seperti 3. namun orbital yang terisi ini mempunyai kedudukan ortogonal terhadap bidang kabut aromatik.162 mempunyai substituen baru amino yang berdekatan dengan karbon yang mengikat gugus pergi bromida. bila 3.159a. 3. 3. dan nukleofilik amida akan bereaksi dengan 3. Basa akan melepaskan hidrogen-orto dan menghasilkan karbanion. hasil ini merupakan pengikatan terhadap kedua karbon ikatan rangkap.

163.165) menjadi garam diazonium (3. ion diazonium merupakan salah satu gugus pergi yang paling baik dan merupakan sasaran untuk digantikan oleh berbagai nukleofil untuk menghasilkan produk substitusi 3. dalam hal ini benzenadiazonium klorida.167.166). 23 . 3.164 4) Terdapat sejumlah spesies nukleofilik yang dapat bereaksi dengan garam-garam aril diazonium.164 dalam asam berair menghasilkan fenol.Reaksi subtitusi terhadap garam-garam aril diazonium Bila amina aromatik primer seperti anilin direaksikan dengan asam nitrit (HONO) ± yang umumnya dihasilkan dengan mereaksikan natrium nitrit dan HCl atau asam sulfat ± maka dihasilkan senyawa aril diazonium. 3. yang kemudian dipanaskan dalam asam sulfat berair menghasilkan 3-nitrofenol. Contoh reaksi ini adalah konversi 3-nitroanilin (3. Pemanasan 3.

Untuk definisi yang lebih umum. seperti yang dinyatakan pada pernyataan kedua. Oksidasi dengan Kromium (VI) Kromium (VI) merupakan z t pengoksidasi yang kuat. HCrO4-. Eliminasi hydrogen seperti pada serangkaian Dehidrogenasi Etana.  ALKOHOL MENJADI KARBONIL (CH-OH C=O) alkohol dioksidasi menjadi turunan karbonil dengan berbagai zat pengoksidasi. yang sebagian besar diterapkan pada kimia AnOrganik. kromium trioksida berada dalam kesetimbangan dengan sejumlah Kromium (VI) lainnya. dalam media berair. Penggantian atom hydrogen yang terikat pada karbon dengan unsur lain yang lebih elektronegatifseperti Oksigen. 2. reaksi Cr (VI) dapat ditulis: Cr6 3e ¤ Cr 3 Cr2O72. H2Cr2 O7.Produk yang dihasilkan bergantung pada struktur alkohol dan pereaksi yang digunakan. oksidasi melibatkan lepasnya satu electron atau lebih dari atom-atom gugus. meliputi HOCrO3H. Sebagai Contoh adalah pada serangkaian Transformasi oksidatif terhadap Metana: CH4 CH3OH CH2 OH HCO2 H CO2 Oksidasi dapat juga didefinisikan sebagai reaksi suatu unsur dengan Oksigen.14H HCrO4. Alkohol primer mula-mula dioksidasi menjadi aldehida. namun dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam. Terdapat sejumlah pereaksi kromium (VI). Dalam asam sulfat.BAB IV REAKSI OKSIDASI  Pengertian Reaksi Redoks Sheldon dan Kochi menyatakan bahwa oksidasi pada kimia organik dapat berupa: 1. H2CrO4. Pada konsentrasi tinggi (air 24 ¤ ¤ ¤ (2NH2SO4) 7 H2 O 4H2O . Karena oksidasi alkohol harus dilakukan dalam keadaan yang dilakukan dalam keadaan terlarut. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton. dan HCrO7-.7H ¤ 6e 2Cr3 ¤ 3e Cr3 Oksidasi terhadap alkohol akan disertai dengan reeaksi Kromium Cr (VI) menjadi Cr(III). maka sebagian besar reaksi oksidasi dilakukan pada media berair. namun yang paling umum adalah kromium trioksida yang berwujud Polimer yang umum ditulis sebagai [CrO3]n .Cr2O72-.

Cro3A + H2O Wiberg memberikan skema oksidasi alkohol sekunder menjadi keton sebagai berikut: R2CHOH + R2CHOH + R2COH + Cr(VI) Cr (IV) Cr(VI) Cr(V) + R2C O R2COH R2C O R2C O 2Cr(VI) 3R2C O + + Cr(IV) Cr(III) + + + Cr(V) Cr(III) 2 Cr (III) + R2CHOH + 3 R2CHOH Mekanisme ini menunjukan bahwa spesies Cr (VI). maka asam tersebut akan mempengaruhi kedudukan kesetimbangan keseluruhan. Cr(VI) mengalami reduksi menjadi Cr(IV). Fakta eksperimental menyatakan bahwa oksidasi dimulai dengan pembentukan ester kromat. konsentrasi Cr (VI) tidak bergantung pada asam. Paling tidak ada dua mekanisme yang diusulkan untuk langkah ini.+ 2H+ + A. Penguraian ester kromat meliputi pelepasan proton yang terikat pada karbon yang mengikat oksigen. Jika asam yang berbeda (HA) ditambahkan pada campuran. dan Cr (V) terlibat dalam keseluruhan proses Oksidasi. Cr(IV). Cr(V) 4 biasanya adalah HCrO4-. K esimpulan dari berbagai percobaan adalah bahwa posisi kesetimbangan bergantung pada asam. seperti yang dijelaskan pada 4. dan Cr(IV) biasanya adalah HCrO3-. maka kemungkinan ester kromat yang terbentuk adalah 4. Kwart dan Francis mengusulkan reaksi intermolekul untuk melepaskan proton. Jika asam sulfat digunakan sebagai asam dalam media berair yang mengandung kromium trioksida dan isopropanol. Westheimer mengusulkan pengikatan intermolekul oleh air.2 yang berasal dari reaksi HCrO4-. dan pada reaksi. Dalam larutan encer. 25 .sedikit). Hal ini sesuai dengan: HCrO4. namun akhirnya usul ini tidak dapat diterima. Spesies Cr(VI) biasanya adalah HCrO. Semula westheimer menyatakan bahwa air berperan sebagai basa untuk melepaskan hidrogen ini. dan asam sulfat (HA pada persamaan diatas).dan CrO3. maka yang dominan adalah polimer kromium trioksida dan asam kromat.4.

Rocek akhirnya mengusulkan pembentukan kompleks koordinasi seperti pada 4. termasuk kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair yang dikatalis oleh asam mineral. keduanya dapat dioksidasi.7 Oksidasi kromium (VI) yang termodifikasi Banyak variasi kondisi reaksi yang ditujukan untuk mengoksidasi alkohol.Rocek mengabaikan kedua mekanisme reaksi tersebut dan mengusulkan Intermediet seperti pada 4. Sejumlah pereaksi kromium (VI) dapat digunakan. dimana oksigen dari ester kromat melepaskan kedua hidrogen dari karbon dan dari Oksigen. yang tidak hanya akan melarutkan pereaksi kromium saja. masing-masing menjadi aldehid atau keton. Aldehid dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. seperti halnya kompleks Cr2O3 piridin dan t-butil kromat. Karena sebagian besar senyawa organic tidak larut dalam air. meliputi pengubahan asam yang ditambahkan pada media. natrium bikromat dalam asetat. tetapi juga Substat alkohol. umumnya digunakan untuk mengkonversi alkohol menjadi karbonil. 26 . Pelarut yang tahan terhadap oksidasi seperti asan asetat atau aseton.6. maka pelarutan umumnya dibutuhkan. Alkohol primer dan alkohol sekunder. natrium bikromat dalam aseton berair yang dikatalis oleh asam asam mineral.

. pelepasan hydrogen. fenolat dan amina sering menghasilkan produk samping pada oksidasi terhadap alkoholalkohol yang larut dalam air. maka akan mengurangi terbentuknya asam.10. namun aldehida dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. Oksidasi terhadap alkohol primer mula-mula menghasilkan aldehida. sulfida. Hal ii disebabkan kesempatan terbentuknya kation tersier yang lebih besar. Oksidasi menjadi asam juga dapat terjadi mula-mula dengan pembentukan hidrat. dan fenol teroksidasi menjadi kuinon. Kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair Beberapa alkohol dapat larut dalam air sehingga tidak diperlukan pelarut untuk mengoksidasinya dengan kromium. tetapi bila R diganti dengan t-Butil. Adanya gugus ± gugus yang dapat dioksidasi pada substrat organik seperti alkena. kemudian pelepasan hydrogen. sulfida teroksidasi menjadi sulfokdsida. Bila R pada 4.12. dan hal ini dapat menurunkan produk karbonil yang dihasilkan. meskipun asetton larut dalam air yang menyebabkan isolasi produk menjadi sukar. Isopropanol memberikan hasil yang baik dalam aseton berair. Sebagai contoh.pada kompleks seperti 4. maka produk yang dihasilkan hanya 6%. amina teroksidasi menjadi hidroksi amina. 27 . Paling tidak terdapat dua mekanisme yang dapat menerangkan konversi aldehida menjadi asam.9 adalah iso-propil (iPr).a.hidroksi-amina. Fenil alkil karbinol dapat dipecah secara oksidasi dengan kromium trioksida dalam asam berair. Bila dapat mengisolasi aldehida yang dihasilkan. Dua pendekatan mekanisme tersebut meliputi pembentukan ester kromat seperti 4. maka diperoleh hasil produk 60%.

Sejumlah persoalan terjadi bila digunakan pelarut air. Pembentukan ester seringkali disertai oksida terhadap aldehida primer yang memiliki berat molekul kecil. n-butanol menjadi n-butirrat. dimana alkohol yang tidak bereaksi dikonversi menjadi Hemiasetal. dan senyawa ini dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi ester. Pereaksi kromiumtrioksida-aseton-asam sulfat sering dikenal sebagai Jones. Contohnya. khususnya untuk molekul yang mengandung gugus-gugus Alkenil atau Alkunil 28 . Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan tambahan pelarut seperti asam asetat berair b. Kromium trioksida dalam aseton Ioksida Selain asam asetat. pelarut organik lain dapat digunakan bersama-sama dengan kromium trioksida berair.Kesetimbangan antara aldehida yang mula-mula dibentuk dengan alkohol primer dapat menghasilkan reaksi samping. ternyata hasil oksidasi terhadap alkunil karbinol meningkat. Sebagai contoh.14 menjadi keton 4.15 dengan produk besar 77%. Reaksi ini berguna. Bila aseton digunakan dalam larutan encer asam sulfat. oksidasi 4.

Pereaksi ini sangat tepat untuk mengkonfersi alkohol primer menjadi aldehida dalam diklorometan. Sejumlah alkohol primer telah dioksidasi menjadi aldehida dengan menggunakan prosedur ini.ketal. namun karena kondisi reaksi dalam keadaan sangat asam. Jarret mengoksidasi alkohol. Tujuannya adalah mengatasi masalah produk yag rendah pada oksidasi alkohol primer menjadi aldehida dan memudahkan isolasi produk karbonil. Corey mendapatkan. akan dikatrakterisasi pereaksi. selanjutnya pada campuran ini direaksikan dengan alkohol. Pereaksi Sisler-Jarret dibuat dengan mereaksikan kromium trioksida dengan piridin. Reaksi siklisasi ini diikuti dengan eliminasi yang akan 29 . maka produk finalnya adalah asam karboksilat. dan penggunaan aseton yang berlebihan akan melindungi produk keton dari oksidasi lebih lanjut. ester. Modifikasi oksidasi jarret dilakukan oleh Collins dan penggunaannya terhadap oksidasi alkohol dikenal dengan Oksidasi Collins. alkohol. Pereaksi yang kemungkinan mempunyai struktur trigonal bipiramidal terbukti berguna untuk mengoksidasi alkohol primer dan sekunder. d. Contohnya. Masalah yang dihadapi adalah kesulitan mengisolasi produk yang dihasilkan dari larutan piridin. tersier. bila penambahan piridin pada larutan kromium trioksida dalam HCl berair dilanjutkan dengan kristalisasi Kristal.dan tetrahidropiranil eter teroksidasi jauh lebih lambat dari pada alkohol dan jarang terjadi reaksi samping. Sintesis mayuron yang dilakukan oleh Smith melibatkan oksidasi jones cocok terhadap molekul-molekul kompleks yang mengandung berbagai gugus fungsi seperti Alkena. Piridinium kloro kromat (PCC). tetapi protonasi aldehida karbonil yang diikuti dengan pengikatan alkena akan menghasilkan kation tersier.sulfide. Reaksi Sitronelol dengan PCC dalam Diklorometana mula-mula akan menghasilkan oksidasi aldehida. Kromium Trioksida-piridin Oksida dengan campuran kromium trioksida dan piridi sebagai pelarut dikenal dengan sebutan oksidasi jarret. c.oksidasi 1-Heptanol dengan PCC dalam diklorometana meghasilkan 78% Heptanal. meskipun terdapat ikatan rangkap dua dan tioster. Oksidasi yang khususnya mebutuhkan perbandingan 5:1 hingga 6:1 atau kompleks alkohol dan reaksi berlangsung pada suhu kamar. suatu steroid dengan hasil 89%. Piridinium kloro Kromat (PCC) Usaha untuk meningkatkan oksidasi terhadap alkohol primer dan untuk lebih mempermudah isolasi produk yang dihasilkan mendorong pengembangan pereaksi kromium (VI). Pelarut piridin kemudian dihilangkan dan setelah itu ditambahkan dengan dikloroometana.Oksidasi terhadap alkohol biasanya berlangsung lebih cepat dalam aseton dari pada dalamasam asetat. Keuntungan reaksi oksidasi jarret alkena. Oksidasi jarret telah digunakan oleh yamada untuk mengoksidasi menjadi keton pada sintesis Patchouli alkohol. tetapi kurang efisien bila diterapkan pada alilik alkohol. keton dan amida.

akan mengasilkan Glioksal yang sesuai ( -ketoaldehida). Bila pelarut diganti dari diklorometan menjadi dimetilfosmamida (DMF). e. Alkil iodida primer dan sekuder atau tosilat dapat dikonfersi menjadi aldehida atau keton.  Dimetilsulfoksida (DMSO)-Disikloheksil karbodimida (DCC) Dimetilsulfoksida dapat berfungsi sebagai pelarut maupun sebagai reaktan untuk berbagai substrat alkohol. menghasilkan produk asam sebanyak 83%. Mekanisme reaksinya kemungkinan meliputi pelepasan Nukleofilik Halida oleh DMSO yang membentuk garam Alkoksisulfoksonium. Kornblum menyatakan bila  -haloketon direaksikan dengan DMSO pada suhu yag agak tinggi. 30 . namun senyawa tersebut bersifat kurang reaktif bila dibandingkan dengan -haloketon. Sikloheksanol bila dioksidasi dengan PDC dalam DMF pada 00C. akan menghasilkan 86% Sikloheksanon.menghasilkan alkena. perbedaan yang cukup signifikan antara oksidasi terhadap alkohol Alifatik dengan oksidasi terhadap alkohol Alilik. Oksidasi yang terjadi dalam keadaan netral ini ditunjukan pada reaksi dengan PDC yang menghasilkan produk Aldehida sebanyak 92%. Reaksi 1 bromooktana dengan DMSO dan NaHCO3 pada suhu 1000C selama 5 menit akan menghasilkan oktanol 74%. yang dapat dikonversi menjadi keton atau aldehida pada keadaan netral. yaitu piridinium dikromat (PDC). maka digunakan pereaksi yang lebih netral. Oksidasi terhadap Sitronelol dengan PDC dalam DMF pada 250C. Oksigen Nukleofilik dapat bereaksi dengan pusat elektrofilik membentuk garam sulfoksonium. Pridinium dikromat (PDC) Untuk mengeliminasi sifat asam dari PCC. Cairan alkohol sekunder dioksidasi lebih lanjut membentuk (-) pulegon. Sikloheksanol bila dioksidasi akan berlangsung sepuluh kali lebih cepat dari pada dengan PDC dalam diklorometana pada 250C.

