ANALISIS PENGARUH PDRB, PENDIDIKAN DAN PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI KABUPATEN / KOTA JAWA TENGAH TAHUN 2005 - 2008

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

Disusun Oleh : RAVI DWI WIJAYANTO NIM. C2B606044

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010

.

Kegagalan bukanlah awal menuju keberhasilan..MOTTO DAN PERSEMBAHAN Kegagalan bukanlah keberhasilan yang tertunda. Kegagalan bukanlah pintu menuju kesuksesan. Kegagalan adalah kekurang sabaran. kita.. Karena... Dan. Kegagalan adalah bukti kecerobohan kita. Kegagalan adalah kekurang telitian. semangat dan cinta dengan sepenuh hati v . Kunci Keberhasilan adalah Jiwa yang sabar dan tahu akan Kemampuan dirinya.... Kupersembahkan karya kecilku ini untuk keluarga dan orang-orang terdekatku yang selalu memberikan harapan.

The purpose of this research are to analyze how and how much influence the variables GDP. While the method of analysis used in this research is a method of linear regression analysis of panel data with FEM method with the help of software Eviews 6. unemployment variable has negative and significant impact on the level of poverty in Central Java. This study examines the influence of GDP. low health status and the degree of inequality between the sexes and poor environment (Word Bank. the poverty rate in Central Java is still ranked 22 out of 33 Provinces in Indonesia. GDP. and also has the largest poverty appeal in any other province in Java. Overcoming the problem of poverty can not be done separately from the problems of unemployment. illiteracy. namely high rates of poverty and the increasing number of unemployed. 2004). health and other problems that are explicitly associated with the problem of poverty. Strategic issues in the government of Central Java province is not much different from the central government (national problem). education.2008. education (literacy). but that based on BPS (Central Bureau of Statistics) in 2008. The results of this study indicate that the GDP variable is negative but not significant effect on poverty levels.ABSTRACT Poverty is a problem that involves many aspects as it relates to low income. Education (Literacy). Data used in this research is secondary data obtained from the Central Statistics Agency (BPS) as well as browsing the internet website as a supporter. Key words: Poverty. And the concern though has been in the form TKPK to address the problem of poverty that exist. education (literacy). unemployment on poverty in Central Java. unemployment on poverty in Central Java which is expected to be used as a basis in determining the policies in addressing poverty in Central Java. Unemployment vi . in this case for all of districts in Central Java in 2005 . educational variables which proxy with the literacy rate of significant negative effect on the level of poverty.

tingkat kemiskinan Jawa Tengah masih menduduki peringkat ke 22 dari 33 Provinsi di indonesia. 2004). PDRB. pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah sehingga nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam penentuan kebijakan dalam mengatasi masalah kemiskinan di Jawa Tengah. Dan yang memprihatinkan meskipun telah di bentuk TKPK untuk menanggulangi masalah kemiskinan yang ada.2008. variabel pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Pendidikan (melek huruf). Pendidikan (Melek Huruf). pendidikan. tetapi bahwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2008. kesehatan dan masalah-masalah lain yang secara eksplisit berkaitan erat dengan masalah kemiskinan. variabel pengangguran berpengaruh negatif serta signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini diharapkan dapat menganalisis bagaimana dan seberapa besar pengaruh variabel PDRB. Kata kunci : Kemiskinan. Permasalahan strategis di pemerintahan Provinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda dengan di pemerintahan pusat (problem nasional). pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. Mengatasi masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan secara terpisah dari masalah-masalah pengangguran. buta huruf. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. yakni tingginya angka kemiskinan dan semakin meningkatnya jumlah pengangguran.ABSTRAK Kemiskinan merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel PDRB berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap tingkat kemiskinan. dan juga mempunyai tingkat kemiskinan paling besar di banding Provinsi lainnya di pulau Jawa. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta browsing website internet sebagai pendukung. dalam hal ini untuk seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . Sedangkan metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis regresi linier panel data dengan metode FEM dengan bantuan software Eviews 6. Pengangguran vii . Pendidikan (melek huruf). Studi ini meneliti tentang pengaruh PDRB.

serta karuniaNya. M. M.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat. 4. MSc. atas segala limpahan rahmat. tidak terlepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang memungkinkan skripsi ini dapat terselesaikan. Ph. 6. Untuk itu rasa terima kasih sedalam-dalamnya penulis haturkan kepada: 1. PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI JAWA TENGAH TAHUN 2005 . 5.Si.Si. yang telah memberikan mukjizat serta kekuatan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. hidayah. hidayah dan karunia-Nya kepada penulis. PENDIDIKAN. HM Chabachib. selaku dosen wali yang telah memberikan dukungan sepenuhnya kepada penulis dan memberikan motivasi kepada penulis selama belajar di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.2008”. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. viii . selaku dosen pembimbing atas bimbingan dan pengarahan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Allah SWT. yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi penulis. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai prasyarat untuk menyelesaikan Studi Strata atau S1 pada Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Seluruh Dosen dan Staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. SE. Drs. 2. H Edy Yusuf Agung Gunanto. Akt. Dalam penyusunan skripsi yang berjudul “ANALISIS PENGARUH PDRB. 3. Petugas Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro serta Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Tengah yang telah memberikan bantuan berupa data dan referensi yang bermanfaat. Dr. D. Fitrie Arianti.

Fajar. dan seluruh teman-teman IESP 2006 yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Mega Aprillya. Happy. Yanu. Rama.” 8. Kiki. Udin. Dian. Nasrul. Riza. Kedua orang tuaku tersayang. Nenekku (mbah Gini) tersayang yang tiada henti-hentinya memberikan semangat.” 12. Dedi. Gerdy. ix . pengisi hidupku 4 tahun terakhir. Rea. baik secara langsung maupun tidak langsung. Fery Atikasari. Andhika A. Terima kasih atas dukungan yang telah engkau berikan. “Pelajaran dari perjalanan hidup kalian yang selalu memotivasi saya untuk selalu bangkit dari setiap cobaan dan keterpurukan ini. kasih sayang. Danang. Adikku. Bekti. maaf kalau Ravi numpang terus” 13. Mbak Ika dan mas Budi. 10. “makasih buat makan malamnya setiap hari. Edit. 11. Terima kasih atas dukungan dan semangat yang diberikan kepadaku selama ini. dan kenangan yang tlah kalian berikan. Phipin.7. Tapi jangan berhenti untuk tetap doakan aku biar jadi orang sukses. Bapak (Agus) dan Ibu (Sri Intarti). Terima kasih untuk segala bantuan. Bagus. 15. Titian. kerjasama. Seluruh teman-teman IESP Angkatan 2006 reguler II : Ami.. Ridho. Kakakku. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Fera Anggiya. dan dukungan yang selalu diberikan dengan tulus kepada anak-anaknya. Dyke. Acong. “Terima kasih sudah membuat hidupku lebih berwarna.. Andhika W. Kalian semua terlalu manis untuk dilupakan. Bram. cinta. 9. Hilal. Indra. terima kasih atas perlindungan. Teman-teman Tim I KKN UNDIP 2010 Banyubiru khususnya tim Tegaron: Dimas. 14. Cahyo. Farid. tanpa dirimu pasti skripsiku lebih lama selesainya . dorongan serta doanya. Putra. Pramudana. Tim Futsal Jalan Kartanegara. Adit. Akrom. Novi. 16. Danik.

Penulis juga menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan banyak kelemahan. Semarang. dan dapat dijadikan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya. penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. sehingga penulis tak lupa mengharapkan saran dan kritik atas skripsi ini. Penulis September 2010 Ravi Dwi Wijayanto x .Akhirnya dengan segala kerendahan hati.

..........2 Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian 1 1 10 11 11 11 12 1...1....4 Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.i .1 Latar Belakang Masalah 1..1......2 Rumusan Masalah 1....1 Landasan Teori 2........3.1.xiv ..1....xv ....3.iii ..5 Kemiskinan Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan ekonomi Pendidikan Pengangguran 14 14 14 22 26 33 36 40 2....v ABSTRACT ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR vi vii viii .....iv BAB I PENDAHULUAN 1........DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN PERNYATAAN ORISINIALITAS SKRIPSI MOTTO DAN PERSEMBAHAN..3 2.ii ....1 1........1.1 2...4 2....2 Pengaruh Variabel Independen dan Dependen xi .2 2..3 Tujuan dan Kegunaan 1.

2.3 3.2 Jenis dan Sumber Data 3.1.4 Metode Analisis 3.5.2 2.1 Kondisi Geografis 75 75 76 76 78 4.2.4.6.1 4.1 3.5.1 Deskripsi Obyek Penelitian 4.2 Kemiskinan PDRB xii .5.5 Pengujian asumsi Klasik 3.5 Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN 3.4 Uji Normalitas Uji Multikolinearitas Uji Autokolinearitas Uji Heterokedatisitas 3.3 Pengaruh PDRB terhadap Kemiskinan Pengaruh Pendidikan terhadap Kemiskinan Pengaruh Pengangguran terhadap Kemiskinan 40 42 43 45 53 54 2.3 Penelitian Terdahulu 2.3 Metode Pengumpulan Data 3.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t) Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) Uji Koefisien Determinasi (Uji R-squared) BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.2.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.5.2 3.6 Pengujian Kriteria Statistik 3.6.2.2 Analisis Data 4.4.6.2.1 2.2 3.2 Analisis Panel Data Estimasi Model 56 56 59 60 61 61 64 67 67 68 69 70 71 71 73 74 3.1 3.4 Kerangka Pemikiran 2.2.1 3.

3 Saran 95 96 97 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN xiii .4.4 Pendidikan Pengangguran 80 82 84 85 86 87 88 88 88 89 90 91 4.1 4.3.3 4.5 Interpretasi Hasil dan Pembahasan 4.1.4.1 4.2 4.3.4 Uji Normalitas Uji Multikolinearitas Uji Autokolinearitas Uji Heterokesdastisitas 4.1 4.4.1.3 4.3.3 Pengujian Asumsi Klasik 4.2.3.4.5.4 Pengujian Statistik Analisis Regresi 4.1.2 4.2 Keterbatasan 5.5.1 4.5.2 4.2.5.3 Pengaruh Variabel Independen Terhadap Dependen 91 PDRB dan Kemiskinan Pendidikan dan Kemiskinan Pengangguran dan Kemiskinan 91 92 93 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan 5.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t) Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) Uji Koefisien Determinasi (Uji R-squared) 4.

1 Tabel 1.3 Tabel 1.4 Tabel 1.1 Tabel 3.7 Tabel 4.6 Tabel 4.5 Tabel 4.2 Tabel 4.4 Tabel 4.DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.8 Persentase Kemiskinan di enam Provinsi di Pulau Jawa Batas.2 Tabel 1.1 Tabel 4.3 Tabel 4.1 Tabel 4. Jumlah dan Presentase Kemiskinan di Jateng PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Jateng 2004-2008 Angka Melek Huruf Jateng 2004-2008 Jumlah Pengangguran Jateng 2004-2008 Ringkasn Penelitian Terdahulu Kriteria Durbin-Watson Jumlah Kemiskinan menurut kab/kota di Jateng PDRB menurut kab/kota di Jateng Tingkat Melek Huruf menurut kab/kota di Jateng Tingkat Pengangguran menurut kab/kota di Jateng Ringkasn Regresi utama Uji Multikolinearitas Uji Heterokesdastisitas Uji t 3 4 6 6 7 51 69 77 79 81 83 84 86 88 89 xiv .5 Tabel 2.

1 Uji Normalitas JB test Gambar 4.DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.1 Kurva Uji Durbin watson Gambar 4.2 Kurva hasil Uji Durbin watson 25 54 70 85 87 xv .1 Teori Nelson dan Leibstein Gambar 2.2 Kerangka Pemikiran Gambar 3.

1 Latar Belakang Masalah Perencanaan merupakan sebuah upaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi yang bersifat akumulatif. berbagai kegiatan pembangunan telah diarahkan kepada pembangunan daerah khususnya daerah yang relatif mempunyai kemiskinan yang terus naik dari tahun ke tahun. perubahan yang terjadi pada sebuah keseimbangan awal dapat menyebabkan perubahan pada sistem sosial yang kemudian akan membawa sistem yang ada menjauhi keseimbangan semula. Perencanaan memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembangunan. Artinya. Pembangunan daerah dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan sesuai prioritas dan kebutuhan masing-masing daerah dengan akar dan sasaran pembangunan nasional yang telah ditetapkan melalui pembangunan jangka panjang dan jangka pendek. Salah satu peran perencanaan adalah sebagai arahan bagi proses pembangunan untuk berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai disamping sebagai tolok ukur keberhasilan proses pembangunan yang dilakukan. Oleh karena itu. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa pembangunan nasional adalah salah satu upaya untuk menjadi tujuan masyarakat adil dan makmur. Sedangkan pembangunan sendiri dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di tingkat nasional atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di tingkat daerah.1 BAB I PENDAHULUAN 1. salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan nasional adalah laju penurunan 1 . Sejalan dengan tujuan tersebut.

Masih terjadi kesenjangan antara rencana dengan pencapaian tujuan karena kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan lebih berorientasi pada program sektoral. . Efektivitas dalam menurunkan jumlah penduduk miskin merupakan pertumbuhan utama dalam memilih strategi atau instrumen pembangunan. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi penanggulangan kemiskinan yang terpadu. Hal ini berarti salah satu kriteria utama pemilihan sektor titik berat atau sektor andalan pembangunan nasional adalah efektivitas dalam penurunan jumlah penduduk miskin. untuk segera mencari jalan keluar dengan merumuskan langkahlangkah yang sistematis dan strategis sebagai upaya pengentasan kemiskinan. terintegrasi dan sinergis sehingga dapat menyelesaikan masalah secara tuntas. Oleh karena itu. terutama pemerintah sebagai penyangga proses perbaikan kehidupan masyarakat dalam sebuah pemerintahan. kemiskinan menjadi tanggung jawab bersama. 2003) Pemerintah baik pusat maupun daerah telah berupaya dalam melaksanakan berbagai kebijakan dan program-program penanggulangan kemiskinan namun masih jauh dari induk permasalahan. (Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Kebijakan dan program yang dilaksanakan belum menampakkan hasil yang optimal. yakni masih tingginya angka kemiskinan jika di bandingkan dengan provinsi lain di pulau Jawa. Permasalahan strategis di pemerintahan Provinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda dengan di pemerintahan pusat (problem nasional).2 jumlah penduduk miskin.

68 5 DIY 17. Keputusan Gubernur No.6.64 3 Jawa Barat 11. 1 DKI 3.0 sampai 5. mengingat upaya penanggulangan kemiskinan bukan merupakan hal yang mudah untuk dilaksanakan. kemiskinan merupakan salah satu dari issue strategis yang mendapat prioritas untuk penanganan pada setiap tahapan pelaksanaannya. Namun pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tidak selalu diiringi dengan penurunan kemiskinan yang signifikan . maka Provinsi Jawa masih harus bekerja keras untuk dapat mencapai target tersebut. Terkait dengan target tujuan pembangunan millenium yang harus tercapai pada tahun 2015. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2008 secara agregat terlihat cukup dinamis yaitu diatas 5 persen. Selama periode 2004 sampai dengan 2008.05/55/2006 tentang pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan juga (TKPK) di dalam draft Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Jawa Tengah tahun 2005-2025. Data dan Informasi Kemiskinan Jateng 2008 Bagi Provinsi Jawa Tengah.3 Tabel 1. 11/2003).5 persen. kemiskinan merupakan issue strategis dan mendapatkan prioritas utama untuk ditangani.62 2 Banten 7. Hal tersebut terbukti selain di dalam Renstra Jawa Tengah (Perda No.99 Sumber: BPS Jateng. Pergub 19 tahun 2006 tentang Akselerasi Renstra.96 4 Jawa Timur 16. 412.1 Persentase Kemiskinan Enam Propinsi di Pulau Jawa Tahun 2008 Provinsi Persentase kemiskinan No.23 6 Jawa Tengah 18. perekonomian Jawa Tengah menunjukan adanya peningkatan dari tahun ke tahun yaitu tumbuh berkisar 5.

49 22.553. .50 7. Pemerintah di negara manapun dapat segera jatuh atau bangun berdasarkan tinggi rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapainya dalam catatan statistik nasional.100.4 di Jawa Tengah.20 6.43 18. Berhasil tidaknya programprogram di negara-negara dunia ketiga sering dinilai berdasarkan tinggi rendahnya tingkat output dan pendapatan nasional (Todaro 2000).11 20.99 persen.99 Garis Kemiskinan (Rp/Kap/bulan) 126.60 Persentase Penduduk Miskin 21.2 Batas Miskin. kemiskinan Jawa Tengah menduduki peringkat ke 22 dari 33 Provinsi di indonesia yaitu sebesar 18. Persentase. Jawa Tengah mempunyai kemiskinan paling besar di banding Provinsi lainnya di pulau Jawa.112.651 130. Yang lebih memprihatinkan yaitu bahwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2009.013 142.80 6.337 154. kemiskinan di Jawa Tengah juga ikut naik mencapai 547.843.557. Dan lebih lagi bahwa jika dibandingkan kemiskinan di Pulau Jawa. Bahkan ketika indikator perekonomian Jawa Tengah naik di tahun 2006.877 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Pertumbuhan ekonomi merupakan tema sentral dalam kehidupan ekonomi semua negara di dunia dewasa ini. Tabel 1.60 6.111 181. Jumlah Penduduk Miskin Di Tawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) 2004 2005 2006 2007 2008 6.100 penduduk.19 20.

Permasalahan dan tantangan pembangunan daerah lima tahun ke depan masih diprioritaskan pada masalah-masalah sosial yang mendasar. . ketidakmerataan distribusi pendapatan. teori-teori ini menyatakan bahwa pembangunan ekonomi akan mencapai hasil yang optimal jika peningkatan pendapatan nasional disertai dengan pemerataan pendapatan bagi seluruh kelompok masyarakat (Tambunan dalam Dian Octaviani. Secara umum. Oleh sebab itu. Dalam periode tersebut munculah teori-teori baru seperti Teori Pertumbuhan dan Distribusi New-Keynesian oleh Kaldor (1955) dan Passineti (1962). antara lain besarnya angka kemiskinan dan pengangguran. Rendahnya pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk yang sangat besar akan berpengaruh terhadap kondisi sosial manusia di Jawa Tengah. dan pengangguran yang cenderung meningkat walaupun pendapatan nasional mengalami peningkatan secara stabil. 2001). maka mustahil akan memberikan hasil yang optimal. mulai awal tahun 1970 muncul pendapat bahwa apabila pembangunan tidak disertai pemerataan hasil-hasil pembangunan kepada penduduk miskin.5 Pada awal tahun 1970. para ahli ekonomi mulai meragukan manfaat pertumbuhan pendapatan nasional dalam pembangunan ekonomi sebab di banyak negara yang sedang berkembang terdapat gejala adanya kemiskinan.

213.6 Tabel 1.112 3 2006 24. Tahun Jumlah 1 2004 23.369.930 5 2008 27.31 2005 143. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jati diri manusia suatu bangsa.74 2007 159. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan .35 5. Tabel 1.3 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2008 PDRB Atas dasar Harga Konstan 2000 (Juta Rupiah) 2004 135.121. sehingga arah perekonomian daerah akan lebih jelas.187 4 2007 26.654.253.283.13 5.506.219.4 Jumlah Angka Melek Huruf Jawa Tengah Tahun 2004-2008 (Jiwa) No.59 5.191 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa.77 2008 167.790.110.33 5.051. Produk Domestik regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan digunakan untuk menunjukan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dari tahun ke tahun.88 2006 150. Sebab.789.316 2 2005 24. Jika dunia pendidikan suatu bangsa sudah jeblok.682.059. maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu.85 Sumber : PDRB Jawa Tengah tahun 2008 TAHUN PERTUMBUHAN EKONOMI (Persen) 5.46 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah memberikan gambaran kinerja pembangunan ekonomi dari waktu ke waktu.872.

5 tingkat melek huruf di Jawa Tengah dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 cenderung meningkat.com). 2001). Dan berdasarkan tabel 1.308 Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di suatu daerah menjadi semakin serius. Tabel 1.044.7 atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis. Besarnya tingkat pengangguran merupakan cerminan kurang berhasilnya pembangunan di suatu negara.219 1. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan. 2010 dalam http://andalas van java online.573 978.197. 1 2004 2 2005 3 2006 4 2007 5 2008 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Jumlah 1.5 Jumlah Pengangguran Terbuka Di Jawa Tengah Tahun 2004-2008 (Jiwa) Tahun No.911 jiwa.360. Di Jawa Tengah besarnya tingkat pengangguran bergerak secara naik turun. Karena itu.227. Pada memusatkan hakekatnya perhatian pembangunan pada daerah dianjurkan saja tidak namun hanya juga pertumbuhan ekonomi mempertimbangkan bagaimana kemiskinan yang dihasilkan dari suatu proses .dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan (Winardi. Pengangguran dapat mempengaruhi kemiskinan dengan berbagai cara (Tambunan. Dan di tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 132.244 1. Di Jawa Tengah tingkat pendidikan dapat diukur salah satunya dengan besarnya angka melek huruf.952 1.

buta huruf. Penelitian ini dilakukan di Jawa Tengah dalam periode 2005 – 2008 karena diprovinsi ini terjadi fenomena tranformasi struktur ekonomi yang meningkatkan produk domestik regional bruto (PDRB). sehingga dapat melampaui tingkat pertumbuhan penduduk. Dengan cara tersebut angka pendapatan per kapita akan meningkat sehingga secara otomatis terjadi pula peningkatan kemakmuran masyarakat. Menurut Bank Dunia salah satu sebab kemiskinan adalah karena kurangnya pendapatan dan aset (lack of income and assets) untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan. Di . tetapi juga diikuti dengan peningkatan persentase kemiskinan. Kemiskinan sendiri merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. Sampai akhir tahun 1960.8 pembangunan daerah tersebut. Hal itu terjadi di tahun 2006. perumahan dan tingkat kesehatan dan pendidikan yang dapat diterima (acceptable). dan di tahun tersebut juga mulai dibentuknya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah. 2004). derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. pakaian. 2008) dalam ilmu ekonomi dikemukakan berbagai teori yang membahas tentang bagaimana pembangunan ekonomi harus ditangani untuk mengejar keterbelakangan. Dimana pembentukan TKPK tersebut dapat menanggulangi masalah kemiskinan di Jawa Tengah. Menurut Esmara (dikutip dari Deni Tisna. para ahli ekonomi percaya bahwa cara terbaik untuk mengejar keterbelakangan ekonomi adalah dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya.

serta tingkat pendidikan dan kesehatan mereka pada umumnya tidak memadai. .go.bappenas.(www. pendidikan. pendekatannya harus dilakukan lintas sektor. Pertumbuhan dan kemiskinan menunjukan hubungan yang kuat dalam tingkat agregat. kesehatan dan masalah-masalah lain yang secara eksplisit berkaitan erat dengan masalah kemiskinan. namun magnitude pengaruh tersebut relatif tidak besar. lintas pelaku secara terpadu dan terkoordinasi dan terintegrasi.. namun besaran pengaruhnya relatif kecil. Dengan kata lain. (2006) dalam penelitiannya tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan jumlah penduduk miskin menunjukan bahwa pertumbuhan berpengaruh negatif dan signifikan dalam mengurangi kemiskinan. Hermanto S. Dimana penel data yang dibangun dari 285 kota/kabupaten menyatakan perbedaan yang besar pada perubahan dalam kemiskinan. Populasi penduduk juga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kemiskinan. dan Dwi W. Hal tersebut dikarenakan pendidikan memang merupakan pionir dalam pembangunan.2006) menyatakan bahwa indonesia memiliki catatan yang mengesankan mengenai pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan selama dua dekade.9 samping itu kemiskinan juga berkaitan dengan keterbatasan lapangan pekerjaan dan biasanya mereka yang dikategorikan miskin (the poor) tidak memiliki pekerjaan (pengangguran). Mengatasi masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan secara terpisah dari masalah-masalah pengangguran. dan Dwi W.id) Menurut Balisacan (dikutip dari penelitian Hermanto S. Sedangkan pendidikan mempengaruhi secara negatif dan signifikan terhadap kemiskinan dan pengaruhnya paling besar.

1. namun kemiskinan yang ada di Jawa Tengah hingga tahun 2008 menunjukkan jumlah penduduk miskin yang tergolong masih cukup tinggi yaitu mencapai 18. Banyak sekali masalah-masalah sosial yang bersifat negatif timbul akibat meningkatnya kemiskinan. Yang mana penelitiannya menggunakan metode panel data tahun 2003 . Padahal dengan dibentuknya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 diharapkan faktor – faktor yang mempengaruhi kemiskinan seperti produk domestik regional .10 Dian Oktaviani (2001) dalam analisisnya tentang bagaimana pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di indonesia menemukan bahwa tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan.2004.99 persen. yang artinya bahwa semakin tinggi tingkat penggauran di Indonesia maka jumlah penduduk miskin di Indonesia juga akan semakin bertambah seiring pertambahan jumlah pengguran. yaitu bahwa tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Indonesia. Kemiskinan di Jawa Tengah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya.2 Rumusan Masalah Kemiskinan merupakan salah satu tolok ukur sosio ekonomi dalam menilai keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah di suatu daerah. Selain itu Deni Tisna (2008) dengan penelitian yang sama juga menghasilkan hasil yang sama pula. Hal tersebut menunjukan bahwa belum maksimalnya kebijakan pemerintah Jawa Tengah dalam menanggulangi masalah kemiskinan.

3. Menganalisis pengaruh pendidikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.1 Tujuan Dan Kegunaan Tujuan Penelitian 1. 1. 2. Menganalisis pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.2 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada: 1. 1. 3. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan sehingga dapat .3.3. Bagaimana pengaruh pendidikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. Bagaimana pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi yang berguna di dalam memahami pengaruh jumlah penduduk. Bagaimana pengaruh produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.3 1. 2. Oleh karena itu dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. pdrb. Menganalisis pengaruh produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.11 bruto (PDRB). pendidikan dan pengangguran dapat meminimalisir kemiskinan yang terjadi di Jawa Tengah. Pengambil Kebijakan Bagi pengambil kebijakan.

Ilmu Pengetahuan Secara umum hasil penelitian ini diharapkan menambah khasanah ilmu ekonomi khususnya ekonomi pembangunan. Penelitian Terdahulu. hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. 1.4 Sistematika Penulisan Penelitian ini disusun dengan sistematika Bab yang terdiri dari: Bab I Pendahuluan. Kerangka Pemikiran Teoritis. Bab IV Hasil dan Pembahasan.12 dapat digunakan sebagai pilihan pengambilan kebijakan dalam perencanaan pembangunan. Bab III Metode Penelitian. BAB III : METODE PENELITIAN . Tujuan dan Kegunaan Penelitian. 2. BAB I : PENDAHULUAN Menguraikan Latar Belakang Masalah Penelitian. dan mencoba menarik suatu Hipotesis Penelitian. Manfaat khusus bagi ilmu pengetahuan yakni dapat melengkapi kajian mengenai kemiskinan dengan mengungkap secara empiris faktor-faktor yang mempengaruhinya. serta Bab V Kesimpulan. serta Sistematika Penulisan. Rumusan Masalah Penelitian. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Menguraikan Landasan Teori. Bab II Tinjauan Pustaka. keterbatasan dan Saran.

Jenis dan Sumber Data. keterbatasan dari penelitian dan . BAB V : PENUTUP Menguraikan Kesimpulan dan saran – saran. Analisis Data. Metode Pengumpulan Data. dan Pembahasan.13 Menguraikan Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN Menguraikan Analisis Deskriptif dan Objek Penelitian. Pengujian Hipotesis. serta Metode Analisis Data.

(www.1 Landasan Teori 2.worlbank. (2001) bahwa seseorang dikatakan miskin bila mengalami "capability deprivation" dimana seseorang tersebut mengalami kekurangan kebebasan yang substantif. dalam definisi kemiskinan adalah: ”the denial of choice and opportunities most basic for human development to lead a long healthy. Menurut World Bank. kebebasan substantif ini memiliki dua sisi: kesempatan dan rasa aman.org) 14 .1 Kemiskinan Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan. pakaian.1. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara. self esteem and the respect of other”. halhal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup. Menurut Bloom dan Canning.(http://Wikipedia.14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. creative life and enjoy a decent standard of living freedom.com) Menurut Amartya Sen dalam Bloom dan Canning. Kesempatan membutuhkan pendidikan dan keamanan membutuhkan kesehatan. tempat berlindung dan air minum.

pengetahuan. dan keterampilan serta aspek sekunder yang berupa miskin akan jaringan sosial. Kemiskinan (poverty) merupakan masalah yang dihadapi oleh seluruh negara. mempercepat penyusutan sumber daya alam. terancamnya posisi tawar (bargaining) dalam pergaulan dunia. organisasi sosial politik. harga diri. Negara-negara maju yang lebih menekankan pada “kualitas hidup” yang dinyatakan dengan perubahan lingkungan hidup melihat bahwa laju pertumbuhan industri tidak mengurangi bahkan justru menambah tingkat polusi udara dan air. sebuah komunitas. sebuah keluarga. maka kemiskinan pun memiliki banyak aspek primer yang berupa miskin akan aset. terancamnya penegakan hak dan keadilan. dan mengurangi kualitas lingkungan. Pengertian kemiskinan dalam arti luas adalah keterbatasan yang disandang oleh seseorang. Hal ini dikarenakan kemiskinan itu bersifat multidimensional artinya karena kebutuhan manusia itu bermacam-macam. sumber-sumber . pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi pada tahun 1960 sedikit sekali pengaruhnya dalam mengurangi tingkat kemiskinan. atau bahkan sebuah negara yang menyebabkan ketidaknyamanan dalam kehidupan. kebebasan. standar hidup layak.15 Dari definisi tersebut diperoleh pengertian bahwa kemiskinan itu merupakan kondisi dimana seseorang tidak dapat menikmati segala macam pilihan dan kesempatan dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya seperti tidak dapat memenuhi kesehatan. serta suramnya masa depan bangsa dan negara. terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Sementara untuk negara-negara yang sedang berkembang. hilangnya generasi. dan rasa dihormati seperti orang lain.

Dimensi-dimensi kemiskinan tersebut termanifestasikan dalam bentuk kekurangan gizi. perawatan kesehatan yang kurang baik. kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses terhadap kekuasaan yang mempunyai pengertian tentang sistem politik yang dapat menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan sumber daya. Pertama adalah persistent poverty. Secara ekonomi. Secara sosial psikologi. Pola keempat adalah accidental poverty. Pola ketiga adalah seasonal poverty. Secara politik. dan informasi. Selain itu. Pola kedua adalah cyclical poverty. 2003). yaitu kemiskinan musiman seperti dijumpai pada kasus nelayan dan petani tanaman pangan. yaitu kemiskinan yang mengikuti pola siklus ekonomi secara keseluruhan. Dan aspek lain dari kemiskinan ini adalah bahwa yang miskin itu manusianya baik secara individual maupun kolektif (Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. kemiskinan dapat dilihat dari tingkat kekurangan sumber daya yang dapat digunakan memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang. perumahan yang sehat. dimensidimensi kemiskinan saling berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung. dan tingkat pendidikan yang rendah. kemiskinan dapat dilihat . air. Dermoredjo. yaitu kemiskinan karena terjadinya bencana alam atau dampak dari suatu kebijakan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat. Menurut Sumitro Djojohadikusumo (1995) pola kemiskinan ada empat yaitu. Hal ini berarti kemajuan atau kemunduran pada salah satu aspek dapat mempengaruhi kemajuan atau kemunduran aspek lainnya.16 keuangan. yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun temurun.

dan faktor-faktor ekonomi lainnya. pakaian. . untuk dapat hidup layak. (1997) secara sederhana dan yang umum digunakan dapat dibedakan menjadi tiga. 2. Walaupun demikian. garis kemiskinan akan mengalami perubahan bila tingkat hidup masyarakat berubah sehingga konsep kemiskinan ini bersifat dinamis atau akan selalu ada. Kemiskinan Absolut Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan dan tidak cukup untuk menentukan kebutuhan dasar hidupnya. yaitu: 1. tingkat kemajuan suatu negara. dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup. Berdasarkan konsep ini. Ukuran kemiskinan menurut Nurkse. Kemiskinan Relatif Seseorang termasuk golongan miskin relatif apabila telah dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya.1953 dalam Kuncoro. tetapi juga iklim. seseorang membutuhkan barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan fisik dan sosialnya. Kesulitan utama dalam konsep kemiskinan absolut adalah menentukan komposisi dan tingkat kebutuhan minimum karena kedua hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adat kebiasaan saja.17 dari tingkat kekurangan jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan peningkatan produktivitas. Konsep ini dimaksudkan untuk menentukan tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik terhadap makanan. tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan keadaan masyarakat sekitarnya.

pengeluaran yang diperlukan untuk memberi standar gizi minimum dan kebutuhan mendasar lainnya. 2.18 Oleh karena itu. jumlah kebutuhan yang sangat bervariasi yang mencerminkan biaya partisipasi dalam kehidupan sehari-hari. Semua ukuran kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma pilihan dimana norma tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran didasarkan konsumsi (consumption based poverty line). Oleh sebab itu. London: Catalyst. Poverty and the Welfare State : Dispelling the Myths. Menurut Paul Spicker (2002. maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan selalu miskin. Kemiskinan Kultural Seseorang termasuk golongan miskin kultural apabila sikap orang atau sekelompok masyarakat tersebut tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya atau dengan kata lain seseorang tersebut miskin karena sikapnya sendiri yaitu pemalas dan tidak mau memperbaiki kondisinya. yaitu: 1. 3. menurut Kuncoro (1997) garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi terdiri dari dua elemen. kemiskinan dapat dari aspek ketimpangan sosial yang berarti semakin besar ketimpangan antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah. A Catalyst Working Paper.) penyebab kemiskinan dapat dibagi dalam empat mazhab: .

Garis kemiskinan adalah suatu ukuran yang menyatakan . 2.19 1. Individual explanation. nasib yang kurang beruntung. 3. kemiskinan yang diakibatkan oleh karakteristik orang miskin itu sendiri: malas. Familial explanation. 4. yang pada gilirannya upahnya rendah. Penduduk miskin hanya memiliki sumberdaya yang terbatas dan kualitasnya rendah. adanya diskriminasi atau keturunan. gagal dalam bekerja. pilihan yang salah. kemiskinan yang diakibatkan oleh faktor keturunan. cacat bawaan. 2006) terdapat tiga faktor penyebab kemiskinan jika dipandang dari sisi ekonomi.ketiga kemiskinan muncul karena perbedaan akses dalam modal. Kualitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktifitanya rendah. Menurut Sharp (dalam mudrajat Kuncoro. salah satunya adalah garis kemiskinan. Structural explanations. dimana antar generasi terjadi ketidakberuntungan yang berulang. Kedua kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia. Banyak ukuran yang menentukan angka kemiskinan. Pertama. belum siap memiliki anak dan sebagainya. terutama akibat pendidikan. kemiskinan yang diakibatkan oleh karakteristik perilaku suatu lingkungan yang berakibat pada moral dari masyarakat. Subcultural explanation. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini karena rendahnya pendidikan. menganggap kemiskinan sebagai produk dari masyarakat yang menciptakan ketidakseimbangan dengan pembedaan status atau hak. kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang.

dan cakupan jaminan sosial bagi rumah tangga miskin masih jauh dari memadai. Hal ini disebabkan terutama oleh cakupan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin yang belum memadai. sehingga garis kemiskinan dapat digunakan untuk mengukur dan menentukan jumlah kemiskinan. dan yatim-piatu). . 2008) adalah pemerataan pembangunan yang belum menyebar secara merata terutama di daerah pedesaan. menurut laporan Badan Pusat Statistik melalui data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2008.877 rupiah (BPS. pelayanan bantuan kepada masyarakat rentan (seperti penyandang cacat. Untuk provinsi Jawa Tengah.20 besarnya pengeluaran (dalam rupiah) untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum makanan dan kebutuhan non makanan. Penyebab yang lain adalah masyarakat miskin belum mampu menjangkau pelayanan dan fasilitas dasar seperti pendidikan. Kesempatan berusaha di daerah pedesaan dan perkotaan belum dapat mendorong penciptaan pendapatan bagi masyarakat terutama bagi rumah tangga miskin. Garis kemiskinan digunakan untuk mengetahui batas seseorang dikatakan miskin atau tidak. atau standar yang menyatakan batas seseorang dikatakan miskin bila dipandang dari sudut konsumsi. Gizi buruk masih terjadi di lapisan masyarakat miskin. batas garis kemiskinannya yaitu sebesar 181. Menurut Rencana Kerja Pemerintah Bidang Prioritas Penanggulangan Kemiskinan. kesehatan. air minum dan sanitasi.2008). Penduduk miskin di daerah pedesaan pada tahun 2006 diperkirakan lebih tinggi dari penduduk miskin di daerah perkotaan. lanjut usia. penyebab kemiskinan (dikutip dari Deny Tisna. serta transportasi. Bantuan sosial kepada masyarakat miskin.

. 2. sehingga dibutuhkan keadilan ekonomi yang bersumber pada Pancasila bukan pada ekonomi modern yang tidak sesuai dengan budaya bangsa. serta perbaikan kemampuan dalam penguasaan IPTEK. Menerapkan kebijakan ekonomi moral yaitu pengembangan sistem ekonomi moral sangat diperlukan sehingga tidak semata-mata mengejar keuntungan tetapi harus adil. antara lain: 1. Memberdayakan kelompok miskin yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia penduduk miskin dengan meningkatkan etos kerja. Melakukan program pembangunan wilayah seperti Inpres dan transmigrasi serta memberikan pelayanan perkreditan melalui lembaga perkreditan pedesaan seperti BKD dan KCK – KUD. meningkatkan disiplin dan tanggung jawab. Melakukan pemetaan kemiskinan yaitu langkah awal dalam upaya penanggulangan kemiskinan yaitu mengenali karakteristik dari penduduk yang miskin sehingga diperlukan pemetaan kemiskinan yang digunakan sebagai alat untuk memecahkan persoalan yang mereka alami. 3. perbaikan konsumsi dan peningkatan gizi.21 Pemerintah telah mempersiapkan beberapa program prioritas penanggulangan kemiskinan dalam tahun 2007 didukung oleh beberapa program prioritas lain. 4.

yang gilirannya membuat investasi dalam “kualitas manusia” semakin sulit.1. Terdapat tiga alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memperlambat pembangunan. dan sumberdaya manusia. 1997) dikalangan para pakar pembangunan telah ada konsensus bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berdampak buruk terhadap suplai bahan pangan. karena hasil yang menurun dari faktor produksi tanah. pertumbuhan penduduk mengancam keseimbangan . yang menyebabkan jumlah penduduk tidak pernah stabil. namun juga semakin membuat kendala bagi pengembangan tabungan. 1. atau hanya sedikit diatas tingkat subsiten Menurut Maier (dikutip dari Mudrajat Kuncoro. 2.2 Pertumbuhan Penduduk Menurut Maltus (dikutip dalam Lincolin Arsyad. Rendahnya sumberdaya perkapita akan menyebabkan penduduk tumbuh lebih cepat. cadangan devisa.22 2. maka pendapatan perkapita (dalam masyarakat tani didefinisikan sebagai produksi pangan perkapita) akan cenderung turun menjadi sangat rendah. 1997) kecenderungan umum penduduk suatu negara untuk tumbuh menurut deret ukur yaitu dua-kali lipat setiap 30-40 tahun. persediaan pangan hanya tumbuh menurut deret hitung. Pertumbuhan penduduk yang tinggi akan dibutuhkan untuk membuat konsumsi dimasa mendatang semakin tinggi. Banyak negara dimana penduduknya masih sangat tergantung dengan sektor pertanian. Sementara itu pada saat yang sama. Oleh karena pertumbuhan persediaan pangan tidak bisa mengimbangi pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dan tinggi.

23

antara sumberdaya alam yang langka dan penduduk. Sebagian karena pertumbuhan penduduk memperlambat perpindahan penduduk dari sektor pertanian yang rendah produktifitasnya ke sektor pertanian modern dan pekerjaan modern lainnya. 3. Pertumbuhan penduduk yang cepat membuat semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan ekonomi dan sosial. Tingginya tingkat kelahiran merupakan penyumbang utama pertumbuhan kota yang cepat. Bermekarannya kota-kota di NSB membawa masalah-masalah baru dalam menata maupun mempertahankan tingkat kesejahteraan warga kota.

Todaro (2000) menyatakan bahwa dalam perhitungan indek kemiskinan dengan pengukuran indeks Foster Greer Thorbecke yang sering disebut juga sebagai kelas Pα dari ukuran kemiskinan yaitu dirumuskan sebagai berikut: 1 Pα = N Yp ............................................................ (2.1)

Dimana Yi adalah pendapatan dari orang miskin yang ke-i, Yp adalah garis kemiskinan dan N adalah jumlah penduduk. Indeks Pα mempunyai bentuk yang berbeda-beda, tergantung pada nilai α. Jika α=0, maka pembilangnya sama dengan H, dan akan diperoleh ratio headcount H/N. Jika α=1, maka akan diperoleh jurang kemiskinan yang dinormalisasi.

24

Menurut Nelson dan Leibstein (dikutip dari Sadono Sukirno, 1983) terdapat pengaruh langsung antara pertambahan penduduk terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Nelson dan Leibstein menunjukan bahwa pertumbuhan penduduk yang pesat di negara berkembang menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat tidak mengalami perbaikan yang berarti dan dalam jangka panjang akan mengalami penurunan kesejahteraan serta meningkatkan jumlah penduduk miskin.

25

Gambar 2.1 Pengaruh Pertumbuhan Penduduk Terhadap Tingkat Kesejahteraan Menurut Nelson Dan Leibstein
% Pertambahan Penduduk

(2.1a) P P 0 Ya Y0
Pendapatan Per Kapita

% Penanaman modal Per kapita

I

(2.1b)

0 Ya
% Pertambahan Penduduk dan Pendapatan

Pendapatan Per Kapita

Y0

(2.1c) P Y 0 Ya Y0 Yb Yc
Pendapatan Per Kapita

Sumber: Sadono Sukirno, 1983

laju pertumbuhan perkapita dalam arti nyata (riil). dan ideologi terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada.3 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Prof. Simon Kuznets (dikutip dari Budiono.1. 3. .1) di atas bahwa sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang pesat dalam jangka panjang tingkat pendapatan perkapita akan kembali mencapai nilai yang sama dengan tingkat pendapatan cukup hidup.1999) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya. Sedangkan gambar (2. institusional (kelembagaan).26 Berdasarkan gambar (2. 2. dan gambar (2. pola persebaran penduduk. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian teknologi. persebaran atau distribusi angkatan kerja menurut sektor kegiatan produksi yang menjadi sumber nafkahnya. 2.1c) menunjukkan hubungan antara pendapatan perkapita dan tingkat pertumbuhan penduduk.1a) menunjukan hubungan diantara pendapatan perkapita dan tingkat pertumbuhan penduduk. selain itu juga menunjukan hubungan pertambahan pendapatan nasional dan pendapatan perkapita. antara lain: 1.1b) menunjukan hubungan antara pendapatan perkapita dan tingkat penanaman modal perkapita. Hal tersebut menjadikan pertumbuhan ekonomi dicirikan dengan 3 hal pokok. Gambar (2.

yaitu kenaikan output per kapita selama 1 – 2 tahun lalu diikuti penurunan output per kapita bukan merupakan pertumbuhan ekonomi. Akibatnya. yaitu pertumbuhan ekonomi bukan merupakan suatu gambaran dari suatu perekonomian yang melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. pembangunan yang dilakukan pada negara yang sedang berkembang sering mengalami dilema antara . para ahli ekonomi percaya bahwa cara terbaik untuk mengejar keterbelakangan ekonomi adalah dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi setinggitingginya sehingga dapat melampaui tingkat pertumbuhan penduduk. Akan tetapi. yaitu pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan adanya kenaikan output per kapita dalam hal ini ada dua unsur yang penting seperti output total dan jumlah penduduk. proses. jangka waktu. Dengan cara tersebut. sasaran utama dalam pembangunan ekonomi lebih ditekankan pada usaha-usaha pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. output per kapita. antara lain: 1.27 Boediono (1999) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah salah satu proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dimana penekanannya pada 3 aspek. 3. angka pendapatan per kapita akan meningkat sehingga secara otomatis terjadi pula peningkatan kemakmuran masyarakat dan pada akhirnya akan mengurangi jumlah penduduk miskin. 2001) sampai akhir tahun 1960. 2. Menurut Todaro (dikutip dari Tambunan. Dikatakan tumbuh bila dalam jangka waktu yang lama (5 tahun atau lebih) mengalami kenaikan output per kapita.

. Lucas menyatakan bahwa .......... teori pertumbuhan seperti ini terkategori sebagai pertumbuhan endogen dengan pionirnya Lucas dan Romer. Model tersebut berangkat dari fungsi produksi agregat sebagai berikut: Y = A .. F (K............ Pembangunan ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil.. Perluasan model solow lainnya adalah dengan memasukkan sumberdaya manusia sebagai modal (Human Capital)... Dalam literatur......28 pertumbuhan dan pemerataan.... Model solow dapat diperluas sehingga mencakup sumberdaya alam sebagai salah satu input.. Namun yang menjadi permasalahan bukan hanya soal bagaimana cara memacu pertumbuhan..L) ...... tetapi juga siapa yang melaksanakan dan berhak menikmati hasilnya.... Oleh karena itu pertumbuhan perekonomian nasional dapat berasal dari pertumbuhan input dan perkembangan kemajuan teknologi yang disebut juga pertumbuhan total faktor produktivitas.....2) Dimana Y adalah output nasional (kawasan)...... K adalah modal (kapital) fisik....... L adalah tenaga kerja dan A merupakan teknologi........... Dasar pemikirannya yaitu output nasional tidak hanya dipengaruhi K dan L tapi juga dipengaruhi oleh lahan pertanian atau sumberdaya alam lainnya seperti cadangan minyak.... Y juga akan meningkat jika terjadi perkembangan dalam kemajuan teknologi yang terindikasi dari kenaikan A..(2... Robert Solow mengemukakan model pertumbuhan ekonomi yang disebut model pertumbuhan Solow...... Faktor yang mempengaruhi pengadaan modal fisik adalah investasi......

. Kuncoro (2004) menyatakan bahwa pendekatan pembangunan tradisional lebih dimaknai sebagai pembangunan yang lebih memfokuskan pada peningkatan PDRB suatu provinsi. kabupaten.. F (K................. atau kota..... (1992) kontribusi dari setiap input pada persamaan tersebut terhadap output nasional bersifat proporsional..... Secara sederhana dengan demikian fungsi produksi agregat dapat dimodifikasi menjadi sebagai berikut: Y = A . Dengan kata lain.. sebagaimana akumulasi modal fisik menentukan pertumbuhan ekonomi. H adalah sumberdaya manusia yang merupakan akumulasi dari pendidikan dan pelatihan. (2. investasi terhadap sumberdaya manusia melalui kemajuan pendidikan akan menghasilkan pendapatan nasional atau pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.............3) Pada persamaan diatas.. Suatu negara yang memberikan perhatian lebih kepada pendidikan terhadap masyarakatnya ceteris paribus lebih baik daripada yang tidak melakukannya. sedangkan Romer berpandangan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh tingkat modal manusia melalui pertumbuhan teknologi.... yaitu dari ...... Saat ini umumnya PDRB baru dihitung berdasarkan dua pendekatan..29 akumulasi modal manusia.. Menurut Mankiw et........... Sedangkan pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto)..L) . termasuk terhadap golongan berpendapatan rendah.....H. Apabila investasi tersebut dilaksanakan secara relatif merata. Sehingga dapat di simpulkan bahwa apabila pertumbuhan ouput meningkat yang dipengaruhi investasi terhadap sumberdaya manusia maka dapat menurunkan kemiskinan. maka kemiskinan akan berkurang... al.........

atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah. 2005:56). sedangkan menurut BPS Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku digunakan untuk menunjukkan besarnya struktur perekonomian dan peranan sektor ekonomi. Untuk lebih jelas dalam menghitung angka-angka Produk Domestik Regional Bruto ada tiga pendekatan melakukan suatu penelitian : yang cukup kerap digunakan dalam . sedang Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai dasar dimana dalam perhitungan ini digunakan tahun 1993. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun (Sadono Sukirno. Selanjutnya PDRB juga dihitung berdasarkan harga berlaku dan harga konstan. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Badan Pusat Statistik (BPS) didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun. Total PDRB menunjukkan jumlah seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh penduduk dalam periode tertentu.30 sisi sektoral / lapangan usaha dan dari sisi penggunaan.

Menurut pendekatan Produksi Dalam pendekatan produksi. penyusutan. nilai tambah dari setiap kegiatan ekonomi diperkirakan dengan menjumlahkan semua balas jasa yang diterima faktor produksi. Surplus usaha meliputi bunga yang dibayarkan neto. dan keuntungan. yaitu upah dan gaji dan surplus usaha. tetapi tidak dibayar setara harga pasar. Produk Domestik Regional Bruto adalah menghitung nilai tambah dari barang dan jasa yang diproduksikan oleh suatu kegiatan ekonomi di daerah tersebut dikurangi biaya antara masingmasing total produksi bruto tiap kegiatan subsektor atau sektor dalam jangka waktu tertentu. 2005:24).pada sektor pemerintahan dan usaha yang sifatnya tidak mencari untung. Menurut pendekatan Pengeluaran Pendekatan dari segi pengeluaran adalah menjumlahkan nilai penggunaan akhir dari barang dan jasa yang diproduksi di dalam negri. dan pajak tidak langsung neto. 2. misalnya sektor pemerintahan. 2005:24). Menurut pendekatan Pendapatan Dalam pendekatan pendapatan. Jika dilihat dari . terutama kegiatan yang tidak mengutip biaya (Robinson Tarigan. Hal ini disebabkan kurang lengkapnya data dan tidak adanya metode yang akurat yang dapat dipakai dalam mengukur nilai produksi dan biaya antara dari berbagai kegiatan jasa. surplus usaha tidak diperhitungkan. Nilai tambah merupakan selisih antara nilai produksi dan nilai biaya antara yaitu bahan baku/penolong dari luar yang dipakai dalam proses produksi (Robinson Tarigan. sewa tanah. Metode pendekatan pendapatan banyak dipakai pada sektor jasa. 3.31 1.

konsumsi pemerintah. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku Pengertian Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku menurut BPS adalah jumlah nilai tambah bruto yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah. perubahan stok dam ekspor neto. dalam dua . 2. Cara penyajian Produk Domestik Regional Bruto disusun bentuk. konsumsi lembaga swasta yang tidak mencari untung.32 segi penggunaan maka total penyediaan/produksi barang dan jasa itu digunakan untuk konsumsi rumah tangga. Nilai yang ditambahkan ini sama dengan balas jasa atas ikut sertanya factor produksi dalam proses produksi. pembentukan modal tetap bruto (investasi). Dengan cara menilai kembali atau mendefinisikan berdasarkan harga-harga pada tingkat dasar dengan menggunakan indeks harga konsumen. Dari perhitungan ini tercermin tingkat kegiatan ekonomi yang sebenarnya melalui Produk Domestik Regional Bruto riilnya. Yang dimaksud nilai tambah yaitu merupakan nilai yang ditambahkan kepada barang dan jasa yang dipakai oleh unit produksi dalam proses produksi sebagai input antara. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan Menurut BPS pengertian Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan yaitu jumlah nilai produksi atau pengeluaran atau pendapatan yang dihitung menurut harga tetap. yaitu : 1.

setiap bangsa yang ingin maju maka pembangunan dunia pendidikan selalu menjadi prioritas utama. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan. Kepedulian pemerintah yang bisa dikatakan rendah terhadap pendidikan yang harus kalah dari urusan yang lebih strategis yaitu Politik. Karena itu. pendidikan di Indonesia selalu terbentur oleh tiga realitas (Winardi. Untuk memutus rantai sebab akibat diatas. Sebab. Menteri Perkotaan di era Bill Clinton. Amerika serikat. Karena pendidikan adalah sarana menghapus kebodohan sekaligus kemiskinan. ada kecemasan yang sangat mencolok dengan kondisi sumber daya manusia (SDM) ini. 2010 dalam http://andalas van java online.33 2. ada satu unsur kunci yaitu pendidikan. Henry Cisneros. Misalnya. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis.com) a) Pertama. Sehingga. Jika dunia pendidikan suatu bangsa sudah jeblok. pendidikan dijadikan jargon politik untuk menuju kekuasaan agar bisa menarik simpati di mata rakyat.1. maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jati diri manusia suatu bangsa.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan. Namun ironisnya.4 Pendidikan Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa. Jika melihat negara lain. pernah mengemukakan bahwa dia khawatir tentang masa depan Amerika Serikat dengan banyaknya penduduk . Bahkan.

bahkan ada kecenderungan untuk meng- anaktirikannya. namun penuh makna. Akhirnya. karena masyarakat Hispanik cuma satu diantara banyak etnis di Amerika Serikat. Akibatnya. penjajahan terselubung. b) Kedua. Sehingga. Menurut Marshal (dalam Tulus Tambunan. ada sebuah penjajahan terselubung yang dilakukan negara-negara maju dari segi kapital dan politik yang telah mengadopsi berbagai dimensi kehidupan di negara-negara berkembang. Kecemasan yang sederhana. pendidikan pun tidak luput dari usaha privatisasi ini. Bahkan. dan ini salah satunya karena biaya pendidikan . Umumnya. rakyat tidak bisa lagi mengenyam pendidikan tinggi dan itu berakibat menurunnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia. penjajahan ini tentu tidak terlepas dari unsur ekonomi. 1997) bahwa suatu bangsa tidak mungkin memiliki tenaga kerja bertaraf internasional jika seperempat dari pelajarnya gagal dalam menyelesaikan pendidikan menengah. Dari sini pendidikan semakin mahal yang tentu tidak bisa di jangkau oleh rakyat. Dengan hutang negara yang semakin meningkat. badan atau organisasi donor pun mengintervensi secara langsung maupun tidak terhadap kebijakan ekonomi suatu bangsa. Di era globalisasi dan kapitalisme ini.34 keturunan Hispanik dan kulit hitam yang buta huruf dan tidak produktif. dan harus kalah dari dimensi yang lain. dapat dilihat adanya pengabaian sistematis terhadap kondisi pendidikan. Dan di Indonesia. tidak heran jika tenaga kerja di Indonesia banyak yang berada di sektor informal akibat kualitas sumber daya manusia yang rendah. terjadilah privatisasi di segala bidang.

yang membuat pendidikan tidak lagi bisa dijangkau rakyat.35 yang memang mahal. c) Ketiga adalah kondisi masyarakat sendiri yang memang tidak bisa mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan yang ada. dimana pendidikan hanya mampu menyediakan tenaga kuli dengan kemampuan minim. Apa lagi ditengah iklim investasi global yang menuntut pemerintah memberikan kerangka hukum yang dapat melindungi Investor dan juga buruh murah. Akhirnya. Sehingga. dan kemiskinan pun akan mengiringi. terbentuklah link up sistem pendidikan. Hal ini akan berdampak pada kekurangannya respek terhadap dunia pendidikan. Buruh murah ini merupakan hasil dari adanya privatisasi ( otonomi kampus ). kemiskinan menjadi sebuah reproduksi sosial. . kebodohan akan menghantui.Gurr ) dalam diri masyarakat. Tentu hal ini tidak terlepas dari kondisi bangsa yang tengah dilanda krisis multidimensi sehingga harapan rakyat akan kehidupannya menjadi rendah. karena mereka lebih mementingkan urusan perut daripada sekolah. telah terjadi deprivasi relatif ( istilah Karl Marx yang di populerkan Ted R. dan kemudian menjadi bodoh serta kemiskinan pun kembali menjerat. dimana dari kemiskinan akan melahirkan generasi yang tidak terdidik akibat kurangnya pendidikan. Bisa dikatakan. Akibatnya.

1974 (dikutip dari Lincolin. antara lain: 1. Pengangguran struktural. Setengah pengangguran (under unemployment). menurut Sadono Sukirno (2000) pengangguran biasanya dibedakan atas 3 jenis berdasarkan keadaan yang menyebabkannya. 2. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan struktur dalam perekonomian. tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya. 2.5 Pengangguran Dalam standar pengertian yang sudah ditentukan secara internasional. Pengangguran konjungtur. bentuk-bentuk pengangguran adalah: 1. Menurut Edwards.36 2. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh tindakan seseorang pekerja untuk meninggalkan kerjanya dan mencari kerja yang lebih baik atau sesuai dengan keinginannya. Pengangguran friksional. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh kelebihan pengangguran alamiah dan berlaku sebagai akibat pengurangan dalam permintaan agregat.1997). yang dimaksudkan dengan pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu. Oleh sebab itu. adalah mereka yang mampu dan seringkali sangat ingin bekerja tetapi tidak tersedia pekerjaan yang cocok untuk mereka.1. adalah mereka yang secara nominal bekerja penuh namun produktivitasnya rendah sehingga . 3. Pengangguran terbuka (open unemployment).

Tingkat pengangguran terbuka sekarang ini yang ada di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia rata-rata sekitar 10 persen dari seluruh angkatan kerja di . maka bencana pengangguran akan secara langsung mempengaruhi income poverty rate dengan consumption poverty rate. Menurut Tambunan (2001). Jika rumah tangga tidak menghadapi batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini tidak terlalu dipengaruhi oleh pendapatan saat ini. maka peningkatan pengangguran akan menyebabkan peningkatan kemiskinan dalam jangka panjang. pengangguran dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan dengan berbagai cara. adalah mereka yang mungkin bekerja penuh tetapi intensitasnya lemah karena kurang gizi atau penyakitan. Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di negara yang sedang berkembang menjadi semakin serius. tetapi tidak terlalu berpengaruh dalam jangka pendek. Tenaga kerja yang tidak produktif. 3. Jika rumah tangga memiliki batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini sangat dipengaruhi oleh pendapatan saat ini. Tenaga kerja yang lemah (impaired). adalah mereka yang mampu bekerja secara produktif tetapi tidak bisa menghasilkan sesuatu yang baik. 4. 2.37 pengurangan dalam jam kerjanya tidak mempunyai arti atas produksi secara keseluruhan. antara lain: 1.

adalah salah jika beranggapan bahwa setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin. yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap atau hanya bekerja paruh waktu (part time) selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. kondisi seperti ini membawa dampak bagi terciptanya dan membengkaknya jumlah kemiskinan yang ada. Bagi sebagian besar mereka. luasnya kemiskinan. Mereka yang bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara kelompok masyarakat kelas menengah ke atas. sedang yang bekerja secara penuh adalah orang kaya.24 tahun yang kebanyakan mempunyai pendidikan yang lumayan. dan distribusi pendapatan yang tidak merata. tingkat pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah kesempatan kerja di negara yang sedang berkembang yang bagaikan ujung sebuah gunung es.38 perkotaan. Hal ini karena kadangkala ada pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. Mereka menolak pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka (Lincolin Arsyad. Ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran. Namun demikian. Namun demikan. salah satu mekanisme pokok untuk mengurangi kemiskinan dan ketidakmerataan distribusi pendapatan di negara . Masalah ini dipandang lebih serius lagi bagi mereka yang berusia antara 15 . Apabila mereka tidak bekerja konsekuensinya adalah mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan baik. 1997) Di samping penjelasan tersebut.

Hilangnya lapangan pekerjaan menyebabkan berkurangnya sebagian besar penerimaan yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak . perbedaan upah. Masyarakat miskin pada umumnya menghadapi permasalahan terbatasanya kesempatan kerja. 1997).39 sedang berkembang adalah memberikan upah yang memadai dan menyediakan kesempatan kerja bagi kelompok masyarakat miskin (Lincolin Arsyad. Besarnya dampak krisis terhadap kemiskinan yang menyebabkan menjamurnya insiden kebangkrutan sebagai akibat tekanan pada kesempatan kerja di sektor informal perkotaan semakin besar. Hal tersebut menunjukkan ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dengan luasnya kemiskinan. terbatasnya peluang mengembangkan usaha. Pada negara yang sedang berkembang bukan saja menghadapi kemerosotan dalam ketimpangan relatif tetapi juga masalah kenaikan dalam kemiskinan dan tingkat pengangguran. Lebih jauh. Besarnya dimensi kemiskinan tercermin dari jumlah penduduk yang tingkat pendapatan atau konsumsinya berada di bawah tingkat minimum yang telah ditetapkan. maka insiden pengangguran akan dengan mudah menggeser posisi mereka menjadi kelompok masyarakat miskin. Dian Octaviani (2001) menyatakan bahwa sebagian rumah tangga di Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar atas pendapatan gaji atau upah yang diperoleh saat ini. jika masalah pengangguran ini terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah (terutama kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan sedikit berada di atas garis kemiskinan). melemahnya perlindungan terhadap aset usaha.

2 Pengaruh Variabel Independen terhadap Variabel Dependen 2. 2.40 dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumah tangga. 2. 3.1 Pengaruh PDRB terhadap Tingkat Kemiskinan Menurut Todaro (dikutip dari Tambunan. . Meningkatkan kemitraan global dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan perlindungan kerja. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat miskin dalam rangka mengembangkan kemampuan kerja dan berusaha. pemerintah telah merumuskan berbagai rencana untuk memenuhi hak masyarakat miskin atas pekerjaan dan pengembangan usaha yang layak guna mengurangi tingkat pengangguran. Meningkatkan perlindungan terhadap buruh migran di dalam dan luar negeri. Meningkatkan efektifitas dan kemampuan kelembagaan pemerintah dalam menegakkan hubungan industrial yang manusiawi. Rencana tersebut antara lain: 1. tetapi juga siapa yang melaksanakan dan berhak menikmati hasilnya. 4.2. Oleh sebab itu. dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). 2001) pembangunan ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil. Namun yang menjadi permasalahan bukan hanya soal bagaimana cara memacu pertumbuhan.

atau kota.2 Pengaruh Pendidikan terhadap Kemiskinan . pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat. Selanjutnya menurut penelitian Deni Tisna (2008) menyatakan bahwa PDRB sebagai indikator pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap kemiskinan. tetapi harus memperhatikan sejauh mana distribusi pendapatan telah menyebar ke lapisan masyarakat serta siapa yang telah menikmati hasil-hasilnya. Dan apabila tingkat pendapatan penduduk sangat terbatas. kabupaten.41 Menurut Kuncoro (2001) pendekatan pembangunan tradisional lebih dimaknai sebagai pembangunan yang lebih memfokuskan pada peningkatan PDRB suatu provinsi.2. karena pada tahap awal proses pembangunan tingkat kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang. Menurut Sadono Sukirno (2000). 2. Sehingga menurunnya PDRB suatu daerah berdampak pada kualitas dan pada konsumsi rumah tangga. Selanjutnya pembangunan ekonomi tidak semata-mata diukur berdasarkan pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) secara keseluruhan. Menuru Kuznet (dikutip dari Tulus Tambunan. 2001). laju pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil. banyak rumah tangga miskin terpaksa merubah pola makanan pokoknya ke barang paling murah dengan jumlah barang yang berkurang.

Hal ini tidak mengherankan karena. Akibatnya. baik di negara-negara maju maupun di negaranegara sedang berkembang. Selanjutnya Todaro (2000) menyatakan bahwa pendidikan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar. memperdalam pemahaman akan perekonomian. produktifitas tenaga kerja. produsen atau warganegara. Yang mana pendidikan mamainkan peranan kunci dalam membentuk kemampuan sebuah negara dalam menyerap teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan. Pendidikan dapat meningkatkan kemampuan penduduk untuk memperoleh dan menggunakan informasi.42 Todaro (1994) menyatakan bahwa selama beberapa tahun. menitik beratkan pada keterkaitan antara pendidikan. sasaran utama pembangunan di tahun 1950-an dan 1960-an adalah mamaksimumkan tingkat pertumbuhan output total. dan memberi pilihan kepada penduduk apakan berperan sebagai konsumen. akan mempunyai perbedaan pendapatan 300 persen sampai dengan 800 persen. sebagian besar penelitian dibidang ilmu ekonomi. dengan tenaga kerja yang hanya menyelesaikan sebagian ataupun seluruh pendidikan tingkat sekolah . Selain itu pendidikan dan distribusi pendapatan adalah mempunyai korelasi yang positif dengan penghasilannya selama hidup seseorang. memperluas produktifitas. dampak pendidikan atas distribusi pendapatan dan usaha menghilangkan kemiskinan absolut sebagian besar telah dilupakan. dan tingkat output. Gaiha (1993) menjelaskan bahwa pendidikan berperan penting dalam kesejahteraan seseorang dengan berbagai cara yang berbeda. Korelasi ini dapat dilihat terutama pada seseorang yang dapat menyelasaikan sekolah tingkat lanjutan dan universitas.

Bagi sebagian besar masyarakat. Setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin. Menurut Simmons (dikutip dari Todaro. 2. Karena tingkat penghasilan sangat dipengaruhi oleh lamanya tahun memperoleh pendidikan. Tetapi pendidikan tinggi hanya mampu dicapai oleh orang kaya. jelas ketimpangan pendapatan yang besar tersebut akan semakin besar. Dimana digambarkan dengan seorang miskin yang mengharapkan pekerjaaan baik serta penghasilan yang tinggi maka harus mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi. Masyarakat yang bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara kelompok masyarakat kelas menengah keatas.43 dasar. PDRB. Sehingga tingkat pendidikan sangat berpengaruh dalam mengatasi masalah kemiskinan. 1994). Dalam penelitian Hermanto dan Dwi (2006) dihasilkan bahwa pendidikan mempunyai pengaruh paling tinggi terhadap kemiskinan dibandingkan variabel pembangunan lain seperti jumlah penduduk. pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan.2.3 Pengaruh Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan Lincolind Arsyad (1997) menyatakan bahwa ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan. dan tingkat inflasi. Sedangkan orang miskin tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi seperti sekolah lanjutan dan universitas. sedangkan yang bekerja secara penuh . yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau hanya part-time selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin.

Sama juga halnya adalah. Orang-orang seperti ini bisa disebut menganggur tetapi belum tentu miskin. Karena kadangkala ada juga pekerja diperkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik dan yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. Mereka menolak pekerjaan-pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber-sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka. Yang artinya bahwa semakin tinggi tingkat pengganguran maka akanmeningkatkan kemiskinan.44 adalah orang kaya. jika masalah pengangguran ini terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah (terutama kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan sedikit berada di atas garis kemiskinan). Banyak pekerja yang mandiri disektor informal yang bekerja secara penuh tetapi mereka sering masih tetap miskin. maka insiden pengangguran akan dengan mudah menggeser posisi mereka menjadi kelompok masyarakat miskin. Dian Octaviani (2001) mengatakan bahwa sebagian rumah tangga di Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar atas pendapatan gaji atau upah yang diperoleh saat ini. 2.3 Penelitian Terdahulu . tetapi tetap memperoleh pendapatan yang sedikit. Lebih jauh. Hilangnya lapangan pekerjaan menyebabkan berkurangnya sebagian besar penerimaan yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. banyaknya induvidu yang mungkin bekerja secara penuh per hari.

Pengangguran. antara lain: a) Penelitian yang dilakukan oleh Dian Octaviani (2001) dengan judul “Inflasi. sebaliknya semakin kecil angka pengangguran akan menyebabkan semakin rendahnya tingkat kemiskinan di Indonesia. Tulisannya menganalisis tentang pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia. b) Penelitian yang dilakukan oleh Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti (2006) dengan judul “Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap . dan Kemiskinan di Indonesia: Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke”. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri yang dikemukakan oleh Cutler dan Katz (1991). yaitu : Pt = β0 + β1 (P/Y)T + β2 ρT + β3 µt + β4 Gt + εt Dimana: Pt = tingkat kemiskinan agregat pada tahun ke t diukur dengan indeks FGT (P/Y)t = rasio garis kemiskinan terhadap pendapatan rata-rata ρT = tingkat inflasi µt = tingkat pengangguran Gt = rasio gini εt = error term Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kenaikan angka pengangguran mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan.45 Beberapa penelitian tentang kemiskinan di berbagai negara telah dilakukan oleh sejumlah peneliti.

Tulisannya menganalisis tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia. Analisis yang dilakukan adalah analisis Deskriptif dan ekonometrika dengan menggunakan metode Panel Data. kenaikan Jumlah Penduduk mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. kenaikan Inflasi mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. kenaikan Share .46 Penurunan Jumlah Penduduk Miskin”. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri sebagi berikut: Poverty = β0 + β1 PDRB + β2 Populasi + β3 Agrishare + β4 Industrieshare + β5 Inflasi + β6 SMP + β7 SMA + β8 DIPLOMA + β9 Dummy Krisis + ε Dimana: Poverty PDRB Agrishare = Tingkat kemiskinan = Pendapatan PDRB = Pangsa sektor pertanian dalam PDRB Industrieshare = Pangsa sektor industri dalam PDRB Inflasi SMP SMA DIPLOMA = Tingkat inflasi = jumlah lulusan setingkat SMP = jumlah lulusan setingkat SMA = jumlah lulusan setingkat Diploma Dummy Krisis = dummy krisis ekonomi Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kenaikan PDRB mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan.

Tulisannya meneliti tentang pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan. = variabel ketidakmerataan distribusi pendapatan. PG) Y it = β0 + β1 X1it + β2 X2it + β3 X3it + Uit dimana: MS GR PDRB = jumlah kemiskinan. dan pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 20032004”. PDRB. Dimana pengaruh tingkat pendidik SMP lebih besar daripada pengaruh share pertanian. . dan pengangguran terhadap kemiskinan di Indonesia. Analisis yang dilakukan adalah analisis Deskriptif dan ekonometrika dengan menggunakan metode Panel Data.47 pertanian dan industri mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. pertumbuhan ekonomi. dalam hal ini untuk seluruh Provinsi di Indonesia dari tahun 2003 – 2004. c) Penelitian yang dilakukan oleh Deny Tisna Amijaya (2008) dengan judul “Pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan. = variabel tingkat pertumbuhan ekonomi. Sedangkan kenaikan Dummy krisis mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. kenaikan tingkat pendidikan mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri sebagi berikut: MS = f (GR. pertumbuhan ekonomi.

d) Penelitian yang dilakukan oleh Usman. = time series. sumber air yang tidak terlindung. Β2. Bonar M. Dimana Analisis tentang variabel-variabel yang berhubungan dengan kemiskinan atau determinan kemiskinan untuk menjawab tujuan dari studi ini dilakukan dengan menggunakan Model Regrasi Logit atau disingkat Model Logit. = konstanta. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel ketidakmerataan distribusi pendapatan berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan. = error. variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. sedangkan variabel pengangguran berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan. dan kepala keluarga bekerja di bidang pertanian. Β3 U = variabel tingkat pengangguran. Variabel yang dapat . = cross section. = koefisien. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa variabel yang dapat menambah kemiskinan berturut-turut dari nilai marginal effect terbesar adalah jumlah anggota rumah tangga. Sinaga. dan Mermanto Siregar (2009) dengan judul “ Analisis Determinan Kemiskinan Sebelum Dan Sesudah Desentralisasi Fiskal”.48 PG i t Β0 Β1. kepala keluarga sebagai buruh tani. Tulisannya menganalisis tentang Bagaimana pengaruh penerapan desentralisasi fiskal terhadap determinasi kemiskinan.

dan jumlah tahun bersekolah seluruh anggota keluarga. e) Penelitian yang dilakukan oleh Rasidin K. Sinaga (2009) dengan judul “ Dampak Investasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Kemiskinan Di Indonesia: Pendekatan Model Computable General Equilibrium”. Tulisannya menganalisis tentang pertumbuhan ekonomi yang cepat (dipercepat) pada umumnya berpotensi menciptakan .49 mengurangi kemiskinan adalah kepala rumah tangga yang bekerja. Tulisannya menganalisis tentang Bagaimana pengaruh investasi sumberdaya manusia terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan in Indonesia dengan menggunakan kombinasi model Komputasi Keseimbangan umum dan metode FosterGreer-Thorbecke. poverty depth dan poverty severity kecuali untuk rumahtangga bukan pertanian golongan atas di desa. f) Penelitian yang dilakukan oleh Harlem Siahaan (1995) dengan judul “Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945 – 1984”. bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota. neraca perdagangan dan konsumsi rumah tangga. kepemilikan aset lahan pertanian. yang ditunjukkan oleh peningkatan stok kapital. Sitepul dan Bonar M. Investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan dapat menurunkan poverty incidence. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Peningkatan investasi sumberdaya manusia secara langsung berdampak pada peningkatan produktivitas tenaga kerja yang mendorong pada peningkatan Produk Domestik Bruto Riil.

Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia maupun perbaikan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut. . akan berpotensi menciptakan situasi dan fenomena politik yang tidak menentu karena masalah-masalah ekonomi termasuk pembangunan ekonomi tidaklah tepat jika dilihat dari sudut dan perspektif ekonomi.50 berbagai bentuk kesenjangan dan permasalahan yang menghasilkan kontradiksi sosial-politik.

Pendidikan. (PDRB). Pengangguran. Dummy krisis ekonomi th 1997-1998 Jumlah anggota rumah Bagaimana pengaruh Variabel yang dapat menambah kemiskinan . Gini Rasio PERMASALAHAN Bagaimana pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia HASIL PENELITIAN Tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kemiskinan di Indonesia. • Share pertanian dan industri berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. pendapatan. Inflasi. dan pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 2003-2004 Oleh: Deny Tisna Amijaya (2008) Analisis determinan Bagaimana pengaruh • PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kemiskinan. • Tingkat pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. dan Kemiskinan di Indonesia: Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke Oleh: Dian Octaviani (2001) Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin Oleh: Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti (2006) Variabel Tingkat Inflasi. pertumbuhan • Tingkat pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif Pengangguran ekonomi. dan pengangguran dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan.TABEL 2. • Krisis berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan Distribusi pendapatan. • Tingkat Inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. terhadap tingkat kemiskinan • Jumlah Penduduk berpengaruh negatif dan di Indonesia signifikan terhadap kemiskinan. Jumlah penduduk. terhadap kemiskinan • Tingkat pengangguran berpengaruh positif dan Indonesia 2003–2004 signifikanterhadap tingkat kemiskinan PDRB. Share industri. Tingkat Pengangguran. Share pertanian. Bagaimana pengaruh • Ketidakmerataan distribusi pendapatan berpengaruh Pertumbuhan ekonomi ketidakmerataan distribusi positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. pertumbuhan ekonomi.1 RANGKUMAN PENELITIAN TERHADULU No 1 51 2 JUDUL dan PENULIS (Tahun) Inflasi. 3 4 Pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan.

poverty depth (2009) metode Foster-Greerdan poverty severity kecuali untuk rumahtangga Thorbecke bukan pertanian golongan atas di desa. Sitepul dan kombinasi model Komputasi • Investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan Bonar M. Variabel yang dapat mengurangi kemiskinan adalah kepala rumah tangga yang bekerja. Sinaga. Kepemilikan aset lahan pertanian. kepala keluarga sebagai buruh tani. Kepala rumah tangga yang bekerja. Oleh: Rasidin K. kepemilikan aset lahan pertanian. Lama pendidikan anggota keluarga penerapan desentralisasi fiskal terhadap determinasi kemiskinan. sumber air yang tidak terlindung. dan kepala keluarga bekerja di bidang pertanian.52 berturut-turut dari nilai marginal effect terbesar adalah jumlah anggota rumah tangga. Sinaga Keseimbangan umum dan dapat menurunkan poverty incidence. akan berbagai bentuk berpotensi menciptakan situasi dan fenomena politik kesenjangan dan yang tidak menentu karena masalah-masalah permasalahan yang ekonomi termasuk pembangunan ekonomi tidaklah menghasilkan kontradiksi tepat jika dilihat dari sudut dan perspektif ekonomi. dan Mermanto Siregar (2009) Tangga. dan jumlah tahun bersekolah seluruh anggota keluarga Dampak Investasi Sumberdaya Tingkat Pendidikan Bagaimana pengaruh • Peningkatan investasi sumberdaya manusia secara Manusia Terhadap Pertumbuhan ekonomi investasi sumberdaya langsung berdampak pada peningkatan produktivitas Pertumbuhan Ekonomi Dan (PDRB) manusia terhadap tenaga kerja yang mendorong pada peningkatan Kemiskinan Di Indonesia: pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Bruto Riil. sosial-politik . bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota kemiskinan sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal 5Oleh: Usman. yang ditunjukkan oleh Pendekatan Model Computable kemiskinan in Indonesia peningkatan stok kapital. neraca perdagangan dan General Equilibrium dengan menggunakan konsumsi rumah tangga. Bonar M. 5 6 Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945 – 1984 Oleh: Harlem Siahaan (1995) Bagaimana hubungan • Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia maupun pertumbuhan ekonomi yang perbaikan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi cepat (dipercepat) terhadap untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut.

padahal tujuan perencanaan pembangunan yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang nantinya penting dalam mengurangi kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. pendidikan dan tingkat pengangguran. Dengan hasil regresi tersebut diharapkan mendapatkan tingkat signifikansi setiap variabel independen dalam . Hermanto dan Dwi (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang lazim dipergunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan. pendidikan dan tingkat pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. antara lain PDRB. tingkat share pertanian dan industri.53 2. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah bahwa kemiskinan dipengaruhi oleh tiga variabel pembangunan ekonomi. pertumbuhan ekonomi dan pengangguran terhadap kemiskinan.4 Kerangka Pemikiran Tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah hingga tahun 2008 masih menduduki peringkat paling tinggi dibanding provinsi-provinsi lainnya di Pulau Jawa. Kemudian variabel-variabel tersebut sebagai variabel independen (bebas) dan bersama-sama. Sehingga penelitian ini difokuskan pada bagaimana pengaruh Jumlah penduduk. PDRB. dengan variabel dependen (terikat) yaitu kemiskinan yang diukur dengan alat analisis regresi untuk mendapatkan tingkat signifikansinya. dimana pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan PDRB. Hal ini merupakan permasalahan mendasar dalam perumusan kebijakan pembangunan daerah. Selanjutnya Deni Tisna (2008) dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara ketidakmerataan distribusi pendapatan. tingkat inflasi dan pendidikan. pertumbuhan jumlah penduduk.

Selanjutnya tingkat signifikansi setiap variabel independen tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran kepada pemerintah dan pihak yang terkait mengenai penyebab kemiskinan di Jawa Tengah untuk dapat merumuskan suatu kebijakan yang relevan dalam upaya pengentasan kemiskinan.1 Kerangka Pemikiran PDRB PENDIDIKAN KEMISKINAN PENGANGGURAN 2.54 mempengaruhi kemiskinan. Gambar 2. 1997) . dimana suatu hipotesis selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menghubungkan dua variabel atau lebih (J.5 Hipotesis Hipotesis adalah pendapat sementara dan pedoman serta arah dalam penelitian yang disusun berdasarkan pada teori yang terkait. Supranto. Secara skema kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut.

55

Dengan mengacu pada dasar pemikiran yang bersifat teoritis dan berdasarkan studi empiris yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian dibidang ini, maka akan diajukan hipotesis sebagai berikut : 1. Diduga Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. 2. Diduga pendidikan (melek huruf) berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. 3. Diduga pengangguran berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan.

56

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional Variabel penelitian merupakan construct atau konsep yang dapat diukur

dengan berbagai macam nilai untuk memberikan gambaran yang nyata mengenai fenomena yang diteliti. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. 1. Variabel Dependen Variabel dependen dalam penelitian adalah kemiskinan yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah menurut kabupaten/kota pada tahun 2006-2008. 2. Variabel Independen Variabel independen dalam penelitian ini adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pendidikan dan pengangguran. Langkah berikutnya setelah menspesifikasi variabel-variabel penelitian adalah melakukan pendefinisian secara operasional. Hal ini bertujuan agar variabel penelitian yang telah ditetapkan dapat dioperasionalkan, sehingga memberikan petunjuk tentang bagian suatu variabel dapat diukur.

56

57

Dalam penelitian ini definisi operasional yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Kemiskinan (KM) Kemiskinan berarti sejumlah penduduk yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang telah ditetapkan oleh suatu badan atau orang tertentu dan perhitungan yang dilakukan oleh badan atau organisasi tersebut digunakan sebagai standar perhitungan untuk menentukan jumlah kemiskinan yang ada di suatu daerah. Atau singkatnya, penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, garis kemiskinan yang digunakan adalah garis kemiskinan yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah persentase penduduk miskin tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). 2. PDRB (PDRB) PDRB adalah keseluruhan nilai barang dan jasa yang diproduksi didalam suatu daerah tertentu dalam satu tahun tertentu. Berdasarkan uraiaan yang disampaikan oleh Sadono Sukirno (2000), laju pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan struktur ekonomi berlaku atau tidak, perhitungan PDRB akan ditimbulkan dari suatu daerah ada tiga pendekatan. PDRB yang dimaksud adalah laju PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen).

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk melek huruf Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). penduduk yang sedang mempersiapkan suatu usaha. penduduk yang merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) melek huruf adalah kemampuan seseorang membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya (selain huruf latin) yang masing-masing merupakan keterampilan dasar yang diajarkan di kelas-kelas awal jenjang pendidikan dasar. 4.58 3. Data yang digunakan untuk melihat pengangguran adalah pengangguran terbuka di Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). Pengertian pengangguran terbuka (open unemployment) menurut Edwards (1974) (dalam Lincolin. 1997) adalah mereka yang mampu dan seringkali sangat ingin bekerja tetapi tidak tersedia pekerjaan yang cocok untuk mereka. penduduk yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Pendidikan (MH) Pendidikan dalam hal ini diproksi dengan besarnya angka melek huruf. Pengangguran (PG) Pengangguran berarti seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu. . tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya. Sedangkan menurut BPS (Badan Pusat Statisktik) adalah meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan.

ataupun publikasi lainnya (Marzuki. sehingga penelitian pada periode tersebut menarik untuk diamati serta data tersedia pada tahun tersebut. Pemilihan periode ini disebabkan karena kemiskinan mengalami fluktuasi dan terjadinya peningkatan PDRB dan diikuti dengan peningkatan pengangguran di tahun 2006.2008 untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah. surat kabar dan majalah. 2005). dokumen-dokumen perusahaan atau organisasi. Data sekunder yaitu data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti.2 Jenis Dan Sumber Data Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Data sekunder yang digunakan adalah penggabungan dari deret berkala (time series) dari tahun 2005 . Data laju Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan untuk masing-masing kabupaten/kota Jawa Tengah tahun 2005-2008. Data persentase penduduk miskin daerah untuk masing-masing kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . Data yang diperlukan adalah: 1.59 3.2008.2008 dan deret lintang (cross section) sebanyak 35 data mewakili kabupaten/kota di Jawa Tengah yang menghasilkan 140 observasi. . 2. misalnya diambil dari Badan Pusat Statistik. Periode data yang digunakan adalah data tahun 2005 .

3 Metode Pengumpulan Data Anto Dajan (2001) Menyatakan bahwa metode pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematis dan standar guna memperoleh data kuantitatif. 3. Data pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf untuk masingmasing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 .2008. Data pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf untuk masingmasing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . 4. 3.2008. Data persentase penduduk miskin daerah untuk masing-masing kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . Data laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 .2008. 2. 4. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Jawa Tengah Dalam Angka”. disamping itu metode pengumpulan data memiliki fungsi teknis guna .2008. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Tengah”. Data pengangguran terbuka untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Data dan Informasi Kemiskinan”.60 3.2008. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “PDRB Jawa Tengah”.2008. Adapun sumber data tersebut diatas diperoleh dari: 1. Data pengangguran untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 .

.1) dimana N adalah banyaknya data cross-section Sedangkan persamaan model dengan time-series adalah : . .. Data yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini sepenuhnya diperoleh melalui studi pustaka sebagai metode pengumpulan datanya..... surat kabar.. serta dari browsing website internet yang terkait dengan masalah kemiskinan. 2...... Dalam data panel.4 3. persamaan model dengan menggunakan data cross-section dapat ditulis sebagai berikut : Yi = β0 + β1 Xi + εi ... unit cross section yang sama di survey dalam beberapa waktu.4... nilai dari satu variabel atau lebih dikumpulkan untuk beberapa unit sampel pada suatu waktu. Sebagai pendukung.1 Metode Analisis Metode Analisis Data Panel Studi ini menggunakan analisis panel data sebagai alat pengolahan data dengan menggunakan program Eviews 6.. N .... Gujarati (2003) menyatakan bahwa untuk menggambarkan data panel secara singkat..... digunakan buku referensi... 3.. Periode data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tahun 2005 – 2008.... Dalam model panel data.. i = 1.....61 memungkinkan para peneliti melakukan pengumpulan data sedemikian rupa sehingga angka-angka dapat diberikan pada obyek yang diteliti.... jurnal........... misalkan pada data cross section. Analisis dengan menggunakan panel data adalah kombinasi antara deret waktu (time-series data) dan kerat lintang (cross-section data).. (3....... sehingga tidak diperlukan teknik sampling serta kuesioner...

... T dimana : N T = banyaknya observasi = banyaknya waktu N × T = banyaknya data panel Menurut Hsiao. . meningkatkan degrees of freedom (derajat kebebasan).2) dimana T adalah banyaknya data time-series Mengingat data panel merupakan gabungan dari time-series dan cross-section.................62 Yt = β0 + β1 Xt + εt ............................ Panel data dapat memberikan penyelesaian yang lebih baik dalam inferensi perubahan dinamis dibandingkan data cross section.. dimana dapat menghasilkan ekonometri yang efisien................. data memiliki variabilitas yang besar dan mengurangi kolinearitas antara variabel penjelas...(3.. c.........3) i = 1. yang tidak dapat diberikan hanya oleh data cross section dan time series daja........ ...(3...... 1986 (dikutip dari Firmansyah......... 2009) keunggulan penggunaan data panel dibandingkan deret waktu dan kerat lintang adalah : a. t = 1. ..... N . b.... lebih bervariasi.. Dengan panel data......... ....... 2. Dapat memberikan peneliti jumlah pengamatan yang besar...... t = 1..... 2.... data lebih informasif....... 2....... maka model dapat ditulis dengan : Yit = β0 + β1 Xit + εit .. T .

Penambahan variabel boneka ini akan dapat mengurangi banyaknya derajat kebebasan (degree of freedom) yang pada akhirnya akan mengurangi efisiensi dari parameter yang diestimasi. Untuk mengatasi hal tersebut. dua macam pendekatan yang terdiri dari pendekatan efek tetap (fixed effect). . Model panel data yang di dalamnya melibatkan korelasi antar error term karena berubahnya waktu karena berbedanya observasi dapat diatasi dengan pendekatan model komponen error (error component model) atau disebut juga model efek acak (random effect).63 Dalam analisis model panel data dikenal. Kedua pendekatan yang dilakukan dalam analisis panel data dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. 2. Pendekatan efek tetap (Fixed effect) Salah satu kesulitan prosedur panel data adalah bahwa asumsi intersep dan slope yang konsisten sulit terpenuhi. yang dilakukan dalam panel data adalah dengan memasukkan variabel boneka (dummy variable) untuk mengizinkan terjadinya perbedaan nilai parameter yang berbeda-beda baik lintas unit (cross section) maupun antar waktu (time-series). dan pendekatan efek acak (random effect). Pendekatan dengan memasukkan variabel boneka ini dikenal dengan sebutan model efek tetap (fixed effect) atau Least Square Dummy Variable (LSDV). Pendekatan efek acak (Random effect) Keputusan untuk memasukkan variabel boneka dalam model efek tetap (fixed effect) tak dapat dipungkiri akan dapat menimbulkan konsekuensi (trade off).

Apabila jumlah time-series (T) besar sedangkan jumlah cross-section (N) kecil. 3. 2. Jadi. 3. 4. Pendidikan (MH) dan variabel tingkat pengangguran (PG) terhadap kemiskinan (KM) menggunakan data time-series selama empat tahun . dan apabila asumsi yang mendasari random effect dapat terpenuhi. apabila kita meyakini bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian diambil secara acak (random) maka random effect harus digunakan. Apabila N besar dan T kecil.64 Menurut Judge ada empat pertimbangan pokok untuk memilih antara menggunakan pendekatan efek tetap (fixed effect).2 Estimasi Model Penelitian mengenai pengaruh variabel variabel tingkat pertumbuhan ekonomi (PDRB).4. maka random effect lebih efisien dibandingkan fixed effect. Apabila N besar dan T kecil. Apabila komponen error εi individual berkorelasi maka penaksir random effect akan bias dan penaksir fixed effect tidak bias. maka hasil estimasi kedua pendekatan akan berbeda jauh. apabila kita meyakini bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian tidak diambil secara acak maka kita harus menggunakan fixed effect. dan pendekatan efek acak (random effect) dalam data panel : 1. maka hasil fixed effect dan random effect tidak jauh berbeda sehingga dapat dipilih pendekatan yang lebih mudah untuk dihitung yaitu fixed effect model (FEM). Sebaliknya.

Intersep sebagaimana koefisien slope bervariasi bervariasi antar individu dan waktu. dimana ada beberapa kemungkinan asumsi yaitu : a. pengaruh variabel variabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu. Seluruh koefisien (intersep dan koefisien slope) bervariasi antar individu. e. Asumsi bahwa intersep dan koefisien slope adalah konstan antar waktu (time) dan ruang (space) dan error term mencakup perbedaan sepanjang waktu dan individu. Model fungsi yang akan digunakan untuk mengetahui kemiskinan di Jawa Tengah yaitu: . Dalam penelitian ini.2008 dan data cross-section sebanyak 35 data mewakili kabupaten/kota di Jawa Tengah yang menghasilkan 140 observasi.65 yang diwakili data tahunan dari 2005 . Gujarati (2003) menjelaskan bahwa estimasi model regresi panel data dengan pendekatan fixed effect tergantung pada asumsi yang digunakan pada intersep. dan error term. yaitu koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu. koefisien slope. Asumsi FEM yang dugunakan dalam penelitian ini adalah asumsi FEM yang kedua. b. c. Koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu dan waktu. Pendidikan (MH) dan variabel tingkat pengangguran (PG) terhadap kemiskinan (KM) digunakan asumsi FEM dikerenakan N besar dan T kecil selain itu bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian tidak diambil secara acak maka kita harus menggunakan fixed effect. d.

...linear (log)...... Mendekatkan skala data Dalam model penelitian ini logaritma yang digunakan adalah dalam bentuk log ......…..... (3..... Β3 U = persentase kemiskinan dalam persen... Sehingga persamaan menjadi sebagai berikut: Log KM = β0 + β1 Log PDRB it + β2 Log MH it + β3 LogPG it + Uit ....4) KMit = β0 + β1 PDRBit + β2 MHit +β3 PGit+ Uit ........................ 2005) adalah sebagai berikut : a....5) dimana: KM PDRB MH PG i t Β0 Β1.. = konstanta.. Alasan pemilihan model logaritma natural (Imam Ghozali.... MH.............. = koefisien............... = pendidikan atau angka melek huruf dalam persen = pengangguran dalam persen...... Mengetahui koefisien yang menunjukkan elastisitas c.. Β2....... = laju PDRB harga konstan 2000 dalam persen......66 KM = f (PDRB.. = cross section.. Adanya perbedaan dalam satuan dan besaran variabel bebas dalam persamaan menyebabkan persamaan regresi harus dibuat dengan model logaritma natural......... ........ Menghindari adanya heteroskedastisitas b.... PG) ... (3.......... = error..... = time series....... = koefisien.6) keterangan: log β1 – β5 = log-linear..........……………………… (3..

Model regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi normal atau mendekati normal (Imam Ghozali. (3... 2002)... Model untuk mengetahui uji normalitas adalah: J – B hitung = dimana: S K = Skewness statistik = Kurtosis [ S2/6 + ( k −3 2 ) 24 ] ……………………….. 3.. Ada beberapa metode untuk mengetahui normal atau tidak gangguan (µ) antara lain J-B test dan metode grafik.1 Pengujian Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi.5.. Penelitian ini akan menggunakan metode J-B test yang dilakukan dengan menghitung skweness dan kurtosis... maka nilai residual berdistribusi normal. variabel terikat dan variabel bebas. .7) Jika nilai J – B hitung > J-B tabel.67 U = error. apabila J-B hitung < nilai X² (Chi Square) tabel..5 3. keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak. maka hipotesis yang menyatakan bahwa residual Ut terdistribusi normal ditolak dan sebaliknya...

10) = f (PDRB...... Konsekuensi adanya multikolinearitas adalah koefisien regresi variabel tidak tentu dan kesalahan menjadi tidak terhingga....… (3. maka variabel-variabel ini tidak ortogonal..9) MH PG = f (PDRB... MH) ..…........... Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen. PG) .….....……… (3.. Kriterianya adalah jika R2 regresi persamaan utama .. Model untuk mengetahui uji multikolinearitas adalah: KM = f (PDRB.2 Uji Multikolinearitas Imam Ghozali (2002) menyatakan bahwa multikolinearitas mempunyai pengertian bahwa ada hubungan linear yang “sempurna” atau pasti diantara beberapa atau semua variabel independen (variabel yang menjelaskan) dari model regresi.... Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol.….... PG) ...………………...........…………...… (3.......11) Penelitian ini akan menggunakan Auxiliary Regression untuk mendeteksi adanya multikolinearitas...5....68 3. MH......… (3...………….. PG) …..……………...….8) PDRB = f (MH.. Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Salah satu munculnya multikolinearitas adalah R² sangat tinggi dan tidak satupun koefisien regresi yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel tidak bebas secara skolastik............. Jika variabel bebas saling berkorelasi....

Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode waktu atau ruang dengan kesalahan pengganggu pada waktu atau ruang (sebelumnya).3 Uji Autokorelasi Autokerelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data deretan waktu) atau ruang (seperti dalam data cross-sectional. Tabel 3.2002 Keputusan Tolak Tidak ada keputusan Tolak Tidak ada keputusan Jangan tolak Kriteria 0 < d < dl dl < d <du 4-dl < d < 4 4-du < d < 4-dl du < d < 4-du .1 Kriteria Pengujian Durbin Watson Hipotesis Nol Ada atokorelasi positif Tidak ada autokorelasi positif Ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi Sumber: Imam Gozali. 3. Pengujian menggunakan uji Durbin Watson untuk melihat gejala autokorelasi.5.69 lebih besar dari R2 regresi auxiliary maka di dalam model tidak terdapat multikolinearitas.

Secara ringkas walaupun terdapat heteroskedastisitas maka penaksir OLS (Ordinary Least Square) tetap tidak bias dan konsisten tetapi penaksir tadi tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar (yaitu asimtotik).4 Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas berarti bahwa variasi residual tidak sama untuk semua pengamatan.5.70 Berdasarkan penjelasan diatas dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 3.2002 3. Menurut Gujarati (1995) bahwa masalah heteroskedastisitas nampaknya menjadi lebih biasa dalam data cross section dibandingkan dengan data time series.1 Aturan Membandingkan Uji Durbin-Watson Dengan Tabel Durbin-Watson Ada autokorelasi positif dan menolak Ho Tidak ada keputusan Tidak ada autokorelasi dan tidak menolak Ho Tidak ada keputusan Ada autokorelasi negatif dan menolak Ho dl du 2 4-du 4-dl 4 Sumber: Imam Gozali. . Heteroskedastisitas bertentangan dengan salah satu asumsi dasar regresi biar homoskedastisitas yaitu variasi residual sama untuk-semua pengamatan.

pengujian koefisien regresi secara bersama-sama (uji F). Ide dasar yang melatarbelakangi pengujian signifikansi adalah uji statistik (estimator) dari distribusi sampel dari suatu statistik dibawah hipotesis nol. 3.05 maka tidak ada heterokedastisitas. Keputusan untuk mengolah Ho dibuat berdasarkan nilai uji statistik yang diperoleh dari data yang ada. jika t-statistik < t-tabel maka tidak ada heterokedastisitas. atau Jika nilai Prob > 0. Uji statistik terdiri dari pengujian koefisien regresi parsial (uji t). dan pengujian koefisien determinasi (uji-R2). Jika t-statistik > t-tabel maka ada heterokedastisitas. H0 : b1 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel PDRB dengan kemiskinan.05 maka ada heterokedastisitas. 3. jika nilai Prob < 0.1 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t) Uji signifikansi parameter individual (uji t) dilakukan untuk melihat signifikansi dari pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak terikat secara individual dan menganggap variabel lain konstan. .71 Penelitian ini menggunakan uji Park untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas. Hipotesis yang digunakan: 1.6 Pengujian Kriteria Statistik Gujarati (1995) menyatakan bahwa uji signifikansi merupakan prosedur yang digunakan untuk menguji kebenaran atau kesalahan dari hasil hipotesis nol dari sampel.6. Uji Park pada prinsipnya meregres residual yang dikuadratkan dengan variabel bebas pada model.

..................................... H0 : b3 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel tingkat pengangguran dengan kemiskinan..12) dimana: βi βi* = parameter yang diestimasi = nilai hipotesis dari βI (Ho : βI = βi*) SE(βi) = simpangan baku βi Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut: a) Jika t-hitung > t-tabel maka H0 ditolak............... 3...... H0 : b2 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel melek huruf dengan kemiskinan.. 2.... b) Jika t-hitung < t-tabel maka H0 diterima..72 H1 : b1 < 0 ada pengaruh negatif antara variabel PDRB dengan kemiskinan........... Nilai t hitung dapat dicari dengan rumus: t= Bi − Bi * .............. .... H1 : b2 < 0 ada pengaruh negatif antara variabel melek huruf dengan kemiskinan.. artinya salah satu variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.... SE ( Bi ) (3. artinya salah satu variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan.. H1 : b3 > 0 ada pengaruh positif antara variabel tingkat pengangguran dengan kemiskinan...

Hipotesis yang digunakan: 1. b2............ H0 : b1.............................6............... b2... H1 : b1.........73 3. b3 = 0 semua variabel independen tidak mampu mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama 2........... 1 − R 2 /( N − l ) (3.....13) dimana: k = jumlah parameter yang diestimasi termasuk konstanta N = jumlah observasi Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut: .2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat. b3 ≠ 0 semua variabel independen mampu mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama Nilai F hitung dirumuskan sebagai berikut: F= R 2 /(k − 1) .......

....6...74 a) H0 diterima dan H1 ditolak apabila F hitung < F tabel........... yang artinya variabel penjelas secara bersama-sama mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.14) .. Nilai (R 2 ) yang kecil (mendekati nol) berarti kemampuan satu variabel dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas.3 Uji Koefisien Determinasi (uji R2) Imam Ghozali (2002) menyatakan bahwa koefisien determinasi (R 2 ) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan suatu model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Oleh karena itu. Setiap tambahan satu variabel pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen......... Nilai yang mendekati satu berarti variabelvariabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.... Kelemahan mendasar penggunaan determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model. b) H0 ditolak dan H1 diterima apabila F hitung > F tabel..... (3.................... Nilai koefisien determinasi diperoleh dengan formula: R 2 ∑y = ∑y *2 2 .................. yang artinya variabel penjelas secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.... banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai adjusted (R 2 ) pada saat mengevaluasi model regresi yang terbaik........ 3............ Nilai (R 2 ) adalah antara nol dan satu.......

412 hektar atau sekitar 25. secara administratif terbagi dalam 35 kabupaten/kota (29 kabupaten dan 6 kota) dengan 565 kecamatan yang meliputi 7872 desa dan 622 kelurahan.70 persen dari luas Indonesia. Luas wilayah tersebut terdiri dari 991 ribu hektar (30.04 persen dari luas Pulau Jawa dan 1.55 persen) bukan lahan sawah.254. Provinsi Jawa Tengah dengan pusat pemerintahan di Kota Semarang. Luas wilayah Jawa Tengah tercatat sebesar 3.1.1 Deskripsi Obyek Penelitian 4.75 dimana: y* y = nilai y estimasi = nilai y aktual BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4. Secara geografis letaknya antara 5040’ dan 8030’ Lintang Selatan dan antara 108030’ dan 110030’ Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa).26 juta hektar (69. Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 263 km dan dari utara ke selatan adalah 226 km (tidak termasuk Pulau Karimunjawa).45 persen) lahan sawah dan 2.1 Kondisi Geografis Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi di Pulau Jawa letaknya diapit oleh dua provinsi besar yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Secara administratif Provinsi Jawa Tengah berbatasan oleh : Sebelah Utara Sebelah Timur : Laut Jawa : Jawa Timur .

pemerintah sangat berupaya keras untuk mengatasi permasalahan kemiskinan tersebut sehingga pembangunan dilakukan secara terusmenerus termasuk dalam menentukan batas ukur untuk mengenali siapa si miskin tersebut. Oleh karena itu. pendidikan. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi. kesehatan. Selain itu kemiskinan juga merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. geografis. tingkat pengangguran. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank.2. antara lain tingkat pendapatan. dan lokasi lingkungan. buta huruf. pertumbuhan ekonomi. gender. akses terhadap barang dan jasa.76 Sebelah Selatan Sebelah Barat : Samudera Hindia : Jawa Barat 75 4. 2004).1 Kemiskinan Kemiskinan merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. . tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. lokasi. Berikut disajikan data tentang kemiskinan yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008.2 Analisis Data 4.

Pekalongan Kota.44 19.37 19.3 32.59 22.9 19.47 6 16.60 28 10. Pekalongan Kab.71 27. Pati Kab.62 27.34 8.16 10.5 16.73 17.68 12.49 17.25 20. Blora Kab.72 13. Karanganyar Kab.77 Tabel 4.75 33. Banjarnegara Kab.6 11.75 27.68 27.1 Persentase Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen) No. Sukoharjo Kab.83 20.12 18.87 17.2 13. Kendal Kab.83 12.25 23.39 20.13 11.02 18.49 30.72 12.62 23.01 5. Sragen Kab.94 6.77 30.87 21. Kebumen Kab.22 27.9 5. Wonogiri Kab.39 30.18 22.37 20.08 18.75 18.05 15.79 20.69 32.34 21.93 26.21 10.92 27.79 21.93 22.01 34. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kab.28 13.44 32.48 10.33 15.01 6.95 22. Banyumas Kab.78 16.05 17.08 25.43 11.21 31. Kudus Kab.72 11. Brebes Kab.21 11.71 12.14 29.02 18.8 25.58 16. Magelang Kota.22 13. Boyolali Kab.46 20.95 20 30.5 25.24 14.16 24.29 8. Semarang Kota. Magelang Kab.60 14.82 20.31 22.59 29.93 15.49 21.06 22.79 17. Japara Kab.38 8.28 .36 22.4 2007 27. Pemalang Kab. Purworejo Kab.7 22. Batang Kab. Demak Kab.24 19. Grobogan Kab.84 11.36 2008 23. Rembang Kab.50 25.13 15.38 22. Wonosobo Kota.24 20.64 9.14 10.62 9.79 30.46 18.71 16./Kota Kab.93 18.34 22.55 24. Cilacap Kab.59 23.29 10.67 19. Surakarta Kota.63 20.14 22.81 4.06 27.26 13.37 8.98 21.73 17. Salatiga Kota.79 22.4 21.96 2006 29.99 12.39 16.19 7. Semarang Kab.4 24.42 19. Klaten Kab.36 24.15 21.44 17. Purbalingga Kab. Tegal 2005 27.99 23.52 23.27 10.35 22. Tegal Kab.47 22.03 27.72 15. Temanggung Kab.

dan dalam satu kurun waktu tertentu (satu tahun kalender). pertambangan. Berikut disajikan data PDRB yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008.2 Produk Domestik Regionl Bruto (PDRB) Menurut BPS (2008). di suatu wilayah tertentu (provinsi dan kabupaten/kota). .1 diatas menunjukan bahwa persentase penduduk miskin provinsi Jawa Tengah tahun 2005 .78 Sumber: Data dan informasi Kemiskinan Jateng 2008 Tabel 4.98 persen di tahun 2008. PDRB merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui peranan dan potensi ekonomi di suatu wilayah dalam periode tertentu. Produk Domestik Bruto (PDRB) merupakan penjumlahan nilai output bersih (barang dan jasa akhir) yang ditimbulkan oleh seluruh kegiatan ekonomi.79 persen di tahun 2005 dan mengalami penurunan hingga 25. Kegiatan ekonomi yang dimaksud mulai kegiatan pertanian.2008 terbanyak yaitu berada di Kabupaten Brebes yaitu sebanyak 27. industri pengolahan.2. Dan kabupaten/Kota yang memiliki persentase penduduk miskin paling sedikit yaitu di Kota semarang yaitu sebanyak 6 persen di tahun 2008. sampai dengan jasa-jasa. 4.

31 3.08 4.81 4.59 4.81 4.95 3. Kudus 16 Kab.19 4. Blora 5 Kab.06 5.04 4. Tegal 27 Kab.30 5. Magelang 17 Kab.85 4. Boyolali 6 Kab.62 4.11 5.39 5.23 5.08 3.19 4.49 5. Cilacap 8 Kab.8 4.92 4.37 4.51 3.28 3.75 5.84 5.19 5.17 3.69 4.01 5.92 3.99 4.11 5.98 4.69 5. Sukoharjo 26 Kab. Pekalongan 19 Kab.61 3.54 4.19 6.3 2.15 5.23 5.32 3.8 5.49 3.79 2.17 5.71 4.43 4.33 3.94 4.06 4.79 Tabel 4.47 6. Kendal 14 Kab.51 4.73 5.16 4.81 5. Kab.27 3.23 5.46 4.74 4.33 4.58 5.18 4. Wonogiri 29 Kab.74 4.98 5. Wonosobo 30 Kota.82 4.21 2. Karanganyar 12 Kab.53 5. Sragen 25 Kab.21 5.41 3.67 2. Banjarnegara 2 Kab. Pemalang 20 Kab.98 5.05 3.72 3.64 4. Demak 9 Kab.48 2.78 4.94 3.74 5.08 4.8 7.26 5. Pekalongan 32 Kota. Batang 4 Kab.56 3.72 5.14 2006 4. Kebumen 13 Kab. Japara 11 Kab.11 5.49 3. Rembang 23 Kab.39 3.31 4.63 4. Purworejo 22 Kab.52 4.72 3.03 5.99 5.72 5.08 3.05 4.71 2007 5.07 4.18 4.3 3. Pati 18 Kab.67 5.19 4. Klaten 15 Kab.62 4.99 4. Temanggung 28 Kab. Magelang 31 Kota.31 3. Brebes 7 Kab.23 2. Semarang 24 Kab.2 2.62 3.91 4.15 4.67 4.07 4.02 4 4.98 2008 4. Salatiga 33 Kota. Semarang 2005 3.2 Laju PDRB Berdasarkan Harga Konstan 2000 Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen) No.44 3.07 3.59 . Grobogan 10 Kab./Kota 1 Kab. Purbalingga 21 Kab.35 4.21 3.19 3.07 3. Banyumas 3 Kab.73 4.59 4.11 4.53 3.85 3.71 5 4.95 4.86 4.45 4.

Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis.80 34 Kota. Untuk memutus rantai sebab akibat diatas.43 5. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan.87 Sumber: PDRB Jawa Tengah 2005-2008 5. Laju PDRB dapat menunjukan kondisi perekonomian di masing-masing kabupaten / kota di Jawa Tengah. Sehingga. . Berikut disajikan data melek huruf menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008.21 5. Tegal 4.82 5. Dilihat dari besarnya PDRB menunjukan terjadi kesenjangan ekonomi yang relatif besar antara daerah maju dan tertinggal. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jatidiri manusia suatu bangsa.2.15 5.69 5. 4. Karena pendidikan adalah sarana menghapus kebodohan sekaligus kemiskinan.3 Pendidikan (Melek Huruf) Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan. ada satu unsur kunci yaitu pendidikan.15 Tabel 4.15 35 Kota. Salah satu indikator pendidikan adalah tingkat angka melek huruf di suatu daerah.2 diatas menunjukkan bahwa laju PDRB yang terjadi di kabupaten / kota di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 menunjukkan angka yang fluktuatif dari masing-saing kabupaten / kota. Sebab. Surakarta 5.

9 90.50 97.20 89.31 Kab.50 84. Kudus 89.90 88.67 23 Kab.20 96. Blora 82. Batang 87. Magelang 94.40 88.2 88.91 10 Kab.75 86.10 95. Sragen 73 81.01 20 Kab.1 95.2 25 Kab.3 6 80.85 91.28 91. Banjarnegara 88.1 Kab. Cilacap 90.70 95.4 96.36 Kab.9 96.62 81.81 Tabel 4.03 28 Kab.2 93.18 9 86.58 13 Kab.86 14 Kab.50 89.01 3 85.9 84.85 15 Kab.20 88. Purworejo 86.5 95. Semarang 95.7 .30 90.15 90.94 34 Kota.37 95.05 87. Banyumas 93.1 90.40 88.30 86.50 91. Kendal 88. Rembang 88. Sukoharjo 87. Wonogiri 79.01 88.10 84.18 22 Kab. Temanggung 95.93 86.2 90.58 96. Wonosobo 85.30 82.17 95.24 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2005 – 2008 2008 94.82 Kab.3 89.8 90.93 82.96 11 Kab. Boyolali 85.13 5 84.40 90. Magelang 90. Salatiga 95.39 12 Kab.16 19 Kab.49 95.50 91. Kab.58 94. Pekalongan 94.9 89. Demak 90.24 Kab.3 86.34 16 Kab.8 90.10 82.39 88.01 Kab.28 89.3 Tingkat Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2008 (dalam satuan persen) 2005 2006 2007 No. Japara 87. Brebes 84.85 33 Kota.34 93.50 87. Klaten 85.31 2 93.40 88.50 85.87 21 Kab.18 87.60 88.4 26 Kab.40 89.30 93.28 17 Kab.39 87.21 32 Kota. Surakarta 95.87 35 Kota. Pekalongan 86.2 92. Semarang 91.80 96. Kebumen 89.6 83 86 84.96 Kab. Tegal 86. Tegal 91.35 24 Kab.51 76. Pati 84.03 88.87 88. Purbalingga 93 93.39 18 Kab.60 93.91 29 Kab.8 93.87 88.20 92.34 86.36 4 82.85 Kab.3 8 89.10 87.80 90.9 97.9 82 88./Kota Kab. Grobogan 90.9 87.3 92 91.2 95. Pemalang 85.1 7 90 90.24 1 85 88.18 91.37 31 Kota.4 89.4 88.3 93 89.93 27 93. Karanganyar 81.08 30 Kota.46 Kab.9 87.20 95.5 81.91 97.

3 diatas menunjukan bahwa tingkat Melek huruf di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . Tingkat pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah kesempatan kerja di negara yang sedang berkembang yang bagaikan ujung sebuah gunung es.4 Pengangguran Pengangguran adalah meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan. atau sedang mempersiapkan suatu usaha. kondisi seperti ini membawa dampak bagi terciptanya dan membengkaknya .2 persen di tahun 2008 dan yang paling sedikit yaitu di Kabupaten Wonosobo yaitu sebesar 82 persen. atau sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. 4. atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.2008 terbesar yaitu berada kota Pekalongan yaitu sebesar 97. Apabila mereka tidak bekerja konsekuensinya adalah mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan baik. Tingkat pengangguran sangat erat hubungannya dengan laju pertumbuhan penduduk.82 Tabel 4.2. Dengan laju pertumbuhan yang tinggi akan meningkatkan jumlah angkatan kerja (penduduk usia kerja) yang kemudian besarnya angkatan kerja ini dapat menekan ketersediaan lapangan kerja di pasar kerja. Tingkat Pengangguran Terbukan (TPT) adalah angka yang menunjukkan banyaknya pengangguran terhadap 100 penduduk yang masuk kategori angkatan kerja (BPS. 2008). Sedangkan angkatan kerja sendiri terdiri dari dua komponen yaitu orang yang menganggur dan orang yang bekerja.

14 7.63 5.27 11.77 4.05 5.72 8.53 9.64 9 Kab.76 11 Kab.38 19 Kab. Pekalongan 16. Banyumas 10.64 9.32 22 Kab.12 13 Kab.35 11.08 4.61 6.08 21 Kab.45 8.49 8. Salatiga 14. Jateng 2005 .36 8.79 6.94 3. Purworejo 6./Kota 1 Kab.01 9. Pati 7. Magelang 9.53 5. Grobogan 6. Sragen 10.05 3 Kab.13 8.92 7 Kab.50 9.27 33 Kota.27 7. Wonosobo 5. Pekalongan 8. Rembang 9.97 20 Kab.16 3.60 14.11 5.94 4. Kab.83 6.26 15 Kab.64 25 Kab.28 31 Kota. Banjarnegara 9.50 8. Tegal 11. Kudus 7.12 26 Kab.03 6.21 5.14 9. Temanggung 6.39 4.80 9.68 5.03 10.2008 .39 9.9 28 Kab.93 13.82 6. Tabel 4.15 8.76 5. Tegal 14.5 30 Kota. Purbalingga 9.32 Sumber: Keadaan Angkatan Kerja Prop.17 9.93 7.89 23 Kab. Surakarta 10. Berikut disajikan data tentang pengangguran yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 – 2008.73 29 Kab.78 5.39 11.9 6 Kab.39 8. Pemalang 10.31 6.07 8.04 6.2 5. Cilacap 17.30 5.19 10 Kab.39 14 Kab.42 6.14 9.10 5. Semarang 12.43 4.53 9.19 7.14 8.38 9.55 8.75 32 Kota.56 27 Kab.56 7.08 5.59 4.33 8.32 9.78 3.73 8.81 9.61 9. Sukoharjo 10.69 5.51 34 Kota.24 7.36 7. Semarang 6.7 5.18 6.44 8. Magelang 17.77 4 Kab.48 10. Blora 4.36 18 Kab.62 6.37 12.19 11.16 12.66 7.47 4.83 jumlah kemiskinan yang ada.4 Tingkat Pengangguran Menurut Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2008 (dalam satuan persen) 2005 2006 2007 2008 No.57 35 Kota.75 13. Klaten 7. Demak 9.19 5.45 7.7 12 Kab.95 4.76 10.15 16 Kab.92 5.40 7. Brebes 12. Batang 11.80 11.57 9.46 6.71 5 Kab.16 8 Kab.91 2 Kab. Japara 8.26 5.61 7. Karanganyar 6.15 6.20 11.07 5.59 5.06 17 Kab.31 9. Boyolali 7. Wonogiri 9.77 6.01 7.49 5.23 11. Kebumen 13.25 5.48 9. Kendal 7.31 7.39 24 Kab.60 3.

046 C LOG(PDRB) LOG(MH) LOG(PG) R-squared F-Statistic Prob(F-Statistic) Durbin-Watson Sumber: Lampiran B .029 0. sedangkan di tahun 2008 yang paling sedikin yaitu kabupaten Purworejo sebesar 4.5 Hasil Regresi Utama Pengaruh PDRB. 4.81 persen ditahun 2005.32 persen. karena pada hakekatnya jika asumsi klasik tidak dipenuhi maka variabel-variabel yang menjelaskan akan menjadi tidak efisien.84 Tabel 4.4 diatas menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . Tabel 4.017 Prob.99 t-Statistic 3.416 -1. Pendidikan.209 -2.000 0.32 persen.77 0. 0.076 -1. Dan yang paling sedikit yaitu di Kabupaten Blora yaitu sebesar 4.267 -0.162 0.089 0. Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005-2008 Coefficient 8. tetapi di tahun 2008 yang paling besar yaitu di kota Tegal sebesar13.0000 1.867 -0.968 83.406 -2.3 Hasil Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik perlu dilakukan karena dalam model regresi perlu memperhatikan adanya penyimpangan-penyimpangan atas asumsi klasik.2008 terbesar yaitu berada kota magelang yaitu sebanyak 17.60 persen di tahun 2005.

Gambar 4.2 -0. 2002). tidak berkorelasi dan mempunyai varians yang konstan.0 0. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 24 20 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2008 Observations 140 Mean Median Maximum Minimum Std.497326 0.116141 7.076896 0.1 Hasil Uji Jarque-Bera Pengaruh Pdrb.099355 4. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .1 berikut.2 0.1 -0.023549 4 0 Pada model persamaan pengaruh jumlah penduduk.3.1 0.208762 0.2008 dengan n = 140 dan k = 3.1 Uji Normalitas Salah satu asumsi dalam model regresi linier adalah distribusi probabilitas gangguan µ i memiliki rata-rata yang diharapkan sama dengan nol.3 16 12 8 1. Hasil Uji J-B Test dapat dilihat pada Gambar 4. maka diperoleh degree of freedom (df) = 135 (n-k). Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0. dilakukan Uji Jarque-Bera. Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak (Imam Ghozali.85 4.306602 -0. Dev.09e-17 0. Untuk menguji apakah data terdistribusi normal atau tidak. dan .005175 0. PDRB.

2 Uji Multikolinearitas Multikolinearitas merupakan keadaan dimana terdapat hubungan linear atau terdapat korelasi antar variabel independen. Tabel 4. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 2 No. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 - . 1. Apabila nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) lebih besar dibandingkan nilai R2 regresi utama.112 R2 0.6 menunjukkan perbandingan antara nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) dengan nilai R2 regresi utama.968 0. dapat ditarik kesimpulan bahwa probabilitas gangguan µ1 regresi tersebut terdistribusi secara normal karena nilai Jarque Bera lebih kecil dibanding nilai χ2 tabel.100 0. Dibandingkan dengan nilai Jarque Bera pada Gambar 4. 4.968 0. PG PDRB MH Persamaan R2* 0.968 Sumber : Lampiran C R2 = R2 hasil regresi utama R2* = R2 hasil auxiliary regression Tabel 4.34.497. PDRB MH PG 2. maka dapat disimpulkan bahwa dalam persamaan tersebut terjadi multikolinearitas. Dalam penelitian ini untuk menguji ada tidaknya multikolinearitas dilihat dari perbandingan antara nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) dengan nilai R2 regresi utama. Tabel 4.3.86 menggunakan α = 5 persen diperoleh nilai χ2 tabel sebesar 124.6 R Auxiliary Regression Pengaruh Pdrb.1 sebesar 7. MH PDRB PG 3.5 menunjukkan bahwa model persamaan pengaruh PDRB.014 0.

26.61.99 < 2.73 dan dl=1.87 2008 tidak mengandung multikolinearitas karena tidak ada nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) yang lebih besar dibandingkan nilai R2 regresi utama. Sehingga d-hitung atau DW terletak pada du < d < 4-du atau 1.38 4 Hasil dari Durbin-Watson menunjukkan bahwa nilai d-hitung atau DW sebesar 1. .99 4-du=2.73 < 1. Lesimpulan yang dapat ditarik adalah tidak adanya autokolerasi didalam model.2 Hasil Uji Durbin-Watson Ada autokorelasi positif dan menolak Ho Tidak ada keputusan Tidak ada autokorelasi dan tidak menolak Ho Tidak ada keputusan Ada autokorelasi negatif dan menolak Ho dl=1.73 DW=1.26 4-dl=2. 4.3 Uji Autokorelasi Salah satu uji formal yang paling populer untuk mendeteksi autokorelasi adalah uji Durbin-Watson.61 du=1.3. Hasil dari Durbin-Watson statistik adalah du=1. Uji ini sesungguhnya dilandasi oleh model error yang mempunyai korelasi sebagaimana telah ditunjukkan di bawah ini: Gambar 4.99.

4 Pengujian Statistik Analisis Regresi 4. dengan α .437 0. setiap observasi mempunyai reliabilitas yang berbeda akibat perubahan dalam kondisi yang melatarbelakangi tidak terangkum dalam spesifikasi model (Imam Ghozali.039 0. Dalam penelitian ini digunakan uji Park untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas yang dapat dilihat pada Tabel 4. 0. Tabel 4. 2005).226 0.476 Prob. Artinya.202 0.2008.3.074 1.4 Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari satu observasi ke observasi lainnya.244 0. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . 4.038 0.169 0.472 0.88 4.1 Uji Signifikansi parameter Individual (Uji t) Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh masingmasing variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.7.634 Dari hasil perhitungan dengan uji Park terlihat bahwa tidak ada variabel independent yang signifikan secara statisktik (probability > α=5%).7 Hasil Uji Park Dependent LOG_RESID^2 C PDRB MH PG Sumber: Lampiran C Coefficient -7.193 0.030 Std. Dalam regresi pengaruh jumlah penduduk.788 0.063 t-Statistic -2. Error 3. PDRB. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heterokedastisitas dalam model.4.030 0.

657 t-tabel (α = 10%) 1.288.406 2.288 4.4. maka diperoleh nilai ttabel sebesar 1. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .657 1.89 = 5 persen dan degree of freedom (df) = 135 (n-k =140-5).77 dan nilai probabilitas F-statistik 0.2008 diperoleh F-statistik sebesar 83.209 2. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .017 t-tabel (α = 5%) 1. Tabel 4. maka diperoleh F-tabel sebesar 3.00000. Dari regresi pengaruh jumlah penduduk. PDRB.657 1.288 1.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Pengujian terhadap pengaruh semua variabel independen di dalam model dapat dilakukan dengan uji simultan (uji F). Maka dapat disimpulkan bahwa variabel .8 Nilai T-Statistik Pengaruh Jumlah Penduduk. Dari hasil regresi pengaruh PDRB.657 dan dengan α = 10 persen diperoleh nilai t-tabel sebesar 1.2008 Variabel LOG PDRB(PDRB) LOG MH (Melek Huruf) LOG PG (Pengangguran) Sumber : Lampiran B t-statistik 1. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 .2008 yang menggunakan taraf keyakinan 95 persen (α = 5 persen).07.288 1. Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. dengan degree of freedom for numerator (dfn) = 2 (k-1 = 3-1) dan degree of freedom for denominator (dfd) = 135 (n-k = 140-5). Pdrb.

2 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Dari hasil regresi pengaruh PDRB. MH (Melek huruf/Pendidikan).3 Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. 4. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabelvariabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.2008 pada Tabel 4. Nilai koefisien determinasi adalah nol dan satu.90 independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen (Fhitung > F-tabel).4.968. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . .8 persen variasi kemiskinan kabupaten/kota di Jawa Tengah dapat dijelaskan oleh variasi tiga variabel independennya yakni PDRB (PDRB). PG (Pengangguran). Hal ini berarti sebesar 96. Sedangkan sisanya sebesar 3.9 diperoleh nilai R2 sebesar 0.

pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat... Selanjutnya menurut Hermanto S..5. dan Dwi W... pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 ........ (2006) mengungkapkan pentingnya mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk menurunkan jumlah .2008... pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 adalah sebagai berikut: 4..267*LOG(MH) 0.5 Interpretasi Hasil dan Pembahasan PDRB..... Pendidikan dan Pengangguran Terhadap 4...0..... PDRB. dengan menggunakan metode FEM.076*LOG(PDRB) – 1. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini.....089*LOG(PG)..... karena pada tahap awal proses pembangunan kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang.1 Pengaruh Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 Dalam regresi pengaruh jumlah penduduk...........91 4. diperoleh nilai koefisien regresi untuk setiap variabel dalam penelitian dengan persamaan sebagai berikut : LOG(KM) = 8.... Yang mana menurut Kuznet dalam Tulus Tambunan (2001).1.. (4...867 ....1) Interpretasi hasil regresi pengaruh PDRB.5.......1 PDRB dan Kemiskinan Variabel PDRB menunjukkan tanda negatif namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah.

2 Pendidikan dan Kemiskinan Variabel Pendidikan yang diproksi dengan besarnya tingkat melek huruf menunjukkan tanda negatif dan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengangguran di Jawa Tengah.1. Seperti halnya pertumbuhan PDRB di tahun 2005 sampai dengan tahun 2006 malah terjadi kenaikan kemiskinan. Karena dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat maka kemiskinan di suatu daerah dapat ditekan jumlahnya. Dimana digambarkan dengan seorang miskin yang mengharapkan pekerjaaan baik serta penghasilan yang tinggi maka harus mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi. pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. Hasil tersebut sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini. Sedangkan orang miskin tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi .267 persen. Peningkatan angka melek huruf sebagai indikator pendidikan di Jawa Tengah sebesar 1 persen akan menurunkan kemiskinan sebesar 1. Tetapi pendidikan tinggi hanya mampu dicapai oleh orang kaya. 1994). 4. Yang berarti bahwa peningkatan angka melek huruf akan menurunkan kemiskinan di jawa Tengah. Ketidaksignifikannya PDRB dalam mempengaruhi kemiskinan juga dapat dilihat berdasarkan data bahwa peningkatan laju PDRB di Jawa Tengah dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 tidak selalu diiringi dengan penurunan kemiskinan di Jawa Tengah. Yang mana kemiskinan merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan daerah. Menurut Simmons (dalam Todaro.92 penduduk miskin.5.

Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini. 4. sedangkan data kemiskinan tahun 2005 – 2008 malah mengalami penurunan.5. bahwa tidak semua orang menganggur itu selalu miskin. mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dan yang terakhir mereka yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja.085 persen.93 seperti sekolah lanjutan dan universitas. Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan kemiskinan. mereka yang mempersiapkan usaha. Karena seperti halnya penduduk yang termasuk dalam kelompok pengangguran terbuka ada beberapa macam penganggur.1. Hasil penelitian yang menunjukan pengaruh negatif pengangguran terhadap kemiskinan juga dapat dilihat berdasarkan data pengangguran terbuka di Kabupaten/Kota Jawa Tengah dari tahun 2005 – 2008 yang menunjukan angka pengangguran terbuka yang terus meningkat. Selain itu. yaitu mereka yang mencari kerja. Diantara empat kategori pengangguran terbuka diatas bahwa sebagian diantaranya ada yang masuk dalam sektor informal. Dimana kenaikan tingkat pengangguran terbuka sebanyak 1 persen tidak menaikkan kemiskinan tetapi dari hasil penelitian ini malah akan menurunkan kemiskinan sebesar 0.3 Pengangguran dan Kemiskinan Dari hasil regresi yang dihasilkan dalam penelitian ini menunjukan bahwa variabel pengangguran menunjukkan tanda negatif dan berpengaruh secara signifikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. dan ada juga yang mempunyai pekerjaan dengan jam kerja kurang dari .

Sehingga sisanya sebanyak 597. dan yang mana semua golongan tersebut masuk dalam kategori pengangguran terbuka. 1993 (dikutip dalam www.com) jumlah pengangguran terbuka Jawa Tengah tahun 2008 mencapai 1. .357 jiwa.94 35 jam dalam seminggu yaitu hingga berjumlah 4. ada juga yang mempunyai pekerjaan paruh waktu (PartTime) namun dengan penghasilan melebihi orang bekerja secara normal.google.375 jiwa.waspadalonline. Selain itu juga diperkuat dengan pendapat Lincolin Arsyad (1997) yang menyatakan bahwa salah jika beranggapan setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin. Hal ini karena kadangkala ada pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya.com//artikel kemiskinan) yaitu bahwa kemiskinan mungkin tidak selalu berhubungan dengan masalah ketenagakerjaan. Dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah yang dikutip dari (www. Mereka menolak pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka. Menurut Godfrey.415 jiwa.058 jiwa tentunya ada yang terserap ke sektor informal dan ada juga yang mencari kerja diluar kota. Dan berdasarkan data Badan Pusat Statistik pendingkatan penggaruran yang terjadi dari tahunSelain itu jumlah pencari kerja di Jawa Tengah sebanyak 689. ada juga yang sedang menunggu mulainya bekerja. Selain itu pastilah juga ada yang berusaha atau mempersiapkan usaha sendiri. sedangkan lowongan kerja yang ada hanyalah sebanyak 92.985.23 juta jiwa. sedang yang bekerja secara penuh adalah orang kaya.

pengangguran dan dummy tahun terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . Hal ini daikarenakan bahwa peningkatan PDRB yang terjadi di Jawa Tengah tidak selalu diikuti oleh penurunan kemiskinan di Jwa Tengah.2008 menunjukkan bahwa besarnya nilai R2 cukup tinggi yaitu 0.1 Simpulan Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji pengaruh variabel PDRB.2008. Berdasar hasil analisis data yang telah dilakukan pada bab IV. maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. yang mana dapat dilihat dari data PDRB dan data Kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah tahun 2005-2008. Pendidikan.968.8 persen variasi variabel dependen kemiskinan dapat dijelaskan dengan baik oleh kelima variabel independen yakni PDRB. Pendidikan (melek huruf) dan pengangguran terhadap kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah di tahun 2005 . Variabel PDRB mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan mempengaruhi kemiskinan. Hasil uji koefisien determinasi (R2) Jumlah Penduduk.95 BAB V PENUTUP 5. 2. Pendidikan. 95 . PDRB. Nilai ini berarti bahwa model yang dibentuk cukup baik dimana 96.2 persen sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor diluar model. Sedangkan 3. pengangguran.

sehingga inferensi yang diambil adalah menerima Ha dan menolak Ho. Berdasarkan perhitungan dengan uji F diketahui bahwa F-hitung sebesar (83. 4. Sehingga mempengaruhi hasil signifikansi variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. diterima pada kepercayaan 95%. 5.77) > F-tabel (3. Yang mana memiliki nilai koefisien β sebesar – 1.96 3.085 persen.267 5. maka persen. Variabel Pendidikan (melek huruf) mempunyai pengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi kemiskinan. pendidikan (melek huruf) dan pengangguran secara simultan terhadap kemiskinan”. apabila kenaikan jumlah pengangguran sebesar 1 persen akan menurunkan kemiskinan sebesar 0. Variabel Pengangguran mempunyai pengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi kemiskinan. . akan menurunkan kemiskinan sebesar 1.07).267 yang artinya. apabila jumlah penduduk melek huruf naik sebesar 1 persen.2 Keterbatasan Kelemahan dan kekurangan yang ditemukan setelah analisis dan interpretasi dalam penelitian ini adalah data time series yang di gunakan masih terlalu pendek.085 yang artinya. Yang mana memiliki nilai koefisien β sebesar – 0. hipotesis yang berbunyi “Ada pengaruh antara variabel PDRB. Dengan kata lain.

. 2. sehingga diharapkan bahwa pemerintah provinsi Jawa Tengah seharusnya meningkatkan total produksi barang dan jasa yang dihasilkan di seluruh Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah supaya peningkatan PDRB dapat mempengaruhi kemiskinan secara signifikan. Karena pengangguran dalam penelitian ini menggunakan data pengangguran terbuka. tetapi dengan hasil tersebut diharapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah lebih menggerakkan sektor informal. Pengangguran berdasarkan hasil penelitian berpengaruh Negatif dan signifikan terhadap kemiskinan..97 5. Karena sektor informal merupakan salah satu solusi masalah dalam mengatasi pengangguran. PDRB memiliki pengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap kemiskinan. Sehingga pentingnya peninggkatan sektor informal untuk menekan kemiskinan di Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah.3 Saran 1. yang mana di dalamnya terdapat golongan masyarakat yang sedang dalam tahap menyiapkan usaha atau mendapat pekerjaan tetapi belum mulai bekerja yang dimasukkan dalam golongan pengangguran. 3. sehingga diharapkan pemerintah propinsi Jawa Tengah kembali menggalakkan program pemberantasan buta aksara supaya dapat menekan kemiskinan di seluruh Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah. Pendidikan yang tercermin dari besarnya tingkat melek huruf memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan.

pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah. . Perlunya penggunaan data time series yang lebih panjang atau lama untuk mengetahui bagaimana pengaruh kebijakan yang dilakukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang dibentuk oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam upaya penekanan angka kemiskinan di Jawa Tengah. Oleh karenanya diperlukan studi lanjutan yang lebih mendalam dengan data dan metode yang lebih lengkap sehingga dapat melengkapi hasil penelitian yang telah ada dan hasilnya dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan berbagai pihak yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi dalam hal penekanan kemiskinan. Model yang dikembangkan dalam penelitian ini masih terbatas karena hanya melihat pengaruh variabel PDRB. 5.98 4.

7. 100118. Media Ekonomi. Penerbit Erlangga. Ekonometri Dasar Terjemahan. Hal. Dian Octaviani. 2008. 2000. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Penerbit United States Military Academy. Penerbit BPFE. Jawa Tengah Dalam Angka 2004. 1995. 1.59. 2003. No. 1993. Didit Purnomo. Modul Praktek Regresi Data Panel dengan Eviews 6. Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah 2008. 1. Firmansyah. Data dan Informasi Kemiskina 2008. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. 1999. 2004. 2001. Semarang : Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi Undip. Distribusi Pendapatan di Indonesia : Proses Pemerataan dan Pemiskinan. 47 . Jurnal Ekonomi Pembangunan. R. Gaiha. dan Kemiskinan di Indonesia : Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke. Jakarta:Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Roma: FAO. Pengangguran. Yogyakarta. Design of Poverty Alleviation Strategy in Rural Areas. 2008. 2004. edisi Agustus 2008.. Pertumbuhan Ekonomi. Jawa Tengah Dalam Angka 2008. dan Pengangguran terhdap tingkat Kemiskinan di Indonesiatahun 2003-2004. Vol. Damodar Gujarati . 2008. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Basic Econometrics Fourth Edition.DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. . New York. Damodar Gujarati. Vol. Teori Pertumbuhan Ekonomi. 8. 2008. Hal. 2008. Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah 2004. Jakarta: Badan Pusat Statistik Boediono. Kumpulan Skripsi UNDIP: Semarang. Inflasi. Deny Tisna A. Jakarta. Pengaruh Ketidakmerataan Distribusi Pendapatan. Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Tengah. No.

dan Kebijakan. 1997. Penerbit UPP AMP YKPN. Yogyakarta. Dermoredjo. 17 31. Mudrajad Kuncoro. Bonar S. 1. Dwi W. 51. Hermanto S. Direktur Kajian Ekonomi. Jakarta: LP Universitas Indonesia. 3 Prayitno. 2002. Produksi Domestik Bruto. Edisi Kelima. Penerbit BP STIE YKPN. Pengantar Ekonomika Pembangunan. Ekonomi Pembangunan. 1993. Makro Ekonomi Modern. Hadi. Yogyakarta: BPFE. No.. Dampak Infestasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia.. Institusi Pertanian Bogor Imam Ghozali. 17 . Jakarta. Sadono Sukirno. Prisma. Soeratno dan Lincolin Arsyad. Irawan dan Suparmoko. 1983. 2005. Metode Kuantitatif. Mudrajad Kuncoro. Lincolin Arsyad. Ekonomika Pembangunan. Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Penduduk Miskin di Indonesia : Proses Pemerataan dan Pemiskinan. No. Harga. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS. Hal. Metodologi Riset. 1992. Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis. Semarang. 2009.324.. Media Ekonomi dan Keuangan Indonesia. . Hal. Sukirno Sadono. Ekonomi Pembangunan. Penerbit BPFE. 2000. 2006. Edisi Ketiga. Rasidin S. 1986. 2001. Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. 1997. Teori.. Yogyakarta.31. Prisma. 2003. 1995. Penerbit UPP AMP YKPN. Marzuki.Harlem Siahaan. Yogyakarta. Penerbit PT Raja Grafindo Persada. Yogyakarta. Yogyakarta. Yogyakarta. Masalah. Edisi Ketiga. Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi. Badan Penerbit Universitas Diponegoro. No. Vol. Hal. Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi UII. Ekonomi Pembangunan. 1. 191 . dan Kemiskinan. Penerbit UPP AMP YKPN.

Penerbit Ghalia Indonesia. Supranto. 2007. Perkembangan Pemikiran Ekonomi Dasar Teori Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan.co. Terjemahan Haris Munandar. Terjemahan Haris Munandar.Sumitro Djojohadikusumo. Tambunan. Jakarta. Jakarta. Usman. Michael P.worlbank.go. http://Wikipedia.bappenas.blog www.com www. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Kumpulan arti.com//artikel kemiskinan www. Michael P. 1995. Fakultas Ekonomi : Intitusi Pertania Bogor. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. UPP STIM YKPN : Yogyakarta. 2009...org http://andalas van java online. J. 1997. Perekonomian Indonesia. Analisis Determinan Kemiskinan sebelum dan Sesudah Desentralisasi Fiskal.google. Penerbit Erlangga. Todaro. Jakarta. Penerbit Erlangga. cara.id.com www. Edisi Kedua. Winarno Wahyu. 1994. Jakarta. Tulus H. Jakarta : Rineka Cipta. Penerbit LP3ES. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EViews. 2000. dan makna kemiskinan : http://Adi Satria.Bataviase. Edisi Ketujuh. 2001. Todaro.id www.waspadalonline.dkk. Metode Riset Aplikasinya dalam Pemasaran.com .

77325 0.306602 -0.867526 -0.595132 0.0294 0.821902 160.099355 4.209362 -2.2 -0.005175 0.0 0.1 -0.09e-17 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.REGRESI UTAMA : Lampiran b Dependent Variable: LOG(KM) Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:46 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C LOG(PDRB) LOG(MH) LOG(PG) 8.497326 0. Dev. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.208762 0.9930 83.0463 Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) R-squared Adjusted R-squared S.3 16 12 8 1. Error 2.994656 24 20 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2008 Observations 140 Mean Median Maximum Minimum Std.0009 0.956584 0.000000 Mean dependent var S.042578 t-Statistic 3.054386 0. Durbin-Watson stat 2.023549 4 0 .116141 7.416985 -1.267471 -0.1626 0.958597 -1.085904 Std.968141 0.076896 0.406467 -2.757042 -0.076492 -1.432578 1. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0.D.E.017543 Prob.1 0.886221 0.089766 0. 0.573682 0.430811 -1.2 0.

898356 Mean dependent var S.64070 -0.518599 0.035727 0.725227 -0.838086 5.373475 1.R2 Auxilary Regression (Uji Multikolinearitas): Lampiran C Dependent Variable: PDRB Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:55 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C MH PG R-squared Adjusted R-squared S.014895 0.572 -405.238571 Mean dependent var S.040172 0. Error 1.132824 t-Statistic 40.80355 -0.158527 0.7094 0.1660 1.017179 0.641506 5.424464 0.34700 4.1530 4. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.892200 109.D.693978 2.087041 4.D.863702 0.0549 -181.0018 0.027959 t-Statistic 3.6661 7.481500 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.E.191296 -0.0001 89.626059 0.357731 Std. Durbin-Watson stat .901122 5.436833 Prob. 0.000514 0.111272 0.7094 0.434908 2694.480661 0. Durbin-Watson stat Dependent Variable: MH Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:56 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB PG R-squared Adjusted R-squared S.656558 0.006416 0.000724 Std.373475 3.100177 0.630943 2. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 85. 0.892429 2.0000 0. Error 2.904420 Prob. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 4.E.

369551 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.019718 -0.030281 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) -7.436833 3.257198 0.001905 2.854114 Mean dependent var S.000279 Std.850065 4.0399 0.664955 Mean dependent var S.226112 0.018458 554.911886 0.564084 0.694629 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) -10.2441 0.4375 0.223 -336.193081 0.913100 4.169840 0.E.038884 0.70471 0.234838 2.270700 4.0001 8.099678 2.778735 0.E.1530 0.030390 0. Durbin-Watson stat UJI PARK Dependent Variable: LOG(RES2) Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:45 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB MH PG R-squared Adjusted R-squared S.202917 0.875680 0. 0.202643 2.0875 -294.5045 8.074554 1. Error 3.Dependent Variable: PG Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:57 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB MH R-squared Adjusted R-squared S.476879 Prob. 0.049452 t-Statistic -2.112633 0.354747 4.345423 1.063727 t-Statistic -2.0204 0.904420 Prob.6342 -3. Durbin-Watson stat . Error 4. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.D.472031 0.851934 4.706066 1003.437106 Std.304854 0.193285 0.D.9490 0.016538 4.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful