ANALISIS PENGARUH PDRB, PENDIDIKAN DAN PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI KABUPATEN / KOTA JAWA TENGAH TAHUN 2005 - 2008

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

Disusun Oleh : RAVI DWI WIJAYANTO NIM. C2B606044

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010

.

Kegagalan adalah kekurang sabaran... semangat dan cinta dengan sepenuh hati v . Kegagalan adalah bukti kecerobohan kita. Dan. Kegagalan adalah kekurang telitian.. Kegagalan bukanlah pintu menuju kesuksesan..MOTTO DAN PERSEMBAHAN Kegagalan bukanlah keberhasilan yang tertunda. kita. Kunci Keberhasilan adalah Jiwa yang sabar dan tahu akan Kemampuan dirinya... Kupersembahkan karya kecilku ini untuk keluarga dan orang-orang terdekatku yang selalu memberikan harapan. Karena. Kegagalan bukanlah awal menuju keberhasilan..

Key words: Poverty. unemployment variable has negative and significant impact on the level of poverty in Central Java. Unemployment vi . unemployment on poverty in Central Java. health and other problems that are explicitly associated with the problem of poverty. Data used in this research is secondary data obtained from the Central Statistics Agency (BPS) as well as browsing the internet website as a supporter. GDP. illiteracy. While the method of analysis used in this research is a method of linear regression analysis of panel data with FEM method with the help of software Eviews 6. and also has the largest poverty appeal in any other province in Java. The purpose of this research are to analyze how and how much influence the variables GDP. low health status and the degree of inequality between the sexes and poor environment (Word Bank. education (literacy). the poverty rate in Central Java is still ranked 22 out of 33 Provinces in Indonesia. Education (Literacy). in this case for all of districts in Central Java in 2005 . The results of this study indicate that the GDP variable is negative but not significant effect on poverty levels. educational variables which proxy with the literacy rate of significant negative effect on the level of poverty. This study examines the influence of GDP. but that based on BPS (Central Bureau of Statistics) in 2008. unemployment on poverty in Central Java which is expected to be used as a basis in determining the policies in addressing poverty in Central Java. 2004). And the concern though has been in the form TKPK to address the problem of poverty that exist. Strategic issues in the government of Central Java province is not much different from the central government (national problem). Overcoming the problem of poverty can not be done separately from the problems of unemployment. education.2008. namely high rates of poverty and the increasing number of unemployed. education (literacy).ABSTRACT Poverty is a problem that involves many aspects as it relates to low income.

Tujuan penelitian ini diharapkan dapat menganalisis bagaimana dan seberapa besar pengaruh variabel PDRB. tingkat kemiskinan Jawa Tengah masih menduduki peringkat ke 22 dari 33 Provinsi di indonesia. dan juga mempunyai tingkat kemiskinan paling besar di banding Provinsi lainnya di pulau Jawa. Permasalahan strategis di pemerintahan Provinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda dengan di pemerintahan pusat (problem nasional). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta browsing website internet sebagai pendukung. kesehatan dan masalah-masalah lain yang secara eksplisit berkaitan erat dengan masalah kemiskinan. buta huruf. pendidikan. Kata kunci : Kemiskinan. Pendidikan (melek huruf). tetapi bahwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2008.2008. variabel pengangguran berpengaruh negatif serta signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Tengah. variabel pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat kemiskinan. 2004). Pengangguran vii .ABSTRAK Kemiskinan merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah sehingga nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam penentuan kebijakan dalam mengatasi masalah kemiskinan di Jawa Tengah. Mengatasi masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan secara terpisah dari masalah-masalah pengangguran. Pendidikan (melek huruf). pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. Dan yang memprihatinkan meskipun telah di bentuk TKPK untuk menanggulangi masalah kemiskinan yang ada. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. PDRB. yakni tingginya angka kemiskinan dan semakin meningkatnya jumlah pengangguran. dalam hal ini untuk seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . Studi ini meneliti tentang pengaruh PDRB. Sedangkan metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis regresi linier panel data dengan metode FEM dengan bantuan software Eviews 6. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel PDRB berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Pendidikan (Melek Huruf).

5. SE. hidayah. yang telah memberikan mukjizat serta kekuatan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. D. M.2008”. Dalam penyusunan skripsi yang berjudul “ANALISIS PENGARUH PDRB. Fitrie Arianti. 3. Untuk itu rasa terima kasih sedalam-dalamnya penulis haturkan kepada: 1. viii . 6.Si. Akt. 2. atas segala limpahan rahmat. MSc.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat. serta karuniaNya. M. selaku dosen pembimbing atas bimbingan dan pengarahan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI JAWA TENGAH TAHUN 2005 . selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. PENDIDIKAN. 4. H Edy Yusuf Agung Gunanto.Si. tidak terlepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang memungkinkan skripsi ini dapat terselesaikan. Ph. Drs. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai prasyarat untuk menyelesaikan Studi Strata atau S1 pada Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Petugas Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro serta Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Tengah yang telah memberikan bantuan berupa data dan referensi yang bermanfaat. Allah SWT. HM Chabachib. hidayah dan karunia-Nya kepada penulis. selaku dosen wali yang telah memberikan dukungan sepenuhnya kepada penulis dan memberikan motivasi kepada penulis selama belajar di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi penulis. Seluruh Dosen dan Staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Dr.

Cahyo. Andhika W. Novi. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Acong. Terima kasih untuk segala bantuan. Putra. Andhika A. “Pelajaran dari perjalanan hidup kalian yang selalu memotivasi saya untuk selalu bangkit dari setiap cobaan dan keterpurukan ini. Terima kasih atas dukungan yang telah engkau berikan. Kiki. ix . dan dukungan yang selalu diberikan dengan tulus kepada anak-anaknya. baik secara langsung maupun tidak langsung. cinta. Tapi jangan berhenti untuk tetap doakan aku biar jadi orang sukses. “makasih buat makan malamnya setiap hari. Bram. Ridho.7. dan kenangan yang tlah kalian berikan. dorongan serta doanya. Danik. Danang. Teman-teman Tim I KKN UNDIP 2010 Banyubiru khususnya tim Tegaron: Dimas. Gerdy. Edit. Kalian semua terlalu manis untuk dilupakan. Rea. dan seluruh teman-teman IESP 2006 yang tidak dapat disebutkan satu per satu. kerjasama. Mega Aprillya. Fera Anggiya. Seluruh teman-teman IESP Angkatan 2006 reguler II : Ami. Udin. 11. Indra. 16. 14. Bekti. Kakakku. Pramudana. Mbak Ika dan mas Budi. Nasrul. Fery Atikasari. Riza. Dyke. Dian. Happy. Fajar. “Terima kasih sudah membuat hidupku lebih berwarna.” 12. 9. Nenekku (mbah Gini) tersayang yang tiada henti-hentinya memberikan semangat. Titian. 15. Farid. maaf kalau Ravi numpang terus” 13. Tim Futsal Jalan Kartanegara. Hilal.” 8. Bapak (Agus) dan Ibu (Sri Intarti). tanpa dirimu pasti skripsiku lebih lama selesainya . Adit. Adikku. Akrom. Bagus. Yanu. Phipin. Terima kasih atas dukungan dan semangat yang diberikan kepadaku selama ini.. Rama. 10. Kedua orang tuaku tersayang.. kasih sayang. terima kasih atas perlindungan. Dedi. pengisi hidupku 4 tahun terakhir.

sehingga penulis tak lupa mengharapkan saran dan kritik atas skripsi ini. Penulis September 2010 Ravi Dwi Wijayanto x . penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Penulis juga menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan banyak kelemahan. Semarang. dan dapat dijadikan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya.Akhirnya dengan segala kerendahan hati.

..........xv ..1...xiv ..2 Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian 1 1 10 11 11 11 12 1..1...3 2.1 2.........v ABSTRACT ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR vi vii viii ..1......i ....2 2.ii ......3.........1 Latar Belakang Masalah 1...3...3 Tujuan dan Kegunaan 1...1..4 2..1...2 Rumusan Masalah 1..2 Pengaruh Variabel Independen dan Dependen xi ...DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN PERNYATAAN ORISINIALITAS SKRIPSI MOTTO DAN PERSEMBAHAN..5 Kemiskinan Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan ekonomi Pendidikan Pengangguran 14 14 14 22 26 33 36 40 2...iv BAB I PENDAHULUAN 1..1 1.....4 Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2...iii .

2.1.1 Deskripsi Obyek Penelitian 4.2 Kemiskinan PDRB xii .1 3.2.5 Pengujian asumsi Klasik 3.6.1 2.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.5 Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN 3.4.4 Uji Normalitas Uji Multikolinearitas Uji Autokolinearitas Uji Heterokedatisitas 3.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t) Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) Uji Koefisien Determinasi (Uji R-squared) BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.3 3.5.4 Metode Analisis 3.2.2 2.4 Kerangka Pemikiran 2.2.3 Metode Pengumpulan Data 3.2 3.1 3.5.3 Penelitian Terdahulu 2.1 4.2 Analisis Panel Data Estimasi Model 56 56 59 60 61 61 64 67 67 68 69 70 71 71 73 74 3.2.5.6.6 Pengujian Kriteria Statistik 3.2 3.1 Kondisi Geografis 75 75 76 76 78 4.1 3.3 Pengaruh PDRB terhadap Kemiskinan Pengaruh Pendidikan terhadap Kemiskinan Pengaruh Pengangguran terhadap Kemiskinan 40 42 43 45 53 54 2.2 Analisis Data 4.6.2 Jenis dan Sumber Data 3.4.5.2.

5.1.5.3 Saran 95 96 97 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN xiii .1 4.1.3.5.3.4 Uji Normalitas Uji Multikolinearitas Uji Autokolinearitas Uji Heterokesdastisitas 4.4.4 Pengujian Statistik Analisis Regresi 4.3.2 4.4 Pendidikan Pengangguran 80 82 84 85 86 87 88 88 88 89 90 91 4.2.3.2.5 Interpretasi Hasil dan Pembahasan 4.3 4.4.1 4.2 4.1 4.1 4.5.2 Keterbatasan 5.1.3 4.3 Pengaruh Variabel Independen Terhadap Dependen 91 PDRB dan Kemiskinan Pendidikan dan Kemiskinan Pengangguran dan Kemiskinan 91 92 93 BAB V PENUTUP 5.4.1 Kesimpulan 5.2 4.4.3 Pengujian Asumsi Klasik 4.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t) Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) Uji Koefisien Determinasi (Uji R-squared) 4.

1 Tabel 3. Jumlah dan Presentase Kemiskinan di Jateng PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Jateng 2004-2008 Angka Melek Huruf Jateng 2004-2008 Jumlah Pengangguran Jateng 2004-2008 Ringkasn Penelitian Terdahulu Kriteria Durbin-Watson Jumlah Kemiskinan menurut kab/kota di Jateng PDRB menurut kab/kota di Jateng Tingkat Melek Huruf menurut kab/kota di Jateng Tingkat Pengangguran menurut kab/kota di Jateng Ringkasn Regresi utama Uji Multikolinearitas Uji Heterokesdastisitas Uji t 3 4 6 6 7 51 69 77 79 81 83 84 86 88 89 xiv .4 Tabel 4.2 Tabel 4.6 Tabel 4.1 Tabel 4.5 Tabel 4.3 Tabel 4.1 Tabel 4.5 Tabel 2.2 Tabel 1.3 Tabel 1.8 Persentase Kemiskinan di enam Provinsi di Pulau Jawa Batas.DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.7 Tabel 4.1 Tabel 1.4 Tabel 1.

1 Teori Nelson dan Leibstein Gambar 2.1 Kurva Uji Durbin watson Gambar 4.2 Kurva hasil Uji Durbin watson 25 54 70 85 87 xv .2 Kerangka Pemikiran Gambar 3.1 Uji Normalitas JB test Gambar 4.DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.

Artinya. perubahan yang terjadi pada sebuah keseimbangan awal dapat menyebabkan perubahan pada sistem sosial yang kemudian akan membawa sistem yang ada menjauhi keseimbangan semula.1 Latar Belakang Masalah Perencanaan merupakan sebuah upaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi yang bersifat akumulatif. berbagai kegiatan pembangunan telah diarahkan kepada pembangunan daerah khususnya daerah yang relatif mempunyai kemiskinan yang terus naik dari tahun ke tahun. Perencanaan memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembangunan. Salah satu peran perencanaan adalah sebagai arahan bagi proses pembangunan untuk berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai disamping sebagai tolok ukur keberhasilan proses pembangunan yang dilakukan. salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan nasional adalah laju penurunan 1 . Sedangkan pembangunan sendiri dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di tingkat nasional atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di tingkat daerah. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa pembangunan nasional adalah salah satu upaya untuk menjadi tujuan masyarakat adil dan makmur. Oleh karena itu. Sejalan dengan tujuan tersebut.1 BAB I PENDAHULUAN 1. Pembangunan daerah dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan sesuai prioritas dan kebutuhan masing-masing daerah dengan akar dan sasaran pembangunan nasional yang telah ditetapkan melalui pembangunan jangka panjang dan jangka pendek.

(Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Kebijakan dan program yang dilaksanakan belum menampakkan hasil yang optimal.2 jumlah penduduk miskin. Masih terjadi kesenjangan antara rencana dengan pencapaian tujuan karena kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan lebih berorientasi pada program sektoral. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi penanggulangan kemiskinan yang terpadu. terutama pemerintah sebagai penyangga proses perbaikan kehidupan masyarakat dalam sebuah pemerintahan. Hal ini berarti salah satu kriteria utama pemilihan sektor titik berat atau sektor andalan pembangunan nasional adalah efektivitas dalam penurunan jumlah penduduk miskin. kemiskinan menjadi tanggung jawab bersama. . Permasalahan strategis di pemerintahan Provinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda dengan di pemerintahan pusat (problem nasional). Efektivitas dalam menurunkan jumlah penduduk miskin merupakan pertumbuhan utama dalam memilih strategi atau instrumen pembangunan. untuk segera mencari jalan keluar dengan merumuskan langkahlangkah yang sistematis dan strategis sebagai upaya pengentasan kemiskinan. 2003) Pemerintah baik pusat maupun daerah telah berupaya dalam melaksanakan berbagai kebijakan dan program-program penanggulangan kemiskinan namun masih jauh dari induk permasalahan. terintegrasi dan sinergis sehingga dapat menyelesaikan masalah secara tuntas. Oleh karena itu. yakni masih tingginya angka kemiskinan jika di bandingkan dengan provinsi lain di pulau Jawa.

Selama periode 2004 sampai dengan 2008.1 Persentase Kemiskinan Enam Propinsi di Pulau Jawa Tahun 2008 Provinsi Persentase kemiskinan No. kemiskinan merupakan salah satu dari issue strategis yang mendapat prioritas untuk penanganan pada setiap tahapan pelaksanaannya.96 4 Jawa Timur 16. Terkait dengan target tujuan pembangunan millenium yang harus tercapai pada tahun 2015.99 Sumber: BPS Jateng. 1 DKI 3.3 Tabel 1.5 persen.05/55/2006 tentang pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan juga (TKPK) di dalam draft Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Jawa Tengah tahun 2005-2025. Namun pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tidak selalu diiringi dengan penurunan kemiskinan yang signifikan .6. 412. mengingat upaya penanggulangan kemiskinan bukan merupakan hal yang mudah untuk dilaksanakan. perekonomian Jawa Tengah menunjukan adanya peningkatan dari tahun ke tahun yaitu tumbuh berkisar 5. Data dan Informasi Kemiskinan Jateng 2008 Bagi Provinsi Jawa Tengah. 11/2003).23 6 Jawa Tengah 18. Hal tersebut terbukti selain di dalam Renstra Jawa Tengah (Perda No.0 sampai 5. maka Provinsi Jawa masih harus bekerja keras untuk dapat mencapai target tersebut. kemiskinan merupakan issue strategis dan mendapatkan prioritas utama untuk ditangani.64 3 Jawa Barat 11. Pergub 19 tahun 2006 tentang Akselerasi Renstra. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2008 secara agregat terlihat cukup dinamis yaitu diatas 5 persen. Keputusan Gubernur No.68 5 DIY 17.62 2 Banten 7.

Dan lebih lagi bahwa jika dibandingkan kemiskinan di Pulau Jawa.843.11 20.50 7.4 di Jawa Tengah.877 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Pertumbuhan ekonomi merupakan tema sentral dalam kehidupan ekonomi semua negara di dunia dewasa ini.2 Batas Miskin. Bahkan ketika indikator perekonomian Jawa Tengah naik di tahun 2006. .60 Persentase Penduduk Miskin 21.80 6. Tabel 1.337 154. Persentase.100.651 130.111 181.553.60 6.100 penduduk.19 20.013 142.99 Garis Kemiskinan (Rp/Kap/bulan) 126.20 6.43 18.112.557. kemiskinan Jawa Tengah menduduki peringkat ke 22 dari 33 Provinsi di indonesia yaitu sebesar 18. Jumlah Penduduk Miskin Di Tawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) 2004 2005 2006 2007 2008 6.99 persen. Pemerintah di negara manapun dapat segera jatuh atau bangun berdasarkan tinggi rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapainya dalam catatan statistik nasional. Berhasil tidaknya programprogram di negara-negara dunia ketiga sering dinilai berdasarkan tinggi rendahnya tingkat output dan pendapatan nasional (Todaro 2000). Yang lebih memprihatinkan yaitu bahwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2009.49 22. kemiskinan di Jawa Tengah juga ikut naik mencapai 547. Jawa Tengah mempunyai kemiskinan paling besar di banding Provinsi lainnya di pulau Jawa.