Udara merupakan oksidator dan DMSO berfungsi sebagai pelarut.1 Dimetil Sulfoksida ± Anhidrida Asetat Albright dan Goldman mengembangkan pereaksi oksidasi yang sejenis. Sebagai contoh adalah konversi tertosteran menjadi androst -4-ena-3. dengan adanya katalis asam. Deprotonasi garam sulfoksonium merupakan proses intramolekul dan terjadi dengan basa yang kekuatannya menyerupai ion asetat. dan lepasnya proton bukan disebabkan oleh basa melalui reaksi intermolekul. Dalam hal ini. Proses ini menghasilkan senyawa yang mengandung belerang yang distabilkan oleh orbital d dari belerang. yaitu bila alkohol bereaksi dengan DMSO. Mekanisme oksidasi ini dikemukakan oleh moffatt dan merupakan reaksi pembentukan dan pemisahan disikloheksil urea yang sangat tidak larut. benzilik dan alilik alkohol dikonversi menjadi aldehida melalui proses merefluksnya dalam DMSO. DMSO mula-mula bereaksi dengan anhidrida asetat membentuk garam sulfoksonium. Hasil interpretasi dari mekanisme ini menyatakan bahwa pusat karbonium pada senyawa belerang melepaskan -hidrogen secara intramolekul. menghasilkan garam sulfoksonium. yang kemudian bereaksi dngan Alkohol. Tipe reaksi ini dikenal sebagai oksidasi moffat. 4. produk karbonil dan dimetil sulfida dapat diperoleh. Disikloheksil urea dilepaskan.-proton kemungkinan diperantarai oleh DMSO. Untuk mengoksidasi alkohol ³dengan DMSO´. dengan gelembung udara melalui media. Salah satu masalah yang timbul adalah pembentukan urea yang sangat sukar dipisahkan. 31 . oksigen dari DMSO harus menggantikan gugus hidroksil. yangsekarang mengandung gugus pergi urea yang diikuti proses pengikatan belerang dan alkohol. dan sinamil alkohol dioksidasi menjadi sinamil aldehida dengan hasil 90%. yang bersifat gugus pergi yang jelek. DMSO dan anhidrida asetat digunakan untuk membentuk kompleks aktif sulfoksonium. Seperti halnya dengan DCC. merupakan pereaksi oksidasi yang efisien untuk alkohol. udara merupakan pereaksi. Campuran DMSO dan disikloheksil karbodiimida (DCC).17-dion. DMSO bereaksi dengan DCC membentuk intermediet sulfoksonium. Pada reaksi ini. dan menghasilkan produk karbonil dan dimetil sulfida (yang berfungsi sebagai gugus pergi) Tipe oksida yang sejenis telah dilakukan. Berdasarkan mekanisme tersebut.3. Cara yang sering dilakukan untuk memisahkan disikloheksil urea adalah dengan mereaksikannya dengan asam oksalat. Pelepasan atom hidrogen kelihatannya analog dengan mek anisme eliminasi Oksidasi Moffatt memiliki beberapa kendala.

maka aseton yang digunakan berperan sebagai pelarut dan aluminium triisopropoksida yang digunakan merupakan pereaksi. Aseton (sering dengan benzena sebagai pendukung pelarut) sebagian besar digunakan sebagai penangkap hidrogen. maka produk aldehida dapat di pisahkan dengan cara distilasi.48) berfungsi sebagai asam lewis .49). Reaksi reversibel Alumina Alkoksida. Keton awal (RCOR1 ) berperan sebagai penerima hidrogen. aluminium pada kompleks alkoksida(4. pada reaksi oksidasi geraniol ini.50.50. Reaksi ini sangat efektif bila logamnya adalah aluminium.48 dan 4. dan adanya aseton dalam jumlah berlebih akan mendorong reaksi kearah produk oksidasi. dalam proses reversibel.52b). Reaksi ini menghasilkan pembentukan aluminium alkoksida baru dan keton baru.Oksidasi Oppenauer Dalam reaksi yang melibatkan kromium (IV) dan pereaksi DMSO.meskipun demikian oksida terhadap benzil alkohol menghasilkan benzaldehida sekitar 60 .49 dan 4. triisopoksida atau tri-n-propoksida. kompleks ini kemudian mentransfer Hadari karbon alkoksida 4. melalui keadaan transisi enam-pusat. hanya menghasilkan 35% geranal (4. Cara Alternatif dan klasik untuk mengoksidasi Alkohol difokuskan pada reaksi yang dapat dibalik antara keton dan logam alkoksida. Oppenauer menerapkan reaksi ini pada oksida Alkohol Steroidal tak jenuh dengan menggunakan aluminium triisopropoksida (Al(OiPr)3 ) dan Aseton. meskipunsikloheksana dalam larutan toluena atau silena juga sering digunakan. Seperti halnya 4. menjadi ³karbon keton´ seperti 4. Hidrogen Hadapat di transfer antara 4. streroid dan alkohol-alkohol sederhana. transfer hindrogen antara dua karbon alkoksil menghasilkan4. 4.50. yang menginisiasi oksidasi alkohol yang terikat dengan alkoksida pada 4.52a. Alkohol di konversi menjadi sustu kompleks dan -hidrogen Akohol dapat dilepaskan seperti asam.50 berada dalam keadaan kesetimbangan dengan alkoksida baru dan keton baru Jika keton asal (RCOR1) ditambahkan secara berlebih. Pada umunya.48.ah yang rendah. pertama kali ditunjukan oleh Verley dan Ponndorf pada reaksi keton dengan Aluminium Alkoksida.49. Sebagai 32 .Verley. yang kemudian dengan oksidasi Oppenauer.bila titik didih aldehida 50 lebih tinggi dari pada produk yang di harapkan.kuinon digunakan sebagai penagkap hidrogen. yang bereaksi pada oksigen karbonil membenuk kompleks yang kekurangan elektron . Oksidasi Oppenauer tehadap alkohol jenuh sering mengalami hambatan. Reaksi ini telah diterapakan pada sejumlah oksidasi.49. Reaksi berlangsung melalui kompleks aluminium koordinasi(4.dan kondensasi produk aldehida dengan penangkap hidrogen karbonil(kondensasi aldol yang dikatalisasi oleh asam). jika tujuannya adalh mengoksidasi alkohol. namun masalah ini dapat diatasi dengan mengubah struktur logam alkoholat atau penerima hidroksida. Upaya lainnya yang sering dilakukan yaitu dengan penggantian pelarut aluminium-t-butoksida. kompleks 4. Pada tahun 1937. Perluh diperhatikan bahwa reaksi ini adlah kebalikan dri reduksi meerwein-ponndorf.49 yang berada dalam keadaan kesetimbangan. Aseton berfungsi sebagai penerima Hidrogen.oksida oppenauer terhadap alkohol primer menghasilkan aldehid dalam juml. Dua reaksi samping yang umum terjadi adalah migrasi atau pergeseran ikatan rangkap non-terkonjugasi menjadi terkonjugasi.48 dan 4. maka kesetimbangan bergeser ke arah 4.51 dan pembentukan keton baru (R2COR3 ).sedangkan oksidasi terhadap geraniol 4.

Mangan dioksida biasanya merupakan produk akhir dari oksidasi yang sangat kuat . dalam media netral. Reaksi ini menghasilkan aldehida yang sangat baik dari alkohol primer. dan Martin ketika mereka mengendapkan mangan dioksida dan menggunakannya untuk mengkonversi vitamin A. karena pereaksi tersebut dapat mengoksidasi alkohol primer dan alkohol sekunder. Reaksi berlangsung melalui intermediat radikal. Penggunaan antara alkohol dengan penerima hidrogen yaitu 1:1. Mekanisme Goldman ditunjukan pada reaksi benzil alkohol dan melibatkan 33 ¥ . Ishii menggunakan pereaksi siklopentadiental zirkonium (Cp2 ZrH2 ). oksidasi terhadap 3-metil geraniol(4. Oksidasi Dengan Mangan Dioksidan Mangan oksidasi(MnO2 ) umumya berbentuk Mn(IV) dan cenderung tidak larut dalam sebagian besar pelarut organik. Penggunaan aluminium telah dikurangi kaena terjadinya reaksi samping. menjadi aldehida dan keton. Reaksi ini di temukan oleh Ball.contoh.52a) menjadi -iron (4.Goodwin. dan dapat menoksidasi alkohol menjadi keton atau aldehida. Mangan dioksida merupakan pereaksi yang penting dalam sistem senyawa organik.52b) menggunakan aseton berlebih sebagai penangkap hidrogen. yang ternyata merupakan katalisator yang efektif pada oksidasi oppenuer. secara berturutturut. Goldman dan Hembert mengusulkan intermediet radikal pada oksidasi yang menggunakan mangan dioksida. namun kekuatan pengoksidasinya sangat dipengaruhi oleh cara pembuatannya. Salah satu cara yang umum meliputi pengendapan MnO2 yang berasal dari pemanasan MnSO4 dan KMnO4 pada PH tertentu.(4.53) menjadi retinena dengan hasil 80% Pereaksi ini dapat dibuat dengan beberapa cara. Oksidasi ini terjadi melalui kondensasi produk oksidasi aldehida. yang menghasilkan ikatan MnO(Mn2 ).

untuk menyempurnakan oksidasi. Proses oksidasi dapat juga menggunakan sianida seperti pada konversi aldehidaterkonjgasi menjadi ester terlonjugasi. cara Siklisasi dan cara Kondensasi Salah satu pereaksi yang paling umum digunakan untuk mengoksidasi turunan Fenol menjadi Kuinoid adalah Garam Fremy (Kalium Nitroso disulfonat. relatif terhadap para34 . pereaksi ini dibuat oleh Fremy sebagai garam dinatrium. turunan aromatik yang mengandung ggus hidroksi (turunan fenol) juga dapat dioksidasi. Pelarut yang umum digunakan adalah Alokohol yang berair dan asetat berair dan reaksi biasanya berlangsung dalam larutan bufer fosfat atau ufer asetat. Oksidasi membutuhkan media netral.adsorpsi pada mangan dioksida. relatif para Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto-kuinon yang rendah. melipuuti oksidasi senyawa asal non-kuinoid. reksi selanjutnya dengan pelarut alkohol (metanol) menghasilkan metil ester  Pembuatan Fenol Dan Dan Kuinon Selain oksidasi terhadap senyawa-senyawa hidroksi alifatik. dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alilik sekunder. Mangan dioksida mengoksidasi alilik dan benzil alkohol lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh. Mekanisme sederhana untuk oksidasi telah diusulkan oleh Tenber. Faktor penghalang pada reaksi kadang-kadangf dapat memberikan hasil orto-Kuinon yang rendah.4 (para) Kuinon (4. ini merupakan sintesis utama terhadap penggunaan mangan dioksida. Senyawa turunan fenol bila dioksidasi menghasilkan Kuinon yang merupakan komponen penting yang terdapat secara luas dialam konfersi hidrokarbon aromatik menjadi fenol juga memungkinkan dengan cara oksidasi. kemudian berreaksi dengan MnO2 yang menghasilkan sianoketon. namun rashing membuat garam kalium yang lebih efektif dan menjadikannya pereaksi yang tetap menjadi pilihan.62). Kadang-kadang pereaksi bereaksi dalam keadaan yang istimewa dan terurai secara spontan. Kuinoid yang paling umum adalah 1. Transfer elektron kedua menghasilkan produk karbonil yang diserap pada Mn(OH)2 sehingga terjadi desorpsi pada produk dengan melepaskan air. Corey menunjukan bahwa HCN/CN.bereaksi dengan aldehida terkonjugasi.2 (Orto) Kuinon (4. (KO3S)2NO). mangan dioksida yang dibuat dalam keadaan baru diaktivasi. ada banyak cara pembuatan Kuinoid. Koordinasi ini diikuti transfer elektron yang menghasilkan radikal dalam proses yang disertai dengan reduksi Mn(IV) menadi Mn(III). nam keadaan un ini terjadi karena adanya sejumlah katalis ion nitrit Pereaksi dalam larutan asam sangat tidak stabil dan pada larutan yang berair pada pH>10 juga mengalami penguraian.61) dan 1. pelarut yang tepat. serta waktu reaksi lama. Reaksi berlangsung cepat dan dapat ditandai dengan hilangnya warna ungu dari radikal. Kuinon Sturktur Kuinon terdapat dalam berbagai bahan dialam.

 Konversi alkena menjadi Epoksida Oksidasi gugus C-OH menjadi gugus karbonil C=O telah dibahas.82) yang merupakan anti terhadap boron yang berdekatan. dan dengan cara ini.). Reaksi dikembangkan dengan model untuk hidrolisasi biiogenik tiramin Versi yang lebih maju dari pereaksi ini yaitu menggunakan oksidasi anodik dengan adanya pereaksi Udenfriend. Hydrogen peroksida (H2 02 ) merupakan zat pengoksidasi yang kuat dengan petensial reduksi 1. akan menghasilkan alkoksida (4.77 V Reaksi peroksida sebagian besar meliputi pemutusan homolitik ikatan O-O. Orientasi anti ini melepaskan halida yang akan menghasilkan sikloheksana oksida (4.81. penggabungan 2 oksigen (hidroksilasi) dan oksidasi pemutusan ikatan (umumnya menjadi turunan karbonil). Epoksidasi dari halohidrin Reaksi alkena dengan asam hipohalida (Cl2 H2 O  HOCl atau Br2 H2O  HOBr) menghasilkan trans atau anti halodrin sebagai hasil pokok. Pereaksi ini memberikan hasil yang baik untuk turunan orto dan para -fenol dari fenilasetamid. meskipun orto kuinon akan dibentuk bila kedudukan para dilindungi atau diblok.83) melalui proses.2H ¦ 2H2O 1. Ekpoksidasi menggunakan peroksida Cara yang paling umum untuk mengkonversi alkena menjadi epoksida adalah menggunakan peroksida. yaitu dengan menggunakan sistem oksigenion fero-asam askorbat dengan adanya EDTA (Pereaksi Undenfriend). yang menghasilkan radikan bebas. Hydrogen peroksida dan turunan monosubstitusinya dapat 35 . Cara lainnya telah dihasilkan oleh Undenfriend.Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto dari para dapat diikat. Terdapat sejumlah cara oksidasi yang berbeda yang dapat diterapkan pada alkena.77 V seperti yang di tunjukan pada reaksi berikut: H2 O2 2e. Peroksida marupak sumber ³elektrofilik oksigen´ dan bereaksi dengan nukleofilik ikatan dari alkena. Biasanya produk utamanya adalah para-kuinoid. tiramin) dapat dikonversi menjadi campuran hidroksitiramin 21% () dan dihidroksi tiramin (DOPA. seperti pada konversi dikloroheksana menjadi 4. Fenol Pembuatan Fenol yang umum adalah dengan menghidrolisis garam-garam Diazonium. Gugus fungsi lain yang dapat menjadi sasaran terhadap oksidasi meliputi ikatan pada alkena. meliputi penggabungan suatu oksigen (Epoksida). senyawa tersebut bila kemudian direaksikan dengan basa seperti natrium hidroksida.

seperti 4.93) yang mengalami epoksidasi selektif pada alkena yang tidk terkonjungsi. Sebagai contoh. Beberapa contoh reaksi epoksidasi Reaksi 4. dan peroksida asam (4.91 dengan t-butilhidroperoksida (TBHP) dan molybdenum heksa karbonil menyebapkan oksidasi selektif pada alkena trisubstitusi yang akan menghasilkan 4.90. Pemutusan secara heterolik mentrasfer oksigen ke basa lewis (alkena). dan pelepasan proton menghasilkan hasil samping (air dari hidrogen peroksida. dan asam karboksilat dari peroksi asam). O + R. Alkena yang kekurangan electron bersifat kurang reaktif. dan menghasilkan 4. Pengaruh gugus tetangga mungkin terjadi bila ada gugus pengkoordinasi seperti pada alilik alcohol.bereaksi dengan alkena.89) basa lewis (Alkena) berkoordinasi dengan elektrofilik oksigen dari peroksida.87). epoksidasi sikloheksenol dengan TBHP dan logam bersifat 36 . Terdapat tiga kelompok utama peroksida yang digunakan untuk epoksidasi:hidrogen peroksida (4.alcohol dari alkil hiroperoksida.94. yang menghasilkan oksigen yang bermuatan positif.92.88). alkil hidroperoksida (4. Hal ini ditujukan pada epoksidasi geranial (4.OH H O O R Gugus ±OH perasam bersifat elektrofilik dan pengikat pada ikatan rangkap alkena menghasilkan adisi syn dari oksigen epoksida .

97) dikonfersi menjadi epoksida yang sesuai (4.105) Contoh epoksidasi alkena adalah konfersi siklupentena manjadi siklopentena oksida (4.4. reaksi yang sejenis.peroksi asetat dan meta-kloroperoksibensoat (mCPBA. Isoforon (4.99. dengan gugus hidroksi syn terdapat pada epoksi 4. seperti pada reaksi akrilonitril yang menghasilkan 4. asam-asam kuat seperti asam format dan asam trifluoroasetat berguna karena dapat menggeser kesetimbangan kearah kanan.106) dengan mCPBA dalam karbon petraklorida 37 . meliputo peroksi format.95.6. Peroksi asam seperti 4. epoksi alcohol 4.103). yang mula-mula melalui pembentukan 4.kenyataannya. pada umumnya. di mana enolat anion menggeser gugus hidroksi yang kemudian menghasilkan epoksida.4 peroksi asam organic Mungkin cara yang paling umum untuk epoksidasi alkena sederhana kemungkinan adalah dengan peroksi asam.100.sangat selektif untuk epoksi alcohol. Hidrogen peroksida dalam basa dapat mengkonferesi nitril manjadi epoksi amida. Tidak diragukan bahwa reaksi ini berlangsung melalui intermediet seperti 4.96) sebagai produk utama. Sebagi contoh.4.peroksi bensoat.yaitu kearah pembentukan 4.trifluoroh. 4. maka pengru penghalang akan menghasilkan anti-hidroksiepoksida (4.98) dengan hasil 72 . sejumlah peroksi asm dapat diperoleh dalam perdangangan.101.102 dengan t-butil hidroksida dalam larutan basa menghasilkan produk yang baik. jika reaksi berlangsung tanpa pengaru gugus tetangga.Peroksida bereaksi pada media basa menghasilkan produksi anion yang bereaksi dengan turunan karbonil terkonjungsi pada C terminal adisi-1.95 bersifat dominan.104 dibuat dengan mereaksikan asam karboksilat dengan hidrogen peroksida. adisi konjungsi ). yang dikenal sebagai reaksi prilezheav (prileshajew). yaitu epoksinitril (4. 4.104. hidrogen peroksida bereaksi dengan basa menghasilkan hidroperoksida anion (HOO-) dan mengadisi keton takjenuh aldehida dan ester.

Pada umumnya.R2C ± CHR :6500. yaitu alkena dan elektrofilik peroksi oksigen.maka hasil sampingnya adalah asam organic kua. Pembukaan cincin epoksida dengan asam Pembukaan cincin epoksida dapat dilakukan dengan pereaksi asam atau basa.R 2C = CH2 :500. Pembukaan Cincin Epoksida a. RCH = CH2 : 24. namun asm peroksi bensoat lebih efektif. asam ini cukup kuat untuk mengkatalisis penataan ulang atau reaksi lain terhadap produk epoksida. dan R2C = CR2 >> 6500). dapat digunkan kalium atau natrium atau kalium hidrogen fosfat. laju relative epoksi naik berdasarkan karakter nuleofilik alkena (CH2 = CH2 mempunyai luju relative 1. Selain itu. Pembukaan cincin epoksida dengan suatu asam H-Nu dapat dinyatakan sebagai berikut: § 38 .4 ± siklopheksanadiena.okan membentuk koordinasi yang kemudian terjadi pelepasan asam karboksilat dan pembentukan epoksida.RCH = CHR :500. Sebagai hasil samping adalah asam karboksilat. Jika molekul mengandung dua alkena. 1.Alkena yang lebih banyak tersubstitusi merupakan alkena yang kaya electron dan bereaksi lebih cepat dengan peroksi asam dari pada alkena yang kurang tersubstitusi. asam trifluoroh asetat (CH3CO2 H). Contohnya. mCPBA marupakan peroksida yang bagus untuk sebagian besar alkena. Natrium dan kalium asetat digunakan sebagai penyangga.N ) pada media reaksi biasanya akan menyangga reaksi dan mencegah terjadinya reaksi samping. atau dengan buffer hidrogen fosfat dinatrium.Kemungkinan reaksi yang berlangsung melalui mekanisme penggabungan. Jika asam triflouorohperoksi asetat (CF3CO3 H) digunakan sebagai zat pengoksidasi. Epoksidasi terhadap alkena monosubstitusi biasanya kurang reaktif. tri dan tetra tersubstitusi segera terepoksidasi dengan asm peroksi alkanoat maupun dengan asam peroksi bensoat. karna dibutukan pengunaan peroksi asam yang kuat seperti asam trifluoroh peroksi asetat meskipun mCPBA juga efektif. Epoksi ester seperti dapat dibentuk dari ester terkojugasi seperti etil 2 ± bensoat dengan menggunakan mCPBA atau asam trifluoroh asetat. Memberikan epoksida tetrasubstitusi dengan mCPBA reaksi ini ditunjukan oleh ptattier dan teisseir pada y -bisabolena. maka alkena yang lebih tersubstitusi akan lebih cepat terepoksidasi. Penambahan garam asam (RCO2. dimana diena dikonversi secara selektif menjadi epoksida. reaksi dengan asam peroksi bensoat mengunakan natrium bensoat dan natrium trifluoroh asetat digunakan dengan asam trifluorohperoksi asetat. Sebagai contoh. Adanya larutan penyangga (buffer) menjadi penting padaepoksidasi dengan peroksi asam.2 ± dimetil ± 1. Ikatan rangkap dua.

dimana X dapat berupa Cl. Pembukaan cincin epoksida dengan basa Pembukaan cincin pada epoksida juga dapat dilakukan juga dengan basa. Langkah pertama adalah pengikatan basa neuklofil pada cincin epoksida dan langkah kedua adalah protonasi terhadap ion alkosida yang dihasilkan dari langkah pertama. Langkah 1.Oksiran juga dapat bereaksi dengan asam halide HX. Pengikatan ±OH pada cincin epoksida Langkah 2. Reaksi pembentukan epoksida eengan basa terjadi melalui dua tahap reaksi. yaitu protonasi terhadap oksigen dan pengikatan nukleofil pada ion oksonium. Oksiran yang direaksikan dengan asam dalam pelarut air akan menghasilkan etilen glikol yang umumnya disebut glikol.Pembukaan cincin epoksida dapat terjadi melalui dua langkah reaksi. Reaksi ion alkoksida dengan H2 O 39 . Br atau I yang menghasilkan halohidrin. dan reaksi dapat dipandang sebagai reaksi adisi yang dilanjutkan dengan protonnasi.

pengikatan nukleofilik pada karbon epoksida bergantung pada kondisi asam dan basa. polietilen glikol dimanfaatkan sebagai foam rubber dan fase diam pada kromatografi gas (disebut carbowax). Misalnya. karena keadaan transisi akan melalui struktur yang kurang terhalangi. Orientasi adisi terhadap epoksida pada kondisi asam vs basa Pada epoksida yang tidak simetris. 40 .Reaksi pembentukan cincin epoksida dengan basa sering diguakan dalam pembuatan polimer. Kondensasi asam m Kondisi basa Nukleofil akan terikat pada karbon yang mengikat jumlah alkil yang paling banyak sesuai dengan aturan Pada umumnya pembukaan cincin epoksida pada kondisi basa terjadi dengan pengikatan nukleofil pada atom karbon yang tidak tersubtitusi.

IV ke II. Litium hidrosida. alcohol atau amina dan menghasilkan gas hydrogen dengan merusak sifat aktif hidrida. atau II ke I). seperti reduksi 2butanon menjadi 2-butanol. Proses reduksi oleh LiAlH4 dimulai dengan metransfer hidrida nukleofilik (relatif terpolarisasi . imida.1 Reduksi dengan Litium Aluminium Hidrida (LiAlH4) LiAlH4 dibuat dengan mereaksikan LiH dan AlCl3 . yang Litium hidrida merupakan salah satu pereduksi yang dikenal untuk substrat organic yang mengandung gugus pergi dapat terpolarisasi. B. lakton . Pengertian lainnya pada reduksi senyawa organic adalah adisi hydrogen terhadap molekul. ¨ 41 . Pereaksi LiAlH4 dengan adanya asam/basa dapat bereksi dengan hydrogen yang bgersifat asam. Reduksi dengan Hidrida Kompleks Logam B.2 Reduksi terhadap senyawa KarbonilL Litium Aluminium Hidrida cepat mereduksi sebagian besar senyawa karbonil. dan reduksi terhadap propanil menjadi butanamina. dan laktam. B. anhidrida asam. meliputi aldehida. tetapi beraksia dengan hebat pada keadaan lembab / mengandung uap air. dan aluminium hidrosida. Bubur LiAlH 4 dapat mereduksi semua gugus fungsi organik terpolarisasi. karbamat. ester. LiAlH4 4H2 O 4H2 O LiOH Al(OH)2 H2 Litium aluminium hidrida memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut eter dan mempunyai kecenderungan membentuk bubur bila jumlah pereaksi yang di gunakan relatif besar.BAB V REAKSI REDUKSI A. PENGERTIAN REDUKSI Proses reduksi didefenisikan sebagai konversi suatu atom dari tingkatan oksidasi yang lebih tinggi ketingkat oksidasi yag lebih ranadah (III ke II. klorida asam. asam karbosilat. dan gas hydrogen. seperti pada transformasi RCH=NH menjadi RCH2NH2.pada Al) ke karbonil elektrofilik (relatif terpolarisai pada oksigen). keton. Pereaksi ini stabil pada suhu kamar. amida.

54 menjadi alcohol 5. kecuali bila terdapat pengaruh adanya koordanasi atau khelat khusus. Pada umumnya. Salah satu sifat penting pada reduksi karbonil dengan LiAlH4 adalah reaksi yang bersifat diastereoselektif.Reaksi keseluruhan meliputi protonasi asam aloksida dan reaksi pada aluminium terjadi pada media masa. seperti yang di tunjukkan pada 5. titrasi atau penambahan dengan air sudah cukup untuk melepaskan alcohol. 3 Reduksi terhadap gugus fungsi hetereton kecuali karbonil Epoksida segera dapat dibentuk dari alkena atau dari keton dan aldehida. 42 . karena pada aldehida factor penghalangnya kecil selama ter jadi transfer hidrida ke karbon karbonil. LiAlH4 mentransfer hidrida kekarbon epoksida yang kurang terhalang.56 menjadi campuran 5. produk utama reduksi diastereomer timbul akibat transfer hidrida ke permukaan yang berpenghalang kecil.57 dan 5. Namun demikian kadang ± kadang Epoksida memberikan produk dimana transfer Hidrida berlangsung kearah karbon yang lebih tersubtitusi. Reduksi aldehida berlangsung lebih cepat daripada terhadap keton. Dalam bnayak hal. B. Contohnya adalah reduksi 5.55 dengan hasil 95%. tetapi kadang ± kadang menggunakan aluminium klorida jenuh dan asam klorida encer.58 dalam sintesis driman-8-ol.

NaBH4 43 . Reduksi dengan Borohidrida C. Zn.Nitril digunakan secara umum sebagai senyawa awal (prekursor) untuk transformasi banyak gugus fungsi dan reaksi pembentukan ikatan karbon. dan klorida asam saja.2 Logam borohidrida (Li. keton. LiBH4 tidak hanya mereduksi Aldehida. merupakan zat pereduksi yang lebih kuat daripada NaBH4. tetapi juga mereduksi epoksida ester dan lakton. C. mereduksi aldehida. Senyawa nitril umumnya dibentuk berdasarkan reaksi subtitusi SN2 sianida dengan alkil halida atau sulfonat ester atau berdasarkan reaksi dehidrasi terhadap amida. LiBr LiBH4 NaBr. dan klorida asam dengan adanya gugus fungsi yang lain yang dapat direduksi.1 Natrium Borohidrida (NaBH4) NaBH4 merupakan pereaksi yang sangat selektif. C. dan garam iminium. imin. terutama pada sintesis alkaloid adalah mereduksi enamin. Salah satu penggunaan NaBH4 yang penting. Selektivitas ini disebabakan oleh menurunnya kekuatan pereduksi realatif terhadap LiAlH4. Ce) LiBH4 yang dibuat dengan mereaksikan natrium borohidrida dan litium bromida. keton.

D. Perbedaan utama dalam reaktivitas antara boran dan pereaksi hidrida logam adalah bahwa Borann merupakan asam Lewis yang bagus dan mengkoorddinasi atom ± atom yang memiliki kerapatan elektron yang sangat tinggi. Diboran kurang efektif ungtuk mereduksi ester dan boran (BH3. Diboran biasanya dihasilkan dari pereaksi BF3 O(C2H5 ) dengan LiH atau dari reaksi NaBH4 dan BF3.1 Boran 6 LiH 8BF 3 O(C2H5)2 B2 H6 6 LiBF 4 4 BF3O(C2 H5)2 2 B2 H6 3 NaBF4 3 NaBH4 Boran dan turunannya tetap merupakan pereaksi pilihan untuk reaksi. asam.metal-1. 4 Penggunaan zat pereduksi Hidrida dikatakan paling baik adalah pereaksi yang memberikan hasil paling tinggi dengan reaksi samping paling sedikit. amida tersier dan nitril. monomer takstabil yang membentuk diboran) bereaksi dengan alkena dalam pelarut eter membentuk basa Hidroborasi. c. 44 . 2epoksisikloheksana menjadi metal 1-metilsikloheksanol dngan hasil 99%. Boran aluminium dan turunnya d. lakton. seperti pada reduksi 1. Super hidrida mengikat pusat ± pusat elektrofilik pada sisi yang factor penghalangnya renadah.3 Super Hidrida Super hidrida lebih kuat daripada LiBH4 dan kemungkinan merupakan nukleofil hidrida yang pernah ada. keton.C. Diboran (B2 H6) merupakan zat pereduksi penting untuk aldehida. Boran mereduksi ester sangat lambat dan keton atau aldehida direduksi secara selektif dengan adanya ester.

Boran digunakan untuk mengkonversi asam -amino menjadi alcohol amino seperti pada reaksi fenilalanin menjadi fenilalkohol dengan hasil 77%.3 Diisobutil aluminium Hidrida pembuatan alkil ³alana´ yang analog seperti alkilboran. nitril dan keton. termasuk benzene dan toluene.S(CH3 )2). Pereaksi ini sangat larut dalam sebagian besar pelarut organik. tergantung pada proporsi LiAlH4 dan AlCl3. aluminium hidrida (AlH3): 3LiAlH4 AlCl3 4 AlH3 3 LiCl Aluminium hidrida yang dibuat dengan cara ini tidak selalu murni. ester. d. 2 Aluminium Hidrida Boran (BH3 ) merupakan asam lewis seperti halnya borohidrida (BH4-).mempunyai analog sebagai elektrofil. Senyawa yang diperoleh berupa cairan piroforik 45 . Campuran hidrida yang paling umum adalah Cl2 AlH dan Cl2 AlH2. Dibal) yang dibuat dengan merefluks triisobutil aluminium dalam heptana. karena campuran kloroaluminium hidrida dapat terbentuk. Hal yang sejenis AlH4 . d. Salah satu yang lebih sering digunakan adalah kompleks boran dimetil sulfide (H3 B.. Sifat yang mudah terbakar dan sukarnya menangani boran memungkinkan pengembangan sejumlah kompleks basa lewis yang mudah digunakan. meskipun dengan adanya halide.Penggunaan boran yang paling luas adalah reduksi yang selektif terhadap asam karboksilat. Turunan alkil yang paling banyak digunakan adalah diisobutil aluminium hidrida ([(CH3)2CH2 ]2 AlH4.

117 bereaksi dengan pereaksi Grignard. Karena kedua muka mempunyai kesempatan yang sama untuk pengikatan.120 dengan boran seperti 9.31]-nonana).2 Khiral aditif pada system asiklis Aspek utama reduksi hidrida adalah stereokimia reduksi seperti yang ditunjukan pada Tabel 5. hal ini di kaitkan dengan muka atau permukaan molekul yang akan didekati oleh pereaksi selama reaksi berlangsung.2.117 dan alkena 5. akan menghasilkan alcohol 5. Karbonil merupakan pusat prokiral karena adisi hidrida dari kedua muka karbonil (a atau b) menghasilkan pusat stereogenik. yang direduksi menjadi 2-pentanol.BBN (9-boran ±siklo [3. maka akan diperoleh enantiomer S. maka akan dihasilkan enatimer R.120 tidak mengandung pusat khiral. maka diperoleh alcohol 5. tetapi bila molekul tersebut bereaksi dengan suatu pereaksi. yang diikuti dengan oksidasi.118 dan enantiomer (5.1 Pusat ± puast prokhiral Ada molekul ± molekul yang tidak memiliki pusat khiral. Stereoselektivitas pada reduksi Hidrida E.119). Contoh sederhana adalah 2 ± pentanon.122) E. Reaksi alkena 5. Kenyataan bahwa keton 5.121 (dan enantiomernya 5. maka pusat khiral akan terjadi pada produk yang dihasilkan. sedangkan jika pendekataan dari muka yang berlawanan. maka produk alcohol adalah rasemik.E. seperti fenil magnesium bromide. 46 . Di sini di cermati adalah pereaksi yang digunakan. Jika 5. apakah pereaksi tersebut akan menghasilkan enantiomer Ratau S. Jika pendekatan pereaksi dari satu muka.

E. keton 5. Hidrogenasi Katalik Reduksi gugus fungsi dengan gas hydrogen merupakan salah satu reaksi yang penting dalam kimiia organic. F. dan hasil yang diperoleh adalah campuran 1 : 1 diastereomer syn dan anti (5.135a dan 5.136. yangb merupakan rasemik.Heterogen = katalis tidak larut dalam media reaksi 2. pada system asiklis seperti contoh tersebut tidak mungkin memiliki konformasi tunggal. Terdapat dua tipe utama katalis 1.homogen = katalius larut dalam media reaksi Hirogenasi heterogen mempunyai dua bentuk: 1. Hidrogenasi etana menjadi etana pertama kali dilakukan oleh van Wide pada tahun 1875.137 dan pendekatan melalui muka yag lebih terhalang (³muka metal´. Namun demikian. Reduksi terhadap senyawa ini tidak lebih seperti pada reduksi keton yang tidak memiliki pusat khiral. pendekatan melalui sisi sebelah atas ³muka hydrogen´(muka si) akan menghasilkan n5. 1912) F. seperti pada reaksi 5.136. maka reduksi menghasilkan diastereomer.134 dan 5. tetapi pusat tersebut terlalu jauh dari pusat prokhiral yang mempunyai pengaruh atas reduksi pada prokhiral.3 Selektivitas pada reduksi turunan karbonil yang mengandung karbon khiral Jika pusat prokhiral terdapat pada molekul yang mengadun g satu atau lebih pusat khiral. Pada 5. Senyawa 5. muka re)akan memberikan 5. Penggunaan hidrogenansi katalik secara luas dilakukan setelah tahun 1897.138 Jika konfirmasi 5. Reaksi dengan zat pereduksi dapat mempengaruhi konformasi sehingga memberikan sifat diastereoselektivitas.136 mempunyai pusat stereogenik yang berdkatan dengan karbonil.135b). Pereaksi akan mendekati dari muka yang mengikat halangan yang palin kecil. Didukung = proses dalam bentuk bubur dan bekerja dalam keadaan gel tetap 2. Tidak didukung= reaksi terutama dalam larut. maka hasil yang akan diperoleh sangat cenderung pada 5. Namun kenyataannya. Reaksi membutuhkan sejumlah katalis logam transisi agar reaksi dapat terjadi. dan pengaruh khiralitas akan berpengaruh pada pendekatan pereaksi yang akan menyerang.1 Aktivitas dan Reativitas Katalik Metode ini berkaitan dengan adisi gas hydrogen pada molekul organic.134 mengandung pusat stereogenik. yaitu ketika Sabatier mengembangkan reaksi antara hydrogen dan senyawa organic yang kemudian menjadi model reaksi universal (Nobel prize.136 tetap seperti konformasi yang terlihat. 47 .137. dan reaksi berlangsung dengan penyerapan hydrogen dan substrat dipermukaan logam.

rodium merupakan katalis yang paling aktif. Rh > Ir > Rn > Pt > Pd > Ni > Fe > Co > Os Pada urutan tersebut. yang didasarkan pada pekerjaan yang dilakukan oleh Mann dan Lien. tipe atom kink (C) mempunyai enam tetangga dan dinyatak seperti 5. yang di tandai dengan jumlah atom tetangga yang terdekat.172. Dalam beberapa hal.2 Reduksi Alkena dan alkuna Reaksi dengan alkena berlangsung diatas permukaan katalis heterogen logam.170. palladium. melalui pemutusan molekul hydrogen dan penyusunan atom ± atom hydrogen. Tipe atom terrace (A) kekhasannya mempunyai delapan atau Sembilan tetangga dan ditunjukan secara geometri seprti 5.174). step dan kink pada permukaan katalis heterogen. yang diikuti dengan berlansungnya reaksi dengan transfer hydrogen ke karbon (5. Alkena juga terikat pada permukaan logam (5. Tipe atom step (B) biasanya mempunyai tujuh tetangga dan dapat digambarkan dengan struktur 5. Hudliky mengemukakan urutan reakstivitas relative terhadap propena untuk katalis logam transisi golongan VIII. Pengertian tersebut mengacu pada tipe ± tipe ataom yang berbeda.175) Mekanisme yang pasti dari katalis heretogen belum diketahui karena proses tersebut mmerupakan fenomena yang terjadi di permukaan. bergantungf pada sifat dan jumlah katalis maupun tipe prosedur hidrogenasi yang digunakan. Pada proses terlihat 48 .173). Gas hydrogen dipecah menjadi atom ± atom hydrogen yang terikat pada nikel (dinyatakn 5. dan rutheum. tidak ada katalis tunggal yang memberikan hasil yang lebih bagus untuk semua gugus fungsi. Katalis yang sebagian besar digunakan adavlah platian. rodium.Gugus fungsi yang direduksi. tingkat reduksi dan distribusi produk. F. Katalis ± katalis tersebut digunakan untuk mereduksi banyak gugus fungsi . iridium. Variabel pertama dalam hidrogenasi katalik adalah katalis. garam ± garam logam transisi sering digunakan daripada logamnya sendiri. Maier menggambarkan adanya tipe ± tipe atom terrace.171. akhirnya. nikel. Katalis heterogen merupakan suatu perwujudan permukaan dan karena itu dikenal terdapat beberapa perbedaan tipe partikel ± partikel logam di permukaan.

Cincin siklopropana tidak dapat direduksi dengam katalis Lindlar. F. tetapi dapat direduksi dengan katalis heterogen seperti platina oksida (PtO2.185 pemecahan secara reduktif cincin siklopropana berlangsung lebih cepat daripada reduksi keton.185 direduksi dengan katalis adams menghasilkan campuran 5. tetapi tidak dapat mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada barium sulfat atau alumina Al2 O3. Redukski fenol mula ± mula menghasilkan enol.205 dengan adanya hydrogen berlebih.186 dan 5. dengan perbandingan 10 : 82.187. maka hidrogenasi katalik dapat dipersulit oleh reaski samping. tetapi senyawa ini tereduksi lebih lanjut menjadi dekalin (5. G.200. Reduksi Logam Terlarut 49 . dan 5.202 yang akan menghasilkan reduksi sempurna pada semua ikatanmenjadi 5. kecuali jika menggunakan katalis rodium. Urutan relatif untuk reduksi naftalena menjadi tetralin adalah Pd > Pt > Rh > Ir > Ru Rodium mula.200 merupakan konstituen kecil dari campuran produk akhir. tetapi senyawa ini dikonversi menjadi sikloheksanon atau turunan sikloheksanadion. yaitu sbb: Rh > Ru >> Pt > Pd >> Ni > Co Rodium dan ruthenium digunakan jika menghindari hidrogenolisis.memutus ikatan H ± H yang menghasilkan spesies logam ±H (H*). F. dimana hydrogen diserap pada situs aktif dipermukaan katalis.mula mereduksi naftalena menjadi 5. Bila cincin aromatic tersubtitusi.4 Reduksi aromatic dan Hidrokarbon Heteroaromatik Contoh yang paling sederhana adalah reduksi benzene menjadi sikloheksana yang membutuhkan kondisi suhu dan tekanan tinggi.201). Contohnya 5.3 Hidrogenasi senhyawa ± senyawa karbonil Bahwa pada reduksi 5. Rylander memberikan urutan berbagai katalis untuk mereduksi benzene. disebut katallis adams). Platinum mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada karbon atau kalsium karbonat. seperti pada reduksi 5.

dan menghasilkan produk yang tereduksi. Ketil dapat mengaloami penggabungan radikal . Hidrazin hidrokarbon (N2 H5 HCl) sangat efektif untuk mereduksi khususnya keton yang mempunyai penghalang. intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepakan proton dari pelarut yang bersifat basa. Pada keadaan yang serupa. Penggabungan radikal aseton seperti yang dinyatakan diatas ditunjukan pada konversi 2.asetilpiridin (5. sedangkan reaksi yang terakhir berupa reduksi. Hidrazin juga digunakan untuk mengkonversi alkil ptalimida menjadi alkilm amina dengan mengantikan satuan O = C. yaitu bentuk radikal karbon dan bentuk karbanion (5.220) dengan hasil 68%. H.218) menjadi 1. intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepaskan proton dari pelrut yang bersifat asam.1 Reduksi Elektrofilik Reaksi reduksi dari logam ± logam alkali melibatkan transfer elktron tunggal dan dapat dilakukan pada sel elektrolitik.NR ± C = O dengan satuan O = C ± NHNH ± C = O. Contohnya elektrolisis aseton. ikatan pada 2-butuna menangkap electron yang dihasilkan dari eletrolisis membentuk anion radikal seperti 5.215 Paling tidak ada dua tipe produk reaksi yang dihasilkan oelh ketil yang berasal dari aseton.214). Terdapat dua bentuk kanonikal ketil inn. elektron ditransfer kekarbonil. Proses ini di kenal dengan reduksi Wolf ± Kishner. Salah satunya adalah reduksi dengan hidrazin Dalam keadaan basa.G. Reduksi Nonlogam Terdapat sejumlah cafra untuk mereduksi gugus fungsi organic yang menggunakan pereaksi nonlogam.2.diol (5. menghasilkan anion radikal (disbut ketil). reaksi ini sering disebut sebagai prosedur Ing ± Maske 50 .

Ini merupakan reaksi berlawanan regioselektivitas keseluruhan terhadap adisi selektif pada reaksi kationik. Jika diinginkan adisi anti-Markonikov. Reaksi adisi anti markonikov yang khas adalah adisi boran pada alkena. Reaksi radikal ini berlangsung dengan baik hanya untuk adisi HBr dan tidak untuk HCl atau HI. dan produk adisi ditentukan oleh stabilisasi relatif dari intermediet. Reaksi adisi tipe radikal akan berlangsung dengan bentuk anti±Markonikov.) 4.BAB VI KONTROL STEREO DAN PEMBENTUKAN CINCIN 6. Reaksi adisi lain yang berlangsung dengan orientasi anti-Markonikov adalah adisi HBr pada alkena dengan adanya peroksida. kemudian diikuti reaksi dengan HBr.maka hidrogen ditransfer pada radikal tersebut. Karena brom pertama tama megadisi alkena yang menghasilkan radikal tersier yang lebih stabil.) 5. Radikal yang terbentuk distabilkan oleh efek elektronik tiga gugus alkil daripada alternatif radikal primer.) Selektivitas markonikov atau anti markonikov Retensi atau inversi konfigurasi Selektivitas cis-trans Selektivitas syn-anti Pengaruh khelasi heteroatom.1 Kontrol Stereo pada Sistem Asiklis.) 2. yang menghasilkan alkohol pimer. yang biasanya digunakan untuk suatu usaha menghasilkan satu diastereomer sebagai produk utama dari reaksi. 51 . Reaksi ini menghasilkan radikal karbon yang diperoleh mula-mula dari adisi radikal brom pada alkena. Pengotrolan adisi Markonikov vs anti-Markonikov dapat diprediksi dengan pengontrolan jalur mekanistik adisi. Reaksi dengan HBr menghasilkan bromida primer dan menghasilkan radikal brom yang lain pada langkah propagasi rantai. reaksi adisi kation dan radikal menghasilkan intermediet reaktif. Radikal brom dibentuk berdasarkan pemecahan hormolitik dari peroksida yang ditambahkan. 6.1 Selektivitas Markonikov/ anti markonikov Reaksi khas yang menggambarkan adisi markonikov adalah reaksi HBr dengan 2-metil 2-butena yang menghasilkan 2-bromo 2-metil butana. Jika reaksi menghasilkan karbokation. maka pengubahan pada mekanisme reaksi harus terjadi. setelah oksidasi terhadap intermediet alkil boran. Usaha ± usaha untuk mengontrol stereokimia yang penting meliputi: 1. Pada umumnya.) 3. maka orientasi Markonikov pasti dihasilkan.1. Reaksi pada molekul asiklis dapat menghasilkan diastereomer dan pengertian ³penontrolan stereokimia´.

6. antibiotik karbapenam.1.maka tipe S 2 menjadi mungkin N dengan inversi pusat stereogenik tersebut. Contoh sederhana proses ini adalah konver i (S)-2s pentanol menjadi tosilat yang sesuai. b Metode lain selain reaksi Mitsonobu juga dapat dipeoleh untuk menghasilkan stereokimia. Reaksi asam amino dengan Natium Nitrit (Na2NO2) dan Kalium Bromida (KBr) menghasilkan asam -bromo. Proses ini biasanya melibatkan alkohol atau substrat amina. Reaksi ini diamati pertama kali oleh Walden.Reaksi HBr dengan 2-metil-2-butena yang menghasilkan 2-bromo-2-metilbutana. yang dapat diganti dengan nukleofilik seperti azida dan ada hasil. dengan hasil retensi konfigurasi secara sempurna. dengan retensi konfigurasi secara sempurna. Retensi vs Inversi Konfigurasi Contoh sederhana untuk menginversi pusat stereokimia adalah mengkonversi gugus fungsi menjadi gugus fungsi lainnya. Metode lain untuk mengkonversi atau mengontrol stereokimia ditunjukkan pada konversi D-manitol menjadi (R)-ephiklorohidrin atau (S)-ephiklorohidrin. Kontrol stereokimia diperoleh dengan memanipulasi perbedaan -perbedaan pada reaktivitas. Jika alkohol dikonversi menjadi turunan dengan ikatan C ± O lemah serta adanya kecenderungan yang besar untuk terjadinya penggantian . Reaksi ini diambil dari sintesis tienamisin. Gugus amino dapat diubah menjadi gugus fungsi yang lain. Ini merupakan metode efektif untuk menginversi pusat stereo dengan pengikatan gugus fungsi yang ber eda. dengan kontrol sempurna pusat stereogenik.2. 52 . yang dilakukan oleh Salzmann. Konversi yang menarik adalah transformasi NH2 Br.

Keadaan yang berlawanan.1. reaksi alkun dengan logam alkali akan menghasilkan trans-alkena. pengertian utama terhadap perbedaan dua mekanisme reaksi tersebut memungkinkan pengontrolan geometri cis-trans produk akhir. tetapisatu yang perdominan. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena. 53 . Selektivitas cis-trans Kontrol pada geometri cis-trans telah ditunjukkan pada reduksi alkuna engan hidrogenasi katalitik atau dengan logam alkali. yaitu pada contoh konversi alkena menjadi 1. Pada contoh ini. Rekasi lain di mana syn dan anti diastereomerdapat dibentuk. 6.4.1. syn diol dibentuk melalui pelepasan nukleofil hidroksida dari sisi belakang ke karbon yang kurang terhalang.2diol. dengan mengubah basa atau kondisi reaksi lain. yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida (atau dangan nukleofil oksigen lain). Selektivitas syn-anti Reaksi enolat yang dibicarakan sebelumnya merupakan contoh yang baik tentag kemampuan untuk mempengaruhi atau mengontrol distereoselektivitas. Produk-produk akhir dari serangkaian reaksi ini adalah syn diastereomer dan anti diastereomer.Contoh pengontrolan konfigurasi pusat khiral adalah konversi alkohol sekunder khiral menjadi klorida sekunder yang sesuai dengan tionil klorida 6.3.Metode untuk menghasilkan diol secara stereoselektif dimulai dengan epoksida. Sekali lagi. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena.

Metode untuk menghasilkan diol secara streoselektif dimulai dengan epoksida yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida 6.seperti pada reaksi 1 fenilsikloheksena oksida dengan hidroksida.Hasil yang diperoleh adalah syn-diol. tetapi litium aluminium hidrida menunjukan selektivitas yang kurang.terutama terhadap molekul siklis. dan retensi atau inversi konfigurasi. Sukar untuk memisahkan pengaruh regiokimia (cara adisi) dan pengaruh retensi dibandingkan inversi dan isomerisasi cis-trans pada molekul-molekul siklis. Koordinasi dengan oksigen dan pelepasa oksigen elektrofilik dari sisi tersebut menghasilkan alkohol epoksi. Kecenderungan terjadinya khelat heteroatom tegantug pada pereaksi yang digunakan. Salah satu faktor utama untuk mengontrol diastereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga. Khelasi Heteroatom Salah satu faktor utama untuk mengontrol distereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga (pengaruh gugus tetangga). Zink borohidrida mengadakan koordinasi yang sangat kuat dengan heteroatom.5. Dalam beberapa hal.pengikatan alkohol alilik pada logam adalah penting untuk pelepasan oksigen elektrofilik dan juga untuk pengontrolan orientasi alkena relatif terhadap agen epoksidsi. 6.1.mungkin mengontrol pembukaan cincin epoksida.hal ini disebabkan oleh koordinasi yang lemah dengan heteroatom.2 Kontrol Stereo pada Sistem Siklis Cara untuk mengontrol regiokimia Markonikov dan anti-Markonikov. Epoksidasi asimetris Sharples memanfaatkan selektivitas yang timbul dari koordinasi dengan alkohol alilik oleh penambahan agen khiral untuk mengontrol selektivitas. Adisi pada ikatan tersubtitusi menghasilkan 54 . pada dasarnya sama seperti pada sistem asiklis. Keadaan ini dapat ditunjukkan pada reaksi alkohol alilik khiral dengan asam peroksi.

dan membentuk alkena yang lebih banyak tersubtitusi. yang bila direaksikan dengan basa menghasilkan metilsiklopentana.metilsiklopentana. 55 . 1-bromo-1-metilsiklopentana. 1-bromo-1metilsiklopentena. Selektivitas Markonikov / anti-Markonikov Masalah-masalah yang berkaitan dengan adisi secara regioselektif pada molekul-molekul siklis pada dasarnya sama seperti pada molekul-molekul asiklis.isomer-isomer geometri. Namun demikian.2. dan pada sebagian besar sistem siklis akan mengontrol konfigurasi absolut pusat khiral yang dikaitkan dengan isomer-isomer cis-trans dan/atau dengan pembentukan diastereomer. Adisi boran dan oksidasi menghasilkan campuran alkohol dengan perbandingan 86 : 14.2. 6. Hal ini disebabkan sifat termodinamika reaksi dan persyaratan elektronik bahwa kedudukan gugus pergi anti terhadap hidrogen yang dilepaskan. Sebagai contoh. Pengertian syn dan anti tidak mempunyai arti pada sistem siklis.2. Reaksi Hbr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markovnikov yang menghasilkan tersier bromida. Efek yang sama terjadi pada halida siklis seperti cis-2-1. dimana yang lebih menguntungkan adalah produk yang kuran tersubtitusi. Aturan Bredt Reaksi lain di mana regioselektivitas bersifat penting adalah pembentukan ikatan rangkap pada reaksi eliminasi. hidroborasi metilsiklopentena menghasilkan produk utama anti Markonikov karena untuk adisi dibutuhkan keadaan transisi empat pusat. reaksi HBr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markonikov yang menghasilkan tersierbromida. 6. Penambahan pada halida dengan kalium-t-butoksida dalam t-butanol menghasilkan antieliminasi. Regiokontrol pada eliminasi diperoleh dengan pengikatan basa pada molekul (basa internal untuk eliminasi syn) atau dengan pengikatan basa pada molekul seperti pada reaksi biomolekul (basa eksernal untuk eliminasi anti).1.

diikuti pelepasan hidrogen.pada kedudukan yang kurang tersubtitusi. karbon ± karbon kepal jembatan (a dan b) tidak dapat dilibatkan pada ikatan rangkap dua karbon ± karbon. tetapi produk yang dihasilkan adalah alkena yang lebih banyak tersubtitusi. 56 . dan sistem bisiklis kecil tidak dapat mengakomodasi kenaikan yang besar dalam tegangan ini. Energi keadaan transisi yang dibutuhkan untuk mengeliminasi ± menjadi karbon kepala jembatan dalam sistem kecil ± sangat tinggi. Pernyataan yang dikemukakan oleh Bredt adalah ³dalam sistem keluarga kamfen dan a pinena serta senyawa ± senyawa yang sekerabat.yang mempunyai kedudukan syn terhadap gugus pergi. hidrogen. Pengamatan menunjukkan bahwa ikatan rangkap dua karbon ± karbon tidak dapat dibentuk pada atom ± atom kepala jembatan dalam cincin ± cincin bisiklis kecil dan keadaan seperti ini pada awalnya disebut aturan Bredt. disebabkan pembentukan geometri planar karbon sp2.Perbedaan utama di sini adalah ketidakmampuan cincin berotasi di sekitar ikatan karbonkarbon. yang secara energetik lebih menguntungkan. Syn-eliminasi melibatkan basa yag terikat secara intramolekul. Pembentukan produk alkena memerlukan penahanan kedudukan ³kepala jembatan (bridgehead)´ menjadi konformasiplanar. Untuk syn dan anti eliminasi keduanya.dan gugus pergi adalah sudah ditentukan oleh regiokimia halida. Adanya penghalang pada keadaan syn ini mengakibatkan pendekatan dan pelepasan hidrogen.

2.6.konformasi cicin.pengontrolan geometric cis-trans merupakan persoalan diastereoseletivitas.4 Isomer-isomer cis-trans (diastereoselektivitas) Pada system siklis .selama reaksi dengan LiAlH4 yang menghasilkan trans-alkohol) 57 .88 : 6.Contoh : Reduksi 4-t-butilsilkoheksanon menunjukan kemantapan yang ditandai pelapisa hibrida melalui jalur a (perbandingan a : b = 91 : 9).contoh: Perbedaan utama antara system siklis dan system ansiklis adalah ketidakmampuan sistem siklis mengalami rotasi disekitar ikatan karbon-karbon yang menghasilkan perbedaan konfigurasi. Menghasilkan azida.89). Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Corey.karena sudut pendekatan nukleofil terhalangi.4 ±t-butil-1-bromosikloheksana.9 : <1 yaitu 6.Reaksi asida (NaN3) dengan cis .bentuk ekuatorial adalah bentuk yang dominan (dengan perbandingannya adalah <99.maka penggantian bromida berdasarkan SN2 melauli peningkatan pada sisi belakang akan sulit terjadi.3 Retensi vs invarsi (kontrol diastereo) Reaksi molekuler siklis yang melibatkan pembentukan pusat-pusat khiral mirip seperti yang terjadi pada system asiklik.jika azida di gunakan sebagai nukleofil . 6.dengan inversi konvigurasi penuh Melalui jalur reaksi SN2.dan stabilitas produk akhir.kemampuan kekonformasian pada keadaan transisi.merupakan hal yang penting untuk mengkontrol dan memprediksi stereokimia.2.

Terdapat banyak cara yang ada untuk emeriksa stereokimia relative pada pusat khiral yang tidak sesuai dengan sasaran yang diinginkan.paling tidak ada dua pilihan : 1.dan 2.3 Pengaruh Khelasi dan Gugus Tetangga Pengaruh gugus sederhana yang di pengaruhi pelepasan ³oksigen´ ke ikatan rangkap dua alcohol telah dikemikakan oleh Henberst dan Sharless. Mengubah jalur sintesis untuk menghasilkan intermediet yang menguntukan yang dapat menghasilkan steriokimia yang diinginkan. 58 .Epoksidasi senyawa 6. Mengubah pusat sterio pada produk akhir.memungkinkan kita untuk dapat mengubah populasi diastereomer. Ini merupakan pengaruh untuk reaksi asiklis. 6.100 berlangsung melalui koordinasi asam peroksi dengan alcohol.Para ahli kimia yang melakukan sintesis tidak selalu dipaksa untuk menerima stereokimia tersebut.pelepasan berbedah dengan epoksidasi alitik asetat yang terutma menghasilkan pelepasan oksigen elektofilik dari muka yang kurang berpenghalang.Dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan seperti itu pada stabilitas produk .

dadi pasangan gugus amino yang harus di perhatikan . Alumenium mengadakan koordinasi dengan oksigen oksetana kurang terlarang pada 6.108.4 Stereo Kontrol Asiklis melalui precursor siklis 59 .pengaruh khelasi tersebut pada kenyataannya dapat merupakan pengarahan steriokimia atau regiokimia dan penghambat atau penghentian reaksi yang diharapkan.Pengaruh gugus seperti ini disebabkan oleh pengaruh khelasi subtituen heteroatom dengan pereakai. tetapi juga pengaruh-pengaruh yang lebih kuat dari pasangan electron bebas yang berdekatan dengan electron nitrogen.tidak hanya pengaruh ± pengaruh a dan b hidroksil.merupakan retomer kunci.alkoksi. Pengaruh gugus tetangga dapat menjadi jelas dan dapat digunakan untuk mengarahkan steroekimia dari suatu reaksi.oksigen dan belerang.107 dan 6.Contoh lain : Reaksi oksetana dengan diametil alumenium Nmitel-analin yang merupakan reaksi eleminasi. pada muka b yang Pada perencanaan reaksi. 6.menghasilkan 99% (E)-alkena.

Baldwin mengklasifikasikan penutupan cicin menjadi dua kategori : EXO (aliran electron dari reaksi adalah eksternal terhadap cicin yang akan dibentuk) dan ENDO (aliran elektro didalam cicin yang akan dibntuk).dan regioimia dan strereokimia subtituen telah ditetapkan (ditemukan).Hidrogenasi Lindlar memberikan feromon seks utama dari Doglas fir Fussockmoth.jika atom yang diikat dinyatakan tet dan cicin yang akan dihasilkan adalah 6.Sistem siklis dapat digunakan untuk memprediksikan gugus fungsi.homolitik.Cincin kemudian dibuka untuk memperperoleh system asiklis . Penambahan dan pengaturan gugus fungsi adalah konversi sikloheksanoan menjadi epoksiteron.Peningkatan atom pada sp2 disebut TRIG (membentuk cicin) dan peningkatan hibridisasi pada atom sp disebut DIG( pembentukan cicin).Penambahan dengan tosilhidrasin dalam asam asetat akan menyebabkan terjadinya pemecahan cicin Eschenmoser dan menghasilkan .sering dengan control regiokimia dan steriokimia.5 Reaksi Pementukan Cicin Pengenalan dari aturan Baldwin untuk penutpan cicin.mempelajari nukleofil.dan mendapatkan pola reaktifitas yang dapat relativ diprediksi. 6. 60 .dan proses penutupan cicin kationik. Contoh penerapan masalah dilakukan dengan cara disintesis senyawa organic secara efektif.Pendekatan ini didasarkan pada persyaratan -persyaratan steriokimia dan sudut pendekatan yang memungkinkan untuk membawa ersama-sama dua pusat rebktif bila dihubungkan dengan atom-atom (tether).118.

yang haya didasarkan pada substrat.Pengggantian pada karbon sp3 pada umumnya melaui peningkatan dari bagian belakang dan gugus yang akan datang (X) harus mendekati karbon yang mengandung Y [ada sudut yang dekat dengan 180°.maka yang paling perluh dibicarakan adalah pertamatama adalah persyaratan sudut peningkatan untuk membawa dua ujung raktif molekul bersama-sama.Bila kita bicarakan aturan Baldwin.tetapi selama reaksi.atom sp3 adalah tetrahedral ( dengan sudut ikatan sekitar 109°) 61 .disini sudut ikat sekitar 120°.Elliot dan Graham-Richard menyatakan suatu metode untuk memprediksikan sudut pendekatan yang cocok.

Dalam hal in konversi atop sp menjadi atom sp 2 menghasilkan sudut ikat 120° yang merupakan karekteristik alkena.Menggunakan analog yang sama seprti pada koversi sp2 -sp3 atom harus mendekati ikatan rangkap tiga pada sudut sekitar 120°.Sudut ikat pada ikatan rangkap tiga adalah 180°.konversi sitronelal oleh pengaruh katalisator asam H isopulegol 62 © menjadi . Contoh siklis endo.karena molekul adalah linear.

Mengalami

penggantian

exo

Y,tetapi

me

nghasilkan

Konver

Terdapat dua cara untuk meggambarkan pembentukan cicin.Enolat secara kinatik akan membentuk cicin melalui pengganti Exo Y menghasilkan 6.129 Enolat secara termodinamikal akan menghasilkan konversi,di sebut enol endo-exo-tet dan konversi.

bguvvyfiyfiyf Enolat pada umumnya mengalami reaksi 5-endo-tring pada oksigen sedangkan reaksi 6endo-tring disukai pada karbon.untuk membentuk cicin lingkar dari lima dari pasangan electron bebas oksigen harus pada kedudukan yang tepat untuk menggantikan kedudukan brom pada 6.136( produk adalah tetrahidrofuran).

63

Keadaan transisi untuk penggantian in di gambarkan pada 6.140.Agar menghasilkan cicin lingkar-enam,maka orbital-orbital karbon enolat pada 6.138 harus pada sudut ang tepat untuk penggantian.

64

BAB VII GUGUS PELINDUNG

7.1 Pengertian Gugus Pelindung Banyak target senyawa sintetik yang mengandung lebih dari satuu gugus fungsi, dan gugus tersebut dapat mengadakan interaksi dengan pereaksi yang digunakan selama proses sintesis. Jika gugus keton dan aldehida terdapat di dalam molekul yang sama, kedua gugus tersebut dapat bereaksi dengan pereaksi tertentu pada saat yang sama. Adanya alcohol dan amina dalam molekul yang sama juga akan menimbulkan masalah karena kedua gugus fungsi tersebut cepat beraksi dengan asam, basa, dan nukleofil. Cara untuk menanggulangi fungsi tersebut adalah dengan melindungi atau mengeblok sementara satu gugus yang reaktif dengan mentransformasikannya menjadi gugus fungsi baru yang idak akan mengganggu menjadi gugus baru yang berbeda, yang tidak akan bersaing dengan reaksi yang diharapkan. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasi gugus fungsi baru (gugus pelindung) kembali menjadi gugus fungsi semula pada tahap akhir sintesis. Proses ini di kenal sebagai perlindungan dn proteksi. 7.2 Gugus Pelindung Umum Untuk Alkohol, Karbonil dan Amina 7.2.1 Proteksi Alkohol Gugus pertama dalam pengembangan gugus pelindung untuk gugus fungsi adalah mengidentifikasi bagian molekul mana yang dapat mengganggu. Dalam hal alcohol, bagian molekul yang hampir selalu dapat mengganggu adalah keasaman hydrogen gugus O-H. jika gugus OH tersebut mengganggu rencana sintesis, maka OH harus dikonversi menjadi gugs fungsi lain (O-X), tetapi reaksi ini harus dapat berlangsung dan menghasilkan produk yang tinggi pada kondisi normal. Alcohol memilki dua reaksi utama yang cocok terhadap criteria tersebut, yaitu konversi alcohol menjadi eter, biasanya berlangsung dengan hasil yang tinggi dan memberikan produk yang relative inert. Karena sifat inert inilah, maka kondisi yang dibutuhkan untuk memecah eter harus kuat. Cara lain adalah mengkonversi alcohol menjadi asetal asilik atau ketal. Juga sangat mungkin mengubah alcohol menjadi ester pada kondisi normal, dan dengan mudah mengembalikannya menjadi alcohol dengan cara menghidrolisis ester. 7.2.2 Gugus Pelindung Eter dan Asetal Gugus pelindung paling sederhana untuk alkohol adalah metil eter (-OCH3). Reaksi alcohol dengan basa (umumnya natrium hidrida (NaH) dalam THF atau DMF) menghasilkan alkoksida. Cara berikutnya adalah mereaksikan alcohol dengan trimetiloksonium tetrafluoro borat. Metil eter stabil terhadap basa kuat, nukeofil, organologam, hidrogenasi, zat pengoksidasi, dan zat pereduksi hidrida. Metil eter stabil pada PH 1-14. Metil eter dapat
65

yang dibuat dengan mereaksikan alkoksida dai alcohol dengan benzil bromida atau klorida. Alkohol dapat dikonversi menjadi t-butil eter (O-C(CH3)3 ) dengan mereaksikan alcohol dengan 2-metil-2-propena (isobutilena).26. tetapi stabil pada Ph 1-14. Gugus alilik OH akan mengganggu proses pembentukan gugus OCH3 dalam 7. dengan adanya katalis asam (asam sulfat atau BF3). hidrida. Dua cara yang umum untuk melepaskan gugus benzil meliputi pemutusan ikatan O-CH2Ph dengan hidrogenolisis. Gugus pelindung eter lainnya adalah benzil eter (-OCH2Ph. dan metilasi yang keudian dilanjutkan dengan deproteksi (hydrogen/paladium) akan menghasilkan 7. karbonion dan organologam . Benzil eter stabil terhadap sejumlah pereaksi.organologam. sedangkan trimetilsilil iodida dapatmemecah pelindung alcohol dalam kloroform dan pada suhu yang relatif tinggi. dan beberapa zat pengoksidasi. Cara lain dari hidrogenolisis adalah dengan melarutkan logam natrium atau kalium dalam amonia. 66 . hidroborasi. Sebagai gugus pelindung .t-butil sensitive terhadap asam kuat. hidrida. Contohnya adalah sintesis monensin yang dilakukan kishi.25. meliputi pH 1-14. oksidasi dan reduksi. hidrogenasi katalitik. biasanya dengan katalis poladium.25) dengan mereaksikan dengan kalium hidrida (KH) dan benzil bromida. Cara paling umum pemutusan ikatan C-O benzilik adalah dengan hidrogenasi katalitik. nukleofil. karena gugus OH primer juga dapat bereaksi dengan KH/CH3 I. oksidasi.O-Bz).dipecah oleh HI pekat. dn stabil terhadap nukleofilik. dimana mula-mula alcohol 7.24 dikonversi menjadi benzil eter (7.

O-MOM). Tipe lain dari gugus pelindung asetal adalah etil eterr tersubtitusi. proteksi OH pada 7. gugus hidroksi metil pada 7.MEM). Sebagai contoh. Gugus MEM sensitive terhadap asam Lewis dan dapat di pecah dengan asam kuat berair (PH<1). Gugus MEM juga dapat melindungi alcohol tersier.Gugus pelindung eter alternative yang telah di kembangkan oleh Green adalah ³metil eter tersubtitusi´ yang tidak lain adalah asetal (RO-CHR1 -O-R2).27 sebagai turunan MOM (pada 7.29). O-EE). Anggota yang paling umum adalah 1-etoksil-etil eter (O-CH(OCH2CH3 )CH3.32 dengan reaksi wittig. Salah satu gugus pelindung asetal yang paling umum adalah 2-metoksi etoksimetil eter (-O-CH2 OCH2CH2 OCH3.28) dan OH yang lain sebagai benzil eter (7. sementara gugus hidroksil pada 7.SEM). Sebagai contoh.29)selanjutnya di ikuti pelepasan gugus O-MOM. Gugus MEM juga stabil pada pereaksi-pereaksi seperti terhahdap O-MOM dan O-MTM. reaksi selanjutnya menghasilkan alcohol primer baru yang kemudian diproteksi sebagai O-benzil eter (pada 7.7.28. 67 . di bentuk dengan mereaksikan alcohol dengan basa (seperti NaH dalam THF) dan ClCH2 OCH3 (klorometil metil eter).33.27 perlu di proteksi dan di konversi menjadi turunan OMOM. Variasa gugus MEM adalah 2-(trimetilsilil) etoksi metil eter (-O-CH2 OCH2CH2 Si(CH3)3. shibasaki menggunakan gugus EE untuk melindungi. Pelepasan gugus EE dengan asam asetat berair menhasilkan 7.31 diubah menjadi 7. Gugus MEM di ikat oleh alcohol setelah alcohol di konversi menjadi alkoksida (umumnya dengan NaH dalam THF atau DMF). Asetal pertama adalah metoksi metil eter (O-CH2 OCH3.

organologam. yaitu merupakan turunan 1. tetapi kedudukan hidroksil berkaitan sehingga dapat dpproteksi sebagai ketal siklis. Gugus ini stabil terhadap basa (Ph 4-12). atau reaksi diol dengan aseton dengan adanya katalis asam. dengan aam asetat atau dengan asam p-toluennasulfonat dalam methanol. dengan adanya katalis asam.34) bereaksi dengan keton seperti aseton. 1. Gugus tersebut juga stabil terhadap nukleofil.2-diol seperti 2.35 yang dibentuk dari aseton. 68 .2-diol termasuk alcohol. Gugus pelindung ini biasanya dipecah dengan HC berair.35).3 Proteksi Diol 1. ketal seperti 7.7. tetapi tidak terhadap asam. hidrida. dan zat pengoksida.2.3-butanadiol (7. Ca umum pembentukan asetonida adalah reaksi iol dengan 2-metoksil-1-propena dengan adanya asam seperti anhydrous HBr. hidrognasi katalitik. maka akan dibentuk 1.3-diol akan menghaslkan cicin lingkar-6 asetonida.3-dioksana. sering disebut asetonida (isopropilidena ketal). Bila 1.3-dioksolan (7.

aldehida diperoleh kembali dengan menambahkan asam ptoluenasulfonat berair menjadi 7. Dioksolana selanjutnya memungkinkan untuk mengkonversi ester menjadi gugus alkilidena 7. seperti proteksi pada 1. Sebagai contoh sintesis dengan menggunakan asetal untuk memproteksi aldehida adalah pada senyawa 7.38 direaksikan dengan asam berair akan diperoleh kembali diol (7.42 proses ini dilakukan oleh Bauman dan Hoffmann dalam sintesis -santalol.39). dengan menggunakan pereaksi alcohol atau diol.37 dengan mereaksikannya dengan aseton dan kuprisulfat (CuSO4).4 proteksi aldehida dan keton Seperti halnya dengan alcohol.2-diol pada senyawa 7.38.36 yang dikonversi menjadi 7.Asetonida berguna dalam sintesis.2.41. reaksi iol dengan aldehida atau keton lain akan menghasilkan ketal atau asetal. Reaksi utama dari karbonil adalah adisi nukleofilik asil.suatu cara telah dikembangkan untuk memproteksi keton dan aldhida. 69 .40 sebagai dimetilasetal. 7. Cara umum memproteksi gugus karbonil adalah dengan mengkonverinya menjadi ketal atau aseta. Variasi reaksi ini antara lain meggunakan pereaksi diol yang menghasilkan ditioketal atau ditioasetat. bila 7. Dua turunan yang umum adalah benzaldehida (membentuk benzilidena asetal) dan sikloheksanon (membentuk sikloheksilidena ketal). dan reaksi berikutnya dengan mereaksikan dengan basa membentuk senyawa alkena 7.hal ini dilakukan karena ugus karbonil yang merupakan bagian dari gugus fungsi dapat mengganggu salama reaksi berlangsung.

3-propanadiol untuk memproteksi keton 7. Cara yang paling umum untuk memecah turunan dioksana atau dioksolana adalah dengan mereaksikannya dengan asam berair. tetapi methanol merupakan alcohol yang paling umum digunakan. dan 1.meyer memproteksi senyawa keton 7.43 sebagai ketal (7.47 dengan butyl litium dan juga konversi yang menghasilkan produk alcohol menjadi klorida 7. yang di ikuti reduksi terhadap laktam menjadi amina.7.( )-aspidosapermina. proses ini dilanjutkan oleh reaksi olefin 7.47). Proteksi aldehida dan keton juga dapat dilakukan denga menggunakan 1.49.3-diol yang membentuk ketal siklis atau asetal siklis.2-diol dan 1. 70 .2dimetil-1. diproteksi terhadap karbonil menghasilkan kamforenon.45.3-sdioksana dibuat dengan mereaksikannya dengan 1.46 (yang membentuk 7. Deroteksi menghasilakan 7. menggunakan 2.2-etanadiol. Turunan 1. Sebagai contoh.48.3-dioksolana dibentuk dengan mereaksikan karbonil dengan 1. meliputih HCl dalam THF dan asam asetat berair.Dalam kenyataannya banyak jenis alcohol yang dapat digunakan untuk menghasilkan asetal atau ketal. Variasi dapat dilakukan dalam memproteksi ketal dengan memasukkan subtituen alkil pada senyawa diol.44).3-propanadiol. seperti yang dilakukan oleh Money.

7. NBz).hidrida.3. Gugus ini stabil terhadap asam dan basa (Ph 1-12) dan terhadap nukleofil.2 Gugus pelindung N-As Amida merupakan gugus pelindung yang paling umum digunakan untuk memproteksi amina. biasanya dengan adanya basa seperti kalium karbonat (K2 CO3) atau hidroksida. dan asam Lewis.N-Ac).1 Gugus Pelindung N-Alkil Gugus alkil lain yang digunakan untuk melindungi nitrogen adalah benzil (N-CH2Ph. Ikatan N-C dapat diputus secaa hidrogenolisis katalitik atau pelarutan logam. Amina direaksikan dengan benzil klorida atau benzil bomida.3. N-astil merupakan ggus pelindung amida yang sudah di kenal bak dan N-asilamina dikenal merupakan turunan asetamida (N-COCH3. Reaksi antara anhidrida asetat atau 71 . organologam.3 Proteksi Amina 7. Cara penentuan lain adalah dengan mereaksikannya dengan natriium dalam amonia cair. 7.

Gugus ini sensitive terhadap asan kuat. Contoh sederhana di tunjukkan pada proteksi asam amino 7. Jenis gugus lain yang memproteksi amina adalah trifluoroasetamida (N-COCF3. Banyak gugus pelindung yang dikembangkan untuk memproteksi asam amino pada sintesis peptida.55).56). pengganti tosilat dengan nukleofil belerang (manghasilkan 7.asetil klorida dengan amina.54 sebagai turunan BOC (7. 7. dengan adanya basa sperti piridin atau trietilamina.N-TFA). Gugus BOC biasanya dilepaskan dengan mereaksikannya dengan HCl berair atau dengan asam trifluoroasetat.3. akan menghasilkan asetamida.3 Gugus Pelindung N-karbamat Gugus pelindung lain untuk nitrogen adalah karbamat (N-CO-OR). Trifluoroasetil umumnya di ikat brtdasarkan reaksi antara amina dengan anhidrida trifluoroastat (CCF3CO)2O) dengan adanya trietilamina atau piridin. dilanjutkan dengan 72 .

N-CBz benziloksi karbonil). Gugus diikat oleh reaksi antara amina dengan benzil kloroformat (PhCH2 O2CCl) dengan adanya basa (karbonat berair atau trietilamina). terhadap asam Lewis dan terhadap sebagian besar hidrida (gugus tersebut bereaksi dengan LiAlH4 ).terhadap nukleofil. Gugus sangat stabil terhadap asam dan basa (ph 1-12).57. 73 .Doprteksi dengan asam trifluoroasetat (suhu kamar 30 menit)yang akan menghasilkan amina 7. dan gugus hidroksil diganti dengan gugus tiol. terhadap organologam (tetapi gugus tersebut bereaksi dengan pereaksi organolitium dan pereaksi Grignard). Gugus ini sensitive terhadap hidrolisis dengan hidrogenasi katalitik (pada karbon merupakan katalis yang umum di gunakan). Karbamat lain yang popular adalahbenzil karbamat (N-CO2CH2Ph.

