ANALISIS PENGARUH PDRB, PENDIDIKAN DAN PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI KABUPATEN / KOTA JAWA TENGAH TAHUN 2005 - 2008

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

Disusun Oleh : RAVI DWI WIJAYANTO NIM. C2B606044

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2010

.

. Kegagalan adalah kekurang sabaran. kita.. Kupersembahkan karya kecilku ini untuk keluarga dan orang-orang terdekatku yang selalu memberikan harapan. Kegagalan adalah kekurang telitian. Kegagalan bukanlah awal menuju keberhasilan. Dan..... Karena. semangat dan cinta dengan sepenuh hati v . Kunci Keberhasilan adalah Jiwa yang sabar dan tahu akan Kemampuan dirinya. Kegagalan bukanlah pintu menuju kesuksesan.. Kegagalan adalah bukti kecerobohan kita.MOTTO DAN PERSEMBAHAN Kegagalan bukanlah keberhasilan yang tertunda.

Education (Literacy). education (literacy). unemployment variable has negative and significant impact on the level of poverty in Central Java. While the method of analysis used in this research is a method of linear regression analysis of panel data with FEM method with the help of software Eviews 6. And the concern though has been in the form TKPK to address the problem of poverty that exist.ABSTRACT Poverty is a problem that involves many aspects as it relates to low income. but that based on BPS (Central Bureau of Statistics) in 2008. The results of this study indicate that the GDP variable is negative but not significant effect on poverty levels. This study examines the influence of GDP. 2004). Key words: Poverty. Strategic issues in the government of Central Java province is not much different from the central government (national problem). Overcoming the problem of poverty can not be done separately from the problems of unemployment. health and other problems that are explicitly associated with the problem of poverty. and also has the largest poverty appeal in any other province in Java. low health status and the degree of inequality between the sexes and poor environment (Word Bank. Unemployment vi . The purpose of this research are to analyze how and how much influence the variables GDP. the poverty rate in Central Java is still ranked 22 out of 33 Provinces in Indonesia. in this case for all of districts in Central Java in 2005 . education. educational variables which proxy with the literacy rate of significant negative effect on the level of poverty. unemployment on poverty in Central Java. Data used in this research is secondary data obtained from the Central Statistics Agency (BPS) as well as browsing the internet website as a supporter. unemployment on poverty in Central Java which is expected to be used as a basis in determining the policies in addressing poverty in Central Java. GDP.2008. illiteracy. namely high rates of poverty and the increasing number of unemployed. education (literacy).

tetapi bahwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2008. Studi ini meneliti tentang pengaruh PDRB. Permasalahan strategis di pemerintahan Provinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda dengan di pemerintahan pusat (problem nasional). dalam hal ini untuk seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . tingkat kemiskinan Jawa Tengah masih menduduki peringkat ke 22 dari 33 Provinsi di indonesia. Kata kunci : Kemiskinan. Pendidikan (melek huruf). pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah sehingga nantinya diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu dasar dalam penentuan kebijakan dalam mengatasi masalah kemiskinan di Jawa Tengah. Pendidikan (Melek Huruf). Dan yang memprihatinkan meskipun telah di bentuk TKPK untuk menanggulangi masalah kemiskinan yang ada.2008. variabel pengangguran berpengaruh negatif serta signifikan terhadap tingkat kemiskinan di Jawa Tengah. Pendidikan (melek huruf). Pengangguran vii . derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. dan juga mempunyai tingkat kemiskinan paling besar di banding Provinsi lainnya di pulau Jawa. pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. kesehatan dan masalah-masalah lain yang secara eksplisit berkaitan erat dengan masalah kemiskinan. Sedangkan metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis regresi linier panel data dengan metode FEM dengan bantuan software Eviews 6. PDRB. pendidikan. Tujuan penelitian ini diharapkan dapat menganalisis bagaimana dan seberapa besar pengaruh variabel PDRB.ABSTRAK Kemiskinan merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel PDRB berpengaruh negatif tetapi tidak signifikan terhadap tingkat kemiskinan. 2004). variabel pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf berpengaruh negatif signifikan terhadap tingkat kemiskinan. buta huruf. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) serta browsing website internet sebagai pendukung. Mengatasi masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan secara terpisah dari masalah-masalah pengangguran. yakni tingginya angka kemiskinan dan semakin meningkatnya jumlah pengangguran.

Untuk itu rasa terima kasih sedalam-dalamnya penulis haturkan kepada: 1.2008”. 4. Dalam penyusunan skripsi yang berjudul “ANALISIS PENGARUH PDRB. Ph. Seluruh Dosen dan Staf pengajar Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. atas segala limpahan rahmat. Fitrie Arianti. 5. sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi sebagai prasyarat untuk menyelesaikan Studi Strata atau S1 pada Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. Akt. 6. PENGANGGURAN TERHADAP KEMISKINAN DI JAWA TENGAH TAHUN 2005 . Dr. selaku dosen pembimbing atas bimbingan dan pengarahan yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar. Allah SWT. serta karuniaNya. viii . D.Si. hidayah. Petugas Perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro serta Badan Pusat Statistik (BPS) Propinsi Jawa Tengah yang telah memberikan bantuan berupa data dan referensi yang bermanfaat. selaku dosen wali yang telah memberikan dukungan sepenuhnya kepada penulis dan memberikan motivasi kepada penulis selama belajar di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.Si. PENDIDIKAN. H Edy Yusuf Agung Gunanto. selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro. yang telah memberikan mukjizat serta kekuatan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. MSc. 2. 3. M. HM Chabachib. SE. M. hidayah dan karunia-Nya kepada penulis. yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang sangat bermanfaat bagi penulis. Drs.KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat. tidak terlepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak yang memungkinkan skripsi ini dapat terselesaikan.

Adikku. Tim Futsal Jalan Kartanegara. 11. Bagus. Bram. Tapi jangan berhenti untuk tetap doakan aku biar jadi orang sukses. Seluruh teman-teman IESP Angkatan 2006 reguler II : Ami. Udin. Nenekku (mbah Gini) tersayang yang tiada henti-hentinya memberikan semangat. Phipin. 16. Terima kasih untuk segala bantuan. Dyke. Semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu. kasih sayang. Rama. dan dukungan yang selalu diberikan dengan tulus kepada anak-anaknya. Akrom. Fera Anggiya. Nasrul.” 8. Pramudana. pengisi hidupku 4 tahun terakhir. Happy. Mbak Ika dan mas Budi. Kedua orang tuaku tersayang.. Kiki. Fajar. 9. dan seluruh teman-teman IESP 2006 yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Gerdy. Rea. Indra. 14. maaf kalau Ravi numpang terus” 13. Edit. Hilal. Fery Atikasari. Ridho. Danik. Riza. Bekti. dan kenangan yang tlah kalian berikan. Novi. Andhika A. Bapak (Agus) dan Ibu (Sri Intarti). Andhika W. Dian. Kakakku. Yanu. terima kasih atas perlindungan. Terima kasih atas dukungan dan semangat yang diberikan kepadaku selama ini. Acong. Farid. dorongan serta doanya.7. “Pelajaran dari perjalanan hidup kalian yang selalu memotivasi saya untuk selalu bangkit dari setiap cobaan dan keterpurukan ini. ix . Kalian semua terlalu manis untuk dilupakan. kerjasama. cinta. Teman-teman Tim I KKN UNDIP 2010 Banyubiru khususnya tim Tegaron: Dimas. Putra. 15.. Terima kasih atas dukungan yang telah engkau berikan. baik secara langsung maupun tidak langsung. Dedi. “makasih buat makan malamnya setiap hari. tanpa dirimu pasti skripsiku lebih lama selesainya . Mega Aprillya. “Terima kasih sudah membuat hidupku lebih berwarna. Adit. Titian. 10.” 12. Cahyo. Danang.

Penulis juga menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan dan banyak kelemahan. Penulis September 2010 Ravi Dwi Wijayanto x .Akhirnya dengan segala kerendahan hati. Semarang. penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang membutuhkan. dan dapat dijadikan referensi bagi penelitian-penelitian selanjutnya. sehingga penulis tak lupa mengharapkan saran dan kritik atas skripsi ini.

1 Landasan Teori 2.....1 Latar Belakang Masalah 1...3 Tujuan dan Kegunaan 1.....3.4 Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2....iv BAB I PENDAHULUAN 1..5 Kemiskinan Pertumbuhan Penduduk Pertumbuhan ekonomi Pendidikan Pengangguran 14 14 14 22 26 33 36 40 2....i ...1.......1.2 Pengaruh Variabel Independen dan Dependen xi .1 2.....3 2....DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN PERNYATAAN ORISINIALITAS SKRIPSI MOTTO DAN PERSEMBAHAN.2 Rumusan Masalah 1........xv .......2 Tujuan Penelitian Kegunaan Penelitian 1 1 10 11 11 11 12 1.1.....1.....1 1.iii .........4 2..xiv ..2 2.ii .....1.3...v ABSTRACT ABSTRAK KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR vi vii viii ..

2.5.2 2.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t) Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) Uji Koefisien Determinasi (Uji R-squared) BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4.6.3 Pengaruh PDRB terhadap Kemiskinan Pengaruh Pendidikan terhadap Kemiskinan Pengaruh Pengangguran terhadap Kemiskinan 40 42 43 45 53 54 2.1 4.1 Kondisi Geografis 75 75 76 76 78 4.2 3.4 Metode Analisis 3.1 3.6 Pengujian Kriteria Statistik 3.6.5.2.3 3.5 Pengujian asumsi Klasik 3.2 Jenis dan Sumber Data 3.4.6.1 2.1.4.2 Analisis Panel Data Estimasi Model 56 56 59 60 61 61 64 67 67 68 69 70 71 71 73 74 3.1 3.1 Deskripsi Obyek Penelitian 4.3 Penelitian Terdahulu 2.1 3.2 Analisis Data 4.2.2.5.2.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.2 3.5 Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN 3.4 Uji Normalitas Uji Multikolinearitas Uji Autokolinearitas Uji Heterokedatisitas 3.5.3 Metode Pengumpulan Data 3.4 Kerangka Pemikiran 2.2 Kemiskinan PDRB xii .2.

5.3 4.5.4.4 Uji Normalitas Uji Multikolinearitas Uji Autokolinearitas Uji Heterokesdastisitas 4.1 Kesimpulan 5.5 Interpretasi Hasil dan Pembahasan 4.3.3 Saran 95 96 97 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN xiii .1.1.1 4.2.2 4.3 Pengaruh Variabel Independen Terhadap Dependen 91 PDRB dan Kemiskinan Pendidikan dan Kemiskinan Pengangguran dan Kemiskinan 91 92 93 BAB V PENUTUP 5.4 Pengujian Statistik Analisis Regresi 4.4.3.4 Pendidikan Pengangguran 80 82 84 85 86 87 88 88 88 89 90 91 4.1 4.1.5.1 4.3 4.3 Pengujian Asumsi Klasik 4.5.2 4.4.1 4.3.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji-t) Uji Signifikansi Simultan (Uji-F) Uji Koefisien Determinasi (Uji R-squared) 4.2 4.2 Keterbatasan 5.4.3.2.

5 Tabel 2.4 Tabel 4. Jumlah dan Presentase Kemiskinan di Jateng PDRB dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Jateng 2004-2008 Angka Melek Huruf Jateng 2004-2008 Jumlah Pengangguran Jateng 2004-2008 Ringkasn Penelitian Terdahulu Kriteria Durbin-Watson Jumlah Kemiskinan menurut kab/kota di Jateng PDRB menurut kab/kota di Jateng Tingkat Melek Huruf menurut kab/kota di Jateng Tingkat Pengangguran menurut kab/kota di Jateng Ringkasn Regresi utama Uji Multikolinearitas Uji Heterokesdastisitas Uji t 3 4 6 6 7 51 69 77 79 81 83 84 86 88 89 xiv .1 Tabel 1.1 Tabel 4.3 Tabel 1.8 Persentase Kemiskinan di enam Provinsi di Pulau Jawa Batas.5 Tabel 4.7 Tabel 4.1 Tabel 3.3 Tabel 4.4 Tabel 1.6 Tabel 4.DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.2 Tabel 1.2 Tabel 4.1 Tabel 4.

1 Teori Nelson dan Leibstein Gambar 2.1 Uji Normalitas JB test Gambar 4.2 Kerangka Pemikiran Gambar 3.2 Kurva hasil Uji Durbin watson 25 54 70 85 87 xv .1 Kurva Uji Durbin watson Gambar 4.DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 2.

Sedangkan pembangunan sendiri dapat diartikan sebagai upaya yang dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) di tingkat nasional atau Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) di tingkat daerah. Pembangunan daerah dilakukan secara terpadu dan berkesinambungan sesuai prioritas dan kebutuhan masing-masing daerah dengan akar dan sasaran pembangunan nasional yang telah ditetapkan melalui pembangunan jangka panjang dan jangka pendek.1 BAB I PENDAHULUAN 1. Pemerintah Indonesia menyadari bahwa pembangunan nasional adalah salah satu upaya untuk menjadi tujuan masyarakat adil dan makmur. Artinya.1 Latar Belakang Masalah Perencanaan merupakan sebuah upaya untuk mengantisipasi ketidakseimbangan yang terjadi yang bersifat akumulatif. berbagai kegiatan pembangunan telah diarahkan kepada pembangunan daerah khususnya daerah yang relatif mempunyai kemiskinan yang terus naik dari tahun ke tahun. Salah satu peran perencanaan adalah sebagai arahan bagi proses pembangunan untuk berjalan menuju tujuan yang ingin dicapai disamping sebagai tolok ukur keberhasilan proses pembangunan yang dilakukan. Sejalan dengan tujuan tersebut. Oleh karena itu. salah satu indikator utama keberhasilan pembangunan nasional adalah laju penurunan 1 . Perencanaan memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembangunan. perubahan yang terjadi pada sebuah keseimbangan awal dapat menyebabkan perubahan pada sistem sosial yang kemudian akan membawa sistem yang ada menjauhi keseimbangan semula.

Kebijakan dan program yang dilaksanakan belum menampakkan hasil yang optimal. kemiskinan menjadi tanggung jawab bersama. 2003) Pemerintah baik pusat maupun daerah telah berupaya dalam melaksanakan berbagai kebijakan dan program-program penanggulangan kemiskinan namun masih jauh dari induk permasalahan. terutama pemerintah sebagai penyangga proses perbaikan kehidupan masyarakat dalam sebuah pemerintahan. Oleh karena itu diperlukan suatu strategi penanggulangan kemiskinan yang terpadu. (Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Permasalahan strategis di pemerintahan Provinsi Jawa Tengah tidak jauh berbeda dengan di pemerintahan pusat (problem nasional). terintegrasi dan sinergis sehingga dapat menyelesaikan masalah secara tuntas. yakni masih tingginya angka kemiskinan jika di bandingkan dengan provinsi lain di pulau Jawa. untuk segera mencari jalan keluar dengan merumuskan langkahlangkah yang sistematis dan strategis sebagai upaya pengentasan kemiskinan. Masih terjadi kesenjangan antara rencana dengan pencapaian tujuan karena kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan lebih berorientasi pada program sektoral. Efektivitas dalam menurunkan jumlah penduduk miskin merupakan pertumbuhan utama dalam memilih strategi atau instrumen pembangunan. . Oleh karena itu. Hal ini berarti salah satu kriteria utama pemilihan sektor titik berat atau sektor andalan pembangunan nasional adalah efektivitas dalam penurunan jumlah penduduk miskin.2 jumlah penduduk miskin.

Hal tersebut terbukti selain di dalam Renstra Jawa Tengah (Perda No. kemiskinan merupakan salah satu dari issue strategis yang mendapat prioritas untuk penanganan pada setiap tahapan pelaksanaannya. Terkait dengan target tujuan pembangunan millenium yang harus tercapai pada tahun 2015. Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada tahun 2008 secara agregat terlihat cukup dinamis yaitu diatas 5 persen. mengingat upaya penanggulangan kemiskinan bukan merupakan hal yang mudah untuk dilaksanakan.6.1 Persentase Kemiskinan Enam Propinsi di Pulau Jawa Tahun 2008 Provinsi Persentase kemiskinan No.99 Sumber: BPS Jateng. Namun pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tidak selalu diiringi dengan penurunan kemiskinan yang signifikan . kemiskinan merupakan issue strategis dan mendapatkan prioritas utama untuk ditangani. Selama periode 2004 sampai dengan 2008. maka Provinsi Jawa masih harus bekerja keras untuk dapat mencapai target tersebut. 1 DKI 3. 11/2003). perekonomian Jawa Tengah menunjukan adanya peningkatan dari tahun ke tahun yaitu tumbuh berkisar 5.64 3 Jawa Barat 11.96 4 Jawa Timur 16. Data dan Informasi Kemiskinan Jateng 2008 Bagi Provinsi Jawa Tengah.23 6 Jawa Tengah 18. 412.0 sampai 5.5 persen.62 2 Banten 7.05/55/2006 tentang pembentukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan juga (TKPK) di dalam draft Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Jawa Tengah tahun 2005-2025. Keputusan Gubernur No.3 Tabel 1. Pergub 19 tahun 2006 tentang Akselerasi Renstra.68 5 DIY 17.

20 6. Yang lebih memprihatinkan yaitu bahwa berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) tahun 2009. .11 20.80 6. Jawa Tengah mempunyai kemiskinan paling besar di banding Provinsi lainnya di pulau Jawa.557. Pemerintah di negara manapun dapat segera jatuh atau bangun berdasarkan tinggi rendahnya tingkat pertumbuhan ekonomi yang dicapainya dalam catatan statistik nasional.100.112. kemiskinan di Jawa Tengah juga ikut naik mencapai 547.99 persen.651 130. Jumlah Penduduk Miskin Di Tawa Tengah Tahun 2004-2008 Tahun Jumlah Penduduk Miskin (000) 2004 2005 2006 2007 2008 6.49 22.111 181.19 20. Persentase. Bahkan ketika indikator perekonomian Jawa Tengah naik di tahun 2006. Dan lebih lagi bahwa jika dibandingkan kemiskinan di Pulau Jawa.553.337 154.013 142.2 Batas Miskin. Berhasil tidaknya programprogram di negara-negara dunia ketiga sering dinilai berdasarkan tinggi rendahnya tingkat output dan pendapatan nasional (Todaro 2000).50 7.4 di Jawa Tengah. Tabel 1.60 6.43 18. kemiskinan Jawa Tengah menduduki peringkat ke 22 dari 33 Provinsi di indonesia yaitu sebesar 18.100 penduduk.877 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Pertumbuhan ekonomi merupakan tema sentral dalam kehidupan ekonomi semua negara di dunia dewasa ini.60 Persentase Penduduk Miskin 21.99 Garis Kemiskinan (Rp/Kap/bulan) 126.843.

antara lain besarnya angka kemiskinan dan pengangguran. teori-teori ini menyatakan bahwa pembangunan ekonomi akan mencapai hasil yang optimal jika peningkatan pendapatan nasional disertai dengan pemerataan pendapatan bagi seluruh kelompok masyarakat (Tambunan dalam Dian Octaviani. Permasalahan dan tantangan pembangunan daerah lima tahun ke depan masih diprioritaskan pada masalah-masalah sosial yang mendasar. Secara umum. ketidakmerataan distribusi pendapatan. maka mustahil akan memberikan hasil yang optimal.5 Pada awal tahun 1970. Oleh sebab itu. 2001). Rendahnya pertumbuhan ekonomi dan jumlah penduduk yang sangat besar akan berpengaruh terhadap kondisi sosial manusia di Jawa Tengah. dan pengangguran yang cenderung meningkat walaupun pendapatan nasional mengalami peningkatan secara stabil. mulai awal tahun 1970 muncul pendapat bahwa apabila pembangunan tidak disertai pemerataan hasil-hasil pembangunan kepada penduduk miskin. . Dalam periode tersebut munculah teori-teori baru seperti Teori Pertumbuhan dan Distribusi New-Keynesian oleh Kaldor (1955) dan Passineti (1962). para ahli ekonomi mulai meragukan manfaat pertumbuhan pendapatan nasional dalam pembangunan ekonomi sebab di banyak negara yang sedang berkembang terdapat gejala adanya kemiskinan.

790.4 Jumlah Angka Melek Huruf Jawa Tengah Tahun 2004-2008 (Jiwa) No.88 2006 150.930 5 2008 27.283.506.46 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jawa Tengah memberikan gambaran kinerja pembangunan ekonomi dari waktu ke waktu.59 5.059.110.213.85 Sumber : PDRB Jawa Tengah tahun 2008 TAHUN PERTUMBUHAN EKONOMI (Persen) 5.13 5.77 2008 167.654.253.187 4 2007 26. Sebab.682.74 2007 159. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jati diri manusia suatu bangsa. sehingga arah perekonomian daerah akan lebih jelas.051.191 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa.3 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Atas Dasar Harga Konstan 2000 Dan Laju Pertumbuhan Ekonomi Jawa Tengah Tahun 2004 – 2008 PDRB Atas dasar Harga Konstan 2000 (Juta Rupiah) 2004 135.789. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan . maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu.112 3 2006 24. Tabel 1. Tahun Jumlah 1 2004 23.35 5.219.316 2 2005 24.6 Tabel 1. Jika dunia pendidikan suatu bangsa sudah jeblok.369.121.872.31 2005 143.33 5. Produk Domestik regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan digunakan untuk menunjukan laju pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dari tahun ke tahun.

Pada memusatkan hakekatnya perhatian pembangunan pada daerah dianjurkan saja tidak namun hanya juga pertumbuhan ekonomi mempertimbangkan bagaimana kemiskinan yang dihasilkan dari suatu proses .573 978.197.911 jiwa. 1 2004 2 2005 3 2006 4 2007 5 2008 Sumber : Jawa Tengah Dalam Angka tahun 2008 Jumlah 1.360.952 1. 2001).244 1.com). Karena itu. Besarnya tingkat pengangguran merupakan cerminan kurang berhasilnya pembangunan di suatu negara. Tabel 1. Di Jawa Tengah tingkat pendidikan dapat diukur salah satunya dengan besarnya angka melek huruf.044. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan.5 Jumlah Pengangguran Terbuka Di Jawa Tengah Tahun 2004-2008 (Jiwa) Tahun No.227.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan (Winardi.219 1. Dan di tahun 2007 sampai dengan tahun 2008 mengalami penurunan sebesar 132.308 Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di suatu daerah menjadi semakin serius. Dan berdasarkan tabel 1. Pengangguran dapat mempengaruhi kemiskinan dengan berbagai cara (Tambunan. Di Jawa Tengah besarnya tingkat pengangguran bergerak secara naik turun.7 atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis. 2010 dalam http://andalas van java online.5 tingkat melek huruf di Jawa Tengah dari tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 cenderung meningkat.

Dimana pembentukan TKPK tersebut dapat menanggulangi masalah kemiskinan di Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan di Jawa Tengah dalam periode 2005 – 2008 karena diprovinsi ini terjadi fenomena tranformasi struktur ekonomi yang meningkatkan produk domestik regional bruto (PDRB). sehingga dapat melampaui tingkat pertumbuhan penduduk. para ahli ekonomi percaya bahwa cara terbaik untuk mengejar keterbelakangan ekonomi adalah dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya.8 pembangunan daerah tersebut. Menurut Bank Dunia salah satu sebab kemiskinan adalah karena kurangnya pendapatan dan aset (lack of income and assets) untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan. pakaian. Menurut Esmara (dikutip dari Deni Tisna. tetapi juga diikuti dengan peningkatan persentase kemiskinan. perumahan dan tingkat kesehatan dan pendidikan yang dapat diterima (acceptable). buta huruf. Di . dan di tahun tersebut juga mulai dibentuknya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah. Hal itu terjadi di tahun 2006. Dengan cara tersebut angka pendapatan per kapita akan meningkat sehingga secara otomatis terjadi pula peningkatan kemakmuran masyarakat. 2004). Sampai akhir tahun 1960. Kemiskinan sendiri merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. 2008) dalam ilmu ekonomi dikemukakan berbagai teori yang membahas tentang bagaimana pembangunan ekonomi harus ditangani untuk mengejar keterbelakangan.

pendidikan. Hal tersebut dikarenakan pendidikan memang merupakan pionir dalam pembangunan. namun besaran pengaruhnya relatif kecil. Dengan kata lain.id) Menurut Balisacan (dikutip dari penelitian Hermanto S. Dimana penel data yang dibangun dari 285 kota/kabupaten menyatakan perbedaan yang besar pada perubahan dalam kemiskinan.go. (2006) dalam penelitiannya tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap penurunan jumlah penduduk miskin menunjukan bahwa pertumbuhan berpengaruh negatif dan signifikan dalam mengurangi kemiskinan.9 samping itu kemiskinan juga berkaitan dengan keterbatasan lapangan pekerjaan dan biasanya mereka yang dikategorikan miskin (the poor) tidak memiliki pekerjaan (pengangguran). Hermanto S. lintas pelaku secara terpadu dan terkoordinasi dan terintegrasi. . Sedangkan pendidikan mempengaruhi secara negatif dan signifikan terhadap kemiskinan dan pengaruhnya paling besar.2006) menyatakan bahwa indonesia memiliki catatan yang mengesankan mengenai pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan selama dua dekade. Populasi penduduk juga berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap kemiskinan. pendekatannya harus dilakukan lintas sektor..(www. kesehatan dan masalah-masalah lain yang secara eksplisit berkaitan erat dengan masalah kemiskinan. Mengatasi masalah kemiskinan tidak dapat dilakukan secara terpisah dari masalah-masalah pengangguran. dan Dwi W. Pertumbuhan dan kemiskinan menunjukan hubungan yang kuat dalam tingkat agregat. namun magnitude pengaruh tersebut relatif tidak besar. serta tingkat pendidikan dan kesehatan mereka pada umumnya tidak memadai.bappenas. dan Dwi W.

10 Dian Oktaviani (2001) dalam analisisnya tentang bagaimana pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di indonesia menemukan bahwa tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan.2 Rumusan Masalah Kemiskinan merupakan salah satu tolok ukur sosio ekonomi dalam menilai keberhasilan pembangunan yang dilakukan pemerintah di suatu daerah. yaitu bahwa tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kemiskinan di Indonesia. 1. namun kemiskinan yang ada di Jawa Tengah hingga tahun 2008 menunjukkan jumlah penduduk miskin yang tergolong masih cukup tinggi yaitu mencapai 18. Selain itu Deni Tisna (2008) dengan penelitian yang sama juga menghasilkan hasil yang sama pula. Kemiskinan di Jawa Tengah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Padahal dengan dibentuknya Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan (TKPK) oleh pemerintah provinsi Jawa Tengah pada tahun 2006 diharapkan faktor – faktor yang mempengaruhi kemiskinan seperti produk domestik regional . yang artinya bahwa semakin tinggi tingkat penggauran di Indonesia maka jumlah penduduk miskin di Indonesia juga akan semakin bertambah seiring pertambahan jumlah pengguran. Yang mana penelitiannya menggunakan metode panel data tahun 2003 .2004.99 persen. Hal tersebut menunjukan bahwa belum maksimalnya kebijakan pemerintah Jawa Tengah dalam menanggulangi masalah kemiskinan. Banyak sekali masalah-masalah sosial yang bersifat negatif timbul akibat meningkatnya kemiskinan.

Menganalisis pengaruh produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.3. pdrb. 1. 3.2 Kegunaan Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada: 1.3 1. Menganalisis pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. 2. pendidikan dan pengangguran dapat meminimalisir kemiskinan yang terjadi di Jawa Tengah.3. Pengambil Kebijakan Bagi pengambil kebijakan. Bagaimana pengaruh produk Domestik Regional Bruto (PDRB) terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.11 bruto (PDRB). 1. penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi yang berguna di dalam memahami pengaruh jumlah penduduk. Bagaimana pengaruh pendidikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. Menganalisis pengaruh pendidikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. Oleh karena itu dalam penelitian ini dirumuskan permasalahan sebagai berikut: 1. 2. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan sehingga dapat . 3. Bagaimana pengaruh pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah.1 Tujuan Dan Kegunaan Tujuan Penelitian 1.

BAB III : METODE PENELITIAN .12 dapat digunakan sebagai pilihan pengambilan kebijakan dalam perencanaan pembangunan. Bab IV Hasil dan Pembahasan. Penelitian Terdahulu. serta Bab V Kesimpulan. Bab III Metode Penelitian. Bab II Tinjauan Pustaka. Manfaat khusus bagi ilmu pengetahuan yakni dapat melengkapi kajian mengenai kemiskinan dengan mengungkap secara empiris faktor-faktor yang mempengaruhinya. 2. Ilmu Pengetahuan Secara umum hasil penelitian ini diharapkan menambah khasanah ilmu ekonomi khususnya ekonomi pembangunan. dan mencoba menarik suatu Hipotesis Penelitian. hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. 1. serta Sistematika Penulisan. BAB II : TINJAUAN PUSTAKA Menguraikan Landasan Teori. Rumusan Masalah Penelitian. BAB I : PENDAHULUAN Menguraikan Latar Belakang Masalah Penelitian. Tujuan dan Kegunaan Penelitian. keterbatasan dan Saran. Kerangka Pemikiran Teoritis.4 Sistematika Penulisan Penelitian ini disusun dengan sistematika Bab yang terdiri dari: Bab I Pendahuluan.

BAB V : PENUTUP Menguraikan Kesimpulan dan saran – saran. BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN Menguraikan Analisis Deskriptif dan Objek Penelitian. dan Pembahasan. keterbatasan dari penelitian dan . Metode Pengumpulan Data. serta Metode Analisis Data.13 Menguraikan Variabel Penelitian dan Definisi Operasional. Analisis Data. Jenis dan Sumber Data. Pengujian Hipotesis.

(2001) bahwa seseorang dikatakan miskin bila mengalami "capability deprivation" dimana seseorang tersebut mengalami kekurangan kebebasan yang substantif. halhal ini berhubungan erat dengan kualitas hidup. pakaian. dalam definisi kemiskinan adalah: ”the denial of choice and opportunities most basic for human development to lead a long healthy.org) 14 . Menurut Bloom dan Canning.worlbank. creative life and enjoy a decent standard of living freedom. Kesempatan membutuhkan pendidikan dan keamanan membutuhkan kesehatan.1 Kemiskinan Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi kekurangan hal-hal yang biasa untuk dipunyai seperti makanan.1.1 Landasan Teori 2.(http://Wikipedia. Kemiskinan kadang juga berarti tidak adanya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan yang mampu mengatasi masalah kemiskinan dan mendapatkan kehormatan yang layak sebagai warga negara. Menurut World Bank. kebebasan substantif ini memiliki dua sisi: kesempatan dan rasa aman.14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. (www. self esteem and the respect of other”.com) Menurut Amartya Sen dalam Bloom dan Canning. tempat berlindung dan air minum.

15 Dari definisi tersebut diperoleh pengertian bahwa kemiskinan itu merupakan kondisi dimana seseorang tidak dapat menikmati segala macam pilihan dan kesempatan dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya seperti tidak dapat memenuhi kesehatan. terutama di negara berkembang seperti Indonesia. dan mengurangi kualitas lingkungan. serta suramnya masa depan bangsa dan negara. hilangnya generasi. Sementara untuk negara-negara yang sedang berkembang. terancamnya penegakan hak dan keadilan. sebuah komunitas. mempercepat penyusutan sumber daya alam. pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi pada tahun 1960 sedikit sekali pengaruhnya dalam mengurangi tingkat kemiskinan. dan rasa dihormati seperti orang lain. pengetahuan. organisasi sosial politik. sebuah keluarga. Hal ini dikarenakan kemiskinan itu bersifat multidimensional artinya karena kebutuhan manusia itu bermacam-macam. atau bahkan sebuah negara yang menyebabkan ketidaknyamanan dalam kehidupan. sumber-sumber . standar hidup layak. terancamnya posisi tawar (bargaining) dalam pergaulan dunia. Negara-negara maju yang lebih menekankan pada “kualitas hidup” yang dinyatakan dengan perubahan lingkungan hidup melihat bahwa laju pertumbuhan industri tidak mengurangi bahkan justru menambah tingkat polusi udara dan air. Kemiskinan (poverty) merupakan masalah yang dihadapi oleh seluruh negara. Pengertian kemiskinan dalam arti luas adalah keterbatasan yang disandang oleh seseorang. harga diri. maka kemiskinan pun memiliki banyak aspek primer yang berupa miskin akan aset. dan keterampilan serta aspek sekunder yang berupa miskin akan jaringan sosial. kebebasan.

Dimensi-dimensi kemiskinan tersebut termanifestasikan dalam bentuk kekurangan gizi. Secara ekonomi. yaitu kemiskinan yang mengikuti pola siklus ekonomi secara keseluruhan.16 keuangan. Pertama adalah persistent poverty. Menurut Sumitro Djojohadikusumo (1995) pola kemiskinan ada empat yaitu. Dan aspek lain dari kemiskinan ini adalah bahwa yang miskin itu manusianya baik secara individual maupun kolektif (Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Pola ketiga adalah seasonal poverty. dan tingkat pendidikan yang rendah. kemiskinan dapat dilihat dari tingkat akses terhadap kekuasaan yang mempunyai pengertian tentang sistem politik yang dapat menentukan kemampuan sekelompok orang dalam menjangkau dan menggunakan sumber daya. 2003). kemiskinan dapat dilihat . kemiskinan dapat dilihat dari tingkat kekurangan sumber daya yang dapat digunakan memenuhi kebutuhan hidup serta meningkatkan kesejahteraan sekelompok orang. Hal ini berarti kemajuan atau kemunduran pada salah satu aspek dapat mempengaruhi kemajuan atau kemunduran aspek lainnya. Secara politik. dimensidimensi kemiskinan saling berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung. dan informasi. Secara sosial psikologi. perumahan yang sehat. yaitu kemiskinan karena terjadinya bencana alam atau dampak dari suatu kebijakan tertentu yang menyebabkan menurunnya tingkat kesejahteraan suatu masyarakat. yaitu kemiskinan musiman seperti dijumpai pada kasus nelayan dan petani tanaman pangan. air. perawatan kesehatan yang kurang baik. Dermoredjo. Pola keempat adalah accidental poverty. Selain itu. yaitu kemiskinan yang telah kronis atau turun temurun. Pola kedua adalah cyclical poverty.

Kesulitan utama dalam konsep kemiskinan absolut adalah menentukan komposisi dan tingkat kebutuhan minimum karena kedua hal tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh adat kebiasaan saja. . pakaian. dan perumahan untuk menjamin kelangsungan hidup. Ukuran kemiskinan menurut Nurkse. Berdasarkan konsep ini.17 dari tingkat kekurangan jaringan dan struktur sosial yang mendukung dalam mendapatkan kesempatan peningkatan produktivitas. (1997) secara sederhana dan yang umum digunakan dapat dibedakan menjadi tiga. untuk dapat hidup layak. Kemiskinan Relatif Seseorang termasuk golongan miskin relatif apabila telah dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya. dan faktor-faktor ekonomi lainnya. Kemiskinan Absolut Seseorang termasuk golongan miskin absolut apabila hasil pendapatannya berada di bawah garis kemiskinan dan tidak cukup untuk menentukan kebutuhan dasar hidupnya. tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan dengan keadaan masyarakat sekitarnya. garis kemiskinan akan mengalami perubahan bila tingkat hidup masyarakat berubah sehingga konsep kemiskinan ini bersifat dinamis atau akan selalu ada. yaitu: 1. Konsep ini dimaksudkan untuk menentukan tingkat pendapatan minimum yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik terhadap makanan.1953 dalam Kuncoro. tingkat kemajuan suatu negara. 2. tetapi juga iklim. seseorang membutuhkan barang-barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan fisik dan sosialnya. Walaupun demikian.

Kemiskinan Kultural Seseorang termasuk golongan miskin kultural apabila sikap orang atau sekelompok masyarakat tersebut tidak mau berusaha memperbaiki tingkat kehidupannya sekalipun ada usaha dari pihak lain yang membantunya atau dengan kata lain seseorang tersebut miskin karena sikapnya sendiri yaitu pemalas dan tidak mau memperbaiki kondisinya. Menurut Paul Spicker (2002. yaitu: 1. A Catalyst Working Paper. jumlah kebutuhan yang sangat bervariasi yang mencerminkan biaya partisipasi dalam kehidupan sehari-hari. kemiskinan dapat dari aspek ketimpangan sosial yang berarti semakin besar ketimpangan antara tingkat penghidupan golongan atas dan golongan bawah. 2. Oleh sebab itu. pengeluaran yang diperlukan untuk memberi standar gizi minimum dan kebutuhan mendasar lainnya. menurut Kuncoro (1997) garis kemiskinan yang didasarkan pada konsumsi terdiri dari dua elemen. 3.) penyebab kemiskinan dapat dibagi dalam empat mazhab: . Semua ukuran kemiskinan dipertimbangkan berdasarkan pada norma pilihan dimana norma tersebut sangat penting terutama dalam hal pengukuran didasarkan konsumsi (consumption based poverty line). London: Catalyst.18 Oleh karena itu. maka akan semakin besar pula jumlah penduduk yang dapat dikategorikan selalu miskin. Poverty and the Welfare State : Dispelling the Myths.

kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Kualitas sumberdaya manusia yang rendah berarti produktifitanya rendah. cacat bawaan. 2. Penduduk miskin hanya memiliki sumberdaya yang terbatas dan kualitasnya rendah. kemiskinan yang diakibatkan oleh faktor keturunan. yang pada gilirannya upahnya rendah. adanya diskriminasi atau keturunan. Structural explanations. Menurut Sharp (dalam mudrajat Kuncoro. belum siap memiliki anak dan sebagainya. Garis kemiskinan adalah suatu ukuran yang menyatakan .19 1. Familial explanation. 4. Individual explanation. kemiskinan yang diakibatkan oleh karakteristik perilaku suatu lingkungan yang berakibat pada moral dari masyarakat. 3. pilihan yang salah. Banyak ukuran yang menentukan angka kemiskinan. menganggap kemiskinan sebagai produk dari masyarakat yang menciptakan ketidakseimbangan dengan pembedaan status atau hak.ketiga kemiskinan muncul karena perbedaan akses dalam modal. 2006) terdapat tiga faktor penyebab kemiskinan jika dipandang dari sisi ekonomi. Pertama. salah satunya adalah garis kemiskinan. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia ini karena rendahnya pendidikan. kemiskinan yang diakibatkan oleh karakteristik orang miskin itu sendiri: malas. dimana antar generasi terjadi ketidakberuntungan yang berulang. Subcultural explanation. terutama akibat pendidikan. nasib yang kurang beruntung. gagal dalam bekerja. Kedua kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia.

Untuk provinsi Jawa Tengah.877 rupiah (BPS. penyebab kemiskinan (dikutip dari Deny Tisna. atau standar yang menyatakan batas seseorang dikatakan miskin bila dipandang dari sudut konsumsi. dan yatim-piatu). dan cakupan jaminan sosial bagi rumah tangga miskin masih jauh dari memadai. kesehatan. Penduduk miskin di daerah pedesaan pada tahun 2006 diperkirakan lebih tinggi dari penduduk miskin di daerah perkotaan. Garis kemiskinan digunakan untuk mengetahui batas seseorang dikatakan miskin atau tidak. serta transportasi. Gizi buruk masih terjadi di lapisan masyarakat miskin.20 besarnya pengeluaran (dalam rupiah) untuk memenuhi kebutuhan dasar minimum makanan dan kebutuhan non makanan. pelayanan bantuan kepada masyarakat rentan (seperti penyandang cacat. batas garis kemiskinannya yaitu sebesar 181. air minum dan sanitasi. lanjut usia. 2008) adalah pemerataan pembangunan yang belum menyebar secara merata terutama di daerah pedesaan. Bantuan sosial kepada masyarakat miskin. menurut laporan Badan Pusat Statistik melalui data Survey Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2008. Hal ini disebabkan terutama oleh cakupan perlindungan sosial bagi masyarakat miskin yang belum memadai. . Penyebab yang lain adalah masyarakat miskin belum mampu menjangkau pelayanan dan fasilitas dasar seperti pendidikan. Menurut Rencana Kerja Pemerintah Bidang Prioritas Penanggulangan Kemiskinan. Kesempatan berusaha di daerah pedesaan dan perkotaan belum dapat mendorong penciptaan pendapatan bagi masyarakat terutama bagi rumah tangga miskin.2008). sehingga garis kemiskinan dapat digunakan untuk mengukur dan menentukan jumlah kemiskinan.

4. 3. antara lain: 1. perbaikan konsumsi dan peningkatan gizi. meningkatkan disiplin dan tanggung jawab. Memberdayakan kelompok miskin yaitu meningkatkan kualitas sumber daya manusia penduduk miskin dengan meningkatkan etos kerja. sehingga dibutuhkan keadilan ekonomi yang bersumber pada Pancasila bukan pada ekonomi modern yang tidak sesuai dengan budaya bangsa. Menerapkan kebijakan ekonomi moral yaitu pengembangan sistem ekonomi moral sangat diperlukan sehingga tidak semata-mata mengejar keuntungan tetapi harus adil.21 Pemerintah telah mempersiapkan beberapa program prioritas penanggulangan kemiskinan dalam tahun 2007 didukung oleh beberapa program prioritas lain. Melakukan program pembangunan wilayah seperti Inpres dan transmigrasi serta memberikan pelayanan perkreditan melalui lembaga perkreditan pedesaan seperti BKD dan KCK – KUD. . 2. Melakukan pemetaan kemiskinan yaitu langkah awal dalam upaya penanggulangan kemiskinan yaitu mengenali karakteristik dari penduduk yang miskin sehingga diperlukan pemetaan kemiskinan yang digunakan sebagai alat untuk memecahkan persoalan yang mereka alami. serta perbaikan kemampuan dalam penguasaan IPTEK.

persediaan pangan hanya tumbuh menurut deret hitung.1. yang gilirannya membuat investasi dalam “kualitas manusia” semakin sulit. Rendahnya sumberdaya perkapita akan menyebabkan penduduk tumbuh lebih cepat. karena hasil yang menurun dari faktor produksi tanah.2 Pertumbuhan Penduduk Menurut Maltus (dikutip dalam Lincolin Arsyad. dan sumberdaya manusia. cadangan devisa. Banyak negara dimana penduduknya masih sangat tergantung dengan sektor pertanian. yang menyebabkan jumlah penduduk tidak pernah stabil. Pertumbuhan penduduk yang tinggi akan dibutuhkan untuk membuat konsumsi dimasa mendatang semakin tinggi. Sementara itu pada saat yang sama. 1997) dikalangan para pakar pembangunan telah ada konsensus bahwa laju pertumbuhan penduduk yang tinggi tidak hanya berdampak buruk terhadap suplai bahan pangan. namun juga semakin membuat kendala bagi pengembangan tabungan. Terdapat tiga alasan mengapa pertumbuhan penduduk yang tinggi akan memperlambat pembangunan. 1997) kecenderungan umum penduduk suatu negara untuk tumbuh menurut deret ukur yaitu dua-kali lipat setiap 30-40 tahun. maka pendapatan perkapita (dalam masyarakat tani didefinisikan sebagai produksi pangan perkapita) akan cenderung turun menjadi sangat rendah. atau hanya sedikit diatas tingkat subsiten Menurut Maier (dikutip dari Mudrajat Kuncoro. Oleh karena pertumbuhan persediaan pangan tidak bisa mengimbangi pertumbuhan penduduk yang sangat cepat dan tinggi. 2.22 2. 1. pertumbuhan penduduk mengancam keseimbangan .

23

antara sumberdaya alam yang langka dan penduduk. Sebagian karena pertumbuhan penduduk memperlambat perpindahan penduduk dari sektor pertanian yang rendah produktifitasnya ke sektor pertanian modern dan pekerjaan modern lainnya. 3. Pertumbuhan penduduk yang cepat membuat semakin sulit melakukan perubahan yang dibutuhkan untuk meningkatkan perubahan ekonomi dan sosial. Tingginya tingkat kelahiran merupakan penyumbang utama pertumbuhan kota yang cepat. Bermekarannya kota-kota di NSB membawa masalah-masalah baru dalam menata maupun mempertahankan tingkat kesejahteraan warga kota.

Todaro (2000) menyatakan bahwa dalam perhitungan indek kemiskinan dengan pengukuran indeks Foster Greer Thorbecke yang sering disebut juga sebagai kelas Pα dari ukuran kemiskinan yaitu dirumuskan sebagai berikut: 1 Pα = N Yp ............................................................ (2.1)

Dimana Yi adalah pendapatan dari orang miskin yang ke-i, Yp adalah garis kemiskinan dan N adalah jumlah penduduk. Indeks Pα mempunyai bentuk yang berbeda-beda, tergantung pada nilai α. Jika α=0, maka pembilangnya sama dengan H, dan akan diperoleh ratio headcount H/N. Jika α=1, maka akan diperoleh jurang kemiskinan yang dinormalisasi.

24

Menurut Nelson dan Leibstein (dikutip dari Sadono Sukirno, 1983) terdapat pengaruh langsung antara pertambahan penduduk terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat. Nelson dan Leibstein menunjukan bahwa pertumbuhan penduduk yang pesat di negara berkembang menyebabkan tingkat kesejahteraan masyarakat tidak mengalami perbaikan yang berarti dan dalam jangka panjang akan mengalami penurunan kesejahteraan serta meningkatkan jumlah penduduk miskin.

25

Gambar 2.1 Pengaruh Pertumbuhan Penduduk Terhadap Tingkat Kesejahteraan Menurut Nelson Dan Leibstein
% Pertambahan Penduduk

(2.1a) P P 0 Ya Y0
Pendapatan Per Kapita

% Penanaman modal Per kapita

I

(2.1b)

0 Ya
% Pertambahan Penduduk dan Pendapatan

Pendapatan Per Kapita

Y0

(2.1c) P Y 0 Ya Y0 Yb Yc
Pendapatan Per Kapita

Sumber: Sadono Sukirno, 1983

1999) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas dalam jangka panjang dari negara yang bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang ekonomi kepada penduduknya.26 Berdasarkan gambar (2.1c) menunjukkan hubungan antara pendapatan perkapita dan tingkat pertumbuhan penduduk. pola persebaran penduduk. Kenaikan kapasitas itu sendiri ditentukan oleh adanya kemajuan atau penyesuaian teknologi. 2. antara lain: 1.3 Pertumbuhan Ekonomi Menurut Prof.1a) menunjukan hubungan diantara pendapatan perkapita dan tingkat pertumbuhan penduduk.1) di atas bahwa sebagai akibat pertumbuhan penduduk yang pesat dalam jangka panjang tingkat pendapatan perkapita akan kembali mencapai nilai yang sama dengan tingkat pendapatan cukup hidup.1. 3. dan gambar (2. Simon Kuznets (dikutip dari Budiono. Hal tersebut menjadikan pertumbuhan ekonomi dicirikan dengan 3 hal pokok. Gambar (2. selain itu juga menunjukan hubungan pertambahan pendapatan nasional dan pendapatan perkapita. institusional (kelembagaan). dan ideologi terhadap berbagai tuntutan keadaan yang ada. Sedangkan gambar (2. . 2.1b) menunjukan hubungan antara pendapatan perkapita dan tingkat penanaman modal perkapita. persebaran atau distribusi angkatan kerja menurut sektor kegiatan produksi yang menjadi sumber nafkahnya. laju pertumbuhan perkapita dalam arti nyata (riil).

sasaran utama dalam pembangunan ekonomi lebih ditekankan pada usaha-usaha pencapaian tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. 2001) sampai akhir tahun 1960. pembangunan yang dilakukan pada negara yang sedang berkembang sering mengalami dilema antara . Dikatakan tumbuh bila dalam jangka waktu yang lama (5 tahun atau lebih) mengalami kenaikan output per kapita. output per kapita. angka pendapatan per kapita akan meningkat sehingga secara otomatis terjadi pula peningkatan kemakmuran masyarakat dan pada akhirnya akan mengurangi jumlah penduduk miskin.27 Boediono (1999) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi adalah salah satu proses kenaikan output per kapita dalam jangka panjang dimana penekanannya pada 3 aspek. Akibatnya. 2. yaitu pertumbuhan ekonomi bukan merupakan suatu gambaran dari suatu perekonomian yang melihat bagaimana suatu perekonomian berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. para ahli ekonomi percaya bahwa cara terbaik untuk mengejar keterbelakangan ekonomi adalah dengan meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi setinggitingginya sehingga dapat melampaui tingkat pertumbuhan penduduk. 3. Menurut Todaro (dikutip dari Tambunan. Akan tetapi. proses. jangka waktu. yaitu kenaikan output per kapita selama 1 – 2 tahun lalu diikuti penurunan output per kapita bukan merupakan pertumbuhan ekonomi. Dengan cara tersebut. antara lain: 1. yaitu pertumbuhan ekonomi berkaitan dengan adanya kenaikan output per kapita dalam hal ini ada dua unsur yang penting seperti output total dan jumlah penduduk.

..... teori pertumbuhan seperti ini terkategori sebagai pertumbuhan endogen dengan pionirnya Lucas dan Romer....... Faktor yang mempengaruhi pengadaan modal fisik adalah investasi......28 pertumbuhan dan pemerataan.....(2..... Y juga akan meningkat jika terjadi perkembangan dalam kemajuan teknologi yang terindikasi dari kenaikan A.. Robert Solow mengemukakan model pertumbuhan ekonomi yang disebut model pertumbuhan Solow. Model solow dapat diperluas sehingga mencakup sumberdaya alam sebagai salah satu input....... Dasar pemikirannya yaitu output nasional tidak hanya dipengaruhi K dan L tapi juga dipengaruhi oleh lahan pertanian atau sumberdaya alam lainnya seperti cadangan minyak................... Lucas menyatakan bahwa ... Namun yang menjadi permasalahan bukan hanya soal bagaimana cara memacu pertumbuhan.. Pembangunan ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil..L) . Dalam literatur. F (K...... tetapi juga siapa yang melaksanakan dan berhak menikmati hasilnya.. K adalah modal (kapital) fisik.......... Oleh karena itu pertumbuhan perekonomian nasional dapat berasal dari pertumbuhan input dan perkembangan kemajuan teknologi yang disebut juga pertumbuhan total faktor produktivitas........ Model tersebut berangkat dari fungsi produksi agregat sebagai berikut: Y = A ..... Perluasan model solow lainnya adalah dengan memasukkan sumberdaya manusia sebagai modal (Human Capital)..2) Dimana Y adalah output nasional (kawasan).... L adalah tenaga kerja dan A merupakan teknologi..

F (K..... Dengan kata lain..... al.......3) Pada persamaan diatas.. Secara sederhana dengan demikian fungsi produksi agregat dapat dimodifikasi menjadi sebagai berikut: Y = A .... H adalah sumberdaya manusia yang merupakan akumulasi dari pendidikan dan pelatihan. Apabila investasi tersebut dilaksanakan secara relatif merata.... maka kemiskinan akan berkurang. Suatu negara yang memberikan perhatian lebih kepada pendidikan terhadap masyarakatnya ceteris paribus lebih baik daripada yang tidak melakukannya........ sedangkan Romer berpandangan bahwa pertumbuhan dipengaruhi oleh tingkat modal manusia melalui pertumbuhan teknologi.H. kabupaten.... atau kota... Sedangkan pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan angka PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). (2. (1992) kontribusi dari setiap input pada persamaan tersebut terhadap output nasional bersifat proporsional.L) ... termasuk terhadap golongan berpendapatan rendah... sebagaimana akumulasi modal fisik menentukan pertumbuhan ekonomi..... Sehingga dapat di simpulkan bahwa apabila pertumbuhan ouput meningkat yang dipengaruhi investasi terhadap sumberdaya manusia maka dapat menurunkan kemiskinan...29 akumulasi modal manusia. yaitu dari ........... Kuncoro (2004) menyatakan bahwa pendekatan pembangunan tradisional lebih dimaknai sebagai pembangunan yang lebih memfokuskan pada peningkatan PDRB suatu provinsi........ Menurut Mankiw et. Saat ini umumnya PDRB baru dihitung berdasarkan dua pendekatan.. investasi terhadap sumberdaya manusia melalui kemajuan pendidikan akan menghasilkan pendapatan nasional atau pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi...............

Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada setiap tahun. sedangkan menurut BPS Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku digunakan untuk menunjukkan besarnya struktur perekonomian dan peranan sektor ekonomi. 2005:56). Total PDRB menunjukkan jumlah seluruh nilai tambah yang dihasilkan oleh penduduk dalam periode tertentu.30 sisi sektoral / lapangan usaha dan dari sisi penggunaan. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan digunakan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun (Sadono Sukirno. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) menurut Badan Pusat Statistik (BPS) didefinisikan sebagai jumlah nilai tambah yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah. sedang Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan menunjukkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun tertentu sebagai dasar dimana dalam perhitungan ini digunakan tahun 1993. Selanjutnya PDRB juga dihitung berdasarkan harga berlaku dan harga konstan. atau merupakan jumlah seluruh nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh seluruh unit ekonomi di suatu wilayah. Untuk lebih jelas dalam menghitung angka-angka Produk Domestik Regional Bruto ada tiga pendekatan melakukan suatu penelitian : yang cukup kerap digunakan dalam .

2. yaitu upah dan gaji dan surplus usaha. 2005:24). misalnya sektor pemerintahan. Menurut pendekatan Pengeluaran Pendekatan dari segi pengeluaran adalah menjumlahkan nilai penggunaan akhir dari barang dan jasa yang diproduksi di dalam negri. Menurut pendekatan Pendapatan Dalam pendekatan pendapatan. penyusutan. Metode pendekatan pendapatan banyak dipakai pada sektor jasa. Menurut pendekatan Produksi Dalam pendekatan produksi. 2005:24).31 1. surplus usaha tidak diperhitungkan. 3. Hal ini disebabkan kurang lengkapnya data dan tidak adanya metode yang akurat yang dapat dipakai dalam mengukur nilai produksi dan biaya antara dari berbagai kegiatan jasa. dan pajak tidak langsung neto. nilai tambah dari setiap kegiatan ekonomi diperkirakan dengan menjumlahkan semua balas jasa yang diterima faktor produksi. terutama kegiatan yang tidak mengutip biaya (Robinson Tarigan. dan keuntungan. Nilai tambah merupakan selisih antara nilai produksi dan nilai biaya antara yaitu bahan baku/penolong dari luar yang dipakai dalam proses produksi (Robinson Tarigan.pada sektor pemerintahan dan usaha yang sifatnya tidak mencari untung. Jika dilihat dari . tetapi tidak dibayar setara harga pasar. Surplus usaha meliputi bunga yang dibayarkan neto. Produk Domestik Regional Bruto adalah menghitung nilai tambah dari barang dan jasa yang diproduksikan oleh suatu kegiatan ekonomi di daerah tersebut dikurangi biaya antara masingmasing total produksi bruto tiap kegiatan subsektor atau sektor dalam jangka waktu tertentu. sewa tanah.

32 segi penggunaan maka total penyediaan/produksi barang dan jasa itu digunakan untuk konsumsi rumah tangga. konsumsi lembaga swasta yang tidak mencari untung. dalam dua . Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan Menurut BPS pengertian Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan yaitu jumlah nilai produksi atau pengeluaran atau pendapatan yang dihitung menurut harga tetap. Dengan cara menilai kembali atau mendefinisikan berdasarkan harga-harga pada tingkat dasar dengan menggunakan indeks harga konsumen. 2. Yang dimaksud nilai tambah yaitu merupakan nilai yang ditambahkan kepada barang dan jasa yang dipakai oleh unit produksi dalam proses produksi sebagai input antara. Cara penyajian Produk Domestik Regional Bruto disusun bentuk. Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku Pengertian Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga berlaku menurut BPS adalah jumlah nilai tambah bruto yang timbul dari seluruh sektor perekonomian di suatu wilayah. Nilai yang ditambahkan ini sama dengan balas jasa atas ikut sertanya factor produksi dalam proses produksi. Dari perhitungan ini tercermin tingkat kegiatan ekonomi yang sebenarnya melalui Produk Domestik Regional Bruto riilnya. yaitu : 1. pembentukan modal tetap bruto (investasi). perubahan stok dam ekspor neto. konsumsi pemerintah.

menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis. pendidikan dijadikan jargon politik untuk menuju kekuasaan agar bisa menarik simpati di mata rakyat. Kepedulian pemerintah yang bisa dikatakan rendah terhadap pendidikan yang harus kalah dari urusan yang lebih strategis yaitu Politik. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jati diri manusia suatu bangsa. Sebab. Karena itu. maka kehancuran bangsa tersebut tinggal menunggu waktu. ada kecemasan yang sangat mencolok dengan kondisi sumber daya manusia (SDM) ini. ada satu unsur kunci yaitu pendidikan. Bahkan. Namun ironisnya. setiap bangsa yang ingin maju maka pembangunan dunia pendidikan selalu menjadi prioritas utama. Sehingga. pendidikan di Indonesia selalu terbentur oleh tiga realitas (Winardi. pernah mengemukakan bahwa dia khawatir tentang masa depan Amerika Serikat dengan banyaknya penduduk . Jika dunia pendidikan suatu bangsa sudah jeblok. Karena pendidikan adalah sarana menghapus kebodohan sekaligus kemiskinan. 2010 dalam http://andalas van java online. Untuk memutus rantai sebab akibat diatas. Henry Cisneros. Jika melihat negara lain.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan. Amerika serikat.1.4 Pendidikan Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa.com) a) Pertama. Menteri Perkotaan di era Bill Clinton.33 2. Misalnya.

bahkan ada kecenderungan untuk meng- anaktirikannya. namun penuh makna. b) Kedua. badan atau organisasi donor pun mengintervensi secara langsung maupun tidak terhadap kebijakan ekonomi suatu bangsa. karena masyarakat Hispanik cuma satu diantara banyak etnis di Amerika Serikat. pendidikan pun tidak luput dari usaha privatisasi ini. penjajahan terselubung. Di era globalisasi dan kapitalisme ini. 1997) bahwa suatu bangsa tidak mungkin memiliki tenaga kerja bertaraf internasional jika seperempat dari pelajarnya gagal dalam menyelesaikan pendidikan menengah. Akhirnya. Menurut Marshal (dalam Tulus Tambunan. Akibatnya. dan harus kalah dari dimensi yang lain. rakyat tidak bisa lagi mengenyam pendidikan tinggi dan itu berakibat menurunnya kualitas sumber daya manusia di Indonesia. terjadilah privatisasi di segala bidang. Dengan hutang negara yang semakin meningkat. Dari sini pendidikan semakin mahal yang tentu tidak bisa di jangkau oleh rakyat. Dan di Indonesia. tidak heran jika tenaga kerja di Indonesia banyak yang berada di sektor informal akibat kualitas sumber daya manusia yang rendah. Bahkan. dan ini salah satunya karena biaya pendidikan . Umumnya.34 keturunan Hispanik dan kulit hitam yang buta huruf dan tidak produktif. Kecemasan yang sederhana. penjajahan ini tentu tidak terlepas dari unsur ekonomi. dapat dilihat adanya pengabaian sistematis terhadap kondisi pendidikan. Sehingga. ada sebuah penjajahan terselubung yang dilakukan negara-negara maju dari segi kapital dan politik yang telah mengadopsi berbagai dimensi kehidupan di negara-negara berkembang.

dimana dari kemiskinan akan melahirkan generasi yang tidak terdidik akibat kurangnya pendidikan. telah terjadi deprivasi relatif ( istilah Karl Marx yang di populerkan Ted R. dan kemudian menjadi bodoh serta kemiskinan pun kembali menjerat. karena mereka lebih mementingkan urusan perut daripada sekolah. dan kemiskinan pun akan mengiringi.35 yang memang mahal. kemiskinan menjadi sebuah reproduksi sosial. Hal ini akan berdampak pada kekurangannya respek terhadap dunia pendidikan. Akibatnya. terbentuklah link up sistem pendidikan. Akhirnya. Bisa dikatakan. Buruh murah ini merupakan hasil dari adanya privatisasi ( otonomi kampus ). dimana pendidikan hanya mampu menyediakan tenaga kuli dengan kemampuan minim. c) Ketiga adalah kondisi masyarakat sendiri yang memang tidak bisa mengadaptasikan dirinya dengan lingkungan yang ada. Tentu hal ini tidak terlepas dari kondisi bangsa yang tengah dilanda krisis multidimensi sehingga harapan rakyat akan kehidupannya menjadi rendah.Gurr ) dalam diri masyarakat. Apa lagi ditengah iklim investasi global yang menuntut pemerintah memberikan kerangka hukum yang dapat melindungi Investor dan juga buruh murah. . Sehingga.yang membuat pendidikan tidak lagi bisa dijangkau rakyat. kebodohan akan menghantui.

Menurut Edwards.1997). yaitu pengangguran yang disebabkan oleh adanya perubahan struktur dalam perekonomian.36 2. Oleh sebab itu. menurut Sadono Sukirno (2000) pengangguran biasanya dibedakan atas 3 jenis berdasarkan keadaan yang menyebabkannya. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh kelebihan pengangguran alamiah dan berlaku sebagai akibat pengurangan dalam permintaan agregat. tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya. Pengangguran friksional. 2. adalah mereka yang mampu dan seringkali sangat ingin bekerja tetapi tidak tersedia pekerjaan yang cocok untuk mereka. 3. Pengangguran terbuka (open unemployment). adalah mereka yang secara nominal bekerja penuh namun produktivitasnya rendah sehingga . Pengangguran struktural. Pengangguran konjungtur.5 Pengangguran Dalam standar pengertian yang sudah ditentukan secara internasional. antara lain: 1.1. yang dimaksudkan dengan pengangguran adalah seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu. bentuk-bentuk pengangguran adalah: 1. 2. 1974 (dikutip dari Lincolin. yaitu pengangguran yang disebabkan oleh tindakan seseorang pekerja untuk meninggalkan kerjanya dan mencari kerja yang lebih baik atau sesuai dengan keinginannya. Setengah pengangguran (under unemployment).

Jika rumah tangga tidak menghadapi batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini tidak terlalu dipengaruhi oleh pendapatan saat ini. adalah mereka yang mampu bekerja secara produktif tetapi tidak bisa menghasilkan sesuatu yang baik. pengangguran dapat mempengaruhi tingkat kemiskinan dengan berbagai cara. 2. antara lain: 1. maka bencana pengangguran akan secara langsung mempengaruhi income poverty rate dengan consumption poverty rate. Tingkat pengangguran terbuka sekarang ini yang ada di negara yang sedang berkembang seperti Indonesia rata-rata sekitar 10 persen dari seluruh angkatan kerja di . Tingkat pertumbuhan angkatan kerja yang cepat dan pertumbuhan lapangan kerja yang relatif lambat menyebabkan masalah pengangguran yang ada di negara yang sedang berkembang menjadi semakin serius. Tenaga kerja yang tidak produktif. tetapi tidak terlalu berpengaruh dalam jangka pendek. 3. Menurut Tambunan (2001). maka peningkatan pengangguran akan menyebabkan peningkatan kemiskinan dalam jangka panjang. Jika rumah tangga memiliki batasan likuiditas yang berarti bahwa konsumsi saat ini sangat dipengaruhi oleh pendapatan saat ini.37 pengurangan dalam jam kerjanya tidak mempunyai arti atas produksi secara keseluruhan. Tenaga kerja yang lemah (impaired). 4. adalah mereka yang mungkin bekerja penuh tetapi intensitasnya lemah karena kurang gizi atau penyakitan.

38 perkotaan. Ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran. Mereka menolak pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka (Lincolin Arsyad. luasnya kemiskinan. Namun demikian. tingkat pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah kesempatan kerja di negara yang sedang berkembang yang bagaikan ujung sebuah gunung es. dan distribusi pendapatan yang tidak merata. adalah salah jika beranggapan bahwa setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin. Hal ini karena kadangkala ada pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. kondisi seperti ini membawa dampak bagi terciptanya dan membengkaknya jumlah kemiskinan yang ada. Apabila mereka tidak bekerja konsekuensinya adalah mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan baik. 1997) Di samping penjelasan tersebut. yang tidak mempunyai pekerjaan yang tetap atau hanya bekerja paruh waktu (part time) selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. Mereka yang bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara kelompok masyarakat kelas menengah ke atas. sedang yang bekerja secara penuh adalah orang kaya. Bagi sebagian besar mereka. salah satu mekanisme pokok untuk mengurangi kemiskinan dan ketidakmerataan distribusi pendapatan di negara .24 tahun yang kebanyakan mempunyai pendidikan yang lumayan. Namun demikan. Masalah ini dipandang lebih serius lagi bagi mereka yang berusia antara 15 .

Besarnya dampak krisis terhadap kemiskinan yang menyebabkan menjamurnya insiden kebangkrutan sebagai akibat tekanan pada kesempatan kerja di sektor informal perkotaan semakin besar. terbatasnya peluang mengembangkan usaha. Pada negara yang sedang berkembang bukan saja menghadapi kemerosotan dalam ketimpangan relatif tetapi juga masalah kenaikan dalam kemiskinan dan tingkat pengangguran. Hal tersebut menunjukkan ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dengan luasnya kemiskinan.39 sedang berkembang adalah memberikan upah yang memadai dan menyediakan kesempatan kerja bagi kelompok masyarakat miskin (Lincolin Arsyad. Dian Octaviani (2001) menyatakan bahwa sebagian rumah tangga di Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar atas pendapatan gaji atau upah yang diperoleh saat ini. 1997). Besarnya dimensi kemiskinan tercermin dari jumlah penduduk yang tingkat pendapatan atau konsumsinya berada di bawah tingkat minimum yang telah ditetapkan. Masyarakat miskin pada umumnya menghadapi permasalahan terbatasanya kesempatan kerja. maka insiden pengangguran akan dengan mudah menggeser posisi mereka menjadi kelompok masyarakat miskin. Hilangnya lapangan pekerjaan menyebabkan berkurangnya sebagian besar penerimaan yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. melemahnya perlindungan terhadap aset usaha. jika masalah pengangguran ini terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah (terutama kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan sedikit berada di atas garis kemiskinan). serta lemahnya perlindungan kerja terutama bagi pekerja anak . perbedaan upah. Lebih jauh.

2. tetapi juga siapa yang melaksanakan dan berhak menikmati hasilnya. 2. dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN). Oleh sebab itu. Meningkatkan perlindungan terhadap buruh migran di dalam dan luar negeri. pemerintah telah merumuskan berbagai rencana untuk memenuhi hak masyarakat miskin atas pekerjaan dan pengembangan usaha yang layak guna mengurangi tingkat pengangguran. Meningkatkan kemitraan global dalam rangka memperluas kesempatan kerja dan meningkatkan perlindungan kerja. 2001) pembangunan ekonomi mensyaratkan pendapatan nasional yang lebih tinggi dan untuk itu tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi merupakan pilihan yang harus diambil. Rencana tersebut antara lain: 1. 2. Namun yang menjadi permasalahan bukan hanya soal bagaimana cara memacu pertumbuhan. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat miskin dalam rangka mengembangkan kemampuan kerja dan berusaha.40 dan pekerja perempuan seperti buruh migran perempuan dan pembantu rumah tangga. . 4. Meningkatkan efektifitas dan kemampuan kelembagaan pemerintah dalam menegakkan hubungan industrial yang manusiawi. 3.1 Pengaruh PDRB terhadap Tingkat Kemiskinan Menurut Todaro (dikutip dari Tambunan.2 Pengaruh Variabel Independen terhadap Variabel Dependen 2.

Sehingga menurunnya PDRB suatu daerah berdampak pada kualitas dan pada konsumsi rumah tangga. Menuru Kuznet (dikutip dari Tulus Tambunan. pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat. banyak rumah tangga miskin terpaksa merubah pola makanan pokoknya ke barang paling murah dengan jumlah barang yang berkurang.2. laju pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil. 2. 2001).41 Menurut Kuncoro (2001) pendekatan pembangunan tradisional lebih dimaknai sebagai pembangunan yang lebih memfokuskan pada peningkatan PDRB suatu provinsi. karena pada tahap awal proses pembangunan tingkat kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang. Menurut Sadono Sukirno (2000). Selanjutnya menurut penelitian Deni Tisna (2008) menyatakan bahwa PDRB sebagai indikator pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap kemiskinan. tetapi harus memperhatikan sejauh mana distribusi pendapatan telah menyebar ke lapisan masyarakat serta siapa yang telah menikmati hasil-hasilnya. Selanjutnya pembangunan ekonomi tidak semata-mata diukur berdasarkan pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) secara keseluruhan.2 Pengaruh Pendidikan terhadap Kemiskinan . atau kota. Dan apabila tingkat pendapatan penduduk sangat terbatas. kabupaten.

dan tingkat output. Korelasi ini dapat dilihat terutama pada seseorang yang dapat menyelasaikan sekolah tingkat lanjutan dan universitas. sebagian besar penelitian dibidang ilmu ekonomi. memperdalam pemahaman akan perekonomian. Selain itu pendidikan dan distribusi pendapatan adalah mempunyai korelasi yang positif dengan penghasilannya selama hidup seseorang. Gaiha (1993) menjelaskan bahwa pendidikan berperan penting dalam kesejahteraan seseorang dengan berbagai cara yang berbeda. produktifitas tenaga kerja. Pendidikan dapat meningkatkan kemampuan penduduk untuk memperoleh dan menggunakan informasi.42 Todaro (1994) menyatakan bahwa selama beberapa tahun. Selanjutnya Todaro (2000) menyatakan bahwa pendidikan merupakan tujuan pembangunan yang mendasar. Akibatnya. baik di negara-negara maju maupun di negaranegara sedang berkembang. dampak pendidikan atas distribusi pendapatan dan usaha menghilangkan kemiskinan absolut sebagian besar telah dilupakan. Yang mana pendidikan mamainkan peranan kunci dalam membentuk kemampuan sebuah negara dalam menyerap teknologi modern dan untuk mengembangkan kapasitas agar tercipta pertumbuhan serta pembangunan yang berkelanjutan. Hal ini tidak mengherankan karena. produsen atau warganegara. memperluas produktifitas. dan memberi pilihan kepada penduduk apakan berperan sebagai konsumen. sasaran utama pembangunan di tahun 1950-an dan 1960-an adalah mamaksimumkan tingkat pertumbuhan output total. menitik beratkan pada keterkaitan antara pendidikan. akan mempunyai perbedaan pendapatan 300 persen sampai dengan 800 persen. dengan tenaga kerja yang hanya menyelesaikan sebagian ataupun seluruh pendidikan tingkat sekolah .

Masyarakat yang bekerja dengan bayaran tetap di sektor pemerintah dan swasta biasanya termasuk diantara kelompok masyarakat kelas menengah keatas. Bagi sebagian besar masyarakat. Sehingga tingkat pendidikan sangat berpengaruh dalam mengatasi masalah kemiskinan.2. Tetapi pendidikan tinggi hanya mampu dicapai oleh orang kaya. Setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin.43 dasar. pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan. Karena tingkat penghasilan sangat dipengaruhi oleh lamanya tahun memperoleh pendidikan.3 Pengaruh Pengangguran terhadap Tingkat Kemiskinan Lincolind Arsyad (1997) menyatakan bahwa ada hubungan yang erat sekali antara tingginya tingkat pengangguran dan kemiskinan. 2. Menurut Simmons (dikutip dari Todaro. PDRB. Sedangkan orang miskin tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi seperti sekolah lanjutan dan universitas. dan tingkat inflasi. sedangkan yang bekerja secara penuh . Dimana digambarkan dengan seorang miskin yang mengharapkan pekerjaaan baik serta penghasilan yang tinggi maka harus mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi. Dalam penelitian Hermanto dan Dwi (2006) dihasilkan bahwa pendidikan mempunyai pengaruh paling tinggi terhadap kemiskinan dibandingkan variabel pembangunan lain seperti jumlah penduduk. yang tidak mempunyai pekerjaan tetap atau hanya part-time selalu berada diantara kelompok masyarakat yang sangat miskin. jelas ketimpangan pendapatan yang besar tersebut akan semakin besar. 1994).

3 Penelitian Terdahulu . Mereka menolak pekerjaan-pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber-sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka. maka insiden pengangguran akan dengan mudah menggeser posisi mereka menjadi kelompok masyarakat miskin. Yang artinya bahwa semakin tinggi tingkat pengganguran maka akanmeningkatkan kemiskinan. Karena kadangkala ada juga pekerja diperkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik dan yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. Sama juga halnya adalah. jika masalah pengangguran ini terjadi pada kelompok masyarakat berpendapatan rendah (terutama kelompok masyarakat dengan tingkat pendapatan sedikit berada di atas garis kemiskinan). Banyak pekerja yang mandiri disektor informal yang bekerja secara penuh tetapi mereka sering masih tetap miskin. Lebih jauh. banyaknya induvidu yang mungkin bekerja secara penuh per hari. Hilangnya lapangan pekerjaan menyebabkan berkurangnya sebagian besar penerimaan yang digunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. tetapi tetap memperoleh pendapatan yang sedikit.44 adalah orang kaya. Orang-orang seperti ini bisa disebut menganggur tetapi belum tentu miskin. 2. Dian Octaviani (2001) mengatakan bahwa sebagian rumah tangga di Indonesia memiliki ketergantungan yang sangat besar atas pendapatan gaji atau upah yang diperoleh saat ini.

dan Kemiskinan di Indonesia: Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke”. b) Penelitian yang dilakukan oleh Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti (2006) dengan judul “Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap . yaitu : Pt = β0 + β1 (P/Y)T + β2 ρT + β3 µt + β4 Gt + εt Dimana: Pt = tingkat kemiskinan agregat pada tahun ke t diukur dengan indeks FGT (P/Y)t = rasio garis kemiskinan terhadap pendapatan rata-rata ρT = tingkat inflasi µt = tingkat pengangguran Gt = rasio gini εt = error term Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kenaikan angka pengangguran mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri yang dikemukakan oleh Cutler dan Katz (1991). antara lain: a) Penelitian yang dilakukan oleh Dian Octaviani (2001) dengan judul “Inflasi. Pengangguran. sebaliknya semakin kecil angka pengangguran akan menyebabkan semakin rendahnya tingkat kemiskinan di Indonesia. Tulisannya menganalisis tentang pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia.45 Beberapa penelitian tentang kemiskinan di berbagai negara telah dilakukan oleh sejumlah peneliti.

Analisis yang dilakukan adalah analisis Deskriptif dan ekonometrika dengan menggunakan metode Panel Data. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri sebagi berikut: Poverty = β0 + β1 PDRB + β2 Populasi + β3 Agrishare + β4 Industrieshare + β5 Inflasi + β6 SMP + β7 SMA + β8 DIPLOMA + β9 Dummy Krisis + ε Dimana: Poverty PDRB Agrishare = Tingkat kemiskinan = Pendapatan PDRB = Pangsa sektor pertanian dalam PDRB Industrieshare = Pangsa sektor industri dalam PDRB Inflasi SMP SMA DIPLOMA = Tingkat inflasi = jumlah lulusan setingkat SMP = jumlah lulusan setingkat SMA = jumlah lulusan setingkat Diploma Dummy Krisis = dummy krisis ekonomi Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa kenaikan PDRB mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan.46 Penurunan Jumlah Penduduk Miskin”. kenaikan Inflasi mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. Tulisannya menganalisis tentang pengaruh pertumbuhan ekonomi terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia. kenaikan Share . kenaikan Jumlah Penduduk mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan.

dan pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 20032004”. . pertumbuhan ekonomi. = variabel ketidakmerataan distribusi pendapatan. kenaikan tingkat pendidikan mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. dalam hal ini untuk seluruh Provinsi di Indonesia dari tahun 2003 – 2004. pertumbuhan ekonomi.47 pertanian dan industri mengakibatkan penurunan atas angka kemiskinan. Tulisannya meneliti tentang pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan. Sedangkan kenaikan Dummy krisis mengakibatkan peningkatan atas angka kemiskinan. dan pengangguran terhadap kemiskinan di Indonesia. Model yang digunakan adalah modifikasi model ekonometri sebagi berikut: MS = f (GR. Dimana pengaruh tingkat pendidik SMP lebih besar daripada pengaruh share pertanian. PDRB. = variabel tingkat pertumbuhan ekonomi. Analisis yang dilakukan adalah analisis Deskriptif dan ekonometrika dengan menggunakan metode Panel Data. PG) Y it = β0 + β1 X1it + β2 X2it + β3 X3it + Uit dimana: MS GR PDRB = jumlah kemiskinan. c) Penelitian yang dilakukan oleh Deny Tisna Amijaya (2008) dengan judul “Pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan.

Variabel yang dapat .48 PG i t Β0 Β1. d) Penelitian yang dilakukan oleh Usman. kepala keluarga sebagai buruh tani. Β2. = konstanta. = time series. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel ketidakmerataan distribusi pendapatan berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan. sedangkan variabel pengangguran berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan. Dimana Analisis tentang variabel-variabel yang berhubungan dengan kemiskinan atau determinan kemiskinan untuk menjawab tujuan dari studi ini dilakukan dengan menggunakan Model Regrasi Logit atau disingkat Model Logit. variabel pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa variabel yang dapat menambah kemiskinan berturut-turut dari nilai marginal effect terbesar adalah jumlah anggota rumah tangga. = error. Bonar M. Β3 U = variabel tingkat pengangguran. = cross section. sumber air yang tidak terlindung. Tulisannya menganalisis tentang Bagaimana pengaruh penerapan desentralisasi fiskal terhadap determinasi kemiskinan. dan kepala keluarga bekerja di bidang pertanian. dan Mermanto Siregar (2009) dengan judul “ Analisis Determinan Kemiskinan Sebelum Dan Sesudah Desentralisasi Fiskal”. = koefisien. Sinaga.

Tulisannya menganalisis tentang pertumbuhan ekonomi yang cepat (dipercepat) pada umumnya berpotensi menciptakan . Investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan dapat menurunkan poverty incidence. poverty depth dan poverty severity kecuali untuk rumahtangga bukan pertanian golongan atas di desa. neraca perdagangan dan konsumsi rumah tangga. kepemilikan aset lahan pertanian. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Peningkatan investasi sumberdaya manusia secara langsung berdampak pada peningkatan produktivitas tenaga kerja yang mendorong pada peningkatan Produk Domestik Bruto Riil. Sinaga (2009) dengan judul “ Dampak Investasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Dan Kemiskinan Di Indonesia: Pendekatan Model Computable General Equilibrium”. e) Penelitian yang dilakukan oleh Rasidin K. yang ditunjukkan oleh peningkatan stok kapital. bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota. f) Penelitian yang dilakukan oleh Harlem Siahaan (1995) dengan judul “Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945 – 1984”.49 mengurangi kemiskinan adalah kepala rumah tangga yang bekerja. Sitepul dan Bonar M. Tulisannya menganalisis tentang Bagaimana pengaruh investasi sumberdaya manusia terhadap pertumbuhan ekonomi dan kemiskinan in Indonesia dengan menggunakan kombinasi model Komputasi Keseimbangan umum dan metode FosterGreer-Thorbecke. dan jumlah tahun bersekolah seluruh anggota keluarga.

akan berpotensi menciptakan situasi dan fenomena politik yang tidak menentu karena masalah-masalah ekonomi termasuk pembangunan ekonomi tidaklah tepat jika dilihat dari sudut dan perspektif ekonomi.50 berbagai bentuk kesenjangan dan permasalahan yang menghasilkan kontradiksi sosial-politik. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia maupun perbaikan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut. .

TABEL 2. Dummy krisis ekonomi th 1997-1998 Jumlah anggota rumah Bagaimana pengaruh Variabel yang dapat menambah kemiskinan . 3 4 Pengaruh ketidakmerataan distribusi pendapatan. terhadap kemiskinan • Tingkat pengangguran berpengaruh positif dan Indonesia 2003–2004 signifikanterhadap tingkat kemiskinan PDRB. Share industri. • Tingkat pendidikan berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Jumlah penduduk. dan pengangguran dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Inflasi. Gini Rasio PERMASALAHAN Bagaimana pengaruh pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia HASIL PENELITIAN Tingkat pengangguran berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kemiskinan di Indonesia. • Tingkat Inflasi berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. Bagaimana pengaruh • Ketidakmerataan distribusi pendapatan berpengaruh Pertumbuhan ekonomi ketidakmerataan distribusi positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan. pertumbuhan • Tingkat pertumbuhan ekonomi berpengaruh negatif Pengangguran ekonomi. Share pertanian. pertumbuhan ekonomi. Tingkat Pengangguran.1 RANGKUMAN PENELITIAN TERHADULU No 1 51 2 JUDUL dan PENULIS (Tahun) Inflasi. (PDRB). • Krisis berpengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kemiskinan Distribusi pendapatan. terhadap tingkat kemiskinan • Jumlah Penduduk berpengaruh negatif dan di Indonesia signifikan terhadap kemiskinan. Pendidikan. dan Kemiskinan di Indonesia: Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke Oleh: Dian Octaviani (2001) Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Jumlah Penduduk Miskin Oleh: Hermanto Siregar dan Dwi Wahyuniarti (2006) Variabel Tingkat Inflasi. pendapatan. dan pengangguran terhadap tingkat kemiskinan di Indonesia tahun 2003-2004 Oleh: Deny Tisna Amijaya (2008) Analisis determinan Bagaimana pengaruh • PDRB berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kemiskinan. Pengangguran. • Share pertanian dan industri berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan.

bukan angkatan kerja di kota dan bukan pertanian golongan atas di kota kemiskinan sebelum dan sesudah desentralisasi fiskal 5Oleh: Usman. dan jumlah tahun bersekolah seluruh anggota keluarga Dampak Investasi Sumberdaya Tingkat Pendidikan Bagaimana pengaruh • Peningkatan investasi sumberdaya manusia secara Manusia Terhadap Pertumbuhan ekonomi investasi sumberdaya langsung berdampak pada peningkatan produktivitas Pertumbuhan Ekonomi Dan (PDRB) manusia terhadap tenaga kerja yang mendorong pada peningkatan Kemiskinan Di Indonesia: pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Bruto Riil. 5 6 Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi: Pendekatan Teoritik Politik Indonesia 1945 – 1984 Oleh: Harlem Siahaan (1995) Bagaimana hubungan • Krisis ekonomi yang terjadi di Indonesia maupun pertumbuhan ekonomi yang perbaikan ekonomi dan pertumbuhan ekonomi cepat (dipercepat) terhadap untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut. Bonar M. Variabel yang dapat mengurangi kemiskinan adalah kepala rumah tangga yang bekerja. yang ditunjukkan oleh Pendekatan Model Computable kemiskinan in Indonesia peningkatan stok kapital. poverty depth (2009) metode Foster-Greerdan poverty severity kecuali untuk rumahtangga Thorbecke bukan pertanian golongan atas di desa. sosial-politik . Sitepul dan kombinasi model Komputasi • Investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan Bonar M. dan kepala keluarga bekerja di bidang pertanian. Lama pendidikan anggota keluarga penerapan desentralisasi fiskal terhadap determinasi kemiskinan. akan berbagai bentuk berpotensi menciptakan situasi dan fenomena politik kesenjangan dan yang tidak menentu karena masalah-masalah permasalahan yang ekonomi termasuk pembangunan ekonomi tidaklah menghasilkan kontradiksi tepat jika dilihat dari sudut dan perspektif ekonomi. Kepemilikan aset lahan pertanian. Sinaga Keseimbangan umum dan dapat menurunkan poverty incidence. dan Mermanto Siregar (2009) Tangga. Kepala rumah tangga yang bekerja. sumber air yang tidak terlindung. kepala keluarga sebagai buruh tani. neraca perdagangan dan General Equilibrium dengan menggunakan konsumsi rumah tangga. kepemilikan aset lahan pertanian. Sinaga.52 berturut-turut dari nilai marginal effect terbesar adalah jumlah anggota rumah tangga. Oleh: Rasidin K.

Dengan hasil regresi tersebut diharapkan mendapatkan tingkat signifikansi setiap variabel independen dalam .53 2. pendidikan dan tingkat pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. dimana pertumbuhan ekonomi dapat dilihat dari pertumbuhan PDRB. PDRB. antara lain PDRB. Kerangka pemikiran dalam penelitian ini adalah bahwa kemiskinan dipengaruhi oleh tiga variabel pembangunan ekonomi. pertumbuhan ekonomi dan pengangguran terhadap kemiskinan. Hermanto dan Dwi (2006) menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan indikator yang lazim dipergunakan untuk melihat keberhasilan pembangunan. pendidikan dan tingkat pengangguran. dengan variabel dependen (terikat) yaitu kemiskinan yang diukur dengan alat analisis regresi untuk mendapatkan tingkat signifikansinya. padahal tujuan perencanaan pembangunan yaitu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang nantinya penting dalam mengurangi kemiskinan dan penciptaan lapangan kerja. Kemudian variabel-variabel tersebut sebagai variabel independen (bebas) dan bersama-sama. tingkat share pertanian dan industri.4 Kerangka Pemikiran Tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah hingga tahun 2008 masih menduduki peringkat paling tinggi dibanding provinsi-provinsi lainnya di Pulau Jawa. pertumbuhan jumlah penduduk. Hal ini merupakan permasalahan mendasar dalam perumusan kebijakan pembangunan daerah. Selanjutnya Deni Tisna (2008) dalam penelitiannya menyatakan bahwa terdapat pengaruh antara ketidakmerataan distribusi pendapatan. tingkat inflasi dan pendidikan. Sehingga penelitian ini difokuskan pada bagaimana pengaruh Jumlah penduduk.

Gambar 2. Supranto.5 Hipotesis Hipotesis adalah pendapat sementara dan pedoman serta arah dalam penelitian yang disusun berdasarkan pada teori yang terkait. Secara skema kerangka pemikiran dapat digambarkan sebagai berikut.54 mempengaruhi kemiskinan. Selanjutnya tingkat signifikansi setiap variabel independen tersebut diharapkan mampu memberikan gambaran kepada pemerintah dan pihak yang terkait mengenai penyebab kemiskinan di Jawa Tengah untuk dapat merumuskan suatu kebijakan yang relevan dalam upaya pengentasan kemiskinan.1 Kerangka Pemikiran PDRB PENDIDIKAN KEMISKINAN PENGANGGURAN 2. dimana suatu hipotesis selalu dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang menghubungkan dua variabel atau lebih (J. 1997) .

55

Dengan mengacu pada dasar pemikiran yang bersifat teoritis dan berdasarkan studi empiris yang pernah dilakukan berkaitan dengan penelitian dibidang ini, maka akan diajukan hipotesis sebagai berikut : 1. Diduga Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. 2. Diduga pendidikan (melek huruf) berpengaruh negatif terhadap tingkat kemiskinan. 3. Diduga pengangguran berpengaruh positif terhadap tingkat kemiskinan.

56

BAB III METODE PENELITIAN

3.1

Variabel Penelitian Dan Definisi Operasional Variabel penelitian merupakan construct atau konsep yang dapat diukur

dengan berbagai macam nilai untuk memberikan gambaran yang nyata mengenai fenomena yang diteliti. Penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel independen dan variabel dependen. 1. Variabel Dependen Variabel dependen dalam penelitian adalah kemiskinan yang terjadi di Provinsi Jawa Tengah menurut kabupaten/kota pada tahun 2006-2008. 2. Variabel Independen Variabel independen dalam penelitian ini adalah Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), pendidikan dan pengangguran. Langkah berikutnya setelah menspesifikasi variabel-variabel penelitian adalah melakukan pendefinisian secara operasional. Hal ini bertujuan agar variabel penelitian yang telah ditetapkan dapat dioperasionalkan, sehingga memberikan petunjuk tentang bagian suatu variabel dapat diukur.

56

57

Dalam penelitian ini definisi operasional yang digunakan adalah sebagai berikut: 1. Kemiskinan (KM) Kemiskinan berarti sejumlah penduduk yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang telah ditetapkan oleh suatu badan atau orang tertentu dan perhitungan yang dilakukan oleh badan atau organisasi tersebut digunakan sebagai standar perhitungan untuk menentukan jumlah kemiskinan yang ada di suatu daerah. Atau singkatnya, penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan, garis kemiskinan yang digunakan adalah garis kemiskinan yang ditetapkan Badan Pusat Statistik (BPS). Dalam penelitian ini, data yang digunakan adalah persentase penduduk miskin tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). 2. PDRB (PDRB) PDRB adalah keseluruhan nilai barang dan jasa yang diproduksi didalam suatu daerah tertentu dalam satu tahun tertentu. Berdasarkan uraiaan yang disampaikan oleh Sadono Sukirno (2000), laju pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan PDRB tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan struktur ekonomi berlaku atau tidak, perhitungan PDRB akan ditimbulkan dari suatu daerah ada tiga pendekatan. PDRB yang dimaksud adalah laju PDRB atas dasar harga konstan tahun 2000 tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen).

Sedangkan menurut BPS (Badan Pusat Statisktik) adalah meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan. 1997) adalah mereka yang mampu dan seringkali sangat ingin bekerja tetapi tidak tersedia pekerjaan yang cocok untuk mereka. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penduduk melek huruf Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). tetapi tidak dapat memperoleh pekerjaan yang diinginkannya. . penduduk yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Data yang digunakan untuk melihat pengangguran adalah pengangguran terbuka di Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen). Pendidikan (MH) Pendidikan dalam hal ini diproksi dengan besarnya angka melek huruf. penduduk yang merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan. Menurut BPS (Badan Pusat Statistik) melek huruf adalah kemampuan seseorang membaca dan menulis huruf latin atau huruf lainnya (selain huruf latin) yang masing-masing merupakan keterampilan dasar yang diajarkan di kelas-kelas awal jenjang pendidikan dasar. 4. Pengertian pengangguran terbuka (open unemployment) menurut Edwards (1974) (dalam Lincolin. penduduk yang sedang mempersiapkan suatu usaha.58 3. Pengangguran (PG) Pengangguran berarti seseorang yang sudah digolongkan dalam angkatan kerja yang secara aktif sedang mencari pekerjaan pada suatu tingkat upah tertentu.

ataupun publikasi lainnya (Marzuki.59 3.2 Jenis Dan Sumber Data Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder. Pemilihan periode ini disebabkan karena kemiskinan mengalami fluktuasi dan terjadinya peningkatan PDRB dan diikuti dengan peningkatan pengangguran di tahun 2006.2008 untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah. . Periode data yang digunakan adalah data tahun 2005 . sehingga penelitian pada periode tersebut menarik untuk diamati serta data tersedia pada tahun tersebut. Data sekunder yaitu data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti. dokumen-dokumen perusahaan atau organisasi.2008 dan deret lintang (cross section) sebanyak 35 data mewakili kabupaten/kota di Jawa Tengah yang menghasilkan 140 observasi. Data yang diperlukan adalah: 1. 2. Data persentase penduduk miskin daerah untuk masing-masing kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . surat kabar dan majalah. 2005).2008. Data laju Produk Domestik Regional Bruto atas dasar harga konstan untuk masing-masing kabupaten/kota Jawa Tengah tahun 2005-2008. Data sekunder yang digunakan adalah penggabungan dari deret berkala (time series) dari tahun 2005 . misalnya diambil dari Badan Pusat Statistik.

Data pengangguran untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . 3. 3. disamping itu metode pengumpulan data memiliki fungsi teknis guna . yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “PDRB Jawa Tengah”. 2. Data pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf untuk masingmasing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 .2008. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Jawa Tengah Dalam Angka”. yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Tengah”. Data laju Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga konstan untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . Data pengangguran terbuka untuk masing-masing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 . yaitu dari Badan Pusat Statistik (BPS) dalam terbitan “Data dan Informasi Kemiskinan”.60 3.2008.2008. Data pendidikan yang diproksi dengan angka melek huruf untuk masingmasing kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 .2008.2008.2008. Data persentase penduduk miskin daerah untuk masing-masing kabupaten/ kota di Provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . 4.3 Metode Pengumpulan Data Anto Dajan (2001) Menyatakan bahwa metode pengumpulan data merupakan prosedur yang sistematis dan standar guna memperoleh data kuantitatif. Adapun sumber data tersebut diatas diperoleh dari: 1. 4.

....... Gujarati (2003) menyatakan bahwa untuk menggambarkan data panel secara singkat. Periode data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tahun 2005 – 2008. Dalam model panel data...4 3... sehingga tidak diperlukan teknik sampling serta kuesioner.... surat kabar. nilai dari satu variabel atau lebih dikumpulkan untuk beberapa unit sampel pada suatu waktu.4.1 Metode Analisis Metode Analisis Data Panel Studi ini menggunakan analisis panel data sebagai alat pengolahan data dengan menggunakan program Eviews 6... persamaan model dengan menggunakan data cross-section dapat ditulis sebagai berikut : Yi = β0 + β1 Xi + εi ..... Dalam data panel... i = 1....... N . . Data yang digunakan untuk mencapai tujuan dalam penelitian ini sepenuhnya diperoleh melalui studi pustaka sebagai metode pengumpulan datanya........ jurnal. Sebagai pendukung... serta dari browsing website internet yang terkait dengan masalah kemiskinan... misalkan pada data cross section. 3.... (3......... 2. unit cross section yang sama di survey dalam beberapa waktu..61 memungkinkan para peneliti melakukan pengumpulan data sedemikian rupa sehingga angka-angka dapat diberikan pada obyek yang diteliti.. digunakan buku referensi. Analisis dengan menggunakan panel data adalah kombinasi antara deret waktu (time-series data) dan kerat lintang (cross-section data).....1) dimana N adalah banyaknya data cross-section Sedangkan persamaan model dengan time-series adalah : ..

T ........... ..... Dapat memberikan peneliti jumlah pengamatan yang besar....... data lebih informasif......... Dengan panel data... . maka model dapat ditulis dengan : Yit = β0 + β1 Xit + εit ............(3. 1986 (dikutip dari Firmansyah.......(3....... dimana dapat menghasilkan ekonometri yang efisien...62 Yt = β0 + β1 Xt + εt .................... c.... . meningkatkan degrees of freedom (derajat kebebasan).. 2..................... lebih bervariasi.. Panel data dapat memberikan penyelesaian yang lebih baik dalam inferensi perubahan dinamis dibandingkan data cross section.. 2.. t = 1...... b........ yang tidak dapat diberikan hanya oleh data cross section dan time series daja. t = 1... 2009) keunggulan penggunaan data panel dibandingkan deret waktu dan kerat lintang adalah : a.....3) i = 1.... data memiliki variabilitas yang besar dan mengurangi kolinearitas antara variabel penjelas.. 2.. ........ N ...2) dimana T adalah banyaknya data time-series Mengingat data panel merupakan gabungan dari time-series dan cross-section.......... T dimana : N T = banyaknya observasi = banyaknya waktu N × T = banyaknya data panel Menurut Hsiao..

Pendekatan dengan memasukkan variabel boneka ini dikenal dengan sebutan model efek tetap (fixed effect) atau Least Square Dummy Variable (LSDV). . Pendekatan efek acak (Random effect) Keputusan untuk memasukkan variabel boneka dalam model efek tetap (fixed effect) tak dapat dipungkiri akan dapat menimbulkan konsekuensi (trade off). 2. dan pendekatan efek acak (random effect).63 Dalam analisis model panel data dikenal. Pendekatan efek tetap (Fixed effect) Salah satu kesulitan prosedur panel data adalah bahwa asumsi intersep dan slope yang konsisten sulit terpenuhi. Kedua pendekatan yang dilakukan dalam analisis panel data dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Model panel data yang di dalamnya melibatkan korelasi antar error term karena berubahnya waktu karena berbedanya observasi dapat diatasi dengan pendekatan model komponen error (error component model) atau disebut juga model efek acak (random effect). Penambahan variabel boneka ini akan dapat mengurangi banyaknya derajat kebebasan (degree of freedom) yang pada akhirnya akan mengurangi efisiensi dari parameter yang diestimasi. yang dilakukan dalam panel data adalah dengan memasukkan variabel boneka (dummy variable) untuk mengizinkan terjadinya perbedaan nilai parameter yang berbeda-beda baik lintas unit (cross section) maupun antar waktu (time-series). Untuk mengatasi hal tersebut. dua macam pendekatan yang terdiri dari pendekatan efek tetap (fixed effect).

2.2 Estimasi Model Penelitian mengenai pengaruh variabel variabel tingkat pertumbuhan ekonomi (PDRB).4. Apabila N besar dan T kecil. apabila kita meyakini bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian diambil secara acak (random) maka random effect harus digunakan. maka random effect lebih efisien dibandingkan fixed effect. 4. Apabila N besar dan T kecil. dan apabila asumsi yang mendasari random effect dapat terpenuhi. dan pendekatan efek acak (random effect) dalam data panel : 1. maka hasil fixed effect dan random effect tidak jauh berbeda sehingga dapat dipilih pendekatan yang lebih mudah untuk dihitung yaitu fixed effect model (FEM). maka hasil estimasi kedua pendekatan akan berbeda jauh. Pendidikan (MH) dan variabel tingkat pengangguran (PG) terhadap kemiskinan (KM) menggunakan data time-series selama empat tahun .64 Menurut Judge ada empat pertimbangan pokok untuk memilih antara menggunakan pendekatan efek tetap (fixed effect). 3. 3. apabila kita meyakini bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian tidak diambil secara acak maka kita harus menggunakan fixed effect. Jadi. Sebaliknya. Apabila jumlah time-series (T) besar sedangkan jumlah cross-section (N) kecil. Apabila komponen error εi individual berkorelasi maka penaksir random effect akan bias dan penaksir fixed effect tidak bias.

Koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu. b. pengaruh variabel variabel Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Gujarati (2003) menjelaskan bahwa estimasi model regresi panel data dengan pendekatan fixed effect tergantung pada asumsi yang digunakan pada intersep. dimana ada beberapa kemungkinan asumsi yaitu : a. Dalam penelitian ini. Koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu dan waktu.65 yang diwakili data tahunan dari 2005 . Asumsi bahwa intersep dan koefisien slope adalah konstan antar waktu (time) dan ruang (space) dan error term mencakup perbedaan sepanjang waktu dan individu. Seluruh koefisien (intersep dan koefisien slope) bervariasi antar individu. yaitu koefisien slope konstan tetapi intersep bervariasi antar individu.2008 dan data cross-section sebanyak 35 data mewakili kabupaten/kota di Jawa Tengah yang menghasilkan 140 observasi. Intersep sebagaimana koefisien slope bervariasi bervariasi antar individu dan waktu. Asumsi FEM yang dugunakan dalam penelitian ini adalah asumsi FEM yang kedua. d. Model fungsi yang akan digunakan untuk mengetahui kemiskinan di Jawa Tengah yaitu: . c. koefisien slope. Pendidikan (MH) dan variabel tingkat pengangguran (PG) terhadap kemiskinan (KM) digunakan asumsi FEM dikerenakan N besar dan T kecil selain itu bahwa unit cross-section yang kita pilih dalam penelitian tidak diambil secara acak maka kita harus menggunakan fixed effect. e. dan error term.

.. (3..... = konstanta... = koefisien... 2005) adalah sebagai berikut : a. Mengetahui koefisien yang menunjukkan elastisitas c.... = time series... = laju PDRB harga konstan 2000 dalam persen......... (3... MH.............4) KMit = β0 + β1 PDRBit + β2 MHit +β3 PGit+ Uit . .66 KM = f (PDRB..... = cross section.............................. Menghindari adanya heteroskedastisitas b.. Sehingga persamaan menjadi sebagai berikut: Log KM = β0 + β1 Log PDRB it + β2 Log MH it + β3 LogPG it + Uit ...... Alasan pemilihan model logaritma natural (Imam Ghozali..5) dimana: KM PDRB MH PG i t Β0 Β1........ Β2. Adanya perbedaan dalam satuan dan besaran variabel bebas dalam persamaan menyebabkan persamaan regresi harus dibuat dengan model logaritma natural.……………………… (3.....…...... PG) ........... = pendidikan atau angka melek huruf dalam persen = pengangguran dalam persen......6) keterangan: log β1 – β5 = log-linear...... = error...........linear (log)...................... Mendekatkan skala data Dalam model penelitian ini logaritma yang digunakan adalah dalam bentuk log .. Β3 U = persentase kemiskinan dalam persen...... = koefisien...

. .5.. apabila J-B hitung < nilai X² (Chi Square) tabel... maka nilai residual berdistribusi normal.67 U = error.. Model regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi normal atau mendekati normal (Imam Ghozali. Ada beberapa metode untuk mengetahui normal atau tidak gangguan (µ) antara lain J-B test dan metode grafik. 3.. maka hipotesis yang menyatakan bahwa residual Ut terdistribusi normal ditolak dan sebaliknya. Model untuk mengetahui uji normalitas adalah: J – B hitung = dimana: S K = Skewness statistik = Kurtosis [ S2/6 + ( k −3 2 ) 24 ] ………………………. keduanya mempunyai distribusi normal ataukah tidak....5 3.. (3. Penelitian ini akan menggunakan metode J-B test yang dilakukan dengan menghitung skweness dan kurtosis.1 Pengujian Asumsi Klasik Uji Normalitas Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi... variabel terikat dan variabel bebas.7) Jika nilai J – B hitung > J-B tabel. 2002).

....……………....… (3. maka variabel-variabel ini tidak ortogonal.....…... Model untuk mengetahui uji multikolinearitas adalah: KM = f (PDRB...9) MH PG = f (PDRB.………………. PG) . Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi di antara variabel independen..8) PDRB = f (MH....10) = f (PDRB.… (3.. Salah satu munculnya multikolinearitas adalah R² sangat tinggi dan tidak satupun koefisien regresi yang memiliki pengaruh yang signifikan terhadap variabel tidak bebas secara skolastik.....…...... PG) ..…………....… (3......…........ Jika variabel bebas saling berkorelasi.. MH) ... Kriterianya adalah jika R2 regresi persamaan utama ....11) Penelitian ini akan menggunakan Auxiliary Regression untuk mendeteksi adanya multikolinearitas.. MH..…………...2 Uji Multikolinearitas Imam Ghozali (2002) menyatakan bahwa multikolinearitas mempunyai pengertian bahwa ada hubungan linear yang “sempurna” atau pasti diantara beberapa atau semua variabel independen (variabel yang menjelaskan) dari model regresi... Konsekuensi adanya multikolinearitas adalah koefisien regresi variabel tidak tentu dan kesalahan menjadi tidak terhingga. Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen)......5.….........68 3........ Variabel ortogonal adalah variabel independen yang nilai korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol....... PG) …....……… (3.

Tabel 3. Uji autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode waktu atau ruang dengan kesalahan pengganggu pada waktu atau ruang (sebelumnya).1 Kriteria Pengujian Durbin Watson Hipotesis Nol Ada atokorelasi positif Tidak ada autokorelasi positif Ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi negatif Tidak ada autokorelasi Sumber: Imam Gozali. 3. Pengujian menggunakan uji Durbin Watson untuk melihat gejala autokorelasi.2002 Keputusan Tolak Tidak ada keputusan Tolak Tidak ada keputusan Jangan tolak Kriteria 0 < d < dl dl < d <du 4-dl < d < 4 4-du < d < 4-dl du < d < 4-du .5.69 lebih besar dari R2 regresi auxiliary maka di dalam model tidak terdapat multikolinearitas.3 Uji Autokorelasi Autokerelasi dapat didefinisikan sebagai korelasi antara anggota serangkaian observasi yang diurutkan menurut waktu (seperti dalam data deretan waktu) atau ruang (seperti dalam data cross-sectional.

4 Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas berarti bahwa variasi residual tidak sama untuk semua pengamatan. . Heteroskedastisitas bertentangan dengan salah satu asumsi dasar regresi biar homoskedastisitas yaitu variasi residual sama untuk-semua pengamatan.1 Aturan Membandingkan Uji Durbin-Watson Dengan Tabel Durbin-Watson Ada autokorelasi positif dan menolak Ho Tidak ada keputusan Tidak ada autokorelasi dan tidak menolak Ho Tidak ada keputusan Ada autokorelasi negatif dan menolak Ho dl du 2 4-du 4-dl 4 Sumber: Imam Gozali.2002 3. Secara ringkas walaupun terdapat heteroskedastisitas maka penaksir OLS (Ordinary Least Square) tetap tidak bias dan konsisten tetapi penaksir tadi tidak lagi efisien baik dalam sampel kecil maupun sampel besar (yaitu asimtotik).5. Menurut Gujarati (1995) bahwa masalah heteroskedastisitas nampaknya menjadi lebih biasa dalam data cross section dibandingkan dengan data time series.70 Berdasarkan penjelasan diatas dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 3.

3. Hipotesis yang digunakan: 1.6. Jika t-statistik > t-tabel maka ada heterokedastisitas. Uji Park pada prinsipnya meregres residual yang dikuadratkan dengan variabel bebas pada model. jika nilai Prob < 0.05 maka tidak ada heterokedastisitas. Keputusan untuk mengolah Ho dibuat berdasarkan nilai uji statistik yang diperoleh dari data yang ada. H0 : b1 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel PDRB dengan kemiskinan. atau Jika nilai Prob > 0. pengujian koefisien regresi secara bersama-sama (uji F). 3.71 Penelitian ini menggunakan uji Park untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas.1 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji t) Uji signifikansi parameter individual (uji t) dilakukan untuk melihat signifikansi dari pengaruh variabel bebas terhadap variabel tidak terikat secara individual dan menganggap variabel lain konstan.6 Pengujian Kriteria Statistik Gujarati (1995) menyatakan bahwa uji signifikansi merupakan prosedur yang digunakan untuk menguji kebenaran atau kesalahan dari hasil hipotesis nol dari sampel. dan pengujian koefisien determinasi (uji-R2).05 maka ada heterokedastisitas. jika t-statistik < t-tabel maka tidak ada heterokedastisitas. Ide dasar yang melatarbelakangi pengujian signifikansi adalah uji statistik (estimator) dari distribusi sampel dari suatu statistik dibawah hipotesis nol. . Uji statistik terdiri dari pengujian koefisien regresi parsial (uji t).

.............. Nilai t hitung dapat dicari dengan rumus: t= Bi − Bi * ....72 H1 : b1 < 0 ada pengaruh negatif antara variabel PDRB dengan kemiskinan......... H0 : b3 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel tingkat pengangguran dengan kemiskinan. H0 : b2 = 0 tidak ada pengaruh antara variabel melek huruf dengan kemiskinan............ 3... b) Jika t-hitung < t-tabel maka H0 diterima... 2........ SE ( Bi ) (3...... artinya salah satu variabel independen mempengaruhi variabel dependen secara signifikan...... . H1 : b2 < 0 ada pengaruh negatif antara variabel melek huruf dengan kemiskinan........12) dimana: βi βi* = parameter yang diestimasi = nilai hipotesis dari βI (Ho : βI = βi*) SE(βi) = simpangan baku βi Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan pengujian yang digunakan adalah sebagai berikut: a) Jika t-hitung > t-tabel maka H0 ditolak......................... H1 : b3 > 0 ada pengaruh positif antara variabel tingkat pengangguran dengan kemiskinan... artinya salah satu variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen secara signifikan......

......... b2..73 3... H0 : b1.... Hipotesis yang digunakan: 1. 1 − R 2 /( N − l ) (3......... b2.13) dimana: k = jumlah parameter yang diestimasi termasuk konstanta N = jumlah observasi Pada tingkat signifikansi 5 persen dengan kriteria pengujian yang digunakan sebagai berikut: ............................... b3 = 0 semua variabel independen tidak mampu mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama 2.... H1 : b1.......6...2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel bebas yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel terikat............... b3 ≠ 0 semua variabel independen mampu mempengaruhi variabel dependen secara bersama-sama Nilai F hitung dirumuskan sebagai berikut: F= R 2 /(k − 1) ......

. banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan nilai adjusted (R 2 ) pada saat mengevaluasi model regresi yang terbaik..........3 Uji Koefisien Determinasi (uji R2) Imam Ghozali (2002) menyatakan bahwa koefisien determinasi (R 2 ) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan suatu model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Kelemahan mendasar penggunaan determinasi adalah bias terhadap jumlah variabel independen yang dimasukkan ke dalam model...6. b) H0 ditolak dan H1 diterima apabila F hitung > F tabel...... Nilai yang mendekati satu berarti variabelvariabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variabel dependen.........14) ........ Oleh karena itu. Setiap tambahan satu variabel pasti meningkat tidak peduli apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. (3.... Nilai (R 2 ) yang kecil (mendekati nol) berarti kemampuan satu variabel dalam menjelaskan variabel dependen amat terbatas.... yang artinya variabel penjelas secara bersama-sama tidak mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan........ 3....................... yang artinya variabel penjelas secara bersama-sama mempengaruhi variabel yang dijelaskan secara signifikan.. Nilai koefisien determinasi diperoleh dengan formula: R 2 ∑y = ∑y *2 2 ...... Nilai (R 2 ) adalah antara nol dan satu...................74 a) H0 diterima dan H1 ditolak apabila F hitung < F tabel.....

Provinsi Jawa Tengah dengan pusat pemerintahan di Kota Semarang. Luas wilayah tersebut terdiri dari 991 ribu hektar (30.1 Deskripsi Obyek Penelitian 4. secara administratif terbagi dalam 35 kabupaten/kota (29 kabupaten dan 6 kota) dengan 565 kecamatan yang meliputi 7872 desa dan 622 kelurahan.55 persen) bukan lahan sawah.45 persen) lahan sawah dan 2.412 hektar atau sekitar 25.70 persen dari luas Indonesia.04 persen dari luas Pulau Jawa dan 1.1.75 dimana: y* y = nilai y estimasi = nilai y aktual BAB IV HASIL DAN ANALISIS 4. Luas wilayah Jawa Tengah tercatat sebesar 3.1 Kondisi Geografis Jawa Tengah sebagai salah satu provinsi di Pulau Jawa letaknya diapit oleh dua provinsi besar yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur.254. Jarak terjauh dari barat ke timur adalah 263 km dan dari utara ke selatan adalah 226 km (tidak termasuk Pulau Karimunjawa). Secara administratif Provinsi Jawa Tengah berbatasan oleh : Sebelah Utara Sebelah Timur : Laut Jawa : Jawa Timur .26 juta hektar (69. Secara geografis letaknya antara 5040’ dan 8030’ Lintang Selatan dan antara 108030’ dan 110030’ Bujur Timur (termasuk Pulau Karimunjawa).

Berikut disajikan data tentang kemiskinan yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008. Selain itu kemiskinan juga merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. dan lokasi lingkungan. akses terhadap barang dan jasa. kesehatan. derajat kesehatan yang rendah dan ketidaksamaan derajat antar jenis kelamin serta buruknya lingkungan hidup (Word Bank. lokasi. pertumbuhan ekonomi. gender. tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi. 2004).2 Analisis Data 4. buta huruf. Oleh karena itu. pemerintah sangat berupaya keras untuk mengatasi permasalahan kemiskinan tersebut sehingga pembangunan dilakukan secara terusmenerus termasuk dalam menentukan batas ukur untuk mengenali siapa si miskin tersebut. pendidikan. tingkat pengangguran. . geografis.2.1 Kemiskinan Kemiskinan merupakan masalah yang menyangkut banyak aspek karena berkaitan dengan pendapatan yang rendah. antara lain tingkat pendapatan.76 Sebelah Selatan Sebelah Barat : Samudera Hindia : Jawa Barat 75 4.

72 15.37 19. Boyolali Kab.87 21.21 11.98 21.72 13.60 14. Japara Kab. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 Kab.22 13.28 13.16 24.02 18. Tegal Kab.22 27. Magelang Kab. Sragen Kab.68 27.05 15. Grobogan Kab.64 9.79 17.39 30.36 22.08 25.79 20. Kendal Kab.93 15.69 32.77 Tabel 4. Pekalongan Kab.21 31.4 21.25 23.62 27. Pati Kab.06 27.29 8.03 27.08 18.79 30.7 22.6 11.87 17.62 23.37 20.99 23.05 17.4 2007 27.82 20.28 .44 19. Klaten Kab.38 8.3 32. Purbalingga Kab.44 17.46 18.59 29.12 18.68 12.01 34. Blora Kab.95 20 30.5 16.44 32.38 22.24 19.75 33. Kebumen Kab.43 11.14 10.49 21. Demak Kab. Sukoharjo Kab. Banjarnegara Kab.93 18. Kudus Kab. Temanggung Kab.72 12.78 16.48 10.58 16.47 6 16.37 8. Karanganyar Kab. Cilacap Kab.18 22.73 17. Surakarta Kota.5 25.49 17.72 11.60 28 10.27 10. Wonogiri Kab.31 22.75 27.4 24.81 4.79 21.29 10. Purworejo Kab. Tegal 2005 27. Banyumas Kab.77 30.34 22.94 6. Brebes Kab.96 2006 29.47 22./Kota Kab.06 22.46 20.26 13. Semarang Kab.59 22.01 6.13 11.14 22. Semarang Kota.95 22.8 25.19 7.49 30.36 24.34 21.34 8. Pemalang Kab.83 20.14 29.25 20. Salatiga Kota.63 20.2 13.93 26. Rembang Kab.39 16.62 9. Pekalongan Kota.52 23.36 2008 23.02 18.71 12.24 14.83 12.21 10.15 21.84 11.24 20.67 19.42 19.79 22.33 15.9 19.99 12.9 5.1 Persentase Kemiskinan Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen) No. Magelang Kota.01 5.92 27.16 10.55 24. Wonosobo Kota.39 20.75 18.71 27.71 16.13 15.93 22.35 22.50 25.73 17.59 23. Batang Kab.

PDRB merupakan salah satu indikator penting untuk mengetahui peranan dan potensi ekonomi di suatu wilayah dalam periode tertentu. Produk Domestik Bruto (PDRB) merupakan penjumlahan nilai output bersih (barang dan jasa akhir) yang ditimbulkan oleh seluruh kegiatan ekonomi. dan dalam satu kurun waktu tertentu (satu tahun kalender). sampai dengan jasa-jasa.2 Produk Domestik Regionl Bruto (PDRB) Menurut BPS (2008).98 persen di tahun 2008. industri pengolahan.1 diatas menunjukan bahwa persentase penduduk miskin provinsi Jawa Tengah tahun 2005 .78 Sumber: Data dan informasi Kemiskinan Jateng 2008 Tabel 4.2008 terbanyak yaitu berada di Kabupaten Brebes yaitu sebanyak 27. Dan kabupaten/Kota yang memiliki persentase penduduk miskin paling sedikit yaitu di Kota semarang yaitu sebanyak 6 persen di tahun 2008. 4. di suatu wilayah tertentu (provinsi dan kabupaten/kota). . pertambangan. Berikut disajikan data PDRB yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008.79 persen di tahun 2005 dan mengalami penurunan hingga 25.2. Kegiatan ekonomi yang dimaksud mulai kegiatan pertanian.

23 2. Japara 11 Kab.53 5.07 3. Pekalongan 19 Kab. Banyumas 3 Kab.67 5.14 2006 4. Semarang 2005 3.31 4.19 4.18 4.30 5.49 3.21 3.8 7.72 3.17 5.16 4.06 4.98 4.67 2.41 3.01 5.92 3.84 5. Wonogiri 29 Kab.3 3. Wonosobo 30 Kota.2 2. Demak 9 Kab. Purworejo 22 Kab.8 5.52 4.73 5.69 5.51 3.99 5.08 4.31 3.39 5.98 5.81 4.98 2008 4.11 5.61 3.21 2. Temanggung 28 Kab. Kudus 16 Kab.95 3.64 4.11 5. Magelang 17 Kab. Cilacap 8 Kab.85 3.44 3.49 3. Purbalingga 21 Kab.75 5. Blora 5 Kab.71 4. Sukoharjo 26 Kab.62 3.51 4. Pekalongan 32 Kota. Semarang 24 Kab. Boyolali 6 Kab.86 4.79 2. Tegal 27 Kab.56 3.69 4.07 3.08 4.78 4.85 4.28 3.71 5 4.19 4.03 5.46 4. Kebumen 13 Kab.53 3.91 4.17 3.43 4. Pati 18 Kab. Kendal 14 Kab.62 4.59 4.07 4.8 4.19 3. Magelang 31 Kota.79 Tabel 4.62 4. Batang 4 Kab.21 5.19 4.07 4.11 5.15 4.67 4.48 2.05 3.99 4.3 2. Grobogan 10 Kab.05 4.81 4.33 3.94 4.74 4. Pemalang 20 Kab.19 5.74 5.39 3.08 3.49 5.23 5.02 4 4.06 5.23 5.23 5.15 5. Sragen 25 Kab.71 2007 5. Brebes 7 Kab.47 6.94 3.72 3.35 4.99 4.11 4. Karanganyar 12 Kab.81 5.74 4.19 6.37 4.54 4.33 4.32 3. Klaten 15 Kab.92 4.04 4. Kab.45 4.31 3.58 5. Banjarnegara 2 Kab.98 5.18 4.63 4.73 4.2 Laju PDRB Berdasarkan Harga Konstan 2000 Menurut Kabupaten/Kota di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 (dalam satuan persen) No.27 3. Salatiga 33 Kota./Kota 1 Kab.08 3.72 5.72 5.26 5.82 4.59 4.59 .95 4. Rembang 23 Kab.

Untuk memutus rantai sebab akibat diatas.2 diatas menunjukkan bahwa laju PDRB yang terjadi di kabupaten / kota di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 menunjukkan angka yang fluktuatif dari masing-saing kabupaten / kota.87 Sumber: PDRB Jawa Tengah 2005-2008 5.15 35 Kota.15 5. menjadi penting bagi kita untuk memahami bahwa kemiskinan bisa mengakibatkan kebodohan.80 34 Kota.43 5. 4. Sehingga.21 5. Banyak orang miskin yang mengalami kebodohan atau mengalami kebodohan bahkan secara sistematis. ada satu unsur kunci yaitu pendidikan.69 5.82 5. Karena pendidikan adalah sarana menghapus kebodohan sekaligus kemiskinan. Surakarta 5. Laju PDRB dapat menunjukan kondisi perekonomian di masing-masing kabupaten / kota di Jawa Tengah.2. Tegal 4. Dilihat dari besarnya PDRB menunjukan terjadi kesenjangan ekonomi yang relatif besar antara daerah maju dan tertinggal. . Salah satu indikator pendidikan adalah tingkat angka melek huruf di suatu daerah.dan kebodohan jelas identik dengan kemiskinan. pendidikan menyangkut pembangunan karakter dan sekaligus mempertahankan jatidiri manusia suatu bangsa. Berikut disajikan data melek huruf menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005-2008. Sebab.3 Pendidikan (Melek Huruf) Hampir tidak ada yang membantah bahwa pendidikan adalah pionir dalam pembangunan masa depan suatu bangsa.15 Tabel 4.

9 89.60 88.80 96.2 90. Banyumas 93.30 86.67 23 Kab.58 94.34 16 Kab./Kota Kab.9 96.16 19 Kab.93 86. Pekalongan 94. Wonosobo 85.03 88.87 21 Kab.18 9 86.4 96.34 86.3 6 80.39 87.01 Kab.36 4 82.39 88.35 24 Kab.20 89.1 7 90 90. Demak 90.3 Tingkat Melek Huruf Menurut Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2008 (dalam satuan persen) 2005 2006 2007 No.03 28 Kab.31 Kab.80 90. Brebes 84.40 88. Japara 87.6 83 86 84.49 95. Blora 82.18 91. Kebumen 89.82 Kab.90 88.96 11 Kab.50 89.31 2 93.9 97.51 76.81 Tabel 4. Karanganyar 81. Klaten 85. Cilacap 90.37 95. Kab. Grobogan 90. Kudus 89.4 26 Kab.9 90.40 90.1 Kab.9 87. Wonogiri 79.70 95.05 87.01 3 85.7 .91 97.91 29 Kab. Boyolali 85.8 90.40 88.17 95.86 14 Kab.2 25 Kab.3 92 91.01 88.20 92.18 22 Kab. Sukoharjo 87.2 92.93 82. Semarang 91.58 13 Kab. Pati 84. Kendal 88. Pekalongan 86.24 Sumber: Jawa Tengah Dalam Angka 2005 – 2008 2008 94.58 96.50 87.93 27 93. Purbalingga 93 93. Magelang 94. Sragen 73 81.34 93.2 93.4 89. Banjarnegara 88.87 88. Tegal 91.50 84.50 85.1 95. Surakarta 95.75 86.87 35 Kota. Pemalang 85. Purworejo 86.85 15 Kab.5 95.10 95. Rembang 88. Batang 87.28 91.4 88.30 90.62 81.39 18 Kab.10 84.39 12 Kab.8 90.3 8 89.37 31 Kota.50 97.94 34 Kota.24 Kab.50 91.40 89.40 88.08 30 Kota. Semarang 95.3 89.9 82 88.28 17 Kab.2 88.96 Kab.87 88.20 88.85 Kab.85 33 Kota. Magelang 90.30 82.10 82.91 10 Kab.20 95. Temanggung 95.21 32 Kota.50 91. Tegal 86.46 Kab.9 87.3 93 89.10 87.20 96.36 Kab. Salatiga 95.85 91.01 20 Kab.18 87.5 81.3 86.2 95.1 90.9 84.15 90.30 93.60 93.8 93.24 1 85 88.28 89.13 5 84.

Apabila mereka tidak bekerja konsekuensinya adalah mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan dengan baik. atau merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan.3 diatas menunjukan bahwa tingkat Melek huruf di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 . Tingkat Pengangguran Terbukan (TPT) adalah angka yang menunjukkan banyaknya pengangguran terhadap 100 penduduk yang masuk kategori angkatan kerja (BPS.2 persen di tahun 2008 dan yang paling sedikit yaitu di Kabupaten Wonosobo yaitu sebesar 82 persen. atau sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. atau sedang mempersiapkan suatu usaha.2. Tingkat pengangguran sangat erat hubungannya dengan laju pertumbuhan penduduk. Sedangkan angkatan kerja sendiri terdiri dari dua komponen yaitu orang yang menganggur dan orang yang bekerja.4 Pengangguran Pengangguran adalah meliputi penduduk yang sedang mencari pekerjaan. kondisi seperti ini membawa dampak bagi terciptanya dan membengkaknya . 2008). 4. Tingkat pengangguran terbuka di perkotaan hanya menunjukkan aspek-aspek yang tampak saja dari masalah kesempatan kerja di negara yang sedang berkembang yang bagaikan ujung sebuah gunung es.2008 terbesar yaitu berada kota Pekalongan yaitu sebesar 97. Dengan laju pertumbuhan yang tinggi akan meningkatkan jumlah angkatan kerja (penduduk usia kerja) yang kemudian besarnya angkatan kerja ini dapat menekan ketersediaan lapangan kerja di pasar kerja.82 Tabel 4.

59 5.59 4.32 22 Kab.26 5.48 10.2008 .92 5.42 6.77 4. Batang 11.27 33 Kota.73 8.73 29 Kab.01 7.91 2 Kab. Sukoharjo 10. Temanggung 6. Kab. Banyumas 10. Pekalongan 16.94 4.79 6.76 11 Kab.39 14 Kab. Pati 7.93 7.12 13 Kab.05 3 Kab.64 9 Kab.16 3.75 13.07 8.21 5.01 9. Magelang 17.61 6. Pemalang 10.78 5.95 4. Banjarnegara 9.64 9. Wonogiri 9.15 16 Kab.50 8.50 9.15 8.5 30 Kota.35 11.03 6.94 3. Tegal 11.9 6 Kab.7 5. Grobogan 6.37 12.31 7.08 21 Kab.20 11.14 9.23 11.27 11.77 4 Kab. Cilacap 17.57 9.38 19 Kab.45 7. Wonosobo 5.57 35 Kota. Semarang 12.38 9.78 3. Brebes 12.30 5./Kota 1 Kab.17 9.76 5.39 9.56 27 Kab.16 8 Kab.60 3.66 7. Purworejo 6.61 7.80 11.2 5.39 11. Jateng 2005 .36 8.49 8.08 4.82 6.89 23 Kab.39 8.39 4.72 8.56 7.19 7.31 9.75 32 Kota. Tabel 4.10 5.4 Tingkat Pengangguran Menurut Kabupaten/Kota Di Jawa Tengah Tahun 2008 (dalam satuan persen) 2005 2006 2007 2008 No.71 5 Kab.14 9.64 25 Kab.93 13.39 24 Kab.40 7. Magelang 9.9 28 Kab.61 9.14 8.45 8.33 8.92 7 Kab.97 20 Kab. Karanganyar 6.7 12 Kab. Kebumen 13.47 4. Klaten 7.15 6.31 6.77 6. Purbalingga 9.83 6.44 8.51 34 Kota.53 9.36 7.62 6. Kendal 7.18 6. Kudus 7.63 5.03 10.69 5.46 6.55 8.76 10.19 10 Kab.43 4. Tegal 14.05 5.83 jumlah kemiskinan yang ada.32 9.81 9. Salatiga 14.53 5.60 14.80 9.36 18 Kab.13 8. Japara 8.48 9.26 15 Kab. Rembang 9.49 5.27 7.24 7.32 Sumber: Keadaan Angkatan Kerja Prop.19 11. Berikut disajikan data tentang pengangguran yang terjadi menurut kabupaten/kota di Jawa Tengah tahun 2005 – 2008.53 9. Sragen 10.19 5.06 17 Kab.16 12. Blora 4. Boyolali 7. Semarang 6.08 5.28 31 Kota.12 26 Kab. Pekalongan 8. Demak 9.25 5.04 6.68 5.11 5.14 7.07 5. Surakarta 10.

81 persen ditahun 2005.32 persen. Pendidikan. 0. 4. sedangkan di tahun 2008 yang paling sedikin yaitu kabupaten Purworejo sebesar 4.968 83. karena pada hakekatnya jika asumsi klasik tidak dipenuhi maka variabel-variabel yang menjelaskan akan menjadi tidak efisien.84 Tabel 4.32 persen.029 0.99 t-Statistic 3.4 diatas menunjukkan bahwa tingkat pengangguran di provinsi Jawa Tengah tahun 2005 .3 Hasil Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik perlu dilakukan karena dalam model regresi perlu memperhatikan adanya penyimpangan-penyimpangan atas asumsi klasik.416 -1.162 0.017 Prob. tetapi di tahun 2008 yang paling besar yaitu di kota Tegal sebesar13.076 -1.867 -0. Tabel 4. Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005-2008 Coefficient 8.0000 1.267 -0.5 Hasil Regresi Utama Pengaruh PDRB.77 0.089 0.000 0.209 -2.60 persen di tahun 2005.2008 terbesar yaitu berada kota magelang yaitu sebanyak 17.406 -2. Dan yang paling sedikit yaitu di Kabupaten Blora yaitu sebesar 4.046 C LOG(PDRB) LOG(MH) LOG(PG) R-squared F-Statistic Prob(F-Statistic) Durbin-Watson Sumber: Lampiran B .

1 Uji Normalitas Salah satu asumsi dalam model regresi linier adalah distribusi probabilitas gangguan µ i memiliki rata-rata yang diharapkan sama dengan nol. Untuk menguji apakah data terdistribusi normal atau tidak.306602 -0.1 0.2008 dengan n = 140 dan k = 3. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 24 20 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2008 Observations 140 Mean Median Maximum Minimum Std.005175 0.023549 4 0 Pada model persamaan pengaruh jumlah penduduk.3.1 berikut. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0.09e-17 0.1 Hasil Uji Jarque-Bera Pengaruh Pdrb.85 4.116141 7.3 16 12 8 1. 2002).1 -0. Gambar 4.076896 0.208762 0. Dev. tidak berkorelasi dan mempunyai varians yang konstan. dilakukan Uji Jarque-Bera. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . dan .2 -0.099355 4.497326 0. Uji Normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal atau tidak (Imam Ghozali.0 0.2 0. Hasil Uji J-B Test dapat dilihat pada Gambar 4. maka diperoleh degree of freedom (df) = 135 (n-k). PDRB.

34.3. maka dapat disimpulkan bahwa dalam persamaan tersebut terjadi multikolinearitas. Dibandingkan dengan nilai Jarque Bera pada Gambar 4. dapat ditarik kesimpulan bahwa probabilitas gangguan µ1 regresi tersebut terdistribusi secara normal karena nilai Jarque Bera lebih kecil dibanding nilai χ2 tabel.86 menggunakan α = 5 persen diperoleh nilai χ2 tabel sebesar 124.497. 4.100 0. Tabel 4. Apabila nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) lebih besar dibandingkan nilai R2 regresi utama. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 2 No. PDRB MH PG 2. 1.2 Uji Multikolinearitas Multikolinearitas merupakan keadaan dimana terdapat hubungan linear atau terdapat korelasi antar variabel independen.968 Sumber : Lampiran C R2 = R2 hasil regresi utama R2* = R2 hasil auxiliary regression Tabel 4.1 sebesar 7.6 menunjukkan perbandingan antara nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) dengan nilai R2 regresi utama.014 0. Tabel 4.112 R2 0.5 menunjukkan bahwa model persamaan pengaruh PDRB. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 - .968 0.968 0. PG PDRB MH Persamaan R2* 0.6 R Auxiliary Regression Pengaruh Pdrb. Dalam penelitian ini untuk menguji ada tidaknya multikolinearitas dilihat dari perbandingan antara nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) dengan nilai R2 regresi utama. MH PDRB PG 3.

.3.99.38 4 Hasil dari Durbin-Watson menunjukkan bahwa nilai d-hitung atau DW sebesar 1.26.73 DW=1.61 du=1. 4. Lesimpulan yang dapat ditarik adalah tidak adanya autokolerasi didalam model.73 < 1.2 Hasil Uji Durbin-Watson Ada autokorelasi positif dan menolak Ho Tidak ada keputusan Tidak ada autokorelasi dan tidak menolak Ho Tidak ada keputusan Ada autokorelasi negatif dan menolak Ho dl=1.3 Uji Autokorelasi Salah satu uji formal yang paling populer untuk mendeteksi autokorelasi adalah uji Durbin-Watson.73 dan dl=1.87 2008 tidak mengandung multikolinearitas karena tidak ada nilai R2 regresi parsial (auxiliary regression) yang lebih besar dibandingkan nilai R2 regresi utama.99 4-du=2. Hasil dari Durbin-Watson statistik adalah du=1.26 4-dl=2.99 < 2. Uji ini sesungguhnya dilandasi oleh model error yang mempunyai korelasi sebagaimana telah ditunjukkan di bawah ini: Gambar 4.61. Sehingga d-hitung atau DW terletak pada du < d < 4-du atau 1.

2005).030 0.074 1.202 0. dengan α .3.88 4.4.1 Uji Signifikansi parameter Individual (Uji t) Uji statistik t pada dasarnya menunjukkan seberapa jauh pengaruh masingmasing variabel independen secara individual dalam menerangkan variasi variabel dependen.226 0.476 Prob.7.039 0.169 0. Tabel 4.437 0. Maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat heterokedastisitas dalam model.472 0.634 Dari hasil perhitungan dengan uji Park terlihat bahwa tidak ada variabel independent yang signifikan secara statisktik (probability > α=5%). Artinya.2008.788 0. PDRB.4 Pengujian Statistik Analisis Regresi 4. Dalam regresi pengaruh jumlah penduduk. 4. 0.063 t-Statistic -2. setiap observasi mempunyai reliabilitas yang berbeda akibat perubahan dalam kondisi yang melatarbelakangi tidak terangkum dalam spesifikasi model (Imam Ghozali.244 0. Dalam penelitian ini digunakan uji Park untuk mengetahui ada tidaknya heteroskedastisitas yang dapat dilihat pada Tabel 4.193 0. Error 3.038 0.7 Hasil Uji Park Dependent LOG_RESID^2 C PDRB MH PG Sumber: Lampiran C Coefficient -7.4 Uji Heteroskedastisitas Heteroskedastisitas muncul apabila kesalahan atau residual dari model yang diamati tidak memiliki varians yang konstan dari satu observasi ke observasi lainnya. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .030 Std.

657 1.288 4.2008 Variabel LOG PDRB(PDRB) LOG MH (Melek Huruf) LOG PG (Pengangguran) Sumber : Lampiran B t-statistik 1.406 2. Pdrb.657 dan dengan α = 10 persen diperoleh nilai t-tabel sebesar 1. Maka dapat disimpulkan bahwa variabel .288 1.657 1.209 2. PDRB. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .657 t-tabel (α = 10%) 1. Uji statistik F pada dasarnya menunjukkan apakah semua variabel independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersama-sama terhadap variabel dependen. Dari regresi pengaruh jumlah penduduk.77 dan nilai probabilitas F-statistik 0.4. maka diperoleh F-tabel sebesar 3.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji F) Pengujian terhadap pengaruh semua variabel independen di dalam model dapat dilakukan dengan uji simultan (uji F).07.288. maka diperoleh nilai ttabel sebesar 1.2008 yang menggunakan taraf keyakinan 95 persen (α = 5 persen). Dari hasil regresi pengaruh PDRB.017 t-tabel (α = 5%) 1. Tabel 4.2008 diperoleh F-statistik sebesar 83.89 = 5 persen dan degree of freedom (df) = 135 (n-k =140-5). dengan degree of freedom for numerator (dfn) = 2 (k-1 = 3-1) dan degree of freedom for denominator (dfd) = 135 (n-k = 140-5).8 Nilai T-Statistik Pengaruh Jumlah Penduduk.00000.288 1. Pendidikan Dan Pengangguran Terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 . pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .

3 Uji Koefisien Determinasi (Uji R2) Koefisien determinasi (R2) pada intinya mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel dependen. Hal ini berarti sebesar 96. PG (Pengangguran). pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . Nilai koefisien determinasi adalah nol dan satu. 4.8 persen variasi kemiskinan kabupaten/kota di Jawa Tengah dapat dijelaskan oleh variasi tiga variabel independennya yakni PDRB (PDRB). .2008 pada Tabel 4. Dari hasil regresi pengaruh PDRB.968. MH (Melek huruf/Pendidikan).90 independen secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel dependen (Fhitung > F-tabel). Sedangkan sisanya sebesar 3.4.2 persen dijelaskan oleh variabel lain di luar model. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabelvariabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.9 diperoleh nilai R2 sebesar 0. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel dependen.

diperoleh nilai koefisien regresi untuk setiap variabel dalam penelitian dengan persamaan sebagai berikut : LOG(KM) = 8..5 Interpretasi Hasil dan Pembahasan PDRB....867 ... pertumbuhan dan kemiskinan mempunyai korelasi yang sangat kuat..... Yang mana menurut Kuznet dalam Tulus Tambunan (2001)..... (2006) mengungkapkan pentingnya mempercepat pertumbuhan ekonomi untuk menurunkan jumlah .. (4.. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah tahun 2005 – 2008 adalah sebagai berikut: 4..91 4..0.. dengan menggunakan metode FEM..1 PDRB dan Kemiskinan Variabel PDRB menunjukkan tanda negatif namun tidak berpengaruh secara signifikan terhadap Kemiskinan di Jawa Tengah. PDRB. dan Dwi W...1 Pengaruh Kemiskinan di Jawa Tengah Tahun 2005 – 2008 Dalam regresi pengaruh jumlah penduduk...089*LOG(PG).. Selanjutnya menurut Hermanto S....267*LOG(MH) 0.......076*LOG(PDRB) – 1..... pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 .. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini..... karena pada tahap awal proses pembangunan kemiskinan cenderung meningkat dan pada saat mendekati tahap akhir pembangunan jumlah orang miskin berangsur-angsur berkurang.1..1) Interpretasi hasil regresi pengaruh PDRB.......5..... Pendidikan dan Pengangguran Terhadap 4..5....2008.

92 penduduk miskin. Yang mana kemiskinan merupakan salah satu indikator keberhasilan pembangunan daerah. Dimana digambarkan dengan seorang miskin yang mengharapkan pekerjaaan baik serta penghasilan yang tinggi maka harus mempunyai tingkat pendidikan yang tinggi. Karena dengan pertumbuhan ekonomi yang cepat maka kemiskinan di suatu daerah dapat ditekan jumlahnya. Yang berarti bahwa peningkatan angka melek huruf akan menurunkan kemiskinan di jawa Tengah. Hasil tersebut sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini.267 persen. Sedangkan orang miskin tidak mempunyai cukup uang untuk membiayai pendidikan hingga ke tingkat yang lebih tinggi . pendidikan di banyak negara merupakan cara untuk menyelamatkan diri dari kemiskinan.5. Menurut Simmons (dalam Todaro. 1994). Ketidaksignifikannya PDRB dalam mempengaruhi kemiskinan juga dapat dilihat berdasarkan data bahwa peningkatan laju PDRB di Jawa Tengah dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2008 tidak selalu diiringi dengan penurunan kemiskinan di Jawa Tengah. Peningkatan angka melek huruf sebagai indikator pendidikan di Jawa Tengah sebesar 1 persen akan menurunkan kemiskinan sebesar 1. Tetapi pendidikan tinggi hanya mampu dicapai oleh orang kaya. Seperti halnya pertumbuhan PDRB di tahun 2005 sampai dengan tahun 2006 malah terjadi kenaikan kemiskinan.2 Pendidikan dan Kemiskinan Variabel Pendidikan yang diproksi dengan besarnya tingkat melek huruf menunjukkan tanda negatif dan berpengaruh secara signifikan terhadap tingkat pengangguran di Jawa Tengah. 4.1.

Karena seperti halnya penduduk yang termasuk dalam kelompok pengangguran terbuka ada beberapa macam penganggur. bahwa tidak semua orang menganggur itu selalu miskin. Diantara empat kategori pengangguran terbuka diatas bahwa sebagian diantaranya ada yang masuk dalam sektor informal.3 Pengangguran dan Kemiskinan Dari hasil regresi yang dihasilkan dalam penelitian ini menunjukan bahwa variabel pengangguran menunjukkan tanda negatif dan berpengaruh secara signifikan terhadap kemiskinan di Jawa Tengah. yaitu mereka yang mencari kerja. sedangkan data kemiskinan tahun 2005 – 2008 malah mengalami penurunan. Hasil tersebut tidak sesuai dengan teori dan penelitian terdahulu yang menjadi landasan teori dalam penelitian ini. 4.5.93 seperti sekolah lanjutan dan universitas.1. mereka yang mempersiapkan usaha. mereka yang tidak mencari pekerjaan karena merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan dan yang terakhir mereka yang sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. Selain itu. Dimana kenaikan tingkat pengangguran terbuka sebanyak 1 persen tidak menaikkan kemiskinan tetapi dari hasil penelitian ini malah akan menurunkan kemiskinan sebesar 0. Hasil penelitian yang menunjukan pengaruh negatif pengangguran terhadap kemiskinan juga dapat dilihat berdasarkan data pengangguran terbuka di Kabupaten/Kota Jawa Tengah dari tahun 2005 – 2008 yang menunjukan angka pengangguran terbuka yang terus meningkat.085 persen. dan ada juga yang mempunyai pekerjaan dengan jam kerja kurang dari . Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan sangat berpengaruh terhadap terjadinya peningkatan kemiskinan.

sedangkan lowongan kerja yang ada hanyalah sebanyak 92. Menurut Godfrey.415 jiwa. Hal ini karena kadangkala ada pekerja di perkotaan yang tidak bekerja secara sukarela karena mencari pekerjaan yang lebih baik yang lebih sesuai dengan tingkat pendidikannya. Selain itu pastilah juga ada yang berusaha atau mempersiapkan usaha sendiri.waspadalonline.google.com) jumlah pengangguran terbuka Jawa Tengah tahun 2008 mencapai 1. Dan berdasarkan data Badan Pusat Statistik pendingkatan penggaruran yang terjadi dari tahunSelain itu jumlah pencari kerja di Jawa Tengah sebanyak 689. Sehingga sisanya sebanyak 597. ada juga yang sedang menunggu mulainya bekerja. Selain itu juga diperkuat dengan pendapat Lincolin Arsyad (1997) yang menyatakan bahwa salah jika beranggapan setiap orang yang tidak mempunyai pekerjaan adalah miskin.357 jiwa.985. . ada juga yang mempunyai pekerjaan paruh waktu (PartTime) namun dengan penghasilan melebihi orang bekerja secara normal. sedang yang bekerja secara penuh adalah orang kaya.058 jiwa tentunya ada yang terserap ke sektor informal dan ada juga yang mencari kerja diluar kota.375 jiwa.com//artikel kemiskinan) yaitu bahwa kemiskinan mungkin tidak selalu berhubungan dengan masalah ketenagakerjaan.94 35 jam dalam seminggu yaitu hingga berjumlah 4. 1993 (dikutip dalam www.23 juta jiwa. Mereka menolak pekerjaan yang mereka rasakan lebih rendah dan mereka bersikap demikian karena mereka mempunyai sumber lain yang bisa membantu masalah keuangan mereka. dan yang mana semua golongan tersebut masuk dalam kategori pengangguran terbuka. Dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah yang dikutip dari (www.

95 .968. Variabel PDRB mempunyai pengaruh negatif dan tidak signifikan mempengaruhi kemiskinan.2 persen sisanya dijelaskan oleh faktor-faktor diluar model. PDRB. pengangguran dan dummy tahun terhadap kemiskinan di Jawa Tengah tahun 2005 . maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1.95 BAB V PENUTUP 5. Pendidikan. Berdasar hasil analisis data yang telah dilakukan pada bab IV. Pendidikan. Pendidikan (melek huruf) dan pengangguran terhadap kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah di tahun 2005 .1 Simpulan Penelitian ini dimaksudkan untuk mengkaji pengaruh variabel PDRB. 2. pengangguran.2008.2008 menunjukkan bahwa besarnya nilai R2 cukup tinggi yaitu 0.8 persen variasi variabel dependen kemiskinan dapat dijelaskan dengan baik oleh kelima variabel independen yakni PDRB. Sedangkan 3. Nilai ini berarti bahwa model yang dibentuk cukup baik dimana 96. Hasil uji koefisien determinasi (R2) Jumlah Penduduk. Hal ini daikarenakan bahwa peningkatan PDRB yang terjadi di Jawa Tengah tidak selalu diikuti oleh penurunan kemiskinan di Jwa Tengah. yang mana dapat dilihat dari data PDRB dan data Kemiskinan di Kabupaten/Kota Jawa Tengah tahun 2005-2008.

96 3. Variabel Pendidikan (melek huruf) mempunyai pengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi kemiskinan. . Sehingga mempengaruhi hasil signifikansi variabel independen dalam mempengaruhi variabel dependen. hipotesis yang berbunyi “Ada pengaruh antara variabel PDRB.07). Yang mana memiliki nilai koefisien β sebesar – 0.77) > F-tabel (3. apabila kenaikan jumlah pengangguran sebesar 1 persen akan menurunkan kemiskinan sebesar 0.267 5. sehingga inferensi yang diambil adalah menerima Ha dan menolak Ho. Yang mana memiliki nilai koefisien β sebesar – 1. pendidikan (melek huruf) dan pengangguran secara simultan terhadap kemiskinan”. 5. Dengan kata lain.2 Keterbatasan Kelemahan dan kekurangan yang ditemukan setelah analisis dan interpretasi dalam penelitian ini adalah data time series yang di gunakan masih terlalu pendek. maka persen. Berdasarkan perhitungan dengan uji F diketahui bahwa F-hitung sebesar (83.267 yang artinya. diterima pada kepercayaan 95%.085 persen. Variabel Pengangguran mempunyai pengaruh negatif dan signifikan mempengaruhi kemiskinan. 4.085 yang artinya. apabila jumlah penduduk melek huruf naik sebesar 1 persen. akan menurunkan kemiskinan sebesar 1.

yang mana di dalamnya terdapat golongan masyarakat yang sedang dalam tahap menyiapkan usaha atau mendapat pekerjaan tetapi belum mulai bekerja yang dimasukkan dalam golongan pengangguran. sehingga diharapkan pemerintah propinsi Jawa Tengah kembali menggalakkan program pemberantasan buta aksara supaya dapat menekan kemiskinan di seluruh Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah. 3. 2. Karena pengangguran dalam penelitian ini menggunakan data pengangguran terbuka. PDRB memiliki pengaruh negatif namun tidak signifikan terhadap kemiskinan.97 5.3 Saran 1.. tetapi dengan hasil tersebut diharapkan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah lebih menggerakkan sektor informal. . Sehingga pentingnya peninggkatan sektor informal untuk menekan kemiskinan di Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah. Pengangguran berdasarkan hasil penelitian berpengaruh Negatif dan signifikan terhadap kemiskinan. Karena sektor informal merupakan salah satu solusi masalah dalam mengatasi pengangguran. sehingga diharapkan bahwa pemerintah provinsi Jawa Tengah seharusnya meningkatkan total produksi barang dan jasa yang dihasilkan di seluruh Kabupaten/ Kota di Jawa Tengah supaya peningkatan PDRB dapat mempengaruhi kemiskinan secara signifikan. Pendidikan yang tercermin dari besarnya tingkat melek huruf memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap kemiskinan.

Model yang dikembangkan dalam penelitian ini masih terbatas karena hanya melihat pengaruh variabel PDRB. . Oleh karenanya diperlukan studi lanjutan yang lebih mendalam dengan data dan metode yang lebih lengkap sehingga dapat melengkapi hasil penelitian yang telah ada dan hasilnya dapat dipergunakan sebagai bahan pertimbangan berbagai pihak yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi dalam hal penekanan kemiskinan. pendidikan dan pengangguran terhadap kemiskinan di Provinsi Jawa Tengah. Perlunya penggunaan data time series yang lebih panjang atau lama untuk mengetahui bagaimana pengaruh kebijakan yang dilakukan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan yang dibentuk oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam upaya penekanan angka kemiskinan di Jawa Tengah.98 4. 5.

2008. Jakarta: Badan Pusat Statistik Boediono. Damodar Gujarati. Modul Praktek Regresi Data Panel dengan Eviews 6. Hal. Pengangguran. Yogyakarta. 8. 2008. Penerbit BPFE. edisi Agustus 2008. Jawa Tengah Dalam Angka 2004. Media Ekonomi. Distribusi Pendapatan di Indonesia : Proses Pemerataan dan Pemiskinan. 1. Jakarta:Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. 1995. 2008. Design of Poverty Alleviation Strategy in Rural Areas. Vol. Deny Tisna A. dan Kemiskinan di Indonesia : Analisis Indeks Forrester Greer & Horbecke. Damodar Gujarati . . Ekonometri Dasar Terjemahan. 1993. Teori Pertumbuhan Ekonomi. Basic Econometrics Fourth Edition. Jurnal Ekonomi Pembangunan. Pertumbuhan Ekonomi. Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah 2008. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Dian Octaviani. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Didit Purnomo. 2004. No.59. Semarang : Laboratorium Studi Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi Undip. Firmansyah. Gaiha. 7. 2000. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Hal. R. Jawa Tengah Dalam Angka 2008. Produk Domestik Regional Bruto Jawa Tengah 2004. 2008. 2003. 47 . Pengaruh Ketidakmerataan Distribusi Pendapatan. 2008. 2004. Inflasi.DAFTAR PUSTAKA Badan Pusat Statistik. Roma: FAO. Data dan Informasi Kemiskina 2008. New York. Penerbit United States Military Academy. dan Pengangguran terhdap tingkat Kemiskinan di Indonesiatahun 2003-2004. 1. No. Keadaan Angkatan Kerja di Provinsi Jawa Tengah. Jakarta. 100118. 1999. 2001. Jakarta: Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik. Penerbit Erlangga.. Vol. Kumpulan Skripsi UNDIP: Semarang.

Sadono Sukirno. Ekonisia Kampus Fakultas Ekonomi UII. Teori. 191 . Yogyakarta. Metode Kuantitatif. 17 . 1992. Mudrajad Kuncoro. Ekonomika Pembangunan. Yogyakarta. Prisma. Masalah. Vol.. Rasidin S. Yogyakarta: BPFE. Penerbit UPP AMP YKPN. 1. Marzuki. Yogyakarta. Dampak Infestasi Sumberdaya Manusia Terhadap Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia. 2001. Dwi W. Edisi Ketiga. Media Ekonomi dan Keuangan Indonesia. Jakarta: LP Universitas Indonesia.. Metodologi Riset. 2005. Edisi Ketiga. Ekonomi Pembangunan. Pantjar Simatupang dan Saktyanu K. Semarang. Direktur Kajian Ekonomi. Mudrajad Kuncoro.324. dan Kebijakan. Institusi Pertanian Bogor Imam Ghozali. Yogyakarta. Pengantar Ekonomika Pembangunan. Bonar S. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS. Dampak Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Penurunan Penduduk Miskin di Indonesia : Proses Pemerataan dan Pemiskinan. 1997. Penerbit BP STIE YKPN. Hal. Metodologi Penelitian Untuk Ekonomi dan Bisnis.31. Hadi. Hal. Hermanto S. Yogyakarta. Hal. No. 2003. No. 17 31. Dermoredjo.Harlem Siahaan. 2009. Ekonomi Pembangunan. Penerbit PT Raja Grafindo Persada. Sukirno Sadono. Yogyakarta. 2002. Prisma. 51. 1993. 1997. Soeratno dan Lincolin Arsyad. 3 Prayitno. Penerbit UPP AMP YKPN. dan Kemiskinan. Irawan dan Suparmoko. 2006. Produksi Domestik Bruto. Lincolin Arsyad. Kemiskinan dan Pertumbuhan Ekonomi. Ekonomi Pembangunan. Badan Penerbit Universitas Diponegoro.. Penerbit BPFE. 1986. No. 1. Edisi Kelima. Penerbit UPP AMP YKPN.. 1983. 2000. Makro Ekonomi Modern. 1995. Jakarta. . Harga.

bappenas.waspadalonline. Jakarta. Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta.google. Fakultas Ekonomi : Intitusi Pertania Bogor. 1994. Terjemahan Haris Munandar. http://Wikipedia.com//artikel kemiskinan www.dkk. Todaro.. Edisi Kedua. 2001. 1995. cara.com www. Todaro. Penerbit Ghalia Indonesia. Tambunan. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan EViews.Sumitro Djojohadikusumo. Winarno Wahyu. Penerbit Erlangga. dan makna kemiskinan : http://Adi Satria.org http://andalas van java online.go. Penerbit Erlangga.id www. Terjemahan Haris Munandar. Metode Riset Aplikasinya dalam Pemasaran. Michael P.blog www. Penerbit LP3ES. Jakarta. Usman. Michael P. Kumpulan arti. 2009. Jakarta.com www.Bataviase.co..worlbank. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Perkembangan Pemikiran Ekonomi Dasar Teori Pertumbuhan dan Ekonomi Pembangunan. J. Edisi Ketujuh. 1997. 2007. 2000. Supranto.com . UPP STIM YKPN : Yogyakarta. Analisis Determinan Kemiskinan sebelum dan Sesudah Desentralisasi Fiskal. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Perekonomian Indonesia.id. Tulus H.

0009 0.958597 -1. Durbin-Watson stat 2.757042 -0.968141 0.430811 -1.005175 0.416985 -1.306602 -0.0 0.1 0.1 -0.994656 24 20 Series: Standardized Residuals Sample 2005 2008 Observations 140 Mean Median Maximum Minimum Std.573682 0.3 16 12 8 1.267471 -0.REGRESI UTAMA : Lampiran b Dependent Variable: LOG(KM) Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:46 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C LOG(PDRB) LOG(MH) LOG(PG) 8.432578 1.956584 0.09e-17 0.042578 t-Statistic 3.D.0294 0.2 0.089766 0.054386 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.77325 0.209362 -2. Dev.E.1626 0.595132 0.023549 4 0 .821902 160.076896 0.208762 0.2 -0.0463 Effects Specification Cross-section fixed (dummy variables) R-squared Adjusted R-squared S.497326 0.099355 4.9930 83. 0.406467 -2.085904 Std.886221 0.116141 7. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 0.000000 Mean dependent var S.017543 Prob. Skewness Kurtosis Jarque-Bera Probability -0.867526 -0.076492 -1. Error 2.

040172 0.000724 Std.656558 0.111272 0.7094 0.64070 -0.027959 t-Statistic 3.373475 3.481500 0.006416 0. 0.017179 0.6661 7.863702 0.892429 2.0018 0.436833 Prob.693978 2.E.191296 -0.725227 -0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 85. Durbin-Watson stat Dependent Variable: MH Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:56 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB PG R-squared Adjusted R-squared S.373475 1.641506 5.100177 0.898356 Mean dependent var S. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.238571 Mean dependent var S.087041 4.014895 0.E.1530 4.035727 0.34700 4.838086 5.424464 0.7094 0.480661 0.357731 Std.901122 5.518599 0.1660 1.000514 0. Error 2.0000 0. Error 1.0549 -181.132824 t-Statistic 40. Durbin-Watson stat .626059 0. 0. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) 4.D.158527 0. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.0001 89.572 -405.892200 109.D.80355 -0.R2 Auxilary Regression (Uji Multikolinearitas): Lampiran C Dependent Variable: PDRB Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:55 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C MH PG R-squared Adjusted R-squared S.630943 2.904420 Prob.434908 2694.

of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) -10.564084 0.706066 1003.476879 Prob. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter.904420 Prob.875680 0.369551 0.Dependent Variable: PG Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:57 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB MH R-squared Adjusted R-squared S.0875 -294.193285 0.019718 -0.202643 2.0204 0.001905 2.E.70471 0. Durbin-Watson stat .851934 4.1530 0.D.030390 0.D.030281 0.234838 2.436833 3.4375 0. 0.257198 0.018458 554.913100 4.9490 0.854114 Mean dependent var S. of regression Sum squared resid Log likelihood F-statistic Prob(F-statistic) -7.911886 0.226112 0.664955 Mean dependent var S.169840 0. Durbin-Watson stat UJI PARK Dependent Variable: LOG(RES2) Method: Panel Least Squares Date: 09/23/10 Time: 16:45 Sample: 2005 2008 Periods included: 4 Cross-sections included: 35 Total panel (balanced) observations: 140 Coefficient C PDRB MH PG R-squared Adjusted R-squared S.345423 1.6342 -3. Error 3.038884 0.016538 4.472031 0.304854 0.193081 0.202917 0.223 -336. Error 4.850065 4. dependent var Akaike info criterion Schwarz criterion Hannan-Quinn criter. 0.0399 0.354747 4.112633 0.E.437106 Std.5045 8.063727 t-Statistic -2.778735 0.000279 Std.0001 8.2441 0.074554 1.099678 2.694629 0.270700 4.049452 t-Statistic -2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful