P. 1
makalahSOSklpk1-8

makalahSOSklpk1-8

|Views: 1,962|Likes:
Published by Deasy Rhia Tangian

More info:

Published by: Deasy Rhia Tangian on Apr 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/25/2013

pdf

text

original

BAB 1 RUANG LINGKUP SINTESIS KIMIA ORGANIK

Latar Belakang Berabad-abad para ahli mengira bahwa senyawa yang terjadi dalam jasad hidup berbeda dengan senyawa lainnya karena adanya semacam gaya gaib (Vital Force). Gagasan ini menyebabkan ahli kimia tidak mencoba membuat senyawa organik di laboratorium. Tetapi pada thun 1928, ahli kimia Jerman, Friedrich Wohler, pada saat itu berumur 28 tahun, secara kebetulan membuat urea, yakni unsur penting dalam urine, dengan memanaskan zat anorganik (mineral) yaitu amonium sianat. Ia begitu gembira dengan hasilnya, lalu menulis surat kepada gurunya, ahli kmia swedia J.J. Berzelius sebagai berikut: ³saya bisa membuat urea tanpa memerlukan sebuah ginjal atau manusia atau hewan´. Percobaan ini dan yang serupa lainnya sedikit demi sedikit melenyapkan (Vital Force) dan membuka jalan menuju dunia kimia organik sintetik moderen. Sintesis biasanya terdiri dari penggabungan kepingn kecil dan sederhana menjadi molekul besar yang kompleks. Untuk membuat sebuah molekul yang mengandung banyak atom dari molekul-molekul yang mengandung atom lebih sedikit, perlu diketahui bagaimana membuat dan memecah ikatan kimia. Walau sintesis urea dari Wohler suatu kebetulan, sintesis akan lebih efektif dan terkendali jika dilakukan dengan cara-cara yang rasional, sehingga semua atom tersusun, mereka akan berhubungan satu samalainya dengan benar dan menghasilkan produk yang dihasilkan. Ikatan kimia dibuat dan dipecah melalui reaksi-reaksi kimia. Dengan demikian kita dapat mempelajari bagaimana menyambung molekul-molekul secara spesific, suatu pengetahuan yang sangat berguna dalam sintesis. Pada saat ini sejumlah senyawa organik yang telah disintesis dalam laboratorium dan industri kimia jauh lebih banyak dari pada yang diisolasi (dipisahkan) dari alam-tetumbuhan dan hewan. Ada beberapa alasan mengapa penting sekali mensintesis molekul. Pertama, dapat mensintesis produk alam dilaboratorium dengan mudah, dalam jumlah besar dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pemisahan dari alam. Contoh senyawa yang mula-mula di isolasi dari alam dan sekarang diproduksi secara sintesis untuk tujuan komersil adalah vitamin-vitamin, asam amino, zat-zat warna, kamper penghalau ngengat, penisilin antibiotika dan lain-lain. Sekalipun istilah sintetis kadang menyiratkan arti 'palsu', produkproduk alam sintesis pada kenyataanya identik dengan senyawa yang dipisahkan dari alam. Alasan lain untuk sintesis ialah menciptakan zat-zat baru yang mungkin mempunyai sifat-sifat lebih berguna dibanding dengan hasil-hasil alami. Serat sintetik seperti nyilon dan orlon, misalnya mempunyai sifat tertentu yang lebih berguna dan lebih baik dari serat alami seperti sutra, kapas dan sisal. Banyak senyawa dalam obat-obatan adalah sintetik (termasuk
1

aspirin, eter, novocain dan barbiturat). Daftar produk sintetik yang kita kenal dalam masyarakat industri antara lain adalah plastik, deterjen, insektisida dan tablat-tablet kontraseptik. Semua produk tersebut merupakan senyawa karbon atau senyawa organik. Akhirnya, kimiawan organik kadang-kadang mensintesis senyawa baru untuk menguji teori-teori kimia dan kadang tidak mempunyai tujuan khusus sama sekali. Beberapa struktur geometrik, misalnya mempunyai nilai-nilai estetis yang baik, dan merupakan tantangan untuk dapat membuatnya.

Dalam mempelajari sintesis senyawa organik,kita harus juga melibatkan prespektif yang lebih luas, yaitu industri vs sintesis laboratorium, keterbatasan waktu, pertimbangan teknisekonomis, dan perbedaan mendasar dari kriteria yang akan digunakan dalam pemilihan metode sintesis. Tiga contoh yang menunjukkan paradigma tersebut adalah sintesis senyawa siklobutadiena(1.1) asam gibberelat(1.2) dan akrilonitril(1.3). Sintesis molekul dengan reaktivitas tinggi seperti siklobutadiena memerlukan kondisi reaksi yang mungkin hanya diketahui dan dipahami oleh orang-orang tertentu ,karena reaksi tersebut harus di lakukan pada suhu -260oC. Sintesis ini melibatkan eliminasi fotokimia karbon dioksida dari perkusor lakton bisiklis dalam matriks argon padat. Pertimbangan ekonomi sungguh tidak relevan; tujuannya hanya untuk mendapatkan senyawa, sedangkan biaya dan usaha yang harus di bayar tidak dipikirkan. Asam gibberalt adalah contoh keberhasilan ahli kimia sintesis karena dibutuhkan 41 langkah untuk mensintesis total senyawa tersebut. Ini merupakan satu prestasi intelektual yang hebat dan mendemonstrasikan kekuatan dari sintesis senyawa organik. Ahli kimia sintesis secara akademik memang akan termotivasi oleh keindahan mensintesis suatu senyawa, tetapi mereka pun sangat mudah untuk kehilangan kontak dengan dunia nyata yaitu bahwa ilmu kimia harus diaplikasikan. Pertimbangan ekonomi mserupakan bagian terpenting dalam preparasi industri pada skala yang besar, dengan syarat meliputi proses yang jelas dean sederhana, biaya sintesis sedapat mungkin rendah, dan reaksi diupayakan berjalan dalam satu langkah. Namun demikian, hal ini dapat terjadi pada kondisi reaksi sangat spesifik (ekstrem) seperti metode aliran-kontinu, reaksi dengan orde detik dan suhu mencapai 500-700 0C, contohnya pada sintesis senyawa akrilonitril. Contoh di atas menunjukan variasi yang khas dari kondisi yang terlibat dalam sintesis senyawa organik. Hal-hal yang dipelajari dalam sintesis senyawa organik, untuk memberikan pwnjelasan tentang filosofi sintesis dan metodologi yang menyangkut bagaimana menyiapkan desain suatu molekul organik, di tambah metode tertentu dan kriteria umum yang diperlukan agar reaksi tersebut dapat berjalan.

2

Dalam sintesis senyawa organik, beberapa reaksi yang spesifik akan menjadi pokok bahasan dengan disertai penjelasan, perluasan, atau pensistematikan transformasi gugus fungsi. Proses membangun kerangka karbon, oksidasi dan reduksi, penggunaan reaksi organologam, serta interkonversi, aktivitas dan proteksi gugus fungsi merupan topik yang akan dibahas.

1.3.1 Reaksi sintesis Kemungkinan terbuka bagi ahli kimia sintesis adalah memanfaatkan sebesar mungkin apa yang diketahuinya secara lebih mendalam tentang ketersedian seleksi reaksi kimia. Woodward mengatakan bahwa ahli kimia organik telah menunjukan pentingnya transformasi sintesis dalam bidang sintesis senyawa organik. Syarat dalam merancang jalur sintesis yaitu:
y Telah diketahui y Dapat diprediksi dan sangat dibutuhkan.

Sintesis dalam menggunakan pereaksi organologam, baik menggunakan logam berat maupun logam transisi, telah secara mantap dibuat dalam skala pabrik. Oleh karena itu, penerapan sintesis dari kompleks precious-metal juga berkembang pesat dan memungkinkan untuk membangun transformasi senyawa organik yang berguna secara sintetik. penggunaan senyawa heterosiklik dalam sintesis senyawa organik merupakan perkembangan yang banyak memberikan sumbangan pada ilmu sintesis senyawa organik. 1.3.2 teknik sintesis Katalis tranfer fase adalah salah satu teknik sintesis, dengan dua versi, yaitu menggunakan garam amonium kuarterner dan penggunaan katalis makrosiklik, seperti eter mahkota dan poliamin makrosiklik. Reaksi tranfer fase secara klasik harus dianggap sebagai keadaan yang dinamis, yaitu sintesis interfasial. Selain katalis tranfer fase cair cair, juga termasuk didalamnya reaksi yang terjadi pada gas-cairan, bidang batas padatan-cairan atau gas-padat, reaksi pada fase koloid, dan topokimia pada multilapisan. Tonggak penting dalam bidang teknik sintesis adalah pengenalan reaksi terbantu polimer(polimer supported reaction). Pengaruh faktor fisik luar juga telah terasa dalam sintesis melalui penggunaan arus listrik untuk mendorong reaksi seperti pada elektrolisis kolbe. Namun demikian, jumlah dan variasi dari transformasi sintesis yang dipromosikan oleh arus listrik sekarang cukup banyak, sering menghasilkan reaksi kimia yang baik sehingga sering di kenal dengan istilah ³elektrosintesis´ dan bahkan sudah dilakukan dalam skala pabrik. Cahaya sebagai faktor fisik, menghasilkan hasil reaksi fotokimia yang merupakan bagian penting dalam sintesis senyawa organik.
3

Yang terakhir dan merupakan bidang yang berkembang sangat pesat yang terkait dengan bidang biokimia adalah penggunaan enzim dalam sintesis senyawa organik. regiospesifik.3. laju reaksi sampai 1012 kali lebih cepat. Pengaruh stereokimia dari reaksi sintesis klasik dan kelebihan dari pereaksi dan metode baru yang berpengaruh terhadap stereoselektivitas berkembang sangat cepat. Prosedur penentuan inversi polaritas tersebut dihasilkan pada proses kebalikannya. adalah konsep inversi polaritas atau umpolung. Yang kedua. Desain sintesis merupakan rasionalisasi menyeluruh dan penyederhanaan atas kejelasan reaktan dengan reaktifitas normal dan kebalikannya. Setiap penjelasan sintesis senyawa organik harus memasukkan aspek stereokimianya sehingga menimbulkan gejelah bahwa sintesis stereoselektif berkembang sangat cepat. 1. Pendekatan sintesis stereoselektif lainnya adalah penggunaan katalis khiral dan bukannya pereaksi khiral.3.3.3 faktor tiga dimensi dalam sintesis senyawa organik Dalam mempelajari sintesis senyawa organik adalah pertimbangan dari adanya faktor tiga dimensi. terhindari dari rreaksi penataan ulang dan rasemisasi. dan total kemospesifik.3. 1.reaksi yang didorong oleh enzim sebagai biokatilis mempunyai kelebihan dibandingkan dengan reaksi organik murni.5 Analisis Retrosintesis Dua tahap yang memberikan kemajuan strategi sintesis. maka dapat diparalelkan dengan degradasi molekular.7 Desain dengan bantuan komputer (computer-aided design) 4 . Jadi skema fragmentasi dari molekul dalam spektrum massa memungkinkan desain dari jalur sintesis untuk senyawa tersebut.3. 1. atau dengan kata lain katalis akan mengarahkan reaksi hanya pada satu jalur reaksi. yang akan menghasilkan kemungkinan sintesis yang dapat dipertimbangkan. Pertama adalah konsep synton yang didefinisikan oleh Corey sebagai unit struktur dalam molekul yang terkait pada kemungkinan operasi sintesis. Synton merupakan unit yang dapat dibentuk atau dirangkai berdasarkan reaksi sintesis yang dikenal. yaitu kondisi sangat lunak(mild)misalnya pH dan suhu fisiologi.katalis tranfer fase khiral khususnya memberikan enantiomerik yang sangat baik dengan garam amonium kuarterner dan eter mahkota.4 desain sintesis Dalam mempelajari sintesis organik adalah harus melibatkan rencana dan strategi.6 Sintesis Spektra masa retro Kametani menciptakan metode yang dinamakan retro mass spectra synthesis. dengan pusat donor dan akseptor yang umumnya dalam posisi rantai. yaitu desain metodelogi dengan cara analisis retrosintesis. 1. Yaitu fragmentasi molekul pada spektometer massa adalah proses pemutusan ikatan. Atom ini menentukan reaktifitas polar rantai karbon yang mengikatnya. 1.

Komputer dapat memunculkan transformasi sintesis dengan prinsip menyajikan reaksi yang masuk akal. meliputi metode untuk mengatasi arsitektur molekular yang dihasilkan.EROS (Elaboration of Reaction for Organic Synthesis) merupakan program komputer yang dapat memberikan reasoning tanpa dibatasi oleh jumlah file reaksi. 5 . Inti dari pendekatan ini adalah asumsi bahwa reaksi organik dapat diperlakukan sebagai pemutusan dan pembentukan. berupa usulan yang dibuat oleh mesin. serta meletakkan pertimbangan pada pergeseran elektron.

asam pentanoat (2.8) .7) sebagai target sintesis.  Transformasi didefenisikan sebagai perubahan tepat dari suatu reaksi sintesis Sebagai contoh.  DISKONEKSI DENGAN PENOMORAN 6 . dan diskoneksi ikatan karbonkarbon menghasilkan 1Pentanol (2.B B R R  Perubahan gugus fungsi merupakan tranformasi dari satu gugus fungsi menjadi gugus fungsi yang lain.

7 . Kedudukan atom ± atom donor di beri tanda dengan huruf d.23 menghasilkan fragmen 2.22 akan menghasilkan 2 fragmen (hasil diskoneksi) 2. Pendiskoneksian ikatan dua pada gambar di bawah akan menghasilkan fragmen 1 dan 2. dan reaksi yang real akan digunakan untuk menentukan ikatan yang didiskoneksi dengan benar dalam sintesis. dan kedudukan atom ±atom akseptor di beri tanda dengan huruf a.26 dan 2. yaitu: 1. untuk menyelesaikan masaalah ini.25.27. evaluasi yang di ingikan adalah suatu molekul yang real. Kedua pendiskoneksianyang mungkin ini harus ermati. Pendiskoneksian ikatan 1 pada 2. Ikatan-ikatan akan dibentuk oleh reaksi yang melibatkan intermediat(zat antara) ionik . Pendiskoneksian ikatan 2 pada 2.reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya dan merupakan kebalikan dari sintetik (retrosintetik). ikatan-ikatan kunci akan dibentuk melalui sejumlah reaksi 2. ada dua asumsi yang dibuat.24 dan 2.

30 atau 2. Kandungan senyawa organik dalam metabolit sekunder pada makhluk hidup 8 . Biosintesis atau lebih dikenal dengan istilah metabolisme sehingga produk sintesisnya dikenal dengan nama metabolit.29 dan 2. Sintesis Organik. Enzim ini tentu saja sangat spesifik. Dalam tubuh makhluk hidup. senyawa organik disintesis melalui proses biosintesis dan dikatalisis oleh biokatalis yg disebut enzim. dan kedudukan C ekkivalen dengan karbon elektrofilik pada alkil halida A. kedudukan C .25 masing ± masing menjadi 2.  Pengertian Ekuvalensi sintetik Merupakan fragmen molekul yang ekuvalen dengan molekul real berdasarkan atas d keidentikan reaktivitas kimianya sebagai contoh.24 dan 2.32. adalah ekuvalen dengan C a parsial pada reaksi griknard.Sebagai contoh. hasil diskoneksi 2. Ada dua jenis produk metabolisme yaitu metabolit primer dan sekunder. Senyawa organik pada umumnya dihasilkan oleh organisme hidup.

jelaslah bahwa diskoneksi pada hakekatnya adalah merupakan kebalikan langkah sintetik (retrosintesis). Melakukan diskoneksi dengan metode yang berhubungan dengan reaksi-reaksi yang mungkin. Ada kalanya pada waktu melakukan analisis terhadap bahan awal (Starting Material) hasil diskoneksi harus diperoleh dari suatu hasil sintetik yang dikenal dengan IGF tadi. mirip atau berfungsi mirip di laboratorium . Proses semisintetik mencakup transformasi metabolit primer dan sekunder menjadi senyawa lain yang lebih bermanfaat. sehingga ahli kimia organik berusaha mensintesis senyawa yang sama. Memastikan bahwa reagen pereaksi hasil pemutusan (sinton) tersedia sebagai starting Material.1994)Dengan cara ini. karena reaksoi senyawa organik tidak lain dan tidak bukan adalah transformasi gugus fungsional. 2. 9 . padahal kebutuhan akan senyawa-senyawa organik terus meningkat. Dengan demikian hal yang mutlak harus dipahami agar sukses dalam melakukan sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah memahami reaksi-reaksi senyawa organik maupun jenis-jenisnya serta mekanismenya. Sintesis : a. dari penjelasan ini. Analisis : a. Ikatan yang didiskoneksi adalah yang diyakini reaksi tersebut dapat dapat berlangsung berdasarkan kaedah -kaedah dan jenis-jenis reaksi yang mungkin. Membuat rencana berdasarkan analisis Starting Material dan kondisi sintesis. Retrosintesis Merupakan teknik pemecahan masalah untuk mengubah struktur dari molekul target sintesis menjadi bahan-bahan yang lebih sederhana melalui jalur yang berakhir pada suatu material start ysng sesuai dan mudah didapatkan untuk keperluan sintesis(Smith. Mengenal gugus fungsional dan molekul target (MT) b. struktur molekul yang akan disintesis ditentukan terlebih dahulu yang dikenal sebagai molekul target (MT). B. b.relatif rendah. di laboratorium tentu sangat sulit sehingga prosesnya lebih tepat bila disebut sebagai proses semisintetik (Sitorus :2008). c. Bila tidak berhasil dalam sintesis dilakukan pengkajian ulang analisis. selanjutnya MT dipecah/dipotong/diputus dengan seri diskoneksi. Diskoneksi merupakan operasi balik suatu reaksi melalui suatu pembelahan yang Pedoman yang sangat penting untuk meripta suatu sintesis dengan pendekatan diskoneksi adalah sebagai berikut : 1.

Rancangan 2. Menentukan kedudukan pasangan ion intermediate yang paling cocok untuk menyepurnakan sintesis ikatan karbon-karbon yang diinginkan . kesimpulan Cara penyelesaian masalah untuk transformasi dari suatu target molekul sintetik. 2. Diskoneksi ikatan yang memberikan penyederhanaan secara maksimum. 3. Telah diketahui 3.melalui serangkaian tahapan reaksi yang akhirnya akan menuju pada bahan awal yang sederhana atau bahan awal yang dapat diperoleh dengan mudah Pendekatan retrosintesis untuk sintesis dengan bahan awal yang sudah diketahui meliputi: 1. 4. Dapat diprediksi produk yang akan terjadi. 10 .Retrosintesis Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam retrosistesis ialah sebagai berikut: 1. Menggunakan konsep donor ±akseptor untukn mengubah hasil-hasil diskoneksi menjadi bagian-bagian nukleofilik dan elektrofilik.Menentukan kedudukan kaarbon yang terkandung dalam bahan awal yang terdapat pada target.

Konversi sikloheksanon (3.4) melalui reaksi substitusi. 11 . Namun demikian. reaksi kimia dalam sintesis meliputi penggabungan gugus fungsi atau penggantian gugus fungsi.5). TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI Dalam sentesis. Reaksi terakhir dengan asam hipobromida menghasilkan 3. masalah yang mendapatkan perhatian besar adalah pembentukan kerangka karbon dengan cara reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon. Reaksi awal keton dengan litium aluminium hidrida (LiAlH4 ) menghasilkan alcohol (3. Serngkaian adisi ini menggunakan lima macam tipe reaksi utama yaitu asam/basa. Berikutnya adalah reaksi fosfor tribromida yang memberikan bromide (3.3) melalui reaks adisi asil. keduanya menggambarkan reaksi eliminasi dan reaksi asam/basa. eliminasi.2 yang menggambarkan reaksi adisi.1) menjadi bromohidrin (3. Basa akan mengeliminasi dan memberikan alkena (3.2) hanya membutuhkan langka transformasi gugus fungsi. reduksi. substitusi. Penerapan perubahan gugus fungsi pada sintesis dapat digambarkan pada kasus sintesis berikut. da adisi.BAB III ASAM BASA DAN TRANSFORMASI GUGUS FUNGSI A.

c. asam kuat menghasilkan basa konjugat yang lemah.> NH2->HO Sebagai konsekuensi hal tersebut.0 Terdapat dua definisi keasaman/kebasaan : asa lewis merupakan penerima pasangan electron dan asam Bronsted -lowry merupakan pemberi proton sedangkan basa lewis merupakan pemberi pasangan electron dan basa Bronstedlowry merupakan penerima proton. 12 . KEASAMAN PADA MOLEKUL ORGANIK Reaksi HA dan B membentuk HB+ dan A-. Keasaman naik dari atas ke bawah.74 7. Kedudukan keasaman bergantung pada banyak factor. Hal ini memacu kondisi kesetimbangan yang mengarah pada enolat yang lebih stabil. meskipun keelektronegatifitasnya menurun. Pada table periodic . HF < HC < HBr < HI. Pada umumnya. b.pada umumnya keasaman naik ke kanan. merupakan pernyataan umum penulisan reaksi asam/basa : HA + B: HB+ + A+ Asam (HA) bereaksi dengan basa (B:) menghasilkan asam terkonjugasi HB (CA) dan basa terkonjugasi A (CB). maka HA dapat dipandang sebagai asam lemah dalam system.A. kebasaan naik dari kiri ke kanan. Jika basa pada keadaan tersebut sangat lemah untuk melepaskan proton asam HA. dan tingkat kesetimbangan sebanding dengan keasaman HA. CH4 < NH3 < H2O < HF Asam lemah Asam kuat CH3. meiputi stabilitas relative asam (HX) dan asam konjugat (HB+) Pembentukan enolat (CB)dari 2-butanol (A) dengan natrium etoksida (B)dalam etanol merupakan reaksi yang dapat balik. dan asam lemah menghasilkan basa konjugat yang kuat. Tingkat ionisasi merupakan ukuran keasaman HA. Etanol merupakan asam konjugat yang merupakan asam yang cukup kuat untuk memprotonasi hasil enolat basa. dan H2O < H2S pKa : 3. Sejumlah factor yang mempengaruhi kekuatan asam dan hargan K dijelaskan a berikut ini: a.0 -7 -9 -10 15.

logam natrium. sedangkan M menyatakan logam. yang merupakan basa yang sangat umum dan sering digunakan dalam pelarut alcohol (metoksida dalam methanol. Terdapat dua tipe pokok reaksi : y Karbonil yang tidak mengandung gugus pergi.maka ikatan karbon-karbon dapat di bentuk. t-butoksida dalam t-butanol). Kebasaan Molekul Organik Kekuatan relative basa di pengaruhi oleh factor yang sama seperti asam. natrium dan kalium amida. amina. Kekuatan basa biasanya dinyatakan oleh pKa dari asam konjugatnya. dan kemungkinan dapat terjadi pengikatan nukleofilik.Asam lewis umumnya dinyatakan dalam bentuk MXn. misalnya turunan asam. Ammonia dapat deprotonasi oleh basa yang sangat kuat seperti pereaksi Grignard dan organolithium yang menghasilkan basa amida. Basa yang digunakan untuk mendeprotonasi air atau alcohol adalah natrium hidrida. misalnya aldehida dan keton y Karbonil yang mengandung gugus pergi. dan t-butoksida. maka induksi dapat mempengaruhi karbon beta pada elektrofilik ikatan phi. Kesanggupan nukleofil mengikat elektrofil akan bergantung pada kekuatan nukleofil dan sifat substrat karbonil. asam MXn menunjukan sifat-sift keasaman dalam reaksi kesetimbangan: MXn Asam B basa MXn-Bhasil adisi B. kalium hidrida. metoksida. dan n merupakan valensi normal dari M. Adisi Asil Nukleofilik 1) Pengikatan nukleofilik Nukleofil didefinisikan sebagai spesies yang dapat memberikan sepasan electron pada karbon dan membentuk ikatan baru dengan karbon. Deproton alcohol memberikan basa asi alkoksida. Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan phi. Bila NaC=CCH3 bereaksi dengan karbonil. s 13 . 2) Adisi Asil pada karbonil tanpa gugus pergi Adisi nukleofilik pada karbonil cenderung reversible jika spesies nukleofilik yang mengikatnya juga merupakan gugus pergi yang baik seperti reaksi adisi air atau hidroksida pada karbonil. atau fosfin ). natrium dan kalium hidroksida. Terdapat banyak jenis basa yang digunakan dala kimia organic. C. Karena ikatan karbon bersifat kuat dan sukar putus maka reaksi kebalikannya lebih sukar. X merupakan ligan (atom halogen.

Berdasarkan alasan ini. yaitu anion enolat (3.8 yang diikuti dengan reaksi eliminasi.dan adisi nukleofilik heteroatom bersifat reversible.6) yang mula-mula dibentuk tidak melepaskan asetilida hingga adisi ireversibel dan hidrolisis 3. Pada kondisi basa.asam yang dibentuk diubah menjadi anion hidroksida.11 14 .9). Pelepasan gugus pergi klorida dari 3. Bila karbonil mengikat gugus pergi seperti klor. dan menjadi kedudukan yang cenderung diikat oleh nukleofil. alkoksida (3. Jika nukleofil mengikat karbonil.8 memudahkan pembentukan ikatan baru asam benzoate. yaitu keton 3. 4) Adisi konjugasi Bila karbonil terkonjugasi dengan ikatan dari alkena (seperti 3. maka klor dan gugus alkoksi berfungsi sebagai gugus pergi. Sebagai hasil adalah reaksi subsitusi dimana nukleofil menggantikan klor pada karbonil.10).6 memberikan hasil adisi 3. Jenis reaksi ini dikenal sebagai adisi konjugasi atau adisi Michael yang dipacu dengan pembentukan hasil yang distabilkan oleh resonansi.7. maka pengaruh induksi akan membuat karbon terminal dari alkena elektronik. hidrolisis akan memberikan hasil akhir adisi.maka adisi asil awal oleh hidroksida menghasikan 3. Pada umumnya adisi nukeofil karbon pada karbonil bersifat ireversibel. 3) Adisi asil pada karbonil dengan gugus pergi (subsitusi asil) Turunan asam karboksilat seperti asam klorida dan ester di tandai oleh karbonil yang mengikat klor atau gugus OR.

a. c. Pelarut dibagi menjadi dua kelompok.9 terhalang. sehingga proses bimolekuler lebih memungkingkan terjadi. Pada setiap kelompok. substrat. 5) Karakteristik reaksi yang melibatkan nukleofil Banyak factor yang mempengaruhi terjadinya reaksi nukleofilik. sedangkan pelarut aprotik hanya mensolvasi secara kuat suatu kation. maka pengika terhadap karbon kuat. Substrat Perbedaan substituen pada substrat karbonil akan mengakibatkan perbedaan yang besar pada laju reaksi adisi asil nukleofilik dengan nukleofil. konsentrasi. namun bila gugus R pada 3. dan juga menyerap panas berlebih yang dilepaskan oleh reaksi. Yang sangat menentukan adalah kesanggupannya melarutkan dan memisahkan ion-ion (solvasi). maka pengikatan pada karbon asil menjadi sukar dan adisi konjugasi berlangsung sangat kompetif. Dalam 15 . dan sifat gugus pergi. Pelarut Pelarut digunakan untuk melarutkan semua reaksi. Bila R kecil (seperti hydrogen pada aldehida terkonjugasi). Solvasi merupakan kunci dari sebagian besar reaksi nukleofilik dan sangat penting pada reaksi asam/basa. protik) dan pelarut yang tidak mengandung proton (aprotik). Sifat yang sangat penting dari pelarut adalah polaritasnya. Proses bimolekul tergantung pada sifat substrat (molekul yang mengandung pusat nukleofil). Ukuran yang baik untuk menyatakan kesanggupan pelaru untuk memisahkan ion-ion ini adalah tetapan dielektrik. yaitu pelarut yang mengandung proton (X-H. semakin tinggi tetapan dielektrik.Meskipun pengikatan pada karbon asil bisanya berlangsung lebih cepat. biasanya proses bimolekul bersifat dominan.2 pada karbon biasanya lebih disukai. Nukleofil/basa   lebih Jika nukleofil kuat. maka adisi 1. Untuk reaksi alkil halide primer. maka pelarut semakin polar. meliputi pelarut. b. Perbedaan utama antar pelarut protik dan pelarut aprotik adalah kesanggupan pelarut protik untuk mensolvasi baik kation maupun anion. sifat nukleofil.

halida. Setelah lepas atau pergi.Gugus pergi yang ³baik´harus mempunyai ikatan C-X yang lemah dan terpolarisasi tinggi. X. umumnya ditulis SN2. y Reaksi SN2 dapat melibatkan beberapa perubahan gugus fungsi yang berbeda dan menggunakan molekul kompleks baik substrat maupun pereaksinya. d. REAKSI SUBTITUSI 1) Subtitusi nukleofilik bimolekul Reaksi Sn2 Substat 3. seperti halnya kebutuhan energy yang naik untuk pembentukan kation.pelarut aprotik. Konsentrasi spesies yang bereaksi Untuk proses bimolekul. Penurunan konsentrasi pada setiap spesies akan menurunkan laju reaksi.12 mengandung gugus pergi yang diganti dengan nukleofil menghasilkan produk 3. laju reaksi dinyatakan dalam persamaan : Laju reaksi = k [nukleofil atau basa][RX] Dengan k adalah tetapan laju reaksi. proses bimolekuler terjadi karena nukleofilitasnya dipacu. e. Gugus pergi Gugus pergi adalah gugus yang dipindahkan atau diganti dalam reaksi substitusi atau eliminasi. Kenaikan konsentrasi nukleofil. proses ini dapat dinyatakan sebagai substitusi bimolekuler yang melibatkan nukleofil. E).harus merupakan ion yang sangat stabil.13. Kelebihan basa atau nukleofil umumnya digunakan untuk memacu laju reaksi. y Reaksi mitsonobu 16 . atau basa akan mengakibatkan kenaikan laju reaksi.

dan reaksi selanjutnya menghasilkan diimida 3. bahkan meskipun merupakan nukleofil lemah. alkohol kemudian ditambahkan pada garam fosfonium ini.15.14) dengan trifenilfosfin(Ph3P) untuk membentuk 3.kurang bermanfaat dalam sintesis.Reaksi ini merupakan cara untuk mengubah molekul yang mengandung gugus pergi yang jelek menjadi turunannyayang dapat bereaksi melalui mekanisme SN2.S N1 (atau reaksi ionisasi).18 y Reaksi Sn2¶ Pada umumnya alilik halida bereaksi lebih cepat dengan nukleofil dari pada alkil halida karena ikatan membantu melepaskan gugus pergi. ion dipolar ini bereaksi dengan HX menghasilkan 3.32 dapat mempunyai muatan total yang disebabkan oleh pelapasan kerapatan elaktron dari atom yang berdekatan. Proses ini melibatkan reaksi dietilazodikarboksilat (3.17 dan garam alkoksifosfonium 3. paralel terhadap ikatan.16. Disini gugus pergi yang jelek diubah menjadi gugus pergi yang baik melalui suatu intermediet. 4) 17 Subtitusi oleh halogen .namun demikian sering merupakan reasi yang sangat spesifik mempengaruhi perubahan gugus fungsi. 3) Penataan ulang kationik Pusat kation yang kekurangan elektron seperti 3. 2) Subtitusi nukleofilik unimolekul Pada umumnya reaksi subsitusi unimolekul.

REAKSI ELIMINASI 1) Eliminasi bimolekul 1.68 menghasilkan menghasilkan 3.69 sebagai campuran isomer E-Z.X) yang disebabkan oleh penggantian proton oleh basa untuk membentuk ikatan yang baru. Rotasi ikatan pada 3.(H pada 3. Reaksi merupakan unimolekul. Hal ini tampak dari kenyataan bahwa H dapat dilepaskan oleh basa baik dari arah ³atas´ atau ³bawah´ terhadap halida. 3. 2) Eliminasi unimolekul 1. dan tersier dengan HBr dan HCl merupakan cara yang baik untuk pembuatan alkil halida. dan perpindahan pasangan elektron kearah pusat elektofilik akan menghasilkan ikatan dari produk alkena. sakunder.2 Pemanasan bromida 3. karena hidrogen berdekatan dengan muatan positif. Reaksi 1-butanol dengan HBr menghasilkan halida primer.Reaksi alkohol tersier dengan HBr atau HCl menghasilkan halida melalui intermediet kation.2 ¡ Reaksi perubahan gugus fungsi berdasarkan proses asam/basa adalah eliminasi. dan reaksi tersebut dikenal sebagai reaksi E2 (eliminasi bimolekul). yang akan mengalami penataan ulang menuju ion yang lebih stabil. tetapi mengikuti mekanisme reaksi SN2 dengan bromida menggantikan H2O . Pada umumnya reaksi antara alkohol primer. Muatan negatif terjadi pada karbon (basa memberikan 2 elektron ke hidrogen) dan terbentuknya kecapatan elektron ini memungkinkan terjadinya kelepasan gugus fungsi. Eliminasi ditandai dengan pelepasan atom atau gugus (gugus pergi. F).67 dalam media berair menghasilkan pasangan ion yang terpisahkan oleh pelarut (3. Hidrogen.68) terpolarisasi lebih besar dari pada halida netral.69. Ikatan baru terbentuk selama eliminasi dan menghasilkan alkena.68). Suatu basa yang tepat akan melepaskan H . karena langka yang paling lambat pada proses ini adalah lepasnya gugus pergi yang akan membentuk karbokation. dan reaksi ini disebut E1 (eliminasi unimolekul) 3) 18 Eliminasi syn .

Senyawa 3. maka hidrogen hanya dapat dilepaskan bila hidrogen mempunyai kedudukan eklips terhadap atom yang bersifat basa dalam konfigurasi syn.86 yang direaksikan dengan hidroksida mula mula membentuk 3. 4) Reaksi-reaksi yang berkaitan dengan Eliminasi 1. Jika tetheerd base juga merupakan gugus pergi. G). maka pelepasan hidrogen syn dapat merupakan proses yang efisien.3 Terdapat sejumlah tipe reaksi yang berkaitan dengan proses eliminasi 1. Pusat kationik kemudian bereaksi dengan nukleofil (Brdari HBr) menghasilkan bromosikloheksana.Jika basa merupakan bagian dari substrat. namun kemudian terjadi perubahan cincin menghasilkan enolat 3. Reaksi tersebut dikenal sebagai eliminasi 1.87.88. Eliminasi seprti ini dikenal sebagai eliminasi syn. y Eliminasi hoffmann Eliminasi hoffman yaitu contoh klasik dari proses eliminasi syn. Karbon yang pada awalnya berikatan rangkap yang tertinggal akan kekurangan elektron. Biasanya reaksi awal melibatkan pembentukan intermediet karbokation. dan disebut karbokation. 396.3. transfer proton menghasilkan 3. REAKSI ADISI Adisi yang melibatkan intermediet ion bebas Tipe reaksi ini biasanya melibatkan ikatan alkena yang bersifat basa yang memberikan pasangan elektron ke asam (H ). Hasil keseluruhan reaksi kationik ini adalah adisi H dab Br pada ikatan ¢ 1) 19 . meskipun proses ini akan membutuhkan suhu reaksi yang tinggi untuk terjadinya populasi yang efisien pada konfigurasi eklips.89. y Eliminasi 1. dan hidrolisis memberikan produk asam keton.3 (dekarboksilasi) Reaksi eliminasi syn menunjukan bahwa hidrogen yang bersifat basa dapat dilepaskan oleh atom yang bersifat basa yang terdapat pada molekul yang sam. mengakibatkan lepasnya gugus pergi dan pembentukan ikatan . Contoh poses ini adalah reaksi sikloheksana dengan asam yang membentuk karbokation sekunder.3. Ikatan menjadi putus dan ikatan baru C-H terbentuk. Dasar ini juga dapat diterapkan pada sistem yang mempunyai hidrogen yang bersifat asam dan gugus pergi dipisahkan oleh 3 atom.

Stabilisasi terjadi bila heteroatom terikat pada karbon elektrofilik. Tipe reaksi ini kadang-kadang dinyatakan sebagai transfer muatan kompleks.). HNO3. kation oksigen yang mengalami stabilisasi (3. HBr. maka elektron tersebut dapat diberikan kepusat kation sehingga membentuk intermediet jembatan simetris (lingkar anggota-tiga). sehingga tidak dapat dibentuk. Alkil sulfat dan nitrat sering tidak stabil. dsb) akan bereaksi dengan alkena menghasilkan alkil halida. namun bila didekatkan dengan ikatan . H2SO4. maka air atau sianida akan menjadi kation (masing-masing menghasilkan alkohol dan nitril). Sebagai contoh.101. melepaskan X-. telah diamati bahwa reaksi alkena dan asam selalu menghasilkan produk yang lebih tersubstitusi yang kemudian dikenal sebagai adisi Markovnikov. Pereaksi yang simetris seperti bron atau klor umumnya tidak terpolarisasi. Alkena dapat juga berfungsi sebagai basa Lewis pada reaksi dengan elektrofilik halogen.102) dihasilkan oleh reaksi asam dengan keton (3. Asam kuat HX (seperti HCl. Adisi yang melibatkan ion-ion logam yang distabilkan Seperti yang telah dijelaskan didepan.) 2) Adisi yang melibatkan intermediet jembatan yang simetris Pada reaksi dengan HX. alkena mempunyai sifat kurang lebih sebagai basa Bronsed-Lowry. Sebelum mekanisme reaksi ini diketahui. £ £ 3) 20 . intermediet kation yang berasal dari proses adisi cenderung mengalami penataan ulag menuju ion yang stabil. Alkena kemudian dapat memberikan elektron ke X . Jika terdapat air (berasal dari penggunaan pelarut berair) atau jika menggunakan pereaksi yang lebih nukleofilik seperti KCN yang ditambahkan ke dalam reaksi. nitrat dll. sulfat. maka dipol akan terjadi (C=C X X. Proses ini berada di bawah kontrol termodinamika dan cenderung menghasilkan ion yang lebih stabil dan hasil akhir yang lebih stabil. Pusat kationik yang dihasilkan oleh reaksi ini berdekatan dengan ikatan C -X yang baru terbentuk.Alkena merupakan basa yang relatif lemah dan hanya akan bereaksi dengan asam kuat. Karena guguus X mengandung pasangan elektron bebas.

Asam Lewis yang kuat akan memberikan reaksi yang cepat antara halogen dengan benzena. Jika campuran tersebut dipanaska sekitar 100oC. dan transfer klor yag lain ke AlCl3. Kondisi dengan suhu tinggi ini mempunyai enargi aktivasi tinggi untuk pengikatan awal pada cicin aromatik.126. transfer satu klor ke benzen. Reaksi harus terjadi oleh pengikatan hidroksida nukleofil pada 21 2) .H).116) kadag-kadang dinyatakan sebagai ion benzenonium. Meskipun benzena dapat membentuk kompleks yang mentrasfer muatan lemah dengan klor (3. yang digambarkan sebagai kation yang terdelokasikan. Namun demikian. Contohnya. Reaksi ini menghasilkan intermediet Wheland. tidak akan terjadi reaksi. 1) Subtitusi nukleofilik aromatik Cincin aromatik memiliki sifat seperti basa Lewis dalam reaksi dengan asam Lewis. namun pengikatan nukleofil cicncin aromatik yang kaya elektron lebih sukar.125). ternyata tidak terjadi reaksi. SUBTITUSI AROMATIK Tipe proses ini ditunjukan pada reaksi benzena dengan spesies elektrofilik (X-). namun klor tidak dapat ditransfer kebenzena. Kation ini (3.116) mengalami stabilisasi resonansi. Kation intermediet (3. maka terjadi reaksi substitusi yang melibatkan transformasi 2. Pengikatan cincin aromatik akan membentuk ikatan C-X dan pusat sp3.152) ditambah dengan natrium hidroksida dalam media berair. jika asam Lewis kuat seperti AlCl3 ditambahkan.117 Subtitusi elektrofilik aromatik Ikatan-ikatan pada benzena merupakan pemberi elektron yang tidak efisien (benzena merupakan basa Lewis yang lemah). ikatan klor-klor diperlemah yang kemudian dapat diikat oleh benzena. yang kemudian melepaskan proton menghasilkan klorobenzena. Bila benzena direaksikan dengan spesies elektrofilik seperti HCl.4dinitroklorobenzena menjadi 2. maka akan dibentuk kompleks trasfer muatan seperti 3.118). Lepasnya proton bersamaan dengan pembentukan kembali senyawa aromatik berlangsung sangat cepat (membentuk 3. Ini merupakan cara komersial untuk memproduksi turunan-turunan fenol. 3.4-dinitrofenol. namun lebih umum disebut intermediet Wheland. meskipun dilakukan pada kondisi suhu yang cukup tinggi. bila diniriklorobenzena (3. dalam kompleks ini.

ini sering disebut sebagai substitusi Cine.162 mempunyai substituen baru amino yang berdekatan dengan karbon yang mengikat gugus pergi bromida. 3) 22 . terlihat bahwa karbanion dalam posisi ortogonal terhadap kabut aromatik dan pararel terhadap ikatan C-Br. namun orbital yang terisi ini mempunyai kedudukan ortogonal terhadap bidang kabut aromatik.160a) disebut benzuna (benzyne). dan spesies yang reaktif ini (3. sehingga menjadi gugus pergi yang baik.158 direakskan dengan natriu amida. maka deprotonasi akan menghasilkan 3. karena muatan terletak pada karbon yang berdekatan dengan halogen.159a.153. Bila 3. bromida kemudian akan dilepaskan dan dihasilkan intermediet benzuna 3. Produk substitusi 3. Basa akan melepaskan hidrogen-orto dan menghasilkan karbanion.karbon ipso. 3. Pelepasan gugus pergi yang berdekatan ini membentuk ikatan baru pada intermediet benzuna.160a menghasilkan campuran 3.162. dan nukleofilik amida akan bereaksi dengan 3.159a digambarkan kembali seperti 3.159). yang menghasilkan ntermediet karbanion yang distabilkan oleh resonansi. ini merupakan intermediet yang tidak stabil. 3. Eliminasi halida membentuk ikatan baru yang tegak lurus pada kabut cincin benzena.161 dan 3. Turunan benzuna (benzyne) Halogen membuat hidrogen pada kedudukan orto mempunyai sifat lebih asam.159b. hasil ini merupakan pengikatan terhadap kedua karbon ikatan rangkap. bila 3.160b.160a. (lihat 3. ikatan ini merupakan sasaran terhadap pengikatan nukleofilik.

163.166). Contoh reaksi ini adalah konversi 3-nitroanilin (3.Reaksi subtitusi terhadap garam-garam aril diazonium Bila amina aromatik primer seperti anilin direaksikan dengan asam nitrit (HONO) ± yang umumnya dihasilkan dengan mereaksikan natrium nitrit dan HCl atau asam sulfat ± maka dihasilkan senyawa aril diazonium. ion diazonium merupakan salah satu gugus pergi yang paling baik dan merupakan sasaran untuk digantikan oleh berbagai nukleofil untuk menghasilkan produk substitusi 3.167. dalam hal ini benzenadiazonium klorida. Pemanasan 3. 3.164 dalam asam berair menghasilkan fenol. yang kemudian dipanaskan dalam asam sulfat berair menghasilkan 3-nitrofenol. 23 . 3.164 4) Terdapat sejumlah spesies nukleofilik yang dapat bereaksi dengan garam-garam aril diazonium.165) menjadi garam diazonium (3.

seperti yang dinyatakan pada pernyataan kedua. meliputi HOCrO3H. Penggantian atom hydrogen yang terikat pada karbon dengan unsur lain yang lebih elektronegatifseperti Oksigen. Alkohol primer mula-mula dioksidasi menjadi aldehida.Cr2O72-. dan HCrO7-. maka sebagian besar reaksi oksidasi dilakukan pada media berair. yang sebagian besar diterapkan pada kimia AnOrganik. reaksi Cr (VI) dapat ditulis: Cr6 3e ¤ Cr 3 Cr2O72. Karena oksidasi alkohol harus dilakukan dalam keadaan yang dilakukan dalam keadaan terlarut. Alkohol sekunder dapat dioksidasi menjadi keton. namun yang paling umum adalah kromium trioksida yang berwujud Polimer yang umum ditulis sebagai [CrO3]n . oksidasi melibatkan lepasnya satu electron atau lebih dari atom-atom gugus. Pada konsentrasi tinggi (air 24 ¤ ¤ ¤ (2NH2SO4) 7 H2 O 4H2O . dalam media berair.14H HCrO4. Oksidasi dengan Kromium (VI) Kromium (VI) merupakan z t pengoksidasi yang kuat. Terdapat sejumlah pereaksi kromium (VI). Untuk definisi yang lebih umum.BAB IV REAKSI OKSIDASI  Pengertian Reaksi Redoks Sheldon dan Kochi menyatakan bahwa oksidasi pada kimia organik dapat berupa: 1. HCrO4-. Eliminasi hydrogen seperti pada serangkaian Dehidrogenasi Etana. kromium trioksida berada dalam kesetimbangan dengan sejumlah Kromium (VI) lainnya. namun dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam.  ALKOHOL MENJADI KARBONIL (CH-OH C=O) alkohol dioksidasi menjadi turunan karbonil dengan berbagai zat pengoksidasi. 2. H2CrO4. Dalam asam sulfat. Sebagai Contoh adalah pada serangkaian Transformasi oksidatif terhadap Metana: CH4 CH3OH CH2 OH HCO2 H CO2 Oksidasi dapat juga didefinisikan sebagai reaksi suatu unsur dengan Oksigen. H2Cr2 O7.7H ¤ 6e 2Cr3 ¤ 3e Cr3 Oksidasi terhadap alkohol akan disertai dengan reeaksi Kromium Cr (VI) menjadi Cr(III).Produk yang dihasilkan bergantung pada struktur alkohol dan pereaksi yang digunakan.

Semula westheimer menyatakan bahwa air berperan sebagai basa untuk melepaskan hidrogen ini. Penguraian ester kromat meliputi pelepasan proton yang terikat pada karbon yang mengikat oksigen.dan CrO3. maka yang dominan adalah polimer kromium trioksida dan asam kromat. Cr(VI) mengalami reduksi menjadi Cr(IV). Paling tidak ada dua mekanisme yang diusulkan untuk langkah ini. Dalam larutan encer. Cr(V) 4 biasanya adalah HCrO4-. maka kemungkinan ester kromat yang terbentuk adalah 4.sedikit). Fakta eksperimental menyatakan bahwa oksidasi dimulai dengan pembentukan ester kromat.2 yang berasal dari reaksi HCrO4-. namun akhirnya usul ini tidak dapat diterima. Cr(IV).Cro3A + H2O Wiberg memberikan skema oksidasi alkohol sekunder menjadi keton sebagai berikut: R2CHOH + R2CHOH + R2COH + Cr(VI) Cr (IV) Cr(VI) Cr(V) + R2C O R2COH R2C O R2C O 2Cr(VI) 3R2C O + + Cr(IV) Cr(III) + + + Cr(V) Cr(III) 2 Cr (III) + R2CHOH + 3 R2CHOH Mekanisme ini menunjukan bahwa spesies Cr (VI). Kwart dan Francis mengusulkan reaksi intermolekul untuk melepaskan proton. dan Cr(IV) biasanya adalah HCrO3-. dan Cr (V) terlibat dalam keseluruhan proses Oksidasi. maka asam tersebut akan mempengaruhi kedudukan kesetimbangan keseluruhan. Hal ini sesuai dengan: HCrO4. Jika asam sulfat digunakan sebagai asam dalam media berair yang mengandung kromium trioksida dan isopropanol. 25 . dan pada reaksi. Jika asam yang berbeda (HA) ditambahkan pada campuran. konsentrasi Cr (VI) tidak bergantung pada asam. Westheimer mengusulkan pengikatan intermolekul oleh air. K esimpulan dari berbagai percobaan adalah bahwa posisi kesetimbangan bergantung pada asam.+ 2H+ + A. Spesies Cr(VI) biasanya adalah HCrO. dan asam sulfat (HA pada persamaan diatas). seperti yang dijelaskan pada 4.4.

6. termasuk kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair yang dikatalis oleh asam mineral. Aldehid dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. maka pelarutan umumnya dibutuhkan. keduanya dapat dioksidasi. dimana oksigen dari ester kromat melepaskan kedua hidrogen dari karbon dan dari Oksigen. yang tidak hanya akan melarutkan pereaksi kromium saja. 26 . natrium bikromat dalam aseton berair yang dikatalis oleh asam asam mineral. umumnya digunakan untuk mengkonversi alkohol menjadi karbonil. Rocek akhirnya mengusulkan pembentukan kompleks koordinasi seperti pada 4. Pelarut yang tahan terhadap oksidasi seperti asan asetat atau aseton. seperti halnya kompleks Cr2O3 piridin dan t-butil kromat.Rocek mengabaikan kedua mekanisme reaksi tersebut dan mengusulkan Intermediet seperti pada 4.7 Oksidasi kromium (VI) yang termodifikasi Banyak variasi kondisi reaksi yang ditujukan untuk mengoksidasi alkohol. Alkohol primer dan alkohol sekunder. Karena sebagian besar senyawa organic tidak larut dalam air. meliputi pengubahan asam yang ditambahkan pada media. masing-masing menjadi aldehid atau keton. Sejumlah pereaksi kromium (VI) dapat digunakan. tetapi juga Substat alkohol. natrium bikromat dalam asetat.

namun aldehida dapat bereaksi lebih lanjut menjadi asam karboksilat. Dua pendekatan mekanisme tersebut meliputi pembentukan ester kromat seperti 4. Kromium trioksida dalam air atau asam asetat berair Beberapa alkohol dapat larut dalam air sehingga tidak diperlukan pelarut untuk mengoksidasinya dengan kromium. Bila R pada 4. Paling tidak terdapat dua mekanisme yang dapat menerangkan konversi aldehida menjadi asam. Hal ii disebabkan kesempatan terbentuknya kation tersier yang lebih besar.12. kemudian pelepasan hydrogen. dan fenol teroksidasi menjadi kuinon. Oksidasi terhadap alkohol primer mula-mula menghasilkan aldehida.pada kompleks seperti 4. pelepasan hydrogen. tetapi bila R diganti dengan t-Butil. meskipun asetton larut dalam air yang menyebabkan isolasi produk menjadi sukar. Oksidasi menjadi asam juga dapat terjadi mula-mula dengan pembentukan hidrat. Sebagai contoh. Fenil alkil karbinol dapat dipecah secara oksidasi dengan kromium trioksida dalam asam berair.9 adalah iso-propil (iPr). 27 . maka akan mengurangi terbentuknya asam.a. dan hal ini dapat menurunkan produk karbonil yang dihasilkan. Adanya gugus ± gugus yang dapat dioksidasi pada substrat organik seperti alkena. amina teroksidasi menjadi hidroksi amina. Bila dapat mengisolasi aldehida yang dihasilkan. maka produk yang dihasilkan hanya 6%. sulfida teroksidasi menjadi sulfokdsida. fenolat dan amina sering menghasilkan produk samping pada oksidasi terhadap alkoholalkohol yang larut dalam air. Isopropanol memberikan hasil yang baik dalam aseton berair. sulfida.hidroksi-amina..10. maka diperoleh hasil produk 60%.

Reaksi ini berguna. ternyata hasil oksidasi terhadap alkunil karbinol meningkat. n-butanol menjadi n-butirrat. pelarut organik lain dapat digunakan bersama-sama dengan kromium trioksida berair. oksidasi 4. Pembentukan ester seringkali disertai oksida terhadap aldehida primer yang memiliki berat molekul kecil. khususnya untuk molekul yang mengandung gugus-gugus Alkenil atau Alkunil 28 . dan senyawa ini dapat teroksidasi lebih lanjut menjadi ester. dimana alkohol yang tidak bereaksi dikonversi menjadi Hemiasetal. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan tambahan pelarut seperti asam asetat berair b. Pereaksi kromiumtrioksida-aseton-asam sulfat sering dikenal sebagai Jones.Kesetimbangan antara aldehida yang mula-mula dibentuk dengan alkohol primer dapat menghasilkan reaksi samping. Kromium trioksida dalam aseton Ioksida Selain asam asetat.15 dengan produk besar 77%. Contohnya.14 menjadi keton 4. Sebagai contoh. Bila aseton digunakan dalam larutan encer asam sulfat. Sejumlah persoalan terjadi bila digunakan pelarut air.

Jarret mengoksidasi alkohol. keton dan amida. Reaksi siklisasi ini diikuti dengan eliminasi yang akan 29 . c. Oksidasi jarret telah digunakan oleh yamada untuk mengoksidasi menjadi keton pada sintesis Patchouli alkohol. Contohnya. Pereaksi Sisler-Jarret dibuat dengan mereaksikan kromium trioksida dengan piridin. tersier. selanjutnya pada campuran ini direaksikan dengan alkohol. Modifikasi oksidasi jarret dilakukan oleh Collins dan penggunaannya terhadap oksidasi alkohol dikenal dengan Oksidasi Collins. d. meskipun terdapat ikatan rangkap dua dan tioster. bila penambahan piridin pada larutan kromium trioksida dalam HCl berair dilanjutkan dengan kristalisasi Kristal. tetapi protonasi aldehida karbonil yang diikuti dengan pengikatan alkena akan menghasilkan kation tersier. Piridinium kloro kromat (PCC). ester. Corey mendapatkan. Sejumlah alkohol primer telah dioksidasi menjadi aldehida dengan menggunakan prosedur ini. Pereaksi ini sangat tepat untuk mengkonfersi alkohol primer menjadi aldehida dalam diklorometan. Oksidasi yang khususnya mebutuhkan perbandingan 5:1 hingga 6:1 atau kompleks alkohol dan reaksi berlangsung pada suhu kamar.Oksidasi terhadap alkohol biasanya berlangsung lebih cepat dalam aseton dari pada dalamasam asetat. Pereaksi yang kemungkinan mempunyai struktur trigonal bipiramidal terbukti berguna untuk mengoksidasi alkohol primer dan sekunder. tetapi kurang efisien bila diterapkan pada alilik alkohol. akan dikatrakterisasi pereaksi. suatu steroid dengan hasil 89%. Reaksi Sitronelol dengan PCC dalam Diklorometana mula-mula akan menghasilkan oksidasi aldehida. maka produk finalnya adalah asam karboksilat.ketal. Tujuannya adalah mengatasi masalah produk yag rendah pada oksidasi alkohol primer menjadi aldehida dan memudahkan isolasi produk karbonil. dan penggunaan aseton yang berlebihan akan melindungi produk keton dari oksidasi lebih lanjut. Piridinium kloro Kromat (PCC) Usaha untuk meningkatkan oksidasi terhadap alkohol primer dan untuk lebih mempermudah isolasi produk yang dihasilkan mendorong pengembangan pereaksi kromium (VI). Masalah yang dihadapi adalah kesulitan mengisolasi produk yang dihasilkan dari larutan piridin. Keuntungan reaksi oksidasi jarret alkena. alkohol.dan tetrahidropiranil eter teroksidasi jauh lebih lambat dari pada alkohol dan jarang terjadi reaksi samping. Kromium Trioksida-piridin Oksida dengan campuran kromium trioksida dan piridi sebagai pelarut dikenal dengan sebutan oksidasi jarret. Pelarut piridin kemudian dihilangkan dan setelah itu ditambahkan dengan dikloroometana.sulfide. Sintesis mayuron yang dilakukan oleh Smith melibatkan oksidasi jones cocok terhadap molekul-molekul kompleks yang mengandung berbagai gugus fungsi seperti Alkena.oksidasi 1-Heptanol dengan PCC dalam diklorometana meghasilkan 78% Heptanal. namun karena kondisi reaksi dalam keadaan sangat asam.

Sikloheksanol bila dioksidasi akan berlangsung sepuluh kali lebih cepat dari pada dengan PDC dalam diklorometana pada 250C. yaitu piridinium dikromat (PDC). namun senyawa tersebut bersifat kurang reaktif bila dibandingkan dengan -haloketon. Mekanisme reaksinya kemungkinan meliputi pelepasan Nukleofilik Halida oleh DMSO yang membentuk garam Alkoksisulfoksonium. menghasilkan produk asam sebanyak 83%. perbedaan yang cukup signifikan antara oksidasi terhadap alkohol Alifatik dengan oksidasi terhadap alkohol Alilik. Oksidasi yang terjadi dalam keadaan netral ini ditunjukan pada reaksi dengan PDC yang menghasilkan produk Aldehida sebanyak 92%. Pridinium dikromat (PDC) Untuk mengeliminasi sifat asam dari PCC. Oksigen Nukleofilik dapat bereaksi dengan pusat elektrofilik membentuk garam sulfoksonium. Kornblum menyatakan bila  -haloketon direaksikan dengan DMSO pada suhu yag agak tinggi.menghasilkan alkena. Alkil iodida primer dan sekuder atau tosilat dapat dikonfersi menjadi aldehida atau keton. yang dapat dikonversi menjadi keton atau aldehida pada keadaan netral. e. Reaksi 1 bromooktana dengan DMSO dan NaHCO3 pada suhu 1000C selama 5 menit akan menghasilkan oktanol 74%. 30 . maka digunakan pereaksi yang lebih netral. Oksidasi terhadap Sitronelol dengan PDC dalam DMF pada 250C. Cairan alkohol sekunder dioksidasi lebih lanjut membentuk (-) pulegon.  Dimetilsulfoksida (DMSO)-Disikloheksil karbodimida (DCC) Dimetilsulfoksida dapat berfungsi sebagai pelarut maupun sebagai reaktan untuk berbagai substrat alkohol. akan menghasilkan 86% Sikloheksanon. Sikloheksanol bila dioksidasi dengan PDC dalam DMF pada 00C. akan mengasilkan Glioksal yang sesuai ( -ketoaldehida). Bila pelarut diganti dari diklorometan menjadi dimetilfosmamida (DMF).

yang kemudian bereaksi dngan Alkohol. Disikloheksil urea dilepaskan. Udara merupakan oksidator dan DMSO berfungsi sebagai pelarut. Dalam hal ini.3. 4. Cara yang sering dilakukan untuk memisahkan disikloheksil urea adalah dengan mereaksikannya dengan asam oksalat.1 Dimetil Sulfoksida ± Anhidrida Asetat Albright dan Goldman mengembangkan pereaksi oksidasi yang sejenis. Proses ini menghasilkan senyawa yang mengandung belerang yang distabilkan oleh orbital d dari belerang. dan menghasilkan produk karbonil dan dimetil sulfida (yang berfungsi sebagai gugus pergi) Tipe oksida yang sejenis telah dilakukan. yangsekarang mengandung gugus pergi urea yang diikuti proses pengikatan belerang dan alkohol. dan sinamil alkohol dioksidasi menjadi sinamil aldehida dengan hasil 90%. Campuran DMSO dan disikloheksil karbodiimida (DCC). benzilik dan alilik alkohol dikonversi menjadi aldehida melalui proses merefluksnya dalam DMSO. DMSO mula-mula bereaksi dengan anhidrida asetat membentuk garam sulfoksonium. oksigen dari DMSO harus menggantikan gugus hidroksil. Tipe reaksi ini dikenal sebagai oksidasi moffat. merupakan pereaksi oksidasi yang efisien untuk alkohol. 31 . Seperti halnya dengan DCC.17-dion. dan lepasnya proton bukan disebabkan oleh basa melalui reaksi intermolekul. yaitu bila alkohol bereaksi dengan DMSO. yang bersifat gugus pergi yang jelek. Berdasarkan mekanisme tersebut. produk karbonil dan dimetil sulfida dapat diperoleh. Mekanisme oksidasi ini dikemukakan oleh moffatt dan merupakan reaksi pembentukan dan pemisahan disikloheksil urea yang sangat tidak larut. Untuk mengoksidasi alkohol ³dengan DMSO´. Salah satu masalah yang timbul adalah pembentukan urea yang sangat sukar dipisahkan. Deprotonasi garam sulfoksonium merupakan proses intramolekul dan terjadi dengan basa yang kekuatannya menyerupai ion asetat. Sebagai contoh adalah konversi tertosteran menjadi androst -4-ena-3. menghasilkan garam sulfoksonium.-proton kemungkinan diperantarai oleh DMSO. Pelepasan atom hidrogen kelihatannya analog dengan mek anisme eliminasi Oksidasi Moffatt memiliki beberapa kendala. DMSO bereaksi dengan DCC membentuk intermediet sulfoksonium. Hasil interpretasi dari mekanisme ini menyatakan bahwa pusat karbonium pada senyawa belerang melepaskan -hidrogen secara intramolekul. dengan adanya katalis asam. dengan gelembung udara melalui media. Pada reaksi ini. DMSO dan anhidrida asetat digunakan untuk membentuk kompleks aktif sulfoksonium. udara merupakan pereaksi.

bila titik didih aldehida 50 lebih tinggi dari pada produk yang di harapkan.48 dan 4. dalam proses reversibel. 4. pertama kali ditunjukan oleh Verley dan Ponndorf pada reaksi keton dengan Aluminium Alkoksida.meskipun demikian oksida terhadap benzil alkohol menghasilkan benzaldehida sekitar 60 . Pada umunya.kuinon digunakan sebagai penagkap hidrogen.50.Verley. maka produk aldehida dapat di pisahkan dengan cara distilasi.dan kondensasi produk aldehida dengan penangkap hidrogen karbonil(kondensasi aldol yang dikatalisasi oleh asam). Keton awal (RCOR1 ) berperan sebagai penerima hidrogen. kompleks ini kemudian mentransfer Hadari karbon alkoksida 4. Seperti halnya 4.50.49 dan 4. Cara Alternatif dan klasik untuk mengoksidasi Alkohol difokuskan pada reaksi yang dapat dibalik antara keton dan logam alkoksida. triisopoksida atau tri-n-propoksida.sedangkan oksidasi terhadap geraniol 4.ah yang rendah. Oppenauer menerapkan reaksi ini pada oksida Alkohol Steroidal tak jenuh dengan menggunakan aluminium triisopropoksida (Al(OiPr)3 ) dan Aseton.50 berada dalam keadaan kesetimbangan dengan alkoksida baru dan keton baru Jika keton asal (RCOR1) ditambahkan secara berlebih. Reaksi ini telah diterapakan pada sejumlah oksidasi.oksida oppenauer terhadap alkohol primer menghasilkan aldehid dalam juml.48) berfungsi sebagai asam lewis . Oksidasi Oppenauer tehadap alkohol jenuh sering mengalami hambatan.52a. pada reaksi oksidasi geraniol ini.51 dan pembentukan keton baru (R2COR3 ). hanya menghasilkan 35% geranal (4. meskipunsikloheksana dalam larutan toluena atau silena juga sering digunakan. Sebagai 32 . jika tujuannya adalh mengoksidasi alkohol. namun masalah ini dapat diatasi dengan mengubah struktur logam alkoholat atau penerima hidroksida. Reaksi reversibel Alumina Alkoksida.49.Oksidasi Oppenauer Dalam reaksi yang melibatkan kromium (IV) dan pereaksi DMSO. maka kesetimbangan bergeser ke arah 4.52b).49). melalui keadaan transisi enam-pusat. Aseton (sering dengan benzena sebagai pendukung pelarut) sebagian besar digunakan sebagai penangkap hidrogen. aluminium pada kompleks alkoksida(4.49 yang berada dalam keadaan kesetimbangan. Aseton berfungsi sebagai penerima Hidrogen. Reaksi ini sangat efektif bila logamnya adalah aluminium. kompleks 4. yang menginisiasi oksidasi alkohol yang terikat dengan alkoksida pada 4. Reaksi ini menghasilkan pembentukan aluminium alkoksida baru dan keton baru. Upaya lainnya yang sering dilakukan yaitu dengan penggantian pelarut aluminium-t-butoksida. transfer hindrogen antara dua karbon alkoksil menghasilkan4. Reaksi berlangsung melalui kompleks aluminium koordinasi(4.48 dan 4. yang bereaksi pada oksigen karbonil membenuk kompleks yang kekurangan elektron . Dua reaksi samping yang umum terjadi adalah migrasi atau pergeseran ikatan rangkap non-terkonjugasi menjadi terkonjugasi. Pada tahun 1937. dan adanya aseton dalam jumlah berlebih akan mendorong reaksi kearah produk oksidasi. Alkohol di konversi menjadi sustu kompleks dan -hidrogen Akohol dapat dilepaskan seperti asam. streroid dan alkohol-alkohol sederhana. yang kemudian dengan oksidasi Oppenauer. Perluh diperhatikan bahwa reaksi ini adlah kebalikan dri reduksi meerwein-ponndorf. maka aseton yang digunakan berperan sebagai pelarut dan aluminium triisopropoksida yang digunakan merupakan pereaksi. Hidrogen Hadapat di transfer antara 4.49. menjadi ³karbon keton´ seperti 4.48.50.

Goodwin. dan Martin ketika mereka mengendapkan mangan dioksida dan menggunakannya untuk mengkonversi vitamin A.contoh. oksidasi terhadap 3-metil geraniol(4. Mekanisme Goldman ditunjukan pada reaksi benzil alkohol dan melibatkan 33 ¥ . Reaksi ini di temukan oleh Ball. Reaksi ini menghasilkan aldehida yang sangat baik dari alkohol primer.53) menjadi retinena dengan hasil 80% Pereaksi ini dapat dibuat dengan beberapa cara. Salah satu cara yang umum meliputi pengendapan MnO2 yang berasal dari pemanasan MnSO4 dan KMnO4 pada PH tertentu. Goldman dan Hembert mengusulkan intermediet radikal pada oksidasi yang menggunakan mangan dioksida. menjadi aldehida dan keton. dan dapat menoksidasi alkohol menjadi keton atau aldehida. Penggunaan antara alkohol dengan penerima hidrogen yaitu 1:1. Mangan dioksida merupakan pereaksi yang penting dalam sistem senyawa organik.52b) menggunakan aseton berlebih sebagai penangkap hidrogen. dalam media netral. Oksidasi Dengan Mangan Dioksidan Mangan oksidasi(MnO2 ) umumya berbentuk Mn(IV) dan cenderung tidak larut dalam sebagian besar pelarut organik. secara berturutturut. namun kekuatan pengoksidasinya sangat dipengaruhi oleh cara pembuatannya. Oksidasi ini terjadi melalui kondensasi produk oksidasi aldehida. Penggunaan aluminium telah dikurangi kaena terjadinya reaksi samping. Mangan dioksida biasanya merupakan produk akhir dari oksidasi yang sangat kuat . yang ternyata merupakan katalisator yang efektif pada oksidasi oppenuer. karena pereaksi tersebut dapat mengoksidasi alkohol primer dan alkohol sekunder.(4. Ishii menggunakan pereaksi siklopentadiental zirkonium (Cp2 ZrH2 ). yang menghasilkan ikatan MnO(Mn2 ). Reaksi berlangsung melalui intermediat radikal.52a) menjadi -iron (4.

(KO3S)2NO). Senyawa turunan fenol bila dioksidasi menghasilkan Kuinon yang merupakan komponen penting yang terdapat secara luas dialam konfersi hidrokarbon aromatik menjadi fenol juga memungkinkan dengan cara oksidasi. reksi selanjutnya dengan pelarut alkohol (metanol) menghasilkan metil ester  Pembuatan Fenol Dan Dan Kuinon Selain oksidasi terhadap senyawa-senyawa hidroksi alifatik. Reaksi berlangsung cepat dan dapat ditandai dengan hilangnya warna ungu dari radikal.adsorpsi pada mangan dioksida.62). kemudian berreaksi dengan MnO2 yang menghasilkan sianoketon. namun rashing membuat garam kalium yang lebih efektif dan menjadikannya pereaksi yang tetap menjadi pilihan. Pelarut yang umum digunakan adalah Alokohol yang berair dan asetat berair dan reaksi biasanya berlangsung dalam larutan bufer fosfat atau ufer asetat. turunan aromatik yang mengandung ggus hidroksi (turunan fenol) juga dapat dioksidasi.4 (para) Kuinon (4. cara Siklisasi dan cara Kondensasi Salah satu pereaksi yang paling umum digunakan untuk mengoksidasi turunan Fenol menjadi Kuinoid adalah Garam Fremy (Kalium Nitroso disulfonat. Mekanisme sederhana untuk oksidasi telah diusulkan oleh Tenber.2 (Orto) Kuinon (4. pelarut yang tepat. ini merupakan sintesis utama terhadap penggunaan mangan dioksida. Koordinasi ini diikuti transfer elektron yang menghasilkan radikal dalam proses yang disertai dengan reduksi Mn(IV) menadi Mn(III). melipuuti oksidasi senyawa asal non-kuinoid. Kadang-kadang pereaksi bereaksi dalam keadaan yang istimewa dan terurai secara spontan. relatif para Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto-kuinon yang rendah. relatif terhadap para34 . Proses oksidasi dapat juga menggunakan sianida seperti pada konversi aldehidaterkonjgasi menjadi ester terlonjugasi. Kuinoid yang paling umum adalah 1. mangan dioksida yang dibuat dalam keadaan baru diaktivasi. Faktor penghalang pada reaksi kadang-kadangf dapat memberikan hasil orto-Kuinon yang rendah. nam keadaan un ini terjadi karena adanya sejumlah katalis ion nitrit Pereaksi dalam larutan asam sangat tidak stabil dan pada larutan yang berair pada pH>10 juga mengalami penguraian. serta waktu reaksi lama. Corey menunjukan bahwa HCN/CN. Oksidasi membutuhkan media netral.bereaksi dengan aldehida terkonjugasi. dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alilik sekunder.61) dan 1. Mangan dioksida mengoksidasi alilik dan benzil alkohol lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh dan mengoksidasi alilik primer lebih cepat dari pada alkohol primer jenuh. Kuinon Sturktur Kuinon terdapat dalam berbagai bahan dialam. ada banyak cara pembuatan Kuinoid. untuk menyempurnakan oksidasi. Transfer elektron kedua menghasilkan produk karbonil yang diserap pada Mn(OH)2 sehingga terjadi desorpsi pada produk dengan melepaskan air. pereaksi ini dibuat oleh Fremy sebagai garam dinatrium.

seperti pada konversi dikloroheksana menjadi 4. Ekpoksidasi menggunakan peroksida Cara yang paling umum untuk mengkonversi alkena menjadi epoksida adalah menggunakan peroksida.2H ¦ 2H2O 1.). Hydrogen peroksida dan turunan monosubstitusinya dapat 35 . Cara lainnya telah dihasilkan oleh Undenfriend. Reaksi dikembangkan dengan model untuk hidrolisasi biiogenik tiramin Versi yang lebih maju dari pereaksi ini yaitu menggunakan oksidasi anodik dengan adanya pereaksi Udenfriend. dan dengan cara ini. tiramin) dapat dikonversi menjadi campuran hidroksitiramin 21% () dan dihidroksi tiramin (DOPA. yaitu dengan menggunakan sistem oksigenion fero-asam askorbat dengan adanya EDTA (Pereaksi Undenfriend).83) melalui proses. Hydrogen peroksida (H2 02 ) merupakan zat pengoksidasi yang kuat dengan petensial reduksi 1. Terdapat sejumlah cara oksidasi yang berbeda yang dapat diterapkan pada alkena.77 V Reaksi peroksida sebagian besar meliputi pemutusan homolitik ikatan O-O. Pereaksi ini memberikan hasil yang baik untuk turunan orto dan para -fenol dari fenilasetamid. meskipun orto kuinon akan dibentuk bila kedudukan para dilindungi atau diblok. yang menghasilkan radikan bebas.Kuinon yang kurang terhalangi jika kedudukan orto dari para dapat diikat. Peroksida marupak sumber ³elektrofilik oksigen´ dan bereaksi dengan nukleofilik ikatan dari alkena.82) yang merupakan anti terhadap boron yang berdekatan. meliputi penggabungan suatu oksigen (Epoksida).81. Epoksidasi dari halohidrin Reaksi alkena dengan asam hipohalida (Cl2 H2 O  HOCl atau Br2 H2O  HOBr) menghasilkan trans atau anti halodrin sebagai hasil pokok.77 V seperti yang di tunjukan pada reaksi berikut: H2 O2 2e. senyawa tersebut bila kemudian direaksikan dengan basa seperti natrium hidroksida. penggabungan 2 oksigen (hidroksilasi) dan oksidasi pemutusan ikatan (umumnya menjadi turunan karbonil). Gugus fungsi lain yang dapat menjadi sasaran terhadap oksidasi meliputi ikatan pada alkena. Orientasi anti ini melepaskan halida yang akan menghasilkan sikloheksana oksida (4. Fenol Pembuatan Fenol yang umum adalah dengan menghidrolisis garam-garam Diazonium. akan menghasilkan alkoksida (4.  Konversi alkena menjadi Epoksida Oksidasi gugus C-OH menjadi gugus karbonil C=O telah dibahas. Biasanya produk utamanya adalah para-kuinoid.

93) yang mengalami epoksidasi selektif pada alkena yang tidk terkonjungsi. dan pelepasan proton menghasilkan hasil samping (air dari hidrogen peroksida. dan asam karboksilat dari peroksi asam). dan peroksida asam (4. seperti 4.OH H O O R Gugus ±OH perasam bersifat elektrofilik dan pengikat pada ikatan rangkap alkena menghasilkan adisi syn dari oksigen epoksida . Pengaruh gugus tetangga mungkin terjadi bila ada gugus pengkoordinasi seperti pada alilik alcohol. Alkena yang kekurangan electron bersifat kurang reaktif.92.87). O + R.91 dengan t-butilhidroperoksida (TBHP) dan molybdenum heksa karbonil menyebapkan oksidasi selektif pada alkena trisubstitusi yang akan menghasilkan 4. Beberapa contoh reaksi epoksidasi Reaksi 4. epoksidasi sikloheksenol dengan TBHP dan logam bersifat 36 .90. Sebagai contoh. Pemutusan secara heterolik mentrasfer oksigen ke basa lewis (alkena). dan menghasilkan 4.bereaksi dengan alkena. alkil hidroperoksida (4.88).alcohol dari alkil hiroperoksida. yang menghasilkan oksigen yang bermuatan positif.94. Terdapat tiga kelompok utama peroksida yang digunakan untuk epoksidasi:hidrogen peroksida (4. Hal ini ditujukan pada epoksidasi geranial (4.89) basa lewis (Alkena) berkoordinasi dengan elektrofilik oksigen dari peroksida.

99.96) sebagai produk utama.trifluoroh. hidrogen peroksida bereaksi dengan basa menghasilkan hidroperoksida anion (HOO-) dan mengadisi keton takjenuh aldehida dan ester. maka pengru penghalang akan menghasilkan anti-hidroksiepoksida (4. seperti pada reaksi akrilonitril yang menghasilkan 4. Hidrogen peroksida dalam basa dapat mengkonferesi nitril manjadi epoksi amida. yaitu epoksinitril (4. yang mula-mula melalui pembentukan 4. meliputo peroksi format.103).yaitu kearah pembentukan 4.4 peroksi asam organic Mungkin cara yang paling umum untuk epoksidasi alkena sederhana kemungkinan adalah dengan peroksi asam. Isoforon (4.101. jika reaksi berlangsung tanpa pengaru gugus tetangga. 4. dengan gugus hidroksi syn terdapat pada epoksi 4. yang dikenal sebagai reaksi prilezheav (prileshajew).105) Contoh epoksidasi alkena adalah konfersi siklupentena manjadi siklopentena oksida (4. Peroksi asam seperti 4.98) dengan hasil 72 . sejumlah peroksi asm dapat diperoleh dalam perdangangan. epoksi alcohol 4.6. adisi konjungsi ).4. Tidak diragukan bahwa reaksi ini berlangsung melalui intermediet seperti 4.sangat selektif untuk epoksi alcohol.97) dikonfersi menjadi epoksida yang sesuai (4.peroksi bensoat. 4. Sebagi contoh.4. asam-asam kuat seperti asam format dan asam trifluoroasetat berguna karena dapat menggeser kesetimbangan kearah kanan.100.95 bersifat dominan.102 dengan t-butil hidroksida dalam larutan basa menghasilkan produk yang baik.104 dibuat dengan mereaksikan asam karboksilat dengan hidrogen peroksida. di mana enolat anion menggeser gugus hidroksi yang kemudian menghasilkan epoksida.95. reaksi yang sejenis.peroksi asetat dan meta-kloroperoksibensoat (mCPBA.104.106) dengan mCPBA dalam karbon petraklorida 37 .kenyataannya.Peroksida bereaksi pada media basa menghasilkan produksi anion yang bereaksi dengan turunan karbonil terkonjungsi pada C terminal adisi-1. pada umumnya.

tri dan tetra tersubstitusi segera terepoksidasi dengan asm peroksi alkanoat maupun dengan asam peroksi bensoat. dimana diena dikonversi secara selektif menjadi epoksida. Contohnya. dan R2C = CR2 >> 6500). Jika asam triflouorohperoksi asetat (CF3CO3 H) digunakan sebagai zat pengoksidasi.2 ± dimetil ± 1. Sebagai contoh.4 ± siklopheksanadiena. maka alkena yang lebih tersubstitusi akan lebih cepat terepoksidasi. Memberikan epoksida tetrasubstitusi dengan mCPBA reaksi ini ditunjukan oleh ptattier dan teisseir pada y -bisabolena. Pembukaan cincin epoksida dengan asam Pembukaan cincin epoksida dapat dilakukan dengan pereaksi asam atau basa.maka hasil sampingnya adalah asam organic kua. Epoksidasi terhadap alkena monosubstitusi biasanya kurang reaktif.Kemungkinan reaksi yang berlangsung melalui mekanisme penggabungan. Selain itu. asam trifluoroh asetat (CH3CO2 H). Ikatan rangkap dua.N ) pada media reaksi biasanya akan menyangga reaksi dan mencegah terjadinya reaksi samping. Penambahan garam asam (RCO2. laju relative epoksi naik berdasarkan karakter nuleofilik alkena (CH2 = CH2 mempunyai luju relative 1. Pada umumnya.R2C ± CHR :6500. RCH = CH2 : 24.Alkena yang lebih banyak tersubstitusi merupakan alkena yang kaya electron dan bereaksi lebih cepat dengan peroksi asam dari pada alkena yang kurang tersubstitusi. asam ini cukup kuat untuk mengkatalisis penataan ulang atau reaksi lain terhadap produk epoksida.RCH = CHR :500.R 2C = CH2 :500. Pembukaan cincin epoksida dengan suatu asam H-Nu dapat dinyatakan sebagai berikut: § 38 . Sebagai hasil samping adalah asam karboksilat.okan membentuk koordinasi yang kemudian terjadi pelepasan asam karboksilat dan pembentukan epoksida. karna dibutukan pengunaan peroksi asam yang kuat seperti asam trifluoroh peroksi asetat meskipun mCPBA juga efektif. dapat digunkan kalium atau natrium atau kalium hidrogen fosfat. Pembukaan Cincin Epoksida a. namun asm peroksi bensoat lebih efektif. Natrium dan kalium asetat digunakan sebagai penyangga. mCPBA marupakan peroksida yang bagus untuk sebagian besar alkena. reaksi dengan asam peroksi bensoat mengunakan natrium bensoat dan natrium trifluoroh asetat digunakan dengan asam trifluorohperoksi asetat. Jika molekul mengandung dua alkena. yaitu alkena dan elektrofilik peroksi oksigen. Epoksi ester seperti dapat dibentuk dari ester terkojugasi seperti etil 2 ± bensoat dengan menggunakan mCPBA atau asam trifluoroh asetat. atau dengan buffer hidrogen fosfat dinatrium. Adanya larutan penyangga (buffer) menjadi penting padaepoksidasi dengan peroksi asam. 1.

dan reaksi dapat dipandang sebagai reaksi adisi yang dilanjutkan dengan protonnasi. Langkah pertama adalah pengikatan basa neuklofil pada cincin epoksida dan langkah kedua adalah protonasi terhadap ion alkosida yang dihasilkan dari langkah pertama. Reaksi ion alkoksida dengan H2 O 39 . Pengikatan ±OH pada cincin epoksida Langkah 2.Oksiran juga dapat bereaksi dengan asam halide HX. Br atau I yang menghasilkan halohidrin. Oksiran yang direaksikan dengan asam dalam pelarut air akan menghasilkan etilen glikol yang umumnya disebut glikol. Langkah 1. Pembukaan cincin epoksida dengan basa Pembukaan cincin pada epoksida juga dapat dilakukan juga dengan basa. Reaksi pembentukan epoksida eengan basa terjadi melalui dua tahap reaksi.Pembukaan cincin epoksida dapat terjadi melalui dua langkah reaksi. yaitu protonasi terhadap oksigen dan pengikatan nukleofil pada ion oksonium. dimana X dapat berupa Cl.

Misalnya. karena keadaan transisi akan melalui struktur yang kurang terhalangi. Orientasi adisi terhadap epoksida pada kondisi asam vs basa Pada epoksida yang tidak simetris. pengikatan nukleofilik pada karbon epoksida bergantung pada kondisi asam dan basa. polietilen glikol dimanfaatkan sebagai foam rubber dan fase diam pada kromatografi gas (disebut carbowax). Kondensasi asam m Kondisi basa Nukleofil akan terikat pada karbon yang mengikat jumlah alkil yang paling banyak sesuai dengan aturan Pada umumnya pembukaan cincin epoksida pada kondisi basa terjadi dengan pengikatan nukleofil pada atom karbon yang tidak tersubtitusi.Reaksi pembentukan cincin epoksida dengan basa sering diguakan dalam pembuatan polimer. 40 .

PENGERTIAN REDUKSI Proses reduksi didefenisikan sebagai konversi suatu atom dari tingkatan oksidasi yang lebih tinggi ketingkat oksidasi yag lebih ranadah (III ke II. ¨ 41 . Proses reduksi oleh LiAlH4 dimulai dengan metransfer hidrida nukleofilik (relatif terpolarisasi . LiAlH4 4H2 O 4H2 O LiOH Al(OH)2 H2 Litium aluminium hidrida memiliki kelarutan terbatas dalam pelarut eter dan mempunyai kecenderungan membentuk bubur bila jumlah pereaksi yang di gunakan relatif besar. yang Litium hidrida merupakan salah satu pereduksi yang dikenal untuk substrat organic yang mengandung gugus pergi dapat terpolarisasi. amida. alcohol atau amina dan menghasilkan gas hydrogen dengan merusak sifat aktif hidrida. Pereaksi LiAlH4 dengan adanya asam/basa dapat bereksi dengan hydrogen yang bgersifat asam. ester. keton. dan aluminium hidrosida. anhidrida asam. seperti reduksi 2butanon menjadi 2-butanol.1 Reduksi dengan Litium Aluminium Hidrida (LiAlH4) LiAlH4 dibuat dengan mereaksikan LiH dan AlCl3 . klorida asam. dan gas hydrogen. IV ke II.BAB V REAKSI REDUKSI A. meliputi aldehida.pada Al) ke karbonil elektrofilik (relatif terpolarisai pada oksigen). B.2 Reduksi terhadap senyawa KarbonilL Litium Aluminium Hidrida cepat mereduksi sebagian besar senyawa karbonil. tetapi beraksia dengan hebat pada keadaan lembab / mengandung uap air. asam karbosilat. B. Bubur LiAlH 4 dapat mereduksi semua gugus fungsi organik terpolarisasi. Reduksi dengan Hidrida Kompleks Logam B. dan reduksi terhadap propanil menjadi butanamina. Litium hidrosida. atau II ke I). Pereaksi ini stabil pada suhu kamar. seperti pada transformasi RCH=NH menjadi RCH2NH2. lakton . imida. karbamat. Pengertian lainnya pada reduksi senyawa organic adalah adisi hydrogen terhadap molekul. dan laktam.

57 dan 5. Namun demikian kadang ± kadang Epoksida memberikan produk dimana transfer Hidrida berlangsung kearah karbon yang lebih tersubtitusi. produk utama reduksi diastereomer timbul akibat transfer hidrida ke permukaan yang berpenghalang kecil. kecuali bila terdapat pengaruh adanya koordanasi atau khelat khusus.Reaksi keseluruhan meliputi protonasi asam aloksida dan reaksi pada aluminium terjadi pada media masa. karena pada aldehida factor penghalangnya kecil selama ter jadi transfer hidrida ke karbon karbonil. 42 . LiAlH4 mentransfer hidrida kekarbon epoksida yang kurang terhalang. B. Pada umumnya.56 menjadi campuran 5. tetapi kadang ± kadang menggunakan aluminium klorida jenuh dan asam klorida encer.55 dengan hasil 95%. 3 Reduksi terhadap gugus fungsi hetereton kecuali karbonil Epoksida segera dapat dibentuk dari alkena atau dari keton dan aldehida. Dalam bnayak hal. Contohnya adalah reduksi 5. Salah satu sifat penting pada reduksi karbonil dengan LiAlH4 adalah reaksi yang bersifat diastereoselektif. titrasi atau penambahan dengan air sudah cukup untuk melepaskan alcohol. seperti yang di tunjukkan pada 5.54 menjadi alcohol 5. Reduksi aldehida berlangsung lebih cepat daripada terhadap keton.58 dalam sintesis driman-8-ol.

dan klorida asam saja. tetapi juga mereduksi epoksida ester dan lakton. mereduksi aldehida. Selektivitas ini disebabakan oleh menurunnya kekuatan pereduksi realatif terhadap LiAlH4.2 Logam borohidrida (Li. NaBH4 43 . LiBH4 tidak hanya mereduksi Aldehida.Nitril digunakan secara umum sebagai senyawa awal (prekursor) untuk transformasi banyak gugus fungsi dan reaksi pembentukan ikatan karbon.1 Natrium Borohidrida (NaBH4) NaBH4 merupakan pereaksi yang sangat selektif. LiBr LiBH4 NaBr. Senyawa nitril umumnya dibentuk berdasarkan reaksi subtitusi SN2 sianida dengan alkil halida atau sulfonat ester atau berdasarkan reaksi dehidrasi terhadap amida. C. dan klorida asam dengan adanya gugus fungsi yang lain yang dapat direduksi. Zn. keton. C. merupakan zat pereduksi yang lebih kuat daripada NaBH4. keton. terutama pada sintesis alkaloid adalah mereduksi enamin. Ce) LiBH4 yang dibuat dengan mereaksikan natrium borohidrida dan litium bromida. dan garam iminium. Reduksi dengan Borohidrida C. imin. Salah satu penggunaan NaBH4 yang penting.

Boran mereduksi ester sangat lambat dan keton atau aldehida direduksi secara selektif dengan adanya ester. seperti pada reduksi 1. 44 . asam. 4 Penggunaan zat pereduksi Hidrida dikatakan paling baik adalah pereaksi yang memberikan hasil paling tinggi dengan reaksi samping paling sedikit. Super hidrida mengikat pusat ± pusat elektrofilik pada sisi yang factor penghalangnya renadah. Diboran biasanya dihasilkan dari pereaksi BF3 O(C2H5 ) dengan LiH atau dari reaksi NaBH4 dan BF3.C. amida tersier dan nitril. lakton.3 Super Hidrida Super hidrida lebih kuat daripada LiBH4 dan kemungkinan merupakan nukleofil hidrida yang pernah ada. 2epoksisikloheksana menjadi metal 1-metilsikloheksanol dngan hasil 99%. monomer takstabil yang membentuk diboran) bereaksi dengan alkena dalam pelarut eter membentuk basa Hidroborasi. Perbedaan utama dalam reaktivitas antara boran dan pereaksi hidrida logam adalah bahwa Borann merupakan asam Lewis yang bagus dan mengkoorddinasi atom ± atom yang memiliki kerapatan elektron yang sangat tinggi. Boran aluminium dan turunnya d. Diboran (B2 H6) merupakan zat pereduksi penting untuk aldehida. keton. Diboran kurang efektif ungtuk mereduksi ester dan boran (BH3.1 Boran 6 LiH 8BF 3 O(C2H5)2 B2 H6 6 LiBF 4 4 BF3O(C2 H5)2 2 B2 H6 3 NaBF4 3 NaBH4 Boran dan turunannya tetap merupakan pereaksi pilihan untuk reaksi. D. c.metal-1.

Turunan alkil yang paling banyak digunakan adalah diisobutil aluminium hidrida ([(CH3)2CH2 ]2 AlH4. tergantung pada proporsi LiAlH4 dan AlCl3..3 Diisobutil aluminium Hidrida pembuatan alkil ³alana´ yang analog seperti alkilboran. nitril dan keton. d. 2 Aluminium Hidrida Boran (BH3 ) merupakan asam lewis seperti halnya borohidrida (BH4-). termasuk benzene dan toluene. meskipun dengan adanya halide. Campuran hidrida yang paling umum adalah Cl2 AlH dan Cl2 AlH2. Pereaksi ini sangat larut dalam sebagian besar pelarut organik. Senyawa yang diperoleh berupa cairan piroforik 45 .S(CH3 )2). d. Dibal) yang dibuat dengan merefluks triisobutil aluminium dalam heptana.Penggunaan boran yang paling luas adalah reduksi yang selektif terhadap asam karboksilat. karena campuran kloroaluminium hidrida dapat terbentuk. Boran digunakan untuk mengkonversi asam -amino menjadi alcohol amino seperti pada reaksi fenilalanin menjadi fenilalkohol dengan hasil 77%. Hal yang sejenis AlH4 . ester. Salah satu yang lebih sering digunakan adalah kompleks boran dimetil sulfide (H3 B. aluminium hidrida (AlH3): 3LiAlH4 AlCl3 4 AlH3 3 LiCl Aluminium hidrida yang dibuat dengan cara ini tidak selalu murni. Sifat yang mudah terbakar dan sukarnya menangani boran memungkinkan pengembangan sejumlah kompleks basa lewis yang mudah digunakan.mempunyai analog sebagai elektrofil.

apakah pereaksi tersebut akan menghasilkan enantiomer Ratau S.120 tidak mengandung pusat khiral.2 Khiral aditif pada system asiklis Aspek utama reduksi hidrida adalah stereokimia reduksi seperti yang ditunjukan pada Tabel 5.1 Pusat ± puast prokhiral Ada molekul ± molekul yang tidak memiliki pusat khiral. maka akan diperoleh enantiomer S. maka pusat khiral akan terjadi pada produk yang dihasilkan. Di sini di cermati adalah pereaksi yang digunakan. Stereoselektivitas pada reduksi Hidrida E.2. sedangkan jika pendekataan dari muka yang berlawanan. yang diikuti dengan oksidasi. tetapi bila molekul tersebut bereaksi dengan suatu pereaksi. hal ini di kaitkan dengan muka atau permukaan molekul yang akan didekati oleh pereaksi selama reaksi berlangsung.120 dengan boran seperti 9.117 dan alkena 5. 46 . Jika pendekatan pereaksi dari satu muka. Jika 5. akan menghasilkan alcohol 5. seperti fenil magnesium bromide.BBN (9-boran ±siklo [3. Karbonil merupakan pusat prokiral karena adisi hidrida dari kedua muka karbonil (a atau b) menghasilkan pusat stereogenik. Kenyataan bahwa keton 5. Reaksi alkena 5.119).121 (dan enantiomernya 5.118 dan enantiomer (5.31]-nonana).117 bereaksi dengan pereaksi Grignard.E. maka akan dihasilkan enatimer R. Karena kedua muka mempunyai kesempatan yang sama untuk pengikatan.122) E. maka diperoleh alcohol 5. maka produk alcohol adalah rasemik. yang direduksi menjadi 2-pentanol. Contoh sederhana adalah 2 ± pentanon.

Didukung = proses dalam bentuk bubur dan bekerja dalam keadaan gel tetap 2.E.136 tetap seperti konformasi yang terlihat. tetapi pusat tersebut terlalu jauh dari pusat prokhiral yang mempunyai pengaruh atas reduksi pada prokhiral. 47 . maka reduksi menghasilkan diastereomer. Pada 5.3 Selektivitas pada reduksi turunan karbonil yang mengandung karbon khiral Jika pusat prokhiral terdapat pada molekul yang mengadun g satu atau lebih pusat khiral.134 mengandung pusat stereogenik. dan hasil yang diperoleh adalah campuran 1 : 1 diastereomer syn dan anti (5.137 dan pendekatan melalui muka yag lebih terhalang (³muka metal´. pada system asiklis seperti contoh tersebut tidak mungkin memiliki konformasi tunggal. Namun kenyataannya. keton 5.homogen = katalius larut dalam media reaksi Hirogenasi heterogen mempunyai dua bentuk: 1. Hidrogenasi Katalik Reduksi gugus fungsi dengan gas hydrogen merupakan salah satu reaksi yang penting dalam kimiia organic.136. Tidak didukung= reaksi terutama dalam larut. Reaksi dengan zat pereduksi dapat mempengaruhi konformasi sehingga memberikan sifat diastereoselektivitas. Terdapat dua tipe utama katalis 1.135a dan 5. F. Hidrogenasi etana menjadi etana pertama kali dilakukan oleh van Wide pada tahun 1875. muka re)akan memberikan 5.Heterogen = katalis tidak larut dalam media reaksi 2. maka hasil yang akan diperoleh sangat cenderung pada 5. dan pengaruh khiralitas akan berpengaruh pada pendekatan pereaksi yang akan menyerang. 1912) F. Pereaksi akan mendekati dari muka yang mengikat halangan yang palin kecil.136. Reduksi terhadap senyawa ini tidak lebih seperti pada reduksi keton yang tidak memiliki pusat khiral. dan reaksi berlangsung dengan penyerapan hydrogen dan substrat dipermukaan logam. Senyawa 5.138 Jika konfirmasi 5. yaitu ketika Sabatier mengembangkan reaksi antara hydrogen dan senyawa organic yang kemudian menjadi model reaksi universal (Nobel prize.136 mempunyai pusat stereogenik yang berdkatan dengan karbonil.1 Aktivitas dan Reativitas Katalik Metode ini berkaitan dengan adisi gas hydrogen pada molekul organic. seperti pada reaksi 5. Namun demikian. pendekatan melalui sisi sebelah atas ³muka hydrogen´(muka si) akan menghasilkan n5. yangb merupakan rasemik.134 dan 5.137. Penggunaan hidrogenansi katalik secara luas dilakukan setelah tahun 1897.135b). Reaksi membutuhkan sejumlah katalis logam transisi agar reaksi dapat terjadi.

palladium. F. akhirnya.172. Pengertian tersebut mengacu pada tipe ± tipe ataom yang berbeda. tingkat reduksi dan distribusi produk.173). Katalis ± katalis tersebut digunakan untuk mereduksi banyak gugus fungsi . step dan kink pada permukaan katalis heterogen. Rh > Ir > Rn > Pt > Pd > Ni > Fe > Co > Os Pada urutan tersebut. rodium merupakan katalis yang paling aktif.Gugus fungsi yang direduksi. Katalis yang sebagian besar digunakan adavlah platian.175) Mekanisme yang pasti dari katalis heretogen belum diketahui karena proses tersebut mmerupakan fenomena yang terjadi di permukaan. melalui pemutusan molekul hydrogen dan penyusunan atom ± atom hydrogen. garam ± garam logam transisi sering digunakan daripada logamnya sendiri. dan rutheum. iridium. nikel. Variabel pertama dalam hidrogenasi katalik adalah katalis. Alkena juga terikat pada permukaan logam (5. tidak ada katalis tunggal yang memberikan hasil yang lebih bagus untuk semua gugus fungsi. Gas hydrogen dipecah menjadi atom ± atom hydrogen yang terikat pada nikel (dinyatakn 5.174). Tipe atom step (B) biasanya mempunyai tujuh tetangga dan dapat digambarkan dengan struktur 5. Katalis heterogen merupakan suatu perwujudan permukaan dan karena itu dikenal terdapat beberapa perbedaan tipe partikel ± partikel logam di permukaan. yang diikuti dengan berlansungnya reaksi dengan transfer hydrogen ke karbon (5.170. bergantungf pada sifat dan jumlah katalis maupun tipe prosedur hidrogenasi yang digunakan. yang di tandai dengan jumlah atom tetangga yang terdekat. rodium. Dalam beberapa hal. yang didasarkan pada pekerjaan yang dilakukan oleh Mann dan Lien.171. Maier menggambarkan adanya tipe ± tipe atom terrace. Pada proses terlihat 48 . Hudliky mengemukakan urutan reakstivitas relative terhadap propena untuk katalis logam transisi golongan VIII. tipe atom kink (C) mempunyai enam tetangga dan dinyatak seperti 5. Tipe atom terrace (A) kekhasannya mempunyai delapan atau Sembilan tetangga dan ditunjukan secara geometri seprti 5.2 Reduksi Alkena dan alkuna Reaksi dengan alkena berlangsung diatas permukaan katalis heterogen logam.

4 Reduksi aromatic dan Hidrokarbon Heteroaromatik Contoh yang paling sederhana adalah reduksi benzene menjadi sikloheksana yang membutuhkan kondisi suhu dan tekanan tinggi.185 pemecahan secara reduktif cincin siklopropana berlangsung lebih cepat daripada reduksi keton. maka hidrogenasi katalik dapat dipersulit oleh reaski samping.memutus ikatan H ± H yang menghasilkan spesies logam ±H (H*).3 Hidrogenasi senhyawa ± senyawa karbonil Bahwa pada reduksi 5. Bila cincin aromatic tersubtitusi. Redukski fenol mula ± mula menghasilkan enol. dengan perbandingan 10 : 82. yaitu sbb: Rh > Ru >> Pt > Pd >> Ni > Co Rodium dan ruthenium digunakan jika menghindari hidrogenolisis. Contohnya 5. F. disebut katallis adams).mula mereduksi naftalena menjadi 5. Rylander memberikan urutan berbagai katalis untuk mereduksi benzene. Cincin siklopropana tidak dapat direduksi dengam katalis Lindlar. dimana hydrogen diserap pada situs aktif dipermukaan katalis.185 direduksi dengan katalis adams menghasilkan campuran 5. Reduksi Logam Terlarut 49 .201).200 merupakan konstituen kecil dari campuran produk akhir. tetapi dapat direduksi dengan katalis heterogen seperti platina oksida (PtO2. kecuali jika menggunakan katalis rodium.205 dengan adanya hydrogen berlebih. dan 5. tetapi senyawa ini dikonversi menjadi sikloheksanon atau turunan sikloheksanadion. G. F.187. tetapi tidak dapat mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada barium sulfat atau alumina Al2 O3. Platinum mereduksi aldehida bila diadsorpsikan pada karbon atau kalsium karbonat. tetapi senyawa ini tereduksi lebih lanjut menjadi dekalin (5.200. Urutan relatif untuk reduksi naftalena menjadi tetralin adalah Pd > Pt > Rh > Ir > Ru Rodium mula.202 yang akan menghasilkan reduksi sempurna pada semua ikatanmenjadi 5. seperti pada reduksi 5.186 dan 5.

215 Paling tidak ada dua tipe produk reaksi yang dihasilkan oelh ketil yang berasal dari aseton.220) dengan hasil 68%. dan menghasilkan produk yang tereduksi. ikatan pada 2-butuna menangkap electron yang dihasilkan dari eletrolisis membentuk anion radikal seperti 5. intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepaskan proton dari pelrut yang bersifat asam. yaitu bentuk radikal karbon dan bentuk karbanion (5.NR ± C = O dengan satuan O = C ± NHNH ± C = O. Ketil dapat mengaloami penggabungan radikal . Proses ini di kenal dengan reduksi Wolf ± Kishner. Terdapat dua bentuk kanonikal ketil inn. reaksi ini sering disebut sebagai prosedur Ing ± Maske 50 .G. Salah satunya adalah reduksi dengan hidrazin Dalam keadaan basa. Hidrazin hidrokarbon (N2 H5 HCl) sangat efektif untuk mereduksi khususnya keton yang mempunyai penghalang. Penggabungan radikal aseton seperti yang dinyatakan diatas ditunjukan pada konversi 2. Reduksi Nonlogam Terdapat sejumlah cafra untuk mereduksi gugus fungsi organic yang menggunakan pereaksi nonlogam. menghasilkan anion radikal (disbut ketil).214).diol (5. H.asetilpiridin (5. elektron ditransfer kekarbonil. Hidrazin juga digunakan untuk mengkonversi alkil ptalimida menjadi alkilm amina dengan mengantikan satuan O = C.2.218) menjadi 1. Contohnya elektrolisis aseton. sedangkan reaksi yang terakhir berupa reduksi.1 Reduksi Elektrofilik Reaksi reduksi dari logam ± logam alkali melibatkan transfer elktron tunggal dan dapat dilakukan pada sel elektrolitik. intermediate anion hidrazon dapat dibentuk dengan melepakan proton dari pelarut yang bersifat basa. Pada keadaan yang serupa.

) Selektivitas markonikov atau anti markonikov Retensi atau inversi konfigurasi Selektivitas cis-trans Selektivitas syn-anti Pengaruh khelasi heteroatom.maka hidrogen ditransfer pada radikal tersebut. Karena brom pertama tama megadisi alkena yang menghasilkan radikal tersier yang lebih stabil. kemudian diikuti reaksi dengan HBr. Ini merupakan reaksi berlawanan regioselektivitas keseluruhan terhadap adisi selektif pada reaksi kationik. Jika reaksi menghasilkan karbokation. Reaksi ini menghasilkan radikal karbon yang diperoleh mula-mula dari adisi radikal brom pada alkena.) 2.) 3. Radikal brom dibentuk berdasarkan pemecahan hormolitik dari peroksida yang ditambahkan.) 5.1 Selektivitas Markonikov/ anti markonikov Reaksi khas yang menggambarkan adisi markonikov adalah reaksi HBr dengan 2-metil 2-butena yang menghasilkan 2-bromo 2-metil butana. maka pengubahan pada mekanisme reaksi harus terjadi. yang menghasilkan alkohol pimer. yang biasanya digunakan untuk suatu usaha menghasilkan satu diastereomer sebagai produk utama dari reaksi. Usaha ± usaha untuk mengontrol stereokimia yang penting meliputi: 1. setelah oksidasi terhadap intermediet alkil boran. Reaksi adisi anti markonikov yang khas adalah adisi boran pada alkena. Reaksi dengan HBr menghasilkan bromida primer dan menghasilkan radikal brom yang lain pada langkah propagasi rantai. Jika diinginkan adisi anti-Markonikov.1 Kontrol Stereo pada Sistem Asiklis.1.) 4. 51 . dan produk adisi ditentukan oleh stabilisasi relatif dari intermediet. reaksi adisi kation dan radikal menghasilkan intermediet reaktif. maka orientasi Markonikov pasti dihasilkan. Pada umumnya. 6. Reaksi adisi lain yang berlangsung dengan orientasi anti-Markonikov adalah adisi HBr pada alkena dengan adanya peroksida. Reaksi pada molekul asiklis dapat menghasilkan diastereomer dan pengertian ³penontrolan stereokimia´. Radikal yang terbentuk distabilkan oleh efek elektronik tiga gugus alkil daripada alternatif radikal primer.BAB VI KONTROL STEREO DAN PEMBENTUKAN CINCIN 6. Reaksi radikal ini berlangsung dengan baik hanya untuk adisi HBr dan tidak untuk HCl atau HI. Pengotrolan adisi Markonikov vs anti-Markonikov dapat diprediksi dengan pengontrolan jalur mekanistik adisi. Reaksi adisi tipe radikal akan berlangsung dengan bentuk anti±Markonikov.

maka tipe S 2 menjadi mungkin N dengan inversi pusat stereogenik tersebut. dengan retensi konfigurasi secara sempurna. yang dilakukan oleh Salzmann.Reaksi HBr dengan 2-metil-2-butena yang menghasilkan 2-bromo-2-metilbutana.2. Konversi yang menarik adalah transformasi NH2 Br. 52 . Gugus amino dapat diubah menjadi gugus fungsi yang lain. Jika alkohol dikonversi menjadi turunan dengan ikatan C ± O lemah serta adanya kecenderungan yang besar untuk terjadinya penggantian . Retensi vs Inversi Konfigurasi Contoh sederhana untuk menginversi pusat stereokimia adalah mengkonversi gugus fungsi menjadi gugus fungsi lainnya. Contoh sederhana proses ini adalah konver i (S)-2s pentanol menjadi tosilat yang sesuai. antibiotik karbapenam. Reaksi ini diambil dari sintesis tienamisin. Metode lain untuk mengkonversi atau mengontrol stereokimia ditunjukkan pada konversi D-manitol menjadi (R)-ephiklorohidrin atau (S)-ephiklorohidrin. yang dapat diganti dengan nukleofilik seperti azida dan ada hasil. Proses ini biasanya melibatkan alkohol atau substrat amina. Kontrol stereokimia diperoleh dengan memanipulasi perbedaan -perbedaan pada reaktivitas. Reaksi asam amino dengan Natium Nitrit (Na2NO2) dan Kalium Bromida (KBr) menghasilkan asam -bromo. Ini merupakan metode efektif untuk menginversi pusat stereo dengan pengikatan gugus fungsi yang ber eda. dengan kontrol sempurna pusat stereogenik.1. b Metode lain selain reaksi Mitsonobu juga dapat dipeoleh untuk menghasilkan stereokimia. 6. dengan hasil retensi konfigurasi secara sempurna. Reaksi ini diamati pertama kali oleh Walden.

dengan mengubah basa atau kondisi reaksi lain.1. Pada contoh ini. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena.Contoh pengontrolan konfigurasi pusat khiral adalah konversi alkohol sekunder khiral menjadi klorida sekunder yang sesuai dengan tionil klorida 6. Rekasi lain di mana syn dan anti diastereomerdapat dibentuk. Selektivitas syn-anti Reaksi enolat yang dibicarakan sebelumnya merupakan contoh yang baik tentag kemampuan untuk mempengaruhi atau mengontrol distereoselektivitas. tetapisatu yang perdominan.2diol. Keadaan yang berlawanan.4. Produk-produk akhir dari serangkaian reaksi ini adalah syn diastereomer dan anti diastereomer. Sekali lagi. pengertian utama terhadap perbedaan dua mekanisme reaksi tersebut memungkinkan pengontrolan geometri cis-trans produk akhir. Selektivitas cis-trans Kontrol pada geometri cis-trans telah ditunjukkan pada reduksi alkuna engan hidrogenasi katalitik atau dengan logam alkali. yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida (atau dangan nukleofil oksigen lain). syn diol dibentuk melalui pelepasan nukleofil hidroksida dari sisi belakang ke karbon yang kurang terhalang. 6.Metode untuk menghasilkan diol secara stereoselektif dimulai dengan epoksida.3. 53 . yaitu pada contoh konversi alkena menjadi 1.1. Katalis Lindlar memungkinkan terjadinya reduksi secara selektif terhadap alkuna menjadi cis-alkena. reaksi alkun dengan logam alkali akan menghasilkan trans-alkena.

pengikatan alkohol alilik pada logam adalah penting untuk pelepasan oksigen elektrofilik dan juga untuk pengontrolan orientasi alkena relatif terhadap agen epoksidsi. dan retensi atau inversi konfigurasi. Salah satu faktor utama untuk mengontrol diastereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga. tetapi litium aluminium hidrida menunjukan selektivitas yang kurang. Dalam beberapa hal.terutama terhadap molekul siklis.1. 6. Keadaan ini dapat ditunjukkan pada reaksi alkohol alilik khiral dengan asam peroksi. Sukar untuk memisahkan pengaruh regiokimia (cara adisi) dan pengaruh retensi dibandingkan inversi dan isomerisasi cis-trans pada molekul-molekul siklis. Metode untuk menghasilkan diol secara streoselektif dimulai dengan epoksida yang dibentuk dengan mengoksidasi alkena yang dibuka menjadi diol dengan hidroksida 6. Koordinasi dengan oksigen dan pelepasa oksigen elektrofilik dari sisi tersebut menghasilkan alkohol epoksi. Epoksidasi asimetris Sharples memanfaatkan selektivitas yang timbul dari koordinasi dengan alkohol alilik oleh penambahan agen khiral untuk mengontrol selektivitas. Zink borohidrida mengadakan koordinasi yang sangat kuat dengan heteroatom. Kecenderungan terjadinya khelat heteroatom tegantug pada pereaksi yang digunakan.5.2 Kontrol Stereo pada Sistem Siklis Cara untuk mengontrol regiokimia Markonikov dan anti-Markonikov.mungkin mengontrol pembukaan cincin epoksida. Adisi pada ikatan tersubtitusi menghasilkan 54 . pada dasarnya sama seperti pada sistem asiklis. Khelasi Heteroatom Salah satu faktor utama untuk mengontrol distereoselektivitas adalah pengaruh khelat gugus-gugus heteroatom tetangga (pengaruh gugus tetangga).hal ini disebabkan oleh koordinasi yang lemah dengan heteroatom.Hasil yang diperoleh adalah syn-diol.seperti pada reaksi 1 fenilsikloheksena oksida dengan hidroksida.

Efek yang sama terjadi pada halida siklis seperti cis-2-1. hidroborasi metilsiklopentena menghasilkan produk utama anti Markonikov karena untuk adisi dibutuhkan keadaan transisi empat pusat.1. 6. Adisi boran dan oksidasi menghasilkan campuran alkohol dengan perbandingan 86 : 14.metilsiklopentana. Regiokontrol pada eliminasi diperoleh dengan pengikatan basa pada molekul (basa internal untuk eliminasi syn) atau dengan pengikatan basa pada molekul seperti pada reaksi biomolekul (basa eksernal untuk eliminasi anti). Pengertian syn dan anti tidak mempunyai arti pada sistem siklis. Namun demikian. dimana yang lebih menguntungkan adalah produk yang kuran tersubtitusi. reaksi HBr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markonikov yang menghasilkan tersierbromida. Reaksi Hbr dengan metilsiklopentena merupakan regioselektivitas yang tinggi untuk produk Markovnikov yang menghasilkan tersier bromida. 1-bromo-1-metilsiklopentana.2. Sebagai contoh. Aturan Bredt Reaksi lain di mana regioselektivitas bersifat penting adalah pembentukan ikatan rangkap pada reaksi eliminasi.isomer-isomer geometri.2. Penambahan pada halida dengan kalium-t-butoksida dalam t-butanol menghasilkan antieliminasi. yang bila direaksikan dengan basa menghasilkan metilsiklopentana.2. dan membentuk alkena yang lebih banyak tersubtitusi. 6. 1-bromo-1metilsiklopentena. 55 . Hal ini disebabkan sifat termodinamika reaksi dan persyaratan elektronik bahwa kedudukan gugus pergi anti terhadap hidrogen yang dilepaskan. dan pada sebagian besar sistem siklis akan mengontrol konfigurasi absolut pusat khiral yang dikaitkan dengan isomer-isomer cis-trans dan/atau dengan pembentukan diastereomer. Selektivitas Markonikov / anti-Markonikov Masalah-masalah yang berkaitan dengan adisi secara regioselektif pada molekul-molekul siklis pada dasarnya sama seperti pada molekul-molekul asiklis.

Energi keadaan transisi yang dibutuhkan untuk mengeliminasi ± menjadi karbon kepala jembatan dalam sistem kecil ± sangat tinggi. tetapi produk yang dihasilkan adalah alkena yang lebih banyak tersubtitusi. yang secara energetik lebih menguntungkan.dan gugus pergi adalah sudah ditentukan oleh regiokimia halida. Adanya penghalang pada keadaan syn ini mengakibatkan pendekatan dan pelepasan hidrogen. Syn-eliminasi melibatkan basa yag terikat secara intramolekul. hidrogen. karbon ± karbon kepal jembatan (a dan b) tidak dapat dilibatkan pada ikatan rangkap dua karbon ± karbon. Pengamatan menunjukkan bahwa ikatan rangkap dua karbon ± karbon tidak dapat dibentuk pada atom ± atom kepala jembatan dalam cincin ± cincin bisiklis kecil dan keadaan seperti ini pada awalnya disebut aturan Bredt. disebabkan pembentukan geometri planar karbon sp2. diikuti pelepasan hidrogen. dan sistem bisiklis kecil tidak dapat mengakomodasi kenaikan yang besar dalam tegangan ini.yang mempunyai kedudukan syn terhadap gugus pergi.Perbedaan utama di sini adalah ketidakmampuan cincin berotasi di sekitar ikatan karbonkarbon.pada kedudukan yang kurang tersubtitusi. Pernyataan yang dikemukakan oleh Bredt adalah ³dalam sistem keluarga kamfen dan a pinena serta senyawa ± senyawa yang sekerabat. 56 . Pembentukan produk alkena memerlukan penahanan kedudukan ³kepala jembatan (bridgehead)´ menjadi konformasiplanar. Untuk syn dan anti eliminasi keduanya.

6.9 : <1 yaitu 6.2.kemampuan kekonformasian pada keadaan transisi.4 Isomer-isomer cis-trans (diastereoselektivitas) Pada system siklis .88 : 6.3 Retensi vs invarsi (kontrol diastereo) Reaksi molekuler siklis yang melibatkan pembentukan pusat-pusat khiral mirip seperti yang terjadi pada system asiklik.6.jika azida di gunakan sebagai nukleofil .dengan inversi konvigurasi penuh Melalui jalur reaksi SN2.maka penggantian bromida berdasarkan SN2 melauli peningkatan pada sisi belakang akan sulit terjadi.konformasi cicin. Menurut perhitungan yang dilakukan oleh Corey.89).contoh: Perbedaan utama antara system siklis dan system ansiklis adalah ketidakmampuan sistem siklis mengalami rotasi disekitar ikatan karbon-karbon yang menghasilkan perbedaan konfigurasi.dan stabilitas produk akhir.karena sudut pendekatan nukleofil terhalangi.4 ±t-butil-1-bromosikloheksana.2.bentuk ekuatorial adalah bentuk yang dominan (dengan perbandingannya adalah <99.pengontrolan geometric cis-trans merupakan persoalan diastereoseletivitas.Contoh : Reduksi 4-t-butilsilkoheksanon menunjukan kemantapan yang ditandai pelapisa hibrida melalui jalur a (perbandingan a : b = 91 : 9).selama reaksi dengan LiAlH4 yang menghasilkan trans-alkohol) 57 .merupakan hal yang penting untuk mengkontrol dan memprediksi stereokimia. Menghasilkan azida.Reaksi asida (NaN3) dengan cis .

Mengubah jalur sintesis untuk menghasilkan intermediet yang menguntukan yang dapat menghasilkan steriokimia yang diinginkan.Epoksidasi senyawa 6.dan 2.Dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan seperti itu pada stabilitas produk .100 berlangsung melalui koordinasi asam peroksi dengan alcohol. 58 . Terdapat banyak cara yang ada untuk emeriksa stereokimia relative pada pusat khiral yang tidak sesuai dengan sasaran yang diinginkan.memungkinkan kita untuk dapat mengubah populasi diastereomer. Ini merupakan pengaruh untuk reaksi asiklis.pelepasan berbedah dengan epoksidasi alitik asetat yang terutma menghasilkan pelepasan oksigen elektofilik dari muka yang kurang berpenghalang.Para ahli kimia yang melakukan sintesis tidak selalu dipaksa untuk menerima stereokimia tersebut.paling tidak ada dua pilihan : 1. 6.3 Pengaruh Khelasi dan Gugus Tetangga Pengaruh gugus sederhana yang di pengaruhi pelepasan ³oksigen´ ke ikatan rangkap dua alcohol telah dikemikakan oleh Henberst dan Sharless. Mengubah pusat sterio pada produk akhir.

6.dadi pasangan gugus amino yang harus di perhatikan . tetapi juga pengaruh-pengaruh yang lebih kuat dari pasangan electron bebas yang berdekatan dengan electron nitrogen.pengaruh khelasi tersebut pada kenyataannya dapat merupakan pengarahan steriokimia atau regiokimia dan penghambat atau penghentian reaksi yang diharapkan.Contoh lain : Reaksi oksetana dengan diametil alumenium Nmitel-analin yang merupakan reaksi eleminasi. Pengaruh gugus tetangga dapat menjadi jelas dan dapat digunakan untuk mengarahkan steroekimia dari suatu reaksi.Pengaruh gugus seperti ini disebabkan oleh pengaruh khelasi subtituen heteroatom dengan pereakai.alkoksi. pada muka b yang Pada perencanaan reaksi. Alumenium mengadakan koordinasi dengan oksigen oksetana kurang terlarang pada 6.tidak hanya pengaruh ± pengaruh a dan b hidroksil.oksigen dan belerang.107 dan 6.4 Stereo Kontrol Asiklis melalui precursor siklis 59 .merupakan retomer kunci.menghasilkan 99% (E)-alkena.108.

dan proses penutupan cicin kationik.Penambahan dengan tosilhidrasin dalam asam asetat akan menyebabkan terjadinya pemecahan cicin Eschenmoser dan menghasilkan . 6.Hidrogenasi Lindlar memberikan feromon seks utama dari Doglas fir Fussockmoth.Baldwin mengklasifikasikan penutupan cicin menjadi dua kategori : EXO (aliran electron dari reaksi adalah eksternal terhadap cicin yang akan dibentuk) dan ENDO (aliran elektro didalam cicin yang akan dibntuk).118.dan mendapatkan pola reaktifitas yang dapat relativ diprediksi.jika atom yang diikat dinyatakan tet dan cicin yang akan dihasilkan adalah 6.5 Reaksi Pementukan Cicin Pengenalan dari aturan Baldwin untuk penutpan cicin.homolitik.sering dengan control regiokimia dan steriokimia.Pendekatan ini didasarkan pada persyaratan -persyaratan steriokimia dan sudut pendekatan yang memungkinkan untuk membawa ersama-sama dua pusat rebktif bila dihubungkan dengan atom-atom (tether).mempelajari nukleofil.Sistem siklis dapat digunakan untuk memprediksikan gugus fungsi.Peningkatan atom pada sp2 disebut TRIG (membentuk cicin) dan peningkatan hibridisasi pada atom sp disebut DIG( pembentukan cicin). Contoh penerapan masalah dilakukan dengan cara disintesis senyawa organic secara efektif. 60 .Cincin kemudian dibuka untuk memperperoleh system asiklis .dan regioimia dan strereokimia subtituen telah ditetapkan (ditemukan). Penambahan dan pengaturan gugus fungsi adalah konversi sikloheksanoan menjadi epoksiteron.

maka yang paling perluh dibicarakan adalah pertamatama adalah persyaratan sudut peningkatan untuk membawa dua ujung raktif molekul bersama-sama.Bila kita bicarakan aturan Baldwin.tetapi selama reaksi.atom sp3 adalah tetrahedral ( dengan sudut ikatan sekitar 109°) 61 .yang haya didasarkan pada substrat.Pengggantian pada karbon sp3 pada umumnya melaui peningkatan dari bagian belakang dan gugus yang akan datang (X) harus mendekati karbon yang mengandung Y [ada sudut yang dekat dengan 180°.disini sudut ikat sekitar 120°.Elliot dan Graham-Richard menyatakan suatu metode untuk memprediksikan sudut pendekatan yang cocok.

Dalam hal in konversi atop sp menjadi atom sp 2 menghasilkan sudut ikat 120° yang merupakan karekteristik alkena. Contoh siklis endo.Sudut ikat pada ikatan rangkap tiga adalah 180°.karena molekul adalah linear.Menggunakan analog yang sama seprti pada koversi sp2 -sp3 atom harus mendekati ikatan rangkap tiga pada sudut sekitar 120°.konversi sitronelal oleh pengaruh katalisator asam H isopulegol 62 © menjadi .

Mengalami

penggantian

exo

Y,tetapi

me

nghasilkan

Konver

Terdapat dua cara untuk meggambarkan pembentukan cicin.Enolat secara kinatik akan membentuk cicin melalui pengganti Exo Y menghasilkan 6.129 Enolat secara termodinamikal akan menghasilkan konversi,di sebut enol endo-exo-tet dan konversi.

bguvvyfiyfiyf Enolat pada umumnya mengalami reaksi 5-endo-tring pada oksigen sedangkan reaksi 6endo-tring disukai pada karbon.untuk membentuk cicin lingkar dari lima dari pasangan electron bebas oksigen harus pada kedudukan yang tepat untuk menggantikan kedudukan brom pada 6.136( produk adalah tetrahidrofuran).

63

Keadaan transisi untuk penggantian in di gambarkan pada 6.140.Agar menghasilkan cicin lingkar-enam,maka orbital-orbital karbon enolat pada 6.138 harus pada sudut ang tepat untuk penggantian.

64

BAB VII GUGUS PELINDUNG

7.1 Pengertian Gugus Pelindung Banyak target senyawa sintetik yang mengandung lebih dari satuu gugus fungsi, dan gugus tersebut dapat mengadakan interaksi dengan pereaksi yang digunakan selama proses sintesis. Jika gugus keton dan aldehida terdapat di dalam molekul yang sama, kedua gugus tersebut dapat bereaksi dengan pereaksi tertentu pada saat yang sama. Adanya alcohol dan amina dalam molekul yang sama juga akan menimbulkan masalah karena kedua gugus fungsi tersebut cepat beraksi dengan asam, basa, dan nukleofil. Cara untuk menanggulangi fungsi tersebut adalah dengan melindungi atau mengeblok sementara satu gugus yang reaktif dengan mentransformasikannya menjadi gugus fungsi baru yang idak akan mengganggu menjadi gugus baru yang berbeda, yang tidak akan bersaing dengan reaksi yang diharapkan. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasi gugus fungsi baru (gugus pelindung) kembali menjadi gugus fungsi semula pada tahap akhir sintesis. Proses ini di kenal sebagai perlindungan dn proteksi. 7.2 Gugus Pelindung Umum Untuk Alkohol, Karbonil dan Amina 7.2.1 Proteksi Alkohol Gugus pertama dalam pengembangan gugus pelindung untuk gugus fungsi adalah mengidentifikasi bagian molekul mana yang dapat mengganggu. Dalam hal alcohol, bagian molekul yang hampir selalu dapat mengganggu adalah keasaman hydrogen gugus O-H. jika gugus OH tersebut mengganggu rencana sintesis, maka OH harus dikonversi menjadi gugs fungsi lain (O-X), tetapi reaksi ini harus dapat berlangsung dan menghasilkan produk yang tinggi pada kondisi normal. Alcohol memilki dua reaksi utama yang cocok terhadap criteria tersebut, yaitu konversi alcohol menjadi eter, biasanya berlangsung dengan hasil yang tinggi dan memberikan produk yang relative inert. Karena sifat inert inilah, maka kondisi yang dibutuhkan untuk memecah eter harus kuat. Cara lain adalah mengkonversi alcohol menjadi asetal asilik atau ketal. Juga sangat mungkin mengubah alcohol menjadi ester pada kondisi normal, dan dengan mudah mengembalikannya menjadi alcohol dengan cara menghidrolisis ester. 7.2.2 Gugus Pelindung Eter dan Asetal Gugus pelindung paling sederhana untuk alkohol adalah metil eter (-OCH3). Reaksi alcohol dengan basa (umumnya natrium hidrida (NaH) dalam THF atau DMF) menghasilkan alkoksida. Cara berikutnya adalah mereaksikan alcohol dengan trimetiloksonium tetrafluoro borat. Metil eter stabil terhadap basa kuat, nukeofil, organologam, hidrogenasi, zat pengoksidasi, dan zat pereduksi hidrida. Metil eter stabil pada PH 1-14. Metil eter dapat
65

dan beberapa zat pengoksidasi. tetapi stabil pada Ph 1-14. Alkohol dapat dikonversi menjadi t-butil eter (O-C(CH3)3 ) dengan mereaksikan alcohol dengan 2-metil-2-propena (isobutilena). hidrogenasi katalitik.25. Sebagai gugus pelindung . oksidasi. nukleofil. dn stabil terhadap nukleofilik.24 dikonversi menjadi benzil eter (7. Benzil eter stabil terhadap sejumlah pereaksi. dan metilasi yang keudian dilanjutkan dengan deproteksi (hydrogen/paladium) akan menghasilkan 7. karbonion dan organologam . hidroborasi. sedangkan trimetilsilil iodida dapatmemecah pelindung alcohol dalam kloroform dan pada suhu yang relatif tinggi. oksidasi dan reduksi.26. Gugus pelindung eter lainnya adalah benzil eter (-OCH2Ph.dipecah oleh HI pekat.yang dibuat dengan mereaksikan alkoksida dai alcohol dengan benzil bromida atau klorida. Gugus alilik OH akan mengganggu proses pembentukan gugus OCH3 dalam 7.25) dengan mereaksikan dengan kalium hidrida (KH) dan benzil bromida. biasanya dengan katalis poladium. dimana mula-mula alcohol 7. meliputi pH 1-14.O-Bz). karena gugus OH primer juga dapat bereaksi dengan KH/CH3 I. 66 . hidrida.organologam. Dua cara yang umum untuk melepaskan gugus benzil meliputi pemutusan ikatan O-CH2Ph dengan hidrogenolisis. hidrida. Cara paling umum pemutusan ikatan C-O benzilik adalah dengan hidrogenasi katalitik. Cara lain dari hidrogenolisis adalah dengan melarutkan logam natrium atau kalium dalam amonia.t-butil sensitive terhadap asam kuat. Contohnya adalah sintesis monensin yang dilakukan kishi. dengan adanya katalis asam (asam sulfat atau BF3).

Tipe lain dari gugus pelindung asetal adalah etil eterr tersubtitusi. Asetal pertama adalah metoksi metil eter (O-CH2 OCH3.27 perlu di proteksi dan di konversi menjadi turunan OMOM. Anggota yang paling umum adalah 1-etoksil-etil eter (O-CH(OCH2CH3 )CH3. shibasaki menggunakan gugus EE untuk melindungi.31 diubah menjadi 7.29)selanjutnya di ikuti pelepasan gugus O-MOM. Gugus MEM di ikat oleh alcohol setelah alcohol di konversi menjadi alkoksida (umumnya dengan NaH dalam THF atau DMF). Gugus MEM sensitive terhadap asam Lewis dan dapat di pecah dengan asam kuat berair (PH<1).28) dan OH yang lain sebagai benzil eter (7. gugus hidroksi metil pada 7.29).SEM). Pelepasan gugus EE dengan asam asetat berair menhasilkan 7. Variasa gugus MEM adalah 2-(trimetilsilil) etoksi metil eter (-O-CH2 OCH2CH2 Si(CH3)3. di bentuk dengan mereaksikan alcohol dengan basa (seperti NaH dalam THF) dan ClCH2 OCH3 (klorometil metil eter).Gugus pelindung eter alternative yang telah di kembangkan oleh Green adalah ³metil eter tersubtitusi´ yang tidak lain adalah asetal (RO-CHR1 -O-R2). Gugus MEM juga dapat melindungi alcohol tersier.MEM). Gugus MEM juga stabil pada pereaksi-pereaksi seperti terhahdap O-MOM dan O-MTM. 67 .27 sebagai turunan MOM (pada 7.33. reaksi selanjutnya menghasilkan alcohol primer baru yang kemudian diproteksi sebagai O-benzil eter (pada 7. O-MOM).28. Sebagai contoh. Sebagai contoh.7. sementara gugus hidroksil pada 7. O-EE). Salah satu gugus pelindung asetal yang paling umum adalah 2-metoksi etoksimetil eter (-O-CH2 OCH2CH2 OCH3.32 dengan reaksi wittig. proteksi OH pada 7.

Bila 1.3 Proteksi Diol 1. yaitu merupakan turunan 1. hidrognasi katalitik.3-dioksolan (7.2. ketal seperti 7. dan zat pengoksida. dengan aam asetat atau dengan asam p-toluennasulfonat dalam methanol. atau reaksi diol dengan aseton dengan adanya katalis asam. maka akan dibentuk 1. sering disebut asetonida (isopropilidena ketal). tetapi tidak terhadap asam. hidrida.3-diol akan menghaslkan cicin lingkar-6 asetonida.organologam.3-dioksana. 68 .3-butanadiol (7.35). Gugus pelindung ini biasanya dipecah dengan HC berair. tetapi kedudukan hidroksil berkaitan sehingga dapat dpproteksi sebagai ketal siklis.2-diol seperti 2.2-diol termasuk alcohol. Gugus ini stabil terhadap basa (Ph 4-12). dengan adanya katalis asam. 1. Ca umum pembentukan asetonida adalah reaksi iol dengan 2-metoksil-1-propena dengan adanya asam seperti anhydrous HBr. Gugus tersebut juga stabil terhadap nukleofil.7.34) bereaksi dengan keton seperti aseton.35 yang dibentuk dari aseton.

Sebagai contoh sintesis dengan menggunakan asetal untuk memproteksi aldehida adalah pada senyawa 7. Reaksi utama dari karbonil adalah adisi nukleofilik asil. 7. Cara umum memproteksi gugus karbonil adalah dengan mengkonverinya menjadi ketal atau aseta. seperti proteksi pada 1.39).Asetonida berguna dalam sintesis. dan reaksi berikutnya dengan mereaksikan dengan basa membentuk senyawa alkena 7.38. aldehida diperoleh kembali dengan menambahkan asam ptoluenasulfonat berair menjadi 7.42 proses ini dilakukan oleh Bauman dan Hoffmann dalam sintesis -santalol. 69 . Variasi reaksi ini antara lain meggunakan pereaksi diol yang menghasilkan ditioketal atau ditioasetat. dengan menggunakan pereaksi alcohol atau diol. Dioksolana selanjutnya memungkinkan untuk mengkonversi ester menjadi gugus alkilidena 7.suatu cara telah dikembangkan untuk memproteksi keton dan aldhida. bila 7.40 sebagai dimetilasetal.41.37 dengan mereaksikannya dengan aseton dan kuprisulfat (CuSO4).4 proteksi aldehida dan keton Seperti halnya dengan alcohol.2. Dua turunan yang umum adalah benzaldehida (membentuk benzilidena asetal) dan sikloheksanon (membentuk sikloheksilidena ketal).hal ini dilakukan karena ugus karbonil yang merupakan bagian dari gugus fungsi dapat mengganggu salama reaksi berlangsung.36 yang dikonversi menjadi 7.38 direaksikan dengan asam berair akan diperoleh kembali diol (7.2-diol pada senyawa 7. reaksi iol dengan aldehida atau keton lain akan menghasilkan ketal atau asetal.

70 .45. Proteksi aldehida dan keton juga dapat dilakukan denga menggunakan 1. Sebagai contoh.3-sdioksana dibuat dengan mereaksikannya dengan 1.44). dan 1.3-diol yang membentuk ketal siklis atau asetal siklis.48. diproteksi terhadap karbonil menghasilkan kamforenon. Turunan 1. proses ini dilanjutkan oleh reaksi olefin 7.49.3-dioksolana dibentuk dengan mereaksikan karbonil dengan 1. Deroteksi menghasilakan 7. Variasi dapat dilakukan dalam memproteksi ketal dengan memasukkan subtituen alkil pada senyawa diol.meyer memproteksi senyawa keton 7. seperti yang dilakukan oleh Money.Dalam kenyataannya banyak jenis alcohol yang dapat digunakan untuk menghasilkan asetal atau ketal.( )-aspidosapermina.47).3-propanadiol. menggunakan 2.7.46 (yang membentuk 7. tetapi methanol merupakan alcohol yang paling umum digunakan.2-etanadiol.3-propanadiol untuk memproteksi keton 7.43 sebagai ketal (7.47 dengan butyl litium dan juga konversi yang menghasilkan produk alcohol menjadi klorida 7. yang di ikuti reduksi terhadap laktam menjadi amina.2dimetil-1. meliputih HCl dalam THF dan asam asetat berair. Cara yang paling umum untuk memecah turunan dioksana atau dioksolana adalah dengan mereaksikannya dengan asam berair.2-diol dan 1.

biasanya dengan adanya basa seperti kalium karbonat (K2 CO3) atau hidroksida.3.3.1 Gugus Pelindung N-Alkil Gugus alkil lain yang digunakan untuk melindungi nitrogen adalah benzil (N-CH2Ph. 7. dan asam Lewis.2 Gugus pelindung N-As Amida merupakan gugus pelindung yang paling umum digunakan untuk memproteksi amina. organologam.3 Proteksi Amina 7. Ikatan N-C dapat diputus secaa hidrogenolisis katalitik atau pelarutan logam. Gugus ini stabil terhadap asam dan basa (Ph 1-12) dan terhadap nukleofil.hidrida.N-Ac). Reaksi antara anhidrida asetat atau 71 . Cara penentuan lain adalah dengan mereaksikannya dengan natriium dalam amonia cair. Amina direaksikan dengan benzil klorida atau benzil bomida. NBz).7. N-astil merupakan ggus pelindung amida yang sudah di kenal bak dan N-asilamina dikenal merupakan turunan asetamida (N-COCH3.

7. Trifluoroasetil umumnya di ikat brtdasarkan reaksi antara amina dengan anhidrida trifluoroastat (CCF3CO)2O) dengan adanya trietilamina atau piridin. Jenis gugus lain yang memproteksi amina adalah trifluoroasetamida (N-COCF3. Banyak gugus pelindung yang dikembangkan untuk memproteksi asam amino pada sintesis peptida. dilanjutkan dengan 72 . Gugus ini sensitive terhadap asan kuat.54 sebagai turunan BOC (7.56). pengganti tosilat dengan nukleofil belerang (manghasilkan 7. akan menghasilkan asetamida. Contoh sederhana di tunjukkan pada proteksi asam amino 7.3 Gugus Pelindung N-karbamat Gugus pelindung lain untuk nitrogen adalah karbamat (N-CO-OR).55). dengan adanya basa sperti piridin atau trietilamina.asetil klorida dengan amina. Gugus BOC biasanya dilepaskan dengan mereaksikannya dengan HCl berair atau dengan asam trifluoroasetat.N-TFA).3.

73 . Gugus ini sensitive terhadap hidrolisis dengan hidrogenasi katalitik (pada karbon merupakan katalis yang umum di gunakan). terhadap asam Lewis dan terhadap sebagian besar hidrida (gugus tersebut bereaksi dengan LiAlH4 ).Doprteksi dengan asam trifluoroasetat (suhu kamar 30 menit)yang akan menghasilkan amina 7. N-CBz benziloksi karbonil). Gugus sangat stabil terhadap asam dan basa (ph 1-12). terhadap organologam (tetapi gugus tersebut bereaksi dengan pereaksi organolitium dan pereaksi Grignard). Karbamat lain yang popular adalahbenzil karbamat (N-CO2CH2Ph.terhadap nukleofil. Gugus diikat oleh reaksi antara amina dengan benzil kloroformat (PhCH2 O2CCl) dengan adanya basa (karbonat berair atau trietilamina). dan gugus hidroksil diganti dengan gugus tiol.57.

Pasangan electron pada amina dapat diproteksi dengan cara mengkonversi menjadi garam amonium. keton.60. gugus fungsi asam di perpanjang dengan satu karbon melalui penataan ulang Wolff. 74 .58) dikonversi menjadi turunan CBz (direaksikan dengan benzil kloroformat)dan kemudian direaksikan dengan diazometana menghasilkan diazoketon yang di proteksi CBz (7.diproteksi dengan hydrogen menghasilkan 7.61.dan amina. Keasaman hydrogen alcohol dapat diproteksi dengan mengubahnya menjadi eter.59). tioasetal atau tioketal. asetal. Gugus-gugus fungsi penting sebagian besar menyebabkan masalah reaktivitas adalah alcohol. Asam karboksilat biasanya diproteksi sebagai ester.Fenilalanina (7. Keton dan aldehida biasya diproteksi dengan cara mengkonversinya menjadi asetal atau ketal. menghasilkan 7. Langkah reaksi kedua adalah mentransformasikan gugus pelindung tersebut menjadi gugus fungsi semula padatahap akhir sintesis. atau turunan hidrazon. atau ester. KESIMPULAN Gugus pelindung berfungsi memproteksi atau memblokade satu gugus yang reaktis dengan mentransformasikan menjadi gugus fungsi baru yang tida mengganggu terhadap transformasi yang diinginkan.

PEN ERTIAN STRTEGIS SINTESIS Corey mencatat Beberapa contoh sintesis untuk menggambarkan sejarah sintesis. Selama berthun-tahun terjadi peningkatan data tentang ciri ciri struktur dan sterokimia dari senyawa yang semakin kompleks.Perkin mensintesis terpinol (8.1) dalam rangka untuk memastikan struktur sebenarnya dari bahan alam ini. ia menghipotesiskan bahwa hidrolisi yang diperkirakan terhadap substrat (tropin) dapat diubah menjadi suksin aldehida.BAB VIII STRATEGI SINTESIS 1. Sintesis ekuilen(8.5) atau strinina (8.3) yang dilakukan oleh Bachman pada tahun 1990 merupakan sinesis multilangkah pertama terhadap precursor stroid menjadi estron. Wordward dan Doering mensintesis kuinina (8. Robinson pada tahun 1917 mensintesis tropinom (8. 75  .2 menjadi bagian -bagian yanga lebih sederhana. Pada tahun 1904.metilamina.4) sebagai target yang semula ia mengira bahwa senyawa yang kompleks tersebut tiak di ketahui apakah (8. Analisis ini ternyata dapat dilakukan dengan cara mendiskoneksi 8.6). dan aseton.2).

1 Alasan atau dasar pemikiran untuk sintesis total Pada dasarnya pemilihan target merupakan titik awal untuk sintesis. Akan tetapi. Pemilahan reaksi kimiayang spesifik untuk tranformasi satu intermedit sintesis ke langkah berikutnya 2. Corey melibatkan LHASA (logic Heuristics Applied To Synthetic Anlysis) dengan tujuan membantu ahli kimia dalam perencanaan sintesis dan untuk mensintesis molekul-molekul yang kompleks. penemuan. 76 . penciptaan. Molekul target dpt memiliki siat kimia dan biologi yang unik.Sekarang pendekatan diskoneksi di gunakan oleh sebagian besar ahli kimia bila mereka menghadapi masalah sintesis. 2. Pemilihan atau penentuan percobaan dan analisis.Corey memformulasikan termilogi untuk pendekatan sintesis ini. PEMILIHAN TARGET 2. Selama mengamatan tahapan tersebut. Pemilihan Pereaksi-pereaksi yang spesifik 3. Sintesis molekul organic biasanya dimulai dengan dua pertanayan : (1) Mengapa molekul ini dipilih sebagai target??dan (2) darimana kita harus memulai?? Jawaba terhadap (1) sering terletak pada n kebutuhan dan ketertarikan dari ahli kimia pensintesis. Pendekatan ini disebut Retrosintesis. Kesempatan belajar memberikan andil yanga besar terhadap langkah-langkah selanjutnya dalam pekerjaan sintesis. dan retrosintsis ini dapat mempelajari sintesis suatu molekul sampai pada bahan awal yang relative sederhana yang kemudian skarang dikenal sebagai Pendekatan diskoneksi (atau syntom). ada strategi lain yang dapat ditera pkan pada perencanaan sintesis. sehingga membuatnya menjadi suatu proses yang dapat di mengerti. atau teori-teori baru yang sangat penting dapat dihasilkan.yang meliputi: 1. Bentuk atau model percobaan 4.

meskipun studi yang dekat dengan sintesis tersebut akan memberikan nilai yang besar untuk memahami strategi perencanaan. periplanita Americana. Demikian juga ringkasan alasan alasan yang melatarbelakangi sintesis perlu dipublikasikan.Uraian diatas memberikan jawaban yang dapat di terima terhadap pertanyaan (a). Cirri-ciri strukturnya yang berbeda memberika masalah-masalah sintetik yang unik. Pengembangan reaksi dan pereaksi baru. 2. Tantangan struktur dan topologi.8) merupakan aglikon lakton makrosiklik.9) merupakan hasil alam alkaloid yang memiliki sifatsifat antitumor. Pendekatan diskoneksi dalam jumlah bentuk akan di gunakan dalam menjawab pertanyaan (b). Persoons mengisolasi 200 µg 77 . ditunjukan oleh persoons mempunyai struktur 8.2 verifikasi atau pengubahan struktur Feromon seks kecoa amerika. Aktivitas biologis yang penting 3.perlu ditambahkan molekul-molekul yang ditunjukan pada pendekatan merupakan contoh-contoh yang dapat mewakili organic yang jenisnya sangat banyak yang telah disintesis sebagai target. Mitomisin C (8.10 dan diberi nama periplanona B. Banyak informasi yang diperoleh dari pengujian kriteria tersebut yang mungkin berguna untuk pendiskoneksian target. Senyawa ini adalah bagian dari eritromisin yang merupakan antibiotik makrolida. Bagi ahli kimia. Bila sintesis seperti tersebut dipublukasikan. maka serangkaian reaksi langkah demi langkah yang digunakan untuk membentuk setiap molekul dilaporkan. Verifikasi atau pengubahan struktur 2.7) merupakan hormone pertumbuhan tanaman dengan kerangka karbon yang kompleks. meskipun tidak selalu dalam ringkasan diuraikan mengapa target dipilih. Asam gibberelat (8. yaitu: 1. Kadang-kadang. Studi analog 4. Criteria yang tertulis dibawah sering disebut sebagai karakteristik target sintesis yang penting.bkriteria tersebut mungkin berharga bagi ahli kimia yang baru pertama kali melakukan sintesis. melihat kembali pemilihan target merupakan pemeriksaan pekerjaan yang sudah pernah dilakukan dan tidak memberikan nilai lebih. Senyawa 6-deoksieritronolida B (8. pengertian dasar sifat-sifat alami ikatan dan molekul 5.

pertanian.10 dengan jalur multi langkah. masalah seperti ini dapat diselesaikan dengan membuat semua kemungkinan diastereomer sekaligus. Still mensintesis 8. bidang Molekul yang penting dan diminati biasanya di isolasi dari sumber alam yang bsedikit. Berbeda dengan still yang fokus pada jalur sintesis. Semua prostaglandin (PG) diturunkan dari senyawa induk yang disebut asam prostanoat. tetapi dengan empat pusat simetri sehingga terdapat 24 isomer (16 stereoisomer atau 8 pasang enantiomer) yang selanjutnya harus dipisahkan. Jika molekulmenunjukan adanya aktifitas biologis yang signifikan. Ini merupakan pendekatan umum.atau usaha-usaha komersial lain atau kemanusian. tetapi stereokimia 8.12. maka diupayakan menambah senyawa tersebut untuk keperluan pengujian atau struktur. dan karakteristik spektra dan sifat fisik dari setiap stereoisomer diuji terhadap cuplikan periplanona B alami untuk menemukan isomer yang benar. 8.10 belum terelusidasi. Perlu diketahui bahwa adanya isomer E dan Z untuk olefin pada setiap diastereomer akan menambah jumlah produk yang harus dipisahkan. Sintesis total semua diastereomer yang dapat diterima dan membandingkannya dengan cuplikan asli. Bandingkan cara ini dengan pendekatan diastereoselektif yang digunakan oleh Still. dari semua produk dengan stereokonrrol yang dapat diterima (masuk akal). dan dalam hal ini target intermediet kunci 8. dengan aktivitas biologis yang bermacam-macam dan manjur.11 digunakan untuk membuat semua diastereomer periplanona.3 Aktifitas Biologis Alasan nyata sintesis total adalah pentingnya senyawa target pada kedokteran. 2. 78 .senyawa tersebut dari 75.000 kecoa betina yang kemudian dilanjutkan dengan determinasi struktur. masih merupakan metode yang penting untuk menentukan struktur akhir. Empat stereoisomer disintesis. yang akan menghasilkan hanya sedikit produk diastereomer. dengan tanpa mengontrol stereokimia. asam lemak terhidroksilasi. Prostaglandin merupakan kelompok hasil bahan alam yang tidak jenuh.

2.1-dioksida(8.4-benotiadiain-7-sulfonamida6-kloro-1. PGB. prostaglandin alami dibagi menjadi tiga kelompok: (1) satu ikatan rangkap dua antara C13 dan C14 (PGl). (2) ikatan rangkap dua kedua anrara C5 dan C6 (PG2).14). Sejumlah prostaglandin menunjukan gejala tersebut. Studi lebih lanjut menunjukan bahwa modifikasi struktur terhadap kerangka dasar dapat menghasilkan molekul dengan karakteristikyang berbeda dan molekul baru yang menjadi target sintesis. (3) ikatan rangkap dua ketiga antara CI7 dan Ct8 (pG3). dst. Senyawa tersebut bersifat diuretic dan juga di gunakan untuk mengobati hipertensi.2. Kelompok E (PGE) mempunyai gugus karbonil pada c9.13) menjadi senyawa Nsikloheksil laktam (8. bukan pada cincin yang mengandung gugus sulfonamida. Modifikasi struktur menantarkan sintesis kloreksolan (8. 79 . pGE. dan kelompok F (pGF) mempunyai gugus karbonil pada C10. PGD. konversi cincin heterosiklik pada (8.4 Studi analog Target yang di minati atau yang mempunyai sifat aktif secara komersial sering memberikan akibat samping yang menggunakan atau tidak stabil pada penyimpangan dan penanganannya. Terdapat juga gugus karbonil pada Cll dan C15 pada prostaglandin alami. Studi menunjukan bahwa penggantian (modifikasi) yang signifikan dalam profil farmakologis dapat dilakukan dengan penggantian pada cincin heterosiklik. Modifikasi sintesis terhadap struktur yang diketahui dapat dipakai sebagai model dan mendorong untuk merancang target sintetik.13).Turunan-turunan tersebut adalah PGA.14) aka menghasilkan peningkatan kerja hipotensif dan kerja diuretik. Klorotaizid adalah molekul dengan struktur kimia 2H. 1. PGC.

16 menunjukkan bahwa banyak turunan yang terkait memiliki aktivitas antitumor yang meningkat. menyadari keterbatasan tanang ilmu kimia yang di ketahui dalam pembentukan ikatan atau sifat-sifat dasar untuk molekul organic. Ditunjukan bahwa substituen lipofilik kecil pada kedudukan 5 (lihat 8. 80 .15) terhadap calon-38 tumor pada tikus dan memiliki kemanjuran dosis yang lebih.ciri-ciri structural ) (8.17 pertama kali di sintesis oleh paquette.15) mempunyai potensi yang besar sebagai agen anti tumor.Alasan umum lain untuk pembuatan analog target adalah untuk mempelajari profil aktivitas struktur molekul dengan aktivitas biologi yang diketahui.16a) adalah seaktif (8. Denny dan Buguley menunjukan bahwa asam 9-okso-9H-xentena-4-asetat (8. Dodekahedran 8. Studi secara sistematik turunan sintetik 8. dan topologi ( bentuk.5 Studi topologi Kadang-kadang suatu molekul bersifat sebagai target yang sangat menarik sehingga memberikan tantangan untuk dikaji dari segi struktur dan sifat-sifat kimianya.17) pada dasarnya adalah bentuk bola.16c) menaikkan potensi dosis. Ini merupakan kasus tipikal di mana senyawa yang diketahui dimodifikasi strukturnya berdasarkan pada sifat-sifat aktivitas struktur dari senyawa yang terkait. 2.16 dan 8. Sintesis sering mengajak kita menengok ke belakang. Dorongan untuk sintesis ini adalah penelitian untuk mendapatkan obat yang manjur (mujarab). Asam vlafon-8-asetat (8.

Contohnya adalah Sintesis vitamin B seperi yang dilaporkan oleh Woodward dan Eschenmoser. langkah kunci membutukan hidrolisis amida pada inermedit yang memiliki enam gugus eter. Pada sintesis yang baru ini. Kadang-kadang daya cipta dan ilmu kimia baru muncul dari penyelesaian target sintetik seperti 8.17 mempunyai topologi sferikal super-polisiklopentanoid. Pengembangan metodelogi baru atau modifikasi reaksi-reaksi yang ada harus di lakukan untuk memperoleh tranformasi yang di inginkan dalam menyempurnakan sintesis.8.17 Senyawa 8. Pereaksi yang di kembangkan untuk tranformasi ini adalah -kloronitron (8.6 Reaksi baru dan pereaksi baru Pengembangan tranformasi kunci tidak mungkin seluruhnya dilakukan melalui reaksireaksi kimia seperti yang telah diketahui. 81 .17. pekerjaan yang baru tersebut sering menunjukan bahwa pereaksi-pereaksi yang terlibat dapat di gunakan untuk berbagi tujuan lain. 2. Dan biasanya penemuan baru dalam sintesis tersebut dapat diterapkan pada usaha sintetik senyawa iain.18) yang menghasilkan ion vinil nitronium( 8.19) bila direaksi dengan ion perak. Sekali di kembangkan.

21 dengan hasil 59% dan selanjutnya proses hidrolisis menghasilkan 8.20 menghasilkan produk adisi 8. adisi siklo terhadap metilsikloheksena dan 8. 82 .nitron (8.23) ditransformasikan menjadi beberapa molekulsintetik yangberguna.22 sebanyak 90%. Sebagai pasangan adisi diubah dari alkena ke alkuna lain. Produk -produk akhir meliputi furan dan turunan alkuna. Pada yang khas menunjukan.20) digunakan sebagai pasangan diena pada reaksi Diels Alder. dan hasil adisi siklo (8.

Jika satu dari ikatan-ikatan tersebutdidiskoneksi. Setelah beberapa retroreaksi. Subpohon lebih lanjut menyatakan diskoneksi dari salah satu cabang pohon sintetik. yang kemudian dapat digunakan untuk membentuk molekul. Proses ini merupakan pohon sintetik untuk reaksi kimia yang harus ditindaklanjuti pada transformasi yang telah direncanakan untuk dilakukan. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 3. Penyumbang utama pada bilangan prioritas ini adalah 1. dan stereokimia yang terdapat pada struktur kompleks. penyederhanaan struktur. Gugus atau atom yang terletak terhadap ikatan 4. maka reaksi (serangkaian reaksi) harus tersedia.3. Retrosintesis 3. Pohon sintetik serupa yang dinyatakan oleh Hendrick. Analisis yang mendalam terhadap struktur target 2. dan jawabannya membutuhkan: 1. Proses penyederhanaan struktur molekul diskoneksi menghasilkan serangkaian fragmen (penggalan) molekul yang bertindak sebagai intermediet kunci. Penyederhanaan berikut (diskoneksi) akhirnya menghasilkan molekul yang dikenal yang tersia di pasaran. sepanjang alas an jalur reaksi kimia dapat diterima. dan masing-masing merupakan target sintetik. Biasanya terdapat ikatan-ikatan tertentu dalam molekul yang memiliki diskoneksi pada pengarahan retrosintetik yang akan memberikan penyederhanaan struktur secara signifikan. Intuisi yang baik tentang perkembangan ilmu kimia Informasi ini kemudian digunakan untuk diskoneksi ikatan-ikatan pada target.1 Pendekatan synthon Bagaimana kita menganalisis target agar dapat menentukan bahan awal yang terbaik? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut penting untuk sintesis total. Pengertian dasar stereokimia. Koneksi ikatan dengan satu atau lebih pusat asimetri Bilangan-bilangan prioritas tersebut berguna untuk moekul-molekul yang sederhana. Pendekatan yang dimulai dengan analisis target akhir dan bekerja kearah belakang (bahan awal) dikenal dengan proses retrosintesis. Namun demikian. dan akan digunakan untuk mengenalkan konsep-konsep yang diingankan. Bilangan-bilangan prioritas tidak dapat mengantisipasi masalah struktur kompleks. ikatan dan reaktivitas 4. skema ini merupakan titik permulaan yang berguna. Pengertian tersebut dikenal dengan ikatan-ikatan strategis. yang akan membentuk ikatan tersebut pada sintesis. 83 . interaksi gugus fungsi. atau telah dibuat oleh orang lain. Gugus atom yang terikat pada ikatan 2. pohon sintetik akan menghasilkan sejumlah bahan awal yang berasal dari satu atau lebih cabang-pertama. (To) didiskoneksi menjadi sekumpulan struktur yang dibatasi secara logika yang dapat dikonversikan menjadi pekerjaan sintetik tunggal (langkah reaksi) dan menjadi target sintetik. Pengetahuan dasar reaksi-reaksi kimia 3. didapat dengan cara kimia yang sederhana.

atau j yang memiliki prioritas tertinggi. beberapa pilihan ini dapat dikembangkan dengan menentukan cabang pohon mana yang akan diikuti. 84 .31 paling tidak menghasilkan dua diskoneksi .30 dan 2-bromobutana (molekul real yang dihasilkan dari diskoneksi). 4-bromobutan-1-ol. protocol prioritas ikatan menghasilkan ikatan -ikatan h. diskoneksi ikatan k memberikan diskoneksi yang paling sederhana.29.33) dan organokuprat yang diturunkan dari 3-bromo siklopentena (8. pohon retrosintetik dapat dikaitkan dengan gambar 8. dan m.29. jika pohon sintetik dipangkas dan terfokus pada 8.26 menjadi 8.28. transformasi gugus fungsi diperlukan untuk menkonversi 8. menghasilkan 8. Pertama. diskoneksi ikatan g menghasikan 8. I. Diskoneksi ikatan h menghasikan 8.33 menghasilkan bahan awal yang diketahui. epoksida 8. maka analisis ikatan kedua memberikan prioritas diskoneksi untuk ikatan-ikatan k. Analisis ikatan baru 8. seperti yang ditunjukan pada gambar 8. Dari analisi tersebut menghasilkan beberapa kesimpulan penting.32 dan diskoneksi ikatan c menghasilkan dua fragmen yang dapat identik: 4-bromo asetaldehida (8. I.24.25 dan konversi menjadi fragmen-fragmen sintetik yang realistic menghasilkan paling tidak dua kemungkinan.26.2. transformasi gugus funsi 8.34). dan mengkonversi 8.3.Untuk molekul seperti 8. dan a.27 menjadi 8.27 atau -kloroketon 8.

Juga penting disadari bahwa protocol doskoneksi dengan penomoran hanya diterapkan pada 8.Untuk menyempurnakan sintesis. Hal penting yang peru diperhatikan adalah bahwa analisis retrosintetik hanya memberikan transformasi kunci dan bukan setiap langkah. maka protocol diskoneksi ini harus dikerjakan lagi. pereaksi-pereaksi untuk setiap transformasi gugus fungsi reaksi pembentukan ikatan karbon-karbon harus tersedia. Proses ini dilanjutkan hingga bahan -bahan awal yang dapat dikenal dapat diperoeh.Strategi sintetik 4.29).24. 4. Struktur target baru yang diperoleh dengan diskoneksi pertama dapat menghasilkan sekumpulan ikatan strategis yang berbeda.1 Penegasan berbagai pendekatan strategi Diketahui bahwa diskoneksi hanya didasarkan pada kemampuan pembentukan kembali ikatan (diskoneksi dengan penomoran) tidak selalu dapat diterapkan pada target-target 85 . setelah pemiihan ikatan yang akan didiskoneksi dan penentuan fragmen real (seperti 8.

kompeks. Corey mendeskripsikan pendekatan yang luwes terhadap masalah-masalah tersebut yang digabung dalam program computer LHASA. Tujuan program ini adalah membantu menganaisis target sintetik yang kompeks. Program ini mendeskripsikan pendekatanpendekatan secara umum untuk membangun pohon sintetik dan juga mendeskripsikan ogika yang digunakan untuk membangun pohon sintetik tersebut. Modifikasi-modifikasi tersebut meliputi: 1. Interkonversi, melepaskan atau memasukan gugus-gugus fungsi 2. Perpanjangan atau penambahan rantai karbon 3. Pembentukan cincin (lingkar atomik) 4. Penataan ulang rantai atau anggota ingkar 5. Pemutusan rantai atau cincin Setiap fragmen struktur kimia yang dihasilkan oleh pohon sintetik harus memiliki sifatsifat kimia yang dapat diprediksi dan memungkinkan kombinasi pemilihan terhadap hanya satu dari banyak cara yang mungkin. Corey mendeskripsikan tiga metodologi untuk sintesis, yaitu asosiatif langsung, asosiatif intermediet, dan logika terpusat. Pendekatan asosiatif langsung melakukan diskoneksi target (seperti 8.34) pada ikatan yang menghasilkan struktur yang mudah dikenal oleh ahli kimia. Contoh, senyawa 8.34 memberikan fragmen-fragnen yang mudah dikenal yang didasarkan pada reaksi-reaksi yang sudah diketahui dengan baik. Reaksi retroDiels-Alder memberikan 8.36 dan 8.37. hidrolisis ester dan amida menghasilkan 8.38, 8.39, dan 8.35 pendekatan ini terbatas pada masalah-masalah sintesis sederhana.

Pendekatan asosiatif intermediet mengenal subunit atom pada target yang sesuai dengan bahan awal yang tersedia atau diketahui. Pendekatan logika terpusat menghasikan sekumpulan struktur yang terbatas yang dapat dikonversi dalam langkah tunggal menjadi target

86

4.2 LHASA LHASA menganalisis molekul dengan mengembangkan skema retrosintetik, dan menyediakan reaksi kimia yang tepat untuk mengerjakan sintesis tersebut. LHASA merupakan program interaktif yang mem perlihatkan target, yang dimanfaatkan oleh ahli kimia untuk memilih strategi sintetik.

5. PENDEKATAN STRATEGI IKATAN Bila sejumlah stategi yang tersedia diterapkan pada tugas pemutusan spesifik maka yang pertama dilakukan adalah terhadap ikatan (ikatan -ikatan) pada target. Corey membuat sejumlah aturan yang mengikat bersama-sama antara strategi dan tujuan analisis retrosintetik menjadi analisis strategi ikatan. Aturan-aturan rersebut memberikan wawasan ke dalam diskoneksi pertama terhadap molekul target yang akan ditentukan jika struktur cocok dengan penyelesaian sederhana. Sebelum strategi ikatan ditentukan, penyederhanaan kemungkinan dapat dilakukan jika molekul memiliki simetri, apakah secara struktural mempunyai kesamaan dengan motekul lain yang telah disi tesis sebelumnya, atau mempunyai satuan n satuan dalam struktur yang dapat diulang. Perlu dipahami bahwa aturan -aturan tersebut hanya merupakan garis besar. Analisis dimulai dengan suatu pemeriksaan untuk menentukan jika ada metode yang dapat menyederhanakan molekul. Penyederhanaan akan memperpendek sintesis dan analisis retrosintetik diperkirakan akan mengikuri jalur tersebut. salah satu contoh penerapan aturan pendekatan,straregi ikatan adalah sebagai berikut. Apakah ada simetri atau hampir simetri pada dua bagian molekul Jika ada, maka sintesis kemungkinan dapat disederhanakan dan kemudian menggabungkanbersama dua atau lebih bagian yang identik. Contoh yang baik adalah molekul C-toksiferin I (8.40) yang memiliki simetri hemisferis. Pada 8.40 bagian atas hemisfer identik dengan hemisfer bagian bawah. Telah diketahui jika 8.40 direaksikan derigan asam sulfat menghasilkan hernisfer tunggal yang menghasilkan kembali dimer bila direaksikan dengan natrium asetat panas. Sintesis satu hemisfer dan kernudian menggabungkan dua bagian yang identik tersebut sangat menyederhanakan sintesis secara keseluruhan.

87

6. STRATEGI SINTESIS TERSELEKSI Seperti yang telah dibahas pada subbab di atas, diskoneksi ikatan tunggal dapat menghasilkan sejurnlah skema sintesis berbeda. Sifat interaktif pendekatan memaksimalkan jalur sintesis, karena banyak jalan pintas sintesis berbeda yang mungkin dijalankan. Hal mi dirunjukkan pada sejumlah sintesis vernolefin, 8.41, suatu emanolida yang ridak umum yang diisolasi dan sejumlah tanaman, meliputi veronia hymenolipsis A. Rich (keluarga Compositea) dan dilaporkan mernpunyai sifat-silat antitumor. Sifat-sifat biologis awal yang menjanjikan mendorong untuk melakukan sintesis total. Ada empat ahli kimia yang melakukan analisis retrosintetik terhadap senyawa vernolepin. Dua analisis retrosintetik di antaranya dilakukan oleh Danishefsky dan Grieco yang masingmasing ditunjukkan pada Gasnbar 8.4 dan 8.5.

Analisis 8.41 melalui aturan Corey menyatakan bahwa 1, 5,7,9, 11, 12, 13, dan 15 sebagai ikatan-ikatan strategis. Ikatan-ikatan 16, 17, dan 18 dapat juga dianggap strategis. Ikatan-ikatan 3 dan 13 merupakan hubungan ester yang labil dan strategis melalui pertukaran antar gugus fungsi. Pada Gambar 8.4, Denishefsky menggunakan ikatan -ikatan 1, 3, 5, 8, 10, 13, 17, 18, dan 15 untuk diskoneksi. Pada awal anaitsis hanya ikatan -ikatan 8, 10, dan 19 tidak strategis, sehingga ikatan-ikatan 8 dan 10 didiskoneksi terakhir pada retrosintesis, dan ikatan 19 didiskoneksi dengan transformasi gugus fiangsi. Diskoneksi pertama melepaskan gugus labil lakton -metilena yang menghasilkan 8.42. Diskoneksi berikutnya adalah penukaran gugus fungsi yang memberikan ekuivalen lakton asiklis (8.43) yang kemudian diikuti diskoneksi menjadi 8.44. Epolcsida berfu ngsi sebagai synthon untuk koneksi cincin lakton C. Gugus vinil didiskoneksi menjadi aldehida, dan didiskoneksi menjadi 8.45 yang terikat kembali dengan vinil dan gugus hidroksil pada cincin B, diikuti diskoneksi cincin A. 8.46 sikloheksena berperan sebaga ekuivalen sintetik untuk cincin lakton A. Diskoneksi i menjadi 8.47 menunjukkan bagaimana gugus fungsi meinbentuk cincin B, dan diskoneksi menjadi 8.48 menunjukkan bahwa cincin B merupakan unit bangunan dasar, yang dapar dibentuk melalui reaksi Diels-Alder dari butadiena dan metil propiolat.

88

52. seperti langkah yang dilakukan oleh Danishefsky. Diskoneksi berikutnya menghasilkan 8. dan 19. Diskoneksi berikurnya diserta dengan pelepasan ikatan 19 pada 8. Grieco menggunakan ikatan 15. tetapi juga sebagai bagian untuk cincin A. 13. 5. 18.Pada analisis retrosintetik yang dikerjakan oleh Grieco (Gambar 8. Cincin C menggunakan gugus dimetit-2-butenil 89 .42.51 dan 8. 3.5). ikatan -ikatan yan digunakan adalah 1. tetapi ikatan ikatan 3 dan 13 kemudian didiskoneksi menghasilkan 8.50. Perlu diperhatikan sikloheksena tidak hanya berfungsi sebagai ekuivalen vinil.41. Gugus metoksi pada 8.51 menghasilkan ekuivalen vinil yang berbeda dari yang digunakan Danishefsky. Diskoneksi pertama adalah menjadi 8.51 kenyataannya adalah ekuivalen dengan ikatanikatan 1 dan 2 pada 8. 17.

1985. tetapi benbeda secara signifikan pada diskoneksi. J.51.¶diskoneksi tahap terakhir.. 285).54 menunjukkan bahwa cincin A dan B dibentuk dari 8.Sebagai kerangka karbon yang ekuivalen pada 8.55 dan 8.Soc.56. 107. Berikut dicontohkan sintesis total dan metil ester dari Vineomisinon B2 sebagai antibiotik antrasiklin (Danishefsky. 90 . diskoneksi 8.Am. Skema keseluruhan ini mirip dengan Danishefsky pada tahapan awal.

y Sastrohamidjojo.com/sintesis-organic/html. Stuart Warren.DAFTAR PUSTAKA y http://www. Organic Synthesis [Download] Senyawa y (Adapted by: Organic Synthesis :The disconnection Approach. Hardjono dkk. Marhan Sitorus) 91 . Kimia Organik Fisik. y Stuart Waren.goggle.Jakarta : Erlangga. Sintesis Organic.2009.

J KUMOKONG FRIMA RINDENGAN MEIVIRA TAMPONGANGOI 92 . TAKASIHAENG ANGGI TUMILANTOW SEPTANI POLII YARDI HARUN BAB IV DIMANUEL ZET BORON ELVANDER ST.NAMA KELOMPOK BAB 1 JULIANUS HONTONG DEYSI RIA TANGIAN RUSPIN ARUNG SAMPE APRIANA MARA BAB II ISAK IWAMONY MERLINA LUMOWA FENI BUBALA NURLELI HASYIM BAB III VIVI C E.

BAB V LEKUNURU KALENSANG JOUN ALLEIN TINDAGE HENDRA PAAT ASTRIA WOWORUNTU BAB VI RANDY LENGKEY RIA TUMAKAKA RADIA KAMALUDIN ANGELINA MANUS BAB VII NANSI MOMONGAN JELTYANI GUMOLUNG EPIL MUNTIA CHRISTEL KORENGKENG BAB VIII IYEN IRALA LINA TASIM RESA GERUNGAN MAYO GANSARENG 93 .

94 .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->