58) dikonversi menjadi turunan CBz (direaksikan dengan benzil kloroformat)dan kemudian direaksikan dengan diazometana menghasilkan diazoketon yang di proteksi CBz (7. menghasilkan 7. atau turunan hidrazon.61.Fenilalanina (7. gugus fungsi asam di perpanjang dengan satu karbon melalui penataan ulang Wolff. keton. Keasaman hydrogen alcohol dapat diproteksi dengan mengubahnya menjadi eter. 74 .59).diproteksi dengan hydrogen menghasilkan 7. asetal. KESIMPULAN Gugus pelindung berfungsi memproteksi atau memblokade satu gugus yang reaktis dengan mentransformasikan menjadi gugus fungsi baru yang tida mengganggu terhadap transformasi yang diinginkan. Pasangan electron pada amina dapat diproteksi dengan cara mengkonversi menjadi garam amonium.dan amina. tioasetal atau tioketal. atau ester. Asam karboksilat biasanya diproteksi sebagai ester.60. Gugus-gugus fungsi penting sebagian besar menyebabkan masalah reaktivitas adalah alcohol. Keton dan aldehida biasya diproteksi dengan cara mengkonversinya menjadi asetal atau ketal. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasikan gugus pelindung tersebut menjadi gugus fungsi semula padatahap akhir sintesis.

metilamina. Analisis ini ternyata dapat dilakukan dengan cara mendiskoneksi 8.6). PEN ERTIAN STRTEGIS SINTESIS Corey mencatat Beberapa contoh sintesis untuk menggambarkan sejarah sintesis.BAB VIII STRATEGI SINTESIS 1. Robinson pada tahun 1917 mensintesis tropinom (8.1) dalam rangka untuk memastikan struktur sebenarnya dari bahan alam ini. dan aseton.2 menjadi bagian -bagian yanga lebih sederhana.3) yang dilakukan oleh Bachman pada tahun 1990 merupakan sinesis multilangkah pertama terhadap precursor stroid menjadi estron. Selama berthun-tahun terjadi peningkatan data tentang ciri ciri struktur dan sterokimia dari senyawa yang semakin kompleks. Pada tahun 1904.Perkin mensintesis terpinol (8. Wordward dan Doering mensintesis kuinina (8.5) atau strinina (8.2). 75  . ia menghipotesiskan bahwa hidrolisi yang diperkirakan terhadap substrat (tropin) dapat diubah menjadi suksin aldehida.4) sebagai target yang semula ia mengira bahwa senyawa yang kompleks tersebut tiak di ketahui apakah (8. Sintesis ekuilen(8.

Pemilihan atau penentuan percobaan dan analisis. Akan tetapi. Kesempatan belajar memberikan andil yanga besar terhadap langkah-langkah selanjutnya dalam pekerjaan sintesis. sehingga membuatnya menjadi suatu proses yang dapat di mengerti. 76 . penciptaan. ada strategi lain yang dapat ditera pkan pada perencanaan sintesis. Pemilahan reaksi kimiayang spesifik untuk tranformasi satu intermedit sintesis ke langkah berikutnya 2. Pendekatan ini disebut Retrosintesis. Corey melibatkan LHASA (logic Heuristics Applied To Synthetic Anlysis) dengan tujuan membantu ahli kimia dalam perencanaan sintesis dan untuk mensintesis molekul-molekul yang kompleks. PEMILIHAN TARGET 2. atau teori-teori baru yang sangat penting dapat dihasilkan. Sintesis molekul organic biasanya dimulai dengan dua pertanayan : (1) Mengapa molekul ini dipilih sebagai target??dan (2) darimana kita harus memulai?? Jawaba terhadap (1) sering terletak pada n kebutuhan dan ketertarikan dari ahli kimia pensintesis.1 Alasan atau dasar pemikiran untuk sintesis total Pada dasarnya pemilihan target merupakan titik awal untuk sintesis. Molekul target dpt memiliki siat kimia dan biologi yang unik. dan retrosintsis ini dapat mempelajari sintesis suatu molekul sampai pada bahan awal yang relative sederhana yang kemudian skarang dikenal sebagai Pendekatan diskoneksi (atau syntom).Sekarang pendekatan diskoneksi di gunakan oleh sebagian besar ahli kimia bila mereka menghadapi masalah sintesis. Pemilihan Pereaksi-pereaksi yang spesifik 3.Corey memformulasikan termilogi untuk pendekatan sintesis ini. 2. Bentuk atau model percobaan 4.yang meliputi: 1. penemuan. Selama mengamatan tahapan tersebut.

maka serangkaian reaksi langkah demi langkah yang digunakan untuk membentuk setiap molekul dilaporkan. ditunjukan oleh persoons mempunyai struktur 8. periplanita Americana. yaitu: 1. Cirri-ciri strukturnya yang berbeda memberika masalah-masalah sintetik yang unik. Demikian juga ringkasan alasan alasan yang melatarbelakangi sintesis perlu dipublikasikan. meskipun tidak selalu dalam ringkasan diuraikan mengapa target dipilih. Kadang-kadang. Criteria yang tertulis dibawah sering disebut sebagai karakteristik target sintesis yang penting.7) merupakan hormone pertumbuhan tanaman dengan kerangka karbon yang kompleks.bkriteria tersebut mungkin berharga bagi ahli kimia yang baru pertama kali melakukan sintesis. 2. Bagi ahli kimia. melihat kembali pemilihan target merupakan pemeriksaan pekerjaan yang sudah pernah dilakukan dan tidak memberikan nilai lebih. Pengembangan reaksi dan pereaksi baru. Mitomisin C (8.10 dan diberi nama periplanona B. Tantangan struktur dan topologi. meskipun studi yang dekat dengan sintesis tersebut akan memberikan nilai yang besar untuk memahami strategi perencanaan. pengertian dasar sifat-sifat alami ikatan dan molekul 5. Verifikasi atau pengubahan struktur 2.8) merupakan aglikon lakton makrosiklik. Aktivitas biologis yang penting 3.9) merupakan hasil alam alkaloid yang memiliki sifatsifat antitumor. Pendekatan diskoneksi dalam jumlah bentuk akan di gunakan dalam menjawab pertanyaan (b). Senyawa 6-deoksieritronolida B (8. Banyak informasi yang diperoleh dari pengujian kriteria tersebut yang mungkin berguna untuk pendiskoneksian target. Persoons mengisolasi 200 µg 77 .2 verifikasi atau pengubahan struktur Feromon seks kecoa amerika. Senyawa ini adalah bagian dari eritromisin yang merupakan antibiotik makrolida. Asam gibberelat (8. Bila sintesis seperti tersebut dipublukasikan.Uraian diatas memberikan jawaban yang dapat di terima terhadap pertanyaan (a). Studi analog 4.perlu ditambahkan molekul-molekul yang ditunjukan pada pendekatan merupakan contoh-contoh yang dapat mewakili organic yang jenisnya sangat banyak yang telah disintesis sebagai target.

tetapi stereokimia 8.pertanian.10 dengan jalur multi langkah. 78 . tetapi dengan empat pusat simetri sehingga terdapat 24 isomer (16 stereoisomer atau 8 pasang enantiomer) yang selanjutnya harus dipisahkan. Still mensintesis 8.senyawa tersebut dari 75. Ini merupakan pendekatan umum. maka diupayakan menambah senyawa tersebut untuk keperluan pengujian atau struktur. Prostaglandin merupakan kelompok hasil bahan alam yang tidak jenuh. 2. yang akan menghasilkan hanya sedikit produk diastereomer.11 digunakan untuk membuat semua diastereomer periplanona.atau usaha-usaha komersial lain atau kemanusian. masalah seperti ini dapat diselesaikan dengan membuat semua kemungkinan diastereomer sekaligus. Bandingkan cara ini dengan pendekatan diastereoselektif yang digunakan oleh Still. Empat stereoisomer disintesis. dengan aktivitas biologis yang bermacam-macam dan manjur. Jika molekulmenunjukan adanya aktifitas biologis yang signifikan. dari semua produk dengan stereokonrrol yang dapat diterima (masuk akal). dan karakteristik spektra dan sifat fisik dari setiap stereoisomer diuji terhadap cuplikan periplanona B alami untuk menemukan isomer yang benar. Berbeda dengan still yang fokus pada jalur sintesis.000 kecoa betina yang kemudian dilanjutkan dengan determinasi struktur. Sintesis total semua diastereomer yang dapat diterima dan membandingkannya dengan cuplikan asli. masih merupakan metode yang penting untuk menentukan struktur akhir. Perlu diketahui bahwa adanya isomer E dan Z untuk olefin pada setiap diastereomer akan menambah jumlah produk yang harus dipisahkan. bidang Molekul yang penting dan diminati biasanya di isolasi dari sumber alam yang bsedikit.10 belum terelusidasi. dengan tanpa mengontrol stereokimia.12. Semua prostaglandin (PG) diturunkan dari senyawa induk yang disebut asam prostanoat.3 Aktifitas Biologis Alasan nyata sintesis total adalah pentingnya senyawa target pada kedokteran. asam lemak terhidroksilasi. dan dalam hal ini target intermediet kunci 8. 8.

prostaglandin alami dibagi menjadi tiga kelompok: (1) satu ikatan rangkap dua antara C13 dan C14 (PGl).4-benotiadiain-7-sulfonamida6-kloro-1. Klorotaizid adalah molekul dengan struktur kimia 2H.Turunan-turunan tersebut adalah PGA.14). 1. PGB. Studi lebih lanjut menunjukan bahwa modifikasi struktur terhadap kerangka dasar dapat menghasilkan molekul dengan karakteristikyang berbeda dan molekul baru yang menjadi target sintesis.2. Senyawa tersebut bersifat diuretic dan juga di gunakan untuk mengobati hipertensi. Kelompok E (PGE) mempunyai gugus karbonil pada c9. pGE.1-dioksida(8. PGD. dan kelompok F (pGF) mempunyai gugus karbonil pada C10.4 Studi analog Target yang di minati atau yang mempunyai sifat aktif secara komersial sering memberikan akibat samping yang menggunakan atau tidak stabil pada penyimpangan dan penanganannya. 2. PGC. (3) ikatan rangkap dua ketiga antara CI7 dan Ct8 (pG3). Modifikasi sintesis terhadap struktur yang diketahui dapat dipakai sebagai model dan mendorong untuk merancang target sintetik.14) aka menghasilkan peningkatan kerja hipotensif dan kerja diuretik. Studi menunjukan bahwa penggantian (modifikasi) yang signifikan dalam profil farmakologis dapat dilakukan dengan penggantian pada cincin heterosiklik. bukan pada cincin yang mengandung gugus sulfonamida. Sejumlah prostaglandin menunjukan gejala tersebut. Modifikasi struktur menantarkan sintesis kloreksolan (8.13) menjadi senyawa Nsikloheksil laktam (8. konversi cincin heterosiklik pada (8. dst. (2) ikatan rangkap dua kedua anrara C5 dan C6 (PG2).13). 79 . Terdapat juga gugus karbonil pada Cll dan C15 pada prostaglandin alami.

Dorongan untuk sintesis ini adalah penelitian untuk mendapatkan obat yang manjur (mujarab).5 Studi topologi Kadang-kadang suatu molekul bersifat sebagai target yang sangat menarik sehingga memberikan tantangan untuk dikaji dari segi struktur dan sifat-sifat kimianya.15) mempunyai potensi yang besar sebagai agen anti tumor.15) terhadap calon-38 tumor pada tikus dan memiliki kemanjuran dosis yang lebih.ciri-ciri structural ) (8. Ini merupakan kasus tipikal di mana senyawa yang diketahui dimodifikasi strukturnya berdasarkan pada sifat-sifat aktivitas struktur dari senyawa yang terkait.Alasan umum lain untuk pembuatan analog target adalah untuk mempelajari profil aktivitas struktur molekul dengan aktivitas biologi yang diketahui. 80 . Ditunjukan bahwa substituen lipofilik kecil pada kedudukan 5 (lihat 8.16c) menaikkan potensi dosis. Sintesis sering mengajak kita menengok ke belakang. Asam vlafon-8-asetat (8. 2. Dodekahedran 8.16 dan 8. Denny dan Buguley menunjukan bahwa asam 9-okso-9H-xentena-4-asetat (8. dan topologi ( bentuk.17) pada dasarnya adalah bentuk bola.16a) adalah seaktif (8. Studi secara sistematik turunan sintetik 8. menyadari keterbatasan tanang ilmu kimia yang di ketahui dalam pembentukan ikatan atau sifat-sifat dasar untuk molekul organic.17 pertama kali di sintesis oleh paquette.16 menunjukkan bahwa banyak turunan yang terkait memiliki aktivitas antitumor yang meningkat.

Kadang-kadang daya cipta dan ilmu kimia baru muncul dari penyelesaian target sintetik seperti 8.18) yang menghasilkan ion vinil nitronium( 8.8. pekerjaan yang baru tersebut sering menunjukan bahwa pereaksi-pereaksi yang terlibat dapat di gunakan untuk berbagi tujuan lain.17 mempunyai topologi sferikal super-polisiklopentanoid. Pada sintesis yang baru ini. Sekali di kembangkan.19) bila direaksi dengan ion perak. Pengembangan metodelogi baru atau modifikasi reaksi-reaksi yang ada harus di lakukan untuk memperoleh tranformasi yang di inginkan dalam menyempurnakan sintesis. 81 . Contohnya adalah Sintesis vitamin B seperi yang dilaporkan oleh Woodward dan Eschenmoser.6 Reaksi baru dan pereaksi baru Pengembangan tranformasi kunci tidak mungkin seluruhnya dilakukan melalui reaksireaksi kimia seperti yang telah diketahui. Pereaksi yang di kembangkan untuk tranformasi ini adalah -kloronitron (8. Dan biasanya penemuan baru dalam sintesis tersebut dapat diterapkan pada usaha sintetik senyawa iain. 2. langkah kunci membutukan hidrolisis amida pada inermedit yang memiliki enam gugus eter.17 Senyawa 8.17.

Pada yang khas menunjukan. adisi siklo terhadap metilsikloheksena dan 8. dan hasil adisi siklo (8. Sebagai pasangan adisi diubah dari alkena ke alkuna lain. Produk -produk akhir meliputi furan dan turunan alkuna.20 menghasilkan produk adisi 8.23) ditransformasikan menjadi beberapa molekulsintetik yangberguna.20) digunakan sebagai pasangan diena pada reaksi Diels Alder.21 dengan hasil 59% dan selanjutnya proses hidrolisis menghasilkan 8.22 sebanyak 90%.nitron (8. 82 .

1 Pendekatan synthon Bagaimana kita menganalisis target agar dapat menentukan bahan awal yang terbaik? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut penting untuk sintesis total. dan masing-masing merupakan target sintetik. Gugus atom yang terikat pada ikatan 2. 83 . maka reaksi (serangkaian reaksi) harus tersedia. Bilangan-bilangan prioritas tidak dapat mengantisipasi masalah struktur kompleks. Penyederhanaan berikut (diskoneksi) akhirnya menghasilkan molekul yang dikenal yang tersia di pasaran. dan akan digunakan untuk mengenalkan konsep-konsep yang diingankan. Pengertian tersebut dikenal dengan ikatan-ikatan strategis. dan stereokimia yang terdapat pada struktur kompleks. penyederhanaan struktur. pohon sintetik akan menghasilkan sejumlah bahan awal yang berasal dari satu atau lebih cabang-pertama. Pengertian dasar stereokimia. interaksi gugus fungsi. Pengetahuan dasar reaksi-reaksi kimia 3. didapat dengan cara kimia yang sederhana. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 4. dan jawabannya membutuhkan: 1. atau telah dibuat oleh orang lain. (To) didiskoneksi menjadi sekumpulan struktur yang dibatasi secara logika yang dapat dikonversikan menjadi pekerjaan sintetik tunggal (langkah reaksi) dan menjadi target sintetik. Retrosintesis 3. Intuisi yang baik tentang perkembangan ilmu kimia Informasi ini kemudian digunakan untuk diskoneksi ikatan-ikatan pada target. Subpohon lebih lanjut menyatakan diskoneksi dari salah satu cabang pohon sintetik. ikatan dan reaktivitas 4. Setelah beberapa retroreaksi. skema ini merupakan titik permulaan yang berguna. Penyumbang utama pada bilangan prioritas ini adalah 1. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 3. Proses penyederhanaan struktur molekul diskoneksi menghasilkan serangkaian fragmen (penggalan) molekul yang bertindak sebagai intermediet kunci. yang akan membentuk ikatan tersebut pada sintesis. Jika satu dari ikatan-ikatan tersebutdidiskoneksi. Biasanya terdapat ikatan-ikatan tertentu dalam molekul yang memiliki diskoneksi pada pengarahan retrosintetik yang akan memberikan penyederhanaan struktur secara signifikan. Analisis yang mendalam terhadap struktur target 2.3. sepanjang alas an jalur reaksi kimia dapat diterima. Namun demikian. Pohon sintetik serupa yang dinyatakan oleh Hendrick. Proses ini merupakan pohon sintetik untuk reaksi kimia yang harus ditindaklanjuti pada transformasi yang telah direncanakan untuk dilakukan. Koneksi ikatan dengan satu atau lebih pusat asimetri Bilangan-bilangan prioritas tersebut berguna untuk moekul-molekul yang sederhana. Pendekatan yang dimulai dengan analisis target akhir dan bekerja kearah belakang (bahan awal) dikenal dengan proses retrosintesis. yang kemudian dapat digunakan untuk membentuk molekul.

Diskoneksi ikatan h menghasikan 8. Analisis ikatan baru 8. 4-bromobutan-1-ol. diskoneksi ikatan k memberikan diskoneksi yang paling sederhana.32 dan diskoneksi ikatan c menghasilkan dua fragmen yang dapat identik: 4-bromo asetaldehida (8.33 menghasilkan bahan awal yang diketahui. Pertama. I. maka analisis ikatan kedua memberikan prioritas diskoneksi untuk ikatan-ikatan k. transformasi gugus fungsi diperlukan untuk menkonversi 8. I. Dari analisi tersebut menghasilkan beberapa kesimpulan penting. seperti yang ditunjukan pada gambar 8.28.24.33) dan organokuprat yang diturunkan dari 3-bromo siklopentena (8.25 dan konversi menjadi fragmen-fragmen sintetik yang realistic menghasilkan paling tidak dua kemungkinan. 84 . transformasi gugus funsi 8. diskoneksi ikatan g menghasikan 8.31 paling tidak menghasilkan dua diskoneksi . epoksida 8. dan a.29. pohon retrosintetik dapat dikaitkan dengan gambar 8. protocol prioritas ikatan menghasilkan ikatan -ikatan h. dan m.27 menjadi 8. dan mengkonversi 8.27 atau -kloroketon 8. menghasilkan 8.34).26 menjadi 8.29. beberapa pilihan ini dapat dikembangkan dengan menentukan cabang pohon mana yang akan diikuti. jika pohon sintetik dipangkas dan terfokus pada 8.2.30 dan 2-bromobutana (molekul real yang dihasilkan dari diskoneksi). atau j yang memiliki prioritas tertinggi.3.Untuk molekul seperti 8.26.

Hal penting yang peru diperhatikan adalah bahwa analisis retrosintetik hanya memberikan transformasi kunci dan bukan setiap langkah.Untuk menyempurnakan sintesis. Struktur target baru yang diperoleh dengan diskoneksi pertama dapat menghasilkan sekumpulan ikatan strategis yang berbeda.1 Penegasan berbagai pendekatan strategi Diketahui bahwa diskoneksi hanya didasarkan pada kemampuan pembentukan kembali ikatan (diskoneksi dengan penomoran) tidak selalu dapat diterapkan pada target-target 85 .Strategi sintetik 4. Juga penting disadari bahwa protocol doskoneksi dengan penomoran hanya diterapkan pada 8. pereaksi-pereaksi untuk setiap transformasi gugus fungsi reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon harus tersedia. 4. Proses ini dilanjutkan hingga bahan -bahan awal yang dapat dikenal dapat diperoeh. setelah pemiihan ikatan yang akan didiskoneksi dan penentuan fragmen real (seperti 8.24. maka protocol diskoneksi ini harus dikerjakan lagi.29).

kompeks. Corey mendeskripsikan pendekatan yang luwes terhadap masalah-masalah tersebut yang digabung dalam program computer LHASA. Tujuan program ini adalah membantu menganaisis target sintetik yang kompeks. Program ini mendeskripsikan pendekatanpendekatan secara umum untuk membangun pohon sintetik dan juga mendeskripsikan ogika yang digunakan untuk membangun pohon sintetik tersebut. Modifikasi-modifikasi tersebut meliputi: 1. Interkonversi, melepaskan atau memasukan gugus-gugus fungsi 2. Perpanjangan atau penambahan rantai karbon 3. Pembentukan cincin (lingkar atomik) 4. Penataan ulang rantai atau anggota ingkar 5. Pemutusan rantai atau cincin Setiap fragmen struktur kimia yang dihasilkan oleh pohon sintetik harus memiliki sifatsifat kimia yang dapat diprediksi dan memungkinkan kombinasi pemilihan terhadap hanya satu dari banyak cara yang mungkin. Corey mendeskripsikan tiga metodologi untuk sintesis, yaitu asosiatif langsung, asosiatif intermediet, dan logika terpusat. Pendekatan asosiatif langsung melakukan diskoneksi target (seperti 8.34) pada ikatan yang menghasilkan struktur yang mudah dikenal oleh ahli kimia. Contoh, senyawa 8.34 memberikan fragmen-fragnen yang mudah dikenal yang didasarkan pada reaksi-reaksi yang sudah diketahui dengan baik. Reaksi retroDiels-Alder memberikan 8.36 dan 8.37. hidrolisis ester dan amida menghasilkan 8.38, 8.39, dan 8.35 pendekatan ini terbatas pada masalah-masalah sintesis sederhana.

Pendekatan asosiatif intermediet mengenal subunit atom pada target yang sesuai dengan bahan awal yang tersedia atau diketahui. Pendekatan logika terpusat menghasikan sekumpulan struktur yang terbatas yang dapat dikonversi dalam langkah tunggal menjadi target

86

4.2 LHASA LHASA menganalisis molekul dengan mengembangkan skema retrosintetik, dan menyediakan reaksi kimia yang tepat untuk mengerjakan sintesis tersebut. LHASA merupakan program interaktif yang mem perlihatkan target, yang dimanfaatkan oleh ahli kimia untuk memilih strategi sintetik.

5. PENDEKATAN STRATEGI IKATAN Bila sejumlah stategi yang tersedia diterapkan pada tugas pemutusan spesifik maka yang pertama dilakukan adalah terhadap ikatan (ikatan -ikatan) pada target. Corey membuat sejumlah aturan yang mengikat bersama-sama antara strategi dan tujuan analisis retrosintetik menjadi analisis strategi ikatan. Aturan-aturan rersebut memberikan wawasan ke dalam diskoneksi pertama terhadap molekul target yang akan ditentukan jika struktur cocok dengan penyelesaian sederhana. Sebelum strategi ikatan ditentukan, penyederhanaan kemungkinan dapat dilakukan jika molekul memiliki simetri, apakah secara struktural mempunyai kesamaan dengan motekul lain yang telah disi tesis sebelumnya, atau mempunyai satuan n satuan dalam struktur yang dapat diulang. Perlu dipahami bahwa aturan -aturan tersebut hanya merupakan garis besar. Analisis dimulai dengan suatu pemeriksaan untuk menentukan jika ada metode yang dapat menyederhanakan molekul. Penyederhanaan akan memperpendek sintesis dan analisis retrosintetik diperkirakan akan mengikuri jalur tersebut. salah satu contoh penerapan aturan pendekatan,straregi ikatan adalah sebagai berikut. Apakah ada simetri atau hampir simetri pada dua bagian molekul Jika ada, maka sintesis kemungkinan dapat disederhanakan dan kemudian menggabungkanbersama dua atau lebih bagian yang identik. Contoh yang baik adalah molekul C-toksiferin I (8.40) yang memiliki simetri hemisferis. Pada 8.40 bagian atas hemisfer identik dengan hemisfer bagian bawah. Telah diketahui jika 8.40 direaksikan derigan asam sulfat menghasilkan hernisfer tunggal yang menghasilkan kembali dimer bila direaksikan dengan natrium asetat panas. Sintesis satu hemisfer dan kernudian menggabungkan dua bagian yang identik tersebut sangat menyederhanakan sintesis secara keseluruhan.

87

6. STRATEGI SINTESIS TERSELEKSI Seperti yang telah dibahas pada subbab di atas, diskoneksi ikatan tunggal dapat menghasilkan sejurnlah skema sintesis berbeda. Sifat interaktif pendekatan memaksimalkan jalur sintesis, karena banyak jalan pintas sintesis berbeda yang mungkin dijalankan. Hal mi dirunjukkan pada sejumlah sintesis vernolefin, 8.41, suatu emanolida yang ridak umum yang diisolasi dan sejumlah tanaman, meliputi veronia hymenolipsis A. Rich (keluarga Compositea) dan dilaporkan mernpunyai sifat-silat antitumor. Sifat-sifat biologis awal yang menjanjikan mendorong untuk melakukan sintesis total. Ada empat ahli kimia yang melakukan analisis retrosintetik terhadap senyawa vernolepin. Dua analisis retrosintetik di antaranya dilakukan oleh Danishefsky dan Grieco yang masingmasing ditunjukkan pada Gasnbar 8.4 dan 8.5.

Analisis 8.41 melalui aturan Corey menyatakan bahwa 1, 5,7,9, 11, 12, 13, dan 15 sebagai ikatan-ikatan strategis. Ikatan-ikatan 16, 17, dan 18 dapat juga dianggap strategis. Ikatan-ikatan 3 dan 13 merupakan hubungan ester yang labil dan strategis melalui pertukaran antar gugus fungsi. Pada Gambar 8.4, Denishefsky menggunakan ikatan -ikatan 1, 3, 5, 8, 10, 13, 17, 18, dan 15 untuk diskoneksi. Pada awal anaitsis hanya ikatan -ikatan 8, 10, dan 19 tidak strategis, sehingga ikatan-ikatan 8 dan 10 didiskoneksi terakhir pada retrosintesis, dan ikatan 19 didiskoneksi dengan transformasi gugus fiangsi. Diskoneksi pertama melepaskan gugus labil lakton -metilena yang menghasilkan 8.42. Diskoneksi berikutnya adalah penukaran gugus fungsi yang memberikan ekuivalen lakton asiklis (8.43) yang kemudian diikuti diskoneksi menjadi 8.44. Epolcsida berfu ngsi sebagai synthon untuk koneksi cincin lakton C. Gugus vinil didiskoneksi menjadi aldehida, dan didiskoneksi menjadi 8.45 yang terikat kembali dengan vinil dan gugus hidroksil pada cincin B, diikuti diskoneksi cincin A. 8.46 sikloheksena berperan sebaga ekuivalen sintetik untuk cincin lakton A. Diskoneksi i menjadi 8.47 menunjukkan bagaimana gugus fungsi meinbentuk cincin B, dan diskoneksi menjadi 8.48 menunjukkan bahwa cincin B merupakan unit bangunan dasar, yang dapar dibentuk melalui reaksi Diels-Alder dari butadiena dan metil propiolat.

88

5). 13.50.51 kenyataannya adalah ekuivalen dengan ikatanikatan 1 dan 2 pada 8. tetapi ikatan ikatan 3 dan 13 kemudian didiskoneksi menghasilkan 8. Gugus metoksi pada 8. Cincin C menggunakan gugus dimetit-2-butenil 89 . 17.Pada analisis retrosintetik yang dikerjakan oleh Grieco (Gambar 8. Diskoneksi berikutnya menghasilkan 8. 5. Diskoneksi berikurnya diserta dengan pelepasan ikatan 19 pada 8.42. Diskoneksi pertama adalah menjadi 8. ikatan -ikatan yan digunakan adalah 1. Grieco menggunakan ikatan 15.51 menghasilkan ekuivalen vinil yang berbeda dari yang digunakan Danishefsky.52. Perlu diperhatikan sikloheksena tidak hanya berfungsi sebagai ekuivalen vinil. dan 19.51 dan 8. 3. seperti langkah yang dilakukan oleh Danishefsky. 18.41. tetapi juga sebagai bagian untuk cincin A.

56.¶diskoneksi tahap terakhir.Am.55 dan 8. 285). tetapi benbeda secara signifikan pada diskoneksi. J. Skema keseluruhan ini mirip dengan Danishefsky pada tahapan awal.Soc. 1985. Berikut dicontohkan sintesis total dan metil ester dari Vineomisinon B2 sebagai antibiotik antrasiklin (Danishefsky.. 107. diskoneksi 8.51.Sebagai kerangka karbon yang ekuivalen pada 8.54 menunjukkan bahwa cincin A dan B dibentuk dari 8. 90 .

Kimia Organik Fisik.goggle. y Stuart Waren.Jakarta : Erlangga. y Sastrohamidjojo. Organic Synthesis [Download] Senyawa y (Adapted by: Organic Synthesis :The disconnection Approach. Hardjono dkk. Marhan Sitorus) 91 .com/sintesis-organic/html.2009. Sintesis Organic.DAFTAR PUSTAKA y http://www. Stuart Warren.

TAKASIHAENG ANGGI TUMILANTOW SEPTANI POLII YARDI HARUN BAB IV DIMANUEL ZET BORON ELVANDER ST. J KUMOKONG FRIMA RINDENGAN MEIVIRA TAMPONGANGOI 92 .NAMA KELOMPOK BAB 1 JULIANUS HONTONG DEYSI RIA TANGIAN RUSPIN ARUNG SAMPE APRIANA MARA BAB II ISAK IWAMONY MERLINA LUMOWA FENI BUBALA NURLELI HASYIM BAB III VIVI C E.

BAB V LEKUNURU KALENSANG JOUN ALLEIN TINDAGE HENDRA PAAT ASTRIA WOWORUNTU BAB VI RANDY LENGKEY RIA TUMAKAKA RADIA KAMALUDIN ANGELINA MANUS BAB VII NANSI MOMONGAN JELTYANI GUMOLUNG EPIL MUNTIA CHRISTEL KORENGKENG BAB VIII IYEN IRALA LINA TASIM RESA GERUNGAN MAYO GANSARENG 93 .

94 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful