Pengantar Seminar Bahasa dan Sastra Indonesia mengundang perhatian ahli bahasa dan sastra, praktisi pembuat buku

pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, guru SD, SMP, SMU yang tinggi. Entusiasme peserta pun tampak dari lalu-lintas tanya jawab yang aktif, mulai Senin 22/1 hingga Selasa 23/1, pukul 9.00-15.50. Oleh karena itu, saya sampaikan makalah M. Umar Muslim yang kebagian sesi ³KTSP dan Pembelajaran Bahasa Indonesia´. Silakan simak makalah lengkap berikut ini. KTSP DAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA M. Umar Muslim Universitas Indonesia 1. Pendahuluan Dunia pendidikan Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini diramaikan oleh isu pergantian kurikulum. Kurikulum yang berlaku sampai tahun 2006 adalah Kurikulum 1994. Kurikulum ini mengalami penyempurnaan dan hasil penyempurnaan ini adalah Kurikulum 2004 atau juga dikenal dengan sebutan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Ketika KBK ramai dibicarakan dan muncul buku-buku pelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum ini, muncul KTSP atau Kurikulum 2006 yang merupakan penyempurnaan dari KBK. KTSP mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Adanya tiga macam kurikulum yang berlaku paling tidak pada awal pemberlakuan KTSP sangat membingungkan. Situasi ini diperparah dengan munculnya kesimpangsiuran informasi tentang KBK dan KTSP yang beredar di masyarakat. Guru sebagai orang yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan kurikulum merupakan pihak yang paling dibingungkan dengan situasi ini. Tulisan ini akan membahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP. 2. KTSP KTSP atau Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan adalah kurikulum operasional yang disusun, dikembangkan, dan dilaksanakan oleh setiap satuan pendidikan dengan memperhatikan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang dikembangkan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum ini juga dikenal dengan sebutan Kurikulum 2006 karena kurikulum ini mulai diberlakukan secara berangsur-angsur pada tahun ajaran 2006/2007. Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah harus sudah menerapkan kurikulum ini paling lambat pada tahun ajaran 2009/2010. KTSP merupakan penyempurnaan dari Kurikulum 2004 atau yang juga dikenal dengan KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Seperti KBK, KTSP berbasis kompetensi. KTSP memberikan kebebasan yang besar kepada sekolah untuk menyelenggarakan program pendidikan yang sesuai dengan (1) kondisi lingkungan sekolah, (2) kemampuan peserta didik, (3) sumber belajar yang tersedia, dan (4) kekhasan daerah. Dalam program pendidikan ini, orang tua dan masyarakat dapat terlibat secara aktif.

Pengembangan dan penyusunan KTSP merupakan proses yang kompleks dan melibatkan banyak pihak: guru, kepala sekolah, guru (konselor), dan komite sekolah. Berikut ini akan dibahas beberapa hal yang dapat dilakukan guru dalam menghadapi KTSP. 3. Bahan Ajar Karena KTSP dikembangkan dan disusun oleh satuan pendidikan atau sekolah sesuai dengan kondisinya masing-masing, setiap sekolah mempunyai kurikulum yang berbeda. Dengan demikian, bahan ajar yang digunakan juga mempunyai perbedaan. Tidak ada ketentuan tentang buku pelajaran yang dipakai dalam KTSP. Buku yang sudah ada dapat dipakai. Karena pembelajaran didasarkan pada kurikulum yang dikembangkan sekolah, bahan ajar harus disesuaikan dengan kurikulum tersebut. Oleh karena itu, guru dapat mengurangi dan menambah isi buku pelajaran yang digunakan. Dengan demikian, guru harus mandiri dan kreatif. Guru harus menyeleksi bahan ajar yang digunakan dalam pembelajaran sesuai dengan kurikulum sekolahnya.Guru dapat memanfaatkan bahan ajar dari berbagai sumber (surat kabar, majalah, radio, televisi, internet, dsb.). Bahan ajar dikaitkan dengan isu-isu lokal, regional, nasional, dan global agar peserta didik nantinya mempunyai wawasan yang luas dalam memahami dan menanggapi berbagai macam situasi kehidupan. Untuk pelajaran membaca, misalnya, bahan bacaan dapat diambil dari surat kabar. Di samping surat kabar yang berskala nasional yang banyak menyajikan isu-isu nasional, ada surat kabar lokal yang banyak menyajikan isu-isu daerah. Kedua jenis sumber ini dapat dimanfaatkan. Bahan bacaan yang mengandung muatan nasional dan global dapat diambil dari surat kabar berskala nasional, sedangkan bahan bacaan yang mengandung muatan lokal dapat diambil dari surat kabar daerah. Berdasarkan bahan bacaan ini, guru dapat mengembangkan pembelajaran bahasa Indonesia yang kontekstual. Peserta didik diperkenalkan dengan isu-isu yang menjadi perhatian masyarakat di sekitarnya dan masyarakat yang tatarannya lebih luas. Bahan ajar yang beragam jenis dan sumbernya ini tentu juga dapat digunakan untuk pelajaranpelajaran yang lain (menulis, mendengarkan, dan berbicara). Mengingat pentingnya televisi dan komputer (internet) dalam kehidupan sekarang ini, guru perlu memanfaatkan bahan ajar dari kedua sumber ini. Televisi dan komputer juga dapat dapat dipakai sebagai media pembelajaran yang menarik. 4. Metode Pembelajaran Dalam KTSP guru juga diberi kebebasan untuk memanfaatkan berbagai metode pembelajaran. Guru perlu memanfaatkan berbagai metode pembelajaran yang dapat membangkitkan minat, perhatian, dan kreativitas peserta didik. Karena dalam KTSP guru berfungsi sebagai fasilitator dan pembelajaran berpusat pada peserta didik, metode ceramah perlu dikurangi. Metode-metode lain, seperti diskusi, pengamatan, tanya-jawab perlu dikembangkan.

Pembelajaran yang dilakukan melalui diskusi, misalnya, dapat melibatkan partisipasi dari semua peserta didik. Semua peserta didik dapat berbicara, mengemukakan pendapatnya masing-masing. Guru dalam hal ini hanya mengarahkan bagaimana diskusi berjalan. Isu diskusi perlu dikaitkan dengan lingkungan sekitar (sekolah, daerah) hingga lingkungan global. Kegiatan pembelajaran tidak selalu berlangsung di dalam kelas. Kegiatan dapat dilakukan di luar kelas (perpustakaan, kantin, taman, dsb.), di luar sekolah (mengunjungi lembaga bahasa, stasiun radio/televisi, penerbit, dsb.). Beragamnya tempat pembelajaran dapat membuat suasana belajar yang tidak membosankan. Kegiatan pembelajaran dapat juga melibatkan orang tua dan masyarakat. Sekolah dapat mengundang orang yang mempunyai profesi tertentu atau ahli dalam bidang tertentu untuk berbicara dan berdialog dengan peserta didik. Sebagai contoh, dalam pelajaran menulis dan berbicara (wawancara), kalau ada orang tua peserta didik yang berprofesi sebagai wartawan, guru dapat mengundang orang yang bersangkutan untuk berbicara dan berdiskusi tentang pekerjaannya denga peserta didik. Kegiatan seperti ini akan berguna untuk peserta didik, guru, dan orang tua. Mereka dapat saling belajar dan proses pembelajaran menjadi menarik dan bersifat kontekstual. Dalam lingkungan sekolah, staf sekolah juga dapat dimanfaatkan. Misalnya, untuk pelajaran menulis surat resmi guru bisa meminta staf administrasi untuk berbicara tentang penulisan surat. Di samping berguna sebagai sumber pembelajaran, kegiatan ini juga berguna untuk membentuk lingkungan sekolah yang kondusif, yaitu adanya hubungan dan kerja sama yang baik di antara peserta didik, guru, dan staf. Kalau memungkinkan, kegiatan pembelajaran dapat dilakukan dengan kunjungan peserta didik kepada orang dengan profesi tertentu (misalnya penyunting bahasa atau penterjemah) atau ke lembaga tertentu (misalnya lembaga bahasa atau penerbit) untuk menggali informasi tentang bahasa Indonesia. Kegiatan ini akan membuka wawasan peserta didik dan guru akan profesi yang berkaitan dengan bahasa Indonesia dan akan pentingnya bahasa Indonesia sehingga diharapkan muncul sikap positif terhadap bahasa Indonesia. 5. KTSP: Peluang dan Tantangan Pemberlakuan KTSP pada dasarnya dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian sekolah. KTSP merupakan kurikulum yang sesuai dengan dinamika kehidupan di Indonesia sekarang ini dikaitkan dengan isu-isu seperti globalisasi dan otonomi daerah. Akan tetapi, pelaksanaan KTSP menuntut banyak hal dari sekolah dan masyarakat seperti profesionalisme, kreativitas, kemandirian guru dan kepala sekolah, serta keterlibatan masyarakat. Pelaksanaan KTSP juga menuntut banyak hal dari pemerintah seperti perencanaan pendidikan yang baik dan terarah, penyediaan sarana dan prasarana yang memadai, dan birokrasi/prosedur administrasi yang sederhana. KTSP juga menuntut partisipasi dan kepedulian masyarakat. Dengan persiapan yang matang dan suasana yang kondusif, KTSP berpeluang besar untuk menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi yang diharapkan.

Tantangan bagi semua yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan adalah meningkatkan profesionalisme. Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa Indonesia, guru perlu terus meningkatkan kemampuannya dalam bidang pembelajaran dan berbahasa Indonesia. 6. Penutup Pembelajaran bahasa Indonesia pada dasarnya bertujuan membekali peserta didik kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien dalam bahasa Indonesia lisan dan tulis. Perubahan atau pergantian kurikulum selalu menimbulkan masalah dan kebingungan bagi semua yang terlibat dalam kegiatan pendidikan, terutama guru. Apa pun kurikulumnya, guru bahasa Indonesia harus tetap berpegang pada tujuan pembelajaran bahasa Indonesia. Guru perlu terus berusaha meningkatkan kemampuannya dan terus belajar untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik. Karena kurikulum yang akan berlaku dalam beberapa tahun mendatang adalah KTSP, guru perlu mengenal, mempersiapkan diri, dan menyiasati kurikulum ini. Dengan demikian, guru akan dapat menghadapi dan menanggulangi masalah-masalah yang muncul. DAFTAR PUSTAKA Alwasilah, A. Chaedar. 2006. ³Kurikulum Bahasa Berbasis Sastra.´ Makalah untuk Seminar Nasional Kondisi Bahasa Indonesia Masa Kini, Akademi Jakarta Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Drost, J. 2006. Dari KBK sampai MBS. Jakarta: Buku Kompas. Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Remaja Rosdkarya. Mulyasa, E. 2006. Kurikulum Satuan Pendidikan: Sebuah Panduan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya. _________. 2006. Kurikulum yang Disempurnakan. Bandung: Remaja Rosdakarya. Tilaar, H.A.R. 2006. Standarisasi Pendidikan Nasional: Statu Tinjauan Kritis. Yakarta: Rineka Cipta.
Sebuah Alternatif untuk Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Bahasa Indonesia Y. Niken Sasanti Pembelajaran Bahasa Indonesia Gagal? Ada asumsi yang megatakan bahwa pembelajaran bahasa (Indonesia) selama ini dianggap gagal karena (1) lebih mementingkan teori kebahasaan dan kesusastraan daripada praktik berbahasa, (2) evaluasi mementingkan aspek kognitif, (3) strategi pembelajaran cenderung

Dalam bidang pembelajaran bahasa. kosa kata juga diajarkan sendiri. Jika pembelajaran bahasa Indonesia dkatakan gagal. belum ada hasil penelitian yang dipublikasikan secara luas. berbicara dalam forum ilmiah. dan Kurikulum 1994 masih berorientasi pada materi. yaitu (1) Kurikulum 1975. Selain itu. materi pembelajaran bukanlah yang utama. pembelajaran bahasa dikatakan berhasil apabila lulusan mampu mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. kurikulum diubah untuk memenuhi tuntutan perubahan yang terjadi di masyarakat berkaitan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. sastra juga diajarkan sendiri. Kurikulum 1984. Demikian pula siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dikatakan berhasil dalam pembelajaran bahasa apabila siswa tersebut dapat mencapai seluruh kompetensi dasar maupun SKL yang telah ditetapkan pada masing-masing kurikulum jenjang pendidikan tersebut. Dalam Kurikulum 1994 pembelajaran bahasa dilakukan secara integratif berpayung pada tema tertentu. sedangkan Kurikulum 2004 dan KTSP berorientasi pada pencapaian kompetensi. namun masih structural oriented. maupun mempraktikkan kegiatan kebahasaan sesuai dengan tuntutan dunia kerja. pada Kurikulum 1975 dan 1984 materi disusun secara terpisah-pisah. Apakah dengan melihat indikator keberhasilan dan kegagalan pembelajaran bahasa itu lantas kita dapat berasumsi bahwa pembelajaran bahasa selama ini dikatakan gagal? Yang jelas. Selain itu tolok ukur keberhasilan pembelajaran di Perguruan Tinggi juga dapat dilihat dari kemampuan lulusan membuat karya tulis ilmiah. Selain itu. Untuk siswa Sekolah Dasar. (2) Kurikulum 1984. siswa SD juga harus mencapai standar kompetensi lulusan (SKL) yang telah ditetapkan. dan yang sekarang ini sedang berlaku yaitu (5) Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). maka pemerintah menyikapinya dengan mengadakan perubahan kurikulum. Materi pembelajaran . Penyampaiannya juga terpisah-pisah. Di Perguruan Tinggi. dan (4) bahan pembelajaran cenderung seragam dan bersumber pada satu buku teks.monoton. Berbeda dengan kurikulum sebelumnya. Selama ini kita telah mengenal beberapa kurikulum yang sudah pernah diberlakukan di Indonesia. Perubahan kurikulum ini dimaksudkan agar orientasi pembelajaran juga berubah sehingga ada peningkatan kualitas pembelajaran. akan dikatakan berhasil dalam pembelajaran bahasa apabila seluruh kompetensi dasar yang ditetapkan dalam kurikulum sekolah dapat dicapai. dan (4) Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) atau Kurikulum 2004. (3) Kurikulum 1994. apa indikator kegagalannya? Demikian pula apa yang menjadi indikator keberhasilan suatu pembelajaran bahasa? Indikator keberhasilan atau kegagalan pembelajaran bahasa untuk tiap-tiap jenjang pendidikan tentunya berbeda-beda. Tentunya kita tidak boleh percaya begitu saja pada asumsi itu sebelum dibuktikan kebenarannya melalui penelitian. Misalnya tata bahasa diajarkan sendiri. misalnya. Perubahan Kurikulum dan Pendekatan Pembelajaran Bahasa Karena ada asumsi bahwa pembelajaran pada umumnya dan pembelajaran bahasa pada khususnya gagal. Kurikulum 1975. dalam Kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

(7) pendekatan kuantum. Dengan demikian tidak dapat dikatakan model pembelajaran yang satu lebih bagus dibanding model pembelajaran yang lain. walaupun model pembelajaran ini bagus juga. Siswa adalah subjek belajar. Pendekatan yang berbasis konstruktivisme antara lain (1) pendekatan kontekstual. Evaluasi pembelajaran tidak hanya diukur dari hasil ujian. Kegiatan pembelajaran diikuti dengan refleksi guru maupun siswa. (2) pendidikan keterampilan hidup (life skill). siswa lain. (6) pendekatan proses. (4) pendekatan inkuiri. Bahan ajar harus dipelajari secara terfokus-integratif. (5) pendekatan problem solving. Lalu model pembelajaran yang mana yang paling sesuai untuk pembelajaran bahasa Indonesia? Karena pembelajaran bahasa bertujuan untuk mengembangkan kompetensi kebahasaan. Kegiatan pembelajaran adalah kegiatan aktif yang dilakukan oleh siswa. Siswalah yang menjadi pusat kegiatan belajar-mengajar. . dewasa ini juga muncul bermacam-macam pendekatan yang berbasis pada konstruktivisme. Tujuan belajar adalah agar siswa berkembang kompetensinya. melainkan tingkat kedalaman suatu materi pembelajaran. (3) membaca. maka lebih cocok digunakan model pembelajaran menulis yang berdasarkan pengalaman (experience based learning). maupun model-model pembelajaran. Kegiatan belajar bukanlah kegiatan mentransfer pengetahuan yang dilakukan guru. Dalam pembelajaran ini tidak cocok digunakan cooperative based learning. misalnya. (3) pendekatan CBSA. Model Pembelajaran Apa yang Paling Baik? Munculnya pendekatan baru diikuti pula dengan munculnya model-model pembelajaran bahasa yang sesuai dengan pendekatan tersebut. Model pembelajaran cooperative based learning lebih cocok digunakan untuk pembelajaran drama. learning to live with others. melainkan juga dari proses belajar. yaitu (1) mendengarkan. masyarakat.digunakan untuk mencapai standar kompetensi yang ditetapkan. alam. Maka. media elektronik. metode dan teknik pembelajaran. sedangkan pembelajaran sastra inklusif pada keempat keterampilan berbahasa tersebut. kompetensi yang harus dikuasai siswa diklasifikasikan menjadi empat macam sesuai dengan empat macam keterampilan berbahasa. strategi pembelajaran. Selama ini. buku. Tugas guru adalah menyelenggarakan pembelajaran bagi siswa. di sisi lain muncul pemikiran-pemikiran baru mengenai pendekatan pembelajaran. Hal ini tergantung pada kompetensi yang hendak dicapai. (8) pengajaran autentik. Bahan ajar hanyalah merupakan sarana untuk mencapai kompetensi. Guru bukanlah sumber belajar satu-satunya. yang penting bukan banyaknya materi pembelajaran. dan sebagainya). Selain itu. karena dalam pembelajaran drama ada pengembangan aspek kerja sama. (9) pendekatan kooperatif. Hal ini dikarenakan dalam pembelajaran menulis puisi ditujukan untuk lebih mengembangkan kemampuan individual siswa. Pendekatan konstruktivisme yang mendasari pendekatanpendekatan di atas dipandang dapat digunakan sebagai landasan pemikiran untuk membaharui praktik pembelajaran secara menyeluruh. pendekatan komunikatif dipandang cukup efektif digunakan dalam pembelajaran bahasa. dan (10) pendekatan berbasis kerja. Sejalan dengan perubahan kurikulum. bila kompetensi dasar yang hendak dicapai adalah siswa dapat menulis puisi berdasarkan pengalamannya. learning to do. pengalaman. (2) berbicara. Sumber belajar adalah lingkungan yang dapat menjadi unsur kegiatan belajar (guru. Dalam pembelajaran bahasa. Guru membantu siswa agar dapat belajar secara aktif dan terarah. maka model pembelajaran yang dipilih ditentukan berdasarkan kompetensi yang hendak dicapai. dan (4) menulis. Sebagai contoh. 1997). Karakteristik pendekatan konstruktivisme dapat dikemukakan sebagai berikut (lihat Suparno. yaitu menguasai pengetahuan dan keterampilan sebagai jalan untuk mengembangkan pribadinya secara utuh sebagaimana disebutkan dalam empat pilar pendidikan (learning to know. dan learning to be). misalnya.

Keempat. tahap pelaksanaan pembelajaran. Berdasarkan sikap di atas. dan peran guru agar ada peningkatan kualitas pembelajaran bahasa? Guru diharapkan mau memahami. Contohnya. guru berperan sebagai fasilitator (yang memfasilitasi) proses pembelajaran yang dilakukan siswa. Pertama. apa yang harus dilakukan guru agar tercapai keberhasilan pembelajaran bahasa? Ada beberapa hal yang dapat dilakukan seorang guru. Tugas guru adalah menjelaskan seluk beluk surat undangan dan memberikan contoh serta mengoreksi pekerjaan siswa. Apa yang Bisa Dilakukan Guru? Lalu. et. Paris: UNESCOS Publishing. tahap evaluasi pembelajaran. BAB III. Jacques. T. melainkan perlu memiliki sikap kritis dalam merespon perkembangan dalam dunia pendidikan. Triprihatmini (Eds. Dengan demikian gurulah yang menentukan berkualitas atau tidaknya hasil belajar siswa. Dalam hal ini siswalah yang aktif dalam belajar. pada dasawarsa ini diperkenalkan berbagai macam pendekatan baru. posisi.). Kedua. guru tidak boleh stagnan. guru selalu membahrui proses pembelajarannya di kelas sesuai dengan perkembangan. mulai dari tahap persiapan pembelajaran. DAFTAR PUSTAKA Delors. dan Peran Guru Bagaimana sikap. agar siswa memiliki kompetensi dapat membuat surat undangan. merespon. Misalnya. Dalam posisinya sebagai perancang dan pelaksana praktik pembelajaran. dan sebagainya. MODEL KURIKULUM PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA PENDIDIKAN MENENGAH UMUM (PMU) . Pendidikan Calon Guru Menghadapi Tantangan Pembaharuan Metode Pengajaran . baik dalam perancangan maupun pelaksanaan pembelajaran. guru tetap mengikuti perkembangan pendekatan dalam pendidikan. pendekatan konstruktivistik. maupun tahap refleksi pembelajaran. Hal ini disebabkan. Pendidikan Manusia Indonesia yang Etis dan Terbuka. Terhadap pendekatan-pendekatan tersebut. guru berusaha memahami kemudian memilih kemungkinan-kemungkinan pendekatan yang dapat membaharui praktik pembelajarannya di kelas. Learning: The Treasure Within. Dalam Paul Suparno dan V. guru memiliki posisi strategis dalam pembaharuan proses pembelajaran. Halaman 107-126. 2005. dan mengimplementasikan perubahan pendekatan dalam pendidikan secara umum maupun dalam pembelajaran bahasa pada khususnya. 1998. Siswalah yang menjadi pusat belajar (learner centre). Ketiga. Sarkim. guru merespon secara positif kebijakan-kebijakan pemerintah dalam bidang pendidikan. Posisi.all. teori multiple intelegence. Peran fasilitator menunjukkan bahwa guru berkewajiban menciptakan kondisi yang mendukung siswanya agar aktif belajar. Yogyakarta: Penerbit Universitas Sanata Dharma.Sikap. pendekatan integratif. siswa harus belajar melalui pengalamannya sendiri membuat surat undangan. antara lain pendekatan komunikatif. Guru dalam melakukan kegiatan pembelajaran haruslah memberikan pengalaman belajar kepada siswa. gurulah yang merancang dan mengelola praktik pembelajaran bagi siswanya.

Bahasa merupakan sistem lambang yang arbitrer dan konvensional Bahasa merupakan sistem simbol bunyi dan/atau tulisan yang diperguna-kan dan disepakati oleh suatu kelompok mayarakat penggunanya. yang memiliki makna yang dipahami (Webster¶s New Collegiate Dictionary. tampaklah bahwa pada dasarnya bahasa memiliki karakteristik sebagai berikut. Bahasa adalah sebuah sistem Sebagai sebuah sistem. Subsistem bahasa terdiri atas: subsistem fonologi (bunyi-bunyi bahasa). Ed. Landas Pikir Pengembangan Kurikulum 1. dan wacana). 1. . bekerja sama. Keberadaan simbol menjadikan interaksi berbahasa antarpenutur lebih mudah. seperti contoh berikut. maka untuk memahaminya harus dipelajari. tidak bermakna. Hakikat bahasa dan bahasa Indonesia Para ahli merumuskan makna bahasa secara bervariasi. ada siripnya. Dari pelbagai definisi tersebut. dan sulit dipelajari. Sebagai sebuah simbol. 1972). atau tanda-tanda yang disepakati. bahasa bersifat sitematis dan sitemis. bahasa memiliki arti. Hubungan keduanya bersifat manasuka (arbitrer). Bahasa adalah sebuah simbol bunyi yang arbitrer yang digunakan untuk komunikasi manusia (Wardhaugh. Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer.. 1984:2). orang Sunda menamainya lauk. Bahasa ialah sebuah alat untuk mengkomunikasikan gagasan atau perasaan secara sistematis melalui penggunaan tanda. Kedua. Ketiga subsistem itu menghasilkan dunia bunyi dan dunia makna. karena penamaan suatu obyek atau peristiwa yang sama antara satu masyarakat bahasa dengan masyarakat bahasa lainnya cenderung berbeda. Mengapa harus dipelajari? Pertama. orang Jawa menyebutnya iwak. 4. Tak dapat dijelaskan mengapa orang Indonesia menamai ¶hewan yang hidup di air. 3. bahasa terdiri dari aturan-aturan atau kaidah yang disepakati. dan mengidentifikasi diri (Kentjono. tidak ada hubungan langsung dan wajib antara simbol bahasa dengan obyeknya. dan biasa dikonsumsi¶ dengan kata ikan. yang membentuk sistem bahasa. 2. Ketiga. 1991). yang satu sama lain saling terkait dan membentuk satu kesatuan utuh yang bermakna. gerak. maka bahasa akan kacau. sintaksis. suara. serta subsistem leksikon (kosakata). subsistem gramatika (morfologi. Sistematis artinya bahasa itu dapat diuraikan atas satuan-satuan terbatas yang berkombi-nasi dengan kaidah-kaidah yang dapat diramalkan. yang dipergunakan oleh para anggota sosial untuk berkomunikasi. Sistemis artinya bahasa terdiri dari sejumlah subsistem. 1.A. 1. orang Inggris memanggilnya fish. Karena simbol itu merupakan sistem. Bahasa ialah salah satu dari dari sejumlah sistem makna yang secara bersama-sama membentuk budaya manusia (Halliday dan Hasan. 1981). dan orang Arab mengata-kannya samak. Jika bahasa tidak sistematis. b. sesuai dengan minat dan sudut pandang penyusunnya. a.

bahasa berfungsi sebagai alat komunikasi. kalimat. apa bahasa Indonesia? Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu Riau. Bahasa memiliki fungsi dan variasi Bahasa tercipta karena kebutuhan manusia untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan eksistensinya. sehingga dapat memahami. basa-basi. perasaan. dsb. Perbedaan pengguna (individual atau kelompok) dan penggunaan bahasa (topik. seperti sapaan. Sebagai sebuah produk kebudayaan. Anggota masyarakat suatu bahasa diikat oleh perasaan sebagai satu kesatuan. huruf. pikiran. bahasa juga merupakan simbol kelompok. lisan-tulis. dan tujuan) menimbulkan variasi wujud suatu bahasa. bahasa memiliki dua fungsi. yang berbeda dari bahasa lain. yang disebut ragam bahasa. dan bekerja sama. Pertama. fungsi sosial. atau wacana dengan segala variasinya. yang mencerminkan identitas masyarakat penggunanya. dalam Tompkins dan Hoskisson. Dengan demikian. dipahami. sikap. yang merujuk pada peranan bahasa sebagai alat komunikasi dan berinteraksi antar-individu atau antarkelompok sosial. simpati. dan Brunei Darussalam. yang mengacu pada peranan bahasa sebagai alat untuk mengung-kapkan pikiran dan perasaan setiap diri manusia sebagai makhluk individu. (4) fungsi informatif (untuk menyampaikaninformasi. Dengan bahasa manusia dapat mengeks-presikan dan menangkap pikiran. Bahasa Indonesia adalah jati diri masyarakat dan bangsa Indonesia. atau perasaan pemakainya). dan pola dasar kalimat dalam bahasa Indonesia itu sangat terbatas. Secara rinci. sesuai dengan kebutuhan masyarakat penggunanya. Kedua. yang membedakannya dari kelompok masyarakat lainnya. d.1. Penggunaannya yang meluas sebagai lingua franca dalam wilayah Nusantara. formal-tak formal. (6) fungsi imajinatif (untuk memenuhi dan menyalurkan rasa estetis). yaitu bahasa Melayu. Halliday (1975. Thailand. Kita dapat membentuk ribuan kata. bahasa Indonesia memiliki ciri yang khas dibandingka dengan bahasa Melayu Malaysia. dan nilai-nilai diri dan orang lain. Suatu bahasa digunakan untuk berbagai kebutuhan dan tujuan dalam konteks yang berbeda-beda. Dari perspektif ini muncullah istilah ragam bahasa: baku-tak baku. ekonomi. ilmu pengetahuan. Kendati memiliki akar bahasa yang sama. atau penghiburan). fungsi personal. seperti pertanyaan atau permintaan penjelasan atas sesuatu hal). (2) fungsi regulator (untuk mempengaruhi sikap atau pikiran/pendapat orang lain). c. atau budaya). (5) fungsi heuristik (untuk belajar atau memper-oleh informasi. (3) fungsi interaksional (untuk menjalin kontak dan menjaga hubungan sosial. Lalu. Singapura. Karena itu suatu bahasa tidak pernah tampil statik atau seragam. situasi. Bahasa bersifat produktif Jumlah fonem. jurnalistik. Sebagai alat komunikasi. ilmiah-sastra. Tetapi. 1995) meng-identifikasi tujuh fungsi bahasa. dengan keterbatasannya itu dapat dihasilkan satuan bahasa dalam jumlah yang tak terbatas. serta (7) fungsi instrumental (untuk mengungkapkan keinginan atau kebutuhan pema-kainya). yaitu: (1) fungsi personal (untuk mengungkapkan pendapat. menjadikan bahasa tersebut disepakati dalam Sumpah Pemuda 1928 sebagai bahasa negara dan bahasa nasional di . yang memiliki ciri khas tersendiri. latar. 1.

dan keterampilan) berdasarkan apa yang telah mereka kuasai sebelumnya. 3. Keadaan ini menjadikan para siswa pendidikan menengah berpeluang menguasai lebih dari satu bahasa. dan banyaknya masya-rakat yang tinggal di kota-kota besar. Oleh karena itu. atau sebaliknya? Ada tiga kemungkinan yang terjadi. dan digunakan dalam tindak komunikasi adalah bahasa Indonesia. bahasa Indonesia seperti halnya bahasa Ibu merupakan bahasa pertama (first language) yang diperoleh secara serempak (simultaneous languge acquisitioon). Ketika mereka masuk ke pendidikan menengah. dan sosialnya. Bagi mereka. sikap. Anak-anak secara terus menerus membangun makna baru (pengeta-huan. bahasa Ibu dan bahasa Indonesia dipelajari simultan. tak jarang pula seorang anak hanya menguasai satu bahasa. Kemungkinan kedua. Lalu. bahasa Indonesia merupakan bahasa kedua (second language). Mereka berasal dari pelbagai suku dengan budaya dan bahasa yang berbeda-beda. apa pun status pemer-olehan bahasa Indonesianya (bahasa pertama/kedua). Mereka dibesarkan di dalam situasi komunikasi bahasa Indonesia. seiring dengan derasnya perpindahan anggota masyarakat suatu suku ke daerah suku lain. baru kemudian bahasa Indonesia. yang diperoleh secara berurutan (sequencial language acquisition). Belajar adalah sebuah proses penambahan bagian demi bagian informasi baru terhadap informasi yang telah mereka ketahui dan kuasai sebelumnya. Bagi mereka bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama (first language). pekerjaan. Ini terjadi karena belajar merupakan proses developmental. mana dulu bahasa yang dikenal peserta didik? Bahasa daerah atau bahasa Indoensia dulu. perkawinan antarsuku. 2. kebutuhan mereka dalam belajar bahasa di PMU tidak lagi berupa kemahiran berbahasa elementer. Makna adalah apa yang mereka bangun. Kemungkinan ketiga. Oleh karena itu. dikuasai. pendidikan. Yang mereka perlukan adalah penguasaan kemampuan berbahasa yang lebih kompleks dengan tantangan yang lebih tinggi (lisan/tulis). Anak atau peserta didik adalah orang yang membangun. dan pengekspresian diri yang lebih cerdas dan elegan. Perkembangan kognitif anak terkait dengan kematangan biologis. yang terkait dengan kepentingan pengembangan diri.lingkungan negara kesatuan republik Indonesia (NKRI). sosialisasi. Hakikat belajar Gagne (1977) menganalogkan belajar dengan sebuah proses membangun gedung. Bagi mereka. Kemungkinan pertama. bahasa Indonesia sebagai bahasa yang hidup memperkaya dirinya dengan kata-kata yang bersumber dari perekayasaan internal serta adopsi dan/atau adaptasi dari bahasa daerah dan bahasa asing. psikologis. Proses belajar terjadi ketika siswa dapat menghubungkan apa yang telah mereka ketahui dengan apa yang mereka temukan dalam pengalaman belajar yang . para siswa lebih dulu mempelajari dan menguasai bahasa ibunya. bahasa yang pertama kali dikenal. Apa yang mereka miliki atau kuasai sebelumnya adalah material atau bahan bangunan yang mereka gunakan untuk membangun. pada umumnya mereka telah dapat berbahasa Indonesia dengan lancar. Hakikat peserta didik PMU dalam belajar bahasa Indonesia Bangsa Indonesia dapat disebut sebagai masyarakat poliglot (multibahasa). Dalam perkembangannya kemudian.

anak-anak telah menguasai sistem yang kompleks dari bahasa ibunya. 1949. Menjadikan siswa sebagai knowledge constructor atau discoverer itu memang tidak mudah. maka sebenarnya pembelajaran tidak pernah terjadi. serta menghasilkan kalimat-kalimat baru yang cukup rumit. Dalam perspektif ini. dan lingkungannya. Selama belajar bahasa. Pelbagai pendapat itu dapat diklasifikasikan atas tiga pandangan. teman. dan membangun secara aktif pengetahuan yang baru melalui konteks yang otentik. bagaimana mereka belajar bahasa sehingga hasilnya begitu luar biasa? Cukup banyak pendapat tentang bagaimana anak belajar dan menguasai bahasa. guru. Perlu waktu. sekaligus. anak belajar bahasa melalui komunitasnya: keluarga. siswa belajar melalui kehidupan secara langsung. bahan pelajaran. 2002. pandangan nativistik yang berpendapat setiap anak yang lahir telah dilengkapi dengan kemampuan bawaan atau alami untuk dapat berbahasa. Ini berarti. indikator tingkat kebelajaran siswa terletak pada seberapa jauh guru dapat melibatkan siswa secara aktif dalam belajar (Tyler. dan lingkungan belajarnya. 1985. kesabaran. fasilitator. Reece dan Walker. 1997. sedikit demi sedikit potensi berbahasa yang secara genetis telah terprogram menjadi terbuka dan berkembang. yang belum pernah terucap sebelumnya. guru berperan sebagai inspirator. dalam Greedler. Mengapa? Karena yang dipelajari relevan dengan kebutuhan dan kehidupan nyata. dan keahlian tertentu. siswa belajar dengan menggunakan tiga cara. Mereka telah dapat memahami kalimat-kalimat yang lebih kompleks. Anak memahami apa yang dikatakan oleh lingkungannya. Sukmadinata.terjadi melalui interaksi yang bermakna antara siswa dengan siswa. Piranti itulah yang membuat anak dapat berbahasa. kegiatan belajar berlangsung melalui apa yang dilakukan secara aktif oleh siswa. pengamatan (melihat contoh atau model). menemukan. Dari perspektif ini. yang belum pernah didengar sebelumnya. Dengan cara-cara seperti itu. Lalu. yaitu melalui pengalaman (dengan kegiatan langsung atau tidak langsung). Menurut Goodman (1987). sebagaimana halnya sirip dan ekor yang memungkinkan seekor ikan bisa berenang. Mereka menggali. Kemampuan bawaan berbahasa itu disebut dengan ¶piranti pemerolehan bahasa¶ (language acquisition device. Keadaan ini dapat menimbulkan daya retensi yang lebih tinggi. dan scaffolder (Piaget dan Vygostky. belajar dengan cara itu akan memberikan hasil yang lebih bermakna bagi siswa. 1992). Kemp. jika anak tidak belajar. media radio atau televisi. mengungkapkan. Cara kerja LAD adalah sebagai berikut. daripada perolehan pengetahuan yang dilakukan sekedar melalui ¶penjejalan¶ dan ¶penerusan¶ informasi belaka. Pertama. dan bahasa. ia pun menyampaikan ide dan perasaannya melalui bahasa. Hakikat belajar bahasa Sebelum masuk sekolah. atau LAD) yang berpusat di otak. Akan tetapi. Hanya dalam waktu sekitar empat tahun. MASUKAN LAD KELUARAN . Sesibuk apa pun yang dilakukan guru. serta Glover dan Law. 4. direktor. Ini berarti siswa dapat belajar dengan baik ketika mereka mendapat dukungan dari orang lain yang memiliki pengetahuan lebih sehingga mereka terbantu untuk dapat belajar secara lebih mandiri. menguji coba. 2004). mela-kukan.

hanya sebagai penerima pasif dan peniru belaka. pandangan behavioristik. wacana. si anak akan meresponnya dengan berbagai cara yang tidak selalu sama dengan cara yang pernah dipertunjukkan si ibu sebelumnya. satuan bahasa (seperti frase. kalau si anak sendiri tidak melibatkan diri secara aktif dengan lingkungannya. Ketiga. kalimat. Perkembangan bahasa anak sangat ditentukan oleh kekayaan dan lamanya latihan yang diberikan oleh lingkungan. Cahyono. pengasuh. mereka pun mempelajari dan menguasai komponen dan aturan bahasa seperti: bunyi bahasa berikut sistem fonologinya. Komponen. dia sekaligus belajar menyimak. dan tidak dibuat-buat (otentik). b.Gambar 2 Cara Kerja LAD Ujaran atau tuturan lisan dalam lingkungan anak memberikan masukan berbahasa kepada anak. Dengan kata lain. a. . pandangan kognitif. Selanjutnya. misalnya. dan keterampilan bahasa dipelajari secara terpadu Ketika anak belajar berbicara. Semua komponen. Lingkungan tidak serta merta memberikan pengaruhnya terhadap perkembangan intelektual dan bahasa anak. apalagi diajari secara khusus. Kedua. melainkan melalui pengalaman langsung dalam kegiatan berbahasa (immersion) melalui interaksi dengan keluarga. tanpa disadari. serta pragmatik yang memungkinkan mereka dapat memilih dan menggunakan ragam bahasa yang sesuai dengan fungsi dan tujuan berbahasa. anaklah yang berperan aktif untuk terlibat dengan lingkungannya agar penguasaan bahasanya dapat berkembang secara optimal. 1. yang berpendapat bahwa penguasaan bahasa anak ditentukan oleh rangsangan yang diberikan lingkungannya. yang kemudian tercermin dalam tindak berbahasa (ujaran) yang dihasilkan anak yang sesuai dengan pola ujar orang dewasa (Chomsky dalam Santrock. 1. Ketika si ibu mengajak berbicara dengan anak. dan tanpa beban. sistem. Bukan karena menirukan atau mencontoh tuturan orang dewasa. Pada saat itu pula. Anak tidak memiliki peranan aktif. 1995). alami. Cara anak menanggapi apa yang disampaikan oleh ibunya. kosa kata dan sistem pengunaannya. bersumber dari kemampuan berpikir anak. serta peniruan yang dilakukan anak terhadap tindak berbahasa lingkungannya. Belajar bahasa dilakukan secara alami. Mereka belajar bahasa melalui pola berikut. dan kontekstual Anak-anak belajar bahasa tanpa terlebih dulu belajar teori bahasa. dan keterampilan berbahasa yang dikuasai anak dibangun secara tidak sadar berdasarkan pengalaman bahasanya. teman bermain. Tak ada satu pun orang tua yang mengajari anaknya berbahasa dengan mengajarkan teori bahasa lebih dulu. langsung. intonasi) berikut sistem gramatika. yang berpendapat bahwa penguasaan dan perkembangan bahasa anak ditentukan oleh daya kognitifnya. sistem. data tersebut diolah oleh LAD dengan memakai potensi gramatika bahasa anak sehingga tersusunlah pola-pola kaidah bahasa dan kaidah berbahasa pada diri anak. dan lingkungannya dalam konteks nyata. Anak-anak belajar dan menguasai bahasa tanpa disadari. 1994.

hingga yang paling kompleks. seiring dengan pertumbuhan fisik. dan kebutuhan mereka. makna. dan dianggap sebagai bagian penting dari belajar bahasa itu sendiri. kualitas berba-hasa komunitas yang mengitari anak. Anak belajar bahasa karena ia perlu untuk kelangsungan hidupnya: untuk memahami dan dipahami. Dengan strategi itu. Anak belajar bahasa karena ia memerlukannya Anak belajar bahasa bukan demi bahasa itu sendiri. Dalam perspektif ini. dua kata. maka ia akan menghentikan dan memperbaikinya. intelektual. dan model dalam belajar bahasa. masukan. atau ternyata terlalu sulit.Komunitas di mana anak tumbuh dan berkembang memberikan inspirasi. 1. Begitu pula. perilaku mencontoh yang dilakukan anak tidak seperti halnya beo yang mengikuti apa saja yang ¶diajarkan¶ orang kepadanya. e. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya. dari yang dekat menuju yang jauh. Mereka belajar bahasa dari yang sederhana menunju yang rumit. c. dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempel-ajari semua bidang studi. atau terminologi linguistik lainnya. untuk diakui dan mengakui. Kalau ternyata unjuk berbahasa yang dia lakukan mendapat repon yang ia harapkan. Sebaliknya. dan konkret menuju yang abstrak. satu kata. kalimat. Ia mengolah dan menerapkannya secara langsung dalam berbahasa melalui strategi uji-coba. Kurikulum Bahasa Indonesia PMU 1. Jika masukan dan model berbahasa yang diperoleh anak kaya dan bagus. Jika masukan bahasa yang mereka terima tidak sesuai dengan kebutuhan mereka. akan mempengaruhi pula corak berba-hasa yang dikuasai dan dihasilkannya. B. maka akan tinggi dan bagus pula bahasa yang dikuasai anak. tak jarang tingkah berbahasa anak akan membuat orang tuanya terkaget-kaget karena anak ternyata dapat mema-hami dan menghasilkan tuturan baru. kesalahan anak dalam belajar bahasa harus disikapi secara wajar. sosial. budayanya. holofrasis. bila anak merasa apa yang disampaikkanya tidak pas. maka mereka akan mengabaikannya. sebaliknya. sosial. yang tidak pernah didengar dan diucapkan sebelumnya. Peniruan atau pencontohan anak dilakukannya secara kreatif atas peristiwa berbahasa yang disediakan lingkungannya. morfem. serta sesuai dengan keperluan kehidupan mereka. serta untuk merespon dan direspon. Namun demikian. dan . 1. Belajar bahasa dilakukan secara bertahap Anak belajar bahasa secara bertahap. maka si anak akan melanjutkannya dengan kreasikreasi berbahasa lainnya. Ia belajar bahasa tidak untuk mengetahui apa itu fonem. Tujuan dan Muatan Kurikulum Bahasa Idonesia PMU Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual. Mereka belajar bahasa mulai dari tahap meracau. 1. Oleh karena itu. Belajar bahasa dilakukan melalui strategi uji-coba dan strategi lainnya Mencontoh adalah salah satu cara yang dilakukan anak dalam belajar bahasa.

kemampuan berpikir dan analisis peserta didik. Kelompok mata pelajaran Estetika bertujuan: membentuk karakter peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan pemahaman budaya. tujuan ini dicapai melalui muatan dan/ atau kegiatan bahasa. Untuk mencapai tujuan tersebut. 3. seni dan budaya. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia. memper-halus budi pekerti. baik secara lisan maupun tulis. Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/Paket C. bahasa. berpartisipasi dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut. serta kematangan emosional dan sosial. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan. Pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. ilmu pengetahuan sosial. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku. teknologi informasi dan komunikasi. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama. Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian bertujuan: mem-bentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa 6. kedudukan dan misi pelajaran Bahasa Indonesia PMU tersebar ke dalam tiga kelompok mata pelajaran berikut. kewarganegaraan. 1. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara. Beranjak dari paparan tersebut dan dengan memperhatikan Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar isi. 2. serta muatan lokal yang relevan 3. dan pendidikan jasmani. keterampilan. dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif yang ada dalam dirinya. matematika. 1.budaya orang lain. mengemukakan gagasan dan perasaan. dan muatan lokal yang relevan. akhlak mulia. . keterampilan berbahasa. Secara spesifik. tujuan pembelajaran Bahasa Indone-sia tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa. pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk membekali siswa PMU dengan kemampuan minimal dalam hal: penguasaan pengetahuan. ilmu pengetahuan alam. dan sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. seni dan budaya. serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. keterampilan/kejuruan. 4. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan: mengem-bangkan logika. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan. 5. baik secara lisan maupun tulis 2.

guru dituntut untuk dapat menafsirkan sendiri rincian aspek kebahasaan yang harus diajarkan kepada siswa. perasaan. tajuk rencana. surat dinas. cerita rakyat. dan informasi dalam kegiatan berkenalan. Menulis Menggunakan berbagai jenis wacana tulis untuk mengungkapkan pikiran. tabel. serta (3) Ketiga. morfologi. SKL-MP Bahasa Indonesia tersebut dijabarkan ke dalam serangkaian standar kompetensi dan kompetensi dasar (SK-KD) terlampir. pidato. Membaca Menggunakan berbagai jenis membaca untuk memahami wacana tulis teks non-sastra berbentuk grafik. Ini berarti. drama. notulen.Perangkat tujuan tersebut dijabarkan ke dalam kemampuan minimal yang harus dikuasai lulusan PMU (Program IPA dan IPS) dalam belajar bahasa Indonesia. dan menulis. cerpen. Mendengarkan Memahami wacana lisan dalam kegiatan penyampaian berita. Dalam Permendiknas Nomor 22 dan 23 Tahun 2006. dan semantik. eksposisi. yang meliputi: mendengarkan atau menyimak. berbicara. artikel. dan informasi dalam bentuk teks narasi. b. (2) keterampilan berbahasa. ringkasan. novel. 1. kesastraan. lalu bagaimana menyiasatinya ke dalam kurikulum dan pembelajaran? Pada dasarnya. deskripsi. Pada akhir pendidikan di SMA/MA. diskusi. saran. Kemampuan minimal itu dikemas ke dalam komponen kemampuan berbahasa dan bersastra berikut. d. serta teks sastra berbentuk puisi. dan pembacaan karya sastra berbentuk puisi. peserta didik telah membaca sekurang-kurangnya 15 buku sastra dan nonsastra. rangkuman. yang mencakup: sejarah. dan novel. serta mengomentari pembacaan puisi dan pementasan drama 1. membaca. bercerita. wawancara. karya ilmiah. 1. laporan. seminar. dan esei. presentasi hasil penelitian. teks pidato. argumentasi. ejaan. serta teori bahasa seperti fonologi. drama. materi kajian mata pelajaran Bahasa Indonesia terdiri dari tiga bidang: (1) kebahasaan. proposal. resensi. biografi. dan berbagai karya sastra berbentuk puisi. perasaan. hikayat. cerpen. kritik. c. diskusi. puisi kontemporer. fungsi dan kedudukan. Mencermati paparan tentang tentang tujuan dan SKL-MP Bahasa Indonesia. teks pidato. Selanjutnya. karya sastra berbagai angkatan dan sastra Melayu klasik 1. surat dagang. yang terdiri dari pengetahuan dan apresiasi sastra. a. materi kebahasaan tidak diterakan secara rinci dan eksplisit. Berbicara Menggunakan wacana lisan untuk mengungkapkan pikiran. laporan. Implisitasi materi kebahasaan tampaknya pengembang SKL-MP berpikir bahwa materi tersebut terintegrasi ke dalam kegiatan berbahasa . sintaksis.

Pembelajaran bahasa harus dapat menumbuhkan kebanggaan dan daya apresiasi terhadap bahasa dan sastra Indonesia. pembelajaran berbahasa harus dapat membekali siswa dengan kemampuan memahami dan menggunakan bahasa secara kritis dan kreatif sesuai dengan maksud. kesastraan. 2. budaya. siswa PMU diwajibkan membaca buku sastra dan nonsastra sekurang-kurangnya 15 buah buku.dan bersastra. dan keterampilan berbahasa) dilakukan secara terpadu atau tematik. 3. serta menemukan. 3. 6. Pembelajaran bahasa tidak ditujukan sebatas bahasa itu sendiri. mempelajari. Pembelajaran pelbagai aspek bahasa Indonesia (kebahasaan. fungsi. pengemasan SKL dan SK-KD mata pelajaran Bahasa Indonesia ke dalam kurikulum dan pembelajarannya harus memperhatikan rambu-rambu berikut. Konsep dan Model Kurikulum Bahasa Indonesia . sekolah. Sajian pelajaran bahasa Indonesia dikemas ke dalam aspek kemampuan berbahasa dan bersastra melalui kegiatan: mendengarkan. Pembelajaran lebih menekankan pada penguasaan fungsi komunikasi bahasa Indonesia. artikel. dan situasi berbahasa. menentukan bahan dan sumber belajar kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan kondisi dan kekhasan daerah dengan tetap memperhatikan kepentingan nasional. siswa diharapkan memiliki kebiasaan dan kebisaan untuk menjadi pebelajar mandiri seumur hidup. menyusun program pendidikan tentang kebahasaan dan kesastraan sesuai dengan keadaan peserta didik dan sumber belajar yang tersedia. Sementara itu. imajinasi. dan menulis. melibatkan orang tua dan masyarakat secara aktif dalam pelaksanaan program kebahasaan dan kesastraan di sekolah. 1. teknologi. atau bahan/sumber lainnya. 5. menentukan bahan ajar kebahasaan dan kesastraan secara mandiri dan leluasa sesuai dengan kondisi lingkungan sekolah dan kemampuan peserta didiknya. dan seni. Untuk mewujudkan sajian pelajaran Bahasa Indonesia yang seperti itu. 2. mengolah. dan guru: 1. Itu berarti. dan mengorganisasikan infor-masi. 4. Dalam membangun kegemaran dan kemampuan membaca. Pembelajaran bahasa harus dapat membekali siswa dengan kemampuan untuk mempelajari pelbagai ilmu pengetahuan. maka daerah. pembelajaran melibatkan berbagai sumber yang utuh dan otentik dalam bentuk buku. berbicara. 2. mem-baca. untuk membangun kegemaran dan kemampuan membaca. Dengan upaya ini. karya sastra. dan ketinggian akhlak siswa. memusatkan perhatian pada pengembangan kompetensi bahasa peserta didik dengan menyediakan berbagai kegiatan berbahasa dan sumber belajar. Ini berarti pembelajaran membaca tidak lagi disajikan dalam bentuk serpihan-serpihan bacaan yang sepotong-sepotong sebagaimana biasanya disajikan dalam buku teks. Ini berarti pembelajaran tidak hanya menyentuh dimensi nalar dan keterampilan semata. estetika. tidak secara terpisah-pisah. Ini berarti. serta 5. spiritualitas. tetapi juga aspek rasa. 4.

para periset di Amerika Serikat melakukan studi terhadap 30 sekolah menengah. Pengorganisasian materi ajar dikemas dalam bentuk kegiatan-kegiatan belajar. memberikan pengalaman yang berarti. Hasil kajian itu menginspirasi lahirnya . dan kemampuan siswa.Hingga Kurikulum 1984. Ketika hasil kajian ini dibandingkan dengan siswa dari sekolah tradisional. Dengan mempertimbangkan hakikat peserta didik. Kendati nuansa kurikulum subjek akademik masih tampak jelas. yang beranjak dari filosofi pendekatan interdisipliner. proses pembelajaran harus mengacu pada minat. Sekolah bebas untuk memilih dan mengembangkan sendiri model kurikulum yang diperlukannya. Tujuan kurikuler pelajaran Bahasa Indo-nesia pun lebih ditekankan pada penguasaan kemahiran berbahasa dan apresiasi sastra. Rasional dan konsep kurikulum integratif Kurikulum integratif memiliki sejarah yang cukup panjang. kesas-traan. Beranjak dari pemikiran Dewey tersebut. 1997). Seiring dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) pada tahun 2006. Namun demikian. Untuk itu. hakikat belajar bahasa Indonesia. dengan menekankan pada pengalaman belajar yang mencerminkan berbagai kejadian di dunia nyata. Sementara pengorganisasian materi pelajaran ²±kebahasaan. Namun demikian. konsep itu kian mengkristal di tangan Dewey. kekuatan. dan karakteristik mata pelajaran Bahasa Indonesia. ternyata para siswa dari sekolah yang menerapkan prinsip progresivisme tersebut pada umumnya memiliki unjuk kerja yang melampaui para siswa di sekolah tradisional. hakikat belajar. yang dikaitkan dengan pembentukan kemampuan peserta didik dalam menghadapi realita kehidupan. penulis berpendapat bahwa model kurikulum yang paling sesuai untuk mata pelajaran tersebut ialah Model Kurikulum Integratif atau Tematik. Para periset mengembangkan sebuah kurikulum yang berfokus pada kebutuhan personal dan sosial siswa. standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran. Tak heran jika banyak ahli menyatakan bahwa pendekatan integratif mencerminkan pengaruh dari pemikiran progresivisme Dewey. serta perangkat acuan standar nasional lainnya. tujuan kurikuler. materi pelajaran Bahasa Indonesia sangat kental diwarnai oleh model kurikulum subjek akademik dengan pendekatan struktural. termasuk untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut Dewey (1993). dari penelusuran kepustakaan yang penulis lakukan. 3. melalui kolaborasi dengan 300 universitas. Kecenderungan itu mulai bergeser sejak Kurikulum 1994. dan keterampilan berbahasa²± disajikan sendiri-sendiri secara isolatif. setiap sekolah berkewenangan untuk mengembangkan sendiri kurikulum pendidikannya dengan mengacu pada standar kompetensi lulusan. Konsep itu telah mulai mengemuka pada tahun 1800-an (lihat Beane. Pelbagai pelajaran yang dikembangkan memadukan batas-batas antarbidang studi. tetapi upaya mengakomodasi pemikiran progresivisme mulai terlihat. materi kebahasaan dan kesastraan masih tersaji dalam daftar khusus secara terpisah. Sasaran belajar lebih mengarah pada penguasaan ilmu bahasa atau linguistik dan sastra. kehidupan sekolah harus menarik. dan melibatkan anak dalam aktivitas sekolah.

Termasuk kelompok ini adalah para pembela µwhole learning¶. Tumbuhnya dukungan terhadap penataan kurikulum yang melibatkan aplikasi pengetahuan daripada hanya sekedar hapalan atau akumulasi. 2000). 5. 1993). 1. (1989). tidak isolatif. Menurut riset. hasil kajian Fogarty (1991). supradisciplinary. 2. 2. Pengetahuan itu dibangun secara sosial (socially constructed). Bangkitnya perhatian orang terhadap pendekatan integratif.. integrated day. Mereka beranggapan bahwa konsep kurikulum integrasi secara historis merupakan representasi dari transdisciplinary. kurikulum tematik. dan kian lebih mudah diakses dalam belajar. Pemeliharaan minat yang serius terhadap gagasan pendidikan progresif. Minat terhadap gagasan baru tentang cara kerja otak dalam belajar. otak memproses informasi melalui pola dan hubungan dengan suatu penekanan pada koherensi daripada fragmentasi. 4. Dengan demikian. Hasil penelitian Beane (1997) menunjukkan adanya sejumlah faktor pemicu mengemukanya gagasan integrasi. 1990. semakin kompatibel dengan otak. 1997. serta metode yang berpusat pada problem dan projek. (2000). dkk. Pada tahun 1990-an hingga sekarang. Gavelek. dan Krogh (1990). seperti whole language.pelbagai pendekatan yang mengadopsi prinsip-prinsip pendidikan integratif. Hiebert & Fisher. Fogarty (1991). Kegiatan pendidikan harus bersifat otentik. penyediaan kegiatan pendidikan harus berorientasi pada kebu-tuhan siswa. & Hyde. Pemecahan persoalan kehidupan nyata hanya dapat dilakukan dengan baik melalui penguasaan pengetahuan yang komprehensif dan lintas disiplin. 1. 3. dan multidisciplinary yang sebenarnya berbasis mata pelajaran atau subject-based oleh Jacob. Pengetahuan itu tidak pasti (fixed). Gavelek. Zemelman. semakin utuh pengetahuan. Oleh karena itu. Kegiatan pendidikan harus bermakna. juga tidak universal. 3. dkk. 1989. 1. Layanan pendidikan diperuntukkan bagi kepentingan peserta didik. Routmann. istilah yang digunakan dan dikaitkan dengan integrasi di antaranya: thematic unit oleh Betty Shoemaker (1991). bukan semata-mata untuk kegiatan persekolahan. dan whole-language approach yang memadukan pembelajaran bahasa dengan berbagai disiplin lain (Pearson. yaitu pengetahuan atau informasi yang dipelajari siswa disajikan dalam sebuah konteks. seperti pembelajaran yang berpusat pada siswa dan whole language (Beane. menyemarak-kan pelabelan pendekatan tersebut dengan peristilahan yang beraneka. pengajaran unit. Daniels. Sementara itu. Kegiatan pendidikan harus efisien dengan menawarkan daya cakup kurikulum yang lebih luas. 1991. interdisciplinary. serta Charbonneau dan Reider (1995) mengungkapkan bahwa munculnya pemikiran tentang pendekatan integratif dipicu oleh sejumlah persoalan pendidikan yang perlu segera diatasi. yakni terkait dengan tugas-tugas dalam kehidupan nyata. .

1995). 3. Gavelek. tema dapat berupa masalah. yang darinya diturunkan serangkaian rambu-rambu dalam merancang dan melaksanakan kurikulum pembelajaran. Secara singkat. Prinsip-prinsip pembelajaran bahasa yang terpercaya berawal dari serangkaian asumsi atau teori tentang hakikat bahasa. Tipe integrasi ini mengandung pemaduan lintas proses berbahasa atau pelajaran sekolah yang terjadi di dalam dan di luar kelas sekolah itu sendiri. cara-cara melihat dan menafsirkan data. (2000) menyatakan bahwa ketika diterapkan dalam kurikulum dan pembelajaran bahasa. wacana. yang mengacu pada pengintegrasian pelajaran bahasa melalui pengaitan atau pencampuran berbagai disiplin ilmu yang dilakukan melalui keterampilan. & Levstik. serta hakikat belajar bahasa. yang menunjuk pada penekanan kegiatan belajar secara lintas konteks (seperti rumah. Schubbert mencontohkan bahwa pertanyaan-pertanyaan pemandu µapa¶ (what) dan µbagaimana¶ (how) seperti yang dilontarkan Tyler dalam Basic Principles of Curriculum and Instruction merupakan pertanyaan yang bersifat paradigmatik. yang merujuk pada penerpa-duan pelbagai aspek dalam pelajaran bahasa dan sastra sebagai suatu kesatuan yang utuh dan bermakna. Paradigma dan Model Pembelajaran Bahasa Indonesia PMU Paradigma adalah kerangka pikir yang mempengaruhi seseorang berperilaku dalam bidang yang dikerjakannya. Kiefer. Tema merupakan payung keterpaduan dari pelbagai kegiatan belajar sehingga satu sama lain memiliki keterkaitan yang erat. Selanjutnya. 2. konsep. sekolah. Ketiga tipe itu ialah sebagai berikut. dkk. nilai. C. serta cara memandang dunia dalam batas wilayah tertentu. 1. Tipe kurikulum keterampilan berbahasa integratif. karya sastra. hakikat belajar. Schubert (1986) mendefinisikan paradigma atau kerangka pikir (framework) sebagai keterkaitan serangkaian ide. apa pun istilah yang digunakan.Namun. Tipe kurikulum integratif. ketiga tipe pendekatan integrasi dalam bahasa tersebut dapat digambarkan sebagai berikut. termasuk peran guru dan siswa di dalamnya (Brown. Sebagai sebuah jembatan antarkegiatan belajar. dan kaidah yang mempengaruhi seseorang dalam melakukan suatu kegiatan penyelidikan (inquiry). Pelbagai aktivitas belajar pada semua tipe integratif tersebut dihubungkan oleh sebuah tema. masyarakat. Dalam kaitannya dengan penelitian. dan pekerjaan). Sementara itu. kasus. Tipe integrasi di dalam dan di luar sekolah. atau proyek. (integration in and out of school). seorang guru (bahasa) yang profesional di antaranya ditandai dengan kemampuannya mempertanggung-jawabkan serta mengartikulasikan dasar pertimbangan pengambilan keputusan instruksionalnya secara benar dan ilmiah (Pappas. konsep pendekatan integratif memiliki tiga tipe. Keselarasan dan . dan sikap yang saling terhubung. 1990). Penggunaan tema yang sangat menonjol dalam pendekatan integratif ini mengakibatkan pendekatan ini kerap disebut juga sebagai Pendekatan Tematik. Poedjiadi (2001) merumuskan paradigma sebagai pandangan seorang peneliti tentang pembelajaran yang memberikan pedoman bagi seorang ilmuwan dalam melakukan penelitian ilmiahnya. Kaitannya dengan pembelajaran bahasa.

dkk. Halliday (1979. semakin tidak karuan paradig-ma pembelajaran yang dipahami seorang guru. Kemampuan ini melibatkan dua hal: (1) kemampuan untuk menyampaikan pesan. Lalu. (1987) serta Thompkin dan Hoskisson (1994). IPA. berekspresi. belajar bahasa Indonesia bagi siswa PMU mencakup ketiga tipe tersebut. 1987). dalam Goodman. serta (2) kemampuan mema-hami. dari ketiga tipe belajar bahasa tersebut. Sejarah. semakin µacak-acakan¶ pula tindak pembelajaran yang dilakukannya. yaitu seseorang mempel-ajari bahasa untuk mengetahui segala hal yang terdapat pada suatu bahasa. dan teori belajar bahasa yang saling terkait secara konsisten.keajegan hubungan antara hakikat bahasa. Dalam konteks ini bahasa berfungsi sebagai alat untuk mempelajari sesuatu. berpikir. sikap. seperti Matematika. dan berapresiasi (tipe 2: belajar melalui bahasa). hakikat belajar. kaidah berbahasa. Dalam paradigma pembelajaran bahasa terkandung komponen konsepsi bahasa. Penguasaan kemampuan itu hanya akan dapat diperoleh siswa PMU apabila mereka menguasai kaidah atau sistem bahasa dengan baik pula . Dengan kata lain. 1. dkk. seperti sejarah. menyatakan ada tiga tipe belajar yang melibatkan bahasa. Menurut Goodman. dan Kewarganegaraan. Semakin tepat dan kokoh paradigma yang dimiliki seorang guru. dan hakikat belajar bahasa itu menurunkan apa yang disebut oleh Tompkin dan Hoskisson (1995) dengan istilah paradigma pembelajaran bahasa. baik yang disampaikan secara lisan (menyimak) maupun tertulis (membaca). menafsirkan. dan produk bahasa seperti sastra. Secara implisit. Belajar bahasa (language learning). mana yang dipelajari di sekolah? Mengacu pada uraian tentang tujuan dan muatan. Sebaliknya. pembelajaran bahasa Indonesia berfokus pada penguasaan berbahasa (tipe 1: belajar bahasa). baik secara lisan (berbicara) maupun tertulis (menulis). menyatakan bahwa Dari paparan tersebut dapatlah dinyatakan bahwa paradigma pembelajaran bahasa merupakan kerangka pikir atau cara pandang seorang guru bahasa terhadap pembelajaran bahasa yang akan memberinya arah dan acuan dalam melakukan tindak pengajaran bahasa. kemampuankemampuan itu tentu saja melibatkan penguasaan kaidah bahasa serta pragmatik. Belajar tentang bahasa atau learning about language. yaitu seseorang meng-gunakan bahasa untuk mempelajari pengetahuan. sistem bahasa. teori belajar. 1. akan semakin mantap pula perilaku mengajarnya. Belajar melalui bahasa atau learning through language. bersosialisasi atau bergaul. yaitu seseorang mempelajari suatu bahasa dengan fokus pada penguasaan kemampuan berbahasa atau kemampuan berkomunikasi melalui bahasa yang digunakannya. dan SK-KD terdahulu. SKL. dan menerima pesan. bagaimana guru mengajarkan bahasa akan sangat dipengaruhi oleh paradigma pembelajaran bahasa yang dipahami dan dianutnya. seperti: belajar.. keterampilan. agar siswa dapat menggunakan-nya secara tepat untuk berbagai keperluan dan dalam bermacam situasi. 1.

dan sebagainya. cerita. Siswa mendengarkan beragam simakan dengan tujuan yang berbeda: untuk berkomunikasi. sikap. Keterampilan itu sulit dikuasai siswa dengan baik tanpa latihan dan pemberian balikan yang bermakna. Lagi-lagi anggapan ini keliru. Karena itu pula. Jadi. Kemampuan membaca. melainkan untuk dapat digunakan sebagai alat untuk belajar dan mempel-ajari segala sesuatu. yaitu kemampuan untuk memahami dan menafsirkan pesan yang disampaikan secara tertulis oleh pihak lain.(tipe 3: belajar tentang bahasa). tetapi juga memahami pesan atau makna yang disampaikan oleh penulis. penjelasan. ketiga tipe belajar tersebut saling terkait. Ketiganya terjadi secara bersamaan dalam belajar bahasa. berpidato. 1. yaitu kemampuan untuk menyampaikan pesan secara lisan kepada orang lain. melaporkan. mengkritisi. penguasaan kaidah bahasa dan sastra bukan tujuan. dan keterampilan berbahasa) atau antarbahasa dengan mata pelajaran lainnya. melainkan hanyalah sebagai alat agar kemampuan berbahasa dan bersastra siswa serta daya apresiasi bahasa dan sastranya dapat terbangun dengan baik. Yang dimaksud pesan di sini adalah pikiran. dan merespon informasi. Tujuan dan mitra berbicara yang berbeda akan memerlukan strategi berbicara yang tidak sama. menjelaskan. Kemampuan menyimak atau mendengarkan. Sementara itu. Mengapa? Karena guru biasanya menganggap keterampilan ini mudah dipelajari sehingga tidak begitu dipentingkan dalam pembelajaran. merangkum. Tujuan menyimak yang berbeda tentu saja menuntut strategi menyimak yang berlainan pula. Tetapi. mengolah. Oleh karena itulah mengapa pembelajaran bahasa seyogyanya dilakukan secara integratif. Mereka beranggapan bahwa berbicara itu mudah dan dapat dipelajari di mana saja dan dengan siapa saja. Kemampuan berbicara. berdiskusi dan berdebat. kesastraan. belajar. bertanya. Tentu saja pendapat itu keliru! Menyimak itu banyak macamnya. dsb. Kemampuan ini tidak hanya berkaitan dengan pemahaman simbol-simbol tertulis. Ketika siswa belajar kemampuan berbahasa yang terkait dengan penggunaan dan konteksnya. penilaian. hiburan. Seperti halnya menyimak. perasaan. menceritakan. dan menghibur. baik antaraspek dalam bahasa itu sendiri (kebaha-saan. yaitu kemampuan memahami dan menafsirkan pesan yang disampaikan secara lisan oleh orang lain. serta memperoleh. Sekedar berbicara dengan teman atau keluarga mungkin tidak terlalu sulit. pengetahuan kebahasaan dan kesastraan tetap perlu dipelajari. maka wujud kemampuan itu lazimnya diklasifikasikan menjadi empat macam. Hanya saja. Berbicara juga bermacam-macam: berinteraksi dengan sesama. tetapi juga berita. . 1. dan sekaligus belajar menggunakan bahasa untuk mempelajari berbagai mata pelajaran. Bila kita berbicara tentang kemampuan berbahasa. Bukan hanya mendengarkan percakapan. banyak pihak yang kurang mengangap penting keterampilan berbicara. bahkan mengkritisinya. ia pun belajar tentang kaidah bahasa. tanggapan. berbicara secara sistematis untuk berbagai keperluan dan situasi. kemampuan menyimak ini kurang mendapat perhatian guru untuk dilatihkan. 1. ceramah. penguasaan kemampuan berbahasa pun tidak berakhir di situ. Kendati tercantum dalam kurikulum. tentu tidak mudah.

Umumnya orang beranggapan bahwa keempat kemampuan berbahasa itu berkembang secara berurutan. pendapat. maka paradigma pembelajaran bahasa di sekolah adalah sebagai berikut. siswa dengan kemam-puan berbahasa lisan (menyimak dan berbicara) yang kurang efektif cenderung kurang efektif pula kemampuan berbahasa tulisnya (membaca dan menulis). Bukan begitu. pelbagai kemampuan itu berkembang secara interaktif dan saling mempengaruhi. 1. Sewaktu anak membaca. dipahami. Mungkin kemampuan menyimak anak berkembang lebih awal. dalam Tompkins dan Hoskisson. 1976. dan dari yang konkret ke yang abstrak. Pertama. dari yang dekat ke yang jauh. Kemampuan ini bukan hanya berkaitan dengan kemahiran siswa menyusun dan menuliskan simbol-simbol tertulis. dan menarik sehingga dapat dipahami oleh orang yang menerimanya seperti yang dia maksudkan. dan perasaannya secara jelas. pembelajaran bahasa harus beranjak dari yang mudah ke yang sukar. daya kemampuan berbahasa siswa akan mempengaruhi kemampuan akademik yang diperolehnya (Loban. sebaliknya. berisi. yaitu pembelajaran bahasa bertolak dari apa yang telah dikenal. Oleh karena itu. Penelitian yang dilakukan Walter Loban menunjukkan adanya bukti hubungan antara keterampilan berbahasa siswa serta keterampilan berbahasa dengan belajar. Begitu pula dengan kemampuan bacatulis. bila terlalu sukar akan memfrustasikan mereka. dari kemampuan menyimak. tetapi kemampuan itu segera diikuti oleh kemampuan berbicara. tetapi juga mengungkapkan pikiran. sikap. membaca. Siswa dapat belajar bahasa dengan baik apabila apa yang dipelajarinya terhubung dengan apa yang telah dimilikinya.1. Kemampuan menulis. maka sebetulnya ia pun menyimak respon lawan bicaranya. 1995). dan dikuasai siswa. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar. dari yang sederhana ke yang rumit. Pemilahan dan pengurutan itu hanya untuk keperluan akademik yang didasarkan atas komponen yang paling menonjol diperoleh anak dalam fase belajar bahasa. sinergis. berbicara. Beranjak dari uraian sebelumnya tentang hakikat bahasa dan belajar. maksudnya. Kedua. Pemilahan dan pengurutan keempat kemampuan berbahasa itu sepertinya menyiratkan bahwa masing-masing keterampilan itu terkesan berdiri sendiri. baru menulis. Kenyataan menunjukkan bahwa suatu aktivitas berbahasa melibatkan lebih dari satu jenis kegiatan berbahasa. Pengintegrasian pembelajaran dilakukan dengan bertolak dari sebuah tema tertentu yang berfungsi sebagai payung yang akan menghubungkan berbagai kegiatan berbahasa dan bersastra dalam kesatuan yang mengalir. apakah mencatat halhal yang dianggap penting atau belajar bagaimana penulis menata tulisannya. Apabila yang dipelajari siswa terlalu mudah. sebenarnya tanpa disadari ia pun melakukan kegiatan menulis. serta mengapa dan bagaimana anak belajar bahasa. Atas dasar itulah mengapa pembelajaran bahasa Indonesia perlu dilakukan secara terintegrasi atau tematik. serta memperhatikan perkembangan dan kemampuan siswa. maka akan membosankan mereka. Kedua hal itu akan menjadikan kegiatan belajar tidak bermakna. sistematis. . Pada akhirnya. Ketergangguan pada salah satu aspek akan dapat menghambat aspek kemampuan berbahasa lainnya. dan utuh. Ketika anak berbicara dengan temannya. yaitu kemampuan menyampaikan pesan kepada pihak lain secara tertulis. Terkait dan bertahap.

keterampilan) yang abstrak. Uji-coba (trial-error). kesastraan. yang mengarah pada salah satu atau lebih dari tujuh fungsi bahasa sebagaimana dipaparkan pada Bab I. membaca. berbicara. Demonstrasi. Dari model itu siswa akan meng-inspirasi atau mencontoh secara kreatif apa dan bagaimana membacakan berita itu dilakukan. Contoh. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. atau mudah. Fungsional artinya aktivitas berbahasa yang dilakukan siswa memiliki tujuan yang jelas dalam berkomunikasi. Ini berarti. yaitu pembelajaran bahasa yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan kegiatan dari perspektif atau sudut pandang siswa. atau sulit menjadi konkret. Imersi. yaitu pembelajaran bahasa dilakukan dengan ¶menerjunkan¶ siswa secara langsung dalam kegiatan berbahasa yang dipelajarinya. melihat TV. Model itu dapat berupa manusia (guru atau sumber lain) atau sesuatu yang lain. berikan ia model atau contoh karangan yang sesuai. guru memandu siswa untuk dapat menggali dan menemukan sendiri ¶teori¶ atau tata cara mengarang yang efktif dan efisien berdasarkan pengalaman yang dilaluinya. seperti: (1) Budi memukul anjing. Jika siswa kesulitan. dan menulis) dilakukan secara terpadu ²²baik antaraspek dalam bahasa Indonesia itu sendiri maupun dengan bidang studi lain²± serta terkait dengan kehidupan nyata. kesalahan dalam belajar bahasa merupakan bagian dari . Model atau contoh merupakan upaya pembelajaran yang dapat menjadikan sesuatu (konsep. siswa harus dapat membayangkan untuk apa dan dalam situasi berbahasa apa ia membuat kalimat atau wacana tersebut. 3. ketika siswa belajar mengarang.2. 2. Kita tidak akan lagi menemukan guru bahasa mengajarkan kalimat aktif dan pasif yang lepas konteks. yang tidak pernah ada dalam kegiatan berbahasa sehari-hari. keterampilan berbahasa yang terdiri atas menyimak. Otentik artinya aktivitas berbahasa siswa terjadi dalam konteks yang jelas. Integratif. atau keterampilan baru yang secara bertahap dapat meningkatkan kemampuan berbahasanya. akan lebih efektif apabila mereka diberikan model ¶pembacaan berita¶ dengan mendengarkan radio. karena gambaran yang ditampilkannya. tetapi juga yang tidak langsung melalui penyediaan berbagai sumber belajar bahasa yang kaya dan menarik. yang memang lazim digunakan dalam kenyataan berbahasa di luar kelas. Ketika siswa belajar membacakan berita. Selanjutnya. Pengerjaan (employment). Berikan ia pengalaman bagaimana dan seperti apa mengarang itu dengan memintanya menulis sebuah karangan dengan topik tertentu. ia diterjunkan langsung dalam kegiatan mengarang. yaitu siswa belajar bahasa melalui demonstrasi ²dengan pemodelan dan dukungan² yang disediakan guru. fungsional. dan otentik. Demonstrasi itu tidak hanya sesuatu yang dicontohkan secara langsung kepada siswa. yaitu pembelajaran bahasa dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam berbagai kegiatan berbahasa yang bermakna. rumit. seder-hana. sikap. Bermakna artinya kegiatan berbahasa yang dilakukan siswa dapat menghasilkan wawasan. 3. (2) Anjing dipukul Budi. Dengan paradigma ini diharapkan tidak terjadi lagi adanya tugas atau kegiatan siswa yang asal-asalan atau hanya sekedar rekaan. sikap. atau melihat contoh yang ditampilkan guru. 1. kalau siswa harus membuat satu kalimat atau wacana. yaitu pembelajaran aspek-aspek bahasa (kebahasaan.

dengan sendirinya terkandung di dalamnya. Upaya ini akan bermanfaat bagi siswa untuk (1) menyalurkan minat dan keinginannya dalam belajar bahasa. guru dapat memilih dan mengembangkan metode dan strategi pembelajaran bahasa Indonesia. mendorong atau membesarkan hatinya apabila siswa melakukan kesalahan disertai dengan pemberian masukan. termasuk portofolio) untuk memantau kemajuan dan hasil belajar peserta didik. tujuan dan cara belajar bahasa anak. Bearanjak dari konsepsi tentang pembelajaran Bahasa Indonesia tersebut. hakikat belajar. . siswa diberi kesempatan untuk memilih salah satu karya sastra yang dibacanya. lalu bagaimana asesmen belajar siswa harus dilakukan? Berikut ini merupakan rambu yang perlu diperhatikan dalam melakukan asesmen Bahasa Indonesia. Implikasinya: (1) semua kompetensi perlu dinilai menggunakan acuan kriteria berdasarkan pada indikator hasil belajar. dan lingkungan yang kaya dengan sumber belajar bahasa. 3. Selanjutnya. tetapi memberinya kesempatan untuk memperbaiki atau menyempurnakan hasil kerjanya melalui uji-coba yang dilakukan siswa 4. artinya siswa akan berupaya untuk sukses atau berhasil dalam belajar. maka prinsip-prinsip pembelajaran bahasa seperti mengaktifkan siswa. bermakna. otentik dan kontekstual. mengerti. melalui proses dan produk. 2.proses belajar bahasa itu sendiri. dan (2) menjadikan siswa lebih percaya diri dan bertanggung jawab atas tugas atau kegiatan yang dipilih dan dilakukannya. dan (2) capaian hasil belajar ditetapkan dengan ukuran atau tingkat pencapaian kompetensi yang memadai dan dapat dipertanggung-jawabkan sebagai prasyarat penguasaan kompetensi lebih lanjut. dengan menggunakan pelbagai metode dan alat penilaian (tes dan nontes. 1. tulis. berdasarkan paradigma pembelajaran bahasa tersebut. misalnya. serta memberikannya penguatan apabila siswa melakukan hal yang benar. Oleh karena itu. Sikap guru itu ditunjukkan melalui perilakunya yang mau memperhatikan. yaitu pembelajaran bahasa memberikan pelu-ang kepada siswa untuk memilih aktivitas berbahasa yang akan dilakukan-nya. serta merancang upaya peningkatan kekuatan dan perbaikan kelemahannya. perbuatan). 5. Berpengharapan (expectation). serta dilakukan secara formal maupun informal. Dengan kedelapan prinsip tersebut. Kalau siswa mendapat tugas membaca suatu karya sastra cerpen. Apapun strategi pembelajaran yang digunakan guru tidak menjadi masalah selama sesuai dengan hakikat bahasa. siswa akan lebih percaya diri dalam belajar apabila ia mengerti bahwa gurunya tidak hanya menekankan pada ketepatan. Tanggung jawab (responsibility). Penilaian di dilakukan dalam pelbagai bentuk (lisan. dan membantu kesulitan siswa. Penilaian melibatkan siswa melalui refleksi dan pemberian balikan yang memungkinkannya menemukan kekuatan dan kelemahannya dalam belajar. Penilaian dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kemajuan dan hasil belajar dalam ketuntasan pengusaan kompetensi (mastery learning). jika dia merasa bahwa gurunya mengharapkan dia menjadi sukses. Siswa pun diberikan kebesan untuk memilih bentuk respon terhadap karya sastra yang dibacanya. serta paradigma pembelajaran bahasa.

Diskrepansi pengejawan-tahan kurikulum merentang dari kadar yang sangat rendah dalam bentuk adopsi kurikulum yang superfisial dan parsial. Dari ketiga hal itu. kebisaan. serta berbagai hal lain yang mendukung keberhasilan pelaksanaan inovasi. sikap. yaitu orang. Hasil penilaian diinformasikan kepada siswa. fase implementasi KTSP merupakan fenomena yang menarik untuk dikaji. Karenya. IMPLEMENTASI KURIKULUM BAHASA INDONESIA PMU Pengalaman perubahan kurikulum yang terjadi di Indonesia selama ini menunjukkan bahwa pada akhirnya persoalan terbesar terletak pada pelaksana-annya. tetapi juga memerlukan paradigma. petugas sosialisasi. Penilaian kelas sebagai bagian integral dari kegiatan pembelajaran dilakukan oleh guru. serta elemen yang menjadi sasaran sosialisasi. Informasi memuat deskripsi kemajuan dan hasil belajar secara utuh dan menyeluruh. Untuk itu. implementasi yang efektif dari sebuah kurikulum baru memerlukan waktu. Banyak faktor yang berkontribusi. implementasi kurikulum perlu dipersiapkan sedemikian rupa. yang disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Tentu saja tak ada faktor tunggal yang mengakibatkan terjadinya keadaan seperti itu. Hasil penilaian dapat digunakan untuk mendiagnosis dan memberikan umpan balik untuk perbaikan pembelajaran dan program. dan komitmen baru guru dan aparat terkait. cara. Menurut amatan penulis. Faktor lainnya ialah masalah penyiapan dan pembinaan kemampuan guru sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh kurikulum baru. Sebagai-mana terjadi pada setiap penerapan kurikulum baru sebelumnya. yang satu sama lain saling berkelindan. dan jenis penilaian. pember-lakukan KTSP pun diwarnai oleh hiruk pikuk keragaman persepsi bahkan kebingungan dan kesalahpahaman yang menghinggapi para pelaksananya. BAB IV. Persiapan itu meliputi tiga hal yang saling terkait.4. khususnya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMA. dan pihak-pihak yang berkepentingan. Menurut Fullan dan Pomfret (dalam Ornstein & Hunkins. Dalam pelaksanaan penilaian kelas. Persoalan dalam dimensi itu mencakup kelemahan dalam penyiapan bahan dan strategi kegiatan sosialisasi. . pelatihan dalam-tugas (in-service training). orang tua. Penilaian Kelas berorientasi pada: 5. Bagaimanapun pelaksanaan kurikulum baru tidak sekedar menghendaki adanya pengetahuan baru. Untuk keperluan tersebut. penulis mencoba ¶terjun ke lapangan¶ guna memotret dan menelisik bagaimana kurikulum itu diterapkan. 1993). program. hingga kadar yang sangat tinggi dalam bentuk adopsi esensi yang komprehensif. ketuntasan sosialisasi. ¶orang¶ sebagai pelaksana merupakan faktor kunci dan elemen strategis yang paling menentukan keberhasilan iplementasi kurikulum. di antara faktor yang selama ini sangat meng-ganggu keberhasilan pelaksanaan kurikulum baru ialah dimensi sosialisasi. guru berwenang untuk menentukan kriteria keberhasilan. dan proses. kontak dan interaksi personal. kebiasaan. Tataran implementasi kerap terseok-seok ketika dihadapkan pada cermin kurikulum sebagai sebuah rencana atau dokumen. Pada tahun 2006 pemerintah menggulirkan penerapan kurikulum baru.

Kini. dia dan peserta lainnya berlatih membuat silabus. Namun. prosedur pengembangan. Sosialisasi dan Pemahaman tentang KTSP Menurut sumber data. program semester.Sayangnya. serta program semester dan rencana pelaksanaan pengajaran (RPP) kelas X semester pertama. Ibu yang berusia 47 tahun dengan tiga anak itu aktif pula di MGMP Kota Bandung dan Bandung Utara sebagai sekretaris. Bekal pelatihan dan posisinya di MGMP. Sketsa tentang Pelaksanaan KTSP Bahasa Indonesia di PMU Dalam rangka memahami penerjadian KTSP pada tataran persekolahan. 1. Profil Sumber Data Sumber data adalah seorang guru perempuan mata pelajaran bahasa Indo-nesia. penulis mengkaji perangkat dokumen KTSP yang telah dikembangkan oleh sumber data dan sejawat-jawatnya dalam MGMP. untuk kepentingan wawancara saat itu juga. blak-blakan. Yang bersangkutan juga menyerahkan ¶perangkat dokumen¶ KTSP berupa silabus mata pelajaran bahasa Indonesia SMA untuk kelas X ± XII. saat akan ke lapangan. Pelatihan pertama disampaikan oleh unsur Dinas Pendidikan Kota Bandung selama satu hari. dan perangkat pendukung pelaksanaan KTSP? Berikut penulis sajikan rangkuman hasil wawancaranya. Materi yang diberikan berupa apa. A. Penulis pun akhirnya hanya melakukan wawancara dengan seorang guru Bahasa Indonesia dari SMAN 19 Bandung. Para siswa sedang disibukkan mengikuti ujian praktik dan persiapan ujian sumatif. Pendidikan S1 dan S2 Bahasa Indonesia telah diraihnya dari UPI Bandung. Di samping mengajar di SMAN 19. banyak berbicara. dan mau diajak berbicara apa saja. penulis berhasil mewawancarai seorang guru Bahasa Indonesia dari SMAN 19 Bandung. ia memperoleh dua kali pelatihan tentang KTSP. mengapa. Lalu. Orangnya ramah. . gesit. untuk melengkapi wawancara tersebut. Dipandang dari segi apa pun. hanya upaya itu yang bisa dikerjakan. dan yang kedua oleh pengawas mata pelajaran Bahasa Indo-nesia selama tiga hari. dan RPP Bahasa Indonesia. 2. ia pun mengajar di sejumlah sekolah lain dan lembaga bimbingan tes. dan bagai-mana KTSP. menjadikan dia merasa paham dan berkesanggupan untuk memberikan pelatihan KTSP bagi para guru Bahasa Indonesia SMP dan SMA. Panduan pengumpulan data yang telah penulis siapkan pun secara spontan diubah (lihat lampiran). pengandalan satu sumber data untuk sebuah tulisan tidaklah memadai. Oleh karena itu. Ia juga memberikan pelatihan instruksional lainnya seperti pengembangan soal dan pembelajaran Bahasa Indonesia. kegiatan pembelajaran di kelas telah usai. Hasil wawancara dan studi dokumen disajikan sebagai berikut. ia tengah menempuh semester 3 program S3 di jurusan dan institusi yang sama. Pelatihan KTSP telah diikutinya dua kali. Kiprahnya dalam pendidikan di sekolah membuatnya terpilih sebagai guru pavorit dan guru yang paling banyak menugaskan siswa-nya untuk ke perpustakaan. Dalam pelatihan itu. dalam kondisi yang sangat tidak ideal itu. apakah persepsi sumber data tentang KTSP.

dan selanjutnya diturunkan Rencana Pelaksanaan Pengajaran (RPP). Semua dokumen kurikulum KTSP. Katanya ini bahan untuk ujian nasional´ Intr: ´Kalau begitu. Atau. Itu saja. inte = yang diwawancara (interviwee) .´ Ket. Namun demikian.´ Penulis sempat mempertanyakan kepada sumber data bagaimana pemanfa-atan Permendiknas nomor 22 dan 23 Tahun 2006 dalam pengembangan KTSP. yang dijabarkan oleh sekolah ke dalam bentuk dokumen-dokumen yang menjadi pedoman guru dalam pembelajaran. dikembangkan bersama-sama dalam MPGMP. pengembangan KTSP untuk bahasa Indonesia dilakukan dengan mengacu pada kurikulum itu. Saat ini kami telah memiliki silabus mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas X ± XII. KTSP baru diterapkan di kelas X. Oleh karena itu. Penyusun-an kalender sekolah menunggu kalender pendidikan yang dikembangkan dan ditetapkan oleh Dinas Pendidikan. Kami menggunakan Kurikulum 2004. Berikut kutipan wawancaranya. serta program semester dan RPP untuk kelas X semester I. Kok yang disampaikan penatar Kurikulum 2004. kami peroleh ini (Intr: SKLMP Bahasa Indonesia untuk kelas XII). Tetapi.´ Intr: ´Jadi. jangan-jangan kegiatan itu hanya untuk menghabiskan uang saja. Pengembangan RPP saya pandu dengan memberikan masukan mana yang mungkin dan tak mungkin diterapkan. Dari silabus disusun program semester. Kalender pendidikan belum disusun. Intr: ´Dalam mengembangkan KTSP. Saya jadi bingung sendiri apa sih KTSP itu. Untuk SMA. Itu kan sudah diterapkan. khusus untuk RPP keputusan akhirnya diserahkan kepada masing-masing guru untuk memodifikasinya jika diperlukan. saya tidak setuju. Dari kurikulum tersebut dikembangkan silabus. Tapi seminggu lalu. termasuk RPP. lalu apa yang dimaksud Teteh dengan KTSP?´ Inte: ´Ya itu tadi. KTSP adalah sebuah model kurikulum dari Kurikulum 2004. Menurut saya.: Intr = pewawancara (interviewer). KTSP itu model Kurikulum 2004. apa yang dilakukan oleh Teteh dan tim terhadap Permendiknas nomor 22 dan 23 tahun 2006?´ Inte: ´Apa tuh «?´ Intr: ´Itu tuh tentang Standar Kompetensi Isi atau SKI dan Standar Kompetensi Lulusan atau SKL? Inte: ´Tidak tuh! Kami tak pernah tahu itu dan tidak menggunakannya dalam pengembangan KTSP. dalam penataran. penyaji tidak menyampaikan keberadaan dan isi dari Permendiknas itu?´ Inte: ´Tidak! Penyaji hanya menyampaikan apa itu KTSP dan bagaimana mengem-bangkan KTSP.´Sebagian orang menyebut KTSP dengan Kurikulum 2006.

bahan rujukan untuk materi yang diperlukan susah. Jadi. penulis bertanya tentang pengajaran Bahasa Indonesia yang biasa dilakukan oleh sumber data. Ketiga. maka materi itulah yang paling banyak. Tak ada pilihan. Anak-anak sering mengeluh bosan. penguasaan materi ajar lemah dan tidak komprehensif. Misalnya. Kalau kemampuan guru seperti itu. Saya tidak mau malu nilai ujian nasional anak-anak jelek. isinya banyak yang tak relevan. mereka harus membuat tiga alinea tentang sebuah topik. Saya secara tidak langsung ditugasi menyiapkan siswa agar nilai ujian bahasa Indonesianya bagus. Keempat. sastra. Kalau yang dikuasainya tentang cerpen. bagaiman bisa diharapkan mereka dapat merancang dan melakukan pembelajaran secara terpadu atau tematik. karena kelas itu akan menghadapi ujian nasional. Maunya dibimbing terus. Kalau materi yang paling dikuasai guru itu sastra.´ Intr: ´Padat sekali dong materi yang diberikan kepada anak-anak?´ Intr: ´Memang. Banyak sih buku pelajaran Bahasa Indonesia. penulis mencoba menggali kesulitan yang dialami sumber data atau temantemannya dalam mengembangkan KTSP. kalau yang dikuasainya tentang puisi. maka yang banyak diberi-kan kepada anak-anak tentang cerpen. lemahnya pemahaman dan keterampilan guru tentang ranah belajar. Juga. lemahnya kemauan guru untuk belajar secara mandiri. serta pemilihan kata kerja yang digunakan dalam mengembangkan indikator. guru biasanya kurang menguasai kedua materi itu. Saya terima juga kalau mereka hanya menyerahkan satu alinea. maupun keterampilan berbahasa. Kedua. Pertama. Bagi saya yang penting mereka mengalami dan mengerjakan tugas itu. sehingga saya tahu apa yang harus saya lakukan. Ada beberapa penyebab terjadi-nya kesulitan itu. para guru itu mau cerita tentang hal-hal yang sudah dan belum diberikan. Bukankah pendekatan itu memerlukan penguasaan materi pelajaran yang bagus?´ Mengakhiri kegiatan wawancara ini.Selanjutnya. Tetapi. termasuk dalam pengajaran. Intr: ´Biasakah ceritakan apa yang dilakukan Teteh dalam pengajaran Bahasa Indonesia di kelas?´ Inte: ´Saya ditugasi mengajar di kelas XII.´ Intr: ´Memangnya apa tantangan mengajar di kelas XII selama ini?´ Inte: ´Saya harus merapikan dan sekaligus memperkuat basic pengetahuan anak-anak baik tentang bahasa. Tetapi. Inilah cuplikannya. ngajarnya kok tidak bagus. ´Kesulitan dalam pengembangan KTSP itu terutama dalam menjabarkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar ke Indikator. Semua tugas dan tes siswa saya catat . Untungnya. teori saya berikan di kelas. sedangkan keterampilannya dikerjakan di rumah sebagai tugas. Begitu pula jika yang paling dikuasai materi tentang kebahasaan dan keterampilan berbahasa. termasuk jenjang-jenjang kemampuan. Saya tidak menuntut apa yang mereka lakukan harus sempurna betul. Apa kata orang nanti. Ini terjadi seperti saya katakan tadi guru umumnya mengajar sesuai dengan keahlian-nya saja. Inilah rangkuman informa-si yang berhasil digali. sudah S2 dan sedang S3 lagi.

´ Intr: ´Lalu. dan menulis. serta Program Semester dan RPP kelas X semester 1. Silabus kelas X-XII. 1) Kurikulum 2004 SMA Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Dokumen ini berisi standar kompetensi dan kompetensi dasar. serta pedom-an khusus pengembangan silabus dan penilaian. berbicara. sebagai mana halnya silabus. Perangkat Dokumen KTSP Penulis dipinjami oleh sumber data seperangkat ´Dokumen KTSP´. bagaimana?´ 3. kompetensi dasar. Berisi standar kompetensi. hanya berisi elemen-elemen esensial pelaksanaan pengajaran Setiap RPP hanya memuat satu aspek keterampilan berbahasa. anehnya tugas-tugas yang saya berikan dipandang orang tua membebani anak. Paling rendah 7. dan ada pula yang 10. dan jadwal pembelajaran. lalu kalau nilai siswa rendah atau ada yang tak lulus. Mereka mengadukannya kepada kepala sekolah. . apa hasil pengajaran yang seperti itu dan bagaimana reaksi siswa. Materi pembelajaran kebahasaan dan kesastraan diintegrasikan ke dalam empat aspek keterampilan berbahasa.8. 3) Program semester y y Program semester diturunkan dari silabus. memba-ca. Setiap aspek keterampilan berbahasa berikut standar kompetensi dan kompetensi dasarnya dijabarkan sendiri-sendiri.sehingga isi buku nilai berderet. Tetapi. materi pokok dan sub-sub pokok. Lalu. orang tua. Padahal. yang dikeluarkan oleh Dep-diknas. yaitu menyimak. alokasi waktu. Perang-kat dokumen itu terdiri dari Kurikulum 2004. kepala sekolah memanggil saya agar mengajar-nya biasa-biasa saja. Kalau mengajarnya biasa-biasa saja. Inilah gambaran singkat tentang pelbagai dokumen tersebut. 4) Rencana pelaksanaan pengajaran (RPP) y y y y Dokumen RPP diturunkan dari silabus dan program semester. guru lain hanya tiga sampai empat saja komponen penilaiannya. 2) Silabus Mata Pelajaran Bahasa Indonesia y y y y Menurut pengakuan sumber data. Dikembangkan oleh MGMP untuk kepentingan pembelajaran satu semester Disajikan secara singkat. pengembangan silabus bertolak dari Kurikulum 2004. dan kepala sekolah?´ Intr: ´Nilai ujian nasional pelajaran Bahasa Indonesia anak-anak bagus. Silabus yang dikembangkan mencakup kelas X ± XII. Saya sendiri bingung.

Kurikulum 1984. Kurikulum 1994. Kebijakan ini memungkin-kan setiap satuan pendidikan dan pemerintah daerah mengembangkan kurikulum sesuai dengan keperluannya. dst. seperti Kurikulum 1984 dan 1994. untuk RPP. Oleh karena itu. pengembangan kurikulum itu harus mengacu kepada standar kompetensi minimal (SKL) dan standar isi yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. ada beberapa peluang terjadinya kenegatifan dalam kebersamaan seperti ini. serta kelompok guru satuan pendidikan (PKG) atau kelompok guru bidang studi sekolah (MGMP) merupakan wahana saling belajar dan saling membantu yang cukup efektif. sekolah. Sebutan KTSP menyi-ratkan nuansa politis desentralisasi pendidikan di mana satuan pendidikan (sekolah) dengan topangan pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk mengembangkan sendiri kurikulum pendidikannya. menjadi desentralistik. dan daerah. c. Pertama. kendati dokumen itu dikembangkan bersama tetapi masing-masing guru memiliki peluang untuk menyesuaikan dengan kebutuhan kelasnya. Artinya. Pembahasan 1.B. Tetapi. 1. seperti KTSP. Label tahun 2006 memiliki konotasi makna sentralistik sebagaimana halnya dengan nama Kurikulum 2004. kendati peresmiannya dilakukan pada tahun 2006. ada beberapa informasi pen-ting berikut yang patut digarisbawahi. Namun demikian. a. 1. Kedua. KTSP memang bersumber dari Kurikulum 2004 yang substansinya telah direduksi dan disesuaikan berdasarkan masukan dari berbagai pihak. Yang pasti silabus dan program semester sama. melainkan model pengelolaan kurikulum. Jadi. kekeliruan informasi yang disampaikan oleh sumber atau . Situasi kesejawatan memungkinkan terjadinya interaksi saling memberi dan menerima dalam menghadapi sebuah situasi baru. dapat dipahami jika keberadaan KTSP tidak melalui uji coba karena fase itu dianggap telah dilakukan melalui piloting Kurikulum 2004. Pengembangan KTSP dilakukan di dalam MGMP Pengembangan KTSP memang tidak harus dilakukan oleh setiap guru atau sekolah. Sosialisasi dan Pemahaman tentang KTSP Berkenaan informasi tentang KTSP tersebut. penulis masih bisa menerima jika ada yang mengatakan bahwa KTSP merupakan varian dari Kurikulum 2004. pemerintah pusat mendelegasikan kewenangan pengembangan kurikulum ke guru. 1. keseragaman produk dan pengabaian keunik-an masing-masing sekolah bahkan guru. Kerja sama antarsekolah. Kurikulum yang semula sentralistik. sebagaimana diamanatkan dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 dan UU Nomor 14 tahun 2005. b. Namun demikian. KTSP adalah Kurikulum 2006 Penulis sependapat dengan sumber data bahwa KTSP bukanlah Kurikulum 2006. KTSP adalah sebuah model dari Kurikulum 2004 Sebagaimana pernah diberitakan oleh BSNP dan pejabat Depdiknas. termasuk sekolah-sekolah dalam sebuah rayon. KTSP bukanlah sebuah model kuriku-lum.

a. Lalu. Perangkat Dokumen KTSP Dalam kaitannya dengan pengakuan responden tentang pengembangan perangkat dokumen KTSP. terdapat sejumlah hal berikut yang perlu digaris-bawahi. Kecarutmarutan. sehingga mereka tinggal switch off-on dari kurikulum lama ke KTSP. menurut pengakuan-nya. ´Ah ini kan kegiatan proyek. bagaimana dengan sosialisasi pene-rapan KTSP dalam tataran praksis pembelajaran? Janganjangan guru dianggap sudah mengerti dan berpengalaman. tak perlu diherankan jika pemahaman banyak pihak tentang KTSP menjadi beragam. dari telaah yang penulis lakukan terhadap perangkat dokumen KTSP itu ada beberapa hal yang perlu dikemukakan. Depdiknas atau BSNP tidak banyak belajar dari persoalan masa lalu. Lalu. dan RPP yang dikembangkan oleh anggota MGMP Bahasa Indonesia. dan penyepelean sosialisasi KTSP kembali terjadi. sebagaimana halnya mispersepsi tentang konsep KTSP. ketidak-sistematisan. Ketika mengikuti penataran. diturunkan dari Kurikulum 2004 SMA/MA. 1. Kejadian ini menimpa guru senior yang berada di daerah kota penyangga ibu kota pemerintahan pusat. dia sempat bertanya-tanya dalam hatinya kenapa KTSP tidak berbeda dari Kurikulum 2004. 1) Silabus . Mereka sepertinya berang-gapan bahwa semua orang yang pernah mengikuti sosialisasi KTSP otomatis bisa menjadi diseminator yang baik. apa jadinya dengan mereka yang ada di pelosok? Memperhatikan fenomena tersebut tampaknya kesalahan yang sama dalam setiap perubahan kurikulum berulang. 1. Atas dasar itu. 2. d. Pemahaman tentang Permendiknas nomor 22 dan 23 Sangat menyedihkan memang ketika memperbincangkan dan mengem-bangkan KTSP orang yang terlibat di dalamnya tidak mengenal muatan dari Permendiknas nomor 22 dan 23 tahun 2006. ketaktuntasan. Akibat perilaku dan strategi sosialisasi seperti itu. Sosialisasi itu baru dilakukan pada dimensi konsep-tual dan pengembangan dokumen. Tak ada bahan sosialisasi standar. Semua dokumen itu. Namun demikian. pertanyaan itu segera ia bungkus dengan mengobati dirinya sendiri. Tetapi. merentang dari yang keliru hingga yang benar. ketergesaan. Perangkat dokumen KTSP dikembangkan dari Kurikulum 2004 Sebagaimana dikemukakan sebelumnya. dapatlah dipahami jika sumber data memiliki persepsi yang tidak pas tentang KTSP.pupuhu berpeluang besar menimpa semua elemen dalam komunitas itu. Hanya untuk menghabiskan uang.´ 1. program semester. sumber data telah memiliki doku-men KTSP berupa silabus. juga tak ada kriteria yang jelas dan standardisasi kemampuan petugas diseminasi pada semua lini. Kalau itu yang dimaksud dengan KTSP untuk apa lagi diberikan.

Kurikulum 2004. Menanggapi siaran atau informasi dari media elektronik (berita dan nonberita) 1. Di antara ketiga kemungkinan itu. ada tiga kemungkinan yang terjadi. khususnya standar kompetensi dan kom-petensi dasar. kemudian komunitas MGMP diminta untuk mereviu dan memperbaikinya. penatar memperoleh lampiran Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 yang berisi rumusan Standar Kompetensi dan Dasar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Indonesia kelas X-XII. mengapa terjadi perbedaan antara pengakuan sumber data bahwa silabus itu dikembangkan dari Kurikulum 2004. tuturan dan non berita) langsung. Ketiga. ternyata keduanya diambil dari Lampiran Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006. atau pembacaan teks dan memberikan 3) Mengidentifikasi tanggapan unsur sastra (intrinsik dan ekstrinsik) suatu 2) Mendengarkan berbagai cerita yang disampaikan cerita yang disampaikan secara secara langsung atau melalui langsung/melalui rekaman rekaman 3) PERMENDIKNAS Memahami siaran atau cerita yang disampaikan secara langsung/tidak langsung KD a. Pertama. Tidak diturunkan dari Kurikulum 2004. sedangkan kenyataannya bersumber dari Permendiknas Nomor 2001 Tahun 2006? Beranjak dari inkonsistensi itu. Dokumen itu selanjutnya diserahkan kepada MGMP untuk digunakan sebagai acuan dalam pengembangan silabus. kemungkinan kedua yang paling logis. RMS SILABUS Memahami siaran atau SK cerita yang disampaikan secara langsung/tidak langsung KURIKULUM 2004 Mampu memahami dan menanggapi berbagai ragam wacana lisan nonsastra melalui mendengarkan informasi (siar-an berita dan nonberita) baik dari media elektronik maupun cerita yang disampaikan secara langsung atau melalui rekaman 2) Menanggapi 1) Mendengarkan siaran/ siaran/informasi dari informasi dari media media elektronik (berita elektronika. Mengidentifikasi unsur sastra (intrinsik dan ekstrinsik) suatu cerita yang disampaikan seca-ra langsung/melalui rekaman Lalu. Mari bandingkan cuplikan rumusan kompetensi mendengarkan yang terdapat dalam silabus. penatar (pengawas mata pelajaran Bahasa Indonesia) telah memperoleh silabus tersebut dari penataran yang dia ikuti sebelumnya. sebagai-mana dikatakan oleh sumber data.Mencermati isi silabus tersebut. silabus yang telah diperoleh penatar diserahkan kepada MGMP untuk dimanfaatkan sebagai acuan dalam menyusun program semester dan RPP. Dokumen silabus itu diperoleh penatar dan diberikan kepada MGMP sebagai acuan dalam pengembangan program . Kedua. dan Lampiran Permendiknas Nomor 22 untuk kelas X semester 1.

o Jadwal pembelajaran belum tercantum . Dengan demikian. secara prosedural sebenarnya keliru.a aspek mendengarkan tampak bahwa jabaran materi. Simpulan penulis ini didasarkan atas beberapa temuan berikut. tidak sepenuhnya konsisten satu sama lain dengan kompetensi dasarnya. pengakuan sumber data dalam hal ini benar. sumber data sebenarnya tidak melihat dokumen Kurikulum 2004 mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dia hanya menerima silabus yang sudah jadi. sedangkan dalam silabus 4 jam pertemuan. kegiatan pembelajaran. ada beberapa kelemahan berikut. dan sumber/bahan/alat. seperti ´Disusun oleh Tim MGMP Bandung. tanpa ada identitas pengembangnya. Melihat dokumen yang dihasilkan. Mungkin penatar memperolehnya dari penataran yang ia ikuti sebelumnya. penilaian. dan tidak mengembangkannya. dan jabarannya tidak ada. baru ke silabus. Temuan ini berarti sumber data sebenarnya belum terlalu memahami KTSP Dari rumusan kompetensi 1 dan 1. Dia dan tim MGMP tidak mengembangkan silabus itu. sedangkan kegiatan merespon informasi tidak ada. y y Format program semester telah sesuai dengan ketentuan. Komponen materi hanya mencantumkan informasi berita. Komponen indikator belum menyertakan kemampuan yang terkait dengan aktivitas menyimak. Komponen kegiatan pembelajaran lebih mengarah pada aktivitas rep-roduksi isi berita.a aspek mendengarkan. alokasi waktu. indikator. Sumber data mengatakan bahwa Program Semester diturunkan dari silabus. tetapi nonberita tidak ada. y y y y y Komponen materi pembelajaran tidak mencakup informasi nonberita. Pada cover silabus tertulis ´Contoh Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Bahasa Indonesia´. melainkan menerimanya dalam keadaan sudah jadi. hasil analisis menunjukkan silabus itu diturunkan dari standar kompetensi dan kompetensi dasar (SK-KD) Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006. Tetapi. Semestinya yang dikembangkan itu program semester terlebih dahulu. atau dari penerbit yang konon telah menyiapkan silabus untuk setiap mata pelajaran dan menyebarkannya kepada aparat dinas pendidikan dan guru. 2) Program semester Mencermati jabaran rumusan kompetensi 1 dan 1. Komponen penilaian menyertakan pelbagai instrumen yang dapat mengases kemampuan dalam kompetensi dasar. Komponen alokasi waktu dan sumber/bahan/alat sesuai dengan karakter kompetensi yang ditetapkan. apalagi SKKD Permendiknas. o Alokasi waktu 2 jam. y y y Sumber data mengatakan bahwa silabus diturunkan dari Kurikulum 2004.semester dan RPP. Tetapi. Pokok materi tidak lengkap. Ini berarti. saya duga sumber data tidak berbicara yang sesungguhnya.

Akhirnya.a aspek mendengar-kan pada RPP. maupun alat/ sumber/bahan pelajaran. program semester. KTSP meng-hendaki penggunaan tematik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. sehingga tidak cukup untuk dijadikan pedoman operasional pembelajaran. Itu pun hanya yang terkait dengan informasi berita. Dokumen silabus yang ia berikan kepada penu-lis tampaknya sudah terima jadi dari pihak lain. baru silabus. 2) Keadaan itu dapat dipahami jika kemudian sumber data mengatakan bahwa program semester dikembangkan dari silabus. 4) Sumber data tidak sepenuhnya jujur dalam memberikan informasi. 1. sementara nonberita tidak ada. dan RPP). secara prosedural mestinya program semester dulu. ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. dalam komponen materi dinyatakan siaran langsung dari radio atau televisi. 3) Terdapat inkonsistensi vertikal (antara silabus. Apa yang disusun persis seperti yang tersaji dalam silabus dan program semester. Komponen sumber/alat bantu mencantumkan surat kabar dan buku teks. program semester. penilaian. pendalaman hal ini tidak bisa dilakukan karena sumber data hanya satu. . program semester. Padahal. atau rekam-an berita dan nonberita. y y y y y y Komponen materi hanya mencantumkan sub-sub pokok materi saja. teks yang dibacakan. Rincian pokok bahasan dalam silabus. dan RPP) dan horizontal (antar komponen dalam silabus. baik dalam materi pelajaran. Pengorganisasian materi pelajaran terpisah-pisah.3) RPP Dari telisik terhadap jabaran rumusan kompetensi 1 dan 1. Metode yang dipilih dapat digunakan untuk mangajarkan materi yang diisyaratkan oleh kompetensi dasar. dan RPP. Kesulitan guru dalam menjabarkan KTSP Sebagaimana disampaikan sebelumnya. Padahal. Informasi yang terdapat pada penilaian dan alat penilaian tidak jelas. serta kegiatan pembelajaran dalam program semester dan RPP tidak lengkap sebagaimana diminta oleh kompetensi dasar. 1) Sumber data dan tim MGMP-nya tidak melakukan pengembangan silabus sebagaimana pengakuannya. Sayang. kegiatan pembelajaran. tantangan yang dihadapi guru dalam penjabaran KTSP terutama terletak pada kekurang-cukupan atau kekurangkomprehensifan penguasaan materi ajar dan metodologi pembelajaran Bahasa Indonesia. Tak ada sumber elektronik. menurut sumber data. b. berdasarkan temuan dari perangkat dokumen KTSP tersebut dapatlah disimpulkan sebagai berikut. Kegiatan belajar-mengajar hanya memuat aktivitas umum yang tidak lengkap. Padahal.

Secondary Education: An Introduction. Perubahan kurikulum bukan sekedar pergantian dokumen. Lalu. Khususnya. Amstrong. Wujud Sumir Penerapan Kurikulum Informasi yang diperoleh dari sumber data semakin memperkukuh keya-kinan penulis bahwa ujian nasional itu menjadi momok bagi para guru yang mengajar di kelas XII. T. Dan Goldman. dan keterampilan berbahasa) secara memadai. Oleh karena itu. apa jadinya praksis pendidikan persekolahan yang seperti ini bagi peserta didik? BAB V. penerapan pendekatan integratif atau tematik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. SIMPULAN Mengembangkan kurikulum yang konsisten secara konseptual dari hulu ke hilir. Alwasilah. Persoalan referensi sebenarnya cukup banyak tersedia selama mau mencari dan bekerja keras meraciknya. Linguistik: Suatu Pengantar.G. Sebagai contoh.R. Melainkan berimplikasi luas terhadap perubahan paradigma. New York: Macmillan Publ. kebiasaan. dsb. tak heran apabila pembelajaran Bahasa Indonesia pun. Ada apa ini? Sampai kapan ketegangan antara inovasi (pembaharuan dalam kurikulum-pembelajaran) dan tradisi (mengajar dengan kebiasaan lama) akan terjembatani? DAFTAR KEPUSTAKAAN Aldridge. Co. Rendahnya nilai apalagi ketidaklulusan siswa dalam ujian nasional akan menjadi citra buruk bagi reputasi diri guru itu sendiri dan sekolahnya. Itulah akar masalahnya. Lebih tidak mudah lagi mengimplementasikannya. memang belum ada di Indonesia ini. Setelah 12 tahun. Tetapi. D. disadari atau tidak. misalnya. Current Issuues and Trends in Education.) yang siap pakai. Ch. Apalagi jika penerapan kurikulum baru itu tidak disertai dengan penyiapan lapangan yang baik. mereka yang mengajar mata pelajaran yang diujikan dalam ujian nasional. J. Bandung: Angkasa. Inc.. (1983). Penerapan pendekatan pembelajaran itu hanya dapat dila-kukan apabila guru menguasai semua aspek materi pelajaran Bahasa Indonesia (kebahasaan. . (2002). realisasi pendekatan itu belum juga dapat diwujud-kan pada tataran praksis pembelajaran. memang tidak mudah. (1983). A. R. kalau yang dimaksudkan adalah referensi (buku pelajaran.Kemampuan guru yang seperti itu memang tidak dapat diharapkan untuk dapat merancang dan melaksanakan pembelajaran Bahasa Indonesia secara tematik atau terpadu. dan kemampuan lama menuju yang baru. dan Savage. sangat memperhatikan apa yang akan terjadi pada ujian nasional. Keadaan ini. menjadikan pembelajaran dikendalikan oleh tes. sebenarnya sudah diberlakukan sejak Kuriku-lum 1994. Boston: Allyn & Bacon. kesastraan. 3.

Coombs. Columbia University. New York: Oxford University Press.S. H. Brown. M.R. (1992).. M. Language and Thinking in School: A Whole Language Curriculum. The Mindful School: How to Integrate the Curricula. New Jersey: Lawrence Erlbaum Ass. Paradigma Baru pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokrati-sasi. New York: Teachers College. The World Crisis in Education: The View from the Eighties. and Winston. Language. Yogyakarta: Kanisius. Integrated Literacy Instruction. R. (1998). dan Reider. Ph.E. Edisi III.A.. Boston: Allyn & Bacon. Dalam Michael L Kamil.I. Beane. B. Pendidikan Antisipatoris. K. dkk. 1999.. Context. R. Learning and Instruction: Theory into Practice.. Cox. Boston: Allyn and Bacon. (2000). Edisi III. Improving Learning: Professional Practice in Secondary School.M. (1977). Buchori.and Response-Centered Classroom. (2002). (1993).D.J. Curriculum Integrated: Designing the Core of Democratic Educa-tion. (2001).G. The Conditions of Learning. Briggs.. 1987. dkk. Massachusetts: Heinle & Heinle. Edisi Ketiga. Principles of Instructional Strategies. (1991).M. M. C. S. J. Fogarty. Halliday.P. Ed. Publisers. M. Sekolah: Mengajar atau Mendidik? Yogyakarta: USD-Kanisius. Philadelphia: Open University Press. dkk. Volume III. A. J. Greedler. The Integrated Elementary Classroom: A Developmental Model of Education for the 21st Century. Charbonneau. 2002. Rinehart. The Element of language curriculum: A Systematic Approach to Program Development. Drost. R. Jakarta: Kompas. L. Gavelek. . (1992). D. New York: Holt. dan Hasan. 1991. New York: Macmillan.Azra. (1995).M. Orlando: Harcourt Brace Jovanovich College Publishers. (1997). J. and Text: Aspect of Language in a Social-Semiotic Perspectif. J. Inc. R.E. Gagne. Teaching Language Arts: A Student. New York: Richard C. dan Wager.. dan Law. W.M. Illinois: IRI/Skylight Pub. Melbourne: Oxford University Press.K. Handbook of Research Reading. Goodman.. (1985). Glover. Gagne. Owen Pub.

Dalam merancang persediaan mengajar. memilih kaedah dan menetapkan teknik-teknik tertentu yang sesuai dengan perkembangan dan kebolehan pelajar. Oe. Untuk memenuhi tugas ini. guru kerap berhadapan dengan pelajar yang berbeza dari segi kebolehan mereka. ingatan. Pemilihan strategi secara bijaksana mampu menjamin kelicinan serta keberkesanan penyampaian sesuatu subjek atau modul. Hal ini memerlukan kepakaran guru dalam menentukan strategi pengajaran dan pembelajaran. Di antara kaedah dan teknik yang boleh digunakan oleh guru ialah : y y y y y y Kaedah sumbang saran Kaedah tunjuk cara (demonstrasi) Simulasi atau kaedah pengajaran kumpulan Kaedah perbincangan atau kaedah penyelesaian masalah Kaedah oudioligual Kaedah kodkognetif . Lazimnya aktiviti yang dipilih itu adalah gerak kerja yang mampu memberi sepenuh pengaruh terhadap perhatian. ensiklopedia bebas. Bandung: PPS-UPI (Diktat). berupaya meningkatkan kesan terhadap intelek. selain berpotensi memeransangkan pelajar belajar secara aktif. Perlunya guru menarik perhatian pelajar dalam sesuatu pengajaran. emosi dan minat pelajar secara berkesan. ia juga harus mampu membantu menganalisis konsep atau idea dan berupaya menarik hati pelajar serta dapat menghasilkan pembelajaran yang bermakna. Dalam sesi pembelajaran. cari Tugas utama seorang pengajar atau guru adalah untuk memudahkan pembelajaran para pelajar. Strategi yang dipilih itu. (2000). emosi. Ini bermakna. ³Model-model Pengembangan Kurikulum³. aktiviti-aktiviti yang dipilih hendaklah yang menarik dan mempunyai potensi yang tinggi untuk membolehkan isi pelajaran dan konsep-konsep yang diterjemahkan secara jelas. minat dan kecenderungan serta mampu membantu guru untuk menjelaskan pengajarannya. Teori pembelajaran dan pengajaran Daripada Wikipedia. Ia perlu diselaraskan dengan isi kemahiran dan objektif pengajaran. guru haruslah memikirkan terlebih dahulu tentang kaedah dan teknik yang akan digunakan. Aktiviti harus boleh mempengaruhi intelek. aktiviti-aktiviti yang dipilih perlu mempunyai urutan yang baik. tetapi mereka juga menciptakan pengajaran yang berkesan. Dalam merancang aktiviti mengajar yang berkesan dan bermakna kepada para pelajar. Lompat ke: pandu arah.Hamalik. guru boleh menentukan pendekatan. Ini bermakna guru perlu mewujudkan suasana pembelajaran yang dapat meransangkan minat pelajar di samping sentiasa memikirkan kebajikan dan keperluan pelajar. pengajar atau guru bukan sahaja harus dapat menyediakan suasana pembelajaran yang menarik dan harmonis.

Guru sepatutnya . guru harus mampu menghadapinya. Dalam konteks kesediaan belajar. Hal ini kerana ia dapat melahirkan pemikiran yang jelas dan berkesan. lakaran. mengemukakan metafora dan sebagainya. Masalah perbezaan kesediaan belajar boleh dikaitkan daripada tiga sudut pandangan dari segi kematangan a. menggalakkan pelajar mempelajari sesuatu melalui pengalaman. Idea yang abstrak. Jika berlaku penyimpangan terhadap cirri-ciri yang normal di kalangan pelajar. Biasanya hal-hal seperti inilah yang banyak menimbulkan masalah kepada guru. Kematangan fizikal Pekembangan pada fizikal manusia pada amnya. Walaupun terdapat semacam satu kecenderungan yang sama dalam pertumbuhan mereka tetapi fizikal. guru boleh menggunakan apa sahaja teknik yang difikirkan sesuai sama ada teknik menerang. permerhatian dan percubaan. Kesediaan belajar antara seorang individu dengan seorang individu yang lain biasnya tidak setara. Pelajar merasa seronok menjalankan ujikaji aktiviti lain yang dilakukan dalam situasi sebenar dan bermakna. Kaedah projek yang diasaskan oelh John Deney misalnya. perbezaan yang besar antara mereka. Biasanya kaedah ini memberi peluang kepada pelajar menggunakan kemudahan alat deria mereka untuk membuat pengamatan dan penanggapan secara berkesan. teknik penyelesaian mudah. guru itu dikehendaki memberi contoh-contoh dan iluktrasi. ilustrasi dan lain-lain. Misalnya. lebih mudah difahami apabila guru menggunakan contoh-contoh dengan ilutrasi yang mudah dan konkrit. 3. kematangan fizikal b. konsep-konsep yang baru dan susah. Dari segi penggunaan teknik pula. perhatian terhadap corak pertumbuhan dan perkembangan fizikal seperti ini adalah amat penting. Namun begitu. dalam bentuk lisan iaitu dengan mengemukakan analogi. Pengetahuan tentang apa yang dijangkakan akan berlaku dalam pertumbuhan perkembangan normal berupaya membantu guru menyediakan asas pembelajaran. teknik mengkaji. Oleh yang demikian pemilihan terhap kaedah dan teknik pelulah dilakukan secara berhati-hati supaya cara-cara ini tidak menghalang guru melaksanakan proses pembentukan konsep-konsep secara mudah dan berkesan. Memory y Address three pressing problem you have faced in your class and solve these problem based on what you now know about Memory. mental. Contoh-contoh boleh juga boleh ditunjukkan dalam bentuk visual. menunjukkan kecekalan yang tinggi. Guru-guru perlu berhati-hati terhadap perbezaan yang wujud di kalangan pelajar. emosi dan social mereka tetap berbeza. sama ada pada peringkat kesediaan perancangan atau pada peringkat melaksanakan pelajaran mereka. terdapat beberapa kaedah dan teknik yang berkesan boleh digunakan oleh guru. teknik bercerita dan teknik perbincangan. Dalam pengajaran dan pembelajaran. Biasanya seorang guru menerangkan idea-idea yang komplek kepada sekumpulan pelajar. kematangan intelek c. kematangan emosi a. Penggunaan contoh-contoh adalah asas dalam pengajaran dan pembelajaran. bercerita. Ini kerana tahap atau proses pertumbuhan atau perkembangan mereka tidak sama dan searah.y Kaedah projek Penggunaan kaedah dan teknik yang pelbagai akan menjadikan sesuatu pengajaran itu menarik dan akan memberi ruang untuk membolehkan pelajar terlibat secara aktif dan bergiat sepanjang sesi pengajaran tanpa merasa jemu dan bosan. Perkembangan teknik dan kaedah pengajaran dan penggunaan alat Bantu mengajar.

Metacognition . Metacognation seeks to control these meaning-making aperations by which one seeks to make meaning´. merancang (planning). namun proses ini tidak sama bagi semua pelajar. 4. emosi dapat diertikan sebagai suatu pengalaman yang penuh perasaan. Menurutnya ³ Metacognative operations are applied to the strategies and skill used to produce meaning rather then diretctly to data and experience. perubahan-perubahan perkembangan dalam keupayaan intelek seperti ini patutlah diberi perhatian. Boyer dalam model µ Functional Thinking¶ nya menyatakan lebih jelas bahawa µ Metacognition adalah merangkumi kebolehan seseorang. Menurut Bronw (1980) metacognition¶ adalah merupakan ilmu pengetahuan atau kesedaran yang terdapat kepada seseorang yang membolehkannya. b. mereka yang bertanggungjawabdengan pembelajaran dan pengajaran perlulah mengambil kira perbezaan-perbezaan ini dan memikirkan dengan teliti fakta ini sebelum merancang dan seterusnya melaksanakan tugas mereka dalam kelas. iaitu bermula daripada kegiatan mental yang paling mudah bergerak kepada proses mental yang lebih kompleks. c. Seorang pelajar lebih tua dari segi umur dan tinggi dari aspek persekolahan boleh menyedari. Biasanya. Dengan ini ini . mengawal dan mengamalkan starategi berfikir berhubung dengan satu-satu masalah lebih baik daripada pelajar yang muda dan rendah tahap persekolahannya. Pertumbuhan inteleks seseorang itu dapat ditentukan pada tahapsejauh manakah kemajuan itu berada.boleh membuat apa sahaja penyesuaian yang berfaedah. Kematangan intelek (mentel) Kebolehan mental ditakrifkan sebagai kebolehan mentafsir deria (persepsi). secara umum. Ia melibatkan gangguan dalaman yang meluas dan mengandungi nada perbezaan atau berbagai-bagai darjah kepuasan dan gangguan . Ahli-ahli psikologi dan fisiologi sependapat bahawa emosi melibatkan perasaan. Tindakan berhati-hati daripada guru ini boleh memajukan lagi perkembangan potensi semula jadi pelajar. Kematangan intelek tidak mempunyai hadnya. Memang terdapat kecenderungan am yang sama dalam kalangan mereka yang sedang menjelani proses kematangan tetapi kadar pertumbuhan adalah berbeza-beza. Kematangan Emosi Emosi menggambarkan satu kaedaan yang dikaitkan oleh dorangandorongan melalui satu cara tertentu.What is your reaction to the video on metacognition? . kobolehan untuk mengingati kembali apa yang telah dialami (ingatan) dan kebolehan meneruskan kesimpulan tentang hal-hal yang diprolehi daripada pengalaman ataupun yang abstrak. Gadner (1992) berpendapat kebolehan mengawal proses berfikir ini adalah dipengaruhi oleh umur dan pengalaman seseorang. ia menunjukkan kemajuan.Explain in your own words three or more benefits of applying metacognition in your classes AND . Walaupun perkembangan intelek itu merupakan proses yang berlaku secara berperingkat-peringkat dan berterusan. memantau (monitoring). GGGerak hati atau desakan dalaman yang mengarahkan sesuatu jenis pelakuan mungkin terjadi dalam perbagai gabungan dan peringkat. Dan menilai (assessing) satu-satunya keputusan atau idea yang hendak diutarakan ³Boyer menjelaskan bahawa µmetacognatinion¶ terletak di luar kebolehan berfikir (cognition) itu sendiri. Dalam hubungannya dengan kesediaan belajar. gerak hati dan tindak balas fisiologi. kebolehan membina bahan-bahan yang tidak ada pada deria (imagenasi). yang melibatkan penyalarasan dalaman secara am dengan keadaan mental dan fisiologi yang bergerak dalam diri individu dan kemudiannya diperlihatkan dalam bentuk tingkah laku yang nyata.How would you apply metagnition in your classes? Metacognition dapatlah ditafsir sebagai elemen yang mempunyai kaitan rapat dengan kesedaran tentang proses yang dilaksnankan secara berfikir. Oleh yang demikian.

Rumusan ini kan digunakan untuk membuat ulasan perbincangan. Rajah 1: peringkat-peringkat perkaitan pembelajaran. ingatan dan lupaan. memantau dan menilai ini ada kaitan langsung dengan keputusan yang akan dibuat atau diambil dalam penyelasaian masalah tersebut. Ini bertujuaan agar aktiviti perbincangan lancer.metacognition dapatlah disimpulkan sebagai kebolehan seseorang dalam mengaplikasikan startegi yang betul dalam proses melahirkan idea tetapi bukannya buah fikiran yang dilahirkan atau bukan hasil sebenar berfikit itu sendiri. Berdasarkan daripada tiga kaedah penyampaian yang digunakan tadi. kemudian mengeluarkannya ketika perlu. Berikut mengilustrasikan secara ringkas peringkat-peringkat perkaitan pembelajaran. memantau. re. kualiti ingatan dan lupaan ialah tiga proses yang saling berkaitan serta saling berpengaruhi antara satu sama lain. ingatan hanya boleh dianggap gambaran atau praktikal pembelajaran. dan lupaan Pembelajaran merupakan sesuatu proses psikologikal dalaman. Di antara topik-topik yang sesuai dibincangkan topic isu semasa.produksi (reproduction). Kaedah perbincangan Dalam aktiviti pengajaran dan pembelajaran di dalam kelas terdapat banyak topic sesuai disampaikan melalui sesi perbincangan khasnya bagi kursus bahasa. mengingati (retention). memproses dan menyimpanya dalam otak. dan penangguhan (re inforcement) motivasi (motivion). mudah dan tepat ‡ Hasilan guru atau contoh-contoh seperti ditunjukkan hendaklah mempunyai mutu yang tinggi 3. ingatan dan lupaan. Implikasi daripada kaedah ini keberkesanan pembelajaran dan pengajaran dapat dicapai melalui beberapa cara yang berikut: ‡ Penyampaian harus cekap dan menarik ‡ Demonstasi guru hendaklah jelas. menarik. Proses pembelajaran melalui proses pemerhatian dan pemodelan Bandura (1986) mengenal pasti empat unsure utama dalam proses pembelajaran melalui pemerhatian atau pemodelan. Apabila guru menggunakan kaedah ini untuk proses pengajaran dan pembelajaran secara tidak lansung akan meningkatkan kemahiran pelajar dalam pangajaran dan pembelajaran. program pelajar dan sebagainya. Berdasarkan huraian-huraian pengertian ingatan di atas maka bolehlah dirumuskan bahawa ingatan merupakan proses kebolehan manusia untuk menerima maklumat. Proses merancang. Dalam proses pengajaran dan . Apa yang kita ukur ialah ingatan selepas pembelajaran sahaja. proses pembelajaran dan pengajaran yang dilaksanakan akan lebih terancang dan berkesan. teratur dan tidak terpesong daripada tujuan. Pada akhir perbincangan. Kaedah ini melibatkan aktiviti perbualan di antara guru dan pelajar-pelajar dalam kelas atau satu jenis aktiviti pembelajaran secara bertukar-tukar fikiran atau idea serta berkongsi maklumat tentang sesuatu perkara. Dalam suasana pengajaran dan pembelajaran. Terdapat kebaikkan dalam mengaplikasikan Matacognitive: 1. ingatan. kemahiran-kemahiran bermaksud seseorang itu terlatih dan mempunyai pengalaman yang tinggi serta mendalam. menilai keputusan yang akan dibuat. iaitu pemerhatian (attention). 2. Seseorang yang ingin menyelesaikan satu masalah ekonominya terpaksa mengalami proses merancang . Walaupun. ingatan boleh mewakili pembelajaran. Para pelajar harus diberitahu cara-cara dan peraturan-peraturan perbincangan terlebih dahulu. Oleh itu. Pembelajaran. idea-idea haruslah dirumuskan. Sama ada ia belaku tidak akan dapat diperhatikan atau diukur secara langsung.

org/wiki/Teori_pembelajaran_dan_pengajaran" . kemahiran berfikir secara kritis dan kreatif. bertutur. Apabila pelajar menguasai kemahiran asas ini akan dapat membantu pelajar tersebut menguasai bidangbidang ilmu yang lain dengan lebih mudah.wikipedia. kemahiran membaca dan menulis dan sebagainya. Diambil daripada "http://ms.pembelajaran kebolehan menguasai kemahiran tertentu harus ditegaskan oleh guru. kemahiran mendengar. terutama kemahiran asas seperti menyelesaikan masalah.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.