P. 1
SKRIPSI

SKRIPSI

|Views: 5,147|Likes:

More info:

Published by: Hapsari Adiningsih 빅뱅 on Apr 28, 2011
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/25/2013

pdf

text

original

Sections

  • 2.2.1 Pengaruh PDRB terhadap Tingkat Kemiskinan
  • 2.2.3 Pengaruh Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan
  • 2.4 Kerangka Pemikiran
  • Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran
  • 2.5 Hipotesis
  • 3.1 Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional
  • 3.2 Jenis Dan Sumber Data
  • 3.3 Metode Pengumpulan Data
  • 3.4 Metode Analisis
  • 3.4.2 Estimasi Model
  • 3.5 Pengujian Asumsi Klasik
  • 3.5.1 Uji Normalitas
  • 3.5.2 Uji Multikolinearitas
  • 3.5.4 Uji Heteroskedastisitas
  • 3.6 Pengujian Kriteria Statistik
  • 3.6.1 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t)
  • 3.6.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
  • 3.6.3 Uji Koefisien Determinasi (uji R2
  • 4.1 Deskripsi Obyek Penelitian
  • 4.1.1 Kondisi Geografis
  • 4.2 Analisis Data
  • 4.2.1 Kemiskinan
  • 4.3.2 Uji Multikolinearitas
  • 4.3.4 Uji Heteroskedastisitas
  • 4.4 Pengujian Statistik Analisis Regresi
  • 4.4.1 Uji Signifikansi parameter Individual (Uji t)
  • 4.4.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F)
  • 4.4.3 Uji Koefisien Determinasi (Uji R2
  • 4.5 Interpretasi Hasil dan Pembahasan
  • 4.5.1.1 PDRB dan Kemiskinan
  • 4.5.1.2 Pendidikan dan Kemiskinan
  • 4.5.1.3 Pengangguran dan Kemiskinan

ANALISIS PENGARUH PDRB, PENDIDIKAN DAN PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI KABUPATEN / KOTA JAWA TENGAH TAHUN 2005 - 2008

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

Disusun Oleh : RAVI DWI WIJAYANTO NIM. C2B606044

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010

.

Kegagalan bukanlah pintu menuju kesuksesan.. Kegagalan bukanlah awal menuju keberhasilan.. Kegagalan adalah kekurang sabaran. Karena. semangat dan cinta dengan sepenuh hati v .MOTTO DAN PERSEMBAHAN Kegagalan bukanlah keberhasilan yang tertunda... Kupersembahkan karya kecilku ini untuk keluarga dan orang-orang terdekatku yang selalu memberikan harapan.. Kegagalan adalah kekurang telitian. kita.. Kunci Keberhasilan adalah Jiwa yang sabar dan tahu akan Kemampuan dirinya.. Kegagalan adalah bukti kecerobohan kita. Dan.

Strategic issues in the government of Central Java province is not much different from the central government (national problem). namely high rates of poverty and the increasing number of unemployed. education (literacy). Overcoming the problem of poverty can not be done separately from the problems of unemployment. illiteracy. The results of this study indicate that the GDP variable is negative but not significant effect on poverty levels. While the method of analysis used in this research is a method of linear regression analysis of panel data with FEM method with the help of software Eviews 6. GDP.2008. education (literacy). And the concern though has been in the form TKPK to address the problem of poverty that exist. educational variables which proxy with the literacy rate of significant negative effect on the level of poverty. unemployment on poverty in Central Java. Key words: Poverty. low health status and the degree of inequality between the sexes and poor environment (Word Bank.ABSTRACT Poverty is a problem that involves many aspects as it relates to low income. and also has the largest poverty appeal in any other province in Java. health and other problems that are explicitly associated with the problem of poverty. The purpose of this research are to analyze how and how much influence the variables GDP. the poverty rate in Central Java is still ranked 22 out of 33 Provinces in Indonesia. Unemployment vi . unemployment on poverty in Central Java which is expected to be used as a basis in determining the policies in addressing poverty in Central Java. unemployment variable has negative and significant impact on the level of poverty in Central Java. This study examines the influence of GDP. in this case for all of districts in Central Java in 2005 . education. Education (Literacy). Data used in this research is secondary data obtained from the Central Statistics Agency (BPS) as well as browsing the internet website as a supporter. but that based on BPS (Central Bureau of Statistics) in 2008. 2004).

variabel pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat kemiskinan. yakni tingginya angka kemiskinan dan semakin meningkatnya jumlah pengangguran. pendidikan. pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah sehingga nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam penentuan kebijakan dalam mengatasi masalah kemiskinan di Jawa Tengah. Mengatasi masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan secara terpisah dari masalah-masalah pengangguran. Pengangguran vii . buta huruf. variabel pengangguran berpengaruh negatif serta signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Tengah.2008. Pendidikan (melek huruf). Kata kunci : Kemiskinan. tetapi bahwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2008. Dan yang memprihatinkan meskipun telah di bentuk TKPK untuk menanggulangi masalah kemiskinan yang ada. dan juga mempunyai tingkat kemiskinan paling besar di banding Provinsi lainnya di pulau Jawa. tingkat kemiskinan Jawa Tengah masih menduduki peringkat ke 22 dari 33 Provinsi di indonesia. Studi ini meneliti tentang pengaruh PDRB. Permasalahan strategis di pemerintahan Provinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda dengan di pemerintahan pusat (problem nasional). dalam hal ini untuk seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . kesehatan dan masalah-masalah lain yang secara eksplisit berkaitan erat dengan masalah kemiskinan.ABSTRAK Kemiskinan merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. PDRB. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel PDRB berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Pendidikan (Melek Huruf). Pendidikan (melek huruf). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta browsing website internet sebagai pendukung. Tujuan penelitian ini diharapkan dapat menganalisis bagaimana dan seberapa besar pengaruh variabel PDRB. Sedangkan metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis regresi linier panel data dengan metode FEM dengan bantuan software Eviews 6. 2004). pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank.

M. Drs. PENDIDIKAN. Akt. 2. 5. 3. hidayah. yang telah memberikan mukjizat serta kekuatan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI JAWA TENGAH TAHUN 2005 . M.2008”. Fitrie Arianti. Dalam penyusunan skripsi yang berjudul “ANALISIS PENGARUH PDRB. H Edy Yusuf Agung Gunanto. hidayah dan karunia-Nya kepada penulis. viii . SE. MSc. Dr. selaku dosen pembimbing atas bimbingan dan pengarahan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat. selaku dosen wali yang telah memberikan dukungan sepenuhnya kepada penulis dan memberikan motivasi kepada penulis selama belajar di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Allah SWT. HM Chabachib. yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi penulis. Seluruh Dosen dan Staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Petugas Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro serta Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Tengah yang telah memberikan bantuan berupa data dan referensi yang bermanfaat. 4.Si. serta karuniaNya. Untuk itu rasa terima kasih sedalam-dalamnya penulis haturkan kepada: 1. tidak terlepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang memungkinkan skripsi ini dapat terselesaikan.Si. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. D. atas segala limpahan rahmat. Ph. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai prasyarat untuk menyelesaikan Studi Strata atau S1 pada Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. 6.

Acong. 11. Mega Aprillya. Kakakku.. 14. ix .7.” 12. Terima kasih untuk segala bantuan. dan kenangan yang tlah kalian berikan. Tim Futsal Jalan Kartanegara. Hilal. Phipin. Ridho. Andhika W. Cahyo. dan seluruh teman-teman IESP 2006 yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Danik. cinta. baik secara langsung maupun tidak langsung. 16. Seluruh teman-teman IESP Angkatan 2006 reguler II : Ami. Terima kasih atas dukungan yang telah engkau berikan. Kiki. Novi. Rama. Kedua orang tuaku tersayang. “makasih buat makan malamnya setiap hari. Bapak (Agus) dan Ibu (Sri Intarti). Mbak Ika dan mas Budi. Rea. Titian. maaf kalau Ravi numpang terus” 13. Putra. Udin. Andhika A. “Pelajaran dari perjalanan hidup kalian yang selalu memotivasi saya untuk selalu bangkit dari setiap cobaan dan keterpurukan ini. Dian. “Terima kasih sudah membuat hidupku lebih berwarna. Farid. Fery Atikasari. kerjasama. Tapi jangan berhenti untuk tetap doakan aku biar jadi orang sukses. Fera Anggiya. Edit. Danang. Nenekku (mbah Gini) tersayang yang tiada henti-hentinya memberikan semangat. dan dukungan yang selalu diberikan dengan tulus kepada anak-anaknya. Akrom. Teman-teman Tim I KKN UNDIP 2010 Banyubiru khususnya tim Tegaron: Dimas. Dedi. 10. Fajar. dorongan serta doanya. Bekti. 15. Nasrul. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Adit. tanpa dirimu pasti skripsiku lebih lama selesainya . Happy. Adikku. Dyke. Indra. Riza. kasih sayang.. terima kasih atas perlindungan. Bram. Terima kasih atas dukungan dan semangat yang diberikan kepadaku selama ini. pengisi hidupku 4 tahun terakhir. Bagus. 9.” 8. Kalian semua terlalu manis untuk dilupakan. Yanu. Pramudana. Gerdy.

Akhirnya dengan segala kerendahan hati. Penulis September 2010 Ravi Dwi Wijayanto x . penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. dan dapat dijadikan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Penulis juga menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan banyak kelemahan. sehingga penulis tak lupa mengharapkan saran dan kritik atas skripsi ini. Semarang.

.i .ii ..3...1 Latar Belakang Masalah 1..3.....2 Rumusan Masalah 1...DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN PERNYATAAN ORISINIALITAS SKRIPSI MOTTO DAN PERSEMBAHAN.....4 Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2....3 Tujuan dan Kegunaan 1..1 1....2 Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian 1 1 10 11 11 11 12 1...1 Landasan Teori 2........xv .2 2............iv BAB I PENDAHULUAN 1..........2 Pengaruh Variabel Independen dan Dependen xi .iii .5 Kemiskinan Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan ekonomi Pendidikan Pengangguran 14 14 14 22 26 33 36 40 2..1 2...4 2.1..1.1.v ABSTRACT ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR vi vii viii ......1......3 2....1..xiv ..

1 Deskripsi Obyek Penelitian 4.2 Kemiskinan PDRB xii .4 Kerangka Pemikiran 2.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t) Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) Uji Koefisien Determinasi (Uji R-squared) BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.3 Metode Pengumpulan Data 3.4.2.5.4 Metode Analisis 3.2 2.5 Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN 3.2 Analisis Panel Data Estimasi Model 56 56 59 60 61 61 64 67 67 68 69 70 71 71 73 74 3.3 3.3 Pengaruh PDRB terhadap Kemiskinan Pengaruh Pendidikan terhadap Kemiskinan Pengaruh Pengangguran terhadap Kemiskinan 40 42 43 45 53 54 2.1 Kondisi Geografis 75 75 76 76 78 4.2.1 3.5 Pengujian asumsi Klasik 3.2 3.6.1 3.2.4 Uji Normalitas Uji Multikolinearitas Uji Autokolinearitas Uji Heterokedatisitas 3.6.6 Pengujian Kriteria Statistik 3.1 2.5.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.1.2.3 Penelitian Terdahulu 2.4.2 Analisis Data 4.1 3.2 3.2.5.5.1 4.6.2.2 Jenis dan Sumber Data 3.

2.1.5 Interpretasi Hasil dan Pembahasan 4.4 Uji Normalitas Uji Multikolinearitas Uji Autokolinearitas Uji Heterokesdastisitas 4.4.2 4.4 Pendidikan Pengangguran 80 82 84 85 86 87 88 88 88 89 90 91 4.1 4.1.3 Pengaruh Variabel Independen Terhadap Dependen 91 PDRB dan Kemiskinan Pendidikan dan Kemiskinan Pengangguran dan Kemiskinan 91 92 93 BAB V PENUTUP 5.3 Saran 95 96 97 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN xiii .5.5.4.2.1 4.4.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t) Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) Uji Koefisien Determinasi (Uji R-squared) 4.1.2 4.4 Pengujian Statistik Analisis Regresi 4.5.1 Kesimpulan 5.3 Pengujian Asumsi Klasik 4.1 4.3.3.2 Keterbatasan 5.3.3.3 4.2 4.4.1 4.5.3 4.

2 Tabel 1.3 Tabel 1.1 Tabel 4.5 Tabel 2.5 Tabel 4.DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.6 Tabel 4.1 Tabel 1.3 Tabel 4.1 Tabel 4.1 Tabel 3.2 Tabel 4.8 Persentase Kemiskinan di enam Provinsi di Pulau Jawa Batas. Jumlah dan Presentase Kemiskinan di Jateng PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Jateng 2004-2008 Angka Melek Huruf Jateng 2004-2008 Jumlah Pengangguran Jateng 2004-2008 Ringkasn Penelitian Terdahulu Kriteria Durbin-Watson Jumlah Kemiskinan menurut kab/kota di Jateng PDRB menurut kab/kota di Jateng Tingkat Melek Huruf menurut kab/kota di Jateng Tingkat Pengangguran menurut kab/kota di Jateng Ringkasn Regresi utama Uji Multikolinearitas Uji Heterokesdastisitas Uji t 3 4 6 6 7 51 69 77 79 81 83 84 86 88 89 xiv .7 Tabel 4.4 Tabel 1.4 Tabel 4.

1 Teori Nelson dan Leibstein Gambar 2.1 Kurva Uji Durbin watson Gambar 4.2 Kurva hasil Uji Durbin watson 25 54 70 85 87 xv .1 Uji Normalitas JB test Gambar 4.2 Kerangka Pemikiran Gambar 3.DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.

Pemerintah Indonesia menyadari bahwa pembangunan nasional adalah salah satu upaya untuk menjadi tujuan masyarakat adil dan makmur. Oleh karena itu. perubahan yang terjadi pada sebuah keseimbangan awal dapat menyebabkan perubahan pada sistem sosial yang kemudian akan membawa sistem yang ada menjauhi keseimbangan semula. Salah satu peran perencanaan adalah sebagai arahan bagi proses pembangunan untuk berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai disamping sebagai tolok ukur keberhasilan proses pembangunan yang dilakukan. salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan nasional adalah laju penurunan 1 .1 Latar Belakang Masalah Perencanaan merupakan sebuah upaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi yang bersifat akumulatif. berbagai kegiatan pembangunan telah diarahkan kepada pembangunan daerah khususnya daerah yang relatif mempunyai kemiskinan yang terus naik dari tahun ke tahun. Sedangkan pembangunan sendiri dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di tingkat nasional atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di tingkat daerah. Sejalan dengan tujuan tersebut. Perencanaan memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembangunan. Artinya.1 BAB I PENDAHULUAN 1. Pembangunan daerah dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan sesuai prioritas dan kebutuhan masing-masing daerah dengan akar dan sasaran pembangunan nasional yang telah ditetapkan melalui pembangunan jangka panjang dan jangka pendek.

Permasalahan strategis di pemerintahan Provinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda dengan di pemerintahan pusat (problem nasional). Efektivitas dalam menurunkan jumlah penduduk miskin merupakan pertumbuhan utama dalam memilih strategi atau instrumen pembangunan. (Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Masih terjadi kesenjangan antara rencana dengan pencapaian tujuan karena kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan lebih berorientasi pada program sektoral. Oleh karena itu. . terintegrasi dan sinergis sehingga dapat menyelesaikan masalah secara tuntas.2 jumlah penduduk miskin. terutama pemerintah sebagai penyangga proses perbaikan kehidupan masyarakat dalam sebuah pemerintahan. yakni masih tingginya angka kemiskinan jika di bandingkan dengan provinsi lain di pulau Jawa. untuk segera mencari jalan keluar dengan merumuskan langkahlangkah yang sistematis dan strategis sebagai upaya pengentasan kemiskinan. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi penanggulangan kemiskinan yang terpadu. kemiskinan menjadi tanggung jawab bersama. Kebijakan dan program yang dilaksanakan belum menampakkan hasil yang optimal. Hal ini berarti salah satu kriteria utama pemilihan sektor titik berat atau sektor andalan pembangunan nasional adalah efektivitas dalam penurunan jumlah penduduk miskin. 2003) Pemerintah baik pusat maupun daerah telah berupaya dalam melaksanakan berbagai kebijakan dan program-program penanggulangan kemiskinan namun masih jauh dari induk permasalahan.

Pergub 19 tahun 2006 tentang Akselerasi Renstra. Hal tersebut terbukti selain di dalam Renstra Jawa Tengah (Perda No. 1 DKI 3.5 persen.62 2 Banten 7.96 4 Jawa Timur 16. perekonomian Jawa Tengah menunjukan adanya peningkatan dari tahun ke tahun yaitu tumbuh berkisar 5.6.3 Tabel 1. maka Provinsi Jawa masih harus bekerja keras untuk dapat mencapai target tersebut. Selama periode 2004 sampai dengan 2008. Terkait dengan target tujuan pembangunan millenium yang harus tercapai pada tahun 2015.0 sampai 5. Namun pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tidak selalu diiringi dengan penurunan kemiskinan yang signifikan .05/55/2006 tentang pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan juga (TKPK) di dalam draft Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Jawa Tengah tahun 2005-2025.99 Sumber: BPS Jateng. kemiskinan merupakan salah satu dari issue strategis yang mendapat prioritas untuk penanganan pada setiap tahapan pelaksanaannya. Data dan Informasi Kemiskinan Jateng 2008 Bagi Provinsi Jawa Tengah. kemiskinan merupakan issue strategis dan mendapatkan prioritas utama untuk ditangani. 11/2003).23 6 Jawa Tengah 18. Keputusan Gubernur No. mengingat upaya penanggulangan kemiskinan bukan merupakan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2008 secara agregat terlihat cukup dinamis yaitu diatas 5 persen. 412.68 5 DIY 17.64 3 Jawa Barat 11.1 Persentase Kemiskinan Enam Propinsi di Pulau Jawa Tahun 2008 Provinsi Persentase kemiskinan No.

80 6. Dan lebih lagi bahwa jika dibandingkan kemiskinan di Pulau Jawa. Yang lebih memprihatinkan yaitu bahwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2009.99 persen.111 181.2 Batas Miskin.877 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Pertumbuhan ekonomi merupakan tema sentral dalam kehidupan ekonomi semua negara di dunia dewasa ini.843.100. Bahkan ketika indikator perekonomian Jawa Tengah naik di tahun 2006. kemiskinan Jawa Tengah menduduki peringkat ke 22 dari 33 Provinsi di indonesia yaitu sebesar 18.4 di Jawa Tengah. Jumlah Penduduk Miskin Di Tawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) 2004 2005 2006 2007 2008 6.50 7.60 Persentase Penduduk Miskin 21.337 154.49 22. kemiskinan di Jawa Tengah juga ikut naik mencapai 547.112.20 6. Tabel 1.100 penduduk.553. .557. Persentase. Pemerintah di negara manapun dapat segera jatuh atau bangun berdasarkan tinggi rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapainya dalam catatan statistik nasional.11 20.19 20. Jawa Tengah mempunyai kemiskinan paling besar di banding Provinsi lainnya di pulau Jawa. Berhasil tidaknya programprogram di negara-negara dunia ketiga sering dinilai berdasarkan tinggi rendahnya tingkat output dan pendapatan nasional (Todaro 2000).60 6.013 142.651 130.43 18.99 Garis Kemiskinan (Rp/Kap/bulan) 126.

Secara umum. 2001). mulai awal tahun 1970 muncul pendapat bahwa apabila pembangunan tidak disertai pemerataan hasil-hasil pembangunan kepada penduduk miskin.5 Pada awal tahun 1970. dan pengangguran yang cenderung meningkat walaupun pendapatan nasional mengalami peningkatan secara stabil. Dalam periode tersebut munculah teori-teori baru seperti Teori Pertumbuhan dan Distribusi New-Keynesian oleh Kaldor (1955) dan Passineti (1962). teori-teori ini menyatakan bahwa pembangunan ekonomi akan mencapai hasil yang optimal jika peningkatan pendapatan nasional disertai dengan pemerataan pendapatan bagi seluruh kelompok masyarakat (Tambunan dalam Dian Octaviani. para ahli ekonomi mulai meragukan manfaat pertumbuhan pendapatan nasional dalam pembangunan ekonomi sebab di banyak negara yang sedang berkembang terdapat gejala adanya kemiskinan. Oleh sebab itu. ketidakmerataan distribusi pendapatan. . Permasalahan dan tantangan pembangunan daerah lima tahun ke depan masih diprioritaskan pada masalah-masalah sosial yang mendasar. maka mustahil akan memberikan hasil yang optimal. antara lain besarnya angka kemiskinan dan pengangguran. Rendahnya pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk yang sangat besar akan berpengaruh terhadap kondisi sosial manusia di Jawa Tengah.

219. maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu.059.88 2006 150.682. Tabel 1.930 5 2008 27.59 5.110.283.316 2 2005 24. Jika dunia pendidikan suatu bangsa sudah jeblok.789.790.6 Tabel 1.369.654. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jati diri manusia suatu bangsa.85 Sumber : PDRB Jawa Tengah tahun 2008 TAHUN PERTUMBUHAN EKONOMI (Persen) 5.187 4 2007 26.74 2007 159.35 5.051.872.33 5.121.213. Sebab.3 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2008 PDRB Atas dasar Harga Konstan 2000 (Juta Rupiah) 2004 135.506.4 Jumlah Angka Melek Huruf Jawa Tengah Tahun 2004-2008 (Jiwa) No. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan .46 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah memberikan gambaran kinerja pembangunan ekonomi dari waktu ke waktu.77 2008 167. sehingga arah perekonomian daerah akan lebih jelas. Tahun Jumlah 1 2004 23. Produk Domestik regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan digunakan untuk menunjukan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dari tahun ke tahun.253.112 3 2006 24.191 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa.31 2005 143.13 5.

Pada memusatkan hakekatnya perhatian pembangunan pada daerah dianjurkan saja tidak namun hanya juga pertumbuhan ekonomi mempertimbangkan bagaimana kemiskinan yang dihasilkan dari suatu proses .911 jiwa. Dan berdasarkan tabel 1. 2010 dalam http://andalas van java online. Di Jawa Tengah tingkat pendidikan dapat diukur salah satunya dengan besarnya angka melek huruf.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan (Winardi. 2001). Tabel 1. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan.5 Jumlah Pengangguran Terbuka Di Jawa Tengah Tahun 2004-2008 (Jiwa) Tahun No.952 1.573 978.219 1.7 atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis.308 Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di suatu daerah menjadi semakin serius. Besarnya tingkat pengangguran merupakan cerminan kurang berhasilnya pembangunan di suatu negara.5 tingkat melek huruf di Jawa Tengah dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 cenderung meningkat.com). Pengangguran dapat mempengaruhi kemiskinan dengan berbagai cara (Tambunan.044.244 1.197. Di Jawa Tengah besarnya tingkat pengangguran bergerak secara naik turun.227.360. Karena itu. Dan di tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 132. 1 2004 2 2005 3 2006 4 2007 5 2008 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Jumlah 1.

Dimana pembentukan TKPK tersebut dapat menanggulangi masalah kemiskinan di Jawa Tengah. Dengan cara tersebut angka pendapatan per kapita akan meningkat sehingga secara otomatis terjadi pula peningkatan kemakmuran masyarakat. dan di tahun tersebut juga mulai dibentuknya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah. Menurut Esmara (dikutip dari Deni Tisna. 2004). 2008) dalam ilmu ekonomi dikemukakan berbagai teori yang membahas tentang bagaimana pembangunan ekonomi harus ditangani untuk mengejar keterbelakangan. buta huruf. sehingga dapat melampaui tingkat pertumbuhan penduduk.8 pembangunan daerah tersebut. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. Menurut Bank Dunia salah satu sebab kemiskinan adalah karena kurangnya pendapatan dan aset (lack of income and assets) untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan. Kemiskinan sendiri merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. pakaian. para ahli ekonomi percaya bahwa cara terbaik untuk mengejar keterbelakangan ekonomi adalah dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya. Penelitian ini dilakukan di Jawa Tengah dalam periode 2005 – 2008 karena diprovinsi ini terjadi fenomena tranformasi struktur ekonomi yang meningkatkan produk domestik regional bruto (PDRB). Hal itu terjadi di tahun 2006. Di . tetapi juga diikuti dengan peningkatan persentase kemiskinan. Sampai akhir tahun 1960. perumahan dan tingkat kesehatan dan pendidikan yang dapat diterima (acceptable).

pendidikan. dan Dwi W. lintas pelaku secara terpadu dan terkoordinasi dan terintegrasi. Dengan kata lain.bappenas. Mengatasi masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan secara terpisah dari masalah-masalah pengangguran. Dimana penel data yang dibangun dari 285 kota/kabupaten menyatakan perbedaan yang besar pada perubahan dalam kemiskinan. namun besaran pengaruhnya relatif kecil. kesehatan dan masalah-masalah lain yang secara eksplisit berkaitan erat dengan masalah kemiskinan.go.id) Menurut Balisacan (dikutip dari penelitian Hermanto S. pendekatannya harus dilakukan lintas sektor.(www.2006) menyatakan bahwa indonesia memiliki catatan yang mengesankan mengenai pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan selama dua dekade.. Sedangkan pendidikan mempengaruhi secara negatif dan signifikan terhadap kemiskinan dan pengaruhnya paling besar. Populasi penduduk juga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kemiskinan. Hal tersebut dikarenakan pendidikan memang merupakan pionir dalam pembangunan. Pertumbuhan dan kemiskinan menunjukan hubungan yang kuat dalam tingkat agregat. namun magnitude pengaruh tersebut relatif tidak besar. dan Dwi W.9 samping itu kemiskinan juga berkaitan dengan keterbatasan lapangan pekerjaan dan biasanya mereka yang dikategorikan miskin (the poor) tidak memiliki pekerjaan (pengangguran). Hermanto S. serta tingkat pendidikan dan kesehatan mereka pada umumnya tidak memadai. . (2006) dalam penelitiannya tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan jumlah penduduk miskin menunjukan bahwa pertumbuhan berpengaruh negatif dan signifikan dalam mengurangi kemiskinan.

1. Selain itu Deni Tisna (2008) dengan penelitian yang sama juga menghasilkan hasil yang sama pula. Kemiskinan di Jawa Tengah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. yaitu bahwa tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Indonesia. Yang mana penelitiannya menggunakan metode panel data tahun 2003 . Padahal dengan dibentuknya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 diharapkan faktor – faktor yang mempengaruhi kemiskinan seperti produk domestik regional . yang artinya bahwa semakin tinggi tingkat penggauran di Indonesia maka jumlah penduduk miskin di Indonesia juga akan semakin bertambah seiring pertambahan jumlah pengguran.2004.99 persen.10 Dian Oktaviani (2001) dalam analisisnya tentang bagaimana pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di indonesia menemukan bahwa tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan. Banyak sekali masalah-masalah sosial yang bersifat negatif timbul akibat meningkatnya kemiskinan.2 Rumusan Masalah Kemiskinan merupakan salah satu tolok ukur sosio ekonomi dalam menilai keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah di suatu daerah. namun kemiskinan yang ada di Jawa Tengah hingga tahun 2008 menunjukkan jumlah penduduk miskin yang tergolong masih cukup tinggi yaitu mencapai 18. Hal tersebut menunjukan bahwa belum maksimalnya kebijakan pemerintah Jawa Tengah dalam menanggulangi masalah kemiskinan.

Bagaimana pengaruh pendidikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan sehingga dapat . Bagaimana pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. 2. pdrb. Menganalisis pengaruh pendidikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. pendidikan dan pengangguran dapat meminimalisir kemiskinan yang terjadi di Jawa Tengah. Menganalisis pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. 2.3 1. Menganalisis pengaruh produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.2 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada: 1. 1. Bagaimana pengaruh produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.3. 1. 3.11 bruto (PDRB). Oleh karena itu dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. Pengambil Kebijakan Bagi pengambil kebijakan. penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi yang berguna di dalam memahami pengaruh jumlah penduduk.1 Tujuan Dan Kegunaan Tujuan Penelitian 1. 3.3.

BAB III : METODE PENELITIAN .12 dapat digunakan sebagai pilihan pengambilan kebijakan dalam perencanaan pembangunan. 1. Penelitian Terdahulu.4 Sistematika Penulisan Penelitian ini disusun dengan sistematika Bab yang terdiri dari: Bab I Pendahuluan. Manfaat khusus bagi ilmu pengetahuan yakni dapat melengkapi kajian mengenai kemiskinan dengan mengungkap secara empiris faktor-faktor yang mempengaruhinya. Bab II Tinjauan Pustaka. serta Bab V Kesimpulan. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Menguraikan Landasan Teori. BAB I : PENDAHULUAN Menguraikan Latar Belakang Masalah Penelitian. Bab IV Hasil dan Pembahasan. 2. dan mencoba menarik suatu Hipotesis Penelitian. Kerangka Pemikiran Teoritis. hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Ilmu Pengetahuan Secara umum hasil penelitian ini diharapkan menambah khasanah ilmu ekonomi khususnya ekonomi pembangunan. keterbatasan dan Saran. Bab III Metode Penelitian. serta Sistematika Penulisan. Tujuan dan Kegunaan Penelitian. Rumusan Masalah Penelitian.

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN Menguraikan Analisis Deskriptif dan Objek Penelitian.13 Menguraikan Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. BAB V : PENUTUP Menguraikan Kesimpulan dan saran – saran. serta Metode Analisis Data. keterbatasan dari penelitian dan . Metode Pengumpulan Data. Analisis Data. Jenis dan Sumber Data. dan Pembahasan. Pengujian Hipotesis.

tempat berlindung dan air minum.(http://Wikipedia. (2001) bahwa seseorang dikatakan miskin bila mengalami "capability deprivation" dimana seseorang tersebut mengalami kekurangan kebebasan yang substantif. Menurut Bloom dan Canning.worlbank.1 Kemiskinan Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan. halhal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup. Kesempatan membutuhkan pendidikan dan keamanan membutuhkan kesehatan. kebebasan substantif ini memiliki dua sisi: kesempatan dan rasa aman. creative life and enjoy a decent standard of living freedom.org) 14 . (www. dalam definisi kemiskinan adalah: ”the denial of choice and opportunities most basic for human development to lead a long healthy. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara.14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.1 Landasan Teori 2. Menurut World Bank. self esteem and the respect of other”.com) Menurut Amartya Sen dalam Bloom dan Canning. pakaian.

maka kemiskinan pun memiliki banyak aspek primer yang berupa miskin akan aset. serta suramnya masa depan bangsa dan negara. dan rasa dihormati seperti orang lain.15 Dari definisi tersebut diperoleh pengertian bahwa kemiskinan itu merupakan kondisi dimana seseorang tidak dapat menikmati segala macam pilihan dan kesempatan dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya seperti tidak dapat memenuhi kesehatan. harga diri. Kemiskinan (poverty) merupakan masalah yang dihadapi oleh seluruh negara. sebuah komunitas. Sementara untuk negara-negara yang sedang berkembang. terutama di negara berkembang seperti Indonesia. standar hidup layak. kebebasan. mempercepat penyusutan sumber daya alam. terancamnya penegakan hak dan keadilan. atau bahkan sebuah negara yang menyebabkan ketidaknyamanan dalam kehidupan. pengetahuan. sumber-sumber . Pengertian kemiskinan dalam arti luas adalah keterbatasan yang disandang oleh seseorang. dan mengurangi kualitas lingkungan. pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi pada tahun 1960 sedikit sekali pengaruhnya dalam mengurangi tingkat kemiskinan. sebuah keluarga. Hal ini dikarenakan kemiskinan itu bersifat multidimensional artinya karena kebutuhan manusia itu bermacam-macam. hilangnya generasi. dan keterampilan serta aspek sekunder yang berupa miskin akan jaringan sosial. organisasi sosial politik. terancamnya posisi tawar (bargaining) dalam pergaulan dunia. Negara-negara maju yang lebih menekankan pada “kualitas hidup” yang dinyatakan dengan perubahan lingkungan hidup melihat bahwa laju pertumbuhan industri tidak mengurangi bahkan justru menambah tingkat polusi udara dan air.

kemiskinan dapat dilihat . 2003). Dermoredjo. kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses terhadap kekuasaan yang mempunyai pengertian tentang sistem politik yang dapat menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan sumber daya. yaitu kemiskinan yang mengikuti pola siklus ekonomi secara keseluruhan. Pertama adalah persistent poverty. dan tingkat pendidikan yang rendah. air. perumahan yang sehat. Pola ketiga adalah seasonal poverty. Dan aspek lain dari kemiskinan ini adalah bahwa yang miskin itu manusianya baik secara individual maupun kolektif (Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Secara politik. yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun temurun. Pola keempat adalah accidental poverty. Pola kedua adalah cyclical poverty. Dimensi-dimensi kemiskinan tersebut termanifestasikan dalam bentuk kekurangan gizi. yaitu kemiskinan musiman seperti dijumpai pada kasus nelayan dan petani tanaman pangan. Hal ini berarti kemajuan atau kemunduran pada salah satu aspek dapat mempengaruhi kemajuan atau kemunduran aspek lainnya. perawatan kesehatan yang kurang baik. yaitu kemiskinan karena terjadinya bencana alam atau dampak dari suatu kebijakan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat.16 keuangan. dan informasi. Secara sosial psikologi. dimensidimensi kemiskinan saling berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara ekonomi. Menurut Sumitro Djojohadikusumo (1995) pola kemiskinan ada empat yaitu. Selain itu. kemiskinan dapat dilihat dari tingkat kekurangan sumber daya yang dapat digunakan memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang.

2. Berdasarkan konsep ini. tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan keadaan masyarakat sekitarnya. tetapi juga iklim. . Walaupun demikian.17 dari tingkat kekurangan jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan peningkatan produktivitas. Konsep ini dimaksudkan untuk menentukan tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik terhadap makanan. untuk dapat hidup layak.1953 dalam Kuncoro. Kemiskinan Relatif Seseorang termasuk golongan miskin relatif apabila telah dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. pakaian. (1997) secara sederhana dan yang umum digunakan dapat dibedakan menjadi tiga. yaitu: 1. tingkat kemajuan suatu negara. Kemiskinan Absolut Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan dan tidak cukup untuk menentukan kebutuhan dasar hidupnya. dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup. seseorang membutuhkan barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan fisik dan sosialnya. Kesulitan utama dalam konsep kemiskinan absolut adalah menentukan komposisi dan tingkat kebutuhan minimum karena kedua hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adat kebiasaan saja. Ukuran kemiskinan menurut Nurkse. garis kemiskinan akan mengalami perubahan bila tingkat hidup masyarakat berubah sehingga konsep kemiskinan ini bersifat dinamis atau akan selalu ada. dan faktor-faktor ekonomi lainnya.

Kemiskinan Kultural Seseorang termasuk golongan miskin kultural apabila sikap orang atau sekelompok masyarakat tersebut tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya atau dengan kata lain seseorang tersebut miskin karena sikapnya sendiri yaitu pemalas dan tidak mau memperbaiki kondisinya. Oleh sebab itu.18 Oleh karena itu. maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan selalu miskin. kemiskinan dapat dari aspek ketimpangan sosial yang berarti semakin besar ketimpangan antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah. Poverty and the Welfare State : Dispelling the Myths. Semua ukuran kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma pilihan dimana norma tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran didasarkan konsumsi (consumption based poverty line).) penyebab kemiskinan dapat dibagi dalam empat mazhab: . jumlah kebutuhan yang sangat bervariasi yang mencerminkan biaya partisipasi dalam kehidupan sehari-hari. yaitu: 1. 3. London: Catalyst. pengeluaran yang diperlukan untuk memberi standar gizi minimum dan kebutuhan mendasar lainnya. A Catalyst Working Paper. menurut Kuncoro (1997) garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi terdiri dari dua elemen. 2. Menurut Paul Spicker (2002.

nasib yang kurang beruntung. kemiskinan yang diakibatkan oleh faktor keturunan. Subcultural explanation. 2. salah satunya adalah garis kemiskinan. Structural explanations. Menurut Sharp (dalam mudrajat Kuncoro. gagal dalam bekerja. 3. Individual explanation. Familial explanation. pilihan yang salah. 2006) terdapat tiga faktor penyebab kemiskinan jika dipandang dari sisi ekonomi.19 1. kemiskinan yang diakibatkan oleh karakteristik orang miskin itu sendiri: malas. kemiskinan yang diakibatkan oleh karakteristik perilaku suatu lingkungan yang berakibat pada moral dari masyarakat. terutama akibat pendidikan. yang pada gilirannya upahnya rendah. Penduduk miskin hanya memiliki sumberdaya yang terbatas dan kualitasnya rendah. Kedua kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia. Kualitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktifitanya rendah. dimana antar generasi terjadi ketidakberuntungan yang berulang. Banyak ukuran yang menentukan angka kemiskinan. cacat bawaan. 4. Garis kemiskinan adalah suatu ukuran yang menyatakan . Pertama. kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini karena rendahnya pendidikan. menganggap kemiskinan sebagai produk dari masyarakat yang menciptakan ketidakseimbangan dengan pembedaan status atau hak. belum siap memiliki anak dan sebagainya. adanya diskriminasi atau keturunan.ketiga kemiskinan muncul karena perbedaan akses dalam modal.

Garis kemiskinan digunakan untuk mengetahui batas seseorang dikatakan miskin atau tidak. Bantuan sosial kepada masyarakat miskin. lanjut usia. kesehatan. serta transportasi. . Untuk provinsi Jawa Tengah. air minum dan sanitasi.20 besarnya pengeluaran (dalam rupiah) untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum makanan dan kebutuhan non makanan. sehingga garis kemiskinan dapat digunakan untuk mengukur dan menentukan jumlah kemiskinan. dan cakupan jaminan sosial bagi rumah tangga miskin masih jauh dari memadai.877 rupiah (BPS. Penyebab yang lain adalah masyarakat miskin belum mampu menjangkau pelayanan dan fasilitas dasar seperti pendidikan. 2008) adalah pemerataan pembangunan yang belum menyebar secara merata terutama di daerah pedesaan. penyebab kemiskinan (dikutip dari Deny Tisna. menurut laporan Badan Pusat Statistik melalui data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2008. Gizi buruk masih terjadi di lapisan masyarakat miskin. atau standar yang menyatakan batas seseorang dikatakan miskin bila dipandang dari sudut konsumsi. Penduduk miskin di daerah pedesaan pada tahun 2006 diperkirakan lebih tinggi dari penduduk miskin di daerah perkotaan. Kesempatan berusaha di daerah pedesaan dan perkotaan belum dapat mendorong penciptaan pendapatan bagi masyarakat terutama bagi rumah tangga miskin. batas garis kemiskinannya yaitu sebesar 181. Hal ini disebabkan terutama oleh cakupan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin yang belum memadai. dan yatim-piatu). Menurut Rencana Kerja Pemerintah Bidang Prioritas Penanggulangan Kemiskinan. pelayanan bantuan kepada masyarakat rentan (seperti penyandang cacat.2008).

Melakukan pemetaan kemiskinan yaitu langkah awal dalam upaya penanggulangan kemiskinan yaitu mengenali karakteristik dari penduduk yang miskin sehingga diperlukan pemetaan kemiskinan yang digunakan sebagai alat untuk memecahkan persoalan yang mereka alami. . Memberdayakan kelompok miskin yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia penduduk miskin dengan meningkatkan etos kerja. meningkatkan disiplin dan tanggung jawab. 3. 4. Menerapkan kebijakan ekonomi moral yaitu pengembangan sistem ekonomi moral sangat diperlukan sehingga tidak semata-mata mengejar keuntungan tetapi harus adil. 2. sehingga dibutuhkan keadilan ekonomi yang bersumber pada Pancasila bukan pada ekonomi modern yang tidak sesuai dengan budaya bangsa.21 Pemerintah telah mempersiapkan beberapa program prioritas penanggulangan kemiskinan dalam tahun 2007 didukung oleh beberapa program prioritas lain. antara lain: 1. Melakukan program pembangunan wilayah seperti Inpres dan transmigrasi serta memberikan pelayanan perkreditan melalui lembaga perkreditan pedesaan seperti BKD dan KCK – KUD. perbaikan konsumsi dan peningkatan gizi. serta perbaikan kemampuan dalam penguasaan IPTEK.

atau hanya sedikit diatas tingkat subsiten Menurut Maier (dikutip dari Mudrajat Kuncoro. Pertumbuhan penduduk yang tinggi akan dibutuhkan untuk membuat konsumsi dimasa mendatang semakin tinggi. 1. dan sumberdaya manusia. yang menyebabkan jumlah penduduk tidak pernah stabil. yang gilirannya membuat investasi dalam “kualitas manusia” semakin sulit.22 2. 1997) kecenderungan umum penduduk suatu negara untuk tumbuh menurut deret ukur yaitu dua-kali lipat setiap 30-40 tahun. 2.1. persediaan pangan hanya tumbuh menurut deret hitung. Banyak negara dimana penduduknya masih sangat tergantung dengan sektor pertanian. Rendahnya sumberdaya perkapita akan menyebabkan penduduk tumbuh lebih cepat.2 Pertumbuhan Penduduk Menurut Maltus (dikutip dalam Lincolin Arsyad. Oleh karena pertumbuhan persediaan pangan tidak bisa mengimbangi pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dan tinggi. cadangan devisa. pertumbuhan penduduk mengancam keseimbangan . maka pendapatan perkapita (dalam masyarakat tani didefinisikan sebagai produksi pangan perkapita) akan cenderung turun menjadi sangat rendah. Terdapat tiga alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memperlambat pembangunan. Sementara itu pada saat yang sama. namun juga semakin membuat kendala bagi pengembangan tabungan. 1997) dikalangan para pakar pembangunan telah ada konsensus bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berdampak buruk terhadap suplai bahan pangan. karena hasil yang menurun dari faktor produksi tanah.

23

antara sumberdaya alam yang langka dan penduduk. Sebagian karena pertumbuhan penduduk memperlambat perpindahan penduduk dari sektor pertanian yang rendah produktifitasnya ke sektor pertanian modern dan pekerjaan modern lainnya. 3. Pertumbuhan penduduk yang cepat membuat semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan ekonomi dan sosial. Tingginya tingkat kelahiran merupakan penyumbang utama pertumbuhan kota yang cepat. Bermekarannya kota-kota di NSB membawa masalah-masalah baru dalam menata maupun mempertahankan tingkat kesejahteraan warga kota.

Todaro (2000) menyatakan bahwa dalam perhitungan indek kemiskinan dengan pengukuran indeks Foster Greer Thorbecke yang sering disebut juga sebagai kelas Pα dari ukuran kemiskinan yaitu dirumuskan sebagai berikut: 1 Pα = N Yp ............................................................ (2.1)

Dimana Yi adalah pendapatan dari orang miskin yang ke-i, Yp adalah garis kemiskinan dan N adalah jumlah penduduk. Indeks Pα mempunyai bentuk yang berbeda-beda, tergantung pada nilai α. Jika α=0, maka pembilangnya sama dengan H, dan akan diperoleh ratio headcount H/N. Jika α=1, maka akan diperoleh jurang kemiskinan yang dinormalisasi.

24

Menurut Nelson dan Leibstein (dikutip dari Sadono Sukirno, 1983) terdapat pengaruh langsung antara pertambahan penduduk terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Nelson dan Leibstein menunjukan bahwa pertumbuhan penduduk yang pesat di negara berkembang menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat tidak mengalami perbaikan yang berarti dan dalam jangka panjang akan mengalami penurunan kesejahteraan serta meningkatkan jumlah penduduk miskin.

25

Gambar 2.1 Pengaruh Pertumbuhan Penduduk Terhadap Tingkat Kesejahteraan Menurut Nelson Dan Leibstein
% Pertambahan Penduduk

(2.1a) P P 0 Ya Y0
Pendapatan Per Kapita

% Penanaman modal Per kapita

I

(2.1b)

0 Ya
% Pertambahan Penduduk dan Pendapatan

Pendapatan Per Kapita

Y0

(2.1c) P Y 0 Ya Y0 Yb Yc
Pendapatan Per Kapita

Sumber: Sadono Sukirno, 1983

persebaran atau distribusi angkatan kerja menurut sektor kegiatan produksi yang menjadi sumber nafkahnya. Simon Kuznets (dikutip dari Budiono.1) di atas bahwa sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang pesat dalam jangka panjang tingkat pendapatan perkapita akan kembali mencapai nilai yang sama dengan tingkat pendapatan cukup hidup. selain itu juga menunjukan hubungan pertambahan pendapatan nasional dan pendapatan perkapita.26 Berdasarkan gambar (2. .1b) menunjukan hubungan antara pendapatan perkapita dan tingkat penanaman modal perkapita. institusional (kelembagaan). pola persebaran penduduk.1c) menunjukkan hubungan antara pendapatan perkapita dan tingkat pertumbuhan penduduk. dan ideologi terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada. dan gambar (2.1999) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya.1a) menunjukan hubungan diantara pendapatan perkapita dan tingkat pertumbuhan penduduk. 3.3 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Prof. 2. Gambar (2. Hal tersebut menjadikan pertumbuhan ekonomi dicirikan dengan 3 hal pokok.1. 2. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian teknologi. Sedangkan gambar (2. laju pertumbuhan perkapita dalam arti nyata (riil). antara lain: 1.

antara lain: 1. 2. Menurut Todaro (dikutip dari Tambunan. sasaran utama dalam pembangunan ekonomi lebih ditekankan pada usaha-usaha pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. angka pendapatan per kapita akan meningkat sehingga secara otomatis terjadi pula peningkatan kemakmuran masyarakat dan pada akhirnya akan mengurangi jumlah penduduk miskin. proses. jangka waktu. 3.27 Boediono (1999) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah salah satu proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dimana penekanannya pada 3 aspek. yaitu pertumbuhan ekonomi bukan merupakan suatu gambaran dari suatu perekonomian yang melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. pembangunan yang dilakukan pada negara yang sedang berkembang sering mengalami dilema antara . yaitu kenaikan output per kapita selama 1 – 2 tahun lalu diikuti penurunan output per kapita bukan merupakan pertumbuhan ekonomi. 2001) sampai akhir tahun 1960. Akibatnya. yaitu pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan adanya kenaikan output per kapita dalam hal ini ada dua unsur yang penting seperti output total dan jumlah penduduk. Dikatakan tumbuh bila dalam jangka waktu yang lama (5 tahun atau lebih) mengalami kenaikan output per kapita. output per kapita. Dengan cara tersebut. para ahli ekonomi percaya bahwa cara terbaik untuk mengejar keterbelakangan ekonomi adalah dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi setinggitingginya sehingga dapat melampaui tingkat pertumbuhan penduduk. Akan tetapi.

......2) Dimana Y adalah output nasional (kawasan)....... Dasar pemikirannya yaitu output nasional tidak hanya dipengaruhi K dan L tapi juga dipengaruhi oleh lahan pertanian atau sumberdaya alam lainnya seperti cadangan minyak........ Perluasan model solow lainnya adalah dengan memasukkan sumberdaya manusia sebagai modal (Human Capital). Model solow dapat diperluas sehingga mencakup sumberdaya alam sebagai salah satu input................. Y juga akan meningkat jika terjadi perkembangan dalam kemajuan teknologi yang terindikasi dari kenaikan A...(2.. Dalam literatur. F (K...... Model tersebut berangkat dari fungsi produksi agregat sebagai berikut: Y = A .. Pembangunan ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil.. L adalah tenaga kerja dan A merupakan teknologi... Lucas menyatakan bahwa .. Oleh karena itu pertumbuhan perekonomian nasional dapat berasal dari pertumbuhan input dan perkembangan kemajuan teknologi yang disebut juga pertumbuhan total faktor produktivitas.... Namun yang menjadi permasalahan bukan hanya soal bagaimana cara memacu pertumbuhan............... Robert Solow mengemukakan model pertumbuhan ekonomi yang disebut model pertumbuhan Solow...L) ...... K adalah modal (kapital) fisik..... teori pertumbuhan seperti ini terkategori sebagai pertumbuhan endogen dengan pionirnya Lucas dan Romer......28 pertumbuhan dan pemerataan... Faktor yang mempengaruhi pengadaan modal fisik adalah investasi.. tetapi juga siapa yang melaksanakan dan berhak menikmati hasilnya.

. H adalah sumberdaya manusia yang merupakan akumulasi dari pendidikan dan pelatihan........ (2.......... Sehingga dapat di simpulkan bahwa apabila pertumbuhan ouput meningkat yang dipengaruhi investasi terhadap sumberdaya manusia maka dapat menurunkan kemiskinan.... atau kota....H....... sedangkan Romer berpandangan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh tingkat modal manusia melalui pertumbuhan teknologi.. Saat ini umumnya PDRB baru dihitung berdasarkan dua pendekatan.. F (K.3) Pada persamaan diatas. sebagaimana akumulasi modal fisik menentukan pertumbuhan ekonomi..... yaitu dari . termasuk terhadap golongan berpendapatan rendah. Apabila investasi tersebut dilaksanakan secara relatif merata... investasi terhadap sumberdaya manusia melalui kemajuan pendidikan akan menghasilkan pendapatan nasional atau pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.... Dengan kata lain. Suatu negara yang memberikan perhatian lebih kepada pendidikan terhadap masyarakatnya ceteris paribus lebih baik daripada yang tidak melakukannya.... maka kemiskinan akan berkurang......... al... kabupaten... Sedangkan pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)........ Secara sederhana dengan demikian fungsi produksi agregat dapat dimodifikasi menjadi sebagai berikut: Y = A ... Kuncoro (2004) menyatakan bahwa pendekatan pembangunan tradisional lebih dimaknai sebagai pembangunan yang lebih memfokuskan pada peningkatan PDRB suatu provinsi..... (1992) kontribusi dari setiap input pada persamaan tersebut terhadap output nasional bersifat proporsional....29 akumulasi modal manusia.. Menurut Mankiw et...L) ..

2005:56). Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Badan Pusat Statistik (BPS) didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun. Untuk lebih jelas dalam menghitung angka-angka Produk Domestik Regional Bruto ada tiga pendekatan melakukan suatu penelitian : yang cukup kerap digunakan dalam . Total PDRB menunjukkan jumlah seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh penduduk dalam periode tertentu. sedangkan menurut BPS Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku digunakan untuk menunjukkan besarnya struktur perekonomian dan peranan sektor ekonomi.30 sisi sektoral / lapangan usaha dan dari sisi penggunaan. atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah. Selanjutnya PDRB juga dihitung berdasarkan harga berlaku dan harga konstan. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun (Sadono Sukirno. sedang Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai dasar dimana dalam perhitungan ini digunakan tahun 1993.

2005:24). tetapi tidak dibayar setara harga pasar. Hal ini disebabkan kurang lengkapnya data dan tidak adanya metode yang akurat yang dapat dipakai dalam mengukur nilai produksi dan biaya antara dari berbagai kegiatan jasa. dan pajak tidak langsung neto. yaitu upah dan gaji dan surplus usaha. Nilai tambah merupakan selisih antara nilai produksi dan nilai biaya antara yaitu bahan baku/penolong dari luar yang dipakai dalam proses produksi (Robinson Tarigan. misalnya sektor pemerintahan. 2005:24). penyusutan. Surplus usaha meliputi bunga yang dibayarkan neto. sewa tanah. 3. Metode pendekatan pendapatan banyak dipakai pada sektor jasa. Menurut pendekatan Pengeluaran Pendekatan dari segi pengeluaran adalah menjumlahkan nilai penggunaan akhir dari barang dan jasa yang diproduksi di dalam negri. terutama kegiatan yang tidak mengutip biaya (Robinson Tarigan. 2.31 1. dan keuntungan. nilai tambah dari setiap kegiatan ekonomi diperkirakan dengan menjumlahkan semua balas jasa yang diterima faktor produksi. surplus usaha tidak diperhitungkan.pada sektor pemerintahan dan usaha yang sifatnya tidak mencari untung. Jika dilihat dari . Menurut pendekatan Produksi Dalam pendekatan produksi. Produk Domestik Regional Bruto adalah menghitung nilai tambah dari barang dan jasa yang diproduksikan oleh suatu kegiatan ekonomi di daerah tersebut dikurangi biaya antara masingmasing total produksi bruto tiap kegiatan subsektor atau sektor dalam jangka waktu tertentu. Menurut pendekatan Pendapatan Dalam pendekatan pendapatan.

dalam dua . Nilai yang ditambahkan ini sama dengan balas jasa atas ikut sertanya factor produksi dalam proses produksi. yaitu : 1. perubahan stok dam ekspor neto. konsumsi lembaga swasta yang tidak mencari untung. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku Pengertian Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku menurut BPS adalah jumlah nilai tambah bruto yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah.32 segi penggunaan maka total penyediaan/produksi barang dan jasa itu digunakan untuk konsumsi rumah tangga. konsumsi pemerintah. Dari perhitungan ini tercermin tingkat kegiatan ekonomi yang sebenarnya melalui Produk Domestik Regional Bruto riilnya. pembentukan modal tetap bruto (investasi). Cara penyajian Produk Domestik Regional Bruto disusun bentuk. Yang dimaksud nilai tambah yaitu merupakan nilai yang ditambahkan kepada barang dan jasa yang dipakai oleh unit produksi dalam proses produksi sebagai input antara. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan Menurut BPS pengertian Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan yaitu jumlah nilai produksi atau pengeluaran atau pendapatan yang dihitung menurut harga tetap. Dengan cara menilai kembali atau mendefinisikan berdasarkan harga-harga pada tingkat dasar dengan menggunakan indeks harga konsumen. 2.

Sehingga. Namun ironisnya. Jika dunia pendidikan suatu bangsa sudah jeblok. Menteri Perkotaan di era Bill Clinton. Untuk memutus rantai sebab akibat diatas. ada satu unsur kunci yaitu pendidikan. maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan.com) a) Pertama. pendidikan dijadikan jargon politik untuk menuju kekuasaan agar bisa menarik simpati di mata rakyat. Kepedulian pemerintah yang bisa dikatakan rendah terhadap pendidikan yang harus kalah dari urusan yang lebih strategis yaitu Politik. ada kecemasan yang sangat mencolok dengan kondisi sumber daya manusia (SDM) ini. Bahkan. Karena itu.1. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis. Henry Cisneros. Amerika serikat. 2010 dalam http://andalas van java online. pernah mengemukakan bahwa dia khawatir tentang masa depan Amerika Serikat dengan banyaknya penduduk . Misalnya. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jati diri manusia suatu bangsa. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan. Jika melihat negara lain.4 Pendidikan Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa. pendidikan di Indonesia selalu terbentur oleh tiga realitas (Winardi. Karena pendidikan adalah sarana menghapus kebodohan sekaligus kemiskinan. setiap bangsa yang ingin maju maka pembangunan dunia pendidikan selalu menjadi prioritas utama.33 2. Sebab.

Akibatnya. Dari sini pendidikan semakin mahal yang tentu tidak bisa di jangkau oleh rakyat. dan ini salah satunya karena biaya pendidikan . ada sebuah penjajahan terselubung yang dilakukan negara-negara maju dari segi kapital dan politik yang telah mengadopsi berbagai dimensi kehidupan di negara-negara berkembang. terjadilah privatisasi di segala bidang. tidak heran jika tenaga kerja di Indonesia banyak yang berada di sektor informal akibat kualitas sumber daya manusia yang rendah. badan atau organisasi donor pun mengintervensi secara langsung maupun tidak terhadap kebijakan ekonomi suatu bangsa. dapat dilihat adanya pengabaian sistematis terhadap kondisi pendidikan. Umumnya. penjajahan ini tentu tidak terlepas dari unsur ekonomi. Menurut Marshal (dalam Tulus Tambunan.34 keturunan Hispanik dan kulit hitam yang buta huruf dan tidak produktif. namun penuh makna. penjajahan terselubung. Dan di Indonesia. dan harus kalah dari dimensi yang lain. pendidikan pun tidak luput dari usaha privatisasi ini. Bahkan. Dengan hutang negara yang semakin meningkat. 1997) bahwa suatu bangsa tidak mungkin memiliki tenaga kerja bertaraf internasional jika seperempat dari pelajarnya gagal dalam menyelesaikan pendidikan menengah. Kecemasan yang sederhana. Sehingga. b) Kedua. rakyat tidak bisa lagi mengenyam pendidikan tinggi dan itu berakibat menurunnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia. karena masyarakat Hispanik cuma satu diantara banyak etnis di Amerika Serikat. bahkan ada kecenderungan untuk meng- anaktirikannya. Di era globalisasi dan kapitalisme ini. Akhirnya.

35 yang memang mahal. dan kemiskinan pun akan mengiringi. Akibatnya.Gurr ) dalam diri masyarakat. dan kemudian menjadi bodoh serta kemiskinan pun kembali menjerat. Bisa dikatakan. c) Ketiga adalah kondisi masyarakat sendiri yang memang tidak bisa mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan yang ada. Apa lagi ditengah iklim investasi global yang menuntut pemerintah memberikan kerangka hukum yang dapat melindungi Investor dan juga buruh murah.yang membuat pendidikan tidak lagi bisa dijangkau rakyat. Akhirnya. kebodohan akan menghantui. karena mereka lebih mementingkan urusan perut daripada sekolah. dimana pendidikan hanya mampu menyediakan tenaga kuli dengan kemampuan minim. dimana dari kemiskinan akan melahirkan generasi yang tidak terdidik akibat kurangnya pendidikan. . Sehingga. kemiskinan menjadi sebuah reproduksi sosial. Buruh murah ini merupakan hasil dari adanya privatisasi ( otonomi kampus ). telah terjadi deprivasi relatif ( istilah Karl Marx yang di populerkan Ted R. terbentuklah link up sistem pendidikan. Hal ini akan berdampak pada kekurangannya respek terhadap dunia pendidikan. Tentu hal ini tidak terlepas dari kondisi bangsa yang tengah dilanda krisis multidimensi sehingga harapan rakyat akan kehidupannya menjadi rendah.

menurut Sadono Sukirno (2000) pengangguran biasanya dibedakan atas 3 jenis berdasarkan keadaan yang menyebabkannya. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh tindakan seseorang pekerja untuk meninggalkan kerjanya dan mencari kerja yang lebih baik atau sesuai dengan keinginannya. Pengangguran konjungtur.1997). 2. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan struktur dalam perekonomian. adalah mereka yang mampu dan seringkali sangat ingin bekerja tetapi tidak tersedia pekerjaan yang cocok untuk mereka. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh kelebihan pengangguran alamiah dan berlaku sebagai akibat pengurangan dalam permintaan agregat. 2. antara lain: 1. tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya.36 2.1. Pengangguran struktural. Menurut Edwards. bentuk-bentuk pengangguran adalah: 1. yang dimaksudkan dengan pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu. Pengangguran friksional. adalah mereka yang secara nominal bekerja penuh namun produktivitasnya rendah sehingga .5 Pengangguran Dalam standar pengertian yang sudah ditentukan secara internasional. Pengangguran terbuka (open unemployment). 3. 1974 (dikutip dari Lincolin. Oleh sebab itu. Setengah pengangguran (under unemployment).

Jika rumah tangga tidak menghadapi batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini tidak terlalu dipengaruhi oleh pendapatan saat ini. Tenaga kerja yang tidak produktif. antara lain: 1. pengangguran dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan dengan berbagai cara. Jika rumah tangga memiliki batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini sangat dipengaruhi oleh pendapatan saat ini. maka peningkatan pengangguran akan menyebabkan peningkatan kemiskinan dalam jangka panjang. tetapi tidak terlalu berpengaruh dalam jangka pendek. Tenaga kerja yang lemah (impaired). adalah mereka yang mungkin bekerja penuh tetapi intensitasnya lemah karena kurang gizi atau penyakitan. 3. 2. 4. maka bencana pengangguran akan secara langsung mempengaruhi income poverty rate dengan consumption poverty rate. Menurut Tambunan (2001).37 pengurangan dalam jam kerjanya tidak mempunyai arti atas produksi secara keseluruhan. adalah mereka yang mampu bekerja secara produktif tetapi tidak bisa menghasilkan sesuatu yang baik. Tingkat pengangguran terbuka sekarang ini yang ada di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia rata-rata sekitar 10 persen dari seluruh angkatan kerja di . Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di negara yang sedang berkembang menjadi semakin serius.

sedang yang bekerja secara penuh adalah orang kaya. Ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran. yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap atau hanya bekerja paruh waktu (part time) selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. Masalah ini dipandang lebih serius lagi bagi mereka yang berusia antara 15 . Hal ini karena kadangkala ada pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. salah satu mekanisme pokok untuk mengurangi kemiskinan dan ketidakmerataan distribusi pendapatan di negara .24 tahun yang kebanyakan mempunyai pendidikan yang lumayan. Apabila mereka tidak bekerja konsekuensinya adalah mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan baik. luasnya kemiskinan. Namun demikian.38 perkotaan. adalah salah jika beranggapan bahwa setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin. tingkat pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah kesempatan kerja di negara yang sedang berkembang yang bagaikan ujung sebuah gunung es. Namun demikan. Bagi sebagian besar mereka. Mereka yang bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara kelompok masyarakat kelas menengah ke atas. 1997) Di samping penjelasan tersebut. Mereka menolak pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka (Lincolin Arsyad. kondisi seperti ini membawa dampak bagi terciptanya dan membengkaknya jumlah kemiskinan yang ada. dan distribusi pendapatan yang tidak merata.

39 sedang berkembang adalah memberikan upah yang memadai dan menyediakan kesempatan kerja bagi kelompok masyarakat miskin (Lincolin Arsyad. maka insiden pengangguran akan dengan mudah menggeser posisi mereka menjadi kelompok masyarakat miskin. Hilangnya lapangan pekerjaan menyebabkan berkurangnya sebagian besar penerimaan yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Dian Octaviani (2001) menyatakan bahwa sebagian rumah tangga di Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar atas pendapatan gaji atau upah yang diperoleh saat ini. melemahnya perlindungan terhadap aset usaha. Besarnya dampak krisis terhadap kemiskinan yang menyebabkan menjamurnya insiden kebangkrutan sebagai akibat tekanan pada kesempatan kerja di sektor informal perkotaan semakin besar. jika masalah pengangguran ini terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah (terutama kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan sedikit berada di atas garis kemiskinan). Masyarakat miskin pada umumnya menghadapi permasalahan terbatasanya kesempatan kerja. 1997). Lebih jauh. Hal tersebut menunjukkan ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dengan luasnya kemiskinan. perbedaan upah. serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak . terbatasnya peluang mengembangkan usaha. Pada negara yang sedang berkembang bukan saja menghadapi kemerosotan dalam ketimpangan relatif tetapi juga masalah kenaikan dalam kemiskinan dan tingkat pengangguran. Besarnya dimensi kemiskinan tercermin dari jumlah penduduk yang tingkat pendapatan atau konsumsinya berada di bawah tingkat minimum yang telah ditetapkan.

tetapi juga siapa yang melaksanakan dan berhak menikmati hasilnya. Namun yang menjadi permasalahan bukan hanya soal bagaimana cara memacu pertumbuhan. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat miskin dalam rangka mengembangkan kemampuan kerja dan berusaha. Rencana tersebut antara lain: 1.1 Pengaruh PDRB terhadap Tingkat Kemiskinan Menurut Todaro (dikutip dari Tambunan. pemerintah telah merumuskan berbagai rencana untuk memenuhi hak masyarakat miskin atas pekerjaan dan pengembangan usaha yang layak guna mengurangi tingkat pengangguran. dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). 2.2 Pengaruh Variabel Independen terhadap Variabel Dependen 2. Meningkatkan kemitraan global dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan perlindungan kerja. Meningkatkan efektifitas dan kemampuan kelembagaan pemerintah dalam menegakkan hubungan industrial yang manusiawi. 2001) pembangunan ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil. . Meningkatkan perlindungan terhadap buruh migran di dalam dan luar negeri.40 dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumah tangga. 3.2. 2. Oleh sebab itu. 4.

2. Selanjutnya menurut penelitian Deni Tisna (2008) menyatakan bahwa PDRB sebagai indikator pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap kemiskinan. kabupaten. Menurut Sadono Sukirno (2000). atau kota. Selanjutnya pembangunan ekonomi tidak semata-mata diukur berdasarkan pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) secara keseluruhan.2 Pengaruh Pendidikan terhadap Kemiskinan . 2. Sehingga menurunnya PDRB suatu daerah berdampak pada kualitas dan pada konsumsi rumah tangga. Menuru Kuznet (dikutip dari Tulus Tambunan. tetapi harus memperhatikan sejauh mana distribusi pendapatan telah menyebar ke lapisan masyarakat serta siapa yang telah menikmati hasil-hasilnya.41 Menurut Kuncoro (2001) pendekatan pembangunan tradisional lebih dimaknai sebagai pembangunan yang lebih memfokuskan pada peningkatan PDRB suatu provinsi. karena pada tahap awal proses pembangunan tingkat kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang. laju pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil. banyak rumah tangga miskin terpaksa merubah pola makanan pokoknya ke barang paling murah dengan jumlah barang yang berkurang. pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat. 2001). Dan apabila tingkat pendapatan penduduk sangat terbatas.

Akibatnya. sasaran utama pembangunan di tahun 1950-an dan 1960-an adalah mamaksimumkan tingkat pertumbuhan output total. memperdalam pemahaman akan perekonomian. Gaiha (1993) menjelaskan bahwa pendidikan berperan penting dalam kesejahteraan seseorang dengan berbagai cara yang berbeda. Hal ini tidak mengherankan karena.42 Todaro (1994) menyatakan bahwa selama beberapa tahun. memperluas produktifitas. dan tingkat output. produsen atau warganegara. akan mempunyai perbedaan pendapatan 300 persen sampai dengan 800 persen. produktifitas tenaga kerja. dampak pendidikan atas distribusi pendapatan dan usaha menghilangkan kemiskinan absolut sebagian besar telah dilupakan. Pendidikan dapat meningkatkan kemampuan penduduk untuk memperoleh dan menggunakan informasi. baik di negara-negara maju maupun di negaranegara sedang berkembang. sebagian besar penelitian dibidang ilmu ekonomi. dengan tenaga kerja yang hanya menyelesaikan sebagian ataupun seluruh pendidikan tingkat sekolah . Korelasi ini dapat dilihat terutama pada seseorang yang dapat menyelasaikan sekolah tingkat lanjutan dan universitas. Selain itu pendidikan dan distribusi pendapatan adalah mempunyai korelasi yang positif dengan penghasilannya selama hidup seseorang. menitik beratkan pada keterkaitan antara pendidikan. Yang mana pendidikan mamainkan peranan kunci dalam membentuk kemampuan sebuah negara dalam menyerap teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan. Selanjutnya Todaro (2000) menyatakan bahwa pendidikan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar. dan memberi pilihan kepada penduduk apakan berperan sebagai konsumen.

Dimana digambarkan dengan seorang miskin yang mengharapkan pekerjaaan baik serta penghasilan yang tinggi maka harus mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi.43 dasar.2. Setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin. Dalam penelitian Hermanto dan Dwi (2006) dihasilkan bahwa pendidikan mempunyai pengaruh paling tinggi terhadap kemiskinan dibandingkan variabel pembangunan lain seperti jumlah penduduk. Masyarakat yang bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara kelompok masyarakat kelas menengah keatas. Sedangkan orang miskin tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi seperti sekolah lanjutan dan universitas. Menurut Simmons (dikutip dari Todaro. sedangkan yang bekerja secara penuh . dan tingkat inflasi. Bagi sebagian besar masyarakat. pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. Karena tingkat penghasilan sangat dipengaruhi oleh lamanya tahun memperoleh pendidikan.3 Pengaruh Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan Lincolind Arsyad (1997) menyatakan bahwa ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan. 2. jelas ketimpangan pendapatan yang besar tersebut akan semakin besar. Tetapi pendidikan tinggi hanya mampu dicapai oleh orang kaya. PDRB. yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau hanya part-time selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. Sehingga tingkat pendidikan sangat berpengaruh dalam mengatasi masalah kemiskinan. 1994).

banyaknya induvidu yang mungkin bekerja secara penuh per hari. Banyak pekerja yang mandiri disektor informal yang bekerja secara penuh tetapi mereka sering masih tetap miskin. Yang artinya bahwa semakin tinggi tingkat pengganguran maka akanmeningkatkan kemiskinan.44 adalah orang kaya. Karena kadangkala ada juga pekerja diperkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik dan yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. 2. maka insiden pengangguran akan dengan mudah menggeser posisi mereka menjadi kelompok masyarakat miskin. tetapi tetap memperoleh pendapatan yang sedikit. Sama juga halnya adalah. jika masalah pengangguran ini terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah (terutama kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan sedikit berada di atas garis kemiskinan). Lebih jauh. Mereka menolak pekerjaan-pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber-sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka. Hilangnya lapangan pekerjaan menyebabkan berkurangnya sebagian besar penerimaan yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Orang-orang seperti ini bisa disebut menganggur tetapi belum tentu miskin.3 Penelitian Terdahulu . Dian Octaviani (2001) mengatakan bahwa sebagian rumah tangga di Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar atas pendapatan gaji atau upah yang diperoleh saat ini.

dan Kemiskinan di Indonesia: Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke”. antara lain: a) Penelitian yang dilakukan oleh Dian Octaviani (2001) dengan judul “Inflasi. yaitu : Pt = β0 + β1 (P/Y)T + β2 ρT + β3 µt + β4 Gt + εt Dimana: Pt = tingkat kemiskinan agregat pada tahun ke t diukur dengan indeks FGT (P/Y)t = rasio garis kemiskinan terhadap pendapatan rata-rata ρT = tingkat inflasi µt = tingkat pengangguran Gt = rasio gini εt = error term Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kenaikan angka pengangguran mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. Pengangguran. b) Penelitian yang dilakukan oleh Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti (2006) dengan judul “Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap .45 Beberapa penelitian tentang kemiskinan di berbagai negara telah dilakukan oleh sejumlah peneliti. sebaliknya semakin kecil angka pengangguran akan menyebabkan semakin rendahnya tingkat kemiskinan di Indonesia. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri yang dikemukakan oleh Cutler dan Katz (1991). Tulisannya menganalisis tentang pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia.

Analisis yang dilakukan adalah analisis Deskriptif dan ekonometrika dengan menggunakan metode Panel Data.46 Penurunan Jumlah Penduduk Miskin”. kenaikan Jumlah Penduduk mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. kenaikan Inflasi mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri sebagi berikut: Poverty = β0 + β1 PDRB + β2 Populasi + β3 Agrishare + β4 Industrieshare + β5 Inflasi + β6 SMP + β7 SMA + β8 DIPLOMA + β9 Dummy Krisis + ε Dimana: Poverty PDRB Agrishare = Tingkat kemiskinan = Pendapatan PDRB = Pangsa sektor pertanian dalam PDRB Industrieshare = Pangsa sektor industri dalam PDRB Inflasi SMP SMA DIPLOMA = Tingkat inflasi = jumlah lulusan setingkat SMP = jumlah lulusan setingkat SMA = jumlah lulusan setingkat Diploma Dummy Krisis = dummy krisis ekonomi Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kenaikan PDRB mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. kenaikan Share . Tulisannya menganalisis tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia.

. dan pengangguran terhadap kemiskinan di Indonesia. Analisis yang dilakukan adalah analisis Deskriptif dan ekonometrika dengan menggunakan metode Panel Data. PG) Y it = β0 + β1 X1it + β2 X2it + β3 X3it + Uit dimana: MS GR PDRB = jumlah kemiskinan. kenaikan tingkat pendidikan mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. Dimana pengaruh tingkat pendidik SMP lebih besar daripada pengaruh share pertanian. Sedangkan kenaikan Dummy krisis mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. = variabel tingkat pertumbuhan ekonomi. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri sebagi berikut: MS = f (GR. = variabel ketidakmerataan distribusi pendapatan. c) Penelitian yang dilakukan oleh Deny Tisna Amijaya (2008) dengan judul “Pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan. pertumbuhan ekonomi. dalam hal ini untuk seluruh Provinsi di Indonesia dari tahun 2003 – 2004. PDRB. dan pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 20032004”.47 pertanian dan industri mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. pertumbuhan ekonomi. Tulisannya meneliti tentang pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan.

variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa variabel yang dapat menambah kemiskinan berturut-turut dari nilai marginal effect terbesar adalah jumlah anggota rumah tangga. Dimana Analisis tentang variabel-variabel yang berhubungan dengan kemiskinan atau determinan kemiskinan untuk menjawab tujuan dari studi ini dilakukan dengan menggunakan Model Regrasi Logit atau disingkat Model Logit. = error. Variabel yang dapat . dan kepala keluarga bekerja di bidang pertanian. = cross section. dan Mermanto Siregar (2009) dengan judul “ Analisis Determinan Kemiskinan Sebelum Dan Sesudah Desentralisasi Fiskal”.48 PG i t Β0 Β1. Tulisannya menganalisis tentang Bagaimana pengaruh penerapan desentralisasi fiskal terhadap determinasi kemiskinan. Bonar M. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel ketidakmerataan distribusi pendapatan berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan. d) Penelitian yang dilakukan oleh Usman. = time series. sumber air yang tidak terlindung. = koefisien. kepala keluarga sebagai buruh tani. sedangkan variabel pengangguran berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan. Sinaga. Β2. Β3 U = variabel tingkat pengangguran. = konstanta.

e) Penelitian yang dilakukan oleh Rasidin K. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Peningkatan investasi sumberdaya manusia secara langsung berdampak pada peningkatan produktivitas tenaga kerja yang mendorong pada peningkatan Produk Domestik Bruto Riil. f) Penelitian yang dilakukan oleh Harlem Siahaan (1995) dengan judul “Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945 – 1984”. Tulisannya menganalisis tentang Bagaimana pengaruh investasi sumberdaya manusia terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan in Indonesia dengan menggunakan kombinasi model Komputasi Keseimbangan umum dan metode FosterGreer-Thorbecke. neraca perdagangan dan konsumsi rumah tangga. Tulisannya menganalisis tentang pertumbuhan ekonomi yang cepat (dipercepat) pada umumnya berpotensi menciptakan . bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota.49 mengurangi kemiskinan adalah kepala rumah tangga yang bekerja. dan jumlah tahun bersekolah seluruh anggota keluarga. kepemilikan aset lahan pertanian. Investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan dapat menurunkan poverty incidence. Sitepul dan Bonar M. poverty depth dan poverty severity kecuali untuk rumahtangga bukan pertanian golongan atas di desa. yang ditunjukkan oleh peningkatan stok kapital. Sinaga (2009) dengan judul “ Dampak Investasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Kemiskinan Di Indonesia: Pendekatan Model Computable General Equilibrium”.

. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia maupun perbaikan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut. akan berpotensi menciptakan situasi dan fenomena politik yang tidak menentu karena masalah-masalah ekonomi termasuk pembangunan ekonomi tidaklah tepat jika dilihat dari sudut dan perspektif ekonomi.50 berbagai bentuk kesenjangan dan permasalahan yang menghasilkan kontradiksi sosial-politik.

(PDRB). terhadap tingkat kemiskinan • Jumlah Penduduk berpengaruh negatif dan di Indonesia signifikan terhadap kemiskinan. • Tingkat pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. dan pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 2003-2004 Oleh: Deny Tisna Amijaya (2008) Analisis determinan Bagaimana pengaruh • PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kemiskinan. pertumbuhan • Tingkat pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif Pengangguran ekonomi. • Tingkat Inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Pendidikan. 3 4 Pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan. Gini Rasio PERMASALAHAN Bagaimana pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia HASIL PENELITIAN Tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kemiskinan di Indonesia. • Share pertanian dan industri berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. Bagaimana pengaruh • Ketidakmerataan distribusi pendapatan berpengaruh Pertumbuhan ekonomi ketidakmerataan distribusi positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. dan Kemiskinan di Indonesia: Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke Oleh: Dian Octaviani (2001) Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin Oleh: Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti (2006) Variabel Tingkat Inflasi. Pengangguran. Inflasi. Dummy krisis ekonomi th 1997-1998 Jumlah anggota rumah Bagaimana pengaruh Variabel yang dapat menambah kemiskinan . dan pengangguran dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. pertumbuhan ekonomi. pendapatan.TABEL 2. Share pertanian. Jumlah penduduk.1 RANGKUMAN PENELITIAN TERHADULU No 1 51 2 JUDUL dan PENULIS (Tahun) Inflasi. Share industri. terhadap kemiskinan • Tingkat pengangguran berpengaruh positif dan Indonesia 2003–2004 signifikanterhadap tingkat kemiskinan PDRB. • Krisis berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan Distribusi pendapatan. Tingkat Pengangguran.

Sinaga. Oleh: Rasidin K.52 berturut-turut dari nilai marginal effect terbesar adalah jumlah anggota rumah tangga. akan berbagai bentuk berpotensi menciptakan situasi dan fenomena politik kesenjangan dan yang tidak menentu karena masalah-masalah permasalahan yang ekonomi termasuk pembangunan ekonomi tidaklah menghasilkan kontradiksi tepat jika dilihat dari sudut dan perspektif ekonomi. Sinaga Keseimbangan umum dan dapat menurunkan poverty incidence. Bonar M. dan kepala keluarga bekerja di bidang pertanian. kepala keluarga sebagai buruh tani. Kepemilikan aset lahan pertanian. 5 6 Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945 – 1984 Oleh: Harlem Siahaan (1995) Bagaimana hubungan • Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia maupun pertumbuhan ekonomi yang perbaikan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi cepat (dipercepat) terhadap untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut. bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota kemiskinan sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal 5Oleh: Usman. poverty depth (2009) metode Foster-Greerdan poverty severity kecuali untuk rumahtangga Thorbecke bukan pertanian golongan atas di desa. Kepala rumah tangga yang bekerja. neraca perdagangan dan General Equilibrium dengan menggunakan konsumsi rumah tangga. sumber air yang tidak terlindung. yang ditunjukkan oleh Pendekatan Model Computable kemiskinan in Indonesia peningkatan stok kapital. Lama pendidikan anggota keluarga penerapan desentralisasi fiskal terhadap determinasi kemiskinan. kepemilikan aset lahan pertanian. sosial-politik . dan Mermanto Siregar (2009) Tangga. dan jumlah tahun bersekolah seluruh anggota keluarga Dampak Investasi Sumberdaya Tingkat Pendidikan Bagaimana pengaruh • Peningkatan investasi sumberdaya manusia secara Manusia Terhadap Pertumbuhan ekonomi investasi sumberdaya langsung berdampak pada peningkatan produktivitas Pertumbuhan Ekonomi Dan (PDRB) manusia terhadap tenaga kerja yang mendorong pada peningkatan Kemiskinan Di Indonesia: pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Bruto Riil. Sitepul dan kombinasi model Komputasi • Investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan Bonar M. Variabel yang dapat mengurangi kemiskinan adalah kepala rumah tangga yang bekerja.

tingkat share pertanian dan industri. dimana pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan PDRB. Kemudian variabel-variabel tersebut sebagai variabel independen (bebas) dan bersama-sama.53 2. pendidikan dan tingkat pengangguran. PDRB. padahal tujuan perencanaan pembangunan yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang nantinya penting dalam mengurangi kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Dengan hasil regresi tersebut diharapkan mendapatkan tingkat signifikansi setiap variabel independen dalam . pendidikan dan tingkat pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. dengan variabel dependen (terikat) yaitu kemiskinan yang diukur dengan alat analisis regresi untuk mendapatkan tingkat signifikansinya. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah bahwa kemiskinan dipengaruhi oleh tiga variabel pembangunan ekonomi. Selanjutnya Deni Tisna (2008) dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara ketidakmerataan distribusi pendapatan. pertumbuhan jumlah penduduk. pertumbuhan ekonomi dan pengangguran terhadap kemiskinan.4 Kerangka Pemikiran Tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah hingga tahun 2008 masih menduduki peringkat paling tinggi dibanding provinsi-provinsi lainnya di Pulau Jawa. tingkat inflasi dan pendidikan. Hermanto dan Dwi (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang lazim dipergunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan. antara lain PDRB. Hal ini merupakan permasalahan mendasar dalam perumusan kebijakan pembangunan daerah. Sehingga penelitian ini difokuskan pada bagaimana pengaruh Jumlah penduduk.

dimana suatu hipotesis selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menghubungkan dua variabel atau lebih (J. Secara skema kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut. 1997) . Gambar 2. Selanjutnya tingkat signifikansi setiap variabel independen tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran kepada pemerintah dan pihak yang terkait mengenai penyebab kemiskinan di Jawa Tengah untuk dapat merumuskan suatu kebijakan yang relevan dalam upaya pengentasan kemiskinan. Supranto.1 Kerangka Pemikiran PDRB PENDIDIKAN KEMISKINAN PENGANGGURAN 2.54 mempengaruhi kemiskinan.5 Hipotesis Hipotesis adalah pendapat sementara dan pedoman serta arah dalam penelitian yang disusun berdasarkan pada teori yang terkait.

55

Dengan mengacu pada dasar pemikiran yang bersifat teoritis dan berdasarkan studi empiris yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian dibidang ini, maka akan diajukan hipotesis sebagai berikut : 1. Diduga Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. 2. Diduga pendidikan (melek huruf) berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. 3. Diduga pengangguran berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan.

56

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional Variabel penelitian merupakan construct atau konsep yang dapat diukur

dengan berbagai macam nilai untuk memberikan gambaran yang nyata mengenai fenomena yang diteliti. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. 1. Variabel Dependen Variabel dependen dalam penelitian adalah kemiskinan yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah menurut kabupaten/kota pada tahun 2006-2008. 2. Variabel Independen Variabel independen dalam penelitian ini adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pendidikan dan pengangguran. Langkah berikutnya setelah menspesifikasi variabel-variabel penelitian adalah melakukan pendefinisian secara operasional. Hal ini bertujuan agar variabel penelitian yang telah ditetapkan dapat dioperasionalkan, sehingga memberikan petunjuk tentang bagian suatu variabel dapat diukur.

56

57

Dalam penelitian ini definisi operasional yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Kemiskinan (KM) Kemiskinan berarti sejumlah penduduk yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang telah ditetapkan oleh suatu badan atau orang tertentu dan perhitungan yang dilakukan oleh badan atau organisasi tersebut digunakan sebagai standar perhitungan untuk menentukan jumlah kemiskinan yang ada di suatu daerah. Atau singkatnya, penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, garis kemiskinan yang digunakan adalah garis kemiskinan yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah persentase penduduk miskin tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). 2. PDRB (PDRB) PDRB adalah keseluruhan nilai barang dan jasa yang diproduksi didalam suatu daerah tertentu dalam satu tahun tertentu. Berdasarkan uraiaan yang disampaikan oleh Sadono Sukirno (2000), laju pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan struktur ekonomi berlaku atau tidak, perhitungan PDRB akan ditimbulkan dari suatu daerah ada tiga pendekatan. PDRB yang dimaksud adalah laju PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen).

penduduk yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Data yang digunakan untuk melihat pengangguran adalah pengangguran terbuka di Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). penduduk yang merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Pengertian pengangguran terbuka (open unemployment) menurut Edwards (1974) (dalam Lincolin. penduduk yang sedang mempersiapkan suatu usaha. Pengangguran (PG) Pengangguran berarti seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu. . Sedangkan menurut BPS (Badan Pusat Statisktik) adalah meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan. tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya.58 3. Pendidikan (MH) Pendidikan dalam hal ini diproksi dengan besarnya angka melek huruf. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) melek huruf adalah kemampuan seseorang membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya (selain huruf latin) yang masing-masing merupakan keterampilan dasar yang diajarkan di kelas-kelas awal jenjang pendidikan dasar. 4. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk melek huruf Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). 1997) adalah mereka yang mampu dan seringkali sangat ingin bekerja tetapi tidak tersedia pekerjaan yang cocok untuk mereka.

Data persentase penduduk miskin daerah untuk masing-masing kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 .2008 untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah. sehingga penelitian pada periode tersebut menarik untuk diamati serta data tersedia pada tahun tersebut. dokumen-dokumen perusahaan atau organisasi. Data laju Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan untuk masing-masing kabupaten/kota Jawa Tengah tahun 2005-2008.2 Jenis Dan Sumber Data Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. 2. Pemilihan periode ini disebabkan karena kemiskinan mengalami fluktuasi dan terjadinya peningkatan PDRB dan diikuti dengan peningkatan pengangguran di tahun 2006. Data yang diperlukan adalah: 1. Data sekunder yang digunakan adalah penggabungan dari deret berkala (time series) dari tahun 2005 . 2005).2008. surat kabar dan majalah.2008 dan deret lintang (cross section) sebanyak 35 data mewakili kabupaten/kota di Jawa Tengah yang menghasilkan 140 observasi. ataupun publikasi lainnya (Marzuki. misalnya diambil dari Badan Pusat Statistik. Periode data yang digunakan adalah data tahun 2005 .59 3. Data sekunder yaitu data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti. .

3 Metode Pengumpulan Data Anto Dajan (2001) Menyatakan bahwa metode pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematis dan standar guna memperoleh data kuantitatif. 3. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Tengah”. 3. 2. Data persentase penduduk miskin daerah untuk masing-masing kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . Adapun sumber data tersebut diatas diperoleh dari: 1.2008. 4. disamping itu metode pengumpulan data memiliki fungsi teknis guna .60 3. Data pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf untuk masingmasing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “PDRB Jawa Tengah”. Data pengangguran terbuka untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 .2008. Data pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf untuk masingmasing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . Data laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Jawa Tengah Dalam Angka”. Data pengangguran untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 .2008. 4. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Data dan Informasi Kemiskinan”.2008.2008.2008.

persamaan model dengan menggunakan data cross-section dapat ditulis sebagai berikut : Yi = β0 + β1 Xi + εi . Dalam model panel data....1 Metode Analisis Metode Analisis Data Panel Studi ini menggunakan analisis panel data sebagai alat pengolahan data dengan menggunakan program Eviews 6. 2. digunakan buku referensi........ Periode data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tahun 2005 – 2008... i = 1..1) dimana N adalah banyaknya data cross-section Sedangkan persamaan model dengan time-series adalah : .... Analisis dengan menggunakan panel data adalah kombinasi antara deret waktu (time-series data) dan kerat lintang (cross-section data).4. N ........ Dalam data panel...... Sebagai pendukung. jurnal. Data yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini sepenuhnya diperoleh melalui studi pustaka sebagai metode pengumpulan datanya.. (3.......4 3... surat kabar........ 3. Gujarati (2003) menyatakan bahwa untuk menggambarkan data panel secara singkat... ..... nilai dari satu variabel atau lebih dikumpulkan untuk beberapa unit sampel pada suatu waktu. unit cross section yang sama di survey dalam beberapa waktu. serta dari browsing website internet yang terkait dengan masalah kemiskinan......61 memungkinkan para peneliti melakukan pengumpulan data sedemikian rupa sehingga angka-angka dapat diberikan pada obyek yang diteliti.. sehingga tidak diperlukan teknik sampling serta kuesioner.. misalkan pada data cross section.

........ yang tidak dapat diberikan hanya oleh data cross section dan time series daja.. Panel data dapat memberikan penyelesaian yang lebih baik dalam inferensi perubahan dinamis dibandingkan data cross section. 2.......62 Yt = β0 + β1 Xt + εt ...... dimana dapat menghasilkan ekonometri yang efisien......... data memiliki variabilitas yang besar dan mengurangi kolinearitas antara variabel penjelas.. ... maka model dapat ditulis dengan : Yit = β0 + β1 Xit + εit ..... t = 1....(3..... .. t = 1.... meningkatkan degrees of freedom (derajat kebebasan).. Dengan panel data. N . c..... lebih bervariasi....... ........ b........... 2...............2) dimana T adalah banyaknya data time-series Mengingat data panel merupakan gabungan dari time-series dan cross-section....... 2009) keunggulan penggunaan data panel dibandingkan deret waktu dan kerat lintang adalah : a. T dimana : N T = banyaknya observasi = banyaknya waktu N × T = banyaknya data panel Menurut Hsiao...... T .............3) i = 1.(3................... Dapat memberikan peneliti jumlah pengamatan yang besar.. 2.......... 1986 (dikutip dari Firmansyah.... data lebih informasif...

63 Dalam analisis model panel data dikenal. 2. Penambahan variabel boneka ini akan dapat mengurangi banyaknya derajat kebebasan (degree of freedom) yang pada akhirnya akan mengurangi efisiensi dari parameter yang diestimasi. dua macam pendekatan yang terdiri dari pendekatan efek tetap (fixed effect). Pendekatan dengan memasukkan variabel boneka ini dikenal dengan sebutan model efek tetap (fixed effect) atau Least Square Dummy Variable (LSDV). Untuk mengatasi hal tersebut. dan pendekatan efek acak (random effect). . Model panel data yang di dalamnya melibatkan korelasi antar error term karena berubahnya waktu karena berbedanya observasi dapat diatasi dengan pendekatan model komponen error (error component model) atau disebut juga model efek acak (random effect). Pendekatan efek acak (Random effect) Keputusan untuk memasukkan variabel boneka dalam model efek tetap (fixed effect) tak dapat dipungkiri akan dapat menimbulkan konsekuensi (trade off). yang dilakukan dalam panel data adalah dengan memasukkan variabel boneka (dummy variable) untuk mengizinkan terjadinya perbedaan nilai parameter yang berbeda-beda baik lintas unit (cross section) maupun antar waktu (time-series). Kedua pendekatan yang dilakukan dalam analisis panel data dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Pendekatan efek tetap (Fixed effect) Salah satu kesulitan prosedur panel data adalah bahwa asumsi intersep dan slope yang konsisten sulit terpenuhi.

Sebaliknya. 4. apabila kita meyakini bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian diambil secara acak (random) maka random effect harus digunakan. dan apabila asumsi yang mendasari random effect dapat terpenuhi. Pendidikan (MH) dan variabel tingkat pengangguran (PG) terhadap kemiskinan (KM) menggunakan data time-series selama empat tahun . Jadi. maka hasil estimasi kedua pendekatan akan berbeda jauh. Apabila N besar dan T kecil. Apabila jumlah time-series (T) besar sedangkan jumlah cross-section (N) kecil.64 Menurut Judge ada empat pertimbangan pokok untuk memilih antara menggunakan pendekatan efek tetap (fixed effect).4. maka random effect lebih efisien dibandingkan fixed effect. apabila kita meyakini bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian tidak diambil secara acak maka kita harus menggunakan fixed effect. 3. Apabila N besar dan T kecil. maka hasil fixed effect dan random effect tidak jauh berbeda sehingga dapat dipilih pendekatan yang lebih mudah untuk dihitung yaitu fixed effect model (FEM). 2. Apabila komponen error εi individual berkorelasi maka penaksir random effect akan bias dan penaksir fixed effect tidak bias. 3.2 Estimasi Model Penelitian mengenai pengaruh variabel variabel tingkat pertumbuhan ekonomi (PDRB). dan pendekatan efek acak (random effect) dalam data panel : 1.

Dalam penelitian ini. Pendidikan (MH) dan variabel tingkat pengangguran (PG) terhadap kemiskinan (KM) digunakan asumsi FEM dikerenakan N besar dan T kecil selain itu bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian tidak diambil secara acak maka kita harus menggunakan fixed effect. dan error term. Gujarati (2003) menjelaskan bahwa estimasi model regresi panel data dengan pendekatan fixed effect tergantung pada asumsi yang digunakan pada intersep. dimana ada beberapa kemungkinan asumsi yaitu : a. Seluruh koefisien (intersep dan koefisien slope) bervariasi antar individu. yaitu koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu. pengaruh variabel variabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). e. koefisien slope.65 yang diwakili data tahunan dari 2005 . d. Koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu dan waktu. Asumsi FEM yang dugunakan dalam penelitian ini adalah asumsi FEM yang kedua. Asumsi bahwa intersep dan koefisien slope adalah konstan antar waktu (time) dan ruang (space) dan error term mencakup perbedaan sepanjang waktu dan individu. b. Model fungsi yang akan digunakan untuk mengetahui kemiskinan di Jawa Tengah yaitu: . Intersep sebagaimana koefisien slope bervariasi bervariasi antar individu dan waktu.2008 dan data cross-section sebanyak 35 data mewakili kabupaten/kota di Jawa Tengah yang menghasilkan 140 observasi. c. Koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu.

...... Adanya perbedaan dalam satuan dan besaran variabel bebas dalam persamaan menyebabkan persamaan regresi harus dibuat dengan model logaritma natural......... = error............. Sehingga persamaan menjadi sebagai berikut: Log KM = β0 + β1 Log PDRB it + β2 Log MH it + β3 LogPG it + Uit ..... Menghindari adanya heteroskedastisitas b... (3.. Mendekatkan skala data Dalam model penelitian ini logaritma yang digunakan adalah dalam bentuk log ........ = pendidikan atau angka melek huruf dalam persen = pengangguran dalam persen.. (3.......... = laju PDRB harga konstan 2000 dalam persen. MH....……………………… (3.... 2005) adalah sebagai berikut : a....................…....... = koefisien...... Β3 U = persentase kemiskinan dalam persen.. = koefisien.. Mengetahui koefisien yang menunjukkan elastisitas c.66 KM = f (PDRB.........5) dimana: KM PDRB MH PG i t Β0 Β1. Alasan pemilihan model logaritma natural (Imam Ghozali...... = time series.. = cross section.. PG) .... Β2.....6) keterangan: log β1 – β5 = log-linear.......4) KMit = β0 + β1 PDRBit + β2 MHit +β3 PGit+ Uit ..... ..................linear (log)........... = konstanta......

. apabila J-B hitung < nilai X² (Chi Square) tabel. 2002)...5 3. 3. Ada beberapa metode untuk mengetahui normal atau tidak gangguan (µ) antara lain J-B test dan metode grafik.. maka hipotesis yang menyatakan bahwa residual Ut terdistribusi normal ditolak dan sebaliknya. Model untuk mengetahui uji normalitas adalah: J – B hitung = dimana: S K = Skewness statistik = Kurtosis [ S2/6 + ( k −3 2 ) 24 ] ………………………..5.67 U = error. maka nilai residual berdistribusi normal... (3.. keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak.1 Pengujian Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi. .... Model regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi normal atau mendekati normal (Imam Ghozali.. Penelitian ini akan menggunakan metode J-B test yang dilakukan dengan menghitung skweness dan kurtosis. variabel terikat dan variabel bebas.7) Jika nilai J – B hitung > J-B tabel.

.… (3.… (3... Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol.9) MH PG = f (PDRB..………………......……………. maka variabel-variabel ini tidak ortogonal..… (3..........5... PG) .............. PG) …......... Konsekuensi adanya multikolinearitas adalah koefisien regresi variabel tidak tentu dan kesalahan menjadi tidak terhingga. Kriterianya adalah jika R2 regresi persamaan utama ...….. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen.. Jika variabel bebas saling berkorelasi......8) PDRB = f (MH..10) = f (PDRB..…....…......……… (3......2 Uji Multikolinearitas Imam Ghozali (2002) menyatakan bahwa multikolinearitas mempunyai pengertian bahwa ada hubungan linear yang “sempurna” atau pasti diantara beberapa atau semua variabel independen (variabel yang menjelaskan) dari model regresi....11) Penelitian ini akan menggunakan Auxiliary Regression untuk mendeteksi adanya multikolinearitas.. MH) ... Salah satu munculnya multikolinearitas adalah R² sangat tinggi dan tidak satupun koefisien regresi yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel tidak bebas secara skolastik... Model untuk mengetahui uji multikolinearitas adalah: KM = f (PDRB. PG) .........68 3. Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen)...…………..…. MH..………….

69 lebih besar dari R2 regresi auxiliary maka di dalam model tidak terdapat multikolinearitas. 3.2002 Keputusan Tolak Tidak ada keputusan Tolak Tidak ada keputusan Jangan tolak Kriteria 0 < d < dl dl < d <du 4-dl < d < 4 4-du < d < 4-dl du < d < 4-du .5. Tabel 3. Pengujian menggunakan uji Durbin Watson untuk melihat gejala autokorelasi.1 Kriteria Pengujian Durbin Watson Hipotesis Nol Ada atokorelasi positif Tidak ada autokorelasi positif Ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi Sumber: Imam Gozali. Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode waktu atau ruang dengan kesalahan pengganggu pada waktu atau ruang (sebelumnya).3 Uji Autokorelasi Autokerelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data deretan waktu) atau ruang (seperti dalam data cross-sectional.

4 Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas berarti bahwa variasi residual tidak sama untuk semua pengamatan.2002 3. Secara ringkas walaupun terdapat heteroskedastisitas maka penaksir OLS (Ordinary Least Square) tetap tidak bias dan konsisten tetapi penaksir tadi tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar (yaitu asimtotik). . Heteroskedastisitas bertentangan dengan salah satu asumsi dasar regresi biar homoskedastisitas yaitu variasi residual sama untuk-semua pengamatan. Menurut Gujarati (1995) bahwa masalah heteroskedastisitas nampaknya menjadi lebih biasa dalam data cross section dibandingkan dengan data time series.5.1 Aturan Membandingkan Uji Durbin-Watson Dengan Tabel Durbin-Watson Ada autokorelasi positif dan menolak Ho Tidak ada keputusan Tidak ada autokorelasi dan tidak menolak Ho Tidak ada keputusan Ada autokorelasi negatif dan menolak Ho dl du 2 4-du 4-dl 4 Sumber: Imam Gozali.70 Berdasarkan penjelasan diatas dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 3.

Hipotesis yang digunakan: 1. Jika t-statistik > t-tabel maka ada heterokedastisitas. H0 : b1 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel PDRB dengan kemiskinan. 3. jika nilai Prob < 0. dan pengujian koefisien determinasi (uji-R2). atau Jika nilai Prob > 0. jika t-statistik < t-tabel maka tidak ada heterokedastisitas.05 maka ada heterokedastisitas.1 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t) Uji signifikansi parameter individual (uji t) dilakukan untuk melihat signifikansi dari pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak terikat secara individual dan menganggap variabel lain konstan.71 Penelitian ini menggunakan uji Park untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas. Uji statistik terdiri dari pengujian koefisien regresi parsial (uji t). pengujian koefisien regresi secara bersama-sama (uji F).6 Pengujian Kriteria Statistik Gujarati (1995) menyatakan bahwa uji signifikansi merupakan prosedur yang digunakan untuk menguji kebenaran atau kesalahan dari hasil hipotesis nol dari sampel. Uji Park pada prinsipnya meregres residual yang dikuadratkan dengan variabel bebas pada model. Keputusan untuk mengolah Ho dibuat berdasarkan nilai uji statistik yang diperoleh dari data yang ada. 3. . Ide dasar yang melatarbelakangi pengujian signifikansi adalah uji statistik (estimator) dari distribusi sampel dari suatu statistik dibawah hipotesis nol.05 maka tidak ada heterokedastisitas.6.

.......................... H1 : b2 < 0 ada pengaruh negatif antara variabel melek huruf dengan kemiskinan. Nilai t hitung dapat dicari dengan rumus: t= Bi − Bi * . artinya salah satu variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.... artinya salah satu variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan...12) dimana: βi βi* = parameter yang diestimasi = nilai hipotesis dari βI (Ho : βI = βi*) SE(βi) = simpangan baku βi Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut: a) Jika t-hitung > t-tabel maka H0 ditolak. 2........... H0 : b3 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel tingkat pengangguran dengan kemiskinan..... H0 : b2 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel melek huruf dengan kemiskinan......72 H1 : b1 < 0 ada pengaruh negatif antara variabel PDRB dengan kemiskinan......................... 3...... SE ( Bi ) (3........ H1 : b3 > 0 ada pengaruh positif antara variabel tingkat pengangguran dengan kemiskinan......... b) Jika t-hitung < t-tabel maka H0 diterima. ..

........................................... H1 : b1..6................2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat... b3 = 0 semua variabel independen tidak mampu mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama 2..... 1 − R 2 /( N − l ) (3. b2. b3 ≠ 0 semua variabel independen mampu mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama Nilai F hitung dirumuskan sebagai berikut: F= R 2 /(k − 1) .13) dimana: k = jumlah parameter yang diestimasi termasuk konstanta N = jumlah observasi Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut: ...73 3.. H0 : b1...... b2........ Hipotesis yang digunakan: 1....

........ yang artinya variabel penjelas secara bersama-sama mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.... Setiap tambahan satu variabel pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen..... Nilai yang mendekati satu berarti variabelvariabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen..6...... Kelemahan mendasar penggunaan determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model........... b) H0 ditolak dan H1 diterima apabila F hitung > F tabel....... (3.. Oleh karena itu............14) . Nilai (R 2 ) adalah antara nol dan satu...... 3.............. Nilai koefisien determinasi diperoleh dengan formula: R 2 ∑y = ∑y *2 2 .3 Uji Koefisien Determinasi (uji R2) Imam Ghozali (2002) menyatakan bahwa koefisien determinasi (R 2 ) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan suatu model dalam menerangkan variasi variabel terikat......... yang artinya variabel penjelas secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan................ Nilai (R 2 ) yang kecil (mendekati nol) berarti kemampuan satu variabel dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas.74 a) H0 diterima dan H1 ditolak apabila F hitung < F tabel.. banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai adjusted (R 2 ) pada saat mengevaluasi model regresi yang terbaik.....

04 persen dari luas Pulau Jawa dan 1.412 hektar atau sekitar 25.1 Deskripsi Obyek Penelitian 4. secara administratif terbagi dalam 35 kabupaten/kota (29 kabupaten dan 6 kota) dengan 565 kecamatan yang meliputi 7872 desa dan 622 kelurahan.55 persen) bukan lahan sawah.1 Kondisi Geografis Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi di Pulau Jawa letaknya diapit oleh dua provinsi besar yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur.75 dimana: y* y = nilai y estimasi = nilai y aktual BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.26 juta hektar (69. Secara geografis letaknya antara 5040’ dan 8030’ Lintang Selatan dan antara 108030’ dan 110030’ Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa). Provinsi Jawa Tengah dengan pusat pemerintahan di Kota Semarang.70 persen dari luas Indonesia. Luas wilayah Jawa Tengah tercatat sebesar 3.1.45 persen) lahan sawah dan 2. Secara administratif Provinsi Jawa Tengah berbatasan oleh : Sebelah Utara Sebelah Timur : Laut Jawa : Jawa Timur . Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 263 km dan dari utara ke selatan adalah 226 km (tidak termasuk Pulau Karimunjawa). Luas wilayah tersebut terdiri dari 991 ribu hektar (30.254.

kesehatan. geografis. antara lain tingkat pendapatan. Selain itu kemiskinan juga merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. akses terhadap barang dan jasa. Oleh karena itu.1 Kemiskinan Kemiskinan merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. gender. 2004). Berikut disajikan data tentang kemiskinan yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008. dan lokasi lingkungan.2 Analisis Data 4. pertumbuhan ekonomi. pendidikan. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi.2.76 Sebelah Selatan Sebelah Barat : Samudera Hindia : Jawa Barat 75 4. . tingkat pengangguran. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. lokasi. pemerintah sangat berupaya keras untuk mengatasi permasalahan kemiskinan tersebut sehingga pembangunan dilakukan secara terusmenerus termasuk dalam menentukan batas ukur untuk mengenali siapa si miskin tersebut. buta huruf.

4 2007 27.18 22.72 15.08 18.06 27.39 30.82 20.52 23.55 24.59 29.92 27.77 30. Semarang Kab.93 18.01 6.37 20.24 20.31 22.71 27.12 18.14 22. Brebes Kab.79 22.25 23. Blora Kab.59 23.14 10.9 19.79 17.4 24.15 21.44 19.75 33.60 28 10.44 32.58 16.99 12.34 21. Tegal 2005 27.9 5.95 22.77 Tabel 4.27 10. Temanggung Kab.05 15. Surakarta Kota. Pekalongan Kab.14 29. Sukoharjo Kab.7 22.71 16.98 21.78 16. Banjarnegara Kab.13 11. Pekalongan Kota.69 32.05 17.72 11.36 22.59 22.71 12. Japara Kab.16 10.67 19.47 22.33 15.1 Persentase Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen) No.93 15.39 20.95 20 30.34 22.25 20.08 25.84 11.87 21. Salatiga Kota. Pati Kab.24 14.83 12. Wonosobo Kota.01 5. Kendal Kab.75 18.44 17.49 17.49 21.37 8. Purbalingga Kab. Kebumen Kab.36 2008 23.28 13.21 31.39 16.3 32. Rembang Kab.73 17.79 20. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kab.37 19.72 13. Pemalang Kab. Batang Kab. Banyumas Kab.73 17.34 8.93 22. Grobogan Kab.38 22.75 27.62 23.5 25. Semarang Kota.50 25.03 27.8 25. Demak Kab.02 18.01 34.62 27. Magelang Kota.94 6.26 13.5 16.29 10.93 26.68 27.22 27.64 9.13 15. Boyolali Kab.42 19.79 30.60 14.99 23.81 4.46 18.63 20.4 21. Klaten Kab.06 22.49 30.48 10.36 24. Tegal Kab.43 11.16 24.02 18. Purworejo Kab.62 9.96 2006 29. Kudus Kab.83 20.21 10. Karanganyar Kab.6 11. Sragen Kab.22 13. Cilacap Kab.38 8. Wonogiri Kab.72 12.21 11./Kota Kab.87 17.46 20.2 13.24 19.68 12.29 8.28 .19 7.79 21. Magelang Kab.35 22.47 6 16.

Berikut disajikan data PDRB yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008. Dan kabupaten/Kota yang memiliki persentase penduduk miskin paling sedikit yaitu di Kota semarang yaitu sebanyak 6 persen di tahun 2008.2.98 persen di tahun 2008. sampai dengan jasa-jasa. PDRB merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui peranan dan potensi ekonomi di suatu wilayah dalam periode tertentu.78 Sumber: Data dan informasi Kemiskinan Jateng 2008 Tabel 4. di suatu wilayah tertentu (provinsi dan kabupaten/kota). pertambangan. . dan dalam satu kurun waktu tertentu (satu tahun kalender). industri pengolahan.2 Produk Domestik Regionl Bruto (PDRB) Menurut BPS (2008).2008 terbanyak yaitu berada di Kabupaten Brebes yaitu sebanyak 27. 4.1 diatas menunjukan bahwa persentase penduduk miskin provinsi Jawa Tengah tahun 2005 .79 persen di tahun 2005 dan mengalami penurunan hingga 25. Kegiatan ekonomi yang dimaksud mulai kegiatan pertanian. Produk Domestik Bruto (PDRB) merupakan penjumlahan nilai output bersih (barang dan jasa akhir) yang ditimbulkan oleh seluruh kegiatan ekonomi.

67 4.58 5. Temanggung 28 Kab.49 5. Brebes 7 Kab. Kendal 14 Kab.95 4.72 5.72 5.39 5.21 3.98 5. Cilacap 8 Kab.52 4.85 4.47 6.79 2.16 4.98 2008 4.81 4.8 4.11 4.23 5.59 .33 3.44 3.43 4. Wonogiri 29 Kab.06 5.3 3.67 5.02 4 4.31 4.31 3. Klaten 15 Kab. Sragen 25 Kab.3 2.18 4.81 5.08 3.08 4.39 3.03 5.19 6. Sukoharjo 26 Kab.21 2.11 5.05 4. Blora 5 Kab.99 4. Wonosobo 30 Kota./Kota 1 Kab.51 4.28 3.59 4.73 4.62 4.27 3.67 2. Semarang 24 Kab. Demak 9 Kab.98 5.2 Laju PDRB Berdasarkan Harga Konstan 2000 Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen) No.15 4.37 4.71 4.23 2.69 4.41 3.69 5.72 3. Banjarnegara 2 Kab.33 4.61 3.62 4. Pekalongan 32 Kota.73 5.19 5.08 4.63 4.01 5. Kab. Pemalang 20 Kab.59 4.92 3.21 5.74 4.48 2.11 5.49 3.95 3.23 5.31 3.62 3. Rembang 23 Kab.72 3. Kebumen 13 Kab.94 4.8 7. Boyolali 6 Kab.23 5.19 4.06 4.84 5. Karanganyar 12 Kab. Semarang 2005 3.53 5.74 5.94 3.07 4. Magelang 17 Kab.08 3. Salatiga 33 Kota. Pati 18 Kab.98 4.75 5.79 Tabel 4.51 3.71 2007 5.71 5 4. Purworejo 22 Kab.86 4. Purbalingga 21 Kab.11 5. Pekalongan 19 Kab.15 5.14 2006 4.49 3.45 4.81 4.04 4. Magelang 31 Kota.8 5.19 4. Japara 11 Kab. Tegal 27 Kab.17 5.92 4.30 5.17 3.99 5.78 4.53 3. Grobogan 10 Kab. Kudus 16 Kab.2 2.99 4.05 3.07 4.54 4.74 4.35 4.07 3.26 5. Batang 4 Kab.19 3.32 3.85 3.56 3.19 4.18 4.46 4.07 3.64 4. Banyumas 3 Kab.82 4.91 4.

Sebab. Karena pendidikan adalah sarana menghapus kebodohan sekaligus kemiskinan. ada satu unsur kunci yaitu pendidikan.43 5.80 34 Kota. 4.21 5. Laju PDRB dapat menunjukan kondisi perekonomian di masing-masing kabupaten / kota di Jawa Tengah. Dilihat dari besarnya PDRB menunjukan terjadi kesenjangan ekonomi yang relatif besar antara daerah maju dan tertinggal. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan. Salah satu indikator pendidikan adalah tingkat angka melek huruf di suatu daerah. Tegal 4.15 5.69 5. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis. .3 Pendidikan (Melek Huruf) Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa.15 Tabel 4.87 Sumber: PDRB Jawa Tengah 2005-2008 5. Surakarta 5.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan. Untuk memutus rantai sebab akibat diatas.2.15 35 Kota. Sehingga. Berikut disajikan data melek huruf menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jatidiri manusia suatu bangsa.82 5.2 diatas menunjukkan bahwa laju PDRB yang terjadi di kabupaten / kota di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 menunjukkan angka yang fluktuatif dari masing-saing kabupaten / kota.

Semarang 95.94 34 Kota.17 95.93 86.36 Kab.96 11 Kab. Blora 82.3 93 89.31 2 93.67 23 Kab. Wonogiri 79.05 87.50 97.39 88.37 95.01 Kab.2 25 Kab.3 89.24 Kab.36 4 82. Magelang 94.9 84.3 86. Banjarnegara 88.9 82 88.3 Tingkat Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2008 (dalam satuan persen) 2005 2006 2007 No.5 81.87 21 Kab.24 1 85 88.10 87.85 33 Kota.3 92 91.9 87.58 13 Kab.80 96.85 Kab.4 89.50 85.87 88. Semarang 91.10 82.18 87.3 8 89.9 97.50 91.20 92. Cilacap 90.28 89.18 22 Kab.70 95.50 91. Rembang 88.82 Kab.2 88.1 Kab.8 90. Sragen 73 81.20 89.62 81. Karanganyar 81. Kudus 89.60 93.18 91.6 83 86 84.8 90.80 90.01 3 85. Pekalongan 86.9 89.30 86.28 91.85 91.30 82.46 Kab. Demak 90.21 32 Kota.85 15 Kab.90 88.75 86.4 96. Klaten 85.4 26 Kab.91 29 Kab.81 Tabel 4.87 88. Japara 87. Pati 84. Batang 87.50 87.9 87.93 27 93.03 28 Kab.51 76. Banyumas 93. Boyolali 85.30 93.35 24 Kab.03 88. Magelang 90. Sukoharjo 87.60 88.9 96.49 95. Tegal 86.10 95. Wonosobo 85.37 31 Kota.1 95. Salatiga 95.08 30 Kota.2 95.50 84.7 .4 88.16 19 Kab.50 89.3 6 80.01 20 Kab.58 94. Pemalang 85. Purworejo 86.10 84.13 5 84.15 90./Kota Kab. Brebes 84.96 Kab.8 93.91 10 Kab.34 86. Kab.2 92.2 93.58 96.31 Kab.2 90. Temanggung 95.20 88.28 17 Kab. Grobogan 90.39 12 Kab.5 95. Kebumen 89.40 88. Pekalongan 94.01 88.30 90.39 18 Kab.1 90.20 96.34 16 Kab.20 95.40 88.24 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2005 – 2008 2008 94.91 97. Surakarta 95. Purbalingga 93 93.93 82.87 35 Kota. Tegal 91.9 90.39 87.40 89. Kendal 88.1 7 90 90.40 88.40 90.18 9 86.34 93.86 14 Kab.

Sedangkan angkatan kerja sendiri terdiri dari dua komponen yaitu orang yang menganggur dan orang yang bekerja. kondisi seperti ini membawa dampak bagi terciptanya dan membengkaknya .4 Pengangguran Pengangguran adalah meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan.3 diatas menunjukan bahwa tingkat Melek huruf di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . Apabila mereka tidak bekerja konsekuensinya adalah mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan baik. Tingkat pengangguran sangat erat hubungannya dengan laju pertumbuhan penduduk. 4.2008 terbesar yaitu berada kota Pekalongan yaitu sebesar 97. atau sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.2 persen di tahun 2008 dan yang paling sedikit yaitu di Kabupaten Wonosobo yaitu sebesar 82 persen.82 Tabel 4.2. Tingkat pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah kesempatan kerja di negara yang sedang berkembang yang bagaikan ujung sebuah gunung es. 2008). atau sedang mempersiapkan suatu usaha. atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Tingkat Pengangguran Terbukan (TPT) adalah angka yang menunjukkan banyaknya pengangguran terhadap 100 penduduk yang masuk kategori angkatan kerja (BPS. Dengan laju pertumbuhan yang tinggi akan meningkatkan jumlah angkatan kerja (penduduk usia kerja) yang kemudian besarnya angkatan kerja ini dapat menekan ketersediaan lapangan kerja di pasar kerja.

26 5.51 34 Kota.77 4 Kab.39 14 Kab. Jateng 2005 .81 9.83 6.03 6.91 2 Kab.45 8. Cilacap 17.39 9.16 12.12 26 Kab.4 Tingkat Pengangguran Menurut Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2008 (dalam satuan persen) 2005 2006 2007 2008 No. Tegal 14.93 7.36 7.95 4.56 7.19 11. Pati 7.59 5.39 4.57 9.46 6.49 8.31 7.08 5.7 5.62 6.89 23 Kab.14 7.93 13. Brebes 12.38 9.32 Sumber: Keadaan Angkatan Kerja Prop.24 7.83 jumlah kemiskinan yang ada.27 33 Kota.68 5.78 5.97 20 Kab.32 22 Kab.92 7 Kab.66 7. Kebumen 13. Purbalingga 9.31 9.16 3.94 4.73 8.44 8. Banyumas 10. Banjarnegara 9.71 5 Kab.5 30 Kota.50 8. Karanganyar 6. Magelang 17.36 18 Kab.49 5. Pemalang 10.07 8./Kota 1 Kab.75 13.31 6.61 6. Temanggung 6. Berikut disajikan data tentang pengangguran yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 – 2008. Semarang 6.26 15 Kab.14 8.59 4. Magelang 9.04 6.11 5. Klaten 7.50 9.08 4.18 6.19 7.19 5.15 6.64 9 Kab.2008 .45 7.72 8.38 19 Kab.21 5.15 8.7 12 Kab.13 8.42 6.35 11. Japara 8.48 9. Tabel 4.32 9. Grobogan 6.14 9.06 17 Kab.14 9.19 10 Kab.76 5.33 8. Kudus 7.57 35 Kota. Purworejo 6.28 31 Kota.61 7.60 3.03 10.2 5.82 6.08 21 Kab.47 4. Semarang 12.27 7.9 6 Kab.56 27 Kab.36 8.73 29 Kab.61 9.39 8. Wonogiri 9.27 11. Salatiga 14.76 11 Kab.48 10.80 9. Boyolali 7. Blora 4.37 12.10 5.53 5. Wonosobo 5. Sukoharjo 10.39 24 Kab.05 5.64 25 Kab.43 4.76 10.17 9.05 3 Kab.25 5.9 28 Kab. Kendal 7.23 11.53 9. Rembang 9.01 9.01 7.94 3.64 9.07 5.77 4. Pekalongan 16. Demak 9.77 6. Surakarta 10.60 14.63 5.92 5.39 11. Pekalongan 8.16 8 Kab. Batang 11.75 32 Kota. Tegal 11.15 16 Kab.69 5.78 3. Kab.12 13 Kab.79 6.55 8.30 5.20 11.53 9. Sragen 10.40 7.80 11.

Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005-2008 Coefficient 8.000 0.5 Hasil Regresi Utama Pengaruh PDRB.089 0. Dan yang paling sedikit yaitu di Kabupaten Blora yaitu sebesar 4.406 -2. Tabel 4.84 Tabel 4.32 persen.60 persen di tahun 2005.4 diatas menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 .968 83.416 -1.029 0.32 persen. 4.046 C LOG(PDRB) LOG(MH) LOG(PG) R-squared F-Statistic Prob(F-Statistic) Durbin-Watson Sumber: Lampiran B .017 Prob. karena pada hakekatnya jika asumsi klasik tidak dipenuhi maka variabel-variabel yang menjelaskan akan menjadi tidak efisien. tetapi di tahun 2008 yang paling besar yaitu di kota Tegal sebesar13. sedangkan di tahun 2008 yang paling sedikin yaitu kabupaten Purworejo sebesar 4.076 -1.0000 1.81 persen ditahun 2005.77 0.209 -2. 0.99 t-Statistic 3. Pendidikan.867 -0.2008 terbesar yaitu berada kota magelang yaitu sebanyak 17.267 -0.162 0.3 Hasil Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik perlu dilakukan karena dalam model regresi perlu memperhatikan adanya penyimpangan-penyimpangan atas asumsi klasik.

306602 -0. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 24 20 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2008 Observations 140 Mean Median Maximum Minimum Std.0 0.2008 dengan n = 140 dan k = 3. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0.005175 0. Gambar 4. Untuk menguji apakah data terdistribusi normal atau tidak. dilakukan Uji Jarque-Bera.116141 7.1 Uji Normalitas Salah satu asumsi dalam model regresi linier adalah distribusi probabilitas gangguan µ i memiliki rata-rata yang diharapkan sama dengan nol.85 4. Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak (Imam Ghozali.3. maka diperoleh degree of freedom (df) = 135 (n-k).3 16 12 8 1.1 0.2 -0.1 Hasil Uji Jarque-Bera Pengaruh Pdrb. dan .023549 4 0 Pada model persamaan pengaruh jumlah penduduk.076896 0. 2002).09e-17 0. tidak berkorelasi dan mempunyai varians yang konstan. Dev.208762 0. PDRB.1 berikut.497326 0.099355 4.2 0. Hasil Uji J-B Test dapat dilihat pada Gambar 4.1 -0.

Dibandingkan dengan nilai Jarque Bera pada Gambar 4. maka dapat disimpulkan bahwa dalam persamaan tersebut terjadi multikolinearitas. MH PDRB PG 3.1 sebesar 7. Tabel 4.100 0.34. 4.6 menunjukkan perbandingan antara nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) dengan nilai R2 regresi utama. PDRB MH PG 2. Tabel 4.5 menunjukkan bahwa model persamaan pengaruh PDRB. 1. Dalam penelitian ini untuk menguji ada tidaknya multikolinearitas dilihat dari perbandingan antara nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) dengan nilai R2 regresi utama.112 R2 0.2 Uji Multikolinearitas Multikolinearitas merupakan keadaan dimana terdapat hubungan linear atau terdapat korelasi antar variabel independen.014 0.497.968 0. Apabila nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) lebih besar dibandingkan nilai R2 regresi utama. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 - . dapat ditarik kesimpulan bahwa probabilitas gangguan µ1 regresi tersebut terdistribusi secara normal karena nilai Jarque Bera lebih kecil dibanding nilai χ2 tabel.968 0. PG PDRB MH Persamaan R2* 0.6 R Auxiliary Regression Pengaruh Pdrb. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 2 No.968 Sumber : Lampiran C R2 = R2 hasil regresi utama R2* = R2 hasil auxiliary regression Tabel 4.3.86 menggunakan α = 5 persen diperoleh nilai χ2 tabel sebesar 124.

73 < 1.61 du=1. Lesimpulan yang dapat ditarik adalah tidak adanya autokolerasi didalam model.61. Uji ini sesungguhnya dilandasi oleh model error yang mempunyai korelasi sebagaimana telah ditunjukkan di bawah ini: Gambar 4.99 4-du=2. Sehingga d-hitung atau DW terletak pada du < d < 4-du atau 1.73 dan dl=1.26. Hasil dari Durbin-Watson statistik adalah du=1.38 4 Hasil dari Durbin-Watson menunjukkan bahwa nilai d-hitung atau DW sebesar 1.99.3 Uji Autokorelasi Salah satu uji formal yang paling populer untuk mendeteksi autokorelasi adalah uji Durbin-Watson.99 < 2.26 4-dl=2.73 DW=1.3. .87 2008 tidak mengandung multikolinearitas karena tidak ada nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) yang lebih besar dibandingkan nilai R2 regresi utama.2 Hasil Uji Durbin-Watson Ada autokorelasi positif dan menolak Ho Tidak ada keputusan Tidak ada autokorelasi dan tidak menolak Ho Tidak ada keputusan Ada autokorelasi negatif dan menolak Ho dl=1. 4.

pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .169 0.476 Prob.4 Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari satu observasi ke observasi lainnya.1 Uji Signifikansi parameter Individual (Uji t) Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh masingmasing variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.030 Std. Dalam penelitian ini digunakan uji Park untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas yang dapat dilihat pada Tabel 4. 2005).4. Error 3. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heterokedastisitas dalam model.202 0. dengan α .788 0.063 t-Statistic -2.039 0. Artinya. 0. Tabel 4.030 0.3.2008.7 Hasil Uji Park Dependent LOG_RESID^2 C PDRB MH PG Sumber: Lampiran C Coefficient -7.472 0.074 1.244 0.7.226 0.193 0.038 0. PDRB. Dalam regresi pengaruh jumlah penduduk.437 0.4 Pengujian Statistik Analisis Regresi 4. setiap observasi mempunyai reliabilitas yang berbeda akibat perubahan dalam kondisi yang melatarbelakangi tidak terangkum dalam spesifikasi model (Imam Ghozali. 4.88 4.634 Dari hasil perhitungan dengan uji Park terlihat bahwa tidak ada variabel independent yang signifikan secara statisktik (probability > α=5%).

Tabel 4.288 1.89 = 5 persen dan degree of freedom (df) = 135 (n-k =140-5). pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .406 2.657 t-tabel (α = 10%) 1.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Pengujian terhadap pengaruh semua variabel independen di dalam model dapat dilakukan dengan uji simultan (uji F).2008 Variabel LOG PDRB(PDRB) LOG MH (Melek Huruf) LOG PG (Pengangguran) Sumber : Lampiran B t-statistik 1.77 dan nilai probabilitas F-statistik 0. maka diperoleh F-tabel sebesar 3. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .8 Nilai T-Statistik Pengaruh Jumlah Penduduk.00000. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 .4.07. Pdrb. Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen.288 4. Dari regresi pengaruh jumlah penduduk.2008 diperoleh F-statistik sebesar 83.288 1.2008 yang menggunakan taraf keyakinan 95 persen (α = 5 persen). PDRB.288. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel . Dari hasil regresi pengaruh PDRB.209 2.017 t-tabel (α = 5%) 1.657 dan dengan α = 10 persen diperoleh nilai t-tabel sebesar 1. maka diperoleh nilai ttabel sebesar 1.657 1. dengan degree of freedom for numerator (dfn) = 2 (k-1 = 3-1) dan degree of freedom for denominator (dfd) = 135 (n-k = 140-5).657 1.

9 diperoleh nilai R2 sebesar 0. Hal ini berarti sebesar 96. PG (Pengangguran).4.8 persen variasi kemiskinan kabupaten/kota di Jawa Tengah dapat dijelaskan oleh variasi tiga variabel independennya yakni PDRB (PDRB).90 independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen (Fhitung > F-tabel). Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . 4. MH (Melek huruf/Pendidikan).3 Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen.2 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Sedangkan sisanya sebesar 3. Nilai koefisien determinasi adalah nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabelvariabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas. .968.2008 pada Tabel 4. Dari hasil regresi pengaruh PDRB.

..1 Pengaruh Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 Dalam regresi pengaruh jumlah penduduk..076*LOG(PDRB) – 1.5...... dengan menggunakan metode FEM.. diperoleh nilai koefisien regresi untuk setiap variabel dalam penelitian dengan persamaan sebagai berikut : LOG(KM) = 8... Yang mana menurut Kuznet dalam Tulus Tambunan (2001)......91 4...... Selanjutnya menurut Hermanto S...5 Interpretasi Hasil dan Pembahasan PDRB... pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . dan Dwi W..... (2006) mengungkapkan pentingnya mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk menurunkan jumlah ... pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat.0.1) Interpretasi hasil regresi pengaruh PDRB.867 . Pendidikan dan Pengangguran Terhadap 4.... (4...5... PDRB..089*LOG(PG)... Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini...1 PDRB dan Kemiskinan Variabel PDRB menunjukkan tanda negatif namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah..........267*LOG(MH) 0. karena pada tahap awal proses pembangunan kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang.2008...1.... pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 adalah sebagai berikut: 4..

1994).267 persen.5. Ketidaksignifikannya PDRB dalam mempengaruhi kemiskinan juga dapat dilihat berdasarkan data bahwa peningkatan laju PDRB di Jawa Tengah dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 tidak selalu diiringi dengan penurunan kemiskinan di Jawa Tengah. Dimana digambarkan dengan seorang miskin yang mengharapkan pekerjaaan baik serta penghasilan yang tinggi maka harus mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi. Hasil tersebut sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini. Sedangkan orang miskin tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi .92 penduduk miskin.1. Tetapi pendidikan tinggi hanya mampu dicapai oleh orang kaya. Karena dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat maka kemiskinan di suatu daerah dapat ditekan jumlahnya. Seperti halnya pertumbuhan PDRB di tahun 2005 sampai dengan tahun 2006 malah terjadi kenaikan kemiskinan. Yang berarti bahwa peningkatan angka melek huruf akan menurunkan kemiskinan di jawa Tengah. Peningkatan angka melek huruf sebagai indikator pendidikan di Jawa Tengah sebesar 1 persen akan menurunkan kemiskinan sebesar 1. Menurut Simmons (dalam Todaro.2 Pendidikan dan Kemiskinan Variabel Pendidikan yang diproksi dengan besarnya tingkat melek huruf menunjukkan tanda negatif dan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengangguran di Jawa Tengah. pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. 4. Yang mana kemiskinan merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan daerah.

Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini. 4.1. yaitu mereka yang mencari kerja.3 Pengangguran dan Kemiskinan Dari hasil regresi yang dihasilkan dalam penelitian ini menunjukan bahwa variabel pengangguran menunjukkan tanda negatif dan berpengaruh secara signifikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. dan ada juga yang mempunyai pekerjaan dengan jam kerja kurang dari .085 persen.5. Selain itu. bahwa tidak semua orang menganggur itu selalu miskin. Diantara empat kategori pengangguran terbuka diatas bahwa sebagian diantaranya ada yang masuk dalam sektor informal. Karena seperti halnya penduduk yang termasuk dalam kelompok pengangguran terbuka ada beberapa macam penganggur. Hasil penelitian yang menunjukan pengaruh negatif pengangguran terhadap kemiskinan juga dapat dilihat berdasarkan data pengangguran terbuka di Kabupaten/Kota Jawa Tengah dari tahun 2005 – 2008 yang menunjukan angka pengangguran terbuka yang terus meningkat.93 seperti sekolah lanjutan dan universitas. mereka yang mempersiapkan usaha. mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dan yang terakhir mereka yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Dimana kenaikan tingkat pengangguran terbuka sebanyak 1 persen tidak menaikkan kemiskinan tetapi dari hasil penelitian ini malah akan menurunkan kemiskinan sebesar 0. Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan kemiskinan. sedangkan data kemiskinan tahun 2005 – 2008 malah mengalami penurunan.

058 jiwa tentunya ada yang terserap ke sektor informal dan ada juga yang mencari kerja diluar kota.375 jiwa.com) jumlah pengangguran terbuka Jawa Tengah tahun 2008 mencapai 1. .google.com//artikel kemiskinan) yaitu bahwa kemiskinan mungkin tidak selalu berhubungan dengan masalah ketenagakerjaan. Sehingga sisanya sebanyak 597. Dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah yang dikutip dari (www.357 jiwa. ada juga yang sedang menunggu mulainya bekerja. ada juga yang mempunyai pekerjaan paruh waktu (PartTime) namun dengan penghasilan melebihi orang bekerja secara normal.985.23 juta jiwa. Selain itu juga diperkuat dengan pendapat Lincolin Arsyad (1997) yang menyatakan bahwa salah jika beranggapan setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin. dan yang mana semua golongan tersebut masuk dalam kategori pengangguran terbuka. Mereka menolak pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka.415 jiwa. Menurut Godfrey. Dan berdasarkan data Badan Pusat Statistik pendingkatan penggaruran yang terjadi dari tahunSelain itu jumlah pencari kerja di Jawa Tengah sebanyak 689. 1993 (dikutip dalam www. Selain itu pastilah juga ada yang berusaha atau mempersiapkan usaha sendiri. sedang yang bekerja secara penuh adalah orang kaya.94 35 jam dalam seminggu yaitu hingga berjumlah 4. sedangkan lowongan kerja yang ada hanyalah sebanyak 92.waspadalonline. Hal ini karena kadangkala ada pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya.

Pendidikan (melek huruf) dan pengangguran terhadap kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah di tahun 2005 .1 Simpulan Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji pengaruh variabel PDRB. PDRB. Pendidikan. Berdasar hasil analisis data yang telah dilakukan pada bab IV. pengangguran dan dummy tahun terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . Hal ini daikarenakan bahwa peningkatan PDRB yang terjadi di Jawa Tengah tidak selalu diikuti oleh penurunan kemiskinan di Jwa Tengah. Nilai ini berarti bahwa model yang dibentuk cukup baik dimana 96. Variabel PDRB mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan mempengaruhi kemiskinan. pengangguran. maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Hasil uji koefisien determinasi (R2) Jumlah Penduduk. 2. yang mana dapat dilihat dari data PDRB dan data Kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah tahun 2005-2008. 95 .2008 menunjukkan bahwa besarnya nilai R2 cukup tinggi yaitu 0.2008.2 persen sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor diluar model.8 persen variasi variabel dependen kemiskinan dapat dijelaskan dengan baik oleh kelima variabel independen yakni PDRB. Pendidikan. Sedangkan 3.968.95 BAB V PENUTUP 5.

hipotesis yang berbunyi “Ada pengaruh antara variabel PDRB. apabila kenaikan jumlah pengangguran sebesar 1 persen akan menurunkan kemiskinan sebesar 0.267 yang artinya. Sehingga mempengaruhi hasil signifikansi variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. . diterima pada kepercayaan 95%.085 persen.77) > F-tabel (3.085 yang artinya. akan menurunkan kemiskinan sebesar 1. Yang mana memiliki nilai koefisien β sebesar – 0. Berdasarkan perhitungan dengan uji F diketahui bahwa F-hitung sebesar (83. Variabel Pendidikan (melek huruf) mempunyai pengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi kemiskinan. maka persen. pendidikan (melek huruf) dan pengangguran secara simultan terhadap kemiskinan”. Variabel Pengangguran mempunyai pengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi kemiskinan. Dengan kata lain.267 5. Yang mana memiliki nilai koefisien β sebesar – 1.96 3.07). 4. 5. sehingga inferensi yang diambil adalah menerima Ha dan menolak Ho.2 Keterbatasan Kelemahan dan kekurangan yang ditemukan setelah analisis dan interpretasi dalam penelitian ini adalah data time series yang di gunakan masih terlalu pendek. apabila jumlah penduduk melek huruf naik sebesar 1 persen.

. Pendidikan yang tercermin dari besarnya tingkat melek huruf memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan. 3. Pengangguran berdasarkan hasil penelitian berpengaruh Negatif dan signifikan terhadap kemiskinan. Karena pengangguran dalam penelitian ini menggunakan data pengangguran terbuka.97 5. sehingga diharapkan pemerintah propinsi Jawa Tengah kembali menggalakkan program pemberantasan buta aksara supaya dapat menekan kemiskinan di seluruh Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah. Karena sektor informal merupakan salah satu solusi masalah dalam mengatasi pengangguran. 2. tetapi dengan hasil tersebut diharapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah lebih menggerakkan sektor informal. yang mana di dalamnya terdapat golongan masyarakat yang sedang dalam tahap menyiapkan usaha atau mendapat pekerjaan tetapi belum mulai bekerja yang dimasukkan dalam golongan pengangguran. . PDRB memiliki pengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap kemiskinan.3 Saran 1. sehingga diharapkan bahwa pemerintah provinsi Jawa Tengah seharusnya meningkatkan total produksi barang dan jasa yang dihasilkan di seluruh Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah supaya peningkatan PDRB dapat mempengaruhi kemiskinan secara signifikan. Sehingga pentingnya peninggkatan sektor informal untuk menekan kemiskinan di Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah.

98 4. . Oleh karenanya diperlukan studi lanjutan yang lebih mendalam dengan data dan metode yang lebih lengkap sehingga dapat melengkapi hasil penelitian yang telah ada dan hasilnya dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan berbagai pihak yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi dalam hal penekanan kemiskinan. Model yang dikembangkan dalam penelitian ini masih terbatas karena hanya melihat pengaruh variabel PDRB. Perlunya penggunaan data time series yang lebih panjang atau lama untuk mengetahui bagaimana pengaruh kebijakan yang dilakukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang dibentuk oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam upaya penekanan angka kemiskinan di Jawa Tengah. 5. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah.

Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. No. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Distribusi Pendapatan di Indonesia : Proses Pemerataan dan Pemiskinan. Hal. edisi Agustus 2008. . Jurnal Ekonomi Pembangunan. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik.59. Didit Purnomo. Basic Econometrics Fourth Edition. Pengangguran. R. Yogyakarta. 2008. Dian Octaviani. dan Kemiskinan di Indonesia : Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke. Vol. Jakarta:Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Semarang : Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi Undip. Damodar Gujarati . 2008. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Roma: FAO. Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah 2008. 1. Jawa Tengah Dalam Angka 2008. Kumpulan Skripsi UNDIP: Semarang. New York. 47 . 8. Data dan Informasi Kemiskina 2008. 1993. Pengaruh Ketidakmerataan Distribusi Pendapatan. Firmansyah. Jakarta. Ekonometri Dasar Terjemahan. 7. Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Tengah.DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. Jakarta: Badan Pusat Statistik Boediono. Modul Praktek Regresi Data Panel dengan Eviews 6. Jawa Tengah Dalam Angka 2004. 2008. Deny Tisna A. 1. 2008. Penerbit Erlangga. Penerbit BPFE. Damodar Gujarati. dan Pengangguran terhdap tingkat Kemiskinan di Indonesiatahun 2003-2004. 2000. No. Gaiha. 2004. Design of Poverty Alleviation Strategy in Rural Areas. Penerbit United States Military Academy. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 2001.. Media Ekonomi. Pertumbuhan Ekonomi. 2008. 100118. 2004. 2003. 1995. Inflasi. Hal. 1999. Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah 2004. Vol.

Yogyakarta. Hermanto S. Rasidin S. Masalah. dan Kemiskinan. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. Prisma. No. Edisi Kelima. Hadi. Yogyakarta: BPFE. . Direktur Kajian Ekonomi. Soeratno dan Lincolin Arsyad. Irawan dan Suparmoko. No. Bonar S.. 1993. Hal. Makro Ekonomi Modern. Penerbit UPP AMP YKPN. 2001. Teori. dan Kebijakan. Jakarta. Ekonomika Pembangunan. 3 Prayitno.. Hal. Sadono Sukirno. Yogyakarta. 1992. Lincolin Arsyad. 2009. Jakarta: LP Universitas Indonesia. Penerbit BP STIE YKPN. Vol. Harga. Dampak Infestasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia. Yogyakarta. Penerbit PT Raja Grafindo Persada. 1995. Dermoredjo. No. Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis. 1983. Yogyakarta. 2005. Edisi Ketiga. 1997. Marzuki.31. 17 31. Penerbit UPP AMP YKPN. Media Ekonomi dan Keuangan Indonesia. 1. Metode Kuantitatif. Ekonomi Pembangunan. Metodologi Riset. 51. Penerbit UPP AMP YKPN. 2006.. 191 . Dwi W.. Produksi Domestik Bruto. 17 . 1997. Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. 2002. Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi. Prisma.Harlem Siahaan. Institusi Pertanian Bogor Imam Ghozali. Yogyakarta. Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Penduduk Miskin di Indonesia : Proses Pemerataan dan Pemiskinan. Semarang. Pengantar Ekonomika Pembangunan. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS. Ekonomi Pembangunan. Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi UII. 1986. Ekonomi Pembangunan. 1. Sukirno Sadono. Hal. Mudrajad Kuncoro.324. 2003. Yogyakarta. 2000. Edisi Ketiga. Mudrajad Kuncoro. Penerbit BPFE.

Terjemahan Haris Munandar. http://Wikipedia. Michael P. Edisi Ketujuh. Penerbit Erlangga.org http://andalas van java online. Terjemahan Haris Munandar. Metode Riset Aplikasinya dalam Pemasaran..google. Jakarta.com www. Jakarta. Todaro. Kumpulan arti.com//artikel kemiskinan www.id. dan makna kemiskinan : http://Adi Satria. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. 1997. Tulus H. Tambunan. UPP STIM YKPN : Yogyakarta.dkk. Perekonomian Indonesia. Winarno Wahyu. Usman. Penerbit Erlangga. Jakarta : Rineka Cipta. 2007. 2000. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EViews. cara. Michael P. Fakultas Ekonomi : Intitusi Pertania Bogor.com www. Jakarta. Perkembangan Pemikiran Ekonomi Dasar Teori Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. Penerbit LP3ES. Todaro.Sumitro Djojohadikusumo. 2001.bappenas. 2009.Bataviase.com . J. 1994.blog www. Edisi Kedua. Analisis Determinan Kemiskinan sebelum dan Sesudah Desentralisasi Fiskal.id www. Jakarta. Supranto.waspadalonline.go. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. 1995.worlbank.. Penerbit Ghalia Indonesia.co.

023549 4 0 .116141 7.821902 160.09e-17 0.886221 0.0009 0.958597 -1.77325 0. Dev.430811 -1.9930 83.497326 0.994656 24 20 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2008 Observations 140 Mean Median Maximum Minimum Std.D.867526 -0. Error 2.E.054386 0. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0.267471 -0.000000 Mean dependent var S.2 -0.076896 0. Durbin-Watson stat 2.005175 0.089766 0.757042 -0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.406467 -2.REGRESI UTAMA : Lampiran b Dependent Variable: LOG(KM) Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:46 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C LOG(PDRB) LOG(MH) LOG(PG) 8.0294 0.076492 -1.956584 0.432578 1.0463 Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) R-squared Adjusted R-squared S.306602 -0.1 -0.968141 0.0 0.017543 Prob.416985 -1.595132 0.099355 4.042578 t-Statistic 3.1626 0.573682 0.2 0.1 0.208762 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.085904 Std.209362 -2.3 16 12 8 1. 0.

000724 Std.436833 Prob. Durbin-Watson stat Dependent Variable: MH Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:56 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB PG R-squared Adjusted R-squared S.D.630943 2.1660 1. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.373475 3.80355 -0.0018 0.238571 Mean dependent var S.373475 1.191296 -0.424464 0.0549 -181.006416 0.357731 Std. Durbin-Watson stat .901122 5.035727 0.838086 5.34700 4. Error 1.725227 -0.1530 4.111272 0.693978 2.6661 7.E.017179 0.863702 0.027959 t-Statistic 3. 0.158527 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 4.481500 0.014895 0.572 -405.641506 5.7094 0.0000 0. Error 2.898356 Mean dependent var S.0001 89.040172 0. 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.R2 Auxilary Regression (Uji Multikolinearitas): Lampiran C Dependent Variable: PDRB Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:55 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C MH PG R-squared Adjusted R-squared S.892429 2.7094 0.D.64070 -0.518599 0.434908 2694.904420 Prob.626059 0.087041 4.480661 0.892200 109.132824 t-Statistic 40. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 85.100177 0.656558 0.000514 0.E.

70471 0.001905 2.850065 4. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.875680 0.6342 -3.223 -336.030390 0.913100 4. Durbin-Watson stat UJI PARK Dependent Variable: LOG(RES2) Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:45 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB MH PG R-squared Adjusted R-squared S.664955 Mean dependent var S.911886 0.904420 Prob.E.851934 4.226112 0.369551 0.5045 8.E. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.354747 4.234838 2.193081 0. 0.049452 t-Statistic -2.D.270700 4.9490 0.018458 554.4375 0.564084 0.472031 0.030281 0. Error 3. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) -7. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) -10.202643 2.437106 Std.694629 0.000279 Std.169840 0.202917 0.345423 1.099678 2.0204 0.193285 0.0001 8. 0.0399 0.D.112633 0.2441 0.016538 4.063727 t-Statistic -2. Durbin-Watson stat .0875 -294.038884 0.778735 0.1530 0.854114 Mean dependent var S.476879 Prob.Dependent Variable: PG Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:57 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB MH R-squared Adjusted R-squared S.436833 3.304854 0.706066 1003.019718 -0.257198 0.074554 1. Error 4.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->