Oleh sebab itu. Secara umum. Rendahnya pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk yang sangat besar akan berpengaruh terhadap kondisi sosial manusia di Jawa Tengah. para ahli ekonomi mulai meragukan manfaat pertumbuhan pendapatan nasional dalam pembangunan ekonomi sebab di banyak negara yang sedang berkembang terdapat gejala adanya kemiskinan. . ketidakmerataan distribusi pendapatan. teori-teori ini menyatakan bahwa pembangunan ekonomi akan mencapai hasil yang optimal jika peningkatan pendapatan nasional disertai dengan pemerataan pendapatan bagi seluruh kelompok masyarakat (Tambunan dalam Dian Octaviani. 2001). antara lain besarnya angka kemiskinan dan pengangguran. Permasalahan dan tantangan pembangunan daerah lima tahun ke depan masih diprioritaskan pada masalah-masalah sosial yang mendasar. mulai awal tahun 1970 muncul pendapat bahwa apabila pembangunan tidak disertai pemerataan hasil-hasil pembangunan kepada penduduk miskin.5 Pada awal tahun 1970. maka mustahil akan memberikan hasil yang optimal. Dalam periode tersebut munculah teori-teori baru seperti Teori Pertumbuhan dan Distribusi New-Keynesian oleh Kaldor (1955) dan Passineti (1962). dan pengangguran yang cenderung meningkat walaupun pendapatan nasional mengalami peningkatan secara stabil.

213.187 4 2007 26. maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu.13 5.77 2008 167.3 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2008 PDRB Atas dasar Harga Konstan 2000 (Juta Rupiah) 2004 135.121.790. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jati diri manusia suatu bangsa.219.74 2007 159.506.112 3 2006 24. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan .88 2006 150.283.191 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa.33 5.654. Tahun Jumlah 1 2004 23.930 5 2008 27.369.6 Tabel 1. Produk Domestik regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan digunakan untuk menunjukan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dari tahun ke tahun.872.35 5.316 2 2005 24.051.46 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah memberikan gambaran kinerja pembangunan ekonomi dari waktu ke waktu.059.110. Sebab. Jika dunia pendidikan suatu bangsa sudah jeblok.4 Jumlah Angka Melek Huruf Jawa Tengah Tahun 2004-2008 (Jiwa) No. sehingga arah perekonomian daerah akan lebih jelas.59 5.253.85 Sumber : PDRB Jawa Tengah tahun 2008 TAHUN PERTUMBUHAN EKONOMI (Persen) 5.789.31 2005 143. Tabel 1.682.

menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan. 1 2004 2 2005 3 2006 4 2007 5 2008 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Jumlah 1. Dan berdasarkan tabel 1.044.5 tingkat melek huruf di Jawa Tengah dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 cenderung meningkat. Besarnya tingkat pengangguran merupakan cerminan kurang berhasilnya pembangunan di suatu negara.227.197. Di Jawa Tengah tingkat pendidikan dapat diukur salah satunya dengan besarnya angka melek huruf. Karena itu.com).dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan (Winardi. Dan di tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 132.244 1. 2001).5 Jumlah Pengangguran Terbuka Di Jawa Tengah Tahun 2004-2008 (Jiwa) Tahun No. Di Jawa Tengah besarnya tingkat pengangguran bergerak secara naik turun. 2010 dalam http://andalas van java online.219 1.360.911 jiwa.573 978. Tabel 1.7 atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis.308 Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di suatu daerah menjadi semakin serius. Pada memusatkan hakekatnya perhatian pembangunan pada daerah dianjurkan saja tidak namun hanya juga pertumbuhan ekonomi mempertimbangkan bagaimana kemiskinan yang dihasilkan dari suatu proses .952 1. Pengangguran dapat mempengaruhi kemiskinan dengan berbagai cara (Tambunan.

Menurut Esmara (dikutip dari Deni Tisna. Dengan cara tersebut angka pendapatan per kapita akan meningkat sehingga secara otomatis terjadi pula peningkatan kemakmuran masyarakat. perumahan dan tingkat kesehatan dan pendidikan yang dapat diterima (acceptable). dan di tahun tersebut juga mulai dibentuknya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah. buta huruf. tetapi juga diikuti dengan peningkatan persentase kemiskinan. 2008) dalam ilmu ekonomi dikemukakan berbagai teori yang membahas tentang bagaimana pembangunan ekonomi harus ditangani untuk mengejar keterbelakangan. Menurut Bank Dunia salah satu sebab kemiskinan adalah karena kurangnya pendapatan dan aset (lack of income and assets) untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan.8 pembangunan daerah tersebut. Hal itu terjadi di tahun 2006. pakaian. 2004). Sampai akhir tahun 1960. Di . para ahli ekonomi percaya bahwa cara terbaik untuk mengejar keterbelakangan ekonomi adalah dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya. Kemiskinan sendiri merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. Penelitian ini dilakukan di Jawa Tengah dalam periode 2005 – 2008 karena diprovinsi ini terjadi fenomena tranformasi struktur ekonomi yang meningkatkan produk domestik regional bruto (PDRB). Dimana pembentukan TKPK tersebut dapat menanggulangi masalah kemiskinan di Jawa Tengah. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. sehingga dapat melampaui tingkat pertumbuhan penduduk.

bappenas.9 samping itu kemiskinan juga berkaitan dengan keterbatasan lapangan pekerjaan dan biasanya mereka yang dikategorikan miskin (the poor) tidak memiliki pekerjaan (pengangguran). dan Dwi W.go. pendidikan. Hal tersebut dikarenakan pendidikan memang merupakan pionir dalam pembangunan. namun besaran pengaruhnya relatif kecil.. Mengatasi masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan secara terpisah dari masalah-masalah pengangguran. Populasi penduduk juga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kemiskinan. kesehatan dan masalah-masalah lain yang secara eksplisit berkaitan erat dengan masalah kemiskinan. Pertumbuhan dan kemiskinan menunjukan hubungan yang kuat dalam tingkat agregat. serta tingkat pendidikan dan kesehatan mereka pada umumnya tidak memadai. Hermanto S. (2006) dalam penelitiannya tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan jumlah penduduk miskin menunjukan bahwa pertumbuhan berpengaruh negatif dan signifikan dalam mengurangi kemiskinan.id) Menurut Balisacan (dikutip dari penelitian Hermanto S. lintas pelaku secara terpadu dan terkoordinasi dan terintegrasi. Sedangkan pendidikan mempengaruhi secara negatif dan signifikan terhadap kemiskinan dan pengaruhnya paling besar.2006) menyatakan bahwa indonesia memiliki catatan yang mengesankan mengenai pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan selama dua dekade. namun magnitude pengaruh tersebut relatif tidak besar.(www. pendekatannya harus dilakukan lintas sektor. Dengan kata lain. . dan Dwi W. Dimana penel data yang dibangun dari 285 kota/kabupaten menyatakan perbedaan yang besar pada perubahan dalam kemiskinan.

1. yaitu bahwa tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Indonesia.99 persen. Hal tersebut menunjukan bahwa belum maksimalnya kebijakan pemerintah Jawa Tengah dalam menanggulangi masalah kemiskinan. Banyak sekali masalah-masalah sosial yang bersifat negatif timbul akibat meningkatnya kemiskinan. Kemiskinan di Jawa Tengah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Selain itu Deni Tisna (2008) dengan penelitian yang sama juga menghasilkan hasil yang sama pula. namun kemiskinan yang ada di Jawa Tengah hingga tahun 2008 menunjukkan jumlah penduduk miskin yang tergolong masih cukup tinggi yaitu mencapai 18.2004. Yang mana penelitiannya menggunakan metode panel data tahun 2003 . Padahal dengan dibentuknya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 diharapkan faktor – faktor yang mempengaruhi kemiskinan seperti produk domestik regional .2 Rumusan Masalah Kemiskinan merupakan salah satu tolok ukur sosio ekonomi dalam menilai keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah di suatu daerah. yang artinya bahwa semakin tinggi tingkat penggauran di Indonesia maka jumlah penduduk miskin di Indonesia juga akan semakin bertambah seiring pertambahan jumlah pengguran.10 Dian Oktaviani (2001) dalam analisisnya tentang bagaimana pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di indonesia menemukan bahwa tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan.

1. Bagaimana pengaruh pendidikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.11 bruto (PDRB).3.2 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada: 1. Menganalisis pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. 3. Oleh karena itu dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Pengambil Kebijakan Bagi pengambil kebijakan. 2. pendidikan dan pengangguran dapat meminimalisir kemiskinan yang terjadi di Jawa Tengah. 2.3. Bagaimana pengaruh produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. pdrb. penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi yang berguna di dalam memahami pengaruh jumlah penduduk. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan sehingga dapat . 1.3 1. Bagaimana pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. Menganalisis pengaruh produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.1 Tujuan Dan Kegunaan Tujuan Penelitian 1. Menganalisis pengaruh pendidikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. 3.

hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Bab II Tinjauan Pustaka. Kerangka Pemikiran Teoritis. BAB III : METODE PENELITIAN . Manfaat khusus bagi ilmu pengetahuan yakni dapat melengkapi kajian mengenai kemiskinan dengan mengungkap secara empiris faktor-faktor yang mempengaruhinya. 1. Tujuan dan Kegunaan Penelitian. serta Bab V Kesimpulan. BAB I : PENDAHULUAN Menguraikan Latar Belakang Masalah Penelitian. Rumusan Masalah Penelitian.12 dapat digunakan sebagai pilihan pengambilan kebijakan dalam perencanaan pembangunan. Bab III Metode Penelitian. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Menguraikan Landasan Teori. Ilmu Pengetahuan Secara umum hasil penelitian ini diharapkan menambah khasanah ilmu ekonomi khususnya ekonomi pembangunan. serta Sistematika Penulisan. 2.4 Sistematika Penulisan Penelitian ini disusun dengan sistematika Bab yang terdiri dari: Bab I Pendahuluan. Penelitian Terdahulu. keterbatasan dan Saran. Bab IV Hasil dan Pembahasan. dan mencoba menarik suatu Hipotesis Penelitian.

Analisis Data. Metode Pengumpulan Data. serta Metode Analisis Data. dan Pembahasan. Pengujian Hipotesis. BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN Menguraikan Analisis Deskriptif dan Objek Penelitian.13 Menguraikan Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. keterbatasan dari penelitian dan . BAB V : PENUTUP Menguraikan Kesimpulan dan saran – saran. Jenis dan Sumber Data.

(www. kebebasan substantif ini memiliki dua sisi: kesempatan dan rasa aman. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara. creative life and enjoy a decent standard of living freedom.com) Menurut Amartya Sen dalam Bloom dan Canning. Menurut Bloom dan Canning. Kesempatan membutuhkan pendidikan dan keamanan membutuhkan kesehatan.org) 14 .14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2. (2001) bahwa seseorang dikatakan miskin bila mengalami "capability deprivation" dimana seseorang tersebut mengalami kekurangan kebebasan yang substantif. dalam definisi kemiskinan adalah: ”the denial of choice and opportunities most basic for human development to lead a long healthy.1.(http://Wikipedia. Menurut World Bank.worlbank.1 Kemiskinan Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan. tempat berlindung dan air minum. self esteem and the respect of other”. pakaian. halhal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup.

harga diri. serta suramnya masa depan bangsa dan negara. standar hidup layak. sumber-sumber .15 Dari definisi tersebut diperoleh pengertian bahwa kemiskinan itu merupakan kondisi dimana seseorang tidak dapat menikmati segala macam pilihan dan kesempatan dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya seperti tidak dapat memenuhi kesehatan. sebuah keluarga. kebebasan. Sementara untuk negara-negara yang sedang berkembang. hilangnya generasi. Hal ini dikarenakan kemiskinan itu bersifat multidimensional artinya karena kebutuhan manusia itu bermacam-macam. terancamnya penegakan hak dan keadilan. dan rasa dihormati seperti orang lain. dan mengurangi kualitas lingkungan. dan keterampilan serta aspek sekunder yang berupa miskin akan jaringan sosial. Pengertian kemiskinan dalam arti luas adalah keterbatasan yang disandang oleh seseorang. organisasi sosial politik. maka kemiskinan pun memiliki banyak aspek primer yang berupa miskin akan aset. sebuah komunitas. atau bahkan sebuah negara yang menyebabkan ketidaknyamanan dalam kehidupan. mempercepat penyusutan sumber daya alam. pengetahuan. terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Negara-negara maju yang lebih menekankan pada “kualitas hidup” yang dinyatakan dengan perubahan lingkungan hidup melihat bahwa laju pertumbuhan industri tidak mengurangi bahkan justru menambah tingkat polusi udara dan air. pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi pada tahun 1960 sedikit sekali pengaruhnya dalam mengurangi tingkat kemiskinan. terancamnya posisi tawar (bargaining) dalam pergaulan dunia. Kemiskinan (poverty) merupakan masalah yang dihadapi oleh seluruh negara.

Pola keempat adalah accidental poverty. Pola ketiga adalah seasonal poverty. Dimensi-dimensi kemiskinan tersebut termanifestasikan dalam bentuk kekurangan gizi. kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses terhadap kekuasaan yang mempunyai pengertian tentang sistem politik yang dapat menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan sumber daya. perumahan yang sehat. dan informasi. yaitu kemiskinan musiman seperti dijumpai pada kasus nelayan dan petani tanaman pangan. dimensidimensi kemiskinan saling berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung. dan tingkat pendidikan yang rendah. Dan aspek lain dari kemiskinan ini adalah bahwa yang miskin itu manusianya baik secara individual maupun kolektif (Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Selain itu. air. Hal ini berarti kemajuan atau kemunduran pada salah satu aspek dapat mempengaruhi kemajuan atau kemunduran aspek lainnya. Secara ekonomi. Pola kedua adalah cyclical poverty. Pertama adalah persistent poverty. Menurut Sumitro Djojohadikusumo (1995) pola kemiskinan ada empat yaitu. kemiskinan dapat dilihat . Dermoredjo. perawatan kesehatan yang kurang baik.16 keuangan. yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun temurun. 2003). yaitu kemiskinan yang mengikuti pola siklus ekonomi secara keseluruhan. Secara politik. kemiskinan dapat dilihat dari tingkat kekurangan sumber daya yang dapat digunakan memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang. Secara sosial psikologi. yaitu kemiskinan karena terjadinya bencana alam atau dampak dari suatu kebijakan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat.

Berdasarkan konsep ini. dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup. tetapi juga iklim. (1997) secara sederhana dan yang umum digunakan dapat dibedakan menjadi tiga. Kesulitan utama dalam konsep kemiskinan absolut adalah menentukan komposisi dan tingkat kebutuhan minimum karena kedua hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adat kebiasaan saja. Kemiskinan Relatif Seseorang termasuk golongan miskin relatif apabila telah dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. pakaian. Walaupun demikian. tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan keadaan masyarakat sekitarnya. Ukuran kemiskinan menurut Nurkse. . seseorang membutuhkan barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan fisik dan sosialnya. 2. garis kemiskinan akan mengalami perubahan bila tingkat hidup masyarakat berubah sehingga konsep kemiskinan ini bersifat dinamis atau akan selalu ada. untuk dapat hidup layak. Konsep ini dimaksudkan untuk menentukan tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik terhadap makanan. yaitu: 1. tingkat kemajuan suatu negara. dan faktor-faktor ekonomi lainnya.1953 dalam Kuncoro.17 dari tingkat kekurangan jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan peningkatan produktivitas. Kemiskinan Absolut Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan dan tidak cukup untuk menentukan kebutuhan dasar hidupnya.

3. pengeluaran yang diperlukan untuk memberi standar gizi minimum dan kebutuhan mendasar lainnya. Poverty and the Welfare State : Dispelling the Myths. A Catalyst Working Paper. Menurut Paul Spicker (2002. 2. jumlah kebutuhan yang sangat bervariasi yang mencerminkan biaya partisipasi dalam kehidupan sehari-hari. London: Catalyst.) penyebab kemiskinan dapat dibagi dalam empat mazhab: . menurut Kuncoro (1997) garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi terdiri dari dua elemen. yaitu: 1. Kemiskinan Kultural Seseorang termasuk golongan miskin kultural apabila sikap orang atau sekelompok masyarakat tersebut tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya atau dengan kata lain seseorang tersebut miskin karena sikapnya sendiri yaitu pemalas dan tidak mau memperbaiki kondisinya. maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan selalu miskin. Oleh sebab itu.18 Oleh karena itu. kemiskinan dapat dari aspek ketimpangan sosial yang berarti semakin besar ketimpangan antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah. Semua ukuran kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma pilihan dimana norma tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran didasarkan konsumsi (consumption based poverty line).

Individual explanation. cacat bawaan. belum siap memiliki anak dan sebagainya. 2006) terdapat tiga faktor penyebab kemiskinan jika dipandang dari sisi ekonomi. adanya diskriminasi atau keturunan. Menurut Sharp (dalam mudrajat Kuncoro. 4. kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Familial explanation. 2. 3. Banyak ukuran yang menentukan angka kemiskinan. kemiskinan yang diakibatkan oleh karakteristik perilaku suatu lingkungan yang berakibat pada moral dari masyarakat. Pertama. yang pada gilirannya upahnya rendah. menganggap kemiskinan sebagai produk dari masyarakat yang menciptakan ketidakseimbangan dengan pembedaan status atau hak. pilihan yang salah. nasib yang kurang beruntung. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini karena rendahnya pendidikan. kemiskinan yang diakibatkan oleh faktor keturunan. dimana antar generasi terjadi ketidakberuntungan yang berulang. kemiskinan yang diakibatkan oleh karakteristik orang miskin itu sendiri: malas.19 1. Subcultural explanation. Garis kemiskinan adalah suatu ukuran yang menyatakan .ketiga kemiskinan muncul karena perbedaan akses dalam modal. terutama akibat pendidikan. salah satunya adalah garis kemiskinan. gagal dalam bekerja. Kedua kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia. Kualitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktifitanya rendah. Penduduk miskin hanya memiliki sumberdaya yang terbatas dan kualitasnya rendah. Structural explanations.

menurut laporan Badan Pusat Statistik melalui data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2008. Untuk provinsi Jawa Tengah. sehingga garis kemiskinan dapat digunakan untuk mengukur dan menentukan jumlah kemiskinan.2008). lanjut usia. penyebab kemiskinan (dikutip dari Deny Tisna. kesehatan. Kesempatan berusaha di daerah pedesaan dan perkotaan belum dapat mendorong penciptaan pendapatan bagi masyarakat terutama bagi rumah tangga miskin. Bantuan sosial kepada masyarakat miskin. air minum dan sanitasi. 2008) adalah pemerataan pembangunan yang belum menyebar secara merata terutama di daerah pedesaan. Garis kemiskinan digunakan untuk mengetahui batas seseorang dikatakan miskin atau tidak. dan cakupan jaminan sosial bagi rumah tangga miskin masih jauh dari memadai.20 besarnya pengeluaran (dalam rupiah) untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum makanan dan kebutuhan non makanan. Penyebab yang lain adalah masyarakat miskin belum mampu menjangkau pelayanan dan fasilitas dasar seperti pendidikan. Penduduk miskin di daerah pedesaan pada tahun 2006 diperkirakan lebih tinggi dari penduduk miskin di daerah perkotaan. . Hal ini disebabkan terutama oleh cakupan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin yang belum memadai.877 rupiah (BPS. atau standar yang menyatakan batas seseorang dikatakan miskin bila dipandang dari sudut konsumsi. Menurut Rencana Kerja Pemerintah Bidang Prioritas Penanggulangan Kemiskinan. pelayanan bantuan kepada masyarakat rentan (seperti penyandang cacat. Gizi buruk masih terjadi di lapisan masyarakat miskin. dan yatim-piatu). serta transportasi. batas garis kemiskinannya yaitu sebesar 181.

. 2. meningkatkan disiplin dan tanggung jawab. antara lain: 1. Melakukan program pembangunan wilayah seperti Inpres dan transmigrasi serta memberikan pelayanan perkreditan melalui lembaga perkreditan pedesaan seperti BKD dan KCK – KUD. Menerapkan kebijakan ekonomi moral yaitu pengembangan sistem ekonomi moral sangat diperlukan sehingga tidak semata-mata mengejar keuntungan tetapi harus adil. 3. Memberdayakan kelompok miskin yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia penduduk miskin dengan meningkatkan etos kerja. 4. Melakukan pemetaan kemiskinan yaitu langkah awal dalam upaya penanggulangan kemiskinan yaitu mengenali karakteristik dari penduduk yang miskin sehingga diperlukan pemetaan kemiskinan yang digunakan sebagai alat untuk memecahkan persoalan yang mereka alami. perbaikan konsumsi dan peningkatan gizi.21 Pemerintah telah mempersiapkan beberapa program prioritas penanggulangan kemiskinan dalam tahun 2007 didukung oleh beberapa program prioritas lain. sehingga dibutuhkan keadilan ekonomi yang bersumber pada Pancasila bukan pada ekonomi modern yang tidak sesuai dengan budaya bangsa. serta perbaikan kemampuan dalam penguasaan IPTEK.

2. maka pendapatan perkapita (dalam masyarakat tani didefinisikan sebagai produksi pangan perkapita) akan cenderung turun menjadi sangat rendah. karena hasil yang menurun dari faktor produksi tanah. Oleh karena pertumbuhan persediaan pangan tidak bisa mengimbangi pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dan tinggi. atau hanya sedikit diatas tingkat subsiten Menurut Maier (dikutip dari Mudrajat Kuncoro. Banyak negara dimana penduduknya masih sangat tergantung dengan sektor pertanian. persediaan pangan hanya tumbuh menurut deret hitung.2 Pertumbuhan Penduduk Menurut Maltus (dikutip dalam Lincolin Arsyad. 1997) kecenderungan umum penduduk suatu negara untuk tumbuh menurut deret ukur yaitu dua-kali lipat setiap 30-40 tahun.1. yang gilirannya membuat investasi dalam “kualitas manusia” semakin sulit. Terdapat tiga alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memperlambat pembangunan.22 2. pertumbuhan penduduk mengancam keseimbangan . Rendahnya sumberdaya perkapita akan menyebabkan penduduk tumbuh lebih cepat. dan sumberdaya manusia. namun juga semakin membuat kendala bagi pengembangan tabungan. Pertumbuhan penduduk yang tinggi akan dibutuhkan untuk membuat konsumsi dimasa mendatang semakin tinggi. cadangan devisa. Sementara itu pada saat yang sama. 1. 1997) dikalangan para pakar pembangunan telah ada konsensus bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berdampak buruk terhadap suplai bahan pangan. yang menyebabkan jumlah penduduk tidak pernah stabil.

23

antara sumberdaya alam yang langka dan penduduk. Sebagian karena pertumbuhan penduduk memperlambat perpindahan penduduk dari sektor pertanian yang rendah produktifitasnya ke sektor pertanian modern dan pekerjaan modern lainnya. 3. Pertumbuhan penduduk yang cepat membuat semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan ekonomi dan sosial. Tingginya tingkat kelahiran merupakan penyumbang utama pertumbuhan kota yang cepat. Bermekarannya kota-kota di NSB membawa masalah-masalah baru dalam menata maupun mempertahankan tingkat kesejahteraan warga kota.

Todaro (2000) menyatakan bahwa dalam perhitungan indek kemiskinan dengan pengukuran indeks Foster Greer Thorbecke yang sering disebut juga sebagai kelas Pα dari ukuran kemiskinan yaitu dirumuskan sebagai berikut: 1 Pα = N Yp ............................................................ (2.1)

Dimana Yi adalah pendapatan dari orang miskin yang ke-i, Yp adalah garis kemiskinan dan N adalah jumlah penduduk. Indeks Pα mempunyai bentuk yang berbeda-beda, tergantung pada nilai α. Jika α=0, maka pembilangnya sama dengan H, dan akan diperoleh ratio headcount H/N. Jika α=1, maka akan diperoleh jurang kemiskinan yang dinormalisasi.

24

Menurut Nelson dan Leibstein (dikutip dari Sadono Sukirno, 1983) terdapat pengaruh langsung antara pertambahan penduduk terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Nelson dan Leibstein menunjukan bahwa pertumbuhan penduduk yang pesat di negara berkembang menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat tidak mengalami perbaikan yang berarti dan dalam jangka panjang akan mengalami penurunan kesejahteraan serta meningkatkan jumlah penduduk miskin.

25

Gambar 2.1 Pengaruh Pertumbuhan Penduduk Terhadap Tingkat Kesejahteraan Menurut Nelson Dan Leibstein
% Pertambahan Penduduk

(2.1a) P P 0 Ya Y0
Pendapatan Per Kapita

% Penanaman modal Per kapita

I

(2.1b)

0 Ya
% Pertambahan Penduduk dan Pendapatan

Pendapatan Per Kapita

Y0

(2.1c) P Y 0 Ya Y0 Yb Yc
Pendapatan Per Kapita

Sumber: Sadono Sukirno, 1983

Gambar (2. Hal tersebut menjadikan pertumbuhan ekonomi dicirikan dengan 3 hal pokok.26 Berdasarkan gambar (2. 3.1a) menunjukan hubungan diantara pendapatan perkapita dan tingkat pertumbuhan penduduk.1) di atas bahwa sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang pesat dalam jangka panjang tingkat pendapatan perkapita akan kembali mencapai nilai yang sama dengan tingkat pendapatan cukup hidup. selain itu juga menunjukan hubungan pertambahan pendapatan nasional dan pendapatan perkapita. Simon Kuznets (dikutip dari Budiono. laju pertumbuhan perkapita dalam arti nyata (riil).1. institusional (kelembagaan). pola persebaran penduduk. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian teknologi.1999) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya.1b) menunjukan hubungan antara pendapatan perkapita dan tingkat penanaman modal perkapita. dan ideologi terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada. 2. 2. persebaran atau distribusi angkatan kerja menurut sektor kegiatan produksi yang menjadi sumber nafkahnya. . antara lain: 1. dan gambar (2. Sedangkan gambar (2.1c) menunjukkan hubungan antara pendapatan perkapita dan tingkat pertumbuhan penduduk.3 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Prof.

para ahli ekonomi percaya bahwa cara terbaik untuk mengejar keterbelakangan ekonomi adalah dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi setinggitingginya sehingga dapat melampaui tingkat pertumbuhan penduduk. jangka waktu. 2. output per kapita. yaitu pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan adanya kenaikan output per kapita dalam hal ini ada dua unsur yang penting seperti output total dan jumlah penduduk. yaitu kenaikan output per kapita selama 1 – 2 tahun lalu diikuti penurunan output per kapita bukan merupakan pertumbuhan ekonomi.27 Boediono (1999) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah salah satu proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dimana penekanannya pada 3 aspek. sasaran utama dalam pembangunan ekonomi lebih ditekankan pada usaha-usaha pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. 3. angka pendapatan per kapita akan meningkat sehingga secara otomatis terjadi pula peningkatan kemakmuran masyarakat dan pada akhirnya akan mengurangi jumlah penduduk miskin. Menurut Todaro (dikutip dari Tambunan. Akibatnya. pembangunan yang dilakukan pada negara yang sedang berkembang sering mengalami dilema antara . Akan tetapi. antara lain: 1. 2001) sampai akhir tahun 1960. Dikatakan tumbuh bila dalam jangka waktu yang lama (5 tahun atau lebih) mengalami kenaikan output per kapita. Dengan cara tersebut. proses. yaitu pertumbuhan ekonomi bukan merupakan suatu gambaran dari suatu perekonomian yang melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu.

.... Model solow dapat diperluas sehingga mencakup sumberdaya alam sebagai salah satu input....28 pertumbuhan dan pemerataan.......... L adalah tenaga kerja dan A merupakan teknologi.. Oleh karena itu pertumbuhan perekonomian nasional dapat berasal dari pertumbuhan input dan perkembangan kemajuan teknologi yang disebut juga pertumbuhan total faktor produktivitas.L) ...... Dasar pemikirannya yaitu output nasional tidak hanya dipengaruhi K dan L tapi juga dipengaruhi oleh lahan pertanian atau sumberdaya alam lainnya seperti cadangan minyak. K adalah modal (kapital) fisik. Pembangunan ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil......... Namun yang menjadi permasalahan bukan hanya soal bagaimana cara memacu pertumbuhan...... F (K.......... Lucas menyatakan bahwa .... Y juga akan meningkat jika terjadi perkembangan dalam kemajuan teknologi yang terindikasi dari kenaikan A.. tetapi juga siapa yang melaksanakan dan berhak menikmati hasilnya.....(2...... Perluasan model solow lainnya adalah dengan memasukkan sumberdaya manusia sebagai modal (Human Capital)............ Faktor yang mempengaruhi pengadaan modal fisik adalah investasi. Dalam literatur....2) Dimana Y adalah output nasional (kawasan)... Model tersebut berangkat dari fungsi produksi agregat sebagai berikut: Y = A ....... teori pertumbuhan seperti ini terkategori sebagai pertumbuhan endogen dengan pionirnya Lucas dan Romer.... Robert Solow mengemukakan model pertumbuhan ekonomi yang disebut model pertumbuhan Solow...

.... (2...... Saat ini umumnya PDRB baru dihitung berdasarkan dua pendekatan.....H. Suatu negara yang memberikan perhatian lebih kepada pendidikan terhadap masyarakatnya ceteris paribus lebih baik daripada yang tidak melakukannya. investasi terhadap sumberdaya manusia melalui kemajuan pendidikan akan menghasilkan pendapatan nasional atau pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi..... sedangkan Romer berpandangan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh tingkat modal manusia melalui pertumbuhan teknologi. (1992) kontribusi dari setiap input pada persamaan tersebut terhadap output nasional bersifat proporsional... al.. yaitu dari ............. Apabila investasi tersebut dilaksanakan secara relatif merata....L) .. sebagaimana akumulasi modal fisik menentukan pertumbuhan ekonomi... maka kemiskinan akan berkurang. Kuncoro (2004) menyatakan bahwa pendekatan pembangunan tradisional lebih dimaknai sebagai pembangunan yang lebih memfokuskan pada peningkatan PDRB suatu provinsi. Dengan kata lain. Menurut Mankiw et..3) Pada persamaan diatas. termasuk terhadap golongan berpendapatan rendah..... F (K............29 akumulasi modal manusia.. Secara sederhana dengan demikian fungsi produksi agregat dapat dimodifikasi menjadi sebagai berikut: Y = A .... Sedangkan pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)... Sehingga dapat di simpulkan bahwa apabila pertumbuhan ouput meningkat yang dipengaruhi investasi terhadap sumberdaya manusia maka dapat menurunkan kemiskinan........... H adalah sumberdaya manusia yang merupakan akumulasi dari pendidikan dan pelatihan... kabupaten.... atau kota.

sedangkan menurut BPS Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku digunakan untuk menunjukkan besarnya struktur perekonomian dan peranan sektor ekonomi.30 sisi sektoral / lapangan usaha dan dari sisi penggunaan. Selanjutnya PDRB juga dihitung berdasarkan harga berlaku dan harga konstan. 2005:56). atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah. sedang Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai dasar dimana dalam perhitungan ini digunakan tahun 1993. Untuk lebih jelas dalam menghitung angka-angka Produk Domestik Regional Bruto ada tiga pendekatan melakukan suatu penelitian : yang cukup kerap digunakan dalam . Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun (Sadono Sukirno. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Badan Pusat Statistik (BPS) didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah. Total PDRB menunjukkan jumlah seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh penduduk dalam periode tertentu. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun.

Produk Domestik Regional Bruto adalah menghitung nilai tambah dari barang dan jasa yang diproduksikan oleh suatu kegiatan ekonomi di daerah tersebut dikurangi biaya antara masingmasing total produksi bruto tiap kegiatan subsektor atau sektor dalam jangka waktu tertentu. misalnya sektor pemerintahan. terutama kegiatan yang tidak mengutip biaya (Robinson Tarigan. surplus usaha tidak diperhitungkan. Menurut pendekatan Pengeluaran Pendekatan dari segi pengeluaran adalah menjumlahkan nilai penggunaan akhir dari barang dan jasa yang diproduksi di dalam negri. Surplus usaha meliputi bunga yang dibayarkan neto. penyusutan. Menurut pendekatan Produksi Dalam pendekatan produksi. Menurut pendekatan Pendapatan Dalam pendekatan pendapatan. 2005:24). yaitu upah dan gaji dan surplus usaha. sewa tanah. dan keuntungan. Hal ini disebabkan kurang lengkapnya data dan tidak adanya metode yang akurat yang dapat dipakai dalam mengukur nilai produksi dan biaya antara dari berbagai kegiatan jasa.31 1. Metode pendekatan pendapatan banyak dipakai pada sektor jasa.pada sektor pemerintahan dan usaha yang sifatnya tidak mencari untung. 2. dan pajak tidak langsung neto. Nilai tambah merupakan selisih antara nilai produksi dan nilai biaya antara yaitu bahan baku/penolong dari luar yang dipakai dalam proses produksi (Robinson Tarigan. Jika dilihat dari . tetapi tidak dibayar setara harga pasar. 3. 2005:24). nilai tambah dari setiap kegiatan ekonomi diperkirakan dengan menjumlahkan semua balas jasa yang diterima faktor produksi.

Dengan cara menilai kembali atau mendefinisikan berdasarkan harga-harga pada tingkat dasar dengan menggunakan indeks harga konsumen. pembentukan modal tetap bruto (investasi). Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan Menurut BPS pengertian Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan yaitu jumlah nilai produksi atau pengeluaran atau pendapatan yang dihitung menurut harga tetap. Yang dimaksud nilai tambah yaitu merupakan nilai yang ditambahkan kepada barang dan jasa yang dipakai oleh unit produksi dalam proses produksi sebagai input antara. konsumsi lembaga swasta yang tidak mencari untung. Cara penyajian Produk Domestik Regional Bruto disusun bentuk.32 segi penggunaan maka total penyediaan/produksi barang dan jasa itu digunakan untuk konsumsi rumah tangga. konsumsi pemerintah. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku Pengertian Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku menurut BPS adalah jumlah nilai tambah bruto yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah. perubahan stok dam ekspor neto. dalam dua . Nilai yang ditambahkan ini sama dengan balas jasa atas ikut sertanya factor produksi dalam proses produksi. 2. Dari perhitungan ini tercermin tingkat kegiatan ekonomi yang sebenarnya melalui Produk Domestik Regional Bruto riilnya. yaitu : 1.

pendidikan di Indonesia selalu terbentur oleh tiga realitas (Winardi.1.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan. Namun ironisnya. 2010 dalam http://andalas van java online. Jika melihat negara lain. Bahkan.com) a) Pertama. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis. setiap bangsa yang ingin maju maka pembangunan dunia pendidikan selalu menjadi prioritas utama. Karena itu. Sebab. ada satu unsur kunci yaitu pendidikan.4 Pendidikan Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa. Henry Cisneros. ada kecemasan yang sangat mencolok dengan kondisi sumber daya manusia (SDM) ini. pendidikan dijadikan jargon politik untuk menuju kekuasaan agar bisa menarik simpati di mata rakyat. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan. Sehingga. Menteri Perkotaan di era Bill Clinton.33 2. Jika dunia pendidikan suatu bangsa sudah jeblok. Amerika serikat. Untuk memutus rantai sebab akibat diatas. pernah mengemukakan bahwa dia khawatir tentang masa depan Amerika Serikat dengan banyaknya penduduk . Kepedulian pemerintah yang bisa dikatakan rendah terhadap pendidikan yang harus kalah dari urusan yang lebih strategis yaitu Politik. Misalnya. Karena pendidikan adalah sarana menghapus kebodohan sekaligus kemiskinan. maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jati diri manusia suatu bangsa.

Umumnya. penjajahan ini tentu tidak terlepas dari unsur ekonomi. 1997) bahwa suatu bangsa tidak mungkin memiliki tenaga kerja bertaraf internasional jika seperempat dari pelajarnya gagal dalam menyelesaikan pendidikan menengah. Kecemasan yang sederhana. dan harus kalah dari dimensi yang lain. tidak heran jika tenaga kerja di Indonesia banyak yang berada di sektor informal akibat kualitas sumber daya manusia yang rendah. namun penuh makna. badan atau organisasi donor pun mengintervensi secara langsung maupun tidak terhadap kebijakan ekonomi suatu bangsa. b) Kedua. Menurut Marshal (dalam Tulus Tambunan. penjajahan terselubung. Akhirnya. Sehingga. Dan di Indonesia. Di era globalisasi dan kapitalisme ini. Bahkan. ada sebuah penjajahan terselubung yang dilakukan negara-negara maju dari segi kapital dan politik yang telah mengadopsi berbagai dimensi kehidupan di negara-negara berkembang. Dengan hutang negara yang semakin meningkat. dan ini salah satunya karena biaya pendidikan .34 keturunan Hispanik dan kulit hitam yang buta huruf dan tidak produktif. bahkan ada kecenderungan untuk meng- anaktirikannya. dapat dilihat adanya pengabaian sistematis terhadap kondisi pendidikan. rakyat tidak bisa lagi mengenyam pendidikan tinggi dan itu berakibat menurunnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Akibatnya. terjadilah privatisasi di segala bidang. karena masyarakat Hispanik cuma satu diantara banyak etnis di Amerika Serikat. pendidikan pun tidak luput dari usaha privatisasi ini. Dari sini pendidikan semakin mahal yang tentu tidak bisa di jangkau oleh rakyat.

Apa lagi ditengah iklim investasi global yang menuntut pemerintah memberikan kerangka hukum yang dapat melindungi Investor dan juga buruh murah. Akibatnya. c) Ketiga adalah kondisi masyarakat sendiri yang memang tidak bisa mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan yang ada. Tentu hal ini tidak terlepas dari kondisi bangsa yang tengah dilanda krisis multidimensi sehingga harapan rakyat akan kehidupannya menjadi rendah. telah terjadi deprivasi relatif ( istilah Karl Marx yang di populerkan Ted R. . dan kemiskinan pun akan mengiringi.yang membuat pendidikan tidak lagi bisa dijangkau rakyat. terbentuklah link up sistem pendidikan. Buruh murah ini merupakan hasil dari adanya privatisasi ( otonomi kampus ). dimana dari kemiskinan akan melahirkan generasi yang tidak terdidik akibat kurangnya pendidikan. dimana pendidikan hanya mampu menyediakan tenaga kuli dengan kemampuan minim. kemiskinan menjadi sebuah reproduksi sosial. karena mereka lebih mementingkan urusan perut daripada sekolah. Sehingga.Gurr ) dalam diri masyarakat. Bisa dikatakan. dan kemudian menjadi bodoh serta kemiskinan pun kembali menjerat.35 yang memang mahal. Hal ini akan berdampak pada kekurangannya respek terhadap dunia pendidikan. kebodohan akan menghantui. Akhirnya.

Pengangguran terbuka (open unemployment). Setengah pengangguran (under unemployment). Pengangguran struktural. Pengangguran friksional. tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya.1997). yaitu pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan struktur dalam perekonomian. 2. adalah mereka yang secara nominal bekerja penuh namun produktivitasnya rendah sehingga . yang dimaksudkan dengan pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu.5 Pengangguran Dalam standar pengertian yang sudah ditentukan secara internasional. antara lain: 1. menurut Sadono Sukirno (2000) pengangguran biasanya dibedakan atas 3 jenis berdasarkan keadaan yang menyebabkannya. Menurut Edwards. 3. Oleh sebab itu. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh kelebihan pengangguran alamiah dan berlaku sebagai akibat pengurangan dalam permintaan agregat. 1974 (dikutip dari Lincolin.36 2. adalah mereka yang mampu dan seringkali sangat ingin bekerja tetapi tidak tersedia pekerjaan yang cocok untuk mereka.1. 2. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh tindakan seseorang pekerja untuk meninggalkan kerjanya dan mencari kerja yang lebih baik atau sesuai dengan keinginannya. Pengangguran konjungtur. bentuk-bentuk pengangguran adalah: 1.

37 pengurangan dalam jam kerjanya tidak mempunyai arti atas produksi secara keseluruhan. 3. Jika rumah tangga memiliki batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini sangat dipengaruhi oleh pendapatan saat ini. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di negara yang sedang berkembang menjadi semakin serius. maka peningkatan pengangguran akan menyebabkan peningkatan kemiskinan dalam jangka panjang. 4. tetapi tidak terlalu berpengaruh dalam jangka pendek. antara lain: 1. adalah mereka yang mungkin bekerja penuh tetapi intensitasnya lemah karena kurang gizi atau penyakitan. pengangguran dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan dengan berbagai cara. adalah mereka yang mampu bekerja secara produktif tetapi tidak bisa menghasilkan sesuatu yang baik. Tenaga kerja yang lemah (impaired). Tenaga kerja yang tidak produktif. maka bencana pengangguran akan secara langsung mempengaruhi income poverty rate dengan consumption poverty rate. Tingkat pengangguran terbuka sekarang ini yang ada di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia rata-rata sekitar 10 persen dari seluruh angkatan kerja di . 2. Jika rumah tangga tidak menghadapi batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini tidak terlalu dipengaruhi oleh pendapatan saat ini. Menurut Tambunan (2001).

Mereka menolak pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka (Lincolin Arsyad. dan distribusi pendapatan yang tidak merata. luasnya kemiskinan. Hal ini karena kadangkala ada pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. tingkat pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah kesempatan kerja di negara yang sedang berkembang yang bagaikan ujung sebuah gunung es. salah satu mekanisme pokok untuk mengurangi kemiskinan dan ketidakmerataan distribusi pendapatan di negara . Namun demikan. sedang yang bekerja secara penuh adalah orang kaya. Masalah ini dipandang lebih serius lagi bagi mereka yang berusia antara 15 . Bagi sebagian besar mereka. kondisi seperti ini membawa dampak bagi terciptanya dan membengkaknya jumlah kemiskinan yang ada. yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap atau hanya bekerja paruh waktu (part time) selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. 1997) Di samping penjelasan tersebut. Ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran.24 tahun yang kebanyakan mempunyai pendidikan yang lumayan. Apabila mereka tidak bekerja konsekuensinya adalah mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan baik.38 perkotaan. adalah salah jika beranggapan bahwa setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin. Namun demikian. Mereka yang bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara kelompok masyarakat kelas menengah ke atas.

39 sedang berkembang adalah memberikan upah yang memadai dan menyediakan kesempatan kerja bagi kelompok masyarakat miskin (Lincolin Arsyad. melemahnya perlindungan terhadap aset usaha. Lebih jauh. Dian Octaviani (2001) menyatakan bahwa sebagian rumah tangga di Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar atas pendapatan gaji atau upah yang diperoleh saat ini. perbedaan upah. maka insiden pengangguran akan dengan mudah menggeser posisi mereka menjadi kelompok masyarakat miskin. Hal tersebut menunjukkan ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dengan luasnya kemiskinan. Hilangnya lapangan pekerjaan menyebabkan berkurangnya sebagian besar penerimaan yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Masyarakat miskin pada umumnya menghadapi permasalahan terbatasanya kesempatan kerja. serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak . Besarnya dimensi kemiskinan tercermin dari jumlah penduduk yang tingkat pendapatan atau konsumsinya berada di bawah tingkat minimum yang telah ditetapkan. 1997). Besarnya dampak krisis terhadap kemiskinan yang menyebabkan menjamurnya insiden kebangkrutan sebagai akibat tekanan pada kesempatan kerja di sektor informal perkotaan semakin besar. terbatasnya peluang mengembangkan usaha. jika masalah pengangguran ini terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah (terutama kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan sedikit berada di atas garis kemiskinan). Pada negara yang sedang berkembang bukan saja menghadapi kemerosotan dalam ketimpangan relatif tetapi juga masalah kenaikan dalam kemiskinan dan tingkat pengangguran.

Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat miskin dalam rangka mengembangkan kemampuan kerja dan berusaha. 4. 2. tetapi juga siapa yang melaksanakan dan berhak menikmati hasilnya. 2.2 Pengaruh Variabel Independen terhadap Variabel Dependen 2. Namun yang menjadi permasalahan bukan hanya soal bagaimana cara memacu pertumbuhan.2.1 Pengaruh PDRB terhadap Tingkat Kemiskinan Menurut Todaro (dikutip dari Tambunan. Meningkatkan perlindungan terhadap buruh migran di dalam dan luar negeri. 3. Meningkatkan efektifitas dan kemampuan kelembagaan pemerintah dalam menegakkan hubungan industrial yang manusiawi. Meningkatkan kemitraan global dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan perlindungan kerja. 2001) pembangunan ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil. Oleh sebab itu.40 dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumah tangga. Rencana tersebut antara lain: 1. pemerintah telah merumuskan berbagai rencana untuk memenuhi hak masyarakat miskin atas pekerjaan dan pengembangan usaha yang layak guna mengurangi tingkat pengangguran. dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). .

2001). tetapi harus memperhatikan sejauh mana distribusi pendapatan telah menyebar ke lapisan masyarakat serta siapa yang telah menikmati hasil-hasilnya. karena pada tahap awal proses pembangunan tingkat kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang. atau kota. Selanjutnya pembangunan ekonomi tidak semata-mata diukur berdasarkan pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) secara keseluruhan. pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat. kabupaten.2 Pengaruh Pendidikan terhadap Kemiskinan . Dan apabila tingkat pendapatan penduduk sangat terbatas. 2.2. Menurut Sadono Sukirno (2000). laju pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil. Sehingga menurunnya PDRB suatu daerah berdampak pada kualitas dan pada konsumsi rumah tangga. banyak rumah tangga miskin terpaksa merubah pola makanan pokoknya ke barang paling murah dengan jumlah barang yang berkurang. Selanjutnya menurut penelitian Deni Tisna (2008) menyatakan bahwa PDRB sebagai indikator pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap kemiskinan. Menuru Kuznet (dikutip dari Tulus Tambunan.41 Menurut Kuncoro (2001) pendekatan pembangunan tradisional lebih dimaknai sebagai pembangunan yang lebih memfokuskan pada peningkatan PDRB suatu provinsi.

dan tingkat output. akan mempunyai perbedaan pendapatan 300 persen sampai dengan 800 persen. produsen atau warganegara. Korelasi ini dapat dilihat terutama pada seseorang yang dapat menyelasaikan sekolah tingkat lanjutan dan universitas. sasaran utama pembangunan di tahun 1950-an dan 1960-an adalah mamaksimumkan tingkat pertumbuhan output total. Hal ini tidak mengherankan karena. Pendidikan dapat meningkatkan kemampuan penduduk untuk memperoleh dan menggunakan informasi. dan memberi pilihan kepada penduduk apakan berperan sebagai konsumen. memperluas produktifitas. Selanjutnya Todaro (2000) menyatakan bahwa pendidikan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar. memperdalam pemahaman akan perekonomian.42 Todaro (1994) menyatakan bahwa selama beberapa tahun. Gaiha (1993) menjelaskan bahwa pendidikan berperan penting dalam kesejahteraan seseorang dengan berbagai cara yang berbeda. sebagian besar penelitian dibidang ilmu ekonomi. dampak pendidikan atas distribusi pendapatan dan usaha menghilangkan kemiskinan absolut sebagian besar telah dilupakan. dengan tenaga kerja yang hanya menyelesaikan sebagian ataupun seluruh pendidikan tingkat sekolah . menitik beratkan pada keterkaitan antara pendidikan. Akibatnya. produktifitas tenaga kerja. Selain itu pendidikan dan distribusi pendapatan adalah mempunyai korelasi yang positif dengan penghasilannya selama hidup seseorang. Yang mana pendidikan mamainkan peranan kunci dalam membentuk kemampuan sebuah negara dalam menyerap teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan. baik di negara-negara maju maupun di negaranegara sedang berkembang.

Masyarakat yang bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara kelompok masyarakat kelas menengah keatas. dan tingkat inflasi. PDRB. yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau hanya part-time selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. Sehingga tingkat pendidikan sangat berpengaruh dalam mengatasi masalah kemiskinan. jelas ketimpangan pendapatan yang besar tersebut akan semakin besar. Tetapi pendidikan tinggi hanya mampu dicapai oleh orang kaya. Dimana digambarkan dengan seorang miskin yang mengharapkan pekerjaaan baik serta penghasilan yang tinggi maka harus mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi. sedangkan yang bekerja secara penuh . pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. Dalam penelitian Hermanto dan Dwi (2006) dihasilkan bahwa pendidikan mempunyai pengaruh paling tinggi terhadap kemiskinan dibandingkan variabel pembangunan lain seperti jumlah penduduk. Bagi sebagian besar masyarakat.3 Pengaruh Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan Lincolind Arsyad (1997) menyatakan bahwa ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan.2. Sedangkan orang miskin tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi seperti sekolah lanjutan dan universitas. Menurut Simmons (dikutip dari Todaro. 2. 1994).43 dasar. Karena tingkat penghasilan sangat dipengaruhi oleh lamanya tahun memperoleh pendidikan. Setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin.

2. Orang-orang seperti ini bisa disebut menganggur tetapi belum tentu miskin. Yang artinya bahwa semakin tinggi tingkat pengganguran maka akanmeningkatkan kemiskinan. banyaknya induvidu yang mungkin bekerja secara penuh per hari. Banyak pekerja yang mandiri disektor informal yang bekerja secara penuh tetapi mereka sering masih tetap miskin. Mereka menolak pekerjaan-pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber-sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka. Sama juga halnya adalah. Hilangnya lapangan pekerjaan menyebabkan berkurangnya sebagian besar penerimaan yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari.44 adalah orang kaya. tetapi tetap memperoleh pendapatan yang sedikit. Karena kadangkala ada juga pekerja diperkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik dan yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. jika masalah pengangguran ini terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah (terutama kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan sedikit berada di atas garis kemiskinan).3 Penelitian Terdahulu . Lebih jauh. maka insiden pengangguran akan dengan mudah menggeser posisi mereka menjadi kelompok masyarakat miskin. Dian Octaviani (2001) mengatakan bahwa sebagian rumah tangga di Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar atas pendapatan gaji atau upah yang diperoleh saat ini.

Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri yang dikemukakan oleh Cutler dan Katz (1991).45 Beberapa penelitian tentang kemiskinan di berbagai negara telah dilakukan oleh sejumlah peneliti. dan Kemiskinan di Indonesia: Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke”. sebaliknya semakin kecil angka pengangguran akan menyebabkan semakin rendahnya tingkat kemiskinan di Indonesia. yaitu : Pt = β0 + β1 (P/Y)T + β2 ρT + β3 µt + β4 Gt + εt Dimana: Pt = tingkat kemiskinan agregat pada tahun ke t diukur dengan indeks FGT (P/Y)t = rasio garis kemiskinan terhadap pendapatan rata-rata ρT = tingkat inflasi µt = tingkat pengangguran Gt = rasio gini εt = error term Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kenaikan angka pengangguran mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. Tulisannya menganalisis tentang pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia. Pengangguran. b) Penelitian yang dilakukan oleh Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti (2006) dengan judul “Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap . antara lain: a) Penelitian yang dilakukan oleh Dian Octaviani (2001) dengan judul “Inflasi.

Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri sebagi berikut: Poverty = β0 + β1 PDRB + β2 Populasi + β3 Agrishare + β4 Industrieshare + β5 Inflasi + β6 SMP + β7 SMA + β8 DIPLOMA + β9 Dummy Krisis + ε Dimana: Poverty PDRB Agrishare = Tingkat kemiskinan = Pendapatan PDRB = Pangsa sektor pertanian dalam PDRB Industrieshare = Pangsa sektor industri dalam PDRB Inflasi SMP SMA DIPLOMA = Tingkat inflasi = jumlah lulusan setingkat SMP = jumlah lulusan setingkat SMA = jumlah lulusan setingkat Diploma Dummy Krisis = dummy krisis ekonomi Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kenaikan PDRB mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. Tulisannya menganalisis tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia. Analisis yang dilakukan adalah analisis Deskriptif dan ekonometrika dengan menggunakan metode Panel Data. kenaikan Jumlah Penduduk mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. kenaikan Inflasi mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. kenaikan Share .46 Penurunan Jumlah Penduduk Miskin”.

Analisis yang dilakukan adalah analisis Deskriptif dan ekonometrika dengan menggunakan metode Panel Data. kenaikan tingkat pendidikan mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri sebagi berikut: MS = f (GR. dalam hal ini untuk seluruh Provinsi di Indonesia dari tahun 2003 – 2004. Dimana pengaruh tingkat pendidik SMP lebih besar daripada pengaruh share pertanian. PDRB. Tulisannya meneliti tentang pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan. . pertumbuhan ekonomi.47 pertanian dan industri mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. dan pengangguran terhadap kemiskinan di Indonesia. PG) Y it = β0 + β1 X1it + β2 X2it + β3 X3it + Uit dimana: MS GR PDRB = jumlah kemiskinan. pertumbuhan ekonomi. dan pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 20032004”. Sedangkan kenaikan Dummy krisis mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. c) Penelitian yang dilakukan oleh Deny Tisna Amijaya (2008) dengan judul “Pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan. = variabel ketidakmerataan distribusi pendapatan. = variabel tingkat pertumbuhan ekonomi.

Variabel yang dapat . = cross section. kepala keluarga sebagai buruh tani. sedangkan variabel pengangguran berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan. = koefisien. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa variabel yang dapat menambah kemiskinan berturut-turut dari nilai marginal effect terbesar adalah jumlah anggota rumah tangga. variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. = error.48 PG i t Β0 Β1. = konstanta. Bonar M. Tulisannya menganalisis tentang Bagaimana pengaruh penerapan desentralisasi fiskal terhadap determinasi kemiskinan. d) Penelitian yang dilakukan oleh Usman. = time series. dan Mermanto Siregar (2009) dengan judul “ Analisis Determinan Kemiskinan Sebelum Dan Sesudah Desentralisasi Fiskal”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel ketidakmerataan distribusi pendapatan berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan. Sinaga. dan kepala keluarga bekerja di bidang pertanian. Β2. Β3 U = variabel tingkat pengangguran. sumber air yang tidak terlindung. Dimana Analisis tentang variabel-variabel yang berhubungan dengan kemiskinan atau determinan kemiskinan untuk menjawab tujuan dari studi ini dilakukan dengan menggunakan Model Regrasi Logit atau disingkat Model Logit.

Tulisannya menganalisis tentang pertumbuhan ekonomi yang cepat (dipercepat) pada umumnya berpotensi menciptakan . f) Penelitian yang dilakukan oleh Harlem Siahaan (1995) dengan judul “Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945 – 1984”.49 mengurangi kemiskinan adalah kepala rumah tangga yang bekerja. bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota. e) Penelitian yang dilakukan oleh Rasidin K. poverty depth dan poverty severity kecuali untuk rumahtangga bukan pertanian golongan atas di desa. yang ditunjukkan oleh peningkatan stok kapital. Tulisannya menganalisis tentang Bagaimana pengaruh investasi sumberdaya manusia terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan in Indonesia dengan menggunakan kombinasi model Komputasi Keseimbangan umum dan metode FosterGreer-Thorbecke. kepemilikan aset lahan pertanian. Sinaga (2009) dengan judul “ Dampak Investasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Kemiskinan Di Indonesia: Pendekatan Model Computable General Equilibrium”. Sitepul dan Bonar M. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Peningkatan investasi sumberdaya manusia secara langsung berdampak pada peningkatan produktivitas tenaga kerja yang mendorong pada peningkatan Produk Domestik Bruto Riil. Investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan dapat menurunkan poverty incidence. dan jumlah tahun bersekolah seluruh anggota keluarga. neraca perdagangan dan konsumsi rumah tangga.

. akan berpotensi menciptakan situasi dan fenomena politik yang tidak menentu karena masalah-masalah ekonomi termasuk pembangunan ekonomi tidaklah tepat jika dilihat dari sudut dan perspektif ekonomi.50 berbagai bentuk kesenjangan dan permasalahan yang menghasilkan kontradiksi sosial-politik. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia maupun perbaikan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut.

dan pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 2003-2004 Oleh: Deny Tisna Amijaya (2008) Analisis determinan Bagaimana pengaruh • PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kemiskinan. dan pengangguran dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. 3 4 Pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan.TABEL 2. Share pertanian. Pengangguran. Jumlah penduduk. • Tingkat pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Share industri. terhadap kemiskinan • Tingkat pengangguran berpengaruh positif dan Indonesia 2003–2004 signifikanterhadap tingkat kemiskinan PDRB. pendapatan.1 RANGKUMAN PENELITIAN TERHADULU No 1 51 2 JUDUL dan PENULIS (Tahun) Inflasi. Pendidikan. Tingkat Pengangguran. pertumbuhan ekonomi. Inflasi. Gini Rasio PERMASALAHAN Bagaimana pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia HASIL PENELITIAN Tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kemiskinan di Indonesia. • Krisis berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan Distribusi pendapatan. terhadap tingkat kemiskinan • Jumlah Penduduk berpengaruh negatif dan di Indonesia signifikan terhadap kemiskinan. • Share pertanian dan industri berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. (PDRB). Bagaimana pengaruh • Ketidakmerataan distribusi pendapatan berpengaruh Pertumbuhan ekonomi ketidakmerataan distribusi positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Dummy krisis ekonomi th 1997-1998 Jumlah anggota rumah Bagaimana pengaruh Variabel yang dapat menambah kemiskinan . pertumbuhan • Tingkat pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif Pengangguran ekonomi. • Tingkat Inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. dan Kemiskinan di Indonesia: Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke Oleh: Dian Octaviani (2001) Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin Oleh: Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti (2006) Variabel Tingkat Inflasi.

neraca perdagangan dan General Equilibrium dengan menggunakan konsumsi rumah tangga. Oleh: Rasidin K. Sinaga. dan kepala keluarga bekerja di bidang pertanian. poverty depth (2009) metode Foster-Greerdan poverty severity kecuali untuk rumahtangga Thorbecke bukan pertanian golongan atas di desa. sumber air yang tidak terlindung. bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota kemiskinan sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal 5Oleh: Usman. Kepala rumah tangga yang bekerja. Sinaga Keseimbangan umum dan dapat menurunkan poverty incidence. Lama pendidikan anggota keluarga penerapan desentralisasi fiskal terhadap determinasi kemiskinan. kepala keluarga sebagai buruh tani. Kepemilikan aset lahan pertanian. kepemilikan aset lahan pertanian. Sitepul dan kombinasi model Komputasi • Investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan Bonar M.52 berturut-turut dari nilai marginal effect terbesar adalah jumlah anggota rumah tangga. 5 6 Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945 – 1984 Oleh: Harlem Siahaan (1995) Bagaimana hubungan • Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia maupun pertumbuhan ekonomi yang perbaikan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi cepat (dipercepat) terhadap untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut. sosial-politik . akan berbagai bentuk berpotensi menciptakan situasi dan fenomena politik kesenjangan dan yang tidak menentu karena masalah-masalah permasalahan yang ekonomi termasuk pembangunan ekonomi tidaklah menghasilkan kontradiksi tepat jika dilihat dari sudut dan perspektif ekonomi. dan Mermanto Siregar (2009) Tangga. Variabel yang dapat mengurangi kemiskinan adalah kepala rumah tangga yang bekerja. yang ditunjukkan oleh Pendekatan Model Computable kemiskinan in Indonesia peningkatan stok kapital. Bonar M. dan jumlah tahun bersekolah seluruh anggota keluarga Dampak Investasi Sumberdaya Tingkat Pendidikan Bagaimana pengaruh • Peningkatan investasi sumberdaya manusia secara Manusia Terhadap Pertumbuhan ekonomi investasi sumberdaya langsung berdampak pada peningkatan produktivitas Pertumbuhan Ekonomi Dan (PDRB) manusia terhadap tenaga kerja yang mendorong pada peningkatan Kemiskinan Di Indonesia: pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Bruto Riil.

Selanjutnya Deni Tisna (2008) dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara ketidakmerataan distribusi pendapatan. tingkat inflasi dan pendidikan. PDRB. Dengan hasil regresi tersebut diharapkan mendapatkan tingkat signifikansi setiap variabel independen dalam . tingkat share pertanian dan industri. Hal ini merupakan permasalahan mendasar dalam perumusan kebijakan pembangunan daerah. Hermanto dan Dwi (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang lazim dipergunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan. dengan variabel dependen (terikat) yaitu kemiskinan yang diukur dengan alat analisis regresi untuk mendapatkan tingkat signifikansinya. padahal tujuan perencanaan pembangunan yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang nantinya penting dalam mengurangi kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. antara lain PDRB. Sehingga penelitian ini difokuskan pada bagaimana pengaruh Jumlah penduduk. pertumbuhan jumlah penduduk.53 2.4 Kerangka Pemikiran Tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah hingga tahun 2008 masih menduduki peringkat paling tinggi dibanding provinsi-provinsi lainnya di Pulau Jawa. pendidikan dan tingkat pengangguran. Kemudian variabel-variabel tersebut sebagai variabel independen (bebas) dan bersama-sama. pendidikan dan tingkat pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah bahwa kemiskinan dipengaruhi oleh tiga variabel pembangunan ekonomi. dimana pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan PDRB. pertumbuhan ekonomi dan pengangguran terhadap kemiskinan.

1 Kerangka Pemikiran PDRB PENDIDIKAN KEMISKINAN PENGANGGURAN 2. Selanjutnya tingkat signifikansi setiap variabel independen tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran kepada pemerintah dan pihak yang terkait mengenai penyebab kemiskinan di Jawa Tengah untuk dapat merumuskan suatu kebijakan yang relevan dalam upaya pengentasan kemiskinan. dimana suatu hipotesis selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menghubungkan dua variabel atau lebih (J.5 Hipotesis Hipotesis adalah pendapat sementara dan pedoman serta arah dalam penelitian yang disusun berdasarkan pada teori yang terkait. Secara skema kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut. 1997) . Gambar 2. Supranto.54 mempengaruhi kemiskinan.

55

Dengan mengacu pada dasar pemikiran yang bersifat teoritis dan berdasarkan studi empiris yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian dibidang ini, maka akan diajukan hipotesis sebagai berikut : 1. Diduga Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. 2. Diduga pendidikan (melek huruf) berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. 3. Diduga pengangguran berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan.

56

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional Variabel penelitian merupakan construct atau konsep yang dapat diukur

dengan berbagai macam nilai untuk memberikan gambaran yang nyata mengenai fenomena yang diteliti. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. 1. Variabel Dependen Variabel dependen dalam penelitian adalah kemiskinan yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah menurut kabupaten/kota pada tahun 2006-2008. 2. Variabel Independen Variabel independen dalam penelitian ini adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pendidikan dan pengangguran. Langkah berikutnya setelah menspesifikasi variabel-variabel penelitian adalah melakukan pendefinisian secara operasional. Hal ini bertujuan agar variabel penelitian yang telah ditetapkan dapat dioperasionalkan, sehingga memberikan petunjuk tentang bagian suatu variabel dapat diukur.

56

57

Dalam penelitian ini definisi operasional yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Kemiskinan (KM) Kemiskinan berarti sejumlah penduduk yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang telah ditetapkan oleh suatu badan atau orang tertentu dan perhitungan yang dilakukan oleh badan atau organisasi tersebut digunakan sebagai standar perhitungan untuk menentukan jumlah kemiskinan yang ada di suatu daerah. Atau singkatnya, penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, garis kemiskinan yang digunakan adalah garis kemiskinan yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah persentase penduduk miskin tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). 2. PDRB (PDRB) PDRB adalah keseluruhan nilai barang dan jasa yang diproduksi didalam suatu daerah tertentu dalam satu tahun tertentu. Berdasarkan uraiaan yang disampaikan oleh Sadono Sukirno (2000), laju pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan struktur ekonomi berlaku atau tidak, perhitungan PDRB akan ditimbulkan dari suatu daerah ada tiga pendekatan. PDRB yang dimaksud adalah laju PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen).

58 3. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk melek huruf Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). Data yang digunakan untuk melihat pengangguran adalah pengangguran terbuka di Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). 1997) adalah mereka yang mampu dan seringkali sangat ingin bekerja tetapi tidak tersedia pekerjaan yang cocok untuk mereka. 4. tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya. Pengangguran (PG) Pengangguran berarti seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu. penduduk yang sedang mempersiapkan suatu usaha. Pendidikan (MH) Pendidikan dalam hal ini diproksi dengan besarnya angka melek huruf. penduduk yang merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Sedangkan menurut BPS (Badan Pusat Statisktik) adalah meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan. Pengertian pengangguran terbuka (open unemployment) menurut Edwards (1974) (dalam Lincolin. . penduduk yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) melek huruf adalah kemampuan seseorang membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya (selain huruf latin) yang masing-masing merupakan keterampilan dasar yang diajarkan di kelas-kelas awal jenjang pendidikan dasar.

2008. dokumen-dokumen perusahaan atau organisasi. Data laju Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan untuk masing-masing kabupaten/kota Jawa Tengah tahun 2005-2008. sehingga penelitian pada periode tersebut menarik untuk diamati serta data tersedia pada tahun tersebut.2 Jenis Dan Sumber Data Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yaitu data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti. Data sekunder yang digunakan adalah penggabungan dari deret berkala (time series) dari tahun 2005 . Pemilihan periode ini disebabkan karena kemiskinan mengalami fluktuasi dan terjadinya peningkatan PDRB dan diikuti dengan peningkatan pengangguran di tahun 2006.2008 untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah. ataupun publikasi lainnya (Marzuki. 2. 2005). misalnya diambil dari Badan Pusat Statistik. surat kabar dan majalah. Data persentase penduduk miskin daerah untuk masing-masing kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . Data yang diperlukan adalah: 1. Periode data yang digunakan adalah data tahun 2005 .59 3. .2008 dan deret lintang (cross section) sebanyak 35 data mewakili kabupaten/kota di Jawa Tengah yang menghasilkan 140 observasi.

3. Data pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf untuk masingmasing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . Data pengangguran terbuka untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “PDRB Jawa Tengah”. 4. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Data dan Informasi Kemiskinan”. 4. Data pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf untuk masingmasing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . 2.2008. 3.2008.2008. disamping itu metode pengumpulan data memiliki fungsi teknis guna .2008. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Jawa Tengah Dalam Angka”.3 Metode Pengumpulan Data Anto Dajan (2001) Menyatakan bahwa metode pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematis dan standar guna memperoleh data kuantitatif. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Tengah”. Data persentase penduduk miskin daerah untuk masing-masing kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 .2008. Data pengangguran untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 .60 3. Data laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . Adapun sumber data tersebut diatas diperoleh dari: 1.2008.

........ i = 1.. .1) dimana N adalah banyaknya data cross-section Sedangkan persamaan model dengan time-series adalah : .. serta dari browsing website internet yang terkait dengan masalah kemiskinan..4 3... jurnal. 2... (3. digunakan buku referensi....... unit cross section yang sama di survey dalam beberapa waktu....1 Metode Analisis Metode Analisis Data Panel Studi ini menggunakan analisis panel data sebagai alat pengolahan data dengan menggunakan program Eviews 6.. Dalam model panel data.... N ... sehingga tidak diperlukan teknik sampling serta kuesioner.61 memungkinkan para peneliti melakukan pengumpulan data sedemikian rupa sehingga angka-angka dapat diberikan pada obyek yang diteliti... Gujarati (2003) menyatakan bahwa untuk menggambarkan data panel secara singkat.. Periode data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tahun 2005 – 2008.. Data yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini sepenuhnya diperoleh melalui studi pustaka sebagai metode pengumpulan datanya.. Dalam data panel...... Analisis dengan menggunakan panel data adalah kombinasi antara deret waktu (time-series data) dan kerat lintang (cross-section data)... nilai dari satu variabel atau lebih dikumpulkan untuk beberapa unit sampel pada suatu waktu. persamaan model dengan menggunakan data cross-section dapat ditulis sebagai berikut : Yi = β0 + β1 Xi + εi ...... 3. misalkan pada data cross section... surat kabar. Sebagai pendukung.4.........

. T ... maka model dapat ditulis dengan : Yit = β0 + β1 Xit + εit .. data lebih informasif....... . 2... T dimana : N T = banyaknya observasi = banyaknya waktu N × T = banyaknya data panel Menurut Hsiao..3) i = 1....62 Yt = β0 + β1 Xt + εt .....2) dimana T adalah banyaknya data time-series Mengingat data panel merupakan gabungan dari time-series dan cross-section..... 2. ........... 1986 (dikutip dari Firmansyah...... 2..... t = 1................... t = 1... yang tidak dapat diberikan hanya oleh data cross section dan time series daja..(3.... b.........(3. lebih bervariasi...... Panel data dapat memberikan penyelesaian yang lebih baik dalam inferensi perubahan dinamis dibandingkan data cross section..... dimana dapat menghasilkan ekonometri yang efisien........... N . ... meningkatkan degrees of freedom (derajat kebebasan)................ c.......... Dengan panel data.... 2009) keunggulan penggunaan data panel dibandingkan deret waktu dan kerat lintang adalah : a............... data memiliki variabilitas yang besar dan mengurangi kolinearitas antara variabel penjelas... ..... Dapat memberikan peneliti jumlah pengamatan yang besar.

Penambahan variabel boneka ini akan dapat mengurangi banyaknya derajat kebebasan (degree of freedom) yang pada akhirnya akan mengurangi efisiensi dari parameter yang diestimasi. Pendekatan efek tetap (Fixed effect) Salah satu kesulitan prosedur panel data adalah bahwa asumsi intersep dan slope yang konsisten sulit terpenuhi. dua macam pendekatan yang terdiri dari pendekatan efek tetap (fixed effect). dan pendekatan efek acak (random effect). Untuk mengatasi hal tersebut. . Model panel data yang di dalamnya melibatkan korelasi antar error term karena berubahnya waktu karena berbedanya observasi dapat diatasi dengan pendekatan model komponen error (error component model) atau disebut juga model efek acak (random effect).63 Dalam analisis model panel data dikenal. Pendekatan efek acak (Random effect) Keputusan untuk memasukkan variabel boneka dalam model efek tetap (fixed effect) tak dapat dipungkiri akan dapat menimbulkan konsekuensi (trade off). 2. Kedua pendekatan yang dilakukan dalam analisis panel data dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. yang dilakukan dalam panel data adalah dengan memasukkan variabel boneka (dummy variable) untuk mengizinkan terjadinya perbedaan nilai parameter yang berbeda-beda baik lintas unit (cross section) maupun antar waktu (time-series). Pendekatan dengan memasukkan variabel boneka ini dikenal dengan sebutan model efek tetap (fixed effect) atau Least Square Dummy Variable (LSDV).

3. Jadi.4. Pendidikan (MH) dan variabel tingkat pengangguran (PG) terhadap kemiskinan (KM) menggunakan data time-series selama empat tahun . apabila kita meyakini bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian diambil secara acak (random) maka random effect harus digunakan. maka hasil fixed effect dan random effect tidak jauh berbeda sehingga dapat dipilih pendekatan yang lebih mudah untuk dihitung yaitu fixed effect model (FEM). Sebaliknya. Apabila N besar dan T kecil.2 Estimasi Model Penelitian mengenai pengaruh variabel variabel tingkat pertumbuhan ekonomi (PDRB). Apabila jumlah time-series (T) besar sedangkan jumlah cross-section (N) kecil. apabila kita meyakini bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian tidak diambil secara acak maka kita harus menggunakan fixed effect. 2. Apabila N besar dan T kecil.64 Menurut Judge ada empat pertimbangan pokok untuk memilih antara menggunakan pendekatan efek tetap (fixed effect). 4. maka random effect lebih efisien dibandingkan fixed effect. Apabila komponen error εi individual berkorelasi maka penaksir random effect akan bias dan penaksir fixed effect tidak bias. maka hasil estimasi kedua pendekatan akan berbeda jauh. dan apabila asumsi yang mendasari random effect dapat terpenuhi. 3. dan pendekatan efek acak (random effect) dalam data panel : 1.

dan error term. pengaruh variabel variabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Asumsi FEM yang dugunakan dalam penelitian ini adalah asumsi FEM yang kedua. yaitu koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu. Koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu. Gujarati (2003) menjelaskan bahwa estimasi model regresi panel data dengan pendekatan fixed effect tergantung pada asumsi yang digunakan pada intersep.65 yang diwakili data tahunan dari 2005 . Asumsi bahwa intersep dan koefisien slope adalah konstan antar waktu (time) dan ruang (space) dan error term mencakup perbedaan sepanjang waktu dan individu. d. Koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu dan waktu. dimana ada beberapa kemungkinan asumsi yaitu : a.2008 dan data cross-section sebanyak 35 data mewakili kabupaten/kota di Jawa Tengah yang menghasilkan 140 observasi. Seluruh koefisien (intersep dan koefisien slope) bervariasi antar individu. koefisien slope. Intersep sebagaimana koefisien slope bervariasi bervariasi antar individu dan waktu. e. Pendidikan (MH) dan variabel tingkat pengangguran (PG) terhadap kemiskinan (KM) digunakan asumsi FEM dikerenakan N besar dan T kecil selain itu bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian tidak diambil secara acak maka kita harus menggunakan fixed effect. Model fungsi yang akan digunakan untuk mengetahui kemiskinan di Jawa Tengah yaitu: . c. b. Dalam penelitian ini.

... = koefisien. Alasan pemilihan model logaritma natural (Imam Ghozali.....66 KM = f (PDRB......... = konstanta. Adanya perbedaan dalam satuan dan besaran variabel bebas dalam persamaan menyebabkan persamaan regresi harus dibuat dengan model logaritma natural...... Mendekatkan skala data Dalam model penelitian ini logaritma yang digunakan adalah dalam bentuk log .......... Menghindari adanya heteroskedastisitas b......... (3...... (3... PG) .......6) keterangan: log β1 – β5 = log-linear... .... = pendidikan atau angka melek huruf dalam persen = pengangguran dalam persen..... MH.5) dimana: KM PDRB MH PG i t Β0 Β1..................................................linear (log)... Mengetahui koefisien yang menunjukkan elastisitas c. Sehingga persamaan menjadi sebagai berikut: Log KM = β0 + β1 Log PDRB it + β2 Log MH it + β3 LogPG it + Uit . = time series... 2005) adalah sebagai berikut : a.... = laju PDRB harga konstan 2000 dalam persen.. = error.......……………………… (3.4) KMit = β0 + β1 PDRBit + β2 MHit +β3 PGit+ Uit ...... Β2... = koefisien............ = cross section.…......... Β3 U = persentase kemiskinan dalam persen.....

..1 Pengujian Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi. .5.. Ada beberapa metode untuk mengetahui normal atau tidak gangguan (µ) antara lain J-B test dan metode grafik. maka hipotesis yang menyatakan bahwa residual Ut terdistribusi normal ditolak dan sebaliknya.... (3. Penelitian ini akan menggunakan metode J-B test yang dilakukan dengan menghitung skweness dan kurtosis. 3.. 2002). keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak.5 3. apabila J-B hitung < nilai X² (Chi Square) tabel...7) Jika nilai J – B hitung > J-B tabel.. Model regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi normal atau mendekati normal (Imam Ghozali. maka nilai residual berdistribusi normal...67 U = error. variabel terikat dan variabel bebas. Model untuk mengetahui uji normalitas adalah: J – B hitung = dimana: S K = Skewness statistik = Kurtosis [ S2/6 + ( k −3 2 ) 24 ] ……………………….

.. Model untuk mengetahui uji multikolinearitas adalah: KM = f (PDRB......68 3.. maka variabel-variabel ini tidak ortogonal...... PG) ..... Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol... PG) ...... MH......... Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen...………………..….… (3......9) MH PG = f (PDRB.. Jika variabel bebas saling berkorelasi........ Salah satu munculnya multikolinearitas adalah R² sangat tinggi dan tidak satupun koefisien regresi yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel tidak bebas secara skolastik.8) PDRB = f (MH..11) Penelitian ini akan menggunakan Auxiliary Regression untuk mendeteksi adanya multikolinearitas...……………......…………....10) = f (PDRB..…………...2 Uji Multikolinearitas Imam Ghozali (2002) menyatakan bahwa multikolinearitas mempunyai pengertian bahwa ada hubungan linear yang “sempurna” atau pasti diantara beberapa atau semua variabel independen (variabel yang menjelaskan) dari model regresi.….. Konsekuensi adanya multikolinearitas adalah koefisien regresi variabel tidak tentu dan kesalahan menjadi tidak terhingga... Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen)... MH) .…....… (3....... Kriterianya adalah jika R2 regresi persamaan utama .… (3....5... PG) …...…...……… (3..

3 Uji Autokorelasi Autokerelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data deretan waktu) atau ruang (seperti dalam data cross-sectional. Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode waktu atau ruang dengan kesalahan pengganggu pada waktu atau ruang (sebelumnya).69 lebih besar dari R2 regresi auxiliary maka di dalam model tidak terdapat multikolinearitas.2002 Keputusan Tolak Tidak ada keputusan Tolak Tidak ada keputusan Jangan tolak Kriteria 0 < d < dl dl < d <du 4-dl < d < 4 4-du < d < 4-dl du < d < 4-du . Pengujian menggunakan uji Durbin Watson untuk melihat gejala autokorelasi.1 Kriteria Pengujian Durbin Watson Hipotesis Nol Ada atokorelasi positif Tidak ada autokorelasi positif Ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi Sumber: Imam Gozali. 3.5. Tabel 3.

Secara ringkas walaupun terdapat heteroskedastisitas maka penaksir OLS (Ordinary Least Square) tetap tidak bias dan konsisten tetapi penaksir tadi tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar (yaitu asimtotik).5.2002 3. Menurut Gujarati (1995) bahwa masalah heteroskedastisitas nampaknya menjadi lebih biasa dalam data cross section dibandingkan dengan data time series. .1 Aturan Membandingkan Uji Durbin-Watson Dengan Tabel Durbin-Watson Ada autokorelasi positif dan menolak Ho Tidak ada keputusan Tidak ada autokorelasi dan tidak menolak Ho Tidak ada keputusan Ada autokorelasi negatif dan menolak Ho dl du 2 4-du 4-dl 4 Sumber: Imam Gozali.4 Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas berarti bahwa variasi residual tidak sama untuk semua pengamatan.70 Berdasarkan penjelasan diatas dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 3. Heteroskedastisitas bertentangan dengan salah satu asumsi dasar regresi biar homoskedastisitas yaitu variasi residual sama untuk-semua pengamatan.

3. 3.6 Pengujian Kriteria Statistik Gujarati (1995) menyatakan bahwa uji signifikansi merupakan prosedur yang digunakan untuk menguji kebenaran atau kesalahan dari hasil hipotesis nol dari sampel. jika t-statistik < t-tabel maka tidak ada heterokedastisitas. Ide dasar yang melatarbelakangi pengujian signifikansi adalah uji statistik (estimator) dari distribusi sampel dari suatu statistik dibawah hipotesis nol. pengujian koefisien regresi secara bersama-sama (uji F). dan pengujian koefisien determinasi (uji-R2).1 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t) Uji signifikansi parameter individual (uji t) dilakukan untuk melihat signifikansi dari pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak terikat secara individual dan menganggap variabel lain konstan. . Keputusan untuk mengolah Ho dibuat berdasarkan nilai uji statistik yang diperoleh dari data yang ada. H0 : b1 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel PDRB dengan kemiskinan.05 maka ada heterokedastisitas.6.71 Penelitian ini menggunakan uji Park untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas. Hipotesis yang digunakan: 1. Jika t-statistik > t-tabel maka ada heterokedastisitas.05 maka tidak ada heterokedastisitas. Uji statistik terdiri dari pengujian koefisien regresi parsial (uji t). jika nilai Prob < 0. atau Jika nilai Prob > 0. Uji Park pada prinsipnya meregres residual yang dikuadratkan dengan variabel bebas pada model.

...........72 H1 : b1 < 0 ada pengaruh negatif antara variabel PDRB dengan kemiskinan.. 3.............. Nilai t hitung dapat dicari dengan rumus: t= Bi − Bi * .. H1 : b3 > 0 ada pengaruh positif antara variabel tingkat pengangguran dengan kemiskinan.............. artinya salah satu variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan. b) Jika t-hitung < t-tabel maka H0 diterima...... artinya salah satu variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.................. SE ( Bi ) (3............... H1 : b2 < 0 ada pengaruh negatif antara variabel melek huruf dengan kemiskinan..... H0 : b2 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel melek huruf dengan kemiskinan.... .. 2.. H0 : b3 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel tingkat pengangguran dengan kemiskinan......12) dimana: βi βi* = parameter yang diestimasi = nilai hipotesis dari βI (Ho : βI = βi*) SE(βi) = simpangan baku βi Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut: a) Jika t-hitung > t-tabel maka H0 ditolak.......

....... b2.... b3 = 0 semua variabel independen tidak mampu mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama 2............. 1 − R 2 /( N − l ) (3... b2....................... H1 : b1.... Hipotesis yang digunakan: 1.......2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat.. H0 : b1.......13) dimana: k = jumlah parameter yang diestimasi termasuk konstanta N = jumlah observasi Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut: ..73 3........6........ b3 ≠ 0 semua variabel independen mampu mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama Nilai F hitung dirumuskan sebagai berikut: F= R 2 /(k − 1) .......

............ banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai adjusted (R 2 ) pada saat mengevaluasi model regresi yang terbaik... 3...3 Uji Koefisien Determinasi (uji R2) Imam Ghozali (2002) menyatakan bahwa koefisien determinasi (R 2 ) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan suatu model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Nilai (R 2 ) yang kecil (mendekati nol) berarti kemampuan satu variabel dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas................... yang artinya variabel penjelas secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan... Nilai (R 2 ) adalah antara nol dan satu...14) .......74 a) H0 diterima dan H1 ditolak apabila F hitung < F tabel.6.......... Nilai yang mendekati satu berarti variabelvariabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen... yang artinya variabel penjelas secara bersama-sama mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.... Oleh karena itu.... (3. b) H0 ditolak dan H1 diterima apabila F hitung > F tabel. Setiap tambahan satu variabel pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen................ Kelemahan mendasar penggunaan determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model... Nilai koefisien determinasi diperoleh dengan formula: R 2 ∑y = ∑y *2 2 ..................

Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 263 km dan dari utara ke selatan adalah 226 km (tidak termasuk Pulau Karimunjawa). secara administratif terbagi dalam 35 kabupaten/kota (29 kabupaten dan 6 kota) dengan 565 kecamatan yang meliputi 7872 desa dan 622 kelurahan.254. Secara administratif Provinsi Jawa Tengah berbatasan oleh : Sebelah Utara Sebelah Timur : Laut Jawa : Jawa Timur .1.55 persen) bukan lahan sawah.70 persen dari luas Indonesia. Luas wilayah tersebut terdiri dari 991 ribu hektar (30.1 Kondisi Geografis Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi di Pulau Jawa letaknya diapit oleh dua provinsi besar yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Provinsi Jawa Tengah dengan pusat pemerintahan di Kota Semarang. Luas wilayah Jawa Tengah tercatat sebesar 3.1 Deskripsi Obyek Penelitian 4.412 hektar atau sekitar 25. Secara geografis letaknya antara 5040’ dan 8030’ Lintang Selatan dan antara 108030’ dan 110030’ Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa).04 persen dari luas Pulau Jawa dan 1.26 juta hektar (69.45 persen) lahan sawah dan 2.75 dimana: y* y = nilai y estimasi = nilai y aktual BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.

2004).2 Analisis Data 4. Berikut disajikan data tentang kemiskinan yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008. pemerintah sangat berupaya keras untuk mengatasi permasalahan kemiskinan tersebut sehingga pembangunan dilakukan secara terusmenerus termasuk dalam menentukan batas ukur untuk mengenali siapa si miskin tersebut. kesehatan. gender. tingkat pengangguran. buta huruf. antara lain tingkat pendapatan. . dan lokasi lingkungan. tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Oleh karena itu.76 Sebelah Selatan Sebelah Barat : Samudera Hindia : Jawa Barat 75 4. pendidikan. pertumbuhan ekonomi. akses terhadap barang dan jasa. Selain itu kemiskinan juga merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan.1 Kemiskinan Kemiskinan merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. lokasi. geografis. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi.2. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank.

44 17.14 10.24 19.60 28 10.71 27.49 30.25 20.50 25.79 20.5 16.6 11. Temanggung Kab.46 20.59 29.79 22.79 17.4 21.73 17.47 22.05 15.71 16.49 21.12 18.62 27.75 33.19 7. Brebes Kab.2 13.42 19.03 27. Pati Kab.01 5.58 16.14 29. Magelang Kota.37 20.79 21.38 22.99 23.01 34.69 32.34 21. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kab.4 2007 27.21 31.75 27. Rembang Kab.78 16. Karanganyar Kab.73 17.55 24.82 20.72 12.35 22.27 10./Kota Kab.29 10.96 2006 29.9 19.62 23.64 9.93 18. Purbalingga Kab. Pekalongan Kab.37 19.21 10.4 24.48 10. Surakarta Kota. Banjarnegara Kab.08 18. Demak Kab.83 20. Sukoharjo Kab.72 15.43 11.83 12.22 27.13 15. Pekalongan Kota.93 26.95 20 30.49 17. Semarang Kota. Tegal Kab. Wonogiri Kab.16 24.39 30.06 22.7 22.93 15. Kudus Kab.24 20.52 23.46 18.24 14.33 15. Klaten Kab.77 Tabel 4. Kebumen Kab.87 21. Magelang Kab.36 24.77 30.36 22.63 20. Wonosobo Kota.31 22.38 8.60 14.68 12.39 20.81 4.06 27.68 27.37 8.18 22.05 17. Blora Kab.15 21.25 23.39 16. Batang Kab.79 30.26 13.28 13.02 18.47 6 16.34 22. Pemalang Kab.62 9.72 11.16 10.75 18.44 32.1 Persentase Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen) No.21 11. Sragen Kab.71 12.9 5. Tegal 2005 27.08 25. Banyumas Kab.84 11.36 2008 23.8 25. Salatiga Kota. Boyolali Kab.94 6.14 22.44 19.98 21.93 22.02 18.95 22. Purworejo Kab.29 8.34 8.28 .22 13.59 22. Japara Kab.13 11.59 23. Semarang Kab.87 17.72 13. Cilacap Kab. Kendal Kab.5 25.3 32. Grobogan Kab.01 6.92 27.99 12.67 19.

98 persen di tahun 2008. .78 Sumber: Data dan informasi Kemiskinan Jateng 2008 Tabel 4. Produk Domestik Bruto (PDRB) merupakan penjumlahan nilai output bersih (barang dan jasa akhir) yang ditimbulkan oleh seluruh kegiatan ekonomi.2. di suatu wilayah tertentu (provinsi dan kabupaten/kota). industri pengolahan.2008 terbanyak yaitu berada di Kabupaten Brebes yaitu sebanyak 27. 4. pertambangan. PDRB merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui peranan dan potensi ekonomi di suatu wilayah dalam periode tertentu.79 persen di tahun 2005 dan mengalami penurunan hingga 25. Berikut disajikan data PDRB yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008. sampai dengan jasa-jasa.1 diatas menunjukan bahwa persentase penduduk miskin provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . Kegiatan ekonomi yang dimaksud mulai kegiatan pertanian. Dan kabupaten/Kota yang memiliki persentase penduduk miskin paling sedikit yaitu di Kota semarang yaitu sebanyak 6 persen di tahun 2008.2 Produk Domestik Regionl Bruto (PDRB) Menurut BPS (2008). dan dalam satu kurun waktu tertentu (satu tahun kalender).

Japara 11 Kab.74 5.84 5.05 3.86 4.75 5.08 3.08 4.82 4.48 2. Kebumen 13 Kab.49 3. Kab.8 4.71 5 4.07 3. Magelang 17 Kab.19 6. Sukoharjo 26 Kab.72 3. Grobogan 10 Kab.17 5.99 4.16 4.52 4.79 Tabel 4. Banjarnegara 2 Kab.31 3.62 3. Boyolali 6 Kab.71 2007 5. Rembang 23 Kab.44 3.99 5.73 4.92 4.78 4. Semarang 24 Kab.51 3.07 3.59 4.33 4.72 5.91 4.67 4. Purworejo 22 Kab. Sragen 25 Kab.18 4.81 5.64 4.71 4.53 5.06 5. Brebes 7 Kab.59 .45 4.72 3.59 4.19 4.08 4.08 3.19 4.26 5. Pekalongan 32 Kota.95 3. Purbalingga 21 Kab.72 5.02 4 4.49 5. Karanganyar 12 Kab. Klaten 15 Kab.8 5.35 4. Tegal 27 Kab. Magelang 31 Kota.61 3.28 3.11 5.85 4. Blora 5 Kab.21 2.49 3.23 5.21 5.43 4.46 4. Pati 18 Kab.54 4.37 4. Wonosobo 30 Kota.30 5.07 4.05 4.69 5.39 5.56 3.39 3.41 3.92 3.01 5.2 2.74 4.85 3./Kota 1 Kab.18 4.67 5. Wonogiri 29 Kab.3 2.14 2006 4.62 4.51 4. Kudus 16 Kab.11 5.94 3.15 4.31 3. Batang 4 Kab. Semarang 2005 3.2 Laju PDRB Berdasarkan Harga Konstan 2000 Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen) No.8 7.23 5.98 2008 4.94 4.79 2. Cilacap 8 Kab.21 3.17 3.15 5.95 4.11 4.03 5.33 3.32 3.04 4.81 4.98 5. Pekalongan 19 Kab.23 5.07 4.63 4.74 4.53 3.69 4.81 4.23 2.67 2.31 4.27 3. Demak 9 Kab.98 4.06 4. Salatiga 33 Kota.98 5.19 3. Banyumas 3 Kab.47 6.11 5.19 4. Pemalang 20 Kab.73 5.58 5.3 3. Kendal 14 Kab. Temanggung 28 Kab.19 5.99 4.62 4.

43 5. 4.15 5. Surakarta 5. Berikut disajikan data melek huruf menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008.3 Pendidikan (Melek Huruf) Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa. Tegal 4. Salah satu indikator pendidikan adalah tingkat angka melek huruf di suatu daerah. Sehingga. .15 Tabel 4.69 5. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jatidiri manusia suatu bangsa.2.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan. Laju PDRB dapat menunjukan kondisi perekonomian di masing-masing kabupaten / kota di Jawa Tengah.87 Sumber: PDRB Jawa Tengah 2005-2008 5. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis.82 5. Sebab.80 34 Kota.21 5.2 diatas menunjukkan bahwa laju PDRB yang terjadi di kabupaten / kota di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 menunjukkan angka yang fluktuatif dari masing-saing kabupaten / kota. ada satu unsur kunci yaitu pendidikan.15 35 Kota. Karena pendidikan adalah sarana menghapus kebodohan sekaligus kemiskinan. Dilihat dari besarnya PDRB menunjukan terjadi kesenjangan ekonomi yang relatif besar antara daerah maju dan tertinggal. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan. Untuk memutus rantai sebab akibat diatas.

Banyumas 93.85 91. Kendal 88.96 Kab.2 90.24 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2005 – 2008 2008 94.62 81. Surakarta 95. Karanganyar 81. Demak 90. Kudus 89.2 92.3 86.90 88.50 91. Tegal 91.4 89.1 90. Purworejo 86.20 96. Semarang 95.30 82.58 94.1 95.50 97.24 Kab.7 .08 30 Kota.34 86.86 14 Kab.2 93.28 89.03 88.58 96.9 89. Wonosobo 85.28 91.36 Kab.24 1 85 88.94 34 Kota.35 24 Kab. Magelang 90.39 12 Kab.85 Kab.28 17 Kab.87 35 Kota.58 13 Kab.39 87.85 33 Kota.37 31 Kota.46 Kab. Japara 87. Wonogiri 79.93 86. Temanggung 95. Boyolali 85.50 85.10 87.87 88. Salatiga 95.01 3 85.10 82.21 32 Kota.17 95. Kebumen 89.5 81.01 20 Kab.39 18 Kab.31 2 93.51 76.18 91.3 93 89.80 96. Banjarnegara 88. Batang 87. Brebes 84. Klaten 85.40 88.36 4 82.20 89. Grobogan 90.9 96.30 90.93 82.05 87.18 87.40 90. Pekalongan 86.91 29 Kab.16 19 Kab.49 95.91 97.8 93.50 89. Pati 84.4 96.01 Kab.4 88. Rembang 88.60 93.87 21 Kab.91 10 Kab.1 7 90 90.2 95.40 88.85 15 Kab.37 95. Pekalongan 94.6 83 86 84.13 5 84.30 93.39 88. Magelang 94.50 91.34 16 Kab.5 95.3 92 91.20 95.50 84.4 26 Kab.2 25 Kab.18 22 Kab.20 88. Blora 82.18 9 86.10 95.82 Kab.9 82 88.10 84. Pemalang 85.20 92.1 Kab.9 87. Kab.2 88.40 88.3 Tingkat Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2008 (dalam satuan persen) 2005 2006 2007 No.15 90.70 95.3 89.50 87.9 97.9 90. Purbalingga 93 93.40 89. Sragen 73 81.81 Tabel 4.8 90.93 27 93.3 8 89.96 11 Kab.03 28 Kab.80 90. Sukoharjo 87.3 6 80.67 23 Kab.75 86.87 88.60 88.31 Kab. Tegal 86.01 88./Kota Kab.34 93. Semarang 91.8 90.9 87.30 86.9 84. Cilacap 90.

Dengan laju pertumbuhan yang tinggi akan meningkatkan jumlah angkatan kerja (penduduk usia kerja) yang kemudian besarnya angkatan kerja ini dapat menekan ketersediaan lapangan kerja di pasar kerja.2 persen di tahun 2008 dan yang paling sedikit yaitu di Kabupaten Wonosobo yaitu sebesar 82 persen. Tingkat pengangguran sangat erat hubungannya dengan laju pertumbuhan penduduk. 4.2. atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Tingkat pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah kesempatan kerja di negara yang sedang berkembang yang bagaikan ujung sebuah gunung es. atau sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.82 Tabel 4. 2008). Apabila mereka tidak bekerja konsekuensinya adalah mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan baik. kondisi seperti ini membawa dampak bagi terciptanya dan membengkaknya .2008 terbesar yaitu berada kota Pekalongan yaitu sebesar 97. Sedangkan angkatan kerja sendiri terdiri dari dua komponen yaitu orang yang menganggur dan orang yang bekerja.3 diatas menunjukan bahwa tingkat Melek huruf di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . Tingkat Pengangguran Terbukan (TPT) adalah angka yang menunjukkan banyaknya pengangguran terhadap 100 penduduk yang masuk kategori angkatan kerja (BPS.4 Pengangguran Pengangguran adalah meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan. atau sedang mempersiapkan suatu usaha.

43 4.57 35 Kota.31 7. Tabel 4.19 7. Blora 4.80 9.12 26 Kab.93 13. Sukoharjo 10.26 15 Kab. Demak 9.49 8.36 18 Kab. Pekalongan 8.10 5.76 5.63 5.15 6.76 10. Pemalang 10.08 5.59 4. Karanganyar 6.72 8.04 6. Salatiga 14. Klaten 7.53 9. Magelang 17.35 11. Kudus 7.73 8.92 5.94 3. Tegal 14.93 7.83 jumlah kemiskinan yang ada.39 4.77 6.07 5.31 9.9 28 Kab.03 6.60 3.36 8. Banjarnegara 9. Semarang 6.56 27 Kab. Brebes 12.66 7.27 33 Kota.14 9.33 8.39 14 Kab. Semarang 12.81 9. Purbalingga 9.18 6.92 7 Kab.7 5. Sragen 10.59 5. Temanggung 6.31 6. Boyolali 7.53 5.75 13.44 8.9 6 Kab.75 32 Kota.12 13 Kab.45 7.14 9.64 9.38 19 Kab.69 5.39 11.01 9. Batang 11.57 9.20 11.48 9.94 4.61 7.39 9.13 8.53 9.32 9.78 3.73 29 Kab. Berikut disajikan data tentang pengangguran yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 – 2008.48 10.40 7.64 9 Kab. Wonosobo 5. Grobogan 6.19 10 Kab.08 4.61 6.50 9./Kota 1 Kab.50 8.16 8 Kab.24 7.32 22 Kab. Tegal 11.46 6.61 9.19 11.71 5 Kab.62 6.56 7.91 2 Kab. Jateng 2005 .32 Sumber: Keadaan Angkatan Kerja Prop.26 5.07 8.38 9.03 10.68 5.45 8.47 4.19 5.51 34 Kota. Magelang 9. Kendal 7. Cilacap 17.4 Tingkat Pengangguran Menurut Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2008 (dalam satuan persen) 2005 2006 2007 2008 No.2008 . Purworejo 6.15 16 Kab.2 5. Pati 7.5 30 Kota. Kebumen 13.97 20 Kab.83 6.30 5.28 31 Kota.82 6.60 14.15 8.77 4.78 5. Surakarta 10. Kab.79 6.39 8.08 21 Kab.14 8.16 3.80 11.64 25 Kab.27 7. Rembang 9.01 7.49 5.25 5. Banyumas 10.89 23 Kab.05 3 Kab.39 24 Kab.21 5.14 7.27 11.11 5.16 12. Japara 8.17 9.06 17 Kab. Wonogiri 9.42 6.95 4.77 4 Kab.05 5.7 12 Kab. Pekalongan 16.36 7.76 11 Kab.23 11.55 8.37 12.

267 -0.3 Hasil Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik perlu dilakukan karena dalam model regresi perlu memperhatikan adanya penyimpangan-penyimpangan atas asumsi klasik.076 -1. Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005-2008 Coefficient 8.0000 1.84 Tabel 4. 0.32 persen.77 0.089 0.99 t-Statistic 3. Tabel 4.968 83. tetapi di tahun 2008 yang paling besar yaitu di kota Tegal sebesar13.000 0.406 -2. 4.60 persen di tahun 2005. Dan yang paling sedikit yaitu di Kabupaten Blora yaitu sebesar 4.5 Hasil Regresi Utama Pengaruh PDRB. karena pada hakekatnya jika asumsi klasik tidak dipenuhi maka variabel-variabel yang menjelaskan akan menjadi tidak efisien.017 Prob.81 persen ditahun 2005.4 diatas menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 .2008 terbesar yaitu berada kota magelang yaitu sebanyak 17.046 C LOG(PDRB) LOG(MH) LOG(PG) R-squared F-Statistic Prob(F-Statistic) Durbin-Watson Sumber: Lampiran B .867 -0.029 0.209 -2.416 -1.162 0. sedangkan di tahun 2008 yang paling sedikin yaitu kabupaten Purworejo sebesar 4. Pendidikan.32 persen.

pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . dilakukan Uji Jarque-Bera.2 -0.208762 0. maka diperoleh degree of freedom (df) = 135 (n-k). Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak (Imam Ghozali.116141 7.005175 0. Untuk menguji apakah data terdistribusi normal atau tidak. Dev. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 24 20 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2008 Observations 140 Mean Median Maximum Minimum Std.2 0. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0. Gambar 4.099355 4. 2002).2008 dengan n = 140 dan k = 3.076896 0.85 4.023549 4 0 Pada model persamaan pengaruh jumlah penduduk.1 0. dan .306602 -0. Hasil Uji J-B Test dapat dilihat pada Gambar 4.0 0.3 16 12 8 1. tidak berkorelasi dan mempunyai varians yang konstan.3.497326 0.1 berikut.1 -0.09e-17 0. PDRB.1 Uji Normalitas Salah satu asumsi dalam model regresi linier adalah distribusi probabilitas gangguan µ i memiliki rata-rata yang diharapkan sama dengan nol.1 Hasil Uji Jarque-Bera Pengaruh Pdrb.

4.5 menunjukkan bahwa model persamaan pengaruh PDRB.100 0. dapat ditarik kesimpulan bahwa probabilitas gangguan µ1 regresi tersebut terdistribusi secara normal karena nilai Jarque Bera lebih kecil dibanding nilai χ2 tabel.497.6 menunjukkan perbandingan antara nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) dengan nilai R2 regresi utama. Apabila nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) lebih besar dibandingkan nilai R2 regresi utama.1 sebesar 7. PDRB MH PG 2. PG PDRB MH Persamaan R2* 0. Tabel 4.2 Uji Multikolinearitas Multikolinearitas merupakan keadaan dimana terdapat hubungan linear atau terdapat korelasi antar variabel independen.6 R Auxiliary Regression Pengaruh Pdrb. maka dapat disimpulkan bahwa dalam persamaan tersebut terjadi multikolinearitas. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 2 No. MH PDRB PG 3.968 0. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 - .968 0. Dalam penelitian ini untuk menguji ada tidaknya multikolinearitas dilihat dari perbandingan antara nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) dengan nilai R2 regresi utama.3. Tabel 4.34.968 Sumber : Lampiran C R2 = R2 hasil regresi utama R2* = R2 hasil auxiliary regression Tabel 4. Dibandingkan dengan nilai Jarque Bera pada Gambar 4.014 0.112 R2 0.86 menggunakan α = 5 persen diperoleh nilai χ2 tabel sebesar 124. 1.

Sehingga d-hitung atau DW terletak pada du < d < 4-du atau 1.26 4-dl=2.73 dan dl=1.99 < 2.61.26.99.2 Hasil Uji Durbin-Watson Ada autokorelasi positif dan menolak Ho Tidak ada keputusan Tidak ada autokorelasi dan tidak menolak Ho Tidak ada keputusan Ada autokorelasi negatif dan menolak Ho dl=1. Hasil dari Durbin-Watson statistik adalah du=1. Uji ini sesungguhnya dilandasi oleh model error yang mempunyai korelasi sebagaimana telah ditunjukkan di bawah ini: Gambar 4.61 du=1. .73 < 1. Lesimpulan yang dapat ditarik adalah tidak adanya autokolerasi didalam model.87 2008 tidak mengandung multikolinearitas karena tidak ada nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) yang lebih besar dibandingkan nilai R2 regresi utama.3 Uji Autokorelasi Salah satu uji formal yang paling populer untuk mendeteksi autokorelasi adalah uji Durbin-Watson.3. 4.73 DW=1.99 4-du=2.38 4 Hasil dari Durbin-Watson menunjukkan bahwa nilai d-hitung atau DW sebesar 1.

3.226 0. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heterokedastisitas dalam model. Error 3.039 0.7 Hasil Uji Park Dependent LOG_RESID^2 C PDRB MH PG Sumber: Lampiran C Coefficient -7. 4. Tabel 4.7.476 Prob.030 Std. PDRB. Dalam penelitian ini digunakan uji Park untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas yang dapat dilihat pada Tabel 4. 0.4.437 0.030 0.244 0.169 0. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . dengan α .472 0.074 1. Dalam regresi pengaruh jumlah penduduk.202 0.1 Uji Signifikansi parameter Individual (Uji t) Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh masingmasing variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen. setiap observasi mempunyai reliabilitas yang berbeda akibat perubahan dalam kondisi yang melatarbelakangi tidak terangkum dalam spesifikasi model (Imam Ghozali.4 Pengujian Statistik Analisis Regresi 4.4 Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari satu observasi ke observasi lainnya.193 0.2008.788 0. Artinya.88 4.063 t-Statistic -2.038 0.634 Dari hasil perhitungan dengan uji Park terlihat bahwa tidak ada variabel independent yang signifikan secara statisktik (probability > α=5%). 2005).

pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . Dari regresi pengaruh jumlah penduduk.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Pengujian terhadap pengaruh semua variabel independen di dalam model dapat dilakukan dengan uji simultan (uji F).2008 Variabel LOG PDRB(PDRB) LOG MH (Melek Huruf) LOG PG (Pengangguran) Sumber : Lampiran B t-statistik 1.657 1.4.209 2. maka diperoleh F-tabel sebesar 3. Pdrb. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . Maka dapat disimpulkan bahwa variabel .8 Nilai T-Statistik Pengaruh Jumlah Penduduk. Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. dengan degree of freedom for numerator (dfn) = 2 (k-1 = 3-1) dan degree of freedom for denominator (dfd) = 135 (n-k = 140-5). maka diperoleh nilai ttabel sebesar 1.406 2. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 .07.657 t-tabel (α = 10%) 1.77 dan nilai probabilitas F-statistik 0. PDRB.288 1.00000.657 1.288 4. Tabel 4.017 t-tabel (α = 5%) 1.288.2008 diperoleh F-statistik sebesar 83.89 = 5 persen dan degree of freedom (df) = 135 (n-k =140-5). Dari hasil regresi pengaruh PDRB.288 1.657 dan dengan α = 10 persen diperoleh nilai t-tabel sebesar 1.2008 yang menggunakan taraf keyakinan 95 persen (α = 5 persen).

968. MH (Melek huruf/Pendidikan). Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabelvariabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.9 diperoleh nilai R2 sebesar 0. . 4. Hal ini berarti sebesar 96.3 Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.8 persen variasi kemiskinan kabupaten/kota di Jawa Tengah dapat dijelaskan oleh variasi tiga variabel independennya yakni PDRB (PDRB). PG (Pengangguran).2008 pada Tabel 4. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . Dari hasil regresi pengaruh PDRB. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.4. Sedangkan sisanya sebesar 3.2 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model.90 independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen (Fhitung > F-tabel). Nilai koefisien determinasi adalah nol dan satu.

...076*LOG(PDRB) – 1... dan Dwi W.....5..089*LOG(PG)...5 Interpretasi Hasil dan Pembahasan PDRB. (4.91 4..1 Pengaruh Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 Dalam regresi pengaruh jumlah penduduk... pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 adalah sebagai berikut: 4.. Selanjutnya menurut Hermanto S.. pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat.. diperoleh nilai koefisien regresi untuk setiap variabel dalam penelitian dengan persamaan sebagai berikut : LOG(KM) = 8.. Yang mana menurut Kuznet dalam Tulus Tambunan (2001)..1) Interpretasi hasil regresi pengaruh PDRB.... pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 ...267*LOG(MH) 0... (2006) mengungkapkan pentingnya mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk menurunkan jumlah . PDRB.. Pendidikan dan Pengangguran Terhadap 4. karena pada tahap awal proses pembangunan kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang....1 PDRB dan Kemiskinan Variabel PDRB menunjukkan tanda negatif namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah.....0.2008......867 .. dengan menggunakan metode FEM.. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini...........1.5.......

Karena dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat maka kemiskinan di suatu daerah dapat ditekan jumlahnya. Peningkatan angka melek huruf sebagai indikator pendidikan di Jawa Tengah sebesar 1 persen akan menurunkan kemiskinan sebesar 1. Yang mana kemiskinan merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan daerah.1. pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. Dimana digambarkan dengan seorang miskin yang mengharapkan pekerjaaan baik serta penghasilan yang tinggi maka harus mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi.267 persen.5. Hasil tersebut sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini.2 Pendidikan dan Kemiskinan Variabel Pendidikan yang diproksi dengan besarnya tingkat melek huruf menunjukkan tanda negatif dan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengangguran di Jawa Tengah. Sedangkan orang miskin tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi . 4. Ketidaksignifikannya PDRB dalam mempengaruhi kemiskinan juga dapat dilihat berdasarkan data bahwa peningkatan laju PDRB di Jawa Tengah dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 tidak selalu diiringi dengan penurunan kemiskinan di Jawa Tengah. Menurut Simmons (dalam Todaro. Seperti halnya pertumbuhan PDRB di tahun 2005 sampai dengan tahun 2006 malah terjadi kenaikan kemiskinan. Tetapi pendidikan tinggi hanya mampu dicapai oleh orang kaya. Yang berarti bahwa peningkatan angka melek huruf akan menurunkan kemiskinan di jawa Tengah. 1994).92 penduduk miskin.

085 persen. 4. Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan kemiskinan. sedangkan data kemiskinan tahun 2005 – 2008 malah mengalami penurunan. Diantara empat kategori pengangguran terbuka diatas bahwa sebagian diantaranya ada yang masuk dalam sektor informal. Selain itu. Karena seperti halnya penduduk yang termasuk dalam kelompok pengangguran terbuka ada beberapa macam penganggur.93 seperti sekolah lanjutan dan universitas. mereka yang mempersiapkan usaha.5. mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dan yang terakhir mereka yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Dimana kenaikan tingkat pengangguran terbuka sebanyak 1 persen tidak menaikkan kemiskinan tetapi dari hasil penelitian ini malah akan menurunkan kemiskinan sebesar 0.3 Pengangguran dan Kemiskinan Dari hasil regresi yang dihasilkan dalam penelitian ini menunjukan bahwa variabel pengangguran menunjukkan tanda negatif dan berpengaruh secara signifikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.1. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini. dan ada juga yang mempunyai pekerjaan dengan jam kerja kurang dari . bahwa tidak semua orang menganggur itu selalu miskin. Hasil penelitian yang menunjukan pengaruh negatif pengangguran terhadap kemiskinan juga dapat dilihat berdasarkan data pengangguran terbuka di Kabupaten/Kota Jawa Tengah dari tahun 2005 – 2008 yang menunjukan angka pengangguran terbuka yang terus meningkat. yaitu mereka yang mencari kerja.

ada juga yang mempunyai pekerjaan paruh waktu (PartTime) namun dengan penghasilan melebihi orang bekerja secara normal.google.375 jiwa. sedangkan lowongan kerja yang ada hanyalah sebanyak 92. Selain itu pastilah juga ada yang berusaha atau mempersiapkan usaha sendiri. ada juga yang sedang menunggu mulainya bekerja.058 jiwa tentunya ada yang terserap ke sektor informal dan ada juga yang mencari kerja diluar kota.com//artikel kemiskinan) yaitu bahwa kemiskinan mungkin tidak selalu berhubungan dengan masalah ketenagakerjaan. dan yang mana semua golongan tersebut masuk dalam kategori pengangguran terbuka.357 jiwa. sedang yang bekerja secara penuh adalah orang kaya. 1993 (dikutip dalam www.415 jiwa.985. Hal ini karena kadangkala ada pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. Selain itu juga diperkuat dengan pendapat Lincolin Arsyad (1997) yang menyatakan bahwa salah jika beranggapan setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin.94 35 jam dalam seminggu yaitu hingga berjumlah 4. Sehingga sisanya sebanyak 597.com) jumlah pengangguran terbuka Jawa Tengah tahun 2008 mencapai 1. Mereka menolak pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka. Dan berdasarkan data Badan Pusat Statistik pendingkatan penggaruran yang terjadi dari tahunSelain itu jumlah pencari kerja di Jawa Tengah sebanyak 689.23 juta jiwa.waspadalonline. Menurut Godfrey. . Dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah yang dikutip dari (www.

maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1.2 persen sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor diluar model. PDRB. Hal ini daikarenakan bahwa peningkatan PDRB yang terjadi di Jawa Tengah tidak selalu diikuti oleh penurunan kemiskinan di Jwa Tengah. Pendidikan. 95 .8 persen variasi variabel dependen kemiskinan dapat dijelaskan dengan baik oleh kelima variabel independen yakni PDRB. Sedangkan 3. Nilai ini berarti bahwa model yang dibentuk cukup baik dimana 96. Pendidikan. 2. Hasil uji koefisien determinasi (R2) Jumlah Penduduk.968. Pendidikan (melek huruf) dan pengangguran terhadap kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah di tahun 2005 . yang mana dapat dilihat dari data PDRB dan data Kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah tahun 2005-2008. Variabel PDRB mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan mempengaruhi kemiskinan.2008 menunjukkan bahwa besarnya nilai R2 cukup tinggi yaitu 0.1 Simpulan Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji pengaruh variabel PDRB.2008. Berdasar hasil analisis data yang telah dilakukan pada bab IV. pengangguran dan dummy tahun terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .95 BAB V PENUTUP 5. pengangguran.

Yang mana memiliki nilai koefisien β sebesar – 1.07).085 persen. maka persen. apabila kenaikan jumlah pengangguran sebesar 1 persen akan menurunkan kemiskinan sebesar 0. Dengan kata lain. 5. Yang mana memiliki nilai koefisien β sebesar – 0. Variabel Pengangguran mempunyai pengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi kemiskinan.267 yang artinya. hipotesis yang berbunyi “Ada pengaruh antara variabel PDRB.96 3. apabila jumlah penduduk melek huruf naik sebesar 1 persen. Berdasarkan perhitungan dengan uji F diketahui bahwa F-hitung sebesar (83. .085 yang artinya. Variabel Pendidikan (melek huruf) mempunyai pengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi kemiskinan. Sehingga mempengaruhi hasil signifikansi variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. sehingga inferensi yang diambil adalah menerima Ha dan menolak Ho.267 5. 4. akan menurunkan kemiskinan sebesar 1. diterima pada kepercayaan 95%. pendidikan (melek huruf) dan pengangguran secara simultan terhadap kemiskinan”.2 Keterbatasan Kelemahan dan kekurangan yang ditemukan setelah analisis dan interpretasi dalam penelitian ini adalah data time series yang di gunakan masih terlalu pendek.77) > F-tabel (3.

Karena sektor informal merupakan salah satu solusi masalah dalam mengatasi pengangguran.. Pengangguran berdasarkan hasil penelitian berpengaruh Negatif dan signifikan terhadap kemiskinan.97 5. yang mana di dalamnya terdapat golongan masyarakat yang sedang dalam tahap menyiapkan usaha atau mendapat pekerjaan tetapi belum mulai bekerja yang dimasukkan dalam golongan pengangguran. Sehingga pentingnya peninggkatan sektor informal untuk menekan kemiskinan di Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah. 2. Pendidikan yang tercermin dari besarnya tingkat melek huruf memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan. sehingga diharapkan bahwa pemerintah provinsi Jawa Tengah seharusnya meningkatkan total produksi barang dan jasa yang dihasilkan di seluruh Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah supaya peningkatan PDRB dapat mempengaruhi kemiskinan secara signifikan.3 Saran 1. PDRB memiliki pengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap kemiskinan. tetapi dengan hasil tersebut diharapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah lebih menggerakkan sektor informal. sehingga diharapkan pemerintah propinsi Jawa Tengah kembali menggalakkan program pemberantasan buta aksara supaya dapat menekan kemiskinan di seluruh Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah. 3. Karena pengangguran dalam penelitian ini menggunakan data pengangguran terbuka. .

. Perlunya penggunaan data time series yang lebih panjang atau lama untuk mengetahui bagaimana pengaruh kebijakan yang dilakukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang dibentuk oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam upaya penekanan angka kemiskinan di Jawa Tengah. 5. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah.98 4. Oleh karenanya diperlukan studi lanjutan yang lebih mendalam dengan data dan metode yang lebih lengkap sehingga dapat melengkapi hasil penelitian yang telah ada dan hasilnya dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan berbagai pihak yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi dalam hal penekanan kemiskinan. Model yang dikembangkan dalam penelitian ini masih terbatas karena hanya melihat pengaruh variabel PDRB.

dan Pengangguran terhdap tingkat Kemiskinan di Indonesiatahun 2003-2004. Design of Poverty Alleviation Strategy in Rural Areas. Inflasi. edisi Agustus 2008. 1993. 8. Modul Praktek Regresi Data Panel dengan Eviews 6. Yogyakarta. 1. Dian Octaviani. Damodar Gujarati . Jakarta: Badan Pusat Statistik Boediono. Data dan Informasi Kemiskina 2008. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 2008. 2008. Jakarta:Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. 7. Vol. Vol. Pengangguran. Kumpulan Skripsi UNDIP: Semarang. Media Ekonomi. 2003. Penerbit BPFE. No. Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah 2008. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. 2008.DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. Roma: FAO. 1999. Deny Tisna A. Penerbit Erlangga. No. Damodar Gujarati. 100118. Didit Purnomo. 2008. 47 . Jawa Tengah Dalam Angka 2004. Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Tengah. 1995. 2004. 2008. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Jakarta. Hal. Gaiha. Penerbit United States Military Academy. 2001. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Hal. Jawa Tengah Dalam Angka 2008. Distribusi Pendapatan di Indonesia : Proses Pemerataan dan Pemiskinan. R. Pengaruh Ketidakmerataan Distribusi Pendapatan. Jurnal Ekonomi Pembangunan.. Semarang : Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi Undip. dan Kemiskinan di Indonesia : Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke. . Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. 1. 2000. Basic Econometrics Fourth Edition. Pertumbuhan Ekonomi. New York. 2004. Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah 2004.59. Firmansyah. Ekonometri Dasar Terjemahan.

Semarang. Yogyakarta. Ekonomi Pembangunan. Prisma. Dermoredjo. Prisma. . dan Kebijakan. 191 . Penerbit UPP AMP YKPN. Media Ekonomi dan Keuangan Indonesia. 2003. Penerbit PT Raja Grafindo Persada. Mudrajad Kuncoro. Hal. Makro Ekonomi Modern. Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi UII. Harga. 2006. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Metodologi Riset. Dwi W. Produksi Domestik Bruto. 51. Bonar S. Edisi Ketiga. 1. 1983. Jakarta. Hal. Ekonomi Pembangunan. Soeratno dan Lincolin Arsyad. 2005. Penerbit UPP AMP YKPN.. Hadi. 2002. Yogyakarta. Edisi Ketiga.. Sukirno Sadono. Edisi Kelima. Jakarta: LP Universitas Indonesia. dan Kemiskinan. 17 31. Penerbit BPFE. Hal. No. 17 . Penerbit BP STIE YKPN. Metode Kuantitatif.. 1993. Ekonomi Pembangunan. 1997. No. Marzuki. Sadono Sukirno. Teori. Yogyakarta. Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi. 2001.324. Yogyakarta. Pengantar Ekonomika Pembangunan. Ekonomika Pembangunan. Dampak Infestasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia. 1992. Penerbit UPP AMP YKPN.. 3 Prayitno. 1. Hermanto S. Rasidin S. 2000. Yogyakarta. Mudrajad Kuncoro. Institusi Pertanian Bogor Imam Ghozali.31. Lincolin Arsyad. 1995. Direktur Kajian Ekonomi. Yogyakarta. Yogyakarta: BPFE. 1986. 1997.Harlem Siahaan. Irawan dan Suparmoko. Vol. Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis. 2009. No. Masalah. Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Penduduk Miskin di Indonesia : Proses Pemerataan dan Pemiskinan. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS.

http://Wikipedia. UPP STIM YKPN : Yogyakarta.id. Michael P. 2000. Perkembangan Pemikiran Ekonomi Dasar Teori Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan.co. Penerbit Erlangga.bappenas.. Todaro.waspadalonline.org http://andalas van java online. Jakarta : Rineka Cipta. 1994. 2007. Tambunan. Fakultas Ekonomi : Intitusi Pertania Bogor.worlbank. Penerbit Ghalia Indonesia. Terjemahan Haris Munandar. Metode Riset Aplikasinya dalam Pemasaran.blog www. Jakarta. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EViews. Analisis Determinan Kemiskinan sebelum dan Sesudah Desentralisasi Fiskal. 1995.Sumitro Djojohadikusumo. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga.. Edisi Kedua.com www. Kumpulan arti. dan makna kemiskinan : http://Adi Satria. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga.com .id www.go. cara. 1997. J. Jakarta. Jakarta. Tulus H. Edisi Ketujuh. Michael P.dkk. 2009. Supranto. Winarno Wahyu. Jakarta. Usman. Terjemahan Haris Munandar. Penerbit Erlangga. Perekonomian Indonesia.com//artikel kemiskinan www. Penerbit LP3ES. 2001.google.Bataviase. Todaro.com www.

09e-17 0.406467 -2.0294 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.497326 0.D. Durbin-Watson stat 2.076492 -1.958597 -1.089766 0.9930 83.1 0.E.054386 0.416985 -1.994656 24 20 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2008 Observations 140 Mean Median Maximum Minimum Std.0 0.2 -0.023549 4 0 .1 -0.267471 -0.867526 -0.0009 0.208762 0.430811 -1.432578 1. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0.595132 0.968141 0.956584 0.0463 Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) R-squared Adjusted R-squared S.821902 160. Dev.209362 -2.306602 -0.005175 0.099355 4. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.076896 0.1626 0.116141 7. 0.042578 t-Statistic 3.3 16 12 8 1.757042 -0.017543 Prob.573682 0.085904 Std.REGRESI UTAMA : Lampiran b Dependent Variable: LOG(KM) Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:46 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C LOG(PDRB) LOG(MH) LOG(PG) 8. Error 2.77325 0.886221 0.2 0.000000 Mean dependent var S.

641506 5.838086 5.1530 4.904420 Prob. Durbin-Watson stat .434908 2694.0549 -181.0000 0.132824 t-Statistic 40.7094 0.087041 4.626059 0.373475 3.D. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 4.000514 0.E.6661 7.892200 109. Error 1. 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.630943 2.725227 -0.436833 Prob.006416 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 85.191296 -0.64070 -0.100177 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.040172 0.D.0001 89.80355 -0.481500 0.158527 0.518599 0.E.014895 0. Error 2.238571 Mean dependent var S.111272 0. Durbin-Watson stat Dependent Variable: MH Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:56 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB PG R-squared Adjusted R-squared S.892429 2.572 -405.373475 1.898356 Mean dependent var S.035727 0.656558 0. 0.027959 t-Statistic 3.000724 Std.1660 1.0018 0.693978 2.357731 Std.7094 0.34700 4.R2 Auxilary Regression (Uji Multikolinearitas): Lampiran C Dependent Variable: PDRB Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:55 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C MH PG R-squared Adjusted R-squared S.863702 0.017179 0.901122 5.480661 0.424464 0.

875680 0.270700 4.000279 Std.6342 -3.0399 0.0875 -294.D.706066 1003.001905 2.854114 Mean dependent var S. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) -10.851934 4.257198 0.476879 Prob.030390 0. 0.099678 2.850065 4. Durbin-Watson stat .193285 0.016538 4.904420 Prob.223 -336.70471 0. 0.202917 0.437106 Std.074554 1.911886 0.063727 t-Statistic -2.226112 0.030281 0.369551 0.1530 0.778735 0. Durbin-Watson stat UJI PARK Dependent Variable: LOG(RES2) Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:45 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB MH PG R-squared Adjusted R-squared S.5045 8.038884 0.345423 1.202643 2.664955 Mean dependent var S.694629 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.0204 0.112633 0.354747 4.564084 0.D.913100 4.234838 2.304854 0.049452 t-Statistic -2.436833 3.018458 554.Dependent Variable: PG Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:57 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB MH R-squared Adjusted R-squared S.9490 0.472031 0.2441 0.0001 8. Error 4.019718 -0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) -7. Error 3.169840 0.E.E.4375 0.193081 0.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful