ANALISIS PENGARUH PDRB, PENDIDIKAN DAN PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI KABUPATEN / KOTA JAWA TENGAH TAHUN 2005 - 2008

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

Disusun Oleh : RAVI DWI WIJAYANTO NIM. C2B606044

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010

.

. Kegagalan adalah kekurang telitian.. Dan.. kita.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Kegagalan bukanlah keberhasilan yang tertunda. Kupersembahkan karya kecilku ini untuk keluarga dan orang-orang terdekatku yang selalu memberikan harapan... Karena. Kegagalan adalah kekurang sabaran. Kunci Keberhasilan adalah Jiwa yang sabar dan tahu akan Kemampuan dirinya.. Kegagalan bukanlah awal menuju keberhasilan. semangat dan cinta dengan sepenuh hati v . Kegagalan adalah bukti kecerobohan kita. Kegagalan bukanlah pintu menuju kesuksesan..

Key words: Poverty. unemployment variable has negative and significant impact on the level of poverty in Central Java. This study examines the influence of GDP. educational variables which proxy with the literacy rate of significant negative effect on the level of poverty. Overcoming the problem of poverty can not be done separately from the problems of unemployment. low health status and the degree of inequality between the sexes and poor environment (Word Bank. and also has the largest poverty appeal in any other province in Java. 2004).2008. Strategic issues in the government of Central Java province is not much different from the central government (national problem).ABSTRACT Poverty is a problem that involves many aspects as it relates to low income. education (literacy). education. While the method of analysis used in this research is a method of linear regression analysis of panel data with FEM method with the help of software Eviews 6. the poverty rate in Central Java is still ranked 22 out of 33 Provinces in Indonesia. unemployment on poverty in Central Java which is expected to be used as a basis in determining the policies in addressing poverty in Central Java. GDP. And the concern though has been in the form TKPK to address the problem of poverty that exist. Data used in this research is secondary data obtained from the Central Statistics Agency (BPS) as well as browsing the internet website as a supporter. The purpose of this research are to analyze how and how much influence the variables GDP. namely high rates of poverty and the increasing number of unemployed. Education (Literacy). unemployment on poverty in Central Java. but that based on BPS (Central Bureau of Statistics) in 2008. education (literacy). in this case for all of districts in Central Java in 2005 . health and other problems that are explicitly associated with the problem of poverty. The results of this study indicate that the GDP variable is negative but not significant effect on poverty levels. Unemployment vi . illiteracy.

pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. 2004). Pendidikan (Melek Huruf). dan juga mempunyai tingkat kemiskinan paling besar di banding Provinsi lainnya di pulau Jawa. Pendidikan (melek huruf).2008. Mengatasi masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan secara terpisah dari masalah-masalah pengangguran. pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah sehingga nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam penentuan kebijakan dalam mengatasi masalah kemiskinan di Jawa Tengah. Pendidikan (melek huruf). buta huruf. tingkat kemiskinan Jawa Tengah masih menduduki peringkat ke 22 dari 33 Provinsi di indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel PDRB berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap tingkat kemiskinan.ABSTRAK Kemiskinan merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. Sedangkan metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis regresi linier panel data dengan metode FEM dengan bantuan software Eviews 6. Pengangguran vii . tetapi bahwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2008. Permasalahan strategis di pemerintahan Provinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda dengan di pemerintahan pusat (problem nasional). Kata kunci : Kemiskinan. yakni tingginya angka kemiskinan dan semakin meningkatnya jumlah pengangguran. variabel pengangguran berpengaruh negatif serta signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Tengah. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta browsing website internet sebagai pendukung. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. Dan yang memprihatinkan meskipun telah di bentuk TKPK untuk menanggulangi masalah kemiskinan yang ada. Tujuan penelitian ini diharapkan dapat menganalisis bagaimana dan seberapa besar pengaruh variabel PDRB. kesehatan dan masalah-masalah lain yang secara eksplisit berkaitan erat dengan masalah kemiskinan. PDRB. variabel pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat kemiskinan. dalam hal ini untuk seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . pendidikan. Studi ini meneliti tentang pengaruh PDRB.

Ph. selaku dosen wali yang telah memberikan dukungan sepenuhnya kepada penulis dan memberikan motivasi kepada penulis selama belajar di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI JAWA TENGAH TAHUN 2005 .Si. 6. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai prasyarat untuk menyelesaikan Studi Strata atau S1 pada Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. 2. serta karuniaNya. yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi penulis. Seluruh Dosen dan Staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. H Edy Yusuf Agung Gunanto. Fitrie Arianti. PENDIDIKAN. 3. yang telah memberikan mukjizat serta kekuatan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Allah SWT. MSc. SE. hidayah. 4.2008”. viii . Untuk itu rasa terima kasih sedalam-dalamnya penulis haturkan kepada: 1. M. Akt. HM Chabachib. M. Dalam penyusunan skripsi yang berjudul “ANALISIS PENGARUH PDRB. 5. D. Petugas Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro serta Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Tengah yang telah memberikan bantuan berupa data dan referensi yang bermanfaat.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat. Drs. hidayah dan karunia-Nya kepada penulis.Si. selaku dosen pembimbing atas bimbingan dan pengarahan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Dr. atas segala limpahan rahmat. tidak terlepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang memungkinkan skripsi ini dapat terselesaikan.

Bram. Pramudana. Adikku. Nenekku (mbah Gini) tersayang yang tiada henti-hentinya memberikan semangat. Andhika A. tanpa dirimu pasti skripsiku lebih lama selesainya . Danik. kerjasama. Titian. Teman-teman Tim I KKN UNDIP 2010 Banyubiru khususnya tim Tegaron: Dimas. dan seluruh teman-teman IESP 2006 yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Gerdy. Fery Atikasari. Terima kasih untuk segala bantuan. Rea. 10. Fajar. kasih sayang. Phipin. 16. 14. Cahyo. Hilal. Terima kasih atas dukungan yang telah engkau berikan. Bekti. Kakakku. dorongan serta doanya. Kiki. Farid. Akrom. Novi. Andhika W.7.” 8. 15. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Seluruh teman-teman IESP Angkatan 2006 reguler II : Ami. 9. Indra. 11. Kedua orang tuaku tersayang. Dedi. Kalian semua terlalu manis untuk dilupakan. Dian. terima kasih atas perlindungan. Putra. Acong. Tapi jangan berhenti untuk tetap doakan aku biar jadi orang sukses. baik secara langsung maupun tidak langsung.. maaf kalau Ravi numpang terus” 13. pengisi hidupku 4 tahun terakhir. Terima kasih atas dukungan dan semangat yang diberikan kepadaku selama ini. Nasrul. Bapak (Agus) dan Ibu (Sri Intarti). Rama. “Terima kasih sudah membuat hidupku lebih berwarna. Yanu. Riza. dan kenangan yang tlah kalian berikan. Fera Anggiya. Ridho. Edit. “Pelajaran dari perjalanan hidup kalian yang selalu memotivasi saya untuk selalu bangkit dari setiap cobaan dan keterpurukan ini. Bagus.. cinta. ix . Danang. Mbak Ika dan mas Budi. Dyke. Tim Futsal Jalan Kartanegara. Mega Aprillya. Udin. dan dukungan yang selalu diberikan dengan tulus kepada anak-anaknya. Adit. “makasih buat makan malamnya setiap hari.” 12. Happy.

penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. dan dapat dijadikan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Penulis juga menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan banyak kelemahan. sehingga penulis tak lupa mengharapkan saran dan kritik atas skripsi ini. Semarang.Akhirnya dengan segala kerendahan hati. Penulis September 2010 Ravi Dwi Wijayanto x .

ii .xiv ....i ...2 Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian 1 1 10 11 11 11 12 1.1..3 Tujuan dan Kegunaan 1....1....DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN PERNYATAAN ORISINIALITAS SKRIPSI MOTTO DAN PERSEMBAHAN..1 2.......iii .1 Landasan Teori 2....2 Rumusan Masalah 1.............4 2.3...1...2 Pengaruh Variabel Independen dan Dependen xi ...2 2...3 2.xv .1 Latar Belakang Masalah 1....v ABSTRACT ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR vi vii viii .1.....1.3.iv BAB I PENDAHULUAN 1..........5 Kemiskinan Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan ekonomi Pendidikan Pengangguran 14 14 14 22 26 33 36 40 2...1 1..........4 Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2..

1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.6.6.2 Jenis dan Sumber Data 3.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t) Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) Uji Koefisien Determinasi (Uji R-squared) BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.1 Deskripsi Obyek Penelitian 4.5.4 Metode Analisis 3.4.2 Analisis Data 4.2 3.1 Kondisi Geografis 75 75 76 76 78 4.6 Pengujian Kriteria Statistik 3.1 3.2.1.2.2 3.1 2.2.2 2.5.3 Metode Pengumpulan Data 3.2.3 3.4.3 Pengaruh PDRB terhadap Kemiskinan Pengaruh Pendidikan terhadap Kemiskinan Pengaruh Pengangguran terhadap Kemiskinan 40 42 43 45 53 54 2.2 Kemiskinan PDRB xii .3 Penelitian Terdahulu 2.6.4 Kerangka Pemikiran 2.5 Pengujian asumsi Klasik 3.2 Analisis Panel Data Estimasi Model 56 56 59 60 61 61 64 67 67 68 69 70 71 71 73 74 3.1 4.5.1 3.1 3.5.2.2.4 Uji Normalitas Uji Multikolinearitas Uji Autokolinearitas Uji Heterokedatisitas 3.5 Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN 3.

5.4.2 4.3 Pengujian Asumsi Klasik 4.3 4.3.3.3.4.2 4.4 Uji Normalitas Uji Multikolinearitas Uji Autokolinearitas Uji Heterokesdastisitas 4.5.4 Pendidikan Pengangguran 80 82 84 85 86 87 88 88 88 89 90 91 4.1 4.5.2.2 Keterbatasan 5.1 4.5.1.2.3 Pengaruh Variabel Independen Terhadap Dependen 91 PDRB dan Kemiskinan Pendidikan dan Kemiskinan Pengangguran dan Kemiskinan 91 92 93 BAB V PENUTUP 5.1 4.3.4 Pengujian Statistik Analisis Regresi 4.3 Saran 95 96 97 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN xiii .4.1 Kesimpulan 5.1.5 Interpretasi Hasil dan Pembahasan 4.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t) Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) Uji Koefisien Determinasi (Uji R-squared) 4.2 4.1.4.1 4.3 4.

4 Tabel 4.5 Tabel 2.6 Tabel 4.7 Tabel 4. Jumlah dan Presentase Kemiskinan di Jateng PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Jateng 2004-2008 Angka Melek Huruf Jateng 2004-2008 Jumlah Pengangguran Jateng 2004-2008 Ringkasn Penelitian Terdahulu Kriteria Durbin-Watson Jumlah Kemiskinan menurut kab/kota di Jateng PDRB menurut kab/kota di Jateng Tingkat Melek Huruf menurut kab/kota di Jateng Tingkat Pengangguran menurut kab/kota di Jateng Ringkasn Regresi utama Uji Multikolinearitas Uji Heterokesdastisitas Uji t 3 4 6 6 7 51 69 77 79 81 83 84 86 88 89 xiv .3 Tabel 4.1 Tabel 1.5 Tabel 4.2 Tabel 4.2 Tabel 1.1 Tabel 3.8 Persentase Kemiskinan di enam Provinsi di Pulau Jawa Batas.DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.1 Tabel 4.3 Tabel 1.1 Tabel 4.4 Tabel 1.

2 Kerangka Pemikiran Gambar 3.2 Kurva hasil Uji Durbin watson 25 54 70 85 87 xv .DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Uji Normalitas JB test Gambar 4.1 Kurva Uji Durbin watson Gambar 4.1 Teori Nelson dan Leibstein Gambar 2.

Perencanaan memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembangunan.1 Latar Belakang Masalah Perencanaan merupakan sebuah upaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi yang bersifat akumulatif. Oleh karena itu. salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan nasional adalah laju penurunan 1 . Pemerintah Indonesia menyadari bahwa pembangunan nasional adalah salah satu upaya untuk menjadi tujuan masyarakat adil dan makmur. Salah satu peran perencanaan adalah sebagai arahan bagi proses pembangunan untuk berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai disamping sebagai tolok ukur keberhasilan proses pembangunan yang dilakukan. Sedangkan pembangunan sendiri dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di tingkat nasional atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di tingkat daerah. Artinya. Sejalan dengan tujuan tersebut. perubahan yang terjadi pada sebuah keseimbangan awal dapat menyebabkan perubahan pada sistem sosial yang kemudian akan membawa sistem yang ada menjauhi keseimbangan semula. Pembangunan daerah dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan sesuai prioritas dan kebutuhan masing-masing daerah dengan akar dan sasaran pembangunan nasional yang telah ditetapkan melalui pembangunan jangka panjang dan jangka pendek.1 BAB I PENDAHULUAN 1. berbagai kegiatan pembangunan telah diarahkan kepada pembangunan daerah khususnya daerah yang relatif mempunyai kemiskinan yang terus naik dari tahun ke tahun.

untuk segera mencari jalan keluar dengan merumuskan langkahlangkah yang sistematis dan strategis sebagai upaya pengentasan kemiskinan. Efektivitas dalam menurunkan jumlah penduduk miskin merupakan pertumbuhan utama dalam memilih strategi atau instrumen pembangunan. Hal ini berarti salah satu kriteria utama pemilihan sektor titik berat atau sektor andalan pembangunan nasional adalah efektivitas dalam penurunan jumlah penduduk miskin. Masih terjadi kesenjangan antara rencana dengan pencapaian tujuan karena kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan lebih berorientasi pada program sektoral. kemiskinan menjadi tanggung jawab bersama.2 jumlah penduduk miskin. 2003) Pemerintah baik pusat maupun daerah telah berupaya dalam melaksanakan berbagai kebijakan dan program-program penanggulangan kemiskinan namun masih jauh dari induk permasalahan. (Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Kebijakan dan program yang dilaksanakan belum menampakkan hasil yang optimal. terintegrasi dan sinergis sehingga dapat menyelesaikan masalah secara tuntas. terutama pemerintah sebagai penyangga proses perbaikan kehidupan masyarakat dalam sebuah pemerintahan. . Oleh karena itu diperlukan suatu strategi penanggulangan kemiskinan yang terpadu. Permasalahan strategis di pemerintahan Provinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda dengan di pemerintahan pusat (problem nasional). yakni masih tingginya angka kemiskinan jika di bandingkan dengan provinsi lain di pulau Jawa. Oleh karena itu.

23 6 Jawa Tengah 18. mengingat upaya penanggulangan kemiskinan bukan merupakan hal yang mudah untuk dilaksanakan. 11/2003). Data dan Informasi Kemiskinan Jateng 2008 Bagi Provinsi Jawa Tengah. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2008 secara agregat terlihat cukup dinamis yaitu diatas 5 persen.1 Persentase Kemiskinan Enam Propinsi di Pulau Jawa Tahun 2008 Provinsi Persentase kemiskinan No. 412. Selama periode 2004 sampai dengan 2008. Keputusan Gubernur No. perekonomian Jawa Tengah menunjukan adanya peningkatan dari tahun ke tahun yaitu tumbuh berkisar 5.96 4 Jawa Timur 16. Terkait dengan target tujuan pembangunan millenium yang harus tercapai pada tahun 2015. Pergub 19 tahun 2006 tentang Akselerasi Renstra.64 3 Jawa Barat 11.6. Hal tersebut terbukti selain di dalam Renstra Jawa Tengah (Perda No. kemiskinan merupakan salah satu dari issue strategis yang mendapat prioritas untuk penanganan pada setiap tahapan pelaksanaannya. kemiskinan merupakan issue strategis dan mendapatkan prioritas utama untuk ditangani.68 5 DIY 17.05/55/2006 tentang pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan juga (TKPK) di dalam draft Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Jawa Tengah tahun 2005-2025. maka Provinsi Jawa masih harus bekerja keras untuk dapat mencapai target tersebut.3 Tabel 1. 1 DKI 3.99 Sumber: BPS Jateng.62 2 Banten 7.0 sampai 5. Namun pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tidak selalu diiringi dengan penurunan kemiskinan yang signifikan .5 persen.

4 di Jawa Tengah. Jumlah Penduduk Miskin Di Tawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) 2004 2005 2006 2007 2008 6. .19 20. Persentase. Yang lebih memprihatinkan yaitu bahwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2009.49 22. Dan lebih lagi bahwa jika dibandingkan kemiskinan di Pulau Jawa. Bahkan ketika indikator perekonomian Jawa Tengah naik di tahun 2006.651 130.20 6.112. Jawa Tengah mempunyai kemiskinan paling besar di banding Provinsi lainnya di pulau Jawa.43 18.557.553.100.843. Tabel 1.877 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Pertumbuhan ekonomi merupakan tema sentral dalam kehidupan ekonomi semua negara di dunia dewasa ini.337 154.60 6.100 penduduk.11 20.80 6. kemiskinan di Jawa Tengah juga ikut naik mencapai 547.111 181.013 142.50 7. kemiskinan Jawa Tengah menduduki peringkat ke 22 dari 33 Provinsi di indonesia yaitu sebesar 18.2 Batas Miskin. Pemerintah di negara manapun dapat segera jatuh atau bangun berdasarkan tinggi rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapainya dalam catatan statistik nasional.60 Persentase Penduduk Miskin 21.99 Garis Kemiskinan (Rp/Kap/bulan) 126.99 persen. Berhasil tidaknya programprogram di negara-negara dunia ketiga sering dinilai berdasarkan tinggi rendahnya tingkat output dan pendapatan nasional (Todaro 2000).

Rendahnya pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk yang sangat besar akan berpengaruh terhadap kondisi sosial manusia di Jawa Tengah. Oleh sebab itu. 2001). Permasalahan dan tantangan pembangunan daerah lima tahun ke depan masih diprioritaskan pada masalah-masalah sosial yang mendasar. . para ahli ekonomi mulai meragukan manfaat pertumbuhan pendapatan nasional dalam pembangunan ekonomi sebab di banyak negara yang sedang berkembang terdapat gejala adanya kemiskinan. teori-teori ini menyatakan bahwa pembangunan ekonomi akan mencapai hasil yang optimal jika peningkatan pendapatan nasional disertai dengan pemerataan pendapatan bagi seluruh kelompok masyarakat (Tambunan dalam Dian Octaviani. dan pengangguran yang cenderung meningkat walaupun pendapatan nasional mengalami peningkatan secara stabil. maka mustahil akan memberikan hasil yang optimal. mulai awal tahun 1970 muncul pendapat bahwa apabila pembangunan tidak disertai pemerataan hasil-hasil pembangunan kepada penduduk miskin. antara lain besarnya angka kemiskinan dan pengangguran.5 Pada awal tahun 1970. Secara umum. ketidakmerataan distribusi pendapatan. Dalam periode tersebut munculah teori-teori baru seperti Teori Pertumbuhan dan Distribusi New-Keynesian oleh Kaldor (1955) dan Passineti (1962).

3 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2008 PDRB Atas dasar Harga Konstan 2000 (Juta Rupiah) 2004 135.46 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah memberikan gambaran kinerja pembangunan ekonomi dari waktu ke waktu.110.369.872. maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu.4 Jumlah Angka Melek Huruf Jawa Tengah Tahun 2004-2008 (Jiwa) No.219. Tahun Jumlah 1 2004 23. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan .121.31 2005 143. Jika dunia pendidikan suatu bangsa sudah jeblok.85 Sumber : PDRB Jawa Tengah tahun 2008 TAHUN PERTUMBUHAN EKONOMI (Persen) 5.187 4 2007 26.33 5.930 5 2008 27.35 5.253.59 5.213.051.6 Tabel 1.77 2008 167.13 5.506. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jati diri manusia suatu bangsa.059.74 2007 159.654. Produk Domestik regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan digunakan untuk menunjukan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dari tahun ke tahun.682.790.112 3 2006 24.789.88 2006 150.191 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa.283.316 2 2005 24. Tabel 1. Sebab. sehingga arah perekonomian daerah akan lebih jelas.

244 1.219 1.227.360.5 tingkat melek huruf di Jawa Tengah dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 cenderung meningkat.308 Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di suatu daerah menjadi semakin serius.7 atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis. Karena itu. Dan di tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 132. 2010 dalam http://andalas van java online. Di Jawa Tengah besarnya tingkat pengangguran bergerak secara naik turun. Tabel 1.com).197.573 978.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan (Winardi. Pada memusatkan hakekatnya perhatian pembangunan pada daerah dianjurkan saja tidak namun hanya juga pertumbuhan ekonomi mempertimbangkan bagaimana kemiskinan yang dihasilkan dari suatu proses . 1 2004 2 2005 3 2006 4 2007 5 2008 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Jumlah 1. Di Jawa Tengah tingkat pendidikan dapat diukur salah satunya dengan besarnya angka melek huruf.911 jiwa.952 1.044. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan. Dan berdasarkan tabel 1.5 Jumlah Pengangguran Terbuka Di Jawa Tengah Tahun 2004-2008 (Jiwa) Tahun No. Pengangguran dapat mempengaruhi kemiskinan dengan berbagai cara (Tambunan. Besarnya tingkat pengangguran merupakan cerminan kurang berhasilnya pembangunan di suatu negara. 2001).

perumahan dan tingkat kesehatan dan pendidikan yang dapat diterima (acceptable). dan di tahun tersebut juga mulai dibentuknya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah. Menurut Esmara (dikutip dari Deni Tisna. Di .8 pembangunan daerah tersebut. Sampai akhir tahun 1960. Menurut Bank Dunia salah satu sebab kemiskinan adalah karena kurangnya pendapatan dan aset (lack of income and assets) untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan. para ahli ekonomi percaya bahwa cara terbaik untuk mengejar keterbelakangan ekonomi adalah dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya. Hal itu terjadi di tahun 2006. tetapi juga diikuti dengan peningkatan persentase kemiskinan. Dimana pembentukan TKPK tersebut dapat menanggulangi masalah kemiskinan di Jawa Tengah. 2008) dalam ilmu ekonomi dikemukakan berbagai teori yang membahas tentang bagaimana pembangunan ekonomi harus ditangani untuk mengejar keterbelakangan. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. 2004). Dengan cara tersebut angka pendapatan per kapita akan meningkat sehingga secara otomatis terjadi pula peningkatan kemakmuran masyarakat. pakaian. Kemiskinan sendiri merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. buta huruf. Penelitian ini dilakukan di Jawa Tengah dalam periode 2005 – 2008 karena diprovinsi ini terjadi fenomena tranformasi struktur ekonomi yang meningkatkan produk domestik regional bruto (PDRB). sehingga dapat melampaui tingkat pertumbuhan penduduk.

Hermanto S. pendekatannya harus dilakukan lintas sektor. namun besaran pengaruhnya relatif kecil.. pendidikan. (2006) dalam penelitiannya tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan jumlah penduduk miskin menunjukan bahwa pertumbuhan berpengaruh negatif dan signifikan dalam mengurangi kemiskinan. Dengan kata lain. serta tingkat pendidikan dan kesehatan mereka pada umumnya tidak memadai. Hal tersebut dikarenakan pendidikan memang merupakan pionir dalam pembangunan.9 samping itu kemiskinan juga berkaitan dengan keterbatasan lapangan pekerjaan dan biasanya mereka yang dikategorikan miskin (the poor) tidak memiliki pekerjaan (pengangguran). Mengatasi masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan secara terpisah dari masalah-masalah pengangguran. kesehatan dan masalah-masalah lain yang secara eksplisit berkaitan erat dengan masalah kemiskinan. Populasi penduduk juga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kemiskinan. dan Dwi W.go. Dimana penel data yang dibangun dari 285 kota/kabupaten menyatakan perbedaan yang besar pada perubahan dalam kemiskinan.bappenas.(www. Sedangkan pendidikan mempengaruhi secara negatif dan signifikan terhadap kemiskinan dan pengaruhnya paling besar. .id) Menurut Balisacan (dikutip dari penelitian Hermanto S.2006) menyatakan bahwa indonesia memiliki catatan yang mengesankan mengenai pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan selama dua dekade. Pertumbuhan dan kemiskinan menunjukan hubungan yang kuat dalam tingkat agregat. dan Dwi W. lintas pelaku secara terpadu dan terkoordinasi dan terintegrasi. namun magnitude pengaruh tersebut relatif tidak besar.

Hal tersebut menunjukan bahwa belum maksimalnya kebijakan pemerintah Jawa Tengah dalam menanggulangi masalah kemiskinan.99 persen. yaitu bahwa tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Indonesia. Selain itu Deni Tisna (2008) dengan penelitian yang sama juga menghasilkan hasil yang sama pula. Yang mana penelitiannya menggunakan metode panel data tahun 2003 . yang artinya bahwa semakin tinggi tingkat penggauran di Indonesia maka jumlah penduduk miskin di Indonesia juga akan semakin bertambah seiring pertambahan jumlah pengguran.10 Dian Oktaviani (2001) dalam analisisnya tentang bagaimana pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di indonesia menemukan bahwa tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan.2004. Kemiskinan di Jawa Tengah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. 1. namun kemiskinan yang ada di Jawa Tengah hingga tahun 2008 menunjukkan jumlah penduduk miskin yang tergolong masih cukup tinggi yaitu mencapai 18. Banyak sekali masalah-masalah sosial yang bersifat negatif timbul akibat meningkatnya kemiskinan. Padahal dengan dibentuknya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 diharapkan faktor – faktor yang mempengaruhi kemiskinan seperti produk domestik regional .2 Rumusan Masalah Kemiskinan merupakan salah satu tolok ukur sosio ekonomi dalam menilai keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah di suatu daerah.

Menganalisis pengaruh produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.3. Bagaimana pengaruh produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. 3. 3. pendidikan dan pengangguran dapat meminimalisir kemiskinan yang terjadi di Jawa Tengah. 2.11 bruto (PDRB). penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi yang berguna di dalam memahami pengaruh jumlah penduduk. 1. Menganalisis pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.3 1.2 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada: 1.1 Tujuan Dan Kegunaan Tujuan Penelitian 1. Bagaimana pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. Menganalisis pengaruh pendidikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. 2.3. Pengambil Kebijakan Bagi pengambil kebijakan. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan sehingga dapat . pdrb. Bagaimana pengaruh pendidikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. Oleh karena itu dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. 1.

Bab IV Hasil dan Pembahasan. Bab III Metode Penelitian. Penelitian Terdahulu.12 dapat digunakan sebagai pilihan pengambilan kebijakan dalam perencanaan pembangunan. Kerangka Pemikiran Teoritis. serta Bab V Kesimpulan. Rumusan Masalah Penelitian. Bab II Tinjauan Pustaka. Tujuan dan Kegunaan Penelitian. BAB III : METODE PENELITIAN . 2. dan mencoba menarik suatu Hipotesis Penelitian. Ilmu Pengetahuan Secara umum hasil penelitian ini diharapkan menambah khasanah ilmu ekonomi khususnya ekonomi pembangunan. keterbatasan dan Saran. Manfaat khusus bagi ilmu pengetahuan yakni dapat melengkapi kajian mengenai kemiskinan dengan mengungkap secara empiris faktor-faktor yang mempengaruhinya.4 Sistematika Penulisan Penelitian ini disusun dengan sistematika Bab yang terdiri dari: Bab I Pendahuluan. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Menguraikan Landasan Teori. 1. BAB I : PENDAHULUAN Menguraikan Latar Belakang Masalah Penelitian. hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. serta Sistematika Penulisan.

Analisis Data. Pengujian Hipotesis. Jenis dan Sumber Data.13 Menguraikan Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. keterbatasan dari penelitian dan . BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN Menguraikan Analisis Deskriptif dan Objek Penelitian. serta Metode Analisis Data. dan Pembahasan. Metode Pengumpulan Data. BAB V : PENUTUP Menguraikan Kesimpulan dan saran – saran.

(2001) bahwa seseorang dikatakan miskin bila mengalami "capability deprivation" dimana seseorang tersebut mengalami kekurangan kebebasan yang substantif. Menurut World Bank. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara.org) 14 . Menurut Bloom dan Canning. tempat berlindung dan air minum. creative life and enjoy a decent standard of living freedom. halhal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup.1 Kemiskinan Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan.(http://Wikipedia. kebebasan substantif ini memiliki dua sisi: kesempatan dan rasa aman.1. (www.com) Menurut Amartya Sen dalam Bloom dan Canning. self esteem and the respect of other”.worlbank. pakaian. Kesempatan membutuhkan pendidikan dan keamanan membutuhkan kesehatan. dalam definisi kemiskinan adalah: ”the denial of choice and opportunities most basic for human development to lead a long healthy.1 Landasan Teori 2.14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.

Sementara untuk negara-negara yang sedang berkembang. pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi pada tahun 1960 sedikit sekali pengaruhnya dalam mengurangi tingkat kemiskinan. mempercepat penyusutan sumber daya alam. Kemiskinan (poverty) merupakan masalah yang dihadapi oleh seluruh negara. terancamnya posisi tawar (bargaining) dalam pergaulan dunia. dan mengurangi kualitas lingkungan. sebuah keluarga. maka kemiskinan pun memiliki banyak aspek primer yang berupa miskin akan aset. Negara-negara maju yang lebih menekankan pada “kualitas hidup” yang dinyatakan dengan perubahan lingkungan hidup melihat bahwa laju pertumbuhan industri tidak mengurangi bahkan justru menambah tingkat polusi udara dan air.15 Dari definisi tersebut diperoleh pengertian bahwa kemiskinan itu merupakan kondisi dimana seseorang tidak dapat menikmati segala macam pilihan dan kesempatan dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya seperti tidak dapat memenuhi kesehatan. harga diri. organisasi sosial politik. dan keterampilan serta aspek sekunder yang berupa miskin akan jaringan sosial. dan rasa dihormati seperti orang lain. atau bahkan sebuah negara yang menyebabkan ketidaknyamanan dalam kehidupan. standar hidup layak. sebuah komunitas. Pengertian kemiskinan dalam arti luas adalah keterbatasan yang disandang oleh seseorang. terancamnya penegakan hak dan keadilan. pengetahuan. Hal ini dikarenakan kemiskinan itu bersifat multidimensional artinya karena kebutuhan manusia itu bermacam-macam. terutama di negara berkembang seperti Indonesia. kebebasan. hilangnya generasi. serta suramnya masa depan bangsa dan negara. sumber-sumber .

Dimensi-dimensi kemiskinan tersebut termanifestasikan dalam bentuk kekurangan gizi. yaitu kemiskinan musiman seperti dijumpai pada kasus nelayan dan petani tanaman pangan. yaitu kemiskinan karena terjadinya bencana alam atau dampak dari suatu kebijakan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat. kemiskinan dapat dilihat . perumahan yang sehat. Selain itu. dan informasi. Secara politik. yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun temurun. perawatan kesehatan yang kurang baik. dimensidimensi kemiskinan saling berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung. Dermoredjo.16 keuangan. Pertama adalah persistent poverty. Dan aspek lain dari kemiskinan ini adalah bahwa yang miskin itu manusianya baik secara individual maupun kolektif (Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Hal ini berarti kemajuan atau kemunduran pada salah satu aspek dapat mempengaruhi kemajuan atau kemunduran aspek lainnya. air. Secara ekonomi. Secara sosial psikologi. yaitu kemiskinan yang mengikuti pola siklus ekonomi secara keseluruhan. Pola keempat adalah accidental poverty. 2003). kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses terhadap kekuasaan yang mempunyai pengertian tentang sistem politik yang dapat menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan sumber daya. Pola ketiga adalah seasonal poverty. dan tingkat pendidikan yang rendah. Menurut Sumitro Djojohadikusumo (1995) pola kemiskinan ada empat yaitu. kemiskinan dapat dilihat dari tingkat kekurangan sumber daya yang dapat digunakan memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang. Pola kedua adalah cyclical poverty.

Walaupun demikian. Kemiskinan Relatif Seseorang termasuk golongan miskin relatif apabila telah dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. Ukuran kemiskinan menurut Nurkse. Konsep ini dimaksudkan untuk menentukan tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik terhadap makanan. (1997) secara sederhana dan yang umum digunakan dapat dibedakan menjadi tiga. Kesulitan utama dalam konsep kemiskinan absolut adalah menentukan komposisi dan tingkat kebutuhan minimum karena kedua hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adat kebiasaan saja. seseorang membutuhkan barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan fisik dan sosialnya. dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup. tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan keadaan masyarakat sekitarnya. pakaian. tetapi juga iklim. yaitu: 1.17 dari tingkat kekurangan jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan peningkatan produktivitas. tingkat kemajuan suatu negara. garis kemiskinan akan mengalami perubahan bila tingkat hidup masyarakat berubah sehingga konsep kemiskinan ini bersifat dinamis atau akan selalu ada. 2. . Berdasarkan konsep ini. dan faktor-faktor ekonomi lainnya. untuk dapat hidup layak.1953 dalam Kuncoro. Kemiskinan Absolut Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan dan tidak cukup untuk menentukan kebutuhan dasar hidupnya.

jumlah kebutuhan yang sangat bervariasi yang mencerminkan biaya partisipasi dalam kehidupan sehari-hari. 3. maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan selalu miskin. A Catalyst Working Paper. Poverty and the Welfare State : Dispelling the Myths. London: Catalyst. Oleh sebab itu. yaitu: 1. pengeluaran yang diperlukan untuk memberi standar gizi minimum dan kebutuhan mendasar lainnya. Menurut Paul Spicker (2002.18 Oleh karena itu. Semua ukuran kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma pilihan dimana norma tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran didasarkan konsumsi (consumption based poverty line). menurut Kuncoro (1997) garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi terdiri dari dua elemen.) penyebab kemiskinan dapat dibagi dalam empat mazhab: . kemiskinan dapat dari aspek ketimpangan sosial yang berarti semakin besar ketimpangan antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah. 2. Kemiskinan Kultural Seseorang termasuk golongan miskin kultural apabila sikap orang atau sekelompok masyarakat tersebut tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya atau dengan kata lain seseorang tersebut miskin karena sikapnya sendiri yaitu pemalas dan tidak mau memperbaiki kondisinya.

ketiga kemiskinan muncul karena perbedaan akses dalam modal. 4. Kualitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktifitanya rendah. Garis kemiskinan adalah suatu ukuran yang menyatakan . dimana antar generasi terjadi ketidakberuntungan yang berulang. kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. 3. pilihan yang salah. kemiskinan yang diakibatkan oleh faktor keturunan. Kedua kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia. belum siap memiliki anak dan sebagainya. Subcultural explanation. Individual explanation. 2. menganggap kemiskinan sebagai produk dari masyarakat yang menciptakan ketidakseimbangan dengan pembedaan status atau hak. yang pada gilirannya upahnya rendah. Penduduk miskin hanya memiliki sumberdaya yang terbatas dan kualitasnya rendah. kemiskinan yang diakibatkan oleh karakteristik perilaku suatu lingkungan yang berakibat pada moral dari masyarakat. 2006) terdapat tiga faktor penyebab kemiskinan jika dipandang dari sisi ekonomi. adanya diskriminasi atau keturunan. gagal dalam bekerja. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini karena rendahnya pendidikan. kemiskinan yang diakibatkan oleh karakteristik orang miskin itu sendiri: malas. salah satunya adalah garis kemiskinan. cacat bawaan. Menurut Sharp (dalam mudrajat Kuncoro. Familial explanation. Structural explanations. nasib yang kurang beruntung. Pertama. terutama akibat pendidikan.19 1. Banyak ukuran yang menentukan angka kemiskinan.

dan cakupan jaminan sosial bagi rumah tangga miskin masih jauh dari memadai. Bantuan sosial kepada masyarakat miskin. Penduduk miskin di daerah pedesaan pada tahun 2006 diperkirakan lebih tinggi dari penduduk miskin di daerah perkotaan. air minum dan sanitasi. sehingga garis kemiskinan dapat digunakan untuk mengukur dan menentukan jumlah kemiskinan.20 besarnya pengeluaran (dalam rupiah) untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum makanan dan kebutuhan non makanan. 2008) adalah pemerataan pembangunan yang belum menyebar secara merata terutama di daerah pedesaan. Garis kemiskinan digunakan untuk mengetahui batas seseorang dikatakan miskin atau tidak. batas garis kemiskinannya yaitu sebesar 181. Untuk provinsi Jawa Tengah. menurut laporan Badan Pusat Statistik melalui data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2008. . Gizi buruk masih terjadi di lapisan masyarakat miskin.2008). penyebab kemiskinan (dikutip dari Deny Tisna. pelayanan bantuan kepada masyarakat rentan (seperti penyandang cacat. serta transportasi. Penyebab yang lain adalah masyarakat miskin belum mampu menjangkau pelayanan dan fasilitas dasar seperti pendidikan. atau standar yang menyatakan batas seseorang dikatakan miskin bila dipandang dari sudut konsumsi. lanjut usia. kesehatan.877 rupiah (BPS. Hal ini disebabkan terutama oleh cakupan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin yang belum memadai. Menurut Rencana Kerja Pemerintah Bidang Prioritas Penanggulangan Kemiskinan. Kesempatan berusaha di daerah pedesaan dan perkotaan belum dapat mendorong penciptaan pendapatan bagi masyarakat terutama bagi rumah tangga miskin. dan yatim-piatu).

Melakukan pemetaan kemiskinan yaitu langkah awal dalam upaya penanggulangan kemiskinan yaitu mengenali karakteristik dari penduduk yang miskin sehingga diperlukan pemetaan kemiskinan yang digunakan sebagai alat untuk memecahkan persoalan yang mereka alami. meningkatkan disiplin dan tanggung jawab. . serta perbaikan kemampuan dalam penguasaan IPTEK. Melakukan program pembangunan wilayah seperti Inpres dan transmigrasi serta memberikan pelayanan perkreditan melalui lembaga perkreditan pedesaan seperti BKD dan KCK – KUD. Memberdayakan kelompok miskin yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia penduduk miskin dengan meningkatkan etos kerja. 4. 2. Menerapkan kebijakan ekonomi moral yaitu pengembangan sistem ekonomi moral sangat diperlukan sehingga tidak semata-mata mengejar keuntungan tetapi harus adil.21 Pemerintah telah mempersiapkan beberapa program prioritas penanggulangan kemiskinan dalam tahun 2007 didukung oleh beberapa program prioritas lain. 3. antara lain: 1. sehingga dibutuhkan keadilan ekonomi yang bersumber pada Pancasila bukan pada ekonomi modern yang tidak sesuai dengan budaya bangsa. perbaikan konsumsi dan peningkatan gizi.

22 2. Rendahnya sumberdaya perkapita akan menyebabkan penduduk tumbuh lebih cepat.1. karena hasil yang menurun dari faktor produksi tanah. Sementara itu pada saat yang sama. maka pendapatan perkapita (dalam masyarakat tani didefinisikan sebagai produksi pangan perkapita) akan cenderung turun menjadi sangat rendah. Banyak negara dimana penduduknya masih sangat tergantung dengan sektor pertanian. pertumbuhan penduduk mengancam keseimbangan . atau hanya sedikit diatas tingkat subsiten Menurut Maier (dikutip dari Mudrajat Kuncoro. yang gilirannya membuat investasi dalam “kualitas manusia” semakin sulit. yang menyebabkan jumlah penduduk tidak pernah stabil.2 Pertumbuhan Penduduk Menurut Maltus (dikutip dalam Lincolin Arsyad. persediaan pangan hanya tumbuh menurut deret hitung. 1997) kecenderungan umum penduduk suatu negara untuk tumbuh menurut deret ukur yaitu dua-kali lipat setiap 30-40 tahun. cadangan devisa. Pertumbuhan penduduk yang tinggi akan dibutuhkan untuk membuat konsumsi dimasa mendatang semakin tinggi. namun juga semakin membuat kendala bagi pengembangan tabungan. 1997) dikalangan para pakar pembangunan telah ada konsensus bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berdampak buruk terhadap suplai bahan pangan. 1. Terdapat tiga alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memperlambat pembangunan. 2. dan sumberdaya manusia. Oleh karena pertumbuhan persediaan pangan tidak bisa mengimbangi pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dan tinggi.

23

antara sumberdaya alam yang langka dan penduduk. Sebagian karena pertumbuhan penduduk memperlambat perpindahan penduduk dari sektor pertanian yang rendah produktifitasnya ke sektor pertanian modern dan pekerjaan modern lainnya. 3. Pertumbuhan penduduk yang cepat membuat semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan ekonomi dan sosial. Tingginya tingkat kelahiran merupakan penyumbang utama pertumbuhan kota yang cepat. Bermekarannya kota-kota di NSB membawa masalah-masalah baru dalam menata maupun mempertahankan tingkat kesejahteraan warga kota.

Todaro (2000) menyatakan bahwa dalam perhitungan indek kemiskinan dengan pengukuran indeks Foster Greer Thorbecke yang sering disebut juga sebagai kelas Pα dari ukuran kemiskinan yaitu dirumuskan sebagai berikut: 1 Pα = N Yp ............................................................ (2.1)

Dimana Yi adalah pendapatan dari orang miskin yang ke-i, Yp adalah garis kemiskinan dan N adalah jumlah penduduk. Indeks Pα mempunyai bentuk yang berbeda-beda, tergantung pada nilai α. Jika α=0, maka pembilangnya sama dengan H, dan akan diperoleh ratio headcount H/N. Jika α=1, maka akan diperoleh jurang kemiskinan yang dinormalisasi.

24

Menurut Nelson dan Leibstein (dikutip dari Sadono Sukirno, 1983) terdapat pengaruh langsung antara pertambahan penduduk terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Nelson dan Leibstein menunjukan bahwa pertumbuhan penduduk yang pesat di negara berkembang menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat tidak mengalami perbaikan yang berarti dan dalam jangka panjang akan mengalami penurunan kesejahteraan serta meningkatkan jumlah penduduk miskin.

25

Gambar 2.1 Pengaruh Pertumbuhan Penduduk Terhadap Tingkat Kesejahteraan Menurut Nelson Dan Leibstein
% Pertambahan Penduduk

(2.1a) P P 0 Ya Y0
Pendapatan Per Kapita

% Penanaman modal Per kapita

I

(2.1b)

0 Ya
% Pertambahan Penduduk dan Pendapatan

Pendapatan Per Kapita

Y0

(2.1c) P Y 0 Ya Y0 Yb Yc
Pendapatan Per Kapita

Sumber: Sadono Sukirno, 1983

2. 2. laju pertumbuhan perkapita dalam arti nyata (riil). 3. institusional (kelembagaan). persebaran atau distribusi angkatan kerja menurut sektor kegiatan produksi yang menjadi sumber nafkahnya.3 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Prof. pola persebaran penduduk. dan ideologi terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada. Hal tersebut menjadikan pertumbuhan ekonomi dicirikan dengan 3 hal pokok. . Simon Kuznets (dikutip dari Budiono.1b) menunjukan hubungan antara pendapatan perkapita dan tingkat penanaman modal perkapita.1a) menunjukan hubungan diantara pendapatan perkapita dan tingkat pertumbuhan penduduk. dan gambar (2. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian teknologi.26 Berdasarkan gambar (2. selain itu juga menunjukan hubungan pertambahan pendapatan nasional dan pendapatan perkapita.1. Sedangkan gambar (2.1) di atas bahwa sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang pesat dalam jangka panjang tingkat pendapatan perkapita akan kembali mencapai nilai yang sama dengan tingkat pendapatan cukup hidup.1999) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. antara lain: 1. Gambar (2.1c) menunjukkan hubungan antara pendapatan perkapita dan tingkat pertumbuhan penduduk.

Dikatakan tumbuh bila dalam jangka waktu yang lama (5 tahun atau lebih) mengalami kenaikan output per kapita. 3. Menurut Todaro (dikutip dari Tambunan. Akan tetapi. pembangunan yang dilakukan pada negara yang sedang berkembang sering mengalami dilema antara . 2001) sampai akhir tahun 1960. sasaran utama dalam pembangunan ekonomi lebih ditekankan pada usaha-usaha pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. output per kapita.27 Boediono (1999) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah salah satu proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dimana penekanannya pada 3 aspek. antara lain: 1. para ahli ekonomi percaya bahwa cara terbaik untuk mengejar keterbelakangan ekonomi adalah dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi setinggitingginya sehingga dapat melampaui tingkat pertumbuhan penduduk. jangka waktu. angka pendapatan per kapita akan meningkat sehingga secara otomatis terjadi pula peningkatan kemakmuran masyarakat dan pada akhirnya akan mengurangi jumlah penduduk miskin. Dengan cara tersebut. Akibatnya. yaitu kenaikan output per kapita selama 1 – 2 tahun lalu diikuti penurunan output per kapita bukan merupakan pertumbuhan ekonomi. 2. yaitu pertumbuhan ekonomi bukan merupakan suatu gambaran dari suatu perekonomian yang melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. yaitu pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan adanya kenaikan output per kapita dalam hal ini ada dua unsur yang penting seperti output total dan jumlah penduduk. proses.

.28 pertumbuhan dan pemerataan............. Lucas menyatakan bahwa .. Model solow dapat diperluas sehingga mencakup sumberdaya alam sebagai salah satu input......(2................ teori pertumbuhan seperti ini terkategori sebagai pertumbuhan endogen dengan pionirnya Lucas dan Romer... F (K...... Robert Solow mengemukakan model pertumbuhan ekonomi yang disebut model pertumbuhan Solow... Dasar pemikirannya yaitu output nasional tidak hanya dipengaruhi K dan L tapi juga dipengaruhi oleh lahan pertanian atau sumberdaya alam lainnya seperti cadangan minyak........ Perluasan model solow lainnya adalah dengan memasukkan sumberdaya manusia sebagai modal (Human Capital)...... Oleh karena itu pertumbuhan perekonomian nasional dapat berasal dari pertumbuhan input dan perkembangan kemajuan teknologi yang disebut juga pertumbuhan total faktor produktivitas. Dalam literatur.... K adalah modal (kapital) fisik. Pembangunan ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil....2) Dimana Y adalah output nasional (kawasan)..L) . L adalah tenaga kerja dan A merupakan teknologi. Model tersebut berangkat dari fungsi produksi agregat sebagai berikut: Y = A .............. tetapi juga siapa yang melaksanakan dan berhak menikmati hasilnya... Namun yang menjadi permasalahan bukan hanya soal bagaimana cara memacu pertumbuhan..... Y juga akan meningkat jika terjadi perkembangan dalam kemajuan teknologi yang terindikasi dari kenaikan A.... Faktor yang mempengaruhi pengadaan modal fisik adalah investasi.

H... H adalah sumberdaya manusia yang merupakan akumulasi dari pendidikan dan pelatihan.... al...... Dengan kata lain. atau kota.... Menurut Mankiw et. yaitu dari .. sedangkan Romer berpandangan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh tingkat modal manusia melalui pertumbuhan teknologi..3) Pada persamaan diatas..... Sehingga dapat di simpulkan bahwa apabila pertumbuhan ouput meningkat yang dipengaruhi investasi terhadap sumberdaya manusia maka dapat menurunkan kemiskinan..L) .. kabupaten............ maka kemiskinan akan berkurang.. Suatu negara yang memberikan perhatian lebih kepada pendidikan terhadap masyarakatnya ceteris paribus lebih baik daripada yang tidak melakukannya........... termasuk terhadap golongan berpendapatan rendah.........29 akumulasi modal manusia. Kuncoro (2004) menyatakan bahwa pendekatan pembangunan tradisional lebih dimaknai sebagai pembangunan yang lebih memfokuskan pada peningkatan PDRB suatu provinsi. investasi terhadap sumberdaya manusia melalui kemajuan pendidikan akan menghasilkan pendapatan nasional atau pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Sedangkan pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)...... Apabila investasi tersebut dilaksanakan secara relatif merata.. Saat ini umumnya PDRB baru dihitung berdasarkan dua pendekatan.... sebagaimana akumulasi modal fisik menentukan pertumbuhan ekonomi. (1992) kontribusi dari setiap input pada persamaan tersebut terhadap output nasional bersifat proporsional.......... F (K... Secara sederhana dengan demikian fungsi produksi agregat dapat dimodifikasi menjadi sebagai berikut: Y = A ..... (2.

Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Badan Pusat Statistik (BPS) didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah. atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah. Total PDRB menunjukkan jumlah seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh penduduk dalam periode tertentu.30 sisi sektoral / lapangan usaha dan dari sisi penggunaan. Selanjutnya PDRB juga dihitung berdasarkan harga berlaku dan harga konstan. Untuk lebih jelas dalam menghitung angka-angka Produk Domestik Regional Bruto ada tiga pendekatan melakukan suatu penelitian : yang cukup kerap digunakan dalam . sedangkan menurut BPS Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku digunakan untuk menunjukkan besarnya struktur perekonomian dan peranan sektor ekonomi. 2005:56). Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun (Sadono Sukirno. sedang Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai dasar dimana dalam perhitungan ini digunakan tahun 1993.

Surplus usaha meliputi bunga yang dibayarkan neto. Produk Domestik Regional Bruto adalah menghitung nilai tambah dari barang dan jasa yang diproduksikan oleh suatu kegiatan ekonomi di daerah tersebut dikurangi biaya antara masingmasing total produksi bruto tiap kegiatan subsektor atau sektor dalam jangka waktu tertentu. Hal ini disebabkan kurang lengkapnya data dan tidak adanya metode yang akurat yang dapat dipakai dalam mengukur nilai produksi dan biaya antara dari berbagai kegiatan jasa.31 1. 3. Jika dilihat dari . 2005:24). Menurut pendekatan Pengeluaran Pendekatan dari segi pengeluaran adalah menjumlahkan nilai penggunaan akhir dari barang dan jasa yang diproduksi di dalam negri. tetapi tidak dibayar setara harga pasar. Menurut pendekatan Pendapatan Dalam pendekatan pendapatan. 2. nilai tambah dari setiap kegiatan ekonomi diperkirakan dengan menjumlahkan semua balas jasa yang diterima faktor produksi. Menurut pendekatan Produksi Dalam pendekatan produksi. penyusutan. Metode pendekatan pendapatan banyak dipakai pada sektor jasa. yaitu upah dan gaji dan surplus usaha. surplus usaha tidak diperhitungkan. sewa tanah. dan keuntungan. dan pajak tidak langsung neto. terutama kegiatan yang tidak mengutip biaya (Robinson Tarigan. misalnya sektor pemerintahan. Nilai tambah merupakan selisih antara nilai produksi dan nilai biaya antara yaitu bahan baku/penolong dari luar yang dipakai dalam proses produksi (Robinson Tarigan. 2005:24).pada sektor pemerintahan dan usaha yang sifatnya tidak mencari untung.

yaitu : 1. Nilai yang ditambahkan ini sama dengan balas jasa atas ikut sertanya factor produksi dalam proses produksi. perubahan stok dam ekspor neto. dalam dua .32 segi penggunaan maka total penyediaan/produksi barang dan jasa itu digunakan untuk konsumsi rumah tangga. konsumsi pemerintah. pembentukan modal tetap bruto (investasi). Dari perhitungan ini tercermin tingkat kegiatan ekonomi yang sebenarnya melalui Produk Domestik Regional Bruto riilnya. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan Menurut BPS pengertian Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan yaitu jumlah nilai produksi atau pengeluaran atau pendapatan yang dihitung menurut harga tetap. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku Pengertian Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku menurut BPS adalah jumlah nilai tambah bruto yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah. Dengan cara menilai kembali atau mendefinisikan berdasarkan harga-harga pada tingkat dasar dengan menggunakan indeks harga konsumen. Cara penyajian Produk Domestik Regional Bruto disusun bentuk. Yang dimaksud nilai tambah yaitu merupakan nilai yang ditambahkan kepada barang dan jasa yang dipakai oleh unit produksi dalam proses produksi sebagai input antara. 2. konsumsi lembaga swasta yang tidak mencari untung.

Jika dunia pendidikan suatu bangsa sudah jeblok. maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu.1.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan.4 Pendidikan Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa. Bahkan. ada satu unsur kunci yaitu pendidikan. Karena itu. pendidikan di Indonesia selalu terbentur oleh tiga realitas (Winardi. Untuk memutus rantai sebab akibat diatas. Karena pendidikan adalah sarana menghapus kebodohan sekaligus kemiskinan. Misalnya. Henry Cisneros. ada kecemasan yang sangat mencolok dengan kondisi sumber daya manusia (SDM) ini. setiap bangsa yang ingin maju maka pembangunan dunia pendidikan selalu menjadi prioritas utama. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jati diri manusia suatu bangsa. pernah mengemukakan bahwa dia khawatir tentang masa depan Amerika Serikat dengan banyaknya penduduk .33 2. Kepedulian pemerintah yang bisa dikatakan rendah terhadap pendidikan yang harus kalah dari urusan yang lebih strategis yaitu Politik. Amerika serikat. Sehingga. Menteri Perkotaan di era Bill Clinton. 2010 dalam http://andalas van java online. Jika melihat negara lain.com) a) Pertama. pendidikan dijadikan jargon politik untuk menuju kekuasaan agar bisa menarik simpati di mata rakyat. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis. Namun ironisnya. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan. Sebab.

rakyat tidak bisa lagi mengenyam pendidikan tinggi dan itu berakibat menurunnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Dan di Indonesia. tidak heran jika tenaga kerja di Indonesia banyak yang berada di sektor informal akibat kualitas sumber daya manusia yang rendah. Menurut Marshal (dalam Tulus Tambunan. Akhirnya. dan harus kalah dari dimensi yang lain. Di era globalisasi dan kapitalisme ini. penjajahan ini tentu tidak terlepas dari unsur ekonomi. penjajahan terselubung. Akibatnya. b) Kedua. dan ini salah satunya karena biaya pendidikan . bahkan ada kecenderungan untuk meng- anaktirikannya. dapat dilihat adanya pengabaian sistematis terhadap kondisi pendidikan. karena masyarakat Hispanik cuma satu diantara banyak etnis di Amerika Serikat. pendidikan pun tidak luput dari usaha privatisasi ini. namun penuh makna. ada sebuah penjajahan terselubung yang dilakukan negara-negara maju dari segi kapital dan politik yang telah mengadopsi berbagai dimensi kehidupan di negara-negara berkembang. Dari sini pendidikan semakin mahal yang tentu tidak bisa di jangkau oleh rakyat. Bahkan.34 keturunan Hispanik dan kulit hitam yang buta huruf dan tidak produktif. 1997) bahwa suatu bangsa tidak mungkin memiliki tenaga kerja bertaraf internasional jika seperempat dari pelajarnya gagal dalam menyelesaikan pendidikan menengah. badan atau organisasi donor pun mengintervensi secara langsung maupun tidak terhadap kebijakan ekonomi suatu bangsa. Dengan hutang negara yang semakin meningkat. Sehingga. Umumnya. terjadilah privatisasi di segala bidang. Kecemasan yang sederhana.

dan kemudian menjadi bodoh serta kemiskinan pun kembali menjerat.35 yang memang mahal. kemiskinan menjadi sebuah reproduksi sosial. Tentu hal ini tidak terlepas dari kondisi bangsa yang tengah dilanda krisis multidimensi sehingga harapan rakyat akan kehidupannya menjadi rendah. Hal ini akan berdampak pada kekurangannya respek terhadap dunia pendidikan. Akibatnya. Sehingga. karena mereka lebih mementingkan urusan perut daripada sekolah. Bisa dikatakan. . Akhirnya. dan kemiskinan pun akan mengiringi. kebodohan akan menghantui. terbentuklah link up sistem pendidikan. telah terjadi deprivasi relatif ( istilah Karl Marx yang di populerkan Ted R. Buruh murah ini merupakan hasil dari adanya privatisasi ( otonomi kampus ).yang membuat pendidikan tidak lagi bisa dijangkau rakyat. c) Ketiga adalah kondisi masyarakat sendiri yang memang tidak bisa mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan yang ada. dimana dari kemiskinan akan melahirkan generasi yang tidak terdidik akibat kurangnya pendidikan. dimana pendidikan hanya mampu menyediakan tenaga kuli dengan kemampuan minim.Gurr ) dalam diri masyarakat. Apa lagi ditengah iklim investasi global yang menuntut pemerintah memberikan kerangka hukum yang dapat melindungi Investor dan juga buruh murah.

2. adalah mereka yang secara nominal bekerja penuh namun produktivitasnya rendah sehingga . menurut Sadono Sukirno (2000) pengangguran biasanya dibedakan atas 3 jenis berdasarkan keadaan yang menyebabkannya. Oleh sebab itu. Menurut Edwards. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh kelebihan pengangguran alamiah dan berlaku sebagai akibat pengurangan dalam permintaan agregat. antara lain: 1. Pengangguran friksional. Setengah pengangguran (under unemployment). Pengangguran terbuka (open unemployment). 1974 (dikutip dari Lincolin.1. yang dimaksudkan dengan pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan struktur dalam perekonomian.5 Pengangguran Dalam standar pengertian yang sudah ditentukan secara internasional. tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya. Pengangguran konjungtur. Pengangguran struktural. 3.1997). 2. bentuk-bentuk pengangguran adalah: 1.36 2. adalah mereka yang mampu dan seringkali sangat ingin bekerja tetapi tidak tersedia pekerjaan yang cocok untuk mereka. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh tindakan seseorang pekerja untuk meninggalkan kerjanya dan mencari kerja yang lebih baik atau sesuai dengan keinginannya.

Jika rumah tangga tidak menghadapi batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini tidak terlalu dipengaruhi oleh pendapatan saat ini. Tingkat pengangguran terbuka sekarang ini yang ada di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia rata-rata sekitar 10 persen dari seluruh angkatan kerja di . antara lain: 1. adalah mereka yang mungkin bekerja penuh tetapi intensitasnya lemah karena kurang gizi atau penyakitan. 3. 4.37 pengurangan dalam jam kerjanya tidak mempunyai arti atas produksi secara keseluruhan. maka peningkatan pengangguran akan menyebabkan peningkatan kemiskinan dalam jangka panjang. Tenaga kerja yang tidak produktif. pengangguran dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan dengan berbagai cara. Jika rumah tangga memiliki batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini sangat dipengaruhi oleh pendapatan saat ini. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di negara yang sedang berkembang menjadi semakin serius. maka bencana pengangguran akan secara langsung mempengaruhi income poverty rate dengan consumption poverty rate. adalah mereka yang mampu bekerja secara produktif tetapi tidak bisa menghasilkan sesuatu yang baik. tetapi tidak terlalu berpengaruh dalam jangka pendek. 2. Tenaga kerja yang lemah (impaired). Menurut Tambunan (2001).

Mereka menolak pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka (Lincolin Arsyad.38 perkotaan. Namun demikian. Hal ini karena kadangkala ada pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. Mereka yang bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara kelompok masyarakat kelas menengah ke atas. Bagi sebagian besar mereka. tingkat pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah kesempatan kerja di negara yang sedang berkembang yang bagaikan ujung sebuah gunung es. Ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran. kondisi seperti ini membawa dampak bagi terciptanya dan membengkaknya jumlah kemiskinan yang ada. Apabila mereka tidak bekerja konsekuensinya adalah mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan baik. Namun demikan. 1997) Di samping penjelasan tersebut. yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap atau hanya bekerja paruh waktu (part time) selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. Masalah ini dipandang lebih serius lagi bagi mereka yang berusia antara 15 . dan distribusi pendapatan yang tidak merata. adalah salah jika beranggapan bahwa setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin.24 tahun yang kebanyakan mempunyai pendidikan yang lumayan. sedang yang bekerja secara penuh adalah orang kaya. luasnya kemiskinan. salah satu mekanisme pokok untuk mengurangi kemiskinan dan ketidakmerataan distribusi pendapatan di negara .

39 sedang berkembang adalah memberikan upah yang memadai dan menyediakan kesempatan kerja bagi kelompok masyarakat miskin (Lincolin Arsyad. 1997). maka insiden pengangguran akan dengan mudah menggeser posisi mereka menjadi kelompok masyarakat miskin. Hal tersebut menunjukkan ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dengan luasnya kemiskinan. Besarnya dampak krisis terhadap kemiskinan yang menyebabkan menjamurnya insiden kebangkrutan sebagai akibat tekanan pada kesempatan kerja di sektor informal perkotaan semakin besar. Pada negara yang sedang berkembang bukan saja menghadapi kemerosotan dalam ketimpangan relatif tetapi juga masalah kenaikan dalam kemiskinan dan tingkat pengangguran. serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak . melemahnya perlindungan terhadap aset usaha. perbedaan upah. terbatasnya peluang mengembangkan usaha. Lebih jauh. Hilangnya lapangan pekerjaan menyebabkan berkurangnya sebagian besar penerimaan yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Dian Octaviani (2001) menyatakan bahwa sebagian rumah tangga di Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar atas pendapatan gaji atau upah yang diperoleh saat ini. Besarnya dimensi kemiskinan tercermin dari jumlah penduduk yang tingkat pendapatan atau konsumsinya berada di bawah tingkat minimum yang telah ditetapkan. Masyarakat miskin pada umumnya menghadapi permasalahan terbatasanya kesempatan kerja. jika masalah pengangguran ini terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah (terutama kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan sedikit berada di atas garis kemiskinan).

Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat miskin dalam rangka mengembangkan kemampuan kerja dan berusaha.2 Pengaruh Variabel Independen terhadap Variabel Dependen 2.1 Pengaruh PDRB terhadap Tingkat Kemiskinan Menurut Todaro (dikutip dari Tambunan. dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). tetapi juga siapa yang melaksanakan dan berhak menikmati hasilnya. Meningkatkan kemitraan global dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan perlindungan kerja. 4. 3. Rencana tersebut antara lain: 1.40 dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumah tangga. Namun yang menjadi permasalahan bukan hanya soal bagaimana cara memacu pertumbuhan. 2. 2001) pembangunan ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil. Meningkatkan perlindungan terhadap buruh migran di dalam dan luar negeri. pemerintah telah merumuskan berbagai rencana untuk memenuhi hak masyarakat miskin atas pekerjaan dan pengembangan usaha yang layak guna mengurangi tingkat pengangguran.2. . Oleh sebab itu. Meningkatkan efektifitas dan kemampuan kelembagaan pemerintah dalam menegakkan hubungan industrial yang manusiawi. 2.

Menurut Sadono Sukirno (2000). pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat. tetapi harus memperhatikan sejauh mana distribusi pendapatan telah menyebar ke lapisan masyarakat serta siapa yang telah menikmati hasil-hasilnya. karena pada tahap awal proses pembangunan tingkat kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang. Selanjutnya menurut penelitian Deni Tisna (2008) menyatakan bahwa PDRB sebagai indikator pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap kemiskinan.41 Menurut Kuncoro (2001) pendekatan pembangunan tradisional lebih dimaknai sebagai pembangunan yang lebih memfokuskan pada peningkatan PDRB suatu provinsi. 2001). kabupaten.2. Menuru Kuznet (dikutip dari Tulus Tambunan. atau kota. Sehingga menurunnya PDRB suatu daerah berdampak pada kualitas dan pada konsumsi rumah tangga.2 Pengaruh Pendidikan terhadap Kemiskinan . laju pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil. Selanjutnya pembangunan ekonomi tidak semata-mata diukur berdasarkan pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) secara keseluruhan. banyak rumah tangga miskin terpaksa merubah pola makanan pokoknya ke barang paling murah dengan jumlah barang yang berkurang. Dan apabila tingkat pendapatan penduduk sangat terbatas. 2.

akan mempunyai perbedaan pendapatan 300 persen sampai dengan 800 persen.42 Todaro (1994) menyatakan bahwa selama beberapa tahun. Selain itu pendidikan dan distribusi pendapatan adalah mempunyai korelasi yang positif dengan penghasilannya selama hidup seseorang. Yang mana pendidikan mamainkan peranan kunci dalam membentuk kemampuan sebuah negara dalam menyerap teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan. produsen atau warganegara. dan memberi pilihan kepada penduduk apakan berperan sebagai konsumen. dengan tenaga kerja yang hanya menyelesaikan sebagian ataupun seluruh pendidikan tingkat sekolah . dampak pendidikan atas distribusi pendapatan dan usaha menghilangkan kemiskinan absolut sebagian besar telah dilupakan. produktifitas tenaga kerja. Gaiha (1993) menjelaskan bahwa pendidikan berperan penting dalam kesejahteraan seseorang dengan berbagai cara yang berbeda. dan tingkat output. Selanjutnya Todaro (2000) menyatakan bahwa pendidikan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar. baik di negara-negara maju maupun di negaranegara sedang berkembang. Hal ini tidak mengherankan karena. memperdalam pemahaman akan perekonomian. Pendidikan dapat meningkatkan kemampuan penduduk untuk memperoleh dan menggunakan informasi. sebagian besar penelitian dibidang ilmu ekonomi. memperluas produktifitas. Akibatnya. menitik beratkan pada keterkaitan antara pendidikan. Korelasi ini dapat dilihat terutama pada seseorang yang dapat menyelasaikan sekolah tingkat lanjutan dan universitas. sasaran utama pembangunan di tahun 1950-an dan 1960-an adalah mamaksimumkan tingkat pertumbuhan output total.

2. 1994). Sedangkan orang miskin tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi seperti sekolah lanjutan dan universitas.3 Pengaruh Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan Lincolind Arsyad (1997) menyatakan bahwa ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan.43 dasar. pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau hanya part-time selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. Masyarakat yang bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara kelompok masyarakat kelas menengah keatas. Karena tingkat penghasilan sangat dipengaruhi oleh lamanya tahun memperoleh pendidikan. Tetapi pendidikan tinggi hanya mampu dicapai oleh orang kaya. Dimana digambarkan dengan seorang miskin yang mengharapkan pekerjaaan baik serta penghasilan yang tinggi maka harus mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi. Sehingga tingkat pendidikan sangat berpengaruh dalam mengatasi masalah kemiskinan. dan tingkat inflasi. Menurut Simmons (dikutip dari Todaro. Bagi sebagian besar masyarakat. Setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin. 2. PDRB. Dalam penelitian Hermanto dan Dwi (2006) dihasilkan bahwa pendidikan mempunyai pengaruh paling tinggi terhadap kemiskinan dibandingkan variabel pembangunan lain seperti jumlah penduduk. jelas ketimpangan pendapatan yang besar tersebut akan semakin besar. sedangkan yang bekerja secara penuh .

banyaknya induvidu yang mungkin bekerja secara penuh per hari.3 Penelitian Terdahulu . Dian Octaviani (2001) mengatakan bahwa sebagian rumah tangga di Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar atas pendapatan gaji atau upah yang diperoleh saat ini. Lebih jauh. Karena kadangkala ada juga pekerja diperkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik dan yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya.44 adalah orang kaya. Banyak pekerja yang mandiri disektor informal yang bekerja secara penuh tetapi mereka sering masih tetap miskin. Hilangnya lapangan pekerjaan menyebabkan berkurangnya sebagian besar penerimaan yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Orang-orang seperti ini bisa disebut menganggur tetapi belum tentu miskin. Mereka menolak pekerjaan-pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber-sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka. maka insiden pengangguran akan dengan mudah menggeser posisi mereka menjadi kelompok masyarakat miskin. tetapi tetap memperoleh pendapatan yang sedikit. 2. Yang artinya bahwa semakin tinggi tingkat pengganguran maka akanmeningkatkan kemiskinan. Sama juga halnya adalah. jika masalah pengangguran ini terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah (terutama kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan sedikit berada di atas garis kemiskinan).

antara lain: a) Penelitian yang dilakukan oleh Dian Octaviani (2001) dengan judul “Inflasi. b) Penelitian yang dilakukan oleh Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti (2006) dengan judul “Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap . yaitu : Pt = β0 + β1 (P/Y)T + β2 ρT + β3 µt + β4 Gt + εt Dimana: Pt = tingkat kemiskinan agregat pada tahun ke t diukur dengan indeks FGT (P/Y)t = rasio garis kemiskinan terhadap pendapatan rata-rata ρT = tingkat inflasi µt = tingkat pengangguran Gt = rasio gini εt = error term Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kenaikan angka pengangguran mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. sebaliknya semakin kecil angka pengangguran akan menyebabkan semakin rendahnya tingkat kemiskinan di Indonesia. Pengangguran. Tulisannya menganalisis tentang pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri yang dikemukakan oleh Cutler dan Katz (1991). dan Kemiskinan di Indonesia: Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke”.45 Beberapa penelitian tentang kemiskinan di berbagai negara telah dilakukan oleh sejumlah peneliti.

kenaikan Share .46 Penurunan Jumlah Penduduk Miskin”. kenaikan Inflasi mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. Analisis yang dilakukan adalah analisis Deskriptif dan ekonometrika dengan menggunakan metode Panel Data. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri sebagi berikut: Poverty = β0 + β1 PDRB + β2 Populasi + β3 Agrishare + β4 Industrieshare + β5 Inflasi + β6 SMP + β7 SMA + β8 DIPLOMA + β9 Dummy Krisis + ε Dimana: Poverty PDRB Agrishare = Tingkat kemiskinan = Pendapatan PDRB = Pangsa sektor pertanian dalam PDRB Industrieshare = Pangsa sektor industri dalam PDRB Inflasi SMP SMA DIPLOMA = Tingkat inflasi = jumlah lulusan setingkat SMP = jumlah lulusan setingkat SMA = jumlah lulusan setingkat Diploma Dummy Krisis = dummy krisis ekonomi Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kenaikan PDRB mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. Tulisannya menganalisis tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia. kenaikan Jumlah Penduduk mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan.

Analisis yang dilakukan adalah analisis Deskriptif dan ekonometrika dengan menggunakan metode Panel Data. PG) Y it = β0 + β1 X1it + β2 X2it + β3 X3it + Uit dimana: MS GR PDRB = jumlah kemiskinan. pertumbuhan ekonomi. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri sebagi berikut: MS = f (GR. .47 pertanian dan industri mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. dalam hal ini untuk seluruh Provinsi di Indonesia dari tahun 2003 – 2004. Sedangkan kenaikan Dummy krisis mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. Tulisannya meneliti tentang pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan. = variabel ketidakmerataan distribusi pendapatan. Dimana pengaruh tingkat pendidik SMP lebih besar daripada pengaruh share pertanian. c) Penelitian yang dilakukan oleh Deny Tisna Amijaya (2008) dengan judul “Pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan. = variabel tingkat pertumbuhan ekonomi. kenaikan tingkat pendidikan mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. dan pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 20032004”. pertumbuhan ekonomi. dan pengangguran terhadap kemiskinan di Indonesia. PDRB.

d) Penelitian yang dilakukan oleh Usman. Variabel yang dapat . Β3 U = variabel tingkat pengangguran. = time series. = error. sedangkan variabel pengangguran berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel ketidakmerataan distribusi pendapatan berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan. Dimana Analisis tentang variabel-variabel yang berhubungan dengan kemiskinan atau determinan kemiskinan untuk menjawab tujuan dari studi ini dilakukan dengan menggunakan Model Regrasi Logit atau disingkat Model Logit. = konstanta. Tulisannya menganalisis tentang Bagaimana pengaruh penerapan desentralisasi fiskal terhadap determinasi kemiskinan. Sinaga.48 PG i t Β0 Β1. variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. Β2. dan Mermanto Siregar (2009) dengan judul “ Analisis Determinan Kemiskinan Sebelum Dan Sesudah Desentralisasi Fiskal”. = cross section. = koefisien. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa variabel yang dapat menambah kemiskinan berturut-turut dari nilai marginal effect terbesar adalah jumlah anggota rumah tangga. dan kepala keluarga bekerja di bidang pertanian. sumber air yang tidak terlindung. kepala keluarga sebagai buruh tani. Bonar M.

poverty depth dan poverty severity kecuali untuk rumahtangga bukan pertanian golongan atas di desa. kepemilikan aset lahan pertanian. Investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan dapat menurunkan poverty incidence. neraca perdagangan dan konsumsi rumah tangga. bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota. e) Penelitian yang dilakukan oleh Rasidin K. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Peningkatan investasi sumberdaya manusia secara langsung berdampak pada peningkatan produktivitas tenaga kerja yang mendorong pada peningkatan Produk Domestik Bruto Riil. Sinaga (2009) dengan judul “ Dampak Investasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Kemiskinan Di Indonesia: Pendekatan Model Computable General Equilibrium”. Tulisannya menganalisis tentang Bagaimana pengaruh investasi sumberdaya manusia terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan in Indonesia dengan menggunakan kombinasi model Komputasi Keseimbangan umum dan metode FosterGreer-Thorbecke.49 mengurangi kemiskinan adalah kepala rumah tangga yang bekerja. f) Penelitian yang dilakukan oleh Harlem Siahaan (1995) dengan judul “Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945 – 1984”. dan jumlah tahun bersekolah seluruh anggota keluarga. Tulisannya menganalisis tentang pertumbuhan ekonomi yang cepat (dipercepat) pada umumnya berpotensi menciptakan . Sitepul dan Bonar M. yang ditunjukkan oleh peningkatan stok kapital.

Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia maupun perbaikan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut. akan berpotensi menciptakan situasi dan fenomena politik yang tidak menentu karena masalah-masalah ekonomi termasuk pembangunan ekonomi tidaklah tepat jika dilihat dari sudut dan perspektif ekonomi. .50 berbagai bentuk kesenjangan dan permasalahan yang menghasilkan kontradiksi sosial-politik.

pendapatan. Jumlah penduduk. dan pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 2003-2004 Oleh: Deny Tisna Amijaya (2008) Analisis determinan Bagaimana pengaruh • PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kemiskinan. dan Kemiskinan di Indonesia: Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke Oleh: Dian Octaviani (2001) Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin Oleh: Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti (2006) Variabel Tingkat Inflasi. terhadap tingkat kemiskinan • Jumlah Penduduk berpengaruh negatif dan di Indonesia signifikan terhadap kemiskinan. • Krisis berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan Distribusi pendapatan. Pengangguran. 3 4 Pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan. Tingkat Pengangguran. pertumbuhan • Tingkat pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif Pengangguran ekonomi. Bagaimana pengaruh • Ketidakmerataan distribusi pendapatan berpengaruh Pertumbuhan ekonomi ketidakmerataan distribusi positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Inflasi. • Tingkat pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Gini Rasio PERMASALAHAN Bagaimana pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia HASIL PENELITIAN Tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kemiskinan di Indonesia. Share pertanian. Pendidikan. (PDRB). Share industri.TABEL 2. • Share pertanian dan industri berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan.1 RANGKUMAN PENELITIAN TERHADULU No 1 51 2 JUDUL dan PENULIS (Tahun) Inflasi. pertumbuhan ekonomi. terhadap kemiskinan • Tingkat pengangguran berpengaruh positif dan Indonesia 2003–2004 signifikanterhadap tingkat kemiskinan PDRB. • Tingkat Inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. dan pengangguran dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Dummy krisis ekonomi th 1997-1998 Jumlah anggota rumah Bagaimana pengaruh Variabel yang dapat menambah kemiskinan .

Oleh: Rasidin K. yang ditunjukkan oleh Pendekatan Model Computable kemiskinan in Indonesia peningkatan stok kapital. kepala keluarga sebagai buruh tani. Sinaga. Kepemilikan aset lahan pertanian. dan jumlah tahun bersekolah seluruh anggota keluarga Dampak Investasi Sumberdaya Tingkat Pendidikan Bagaimana pengaruh • Peningkatan investasi sumberdaya manusia secara Manusia Terhadap Pertumbuhan ekonomi investasi sumberdaya langsung berdampak pada peningkatan produktivitas Pertumbuhan Ekonomi Dan (PDRB) manusia terhadap tenaga kerja yang mendorong pada peningkatan Kemiskinan Di Indonesia: pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Bruto Riil. akan berbagai bentuk berpotensi menciptakan situasi dan fenomena politik kesenjangan dan yang tidak menentu karena masalah-masalah permasalahan yang ekonomi termasuk pembangunan ekonomi tidaklah menghasilkan kontradiksi tepat jika dilihat dari sudut dan perspektif ekonomi. dan kepala keluarga bekerja di bidang pertanian. dan Mermanto Siregar (2009) Tangga.52 berturut-turut dari nilai marginal effect terbesar adalah jumlah anggota rumah tangga. neraca perdagangan dan General Equilibrium dengan menggunakan konsumsi rumah tangga. bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota kemiskinan sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal 5Oleh: Usman. poverty depth (2009) metode Foster-Greerdan poverty severity kecuali untuk rumahtangga Thorbecke bukan pertanian golongan atas di desa. Bonar M. 5 6 Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945 – 1984 Oleh: Harlem Siahaan (1995) Bagaimana hubungan • Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia maupun pertumbuhan ekonomi yang perbaikan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi cepat (dipercepat) terhadap untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut. kepemilikan aset lahan pertanian. Variabel yang dapat mengurangi kemiskinan adalah kepala rumah tangga yang bekerja. sosial-politik . sumber air yang tidak terlindung. Sitepul dan kombinasi model Komputasi • Investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan Bonar M. Kepala rumah tangga yang bekerja. Sinaga Keseimbangan umum dan dapat menurunkan poverty incidence. Lama pendidikan anggota keluarga penerapan desentralisasi fiskal terhadap determinasi kemiskinan.

pertumbuhan ekonomi dan pengangguran terhadap kemiskinan. Selanjutnya Deni Tisna (2008) dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara ketidakmerataan distribusi pendapatan. pertumbuhan jumlah penduduk. PDRB. pendidikan dan tingkat pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. Sehingga penelitian ini difokuskan pada bagaimana pengaruh Jumlah penduduk. pendidikan dan tingkat pengangguran. Hermanto dan Dwi (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang lazim dipergunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah bahwa kemiskinan dipengaruhi oleh tiga variabel pembangunan ekonomi.4 Kerangka Pemikiran Tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah hingga tahun 2008 masih menduduki peringkat paling tinggi dibanding provinsi-provinsi lainnya di Pulau Jawa. Hal ini merupakan permasalahan mendasar dalam perumusan kebijakan pembangunan daerah. Dengan hasil regresi tersebut diharapkan mendapatkan tingkat signifikansi setiap variabel independen dalam . dimana pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan PDRB. padahal tujuan perencanaan pembangunan yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang nantinya penting dalam mengurangi kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Kemudian variabel-variabel tersebut sebagai variabel independen (bebas) dan bersama-sama. antara lain PDRB. tingkat inflasi dan pendidikan. tingkat share pertanian dan industri. dengan variabel dependen (terikat) yaitu kemiskinan yang diukur dengan alat analisis regresi untuk mendapatkan tingkat signifikansinya.53 2.

Secara skema kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut. Gambar 2.54 mempengaruhi kemiskinan. Selanjutnya tingkat signifikansi setiap variabel independen tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran kepada pemerintah dan pihak yang terkait mengenai penyebab kemiskinan di Jawa Tengah untuk dapat merumuskan suatu kebijakan yang relevan dalam upaya pengentasan kemiskinan.1 Kerangka Pemikiran PDRB PENDIDIKAN KEMISKINAN PENGANGGURAN 2. Supranto. 1997) .5 Hipotesis Hipotesis adalah pendapat sementara dan pedoman serta arah dalam penelitian yang disusun berdasarkan pada teori yang terkait. dimana suatu hipotesis selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menghubungkan dua variabel atau lebih (J.

55

Dengan mengacu pada dasar pemikiran yang bersifat teoritis dan berdasarkan studi empiris yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian dibidang ini, maka akan diajukan hipotesis sebagai berikut : 1. Diduga Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. 2. Diduga pendidikan (melek huruf) berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. 3. Diduga pengangguran berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan.

56

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional Variabel penelitian merupakan construct atau konsep yang dapat diukur

dengan berbagai macam nilai untuk memberikan gambaran yang nyata mengenai fenomena yang diteliti. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. 1. Variabel Dependen Variabel dependen dalam penelitian adalah kemiskinan yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah menurut kabupaten/kota pada tahun 2006-2008. 2. Variabel Independen Variabel independen dalam penelitian ini adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pendidikan dan pengangguran. Langkah berikutnya setelah menspesifikasi variabel-variabel penelitian adalah melakukan pendefinisian secara operasional. Hal ini bertujuan agar variabel penelitian yang telah ditetapkan dapat dioperasionalkan, sehingga memberikan petunjuk tentang bagian suatu variabel dapat diukur.

56

57

Dalam penelitian ini definisi operasional yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Kemiskinan (KM) Kemiskinan berarti sejumlah penduduk yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang telah ditetapkan oleh suatu badan atau orang tertentu dan perhitungan yang dilakukan oleh badan atau organisasi tersebut digunakan sebagai standar perhitungan untuk menentukan jumlah kemiskinan yang ada di suatu daerah. Atau singkatnya, penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, garis kemiskinan yang digunakan adalah garis kemiskinan yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah persentase penduduk miskin tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). 2. PDRB (PDRB) PDRB adalah keseluruhan nilai barang dan jasa yang diproduksi didalam suatu daerah tertentu dalam satu tahun tertentu. Berdasarkan uraiaan yang disampaikan oleh Sadono Sukirno (2000), laju pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan struktur ekonomi berlaku atau tidak, perhitungan PDRB akan ditimbulkan dari suatu daerah ada tiga pendekatan. PDRB yang dimaksud adalah laju PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen).

Pengertian pengangguran terbuka (open unemployment) menurut Edwards (1974) (dalam Lincolin. . 4.58 3. Pengangguran (PG) Pengangguran berarti seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu. penduduk yang merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Sedangkan menurut BPS (Badan Pusat Statisktik) adalah meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan. penduduk yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Data yang digunakan untuk melihat pengangguran adalah pengangguran terbuka di Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). 1997) adalah mereka yang mampu dan seringkali sangat ingin bekerja tetapi tidak tersedia pekerjaan yang cocok untuk mereka. Pendidikan (MH) Pendidikan dalam hal ini diproksi dengan besarnya angka melek huruf. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) melek huruf adalah kemampuan seseorang membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya (selain huruf latin) yang masing-masing merupakan keterampilan dasar yang diajarkan di kelas-kelas awal jenjang pendidikan dasar. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk melek huruf Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya. penduduk yang sedang mempersiapkan suatu usaha.

dokumen-dokumen perusahaan atau organisasi. surat kabar dan majalah. sehingga penelitian pada periode tersebut menarik untuk diamati serta data tersedia pada tahun tersebut.2008 dan deret lintang (cross section) sebanyak 35 data mewakili kabupaten/kota di Jawa Tengah yang menghasilkan 140 observasi. Periode data yang digunakan adalah data tahun 2005 . Data sekunder yaitu data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti. 2005). Data persentase penduduk miskin daerah untuk masing-masing kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . 2. ataupun publikasi lainnya (Marzuki.2008.2008 untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah. Data yang diperlukan adalah: 1. . Data sekunder yang digunakan adalah penggabungan dari deret berkala (time series) dari tahun 2005 . Data laju Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan untuk masing-masing kabupaten/kota Jawa Tengah tahun 2005-2008. Pemilihan periode ini disebabkan karena kemiskinan mengalami fluktuasi dan terjadinya peningkatan PDRB dan diikuti dengan peningkatan pengangguran di tahun 2006. misalnya diambil dari Badan Pusat Statistik.2 Jenis Dan Sumber Data Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder.59 3.

2008. Data laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . Data pengangguran untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . 4. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Data dan Informasi Kemiskinan”.2008.2008. Data pengangguran terbuka untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 .2008. 3.2008. Data pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf untuk masingmasing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . 4. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Jawa Tengah Dalam Angka”. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “PDRB Jawa Tengah”.3 Metode Pengumpulan Data Anto Dajan (2001) Menyatakan bahwa metode pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematis dan standar guna memperoleh data kuantitatif. Adapun sumber data tersebut diatas diperoleh dari: 1. disamping itu metode pengumpulan data memiliki fungsi teknis guna .60 3. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Tengah”. Data pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf untuk masingmasing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . 3. Data persentase penduduk miskin daerah untuk masing-masing kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 .2008. 2.

.. i = 1.4 3.... misalkan pada data cross section. sehingga tidak diperlukan teknik sampling serta kuesioner.1 Metode Analisis Metode Analisis Data Panel Studi ini menggunakan analisis panel data sebagai alat pengolahan data dengan menggunakan program Eviews 6. 2............ unit cross section yang sama di survey dalam beberapa waktu. digunakan buku referensi.... surat kabar.... jurnal..... (3.... .4....... 3. Dalam model panel data....61 memungkinkan para peneliti melakukan pengumpulan data sedemikian rupa sehingga angka-angka dapat diberikan pada obyek yang diteliti... Analisis dengan menggunakan panel data adalah kombinasi antara deret waktu (time-series data) dan kerat lintang (cross-section data). Sebagai pendukung.. serta dari browsing website internet yang terkait dengan masalah kemiskinan... nilai dari satu variabel atau lebih dikumpulkan untuk beberapa unit sampel pada suatu waktu........1) dimana N adalah banyaknya data cross-section Sedangkan persamaan model dengan time-series adalah : . Dalam data panel.... Data yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini sepenuhnya diperoleh melalui studi pustaka sebagai metode pengumpulan datanya. N .. Periode data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tahun 2005 – 2008. Gujarati (2003) menyatakan bahwa untuk menggambarkan data panel secara singkat.... persamaan model dengan menggunakan data cross-section dapat ditulis sebagai berikut : Yi = β0 + β1 Xi + εi .

..... ...................3) i = 1......... T .... dimana dapat menghasilkan ekonometri yang efisien.. .. data lebih informasif. yang tidak dapat diberikan hanya oleh data cross section dan time series daja......... T dimana : N T = banyaknya observasi = banyaknya waktu N × T = banyaknya data panel Menurut Hsiao.......... 2.... t = 1........ .......... maka model dapat ditulis dengan : Yit = β0 + β1 Xit + εit ...... .. c.. data memiliki variabilitas yang besar dan mengurangi kolinearitas antara variabel penjelas......... 2... 1986 (dikutip dari Firmansyah...... Panel data dapat memberikan penyelesaian yang lebih baik dalam inferensi perubahan dinamis dibandingkan data cross section......(3....... 2009) keunggulan penggunaan data panel dibandingkan deret waktu dan kerat lintang adalah : a.......... Dapat memberikan peneliti jumlah pengamatan yang besar. lebih bervariasi.... b...... Dengan panel data.... meningkatkan degrees of freedom (derajat kebebasan). t = 1....(3.......62 Yt = β0 + β1 Xt + εt .. 2....2) dimana T adalah banyaknya data time-series Mengingat data panel merupakan gabungan dari time-series dan cross-section.... N ...

dan pendekatan efek acak (random effect). 2.63 Dalam analisis model panel data dikenal. dua macam pendekatan yang terdiri dari pendekatan efek tetap (fixed effect). Untuk mengatasi hal tersebut. Penambahan variabel boneka ini akan dapat mengurangi banyaknya derajat kebebasan (degree of freedom) yang pada akhirnya akan mengurangi efisiensi dari parameter yang diestimasi. Pendekatan efek tetap (Fixed effect) Salah satu kesulitan prosedur panel data adalah bahwa asumsi intersep dan slope yang konsisten sulit terpenuhi. Model panel data yang di dalamnya melibatkan korelasi antar error term karena berubahnya waktu karena berbedanya observasi dapat diatasi dengan pendekatan model komponen error (error component model) atau disebut juga model efek acak (random effect). yang dilakukan dalam panel data adalah dengan memasukkan variabel boneka (dummy variable) untuk mengizinkan terjadinya perbedaan nilai parameter yang berbeda-beda baik lintas unit (cross section) maupun antar waktu (time-series). Pendekatan efek acak (Random effect) Keputusan untuk memasukkan variabel boneka dalam model efek tetap (fixed effect) tak dapat dipungkiri akan dapat menimbulkan konsekuensi (trade off). Kedua pendekatan yang dilakukan dalam analisis panel data dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Pendekatan dengan memasukkan variabel boneka ini dikenal dengan sebutan model efek tetap (fixed effect) atau Least Square Dummy Variable (LSDV). .

4. apabila kita meyakini bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian tidak diambil secara acak maka kita harus menggunakan fixed effect. dan pendekatan efek acak (random effect) dalam data panel : 1. 3. 3.4. Sebaliknya. Apabila komponen error εi individual berkorelasi maka penaksir random effect akan bias dan penaksir fixed effect tidak bias. Jadi. Pendidikan (MH) dan variabel tingkat pengangguran (PG) terhadap kemiskinan (KM) menggunakan data time-series selama empat tahun . Apabila N besar dan T kecil.2 Estimasi Model Penelitian mengenai pengaruh variabel variabel tingkat pertumbuhan ekonomi (PDRB).64 Menurut Judge ada empat pertimbangan pokok untuk memilih antara menggunakan pendekatan efek tetap (fixed effect). 2. apabila kita meyakini bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian diambil secara acak (random) maka random effect harus digunakan. dan apabila asumsi yang mendasari random effect dapat terpenuhi. maka hasil fixed effect dan random effect tidak jauh berbeda sehingga dapat dipilih pendekatan yang lebih mudah untuk dihitung yaitu fixed effect model (FEM). Apabila N besar dan T kecil. maka random effect lebih efisien dibandingkan fixed effect. maka hasil estimasi kedua pendekatan akan berbeda jauh. Apabila jumlah time-series (T) besar sedangkan jumlah cross-section (N) kecil.

65 yang diwakili data tahunan dari 2005 . c. dimana ada beberapa kemungkinan asumsi yaitu : a. koefisien slope. d. pengaruh variabel variabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu. Koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu dan waktu. dan error term. e. Intersep sebagaimana koefisien slope bervariasi bervariasi antar individu dan waktu. Seluruh koefisien (intersep dan koefisien slope) bervariasi antar individu. Asumsi FEM yang dugunakan dalam penelitian ini adalah asumsi FEM yang kedua. Asumsi bahwa intersep dan koefisien slope adalah konstan antar waktu (time) dan ruang (space) dan error term mencakup perbedaan sepanjang waktu dan individu.2008 dan data cross-section sebanyak 35 data mewakili kabupaten/kota di Jawa Tengah yang menghasilkan 140 observasi. yaitu koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu. Gujarati (2003) menjelaskan bahwa estimasi model regresi panel data dengan pendekatan fixed effect tergantung pada asumsi yang digunakan pada intersep. Pendidikan (MH) dan variabel tingkat pengangguran (PG) terhadap kemiskinan (KM) digunakan asumsi FEM dikerenakan N besar dan T kecil selain itu bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian tidak diambil secara acak maka kita harus menggunakan fixed effect. b. Dalam penelitian ini. Model fungsi yang akan digunakan untuk mengetahui kemiskinan di Jawa Tengah yaitu: .

.................... Β2.66 KM = f (PDRB...linear (log).. .............. = konstanta..........……………………… (3....... = koefisien.......... (3.................. Sehingga persamaan menjadi sebagai berikut: Log KM = β0 + β1 Log PDRB it + β2 Log MH it + β3 LogPG it + Uit ... (3.. Mendekatkan skala data Dalam model penelitian ini logaritma yang digunakan adalah dalam bentuk log .....5) dimana: KM PDRB MH PG i t Β0 Β1... PG) .......... = laju PDRB harga konstan 2000 dalam persen...... 2005) adalah sebagai berikut : a......... = pendidikan atau angka melek huruf dalam persen = pengangguran dalam persen........ Mengetahui koefisien yang menunjukkan elastisitas c... Alasan pemilihan model logaritma natural (Imam Ghozali.....4) KMit = β0 + β1 PDRBit + β2 MHit +β3 PGit+ Uit .….. MH............. Adanya perbedaan dalam satuan dan besaran variabel bebas dalam persamaan menyebabkan persamaan regresi harus dibuat dengan model logaritma natural.. = koefisien... = time series..... Β3 U = persentase kemiskinan dalam persen.. = error. Menghindari adanya heteroskedastisitas b........... = cross section.6) keterangan: log β1 – β5 = log-linear.

Penelitian ini akan menggunakan metode J-B test yang dilakukan dengan menghitung skweness dan kurtosis.. 3.7) Jika nilai J – B hitung > J-B tabel. maka hipotesis yang menyatakan bahwa residual Ut terdistribusi normal ditolak dan sebaliknya... 2002)..1 Pengujian Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi. Model untuk mengetahui uji normalitas adalah: J – B hitung = dimana: S K = Skewness statistik = Kurtosis [ S2/6 + ( k −3 2 ) 24 ] ……………………….67 U = error. maka nilai residual berdistribusi normal.5 3.. ...5... keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak. variabel terikat dan variabel bebas. Model regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi normal atau mendekati normal (Imam Ghozali.. Ada beberapa metode untuk mengetahui normal atau tidak gangguan (µ) antara lain J-B test dan metode grafik. apabila J-B hitung < nilai X² (Chi Square) tabel.. (3..

.… (3. Kriterianya adalah jika R2 regresi persamaan utama ..…...…..........68 3..10) = f (PDRB.. Jika variabel bebas saling berkorelasi... Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol........11) Penelitian ini akan menggunakan Auxiliary Regression untuk mendeteksi adanya multikolinearitas. Salah satu munculnya multikolinearitas adalah R² sangat tinggi dan tidak satupun koefisien regresi yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel tidak bebas secara skolastik.….......2 Uji Multikolinearitas Imam Ghozali (2002) menyatakan bahwa multikolinearitas mempunyai pengertian bahwa ada hubungan linear yang “sempurna” atau pasti diantara beberapa atau semua variabel independen (variabel yang menjelaskan) dari model regresi.. PG) .…………. PG) ….....………………......... maka variabel-variabel ini tidak ortogonal..5.. Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen)......….… (3..…………….. Konsekuensi adanya multikolinearitas adalah koefisien regresi variabel tidak tentu dan kesalahan menjadi tidak terhingga.... Model untuk mengetahui uji multikolinearitas adalah: KM = f (PDRB.........… (3...8) PDRB = f (MH...………….9) MH PG = f (PDRB... MH) ........……… (3. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen... PG) . MH.........

Pengujian menggunakan uji Durbin Watson untuk melihat gejala autokorelasi.69 lebih besar dari R2 regresi auxiliary maka di dalam model tidak terdapat multikolinearitas.3 Uji Autokorelasi Autokerelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data deretan waktu) atau ruang (seperti dalam data cross-sectional.5.1 Kriteria Pengujian Durbin Watson Hipotesis Nol Ada atokorelasi positif Tidak ada autokorelasi positif Ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi Sumber: Imam Gozali. 3. Tabel 3.2002 Keputusan Tolak Tidak ada keputusan Tolak Tidak ada keputusan Jangan tolak Kriteria 0 < d < dl dl < d <du 4-dl < d < 4 4-du < d < 4-dl du < d < 4-du . Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode waktu atau ruang dengan kesalahan pengganggu pada waktu atau ruang (sebelumnya).

1 Aturan Membandingkan Uji Durbin-Watson Dengan Tabel Durbin-Watson Ada autokorelasi positif dan menolak Ho Tidak ada keputusan Tidak ada autokorelasi dan tidak menolak Ho Tidak ada keputusan Ada autokorelasi negatif dan menolak Ho dl du 2 4-du 4-dl 4 Sumber: Imam Gozali.2002 3.4 Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas berarti bahwa variasi residual tidak sama untuk semua pengamatan. Heteroskedastisitas bertentangan dengan salah satu asumsi dasar regresi biar homoskedastisitas yaitu variasi residual sama untuk-semua pengamatan.70 Berdasarkan penjelasan diatas dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 3. Secara ringkas walaupun terdapat heteroskedastisitas maka penaksir OLS (Ordinary Least Square) tetap tidak bias dan konsisten tetapi penaksir tadi tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar (yaitu asimtotik). Menurut Gujarati (1995) bahwa masalah heteroskedastisitas nampaknya menjadi lebih biasa dalam data cross section dibandingkan dengan data time series. .5.

Hipotesis yang digunakan: 1. dan pengujian koefisien determinasi (uji-R2).05 maka tidak ada heterokedastisitas.1 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t) Uji signifikansi parameter individual (uji t) dilakukan untuk melihat signifikansi dari pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak terikat secara individual dan menganggap variabel lain konstan.05 maka ada heterokedastisitas.71 Penelitian ini menggunakan uji Park untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas. Jika t-statistik > t-tabel maka ada heterokedastisitas. Uji statistik terdiri dari pengujian koefisien regresi parsial (uji t). atau Jika nilai Prob > 0. 3. . Ide dasar yang melatarbelakangi pengujian signifikansi adalah uji statistik (estimator) dari distribusi sampel dari suatu statistik dibawah hipotesis nol. jika t-statistik < t-tabel maka tidak ada heterokedastisitas.6. Uji Park pada prinsipnya meregres residual yang dikuadratkan dengan variabel bebas pada model. H0 : b1 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel PDRB dengan kemiskinan. jika nilai Prob < 0. Keputusan untuk mengolah Ho dibuat berdasarkan nilai uji statistik yang diperoleh dari data yang ada. pengujian koefisien regresi secara bersama-sama (uji F). 3.6 Pengujian Kriteria Statistik Gujarati (1995) menyatakan bahwa uji signifikansi merupakan prosedur yang digunakan untuk menguji kebenaran atau kesalahan dari hasil hipotesis nol dari sampel.

.............. SE ( Bi ) (3....... 3.. . H0 : b2 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel melek huruf dengan kemiskinan........... H1 : b3 > 0 ada pengaruh positif antara variabel tingkat pengangguran dengan kemiskinan............... Nilai t hitung dapat dicari dengan rumus: t= Bi − Bi * .. artinya salah satu variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan........... b) Jika t-hitung < t-tabel maka H0 diterima.. artinya salah satu variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.12) dimana: βi βi* = parameter yang diestimasi = nilai hipotesis dari βI (Ho : βI = βi*) SE(βi) = simpangan baku βi Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut: a) Jika t-hitung > t-tabel maka H0 ditolak.. H1 : b2 < 0 ada pengaruh negatif antara variabel melek huruf dengan kemiskinan. 2............................72 H1 : b1 < 0 ada pengaruh negatif antara variabel PDRB dengan kemiskinan........... H0 : b3 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel tingkat pengangguran dengan kemiskinan.

..... b2... Hipotesis yang digunakan: 1. b3 ≠ 0 semua variabel independen mampu mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama Nilai F hitung dirumuskan sebagai berikut: F= R 2 /(k − 1) ...2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat..6........ b3 = 0 semua variabel independen tidak mampu mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama 2....73 3............ H1 : b1...................13) dimana: k = jumlah parameter yang diestimasi termasuk konstanta N = jumlah observasi Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut: .......... H0 : b1. b2......................... 1 − R 2 /( N − l ) (3..

. 3...6....... Nilai (R 2 ) adalah antara nol dan satu.... Nilai yang mendekati satu berarti variabelvariabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen...... Setiap tambahan satu variabel pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen........................ Nilai koefisien determinasi diperoleh dengan formula: R 2 ∑y = ∑y *2 2 ...... banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai adjusted (R 2 ) pada saat mengevaluasi model regresi yang terbaik..... Kelemahan mendasar penggunaan determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model.74 a) H0 diterima dan H1 ditolak apabila F hitung < F tabel..... Oleh karena itu.... yang artinya variabel penjelas secara bersama-sama mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.14) ....... (3........... b) H0 ditolak dan H1 diterima apabila F hitung > F tabel........ Nilai (R 2 ) yang kecil (mendekati nol) berarti kemampuan satu variabel dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas........... yang artinya variabel penjelas secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan...3 Uji Koefisien Determinasi (uji R2) Imam Ghozali (2002) menyatakan bahwa koefisien determinasi (R 2 ) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan suatu model dalam menerangkan variasi variabel terikat.....

04 persen dari luas Pulau Jawa dan 1.1. Secara administratif Provinsi Jawa Tengah berbatasan oleh : Sebelah Utara Sebelah Timur : Laut Jawa : Jawa Timur .254.1 Deskripsi Obyek Penelitian 4. Secara geografis letaknya antara 5040’ dan 8030’ Lintang Selatan dan antara 108030’ dan 110030’ Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa).55 persen) bukan lahan sawah.26 juta hektar (69.70 persen dari luas Indonesia. Luas wilayah Jawa Tengah tercatat sebesar 3. Provinsi Jawa Tengah dengan pusat pemerintahan di Kota Semarang. secara administratif terbagi dalam 35 kabupaten/kota (29 kabupaten dan 6 kota) dengan 565 kecamatan yang meliputi 7872 desa dan 622 kelurahan. Luas wilayah tersebut terdiri dari 991 ribu hektar (30.45 persen) lahan sawah dan 2.1 Kondisi Geografis Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi di Pulau Jawa letaknya diapit oleh dua provinsi besar yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 263 km dan dari utara ke selatan adalah 226 km (tidak termasuk Pulau Karimunjawa).75 dimana: y* y = nilai y estimasi = nilai y aktual BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.412 hektar atau sekitar 25.

akses terhadap barang dan jasa.2. lokasi.76 Sebelah Selatan Sebelah Barat : Samudera Hindia : Jawa Barat 75 4.1 Kemiskinan Kemiskinan merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. antara lain tingkat pendapatan. tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. dan lokasi lingkungan. tingkat pengangguran. Selain itu kemiskinan juga merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.2 Analisis Data 4. pemerintah sangat berupaya keras untuk mengatasi permasalahan kemiskinan tersebut sehingga pembangunan dilakukan secara terusmenerus termasuk dalam menentukan batas ukur untuk mengenali siapa si miskin tersebut. 2004). derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. kesehatan. pendidikan. . geografis. Oleh karena itu. buta huruf. gender. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi. Berikut disajikan data tentang kemiskinan yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008. pertumbuhan ekonomi.

69 32.5 16.02 18. Tegal 2005 27.33 15.38 22. Rembang Kab.75 33. Magelang Kab. Cilacap Kab.62 9.60 14.92 27.79 21.42 19.29 10.22 13.44 32.47 22.67 19.93 22.68 12.39 16.37 8.63 20.50 25.28 13.13 15.37 19. Klaten Kab.94 6. Karanganyar Kab. Boyolali Kab.37 20. Semarang Kota.79 20. Sragen Kab.5 25.22 27.9 5.73 17.95 20 30.95 22.01 6.4 2007 27. Pemalang Kab.82 20.72 11. Salatiga Kota.08 25.14 22.84 11.4 24.73 17.19 7.14 29.87 21.52 23. Temanggung Kab.72 13. Brebes Kab.01 34. Pati Kab.58 16.9 19.77 30.72 15.49 30.68 27.35 22.34 22. Wonosobo Kota.12 18.71 16. Tegal Kab. Wonogiri Kab.25 20.39 30.2 13.05 15.48 10. Blora Kab.46 18.79 30.81 4.99 12. Banyumas Kab.29 8.93 18.71 12. Pekalongan Kab.43 11.62 23.71 27.4 21.46 20.59 23.36 22.49 17. Grobogan Kab.27 10.24 19.7 22.13 11.14 10.08 18.34 8. Kudus Kab.75 18.99 23.93 15.79 22.93 26.06 22. Magelang Kota.36 2008 23.01 5.05 17.25 23.21 10. Sukoharjo Kab.15 21.55 24.98 21.31 22.16 24.06 27.59 22. Surakarta Kota.24 20.49 21. Banjarnegara Kab.44 17.1 Persentase Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen) No. Kendal Kab.39 20.75 27.36 24.21 11.72 12.3 32.96 2006 29.21 31./Kota Kab.24 14. Purbalingga Kab.18 22.87 17.77 Tabel 4.79 17. Pekalongan Kota.59 29. Semarang Kab. Japara Kab.64 9.47 6 16.62 27.60 28 10. Kebumen Kab.16 10.83 20. Purworejo Kab.38 8.78 16.02 18. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kab.28 .6 11.44 19. Batang Kab.03 27.8 25. Demak Kab.26 13.34 21.83 12.

Kegiatan ekonomi yang dimaksud mulai kegiatan pertanian. Berikut disajikan data PDRB yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008. dan dalam satu kurun waktu tertentu (satu tahun kalender). Dan kabupaten/Kota yang memiliki persentase penduduk miskin paling sedikit yaitu di Kota semarang yaitu sebanyak 6 persen di tahun 2008.2008 terbanyak yaitu berada di Kabupaten Brebes yaitu sebanyak 27.2. di suatu wilayah tertentu (provinsi dan kabupaten/kota). industri pengolahan.2 Produk Domestik Regionl Bruto (PDRB) Menurut BPS (2008).79 persen di tahun 2005 dan mengalami penurunan hingga 25. sampai dengan jasa-jasa.78 Sumber: Data dan informasi Kemiskinan Jateng 2008 Tabel 4. Produk Domestik Bruto (PDRB) merupakan penjumlahan nilai output bersih (barang dan jasa akhir) yang ditimbulkan oleh seluruh kegiatan ekonomi. .98 persen di tahun 2008. PDRB merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui peranan dan potensi ekonomi di suatu wilayah dalam periode tertentu.1 diatas menunjukan bahwa persentase penduduk miskin provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . 4. pertambangan.

69 5.27 3.52 4.84 5.19 5.39 3.81 4.72 3.86 4.71 4.19 3.53 5. Semarang 2005 3.02 4 4.92 4.67 2.06 5.11 5.28 3.72 5.81 4.95 3.16 4.23 5.92 3.59 4.71 2007 5.74 4.75 5.39 5.21 3.21 2. Grobogan 10 Kab. Salatiga 33 Kota.63 4.3 3.11 5.21 5.14 2006 4.85 3.19 6.56 3.26 5.08 4. Banjarnegara 2 Kab. Sragen 25 Kab.71 5 4.23 5.23 2.3 2.18 4.64 4. Pemalang 20 Kab.07 3.17 3.04 4.8 5. Sukoharjo 26 Kab.59 4. Karanganyar 12 Kab.51 4.2 2.67 4.31 3.99 4.08 3.45 4. Banyumas 3 Kab.53 3.31 4.30 5.62 3.05 3. Magelang 17 Kab.33 3.99 5.49 3. Temanggung 28 Kab. Brebes 7 Kab. Klaten 15 Kab.94 4.49 5. Semarang 24 Kab.32 3.07 4.11 5.8 4.08 4.85 4. Magelang 31 Kota.35 4.72 5.17 5.61 3.47 6.74 5.07 3.07 4.19 4. Tegal 27 Kab. Kendal 14 Kab./Kota 1 Kab. Boyolali 6 Kab. Blora 5 Kab.48 2. Purbalingga 21 Kab.01 5.05 4.91 4.33 4. Pekalongan 32 Kota.74 4. Rembang 23 Kab.72 3.59 . Pati 18 Kab.73 5.73 4.98 5. Cilacap 8 Kab.41 3.23 5. Wonosobo 30 Kota.81 5.37 4. Kebumen 13 Kab.31 3.06 4.51 3.19 4.2 Laju PDRB Berdasarkan Harga Konstan 2000 Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen) No.98 2008 4.03 5.15 4.78 4.99 4.62 4.19 4.43 4.15 5. Batang 4 Kab.8 7.49 3.95 4.82 4. Japara 11 Kab.58 5.94 3. Wonogiri 29 Kab.79 2.69 4.18 4.11 4.98 4.67 5.98 5. Kab.54 4.44 3.62 4. Pekalongan 19 Kab.79 Tabel 4.46 4.08 3. Demak 9 Kab. Purworejo 22 Kab. Kudus 16 Kab.

Surakarta 5.87 Sumber: PDRB Jawa Tengah 2005-2008 5.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan. Tegal 4. .21 5. Berikut disajikan data melek huruf menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan. ada satu unsur kunci yaitu pendidikan. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis.2.69 5. Laju PDRB dapat menunjukan kondisi perekonomian di masing-masing kabupaten / kota di Jawa Tengah.43 5. Sebab.3 Pendidikan (Melek Huruf) Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa. Untuk memutus rantai sebab akibat diatas.82 5. Sehingga.15 35 Kota. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jatidiri manusia suatu bangsa. 4.80 34 Kota. Karena pendidikan adalah sarana menghapus kebodohan sekaligus kemiskinan.2 diatas menunjukkan bahwa laju PDRB yang terjadi di kabupaten / kota di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 menunjukkan angka yang fluktuatif dari masing-saing kabupaten / kota.15 Tabel 4. Dilihat dari besarnya PDRB menunjukan terjadi kesenjangan ekonomi yang relatif besar antara daerah maju dan tertinggal.15 5. Salah satu indikator pendidikan adalah tingkat angka melek huruf di suatu daerah.

21 32 Kota.8 93.87 88. Pekalongan 86.9 97.31 Kab.40 89.60 88.10 87.93 27 93.50 87.82 Kab.49 95. Purbalingga 93 93.9 87.87 35 Kota.91 10 Kab.1 90.13 5 84.5 95. Blora 82. Sukoharjo 87.4 26 Kab.2 25 Kab.37 95.93 86.8 90.2 88.58 13 Kab. Klaten 85.50 97.20 92.62 81. Salatiga 95.2 90.50 91. Brebes 84./Kota Kab.8 90.50 85.58 94.10 84.20 88.4 96.35 24 Kab. Banjarnegara 88. Banyumas 93.18 9 86.01 3 85. Tegal 91.87 21 Kab. Surakarta 95.10 82.3 92 91.85 15 Kab.39 12 Kab.5 81.1 Kab.81 Tabel 4.94 34 Kota. Rembang 88.50 84.85 Kab. Purworejo 86.18 87.34 16 Kab.80 96.4 89.7 .34 86.3 86.37 31 Kota. Kudus 89.20 96.39 88.39 18 Kab.01 Kab.34 93.87 88.91 29 Kab.01 20 Kab. Wonosobo 85. Cilacap 90.24 1 85 88. Japara 87. Temanggung 95.60 93.9 89.9 87.28 89.3 8 89.2 95.40 88.2 93. Magelang 90. Boyolali 85.96 11 Kab.16 19 Kab.28 17 Kab.05 87.36 Kab. Kendal 88. Kebumen 89. Karanganyar 81. Grobogan 90.24 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2005 – 2008 2008 94. Magelang 94. Demak 90.31 2 93.17 95.40 88.3 93 89.20 89.10 95. Semarang 95.58 96.40 88.30 86.70 95. Wonogiri 79.30 93.03 28 Kab.40 90.1 7 90 90.46 Kab.36 4 82. Pati 84.3 6 80.15 90.90 88.18 91.01 88. Kab.6 83 86 84.1 95.80 90. Pemalang 85.30 82.75 86.50 89.9 82 88.18 22 Kab.96 Kab.20 95.30 90.28 91.24 Kab.9 90.03 88.67 23 Kab.85 33 Kota.4 88.08 30 Kota. Sragen 73 81.85 91.93 82.9 84.3 89.2 92.39 87.3 Tingkat Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2008 (dalam satuan persen) 2005 2006 2007 No. Pekalongan 94.9 96.86 14 Kab.50 91. Batang 87. Semarang 91.51 76. Tegal 86.91 97.

2 persen di tahun 2008 dan yang paling sedikit yaitu di Kabupaten Wonosobo yaitu sebesar 82 persen. 2008). Tingkat pengangguran sangat erat hubungannya dengan laju pertumbuhan penduduk.3 diatas menunjukan bahwa tingkat Melek huruf di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. atau sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Sedangkan angkatan kerja sendiri terdiri dari dua komponen yaitu orang yang menganggur dan orang yang bekerja. Tingkat Pengangguran Terbukan (TPT) adalah angka yang menunjukkan banyaknya pengangguran terhadap 100 penduduk yang masuk kategori angkatan kerja (BPS.82 Tabel 4. 4.2. kondisi seperti ini membawa dampak bagi terciptanya dan membengkaknya . atau sedang mempersiapkan suatu usaha.2008 terbesar yaitu berada kota Pekalongan yaitu sebesar 97.4 Pengangguran Pengangguran adalah meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan. Apabila mereka tidak bekerja konsekuensinya adalah mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan baik. Dengan laju pertumbuhan yang tinggi akan meningkatkan jumlah angkatan kerja (penduduk usia kerja) yang kemudian besarnya angkatan kerja ini dapat menekan ketersediaan lapangan kerja di pasar kerja. Tingkat pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah kesempatan kerja di negara yang sedang berkembang yang bagaikan ujung sebuah gunung es.

16 12. Pati 7.5 30 Kota.60 3. Boyolali 7.26 5.89 23 Kab. Surakarta 10.45 8.16 3. Tegal 11.93 13. Sukoharjo 10.77 4.60 14.08 4.95 4.50 9.24 7. Grobogan 6./Kota 1 Kab.27 7.4 Tingkat Pengangguran Menurut Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2008 (dalam satuan persen) 2005 2006 2007 2008 No.93 7. Kudus 7.33 8.91 2 Kab.30 5.38 19 Kab.83 6.03 6.05 3 Kab.80 11. Banyumas 10.39 4.50 8.79 6. Wonosobo 5.94 3.06 17 Kab. Blora 4.57 9.32 Sumber: Keadaan Angkatan Kerja Prop.83 jumlah kemiskinan yang ada.36 7.53 9. Magelang 17. Karanganyar 6.03 10.12 26 Kab.15 6.7 5.77 6.19 7.78 3. Wonogiri 9.75 32 Kota.49 8. Pemalang 10.47 4. Pekalongan 8.48 9.19 10 Kab.73 29 Kab.23 11.57 35 Kota.56 27 Kab.01 9.05 5.28 31 Kota.19 11. Pekalongan 16. Rembang 9.39 11.18 6.76 5.69 5.08 5.32 9. Purworejo 6.38 9.07 8.42 6.27 33 Kota.2 5.63 5.46 6.15 8.73 8.01 7.56 7.66 7.40 7.48 10.39 24 Kab.39 8.14 9.53 5.31 6.36 18 Kab.77 4 Kab.78 5.7 12 Kab. Demak 9. Tabel 4.81 9. Kebumen 13. Sragen 10.39 9.51 34 Kota.39 14 Kab.64 9. Banjarnegara 9.07 5. Salatiga 14.71 5 Kab.55 8.08 21 Kab.31 7. Tegal 14.45 7.36 8.61 7.61 9. Jateng 2005 .82 6. Japara 8. Brebes 12.9 6 Kab.11 5.13 8.2008 .14 9. Berikut disajikan data tentang pengangguran yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 – 2008.43 4.16 8 Kab.72 8.17 9.37 12. Semarang 6.76 10.62 6.32 22 Kab.04 6.19 5.64 9 Kab.9 28 Kab.26 15 Kab.15 16 Kab. Temanggung 6. Klaten 7.31 9.10 5.14 7.75 13. Kab.97 20 Kab.68 5.49 5.64 25 Kab.35 11.59 4.59 5.92 5.25 5.21 5.61 6. Semarang 12. Purbalingga 9. Magelang 9.92 7 Kab.44 8.76 11 Kab.94 4.80 9.53 9.20 11. Batang 11. Cilacap 17.12 13 Kab.14 8. Kendal 7.27 11.

karena pada hakekatnya jika asumsi klasik tidak dipenuhi maka variabel-variabel yang menjelaskan akan menjadi tidak efisien. 4.60 persen di tahun 2005.076 -1.406 -2.84 Tabel 4.416 -1.81 persen ditahun 2005. tetapi di tahun 2008 yang paling besar yaitu di kota Tegal sebesar13. Pendidikan.089 0.77 0.017 Prob.000 0.32 persen.046 C LOG(PDRB) LOG(MH) LOG(PG) R-squared F-Statistic Prob(F-Statistic) Durbin-Watson Sumber: Lampiran B .162 0.0000 1.32 persen.267 -0.029 0. Tabel 4. Dan yang paling sedikit yaitu di Kabupaten Blora yaitu sebesar 4.5 Hasil Regresi Utama Pengaruh PDRB.3 Hasil Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik perlu dilakukan karena dalam model regresi perlu memperhatikan adanya penyimpangan-penyimpangan atas asumsi klasik. 0.2008 terbesar yaitu berada kota magelang yaitu sebanyak 17.99 t-Statistic 3.209 -2.968 83.4 diatas menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 .867 -0. sedangkan di tahun 2008 yang paling sedikin yaitu kabupaten Purworejo sebesar 4. Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005-2008 Coefficient 8.

005175 0.023549 4 0 Pada model persamaan pengaruh jumlah penduduk.116141 7.0 0. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 24 20 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2008 Observations 140 Mean Median Maximum Minimum Std. PDRB.497326 0.09e-17 0.1 berikut. dilakukan Uji Jarque-Bera. Untuk menguji apakah data terdistribusi normal atau tidak. Dev. Gambar 4. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .1 Uji Normalitas Salah satu asumsi dalam model regresi linier adalah distribusi probabilitas gangguan µ i memiliki rata-rata yang diharapkan sama dengan nol.076896 0.3. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0.2 -0. Hasil Uji J-B Test dapat dilihat pada Gambar 4.1 -0.1 0.2 0. maka diperoleh degree of freedom (df) = 135 (n-k). 2002).2008 dengan n = 140 dan k = 3. dan .099355 4.85 4. Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak (Imam Ghozali.208762 0. tidak berkorelasi dan mempunyai varians yang konstan.1 Hasil Uji Jarque-Bera Pengaruh Pdrb.306602 -0.3 16 12 8 1.

2 Uji Multikolinearitas Multikolinearitas merupakan keadaan dimana terdapat hubungan linear atau terdapat korelasi antar variabel independen.968 0.3.497. Tabel 4. Tabel 4. maka dapat disimpulkan bahwa dalam persamaan tersebut terjadi multikolinearitas.5 menunjukkan bahwa model persamaan pengaruh PDRB. Dalam penelitian ini untuk menguji ada tidaknya multikolinearitas dilihat dari perbandingan antara nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) dengan nilai R2 regresi utama. dapat ditarik kesimpulan bahwa probabilitas gangguan µ1 regresi tersebut terdistribusi secara normal karena nilai Jarque Bera lebih kecil dibanding nilai χ2 tabel. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 - .6 R Auxiliary Regression Pengaruh Pdrb.86 menggunakan α = 5 persen diperoleh nilai χ2 tabel sebesar 124. PDRB MH PG 2. Apabila nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) lebih besar dibandingkan nilai R2 regresi utama.34.968 Sumber : Lampiran C R2 = R2 hasil regresi utama R2* = R2 hasil auxiliary regression Tabel 4. Dibandingkan dengan nilai Jarque Bera pada Gambar 4. MH PDRB PG 3.968 0. PG PDRB MH Persamaan R2* 0. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 2 No.6 menunjukkan perbandingan antara nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) dengan nilai R2 regresi utama. 4.112 R2 0.014 0.1 sebesar 7. 1.100 0.

73 dan dl=1.99 < 2.87 2008 tidak mengandung multikolinearitas karena tidak ada nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) yang lebih besar dibandingkan nilai R2 regresi utama.61 du=1.3 Uji Autokorelasi Salah satu uji formal yang paling populer untuk mendeteksi autokorelasi adalah uji Durbin-Watson.2 Hasil Uji Durbin-Watson Ada autokorelasi positif dan menolak Ho Tidak ada keputusan Tidak ada autokorelasi dan tidak menolak Ho Tidak ada keputusan Ada autokorelasi negatif dan menolak Ho dl=1.73 DW=1. Uji ini sesungguhnya dilandasi oleh model error yang mempunyai korelasi sebagaimana telah ditunjukkan di bawah ini: Gambar 4. Sehingga d-hitung atau DW terletak pada du < d < 4-du atau 1. 4.61.38 4 Hasil dari Durbin-Watson menunjukkan bahwa nilai d-hitung atau DW sebesar 1.99.73 < 1. Hasil dari Durbin-Watson statistik adalah du=1.99 4-du=2.3. Lesimpulan yang dapat ditarik adalah tidak adanya autokolerasi didalam model.26 4-dl=2.26. .

pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .030 0. Tabel 4. setiap observasi mempunyai reliabilitas yang berbeda akibat perubahan dalam kondisi yang melatarbelakangi tidak terangkum dalam spesifikasi model (Imam Ghozali.039 0.4. 4. Error 3.063 t-Statistic -2.7.437 0. 0. 2005).3. Artinya. Dalam penelitian ini digunakan uji Park untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas yang dapat dilihat pada Tabel 4. dengan α .4 Pengujian Statistik Analisis Regresi 4. PDRB.7 Hasil Uji Park Dependent LOG_RESID^2 C PDRB MH PG Sumber: Lampiran C Coefficient -7.788 0. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heterokedastisitas dalam model. Dalam regresi pengaruh jumlah penduduk.038 0.169 0.88 4.193 0.4 Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari satu observasi ke observasi lainnya.1 Uji Signifikansi parameter Individual (Uji t) Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh masingmasing variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.476 Prob.202 0.030 Std.226 0.2008.244 0.634 Dari hasil perhitungan dengan uji Park terlihat bahwa tidak ada variabel independent yang signifikan secara statisktik (probability > α=5%).472 0.074 1.

2008 yang menggunakan taraf keyakinan 95 persen (α = 5 persen).288 4.288 1.07.89 = 5 persen dan degree of freedom (df) = 135 (n-k =140-5). pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen.209 2.406 2.8 Nilai T-Statistik Pengaruh Jumlah Penduduk.77 dan nilai probabilitas F-statistik 0.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Pengujian terhadap pengaruh semua variabel independen di dalam model dapat dilakukan dengan uji simultan (uji F). Dari hasil regresi pengaruh PDRB.288 1.657 t-tabel (α = 10%) 1.017 t-tabel (α = 5%) 1. PDRB. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . Tabel 4.2008 diperoleh F-statistik sebesar 83.00000.657 1. maka diperoleh F-tabel sebesar 3.4. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel .657 1. maka diperoleh nilai ttabel sebesar 1.2008 Variabel LOG PDRB(PDRB) LOG MH (Melek Huruf) LOG PG (Pengangguran) Sumber : Lampiran B t-statistik 1. Dari regresi pengaruh jumlah penduduk. Pdrb.657 dan dengan α = 10 persen diperoleh nilai t-tabel sebesar 1. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 . dengan degree of freedom for numerator (dfn) = 2 (k-1 = 3-1) dan degree of freedom for denominator (dfd) = 135 (n-k = 140-5).288.

8 persen variasi kemiskinan kabupaten/kota di Jawa Tengah dapat dijelaskan oleh variasi tiga variabel independennya yakni PDRB (PDRB).9 diperoleh nilai R2 sebesar 0. Sedangkan sisanya sebesar 3. 4. Dari hasil regresi pengaruh PDRB. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabelvariabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. . MH (Melek huruf/Pendidikan).2 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Hal ini berarti sebesar 96.3 Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.968.90 independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen (Fhitung > F-tabel). pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .2008 pada Tabel 4.4. PG (Pengangguran). Nilai koefisien determinasi adalah nol dan satu.

...... PDRB.5 Interpretasi Hasil dan Pembahasan PDRB. Yang mana menurut Kuznet dalam Tulus Tambunan (2001)..5..........076*LOG(PDRB) – 1...1. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini.. diperoleh nilai koefisien regresi untuk setiap variabel dalam penelitian dengan persamaan sebagai berikut : LOG(KM) = 8.... pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . (4.91 4..867 . pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 adalah sebagai berikut: 4.1) Interpretasi hasil regresi pengaruh PDRB...... karena pada tahap awal proses pembangunan kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang... dengan menggunakan metode FEM.5..... Pendidikan dan Pengangguran Terhadap 4.. Selanjutnya menurut Hermanto S....1 Pengaruh Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 Dalam regresi pengaruh jumlah penduduk.. dan Dwi W......089*LOG(PG).267*LOG(MH) 0.0.2008........1 PDRB dan Kemiskinan Variabel PDRB menunjukkan tanda negatif namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah. (2006) mengungkapkan pentingnya mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk menurunkan jumlah ....... pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat..

92 penduduk miskin. Seperti halnya pertumbuhan PDRB di tahun 2005 sampai dengan tahun 2006 malah terjadi kenaikan kemiskinan. 4. Tetapi pendidikan tinggi hanya mampu dicapai oleh orang kaya. Karena dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat maka kemiskinan di suatu daerah dapat ditekan jumlahnya. Hasil tersebut sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini. Menurut Simmons (dalam Todaro.2 Pendidikan dan Kemiskinan Variabel Pendidikan yang diproksi dengan besarnya tingkat melek huruf menunjukkan tanda negatif dan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengangguran di Jawa Tengah. Yang mana kemiskinan merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan daerah. Yang berarti bahwa peningkatan angka melek huruf akan menurunkan kemiskinan di jawa Tengah. Peningkatan angka melek huruf sebagai indikator pendidikan di Jawa Tengah sebesar 1 persen akan menurunkan kemiskinan sebesar 1. pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan.5. Sedangkan orang miskin tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi . Dimana digambarkan dengan seorang miskin yang mengharapkan pekerjaaan baik serta penghasilan yang tinggi maka harus mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi.1. 1994).267 persen. Ketidaksignifikannya PDRB dalam mempengaruhi kemiskinan juga dapat dilihat berdasarkan data bahwa peningkatan laju PDRB di Jawa Tengah dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 tidak selalu diiringi dengan penurunan kemiskinan di Jawa Tengah.

Hasil penelitian yang menunjukan pengaruh negatif pengangguran terhadap kemiskinan juga dapat dilihat berdasarkan data pengangguran terbuka di Kabupaten/Kota Jawa Tengah dari tahun 2005 – 2008 yang menunjukan angka pengangguran terbuka yang terus meningkat.085 persen. mereka yang mempersiapkan usaha.93 seperti sekolah lanjutan dan universitas. Diantara empat kategori pengangguran terbuka diatas bahwa sebagian diantaranya ada yang masuk dalam sektor informal. mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dan yang terakhir mereka yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Karena seperti halnya penduduk yang termasuk dalam kelompok pengangguran terbuka ada beberapa macam penganggur. 4.3 Pengangguran dan Kemiskinan Dari hasil regresi yang dihasilkan dalam penelitian ini menunjukan bahwa variabel pengangguran menunjukkan tanda negatif dan berpengaruh secara signifikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. yaitu mereka yang mencari kerja. sedangkan data kemiskinan tahun 2005 – 2008 malah mengalami penurunan.5. Dimana kenaikan tingkat pengangguran terbuka sebanyak 1 persen tidak menaikkan kemiskinan tetapi dari hasil penelitian ini malah akan menurunkan kemiskinan sebesar 0. Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan kemiskinan. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini.1. dan ada juga yang mempunyai pekerjaan dengan jam kerja kurang dari . bahwa tidak semua orang menganggur itu selalu miskin. Selain itu.

Sehingga sisanya sebanyak 597. ada juga yang mempunyai pekerjaan paruh waktu (PartTime) namun dengan penghasilan melebihi orang bekerja secara normal. Selain itu pastilah juga ada yang berusaha atau mempersiapkan usaha sendiri.94 35 jam dalam seminggu yaitu hingga berjumlah 4. Hal ini karena kadangkala ada pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. sedangkan lowongan kerja yang ada hanyalah sebanyak 92. 1993 (dikutip dalam www. Menurut Godfrey. dan yang mana semua golongan tersebut masuk dalam kategori pengangguran terbuka.google. Dan berdasarkan data Badan Pusat Statistik pendingkatan penggaruran yang terjadi dari tahunSelain itu jumlah pencari kerja di Jawa Tengah sebanyak 689.com//artikel kemiskinan) yaitu bahwa kemiskinan mungkin tidak selalu berhubungan dengan masalah ketenagakerjaan. Dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah yang dikutip dari (www.357 jiwa.985. ada juga yang sedang menunggu mulainya bekerja. Selain itu juga diperkuat dengan pendapat Lincolin Arsyad (1997) yang menyatakan bahwa salah jika beranggapan setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin. Mereka menolak pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka.415 jiwa.com) jumlah pengangguran terbuka Jawa Tengah tahun 2008 mencapai 1. sedang yang bekerja secara penuh adalah orang kaya.058 jiwa tentunya ada yang terserap ke sektor informal dan ada juga yang mencari kerja diluar kota.23 juta jiwa.375 jiwa. .waspadalonline.

2008 menunjukkan bahwa besarnya nilai R2 cukup tinggi yaitu 0. pengangguran. yang mana dapat dilihat dari data PDRB dan data Kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah tahun 2005-2008.1 Simpulan Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji pengaruh variabel PDRB. 95 . Berdasar hasil analisis data yang telah dilakukan pada bab IV. Sedangkan 3. PDRB.2008. Variabel PDRB mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan mempengaruhi kemiskinan. Pendidikan (melek huruf) dan pengangguran terhadap kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah di tahun 2005 . Hal ini daikarenakan bahwa peningkatan PDRB yang terjadi di Jawa Tengah tidak selalu diikuti oleh penurunan kemiskinan di Jwa Tengah. Pendidikan.95 BAB V PENUTUP 5. Pendidikan. maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Hasil uji koefisien determinasi (R2) Jumlah Penduduk.8 persen variasi variabel dependen kemiskinan dapat dijelaskan dengan baik oleh kelima variabel independen yakni PDRB. Nilai ini berarti bahwa model yang dibentuk cukup baik dimana 96. pengangguran dan dummy tahun terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . 2.2 persen sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor diluar model.968.

diterima pada kepercayaan 95%.2 Keterbatasan Kelemahan dan kekurangan yang ditemukan setelah analisis dan interpretasi dalam penelitian ini adalah data time series yang di gunakan masih terlalu pendek.96 3.085 yang artinya.267 yang artinya.085 persen. apabila kenaikan jumlah pengangguran sebesar 1 persen akan menurunkan kemiskinan sebesar 0. Dengan kata lain. Yang mana memiliki nilai koefisien β sebesar – 1. maka persen. Variabel Pengangguran mempunyai pengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi kemiskinan.07). Variabel Pendidikan (melek huruf) mempunyai pengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi kemiskinan. sehingga inferensi yang diambil adalah menerima Ha dan menolak Ho. hipotesis yang berbunyi “Ada pengaruh antara variabel PDRB. Sehingga mempengaruhi hasil signifikansi variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. akan menurunkan kemiskinan sebesar 1. .77) > F-tabel (3. apabila jumlah penduduk melek huruf naik sebesar 1 persen. 5. Yang mana memiliki nilai koefisien β sebesar – 0.267 5. Berdasarkan perhitungan dengan uji F diketahui bahwa F-hitung sebesar (83. pendidikan (melek huruf) dan pengangguran secara simultan terhadap kemiskinan”. 4.

3. Pengangguran berdasarkan hasil penelitian berpengaruh Negatif dan signifikan terhadap kemiskinan.3 Saran 1. Karena pengangguran dalam penelitian ini menggunakan data pengangguran terbuka. sehingga diharapkan pemerintah propinsi Jawa Tengah kembali menggalakkan program pemberantasan buta aksara supaya dapat menekan kemiskinan di seluruh Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah. Pendidikan yang tercermin dari besarnya tingkat melek huruf memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan. . 2. tetapi dengan hasil tersebut diharapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah lebih menggerakkan sektor informal.97 5. sehingga diharapkan bahwa pemerintah provinsi Jawa Tengah seharusnya meningkatkan total produksi barang dan jasa yang dihasilkan di seluruh Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah supaya peningkatan PDRB dapat mempengaruhi kemiskinan secara signifikan.. yang mana di dalamnya terdapat golongan masyarakat yang sedang dalam tahap menyiapkan usaha atau mendapat pekerjaan tetapi belum mulai bekerja yang dimasukkan dalam golongan pengangguran. Sehingga pentingnya peninggkatan sektor informal untuk menekan kemiskinan di Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah. Karena sektor informal merupakan salah satu solusi masalah dalam mengatasi pengangguran. PDRB memiliki pengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap kemiskinan.

5. Model yang dikembangkan dalam penelitian ini masih terbatas karena hanya melihat pengaruh variabel PDRB. Oleh karenanya diperlukan studi lanjutan yang lebih mendalam dengan data dan metode yang lebih lengkap sehingga dapat melengkapi hasil penelitian yang telah ada dan hasilnya dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan berbagai pihak yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi dalam hal penekanan kemiskinan.98 4. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah. . Perlunya penggunaan data time series yang lebih panjang atau lama untuk mengetahui bagaimana pengaruh kebijakan yang dilakukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang dibentuk oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam upaya penekanan angka kemiskinan di Jawa Tengah.

Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah 2004. Gaiha. No. 2008. 1995. Damodar Gujarati.59. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Jawa Tengah Dalam Angka 2008. Inflasi. 1993. 7. Deny Tisna A. Ekonometri Dasar Terjemahan. Data dan Informasi Kemiskina 2008. Vol. Jakarta:Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. 100118. 2000. New York. .DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. Design of Poverty Alleviation Strategy in Rural Areas. Didit Purnomo. Hal. Semarang : Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi Undip. 2008. 2004. Penerbit United States Military Academy. edisi Agustus 2008. 2004. Basic Econometrics Fourth Edition. Media Ekonomi. Kumpulan Skripsi UNDIP: Semarang. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. 2008. Jakarta: Badan Pusat Statistik Boediono. No. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 1. Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Tengah. Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah 2008. Yogyakarta. dan Pengangguran terhdap tingkat Kemiskinan di Indonesiatahun 2003-2004. Pengangguran. Vol. Penerbit BPFE. Hal. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. 47 . Damodar Gujarati . Penerbit Erlangga. 2003. 2001. 2008. R. Jurnal Ekonomi Pembangunan. Dian Octaviani. dan Kemiskinan di Indonesia : Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke. Jawa Tengah Dalam Angka 2004. Jakarta. Distribusi Pendapatan di Indonesia : Proses Pemerataan dan Pemiskinan. 8. Pertumbuhan Ekonomi. Firmansyah. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. 1. Modul Praktek Regresi Data Panel dengan Eviews 6. Pengaruh Ketidakmerataan Distribusi Pendapatan. 1999. 2008. Roma: FAO..

Media Ekonomi dan Keuangan Indonesia. dan Kemiskinan. Prisma. Hal. Mudrajad Kuncoro. 1983. Ekonomika Pembangunan. 2000.. 2003. 1. No. Mudrajad Kuncoro. Semarang. Edisi Ketiga. Prisma. 1997. Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi UII. 1993. Marzuki.. 1992. Edisi Kelima. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS. Direktur Kajian Ekonomi.. Ekonomi Pembangunan. Hal. Bonar S. Dampak Infestasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia. Hadi. Metode Kuantitatif. No. Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis. Hal. Yogyakarta: BPFE. 2005. 1995. Penerbit UPP AMP YKPN. Yogyakarta. 2009. 17 31. Ekonomi Pembangunan. Yogyakarta. 1. Jakarta: LP Universitas Indonesia. 3 Prayitno. Vol. Yogyakarta. Penerbit UPP AMP YKPN. Institusi Pertanian Bogor Imam Ghozali. dan Kebijakan. Yogyakarta. Makro Ekonomi Modern. Soeratno dan Lincolin Arsyad. Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Jakarta. Irawan dan Suparmoko.. 2006. Masalah. Lincolin Arsyad. Pengantar Ekonomika Pembangunan. Produksi Domestik Bruto.Harlem Siahaan. Penerbit UPP AMP YKPN. Dwi W. 191 . 2002. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. . Sadono Sukirno. Sukirno Sadono. Yogyakarta. 51. Ekonomi Pembangunan. Penerbit BP STIE YKPN. Penerbit BPFE. 1986. Dermoredjo.324. Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi. 17 . Hermanto S.31. Rasidin S. Metodologi Riset. 2001. 1997. Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Penduduk Miskin di Indonesia : Proses Pemerataan dan Pemiskinan. Teori. Penerbit PT Raja Grafindo Persada. Yogyakarta. No. Harga. Edisi Ketiga.

2001. Supranto. Jakarta. Tulus H. 1997. Perkembangan Pemikiran Ekonomi Dasar Teori Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. 1995. Todaro. Terjemahan Haris Munandar. UPP STIM YKPN : Yogyakarta.go. Edisi Kedua.bappenas.com . Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. cara. 2000.org http://andalas van java online. Jakarta. Fakultas Ekonomi : Intitusi Pertania Bogor.waspadalonline. Michael P. Tambunan. http://Wikipedia. 2007.id. Penerbit Ghalia Indonesia. Todaro. Michael P. Winarno Wahyu. Metode Riset Aplikasinya dalam Pemasaran.com www. Analisis Determinan Kemiskinan sebelum dan Sesudah Desentralisasi Fiskal.id www.com//artikel kemiskinan www.Bataviase. Terjemahan Haris Munandar. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EViews.google. Penerbit Erlangga. Kumpulan arti. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga.blog www. 2009.dkk. Jakarta.. Jakarta : Rineka Cipta.co. Edisi Ketujuh.Sumitro Djojohadikusumo. Penerbit Erlangga. Usman.worlbank. Perekonomian Indonesia. 1994.com www. J. dan makna kemiskinan : http://Adi Satria. Jakarta. Penerbit LP3ES..

116141 7. Dev.306602 -0.994656 24 20 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2008 Observations 140 Mean Median Maximum Minimum Std.054386 0.958597 -1.0463 Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) R-squared Adjusted R-squared S. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0.77325 0.821902 160.0 0.595132 0.089766 0.956584 0.076492 -1.REGRESI UTAMA : Lampiran b Dependent Variable: LOG(KM) Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:46 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C LOG(PDRB) LOG(MH) LOG(PG) 8.2 0.867526 -0.0009 0.076896 0.017543 Prob. 0.2 -0.099355 4.3 16 12 8 1.267471 -0.416985 -1.005175 0.1 -0.1626 0.886221 0.406467 -2.0294 0.042578 t-Statistic 3.085904 Std.023549 4 0 .432578 1.573682 0.497326 0.430811 -1.209362 -2. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.D.09e-17 0.9930 83. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0. Error 2.1 0.968141 0.E. Durbin-Watson stat 2.000000 Mean dependent var S.208762 0.757042 -0.

017179 0.R2 Auxilary Regression (Uji Multikolinearitas): Lampiran C Dependent Variable: PDRB Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:55 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C MH PG R-squared Adjusted R-squared S.863702 0.0549 -181.238571 Mean dependent var S.1530 4.0000 0.901122 5.1660 1.006416 0.E.373475 3.000514 0.34700 4. Durbin-Watson stat Dependent Variable: MH Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:56 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB PG R-squared Adjusted R-squared S.7094 0.693978 2. 0.040172 0.6661 7.641506 5.626059 0.D.480661 0.892200 109.E.373475 1. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 4. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.436833 Prob. Error 2.838086 5.64070 -0.000724 Std.518599 0.572 -405.191296 -0.100177 0.898356 Mean dependent var S.656558 0.725227 -0.111272 0.904420 Prob.80355 -0.087041 4.357731 Std. Error 1.424464 0.D.014895 0.481500 0.0001 89.0018 0.7094 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 85. 0.035727 0.132824 t-Statistic 40.027959 t-Statistic 3.892429 2. Durbin-Watson stat . dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.434908 2694.158527 0.630943 2.

202917 0.2441 0.564084 0.6342 -3.778735 0.0001 8.074554 1.D.018458 554.9490 0. 0.5045 8. Durbin-Watson stat UJI PARK Dependent Variable: LOG(RES2) Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:45 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB MH PG R-squared Adjusted R-squared S.030390 0.038884 0.049452 t-Statistic -2.063727 t-Statistic -2.345423 1.4375 0.904420 Prob.016538 4. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.354747 4.202643 2. Error 4.099678 2.913100 4. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) -7.000279 Std.694629 0.223 -336.E.472031 0.437106 Std.854114 Mean dependent var S.304854 0.Dependent Variable: PG Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:57 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB MH R-squared Adjusted R-squared S.851934 4.001905 2.0875 -294.226112 0.112633 0.257198 0.70471 0.850065 4.193081 0.030281 0.193285 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.019718 -0.D.E.369551 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) -10.911886 0.234838 2.0204 0. Error 3.169840 0.0399 0. Durbin-Watson stat .476879 Prob.875680 0.1530 0.706066 1003.436833 3.664955 Mean dependent var S. 0.270700 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful